Hero Itu Perlu
Jujur aja, punya hero kadang bikin kita pede. Ada panutan yang bisa dijadiin rujukan. Sejauh mana kita harus merasa perlu punya hero?
“Waktu kecil, saya punya hero bernama Spiderman. Abisnya, tuh hero sakti dan baik hati,” aku Donni pada SoDa saat nongkrong di sebuah pusat pertokoan di Jakarta.
Ternyata kawan kita ini menyukai salah satu tokoh komik ‘lulusan’ Marvel. Sama seperti kita waktu kecil. Bukan hanya Spiderman, tapi juga ada banyak di antara kita punya hero seperti Batman, Fantastic Four, Gundala, Flash Gordon, termasuk jawara silat lokal macam Jaka Sembung, Jaka Gledek, Joko Tingkir. Why?
“Kalo kita punya hero, kita jadi bisa ngikutin teladannya. Jadi rujukan kita. Panutan kita,” Donni ngasih alasan.
Memang sih, seorang panutan akan membuat kita merasa tenang dan merasa punya rujukan. Bahkan kita akan memposisikan diri sebagai bagian dari hero tersebut. Kelihatannya sih wajar en sah-sah aja. Karena siapa pun pasti merasa terinspirasi dari sesamanya. Manusia satu sama lain saling memberi inspirasi. (more…)
Nyaris Kugadaikan Akidahku…
Aku dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Jangankan sholat, kecintaanku kepada Rasulullah saja, tak pernah terlintas. Sejak TK hingga SMP, aku belajar di sekolah non Islam. Alasan orangtuaku, karena sekolah ini paling bagus model pendidikannya. Memang cukup bagus, tapi ternyata kami yang muslim pun diwajibkan mengikuti program agama mereka.
Anak-anak muslim seusiaku mungkin sudah mengenal nama-nama Nabi, nama-nama Sahabat Rasul, sholat itu wajib, amar ma’ruf nahi munkar kudu dilaksanakan. Tapi tidak denganku, untuk mengenal angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab saja aku tidak tahu.
Aku lebih terbiasa dengan doa-doa yang mereka pakai ketika memulai pelajaran dan pulang sekolah. Aku juga lebih terbiasa dengan lagu-lagu kerohanian yang diajarkan guru agama Kristen. Penjiwaanku terhadap lagu-lagu kerohanian mereka, lebih kental dibandingkan penjiwaanku ketika membaca al-Quran. Itupun baru kupelajari setelah kedua orang tuaku menyediakan pengajar dari luar. (more…)
Memilih Buku Bergizi untuk Anak
Anak-anak kita yang masih lucu-lucu, perlu kita lindungi kesehatan pikiran dan mentalnya dengan memberi bacaan bergizi
oleh Mohammad Fauzil Adhim
Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Begitu judul salah satu buku kesukaan anak saya -yang sekarang sudah tidak berbentuk lagi. Buku itu saya beli sewaktu jalan-jalan dengan anak saya yang ketiga, Muhammad Hibatillah Hasanin. Di rumah, kami memang biasa menjadikan toko buku sebagai tempat jalan-jalan, tujuan rekreasi, dan sekaligus sebagai hadiah terindah bagi anak-anak. Meskipun kadang saya harus belajar menahan diri untuk tidak membeli setiap buku yang menarik, tetapi toko buku tetap menjadi tempat rekreasi terindah.
Kalau ada buku bagus seperti itu, biasanya mereka minta ibunya membacakan. Kadang lampu sudah dimatikan pun mereka masih bersemangat minta dibacakan buku. Sekarang yang lagi semangat-semangatnya membaca adalah Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak keempat kami yang usianya dua tahun satu bulan. Kadang-kadang bi?ngung juga menghadapinya. Mata sudah mengantuk, lampu sudah dimatikan, tetapi Owi -begitu kami biasa memanggil-masih saja minta dibacakan buku. Apalagi kalau kakaknya turut serta minta dibacakan. Untunglah si sulung, Fathimah, sudah bisa mengajari adik-adiknya sekarang. Sering kalau ada buku bagus, Fathimah yang membacakan buku untuk adik-adiknya. Atau kadang Fathimah membaca buku untuk dirinya sendiri, kemudian adiknya datang ikut nimbrung mendengarkan. (more…)
Dilema Ujian Nasional
![]()
edisi 079/tahun ke-2 (2 Jumadil Awal 1430 H/27 April 2009)
Minggu-minggu ini tema kelelahan kerasa banget di sekitar gue, selain cukup banyak kerjaan di kantor, di jalan pun setiap kali papasan sama anak sekolah, terlihat sebagian dari mereka banyak yang bertampang kuyu dan kelihatan stres. Hmm.. pasti musim ujan dateng nih, eh musim ujian maksud gue. Seperti kebiasaan rutin tahunan lainnya, kayak puasa, idul fitri, lebaran haji dan mandi kembang (eh nggak lah), perayaan ujian nasional tahun ini masih juga diwarnai dengan kegiatan yang sama dan berulang setiap tahunnya. Dari belajar keras (emang bisa belajar lembek ya?), nambah les/bimbel, makan makin banyak sampe maen facebook-an, masih dilakukan juga. Hmm.. ada hubungannya nggak sih?
Nggak mau kalah dengan muridnya, para guru dalam menyambut Ujian Nasional (UN), menggelar berbagai gawean seperti bikin kisi-kisi, bikin panitia UN, rapat koordinasi sampai tryout, yang emang selalu out alias nggak pernah in. Semua dibikin sibuk dengan gawean-gede negara ini, untuk menguji hasil kerja keras para guru dalam mendidik anak muridnya. Fenomena UN memang cukup menarik karena terdapat berbagai sisi yang kelihatan baik namun sekaligus menyimpan juga berbagai masalah potensial, apa aja tuh? Yuk kita simak terus. (more…)
Pacaran Syari’ah
Seabrek alasan dapat dikemukakan ketika dua sejoli memastikan dirinya untuk pacaran. Ada yang beralasan bahwa mereka pacaran untuk mengisi waktu kosong. Logikanya, daripada waktu terbuang sia-sia khan lebih baik kalau dimanfaatkan untuk hal-hal yang ‘positif’. Tanpa aktivitas pacaran, remaja ABG akan cenderung bengong saja atau paling banter ngelamun, akibatnya sang waktu akan meninggalkannya di landasan pacu. Jadi pacaran itu solusi bukan problem.
Mereka yang mengantongi alasan begini akan meningkatkan kinerjanya dalam berpacaran setiap ada waktu luang. Sementara syaithan bergoyang dombret sambil berdendang cucok rowo untuk ngipasin mereka agar terlena. Umumnya syaithan berhasil, buktinya remaja yang berpacaran cenderung mengisi penuh semua waktu luangnya untuk pacaran. Kalau waktu luang ternyata tidak ada maka mereka bisa menciptakan waktu luang. (more…)
Pacaran? Norak Bangeet!
Katanya sih cinta bisa bikin derita terasa nikmat, gula jawa rasa coklat, jauh terasa dekat, dan dihantam terasa dipijat. Itu sebabnya, barangkali para aktivis pacaran mengamalkan ‘falsafah’ itu. Bener nggak sih kalo rasa cinta ‘wajib’ diwujudkan dengan pacaran?
Pacaran udah jadi aktivitas yang nggak bisa dilepaskan dari jadwal kehidupan sehari-hari. Boleh dibilang pacaran telah mendarah-daging, berurat-akar, dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Bahkan seperti halnya sholat, pacaran dianggap sebagai kewajiban yang kudu dilaksanakan. Waduh!
Itu sebabnya, banyak teman remaja yang masih duduk di bangku SMP aja udah coba-coba menjalin hubungan ini. Bisa dengan teman, bisa juga kayak di sinetron SMP (Senandung Masa Puber) yang tayang di TransTV, siswa yang menjalin hubungan spesial sama gurunya. Wacks..? Sekadar tahu saja, dalam sinetron itu Dias (Rafi Muhammad) dikisahkan suka sama Ibu Diana (Elma Theana) guru bahasa Inggris di sekolahnya. Hubungan mereka pun jadi dekat. Bukan lagi hubungan antara guru dengan murid, tapi seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. (more…)
Felix Yanwar Siauw Dengan Islam Hidup Jadi Terarah

Masa SMP merupakan momentum titik balik bagi kehidupan seorang Felix Yanwar Siauw. Pada masa remaja itulah dalam diri Felix timbul keraguan atas agama yang telah dianutnya sejak ia kecil. Berbagai pertanyaan mengenai konsep Tuhan, pengampunan dosa, dan hakikat penciptaan manusia dalam agama Katolik muncul dalam benaknya. ”Di agama saya yang lama memang banyak hal yang tidak terjawab pada waktu itu,” ujarnya.
Sebagai contoh, ketika ia menanyakan soal trinitas dan keberadaan Yesus sebagai Tuhan kepada pastor, jawaban dari semua pertanyaaannya tersebut berakhir pada kata dogma, yakni ajaran yang sudah ada sejak dahulu dan tidak boleh dipertanyakan oleh orang-orang yang beriman kepada Yesus.
Ketika mendengar jawaban seperti itu dari sang pastor, akhirnya Felix lebih memilih untuk mundur dari agama Katolik. Keputusan untuk keluar dari agama Katolik, menurut ayah satu orang putri ini, juga dilandasi oleh kenyataan mengenai praktik-praktik keagamaan yang dilihatnya hanya sebagai sebuah ritual kosong. (more…)
Gantung Valentine! Bubarkan Pacaran!
V Day makin angot aja. Remaja muslim banyak yang ikutan. Begitupula kebiasaan pacaran. Bukti kalahnya budaya Islam?
Kalo udah masuk bulan Febuari, nuansa cinta bertebaran. Warna pink jadi dominan. Coklat, asesoris dengan bentuk hati (mohon jangan dibaca dua kali!), dan seabre-abrek kartu cinta laku banget. Belum lagi request lagu cinta macam Dilemma-nya Nelly Tidak perlu kita ceritain kalo itu adalah bagian dari ritual peringatan V Day. Hari cinta sedunia.
Budaya Kufur
Wah, kita mah mo terus terang aja ya Mas, Den, Mba’, Teh, kalo V Day adalah budaya kufur. Sudah terlalu banyak sejarawan – muslim ataupun non-muslim – yang membeberkan kalo peringatan V Day itu berkaitan ama ritual agama di luar Islam.
Malah, tidak sedikit pemuka agama Nasrani yang juga keberatan pada umatnya yang hanyut ama kegiatan V Day ini. Menurut mereka V Day nggak ada hubungannya dengan keimanan kaum Nasrani. menurut Ken Sweiger yang menulis artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jadi, sama sekali nggak ada hubungan dengan agama Nasrani. (more…)
Di Negeri Kapitalis, Kutanggalkan Ideologi Sosialisku
Aku tak pernah menyangkal, bahkan aku tak bisa mengelak dari kenyataan hidupku. Aku memang cucu seorang kumunis, tapi aku bukan sampah!
Awal perkenalanku dengan ide Sosialisme dimulai ketika aku menerima ejekan dan hinaan orang pada keluargaku. Aku tak mengerti, mengapa mereka selalu mengejek? Apa yang salah dari kami? Memang kakekku eks anggota PKI, tapi apa hubungannya dengan kami? Mengapa kami jadi warga negara kelas dua? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggangguku.
Kebencian dan kenyataan pahit yang kami hadapi, membuatku mulai tegar. Aku penasaran, apa sih yang membuat orang-orang benci pada PKI? Meskipun kakekku masih di tempat pengasingannya di Nusakambangan, tapi nenek masih setia merawat barang-barang kakek, termasuk buku-bukunya. Buku-buku itulah yang mulai mendekatkanku pada Marx, Engels, hingga Rosa Luxemburg. Dari Che Guevara, Lenin, Trotsky, hingga Bakunin. Hmm.. aku mulai tahu, ternyata yang orang-orang benci itu adalah sesuatu yang luar biasa! (more…)
Kartini ‘Menggugat’
![]()
edisi 078/tahun ke-2 (24 Rabiul Akhir 1430 H/20 April 2009)
Waduh….belum apa-apa judulnya udah syerem banget neh. Ibu Kartini kan udah lama meninggal, kok bisa dia menggugat? Pasti seru neh! Nah, mumpung bulan April rasanya kurang afdhol kalo kita nggak ikut membicarakan beliau yang setiap tahun selalu ada peringatan hari kelahiran putri keraton Jawa ini.
Kartini sudah terlanjur jadi jargon emansipasi perempuan Indonesia. Di setiap waktu dan bidang, semua mengelu-elukan beliau sebagai peletak tonggak persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Semua profesi yang berkaitan dengan perempuan sebagai pelaku aktif di dalamnya, tidak pernah ketinggalan selalu menyelipkan nama Kartini dengan penuh kekaguman dan terima kasih yang mendalam. Benarkah Kartini sehebat itu?
Jangan-jangan pemujaan ini menyimpan makna tertentu di baliknya. Apa iya sih cuma Kartini saja yang memperjuangkan hak perempuan terutama dalam hal memperoleh pendidikan? Ikuti terus yuk biar jelas… (more…)
Next Page »
