<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Indahnya Islam</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/khazanah/indahnya-islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jabir Ibnu Hayyan Peletak Dasar Kimia Modern</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 18:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu hayyan]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[jabir]]></category>
		<category><![CDATA[kimia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern/</guid>
		<description><![CDATA[Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak ki mia modern. Ahli kimia Mus lim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan pang gilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad se be lum ahli kimia Barat bernama John Dal ton (1766-1844)? mencetuskan teori mo lekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak ki mia modern. Ahli kimia Mus lim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan pang gilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad se be lum ahli kimia Barat bernama John Dal ton (1766-1844)? mencetuskan teori mo lekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M &#8211; 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan.?? Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang mencerahkan).<span id="more-950"></span></p>
<p>Tanpa kontribusinya, boleh jadi ilmu kimia tak berkembang pesat seperti saat ini. Ilmu pengetahuan modern sungguh telah berutang budi kepada Jabir yang dikenal sebagai seorang sufi itu. Jabir telah menorehkan sederet karyanya dalam 200 kitab. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya itu mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat prestisius.</p>
<p>Itulah sebabnya, ahli sejarah Barat, Philip K Hitti dalam History of the Arabs berujar, ?&#8217;Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab juga memberikan sumbangan yang begitu besar di bidang kimia.&#8217;? Penyataan Hitti itu merupakan sebuah pengakuan Barat terhadap pencapaian yang telah ditorehkan umat Islam di era keemasan.</p>
<p>Sejatinya, ilmuwan kebanggaan umat Islam itu bernama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan. Asal-usul kesukuan Jabir memang tak terungkap secara jelas. Satu versi menyebutkan, Jabir adalah seorang Arab. Namun, versi lain menyebutkan ahli kimia kesohor itu adalah orang Persia.? Kebanyakan literatur menulis bahwa Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.</p>
<p>Saat terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada era kekuasaan Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu kota pusat gerakan Syiah di Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang turut serta menggulingkan Dinasti Umayyah.</p>
<p>Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum mati. Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir kecil pun mulai mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari seorang ilmuwan bernama Harbi Al-Himyari.</p>
<p>Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk kembali ke Kufah. Di kota Syiah itulah, Jabir belajar dan merintis karier. Ketertarikannya pada bidang kimia, boleh jadi lantaran profesi sang ayah sebagai peracik obat. Jabir pun memutuskan untuk terjun di bidang kimia.</p>
<p>Jabir yang tumbuh besar di pusat peradaban Islam klasik itu menimba ilmu dari seorang imam termasyhur bernama Imam Ja&#8217;far Shadiq. Selain itu, ia juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid. Jabir memulai kariernya di bidang kedokteran setelah berguru pada Barmaki Vizier? pada masa kekhalifahan Abbasiyah berada dibawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid.</p>
<p>Sejak saat itulah, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Salah satu ciri khasnya, ia mendasari? eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif. Selain itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. ?&#8217;Saya pertama kali mengetahuinya? dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar<br />
mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam.&#8217;? Kalimat itu kerap dituliskan Jabir saat mengakhiri uraian suatu eksperimen yang telah dilakukannya.</p>
<p>Setelah sempat berkarier di Damas &#8211; kus, Jabir pun dikabarkan kembali ke Kufah. Dua abad pasca-berpulangnya Jabir, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona serta sebatang emas yang cukup berat.</p>
<p>Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. Berkat jasa Jabir-lah, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.</p>
<p>Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya mengapli kasi kan pengetahuan me? ngenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Ter nyata, Jabir jugalah yang kali pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.</p>
<p>Adalah Jabir pula yang pertama kali mencatat tentang? pemanasan anggur akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.</p>
<p>Selain itu, Jabir pun berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, peng uapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan<br />
kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya itu merupakan teknikteknik kimia modern.</p>
<p>Tak heran, bila sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli kimia Muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Tak cuma itu, buku-buku yang ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir tutup usia pada tahun 815 M di Kufah.? heri ruslan <a href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=331911&amp;kat_id=177" target="_blank">(Republika) </a></p>
<p>===</p>
<h3><span class="judul">Adikarya Sang Ilmuwan Besar</span></h3>
<p><span class="deskripsi">Dedikasi dan prestasi yang dicapai Jabir Ibnu Hayyan dalam bidang kimia terekam dengan baik lewat buku-buku yang ditulisnya. Tak kurang dari 200 buku berhasil ditulisnya.? Sebanyak 80 judul buku di antaranya mengupas hasil-hasil eksperimen kimia yang dilakukannya. Buku-buku itu sungguh amat berpengaruh hingga sekarang.</span><span class="deskripsi">Sebanyak 112 buku karya Jabir secara khusus ditulis untuk dipersembahkan kepada Barmakid?sang guru?yang juga pembantu atau wazir Khalifah Harun Ar- Rasyid. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Pada abad pertengahan, orang-orang Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir itu ke dalam bahasa Latin (Tabula Smaragdina).Buku-buku itu lalu menjadi rujukan pada ahli kimia di Eropa.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Selain itu, sebanyak 70 buku karya Jabir lainnya juga? dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan. Dari ke-70 kitab berpengaruh itu, salah satu yang terkenal adalah Kitab Al-Zuhra yang diterjemakan menjadi Book of Venus, serta Kitab Al-Ahjar yang dialihbahasakan menjadi Book of Stones.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Sebanyak 10 buku yang ditulis Jabir lainnya adalah kitab pembetulan yang berisi penjelasan mengenai ahli kimia Yunani seperti Pythagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles. Sisanya, kitab yang ditulis Jabir merupakan buku-buku keseimbangan. Dalam buku kelompok ini, Jabir melahirkan teori yang begitu terkenal, yakni ?teori keseimbangan alam.?</span></p>
<p><span class="deskripsi">Risalat-risalat karya Jabir yang secara khusus membedah ilmu kimia antara lain? Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab?een. Kitab penting itu juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad pertengahan. Kitab Al-Kimya menjadi sangat populer di Barat setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris oleh orang Inggris Robert of Chester pada 1144 M.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Al-Kimya versi alih bahasa berjudul ?The Book of Composition of Alchemy?. Sedangkan, Kitab Al-Sab?een diterjemahkan oleh Gerard of Cremona. Beberapa karya Jabir lainnya juga dialihbahasakan oleh Berthelot ke dalam bahasa Inggris antara lain; ?Book of Kingdom?, ?Book of the Balances?, serta ?Book of Eastern Mercur.?</span></p>
<p><span class="deskripsi">Buku karya Jabir lainnya juga mendapat perhatian dari ilmuwan Inggris bernama Richard Russel. Pada abad ke-17 M, Russel menerjemahkan buku yang ditulis Jabir ke dalam bahasa Ingris berjudul ?Sum of Perfection?.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Dalam buku itu, Russel memperkenalkan Jabir dengan nama Geber?seorang pange? ran Arab terkenal yang juga seorang filsuf. ?Sum of Perfection? selama beberapa abad begitu populer dan berpengaruh. Buku itu telah mendorong terjadinya evolusi kimia modern. Begitu berpengaruhnya buku-buku karya Jabir di Eropa dan Barat umumnya telah dibuktikan dengan munculnya beberapa istilah teknis yang ditemukan dalam kamus kimia Barat dan menjadi kosa kata ilmia yang sebelumnya digunakan Jabir seperti istilah &#8220;alkali.&#8221; hri <a href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=331910&amp;kat_id=177&amp;kat_id1=&amp;kat_id2=" target="_blank">(Republika)</a></span></p>
<p><span class="deskripsi"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 19:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[matematik]]></category>
		<category><![CDATA[sinus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.? Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.? Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.</p>
<p>Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M &#8211; 1036 M).? Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk <em>al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century,</em> mengungkapkan, bahwa? Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.</p>
<p>&#8220;Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,&#8221; ungkap Scheppler.? Ahli sejarah Matematika John Joseph O&#8217;Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur? terlahir di kawasan? Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam <em>The Regions of the World</em>, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.<span id="more-2502"></span></p>
<p>Keluarganya &#8220;Banu Iraq&#8221; menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. &#8220;Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,&#8221; tutur O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu&#8217;l-Wafa (940 M &#8211; 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni? Al-Biruni (973 M &#8211; 1048 M).</p>
<p>Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.</p>
<p>Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.</p>
<p>Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma&#8217;mun dan menjadi penasihat Abu&#8217;l Abbas Ma&#8217;mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.</p>
<p>Ali ibnu Ma&#8217;mun dan Abu&#8217;l Abbas Ma&#8217;mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu.? Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.</p>
<p>Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan.? Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.</p>
<p><strong>Kontribusi Sang Ilmuwan</strong></p>
<p>Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.</p>
<p>Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri.? Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi? Romawi bernama? Claudius Ptolemaeus (90 SM &#8211; 168 SM).</p>
<p>Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM &#8211; 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.</p>
<p>Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama? al-Biruni. &#8221; Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.?? Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,&#8221;? papar? ahli sejarah Matematika John Joseph O&#8217;Connor dan Edmund Frederick Robertson</p>
<p>Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya? dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.</p>
<p>Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam <em>The Spherics of Menelaus</em>.</p>
<p>Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang? mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas <em>spherical astronomy</em> (bentuk astronomi).</p>
<p>Abu Nasr juga mengembangkan <em>The Spherics of Menelaus</em> yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk <em>Almagest</em>.</p>
<p>&#8220;Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,&#8221; jelas O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:</p>
<p>a/sin A = b/sin B = c/sin C.</p>
<p>&#8220;Abu&#8217;l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,&#8221; ungkap O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>O&#8217;Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M &#8211; 1000 M).</p>
<p>Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya <em>Biography in Dictionary of Scientific Biography</em> (New York 1970-1990). &#8220;Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,&#8221; katanya.</p>
<p>Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.</p>
<p><strong>Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr</strong></p>
<p>Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.<br />
Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.</p>
<p>Abu Nasr telah &#8216;melahirkan&#8217; seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. &#8220;Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,&#8221; cetus Sarton.</p>
<p>Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.</p>
<p>Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai &#8216;Bapak Indologi&#8217; &#8211; studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai &#8216;Bapak Geodesi&#8217;.</p>
<p>Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai &#8216;antropolog pertama&#8217; di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.</p>
<p>Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. hri/ des/she <a href="http://republika.co.id/berita/50088/Abu_Nasr_Mansur_Sang_Penemu_Hukum_Sinus" target="_blank"><strong>[REPUBLIKA]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kareem-abdul-jabbar-lompatan-iman-raja-basket</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kareem-abdul-jabbar-lompatan-iman-raja-basket#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 17:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[basket]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[kareem abdul jabbar]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3226</guid>
		<description><![CDATA[
Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran umat manusia.

Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah satu pemain basket terbesar sepanjang masa. Shooting, Slam dunk, rebound, block , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang, lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain bertinggi badan 2,18 meter ini.
Dengan dukungan postur tubuhnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="detail_news_text">
<p style="text-align: right;"><strong>Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran umat manusia.<br />
</strong></p>
<p>Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah satu pemain basket terbesar sepanjang masa. <em>Shooting, Slam dunk, rebound, block</em> , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang, lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain bertinggi badan 2,18 meter ini.</p>
<p>Dengan dukungan postur tubuhnya yang sangat tinggi, Kareem Abdul Jabbar sering kali melakukan aksi yang brilian. Lompatannya sering mengundang kagum para penonton maupun tim lawan. Atas aksi dan kesuksesannya membawa klubnya meraih tangga juara, Kareem Abdul Jabbar pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik di kompetisi liga bola basket Amerika Serikat (NBA  <em>Most Valuable Player</em> ). Predikat itu diraihnya sebanyak enam kali.</p>
<p>Selama bermain di ajang NBA, ia berhasil membukukan rekor sebagai pencetak angka tertinggi sepanjang masa dengan 38.387 poin. Karenanya, ia mendapat julukan &#8216;Raja Bola Basket&#8217;. Dan berkat prestasinya ini, 19 kali ia terpilih untuk memperkuat tim NBA All-Star.<span id="more-3226"></span></p>
<p>Karier pria kelahiran New York City, 16 April 1947, di ajang bola basket Amerika dimulai ketika bermain untuk tim bola basket kampus, Universitas California, Los Angeles (UCLA). Aksi-aksinya di tim UCLA, mendapat perhatian serius para pelatih basket Amerika Serikat saat itu.</p>
<p>Dan tahun 1969, ia mendapat tawaran bermain di level kompetisi basket tertinggi di Amerika Serikat (NBA) dengan bergabung bersama klub Milwaukee Bucks. Di klub barunya ini, ia turut memberi andil besar dengan merebut juara NBA tahun 1970-1971.</p>
<p>Pada 1975, ia bergabung dengan tim basket asal Kota Los Angeles, LA Lakers. Di klub inilah karier Kareem makin melesat. Ia berhasil membawa La Lakers merebut sejumlah gelar juara untuk klubnya. Di samping itu, ia juga berhasil merebut gelar pribadi, yakni sebagai pemain terbaik NBA. Di klub ini, ia bermain sejak 1975-1989.</p>
<p><strong>Masuk Islam</strong><br />
Atas aksi-aksinya yang hebat itu, Kareem menjadi salah satu pemain andalan NBA All-Star dan Amerika Serikat dalam ajang Olimpiade. Ia juga menjadi pemain kebanggaan negeri Paman Sam tersebut. Tak hanya itu, ia juga merupakan pemain kebanggaan umat Islam di seluruh dunia.</p>
<p>Ya, pemain bernama lengkap Ferdinand Lewis Alcindor Junior (Jr) ini, adalah salah seorang atlet NBA pemeluk Islam. Ia mendeklarasikan diri sebagai seorang Muslim pada saat kariernya tengah menanjak.</p>
<p>Saat itu, seusai mempersembahkan gelar juara NBA untuk Milwaukee Bucks tahun 1971, dan pada saat yang sama merebut gelar pemain terbaik ( <em>Most Valuable Player</em> , MPV) dan &#8216;Rookie of the Year&#8217; (Pendatang baru terbaik) di Liga NBA, Kareem menyatakan diri memeluk Islam. Perpindahan kepercayaan dari Katolik menjadi Muslim ini, dirasakannya sebagai sebuah lompatan tertinggi selama hidupnya.</p>
<p>Ayahnya, Ferdinand Lewis Alcindor Sr, dan ibunya, Cora Lilian, adalah seorang pemeluk Katolik. Karenanya, sejak kecil ia mendapatkan pendidikan di sekolah Katolik. Oleh kedua orang tuanya, ia dimasukkan ke Saint Jude School. Ketika duduk di bangku SMA, ia berhasil membawa tim basket sekolahnya menjuarai New York City Catholic Championship.</p>
<p>Perkenalan Kareem dengan ajaran Islam terjadi lewat salah seorang temannya yang bernama Hamaas Abdul Khaalis. Ia mengenal Hamaas melalui ayahnya. Seperti halnya sang ayah yang seorang musisi jazz, Hamaas juga pernah mengeluti musik jazz. Dia adalah mantan drumer jazz. Dari Hamaas inilah, kemudian Kareem belajar banyak mengenai Islam. Ia juga sempat berkenalan dengan Muhammad Ali (Cassius Clay) yang sudah menjadi Muslim.</p>
<p><strong>Nama budak</strong><br />
Setelah banyak belajar Islam dari Hamaas, tekadnya untuk memeluk Islam pun semakin bulat. Atas ajakan Hamaas, ia kemudian mendatangi sebuah pusat kebudayaan Afrika di Harlem, di mana kaum Muslimin menempati lantai lima gedung itu. &#8221;Saya pergi ke sana dengan mengenakan jubah Afrika yang berwarna-warni,&#8221; terangnya.</p>
<p>Kepada seorang pemuda yang ditemuinya di pusat kebudayaan Afrika ini, ia mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang Muslim. Di hadapan mereka, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggilnya dengan Abdul Kareem.</p>
<p>Namun, Hamaas berkata, &#8221;Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.&#8221; Sejak saat itu, bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1971 atau sehari setelah Milwaukee Bucks memenangi kejuaraan NBA, ia memutuskan untuk mengganti namanya dari Ferdinand Lewis Alcindor Jr menjadi Kareem Abdul-Jabbar. Keputusan untuk mengganti nama tersebut, menurut Kareem, juga didorong keinginan untuk menguatkan identitasnya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.</p>
<p>&#8221;Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi, Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip,&#8221; terangnya.</p>
<p>Sebagai anak satu-satunya, keputusan Kareem untuk memeluk Islam sempat membuat khawatir kedua orang tuanya. Namun, kekhawatiran tersebut berhasil ia tepis. &#8221;Mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.&#8221;</p>
<p>Baginya, Islam adalah anugerah dan hidayah Allah yang tertinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran bagi umat manusia.</p>
<p><strong>Rajin Belajar</strong></p>
<p>Di sela-sela kesibukannya bermain basket, Kareem masih sempat meluangkan waktu untuk mendalami Islam. &#8221;Saya beralih ke sumber segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Alquran dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus. Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu 10 jam, tetapi saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Namun, diakui dia, cukup sulit baginya untuk bisa menunaikan kewajiban shalat lima kali setiap hari. Kesulitan untuk menjalankan shalat lima waktu ini, terutama dirasakan ketika ia sedang bermain. &#8221;Saya terlalu capai untuk bangun melakukan shalat Subuh. Saya harus bermain basket pada waktu Maghrib dan Isya. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan shalat Zuhur. Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu,&#8221; paparnya.</p>
<p>Begitu juga tatkala bulan Ramadhan tiba. Aktivitasnya yang cukup padat di lapangan, terkadang memaksanya untuk membatalkan puasa. Untuk membayar utang puasanya ini, Kareem selalu mengeluarkan fidyah.</p>
<p>&#8221;Karena saya tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, saya selalu memberi makan sebuah keluarga. Saya memberi sedekah. Saya memberi uang kepada rekan sesama Muslim dan mengatakan kepadanya untuk apa uang itu.&#8221; Pada 1973, Kareem mengunjungi Makkah, dan menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Pada 28 Juni 1989, setelah 20 tahun menjalani karier profesionalnya, Kareem memutuskan untuk berhenti dari ajang NBA. Sejak berhenti bermain, menurut Kareem, dirinya menjadi semakin baik dan dapat menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang Muslim.</p>
<p>&#8221;Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah rida atas apa yang telah saya lakukan,&#8221; tukasnya.</p>
<p><strong>Antara Akting, Menulis, dan Melatih</strong></p>
<p>Setelah pensiun bermain basket, berbagai tawaran datang kepadanya. Namun, bukan tawaran untuk melatih sebuah tim bola basket, melainkan tawaran untuk beradu akting di depan kamera. Dunia akting sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi seorang Kareem Abdul-Jabbar. Ketika masih memperkuat LA Lakers, ia pernah bermain di film  <em>Game of Death</em> yang dirilis tahun 1978. Di film laga ini, ia harus beradu akting dengan Bruce Lee. Tawaran untuk bermain kedua kalinya di film layar lebar datang di tahun 1980. Saat itu ia harus memerankan tokoh kopilot Roger Murdock dalam film komedi  <em>Airplane!</em> .</p>
<p>Penampilan Kareem di layar televisi dan film tidak berhenti sampai di situ. Ia tercatat pernah bermain di sejumlah serial televisi di Amerika Serikat. Di antaranya adalah serial komedi situasi  <em>Full House, Living Single, Amin, Everybody Loves Raymond, Martin, Different Strokes, The Fresh Prince of Bel-Air, Scrubs</em> , dan  <em>Emergency!</em> . Dia juga muncul di film televisi  <em>Stepen King&#8217;s The Stand</em> dan  <em>Slam Dunk Ernest</em> . Di serial  <em>Full House</em> , ia harus beradu akting dengan anaknya sendiri, Adam.</p>
<p>Pada 1994, Kareem juga menjajal peruntungannya di balik layar dengan menjadi  <em>co-producer</em> eksekutif dari film televisi  <em>The Vernon Johns Story</em> . Kemudian pada 2006, ia tampil dalam acara  <em>The Colbert Report</em> . Pada 2008 ia berperan sebagai seorang manajer panggung dalam  <em>Nazi Gold</em> .</p>
<p>Di luar dunia akting, ternyata ayah dari Habiba, Sultana, Kareem Jr, Amir, dan Adam ini memiliki bakat yang lain, yakni dalam bidang tulis menulis. Selain dikenal sebagai pemain basket dan bintang film, Kareem juga dikenal sebagai seorang penulis buku. Ia sudah menulis sedikitnya tujuh buku yang kesemuanya  <em>best seller</em> .</p>
<p>Buku-buku hasil karyanya, antara lain  <em>Giant Steps</em> yang ditulisnya bersama Peter Knobler (1987),  <em>Kareem</em> (1990),  <em>Selected from Giant Steps</em> (1999),  <em>Black Profiles in Courage: A Legacy of African-American Achievement</em> yang ditulisnya bersama Alan Steinberg (1996),  <em>A Season on the Reservation: My Sojourn with the White Mountain Apaches</em> yang ditulisnya bersama Stephen Singular (2000),  <em>Brothers in Arms: The Epic Story of the 761st Tank Battalion</em> dan  <em>WWII&#8217;s Forgotten Heroes</em> yang ditulisnya bersama Anthony Walton (2005), dan  <em>On the Shoulders of Giants: My Journey Through the Harlem Renaissance</em> yang ditulisnya bersama Raymond Obstfeld (2007).</p>
<p>Kendati demikian, olahraga basket tidak bisa dipisahkan dari diri Kareem. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa melatih salah satu klub NBA. Setelah memutuskan berhenti bermain, posisi tertinggi Kareem hanya sebagai asisten pelatih sejumlah klub NBA. Los Angeles Clippers dan Seattle SuperSonics menggunakan jasanya untuk melatih center muda Michael Olowokandi dan Jerome James.</p>
<p>Pada 2005, ia kembali ke Lakers sebagai asisten khusus pelatih kepala Phil Jackson. Tugasnya mengasah kemampuan center muda Lakers, Andrew Bynum. Ia dinilai berhasil dengan semakin meningkatnya performa Bynum. Musim lalu, Kareem berjasa mengantarkan Lakers juara NBA dengan kontribusi 14 poin dan delapan  <em>rebound</em> per  <em>game</em> .</p>
<p>Ia juga pernah menjadi pelatih kepala, tapi hanya di tim sekelas Oklahoma Storm. Tim ini bermain di United States Basketball League pada 2002, sebuah liga kelas bawah tempat para pemain mengasah kemampuan sebelum berkiprah di NBA atau liga-liga lain. dia/sya/taq <a href="http://republika.co.id/berita/88926/Kareem_Abdul_Jabbar_Lompatan_Iman_Raja_Basket" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
<p><strong>Biodata :</strong></p>
<p>Nama Asli : Ferdinand Lewis Alcindor Jr<br />
Nama Muslim : Kareem Abdul Jabbar<br />
Masuk Islam : 1971<br />
Lahir : New York City, 16 April 1947<br />
Orang Tua : Ferdinand Lewis Alcindor Sr dan Cora Lilian<br />
Klub Pertama : Tim Basket UCLA</p>
<p>Klub Profesional :<br />
- Milwaukee Bucks (1969-1975)<br />
- LA Lakers (1975-1989)</p>
<p><strong>Penghargaan:</strong><br />
- Enam kali NBA MPV (1971-1972, 1974, 1976-1977, 1980)<br />
- 19 kali menjadi tim NBA All Star (1970-1977 dan 1979-1989).<br />
- Dua kali Finalis NBA MPV (1971, 1985)<br />
- 10 kali All-NBA Team (1971-1973, 1974, 1976-1977, 1980-1981, 1984, 1986).<br />
- Lima kali All-NBA Second Team (1970, 1978-1979, 1983, 1985).<br />
- Lima kali NBA All-Defensive First Team (1974-1975, 1979-1981)<br />
- Enam kali NBA All-Defensive Second Team (1970-1971, 1976-1978, 1984).<br />
- NBA Rookie of The Year (1970)<br />
- NBA All-Rookie Team (1970); dan banyak lagi<br />
<strong><br />
Prestasi :</strong><br />
- Juara NBA (1971) bersama Milwaukee Bucks<br />
- Juara NBA (1980, 1982, 1985, 1987, 1988) bersama LA Lakers</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kareem-abdul-jabbar-lompatan-iman-raja-basket/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Timbuktu, Kota Legenda Islam di Afrika Barat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/timbuktu-kota-legenda-islam-di-afrika-barat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/timbuktu-kota-legenda-islam-di-afrika-barat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 18:10:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[arsitek]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1081</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh tragis nasib Timbuktu. Kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di benua Afrika Barat itu, kini telah berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil. Situasi dan pemandangan &#8216;negeri di ujung dunia&#8217; itu, begitu kontras bila dibandingkan dengan Timbuktu 900 tahun lalu &#8211; ketika Islam mencapai kejayaannya di wilayah itu.
Sejarah mencatat, pada abad ke-12 M Timbuktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh tragis nasib Timbuktu. Kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di benua Afrika Barat itu, kini telah berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil. Situasi dan pemandangan &#8216;negeri di ujung dunia&#8217; itu, begitu kontras bila dibandingkan dengan Timbuktu 900 tahun lalu &#8211; ketika Islam mencapai kejayaannya di wilayah itu.</p>
<p>Sejarah mencatat, pada abad ke-12 M Timbuktu telah menjelma sebagai salah satu kota pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang termasyhur. Di era kejayaan Islam, Timbuktu juga sempat menjadi sentra perdagangan terkemuka di dunia. Rakyat Timbuktu pun hidup sejahtera dan makmur.<span id="more-1081"></span></p>
<p>Secara gemilang, sejarawan Abad XVI, Leo Africanus, menggambarkan kejayaan Timbuktu dalam buku yang ditulisnya. &#8221;Begitu banyak hakim, doktor dan ulama di sini (Timbuktu). Semua menerima gaji yang sangat memuaskan dari Raja Askia Muhammad &#8211; penguasa Negeri Songhay. Raja pun menaruh hormat pada rakyatnya yang giat belajar,&#8221; tutur Africanus.</p>
<p>Di era keemasan Islam, ilmu pengetahuan dan peradaban tumbuh sangat pesat di Timbuktu. Rakyat di wilayah itu begitu gemar membaca buku. Menurut Africanus, permintaan buku di Timbuktu sangat tinggi. Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Sehingga, perdagangan buku di kota itu menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibanding bisnis lainnya.</p>
<p>Lalu bagaimanakah peradaban Islam bisa berkembang pesat di negeri yang berada nun jauh di ujung dunia itu? <em>Tombouctou</em> &#8211; begitu orang Prancis menyebut Timbuktu &#8211; adalah sebuah kota di negara Mali, Afrika Barat. Kota multietis itu dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Secara geografis, Timbuktu terletak sekitar 15 kilometer dari Sungai Niger.</p>
<p>Kota Timbuktu didirikan suku Tuareg Imashagan pada abad ke-11 M. Alkisah, saat musim hujan, suku Tuareg menjelajahi padang rumput hingga ke Arawan untuk mengembalakan hewan peliharaan mereka. Ketika musim kering tiba, mereka mendatangi sungai Niger untuk mencari rumput. Ketika tinggal di sekitar sungai, suku Tuareg terserang sakit akibat gigitan nyamuk dan air yang menggenang.</p>
<p>Dengan kondisi yang kurang menguntungkan itu, mereka memutuskan untuk menetap beberapa mil dari sungai Niger dan mulai menggali sebuah sumur. Ketika musim penghujan datang, suku Turareg biasa meninggalkan barang-barang yang berat kepada seorang wanita tua bernama Tin Abutut &#8211; yang tinggal dekat sungai. Seiring waktu, nama Tin Abutut berubah menjadi Timbuktu.</p>
<p>Sejak abad ke-11 M, Timbuktu mulai menjadi pelabuhan penting &#8211; tempat beragam barang dari Afrika Barat dan Afrika Utara diperdagangkan. Pada era itu, garam merupakan produk yang amat bernilai. Di Timbuktu garam dijual atau ditukar dengan emas. Kemakmuran kota itu menarik perhatian para sarjana berkulit hitam, pedagang kulit hitam, dan saudagar Arab dari Afrika Utara.</p>
<p>Garam, buku, dan emas mejadi tiga komoditas unggulan yang begitu tinggi angka permintaannya pada era itu. Garam berasal dari wilayah Tegaza dan emas diproduksi dari tambang emas di Boure dan Banbuk. Sedangkan buku dicetak dan diproduksi para sarjana atau berkulit hitam dan ilmuwan dari Sanhaja. Proses pembangunan pertama kali berlangsung di Timbuktu pada awal abad ke-12 M. Para arsitek Afrika dari Djenne dan arsitek Muslim dari Afrika Utara mulai membangun kota itu. Pembangunan di Timbuktu berlangsung menandai berkembang pesatnya perdagangan dan ilmu pengetahuan. Saat itu, Raja Soso diserbu kerajaan Ghana. Sehingga, para ilmuwan dari Walata eksodus ke Timbuktu.</p>
<p>Timbuktu pun menjelma menjadi pusat pembelajaran Islam serta sentra perdagangan. Di abad ke-12 M, Timbuktu telah memiliki tiga universitas serta 180 sekolah Alquran. Ketiga universitas Islam yang sudah berdiri di wilayah itu antara lain; Sankore University, Jingaray Ber University, dan Sidi Yahya University. Inilah masa keemasan peradaban Islam di Afrika.</p>
<p>Guna memenuhi &#8216;dahaga&#8217; masyarakat Muslim Timbuktu akan beragam pengetahuan, buku yang dijual di kota itu banyak yang didatangkan dari negeri Islam lainnya. Selain itu, tak sedikit pula buku-buku yang diperjualbelikan adalah hasil karya para ilmuwan dan sarjana di Tumbuktu. Di kota itu juga sudah ada industri percetakan buku.</p>
<p>Perpustakaan universitas dan milik pribadi pun bermunculan dengan beragam koleksi buku yang ditulis para ilmuwan. Ilmuwan terkemuka Timbuktu, Ahmad Baba, pada masa itu sudah memiliki perpustakaan pribadi dengan jumlah koleksi buku mencapai 1.600 judul. Perpustakaan Ahmad Baba itu tercatat sebagai salah satu perpustakaan kecil yang ada di Timbuktu.</p>
<p>Pada tahun 1325 M, Timbuktu mulai dikuasai Kaisar Mali, Masa Mussa (1307 M &#8211; 1332 M). Raja Mali yang terkenal dengan sebutan Kan Kan Mussa itu begitu terkesan dengan warisan Islam di Timbuktu. Sepulang menunaikan haji di Makkah, Sultan Musa membawa seorang arsitek terkemuka asal Mesir bernama Abu Es Haq Es Saheli. Sang sultan menggaji arsitek itu dengan 200 kilogram emas untuk membangun Masjid Jingaray Ber &#8211; masjid untuk shalat Jumat.</p>
<p>Sultan Musa juga membangun istana kerajaannya atau <em>Madugu</em> di Timbuktu. Padamasa kekuasaannya, Musa juga membangun masjid di Djenne dan masjid agung di Gao (1324 M &#8211; 1325 M) &#8211; kini tinggal tersisa fondasinya saja. Kerajaan Mali mulai dikenal di seluruh dunia, ketika Sultan Musa menunaikan ibadah haji di tanah Suci, Makkah pada tahun 1325 M.</p>
<p>Sebagai penguasa yang besar, dia membawa 60 ribu pegawai dalam perjalanan menuju Makkah. Hebatnya, setiap pegawai membawa tiga kilogram emas. Itu berarti dia membawa 180 ribu kilogram emas. Saat Sultan Musa dan rombongannya singgah di Mesir, mata uang di Negeri Piramida itu langsung anjlok. Pesiar yang dilakukan sultan itu membuat Mali dan Timbuktu mulai masuk dalam peta pada abad ke-14 M.</p>
<p>Kesuksesan yang dicapai Timbuktu membuat seorang kerabat Sultan Musa, Abu Bakar II menjelajah samudera dengan menggunakan kapal. Abu Bakar dan tim ekspedisi maritim yang dipimpinnya meninggalkan Senegal untuk berlayar ke Lautan Atlantik. Pangeran Kerajaan Mali itu kemungkinan yang menemukan benua Amerika. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan bahasa, tradisi dan adat Mandika di Brasil.</p>
<p>Sayang, kejayaan Timbuktu terus meredup seiring bergantinya zaman. Kini Timbuktu hanyalah sebuah kota terpencil yang lemah. Bahkan nyaris terlupakan. Mungkinkah peradaban Islam bangkit kembali di negeri itu? heri ruslan <a href="http://republika.co.id/koran.asp?kat_id=177" target="_blank">(republika)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/timbuktu-kota-legenda-islam-di-afrika-barat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Pub Koktail ke Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dari-pub-koktail-ke-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dari-pub-koktail-ke-islam#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 17:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3219</guid>
		<description><![CDATA[Seorang wanita ratu pesta dan narkoba akhirnya mendapatkan kebahagian sejati setelah memeluk Islam

Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan, yang dulu mengelola sebuah pub koktail di Camps Bay, sebuah kota pantai di  pinggiran Cape Town.
&#8220;Saya memiliki kebiasaan menggunakan narkoba yang sangat parah dan saya mengira menjalani gaya hidup kelas atas,&#8221; cerita Laura [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Seorang wanita ratu pesta dan narkoba akhirnya mendapatkan kebahagian sejati setelah memeluk Islam</em></strong><br />
<em><strong><br />
</strong></em>Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan, yang dulu mengelola sebuah pub koktail di Camps Bay, sebuah kota pantai di  pinggiran Cape Town.</p>
<p>&#8220;Saya memiliki kebiasaan menggunakan narkoba yang sangat parah dan saya mengira menjalani gaya hidup kelas atas,&#8221; cerita Laura kepada IslamOnline.</p>
<p>Dari luar ia kelihatannya gembira mengenakan pakaian rancangan desainer, menggunakan obat-obatan dan berpesta sepanjang waktu.</p>
<p>Tapi di dalam, Laura selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar, rasanya ada sesuatu yang membakar.</p>
<p>Meskipun ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat, ia berhenti percaya pada Tuhan, sebagai akibat dari gaya hidupnya yang tinggi dan kecanduan narkoba.<span id="more-3219"></span></p>
<p>&#8220;Saya mencapai satu titik dalam kehidupan, di mana saya tidak lagi mempercayai Tuhan.&#8221;</p>
<p>Kehidupan Laura seketika berubah setelah ia bertemu dengan seorang teman yang telah memeluk Islam.</p>
<p>&#8220;Setelah mendengarkan teman Muslim saya malam itu, saya banyak menangis dan berdoa.&#8221;</p>
<p>Laura mengatakan, setelah ia berdoa sekian lamanya, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya.</p>
<p>Secara tiba-tiba ia mampu mengatasi kecanduan narkoba yang telah dideritanya selama empat tahun. Dan Laura mulai membaca lebih banyak tentang Islam.</p>
<p>Pada saat itu, ia belum berpikir untuk menjadi seorang Muslim.</p>
<p>Namun, pada September 2007 sebelum bulan Ramadhan, Laura akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, saya masuk Islam melalui teman, dan hidup saya berubah sama sekali.&#8221;</p>
<p><strong>Lebih bahagia</strong></p>
<p>Setelah memeluk Islam, Laura berhenti bekerja di pub koktail.</p>
<p>&#8220;Setelah menjadi seorang Muslim, saya mengetahui lebih banyak tentang Islam dan memperhatikan tempat saya bekerja. Saya bahkan berhenti tanpa ada penawaran kerja lainnya,&#8221; cerita Laura yang kini memakai hijab.</p>
<p>&#8220;Tapi saya percaya pada Allah.&#8221;</p>
<p>Orangtua Laura, terutama ayah, telah bisa menerima agama yang dipilihnya dan sering bertanya tentang Islam.</p>
<p>&#8220;Sejak saya memeluk Islam dan berhenti dari pekerjaan manajerial di pub, saya pulang ke rumah lebih awal. Orangtua saya senang karenanya,&#8221; cerita Laura.</p>
<p>&#8220;Saya berharap satu hari mereka juga akan memeluk Islam.&#8221;</p>
<p>Sebulan kemudian, Laura mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Tapi ia mengatakan kepada bosnya, seorang Kristen fundamentalis, dirinya mau mengambil pekerjaan itu asalkan diberi waktu istirahat untuk shalat.</p>
<p><strong>Bosnya setuju</strong></p>
<p>&#8220;Jika Anda melakukan hal-hal baik untuk alasan yang tepat, Allah akan memberkatimu,&#8221; begitu keyakinan Laura, yang menjadi pembawa acara bincang-bincang di sebuah radio di Cape Town.</p>
<p>&#8220;Sekarang saya memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan alhamdulillah saya menjalani hidup yang lebih sehat, karena Islam.&#8221;[di/iol/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9884:dari-pub-koktail-ke-islam&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=85" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dari-pub-koktail-ke-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Zarqali: Astronom Legendaris dari Andalusia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/al-zarqali-astronom-legendaris-dari-andalusia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/al-zarqali-astronom-legendaris-dari-andalusia#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 17:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2369</guid>
		<description><![CDATA[Arzachel.? Begitulah masyarakat Barat biasa menyebut al-Zarqali, seorang? astronom Muslim? legendaris dari? Andalusia.? Kontribusinya bagi pengembangan astronomi modern sungguh sangat besar. Ia tak hanya menciptakan peralatan astronomi berteknologi, namun juga sederet terori penting.
Tak heran jika kemudian, masyarakat astronomi modern mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan. Ia tercatat sebagai satu dari 24 ilmuwan Muslim yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 270px"><img src="http://1.1.1.1/bmi/republika.co.id/images/news/2009/04/20090407161908.jpg" alt="Al-Zarqali: Astronom Legendaris dari Andalusia" width="260" height="181" /><p class="wp-caption-text">MUSLIMHERITAGE.COM</p></div>
<p>Arzachel.? Begitulah masyarakat Barat biasa menyebut al-Zarqali, seorang? astronom Muslim? legendaris dari? Andalusia.? Kontribusinya bagi pengembangan astronomi modern sungguh sangat besar. Ia tak hanya menciptakan peralatan astronomi berteknologi, namun juga sederet terori penting.</p>
<p>Tak heran jika kemudian, masyarakat astronomi modern mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan. Ia tercatat sebagai satu dari 24 ilmuwan Muslim yang diakui dunia sains modern. Al-Zarqali merupakan salah satu ilmuwan yang lahir dari era kejayaan Islam di Spanyol Muslim alias Andalusia.</p>
<p>Sejatinya, ia bernama lengkap Abu Ishaq Ibrahim Ibnu Yahya al-Zarqali. Di dunia Islam, ia juga dikenal dengan nama? al-Zarqalluh atau al-Zarqallah. Dia terlahir di Toledo, Andalusia pada tahun 1029 M. Al-Zarqali tumbuh besar ketika kejayaam? peradaban Islam di Andalusia berada di tubir kehancuran.<span id="more-2369"></span></p>
<p>Saat itu, Andalusia diserang pasukan Kristen dari berbagai penjuru.? Pada akhir abad ke-11 M, pusat peradaban Islam di Eropa itu nyaris jatuh dikuasai pasukan Kristen. Untunglah, pasukan tentara Dinasti Murabbitun dari Maroko berhasil mematahkan serangan pasukan musuh.</p>
<p>Setelah kekuasaan Dinasti Murabbitun berakhir, peradaban Islam di Andalusia masih sempat bersinar selama dua abad hingga pertengahan abad ke-13 M. Jauh sebelum al-Zarqali menjelma menjadi seorang ilmuwan terpandang di Andalusia, peradaban Islam di wilayah itu telah memiliki sederet saintis fenomenal seperti: Ibnu Firnas (wafat 887), penemu presawat terbang; al-Zahrawi (936-1013 M), seorang dokter bedah; al-Dinawari? seorang ahli botani; serta al-Majriti (wafat 1007 M) yang juga seorang ilmuwan serbabisa.</p>
<p>Ilmu pengetahuan berkembang pesat di Andalusia, karena mendapat dukungan dari para penguasa.? Pada masa kekuasaan Khalifah al-Hakam II, Andalusia memiliki sekitar 70 perpustakaan umum. Tak hanya sains yang berkembang, kota-kota di Andalusia pun menjelma menjadi metropolitan terkemuka.</p>
<p>&#8221;Saat itu, Andalusia merupakan kota yang paling berperadaban di Eropa.&#8221; ujar T Burckhardt (1972) dalam bukunya <em>Moorish Culture in Spain</em>. Perkembangan ilmu astronomi di? era Kekhalifahan Umayyah Spanyol mencapai puncaknya pada abad ke-11 dan 12 M. Ibnu Haitham menjadi salah seorang astronom asal Andalusia yang pertama kali mengubah konfigurasi Ptolemeus.</p>
<p>Pada akhir abad ke-11 M, al-Zarqali alias Arzachel menjadi astronom kebanggaan peradaban Muslim di Andalusia. Ia menemukan bahwa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular. Selain itu, ada pula astronom lainnya seperti Ibnu Bajjah serta? Nur Ed-Din Al Betrugi alias Alpetragius yang mengusulkan model-model planet baru.<br />
Kehidupan al-Zarqali</p>
<p>Barron Carra de Vaux (1921) dalam? bukunya bertajuk <em>Les Penseurs de l&#8217;Islam</em> menyebut al-Zarqali dengan panggilan &#8216;al-Nekkach&#8217; &#8211; pemahat logam. Sebelum dikenal sebagai seorang astronom, al-Zarqali memulai karirnya sebagai seorang mekanik dan pembuat kerajinan dari logam. Kemahirannya sebagai seorang mekanik membuatnya dipercaya untuk menjadi pegawai Ibnu Said di Toledo.</p>
<p>Pada 1060 M, al-Zarqali membuat peralatan observatorium astronomi yang didedikasikan untuk Yahya Ibnu Abi Mansur. Awalnya, al-Zarqali memang menciptakan peralatan untuk para ilmuwan lain. Karya ciptanya yang luar biasa akhirnya mengundang? ketertarikan dari ilmuwan lain.</p>
<p>&#8221;Para ilmuwan lain akhirnya mengakui kehebatan intelektualitas al-Zarqali,&#8221; papar? Barron carra de Vaux. Al-Zarqali terbilang unik. Dia adalah seorang saintis Muslim legendaris yang tak pernah belajar secara formal. Bahkan, pada awalnya, al-Zarqali nyaris tak pernah membaca bahkan memegang buku sekalipun.</p>
<p>Kalangan ilmuwan yang kagum dengan karya-karya al-Zarqali kemudian mendorongnya untuk belajar. Mereka memberinya banyak buku. Al-Zarqali pun kemudian belajar secara otodidak. &#8221; Dua tahun kemudian, tepatnya? pada 1062 M, dia menjadi anggota kumpulan para ilmuwan di Andalusia,&#8221;? Juan Vernet dalam <em>Dictionary of Scientific Biography</em>.</p>
<p>Setelah mensejajarkan dirinya dengan para ilmuwan lainnya, al-Zarqali tak lagi menciptakan peralatan untuk saintis lain. Sang saintis mulai menciptakan penemuannya sendiri. Bahkan, al-Zarqali pun mengajarkan ilmu otoddak yang dikuasainya. Sejak saat itulah, dia dikenal sebagai ilmuwan terkemuka di Andalusia.</p>
<p>Salah satu penemuan al-Zarqali yang paling fenomenal adalah pembuatan jam di Toledo. Jam yang diciptakannya itu masih bisa digunakan hingga tahun 1135 M. Penemuannya itu menarik perhatian Raja Alphonso IV. Secara khusus Raja Alphonso mencari tahu bagaiama jam yang diciptakan al-Zarqali itu bekerja.</p>
<p><img class="alignright" style="border: 0pt none;" src="http://1.1.1.5/bmi/republika.co.id/images/news/new2009/Astronomi.jpg" border="0" alt="" width="180" height="221" />Selain berhasil menciptakan jam air yang sangat mengagumkan, al-Zarqali juga mampu membuat astrolab paling canggih dan akurat.? Atrolab yang ciptakannya tergolong paling bagus di antara astrolab lain yang dibuat sebelumnya serta pada masa itu. Astrolab itu bisa digunakan untuk beragam keperluan.</p>
<p>Astrolab ciptaannya bisa digunakan untuk mengamati siklus zodiak.? Selain itu juga bisa didesain secara khusus untuk mengukur garis lintang dan memproyeksikan letak ekuator. Teknologi astrolab yang dibuatnya juga bisa menentukan jam atau waktu.</p>
<p>Al-Zarqali begitu populer di dunia Barat. Selama berabad-abad, karyanya yang fenomenal, yakni Tabel Toledo? begitu dikagumi Masyarakat Kristen Barat. Hasil buha pikirnya itu begitu berpengaruh bagi masyarakat Barat.? Karyanya itu kemudian diterjemhakan ke dalam bahasa? Latin oleh Gerard of Cremona.? Karyanya al-Zarqali itu mampu bertahan selama lebih dari dua abad.</p>
<p>Pengaruh al-Zarqali yang begitu kuat itu membuat table-table astronomi lainnya di Eropa didasarkan pada hasil pengukuran al-Zarqali.? Tabel Marseilles yang didasarkan pada Tabel Toledan buatan al-Zarqali juga diadaptasi? ke meridian London, Paris dan? Pisa.</p>
<p>Raymond dari? Marseilles merupakan salah seorang yang pertama kali mengadaptasi tabel al-Zarqali di Eropa yakni kota? Marseilles. Leopold dari Austria, juga tercatat sebagai astronom Austria yang juga terpengaruh dengan pemikiran al-Zarqali. Tak cuma itu, Tablas Alfonsinas yang dibuat? Alfonso juga didasarkan pada hasil kerja al-Zarqali.</p>
<p>Al-Zarqali tutup usia pada tahun 1087 M. Meski begitu, buah pikir dan karya-karyanya telah memberi inspirasi bagi ilmuwan lain terutama di Eropa. Peradaban Islam masa kini sudah seharusnya menumbuhkan kembali semangat dan perjuangan hidup seorang al-Zarqali. N heri ruslan</p>
<p><strong><br />
Kontribusi Sang Astronom </strong></p>
<p>Selain berhasil menemukan fakta bahawa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular, al-Zarqali juga mampu mengoreksi data geografis yang dibuat Ptolemeus. Secara khusus, dia mengoreksi panjang Laut Mediterania. Al-Zarqali juga mampu menemukan sejumlah fakta penting terkait rahasia langit, seperti planet, bintang, bulan dan matahari.</p>
<p>Penemuan-penemuan yang diciptakannya ditulis dalam kitab berjudul &lt;I&gt;al-Safiha al-Zarqaliya&lt;I&gt; alias? Azafea. Dalam risalah itu tercatat sejumlah penemuannya seperti, astrolab universal, tabel 29 bintang serta yang lainnya. Al-Zarqali dikenal sebagai seorang ilmuwan yang mampu menggabungkan kemampuan teknik dengan teoritik.</p>
<p>Dalam catatannya, al-Zarqali mengungkapkan adanya observatorium juga dibangun peradaban Islam di Toledo serta Cordoba. Observatorium yang dibangun di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah Spanyol itu diyakini keduanya telah menggunakan peralatan astronomi yang tercanggih di zamannya.? Beberapa diantaranya merupakan ciptaan al-Zarqali.</p>
<p>Ia juga tercatat telah menemukan salah satu peralatan komputer analog di era kejayaan Islam. Arzachel, demikian orang Barat biasa menyebut Al-Zarqali, berhasil menemukan Equatorium alat penghitung bintang. Peralatan komputer analog lainnya yang dikembangkan A-Zarqali bernama Saphaea. Inilah astrolabe pertama universal latitude-independent. Astrolabe itu tak bergantung pada garis lintang pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia.? hri/<a href="http://republika.co.id/berita/42587/Al_Zarqali_Astronom_Legendaris_dari_Andalusia" target="_blank"><strong>republika</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/al-zarqali-astronom-legendaris-dari-andalusia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Menjadi Muslim</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menikmati-menjadi-muslim</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menikmati-menjadi-muslim#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 17:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3217</guid>
		<description><![CDATA[Ia mengaku menikmati menjadi pendeta. Sayang, dari lubuk hatinya paling dalam, tak pernah merasakan kebahagiaan. Atas izin Allah, kebahagiaan itu ia temukan dalam Islam
 Suatu hari ketika Idris Tawfiq sedang memberikan kuliah di Konsulat Inggris di Kairo, ia menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak menyesali masa lalunya; tentang hal-hal yang dilakukannya sebagai seorang penganut ajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong><em>Ia mengaku menikmati menjadi pendeta. Sayang, dari lubuk hatinya paling dalam, tak pernah merasakan kebahagiaan. Atas izin Allah, kebahagiaan itu ia temukan dalam Islam</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong>Suatu hari ketika Idris Tawfiq sedang memberikan kuliah di Konsulat Inggris di Kairo, ia menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak menyesali masa lalunya; tentang hal-hal yang dilakukannya sebagai seorang penganut ajaran Kristiani dan kehidupannya di Vatikan selama lima tahun.</p>
<p>&#8220;Saya menikmati saat menjadi pendeta, menolong orang selama beberapa tahun. Namun jauh di dalam hati saya tidak bahagia, saya merasa ada sesuatu yang salah. Untungnya, dengan izin Allah, beberapa peristiwa dan kebetulan terjadi dalam hidup yang membawa saya kepada Islam,&#8221; katanya kepada para hadirin yang memenuhi ruang pertemuan di Konsulat Inggris.</p>
<p>Tawfiq kemudian memutuskan berheni menjadi pendeta di Vatikan. Ia lalu melakukan petualangan ke Mesir.<span id="more-3217"></span></p>
<p>&#8220;Saya dulu mengira Mesir itu sebuah negeri yang banyak piramidnya, unta, pasir, dan pohon palem. Saya menyewa pesawat untuk pergi ke Hurghada.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terkejut karena keadaan di sana sama seperti pantai-pantai  Eropa, saya lantas segera mencari bis menuju ke Kairo, di mana saya mendapatkan pengalaman yang mengesankan seumur hidup&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu pertama kali saya berkenalan dengan Muslim dan Islam. Saya memperhatikan orang Mesir begitu ramah, baik, tapi juga sangat kuat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seperti halnya semua orang Inggris, pengetahuan saya tentang Muslim hingga saat  itu tidak melebihi dari apa yang saya dengar di TV tentang bom bunuh diri dan pasukan perlawanan, yang memberikan kesan bahwa Islam adalah agama yang sering membuat masalah. Namun, ketika mengunjungi Kairo, saya menemukan betapa indahnya agama Islam ini. Orang-orang yang sangat sederhana yang berjualan di pinggir jalan, akan segera meninggalkan dagangan mereka begitu mendengar suara panggilan untuk shalat. Mereka memiliki keyakinan yang kuat terhadap keberadaan dan takdir Allah. Mereka puasa, shalat, membantu orang miskin, dan bercita-cita untuk pergi ke Makkah dengan harapan bisa mendapatkan surga di akhirat nanti,&#8221; cerita Tawfiq tentang pengalamannya di Mesir.</p>
<p>Tawfiq melanjutkan dengan cerita sekembalinya dari Kairo.</p>
<p>&#8220;Ketika saya kembali dari sana, saya melanjutkan pekerjaan sebagai guru agama. Mata pelajaran yang wajib dalam pendidikan di Inggris hanyalah kajian tentang agama. Saya mengajarkan tentang agama Kristen, Yahudi, Budha, dan lainnnya. Sehingga setiap hari saya harus selalu membaca tentang agama-agama itu, agar bisa menyampaikan pelajaran kepada murid-murid, yang kebanyakan adalah pengungsi Muslim. Dengan kata lain, memberikan mata pelajaran tentang Islam, mengajarkan saya banyak hal.&#8221;</p>
<p>Anak-anak muridnya secara tidak langsung lebih mengenalkan dirinya dengan kehidupan Muslim.</p>
<p>&#8220;Tidak seperti kebanyakan remaja yang membuat ulah, murid-murid itu merupakan contoh yang baik seperti apa Muslim itu. Mereka sopan dan baik, sehingga persahabatan terbangun di antara kami, dan mereka meminta izin apakah dapat menggunakan ruang kelas saya untuk shalat selama bulan Ramadhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Beruntungnya, kelas saya adalah satu-satunya ruangan yang berkarpet. Jadilah saya terbiasa duduk di belakang, melihat mereka shalat selama satu bulan. Saya mencoba menyemangati dengan ikut berpuasa selama bulan Ramadhan bersama mereka, meskipun ketika itu saya belum menjadi seorang Muslim.&#8221;</p>
<p>&#8220;Satu hari ketika saya membaca terjemahan Al-Qur&#8217;an di dalam kelas, saya sampai pada ayat: <em>&#8216;Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur&#8217;an) itu yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) &#8230;.&#8217;. </em>Tanpa saya sadari air mata pun mengalir. Saya berusaha keras untuk menyembunyikannya dari murid-murid.&#8221;</p>
<p>Kemudian terjadi peristiwa serangan 11 September 2001. Tawfiq pun mengalami titik balik dalam hidupnya.</p>
<p>&#8220;Pada hari berikutnya, saya terpuruk dan melihat bagaimana orang-orang merasa ketakutan. Saya juga takut hal yang sama terjadi di Inggris. Saat itu orang-orang Barat mulai menakuti agama ini dengan menyalahkannya sebagai teroris.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimanapun, pengalaman saya bergaul dengan Muslim memberikan pandangan yang lain. Saya mulai berpikir, &#8216;Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama atas tindakan teror yang kebetulan dilakukan oleh orang yang beragama Islam. Sementara tidak ada orang yang menyalahkan agama Kristen sebagai teroris ketika umat Kristen melakukan hal yang sama?&#8221;</p>
<p>&#8220;Satu hari saya pergi ke masjid terbesar di London untuk mendengarkan lebih banyak tentang agama ini. Sesampainya di Masjid London Central (ICC), di sana ada Yusuf Islam. Mantan penyanyi pop itu duduk dalam sebuah lingkaran, berbicara kepada orang-orang mengenai Islam. Setelah beberapa saat saya bertanya kepadanya, &#8216;Apa sebenarnya yang Anda lakukan jika ingin menjadi seorang Muslim?&#8217;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ia menjawab bahwa seorang Muslim harus percaya kepada Tuhan yang Esa, shalat lima kali sehari, dan berpuasa di bulan Ramadhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya menyelanya dengan mengatakan bahwa saya percaya semua hal itu dan bahkan saya telah ikut berpuasa di bulan Ramadhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas ia bertanya, &#8216;Apa yang Anda tunggu? Apa yang membuatmu tertahan?&#8217;&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya bilang kepadanya, &#8216;Tidak, saya tidak bermaksud untuk pindah agama&#8217;&#8221;</p>
<p>&#8220;Saat itu terdengar panggilan untuk shalat dikumandangkan, semua orang lantas bergegas dan membentuk barisan untuk shalat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya duduk di belakang, menangis dan menangis. Kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, &#8216;Siapa yang coba saya bohongi?’&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah mereka selesai shalat, saya segera menghampiri Yususf Islam, memintanya untuk mengajarkan kalimat yang harus saya ucapkan untuk pindah agama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah ia jelaskan makna kalimat itu dalam bahasa Inggris kepada saya, kemudian saya mengucapkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab, “Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,&#8221; cerita Tawfiq mengenai keislamannya, seraya berusaha menahan air matanya.</p>
<p>Sejak itu kehidupan Tawfiq berubah arah. Ia tinggal di Mesir dan menulis sebuah buku tentang dasar-dasar pemahaman tentang Islam.</p>
<p>Lewat bukunya <em>Gardens of Delight: A Simple Introduction to Islam</em>, ia ingin menjelaskan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama teror dan bukan agama yang berisi kebencian. Hal yang selama ini belum ada orang yang berusaha menjelaskannya.</p>
<p>&#8220;Maka saya putuskan untuk menulis buku itu, untuk menyampaikan kepada non-Muslim mengenai prinsip dasar Islam. Saya berusaha memberitahukan kepada orang, betapa indahnya Islam dan bahwa Islam memiliki harta kekayaan yang begitu mengagumkan. Bahwa hal terpenting menjadi seorang Muslim adalah saling mencintai. Nabi berkata, &#8216;Bahkan sebuah senyuman kepada saudaramu adalah sedekah.&#8217;&#8221;</p>
<p>Tawfiq juga menulis buku tentang Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, yang menurutnya agak berbeda dengan buku-buku mengenai beliau pada umumnya.</p>
<p>Menurut Tawfiq, &#8220;cara terbaik dan tercepat&#8221; untuk mengenalkan wajah Islam yang sesungguhnya kepada dunia adalah dengan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan nyata. [di/ri/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9759:menikmati-menjadi-muslim&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=85" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</div>
<p><span><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menikmati-menjadi-muslim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dr. Murad Wilfried Hofmann Tiada Hari Tanpa al-Quran</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dr-murad-wilfried-hofmann-tiada-hari-tanpa-al-quran</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dr-murad-wilfried-hofmann-tiada-hari-tanpa-al-quran#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 17:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Murad Wilfried Hofmann]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3215</guid>
		<description><![CDATA[Dr Hofmann tidak pernah terputus membaca Al-Qur&#8217;an sejak ia terkesan dengan ketabahan Muslim Aljazair dan kepatuhan mereka selama bulan Ramadhan
Al-Qur&#8217;an adalah buku petunjuk yang tidak ada habisnya untuk seluruh umat manusia, keajaibannya tidak pernah berakhir dan sangat cocok untuk segala tempat dan waktu, demikian kata seorang mantan diplomat Jerman.
&#8220;Saya tidak pernah berhenti membaca Al-Qur&#8217;an. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Dr Hofmann tidak pernah terputus membaca Al-Qur&#8217;an sejak ia terkesan dengan ketabahan Muslim Aljazair dan kepatuhan mereka selama bulan Ramadhan</em></strong></p>
<p>Al-Qur&#8217;an adalah buku petunjuk yang tidak ada habisnya untuk seluruh umat manusia, keajaibannya tidak pernah berakhir dan sangat cocok untuk segala tempat dan waktu, demikian kata seorang mantan diplomat Jerman.</p>
<p>&#8220;Saya tidak pernah berhenti membaca Al-Qur&#8217;an. Saya berubah, demikian pula masalah-masalah saya. Namun, saya selalu mendapatkan jawaban sempurna di dalam Al-Qur&#8217;an,&#8221; kata Dr. Murad Wilfried Hofmann, pemenang untuk Islamic Personality of the Year, dalam Dubai International Holy Quran Award (DIHQA) 2009.</p>
<p>Hofmann mengatakan bahwa penghargaan yang diterimanya itu merupakan suatu kehormatan bagi dirinya dan seluruh Muslim di Eropa dan dunia Barat.<span id="more-3215"></span></p>
<p>&#8220;Ini merupakan isyarat baik bagi lebih dari 30 juta Muslim di Eropa. Hal seperti ini membuktikan bahwa Muslim di seluruh dunia adalah satu bangsa,&#8221; kata Hofmann tentang penghargaan yang diterima tanggal 10 September 2009 itu.</p>
<p>Wilfried Hofmann dilahirkan dalam keluarga Katolik di Aschaffenburg Jerman tahun 1931. Setelah lulus dari Union College di New York, ia merampungkan studinya di Universitas Munich, di mana ia meraih gelar doktor untuk bidang jurisprudensi dalam hukum pada tahun 1957. Ia pernah menjadi asisten peneliti untuk reformasi prosedur sipil federal. Dan di tahun 1960 mendapat gelar LL.M dari Harvard. Selama tahun 1983 hingga 1987 ia menjabat direktur informasi NATO di Brussel. Tahun 1987 ia mendapat tugas sebagai duta besar Jerman untuk Aljazair. Tahun 1990 ia dipindah ke Maroko, tempat tugasnya selama 4 tahun.</p>
<p>Sentuhan pertamanya dengan dunia Islam adalah ketika mulai bekerja sebagai seorang atase di kedutaan Jerman untuk Aljazair tahun 1961. Di sana ia berada dalam situasi perang gerilya antara tentara Perancis dengan tentara Aljazair, Algerian National Front, yang telah berjuang untuk kemerdekaan negaranya selama 8 tahun.</p>
<p>Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekejaman dan pembantaian massal yang dialami rakyat Aljazair. Setiap hari, hampir selusin orang dibunuh dari jarak dekat &#8211;dengan &#8220;gaya eksekusi&#8221; &#8212; hanya karena mereka orang Arab atau karena berbicara tentang masalah kemerdekaan.</p>
<p>&#8220;Saya menyaksikan kesabaran dan ketabahan orang-orang Aljazair menghadapi penderitaan yang sangat ekstrim, kepatuhan mereka yang tinggi selama bulan Ramadhan, keyakinan diri bahwa bisa merdeka, dan juga rasa perikemanusiaan mereka di tengah penderitaan yang dialaminya sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya selalu penasaran mengapa orang Aljazair begitu disiplin, meskipun mereka menderita.&#8221; Ia merasa bahwa agama merekalah yang menjadikan mereka kuat seperti itu. &#8220;Karena itu, saya lantas membaca kitab suci mereka, Al-Qur&#8217;an,&#8221; katanya bercerita. &#8220;Saya tidak pernah berhenti membacanya, hingga saat ini.&#8221;</p>
<p>Karya seni Islam adalah hal kedua yang menarik perhatiannya.</p>
<p>Dulu ia sangat senang dengan seni dan keindahan tarian balet. Namun, hal itu lantas tersapu sejak ia mengenal karya seni Islam. &#8220;Saya terkesan dengan arsitektur Islam dan Arab di Spanyol dan Tunisia, tempat saya biasa berlibur. Itu merupakan seni yang tinggi dibandingkan dengan seni Yunani dan Romawi yang dingin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rahasianya seperti tersimpan pada kehadiran Islam yang kental dan universal, sebagai sebuah agama dalam segala manifestasi artistiknya, kaligrafi, ornamen Arab, motif karpet, arsitektur masjid dan bangunan, serta perencanaan kota. Saya memikirkan kecermerlangan masjid yang menyingkirkan semua hal berbau klenik, tata letaknya yang sangat demokratis.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya juga memikirkan tentang kualitas introspektif istana-istana Muslim, kemampuan mereka menghadirkan surga di taman yang teduh, air mancur dan aliran air. Juga tentang stuktrur fungsi sosial yang rumit di kota pusat Islam dulu, yang menyerap semangat dalam bermasyarakat, keterbukaan pasar, suasana panas dan angin, dan menjamin ikatan kuat antara masjid dengan pusat kesejahteraan untuk orang miskin, sekolah, penginapan, pasar dan wilayah pemukiman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang saya rasakan adalah, Islam begitu membahagiakan di banyak tempat &#8230; dalam hal-hal nyata yang kelihatan efek harmoni Islam, cara hidup Islam, dan cara Islam merawat dan memperlakukan sebuah tempat, semuanya meninggalkan kesan di hati dan pikiran.&#8221;</p>
<p>Namun, yang memberikan pengaruh besar pada Hofmann untuk menerima Islam, mungkin sebenarnya adalah pengetahuannya tentang sejarah dan doktrin Kristen.</p>
<p>Ia menyadari ada perbedaan nyata antara apa yang dipercayai oleh pemeluk agama Kristen dengan apa yang diajarkan oleh dosen sejarah di universitas. Ia tidak bisa menerima adopsi yang dilakukan oleh gereja atas doktrin yang dibuat oleh Saint Paul mengenai sejarah Yesus. &#8220;Ia (Saint Paul), seseorang yang yang belum pernah bertemu dengan Yesus. Tapi dengan kristologinya yang ekstrim, ia mengganti pandangan asli dan benar Yudeo-Kristen tentang Yesus!&#8221;</p>
<p>Sangat sulit baginya menerima bahwa manusia dibebani &#8220;dosa asal&#8221; dan tuhan merelakan putranya sendiri untuk disiksa dan dibunuh demi menyelamatkan umat ciptaannya. &#8220;Saya jadi menyadari, betapa dahsyat bahkan merupakan hujatan besar demi membayangkan tuhan tunduk menyerah di hadapan ciptaannya sendiri, bahwa ia tidak bisa berbuat apapun untuk mengatasi masalah &#8212; yang dianggap disebabkan oleh Adam dan Hawa &#8212; tanpa harus memperanak seorang putra dan dikorbankan dengan cara berdarah-darah seperti itu. Dan bahwa tuhan menderita karena ciptaannya sendiri, yaitu manusia.&#8221;</p>
<p>Hofmann juga bertanya tentang keberadaan Tuhan. Setelah menganalisa buah karya para filosof seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, and Kant, ia menyimpulkan adanya pengakuan intelektual atas keberadaan Tuhan.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana Tuhan berkomunikasi dengan manusia sehingga mereka bisa dibimbing. Hal ini membuat ia mengakui perlu adanya wahyu. Tapi mana yang benar, kitab suci Yahudi, Kristen atau Islam?</p>
<p>Ia menemukan jawaban atas pertanyaan penting itu di dalam Al-Qur&#8217;an. &#8220;(Yaitu) bahwasanya orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain&#8221; (QS: 53:38). Ayat itu membuka mata dan menjadi jawaban atas dilemanya. Sangat jelas baginya bahwa Al-Qur&#8217;an menolak ide beban &#8220;dosa asal&#8221; dan harapan &#8220;campur tangan&#8221; dari orang-orang kudus.</p>
<p>&#8220;Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hirarki keagamaan. Ketika berdoa ia tidak berdoa melalui Yesus, Bunda Maria atau melalui orang kudus lainnya. Tapi langsung kepada Tuhan, sebagai seorang umat yang benar-benar bebas. Dan ini adalah agama yang bebas dari misteri.&#8221; Menurut Hofmann, seorang Muslim adalah manusia beriman yang bebas, &#8220;Par Excellence.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mulai melihat Islam dari sudut pandangnya sendiri, sebagai sebuah kepercayaan terhadap Allah yang benar, yang tidak dicampuri oleh hal lain, yang murni, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satupun yang menyamainya.&#8221; Dalam masalah ketuhanan yang dipercayai serta disembah oleh banyak suku-suku dan masalah trinitas, menurut Hofmann, &#8220;Al-Qur&#8217;an menunjukkan konsep Tuhan yang paling jernih, paling mudah, paling abstrak &#8212; yang demikian secara historis paling maju &#8212; dan paling sedikit sifat antropomorfiknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pernyataan ontologis Al-Qur&#8217;an, sebagaimana ajaran etisnya, bagi saya sangat masuk akal, &#8216;bagaikan emas&#8217;, sehingga tidak ada tempat untuk meragukan kebenaran misi kenabian Muhammad. Orang yang memahami sifat manusia pasti mampu menerima kebijaksanaan yang terkandung dalam perintah dan larangan yang diturunkan oleh Allah kepada manusia melalui Al-Qur&#8217;an.&#8221;</p>
<p>Saat putranya berulang tahun yang ke-18, Hofmann memberikan 12 halaman tulisan, di mana ia menulis tentang apa yang diyakini sebagai agama yang benar.</p>
<p>Ia meminta seorang imam di Cologne, Muhammad Ahmad Rasul untuk memeriksa tulisannya. Pria itu mengatakan kepada Hofmann bahwa ia seorang Muslim, jika benar-benar mempercayai apa yang ditulisnya.</p>
<p>Beberapa hari kemudian ia pun bersyahadat. Tepatnya pada 25 September 1980. Ia mulai menulis banyak buku, kajian buku dan ratusan artikel mengenai Islam di Jerman.</p>
<p>Dr. Hofmann terus melanjutkan karirnya sebagai seorang diplomat Jerman dan pejabat NATO selam 15 tahun setelah ia memeluk Islam. &#8220;Saya tidak mengalami diskriminasi dalam profesi saya,&#8221; katanya.</p>
<p>Tahun 1984, tiga setengah tahun setelah ia pindah agama, presiden Jerman Dr. Carl Carstens menganugerahinya penghargaan Order of Merit of the Federal Republic of Germany. Pemerintah Jerman membagikan bukunya &#8220;Diary of German Muslim&#8221; ke seluruh perwakilan Jerman di negara Muslim, sebagai alat untuk analisa.</p>
<p>Kewajiban dalam pekerjaannya tidak menghalanginya untuk melaksanakan ajaran Islam. Dalam jamuan formal, dengan sopan ia akan menolak tawaran minuman beralkohol seperti anggur merah. Sebagai seorang diplomat, seringkali ia harus menjamu tamu-tamu asingnya untuk makan siang. Hofmann selalu menghadiri acara makan siang itu, namun piring di depannya akan tetap dibiarkan kosong, selama bulan Ramadhan.</p>
<p>Tahun 1995, dengan sukarela ia mengundurkan diri sebagai diplomat, mendedikasikan diri untuk kegiatan keislaman. Ia memberikan ratusan kuliah di seluruh penjuru Amerika Serikat dan Eropa. &#8220;Saya tidak pernah mengatakan apa yang ingin saya bicarakan. Saya selalu bertanya pada peserta apa yang ingin mereka bicarakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mereka lebih memahami tentang negara mereka,&#8221; katanya memberi alasan.</p>
<p>Hofmann tidak mengubah nama aslinya &#8216;Wilfried&#8217;, yang berarti pria yang mempunyai keinginan kuat untuk perdamaian. &#8220;Istri saya yang orang Turki, yang memilihkan nama Islam saya &#8216;Murad&#8217;,&#8221; katanya bercerita.</p>
<p>Hofmann mengajak semua Muslim agar menyampaikan tentang Islam secara bijak, mengatakan Islam yang sesungguhnya Islam, bukan Islam yang sebenarnya bukan Islam. &#8220;Lebih baik membicarakan Islam dan jazz, daripada Islam dan terorisme.&#8221;</p>
<p>Dalam satu kesempatan diskusi mengenai bahaya alkohol pada kehidupan pribadi dan masyarakat, Ia menceritakan kecelakaan yang pernah dialaminya akibat alkohol. Ketika masih kuliah di New York tahun 1951, ia melakukan perjalanan dari Atlanta ke Mississippi. Ketika sampai di Holy Spring, Mississippi, tiba-tiba dari arah depan ada sebuah kendaraan yang dikemudikan supir mabok meluncur cepat, kecelakaan pun terjadi. Hofmann kehilangan 19 buah gigi dan mulutnya tidak lagi berbentuk.</p>
<p>Setelah menjalani operasi dagu dan bibir bawah, dokter bedah menemuinya dan berkata, &#8220;Biasanya, tidak ada yang selamat dalam kecelakaan seperti itu. Tuhan mempunyai sebuah rencana istimewa untukmu, kawan!&#8221;</p>
<p>Ketika ia meninggalkan rumah sakit di Holy Spring, dalam keadaan pincang, lengan tangan digendong, lutut dibalut perban dengan warna iodine, dan wajah bagian bawah yang dijahit, ia bertanya-tanya apa gerangan makna dari ucapan ahli bedah itu.</p>
<p>&#8220;Akhirnya 30 tahun kemudian, pada hari saya menyatakan iman dalam Islam, makna sebenarnya mengapa saya bisa tetap hidup ketika itu, manjadi jelas bagi saya!&#8221;[di/slm/kt/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9297:dr-murad-wilfried-hofmann-tiada-hari-tanpa-al-quran&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=85" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dr-murad-wilfried-hofmann-tiada-hari-tanpa-al-quran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Nasawi Ahli Matematika dari Khurasan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/al-nasawi-ahli-matematika-dari-khurasan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/al-nasawi-ahli-matematika-dari-khurasan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 17:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[ahli matematika]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3212</guid>
		<description><![CDATA[SEJUMLAH KARYA AL-NASAWI BERISI KRITIK ATAS KARYA YANG DIBUAT AHLI MATEMATIKA PADA MASA SEBELUMNYA.

Ali bin Ahmad Al-Nasawi, merupakan ilmuwan di bidang matematika yang lahir di Khurasan, Iran. Ia mendapatkan perlindungan dari penguasa dinasti Buwayhid, bernama Majd Al Dawlah, yang meninggal dunia pada 1029. Penguasa berikutnya, juga memberikan perlindungan pada dirinya.
Al-Nasawi, banyak menulis buku mengenai aritmetika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong>SEJUMLAH KARYA AL-NASAWI BERISI KRITIK ATAS KARYA YANG DIBUAT AHLI MATEMATIKA PADA MASA SEBELUMNYA.<br />
</strong></p>
<p>Ali bin Ahmad Al-Nasawi, merupakan ilmuwan di bidang matematika yang lahir di Khurasan, Iran. Ia mendapatkan perlindungan dari penguasa dinasti Buwayhid, bernama Majd Al Dawlah, yang meninggal dunia pada 1029. Penguasa berikutnya, juga memberikan perlindungan pada dirinya.</p>
<p>Al-Nasawi, banyak menulis buku mengenai aritmetika baik dalam bahasa Persia maupun bahasa Arab. Salah satu bukunya berjudul Al-Muqni fi-l-Hisab al Hindi. Ia juga menulis sejumlah buku terkenal lainnya, salah satunya tentang lemmata.</p>
<p>Kajian lemmata dalam buku, semacam teorema dalam dunia mate matika, juga pernah dikemukakan oleh Archimedes seorang ilmuwan dari Sirakusa, Yunani yang hidup sekitar tahun 287 SM &#8211; 212 SM. Archimedes sendiri belajar di Kota Alexandria, Mesir. Ia merupakan ahli matematika, astronomi, filsafat, dan fisika. Ia juga bersahabat dengan Raja Sirakusa Hieron II. Ia meninggal karena dibunuh seorang prajurit Romawi saat terjadi serangan terhadap Sirakusa.<span id="more-3212"></span></p>
<p>Buku tentang lemmata Archimedes yang ditulis Al Nasawi sebenarnya mengoreksi buku berjudul The Lemmata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Thabit ibn Qurra seorang ilmuwan dari Harran, Mesopotamia yang belajar di Bait al Hikmah di Baghdad. Thabit merupakan ilmuwan jenius yang ahli dalam bidang geometri, astronomi, astrologi, mekanik, pengobatan, juga filsafat. Buku tentang lemmata, terakhir kali direvisi oleh Nasir Al-Din Al-Tusi seorang ilmuwan dari Persia.</p>
<p>Dalam bidang aritmatika, Al-Nasawi menjelaskan pembagian pecahan dan ekstraksi kuadrat dan akar kubik, di mana akar kuadrat dari 57.342; kubik akar dari 3, 652, 296 hampir sama dengan yang ada di masa modern. Al-Nasawi juga menggantikan sexagesimal dengan pecahan desimal. Hal itu sungguh tindakan yang luar biasa. Selain itu, dia juga membuat ringkasan mengenai Euclid’s Elements.</p>
<p>Al-Nasawi memiliki dua alasan dalam menulis karyanya tentang Euclid’s Element. Ia ingin menjelaskan tentang Element. Selain itu, ia ingin pula memberikan semua latar belakang yang diperlukan dalam memahami geometri bagi siapa pun yang ingin membaca Ptolemy’s Almagest.</p>
<p>Dalam karyanya itu, Al-Nasawi tampak menghilangkan beberapa konstruksi dan mengubah beberapa bukti. Secara historis, pekerjaan ini sangat menarik sebab pengetahuan tentang Element ditularkan ke negara-negara Arab.</p>
<p>Seperti diketahui, ada tiga jenis aritmatika yang digunakan di negaranegara Arab pada masa Al-Nasawi , antara lain sistem penghitungan dengan menggunakan jari-jari tangan di mana angka seluruhnya ditulis dengan katakata. Aritmatika yang menggunakan sistem perhitungan dengan jari, merupakan sistem yang kala itu biasanya digunakan oleh komunitas bisnis. Selain itu, ada sistem penghitungan dengan angka sexagesimal dilambangkan dengan hurufhuruf Arab.</p>
<p>Sedangkan jenis lainnya, adalah aritmatika dari angka-angka India dan pecahan desimal yang menempati sistem nilai. Buku aritmetika karya Al-Nasawi termasuk dalam tipe ketiga, yaitu aritmatika yang menggunakan angka-angka India. Karya aritmatika Al-Nasawi terdiri dari empat risalah terpisah, masingmasing berhubungan dengan golongan dari angka-angka tertentu. Risalah pertama berkaitan dengan bilangan bulat dan , risalah kedua berkaitan dengan pecahan umum tepat.</p>
<p>Sementara, risalah ketiga berkaitan dengan pecahan yang tidak tepat dan risalah keempat berkaitan dengan sexagesimal. Dalam risalah aritmatika yang dibuatnya itu, Al-Nasawi juga menjelaskan empat operasi aritmatika dasar. Al-Nasawi, menjelaskan pengalian pengalian dua kali lipat, pengurangan separuh, operasi akar kuadrat, dan operasi akar kubus. Ia menjelaskan masingmasing metode tersebut, dan membuat ilustrasinya dengan sejumlah contoh.</p>
<p>Sejumlah karya Al-Nasawi dalam matematika terutama aritmatika berisi kritikan terhadap karya-karya aritmatika yang dihasilkan oleh para ilmuwan ahli matematika sebelumnya. Namun, ada sejumlah kritik tersebut yang dianggap para sejarawan tak valid.</p>
<p>Terbukti, meski Al-Nasawi merupakan ilmuwan gemilang namun ia pun per nah mengalami kegagalan. Misalnya, ia pernah gagal memahami prinsip meminjam saat melakukan operasi pengurang an. Namun, harus diakui pula bahwa sejumlah karyanya memang fenomenal. Terungkap bahwa Al-Nasawi pernah pula menulis sebuah buku berjudul Kitab al-Ishba yang berisi tentang teorema Menelaus yang cukup termasyhur pada masanya.<br />
<strong><br />
Riwayat Al-Nasawi</strong><br />
Sebenarnya, riwayat hidup Al-Nasawi tak banyak diketahui di Eropa hingga pada 1863 Franz Woepcke, orientalis dan ahli matematika dari Dessau, Jerman yang hidup antara tahun 1826-1864, mengungkapkan sebuah naskah yang berisi karya Al-Nasawi tentang aritmatika dasar.</p>
<p>Di sisi lain, hampir sepanjang kariernya, Al-Nasawi sering menuliskan karyanya dalam bahasa Persia untuk Sultan Majd Al-Dawlah. Saat Al-Dawlah digulingkan, ia sedang mengerjakan salah satu buku karyanya dan belum selesai.</p>
<p>Al-Nasawi kemudian mempersembahkan karyanya itu kepada Sharaf Al-Muluk yang merupakan wazir dari Jalal Ad Dawlah seorang penguasa Baghdad pada tahun 1025-1044. Sharaf Al-Muluk, kemudian memerintahkan Al-Nasawi menulis ulang karya-karyanya.</p>
<p>Penguasa tersebut meminta agar karya Al-Nasawi yang semula ditulis dalam bahasa Persia kemudian ditulis ulang ke dalam bahasa Arab. Al-Nasawi, melaksanakan perintah tersebut dengan baik. Karya Al Nasawi dalam versi bahasa Arab itulah yang bertahan selama beberapa abad.</p>
<p>Dan pada akhirnya, karya itu ditemukan dan dipelajari oleh Woepcke pada ta hun 1863. Menurut sejumlah catatan se jarah, Al-Nasawi pernah pula tinggal di Baghdad. Ilmuwan gemilang, Ibnu Sina, diketahui pula pernah berkunjung ke tempat tinggal Al-Nasawi. ed: ferry</p>
<p><strong>Kitab Al-Ishba</strong></p>
<p>Kitab Al-Ishba yang ditulis Al-Nasawi, merupakan kitab yang berisi tentang teorema Menelaus, karya Menelaus dari Alexandria yang hidup sekitar tahun 70 hingga 140 Masehi. Penulisan ini, bertujuan untuk memudahkan para pelajar atau masyarakat umum mempelajari teorema Menalaus.</p>
<p>Selain itu, buku ini juga dipersembahkan oleh Al-Nasawi untuk penguasa yang memberikan perlindungan pada dirinya. Dalam Kitab Al-Ishba, Al Nasawi menjelaskan teorema Menelaus yang membahas sebuah teorema mengenai segitiga dalam bidang geometri.</p>
<p>Gambar (1) Dengan melihat titik A, B, C yang membentuk segitiga ABC, dan titik-titik D, E, F yang terletak pada garis BC, AC, AB, maka teorema menyatakan bahwa D, E, F adalah collinear jika dan hanya jika: AF/BF.BD/DC.CE/EA=-1 Dalam persamaan ini, AB, dan sebagainya, mewakili segmen garis pengukuran yang nilainya negatif. Sebagai contoh, fraksi AF / FB didefinisikan memiliki nilai positif hanya bila garis DEF memotong sisi AB, hal ini juga berlaku untuk pecahan lainnya.</p>
<p>Gambar (2)Baris DEF sepenuhnya di luar segitiga ABC.Ini adalah salah satu dari banyak bukti un tuk teorema Menelaus. Seharusnya garis DEF memotong sisisisi segitiga ABC beberapa kali, mungkin juga dua kali. Jika garis DEF melewati segitiga dan keluar lagi atau tidak melewati segitiga sama sekali, maka terdapat angka ganjil negatif dan hasilnya semua negatif.</p>
<p>Selanjutnya, segmen garis yang meng hubungkan DEF tegak lurus de ngan simpul A, B, dan C. Dengan DEF sebagai dasar, maka ketinggian dari A, B, dan C menjadi a, b, dan c. Dengan menggunakan segitiga yang mirip, nilai absolut dari sisi kiri teorema disederhanakan menjadi : a/b.b/c.c/a=1 Penjelasan tersebut merupakan sebagian isi dari Kitab Al-Ishba yang cukup termasyhur pada masanya. meta <a href="http://republika.co.id/koran/36/92766/AL_NASAWI_AHLI_MATEMATIKA_DARI_KHURASAN" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/al-nasawi-ahli-matematika-dari-khurasan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mantan Pendeta Itu Menjadi Muslim</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mantan-pendeta-itu-menjadi-muslim</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mantan-pendeta-itu-menjadi-muslim#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 18:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3139</guid>
		<description><![CDATA[Gold Fret mantan Pendeta : “Eli, Eli, lama sabakhtani?” mengantarnya kepada Hidayah Islam
AYAH saya seorang pastor atau pendeta dalam agama Kristen Katolik. Beliau mengajarkan Alkitab (Injil) pada saya sejak saya masih kecil dengan harapan agar saya menjadi penerus cita-citanya di kemudian hari. Saya belajar Alkitab pasal demi pasal dan ayat demi ayat dengan seksama. Berkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Gold Fret mantan Pendeta : “Eli, Eli, lama sabakhtani?” mengantarnya kepada Hidayah Islam</em></strong></p>
<p>AYAH saya seorang pastor atau pendeta dalam agama Kristen Katolik. Beliau mengajarkan Alkitab (Injil) pada saya sejak saya masih kecil dengan harapan agar saya menjadi penerus cita-citanya di kemudian hari. Saya belajar Alkitab pasal demi pasal dan ayat demi ayat dengan seksama. Berkat bimbingannya, saya betul-betul memahami kandungan dan tafsiran Alkitab. Sejak saya berumur empat belas tahun, saya diberi kepercayaan berceramah di gereja pada setiap hari Minggu dan hari-hari keagamaan Kristen lainnya. Setelah saya banyak membaca Alkitab, banyak saya dapatkan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Dalam Alkitab, antara pasal satu dan pasal lainnya banyak terjadi pertentangan, dan banyak ajaran gereja yang bertentangan dengan isi Alkitab.</p>
<p>Misalnya, Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa) bersatu, yaitu, “Aku dan Bapa adalah satu.” Sedangkan, pada Matius pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” ‘Artinya, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”<span id="more-3139"></span></p>
<p>Dalam ajaran gereja, seorang bayi yang lahir akan membawa dosa warisan dari Nabi Adam dan 1bu Hawa. Juga, bayi yang mati sebelum dibaptis tidak akan masuk surga. Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab Yehezkiel pasal 18 ayat 20 dan Matius pasal 19 ayat 14 menerangkan bahwa manusia hanya menanggung dosanya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain. Bayi yang meninggal sebelum dibaptis akan masuk surga, karena anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang yang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan orang yang fasik akan menanggung akibat kefasikannya.</p>
<p>Sementara, pada Matius 19 ayat 14 Yesus berkata, “Biarlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang padaku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang mempunyai Kerajaan Surga.”</p>
<p>Dengan semua itu saya merasa bimbang. Injil mana yang harus saya ikuti, sedangkan semuanya kitab suci? Dan apakah ajaran gereja yang harus saya ikuti, sedangkan ajarannya bertentangan dengan Alkitab ?</p>
<p>Saya ragu dengan keautentikan Alkitab, karena kalau Injil yang ada sekarang ini asli, tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan. Saya juga ragu dengan kebenaran ajaran gereja karena kalau ajaran gereja itu benar, tidak mungkin bertentangan dengan kitab sucinya.</p>
<p>Karena mendapatkan kejanggalan dalam Alkitab dan pertentangan ajaran gereja dengan kitab sucinya, saya menjadi enggan membaca Injil dan buku buku agama (Kristen), karena saya yakin tidak akan mendapat kebenaran dalam Kristen.</p>
<p>Mendengar Bacaan Al-Qur’an</p>
<p>Pada suatu hari saya berjalan di dekat masjid. Tiba-tiba saya gemetar dan tidak bisa berjalan disebabkan mendengar suara dari dalam masjid. Setelah saya pulang ke rumah, saya bertanya pada teman-teman tentang suara yang saya dengar itu. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu tentang suara itu.</p>
<p>Setelah keesokan harinya saya bertanya pada teman sekolah yang beragama Islam, dia menjelaskanbahwa “suara” yang saya dengar di dalam masjid adalah suara orang membaca A1-Qur’an. Kemudian saya bertanya, “Apa sih, Al-Qur’an itu?” Dia menjawab, “Al-Quran itu kitab suci umat Islam.” Kemudian saya meminta Al-Qur’an padanya. Tetapi dia tidak memberikan dengan alasan saya tidak punya wudhu.</p>
<p>Setelah saya pulang dari sekolah, saya langsung mencari orang yang beragama Islam untuk meminjam A1-Qur’an. Akhirnya saya berjumpa dengan orang Islam yang bernama Abdullah. Ia keturunan Arab. Lalu saya pinjam Al-Qur’an padanya dan saya jelaskan padanya bahwa saya beragama Katolik dan ingin mempelajari Al-Qur’an. Dengan senang hati ia meminjamkan saya terjemahan Al-Qur’an dan riwayat hidup Nabi Muhammad saw..</p>
<p>Saya baca Al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat. Saya pahami kalimat demi kalimat dengan seksama. Akhirnya saya berkesimpulan, hanya Al-Qur’anlah satu-satunya kitab suci yang asli dan hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar.</p>
<p>Al-Qur’an membahas persoalan ketuhanan dengan tuntas, bahasanya mudah dipaharni, dan argumentasinya rasional. Di samping itu, Al-Qur’an juga membahas tentang Nabi Isa (Yesus) sejak sebelum dikandung, dalamn kandungan, waktu dilahirkan, masa kanak-kanak dan remaja, mukjizatnya, dan kedudukannya sebagai Rasul Allah, bukan anak Allah.</p>
<p>Sejak mendapatkan kebenaran Islam, saya mempunyai keinginan yang kuat untuk memeluk agama Islam. Singkat cerita, kemudian saya datang menjumpai Abdullah dan saga jelaskan keinginan saga padanya.</p>
<p>la menyambut hasrat saya itu dengan hati ikhlas, dan ia membimbing saya membaca dua kalimat syahadat. Setelah menjadi seorang muslim, nama saya diganti menjadi Dzulfikri. Kemudian saya belajar pada Abdullah tentang hal-hal yang diwajibkan dan yang dilarang dalam Islam.</p>
<p>Setelah itu saya mondok di sebuah pesantren. Di situ saya belajar agama selama satu tahun. Kemudian saya pindah ke kota Malang, Jawa Timur. Di kota ini saya terus menuntut ilmu agama sambil kuliah.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Oleh A. Wadud N./Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press, oleh Mualaf Online Center.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mantan-pendeta-itu-menjadi-muslim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibn Juljul, Herbalis dari Cordoba</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ibn-juljul-herbalis-dari-cordoba</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ibn-juljul-herbalis-dari-cordoba#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 23:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[herbal]]></category>
		<category><![CDATA[imuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3136</guid>
		<description><![CDATA[Abu Da&#8217;ud Sulayman bin Hassan atau yang dikenal dengan panggilan Ibn Juljul lahir di Cordoba, Spanyol pada tahun 944. Sejak kecil dia sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar.
Pada usia 10 tahun, dia sudah belajar tentang tata bahasa dan tradisi masyarakatnya. Lalu pada usia 15 tahun, dia mulai mempelajari ilmu kedokteran. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Da&#8217;ud Sulayman bin Hassan atau yang dikenal dengan panggilan Ibn Juljul lahir di Cordoba, Spanyol pada tahun 944. Sejak kecil dia sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar.</p>
<p>Pada usia 10 tahun, dia sudah belajar tentang tata bahasa dan tradisi masyarakatnya. Lalu pada usia 15 tahun, dia mulai mempelajari ilmu kedokteran. Padahal pada zaman modern ini, ilmu kedokteran baru dipelajari di bangku kuliah.</p>
<p>Pengalaman memelajari ilmu kedokteran pada usia sangat dini, membuat Ibn Juljul, pada usia yang relatif muda sudah sangat terampil dalam ilmu kedokteran dan pengunaan obat-obatan herbal. Menurut catatan sejarah yang dikutip <em>Muslimheritage.com</em> , dia pernah bekerja sebagai dokter pribadi Al-Mu&#8217;ayyad Billah Hisyam, seorang Kalifah yang berkuasa pada tahun 977-1009 Masehi. Selama masa pemerintahan Kalifah Al-Mu&#8217;ayyad, Ibn Juljul banyak menghabiskan waktu untuk mempraktekkan keahlian medisnya dan menulis karya-karya medis. <span id="more-3136"></span></p>
<p>Ketertarikan Ibn Juljul dengan obat-obatan terutama herbal sebagai obat alami yang banyak diekstrak dari tumbuh-tumbuhan luar biasa besar. Selain mempelajari pengobatan herbal, dia juga mempelajari farmasi.</p>
<p>Saat mempelajari pengobatan dia banyak berbagi dan berlatih dengan Albucasis atau Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Al-Zahrawi. Albucasis sendiri merupakan seorang dokter bedah di Cordoba, Spanyol yang menemukan penyakit hemofilia di mana bila penderita mengalami luka, darahnya sulit membeku dan terus mengalir. Albucasis juga menuliskan buku yang sangat populer di dunia kedokteran berjudul <em>At-Tasrif liman &#8216;Ajiza &#8216;an at-Ta&#8217;lif</em> (Metode Pengobatan).</p>
<p>Baik Ibn Juljul dan Albucasis bekerja dan menulis selama hari-hari terakhir masa kekalifahan di Andalusia ( Spanyol). Menurut catatan seorang ahli sejarah kedokteran yang terkenal di Bagdad yakni Bin Abi Usaybi&#8217;a, Ibn Juljul menulis sebuah buku sejarah pengobatan yang berjudul <em>Atibba&#8217;wa&#8217;l Tabaqat al-Hukama</em>.</p>
<p>Menurut Bin Abi, buku tersebut telah diedit beberapa kali. Buku tersebut dimulai dengan tulisan riwayat ayah Ibn Juljul yang juga ahli obat-obatan. Setelah itu dilanjutkan uraian tentang para ahli obat-obatan yang sangat terkenal sebagai para pendahulunya di Andalusia.</p>
<p>Dia juga menuliskan tentang banyaknya hubungan maupun komunikasi yang baik antara kekalifahan Timur dan Andalusia. Selain itu dia juga menceritakan tentang banyaknya para mahasiswa yang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan dan melakukan banyak pelatihan.</p>
<p>Ibn Juljul mempelajari ilmu pengobatan herbal yang dilakukan oleh Pedanius Dioscorides, seorang dokter Yunani kuno, ahli farmasi dan ahli botani. Dioscorides sering bepergian guna mencari bahan-bahan jamu dari seluruh wilayah Romawi dan Yunani. Dia juga menulis lima jilid buku dalam bahasa Yunani asli. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul <em>De Materia Medica </em>(Masalah-masalah yang berhubungan dengan medis).</p>
<p>Berdasarkan ajaran dalam buku milik Dioscorides, Ibn Juljul membuat sebuah karya berjudul <em>Maqalah</em>. Dalam karyanya itu dia menuliskan berbagai macam tumbuhan yang penting bagi obat-obatan termasuk sifat tumbuh-tumbuhan tersebut. Dia juga menuliskan efek dari penggunaan tumbuh-tumbuhan tersebut bagi organ tubuh tertentu.</p>
<p>Tumbuh-tumbuhan untuk herbal yang ditulisnya sebanyak 28 jenis, berasal dari India atau tempat-tempat yang ia singgahi dalam perjalanannya melalui rute perdagangan India, 2 dari Yaman, 2 dari Mesir , 1 dari Ceylan, 1 dari Khwarizm, 2 dari kota yang dekat dengan Cordoba. Dalam <em>Maqalah</em>, Ibn Juljul kadang-kadang menuliskan nama orang yang pertama kali menggunakan tumbuhan tersebut untuk pengobatan atau orang yang menceritakan fungsi dan efek penggunaan tumbuhan tersebut.</p>
<p>Ibn Juljul juga pernah membahas tentang batu Bezoar yang dapat digunakan untuk melawan semua racun. Batu tersebut memiliki warna yang kekuning-kuningan dengan garis-garis putih.</p>
<p>Tak hanya itu, dia juga pernah membahas Ribas. Dia menuturkan bahwa menurut salah seorang pedagang kepercayaannya, ribas merupakan sejenis sayuran yang rasanya masam. Ribas dengan akar sangat masam dapat diperoleh di pegunungan yang tertutup dengan salju. Meskipun daftar pengobatan Ibn Juljul memiliki cerita yang eksotis, namun semuanya mengandung elemen medis.</p>
<p>Rupanya karya herbal Ibn Juljul banyak dipelajari oleh para ilmuwan lain. Beberapa ilmuwan lain yang mempelajari metode pengobatan Ibn Juljul diantaranya seorang ahli botani yang bernama Al-Ghafiqi. Dia mengoleksi beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang diperolehnya baik dari wilayah Spanyol maupun Afrika. Selain itu, dia juga membuat catatan yang menggambarkan secara detil tentang jenis-jenis tumbuhan dikoleksinya itu. Bahkan seorang ahli sejarah dari Barat yang bernama George Sarton mengatakan, Al Ghafiqi merupakan ahli botani paling cerdas pada masanya.</p>
<p>Deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya yang paling membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. Pasalnya karya fenomenal Al-Ghafiqi yang judulnya <em>Al-Adwiyah al-Mufradah</em> memberikan inspirasi kepada Ibnu Baytar untuk meneliti tumbuh-tumbuhan dengan cara sederhana seperti yang dilakukan Al-Ghafiqi.</p>
<p>Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baitar, salah satu ahli Botani sekaligus ahli obat-obatan di Spanyol pada abad pertengahan, juga mengutip empat belas obat-obatan herbal milik Ibn Juljul. Padahal Al-Baitar pun merupakan ahli botani hebat. Dia mengoleksi dan mencatat 1.400 jenis tanaman obat yang diperolehnya saat menjelajahi daerah pesisir Mediteranian dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karya Al-Baitar yang paling termasyhur berjudul<em> Al-Mughani-fi al Adwiyah al Mufradah</em>.</p>
<p>Para ahli botani dan medis berjumlah banyak yang mengutip karya Ibnu Juljul menunjukkan bahwa karya Ibn Juljul tentang pengobatan herbal teruji oleh waktu. Selain teruji, karya-karya ia sangat berguna dan bernilai bagi para cendekiawan dan praktisi herbalis baik di wilayahnya sendiri, Andalusia maupun di luar negeri seperti di Maroko</p>
<p>Ibn Juljul menggunakan dan menghormati karya-karya herbal kuno dari Yunani. Namun dia membuat pengembangannya sendiri, bahkan yang sebelumnya tidak pernah ada di Yunani. Kontribusi terhadap dunia medis sangat berharga bagi penggunaan tanaman obat selanjutnya, bahkan di dunia modern ini. itz <a href="http://republika.co.id/berita/82819/Ibn_Juljul_Herbalis_dari_Cordoba" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ibn-juljul-herbalis-dari-cordoba/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baron Omar Rolfvon Ehrenfels Menemukan Kebenaran Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/baron-omar-rolfvon-ehrenfels-menemukan-kebenaran-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/baron-omar-rolfvon-ehrenfels-menemukan-kebenaran-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 19:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[omar rolfvon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3130</guid>
		<description><![CDATA[Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk (patuh) pada hukum yang abadi (ketentuan Allah).
Sejak masa kanak-kanak, Leopold Werner von Ehrenfels telah memperlihatkan ketertarikannya terhadap dunia Timur, khususnya dunia Islam. Demikian sepenggal kisah yang disampaikan saudara perempuannya, seorang penyair berkebangsaan Austria, Imma von Bodmershof, dalam sebuah artikel majalah sastra Islam Lahore terbitan tahun 1953, tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk (patuh) pada hukum yang abadi (ketentuan Allah).</strong></p>
<p>Sejak masa kanak-kanak, Leopold Werner von Ehrenfels telah memperlihatkan ketertarikannya terhadap dunia Timur, khususnya dunia Islam. Demikian sepenggal kisah yang disampaikan saudara perempuannya, seorang penyair berkebangsaan Austria, Imma von Bodmershof, dalam sebuah artikel majalah sastra Islam Lahore terbitan tahun 1953, tentang Leopold Werner von Ehrenfels, yang kemudian berganti nama menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.</p>
<p>Ketertarikan Rolf, demikian biasa ia disapa, pada dunia Timur kemudian diwujudkan dengan mengunjungi negara-negara Balkan dan Turki manakala ia menginjak usia dewasa. Di setiap negara yang dikunjunginya, Rolf kerap mengikuti shalat berjamaah di masjid-masjid yang disambangi, meski pada saat itu dia masih seorang Nasrani. Apa yang dilakukan Rolf ini mendapat sambutan baik dari kaum Muslimin Turki, Albania, Yunani, dan Yugoslavia.<span id="more-3130"></span></p>
<p>Sejak saat itu, perhatiannya terhadap Islam semakin bertambah, hingga akhirnya dia menyatakan masuk Islam pada tahun 1927. Setelah resmi memeluk Islam, Guru Besar Antropologi University of Madras ini kemudian memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.</p>
<p>Pada tahun 1932, Rolf mengunjungi anak benua India dan Pakistan. Selama di sana, dia sangat tertarik mempelajari soal-soal kebudayaan dan sejarah yang berhubungan dengan kedudukan wanita dalam Islam. Sekembalinya ke Austria, Rolf mengkhususkan diri dalam mempelajari soal-soal antropologi dari <em>Matrilineal Civilization</em> di India. Apa-apa yang dia pelajari mengenai antropologi <em>Matrilineal Civilization</em> di India, kemudian dia tuangkan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh The Oxford University Press. Buku ini merupakan buku antropologi pertama yang ditulis oleh Rolf.</p>
<p>Pada waktu Austria diduduki oleh pasukan Nazi Jerman tahun 1938, Rolf memutuskan untuk pergi lagi ke India dan bekerja di Hyderabad atas undangan Sir Akbar Hydari. Selama bermukim di India untuk kali kedua ini, Rolf mempelajari soal-soal antropologi di wilayah India Selatan dengan mendapat bantuan dari Wenner Gern Foundation New York di Assam.</p>
<p>Sejak tahun 1949, ia ditunjuk menjadi kepala bagian Antropologi pada University of Madras. Dan, pada tahun itu juga, Rolf mendapat medali emas SC Roy Golden Medal atas jasa-jasanya dalam bidang Sosial and Cultural Antropology dari Royal Asiatic Society of Bengal.</p>
<p>Di antara sekian banyak karangannya tentang Islam dan ilmu pengetahuan, ada dua jilid buku tentang antropologi India dan dunia, <em>Ilm-ul-Aqwam</em> (Anjuman Taraqqi-Delhi, 1941) dan sebuah risalah tentang suku bangsa Cochin dengan judul <em>Kadar of Cochin</em> (Madras, 1952).</p>
<p><strong>Kebenaran Islam</strong><br />
Menurut Rolf, seperti dikutip dari buku <em>Mengapa Kami Memilih Islam</em>, Islam merupakan agama besar yang sangat berpengaruh atas jiwanya. Setidaknya, kata anak laki-laki satu-satunya dari Baron Christian Ehrenfels, pembangun teori ‘Structure Psychology Modern’ di Austria, ada delapan alasan yang telah menggugah kesadaran dalam dirinya tentang kebenaran agama Islam.</p>
<p>Ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan berangsur-angsur itu, ungkap Rolf, telah menunjukkan kepadanya bahwa agama-agama besar keluar dari hanya satu sumber. ”Bahwa orang-orang yang membawa kerasulan besar itu hanya membawa ajaran-ajaran Tuhan yang Satu. Dan, bahwa beriman kepada salah satu kerasulan ini berarti mencari iman dalam cinta kasih.”</p>
<p>Bagi Rolf, Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk kepada hukum yang abadi. Sedangkan ditinjau dari sudut sejarah, ungkapnya, Islam merupakan agama besar terakhir di atas planet bumi ini. Nabi Muhammad SAW adalah rasul Islam dan mata rantai terakhir dalam rangkaian para rasul, yang membawa risalah-risalah besar.</p>
<p>Islam, tambah Rolf, juga menonjol dalam hal penerimaan dan cara hidup kaum Muslimin oleh penganut agama yang terdahulu. ”Berarti dia melepaskan diri dari agamanya yang dahulu,” kata dia. Hal ini sama seperti memeluk ajaran-ajaran Buddha, yang berarti melepaskan diri dari ajaran-ajaran Hindu.</p>
<p>Namun, agama-agama yang berbeda-beda itu, menurut dia, sebenarnya hanya buatan manusia, sedangkan kesatuan agama itu dari dan bersifat ketuhanan. ”Ajaran-ajaran Alquran-lah yang menekankan atas prinsip kesatuan ini. Dan, percaya atas kesatuan agama berarti menerima satunya fakta kejiwaan yang umum diterima oleh semua orang, pria dan wanita,” paparnya.</p>
<p>Hal menonjol lainnya adalah ajaran Islam menekankan jiwa persaudaraan kemanusiaan, yang meliputi semua hamba Allah. Ini berbeda dengan konsep rasialisme atau sukuisme yang berdasarkan perbedaan bahasa, warna kulit, sejarah tradisional, dan lain-lain dogma alami.</p>
<p>Selain itu, menurut Rolf, Islam memberikan kedudukan yang mulia dan hak yang sebesar-besarnya kepada kaum perempuan. Dalam pengertian inilah, Rasulullah SAW bersabda dalam kata-katanya yang tidak bisa dilupakan oleh para pengikutnya, “Surga itu di bawah telapak kaki kaum ibu.”</p>
<p>Agama Islam, dinilai Rolf, sangat menghargai hasil karya umat dari agama lain dengan tidak menghancurkannya. Hal tersebut bisa kita lihat dari bangunan Gereja Aya Sophia di Istanbul, Turki, yang dialihfungsikan menjadi masjid manakala tentara Islam berhasil menguasai wilayah tersebut. Penguasa Islam saat itu hanya mengubah desain interior bekas bangunan gereja tersebut, agar mirip dengan Masjid Sultan Ahmad atau Muhammad al-Fatih (Masjid Biru) di Istanbul. Bukti sejarah ini, kata dia, telah menunjukkan bahwa umat Islam pada dasarnya mencintai perdamaian dan kasih sayang terhadap umat dari agama lain. dia/berbagai sumber <a href="http://republika.co.id/berita/59104/Baron_Omar_Rolfvon_Ehrenfels_Menemukan_Kebenaran_Islam" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
<p><strong>Biodata:</strong><br />
Nama    : Leopold Werner von Ehrenfels<br />
Nama Islam    : Baron Omar Rolf von Ehrenfels<br />
Masuk Islam    : 1927<br />
Tempat/Tanggal Lahir: Austria, 28 April 1901<br />
Wafat    : 1980</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/baron-omar-rolfvon-ehrenfels-menemukan-kebenaran-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Bendungan di Masa Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menelusuri-bendungan-di-masa-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menelusuri-bendungan-di-masa-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 18:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[bendungan]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3134</guid>
		<description><![CDATA[
Bendungan dibangun dengan kemampuan teknik yang tinggi
Ilmu pengetahuan telah menebar jaringnya ke segala ranah kehidupan. Ini terjadi di dunia Islam. Beragam karya bertebaran dari pemikiran cendekiawan Muslim. Tak hanya karya dalam tataran pemikiran, tetapi juga berwujud bangunan-bangunan megah.
Bendungan menjadi salah satu dari beragam buah karya cendekiawan Muslim. Mereka merancang dan membangun bendungan tak semata untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="detail_news_text">
<p><em><strong>Bendungan dibangun dengan kemampuan teknik yang tinggi</strong></em></p>
<p>Ilmu pengetahuan telah menebar jaringnya ke segala ranah kehidupan. Ini terjadi di dunia Islam. Beragam karya bertebaran dari pemikiran cendekiawan Muslim. Tak hanya karya dalam tataran pemikiran, tetapi juga berwujud bangunan-bangunan megah.</p>
<p>Bendungan menjadi salah satu dari beragam buah karya cendekiawan Muslim. Mereka merancang dan membangun bendungan tak semata untuk mewujudkan sebuah fungsi. Namun, ada sentuhan seni dan teknik tingkat tinggi.</p>
<p>Walaupun, terkadang tak ada pengakuan jujur atas buah karya mereka. Dalam bukunya, <em>History of Dams</em>, Norman Smith, seorang ilmuwan Barat, mengungkapkan keprihatinannya itu. Ia menuliskannya saat mengawali bab dalam bukunya tersebut.<span id="more-3134"></span></p>
<p>Menurut Smith, yang dikutip situs <em>Muslimheritage</em>, sejarawan teknik sipil hampir sepenuhnya mengabaikan bangunan bendungan yang ada pada periode Muslim. Mereka tak membuat referensi mengenai hasil karya Muslim.</p>
<p>Bahkan, dinyatakan pula, pada masa Ummayah dan Abbasiyah, pembangunan bendungan, irigasi, dan aktivitas teknik lainnya mengalami kemunduran tajam dan kepunahan. &#8221;Pandangan seperti ini tak adil dan tak benar,&#8221; kata Smith.</p>
<p>Padahal, menurut Josef Schnitter, seorang arsitek dan ahli teknik, Muslim telah membangun banyak bendungan dengan beragam struktur dan bentuk. Mayoritas bendungan paling awal dibangun di wilayah Arabia, yang menjadi awal pusat penyebaran Islam.</p>
<p>Schnitter mencontohkan keberadaan Qusaybah, sebuah bendungan yang ada di dekat Madinah, memiliki tinggi 30 meter dan panjang 205 meter. Berdasarkan penemuannya, sepertiga dari bendungan yang dibangun pada abad ke-7 dan ke-8 itu masih utuh hingga sekarang.</p>
<p>Hal ini tentu saja menunjukkan kekuatan bangunan bendungan dan kemampuan arsitekturnya yang dimiliki para cendekiawan Muslim. Di Irak, di sekitar Kota Baghdad, terdapat sejumlah besar bendungan yang dibangun pada masa Kalifah Abbasiyah.</p>
<p>Kebanyakan bendungan tersebut dibangun di Sungai Tigris yang menggambarkan kemampuan teknik sipil yang tinggi. Sebagai contoh, sebuah bendungan di Baghdad dibangun dari balok-balok batu yang dipotong dengan hati-hati.</p>
<p>Lalu, balok-balok itu dipaku dengan paku besi. Lubang-lubang tempat paku besi ditancapkan, diisi dengan timah cair. Dari konstruksi bendungan itu, sudah terlihat kekuatan dan kekerasannya untuk menahan aliran air.</p>
<p>Di Iran, terdapat bendungan dengan nama Kebar yang dibangun pada abad ke-13. Bendungan itu dibuat dari pecahan-pecahan batu yang dicampur dengan adukan semen, yang terbuat dari jeruk nipis dilumatkan dengan abu tanaman gurun lokal.</p>
<p>Campuran ini membuat adukan kuat dan keras. Adukan yang sangat ideal bagi pembuatan bendungan itu yang menjadikannya tahan lama. Selain itu, dengan adukan yang kuat itu membuat tak ada retakan pada bendungan.</p>
<p>Selain itu, di Dezful, Iran, juga terdapat bendungan yang mampu mengalirkan 50 kubik air untuk menyuplai kebutuhan masyarakat Muslim di kota itu. Bendungan ini menjadi contoh bagi pembangunan bendungan di kota-kota lain.</p>
<p>Keberadaan sejumlah bendungan, membuat masyarakat Muslim pada masa itu tak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Pun, mereka tak menghadapi kendala mendapatkan air yang dibutuhkan untuk mengairi kebun dan tanah pertanian mereka.</p>
<p>Di wilayah yang sekarang ini disebut Afghanistan, terdapat tiga bendungan lebih tua dibandingkan Kebar yang ada di Iran. Ketiga bendungan itu dibangun oleh Raja Mahmoud dari Ghaznah (998-1030). Bendungan dibangun di dekat ibu kota kerajaan, Kabul.</p>
<p>Satu di antara ketiga bendungan itu dinamai sesuai namanya, yakni Bendungan Mahmoud. Bendungan tersebut memiliki tinggi 32 meter dan panjang 220 meter, yang terletak pada jarak 100 km dari Kabul.</p>
<p>Di pusat kekuasaan Islam di Spanyol, bendungan juga banyak berdiri. Konstruksinya tak kalah megah dan indah. Di Sungai Guadalquivir, Kordoba, terdapat sebuah bendungan tertua yang merupakan peninggalan masa pemerintahan Islam.</p>
<p>Menurut seorang ahli geografi abad ke-12 bernama Al-Idrisi, bendungan itu terbuat dari batu qibtiyyah sedangkan pilar-pilarnya terbuat dari batu marmer. Bendungan dibangun mengikuti aliran zig-zag air sungai hingga seberang sungai.</p>
<p>Bentuk bendungan ini menunjukkan orang-orang yang membangunnya, memiliki tujuan meningkatkan kapasitas air yang melimpah. Sisa-sisa bendungan tersebut masih dapat dilihat hingga saat ini.</p>
<p>Diperkirakan, bendungan tersebut semula memiliki tinggi sekitar tujuh atau delapan meter di atas permukaan air tinggi, dengan ketebalan delapan kaki. Bukti lain kejeniusan para insinyur Muslim juga terlihat dari kokohnya delapan bendungan di Sungai Turia.</p>
<p>Hingga ratusan tahun, bendungan-bendungan itu tak membutuhkan perbaikan sama sekali. Jika dilihat, tampaknya bendungan di Sungai Turia memiliki berat yang berlebihan pada badan bendungan. Ini bukannya tanpa sebab.</p>
<p>Jadi, mereka tak sembarangan membuat bentuk bendungan yang semacam itu. Bendungan dengan bentuk demikian, diperlukan untuk menahan aliran air sungai yang tak menentu gerakannya. Selain itu, juga untuk menahan hantaman pohon maupun batu.</p>
<p>Bendungan di Sungai Turia berusia lebih dari 10 abad. Meski telah dimakan zaman, bendungan itu masih terus mampu memenuhi kebutuhan irigasi di Valencia, Spanyol, tanpa memerlukan tambahan sistem.</p>
<p>Di Sungai Segura, umat Islam membangun sebuah bendungan untuk mengairi lahan yang luas di wilayah Murcia. Bendungan ini dibangun dengan rancangan dan konstruksi sempurna, dengan tinggi 25 kaki serta ketebalan 150 kaki dan l25 kaki.</p>
<p>Layaknya bendungan lainnya, bendungan ini terbuat dari pecahan-pecahan batu dan adukan semen. Pada masa itu, teknik yang digunakan oleh para tukang batu dan insinyur Islam untuk membangun bendungan juga sudah sangat tinggi.</p>
<p>Mereka sudah mampu mengukur baik kedalaman maupun lebar sungai. Sehingga, mereka bisa membuat desain bendungan yang cocok dengan ukuran sungai-sungai tersebut. Para insinyur Muslim telah memiliki kemampuan tinggi.</p>
<p>Selain itu, mereka juga menggunakan metode survei. Manfaatnya, mereka mampu membangun sebuah bendungan di lokasi yang tepat dan paling sesuai. Tak hanya itu, mereka juga telah mampu menata sistem kanal yang begitu kompleks.</p>
<p>Untuk mempermudah semua itu, mereka menggunakan astrolabes dan perhitungan trigonometri. Pada masa kekhalifahan, para cendekiawan Muslim merancang bangunan bendungan yang tak hanya berfungsi untuk mengatur air, tetapi juga mengalihkan arus air.</p>
<p>Bendungan yang juga berfungsi sebagai pengatur air, pertama kali dibangun insinyur Muslim di Sungai Uzaym yang terletak di Jabal Hamrin, Irak. Setelah itu, bendungan semacam itu pun banyak dibangun di kota dan negeri lain di dunia Islam.</p>
<p><strong>Perusakan</strong></p>
<p>Pada suatu masa, ada tangan-tangan yang menghancurkan bendungan-bendungan yang berhasil dibangun itu. Pada 1220, misalnya, tentara Jengis Khan dari Mongol, menghancurkan seluruh bagian timur peradaban di wilayah Islam, termasuk bendungan.</p>
<p>Perusakan terhadap Bendungan Jurjaniyah, yang ada di sebelah selatan Laut Aral, menyebabkan Sungai Oxus mengalami kekeringan pada abad-abad berikutnya. Perusakan juga terjadi pada 163 tahun kemudian, yaitu pada 1383.</p>
<p>Invasi pasukan Tartar juga menyebabkan kehancuran banyak bendungan. Misalnya, bendungan di Zaranj ibu kota Provinsi Seistan. Nasib serupa juga menimpa bendungan yang ada di Band-I-Rustam serta wilayah Bust.<br />
<strong><br />
Berutang pada Al-Kindi dan Al-Biruni</strong></p>
<p>Al-Kindi dan Al-Biruni dinilai memiliki jasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang teknik. Termasuk teknik pembangunan bendungan dan bangunan-bangunan megah lainnya. Al-Kindi, bernama lengkap Abu Yusuf Yaqub ibn Ishaq al-Sabbah Al-Kindi.</p>
<p>Al-Kindi merupakan ahli matematika dan fisika. Ia lahir pada tahun 801 dan mengembuskan napas terakhirnya pada 873. Selain bisa berbahasa Arab, ia juga fasih berbahasa Yunani. Dia telah menerjemahkan banyak karya para filsuf Yunani, baik karya Aristoteles maupun Plotinus.</p>
<p>Selain itu, Al-Kindi juga diketahui berasal dari kalangan bangsawan di Irak. Ia berasal dari suku Kindah, hidup di Basra dan meninggal di Bagdad. Ia dikenal pula sebagai seorang tokoh besar yang menuliskan banyak karya dalam berbagai bidang.</p>
<p>Geometri, fisika, meteorologi, psikologi, astronomi, astrologi, aritmatika, dan musik dikuasai Al-Kindi. Ia mengumpulkan pula berbagai karya filsafat secara ensiklopedis. Seabad kemudian, diselesaikan oleh Ibnu Sina. Sedikitnya, Al-Kindi menulis 250 buku.</p>
<p>Sebagian besar bukunya adalah ilmu geometri, sebanyak 32  buku. Geometri dan fisika yang dikuasai Al-Kindi, sangat penting dan bermanfaat untuk mendirikan sebuah bangunan, seperti bangunan, irigasi, jembatan, maupun rumah.</p>
<p>Selain itu, Al-Kindi juga menulis tentang filsafat sebanyak 22 buku, logika sembilan buku, dan fisika sebanyak 12 buku. Sementara itu, Abu Raihan Al-Biruni, yang sering disebut Al-Biruni, merupakan seorang ahli matematika dari Persia.</p>
<p>Selain itu, Al-Biruni juga mahir dalam bidang astronomi, fisika, ensiklopedia, filsafat, sejarah, serta farmasi. Sumbangan terbesar dari pemikirannya adalah di bidang matematika, filsafat, dan obat-obatan.</p>
<p>Al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah. Pada masa itu, wilayah tersebut terletak di wilayah kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.</p>
<p>Al-Biruni juga merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina atau Ibnu Sina. Selain itu, ia juga pernah mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni untuk mempelajari bahasa, falsafah, dan agama mereka serta menulis buku mengenainya.</p>
<p>Al-Biruni juga menguasai beberapa bahasa di antaranya bahasa Yunani, Suriah, Berber, dan Sansekerta. Beberapa pemikirannya yang penting bagi pembangunan baik bendungan maupun irigasi adalah geometri, sudut segitiga, dan teorema Archimedes. dya/taq <a href="http://republika.co.id/berita/82561/Menelusuri_Bendungan_di_Masa_Islam" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menelusuri-bendungan-di-masa-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jermaine Jackson: Islam Membuatku Yakin akan Agama</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jermaine-jackson-islam-membuatku-yakin-akan-agama</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jermaine-jackson-islam-membuatku-yakin-akan-agama#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 17:15:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[jermaine jackson]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3081</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Semoga Allah selalu menyertaimu Michael (Jackson), i love you &#8230;.&#8221; Sepenggal kalimat itu terlontar dari mulut saudara tertua Raja Pop dunia, Michael Jackson, yakni Jermaine La Jaune Jackson.
Bukan tanpa alasan Jermaine melontarkan kalimat tersebut. Sebab, ia adalah seorang pemeluk agama Islam yang telah menjadi mualaf sejak 1989.
Dan sejak menjadi penganut agama Islam, Jermaine Jackson berganti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;Semoga Allah selalu menyertaimu Michael (Jackson), i love you &#8230;.&#8221; Sepenggal kalimat itu terlontar dari mulut saudara tertua Raja Pop dunia, Michael Jackson, yakni Jermaine La Jaune Jackson.<br />
Bukan tanpa alasan Jermaine melontarkan kalimat tersebut. Sebab, ia adalah seorang pemeluk agama Islam yang telah menjadi mualaf sejak 1989.</p>
<p>Dan sejak menjadi penganut agama Islam, Jermaine Jackson berganti nama menjadi Muhammad Abdul-Aziz Jackson. Ucapan terakhir Jermaine itu, seperti dilansir situs BBC News, merupakan pernyataan resmi pertama sekaligus menjadi ucapan perpisahan dari pihak keluarga Jackson atas meninggalnya Michael Jackson di Los Angeles pada 25 Juni lalu.</p>
<p>Persentuhan Jermaine dengan agama Islam bermula dari kunjungannya ke beberapa negara di Timur Tengah. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka tur promo musik yang dilakukan bersama saudara perempuannya. Salah satu negara yang dikunjunginya adalah Bahrain. Selama di Bahrain, diakui Jermaine, dia merasa nyaman.<span id="more-3081"></span></p>
<p>&#8221;Kami diterima dengan hangat oleh masyarakat di sana. Bahkan, saya sempat bertemu dan mengobrol dengan anak-anak Bahrain tentang segala hal,&#8221; paparnya.</p>
<p>Pada saat melakukan interaksi inilah anak-anak tersebut menanyakan perihal agama kepada musisi kelahiran Gary, Indiana, Amerika Serikat, 11 Desember 1954. Dengan spontan Jermaine menjawab bahwa ia adalah seorang pemeluk Kristen. Sebaliknya, pertanyaan serupa juga dilontarkan Jermaine kepada anak-anak tersebut, yang dijawab mereka dalam satu suara: Islam.</p>
<p>Jawaban tersebut sontak membuatnya terheran-heran. Kemudian anak-anak tersebut, ungkap Jermaine, menceritakan kepadanya tentang Islam. Para bocah kecil itu memberikan informasi seputar Islam sesuai dengan pemahaman yang dimiliki anak seusia mereka.</p>
<p>&#8221;Suara mereka memperlihatkan kepada saya bahwa mereka sangat bangga terhadap Islam. Bermula dari sinilah saya tertarik untuk mengenal Islam lebih jauh.&#8221;</p>
<p>Tidak lama berselang setelah kunjungannya ke Bahrain, Jermaine memutuskan untuk menemui para cendekiawan dan ulama Muslim dan belajar mengenai Islam dengan mereka. Berbagai tanda tanya besar dan keraguan akan keyakinan yang dianutnya selama ini memenuhi pikirannya saat itu. Bagaimana mungkin selama ini dia bisa meyakini kitab suci yang ternyata kitab itu disusun oleh banyak orang. Demikian juga dengan penjelasan mengenai hakikat Tuhan yang tidak banyak ia temukan dalam Kitab Injil.</p>
<p><strong>Berumrah</strong><br />
Jermaine berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Tetapi, semua usahanya ini tidak berhasil. Yang terjadi justru sebaliknya, ia semakin yakin untuk beralih ke Islam. Keinginannya tersebut ia sampaikan kepada salah seorang teman keluarganya yang kebetulan seorang Muslim, Qunber Ali. Atas ajakan Qunber juga akhirnya Jermaine pergi mengunjungi Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Dari Riyadh, atas undangan pihak keluarga Kerajaan Arab Saudi, Jermaine melanjutkan perjalanan menuju Mekkah untuk melakukan umrah.</p>
<p>&#8221;Saat itu saya belum mengetahui banyak mengenai Islam. Tetapi, untuk pertama kalinya saya sampaikan kepada publik bahwa saya telah menjadi Muslim,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Selama menetap di Arab Saudi, Jermaine banyak mempelajari tentang Islam dari kitab suci Alquran. Selain itu, ia juga berguru kepada para ulama setempat. Tidak hanya dari para ulama, pengetahuan mengenai Islam juga ia dapatkan dengan mendengarkan kaset-kaset yang dirilis oleh penyanyi pop asal Inggris, Cat Stevens, yang telah menjadi seorang mualaf dan mengganti namanya menjadi Yusuf Islam.</p>
<p>&#8221;Saya belajar banyak dari lagu-lagu dia (Yusuf Islam),&#8221; tukas anak keempat dari sembilan bersaudara keluarga musisi Jackson.<br />
Setelah masuk Islam, diakui Jermaine, dirinya merasa seperti dilahirkan kembali. Ia menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan yang selama ini tidak bisa ia temukan dalam ajaran Kristen.</p>
<p>Menurutnya, hanya Islam yang benar-benar memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaannya mengenai kelahiran Yesus. Dan, untuk pertama kalinya, ungkap Jermaine, dia merasa yakin dengan apa yang namanya agama.</p>
<p><strong>Diintimidasi</strong><br />
Sekembalinya ke Amerika Serikat, Jermaine menemukan kondisi pahit mengenai Islam. Media-media massa di negaranya pada saat itu sedang gencar-gencarnya melakukan propaganda kejam terhadap Islam dan umat Islam. Bahkan, ia sempat menjadi salah satu sasaran dari propaganda yang dilancarkan oleh media massa di Amerika. Sentimen negatif terhadap Islam dan pemeluknya juga dilancarkan oleh rekan-rekannya sesama seniman dan artis Hollywood. Kalangan Hollywood tersebut kerap menjelek-jelekan umat Islam dengan menuduh mereka sebagai sekelompok teroris dengan tanpa alasan yang jelas. &#8221;(kondisi) Ini membuat saya sedih.&#8221;</p>
<p>Untuk menghapus stigma negatif itu, sebagai seorang Muslim, Jermaine melakukan berbagai upaya agar apa yang digambarkan oleh kalangan media massa di Amerika mengenai Islam dan pemeluknya adalah salah. Pengertian yang sama juga ia sampaikan kepada seluruh anggota keluarganya.</p>
<p>&#8221;Setelah menjadi Muslim, saya merasakan adanya perubahan besar di dalam diri saya. Saya mulai meninggalkan semua hal yang dilarang dalam Islam. Dan, ini tentunya sulit diterima oleh keluarga. Terlebih lagi setelah berbagai macam kecaman dilayangkan kepada keluarga besarnya.&#8221;</p>
<p>Dari pihak keluarga, yang pertama kali menegur Jermaine adalah sang ibu, Catherine Jackson. &#8221;Kamu (telah) mengambil keputusan ini secara tiba-tiba, atau telah memikirkannya masak-masak?&#8221; ujar Jermaine mengutip perkataan Catherine kala itu. Kepada ibunya, Jermaine dengan tegas menjawab bahwa semua keputusan ini ia ambil setelah berpikir panjang.</p>
<p>Dengan keputusannya masuk Islam, keluarganya menilai bahwa ia telah memelihara rasa permusuhan di kalangan masyarakat Amerika. Namun, Jermaine merasa yakin kalau keluarganya tidak akan bersikap sama dengan orang-orang Amerika pada umumnya, karena dia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang cukup demokratis dan terbuka dengan adanya perbedaan.</p>
<p>&#8221;Kami menghargai semua agama, karena itu mengapa keluarga Jackson merasa nyaman berteman dengan orang-orang dari berbagai agama. Dengan alasan itu juga, mereka bisa menerima keputusanku,&#8221; terang Jermaine.<br />
Tidak hanya kedua orang tua dan saudara-saudaranya yang bisa menerima keyakinan baru Jermaine, tetapi juga ketujuh orang anak laki-lakinya serta dua anak perempuannya dan istrinya. Bahkan mereka, ungkap Jermaine, mengikuti jejaknya menjadi seorang Muslim. Dari empat orang perempuan, tiga orang di antaranya ia nikahi secara resmi, Jermaine memiliki sembilan orang anak.</p>
<p>Dari mantan istrinya Hazel Gordy ia memperoleh dua anak (Jermaine La Jaune Jackson Jr dan Autumn Jackson). Dari Margaret Maldonado yang tidak ia nikahi, Jermaine memiliki dua anak (Jeremy Maldonado Jackson dan Jourdynn Michael Jackson).</p>
<p>Sementara dari mantan istrinya yang kedua, Alejandra Genevieve Oaziaza, ia mendapatkan tiga anak (Donte Jackson, Jaffar Jackson, dan Jermajesty Jackson). Sedangkan dari istrinya sekarang, Halima Rashid, ia mendapatkan dua anak. dia/islam religion <a href="http://http://republika.co.id/berita/71357/Jermaine_Jackson_Islam_Membuatku_Yakin_akan_Agama" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jermaine-jackson-islam-membuatku-yakin-akan-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Idris Tawfiq, Mantan Pastor yang Memilih Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/idris-tawfiq-mantan-pastor-yang-memilih-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/idris-tawfiq-mantan-pastor-yang-memilih-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 17:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[idris tawfiq]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3079</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).&#8221; (QS Yunus: 25)
Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan hidayah (jalan kebaikan) kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk memilih Islam. Tak peduli siapa pun. Baik dia budak, majikan, pejabat, bahkan tokoh agama non-Islam sekalipun.
Ayat tersebut, layak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>&#8221;Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).&#8221; (QS Yunus: 25)</strong></em></p>
<p>Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan hidayah (jalan kebaikan) kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk memilih Islam. Tak peduli siapa pun. Baik dia budak, majikan, pejabat, bahkan tokoh agama non-Islam sekalipun.</p>
<p>Ayat tersebut, layak disematkan pada Idris Tawfiq, seorang pastor di Inggris yang akhirnya menerima Islam. Ia menjadi mualaf setelah mempelajari Islam dan melihat sikap kelemahlembutan serta kesederhanaan pemeluknya.</p>
<p>Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainya.<span id="more-3079"></span></p>
<p>Namun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir. Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka.</p>
<p>Ia melihat, sikap umat Islam ternyata sangat jauh bertolak belakang dengan pandangan yang ia dapatkan selama ini di negerinya. Menurutnya, Islam justru sangat lembut, toleran, sederhanan, ramah, dan memiliki sifat keteladanan yang bisa dijadikan contoh bagi agama lainnya.</p>
<p>Di Mesir inilah, Tawfiq merasa mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya. Awalnya hanya sebagai pengisi liburan, menyaksikan Pirmadia, unta, pasir, dan pohon palem. Namun, hal itu malah membawanya pada Islam dan membuat perubahan besar dalam hidupnya.</p>
<p>&#8221;Awalnya mau berlibur. Saya mengambil penerbangan carter ke Hurghada. Dari Eropa saya mengunjungi beberapa pantai. Lalu, saya naik bis pertama ke Kairo, dan saya menghabiskan waktu yang paling indah dalam hidup saya.&#8221;</p>
<p>&#8221;Ini adalah kali pertama saya pengenalan ke umat Islam dan Islam. Saya melihat bagaimana Mesir yang lemah lembut seperti itu, orang-orang manis, tapi juga sangat kuat,&#8221; terangnya.</p>
<p>&#8221;Saya menyaksikan mereka tenang, lembut, dan tertib dalam beribadah. Begitu ada suara panggilan shalat (azan&#8211;Red), mereka yang sebagian pedagang, segera berkemas dan menuju Masjid. Indah sekali saya melihatnya,&#8221; terangnya.</p>
<p>Dari sinilah, pandangan Tawfiq berubah tentang Islam. &#8221;Waktu itu, seperti warga Inggris lainnya, pengetahuan saya tentang Islam tak lebih seperti yang saya lihat di TV, memberikan teror dan melakukan pengeboman. Ternyata, itu bukanlah ajaran Islam. Hanya oknumnya yang salah dalam memahami Islam,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Ia pun mempelajari Alquran. Pelajaran yang didapatkannya adalah keterangan dalam Alquran yang menyatakan: &#8216; Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang Yahudi dan Musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang beriman adalah orang yang berkata, &#8221;Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.&#8221; Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena seungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.&#8221; (Al-Maidah ayat 82).</p>
<p>Ayat ini membuatnya berpikir keras. Baginya, Islam sangat baik, toleran. Justru, pihak lain yang memusuhinya. Inilah yang menjadi awal keislaman mantan pastor Inggris dan akhirnya menerima Islam.</p>
<p>Sepulang dari Mesir, Tawfiq masih menjadi penganut agama Katholik. Bahkan, ketika dia aktif mengajarkan pelajaran agama kepada para siswa di sebuah sekolah umum di Inggris, ia diminta mengajarkan pendidikan Studi agama.</p>
<p>&#8221;Saya mengajar tentang agama Kristen, Islam, Yudaisme, Buddha dan lain-lain. Jadi, setiap hari saya harus membaca tentang agama Islam untuk bisa saya ajarkan pada para siswa. Dan, di sana banyak terdapat siswa Muslim keturunan Arab. Mereka memberikan contoh pesahabatan yang baik, bersikap santun dengan teman lainnya. Dari sini, saya makin intens berhubungan dengan siswa Muslim,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dan selama bulan Ramadhan, kata dia, dia menyaksikan umat Islam, termasuk para siswanya, berpuasa serta melaksanakan shalat tarawih bersama-sama. &#8221;Hal itu saya saksikan hampir sebulan penuh. Dan, lama kelamaan saya belajar dengan mereka, kendati waktu itu saya belum menjadi Muslim,&#8221; papar Tawfiq.</p>
<p>Dari sini kemudian Tawfiq mempelajari Alquran. Ia membaca ayat-ayat Alquran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, ia pun tertegun.</p>
<p>&#8221;Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).&#8221; (Al-Maidah ayat 83).</p>
<p>Secara tiba-tiba, kata Tawfiq, ia pun merasakan apa yang disampaikan Alquran. Ia menangis. Namun, hal itu ia sembunyikan dari pandangan para siswanya. Ia merasa ada sesuatu di balik ayat tersebut.</p>
<p>Dari sini, Tawfiq makin intensif mempelajari Islam. Bahkan, ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, dengan dibomnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan ketika banyak orang menyematkan pelakunya kalangan Islam. Ia menjadi heran. Kendati masih memeluk Kristen Katholik, ia yakin, Islam tidak seperti itu.</p>
<p>&#8221;Awalnya saya sempat takut juga. Saya khawatir peristiwa serupa terulang di Inggris. Apalagi, orang barat telah mencap pelakunya adalah orang Islam. Mereka pun mengecamnya dengan sebutan teroris,&#8221; kata Tawfiq.</p>
<p>Namun, Tawfiq yakin, Islam tidak seperti yang dituduhkan. Apalagi, pengalamannya sewaktu di Mesir, Islam sangat baik, dan penuh dengan toleransi. Ia pun bertanya-tanya. &#8221;Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama teroris. Bagaimana bila kejadian itu dilakukan oleh orang Kristen? Apakah kemudian Kristen akan dicap sebagai pihak teroris pula?&#8221; Karena itu, ia menilai hal tersebut hanyalah dilakukan oknum tertentu, bukan ajaran Islam.</p>
<p><strong>Masuk Islam</strong><br />
Dari situ, ia pun mencari jawabannya. Ia berkunjung ke Masjid terbesar di London. Di sana berbicara dengan Yusuf Islam tentang Islam. Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. &#8221;Apa yang akan kamu lakukan bila menjadi Muslim?&#8221;</p>
<p>Yusuf Islam menjawab. &#8221;Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, shalat lima kali sehari, dan berpuasa selama bulan Ramadhan,&#8221; ujar Yusuf.</p>
<p>Tawfiq berkata, &#8221;Semua itu sudah pernah saya lakukan.&#8221;<br />
Yusuf berkata, &#8221;Lalu apa yang Anda tunggu?&#8221;<br />
Saya katakan, &#8221;Saya masih seorang pemeluk Kristiani.&#8221;</p>
<p>Pembicaraan terputus ketika akan dilaksanakan Shalat Zhuhur. Para jamaah bersiap-siap melaksanakan shalat. Dan, saat shalat mulai dilaksanakan, saya mundur ke belakang, dan menunggu hingga selesai shalat.</p>
<p>Namun, di situlah ia mendengar sebuah suara yang mempertanyakan sikapnya. &#8221;Saya lalu berteriak, kendati dalam hati. &#8221;Siapa yang mencoba bermain-main dengan saya.&#8221;</p>
<p>Namun, suara itu tak saya temukan. Namun, suara itu mengajak saya untuk berislam. Akhirnya, setelah shalat selesai dilaksanakan, Tawfiq segera mendatangi Yusuf Islam. Dan, ia menyatakan ingin masuk Islam di hadapan umum. Ia meminta Yusuf Islam mengajarkan cara mengucap dua kalimat syahadat.</p>
<p>&#8221;<em>Ayshadu an Laa Ilaha Illallah. Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah</em>.&#8221; Saya bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.</p>
<p>Jamaah pun menyambut dengan gembira. Ia kembali meneteskan air mata, bukan sedih, tapi bahagia.</p>
<p>Ia mantap memilih agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Dan, ia tidak menyesali telah menjadi pengikutnya. Berbagai gelar dan penghargaan yang diterimanya dari gereja, ia tanggalkan.</p>
<p>Seperti diketahui, Idris Tawfiq memperoleh gelar kesarjanaan dari University of Manchester dalam bidang sastra, dan gelar uskup dari University of Saint Thomas Aquinas di Roma. Dengan gelar tersebut, ia mengajarkan pandangan Katholik pada jemaatnya. Namun, akhirnya ia beralih mengajarkan Islam kepada masyarakatnya. Selama bertahun-tahun, Tawfiq mengepalai pusat Studi keagamaan di berbagai sekolah di Inggris dan Wales, sebelum dia masuk agama Islam.</p>
<p>&#8221;Dulu saya senang menjadi imam (pastor&#8211;Red) untuk membantu masyarakat selama beberapa tahun lalu. Namun, saya merasa ada sesuatu yang tidak nyaman dan kurang tepat. Saya beruntung, Allah SWT memberikan hidayah pada saya, sehingga saya semakin mantap dalam memilih Islam. Saya tidak menyesal meninggalkan tugas saya di gereja. Saya percaya, kejadian (Islamnya&#8211;Red) ini, lebih baik dibandingkan masa lalu saya,&#8221; terangnya. sya/osa/berbagai sumber</p>
<p><strong>Berdakwah Lewat Lisan dan Tulisan</strong></p>
<p>Ketika ditanyakan pada Idris Tawfiq tentang perbedaan besar antara Kristen Katholik dan Islam, ia berkata: &#8221;Dasar dari agama Islam adalah Allah. Semua perkara disaksikan Allah, tak ada yang luput dari perhatian-Nya. Ini berbeda dengan yang saya dapatkan dari agama sebelumnya. Islam merupakan agama yang komprehensif.&#8221;</p>
<p>Ia menambahkan, Islam mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah setiap saat. Tak terbatas hanya pada hari Minggu. Selain itu, kata dia, Islam mengajarkan umatnya cara menyapa orang lain dengan lembut, bersikap ramah, mengajarkan adab makan dan minum, memasuki kamar orang lain, cara bersilaturahim yang baik. &#8221;Tak hanya itu, semua persoalan dibahas dan diajarkan oleh Islam,&#8221; terangnya.</p>
<p><strong>Penceramah dan penulis</strong><br />
Caranya bertutur kata, sikapnya yang sopan dan santun banyak disukai masyarakat. Gaya berbicaranya yang baik sangat sederhana dan lemah lembut, menyentuh hati, serta menyebabkan orang untuk berpikir. Ia pun kini giat berceramah dan menulis buku tentang keislaman.</p>
<p>Ia memberikan ceramah ke berbagai tempat dengan satu tujuan, menyebarkan dakwah Islam. Idris Tawfiq mengatakan, dia bukan sarjana. Namun, ia memiliki cara menjelaskan tentang Islam dalam hal-hal yang sangat sederhana. Dia memiliki banyak pengalaman dalam berceramah dan mengenali karakter masyarakat.</p>
<p>Ia juga banyak memberikan bimbingan dan pelatihan menulis serta berpidato bagi siswa maupun orang dewasa. Kesempatan ini digunakannya untuk mengajarkan pada orang lain. Termasuk, menjelaskan Islam pada dunia Barat yang banyak menganut agama non-Muslim.</p>
<p>Idris juga dikenal sebagai penulis. Tulisannya tersebar di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, dan <em>website</em> di Inggris Raya. Ia juga menjadi kontributor regional dan Konsultan untuk <em>website</em> <em>www.islamonline.net</em> dan <em>ww.readingislam.com.</em></p>
<p>Dia menulis artikel mingguan di <em>Mesir Mail</em>, koran tertua Mesir berbahasa Inggris, dan <em>Sawt Al-Azhar</em>, surat kabar Al-Azhar University. Dia adalah pengarang sejumlah buku. Antara lain, <em>Dari surga yang penuh kenikmatan: sederhana, pengenalan Islam; Berbicara ke Pemuda Muslim; Berbicara ke Mualaf</em>. Selain itu, ia juga menjadi juru bicara umat Islam di Barat. Ia juga banyak berceramah melalui radio dan televisi. osa/sya/berbagai sumber <a href="http://republika.co.id/berita/65062/Idris_Tawfiq_Mantan_Pastor_yang_Memilih_Islam" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/idris-tawfiq-mantan-pastor-yang-memilih-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/maurice-bucaille-tak-ragu-dengan-kebenaran-alquran</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/maurice-bucaille-tak-ragu-dengan-kebenaran-alquran#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 17:57:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[maurice bucaille]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3076</guid>
		<description><![CDATA[Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran
Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran</strong></em></p>
<p>Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.</p>
<p>Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.<span id="more-3076"></span></p>
<p>Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L&#8217;Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.</p>
<p>Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.</p>
<p>Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu <em>La Bible, le Coran et la Science</em> di tahun 1976.</p>
<p>Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.</p>
<p>Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.</p>
<p>Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?</p>
<p>Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul <em>Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern</em>, dengan judul aslinya, <em>Les momies des Pharaons et la midecine</em>. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan <em>Le prix Diane-Potier-Boes</em> (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.</p>
<p>Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: &#8221;Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini&#8221;. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.</p>
<p>Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.</p>
<p>Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.</p>
<p>Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.</p>
<p>Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran&#8211;kitab suci umat Islam&#8211;telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.</p>
<p>Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.</p>
<p>Ia berkata pada dirinya sendiri. &#8221;Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?&#8221;</p>
<p>Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: &#8221;Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka&#8221;.</p>
<p>Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.</p>
<p><strong>Berikrar Islam</strong><br />
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.</p>
<p>Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.</p>
<p>Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: &#8221;Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.&#8221; (QS Yunus: 92).</p>
<p>Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: &#8221;Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini&#8221;.</p>
<p>Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.</p>
<p>Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul <em>Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern</em>, judul asli dalam bahasa Prancis, <em>La Bible, le Coran et la Science</em>. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi <em>best-seller internasional</em> (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.</p>
<p>Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan. dia/sya/berbagai sumber <a href="http://republika.co.id/berita/61915/Maurice_Bucaille_tak_Ragu_dengan_Kebenaran_Alquran" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/maurice-bucaille-tak-ragu-dengan-kebenaran-alquran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rosalyn Rushbrook, Menemukan Kebenaran Islam Dalam Al-Kitab</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/rosalyn-rushbrook-menemukan-kebenaran-islam-dalam-al-kitab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/rosalyn-rushbrook-menemukan-kebenaran-islam-dalam-al-kitab#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 17:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[rosalyn rushbrook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3073</guid>
		<description><![CDATA[
Dia mendapati ajaran agama terdahulu telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep ketuhanan.
Ia mendapat ijazah di bidang Teologi Kristen. Namun, pengetahuan Kristennya yang begitu mendalam, menjadikan perempuan paruh baya ini mencintai Islam. Rushbrook yang berganti nama Ruqaiyyah Waris Maqsood setelah memeluk Islam, merupakan salah satu penulis buku-buku Islam paling produktif. Puluhan buku berkenaan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="detail_news_text">
<p><strong>Dia mendapati ajaran agama terdahulu telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep ketuhanan.</strong></p>
<p>Ia mendapat ijazah di bidang Teologi Kristen. Namun, pengetahuan Kristennya yang begitu mendalam, menjadikan perempuan paruh baya ini mencintai Islam. Rushbrook yang berganti nama Ruqaiyyah Waris Maqsood setelah memeluk Islam, merupakan salah satu penulis buku-buku Islam paling produktif. Puluhan buku berkenaan dengan Islam telah ditulis oleh perempuan kelahiran London, Inggris, tahun 1942 ini. Buku-bukunya termasuk best seller dan menjadi referensi serta rujukan di berbagai negara.</p>
<p>Jauh sebelum berpaling ke Islam, Ruqaiyyah lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Kristen Protestan. Nama asalnya ialah Rosalyn Rushbrook. Dia memperoleh ijazah dalam bidang Teologi Kristen dari Universitas Hull, Inggris, tahun 1963, dan master bidang pendidikan dari tempat yang sama pada tahun 1964. Selama hampir 32 tahun, dia mengelola program studi ilmu-ilmu keagamaan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Inggris. Dia juga sempat menjabat sebagai kepala Studi Agama di William Gee High School, Hull, Inggris.<span id="more-3073"></span></p>
<p>Pengetahuan Kristennya yang begitu mendalam, membuatnya menulis beberapa buah buku tentang Kristen. Namun, siapa yang bisa menyangka jika pengetahuannya yang begitu mendalam tentang Kristen pulalah yang menyadarkannya. Dia mendapati ajaran Kristen yang diyakininya selama ini telah banyak menyimpang, terutama yang berkaitan dengan konsep ketuhanan.</p>
<p>Dengan pengetahuan yang dimilikinya, Ruqaiyyah bergerak atas inisiatif sendiri mencari kebenaran berdasarkan kajian-kajian ilmiahnya, termasuk mempelajari Alkitab. Namun, akhirnya dia meninggalkan agamanya itu setelah bergulat bertahun-tahun dalam pencarian atas pertanyaan-pertanyaannya tentang konsep teologi Trinitas. Dia tak menemukan apa-apa. Akhirnya tahun 1986, di saat usianya menginjak 44 tahun, Ruqaiyyah memutuskan untuk memeluk Islam.</p>
<p>Ruqaiyyah memeluk Islam murni berdasarkan latar belakang pengetahuannya dan kajian mendalam tentang ajaran ketuhanan, baik dalam Islam dan Kristen. Seperti kebanyakan mualaf lainnya, dia menyebut dirinya telah ‘kembali’ dengan menjadi Muslim. Kini, dia memperjuangkan Islam lewat tulisan dan buku-bukunya.</p>
<p>Dalam wawancara dengan sebuah media, dia ditanya perihal konsep Islam tentang Nabi Isa yang dalam ajaran Kristen disebut Yesus. &#8220;Dinegara Barat, ada ajaran ilmu etika berinti pada cinta dan kasih Tuhan dan tolong-menolong sesama manusia. Itu semua diajarkan juga oleh semua nabi, termasuk Nabi Muham mad SAW. Kami orang Islam juga me yakini Nabi Isa sebagai salah satu nabi yang diutus Allah,&#8221; kata Ruqaiyyah.</p>
<p>Keputusan Ruqaiyyah untuk berpindah keyakinan membawa konsekuensi pada kehidupan rumah tangganya. Ia memutuskan untuk mengakhiri biduk perkawinannya dengan penyair Inggris George Morris Kendrick yang telah dijalaninya sejak 1964. Dari perkawinannya dengan George, mereka memiliki dua orang anak, Daniel George lahir 1968 dan Frances Elisabeth Eva lahir 1969. Kemudian di tahun 1990, dia menikah lagi dengan pria keturunan Pakistan, Waris Ali Maqsood.</p>
<p>Berdakwah lewat tulisan Selepas hijrah ke Islam, tidak membuat Ruqaiyyah berhenti menulis. Justru sebaliknya, ia menjadi semakin produktif. Lebih dari 30 buku mengenai Islam telah ia tulis. Saat ini dia memiliki sembilan buah buku yang masih dalam proses penerbitan. Dia juga menulis berbagai artikel di majalah maupun koran yang berkaitan dengan Islam dan Muslim.</p>
<p>&#8220;Saat ini Islam dicap sebagai agama bermasalah. Sangat tidak adil. Karena itu, saya berupaya menulis untuk memperbanyak literatur-literatur Islam. Harap an saya, agar melalui tulisan-tulisan itu, dapat membantu memperbaiki atmosfer yang kurang berpihak ke Islam,&#8221; cetusnya.</p>
<p>Buku-buku mengenai Islam yang ditulisnya cukup beragam. Tidak ha nya buku-buku kategori ‘berat’, seperti buku mengenai sejarah Islam dan isu seputar Muslimah, tetapi juga buku-buku tentang bimbingan konseling bagi remaja Islam. Juga ada beberapa buku saku, antara lain A Guide for Visitors to Mosques, a Marriage Gui dance Booklet, Muslim Women’s Helpline.</p>
<p>Saya sangat tertarik menggeluti sejarah Islam, terutama tentang kehidupan wanita-wanita di sekitar Nabi Muhammad. Saya acapkali mengcounter kampanye anti-Islam yang mendiskreditkan wanita Muslim.</p>
<p>Oleh komunitas Muslim di Inggris, ia juga diminta untuk menyusun buku teks mengenai Islam. Buku-buku teks hasil karyanya ini dipakai secara luas di Inggris selama hampir 20 tahun. Buku-buku itu dipakai oleh kalangan pribadi, mualaf, dan pelajar-pelajar sekolah umum dan madrasah di Inggris dan beberapa negara lainnya.</p>
<p>Ia juga membantu mengembangkan silabus bagi pelajar sekolah agama, bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat. Silabusnya tergolong unik, dibuat khusus agar pelajar mandiri. Jadi, tanpa guru atau fasilitas tetap bisa jalan. Silabusnya dirancang untuk pelajar sekolah dasar hingga perguruan ting gi. Menariknya lagi, buku itu bisa dipakai untuk pendidikan formal, nonformal, misalnya di rumah, bahkan juga di penjara. Ruqaiyyah kini juga aktif menjadi tutor jarak jauh (distance learning) untuk Asosiasi Peneliti Muslim (AMR) adalah aktivitas lain nya.</p>
<p>Aktivitas mengajarnya juga padat. Banyak negara telah disambanginya, di antaranya AS, Kanada, Denmark, Swedia, Finlandia, Irlandia, dan Singapura. Ruqaiyyah juga mengajar di beberapa universitas yang ada di Inggris, seperti Oxford, Cambridge, Glasgow, dan Manchester. Juga, mengajar di <em>School of Oriental and Arabic Studies</em> di London.</p>
<p>Ruqaiyyah menerima Muhammad Iqbal Award tahun 2001 atas kreativitas dan jasanya, dalam mengembang kan metodologi pengajaran Islam. Dialah muslim pertama Inggris yang pernah menerima anugerah bergengsi tersebut. Tak hanya itu, pada Maret 2004 Ruqaiyyah terpilih sebagai salah satu dari 100 wanita berprestasi di dunia. Dalam ajang pemilihan <em>Daily Mails Real Women of Achievement,</em> Ruqaiyyah Waris Maqsood termasuk satu dari tujuh orang wanita berprestasi dalam kategori keagamaan. dia/taq/berbagai sumber <a href="http://republika.co.id/berita/80372/Rosalyn_Rushbrook_Menemukan_Kebenaran_Islam_Dalam_Al_Kitab" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
<p><strong>Nama Muslim :</strong> Ruqaiyyah Waris Maqsood<br />
<strong>Nama asli :</strong> Rosalyn Rushbrook<br />
<strong>Lahir :</strong> 1942<br />
<strong>Masuk Islam :</strong> 1986<br />
<strong>Suami pertama:</strong> George Morris Kendrick (Cerai)<br />
<strong>Anak :</strong> Daniel George dan Frances Elisabeth Eva<br />
<strong>Suami Kedua :</strong> Waris Ali Maqsood<br />
<strong>Pekerjaan :</strong> Penulis<br />
<strong>PENGHARGAAN:</strong><br />
1. News Awards for Excellence (2001)<br />
2. Muhammad Iqbal Award (2004)<br />
3. Salah satu dari tujuh pemenang Daily Mail’s Real Women of Achievement.<br />
4. Salah satu dari empat penerima Perdamaian Global dan Kesatuan Lifetime Achievement Award (2008).</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/rosalyn-rushbrook-menemukan-kebenaran-islam-dalam-al-kitab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syahadat Terry Holdbrooks di Guantanamo</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/syahadat-terry-holdbrooks-di-guantanamo</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/syahadat-terry-holdbrooks-di-guantanamo#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 17:02:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[terry holdbrooks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3069</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tak kenal Guantanamo. Penjara yang sangat mengerikan dengan penjagaan ekstraketat di Kuba itu biasa didedikasikan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengurung para tokoh yang dianggap sebagai teroris. Sebagian besar mereka berasal dari Irak dan Afghanistan. Kisah penyiksaan dan pelecehan terhadap Alquran pernah &#8216;menghiasi&#8217; penjara ini.
Dunia pun mereaksi negatif keberadaan penjara Guantanamo. Tuntutan untuk menutup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tak kenal Guantanamo. Penjara yang sangat mengerikan dengan penjagaan ekstraketat di Kuba itu biasa didedikasikan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengurung para tokoh yang dianggap sebagai teroris. Sebagian besar mereka berasal dari Irak dan Afghanistan. Kisah penyiksaan dan pelecehan terhadap Alquran pernah &#8216;menghiasi&#8217; penjara ini.</p>
<p>Dunia pun mereaksi negatif keberadaan penjara Guantanamo. Tuntutan untuk menutup penjara tersebut mengalir deras ke pemerintah AS. Presiden AS, Barrack Obama pun menyambut baik tuntutan tersebut dengan berencana menutup penjara tersebut.</p>
<p>Tapi, bagi Terry Holdbrooks, Guantanamo menjadi bagian hidup yang sangat berarti. Kehidupan para tahanan yang penjara tersebut memberi pengaruh besar dalam hidup Terry. Mulanya, dia hidup urakan. Kedua orang tuanya berpisah ketika Terry berusia 7 tahun.<span id="more-3069"></span></p>
<p>Hingga tubuh dewasa di Arizona, dia sama sekali dia tidak pernah mendengar soal Islam. Dia juga tidak pernah paham akan keberadaan Tuhan. Kehidupan junkies, membawanya pada dunia penuh maksiat. &#8220;Saat itu, tidak pernah saya berpikir tentang Islam,&#8221; ujar dia seperti dikutip Guardian.</p>
<p>Di usia dewasa, dia mencoba melamar untuk menjadi tentara. Dia kemudian diterima sebagai staf di polisi militer hingga akhirnya dikirim ke Guantanamo di tahun 2003. Saat itu, dia baru  berusia 19 tahun. Penempatan itu pun dia terima begitu saja. Satu hal yang saat itu dia pahami, Guantanamo adalah penjara untuk manusia &#8216;paling buruk di antara yang terburuk&#8217;.</p>
<p>&#8220;Saya menyaksikan rekaman video peristiwa 11 September,&#8221; tutur dia. Begitu menerima perintah ke Guantanamo, dia berpikir bakal bertemu dengan orang-orang yang oleh AS dianggap sebagai musuh. &#8220;Di situ ada sopirnya Usamah Bin Ladin, juru masaknya, dan orang-orang yang akan membunuhku saat mendapatkan kesempatan,&#8221; ungkap dia mengungkapkan bayangannya saat itu.</p>
<p>Sesampai di Guantanamo, segudang pertanyaan pun muncul. Saat itu, dia pertama kali bertemu dengan seorang tahanan yang usianya baru 16 tahun. Kata dia, sang tahanan mengaku sama sekali belum pernah melihat laut. Dia juga menyatakan tidak mengetahui bahwa bumi itu bulat. Dalam hati, Terry pun bertanya-tanya soal kemungkinan anak itu mengetahui rencana dunia gagasan pemerintah AS bernama war on terror (gerakan global memerangi terorisme).</p>
<p>Saat itu, Terry bertugas untuk membersihkan lingkungan, mengumpulkan sampah, membangunkan para tahanan, juga memverifikasi para tahanan. Pekerjaan itu memungkinkannya untuk berinteraksi langsung dengan para tahanan di penjara Guantanamo. Dari situlah, cahaya Islam mulai memancar ke dalam jiwa Terry.</p>
<p>Saat para penjaga yang lain menyibukkan diri dengan alkohol dan gambar porno, Terry justru banyak memanfaatkan waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang yang selama ini dianggap oleh pemerintah AS sebagai teroris. Modal senyum membuatnya cepat ramah dengan &#8216;warga&#8217; Guantanamo. Dia pun dikenal sebagai penjaga yang baik.</p>
<p>&#8220;Saya mulai bicara soal latar belakang politik, etnik, moral, juga budaya mereka,&#8221; ujar dia mengungkapkan. Hasil diskusi itu memberinya banyak pencerahan. Dari para tahanan inilah, dia kemudian mulai mendapatkan informasi tentang Islam. Hal ini membuat dia mengalami gegar budaya mengingat sebelumnya dia sama sekali tidak pernah mendengarnya. Hingga dewasa, Terry juga tidak bertuhan.</p>
<p>Sampailah pada suatu sore tanggal 29 Desember 2003, dia mengakhiri gegar budayanya itu dengan keputusan yang sangat mengesankan. Dia memutuskan untuk mengucap syahadat dan masuk Islam. Seorang tahanan yang menjadi mentornya memimpin upacara sederhana pengucapan syahadat. Dia lalu meninggalkan segala jenis maksiat, termasuk kebiasannya mengonsumsi minuman keras.</p>
<p>&#8220;Tidak mudah buat kami saat itu untuk bisa menjalankan shalat lima waktu,&#8221; kata dia mengenang pengalamannya di Guantanamo. Tapi, hal itu tidak membuatnya menyerah. Dia justu bertambah mantap untuk tetap berada dalam Islam. Terry merasa terlahir kembali, begitu mengucap syahadat. Sesaat setelah mengucap syahadat, dia pun berganti nama menjadi Mustafa Abdullah.</p>
<p>Di musim panas tahun 2004, dia merasa tidak cocok lagi berada di Guantanamo. Dia meninggalkan tempat kerjanya dan keluar dari militer. Selama menjadi penjaga tahanan, dia pun mengaku merasa malu. Meski tubuhnya berada di balik terali besi, kata dia, sebenarnya para tahanan itu jiwanya jauh lebih merdeka. &#8220;Sementara saya yang fisiknya bebas, jiwanya terkekang oleh aturan militer,&#8221; kata Terry. Dia pun memilih keluar untuk bisa lebih mantap dan istiqamah menjalankan ajaran-ajaran Islam. guardian/irf <a href="http://republika.co.id/berita/81342/Syahadat_Terry_Holdbrooks_di_Guantanamo" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/syahadat-terry-holdbrooks-di-guantanamo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nicolas Anelka: Islam Memberikan Kedamaian dan Ketenangan Hidup</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nicolas-anelka-islam-memberikan-kedamaian-dan-ketenangan-hidup</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nicolas-anelka-islam-memberikan-kedamaian-dan-ketenangan-hidup#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 17:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[anelka]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3063</guid>
		<description><![CDATA[
Bagi Anelka, Islam merupakan sumber kekuatan dan petunjuk dalam hidupnya.
Bagi penggemar sepak bola dunia, terutama pendukung klub Inggris, Chelsea Football Club, tentu tak asing dengan nama Nicolas Anelka. Anelka adalah salah satu striker paling berbahaya apabila berada di depan mulut gawang lawan.
Anelka dikenal sebagai  striker yang sangat produktif dalam menciptakan peluang dan menjebloskan si kulit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="detail_news_text">
<p><strong>Bagi Anelka, Islam merupakan sumber kekuatan dan petunjuk dalam hidupnya.</strong></p>
<p>Bagi penggemar sepak bola dunia, terutama pendukung klub Inggris, Chelsea Football Club, tentu tak asing dengan nama Nicolas Anelka. Anelka adalah salah satu <em>striker</em> paling berbahaya apabila berada di depan mulut gawang lawan.</p>
<p>Anelka dikenal sebagai  <em>striker</em> yang sangat produktif dalam menciptakan peluang dan menjebloskan si kulit bundar ke gawang lawan. Pada Liga Primer Inggris ( <em>England Primiership League</em> /EPL) 2008-2009 lalu, Nicolas Anelka menjadi pencetak gol terbanyak ( <em>top score</em> ) dengan 22 gol. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan kompatriotnya, Didier Drogba, penyerang Chelsea asal Pantai Gading.</p>
<p>Nicolas Anelka dan Didier Drogba, adalah salah satu duet  <em>striker</em> yang sangat ditakuti di liga Inggris. Keduanya dikenal sebagai  <em>striker</em> yang haus gol.Anelka termasuk sebagai pesepak bola papan atas dunia. Di klub yang dibelanya saat ini, Chelsea, Anelka menjadi salah satu pemain utama jika tidak sedang dibebat cedera.<span id="more-3063"></span></p>
<p>Di balik kegarangannya dalam menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan, Nicolas Anelka memiliki sikap yang sangat dingin. Ia sangat jarang tersenyum ketika sudah berada di lapangan. Terkadang, rekan-rekannya sering merasa serbasalah ketika berbicara dengannya. Dirinya sangat fokus pada permainan.</p>
<p>Di lini depan  <em>The Blues</em>, Chelsea, Anelka dikenal sebagai pemain yang kalem dalam bersikap, namun garang di depan lawan. Ia juga terbilang pemain yang tenang dan tidak emosional.</p>
<p>Kondisi ini bertolak belakang saat ia masih memperkuat Real Madrid, Liverpool, Manchester City, dan Arsenal. Ketika itu, pria kelahiran Versailles, Prancis, ini dikenal sebagai pria yang suka  <em>ngambek</em> dan emosional.<br />
<strong>|<br />
Memeluk Islam</strong><br />
Kini, Anelka di kenal dingin, tidak meledak-ledak, dan tidak suka  <em>ngambek</em> lagi sejak bermain di Chelsea. Apa gerangan yang terjadi dengan Anelka? Apa yang menyebabkan dirinya makin bijak dan tenang itu?Dalam wawancara dengan sebuah media di Inggris, ketika ditanyakan tentang sikapnya yang kini dingin dan lebih dewasa itu, Anelka menjawab ringan.</p>
<p>&#8221;Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi. Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam,&#8221; tutur Abdul Salam Bilal Anelka, nama Muslimnya.</p>
<p>Sebelumnya, Anelka sempat menyembunyikan identitas keislamannya dari hadapan publik. Bahkan, tak seperti rekannya Franck Ribery, pemain FC Bayern Muenchen, Jerman, asal dari Prancis, yang selalu berdoa ketika pertandingan akan dimulai. Anelka justru diam saja dan benar-benar menyembunyikan identitas Muslimnya.&#8221;Bagi saya, agama adalah masalah pribadi, tak perlu diungkapkan ke publik,&#8221; terangnya.</p>
<p>Namun belakangan, ketika publik sudah mengetahui identitasnya sebagai pemeluk agama Muhammad SAW, Nicolas Anelka justru makin terlihat arif dan bijaksana.Sejak kapan Anelka memeluk Islam? Ternyata, kepindahannya ke klub asal Turki, Fenerbahce, selepas bermain di Manchester City selama tiga musim, pada tahun 2004 Anelka mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam. Karena itu, pemilik nama lengkap Nicolas Sebastien Anelka ini mengumumkan secara resmi perihal perpindahan dirinya menjadi seorang Muslim.</p>
<p>Dilahirkan di Versailles, Prancis, pada 14 Maret 1979, Anelka menghabiskan masa kecilnya di Trappes, sebuah kota kecil yang berada di pinggiran barat Paris.Sebelum menjadi seorang Muslim, Anelka adalah seorang ateis (tak beragama). Ia juga bukan pemeluk agama Kristen seperti yang diperkirakan oleh sebagian orang. Ia dulunya benar-benar tak memiliki Tuhan.</p>
<p>Namun demikian, di saat dirinya tak beragama itu, Anelka banyak bergaul dan menjalin persahabatan dengan keluarga Muslim. Dan, dari situlah Anelka mulai tertarik dengan Islam. &#8221;Saya menjadi seorang Muslim sejak saya berusia 16 tahun,&#8221; curhatnya dalam wawancara dengan majalah Arab, <em>Super Magazine</em> .</p>
<p>Kepada para pembaca majalah <em>FourFourTwo</em>, pemain asal Prancis ini mengungkapkan alasannya mengapa memilih Islam. Islam, kata dia, adalah cara hidup yang cocok dengan dirinya. &#8221;Saya merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidup saya saat ini. Tapi, ini masalah pribadi dan itu mengapa saya tidak membicarakan hal itu selalu sering. Itu adalah sisi pribadi saya.&#8221;</p>
<p>Menganut Islam, diakui <em>striker</em> Chelsea ini banyak membawa perubahan positif dalam hidupnya. Menurutnya, agama Islam menuntunnya untuk tetap bersikap arif. Dan, hal inilah yang melatarbelakangi sikap tenangnya saat berlaga di lapangan.&#8221;Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi,&#8221; tuturnya.</p>
<p>&#8221;Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam,&#8221; tambahnya. Dalam wawancara yang dimuat di <em>Match</em>, majalah terbitan Prancis, Anelka mengungkapkan bahwa Islam adalah sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. &#8221;Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Dan, akhirnya saya menemukan Islam.&#8221;</p>
<p>Di kehidupan pribadi, Anelka menikah dengan seorang perempuan berkebangsaan Belgia, Barbara Tausia, pada 9 Juni 2007 di Marrakesh, Maroko. Pernikahannya dengan wanita yang berprofesi sebagai seorang koreografer ini tidak membuat Anelka memilih meninggalkan keyakinan barunya tersebut. Bahkan, Anelka berencana untuk tinggal di Uni Emirates Arab setelah pensiun nanti. Dan, di sela-sela bermain sepak bola, Anelka kerap bermain tenis dan pernah bermain untuk satu film berjudul &#8221;Le Boulet&#8221; sebagai pemain sepak bola bernama Nicolas.</p>
<p><strong>Tetap berpuasa</strong><br />
Sebagai seorang pemain sepak bola profesional dan penganut Islam yang taat, kewajiban berpuasa selama bulan Ramadhan tidak membuat Anelka kesulitan untuk tetap menjalankan aktivitasnya di lapangan hijau. Seperti kebanyakan pemain sepak bola Muslim lainnya di Liga Premier, Anelka berusaha tetap menjalankan ibadah puasa.</p>
<p>Dalam sebuah wawancara dengan majalah <em>FourFourTwo</em>, peraih Golden Boot Premiership musim kompetisi 2008/2009 ini mengungkapkan bahwa sebagai seorang Muslim yang taat, ia wajib menghormati bulan Ramadhan dengan menjalankan kewajiban puasa.&#8221;Sebetulnya puasa bukan suatu hal yang sulit untuk dijalankan. Saya pernah melakukannya beberapa kali. Namun, dalam beberapa kali Ramadhan saya mengalami dua atau tiga cedera. Sehingga, hal itu membuat saya tidak bisa berpuasa.&#8221;</p>
<p><strong>Ucapkan Syahadat di Fenerbache</strong></p>
<p>Musim lalu,  <em>striker</em> Chelsea Nicolas Anelka menjadi pencetak gol terbanyak Liga Premier.  <em>Striker Prancis</em> ini memang berambisi untuk kembali menjadi top skor bersama rekan satu timnya, Didier Drogba.</p>
<p>Sejak menyatakan diri pindah memeluk agama Islam tahun 2004 lalu, Anelka juga menyandang nama Islam, yakni Abdul Salam Bilal Anelka. Diyakini kepindahan Anelka memeluk agama Islam ini ketika dia membela raksasa Turki, Fenerbahce, setelah tiga musim bermain untuk Manchester City, Inggris. Memulai karier di Paris Saint-Germain, namun setelah itu pindah ke Arsenal, Anelka langsung menjadi pemain utama dan meraih gelar pemain muda terbaik versi PFA.</p>
<p>Usai bermain untuk  <em>The Gunners</em> , julukan Arsenal, Anelka pindah ke Real Madrid tahun 1999 dengan nilai transfer 22,3 juta pound. Sayangnya ia tak betah dan kembali lagi ke klub lamanya, Paris Saint-Germain, dengan nilai transfer lebih rendah, yakni sebesar 20 juta pound.</p>
<p>Meski sudah nyaman di Paris, Anelka kembali mengincar Liga Premier dan bermain untuk Liverpool pada Januari 2002 dengan status pinjaman. Setelah itu, dia bergabung dengan Manchester City dengan transfer senilai 13 juta pound di awal musim 2002-2003. Setelah merumput selama tiga musim bersama Manchester City, kemudian dia pindah ke Fenerbahce.</p>
<p>Di klub Turki inilah, Anelka diyakini mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah dari Fenerbahce, Anelka kembali Lige Premier Inggris. Di benua biru ini, Anelka bergabung dengan Bolton Wanderers yang memboyongnya dari Fenerbache dengan nilai transfer 7-8 juta pound.Kemudian, pada musim kompetisi 2008/2009, Anelka pindah ke Chelsea dengan nilai transfer 15 juta pound. Ia mulai bergabung dengan  <em>The Blues</em> pada Januari 2008 silam, dan menjadi pencetak gol terbanyak dengan 22 gol. dia/sya/berbagai sumber <a href="http://republika.co.id/berita/72917/Nicolas_Anelka_Islam_Memberikan_Kedamaian_dan_Ketenangan_Hidup" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
<p><strong>Biodata :</strong></p>
<p>Nama Lengkap : Nicolas Sebastien Anelka<br />
Nama Muslim : Abdul Salam Bilal Anelka<br />
TTL : Versailles, Prancis, 14 Maret 1979<br />
Istri : Barbara Tausia<br />
Klub Saat ini : Chelsea FC<br />
Masuk Islam : 2004<br />
Karier Profesional :<br />
1. Paris Saint-Germain/PSG (Prancis)<br />
2. Arsenal (Inggris)<br />
3. Liverpool (Inggris)<br />
4. Real Madrid (Spanyol)<br />
5. Manchester City (Inggris)<br />
6. Fenerbahce (Turki)<br />
7. Bolton Wonderes (Inggris)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nicolas-anelka-islam-memberikan-kedamaian-dan-ketenangan-hidup/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tumbuh sebagai Anak Jalanan, Menjadi Dewasa Bersama Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tumbuh-sebagai-anak-jalanan-menjadi-dewasa-bersama-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tumbuh-sebagai-anak-jalanan-menjadi-dewasa-bersama-islam#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 07:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3056</guid>
		<description><![CDATA[Awal hidupnya ia jalani dengan kekacauan, namun hatinya tidak pernah menolak kebenaran. Akhirnya ia pun menemui makna hidup bersama Islam
Namaku sekarang Abdullah Abdul-Malik, dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di Amerika Serikat. Usiaku 28 tahun. Aku sudah menjadi Muslim selama hampir 5 tahun.
Aku dibesarkan di sebuah lingkungan yang elok di Philadelphia, Pennsylvania. Aku suka  bermain sepakbola di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Awal hidupnya ia jalani dengan kekacauan, namun hatinya tidak pernah menolak kebenaran. Akhirnya ia pun menemui makna hidup bersama Islam</em></p>
<p><em><strong></strong></em>Namaku sekarang Abdullah Abdul-Malik, dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di Amerika Serikat. Usiaku 28 tahun. Aku sudah menjadi Muslim selama hampir 5 tahun.</p>
<p>Aku dibesarkan di sebuah lingkungan yang elok di Philadelphia, Pennsylvania. Aku suka  bermain sepakbola di waktu kecil. Sebagaimana seorang remaja Amerika, aku senang mendengarkan musik rap dan menonton film-film yang penuh adegan kekerasan. Ketika itu aku yakin bahwa hidup memanglah seperti itu.</p>
<p>Aku menyangka apa yang aku lakukan ketika itu keren, dan memang gaya hidup seperti itulah yang harus dijalani, penuh gairah, dan berbahaya. Oleh sebab itu, aku menjadikan para rapper dan pemain film itu sebagai panutan, dan termakan keyakinan bahwa hidup itu harus menjadi seorang pembangkang terhadap lingkungan.<span id="more-3056"></span></p>
<p>Sekarang aku tahu bahayanya musik dan televisi terhadap masyarakat kita. Jika kamu tidak memiliki panutan yang positif, maka kamu akan memiliki panutan yang negatif.</p>
<p>Aku terjerumus mengkonsumsi mariyuana, dan mulai menjualnya saat usia remaja. Aku menjalani hidup seperti itu selama masa sekolah menengah hingga kira-kira berusia 23 tahun.</p>
<p>Aku mulai merasa bahwa teman-temanku bukanlah teman yang sebenarnya. Aku menjadi paranoid, tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Jiwaku terasa hampa.</p>
<p>Akhirnya aku bermain dan membuat musik untuk menyalurkan tekanan perasaan yang terpendam di dada.</p>
<p>Hidupku menjadi kehilangan semangat dan terisolasi. Aku mencari-cari jati diri.</p>
<p>Keluargaku kemudian mengalami masalah keuangan, lalu mereka pindah ke Florida. Aku sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di Pennsylvania, karena di sanalah aku dibesarkan. Baik atau buruk, Pennsylvania adalah rumah bagiku, dan aku belum siap meninggalkannya.</p>
<p>Aku pindah rumah, tinggal sendiri di sebuah apartemen yang dekat dengan tempat aku dibesarkan. Aku belajar untuk bertahan hidup. Ketika itu rasanya sangat sulit dan kesepian.</p>
<p>Kehidupanku semakin keras saja. Aku mulai berani mengambil kesempatan. Aku berhenti menjual narkoba secara sembunyi-sembunyi, mulai nekat, dan tidak takut apapun.</p>
<p>Aku tidak lagi hanya menjual narkoba kepada orang-orang yang kukenal, bahkan mulai menjualnya kepada orang yang  tidak kukenal sama sekali.  Aku mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya  tidak akan pernah aku lakukan. Begitulah, jika kamu sudah terperosok dalam pada sesuatu, maka kamu akan semakin berani mengambil resiko, dan gaya hidup yang berbahaya sekali pun mulai dirasa nyaman dan bahkan dianggap normal.</p>
<p>Akhirnya akupun terjebak menjual mariyuana kepada seorang polisi yang  menyamar pada tahun 2004. Aku kemudian menjalani pemeriksaan. Ketika itu aku merasa ada tekanan yang besar dari sekelilingku.</p>
<p>Aku takut jika harus hidup dalam penjara, karena itu aku berhenti menjual narkoba dan mulai mencari pekerjaan. Saat itulah aku bertemu dengan seorang pria Muslim berusia 50-an tahun. Di tempat bekerja itu aku mulai berbincang-bincang tentang Islam. Aku bertanya kepada orang tua itu, apakah Muslim percaya pada Yesus, karena selama ini yang aku tahu hanyalah Yesus.</p>
<p>Dia bilang, ya. Yesus adalah salah seorang yang mulia dalam pandangan agama, tapi kami mempercayainya sebagai seorang nabi, bukan Tuhan. Ia mengatakan kepadaku bahwa Muslim percaya kepada semua nabi, mulai dari Adam hingga Muhammad. Dan Tuhan itu Esa, tidak ada yang setara dengan-Nya dan menyamai-Nya.</p>
<p>Ketika ia menjelaskan hal itu, aku menerimanya, sepertinya aku sudah pernah merasakannya. Apa yang dikatakannya bisa diterima nalar. Jadi mana mungkin seseorang menolak pernyataan yang sangat kuat dan masuk akal seperti itu?</p>
<p>Oleh karena aku kelihatan tertarik, ia berkata akan memberiku sesuatu.</p>
<p>Saat itu aku merasa bahwa aku harus berubah, dan aku haus akan jawaban. Aku selalu percaya adanya Tuhan, tapi banyak hal yang membingungkanku, dan aku tidak bisa menerima Kristen sebagai sebuah keyakinan  yang benar.</p>
<p>Satu malam setelah mengantar orang tua itu pulang kerja, ia memberiku sebuah Al-Qur&#8217;an. Kuucapkan terima kasih, dan malam itu pula aku mulai membacanya. Kitab itu seakan berbicara dan menjelaskan semuanya dengan jelas kepadaku. Aku yakin kitab itu benar, dan hanya Tuhan saja yang mampu membuat kitab seperti itu.</p>
<p>Sungguh sangat masuk akal bagiku, dan sekejap ada kedamaian yang kurasakan di dalam hati. Sesuatu yang sepertinya belum pernah aku rasakan.<br />
<strong><br />
Merenungkan Makna<br />
</strong><br />
Ketika aku berjumpa lagi dengan  pak tua keesokan harinya, ia berkata bahwa aku kelihatan sangat jauh berbeda. Aku katakan padanya bahwa kitab itu membuat kita merasa baik, dan hal itu sangat menakjubkan.</p>
<p>Aku tahu bahwa aku senantiasa diawasi oleh polisi. Aku pikir, karena mereka tidak menangkapku, maka mungkin mereka membiarkan hingga aku melakukan sesuatu yang lebih buruk. Banyak detektif yang tidak ingin melakukan penangkapan kecil, biasanya ingin mendapatkan tangkapan yang besar.</p>
<p>Setelah beberapa bulan di bawah pengawasan, beberapa orang detektif tiba-bisa muncul di suatu  tempat dan menyergapku. Aku ditahan dengan tuduhan menjual mariyuana dalam jumlah kecil.</p>
<p>Aku kehilangan pekerjaan, dan dipenjara selama beberapa hari sebelum akhirnya keluargaku yang berada di Florida membayar tebusan. Berita itu sungguh menyedihkan hati mereka, dan menimbulkan  masalah besar kepada keluargaku.</p>
<p>Para detektif itu mengatakan, mereka tidak benar-benar menginginkan aku, mereka ingin agar aku menolong mereka menjebak orang lain. Tapi aku menampiknya dan memutuskan untuk menjadi lelaki sejati.</p>
<p>Setelah bebas dengan tebusan, aku terus membaca Al-Quran dan merenungkan secara mendalam makna yang dikandungnya.</p>
<p>Pada suatu malam, ketika aku membacanya dalam kegelapan, aku melihat seakan-akan ada cahaya yang memancar dari kitab itu. Aku yakin itu adalah tanda dari Tuhan bahwa kitab itu benar, dan bahwa hidupku akan segera berubah selamanya, dan aku mempunyai tujuan hidup.</p>
<p>Cahaya itu tidak memancar sekejap saja, tapi memancar selama aku membacanya&#8211;kurang lebih selama 45 menit. Aku berpikir untuk memberitahukan hal itu pada temanku yang tidur di lantai atas. Tapi aku merasa itu adalah tanda dari Tuhan untukku, dan aku tidak akan merusaknya.</p>
<p>Sebelumnya aku sudah percaya jika kitab itu benar, tetapi ketika aku melihat cahaya itu, keyakinanku berubah selamanya.</p>
<p>Pada akhirnya, aku pun harus masuk penjara. Di sana aku bertemu orang-orang Muslim, yang ternyata merupakan orang-orang terbaik yang pernah aku temui. Orang-orang yang sebenarnya tidak jahat, tetapi hanyalah orang-orang yang terperosok pada situasi yang menyudutkan dan mengambil keputusan yang keliru.</p>
<p>Aku jadi tahu karakter orang muslim: laki-laki kuat yang punya harga diri, rendah hati, penyayang, dan penuh ketaatan. Di dalam penjara itu aku belajar berpuasa, berdoa, shalat dan mengikuti shalat Jumat.</p>
<p>Aku melihat bahwa karakter seorang Muslim itu teguh memegang kebenaran dan tahu bagaimana menjadi pengikut setia Tuhannya. Mereka adalah orang-orang, yang meskipun dalam keadaan tertekan, selalu tabah atas apa yang menimpa diri mereka, tanpa rasa khawatir, dan percaya sepenuhnya kepada Sang Pencipta.</p>
<p>Hidupku seluruhnya diobati, dan jiwaku berubah. Penjara membantuku menjadi bijaksana, dan pikiranku menjadi terang untuk pertama kalinya. Di penjara kamu akan belajar menjadi orang yang berpikir, karena kamu tidak punya apapun kecuali waktu untuk berpikir, merenung. Kamu akan mempertanyakan segalanya, agamamu, keluargamu, teman-temanmu.</p>
<p>Di penjara, berarti kamu berada di tempat yang tidak banyak gangguannya. Sungguh itu sebuah anugerah bagiku.</p>
<p>Aku tahu bahwa aku tidak akan menyukai penjara, tapi aku yakin bahwa itu adalah yang terbaik bagiku.</p>
<p>Di sana kegiatanku hanya membaca, berolahraga, dan mengingat-ingat kembali apa yang telah aku lakukan selama ini, dan apa tujuan hidupku sebenarnya.</p>
<p>Aku menjalani masa kurungan hanya satu tahun lamanya. Setelah keluar, aku pindah ke  Florida. Sejak itu aku tinggal di sana.</p>
<p>Aku merasa seperti dilahirkan kembali.</p>
<p>Sekarang, aku sedang mengikuti pendidikan keperawatan, dan berencana untuk keliling dunia membantu orang-orang yang tidak seberuntung aku. Sambil terus menyebarkan pesan agama kebenaran.</p>
<p>Jika kamu pernah melakukan kesalahan, lalu menemukan kebenaran, maka segalanya akan terasa semakin terlihat jelas. Menakjubkan, ketika pertama kali aku belajar hidup sebagai seorang dewasa. Kebenaran datang saat aku membutuhkannya, di saat yang tepat.</p>
<p>Hidupku sebelumnya sungguh kacau. Aku merasa sangat beruntung karena menemukan Islam sebagai jalan benar yang lurus. Jika kamu sudah menemukan agama ini, maka kamu tidak akan ingin kembali kepada keadaan seperti sebelumnya.</p>
<p>Aku pernah hidup di jalanan, kemudian tinggal di penjara, dan akhirnya hidup dalam Islam.</p>
<p>Akhirnya, aku merasakan apa yang telah aku jalani semuanya adalah berharga dan patut. Tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah! [<strong>di/ri/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9122:tumbuh-sebagai-anak-jalanan-menjadi-dewasa-bersama-islam&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=85" target="_blank"><em>www.hidayatullah.com</em></a></strong>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tumbuh-sebagai-anak-jalanan-menjadi-dewasa-bersama-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untung Ditangkap Taliban, Bukan Militer AS</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/untung-ditangkap-taliban-bukan-militer-as</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/untung-ditangkap-taliban-bukan-militer-as#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 10:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Yvonne Ridley]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3059</guid>
		<description><![CDATA[Hidayah bisa datang di tempat dan saat yang tidak terduga, termasuk ketika seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang pernah dianggap kejam dan menyeramkan
28 September 2001, tujuhbelas hari setelah peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center di New York. Pemimpin reporter Sunday Express, seorang single mother berusia 43 tahun, dikirim ke Islamabad untuk meliput “perang melawan teroris” yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Hidayah bisa datang di tempat dan saat yang tidak terduga, termasuk ketika seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang pernah dianggap kejam dan menyeramkan</em></p>
<p><em><strong></strong></em>28 September 2001, tujuhbelas hari setelah peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center di New York. Pemimpin reporter Sunday Express, seorang single mother berusia 43 tahun, dikirim ke Islamabad untuk meliput “perang melawan teroris” yang baru saja dimulai oleh George W. Bush, presiden Amerika Serikat kala itu.</p>
<p>Yvonne Ridley mengenakan pakaian khas wanita Afganistan lengkap dengan burkanya, ia berusaha masuk ke Afganistan secara ilegal lewat perbatasan Pakistan. “Untuk meliput krisis kemanusiaan dan berbicara dengan orang-orang Afganistan yang tidak bisa atau tidak mau meninggalkan negara itu,” katanya memberi alasan mengapa ia ingin masuk ke negara itu.<span id="more-3059"></span></p>
<div>
<div>***</div>
</div>
<div>Bukankah tindakannya itu sangat berbahaya, apalagi untuk seorang wanita dan ibu dari seorang putri? “Tapi jurnalis memang mengambil resiko ketika mereka memburu berita … Para jurnalis akan pergi (meskipun) ke daerah berbahaya, karena sifat dasar mereka pergi ke tempat di mana ada berita baru,” tegasnya.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, hanya dua mil dari perbatasan, ketika melewati pos pemeriksaan Taliban dekat Jalalabad, keledai yang ditungganginya tidak terkendali. Ia pun terjatuh dengan disaksikan lusinan mata tentara Taliban. Yvonne berusaha segera mengatasi keadaan, namun kamera yang ia sembunyikan di balik jubahnya jatuh.</p>
<p>Seorang tentara Taliban dengan wajah geram karena marah datang menghampirinya. “Wow&#8230;, kamu tampan sekali,” katanya dalam hati, demi memandang seorang pria muda Afganistan bermata hijau dan berjenggot lebat itu.</p>
<p>“Tapi kemudian rasa takut menghampiri,” katanya. Ia pikir dirinya pasti akan diperkosa beramai-ramai atau dilempari batu hingga mati. “Saya membayangkan rasa sakit yang akan saya derita, dan saya berdoa, apapun yang terjadi semoga saya mati dengan cepat.”</p>
<p>“Saya sangat takut. Tidak hanya karena saya ditangkap oleh rejim yang paling brutal dan kejam di dunia&#8211;itu kata-kata Presiden Bush, bukan saya&#8211; tapi juga karena mereka membenci wanita! Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan bisa melihat matahari lagi sejak saat ditangkap.”</p>
<p>Yvonne lalu dibawa ke markas intelijen di Jalalabad. Di sana ia ditempatkan dalam sebuah ruangan ber-AC. “Saya bisa ke toilet yang nyaman dan mandi. Di sana saya cukup nyaman kondisinya.”</p>
<p>Setelah enam hari berada di tempat itu, ia pun dipindah ke Kabul. Kondisi di sana berbeda dengan di Jalalabad. “Tidak air kran yang mengalir. Jika Anda perlu air, maka harus memompa air di luar,” katanya.</p>
<p>“Beberapa kali saya mengira akan dipukuli atau dieksekusi. Satu ketika di Kabul, saya tidak bisa mengendalikan emosi lalu meludah, bersikap kasar, dan mengumpat mereka.” Yvonne juga mogok makan. “Saya pikir tindakan itu akan memicu reaksi keras dari mereka, tapi ternyata mereka kelihatan seperti terluka dan berkata bahwa saya adalah &#8216;tamu&#8217; dan &#8217;saudara perempuan&#8217; mereka.”</p>
<p>Pengalaman Yvonne ditahan oleh Taliban selama 10 hari itu ia tulis dalam buku hariannya. “Mereka (Taliban) terus mengatakan bahwa saya adalah tamu mereka, dan mereka sedih jika saya sedih. Tak bisa saya percaya … Saya mengharap semua orang di rumah tahu bagaimana saya diperlakukan. Saya tebak orang-orang pasti berpikir bahwa saya disiksa, dipukuli dan dilecehkan secara seksual. Sebaliknya, saya bahkan diperlakukan dengan baik dan hormat. Sungguh sulit dipercaya.”</p>
<p>“Perlakuan yang saya terima dari rejim yang dianggap paling brutal dan kejam di dunia ini, sama sekali berbeda dengan perlakuan yang diterima oleh para pria yang ditahan di <em>Camp X-Ray </em>(Guantanamo),” katanya dalam sebuah wawancara.</p>
<p>Ketika masih ditahan di markas intelijen di Jalalabad, Yvonne diyakini sebagai seorang mata-mata. “Mereka bilang kepada saya bahwa mereka yakin saya adalah seorang mata-mata Amerika. Hal itu membuat saya ketakutan. Mereka juga memberikan saya sebuah gaun pengantin sebelum seorang pemuka agama menanyai apakah saya mau pindah agama memeluk Islam. Sungguh menakutkan.”</p>
<p>Siapa sangka, justru kejadian itulah yang akhirnya menggiringnya untuk masuk Islam. “Saya pikir jika saya menjawab ya, orang itu akan mengatakan bahwa saya seorang wanita yang cepat berubah pendirian. Dan jika saya jawab tidak, maka itu akan menjadi penghinaan besar terhadap Islam. Jadi saya berjanji, jika mereka membebaskan saya, maka saya akan mempelajari Islam setibanya di London.”</p>
<p>Yvonne tidak melupakan janjinya. Ia pun mempelajari Islam setelah dibebaskan Taliban. Kabar mengenai dirinya yang akan masuk Islam diliput dan ditulis sebagai berita di banyak media massa internasional. Di tahun 2002 banyak yang menuliskan bahwa ia telah masuk Islam, padahal ia belum benar-benar masuk Islam.</p>
<p>Seorang da&#8217;i terkenal di Inggris, Abu Hamza Al-Masri, bahkan menghubunginya lewat telepon. Ia mengucapkan selamat dan memanggil Yvonne dengan sebutan “saudari.”</p>
<p>“Saya jelaskan (padanya) bahwa saya belum benar-benar mengucapkan ikrar. Dan ia berkata, &#8216;Jangan merasa ditekan atau dipaksa, seluruh komunitas (Muslim) selalu ada jika kamu membutuhkan bantuan, hubungi saja salah seorang Muslimah.&#8217;”</p>
<p>“Ketika itu saya akan segera menutup telepon saat ia berkata, &#8216;Ada satu hal yang ingin saya ingatkan. Besok, jika kamu mengalami kecelakaan dan mati, kamu akan langsung masuk ke api neraka.&#8217;”</p>
<p>“Saya sangat ketakutan, sampai-sampai saya membawa terus salinan janji saya di tas, hingga saya benar-benar berpindah agama bulan pada Juni.”</p>
<p>Akhirnya saat musim panas tahun 2003, Yvonne secara diam-diam berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia menjadi bagian dari apa yang disebutnya “keluarga terbesar dan terbaik di dunia.”</p>
<p>Setelah ia masuk Islam, lagi-lagi media Barat memberitakan hal yang keliru, salah satunya <em>BBC. </em>Banyak yang mengira Yvonne menderita Stockholm Syndrome. Sebuah keadaan mental di mana seorang korban penyanderaan menunjukkan simpati kepada orang yang menyanderanya.</p>
<p>“Masalah <em>Stockholm Syndrome </em>selalu membuat saya tertawa. Saya ini tawanan dari neraka. Saya meludah, mengumpat, melempari orang yang menangkap saya dan bahkan mogok makan. Agar terkena SS, maka Anda harus berhubungan erat dengan para penyekapmu sejak awal. Orang-orang yang berhubungan erat dengan saya (ketika itu), dan masih saling kontak hingga sekarang, adalah para tahanan bule lainnya. Masalah sindrom ini sering dipakai oleh mereka para tukang fitnah yang tidak bisa menjelaskan mengapa seorang wanita Barat profesional tertarik memeluk agama Islam.” katanya.</p>
<p>Bagi orang yang mengenal Yvonne sebagai seorang jurnalis tangguh yang berjuang layaknya pria&#8211;agar bisa mencapai posisi editor&#8211;dan sebagai seorang wanita yang menuntut persamaan gender, melihat kenyataan bahwa dirinya memilih Islam, agama yang dipandang Barat sebagai penindas wanita, memang mengejutkan. Ironis, demikian tulis seorang jurnalis di Guardian.</p>
<p>“Sebaliknya,” tampik Yvonne. “Al-Quran jelas menyebutkan bahwa wanita setara dalam urusan agama, kekayaan dan pendidikan. Yang sering dilupakan banyak orang adalah bahwa Islam itu sempurna, sedangkan pengikutnya tidak.”</p>
<p>“Mereka selalu saling tolong dalam urusan seperti mengasuh anak, menggalang dana dan pendidikan. Mereka ingin berbuat baik terhadap sesama. Saya tidak menyangka hal itu sebelumnya. Di Barat, kita semua sibuk merebut pacar / pasangan orang lain, dan saling mengkritik pakaian dan berat badan,” katanya membandingkan wanita Muslim dengan wanita Barat.</p></div>
<div><strong>Bukan Amerika</strong></div>
<div>Yvonne Ridley lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga penganut Kristen Protestan. “Saya anggota paduan suara gereja dan guru sekolah Minggu di desa saya di wilayah utara Inggris,” katanya bercerita.</p>
<p>Tidak ada yang ia ketahui tentang Islam sebelumnya, kecuali ia menyakini mitos bahwa para wanita Muslim ditindas, dan Islam merupakan agama setan dan kejam yang penuh dengan orang-orang fanatik.</p>
<p>Keluarganya di Durham, yang merupakan jemaat <em>Church of England </em>terkejut ketika mendengar ia akan pindah agama. “Mereka pikir saya akan mencalonkan diri jadi pemimpin besar <em>Ku Klux Klan</em>.”</p>
<p>“Tapi mereka sekarang bisa melihat bahwa saya lebih bahagia, lebih sehat. Dan ibu saya senang karena saya berhenti minum minuman keras.”</p>
<p>Tantangan terbesar setelah masuk Islam, bagi wanita yang pernah bercita-cita menjadi artis ini, adalah menjalankan shalat lima waktu dan menghentikan kebiasaan merokok.</p>
<p>Putri seorang pekerja tambang itu sangat terkesan dengan Al-Quran. “Saya benar-benar terpukau dengan apa yang saya baca, tidak setitik atau satu coretan pun berubah selama 1.400 tahun.”</p>
<p>“Hal pertama yang saya cermati ketika membaca Al-Quran adalah masalah kepemilikan dan hukum perceraian. Saya sangat kagum. Menurut saya, isinya seperti ditulis oleh pengacara perceraian di Hollywood saja! Bahkan mungkin justru mereka yang terinspirasi dari sana (Al-Quran). Saya begitu bahagia melihat bahwa wanita memiliki hak yang sama dalam agama dan pendidikan. Bahkan Al-Quran mengakui bahwa kami (wanita) memiliki beban lebih dalam hal melahirkan, menyusui dan menstruasi. Menurut saya, kami ini contoh istimewa dari mahluk bernama manusia, karena kami memiliki begitu banyak fungsi tambahan!”</p>
<p>Menurut wanita yang ikut berperan dalam proses pembuatan situs <em>Al-Jazeera </em>edisi bahasa Inggris ini, hal yang istimewa dalam Islam adalah setiap orang punya akses langsung terhadap Tuhan-nya. “Anda tidak perlu seorang perantara.” Sesuatu yang sangat berbeda dengan agama-agama lain.</p>
<p>Kini sehari-hari Yvonne berbusana seperti layaknya Muslimah, mengenakan baju yang menutupi seluruh tubuhnya dan berkerudung. Mungkin yang agak berbeda adalah gaya berpakaiannya yang seperti “pejuang wanita.”</p>
<p>“Mengenakan hijab adalah sebuah kewajiban dalam Islam. Hukumnya wajib dan tertulis secara jelas dalam kitab suci kita Al-Quran. Ini merupakan perkara yang saya kaji secara mendalam dan saya bicarakan secara panjang lebar dengan para ulama dan syaikh, yang latar belakang, garis keturunan dan pendidikannya tidak diragukan lagi. Saya tidak mengenakan hijab secara tiba-tiba, saya perlu waktu. Dan saya yakin, seorang wanita yang benar-benar Muslimah pasti akan memakainya. Mereka para ulama tidak bisa mengatakan bahwa hijab merupakan sebuah pilihan. Mereka yang mengatakan demikian (hijab adalah pilihan), saya menjulukinya dengan &#8216;ulama untuk uang&#8217;, mereka yang manut kemauan pemerintah. Mereka tahu siapa mereka itu, dan mereka sadar apa yang dikatakannya itu salah. Oleh karenanya, menurut saya keputusan seorang Muslimah untuk mengenakan hijab adalah urusan pribadi. Ia tahu apa yang menjadi kewajibannya, dan akan menjawab sendiri apa saja yang telah ia perbuat di hadapan Allah satu hari nanti.”</p>
<p>Suatu hari di bulan November 2007, Yvonne Ridley menjadi pembicara dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Mahasiswa Muslim di University of California. Di hadapan para hadirin ia mengatakan bahwa orang Islam yang menangkapnya pada bulan September 2001 telah memperlakukannya “dengan sopan dan hormat.” Ia membandingkan pengalamannya dengan apa yang dialami oleh orang Irak yang menjadi tahanan dan disiksa oleh tentara Amerika dalam penjara Abu Ghraib tahun 2004.</p></div>
<p>“Terima kasih Tuhan, saya ditangkap oleh rejim yang paling brutal dan kejam di dunia, dan bukan oleh militer Amerika Serikat,” ujar Yvonne. [<strong>Dija</strong>, <em>dari berbagai sumber/</em><a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9249:2009-09-17-09-40-36&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=85" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/untung-ditangkap-taliban-bukan-militer-as/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Ujung Jalan Berliku Terdapat Telaga Kedamaian</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/di-ujung-jalan-berliku-terdapat-telaga-kedamaian</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/di-ujung-jalan-berliku-terdapat-telaga-kedamaian#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 22:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2636</guid>
		<description><![CDATA[Hidupnya penuh liku-liku, keinginannya untuk meraih kebahagiaan membawa Abdullah Al-Kanadi menemukan Islam
Nama saya  sekarang Abdullah Al-Kanadi. Nama asli saya adalah Craigh Robertson. Saya dilahirkan di Vancouver, Kanada. Keluarga saya penganut Katolik Roma membesarkan saya sebagai seorang Katolik Roma hingga usia 12 tahun. Sekarang saya sudah menjadi Muslim dan ingin berbagi dengan Anda cerita tentang perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Hidupnya penuh liku-liku, keinginannya untuk meraih kebahagiaan membawa Abdullah Al-Kanadi menemukan Islam</em></p>
<p>Nama saya  sekarang Abdullah Al-Kanadi. Nama asli saya adalah Craigh Robertson. Saya dilahirkan di Vancouver, Kanada. Keluarga saya penganut Katolik Roma membesarkan saya sebagai seorang Katolik Roma hingga usia 12 tahun. Sekarang saya sudah menjadi Muslim dan ingin berbagi dengan Anda cerita tentang perjalanan saya menuju Islam.</p>
<p>Semasa kecil saya bersekolah di sekolah agama Katolik. Di sana saya diajarkan tentang kepercayaan Katolik, disamping mata pelajaran lainnya. Prestasi saya di kelas agama sangat baik, secara akademis saya mendapat nilai sangat baik dalam bidang studi ajaran-ajaran gereja.</p>
<p>Sejak di usia sangat dini, orangtua memaksa saya untuk mengikuti kegiatan pelayanan, menjadi &#8220;anak altar&#8221;, yang mana hal itu sangat membanggakan kakek dan  nenek. Namun, semakin saya pelajari, semakin saya mempertanyakan ajaran agama saya.<span id="more-2636"></span></p>
<p>Ketika saya kecil, dalam sebuah acara misa di gereja, saya bertanya kepada ibu, &#8220;Apakah agama kita ini adalah agama yang benar?&#8221;</p>
<p>Ibu menjawab dengan jawaban yang masih terngiang di telinga hingga saat ini, &#8220;Craig, semua agama sama, semuanya baik.&#8221; Menurut saya hal itu keliru. Jika semua agama  sama baiknya, maka apa gunanya bagi saya mempelajari agama ini?</p>
<p>Ketika  berusia 12 tahun, nenek didiagnosa menderita kanker usus besar. Beberapa bulan kemudian setelah berjuang keras melawan penyakitnya, ia pun meninggal. Saya tidak pernah menyadari seberapa dalam kematiannya mempengaruhi hidup saya, hingga suatu waktu di masa depan.</p>
<p>Pada usia 12 tahun itu juga saya memutuskan menjadi seorang atheis,  untuk menghukum Tuhan. Kala itu saya menjadi seorang bocah yang marah. Saya marah kepada dunia, kepada diri sendiri. Dan yang paling parah, saya marah kepada Tuhan.</p>
<p>Di awal usia remaja, saya berusaha menarik perhatian teman-teman di sekolah menengah umum dengan melakukan apa saja. Saya menyadari banyak hal yang  harus dipelajari. Sekolah  umum sangat berbeda dengan sekolah agama. Saya memaksa teman-teman untuk mengajarkan apa yang tidak saya dapati di sekolah agama. Tak lama kemudian saya pun mempunyai kebiasaan baru. Saya sering menyumpah-nyumpah dan mengolok-olok orang yang lebih lemah dari saya.</p>
<p>Meskipun saya berusaha keras untuk bisa diterima di lingkungan baru, sebenarnya saya tidak pernah berhasil melakukannya. Saya tetap saja dilecehkan, para gadis mengolok-olok dan sebagainya.</p>
<p>Untuk anak seusia saya saat itu, keadaan tersebut sangatlah mengerikan. Akhirnya saya pun menarik diri dari lingkungan. Masa remaja penuh dengan penderitaan dan kesepian. Kedua orangtua berusaha berbicara dengan saya. Namun, saya bersikap memusuhi dan tidak menghormati mereka.</p>
<p>Musim panas tahun 1996 saya lulus sekolah menengah. Saya merasa harus berubah memperbaiki diri. Karena tidak mungkin saya terus menerus berkelakuan buruk.</p>
<p>Saya diterima di sebuah sekolah teknik setempat. Saya bertekad untuk melanjutkan sekolah dan mencari kerja. Menurut saya dengan demikian pasti saya akan bahagia.Saya bekerja di sebuah restoran cepat saji tak jauh dari rumah.</p>
<p>Beberapa minggu sebelum sekolah dimulai, teman kerja mengajak saya untuk pindah tinggal bersama dengan mereka. Bagi saya, ini sepertinya jawaban atas masalah-masalah saya! Saya akan meninggalkan rumah, melupakan keluarga, kemudian berkumpul bersama teman-teman sepanjang waktu.</p>
<p>Suatu malam saya menyampaikan kepada  orangtua bahwa saya akan pindah, tinggal bersama teman-teman. Mereka mengatakan tidak boleh. Menurut mereka saya belum siap untuk itu, karenanya mereka tidak mengijinkan. Kala itu saya berusia 17 tahun dan sangat keras kepala. Saya menyumpahi mereka dengan kata-kata kasar &#8212; yang akhirnya saya sesali hingga saat ini. Saya merasa bahagia dengan kebebasaan saya, merasa merdeka dan saya bisa mengikuti apa saja kemauan saya. Saya pindah, tinggal bersama teman2 dan tidak bicara dengan kedua orangtua untuk waktu yang cukup lama setelah kejadian itu.</p>
<p>Saya masih sekolah dan bekerja ketika teman sekamar mengenalkan saya dengan mariyuana. Saya langsung menyukainya pada hisapan pertama! Saya mulai menghisapnya sedikit di rumah sepulang kerja untuk menenangkan diri. Tak lama kemudian saya mulai menghisapnya  lebih banyak, lagi dan lagi. Hingga pada suatu waktu, pada hari Senin pagi, saya tersadar bahwa saya harus berangkat sekolah. Tak mungkin saya pergi ke sekolah dalam keadaan mabuk. Saya pikir tidak mengapa membolos sehari saja. Esok hari saya akan kembali bersekolah, toh teman-teman tidak akan merindukan saya. Namun, kenyataannya saya tidak pernah kembali ke sekolah sejak hari itu. Saya merasa keadaan saya sangat baik pada masa itu. Saya mencuri makanan di restoran dan saya bisa menghisap mariyuana sesuka hati, jadi untuk apa pergi ke sekolah?</p>
<p>Saya merasa menjalani hidup yang hebat, di tempat kerja saya menjadi &#8220;anak bandel&#8221; dan para gadis mulai memperhatikan saya. Saya mencoba narkoba yang lebih keras, tapi alhamdulillah, saya diselamatkan dari hal yang sangat buruk. Hal yang sangat aneh adalah, ketika saya tidak mabuk, saya merasa sangat merana. Saya merasa tidak berguna dan sama sekali tak berharga. Saya mencuri barang-barang di tempat kerja dan milik teman agar bisa terus membeli narkoba.</p>
<p>Saya mulai merasa ketakutan terhadap orang-orang di sekitar, dan merasa polisi mengejar-ngejar saya setiap saat. Saya merasa hancur dan perlu mencari solusi. Saya pikir agama dapat membantu saya.</p>
<p>Saya ingat pernah menyaksikan film tentang penyihir, dan menurut saya hal itu tepat untuk saya. Saya membeli buku-buku tentang Wicca dan penyembahan kepada alam. Saya mendapati bahwa ajaran itu menganjurkan untuk menggunakan obat-obat alami, oleh karena itu saya terus mempercayainya. Orang-orang bertanya apakah saya percaya kepada Tuhan. Kami melakukan dialog yang aneh saat &#8220;kerasukan&#8221;. Ketika itu saya ingat bahwa saya menjawab bahwa saya tidak percaya Tuhan sama sekali. Saya percaya ada banyak tuhan yang tidak sempurna, sama seperti saya.</p>
<p>Ada satu teman yang dekat dengan saya. Ia seorang Kristen yang &#8220;terlahir kembali&#8221;. Ia selalu menceramahi saya, meskipun saya mengolok-olok kepercayaannya di setiap waktu.  Ia adalah satu-satunya teman yang tidak menghakimi saya saat itu, oleh karena itu ketika ia mengajak untuk mengikuti kemah akhir pekan bagi para pemuda saya mengiyakan. Saya pikir, saya akan bisa tertawa terbahak-bahak dengan mengolok-olok mereka para pengikut Bibel. Di malam kedua, mereka melakukan peribadatan di sebuah aula besar. Mereka memainkan berbagai macam musik pujian kepada Tuhan. Saya memperhatikan mereka, tua-muda, laki-perempuan menangis memohon ampun. Saya merasa tersentuh dan mulai mengucapkan doa dengan suara pelan, &#8220;Tuhan, saya sadar selama ini telah menjadi orang yang sangat buruk, tolonglah saya, maafkan saya, dan biarkan saya memulainya kembali.&#8221; Saya diliputi emosi yang sangat dalam, terasa air mata membasahi pipi. Saat itu saya memutuskan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat saya. Saya mengangkat tangan ke atas dan mulai berputar menari-nari (sungguh-sungguh menari!). Semua orang Kristen di sekeliling saya melihat saya dengan terpana, orang yang selama ini mengolok-olok mereka dan berkata betapa bodohnya mereka yang percaya kepada Tuhan, sekarang menari-nari dan memuja Tuhan!</p>
<p>Saya kembali ke rumah, saya membuang semua narkoba, racun dan para gadis. Saya mulai menyampaikan kepada teman-teman bahwa mereka perlu menjadi pemeluk Kristen dan harus diselamatkan. Saya terkejut mereka menolak ajakan saya, karena sebelumnya mereka selalu mendengarkan kata-kata saya.  Akhirnya saya kembali ke rumah orangtua dan mulai menghujani mereka dengan alasan-alasan mengapa mereka harus menjadi penganut Kristen. Mereka penganut Katolik, mereka merasa sudah menjadi orang Kristen. Tapi menurut saya mereka belum menjadi penganut Kristen karena mereka orang Katolik menyembah orang yang dianggap suci.  Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan rumah lagi, namun kali ini dengan alasan yang bagus, dan saya diberi pekerjaan oleh kakek yang ingin menolong saya bangkit kembali dari keterpurukan.</p>
<p>Saya mulai sering mendatangi &#8220;rumah pemuda Kristen&#8221;, yang merupakan sebuah rumah di mana para pemuda dapat berkumpul, bebas dari tekanan keluarga dan berdiskusi tentang agama Kristen. Saya paling tua di antara para pemuda di sana, sehingga saya menjadi orang yang paling banyak bicara dan berusaha membuat para  pemuda  itu merasa  nyaman. Namun saya merasa seperti seorang penipu, karena saat itu saya mulai kembali minum-minum dan berkencan dengan para gadis. Di siang hari saya bicara tentang Yesus dan kasihnya untuk mereka para pemuda, tapi di malam hari saya mabuk-mabukan.  Seorang teman berusaha menasehati dan mengajak saya kembali ke jalan yang benar.</p>
<p>Suatu hari, seorang pemuda membawa seorang temannya yang Muslim ke rumah pertemuan kami. Ia masih sangat muda, saya lupa siapa namanya. Yang saya ingat, teman saya berkata, &#8220;Saya  membawa teman ini, ia seorang Muslim dan saya ingin menolongnya untuk  menjadi seorang penganut Kristen.&#8221; Saya sangat kagum dengan bocah Muslim berusia 14 tahun itu. Ia sangat tenang dan ramah. Percaya atau tidak, ia membela dirinya sendiri dan Islam dihadapan sekelompok pemuda Kristen yang &#8220;menyerang&#8221; dirinya dan Islam! Ketika kami duduk menyampaikan banyak hal dengan mengutip kata-kata dari Bibel dalam keadaan semakin marah dan marah, ia hanya duduk dengan tenang, tersenyum dan menyampaikan kepada kami tentang perbuatan syirik menyekutukan Tuhan, dan tentang kasih sayang dalam Islam. Anak itu seperti seekor kijang di antara kepungan sekelompok hyena. Meskipun demikian, ia sepanjang waktu terus tersenyum ramah, tenang dan penuh hormat. Sungguh tak masuk akal!</p>
<p>Bocah Muslim itu meninggalkan sebuah Al-Qur&#8217;an di rak buku, entah ia lupa atau sengaja saya tidak tahu. Tapi saya kemudian mengambil dan mulai membacanya. Saya terkejut terhadap buku itu. Bagi saya buku itu lebih masuk akal daripada Bibel. Saya melemparnya ke sofa dan pergi dengan rasa marah. Tapi setelah membacanya, rasa  ragu mulai menghinggapi saya. Saya berusaha melupakan bocah Muslim itu dan berusaha menikmati waktu bersama pemuda-pemuda Kristen di rumah pertemuan. Kelompok pemuda Kristen biasa mengunjungi gereja-gereja yang berbeda di akhir pekan. Mereka menghabiskan waktu pada Sabtu malam di sebuah gereja besar, bukan di sebuah bar. Saya ingat di sebuah acara yang disebut The Well,  saya merasa begitu dekat dengan Tuhan dan ingin merendahkan diri kepada-Nya, dan saya ingin menunjukkan rasa cinta saya kepada Sang Pencipta.  Saya melakukan apa yang saya rasa wajar, saya bersujud. Saya bersujud seperti apa yang dilakukan orang-orang Muslim ketika mereka beribadah setiap harinya. Meskipun saya belum paham apa yang saya lakukan, saya merasa sangat nyaman. Saya merasa apa yang saya lakukan itu benar melebihi apapun yang pernah saya lakukan. Saya merasa sangat khusyuk.</p>
<p>Saya terus melakukan kegiatan seperti biasa, namun saya mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.</p>
<p>Pastur selalu mengajarkan bahwa kami harus mengikuti kehendak Tuhan, dan bagi saya tidak ada keinginan lain selain melakukannya, tapi saya tidak tahu caranya. Saya sering berdoa, &#8220;Tuhan, jadikan kehendakku adalah kehendak-Mu, dan buatlah aku mengikuti kehendak-Mu,&#8221; dan seterusnya. Tapi, setelah itu tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Perlahan terasa bahwa saya mulai menjauhi gereja, seiring dengan kepercayaan yang mulai surut. Pada saat itulah, teman baik yang dulu mengajak saya masuk Kristen, bersama seorang teman lainnya memperkosa gadis yang sudah saya pacari selama 2 tahun. Ketika peristiwa itu terjadi saya berada di ruangan lain dan terlalu mabuk untuk bisa mengetahui dan mencegahnya. Beberapa minggu kemudian, terungkap bahwa laki-laki yang mengelola rumah pertemuan remaja Kristen tempat saya berkumpul, pernah berbuat keji kepada seorang teman saya.</p>
<p>Dunia rasanya seperti tercabik-cabik. Saya dikhianati oleh teman dan orang-orang yang seharusnya dekat dengan Tuhan dan bekerja untuk surga. Tak ada lagi yang saya miliki, semuanya hampa. Hidup saya kembali kehilangan arah. Saya hanya bekerja, tidur dan berpesta. Tak lama kemudian  saya putus dengan pacar.  Rasa bersalah, marah dan sedih berkecamuk menjadi satu dalam diri ini. Bagaimana bisa  Sang Pencipta membiarkan terjadi apa yang saya alami selama ini?</p>
<p>Kemudian pada suatu hari, manajer tempat saya bekerja memberitahukan akan ada seorang Muslim yang bekerja bersama kami, ia sangat religius dan sebaiknya kami bersikap sopan padanya. Sejak hari pertama Muslim itu bekerja, ia mulai berdakwah. Ia tidak pernah melewatkan waktu menerangkan tentang Islam kepada kami. Semua orang berkata kepadanya bahwa mereka tidak mau mendengar apapun tentang Islam. Kecuali saya.  Jiwa saya menangis, bahkan kepala batu saya tidak mampu menghentikannya. Kami mulai bekerja sama, saling menceritakan dan berdiskusi tentang agama kami. Saya sudah tidak lagi percaya Kristen sama sekali, namun ketika ia mulai  bertanya banyak hal, saya  merasa sebagai &#8220;tentara pembela salib&#8221; yang membela agama melawan Muslim itu.</p>
<p>Saya mulai menyadari bahwa saya sedang didorong ke suatu arah, maka saya berdoa terus dan terus kepada Sang Pencipta dan menyerahkan semua kepada-Nya. Saya merasa doa saya sedang dijawab; saya pulang ke rumah dan berbaring di kasur. Kemudian saya merasa harus berdoa, rasanya seperti saya belum pernah berdoa sebelumnya. Saya duduk di atas kasur dan memohon, &#8220;Yesus, Tuhan, Budha, atau siapapun Engkau, tolong, tolong bimbinglah saya, saya membutuhkan-Mu! Saya sudah banyak melakukan dosa dalam hidup ini, dan saya membutuhkan pertolongan-Mu! Jika Kristen adalah agama yang benar, maka buatlah saya semakin teguh dengannya. Jika Islam yang benar, maka bawalah saya kepadanya!&#8221;  Saya berhenti berdoa dan air mata mulai surut, jiwa ini rasanya begitu tentram, saya sudah menemukan jawabannya. Esok harinya saya berangkat bekerja dan berkata kepada saudara Muslim itu, &#8220;bagaimana cara &#8216;menyapa&#8217; mu?&#8221; Ia bertanya apa maksud saya. Saya katakan padanya, &#8220;Saya ingin masuk Islam.&#8221; Ia memandang saya dan berseru, &#8220;Allahu Akbar!&#8221; Kami berangkulan sekian lama, saya berterima kasih untuk semua kepadanya. Dan saya memulai perjalanan di dalam Islam.</p>
<p>Mengenang kembali apa yang telah terjadi sepanjang hidup ini, saya merasa sepertinya memang dipersiapkan untuk menjadi seorang Muslim. Saya ditunjukkan betapa besarnya ampunan dan kasih sayang Allah.  Semua yang terjadi dalam hidup saya memberikan pelajaran. Saya  belajar betapa indahnya ajaran Islam yang melarang  narkoba, seks bebas dan perlunya hijab. Akhirnya saya berada di jalan yang benar, menjalani hidup dengan tenang, dan berusaha menjadi seorang Muslim yang baik.</p>
<p>Tantangan dalam hidup akan selalu ada, sebagaimana yang saya dan Anda rasakan. Tapi dengan adanya tantangan ini, dengan sakit dalam dada yang kita rasakan, kita menjadi lebih kuat. Kita belajar, dan akhirnya kembali kepada Allah. Kita yang telah menerima Islam dalam hidup ini, sungguh telah mendapatkan berkah dan keberuntungan. Kita diberikan kesempatan, kesempatan untuk mendapat kasih sayang dan ampunan yang sangat besar. Rahmat yang sebenarnya tidak layak kita terima, namun Allah berkehendak untuk memberikannya kepada kita di hari akhir nanti.</p>
<p>Saya telah berdamai dengan keluarga dan mulai kembali menyerahkan hidup kepada kehendak Allah. Islam sungguh sebuah pedoman hidup yang benar. Meskipun kita mendapat perlakuan buruk dari sesama Muslim atau non Muslim, kita harus bersabar dan menyerahkan semuanya kembali kepada Allah.</p>
<p>Jika ada kata yang salah maka datangnya dari saya, dan segala yang benar datangnya dari Allah. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi Muhammad. Amin. [di, berbagai sumber/<a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/8682--di-ujung-jalan-berliku-terdapat-telaga-kedamaian-.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/di-ujung-jalan-berliku-terdapat-telaga-kedamaian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersyahadat Setelah 8 Tahun Baca al-Quran</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bersyahadat-setelah-8-tahun-baca-al-quran</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bersyahadat-setelah-8-tahun-baca-al-quran#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 23:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2634</guid>
		<description><![CDATA[Anne Collins ingin berhubungan langsung dengan Allah yang dapat memberikannya ampunan tanpa perantara. Itu setelah 8 tahun membaca Al Quran 
Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa sekarang&#8211;contohnya, sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orangtua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Anne Collins ingin berhubungan langsung dengan Allah yang dapat memberikannya ampunan tanpa perantara. Itu setelah 8 tahun membaca Al Quran </em></p>
<p>Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa sekarang&#8211;contohnya, sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orangtua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta ke rumah. Ibu saya mengajar di sekolah minggu, dan saya membantunya</p>
<p>Pastinya saya lebih relijius dibandingkan anak-anak lainnya, meskipun saya tidak merasa seperti itu dulu. Satu saat ketika ulang tahun bibi saya memberi hadiah sebuah Bibel, dan untuk saudara perempuan saya ia memberi sebuah boneka. Lain waktu saya minta dibelikan bukudoa kepada orang tua, dan saya membacanya setiap hari selama beberapa tahun.</p>
<p>Ketika saya SMP, saya mengikuti program belajar Bibel selama dua tahun. Ketika itu saya sudah mengkaji sebagian dari Bibel, meskipun demikian saya belum memahaminya dengan baik. Kemudian saya mendapat kesempatan mempelajarinya lebih dalam. Sayangnya, kami belajar banyak petikan di dalam Perjanjian Lama dan Baru yang tak dapat dipahami, bahkan terasa aneh.</p>
<p>Sebagai contoh, Bibel mengajarkan tentang adanya dosa awal, yang artinya semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Saya punya adik bayi, dan saya tahu ia tidak berdosa.<span id="more-2634"></span></p>
<p>Bibel mengandung banyak cerita aneh dan sangat meresahkan, misalnya cerita tentang nabi Ibrahim dan Daud. Saya tak dapat mengerti bagaimana mungkin para nabi bisa mempunyai kelakuan seperti yang diceritakan dalam Bibel.</p>
<p>Ada banyak hal lain dalam Bibel yang membingungkan saya, tapi saya tidak mempertanyakannya. Saya terlalu takut untuk bertanya&#8211;saya ingin dikenal sebagai &#8220;gadis baik&#8221;.</p>
<p>Alhamdulillah, akhirnya ada seorang anak laki-laki yang bertanya, dan ia terus bertanya.</p>
<p>Hal yang paling penting adalah tentang trinitas. Saya tidak bisa memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan terdiri dari tiga bagian, yang salah satunya adalah manusia? Di sekolah saya juga belajar mitologi Yunani dan Romawi, menurut saya pemikiran tentang trinitas dan orang suci yang punya kekuatan sama dengan pemikiran budaya Yunani dan Romawi yang mengenal banyak dewa, yang masing-masing bertanggung jawab atas aspek kehidupan yang berbeda (astagfirullah!). Bocah yang bertanya itu, banyak bertanya tentang trinitas. Ia mendapatkan banyak jawaban tapi tidak pernah puas. Sama seperti saya. Akhirnya guru kami, seorang profesor teologi dari Universitas Michigan, menyuruhnya untuk berdoa minta keteguhan iman. Saya pun berdoa.</p>
<p>Ketika saya SMA saya, diam-diam saya ingin menjadi seorang biarawati. Saya tertarik untuk melakukan peribadatan setiap harinya, tertarik kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Tuhan, dan menunjukkan sebuah gaya hidup yang relijius. Halangan atas ambisi ini hanya satu:  saya bukan seorang Katolik. Saya tinggal di  sebuah kota di wilayah Midwestern, di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak populer.</p>
<p>Saya bertemu seorang Muslim dari Libya. Ia menceritakan saya sedikit tentang Islam dan Al-Quran. Ia bilang Islam itu modern, agama samawi yang paling up-to-date. Karena saya menganggap Afrika dan Timur Tengah itu terbelakang, maka saya tidk bisa melihat Islam sebagai sesuatu yang modern.</p>
<p>Keluarga saya mengajaknya ke acara Natal di gereja. Bagi saya acara itu sangat menyentuh dan berkesan. Tapi diakhir acara ia bertanya, &#8220;Siapa yang membuat aturan peribadatan seperti itu? Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri, membungkuk dan berlutut? Siapa yang mengajarimu cara beribadah?&#8221; Saya menceritakan kepadanya sejarah awal gereja. Awalnya pertanyaannya itu sangat membuat saya marah, tapi kemudian saya jadi berpikir. Apakah orang-orang yang membuat tata cara peribadatan itu benar-benar punya kualifikasi untuk melakukannya? Bagaimana mereka bisa tahu bagaimana peribdatan itu harus dilakukan? Apakah mereka dapat wahyu tentang itu?</p>
<p>Saya sadar jika saya tidak mempercayai banyak ajaran Kristen, namun saya tetap pergi ke gereja. Ketika kredo Nicene dibacakan bersama-sama, saya hanya diam, saya tidak turut membacanya. Saya seperti orang asing di gereja.</p>
<p>Ada kejadian yang sangat mengejutkan. Seseorang yang sangat dekat dengan saya mengalami masalah dalam rumah tangganya. Ia pergi ke gereja untuk meminta nasihat. Orang dari gereja itu justru memanfaatkan kesusahan dan penderitaannya. Laki-laki itu mengajaknya ke sebuah motel dan kemudian merayunya.</p>
<p>Sebelumnya saya tidak memperhatikan benar apa peran rahib dalam gereja. Sejak peristiwa itu saya jadi memperhatikannya. Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa pengampunan lewat sebuah acara peribadatan suci yang harus dipimpin oleh seorang pendeta. Tidak ada pendeta, tidak ada pengampunan.</p>
<p>Saya mengunjungi gereja, duduk dan memperhatikan pendeta yang ada di depan. Mereka tidak lebih baik dari umat yang datang&#8211;sebagian di antaranya bahkan lebih buruk. Jadi bagaiamana bisa seorang manusia biasa diperlukan sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, dan langsung menerima pengampunannya?</p>
<p>Tak lama setelah itu, saya mendapati terjemahan Al-Qur&#8217;an di sebuah toko buku. Saya lalu membeli dan membacanya, kadang terus membaca, kadang terputus, selama delapan tahun. Selama itu saya juga mencari tahu tentang agama lain.</p>
<p>Saya semakin khawatir dan takut dengan dosa-dosa saya. Bagaimana saya tahu Tuhan akan memafkan dosa-dosa saya? Saya tidak lagi percaya dengan metode pengampunan ala Kristen akan berhasil. Beban-beban dosa begitu berat bagi saya, dan saya tidak tahu bagaimana membebaskan diri darinya. Saya sangat mengharapkan ampunan.</p>
<p><strong>Membaca  Al-Quran</strong></p>
<p><strong> </strong>Suatu kali, aku membaca Al-Quran yang bunyinya: “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat  persahabatannya dengan orang-orang beriiman ialah orang-orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.&#8221; Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada rahib-rahib, juga sesungghnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh? [Al-Maidah: 82-84]</p>
<p>Saya mulai berharap bahwa Islam mempunyai jawabannya. Tapi bagaimana cara saya mencari tahu? Dalam berita di televisi saya melihat Muslim beribadat. Mereka punya cara tertentu untuk berdo&#8217;a. Saya menemukan sebuah buku&#8211;yang ditulis oleh non Muslim&#8211;yang menjelaskan cara beribadah orang Islam. Kemudian saya mencoba melakukannya sendiri. Kala itu saya tidak tahu tentang taharah dan saya shalat dengan cara yang keliru. Saya terus berdoa dengan cara itu selama beberapa tahun.</p>
<p>Akhirnya kira-kira 8 tahun sejak pertama kali saya membeli terjemahan Al-Quran dulu, saya membaca: &#8220;Pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah  Ku-cukupkan  kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.&#8221; [Al- Maidah: 3]</p>
<p>Saya menangis bahagia, karena saya tahu, jauh sebelum bumi diciptakan, Allah telah menuliskan bahwa Al-Quran ini untuk saya. Allah mengetahui bahwa Anne Collins di Cheektowaga, New York, AS, akan membaca ayat ini pada bulan Mei 1986.</p>
<p>Saya tahu banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana cara shalat yang benar, sesuatu yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran. Masalahnya saya tidak kenal seorang Muslim satu pun.</p>
<p>Sekarang ini Muslim relatif mudah dijumpai di AS. Dulu saya tidak tahu di mana bisa bertemu mereka. Saya mendapatkan nomor telepon sebuah komunitas Muslim dari buku telepon. Saya lalu coba menghubunginya. Seorang laki-laki menjawab diseberang sana, saya panik lalu mematikan telepon. Apa yang akan saya katakan padanya? Bagaimana mereka akan menjawab pertanyaan saya? Apakah mereka akan curiga? Akankah mereka menerima saya, sementara mereka sudah saling memiliki dalam Islam?</p>
<p>Beberapa bulan kemudian saya kembali menelepon masjid itu berkali-kali. Dan setiap kali saya panik, saya menutupnya. Akhirnya, saya  menulis sebuah surat, isinya memnta informasi. Seorang ikhwan dari  masjid itu menelepon saya dan kemudian mengirimi saya selebaran tentang Islam. Saya katakan padanya bahwa saya ingin masuk Islam. Tapi ia berkata pada saya, &#8220;Tunggu hingga kamu yakin.&#8221; Jawabannya agar saya menunggu membuat saya kesal. Tapi saya sadar, ia benar. Saya harus yakin, sebab sekali menerima Islam, maka segala sesuatunya tidak akan pernah lagi sama.</p>
<p>Saya jadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Dalam beberapa kesempatan, saya mengendarai mobil menuju ke masjid (saat itu masjidnya berupa sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid). Saya berputar mengelilinginya beberapa kali sambil berharap akan melihat seorang Muslim, dan penasaran seperti apa keadaan di dalam masjid itu.</p>
<p>Satu hari di awal Nopember 1986, ketika saya memasak di dapur, sekonyong-konyong saya merasa jika saya sudah menjadi seorang Muslim. Masih takut-takut, saya mengirim surat lagi ke masjid itu.  Saya menulis: Saya percaya pada Allah, Allah yang Maha Esa, saya percaya bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, dan saya ingin tercatat sebagai orang yang bersaksi atasnya.</p>
<p>Ikhwan dari masjid itu menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan shahadat melalui telepon itu. Ia berkata bahwa Allah telah mengampuni semua dosa saya saat itu juga, dan saya seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir.</p>
<p>Saya merasa beban dosa-dosa menyingkir dari pundak. Dan saya menangis karena bahagia. Saya hanya sedikit tidur malam itu. Saya menangis, mengulang-ulang menyebut nama Allah. Ampunan yang saya cari telah didapat. Alhamdulillah. [di/iol/<a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/8683-2009-07-11-12-56-16.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bersyahadat-setelah-8-tahun-baca-al-quran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moisha Krivitsky, dari Sinagog Pindah ke Masjid</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/moisha-krivitsky-dari-sinagog-pindah-ke-masjid</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/moisha-krivitsky-dari-sinagog-pindah-ke-masjid#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 23:44:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2632</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Islam karena dimintai pendapat tentang terjemahan Al-Qur&#8217;an yang dibuat oleh Krachkovsky
Setiap orang menempuh jalannya masing-masing dalam menuju kebenaran. Bagi seorang Moisha Krivitsky, jalan yang ditempuhnya melewati fakultas hukum, sebuah sinagog dan penjara. Ia seorang calon pengacara yang menjadi rabi, lalu memeluk Islam dan pernah dijebloskan ke penjara.
Sekarang Musa &#8212; demikian nama yang yang dipilihnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mengenal Islam karena dimintai pendapat tentang terjemahan Al-Qur&#8217;an yang dibuat oleh Krachkovsky</em></p>
<p>Setiap orang menempuh jalannya masing-masing dalam menuju kebenaran. Bagi seorang Moisha Krivitsky, jalan yang ditempuhnya melewati fakultas hukum, sebuah sinagog dan penjara. Ia seorang calon pengacara yang menjadi rabi, lalu memeluk Islam dan pernah dijebloskan ke penjara.</p>
<p>Sekarang Musa &#8212; demikian nama yang yang dipilihnya setelah ia menjadi seorang Muslim, tinggal di sebuah masjid kecil di Al-Burikent, sebuah daerah pegungungan di Makhachkala, dan bekerja sebagai seorang penjaga di Masjid Jami Pusat.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan, kami berbincang-bincang mengenai dirinya, bagaimana ia menjadi seorang Muslim dan tinggal di sebuah masjid.<span id="more-2632"></span></p>
<p>Musa mengawali ceritanya dengan menyampaikan bahwa ia seperti begitu saja tiba di masjid itu dan kemudian tinggal di sana. Namun sebelumnya ia menempuh perjalan yang cukup sulit.</p>
<p>“Jika Anda mendalami Islam, Anda akan mengerti bahwa Islam adalah agama yang sangat mudah. Namun, perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Islam bisa jadi sangat sulit. Seringkali orang tidak paham mengapa seseorang bisa berpindah agama, memeluk Islam. Islam itu seperti apa yang kita bayangkan dan yang tidak kita bayangkan,” katanya.</p>
<p>Ketika dikatakan kepadanya bahwa seorang rabi pindah agama memeluk Islam adalah sesuatu yang cukup menghebohkan, ia berkata, “Sebenarnya itu sudah tidak lagi menghebohkan &#8212; sudah lebih dari satu tahun saya menjadi Muslim. Awalnya memang aneh juga buat saya. Tapi keputusan yang saya buat itu bukanlah keputusan yang tiba-tiba. Sebelum menjadi Muslim, saya membaca buku-buku tentangnya, dan saya pun tertarik.”</p>
<p>“Saya lulus sekolah agama setingkat sekolah menengah atas. Setelah kelulusan saya pergi ke Makhachkala dan menjadi seorang rabi di sana.”</p>
<p>“Saya berasal dari sebuah daerah yang sangat jauh. Tapi sekarang saya sudah seperti menjadi orang Daghestan sejati. Di sini saya punya banyak teman, Muslim dan juga orang-orang yang sangat jauh dari Islam.”</p>
<p>Musa kemudian menceritakan pengalamannya ketika masih di sinagog.</p>
<p>“Ketika itu situasinya cukup paradoks. Ada sebuah masjid di dekat sinagog tempat saya bekerja. Sebuah masjid kota. Kadang-kadang teman-teman saya yang merupakan jama&#8217;ah masjid itu datang ke tempat saya, hanya untuk berbincang-bincang. Kadangkala saya pun mendatangi masjid itu, untuk melihat bagaimana peribadatan di sana dilakukan. Saya sangat tertarik. Jadilah kami hidup layaknya bertetangga yang baik. Dan pada suatu saat di bulan Ramadhan, seorang wanita datang mengunjungi saya &#8212; yang kemudian saya ketahui berasal dari keluarga yang turun-temurun memeluk Islam. Ia meminta pendapat saya mengenai terjemahan Al-Qur&#8217;an yang dibuat oleh Krachkovsky. Sebagai balasannya, ia meminta saya untuk memberikan Taurat. Maka kemudian Al-Qur&#8217;an itu saya baca, kira-kira sepuluh kali.”</p>
<p>“Awalnya sangat sulit, tapi kemudian setahap demi setahap saya saya mulai mengerti, dan bisa menangkap ajaran dasar Islam.”</p>
<p>Sejenak Musa menghentikan ceritanya. Ia melihat ke arah seorang putra teman saya, Ahmad kecil yang berusia enam tahun tertidur di pelataran masjid. Ia menyarankan agar bocah itu dipindahkan ke dalam masjid.</p>
<p>Kemudian Musa melanjutkan ceritanya.</p>
<p>“Wanita itu mengembalikan Tauratnya. Menurut dia sangat sulit baginya untuk membaca serta memahami isinya. Sebagaimana membaca literatur agama, diperlukan konsentrasi dan perhatian yang sangat tinggi.”</p>
<p>&#8220;Saya menemukan jawaban di Qur&#8217;an tentang banyak pertanyaan Tapi tentu tidak semuanya, karena yang saya baca bukan asli bahasa Arab, melainkan terjemahannya.” Jawab Musa ketika ditanya apakah ketika itu ia mulai membandingkan antara Al-Qur&#8217;an dengan Taurat.</p>
<p>“Meskipun demikian saya mulai memahami banyak hal,” lanjutnya.</p>
<p>Kami bertanya apakah itu artinya ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Taurat?</p>
<p>“Saya tidak tahu, dalam setiap hal ada yang Allah kehendaki di sana,” katanya.</p>
<p>“Sepertinya, orang-orang Yahudi yang masuk Islam pada jaman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, tidak menemukan jawaban di Taurat atas beberapa pertanyaan mereka. Namun, mereka menemukannya dalam Islam. Mungkin juga mereka tertarik akan kepribadian Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, akhlaknya, dan caranya berkomunikasi dengan orang. Itu semua adalah hal yang penting.”</p>
<p>Lalu pertanyaan seperti apa yang tidak bisa dijawab oleh Taurat?</p>
<p>“Sebelum saya ada kontak dengan Islam, ada pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tidak saya upayakan untuk mencari jawabannya. Sepertinya sebuah buku berperan penting di sini, yaitu yang ditulis oleh Ahmad Deedat, cendikiawan yang berasal dari Afrika Selatan. Buku yang membandingkan Al-Qur&#8217;an dengan Bibel.”</p>
<p>“Ada satu kalimat kunci, yang sangat dikenal oleh mereka yang akrab dengan masalah-masalah keagamaan, yaitu ikutilah Nabi Muhammad, seorang rasul yang akan datang kemudian. Dan ketika saya mempelajari Islam, saya yakin bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, adalah nabi yang benar, yang harus diikuti. Keduanya, Bibel dan Taurat menyuruh kita untuk melakukannya.”</p>
<p>Apakah yang Taurat katakan mengenai nabi yang terakhir itu?</p>
<p>“Kita tidak akan menemukan namanya di dalam Taurat. Tapi, kita bisa mengetahui ciri-cirinya dengan kunci khusus. Sebagai contoh, kita bisa mengetahuinya dengan melihat sejarah orang ini dalam masalah peribadatan. Satu hal yang menggambarkan tentang Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam adalah beliau akan menyembah hanya kepada satu Tuhan saja, Pencipta Tunggal dari dunia ini. Dan Nabi Muhammad cocok dengan ciri-ciri yang diberikan.”</p>
<p>“Ketika saya membaca mengenai hal itu, saya menjadi sangat tertarik. Saya tidak tahu apa-apa tentang Islam sebelumnya. Kemudian saya berusaha mengkajinya lebih dalam, dan mencari tahu apakah ada mukjizat dan tanda-tanda berkaitan dengan nabi itu.”</p>
<p>“Dalam Bibel dikatakan bahwa Tuhan memberikan mujizat kepada para nabi untuk menegaskan tugas khusus yang diberikan kepadanya di mata orang banyak</p>
<p>“Saya bertanya kepada para ulama tenang hal ini, mereka mengatakan, &#8216;Ini sekumpulan hadits shahih yang menggambarkan mukjizat-mukjizat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam. Kemudian saya membacanya dan menemukan bahwa beliau sering berkata, ada para nabi dan rasul yang pernah diutus sebelum dirinya.”</p>
<p>“Kita dapat menemukan nama-namanya dalam Bibel dan juga Taurat. Ketika saya mulai tertarik lebih dalam, hal itu kedegarannya seperti aneh bagi saya.”</p>
<p>“Akhirnya, apa yang saya lakukan membawa saya kepada keadaan sekarang ini. Kadang saya berpikir, mengapa saya lakukan ini semua? Mungkin saya harus bertaubat karena punya pikiran seperti itu.”</p>
<p>Kami bertanya kepadanya, setelah menjadi Muslim, apakah ia merasa punya tanggung jawab yang lebih terhadapnya, atau ada perasaan lain.</p>
<p>Musa menjawab, “Ya, ada rasa tanggung jawab. Tapi juga ada yang lain. Saya katakan dengan tegas, ketika seseorang menjadi Muslim, berarti ia menapakkan kedua kakinya ke tanah dengan kuat. Islam sangat membantu orang-orang. Saya tidak jujur jika mengatakan bahwa di Daghestan ini semua adalah Muslim yang sebenarnya.”</p>
<p>“Kadang kami berdiskusi mengenai hal itu di masjid. Saya katakan tidak banyak orang Islam yang benar-benar Muslim di Daghestan. Hanya para ustadz dan murid-muridnya. Selebihnya, kita ini hanya orang-orang yang &#8216;calon Muslim&#8217;. Saya tidak bisa mengatakan bahwa kita ini umumnya telah mengikuti apa yang diajarkan dalam sunnah nabi. Kita hanya berusaha mengikutinya. Dan kita masih banyak tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Sebaliknya, kita malah berusaha berkelit mencari alasan-alasan yang masuk akal.”</p>
<p>Kenyataan bahwa banyak orang Islam yang tidak memegang teguh dan menjalankan agamanya dengan benar, sempat membuat Musa bingung.</p>
<p>“Kita harusnya berusaha keras menjalankan kewajiban kita. Sulit bagi saya menyaksikan hal ini, kadang saya dibuyarkan oleh apa yang terjadi di sekitar. Saya berusaha mengatasinya, dan kelemahan saya terlihat jelas di sini. Bukan berarti saya putus asa. Tapi saya juga tidak berhak mengatakan bahwa saya sudah menjalankan Islam dengan sebenarnya.”</p>
<p>Ada hal yang ia tidak pernah pikirkan sebelum masuk Islam.</p>
<p>“Ketika saya memutuskan bahwa saya harus menjadi seorang Muslim, saya pikir Islam itu tidak &#8216;bercabang-cabang&#8217;, hanya satu jalan atau seperti sebuah samudera yang tidak terbelah. Tapi kemudian saya menemukan ada beberapa cabang pemikiran dalam Islam. Dan sejak itu mulai muncul beberapa pertanyaan. Cabang-cabang pemikiran itu seperti pusaran air [yang menarik orang masuk ke dalamnya] yang berputar, terus berputar dengan keras. Orang berkata kepada Anda, &#8216;Lihat, kami mengikuti hadits, hanya kami yang mengerti Qur&#8217;an dengan benar&#8217;. Lalu Anda mengikuti orang itu, karena Anda pikir orang itu berkata hal yang benar. Dan karena Anda ingin membuat Allah ridha.”</p>
<p>“Tapi beberapa bulan kemudian Anda akan tahu, bahwa semua klaim seperti itu adalah keliru. Allah yang menjadikan kita bisa berbuat baik. Tentu Anda akan berpikir, jika mereka mengaku menempuh jalan yang benar, maka mengapa mereka juga melakukan hal yang salah?”</p>
<p>Kemudian Musa bercerita tentang pengalamannya dijebloskan ke penjara.</p>
<p>“Allah berkehendak atas segala sesuatunya. Dan itu termasuk kehendak Allah.”</p>
<p>“Dari apa yang saya alami selama ini, hidup di balik jeruji besi, mengajarkan sesuatu kepada saya.”</p>
<p>“Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah acara di televisi yang menampilkan seorang wakil dari Republik Chechnya di Moskow. Saya lupa namanya, hanya ingat jika namanya itu bagus dan kedengaran seperti nama orang Perancis, seperti Binaud atau semacamnya. Ia mengatakan bahwa penguasa akan melakukan tindakan seperti sebelumnya, yaitu menyatroni rumah-rumah, menyusupkan obat terlarang dan senjata kepada orang-orang [sebagai jebakan]. Kemudian orang akan turun ke jalan melakukan protes. Hal seperti itu sering terjadi di sini.”</p>
<p>“Mereka juga menyusupkannya kepada saya. Kemudian pada malam harinya mereka mendatangi dan membawa saya pergi. Sebelumnya, saya menangkap ada semacam permainan hukum di sini. Saya tidak percaya mereka tega melakukan hal seperti itu. Itu bukanlah cara yang benar. Saya tidak boleh berkata kasar mengomentariya, karena Islam melarang hal itu. Yang pasti Allah Maha Mengetahui, dan orang-orang itu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya di akhirat nanti.”</p>
<p>“Tigabulan di penjara, justru menebalkan iman saya.”<br />
“Saya melihat bagaimana orang-orang bertahan dalam situasi yang sangat parah, baik itu Muslim maupun non Muslim. Seharusnya mereka yang memegang kekuasaan berpikir dengan baik. Bahwa mereka tidak perlu berusaha membasmi Islam dengan cara yang tidak baik.”</p>
<p>Kami bertanya, mungkin saja ia membuat takut penguasa.</p>
<p>Musa menjawab, “Tidak mungkin, bahkan anak kecil saja tidak takut kepada saya.”</p>
<p>Pembicaraan kami terputus ketika adzan yang sangat indah dikumandangkan.</p>
<p>“Apakah ada seorang muadzin di masjid ini?” kami bertanya karena penasaran.</p>
<p>“Ya, namanya Muamat Tarif. Yang barusan kita dengar adalah suaranya,” kata Musa.</p>
<p>“Apakah hanya Anda dan dia yang bekerja di masjid ini?” tanya kami lebih lanjut.</p>
<p>“Sebenarnya hanya dia yang bekerja di sini. Saya masih agak canggung setelah keluar dari penjara. Ia mengijinkan saya tinggal di sini. Agak sulit untuk menceritakannya. Ada sedikit masalah dengan orang-orang yang tinggal satu flat dengan saya. Sepertinya tidak ada saling memahami antara kami. Dan saya mulai melihat mereka agak berbeda,” cerita Musa.</p>
<p>Ingin rasanya mendengar cerita Musa lebih banyak lagi. Tapi tidak baik mencari-cari tahu tentang kehidupan seseorang lebih jauh.</p>
<p>Orang-orang mulai berdatangan ke masjid. Kami pun bangkit dan bergegas untuk bersama-sama menunaikan shalat. [di/msc dengan narasumber/<a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/8684-2009-07-11-13-05-15.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/moisha-krivitsky-dari-sinagog-pindah-ke-masjid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Kristen Justru Setelah Masuk Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/memahami-kristen-justru-setelah-masuk-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/memahami-kristen-justru-setelah-masuk-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 22:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2630</guid>
		<description><![CDATA[Troy tidak mudah percaya berita di media Barat tentang Islam yang selalu digambarkan secara negatif. Dampaknya ia masuk Islam

Nama saya Troy Bagnall. Usia 22 tahun dan sebentar lagi 23 tahun. Mahasiswa di Arizona State University (ASU), berasal dari Poenix, Arizona. Saya mempelajari film dan media di ASU.
Saya masuk Islam Februari lalu karena berbagai alasan. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Troy tidak mudah percaya berita di media Barat tentang Islam yang selalu digambarkan secara negatif. Dampaknya ia masuk Islam</em><br />
<em><strong><br />
</strong></em><em><strong></strong></em>Nama saya Troy Bagnall. Usia 22 tahun dan sebentar lagi 23 tahun. Mahasiswa di Arizona State University (ASU), berasal dari Poenix, Arizona. Saya mempelajari film dan media di ASU.</p>
<p>Saya masuk Islam Februari lalu karena berbagai alasan. Saya sudah tertarik dengan Islam cukup lama, karena Islam merupakan topik hangat dalam berita-berita dan peristiwa belakangan ini. Saya tertarik dengan sejarah kuno dan sejarah dunia, serta masalah perang dan politik.</p>
<p>Jika saya mendengar berita mengenai sebuah konflik yang terjadi di berbagai tempat seperti Sudan, Somalia, Palestina, Iraq, Afganistan, Pakistan, Chechnya, Libanon, dan lain-lain, saya akan segera mencari tahu informasi mengenai konflik tersebut sehingga saya bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada konflik-konflik itu, sebab media di sini (Amerika) cenderung tidak jelas mengabarkannya secara jujur dan tanpa prasangka apa-apa.<span id="more-2630"></span></p>
<p>Ketika saya mencari informasi tentang konflik terkait, saya juga tertarik untuk mempelajari sejarah dunia Muslim. Saya menghabiskan waktu dengan belajar sendiri mengenai sejarah dan kebudayaan dunia Muslim. Saya juga mengambil kelas peradaban Islam di ASU. Saat saya belajar sejarah dan kebudayaan dunia Muslim, saya tertarik dengan agamanya, Islam.</p>
<p>Saya dibesarkan sebagai seorang Kristen, tapi berhenti mengamalkan ajarannya sejak usia 15 tahun. Menurut saya pribadi, ajaran Kristen sangat membingungkan dan tidak masuk akal. Masalah doktrin trinitas dan penebusan dosa sangat tidak masuk akal, apalagi mengingat di dalam Bibel juga terdapat ayat-ayat yang bertentangan dengan doktrin itu.</p>
<p>Ketika saya mengambil kelas sejarah Islam, saya bertemu dengan saudara Mohammad Totah yang sangat paham masalah Bibel, Al-Qur&#8217;an, dan seluruh 3 agama Ibrahimi lainnya. Kami melakukan banyak diskusi tentang perbandingan agama. Di samping itu saya juga melakukan penelitian sendiri. Saya mendapat lebih banyak pelajaran bagaimana ajaran Kristen itu bertentangan dengan kitabnya sendiri.</p>
<p>Saya juga banyak belajar bahwa begitu banyak ajaran dalam Bibel yang sebenarnya mendukung Islam. Hal lain yang saya temukan adalah, ajaran Barnabas mengabarkan dan menyebut nama akan kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam. Dan ajaran itu dihilangkan dari dalam Bibel.</p>
<p>Mengenai Qur&#8217;an yang sangat mengagumkan dan tidak ada noda sedikit pun, saya mendapati Qur&#8217;an itu sangat sederhana dan sangat mudah untuk dipahami. Islam sendiri sangat sederhana dan lugas tanpa ada doktrin yang rumit. Dalam Islam tidak ada kepercayaan buta seperti yang ada dalam Kristen.</p>
<p>Islam mengakui adanya Nabi terakhir, yang tidak ada dalam kepercayaan Yahudi, karena Yahudi mengingkari Nabi yang akan datang, seperti Nabi Isa alaihissalam.</p>
<p>Semakin saya mempelajari Islam, saya memahami ketidakpastian yang dulu saya temui dalam ajaran Kristen. Sebenarnya saya lebih mengetahui banyak tentang Bibel dan ajaran Kristen sejak saya memeluk agama Islam daripada ketika saya masih beragama Kristen.</p>
<p>Sejak menjadi Muslim saya juga merasa lebih dekat dengan Tuhan. Bukan bermaksud meremehkan Kristen, tapi menurut saya agama itu lebih mengajarkan ajaran Paus dan para murid Yesus lainnya dari pada ajaran Yesus (Nabi Isa) itu sendiri.</p>
<p>Saya juga banyak menghabiskan waktu belajar mengenai sejarah-sejarah agama semenjak mereka ada dan penyebarannya ke seluruh penjuru dunia. Saya tahu Islam, yang di Barat dipandang sebagai sebuah ajaran eksotis dari timur. Tapi sesungguhnya Islam mengajarkan apa yang dibawa oleh seluruh nabi yang diutus untuk mengajarkannya, yaitu penyembahan kepada Allah semata. Sangat menyebalkan melihat bagaimana media selalu menggambarkan Islam secara negatif.</p>
<p>Saya memahami jika ada konflik dan kekerasan di beberapa bagian dunia Islam, tapi konflik itu sebenarnya tidak lebih dari masalah politik.</p>
<p>Ya, saya akui sangat berat mempraktikkan ajaran Islam di tempat saya hidup, di Amerika, sementara media di sini terus-menerus selalu menjejali dengan stereotipe negatif atas Islam. Dan agak berat bagi saya karena banyak mahasiswa Amerika yang hidup bebas dan hura-hura. Meskipun demikian hal itu tidak terlalu menjadi masalah bagi saya, karena saya tipe seorang kutu buku.</p>
<p>Saya mendapat banyak pertanyaan dari non-Muslim seputar masalah politik, dan kebudayaan Timur Tengah. Dan saya harus menunjukkan kepada mereka, sangat berbeda antara apa itu Islam dengan ideologi politik dan adat kebiasaan budaya.</p>
<p>Timur Tengah sudah jelas merupakan pusat dunia Islam, tapi sangat menggemaskan juga bagaimana media selalu mengidentikkan Muslim dengan Timur Tengah. Karena Muslim berasal dari berbagai penjuru dunia. Saya kira ada rasisme di sana, sebab Barat sepertinya tidak melihat fakta bahwa Yahudi dan Kristen berasal dari Timur Tengah juga, sebagaimana Islam.</p>
<p>Secara ringkasnya, saya menerima Islam hanya karena saya bersaksi bahwa itu adalah agama yang benar dari Tuhan. Islam itu sederhana, lugas, dan tidak membingungkan.</p>
<p>Saya juga menyukai, bagaimana Islam memiliki ikatan universal di antara para pengikutnya. Islam telah menolong saya menjadi seorang manusia yang lebih baik.</p>
<p>Saya merasa lapang ketika mempraktikkan ajaran Islam. Hal itu membantu saya merasakan hidup yang lebih baik dan membantu saya mengatasi tekanan dan masalah-masalah dalam kehidupan.</p>
<p>Saya sungguh berharap, orang-orang di Barat lebih mendapatkan pendidikan tentang dunia Islam dan memahami Islam itu sesungguhnya, daripada mendengarkan kritik negatif dan tidak sepenuhnya benar seperti yang sering digambarkan media tentang Islam.</p>
<p>Saya berharap, kisah saya ini bisa memberi inspirasi bagi mereka yang tertarik dengan Islam agar mau belajar lebih banyak tentangnya. [di/iol/<a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/8788-2009-07-18-14-58-30.html" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p>ilustrasi syahadat imamthahir</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/memahami-kristen-justru-setelah-masuk-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Tinggalkan Anak-anakku Demi Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/aku-tinggalkan-anak-anakku-demi-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/aku-tinggalkan-anak-anakku-demi-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 23:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2628</guid>
		<description><![CDATA[Meski pedih, ia hancurkan rasa cinta kepada dua putranya tersayang, karena Kavita lebih memilih cintanya kepada Islam
Namaku dulu adalah Kavita, dan nama panggilanku Poonam. Setelah memeluk Islam, aku bernama Nur Fatima. Usiaku 30-an tahun. Tapi aku merasa baru berumur lima tahun, karena pengetahuanku tentang Islam tidak melebihi pengetahuan anak usia 5 tahun.
Aku dulu bersekolah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Meski pedih, ia hancurkan rasa cinta kepada dua putranya tersayang, karena Kavita lebih memilih cintanya kepada Islam</em></p>
<p>Namaku dulu adalah Kavita, dan nama panggilanku Poonam. Setelah memeluk Islam, aku bernama Nur Fatima. Usiaku 30-an tahun. Tapi aku merasa baru berumur lima tahun, karena pengetahuanku tentang Islam tidak melebihi pengetahuan anak usia 5 tahun.</p>
<p>Aku dulu bersekolah di Mumbai, di sebuah sekolah yang cukup besar khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan. Kemudian aku melanjutkan pendidikan ke Universitas <em>Cambridge</em>. Setelah menyelesaikan program master, aku mengambil banyak kursus komputer.<span id="more-2628"></span></p>
<p>Aku menyesal, banyak gelar duniawi yang sudah diraih, tapi aku belum melakukan apapun untuk kehidupan akhirat. Sekarang aku ingin melakukan sesuatu untuk akhiratku.</p>
<p>Lingkungan tempat aku dibesarkan, adalah lingkungan Hindu ekstrimis yang sangat membenci Islam. Keluargaku bagian dari dari organisasi Hindu garis keras, <em>Shiv Sena</em>.</p>
<p>Aku menikah di Mumbai, dan memiliki dua orang putra. Bersama suami dan anak-anak, kami kemudian pindah ke Bahrain.</p>
<p>Aku memeluk Islam setelah menikah, tapi aku sudah tidak meyukai menyembah dewa-dewa pujaanku sejak aku beranjak dewasa. Aku ingat, suatu hari aku membuang sesembahanku ke kamar mandi. Ketika ibu menegur aku, kukatakan padanya bahwa benda-benda itu tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Jadi mengapa kita meminta berkah dari mereka, menyembah mereka. Apa yang bisa mereka berikan kepada kita?</p>
<p>Ada sebuah ritual di keluarga kami, jika seorang gadis sudah menikah, maka ia membasuh kaki suaminya, lalu meminum air basuhannya. Tapi aku menolak melakukan hal itu sejak hari pertama menikah. Karena itu aku  dimarahi habis-habisan.</p>
<p>Ketika masih sendiri aku pernah mengikuti sekolah pendidikan guru, dan aku suka mengendarai mobil sendirian. Aku kadang mengunjungi sebuah Islamic Center terdekat. Di sana, aku mendengarkan pembicaraan orang, dan akhirnya mengetahui bahwa orang Islam tidak menyembah dewa.</p>
<p>Mereka tidak mencari karunia dari seseorang yang lain. Mereka tidak punya Baghawan. Aku suka cara pandang mereka. Pada akhirnya aku mengetahui, yang mereka sembah ternyata adalah Allah, Yang Mengurus segala sesuatu.</p>
<p>Aku terkesan sekali dengan shalat. Awalnya aku tidak tahu itu adalah cara orang Islam berdoa. Yang aku tahu orang Islam sering melakukannya. Dulu kusangka itu semacam olahraga. Aku baru mengetahui gerakan itu dinamakan shalat ketika mulai mengunjungi <em>Islamic Center</em>.</p>
<p>Aku sering bermimpi setiap kali tidur. Aku melihat ada sebuah ruangan persegi empat. Mimpi itu selalu mengganggu tidurku dan membuat aku terbangun dalam keadaan berkeringat. Ruangan yang sama selalu muncul dalam mimpi ketika aku tidur kembali.</p>
<p>Setelah menikah aku pindah ke Bahrain, tempat yang membantu aku memahami Islam dengan lebih baik. Karena itu adalah sebuah negara Muslim, maka aku dikelilingi oleh tetangga Muslim. Aku berteman dengan seorang  Muslimah. Ia jarang mengunjungiku, tapi aku sering mengunjunginya.</p>
<p>Suatu hari ia melarang aku mengunjungi rumahnya, karena waktu itu bulan Ramadhan, bulan untuk beribadah. &#8220;Ibadahku terganggu karena kamu berkunjung ke rumah,&#8221; begitu katanya.</p>
<p>Aku sangat ingin tahu tentang ibadah ritual yang dilakukan orang Islam. Oleh karena itu aku memintanya untuk tidak melarangku berkunjung ke rumahnya. Aku berkata, &#8220;Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku hanya akan melihat apa yang kamu lakukan. Aku tidak akan berkata apapun, dan hanya akan mendengar apa yang kamu baca.&#8221; Maka ia pun tidak melarangku berkunjung ke rumahnya.</p>
<p>Ketika aku melihatnya sedang beribadah, aku tertarik untuk menirukannya. Kemudian aku bertanya padanya tentang &#8220;gerak badan&#8221; itu. Ia memberitahu, itu namanya shalat. Dan buku yang selalu ia baca, adalah kitab suci Al-Quran.</p>
<p>Aku berharap bisa melakukan semua yang ia lakukan. Aku pulang ke rumah dan mengunci diri dalam kamar. Aku meniru semua apa yang dilakukan temanku secara diam-diam, meskipun aku tidak tahu banyak mengenai hal itu.</p>
<p>Suatu hari aku lupa mengunci kamar dan melakukan shalat, ketika itu suamiku masuk. Ia bertanya, apa yang aku lakukan. Aku bilang, &#8220;Aku melakukan shalat.&#8221; Ia pun berkata, &#8220;Apakah kamu masih waras? Kamu tahu apa yang kamu katakan?&#8221;</p>
<p>Awalnya aku ragu. Mataku terpejam dan ketakutan. Tapi tiba-tiba, aku merasa ada sebuah kekuatan besar dalam diriku, yang membuat aku berani untuk menghadapi situasi saat itu. Aku berkata bahwa aku sudah memeluk agama Islam, dan karena itu aku melakukan shalat.</p>
<p>Suamiku berseru, &#8220;Apa?! Apa kamu bilang? Coba kamu katakan sekali lagi?&#8221; Aku mengulangi ucapanku, sambil memberi tekanan, &#8220;Ya! Aku masuk Islam.&#8221; Mendengar hal itu ia langsung memukuli aku.</p>
<p>Kakakku mendengar suara ribut-ribut dan mendatangi kami. Ia berusaha menyelamatkan aku. Tapi, ketika suamiku menceritakan semuanya, ia pun maju dan ikut memukuli aku.</p>
<p>Aku berusaha menghentikannya dengan berkata, &#8220;Kamu tidak perlu ikut campur. Aku tahu apa yang baik dan apa yang buruk buatku. Aku telah memilih jalanku.&#8221;</p>
<p>Mendengar perkataanku itu, suamiku semakin naik pitam. Ia menyiksaku sedemikian rupa hingga aku tidak sadarkan diri.</p>
<p>Ketika itu semua terjadi, kedua putraku berada di rumah. Saat itu putra pertamaku berusia 9 tahun dan adiknya 8 tahun.</p>
<p>Tapi setelah peristiwa itu, aku tidak diperbolehkan bertemu siapapun. Aku dikurung dalam sebuah ruangan. Meskipun sebenarnya belum benar-benar memeluk Islam, tapi aku selalu mengatakan bahwa aku telah masuk Islam.</p>
<p>Suatu malam, ketika aku masih dikurung, putra sulungku datang dan menangis dalam pelukanku. Aku bertanya, kemana anggota keluarga yang lain. Ia bilang mereka semua pergi mengunjungi sebuah acara. Tak ada seorang pun di rumah. (Malam itu ada sebuah festival keagamaan).</p>
<p>Putraku minta agar aku kabur dari rumah, karena keluargaku akan membunuhku. Aku katakan padanya, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan menyakiti aku. Dan kukatakan pada putraku, agar ia menjaga dirinya sendiri dan juga adiknya.</p>
<p>Tapi ia terus memaksa dan memohon agar aku meninggalkan rumah. Aku berusaha membuatnya mengerti, jika aku pergi maka aku tidak bisa bertemu dirinya dan adiknya. Namun ia menjawab, aku akan bisa menemui mereka jika aku masih hidup. &#8220;Pergilah mama, mereka akan membunuhmu,&#8221; katanya.</p>
<p>Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku tak bisa melupakan peristiwa itu, ketika putra pertamaku membangunkan adiknya dan berkata, &#8220;Bangunlah. Mama akan pergi meninggalkan rumah. Temuilah ia sekarang, karena kita tidak tahu apakah kita akan berjumpa lagi dengannya atau tidak.&#8221;</p>
<p>Itu pertama kali si bungsu melihatku setelah kami tak jumpa sekian lama. Ia mengusap-usap matanya ketika melihatku. Ketika aku mendekatinya, ia pun memelukku dan menangis tersedu-sedu. Anak-anak mungkin sudah mengetahui semuanya. Ia hanya berkata, &#8220;Mama akan pergi?&#8221; Aku hanya mengangguk, dan meyakinkannya jika kami akan bertemu lagi.</p>
<p>Aku merasa meremukkan cinta seorang ibu dengan kakiku. Di satu tangan aku menggenggam cinta anak-anakku, dan di tangan lain aku menggenggam cintaku pada Islam yang akan menggantikannya. Aku merintih dan memeluk erat anak-anakku. Aku berusaha menghancurkan cintaku pada mereka.</p>
<p>Luka-lukaku masih segar, aku tidak bisa berjalan. Namun aku berusaha untuk melakukannya.</p>
<p>Kedua putraku menyaksikan kepergianku malam itu, di malam yang gelap dan dingin. Mereka melambaikan tangan sambil menangis di pintu gerbang.</p>
<p>Aku tidak bisa melupakan saat-saat itu. Setiap kali aku mengingatnya, aku teringat orang-orang yang telah meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi untuk Islam.</p>
<p>Setelah meninggalkan rumah, aku langsung menuju ke kantor polisi. Masalahku saat itu, mereka tidak mengerti bahasaku. Untungnya, seorang di antara mereka bisa berbahasa Inggris.</p>
<p>Saat itu aku sulit bernapas dan tidak bisa bicara karena gemetaran. Aku memintanya agar mengizinkanku beristirahat sampai aku bisa memulihkan keadaanku.</p>
<p>Tak lama kemudian aku pun pulih. Aku katakan padanya kalau aku meninggalkan rumah dan ingin memeluk Islam.  Aku ragu-ragu untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Namun polisi itu berusaha menenangkanku dan berkata bahwa ia seorang Muslim, ia akan membantuku semaksimal mungkin. Kemudian aku diajak pulang ke rumahnya dan diberi tempat menginap di sana.</p>
<p>Pagi harinya, suamiku mendatangi kantor polisi meminta bantuan. Ia mengatakan bahwa istrinya telah diculik. Tapi kemudian dikatakan kepadanya bahwa istrinya tidak diculik. Istrinya datang sendiri ke kantor polisi. Karena ia ingin memeluk Islam, maka suaminya tidak lagi memiliki hubungan dengannya karena berbeda agama. Jadi istrinya tidak boleh pergi dengannya.</p>
<p>Suamiku memaksa, dan mulai mengancam. Tapi aku sendiri menolak untuk pergi bersamanya. Aku mengatakan bahwa ia boleh mengambil semua perhiasanku, tabungan, dan rumah milikku. Tapi aku tidak akan pergi dengannya.</p>
<p>Awalnya ia tidak menyerah. Namun, karena melihat kegigihanku menolaknya, ia pun minta dibuatkan pernyataan tertulis bahwa ia mendapatkan semua harta bendaku.</p>
<p>Polisi yang menolongku berkata bahwa sekarang keluargaku tidak bisa menyakitiku lagi, dan aku bisa memeluk Islam. Aku berterima kasih padanya, lalu pergi ke rumah sakit, karena seluruh badanku penuh dengan luka.</p>
<p>Aku tinggal beberapa hari di rumah sakit. Suatu hari seorang dokter bertanya, &#8220;Dari mana asalmu? Tidak ada seorang anggota keluarga pun yang datang menjengukmu ke rumah sakit.&#8221;  Aku diam, tidak menjawab. Sebab aku meninggalkan rumah karena mencari satu hal. Dan sekarang aku tidak memiliki rumah atau keluarga. Yang aku miliki hanya Islam.</p>
<p>Polisi Muslim yang menolongku, ia memanggilku sebagai seorang saudara perempuan. Dan ketika aku berada di rumahnya, ia memperlakukanku seperti saudara kandungnya. Ia telah memberiku tempat berteduh di malam yang dingin, ketika aku kehilangan seluruh keluargaku. Aku tidak akan pernah melupakan jasanya.</p>
<p>Dan ketika aku berada di rumah sakit, aku bingung. Apa selanjutnya yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mencari tempat berlindung yang aman.</p>
<p>Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung pergi ke Islamic Center. Saat itu tidak ada seorang pun, hanya ada seorang bapak tua yang sepertinya tinggal di sana. Aku menemuinya, dan kukatakan maksud kedatanganku. Sejenak ia merasa ragu, lalu berkata, &#8220;Nak, sari ini bukanlah pakaian seorang Muslimah. Pergi dan pakailah kerudung, tutupilah dirimu sebagaimana orang Muslim.&#8221;</p>
<p>Aku mempunyai sisa uang yang kubawa ketika meninggalkan kantor polisi. Kubeli seperangkat pakaian dengan uang itu, lalu kembali ke Islamic Center.</p>
<p>Pak tua itu mengajariku cara berwudhu. Setelah aku berwudhu, ia membawaku ke sebuah ruangan. Ketika memasuki ruangan itu, aku melihat sebuah gambar tergantung di dinding. Aku terdiam, karena aku melihat ruangan seperti yang ada dalam mimpiku. Seketika aku berseru, &#8220;Ini yang sering aku lihat dalam mimpiku. Yang selalu mengganggu tidurku.&#8221;</p>
<p>Pak tua tersenyum, ia berkata bahwa itu adalah rumah Allah. Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke rumah itu untuk melakukan haji dan umrah. Namanya Baitullah. Aku terkejut mengetahuinya. Aku pun bertanya, &#8220;Apakah Allah tinggal di sebuah rumah?&#8221; Ia menjawab, pertanyaan-pertanyaanku dengan senyum dan penuh perhatian. Sepertinya ia tahu banyak tentang Islam.</p>
<p>Aku tidak mengalami kesulitan berbicara dengannya. Ia menjelaskan setiap hal dalam bahasa ibuku. Aku merasakan kebahagiaan yang aneh saat itu.</p>
<p>Ia membimbingku mengucapkan syahadat. Kemudian menjelaskan tentang Muslim dan Islam. Setelah itu aku merasa tidak takut dan juga tidak ada beban dalam pikiranku. Aku merasa diriku sangat cerah. Rasanya seperti berenang di tempat kotor, lalu pindah ke dalam air yang jernih.</p>
<p>Pengelola <em>Islamic Cente</em>r itu mengangkatku sebagai anak, dan membawaku pulang ke rumahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikahkah aku dengan seorang Muslim. Keinginan pertamaku saat itu adalah melihat rumah Allah. Lalu aku pun pergi melakukan umrah.</p>
<p>Setelah aku memeluk Islam, aku tidak pernah kembali ke India, dan aku pun tidak ingin pergi ke sana. Keluargaku mempunyai hubungan dengan organisasi-organisasi politik dan Hindu di sana. Mereka bahkan telah menawarkan sejumlah uang untuk kepalaku.</p>
<p>Dulu aku diberitahu bahwa mujahidin adalah orang-orang yang suka menindas. Dan mereka sering melakukan penindasan melewati batas. Kami dibuat agar membenci mujahidin. Tapi sekarang aku telah mendapatkan kebenaran, dan aku mencintai mereka. Kuucapkan doa untuk mujahidin dalam setiap shalatku.</p>
<p>Aku juga berdoa kepada Allah, jika Ia mengaruniaiku dengan anak-anak laki-laki, aku akan sangat bahagia jika melihat mereka ada dalam barisan para mujahid. Aku akan mempersembahkan mereka untuk kejayaan Islam. Insya Allah.[<em><strong>di/iw/<a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/8847-aku-tinggalkan-anak-anakku-demi-islam.html" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></strong></em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/aku-tinggalkan-anak-anakku-demi-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Aku Tanggalkan Bikini untuk Niqab?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengapa-aku-tanggalkan-bikini-untuk-niqab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengapa-aku-tanggalkan-bikini-untuk-niqab#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 17:34:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2626</guid>
		<description><![CDATA[Sara Bokker, dahulu seorang aktris perempuan dan seorang  model.Ia melepaskan bikini dan menggunakan cadar. Dengan cadar ia mengaku lebih bebas
Sebagai perempuan Amerika yang lahir di  ‘Jantung’-nya Amerika, aku tumbuh dewasa seperti gadis-gadis lainnya dan terbiasa dengan kehidupan glamour kota besar. Kemudian aku pindah ke Florida, di Pantai Selatan Miami, di sebuah tempat populer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sara Bokker, dahulu seorang aktris perempuan dan seorang  model.Ia melepaskan bikini dan menggunakan cadar. Dengan cadar ia mengaku lebih bebas</em></p>
<p>Sebagai perempuan Amerika yang lahir di  ‘Jantung’-nya Amerika, aku tumbuh dewasa seperti gadis-gadis lainnya dan terbiasa dengan kehidupan glamour kota besar. Kemudian aku pindah ke Florida, di Pantai Selatan Miami, di sebuah tempat populer bagi pencari kehidupan glamour. Tentu saja, saat itu aku juga melakukan apa yang dilakukan oleh umumnya gadis-gadis Barat. Aku hanya memperhatikan penampilan fisik dan daya tarikku, mengukur nilai reputasiku dari banyaknya perhatian orang lain padaku. Aku berolahraga teratur hingga menjadi pelatih pribadi di sebuah perumahan mewah pinggir laut dan menjadi pengunjung setia pantai yang ‘suka pamer tubuh’ serta sukses mencapai taraf kehidupan yang ‘penuh gaya dan berkelas’.</p>
<p>Tahun-tahun berlalu, kupahami bahwa ukuran nilai kepuasan diri dan kebahagiaanku bergeser pada semakin tingginya aku menggunakan daya tarik kewanitaanku. Saat itu, aku sungguh menjadi budak mode. Aku sungguh menjadi sandera dari penampilanku sendiri.<span id="more-2626"></span></p>
<p>Oleh karena celah kosong antara kepuasan diri dan gaya hidup makin melebar, maka aku mencari perlindungan diri dari tindakan pelarian ke alkohol dan pesta-pesta, dengan cara mengikuti meditasi, menjadi aktivis, dan belajar kepercayaan-kepercayaan alternatif, dengan tujuan agar celah kosong itu terkoreksi dan terlihat lebih landai. Namun, akhirnya aku sadar bahwa semua itu hanya seperti obat pemati-rasa saja, yang sakitnya bisa terasa kembali, daripada sebuah pengobatan yang benar-benar efektif.</p>
<p>Kemudian terjadi peristiwa 11 September 2001. Sebagai saksi atas terjadinya serangan berkelanjutan pada Islam, pada nilai-nilai dan budaya Islam, dan adanya deklarasi yang berkonotasi negatif mengenai “Aktivis Salib Baru”, aku tergugah untuk mulai memperhatikan Islam. Hingga saat itu aku mengasosiasikan semua yang berbau Islam dengan perempuan-perempuan yang berbaju seperti ‘kemah’, tukang pukul isteri, harem, dan dunia teroris.</p>
<p>Sebagai aktivis pembebasan perempuan dan sebagai orang yang mengupayakan dunia yang lebih baik untuk semua, jalanku bersilangan dengan jalan aktivis lainnya yang telah memimpin tindakan reformasi dan keadilan untuk semua tanpa pandang bulu. Aku bergabung dalam kampanye pembimbing baruku yang saat itu masih berlangsung, salah satunya adalah reformasi pemilihan umum dan hak-hak sipil. Sekarang ini, kegiatan aktivisku sudah sangat berbeda. Daripada mendukung  keadilan untuk sebagian orang secara ‘selektif’, aku belajar bahwa yang ideal seperti keadilan, kebebasan dan penghargaan benar-benar berarti dan intinya bersifat universal, lalu antara masing-masing kebaikannya dan dasar kebaikan ketiganya harus sejalan dan tidak konflik. Untuk pertama kalinya, aku mengetahui sesungguhnya arti “semua orang diciptakan sederajat”. Tetapi yang sangat penting, aku belajar bahwa hanya perlu keyakinan untuk melihat dunia yang satu dan untuk melihat penyatuan dalam penciptaan.</p>
<p>Suatu hari aku melewati sebuah buku yang dikonotasikan negatif di Barat – Al-Quran Yang Suci. Tadinya aku tertarik pada gaya dan pendekatan Al-Quran dan kemudian minatku terbangkitkan lebih dalam pada pandangannya tentang keberadaan makhluk, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan penciptaan itu sendiri. Aku rasa Qur’an dapat menjadi sumber pembuka wawasan dan pengetahuan untuk hati dan jiwa tanpa perlu penerjemah atau pastor.</p>
<p>Akhirnya aku sampai pada momen penting yang mengubah kehidupanku selanjutnya: Pemahaman aktivis yang baru kurasakan untuk kepuasan diri baru-baru ini, ternyata tidak berarti apapun dibandingkan dengan memeluk sebuah keyakinan yang disebut Islam, yang memungkinkan aku hidup damai sebagai Muslim yang bisa bermanfaat.</p>
<p>Aku membeli sebuah gaun panjang yang cantik dan penutup kepala, mirip gaya busana Muslimah dan dengannya aku berjalan di jalan dan lingkungan tetangga yang sama, yang beberapa hari sebelumnya aku masih mengenakan celana pendek, bikini atau gaya busana Barat yang berkelas. Walaupun masyarakat, wajah dan toko semuanya tetap sama, ada satu hal yang sangat berbeda, karena untuk pertama kalinya -aku bukan lagi-, rasa damai itu juga bukan yang sama sepanjang hidupku sebagai perempuan. Aku merasa seolah-olah semua rantai telah putus dan akhirnya aku bebas sebenar-benarnya. Sangat menyenangkan melihat wajah heran dari orang-orang lain dibandingkan dengan melihat wajah pemangsa yang siap menerkam korbannya, yang sering kutemui dulu. Tiba-tiba saja beban itu terangkat dari bahuku. Aku tidak lagi menghabiskan waktuku untuk berbelanja, membeli kosmetik, ke salon dan melatih fisik untuk penampilanku. Akhirnya aku bebas.</p>
<p>Dari semua tempat itu, aku menemukan Islamku tepat di pusat dari tempat yang sering disebut sebagian orang sebagai ‘tempat tersering terjadinya skandal di bumi’, bagaimanapun  membuat semua itu menjadikannya penuh cinta dan spesial.</p>
<p>Walaupun bahagia dengan Hijab, aku menjadi ingin tahu mengenai Niqab (cadar), karena melihat peningkatan angka Muslimah yang mengenakannya. Aku bertanya kepada suamiku yang juga Muslim, yang menikah denganku setelah aku menjadi Muslimah, apakah aku diperbolehkan mengenakan Niqab atau cukup dengan hijab-ku yang sekarang telah kukenakan. Dengan santainya suamiku menanggapi bahwa ia percaya bahwa Hijab adalah sebuah kewajiban namun tidak demikian dengan Niqab. Saat itu, Hijabku terdiri dari penutup kepala yang menutupi semua rambutku kecuali wajah dan gaun hitam panjang yang longgar, biasa disebut dengan Abaya yang menutupi tubuh dari leher hingga kaki.</p>
<p>Satu setengah tahun berlalu, aku mengatakan kepada suamiku bahwa aku ingin mengenakan Niqab. Alasanku kali ini, bahwa aku merasa akan lebih menyenangkan Allah, Yang Maha Pencipta, dan akan meningkatkan rasa damai dalam diri bila berpakaian lebih tertutup.  Ia mendukung keputusanku dan mengantarku membeli ‘Isdaal’, sebuah gaun hitam longgar yang menutup dari kepala hingga kaki dan ‘Niqab’ yang menutup seluruh kepalaku termasuk wajah kecuali mata.</p>
<p>Tak lama, media mulai memberitakan tentang para politikus, pemuka Vatikan, pendukung kebebasan, aktivis HAM palsu yang berkali-kali mengkritik pedas tentang Hijab, apalagi Niqab, yang bagi orang lain tampak sebagai bentuk yang sangat kejam terhadap kaum perempuan, juga dianggap gangguan dalam bersosialisasi dan baru-baru ini seorang pegawai Mesir mengatakan bahwa hal itu ‘sebagai tanda-tanda kemunduran’</p>
<p>Lalu aku menilai sebuah kemunafikan parah saat beberapa pemerintahan Barat dan juga kelompok pembela HAM palsu yang tergesa-gesa mencoba membela hak-hak perempuan ketika pemerintahan beberapa Negara lainnya memaksakan penggunaan kode berbusana tertentu untuk perempuan. Sekalipun begitu ‘Pejuang Kebebasan’ melihat sisi lainnya ketika kaum perempuan kehilangan hak-haknya, tidak dapat bekerja, belajar, hanya karena memilih untuk menggunakan haknya untuk mengenakan Niqab atau Hijab. Sekarang ini, terjadi peningkatan pembatasan kaum perempuan yang mengenakan Hijab atau Niqab dari kesempatan bekerja dan pendidikan, bukan hanya di bawah rejim yang totaliter seperti di Tunisia, Maroko dan Mesir, melainkan juga di Negara-negara demokrasi seperti Perancis, Belanda dan Inggris.</p>
<p>Saat ini, aku masih tetap menjadi aktivis perempuan, tepatnya aktivis perempuan Muslim, yang memanggil para Muslimah untuk mengambil tanggung jawab mereka memberi dukungan semampunya kepada suami agar menjadi Muslim yang baik. Untuk membesarkan anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang jujur dan bertanggungjawab, sehingga mungkin nanti bisa menjadi cahaya untuk kemanusiaan. Untuk memerintahkan kebaikan –kebaikan apapun- dan untuk mengharamkan kejahatan –kejahatan apapun-. Untuk berbicara tentang kebenaran dan kebajikan serta melawan semua keburukan-keburukan. Untuk memperjuangkan hak-hak kita mengenakan Niqab atau Hijab untuk menyenangkan Yang Maha Pencipta, apapun yang kita pilih. Dan juga penting, untuk membagi pengalaman mengenakan Niqab atau Hijab kepada teman perempuan yang mungkin belum pernah berkesempatan untuk mengerti apa arti sesungguhnya mengenakan Niqab atau Hijab bagi kita dan alasan-alasan kita sehingga, dengan penuh cinta, kita memeluknya.</p>
<p>Sebagian besar perempuan yang kuketahui mengenaikan Niqab adalah Muallaf Barat, sebagian dari mereka bahkan belum menikah. Yang lain mengenakan Niqab tanpa dukungan penuh dari keluarga maupun lingkungan dekatnya. Apa yang umumnya kita miliki adalah, bahwa semua itu adalah pilihan pribadi setiap orang atau masing-masing dari kita, yang tidak satupun dari kita menginginkan untuk menyerah.</p>
<p>Mau atau tidak mau, kaum perempuan dibombardir dengan gaya “berbusana minim hingga tanpa busana” secara virtual dalam setiap bentuk komunikasi dimanapun di dunia ini. Sebagai seorang bekas Non-Muslim, aku tetap menuntut hak-hak perempuan untuk sama-sama mengetahui mengenai Hijab, kebaikan-kebaikannya, dan kedamaian serta kebahagiaan yang dibawanya ke dalam kehidupan perempuan, seperti yang telah terjadi padaku.</p>
<p>Kemarin, bikini merupakan lambang kebebasanku, yang sesungguhnya membebaskanku dari kepercayaan-kepercayaanku dan sebagai manusia biasa.</p>
<p>Aku tidak dapat lebih gembira lagi karena telah menanggalkan bikiniku di Pantai Selatan dan gaya hidup Barat yang gemerlapan itu, untuk hidup damai dengan Penciptaku dan menikmati hidup di antara teman-teman sesama manusia sebagai pribadi yang layak menerimanya. Hal itu adalah alasanku untuk memilih mengenakan Niqab dan bersedia mati membela hakku yang tak mungkin bisa dicabut untuk mengenakannya.</p>
<p>Hari ini, Niqab adalah simbol baru pembebasan perempuan untuk menemukan siapa dirinya, apa tujuannya dan bagaimana bentuk hubungan yang dipilihnya agar bisa bersama Penciptanya.</p>
<p>Kepada perempuan yang menyerah terhadap anggapan buruk mengenai ketertutupan Hijab yang islami, aku bisa berkata: Engkau tidak mengetahui apa yang terlewatkan olehmu.</p>
<p>Kepadamu, penguasa peradaban yang korup dan tidak beruntung, juga para aktivis palsu, aku bisa berkata: Bawalah terus…[<a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/8909-mengapa-aku-tanggalkan-bikini-untuk-niqab.html" target="_blank">Hidayatullah.com</a>]</p>
<p><em>[Ditulis oleh Sara Bokker, dahulu seorang aktris/model/pelatih fitness dan seorang aktivis. Saat ini Sara Bokker adalah Direktur Komunikasi di “The March for Justice”, salah seorang pendiri ‘Global Sisters Network” dan Produser “Shock and Awe Gallery. Tulisan ini diambil dari situs www.marchforjustice.com. Cerita ini juga pernah dimuat di www.saudigazette.com.sa. Sara bisa dihubungi di srae@marchforjustice.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengapa-aku-tanggalkan-bikini-untuk-niqab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Bekal Merantau</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/agama-dan-bekal-merantau</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/agama-dan-bekal-merantau#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 22:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2549</guid>
		<description><![CDATA[Merantau belajar dapat di mana saja. Yang penting pengetahuan harus berbanding lurus dengan peningkatan keimanan 


Oleh: Y.Y. Alim
Terlebih dahulu penulis menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada anggota forum Halaqah Lentera Pagi di bawah asuhan Ustadz Syamsi Ali yang telah memberikan banyak masukan dan saran dalam mematangkan tulisan ini.
Tulisan ini sangat sesuai bagi individu muslim yang berhasrat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Merantau belajar dapat di mana saja. Yang penting pengetahuan harus berbanding lurus dengan peningkatan keimanan </em></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p>Oleh: <strong>Y.Y. Alim</strong></p>
<p>Terlebih dahulu penulis menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada anggota forum Halaqah Lentera Pagi di bawah asuhan Ustadz Syamsi Ali yang telah memberikan banyak masukan dan saran dalam mematangkan tulisan ini.</p>
<p>Tulisan ini sangat sesuai bagi individu muslim yang berhasrat merantau. Ada dua macam proses merantau, yaitu lahiriah dan batiniah. Perantauan lahiriah adalah perpindahan badan dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan hidup tertentu. Orang merantau dari desa ke kota untuk mencari tingkat penghidupan yang layak. Orang merantau ke Jepang untuk mengejar ilmu dan pekerjaan sehingga mampu untuk meningkatkan mutu hidup.<span id="more-2549"></span></p>
<p>Sedangkan perantauan batiniah adalah proses pembinaan internal yang meningkatkan kualitas kepribadian seseorang. Contohnya adalah proses transformasi dari seorang muslim karena faktor orang tua menjadi seorang muslim karena Allah ta&#8217;ala semata.</p>
<p>Saya lulus dari Fakultas Teknik Sipil Perencanaan-ITB dengan spesialisi Perencanaan Kota dan Wilayah. Dari almamater tersebut saya mendapat gelar Insinyur. Saya mengambil master dan doktor di Cornell University bidang <em>regional science</em>, sebuah ilmu kombinasi dari ilmu lingkungan, ilmu ekonomi, dan perencanaan.</p>
<p>Sudah lama saya berniat untuk berdakwah untuk bidang lingkungan hidup. Saat ini saya sedang mengembangkan proposal penelitian untuk masalah lingkungan hidup dan Islam. Harapan saya dengan dana yang ada, dapat membantu perbaikan kondisi lingkungan hidup di tanah air.</p>
<p>Sudah merupakan kelaziman kalau banyak yang menjalankan ibadah agama Islam justru hanya sebagai tradisi, suatu pelaksanaan ritual yang kering dan menjemukan. Tantangan ini terjadi terutama bagi yang terlahir sebagai muslim dan menikmati lantunan adzan ketika datang ke dunia fana ini, atau bagi yang menyatakan diri sebagai muslim untuk kepentingan pendataan kartu tanda penduduk, atau menjadi muslim karena dorongan eksternal lainnya. Sehingga walaupun angka statistik menyatakan bahwa penganut agama Islam di Indonesia lebih dari 80%, tetapi pola hidupnya justru sangat jauh dari ajaran Islam.</p>
<p>Acara perayaan seperti <em>mauludan, lebaran, sekaten</em>, dan seterusnya, lebih diutamakan tetapi pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari justru menjadi tidak relevan. Peningkatan kasus korupsi serta kasus kriminalitas lainnya justru meningkat ketika aktivitas kegiatan ibadah di masjid meningkat, atau ketika makin banyak orang berduyun-duyun aktif di mesjid.</p>
<p>Diperlukan kesadaran yang lebih kuat bagi tiap muslim untuk mencari makna yang lebih mendalam dari pengamalan ajaran Islam. Salah satu jalannya adalah kemauan untuk merantau.</p>
<p>Perantauan lahiriah dapat saja diiringi dengan perantauan batiniah. Contohnya adalah seseorang menjadi aktif mendalami ilmu agama ketika yang bersangkutan mendapat kesempatan belajar program master di Jepang. Seusai sekolah, tidak saja individu ini mengembangkan ilmu dunia, tetapi juga menjadi pembicara utama dalam ceramah-ceramah agama karena pengetahuan yang sangat mendalam tentang Islam.</p>
<p>Di negara multi etnis seperti Buthan, anak-anak SMP sudah diprogramkan untuk merantau tinggal di tempat lain sehingga mereka bisa belajar mengerti adat istiadat suku lain. Begitulah salah satu manfaat merantau, dorongan untuk belajar menjadi lebih tinggi. Inilah sikap utama yang harus dikembangkan oleh perantau, kemauan belajar.</p>
<p>Pada dasarnya bukan tempat di mana kita tinggal, yang penting bagaimana kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Manusialah yang menjadi sentral dari segala urusan di muka bumi ini. Karena begitulah maksud Allah SWT mengapa manusia diciptakan di muka bumi ini dan ditegaskan lebih jauh fungsi manusia di alam semesta ini.</p>
<p>Firman Allah dalam surat Al Anbiya 21 : 107, &#8220;<em>Tidak kami utus engkau (Muhammad) tetapi untuk menjadi berkah-rahmah-kasih sayang-ampunan untuk alam semesta (Rahmatan lil alamin untuk umat manusia, untuk jin, dan untuk segala bentuk kehidupan lainnya).&#8221;</em></p>
<p>Hendaknya pola pikir orang-orang beriman adalah memupuk keinginan untuk terus belajar yang berpengaruh pada bertambahnya tingkat kebijaksanaan, baik dalam bersikap dan berkata, sehingga sebagai pengikut Rasulullah SAW mampu mendukung misi beliau sebagai &#8220;rahmatan lil alamin&#8221;: Berkah bagi alam semesta.</p>
<p>Teringat akan sabda Baginda Rasulullah SAW bahwa kita wajib menuntut ilmu walaupun ke negeri China. Walaupun hadist ini dhaif, tetapi semangatnya perlu kita pelihara, yaitu semangat menuntut ilmu untuk kemajuan kita sendiri dan sudah tentu untuk kemajuan umat Islam di alam semesta ini. Sabda Baginda Rasulullah SAW sangat jelas dalam menuntut ilmu: &#8220;<em>Barang siapa meninggalkan rumah dalam rangka menuntut ilmu, dia berada di jalan Allah </em>(At Tirmidhi)<em>, dan menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi tiap muslim.&#8221;</em> (Ibn Majah dan Al-Bayhaqi).</p>
<p>Hal utama yang perlu dikaji lebih mendalam adalah ilmu yang mana? Karena pada masa Rasulullah hidup, China sudah menjadi pusat perkembangan berbagai ilmu, misalnya administrasi negara karena China? sudah memiliki sistem ujian pegawai negeri, ilmu pengobatan, ilmu perniagaan, ilmu peperangan, dan sumber segala paham kepercayaan/agama, seperti Budhisme, Konfusianisme, dan lainnya. Inilah tugas kita untuk menginterpretasikan semangat dari hadist ini, yaitu untuk belajar, belajar, dan terus belajar.</p>
<p>Dengan semangat ini, sirnalah segala kekhawatiran dan keraguan bahwa penguasa setempat yang tidak seiman akan menzalimi dan merusak akidah seorang muslim. Bahkan akan berkembang ide dan ikhtiar untuk bertahan secara fisik (<em>survive</em>) dan sekaligus menjaga dan meningkatkan keimanan kepada Allah.</p>
<p><strong>Tantangan di Rantau</strong></p>
<p>Amerika adalah tempat berkembang, bertumbuh, dan berselisih rasa toleransi. Khususnya Ithaca sebagai lokasi kampus dari Cornell University, sebuah universitas kelas dunia, dipandang sebagai kota yang cukup liberal dengan tingkat keragaman yang cukup tinggi.</p>
<p>Kebebasan individu selalu dijunjung tinggi sehingga ada saja ruang untuk tiap orang dengan urusan dan tingkah polah masing-masing. Mendiang Professor Kahin, misalnya, adalah orang pertama Amerika yang merekapitulasi sejarah revolusi perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Karyanya menjadi rujukan bagi pelajar yang menekuni sejarah maupun ilmu politik.</p>
<p>Sementara itu, Professor Anderson dengan keberaniannya mengungkapkan versi lain dari peristiwa G-30-S PKI sehingga menjadi orang yang terkena &#8220;persona non-grata&#8221; di Indonesia.</p>
<p>Ada lagi alumni Cornell asal Indonesia yang gencar mempromosikan hubungan sesama jenis &#8211; gay and lesbianisme -, atau juga alumni yang terkena hukuman pidana karena kasus korupsi, dan sebagainya. Pendek kata di Amerika kita bisa menjadi individu yang bermacam-macam, termasuk berusaha keras melaksanakan fungsinya sebagai muslim, cerminan atas janji diri sendiri kepada Sang Khalik untuk selalu menyembah-Nya tanpa rasa resah dan susah.</p>
<p>Secara demografis warga muslim di Ithaca juga sangat beragam. Jumlah terbanyak dari Mesir, sedangkan dari Indonesia bisa dihitung dengan jari. Begitu beragam umat muslim yang tinggal di Ithaca, bukan mustahil seseorang akan berjumpa dengan seorang muslim asal negara paska keruntuhan Uni Soviet, seperti Azerbaijan sebagai wilayah pertemuan ras Kaukasus dan Mongolia.</p>
<p>Para mahasiswa yang masih berusia belia banyak sekali yang aktif untuk lebih mendalami Islam dengan kriteria cukup sederhana, siapa yang berpengetahuan dialah yang akan menjadi tempat untuk belajar. Namun banyak yang lupa bahwa ilmu, iman, dan ikhsan adalah satu kesatuan utuh atau &#8220;<em>one package deal</em>&#8221; yang akan menjadikan segala amalan kita menunjukkan ciri khas amalan seorang muslim.</p>
<p>Jelas bahwa penguasaan ilmu tidak cukup. Banyak yang sudah tinggi ilmunya, merasa sudah beriman karena terus salat di Mesjid, sering memberi ceramah, atau mampu menjawab tiap pertanyaan umat, dan seterusnya, tetapi amalan perbuatannya belum tecermin dari sikap sehari-hari.</p>
<p>Seorang tokoh Islam dari Indonesia pernah datang ke Ithaca NY dan ketika diajak salat, karena sudah waktunya, menyahut ajakan tersebut dengan berkata, &#8220;gak perlu salat kok, sudah dijamin masuk surga.&#8221;</p>
<p>Padahal sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hanya Rasulullah SAW yang mendapat jaminan Allah masuk surga, namun banyak para sahabat kala itu menyaksikan sendiri bahwa Rasulullah justru tidak pernah berhenti beribadat dan mohon ampun kepada Allah SWT. Rasulullah sendiri bersabda, berbohong walaupun dalam bentuk kelakar adalah perbuatan yang harus dijauhi, karena mukmin harus jujur setiap saat.</p>
<p>Jelas bahwa kriteria memiliki ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Banyak yang menguasai bahasa Arab dan mengerti arti Al-Quran, namun kemampuan tersebut tidak menuntun kepada keimanan kepada Allah SWT karena memandang pengetahuan tentang Al-Quran adalah seperti ilmu pengetahuan lainnya.</p>
<p>Dengan kondisi seperti inilah, perlu kewaspadaan tinggi dalam menentukan seseorang untuk menjadi tempat menimba ilmu.</p>
<p><strong>Tafsir Al-Quran</strong></p>
<p>Sekitar tahun 2006, setiap selesai salat Jumat di tempat salat di Kampus Cornell University diumumkan adanya pelajaran tafsir Al-Quran di bawah bimbingan seorang Profesor bidang &#8220;<em>Near Eastern Study</em>&#8220;, Cornell University. Profesor ini adalah orang Amerika, kulit putih, dan bukan muslim.</p>
<p>Kehadiran profesor ini untuk mengajarkan tafsir Al-Quran ini untuk kalangan muslim di Cornell adalah atas rekomendasi dari seorang profesor muslim keturunan India yang juga mengajar di bidang <em>Near Eastern Study</em>.</p>
<p>Dengan semangat &#8220;<em>open doors, open mind, and open heart</em>&#8221; sebagai moto Cornell University, sudah tentu para mahasiswa muslim bersemangat mempromosikan profesor nonmuslim ini untuk mengajar tafsir Al-Quran. Di samping pengumuman melalui lisan langsung setelah salat Jumat, juga disebarkan pengumuman lewat <em>e-mail</em>.</p>
<p>Sudah tentu pengumuman ini menyebar terutama di kalangan muslim di Ithaca. Dan tampaknya banyak yang tertarik untuk bergabung, namun tidak ada yang menanyakan apa tendensi orang ini untuk mengajarkan tafsir Al-Quran. Penyebaran ilmu yang dapat dipertanggung-jawabkan seharusnya melalui para ahlinya, dan di negeri Amerika yang tertib ini semuanya memakai aturan, seperti adanya lisensi untuk praktek dokter ataupun pengacara.</p>
<p>Tetapi begitulah yang terjadi, karena kekaguman begitu besar yang diberikan kepada orang-orang Barat, banyak umat Islam yang justru belajar ilmu agama kepada kaum nonmuslim. Hal yang mengherankan adalah tak satu pun dari jamaah yang tergerak untuk menanyakan lebih lanjut soal program belajar ilmu tafsir Al-Quran ini.</p>
<p>Setelah dua bulan program tersebut berlangsung tanpa adanya pertanyaan seputar keabsahan pengajar dalam tafsir Al-Quran, penulis melakukan initiatif untuk menanyakan kepada penyelenggara kegiatan belajar tersebut. Pertanyaannya sederhana, &#8220;apa tujuan belajar tafsir dan apakah pengajar tafsir Al-Quran tersebut muslim.&#8221;</p>
<p>Seperti yang telah diduga, jawabannya bahwa pelajaran tafsir ini untuk lebih memahami isi Al-Quran sehingga kita lebih dekat kepada Allah SWT dan memang pengajarnya bukan muslim, tetapi mempunyai pengetahuan dan keahlian yang mendalam tentang Bahasa Arab.</p>
<p>Kemudian disampaikan logika sederhana, yaitu bagaimana seorang nonmuslim akan membantu seorang muslim untuk memahami Al-Quran, terutama dalam rangka meningkatkan ketauhidan, kalau sang pengajar tidak percaya adanya Allah, tidak percaya bahwa Al-Quran adalah kumpulan firman Allah agar kita hambanya beriman dan takwa kepada-Nya. Dan penulis juga menanyakan apakah majelis <em>syuro</em> (e-board) sudah ditanyakan pandangannya tentang hal ini.</p>
<p>Karena tidak mendapatkan tanggapan balik, kemudian penulis menanyakan hal ini kepada anggota majelis<em> syuro</em> yang penulis telah kenal baik. Penulis menyampaikan bahwa Al- Quran bukan sebagai buku bacaan biasa (seperti firman Allah dalam Al Baqarah ayat 2). ?Kemudian timbullah pemikiran dan diskusi, banyak yang baru sadar duduk masalahnya, karena banyak yang menduga bahwa pengajar tafsir Al-Quran tersebut dilakukan oleh orang muslim (profesor <em>near eastern study</em> yang muslim tersebut). Padahal tidak. Akhirnya diputuskan untuk menghapus program tersebut.</p>
<p>Memang begitu besar tantangan belajar dan merantau ini. Sebagai muslim maka pedomannya sudah jelas. Menurut tafsir dari Ibn Katsir, kebenaran hakiki hanya milik Allah dan untuk mencapai kebenaran hakiki tersebut seorang muslim harus memenuhi syarat muttaqin, seperti Firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 2, &#8220;<em>Al Qur&#8217;an (kitab) ini tidak ada keraguan padanya adalah petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Muttaqin)</em>.&#8221;</p>
<p><em>Muttaqun</em> (jamak) ini tidak sepandan dengan &#8220;God fearing people&#8221; atau orang-orang yang takut kepada Allah saja. Karena takut itu hanya satu unsur saja. Konsep yang holistik dari takwa adalah seorang muslim yang benar-benar menjunjung ajaran tauhid dengan landasan ketaatan, rasa cinta, tunduk, dan takut kepada Allah sehingga selalu melakukan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Kemudian bertekad untuk selalu berbuat baik dan mengumpulkan pahala karena Allah semata. Dengan demikian atribut ketakwaan ini harus melekat pada pribadi seorang muslim sebagai berikut:</p>
<p>1. Takut kepada Allah di mana rasa takwa ini menjadi basis dari rasa kebijaksanaan (wisdom).</p>
<p>2. Menahan atau menjaga lidah, tangan, dan hati dari segala perbuatan jahat.</p>
<p>3. Bertindak dengan menjunjung kebenaran (<em>righteousness</em>), tunduk dan berbakti kepada Allah, dan memelihara perilaku yang baik.</p>
<p>Perjalanan manusia (alam pikiran manusia) untuk mencapai kebenaran hakiki akan menemui banyak rintangan. Oleh karena itu ketakwaan di samping dapat dianggap sebagai ikhtiar manusia itu sendiri, tetapi juga hidayah dari Allah. Banyak sekali yang terantuk, bahkan terjerambab tanpa mampu bangkit kembali dalam mengarungi perjalanan menuju kebenaran hakiki.</p>
<p><em>The Wall Street Journal</em> tanggal 15 November 2008 melaporkan bahwa seorang Jerman bernama Sven Kalisch menjadi pemeluk Islam sejak usia 15 tahun. Melaksanakan ibadah dengan rajin dan menolak bersalaman tangan dengan wanita (bukan muhrim). Ketika menjadi pemeluk Islam, ditambahkan namanya menjadi Muhammad Sven Kalisch.</p>
<p>Dalam usia 38 tahun Kalisch adalah orang Jerman asli pertama yang menjadi Profesor studi Islam di Munster University Germany. Setahun lalu ketika berusia 42 tahun, dia menyatakan bahwa Muhammad S.A.W adalah tokoh fiktif dan dia juga menyatakan bahwa Allah tidak menulis firmannya sehingga tidak mengakui eksistensi Al-Quran.</p>
<p>Jelaslah bahwa faktor rasionalitas saja tidak bisa diandalkan dalam mencari kebenaran. Sudah menjadi kewajiban untuk lebih mengetahui lebih jauh lagi tentang kebenaran hakiki ini sebagai bekal belajar dan merantau.</p>
<p>Tolok ukurnya sangat sederhana, apabila makin tinggi ilmu yang didapat dan makin bertambah iman, serta membentuk karakter yang baik (ikhsan) maka perjalanan manusia tersebut berada di jalur yang benar.</p>
<p>Dalam hal ini K.H. Hasyim Muzadi telah memaparkan dengan gamblang tentang hal kebenaran ini di Mesjid Al Hikmah, New York, beberapa waktu lalu. Tokoh NU ini secara gamblang menjelaskan &#8220;<em>concept mapping</em>&#8221; ?mengenai ilmu, ibadah, dan pembentukan karakter.</p>
<p>Ilmu adalah unit informasi sebagai makanan otak. Kita jadi tahu apa yang sebelumnya kita tidak tahu, atau bisa apa dari sebelumnya kita tidak bisa. Peningkatan ilmu seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan ibadah dan pada akhirnya membentuk karakter manusia yang baik.</p>
<p>Merujuk pada firman Allah dalam surat Al Haqqah 48-52.? <em>&#8220;Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu pedoman mutlak bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan (nya). Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu kebenaran mutlak yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Maha Besar.&#8221;</em></p>
<p>Demikianlah dalam alam pikiran manusia, hal ini terbagi menjadi tiga tahap derajat kebenaran: <em>Ain-ul Yaqin</em>, <em>&#8216;Ilm-ul-Yaqin</em>, dan <em>Haqq-ul-Yaqin.</em></p>
<p>Mengetahui persyaratan untuk mencapai kebenaran dan memahami tingkat kebenaran dalam alam pikiran manusia tidaklah cukup sebagai bekal untuk belajar dan merantau. Perlu diketahui rintangan apakah yang akan membentur dan menghancurkan upaya manusia tersebut. Selalu ada saja upaya dari pihak yang tidak beriman kepada Allah untuk mengajak bergabung dengan mereka, seperti dalam firman Allah di Al Baqarah, <em>&#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.&#8221;</em> (QS: Al-Baqarah: 120).</p>
<p>Nyata benar gerakan kaum orientalis untuk mematahkan keimanan dan membingungkan kaum muslimin sehingga mereka menjadi golongan yang tidak mempercayai dan patuh kepada Allah SWT. Sementara itu kaum muslimin sendiri tidak berdisiplin, pemimpin pemerintahnya justru berlaku zalim, dan tokoh agamanya banyak menanamkan rasa kebencian sehingga tidak tampak misi Islam sebagai pembawa</p>
<p>rahmat bagi alam semesta.</p>
<p>Banyak sekali beredar teori konspirasi yang menunjukkan kerasnya usaha untuk mengajak ?tidak beriman kepada Allah dengan cara menyesatkan dan menjatuhkan umat muslim. Salah satu catatan sejarah Indonesia adalah usaha Snouck Hugronje yang pura-pura menjadi muslim.</p>
<p>Dari catatan sejarah Indonesia dapat kita pelajari bahwa Snouck Hugronje sendiri pergi ke Mekah dan dianggap muslim, sehingga menghancurkan perjuangan kemerdekaan orang Aceh. Orang Aceh pada masa itu sederhana saja pola pikirnya. Seseorang yang telah mengunjungi kota suci Mekah, sudah tentu untuk menunaikan ibadah haji. Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji sudah tentu muslim dan</p>
<p>sudah tentu dalam pengetahuan agamanya.</p>
<p>Banyak orang Aceh menduga bahwa Snouck Hughronje adalah seorang yang termasuk segolongan dengan mereka dan tinggi ilmu agamanya. Padahal tingginya tingkat ilmu tidak menjamin tingkat keimanan seseorang, apalagi ketahuidannya.</p>
<p>Isi kepala dan hati Snouck Hughronye antara lain adalah bagaimana mengalahkan orang Aceh yang sangat taat kepada Allah dan telah melemahkan kekuatan militer Belanda, serta menguras sumber daya ekonominya.</p>
<p>Kasus pengajaran ilmu tafsir Al-Quran di Ithaca New York adalah contoh lain kegigihan orang yang tidak percaya kepada Allah untuk membelokkan keimanan kaum muslimin. Sebagai contoh pengajar tersebut memberikan definisi &#8220;kafir&#8221; yang berbeda. Dikatakan bahwa orang kafir adalah orang yang belum mandi, belum mensucikan dirinya. Padahal firman Allah telah jelas mengenai definisi orang kafir (Al Baqarah : 6), <em>Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.&#8221;</em></p>
<p>Kafir atau <em>kuffar</em> (jamak), yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah, utusan, malaikat, kitab, dan hari kiamat. Dari catatan lain juga didapatkan bahwa Kafara, kufr, kafir adalah orang yang terus-menerus menolak Allah, sehingga walaupun petunjuk Allah diberikan secara terus-menerus dan kesabaran, tetapi tidak terbuka hati orang tersebut untuk menerima firman Allah.</p>
<p>Kalau dari segi Bahasa Arab sendiri kafara adalah orang yang menolak atau orang yang ingkar. Di sinilah kegigihan orang kafir bahwa kata-kata? dibalikkan penggunaannya oleh mereka. Contohnya di beberapa negara di benua Afrika, seperti Zimbwabwe (dulu Rodhesia), Sierra Leone, dan lainnya, kata keffa (berasal dari kafir) adalah panggilan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam. Panggilan yang menghinakan ini kerap digunakan karena sifat pembangkangan orang kulit hitam terhadap kulit putih.</p>
<p>Sudah jelas bahwa untuk mencapai kebenaran hakiki dari Allah SWT, sebaiknya belajar Al-Quran, terutama tafsirnya, dari orang-orang yang kadar keimanannya tidak diragukan. Karena betapa pun dalamnya ilmu seseorang, kalau tidak percaya kepada Allah, pengajaran itu justru akan menyesatkan. Oleh karena itu perlu secara cermat memilih kepada siapa kita belajar Al-Quran.</p>
<p>Begitu gigihnya orang-orang kafir itu menolak firman Allah sehingga bagaimanapun usaha dari seorang muslim, akan selalu dikembalikan kepada upaya untuk menyesatkan muslim. Oleh karena itu larangan Allah sangat jelas untuk tidak mengikuti mereka. Firman Allah dalam Al-Baqarah : 145, <em>&#8220;Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim.&#8221;</em></p>
<p>Perkembangan teknologi informasi serta kemudahan mobilitas antara negara memberikan peluang bagi tiap orang di dunia ini untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain. Dengan kualifikasi tahap kebenaran <em>ain-ul-yaqin</em> dan <em>ilm-ul-yaqin,</em> banyak kaum muslimin yang berdecak kagum atas kemajuan ilmu dan pembangunan fisik dari negara-negara maju.</p>
<p>Bayangkan saja selama sejarah penghargaan Nobel, muslimin/muslimah penerima hadiah tersebut bisa dihitung dengan jari, karena jumlahnya Cuma tujuh! Kenyataan ini membuat kekaguman berlebihan dari kaum muslimin terutama para tokoh pimpinannya kepada para ahli nonmuslim. Masyarakat muslimin silau akan gemerlap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang dikuasai para ahli nonmuslim. Sehingga banyak sekali para ahli nonmuslim ini justru menjadi rujukan bagi kaum muslimin untuk segala aspek kehidupan.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Merantau dapat saja terjadi dalam bentuk lahiriah saja atau bentuk batiniah (alam pikiran), dan atau kedua-keduanya, yaitu merantau secara fisik dan batin (perubahan pola pikir positif). Banyak sekali hikmah yang didapat dari merantau, paling tidak dalam bentuk alam pikiran. Merantau dari alam pikiran adalah sebagaimana para muslim keturunan, karena perkawinan, dan seterusnya, menuju kepada alam pikiran menjadi muslim karena Allah semata.</p>
<p>Al-Quran adalah pedoman hidup kita untuk mencapai <em>haqq-ul-yaqin.</em> Untuk itu kita perlu belajar Al-Quran dari orang-orang yang betul-betulberiman. Namun karena pertukaran ilmu serta perkembangan cabang-cabang ilmu tiap universitas, dapat saja Al-Quran menjadi subjek dari studi. Apabila Al-Quran sudah menjadi bagian dari kurikulum pelajaran dan diajarkan bukan oleh mukmin, kita harus mendudukan proses belajar itu sebagai studi literatur. Bukan untuk meningkatkan tauhid, walaupun hal itu sulit sekali.</p>
<p>Tempat tujuan belajar dan merantau dapat di mana saja, yang penting harus disadari bahwa peningkatan ilmu pengetahuan harus berbanding lurus dengan peningkatan keimanan dan perwujudan menjadi insan yang ikhsan. Allah maha benar dan maha mengetahui.</p>
<p><em>Ithaca, 11 Mei 2009. (<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9480-agama-dan-bekal-merantau-" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>). </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/agama-dan-bekal-merantau/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Elizabeth Valencia Bersyahadah Melalui Telepon</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 22:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2547</guid>
		<description><![CDATA[Gadis kelahiran Tijuana, Meksiko ini memeluk Islam melalui telepon.? Sebelumnya, dia pernah tak punya semangat hidup 
Elizabeth Valencia adalah seorang gadis belia kelahiran Tijuana, Meksiko. Sebelum memeluk Islam dia merasa hidupnya seakan tak berharga. Karena tubuhnya yang gemuk dia sering diejek di sekolah. Dia makin stress dan tak punya semangat hidup. Begitulah, waktu terus berjalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Gadis kelahiran Tijuana, Meksiko ini memeluk Islam melalui telepon.? Sebelumnya, dia pernah tak punya semangat hidup </em></strong></p>
<p>Elizabeth Valencia adalah seorang gadis belia kelahiran Tijuana, Meksiko. Sebelum memeluk Islam dia merasa hidupnya seakan tak berharga. Karena tubuhnya yang gemuk dia sering diejek di sekolah. Dia makin stress dan tak punya semangat hidup. Begitulah, waktu terus berjalan hingga satu ketika di musim panas tahun 2000, Elizabeth bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam dan memberinya hadiah sebuah mushaf Al-Quran. Diapun mulai mengkajinya hingga akhirnya pada 13 Februari 2001 dia bersyahadah dan mengganti namanya menjadi Asma Alia. Bagaimana kisah ketertarikannya pada Islam? Berikut kisah lengkapnya seperti dituturkannya.<span id="more-2547"></span></p>
<p align="center"><strong>***</strong></p>
<p>&#8220;Aku muallaf sejak 13 February 2001. Alhamdulillah!&#8221; ujar Elizabeth Valencia? yang lahir di Tijuana, Baja California, Mexico pada 14 Juni 1986. Selepas masuk Islam di usia 14 tahun, dia berganti nama dengan Asma Alia.</p>
<p>&#8220;Saat ini akulah satu-satunya muslim di dalam keluarga. Tapi aku yakin satu saat akan bertambah lagi muallaf di rumahku, Insya Allah,&#8221; tukas dia yakin.? Bagaimana kisahnya hingga Asma memeluk Islam?</p>
<p>&#8220;Kisah keislamanku sebenarnya telah dimulai sejak aku masih kanak-kanak,&#8221; lanjut Asma seraya berharap kisahnya bisa membawa perubahan bagi orang lain yang saat ini mencari kebenaran dalam lembaran hidup mereka.</p>
<p><strong>Hidup tak bernilai</strong></p>
<p>&#8220;Sebelum memeluk Islam, aku merasa hidupku seakan tak bernilai. Aku melihat seakan tak ada lagi kehidupan bagiku, tak ada yang namanya masa depan. Ditambah lagi hubunganku dengan kedua orangtua yang tak harmonis,&#8221; aku Asma.</p>
<p>Di sekolah, Asma merasa disisihkan oleh rekan-rekannya. &#8220;Memang aku punya banyak teman, tapi jujur saja mereka serasa bak orang asing di mataku. Sehingga sulit sekali untuk akur dan saling berbagi,&#8221; imbuh dia.</p>
<p>&#8220;Adakalanya, orang-orang melihatku dengan pandangan aneh. Aku ibaratnya seperti orang buangan. Oya waktu masih bocah aku kelebihan berat badan alias. Bahkan makin gemuk persis orang dewasa padahal waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Sering aku pulang ke rumah dengan tangisan sebab teman-temanku kerab mengejekku dengan kata-kata yang menyakitkan. Inilah yang membuatku makin <em>down</em> dan tersisih,&#8221; kata dia lagi.</p>
<p>Hal itu membuat prestasinya di sekolah menurun, padahal dia termasuk siswa berperingkat bagus. &#8220;Waktu masih di kelas 6 aku tak pernah bolos sekolah. Aku cinta sekolah,&#8221; kata dia mengenang. Hingga satu ketika aku mencoba berteman dengan beberapa anak muda. Ya biasa lah, masuk masa puber, mulai suka dengan lawan jenis. Aku ingin akrab dengan mereka. Sayangnya, aku harus menelan kekecewaan. Tak ada seorangpun yang menyukaiku. Ketika itu, aku makin benci dengan diriku sendiri,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>&#8220;Satu hari, aku pasrah dengan keadaan dan tak mampu mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan hidupku. Aku ceritakan semua masalah yang membebaniku kepada setiap orang dalam rumahku, tentang bagaimana sikap orang-orang di sekolahku. Termasuk kepada kakek dan nenek, yang kutahu juga tidak begitu menyukaiku. Aku tumpahkan semua isi hatiku, tentang betapa tak bahagianya hidupku, betapa aku kesepian. Pokoknya semuanya.&#8221;</p>
<p>Sebagai penganut Katolik Asma lalu berupaya mencari solusi dengan banyak berdoa. &#8220;Aku berdoa untuk hidup yang lebih baik. Tapi tak ada yang berubah. Aku pasrah dan ingin bunuh diri. Keinginan ini muncul saat aku berumur 13 dan 14 tahun. Untung pikiranku masih jernih, bunuh diri bukan jalan terbaik menyelesaikan masalah. Tapi hidup makin hari serasa makin berat saja,&#8221; lanjut dia.</p>
<p>Asma sering cemburu dengan teman-temannya yang rata-rata sudah punya pacar. Dia sering berangan-angan punya wajah cantik. Lalu disukai banyak pria. Sering juga sang ibu menghibur Asma dengan menyebutkannya anak yang cantik. &#8220;Tapi aku tahu ibu berbohong. Ucapan itu cuma untuk menghiburku saja,&#8221; tukas Asma.</p>
<p>&#8220;Tapi, selepas memeluk Islam, dan ingat kejadian masa lalu, rasanya aku bukanlah orang yang buruk di dunia ini. Ya aku cuma gemuk saja. Tak lebih dari itu. Benar kata ibu wajahku cantik. Tapi entah kenapa aku merasa hidupku buruk. Untung Allah datang dan membimbingku ke jalan yang benar,&#8221; syukur Asma.</p>
<p><strong>Bertemu pemuda Islam</strong></p>
<p>Ceritanya, pas musim panas tahun 2000 silam, Asma bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam kepadanya. &#8220;Aku masih sangat ingat, hari Sabtu 4 Nopember dia menghadiahiku sebuah mushaf Al-Quran. Akupun mulai mengkajinya. Hanya dalam waktu 3,5 bulan, aku berhasil mempelajarinya secara tuntas!? Menakjubkan. Tahu tidak, inilah bacaan pertamaku yang mampu kutamatkan secara tuntas tanpa kehilangan satu katapun. Sebelumnya buku apapun yang kubaca tak ada yang tamat. Masya Allah!,&#8221; kata Asma gembira.</p>
<p>Pada 13 Februari 2001 Asma jatuh sakit dan dia terbaring lemah di atas pembaringannya di rumah. Dia merasa depresi berat. Layaknya orang baru putus cinta. &#8220;Batinku benar-benar tertekan. Aku punya pacar dan kami sudah sepakat nanti jika sudah sampai waktunya akan menikah. Dia pun tak menampik. Sayangnya, keluarga pacarku itu ternyata telah menyiapkan gadis lain di kampungnya,&#8221; cerita Asma kelu.</p>
<p>Di tengah kegalauan itu muncul ide dalam kepalanya. &#8220;Aku ingin bikin perubahan dalam hidup ini,&#8221; batin Asma. Kendati kondisi lemah, dia beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke Mesjid Hamzah, sebuah mesjid di Mira Mesa, selatan California. Sebelumnya Asma mengontak dua orang rekan muslimah untuk ketemu di sana.</p>
<p>&#8220;Aku ceritakan pada mereka bahwa aku telah mempelajari Islam dan butuh saran mereka. Kepada salah seorang dari muslimah itu, dia baru berusia 13 tahun, aku sebutkan bahwa aku mau masuk Islam tapi tidak tahu bagaimana caranya. Rekan muslimah itu menyebut sangat sederhana sekali. Pertama harus ada dua kalimah syahadah di dalam hati. Begitupun, kata dia, aku musti mendeklarasikan kalimah itu di hadapan muslim lain sebagai saksi keislamanku,&#8221; kisah Asma panjang lebar.</p>
<p><strong>Bersyahadah via telepon</strong></p>
<p>Mendengar penjelasan temannya tersebut Asma pun setuju dan tak mau menunggu lagi untuk segera mengucapkan dua kalimah syahadah. &#8220;Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Alhamdulillah! Aku bersyahadah melalui telepon. Disaksikan oleh rekan muslimah yang baru berusia 13 tahun itu, di seberang sana ada saksi lain yakni? ayah si muslimah tersebut dan seorang pembantunya. Merekalah saksi keislamannku,&#8221; kisahnya lagi.</p>
<p>Asma tampak berlinangan airmata. Dia merasakan tubuhnya ringan sekali. Mungkin itu yang disebut, dosa-dosa di masa silam bagi orang yang baru memeluk Islam dimaafkan alias dihapuskan.</p>
<p>&#8220;Segera setelah proses syahadah itu, aku pun menemui rekan-rekan lain yang selama ini mengajarkanku apa itu Islam. Mereka sangat gembira sekali. Setelah itu akupun pulang untuk mandi. Di kaca aku berujar &#8220;Aku sudah jadi muslim, aku sudah jadi muslim. Oh masya Allah, aku jadi muslim!&#8221;. Ya aku sangat gembira sekali,&#8221; ujar Asma.</p>
<p><strong>Ibunya syok</strong></p>
<p>Hari-hari berikutnya, Asma bertemu dengan banyak rekannya yang muslimah seraya memberitahukan keislamnnya. &#8220;Tapi aku belum berani menceritakan pada orangtuaku. Aku takut dan menduga bisa saja dibunuh, gara-gara masuk Islam. Aku minta saran seorang muslimah apa yang musti kulakukan. Kata dia memang sebaiknya tak usah diberitahukan dulu hingga nanti ada waktu yang tepat. Soalnya aku juga masih sangat kecil sekali, baru 14 tahun,&#8221; sebut Asma.</p>
<p>Asma akhirnya menceritakan perihal keislamannya kepada sang ibu. &#8220;Ibu sangat terkejut dan sempat syok. Namun di hari berikutnya keadaan membaik. Dia bisa menerima berita itu. Ibu juga menyarankan untuk memberitahu ayah. Tapi aku menolak sarannya. Aku masih butuh waktu. Dan ini semua adalah proses,&#8221; ceritanya lagi.</p>
<p>Hari-hari berikutnya Asma menghabiskan waktunya dengan belajar tatacara shalat. &#8220;Aku belajar sendiri melalui buku-buku hingga aku bisa hafal bacaan di dalam shalat. Subhanallah!,&#8221; syukur Asma. Asma juga kadangkala ke mesjid untuk berjumpa rekan-rekannya dan menanyakan hal-hal yang belum dikuasainya.</p>
<p><strong>Mulai pakai jilbab</strong></p>
<p>Waktu terus berjalan dan kadar keimanan Asma pun semakin meningkat. Hingga dia memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sesuatu yang awalnya sangat berat sekali bagi Asma. &#8220;Aku mulai pakai jilbab kala pergi keluar rumah. Aku mencoba untuk istiqamah,&#8221; ujar Asma.</p>
<p>Satu ketika tanpa disadarinya sang ayah melihat kelakuan Asma itu. Asma benar-benar takut kala tahu ayahnya mengamati dia. &#8220;Aku takut sekali. Aku takut bakal dimarahi. Dengan segenap kekuatan hati kusampaikan bahwa aku telah masuk Islam dan apa yang kulakukan ini adalah mengikuti perintah Allah. Ayah terpana sejenak. Lalu dia menyebut: &#8220;Tidak apa-apa anakku. Tapi sekarang sudah besar dan kamu sudah saatnya memilih. Nak, kamu anak ayah yang paling pintar,&#8221; kisah Asma perihal jilbab dan respon ayahnya.</p>
<p>Sejak itu Asma seolah mendapat kekuatan berlipat. Tepat tanggal 11 Juni 2001 diapun mulai mengenakan jilbab di sekolah.</p>
<p>&#8220;Hanya 3 hari sebelum ulang tahunku yang ke-15. Jadi ini merupakan hadiah ulang tahun terbesar dalam hidupku. Awaknya aku hendak mengenakannya pas di hari ultah. Tapi batinku mengatakan kenapa musti ditunda sesuatu yang bisa dilaksanakan sekarang. Masha&#8217;Allah!,&#8221; tukas Asma lagi.</p>
<p>Sejak itu pula Asma berhenti memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Misalnya pandangan aneh kala ada warga yang melihatnya berjilbab dan macam-macam hal lainnya. &#8220;Berat memang, tapi rasa percaya diriku benar-benar tumbuh. Aku suka dengan jalan hidupku ini. Terutama setelah berjilbab. Alhamdulillah!,&#8221; kata dia penuh percaya diri.</p>
<p>Tak hanya itu, Asma pun mulai berani berdakwah. &#8220;Aku mulai menceritakan apa itu Islam kepada ayah setelah sebelumnya hal yang sama juga kuceritakan pada ibu. Aku hanya berusaha, hidayah ada di tangan Allah. Tapi aku yakin satu ketika kedua orangku Insya Allah akan mengikutiku. Amiin,&#8221; harap Asma.</p>
<p>&#8220;Aku sangat bahagia sebab Allah SWT telah memberiku peluang untuk menjadi seorang muslim dan satu hari nanti, Insya Allah, semoga aku bisa mendapat seorang pendamping hidup yang saleh, menikah dan memiliki anak serta aku akan menjadi guru bagi mereka. Indah sekali rasanya. Aku sangat mensyukuri atas semua karunia ini. Semoga Allah memelihara hidayah ini dan berharap Allah juga segera memberi hidayah untuk kedua orangtuaku,&#8221; tutup Asma. [<strong>Zulkarnain Jalil</strong>/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9394-elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sentuhan Islam Mampu Ubah Pola Hidup Napi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 07:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2545</guid>
		<description><![CDATA[Hidup Garment benar-benar gelap. Ia menggelandang di jalanan sejak kecil. Obat bius dan minum-minuman keras meracuninya. Hidupnya kembali terang setelah mengenal Islam
Sebuah buku tergeletak di atas meja kerja Mustafa Garment. Buku itu berjudul &#8216;Changin Your Game Plan&#8216;. Bagi pria Amerika keturunan Afrika ini, buku ini sangat berguna, bahkan mengubah jalan hidupnya. Kehidupannya berubah setelah pria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Hidup Garment benar-benar gelap. Ia menggelandang di jalanan sejak kecil. Obat bius dan minum-minuman keras meracuninya. Hidupnya kembali terang setelah mengenal Islam</em></strong><br />
<strong><em></em></strong>Sebuah buku tergeletak di atas meja kerja Mustafa Garment. Buku itu berjudul &#8216;<em>Changin Your Game Plan</em>&#8216;. Bagi pria Amerika keturunan Afrika ini, buku ini sangat berguna, bahkan mengubah jalan hidupnya. Kehidupannya berubah setelah pria yang kenyang dengan berbagai aksi kriminal ini masuk Islam.</p>
<p>&#8220;Saya dapat membuktikan dengan mengubah rencana suatu permainan, mengubah cara pikir karena ini mirip dengan pengalaman saya,&#8221; ujar Garment, kini seorang koordinator forensik di <em>Brooklyn Mental Health Court.</em><span id="more-2545"></span></p>
<p>Pria berjenggot bersuara lembut ini kini telah berusia 64 tahun. Ia sangat berbeda dengan penampilannya dulu, sekitar 20 tahun lalu.</p>
<p>Bekerja di <em>Mental Health Court</em>, yang merupakan afiliasi Mahkamah Agung Negara Bagian New York, ia membantu para tahanan atau napi untuk mendapatkan terapi atas penyakit jiwa atau kecanduan obat bius.</p>
<p>Tak seorang pun dapat memberikan bantuan lebih baik dibandingkan Garment. Apalagi ia menghabiskan masa kecilnya dengan bergelandang di jalanan lantaran tak punya rumah, selain juga kecanduan obat bius dan minum minuman keras.</p>
<p>Pria yang dibesarkan di lingkungan kumuh, Harlem, memiliki masa kecil penuh penderitaan. &#8220;Saya ingat sering kelaparan. Tubuh saya lemah karena lapar,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Pengalaman pertama bersentuhan dengan alkohol dan obat bius, yang kemudian menjadi &#8216;gaya hidupnya&#8217; selama 30 tahun, adalah saat ia berusia 13 tahun. Ia merasa keberadaannya bisa diterima teman-temannya bila ikut-ikutan merokok mariyuana dan minum anggur.</p>
<p>Ia putus sekolah saat kelas satu SMA. Namun, ia sudah kecanduan kokain dan tak dapat dihilangkan. Sejak saat itulah, ia mulai mencuri dan bahkan menjual obat bius. Tak heran bila ia menjadi penjahat kambuhan dan keluar masuk penjara lebih dari 30 kali atas berbagai kasus kejahatan, mulai dari menjual obat bius hingga perampokan.</p>
<p>Di tengah masalah kecanduan obat bius dan keluar masuk penjara, ia mengenal Islam pada 1972 saat berusia 27 tahun. Ia pun masuk Islam dan menikahi seorang wanita muslim. Sayangnya gaya hidupnya tak berubah. Istrinya pun minta cerai.</p>
<p>Akhirnya pada 1998, setelah hampir 40 hidup di jalanan, bertahan hidup dengan makan di dapur umum dan mencuri, serta tetap kecanduan obat, ia memutuskan membuka lembaran baru.</p>
<p>Ia mulai mengikuti pertemuan Narcotics Anonymous dan mencari bantuan melalui <em>The Bridge</em>, sebuah organisasi yang membantu kaum tunawisma dan kecanduan obat. Saat itulah ia bertemu Amin, mentornya yang Muslim dan memandunya menjadi Muslim sejati melalui tahap penyembuhan.</p>
<p>Amin, mantan pecandu heroin dan pasien AIDS, memperkenalkannya dengan Millati Islami, sebuah program pemulihan obat secara Islam dengan mendekatkan diri pada Allah dan melaksanakan salat.</p>
<p>Lucille Jackson, yang dulu mengelola <em>The Bridge</em>, sangat terkesan dan memberinya pekerjaan di organisasi itu, sekalipun ia masih mengikuti terapi. Saat Jackson menjabat Direktur Proyek <em>Brooklyn Mental Health Court</em>, Garment juga direkrut sebagai koodinator forensik.</p>
<p>Tugas Garment adalah memberikan terapi buat napi yang mengalami gangguan jiwa, kecanduan, atau membantu mereka yang menganggur dan tak punya tempat tinggal. Ia juga kerap mengisahkan pengalaman pribadinya, terutama kepada para napi muda.</p>
<p>Kini Garment telah menjadi seorang ayah dan kakek yang bahagia. Ia bersyukur kepada Allah karena telah menemukan Islam dalam masa tersulit dalam hidupnya. Selain itu, ia juga berhasil menyelesaikan sekolah dan unggul dalam pelajaran bahasa Arab agar bisa memahami Al-Quran. Ia juga berencana kuliah jurusan Kajian Islam. [iol/htb/cha/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9270-sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Mengenal Islam Melalui Internet</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/saya-mengenal-islam-melalui-internet</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/saya-mengenal-islam-melalui-internet#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 07:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2543</guid>
		<description><![CDATA[Ia lahir dan besar dalam lingkungan Kristen. Tapi kemudian berganti-ganti agama. Pelariannya berakhir pada pelukan Islam
Benar kata orang, Islam benar-benar indah dan agama yang sangat mulia.
Walaupun selama ini cap buruk telah? diberikan kepada Islam dan umat Islam pada umumnya, namun buktinya ia berhasil mendapatkan pengikutnya dan berkembang selama hampir 15 abad. Islam, dalam beberapa kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Ia lahir dan besar dalam lingkungan Kristen. Tapi kemudian berganti-ganti agama. Pelariannya berakhir pada pelukan Islam</em></strong></p>
<p><strong></strong>Benar kata orang, Islam benar-benar indah dan agama yang sangat mulia.</p>
<p>Walaupun selama ini cap buruk telah? diberikan kepada Islam dan umat Islam pada umumnya, namun buktinya ia berhasil mendapatkan pengikutnya dan berkembang selama hampir 15 abad. Islam, dalam beberapa kata singkat, adalah hidupku. Dan? Allah adalah sebuah kekuatan dalam hidupku. Tanpa Allah, saya bukanlah apa-apa.</p>
<p>Ketika saya duduk untuk menulis pengantar ini, saya tidak bermaksud untuk mengirim seluruh kisah kembalinya saya dalam pelukan Islam.? Semakin saya berpikir tentang hal ini, semakin saya menyadari bahwa ini adalah tempat yang tepat untuk cerita.<span id="more-2543"></span></p>
<p>Aku dibaptis saat lahir saat masih kecil, saat pra-sekolah di Detroit, Michigan. Semenjak itu, gereja selalu menjadi bagian dari anak usia dini di Detroit, walaupun keluarga saya tidak pergi setiap minggu.? Tapi ketika orangtuaku? pindah ke North Carolina, mereka sudah mulai rajin? ke gereja.</p>
<p>Saya harus selalu pergi ke sekolah Katolik. Karenanya, dari kelas saya mengenal pertama kali kehidupan Yesus, Bunda Maria, para Rasul, Alkitab, dan Sakramen.? Saya pertama kali mendapat? &#8220;first holy communion&#8221; pada usia 7 tahun.</p>
<p>Pada September 1995, lokal sekelompok orang Katolik Ortodoks dari Libanon (Melkite Byzantine Catholic) mengadakan liturgi di gereja kami. Saya pergi dengan ibu saya, dan saya jatuh cinta. Hal? paling indah saya pernah melihat, saya dengar, dan saya rasakan.? Liturgi tradisional, yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris, Arab, dan Yunani. Dengan lilin, ikon, dan banyak kemenyan.</p>
<p>Ketika teman-teman saya baru belajar tentang gereja, mereka tidak pernah mencela saya, namun mereka tidak memahami mengapa saya menyukai Katolik Melkite Byzantine.? Beberapa orang menyatakan bahwa saya melakukan untuk mencari perhatian. Tapi bagi saya,? saya telah melakukan sesuatu yang sedikit lebih mengejutkan dan luar biasa!</p>
<p>Konflik Serius</p>
<p>Saya terus pergi ke gereja Melkite setiap hari minggu sampai pertengahan Maret tahun 1996.? Namun suatu hari, tepatnya 40 hari sebelum Paskah,? saya mempunyai pertengkaran serius pertama saya dengan agama Keristen. Sesungguhnya saya kurang yakin apa yang sedangb terjadi.? Tetapi tiba-tiba, saya berhenti percaya pada agama Kristen.</p>
<p>Untuk beberapa alasan, sesaat saya merasa? Judaisme adalah satu-satunya agama monotheistic yang paling baik yang? saya tahu. Dan akhirnya Aku pergi pada hari Sabat di sinagog Yahudi dengan teman orangtua saya.? Saya selalu tertarik budaya Yahudi, tapi saya tidak tahu banyak tentang agama Yahudi.</p>
<p>Saya mulai menghadiri layanan Sabat pada hari Minggu pagi.? Walaupun saya telah cukup baik diterima oleh orang-orang Yahudi di kota, saya juga banyak mendapat kritikan dari teman saya.? Sekali lagi, saya dituduh mencoba untuk mendapatkan perhatian, yang berusaha untuk menjadi berbeda.</p>
<p>Apapun perkataan orang,? saya perlahan mulai mengadopsi Judaisme dan Yahudi mengikuti praktek-praktek budaya dan agama mereka.? Saya juga mulai belajar untuk bahasa Ibrani tiap Sabat di hari Sabtu.</p>
<p>Pada saat saya mulai sekolah menengah pada tahun 1996, orang-orang memanggil saya &#8220;The kid who thinks he&#8217;s Yahudi.&#8221;[anak yang berpikir dia Yahudi]. Saya bahkan berencana? pindah ke Israel.? Tapi sedikit yang saya tahu, bahwa &#8220;kemesrahan&#8221; ku? dengan Yahudi supanya akan segera berakhir.</p>
<p>Suatu hari, saat Thanksgiving, saya sedang duduk di rumah menghadap Internet, untuk mencari satu dua situs yang menarik.? Mulailah saya mencari majalah melalui Internet. Terkejutlah saya ketika menangkap sebuah situs? Ibrahim Shafi&#8217;s Islam Page. Saya berhadapan dengan sebuah situs Islam.</p>
<p>Apa yang saya pahami tentang Islam? Tak banyak. Namun saya mempunyai teman di sekolah seorang Muslim, ibu saya bekerja dengan orang Muslim.? Namun, pengetahuan tentang Islam itu sangatlah terbatas.? Sebagian besar apa yang saya tahu berasal dari? buku. Yang membuat saya mengkerut ketika menyebut Islam perlakuan perempuan dengan sangat mulia.</p>
<p>Rupanya, saya mulai mempelajari Islam melalui web.? Saya segera &#8220;ngerumpi&#8221; di room chat di sebuah channel IRC (Internet Relay Chat) guna mencari teman Muslim sebanyak-banyaknya. Dari sanalah,? saya mulai syahadat dan menyatakan diri memeluik Islam.</p>
<p>Kehidupan saya merasa baik, tetapi saya tetap tidak merasa bahwa saya adalah bagian dari umat Islam. Persoalannya, karena saya tidak menyatakan syahadat di depan saksi.</p>
<p>Nah, kesempatan untuk menjadi seorang Muslim di hadapan umat Islam lainnya datang selama perjalanan ke Chicago. Saudara perempuan saya pergi ke Universitas Chicago dan saya menyadari bahwa ada? MSA (Muslim Student Association) di sana. Akhirnya, melalui MSA aku resmi menyatakan besaksi kepada Allah dan Rasul Allah memeluk Islam.</p>
<p>Sekarang, nama baruku berganti menjadi? Tariq Ali. Namun, kadang, sehari-hari tetap dipanggil Tommy.</p>
<p>Meski telah memekuk Islam, masih banyak orang masih meledekku akibat agama masa laluku. &#8220;Apa agama Anda minggu ini, Tommy?&#8221;. Dan biasanya, saya jelaskan,? &#8220;Saya telah Muslim.&#8221; Dan jika mereka tertarik dan bekepentingan, saya jelaskan lebih jauh agama saya yang sangat hebat ini. [cerita Tommy dimuat situs www.daily.pk/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9184-saya-mengenal-islam-melalui-internet-" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/saya-mengenal-islam-melalui-internet/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamera Obscura yang Mengubah Dunia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 21:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2504</guid>
		<description><![CDATA[Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221;? The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.
Kamera? merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surat kabar terkemuka di Inggris, <em>The Independent</em> pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221;? <em>The Independent</em> menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.</p>
<p>Kamera? merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.<span id="more-2504"></span></p>
<p>Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M,? al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura.</p>
<p>Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.</p>
<p>Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai &#8221;ruang gelap&#8221;. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.</p>
<p>&#8220;Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),&#8221; ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul? <em>The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz&#8217;s perspective.</em></p>
<p>Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk? <em>Kitab al-Manazir</em> (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun? <em>Al-Bayt Al-Muzlim</em> atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau? kamar gelap.</p>
<p>Bradley Steffens dalam karyanya berjudul? <em>Ibn al-Haytham:First Scientist</em> mengungkapkan bahwa? <em>Kitab al-Manazir</em> merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. &#8220;Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,&#8221; papar Bradley.</p>
<p>Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).</p>
<p>Setelah itu,? penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 &#8211; 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).</p>
<p>Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada? 1665 M.? Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.</p>
<p>Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya &#8211; yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.</p>
<p>Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia? II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.</p>
<p>Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.? Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.</p>
<p><strong>Sejarah Sang Penemu Kamera Obscura</strong></p>
<p>Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni? <em>qamara</em> ?? Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Hatham. Bapak fisika modern itu?? terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah.</p>
<p>Sejak kecil al-Haitham ydikenal berotak encer. Ia? menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.</p>
<p>Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.</p>
<p>Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku.</p>
<p>Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen &#8211; begitu dunia Barat menyebutnya &#8211; juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.</p>
<p>Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika &#8216;Bapak Optik&#8217; dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.</p>
<p>Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.</p>
<p>Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.</p>
<p>Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul? <em>Light On Twilight Phenomena,</em> al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.</p>
<p>Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.</p>
<p>Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab? <em>al-Manazhir</em> , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.?? she/desy susilawati/heri ruslan <a href="http://republika.co.id/berita/48892/Kamera_Obscura_yang_Mengubah_Dunia" target="_blank"><strong>[REPUBLIKA]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peralatan Laboratorium Warisan Peradaban Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/peralatan-laboratorium-warisan-peradaban-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/peralatan-laboratorium-warisan-peradaban-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 09:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2500</guid>
		<description><![CDATA[Peradaban Islam di era keemasan menguasai beragam ilmu pengetahuan, salah satunya adalah kimia.? Para sejarawan sains mengakui bahwa ilmu kimia merupakan anak kandung dari peradaban Islam. &#8221;Ahli kimia Muslim adalah pendiri ilmu kimia,&#8221; tutur Will Durant? dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith.
Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M itu mengakui bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peradaban Islam di era keemasan menguasai beragam ilmu pengetahuan, salah satunya adalah kimia.? Para sejarawan sains mengakui bahwa ilmu kimia merupakan anak kandung dari peradaban Islam. &#8221;Ahli kimia Muslim adalah pendiri ilmu kimia,&#8221; tutur Will Durant? dalam <em>The Story of Civilization IV: The Age of Faith.</em></p>
<p>Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M itu mengakui bahwa ilmu kimia hampir sepenuhnya diciptakan peradaban Islam. &#8220;Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar,&#8221; ungkap Durant.</p>
<p>Para kimiawan Muslim di era kekhalifahan telah meletakan dasar-dasar kimia modern yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Betapa tidak, para kimiawan Muslim telah berhasil menemukan sederet zat atau senyawa kimia yang sangat penting, sepertil asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, alkohol, larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.<span id="more-2500"></span></p>
<p>Selain itu, para ahli kimia Muslim juga telah memperkenalkan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua penemuan itu tentunya didukung dengan peralatan laboratorium yang canggih, pada zamannya.</p>
<p>Para ahli kimia Muslim pada <em>golden age</em> juga telah mewariskan sederet peralatan laboratorium yang hingga kini masih tetap digunakan. Saintis Muslim seperti; Jabir Ibnu Hayyan alias Geber,? al-Khazini, al-Biruni, Ibnu Sina, dan Muhammad ibnu Zakariya al-Razi telah menciptakan beragam peralatan laboratorium yang sangat penting bagi pengembangan ilmu kimia.</p>
<p>Sejumlah peralatan laboratorium yang diwariskan para ilmuwan Muslim itu antara lain, alembic, conical measure, hidrostatic balanca, teelyard, laboratory flask, pycnometer, refrigerated coil, refrigerated tubing, termometer,? air termometer, peralatan untuk mengolah obat-obatan dan peralatan untuk melelehkan zat-zat? atau bahan-bahan kimia.</p>
<p><strong>Alembic</strong><br />
Merupakan alat penyulingan yang terdiri dari dua tabung yang terhubung.? Tabung kimia ini pertama kali ditemukan Jabir Ibnu Hayyan (721 M &#8211; 815 M). Sejarawan sains memperkirakan, Jabir? menemukan alat iitu pada abad ke-8 M. &#8220;Ini merupakan alat penyulingan pertama,&#8221;? papar? Durant. Ensiklopedia Hutchinson, menyebut alembic sebagai alat penyulingan pertama yang digunakan untuk memurnikan seluruh zat kimia.</p>
<p><strong>Conical Measure (Tabung Ukur)</strong><br />
Marshall Clagett dalam karyanya <em>The Science of Mechanics in the Middle Ages,</em> mengatakan,? conical measure merupakan? peralatan laboratorium yang ditemukan Abu Raihan al-Birunii( 973? M- 1048 M) pada abad ke- 11 M.? M Rozhanskaya and IS Levinova dalam tulisannya bertajuk <em>Statics</em> juga menyatakan bahwa conical measure pertama kali ditemukan al-Biruni.</p>
<p>Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa <em>conical measure</em> adalah salah satu peralatan laboratorium yang terbuat dari bahan kaca? berupa? sebuah cangkir berbentuk kerucut dengan torehan di atasnya yang berfungsi untuk memudahkan penuangan cairan. Di bagian samping terdapat tanda-tanda ukuran untuk mengukur isi cairan.<br />
Hydrostatic Balance dan Steelyard</p>
<p>Robert E Hall dalam karyanya berjudul <em>Al-Khazini: Dictionary of Scientific Biography,</em> mengungkapkan, bahwa <em>hydrostatic balance</em> (keseimbangan hidrostatis) dan Steelyard (timbangan gantung) ditemukan Al-Khazini yang memiliki nama lengkap Abd al-Rahman al-Khazini (1115 M -1130 M)? pada 1121 M.</p>
<p><strong>Laboratory Flask</strong><br />
Menurut Robert E Hall Laboratory Flask atau Botol Laboratorium pertama kali diperkenalkan? al-Biruni.? Botol atau termos laboratorium itu biasanya terbuat dari kaca bening. Botol itu digunakan untuk menampung cairan yang akan digunakan atau diuji di laboratorium. Selain itu, alat ini juga digunakan untuk? mengukur isi bahan kimia, mencampur, memanaskan, mendinginkan, menghancurkan, mengendapkan, serta mendidihkan (dalam penyulingan) zat-zat kimia.</p>
<p><strong>Pycnometer</strong><br />
Pycnometer merupakan peralatan laboratorium yang digunakan untuk mengukur berat jenis atau volume caiaran secara akurat.? Alat ini juga ditemukan al-Biruni. Hingga kini, peralatan laboratorium yang diwariskan peradaban Islam itu masih digunakan.</p>
<p><strong>Refrigerated coil and Refrigerated Tubing</strong><br />
Menurut Vicki Pitman dalam karyanya bertajuk <em>Aromatherapy: A Practical Approach, Nelson Thornes,</em> pada abad ke-11 M, Ibnu Sina telah menemukan refrigerated coil atau lingkaran pendingin yang berfungsi untuk, yang memadatkan uap wangi. Richard Myers, dalam bukunya <em>The Basics of Chemistry, Greenwood Publishing Group</em> juga mengakui bahwa lingkaran atau tabung pendingin itu pertama kali diperkenalkan Ibnu Sina .</p>
<p>&#8220;Ini merupakan sebuah terobosan dalam teknologi penyulingan dan Ibnu Sina menggunakannya dalam proses penyulingan dengan uap air panas, yang membutuhkan tabung pendingin untuk memproduksi minyak esensial,&#8221;? papar Marlene Ericksen dalam karyanya <em>Healing with Aromatherapy</em>.</p>
<p><strong>Termometer </strong><br />
Robert Briffault dalam bukunya <em>The Making of Humanity</em>, menjelaskan bahwa termometer ditemukan oleh Ibn Sina (980 M &#8211; 1037 M)? pada abad ke-11 M.. Termometer adalah sebuah alat untuk mengukur temperatur/suhu dengan berbagai jenis prinsip yang berbeda.</p>
<p><strong>Peralatan untuk Pengolahan Obat-obatan</strong><br />
Georges C Anawati, dalam karyanya <em>Arabic alchemy,</em> mengungkapkan, al-Razi) merupakan penemu pertama peralatan untuk pengolahan obat-obatan. &#8220;Muhammad ibnu Zakariya Razi (Rhazes) adalah orang pertama yang menjelaskan peralatan untuk pengolahan obat-obatan,&#8221; tuturnya.</p>
<p><strong>Peralatan untuk Melelehkan Bahan</strong><br />
Al-Razi dalam <em>Secretum secretorumnya</em>, menjelaskan beberapa peralatan yang dibuatnya untuk melelehkan zat kimia <em>(li-tadhwib)</em>. Itulah beberapa peralatan laboratorium yang diwariskan para ilmuwan Muslim bagi pengembangan sains modern. Kontribusi ilmuwan Muslim sungguh begitu besar bagi kemajuan peradaban manusia.</p>
<p>Karya-karya yang mereka ciptakan mampu mengubah dunia. Tanpa kontribusi dan jasa mereka, barangkali dunia tak akan maju seperti sekarang ini. Berkat peralatan laboratorium itu, peradaban manusia mampu melakukan revolusi di bidang kimia, fisika dan farmasi.</p>
<p><strong>Sang Penemu Peralatan Laboratorium</strong></p>
<p><strong>* Jabir Ibnu Hayyan</strong><br />
Jabir Ibnu Hayyan ditabalkan sebagai &#8221;Bapak Kimia Modern&#8221;.? Dalam bidang kimia, prestasi dan pencapaiannya terekam dengan baik lewat buku-buku yang ditulisnya. Tak kurang dari 200 buku berhasil ditulisnya.</p>
<p>Sebanyak 80 judul buku di antaranya mengupas hasil-hasil eksperimen kimia yang dilakukannya. Buku-buku itu sungguh amat berpengaruh hingga sekarang. Secara khusus, ia mendedikasikan sekitar 112 buku lainnya bagi Barmakid, sang guru, yang juga pembantu atau wazir Khalifah Harun ar-Rasyid.</p>
<p>Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Pada abad pertengahan, orang-orang Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir itu ke dalam bahasa Latin, sehingga menjadi rujukan para ahli kimia di Eropa. Tak kurang dari 70 buku karya Jabir telah ialihbahasakan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan.</p>
<p>Salah satu yang terkenal adalah?<em></em><em>Kitab al-Zuhra</em> yang diterjemakan menjadi <em>Book of Venus</em>, serta <em>Kitab al-Ahjar</em> yang dialihbahasakan menjadi <em>Book of Stones.</em></p>
<p><strong>* Al-Razi</strong><br />
Terlahir di Rayy, Provinsi Khurasan dekat Teheran tahun 864 M, al-Razi dikenal? sebagai seorang dokter dan ahli kimia yang hebat. Sejatinya, ilmuwan Muslim? yang dikenal Barat sebagai Rhazes itu bernama lengkap Abu Bakar Muhammad ibnu Zakariya. Al-Razi muda yang dikenal amat gemar memainkan harpa sudah mulai jatuh hati pada ilmu kimia.</p>
<p>Ia menimba ilmu dari Ali ibnu Rabban al-Tabari (808 M) &#8211; seorang dokter? sekaligus filosof. Sang gurulah yang telah melecut minat Rhazes untuk menekuni dua bidang ilmu yakni kedokteran dan filsafat. Hingga kelak, dia menjadi seorang filosof, dokter dan ahli kimia yang amat populer di zamannya.</p>
<p>Al-Razi merupakan ilmuwan yang sangat produktif. Tak kurang dari 200 buku? berhasil dituliskannya. Kitabnya yang paling terkenal dan fenomenal adalah? <em>Kitab Al Mansur</em>, <em>Kitab Al Hawi</em>, <em>Kitab Al Asrar</em> atau &#8216;Kitab Rahasia&#8217;.? hri/des <a href="http://republika.co.id/berita/50290/Peralatan_Laboratorium_Warisan_Peradaban_Islam" target="_blank">[REPUBLIKA]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/peralatan-laboratorium-warisan-peradaban-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Felix Yanwar Siauw Dengan Islam Hidup Jadi Terarah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/felix-yanwar-siauw-dengan-islam-hidup-jadi-terarah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/felix-yanwar-siauw-dengan-islam-hidup-jadi-terarah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 03:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2376</guid>
		<description><![CDATA[
Masa SMP merupakan momentum titik balik bagi kehidupan seorang Felix Yanwar Siauw. Pada masa remaja itulah dalam diri Felix timbul keraguan atas agama yang telah dianutnya sejak ia kecil. Berbagai pertanyaan mengenai konsep Tuhan, pengampunan dosa, dan hakikat penciptaan manusia dalam agama Katolik muncul dalam benaknya. &#8221;Di agama saya yang lama memang banyak hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://1.1.1.4/bmi/republika.co.id/images/news/2009/03/20090331185501.jpg" alt="Felix Yanwar Siauw Dengan Islam Hidup Jadi Terarah" width="260" height="197" /></p>
<p>Masa SMP merupakan momentum titik balik bagi kehidupan seorang Felix Yanwar Siauw. Pada masa remaja itulah dalam diri Felix timbul keraguan atas agama yang telah dianutnya sejak ia kecil. Berbagai pertanyaan mengenai konsep Tuhan, pengampunan dosa, dan hakikat penciptaan manusia dalam agama Katolik muncul dalam benaknya. &#8221;Di agama saya yang lama memang banyak hal yang tidak terjawab pada waktu itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebagai contoh, ketika ia menanyakan soal trinitas dan keberadaan Yesus sebagai Tuhan kepada pastor, jawaban dari semua pertanyaaannya tersebut berakhir pada kata dogma, yakni ajaran yang sudah ada sejak dahulu dan tidak boleh dipertanyakan oleh orang-orang yang beriman kepada Yesus.</p>
<p>Ketika mendengar jawaban seperti itu dari sang pastor, akhirnya Felix lebih memilih untuk mundur dari agama Katolik. Keputusan untuk keluar dari agama Katolik, menurut ayah satu orang putri ini, juga dilandasi oleh kenyataan mengenai praktik-praktik keagamaan yang dilihatnya hanya sebagai sebuah ritual kosong.<span id="more-2376"></span></p>
<p>&#8221;Saya melihat selama ini teman-teman saya datang ke gereja hanya untuk sebuah proklamasi kalau dia sudah punya pacar, kemudian dibawa ke gereja atau sekadar hanya untuk pamer pakaian bagus,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Ketika ia memutuskan meninggalkan agama Katolik, sejak saat itu pulalah ia tidak percaya adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Masa-masa seperti itu ia alami hingga menjelang akhir duduk di SMP.</p>
<p>Begitu memasuki kelas tiga SMP, berbagai pertanyaan yang pernah ada dahulu, muncul kembali dalam benaknya. Kemudian, dia mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut ke mana-mana. Hingga kemudian, dirinya sampai pada satu kesimpulan bahwa Tuhan itu memang benar ada.</p>
<p>Keyakinannya bahwa Tuhan itu ada muncul setelah ia mempelajari ilmu biologi bahwa penciptaan manusia dari sperma yang tidak mempunyai akal. Dari sini ia memahami bahwa manusia itu diciptakan dari sesuatu yang amat istimewa. &#8221;Kemudian saya kembali yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi, namanya siapa ini yang belum jelas,&#8221; tambah Felix.</p>
<p><strong>Percaya tapi tak beragama</strong><br />
Meskipun meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun hal itu tidak lantas membuat Felix memutuskan untuk memilih salah satu ajaran agama sebagai jalan hidupnya. &#8221;Ketika saya mencari siapa sesungguhnya Tuhan itu ke Kristen Protestan, tidak dapat. Begitu juga di agama Buddha, karena tuhannya juga bersifat manusia, tidak layak untuk dijadikan Tuhan,&#8221; paparnya.</p>
<p>Percaya Tuhan, tapi tidak beragama, begitulah kira-kira gambaran kehidupan spiritual yang sempat dijalaninya selama kurun waktu lima tahun. Selama itu pula, ia hidup dengan bayang-bayang tiga pertanyaan besar. Yakni, setelah mati manusia mau ke mana, untuk apa manusia diciptakan di dunia, dan dari mana asal mulanya alam semesta tercipta.</p>
<p>Ia terus mencari jawaban dari ketiga pertanyaan besar ini. Proses pencarian itu berakhir di pertengahan tahun 2002, begitu dirinya menginjak bangku kuliah semester ketiga di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ketika itu, dirinya memutuskan pindah tempat kos. Di tempat kos yang baru ini, ia tinggal bersama-sama dengan mahasiswa yang beragama Islam.</p>
<p>Suatu ketika salah seorang teman kosnya yang Muslim menyarankannya untuk menemui seorang ustadz untuk mendiskusikan tiga pertanyaan besar itu. &#8221;Saya bilang, selama ini saya diskusi dengan ustadz sama saja. Mereka <em>enggak</em> ada bedanya dengan pastor, cuma mereka pintar menyembunyikan kejahatannya,&#8221; ujar Felix menanggapi saran temannya kala itu.</p>
<p>Temannya tidak putus asa untuk membujuk Felix agar mau bertemu dengan guru ngaji itu. Ketika ia bertemu langsung dengan sang ustadz, dirinya menemukan pandangan mengenai Islam yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipahaminya sebelumnya.</p>
<p>&#8221;Ternyata yang saya temukan dalam Islam berbeda. Saya menemukan suatu konsep yang sangat luar biasa. Di mana dia (Islam&#8211;Red) menyediakan konsep akhirat dan juga dunia. Artinya, Islam ini bisa menjawab seluruh pertanyaan saya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dari sini kemudian dirinya tertarik untuk mempelajari Alquran lebih dalam. Salah satu ayat di dalam Alquran yang membuatnya berdecak kagum adalah surat Albaqarah ayat 2 yang menyatakan, &#8221;Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa.&#8221;</p>
<p>Kendati demikian, pada saat itu ia masih mengira bahwa yang menciptakan kitab suci ummat Islam ini adalah seorang manusia biasa, seperti halnya kitab suci agama yang lain. Namun, ketika sampai padanya penjelasan bahwa Alquran itu bukan buatan manusia, ia menganggap hal itu sebagai lelucon. Dia pun meminta bukti bahwa penjelasan itu benar adanya.</p>
<p>Keraguan tersebut kemudian terjawab melalui surat Albaqarah ayat 23 yang menjelaskan, &#8221;Dan bila kalian tetap dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan ini, datangkanlah kepada Kami satu surat yang semacam dengannya.&#8221;</p>
<p>Bagi dirinya surat Albaqarah ayat 23 ini merupakan sebuah segel dan tantangan terbuka buat manusia, tapi manusia tidak ada yang bisa membuat seperti itu. Dari diskusi panjang tersebut Felix merasa yakin bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan dari Tuhan pencipta semesta alam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memilih Islam&#8211;di saat usianya baru menginjak 18 tahun&#8211;sebagai jalan hidupnya hingga kini.</p>
<p>Mengetahui anaknya masuk Islam, sudah pasti kedua orang tua Felix syok dan marah. Namun, kemarahan keduanya hanya ditunjukkan dalam bentuk rasa kekecewaan. &#8221;Kalau sampai pada pengusiran memang tidak terjadi seperti yang dialami mualaf lainnya.&#8221;</p>
<p>Rasa kecewa tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya dengan kata-kata pedas. &#8221;Kamu ini kemasukan setan atau jin. Kamu itu seperti mutiara yang menceburkan diri ke dalam lumpur.&#8221; Lalu saya katakan, &#8221;Lumpurnya yamg mana dan mutiaranya yang mana.&#8221;</p>
<p>Namun, dengan berbagai upaya yang Felix lakukan selama tiga tahun, kini kedua orang tuanya sudah bisa menerima pilihan hidupnya itu. Meski dalam beberapa hal, baik ayah maupun ibunya, masih belum bisa menerima perbedaan tersebut. Seperti ketika putrinya yang masih berusia satu tahun mengenakan kerudung.</p>
<p>&#8221;Kalau anak saya dibawa ke tempat orang tua pakai kerudung, ibu saya tidak akan mau menggendongnya. Tapi, bapak saya masih mau menggendongnya,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Sementara sang ayah merasa keberatan jika cucu perempuannya itu diminta untuk memanggil Felix dengan sebutan abi. Pasalnya, menurut sang ayah, panggilan abi tersebut tidak ada kewajibannya di dalam Alquran.</p>
<p>Kendati begitu, ia merasakan sebuah kepuasan diri yang tidak pernah dirasakan sebelum menemukan Islam. Selain itu, dengan meyakini Islam, hidupnya menjadi lebih bermakna dan terarah.</p>
<p>&#8221;Merasa puas karena setiap fenomena yang saya lihat dalam hidup ini bisa dijelaskan dengan Islam. Saya juga lebih punya tujuan hidup karena saya sudah tahu dari mana asal saya, apa yang harus saya lakukan di dunia ini, dan saya mau ke mana setelah mati,&#8221; ujarnya. nidia zuraya/<a href="http://republika.co.id/berita/41165/Felix_Yanwar_Siauw_Dengan_Islam_Hidup_Jadi_Terarah" target="_blank"><strong>republika</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/felix-yanwar-siauw-dengan-islam-hidup-jadi-terarah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aria Desti Kristiana: Kenapa Tuhan Harus Disalib?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/aria-desti-kristiana-kenapa-tuhan-harus-disalib</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/aria-desti-kristiana-kenapa-tuhan-harus-disalib#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 02:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2366</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Tuhan itu siapa dan seperti apa sih , Ma? Tuhan kita siapa? Apa bedanya Tuhan dengan Allah?&#8221; Pertanyaan kritis itu meluncur begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya dijawab dengan satu kalimat, &#8221;Tuhan itu yang kita sembah,&#8221; ujar sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;Tuhan itu siapa dan seperti apa sih , Ma? Tuhan kita siapa? Apa bedanya Tuhan dengan Allah?&#8221; Pertanyaan kritis itu meluncur begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya dijawab dengan satu kalimat, &#8221;Tuhan itu yang kita sembah,&#8221; ujar sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok patung laki-laki di kayu salib yang berada di altar gereja.</p>
<p>Tentu saja, jawaban mamanya itu membuat gadis cilik ini tak puas. Bukannya berhenti dengan jawaban itu, malah sebaliknya ia semakin berusaha mencari jawaban yang bisa mengantarkannya pada kebenaran hakikat Tuhan sebagai pencipta.</p>
<p>Bahkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. &#8221;Katanya Tuhan itu yang menciptakan kita. Lalu, bagaimana sebuah patung yang tidak bisa bergerak dan disalib bisa menciptakan semua yang ada di dunia ini,&#8221; ujar Desti sapaan akrabnya yang kini berusia 18 tahun saat ditemui? Republika akhir pekan lalu di Jakarta.<span id="more-2366"></span></p>
<p>Pertanyaan lainnya yang kerap muncul dalam benaknya adalah &#8221;Mengapa Tuhan yang mesti disembah harus disalib?? Kenapa Tuhan harus dirupakan dalam sebuah patung? Bukankah patung itu tidak memberi manfaat?&#8221; Pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan dirinya.</p>
<p>Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga pemeluk Kristiani yang taat, untuk urusan pendidikan, kedua orang tua Desti tak pernah mengarahkan gadis kelahiran Jakarta, 9 Desember 1991 ini ke sekolah khusus pemeluk Kristen. Oleh kedua orang tuanya, Desti justru disekolahkan di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) umum.</p>
<p>Ketika bersekolah inilah untuk pertama kalinya Desti bersentuhan dengan agama Islam. &#8221;Karena aku bersekolah di sekolah umum, jadi pendidikan agama yang diperoleh justru pelajaran agama Islam. Itu aku dapatkan pada saat di TK dan SD,&#8221; paparnya.</p>
<p>Saat duduk di bangku TK, kata dia, oleh gurunya ia sudah dibiasakan untuk mengucapkan kata? Bismillah sebelum makan. Begitu juga, dalam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah SWT. Dari sini, mulai muncul kebingungan dalam dirinya mengenai konsep ajaran agama dan ketuhanan yang ia anut selama ini. &#8221;Saat itu, aku bingung? kenapa beda sekali antara ajaran agama saya (dulu) dengan yang diajarkan oleh guru di TK,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Menurut Desti, kedua orang tuanya menganut agama Kristen, namun berasal dari beberapa aliran. Ada yang Pantekosta, Kharismatik (ibu), Katholik (nenek), dan Protestan (bapak). Perbedaan ini semakin membuatnya bingung. Apalagi, ketika ia mendapatkan pendidikan agama Islam di TK dan SD, yang hanya fokus menyebut Tuhan dengan sebutan Allah SWT.</p>
<p>Karena itu, ia makin tertarik dengan ajaran agama yang diajarkan oleh guru di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SD, ia mulai mempelajari lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tidak hanya di sekolah, keinginan untuk mempelajari ajaran Islam juga ia lakukan dengan cara mengikuti pengajian di daerah tempat tinggalnya.</p>
<p><strong>Berikrar syahadat</strong></p>
<p>Suatu ketika, salah seorang guru mengajinya bertanya kepada Desti, apa benar ia ingin ikut mengaji. Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan satu kata, &#8221;Ya.&#8221; Kemudian, oleh sang guru, Desti dan teman-temannya diminta untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Peristiwa tersebut terjadi saat ia baru menginjak bangku kelas satu SD. Dan, sejak saat itulah anak pertama dari dua bersaudara ini berkomitmen untuk meninggalkan semua ajaran agama lamanya, Kristen Pantekosta, untuk kemudian menjalankan ajaran Islam.</p>
<p>&#8221;Memang prosesnya tidak seperti orang Kristen lainnya yang masuk Islam. Karena, bisa dibilang baca kalimat syahadatnya tidak secara resmi,&#8221; ungkapnya. Dari situ, kemudian ia mulai belajar mengenai cara shalat dengan mengikuti gerakan teman-temannya. Tidak hanya shalat, ia juga mulai belajar untuk berpuasa ketika sudah duduk di bangku kelas 3 SD.</p>
<p>Kendati sudah memeluk Islam, setiap akhir pekan, Desti tetap datang ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal tersebut, kata dia, karena adanya paksaan dari kedua orang tuanya. Tidak hanya memaksa dia untuk ikut kebaktian di gereja, tetapi kedua orang tuanya juga kerap memarahi serta melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan pergi mengaji ke masjid. Sikap kedua orang tuanya ini hanya bisa ia tanggapi dengan cara menangis.</p>
<p>&#8221;Tetapi, untuk urusan puasa, alhamdulillah mereka mau? ngebangunin aku untuk sahur. Dan, kebetulan nenekku yang beragama Kristen Katolik kadang menjalankan puasa setiap Senin dan Kamis,&#8221; tambah Desti.Baru ketika ia naik ke jenjang kelas 5 SD, kedua orang tuanya mulai bisa menerima keislamannya. Kedua orang tuanya tidak pernah lagi memaksanya untuk pergi ke gereja setiap akhir pekan serta tidak lagi melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan mengaji.</p>
<p>Meski demikian, pertentangan masih kerap mewarnai hubungan Desti dengan kedua orang tuanya. Pertentangan tersebut, menurutnya, muncul manakala dirinya melakukan suatu kesalahan.&#8221;Misalnya, kalau saya berbuat kesalahan, mereka selalu menyinggung-nyinggung soal agama Islam. Karena saya tipe orang yang tidak mau menerima begitu saja dan watak yang keras, saya katakan ke mereka apa bedanya pada saat saya ketika masih memeluk agama yang lama,&#8221; sindirnya.</p>
<p>Tak hanya dari orang tuanya, menurut Desti, pertentangan serupa juga kerap ia dapatkan dari pihak keluarganya yang lain, seperti nenek, paman, bibi, dan saudara sepupunya. Kendati demikian, ia tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sanak saudaranya ini. &#8221;Pada saat Natal, aku tetap ikut? ngumpul . Tapi, tidak ikut mengucapkan.&#8221;</p>
<p>Namun, ia bersyukur karena masih memiliki seorang adik perempuan, Friday Veronica Florencia, yang bersama-sama dengannya memutuskan untuk memeluk agama Islam di usia kanak-kanak. Di samping juga, teman-teman sepermainannya yang kebanyakan beragama Islam.</p>
<p><strong>Beasiswa gereja<br />
</strong><br />
Keinginan orang tuanya untuk mengembalikannya ke agama yang lama, masih terus dilakukan hingga Desti memasuki jenjang SMA. Pada saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika duduk di bangku kelas satu SMA, sang bunda meresponsnya dengan mengatakan bahwa jilbab itu tidak penting dan diwajibkan.</p>
<p>Begitu juga, ketika selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saat mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia ditawari beasiswa dari gereja oleh kedua orang tuanya. Tawaran beasiswa tersebut kemudian ia tolak. &#8221;Beasiswanya ini bukan hanya untuk jenjang S1, tetapi sampai ke jenjang apa pun yang saya mau. Namun, dengan syarat saya harus mau mengabdi di gereja itu,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Untuk memperkokoh keimanan dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam, Desti aktif dalam kegiatan Rohis (Rohani Islam&#8211;Red) yang ada di lingkungan tempat ia bersekolah. &#8221;Alhamdulillah semua rintangan tersebut bisa dilalui dengan baik,&#8221; ujar mahasiswi semester dua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini.</p>
<p>Kini, di usianya yang ke-18, Desti merasa menjadi orang yang paling beruntung. Walaupun dijuluki sebagai anak &#8216;hilang&#8217; oleh keluarga, Desti merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena Allah SWT sudah memberikan hidayah kepadanya hingga hari ini untuk menjalankan semua itu.</p>
<p>Meski mengakui kadang kala masih suka lalai dalam melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, ia berharap ke depannya bisa menjalankan semua perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia juga berharap kelak hidayah yang ia dan sang adik peroleh juga akan didapatkan oleh kedua orang tuanya.&#8221;Saya ingin sekali mereka bisa melihat mana jalan yang benar dan mana yang salah. Karena menurut saya, saat ini mereka bukan berada di jalan yang benar,&#8221; ujarnya. dia/<a href="http://republika.co.id/berita/41137/Aria_Desti_Kristiana_Kenapa_Tuhan_Harus_Disalib" target="_blank"><strong>republika</strong></a></p>
<p><strong>Biodata</strong></p>
<p>Nama: Aria Desti Kristiana<br />
TTL: Jakarta, 9 Desember 1991<br />
Masuk Islam: Sejak Kelas 1 SD (Tahun 1997)<br />
Aktivitas:<br />
- Kuliah pada Jurusan Bahasa &amp; Sastra Arab di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester II<br />
- Aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/aria-desti-kristiana-kenapa-tuhan-harus-disalib/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam di Negeri Paman Sam Tumbuh Meluas di Tengah Badai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-di-negeri-paman-sam-tumbuh-meluas-di-tengah-badai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-di-negeri-paman-sam-tumbuh-meluas-di-tengah-badai#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 02:44:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2373</guid>
		<description><![CDATA[Umat Islam di AS mencapai enam juta jiwa. Mereka berasal dari berbagai macam suku bangsa.

Islam adalah salah satu agama yang berkembang paling cepat di Amerika Serikat (AS). Sesuai perkiraan yang dimuat dalam lembar fakta Departemen Luar Negeri AS, pada tahun 2010 mendatang, jumlah penduduk Muslim AS diperkirakan akan melampui jumlah kaum Yahudi dan menjadikan Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Umat Islam di AS mencapai enam juta jiwa. Mereka berasal dari berbagai macam suku bangsa.<br />
</em></strong></p>
<p>Islam adalah salah satu agama yang berkembang paling cepat di Amerika Serikat (AS). Sesuai perkiraan yang dimuat dalam lembar fakta Departemen Luar Negeri AS, pada tahun 2010 mendatang, jumlah penduduk Muslim AS diperkirakan akan melampui jumlah kaum Yahudi dan menjadikan Islam sebagai agama terbesar nomor dua di negara itu setelah agama Kristen.</p>
<p>Masyarakat Muslim Amerika merupakan sebuah mosaik kebudayaan. Para anggotanya berasal dari lima benua. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2007 lalu, kebanyakan kaum Muslim di Negeri Paman Sam tersebut adalah imigran yang jumlahnya 77,6 persen berbanding 22,4 persen yang lahir di AS.</p>
<p>Penelitian itu juga menunjukkan asal usul masyarakat Muslim sebagai berikut: 26,2 persen dari Timur Tengah (Arab); 24,7 persen dari Asia Selatan; 23,8 persen Amerika keturunan Afrika; 11,6 persen lain-lain; 10,3 persen Timur Tengah (non-Arab); dan 6,4 persen Asia Timur.<span id="more-2373"></span></p>
<p>Meskipun di Amerika Serikat tidak ada catatan jumlah penduduk berdasarkan agama, para pakar memperkirakan bahwa kaum Muslim di Amerika berjumlah sekitar enam juta jiwa. Perkiraan-perkiraan lain berkisar antara empat dan delapan juta jiwa. <em>The Britannica Book of the Year</em> memperkirakan bahwa pada pertengahan tahun 2000, terdapat 4.175.000 Muslim di Amerika Serikat dan 1.650.000 di antaranya berasal dari kalangan Amerika keturunan Afrika (Afro-Amerika). Rata-rata 17.500 warga Afro-Amerika ini berpindah ke agama Islam tiap tahun antara 1990 dan 1995.</p>
<p>Kira-kira, sepertiga kaum Muslim Amerika tinggal di kawasan Pantai Timur (32,2 persen), 25,3 persen hidup di kawasan Selatan, 24,3 persen di kawasan Tengah, dan 18,2 persen di kawasan Barat. Saat ini, terdapat sekitar 2.000 bangunan masjid di seluruh penjuru AS serta ratusan sekolah Islam dan organisasi Islam.</p>
<p>Selain itu, Muslim Amerika juga banyak mendirikan pusat-pusat Islam (Islamic Center) di berbagai kota-kota besar, seperti Los Angeles, San Diego, Houston, Ohio, dan New Jersey.</p>
<p><strong>Empat gelombang</strong><br />
Ada dugaan bahwa Islam pertama kali dibawa ke Benua Amerika, termasuk wilayah Amerika Serikat, oleh kaum Muslim yang ikut serta dalam pelayaran pelaut Spanyol dan Portugal ke Benua Amerika. Dalam pelayaran itu, kaum Muslim berperan sebagai pemberi arah bagi kapal. Selain itu, sebagian kaum Muslim Morisco, yaitu kaum Muslim Spanyol yang dikejar-kejar tentara Kristen dan dipaksa masuk Kristen dalam peristiwa penaklukan kembali (<em>reconquista</em>) pada 1492 konon melarikan diri ke benua ini.</p>
<p>Kemudian, diperkirakan bahwa hampir seperlima dari budak-budak yang dibawa ke benua ini dari Afrika antara abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-19 beragama Islam. Merekalah cikal bakal kaum Muslim di Amerika Serikat. Tetapi, karena keadaan yang sulit untuk mengembangkan agama, banyak di antara mereka yang belakangan masuk Kristen.</p>
<p>Namun, terkikisnya jumlah kaum Muslim generasi awal ini tergantikan oleh adanya imigrasi kaum Muslim dalam jumlah besar yang terjadi secara regular ke wilayah Amerika Serikat sejak akhir abad ke-19. Pionirnya sebagian besar adalah orang Arab dari kekhalifahan Turki Usmani.</p>
<p>Para imigran Muslim datang ke Amerika Serikat dengan beragam alasan. Kedatangan para imigran Muslim ini terbagi dalam empat gelombang. Gelombang pertama imigrasi kaum Muslim ke negara ini berlangsung pada sekitar tahun 1875, dari wilayah Libanon, Suriah, Yordania, hingga Palestina. Mereka pada umumnya miskin keterampilan dan tidak cukup terdidik serta sebagian besar merupakan petani yang berharap bisa sukses secara finansial di Amerika Serikat.</p>
<p>Tetapi, karena kesempatan kerja terbatas, mereka terpaksa bekerja sebagai buruh di pabrik, pelabuhan, dan lainnya. Mereka terutama menetap di wilayah Midwest. Pengelanaan mereka kemudian menarik minat rekan-rekan mereka yang lain. Arus imigrasi gelombang pertama ini pun meningkat dan baru terhenti pada akhir Perang Dunia I.</p>
<p>Gelombang kedua menyusul pada 1920-an yang kemudian terhenti karena Perang Dunia II. Hukum-hukum imigrasi pada periode ini agak membatasi. Hanya orang berkulit hitam atau Kaukasia yang boleh masuk ke Amerika Serikat. Orang Arab tidak termasuk dalam dua kategori itu.</p>
<p>Gelombang ketiga terjadi antara pertengahan tahun 1940-an hingga pertengahan tahun 1960-an. Kaum Muslim yang masuk ke AS dalam gelombang ini lebih terdidik. Sebagian mereka hijrah karena penindasan politik. Jumlah terbesar dari mereka adalah orang Palestina yang terusir dengan didirikannya negara Israel pada tahun 1948, orang Mesir yang merasa dirugikan oleh kebijakan Presiden Gamal Abdel Nasser, dan orang Islam? Eropa Timur yang mencoba melarikan diri akibat Perang Dunia II dan pemerintahan komunis.</p>
<p>Sementara itu, gelombang imigrasi kaum Muslim keempat bermula sekitar tahun 1967 dan masih berlangsung hingga kini. Mereka umumnya sangat terdidik dan fasih berbahasa Inggris. Mereka berimigrasi karena berbagai alasan, seperti peningkatan kemampuan profesional dan untuk menimba ilmu di universitas-universitas Amerika.</p>
<p><strong>Muslim kulit hitam</strong><br />
Salah satu fenomena yang menonjol dari Islam di Amerika Serikat adalah keberadaan kaum Muslim kulit hitam atau yang kerap disebut dengan istilah Black Muslims dalam jumlah yang cukup besar. Bahkan, beberapa tokoh Black Muslims Amerika cukup dikenal di berbagai negara. Sebut saja Malcolm X dan petinju legendaris dunia Muhammad Ali.</p>
<p>Organisasi Black Muslims yang juga dikenal dengan sebutan Nation of Islam (NOI) pertama kali dibentuk kali di Detroit pada 1931 oleh Wallace D Fard atau yang lebih dikenal dengan beberapa nama lain: Wallace Fard Muhammad, WF Muhammad, Walli Farrad, Farrad Muhammad, dan Prof Ford. Tokoh pendiri NOI ini secara tiba-tiba menghilang untuk alasan yang tidak diketahui pada 1934.</p>
<p>Posisi Wallace D Fard kemudian digantikan oleh Elijah Muhammad yang berhasil memimpin faksi terbesar dari organisasi ini dan membuka markas besarnya di Chicago. Elijah adalah putra seorang pendeta Baptis di Georgia. Di bawah kepemimpinannya, NOI menjadi organisasi kaum Muslim terpenting di AS pada tahun 1950-an.</p>
<p>Organisasi ini bertambah besar gaung dan pengaruhnya dengan keterlibatasn Malcolm Little. Seperti halnya Elijah, Malcolm juga merupakan anak seorang pendeta Baptis yang belakangan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Malcolm X. Inisial X ini menunjukkan bahwa ia adalah eks perokok, eks pemabuk, eks Kristen, dan eks budak.</p>
<p>Bersama dengan Martin Luther King Jr, ia menjadi kritikus paling lantang terhadap ketidakadilan berdasarkan ras di Amerika Serikat. Ia juga aktif menyuarakan hak-hak kulit hitam di negara adidaya tersebut. Namun, karena perbedaan pandangan dengan Elijah, tahun 1964 Malcolm memutuskan mundur dari NOI dan mendirikan organisasinya sendiri, Muslim Mosque Inc. Namun, ia dibunuh tidak lama kemudian.</p>
<p>Jika pada awal didirikan NOI hanya diperuntukkan bagi kaum Muslim Afro-Amerika; ketika dipimpin oleh Waris Deen Muhammad, organisasi ini mulai membuka diri bagi Muslim kulit putih dan mendorong para pengikutnya untuk ambil bagian dalam kehidupan sosial dan politik di AS. Dan, sejak saat itu, nama NOI diganti menjadi World Community of al-Islam in the West (WCI) yang kemudian diganti menjadi American Muslim Mission (AMM).</p>
<p>Akan tetapi, perubahan tersebut ditentang oleh beberapa faksi Muslim kulit hitam lainnya. Di bawah pimpinan Louis Farrakhan, pada tahun 1977, mereka menyatakan mundur dari AMM dan kembali ke ajaran lama Elijah Muhammad. Mereka menuntut keadilan sosial dan ekonomi bagi semua orang berkulit hitam dan memberikan suara kepada Jesse Jackson (seorang Afro-Amerika) dalam pemilu presiden Amerika Serikat tahun 1984 dan 1988.</p>
<p><strong><br />
Perkembangan Islam Usai September Kelabu</strong></p>
<p><img src="http://1.1.1.5/bmi/republika.co.id/images/news/new2009/Islam-AS1.jpg" border="0" alt="" width="225" height="144" />Peristiwa serangan 11 September 2001 ke menara kembar World Trade Center (WTC) dan Pentagon telah membawa perubahan besar dalam kehidupan beragama di Amerika Serikat, khususnya kaum Muslim di sana. Usai serangan itu, berbagai tudingan dilontarkan kepada Islam dan umatnya. Banyak serangan yang terjadi tehadap Muslim Amerika setelah kejadian itu walaupun terbatas pada kelompok minoritas kecil.</p>
<p>Menurut survei yang dilakukan pada 2007, sekitar 53 persen Muslim Amerika menganggap bahwa lebih sulit menjadi seorang Muslim di Negeri Paman Sam setelah serangan itu. Wanita Muslim yang menggunakan hijab atau jilbab diganggu sehingga beberapa wanita Muslim lebih memilih untuk tinggal di rumah. Sedangkan, yang lainnya, untuk sementara, meninggalkan aktivitas mereka di tempat kerja.</p>
<p>Namun, menurut Imam Masjid Islamic Center New York, M Syamsi Ali, ada kecenderungan positif warga Amerika sesudah perstiwa September kelabu itu. Sebelum 9/11, mereka acuh tak acuh terhadap agama. &#8221;Jangankan terhadap Islam, terhadap agama kelahiran mereka saja mereka acuhkan. Gereja-gereja kosong. Agama tidak lebih perayaan-perayaan sosial semata, seperti Natal dan lain-lain. Sebaliknya, anak-anak muda mereka semakin antiagama yang dianggap kuno dan menjadi faktor keterbelakangan dan kebodohan,&#8221; paparnya kepada <em>Republika</em>, beberapa waktu lalu.</p>
<p>Sebelum peristiwa 9/11, lanjut dia, Islam juga tidak terlalu menjadi sorotan. Mayoritas masyarakat tidak tahu apa atau belum pernah mendengar kata Islam itu sendiri. Media-media massa tidak terlalu banyak menyebut Islam, kecuali jika ada hal-hal sensitif yang terjadi di belahan dunia lainnya.</p>
<p>Setelah 9/11, semua ini berubah. Keinginan untuk tahu Islam, ungkap Syamsi, menjadi sangat menonjol, bahkan referensi Islam menjadi jualan paling laris di seantero Amerika Utara. Berbagai kalangan pun berminat untuk mendengarkan secara langsung apa itu Islam dari gereja-gereja, sinagog, ataupun perkantoran-perkantoran swasta, bahkan pemerintahan. &#8221;Maka, dengan sendirinya, para imam memiliki akses lebih luas untuk memperkenalkan Islam kepada publik Amerika,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Kondisi tersebut, menurut Mohammad Kudaimi, anggota Nawawi Foundation (sebuah lembaga pendidikan yang berbasis di Chicago&#8211;Red), membuat umat Islam terus bertambah banyak di Amerika Serikat setelah peristiwa 9/11. &#8221;Alhamdulillah, kondisi umat Islam di Amerika Serikat baik-baik saja. Umat Islam terus bertambah banyak di Amerika Serikat, baik sebelum maupun setelah peristiwa 11 September,&#8221; kata dia kepada <em>Republika</em> di sela-sela kunjungannya ke Indonesia pada awal Juli 2007 lalu.</p>
<p>Bagi Kudaimi, sulit untuk memahami fenomena kontradiktif ini. Logikanya, setelah terjadinya peristiwa 11 September lalu, umat Islam banyak merasa tertekan akibat adanya tudingan macam-macam yang menyudutkan mereka. Maka, mereka akan takut masuk Islam. &#8220;Tapi, faktanya tidak demikian,&#8221; tukasnya.</p>
<p>Pesatnya perkembangan Islam di AS itu diakui oleh Dr Umar Faruq Abdullah, ketua Nawawi Foundation. Saat ini, tak kurang dari tujuh juta warga AS yang memeluk agama Islam. Bahkan, lembaganya turut membantu para mualaf mengikrarkan syahadat dan membantu mereka memahami Islam dengan lebih baik. &#8221;Agama Islam terus berkembang di Amerika Serikat dan tetap <em>survive</em>,&#8221; kata Umar.</p>
<p>Umar mengungkapkan, dengan keutamaan dan kelebihannya sendiri, Islam berkembang di wilayah Amerika Serikat. &#8221;Bahkan, hingga umat Islam dalam kondisi yang teramat buruk, tapi semata-mata karena keutamaan dan kelebihan Islam, Islam pun berkembang di Amerika.&#8221; dia/berbagai sumber/taq/<a href="http://republika.co.id/berita/42323/Islam_di_Negeri_Paman_Sam_Tumbuh_Meluas_di_Tengah_Badai" target="_blank"><strong>republika</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-di-negeri-paman-sam-tumbuh-meluas-di-tengah-badai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Islam Melalui Musik Underground</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengenal-islam-melalui-musik-underground</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengenal-islam-melalui-musik-underground#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 01:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2362</guid>
		<description><![CDATA[
Yakin adanya Allah setelah dipertemukan dengan sosok makhluk gaib
&#8221;Networks at work, keeping people calm
You know they murdered X
And tried to blame it on Islam
He turned the power to the have-nots
And then came the shot.&#8221;
Kalimat di atas merupakan penggalan bait lagu berjudul Wake Up milik Rage Against The Machine (RATM). Lagu-lagu yang dibawakan grup musik asal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://1.1.1.2/bmi/republika.co.id/images/news/2009/03/20090331190338.jpg" alt="Mengenal Islam Melalui Musik Underground" width="260" height="175" /></p>
<p><strong></strong><em>Yakin adanya Allah setelah dipertemukan dengan sosok makhluk gaib</em></p>
<p>&#8221;Networks at work, keeping people calm<br />
You know they murdered X<br />
And tried to blame it on Islam<br />
He turned the power to the have-nots<br />
And then came the shot.&#8221;</p>
<p>Kalimat di atas merupakan penggalan bait lagu berjudul <em>Wake Up</em> milik Rage Against The Machine (RATM). Lagu-lagu yang dibawakan grup musik asal Los Angeles (Amerika Serikat) ini mengusung ramuan musik? <em>punk, hip-hop,</em> dan? <em>trash</em> . Penggemar ketiga aliran musik ini, terutama? <em>punk</em> dan? <em>trash</em> , mayoritas berasal dari komunitas? <em>underground</em> komunitas yang selalu diidentikkan mempunyai budaya yang negatif serta sedikit menyimpang dari norma-norma yang telah tertanam di masyarakat.</p>
<p>Terlepas dari semua stigma negatif ini, justru bagi seorang Richard Stephen Gosal, dari komunitas? <em>underground</em> inilah dia mulai tertarik untuk mengenal agama Islam lebih jauh. &#8221;Saya suka sekali dengan (lagu-lagu) Rage Against The Machine. Bahkan, sampai sekarang saya menaruh respek meskipun mereka bukan orang Islam,&#8221; ungkap mualaf yang kini menggunakan nama Muhammad Thufail al-Ghifari.<span id="more-2362"></span></p>
<p>Dari salah satu lagu yang dibawakan RATM, pria yang sejak remaja memang menyukai aliran musik? <em>underground</em> ini mengenal Malcolm X&#8211;tokoh mualaf kulit hitam Amerika Serikat yang memperjuangkan hak asasi kaum kulit hitam di negeri Paman Sam tersebut. Tidak hanya dalam lagu band RATM, nama Malcolm X juga Thufail temukan dalam lagu grup? <em>hip-hop</em> asal New York (AS) yang ia sukai, Public Enemy.</p>
<p>Rasa penasaran terhadap tokoh pejuang hak asasi manusia asal Amerika ini mendorong Thufail untuk mencari berbagai informasi mengenai kehidupan sang tokoh. &#8221;Saya belajar banyak tentang dia. Dari Malcolm X ini kemudian saya mengenal Muhammad Ali dan Nabi Muhammad SAW,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Pada saat ia masih memeluk agama Kristen Protestan, kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai pendeta kerap mendoktrinnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah gambaran orang yang suka berperang, main perempuan, memiliki jenggot, berasal dari suku kedar (anti- <em>christ</em> ), menyesatkan umat manusia dengan Alquran, dan pengikutnya akan binasa di neraka.</p>
<p>Dari salah satu literatur mengenai Malcolm X yang dibacanya, menurut Thufail, ada satu kalimat yang diucapkan sang tokoh kepada Muhammad Ali petinju legendaris AS yang membuatnya terkesan. Ketika Muhammad Ali mengecam kaum kulit putih yang menindas yahudi dan orang kulit hitam, Malcolm justru berkata, &#8221;Di Makkah, saya lihat orang bermata coklat, biru, hitam serta berkulit putih, hitam, dan coklat semuanya duduk bersama.&#8221;</p>
<p>Kalimat yang mengungkapkan kekaguman Malcolm terhadap umat Islam tersebut, membuat ia semakin tertarik dengan Islam. Meski dididik dengan ajaran Kristen Protestan yang cukup ketat, agama Islam bukanlah sesuatu yang baru bagi Thufail. &#8221;Sejak di SMP, saya banyak bergaul dengan teman-teman yang beragama Islam. Bahkan, di antara mereka banyak yang sering menggoda saya dan mengatakan kapan saya masuk Islam,&#8221; paparnya.</p>
<p>Dari belajar mengenai Malcolm, hingga suatu ketika Thufail merasa jenuh dengan kehidupan yang dijalaninya sebagai seorang penganut paham ateis. Kejenuhan yang sama pernah ia alami ketika masih memeluk Kristen Protestan. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ketika di bangku SMP itulah ia mulai tertarik dengan buku-buku mengenai sosialisme dan komunisme.</p>
<p>Ajaran sosialisme dan komunisme ini di kemudian hari banyak memengaruhi pola pikir Thufail. Hingga akhirnya, saat duduk di bangku kelas 2 SMA (sekitar tahun 1999-2000&#8211;Red), ia memutuskan menjadi seorang ateis. &#8221;Saya tidak mengimani lagi Yesus Kristus dan menganggap agama hanya membuat orang saling membunuh dan berperang.&#8221;</p>
<p><strong>Tiga kali syahadat</strong><br />
Kejenuhan terhadap paham ateisme yang dianut Thufail, bermula dari fenomena? <em>sweeping</em> terhadap kelompok beraliran kiri di Tanah Air yang terjadi pada kurun waktu tahun 2000-2001 oleh kelompok Pancasilais. Ketika terjadi? <em>sweeping</em> itulah, ungkapnya, banyak tokoh PRD (Partai Rakyat Demokratik)&#8211;tempat Thufail pernah bergabung menjadi salah seorang anggotanya tidak bertanggung jawab terhadap penahanan simpatisan-simpatisan mereka yang berada di kelompok? <em>underground</em> di daerah-daerah.</p>
<p>&#8221;Para tokoh PRD ini menghilang, ada yang karena diculik dan ada yang bersembunyi. Di sini awal mula saya kecewa dengan yang dinamakan revolusi diri,&#8221; tukas vokalis band rock indie The Roots of Madinah ini. Rasa jenuhnya ini kemudian ia lampiaskan kepada seorang sahabatnya, sesama anak band di komunitas? <em>underground</em> . Walaupun memiliki pergaulan di komunitas? <em>underground</em> , menurut Thufail, sahabatnya ini tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim untuk menunaikan ibadah shalat kendati saat itu ia sedang manggung.</p>
<p>Kepada sahabatnya ini, Thufail mengutarakan niatnya untuk masuk Islam. Bukan dukungan yang ia peroleh, justru larangan dari sang sahabat. Pelarangan tersebut, ungkapnya, karena sahabatnya itu tidak menginginkan keputusan dirinya untuk masuk Islam lebih karena faktor emosional sesaat. Sahabatnya ini menginginkan jangan sampai begitu ia masuk Islam terus di kemudian hari memutuskan untuk murtad. &#8221;Menurutnya, saya tidak hanya akan kehilangan dia sebagai teman, tapi teman-teman yang lain bakal? <em>nggak</em> suka sama saya,&#8221; ujarnya mengenang perkataan sahabatnya kala itu.</p>
<p>Thufail tidak lantas menyerah. Kemudian, ia menemui teman-teman lainnya dari kalangan komunitas? <em>underground</em> yang beragama Islam. Dengan bertempat di pinggir jalan yang berada di Kompleks Perumahan Taman Kartini, Bekasi, Thufail mengucapkan syahadat di hadapan teman-temannya ini. &#8221;Peristiwa itu terjadi tahun 2002 dan yang menjadi saksi saya ketika itu teman-teman yang memakai baju Sepultura, Kurt Cobain, dan Metallica.&#8221;</p>
<p>Keputusannya untuk masuk Islam membuat kedua orang tuanya marah dan mengusirnya dari rumah. Keputusannya ini, ungkap Thufail, juga berdampak terhadap penghidupan orang tuanya. Gereja yang selama ini menjadi tempat mata pencaharian ibunya terancam ditutup begitu mengetahui ia masuk Islam. &#8221;Sampai-sampai mama itu menyembunyikan keislaman saya dari para jemaat.&#8221;</p>
<p>Tinggal di jalanan, setelah diusir dari rumah, ia jalani selama tiga bulan. Beruntung Thufail bertemu dengan seorang teman lama yang menawarinya untuk menjaga rumahnya yang sedang direnovasi. Selama menjaga rumah temannya ini, tidak hanya memperoleh tempat tinggal, ia juga mendapatkan jatah makan setiap hari.</p>
<p>Masalah muncul ketika renovasi rumah selesai. Thufail saat itu tidak tahu akan tinggal dimana. Namun, oleh ayah temannya ini dia ditawari pekerjaan di sebuah sekolah tinggi, tempat ayah temannya ini menjabat sebagai rektor. Dengan hanya berbekal selembar CV ( <em>curriculum vitae</em> ), ia lalu melamar dan diterima sebagai petugas? <em>cleaning service</em> dengan gaji sebesar Rp 600 ribu per bulan.</p>
<p>Ketika bekerja sebagai petugas? <em>cleaning service</em> , ia berkenalan dengan Ustadz Nur Hasan yang merupakan imam Masjid Baiturahim Perumahan Taman Kartini, Bekasi. Oleh sang ustadz, ia ditanya bersyahadat di mana. &#8221;Ketika saya jawab di pinggir jalan, beliau bilang syahadat saya tidak sah. Akhirnya, saya baca syahadat lagi di Masjid Baiturahim,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sejak bersyahadat untuk kedua kalinya ini, menurut Thufail, mulai timbul keinginan untuk belajar membaca Alquran dan pengetahuan mengenai ajaran Islam lainnya. Kemudian, ia ketemu dengan seorang ustadz yang pada saat itu juga merupakan pengurus sebuah partai politik berideologi Islam. Pelajaran pertama yang didapatkannya adalah mengenai dua kalimat syahadat. &#8221;Ketika itu semua anggota halakah disuruh syahadat lagi sama beliau. Jadi, syahadat saya tiga kali.&#8221;</p>
<p>Kendati sudah membaca syahadat hingga tiga kali, Thufail tidak langsung mempercayai adanya Allah SWT sebagai sang Maha Pencipta. Dia mulai meyakini keberadaan Allah SWT, justru ketika dirinya diizinkan untuk bertemu dengan sesosok makhluk gaib untuk pertama kalinya. &#8221;Setelah bertemu dengan sosok gaib ini, saya mulai berpikir secara logika bahwa segala sesuatu di bumi ini pasti punya dua sudut pandang, ada benar dan salah, ada hitam dan putih. Begitu juga, ada benda dan yang menciptakan benda tersebut,&#8221; paparnya.</p>
<p>Setelah memeluk Islam, ia mendapatkan ketenangan batin yang tidak pernah diperoleh sebelumnya. Di samping itu, ia merasa lebih optimistis dalam menjalani kehidupan dan lebih bisa mensyukuri hidupnya. &#8221;Ketika saya menaruh hukum Allah SWT di atas segala apa pun, saya tidak takut mati, tidak takut miskin, tidak takut lapar.&#8221;</p>
<p>Keinginannya saat ini, menurut Thufail, adalah bagaimana ajaran Islam tidak hanya bisa dinikmatin di Masjid, tetapi juga di lingkungan komunitas? <em>underground</em> . Diakuinya, hingga kini memang masih belum ada ustadz yang peduli dengan komunitas? <em>underground</em> ini. &#8221;Ada banyak teman saya yang? <em>tatoan</em> , mabuk, tapi kalau bicara Islam diinjak-injak dia sudah? <em>nggak</em> mau dialog. Dia pasti akan ambil parang dan ditebas orang itu,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Karena itulah, melalui musik yang disuguhkannya bersama band? <em>rock</em> yang dibentuknya, The Roots of Madinah, dia mau merangkul para temannya yang Muslim yang ada di komunitas? <em>underground</em> untuk berhijrah. Aliran musik? <em>rock</em> yang dikemas dalam lagu-lagu bersyair religi Islami, ia harapkan juga bisa menjadi senjata untuk menghantam balik musik-musik Yahudi.</p>
<p>&#8221;Saya bikin musik ini supaya? <em>ngebalikin</em> orang Yahudi lagi. Mereka? <em>kan ngancurin</em> saya waktu dulu, membuat saya keluar dari Kristen dan menjadi ateis dengan musik,&#8221; katanya menandaskan.? nidia zuraya/<a href="http://republika.co.id/berita/41167/Mengenal_Islam_Melalui_Musik_Underground" target="_blank"><strong>republika</strong></a></p>
<p><strong>Biodata:</strong></p>
<p><strong>Nama Lahir:</strong> Richard Stephen Gosal<br />
<strong>Nama Muslim:</strong> Muhammad Thufail Al Ghifari<br />
<strong>Masuk Islam:</strong> 2002<br />
TTL: Makassar, 11 Mei 1982<br />
Aktivitas: Vokalis band? <em>rock</em> The Roots of Madinah, Muslim? <em>Rapper</em> , anggota Komunitas Islam? <em>Underground</em> Kolektif Berandalan Tuhan, dan ketua Divisi Pembinaan Lembaga Muhtadin Masjid Agung Al Azhar Blok M-Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengenal-islam-melalui-musik-underground/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luna Cohen, Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/luna-cohen-yahudi-maroko-menemukan-kebenaran-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/luna-cohen-yahudi-maroko-menemukan-kebenaran-islam#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 01:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2314</guid>
		<description><![CDATA[Luna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.
Usia 18 tahun ia memutuskan menikah lelaki yang sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://66.71.244.43/fckfiles/image/luna.jpg" alt="" width="372" align="left" />Luna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.</p>
<p>Usia 18 tahun ia memutuskan menikah lelaki yang sampai saat ini menjadi suaminya. Sejak menikah, Luna dan suaminya sampai tiga kali berpindah tempat tinggal di apartemen yang ada di Brooklyn, New York karena ia dan suaminya merasa tidak pernah bahagia tinggal di lingkungan masyarakat Yahudi di tempat tinggalnya. Pasangan suami isteri itu kemudian memutuskan untuk membangun masa depan di Israel. Luna beserta suami yang ketika itu sudah dikaruniai empat anak, akhirnya pindah ke Israel.<span id="more-2314"></span></p>
<p>Ketika tiba di Israel, Luna dan keluarganya tinggal pemukiman Yahudi, Gush Qatif di wilayah Jalur Gaza. Luna mengaku menjalani masa-masa yang berat karena melihat &#8220;cara hidup&#8221; orang-orang Yahudi di tempat tinggalnya itu dan meminta pada suaminya agar mereka pindah saja ke Netivot, yang terletak sekitar 23 kilometer ke arah utara di wilayah pendudukan Israel di Palestina.</p>
<p>Di tempat itu, Luna lagi-lagi menyaksikan kehidupan masyarakat Yahudi Israel yang disebutnya tidak berpendidikan. &#8220;Mungkin cuma satu dari sejuta anak yang berperilaku baik,&#8221; kata Luna. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Yahudi di Netivot, sama seperti di pemukiman Yahudi Gush Qatif, membenci orang-orang yang bukan Yahudi yaitu orang-orang Arab Palestina.</p>
<p>&#8220;Kami melihat tindakan mereka sebagai tindakan mereka yang buruk dan mau menang sendiri. Pada titik ini, saya dan suami tidak sepakat dengan sikap orang-orang Yahudi itu,&#8221; ujar Luna.</p>
<p>Hingga suatu hari suami Luna yang juga Yahudi tapi sekuler, pulang ke rumah dan mengatakan bahwa baru saja membaca al-Quran dan memutuskan untuk masuk Islam. Luna tidak tahu, bahwa suaminya selama ini banyak mempelajari Islam lewat dialog yang dilakukannya dengan seorang Muslim asal Uni Emirat Arab yang dijumpainya saat masih tinggal di pemukiman Gush Qatif. Selama dua tahun suami Luna dan kenalan Muslimnya itu berdiskusi tentang Yudaisme dan Islam.</p>
<p>Mendengar pernyataan suaminya ingin masuk Islam, Luna mengaku sangat-sangat syok. &#8220;Karena dalam Yudaisme, kami selalu diajarkan untuk membenci agama lain,&#8221; kata Luna yang sebenarnya mempertanyakan ajaran yang dinilainya &#8220;mau menang sendiri&#8221; itu.</p>
<p>Tapi sang suami cukup bijak dan mengatakan bahwa Luna boleh tetap memeluk agama Yahudi jika tidak mau masuk Islam, karena dalam Islam, seorang lelaki Muslim boleh menikah dengan perempuan ahli kitab. Suami Luna pun masuk Islam dan memakai nama Islam Yousef al-Khattab.</p>
<p>Dua minggu setelah suaminya masuk Islam, Luna tertarik untuk membaca al-Quran dan ketika ia membacanya, Luna merasa semua pertanyaan yang mengganjal di kepalanya terjawab semua dalam al-Quran. Luna lalu menyusul suaminya mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang Muslimah. Luna memilih nama Qamar sebagai nama Islamnya.</p>
<p>Karena situasi yang tidak memungkinan buat mereka untuk tinggal lebih lama wilayah Israel, keluarga mualaf itu lalu memutuskan pindah ke Maroko, negara asal Luna pada tahun 2006. Sampai saat ini, pasangan Yousef dan Qamar al-Khattab hidup bahagia di tengah saudara-saudara Muslim Maroko dan menemukan kehidupan sejati setelah menemukan kebenaran dalam jalan Islam. (ln/jewsforAllah) <a href="http://eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/luna-cohen-yahudi-maroko-yang-menemukan-kebenaran-islam.htm" target="_blank">[eramuslim]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/luna-cohen-yahudi-maroko-menemukan-kebenaran-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stephen Schwartz, Jurnalis Amerika yang Bersyahadat di Bosnia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/stephen-schwartz-jurnalis-amerika-yang-bersyahadat-di-bosnia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/stephen-schwartz-jurnalis-amerika-yang-bersyahadat-di-bosnia#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2224</guid>
		<description><![CDATA[Pria yang? lahir di Columbus, Ohio ini dikenal? sebagai wartawan dan kerap mengkritik Bush. Kini ia menjalani Islam dan rajin shalat 
Hidayatullah.com&#8211; Stephen Schwartz lahir di Columbus, Ohio tahun 1948. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan dengan berkarir sebagai wartawan dan penulis.? Stephen kenal Islam dan bersyahadah ketika bertugas sebagai reporter di Bosnia. Setelah memeluk Islam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pria yang? lahir di Columbus, Ohio ini dikenal? sebagai wartawan dan kerap mengkritik Bush. Kini ia menjalani Islam dan rajin shalat </em></p>
<p><strong><em>Hidayatullah.com&#8211;</em></strong> Stephen Schwartz lahir di Columbus, Ohio tahun 1948. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan dengan berkarir sebagai<img src="http://hidayatullah.com/images/stories/stepen_thumb.JPG" border="0" alt="Stephen Schwartz" width="161" height="184" align="right" /> wartawan dan penulis.? Stephen kenal Islam dan bersyahadah ketika bertugas sebagai reporter di Bosnia. Setelah memeluk Islam, mantan wartawan senior San Francisco Chronicle ini kerap mengkritik pemerintahan Bush yang sering mengidentikkan teroris dengan Islam. Artikel-artikel kontroversialnya muncul di sejumlah koran ternama seperti <em>The New York Times, The Wall Street Journal, The Los Angeles Times</em>, dan The <em>Toronto Globe</em> and Mail. Stephen juga kontributor tetap untuk The Weekly Standard, The New York Post dan Reforma di Mexico City. Berikut kisah pria yang mengaku tertarik dengan kehidupan sufi dalam Islam dan ketika di Bosnia aktif mengikuti kegiatan tarekat Naqshabandiah. Inilah beritanya.<span id="more-2224"></span></p>
<p align="center"><strong>000</strong></p>
<p>Stephen Schwartz memeluk Islam di Bosnia pada 1997 atau di usianya yang ke-49. Sebelumnya, lebih dari 30 tahun lamanya, dia melakukan studi dan menimba berbagai pengalaman hidup serta mempelajari sejarah beberapa agama samawi. Bagaimana ceritanya hingga dia terkesan dengan agama Islam?</p>
<p>&#8220;Aku tertarik dengan Islam sejak tahun 1990 saat berkunjung ke Bosnia untuk melakukan studi tentang sejarah Yahudi di Balkan. Aku butuh data itu untuk mengisi kolom rutin di jurnal Jewish Forward. Nah dalam penelitian itu, aku sempat menjalin kontak dengan tokoh-tokoh Islam Balkan,&#8221; kisah Stephen.</p>
<p>Jika menilik sejarah hidupnya, dia mengaku berasal dari keluarga &#8220;agamis&#8221;. &#8220;Aku dibesarkan dalam lingkungan yang benar-benar ekstrem bagi kebanyakan orang Amerika. Ayahku seorang Yahudi yang taat. Sementara ibuku adalah anak dari seorang tokoh kelompok Protestan fundamentalis. Dia sangat paham dengan Bibel, juga Kitab Perjanjian Lama dan Baru,&#8221; kata pria yang menambah Suleiman Ahmad di depan namanya selepas memeluk Islam.</p>
<p>Stephen sendiri mengaku, pertama kali bersentuhan dengan agama adalah tatkala ikut kegiatan gereja Katolik. Walau saat itu belum memutuskan ikut ajaran itu, dia? sempat tertarik dengan sejumlah literatur tentang kebatinan dalam ajaran Katolik. Keingintahuannya membuat dia melakukan sejumlah studi dan riset mendalam hingga ke negeri matador Spanyol.</p>
<p><strong>Riset di Spanyol</strong></p>
<p>Di awal penelitiannya, Stephen mengamati bahwa di balik kejayaan Katolik Spanyol ternyata terdapat pengaruh kuat sejarah Islam kala berkuasa di Spanyol. Dia mengaku takjub dan terinspirasi dengan agama Islam yang masih bertahan dalam sejumlah tradisi di sana.</p>
<p>&#8220;Sebagai seorang penulis, aku meneliti fenomena ini selama bertahun-tahun. Mula-mula kupelajari sejarah itu melalui aneka karya sastra masa lampau yang menunjukkan pengaruh Islam di kawasan Iberia itu,&#8221; ungkap dia.</p>
<p>Awal 1979, dia mulai mempelajari Kabbalah, sebuah tradisi mistik bangsa Yahudi. &#8220;Nah, menariknya di dalam Kabbalah itu juga kudapati adanya pengaruh Islam,&#8221; ujar Stephen yang meneliti tentang Kabbalah selama hampir 20 tahun lamanya.</p>
<p><strong>Kenal Islam di Bosnia</strong></p>
<p>Selama meneliti Kabbalah, dia sempat melakukan perjalanan ke Bosnia dalam kapasitasnya sebagai seorang reporter. &#8220;Tahun 1990 untuk pertama kalinya aku bersentuhan secara langsung dengan Islam di Bosnia dan untuk pertama kalinya pula aku mengunjungi sebuah mesjid di ibukota Sarajevo,&#8221; kata dia.</p>
<p>&#8220;Perlahan, aku melihat Islamlah yang mampu menawarkan jalan &#8220;terdekat&#8221; untuk mendapatkan kasih sayang Allah,&#8221; ujar pria yang juga aktif mengikuti tarekat Naqshabandiah kala di Bosnia. Dia bertemu dengan Syekh Hisham, seorang guru tarekat Naqshabandi di sana. Hatinya benar-benar terkesan hingga dalam hitungan minggu diapun bersyahadah di negeri Balkan itu. &#8220;Aku bangga jadi orang Islam,&#8221; aku dia.</p>
<p>Di Sarajevo, Stephen menemukan banyak hal yang mengesankan hatinya. &#8220;Kutemukan sebuah pos terdepan Islam di Eropa, saat mana aku tidak merasa sebagai seorang asing di sana. Saat mana aku secara gampang bisa berjumpa dan bergaul langsung dengan orang-orang Islam yang begitu ramah, demikian pula kalangan terdidiknya. Aku menemukan puisi dan gubahan musik yang begitu indah, yang mengekspresikan nilai-nilai keagungan dan kedamaian dalam Islam,&#8221; ungkap dia dipenuhi rasa kagum.</p>
<p>&#8220;Aku telah temukan sebuah &#8220;taman tua&#8221; yang indah,&#8221; ujar Stephen mengutip salah satu bait lagu Bosnia yang sangat terkenal yang berkisah tentang masa jaya Kekhalifahan Usmani di Balkan dan kontribusinya terhadap budaya Islam.</p>
<p>Stephen juga membaca beberapa bagian dari Alquran dan mengunjungi monumen-monumen Islam selama kunjungannya di Balkan.</p>
<p>&#8220;Aku layaknya kembali ke taman itu dan akhirnya masuk ke dalamnya,&#8221; ujar dia memberi ibarat. Ya, akhirnya dia memang memutuskan masuk Islam kala di Bosnia.</p>
<p><strong>Takut timbul konflik</strong></p>
<p>Sejak menerima Islam, Stephen sangat berhati-hati sekali dalam mengirim informasi keislamannya, baik itu kepada keluarga, teman-temannya hingga para tetangga dekatnya.</p>
<p>&#8220;Aku tidak mau sembarangan memberikan info ini, takut nanti timbul konflik dan kontroversi.. Aku juga tidak mau pengalaman ini dilihat atau dicap sebagai sesuatu yang bodoh atau picik. Ini bukan menyangkut diriku pribadi, tapi ini berkaitan dengan Allah. Aku ingin proses keislaman ini berada di jalan yang wajar. Hal ini semata-mata untuk kebaikan umat Islam dan juga bagi terbentuknya hubungan persaudaraan Islam di dalam ikatan kalimat la ilaha illallah,&#8221; tukas dia.</p>
<p>&#8220;Aku amati, adakalanya kalangan nonmuslim melihatku sebagai seorang muallaf baru yang terpengaruh oleh kehidupan di Balkan. Tapi aku segera meluruskan pendapat ini seraya menyebutkan bahwa aku suka Islam bukan karena terlibat politik atau alasan kemanusiaan,? tapi murni semata-mata karena pesan indah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah,&#8221; kata dia lagi.</p>
<p><strong>Damai dalam Islam</strong></p>
<p>&#8220;Seperti telah kusebutkan di awal, aku menemukan bahwa hal-hal positif dalam agama samawi Yahudi dan Nasrani. Nilai-nilai positif itu terefleksikan dalam ajaran Islam.? Jadi, Islam datang menyempurnakan agama terdahulu,&#8221; kata Stephen.</p>
<p>&#8220;Aku sangat yakin, tanpa adanya toleransi orang-orang Arab Spanyol dulu, terutama di saat Kekhalifahan Usmani masih berjaya, maka bangsa Yahudi telah lama hilang dari permukaan bumi ini. Halnya agama Yahudi hari ini, sangatlah jauh berbeda dengan ajaran mereka saat masih hidup berdampingan dengan orang-orang Islam dahulu,&#8221; tegas Stephen.</p>
<p>&#8220;Setelah memeluk Islam, hal yang sangat berkesan bagiku adalah adanya kedamaian hati disertai kehadiran Allah di dalam setiap hal. Muncul perasaan lembut, sopan santun, sederhana dan rasa ikhlas. Hidupku jadi mudah. Bahkan di saat aku ada masalah atau ujian dalam hidup ini,&#8221; tutur Stephen yang sangat yakin jika nilai-nilai Islam itu akan mampu menyelesaikan aneka permasalahan di Amerika, terutama perkara krisis moral.</p>
<p><strong>Kritik Bush</strong></p>
<p>Begitulah. Saat ini Stephen Schwartz dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Center for Islamic Pluralism yang didirikan pada 25 Maret 2005 dan berpusat di Washington DC. Dia juga penulis buku best seller The Two Faces of Islam: Saudi Fundamentalism and Its Role In Terrorism.</p>
<p>Buku itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Dalam buku tersebut dia mengungkapkan rasa tak setujunya dengan cap Islam teroris dan mengkritik secara terbuka pemerintahan Bush yang selalu mengidentikkan teroris dengan Arab. Akibat kritik tajamnya itu Stephen pun lantas dipecat dari posisinya sebagai penulis berita di media bergengsi Voice of America.</p>
<p>Begitupun, dalam beberapa hal, Stephen mengaku sangat sedih kala melihat konflik di Timur Tengah. &#8220;Aku sering memimpikan adanya kedamaian dan persahabatan antara Israel dan Arab. Persis sepertimana di saat orang Yahudi bisa hidup damai di masa kepemimpinan orang Islam,&#8221; kata pria yang dikala mudanya pernah terlibat dalam kelompok radikal sayap kiri itu. [Zulkarnain Jalil/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=8698:stephen-schwartz-jurnalis-amerika-yang-bersyahadat-di-bosnia&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=72" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/stephen-schwartz-jurnalis-amerika-yang-bersyahadat-di-bosnia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profesor Jeffrey Lang Temukan Hidayah melalui Perantaraan Mahasiswanya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/profesor-jeffrey-lang-temukan-hidayah-melalui-perantaraan-mahasiswanya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/profesor-jeffrey-lang-temukan-hidayah-melalui-perantaraan-mahasiswanya#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2221</guid>
		<description><![CDATA[Profesor matematika yang pernah memilih tak beragama alias atheis ini akhirnya lebih memilih Islam sebagai pihan terakhirnya
Hidayatullah.com-Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya dan punya keunikan masing-masing. Seperti Prof Jeffrey Lang, kisah keislamnnya tergolong unik dan menarik. Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui perantaraan mahasiswa bimbingannya di kampus University of San Fransisco, AS. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Profesor matematika yang pernah memilih tak beragama alias atheis ini akhirnya lebih memilih Islam sebagai pihan terakhirnya</em></p>
<p><strong>Hidayatullah.com-</strong>Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya dan punya <img src="http://hidayatullah.com/images/stories/lang_thumb.jpg" border="0" alt="Prof Jeffrey Lang" width="210" height="207" align="right" />keunikan masing-masing. Seperti Prof Jeffrey Lang, kisah keislamnnya tergolong unik dan menarik. Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui perantaraan mahasiswa bimbingannya di kampus University of San Fransisco, AS. Dia sempat dihadiahi sebuah mushaf Alquran yang diakuinya sebagai kitab suci yang sangat mengagumkan. Satu hari, secara tak terduga dia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja dekat kampus. Rupanya ruangan itu dipakai oleh para mahasiswanya yang? Islam untuk shalat lima waktu. Nah, di ruangan kecil itu pula akhirnya dia bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya.<span id="more-2221"></span></p>
<p align="center"><strong>ooo</strong></p>
<p>Prof. Dr. Jeffrey Lang, nama lengkapnya. Sehari-hari dia bekerja sebagai dosen dan peneliti bidang Matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University tahun 1981. Prof. Jeffrey dilahirkan dalam sebuah keluarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut pada 30 Januari 1954.</p>
<p>Pendidikan dasar hingga menengah dijalani di sekolah berlatar Katolik Roma. &#8220;Hampir 18 tahun lamanya kuhabiskan masa kecil di sekolah yang berlatar belakang ajaran Katolik.? Selama itu pula aku menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab tentang Tuhan dan filosofi ajaran Kristen,&#8221; tutur dia.</p>
<p>Jeffrey, dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam, menulis:&#8221;Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an kulewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya pada masa itu aku sudah mulai banyak bertanya-tanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial dan keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk di dalamnya pemuka gereja Katolik.&#8221;</p>
<p>Beranjak remaja, di usianya yang ke-18, Prof. Jeffrey mengaku sudah jadi atheis alias tak percaya lagi adanya tuhan. &#8220;Jika Tuhan itu ada, dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu kenapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Kenapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam syurga? Kenapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?&#8221; kisah Jeffrey muda tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.</p>
<p><strong>Ketemu mahasiswa muslim</strong></p>
<p>Akhirnya Prof. Jeffrey mendapatkan jawaban awal di kota San Francisco. Ceritanya, saat itu dia diangkat sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Jeffrey menemukan Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Tapi bagaimana cara dia menemukannya? Ternyata petunjuk itu didapatnya dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam!</p>
<p>&#8220;Saat pertamakali memberi kuliah di Universitas San Francisco, aku ketemu dengan seorang mahasiswa muslim yang mengambil mata kuliah Matematika. Akupun langsung akrab dengan mahasiswa ini, begitu pula dengan keluarganya. Agama, saat itu belum jadi topik perbincangan kami, hingga satu ketika aku diberi hadiah sebuah kitab suci Alquran,&#8221; cerita dia.</p>
<p>Mahmoud Qadeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi. Mahmoud, cerita Prof Jeffrey, telah memberi banyak masukan baginya tentang hal ihwal Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. &#8220;Aku pernah diskusi dengan Mahmoud tentang riset kedokteran dan dia menjawab dengan sempurna sekali. Bahasa Inggrisnya juga bukan main. Aku dibuat terpana oleh Mahmoud, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi,&#8221; lanjut Prof. Jeffrey kagum.</p>
<p><strong>Hadiah Alquran</strong></p>
<p>Satu ketika, berlangsung acara perpisahan. Semua dosen dan mahasiswa turut hadir dalam acara yang diadakan di sebuah tempat di luar kampus itu.&#8221;Aku benar-benar terkejut saat Mahmoud memberiku hadiah sebuah mushaf Alquran. Mahmoud juga menghadiahiku beberapa buku Islam,&#8221; kata Prof. Jeffrey.</p>
<p>Atas inisiatifnya sendiri, dia pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan buku-buku Islam tersebut dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran.? Dua juz pertama dari Alquran yang sempat dipelajarinya telah membuat dia bagai terhipnotis.</p>
<p>&#8220;Tiap malam muncul beraneka macam pertanyaan dalam diriku. Tapi entah kenapa jawabannya segera kutemukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiranku dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Aku seakan menemukan diriku di tiap halaman Alquran&#8230;,&#8221; tukas Jeffrey lagi.</p>
<p><strong>Bersyahadah di mushallah kampus</strong></p>
<p>&#8220;Sekitar tahun 80-an belum banyak pelajar muslim yang studi di Universitas San Francisco. Waktu itu bisa jumpa dengan mahasiswa Islam sangat surprise,&#8221; aku Prof. Jeffrey.</p>
<p>Ada cerita menarik tatkala dia sedang menelusuri kampus, secara tak terduga aku menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. &#8220;Rupanya ruang itu dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk shalat lima waktu,&#8221; lanjut dia lagi.</p>
<p>Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahunya membuncah. Dia pun bersegera masuk ke tempat shalat tersebut.? Waktu itu pas masuk waktu shalat zuhur dan dia pun diajak untuk ikut shalat oleh para mahasiswanya. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya. Air matanya terlihat menetes.</p>
<p>&#8220;Kami berdiskusi tentang masalah agama. Aku utarakan semua bertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalaku. Dan, sungguh luar biasa, aku benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata jawabannya ada dalam ajaran Islam,&#8221; tutur dia. &#8220;Tahu tidak, setelah keluar dari mushallah itu, aku telah mengucapkan dua kalimah syahadah!,&#8221; tutur Prof Jeffrey.</p>
<p><strong>Kenapa kita shalat, Ayah?</strong></p>
<p>Prof? Jeffrey secara rutin menunaikan shalat lima waktu dan merasakan ketentraman jiwa luar biasa. Shalat subuh, seperti diakuinya, adalah salah satu ritual yang sangat indah dalam Islam dan dia merasakan kesan mendalam dari shalat subuh.</p>
<p>Satu hari Jeffrey ditanya oleh Jameelah, anak perempuannya yang kala itu berumur delapan tahun, selepas dia shalat Zuhur. &#8220;Ayah, kenapa kita harus shalat?,&#8221; tanya anaknya polos.</p>
<p>&#8220;Aku terhenyak dengan pertanyaannya. Aku benar-benar tidak mengira seorang anak berumur delapan tahun akan bertanya seperti itu. Ingin kuceritakan padanya bagaimana kelebihan dan kenikmatan shalat. Tapi apa dia bisa mengerti? Akhirnya? kujawab bahwa kita shalat karena itu perintah Allah,&#8221; tukas sang professor.</p>
<p>&#8220;Tapi ayah, apa yang bisa kita peroleh dengan shalat?,&#8221; tanya sang anak lagi masih penasaran.&#8221;Anakku, hal ini masih sulit untuk kamu pahami. Satu hari nanti, jika kamu sudah istiqamah dengan shalat lima waktu, ayah yakin kamu pasti akan dapatkan jawabannya,&#8221; pungkas Prof Jeffrey bijak.</p>
<p>&#8220;Apakah shalat bisa bikin kita bahagia ayah?.&#8221; lanjut Jameelah kecil.</p>
<p>&#8220;Sayangku, shalat adalah salah satu obat penenang jiwa. Sekali kita bersentuhan dengan kasih sayang Allah di dalam shalat, maka itulah kenikmatan yang luar biasa. Satu waktu, selepas lelah sehabis kerja, ayah merasakan semua rasa lelah itu hilang saat mengerjakan shalat,&#8221; imbuhnya lagi meyakinkan sang anak.</p>
<p>Itulah kisah sang profesor yang juga meraih karir bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika. &#8220;Matematika itu logis dan berisi fakta-fakta berupa data real untuk mendapatkan jawaban konkret,&#8221; tutur dia.</p>
<p>&#8220;Dengan cara seperti itulah aku bekerja. Adakalanya aku frustrasi ketika ingin mencari sesuatu tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Islam, bagiku, semuanya rasional, masuk akal dan mudah dicerna,&#8221; tukasnya.</p>
<p>Prof Jeffrey saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Asosiasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar muslim dengan universitas. Tak hanya itu, dia bahkan ditunjuk untuk memberikan mata kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.</p>
<p>Prof Jefrey menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga buah hati yakni Jameelah, Sarah dan Fattin. Jeffrey juga penulis buku yang handal. Selain ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas muslim Amerika. &#8220;Even Angels ask; A Journey to Islam in America&#8221; adalah salah satu buku best sellernya. Dalam buku itu dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam. [<strong>Zulkarnain Jalil</strong>/irg/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=8638:profesor-jeffrey-lang-temukan-hidayah-melalui-perantaraan-mahasiswanya&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=72" target="_blank">www.hidayatullah.com]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/profesor-jeffrey-lang-temukan-hidayah-melalui-perantaraan-mahasiswanya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
