gaulislam.com


“Eits… Jangan Genit di Internet!”

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Farah Zuhra on the February 6th, 2012

gaulislam edisi 224/tahun ke-5 (13 Rabiul Awwal 1433 H/ 6 Februari 2012)

Sobat muda muslim, dunia maya alias cyber space memang udah kian maju. Rentang jarak berjuta kilometer udah bukan problem lagi buat berkomunikasi, juga cari informasi. Betul, kan? Nah, berterima kasih dong sama para ilmuwan teknologi yang udah kasih sumbangsih kemajuan ini kepada kita semua. Nyari informasi jadi enak, bikin tugas juga lancar bahkan cari temen yang jaraknya jauuuuh banget dari tempat kita tinggal cukup bisa ketemu di depan monitor kompi (komputer), lepi (laptop), gadget & tablet. Nyewa jasa internet di warnet juga udah murah banget, apalagi ngambil yang paket. Waah… bisa bawa perangkat makan-minum-sholat- guling en bantal ke warnet nih. Apalagi yang udah punya modem atau fasilitas wifi, bisa ngenet kapan dan di manapun. Online terus baik di kampus, kafe atau lingkungan RT dan rumah sendiri.  Awas bablas ngenetnya! Wes ewes ewes! Hahahay! Ati-ati, Bro en Sis!

Yup, akhirnya dunia maya serasa di genggaman tangan. Gue aja kalo nggak pake hape yang gadget rasanya kurang banget. Ibarat ngerujak tanpa bumbu kacang plus lombok dan garam gitu, deh. Ya iyalah, gimana gue bisa nge-update status di FB en nge-tweet di Twitter (hehehe), bales-bales komen, baca dan bikin note, belum lagi nanggepin transaksi order yang belanja barang di FB gue? Selain itu, sekalian reuni temen-temen SD, SMP, SMA juga kuliah, terus cek info-info plus nge-update di halaman kampus tempat kerja gue. Cek email kali ada yang komen di blog gue atau order nulis dari gaulislam (hehehe…). Belum lagi sebar tautan dari web-web yang punya informasi penting. Wis, pokoknya banyak hal. Then..back to topic ya! Kita bahas yang genit-genit! (more…)

“Kurasakan Separuh Cinta”

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Amira Mehnaaz on the January 30th, 2012

gaulislam edisi 223/tahun ke-5 (6 Rabiul Awal 1433 H/ 30 Januari 2012)

Berada dalam kesepian dan kesendirian tentulah sangat tidak menyenangkan (kamu pernah nggak? Hehehe.. kalo aku sih sering. Idih, ngaku deh!). Bayangkan jika kamu yang mengalaminya. Bayangin, jika kamu pulang ke rumah, yang hanya kita sapa adalah pintu-pintu yang sedari pagi menunggu menganga lebar-lebar. Menonton tv, gonta-ganti saluran dan tak lama kemudian mematikan tv, pergi ke kamar, tidur-tiduran, berkhayal, menonton tv lagi, begitu seterusnya sampai orang-orang rumah pulang sekitar jam sepuluh malam. Aku benci mengatakannya, tapi itu justru terjadi pada diriku.

Namun, aku sangat berharap kebosanan dalam kesendirian atau kejenuhan dalam kesepian ini hanya aku saja yang mengalaminya. Biarlah hanya aku saja yang menitikkan air mata kesedihan yang sangat ini. Tak jarang pula air mataku berlinang. Merasakan dan membayangkan mereka sedang bersamaku. Suasana hangat dalam keluarga yang kurindukan ini, biarlah hanya aku saja yang tidak merasakannya. Eh, ini termasuk galau nggak sih? Atau malah “Andi Lau” alias Antara Dilema dan Galau? Hihihi) Halah, sedih kok malah melucu.

Akan tetapi, rupanya aku tidak bisa menutup mata terhadap kondisi masyarakat di Indonesia dewasa ini. Ternyata, tidak bisa dihitung dengan jari orang-orang yang mengalami nasib yang sama denganku. Mereka harus hidup tanpa keluarga di sisinya meskipun sebenarnya mereka memilikinya dan tidak seorang pun yang bisa dimintai bantuan. Hati teriris ketika aku dirawat di rumat sakit, aku harus menelpon ke sana kemari untuk mencari teman yang bisa menemaniku di rumah sakit, karena tidak ada satu keluarga pun yang bisa menemaniku dengan alasan sibuk bekerja. Seandainya saja semua harta bendaku bisa kutukar dengan satu hal yang bernama kebahagiaan. Aku rela jika harus hidup kekurangan tapi penuh kebahagiaan. Tapi, astaghfirullah, mungkin di situlah aku sedang diuji olehNya.

Bro en Sis, semua orang-orang rumah disibukkan dengan pekerjaan. Tidak ada yang lebih penting selain pekerjaan, bagaimana agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, secukup-cukupnya—kalo perlu lemburan pun diembat, asalkan itu bisa menambah angka saldo dalam rekening tabungan. Semua tanggung jawab pun dilimpahkan kepadaku, mulai dari pekerjaan rumah, sampai pengawasan dan pengasuhan terhadap adikku. Sekilas nampak tidak terlalu sulit. Tapi jujur saja yang bisa kutangani hanya sebatas pekerjaan rumah saja. Soal pengawasan pengasuhan aku benar-benar tidak bisa, karena aku pun harus bekerja full time, dari pagi hingga sore. Berhenti bekerjapun dilarang, karena aku harus membiayai diriku sendiri, walaupun sebagai perempuan yang belum menikah, dalam Islam tentunya jika mereka mampu membiayaiku, mereka wajib untuk menafkahiku. Entahlah, aku sudah tidak mau memusingkan hal seperti itu. Toh, aku sendiri masih diberi kesempatan untuk mencari rejeki di duniaNya ini. Aduuh.. kamu jangan ikutan melow ya, ini sekadar berbagi saja. Berbagi beban. Aku yakin, kita pernah merasakan hal yang sama. Hayo ngaku! Hehehe… (*nyari teman dot kom dah!) (more…)

Sekolah Yes! Ngaji (juga) Yes!

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Amira Mehnaaz on the January 23rd, 2012

gaulislam edisi 222/tahun ke-5 (29 Shafar 1433 H/ 23 Januari 2012)

Ada provokasi yang nggak bertanggung jawab bahwa kalo aktif ngaji katanya prestasi sekolah bisa jeblok. Ah, masak sih? Tapi faktanya, justru banyak yang ngajinya oke, sekolahnya juga oke tuh. Nggak percaya? Silakan saja survei sendiri (hehehe). Ketika saya sekolah lanjutan atas di sebuah sekolah kejuruan, pada akhir tahun 80-an hingga awal 90-an, di sekolah memang marak banget aktivitas pengajian. Tetapi alhamdulillah, banyak kawan-kawan saya dan juga adik kelas yang saya berprestasi juga di sekolahnya kok. Bahkan ada di antara mereka yang selalu dapet 10 besar di kelasnya dan ada pula yang malah jadi bintang pelajar. Keren kan?

Kalo saya sendiri? Alhamdulillah ya, bisa ngikutin pelajaran meski prestasinya sih nggak bagus-bagus amat (ini bukan ngeles, tapi kenyataan hehehe..). Tetapi yang pasti di sekolah saya bisa ngikutin pelajaran, ngaji juga insya Allah rajin sehingga alhamdulillah bisa menuliskan pengetahuan yang saya pahami dari ngaji ke dalam tulisan-tulisan saya. Beberapa di antaranya berhasil dibukukan (maaf numpang promo, silakan kunjungi blog saya di: www.osolihin.net). Makanya, dulu banyak pembaca buku-buku saya herman, eh, heran, karena sebagai lulusan sekolah kejuruan kimia malah nulis buku seputar remaja dan keislaman. Menurut pendapat mereka, nggak nyambung. Walah! Belum tahu mereka, kalo banyak juga di penerbitan media massa dan juga para penulis lainnya (khususnya yang menulis seputar keislaman) justru bukan alumnus dari bidang pelajaran yang dekat dengan menulis seperti bahasa dan agama, tetapi dari lulusan teknik, mipa, dan bahkan kedokteran. Ini membuktikan bahwa Islam tidak melakukan dikotomi terhadap ilmu. Ilmu umum oke, ilmu agama juga good! Hebat kan? Ciee.. bukan membela diri, tapi fakta banyak membuktikan itu. Hehehe..

Bro en Sis, ngomong-ngomong soal sekolah dan pengajian, jujur saya seneng banget ngeliat maraknya pengajian di sekolah umum. Maklum, udah kadung banyak orang ngasih label kalo sekolah umum tuh identik banget dengan mereka yang kayaknya rada-rada menomorduakan aktivitas nyari ilmu agama ini. Sebab, biasanya di sekolah umum siswanya lebih fokus dengan pelajaran yang umum juga. Tapi sekarang, harap disingkirkan anggapan itu dari direktori di pikiranmu. Terus di kotak ‘recyle bin’ di otakmu di-empty pula. Biar bener-bener ilang! Kenapa? Bejibun kegiatan dan simbol-simbol Islam sekarang mencolok banget di sekolah-sekolah umum! Alhamdulillah. Semoga nanti tambah semarak. (more…)

Pacaran Itu Nafsu, Bukan Cinta!

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Farah Zuhra on the January 16th, 2012

gaulislam edisi 221/tahun ke-5 (22 Shafar 1433 H/ 16 Januari 2012)

Waduh, tema pacaran lagi dah. Hehehe.. nggak apa-apa lah. Kan banyak juga yang belum tahu. Bagi kamu yang udah tahu jangan bosen. Saya aja nulisnya ampir bosan. Cuma gimana lagi, dakwah memang begitu. Kita seringkali menyangka bahwa apa yang sudah kita sampaikan secara sering akan mudah dipahami orang. Ternyata nggak. Ada yang memang belum pernah baca, ada yang baru tahu dan belum paham. Banyak alasan. Tetapi yang pasti, pembaca gaulislam setiap pekannya bertambah dan banyak yang baru tahu. Selain itu, karena tak semua bisa mengakses website maka edisi cetak ini jadi andalan mereka untuk mendapatkan informasi. Tak mengapa, yang penting ada beda rasanya dalam setiap edisi yang membahas tema sejenis. Tul nggak?

Oya, mungkin kamu kaget ya dikatain bahwa pacaran itu nafsu, bukan cinta. Padahal, kalo makan saja nggak nafsu kan jadinya nggak enak makan. Hehehe… beda persoalan, Bro en Sis. Ini soal cinta dan nafsu jelas berbeda. Nafsu umumnya cenderung membuat orang ingin melakukan sesukanya, sementara cinta masih berpikir apakah yang dilakukannya benar atau salah menurut aturan yang berlaku, khususnya ajaran agama kita, Islam. Nah, edisi kita kita bakal bahas seputar cinta, nafsu, dan juga pacaran. Yuk ah, tancap gas! (more…)

Kepada Para Aktivis Dakwah

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Leila Amra on the January 9th, 2012

gaulislam edisi 220/tahun ke-5 (15 Shafar 1433 H/ 9 Januari 2012)

Ba’da salam dan tahmid. Bro en Sis yang insya Allah dimuliakan Dzat yang Mahamulia, saya berharap semoga kalian semua berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala yang telah diberikanNya kepada kita. Kita yang lemah dan tak berdaya, meski hanya untuk mengatur detak jantung dan hembusan nafas ini. Semoga kita menjadi hambaNya yang pandai ‘mencuri’ perhatianNya dan menjadi kekasihNya.

 

Kita berharap agar apa yang kita lakukan dalam keseharian kita senantiasa sesuai dengan petunjukNya dan petunjuk RasulNya. Berserah diri dengan segala ketentuanNya dan menjadi pejuang untuk membela agamaNya.
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)

 

Semoga ayat ini selalu mengingatkan kita semua bahwa perjuangan kita dalam menegakkan syariat Islam dan meninggikan agama Allah ini, bukanlah kesia-siaan. Semoga ayat ini tertanam kuat dalam hati dan pikiran kita, agar perjuangan dakwah Islam ini senantiasa menjadi tujuan utama dalam kehidupan kita. Sekaligus menghibur kita bahwa apa yang kita lakukan menjadi bagian dari amalan yang akan memberatkan hitungan amal baik kita di akhirat nanti. Menjadi sarana untuk mengantarkan kita ke surgaNya. Insya Allah. (more…)

“Gue Nggak Peduli! Titik.”

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Hasna Hawwa on the January 2nd, 2012

gaulislam edisi 219/tahun ke-5 (8 Shafar 1433 H/ 2 Januari 2012)

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, jujur saja, saya merasa sedih dan prihatin dengan kondisi sebagian teman-teman remaja. Khususnya tentang sikap peduli. Jangankan untuk urusan yang nun jauh di sana. Kadang masalah yang ada di sebelah mata aja nggak dipikirin dan nggak jadi masalah berat buat mereka. Misalnya aja, tetangganya mau kelaparan apa kekenyangan dia nggak mau mikirin. Temannya nggak datang ke sekolah pun bukan persoalannya. Apakah sang teman yang nggak dateng ke sekolah itu karena sakit atau memang malas bukan urusannya. Cuek aja. Pikirnya, pihak sekolah ama ortunya aja yang kudu mikirin tuh anak yang bermasalah. Pikirnya, buat apa harus capek-capek mikirin. Nggak ada untungnya. Kalo diingatkan, dia ngomong sinis, “Emangnya gue pikirin?”

Sikap cuek dalam kehidupan sebagian teman-teman juga berlanjut. Kalo setiap masalah yang ampir nyolok matanya aja (karena saking dekatnya) dia cuek, kemungkinan besar masalah yang jauh darinya bakalan nggak dianggap tuh. Mungkin pikirnya, “Bodo amat, orang di luar negeri sono mo kelaparan, mo perang, mo ribut atau damai, gue nggak peduli. Yang penting gue di sini seneng. Nggak susah. Nggak bikin masalah ama orang lain. Nafsi-nafsi aja. Kalo gue suka, gue mau, gue berhak lakuin apa yang bikin ati gue hepi. Orang lain nggak boleh cerewet berkhotbah di depan gue. Emangnya gue pikirin?!” Bahaya, Bro!

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, mo seneng-seneng, mo ngelakuin apa yang bikin kita hepi, boleh-boleh aja, kok. Nggak ada yang ngelarang. Tentunya asalkan itu halal dan nggak bikin kita lupa diri. Tapi, pasti ada saatnya dong kita mikirin yang lain. Bukan hanya mikirin kita sendiri. Ada waktu yang bisa kita luangkan untuk bantu mikirin orang lain. Menengok bagaimana masalah mereka. Berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk berbagi dengan teman yang lain. Nggak cuek abis gitu, lho. Nggak baik dan tentu nggak benar sikap kayak gitu. (more…)

Tak Ada Kebebasan Beragama!

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Farah Zuhra on the December 26th, 2011

gaulislam edisi 218/tahun ke-5 (1 Shafar 1433 H/ 26 Desember 2011)

Wedew, tema gaulislam pekan ini ‘serem’ banget (bagi yang menganggapnya demikian, dan sekadar tema biasa aja bagi yang memiliki anggapan sebaliknya). Okelah itu bukan soal tema serem or tema manis. Judul ini memang terinspirasi dari kondisi saat ini, di mana orang bebas memeluk agama dan juga bebas untuk nggak beragama. Ya, itu memang hak setiap orang. Mau jadi muslim atau jadi kafir memang pilihan. Bukan paksaan. Tapi yang pasti, urusan tersebut ditanggung masing-masing orang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Artinya, nggak bebas juga pada akhirnya, sebab setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Oya, tema ini diambil juga karena banyaknya kaum muslimin, khususnya remaja yang kebingungan untuk menentukan sikap ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa ada agama selain Islam. Berbekal pengetahuan minim tentang ajaran Islam, banyak kaum muslimin dengan alasan toleransi akhirnya malah ikut serta dalam perayaan agama selain Islam, misalnya ikut acara Natal. Waduh!

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, judul yang saya pilih dalam gaulislam edisi 218 ini adalah: “Tak Ada Kebebasan Beragama!” maksudnya: “setiap orang nggak bisa bebas dalam menafsirkan ajaran agama sesuai hawa nafsunya”. Selain itu, target penulisan ini juga ditujukan agar umat manusia paham bahwa naluri beragama itu ada pada setiap diri manusia, maka munculkan dan salurkan pada jalur yang benar sesuai tuntunan wahyu yang sudah ditetapkan syariat. Nggak boleh mengikuti selera hawa nafsu manusia itu sendiri yang cenderung menjauhkan dari ajaran syariat. (more…)

Cinta Butuh Komitmen

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by sholihin on the December 19th, 2011

gaulislam edisi 217/tahun ke-5 (23 Muharram 1433 H/ 19 Desember 2011)


Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, alhamdulillah ketemu lagi dengan buletin kesayangan kamu semua ya. Semoga kebersamaan kita juga sekaligus menyatukan pikiran dan perasaan kita. Menyamakan persepsi bahwa Islam adalah gaya hidup kita. Menyatukan visi bahwa hanya dengan Islam, kehidupan kita akan mulia di dunia dan di akhirat. Selain itu, kita mampu mengikatkan diri dalam satu upaya: mencintai Islam dan ajarannya sebagai bentuk komitmen kita terhadap perjuangan dakwah demi menggapai ridho Allah Swt.

Sobat muda muslim, perlu juga dikasih tahu istilah komitmen nih, soalnya pernah lho ada teman kita yang nggak tahu istilah konsisten. Hehehe… dalam kamus, tertulis: commitment kb. 1 janji. commitments memenuhi janji-janjinya; juga berarti tanggung jawab. Kalo dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), komitmen artinya perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; bisa juga berarti kontrak.

Itu sebabnya, kalo kita ngomong soal komitmen pastinya ada hubungan dengan apa yang telah kita ikrarkan atau kita sepakati dalam melakukan atau membuktikan sesuatu. Kalo kita cinta kepada diri sendiri, maka kita harus berani membiasakan diri kita ditempa dengan disiplin, bila perlu dalam level tertentu disiplin bisa berfungsi untuk ‘menghukum’ kita agar lebih kuat, lebih semangat, lebih memiliki komitmen serius. Namun demikian, jangan sampai alasan mencintai diri kita sendiri lalu menjadikan kita egois dengan nggak mau mikirin orang lain. Bukan begitu, sobat. Justru sebaliknya, karena kita mencintai diri sendiri maka kita harus berkomitmen untuk menjaga janji itu dan kita aplikasikan juga dalam mencintai kepada sesama. Sebab, kepada orang lain saja kita cinta, apalagi kepada diri sendiri. Logika sederhananya sih gitu. (more…)

Karena Bekerja Itu Mulia

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Leila Amra on the December 12th, 2011

gaulislam edisi 216/tahun ke-5 (16 Muharram 1433 H/ 12 Desember 2011)

 

“Bapak kamu kerjanya di PLN ya?”

“Kok tahu?”

“Abisnya kalo ketemu kamu, hati aku jadi kayak kena setrum deh”

Huaaahaaahaha! Gokil abis dah gombalan ‘bapak kamu dan pekerjaan si bapak’.  Kasian aja nih si bapak, kerjaannya jadi dibikin gombal alay mulu dah. Oke Sob, sebenarnya bahasan gue nggak jauh-jauh banget dari topik pekerjaan. Yup, masalah kerja atawa profesi ortu kita! Ada masalah? Kayaknya sih… So, cekidot dah tulisan gue.

 

Malu malu malu

Kamu pernah malu nggak, kalo pas ortumu disuruh ama wali kelas ngambilin raport ke sekolahan?  Bukan masalah malu karena nilai di raport yang pas-pasan, tapi berhubung profesi ortu kayaknya nggak keren banget.  Jadi rasanya nggak pede aja bawa-bawa ortu ke sekolahan. Kadang nggak enak aja kalo dibandingin ama ortu temen-temen yang penampilan di depan umum udah kesana kemari bawa BB, iPad, iPhone. Lah ortu kita cuma bawa hape jadul yang cuma bisa buat nelpon dan sms-an. Terus ditanya ama temen-temen, ortu kamu kerja di mana, jadi apa? Gengsi banget kalo ngaku ortu kerjanya dagang cendol keliling, buka lapak gorengan atau jadi cleaning service. Hufft…

Jadi inget deh ama sinetron Go Go Girls yang dibintangi ama para personel girlband 7Icon. Nah, dalam cerita sinetron itu mereka yang bisa masuk sekolah musik en tari, rata-rata lulus tes bakat plus dari keluarga orang berduit alias tajir. Kalo pun nggak tergolong tajir ya karena memang beruntung lulus tes bakat plus dapat subsidi beasiswa dari sekolah tersebut walau pun ujung-ujungnya kudu tersingkir dari pergaulan. So, yang tadinya punya ortu berprofesi jadi supir taksi (baca: taxi driver), malah ngaku-ngaku kalo ortunya pengusaha cuma supaya bisa diterima bergaul nge-gank ama cewek-cewek tajir yang dianggap keren. (more…)

Jangan Ada Lesbian di Sekitar Kita

Posted in Buletin gaulislam,Tahun V/2011-2012 by Farah Zuhra on the December 5th, 2011

gaulislam edisi 215/tahun ke-5 (9 Muharram 1433 H/ 5 Desember 2011)

 

Waduh, fenomena menyukai sesama jenis makin marak di kalangan remaja. Bukan hanya di mancanegara, tapi juga merambah Indonesia yang katanya penduduknya mayoritas muslim ini. Kaum Hawa yang fitrah dirinya pemalu juga telah terjangkit penyakit masyarakat yang membahayakan tersebut. Bila dulunya suka sejenis didominasi kaum Adam, saat ini kondisi ini mulai bergeser.

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, di sebuah situs pribadi internet, seseorang menangkap basah aktivitas lesbian ini. Mereka bermesraan di muka umum tanpa ada rasa canggung. Banyak yang menghujat kegiatan abnormal dan mesum mereka berdua, tapi tak sedikit juga yang bersimpati bahkan menjadi pengikutnya. Benar-benar sudah tak berakal lagi mereka ini.

Seolah-olah menjadi tren sesat, aktivitas menyukai sejenis menjadi idola remaja. Mereka pun tak lagi malu menunjukkan jati diri sebagai lesbian. Lebih jauh lagi, mereka berani menuntut haknya dan meminta diperlakukan sama sebagaimana warga masyarakat lainnya. Yang lebih memalukan, mereka pun asyik-asyik saja bermesraan di muka umum tanpa ada rasa risih sedikit pun. Tak adanya pihak lain yang menegur, membuat sikap lesbian ini makin merajalela. Remaja yang karakternya labil, bukan tak mungkin meniru sikap bejat seperti ini.

Bila dirunut, kasus lesbian ini muncul pasti ada sebabnya. Yuk kita bahas sekaligus temukan solusinya agar generasi muda kita tak terpengaruh dan ikut-ikutan pola hidup rusak ini. (more…)

 
Next Page »

  rank blog indonesia   Religion Blogs - Blog Top Sites