Nggak Ngaji Nggak Trendy
gaulislam edisi 131/tahun ke-3 (12 Jumadil Ula 1431 H/ 26 April 2010)
Halah, ini kan semboyannya program [klinik] gaulislam yang kita geber saban Rabu abis shubuh di Radio KISI 93.4 FM Bogor ya? Hehe.. bener Bro, ini sengaja kita jadikan judul buletin gaulislam edisi ini. Biar mantaplah. Soalnya, kita masih sering ketemu sama temen-temen yang lebih asyik ngomongin dandanan, gaul soal film terbaru, konser musik, berbusa-busa bahas kehidupan selebriti, gitu lho. Untuk apa tujuan mereka ngobrolin semua itu? Konon kabarnya biar disebut anak gaul dan ngetren. Sementara kalo urusan ngaji mah dibilangnya kampungan dan jatahnya orang yang udah TOP alias Tua Ompong Peot. Glodak!
Bro en Sis, udah saatnya deh kita percaya diri bilang kalo ngaji adalah bagian dari tren saat ini. Saat ini emang banyak orang udah stres dengan kehidupan dunia. Stres cari duit, stres pengen terkenal, stres pengen naik jabatan, stres dengan tekanan target pekerjaan dan bentuk-bentuk tekanan jiwa lainnya, Itu sebabnya, sebenarnya orang udah mulai senang lho ngaji. Seneng kumpul-kumpul bahas persoalan agama. Mereka banyak yang yakin kok bahwa kembali kepada ajaran agama adalah obat antistres. Insya Allah. Semoga demikian. So, itu artinya pula, sebenarnya kalo orang nggak ngaji saat ini, bisa dibilang nggak trendy dong ya? Hmm.. betul betul betul. (more…)
Mau ikut menyebarkan Buletin gaulislam?
Assalaamu’alaikum wr wb
Teman-teman semua, alhamdulillah Buletin Remaja gaulislam sejak edisi 122 (22 Februari 2010) edisi cetaknya disebarkan secara gratis ke sekolah-sekolah (khususnya di kawasan Kota Bogor). Asli. Beneran. Sampe ada pihak sekolah yang rada kaget lho pas kita bilangin bahwa buletin ini GRATIS alias nggak diperjual-belikan, alias cuma-cuma. Waaah… tentu saja mereka senang banget. Dapetin manfaat dari isi bacaan seputar Islam untuk remaja dan gratis pula, tiap pekan pula. Saat ini sudah ada 26 sekolah/lembaga pendidikan yang mendapat jatah buletin gaulislam edisi cetak. Bukan hanya di Bogor lho, tapi di Sukabumi dan Karawang, insya Allah dalam waktu dekat ini akan menyusul di kota Tegal dan kota lainnya di Indonesia.
Alhamdulillah, sampai hari ini sudah ada beberapa donatur dari kalangan kaum muslimin yang menginfakkan sebagian dari hartanya untuk ikut mendanai dakwah via media ini, yakni melalui edisi cetak buletin remaja gaulislam.
Kami masih terbuka untuk menerima infak dan shadaqah dari kaum muslimin agar buletin ini tetap bisa dibaca secara gratis oleh remaja muslim di mana saja berada.
Untuk memperluas jaringan penyebaran buletin ini ke sekolah-sekolah (selain di kota Bogor) dan menambah jumlah oplahnya, maka kami membuka program “DONASI DAKWAH UNTUK MENYEBARKAN BULETIN GAULISLAM”
Caranya mudah:
- Siapa saja dari Anda bisa berinfak, misalnya untuk pemesanan minimal 25 eksemplar dan dikirim ke sekolah tertentu, maka bisa mendonasikan Rp 5.000 + ongkos kirim (jika di luar kota Bogor) yang disesuaikan dengan tujuan daerahnya. Harga ongkos kirim adalah harga yang dikirim via pos kilat khusus. Di sini Anda berhak meminta pengelola gaulislam untuk mengirim buletin sejumlah 25 eksemplar ke sekolah yang Anda tuju. Infak bisa per pekan, bisa per bulan. Insya Allah akan kami penuhi pengiriman tsb. *Catatan: Rp 5.000 tersebut sekadar untuk mengganti ongkos cetak 25 eksemplar. Kami tidak mengambil untung sedikitpun secara materi. Jika Anda ingin mengirim lebih banyak, misalnya 50 eksemplar, maka donasi dakwahnya Rp 10.000 plus ongkos kirim yang disesuaikan dengan daerah tujuannya.
- Jika Anda tidak tahu harus mengirim ke sekolah mana pun, Anda bisa mengirim infak donasi dakwah saja. Berapapun jumlahnya, terserah. Insya Allah akan kami carikan sekolah lainnya yang belum mendapatkan buletin ini atau untuk memperbanyak jumlah oplah di sekolah yang sudah mendapatkan gaulislam.
Bagi Anda yang berminat ikut dalam donasi dakwah ini atau butuh penjelasan lebih lanjut, silakan hubungi redaksi gaulislam via e-mail atau SMS/Telp.
e-mail: buletin @ gaulislam.com atau SMS/Telp.: 02517115520
Buletin Remaja gaulislam: bacaan pas remaja cerdas | gaulislam, Young Muslim Weekly Bulletins (free)
Salam,
Redaksi gaulislam
Jangan Main-main dengan Hidupmu
gaulislam edisi 130/tahun ke-3 (5 Jumadil Ula 1431 H/19 April 2010)
Pernah dengar nggak ungkapan-ungkapan kayak gini? “Ah elo nggak keren kalo nggak mabok!” ; “Ah elo nggak jantan kalo nggak ngerokok”; “Ah elo nggak gaul kalo nggak ditato”
Setuju nggak elo sama ungkapan-ungkapan tersebut? Kalo elo nggak setuju gue kasih jempol deh buat elo karena elo bisa menggunakan pikiran dan akal sehat elo dengan baik. Tetapi kata-kata tersebut sering banget menginspirasi banyak orang—nggak peduli tua atau pun muda—yang penting orang yang pikirannya pendek pasti akan ngikut aja. Orang model gini, biasanya berprinsip: yang penting sebuah pengakuan supaya bisa dibilang kerenlah, jantanlah gaullah dan sejuta predikat yang nggak nyambung sama fakta. Iya nggak?
Hasrat menjadi penting
John Dewey pernah bilang: “Desakan yang paling dalam di dalam diri manusia adalah hasrat menjadi penting”. Maka dari itu sesuai dengan faktanya banyak manusia berlaku bodoh hanya untuk menjadi penting, merasa dihargai, dipandang, serta dihormati, bahkan tak jarang hal bodoh itu dapat merusak diri mereka sendiri, orang lain serta membuat mereka tampak lebih bodoh. (more…)
Anak Belajar dari Kehidupannya
gaulislam edisi 129/tahun ke-3 (27 Rabiuts Tsaniy 1431 H/12 April 2010)
Bro en Sis, mungkin kamu tahu berita tentang anak umur 4 tahunan yang udah lihai merokok dan terbiasa bicara cabul. Aduh, pas tahu ada berita ini, saya sedih banget. Terus jadi inget deh waktu saya nulis di buku Jangan Jadi Bebek (2002). Pada bagian akhir buku ini membahas tentang perilaku orang tua yang akan dicontek oleh anak-anaknya. Baik orang tuanya, insya Allah baik anaknya. Buruk orang tuanya, buruk pula anaknya. So, emang kudu ati-ati memberikan contoh perilaku kepada anak kecil. Memang sih, nggak murni salah orang tua kandungnya aja. Orang dewasa di sekitar kehidupan anak kecil juga akan turut mempengaruhi lho.
Ada pepatah/peribahasa lama, “Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga”. Yup, pepatah ini pernah menjadi judul tulisan di buku saya, Jangan Jadi Bebek. Dengan indah peribahasa itu mengumpamakan orang tua sebagai atap, bagian paling atas dari rumah. Posisi yang memberikan perlindungan kepada seluruh anggota keluarga. Atap jugalah yang kemudian meneteskan air ke pelimbahan, yakni anak-anak kita. Dan air, adalah karakter yang diwariskan kepada anak-anak, meluncur deras – sesuai sunatullah — dari atap menuju pelimbahan. (more…)
Guru Bule di Sekolahmu
gaulislam edisi 128/tahun ke-3 (20 Rabiuts Tsaniy 1431 H/5 April 2010)
Diberlakukannya internasionalisasi pendidikan di Indonesia, telah mengakibatkan berbagai dampak sosial dalam kehidupan pendidikan di negara kita. Mulai dari pendidikan biaya tinggi, pengkelasan level pendidikan hingga standardisasi mutu pendidikan dengan UN. Namun tidak banyak yang memperhatikan bagaimana sekolah bisa mengejar ‘status’ internasional mereka, sehingga bisa mengklaim dengan instan kalo pendidikan yang mereka selenggarakan adalah berskala internasional. Salah satu cara yang paling sering dan mungkin paling mudah ditempuh, adalah dengan mengimpor guru asing. Yuk kita bedah lebih dalam bagaimana kiprah guru asing di sekolah-sekolah elit di negara kita.
Perut keroncongan and konsentrasi buyar adalah dua tanda yang sangat jelas kapan gue harus makan siang, setelah sholat dhuzur, gue turun deh cari makan, (maklum ngantor di atas puhun). Longok kanan, en kiri, hmmm kok nggak ada yang menarik. Akhirnya setelah berfikir keras selama tiga jam, gue putusin makan di kantin sekolah, sebelah kantor. Siang itu kantin udah kaya pasar. Namanya juga kantin sekolah, rame banget. Dari pembicaraan seputar gosip paling gress di kelas sampe berapa jumlah rambut tupai langsung bisa kita denger seketika. Di antara kericuhan kantin itu, sempet gue simak diskusi soal guru bule. (more…)
