<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/khazanah/hikmah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Takutnya Umar bin Abdul Aziz kepada maut</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/takutnya-umar-bin-abdul-aziz-kepada-maut</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/takutnya-umar-bin-abdul-aziz-kepada-maut#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 20:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[maut]]></category>
		<category><![CDATA[umar bin abdul aziz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/takutnya-umar-bin-abdul-aziz-kepada-maut/</guid>
		<description><![CDATA[Sa’id bin Abi ‘Urubah mengatakan, “Bila disebutkan tentang kematian di hadapan Umar bin Abdul Aziz, gemeterlah seluruh persendian tubuhnya.”
Athaa’ juga menceritakan, “Hampir setiap malam, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para ahli fiqih di kediamannya, lalu mereka saling mengingatkan tentang kematian dan hari kiamat, setelah itu mereka semua menangis seakan-akan di depan mereka sedang ada jenazah.”
Pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sa’id bin Abi ‘Urubah mengatakan, “Bila disebutkan tentang kematian di hadapan Umar bin Abdul Aziz, gemeterlah seluruh persendian tubuhnya.”</p>
<p>Athaa’ juga menceritakan, “Hampir setiap malam, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para ahli fiqih di kediamannya, lalu mereka saling mengingatkan tentang kematian dan hari kiamat, setelah itu mereka semua menangis seakan-akan di depan mereka sedang ada jenazah.”</p>
<p>Pernah suatu kali Umar bin Abdul Aziz berkata kepada salah seorang teman berbincangnya, “Malam kemarin, semalam suntuk aku tidak dapat tidur, aku terus berpikir.”<span id="more-655"></span></p>
<p>“Memikirkan apa, wahai Amirul Mukminin?”tanya temannya itu.</p>
<p>“Tentang kubur dan penghuninya. Sungguh bila engkau melihat mayat setelah tiga hari dari hari dikuburkan, dengan segala keadaan yang terjadi padanya, pasti engkau akan merasa jijik berdekatan dengannya, walaupun sebelumnya, ketika ia masih hidup, engkau menyenanginya. Pada waktu itu engkau juga akan melihat ‘rumah’ yang dipenuhi burung hantu, ulat-ulat keluar di dalamnya, nanah bercampur darah mengalir bersamaan dengan bau yang mulai berubah menjadi busuk. Padahal, sebelumnya ia dalam keadaan bagus, harum, dan pakaiannya bersih.”</p>
<p>Usai mengungkapkan hal itu, Umar menangis sedu-sedan lalu terkulai pingsan tak sadarkan diri. [source: Washaaya wa ‘Izhaat Qiilat fi Aakhiril-Hayat, karya Zuhair Mahmud al-Humawi]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/takutnya-umar-bin-abdul-aziz-kepada-maut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khalid Bin Walid</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/khalid-bin-walid</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/khalid-bin-walid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 03:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/khalid-bin-walid</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin&#8221; demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam. 
Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>&#8220;ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin&#8221; demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam. </em></strong></p>
<p>Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.</p>
<p>Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka&#8217;bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka&#8217;bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina. <span id="more-2393"></span></p>
<p>Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka&#8217;bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, &#8220;O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu&#8221;.</p>
<p>Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.</p>
<p>Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur&#8217;an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.</p>
<p>Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam.</p>
<p>Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.</p>
<p>Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.</p>
<p><strong>Latihan Pertama</p>
<p></strong> Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.</p>
<p>Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.</p>
<p>Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.</p>
<p>Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.</p>
<p>Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran.</p>
<p>Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya.</p>
<p><strong>Menentang Islam </strong></p>
<p>Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.</p>
<p>Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.</p>
<p><strong>Peristiwa Uhud<br />
</strong><br />
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.</p>
<p>Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.</p>
<p>Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.</p>
<p>Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.</p>
<p>Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.</p>
<p>Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.</p>
<p>Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.</p>
<p>Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.</p>
<p>Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.</p>
<p>Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.</p>
<p>Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.</p>
<p>Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemaua-Nya.[dari berbagai sumber]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/khalid-bin-walid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Hikmah Di Balik Musibah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-hikmah-di-balik-musibah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-hikmah-di-balik-musibah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 06:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ada-hikmah-di-balik-musibah</guid>
		<description><![CDATA[Musibah emang bisa bikin susah. Tapi jangan keterusan bikin hati gundah. Karena ternyata Allah menyiapkan hikmah di baliknya. Tetep don&#8217;t worry be happy.

Kalo bisa milih, kagak bakal ada remaja yang sudi menerima bencana. Mana ada dong orang yang mau rumahnya diacak-acak gelombang tsunami, mobilnya digulung tornado, atau orang-orang terkasihnya ditelan gempa tektonik. Kagak bakal ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><strong><em>Musibah emang bisa bikin susah. Tapi jangan keterusan bikin hati gundah. Karena ternyata Allah menyiapkan hikmah di baliknya. Tetep don&#8217;t worry be happy.</em></strong></p>
<p align="left">
<p align="left">Kalo bisa milih, kagak bakal ada remaja yang sudi menerima bencana. Mana ada dong orang yang mau rumahnya diacak-acak gelombang tsunami, mobilnya digulung tornado, atau orang-orang terkasihnya ditelan gempa tektonik. Kagak bakal ada yang mau, bro!</p>
<p align="left">Manusia itu tipikalnya emang seneng banget dengan yang namanya <em>happyness</em>. Pengennya seneng en bahagia selalu. Jadi mahluk yang namanya musibah kagak didemenin ama banyak orang. Termasuk oleh remaja.</p>
<p align="left">Tapi gimana bisa kita milih? Lha wong tahu-tahu gelombang tsunami udah ada di depan mata. Atau gimana bisa nyelametin rumah kita kalau dalam sekejap mata tanah udah belah karena hentakan gempa tektonik. Hidup itu terkadang emang nggak bisa memilih.<span id="more-2357"></span></p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Ujian hidup, Bro!</strong></p>
<p align="left">Kalo kita pikir-pikir, ternyata hidup ini emang ada siklusnya; ada siang ada malam, ada mentari ada simpati eh rembulan maksudnya, dan ada tawa ada duka. Allah Swt. nggak hanya memberikan kesenangan hidup buat umat manusia, tapi juga ngasih sesuatu yang bisa bikin manusia terhenyak lalu bercucuran air mata duka.</p>
<p align="left"><em>Guys</em>, itu semua kata orang-orang alim dan soleh adalah <em>sunnatullah</em>. Sesuatu yang emang udah ditakdirkan oleh Allah sebagai bagian kehidupan yang udah pasti menimpa manusia. Misalnya, ada kelahiran ada juga kematian. Ketika ada bayi yang lahir, orangtuanya kan pasti gembira bin sumringah. Tapi ketika orang yang dikasihi meninggal, pastinya bersedih. Dan ternyata itu terjadi setiap saat dalam kehidupan kita. Nggak ada orang yang bisa menolak kelahiran dan kematian. Semua udah ditakdirkan oleh Allah Swt. FirmanNya:<em> &#8220;Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: &#8220;Jadilah&#8221;, maka jadilah ia.&#8221;</em><strong>(QS Maryam [19]: 35)</strong></p>
<p align="left">Tapi apa iya Allah tega melihat mahlukNya menderita? Pasti tidak, tapi Allah memang selalu ngasih yang namanya ujian hidup buat manusia yang beriman. Kalo ada manusia yang beriman, maka Allah pengen tahu seperti apa sih keimanannya; beneran atau palsu? Tinggi atau rendah? Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi?&#8221;</em> <strong>(QS al-&#8217;Ankabuut [29]: 2)</strong></p>
<p align="left">Ujian yang berupa musibah itu macam-macam bentuknya; mulai dari yang kecil sampe yang gede. Mulai hati yang resah, badan yang cape en pegel-pegel, sampai musibah besar seperti yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah. Termasuk serangan si biadab Israel ke Palestina dan Libanon adalah ujian dari Allah untuk umatNya. Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosa.&#8221;</em> <strong>(HR Bukhari, Muslim)</strong></p>
<p align="left">Tapi gimana dong, kan nggak semua orang tahan menghadapi ujian atawa musibah? Jangan khawatir, <em>guys</em>. Semua ujian itu ternyata udah diatur oleh Allah agar sesuai dengan kekuatan iman masing-masing. Allah menjelaskan dalam ayatNya:<em> &#8220;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.&#8221;</em> <strong>(QS al-Baqarah [2]: 286)</strong></p>
<p align="left">Nabi saw. bersabda: <em>&#8220;Ujian yang paling berat adalah bagi para nabi, kemudian berikutnya dan berikutnya, seseorang diuji (oleh Allah) sesuai kadar agamanya. Maka tidaklah musibah menimpa seseorang sehingga ia berjalan di atas bumi dan tidak ada dosa padanya.&#8221;</em> <strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Pelajaran empati</strong></p>
<p align="left">Orang-orang yang soleh juga mengatakan kalau hal seperti itu adalah cara cerdas dari Allah untuk bikin manusia menikmati hidup. Maksudnya, kalo kita nggak pernah ngalamin yang namanya musibah, kita nggak bakal tahu cara bersyukur nikmat. Contohnya nih, kalo kita nggak pernah sakit gigi, kita mungkin suka lupa betapa nikmatnya punya gigi sehat yang bisa ngunyah makanan kesukaan kita.</p>
<p align="left">Selain itu, dengan adanya bencana yang menimpa manusia, kita diajarkan untuk bisa berempati pada penderitaan orang lain. Turut merasakan derita orang lain, karena kita juga pernah mengalami penderitaan yang serupa. Mereka yang hidupnya selalu hedonis, selalu mikirin dan nyari kesenangan ragawi, rada susah diajak untuk berempati. Pasalnya, hidup abis untuk ngedugem en <em>having fun</em>.</p>
<p align="left">Dalam buku <em>Kebun Hikmah</em>, dikisahkan ada seorang wanita salehah yang gemar bersedekah. Tapi kebiasaannya itu justru ditentang oleh keluarganya. Sampai suatu ketika keluarganya memutuskan untuk tidak memberinya nafkah. Tujuannya memberi pelajaran supaya dia menghargai harta dan tidak banyak bersedekah. Akhirnya ia pun jatuh fakir.</p>
<p align="left">Melihat saudaranya menderita, keluarganya menjadi iba. Akhirnya mereka memberinya lagi nafkah berupa <em>shirmah</em> (unta berjumlah sekitar 20-30 ekor). Suatu ketika datang seorang pengemis yang mengiba-iba. Wanita itu langsung saja memberinya seluruh unta yang diberikan keluarganya karena ia pernah merasakan derita sebagai orang fakir. Subhanallah!</p>
<p align="left">Jadi di balik bencana &#8211; sekecil apapun itu &#8211; Allah ingin memberikan pesan yang indah; mensyukuri nikmat Allah yang ada dan bisa berempati pada penderitaan orang lain.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Orang kafir nggak?</strong></p>
<p align="left">Pernah nggak kepikiran, kenapa justru bencana sering menimpa orang baik-baik dan beriman, sementara orang-orang kafir justru baek-baek aja?</p>
<p align="left">Hmm, wajar deh ada pertanyaan macam itu. Kalo kita liat betapa susahnya perjuangan dakwah Nabi saw., aduh sedih dan gemes. Ternyata dakwah itu berliku dan penuh kerikil tajam. Sering banget Nabi saw. dan para sahabat mendapatkan intimidasi dan siksaan fisik dari orang-orang kafir. Bahkan sewaktu ke Thaif, beliau mendapatkan serangan batu dari penduduknya. En ternyata, Allah Swt. kemudian memberitahu kepada beliau kalau para nabi dan rasul terdahulu juga mengalami nasib serupa. FirmanNya:<em> &#8220;Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.&#8221;</em> <strong>(QS al-An&#8217;aam [6]: 34)</strong></p>
<p align="left">Sementara itu, para pemimpin Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Walid bin Mughirah hepi banget menyiksa dan melihat derita kaum muslimin.? Kita juga sering ngeliat banyak orang jahat dan kafir yang hidupnya nampak hepi. Bergelimang harta dan popularitas. Apa kagak salah Allah ngasih itu semua?</p>
<p align="left">Nggak, guys. Sama sekali nggak salah. Di balik pemberian Allah yang nampaknya nikmat, sebetulnya tersembunyi laknat. Allah tuh sengaja memberikan itu semua agar mereka makin terbuai dalam kejahatannya lalu Allah bakal ngebales perbuatan mereka dengan azabNya yang pedih. FirmanNya:<em> &#8220;Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.&#8221; </em><strong>(QS an-Nisaa [4]: 115)</strong></p>
<p align="left"><em>So</em>, saudara-saudaraku yang tengah tertimpa musibah, di mana saja, <em>don&#8217;t worry be happy</em>. Di balik aneka musibah itu Allah tengah menyiapkan aneka kebaikan dan pahala yang luaaar biasa, jika kita mau bersabar dan tetap berkeyakinan kalo Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yakin deh, bro en sis! <strong>[januar]</strong></p>
<p align="left">
<p align="left">===boks</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>3 Jurus Penghilang Duka</strong></p>
<p align="left">
<ul class="unIndentedList">
<li> <em>Don&#8217;t look back!</em> Jangan melulu ngingetin masa lalu, tataplah ke depan. Kita emang pantes bersedih, tapi jauh lebih penting mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Allah sengaja menyelamatkan kita supaya jadi orang yang makin tegar. Inget, banyak orang yang menjadi hero setelah aneka musibah yang menimpanya.</li>
<li> <em>Stop crying!</em> Jangan keterusan nangis. Yang udah berlalu dan berpulang padaNya kagak bakal bisa balik lagi. Syukuri apa yang Allah masih berikan pada kita. Bahwa kamu masih survive en juga orang-orang terdekatmu, atau mungkin sebagian harta keluargamu. Nangis terus menambah berat masalah.</li>
<li> <em>Think positive!</em> Tetep mikir positif. Alhamdulillah, kamu masih sehat dan selamat, masih banyak orang yang tertimpa musibah lebih parah en mereka masih baik-baik saja. Yakini bahwa ini adalah ujian dari Allah &#8211; bukan hinaan apalagi kezhaliman &#8211; yang kalo kita bisa melewatinya dengan baik bakal menuai pahala yang besar. <strong>[januar]</strong></li>
</ul>
<p align="left">
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "bidik", Majalah SOBAT Muda, edisi September 2006]</em><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-hikmah-di-balik-musibah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Allah dan Hak Manusia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hak-allah-dan-hak-manusia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hak-allah-dan-hak-manusia#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 23:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2343</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, Salman menyambangi keluarga Abu Darda. Alangkah terkejutnya dia, tatkala mendapati Ummu Darda dalam keadaan kucel.
&#8220;Mengapa engkau begitu kusut, Ummu Darda?&#8221; sapa Salman.
&#8220;Abu Darda, saudaramu itu, sekarang sudah tidak tertarik lagi pada dunia,&#8221; jawab Ummu Darda kesal.
Salam tersenyum. Ia lalu mengajak Abu Darda menginap di rumahnya.
Di rumah Salman, tuan rumah menjamu dan mengajak makan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, Salman menyambangi keluarga Abu Darda. Alangkah terkejutnya dia, tatkala mendapati Ummu Darda dalam keadaan kucel.</p>
<p>&#8220;Mengapa engkau begitu kusut, Ummu Darda?&#8221; sapa Salman.</p>
<p>&#8220;Abu Darda, saudaramu itu, sekarang sudah tidak tertarik lagi pada dunia,&#8221; jawab Ummu Darda kesal.</p>
<p>Salam tersenyum. Ia lalu mengajak Abu Darda menginap di rumahnya.</p>
<p>Di rumah Salman, tuan rumah menjamu dan mengajak makan tamunya. Tapi Abu Darda menolak, &#8220;Saya sedang puasa (sunnah). Makanlah sendiri, tidak apa-apa,&#8221; katanya.<span id="more-2343"></span></p>
<p>&#8220;Tidak, saya tidak akan makan kecuali engkau pun makan,&#8221; ucap Salman, yang membuat Abu Darda tak berkutik lagi. Mereka pun makan bersama.</p>
<p>Malamnya, usai bertahajud secukupnya, Salman melihat saudaranya tak henti-henti shalat malam. Ketika Abu Darda menyelesaikan rakaat yang kesekian puluhnya, Salman memperingatkan, &#8220;Tidurlah,&#8221; katanya sambil membimbing Abu Darda ke pembaringan. Abu Darda menurut. Tapi, setelah Salman keluar dari bilik, Abu Darda bangkit lagi untuk shalat. Salman yang mengintip kelakuan Abu Darda, kembali mengajak saudaranya itu untuk tidur. Bahkan untuk mengawasi Abu Darda, Salman turut berbaring di sisinya. Mereka pun tertidur sampai subuh tiba.</p>
<p>Ketika sarapan, Salman berkata kepada Abu Darda, &#8220;Sesungguhnya badanmu punya hak atasmu, dan Rabb-mu pun punya hak atasmu. Tamumu juga punya hak atasmu, demikian juga istrimu punya hak atasmu. Maka berikanlah kepada yang berhak sesuai haknya masing-masing.&#8221; <strong>[Source: Islamia]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hak-allah-dan-hak-manusia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wasiat Ali bin Abi Thalib ra kepada Hasan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/wasiat-ali-bin-abi-thalib-ra-kepada-hasan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/wasiat-ali-bin-abi-thalib-ra-kepada-hasan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 23:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2336</guid>
		<description><![CDATA[Melihat ayahnya yang terluka di pembaringan, Hasan tak mampu membendung air matanya. Sang ayah kemudian berkata kepada putranya itu, &#8220;Anakku, pesanku, jagalah empat perkara, dan empat perkara yang lain!&#8221;
&#8220;Apa perkara-perkara itu, wahai Ayahanda?&#8221; tanya Hasan.
Ali ra menjawab, &#8220;Kekayaan yang tiada taranya adalah akal, kemiskinan yang paling buruk adalah kebodohan, kesepian yang paling baik adalah ujub, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat ayahnya yang terluka di pembaringan, Hasan tak mampu membendung air matanya. Sang ayah kemudian berkata kepada putranya itu, &#8220;Anakku, pesanku, jagalah empat perkara, dan empat perkara yang lain!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa perkara-perkara itu, wahai Ayahanda?&#8221; tanya Hasan.</p>
<p>Ali ra menjawab, &#8220;Kekayaan yang tiada taranya adalah akal, kemiskinan yang paling buruk adalah kebodohan, kesepian yang paling baik adalah ujub, dan kemurahan yang teramat mulia ialah budi pekerti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa empat perkara yang lain?&#8221; tanya Hasan lagi.</p>
<p>&#8220;Pertama, jangan sekali-kali engkau berteman dengan orang tolol karena jika ia ingin menguntungkanmu, ternyata ia malah mencelakakanmu. Kedua, jangan bersahabat dengan penipu karena ia akan mendekatkan padamu sesuatu yang sebenarnya harus engkau jauhi, dan menjauhkan yang seharusnya kau dekati. Ketiga, jangan bergaul dengan si kikir karena ia akan menahan apa yang sangat kau butuhkan. Terakhir, jangan jadikan orang durhaka sebagai rekanmu karena ia akan menjualmu dengan harga yang sangat rendah!&#8221; <strong>[source: Washaaya wa 'Izhaat Qiilat fi Aakhiril-Hayat]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/wasiat-ali-bin-abi-thalib-ra-kepada-hasan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/malu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/malu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 05:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1243</guid>
		<description><![CDATA[Ibn Mas&#8217;ud menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, (yang artinya): Sesungguhnya di antara kalam nubuwwah (ungkapan kenabian) yang disampaikan kepada manusia adalah, &#8220;Jika kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!&#8221; (HR al-Bukhari).
Ibn Hajar, terkait dengan syarah (komentar) atas hadis ini, menyatakan antara lain: Pertama, kalam nubuwwah bermakna apa saja yang disepakati para nabi, yakni yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibn Mas&#8217;ud menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, (yang artinya): <em>Sesungguhnya di antara </em>kalam nubuwwah<em> (ungkapan kenabian) yang disampaikan kepada manusia adalah, &#8220;Jika kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!&#8221;</em> (HR al-Bukhari).</p>
<p>Ibn Hajar, terkait dengan <em>syarah</em> (komentar) atas hadis ini, menyatakan antara lain: <em>Pertama</em>, <em>kalam nubuwwah</em> bermakna apa saja yang disepakati para nabi, yakni yang biasa diperintahkan oleh mereka (kepada manusia, <em>pen</em>.), yang tidak dihapus bersamaan dengan dihapusnya syariah mereka, karena memang perintah tersebut dibebankan kepada setiap akal manusia (di mana pun dan pada zaman kapan pun, <em>pen</em>.). <em>Kedua</em>, <em>berbuatlah sesukamu</em> adalah kalimat perintah yang mengandung konotasi berita, yakni berupa ancaman. Kalimat tersebut antara lain bermakna: &#8220;Berbuatlah sesukamu karena pasti Allah akan membalasmu&#8221;. Makna lainnya, ia justru merupakan dorongan untuk memiliki rasa malu (Ibn Hajar, <em>Fath al-Bari</em>, XVII/303).<span id="more-1243"></span></p>
<p>Rasa malu yang dimaksud tentu saja malu kepada Allah Swt. Malu kepada Allah inilah yang dikaitkan dengan keimanan, sebagaimana sabda Rasulullah saw., &#8220;<em>Malu itu sebagian dari iman</em> (HR Abu Dawud).&#8221;</p>
<p>Beliau juga bersabda, &#8220;<em>Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah rasa malu</em> (HR Malik).&#8221;</p>
<p>Rasa malu kepada Allah harus dibuktikan dengan meninggalkan berbagai macam keburukan dan kekejian serta melakukan berbagai macam kebaikan dan kebajikan. Menurut Imam al-Baidhawi, hakikat malu kepada Allah adalah memelihara diri dari segala ucapan dan tindakan yang tidak Allah ridhai (<em>Faydh al-Qadir</em>, 1/623).</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Pembaca yang budiman, liberalisme (paham kebebasan) yang diusung sekaligus dipraktikkan masyarakat Barat saat ini, yang kemudian ditiru oleh sebagian masyarakat kita, pada dasarnya adalah paham yang ?tak kenal rasa malu&#8217;. Boleh dikatakan, di tengah-tengah masyarakat yang semakin liberal saat ini, rasa malu tampaknya telah hilang pada sebagian orang.</p>
<p>Hilangnya rasa malu pada sebagian masyarakat tampak pada kebiasaan bahkan ?kegemaran&#8217; mereka bermaksiat kepada Allah, baik dalam pikiran (ide), ucapan (pendapat) maupun tindakan (perilaku).</p>
<p>Terkait pikiran dan pendapat, saat ini kalangan liberal tampaknya adalah kalangan yang paling tidak punya rasa malu. Sebabnya, mereka banyak melontarkan ide-ide rusak dan merusak dengan penuh kebanggaan dan bahkan kesombongan. Al-Quran tidak lagi mereka anggap kitab suci yang Allah wahyukan sehingga layak dikritisi. Makna ayat-ayatnya mereka takwilkan agar sesuai dengan ?semangat zaman&#8217;. Hukum-hukumnya mereka putar-balikkan jika dianggap melanggar HAM dan kebebasan. Tafsir-tafsirnya yang <em>mu&#8217;tabar</em> mereka singkirkan karena dianggap sudah tidak lagi relevan. Para mufassirnya mereka rendahkan dengan tuduhan ?bias gender&#8217;, dipengaruhi oleh lingkup sosial zamannya, dst.</p>
<p>Hadis Nabi, meski sahih bahkan mutawatir sekalipun, banyak mereka campakkan jika tidak sesuai dengan keinginan. Kredibilitas para perawinya mereka persoalkan.</p>
<p>Keadilan para Sahabat Nabi saw. yang Allah muliakan juga mereka nafikan. Karenanya, Ijma Sahabat pun mereka singkirkan. Para ulama salaf, seperti Imam Syafii, mereka rendahkan, bahkan ushul fikihnya mereka tuduh menghambat kemajuan.</p>
<p>Kita patut bertanya: sudah berapa ayat yang serupa al-Quran mereka ciptakan hingga mereka berani menuduh al-Quran bukan sebagai kitab suci sehingga layak dikritisi? Sudah berapa ratus hadis mereka hapal hingga mereka berani mengkritisi Imam al-Bukhari-yang hapal ratusan ribu hadis dan asal-usulnya-dan meragukan banyak hadis dalam kitab <em>Shahih</em>-nya? Sudah berapa buku yang mereka tulis hingga mereka berani merendahkan para ulama salaf, seperti Imam Syafii, peletak dasar ilmu ushul fikih yang menghasilkan puluhan karya yang mumpuni? Benar-benar tidak punya rasa malu!</p>
<p>Lalu terkait dengan tindakan (perilaku), banyak sekali orang yang mengaku Muslim-entah penguasa, pejabat, wakil rakyat, politisi, tokoh parpol, artis, dan sebagian kalangan masyarakat-berbuat seenak hawa nafsunya tanpa ada lagi rasa malu. Penguasa tak lagi malu menghamba kepada pihak asing dan menjadikan pihak asing sebagai tuannya. Sebaliknya, rakyatnya dia korbankan asal tuannya senang. Padahal rakyatlah yang mengangkat dia sebagai penguasa. Pejabat dan wakil rakyat tak lagi risih melakukan korupsi meski gaji mereka sudah besar sekali. Kepada rakyat mereka sudah lama tidak peduli. Padahal rakyatlah yang memilih mereka. Pada saat kampanye Pemilu/Pilkada, banyak tokoh parpol dan politisi sudah terbiasa mengobral janji, meski setiap berjanji selalu mereka ingkari. Para artis tak lagi peduli saat tampil dengan busana ?mini&#8217; karena ingin dianggap seksi dan demi mengejar materi.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Jika dicermati, paham liberalisme memiliki andil besar dalam ?melucuti&#8217; rasa malu pada diri manusia. Yang paling kasatmata, lihatlah kehidupan masyarakat Barat yang sangat liberal. Apa yang mungkin tidak pernah terjadi dalam dunia binatang sekalipun, ternyata bisa terjadi dalam dunia manusia. Homoseksualitas dan lesbianisme, yang telah menjadi bagian budaya Barat, adalah salah satu contohnya. Bahkan di beberapa negara Eropa, perkawinan sesama jenis dilegalkan oleh undang-undang negara.</p>
<p>Di Indonesia, meski baru dalam level pemikiran, pengakuan terhadap ?keabsahan&#8217; perilaku homoseks dan lesbian mulai dimunculkan; bukan hanya oleh kalangan pembela HAM, tetapi bahkan oleh Musdah Mulia, seorang guru besar dari perguruan tinggi Islam terkemuka.</p>
<p>Demikianlah, jika hawa nafsu sudah ?digugu&#8217; (baca: dituruti), akal-pikiran tak lagi digunakan, Islam tak lagi dijadikan pedoman, sementara kebebasan diagung-agungkan dan budaya Barat dijadikan rujukan, maka rasa malu pun tergadaikan. Jika sudah begitu, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. <em>Wal ?iyadzu billah</em>! <a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/02/malu/" target="_blank"><strong>[Arief B. Iskandar]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/malu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Tahun ini James Tak Perlu Natalan&#8221;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tahun-ini-james-tak-perlu-natalan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tahun-ini-james-tak-perlu-natalan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 05:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/tahun-ini-james-tak-perlu-natalan/</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, James mengaku tak lagi merayakan Natalan. Ia tak ikut berkumpul dengan keluarganya menyantap kalkun dan alkohol.? Tapi ia bahagia!
Hidayatullah.com&#8211;James mengakui bahwa perjalanan menuju Islam cukup lama baginya, &#8217;sepuluh tahun&#8217; sejak ia berkenalan dengan teman-teman Muslim di tempat kerjanya. Ia tak paham dan agak menyesali kenapa harus begitu lama ?
Suatu petang James datang ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tahun ini, James mengaku tak lagi merayakan Natalan. Ia tak ikut berkumpul dengan keluarganya menyantap kalkun dan alkohol.? Tapi ia bahagia!</em></p>
<p><strong><em>Hidayatullah.com&#8211;</em></strong>James mengakui bahwa perjalanan menuju Islam cukup lama baginya, &#8217;sepuluh tahun&#8217; sejak ia berkenalan dengan teman-teman Muslim di tempat kerjanya. Ia tak paham dan agak menyesali kenapa harus begitu lama ?</p>
<p>Suatu petang James datang ke tempat ku memenuhi janjinya untuk memasang <em>scanner </em>dan printer. Ia datang usai bekerja. Ditemani teh hangat ala Inggris, saya bertanya pada sahabat <em>muallaf</em> yang begitu baik menolongku untuk membersihkan komputer dari virus sekaligus membenahi file di komputerku.</p>
<p>&#8220;Bagaimana perasaan kamu pada bulan Desember ini? Apakah suasana Natalan tahun ini masih ada pengaruh pada dirimu? tanya saya padanya. &#8220;<em>Well I am happy because I can get away this time, completely&#8221;, </em>ujarnya ceria. Inilah saat paling bahagia bagi James. &#8220;Tanpa perayaan, tidak ada tekanan untuk membeli makanan, maupun alkohol, aku sebenarnya merasa bebas dan ini pertama kali yang pernah saya rasakan. Saya sudah tak akan merayakan<em> Christmas </em>(Natalan) lagi.&#8221;<span id="more-948"></span></p>
<p>James membuka lagi kenangan masa lalunya. Ia bercerita bahwa tahun lalu, walau ia sudah segan dan <em>wegah </em>merayakan Natalan, namun karena dalam kondisi fikiran masih kacau &#8211;antara menghormati orangtua nya dan keraguan terhadap agamanya&#8211;? ia masih ingin melakukan kebiasan dan tradisi keluarganya,? merayakan Natalan.</p>
<p>Sebagaimana diketahui, hampir setiap keluarga di Inggris, menurutnya, mempercayai bahwa ini bukan perayaaan keagamaan tapi melulu acara tradisi budaya Eropa yang sudah dilakukan ratusan tahun. &#8220;Sudah tradisi!&#8221;, begitu istilahnya. Mereka berkumpul sekali dalam setahun. Rata-rata keluarga Inggris berkumpul dan menghidangkan masakan ayam kalkun yang di panggang dalam <em>oven </em>lengkap dengan sayur mayur dan ditutup dengan puding krismas yang begitu berat, plus ditambah makanan lainnya dan tak lupa ditemani alkohol. Puncak dari acara ini, tentunya, membagikan hadiah bagi keluarga.</p>
<p>Namun belakangan banyak diakui, kalau acara seperti ini adalah ?tradisi Pagan&#8217; guna memuja &#8220;Dewa Matahari&#8221;, dengan cara merayakan malam terpanjang.</p>
<p>Tahun ini, si James tak akan menghadiri perayaan ini. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ibundanya ke 70, ia menjelaskan asalan mengapa kali ini dirinya tak akan menghadiri lagi perayaan ini.</p>
<p>&#8220;<em>&#8216;So don&#8217;t worry about chrismast pudding and </em><em>Turkey</em><em> Mum I just would not join the christmast this time&#8221;, &#8216; </em>ujarnya. &#8220;..alhamdulillah mereka paham dan menghargai keputusan saya&#8221;, tegasnya.</p>
<p>Sebetulnya banyak yang membujuk James untuk datang dan berkumpul dengan adik dan kakak serta para keponakannya. &#8220;Tapi, ibu saya kan tidak akan bisa dan tak paham memasak daging atau ayam halal, lagian walaupun ini bukan acara ritual atau relijius, kalau saya hadir berarti saya merestui perayaan ?<em>pagan&#8217; </em>mereka&#8221;, ujar James. Belum lagi nanti pada acara minum alcohol. &#8220;Mereka akan menonton dan mentertawakanku jika tidak minum&#8221;, ujarnya.</p>
<p>&#8220;<em>Well</em>, <em>masya Allah</em>, mereka menyambut baik dan? menghargai keputusanku dan bahkan cukup <em>supportif</em>, dan mereka tahu sekarang saya Muslim dan saya tunjukan sajadah&#8221;,? ujar James.? Begitulah keputusan James. Kali ini, ia merasa terbebas dari beban beratnya.</p>
<p>Jadi apa yang akan kamu lakukan di hari natal nanti?&#8221;, tanyaku kembali. ?&#8221;Oh..saya sudah <em>booking </em>tiket 20 Desember ini, kabur ke Spanyol, dengan teman Muslim saya. Ingin melihat Alhambra dan sejarah peninggalan Islam di Spanyol&#8221;, ujarnya.</p>
<p>Bagaimana dengan anak-anakmu? &#8220;Mereka sama ibunya dan neneknya. Biarkan tahun ini anak-anak sama ibu mereka, merayakan Natal. Nanti jika saya sudah punya rumah sendiri saya ajak mereka pindah kerumahku. <em>And they will follow me</em>&#8230;&#8221;, ujarnya sambil tertawa lebar seakan yakin kalau anaknya akan mengikuti jejaknya.</p>
<p>Demikian cerita si James. Tapi itu nama masa lalu. Kini, ia kerap dipanggil <em>brother </em>Zakariyya.</p>
<p><strong>Jumpa Pertama ?</strong></p>
<p>Saya ingat, suatu Ahad, saat ?pertama kali berjumpa dengannya di sebuah pengajian &#8220;StepstoAllah&#8221; di Islington, London utara. Jamse saat itu belum Muslim, ia masih mencari-cari dan meyakinkan dirinya. Entah bagaimana saat pengajian usai, ia berbisik kepada Hilaal. &#8220;<em>I think now I would like to take shahadah</em>&#8230;<em>I like to do it in the mosque, what do you think?</em>&#8220;. Dengan serta merta Hilaal menyambutnya. Kamipun terkejut, sekaligus terharu mendengarnya.</p>
<p>Langsung, saya panggil ia dengan &#8216;brother&#8217; walau James belum resmi Muslim. &#8220;<em>Brother, are sure you want to be Muslim</em>? tanyaku, &#8220;<em>Well&#8230;.hmm yess!&#8221;, </em>begitu gaya James berbicara dengan santun dan pelan. Sekalian mengetes keyakinannya, saya bertanya agak lebih serius. &#8220;Apa kamu merasa yakin? bagaimana media akan mengungkapkan kita sebagai suatu yang sangat jelek dan <em>extreemist </em>jika kamu memilih menjadi seorang Muslim?&#8221;. &#8220;Apa tak sebaiknya dibatalkan?&#8221;, tanyaku.</p>
<p>&#8220;Ya aku mengetahuinya<em>. Mmm</em> saya yakin tentang itu, terutama hari ini, aku kira tentang masalah ini telah aku pikirlan sangat lama. Tak akan menggangguku apapun yang dikatakan media. Sebab aku tidak mempercayai mereka. Dan hari ini aku lebih yakin&#8221;, demikian James menambahkan. Ia mengaku, mestinya ia sudah lama bershahadat dan masuk Islam namun ia terlalu banyak pertimbangan. &#8220;<em>I am a very slow to decide&#8217; </em>ujarnya lagi.</p>
<p>James mengumumkan sekaligus mengundang kami lewat email rencana untuk melakukan shahadat. Di suatu hari Sabtu, di musim panas tahun 2007 , tepat ba&#8217;da dzuhurdi Masjid Regent Park, London James mengucapkan dua kalimah syahadat disaksikan beberapa teman. James hari itu mengenakan baju kemeja Koko ala Pakistan ?berwarna putih. Ia nampak tenang. &#8220;Assalamualaikum sister, thank you&#8221;, sapanya kepadaku.</p>
<p>Kami mendekatinya dan mengucapkan selamat kepadanya, &#8220;<em>Well Done, congratulation, Mabruk&#8230;</em>!&#8221;? Saya menyaksikan penuh haru dan entahlah, akhirnya kami yang wanita atau <em>sister </em>dapat giliran untuk mengucapkan selamat dan hanya dengan isyarat saja, tidak bersalaman. Usai berfoto, kami ke kantin untuk bertasyakur.&#8221;<em>Lets go to cantin to celebrate</em>..&#8221;, undangnya. Sejak itu, James berganti nama menjadi Zakariyya. &#8220;<em>Yes my namae is Zakariyya with two wai </em>(maksudnya y) ..&#8221; Di SMS dia serong menyingkatnya menjadi Zak, atau <em>bro </em>Zak. Kadang lebih sering menyingkatnya menjadi initial Z.</p>
<p>Hadiah untuknya dari para sahabat. Ada yang memberi kitab Al-Quran, buku tentang Islam, sajadah dll-nya. Kerlip lampu camera bergantian mengabadikan peristiwa penting ini. Akhirnya kami menikmati minuman dan makanan kecil berupa <em>cheese cake</em>. Ia tak hentinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga, ia merasakan seperti mendapatkan keluarga baru.</p>
<p>Minggu depan kami berjumpa lagi dengan Zakariyya dipengajian. Lalu saya tanya bagaimana perasaan dia sejak ia menjadi Muslim. Konon ia merasa bahagia dan sepertinya betul-betul sudah Muslim begitu lama, padahal baru seminggu.</p>
<p><strong>Ramadhan pertama</strong></p>
<p>Ramadhan tahun 2007 adalah merupakan tahun pertama bagi brother Zak melakukan <em>shaum </em>atau puasa. Baginya <em>shaum </em>merupakan pengalaman spiritual yang luar biasa, walau katanya pada dua hari pertama ia rasakan amat berat. Dan ia bisa memahami seperti apa laparnya, mereka orang-orang miskin yang papa yang tak mampu membeli makan, sedang secara fisik ia merasakan pembersihan racun-racun yang bersemayam ditubuhnya. &#8220;<em>I really enjoyed fasting , it is like de-toxed your body, and I felt so light on the third week&#8221;, </em>kesannya.</p>
<p>Meski menjadi Islam baru 16 bulan, tapi Zak merasakan seakan sudah lama berislam dan menjadi Muslim seumur hidup. Namun ia mengaku, sesungguhnya secara fitrah dirinya sudah Muslim telah lama. Sebab menurutnyadari dulu ia tak pernah yakin tentang ajaran agamanya.</p>
<p>Zakariyya menuturkan, kedua orangtuanya beragama Kristen tapi hampir tidak mempraktekan agamanya dan tidak ke gereja (<em>they are not church goer</em>). &#8220;Saya selalu mengalami kesulitan menerima ajaran Kristen&#8221;, kenangnya. &#8220;Begitu banyak doktrin yang tidak mudah dicerna dan diterima oleh logika&#8221;, tambahnya lagi.</p>
<p>Hal ini? menyisakan perasaan dan jiwanya ?yang kosong secara fisik, ia mengaku sepertinya tak punya arti apa-apa. Ruang yang luas dan besar itu sepertinya betul-betul hampa untuknya. &#8220;Ada sesuatu yang mengganjal dan saat itu saya tidak tahu apa.</p>
<p>&#8220;Saya berkenalan dengan seorang Muslim sepuluh tahun lalu, seseorang yang setia dan masih tetap menjadi teman baik saya. Saya memiliki juga beberapa teman Muslim yang selalu membuat saya terkesan dengan kebaikan, dan ketenangan teman Muslim ini. Mereka sangat rendah hati, santun dan rasa kemanusiaannya sangat menonjol. Mereka selalu siap menolong, dan selalu siap menjawab semua pertanyaan saya tentang Islam. Terus terang saja bahwa saya tidak pernah terlintas sebelumnya dan terfikir bahwa saya akan menjadi pemeluk Islam. Ini luar biasa.!&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Pada musim semi tahun 2006, lanjutnya lagi, saya berjumpa seseorang yang memberi saya inspirasi untuk menjamah Al-Quran dan membacanya. Kebetulan saya tinggal dengan teman baik saya ini. Dia amengundang saya untuk membaca Al-Quran. Nah untuk menyentuh dan mengambil kitab Al-quran itu sebetulnya tidak susah dan tidak memerlukan waktu dan tenaga banyak yang mesti saya lakukan. Saya tinggal berjalan dari sofa ke rak buku yang cuma beberapa langkah untuk mendapatkan Al-Quran, mengambil kitab itu dan membacanya.&#8221;</p>
<p>Terjemahan pertama yang ia? baca adalah Al-Quran yang dipublikasi oleh <em>Penguin Books</em>. Menurutnya,? ini bukan sebuah translasi yang terbaik, karena setelah dicermati si penerjemah cenderung untuk menafsikan semaunya dan tidak menerjemahkan secara benar atau dan tidak jujur tentang kebenaran. &#8220;Perasaan saya mengatakan seperti itu&#8221;, ujar Zakariyya.</p>
<p>Namun ada satu hal yang baik dari penerjemah bahwa ia menyarankan untuk membaca surat-surat pendek dulu sebagai pemula dan permulaan karena surat lainya yang panjang itu sangat kompleks.</p>
<p>&#8220;Ayat 55 dari surat <em>Ar Rahman </em>dan ayat-ayat pada surat-surat <em>At-Takwir </em>(surat 81) itu saya kaitkan dan kesimpulan yang saya ambil membuat saya termangu dan merenung yang membuat saya begitu takjub dengan Al-Quran dan agama Islam&#8221;, begitu kesimpulannya.</p>
<p>&#8216;Saya ingat waktu pertama kali saya membaca Al-Quran, saya merasakan getaran dan dorongan kuat dihati saya. Oh, ingin rasanya saya masuk Islam seketika. Agama Islam dan Al-Quran menawarkan ajaran yang sangat alami, mudah dipahami dan diterima dan dicerna oleh logika dan hati sedang di dalam Al-Quran juga banyak menceritakan kisah-kisah dan kehidupan para Rasul dahulu. Semua ajarannya seakan pas dengan kehidupan saya dan yang saya yakini&#8221;, begitu kenangnya.</p>
<p>Hanya dalam waktu dua bulan Zakariyya selesai membaca Al-Quran. &#8220;Usai? membaca Al-Quran saya katakan kepada teman-teman Muslim dan keluarga tentang &#8216;Penemuan Baru&#8217; saya ini, lalu saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin masuk Islam dan sekaligus saya katakan alasannya mengapa. Saya katakan kepada mereka bagaimana dan apa itu Islam, juga makna untuk umum serta untuk kehidupan pribadi saya. <em>Alhamdulillah </em>keluarga saya mendukung dan paham akan perasaan saya.&#8221;</p>
<p>Sejam memeluk Islam, cukup banyak buku-buku dan literatur yang dibaca Zakariyya. Buku-buku seperti; Kehidupan Muhammad saw yang ditulis oleh Martin Lings dan beberapa buku yang ditulis oleh para <em>muallaf </em>(reverts). Saat ini ia sudah memulai membaca terjemahan Al-Quran lainnya dan membaca buku-buku Sejarah Rasulullah. Ia juga sering mengunjungi beberapa masjid disekitar London dengan beberapa teman, sekaligus mempraktekan sholat. Sekali seminggu, sepulang bekerja, ia belajar ?membaca Al-Quran dengan <em>IQRA </em>yang diajarkan oleh <em>brother </em>Hilaal.</p>
<p>Sebelum mengakhiri pembicaraan dengan saya, ia mengungkap sebuah ayat paling favorit yang sering ia ingat.</p>
<p><em>&#8220;Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</em> (QS An-Nur:35).</p>
<p>[<em>London</em><em>, 17 Desember 2007. Ditulis oleh </em><strong>Al Shahida</strong>], dikutip dari <a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6038&amp;Itemid=63" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tahun-ini-james-tak-perlu-natalan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melalui Seorang Juru Masak , Profesor Austria Temukan Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/melalui-seorang-juru-masak-profesor-austria-temukan-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/melalui-seorang-juru-masak-profesor-austria-temukan-islam#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 12:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/melalui-seorang-juru-masak-profesor-austria-temukan-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan taat.? Namun ia mengenal Islam melalui seorang juru masa restoranHidayatullah.com&#8211;Lahir di Austria, namun dibesarkan di Jerman. Keluarganya adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Namun beranjak dewasa mulai ragu dengan dogma-dogma dalam ajaran agamanya yang dianggap tidak rasional. Pencarian kebenaran pun dimulai. Pada usia 16 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan taat.? Namun ia mengenal Islam melalui seorang juru masa restoran</em><strong><em>Hidayatullah.com&#8211;</em></strong>Lahir di Austria, namun dibesarkan di Jerman. Keluarganya adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Namun beranjak dewasa mulai ragu dengan dogma-dogma dalam ajaran agamanya yang dianggap tidak rasional. Pencarian kebenaran pun dimulai. Pada usia 16 tahun kembali ke Austria dan meneruskan studi lanjutnya di Salzburg University hingga meraih gelar doktor ilmu Biologi. Selanjutnya diterima sebagai dosen dan peneliti di almamaternya. Hingga, dalam sebuah perjalanan ke Mesir, ia menemukan hidayah melalui perantaraan seorang juru masak hotel yang kemudian jadi suaminya. Itulah dia Prof. Dr. Aminah Islam (54), Guru Besar Ilmu Biologi pada Universitas Salzburg yang memeluk Islam Ramadhan 2004 silam. Wanita yang malu difoto karena belum berjilbab itu menceritakan kisah perjalanan spiritualnya di situs Islam terkemuka <a href="http://www.readingislam.com/">www.readingislam.com</a>.? <span id="more-947"></span></p>
<p align="center"><strong>**</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/Dr.%20AMinah.jpg" alt="Image" align="left" border="0" height="138" hspace="6" width="230" />&#8220;Saya lahir di Linz, Austria tahun 1953. Namun menghabiskan masa kecil di Muenchen, Jerman hingga akhirnya pindah ke Salzburg, Austria? kala berusia 16 tahun,&#8221; ujar Prof. Aminah di awal tulisannya. Dikatakannya, ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan yang taat. Keluarganya juga mengajarkan pendidikan etika dan moral.</p>
<p>Semasa remaja Aminah tidak mengikuti aktifitas di gereja Protestan. Alhasil, orangtuanya lalu memintanya untuk aktif di gereja Evangelis dan segera menjadi anggota aktif serta menjadi ketua salah satu kelompok pelajar. Ia belajar Bibel dan yakin dengan dogma bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Demikian juga ia yakini Yesus mati disalib guna menebus dosa-dosa pengikutnya.</p>
<p>Pada mulanya ia jalani semua itu tanpa ada penolakan. Namun beberapa tahun kemudian, masih di komunitas yang sama, hati kecilnya mulai menolak hingga keluar dari ?perkumpulan itu karena bertentangan dengan rasionalnya.? Secara berulangkali ia mengatakan bahwa Tuhan masih misterius baginya. Kala itu ia mulai ragu Yesus sebagai Tuhan. Sejak itula ia mulai mencari kebenaran hidup.</p>
<p>Aminah menyelesaikan sekolah menengahnya di kota Salzburg. Selanjutnya, di kota kelahiran komponis kenamaan Mozart itu ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Salzburg dan mengambil jurusan Biologi. Belajar sembari bekerja sampingan (<em>part time</em>) di universitas tempatnya belajar pun dilakoni.</p>
<p>Setelah menyelesaikan program doktor, Aminah kemudian menikah dan prosesinya berlangsung di gereja. Dari permenikahan itu ia memiliki dua orang anak. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama. Karena alasan tak ada keharmonisan kemudian cerai. Sejak saat itu ia sudah mulai meninggalkan gereja.</p>
<p><strong>Diterima menjadi dosen</strong></p>
<p>Aminah mencoba melamar kerja karena ia sendirian mengasuh anak-anak. &#8220;Alhamdulillah saya dapat pekerjaan bagus di Universitas Salzburg sebagai staf pengajar dan peneliti di bidang Biologi,&#8221; ujarnya mengenang.</p>
<p>Kemudian ia memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Ketika itu ia juga masih dalam proses mencari kebenaran. Namun pernikahan kedua itu juga bak bencana dan akhirnya cerai lagi. Mirip dengan kasus pertama.</p>
<p>&#8220;Waktu itu suami yang kedua itu mengambil keuntungan dari pekerjaan saya sebagai dosen. Sementara ia hanya santai saja tanpa ada upaya untuk mencari dukungan financial lainnya. Sakitnya lagi, ia bahkan tidak peduli terhadap anak-anak,&#8221; tukasnya lagi. Syukurnya saat cerai yang kedua itu Aminah sudah meraih posisi sebagai profesor dan memegang tanggungjawab penuh pekerjaan di kampus.</p>
<p>&#8220;Namun saya? merasa belum mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pekerjaan pun dobel dan bahkan melebihi kapasitas. Ya mengajar, mengasuh anak-anak, mengurus rumah. Hingga saya kelelahan fisik dan psikis sampai akhirnya mengalami depresi berkepanjangan. Namun saya masih bisa bertahan, itu karena anak-anak,&#8221; akunya.</p>
<p>Selepas perceraian kedua, Aminah mengaku hidup bersama tanpa nikah dengan seorang pria yang usianya lebih muda 9 tahun dengannya. Hidup bersama tanpa nikah adalah hal lazim di dunia Barat.</p>
<p>&#8220;Hanya sebentar, kemudian saya ditinggalkan lagi. Sejak itu saya mulai lagi mengatur hidup sebagai wanita single, tanpa berharap akan ada pria lagi yang datang.? Saya pikir untuk apa lagi. Saya sudah punya kerja, anak-anak sudah besar, punya apartemen nyaman, mobil, bisa menyalurkan hobi seperti mendaki gunung, main ski. Sudah bisa berdiri sendiri di atas kedua kaki. Saya sudah tidak punya kerinduan asmara lagi,&#8221; imbuhnya lagi. Namun ia mengaku masih belum puas untuk terus mencari kebenaran dalam hidup.</p>
<p><strong>Berkenalan dengan Islam</strong></p>
<p>&#8220;Pengetahuan tentang Islam sangatlah minim. Masa itu yang? saya tahu -melalui media- Islam agama yang tidak simpatik,&#8221; ujarnya. Kala itu ia mengaku tidak pernah mendapatkan kontak dengan Islam secara langsung dan juga tidak ingin bersentuhan dengan orang-orang dari agama yang waktu itu disebutnya sebagai agama suka perang.</p>
<p>Sampai akhirnya situasi berubah secara tak terduga. Ceritanya, September 2002 ia bersama koleganya berencana menghabiskan liburan selama sepekan.</p>
<p>&#8220;Kami <em>booking </em>penerbangan pas detik-detik akhir. Syukurlah akhirnya dapat tawaran murah ke Mesir. Saya memang lagi ingin rilek, mengatur irama hidup kembali selepas lelah bekerja, dan berharap menemukan kebenaran yang kucari. Jujur saja, tidak ada lagi keinginan untuk menemukan pria idaman sebagai suami,&#8221; ujarnya seraya melanjutkan kisahnya.</p>
<p>&#8220;Kala itu, persis di sore pertama kami di hotel saya pergi ke restoran untuk makan malam. <em>Eh</em>? entah bagaimana saya bertemu pandang dengan seorang pria yang terakhir saya ketahui bernama Walid. Ia juru masak di hotel itu. Kala mata kami bertemu, hati saya bergetar aneh. Ah saya jatuh cinta lagi!. Walid menceritakan, selepas menjadi suami saya, bahwa ia juga mengalami hal yang sama pada pandangan pertama itu,&#8221; kisah Aminah lagi.</p>
<p>Setelah kejadian itu hampir dua hari mereka tidak bertemu sampai kemudian Walid menulis sepucuk surat. Isi surat pertamanya itu Walid langsung mengajak Aminah untuk nikah.</p>
<p>&#8220;Liburan tinggal beberapa hari lagi dan saya merasakan hati seperti berat meninggalkan tempat itu. Akhirnya saya kembali ke Austria tanpa ada nomor kontak Walid yang dapat dihubungi. Namun dengan segera aku berpikir realistis bahwa ada pembatas yang sangat dalam diantara kami (umur, budaya, agama, pendidikan dan bahasa),&#8221; kilahnya. Namun hati tidak bisa ditipu. Akhirnya ia kembali ke Mesir dua bulan kemudian untuk mendapatkan cintanya lagi. Hanya saja masalah terbesar kala itu adalah sulitnya komunikasi karena faktor bahasa.</p>
<p>&#8220;Nampaknya Allah memang mengatur semua ini. Allah seakan mulai memperlihatkan jalan dalam hidupku. Beberapa hari selepas kembali ke Austria dari Mesir, seorang wanita datang dari Mesir dan bekerja sebagai peneliti tamu di institut kami selama satu tahun. Dua minggu kemudian saya pun mulai ikut kursus bahasa Arab di kampus yang ditawarkan oleh seorang profesor dari Mesir. Mereka juga mengajarkan banyak hal tentang Islam dan budayanya. Bahasa Arab adalah sebagai upaya untuk mempermudah komunikasi dengan Walid,&#8221; tuturnya mengenang. Karena tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam, ia membeli banyak buku dan sebuah terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jerman.</p>
<p><strong>Menikah diam-diam</strong></p>
<p>Pada kunjungan kedua kalinya ke Mesir ?Aminah berkunjung ke keluarga Walid. Ia mengaku terkesan dengan Walid yang sangat ulet dan berasal dari sebuah keluarga besar yang bermata pencaharian sebagai petani. Keluarganya memegang teguh ajaran Islam.</p>
<p>&#8220;Saya diajak bertemu keluarga besarnya itu. Sore pertama di sana, akhirnya kami sepakat untuk menikah secara Islam. Hanya melalui bantuan penghulu setempat di desa itu. Kesannya kami menikah secara diam-diam. Semata-mata untuk menghindari kemaksiatan. Walid sangat komit dengan ajaran agamanya, bahwa laki-laki dan perempuan yang belum ada ikatan pernikahan haram melakukan hubungan yang dilarang agama.&#8221;</p>
<p>Setelah perjalanan kali kedua itu, Aminah sempat ke Mesir beberapa kali hingga akhirnya kami bisa menikah secara resmi di Kairo.</p>
<p>&#8220;Saya sungguh sangat bahagia waktu itu. kami pun segera mengurus visa Walid untuk memperoleh ijin berkunjung ke luar negeri. Akhirnya Walid bisa ke Austria persis setahun selepas pertemuan pertama kami di hotel,&#8221; kenangnya.</p>
<p>Aminah secara perlahan mulai belajar banyak hal tentang Islam, baik melalui buku-buku maupun dengan bantuan rekan-rekan muslim di Austria. Ada hal menarik, yakni tanpa disangka ia diminta oleh Cairo University untuk menjadi penguji tesis salah seorang mahasiswa di sana. Nah dari beberapa kali kunjungan akademik itulah ia akrab dengan salah satu Muslimah Mesir yang kemudian jadi tempatnya bertanya hal Islam. Ia mengaku kagum dengan kebanyakan muslim termasuk kaum mudanya yang terbuka dan sangat respek jika bicara tentang Allah dan Islam.</p>
<p>Segera selepas kedatangan suaminya ke Austria, merekapun mengadakan kontak dengan mesjid yang ada di kota Salzburg. Ia menerima hadiah beberapa buku. Salah satu yang sangat berkesan adalah buku &#8220;Bible, Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Alam&#8221; karangan Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis. Buku itu sangat sesuai dengan aktivitas yang ia tekuni saat ini. ?Ia baru tahu, semua pernyataan ilmiah yang ada dalam Quran ternyata sangat sesuai dengan hasil-hasil penelitian terkini. Matanya makin terbuka.</p>
<p>&#8220;Al-Quran ternyata tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan dan dunia, tapi juga semua pernyataan di dalamnya, semisal ilmu-ilmu alam, tidak kontradiksi dengan kenyataan,&#8221; ujarnya. Bagi Prof Aminah yang seorang saintis ilmu alam, tentu saja penjelasan</p>
<p>Al-Quran makin membuatnya mantap untuk mempelajari Islam. ?&#8221;Semakin jelas, Islam bukanlah agama baru, tapi justru agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, misal Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, yang oleh agama lain tidak diakui, adalah pembawa risalah, pembawa kebenaran yang berasal dari Allah. Tak ada yang disangsikan, Al-Quran adalah perkataan Allah dan Muhammad utusannya! Jika ini merupakan kebenaran dan saya yakin atas itu, maka saya harus menerima dan menjalankan semua isi Al-Quran,&#8221; tegasnya.</p>
<p><strong>Mengucap dua kalimah syahadah </strong></p>
<p>Persis memasuki Ramadhan 2004, Walid menanyakan dengan bijak akankah Aminah melakukan langkah terakhir dalam pencariannya (memeluk Islam).</p>
<p>&#8220;Tak ada keraguan sama sekali. Saya bahkan menginginkan agar prosesi itu dilaksanakan di rumah kami dengan mengundang beberapa saudara? terdekat, Muslim dan Muslimah. <em>Alhamdulillah</em>, Ramadhan tahun 2004 saya mengukir sejarah hidup, bersyahadah disaksikan suami, anak-anak dan beberapa rekan-rekan kami. Sungguh, saya sangat bahagia. Bahagia sekali bisa menjadi bagian dari umat Islam,&#8221; kenangnya.</p>
<p>Mulai saat itu Prof. Fatimah berupaya untuk meningkatkan keyakinan dan ketaqwaannya kepada Allah, demikian juga pengetahuannya tentang Islam. Dan, berusaha sebaik mungkin melaksanakan ajarannya. Shalat misalnya, ternyata jauh-jauh hari ia telah belajar bagaimana menunaikan salah satu tiang agama Islam itu. Juga ia mulai berpuasa di bulan Ramadhan.</p>
<p>Di akhir penuturannya, ia mengakui masih ada dua masalah yang tersisa. Pertama, ia masih ragu memberitahukan hal keislamannya itu kepada kedua orangtuanya.</p>
<p>&#8220;Meskipun mereka telah tahu pendapat saya tentang Islam, tapi saya belum bisa beritahu bahwa saya sudah masuk Islam. Mereka sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan. Takutnya, jika mereka terkejut bisa berbahaya bagi kesehatan. Tapi ini hanya masalah waktu saja,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>&#8220;Satu lagi masalah yang masih mengganjal, saya belum bisa mengenakan jilbab di tempat kerja. Memang Austria tidak ada masalah dengan Islam yang telah jadi agama negara. Namun masalahnya, masyarakat atau lingkungan di universitas saya bekerja masih tabu dengan itu.&#8221;</p>
<p>Profesor Fatimah mengaku, kendati begitu ia tetap berjuang untuk jilbabnya itu. Buktinya, dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk bicara dan menjelaskan tentang Islam.</p>
<p><em>&#8220;Alhamdulillah</em>, Allah akhirnya menolong saya menemukan jalan kebenaran yang telah lama saya cari. Karena itu saya berusaha untuk menjadi muslimah yang baik. Di lingkungan kerja, saya mencoba mempraktekkan ajaran Islam yang saya ketahui dengan memberikan contoh-contoh yang bagus,&#8221; tukasnya mengakhiri penuturannya kepada Readingislam. Selamat, semoga hidayah Allah kekal bersamamu saudaraku Fatimah! [<em>zulkarnain jalil </em>(<strong>Aceh</strong>)/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6215&amp;Itemid=63" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/melalui-seorang-juru-masak-profesor-austria-temukan-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karima Burns: Cintaku kepada Islam tertambat di Istana Al-Hambra</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/karima-burns-cintaku-kepada-islam-tertambat-di-istana-al-hambra</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/karima-burns-cintaku-kepada-islam-tertambat-di-istana-al-hambra#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 01:03:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/karima-burns-cintaku-kepada-islam-tertambat-di-istana-al-hambra/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika membuka Al-Quran perasaan yang hadir persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali anggota keluarganya yang telah lama hilangHidayatullah.com&#8211;Karima Kristie Burns, MH, ND nama lengkapnya. Karima (39) dikenal sebagai perempuan dengan banyak bakat. Ya sebagai editor, penulis, guru, dan juga pakar herbalis. Di dunia herbalis dia sangat dikenal lewat konsultasi online di website Herb&#8217;n [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ketika membuka Al-Quran perasaan yang hadir persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali anggota keluarganya yang telah lama hilang</em><strong>Hidayatullah.com&#8211;</strong>Karima Kristie Burns, MH, ND nama lengkapnya. Karima (39) dikenal sebagai perempuan dengan banyak bakat. Ya sebagai editor, penulis, guru, dan juga pakar herbalis. Di dunia herbalis dia sangat dikenal lewat konsultasi online di website <em>Herb&#8217;n Muslim </em>yang dikelolanya sejak 1994. Sejak masuk Islam, dia membuka usaha <em>Herb&#8217;n Muslim </em>yang dikenal dengan teknik penyembuhan alami dan islami. Dia juga telah menulis lebih dari 120 artikel kesehatan yang bisa didownload via websitenya itu. Karima menghabiskan separuh hidupnya di Midwest, Iowa (AS), tempat dia dibesarkan. Dan separuhnya lagi di kawasan Timur Tengah (Mesir dan Arab Saudi).</p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/andalusia_alhambra.jpg" alt="Image" align="left" border="0" height="222" hspace="6" width="170" />Karima mulai tertarik dengan metode penyembuhan alami justru ketika berupaya menyembuhkan dirinya sendiri yang mengidap penyakit asma, alergi, mudah panik, depresi, dan beberapa penyakit bagian dalam lainnya. Kala itu dia mencoba dengan terapi alami dan bantuan tumbuh-tumbuhan. Dia berkeliling hingga ke Mesir guna mencari berbagai informasi berkenaan penyembuhan tradisional. Dari kegigihannya itu, dia bahkan berhasil memperoleh gelar formal master of herbalist dan doktor bidang naturopathic tahun 1996 dari <em>Trinity College </em>di Dublin, Irlandia. <em>Naturopathic </em>adalah teknik pengobatan alamiah yang meresepkan herbal untuk para pasiennya. Namun tak banyak yang tahu, ketertarikan Karima kepada Islam justru ketika berkunjung ke Spanyol. Dia mengaku terkagum-kagum dengan tulisan Arab di Istana Al-Hambra di kota Granada. Istana itu sendiri dulunya bekas mesjid hingga bekas kaligrafinya masih ada. Berikut penuturan Karima yang disadur dari beberapa sumber.<span id="more-944"></span></p>
<p align="center"><strong>***</strong></p>
<p><strong>Kenal Islam di Spanyol</strong></p>
<p>Karima Burns awalnya adalah seorang mahasiswi program sarjana studi kawasan Arab di Universitas Iowa, AS. Karima mengaku Islam hadir di hatinya berawal dari membaca rangkaian tulisan ayat suci Al-Quran dalam rangka penyelesaian tugas kuliahnya. Dan dia tak kuasa menghindar dari bisikan hati itu.</p>
<p>Ceritanya, satu ketika dia dan teman-temannya mengadakan studi tur ke Granada, Spanyol. Granada merupakan salah satu bekas kawasan yang pernah dikuasai Islam selama hampir tujuh abad. Kala itu dia sedang duduk-duduk di Istana Al-Hambra. Istana itu dulunya adalah mesjid. Karima takjub melihat jejeran tulisan di dinding gedung tua itu. Baginya itulah tulisan terindah yang pernah dia lihat.</p>
<p>&#8220;Bahasa apa itu?&#8221; tanyanya pada salah seorang turis Spanyol. &#8220;Bahasa Arab,&#8221; sahut turis lokal itu. Hari berikutnya, tatkala pemandu wisata menanyakan buku panduan dalam bahasa apa yang dia inginkan, Karima menjawab spontan bahasa Arab.</p>
<p>&#8220;Apa, bahasa Arab? Anda bisa bahasa Arab?&#8221; tanya si pemandu terkejut.</p>
<p>&#8220;Tidak, tapi tolong berikan juga yang dalam bahasa Inggris,&#8221; sahut Karima.</p>
<p>Di akhir tour tas Karima penuh dengan buku-buku petunjuk wisata dari tiap-tiap kota yang dia singgahi di seluruh Spanyol. Dan semuanya dalam bahasa Arab!</p>
<p>&#8220;Tas travel saya sudah terlalu penuh hingga saya bermaksud membuang beberapa potong pakaian dan beberapa barang lainnya agar tasnya bisa muat. Namun, untuk buku-buku bahasa Arab rasanya berat untuk ditinggalkan. Buku-buku itu ibarat emas bagi saya. Saya sering membolak-balik halamannya tiap malam. Kata per kata-nya saya amati dengan seksama. Huruf-hurufnya juga unik, beda dengan huruf latin biasa. Saya membayangkan andainya saja bisa menulis dengan huruf yang demikian indah itu. Waktu itu saya punya pikiran pasti akan sangat berharga jika bisa mengetahui bahasa Arab ini. Saya pun berniat dalam hati untuk belajar bahasa ini. Ya satu saat nanti kala kembali ke kampus di musim gugur,&#8221; tukas Karima.</p>
<p><strong>Mencari jawaban</strong></p>
<p>&#8220;Ketika itu ada sekitar dua bulan saya meninggalkan keluarga di Iowa untuk mengikuti tour sepanjang kawasan Eropa ini. Sendirian pula. Kala itu usia saya baru 16. Makanya saya kepingin jalan-jalan dulu sembari &#8220;melihat dunia&#8221;. Itu alasan yang saya katakan pada keluarga dan kawan-kawan. Tapi sebenarnya saya sedang mencari jawaban atas konsep Kristen yang sudah lama saya pendam. Saya meninggalkan gereja (baca: Kristen -red) persis beberapa bulan sebelum berangkat ke Eropa dan belum bisa menentukan pilihan (agama) lain. Saya merasa belum mendapatkan apapun dengan apa yang telah saya pelajari selama ini. Sampai kini pun belum mendapatkan alternatif-alternatif lain,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>&#8220;Tempat dimana saya dibesarkan, yakni Midwest, sebenarnya sangat cocok buat saya. Misalnya hal keyakian, tidak ada yang perlu dipusingkan disana. Mau jadi bagian dari gereja silahkan. Tidak, ya juga ndak masalah. Tapi karena itu pula saya tidak punya gambaran agama lain yang bisa dijadikan alternatif. Makanya ketika ada waktu keliling Eropa saya berharap bisa berjumpa dengan &#8220;sesuatu&#8221; yang lain itu,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>&#8220;Di gereja tempat kami tinggal, kami hanya boleh melakukan ibadah untuk Yesus dan menyandarkan segala sesuatu padanya agar bisa menyampaikan pesan kepada Tuhan. Secara intuitif saya merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan dogma itu,&#8221; kata dia.</p>
<p>&#8220;Saya kala itu dengan patuh pergi ke gereja tiap hari minggu dan sangat serius dengan apa yang saya pelajari tentang kejujuran, murah hati dan saling berkasih sayang. Tapi ada yang bikin saya bingung tatkala melihat jamaag gereja. Sikap mereka tampak begitu beda selama satu hari itu. Apakah Cuma sehari dalam sepekan bersikap jujur, murah hati dan kasih sayang? Apakah mereka cuma bahagia di hari minggu saja? Aku mencari-cari di beberapa buku panduan, namun tak menemukan apa-apa. Ada hal tentang 10 perintah Tuhan yang meliputi hal-hal yang sudah nyata sekali seperti larangan membunuh, mencuri dan berbohong. Uniknya, orang-orang ke gereja seperti tak ada etiket. Misalnya, sejauh yang saya tahu, banyak yang pakai rok mini ke gereja. Ironisnya lagi, ada juga dari mereka pergi ke sekolah minggu hanya karena ada cowok ganteng disana,&#8221; tukas Karima.</p>
<p><strong>Kitab Bibel aneka versi</strong></p>
<p>Satu hari Karima berkunjung ke rumah salah seorang dosennya. Disana dia melihat beberapa kitab Bibel tersusun rapi di rak lemari si dosen. &#8220;Saya tanya apa itu. Dosennya menjawab bahwa itu kitab Bibel dalam berbagai versi. Saya sebenarnya tak mau mengganggunya dengan pertanyaan seputar Bibel dalam aneka versi itu. Tapi makin dipendam makin sangat mengganggu pikiran. Saya beranikan diri mengamati beberapa dari Bibel itu. Saya terkejut. Memang ada yang benar-benar beda satu versi dengan versi lainnya. Bahkan ada beberapa bab yang tidak sama dengan Bibel kepunyaan saya. Kala itu saya benar-benar bingung. Bahkan mulai timbul perasaan bimbang,&#8221; katanya-</p>
<p><strong>Ikut kelas bahasa Arab</strong></p>
<p>Selepas tur Eropa Karima kembali ke kampus dengan perasaan kecewa sebab tak menemukan jawaban yang diharapkannya. Akan tetapi dengan keinginan yang begitu besar akan sebuah bahasa, Karima mengaku tertarik untuk mempelajari bahasa Arab. &#8220;Ironis ya, mendapat secercah jawaban yang saya cari-cari justru di dinding istana Al Hambra. Setelah pulang dari Spanyol, butuh dua tahun bagi saya untuk merealisasikan semua itu (masuk Islam-red),&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Hal pertama sekali yang saya lakukan kala aktif kembali di kampus adalah mendaftar kelas bahasa Arab. Saya amati tampaknya kelas itu tidak begitu diminati. Entah kenapa. Buktinya peserta yang mendaftar cuma tiga. Saya dan dua mahasiswa lainnya. Tapi saya tak ambil pusing,&#8221; kata dia. Karima pun langsung tenggelam dengan pelajaran bahasa Arab. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, hingga sang dosen takjub melihatnya.</p>
<p>&#8220;Saya kerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan pulpen khusus untuk menulis huruf kaligrafi. Bahkan seringkali saya pinjam buku-buku dalam bahasa Arab dari dosen hanya untuk melihat huruf-huruf Arab yang ada dalam buku itu. Memasuki tahun kedua di universitas, saya putuskan untuk memilih bidang Studi Timur Tengah. Jadi dengan begitu bisa fokus pada satu kawasan saja. Nah di salah satu mata kuliahnya adalah belajar Al-Quran. Saya gembira bukan main,&#8221; aku Karima mengenang.</p>
<p><strong>Kagum dengan Al-Quran</strong></p>
<p>&#8220;Satu malam saya buka Al-Quran untuk mengerjakan PR. Heran campur takjub. Makin saya baca makin terasa nikmat. Sulit untuk berhenti membacanya. Persis seperti seseorang baru mendapatkan sebuah novel baru. Ketika itu saya bergumam dalam hati; wow menarik sekali. Inilah yang selama ini saya cari-cari. Semuanya ada dalam Al-Quran. Semua penjelasan betul-betul menarik. Saya sungguh kagum, kitab suci ini menguraikan semua yang juga saya percayai dan saya cari-cari jawabannya selama bertahun-tahun. Sangat jelas disebutkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang patut disembah, yakni Allah. Tidak seperti di Kristen, satu dalam tiga,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Hari berikutnya Karima kembali ke ruang kelas untuk menanyakan siapa gerangan pengarang kitab itu. Karima melihat ada sebuah nama tertulis di halaman depan Al-Quran itu. &#8220;Awalnya saya menyangka itu nama pengarangnya. Misalnya seperti kitab Gospel yang dikarang oleh St. Luke atau kitab-kitab dalam agama lain yang pernah saya pelajari sebelumnya,&#8221; kata dia.</p>
<p>Salah seorang dosen Karima yang beragama Kristen memberitahu bahwa itu bukan nama pengarangnya. &#8220;Ternyata itu adalah nama penerjemahnya. Masih menurut dosen itu, dia mengutip pernyataan penganut Islam, bahwa tak ada seorang pun yang mampu menulis kitab suci itu. Quran, kata orang Islam, merupakan perkataan Allah dan tidak berubah dari pertama diturunkan hingga saat ini. Al-Quran dibaca dan dihafal banyak orang. Wow&#8230;tak perlu saya katakana bagaimana gembiranya hati saya. Makin terpesona dan takjub. Setelah penjelasan itu saya tambah tertarik, bukan hanya mempelajari bahasa Arab, tapi juga mempelajari Islam. Hingga timbul keinginan pergi ke Timur Tengah,&#8221; katanya sumringah.</p>
<p><strong>Masuk Islam</strong></p>
<p>Di tahun terakhir kuliah akhirnya Karima mendapat kesempatan mengunjungi Mesir. Salah satu tempat favorit yang ingin dia lihat di sana adalah mesjid. &#8220;Saya merasakan seolah-olah sudah jadi bagian dari mereka. Berada di dalam mesjid, keagungan Allah semakin nyata. Dan, seperti biasanya, saya sangat menikmati rangkaian tulisan kaligrafi yang ada di dinding mesjid itu,&#8221; kata dia.</p>
<p>Satu hari seorang teman menanyakan kenapa tidak masuk Islam saja kalau memang sudah sangat tertarik. &#8220;Tapi saya sudah jadi seorang muslim,&#8221; kata Karima. Si teman terkejut mendengar jawaban itu. Tak cuma dia, bahkan Karima sendiri terkejut dengan jawaban spontan yang keluar dari bibirnya. &#8220;Tapi kemudian saya sadari hal itu logis dan normal. Islam telah merasuk dalam jiwa saya dan selalu memberikan perasaan lain. Begtupun pernyataan teman saya itu ada benarnya. Kenapa saya tidak masuk Islam saja?&#8221; tanya Karima pada dirinya sendiri. Temannya menyarankan agar lebih resmi (masuk Islam) sebaiknya pergi ke mesjid saja dan menyatakan keislaman di hadapan jamaah di sana sebagai saksinya.</p>
<p>&#8220;Tanpa menunggu lama saya ikuti sarannya. Ringkas saja, Alhamdulillah, akhirnya saya pun bersyahadat. Pihak mesjid lalu memberikan selembar sertifikat resmi selepas bersyahadat. Tapi sertifikat itu tak penting dan hanya saya simpan dilemari. Sama seperti dokumen-dokumen lain seperti asuransi, ijazah dan lainnya. Tak ada niat menggantung kertas itu di dinding rumah sebagai bukti telah ber-Islam. Bagi saya yang penting sudah jadi seorang muslim,&#8221; akunya.</p>
<p>&#8220;Kini saya habiskan waktu hanya untuk mempelajari Al-Quran. Ketika membuka Al-Quran perasaan yang hadir persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali anggota keluarganya yang telah lama hilang,&#8221; ungkap Karima. Di rumahnya Karima tak lupa menggantung foto Istana Al Hambra, tempat dimana dia pertama kali melihat tulisan Arab yang membuat dirinya takjub dan jatuh cinta dengan Al-Quran. Kini, disamping mengelola praktek penyembuhan alaminya dia juga aktif menulis. Ada lebih dari 120 artikel yang telah dia tulis. Umumnya bertema kesehatan. Tulisannya yang terkenal antara lain The &#8220;Yoga&#8221; of Islamic Prayer, Vetegarian Muslim, dan banyak lainnya lagi. Begitulah. [<strong>Zulkarnain Jalil</strong>/<em>dari berbagai sumber</em>/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6819&amp;Itemid=1" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/karima-burns-cintaku-kepada-islam-tertambat-di-istana-al-hambra/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneladani Rasul</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/meneladani-rasul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/meneladani-rasul#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 04:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/meneladani-rasul/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul, maka ambillah. Sedangkan apa yang dilarangnya, maka hindarilah. Bertakwalah kalian kepada Allah, karena Allah Maha keras siksa-Nya.&#8221; (QS. Al Hasyr: 7).
Manusia memang membutuhkan rasul sebagai perantara dalam menerima ajaran-ajaran dari Allah SWT. Dan bersamaan dengan itu pula, sejak lama manusia telah menempatkan Rasulullah SAW. sebagai pembawa risalah terakhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul, maka ambillah. Sedangkan apa yang dilarangnya, maka hindarilah. Bertakwalah kalian kepada Allah, karena Allah Maha keras siksa-Nya.&#8221;</em> <strong>(QS. Al Hasyr: 7).</strong></p>
<p>Manusia memang membutuhkan rasul sebagai perantara dalam menerima ajaran-ajaran dari Allah SWT. Dan bersamaan dengan itu pula, sejak lama manusia telah menempatkan Rasulullah SAW. sebagai pembawa risalah terakhir dari Allah SWT. untuk manusia. Setiap saat kita selalu bersholawat kepada nabi sebagai perwujudan dari rasa hormat kepada beliau, dan kita berusaha untuk menjadi orang-orang yang diberi syafaat di hari penghisaban dengan mengikuti anjuran dan larangannya. Karena pada hakikatnya yang dibawa Muhammad adalah wahyu dari Allah SWT. (QS. An Najm: 3 dan 4; QS. Al An&#8217;am:50).<span id="more-839"></span></p>
<p>Wujud cinta kita kepada Rasulullah selalu kita buktikan dengan mengikuti perbuatan-perbuatannya. Rasul menganjurkan berbuat baik kepada semua orang, dengan segera kita melaksanakannya. Ketika Rasul menyuruh kita sopan santun, jujur, adil, bersikap pemaaf, maka dengan antusias kita menyambut dan melaksanakan perintah itu. Sehingga dalam kadar tertentu kita telah menjadikan Rasulullah sebagai figur yang harus diteladani dalam segala komponen kehidupan. Bahkan Rasulullah adalah <em>ushwatun hasanah</em> atau teladan yang baik.</p>
<p>Namun amat disayangkan, rasa cinta kepada Rasulullah itu sedikit demi sedikit mulai memudar sesuai dengan berkembangnya peradaban. Sangat ironis memang, ternyata generasi muda kita lebih paham dan mengikuti &#8220;sabda-sabda&#8221; yang mereka anggap sebagai figur &#8220;teladan&#8221;. Tak bisa menutup mata, bahwa remaja kita mulai gandrung dengan tokoh-tokoh artis yang mereka anggap mampu memberi inspirasi dalam hidupnya. Bahkan dalam tataran tertentu mampu menumbuhkan histeria.</p>
<p>Bukan saja kaum muda yang sudah mematut-matut diri menyamakan dengan idola pujaannya. Namun, tanpa disadari kaum tua pun telah melakukan hal yang sama, meski dalam unsur yang berbeda. Dalam diri kita mulai merayap pemikiran dan perasaan yang bertolak belakang dengan sikap Rasulullah sebagai teladan kita. Betapa naifnya kita mengaku-ngaku mencintai dan meneladani Rasulullah sementara kita sendiri tak pernah mengikuti perilakunya. Cinta kita, cinta palsu belaka. Di satu sisi kita senantiasa bersholawat kepadanya, tapi pada kesempatan yang lain kita malah melakukan perbuatan yang dilarangnya, yang jelas bertentangan dengan perilaku mulianya.</p>
<p>Satu hal yang bisa kita dapati bila kita mencintai dan meneladani Rasulullah dalam segala komponen kehidupan, yang tak akan pernah kita jumpai dalam mencintai dan meneladani selain Rasulullah. Yakni Rasululullah akan memberi &#8220;bonus&#8221; berupa syafaat kepada kita di hari penghisaban, bila kita mengikuti apa-apa yang diperintahkannya dan menghindari apa yang dilarangnya. Tak perlu menipu diri dengan menganggap nanti akan mendapat syafaat, sementara kita tak pernah meledani perbuatan Rasulullah.</p>
<p>Mulai sekarang, kita wajib menumbuhkan semangat untuk mencintai dan meneladani Rasulullah dalam jiwa kita. Wujudkan dalam setiap aktivitas kehidupan kita bahwa kita mencintai dan meneladani Rasulullah. Sehingga kita menjadi umat yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya. <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/meneladani-rasul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meminta Jabatan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/meminta-jabatan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/meminta-jabatan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 01:48:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/meminta-jabatan/</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. pernah berkata: &#8220;Demi Allah, sungguh aku ingin sekali bila jarak antara kami dengan urusan pemerintahan itu melebihi jarak dua kutub Timur dan Barat.&#8221;? Adalah sebuah perkataan mulia yang juga merupakan nasihat kepada kita tentang bagaimana menyikapi aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan terhadap umat, yakni urusan pemerintahan. Ternyata beliau begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. pernah berkata: &#8220;Demi Allah, sungguh aku ingin sekali bila jarak antara kami dengan urusan pemerintahan itu melebihi jarak dua kutub Timur dan Barat.&#8221;? Adalah sebuah perkataan mulia yang juga merupakan nasihat kepada kita tentang bagaimana menyikapi aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan terhadap umat, yakni urusan pemerintahan. Ternyata beliau begitu menginginkan agar sebisa mungkin jabatan untuk mengurusi kepentingan umat itu menjauh darinya. Karena beban yang harus dipikulnya teramat berat dan harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah di akhirat nanti.<span id="more-838"></span>??????????? Pernyataan yang seperti ini jarang ditemukan dalam aktivitas politik kita. Justeru sebaliknya, banyak yang menginginkan jabatan di pemerintahan. Entah itu menjadi anggota dewan legislatif, menteri atau yang paling prestisius, yakni sebagai presiden. Sudah banyak pernyataan yang dilontarkan oleh beberapa tokoh politik kita, yang menginginkan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Keinginan menjadi presiden sudah sangat lumrah dilontarkan oleh beberapa tokoh politik. Hal yang dulu sangat ditabukan itu telah menjadi pernyataan yang biasa di era reformasi. Terlepas dari apakah itu murni keinginannya atau ada yang mendorongnya, barangkali ada baiknya merenungkan kembali sabda Rasulullah saw yang menasihati kita berkaitan dengan urusan pemerintahan ini. Dari Abu Musa r.a. berkata: <em>&#8216;Aku dan dua orang lelaki dari anak cucu pamanku masuk ke tempat Nabi saw. Lalu salah seorang dari lelaki tersebut berkata: ?Ya Rasulullah, angkatlah kami sebagai pengurus untuk mengurusi sebagian apa yang Allah serahkan pengurusannya itu kepadamu. Dan yang seorang lagi juga mengatakan seperti itu. Maka jawab Rasulullah saw.: ?Demi Allah, sungguh kami tidak akan menyerahkan kepengurusan atas pekerjaan ini kepada seseorang yang memintanya, atau kepada seseorang yang sangat menginginkannya (ambisi).&#8221;</em> <strong>(HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)</strong>.</p>
<p>?Pernyataan&#8217; Rasul tersebut bukan berarti bahwa beliau tidak ingin jabatannya direbut oleh orang lain. Juga bukan berarti tidak percaya kepada orang tersebut. Namun, Rasul juga punya alasan yang juga disampaikannya dalam sabdanya:<em>&#8220;Barangsiapa meminta jabatan pengurus kaum muslimin hingga dapat, kemudian keadilannya mengalahkan kedzalimannya, maka ia akan masuk surga, dan siapa yang kedzalimannya mengalahkan keadilannya, maka dia akan masuk neraka.&#8221;</em> <strong>(HR. Abu Dawud)</strong>. Jadi, harus hati-hati. Jangan hanya menuruti hawa nafsu semata.</p>
<p>Juga urusan meminta jabatan ini bukan hal yang sembarangan. Karena masalah pengurusan umat (rakyat) ini adalah masalah yang berat, maka selain harus diemban oleh orang-orang yang sholeh dan ikhlash tapi sekaligus kapabel. <em>&#8220;Dan dari Abu Dzar, ia berkata: ?Aku bertanya: ?Ya Rasulallah, apakah engkau tidak mau mengangkat aku sebagai amil (pegawai)? Katanya selanjutnya: ?Kemudian beliau menepuk pundakku seraya bersabda: ?Wahai Abu Dzar, engkau adalah orang yang lemah, sedang kekuasaan itu adalah suatu amanat, dan sesungguhnya dia (kekuasaan) itu kelak di akhirat akan merupakan kerugian dan penyesalan, kecuali orang yang mendapatkannya itu dengan hak dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.&#8221; </em><strong>(HR. Ahmad dan Muslim </strong>dalam<em> </em>tarjamah kitab Nailul Authar jilid 6 halaman 3187). <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/meminta-jabatan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menguji Kekuasaan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menguji-kekuasaan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menguji-kekuasaan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 05:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menguji-kekuasaan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Adalah Rasulullah SAW. apabila mengangkat pimpinan suatu kesatuan pasukan dan dinas-dinas? rahasia, maka beliau menasihati, khusus kepada pimpinan itu, dengan nasihat takwa kepada Allah serta berlaku baik kepada kaum muslimin yang menyertai mereka.&#8221; (H.R. Imam Muslim)Kekuasaan sering membuat orang lupa diri. Menganggap diri lebih hebat dari orang lain, sehingga merasa sah-sah saja menekan dan mendikte, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Adalah Rasulullah SAW. apabila mengangkat pimpinan suatu kesatuan pasukan dan dinas-dinas? rahasia, maka beliau menasihati, khusus kepada pimpinan itu, dengan nasihat takwa kepada Allah serta berlaku baik kepada kaum muslimin yang menyertai mereka.&#8221;</em> <strong>(H.R. Imam Muslim)</strong>Kekuasaan sering membuat orang lupa diri. Menganggap diri lebih hebat dari orang lain, sehingga merasa sah-sah saja menekan dan mendikte, meneror bahkan mengancam pesaing atau malah memberangus rakyatnya sendiri. Sampai-sampai ketika tidak berkuasa pun akan terkena penyakit <em>post power syndrome.</em> Dan inilah pemandangan yang selalu bisa kita lihat baik melalui kacamata sejarah atau menyaksikan langsung perilaku para penguasa dan agen-agennya.<span id="more-837"></span></p>
<p>Dalam diri manusia memang berkembang perasaan <em>hubbussyiyadah </em>(cinta kekuasaan) sebagai perwujudan dari <em>gharizah al baqa</em> (naluri mempertahankan diri) karena selalu ingin dianggap eksis dalam kehidupannya. Hal ini wajar selama masih dalam <em>frame </em>yang benar. Namun, bila ternyata cinta kekuasaannya itu sangat tinggi sehingga menguasai jiwa dan pikirannya, ini sangat berbahaya.</p>
<p>Maka wajar saja bila Rasulullah selalu mewasiatkan takwa kepada para calon pemimpin yang akan mengemban tugas kekuasaannya. Karena memang kekuasaan itu cenderung akan membawa orang kepada tindakan sewenang-wenang. Nilai takwa inilah yang nantinya bakal mampu meredam segala tindakan yang menyalahgunakan kekuasaan, untuk kemudian seenaknya berperilaku, dari mulai korupsi, kolusi sampai memeras dan memakan harta rakyat.</p>
<p>Kekuasaan itu baru akan benar-benar teruji dan terbuktikan kekuatan atau kelemahannya ketika terjadi segala bencana yang mendera negerinya. Apakah bisa mengatasi semua malapetaka itu atau malah dengan sengaja menciptakan huru-hara? Mencipatakan kedamaian atau menyulut kekerasan? Mengkondisikan kesejahteraan atau membuat kesenjangan? Ini memang tak lebih dari <em>political game</em> yang diperankan penguasa dan para pesaingnya untuk saling menjatuhkan.</p>
<p>Khalifah Umar bin Abdul Aziz, saat melakukan pengontrolan di Baitul Mal pernah menutup hidungnya karena bau minyak kesturi yang menyebar di ruangan itu. Melihat sikap khalifah yang seperti itu, petugas baitul mal penasaran dan bertanya kepada khalifah. &#8220;Wahai khalifah, apakah gerangan yang membuat engkau seperti itu?&#8221; Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, &#8220;Harta di baitul mal ini adalah milik rakyatku. Dan aku tidak ingin memakan harta rakyatku, walau hanya dengan mencium wangi minyak ini.&#8221;</p>
<p>Begitulah salah satu sikap khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memegang amanah kekuasaannya, yang tentu saja sulit mendapatkan modelnya pada pemimpin sekarang ini, yang cenderung menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri dan mencekik orang lain, termasuk rakyatnya sendiri.</p>
<p>Padahal seharusnya para pemimpin itu melindungi dan mengayomi rakyatnya. Rasulullah SAW. bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung (bagi dirinya).&#8221;</em> <strong>(H.R. Muslim dari Al A&#8217;raj dari Abu Hurairah).</strong></p>
<p>Jadi jelas, seorang pemimpin yang betul-betul menjaga dan mempertanggung jawabkan amanat kekuasaannya ia akan melaksanakan kewajiban mengemban amanat itu dengan sungguh-sungguh dan menjadi pelindung rakyatnya dalam segala hal.</p>
<p>Rasulullah SAW. pernah memberi nasihat kepada Muadz bin Jabal dan Abi Musa Al Asy&#8217;ari ketika mereka diangkat jadi wali, <em>&#8220;Kalian berdua harus bisa menyampaikan kabar yang menyenangkan, dan bukannya kabar yang menyedihkan. Kalian juga harus menyampaikan kabar gembira dan bukannya menjadikan mereka (rakyat) jera.&#8221;</em> <strong>(H.R. Bukhari)</strong></p>
<p>Kita jadi bertanya, apakah kondisi sekarang ini sudah sesuai yang dianjurkan Rasulullah SAW? Kalau belum, kita sama-sama harus <em>muhasabah lil hukam</em><strong> </strong>(mengoreksi penguasa) <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menguji-kekuasaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemiskinan dan Pemiskinan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kemiskinan-dan-pemiskinan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kemiskinan-dan-pemiskinan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 13:46:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kemiskinan-dan-pemiskinan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.&#8221; (QS. Al Qashash: 77).Miskin, menurut Imam Syafi&#8217;i dan jumhur ulama, adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.&#8221;</em> <strong>(QS. Al Qashash: 77).</strong>Miskin, menurut Imam Syafi&#8217;i dan jumhur ulama, adalah &#8220;memiliki sesuatu (penghasilan/pendapatan) tapi tidak mencukupi (kebutuhan pokok)&#8221;. Secara sunatullah kemiskinan telah muncul dalam kehidupan manusia. Allah meninggikan rizki sebagian manusia atas sebagian yang lain (QS. 39:53; QS. 29:62; QS. 43:42; QS. 16:71).<span id="more-836"></span></p>
<p>Dan secara faktual, Pak A.M. Saefudin pernah membagi kemiskinan sebagai kemiskinan alamiah (<em>natural poverty</em>) dan kemiskinan struktural (<em>stuctural poverty</em>). Yang pertama, terjadi karena misalnya cacat mental atau fisik, lahir dari dan dalam keadaan keluarga miskin dan faktor lain yang tak terduga (bencana alam, kebangkrutan dan lain-lain). Sedangkan kemiskinan struktural diciptakan oleh sistem, nilai dan perilaku bejat manusia.</p>
<p>Sistem kapitalis dan sosialis dengan asas manfaat bebas nilai, telah melahirkan elit politik dan konglomerat yang menghalalkan segala cara. Bergelimang dalam kemewahan dengan mengorbankan sebagian besar masyarakat.</p>
<p>Kita semua sadar dan tahu bahwa kemiskinan akan selalu ada dalam masyarakat apapun. Hanya saja masalahnya adalah, bagaimana upaya untuk menanggulangi dan memecahkan problem kemiskinan tersebut. Bila bicara tentang pengaturan dan pemecahan problem kemiskinan, maka hal ini jelas berkaitan erat dengan sistem yang diterapkan oleh negara yang bersangkutan. Tak mustahil, kemiskinan yang sifatnya sudah sunatullah akan tetap langgeng karena negara membantu memperparah kemiskinan tersebut dengan sistem yang diterapkannya. Inilah yang berbahaya dan sangat mematikan kehidupan umat.</p>
<p>Dalam sistem kapitalis, para konglomerat dengan leluasa bisa mengendalikan sistem perekonomian. Penimbun misalnya, mereka bisa dengan bebas mengumpulkan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, kemudian menunggu waktu yang pas untuk dilempar ke konsumen dengan harga yang melambung. Jelas ini akan membuat masyarakat menderita karena harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Wal hasil, kemiskinan alaminya sudah ditambah dengan kemiskinan struktural yang membuat masyarakat semakin terpuruk.</p>
<p>Tentu, hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Sistem Islam akan mengupayakan langkah-langkah dalam mensejahterakan rakyat. <em>Pertama</em>, mengharamkan penimbunan harta.<em>Kedua</em>, memerintahkan agar harta beredar di seluruh anggota masyarakat, tidak hanya beredar di kalangan tertentu saja. <em>Ketiga</em>, pemerintah hendaklah mengeluarkan dana khusus untuk kebutuhan mendesak anggota masyarakatnya. <em>Keempat</em>, menetapkan hukum waris, sebagai upaya untuk memecah dan membagikan harta kepada yang berhak atasnya. <em>Kelima</em>, Islam melarang berlaku kikir dengan tidak menikmati dan memanfaatkan harta yang dimilikinya dalam batas-batas yang ditentukan syara&#8217;. <em>Keenam</em>, Islam menjadikan sebab-sebab pemilikan harta berdasarkan hukum syara&#8217;, dengan beberapa cara. Dalam hal ini Islam jelas akan melarang bentuk sistem ekonomi ribawi. <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kemiskinan-dan-pemiskinan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
