gaulislam.com


Untuk apa sih menulis?

Posted in Tips Menulis by sholihin on the May 31st, 2010

Assalaamu’alaikum wr wb

Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. Setiap orang bisa saja berbeda cara pandang dalam menentukan motivasi dan tujuan menulisnya. Maka, setiap kali saya mengajar kelas menulis atau mengisi workshop menulis maupun yang lebih spesifik seperti jurnalistik, yang pertama kali saya sampaikan kepada peserta adalah: “Apa sih motivasi Anda menulis?” Selain saya ingin mengukur minat yang mereka inginkan, juga agar saya bisa urun rembug memberikan sedikit sharing agar niat dan tujuan menulis tidak sia-sia atau tidak hanya mandeg pada tataran yang sangat sederhana atau bahkan ‘sampah’.

Nah, jawaban saya untuk pertanyaan sesuai judul artikel ini adalah: menulis ditujukan untuk BERBAGI. Memberi manfaat kepada pembaca agar mereka bisa merasakan nikmatnya pengetahuan. Berbagi itu indah. Apa sajalah, pasti kita senang juga ketika memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ada sebuah pesan yang menarik, “Jika ilmu yang Anda pelajari dari saya dapat berguna untuk diri Anda, maka tolong berbagilah kepada orang lain agar orang lain pun dapat memetik manfaat dari ilmu tersebut,” demikian pesan Milton Erickson pada murid terbaiknya, Stephen Gilligan, PhD. Siapa Milton Erickson dan siapa pula Stephen Gilligan? Bagi Anda yang peminat atau praktisi hynotherapy atau juga Neuro-Linguistic Programming, pastinya mengenal guru dan murid di bidang tersebut. Ini sekadar contoh saja.

Dalam Islam, kita sudah diberikan tuntunan. Dakwah salah satunya. Dakwah itu adalah bentuk kepedulian. Menyampaikan informasi dan pengetahuan itu terasa indah dan menyenangkan. Menulis, adalah salah satu cara untuk mendukung terlaksananya dakwah. Andai saja tak ada orang yang mau berdakwah, mungkin akan banyak manusia di bumi ini yang tersesat di jalan kehidupan. Jika tak ada guru yang mengajarkan banyak ilmu, mungkin tak akan banyak orang-orang cerdas dan terpelajar di dunia ini. Mungkin saja jika orang tua kita tidak mendidik kita tentang kepribadian dan etika, akan banyak hadir di dunia ini anak-anak yang tak beradab. Indahnya berbagi. (more…)

Memotivasi Diri, Raih Prestasi

Posted in Buletin GAUL Islam,Tahun III/2009-2010 by Leila Amra on the May 31st, 2010

logo-gi-3 gaulislam edisi 136/tahun ke-3 (17 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 31 Mei 2010)


Suatu hari di tahun 711 M, armada berkekuatan 7.000 prajurit itu merapat di pantai Andalusia. Sang Panglima lantas memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh armada mereka. Sebuah orasi tersulut dari mulut Sang Panglima, “Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?…” Instruksi ini dimaksudkan agar semua pasukan membakar habis pilihan untuk menjadi pecundang dan pengecut. Mereka hanya diberi dua pilihan, memenangkan pertempuran atau mati syahid.

Ya, sebait episode di atas adalah sebuah epik tentang seorang Thariq bin Ziyad, panglima pembebas Andalusia, beserta pasukannya yang berhasil menaklukkan 25.000 prajurit Visigoth di bawah komando Raja Roderick Spanyol. Kemenangan yang diraih pasukan kavaleri Islam tersebut termasuk historical moment. Berkat perjuangan mereka, Islam menaungi benua Eropa. Nggak heran kalo akhirnya nama beliau diabadikan untuk menyebut sebuah bukit karang setinggi 450 meter di semenanjung pantai tenggara Spanyol, Jabal Thariq. Orang Barat menyebutnya Gibraltar.

Sobat muda, motivasi adalah salah satu kunci selain keimanan dan doa yang menjadi penentu kemenangan tersebut. Dalam bahasa Arab, motivasi diistilahkan sebagai al-quwwah. Mutlak dalam menjalani hidup, kita memerlukan motivasi. Keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam karir dan hidup, disinyalir dipengaruhi erat oleh motivasi yang dimilikinya. Itulah mengapa saat ini menjamur kemasan program-program training (pelatihan) dalam rangka memfasilitasi peningkatan motivasi berprestasi (achevement motivation). Termasuk salah satunya Training the Spirit of Soul-nya Segi3 Learning Centre (permisi, numpang promosi dikit, heuheu).

Tapi sayangnya, di saat yang bersamaan pula, kita saksikan betapa banyak remaja yang diharapkan menjadi calon-calon pemimpin masa depan, seolah kehilangan semangat dan motivasinya untuk berlomba mengukir prestasi serta mempersiapkan hari esoknya. Ada apa gerangan? Awal kisah kita mulai dari te-ka-pe… (more…)

Menulis melancarkan berbicara

Posted in Tips Menulis by sholihin on the May 29th, 2010

Assalaamu’alaikum wr wb

Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!

Ya, jika Anda termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah, jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan bisa jadi deras.

Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai. Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih, tak sampai tulisan kesepeluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi. Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair. Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.

Intinya: menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun lisan. Tetaplah menulis!

Salam,

O. Solihin

Dilarang Percaya Paranormal

Posted in Buletin GAUL Islam,Tahun III/2009-2010 by Hafsa Mutazz on the May 24th, 2010

logo-gi-3 gaulislam edisi 135/tahun ke-3 (10 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 24 Mei 2010)



Kematian paranormal Mama Lauren pekan kemarin ternyata jadi ajang cari jimat. Gimana nggak, sisa kain kafan untuk membungkus jasad Mama Lauren diperebutkan warga yang ikut melayat. Hingga akhirnya ada pihak keluarga yang kepikiran untuk menjaga makam Mama Lauran selama 40 malam. Tujuannya, supaya tidak ada orang-orang yang membongkar makamnya. Hmm.. konon menurut keyakinan sebagian orang, terutama penganut ilmu hitam, kain kafan dan tali pocong dari orang yang diyakini punya ilmu tertentu bisa membuat dirinya makin digdaya. Ah, yang benar saja, Bung!

Kematian Mama Lauran mengundang kontroversi. Kalo saya menyimak di berbagai pemberitaan, termasuk entertainment, Mama Lauren katanya tahu saat dia akan mati. Walah, kaum muslimin seharusnya tidak percaya dengan kabar tersebut. Sebabnya apa? Sebab, kematian adalah rahasia Allah. Allah Swt. tidak memberikan pengetahuan tentang yang ghaib kepada siapapun kecuali yang dikehendakiNya, yakni kepada rasul yang diridhoiNya. Lha, Mama Lauren itu siapa? Cuma paranormal! Jadi nggak bisa dipercaya.

Ssstt.. seseorang pernah bilang ke saya: “Bingung juga sih. Ramalannya kok kadang-kadang benar ya? Terus gimana tuh?” Ah, itu kan kebetulan aja. Lagian biasanya paranormal nggak bisa nyebutin dengan pasti tentang ramalannya. Cuma bilang: “akan ada ini dan itu”. Kitanya aja yang tertipu karena udah terlanjur percaya. Glodak!

Jaman dulu di kampung saya ada juga dukun. Orang bilang sekarang paranormal atau pinter. Dia ngakunya bisa ngeramal dan nyembuhin orang. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya, tapi orang-orang di desa udah kadung menganggapnya hebat. Tapi setelah saudara saya bilang, “Ngapain minta tolong ke dia, shalat aja dia nggak. Gimana bisa dipercaya?” Hmm.. bener juga ya, jangan-jangan dia temenannya ama jin bin iblis deh yang memang para pembangkang Allah Swt. Sejak saat itu saya sama sekali nggak percaya. (more…)

Manfaatkan Waktu Hidupmu

Posted in Buletin GAUL Islam,Tahun III/2009-2010 by Ahmad Jibraan on the May 17th, 2010

logo-gi-3 gaulislam edisi 134/tahun ke-3 (3 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 17 Mei 2010)


Asik! Cihuy! Dapet jatah nulis lagi di buletin gaulislam tercinta (maklum lho, ada 9 penulis (termasuk gue) di buletin ini, tiga di antaranya adalah penulis senior: Kang O. Solihin, Mbak Ria Fariana, dan Mbak Nafiisah FB). Gue rada-rada gimana gitu kalo diminta nulis. Tapi, ini kesempatan berharga, Bro! Siapa tahu gue bisa jadi penulis terkenal kayak mereka itu. Hehehe…

Di tengah kesibukan sehari-hari, berkelana kemana-mana cari lowongan kerja baru, huft! Ternyata sesulit membalikkan telapak kaki gajah! Tiap Senin  keliling Bogor nyebar buletin gaulislam ke sekolah-sekolah kalian sambil cari inspirasi tapi konsentrasi kabur-kaburan terus hehe.. Lho kok malah cerita kegiatan gue? Sori en asikkin aja dah!

Oke deh, dan akhirnya dapet juga inspirasi buat nulis, memang betul-betul banget (lebay : mode on). Inspirasi bisa dapet dari mana aja bisa dapet pas lagi diem di kamar  apa lagi di kamar kecil, ngak usah pake semedi tujuh hari tujuh malam di gua atau kuburan atau nginep di rumahnya Ki Joko Stupid, eh Ki Joko Bodo.

Malam ini gue lagi di warnet en lumayan rame. Suara-suara bising motor, mobil odong-odong (baca: angkutan umum plat hitam) yang berseliweran di jalan setia menemani..Oya,  karena harus berbagi tempat dengan user lainnya di warnet, maka kedua kaki wajib dilipat alias bersila. Masalahnya, kalo terlalu lama bisa pegel dengkul ini, hadeu! (maklum gue ngetik di rental komputer yang lesehan) (more…)

Anak SD Aja Baca gaulislam!

Posted in Uncategorized by sholihin on the May 10th, 2010

Assalaamu’alaikum wr wb

Siswa-siswa MI Darul Ihya, Ciomas-Bogor foto bersama dengan memajang gaulislam

Siswa-siswa MI Darul Ihya, Ciomas-Bogor foto bersama dengan memajang gaulislam

Nggak nyangka. Waktu pertama kali dapet SMS dari Pak Wayan Prasetya (sekitar sebulan setengah lalu), guru di Madrasah Ibtida’iyah Darul Ihya, Ciomas saya agak kaget. “Apakah gaulislam cocok untuk anak SD?” Tapi apa boleh buat. Karena Pak Wayan berhasil meyakinkan saya bahwa mereka bisa paham baca gaulislam, maka akhirnya gaulislam edisi cetak didistribusikan ke sana. Saya berpikir: “Tak masalah sih. Siapa tahu mereka pas SMP udah paham Islam setelah membaca gaulislam. Insya Allah”

Kini, hari ini (10 Mei 2010), setelah 6 pekan berlalu, saya datang lagi ke sana. Seru. Lebih seru dari sebelumnya. Pada pertemuan kedua, sempat heboh juga karena anak-anak antusias ingin mendapatkan gaulislam. Rela berebutan mengambil gaulislam dari genggaman guru mereka. Apa yang membuat lebih seru di hari ini? Yup, saya berhasil memotret para siswa yang berpose bersama sambil majang gaulislam (hehehe…lebay nggak sih?).

Suatu ketika saya bertanya kepada Pak Wayan saat mengirimkan edisi cetak gaulislam, “Mereka paham apa yang disampaikan dalam gaulislam, Pak?”

“Alhamdulillah. Sebagian besar dari mereka paham karena bahasanya insya Allah mudah dipahami. Jika ada isi pesan yang tak mereka mengerti atau menurut saya butuh penjelasan, maka akan saya jelaskan saat di kelas,” Pak Wayan ngasih argumen. Wuih, sip deh Pak! (more…)

Berjilbab Itu, Modern!

Posted in Buletin GAUL Islam,Tahun III/2009-2010 by Amira Mehnaaz on the May 10th, 2010

logo-gi-3gaulislam edisi 133/tahun ke-3 (26 Jumadil Ula 1431 H/ 10 Mei 2010)


Satu kali, sebuah situs tentang cewek memberikan tips bagaimana caranya tampil PD dengan tank top meskipun lengan tangan besar. Saya pun merespon bahwa berpakaian menutup aurat (kerudung plus jilbab) adalah solusi cerdas bagi cewek tanpa harus meributkan ukuran lengan. Kelanjutannya adalah masing-masing bertahan pada pendapatnya. Situs tersebut menyatakan bahwa kita harus menghargai pilihan orang dalam memilih pakaian. Saya pun tidak keberatan karena pendapat tentang kerudung dan jilbab itu juga pendapat pribadi sebagai seorang perempuan.

Kamu masih ingat kan kasus temen-temen kita yang mengenakan kerudung sekitar tahun 90-an? Kalau nggak ingat, boleh kok tanya ke ortu, kakak atau tante kamu. Saat itu muslimah yang mengenakan kerudung diusir dari kelas beberapa sekolah negeri karena mempertahankan diri untuk menutup auratnya (wuih, baru pake kerudung aja dipermasalahkan, gimana kalo pake lengkap dengan jilbabnya ya?). Okelah, itu tahun jadul (jaman dulu). Kejadian paling baru pada bulan kemarin, yakni seorang wartawati sebuah stasiun televisi dilarang mengenakan kerudung ketika mewawancarai ibu presiden di istana. Ya, kita tahu sendirilah, ibu presiden kita kan nggak pake kerudung, apalagi berjilbab. Tetap kalo sampe pihak proteokoler istana ngelarang wartawati itu mengenakan kerudung saat mewawancarai ibu presiden namanya kebangetan. Hmm. ini mirip ketika presenter Sandrina Malakiano memutuskan mengenakan busana muslimah, dia malah dilarang tampil di layar televisi lagi dengan berbagai dalih. Herman, eh, heran deh! (more…)

Syauqi, Muncul di Tengah Kelesuan Nasyid

Posted in Resensi by sholihin on the May 7th, 2010

Judul Album: Rajin-Rajinlah | Grup Nasyid: Syauqi | Produksi: Risalah Production dan Naw Production | Info dan Pemesanan CD Syauqi: +6285691307396 | +622191765625

syauqiGrup nasyid asal Depok ini mencoba menawarkan genre nasyid yang mengingatkan saya kepada salah satu grup nasyid asal Malaysia, Raihan. Meski tidak sama persis, tetapi bagi saya dan telinga par5a pendengar lainnya yang akrab dengan Raihan akan menemukan rasa Raihan dalam album-album Syauqi. Baik lirik maupun musiknya easy listening. Ringan, menghibur dan mudah dihapal liriknya. Namun demikian, urusan vokal pasti sangat berbeda. Punya ciri khas tersendiri. Kualitas vokalnya lumayan oke juga.

Album Rajin-Rajinlah dibuka dengan lagu pertama berjudul “Shalatlah”, lalu “3 Tanda Orang Sholeh” dan empat lagu lainnya. Ada yang menarik dalam lagu “Suratan Badan”. Arrangment musiknya yang rapi dan mixingnya bersih membuat lagu ini terasa nikmat didengarkan lirik-liriknya. Meski sedikit mendayu-dayu, ini karena isi liriknya yang merupakan perenungan.

Entah Syauqi hadir pada saat yang tepat atau kurang tepat. Tapi yang pasti kehadirannya memberikan alternatif nasyid di tengah kelesuan nasyid secara umum. Sejak band-band konvensional menyerbu dengan lagu-lagu religi yang muncul setiap Ramadhan, masa kejayaan nasyid mulai pudar. Pendengar remaja pada umumnya lebih menyukai lagu-lagu dari musisi idola mereka yang memang sudah dikenalnya melalui lagu-lagu umum sebelumnya. Band-band seperti Ungu, Wali, ST 12, Gigi, termasuk yang ikut menembus pasar penyuka musik religi. Dengan kualitas vokal dan arransmen musik yang sudah mapan, mereka hanya tinggal mengolah liriknya saja. Dan, memang bagus-bagus dan digandrungi pendengar setianya.

Namun demikian, sebenarnya masih ada pasar fanatik para pendengar nasyid, meski jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan pendengar musik pop pada umumnya. Inilah yang barangkali ingin dibidik oleh grup-grup nasyid ‘tradisional’. Syauqi, sepertinya ingin bertahan pada segmen tersebut. Syauqi mencoba mengandalkan kekuatan pada lirik nasyid, dan mengemas dengan musik yang menjadi penarik perhatian pendengar awam tentang nasyid yang biasanya lebih banyak accapela. Jadi, tak ada salahnya untuk mencoba mendengarkan nasyid-nasyid dari Syauqi. Rasakan sensasinya. Meski anda yang terbiasa dengan Raihan mungkin akan menyangka Syauqi mengekor kesuksesan Raihan. Tetapi menurut saya, Syauqi hanya memanfaatkan inspirasi dari pendahulunya, mengolah dan mengemasnya dengan lebih baik lagi sesuai kreativitas yang mereka miliki. Tetap asik untuk didengarkan, kok. Namun, saya memiliki catatan khusus: Mungkin pada album berikunya, lagunya diperbanyak dalam satu album dan liriknya lebih ‘menggigit’ dalam menerjemahkan fenomena kehidupan yang ada. Jadi, lagu-lagunya terinspirasi dari kondisi perkembangan kehidupan. Agar terasa lebih dekat dan membumi.

Salam,

O. Solihin

Karena Kita Manusia

Posted in Buletin GAUL Islam,Tahun III/2009-2010 by Hasna Hawwa on the May 3rd, 2010

logo-gi-3 gaulislam edisi 132/tahun ke-3 (19 Jumadil Ula 1431 H/ 3 Mei 2010)

Manusia dengan segala macam latar belakang, warna kulit, dan bahasa sebenarnya menjalani fenomena kehidupan yang serupa. Lihat saja diri kita dan putar kembali memori kita ke sebelas atau bahkan dua puluh tahun silam lewat foto-foto yang sempat diabadikan, lewat video yang sempat direkam.

Kelahiran misalnya; dari tidak ada menjadi ada. Kulit mulai bersentuhan dengan udara bumi. Panca indera mulai difungsikan. Terus, tumbuh dan berkembang; yang lemah menjadi mandiri. Kita sebelumnya  adalah para bayi mungil yang bisanya cuma ngompol dan menangis untuk meminta sesuatu. Kemudian berbulan berikutnya kita menjadi tahu cara lainnya untuk mengekspresikan keinginan walaupun baru sekadar bergumam dan… ngompol (teteep, ya hehe…). Merangkak lalu berdiri. Berdiri lalu berjalan.  Berjalan lalu melesat berlari. Kita tumbuh menjadi sosok dengan segudang potensi yang berhasrat besar meraih ribuan keinginan dan berjuta impian.

Terus kematian; ada menjadi tiada. Manusia-manusia gesit melemah. Tulang mulai terasa goyah. Beban badan yang sebenarnya ringan terasa menjadi berat.  Perlahan waktunya datang. Kematian pun menjemput semua orang. (more…)

 

  rank blog indonesia   Religion Blogs - Blog Top Sites