gaulislam.com


Kerja

Posted in Pernik, Personality by Hasna Hawwa on the February 28th, 2009

Ketika saya bersekolah dulu ada beberapa kawan? yang suka berdagang di kelas. Macam-macam. Mulai dari makanan, merchandise macam stiker sampai kerudung. Kegiatan macam itu jelas menyenangkan. Buat saya dan teman-teman, setidaknya membuat kita nggak usah cape-cape jajan ke kantin. Nilai plusnya juga ada, bikin teman senang berwirausaha dan menjalin solidaritas.

Memang, nasib kita tidak sama. Ada remaja yang aman dan lancar bersekolah tanpa perlu ikut pusing memikirkan uang bayaran dan jatah beli buku atau bayar foto kopian dari guru. Karenanya berdagang adalah salah satu bentuk kegiatan teman-teman kita untuk menambah uang saku. Bisa jadi ada kawan-kawan yang mengandalkannya untuk membayar SPP. Sewaktu saya masih SD – sekolah saya terletak di pedalaman kota Udang –, kawan-kawan saya banyak masuk kelas bersepatu kulit alias nyeker. Kebanyakan kawan-kawan saya bekerja membantu orang tuanya bekerja di sawah. Maka setiap musim panen selalu saja ada kawan-kawan yang tidak masuk. Ada yang membantu panen atau menggembalakan kambing. Ada juga kawan saya yang setiap sore, usai pulang sekolah, menjadi penarik becak. Bayangkan, anak SD narik becak! (more…)

Liberal dan Fatwa Kontemporer

Posted in Opini by Abdul Shaheed on the February 27th, 2009

[Catatan untuk Azyumardi Azra]

“Fatwa” yang berdasarkan konsep akal sekular dapat disimak melalui pemikiran penganut kaum liberal

Oleh:? Henri Shalahuddin*

Pada kolom Resonansi Republika, Kamis 12 Februari 2009, Prof. Dr. Azyumardi Azra menulis artikel pendek tentang masalah yang memerlukan pembahasan yang tidak pendek. Dalam tulisannya, Azyumardi menganalisa bahwa terjadinya pro-kontra terhadap fatwa MUI, lebih disebabkan subyek-subyek yang dibahas berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik yang tidak lagi sepenuhnya ‘murni’ bersifat keagamaan.

Analisa seperti ini tentunya sudah dimaklumi tidak terlepas dari pendekatan sekular yang mengesampingkan peran agama dari kehidupan publik. Sehingga dia mengategorikan fatwa itu ada dua jenis; yakni fatwa yang berkenaan dengan masalah keagamaan murni, dan fatwa yang berhubungan dengan realitas di masyarakat. Jadi seakan-akan masalah keagamaan dan realitas di masyarakat adalah dua hal yang tidak berkaitan. Sehingga pada akhirnya gambaran agama diputuskan dari status asalnya sebagai sumber nilai dan kebenaran bagi manusia seperti dalam posmodernisme. (more…)

Gadis Islandia itu Temukan Islam di Amerika

Posted in Indahnya Islam, Khazanah by Leila Amra on the February 26th, 2009

Gadis manis asal Islandia itu mengucapkan syahadat melalui chatroom di internet. Ia akhirnya meninggalkan agama lamanya, Kristen

Hidayatullah.com– Kisah perjalanan menuju Islam gadis asal Islandia ini cukup menarik. Betapa tidak, seperti pengakuannya, di negaranya Islam hampir tak ada gema, saking minoritasnya. Dia sedikit tahu Islam justru ketika melakukan kontak dengan temannya, juga dari Islandia, yang sedang ikut pertukaran pelajar di Indonesia. Lalu, satu ketika, dia dapat beasiswa untuk belajar di AS. Dalam rombongannya ada seorang mahasiswa asal Mesir. Dari pemuda Mesir inilah dia mulai tahu Islam lebih jauh. Alhasil, di Amerika dia lebih banyak mencari tahu Islam hingga akhirnya bersyahadah melalui fasilitas chating di internet. Aminah, begitu namanya selepas memeluk Islam, menceritakan kisah uniknya. (more…)

Dengan Islam, Kita Selamat

Posted in Opini by Leila Amra on the February 25th, 2009

Oleh: Hari Mukti

Sekarang ini muncul kesan yang menggambarkan bahwa Islam itu kumuh, jelek, bahkan Islam biang aksi terorisme. Propaganda ini seharusnya membuat kaum muslimin tidak nyaman. Opini yang dikembangkan kalangan yang memusuhi Islam acapkali memberikan noda yang sepertinya sampai saat ini sulit untuk diubah. Umat Islam menjadi obyek penderita dan selalu dituduh ketika terjadi kasus-kasus yang merugikan banyak orang, khusunya pihak asing. Kasus Bom Bali, umat Islam langsung dicurigai sebagai pelakunya dan dicap sebagai teroris. Belum lama ini, kasus Bom di Hotel Marriott Jakarta, juga disebut-sebut pelakunya adalah kalangan Islam, dengan menuduh Jamaah Islamiyah berada di balik serangan tersebut. (more…)

[klinik] GAULISLAM edisi 25 Februari 2009

Posted in Warta by Hasna Hawwa on the February 24th, 2009

Assalaamu?alaikum wr wb

Bagi teman-teman remaja di Bogor dan sekitarnya, kalo abis shubuh jangan pada tidur lagi ya (apalagi belum bangun). Mendingan nyari ilmu dan bisa curhat bareng kru Buletin gaulislam di acara:

[klinik] GAULISLAM di Radio KISI 93.4 FM Bogor

Acaranya, setiap hari Rabu mulai pukul 05.15 – 06.00 WIB

Tema yang dibahas adalah tema-tema yang tampil di Buletin gaulislam pada pekan tersebut. Jadi, untuk tanggal 25 Februari 2009 ini, yang akan dibahas adalah Buletin gaulislam edisi 070/Tahun 2: ?MENGGUGAT PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN?

Kamu bisa ngobrol dan curhat dengan kru gaulislam, lho.

Ditanggung antimanyun deh! Bisa interaktif di acara via telepon 0251-8370340 dan SMS: 0818635474

Catat ya. Dan sebarkan aja ke seluruh teman yang kamu kenal. Ok?

Oya, buat kamu yang nggak bisa menjangkau siaran langsung acara ini dari Radio KISI 93.4 FM ini, kamu bisa mantengin aja streamingnya di: www.kisifm.com

Acara ini terselenggara atas kerjasama apik antara Buletin gaulislam dan Radio KISI 93.4 FM.

Salam,

GI Media

Menggugat “Perempuan Berkalung Sorban”

Posted in Buletin GAUL Islam, Tahun II/2008-2009 by Hafsa Mutazz on the February 23rd, 2009

logo-gi-3 edisi 070/tahun ke-2 (27 Safar 1430 H/23 Februari 2009)

Pada tahu film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) kan? Itu tuh, film? bernuansa religi yang diangkat dari novel berjudul sama, buah karyanya Abidah El Khalieqy, seorang sastrawati asal Jombang, Jawa Timur. Tapi, kok gitu banget ya…kontroversial, Coy!

Hanung Bramantyo sang sutradara film ini dari awal emang udah niat bakal ngundang yang namanya kontroversi sebagaimana komentar doi di astaga.com (16/1/09): “Masalah yang diangkat di film ini sensitif, maka itu saat menonton film ini mari lepas dari wacana Islam (lho??).? Di sini berbicara tentang perempuan yang dinomorduakan, hubungan keluarga, anak dengan orang tua, anak terhadap anak yang lain.”

So, doi nyantai aja pas diprotes abis-abisan ama MUI en para kyai dari berbagai ponpes yang sempat nonton film tersebut dengan alasan bersikap ‘demokratis’. Yang jelas sih ada warning dari MUI nih film kudu dicabut dari peredaran atau minimal direvisi ulang. Hayah! (more…)

Nasihat untuk Para Pemimpin Politik

Posted in Opini by Abdul Shaheed on the February 22nd, 2009

Sultan Muhammad Al Fatih dikenang sejarah Islam atas kemuliaan dan keadilannya dalam berpolitik. Bisakah calon pemimpin kita seperti itu?

Oleh: Nuim Hidayat

“Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.” (Surat Khalifah Ali r.a. kepada Gubernur Mesir)

JABATAN politik saat ini menjadi tren dan rebutan jutaan orang dan partai politik. Kampanye lewat spanduk, brosur, kartunama, facebook, email bertebaran di dunia nyata maupun dunia maya. Salah satu sisi, hal itu menambah ketidaksedapan keindahan tata kota, tapi di sisi lain hal itu tidak bisa dihindari, karena peraturan negara lewat KPU sendiri dibuat untuk memubahkan hal-hal seperti itu.

Tentu ketika mencalonkan menjadi caleg, cabup, cagub atau capres, mereka mempunyai mimpi-mimpi indah untuk diri mereka. Kita tidak tahu apakah mereka mempunyai mimpi indah juga untuk konstituen atau masyarakatnya. Misalnya bila dihadapkan pada kondisi krisis, siapa yang dikorbankan dirinya atau rakyatnya, kita tidak tahu apa yang ada dalam benak mereka. (more…)

Haji Selebriti

Posted in Opini by Leila Amra on the February 20th, 2009

Oleh: Hari Mukti

Pengalaman ibadah haji bagi seorang muslim sangat mengesankan. Pengalaman ibadah yang sulit untuk dilupakan, apalagi jika dilakukan dengan keikhlasan yang sangat dalam sehingga mendapat predikat haji mabrur. Biasanya akan membekas dalam kehidupan sehari-hari setelah melakukan ibadah ke tanah suci itu. Barangkali yang tadinya menampilkan wajah yang asem melulu kepada setiap orang yang bertemu dengannya, akan berubah menjadi hormat dan menghargai. Semakin getol ibadahnya, semakin kuat takwanya, dan bisa jadi kian meningkat rasa ikhlasnya.

Namun, ada juga orang yang setelah ibadah haji, tapi kehidupan beragamanya hampir sama dengan sebelum melaksanakan ibadah tersebut. Bahkan adakalanya makin rusak. Tentunya ini sangat memprihatinkan. Sebab, biasanya penilaian ibadah ini sangat mungkin dilakukan juga oleh manusia. Artinya, orang yang melaksanakan ibadah haji mudah dilihat pelaksanaannya oleh orang lain, kecuali niatnya. Itu sebabnya, biasanya orang akan dengan mudah menilai dan membandingkan perilaku sebelum berhaji dengan setelahnya. (more…)

Mengambil Hikmah Dari Yahudi-Yahudi “Nyeleneh”

Posted in Opini by Ahmad Jibraan on the February 19th, 2009

Ideologi kaum Yahudi adalah ideologi? kesombongan dan kedengkian? untuk menerima kebenaran Islam. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-256

Oleh: Adian Husaini *

Al-Quran menyebutkan bahwa kaum ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) memang tidak sama. Ada

yang kemudian beriman kepada kenabian Muhammad saw. Jumalhnya sedikit (QS 2:88). Tetapi sebagian besar fasik. (QS 3:110). Di zaman Rasulullah saw, ada dua tokoh Yahudi yang terkemuka yang akhirnya memeluk Islam, beriman kepada risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. Keduanya, yakni Hushein? bin Salam dan Mukhairiq, menjadi bahan cemoohan kaumnya sendiri. Jika sebelumnya mereka sangat dihormati, setelah masuk Islam, mereka dikucilkan.

Moenawar Khalil, dalam bukunya, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw (Jakarta: GIP, 2001), menceritakan, Hushein bin Salam kemudian diganti namanya oleh Rasulullah saw menjadi Abdullah bin Salam. Dia pernah membuktikan bagaimana sikap kaumnya terhadap dirinya. Suatu ketika, kaum Yahudi datang kepada Rasulullah, saat Abdullah bin Salam sedang di sana. Dia berpesan kepada Rasulullah agar menanyakan kepada kaumnya, bagaimana pandangan mereka terhadap dirinya. Saat kaum Yahudi datang, Rasulullah saw bertanya pada mereka, bagaimana pandangan mereka terhadap Husein. Yahudi menjawab: “Ia adalah sebaik-baik orang kami dan sebaik-baik anak lelaki orang kami. Ia adalah semulia-mulia orang kami dan anak lelaki dari seorang yang paling alim dalam golongan kami, karena dewasa ini di kota Madinah tidak ada seorangpun yang melebihi kealimannya tentang kitab Allah (Taurat).” (more…)

Antara Menulis dan Berbicara

Posted in Pernik, Tips Menulis by Hasna Hawwa on the February 18th, 2009

Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga untuk mendengar kata yang diucapkan, dan lidah berusaha untuk mengikutinya dengan kata yang kita upayakan untuk dikeluarkan. Itu sebabnya, anak kecil yang sehat dan normal (matanya dapat melihat, telinganya dapat mendengar, dan lidahnya bisa digerakkan untuk berkata) maka umumnya akan dengan mudah mengikuti. Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi. Jadi, anak kecil yang ingin belajar bicara tak memerlukan belajar huruf-huruf terlebih dahulu, tak butuh juga dengan seabrek teori menulis, dan bagaimana merangkai kata yang baik. Ia, akan dengan spontan mengikuti setiap huruf yang diucapkan orang lain (entah ibunya, ayahnya, kakaknya, atau temannya dll). Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit. Mengalir apa adanya.

Nah, sementara menulis, ini memerlukan keterampilan tambahan. Bahkan motivasi tambahan pula. Karena apa? Karena menulis bukan bakat, karena menulis memang sangat berbeda dengan berbicara. Banyak orang bisa berbicara, bahkan fasih, meski ternyata ia buta huruf. Sementara orang yang bisa menulis, sangat mustahil bila ia penderita buta huruf. Mungkin ini pula yang membedakan kemampuan setiap orang dalam menulis. Intinya, nggak semua orang bisa menulis, meski berbicaranya sangat fasih dan bahkan retorikanya bagus. Oya, meski bicaranya tidak bagus, tapi minimal ia memang bisa bicara. Bisa berkomunikasi secara verbal (kata-kata) dengan orang lain. Iya nggak? (more…)

 
Page 1 of 3123»

  rank blog indonesia   Religion Blogs - Blog Top Sites