Manusia Muslim haruslah manusia merdeka. Imannya kokoh, rakus ilmu tapi tak rakus dunia. Ikhlas dalam ibadah, tidak ‘hubbud dunya’ baca Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian ke-252

Oleh: Adian Husaini
Dalam rangka memperingati hari lahirnya yang ke-50, pada awal Desember 2008, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan seminar tentang kemandirian bangsa. Oleh panitia seminar, dirumuskanlah tiga aspek kemandirian bangsa, yakni: (1) kemampuannya dalam menetapkan ideologi kebangsaan secara lugas dan tegas. Lugas sehingga bisa dipahami bangsa-bangsa lain bahwa kita memiliki dan menerapkan pandangan atau falsafah hidup kita sendiri. Tegas dalam arti tidak terpengaruh berbagai tantangan dan pendiktean ideologi bangsa lain yang tidak sejalan dengan milik kita, (2) kebolehannya dalam merumuskan, memutuskan dan menerapkan kebijakan-kebijakan negara tanpa campur tangan pihak-pihak lain secara berlebihan, (3) kemampuannya dalam menjaga dan mempraktikkan kedaulatannya atas wilayah, penduduk, dan sumberdaya yang ada di dalamnya.
Diskusi tentang “bangsa mandiri” sudah berlangsung puluhan tahun, sejak Indonesia belum? merdeka, dan hingga kini belum pernah tuntas. Indonesia memang sangat majemuk. Untuk menentukan ideologi khas Indonesia, bukanlah hal yang mudah. Ideologi negara RI pernah diperdebatkan secara serius dalam sidang-sidang BPUPKI dan sidang-sidang Konstituante.? Soal Piagam Jakarta yang memuat naskah Dasar Negara (Pancasila) hingga kini masih terus didiskusikan. Kisah dibalik penghapusan tujuh kata? (… dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya) masih tetap misterius dan masih menarik untuk diteliti lebih jauh. (more…)
Assalaamu?alaikum wr wb
Bagi teman-teman remaja di Bogor dan sekitarnya, kalo abis shubuh jangan pada tidur lagi ya (apalagi belum bangun). Mendingan nyari ilmu dan bisa curhat bareng kru Buletin gaulislam di acara:
[klinik] GAULISLAM di Radio KISI 93.4 FM Bogor
Acaranya, setiap hari Rabu mulai pukul 05.15 – 06.00 WIB
Tema yang dibahas adalah tema-tema yang tampil di Buletin gaulislam pada pekan tersebut. Jadi, untuk tanggal 31 Desember 2008 ini, yang akan dibahas adalah Buletin gaulislam edisi 062/Tahun 2: ?WAKTU TERUS BERLALU, KITA NGAPAIN AJA??
Kamu bisa ngobrol dan curhat dengan kru gaulislam, lho.
Ditanggung antimanyun deh! Bisa interaktif di acara via telepon 0251-8370340
Catat ya. Dan sebarkan aja ke seluruh teman yang kamu kenal. Ok?
Oya, buat kamu yang nggak bisa menjangkau siaran langsung acara ini dari Radio KISI 93.4 FM ini, kamu bisa mantengin aja streamingnya di: www.kisifm.com
Acara ini terselenggara atas kerjasama apik antara Buletin gaulislam dan Radio KISI 93.4 FM.
Salam,
O. Solihin
Jangan remehkan soal pakaian dalam. Karena tuh kain bersentuhan langsung dengan kulit kita, maka tentunya harus selektif juga memilih demi kesehatan kulit kita. Tul nggak seh?
Eh, barang yang satu ini udah nggak asing lagi bagi kalian tentunya. Underwear alias pakaian dalam adalah sesuatu yang setia setiap saat menemani kita. Dia tersembunyi karena memang tempatnya tersembunyi, meski pada jaman sekarang ini ada juga yang sengaja dibiarin agar dilihat orang lain.
Underwear, penting nggak sih? Kenapa jadi topik bahasan kali ini? Ssst.. tenang sobat, jangan emosi gitu. Seperti kata pepatah “nggak kenal maka nggak sayang”. Itu sebabnya, kita coba ngebahas sesuatu yang dekat dengan kita agar kitanya jadi tahu, jadi lebih sayang and peduli. Apalagi ini erat kaitaannya dengan badan kita. Setuju kan? (more…)
edisi 062/tahun ke-2 (1 Muharram 1430 H/29 Desember 2008)
Setelah mendapat kritik, kitik dan kripik dari tulisan gue yang pertama di gaulislam, gue masih berusaha keras untuk mencari adonan yang pas untuk tulisan-tulisan gue di gaulislam. Nah, artikel ini adalah salah satunya. Gue tulis dalam perjalanan Bogor-Sanggau (Kalimantan Barat), di antara ngejar pesawat yang keburu terbang saat gue nyampe di airport, di dalam mobil dalam perjalanan darat Pontianak-Sanggau yang aduhai dan dikala gue nyuci baju di dalem pesawat.
Waktu nggak kerasa sudah berlalu begitu cepat, ditambah cukup banyaknya perjalanan syafar yang gue lakukan di bulan ini, semuanya seperti berlalu begitu cepat, secepat kilat nyamber jemuran tetangga. Di jalan banyak gue temui hal yang menarik untuk ditulis, dari aspal jalanan yang berlobang-lobang kayak bekas hujan meteor, sampe pesawat yang hanya mau terbang kalo pilotnya udah siap (lha apa hubungannya ya?). Setiap kali memasuki akhir tahun seperti ini, cukup banyak hal yang membekas dalam ingatan gue, hari-hari yang biasanya mendung/hujan, kerjaan yang makin tinggi load-nya, sampai segala hal persiapan tahun baruan, huhuhuhu,… kenapa manusia-manusia ini ngga pernah berubah ya? (more…)
Oleh: O. Solihin
www.eramuslim.com
Serangan militer besar-besaran oleh Israel ke Gaza dengan dalih menghancurkan infrastruktur HAMAS, setidaknya sampai artikel ini ditulis, sudah menewaskan 280 warga Palestina. Serangan yang telah dilakukan Isreal sejak Sabtu (27/12) hingga ahad ini, telah mengundang kecaman dari berbagai pihak. Inilah bukti nyata pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Israel yang selama ini selalui didiamkan oleh Dewan Keamanan PBB dan juga Amerika Serikat. Terorisme yang dilakukan Israel adalah terorisme yang dilakukan oleh negara. Apalagi posisi Israel yang memang sebagai penjajah Palestina.
PM Israel Ehud Olmert mengatakan operasi itu mungkin akan berlangsung beberapa lama, tetapi ia berjanji untuk menghindari krisis kemanusiaan di wilayah itu. ?Tidak akan berakhir dalam beberapa hari,? katanya dalam sebuah pernyataan televisi, sambil didampingi Menteri Pertahanan Ehud Barak dan Menteri Luar Negeri Tzipi Livni. [www.hidayatullah.com] (more…)
Katanya, cowok itu adalah mahluk pemburu. Termasuk memburu wanita yang disukainya. Tapi gimana kalo kemudian terbalik, pemburu jadi yang diburu?
Budi, sebut aja begitu namanya, jadi ngerasa risih belakangan ini. Cowok yang jadi aktivis pengajian ini sering nerima telepon dari seorang cewek. Tuh cewek suka nanya-nanya aneka masalah agama. Nggak cuma itu, aneka kue juga sering dikirim ke rumah Budi.
Awalnya sih Budi respek. Namanya juga orang butuh bantuan perlu dibantu dong. Tapi lama kelamaan dia jadi risih juga. Abis tuh cewek sering banget nelepon. Seminggu bisa beberapa kali. Orang rumah jadi pada apal. Tinggal Budi yang kelimpungan. Mau terima atau nolak telepon dari cewek itu. (more…)
Puasa emang untuk orang-orang beriman. Tapi buat cowok, mungkin ada keunikan. Namanya juga cowok
Masuk bulan puasa nggak sedikit para cowok yang manyun. Puasa Ramadhan, gimanapun juga, masih dianggap beban buat sebagian dari umat Islam. Banyak kebiasaan khas cowok yang kudu berhenti. Contohnya ngerokok. Meski udah banyak seruan dan himbauan soal bahayanya ngerokok, tapi ya tetep aje banyak cowok yang mau menghisap benda berbahaya itu. Alasannya, udah biasa. Apalagi abis makan kalo kagak ngerokok mulut terasa asem.
And so on dengan kebiasaan ngecengin cewek dan akhwat, kudu berhenti di bulan Ramadhan kalo amal puasanya mau diterima. Buat yang punya pacar, barangkali untuk sementara cerita cintanya tertunda. Apa kagak malu bulan puasa masih nekat nongkrongin cewek apalagi sampe pacaran? (more…)
Cewek bikin geng? Yang bener aja! Pstt…, jangan negatif thinking dulu dong. Bikin geng nggak melulu negatif loh, malah ada untungnya. Sebab yang ini bukan sembarangan geng. Geng apa dong?
Sebagai remaja, udah pasti kita punya banyak teman. Nah, di antara sekian puluh atau sekian ratus temen yang kita kenal, biasanya pasti ada empat sampai lima temen yang paling akrab. Ya mungkin karena punya kesamaan sifat, karakter, misi, visi dan tujuan (proposal kale!). Pokoknya kalau ngapa-ngapain paling klop dan paling nyambunglah. Jadinya mereka runtang-runtung (runtang-runtung? Emangnya truk gandengan?) bersama, entah sekolah bareng, kuliah bareng, belajar bareng, jalan-jalan bareng atau menikmai hobi bersama dan seterusnya.
Sadar nggak sadar mereka udah membentuk suatu komunitas tertentu. Yah, istilah kerennya geng cewek gitu deh. Seperti pengalaman Ninik sewaktu masih AGB dulu. “Waktu SMP aku punya empat teman yang paling akrab. Walaupun kami nggak sekelas, tapi kami sering jalan bareng,” katanya kepada SoDa. (more…)
Ibarat tali, hubungan kita dengan Allah tergantung seberapa panjang kita mengulurkannya dan seberapa kencang kita menariknya. Di saat seorang hamba menaatiNya, berarti ia tengah mengencangkan ikatan diri kita dengan Allah Swt. Berpayah-payahnya seorang hamba menegakkan qiyamul layl, menyungkurkan keningnya ke atas hamparan sajadah, memanjatkan doa penuh harapan dengan lirih, adalah bagian memperkuat ikatan dengan Rabbnya.
Demikian pula ketegarannya menjauhkan diri dari keharaman; perbuatan maupun barang, adalah bagian merawat kuatnya ikatan diri dengan Allah Azza wa Jalla. Ketika bersliweran tawaran uang haram, lirikan wanita yang bukan mahram, atau pemandangan aurat yang bertebaran di perkantoran, di pasar bahkan hingga di majlis taklim, tapi jika ia bertahan untuk tak menggubrisnya, maka semakin kokohlah hubungannya dengan Allah. (more…)
Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah bercerita, “Aku dan Fatimah, putri Rasulullah saw. Pernah menderita kelaparan berhari-hari. Demi Allah, saat itu tak ada sebiji kurma kering pun pada kami.
Lalu Fatimah berkata kepadaku, “Pergilah mencari makanan!”
Maka aku bangkit mengenakan jubahku yang terbuat dari bulu domba untuk menahan rasa dingin yang menyengat. Kemudian aku memohon kepada Allah dan memohon ampunanNya agar Dia memberiku rizki.
Tiba-tiba, aku teringat dengan seorang Yahudi pedagang yang memiliki kebun di Khaibar. Maka aku bergegas pergi menemuinya. Ternyata ia sedang memutar kincir airnya di sawah. (more…)