Ayah Poligami, Haruskah Diamini?
Ssttt, hari gini banyak pria yang punya istri lebih dari satu alias poligami lho. Ini bukan gosip, tapi fakta. Eh, tapi ngomong-ngomong, gimana kalo ayah kamu ternyata juga penganut poligami? Suatu malam, Upik mendengar ayahnya berbicara serius pada ibunya. Rupanya ayah sedang ‘merayu’ ibu agar boleh menikah lagi. Gubrak! Langit serasa runtuh. Untungnya Upik masih berakal sehat. Dia pun memanjatkan doa pada Allah Swt.: ‘Ya Allah, berikanlah keputusan yang terbaik buat ayah.’
Akhirnya, ayah yang dikaguminya itu pun membawa perempuan muda ke rumah dan diperkenalkan sebagai istri mudanya. Apa ini pertanda doa Upik dikabulkan? Upik juga bingung. ‘Upik paham poligami itu dihalalkan Allah. Tapi selamanya Upik membencinya,’ ujar Upik, anak perempuan dari ayah beristri dua yang tinggal di Medan.
Dalam sebuah situs website dia berkeluh kesah tentang bagaimana suka dukanya ketika mengetahui ayahnya menikah lagi. Apalagi ibu muda ayahnya itu tinggal berdekatan dengan rumah doi yang 9 sodara seibu ini. ‘Terus terang Upik nggak habis pikir kenapa ayah melakukan itu. Tapi tiap kali Upik berontak, justru ibu membela ayah. Dan Upik lebih baik diam daripada harus melawan ibu,’ akunya.
Perlakuan ayah terhadap mereka semua di mata Upik tak pernah bisa dibilang adil. ‘Pokoknya batas antara adil-nggak adil, istimewa-diskriminasi, pilih kasih atau berat sebelah, nggak pernah tuntas. Kalau ayah ke rumah ibu muda, kami merasa diabaikan. Sebaliknya ketika ayah ke rumah kami, ibu muda dan sodara tiri menganggap kami diistimewakan dan mereka merasa diabaikan. Begitu saja terus kayak roda berputar,’ papar Upik.
Kini, ayah Upik sudah tergolong lansia. Namun dia masih dituntut untuk bekerja keras, terutama untuk membiayai sekolah adik-adik tirinya yang 5 orang. ‘Itu risiko yang ayah tanggung. Kadang kasihan juga melihatnya, sebab sering sakit-sakitan,’ sesal Upik.
Hukum poligami
Kita nggak bisa tutup mata, pengalaman seperti Upik mungkin banyak dialami remaja-remaja seusia kamu. Sebab makin banyak aja para pria yang melakukan poligami. Apa karena kaum hawa lebih banyak jumlahnya ya? Entahlah. Yang pasti, poligami kini nggak lagi dianggap ‘kelainan’ yang kudu ditutup-tutupi. Justru makin banyak yang mempopulerkannya lho.
Masih inget gimana bosnya Ayam Bakar “Wong Solo”, Puspo Wardoyo mempopulerkan poligami dengan menggelar Poligamy Award beberapa waktu lalu? Waktu itu sempet jadi kontroversi. Banyak yang menentang abis karena acara macam gitu dianggap merendahkan wanita, norak, cari sensasi, hanya menunjukkan ego kaum pria, dll. Namun tak sedikit pula yang mendukungnya, bahkan dari kalangan wanita. Pokoknya heboh punya!
Padahal, poligami sendiri memang dibolehkan. Eit, bukan berarti ngebela Puspo Wardoyo cs lho! Ini semata-mata membela syariat Islam. Abis gimana lagi, memang Allah Swt. telah menghalalkan poligami kok. So, kita sebagai hamba-Nya juga nggak bisa protes dong. Apalagi ngasih somasi atau mendemo Allah. Makanya nggak usah ngeyel. Allah Swt. berfirman dalam surat an-Nisa ayat 3 yang artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki yang demikian itu adalah lebih dekat tidak berbuat aniaya.”
Banyak kalangan yang kontra dengan poligami mengakal-akali ayat ini dengan berbagai versi penafsiran guna mengharamkan poligami. Tentu saja hal itu sama artinya dengan menentang ketentuan Allah Swt. Allah Maha Tahu maslahat di balik diperbolehkannya pria menikahi maksimal empat wanita sekaligus. Percaya deh!
Jadi, meskipun poligami ibaratnya pil pahit, mau nggak mau musti kita telen. Toh nggak selamanya yang pahit itu buruk, malah bisa jadi berbuah manis. Obat misalnya, udah bau, rasanya pahit pula. Tapi, bagi orang yang sakit, tetap dibeli sekalipun dengan harga selangit dan ditelen. Sebab dengan obat pahit inilah mereka mengharapkan kesembuhan. So kesimpulannya, secara hukum kita nggak boleh nolak bahwa poligami itu memang dihalalkan. Titik! (duileee… semangat banget ya?)
Luruskan niat
Keputusan seorang suami buat merit lagi tentunya bukan tanpa dasar. Nah, kalo kamu punya bokap yang niat merit lagi, atau emang udah merit dengan istri baru, kamu bisa aja tanya langsung ke beliau apa motivasinya. Tapi tentunya kudu esktra hati-hati dan pas waktunya. Jangan sampai malah menuai amarah. Sebab, bagaimana pun itu hak prerogatif ayahmu.
Hanya saja sebagai anak, kamu berhak ngasih pertimbangan-pertimbangan, masukan, kritik dan saran. Sebab, ini kan juga menyangkut urusan masa depan kamu. Jadi, bukan masalah ortu belaka lho! Kamu berhak mengingatkan ini pada bokapmu, tapi jangan dengan nada menggurui ya.
Yang jelas, pastikan bahwa niat ayahmu itu memang benar-benar untuk ibadah karena Allah Swt. Yup, nikah itu kan ibadah, begitu sabda Rasulullah Saw. Dengan menikah, seorang laki-laki memiliki ladang pahala yang banyak. Ketika dia memberi nafkah batin istrinya karena kecintaan kepada Allah Swt, maka itu bernilai pahala. Ketika dia menafkahi istri dan anaknya dengan layak, maka itu adalah pahala baginya. Begitu pula ketika dia mencurahkan kasih sayang, mendidik dan memperhatikan anak-anaknya, itu juga ladang pahala baginya.
Nah, dengan poligami tentunya pahala yang diperoleh akan lebih banyak jika dia bisa melaksanakan perannya dengan optimal. Misal memperlakukan istri-istrinya dengan adil, memperhatikan anak-anaknya tanpa pilih kasih, cukup dalam memberikan nafkah, dst. Pokoknya bisa adil gitu loh. Meski memang ‘adil’ ini bukan syarat mutlak kebolehan poligami. Tahu kan, yang namanya perasaan itu nggak mungkin bisa dibagi sama persis kepada setiap individu. Tul nggak? Jadi, kalo niatnya memang untuk ibadah, kamu kudu memaklumi. Nggak harus menunjukkan sikap mendukung sih, sebab kamu kan juga kudu menjaga perasaan ibu kamu. Yang penting jangan sampai kamu menentang ayahmu karena keputusannya, ntar malah dicap durhaka lagi.
Oke deh, yang jelas kamu kudu bisa menyamakan persepsi dan saling menghargai dengan ayah dan ibu. Yup, kamu kudu berdiri di garis netral di antara keduanya. Jangan terlalu membela ibu dan menyalahkan ayah, atau sebaliknya menyalahkan ibu mengapa mau dimadu. Terimalah kenyataan. Jangan lupa sabar dan tawakal. Semoga Allah Swt. memudahkan kita semua. Amin. [kholidah]

on November 20th, 2007 at 19:47
gw bela ibu gw buat CERAI (kan di halal kan jg???)
on September 22nd, 2009 at 23:10
Asslkm wr.wb.
Terus terang aku nggak suka artikelnya.. Aku nggak percaya zmn gini ada yg nikah lagi krn murni ibadah pd Allah. Pasti ada embel2 rasa superioritas (merasa sudah mapan/mampu), dan nggak bisa dipungkiri, nafsu. Aku pgn liat orang yg motivasinya krn emg niat ibadah. Contohnya, nikah sm janda yg sm skali nggak menarik scr fisik, dan umurnya udah bnr2 di atasnya. Nggak ada kan? Cuma Rasulullah SAW yg bisa. Kalaupun ada, sangat langka. Orang zmn skrg namanya aja istri muda, pastinya lbh muda dari yg pertama kan.
Mohon maaf, tapi menurutku, wanita yg mengizinkan suaminya menikah lagi itu aneh.. Aku percaya byk yg mengizinkan, tapi sebetulnya seumur hidup tidak akan pernah menerima. Mungkin spt contoh ibunya upik di atas. Kalau alasannya krn istrinya sndiri yg merasa sdh tidak bisa mendukung suami dan justru dianya yg meminta sang suami menikah lg, okelah. Tapi kalo klgnya fine2 aja, nggak kekurangan suatu apapun, buat apa juga nikah lagi? Spt klg upik di atas, dia aja dah 9 bersaudara!!!!! Trus bgitu bapaknya nikah lagi, punya anak lg 5!!! Padahal usianya dah nggak sepatutnya msh banting tulang, apalagi utk membiayai 2 klg!! Kalau terjadi sesuatu pd bpknya, mslnya beliau wafat, siapa yg mau mengurus kelima anaknya dr pnikahan kedua? Haruskah upik dan kakak-adiknya? Upik sndiri bilang dia tidak rela (menerima tp seumur hidup tdk akan memaafkan, lah bukannya sama aja?). Kalau sampai mereka yg harus membiayai, bukannya malah jadi tidak ikhlas? Malah masalahnya jadi panjang kan…
Aku sndiri ngalemin ini, makanya aku bisa sampai di hlm ini krn ngegoogle (muncul sbg option pertama pas aku masukin kata kunci). Aku 4 bersaudara dlm klg yg fine2 aja. Ibuku masih hidup, sehat, dan masih bisa melayani. Eeeeh.. Bapakku nikah lagi sm wanita separuh usianya ndiri, bhkn hanya beda bbrp taun dari aku yg anak pertama. Aku bnr2 nggak habis pikir. Dan lagi, wanita itu anak bungsu, lajang, sdh mapan bekerja, dan masih punya orang tua lengkap dan kakak yg smuanya bekerja. Apanya yg perlu dibantu? Apanya yg krn ibadah kpd Allah?
Makanya aku bnr2 kecewa dgn artikel ini. Mohon maaf, tapi Anda yg menulis artikel ini apakah juga mengalami hal yg sama? Apakah ayah Anda juga menikah lagi saat ibu Anda masih hidup? Apakah Anda seorang istri yg berpuluh thn silam begitu bahagia menikah dgn cinta hidup Anda, setiap hari dgn sekuat tenaga menyiapkan makanan 3 kali sehari utk suami tercinta, mencuci dan menyetrika bajunya, mengandung – melahirkan – menyusui – dan membesarkan anak2nya, merelakan kariernya krn bertekad utk menjadi seorang istri dan ibu yg sempurna, menunggunya pulang setiap mlm utk menunggu cerita2nya, lantas.. Berpuluh tahun kemudian diminta utk bersabar krn dia berkata ingin menikahi wanita lain. Yang blm menikah, melihat calon suami sndiri melirik wanita lain saja rasanya pedih, bagaimana mendengar suami sndiri bilang ingin memiliki wanita lain..
Sekali lagi mohon maaf, tapi apakah Anda mengalami ini?
Jika tidak.. Dengan sangat menyesal saya berkata bhw Anda tidak pantas menulis artikel di atas. Anda tidak pantas menasehati orang lain yg mengalaminya lgsg, krn orang2 spt kami memiliki perspektif berbeda dari masalah seperti ini dan tidak akan bisa menerima dgn alasan apa pun. Ada yg seperti UPIK, menerima tapi tidak akan memaafkan. Namun ada juga yg seperti DIVI, yg tidak menerima dan mgkn jg tidak memaafkan. Yang manapun, pada dasarnya kami mengalami sakit hati yg teramat sangat dan sebetulnya tidak rela. Jika Anda ingin membuat artikel, mohon berempati dulu terhadap orang2 yg mengalami. Try to feel it in our shoes, and you’ll get a whole new feeling of it.
Sekali lagi mohon maaf. Akan sangat berbeda kalau Anda hanya menulis dgn niat menceritakan ulang dalil2 yg ada atau kisah2 serupa. Tapi masalahnya Anda memasukkan opini Anda juga ke dalam tulisan Anda.. Itu mengapa meskipun blog anda ini muncul di urutan pertama di search engine dan telah ada sejak 2 thn silam, tulisan anda tidak mengalami perkembangan. Satu2nya orang yg mengomentari pun bernada tidak mendukung.
Ini hanya feedback dari seorang anak yg sakit hati dan tidak akan pernah mengamini ayahnya yg berpoligami (dan mgkn akan nambah lagi). Mungkin akan berbeda ceritanya jika yg memberi komentar adalah sang pelaku sndiri. Sekali lagi, ini hanya feedback.. Piiiiiisss ya…..
Wass wr.wb
on September 22nd, 2009 at 23:22
Ohya, kalau ternyata Anda sendiri mengalami langsung, atau bahkan Anda sendirilah tokoh Upik yg diceritakan di atas.. Sptnya Anda masih perlu mengasah kepiawaian Anda dlm mengolah kata.. Soalnya buat saya yg sudah tau ayah saya berpoligami sjk 5 thn silam saja masih merasa teramat sangat sakit hati membacanya. Bagaimana dgn anak2 muda yg baru saja tau, masih shock2nya, mencoba mencari referensi dan kisah orang lain, lantas tau2 membaca ini. Justru intinya tulisan ini untuk orang2 spt mereka kan? Menenangkan mereka yg sedang hancur hatinya. Mungkin justru lebih tepat kalo sudut pandangnya mlh orang pertama, misalnya Upik sndiri yg menceritakan. Atau kata2nya diubah gimanaaaa gt biar tidak terkesan terlalu menggurui..
Okeiy………..