<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Tahun II/2008-2009</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-gaul-islam/tahun-ii2008-2009/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kalo Cewek Ngeblog…</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalo-cewek-ngeblog%e2%80%a6</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalo-cewek-ngeblog%e2%80%a6#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 03:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3097</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 104/tahun ke-2 (30 Syawal 1430 H/19 Oktober 2009)
 
 
Hari gini siapa yang kenal blog? Buat para netter sejati, blog pastinya udah jadi pemandangan yang nggak asing lagi, walaupun nggak semua sih kalo netters itu blogger juga. Nah, ternyata di antara para blogger itu banyak juga lho dari kalangan cewek. Kini, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 104/tahun ke-2 (30 Syawal 1430 H/19 Oktober 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari gini siapa yang kenal blog? Buat para <em>netter</em> sejati, blog pastinya udah jadi pemandangan yang nggak asing lagi, walaupun nggak semua sih kalo netters itu blogger juga. Nah, ternyata di antara para blogger itu banyak juga lho dari kalangan cewek. Kini, dengan berbagai ragam penampilan dan isi blog, mereka meramaikan dunia maya. Hmmm … kayak apa ya kalo para cewek ngeblog? Isinya kira-kira tentang apa aja ya? Intip aaaah…</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Isi blog cewek</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Diary.</span> Blog macam gini banyak nampang di dunia virtual. Isinya tentang curhatan hati pemlik blognya. Kejadian-kejadian lucu, sedih, bahagia, ngebetein, bikin ill feel semua numplek di blog macam gini. Biasanya nih kejadian-kejadian yang beragam rasa itu ada hubungannya sama gebetan, temen-temen di sekolah atau kuliah or di tempat kerja, sohib-sohibnya, tempat belanja, fashion, penampilan, liburan, ortu, keluarga, dan seabrek cuhatan lainnya. Nggak lupa juga yang punya jiwa narsis bisa leluasa pasang foto-foto diri dengan gaya yang bebas ekspresi. He..he…</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalo yang punya blognya adalah cewek nih bahasa berkisahnya bisa dalem banget. Kadang suka agak-agak centil. Dan, kabar-kabarinya nih dengan gaya cewek kayak gitu traffic kunjungan ke blog bisa tinggi. Maka, nggak heran ada blogger cowok yang bikin blog dengan gaya cewek, dan pastinya namanya juga pake nama samaran yang cewek. Ckckck….<span id="more-3097"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kuliner.</span> Blog tipe kayak gini emang nggak semuanya dibikin sama cewek, tapi sebagian besar emang iya. Di blog kayak gini biasanya pengunjung bisa dapetin banyak resep makanan, mulai dari masakan sayur, lauk-pauk, kue, minuman, en lain-lain. Ada yang resep lokal. Ada juga yang impor. Eh, ada juga lho blogger kuliner yang menyediakan info tempat jajan yang beragam level, dari yang pinggir jalan sampai yang restoran mahal. Dateng ke blog beginian bisa bikin laper! Jiahahah..</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Hobi.</span> Para bloggers tipe gini bisa jadi rujukan buat para netter yang hobinya sama. Nah, kalo cewek biasanya ngulik hobi yang terkait dengan beragam koleksi: koleksi perangko, parfum, novel, dan sebagainya. Ada juga isinya tentang hewan peliharaan. Segala pernik cerita terkait Si Peliharaan dimuat di blog. Atau  tentang … hobi belanja! Cewek banget nggak sih? (backsound: Nggak gua tuh! Hehehe…). Sssttt … gara-gara hobi belanja terus kasih info tempat belanja, harga barang pasaran sampe yang branded bisa bikin seorang blogger  jadi seorang konsultan. Bisa gratisan sampe yang dibayar. Menggiurkan? Kalo cuma mikir duitnya doang sih emang, tapi kalo mikir lebih jauh tentang orang-orang yang dibawa ke ajang konsumerisme akut en kronis sih mending nggak lha yaw!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Jualan.</span> Nih blogger yang emang business-oriented banget. Cocok buat cewek yang pengen ngejalanin bisnis dari rumah. Sah-sah aja kok ngejadiin blog untuk sarana dagang. Asal yang dijual bukan yang diharamkan dan jualannya nggak pake curang. Bisnis kan taruhannya kepercayaan. Akad jual-beli juga mesti diperhatiin walaupun di alam maya. Sebagai muslimah, tentunya gimana Islam ngatur soal  kayak gitu itu mestinya jadi sandaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Idola.</span> Wah, kalo blog jenis ini sih bertebaran. Ada yang emang bikin blog khusus untuk didedikasikan buat Sang Idola atau yang integrated (ceileeeh bahasanya tuh!) sama blog diary. Mulai dari seleb lokal, interlokal sampai internasional bisa banyak dicari. Isinya dari mulai data pribadi, foto dengan berbagai pose, agenda kegiatan, sampai berita terkini Si Idola. Wuih! Rajin banget ya? Semoga semangat pengen tahu tentang Islam juga tetap membara dong ya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Yang jadi problem </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sih nggak ada larangan buat cewek ngeblog. Tapi, yang mesti diperhatiin lebih adalah apakah isi blognya itu bermanfaat buat orang lain atau nggak, atau malah bikin  yang lain nggak sadar bikin kesalahan juga. Eh, ada yang nimpalin tuh. “Blog gua selalu gua pastiin bisa kasih manfaat buat orang lain kok. Para pengunjung bisa dapetin segala hal tentang Si Seleb X.”</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, lho. Urusan idola dan mengidolakan&#8211;en kayaknya juga udah sering dibahas di gaulislam—ada aturan bakunya dalam Islam. Kita dilarang keras untuk “menuhankan” manusia. Mungkin ada yang yang protes kalo nggak sampe segitunya juga kok ngidolain Si Doi. Biasa-biasa aja kok. Tapi, yang namanya mengidolakan nggak ada yang biasa-biasa aja kalleee, Sis. Faktanya nih kalo udah mengidolakan sesorang kita seringkali lupa diri. Histeria di sana-sini. Atau yang paling ‘ringan’ nih, bisa melalaikan kita dari mempelajari sosok manusia yang seharusnya en wajib kita pelajari yaitu Rasulullah saw. Kalo udah gitu kan nggak bener banget deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita soal pacar, mantan pacar, calon pacar, itu juga jadi persoalan lain di blog. Hubungan cinta mesra antara lawan jenis nggak semestinya diumbar di media publik. Blog gimanapun kan area umum. Plus, pacarannya itu sendiri kan udah jelas ada hukumnya. Dalam kamus muslimah nggak bakalan pernah ada kalo pacaran iu halal. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Bikin blog soal shopping juga nggak jadi masalah selama itu nggak bikin kita jadi “penjerat” orang lain ke kubangan konsumerisme. Okelah para pengunjung blog kita itu orang berduit semua, en mampu untuk beli apapun yang mereka liat di blog kita. Tapi kan sayang banget kalo duit segitu banyak cuma untuk belanja doang. Jangan boros ya. Rugi banget lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga yang blogger cewek (paling nggak dari nama blog-nya keliatan blog cewek) isi blognya lebih naudzubillahi min dzalik. Error abis! Kisah hot alias porno bisa vulgar ditampilin di sini. Maksudnya apa seeeh? Udah bikin blognya dosa, bikin orang lain ikut dosa. Makin numpuk aja tuh dosa. Iiiih nggak banget deh ah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Blog sehat buat para muslimah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Keberadaan blog nggak bisa dihindari di jaman millennium kayak sekarang. Fenomena blog udah merambah jadi bagian kehidupan. Tapi, bukan berarti kan buat kita-kita yang muslimah jadi ikutan latah bikin blog tanpa mikir tujuan dan untuk siapa aja blog itu entar kita buat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kamu perlu tahu bahwa dalam Islam sebelum kita berbuat harus tahu status hukum perbutan yang akan kita lakukan. Sebagaimana dalam kaidah syara (yang artinya): “Asal dari perbuatan (selalu) terikat dengan hukum syara”. Ini artinya, apa yang kita lakukan ada konsekuensi hukumnya. Maka, pastikan bahwa yang dilakukan itu benar menurut tuntunan syariat Islam. Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”</em> <strong>(QS al-Hasyr [59]: 7)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, berdasarkan kaidah hukum syara dan dalil al-Quran di atas, maka bikin blog jadinya nggak bisa semaunya sendiri. Kita mesti pastiin kalo blog yang kita bikin adalah blog yang sehat alias blog yang aman untuk diakses orang banyak. Aman dalam batasan hukum syara’ pastinya.</p>
<p style="text-align: justify;">So, kalo mau ditegesin lagi blog yang sehat itu punya syarat sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama,</span> isi dan desain tidak bertentangan dengan syari’at. Untuk bisa mastiin isi sampe desain blog (jangan sampe ada gambar yang nggak sesuai dengan Islam) bener-bener sehat, nggak bertentangan dengan syari’at. Sebagai blogger, kamu kudu punya pengetahuan tentang Islam. Ya iya dong. Pengetahuan yang cukup tentang Islam bakal bisa bikin blogger punya panduan yang memadai untuk memilih mana yang boleh ditulis dan mana yang nggak boleh ditulis dan disebarkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua,</span> mencerahkan pengunjung blog. Blog yang sehat adalah blog yang bisa memberikan inspirasi kebaikan kepada para pengunjungnya. Misalnya nih: pengunjung yang sebelumnya nggak ngeh tentang wajibnya menutup aurat buat seorang muslimah jadi tergerak untuk segera menutup aurat setelah mampir ke blog kita, atau jadi cewek yang mau lebih peduli sama lingkungannya gara-gara baca postingan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu dua syarat pokok kalo kita pengen punya blog yang sehat. Kalo pengen poin plus-plusnya juga, kita bisa dapetin dari desain blog yang dibikin sekeren mungkin. Untuk bisa seperti itu emang ada pengetahuan lain yang mesti kita punya, seperti pengetahuan kita tentang CSS (Cascading Style Sheet), flash, java script, HTML, XHTML, dan lain-lain. Tapi, kalaupun nggak jangan juga jadi berkecil hati. Sekarang blog gratisan pun menyediakan template lay out yang bagus-bagus kok.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Blogger muslimah kudu tangguh dan cerdas</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muslimah adalah elemen penting kebangkitan umat. Kalo kita ngomongin umat tentunya bukan cuma yang di Indonesia aja tapi juga yang di belahan dunia lainnya. Saat ini umat Islam dalam kondisi di titik nadir: dijajah secara fisik juga kekayaan alam. Lebih miris lagi tidak semua umat Islam menyadari keterpurukan tersebut. Itu karena cara pandang sebagian umat telah berhasil dialihkan secara halus oleh para penjajah. Umat Islam menjadi umat yang cinta dunia dan takut mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, siapa lagi yang mau membangkitkan umat Islam kembali menjadi khoiru ummah (sebaik-baik umat) kalau bukan umat Islam yang telah sadar? Dan siapakah bagian dari umat Islam yang telah sadar itu? Salah satu bagiannya ya muslimah. Caranya? Berdakwah pastinya dong ya. Menunjukkan yang haq itu haq (benar itu benar), dan yang bathil itu bathil (salah itu salah). Dakwah, seperti yang ditunjukkan oleh suri teladan kita semua, Rasulullah saw. yang membuat orang akhirnya menyadari sepenuhnya hakikat penciptaan dirinya sehingga muncul kerelaan untuk diatur hanya oleh aturan Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, cara berdakwah bisa beragam. Salah satunya bisa melalui blog. Nah, blogger muslimah kudu punya persiapan yang mantap untuk bisa menghadirkan pencerahan di blognya. Apa aja ya?</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama,</span> selalu update pengetahuan Islam. Blogger muslimah emang kudu ngaji. Selain emang udah jadi kewajiban, ini modal paling penting untuk jadi blogger yang cerdas. Nggak ngaji ya siap-siap aja jadi blogger yang bisanya cuma ngikut tren doang.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua,</span> selalu bertekad untuk berbagi ilmu, pemikiran, dan perasaan sesuai dengan Islam. Udah ngaji tapi cuma buat kebaikan sendiri sih nggak bisa masuk kualifikasi. Blogger muslimah kudu mau sharing ilmu ke semua orang. Baik ilmu Islam maupun ilmu pengetahuan, juga keahlian yang dimiliki, yang dinilai bisa membuat oang lain pun jadi berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga,</span> selalu mengasah daya kritis terhadap suatu fakta sehingga bisa kasih solusi. Blogger muslimah kudu mau baca en mengamati fakta. Dia kudu jadi orang yang peduli sama sekitarnya. Untuk syarat yang ini, nggak bakal ada deh blogger muslimah yang nyaman menyendiri di kamarnya berhadapan dengan komputer atau laptop yang tersambung ke alam maya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Keempat,</span> selalu mau upgrade keahlian. Blogger muslimah juga kudu mau ningkatin level keahliannya. Blog kan macem-macem. Ada blog tulisan seperti blogspot, multiply, dan wordpress. Ada juga blog khusus foto seperti photobucket dan flicker. Blog khusus lainya adalah blog video seperti youtube. Nah, untuk bisa menghasilkan konten yang bagus, blogger khususnya muslimah emang harus mau terus belajar dan belajar sehingga bisa bertambah lihai menulis, mengambil angle foto yang mencengangkan, dan membuat tayangan yang menggugah kesadaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Yuk mulai ngeblog sehat!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau buat para sobat muslimah yang belum punya blog en pengen punya blog, nah sekarang nih saatnya. Pertama, pastiin kalian semua udah baca syarat blog sehat kayak apa. Dan selanjutnya, silakan memilih situs blog gratisan yang kalian inginkan. Atau mau beli domain sendiri? Silakan. Banyak yang menawarkan harga domain dan biaya hosting yang murah. Mau yang gratisan atau bayar nggak jadi soal yang penting isi mesti berkualitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau udah punya blog, ya jangan ditinggal dong. Pelihara dengan baik. Isi terus blog kamu dengan postingan yang berkala. Eh ya jangan lupa, tukeran link sama saudara-saudara muslim lainnya supaya makin banyak yang datang ke blog kamu. Atau bikin pengumuman aja lewat situs www.gaulislam.com. Emang bisa? Bisa dong. Caranya, sering-sering deh berkunjung ke situsnya buletin gaulislam ini, terus rajin kasih komen sambil tempelin deh tuh link blog kamu di situ. Sip kan! Saling berbagi nggak bakal bikin rugi. <em>So</em>, para blogger muslimah, umat menunggu kiprahmu. Jadilah muslimah yang cerdas, shalihah, rajin dakwah, dan punya keterampilan oke. <strong>[Nafiisah FB| http://nafiisahfb.co.cc]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalo-cewek-ngeblog%e2%80%a6/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Take Me Out&#8221;, Biro Jodoh Kapitalis!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/take-me-out-biro-jodoh-kapitalis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/take-me-out-biro-jodoh-kapitalis#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 02:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[take me out]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3085</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 103/tahun ke-2 (23 Syawal 1430 H/12 Oktober 2009)
 
Acara reality show di Indonesia diramaikan dengan program acara biro perjodohan bernama Take Me Out Indonesia. Acara ini tentang 30 perempuan berusia 20-40 tahun berstatus single. Mereka mencari pasangan. Bisa untuk suami, pacar, atau sekedar coba-coba. Di setiap episodenya, ada 7 pria single yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 103/tahun ke-2 (23 Syawal 1430 H/12 Oktober 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Acara <em>reality show</em> di Indonesia diramaikan dengan program acara biro perjodohan bernama <em>Take Me Out Indonesia</em>. Acara ini tentang 30 perempuan berusia 20-40 tahun berstatus single. Mereka mencari pasangan. Bisa untuk suami, pacar, atau sekedar coba-coba. Di setiap episodenya, ada 7 pria single yang keluar satu demi satu untuk dipilih dan memilih para perempuan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Suksesnya acara <em>Take Me Out</em>, memunculkan acara serupa dengan judul <em>Take Him Out</em> yang berisi kebalikannya. <em>Take Him Out</em> berisi 30 pria single dan 7 perempuan single di setiap episodenya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Biro jodoh asal tiru</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Take Me Out</em> adalah sebuah program televisi yang lisensinya dipegang FremantleMedia. Saat ini <em>Take Me Out</em> telah ditayangkan di 3 negara Eropa (Spanyol, Netherland, Denmark), menyusul UK. Dari sini aja, udah kelihatan banget nuansa asal tiru yang penting laku. Rating tinggi, iklan berdatangan, dan itu artinya banyak rupiah berdatangan. Sedangkan bagi pesertanya, lumayanlah bisa nampang di layar kaca dan ditonton oleh orang se-Indonesia raya.<span id="more-3085"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Orang Indonesia memang suka sekali meniru terutama dalam hal tayangan-tayangan TV. Kalo yang ditiru baik sih, nggak masalah. Tapi kalo yang ditiru adalah hal-hal yang negatif, maka ini yang bahaya. Biro jodoh di TV ini adalah salah satu acara yang diadopsi habis dari mereka yang berbudaya sangat jauh dari kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan masalah Timur dan Barat, tapi yang lebih urgen adalah budaya non Islam yang diadopsi habis-habisan oleh masyarakat kita yang mayoritas muslim. Lihat aja gaya berbusana para perempuan di acara itu. Bagaian “atas-bawah” terbuka semua. Hanya di bulan Ramadhan dan awal Idul Fitri aja mereka kayaknya diharusnya berpakaian yang agak tertutup. Catet lho, “agak” hehehe..</p>
<p style="text-align: justify;">Ini dari segi gaya busana. Cara memilih pasangan, juga dilakukan secara primitif. “Kok bisa? Padahal mereka berada di panggung canggih dan modern penuh sentuhan teknologi,” mungkin itu pikirmu. Non, modern nggaknya sesuatu, itu bukan ditentukan dari penampilan fisik semata. Itu cuma artificial alias palsu. Primitif atau modern itu bisa dilihat dari bagaimana acara ini merancang 30 kandidat dalam memilih satu calon di depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Fisik, itu yang utama pria memilih perempuan. Meskipun yang perempuan cerdas, tapi kalo nggak cantik dan langsing jangan harap bakal terpilih. Jenis pekerjaan, itu pilihan utama perempuan dalam memilih si pria. Jabatan direktur atau pemilik sebuah perusahaan, bisa dipastikan hampir semua perempuan menyalakan lampunya agar dipilih oleh si pria tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Iman dan takwa? Boro-boro, euy. Jauh dah! Belum lagi baju pembawa acara yang bagian “atas bawah” serba terbuka. Bener-bener ajang pamer aurat tiada henti!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>“Take Me Out Ramadhan”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Episode “Take Me Out Ramadhan” adalah yang paling bikin saya muak dari semua episode yang ada. Gimana nggak, kalo yang hak dan yang batil dicampur aduk jadi satu. Ibarat minum susu kecampur sama air comberan, udah gitu ada lalat ijonya. Hueks…siapa sudi?</p>
<p style="text-align: justify;">Di acara tersebut, menghadirkan narasumber yang terkenal dengan nama Ustadz Cinta. Dia bertugas untuk terus ngasih nasihat-nasihat cintanya. Pake dalil-dalil yang terkesan maksa pula. Hmm.. mending kalo bener, yang terjadi malah jaka sembung tuh dalil alias nggak nyambung. Bagaimana mungkin seseorang yang disebut ustadz dan paham Islam bisa menjadi narasumber untuk menyampaikan dalil bagi acara umbar aurat dan jelas-jelas hedonis itu? Aha, jadi agak-agak sedikit nuduh nih (eh, bukan ding, curiga aja), jangan-jangan uang memang bisa melupakan segalanya. Mungkin dia dan manajemennya berpikir, “Nggak masalah ayat-ayat Allah dijual, yang penting doku tebal.” Naudzhubillah. Mudah-mudahan sih tidak. Tapi ya nggak tahu juga sih. Ikutan di situ aja udah menunjukkan gimana kualitas sebenarnya. Kasihan banget!</p>
<p style="text-align: justify;">Di acara <em>Take Me Out</em> edisi Ramadhan, emang baju pun sudah mulai berubah bentuk. Para perempuan yang semula pada pamer sekwilda (maaf, sekitar wilayah dada) dan bupati (buka paha tinggi-tinggi) sudah mulai ditertibkan. Celana panjang atau rok menutup lutut, dengan baju atasan yang tidak boleh terlalu terbuka menghiasi <em>Take Me Out</em> edisi Ramadhan dan Syawal. Tapi, biarpun para peserta udah mulai sopan gaya berbusananya, ternyata pembawa acara tetap cuek-cuek aja. Pundak, leher dan dada terbuka lebar tak masalah. Begitu juga dengan rok pendek di atas lutut tetap muncul di episode demi episode. Gawat!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Islam punya jalan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bila berani mengatakan itu buruk, pasti ada yang baik. Bila mengatakan itu batil, pasti ada yang hak alias benar. Bila mengatakan itu tidak sesuai dengan syariat Allah, pasti ada yang sesuai. Yupz…Islam nggak cuma bisa nunjukkin dan mengkritik masalah tapi juga bisa menyodorkan solusi untuk masalah tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Islam, kewajiban menikahkan anak perempuan itu adalah menjadi tugas wali atau ayah gadis tersebut. Ayah inilah yang berusaha mencari laki-laki yang baik dan shalih sebagai suami puterinya. Bila karena satu dan lain hal, wali tidak bisa melakukan kewajibannya, maka tugas negara untuk menyelesaikan permasalahan ini sesuai dengan hukum syara’.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah yang baik, akan memilihkan calon suami untuk putrinya dengan memilih laki-laki yang shalih. Abu Nu’im mentakhrij di dalam <em>al-Hilyah</em>, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata: <em>“Yazid bin Mu’awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’ untuk menikahi putrinya. </em><em>Namun Abu Darda’ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, ‘Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepa­damu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Darda’?” Yazid menjawab, “Celaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.” Temannya berkata, “Perkenan­kan aku untuk menikahinya, semoga Allah mem­berikan kemaslahatan kepadamu.” Terse­rahlah,” jawab Yazid. Ketika Abu Darda’ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Darda’ menerima dan menikahkan­nya. Lalu Abu Darda’ berkata,”Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, menjadi wanita itu mulia lho. Bahkan seorang ayah yang memiliki anak wanita yang dididik dengan Islam hingga menikahkannya dengan lelaki shalih, insya Allah jaminannya surga, lho. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Rasulullah saw. bersabda, <em>&#8220;Tiada seorang muslim yang memiliki tiga anak perempuan kemudian dia memberi nafkah sampai keduanya menikah atau meninggal dunia kecuali keduanya menjadi dinding baginya dari api neraka.&#8221; Seorang perempuan bertanya,&#8221;Apakah dua anak juga?&#8221; Rasul menjawab, &#8220;Atau dua anak perempuan.&#8221;</em> <strong>(HR Thabrani)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): <em>“Barangsiapa diuji dengan anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka (anak-anak perempuan itu) menjadi benteng untuknya dari api neraka.&#8221;</em> <strong>(HR Bukhari, Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, karena saat ini kondisi umat Islam sedang berada di kemundurannya, maka sang ayah tak lagi tahu kewajibannya, apalagi negara. Dengan dikompori oleh ide feminisme, jadilah perempuan merasa bebas lepas untuk menentukan sikap termasuk dalam hal jodoh. Demi menarik lawan jenis, mereka tak segan umbar aurat. Demi mendapatkan suami tajir mereka rela merendahkan harga dirinya agar dipilih dan bisa mengalahkan saingannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Biro jodoh atau sebuah upaya jasa untuk mempertemukan dua anak manusia dengan tujuan pernikahan itu hal yang boleh-boleh aja dlam Islam. Yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana pelaksanaan biro jodoh itu agar sesuai dengan syariat Islam dan bukan malah menjadi pengumbar maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. memberikan rambu-rambu dalam memilih psangan: <em>“Wanita itu dinikahi karena empat perkara; (1) karena hartanya, (2) karena kebaikan keturunan atau kedudukannya, (3) karena kecantikannya, dan (4) karena afamanya. Maka beruntunglah engkau yang memilih wanita yang beragama, karena dengan demikian itu engkau akan berbahagia”</em> <strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): <em>“Janganlah kamu menikahi wanita kaeena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu akan menyebabkan dia sesat (membinasakannya); dan janganlah kamu menikahi wanita karena harta bendanya, mungkin hartanya itu menyebabkan ia sombong (sesat). Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, Demi Allah, perempuan budak yang hitam legam itu lebih utama apabila ia beragama (Islam)”</em> <strong>(HR Ibnu Majah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasar rambu-rambu ini, sebuah biro jodoh yang bertanggung jawab tidak akan mengumbar identitas fisik para pesertanya dengan mudah. Visi dan misi menikah itu lebih diutamakan sebagaimana saran Rasulullah saw. di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika laki-laki memilih perempuan, faktor takwa adalah utama. Bukan fisik, wajah, apalagi postur tubuh. Karena sesungguhnya, anugerah fisik itu adalah <em>given</em> alias udah dari sononya. Manusia nggak bisa memilih untuk punya hidung seindah Katie Holmes, misalnya. Atau mata seindah Katherine Zeta Jones. Ya udah, apa yang ada disyukuri saja dengan memanfaatkannya di jalan Allah. Bukan untuk mengumbar maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika perempuan memilih laki-laki pun, bukan faktor pekerjaan dan gaji yang utama. Tapi lebih kepada kualitas diri yang bakal jadi calon <em>qowwam</em> atau pemimpin rumah tangga. Percuma juga punya penghasilan puluhan juta rupiah per bulannya tapi nggak bisa baca al-Quran. Punya mobil mewah mengkilap menggiurkan, tapi ternyata jarang sholat wajib. Aduh…. biar cakep dan tajir, pria jenis ini <em>mah</em> buang ke laut aja. Nggak banget gitu lho!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan tak menghalalkan cara</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Islam memang beda. Tujuan baik untuk mencarikan jodoh para pesertanya, tidak lantas membuat caranya selalu baik. Begitu juga dengan acara macam ini. Meskipun dibungkus dengan hadirnya Ustadz Cinta, tidak secara otomatis acara ini bisa dianggap sesuai dengan aturan Islam. Apalagi dengan <em>romantic room</em> yaitu sebuah tempat untuk berdua-duaan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang kepribadian pasangan masing-masing. Nah, berlipat-lipat deh maksiat yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal jelas-jelas Rasulullah saw. bersabda (yang artinya):<em>”Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai dengan mahram-nya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.”</em> <strong>(HR Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di saat ustadz cinta berbusa-busa memutarbalik ayat demi terlegalisasinya acara tersebut, apakah berani ia menyebut hadits ini? Apakah ia berani menyebut ayat 32 surat al-Israa? Oya, redaksional ayat tersebut (yang artinya): <em>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, jangan sampe tujuan baik tapi caranya salah. Nggak sekadar niat yang benar, tapi caranya juga harus benar sesuai tuntunan syariat Islam. Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Sadarlah!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang saatnya bagi kamu kaum perempuan dan laki-laki yang dieskploitasi kejombloan mereka untuk sadar. Apa pun dalihnya, uang adalah tuhan para penyelenggara acara itu. Tak peduli harus dengan memanfaatkan perasaan orang lain. Dalam hal jodoh, perasaan jelas terlibat. Itu adalah komoditas yang akan memancing pemasang iklan untuk berdatangan. Uang adalah hasil akhirnya. Sangat khas kapitalisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Jodoh itu masalah serius, bukan main-main. Apa bisa seorang jodoh yang baik dunia-akhirat didapat dari penilaian fisik selama 10 menit? Pasti faktor nafsu yang banyak berperan di sana. Tatakrama menundukkan pandangan pada memandang sesuatu yang haram nggak berlaku sama sekali. Boro-boro bisa menundukkan pandangan, baju aja pada sengaja dibuka-buka begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang muslim selalu melibatkan peran serta Allah Swt. dalam setiap lengkah kehidupannya, termasuk dalam hal jodoh. Sholat istikharah mustahil bin mustahal diingat dalam momen seperti ini yang penuh dengan suasana hedonis dan pamer body serta materi. Jadi bagi kamu yang mungkin terbersit keinginan untuk ikut ajang ini, pikir-pikir lagi deh. Banyak maksiat dan kemudharatan terjadi di sana. Masa’ iya setelah penjelasan panjang lebar ini, hati dan pikirmu tidak terketuk untuk berubah? Berubah jadi yang lebih baik, paling tidak bukan malah ikut melestarikan ajang seperti ini. Setuju kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Gaungkan opini seperti ini di lingkunganmu, agar orang-orang juga ikutan sadar dan tak terlalu kesengsem sama acara sejenis. Nonton sih boleh-boleh aja tapi nggak perlu sampai maniak dan ketagihan. Karena ada loh ternyata orang-orang yang nggak bisa tidur kalo belum nonton <em>Take Me Out</em>. Walah… segitunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saatnya kita buka kebobrokan kapitalisme yang sangat tidak memanusiakan manusia, termasuk menjadikan komoditi ajang perjodohan yang seharusnya sakral ini. Sudah terlalu lama dunia ini terpuruk akibat kapitalisme ini. Jadi sekarang saatnya Islam dilirik sebagai solusi tak terkecuali dalam memilih jodoh dan ajang perjodohannya. Manusia itu punya harga diri, perasaan dan keimanan. Bukan sekadar onggokan daging yang dinilai dari tampilan luar fisik yang sifatnya sangat fana. Jadi, ayo bergerak dan berdakwah! Tetap semangat ya! <strong>[ria: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/take-me-out-biro-jodoh-kapitalis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gempa!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gempa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gempa#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 22:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3052</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 102/tahun ke-2 (16 Syawal 1430 H/5 Oktober 2009)
 

Rasanya belum hilang ingatan gempa di Tasikmalaya 2 September 2009 lalu. Rasanya masih ingat betul tayangan-tayangan gambar di televisi menampilkan kepanikan orang-orang yang merasakan getaran dan guncangan gempa. Masih terekam jelas di benak kita tentang rumah-rumah dan bangunan lainnya yang roboh digoyang gempa. Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 102/tahun ke-2 (16 Syawal 1430 H/5 Oktober 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Rasanya belum hilang ingatan gempa di Tasikmalaya 2 September 2009 lalu. Rasanya masih ingat betul tayangan-tayangan gambar di televisi menampilkan kepanikan orang-orang yang merasakan getaran dan guncangan gempa. Masih terekam jelas di benak kita tentang rumah-rumah dan bangunan lainnya yang roboh digoyang gempa. Jawa Barat dan seluruh negeri ini berduka. Belum hilang benar ingatan itu, namun kemudian kita kembali dikejutkan dengan kabar dari Bumi Andalas, khususnya di kawasan Sumatera Barat dan Jambi. Pada 30 September 2009 petang hari Padang berantakan dihempas gempa tektonik berkekuatan 7,6 pada Skala Richter (7,6 SR). Karena pusat gempanya tak jauh dari daratan (pulau Sumatera di kawasan itu), maka dampak kerusakannya sangat parah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, gaulislam juga turut berduka cita atas gempa dan bencana alam lainnya yang baru-baru ini dialami oleh saudara-saudara kita. Semoga bagi saudara kita yang meninggal diterima sesuai amal perbuatannya dan Allah Swt. mengampuni dosa-dosanya. Bagi yang masih diberikan kesempatan hidup, semoga tetap sabar menjalani kehidupan meski rumah, harta benda, dan orang-orang yang dicintai sudah tidak bersamanya lagi.<span id="more-3052"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Oya, apa yang ditulis dalam buletin gaulislam ini bukan untuk mengabarkan kondisi terakhir gempa, karena pasti kalah update-nya dari media massa. Tapi dalam tulisan ini sekadar untuk mengajak kita semua merenung atas apa yang terjadi dan hikmahnya bagi kita semua. Memang, kalo mikirnya pahit, adanya gempa adalah sebuah kepiluan dan kesedihan mendalam. Namun, cobalah kita berpikir sebaliknya, bahwa ada hikmah lain di balik kepahitan itu. Tentu ini bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana kita meminum obat yang pahit, tapi harus dijalani demi mengharap kesembuhan. Apa boleh buat. Ya, kita semua tak ada yang berharap mendapatkan kesusahan, tapi jika itu benar-benar terjadi dan kita alami, harus kita hadapi. Ingatlah, Allah Swt. tidak akan membenani seseorang (dalam hal ini memberikan cobaan yang berat) kepada siapapun yang tidak kuat menanggung bebannya. Pasti Allah Ta’ala sudah memperhitungkannya, seperti dalam firmanNya (yang artinya): <em>“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”</em> <strong>(QS al-Baqarah [2]: 286)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Gempa untuk siapa?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, di balik semua kejadian pasti ada hikmahnya. Di tengah kepahitan, ada saja manis terasa. Meski yang merasakan manisnya bukan yang sedang kepahitan. Tapi, apapun itu kondisinya, ada saja hikmah dan manfaat yang bisa diambil.</p>
<p style="text-align: justify;">Gempa, bagi para ahli bangunan, saatnya mendapatkan pekerjaan baru. Mulai dari pekerjanya, sampai bos-bos di perusahaan kontraktor. Makin parah dampak kerusakan gempa, makin banyak peluang mendapatkan pekerjaan. Itu artinya, ada peluang mendapatkan rizki mulai dari bersih-bersih puing hingga membangun kembali tempat-tempat tersebut. Apakah pekerja bangunan dan mereka yang terlibat dalam proyek pembangunan setelah gempa bersuka-cita dalam kesedihan orang lain? Belum tentu dan bisa jadi tentu saja tidak. Sebab, barangkali itulah cara Allah Swt. membagikan dan merotasi rizki bagi hamba-hambaNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian itu mirip dengan penggali kubur. Bagi mereka yang ditinggalkan orang yang dicintainya, tentu saja sedih. Orang yang kerjaannya menggali kubur, sangat boleh jadi akan bergembira dengan banyaknya yang meninggal dunia karena pekerjaannya menggali kubur ibarat panen. Kita tidak bisa menyalahkan mereka sebagai orang yang bersuka cita di atas penderitaan orang lain. Karena faktanya memang kita membutuhkan pekerjaan mereka. Sama seperti di rumah sakit. Kita sedih orang yang kita sayangi harus dirawat di rumah sakit. Kita harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan dana yang tak sedikit. Apakah kita harus menyalahkan pekerja rumah sakit dengan alasan mereka bersuka-cita ketika makin banyak pasien yang menghuni rumah sakit tersebut?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, kita nggak bisa menyalahkan begitu saja. Apalagi kalo misalnya yang mengelola rumah sakit adalah individu, bukan negara. Segala operasionalnya mereka keluarkan sendiri. Walaupun idealnya memang fasilitas ini dikelola oleh negara dan murah, syukur-syukur kalo sampe gratis. Tapi kalo kondisi sekarang kita nggak bisa berharap banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali soal gempa. Gempa juga berarti masa panen bagi maskapai penerbangan (khususnya yang swasta) ke Padang saat ini (meski ada juga maskapai yang menyediakan tiket gratis pada hari tertentu bagi keluarga korban dengan melampirkan data anggota keluarganya di sana). Umumnya maskapai penerbangan menaikkan harga yang jauh melebihi tuslah. Hukum eknomi berlaku. Banyak permintaan, maka saat yang tepat menuai untung. Tapi, terlepas dari tega atau tidak tega, dalam kasus ini gempa tenyata membawa kebahagiaan bagi kalangan tertentu. Mereka punya jasa, kita beli jasa itu. Soal mahal atau tidak mahal, dalam kondisi sekarang ukurannya menjadi relatif. Semoga saja yang dipikirkan oleh mereka bukan semata nyari untung, tapi ada kepedulian sosialnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Media massa juga sama. Bagi media massa, khususnya televisi saat ini, gempa menjadi senjata andalan untuk menaikkan rating. Berlomba menjadi yang pertama menyiarkan langsung dari tempat kejadian. Memilih gambar yang paling menyentuh dan mengundang empati. Meskipun seringkali tidak empati dalam mencari beritanya. Iya, <em>masak</em> orang tua yang kehilangan anaknya, ditanyain bagaimana perasaan ibu, atau kok ibu tidak menangis (beuu.. pertanyaannya dodol banget!). Memangnya orang yang sedih itu harus meronta-ronta, meraung-raung agar gambar yang dibidik dramatis dan mengundang empati penonton? Nggak lah, kadang ada orang yang sedih tak bisa berbuat banyak. Hanya mampu diam. Shock.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi mengejar rating pula, media televisi memberikan embel-embel “ekslusif” dan menayangkannya nyaris 24 jam sehari. Agar orang tak berpaling dari media tersebut, atau setidaknya orang menjadi tahu bahwa kalo pengen update berita seputar gempa, ya di televisi tersebut. Apa untungnya bagi media massa? Masuknya iklan, dong. Ya, rating itu adalah untuk menggaet iklan. Jadi, gempa membawa bahagia juga bagi pengusaha media massa.</p>
<p style="text-align: justify;">Gempa bagi para korban yang selamat dan masih hidup, tentunya adalah sarana untuk interospeksi. Mengukur diri dengan amalan yang sudah dilakukan. Gempa yang telah merenggut segalanya; harta, keluarga, rumah, pekerjaan, mungkin sebagian anggota tubuh yang harus diamputasi, dan semua cerita indah lainnya, disikapi dengan sabar dan penuh keimanan kepada Allah Swt. Kadang, kita baru bisa sadar dan sabar ketika mengalami kondisi sulit dan pahit. Ketika dalam keadaan bahagia, kita sulit untuk sadar dan sabar. Semoga dengan adanya gempa ini makin meneguhkan keimanan mereka. Menyadari kelemahannya sebagai manusia dan makin taat kepada Allah Swt. Semoga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, gempa ‘bermanfaat’ juga bagi kita yang jauh dari tempat kejadian dan tentunya tidak mengalami kejadian tersebut. Bukan berarti kita nggak peduli lho. Justru adanya gempa ini, jiwa sosial kita muncul dan empati kita tumbuh. Ketika sering melihat kebahagiaan, empati kita mampet, dan jiwa sosial kita jadi mandeg. Tapi, setelah membaca/melihat berita/tayangan korban gempa, dampak kerusakan yang tejadi, serta keadaan darurat korban yang selamat dan berdiam di tenda-tenda di pengungsian, kita tersentuh. Maka, tak terasa kita ikut menyisihkan sebagian kecil harta kita untuk meringankan beban mereka. Tampak banyak lembaga yang menampung gelontoran dana dari siapapun untuk diberikan kepada mereka yang menjadi korban. Ya, ternyata gempa (atau bencana lainnya) juga ada hikmahnya bagi kita yang tak merasakannya. Subhanallah. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): <em>Perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang, sikap rahmah, dan sikap lembut antar mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh mengeluh kesakitan, maka seluruh badannya akan merasakan sakit.”</em><strong> (HR Bukhari No. </strong><strong>5552,</strong> <strong>dan</strong> <strong>Muslim No. </strong><strong>4685)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. juga bersabda (yang artinya): <em>Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesulitan dan kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan seorang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan beri kemudahan untuknya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba selama sang hamba tersebut menolong saudaranya.” </em><em><strong>(</strong></em><strong>HR Muslim</strong> <strong>No. 4867)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): <em>Barangsiapa yang yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.” </em><em>(</em><strong>HR Bukhari No. </strong><strong>2262, dan</strong> <strong>Muslim No. </strong><strong>4677</strong>)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Sebuah nasihat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian bencana alam ini bisa kita lihat dengan dua sudut pandang. Pertama, ini semata memang ujian dari Allah Swt. Insya Allah, bagi orang-orang yang beriman ini adalah ujian. Semoga dengan kejadian yang meskipun menurut kita sangat berat, menyesakkan, dan tentunya menyedihkan, tapi jika kita bersabar, insya Allah ada pahalanya. Jangan pernah berputus asa. Firman Allah Swt. (yang artinya):<em>“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”</em> <strong>(QS al-Baqarah [2]: 155-156)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kita kayaknya udah akrab juga dengan kalimat <em>“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”</em>. Bahkan kita sangat hapal dengan maknanya. Yup, arti kalimat itu adalah “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya-lah kami kembali.” Kalimat ini oleh para <em>mufasir</em> (ahli tafsir) dinamakan kalimat <em>istirjaa</em> (pernyataan kembali kepada Allah). Disunahkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil. Indah sekali bukan, ditimpa musibah bukannya putus asa, tapi kita malah bersabar. Jadi berbahagialah karena kita sebagai seorang muslim dan insya Allah juga seorang mukmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat lain, Allah Swt. juga menjelaskan bahwa segala musibah yang menimpa adalah atas kehendakNya (yang artinya): <em>“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” </em><strong>(QS at-Taghaabun [64]: 11)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, kalo sudut pandang pertama musibah ini bisa bermakna ujian, maka pada sudut pandang kedua, justru kita khawatir nih, karena bisa jadi musibah itu adalah bentuk murkaNya. Mungkin lebih halus bisa disebut peringatanNya sebagai bagian dari azabNya karena kita sudah mulai lupa kepadaNya, karena kita sudah mulai berani melawanNya, bahkan nekat menentangNya serta mendustakanNya. <em>Wallahu’alam.</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Pelajaran” tentang peringatanNya itu bisa kita simak dalam firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya). Maka alangkah hebatnya kemurkaanKu.” </em><strong>(QS al-Mulk [67]: 16-18)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, itu semua bisa kita analisis. Mengukur diri. Kita bisa interospeksi diri. Kita bisa menilai diri kita, dan berusaha mencocokkan apakah musibah ini adalah ujian atau justru bagian dari murkaNya? Masing-masing dari kita insya Allah bisa menjawabnya. Asal kita mau jujur pada diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Yuk, kita benahi diri kita. Lakukan apa yang bisa kita perbuat sesuai kemampuan kita untuk menolong saudara-saudara kita yang mendapat musibah. Semoga gempa yang saat ini telah dirasakan saudara-saudara kita di Padang dan sekitarnya, menjadikan mereka kuat, sabar, dan makin meningkat imannya. Bagi kita, semoga kita mulai bisa empati, menumbuhkan jiwa sosial sekaligus menguatkan iman kita, bahwa semua ini adalah ketentuan dari Allah Swt. Dia memiliki rencana bagi kita dan seluruh alam ini. Tugas kita, adalah tetap beriman kepadaNya. Ok? Sip deh! <strong>[osolihin: osolihin@gaulislam.com | www.osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gempa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maria Ozawa, Pornografi, dan Remaja Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/maria-ozawa-pornografi-dan-remaja-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/maria-ozawa-pornografi-dan-remaja-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 03:45:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[maria ozawa]]></category>
		<category><![CDATA[maxima picture]]></category>
		<category><![CDATA[menculik miyabi]]></category>
		<category><![CDATA[miyabi]]></category>
		<category><![CDATA[pornografi]]></category>
		<category><![CDATA[raditya dika]]></category>
		<category><![CDATA[remaja islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3048</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 101/tahun ke-2 (9 Syawal 1430 H/28 September 2009)
Akhir-akhir ini Miyabi alias Maria Ozawa udah bikin kontroversi seputar rencana kedatangannya ke Indonesia. Siapa Maria Ozawa dan apa keperluannya datang ke Indonesia? Maria Ozawa ini meski ada nama “zawa” bukanlah orang Jawa (halah, apa hubungannya?), tapi wong Jepang, Bro. Di negeri asalnya dan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 101/tahun ke-2 (9 Syawal 1430 H/28 September 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir-akhir ini Miyabi alias Maria Ozawa udah bikin kontroversi seputar rencana kedatangannya ke Indonesia. Siapa Maria Ozawa dan apa keperluannya datang ke Indonesia? Maria Ozawa ini meski ada nama “zawa” bukanlah orang Jawa (halah, apa hubungannya?), tapi <em>wong</em> Jepang, Bro. Di negeri asalnya dan oleh para penggemarnya di seluruh dunia doi terkenal sebagai bintang film porno. Nah, rencana kedatangannya nanti pada tanggal 15 Oktober 2009, menurut ‘gosip’ di media massa yang udah berkembang sih Miyabi akan memenuhi undangan dari Maxima Picture untuk syuting film terbaru yang skenarionya ditulis Raditya Dika dengan judul “Menculik Miyabi”. Film ini menceritakan tiga orang mahasiswa yang terobsesi dengan arti film porno asal Jepang tersebut. Ketiga mahasiswa itu ingin menculik Miyabi ketika mereka tahu artis tersebut berada di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak pertengahan September lalu udah heboh media massa ngeberitain rencana kedatangan Miyabi. Sampe-sampe MUI juga udah menolak rencana kedatangan artis film porno dari negerinya pemain sepakbola klub Espanyol, Shunsuke Nakamura ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan tujuan kedatangan <em>Miyabi</em> ke Indonesia harus ditelusuri. “Kalau dia (Miyabi) mau datang ke Indonesia, dilihat dulu tujuannya apa. Kalau mau main film porno ya kita tolak dengan tegas karena merusak kepribadian bangsa ini,” kata Ketua MUI, Amidhan Shaberah kepada VIVAnews, Kamis 24 September 2009.<span id="more-3048"></span></p>
<p style="text-align: justify;">“Sebaiknya janganlah menggunakan bintang <em>porno</em> itu. Walaupun filmnya tidak <em>porno</em> tapi kan bintangnya <em>porno</em>. Kecuali kalau sudah berhenti jadi bintang <em>porno</em>,” kata Ketua MUI Ma’ruf Amin saat dihubungi detikcom, Jumat (18/9/2009, detiknews.com)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut beliau, meski film yang akan dibintangi <strong>Miyabi</strong> itu bukan film <em>porno</em>, tapi citra di masyarakat sudah terbentuk bahwa <strong>Miyabi</strong> adalah bintang <em>porno</em>. Masyarakat akan punya kesan kurang baik terhadap film tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, selain yang menolak kedatangannya, yang dukung juga ada lho. Dari diskusi-diskusi yang beredar di internet melalui mailing list, blog dan website memang terjadi pro-kontra. Sebagian dari mereka yang kontra berpendapat bahwa dengan menerima kedatangan Miyabi, berarti menyetujui apa yang dilakukan artis film porno itu. Memberikan ijin untuk datang dan bermain film di sini, secara tidak langsung menghormati dan mengamini profesi yang selama ini dijalani Miyabi. Dengan menolaknya, setidaknya kita tidak setuju dengan perbuatannya. Demikian intisari pendapat yang berserakan di internet yang menolak kedatangan Miyabi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lain lagi dengan yang mendukung. Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa Raditya Dika (penulis buku “Kambing Jantan” dan juga rencananya menjadi pemain utama di film yang akan dibuatnya dengan judul “Menculik Miyabi”) itu orangnya kreatif. Karena judul filmnya menyisipkan nama Miyabi, maka Raditya Dika dan Maxima Picture berencana menghadirkan langsung artis tersebut. Jadi wajar menurut mereka. Sebagian lagi berpendapat bahwa jangan sampe diskriminasi. Yang dibenci kan perbuatannya, bukan orangnya. Demikian kesimpulan pendapat dari mereka yang mendukung rencana kedatangan Miyabi. BTW, sekadar tahu aja, meski Miyabi artis porno, tapi doi ngelarang sang pacar menonton film dirinya. Lho, kok?</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, ngapain kita ngebahas di buletin gaulislam ini? Hehehe.. awalnya saya juga nggak mau ikut-ikutan ngeramein yang beginian. Tapi untuk memberikan informasi dari sudut pandang Islam berkaitan dengan masalah ini, maka gaulislam ‘kepaksa’ deh ikutan juga bahas. Mudah-mudahan ada manfaatnya dan mampu mendudukkan persoalan sebagaimana mestinya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ini negara sekuler, Bro!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di negeri kapitalis nan sekuler ini, kita dituntut untuk lebih banyak ‘memaklumi’ dan mungkin saja kudu kompromi dengan kondisi yang ada. Maklum, sekularisme membolehkan orang untuk berprinsip permisif alias serba boleh bahkan silakan saja jika mau memeluk erat budaya <em>hedonisme</em>. Sah-sah saja dalam aturan sekularisme. Tak boleh ada yang ngelarang dan tak boleh ada yang cerewet ngomongin.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, tak elok dalam pandangan sekularisme jika kita petantang-petenteng untuk memaksa orang lain tunduk dengan keinginan kita. Termasuk kasus hendaknya datangnya artis porno asal Jepang bernama Miyabi, atas nama HAM dan demokrasi, sangat boleh jadi yang mengundangnya akan nekat jalan terus meski banyak yang protes. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, kayaknya kudu pada sadar bahwa selain kasus Miyabi ini, pornografi udah bejibun banget di sini. Kita emang prihatin, sedih, dan sekaligus kesal dengan kenyataan ini. Karena setiap hari kita nyaris digempur dengan banyaknya visualisasi dan bacaan bernuansa pornografi dan pornoaksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini nggak boleh dibiarin. Harus segera dicari solusinya. Nah, satu-satu jalan supaya bisa tenang dalam hidup ini adalah dengan menggusur sekularisme dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lalu menghadirkan Islam sebagai ideologi negara. Tanpa itu, aksi maksiat akan tetap marak, dan aksi dari sebagian kalangan umat Islam yang sudah kesal karena maksiat dibiarkan, akan terus digelar. Betul ndak?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Nggak tahu, ya belajar yuk!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Emang sih, nggak semua dari kita nyadar kalo kita nih berada dalam kehidupan yang sekuler. Sebetulnya ketidaksadaran sebagian temen-temen juga tentang kondisi kehidupan saat ini adalah akibat dari praktik sekularisme yang udah diterapkan sejak lama. Misalnya nih, tanpa sadar orang jadi nafsi-nafsi alias nggak mau mikirin kehidupan orang lain. Egois banget gitu lho. Karena mereka menganggap bahwa urusan orang lain ya bukan urusan dirinya. Maka, jangan heran dong kalo kini banyak orang nggak mau dicampuri urusannya oleh orang lain. Jadinya ya, yang ngasih nasihat tuh kalo nggak diancem ya diiemin aja kayak dengerin radio butut. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, saya pernah dapetin keterangan dari salah seorang guru ngaji saya yang menyampaikan pendapat seorang ulama tentang tipe-tipe orang yang bisa kita temukan dalam kehidupan ini. Pertama, orang yang tahu dan dia tahu kalo dirinya tahu. Kelompok ini insya Allah bisa diajak berpikir. Malah tinggal bergandengan bersama untuk menciptakan kebaikan. Kedua, orang yang tahu kalo dirinya tidak tahu. Nah, ini relatif mudah untuk diajak baik. Sebab, dia udah tahu kalo dirinya nggak tahu. Maka caranya harus diajak belajar. Ketiga, orang yang tidak tahu kalo dirinya tahu. Orang-orang model gini kudu disadarkan tentang kondisi dirinya. Diingatkan tentang potensi yang dimilikinya. Keempat, orang yang tidak tahu kalo dirinya tidak tahu. Walah, ini namanya lumayan ngeyel dan parah. Apalagi kalo sampe doi sok tahu. Maka perlakuannya, orang-orang model gini kudu diajak supaya mau sadar dan belajar agar mampu mengolah pikir dan rasanya. Dari yang tadinya nggak tahu jadi tahu, gitu lho. Nah, setelah ngukur diri, kita masuk ke golongan yang mana nih?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Boys and gals</em>, lagian nih, secara naluri aja kita malu nggak sih kalo keluar rumah nggak berpakaian? Kita belum bilang ini dilarang menurut agama dan dianggap biasa oleh sekularisme. Tapi kita pake alam pikiran kita sendiri sebagai manusia. Idealnya, manusia normal, gimana pun kurang ilmunya, kemungkinan besar ia akan malu jika keluar rumah telanjang. Apalagi jika kemudian ia melihat dan membandingkan dengan orang lain yang justru ada juga yang berpakaian rapi menutup aurat. Minimal banget, dia tuh heran dan berpikir: “Kok ada ya yang pake baju lengkap menutup aurat? Kenapa saya malah berpakaian seperti ini?” Wah, kalo udah bisa berpikir kayak gini T.O.P dah. Dua jempol buat doi.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, memang sih, nggak bisa nyalahin seratus persen akibat sekularisme kita jadi rusak. Sebab, kenyataannya, sekularisme terus diterapkan, tapi banyak juga yang melawannya. Kenapa bisa begitu? Karena mereka yang melawan sekularisme mau belajar. Sebab, dengan belajar paling nggak kita dapetin tiga aspek. Pertama, aspek koginitif alias ilmu pengetahuan. Tadinya kita nggak tahu, tapi dengan belajar akhirnya jadi tahu. Kedua, aspek afektif alias perasaan (emosional). Sebelum belajar kita adalah orang yang penakut, tapi begitu belajar tentang keberanian akhirnya jadi pemberani. Tadinya tidak mau mengenakan pakaian yang menutup aurat, akhirnya jadi mau karena pas belajar dikasih tahu manfaat dan juga hukum-hukumnya terkait dengan ajaran agama kita. Ketiga, keuntungan lain dari belajar adalah berkembangnya aspek psikomotorik alias keterampilan. Tadinya nggak bisa, jadi bisa. Pilihan ada di tangan kita: Mau belajar atau mau tetap hidup semau gue dengan aturan yang suka-suka kita tanpa dibimbing kebenaran mutlak, yakni dengan aturan dari Allah Swt. dan RasulNya?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, buat kita-kita semua, yuk kita belajar. Sebab, dengan belajar kita bisa dapetin ilmu. Allah Swt. memuji orang-orang yang beriman dan berilmu lho. Firman Allah Swt.: <em>“&#8230;niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”</em> <strong>(QS al-Mujaadilah [58]: 11)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sabda Rasulullah saw.: <em>“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.”</em> <strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, normalnya sih seseorang sebelum sampe ke tahap berpikir&#8211;yang dengannya bisa menentukan sikap dan tahu mana yang salah dan mana yang benar&#8211;sejatinya ia pasti melewati proses KLT alias <em>Knowing </em>(tahu), <em>Learning</em> (belajar), <em>and</em> <em>Thinking</em> (berpikir). Maka, buat yang nggak ngeh tentang pornografi, pasti sebetulnya ia tahu kalo ada perbedaan cara berpakaian dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang membuka aurat dan malah ada yang tertutup rapat tubuhnya ketika keluar rumah. Idealnya, proses dia “tahu” atau <em>knowing</em> itu ditindaklanjuti dengan <em>learning</em> alias belajar. Bertanya kepada yang tahu mengapa ada yang berpakaian memperlihatkan keindahan tubuhnya dan malah ada yang menutup rapat potensi keindahan tubuhnya. Jangan cuek aja. Udah ngerasa beda, ya jangan berani beda tanpa ilmu. Waduh, nggak banget deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya nih, bagi orang yang udah belajar rutin dan intensif, seiring dengan ilmu yang bertambah banyak, juga olah pikir dan rasanya yang kian bagus, maka dia insya Allah sampe ke tahap berpikir alias <em>thinking</em>. Di tahap ini, dia malah punya kelebihan. Selain mengamalkan ilmu dalam kehidupannya, juga ia mau ngajak orang lain agar sadar bahkan rela menanggung penderitaan agar orang lain sadar dan mengikuti ilmu yang diajarkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilustrasi sederhana adalah: ketika kamu tahu kalo ada lubang di sebuah jalan. Maka ketika tahu kamu bakalan hati-hati melewati jalan tersebut. Karena sering lewat situ, akhirnya kamu belajar bagaimana caranya menghindari jalan itu meski pada malam hari. Kamu amati dan ingat tempat mana saja yang lubangnya berbahaya. Terakhir, kalo kamu sampe ke tahap berpikir adalah ketika kamu mulai memasang papan peringatan demi keselamatan orang lain, misalnya: “Hati-hati ada lubang!” Bahkan lebih keren lagi kamu lapor ke aparat setempat untuk memperbaiki jalan berlubang tersebut karena bisa membahayakan orang lain. Keren banget kan? <em>So</em>, perubahan itu adalah proses. Kamu pasti bisa melewatinya. Yakin aja.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuma masalahnya nih, proses itu aja belum cukup kalo belum ada kemauan. Bahkan mau aja belum maksimal kalo belum sadar. Jadi, sadar diri yuk. Cari tahu, biar nggak malu-maluin. Caranya, ya belajar biar tahu dan mau berpikir. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Membabat pornografi dan pornoaksi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo dibiarin aja nggak bakalan selesai-selesai. Lihat aja penanganan yang selama ini dilakukan oleh Kapitalisme-Sekularisme, malah menjadikan kebebasan sebagai <em>the way of life</em>. Ideologi macam apa itu? Kok malah bikin sengsara umat manusia?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, sebagai sebuah ideologi, Islam punya cara penyelesaian terhadap masalah ini. Tentu, jika Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Menurut Abdurrahman al-Maliki, “Barangsiapa yang mencetak atau menjual, atau menyimpan dengan maksud untuk dijual atau disebarluaskan, atau menawarkan benda-benda perhiasan yang dicetak atau ditulis dengan tangan, atau foto-foto serta gambar-gambar porno, atau benda-benda lain yang dapat menyebabkan kerusakan akhlak, maka pelakunya akan dikenakan sanksi penjara sampai 6 bulan.” (<em>Sistem Sanksi dalam Islam</em>, hlm. 288-289)</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, hukuman tersebut termasuk dalam perkara <em>ta’zir</em> alias jenis dan bentuk hukumannya diserahkan kepada <em>qadhi</em> (hakim). Kalo emang tingkat bahayanya besar banget, bisa aja <em>qadhi</em> menghukum lebih lama atau bentuk hukuman lain, misalnya dicambuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yang lebih gampang, lakukan mulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat kita: temen, keluarga. Tentu kita nggak mau kan diri dan lingkungan kita rusak karena racun pornografi. Percaya deh, pornografi nggak ada gunanya. Nggak perlu tuh ngintip-ngintip penasaran sama yang namanya pornografi. Jangan sampe kita berkoar-koar tentang pornografi tapi kalo nemu di depan mata diembat juga. <em>Naudzubillah min dzalik.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kapan dan di mana pun kita menemukan media yang berbau pornografi, jangan ragu-ragu untuk menghancurkannya (atau minimal meninggalkannya, cuekkin aja dah).. Jaga diri, jaga keluarga, dan teman-teman kita. Saling mengawasi dan mengingatkan bukan berarti ikut campur urusan orang lho, tapi kita menjaga diri dan lingkungan untuk menghindari kerusakan dan maksiat. Ok, guys?</p>
<p style="text-align: justify;">BTW, kalo nanti Islam udah diterapkan sebagai ideologi negara, mereka yang ada di pedalaman seperti di Papua dan suku dayak lainnya, nggak bakalan dijadikan sebagai obyek wisata lho. Nggak kayak sekarang, mereka dianggap sebagai warisan budaya bangsa. Itu dzalim, karena seharusnya pemerintah memberikan pembinaan dan mendakwahi mereka agar mau hidup lebih mulia. Tapi nyatanya, malah dipelihara agar tetap jahiliyah seperti itu. Kasihan banget kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, untuk kasus Maria Ozawa alias Miyabi, cuekkin aja dah. Sadar diri aja buat kita semua sebagai remaja muslim. Masalah doi belum seberapa. Jangan jadi fokus perhatian. Masalah utamanya adalah sistem kapitalisme-sekularisme dengan instrumen demokrasilah yang sudah menjadikan sebagian dari kita keropos kepibadiannya dan bejat akhlaknya. Mari, kita mengubah kondisi ini dengan Islam. Lebih cepat lebih baik untuk terapkan syariat Islam! Harus Pro dakwah Islam dan Lanjutkan perjuangan tegaknya Khilafah Islamiyah ini. Tetap semangat! <strong>[osolihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/maria-ozawa-pornografi-dan-remaja-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Jadi Lebih Baik!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yuk-jadi-lebih-baik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yuk-jadi-lebih-baik#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 23:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2730</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 100/tahun ke-2 (2 Syawal 1430 H/21 September 2009)
 
Nggak kerasa bulan Ramadhan udah berlalu lagi. Sedih rasanya berpisah dengan bulan mulia ini. Sebab, dalam bulan Ramadhan, begitu banyak keutamaannya. Entah kenapa seluruh umat Islam di dunia pasti merasakan keunikan bulan ini. Unik yang bagaimana? Unik karena kita kudu puasa di siang hari. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 100/tahun ke-2 (2 Syawal 1430 H/21 September 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nggak kerasa bulan Ramadhan udah berlalu lagi. Sedih rasanya berpisah dengan bulan mulia ini. Sebab, dalam bulan Ramadhan, begitu banyak keutamaannya. Entah kenapa seluruh umat Islam di dunia pasti merasakan keunikan bulan ini. Unik yang bagaimana? Unik karena kita kudu puasa di siang hari. Sementara malamnya, kita sholat malam, kemudian bangun lebih awal untuk sahur dan beribadah lagi. Namun demikian, kegiatan sehari-hari tetap kudu berjalan, walau kadang kurang optimal karena ngantuk, lemes dan susah konsentrasi. Sebenarnya semua kegiatan tersebut biasa aja, dan bukan merupakan hal yang aneh bagi orang Islam. Cuma karena kita jarang melakukannya, kegiatan tersebut terasa berbeda di bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Datang dan perginya bulan Ramadhan pasti akan terjadi sepanjang masih ada kehidupan di dunia ini. Nah, karena sifatnya sudah pasti terjadi, mestinya kita yang udah cukup sering berpuasa Ramadhan. Tentunya udah mahir banget. Sama seperti naik sepeda, pada mulanya terasa sulit. Sering kali kita harus jatuh berkali-kali. Kadang malah sampai berdarah-darah segala. Namun kemudian perlahan kita mulai bisa. Terus berlatih sampai akhirnya jadi mahir banget. Nggak cuma jalan biasa aja yang bisa dilewatin. Mulai dari gunung sampai trek yang biasanya dipake buat skateboard pun di jabanin. Yang semula naik sepeda biasa aja, karena berlatih terus akhirnya kita bisa, lepas stang, jumping, flip 360 derajat dll.<span id="more-2730"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga dengan puasa, kalo kita dengerin ustadz di masjid ceramah selama bulan puasa, sering kali mereka menjelaskan kalo bulan puasa adalah bulan latihan bagi umat muslim untuk menahan hawa nafsunya. Kalo kita udah terbiasa berlatih, harusnya kita jago banget dalam berpuasa ini. Semula cuma puasa setengah hari, karena berlatih terus, mestinya tidak akan sulit untuk puasa sehari penuh. Bagi kamu yang biasanya puasa bolong-bolong, jadi bisa puasa full selama 1 bulan tanpa jeda.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap latihan pasti ada tujuannya. Kalo berpuasa dianggap sebagai latihan, terus apa dong tujuannya? Sebenernya tujuannya sudah diungkap oleh Allah Swt. di dalam al-Quran Surat al-Baqarah ayat 183 (yang artinya): <em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini cukup populer terutama di bulan Ramadhan. Maksud dari ayat ini adalah pernyataan Rabb manusia yang menginginkan hamba-hambaNya memperoleh derajat yang mulia yaitu menjadi orang yang bertakwa, dengan jalan berpuasa. Secara umum yang dimaksud dengan takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi setiap laranganNya. Dan memang seperti itu yang biasanya terjadi di bulan puasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh sederhana, wanita pada rame-rame menjaga auratnya. Baik di tivi sampai di tempat-tempat publik, seperti warung pun banyak yang mengubah jadwal operasional mereka. Menyesuaikan dengan waktu berbuka dan sebagainya. Nah, tersisa sebuah pertanyaan besar setelah kita berpuasa Ramadhan selama 1 bulan penuh: tercapaikah tujuan berpuasa seperti yang di tunjukkan al-Quran? Yuk kita evaluasi diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bentuk takwa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum kita bahas dengan luas (yakni hasil dari panjang dikali lebar, lho kok jadi kayak pelajaran matematika?), kita harus paham terlebih dahulu bagaimana sih bentuk-bentuk takwa yang diajarkan dalam bulan Ramadhan. Tentu agar nantinya kita bisa menggunakan <em>skill</em> ketakwaan yang sudah kita latih selama sebulan penuh, di 11 bulan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah Swt. larang. Walaupun sebenarnya larangan tersebut lebih berat. Misalnya makan, minum dan menahan berhubungan dengan suami/istri (bagi yang sudah punya) di siang hari pada saat Ramadhan. Semua yang dilarangan tersebut tidak haram dalam Islam, bahkan sesuai dengan fitrah manusia. Namun selama berpuasa (di siang hari) Ramadhan kita harus meninggalkannya. Beda ceritanya dengan larangan membunuh atau mencuri, yang secara alami, manusia tidak menyukainya, jadi lebih mudah untuk meninggalkannya. Karena itulah larangan ini memiliki derajat yang lebih tinggi, sehingga balasannya pun lebih besar. Sebagai referensi coba kita ingat kembali cerita Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya sendiri, yakni Ismail (Nabi Ismail). Ini semua dilakukan dalam rangka <em>taqorrub</em> atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dariNya. Inilah bentuk takwa pertama.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, selama berpuasa kita sebenarnya bebas melakukan kesenangan yang kita inginkan. Mau minum diem-diem, atau makan sembunyi-sembunyi, bisa kok kalo mau. Beda ceritanya kalo dijagain sama pengawas, misal ada polisi di jalan. Biasanya sih pada nurut kalo ada polisinya. Lain halnya juga kalo kita tercegah untuk melakukan hal-hal yang dilarang tersebut, misal dimasukin ke sel/dikurung sehingga nggak bisa makan, minum dengan bebas.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah Ta’ala selalu mengawasi diriNya. Jadi meski tidak ada polisi dan juga tidak ada penghalang, orang yang berpuasa memilih untuk tidak melanggar perintah Rabbnya. Sebab, ia merasa selalu diawasi oleh Allah Swt. Inilah bentuk takwa yang kedua.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>, selama kita berpuasa, terasa banget bagaimana kita menjadi lebih bersemangat melakukan semua ibadah, kenapa ya? Ya karena kita tahu begitu besar balasan yang akan kita terima. Sama seperti seorang pekerja yang disuruh lembur sama majikannya dan selama lembur pekerja tersebut memperoleh bayaran dua kali lipat dari biasanya. Tentunya karyawan itu akan mengharapkan setiap hari adalah hari lembur. Sudah pasti bersemangat menyelesaikan pekerjaannya dan semangat itulah yang menghantarkannya menuju penyelesaian pekerjaan dengan sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi orang yang berpuasa, mereka akan bersemangat melakukan ibadah. Mereka tahu besarnya pahala yang akan diperoleh. Sehingga akhirnya menghantarkan mereka tidak hanya melakukannya dengan semangat saja namun juga melakukan ibadah dengan sempurna. Sempurnanya amalan dikarenakan semangat dalam melakukannya, merupakan jalan menggapai takwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Minimal ketiga bentuk takwa di atas adalah <em>skill</em> ketakwaan yang telah kita latih selama bulan Ramadhan. Lalu apa keuntungan kita dengan memiliki ketiga <em>skill</em> ketakwaan tersebut? Ngaruh emang dalam kehidupan kita? Jelas ngaruh dong, paling tidak ada 4 keuntungan yang kita peroleh:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, dapat mengendalikan jiwa. Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Setiap dari kita adalah pemimpin, baik laki-laki maupun perempuan. Karena Allah Swt. akan meminta pertanggung jawaban manusia sebagai pemimpin (sesuai dengan apa yang dipimpinnya), maka seorang muslim harus mampu mengendalikan jiwanya. Sebab, kalo dirinya sendiri saja nggak bisa mengendalikan/mengatur jiwanya, bagaimana mungkin dia bisa memimpin/mengatur orang lain?</p>
<p style="text-align: justify;">Selama bulan Ramadhan kita dilatih untuk mengendalikan syahwat dan kesenangan dunia, kenapa? Karena rasa kenyang dengan banyaknya makan dan minum, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Puasa  mendidik kita untuk tidak lalai dan kufur terhadap nikmat Allah <em>‘azza wa jalla</em>, yang pada akhirnya akan menjadikan setiap orang mampu mengendalikan jiwanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, dengan terkendalinya jiwa, maka hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah Swt. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah Swt. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, bagi orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya pun dianjurkan untuk gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu. Fungsi sosial individu biasanya dapat dilakukan dengan mudah selama bulan Ramadhan. Namun kewajiban individu ini memiliki keterbatasan. <em>So</em>, supaya fungsi sosial Islam dapat terlaksana dengan sempurna, tidak bisa tidak, diperlukan peran aktif negara dalam pelaksanaannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, <em>“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”</em> <strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi puasa dapat ‘membelenggu’ setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi saw. menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jadi yang terbaik</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya kita menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya. Sebab, kita udah ditempa untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas shalat 5 waktu, seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Shalat Jama’ah bagi kaum pria, harusnya dapat rutin dilakukan di masjid, sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita yang berusaha mengenakan kerudung dan jilbab, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda, <em>“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (terus menerus) walaupun sedikit.”</em> <strong>(HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu para ulama juga seringkali mengatakan, <em>“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah) hanya pada bulan Ramadhan saja.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat GI, untuk menjadi lebih baik di 11 bulan ke depan, kita kudu mengerti <em>skill</em> ketakwaan yang telah kita latih selama bulan Ramadhan dan udah saya jelasin di awal ya. Selain ngerti, juga kudu bisa menggunakannya dalam kehidupan kita hingga betemu dengan Ramadhan lagi. Jangan sampai kita sia-siakan hasil latihan kita selama 1 bulan tanpa bekas. Sebab, itu merupakan satu tanda kerugian amalan seseorang, seperti firman Allah Swt. (yang artinya), <em>“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.”</em> <strong>(QS asy-Syuraa [42]: 20)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu ‘Abbas menjelaskan, <em>“Barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah Swt. menerima setiap amalan kita di bulan Ramadhan dan menjadikan kita mampu menggunakan berbagai <em>skill</em> ketakwaan yang telah kita latih di bulan Ramadhan selama 1 tahun penuh hingga bertemu Ramadhan kembali. Semoga Allah memberikan kita petunjuk, ketakwaan, menjauhkan kita dari hal-hal haram dan memberikan kita umur untuk bertemu Ramadhan lagi. Amiiin. Menjadi baik saja belum cukup jika kita mampu menjadi yang trebaik. Yuk, jadi lebih baik lagi! <strong>[aribowo: aribowo@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yuk-jadi-lebih-baik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berharap Bertemu Ramadhan Kembali</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berharap-bertemu-ramadhan-kembali</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berharap-bertemu-ramadhan-kembali#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 04:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2690</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 099/tahun ke-2 (24 Ramadhan 1430 H/14 September 2009)
Bro, nggak terasa ya Ramadhan udah di penghujung bulan. Dalam hitungan hari kita akan berpisah dengan Ramadhan. Bulan mulia yang penuh barokah dan ampunan. Saya sendiri sering merenung, apakah memang saya memanfaatkan Ramadhan dengan sebaiknya? Atau malah ‘memperlakukan’ Ramadhan seperti bulan biasanya? Shalat kita mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 099/tahun ke-2 (24 Ramadhan 1430 H/14 September 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, nggak terasa ya Ramadhan udah di penghujung bulan. Dalam hitungan hari kita akan berpisah dengan Ramadhan. Bulan mulia yang penuh barokah dan ampunan. Saya sendiri sering merenung, apakah memang saya memanfaatkan Ramadhan dengan sebaiknya? Atau malah ‘memperlakukan’ Ramadhan seperti bulan biasanya? Shalat kita mungkin tak beda dengan saat shalat selain Ramadhan, shaum kita tak sempurna, shadaqah kita dihiasi dengan sikap riya’, dan amalan lainnya yang kita khawatir sia-sia belaka. <em>Naudzubillah min dzalik</em>. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah Swt. yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang diberikanNya. Memanfaatkan Ramadhan sebaik mungkin demi mengumpulkan pahala. Semoga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kalo menjelang berakhirnya Ramadhan ini, saya jadi inget juga nih bait-bait puisi dari Pak Taufik Ismail, salah satu penyair favorit saya. Kebetulan saya pernah juga mengisi bareng beliau dalam satu acara di sebuah universitas di Malang tentang sastra. Tahu kan puisi beliau yang saya maksud? Yup, puisi itu berjudul “Setiap Habis Ramadhan”, yang makin keren ketika dilagukan oleh Bimbo. Syairnya begitu syarat makna dan mendalam. Inilah bait-bait puisi beliau:<em> Setiap habis rama­dhan/ hamba rindu lagi ramadhan/ Saat-saat padat beribadah/ tak terhingga nilai mahalnya/ setiap habis ramadhan/ hamba cemas kalau tak sampai/ umur hamba di tahun depan/ berilah hamba kesempatan/ Setiap habis Ramadhan Rindu hamba tak pernah menghilang Mohon tambah umur setahun lagi Berilah hamba kesempatan/Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan/ Sekeluarga, sekampung, senegara Kaum muslimin dan muslimat se dunia/Seluruhnya kumpul di persatukan Dalam memohon ridho-Nya. <span id="more-2690"></span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, ya nggak terasa bulan Ramadhan udah berada di akhir perjalanannya. Padahal, kayaknya baru kemarin kita bergembira dengan datangnya Ramadhan. Padahal, rasanya baru kemarin kita mengawali indahnya sahur dan buka pertama dalam puasa kita. Padahal, rasanya baru kemarin pula kita sama-sama ikutan tarawih pertama berjamaah di masjid. Begitulah. Waktu memang berjalan tanpa kom­promi. Meninggalkan kita. Nggak peduli kita lagi ngapain. Mau yang sedang memanfaatkan­nya atau malah yang getol membuang percuma kesempatan. Semua ditinggalin tanpa ampun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita pantas merenung. Di sepuluh hari terakhir yang tersisa di bulan Ramadhan ini, apa yang akan kita lakukan? Menghitung hari seperti kemarin dengan tanpa ada aktivitas amal sholeh? Atau sekadar mengisinya dengan hal-hal yang amat jauh dari nilai-nilai Islam? Rasanya, kita semua udah pada tahu, apa yang harus kita lakukan. Tapi celakanya, kita juga seringkali lalai dengan apa yang seharusnya kita lakukan. Hati-hati yo…</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tahu bahwa puasa adalah wajib. Kita yakin (meski dengan keyakinan seadanya), bah­wa kalo nggak puasa kita akan berdosa. Namun, ternyata dalam praktiknya ada saja yang <em>error</em>. Selalu saja ada sebagian besar dari kita, yang ternyata masih melalaikan puasanya. Siang hari masih bebas makan dan minum. Emang sih, yang barangkali masih punya ‘setitik’ rasa malu tapi besar hawa nafsunya, ia akan makan dan minum di warung-warung yang tertutup kain. Kalo yang bebal <em>mah</em>, alias muke tebel, cuek aja ‘cacapluk’ di siang hari secara terang-terangan juga. Aduh, ini kok kayaknya nggak takut dosa gitu lho. Ckckck… gawat!</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi kita-kita yang mengawali dan mengisi Ramadhan ini dengan harapan ridho Allah, tentunya ingin selalu mendapat kesempatan emas dalam beribadah kepada Allah. Apalagi di bulan Ramadhan, di mana banyak kaum muslimin berlomba mengum­pulkan pahala untuk meraih derajat takwa. Nggak heran jika semua merasa Ramadhan adalah saat-saat padat beribadah. Rasulullah saw. jika Ramadhan tiba, beliau adalah orang yang paling dermawan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw. adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan. Kederma­wanannya meningkat pada bulan Ramadhan, yaitu ketika beliau bertemu dengan malaikat Jibril. Disebutkan bahwa kedermawanan beliau melebihi kecepatan angin bertiup. Duh, betapa mulianya Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Senang, sedih, dan cemas jadi satu</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Boys and girls, jika setiap habis Ramadhan, gimana sih perasaan hatimu? Senang, sedih, cemas? Kayaknya gampang-gampang susah menjawab pertanyaan model begini. Sebab memang sulit memisahkan pera­saan itu sendiri-sendiri. Maklum, ketika ber­akhirnya Ramadhan banyak perasaan yang muncul di hati kita. Bercampur jadi satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan senang muncul karena setidak­nya kita merasa berhasil telah lolos dari medan ujian yang berat sebagai pemenang. Benar-benar sangat berat. Sebab, selain harus mena­han diri dari rasa lapar yang mengiris-ngiris lambung kita, selain harus menahan haus yang terasa mengeringkan kerongkongan kita, juga kita dituntut oleh Allah Swt. untuk mengen­dalikan hawa nafsu kita. Tujuannya, agar puasa kita juga dibarengi dengan tambahan pahala yang lain dari Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan sedih juga muncul dari kita. Kenapa sedih dengan berakhirnya Ramadhan? Karena kita kehilangan kesempatan emas untuk menanam pahala di bulan tersebut. Sedih rasanya merasakan perpisahan dengan bulan yang telah dimuliakan Allah sebagai tempat untuk ‘menimbun’ pahala. Lebih sedih lagi kalo kita sampe tak mendapat apa-apa di bulan Ramadhan ini, kecuali rasa lapar dan haus. Atau lebih rugi lagi adalah nggak dapat apa-apa. Termasuk nggak dapat pahala puasa karena memang nggak puasa. Duh, rugi berat deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa cemas juga kerap muncul dari kita. Khususnya bagi kita-kita yang memang telah mengisi Ramadhan tahun ini dengan segala aktivitas amal sholeh kita. Sehingga setiap habis Ramadhan, yang dirindukan adalah kembali bisa menikmati Ramadhan di tahun depan. Namun, ada kecemasan yang menggunung manakala menyadari dan khawatir jika usia kita nggak sampe di Ramadhan berikutnya. Harapan dan kecemasan bercampur jadi satu. Sampe kita sendiri nggak tahu, apa sebetulnya yang kita inginkan. Sebab, antara harapan dan kece­masan kelihatannya saling melengkapi. Setiap kali kita berharap, selalu saja ada kecemasan, meski sekecil apapun rasa cemas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan-perasan tadi muncul secara wajar dalam diri kita. Alhamdulillah, moga kita menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Tapi jika sebaliknya, yakni kita tak pernah merasa senang, sedih, apalagi cemas dengan habisnya Ramadhan ini, wah, pantesnya kita mulai mengukur diri tuh. Sudah seberapa pan­tas menjadi seorang muslim. Dan itu berarti pula kita adalah termasuk manusia super cuek, nggak peduli dengan masa depan kita sendiri. Sungguh keras hati kita jika tak pernah ada ungkapan dari perasaan hati kita ini. Meski cuma diungkapkan setitik saja. Ah, rasanya kita pantas untuk ‘dimurkai’ Allah. <em>Naudzubillahi min dzalik!</em></p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Bro, kita pantesnya malu sama Allah. Pantas ‘berhutang’ kepada Allah. Betapa banyak rizki dari Allah yang telah kita makan. Betapa bejibun nikmat Allah yang telah kita rasakan. Betapa tak ternilai harganya ketika Allah menjadikan kita sebagai seorang muslim. Sebab, menjadi muslim, adalah petun­juk dari Allah. Itu adalah hidayah-Nya. Dan itu tak semudah membalikkan telapan tangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali kita nggak merasakan tan­tangannya ketika menjadi muslim. Sebagian besar dari kita menjadi muslim karena memang lahir dari keluarga muslim. Bayangkan jika kamu mendapatkan hidayah Allah ini berkat per­juangan yang melelahkan antara hidup dan mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Sa’ad bin Abi Waqqash, salah seorang sahabat Rasulullah, begitu berat menghadapi kenyataan ketika beliau menjadi muslim. Sang ibu melakukan protes keras dengan mengancam akan melakukan mogok makan sampe tun­tutannya agar Sa’ad kembali ke agama nenek moyangnya dipenuhi Sa’ad. Tapi Sa’ad tak mudah untuk tergoda lagi. Berat bukan? Begitupun dengan Amr bin Yassir, yang harus rela melihat dengan mata-kepalanya sendiri orangtuanya menemui ajal di tangan orang-orang kafir Quraisy karena mempertahankan keyakinan mereka tentang Islam. Begitu pula, pernahkah kamu membayangkan bagaimana menderitanya Salman al-Farisi yang berusaha mencari kebenaran. Sempat pindah-pindah keyakinan sebelum akhirnya istiqomah dengan Islam. Saking istiqomahnya dengan Islam, beliau rela hidup menderita untuk membela Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Wajar kan, jika nilai keimanan beliau-beliau boleh dibilang sangat mahal ketika ‘membelinya’. Amat beda dengan kita yang langsung instan. Karena memang lahir dan dididik di lingkungan keluarga muslim. Tapi walau bagaimanapun juga, ini merupakan hidayah dari Allah Swt. juga. Tinggal bagaimana kita mensyukuri­nya. Salah satunya adalah dengan taat terha­dap apa yang diturunkan Allah Swt. kepada kita. Wajib tunduk dan patuh terhadap perintahNya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Peduli kita untuk mereka&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, selain kita meng­ukur apa yang telah kita lakukan di bulan pernah berkah, rahmat, dan ampunan ini, juga kita tumpahkan energi peduli kita untuk teman-teman yang masih tetap ‘istiqomah’ dalam kemaksiatannya. Nggak jarang kita jumpai, saudara kita yang masih berprinsip “semau gue” dalam berbuat. Malah tetep maksiat meski di bulan suci nan mulia ini. <em>Astaghfirullah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Buat kita semua yang masih doyan maksiat, kayaknya pas banget untuk direnungkan nih salah satu syair dari lagunya Justice Voice berikut ini: <em>Allahurabbuna shalat kami tak sempurna/sering kami lalai di saat tengah menghadap/apa yang terucap tiada terasa di hati/disibukkan pikir dunia yang tak pernah habis.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya Rabbul Izzati kamilah hamba yang sakit/sakit akan iman, ilmu amalan ibadah/apa yang dibawa jikalau Engkau memanggil/tak cukuplah bekal menghadap Engkau ya Rabbi</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya Allah ya Rabbi, beri ampun kami/hamba yang tertipu dunia fana ini/bagaimanalah nasib hamba yang amat merugi/mendamba cintaMu sedang amalan sedikit/jangankan yang sunnah banyaknya amal ibadah, shalat fardu saja kadang hanya waktu sisa/sisa dari dunia yang dijadikan tujuan</em></p>
<p style="text-align: justify;">Banyak lho saudara kita yang masih maksiat di bulan Ramadhan. Maka kepada mereka, sikap peduli layak kita berikan. Tentu ini sebagai tanda kasih kita kepada mereka. Sebagai tanda cinta kita kepada mereka. Sebab kita adalah saudara seakidah. Bedanya, kita sudah mulai ingin benar dalam hidup ini, teman-teman—yang karena keterbatasan ilmunya—masih betah maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita pantas cemas menyaksikan polah teman-teman yang menjalani puasa hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum doang. Sementara,  mereka tetep <em>keukeuh</em> pacaran, tetep membuka auratnya, tetep tidak mengontrol mata, telinga, dan hatinya dari perbuatan kotor dan nista. Kita khawatir banget, jangan-jangan, cuma mendapatkan rasa lapar dan haus dari puasanya itu. Rugi deh. Rasulullah saw. bersabda: <em>“Betapa banyak orang yang ber­puasa, tapi mereka tidak menda­patkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” </em> <strong>(HR Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kita pun pantas prihatin dengan kondisi masyarakat ini. Saat ini, masyarakat sepertinya sederhana saja memandang kehidupan ini. Ringan aja menghadapi dinamikanya. Kita sedikit meragukan jika masyarakat ini masih menyim­pan rasa peduli akan kebenaran. Sebab, bukti­nya banyak yang menyepelekan kebenaran. Individu memang banyak yang berbuat salah. Tapi yakinlah, ini akibat dari lingkungan tempat hidupnya. Sudahlah takwa individu carut marut, dan ini jumlahnya banyak, eh, masyarakat secara umum juga udah terbiasa dengan kemaksiatan yang berlangsung dalam kehi­dupannya. Bahkan celakanya ada yang sampe menganggap bahwa itu emang bagian dari kehidupan sekarang. Individu dan masyarakat yang udah jebol ini makin diperparah dengan kedodorannya negara dalam mengatur rakyat. Karuan aja, makin surem deh kehidupan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, meskipun kita gembar-gembor mengkampanyekan untuk melakukan perbaikan individu. Tapi dalam waktu yang ber­samaan nggak dibarengi dengan mengubah masyarakat, maka kemungkinan besar akan mengalami kegagalan. Sebab, masalah akan terus berputar di situ. Jadi, mari ubah individu, dengan melakukan perubahan terhadap masya­rakat. Jadikan masyarakat ini sebagai masya­rakat Islam. Masyarakat yang diatur dalam negara yang menerapkan syariat Islam. Dengan begitu, kita tak perlu cemas, sedih, dan prihatin lagi menyaksikan kondisi kaum muslimin saat ini. Bukan hanya setiap habis Ramadhan, tetapi sepanjang waktu. Se­bab, semuanya udah benar. Tinggal diarahkan aja. Sekarang? Kita harus membenarkan seka­ligus mengarahkan. Relatif berat bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh, moga-moga kita nggak cemas dan prihatin lagi setiap habis Ramadhan gara-gara mikirin kondisi umat ini. Tapi ya, selama kita hidup di bawah sistem kapitalisme seperti sekarang ini, kehidupan senantiasa diliputi rasa cemas, dalam seluruh aspek kehidupan, ter­masuk saat seperti ini, setiap habis Ramadhan. Cemas, kalo umat ini akan balik bejat lagi setelah Ramadhan berlalu. Ya, jangankan nanti, saat Ramadhan aja masih banyak yang mema­merkan kesombongannya dengan nggak mau taat kepada aturan Allah dan RasulNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang mendapat berkah, rahmat, dan ampunan. Dan senantiasa memohon kepada Allah agar kita digolongkan kepada orang-orang yang berjuang demi tegaknya syariat Islam di muka bumi ini. Sekali lagi kita ngingetin, mari ubah individu dengan melakukan perubahan terhadap masyarakat. Setuju kan? Harus Setuju dong! (jiahaha maksa deh gue!)</p>
<p style="text-align: justify;">Yuk, jadikan Ramadhan ini sebagai momentum perjuangan kita untuk mengembalikan kejayaan Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Semoga di Ramadhan tahun depan, segalanya sudah berubah menjadi lebih baik dari sekarang. Kita berharap bertemu Ramadhan di tahun depan agar bisa melihat keberkahan menyelimuti seluruh negeri. Kita bosan dengan kehidupan di bawah naungan Kapitalisme. Benci sebenci-bencinya dan kita berusaha berjuang bersama untuk menghancurkannya dan menghilangkannya dari kehidupan kita saat ini. Hanya Islam yang pantas dijadikan ideologi negara. Bukan yang lain. Semoga Allah Swt. memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu Ramadhan di tahun depan dengan lebih baik kondisinya dari sekarang. Mari kita mulai perubahan individu dan masyarakat mulai dari sekarang dan seterusnya. Tetap semangat! <strong>[solihin: http://osolihin.com | osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berharap-bertemu-ramadhan-kembali/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Tak Istimewa di Layar Kaca</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ramadhan-tak-istimewa-di-layar-kaca</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ramadhan-tak-istimewa-di-layar-kaca#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 22:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2686</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 098/tahun ke-2 (17 Ramadhan 1430 H/7 September 2009)
 
Kalo kamu di rumah punya televisi, paling nggak bisa deh ngamatin en nyimak acara-acaranya. Kalo pun kamu adalah tipe orang yang malas nonton acara televisi selain yang isinya baik-baik dan menambah wawasan, mungkin sedikit mah tahu deh nama-nama acaranya melalui informasi di stasiun televisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 098/tahun ke-2 (17 Ramadhan 1430 H/7 September 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo kamu di rumah punya televisi, paling nggak bisa deh ngamatin en nyimak acara-acaranya. Kalo pun kamu adalah tipe orang yang malas nonton acara televisi selain yang isinya baik-baik dan menambah wawasan, mungkin sedikit <em>mah</em> tahu deh nama-nama acaranya melalui informasi di stasiun televisi masing-masing yang sempat kamu tonton. Nah, masalahnya sekarang adalah, di bulan Ramadhan ini—yang mau nggak mau biasanya identik dengan hal-hal yang religi atau tepatnya bernuansa Islam, eh ternyata nggak juga tuh. Setidaknya acara yang tidak mencerminkan nuansa Ramadhan jauh lebih banyak. Padahal, Ramadhan adalah saat yang tepat—jika kita dalam kehidupan sehari-hari di bulan lain nggak terlalu peduli dengan ibadah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, saya nggak mau nyebut nama-nama acaranya ya, khawatir malah jadi iklan. Hehehe.. pastinya kamu bisa nunjuk sendiri dan ngeh sendiri deh. Yup, yang saya maksud adalah acara-acara yang memenuhi <em>prime time </em>di layar kaca. Naha, masalahnya adalah acara tersebut lebih banyak yang sifatnya hura-hura aja. Labelnya sih bernuansa Islam, khususnya yang berkenaan dengan menjelang dan setelah berbuka puasa, plus acara di waktu sahur. Kamu tahu sendirilah gimana acara itu. Yup, cuma nama acaranya aja yang identik dengan Islam. Tapi isinya? Banyak yang menjauhkan nilai-nilai Islam. Baik format acara maupun para pengisinya, yang kebanyakan adalah selebriti. Di situ, bertabur hal-hal yang sama sekali tak menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa. Sayang sekali bukan?<span id="more-2686"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Gimana nggak, saya sendiri dan mungkin banyak kaum muslimin lain yang merasakan bahwa kita tak bisa mendapatkan manfaat yang banyak dari program acara di televisi selama Ramadhan. Hampir semua stasiun televisi menghadirkan acara yang kesannya jauh dari keistimewaan Ramadhan. Memang, ada juga stasiun televisi yang program acaranya bagus dan bisa menambah wawasan serta ilmu bagi pemirsanya, tapi sayangnya jumlah itu sedikit dan disimpan bukan pada waktu utama (prime time). Tapi ditaro di waktu yang kemungkinannya sedikit orang yang nonton. Waduh!</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo gini terus, rasa-rasanya sulit mendapatkan tayangan bermutu tinggi dan menambah wawasan. Ramadhan bulan yang dalam Islam sangat istimewa, penuh barokah, dan bulan bonus pahala dari Allah Swt., ternyata kesan itu hilang di televisi. Memang, Ramadhan tidak akan luntur pamornya hanya karena tidak semarak ditayangkan di televisi dengan acara-acara yang bagus dan bermanfaat. Namun demikian, tugas kita adalah mendidik masyarakat dengan benar dan baik. Lha, gimana jadinya kalo media massa seperti televisi tidak mengemban tugas pendidikan dan informasi untuk masyarakat? Padahal, masyarakat Indonesia ini masih bergantung kepada media massa seperti televisi untuk mendapatkan informasi, pendidikan, dan juga hiburan. Buku dan jenis media cetak seperti majalah, koran, tabloid dan buletin? Ah, jangan harap.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita harus akui bahwa minat baca masyarakat Indonesia secara umum sangatlah rendah. Kalo membaca saja banyak yang malas, karena senangnya malah nonton televisi. Eh, pas nonton televisi yang disuguhkan juga ibarat ‘racun maut’ untuk merusak kepribadian mayarakat. Lengkap sudah penderitaan deh.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Dampak media massa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, keberadaan media (saluran atau <em>channel)</em> dalam komunikasi massa, menurut pakar komunikasi politik AS Harold D. Laswell adalah mutlak. Saluran komunikasi atau media massa inilah yang akan menyalurkan atau menyebarkan pesan (<em>massage</em>) dari komunikator ke komunikan dan akan memberikan efek pada keduanya. Ada empat aktivitas pokok yang menjadi fungsi media massa antara lain: Pengawasan lingkungan; Korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi lingkungan.; Transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya.; dan Entertainmen.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di abad yang disebut Alvin Toffler sebagai abad informasi ini, media massa memiliki posisi strategis lho, dimana informasi merupakan sentral dari perhatian, pemikiran dan kegiatan manusia. Semua aktivitas manusia pasti membutuhkan informasi. Karena informasi memiliki efek yang mendalam terhadap berlangsungnya proses produksi konvensional, proses berfikir itu sendiri dan bahkan terhadap proses kehidupan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, fungsi televisi sama dengan fungsi media massa lainnya (surat kabar, majalah, tabloid, dan radio siaran), yakni memberi informasi, mendidik, menghibur dan membujuk. Tapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi. Karakteristik televisi yang utama adalah audio-visual, yakni dapat dilihat dan sekaligus dapat didengar. Jadi dari segi pengaruh atau efek kepada masyarakat jelas sedikit lebih kuat ketimbang efek yang ditimbulkan media massa cetak. Tul nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, kita sebenarnya nggak ingin banget kehilangan makna Ramadhan gara-gara terpengaruh tayangan Ramadhan di televisi yang malah kian ngejauhin kita dari ketakwaan yang coba ditumbuhkan di bulan mulia ini. Tapi, nyatanya memang demikian. Kita jadi merasa santai dalam menjalani Ramadhan ini karena nggak ada tambahan ilmu. Padahal, kita lebih banyak hobi nonton televisi ketimbang baca buku atau dengerin ceramah ustad kalo kultum tarawih dan kuliah subuh atau di acara sanlat. Nah, lho. Ayo, ngaku! Hehehe.. bukan nuduh nih (tapi memvonis, lho kok?)</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, andai saja televisi lebih banyak menayangkan acara keilmuan tapi dibikin fun suasananya. Misalnya, ustadnya yang gaul soal remaja, ngerti masalah kehidupan remaja, ada selingan nasyid yang oke. Terus, isinya yang membekas di benak pemirsa. Meski menjelaskan “hitam-putih”, tapi nggak terkesan kaku, garing dan menggurui. Tetep asyik dan cair. Ilmu dapat, hiburan berkualitas juga kita rasakan. Asyik banget kan? Betul itu! Tapi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Eh, yang muncul malah hiburan <em>an sich</em>, bahkan seringkali melanggar hukum syara, seperti di acara-acara menjelang buka puasa dan saat sahur yang lebih mengedepankan hiburannya. Dan, itu pun seringkali tidak pantas dilakukan karena banyak humor yang slapstik dan melanggar hukum syara. Gawat!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, jujur aja bahwa soal ini bisa menjadi pengaruh buruk dari tayangan televisi kepada pemirsanya. Bukannya mendidik, tapi malah menjerumuskan dan memelihara kebodohan masyarakat. Masyarakat dididik untuk menikmati kebodohannya. Tragis banget kan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jangan kubur Ramadhan!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yup, emang kesel, risih, gemes, sebel dan entah kosakata apalagi untuk menggambarkan keprihatinan kita tentang kondisi kaum muslimin saat ini, khususnya di bulan suci Ramadhan. Gimana nggak kesel, gimana nggak sebel, kalo Ramadhan nggak bisa membekas dalam kehidupan kita. Cuma numpang lewat dalam hidup kita. Kalo pun kita berupaya menyambutnya, tapi itu pun sekadar “dalam rangka”. Jadi ketika Ramadhan berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Bah macam mana pula ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, mumpung belum kelewat, jangan kubur Ramadhan. Karena ia belum mati. Kitalah yang menjadikan Ramadhan mati. Ramadhan akan tetap hidup bersama orang-orang yang merindukannya. Mereka akan tetap bermesraan dengan Ramadhan di setiap detik yang ia lewati, di setiap menit yang ia lalui, dan di setiap malam yang selalu membuatnya terjaga untuk senantiasa mengisinya dengan ibadah. Ramadhan memang tidak akan pernah mati, ia akan hidup terus bersama orang-orang beriman yang mencintainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo sekarang Ramadhan tampak seperti mati (karena memang nggak kerasa banget nuansanya—terutama kalo ngeliat beragam tayangan di layar kaca), maka sebenarnya kitalah yang membuatnya mati dan bahkan sudah menguburkannya dalam-dalam. Itu sebabnya jangan heran jika masih banyak kaum muslimin yang anteng aja makan dan minum di siang hari tanpa sedikit pun merasa takut kepada ancaman Allah Swt. Dan tanpa sedikit pun merasa sayang mencampakkan beragam kemuliaan di dalamnya. Padahal, itu cuma diberikan sebulan dalam setahun oleh Allah. Oya, meski demikian, bukan berarti di bulan lain nggak ada istimewanya, ada juga. Tapi di bulan Ramadhan Allah menjanjikan banyak kebaikan. Sayang banget kan kalo dilewatkan begitu saja? Kalo sampe ada yang menyia-nyiakan Ramadhan, hmm… bener-bener nggak tahu diri (maaf lho saya nyebutin begini, jika ada kata yang lebih pantas dan dahsyat lagi dari ini untuk menggambarkan orang-orang durhaka bolehlah diucapkan).</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi, jangan kubur Ramadhan. Karena ia masih ‘hidup’. Sebaliknya, kita nyalakan semangat dan ceriakan Ramadhan dengan amal sholeh yang berlimpah. Deras mengalir dari setiap ucapan dan perbuatan kita. Agar banjir nikmatnya terasa sampe membekas dalam hidup kita selamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah riwayat diceritakan Rasulullah menaiki mimbar (untuk berkhutbah), menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan “aamin”, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan ‘aamin’? Lalu beliau menjawab, malaikat Jibril datang dan berkata: “Kecewa dan merugi seseorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucapkan shalawat atasmu, lalu aku berucap <em>aamin”</em>. Kemudian malaikat berkata lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga, lalu aku mengucapkan <em>aamin</em>. Kemudian katanya lagi, kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan Ramadhan tetapi tidak sampai terampuni dosa-dosanya, lalu aku mengucapkan <em>aamin</em>.” Hadis itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and Girls, memang kaum muslimin nggak salah-salah banget dalam kondisi ini. Karena kelakuannya pun lebih banyak disetir oleh sistem kehidupan saat ini. Sistem kehidupan kapitalisme-sekularisme yang udah berurat-berakar ini menjadikan kaum muslim banyak yang nggak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Banyak di antara kita yang lebih patuh dan ridho diatur oleh kenyataan saat ini, ketimbang mempertahankan akidah Islam kita. Itu sebabnya, nggak berlebihan dan memang pantas dan pas kalo kita mulai mencintai Islam. Ramadhan ini saat yang ideal untuk <em>come back</em> kepada Islam. Mempelajarinya, memahaminya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sambil berupaya keras agar Islam diterapkan sebagai ideologi negara dalam bingkai Negara Khilafah Islamiyah. Iya nggak?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, sumpah kita udah nyeri, sakit, dan pedih hidup dalam sistem kehidupan bobrok ini. Cuma Islam yang bisa menyelamatkan kita. Jangan cintai kapitalisme-sekularisme, jangan pula nekat berselingkuh dengan sosialisme-komunisme. Berbahaya! (dan juga berdosa)</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Ramadhan kali ini (dan juga seterusnya) memberikan kekuatan yang besar dalam hidup kita untuk mengubah kebiasaan buruk kita. Berubah menjadi benar dan lebih baik. Karena Ramadhan memang belum mati. Akan tetap ‘hidup’ bersama orang-orang beriman yang taat dan ikhlas menjalankan syariatNya. Kamu juga mau kan? <strong>[osolihin: http://osolihin.com | osolihin@gaulislam.com]</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ramadhan-tak-istimewa-di-layar-kaca/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Battle of Songs</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/battle-of-songs</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/battle-of-songs#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 02:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2679</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 097/tahun ke-2 (10 Ramadhan 1430 H/31 Agustus 2009)
Dengerin lagu? Wah, hobi ane tuh! Makanya, pas gaulislam ngasih amanah buat nulis tentang lagu-lagu, ane oke-oke aja. Walopun lumayan pusing cos gejala-gejala flu berat udah mulai menghajar bodi ane. Fiewh…
Oya, saking hobi dengerin lagu nih&#8211;bahkan kalo musiknya ane suka, biasanya ane bela-belain untuk tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 097/tahun ke-2 (10 Ramadhan 1430 H/31 Agustus 2009)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengerin lagu? Wah, hobi ane tuh! Makanya, pas gaulislam ngasih amanah buat nulis tentang lagu-lagu, ane oke-oke aja. Walopun lumayan pusing <em>cos</em> gejala-gejala flu berat udah mulai menghajar bodi ane. Fiewh…</p>
<p style="text-align:justify;">Oya, saking hobi dengerin lagu nih&#8211;bahkan kalo musiknya ane suka, biasanya ane bela-belain untuk tahu dengan detail tentang syair lagunya. <em>So</em>, kalo suasana hati lagi <em>down</em>, bermuram durja or lagi hepi tralala, syair lagu sering mewakili suasana hati ane en dipasang buat status di <em>facebook</em>.   Hoho..segitunya? Rajin amat, Bu! Ya harus dong! Percuma kalo musiknya bagus, tapi ternyata syairnya nggak ada mutunya. Selain menghibur diri ane juga pengen menyelami filosofi dari syair lagu yang dinyanyiin (cieee…).  Jadi kalo syair lagunya cuma <em>“Juice melon, I want to buy!” </em>itu mah maksudnya lagi haus kali ya? Hehehe..<span id="more-2679"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, sekarang kok banyak banget ya acara yang nayangin video klip lagu-lagu? Tiap stasiun tivi pasti ada. Mulai yang tampil <em>live</em> dan ngumpulin seabreg <em>fans</em> para penyanyi yang tampil sampe nayangin <em>playlist topchart</em> dari lagu-lagu beken di Indonesia. Jadi udah nggak perlu lagi nyetel MTV tuh. Belum lagi acara-acara semacem <em>‘missing lyrics’</em> gitu.  Itu tuh, acara lomba tebak sambungan dari syair-syair lagu.  Jadi nggak cuma nebak judul doang. Nah yang ane liat malah pesertanya membludak ngalahin acara pengajian. Dan mereka ho oh aja ama lagu-lagu yang dibawa’in ama penyanyi idola mereka. Kesannya nggak ada cek-ricek lebih dulu, tuh lagu layak didengerin, dinyanyiin or nggak. Bahkan semakin bangga kalo berhasil hapal banyak lagu dari taon jebot ampe yang lagi tren saat ini. Ckckck…</p>
<p style="text-align:justify;">Sempet ane ketohok banget neh waktu Mr.Xtract 1, temen maya ane asal Jepang yang demen banget bikin playlist lagu-lagu artis jebot sebangsa Aretha Franklin, Beach Boys tapi diremix ulang di imeem.com. Do’i bilang, “Emang elo ngerti arti dari syair lagu-lagu Jepang yang elo demenin? Elo tahu nggak? Bahasa Jepang kalo di-Inggris-kan malah jadi aneh en ekspresi yang sebenarnya dari tu syair malah nggak bisa tergambarkan”.  Nah, dari omongan doi yang seperti itu, akhirnya ane simpulin kudu ati-ati kalo dengerin lagu. Nggak sembarangan. <em>Coz</em>, bisa jadi musiknya asoy buat didenger  tapi syair lagunya malah ngedakwahin kita untuk ngelakuin kemaksiatan. Weew!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nggak se-simple itu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Lagu sebenernya adalah paduan musik yang udah diaransir sedemikian rupa, lalu ditambah syair, kemudian dinyanyiin en diperdengarkan kepada publik. Jenis musik yang genrenya macem-macem dikolaborasi dengan syair lagu yang udah ditulis sebenarnya sebagai mediator demi menyampaikan pesan yang tersirat ataupun tersurat. Pesan kegembiraan, kesedihan, kemarahan, cinta, semangat perjuangan dan lain-lain. Nah, sekarang yang jadi masalah, apakah pesan-pesan yang disampaikan dalam lagu adalah pesan kebenaran? Makanya ane bilang: nggak sesimple itu dalam urusan  lagu. Kita semua kudu cerdas kalo dengerin, nyanyiin, juga nyiptain lagu. Sebab, syair lagu disusun dan ditulis tergantung ama pemikiran penulisnya. Kalo lagu yang dinyanyiin en didengerin ternyata mengandung ‘<em>error message’</em> kan bisa berabe! Perlu bukti sejauh mana berabenya? Ayo!</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Tak gendong kemana-mana/ mantep tho ? /enak tho ?! /Tak gendong kemana-mana.. “</em> Wew, Mbah Surip gitu loh!  Nggak lama kematian <em>the king of pop</em>, Jacko, ternyata penyanyi gaek dengan lagu hitnya “Tak Gendong“  ini menyusul dipanggil ilahi. Tapi lagunya tetep dan malah tambah ngetop.   Banyak orang bilang lagu “Tak Gendong” ini unik, <em>easy listening</em> dan pada latah nyanyiin nih lagu. Dibalut dengan musik <em>reggae</em> yang asoy abis. <em>But</em> udah pasti ada pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh sang pembuat lagu. Mbah Surip sendiri bilangnya nih lagu bermakna ‘kebersamaan’/<em>togetherness, </em>tolong-menolong, gotong-royong.  Lagu hit yang laen adalah “Bangun Tidur”.  <em>“Bangun tidur/tidur lagi/bangun lagi/tidur lagi/banguuun!!!/tidur lagi/bangun tidur terus mandi/ jangan lupa senam pagi/kalo lupa/tidur lagi”.</em> Wadoooh… kapan salat, ngaji  ama skolahnya nih, Mbah?</p>
<p style="text-align:justify;">Omong-omong soal reggae yang awalnya beken dipopulerkan oleh Bob Marley &amp; The Wailers, ternyata menurut Steven (vokalis dari Steven &amp; Coconut Tree) reggae konon mengajarkan perdamaian, keadilan dan anti kekerasan.  Tapi banyak orang salah kaprah dan justru nganggap Reggae dan Rastafari itu sama aja. Padahal Reggae itu ternyata genre musik, kalo Rastafari adalah <em>way of life</em>. Nah, menurut para musisi Reggae, nggak semua penggemar Reggae adalah Rastafari dan nggak semua Rastafari adalah penggemar Reggae. Tapi inti dari Reggae en Rastafari adalah cinta damai.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, yang bikin <em>shock</em> nih, Rastafari yang dianggap sebagai <em>way of life</em> ternyata adalah sebuah gerakan agama baru yang mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan dan Singa Yehuda sebagai Yah (nama Rastafari untuk Allah, yang merupakan bentuk singkat dari Yehovah yang ditemukan dalam Mazmur 68:4 dalam Alkitab versi Raja James), dan bagian dari Tritunggal Kudus. Nama Rastafari berasal dari Ras T?f?ri, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatkan menjadi kaisar.</p>
<p style="text-align:justify;">Gerakan ini muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani pada awal tahun 1930-an, yang berasal dari suatu penafsiran terhadap nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi mereka, seorang penerbit dan organisator Jamaika kulit hitam, Marcus Garvey, yang visi politik dan budayanya ikut menolong menciptakan suatu pandangan dunia yang baru. Nah, di tahun 1996, gerakan Rastafari di seluruh dunia dapet status konsultatif dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).</p>
<p style="text-align:justify;">Terus, kenapa kok antara Reggae en Rastafari sering dianggap beriringan, padahal para musisi Reggae kesannya ngasih <em>statement</em> nggak ada keterkaitan antara Reggae dan Rastafari. Ternyata, lahirnya Reggae dan Rastafari sama-sama dari bangsa Afrika yang ditindas oleh rasialisme dan tumbuh pesat di Jamaika. Bob Marley &amp; The Wailers dedengkot Reggae asal Jamaika itu, juga termasuk orang-orang Rastafari yang selalu berpenampilan nyentrik plus dandanan khas: rambut gimbal, en akrab menyandang warna merah, kuning/emas, hijau-warna bendera Ethiopia/khas Jamaika.  Tapi, para penganut Rastafari ternyata nggak terima kalo Rastafari diidentikan akrab mengkonsumsi ganja, rambut gimbal dan hidup nggak teratur. Malah mereka berpedoman kalo Rastafari hidup kudu <em>clean</em>, <em>no smoking </em>and vegetarian.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang kalo diliat (tapi nggak teliti), kesannya Rastafari  bermuatan positif , tapi jangan dikira muatan negatifnya nggak ada (kayak magnet aja). Toh, tuh ajaran nggak meyakini Allah Swt., Rasulullah saw., juga al-Quran dan as-Sunnah. Jadi ya ngapain ikut-ikutan latah pengen jadi Rasta Man? Ikutan dosa malah ada tuh. Fatalnya lagi, bisa-bisa, malah kita berganti keyakinan. Islam di KTP, tapi jadi penganut Rastafari. Waduh..cepetan tobat deh! Jangan sekalipun pernah bangga deh ngaku-ngaku jadi ‘Rasta Man’.  Yah, asal tahu aja pas ane intip di <em>www.indoreggae.com</em>, musisi Reggae di Indonesia yang saat ini khusyu menekuni filosofi Rastafari adalah Ras Muhammad. Fiewh…</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Baidewei</em>, pernah denger lagu “Jika Kami Bersama”? Ah, masa nggak tahu? S.I.D tuh! Yop, <em>Superman is Dead</em>. Grup punk asal Bali. Musiknya asyik didenger, memacu adrenalin en rasa bosan pun jadi musnah (ciee..).  <em>Dan jika kami bersama/Nyalakan tanda bahaya/Musik akan menghentak/Anda akan tersentak/Dan kami tahu engkau bosan/Dijejali rasa yang sama/Kami adalah kamu/Muda beda dan berbahaya/ Lepaskan semua belenggu/Yang melingkari hidupmu/Berdiri tegak menantang di sana di garis depan/ Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang/Untuk mereka yang selalu tersingkirkan. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Gimana pendapatmu setelah denger tuh lagu en mikirin filosofi dari syairnya ? Ngerasa ‘panas’? Pengen berontak? Itulah <em>punk</em>. Lagu-lagunya penuh nada menghentak plus syair lagu yang <em>full </em>kritik sosial. To the point aja yah, para punkers sebenarnya menganut pemikiran Anarkhi/Anarkis dan para penganut Anarkhi disebut Anarkho. Di <em>www.anarchoi.gudbug.com</em> secara jelas en konkrit dinyatain gimana filosofi punk plus pemikiran anarkhi yang mereka anut. Menurut situs ini, hampir semua punk percaya akan prinsip Anarkhi yaitu untuk sama sekali nggak menggunakan pemerintahan resmi atau pengatur tapi mereka menghargai kebebasan dan tanggung jawab individu. Anarkhi sendiri berarti tanpa pengatur/penguasa. Jadi, para anarkho, para punkers mereka menolak keberadaan negara. Lho, kok bisa?</p>
<p style="text-align:justify;">Yup, karena mereka kecewa akan keberadaan negara yang dengan aturannya malah bikin orang tertindas. Walaupun ajarannya mengarah ke ‘kiri’, tapi mereka nggak mengakui adanya agama tapi mereka kecewa dengan adanya negara komunis karena ketertindasannya sangat terasa. Selain ke ‘kiri’ ternyata punk juga milih ‘zigzag’. Mabok dong? Soalnya, mereka juga kecewa dengan negara kapitalis. Mereka anggap negara-negara yang ada di dunia saat ini cuma penghasil demokrasi palsu kapitalisme yang menindas rakyat. Intinya nih, mereka nggak demen ama ide-ide komunis/sosialis apalagi kapitalis. Manifestonya? Pokoknya sebebas-bebasnya deh! Yang mereka pikir nggak bikin mereka terkekang dan tertindas. Fiewwh… capek deh.. Iya, emang capek.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut ane nih, mau rastafari, mau anarkhi, yah sama aja. Ajaran mereka nggak ada yang mengakui apalagi mengimani Allah Swt., Rasulullah saw., al-Quran dan as-Sunnah. Iya kan? Kalo sekedar genre musik sih, menurut ane nggak masalah. Tapi syair lagunya nih, andilnya fatal kalo ternyata menyeret kita jadi jauh dari Islam. Nggak bener banget kan?</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi kalo dengerin lagunya duo <em>The Virgin</em> “Cinta Terlarang”… <em>Mengapa cinta ini terlarang/Saat ku yakini kaulah milikku/ Mengapa cinta kita tak bisa bersatu/Saat kuyakin tak ada cinta selain dirimu.</em> Kalo yang ane pahamin sih, ni lagu mo ngungkapin kegelisahan yang amat sangat. Hmmm… mencintai siapa? Cinta sesama jenis? Mencintai istri/suami orang? Mencintai sodara kandung ke arah cinta yang nggak wajar? Hehehe… Kalo nih lagu mengisyaratkan cinta sesama jenis, wah, berarti pengen ada pengertian dari Tuhan nih supaya cintanya bisa kesampean gitu? Aduwhhh… tobat atuh, Neng!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi puyeng sendiri ane nih, yang Rastafari, yang Anarkhi, yang cinta sesama jenis. Kok pada liberal-sekuler gini yah? Syair lagu <em>mah</em> jangan dianggap enteng. Sebab, ini pengaruhnya ke pemikiran dan gaya hidup. Hmm… menurut ane sih, ini udah saatnya nih untuk ‘angkat senjata’! <em>The Battle of Songs begin !</em> Wezzz… Ha ha ha ha (Mbah Surip mode: ”on”.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bahaya lagu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bro en Sis, kalo kita ngelakuin sesuatu udah pasti kita ngerti sesadar-sadarnya kenapa kita ngelakuin hal tersebut.  Begitu juga soal dengerin lagu <em>mah</em> udah pasti juga kudu hati-hati. Sebab, gimana pun juga syair lagu bisa mempengaruhi pemikiran. Itu sebabnya, para seniman/musisi yang udah menganut pemikiran ideologi tertentu mereka ngelakuin syiar ideologi mereka lewat kekuatan produk seni mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, yang bahaya banget kalo ideologi sang seniman/musisi ternyata ideologi kapitalis or sosialis-komunis juga sekuler. Biarpun misalnya syair lagunya <em>full</em> kritik sosial, tapi pastinya tetep nyodorin solusi dari ideologi yang mereka anut. Belum lagi lagu-lagu cinta yang ngedakwahin soal gaul bebas dan selingkuh, bener-bener bikin dunia tambah kisruh neh. Bukannya ngasih nasihat syiar lewat lagu, tentang gimana supaya nggak pacaran, gaul bebas, selingkuh dll, etc,dst.</p>
<p style="text-align:justify;">Terus gimana dong? Nah, berhubung dunia belum dinaungi Daulah Khilafah Islamiyah yang pastinya bakal bisa ngawasin dengan ketat peredaran lagu-lagu yang disiarkan ke publik, jadi solusi praktis dan jangka pendeknya adalah: ya udah, kita bikin lagu aja. Kita nulis lagu sendiri. Ajak temen yang bisa maen instrumen musik. Bikin demo musik <em>mah</em> sekarang gampang. Terus kalo mau nyiarin ke radio, bisa aja ngeaktifin link ke temen-temen penyiar. Biar aja nekat <em>request</em> duluan. Selain itu kalo pun nggak ada produser rekaman yang ngajak rekaman, bisa aja tuh pake cara D.I.Y (do it yourself).  Rekam sendiri, biaya sendiri en jual sendiri (asal jangan beli diri sendiri juga). Hehehe… . Bisa juga join bareng temen-temen lah. Iya nggak?</p>
<p style="text-align:justify;">Bikin lagu yang kayak gimana nih? Soal genre musik itu terserah, tapi syair lagu kudu diperhatiin. Sebabnya, lagu di sini bukan cuma buat hiburan tapi buat syi’ar keislaman. Masih <em>blank </em>gimana lagu yang dimaksud? Coba deh klik situs youtube or imeem di <em>browser</em> internet kamu. Cari nama-nama munsyid or rapper sebangsa Zain Bhikha, Native Deen, Blakstone, Masikah Ali, Thufail al-Ghifari, Yusuf Islam, Sami Yusuf, The Fikr terus Soldiers of Allah yang situs resminya ditutup oleh pemerintah AS dan kini beberapa personelnya telah menikmati indahnya syahid di Afganistan. Syair-syair lagunya juga keren abis. Coba deh disimak !</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Mencintai dicintai fitrah manusia/Setiap insan di dunia akan merasakannya/Indah ceria kadang merana itulah rasa cinta/Berlindunglah pada Allah dari cinta palsu/Melalaikan manusia hingga berpaling dariNya/Menipu daya dan melenakan sadarilah wahai kawan/Cinta pada Alloh cinta yang hakiki/Cinta pada Alloh cinta yang sejati/Bersihkan diri gapailah cinta Cinta Ilahi</em>.  Nah, ini lagu dari The Fikr yang judulnya Cinta. Keren mana coba ama <em>Cinta Terlarang</em>-nya The Virgin? Jauh ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Mau yang keren lagi? <em>“Terjagalah dari segala maksiat/Dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat/Disatukan dalam karunia yang suci/Bersama jiwa-jiwa yang selalu haus akan ibadah/Dan penuh harga diri/Ini bukan cerita Cinderella/Bukan juga patah arang cinta buta Siti Nurbaya/Tak dapat diukur tapi bersama Allah semua pasti akan teratur.” </em>Nah, yang ini penggalan syair rap-nya Thufail al-Ghifari:“Catatan Terakhir”.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, kalo yang <em>more</em> keren mah ada . Ini nih, “1924 “ lagu rap dari Soldiers Of Allah (S.O.A) yang nohok banget ngasih kritik kok kaum Muslim pada cuek ama kewajiban memperjuangkan tegaknya Khilafah. <em>The truth about the state/It wasn’t always like this/Let us look back in time/History reminds us/One army/One land/One central authority/Crushing the romans/persians put in fear/The Ummah like a Lion/No need to shed a tear/When the village was attacked by the kufar/The Khalife heard /The sister cry &amp;Prepared for war/Attacking the city/Destroying it from existence/Lesson # 1/Don’t ever /Mess with Muslims/The Imam of the Ummah is a shield where he protects the Ummah and where the Ummah fights behind him /Where is this shield today to protect the Ummah?? What happen to this shield to honor and dignify the Ummah?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Nah, para munsyid/rapper yang ngebawain lagu-lagu islami tuh pastinya gaya hidupnya nggak akan melenceng jauh dari Islam. Nggak ‘muna’ kayak para artis penyanyi lainnya yang setahun sekali bikin album religius (pas Ramadhan doang). Selain itu, lagu-lagu yang dinyanyiin para munsyid ini pastinya ngasih solusi dalam hidup. <em>So</em>, udah pasti insya Allah gaya hidup para munsyid ini <em>clean</em> en jadi teladan dalam hidup.  Nggak pengen tuh jadi kayak mereka?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>So</em> guys, hidup cuma sekali. Gunain waktu yang kamu miliki sebaik-baiknya. Nulis lagu yang ideologis terus ngebawain tuh lagu tentunya juga bakal ngebawa kamu dalam tampilan baru. Ya, tentunya kamu tampil lebih <em>cool</em> dengan keislamanmu. Ayo,<em> </em>kamu bisa nunjukin diri, kalo manut ama Islam dalam berkreativitas pastinya bakal jadi teladan dan anti mati gaya. Semangat! <strong>[anindita: facebook.com/anindita.chandra]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/battle-of-songs/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buktikan Pedulimu!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/buktikan-pedulimu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/buktikan-pedulimu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 02:39:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2675</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 096/tahun ke-2 (3 Ramadhan 1430 H/24 Agustus 2009)
 
Kalo perhatiin tingkah laku remaja sekarang saya jadi keinget sama lagu jadul alias jaman dulu yang judulnya Astaga, potongan liriknya begini “Ooo, Astaga Apa yang sedang terjadi, astaga hendak kemana semua ini, bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli, mudah putus asa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 096/tahun ke-2 (3 Ramadhan 1430 H/24 Agustus 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo perhatiin tingkah laku remaja sekarang saya jadi keinget sama lagu jadul alias jaman dulu yang judulnya <em>Astaga</em>, potongan liriknya begini “Ooo, Astaga Apa yang sedang terjadi, astaga hendak kemana semua ini, bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli, mudah putus asa dan kehilangan arah ”.. ehem cukup nyanyinya..</p>
<p style="text-align: justify;">Oke-oke kayaknya ada benernya juga tuh lagu, remaja sekarang kurang peduli terhadap berbagai masalah di sekitarnya, jangan-jangan mereka berfikir mumpung masih muda, terus yang dipentingkan cuma hura-hura. Hadduh kalo pola pikirnya kayak gitu ngak banget deh ini namanya pemborosan nggak bermanfaat bin nggak ada gunanya samasekali malah bisa jadi dosa, nggak percaya?</p>
<p style="text-align: justify;">So, kebanyakan yang dipikiran mereka masalah pribadinya melulu contohnya banyak tuch remaja yang dipikirannya gaya atau fashion terus, katanya biar  <em>tekor asal nyohor</em> (gubragg!!) kata orang sunda mah <em>loba gaya tapi eweuh duitna</em> (huhuy, banyak gaya tapi uang nggak ada).<span id="more-2675"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Maaf nih buat Sis (kaum hawa) nyinggung dikit, kalo ngomongin masalah gaya atau penampilan, bagi mereka fashion wajib update terus tiap detik (hehe, berlebihan), biar dibilang fashionable (mode on) katanya atau biar jadi trendsetter, tapi kalo diperhatiin kesannya justru maksain banget ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Coba dech liat, contohnya para remaja yang jadi korban sinetron, ngak cuma bom aja yang efeknya dahsyat, ternyata sinetron bisa lebih booming  (hehe) mereka banyak yang ngikutin seleb-seleb pujaannya mulai dari ujung rambut sampe ujung kuku jempol kaki. Walaupun aurat terbuka lebar, berpenampakan bebas di muka umum dan beredar di mana-mana (udah kayak tabloid) tapi tetep aja tuh mereka ngikutin gaya seleb pujannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Waduh selamat menderita aja buat para ikhwan godaanya makin berat, iya apa iya? Jangan-jangan malah para cowok juga seneng liatin cewek kayak gitu, hadduch setiap ada cewek liat pasti dikomentarin “Wuichh gitar spanyol lewat, bukan cuy itumah gilingan padi, nah kalo yang ini baru buldoser” (hahaha aja-aja ada tuh).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, seharusnya kesucian perempuan bener-bener wajib dijaga, jangan sampe malah mempermudah kaum adam melakukan zina, yang paling sering mungkin tanpa sadar dilakukan adalah zina mata. Kehormatan perempuan adalah mahkota yang tidak bisa dinilai oleh apapun, kalo pengen dihargai sama orang lain hargailah diri sendiri dulu. Amanah yang besar dari Allah Swt. (kesucian) harus selalu dijaga dengan teguh dan kuat. Rusaknya akhlak generasi bisa disebabkan pula oleh perempuan, karena itu, jagalah apa yang Allah Swt. telah berikan untuk perempuan, saya yakin bisa bikin perempuan tambah is the best deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Oke-oke! Bro en Sis, masalah kepedulian para remaja emang memprihatinkan mereka kurang peka terhadap masalah sekitarnya, mungkin udah jadi hobi hura-hura atau ngabisin duit buat ngebela-belain nonton konser musik yang ngak ada manfaatnya, malah sering menjerusmuskan mereka pada hal-hal yang negatif kayak tawuran, minum-minuman keras, atau pakai narkoba (sambil nonton konser).</p>
<p style="text-align: justify;">Apa sih sebenernya yang mereka cari? Kesenangan? hmm! Kalo kesenangan yang dicari kayaknya nggak tuh, kenyataannya justru banyak yang meninggal sia-sia karena tawuran atau mati terinjak-injak karena nonton konser musik (na’udzubillahiminzalik!). Ada juga nich yang lebih mentingin malam mingguan dari pada aktif atau hadir di pengajian, nah tuch sapa yang hobi pacaran? (hmm, Pacaran? Ngak ah!).</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, tingkah laku yang kayak gitu bener-bener nggak baik sama sekali. Nggak bermanfaat dan bisa menjadi dosa, setuju? Ya! kalo saya sih setuju banget, bukan karena saya yang menulis artikel ini atau cuma nyidir prilaku remaja sekarang (toh saya juga masih remaja hehe), tapi itu prilaku yang amat sangat banget sekali (wah lebay deh gue!) nggak mencerminkan seorang muslim. Agama kita Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, wajib hukumnya memangdang segala suatu hal dan bertingkah laku sesuai peraturan hidup dalam Islam (nah catet tuh) dan kita wajib untuk peduli terhadap agama kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Buat para remaja ayo! Kita tunjukkin kepedulian kita! Lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar. Pernah kepikiran nggak bahwa kita suka ngak sadar kalo di antara kita masih ada teman yang nggak sanggup bayar SPP karena memang tidak punya uang. Banyak teman yang pengen ngelanjutin sekolah atau kuliah tapi terbentur sama biaya. Yang lebih penting lagi banyak teman kita yang belum mengerti Islam (atau malah dia sendiri cekak pengetahuan agamanya, cape  deh hikshiks) ini wajib untuk kita perhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih banyak yang hidup dalam kemiskinan serba kekurangan dan bahkan kelaparan yang berakibat kehilangan nyawa, apa kita ngak peduli? (Halloww!! Kok diem, masih bacakan?) Buka mata hati dan pikiran, dan harusnya perasaan kita terusik lalu kita mulai berpikir. Apa yang kita bisa lakukan buat mereka, nih?</p>
<p style="text-align: justify;">Kepedulianpun butuh pengorbanan demi kepentingan orang lain. Ada kisah, sahabat Anas ra. pernah bagikan daging kambing yang udah dimasak kepada seorang temannya. Tapi teman itu nggak langsung menyantapnya, melainkan memberikannya kepada orang lain yang dianggap lebih membutuhkan. Teman yang disebut terakhir ini pun memberikan lagi kepada tetangganya. Begitu seterusnya, al-hasil daging itu berputar sampai sepuluh rumah. Itu salah satu contoh bentuk kepedulian sahabat Nabi yang akhirnya jadi teladan juga bagi orang-orang di sekitarnya. Itulah yang terjadi kalo jiwa sosial dan kepedulian udah menular kesemua tetangga. Keren kan?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Dakwah adalah kepedulian, lho</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman, yang artinya: <em>“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. </em><strong>(QS at-Taubah [9]: 71)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kita mungkin tidak punya cukup harta untuk membantu teman-teman yang serba kekurangan, dan yang mungkin kita juga bener-bener cekak hartanya, tapi ini jangan dijadikan alasan untuk tidak peduli ke sesama (setuju?). Karena kita punya kekuatan yang lain,  kemampuan untuk berbicara dan kemampuan untuk menulis, menyuruh/mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita diwajibkan untuk berdakwah, karena dakwah adalah bentuk kepeduliaan kita terhadap sesama, siapapun bisa melakukannya kok. Nggak harus kiayi, ustad., atau da’I, mulailah dari diri kita sendiri, bahkan Allah akan memberikan rahmat (pahala) atas kepedlian kita, dan janji Allah itu pasti. Oya, ini juga harus diimbangi sama tingkah laku kita juga. Jangan sampe kita dakwah tapi ilmu agamanya cekak (wah wah tong kosong bunyinya nyaring). Nah untuk mengasah kemampuan juga menambah ilmu kita dalam berdakwah solusinya adalah dengan terus belajar dan terus aktif dipengajian supaya kita punya teman yang saling membantu dan mengingatkan dalam berdakwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, setiap kalimat amar makruf nahi munkar yang disampaikan itu juga dakwah. Kalo lagi ngobro-ngobrol bareng temen lalu kita sambil beri nasihat yang landasannya Islam, ini juga termasuk dakwah. Bagian dari kepedulian, lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, yang lagi populer di situs pertemanan seperti <em>Facebook</em> itu juga bisa kita manfaatin buat dakwah. <em>status wall </em>atau di fasilitas <em>chatting</em>-nya kita tulis atau kita diskusikan masalah yang sifatnya mengingkatkan kepada kebaikan dan menegur kesalahan-kesalahan teman lainnya. Seru kan? Bisa bikin hobi kita lebih bermanfaat. Nggak membuang waktu kita seharian di depan komputer untuk hal-hal yang nggak penting dan nggak perlu.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah sw. bersabda: <em>“Hendaklah kalian benar-benar menyuruh perbuatan yang makruf dan benar-benar melarang perbuatan yang munkar, atau (bila tidak kalian lakukan) Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian berkuasa atas kalian semua (yang akibatnya banyak sekali kejahatan dan kemungkaran diperbuatnya) lalu orang-orang yang baik di antara kalian berdoa (agar kejahatan dan kemungkaran itu hilang) maka doa mereka (orang-orang baik itu) tidak diterima” </em><strong>(HR al-Bazzar dan ath-Thabrani)</strong><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Hadis lainnya, Rasulullah saw bersabda: <em>“Tidaklah suatu kaum yang orang-orang taatnya lebih banyak daripada pelaku maksiatnya, tetapi mereka membiarkannya, melainkan Allah akan mengadzabnya secara merata.”</em> <strong>(HR Ahmad dan Baihaqi)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasullulah SAW pun sampai memeringatkan kita tentang kewajiban kita dalam berdakwah. Kalo kita renungkan jadi teringat bencana tsunami, serem ya? Tentunya kita nggak mau itu terjadi lagi. Maka, terus deh belajar Islam dan apa yang kita peroleh segera sampaikan kembali kepada orang-orang di sekitar kita. Insya Allah dapet keberkahan hidup (wah indah banget kan?).</p>
<p style="text-align: justify;">Kita juga patut mencontoh kepedulian dan kasih sayang Nabi Muhammad saw.  Malah kasih sayang beliau nggak cuma terbatas kepada manusia aja, bahkan juga pada binatang dan pohon. Beliau memberi makan binatang dengan tangannya sendiri bahkan beliau pernah merawat biantang yang sakit. Saat berperang pun Rasulullah saw. memerintahkan pasukan Islam demi menegakkan keadilan Islam, yakni agar mereka tidak membunuh anak kecil, orang tua, kaum wanita dan mereka tidak mencabut pohon dan tidak juga merobohkan rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman yang artinya: <em>“Serulah (manusia)  ke jalan Tuhanmu (Islam) dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” </em><strong>(QS an-Nahl [16]: 125)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan juga, <em>“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya  daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: sesungguhnya aku termasuk golongan kaum muslimin.”</em><strong>(QS Fushshilat [41]: 33)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kita wajib untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang baik dan benar, jangan sampe salah dalam mengartikan bentuk kepedulian itu sendiri. Jangan mentang-mentang peduli, tapi nggak memperhatikan proses dan pelaksanaanya. Ati-ati lho, itu bisa jadi sia-sia dan berdosa. Nggak bisa juga dibenarkan peduli antar sesama jika melindungi teman yang salah dengan bersekongkol dalam kebohongan. Kepedulian itu juga nggak dibenarkan dalam perbuatan maksiat. Sebab, ini namanya bekerja sama dalam kemungkaran atau kejahatan berencana! bisa kena pasal hukuman berlipat-lipat plus hukuman di akhirat nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Tentang keberkahan atau pahala dakwah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw bersabda:<em>“Siapa saja yang menyeru manusia kepada petunjuk (Islam),dia pasti akan dapat pahala yang diperoleh orang yang mengikuti petunjuk itu tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya.” </em><strong>(HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tuh kan! Pahala kita bisa terus bertambah berlipat ganda lebih dahsyat dari sistem Multi Level Marketing deh!  <em>So</em>, kita harus terus belajar Islam, sehingga tetap terjaga dari kesalahan dan selalu punya bahan untuk disampaikan ke orang lain. Ayo! Tegaskan niat kita, bahwa hidup harus punya arti bagi manusia lainnya. Jadilah sahabat bagi mereka, sahabat yang mampu saling tolong-menolong dalam kebaikan dan kesabaran. Insya Allah hidup ini akan lebih bermakna dan Allah akan mempermudahkan kita dalam berdakwah (Amin).</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun sebagai manusia biasa yang nggak luput dari kesalahan, tapi jangan sampe jadi penghambat kita untuk terus berdakwah. Kita bisa bergaul dengan orang yang bisa saling mengingatkan dan menegur ketika kita salah. Kita nggak bakal berlama-lama dan yakin pasti nggak bakal betah dengan kesalahan. Justru kita akan segera bangkit dan kembali menelusuri jalan yang lurus (kalo bisa berlari, biar lebih cepet hehe). Jalan yang diridhoi Allah (jalan Allah dan RasulNya). Wah mantap toh, enak toh? Tunggu apalagi toh?</p>
<p style="text-align: justify;">Yuk. saatnya kita peduli terhadap agama kita. Kalo udah peduli sama agama sendiri pastinya peduli juga sama yang lainnya karena aturan Islam jelas mengatur segala aspek kehidupan. Kita bakal peduli antar sesama dan bahkan kepada makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam satu-satunya solusi dan wajib jadi perhatian dan kepedulian dalam hidup kita. Insya Allah akan memberikan ketenangan dan rasa percaya diri. Karena semua solusi, masalah-masalah dan peraturan hidup udah tercantum jelas dalam Islam dan tidak ada keraguan dalam al-Quran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang kita bisa stress sampe depresi dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan dan kurang percaya diri, mungkin mau minta tolong dan berdoa pun nggak PD (kalo begitu gimana mau berdakwah pada orang lain?)</p>
<p style="text-align: justify;">“Kok bisa begitu?” Ya, itu karena pemahaman Islamnya yang kurang dan ditambah lagi kelakuan serta tingkah laku yang tidak berdasarkan Islam atau belum melihat segala sesuatunya dari sudut pandang Islam. Nah jadi teramat penting dan wajib untuk terus belajar Islam dan dakwah agar tumbuh kepedulian kita terhadap sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun nggak salah (loh? Berarti bener dong) setiap dakwah yang kita lakukan pasti ada rintangannya, tapi kita nggak perlu takut, mundur terus tersungkur deh (hehe). Ayo maju terus kawan! Karena tantangan itu wajar dan juga ujian buat kita yang harus ditaklukan. Allah Maha Mengetahui atas apa-apa yang kita perjuangkan di jalanNya. Surga adalah janji Allah Swt.. Jadi, nggak ada tuh kata sia-sia dalam berdakwah di jalan Allah. Apalagi dilakukan saat sekarang ini (bulan Ramadhan) pahalanya berlipat-lipat ganda pastinya (huhuy!). Ayo buktikan pedulimu terhadap sesama dengan cara berdakwah untuk mengingatkan mereka akan keagungan Islam. Ya, semoga saja banyak kaum muslimin yang makin bangga dengan agamanya. Siap untuk buktikan pedulimu? Yes! <strong>[husni samsi: samsi_hn@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/buktikan-pedulimu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merdeka yang Sesungguhnya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/merdeka-yang-sesungguhnya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/merdeka-yang-sesungguhnya#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 23:39:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka. penjajahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2665</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 095/tahun ke-2 (26 Sya’ban 1430 H/17 Agustus 2009)
 
 
Jadwal kerja gue yang padet akhir-akhir ini bikin gue sulit ngelakuin kegiatan-kegiatan lain. Apalagi kemaren-kemaren gue sempet terserang pegal-linu akhirnya coba-coba mampir dulu deh ke toko jamu beli jamu pegel-linu. Tapi deadline tanggal 16 ini harus gue selesein secepatnya supaya nggak ada tanggungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 095/tahun ke-2 (26 Sya’ban 1430 H/17 Agustus 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadwal kerja gue yang padet akhir-akhir ini bikin gue sulit ngelakuin kegiatan-kegiatan lain. Apalagi kemaren-kemaren gue sempet terserang pegal-linu akhirnya coba-coba mampir dulu deh ke toko jamu beli jamu pegel-linu. Tapi deadline tanggal 16 ini harus gue selesein secepatnya supaya nggak ada tanggungan lagi. Untungnya tadi ada temen yang bersedia meminjamkan laptopnya selama 1 hari setidaknya gue tertolong lah buat nyelesein tugas ini. Kan enak tuh malem hari ngetik di beranda kontrakan sambil nungguin air mendidih buat nyeduh kopi yang selalu siap menemani. Oh ya gue baru inget bahwa Senin ini adalah tanggal 17 Agustus katanya sih peringatan hari kemerdekaan.</p>
<p style="text-align: justify;">BTW,  elo tahu nggak udah puluhan tahun lho klaim Indonesia ini sudah merdeka sampe temen gue pun yah sebut saja begeng  (bukan nama sebenarnya), waktu gue tanya Indonesia merdeka udah berapa tahun eh dia menjawab “lupa”. Nah lho begeng aja udah lupa berarti udah lama dong atau dia belum ngerasain kemerdekaan yang digembar-gemborkan itu. Hehehe&#8230;<span id="more-2665"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Arti kemerdekaan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Merdeka menurut bahasa adalah bebas. <em>So</em> buat elo yang belum bebas alias masih ngerasa dijajah berarti elo belum merdeka sepenuhnya ok? Setuju nggak? Nah elo tahu nggak sumber penjajahan itu dari mana mengapa seorang manusia bisa atau tega menjajah manusia yang lain. Biang keladi semua itu adalah hawa nafsu manusia yang tak terkontrol dan tak pernah habis. Apabila semua manusia bisa mengontrol hawa nafsunya mungkin penjajahan nggak akan ada di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, tentunya harus ada peraturan juga dong untuk mengontrol hawa nafsu manusia yang liar Oya, peraturan yang gue maksud di sini bukanlah peraturan yang dibuat oleh manusia karena peraturan yang dibuat manusia itu nggak menjamin suci dari hawa nafsu dan penjajahan. Contohnya demokrasi yang ada sekarang ini adalah satu contoh penjajahan juga tuh karena dalam demokrasi itu jumlah yang banyak menjajah jumlah yang sedikit jadi kita nggak bisa berharap keadilan dan kemerdekaan dari sebuah demokrasi. Kalo kata Mang Jorge Luis Borges seorang sastrawan Argentina, demokrasi adalah sebuah penyalahgunaan statistik. Yup, ada benarnya juga kata si doi demokrasi itu nggak peduli mana yang benar mana yang salah semua diambil berdasarkan voting padahal dalam al-Quran sendiri dengan jelas tercantum.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. Berfirman (yang artinya): <em>“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). </em><strong>( QS al-An’am [6]: 116)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi apakah ini yang disebut merdeka? Nggak dong merdeka yang sesungguhnya adalah ketika kita sudah nggak dijajah hawa nafsu. Gue nguping dari guru ngaji gue, bahwa Rasulullah saw. bersabda “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” Hmm.. gue seneng dapat info kayak gini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, nyeruput kopi dulu! Pletak!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Negara kita belum merdeka, Bung!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Negara yang merdeka adalah negara yang benar-benar berdikari mampu menangani segala persoalan dalam dan luar negeri dan rakyatnya merasa aman dan tenteram. Terus gue mau nanya neh ke elo semua Bro, tapi jawab yang jujur ya? Apakah elo semua ngerasa aman ketika negara lain turut campur dalam kepentingan negara ini mulai dari soal ketahanan negara, ekonomi, dan masalah-masalah lainnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya nih aset-aset negara yang penting seperti tambang emas dan minyak pun dikuasai oleh orang asing inilah yang membuat rakyat Indonesia masih banyak yang sengsara kalo menurut istilah yang diajarkan oleh guru gue waktu SD tuh seperti tikus yang mati di lumbung padi. Nah begitulah keadaan negara ini. Padahal kalo dalam Islam Rasulullah saw. bersabda, <em>”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Harga (menjual-belikannya) adalah haram” </em><strong>(HR Abu Dawud)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi air (laut, sungai, danau, dll), padang rumput (hutan), dan api (bahan bakar minyak, batu bara, gas, listrik, dan sumber energi lainnya) merupakan milik bersama. Karenanya, termasuk dalam pemilikan umum dan ridak boleh dikuasai secara pribadi, atau bahasa kerennya tidak boleh “diprivatisasi” sampai tambang garam pun pernah diambil kembali lho oleh Rasulullah karena menyangkut kepentingan umat</p>
<p style="text-align: justify;">Pokoknya sekarang ini nggak ada deh kepentingan yang berpihak pada rakyat semuanya dikapitalisasi bahkan sampe tenaga buruh pun dengan adanya <em>outsourcing</em> bisa dijadikan penghasilan atau pemerasan. Misalnya dengan adanya <em>outsourcing</em> otomatis para pemilik perusahaan bisa lepas tanggung jawab dari para buruh. Ah, udah mah jadi buruh, dipotong gajinya sama <em>outsourcing</em> (apalagi kalo dipotongnya 50 sampe 75 persen ya) hehehe bisa bangkrut tuh buruh diperes terus, ditelantarkan pula kalo udah tua tanpa dapet uang pesangon. Wah lengkap sudah deh penderitaan rakyat padahal kan katanya ekonomi kerakyatan tapi kok berpihaknya ke kapitalisme. Jadi ada yang salah tuh dengan sistem yang kita anut. Iya kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk hal ekonomi malah bank-bank di Indonesia pun masih menggunakan sistem riba yaitu sebuah transaksi yang dicirikan dengan suatu pernyataan ’Beri saya hutang dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya). Padahal selain sistem riba itu dilarang oleh Islam, sistem ini juga nggak kenal belas kasihan. Ya iyalah namanya orang yang berhutang itu kan adalah orang kesusahan bukannya ditolong dengan ikhlas malah dimakan juga. Ca’ur banget kan? Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” </em><strong>(QS Ali Imran [3]: 130)</strong><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Juga dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman (yang artiya): <em>“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). </em><strong>(QS al-Baqarah [2]: 275-281)</strong><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, serem kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sistem pendidikan pun Islam telah mengaturnya karena untuk mewujudkan SDM yang baik dibutuhkan pendidikan yang baik juga bahkan khalifah umar bin khatab pun pernah memberikan gaji kepada guru TK sebesar 15 dinar emas (1 dinar emas setara  dengan 4,25 gram emas). Nah, elo itung sendiri dah berapa duit tuh?</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, karena begitu pentingnya pendidikan maka pendidikan pun digratiskan nggak ada anak yang putus sekolah karena kesulitan biaya atau kalau misalkan pendidikan benar-benar terpenuhi maka nggak mungkin kan negara ini menjadi negara yang mempunyai SDM dengan peringkat di bawah 100.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah ruginya jika kita tidak melaksanakan Islam secara keseluruhan. Saat ini, yang terjadi adalah berlomba-lomba mencari kekayaan dengan jalan apapun nggak peduli keadaan orang sekitar. Nama kerennya sih hedonisme. Elo bisa bayangin kan kalo misalkan semua orang pada begini otomatis deh generasi kita dan generasi seterusnya akan menjadi lebih bobrok.</p>
<p style="text-align: justify;">Udah keliatan kan contohnya sekarang-sekarang ini karena kurangnya pendidikan agama banyak tuh pemuda-pemudi yang makin kacau aja kehidupannya. Mereksa terjerumus dalam free sex, ngedugem, narkoba, doyan miras, tindak kriminal seperti tawuran, dan budaya-budaya negatif dari luar pun lebih mudah untuk masuk dan menjadi bagian dari kehidupan anak muda sekarang ini. Contohnya makin banyak para pemudi yang menanggalkan jilbab dan kerudungnya dengan alasan udah nggak jaman atau ngikutin tren para aktris Hollywood gitu lah, tapi tetep aja makannya masih tempe. Hahaha.. mungkin cuma tempe aja yang asli Indonesia dan masih bisa bertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus nih, yang bikin gue geleng-geleng kepala anehnya ada juga sesuatu yang dilabeli Islam tapi amat jauh dari nilai-nilai keislaman seperti penayangan “film religi” tapi masih ada juga adegan yang nggak banget deh seperti berpegangan tangan dan lain-lain. Katanya film religi tapi kok gitu yah? Ah, namanya juga sekadar label kok!</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bukti yang kentara banget, bahwa kita belum merdeka. Karena masih dijajah oleh budaya dari luar. Sebab, hakikat kemerdekaan itu, adalah terbebasnya dari penghambaan terhadap hawa nafsu. Terbebasnya dari ikatan dengan aturan selain Islam. Kita hanya menyerahkan diri kepada Allah Swt. saja. Bukan kepada yang lain. Maka sistem hukum yang wajib diikutin adalah sistem Islam. Bukan sistem yang lain seperti demokrasi, kapitalisme, nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, termasuk turunannya sekularisme yakni permisifisme, hedonisme dan sejenisnya (lha, banyak banget ya?)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Solusinya neh!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah solusi dari kekacauan ini adalah dengan menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ingat nih Bbro en Sis. Islam itu bukan sekadar agama ritual saja. Islam tuh adalah agama yang paling lengkap. Semua peraturan untuk kemaslahatan manusia ada semua di situ dan udah tercantum dalam satu kitab yang bernama al-Quran. Al-Quran adalah kalamullah, yakni ucapan Allah Swt yang telah menciptakan manusia dan otomatis Dialah yang paling mengerti akan kebutuhan manusia. Catet ya!</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, sebagai generasi muda elo jangan malu untuk mengkaji Islam dan jadilah insan yang bertakwa. Jadi kalo suatu saat ada yang bilang syariat Islam tidak pas untuk diterapkan di negara ini elo nggak langsung percaya gitu aja. Emangnya siapa sih yang paling mengerti manusia dia atau Allah Swt.?</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. berfirman (yang artinya):<em> “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Quran, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimatNya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” </em><strong>(QS al-An’am [6]: 114-115)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dijamin deh kalo negara ini bener-bener mengikuti aturan dari Allah pasti elo semua (dan kita semua) nggak akan ngerasain penjajahan dalam bentuk apapun. Kalo sekarang? Hmm.. secara fisik di negeri ini nggak ada penjajahan. Tapi secara ekonomi, politik, budaya, pendidikan, hukum, sosial kita masih terjajah oleh aturan selain Islam. <em>So</em>, kalo pengen merdeka, campakkan sistem selain Islam dan nggak usah dijadikan aturan hidup kita lagi. Ya, cuma Islam yang bisa menjadikan kehidupan ini lebih baik. Jadikan Islam sebagai jalan hidup kita semua, dalam aktivitas individu, bermasyarakat dan bernegara. Itu semua bakalan bikin kita makin yakin dan bangga deh dengan keislaman kita, sehingga berani teriak lantang: MERDEKA! <strong>[ikrar: ikrarestart@gmail.com]</strong></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">ikrarestart@gmail.com</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/merdeka-yang-sesungguhnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Militan dan Teroris</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/antara-militan-dan-teroris</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/antara-militan-dan-teroris#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 12:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[militan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2650</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 094/tahun ke-2 (19 Sya’ban 1430 H/10 Agustus 2009)
 
Televisi pada tanggal 7-8 Agustus 2009 udah menayangkan ‘reality show’ paling heboh, yakni perburuan teroris di Temanggung. Meski banyak pihak yang meragukan apakah korban tewas adalah orang yang selama ini dicari, yakni Noordin M Top. Susah juga mengklarifikasi dan memverifikasi berita seperti itu. Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 094/tahun ke-2 (19 Sya’ban 1430 H/10 Agustus 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Televisi pada tanggal 7-8 Agustus 2009 udah menayangkan ‘reality show’ paling heboh, yakni perburuan teroris di Temanggung. Meski banyak pihak yang meragukan apakah korban tewas adalah orang yang selama ini dicari, yakni Noordin M Top. Susah juga mengklarifikasi dan memverifikasi berita seperti itu. Karena nampaknya banyak wartawan yang akhirnya hanya percaya pada satu sumber, yakni pihak kepolisian. Padahal, selama ini pertanyaan lain juga masih banyak yang belum terjawab soal terorisme ini. Ah, makin kentara deh skenario opini yang tengah dibangun saat ini, yakni menggiring masyarakat bahwa terorisme ada bubungannya dengan Islam, dengan ustad, dengan pesantren, dan sejenisnya. Kacau banget tuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kita mungkin nggak terlalu peduli apakah yang jadi korban adalah beneran orang yang selama ini cari, dan dituduh sebagai teroris, atau orang yang lain. Susah juga konfirmasinya, wong korbannya udah jadi mayat. Tapi yang harus kita perhatikan adalah banyaknya opini yang menyebutkan bahwa para teroris itu adalah orang-orang dari Islam garis keras. Lha, kirain minuman doang yang pake embel-embel keras, ternyata ada juga ya orang yang bilang Islam garis keras. Menurut mereka, pemahaman Islam yang radikal-fundamentalis-militan inilah yang membuat banyak keonaran. Halah, mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Amerika dan Israel adalah contoh nyata terorisme yang dilakukan oleh negara. Jelas, kedua negara ini sudah mempertontonkan kebiadaban. Jadi, sebenarnya yang layak disebut teoris adalah Amerika, Israel dan para begundalnya yang mendukung aksi kedua negara tersebut. Bukan Islam dan kaum muslimin. Iya nggak sih?<span id="more-2650"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Militan itu…</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo kamu mau rajin baca-baca buku or <em>surfing</em> di internet nyari istilah tentang militan, insya Allah bisa kamu dapatkan datanya. Enak kan bisa tambah wawasan? Selain itu, kamu jadi lebih bijak memandang persoalan, utamanya dalam menyikapi istilah militan ini. Istilah militan dipahami oleh sebagian orang sebagai sikap yang selalu berhubungan dengan kekerasan, selalu berhubungan dengan kengototan, dan berkaitan dengan sikap selalu pengen menang sendiri. Tambahannya, orang yang militan nyaris selalu identik dengan kesan garang. Halah, padahal tak selamanya cap itu benar, Bro. Sebab, dalam kondisi tertentu, ternyata kita kudu punya semangat dan memiliki gairah dalam belajar dan bekerja. Itu juga bisa disebut militan. Nah, lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh, jika kamu baca <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, bakalan menemukan definisi militan. Di situ disebutkan bahwa militan adalah bersemangat tinggi, penuh gairah, dan berhaluan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo pengen lebih mantep, ada definisi dari kamus lainnya. Misalnya dalam <em>MiriamWebster Dictionary</em> tertulis, bahwa istilah ini termasuk kata sifat dan kosakata ini dimasukkan ke dalam kamus pertama kali pada abad ke-15. Dalam kamus ini, militan didefinisikan sebagai, <em>“engaged in warfare or combat”</em> (disibukkan dalam peperangan atau pertempuran). Dalam kamus ini juga disebutkan militan adalah menunjukkan sikap yang agresif dan aktif banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal serupa dijelaskan pula dalam <em>Cambrige International Dictionary</em>, istilah militan sebagai kata sifat didefinisikan sebagai, <em>“active, determined and often willing to use force”</em> (aktif, tekun, dan acapkali sudi untuk menggunakan kekuatannya).</p>
<p style="text-align: justify;">Militan sebagai kata sifat juga didefinisikan dengan berjuang atau berperang. Arti lainnya, memiliki karakter bertempur, agresif, khususnya dalam menghadapi (suatu) perkara. Militan sebagai kata benda, didefinisikan sebagai perjuangan, pertempuran, atau agresivitas; baik individu ataupun partai (<em>The American Heritage® Dictionary of the English Language, Fourth Edition. Published by Houghton Mifflin Company.)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan, militan juga didefinisikan sebagai “self-assertive” (ketegasan diri) dan memiliki semangat yang tak pernah henti, seolah ada di mana-mana. (<em>WordNet ® 1.6, © 1997 Princeton University)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari semua definisi yang disebutkan tadi tentunya kamu udah mulai paham. Seterusnya, tentu bisa membedakan, mana yang pantas dan tidak pantas dalam hidup ini. Mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, istilah militan ini bisa diterapkan dalam kasus yang baik-baik. Sebab, militan lebih identik dengan individu atau kelompok yang selalu bergairah, tekun, gigih, punya semangat tinggi, pantang menyerah, tidak mudah untuk putus asa meski banyak rintangan dan hambatan. Bahkan acapkali, rintangan yang ada di hadapannya dianggap sebagai tantangan. Untuk sikap-sikap seperti itu, tentunya juga berlaku umum alias untuk siapa saja dan dari kalangan mana pun; bisa seorang pekerja, seorang pendidik, seorang tentara, pelajar, atau profesi lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya saja, saat ini istilah militan makin menyempit. Terbukti, saat ini istilah militan ‘cuma’ ditujukan dan selalu identik dengan orang atau kelompok yang kadang diberi label ‘garis keras’. Ini yang kemudian menempatakan istilah ini tidak pada tempat yang semestinya. Bahkan cenderung dibumbui sinisme kepada individu atau kelompok tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ambil contoh kasus penyerangan WTC 8 tahun lalu (11 September 2001), Bush langsung menguber kelompok al-Qaida—apa yang disebutnya sebagai militan garis keras, yang dituduhnya sebagai dalang teror terhadap menara kembar itu. Di Indonesia, kasus Bom Bali I (Oktober 2000) hingga Bom di JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli  2009 juga dihubungkan dengan aktivitas kelompok Islam garis keras, kelompok Islam militan, yang didalangi Noordin M Top. Wah, wah, wah benar-benar <em>trial by press</em> alias penghakiman oleh media massa tertentu terhadap Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Akibatnya, opini yang terbangun menjadi tidak berimbang, alias njomplang. Walhasil, masyarakat jadi alergi dengan istilah militan. Ya, lain di kamus lain pula dalam pandangan masyarakat. Celakanya, istilah militan dalam pandangan masyarakat yang nampaknya lebih mendominasi pengertian istilah ini. Gawat memang!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Meluruskan pemahaman masyarakat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kadang masyarakat memang kejam. Meski tidak memiliki aturan secara tertulis, tapi tajamnya kecaman bisa berdampak buruk. Remaja militan, dalam kondisi masyarakat yang seperti sekarang ini, seperti sebuah kanker ganas yang harus segera disingkirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah pengalaman pernah saya alami. Waktu itu pernah ikut membina teman-teman remaja dalam mengelola organisasi remaja masjid. Saat organisasi itu tumbuh dan semarak dengan berbagai kegiatan; seminar, pengajian, baca al-Quran dan lainnya, anehnya banyak tanggapan miring yang dialamatkan kepada teman-teman remaja masjid. Padahal, sejak maraknya masjid oleh berbagai kegiatan keislaman, banyak remaja berkumpul di masjid. Masjid menjadi lebih berarti. Hanya saja, gara-gara bentuk kegiatan dan pemahaman yang menurut pihak DKM sedikit berbeda dengan yang dipahami selama ini oleh mereka, akhirnya teman-teman remaja langsung dicurigai.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini memang aneh, padahal jika ‘perbedaan’ yang menjadi masalah, kan bisa ditempuh dengan jalur dialog. Tul nggak? Nah, yang terjadi justru sebaliknya. Main berangus aja. Secara sepihak lagi. Waduh. Alasannya, aktivitas itu katanya menganggu ketentraman warga. Glodaks! Apa nggak salah? Justru banyak juga warga masyarakat yang seneng dengan maraknya kegiatan tersebut, lho. Pertanyaannya, apakah karena sedikit perbedaan lalu mengambil jalur keras; diancam dan diberangus? <em>Mbok ya</em> kalo berbeda, misalnya, kan bisa ditegur, bisa diajak dialog. Dan teman remaja diminta untuk menjelaskan tentang pendapatnya itu. Insya Allah bisa dicari titik temu. Sayang, ‘penyakit’ status quo seringkali mengalahkan akal sehat. Akibatnya, bukan saja tamat riwayat organisasi remaja itu,  tapi sekaligus memadamkan semangat dan kreativitas remaja masjidnya. Kasihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan masyarakat seperti ini jelas merugikan perjuangan Islam. Bahkan memadamkan semangat yang mulai menyala dalam dada setiap remaja Islam. Padahal, gampang-gampang susah menumbuhkan rasa cinta kepada Islam di kalangan remaja. Eh, yang baru tumbuh malah dibabat. Apa nggak kejam tuh? Anehnya lagi, dalam waktu yang bersamaan, masyarakat seringkali menutup mata, atau tepatnya cuek dengan maraknya remaja yang gaul bebas, seks bebas, pacaran, mengumbar aurat, kejerat narkoba, bahkan yang doyan berantem antar temannya. Untuk semua itu, nggak ada kampanye dalam rangka menyadarkan mereka. Sebaliknya, ya itu tadi, dibiarkan. Pokoknya, dipandang sebelah mata deh. Ah, <em>masak</em> beraninya kepada yang benar? <em>Masak</em> kepada yang nakal takut? Tapi inilah faktanya, sobat. Aneh bin ajaib memang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya, kenapa masyarakat bisa seperti itu? Nah, ini yang kudu kamu tahu, sobat. Sebab, nggak mungkin dong orang <em>ujug-ujug</em> benci kalo nggak ada alasan yang menurut mereka ‘wajib’ dibenci. Orang yang cinta saja kudu ada alasannya, kenapa ia mencintai. Tul nggak?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalo ditelusuri ternyata masyarakat kita mengidap sejenis penyakit <em>Islamophobia</em>, alias ketakutan terhadap Islam. Ambil contoh, ada anak puteri yang ‘cuma’ pakai kerudung ke sekolah aja dicurigai. Lucunya, banyak prasangka yang nggak-nggak di kalangan guru sendiri. Dibilangin ikut aliran ini dan itu. Kalo kebetulan kegiatan remaja masjid sekolah di sekolah umum marak, mereka mulai dimata-matai. Bahkan pihak sekolah nggak segen untuk menghentikan, dengan alasan, ini bukan sekolah agama. Konon kabarnya nggak rela kalo di sekolah umum justru yang maraknya adalah kegiatan keagamaan, khususnya Islam. Walah?</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, apa nggak kesel bin gondok digituin? Padahal, yang kita lakuin itu adalah sebagai wujud kecintaan kita kepada Islam. Kita bangga dong bisa menjadikan Islam sebagai identitas kita. Kita ingin menyampaikan pesan bahwa kita remaja muslim. Teman remaja puteri rapi berkerudung dan berjilbab, justru karena ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya adalah seorang muslimah yang berusaha untuk menjalankan satu kewajiban dalam ajaran agamanya. Teman remaja putera yang aktif di kegiatan remaja masjid, pakai baju koko lengkap dengan pecinya, justru secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan, bahwa kamilah pemuda muslim. ‘Simbol-simbol’ yang dikenakan dan perbuatan yang dilakukan muncul akibat panasnya semangat yang menggelora dalam dada. Mereka, setidaknya ingin menunjukkan; inilah kami, remaja muslim yang mencintai Islam sepenuh hati. Apa itu salah?</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus “Bom Bali hingga JW Marriott plus Ritz Carlton”, dengan tuduhan dialamatkan kepada para aktivis Islam sebagai pelakunya, kian memberikan stigma (noda) dan mengukuhkan semua prasangka yang telah ada. Nyaris semua orang mengarahkan telunjuknya; bahwa Islam itu kejam, bahwa kaum muslimin kalangan tertentu (khususnya yang taat beragama) itu teroris, bahwa orang yang terlibat dalam aktivitas keislaman perlu dicurigai. Celaka dua belas!</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo dipikir-pikir memang aneh juga. Kenapa orang musti takut dengan Islam? Kenapa orang musti gerah dengan maraknya aktivitas keislaman? Kenapa masyarakat musti curiga dengan simbol pengamalan ajaran agama (jilbab, baju koko, dan jenggot)?</p>
<p style="text-align: justify;">Apa ada yang aneh dengan Islam? Apa ada yang salah dengan mereka yang mau mengamalkan ajaran Islam, meski cuma sebatas berkerudung dan berjilbab? Mengapa harus murka dengan maraknya aktivitas pengajian di sekolah dan di masjid? Sungguh aneh tapi nyata. Tapi itulah yang banyak terjadi. Menyedihkan banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur saja, sikap kebanyakan masyarakat seperti ini bikin nggak nyaman buat mereka yang mau merasakan nikmatnya beragama. Pandangan miring dan curiga terhadap remaja-remaja yang bergairah (baca: militan) dalam agamanya itu adalah sikap kontraproduktif. Nggak baik untuk dipelihara.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang sih, nggak semua masyarakat berpandangan miring terhadap remaja militan. Tapi sayangnya, jumlah pendukungnya kalah banyak ketimbang mereka yang menjadi penentangnya. Jadinya ya, opininya kalah. Kalah abis. Akibatnya, yang banyak diekspos adalah yang menentangnya. Sehingga posisi teman remaja yang bergairah dalam mengamalkan ajaran Islam ini makin terpojok. Digempur dari sana-sini, dicurigai aktivitasnya bak sebuah aib nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmm… beginilah hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak islami. Masyarakat yang justru meyakini <em>permisivisme</em> (bebas nilai) sebagai jalan hidup. Sejatinya, mereka sebetulnya nggak mau diusik dalam kebebasan gaya hidupnya oleh mereka yang ingin menyegarkan kembali pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan ini. Mereka jadi menuduh remaja militan dan orang-orang Islam yang semangat beragama sebagai musuh. Ah, mau ditolong jadi baik dengan ajaran Islam, kok nggak mau? Apakah karena mereka masih setia berselingkuh dengan sistem demokrasi-kapitalisme-sekularisme? Kamu bisa jawab sendiri deh. Yang pasti nih, please deh, bedakan antara militansi dengan terorisme. Kalo mau sepakat, kita bisa arahkan telunjuk rame-rame ke pemerintah Amerika dan Israel serta antek-anteknya yang mengamini kebiadaban mereka, karena merekalah biang aksi terorisme selama ini! Gimana? <strong>[osolihin: http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/antara-militan-dan-teroris/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas, Jangan Jadi Musyrik!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/awas-jangan-jadi-musyrik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/awas-jangan-jadi-musyrik#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 01:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2616</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 093/tahun ke-2 (12 Sya’ban 1430 H/3 Agustus 2009)
 
Bro and Sis, salah satu yang bisa membatalkan keislaman kita adalah ketika kita dengan sungguh-sungguh menyekutukan Allah Swt. dengan yang lain alias menduakanNya dengan sesuatu yang lain. Padahal, Allah Swt. udah jelas banget ngasih wanti-wanti kepada kita dalam firmanNya: “Tidak Aku ciptakan jin dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 093/tahun ke-2 (12 Sya’ban 1430 H/3 Agustus 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro and Sis, salah satu yang bisa membatalkan keislaman kita adalah ketika kita dengan sungguh-sungguh menyekutukan Allah Swt. dengan yang lain alias menduakanNya dengan sesuatu yang lain. Padahal, Allah Swt. udah jelas banget ngasih wanti-wanti kepada kita dalam firmanNya: <em>“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaKu.” </em><strong>(QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Oya, makna ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah Ta’ala dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. Inilah hakikat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepadaNya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta. Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata; dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw.<span id="more-2616"></span><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat lain Allah Swt. juga menyampaikan penjelasanNya:<em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut’.” </em><strong>(QS  an-Nahl [16]: 36 )</strong></p>
<p style="text-align: justify;">BTW, kamu tahu istilah thoghut kan? Yup, thoghut ialah setiap yang diagungkan-selain Allah&#8211;dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, percaya kepada Allah Swt. bukanlah sekadar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan pula sekadar tahu bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan)Nya, dan wahdaniyah (keesaan)Nya, dan bukan pula sekadar mengenal Asma’ dan SifatNya aja. Nggak sesederhana itu. Sebab, kalo ini yang dimaksud, kayaknya sejak SD juga, atau sekarang bahkan anak TK udah diajarin dan banyak juga yang tahu soal ini. Nggak cuma itu, lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagian nih, iblis aja mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah; bahkan mengakui keesaan dan kemahakuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’ dan SifatNya. Sebagaimana yang dijelasin dalam al-Quran tentang pengakuan iblis kepada Allah Swt.: <em>“Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya’,” </em><strong>(QS Shaad [38]: 82)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Walah, udah tahu Allah Mahakuasa, kok iblis nekat benar ya untuk menyesatkan manusia? Itu sih namanya nantangin. Ngeyel bener tuh iblis. <em>So</em>, jangan mau jadi temennya iblis deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus nih, kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah saw. juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. Allah Swt. menjelaskan: <em>“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: &#8220;Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?&#8221; Tentu mereka akan menjawab : &#8220;Allah&#8221;. Katakanlah: &#8220;Segala puji bagi Allah&#8221;; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” </em><strong>(QS Luqman [31]: 25)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo cuma sekadar ngaku-ngaku emang gampang. Lidah kan nggak bertulang. Jadi bisa bersilat lidah ngomong apa aja termasuk berdusta dan mendustakan ayat-ayat Allah Swt. <em>Naudzubillahi min dzalik</em>. Itu sebabnya, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, maka jangan heran dong kalo kemudian muncul pertanyaan begini: “Apakah hakikat tauhid itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Yup, sekadar ngingetin aja bahwa tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya. Wah, hebat sekali tuh (jika memang bisa demikian).</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. Allah Swt. berfirman: <em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu&#8221;, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”</em> <strong>(QS an-Nahl [16]: 36)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Juga dalam ayat lain Allah Swt. menerangkan: <em>“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.”</em> <strong>(QS al-Anbiyaa [21]: 25)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tuh, udah jelas banget kalo Allah Swt. meminta manusia untuk beribadah hanya kepadaNya. Nggak boleh beribadah atas nama ilah atau Tuhan yang lain, termasuk nggak boleh menjadikan hawa nafsu kita sebagai Tuhan. Wah, nggak banget deh!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Allah ‘cemburu’</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo Astrid pernah dengan bangga dan bersuka-ria menyanyi <em>Jadikan Aku yang Kedua</em>, nggak banget dengan Allah Swt. Selain memang beda karena Allah Swt. adalah Khaliq alias Pencipta, sementara Astrid dan kita semua adalah makhlukNya. Jelas beda dong. Meski demikian, sebenarnya jarang juga ada manusia yang mau diduakan perhatiannya, termasuk diduakan cintanya. Hehehe&#8230; manusia juga sebenarnya bisa cemburu lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, ngomongin tentang Allah Swt. yang ‘cemburu’ maksudnya adalah Allah Swt. nggak rela kalo manusia menyembah sesama makhluk ciptaanNya. Itu aja sih. Lagian wajar dan pantas banget kalo kita sebagai makhlukNya menyembah Allah Swt. Tul nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang tetangga pernah bilang kalo anaknya itu penurut, rajin, cinta dan berbakti kepada ortunya sepenuh hati. Sang tetangga tersebut karuan aja seneng bukan kepalang. Karena memang nikmat banget dicintai, dihargai, dan dihormati itu. Iya nggak?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, apalagi Allah. Kalo ortu kita bisa cemburu gara-gara kita lebih percaya dan mengikuti pendapat orang lain, Allah tentunya lebih ‘cemburu’ lagi kalo kita nggak mau mengamalkan syariatNya. Rasulullah saw. bersabda: <em>“Wahai umat Muhammad. Demi Allah saat hamba laki-laki berzina, dan saat hamba perempuan berzina, tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah…”</em> <strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kisah yang sering kita dengar dan baca, Nabi Ibrahim begitu mencintai putranya. Luapan cinta yang tak tertahankan kepada putranya yang setelah puluhan tahun didambakannya. Ismail menjadi muara kehidupan bagi Nabi Ibrahim. Namun, Allah menguji cintanya dengan menurunkan perintah untuk mengurbankan anaknya. Aduh, orang tua mana yang hatinya nggak remuk kalo perintahnya seperti ini. Tapi, Nabi Ibrahim berhasil lulus ujian tersebut. Terbukti ia lebih mencintai Allah dengan menjalankan perintahNya ketimbang mencintai anak dan keluarganya. Nabi Ibrahim ikhlas melakukannya. <em>Subhanallah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Cinta kepada Allah itu mutlak, tiada sekutu bagiNya. FirmanNya: <em>“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia”</em> <strong>(QS ali Imran [3]: 18)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan Allah memberi cap kafir kepada orang-orang yang menolak untuk menyembahNya. Allah berfirman:<em>“Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” </em><strong>(QS Ali Imran [3]: 32)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro, menjadi kekasih itu butuh pengorbanan. Tentu, agar cinta yang kita berikan kepada kekasih kita bermakna. Itu sebabnya, mencintai Allah pun memerlukan pengorbanan. Seorang tokoh sufi bernama Bayazid Bustami mengatakan: <em>“Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang diperoleh kekasih, meskipun itu sedikit.”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jangan jadi musyrik!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang syirik alias menyekutukan Allah Swt. disebut musyrik. Contoh yang sederhana bisa kita jumpai lho dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pas mo bikin rumah, kita ngitung hari yang baik biar pembangunannya lancar. Primbon deh yang kita pake atau nanya ke ahli <em>Hongsui</em> untuk nentuin posisi rumah yang bisa aman ditempati dan banyak bikin hoki. Pas mo hajatan sunatan atau kawinan sampe bela-belain nanya ke orang pinter (baca: dukun) untuk nyari hari baik biar sunatan atawa kawinannya lancar dan mendatangkan untung yang banyak. Sobat, praktik kayak gitu tuh namanya udah syirik. Ati-ati deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, biar dalam masalah mempersekutukan Allah Swt. alias syirik ini jelas pembahasannya, saya sengaja memberikan sedikit tambahan wawasan kepada kamu semua tentang jenis syirik. Ternyata syirik tuh dibagi dua: syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar (<em>al-syirku al-akbar)</em> menurut as-Sa’adi dalam kitab <em>al-Qaulu al-sadid</em> diartikan: menjadikan bagi Allah sekutu <em>(niddan)</em> yang dia berdoa kepadanya seperti berdoa kepada Allah, takut, harap dan cinta kepadanya seperti kepada Allah Swt. atau melakukan suatu bentuk ibadah kepadanya seperti ibadah kepada Allah Swt. Syirik besar ada yang bersifat <em>dzahirun jaliyun</em> (tampak nyata) seperti menyembah berhala, matahari, bulan bintang, benda-benda tertentu atau mempertuhankan Isa al-Masih, dsb. Ada pula yang bersifat <em>bathinun khafiyun </em>(tersembunyi) seperti berdo’a kepada orang yang sudah meninggal, meminta pertolongan kepadanya, minta disembuhkan dari penyakit, dihindarkan dari bahaya, dsb. (MR Kurnia, <em>Mereformasi Diri dengan Tauhid</em>, hlm. 151-152)</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara syirik kecil <em>(al-Syirku al-Asghor) </em>mencakup semua perkataan dan perbuatan yang akan membawa seseorang kepada kemusyrikan selain syirik besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Syirik kecil bila terus menerus dilakukan bisa menjerumuskan pelakunya kepada syirik besar. Di antara perbuatan yang termasuk syirik kecil adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, bersumpah dengan selain Allah. Rasulullah saw. bersabda: <em>“Barang siapa yang bersumpah selain nama Allah dia telah kufur atau syirik.” </em><strong>(HR at-Tirmidzi)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, memakai jimat/isim atau sejenisnya kemudian ia meyakininya. Rasulullah saw. menyampaikan sabdanya: <em>“Barang siapa yang menggantung diri pada tangkal maka Allah tidak akan menyempurnakan (imannya) dan barang siapa yang menggantungkan diri kepada azimat maka Allah tidak akan mempercayakan kepadanya.” </em><strong>(HR Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda: <em>“Bahwasannya Rasulullah pernah melihat seseorang memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya: ’Apakah ini?’, ‘Penolak lemah’, jawab orang itu. Maka Nabi berkata: ‘Lepaskanlah, karena dia hanya akan menambah penyakit dan kalau kamu mati dengan gelang itu masih melekat di tubuhmu, niscaya kamu tidak akan bahagia selama-lamanya (masuk neraka).” </em><strong>(HR Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. juga bersabda: “Sesungguhnya mantra, azimat dan guna-guna itu adalah perbuatan syirik.” <strong>(HR Ibnu Hibban)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>,<strong> </strong>sihir. Rasulullah saw. menyampaikan sabdanya<em>: “Barang siapa yang membuat satu simpul kemudian dia meniupinya maka sungguh ia telah menyihir. Barang siapa menyihir, sungguh ia telah berbuat syirik.”</em><strong> (HR Nasai)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>, astrologi/ramalan. Percaya ama ramalan bintang atau zodiak? Ih, nggak boleh banget tuh. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda: <em>“Barang siapa yang mempelajari salah satu cabang dari perbintangan maka dia telah mempelajari sihir.”<strong> </strong></em><strong>(HR Abu Dawud)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. juga bersabda: <em>“Allah telah menciptakan bintang ini untuk tiga keperluan, yakni hiasan langit, pelempar setan dan tanda-tanda untuk penunjuk arah. Barang siapa mentakwilkan bintang-bintang itu di luar ketiga hal itu maka ia telah melakukan kesalahan, berbuat sia-sia dan telah menyia-nyiakan nasibnya serta memaksakan dirinya pada sesuatu tanpa dasar ilmu pengetahuan.”</em> <strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kelima</span>, riya’. Ini lawannya ikhlas, Bro. Jadi, melakukan sesuatu bukan karena Allah, tapi karena ingin dipuji manusia atau karena pamrih lainnya. Rasulullah saw. bersabda: <em>“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti terjadi pada kalian adalah al-Syirku al-Asghar (syirik kecil). Sahabat bertanya, apa syirik kecil itu, ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, Riya’.”</em><strong> (HR Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh sobat, semoga beberapa poin tadi bisa memberikan penjelasan. Meski singkat, tapi insya Allah bermanfaat. Oya, perlu diketahui juga dan wanti-wanti bahwa kita nggak boleh ngikutin tradisi nenek moyang jaman dulu. Misalnya nih, pas mo hajatan suka nyediain sesajen berupa kopi pahit, telur, dan sebagainya untuk orang yang udah meninggal (arwah nenek moyang) demi kelancaran hajatan yang bakalan digelar. Saya pernah tanya ke kerabat saya tentang kasus tersebut yang dia lakukan, eh dia malah menjawab: “Ya, kita sih cuma ngikutin tradisi ortu dan nenek moyang aja” Halah! Tuh jawaban nggak mutu banget. Kalo kayak gini, kayaknya perlu diminta baca ayat ini nih: <em>“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya’ Berkata Ibrahim: ‘Apakah berhala-hala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya), atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?’ Mereka menjawab: ‘(bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami telah berbuat demikian.”</em> <strong>(QS as-Syu’ara [26]: 69-74)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh sobat, kalo emang kita cinta sama Allah Swt. tentunya nggak bakalan menduakanNya dong alias nggak bakalan mempersekutukanNya dengan yang lain. Itu sebabnya, percuma aja ngebusa bilang ke siapa aja bahwa kamu cinta sama Allah Swt., tapi dalam kenyataannya kamu justru mempraktikkan syirik besar maupun kecil. Nggak banget deh. Oke? Keep istiqamah bersama Islam dan buktikan kalo kamu hanya mencintai dan hanya menyembah Allah Swt. <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/awas-jangan-jadi-musyrik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenal Islam, Sayang Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kenal-islam-sayang-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kenal-islam-sayang-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 03:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media Network]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2612</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 092/tahun ke-2 (5 Sya’ban 1430 H/27 Juli 2009)
 


Untuk mengenal sahabat kita lebih dekat lagi, maka perlu pengorbanan dari kita untuk berusaha mengenalinya lebih dalam lagi. Untuk kenal Islam lebih detil, diperlukan usaha kita untuk menumbuhkan keyakinan yang lebih dalam lagi tentang Islam. Supaya efeknya bisa kita rasakan dengan baik, yakni berupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 092/tahun ke-2 (5 Sya’ban 1430 H/27 Juli 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengenal sahabat kita lebih dekat lagi, maka perlu pengorbanan dari kita untuk berusaha mengenalinya lebih dalam lagi. Untuk kenal Islam lebih detil, diperlukan usaha kita untuk menumbuhkan keyakinan yang lebih dalam lagi tentang Islam. Supaya efeknya bisa kita rasakan dengan baik, yakni berupa rasa bangga menjadi muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata pepatah kan, “Tak kenal maka tak sayang.” Tak kenal banyak, maka tak sayang banget. Sebab, kayaknya ini seperti deret ukur. Kalo kita baru sampe mengukur di batas tertentu, maka sebatas itu pula rasa yang kita miliki. Nah, rasa-rasanya memang harus terus ditingkatkan biar lebih merasa yakin dan mantap. Makin banyak yang kita tahu dari Islam, maka akan makin kuat dan makin yakin kita dengan Islam. Tumbuh juga rasa percaya diri yang besar dalam kehidupan kita. Itu sebabnya, ketika ada orang yang udah melatih ilmu bela dirinya sedemikian rupa, maka akan tumbuh keyakinan bahwa dirinya bisa pantas untuk percaya diri karena udah berhasil menguasai banyak jurus olah kanuragan tersebut.<span id="more-2612"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jangan termakan gosip murahan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, gosip murahan tentang Islam bisa bikin semangat kita melempem kalo kita termakan provokasinya. Kayak apa sih gosip murahan tentang Islam? Hmm… mungkin kalo kamu sering diskusi dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda; budaya, politik, tingkat pendidikan, intelektualitasnya, niatnya dan lain sebagainya, akan timbul rasa bimbang tentang Islam karena seringkali diskusi itu menyebarkan gosip murahan yang sengaja disebarkan untuk melemahkan pemahaman kaum Muslimin dan akhirnya menjatuhkan semangat kaum Muslimin dalam memperjuangkan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti misalnya ada gosip (namanya juga gosip, pasti nggak benar. Seharusnya jangan percaya ya), bahwa Muhammad Rasulullah saw. adalah ‘tukang kawin’ dan merendahkan derajat wanita. Waduh, nih tuduhan dan gosip murahan banget dan udah sangat melecehkan. Kalo kita percaya gosip beginian, berarti kita lebih rendah lagi. Jangan percaya, Bro.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain ‘gosip murahan’ yang disebar untuk melemahkan kaum muslim, juga musuh-musuh Islam melakukan pengkaburan istilah. Misalnya provokasi yang disebar tentang definisi jihad. Kaum muslimin diminta untuk memahami jihad dalam arti bukan perang, tapi diarahkan kepada pengertian bahwa jihad adalah sungguh-sungguh dalam berusaha dan beramal. Nah, ini juga bakalan melemahkan semangat kita dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Padahal, kalo kita tahu ilmunya, nggak bakalan bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekadar tahu aja nih, secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, <em>Kamus Al-Muhîth</em>, kata <em>ja-ha-da)</em>. Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (an-Naysaburi, <em>Tafsîr an-Naysâbûrî</em>, XI/126).</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun dalam pengertian syar’i (syariat), para ahli fikih (<em>fuqaha</em>) mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut dengan jihad (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, <em>asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah</em>, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, <em>Hâsyiyah Ibn Abidin</em>, III/336).</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangin deh kalo jihad diartikan sekadar secara bahasa, kayaknya nggak bakalan ada upaya dari kaum Muslimin untuk melakukan jihad secara ofensif dalam rangka menyebarkan Islam. Padahal, Rasulullah saw. udah nyontohin dengan melakukan ekspedisi militer ke berbagai tempat. Para sahabat Rasulullah saw. juga melakukan hal yang sama, bahkan para penerus berikutnya seperti Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol dan menyebarkan dakwah Islam di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, media massa juga seringkali ngelakuin “penghakiman” terhadap Islam dan umat Islam dengan menghubung-hubungkan bahwa para bomber yang melakukan peledakan di Indonesia selama ini (termasuk yang baru-baru ini, 17 Juli 2009 yang meledak di JW Marriott dan Ritz Carlton), adalah orang-orang Islam dari kelompok tertentu. Halah, itu sih lagu lama yang diputer ulang. Kagak bosen apa ya orang-orang kok menuduh begitu rupa. Padahal, bukti-buktinya saja belum jelas. Ini memang ada targetnya, yakni melemahkan semangat seluruh kaum muslimin dalam mengamalkan ajaran Islam. Soalnya, di media massa sosok teroris itu digambarkan dari kalangan Islam, baik, dan taat beribadah. Hmm.. ini jelas labelisasi yang nggak bener.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, kalo kita udah kenal dengan Islam lebih banyak lagi, gosip murahan model gini pasti nggak mempan buat melemahkan pemahaman kita. Sebab, kita udah punya patokan. Intinya, jangan tergoda gosip atawa provokasi yang bakalan melemahkan keyakinan dan pemahaman kamu tentang Islam. Itu sebabnya, wajib mengenali Islam lebih dalam lagi. Jadi, belajar yang rajin bin getol ye.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ciptakan terus rasa penasaran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menciptakan rasa penasaran ini emang bagian dari upaya kita untuk bertanya dan bertanya dalam belajar kita. Kalo kita cukup puas dengan ilmu yang kita dapetin, kayaknya proses mengenali Islam jadi terhenti sampe di tempat kita mengenalnya. Nggak nerus. Padahal, belajar tuh harus terus dilakukan selama hayat masih dikandung badan. Itu sebabnya, resepnya adalah dengan senantiasa menumbuhkan rasa penasaran kita yang besar untuk mengenal Islam lebih dalam lagi. Nggak cuma puas berenang di permukaan, tapi rasanya kudu mulai mencoba menyelam. Karena sangat boleh jadi banyak banget informasi yang bisa kita jadikan sebagai wawasan kita dalam memahami dan mengamalkan Islam. Ujungnya, kita jadi bangga dong dengan kemusliman kita sendiri. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti halnya kita belajar naik sepeda, rasa penasaran kita yang besar untuk bisa naik sepeda, insya Allah akan membawa hasil berupa kelihaian kita mengendarai sepeda. Begitu pun rasa penasaran kita dalam mengkaji ilmu, maka ilmu itu akan kita pelajari dengan seksama dan penuh semangat, sehingga bukan tak mungkin kalo kita akhirnya bisa memahami dan tumbuh keyakinan yang besar dalam diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, ciptakan terus rasa penasaran kamu tentang Islam agar tetap terjaga semangat kamu dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam. Saya sendiri, meski sudah sering belajar tentang Islam, rasanya semakin sering belajar Islam saya merasakan bahwa apa yang saya dapatkan selama ini masih kurang, akhirnya terus penasaran pengen nyari tahu lebih detil. Proses belajar memang harus senantiasa dilakukan agar kita tetap merasa untuk terus memperbaiki kualitas hidup kita. Rasa penasaran yang kita miliki tentang Islam, insya Allah akan memberikan kekuatan kita untuk belajar dan terus memahami Islam sampai detil. Tentunya, itu akan memberikan rasa percaya diri kita yang tebal. Wajar banget kalo kita bangga jadi muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Obyektif sekaligus subyektif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, dalam memahami realitas kehidupan memang harus obyektif. Kita telusuri semua faktanya supaya kita kenal betul dengan fakta tersebut. Kita memang nggak suka dengan fakta yang menjelekkan Islam, tapi kita coba tahan dulu benci binti murka kita sebelum dapetin info yang benar-benar valid dan obyektif agar kita bisa menilai dengan keputusan yang jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalo pun kita harus subyektif dalam waktu yang bersamaan, tentunya ini pun harus dilakukan karena sebagai muslim, kita wajib menilai segala sesuatunya berdasarkan sudut pandang Islam. Itu mutlak harus dilakukan karena Islam adalah pedoman hidup kita. Islam adalah <em>the way of life</em>. Jadi wajar banget kan kalo Islam menjadi patokan kita dalam menilai suatu pemikiran atau perbuatan. Mengenali dan memahami fakta memang harus obyektif, tapi sudut pandang kudu subyektif dong, yakni berdasarkan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga nggak muncul mispersepsi atau celakanya malah menyalahkan Islam. Padahal <em>mah</em> bisa jadi justru karena kita  sendiri yang salah memahami fakta dan sekaligus solusinya. Misalnya nih, untuk memahami agama di luar Islam, tentunya kita harus memahami faktanya dengan detil tentang agama tersebut, lalu kita nilai dengan Islam. Begitu pun ketika ingin memahami fakta sekularisme, maka kita kumpulkan segala informasi yang berkaitan dengan sekularisme supaya obyektif, setelah itu baru kita nilai sekularisme dalam sudut pandang Islam, bukan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu akan aneh dong ya kalo memandang Islam dari sudut pandang sekularisme atau ajaran Barat, maka yang tampak bukan wajah asli Islam. Kalo pun bikin lukisan, tuh lukisan udah dicorat-coret dengan nggak karu-karuan sesuka mereka mencoretkan warna dan garis pada kanvas. Inilah alasannya bahwa upaya pencarian fakta boleh seobyektif mungkin, tapi sudut pandang penilaian tetap harus Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaitan dengan soal ini, Ustadz Hamid Fahmy menuliskan (lihat <em>Islamia</em>, Tahun I No. 6/Juli-September 2005, hlm. 118-119), dalam kajian Islam, suatu <em>framework</em> atau <em>manhaj</em> terkait pertama-tama dengan proses mencari, mencerna dan mengamalkan ilmu. Suatu ‘metobalisme’ dalam nutrisi spiritual. Kualitas ilmu, cara mencari, sumber ilmu yang benar, penalaran yang betul, manfaat yang jelas merupakan sebahagian dari bangunan <em>framework</em>. Jika ilmu itu cahaya al-haqq, seperti kata Waqi’ guru Imam Syafi’i, maka ilmu dan iman sumbernya sama. Siapa yang banyak ilmu mesti tebal imannya dan sebaliknya. Ia akan berilmu dengan imannya dan beriman dengan ilmunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah alasannya mengapa kita harus obyektif tapi sekaligus subyektif. Alam pikiran kita boleh melanglangbuana kemana aja untuk mendapatkan fakta yang obyektif tentang segala hal, tapi al-Quran dan as-Sunnah tetap menjadi obornya. Sehingga kita tetap menjadi orang yang mencintai Islam sepenuh hati dan insya Allah akan memberikan dorongan yang kuat agar kita bangga menjadi muslim. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pahami Islam dari sudut pandang Islam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, ini juga perlu dan wajib kita lakukan. Karena nggak mungkin dong kita akan memahami Islam tapi menggunakan kacamata Barat atau kacamata sekularisme. Itu sama artinya nggak bakalan nemuin kejelasan. Kalo memahami Islam, wajib dari sudut pandang Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi nih, kalo ada yang bilang bahwa Islam itu bias gender karena nggak menghargai wanita, tapi melihatnya dari sudut pandang sekularisme atau peradaban Barat, ya itu namanya tulalit. Apalagi kalo kemudian kita kepancing menjelekkan Islam karena menggunakan kerangka berpikir Barat. Wah, jangan sampe deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo ada yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama, tuhannya sama, yang beda hanyalah namaNya, itu pasti berpikir bukan dari sudut pandang Islam. Lalu mereka yang berpikiran begitu rame-rame mengatakan bahwa Islam bukan satu-satunya agama yang benar. Walah, ini sih udah ngaco banget deh. Mungkin mereka kudu diingatkan dengan pernyataan Prof. Hamka, “yang bilang semua agama sama berarti tidak beragama”. Nah lho, ati-ati tuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, kalo ada seorang ulama atau intelektual Muslim yang menganggap bahwa Islam sudah saatnya disegarkan kembali dan harus ditafsirkan sesuai akal modern, saya sangat yakin kalo tuh orang nggak memahami Islam yang sempurna ini (atau pura-pura nggak tahu?) dan jelas cara berpikirnya bukan dari sudut pandang Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, Islam sudah jelas disempurnakan oleh Allah. Itu artinya cuma Islam yang benar. Nggak ada kebenaran lain selain agama Islam ini. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” </em><strong>(QS al-Maidah [5]: 3)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, kalo ada yang mengaku Muslim tapi ketika berpikir dan berbuat bukan berlandaskan Islam, itu namanya <em>error</em>. Ngakunya muslim, tapi gaul bebas dan seks bebas jadi gaya hidupnya. Ngakunya Muslim tapi menolak sebagian ajaran Islam. Bahkan kemana-mana teriak bahwa nggak ada yang tahu kebenaran selain Allah. Sambil menyanyikan penolakan terhadap syariat, fikih, tafsir wahyu, dan ijtihad para ulama karena semua itu hasil pemahaman manusia. Menurut mereka itu relatif. Waaah, itu bener-bener kacau, bro! Karena seharusnya seorang Muslim hidupnya berpatokan kepada ajaran Islam, bukan kepada ajaran yang lain. Termasuk ketika memahami Islam, ya harus dari sudut pandang Islam. Bukan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, semoga kita mulai bisa memahami Islam sebagai pandangan hidup kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan Islam. Agar kehidupan kita juga lebih tenang, lebih yakin, dan tentunya penuh percaya diri dan bangga menjadi Muslim. Satu-satunya cara untuk mengenal Islam lebih dalam dan lebih jauh lagi hanya dengan belajar. Jadi, mulai sekarang, kita kudu giat belajar apa saja, terutama mengkaji Islam. <em>Enjoy, Bro! </em><strong>[<a href="http://osolihin.com" target="_blank">solihin</a>: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kenal-islam-sayang-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran? Nggak, Ah!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pacaran-nggak-ah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pacaran-nggak-ah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 05:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2604</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 091/tahun ke-2 (27 Rajab 1430 H/20 Juli 2009)
Hmm.. dari judulnya aja udah pastinya seru dibahas nih, apalagi kalo udah ngomongin cinta-cintaan nggak bakalan ada habisnya buat dibahas. Dari jaman baheula sampe sekarang yang namanya cinta selalu seru untuk diobrolin. Lihat deh acara-acara di tivi kebanyakan tentang percintaan. Nggak ketinggalan majalah remaja, tabloid, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 091/tahun ke-2 (27 Rajab 1430 H/20 Juli 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Hmm.. dari judulnya aja udah pastinya seru dibahas nih, apalagi kalo udah ngomongin cinta-cintaan nggak bakalan ada habisnya buat dibahas. Dari jaman <em>baheula</em> sampe sekarang yang namanya cinta selalu seru untuk diobrolin. Lihat deh acara-acara di tivi kebanyakan tentang percintaan. Nggak ketinggalan majalah remaja, tabloid, novel, sinetron, film layar lebar sampai reality show semua isinya  percintaan. Kalo masih kurang lagu-lagu anak band sekarang tidak jauh dari lirik-lirik cinta. <em>So</em>, nilai jual cinta nggak bakalan turun (jiaaah, cinta kok dijual?). Termasuk tulisan ini juga akan membahas tema yang sama. Tapi sudut pandangnya Islam, karena saya seorang muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, cinta itu anugerah. Dateng gitu aja, tiba-tiba muncul tanpa diundang (dah kayak jalangkung!). Nggak peduli tua atau muda, cantik atau jelek, ganteng atau tampan (loh? Curang nih cow) love doesn&#8217;t know difference deh. Contoh cowok kalo udah suka sama cewe, bisa lupa segalanya, mulai dari ngelamun, ketawa sendiri (cinta gila kali ya?) sampe rela ngelakuin apa aja demi ceweknya. Padahal bisa aja dimanfaatin, aji mumpung jalan kemana aja dibayarin, dari makan sampai nonton. Ini cewek matre atau sekadar numpang makan (ngirit banget lo!). Atau mungkin dia punya prinsip “seefesien mungkin”. Kalo ada yang gratisan kenapa nggak? Pletak!<span id="more-2604"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Wadooh, yang ceweknya nggak pada empati tuh, kali aja si cowok udah mati-matian nabung sebulan penuh, sampe hutang kanan-kiri juga kali ya? (nah loh ada yang kesendir tuh ya? Hehe…) Tapi kalo sampe para cewek dituduh matre or numpang makan doang, kayaknya cewek-cewek pada nggak setuju nih. But, tenang Sis. Nggak semua cewe kayak gitu kok (Jiaaah, pembelaan ini cuma contoh takutnya gue dicakar-cakar sama cewek-cewek, peace).</p>
<p style="text-align: justify;">Eh, ada yang protes nggak kalo masalah pacaran dikaitkan dengan Islam? Biasanya kalo protes itu mikirnya gini: “Yang penting kan ibadahnya? Ngapain kudu disangkut-pautkan dengan Islam. Pacaran aja selama itu nggak ganggu orang lain dan nggak sampe berzina”. Hmm…</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, Islam udah ngasih aturan yang jelas, harusnya kita bisa menerima Islam dengan sepenuhnya, bukan cuma sebatas ritualnya aja atau dijadikan formalitas aja. Aturannya menyangkut semua hal, mulai dari aturan negara sampai aturan untuk individu. Jangan sampe di antara kamu ada yang rajin ngaji, sholat juga nggak ketinggalan, tapi maksiat tetep jalan. Hadduch.. STMJ tuh mah (Sholat Terus Maksiat Jalan). Sholat sih sholat, tapi soal maming alias Malam Mingguan kamu ngerasa wajib untuk hadir ke rumah pacar kamu. Niat ngapel sambil pamit sama ortu si pacar, mau ngajak jalan-jalan cari udara segar (cari aja oksigen di rumah sakit, lagi bengek kali tuh!). Intinya supaya bisa berdua aja.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, ada juga tuh temen kita yang beralibi alais ngasih alasan bahwa pacaran yang mereka lakukan itu islami. Mereka sepakat putus sementara kalo datang bulan Ramadahn. Nanti abis Ramadhan disambung lagi (waduuuh, ngarep banget ya buat melegalkan pacaran?). Kalo gitu ngerampok secara islami ada juga kali ya, cuma ngerampok orang kaya yang pelit en pejabat korup (dah kayak Robin Hood dong? Asal deh lo!).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gaul</strong><strong> cara Islam </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, Allah Swt. udah berfirman (yang artinya):<em>“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”</em> <strong>(QS al-Isra [17]: 32)</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tuh, bukan cuma zinanya aja yang haram, tapi mendekati zina saja sudah dilarang. Pacaran identik dengan berkumpul antara lawan jenis. Istilahnya berkhalwat dengan yang bukan mahrammnya, dalam Islam tentu diharamkan karena bisa menjerumus ke dalam kemaksiatan en yang lebih parah berzina. Kalo mau plesetin omongannya Bang Napi jaman dulu (masih pada inget kan?). Yup, Bang Samsi (eh, Bang Napi) bilang: “Inget, kemaksiatan bukan hanya karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan.” Bener banget. Kalo udah berudua-duaan yang ketiganya adalah setan.  Hati-hati kalo sampe satpol PP juga ikut pantau. Kegiatan kamu bakalan diintip dan didiemin dulu biar ketangkep basah (nah loh pengalaman sapa tuch?) Soalnya, kalo udah terpancing sama hawa nafsu setan, gampang banget tuh ngegodainya, istilahnya tinggal tunggu jam tayang (dah kayak nonton bioskop aja tuh).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Bro, sebelum sampe berdua-duaan dengan lawan jenis, di awal-awal hubungan dengan lawan jenis udah diatur dengan baik lho dalam Islam. Supaya kejadian maksiat itu bisa dicegah karena peluangnya diminimalisir. Allah Swt. udah berfirman (yang artinya): <em>“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: ‘Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….’ Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ‘Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya…’.” </em><strong>(QS an-Nuur [24]: 30–31)</strong><em></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">So, menundukkan pandangan adalah menjaga pandangan. Nggak dilepas gitu aja tanpa kendali yang memungkinkan bakal merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan bisa dibilang terpelihara jika secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ath-Thabarani meriwayatkan, Nabi saw. bersabda yang artinya,<em> “Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tanganNya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan, seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Juga dalam hadis yang lain. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya,<em> “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.”</em> (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya dan lebih jauh terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan. Ati-ati! Waspadalah!</p>
<p style="text-align: justify;">Bor en Sis, dalam Islam nggak ada istilah pacaran, karena pada dasarnya aturan pergaulan dalam Islam adalah infishol alias “terpisah” dalam arti begini: cowok atau cewek hanya bergaul akrab dengan sejenisnya atau para mahram. Berhubungan dengan lawan jenis hanya masalah mu’amalah (bisnis, seperti di pasar antara penjual dan pembeli), pendidikan (seperti antara guru dengan murid atau dosen sama mahasiswanya) juga dalam masalah kesehatan (konsultasi dokter dengan pasiennya dan sejenisnya). Yang semuanya harus tetap sayr’i.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Soal tempat khusus dan tempat umum</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. berfirman (yang artinya):<strong> <em>“</em></strong><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: &#8220;Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. </em><strong>(QS an-Nuur [24]: 27-28)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kamu perlu tahu nih tempat atau kondisi yang berkenaan dengan pergaulan antara cowok dan cewek yang bukan mahram.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, tempat yang kita tidak memerlukan izin pada saat masuk/melihat (contoh :lapangan, rumah sakit, Pasar, dll). <span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, tempat khusus (tempat yang jika kita ingin masuk atau melihat maka diwajibkan untuk meminta izin, contoh: kamar mandi rumah, mobil pribadi, ruangan pribadi dan sejenisnya).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Terus nih, yang harus diperhatikan dalam pergaulan adalah soal istilah: <span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, ij’tima, yakni berkumpul, tapi tidak ada interaksi. <span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, a’laqoh, yakni interaksi, tapi nggak berkumpul (contohnya telepon, <em>chatting </em>online, SMS-an, kirim-kirim e-mail dan sejenisnya). <span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>, ikhtilat, yakni berkumpul dan beriteraksi (dan yang dibolehkan bagi yang bukan mahram adalah hanya dalam masalah mu’amalat, pendidikan, dan kesehatan)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Oya, saya mau cerita dikit. Pernah tuh saya beda pendapat mengenai status hukum pacaran sama temen sendiri. Saya nggak setuju pacaran, bukan karena saya nggak laku buat pacaran, tapi karena banyak yang nolak sih hehe… (nggak ding, emang saya udah tahu hukumnya pacaran nggak boleh menurut ajaran Islam). Saya menolak pacaran bukan juga untuk nyuruh dia putus sama pacarnya, cuma pengen ngajak berfikir aja. Sampe pada klimaksnya dia bilang ke saya: “Kalo gaya hidup kamu kayak gitu mending nggak usah hidup di Indonesia aja!” Wadduh…. nggak nyangka temen saya ngomong begitu. sampe akhirnya gue jawab “Sory friend, aku hidup di bumi Allah Swt. Kalo kamu nggak setuju sama aturan Allah mending pergi aja dari bumi Allah”. Halah, saya spontan komen gitu. Sempet terfikir itu emosi saya yang menjawab kali ye? Tapi ya udahlah. <em>So,</em> saya udah mencoba untuk tegas walaupun saya masih belajar dalam mentaati semua aturan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pacaran nggak cuma mereka yang masih bujangan dan gadis aja, tapi dari usia akil balig sampai kakek nenek bisa berbuat seperti yang diancam oleh hukuman Allah. Hanya saja, yang umum kelihatan melakukan pacaran adalah para remaja. Betul apa bener?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Islam ngatur hubungan antar lawan jenis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Oya, bukan berarti nggak ada solusi dalam Islam untuk berhubungan dengan nonmahram. Dalam Islam hubungan nonmahram ini diakomodasi dalam lembaga perkawinan melalui sistem khitbah/lamaran dan pernikahan. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): <em>“Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.”</em> <strong>(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain hal tersebut di atas, baik itu hubungan teman, pergaulan laki-laki perempuan tanpa perasaan, ataupun hubungan profesional, ataupun pacaran, ataupun pergaulan guru dan murid, bahkan pergaulan antar-tetangga yang melanggar aturan di atas adalah haram, meskipun Islam tidak mengingkari adanya rasa suka atau bahkan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en sis, bahkan diperbolehkan suka kepada laki-laki/perempuan yang bukan mahram, tetapi kita diharamkan mengadakan hubungan terbuka dengan nonmahram tanpa mematuhi aturan di atas. Kalau masih pengen juga, kamu kudu ditemani kakak laki-laki ataupun mahram laki-laki kamu dan kamu harus menutup auart masing-masing agar memenuhi aturan yang telah ditetapkan Islam. Tapi ini bukan dalam rangka pacaran, lho. Ya, sekadar bertemu untuk pendidikan atau dakwah, muamalah dan kesehatan. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">Percayalah, jodoh itu Allah Ta’ala yang ngatur. Nggak usah maksain sampe pacaran segala. Ada cerita nih, dari guru ngaji gue sih (minta izin ngutip ya pak.. hehe). Jadi ada cowok-cewek yang udah kepalang pacaran en cinta banget. Ketika mereka dalam pengajian, dibahas tuh masalah pacaran kayak gini. Singkat cerita mereka putus, “demi Islam kita putus aja yach…” katanya. Wah dilema banget emang ya? (cinta deritanya tiada akhir.. hwaach dasar Patkai).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Emang berat en nggak gampang tuh ambil keputusan habis udah cinta mati. Sampe semboyannya aja: “<em>I </em><em>love you teu eureun-eureun</em>” (gotong royong aja kali ya biar nggak berat). Tapi kemudian mereka iklhas menerima keputusannya. Berlanjut sampe mereka dewasa. Atas ijin Allah mereka dipertemukan kembali, karena ortunya udah saling kenal juga, akhirnya mereka menikah. Wah…wah pastinya bahagia banget mereka. Gimana Bro, mau, mau mau? Kalo udah siap jangan tunggu lama-lama buat ngehindar dari maksiat en fitnah lanjutkan ke pernikahan (lebih cepat lebih baik, kita mah pro syariat Islam!).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">BTW, tapi kan nggak segampang yang saya omongin ya? Kata Bang Thufail al-Ghifari sih “nikah itu Jihad yang aduhai” (cit..cwiw!). <em>So</em>, bukankah kalo pengen serius jalin hubungan, emang tujuannya menikah? (loh kok jadi ngomongin nikah? Curhatan saya nih kayaknya. Watau!)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bukti cinta sejati</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): <em>“Bukti cinta sejati itu ada tiga, yaitu: memilih kalam kekasihnya (al-Qu’an) daripada kalam lainNya (hasil produk manusia); memilih bergaul dengan kekasihNya daripada bergaul dengan yang lain; memilih keridhaan kekasihNya daripada keridhaan yang lain.”</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Demikian ini karena orang yang mencintai sesuatu itu, ia menjadi hambanya. Yahya bin Mu’adz berhubungan dengan pengertian ini mengatakan: <em>“Setitik benih cinta kepada Allah lebih aku sukai daripada pahala mengerjakan ibadah tujuh puluh tahun.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, cuma ada satu solusi jitu: merit binti kawin alias nikah. Nggak apa-apa kok masih muda juga asal udah mantap mentalnya, kuat ilmunya, dan cukup materinya. Tapi kalo ngerasa belum mampu, ya wis kamu kudu rajin-rajin berpuasa untuk meredam gejolak nafsumu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, dan mengenali Islam lebih dalam, jangan lupa perbanyak kegiatan positif: ngaji dan olahraga, misalnya. Main gim? Halah, bolehlah asal jangan kebablasan! Tapi, daripada main gim mending baca al-Quran atau nulis kayak saya nih di buletin gaulislam. Insya Allah lebih oke. Sip kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, hidup di dunia yang singkat ini kita siapkan untuk memperoleh kemenangan di hari akhirat kelak. Itu sebabnya, yuk kita mulai hidup ini dengan bersungguh-sungguh dan jangan bermain-main. Kita berusaha dan berdoa mengharap pertolongan Allah Swt. agar diberi kekuatan untuk menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala laranganNya. Moga kita sukses di dunia dan di akhirat ya. Mau? Mau doooong!<strong> </strong>Semoga Allah menolong kita, amin. Jadi, tetep mau pacaran? Nggak, Ah! <strong>[</strong><strong>Samsi: http://saidansam.wordpress.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pacaran-nggak-ah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jilbab Bukan Sekadar Simbol</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jilbab-bukan-sekadar-simbol</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jilbab-bukan-sekadar-simbol#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 01:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2600</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 090/tahun ke-2 (20 Rajab 1430 H/13 Juli 2009)
Siapa sih yang nggak tahu jilbab itu apa? Yupz&#8230;jilbab adalah baju takwa seorang muslimah. Meski banyak salah kaprah dalam memahami definisi jilbab tapi kita semua sepakat bahwa aurat muslimah itu semua bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dan itu, kudu ditutup biar yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 090/tahun ke-2 (20 Rajab 1430 H/13 Juli 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa sih yang nggak tahu jilbab itu apa? Yupz&#8230;jilbab adalah baju takwa seorang muslimah. Meski banyak salah kaprah dalam memahami definisi jilbab tapi kita semua sepakat bahwa aurat muslimah itu semua bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dan itu, kudu ditutup biar yang tidak berkepentingan nggak bisa lihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan gencarnya dakwah Islam di tengah masyarakat, Alhamdulillah banyak muslimah yang sadar untuk menutup aurat. Di satu pihak, hal ini kudu kita syukuri. Tapi di pihak lain, ternyata jilbab marak itu hanya sekedar trend. Parahnya, ada juga pihak yang menjadikan jilbab ini hanya sebatas simbol berupa secarik kain penutup kepala. Bahkan akhir-akhir ini banyak pro dan kontra tentang jilbab yang katanya sebagai komoditi politik golongan tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmm&#8230;ternyata jilbab membawa bahasan yang tak kalah serunya untuk diobrolin. Biar anti manyun, ikuti terus yuk topik tentang jilbab ini. Tarik maaang!<span id="more-2600"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jilbab=ketundukan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Inti dari Islam adalah ketundukan. Tunduk dan patuh pada Dzat Yang Maha Menciptakan dan Mengatur, termasuk dalam urusan berpakaian seorang muslimah. Dalam hal ini, Allah telah mengaturnya dalam QS an-Nur [24]: 31 dan al-Ahzab [33]: 59 (untuk isi ayat dan terjemahannya secara lengkap, silakan baca al-Quran yang kamu punya ya..).</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Allah Swt. telah menetapkan satu syariat bagi manusia, maka tak ada pilihan bagi manusia tersebut untuk memilih syariat/aturan lainnya. Perintah Allah ini haruslah disambut dengan ketundukan dan keikhlasan dalam menjalankannya (nah, biar lebih mantap, penjelasan ini bisa kamu baca di al-Quran surat al-Ahzab ayat 36)</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun demikian, ternyata fakta di lapangan menunjukkan bahwa berjilbabnya seseorang tidak selalu karena factor takwa. Banyak factor-faktor lain yang menyertai niat seseorang ketika ia memutuskan menutup aurat. Ada yang berjilbab karena alasan lebih simple dan nggak bingung memilih mode ketika akan bepergian. Ada juga yang mengatakan dirinya terlihat lebih cantik bila berjilbab. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sudah waktunya berjilbab karena sudah berumur. Hanya anak muda saja yang pantas untuk tidak berjilbab. Waduh&#8230;kacau juga ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Parahnya, ada yang berjilbab karena bintang idolanya berjilbab juga. Atau istri politisi tertentu berjilbab, sehingga akhirnya hal ini jadi alasan untuk ikut pemilu dalam sistem kufur bernama demokrasi. Bahkan saat ini jilbab menjadi salah satu media untuk mempolitisir Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal sesungguhnya, jilbab adalah satu bentuk kecil dari ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Khaliknya. Sedangkan bentuk ketaatan lainnya masih sangat banyak yaitu dalam semua aspek kehidupan. Termasuk juga dalam menyalurkan aspirasi politik, umat Islam kudu taat pada aturan Allah Ta&#8217;ala secara mutlak. Tidak boleh hanya karena simbol jilbab terus jadi ikut-ikutan berpesta demokrasi yang jelas-jelas menjadikan manusia sebagai berhala. Yang bersimbol jilbab aja nggak boleh, apalagi bagi yang tidak berjilbab. Ini masalah prinsip Bung! Bukan sekadar ikut-ikutan aja karena setiap amal pastilah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jilbab dan politik</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah suhu Indonesia yang panas dengan gempita pemilu, jilbab menjadi ramai diperbincangkan. Ada pro dan kontra menyikapi soal jilbab ini. Ada yang bersuara keras agar jilbab tidak dikaitkan dengan kepentingan politik apa pun. Agama terlalu suci untuk dilibatkan dengan politik yang kotor, itu alasannya. Tapi di sisi lain, ada juga pihak yang tersepona, eh, terpesona karena ada sosok tertentu yang berjilbab sehingga menganggapnya lebih islami.</p>
<p style="text-align: justify;">Agar kamu nggak bingung, yuk kita dudukkan masalah jilbab dan politik ini di tempat semestinya. Pertama, kamu kudu paham dulu makna politik. Dalam Islam, politik adalah riayatus-syu&#8217;unil ummah, yaitu mengurusi urusan umat dengan satu sistem tertentu yaitu Islam. Yang namanya urusan umat, itu bukan tentang jilbab saja. Tapi sejak mulai bangun tidur hingga tidur lagi termasuk juga dalam mengelola perekonomian, pendidikan, pidana, perdata dsb, itu juga bagian dari urusan umat.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam tidak mengenal sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Sebaliknya, Islam adalah <em>the way of life</em> plus ideologi yang kudu ada pada diri seseorang yang mengaku dirinya muslim. Karena tak ada sekulerisme, maka politik pun menjadi bagian dari Islam. Ketika kamu sadar sebagai muslimah kudu berjilbab, maka saat itulah kamu mempunyai kesadaran politik yang bagus. See&#8230;ternyata makna politik tidak sesempit yang kamu kira sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Politik tidak melulu bermakna kekuasaan. Tapi kekuasaan diperlukan untuk menegakkan agama termasuk salah satunya adalah berjilbab. Mungkin kamu nggak pernah ngalami yang namanya berjilbab diusir dari sekolah negeri. Itu karena saat itu peraturan pemerintah melarang pemakaian jilbab di lingkungan akademis. Walhasil, yang namanya muslimah berjilbab diseret dan diusir dari kelas menjadi hal yang lazim sekaligus mengenaskan. Saya pun pernah diintimidasi aparat hanya karena menolak foto KTP dan SIM yang memperlihatkan telinga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari cerita di atas, jelas banget kan kalo ternyata kebijakan politik yang pro syariah itu sangat dibutuhkan. Dan syariah ini nggak akan mungkin kaaffah (keseluruhan) dilaksanakan dalam sistem yang bernama demokrasi. Karena hakikat demokrasi ini adalah suara terbanyak tak peduli halal dan haram. Jadi kalo mayoritas bilang jilbab haram, maka sah saja negara bilang jilbab haram. Begitu sebaliknya, bila pelacuran dikatakan halal karena ada maslahat di sana yaitu pajak bagi negara, maka demokrasi pun mengesahkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Intinya, syariah Islam nggak bakal bisa sempurna penerapannya dalam sistem kufur bernama demokrasi. Syariah hanya bisa tegak dalam sebuah sistem yang memang sudah ada tuntunannya dalam Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Inilah sebuah kepemimpinan umum kaum muslimin sedunia tanpa ada sekat-sekat bernama nasionalisme.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jilbab= simbol?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ngomongin jilbab ternyata tidak sederhana ya? Bukan melulu selembar kain penutup kepala yang saat ini lagi trend dipakai perempuan. Aturan jilbab diturunkan bukan tanpa maksud. Di dalam QS al-Ahzab ayat 59, Allah Swt. menyatakan bahwa agar para muslimah itu mudah dikenali dan tidak diganggu. Para munafiqun biasanya berdalih, bahwa hukum berjilbab tidak lagi wajib apabila muslimah tidak lagi mendapat gangguan. Nah&#8230;lho&#8230; (ngarang deh lo!)</p>
<p style="text-align: justify;">Di posisi inilah keimanan seorang muslim teruji. Dalam melaksanakan syariat, bukan manfaat yang kita kejar. Tapi harus murni karena taat dan tunduk pada Allah semata. Apabila ada manfaat di dalamnya, itu hanya efek samping dan bukan tujuan utama. Yakinlah, bahwa syariat yang berasal dari Allah Ta&#8217;ala itu pasti membawa manfaat bagi manusia. Hanya karena kelemahan dan kebodohan manusia saja, yang seringkali kita ini belum mampu menyibak makna di balik perintah dan larangan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jilbab memang sebuah simbol, bahwa seseorang yang memakainya adalah perempuan muslim. Jilbab adalah simbol bahwa muslimah yang memakainya itu (seharusnya) berbeda daripada yang tidak memakai. Aneh banget bila berjilbab tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berjilbab tapi mojok berduaan dan beraktivitas mesum, <em>nauzhubillah</em>. Jilbab sebagai simbol baju takwa seorang muslimah menjadi runtuh. Sehingga tak heran banyak suara nyinyir yang mengatakan &#8216;lebih baik nggak usah berjilbab kalo kelakuan masih bejat.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Wah&#8230;.ini yang sering salah kaprah. Kalo ada cewek berjilbab yang tingkah lakunya nggak senonoh, bukan jilbabnya yang salah. Tapi pribadi cewek tersebut yang kudu dibenerin. Jangan malah, udah nggak berjilbab, kelakuan rusak lagi. Watau, naudzhubillah. Jangan mau jadi tipe yang ini. Harusnya tuh, berjilbab dan sholihah, itu cermin diri muslimah yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, bagi yang berjilbab tapi masih norak, juga kudu nyadar bahwa jilbab yang tersandang itu mempunyai konsekuensi tertentu pula. Jadi udah nggak bisa seenaknya sendiri ketawa ngakak di depan umum, terus runtang-runtung sama cowok non mahrom. Jangan deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Jilbab memang simbol tapi esensinya juga kudu harus dipahami. Jilbab adalah tabir bagi muslimah dari berbuat maksiat dan dosa. Jilbab adalah sebuah identitas diri bahwa pemakainya juga harus sesuai dengan apa yang dipakainya. Jilbab adalah satu langkah awal untuk siap menerima aturan-aturan Allah lainnya termasuk dalam hal pergaulan, batasan dengan lawan jenis, serta interaksi lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jilbaber pejuang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jilbab adalah wajib bagi yang merasa dan mengaku dirinya perempuan muslim. Jilbab memang terkait erat dengan politik tapi dalam makna yang benar. Meskipun terkait erat dengan politik, tidak berarti bahwa seseorang yang sudah berjilbab maka sudah tentu ia setuju dan memperjuangkan diterapkannya syariah. Dalam hal ini, sebagai muslimah kamu kudu kritis dan selektif. Jangan mau diperdaya oleh petinggi-petinggi partai yang berkoalisi demi empuknya kursi kekuasaan namun menjual idealisme penegakan syariat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkait dengan hasil pemilu yang baru saja berlalu, siapa pun pemenangnya, berjilbab atau pun tidak istri para pemimpin tersebut, tetap hukum kufur aturannya. Jadi, nggak usah terlalu gembira deh hanya karena partai islam tertentu berkoalisi dengan pemimpin yang menang tersebut. Toh&#8230;keadaan tidak akan pernah berubah karena syariat masih saja dianggap tidak perlu untuk ditegakkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem demokrasi, berhala manusia saat ini, masih saja tampil sebagai pemenang. Hal ini tak ada kaitannya dengan kemenangan partai Islam tertentu, apalagi kemenangan hasil koalisi dengan partai sekular. Jilbab benar-benar dianggap hanya sekadar selembar kain yang tak mempunyai makna apa-apa. <em>Naudzubillah</em>. Bila kepentingan duniawi telah mengalahkan cita-cita mulia partai dakwah, maka tunggu saja ketika Allah akan memberikan keputusanNya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, para muslimah, WAKE UP! Di balik jilbab yang kamu kenakan ada tanggung jawab besar untuk membuat perubahan. Jangan mau terpedaya oleh slogan palsu yang mengatasnakaman Islam. Gimana supaya tak gampang terpedaya? Belajar Islam yang kaafaah sebagai sistem kehidupan yang utuh, bukan sepotong-sepotong. Bagaimana pun, harga sebuah idealisme harusnya lebih mahal daripada kepentingan bagi-bagi kursi dalam pemerintahan yang tidak islami. Cita-cita diterapkannya syariat Islam nggak boleh luntur secuil pun dari perjuanganmu. Dan syariah Islam ini nggak mungkin bisa diterapkan kecuali dalam sebuah sistem bernama Khilafah Islamiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jilbaber, ayo berjuang bersama. Bagi yang belum berjilbab, ayo mulai saat ini tanamkan tekad untuk memulai sebuah perubahan dalam dirimu. Di mana pun kamu berada dan bergerak, samakan langkah agar tujuan lebih mudah teraih, insya Allah. Karena sungguh tak ada kemuliaan kecuali dengan Islam, tak ada Islam tanpa syariah, tak ada syariah kecuali dalam naungan daulah Khilafah Islamiyah. Semangat! <strong>[ria: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jilbab-bukan-sekadar-simbol/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Lies That We Tell to Our Self</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/the-lies-that-we-tell-to-our-self</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/the-lies-that-we-tell-to-our-self#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 13:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2597</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 089/tahun ke-2 (13 Rajab 1430 H/6 Juli 2009)

Horeee, dapet kesempetan lagi nulis buat gaulislam. Setelah lama absen nggak nulis, sekarang giliran gue lagi, memulai nulis setelah agak lama vakum ternyata nggak mudah, berkali-kali udah gue coba untuk mulai nulis yang terjadi malah gue main sim 3 atau justru facebook-an. Bukannya tulisan beres, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 089/tahun ke-2 (13 Rajab 1430 H/6 Juli 2009)</p>
<pre></pre>
<p style="text-align: justify;">Horeee, dapet kesempetan lagi nulis buat gaulislam. Setelah lama absen nggak nulis, sekarang giliran gue lagi, memulai nulis setelah agak lama vakum ternyata nggak mudah, berkali-kali udah gue coba untuk mulai nulis yang terjadi malah gue main sim 3 atau justru facebook-an. Bukannya tulisan beres, malah tidur pun jadi kurang, tulisan amburadul, besoknya jadi telat sholat subuh, rugiiiiii. Huh, pinter nian setan mencuri waktu gue.</p>
<p style="text-align: justify;">BTW, artikel ini sengaja gue kasih judul dari bahasa Inggris. Bukan keren-kerenan, lho. Tapi emang gue pengen aja udah lama gaulislam nggak pake bahasa Inggris. Ya, modal gue jalan-jalan ke luar negeri sih, ke Singaparna (halah, ini sih di Tasikmalaya ya!). Tahu nggak itu artinya apa? Sederhananya, tuh rangkaian kata di judul tersebut berarti &#8220;ngebo&#8217;ongin diri sendiri&#8221;. Kalo bahasa habitat asli mah ngerti kan? Hehehe..<span id="more-2597"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ok, artikel ini gue mulai dari jumat kemaren (artinya gue nulis artikel ini hari sabtu). Seperti biasa hobi lama gue adalah makan siang, tapi ada yang aneh siang ini, entah kenapa suasana kok sepiiii banget ya? Apa gue di wilayah waktu yang salah ya? Ah nggak juga, tuh matahari ada, tadi juga barusan jumatan. Hmm.. cuek aja ah, yang penting maem dolo, setelah soto mie sepanci abis, es doger 2 gelas dan batagor 5 piring (wasyah.. ini gue kesurupan kali ye makannya kayak gitu!), ketemu deh jawabannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Iya, hari ini nggak ada anak-anak sekolah di tempat makan siang gue. Biasanya tempat ini rame banget sama anak-anak sekolah. Setelah ngobrol dua jam ama abang soto mie, baru ketahuan, ternyata anak-anak sekolah pada sepakat dalam tiga minggu ini mereka tidak masuk sekolah. Loh pada boikot nggak mau sekolah karena sekolah sekarang mahal? Nggak tuh, mereka sekarang pada liburan. Whaaaaaaaaa, ngga kerasa udah liburan lagi. Ahh pentesan ponakan gue minggu lalu, ribut cari pesantren, padahal pesantren setahu gue nggak pergi kemana-mana (loh?). Gubrakz!</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu milih sekolah baru, emang selalu menjadi saat yang menegangkan, nggak kalah menegangkan dengan film horor. Semua selalu berharap bisa masuk ke sekolah yang favorit walau kenyataannya sekolah favorit hampir pasti favorit juga duitnya. Sebelum daftaran sekolah, biasanya murid dan orang tuanya berusaha untuk melakukan rating, terhadap sekolah yang hendak mereka tuju, tentunya sekolah dengan rating yang lebih tinggi, akan menjadi rujukan utama mereka. Walaupun rating ini biasanya akan berubah ketika murid/anaknya sudah masuk kesalah satu sekolah yang dituju, berubah gimana?</p>
<p style="text-align: justify;">Iya berubah, biasanya kalo murid dan orang tuanya disuruh memberikan penilaian terhadap beberapa sekolah, mereka akan melakukannya dengan baik, tetapi setelah murid tersebut diterima di salah satu sekolah, dan mereka diminta untuk memberikan rating lagi, hampir pasti sekolah yang saat ini menerima mereka akan menempati rating yang paling tinggi. Wow aneh ya? Iya jangan percaya gue, coba aja buktiin sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Misal ada 3 pilihan sekolah. Sebagai contoh SMP 1, SMP 4 dan SMP 5. Sebelum daftar dan keterima di salah satu sekolah tersebut, urutan ratingnya adalah SMP 1, SMP 4 baru kemudian SMP 5. Tapi setelah berusaha mendaftar dan akhirnya keterima di SMP 5, kemudian sebulan setelah itu disuruh untuk bikin rating lagi, hampir pasti ratingnya adalah pertama SMP 5, baru kemudian SMP lainnya, kenapa ya bisa seperti ini? Kok berubah ya? Emang manusia seperti itu nggak peduli usia, mereka cenderung didikte oleh pilihan mereka, kenapa? Supaya ada pembenaran terhadap pilihan yang telah dilakukan alias untuk menjustifikasi pilihan yang telah dilakukan dan tidak akan segan-segan berbohong terhadap diri sendiri. Whuiiiihhh.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Disonasi kognitif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Uraian sebelumnya sebenernya adalah salah satu contoh dissonasi kognitif yang sering kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Eit! Disonasi kognitif apaan yah? Disonasi kognitif adalah istilah yang pertama kali di perkenalkan oleh seorang psikolog bernama Leon Festinger pada tahun 1954. Disonasi kognitif didefinisikan sebagai &#8220;perasaan tidak nyaman secara psikologis yang dihasilkan dari kombinasi dua hal/pemikiran yang saling bertentangan&#8221;. Semakin besar rasa tidak nyaman dirasakan, maka semakin besar pula keinginan dari dalam diri manusia untuk meredam ketidak-nyamanan tersebut. Dalam teori disonasi, disebutkan bahwa jika manusia ber-aktivitas/bertindak namun tindakannya bertentangan dengan keyakinannya, maka umumnya manusia akan merubah keyakinan sebelumnya, untuk menyesuaikan dengan pilihan kegiatan yang mereka lakukan ataupun malah sebaliknya. (whahahaha, eh kenapa kok gue ketawa ya?)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenernya cukup banyak praktik disonasi kognitif terjadi di sekitar kita, misal seorang perokok tetap akan merokok, walaupun semua penelitian menunjukkan bahwa rokok nggak ada manfaatnya, tapi apa yang kita jumpai dalam masyarakat kita? Berkurang? No! Seorang perokok kalo ditanyain kenapa sih kok masih merokok? Jawaban standar adalah &#8220;Saya sudah berusaha untuk berhenti, cuma berat banget (berat kayak disuruh mindahin truk tronton, kali ya?) untuk bisa berhenti&#8221; atau mungkin pendapat lain, &#8220;ah ngerokok bikin mati, nggak ngerokok nantinya juga mati, wah mending ngerokok aja&#8221;, well you know lah, para perokok akan menjustifikasi kegiatan mereka dengan seribu satu alasan yang dirasionalisasi atau bahkan malah denial (penyangkalan), hal ini merupakan dua hal yang paling sering dilakukan, ketika berhadapan dengan dissonasi kognitif mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak semua orang akan merasakan disonasi kognitif sebagai masalah dalam kehidupan mereka. Bagi mereka yang sudah terbiasa banget ngeboong dan <em>bullshit</em> dalam kehidupan sehari-hari mereka, atau bagi mereka yang sudah terbiasa <em>faking</em> (berpura-pura) dalam keseharian mereka, disonasi kognitif bukan masalah sama sekali. Walau secara fitrah mereka ini tetap tidak bisa diingkari perasaan ketidak-nyamanan tersebut. Dalam agama kita, kita kenal orang-orang seperti ini sebagai orang yang membawa ciri munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Disonasi kognitif merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, yang menjelaskan kenapa manusia lebih memilih suatu opsi dari pada opsi lain, walaupun opsi tersebut salah. Jadi pada prinsipnya manusia tidak suka untuk mempercayai bahwa tindakan mereka salah, bila hal tersebut terjadi, maka biasanya manusia akan mengatasinya dengan cara membatasi diri/membatasi informasi terhadap semua hal yang bisa mengubah opsi/pilihan mereka, mencari justifikasi tindakan mereka dan kemudian penyangkalan, karena semua kegiatan ini sepertinya berulang/standar, bila kita menemuinya, bisa dipastikan itu merupakan tanda-tanda disonasi kognitif.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang paling &#8217;seksi dan genit&#8217; saat ini adalah pas musim kampanye pilpres. Rame-rame ada kelompok yang mendukung pasangan capres/cawapres tertentu (padahal menurut Islam satu pun ngak ada yang memenuhi kriteria untuk dipilih). Meskipun udah tahu tuh capres/cawapres nggak bener. Eh, malah dibelain juga. Gue yakin tuh orang banyak juga alasannya. Taat pimpinan lah, memilih yang buruknya sedikit daripada yang banyak buruknya. Halah, basi deh loh! Gimana pun juga demokrasi nggak bakalan mau memberikan kesempatan kepada Islam yang bakal membunuh demokrasi itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Terus gimana nih ngadepinnya?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada prinsipnya disonansi kognitif seperti berbohong terhadap diri sendiri, dan seperti umumnya sifat bohong, satu kebohongan harus ditunjang dengan kebohongan lainnya untuk tetap mempertahankan kebohongan tersebut. Misal kita bohong udah makan, padahal belum tuh. Supaya kuat, kita minta temen-temen kita untuk memberikan afirmasi kalo kita udah makan (kebohongan kedua), dan seterusnya. <em>So</em>, bohong seperti &#8220;chained reaction&#8221; atau reaksi berantai. Sekali kita mulai, tinggal tunggu kebohongan berikutnya. Rugi dong? Jelaslah. Dosa banget dong? Pastilah. Makanya kebanyakan orang nggak mau dibohongin.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk ngadepin disonasi kognitif cuma ada satu cara, yaitu jujur terhadap diri sendiri dan terbuka untuk mau berubah. Memang tidak mudah melakukan perubahan, baik berupa perubahan pola sikap ataupun perubahan pola pikir. Biasanya orang yang bertipe extravert lebih mudah mengatasi disonasi kognitif daripada orang yang introvet. Namun demikian apapun sifat seseorang, kalo dia mau berubah nggak ada masalah sih sebenernya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus gimana kalo nggak bisa berubah? Sebenernya tidak ada yang tidak bisa berubah, cuma ada beberapa kelompok orang yang memang perlu tenaga ekstra untuk menyadarkannya/mengubahnya. Salah satu metode yang bisa ditempuh kalo kita ngadepin orang seperti ini adalah dengan meningkatkan pemahaman dia terhadap obyek yang mengalami disonasi. Misal nggak mau berhenti ngerokok, ya disadarkan dengan cara menjelaskan bahaya merokok. Tentunya tidak bisa langsung menjelaskan bahaya rokok, tapi dimulai dengan menjelaskan mengenai pentingnya hidup sehat secara keseluruhan, jadi nggak cuma berhenti ngerokok saja. Percuma kalo berhenti ngerokok tapi makannya masih ugal-ugalan, istirahat nggak teratur, apalagi ditambah minum khamer, percuma tak berguna dah.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyadarkan orang yang tengah mengalami disonasi kognitif emang paling baik dengan meningkatkan/mengkoreksi pemahaman orang tersebut terhadap obyek disonasinya, tergantung obyeknya. Misal contoh lainnya, kita ketemu sama orang yang suka ngelakuin bid&#8217;ah, terus kita dakwahi supaya sadar dan berhenti dari kegiatan bid&#8217;ahnya, ternyata orang tersebut nggak suka dan terus kita adu dalil, orang tersebut kalah, terjadilah disonasi kognitif, ini ditengarai dengan:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama, rasionalisasi/justifikasi:</span> diindikasikan dengan jawaban seperti &#8220;kegiatan ini seperti yang dicontohkan sama guru gue, yang udah pasti jago banget bahasa Arab, jadi udah pastilah nggak akan keliru&#8221;, Abu Jahal dan Abu Lahab juga orang Aarab, jago bahasa Arab pula, tapi kok mereka sesat ya? Ada juga yang lahir sampe gede bahkan mati di Arab juga, tapi tidak pernah bisa bahasa Aarab, tanya deh tuh unta, whahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua, membatasi diri:</span> biasanya di tengarai dengan tidak mau/menolak bertemu dengan kita, boro-boro ketemu, telpon, sms dan sebagainya juga nggak mau. Kemudian orang-orang di sekitarnya juga diproteksi terhadap kemungkinan terpengaruh.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga, penyangkalan (denial):</span> hal ini ditengarai dengan pemutusan hubungan kekeluargaan (kalo masih keluarga), pengucilan dalam masyarakat/kelompok, pengusiran, sampai dengan dituduh sesat dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana menghadapi kondisi di atas, bisa jadi tulisan yang lebih panjang lagi, hampir pasti nggak akan lolos editan redaktur gaulislam karena kepanjangan. <em>So, lets save it for some other time.</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Akhirnya&#8230;.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, manusia memiliki kemungkinan besar untuk salah, sebagai makhluk yang sangat rentan dengan kesalahan, kita harus sadar kalo kita bisa saja salah, dan bahkan bener-bener salah, dalam kondisi seperti ini lebih baik kita mengakui kesalahan kita. Minta maaf kalo perlu, dan kemudian melangkah ke depan dengan tekad tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama. Cara seperti ini menghemat cukup banyak waktu, energi dan rasa sakit dalam hati (kalo ada). Belajarlah dari masa lalu, tapi hiduplah untuk masa depan! (cie.. gue ngedadak bijak neh!)</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ibnul Qayyim berkata, &#8220;Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain.&#8221; Catet, Bro!</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.&#8221;</em> <strong>(QS al-Maidah [5]: 119)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi, &#8220;Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah Ta&#8217;ala, dan berbuat bajik kepada sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat jujur merupakan tanda keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ok deh artikel ini gue tutup dengan pesan salah satu guru gue: &#8220;Katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit&#8221;, Semoga Bermanfaat <strong>[aribowo: aribowo@gaulislam.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/the-lies-that-we-tell-to-our-self/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Masjid Kudu Gaul!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-masjid-kudu-gaul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-masjid-kudu-gaul#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 17:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[gaul]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2592</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 088/tahun ke-2 (6 Rajab 1430 H/29 Juni 2009)

Wah nggak nyangka ini pertama kalinya gue mendapat tawaran untuk nulis di buletin gaulislam, deg-degan dan agak nervous nih maklum baru belajar. But, gue tetep kudu lakuin juga. Sebuah tantangan yang kudu gue taklukkin. Ciee.. &#8220;pede abis mode on!&#8221;
Oya, gue kali ini dapet jatah nulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam edisi 088/tahun ke-2 (6 Rajab 1430 H/29 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wah nggak nyangka ini pertama kalinya gue mendapat tawaran untuk nulis di buletin gaulislam, deg-degan dan agak nervous nih maklum baru belajar. But, gue tetep kudu lakuin juga. Sebuah tantangan yang kudu gue taklukkin. Ciee.. &#8220;pede abis mode on!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, gue kali ini dapet jatah nulis seputar remaja masjid. Hmm&#8230; pastinya gue bisa dong buat jelasin soal ini. Kamu tahu kan remaja masjid itu apa? Bukan remaja yang nongkrongin di masjid sambil jagain beduk lho. Yup, remaja masjid adalah sekelompok pemuda/pemudi yang melakukan aktivitas sosial dan ibadah di lingkungan masjid. Walaupun tidak menutup kemungkinan di suatu daerah ada juga anggota remaja masjid yang berumur 35 tahun atau lebih (nggak tahu deh, di tempat lain mungkin ada yang udah kakek-kakek hehehe..).<span id="more-2592"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin hal itu terjadi karena ngak adanya kaderisasi, padahal definisi remaja itu sendiri adalah masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun sedangkan kalo ditafsirkan dari bahasa inggris &#8220;teenager&#8221; yakni manusia usia 13-19 tahun. Wah kalo gitu umur gue udah kedaluarsa dong buat jadi remaja masjid! (mungkin gue tepatnya jadi engkong masjid kali ye!). Ah, nggak apa-apa deh, biarpun gitu gue tetep imut kok hehehe.. (narsis mode on). Sss.. jangan ribut ya.. maksudnya imut itu adalah item mutlak! Dan mutlak itu akronim dari &#8220;muda, tampan, dan berakhlak!&#8221; hahahaha.. (narsis lagi deh gue).</p>
<p style="text-align: justify;">BTW, sebagian dari kamu mungkin berpikir bahwa remaja masjid adalah suatu kumpulan orang-orang monoton, yang kerjanya duduk, dengerin ceramah, pulang, sikat gigi, cuci kaki, terus tidur. Padahal nggak gitu juga deh. Kita juga bisa bikin kegiatan organisasi remaja masjid ini menjadi lebih menarik lho. Nggak percaya? Silakan dijajal!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, bukankah menarik atau tidaknya setiap organisasi itu tergantung dari bagaimana keragaman aktivitas yang ada di dalamnya? So, menjadi remaja masjid itu bisa menarik, bisa nggak. Banyak kok alternatif yang membuat kegiatan remaja masjid menjadi menarik. Contohnya nih, selain kumpul-kumpul di masjid dan menimba ilmu agama kegiatan ini juga mengajarkan kita bagaimana berorganisasi, dan sarana untuk berbagi pengetahuan antar sesama aktivis. Misalnya aja ada temen kamu yang pinter nulis, pinter bikin web atau keterampilan khusus lainnya di sinilah kamu bisa manfaatin kegiatan kumpul-kumpul itu buat mempelajari keterampilannya. Nah, hal itu selain bermanfaat buat kamu, juga bisa memancing minat temen-temen kamu yang lain untuk bergabung sama kamu dan kawan-kawan. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kudu gaul!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Eits.. nanti dulu! Jangan mentang-mentang gue nulis bahwa jadi remaja masjid kudu gaul, terus kamu siap-siap deh menghiasi seluruh badan kamu pake tato apalagi tatonya itu tato batik, dengan dalih memperkenalkan seni membatik dari Indonesia ke luar negeri atau malah tato polkadot warna putih, entar malah disebut panu. Pengertian gaul disini ya harus secara syar&#8217;i en nggak boleh melanggar kaidah-kaidah keislaman. Inget, gaul itu nggak selalu identik dengan sesuatu yang negatif kok.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, gaul di sini artinya adalah berwawasan luas, supel, dan mengerti teknologi yang ada saat ini. Berwawasan luas, artinya kamu harus tahu bagaimana perkembangan dakwah islam dan problematika yang dialami umat islam saat ini, serta penyelesaiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, selain kudu gaul, kamu juga harus supel. Bener nih. Jangan sampe deh kamu yang ngakunya sebagai remaja masjid hanya mau ngobrol dan main antar sesama aktivis remaja masjid aja, terus kamu mengisolasi diri kamu dari orang-orang sekitar. Nggak lah. Seorang remaja masjid itu kudu mudah bergaul alias supel karena dengan menjadi supel kamu dapat lebih banyak bergaul dan mengajak teman-teman kamu yang lain untuk bergabung menjadi anggota remaja masjid. Kamu kudu inget bahwa dirimu bertanggung jawab untuk berdakwah di lingkunganmu dan dakwah adalah interaksi. <em>So</em>, kalo kamu menutup diri dari orang lain dan merasa cukup bergaul di situ-situ aja, kapan bisa dakwahnyam Brur?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, sebagai remaja masjid, setidaknya kamu juga kudu ngerti teknologi. Gimana juga,? setiap pemuda Islam baik itu remaja masjid atau bukan haruslah mengerti teknologi yang ada saat ini, misalnya mengetahui cara membuat website or blog, cara bikin e-mail, punya blog, kenal dengan situs jejaring sosial macam facebook dan friendster, dan sejeninsya lah. Tapi, kudu inget bahwa jangan mentang-mentang kamu udah bisa buat semua itu langsung deh kamu manfaatin buat kegiatan yang nggak produktif seperto cari pacar, amin gim atau sekadar obral obrol di situs jejaring sosial. Nggak lah. Gaul tentang teknologi yang tadi gue sebutin itu, adalah untuk mendukung aktivitas dakwah. Masih mending kalo buat cari duit sih nggak masalah. Ya,? yang terpenting sih kamu harus bisa manfaatin itu semua sebagai sarana dakwah dong! Ya, kayak buletin gaulislam ini deh (cieee.. pede abis mode on!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Semangat berdakwah dong&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan mentang-mentang kamu masih muda terus kamu kehilangan tanggung jawab untuk mengemban dakwah. Nggak lah. Kita kudu mengerti lho bahwa mendakwahkan Islam kepada setiap umat manusia adalah kewajiban yang dibebankan oleh Allah Swt. bagi kita semua (baik tua, muda, pria, dan wanita). Juga nih, jangan minder untuk mendakwahkan Islam. Misalnya, jangan sampe deh kamu selalu berpikir bahwa yang boleh dakwah itu harus pak ustadz dan pak kiyai aja. Nggak banget. Kamu tahu kan imam syafi&#8217;I, seorang ulama terkenal pembangun mazhab syafi&#8217;i beliau pada usia 18 tahun sudah mulai mengajar di Masjidil Haram dan berhasil membuat para jamaah haji menjadi terkagum-kagum dengan ilmunya. Jadi urusan umur itu bukan alasan yang tepat untuk nggak berdakwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, sebagai aktivis dakwah di lingkungan kamu sendiri khususnya di kalangan remaja lainnya paling nggak kamu tuh kudu RMS. Hah, nggak salah nulis singkatan nih? Apa tuh RMS? Yup, RMS tuh Religius Modern &#8216;N Smart. Swit Swiw.. gue gitu lho! Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Biar termasuk golongan remaja religius, paling nggak kita bisa percaya diri karena udah disebut dalam al-Quran sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): <em>&#8220;kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah </em><strong>( QS al-Imran [3]: 110)</strong>.<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sebagai seorang muslim, remaja masjid dan aktivis dakwah tentunya kamu kudu beriman dan bertakwa-baik dalam perkataan maupun perbuatan, jangan cuma jadi formalitas doang. Nggak seru dong kalo sampe aktif sebagai remaja masjid tapi hot juga maksiatnya. Ke masjid semangat, ke tempat dugem getol. Nggak deh! Kalo sampe kayak gitu sih bakal malu-maluin diri kamu sendiri. <em>So</em>, pastiin kamu adalah umat yang terbaik! Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, selain religius kamu paling nggak kudu gaul ngikutin jaman deh. Yup, modern. Sebagai seorang remaja kamu pasti nggak mau kan dibilang ketinggalan zaman, alias nggak modern? But,? kudu inget maksud modern di sini tuh bukan modern yang cuma ikut-ikutan aja-misalnya ada temen kamu yang bertingkah nggak sesuai dengan kaidah keislaman, terus kamu kasih tahu dia, eh dia malah bilang &#8220;ah dasar kamu nggak modern&#8221;. Parahnya kamu tergoda karena nggak tahan disebut nggak modern, hingga akhirnya kamu ngikutin dia deh. Wah itu sih bukannya modern tapi lebih ke arah plagiat atau jadi generasi pembebek untuk hal yang nggak bener. Ati-ati ye!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, seorang muslim itu harus modern karena kitab suci kita al-Quran adalah kitab yang sesuai sampai akhir zaman. Lengkap dari mulai aturan kenegaraan alias politik sampai dengan hukum waris dan semua hukumnya dapat memenuhi naluri manusia. Nggak kayak kitab-kitab sebelumnya, malah tentang kemodernan al-Quran ini juga diakui oleh konferensi Montreal sebagai sumber pokok dari sumber-sumber hukum internasional modern. Wuih, gimana nggak bangga tuh kita sebagai umat Islam? Pokoknya kamu harus yakin kalo kita bertindak sesuai dengan tuntunan al-Quran maka kita akan menjadi umat yang modern, dan beradab. Yakin itu. Insya Allah banget lah!</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, selain religius dan modern, remaja masjid kudu juga &#8220;smart&#8221; lho. Ya iyalah, kita tuh orang muslim dan kita dituntut untuk menjadi orang yang smart alias cerdas sesuai dengan hadits Rasulullah saw. Sabda Rasulullah saw.: <em>&#8220;Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.&#8221; </em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yup, menuntut ilmu dan belajar tuh diwajibkan lho dalam ajaran Islam, sehingga pada masa kekhalifahan generasi Islam telah menghasilkan banyak ilmuwan, baik dalam ilmu agama maupun dunia. Nah, karena begitu pentingnya pendidikan dalam Islam, ketika zaman kekhalifahan biaya pendidikan tuh gratis, nggak kayak sekarang ini ketika zaman telah dikendalikan oleh sistem kapitalis. Semua diukur dengan duit, dan dibatasi akses untuk dapetin pendidikan, juga dengan duit. Kacau kan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Remaja masjid mandiri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, dalam organisasi tuh pasti kan ada beberapa masalah. Mungkin kebanyakan kamu pernah juga ngerasain gimana sih kaum tua yang terkadang mengekang kita dalam setiap aktivitas termasuk turut campur dalam kegiatan remaja masjid ini. Misalnya aja ketika kamu bersama beberapa aktivis lain mengusulkan proposal jalan-jalan ke suatu daerah buat ngilangin kejenuhan yang ada sekaligus mempererat tali silaturahmi antar aktivis, tapi dengan entengnya &#8220;para tetua&#8221; itu bilang &#8220;Ah ngapain sih pake jalan-jalan mendingan buat inilah, itulah&#8221; mungkin kamu akan bete,? atau ketika kamu bikin buletin yang mau kamu tempelin di mading masjid eh malah ditutupin sama selebaran jumlah sumbangan masjid bulan itu (lebih nyeseknya tuh buletin yang kamu tempel belum berumur satu hari). Lebih betenya lagi orang yang nempelin bilang buletin kamu itu nggak penting, padahal kamu bikin buletin itu mati-matian.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa juga &#8216;pengekangan&#8217; itu ketika semua rencana acara yang kamu ajuin selalu ditolak sama DKM (bete mode on!). Kalo kasusnya seperti itu sebagai remaja kamu harus belajar dong untuk berdiplomasi dengan para sesepuh dan menjelaskan kepada mereka bahwa kegiatan kamu itu positif dan juga ada manfaatnya. Terus kamu harus bisa mastiin ke mereka bahwa kamu adalah remaja masjid yang mandiri. Juga, bisa aja ketika buletin kamu ditutup sama selebaran lain cobalah kamu cari alternatif lain dengan membuat mading pribadi khusus remaja. Jangan langsung <em>pundung</em> bin <em>mutung</em>, terus bubar jalan deh. Nggak lah ya. Jadi intinya, apapun yang terjadi kamu harus siap menghadapinya dan jangan terlalu bergantung pada DKM sepenuhnya-apalagi untuk urusan anggaran dana, cobalah kamu sekreatif mungkin dalam menjalankan organisasi kamu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, buatlah mereka bangga dan cobalah untuk tidak bergantung pada orang lain jadilah sebuah inspirasi buat orang lain. Hmm.. masih ragu untuk menjadi remaja masjid yang gaul? Nggak kan? Sip deh! <strong>[ikrar: ikrarestart@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-masjid-kudu-gaul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Pilihan Hidup Gue!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-pilihan-hidup-gue</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-pilihan-hidup-gue#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 17:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[gaul]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2587</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 087/tahun ke-2 (28 Jumadil Akhir 1430 H/22 Juni 2009)
Hari gini kalau ngomongin soal remaja gaul pasti nggak jauh dari sosok cewek-cowok yang fashionable alias mereka yang selalu update penampilan sesuai tren; rambut bonding atau ala harajuku, di-highlight warna-warni, baju harus minimal distro atau FO (factory outlet). Parfum dengan segala jenisnya juga nggak ketinggalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 087/tahun ke-2 (28 Jumadil Akhir 1430 H/22 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Hari gini kalau ngomongin soal remaja gaul pasti nggak jauh dari sosok cewek-cowok yang <em>fashionable</em> alias mereka yang selalu <em>update</em> penampilan sesuai tren; rambut <em>bonding</em> atau ala harajuku, di-<em>highlight</em> warna-warni, baju harus minimal distro atau FO (factory outlet). Parfum dengan segala jenisnya juga nggak ketinggalan dimasukkin ke dalam daftar belanja bulanan. Plus, supaya nggak dinilai mati gaya, handphone kudu yang 3,5G atau minimal yang GPRS <em>connected</em> supaya internet tetap online dan acara <em>chatting</em> jalan terus. Supaya nggak dianggap makhluk purbakala, info musik, film, olahraga, en <em>fashion</em> kudu jadi santapan harian.</p>
<p style="text-align: justify;">Eh, ada yang protes nih kayaknya. Gue nggak segitu-gitunya deh ya. Gaul emang kudu. Remaja gitu loh. Tapi, nggak harus juga kayak gitu. Belajar yang bener en jadi orang pinter itu yang harusnya jadi tujuan! Soal baju sih yang penting enak dipake dan nggak telanjang. HP jadul bekas lengseran bokap atau nyokap? Nggak apa-apa. Yang penting kan masih bisa buat nelpon dan sms-an. Iya, ada juga kok emang remaja yang rajin belajar, hemat, baik hati, en nggak sombong lagi. Swit..swiw&#8230;<span id="more-2587"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ditanya siapa remaja yang paling gaul, pasti deh pada berebut unjuk diri dengan ngeluarin semua bukti. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan dan rajin belajar, yakin deh banyak yang nggak mau ketinggalan. Kalau perlu nih, pada bawa rapor untuk diperlihatkan. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan plus gaul, wah ini sih pasti lebih banyak lagi yang mengaku tanpa terpaksa. Entah yang beneran sesuai realita? atau cuma ngaku-ngaku biar dianggap hebat. Tapi, kalau ditanya siapa remaja yang relijius? Hmm&#8230; kira-kira pada berebut tunjuk tangan juga nggak ya? Kayaknya nggak tuh. Kebanyakan pada mundur. Remaja relijus? Wuih! Berat, bro.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Agama gue emang Islam, tapi ya gitu deh</strong><br />
Udah jadi hal yang umum banget para remaja lebih familiar sama urusan penyanyi papan atas, band-band ngetop, aksesoris branded. Fakta yang jamak juga remaja lebih ngerasa cool kalo ngedugem daripada ngaji. <em>Hang out</em> bareng temen ke kafe atau nikmatin nomat jadi hal yang kudu ada dalam agenda <em>week end</em>. Padahal sebagian besar remaja tersebut adalah muslim.
</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So what</em> gitu loh? Agama kita emang Islam, tapi bukan berarti kita harus ketinggalan jaman kan? Kayak gitu tuh respon yang biasanya muncul kalau soal agama diungkit-ungkit ke mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ngomongin Islam dalam beraktivitas keseharian kayaknya yang gimana gitu. Kayak yang ogah banget. Udah deh nggak usah bawa-bawa agama kalo ngomongin soal <em>fashion</em>. Please deh nggak usah bawa-bawa Islam kalo ngomongin pacaran. Aduuuh, gue tuh cuma pengen cari hiburan, kenapa juga harus cari tahu dulu aturan Islam?</p>
<p style="text-align: justify;">Brotha, Sista, Islam diturunkan Allah Swt. melalui Muhammad Rasulullah saw. sebagai aturan yang komplit dalam hidup dan berkehidupan. Sebagai aturan yang komplit, Islam ngatur semua urusan hidup. Urusan makan, minum, sikap ke ortu, menuntut ilmu, bergaul, nonton, denger musik, soal lingkungan hidup, kebersihan, cara ngedapetin harta, gimana ngeluarin harta, gimana hidup sehat, sampe urusan pertahanan-keamanan negara sampe politik ada semuanya dalam Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan juga, Islam sebagai aturan hidup pastinya nggak pernah bakal ketinggalan jaman. Never ever! Hidup manusia pasti harus maju dan berkembang. Masa&#8217; iya kalo dulu jaman nenek moyang kirim berita pake jasa merpati, sekarang tetep begitu. Kan nggak. Hari gini, jaman facebook eksis gitu lho. Kalau dua ratus tahun yang lalu kemana-mana pake onta atau kuda, masa&#8217; iya hari gini masih naik begituan. Nggak lah, kan udah jaman motor matic, mobil matic, bis dengan bahan bakar gas nih!</p>
<p style="text-align: justify;">Islam paham banget manusia dengan akal yang dikasih Allah <em>Ta&#8217;ala</em> pasti bisa bikin banyak teknologi yang memudahkan, makanya Islam nggak pernah ngekang manusia untuk terus berinovasi. Tapi, Islam juga punya aturan yang jelas gimana kemajuan teknologi nggak bikin manusia lupa diri. Nggak kayak sekarang, atas nama pembangunan berapa juta hektar hutan yang dikorbankan. Atas nama meraih identitas sebagai manusia modern jadi tega ngorbanin manusia lainnya. Sebagian kecil hidup dalam gelimang harta, sebagian besar lainnya dibiarkan hidup terlunta-lunta. Itu fakta yang terjadi saat ini, dan fenomena kayak gitu sama sekali bukan fenomena kehidupan manusia modern. Mana ada manusia modern nggak punya hati ngeliat manusia kanan-kirinya mati? Islam bikin hidup sukses, maju, sekaligus mulia dunia en akhirat, Bro,Sis!</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap manusia yang lahir sejatinya adalah muslim. Ketika ruh ditiupkan saat kita berusia empat bulan dalam kandungan ibu-ibu kita, kita berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt. Ikrar yang nggak sembarang ikrar! Ikrar itu sumpah kita! Kalo kita udah bersumpah bahwa nggak ada Tuhan selain Allah Ta&#8217;ala, artinya nggak ada zat lain, nggak ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita sembah, kita turuti segala perintah dan larangan selain Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Kita juga sebagai muslim pastinya bersyahadah bahwa Muhammad utusan Allah Swt. Artinya, nggak ada manusia lain, satupun, di muka bumi ini, yang kita ikutin perkataannya, perbuatannya, dan diamnya, selain Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi remaja yang relijius, berarti remaja yang berusaha semampu mungkin untuk ngejalanin apa yang Islam perintahkan dan ngejauhin apa yang Islam larang, berdasarkan kesadaran syahadah kita pastinya. Nah, kalo menjadi sosok relijius emang konsekuensi dari syahadah, kenapa juga kita jadi minder? Kan, itu emang seharusnya. Malah kita harus berusaha keras supaya bisa mencapai level relijius itu. Tapi, bukan berarti kita juga harus sok koar-koar relijius ya. Itu sih sombong. Orang sombong nggak sesuai dengan ajaran Islam. En, berarti menodai makna relijius yang sebenarnya.<br />
<strong> </strong><br />
<strong>Cuma untuk Islam </strong><br />
Islam yang jadi jalan hidup jangan sampai deh cuma dipake kalau pas waktu tertentu aja. Pas Ramadhan aja pada rame tadarusan. Atau pas pesantren kilat, baru deh pada? rame pake jilbab. Ngejalanin Islam emang kudu harian.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi&#8230; gue nggak mau dibilang radikalis, fundamentalis, atau bahkan teroris. Siapa yang bilang kalau seorang muslim ingin menjadi sebenar-benarnya muslim terus jadi teroris? Ngebela diri dan agama yang dilecehin seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Palestina dan Irak masa&#8217; dibilang teroris? Terus, kalau tentara Amerika dan Israel ngebantai saudara-saudara kita di sana kok nggak dibilang teroris gitu?</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, istilah fundamentalis en radikalis sering dikaitin sama kekerasan. Kamus bahasa Indonesia juga memasukkan kata kekerasan untuk dikaitkan dengan radikalis dan fundamentalis. Padahal nih kalo kita mau liat-liat di kamus English to English (karena kan kata radikalis dan fundamentalis dari bahasa Inggris, jadi afdolnya kita kudu liat kamus dari bahasa yang sama), fundamentalis berasal dari kata fundamental yang artinya aturan, prinsip dasar. Nah, fundamentalis berarti orang yang menerapkan aturan dan prinsip dasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana dengan radikal? Radikal artinya dasar, perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Orang yang radikal berarti orang yang melakukan perubahan yang mendasar dan menyeluruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, apa salahnya coba dengan kata fundametalis dan radikal? Sebagai muslim, emang udah jadi keharusan kan untuk menerapkan aturan atau prinsip dalam Islam. Sebagai muslim kita juga kudu ngelakuin perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap kehidupan saat ini yang sangat tidak adil dan jauh dari sejahtera, supaya bisa menjadi adil dan sejahtera.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo ada cap orang yang fundamentalis dan radikal itu suka melakukan kekerasan, itu sih <em>black campaign </em> alias propapaganda negatif. Karena orang yang melakukan perubahan dengan Islam, dia pastinya harus tunduk kepada aturan Islam. Dan, Islam mengajarkan bahwa perubahan itu dilakukan dengan dakwah tanpa kekerasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo musuh Allah Swt, musuh Islam, kasih label yang aneh-aneh ke kita itu supaya kita jadi ngeri sama Islam, terus jadi ngejauhin diri dari Islam. Kalo udah jauh dari Islam, kita jadi jauh sama tuntuntan hidup sebenarnya, kita jadi cupu, jadi lemah. Kita jadi gampang dipengaruhin sana-sini, &#8220;disuntik&#8221; pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan maunya penjajah. Kalo pemikiran kita, benar-salah menurut kita sama dengan benar-salah menurut penjajah, kita jadi gampang dijajah. Boro-boro berjuang ngusir penjajah, punya niat ngelawan aja nggak. Apa yang kayak gitu yang kita mau? Nggak lha yauw!</p>
<p style="text-align: justify;">Islam seharusnya bikin hidup kita beda! Remaja muslim bukan remaja pasaran. Kemana-mana dia pasti menampilkan pancaran yang khas, yang nggak biasa-biasa aja. Tegas dalam bersikap. Yang menurut Allah Swt. dan Rasul-Nya itu benar (haq) maka akan tetap menjadi kebenaran. Yang menurut Allah dan Rasul-Nya itu salah (bathil), maka selamanya salah. Bukan tipe manusia plin-plan. Bukan manusia yang sukanya ikut-ikutan. Di saat yang sama dia juga tulus dalam berkasih sayang terhadap sesama. Cerdas dalam mencari solusi kehidupan, juga gaul terhadap perkembangan jaman. Pemberi solusi, bukan penyumbang masalah. Pembela kebenaran, pejuang keadilan, bukan tipe penjilat apalagi pengkhianat. Duh, jauh deh ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuma Islam yang bisa bikin remaja begitu. Cuma Islam yang bisa bikin remaja jadi <em>powerful</em> untuk meraih cita-cita. Nggak gampang nyerah sama keadaan. Karena dia sadar kalo cita-cita yang dia perjuangkan adalah cita-cita yang membawa maslahat bagi umat di dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Islam wajib diperjuangkan!</strong><br />
Ketika seorang muslim sudah menjadikan Islam sebagai pilihan hidupnya, jadi hal yang wajar kalau dia mati-matian memperjuangkan. Seperti para pejuang Islam berikut ini:
</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu Mas&#8217;ud</strong>, seorang sahabat Rasulullah, membacakan al Quran di dekat Ka&#8217;bah di waktu dhuha di hadapan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul. Orang-orang Quraisy berdiri? menghampiri dia, lalu memukulinya. Tetapi Ibnu Mas&#8217;ud terus membaca al Quran sampai wajahnya babak-belur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Shafiyyah binti Abdul Muthalib</strong>, bibi Rasulullah saw, dialah wanita pertama yang membunuh kaum musyrikin. Di pertempuran Uhud, kala kaum muslimin tercerai-berai turun dari bukit tidak mendengar perintah Rasulullah, tinggallah Ali bin Abi Thalib, Umar bi Khatab, Zubair bin Awwam (putra Shafiyyah) , dan Abu Bakar ash-Shidiq. Salah satu gembong kaum kafir, Ubay bin Khalaf mendekat untuk membunuh Rasulullah dengan tombaknya. Namun, Rasulullah mampu merebut tombak itu dan menancapkannya ke tubuh Ubay. Di sisi yang berlainan, Shafiiyah tidak berkedip memperhatikan kondisi kaum muslimin yang mulai terdesak. Semangat juangnya membara dan semakin berkobar melihat pihak kaum muslimin terdesak. Bagai singa betina, dia segera meloncat ke punggung kuda dan menyambar pedang salah seorang muslimin yang sedang berlari. Bagaikan terbang Shafiyyah memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Pedang Shafiyyah berkelebat ke sana-sini mencari sasaran musuh. Tidak sia-sia karena banyak kaum kafir Quraisy yang tewas di tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ustadz Sayyid Quthb</strong> ketika ditanya oleh mahkamah tentang penguasa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah (al-Quran). Beliau menjawab, &#8220;Dia Kafir.&#8221; Maka sebagian muridnya bertanya, &#8220;Mengapa engkau berterus terang dalam masalah ini di hadapan mahkamah, padahal lehermu di antara para algojo?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ada dua sebab. <span style="text-decoration: underline;">Sebab yang pertama:</span> karena kami berbicara masalah akidah, maka tidak boleh tauriyah (diplomasi atau menyampaikan perkataan yang berbeda dengan isi hati). <span style="text-decoration: underline;">Sebab yang kedua:</span> Tidak boleh menyatakan kalimat kekafiran bagi seorang yang diikuti orang banyak. Para pemuda yang menjadi perintis dan teladan umat, maka tidak boleh baginya menyatakan kalimat kekafiran dan bersikap tauriyah dan tidak boleh baginya mengambil dasar ayat di atas. Ketika orang-orang dekatnya mengatakan pada beliau: &#8220;Wahai Sayyid! Seandainya engkau mau mengajukan grasi&#8221;. Beliau menjawab: &#8220;Sesungguhnya jari yang menyaksikan ketauhidan Allah di dalam sholat akan menolak menuliskan satu huruf pun yang mengakui hukum thoghut. Mengapa saya harus mengajukan grasi? Jika saya diadili dengan haq, maka saya akan ridho dengan al-haq, dan jika saya diadili dengan bathil, maka saya merasa lebih besar daripada mengajukan grasi yang bathil.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sedikit contoh para pejuang Islam yang dengan segenap jiwa dan raga membela Islam. Ya iya dong. Kalo Islam udah jadi pilihan hidup, tentunya harus kita bela habis-habisan. Kalo jaman sekarang, kita bisa bela Islam dengan menampilkan sosok muslim sejati di diri kita, dengan kriteria seperti yang udah dijabarin di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum ngerasa sreg ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup? Bisa jadi karena kita belum kenal Islam secara mendalam. Kalau belum kenal, gimana bisa jadi sayang sama Islam. Kalau nggak sayang, pasti deh nggak bakal ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, supaya bisa sayang, mulai sekarang kenal en gaul deh sering-sering sama Islam. Yang rutin jadwalnya (minimal pantengin terus deh buletin gaulislam: http://gaulislam.com). Usahanya juga harus pol. Insya Allah kita pasti bakal jatuh cinta sama Islam dan akhirnya rela ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup. Lagipula milih Islam nggak pernah ada ruginya, bikin kita selamat dunia-akhirat! Mau? Yes! <strong>[nafiisah fb: www.nafiisahfb.co.cc]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-pilihan-hidup-gue/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses Tanpa Noda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sukses-tanpa-noda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sukses-tanpa-noda#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 00:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2585</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 086/tahun ke-2 (21 Jumadil Akhir 1430 H/15 Juni 2009)
Sukses tanpa noda? Heuheu&#8230; kayak iklan deterjen aja nih. Tapi pada pernah denger kata SUKSES kan? Yaeyalah, pasti! Selain denger pastinya juga pengen ngedapetin tuh sukses. Tapi ati-ati nih. Ati-ati banget dah! Jangan tersihir ama nih kata sukses. Loh? Sejak kapan sukses punya ilmu sihir? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 086/tahun ke-2 (21 Jumadil Akhir 1430 H/15 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Sukses tanpa noda? Heuheu&#8230; kayak iklan deterjen aja nih. Tapi pada pernah denger kata SUKSES kan? Yaeyalah, pasti! Selain denger pastinya juga pengen ngedapetin tuh sukses. Tapi ati-ati nih. Ati-ati banget dah! Jangan tersihir ama nih kata sukses. Loh? Sejak kapan sukses punya ilmu sihir? Heuheu&#8230; maksudnya sih, jangan sampe kejebak ama sukses semu. Gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Sukses di matamu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, saat dibuka pendaftaran jadi VJ,<em> casting</em> di suatu <em>production house</em> (PH), festival band indie, kontes nyanyi <em>idol</em>, <em>or</em> kontes <em>miss-miss&#8217;</em>an pasti lah orang-orang muda kayak kita gini yang jadi korban. Harapan kita sih pengennya selain cari pengalaman, terus juga bisa &#8217;sukses&#8217; pas ikutan berbagai ajang tersebut. Sukses dalam artian bisa terkenal, tajir, bisa bikin album musik sendiri, terus banyak produser PH yang ngontrak kita buat proyek <em>entertainment</em> mereka, bisa masuk tv, ujung-ujungnya jadi seleb. <em>So</em>, demi meraih sukses pokoknya jatuh bangun deh! Lintas kota, lintas propinsi dijalani (emang bus apa?). Demi meraih sukses! Waaahhh! Gitu yah?<span id="more-2585"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebutlah band D&#8217;Masiv, sang juara dari festival band indie yang diselenggarain oleh sebuah perusahaan rokok tenar di Indonesia. Kemenangan mereka ternyata berbuah kesuksesan. Udahlah dikejar-kejar <em>fans</em> (untung bukan ama <em>debt collector </em>tuh!), videoklip dan lagu-lagu mereka pun sukses di pasaran! Laris manis buat dijadiin nada sambung di seluruh operator ponsel di Indonesia bahkan juga buat <em>opening theme</em> sinetron lope-lope&#8217;an. Udahlah tenar, cakep, harta pun berlimpah. Sukses!</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi nggak semua sih mikir suksesnya dengan ikutan hal-hal yang terkait ama <em>entertainment</em> alias hiburan. Ada juga yang pengen sukses dalam prestasi akademik. Target nih, bisa masuk rangking lima besar nilai terbaik di kelas. Jadi bintang kelas gitu deh. Terus, misal ada kompetisi akademik pasti ikutan. Lomba karya tulis ilmiah? Ikut! Lomba cerdas-cermat? Dijabanin! Seleksi pertukaran pelajar antar negara? Ngak ketinggalan! Lomba pidato tiga bahasa Arab-Inggris-Indonesia? Kalo pun sampe 5 bahasa juga bakal ikut dah! Yok, ikut! Olimpiade sains? Nggak enak kalo nggak ikut! Tandingnya kan malah sampe lintas propinsi bahkan lintas negara tuh! Hmm, kalo pun tampang udah menawan (ehm ehm), prestasi akademik ampe kesohor, pastinya jadi sorotan nih. Dikagumin temen-temen, disayang para guru juga ortu, eh kesohor sampe kemana-mana lagi. Wesss, asoy dah! Kenal sama Muhammad Shahibul Maromi yang sekolahnya di SMAN 1 Pamekasan? Nah, dia tuh juara <strong>APho alias </strong><em>Asian Physics Olympiad</em> tahun 2009 en berhasil nyabet Perunggu. Keren kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, ternyata ada juga nih yang mikirnya sukses nggak harus dalam<em> entertainment</em> atau akademik. Jadi? Bagi yang nekunin hobi nulis, hobi nyablon, hobi dagang, hobi masak, hobi maen game, hobi desain pake<em> software </em>sampe hobi ngomong, ternyata malah merintis bisnis dari hobi mereka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenal nggak sama Jae Ho &#8216;Moon&#8217; Jang? Di umur 22 tahun, doi mendapat kontrak 3 tahun sebagai pemain game dari We Made FOX karena jago bermain game strategi Warcraft III. Nilainya mencapai 700 juta Won atau setara 473.037 dollar Amrik. <em>So</em>, tiap taonnya, Jae Ho <em>gamer</em> asal Korea ini mendapatkan penghasilan sekitar 1.65 Milyar atau 130 Juta Rupiah perbulan! (enak banget jadi tester game ya, udah mah main-main, eh dapat duit pula, gede lagi!)</p>
<p style="text-align: justify;">Trus bagi yang hobi makan kebab pasti tau kebab Baba&#8217;s Rafi kan? Nah, ternyata Mas Setiono tuh yang ngebangun usaha kebab ini di usia yang lumayan muda, 23 tahun bo! Dan kini, udah mencapai sekitar 65<em> outlet </em>di 10 kota di Indonesia. Ckckck&#8230; Sukses !</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo yang hobinya ngedesain en nyablon? Nah, berawal dari ide propaganda nih, berdirilah Bengkel Revolusi distro. Pegiatnya para pemuda yang <em>care</em> ama Islam dan bikin <em>merchandise </em>keren, mulai stiker, pin, gantungan kunci, kaos sampe jaket dengan gaya yang oke plus slogan yang asoy punya. Contohnya aja nih, ada stiker yang bertuliskan slogan &#8216;Demokrasi Pasti Mati&#8217;. Sederhana tapi maut, Bro en Sis! Nah, di blog www.bengkelrevolusi.multiply.com, kang Ipank Ureshii ngegelar dagangan <em>merchandise</em>nya dengan semangat revolusi sampai mati! Asooyy!</p>
<p style="text-align: justify;">Pada ngiler nih pengen sukses juga? Sama. Hehehe.? Tapi, sukses yang gimana dulu? Tentunya bukan sukses semu! Yup, lanjut!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sukses negatif vs sukses positif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Aduh, ngiler jadi sukses jangan ampe ngeces gitu dong. Malu ah! Mending sekarang kita <em>mapping</em> dulu supaya bisa fokus gimana ngeraih sukses yang positif. Nggak terjebak dalam sukses yang negatif. Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi nih, Bro, kalo dari tadi mikirnya sukses tuh adalah tenar en dapet duit banyak sebenernya kurang bener juga. Apalagi kalo buat ngeraih sukses mikirnya kudu sukses dengan cara yang instan.<em> Cos</em>, menurut pengalaman nih juga baca pengalaman orang-orang sukses, justru kesuksesan diraih melalui proses yang berat. Jatuh bangun gitu dah! Tapi walaupun jatuh bangun, ya sayang juga proses perjuangannya malah untuk memperjuangkan kesuksesan yang negatif.? Auwh.. keningmu mulai berkerut. Oke, oke.. jadi simpelnya gini : &#8220;Jangan cepet-cepet menyimpulkan kesuksesan itu cuma buat ngeraih ketenaran en materi berlimpah. Selain itu jalan menuju sukses juga biasanya nggak semudah yang dibayangkan.&#8221; Gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo sukses yang kamu idamkan cuma sebatas ngeraih sukses duniawi, itu <em>mah</em> cuma sukses jangka pendek bahkan sifatnya semu. Nggak sedikit orang-orang yang meraih kesuksesan semu malah akhirnya bunuh diri or ngelakuin hal-hal yang negatif. Contohnya aja Kurt Cobain, vokalis band Nirvana yang sempet saya idolakan semasa SMA dulu (wah ketauan deh betapa tuanya ane hehehehe&#8230;). Doi bunuh diri tuh, padahal karirnya sukses, albumnya pun laris. Terus Lucy Gordon, pemeran Jeniffer Dugan di Spiderman 3 malah ditemukan koit gantung diri di flatnya yang ada di Paris sono pada awal bulan Mei taon 2009. <em>So</em>, sayang banget kan kalo kesuksesan di dunia yang diraih ternyata cuma jadi debu di hadapan ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kalo nge-<em>review</em> ajaran-ajaran dari para motivator yang udah ane ikutin, dalam training tersebut ane diajarin gimana ngelola aset yang ada dalam diri kita bahkan menjadikan kekurangan sebagai kekuatan. Tapi itu semua tetep dilandasin dengan akidah Islam. Trus, ane juga diajarin gimana ngelola aktivitas supaya bisa meraih sukses jangka pendek dan jangka panjang yang semuanya mengacu kepada ridho Allah ta&#8217;ala. Makanya tuh ada slogan : <em>&#8220;be the best, not be asa&#8221;</em> (jadilah yang terbaik bukan biasa).</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang trainer muda bahkan doi adalah muallaf, usianya beda enamtaon lebih muda dari ane. Sudahlah lebih muda usia diri, usia masuk Islamnya pun masih dini banget dibanding ane yang sejak lahir udah dilahirin sebagai muslimah. Tapi doi udah sukses untuk memotivasi ane untuk menjadi orang yang istimewa dengan teknik memilah kelebihan dan kekurangan! Dari teknik pilah ini, akhirnya sampe sekarang ane tetep <em>keukeuh </em>termotivasi untuk membumikan Islam di kampus ane dengan segala kemampuan yang ane bisa (sukses jangka pendek) dan insya Allah Islam nggak cuma di kampus ane aja, tapi di mana pun ane berada demi ngelanjutin kembali kehidupan Islam<em> </em>(sukses jangka panjang). Pokoknya <em>ganbatte</em> dah! <em>Cos</em>, kalo sandaran kita adalah akidah Islam maka nggak cuma menjadi sukses tapi juga menjadi <em>insya Allah</em> mulia di hadapan Allah <em>azza wa jalla</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jangan heran kalo Islam dijadiin landasan hidup, jadi pemimpin en petunjuk bagi kita, insya Allah sukses positif bakal kita raih. Dan jangan heran juga kalo bakal terlahir pribadi-pribadi sukses yang orientasinya nggak cuma duniawi aja.? Siapa tuh para pribadi sukses itu? Penasaran? Baca lagi dah ampe ngiler! (huss&#8230; elo tidur miring sih!) Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>The Proposal of Death</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Wuih, <em>proposal of death</em>! Serem banget! Tapi bener loh, dari sekarang apa udah mulai nyusun proposal &#8216;kematian&#8217;.? <em>Cos</em>, hakikinya kan nih kehidupan duniawi cuma sementara, udah gitu apa yang udah kita lakuin di dunia bakal jadi bekal kita untuk di akhirat. Kalo selama hidup aja kita nggak ngeraih sukses positif, gimana entar di akhirat?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi justru karena proposal kematian ini lah terlahir pribadi-pribadi sukses, Guys! Tahu Thariq bin Ziyadh? Shalahuddin al Ayubi? Ali bin Abi Thalib? Sa&#8217;ad bin Waqash? Fathimah binti Muhammad? Asma binti Abu Bakar? Alhamdulillah, di usia muda, mereka udah &#8216;beres&#8217; dengan diri mereka bahkan mereka mampu menularkan kesuksesan mereka kepada umat. Mereka mampu mengelola dan membangun kepribadian mereka karena kekuatan akidah mereka yang keren! Makanya jangan heran, mereka sukses membangun kepercayaan umat dalam membangun kehidupan Islam, mereka juga sukses dalam keluarga baik sebagai anak, suami-istri dan ayah-ibu. Bahkan mereka sukses mengisi dan membangun peradaban Islam. Contohnya aja nih, Thariq bin Ziyad, pada usia 25 tahun mampu menaklukkan Spanyol. Perbandingan pasukannya? Spanyol di bawah raja Rhoderick total 100.000 sedangkan dibawah pimpinan Thariq total 12.000 pasukan. Ternyata 100.000 pasukan Spanyol pada tumbang tuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Kuncinya apa ya? Mau tahu? Kuncinya adalah: Kekuatan akidah dan <em>mardhatillah</em> alias meraih ridho Allah Swt. Makanya proposal kematian pun udah disusun dalam kehidupan mereka <em>cos </em>mereka sadar tujuan hidup selama ini adalah sebagai hamba Allah, taat kepara perintah Allah dan setelah kehidupan, mereka siap kembali kepada Allah. Siap mempertanggungjawabkan segala amal di dunia buat kehidupan di akhirat sono.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, kalo mau sukses dalam kehidupan, kudu <strong>ITR</strong> kepada Allah Swt. Apa tuh ITR? <strong>Inget</strong> untuk <strong>Taat </strong>kepada perintah Allah Ta&#8217;ala demi ngeraih <strong>Ridho</strong>-Nya. Jadi salah besar, kalo sukses itu selalu ditandai dengan terkenal, banyak duit dan penggemar. Parameter sukses sebenernya adalah berhasil nggak kita ngelakuin hal-hal yang diridhoi ama Allah. Gitu deh. Insya Allah bakal dilempengin deh jalan suksesnya baik dunia maupun akhirat. Dijamin! Kalo menurut kamu menemui kegagalan, itu belum tentu gagal. Itu cuma kesuksesan yang tertunda. Pembelajaran diri dalam hidup. <em>So</em>, jangan cepet putus asa! Yang penting bisa berhasil meraih ridho Allah. Sekali lagi,<em> ganbatte</em>! <strong>[anindita: coffee.prince70@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sukses-tanpa-noda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Politik, Jilbab, dan Remaja</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/politik-jilbab-dan-remaja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/politik-jilbab-dan-remaja#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 19:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2533</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 085/tahun ke-2 (14 Jumadil Akhir 1430 H/8 Juni 2009)

Banyak berita berseliweran di media massa. Dari mulai berita gosip selebriti, kriminalitas, perkembangan ekonomi, fenomena sosial, peristiwa budaya, sampe berita hukum dan politik. Semua menghiasai mata dan telinga kita. Media cetak, media elektronik, hingga internet. Malah media yang memanfaatkan jaringan internet nggak henti-hentinya alias nonstop [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 085/tahun ke-2 (14 Jumadil Akhir 1430 H/8 Juni 2009)</p>
<pre></pre>
<p style="text-align: justify;">Banyak berita berseliweran di media massa. Dari mulai berita gosip selebriti, kriminalitas, perkembangan ekonomi, fenomena sosial, peristiwa budaya, sampe berita hukum dan politik. Semua menghiasai mata dan telinga kita. Media cetak, media elektronik, hingga internet. Malah media yang memanfaatkan jaringan internet nggak henti-hentinya alias nonstop selama 24 jam sehari untuk menyampaikan informasi. Kita bisa memilih dan memilah informasi semampu dan sesuai keperluan kita. Nggak mungkin lah kalo sampe semua kita perhatiin. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu pasti tahu dong kasus Manohara Odelio Pinot yang kabur dari suaminya, sang pangeran Kerajaan   Kelantan, Malaysia? Tahu juga kan kasus Ibu Prita yang &#8216;berperang&#8217; melawan RS Omni Internasional, Tangerang? Ngeh juga kan seputar gosip artis terkini? Hmm. Tapi kita nggak bakalan bahas itu. Nah, yang sekarang kita bakalan bahas adalah yang ada hubungannya langsung dengan remaja, juga masalah pakaian (khususnya kerudung dan jilbab), yang kemudian ada yang menghubung-hubungkannya dengan masalah politik. Wow, berat amir nih temanya. Ah, nggak juga sih. Tergantung sudut pandang kamu kok. Kalo kamu nganggepnya berat, bakalan berat, tapi kalo kamu anggap masalah ini enteng, insya Allah akan enteng juga. Makanya, supaya nggak berat, pas baca buletin kesayangan kamu ini jangan sambil gendong traktor ya, dijamin nggak berat. Lho, apa hubungannya? Gejlig!<span id="more-2533"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, sesuai judul dalam tulisan di buletin gaulislam ini, &#8220;politik, jilbab, dan remaja&#8221;, maka saya ingin agar kamu bisa memahami masalah ini dengan benar sesuai sudut pandang Islam. Kenapa harus Islam? Ya, karena kaum muslimin hanya taat kepada Allah Swt. dan RasulNya, yang udah tercantum dalam ajaran Islam. Islam, sebagai akidah sekaligus syariat bagi kaum muslimin untuk mengatur kehidupan di dunia agar bisa membawa bekal yang benar dan baik bagi kehidupan di akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir-akhir ini, kamu juga pasti ngikutin berita seputar jilbab. Sebenarnya istilah jilbab yang sedang digembar-gemborkan media massa tuh keliru. Soalnya yang sedang dibicarakan adalah sebenarnya kerudung (bukan jilbab) yang dipakai &#8220;senjata&#8221; oleh capres/cawapres yang mendompleng isu ini demi naikkin popularitas dan simpati masyarakat supaya tertarik dengan masalah seperti ini dan akhirnya milih dia. Di satu sisi lagi, ada juga yang tidak mempersoalkan masalah kerudung (dan jilbab), karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah ekonomi atau masalah politik lainnya. Maklum, yang bersangkutan sedang dalam kondisi memilih pasangan capres/cawapress yang kebetulan para istrinya boro-boro pake jilbab, kerudung aja kagak. Selain itu, ada juga capres yang kebetulan wanita malah bikin pernyataan ngeles, ketika disinggung soal kerudung (dan jilbab) ini, yang bersangkutan bilang, &#8220;Islam ada di hati saya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Halah, ternyata masalah kerudung dan jilbab aja bisa dihubungkan dan diikat-kaitkan dengan masalah politik. Jadi ajang untuk saling serang. Ada yang memanfaatkan, ada yang menolak. Nah, gimana nih sikap remaja? Apa yang harus dinilai dan diperhatikan dalam masalah ini? Yuk, kita geber aja bareng agar masalah ini nggak bikin kamu tambah bodoh atau masa bodoh. Setuju kan?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Salah kaprah seputar politik </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo kamu ngomongin politik pasti bawaannya males, sebel, dan muak kalo ngeliat para pelakunya. Gimana nggak, politik dalam sistem demokrasi saat ini memang dianggap sebagai jalan untuk meraih kekuasaan. Maka, apapun bisa dilakukan yang penting kekuasaan bisa diraih. Maklumlah, manusia kan memiliki <em>gharizah al-baqa&#8217;</em> alias naluri mempertahankan diri, yang salah satu penampakannya adalah <em>hubbuttamaluk</em> (keinginan untuk memiliki). Memiliki di sini bisa diartikan luas: harta, kekuasaan, jabatan, dan apa saja yang bisa mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Maka, tak heran jika manusia ingin berkuasa atas manusia lainya. <em>So</em>, kalo udah berkuasa apa aja bisa diraih. Nyari harta gampang, nyari orderan nggak sulit, makan enak, rumah megah, keluarga bahagia, kendaraan keren, duit full terus dan beragam fasilitas lainnya. Siapa yang nggak tergiur? Apalagi jabatan tersebut adalah sekelas presiden, wakil presiden, menteri dan pejabat tinggi negara lainnya. Pasti deh bikin asoy untuk dikejar dan diraih.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, karena politik udah kadung dianggap sebagai sarana meraih kekuasaan, maka saat ini capres dan cawapres beserta tim suksesnya masing-masing giat bekerja dan rajin bikin terobosan. Mencari berbagai isu yang bisa dijual untuk mendongkrak popularitas jagoannya. Jangankan cuma kerudung, hadis dan al-Quran aja jadi laku dijual di masa kampanye. Berharap akan banyak orang yang tertarik dengan capres/cawapres yang religius. Padahal, seperti yang udah-udah, karena niatnya nggak terbukti untuk kebaikan, tujuannya pun bukan untuk menerapkan syariat Islam, akhirnya mereka hanya sholeh sesaat aja. Begitu selesai masa kampanye ya lupa semua. Baik yang menang maupun kalah kembali ke habitat awal khas kehidupan sekularisme: hedonis, dan bahkan yang menang tetap menerapkan demokrasi dan kapitalisme. Padahal, sistem tersebut bertentangan dan bahkan menentang ajaran Islam. Aneh memang. Dan, yang lebih parah adalah rakyatnya yang mau aja dibodohi terus menerus. Kalo kata Kasino Warkop sih, &#8220;bodo dipelihara, kambing dipelihara bisa gemuk!&#8221; Hehehe..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selembar kain&#8221; bernama kerudung ini sekarang jadi ngetren: dipuja dan dicela. Satu kubu menjadikan senjata menarik simpati massa, kubu yang lain justru mencela, atau setidaknya meremehkan bahwa hal itu nggak ada hubungannya dengan masalah politil, ekonomi atau kemaslahatan bangsa lainnya. Well, keduanya justru jadi persoalan bagi kita, kaum muslimin. Sebab, gimana pun juga sebenarnya dalam pandangan Islam, masalah politik, masalah kerudung (dan jilbab), serta masalah lainnya seharusnya menjadi perhatian dan diatur dengan benar dan baik. Itu sebabnya, nggak perlulah ajaran syariat menjadi &#8220;senjata&#8221; untuk saling serang demi meraih kekuasaan. Apalagi nggak ngerti apa-apa tentang syariat itu sendiri. Cuma modal semangat dan niat yang kurang terpuji, ditambah salah juga dalam pemahaman dan pengamalannya. Lengkap sudah kekacauan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, kita jangan terkecoh untuk mendukung satu pihak dan menolak satu pihak lainnya dalam kasus ini, tapi yang perlu kita kaji dan cermati adalah, apakah mereka yang terlibat dalam pro-kontra tentang &#8220;selembar kain&#8221; itu sudah benar niat dan tujuannya berdasarkan aturan Islam atau belum. Kalo semuanya belum ada niat menerapkan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ngapain didukung? Iya nggak sih? Analoginya gini, apa yang bakal kamu lakukan kalo disodorin ke hadapanmu 3 gelas berisi racun, kamu memilih menolak semuanya atau mencari gelas yang jumlah racunnya sedikit? Kondisi saat ini pilihannya adalah racun semua. Maka, orang cerdas dan takwa, pastinya menolak semua gelas berisi racun. Tapi kalo yang mau coba &#8220;bunuh diri&#8221; dan menggadaikan akidahnya demi tujuan sempit dan mungkin saja hina, dia akan memilih racun, baik yang racunnya mematikan secara langsung atau mematikan perlahan-lahan. Ah, urusan politik dalam sistem demokrasi-kapitalisme memang payah dan parah. Sistem ini sudah cukup menjadi &#8216;neraka&#8217;!</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan Islam, politik didefinisikan sebagai pengaturan urusan umat manusia. Dalam kitab <em>Mafahim Siyasiyah</em> dijelaskan bahwa politik adalah <em>ri&#8217;ayatusy syu&#8217;unil ummah,</em> alias pengaturan urusan ummat. Adapaun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (<em>iqtishadi</em>), pidana (<em>uqubat</em>), sosial (<em>ijtima&#8217;i</em>), pendidikan (<em>tarbiyah</em>) dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengen bukti? Nah, Islam telah memberi?kan gambaran yang utuh dalam masalah ini, bahkan sejarah memperlihatkan selama lebih dari 14 abad, kaum muslimin hidup dengan menerapkan aturan Islam. Tidak pernah ada satu masa pun kaum muslimin hidup dengan aturan selain Islam. Catet nih, Bro! Terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuh?kan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemim?pin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui pengha?pusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam. Menyedihkan bukan? Ini tanggungjawab kita untuk menegak?kannya kembali, Bro!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Well</em>, kok bengong? Atau sedih? Soalnya memang itulah gambaran kita saat ini. Coba dari dulu memahami istilah politik seperti ini, pasti nggak bakalan bengong or bingung kayak sekarang. Tapi alhamdulillah, sekarang kamu mulai paham sedikit demi sedikit tentang politik dalam pandangan Islam. Hehehe, sedikit promosi nih, kalo kamu pengen lebih detil membaca dan memahami masalah Islam sebagai ideologi, yang tentu saja mencakup politik di dalamnya, kamu bisa baca buku saya berjudul <em>Yes! I am MUSLIM</em> (Gema Insani, 2007), dan <em>Muda Luar Biasa</em> (Gazzamedia, 2009), infonya klik: www.osolihin.com. Kalo belum punya bisa pinjem atau beli aja kedua buku tersebut ya. Hehehe&#8230; Insya Allah bisa lebih puas deh memahaminya, kalo di buletin ini dijembrengin detil pastinya jadi tambah banyak jumlah karakternya padahal jatah halamannya terbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jilbab sebagai identitas muslimah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muslimah taat syariat Islam, pasti akan mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah. Soalnya, jilbab dan kerudung adalah pakaian untuk menutupi aurat muslimah. <em>So</em>, kerudung dan jilbab bukan cuma untuk nunjukkin ke orang-orang bahwa dirinya sebagai muslimah, sementara dirinya justru melanggar syariat Islam lainnya. Pake kerudung dan jilbab tapi sekuler, pake kerudung dan jilbab tapi hedonis, pake kerudung dan jilbab tapi ikut mendukung feminisme, pake kerudung dan jilbab tapi membela mati-matian demokrasi. Itu sih namanya aneh yang punya bapak ajaib.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, sedikit nih perbedaan antara kerudung dan jilbab. Jilbab bermakna <em>mil<span style="text-decoration: underline;">h</span>?fah </em>(baju kurung atau semacam <em>abaya </em>yang longgar dan tidak tipis), kain (<em>kis?&#8217;</em>) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (<em>tsawb</em>) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus <em>al-Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>?th </em>dinya?takan demikian: <em>Jilbab itu laksana </em>sird?b <em>(tero?wongan) atau </em>sinm?r <em>(lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus <em>ash-Sha<span style="text-decoration: underline;">hh</span>?h, </em>al-Jawh?r? menyatakan: <em>Jilbab adalah kain panjang dan longgar </em>(mil<span style="text-decoration: underline;">h</span>?fah) <em>yang sering disebut </em>mul?&#8217;ah <em>(baju kurung).</em> Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab <em>plus</em> kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>&#8220;Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.&#8221; </em><strong>(QS al-Ahzab [33]: 59)</strong><em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, dengan penjelasan ini semoga kamu jadi tambah paham: apa itu jilbab, pebedaannya dengan kerudung, dan konsekuensinya ketika mengenakan jilbab. Itu sebabnya, kamu jadi tidak mudah tergoda dengan &#8220;pro-kontra&#8221; kerudung (dan jilbab) yang digunakan untuk kampanye politik dalam rangka meraih kekuasaan. Sebab, gimana pun juga kalo memang yang mau diterapkan sebagai aturan kehidupan adalah demokrasi dan kapitalisme, maka bertaburannya simbol-simbol agama dan poin-poin aturan syariat jadi tidak ada gunanya. Bahkan itu adalah bagian dari upaya menghina ajaran Islam itu sendiri. <em>Wallahu&#8217;alam.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, sebagai remaja muslim, kamu kudu ngeh masalah ini. Sekarang udah banyak orang yang ngerti Islam dengan benar dan mereka ikhlas memperjuangkan dan membela Islam. Mereka yang tidak berambisi meraih atau mengemis jabatan dalam sistem kufur sembari mereka melecehkan Islam. Coba deh, kamu bisa belajar dari mereka. Buletin gaulislam pun berusaha memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam buat kamu semua. Kami berusaha memberikan informasi yang benar seputar ajaran Islam. Jadi, kamu bisa <em>stay tune</em> terus di website gaulislam (www.gaulislam.com).</p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh, sebagai catatan terakhir, Islam udah ngasih aturan yang jelas. Sehingga kita seharusnya bisa menerima Islam sepenuh pikiran dan perasaan kita. Nggak ada lagi deh, demi alasan kekuasaan atau tren, syariat hanya dijadikan penarik simpati masyarakat untuk mendukung seseorang yang akan berkuasa. Nggak banget! Jangan sampe kita dibenci oleh Allah Swt. karena kita melanggar (bahkan senantiasa) membangkang perintahNya. <em>Naudzubilah min dzalik.</em> Yuk, kita mulai belajar Islam lebih dalam, lebih luas. Tetap semangat! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/politik-jilbab-dan-remaja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prom Night</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/prom-night</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/prom-night#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 05:23:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[dugem]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[prom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2514</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 084/tahun ke-2 (7 Jumadil Akhir 1430 H/1 Juni 2009)
Kayaknya nggak ada abisnya teman remaja bikin heboh. Sekarang ini, selain teman remaja lagi pada sibuk nyiapin untuk ujian masuk ke perguruan tinggi negeri atau nyari SMA favorit buat nerusin sekolah, ternyata nggak sedikit juga yang justru nyiapin pesta perpisahan. Istilah kerennya, Prom Night. Istilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 084/tahun ke-2 (7 Jumadil Akhir 1430 H/1 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Kayaknya nggak ada abisnya teman remaja bikin heboh. Sekarang ini, selain teman remaja lagi pada sibuk nyiapin untuk ujian masuk ke perguruan tinggi negeri atau nyari SMA favorit buat nerusin sekolah, ternyata nggak sedikit juga yang justru nyiapin pesta perpisahan. Istilah kerennya, <em>Prom Night</em>. Istilah <em>prom</em>, diambil dari kata <em>promenade</em> yang artinya pergi jalan-jalan dengan orang lain. Kalo <em>prom night</em>, jalan-jalannya berarti berdansa dengan orang lain (dan biasanya ya malam hari, gitu).Walah?<em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Prom night</em> ini lagi heboh-hebohnya diobrolin. Biasalah, menjelang akhir sekolah. Nggak di kantin, nggak di kelas, malah sampe di WC saat &#8216;download&#8217; sekalipun yang jadi bahan obrolan adalah seputar <em>prom night</em> (idih, sempet-sem?petnya! Hati-hati aja saat download &#8216;file&#8217;-nya <em>corrupt</em> karena terputus koneksinya.. hahaha&#8230;). Duh, apa nggak ada bahan obrolan lain? Misalnya, tentang rencana kalo udah lulus mau ngapain. Tapi ya, inilah fakta sebagian besar teman re?maja kita. Gaulnya yang nggak-nggak aja.<span id="more-2514"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, namanya juga pes?ta, apalagi pesta yang katanya cuma sekali seumur hidup, pastinya kudu tampil <em>all out</em> tuh. Dari mulai dandanan, <em>make up</em>, tunggangan, tongkrongan, sampe gacoan. Singkat kata, kudu berani tampil beda dan sedep dipandang mata. Itu sebabnya sebagian besar teman kamu ada yang udah siap-siap dari sekarang untuk ngada?in pesta perpisahan sekolah itu, yang tentunya bakalan tampil jor-joran pas acara prom night.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, karena merasa kudu tampil <em>all out</em>, maka soal dandanan pun kudu yang ciamik <em>en</em> menarik. Pakaian dengan model yang simpel dan minim detil yang seka?rang lagi ngetren, dijamin nggak bakalan luput dari daftar belanjaannya anak cewek. Maklum, <em>dress code</em> untuk acara prom night ini diwajibkan sama panitanya. Belum lagi kudu nyiapin aksesoris yang meriah tapi romantis. Sampe soal makanan, minuman, mo?del acara, dan tentunya soal jenis musik udah disiapin dan disusun anggarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Urusan jenis musik juga katanya kudu heboh dong. Nggak seru dong kalo <em>prom night</em> musiknya dang?dut, apalagi campursari. Yah, paling apes lagu yang dipilih adalah <em>Lupa-Lupa Ingat</em>-nya Kuburan Band, kali ye. Biasanya sih yang pada bikin acara prom night milihin lagunya adalah lagu-lagu yang asyik punya, tipe &#8220;world music&#8221; seperti? <em>Because of You</em> milik Kelly Clarkson, <em>Smack That</em>-nya Akon, atau <em>Kiss A Girl</em>-nya Keith Urban. Pokoknya yang seru-seru gitu deh, meskipun tuh lagu &#8216;rasa bule&#8217; dinyanyiin ama band sekolahan yang suaranya so pasti cempreng abis hehehe.. (sori, ini bukan muji vokalisnya grup band dadakan sekolahmu).</p>
<p style="text-align: justify;">Well, inilah pesta anak muda yang kata?nya sekalian &#8220;syukuran&#8221; kelulusan. Mereka me?rasa bahwa inilah saat yang tepat untuk mem?buat kenang-kenangan, dan bersenang-senang tentunya. Oya, karena <em>Prom Night</em> adalah acara spesial, maka kudu memakai dandanan yang spesial, tunggangan spesial, makanan dan mi?numan yang spesial juga, termasuk gebetan yang tentunya istimewa. Biar bisa dipamerin ke teman-teman yang datang di acara <em>glamour</em> itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and Gals, teman remaja yang punya rencana ngegelar hajatan itu, makin panas aja karena dikomporin dengan maraknya media massa remaja yang mendukung niat dan tekad mereka. Gimana pun juga dari mulai sekarang udah marak tuh ngasih info soal prom night yang ujungnya hura-hura dan hedonis dah. Ya, khas budaya kapitalis. Hambur-hambur duit (itu pun abis nodong dari ortu pula). Kalo pun ada yang nabung, malah udah sejak SD (buset, sekalain aja nabungnya sejak dalam kandungan ibu kali ya? hehehe.. ngarang deh!).</p>
<p style="text-align: justify;">Budaya kayak gini emang maraknya di kota-kota besar dan sepuluh tahun belakangan ini. Jaman Fir&#8217;aun ngisep cerutu kayaknya belum ada deh (owh, jauh banget tuh!). Tapi kalo udah jaman teknologi informasi kayak sekarang, di desa-desa juga udah ikutan juga meski tak semewah dan seheboh di kota besar. Belum survei sih, tapi kalo pesta perpisahan mah umumnya di tiap sekolah ngadain. Malah yang diminta sumbangan dana juga melibatkan kelas satu ama kelas dua di SMP atau SMA. Kelasnya tiganya sih udah pasti, wong mereka yang punya hajat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ajang gaul bebas</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bener. Nggak boong. Selain bikin nguap duit jutaan rupiah, <em>prom night</em> ini juga memberi peluang bagi pesertanya untuk bebas bergaul dengan lawan jenis. Apalagi memang acara ini udah punya tujuan khusus, yakni tampil menarik bareng gandengan. Rasanya nggak seru kalo kebetulan nggak bawa kecengan datang ke <em>prom night.</em> Tanpa gebetan nekad datang ke pesta seheboh itu? Wah, tentu bikin sebel dong. Tentu, ini berlaku bagi yang tujuan datang ke prom night? adalah emang pengen pamer gebetan. Malu dong, kalo datang sendirian entar doi request lagunya &#8220;Cari Jodoh&#8221;-nya Wali Band. Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, emang sih kalo menuruti hawa nafsu, kayaknya asyik banget tuh pergi ke pesta perpi?sahan bareng gandengan. Sekalian bisa nunjuk?kin ke teman-teman kalo dirinya cukup pantas untuk mendapatkan gebetan. Syukur-syukur yang jadi gacoan kamu itu orangnya <em>cool</em> en <em>cute</em> banget kayak gerombolannya Kuburan Band atau <em>The Changcuters</em> (lha, nggak salah nih?). Wuih, betapa bahagianya hati ini. Rasanya kaki kamu udah nggak nginjek tanah lagi. Terbang! <em>Zwiiiing&#8230;!</em> Saking senengnya tentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, kalo sekadar gaul bebas sih, tanpa ada acara semacam prom night juga udah biasa dilakuin banyak remaja saat ini. Sepertinya udah jadi kesepakatan umum di masyarakat kalo masa remaja adalah masa-masa indah menjalin hubungan cinta kasih dengan lawan jenisnya. Halah, itu mah racun maut buat ngejerumusin remaja yang gede hawa nafsu, tapi lemah iman. Jadi kayak ada semacam legitimasi untuk ngelakuin perbuatan tersebut. Iya nggak sih? Jangan sampe deh ya. Malu ah, apa kata Allah Swt.?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalo ngeliat gelagatnya sih, pesta <em>prom night</em> ini udah ketahuan bakalan jadi ajang bebas. Gimana pun juga, itu emang ngasih peluang, Bro. Apalagi yang datang ke acara tersebut emang udah niat banget. Klop deh: niat ketemu ama kesempatan. Kata Bang Napi yang ngetren jaman dulu itu, &#8220;Ingat, kejahatan itu bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah!&#8221; Hehehe.. So, kalo pengen aman sih, nggak usah niat dan nggak usah dateng ke tempat acara prom night, gitu lho.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ngedugem</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ugh, kalo liat mereka yang udah pasang kuda-kuda untuk menggelar pesta <em>prom night</em> itu, rasanya kita sedang berada di tengah-tengah kalangan berkantong tebel. Gimana nggak, dandanan, makanan, minuman, model acara, tunggangan, dan juga pagelaran musik dibikin super heboh. <em>Booking</em> gedung mewah, datengin artis terkenal, sampe nyewa MC top. Dan untuk semua keperluan itu, nggak mungkin cukup ngeluarin duit sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Amrik sono, asal budaya <em>prom night</em> ini, yang biasa ngadain adalah anak-anak <em>grade</em> 12 (setara dengan kelas 3 SMU). Maklum, mereka udah siap-siap cabut dari sekolahnya. Sebelum cabut, lebih seru dong kalo ngadain acara <em>prom night</em> itu. Mengutip laporan majalah <em>GADIS</em>, buat anak cewek Amrik, <em>prom night </em>adalah <em>a big deal</em>. Saking <em>big deal</em>-nya, mereka nekat membeli gaun yang harganya 500 dollar! (sekitar 5 jt perak bila 1 dollar setara dengan Rp 10.000) Hih, gila-gilaan deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak cukup dengan dandanan aja, anak cewek di negeri Paman Sam juga bela-belain nyari pasangan <em>prom</em> (<em>date</em>), yang bakal ngasih <em>corsage</em> (bunga plastik untuk dipakai di perge?langan tangan). Dan biasanya anak cowok rela nyewa tunggangan sekelas limousine untuk menjemput pasangannya. <em>Wacksss&#8230;.</em>itu kan mobil kelas <em>jetset</em>? Justru karena mereka pengen tampil dugem (dunia gemerlap), sobat!</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah acara <em>prom night</em> yang ditunggu-tunggu sebagian besar remaja, termasuk rema?ja di negeri yang kaya dengan utang luar negeri ini. Meski tentunya nggak seheboh bila diban?dingkan dengan acara <em>prom night</em> yang digelar oleh remaja Amrik. Tapi tetap, untuk ukuran kehidupan di musim paceklik ekonomi kayak sekarang, ngadain pesta begitu udah luar biasa (baca: kebangetan!).</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, benar-benar kebangetan kalo sampe ada pesta <em>prom night</em> yang glamor banget. Misalnya saja sampe bikin acaranya di luar pulau atau malah di luar negeri. Bali jadi tujuan, Singapura jadi inceran. Owh.. kayaknya itu udah &#8220;gila&#8221; banget dalam ngamburin duit. Ckckckc&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, terus terang kita prihatin sekaligus khawatir sama teman-teman kita yang begitu. Prihatin, karena ternyata mereka masih bisa tertawa dan menari di atas penderitaan sebagian besar rakyat negeri ini yang memang lagi nelangsa. Jadi menumbuhkan sikap cuek, alias nggak peduli sama orang lain. Dan jelas hal itu juga bikin kita-kita khawatir, sebab kondisi tersebut akan menciptakan gene?rasi aktivis dugem. Kalo udah maniak nge?dugem, rasanya harga diri juga bisa dijual, yang penting tampil keren. Wah, celaka dua belas!</p>
<p style="text-align: justify;">Masih mending yang emang ortunya tajir, bagaimana dengan yang <em>kismin</em> tapi gengsinya gede? Bisa-bisa jemuran orang juga diembat buat beli aksesoris pesta <em>prom night</em>. Ih, jangan sampe deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, jangan lagi berpikir soal gengsi di depan teman-teman. Mahluk yang bernama gengsi itu bila dituruti maunya, ibarat kanker ganas yang bercokol dalam tubuh yang terus menerus menggerogoti hidup kita. Nggak ada matinya! Begitulah gengsi, tidak pernah ada kata berhenti, kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagi pula, sebenarnya orang lain akan menghargai kepribadian kita pada tingkah laku dan cara berpikir, bukan pada penampilan. Memang sih lazimnya manusia, akan mengukur pribadi orang dari penampilan. <em>But</em>, percaya saja kalau kemudian orang akan terpesona pada cara bersikap dan cara berpikir kamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, apa pantas kita bermewah-mewah, sementara di kanan-kiri, bahkan mung?kin depan-belakang kita menjerit-jerit kelaparan. Apa iya kamu tega?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Setelah pesta berlalu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, lulus bukan berarti bebas merdeka dan nggak ada halangan lain. Apalagi bagi kamu yang masih duduk di bangku SMP, tentunya kudu mikirin di SMA mana kamu nerusin belajar. Bagi yang sudah lulus SMA, masih harus dipertegas, mau kuli (he..he..he.. sori, rada bikin merah kuping) atau mau kuliah? Jangan cuma heboh wara-wiri ikutan or ngadain <em>prom night</em>, sementara masa depan kamu masih burem alias kagak nyatra bin jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Lulus bukan berarti selesai pekerjaan kita. Nggak dong. Masih banyak tugas yang kudu kita kerjakan. Kamu yang lulus SMA, tentunya kudu mikirin jauh-jauh hari untuk masa depan kehidupan kamu. Kalo mau kerja, berarti dari sekarang udah nyiapin segala kebutuhan?nya. Daripada uang itu dibuang-buang di acara <em>prom night</em>, mendingan ditabung. Iya nggak? Bagi kamu yang mau nerusin studi, maka udah dari sekarang ancang-ancang. Mau di swasta atau ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri? Itu harus sudah dirancang dari sekarang. Tul nggak?</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and Gals, hidup ini bukan sekadar untuk main-main. Hidup adalah perju?angan, dan itu butuh pengorbanan dari kita. Apalagi untuk urusan masa depan kita. Jangan sampe berani mengorbankan masa depan, ha?nya untuk setitik kenikmatan semu saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmm&#8230; setelah pesta berakhir, kamu mau apa? Sayang banget kalo cuma jadi pelengkap penderitaan bagi negeri yang udah carut-marut ini. Mulai sekarang, berpikir jernih deh. Kita kan seorang muslim. Bisa kan ya? Sip! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/prom-night/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Homoseksual, Awas!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/homoseksual-awas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/homoseksual-awas#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 19:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[homoseksual]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2510</guid>
		<description><![CDATA[  edisi 083/tahun ke-2 (30 Jumadil Awal 1430 H/25 Mei 2009)
Wah&#8230;.serem nian topik kita kali ini yaitu tentang homoseksual. Homo yang bakal kita bicarakan kali ini bukanlah homo pitecantropus, namun homo dalam bahasan ini adalah tentang kaum gay dan lesbian alias menyukai sesame jenis dalam hal seksualitas. Homo yang bukan sekadar banci, bencong, wadam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2594" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> <strong> </strong>edisi 083/tahun ke-2 (30 Jumadil Awal 1430 H/25 Mei 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Wah&#8230;.serem nian topik kita kali ini yaitu tentang homoseksual. Homo yang bakal kita bicarakan kali ini bukanlah <em>homo pitecantropus</em>, namun homo dalam bahasan ini adalah tentang kaum gay dan lesbian alias menyukai sesame jenis dalam hal seksualitas. Homo yang bukan sekadar banci, bencong, wadam atau cowok yang berperilaku kayak cewek. Tapi homo yang jadi obrolan kita kali ini adalah homo yang parah, yaitu hingga tataran kawin dengan sesama jenis. Di beberapa kalangan, mereka menolak dirinya disebut sebagai homo.? Sebutan gay dan lesbian terdengar lebih keren. Intinya <em>mah</em> saja aja, yaitu suka dengan sesama jenis.<span id="more-2510"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Homo, problem masyarakat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menyukai sesama jenis dalam hal ini adalah laki-laki mencintai laki-laki atau wanita mencinta wanita sangat tidak bisa dikatakan normal. Mencintai di sini bukan mencintai dalam arti persaudaraan, tapi mencintai secara birahi. Ada kelainan pastinya dalam jiwa orang yang mengidap &#8216;penyakit&#8217; ini. Masalahnya, orang yang sedang terjangkit tidak menyadari kalo ia sakit. Wah, gawat juga kalo gini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kalangan homo, salah satu pasangan ada yang berperan sok jadi wanita alias banci, wadam, atau wanita jadi-jadian. Tapi tak jarang juga kaum homo ini adalah lelaki tulen yang memang dia lebih menyukai sesama laki-laki sebagai penyaluran hasratnya. Siapa sih yang nggak tahu Mas Nunu alias si Keanu Reeves? Doi yang jelas-jelas tampangnya <em>macho</em> khas cowok banget plus tampan sampai bikin cewek tergila-gila, ternyata eh ternyata adalah seorang <em>hombreng</em> alias homoseks. Dia nggak tertarik dengan cewek lagi, tapi lebih memilih cowok untuk dijadikan pacar dan pelampiasan nafsu seksnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang sih, masyarakat Barat yang sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) berpotensi besar untuk mempunyai warga yang &#8217;sakit&#8217; ini. Nggak heran banget, karena pola hidup mereka yang bebas antara lawan jenis, bisa membikin jenuh juga. Aurat cewek diobral di mana-mana. Nggak ada sesuatu pun dalam diri si cewek yang dianggap <em>privacy</em>. Jadilah lama-lama para cowok merasa bosan juga melihat pemandangan yang itu-itu mulu. Keindahan tubuh perempuan jadi nggak bikin minat lagi. Jadilah naluri seksual itu dilampiaskan ke sesama jenis, hiiiii&#8230;<em>naudzhubillah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Indonesia yang memang terkenal latah suka ikut-ikutan, jelas banget gampang terkena penyakit ini. Karena coba-coba, dorongan ekonomi bahkan hingga pelecehan seksual ketika masih kecil menjadi sebagian faktor pendorong munculnya sikap homo. Yang paling parah adalah ketika problem masyarakat ini dilegalkan secara akademis dan memakai Islam sebagai kedok. Beberapa IAIN di Indonesia bahkan terang-terangan mendukung kaum homo dengan memutarbalikkan ayat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Homo, mulai berani unjuk diri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kaum homoseks di dunia umumnya dan Indonesia khususnya, sudah tidak malu-malu lagi mengakui bahwa dirinya adalah seorang homo. Hal ini wajar karena dengan berkembangnya teknologi semacam internet, membuat kaum homo di belahan bumi yang stau merasa senasib dengan kaum homo di belahan bumi lainnya. Mereka saling mendukung dan membela &#8216;kaum&#8217;nya dengan berbagai macam cara. Jadilah mereka mendirikan perkumpulan kaum homo yang tujuannya adalah memperjuangkan hak-hak kaumnya terutama dalam tataran hukum sehingga boleh kawin secara sah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum homo ini seolah-olah mendapat angin segar ketika kaumnya bukan hanya didominasi para selebritis yang jelas-jelas emang nggak bisa dipertanggungjawabkan gaya hidupnya. Kalangan intelektual pun sudah mulai dijangkiti penyakit homo ini. Dede Utomo sebagai bapak Homo Indonesia adalah seorang dosen salah satu universitas negeri ternama di Surabaya yang bergelar doktor. Professor di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, Musdah Mulia bahkan menganggap homoseks adalah sesuatu yang alami dan berasal dari Tuhan sehingga tidak ada alasan untuk menolak homoseks.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak berhenti di situ saja. Seorang jebolan universitas ternama di Jogjakarta yang lulus dengan predikat <em>cumlaude</em> juga adalah seorang homo terkenal. Tapi keterkenalan homo yang satu ini bukan karena universitasnya melainkan prinsip dan busana yang dikenakannya. Yupz&#8230;.dia mentahbiskan dirinya sebagai seorang muslimah taat yang berbusana jilbab dan kerudung menutup rapat seluruh tubuhnya. Dia pun menyebut dirinya sebagai akhwat sholihah (gubraks) yang sedang mencari ikhwan idaman. Uniknya, meskipun sudah mengumumkan dirinya dengan terang-terangan perpindahan orientasi seksualnya, homo yang satu ini masih takut untuk meninggalkan sholat Jumat yang memang notabene wajib bagi muslim laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Parahnya, kaum gay ini menuntut agar bisa kawin dan hidup berumah tangga selayaknya manusia normal lain. Di banyak negara seperti Belanda dan Amerika, pasangan gay ini bisa mendapat tempat dan menikah resmi di gereja. Bila kita tak waspada terhadap bahayanya gaya hidup gay ini, bukan tak mungkin ada antek-antek asing yang &#8216;pura-pura&#8217; menjadi intelektual muslim dan melegalkan aktivitas kaum gay ini. Salah satunya yang sudah bergelar profesor yang jelas-jelas merusak Islam dari dalam adalah Siti Musdah Mulia yang melegalkan homoseks.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Biang kerok munculnya homo</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sampailah kita pada bahasan untuk mencari biang kerok munculnya fenomena homo ini. Kalo dirunut ke belakang, hampir semua kasus menyimpang ini adalah akibat lingkungan. Lingkungan dalam hal ini bisa jadi keluarga yang tidak harmonis, ayah ibu selalu bertengkar, atau ayah yang selalu jadi pecundang dan kalah dengan sikap otoriter sang ibu, dan lain-lain. Atau bisa jadi dominasi saudara yang semuanya perempuan bahkan mungkin juga salah pergaulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari semua peluang kemungkinan itu, yang paling besar pengaruhnya adalah sebuah sistem yang mapan di masyarakat bernama kebebasan. Kebebasan bersikap adalah menjadi salah satu pilar dari sistem yang jelas terlihat kerusakannya yang bernama <em>democrazy</em> (baca: demokrasi). Sistem usang inilah yang menjadi dewa di mana-mana, disanjung dan dipuja. Sistem ini sengaja dijajakan oleh Amerika dan sekutunya sebagai sarana untuk memalingkan umat Islam dari keberadaan Allah sebagai al-Khalik sekaligus al-Mudabbir (pencipta dan pengatur).</p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah lindungan demokrasi, manusia jadi bebas mau berbuat apa saja. Bahkan tak jarang seseorang yang awal mulanya normal sebagai laki-laki yang mencintai wanita bahkan sudah mempunyai keturunan, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat nafsu dengan laki-laki saja. Dia pun memilih untuk cerai dari istrinya dan memutuskan menikah dengan sesama laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekulerisme adalah biang kerok selanjutnya yang berusaha memisahkan peran agama (Islam) dari kehidupan. Sekularisme inilah asas dari Kapitalisme yang sangat memuja materi sebagai tujuan hidup. Bahkan banyak motif dari seseorang yang semula normal menjadi homo, juga karena UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Ketika sedang menulis tema ini, ada seorang teman &#8217;share&#8217; tentang beberapa homo yang dikenalnya juga menjadikan uang sebagai motif utama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka ini terpesona oleh gemerlap kota metropolitan dan bertemu dengan kalangan berduit yang sudah bejat moralnya. Karena ketampanan dan body yang cenderung aduhai (ingat body Om Nunu alias Keanu Reeves), mereka pun ditaksir para Om-Om hidung belang. Mereka yang semula polos akhirnya rusak dan terjerumus gaya hidup kaum gay.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin persoalan ingat mati apalagi akhirat yang nggak kelihatan, sangat jauh dari pikiran mereka. Yang penting, hidup hanya untuk <em>having fun</em> aja dulu. Materi sebagai ujung tombak ideologi kapitalisme telah memainkan perannya di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Solusi donk&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bisa diajak untuk sembuh bila ia tahu bahwa dirinya sedang sakit. Begitu juga dengan masyarakat, ia akan berbenah untuk mencari solusi ketika ada kesadaran bahwa <em>something wrong</em> sedang terjadi di antara mereka. Tidak ada masalah yang tak punya jalan keluar. Selalu ada solusi bagi mereka yang mau berupaya mencarinya terutama dalam sudut pandang Islam. Karena bagaimana pun, cuma Islam yang punya ketegasan sikap dalam masalah homoseks ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tak ingin Allah Swt. murka. Karena bila sampai Allah murka, maka sungguh tak akan ada yang selamat dari adzabNya meskipun ia adalah orang beriman. Karena yang namanya adzab itu nggak mungkin pilih-pilih datangnya. Ia akan menghantam siapa saja yang ada di antara kaum pendurhaka itu. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya dakwah yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya dakwah yang kayak gimana? Dakwah yang menyeru kepada sistem Islam dong ya. Karena masalah homoseks ini adalah buatan sistem bobrok bernama demokrasi yang sangat memuja kebebasan, maka solusinya juga harus dengan sistem baik dan benar bernama sistem Islam. Kalo mengharapkan penyelesaian dari sistem yang ada saat ini, udah deh nggak usah berharap terlalu banyak. Sedangkan koruptor yang trilyun-an, begitu juga otak pembunuhan profesional semacam Tomy bisa bebas lenggang kangkung, apalagi &#8216;cuma&#8217; seorang homoseks. Nggak bakal ada yang peduli.</p>
<p style="text-align: justify;">Hukum Indonesia tuh kan warisan dari penjajah Belanda, salah satunya adalah selama perbuatan seseorang tidak mengganggu orang lain, maka tak ada orang lain yang bisa menuntutnya. Biar kata dia mau telanjang, mau homo, mau zina, selama tidak ada pihak yang merasa dirugikan, nggak bakal ada pasal hukum yang bisa menjerat pelakunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beda dengan hukum Islam. Homo atau nama kerennya adalah <em>liwath</em> itu sudah pernah terjadi di zaman Nabi Luth. Saat itu Allah telah memberi peringatan agar mereka para pendosa itu segera bertaubat. Bukannya tobat, eh&#8230; malah mereka naksir malaikat yang menjelma menjadi manusia dan bertamu ke rumah Nabi Luth. Jelas saja Allah murka dengan manusia jenis ini. Adzab Allah berupa dibaliknya bumi yang atas menjadi di bawah dan yang bawah menjadi di atas, kemudian dijatuhkanNya batu dari tanah yang terbakar menghunjami kaum pendosa itu. <em>Naudhubillah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>&#8220;Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,&#8221;</em> <strong>(QS Huud [11]: 82)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Juga, Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>&#8220;dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik&#8221;</em> <strong>(QS al-Anbiyaa&#8217; [21]: 74)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Maksud perbuatan yang keji dalam catatan <em>di al-Quran dan Terjemahnya</em> yang diterbitkan Departemen Agama RI, adalah homoseksual dan menyamun serta mengerjakan perbuatan tersebut secara terang-terangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di masa Rasulullah dan para khalifah penggantinya, hukum bagi homoseks adalah bunuh. Ya, hukuman yang bakal dikenakan kepada kaum homo dan lesbian ini adalah dibunuh (jika tidak mau disadarkan). Imam Syafi&#8217;i menetapkan pelaku dan orang-orang yang &#8216;dikumpuli&#8217; (oleh homoseksual dan lesbian) wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadis, Rasulullah saw. bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktik homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.&#8221; </em><strong>(HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi)</strong>. (dalam <em>Zainuddin bin Abdul &#8216;Aziz Al Malibaary, Irsyaadu Al &#8216;ibaadi ilaa Sabili Al Risyaad. </em>Al Ma&#8217;aarif, Bandung, hlm. 110)</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya, karena saat ini tidak ada Negara Islam berwibawa yang berkompeten melaksanakannya, maka sungguh sayang sanksi ini tidak bisa diterapkan. Walhasil, semakin merajalela yang namanya kaum homoseksual ini. Bila pun ada negeri yang berusaha menerapkan hukum bunuh bagi kaum homoseks, Amerika dan sekutunya serta para aktivis homo akan serentak mengecam bahkan memberi sanksi. Obama saja yang dianggap sebagai pembawa perubahan, adalah presiden Amerika yang mendukung dan melindungi keberadaan dan hak-hak kaum homo. Halah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Finally&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, tak bisa tidak bahwa sedikit kontribusi yang bisa kita lakukan bagi perbaikan umat ini adalah dengan berdakwah. Karena sungguh, hukum Islam tidak bisa diterapkan secara parsial atau setengah-setengah saja. Sudah saatnya kita bergerak untuk menyadarkan umat tentang bahaya demokrasi. Karena sesungguhnya inilah biang kerok kerusakan yang banyak dipuja-puja masyarakat dunia. Homoseks hanya satu dari bejibun &#8216;dosa-dosa&#8217; demokrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam saja yang memberi solusi sempurna bagi setiap permasalahan kehidupan termasuk dalam hal homoseksual ini. Jangan beranggapan bahwa kamu aman-aman saja. Ingat adik-adikmu, ponakan, saudara-saudara yang lain juga. Bila tidak sekarang kita bergerak untuk melakukan perbuatan, jangan menyesal kemudian bila semua terlambat. Dalam sistem yang jauh dari Islam seperti saat ini, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali mengupayakan dengan maksimal agar Islam kembali diterapkan secara utuh dan sempurna. <em>So</em>, jangan bengong aja. Ayo, berdakwah!</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, buat kaum homoseksual, tulisan ini bukan memojokkan kalian, tapi kami mengajak dengan cinta agar kalian bisa balik ke &#8216;habitat&#8217; awal. Jangan mengampuni apa yang kalian lakukan bahwa homoseksual adalah takdir dan kalian mengklaim tak bsia menyembuhkannya. Insya Allah selalu ada jalan. Asal kalian mau berubah meyakini kebenaran Islam dan ajarannya, dan meyakini bahwa hanya Allah Swt. sajalah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan ditaati peraturanNya. Sip kan? Yuk, benahi akidahmu! Sekarang, udah banyak penolong di internet dengan menyebarkan informasi yang benar tentang Islam untuk menyadarkan para homoseksual. Al-Quran sudah jelas membahas masalah ini. Tinggal kalian yang harus menundukkan hawa nafsu kalian dan kemudian taat kepada Allah Swt. dan RasulNya dengan cara mengikuti aturanNya, yakni Islam. Siap kan? <strong>[ria: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/homoseksual-awas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Supergirl!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/supergirl</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/supergirl#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 01:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[girl]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2507</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 082/tahun ke-2 (23 Jumadil Awal 1430 H/18 Mei 2009)

Makhluk manja, cengeng, en lemah, cap kayak gitu yang sering mampir ke cewek. Cewek dinilai manja karena sering minta bantuan untuk urusan angkat berat kayak angkat meja, angkat koper, terus untuk betulin yang jangkauannya sulit kayak ganti genteng bocor, en betulin listrik. Cewek juga dinilai cengeng [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2594" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /></p>
<p><strong></strong>edisi 082/tahun ke-2 (23 Jumadil Awal 1430 H/18 Mei 2009)</p>
<pre></pre>
<p style="text-align: justify;">Makhluk manja, cengeng, en lemah, cap kayak gitu yang sering mampir ke cewek. Cewek dinilai manja karena sering minta bantuan untuk urusan angkat berat kayak angkat meja, angkat koper, terus untuk betulin yang jangkauannya sulit kayak ganti genteng bocor, en betulin listrik. Cewek juga dinilai cengeng karena suka banget pake airmata sebagai senjata.</p>
<p style="text-align: justify;">Para cewek pasti protes deh kalo dapetin penilaian kayak gitu. Kita nggak manja en cengeng tuh Kita nggak selalu deh ya minta bantuan untuk urusan begituan. Kita juga nggak segitu seringnya nangis. Kita tuh cewek tipe TeSA, Tegar Sampai Akhir. Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin juga nih karena pengen nunjukin kalo cewek itu kuat maka muncul lah cewek-cewek Genk Nero. Pernah liat video aksi mereka kan? Nggak keliatan banget kalo mereka cewek manja en cengeng. Ya iya lah orang main pukul en hantam temennya sendiri tanpa belas kasihan gitu. Atau kayak para pegulat perempuan di acara semisal WWF alias Smackdown atau American Gladiator? Para cewek yang benar-benar macho!<span id="more-2507"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Para cewek protes lagi neh. Kita emang tegar, tapi nggak se-<em>macho</em> itu kalleeee. Apalagi kalo disamain kayak para cewek Nero yang brutal, nolak mentah-mentah!</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sebenarnya cewek itu kudu kayak gimana sih supaya bisa tampil sebagai cewek super? Cewek yang nggak dianggap sebelah mata tapi juga nggak jadi kayak monster? Hmmm &#8230; tipe cewek yang kayak gimana ya?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Macam-macam formula <em>Supergirl </em>masa kini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo ditanya ke para cewek soal kriteria cewek super bisa jadi jawabannya macem-macem. Nah, menurut hasil pemantauan saya (kayak detektif aje J) yang berikut ini nih yang biasanya jadi formula para cewek untuk bisa jadi cewek super:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Formula 1: Supergirl = P+R+S+F</span> (Keterangan: P=Pretty, R=Rich, S=Smart, F= Famous)</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi sebagian cewek, <em>supergirl</em> atau<em> </em>cewek super itu harus oke secara fisik (<em>pretty)</em>, oke juga secara finansial (<em>rich</em>), dan tentu harus oke secara otak (<em>smart</em>). Dan, nggak cuma itu dia juga kudu en wajib terkenal (<em>famous)</em>. Wah, kalo cewek bisa kayak gitu, komplit deh. Udah cantik, kaya, pinter, terkenal pula! Super!</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, para cewek yang lain pasti pada protes tuh. Kalo emang itu formulanya, berarti dikit dong yang bisa. Karena kan nggak semua cewek itu dilahirkan sebagai orang kaya seperti Paris Hilton. Cantik? Itu sih relatif banget. Apalagi kalo diharuskan terkenal? Waduh butuh biaya kampanye lagi tuh supaya bisa dikenal luas. Iya kalo dibela-belain utang terus emang jadi terkenal, kalo nggak? Kan bisa giling habis. Formula kayak gini sih nggak fair deh.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Formula 2: Supergirl = C<sub>1</sub>+C<sub>2</sub>+G</span> (Keterangan: C<sub>1</sub>=Cerdas, C<sub>2</sub>=Cantik, G=Gaul)</p>
<p style="text-align: justify;">Buat sebagian cewek yang lain, untuk bisa dipandang sebagai cewek yang super dan nggak dipandang rendah itu nggak harus punya duit banyak. Lagian, duit juga duit ortu bukan punya sendiri. Cewek super itu kudu cewek yang cerdas seiring kecantikan paras, plus gaul gitu loh! Karena percuma aja kalo jadi cewek cantik en cerdas, nilai pelajaran selalu tinggi, tapi nggak kenal lingkungan, atau dikenal sama lingkungan, nggak pas juga. Kalo nggak gaul, bukan cewek super, karena nggak lengkap katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, untuk jadi gaul nggak butuh biaya kampanye. Cukup dengan memberikan senyum paling indah en tulus, sapa kiri-kanan, dan ringan tangan siap memberikan pertolongan. Nah, itu baru pas. Itu versi cewek dengan formula ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Formula 3: Supergirl = S<sub>1</sub>+S<sub>2</sub>+T</span> (Keterangan: S1=Smart, S2=Sehat, T=Terawat)</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, ini formula yang lain untuk jadi cewek super. Formula ini dipake oleh para cewek yang menolak CANTIK dimasukkan sebagai salah satu faktor. Karena cantik itu kan relatif. Makanya nggak usah pake kata CANTIK, tapi TERAWAT. Buat para pengguna formula jenis ini cewek super itu adalah cewek yang pinter alias smart. Tapi, smart aja nggak cukup. Kalo pinter tapi tukang pingsan? Nggak deh. Makanya cewek juga kudu sehat plus terawat.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, cewek dengan formula jenis ini adalah mereka yang rajin ke perpustakaan, rajin ikut bimbingan belajar, en rajin mempelajari kembali catatan. Mereka juga rajin ke gym untuk ikut senam, en <em>of course</em> rajin ke salon untuk dapet perawatan, atau kalo nggak cukup dana ya rajin beli bedak dingin untuk luluran secara tradisional.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Formula 4: Supergirl = T.B.C</span> (Keterangan: T=Tough, B=Brave, C=Calm)</p>
<p style="text-align: justify;">Formula ini dipake biasanya oleh para cewek yang nggak suka urusan ranking sekolah atau prestasi akademik en urusan fisik dibawa-bawa. Untuk jadi <em>super girl</em> faktor wajah dan bodi nggak masuk itungan. Menjadi cewek super itu nggak harus pintar atau dapet nilai A atau B, tapi yang penting <em>tough </em>(ulet). Bukan ulet bulu lho ya. Karena, kalopun seorang cewek itu nggak pinter-pinter amat, tapi dia ulet, gigih dalam memahami pelajaran, dia juga pasti bisa dapet nilai bagus. Tambahan, cewek yang gigih bisa lebih <em>survive</em> dibanding cewek yang pinter, karena hidup kan nggak cuma urusan sekolah, kuliah, ranking, nilai. Hidup itu penuh dengan berbagai macam persoalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Cewek super juga kudu <em>brave </em>(berani). Berani ngadepin persoalan dan cari solusi. Bukannya lari dari persoalan, karena itu malah bikin persoalan tambahan. Tapi, nggak lupa juga, sebagai cewek unsur kelembutan (<em>calm) </em> tetep harus dipertahankan. Gigih, berani, bukan berarti tega main kasar kan? Gitu kalo versi para cewek formula 4.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Formula 5: Supergirl = (S+H)/R</span> (Keterangan: S=Smart, H=Healthy, R=Religious)</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh para cewek yang &#8220;penganut&#8221; formula ini <em>smart</em> yang dimaksud nggak melulu diartikan sebagai cewek dengan IQ tinggi. Tapi, <em>smart</em> yang ini lebih ke kemampuan untuk memecahkan persoalan hidup. Karena percuma jadi cewek dengan IQ tinggi tapi gamang bahkan putus asa pas tertimpa permasalahan hidup. Terus juga, jadi cewek itu harus sehat, kuat, nggak gampang sakit. Jadi, aktivitas bisa terus optimal dilakukan. Plus, urusan aktivitas akal dan aktivitas fisik harus sebanding dengan kadar spiritual (<em>religious</em>) yang dimiliki. Contohnya nih, jangan sampe jadi cewek pinter dan kuat tapi lupa sholat. Semua aspek kudu jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, kadang cewek yang ngejalanin formula ini sukanya nafsi-nafsi alias gua-gua, elo-elo. Yang penting gua udah sholat, udah puasa, udah berjilbab. Kalo ada orang lain yang nggak sholat, belum pake jilbab ya itu urusan dia sama Allah. Kita sih nggak ikut-ikutan. Kan masing-masing udah ada bagian hitungannya.? <em>Well &#8230; </em>padahal kan Islam nggak cuma urusan individu doang, Sis. Apalagi sesama muslim itu kan bersaudara, jadi sebenarnya kudu ada aktivitas saling ngingetin juga.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jadi Cewek CDMA Yuk!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">CDMA? Apalagi tuh. Kayak <em>henpon</em> aja. Eit! Yang ini bukan singkatan dari <em>Code Division Multiple Access</em> . Tapi, CDMA itu adalah <em>Creative, Dynamic, Master of, </em>en <em>Adorable personality. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi tuh? Ini formula berikutnya selain dari lima formula di atas. Formula ini bisa dipake oleh semua cewek muslim, di mana aja, kapan aja, nggak liat penampilan fisik, nggak pandang status sosial. Plus, plus, plus &#8230; cewek yang bisa menerapkan formula ini bisa jadi <em>survivor </em> en juga pemenang. Bahkan, dia nggak cuma selamat dan menang sendirian. Dia bisa jadi penolong orang lain sehingga bisa juga jadi pemenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Penasaran? Kita ulik satu-satu &#8230; yuuuuk!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Creative</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pengen jadi cewek super kudu kreatif. Kreatif nggak ada hubungannya sama nilai dan ranking sekolah. Semua cewek bisa jadi cewek yang kreatif kok. Kreativitas itu adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru yang outputnya bisa nantinya berupa aktivitas atau juga produk barang. John Kao, pengarang buku <em>Jamming: The Art and Discipline in Bussiness Creativity</em>, (1996), bilang, &#8220;Kita semua memiliki kemampuan kreatif yang mengagumkan, dan kreativitas bisa diajarkan dan dipelajari.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Cateeet! Kreativitas bisa diajarkan dan dipelajari. Dan, itu emang sejalan banget dengan konsep Islam. Allah kan kasih akal ke semua manusia, termasuk para cewek. Akal itu proses berpikir yang melibatkan otak, panca indera, fakta, dan berbagai informasi yang kita udah serap selama ini. Keberadaan akal itulah yang bikin semua cewek punya peluang besar jadi cewek yang kreatif.</p>
<p style="text-align: justify;">Tinggal temen-temen nih mau nggak memotivasi diri untuk terus belajar, mengasah akal, terus berpikir untuk cari dan bikin sesuatu yang baru. Yang pasti sesuatu yang baru itu harus yang positif ya. Halal atau haram, benar atau salahnya kudu disesuaikan dengan syari&#8217;at Islam. Pastinya dong. Akal kan anugerah Allah. Berarti gimana penggunaan akal kita jalanin kudu disesuain dengan maunya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sampe kekreativitasan kita malah bikin kita sengsara dan orang lain menderita. Kayak jenis kreativitas tangan ala koruptor dan pelaku <em>ilegal logging</em>, atau pemilik dan pengedar narkoba yang kreatif bikin produk baru dan mangsa baru. <em>Naudzubillahi min dzalik. </em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Dynamic</span></p>
<p style="text-align: justify;">Cewek super juga kudu dinamis. Nggak diem di tempat dalam artian secara fisik juga visi. Cewek super itu harus aktif dalam menjalani hal yang produktif dan positif, nggak pasif. Jadi, orang pertama yang menyuarakan dan menjalankan kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara visi, dia juga bukan tipe <em>dreamer </em>alias pemimpi. Sekali dia punya visi tentang satu hal atau dia punya cita-cita, dia akan terus bergerak untuk mewujudkan visi dan cita-citanya. Dan, bagi muslimah sejati, nggak ada visi yang paling agung dan mulia selain tegaknya kembali syari&#8217;ah Islam di muka bumi, sehingga umat yang kini hina dan terjajah bisa kembali menjadi umat yang jaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa jadi cewek yang dinamis en aktif kayak gitu, kekuatan fisik emang harus diperhatikan. Cewek juga harus kuat! Makanya, teteplah harus perhatiin kondisi badan. Makan, istirahat udah ada porsinya masing-masing. Jangan berlebihan, jangan juga sampe men-zalimi diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Master of</span></p>
<p style="text-align: justify;">Cewek super juga kudu jadi ahli di bidang yang dia minati atau geluti. Jangan setengah-setengah. Kalo emang minat sama ilmu pasti kayak fisika, matematika, kimia, harus jadi ahlinya. Kalo minat en suka nulis ya belajar terus sampai jadi penulis yang mumpuni. Karena kalo setengah-setengah bakal sulit buat kita untuk nerapin itu dalam kehidupan. Kan, ilmu yang bermanfaat itu yang bisa berguna untuk kehidupan, baik diri-sendiri juga orang lain, yang bikin hidup orang lain itu tercerahkan. Tercerahkan dalam arti yang hakiki yaitu ketika dengan keahlian itu kita dan orang lain jadi makin beriman dan tunduk kepada syariat Allah, bukan malah jadi orang sombong dan lupa Allah. Ketika keahlian bersanding dengan keimanan maka keahlian yang bikin bumi damai dan sejahtera insya Allah bisa jadi kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Adorable personality </span></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, nih dia pamungkasnya. Kreatif? Udah. Dinamis? Udah. Master of? Lagi terus berjuang. Itu semua nggak bakal bertahan kalo nggak diperisai dengan kepribadian yang mengagumkan (<em>Adorable personality</em>). Kepribadian yang mengagumkan itu nggak bakal kita punya kalo nggak disandarkan kepada akidah kita yaitu Islam. Kita kudu konsisten berpikir dan bersikap hanya dengan sandaran syariat Islam. Nggak gampang emang, tapi kita nggak boleh nyerah untuk bisa jadi cewek super yang dicintai Allah dan dinanti oleh surgaNya, kan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Supergirl is not an Angel</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Supergirl </em>juga manusia. Sebagai manusia pastinya nggak lepas dari kekurangan dan khilaf. Cewek super itu bukan malaikat yang bersih dari dosa. Makanya, kita tetep harus mawas diri, saling ngingetin satu sama lain, saling membesarkan hati satu sama lain. Dengan begitu mudah-mudahan para <em>supergirl</em> akan terus eksis dan nantinya bisa mengajak manusia kembali kepada Allah dan aturanNya, serta membebaskan bumi dan seisinya dari cengkeraman para manusia bulus, rakus, dan durjana. Sehingga berkah Allah akan turun dari langit dan muncul dari bumi seperti dulu ketika Islam jaya. Allahu Akbar! <strong>[nafiisah fb: http://nafiisahfb.co.cc]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/supergirl/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngapain Sih Kudu Dugem?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ngapain-sih-kudu-dugem</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ngapain-sih-kudu-dugem#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 20:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>
		<category><![CDATA[dugem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2462</guid>
		<description><![CDATA[
 edisi 081/tahun ke-2 (16 Jumadil Awal 1430 H/11 Mei 2009)
Kamu tahu kan istilah dugem? Hehehe.. bukan dunia gembel atau duduk gembira, tapi ini akronim dari dunia gemerlap. Lho, memangnya ada ya dunia yang suram? Ah, kamu pura-pura nggak tahu deh. Ya, iyalah, kalo ada siang berarti ada malam, kalo ada cowok, berarti pasangannya cewek, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2594" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /></p>
<p><strong> </strong>edisi 081/tahun ke-2 (16 Jumadil Awal 1430 H/11 Mei 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu tahu kan istilah dugem? Hehehe.. bukan dunia gembel atau duduk gembira, tapi ini akronim dari dunia gemerlap. Lho, memangnya ada ya dunia yang suram? Ah, kamu pura-pura nggak tahu deh. Ya, iyalah, kalo ada siang berarti ada malam, kalo ada cowok, berarti pasangannya cewek, kalo ada hujan berhadapannya dengan kemarau. Begitupun dengan dunia gemerlap, berarti berlawanan dengan dunia suram.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo dunia gemerlap orang sepakat menyebut dunia yang penuh hura-hura, suka-suka, seneng-seneng, dan serba mudah dengan apa yang kita pengen, maka dunia suram adalah dunia yang udah bisa hidup aja untung, sehari bisa makan pun sudah alhamdulillah, pengen hiburan cukup nonton tivi tetangga atau di pos ronda, mau selimut cukup sarung kumal, mau rokok juga joinan ama temen, mau minum kopi segelas bertiga. Ya, orang sepakat &#8220;menggelari&#8221; kehidupan seperti ini dengan madesu alias masa depan suram atau dusur alias dunia suram. Lawannya tentu saja dugem, dunia gemerlap.<span id="more-2462"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, istilah dugem tuh sebenarnya digunakan buat ajang suka-suka, hura-hura, hamburin banyak duit. Pesertanya nggak perlu juga orang kaya, adakalanya peserta dugem adalah mereka yang dari segi ekonomi pas-pasan atau bahkan kurang mampu. Tapi ketolong sama temennya yang tajir dan seneng gaul, akhirnya jadi deh ikutan ditraktir biar bisa dugem bersama. Bagi mereka biar tekor asal nyohor. Halah, cemen banget niatnya ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi umumnya sih mereka yang suka dugem emang dasarnya udah tajir dari segi ekonomi. Nggak kesulitan kalo soal makan. Justru yang model gini hanya kesulitan untuk nyari tempat makan yang pas dan enak menurut selera mereka. Banyak orang Jakarta makan siangnya di Bogor atau di Bandung demi mencari kepuasan selera makan. Maklumlah, jarak Jakarta-Bogor kalo lewat tol dan memacu kendaraannya rata-rata 100 km per jam nggak nyampe setengah jam udah nyampe. Tentu aja nyarinya juga yang dekat ke gerbang tol. Kalo di Bogor udah disediain tuh tempat mangkal yang pas di sepanjang Jalan Pajajaran. Kalo ke Bandung? Bukan halangan juga, wong lewat Cipularang cuma 2 jam perjalanan. Kadang nggak nyampe kalo memacu kendaraannya dengan gaya Felipe Massa. Oya, tentu yang bisa gituan pastinya para eksekutif muda atau sejenisnya. Bukan eksekusut muda hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Okelah, itu kan ngomongin para eksekutif muda yang duitnya kayak ngambil dari pohon. Kalo remaja ada nggak yang suka dugem? Ada aja. Buktinya caf?-caf? tertentu ramai pengunjungya. Ada juga anak muda seumuran kamu yang di SMA atau paling banter anak kuliahan. Maklumlah, pelajar dan mahasiswa juga manusia, punya keinginan untuk suka-suka, senang-senang, hura-hura dan jaga gengsi dengan nongkrong di tempat makan atau tempat gaul yang bikin gengsi melambung. Kalo cuma makan di tempat nasi uduk biasa atau bubur ayam yang dijual keliling pake gerobak dan kita ngetem ama temen-temen di pos ronda itu sih kebangetan karena bikin nilai gengsi kita melorot.</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, bukan soal jajanan, makanan, atau tempat nongkrong yang enak dibuat dugem, tapi dugem bisa juga soal dandanan dan gadget yang bisa nunjukkin diri ke orang-orang bahwa, &#8220;gue anak gaul, gue biasa dugem, lihat dong pakaian dan gadget gue&#8221;. Gitu kira-kira.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, di tengah kemajuan jaman saat ini, kita bisa memoles penampilan diri, bisa menjual diri kita di hadapan orang lain. Lihatlah, sarana informasi untuk itu udah banyak, kamu bisa gabung di situs jejaring sosial, bikin blog yang udah disediain secara gratis, bikin website, aktif di komunitas dunia maya, aktif di klub pencinta motor modif, penggemar sepeda tua, penggemar mobil tua, dan banyak ragamnya yang lain. Kamu bisa nunjukkin eksistensi kamu di sana. Ya, selama kegiatanya bermanfaat dan tidak melanggar hukum syara silakan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuma emang nggak berhenti di situ. Namanya juga ajang kumpul-kumpul bareng teman, apalagi satu sama lain saling pamer apa yang dimilikinya, bukan tak mungkin kalo akhirnya jadi berubah sebagai ajang lomba nunjukkin eksistensi diri yang berlebihan. Jangankan di komunitas yang masih umum sekadar menyalurkan hobi, di komunitas anak ngaji aja adakalanya pamer ilmu pengetahuan dan kualitas akhlak. Selama untuk saling memotivasi diri, nggak ada salahnya. Tapi mohon maaf aja ya, kita masih khawatir kalo akhirnya terjerumus ke dalam riya&#8217; atau malah kebablasan jadi pamer harta demi identitas diri agar bisa eksis di komunitas gaul kita. Bukan tak mungkin kalo akhirnya dugem juga deh.</p>
<p style="text-align: justify;">So, bagi kita, barangkali punya HP aja udah seneng bukan kepalang. Dengan begitu, komunikasi jadi lancar. Apalagi kalo kita orangnya <em>mobile</em> banget. Cocok. Tapi nggak bagi teman-teman kita yang ngakunya remaja dugem. Bagi mereka, fungsi saja nggak cukup. Selain bisa dipake ngobrol ngalor-ngidul, HP kudu gaul dan menghibur. Coba aja, hampir tiap bulan produk teknologi komunikasi ini perkembangannya melompat-lompat. Kita-kita <em>mah</em> nggak bisa ngikutin deh. Maksudnya, nggak tahan. Baru liat model yang menurut kita udah hebat, eh, bulan berikutnya udah ganti lagi dengan fitur-fiturnya yang mengoda. Jadi nggak beli-beli deh. Selain bingung milih, duitnya kagak ada, Mas. Idih?</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa kebayangkan, kalo tiap bulan muncul produk HP baru, itu makin bikin remaja dugem tergoda pengen gonta-ganti ponsel hingga akhirnya kudu bolak-balik ke warteg (baca: warung telepon genggam). Begitulah gaya mereka. Hmm.. apa nggak boros tuh?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Dugem juga ada klasifikasinya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dugem alias dunia gemerlap adalah gaya hidup yang menuntut serba keren, cool, trendi dan mewah. Para pegiat dugem ini berusaha abis-abisan untuk tampil prima, khususnya di depan orang lain. Mulai dari bacaan, makanan, busana, tontonan sampai tongkrongan. Kalo bacaan biasanya majalah-majalah yang banyak memuat soal mode, gosip artis en tips bergaul dengan sesama dugemer (aktivis dugem). Ini penting, soalnya kalau seorang remaja dugem ketinggalan berita maka bakalan terlempar dari arena pergaulan para dugemer. Biasanya, yang diobrolin seputar tempat nongkrong yang baru en asyik punya (nggak termasuk WC umum, lho), gosip artis, film bioskop macam &#8216;Terminator Salvation&#8217; versi teranyar dari &#8216;Terminator&#8217; atau film sekuelnya The Da Vinci Code, &#8216;Angels and Demons&#8217;, kalau olahraga pastinya sepak bola &#8211; apalagi menjelang Final Liga Champion Eropa yang mempertemukan Manchester United, tim dengan pertahanan terkokoh sepanjang musim ini dengan Barcelona, tim dengan strategi menyerang dan tersubur musim ini&#8211;, NBA atau balapan F1 dan MotoGP. Canggihan dikit mereka bicara soal internet atau handphone keluaran paling anyar. Ngobrolnya bisa di rumah temen yang kagak bikin boring atawa bete, atau kalau lagi tajir bisa juga di caf?. Kalau di masjid kayaknya sih nggak deh, mungkin takut kualat. Hahaha&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Aha.. saya jadi inget tulisan saya jaman dulu di Majalah PERMATA, di situ saya tulis bahwa remaja dugem juga kenal klasifikasi alias pembagian golongan. Setidaknya itu yang disurvei oleh Surindo, satu badan survey nasional. Sekurangnya ada delapan segmen psikografis remaja di perkotaan, yang masing-masing mereka diberi nama (1) Remaja funky (15%), Remaja Be-Te (11,7%), Remaja Asal (8,6%), Remaja Plin-Plan (22,7%), Remaja Boring (16,8%), Remaja Ngirit (14,8%), dan Remaja Cool (10,3%). Nah, lho banyak amat klasifikasinya ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam surveinya Surindo menyebutkan kalau sebagian segmen ini kelihatan memberi harapan. Ada kelompok remaja yang sangat berhati-hati dalam berbelanja, tak mudah tertipu, mencari informasi sebelum membeli, terencana kritis, punya rasa percaya diri, dan punya perhatian terhadap masalah-masalah sosial. Tapi, sebagian lagi terlihat cemas, ragu-ragu, tak konsisten, tak punya rencana masa depan, bahkan tak percaya orang lain sehingga tak membuka diri atau berorganisasi. Wajar kalau dalam berbelanja mereka sering tertipu (ini tipikal remaja bete).</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan ada yang percaya dirinya rendah, tapi gengsinya tinggi sekali (Remaja Asal). Ada lagi yang plin-plan, pas lagi ngetren lagunya Wali terbaru, &#8220;Cari Jodoh&#8221; ikut beli kasetnya (kalo nggak kebeli ya download gratisan di internet atau copy MP3 dari komputer teman), Korn bikin lagu baru eh ikutan nembang Blind biar kelihatan gaul. Eh, Ridho Rhoma dan Sonet 2 Band ngetop dengan <em>Menunggu</em>, ikutan juga goyang sambil nyanyi: <em>&#8220;Derita?hidup?yang?kualami/ Duhai?pahit?sekali/ Pada?siapa?aku?berbagi/ Kalau?bukan?padamu/ Datanglah,?kedatanganmu?kutunggu/ Telah?lama,?telah?lama?&#8217;ku?menunggu&#8221;</em>. Dasar plin-plan!</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kamu masuk klasifikasi yang mana? Moga-moga masuk kelompok yang kesembilan alias golongan RRI, Remaja Rajin Ibadah atau golongan Botak alias Bocah Takwa (hehehe..maksain banget nggak sih?)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bikin kantong bolong</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apa sih bahayanya dugem? Yang jelas biaya hidup untuk jadi remaja dugem itu nggak kecil. Sebaliknya, justru dengan maraknya gaya hidup dugem ini, udah berapa juta uang melayang percuam. Ujungnya memang menciptakan remaja-remaja borju. Menciptakan rasa persaingan di antara mereka dengan persaingan yang nggak pada tempatnya. Iya dong. Sebab, mereka berlomba dalam dunia gemerlap. Apa nggak puas dengan apa yang dimiliki selama ini? Sehingga kudu berlomba ngadain pesta ultah di diskotik, di hotel berbintang. Atau sekadar gonta-ganti HP dengan yang <em>highend</em> biar bisa main <em>facebook</em>-an dari ponsel, bawa mobil keluaran terbaru. Hmm&#8230; itu semua harus ditukar dengan uang. Bukan daun. Sekali lagi uang. Bener-bener bikin kantong bolong deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa kamu bayangkan, jika untuk tampil dugem, seorang remaja kudu mengeluarkan uang rata-rata 300 ribu perak seminggu. Sebulan udah 1,2 jute rupiah tuh duit menyublim untuk dugem. Kira-kira, berapa penghasilan ortunya? Atau kalo nggak punya, udah ngutang berapa tuh sama temennya? Duh, sayang banget uang segitu banyaknya cuma dipake untuk hura-hura. Coba kalo diinfakkan ke masjid atau shadaqah ke fakir miskin, udah jelas pahalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, fenomena ini bikin miris kita. Terus terang aja kita prihatin dan merasa kasihan sama teman-teman kita yang udah terlanjur jadi aktivis dugem. Kita khawatir, kalo nanti ada banyak remaja yang perutnya udah nggak bisa lagi menerima makanan murah, karena kebanyakan diisi makanan mahal baik produk lokal maupun produk bule, apalagi yang masih belum jelas halal-haramnya. Gawat!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, nyata banget dugem emang bikin kantong bolong. Yup, dugem telah menciptakan remaja-remaja yang boros dan nggak menghargai rizki yang selama ini diberikan kepadanya dari Allah Swt. Kasihan banget ya?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bikin keras hati</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kebanyakan main bareng teman yang sok gengsi dan doyan hura-hura hamburin duit, kudu hati-hati. Bisa-bisa kita jadi ikutan gaya hidupnya. Namanya juga gengsi yang diprioritaskan, nggak heran dong kalo yang dilihat selalu masalah gaya, alias penampilan. Dan untuk itu, uang yang bicara dong. Uang dan uang. Ujungnya, kita bisa jadi nggak peduli sama tetangga kanan-kiri. Tetangga sebelah kanan kita menjerit kelaparan, kita asyik dengan makanan mahal dan doyan nonton konser musik yang karcisnya untuk sekali masuk bisa mencapai harga 100 mangkuk bakso (kalo satu mangkuk bakso harganya Rp 5000, udah ketahuan berapa tuh harga karcis). Hmm&#8230; itu hanya untuk memenuhi nafsu dugem kamu aja.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu artinya kamu udah punya hati sekeras batu. Kamu nggak gampang terenyuh dengan penderitaan teman or tetangga kamu. Kamu masih bisa tertawa di atas penderitaan orang lain. Minimal, cuek. Sikap kayak gitu pun udah jelek banget. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, terus terang kita nggak abis pikir. Coba aja bayangin, waktu tanggul Situ Gintung jebol, itu kan pas lagi rame-ramenya kampanye parpol menjelang pemilu dan konser-konser musik banyak digelar, serta film-film terbaru di bioskop jadi inceran. Coba deh, warga Situ Gintung yang kena &#8216;tsunami kecil&#8217; nunggu antrian untuk ditolong, eh, sebagian yang lain, dari kita-kita ini, malah rebutan dan rela antri hanya untuk dapetin karcis bioskop 21 atau tiket konser dan ikutan pesta kampanye parpol.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah rasa peduli kita udah pudar ditelan jaman? Apa iya kita tega menyaksikan saudara-saudara kita yang lagi menderita? Rasanya, jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, mungkin masih tersisa setitik perasaan iba kita. Namun perasaan itu nyaris tak bisa terdeteksi, karena kalah dengan gaya hidup dugem yang emang udah nguasai dirimu. Padahal, dalam se uah riwayat dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, <em>&#8220;Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.&#8221;</em><strong>(HR at-Tabrani)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), <em>&#8220;Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih-sayang dan ikatan emosional ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan seluruh anggota tidak dapat istirahat dan sakit panas.&#8221;</em> <strong>(Muttafaqun &#8216;alaihi)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata, gegar budaya yang sala satunya muncul &#8216;tradisi&#8217; dugem, bikin kita jadi cuek dengan sesama, dan doyan hura-hura. Udah gitu, karakter budaya populer yang memang bergerak begitu cepat, sangat cepatnya, sampai-sampai tanpa sadar kita diminta dengan ikhlas (baca:dipaksa) tunduk dengan <em>logic of capital</em>, logika proses produksi di mana hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu trek lebih tinggi memang tidak memiliki kesempatan untuk renungan-renungan yang mendalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli. Nah, lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, teman-teman. Apakah kita mau mengorbankan hati nurani, keimanan dan ukhuwah kita hanya untuk mengikuti gaya hidup yang gemerlap tanpa juntrungan, apalagi melanggar syariat? Sayang banget hidup ini hanya disia-siakan.<strong> [solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ngapain-sih-kudu-dugem/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasib Pendidikan Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nasib-pendidikan-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nasib-pendidikan-kita#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 21:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2459</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 080/tahun ke-2 (9 Jumadil Awal 1430 H/4 Mei 2009)

Suatu hari &#8230;
&#8220;Dasar kamu! Punya kelakuan nggak tahu malu!? Percuma Papi-Mami nyekolahin kamu! Udah bayar mahal, berjuta-juta! Tapi apa yang bisa kami banggain dari kamu?!&#8221;
Pernah diomelin kayak gitu ama kedua ortumu? Bikin kamu tambah gondok, kesel dan pengen tereak ama dunia kalo sekolah emang membosankan! Makanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2594" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /></p>
<p style="text-align: justify;">edisi 080/tahun ke-2 (9 Jumadil Awal 1430 H/4 Mei 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Suatu hari &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dasar kamu! Punya kelakuan nggak tahu malu!? Percuma Papi-Mami nyekolahin kamu! Udah bayar mahal, berjuta-juta! Tapi apa yang bisa kami banggain dari kamu?!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah diomelin kayak gitu ama kedua ortumu? Bikin kamu tambah gondok, kesel dan pengen tereak ama dunia kalo sekolah emang membosankan! Makanya kamu lebih demen bolos, tawuran, cari gebetan, or sibuk ama aktivitas yang selama ini memang bikin kreativitas kamu kian terasah tapi tuh aktivitas nggak didemenin ama ortu. Sekolah sendiri nggak ngasih tempat buat mengasahnya. <em>So,</em> kamu pun nggak peduli lagi walaupun sekolah bayarnya mahal en punya sejuta fasilitas lengkap. Wooo, dahsyat! Tapi emm&#8230; jangan merasa dibela dulu deh ama tulisan gue hehehe tapi jadiin motivasi buat menuntut ilmu. Oke?<span id="more-2459"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Yakz! Jujur nih, sebenernya sekolahan sekarang apalagi yang ada di kota-kota besar udah pada lengkap buat segala tingkat ekonomi juga tingkat usia. Ada yang buat para borju, kelas menengah ampe yang kelas bawah. Ada kelompok bermain yang nerapin Pendidikan Usia Dini (PAUD) juga TK terus Paket A, B, C &amp; Sekolah Terbuka juga? SD, SMP, SMA dan Madrasah yang sederajat tapi sekarang lagi &#8217;stuck&#8217; ama kurikulum KTSP (nggak tahu nih mendiknas baru bakal pake kurikulum apa?) bahkan SLB juga Perguruan Tinggi pun udah bertebaran di mana-mana. Selaen itu juga ada yang sekolahnya di rumah. Itu tuh..<em>homeschooling</em> or rumah singgah juga UT alias Universitas Terbuka. Belum lagi pondok-pondok pesantren en Sekolah Islam terpadu juga Boarding School (sekolah berasrama). Pokoknya pemerintah udah nyediain lengkap wadah pendidikan formal dan informal.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, ternyata kerennya fasilitas sekolahan juga nggak jauh-jauh dari yang namanya duit. <em>So</em>, jangan heran yang namanya sekolah favorit (baca: lengkap fasilitasnya) udah pasti perlu duit banyak buat masuk ke sono. Jadi, ya biarpun pemerintah udah nyediain solusi &#8217;sekolah gratis ada di mana-mana&#8217;? buat pelengkap dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), ya tetep aja belum ada pemerataan fasilitas sekolah. Apalagi sekolah gratis ternyata cuma berlaku buat SD dan SMP (nggak termasuk yang berstandar internasional). Belum lagi para guru yang dikejar-kejar sertifikasi? biar bisa dapet tunjangan &#8216;lebih&#8217; akhirnya kudu kuliah lagi minimal S1. Mana kuliah, mana tetep kudu ngajar, kudu ikutan apapun seminar pendidikan yang ada biar dapet sertifikat. Yah, duit lagi, duit lagi. Apa itu kekurangan dari pendidikan di negeri kita ya?? Hummm&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Belajarlah sejak dini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Waktu kecil Papi-Mami ngebimbing kita, terus ngajarin gimana jalan, ngomong yang baek, sopan-santun ama orang laen. Ngerasa nggak? Terus, bertambah usia, pelajaran usia dini yang kita terima semakin banyak. Diajakin shalat berjamaah, berwudhu, nyanyi lagu yang asik buat anak-anak, nonton film-film juga maen games yang positif dan banyak lagi!</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Abdary nulis dalam kitabnya <em>Madkhalusi asy-Syar&#8217;i asy-Syarif</em> justru protes nih ama para ortu en wali anak yang ngirim anak-anaknya sekolah di usia kurang dari tujuh tahun!? Pada usia 4-5 tahun justru adalah usia yang rawan buat ngajarin membaca <em>coz </em>dapat melemahkan tubuh en akal pikiran si anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, sebenernya sih kudu disesuaikan tuh apa yang kudu diajarkan buat anak usia dini. Apalasi di masa-masa <em>golden age </em>yah umur balita gitu deh, kudu digencarkan yang namanya &#8217;stimulasi&#8217; Apaan tuh? Masih sodaraan ama imunisasi? Hehehe.. stimulasi tuh artinya rangsangan. Soalnya emang usia segitu masih belum boleh dipaksa, masih masa bermain dan mengenal apa yang dia pengen tahu. Jadi kalo ingin ngebentuk kepribadian (pola pikir en jiwa) anak, usia segitu yah masih dalam tahap &#8216;rangsang&#8217;. Belum saatnya &#8216;di-<em>judge</em>&#8216;. <em>So</em>, sebagai ortu ya kudu sabar (huhu..sabar sabar!) buat jadi contoh teladan berakhlakul karimah bagi anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang-kadang yang gue temuin di lapangan (emang mo maen bola?), justru anak-anak balita diserahin bulet-bulet ke <em>playgroup</em> or TK ternama dengan harapan para guru bisa nyulap tuh anak biar jadi anak yang pinter, shaleh-shalihah, manut ke ortu, de el el, bla bla bla nggak peduli berapa <em>jeti</em> pun duit bakal keluar dari kantong para ortu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, di jalam dulu negara (khilafah) ngijinin tuh swasta/masyarakat buat bikin tempat anak-anak bermain sebagai stimulasi untuk mengenal angka, huruf latin en al-Quran dan lain-lain. Tapi buat ngajarin angka dan huruf dalam bentuk harfiah, artinya buat belajar bisa nulis, baca dan berhitung tetep kudu pada usia minimal 6 tahun menurut Ustadz Abu Yasin dalam kitabnya <em>Usus at-Ta&#8217;lim fi Daulah al Khilafah </em>dan 7 tahun menurut Syekh Abdurahman al-Baghdadi dalam kitabnya <em>Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam</em>. Kok bisa 7 tahun? <em>Coz</em>, pemikiran anak pada usia segitu udah mulai berkembang (bunga kali&#8230;) dan Islam mengharuskan ortu or wali anak buat ngajarin shalat dan berakhlakul karimah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda Rasulullah saw.: <em>&#8220;Perintahkanlah anak-anak mengerjakan shalat di kala mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka apabila meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka pada usia tersebut&#8221;</em> <strong>(HR a</strong><strong>l-Hakim dan Abu Dawud dari Abdullah bin Amer bin Ash)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Who give school a bad name</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yupz, sebenernya nggak sepenuhnya kalo sekolah itu ngebosenin. Tapi kalo bicara sistem pendidikan yang naungin segala aspek pendidikan mulai dari kurikulum, pembiayaan, administrasi, tenaga pendidik, gimana sekolahan yang ideal, ya emang bikin pusing, <em>coz</em> sistemnya udah bikin puyeng duluan!</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana nggak puyeng, sekolahan kan sebenernya tempat buat ngedidik manusia (bukan ngedidik robot apalagi ngejadiin siswa sebagai <em>animal test</em>). Tapi sekarang sekolah malah udah jadi barang komoditi alias diperdagangkan. Udah bukan rumpian tetangga lagi tuh kalo mau sekolah kudu punya duit banyak. Walaupun SPP gratis, kudu siap-siap tetep ngeluarin duit untuk seragam, buku-buku, alat-tulis, uang daftar ulang juga uang-uang laennya bakal ada <em>price listnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, ada tuh sekolahan yang meja en bangku sekolahnya ditarik lagi ama mebeler karena pihak sekolahan nggak lunas bayarnya dan akhirnya belajarnya pun lesehan .. Emangnya duit bangku dilariin kemana tuh? Nah, akhirnya sebelum berangkat atau setelah kelar sekolah, ada tuh temen-temen yang ngasong dagangan atau jadi loper koran, ngamen di jalanan bahkan bantu Papi Maminya jualan <em>sego kucing</em> ampe begadang buat nambah-nambahin buat bayar sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, gimana mau ngebentuk <em>akhlakul karimah</em> apalagi jadi orang berilmu kalo sekolahannya mahal bahkan belum tentu dilandasi ama landasan yang bener? Gue nggak bisa ngebayangin nih betapa suramnya negeri ini, masa&#8217; sih buat bisa sekolah ternyata para muslimah cari duit dengan jalan jadi PSK, <em>scoring girl</em> di rumah bilyar, <em>hostess</em> di tempat-tempat karaoke or jadi SPG yang sambil nawarin barang tapi juga mamerin auratnya. Ampyun deh! (gue nggak lebay kan?)</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Yasin, dalam buku yang ditulisnya, <em>Usus at-Ta&#8217;lim fi Daulah al Khilafah </em>ngasih tau nih kalo sebenernya tujuan pendidikan di sekolahan tuh: pertama, ngebentuk kepribadian Islami baik pola pikir (<em>aqliyah</em>) dan pola jiwa (<em>nafsiyah</em>). Kedua, siswa dididik dengan keterampilan dan pengetahuan supaya ilmunya bisa kepake langsung dalam kehidupan. Ketiga, nyiapin siswa supaya bisa memasuki jenjang perguruan tinggi.? Jadi kudu belajar nggak cuma masalah <em>tsaqafah</em> (bahasa Arab, fikih, tafsir, hadist dll) tapi juga ilmu-ilmu umum (Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, dll).</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi dalam sistem sekulerisme sekarang, sistem ini udah mengkontaminasi pendidikan (bahkan mendasari seluruh aspek) di negeri kita. So, nggak heran kalo sekolahannya pun nggak bisa ngebentuk kepribadian siswa secara islami. Sekolah sebenernya nggak bisa jadi benteng pertahanan kalo lingkungan di luar sekolah sendiri nggak beres.</p>
<p style="text-align: justify;">Ok lah, di sekolah baek, di rumah manut tapi jangan heran di luaran ternyata bandelnya nggak ketulungan.? Akhirnya?: <em>&#8220;Jangan bilang siapa-siapa ya ?! Juga ortu gue, gue hamil nih&#8230;(di luar nikah maksudnya)&#8221;</em> or <em>&#8220;Hihi..gue tilep abis nih duit ortu, mumpung sekolah jauh di seberang pulau ya gue bilang aja duit na buat keperluan sekolah padahal abis buat clubbing, ke salon n beli baju&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah, kok ancur gitu sih<em>, Bro n Sis?!</em> So, <em>who give skul a bad name</em>? <em>Of course</em>, dia adalah &#8216; ide-ide sesat di luar Islam&#8217; yang udah diterapin oleh pemerintah di negeri ini. Pendidikan di negeri kita kian ambruk gitu juga kondisi <em>output-</em>nya!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Menuntut ilmu tuh wajib!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Islam pastinya melandasi seluruh aspek kehidupan dalam kehidupan bernegara termasuk pendidikan nih, Guyz !? <em>So</em>, jangan sinis dulu deh kalo denger tentang sistem pendidikan Islam. <em>Coz</em>, menurut gue, gara-gara nggak diterapin Islam nih jadinya pendidikan juga ikut runyam, umat Islamnya juga jadi &#8216;aneh&#8217; karena kepribadian islami nya nggak terbentuk.? padahal udah sekolah (ampe keluar negeri malah) dan keluar duit banyak. Ckckck&#8230;sayang ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan pendidikan di sekolah bukan buat pinter bolos, buat nyogok guru, or sekadar cari gebetan. Tapi tujuan pendidikan adalah ngebentuk kepribadian islami dan ngebekalin ilmu serta ketrampilan buat diaplikasikan dalam kehidupan. Nah, gue cuma mau nekanin nih kalo dalam Islam pun sebenarnya pendidikan juga kudu terjangkau oleh rakyat tapi tetep punya fasilitas yang bikin rakyat pada pinter. Nggak pilih kasih kayak sekolah standar internasional lah, sekolah favorit lah.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, kalo dalam Islam, pendidikan bisa murah, terjangkau bahkan gratis. Duitnya dari mana tuh buat ngebiayain operasional sekolah? Sebenernya, pemungutan duit dari masyarakat bisa ada tapi itu pun terjangkau or malah nggak ada sama sekali. Waow! Kok bisa? Dalam Khilafah Islamiyah, segala pembiayaan buat keperluan rakyat tuh diambil dari Baitul Mal. Baitul Mal tuh tempat harta Khilafah yang digunain buat ngebiayain segala keperluan negara en rakyat. Dapetnya bisa dari ghanimah dan fa&#8217;i (harta rampasan perang) or dari hasil kekayaan sumber daya alam dan lain-lain.?? Nah, kalo begini ceritanya, kan nggak ada lagi &#8216;kisah sedih nggak bisa sekolah karena nggak ada biaya &#8216;. Dalam Islam, buat ngedapetin pendidikan murah dengan fasilitas yang oke udah jadi haknya rakyat, apalagi menuntut ilmu tuh emang wajib. Catet !</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sebenernya jangan sampe ada kekhawatiran kalo sekolah gratis or murah terus nasib para pendidik jadi nggak sejahtera. <em>Don&#8217;t worry </em>deh. Sekolah or kampus nggak perlu otonomi lagi biar bisa ngebiayain jalannya pendidikan buat rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Khalifah Umar bin Khatab aja ngasih contoh nih. Dia ngasih gaji? tiga orang guru di Madinah sebesar 15 dinar (kurang lebih 63,75 gram emas) per bulan. Wuuduuh! Dahsyat! Tapi jangan lupa nih, selain digaji segambreng emas, para gurunya juga kudu punya kepribadian islami yang mantap. Kacau ceritanya kan kalo gurunya punya kepribadian ajrut-ajrutan, terus gimana muridnya ? Inget pepatah &#8220;Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.&#8221; Nah, jangan ampe gitu deh. Kan bau pesing tuh, hehe!</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat Rasulullah sebagai pendidik kudu ditiru nih.? Beliau sebagai pendidik punya sifat penuh kasih sayang, sabar, cerdas, tawadhu&#8217;, bijaksana, pemberi maaf, kepribadian yang kuat, pede dengan tugas &#8216;mendidik&#8217; &#8211; nggak minderan gitu deh apalagi ampe nyeletuk &#8220;Ah, saya cuma guru, guru honor lagi.&#8221;? Jadi acara belajar pembelajaran pun nggak cuma sekedar transfer informasi tapi justru transfer pemahaman.? Dijamin deh para siswanya entar pada oke.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pendidikan Islam, ujian pun ada. Tapi nggak ada ujian tulis. Cukup ujian lisan dan mempraktekkan ilmu yang dikuasai dan dipahami.? Nanti, sekolah akan ngasih semacam ijazah buat nandain tuh siswa udah nguasai dan mampu ngajarin ilmu tertentu yang udah dia dapet di sekolahan dan wujud aplikasinya juga ada. Nggak kayak sekarang, cuma cukup bikin skripsi, tesis or disertasi dan itupun bisa jadi hasil nyontek penelitian orang or ngupah orang buat dibikinin. Gawat!</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana nasib pendidikan kita sekarang? Kalo harus ngomong sih, tuh otonomi sekolahan dan kampus cuma bikinan &#8216;asing&#8217; (baca: kapitalis-sekuler). Selain para pemodal, baik lokal or asing ngurusin pendidikan rakyat, kantong ortu juga lebih dicekik lagi! Jadi jangan bangga dulu bisa keterima di kampus ternama kalo ujung-ujungnya dipalakin duit berjeti-jeti. <em>So</em>, baik BHMN or BHP di kampus-kampus itu kan nggak lain sebenarnya cuma bikin yang kaya bisa kuliah terus yang nggak mampu nerusin kuliah kudu ngarep beasiswa. Itu pun kalo pinter en menuhin syarat yang ngasih beasiswa. Itu pun nggak selesai begitu aja, pastinya ada <em>take n give</em> antara penerima dan pemberi beasiswa. Kalo nggak percaya, tanya aja ama <em>Ford Foundation</em> dan kerajaan rokok terbesar di negeri ini. Ah, susah dah urusannya diatur ama kapitalisme-sekulerisme.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, hari gini masih bertahan dalam pendidikan yang kapitalis-sekuler? Sampai kapan nih pada mau sekolahan selalu mahal padahal udah semakin banyak rakyat yang terpaksa putus sekolah karena nggak sanggup bayar or di-<em>drop out</em> karena bandelnya nggak ketulungan? Sampai kapan mau bertahan dalam didikan sekuler dan hasilnya bisa kita liat sendiri kan gimana ancurnya? Jangan sampe deh pinter otaknya doang tapi imannya nol! Kalo nggak mau sampe besok ya berarti sekarang juga kudu mantepin langkah kita buat sama-sama ngasih tahu ke pak guru, bu guru, temen-temen sekolah juga ke pak menteri pendidikan en pak presiden buat <em>heal the education by Islam way! Bring back Islam!? Bring back Islam! </em><strong>[Anindita: coffee.prince70@yahoo.co.id]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nasib-pendidikan-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema Ujian Nasional</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dilema-ujian-nasional</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dilema-ujian-nasional#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 01:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2423</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 079/tahun ke-2 (2 Jumadil Awal 1430 H/27 April 2009)
Minggu-minggu ini tema kelelahan kerasa banget di sekitar gue, selain cukup banyak kerjaan di kantor, di jalan pun setiap kali papasan sama anak sekolah, terlihat sebagian dari mereka banyak yang bertampang kuyu dan kelihatan stres. Hmm.. pasti musim ujan dateng nih, eh musim ujian maksud gue. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /></p>
<p>edisi 079/tahun ke-2 (2 Jumadil Awal 1430 H/27 April 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu-minggu ini tema kelelahan kerasa banget di sekitar gue, selain cukup banyak kerjaan di kantor, di jalan pun setiap kali papasan sama anak sekolah, terlihat sebagian dari mereka banyak yang bertampang kuyu dan kelihatan stres. Hmm.. pasti musim ujan dateng nih, eh musim ujian maksud gue. Seperti kebiasaan rutin tahunan lainnya, kayak puasa, idul fitri, lebaran haji dan mandi kembang (eh nggak lah), perayaan ujian nasional tahun ini masih juga diwarnai dengan kegiatan yang sama dan berulang setiap tahunnya. Dari belajar keras (emang bisa belajar lembek ya?), nambah les/bimbel, makan makin banyak sampe maen <em>facebook</em>-an, masih dilakukan juga. Hmm.. ada hubungannya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak mau kalah dengan muridnya, para guru dalam menyambut Ujian Nasional (UN), menggelar berbagai gawean seperti bikin kisi-kisi, bikin panitia UN, rapat koordinasi sampai <em>tryout</em>, yang emang selalu out alias nggak pernah in. Semua dibikin sibuk dengan gawean-gede negara ini, untuk menguji hasil kerja keras para guru dalam mendidik anak muridnya. Fenomena UN memang cukup menarik karena terdapat berbagai sisi yang kelihatan baik namun sekaligus menyimpan juga berbagai masalah potensial, apa aja tuh? Yuk kita simak terus.<span id="more-2423"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Lain harapan, lain kenyataan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">UN cukup menarik untuk diobrolin, ujian ini sebenarnya udah cukup lama ada, dan bukan barang baru lagi. Jaman dulu dikenal dengan Ebtanas (gue ngalamin tuh), terus kemudian menjelma menjadi Ujian Nasional alias UN, terus apa yang berbeda dengan UN? UN ini muncul sebagai salah satu <em>tools</em>/alat untuk melakukan standardisasi kualitas pendidikan di Indonesia. Wow pendidikan yang standar, boleh juga tuh. Sebenarnya ide standardisasi bukanlah ide baru, kita bisa menemukan ide ini dengan mudah bila kita gunakan kacamata produksi dalam Kapitalisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Ide standardisasi ini muncul sebagai respon terhadap revolusi industri, yang memerlukan sebuah standar untuk semua barang produksinya, supaya apa? Supaya bisa dikasih harga dan ditetapkan keuntungannya dengan mudah. Sebagai ilustrasi simpelnya, nggak akan mungkin ada orang jualan sabun mandi 20 rebu perak sebatang, kecuali memang ada justifikasi/pembenaran kualitas atau apalah yang menjadikannya sangat wajar dijual dengan harga mahal.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah dari ilustrasi di atas kita tahu bahwa kualitas tidak pernah akur dengan namanya biaya, karena kualitas memerlukan biaya, baik biaya produksi maupun biaya bahan bakunya. Jadi amatlah logis bila kemudian ide standardisasi diterapkan di dunia pendidikan, pastilah akan berimbas terhadap biaya, di sini berlaku kaidah &#8220;You get what you pay&#8221;. Lho berarti pendidikan di Indonesia sudah dikapitalisasi? Ya, betul banget!</p>
<p style="text-align: justify;">Kapitalisasi memerlukan kompetisi untuk melanggengkan sistemnya, karena dalam kapitalisme semua adalah modal yang harus bisa dijual, no matter what! Dengan menjual dagangannya dalam sebuah kompetisi/lomba &#8220;kecerdasan&#8221;, sistem ini memastikan bahwa akan selalu ada orang yang membeli dagangannya sehingga keuntungan menjadi hal yang pasti. Dalam sebuah lomba diperlukan sebuah batasan/tujuan yang harus dicapai, misal lomba mancing ikan, penangkap ikan terberatlah yang menang, lomba balap mobil, mobil tercepatlah yang menang. Sifat dasar yang harus ada dalam batasan lomba ini, adalah sesuatu yang jelas dan terukur. Kalau lombanya punya batasan yang &#8220;relatif&#8221;, maka akan menghasilkan kompetisi yang cukup aneh dan nggak bisa di-standarisasi, misalnya? nih, lomba adu cantik dan cakep, nggak akan pernah muncul standar cakep. Seperti kata pepatah, cantik dan cakep adalah relatif buat orang lain kecuali gue, lho? (hahaha&#8230;)</p>
<p style="text-align: justify;">Nah dari situlah muncul ide standardisasi pendidikan di Indonesia, hasil pendidikan harus bisa dinilai dengan standar yang terukur, karena itulah UN selalu menyertakan standar nilai kelulusan dalam setiap gelarannya. Terus apakah ini suatu yang buruk? Bukankah dengan pendidikan yang terstandardisasi bakal menghasilkan lulusan yang berkualitas? Jawaban singkatnya: rencananya sih, iya! (lho kok?)</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali menengok standar dari kaca mata manajemen produksi kapitalis, untuk menjaga keadilan/fairness dalam kompetisi standar ini, ternyata diperlukan kualifikasi awal. Wah apaan tuh? Kok kayak balapan MotoGP aja ada babak kualifikasi untuk nentuin <em>pole position</em>? Ya, kualifikasi awal yang menentukan apakah seseorang/suatu lembaga layak mengikuti &#8220;perlombaan standar&#8221; ini. Yang dimaksud dengan kualifikasi di sini adalah serentetan prasyarat yang harus dipenuhi sebelum mengikuti perlombaan. Umumnya kualifikasi ini kita kenal dengan ISO. Nah, sebuah perusahaan harus dinyatakan memenuhi kualifikasi ISO oleh Auditor, sebelum perusahaan tersebut bisa mengikuti perlombaan kualitas dan menggunakan kualitas itu untuk melakukan justifikasi untuk semua hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali lagi ke UN (moga kamu nggak bingung bolak-balik mulu kayak setrikaan), sebelum perlombaan kecerdasan dimulai, untuk menjaga <em>fairness</em>, setiap sekolah harus diaudit terlebih dahulu, apakah sekolah tersebut memiliki kualifikasi untuk mengikuti perlombaan ini atau nggak. Seharusnya sih gitu, biar start-nya fair. Lha, kenyataannya kualifikasi ini nggak berlaku untuk urusan UN. Dilewatin gitu aja. Jadilah tiap sekolah harus bin kudu bisa memenuhi standar perlombaan yang ditentukan oleh pemerintah. Sementara di fasilitas dan kualitas sekolah nggak merata. Kebayang kan gimana bakal amburadulnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita lihat fakta: Setiap sekolah memiliki kualitas SDM pendidik yang berbeda, fasilitas yang beragam, demikian juga kualitas murid yang nggak sama &#8220;bahan bakunya&#8221;, tapi terus dituntut supaya bisa mencapai target kelulusan yang sama. Wah, gimana urusannya neh? <em>Fair</em>-kah? Ya jelas nggak lah. Sesuatu yang nggak sesuai dengan fitrah manusia, pasti akan menyimpang! Mari kita lihat fakta lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore ini barusan gue lihat TV, padahal nggak biasanya gue lihat TV, kebetulan di <em>channel</em> Trans 7 lagi bahas masalah UN. Dalam acara itu disodorkan berbagai fakta mengenai kecurangan yang &#8220;terpaksa&#8221; dilakukan oleh para murid bekerja sama dengan pendidik, semua alasannya supaya bisa lolos UN. Kalo dari sudut pandang murid mungkin masih <em>make sense</em> kecurangan dilakukan, lha kalo dari <em>point of view</em> pendidik, apa untungnya ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah inilah yang disebut sebagai <em>reward and punishment</em>, ah apaan lagi neh? Standaridsasi hampir selalu diikuti dengan sistem <em>reward and punishment</em>, kenapa? Ya untuk menjaga supaya standar yang dibuat tetap terjaga dan perlombaan tetap menarik. Orang yang sesuai dengan standar akan dikasih <em>reward</em>, sementara yang nggak sesuai standar, pasti kudu kena hukuman alias <em>punishment</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Para guru pasti nggak mau dihukum gara-gara anak didiknya nggak lolos UN. Oya, gue sempat ngobrol dengan salah seorang temen yang menjadi pengawas UN abis bekam siang ini, cukup banyak fakta yang menunjukkan bahwa &#8220;kecurangan&#8221; UN ini ternyata dilakukan dengan terstruktur dari para penyelenggara pendidikan itu sendiri. Mulai dari para pengawas dikumpulkan untuk diberi arahan supaya &#8220;jangan terlalu galak&#8221; pada saat ngawasin hingga nggak perlu mengelem amplop hasil UN, dengan dalih pengeleman akan dilakukan oleh tim khusus, untung alasannya bukan karena pabrik lemnya tutup atau lemnya ketingalan di Australia. Halah!</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa ya kok nggak boleh dilem? Hmm&#8230; karena lembar jawaban dikumpulkan jam 2 siang, sementara ujian sudah selesai jam 10 atau jam 12, jadi cukup banyak hal yang bisa dilakukan dalam kurun waktu tersebut. Salah satunya, &#8216;memperbaiki&#8217; jawaban siswa yang dianggap nggak pinter-pinter amat biar bisa lulus UN. Gubrak!</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara dari acara di Trans 7 yang gue lihat, terungkap berbagai kecurangan yang dilakukan oleh murid dengan mudah, tanpa ada halangan sama sekali. Dari yang mulai jelas-jelas buka contekan di atas meja eh dibiarin aja tuh sama pengawas, sampai ada guru yang bagi-bagi jawaban lewat SMS dan secarik kertas kecil sebelum UN dimulai. Liputan ternyata tidak berhenti di situ saja, salah seorang guru diwawancara tentunya dengan identitas yang dikaburkan, doi ngaku emang menjual jawaban ke murid supaya target setoran kelulusan di sekolahnya bisa tercapai, sekaligus dapet keuntungan pribadi. Hebat kan? Sekali dayung dua pulau terlampaui, ngakunya seh hasil bersih yang dia terima dalam sekali UN bisa sampe angka 25 juta rupiah, bahkan diklarifikasi pula bahwa itu adalah angka bersih buat dia doang, yah pastinya oknum pendidik yang lain juga ada bagian/porsinya. Ckckck..</p>
<p style="text-align: justify;">Liputan masih berlanjut dengan mengkonfirmasi salah satu petinggi pendidikan di negeri ini mengenai fakta yang di temukan, dan seperti sudah bisa ditebak, mereka yakin bahwa nggak bakal ada kecurangan dan pengawasan telah dilakukan optimal. Menyedihkan!</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenernya harapan masih tersisa di TPI, bukan nama stasiun TV (loh kok stasiun, emang ada keretanya?), tapi singkatan dari Tim Pengawas Independen, kiprah mereka kadang membuat gerah mafia pendidikan, terus kenapa kok masih saja banyak kita temuin kecurangan dalam UN? Karena memang kiprah mereka belum optimal, dikarenakan banyak oknum tim pengawas independen yang ngelaba juga buat kocek pribadi&#8230;huh <em>dead end!</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Sikap kita</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi kamu para remaja, kamu harus mulai ngeh dengan situasi pendidikan di Indonesia, kamu harus nyadar kalo kita emang nggak hidup dalam kondisi yang ideal, jadi kamu harus bisa menyesuaikan diri, pilih mana yang memang harus dan perlu dipelajari dan <em>worth</em> alias berharga untuk diperjuangkan, tinggalin yang nggak perlu. Pelajari Islam seperti kuatnya keinginan kamu untuk lolos UN, Kenapa? Karena hanya Islam yang mengantarkan keselamatan di akhirat, tempat dimana kehidupan adalah abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan mau pendidikanmu dikapitalisasi murni, karena kamu berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas, supaya kamunya juga berkualitas. Tolak bocoran UN dari guru kamu, kerjakan semaksimal kamu bisa. Terus gimana kalo nggak lulus? Tanya sama guru kamu kenapa sampai ngga bisa lulus, mereka bertanggung jawab terhadap kelulusan dan kualitas pendidikan yang kamu terima. Kalo mereka kemudian berlepas diri dari tanggung jawab? Simple, itu artinya mereka penyelenggara pendidikan yang tidak berkualitas, cari sekolah lain saja, insya Allah masih banyak penyelenggara pendidikan yang berkualitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi para penyelenggara pendidikan di negeri ini, bersikaplah <em>fair</em> dan jujur, kalo emang mengharapkan output dengan standar kualitas yang baik, tentu juga seharusnya menstandardisasi pelayanan pendidikan dan fasilitas pendidikan yang diberikan, baru kita bisa ngomong soal standar kelulusan dan biaya (yang hampir pasti mahal). Kalo murid yang nggak berkualitas tidak lolos UN, maka guru yang tidak berkualitas pun harus diberhentikan, pemerintah harus &#8220;tega&#8221; memecat guru-guru yang bekerja di bawah standar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemerintah juga harus memastikan nggak ada bangunan sekolah yang ambruk, sekolah yang digusur dll, masih banyak pendidikan diselenggarakan dengan &#8220;seadanya&#8221; di negeri ini. Kalo mau jujur pada diri sendiri, sebenernya kita masih jauh ngomongin soal standardisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi para orang tua, memang menyenangkan dan membanggakan memiliki anak yang pandai dan cerdas, apalagi menonjol di sekolahnya, namun bukan itu tujuan mereka hidup di dunia ini. Menjadi juara kelas bukanlah segalanya, apalagi di sekolah yang sekuler dan perilaku anak kebawa jadi sekuler. Menjadi juara dalam memahami fisika, biologi, matematika, kimia dll, di sekolah yang sekuler sebenernya tidaklah membanggakan. Bila kita membenci sekulerisme maka jangan mau menyekolahkan anak kita ke sekolah yang sekuler yang bakalan menjadikan kepribadian anak kita kebawa jadi sekuler.</p>
<p style="text-align: justify;">Lain ceritanya bila pendidikan agama sudah menjadi mahal, baru deh wajib nangis darah nasional. Perlu kita ingat, bahwa mendidik tetap menjadi kewajiban orang tua, kewajiban ini tidak bisa ditransfer ke guru di sekolah! Bahkan kewajiban ini nanti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat. Sebagai orang tua, pendidikan kepada anak harus diarahkan kepada tujuan mereka hidup di dunia ini, yaitu untuk beribadah, seperti yang tercantum dalam QS-adzzariyat ayat 56 (silakan dibaca dengan seksama ya).</p>
<p style="text-align: justify;">Mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, masih dalam angan-angan, namun bukan berarti kita diam saja, karena Allah SWT nggak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka sendiri pengen berubah! Yuk kita reformasi cara berfikir kita mengenai apa itu cerdas, seberapa perlukah kita berkompetisi dalam kecerdasan? Seberapa pentingkah juara kelas? Dan mau apa setelah jadi juara kelas dan sukses menembus sekolah bergengsi? Apakah kemudian otomatis menjadikan mereka masuk surga? Jangan mau dijadikan obyek untuk diperas dan diekploitasi oleh kapitalisme!</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh mengerikan bila masyarakat kita dipimpin oleh orang-orang yang dididik seperti ini, dipimpin dan dikendalikan oleh kelompok masyarakat yang cerdas menurut standar sekuler dan cerdas menurut standar kapitalis, jangan heran kalo sangat sulit mengenyahkan kedua sistem kufur tersebut dari bumi Indonesia, dan tragisnya, sebagian dari kita malah menikmatinya (baik dengan kesadaran penuh maupun pura-pura nggak tahu)</p>
<p style="text-align: justify;">Ok deh, kita harus sadar bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh dari standar yang dibikin sendiri oleh penyelenggaranya. Hasil dari sistem pendidikan itu pun nggak memberikan indikasi perbaikan dan kemanfaatan kepada bangsa ini, kecuali keuntungan pribadi di masing-masing level, terbukti masih terpuruknya bangsa ini, sejak dideklarasikan merdeka 64 tahun yang lalu.. Hampir satu generasi telah lewat, masih perlu berapa generasi lagi untuk berubah? Kalo kita merdeka saja perlu 3,5 abad, perlu berapa lama untuk bisa membangkitkan umat ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, yang perlu kita lakukan saat ini adalah: sadar, belajar, mehami, dan mengamalkan dalam perjuangan untuk lebih baik lagi. Maju bersama untuk melawan penjajahan kapitalisme dan menjadikan Islam satu-satunya sebagai sistem pengangganti kapitalisme. Sebab, cuma Islam yang bisa menyelesaikan semua masalah. Tapi ada syaratnya, yakni Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Iya nggak sih? Sip deh! <strong>[aribowo: aribowo@gaulislam.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dilema-ujian-nasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini &#8216;Menggugat&#8217;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kartini-menggugat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kartini-menggugat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 18:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2398</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 078/tahun ke-2 (24 Rabiul Akhir 1430 H/20 April 2009)
Waduh&#8230;.belum apa-apa judulnya udah syerem banget neh. Ibu Kartini kan udah lama meninggal, kok bisa dia menggugat? Pasti seru neh! Nah, mumpung bulan April rasanya kurang afdhol kalo kita nggak ikut membicarakan beliau yang setiap tahun selalu ada peringatan hari kelahiran putri keraton Jawa ini.
Kartini sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /></p>
<p>edisi 078/tahun ke-2 (24 Rabiul Akhir 1430 H/20 April 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Waduh&#8230;.belum apa-apa judulnya udah syerem banget neh. Ibu Kartini kan udah lama meninggal, kok bisa dia menggugat? Pasti seru neh! Nah, mumpung bulan April rasanya kurang afdhol kalo kita nggak ikut membicarakan beliau yang setiap tahun selalu ada peringatan hari kelahiran putri keraton Jawa ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kartini sudah terlanjur jadi jargon emansipasi perempuan Indonesia. Di setiap waktu dan bidang, semua mengelu-elukan beliau sebagai peletak tonggak persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Semua profesi yang berkaitan dengan perempuan sebagai pelaku aktif di dalamnya, tidak pernah ketinggalan selalu menyelipkan nama Kartini dengan penuh kekaguman dan terima kasih yang mendalam. Benarkah Kartini sehebat itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan-jangan pemujaan ini menyimpan makna tertentu di baliknya. Apa iya sih cuma Kartini saja yang memperjuangkan hak perempuan terutama dalam hal memperoleh pendidikan? Ikuti terus yuk biar jelas&#8230;<span id="more-2398"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Perempuan hebat lainnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pernah nggak kamu mendengar nama Dewi Sartika dan Cut Nyak Dien? Hmm&#8230;.kayaknya nggak asing ya meskipun namanya tak setenar Kartini. Kalo nama-nama yang ini: Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah, Malahayati dan Rohana Kudus? Hehehe&#8230;.siap-siap aja kamu pada mengerutkan kening karena merasa tak kenal sama sekali dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Para sejarawan membuktikan bahwa nama-nama yang tersebut itu hidup sezaman dengan Kartini. Namun kenapa Kartini yang dijadikan satu nama utama ya? Padahal nama-nama perempuan hebat tersebut telah melakukan sesuatu yang lebih dahsyat daripada Kartini di saat itu. Di saat Kartini masih dikungkung oleh? budaya Jawa saat itu yang melarang perempuan bersekolah tinggi dan harus menunduk-nunduk di hadapan laki-laki meski itu adiknya sendiri, perempuan-perempuan tersebut di atas sudah melakukan lebih.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi Sartika berkiprah di sekolah yang didirikannya bernama Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Bahkan Rohana Kudus (1884-1972) mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916). Lebih dahsyatnya lagi, Rohana Kudus juga aktif sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Dan yang lebih membanggakan, perempuan hebat ini juga mendirikan koran-koran surat kabar yang didirikannya sendiri semisal Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Subhanallah!</p>
<p style="text-align: justify;">Rohana Kudus bukan jurnalis perempuan biasa. Ia mempunyai visi dan misi keislaman yang jelas dan tegas bahwa perempuan harus tetap menjadi perempuan dan bukan pesaing laki-laki. Perubahan yang ia perjuangkan adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan sebaik-baiknya terutama dalam masalah akhlak, budi pekerti dan ibadah. Dan semua itu bisa dicapai hanya dengan ilmu pengetahuan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu akan semakin bengong bila mendengar kiprah Tengku Fakinah, yang selain ikut berperang, beliau juga adalah seorang ulama-wanita. Yang namanya ulama, levelnya bukan lagi sekadar bisa baca tulis namun beliau sudah menjadi rujukan umat karena kecerdasan dan kesalehannya. Jauh sebelum Kartini lahir, ada nama Malahayati, Panglima Angkatan Laut wanita pertama di kepulauan Nusantara. Awalnya, Malahayati membentuk barisan prajuritnya terdiri dari para janda untuk melawan Belanda yang berusaha menjajah kerajaan Aceh. Karirnya pun semakin cemerlang sehingga pada tahun 1599, beliau membawahi ratusan armada perang dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman yang terkenal bengis itu dengan tangannya sendiri. Nama ini kemudian diabadikan menjadi nama Universitas, rumah sakit dan pelabuhan serta kapal perang. Fantastis!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Dari mana perempuan hebat itu?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yupz, pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, kok sepertinya nama perempuan hebat Indonesia didominasi oleh nama-nama yang bukan berasal dari Jawa? Satu-satunya nama Jawa adalah Kartini dan dia sangat terkenal seantero Indonesia karena hari lahirnya selalu diperingati secara nasional tiap 21 April.</p>
<p style="text-align: justify;">Usut punya usut, para perempuan menjadi hebat itu bukan tanpa sebab. Mereka tidak muncul secara sim salabim. Mereka muncul ternyata ada kaitannya dengan sejarah bangsa lainnya yang memang sengaja belum terkuak. Aceh pada faktanya pernah menjadi bagian dari Kekhilafahan Islam di nusantara. Khilafah Islam saat itu memang sudah sempoyongan menjelang kejatuhannya di saat jejak langkahnya mencapai Indonesia. Sudah sempoyongan saja memberi pengaruh positif dalam menciptakan perempuan-perempuan hebat nusantara, apalagi kalau dalam kondisi sehat yah? Subhanallah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai sistem hidup, Islam memang mampu memberi efek dahsyat pada para pemeluknya. Tidak dulu, tidak sekarang, tidak di masa depan, bila Islam yang dipakai sebagai standar dan aturan hidup, maka bisa dipastikan kondisi perempuan akan termuliakan secara benar. Begitu sebaliknya, bila Islam ditinggalkan maka hanya kehinaan saja yang akan didapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah Kartini yang tertatih-tatih memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di tengah dominasi budaya Jawa yang sarat dan kental dengan aturan dari luar Islam. Hingga akhirnya Kartini mendapat pencerahan ketika al-Quran mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan beliau pun mencampakkan kekagumannya pada gaya hidup perempuan Barat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Sejarah rancu?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jalannya sejarah berkaitan erat dengan siapa yang menjadi penguasa di zaman sejarah tersebut dibuat. Sebagai contoh sederhana, di zaman Soeharto berkuasa, ia menciptakan sejarah tentang jasa-jasanya menyelamatkan bangsa dan negara dari kudeta. Namun di zaman reformasi, banyak pakar sejarah yang berusaha merevisi ulang semua dogma tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh lain adalah nama Kemal Attaturk. Dalam sejarah dunia dia dianggap sebagai bapak pembaharu Turki modern yang namanya begitu harum sebagai peletak tonggak sekulerisme Turki. Namun bila kamu jeli melihat sejarah dalam sudut pandang yang lain, Attaturk adalah orang Yahudi yang menyamar jadi muslim untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dialah orang yang mengeksekusi Khilafah Islam dibubarkan pada 3 Maret 1924. Dia adalah pengkhianat sekaligus pecundang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke sejarah Ibu Kartini, kecurigaan sebagian kalangan bahwa ada nuansa Jawa <em>minded</em> dalam Indonesia kita, sungguh kental terasa. Kartini yang berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya dari negeri Belanda jauh lebih terkenal daripada Dewi Sartika dari Sunda, Cut Nyak Dien sang panglima perang, Malahayati sebagai laksamana AL, apalagi Rohana Kudus sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang mungkin percaya ada nuansa Jawa <em>minded</em> dan meminggirkan suku-suku lain dalam negeri tercinta ini. Tapi sesungguhnya, yang lebih kental terasa adalah nuansa meminggirkan dan mengecilkan peran Islam dalam membentuk sebuah peradaban. Ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muhammadiyah di tahun 1908, beberapa tahun lebih dulu daripada sekolah Taman Siswa, namun mengapa Ki Hajar Dewantoro yang jadi pahlawan pendidikan? Ketika Sarekat Islam sebagai organisasi nasional pertama yang berusaha bersatu dan bangkit melawan penjajah, namun mengapa Budi Utomo yang jelas-jelas anggotanya harus dari suku Jawa malah dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional?</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah saatnya bangsa ini meluruskan kembali sejarah nasionalnya. Bukan zamannya lagi meminggirkan peran Islam bahkan membungkam aktivisnya dengan dalih apa pun. Nama Malahayati, Tengku Fakinah, Rohana Kudus, Cutpo Fatimah, Nyak Raniah, Cutpo Hasbi dan banyak nama lain yang berawalan Cut telah menunjukkan kiprahnya tentang hak dan kewajiban berdasarkan Islam. Meskipun mereka bukan perempuan Jawa, <em>so what</em>?</p>
<p style="text-align: justify;">Toh Kartini juga tidak pernah meminta dilahirkan sebagai perempuan Jawa yang terkungkung dan terbelakang. Yang ia inginkan hanyalah hak perempuan untuk dihormati secara layak dan mendapat pendidikan sebaik-baiknya. Jadi tidak perlu mendramatisir kehidupan Kartini apalagi menungganginya atas nama kebebasan perempuan yang kebablasan. Biarkan sejarah berbicara apa adanya dengan bukti-bukti otentik yang kuat, bukan diada-adakan untuk kepentingan pihak tertentu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasihan Kartini. Andai ia sudah mengenal Islam saat itu sebagai sebuah sistem kehidupan dan bukan hanya kitab suci yang tak diketahui maknanya, maka sudah tentu surat-surat semacam curhat dan keluhan Kartini itu tak akan muncul. Kartini akan menjadi setangguh Cut Nyak Dien, Malahayati, Tengku Fakinah dan juga Rohana Kudus. Laki-laki di sekelilingnya sudah barang tentu akan memberikan pendidikan layak padanya karena hal itu adalah kewajiban bagi perempuan juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem yang ada (Islam) juga tak akan menistakan perempuan sehingga tak perlu lagi ada yang dituntut oleh Kartini. Sebaliknya, dia akan sibuk berkiprah di tengah masyarakat sebagaimana Dewi Sartika dan Rohana Kudus dengan sekolah putrinya. Bahkan bukan tak mungkin Kartini kecil yang suka naik pohon akan menjadi pejuang perempuan tangguh selayaknya Tengku Fakinah dan Cut Nyak Dien yang jadi panglima perang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh pantas Kartini &#8216;menggugat&#8217;. Sangat layak Kartini geram. Karena sistem yang ada tidak berdasar pada Islam, selalu berarti meminggirkan dan menghinakan perempuan. Kartini yang semula menyanjung dan memuja perempuan Barat, akhirnya berubah haluan mengkritik mereka ketika sebagian isi al-Quran diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh Kyai Sholeh Darat. Masih sepertiga isi al-Quran, Kartini dipanggil oleh Allah. Baru juga sepertiga, Kartini sudah sedemikian cemerlang berani mencela Barat, menentang praktik Kristenisasi, dan membela Islam di hadapan teman perempuannya dari Eropa. Apakah lagi bila Kartini sempat memahami keseluruhan isi al-Quran ya? Tak terbayangkan!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Finally&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Biarlah Kartini tenang di alam sana. Tidak perlu mendompleng namanya atau menunggangi perjuangannya demi perempuan Jawa yang saat itu derajatnya dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Satu poin penting yang kita telah tahu bahwa ada penyelewengan sejarah tentang kiprah perempuan Indonesia. Dan yang lebih parah lagi, penyembunyian wajah Islam sebenarnya sebagai sebuah sistem hidup. Padahal, Islam mampu menuntaskan semua permasalahan termasuk masalah perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah saatnya kita bergerak menyadarkan masyarakat tentang hal ini. Ternyata hanya dengan Islam saja perempuan menjadi mulia tanpa harus menghiba dan menuntut pada laki-laki. Begitu juga laki-laki menjadi mulia dengan memuliakan perempuan sesuai dengan koridor Islam. Keduanya akan menjadi kekuatan yang bersinergi untuk membangun sebuah peradaban yang benar dan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh, hanya pada kemuliaan ideologi Islam saja kita bersandar dan bercermin, bukan pada peradaban dan ideologi di luar Islam. Bila Kartini saja yang hidup di zaman <em>baheula</em> bisa berpikir maju dengan berani berkata bahwa masyarakat Eropa tidak patut disebut sebagai sebuah peradaban, apalagi kita yang hidup di zaman yang lebih canggih ini. Seharusnya kita makin mantap untuk memilih Islam saja sebagai ideologi dan aturan hidup serta mencampakkan selainnya ke tong sampah peradaban.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Last but not least</em>, jangan diam aja ketika kamu paham hal ini. Ayo sebarkan ke teman-temanmu, keluargamu serta semua orang yang kamu kenal dan temui. Sudah saatnya kita berubah ke peradaban yang mulia, yaitu Islam. Setuju? Tentu dong! <em>Let&#8217;s move!</em> <strong>[ria: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kartini-menggugat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalo Cowok ama Cewek Sohiban&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalo-cowok-ama-cewek-sohiban</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalo-cowok-ama-cewek-sohiban#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 18:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2380</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 077/tahun ke-2 (17 Rabiul Akhir 1430 H/13 April 2009)
Senang deh rasanya kalau hidup kita dikelilingi banyak teman. Kita yang diciptain Allah Swt. sebagai manusia, yang makhluk sosial, pasti bakal jadi lonely kalau nggak ada orang yang mau nemenin perjalanan hidup kita, dengan segala suka dan dukanya, dengan semua cerita dan pengalamannya.
Kalau punya teman kan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /></p>
<p style="text-align: justify;">edisi 077/tahun ke-2 (17 Rabiul Akhir 1430 H/13 April 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Senang deh rasanya kalau hidup kita dikelilingi banyak teman. Kita yang diciptain Allah Swt. sebagai manusia, yang makhluk sosial, pasti bakal jadi <em>lonely</em> kalau nggak ada orang yang mau nemenin perjalanan hidup kita, dengan segala suka dan dukanya, dengan semua cerita dan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau punya teman kan jadi ada orang yang bisa kita curhatin. Kita bisa cerita ke mereka apa yang kita rasain, yang kita pikirin. Dan sebaliknya, kita juga mesti siap untuk dijadiin tempat curhat mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa dapet temen yang sehati dan sevisi emang nggak gampang. Pastinya nih kita kudu ngelakuin &#8220;audisi&#8221; dulu untuk bisa sampe dapet sohib yang terbaik buat kita. Kita kudu punya standar valid untuk sohib terbaik. Apa aja sih?<span id="more-2380"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, mau saling menasihati dan membantu dalam kebenaran. Bahasa kerennya sih mau ber-&#8217;amar ma&#8217;ruf nahi munkar, dan yang jelas benar atau salahnya didasarkan pada ketentuan Allah Ta&#8217;ala semata. Nyari sohib yang tipe begini jaman sekarang susah-susah gampang. Yang ada kebanyakan maunya pake aturan sendiri-sendiri. Kriteria benar atau salah ya menurut kesepakatan aja. Nah, sekalinya ada sohib yang kasih saran atau nasihat dengan aturan Islam seringnya malah dibilang sok alim. &#8220;Udah deh elo nggak usah kebanyakan dalil! Hari gini masih ngomongin dalil!&#8221; Atau &#8230; &#8220;Elo tuh rese ya! Nggak bisa liat orang seneng!&#8221; Atau &#8230; &#8220;Udahlah jadi orang Islam yang biasa-biasa aja, nggak usah ekstrim kayak gitu! Dikit-dikit al Quran! Dikit-dikit syari&#8217;ah!&#8221; Phew!</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal sohib yang mau ikhlas amar ma&#8217;ruf nahi munkar ke kita adalah harta yang tak ternilai harganya. Sohib kayak gini yang bisa bikin selamet dunia en akhirat. Malah, seharusnya sebelum minta orang lain melakukannya buat kita, kita yang lebih dulu melakukannya buat orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, selalu mendoakan kita saat kita tidak bersamanya. Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;Doanya seorang muslim kepada saudaranya yang tidak bersamanya pasti dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang menjaganya. Setiap kali ia berdoa minta kebaikan untuk saudaraya, malaikat itu berkata &#8220;amin&#8221;. </em><em>Dan engkau akan mendapatkan yang serupa (dengan saudaramu tadi).&#8221;</em><strong> </strong><strong>(Muslim: 48-Kitab adz-Dzikr wad Du&#8217;aa&#8217;, hlm. 88)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Senengnya deh kalau kita punya sohib yang kayak gitu. Keberadaan sohib yang kayak gitu bakal bikin kita jadi orang yang paling beruntung sedunia!</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, melindungi kehormatan kita, menutupi aib kita saat kita tidak bersamanya. Rasulullah saw bersabda<em>: &#8220;Seorang mukmin adalah cermin mukmin yang lain. Seorang mukmin adalah saudara mukmin yang lain, di mana saja dia bertemu dengannya, ia akan mencegah tindakan yang mencemari kehormatan saudaranya, dan akan melindunginya dari baliknya.&#8221;</em> <strong>(HR Abu Dawud dan al-Bukhari, dengan isnad hasan dari Abu Hurairah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Aman, tentram, gemah ripah loh jinawi (halah, kayak semboyan kemakmuran suatu negeri aja!!) kalo punya sohib yang kayak gini. Kita nggak jadi was-was kalau punya rahasia. Hepi, nggak makan ati.<br />
Nah, kalau kita udah bikin standar kayak gitu, terus kita <em>hunting</em> ke sana ke sini eh teryata yang punya kriteria kayak gitu tuh ada di temen kita yang lawan jenis. Gimana ya? Apa iya bakal lebih baik kalo sohiban sama dia?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Para</strong><strong> cewek bicara soal sohib cewek</strong><br />
Para cewek yang lebih milih cowok jadi sahabatnya biasanya karena punya pendapat atau bahkan pengalaman sahabat ceweknya tipe ember. Udah kesohor banget kalau cewek tuh, katanya, biangnya gosip. Hobi nonton acara gosip. Habis itu dengan ceria bagi-bagi gosip. Susah deh bagi rahasia ke temen cewek. Bisa-bisa seluruh aib kebongkar habis-habisan. Mendingan sohiban sama cowok aja. Cowok kan nggak ember. Kalo pun ngerumpi paling juga urusan sepakbola, otomotif, sama komputer. Jadi, aman.
</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan lainnya, karena punya sohib cewek lebih sering main perasaan. Lebih ngeduluin emosi daripada rasio. Orang lagi panik, yang di situ butuh pikiran yang tenang, yang ada kalo sama sohib cewek situasi malah jadi lebih genting, karena dia ikutan panik. Kita lagi sedih, eh dia entar malah ikutan mewek. Kan, nggak nyelesein persoalan. Atau pas kita lagi marah, dia lebih sensi lagi. Yang ada entar malah main jambak-jambakan, cakar-cakaran, atau dendam tiada akhir. Ih, nggak deh. Mendingan juga punya sohib cowok. Beda kalo sama sohib cowok. Cowok kan tipe manusia yang ngeduluin rasio. Jadi enak untuk diajak tuker pikiran. Nggak panikan juga. Jadi ada yang bisa bikin suasana jadi <em>calm down</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan berikutnya, karena cewek itu fisiknya nggak sekuat cowok. Kalau punya sohib cowok kan ada yang ngelindungin. Kalau lagi takut ada yang ngejagain. Paling nggak nih kalau pas ke sekolah atau kuliah lagi bawa buku banyak ada yang bisa diandelin. Kalau pas ketemu sama preman ada yang ngebelain. (backsound: kalau gitu mendingan nyari kuli panggul en bodyguard pribadi aja kali ya daripada sohib hehehe&#8230;). Kalau cewek mana bisa?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Para</strong><strong> cowok bicara soal sohib cowok</strong><br />
Kalau para cowok lebih milih sahabat cewek karena cewek itu lembut. Jadi, kalau lagi emosi ada yang bisa sabar ngeredam. Cowok kan biasanya main otot. Kalau cowok sohiban sama cowok bisa bermasalah. Terus belum lagi masalah logika yang juga sering jadi bahan bakar berantem. Awalnya niatnya diskusi, terus jadi debat, terus &#8230; berantem! Marah dikit gebrak meja. Marah banyak meja hancur, muka babak belur. Berabe. Mendingan punya sohib cewek. <em>So</em>, dengan kelembutannya, bisa bikin hati panas jadi dingin.
</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan lainnya, karena cewek itu orangnya teliti dan tekun. Kalau punya sohib cewek ada yang ngingetin hal-hal yang detil. Catatan sekolah pasti lebih rapi, lebih enak dibaca, lebih enak dipelajari. Cewek juga biasanya rapi. Nah, kalo punya sohib cewek kan bisa bantu menilai sesuatu udah rapi atau belum, bisa kasih saran supaya rapi gimana.? Kalo sohib kita cowok juga? Aduuuh yang ada pada kayak gembel semua tampangnya. Semaunya sih habisnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sohiban ama lawan jenis? Baca dulu ini&#8230;</strong><br />
Berbagai alasan di atas adalah alasan yang sering banget diutarakan oleh orang-orang yang akhirnya memilih lawan jenis sebagai sohib mereka. Dua kutub yang berbeda bikin cepet nyambung. Gitu konklusinya. Sumpe lo? Nggak malah <em>complicated</em> alias rumit?
</p>
<p style="text-align: justify;">Cari sohib atau sahabat itu nggak cuma persoalan gampang <em>tune in</em> satu sama lain atau nggak. Bukan hanya persoalan gampang nyambung atau nggak. Tapi sebagai muslim, ketika kita bicara tentang sosok sahabat, berarti kita bicara sosok yang bikin kita aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Emang mungkin aja sih ada saatnya kita ngobrol sama lawan jenis ternyata lebih nyambung, koneksinya cepet. Tapi, kalau sampai kebablasan, hubungan yang kayak gitu udah pasti nggak aman lagi untuk dijalanin.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan aman dalam pengertian dilindungi dan melindungi dari penjahat, tapi aman dalam arti terhindar dari fitnah! Yang pasti sulit banget bisa menghindar kalo kita sohiban sama lawan jenis.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin masih ada yang kasih argumen: &#8220;Loh kan itu bisa-bisanya kita aja jaga diri. Jaga rasa. Kalo udah deal dari awal kita sohiban ya udah sampe situ aja. Nggak lebih!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, berapa banyak sih orang yang sok ngomong gitu tapi kejadian juga. Awalnya temenan eh terus jadi demenan. TTT alias Teman Tetap Teman jadi TTM alias Teman Tapi Mesra. Padahal udah jelaslah Allah Swt. ngatur cara gaul kita sama lawan jenis. Sebagai yang bukan mahram, nggak boleh berdua-duaan (berkhalwat), yang cowok mesti jaga pandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda:<em>&#8220;Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai dengan mahram-nya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.&#8221;</em> <strong>(HR Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. berfirman dalam al-Quran surat an-Nur ayat 30, yang artinya: <em>&#8220;Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah kalau sohiban nggak mungkin kan jauh-jauhan?? Kalau &#8220;rasa&#8221; alias cinta itu datang, jadinya persahabatan bukan malah bikin nyaman tapi bikin pusiiiing!</p>
<p style="text-align: justify;">Elo masih bilang nggak mungkin ada rasa? Coba deh perhatiin beberapa pengakuan &#8220;aktivis&#8221; persahabatan lawan jenis berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Si <em>Stringy_life</em><strong> </strong>bikin pengakuan dalam sebuah forum. Dia bilang gini, dia ngalamin juga sohiban sama lawan jenis. Ada rasa? Pastinya ada, tapi sekarang gimana kita ngelola rasa itu. Ada lagi pengakuan dari orang yang berbeda di forum yang sama. Nick name-nya <em>Erepyon</em>. Dia bilang dia udah punya beberapa sahabat. Dan, seiring umur dan pergaulan yang nambah pengen juga nambah sahabat. Ada satu orang yang doi coba jadiin sahabat. Masalahnya orang itu lawan jenis. Belakangan dia ngerasain perasaan aneh. Dia sih berusaha mengontrolnya karena dia nggak pengen ngerusak persahabatan dia, tapi yaa&#8230; terkadang ada saatnya berat juga menahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuh, kan. Sohiban sama lawan jenis banyak ribetnya. Ngelola &#8220;rasa&#8221; itu aja udah bikin kerjaan lagi. Dan, yang paling efektif untuk ngilangin rasa adalah dengan menurunkan level sohib jadi sekadar temen. Ya iya dong. Nggak sohiban sama lawan jenis bukan berarti kita nyari musuh. Temenan sih tetep harus. Silakan sama siapa aja. Tapi untuk sohib? Mendingan nggak usah deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang cewek sohiban sama cewek, yang cowok sohiban sama yang cowok. Itu lebih pas. Karena yang tahu detail masalah cewek dan dunianya ya cewek. Begitu juga sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ada sifat-sifat cewek yang ember dan hal-hal negatif lainnya, cowok juga banyak minusnya. Ada juga cowok yang rumpi. Ada juga cowok yang secara fisik emang lemah. Kalau ada yang bilang cowok itu nggak rapi, emosian, suka main otot, cewek juga ada yang gitu. Buktinya tuh <em>Genk Nero</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak kok cewek yang smart, bisa mikir taktis, nggak panikan. Ada kok cowok yang teliti banget, tekun, sabar. Artinya, setiap orang itu pasti ada kelebihan dan kekurangan, nggak lihat jenis kelaminnya apa. Allah Swt. udah tentuin masing-masing orang dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Lagipula untuk saling mengingatkan dan saling melindungi nggak perlu jadi sohib dulu. Sesama muslim kan bersaudara. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, <em>please</em> deh jangan dijadiin alasan untuk cari sahabat yang ngertiin kita, yang bisa ngelengkapin hidup kita dengan kelebihan yang mereka punya, lantas kita pilih sahabat lawan jenis. Kekurangan di diri seseorang itu lazim, namanya juga manusia. Sifat buruk juga kadang menginfeksi. Manusia kan tempat ngumpulnya kekurangan dan kekhilafan. Dan, yang bisa jadi salah satu solusi adalah persahabatan yang diridhai oleh Allah Ta&#8217;ala. Persahabatan yang dijalani di atas jalan Allah. Sip kan? <strong>[nafiisah fb: http://thechamberoffriendship.co.cc]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalo-cowok-ama-cewek-sohiban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemilu yang Gue Tahu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemilu-yang-gue-tahu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemilu-yang-gue-tahu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 03:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2347</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 076/tahun ke-2 (10 Rabiul Akhir 1430 H/6 April 2009)
Ubun-ubun gue udah dibuat nyut-nyutan en ngebul kayak gini. Gue sebel banget jalanan jadi macet karena dipake arak-arakkan kampanye partai peserta pemilu, padahal gue harus buru-buru ngerjain berbagai tugas yang mau nggak mau kudu melalui jalan yang juga lagi dipake konvoi massa partai peserta pemilu saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="../files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /></p>
<p><strong></strong>edisi 076/tahun ke-2 (10 Rabiul Akhir 1430 H/6 April 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Ubun-ubun gue udah dibuat nyut-nyutan en ngebul kayak gini. Gue sebel banget jalanan jadi macet karena dipake arak-arakkan kampanye partai peserta pemilu, padahal gue harus buru-buru ngerjain berbagai tugas yang mau nggak mau kudu melalui jalan yang juga lagi dipake konvoi massa partai peserta pemilu saat kampanye terbuka. Duh, gue uring-uringan tapi nggak ada yang bisa gue marahin. Kalo gue ngamuk-ngamuk di depan massa partai itu, pastinya gue udah bisa ngebayangin bakalan bonyok nih muka nggak karu-karuan. Mending kalo dipermak jadi lebih cakep sih hehehe.. Tapi kan nggak ngejamin kalo akhirnya muka gue malah jadi nggak berbentuk. Persis orang mau operasi plastik biar tambah keren wajahnya, eh karena salah ngambil bahan plastiknya en dokternya melakukan malpraktek malah jadi ember. Hihihi.. cacingan deh lo..</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo ngomongin soal pemilu, sebenarnya gue males. Sebab, gimana pun juga pemilu dari periode ke periode (lima tahunan) itu hasilnya nggak menggembirakan. Bukannya menyelesaikan masalah lama, eh nambah lagi masalah baru. Jadinya numpuk-numpuk deh. Gue nggak bakalan ngomongin apa itu masalahnya, karena banyak banget. Elo bisa ngerunut sendiri deh. Silakan dilihat dan dirasakan sendiri. Elo pasti ngerasa dan berpikir deh gimana kenyataan yang sedang gue dan elo hadapi di negeri ini. Mulai dari masalah ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hukum, peradilan, politik, militer dan sebagaianya dan sebagainya bikin miris deh. Sumpah. Gimana nggak, setiap hari negeri kita kok bukannya tambah baik, eh malah tambah terpuruk. Sebagian kecil mereka yang punya akses kepada kekuasaan negara gampang dapetin segalanya. Tapi sebagian besar warga negara hidup susah plus menderita. Sebabnya adalah mereka nggak dapet akses langsung untuk bisa nikmatin segala yang ada, karena harus dibeli dengan uang atau mungkin ngorbanin harga diri.<span id="more-2347"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ah, tapi anehnya kok orang kayaknya doyan banget sama yang namanya pemilu ya? Masih percaya juga bahwa pemilu dalam sistem demokrasi ini bisa nyelamatin nasib bangsa. Gimana mo nyelametin nasib bangsa, <em>wong</em> yang gue tahu dari media massa para calon wakil rakyat dan calon pemimpin rakyat itu adalah banyak dari mereka yang selama ini juga ikutan bikin masalah buat negeri ini. Atau setidaknya gue perlu mempertanyakan niat baiknya, gitu lho. Hehehe.. gue nggak nuduh macem-macem sih, cuma logika gue aja kok. Iya dong, gimana pun juga gue meragukan niat baik mereka. <em>Wong</em>, untuk dapetin jabatan dan kekuasaan aja malah unjuk kekuatan banyaknya massa, bukan program apa yang bakalan dijalankan. Mereka rela ngeluarin duit demi kekuasaan. Ini perlu diwaspadai karena kalo berkuasa dia pun diduga kuat akan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Ati-ati deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Emang sih banyak juga yang nulisin program diri dan partainya kalo kepilih jadi caleg or pemimpin negara atau daerah, tapi kok masih betah ama sistem yang ada gitu lho. Padahal udah terbukti kalo demokrasi cuma ilusi dan nggak terbukti mensejahterakan. Heran, barang rusak dan bobrok kok masih aja diagung-agung en diandelin untuk menyelesaikan masalah bangsa. Masalah bangsa ini ada kan karena demokrasi diterapkan. Kok nggak nyadar ya masih mau pake demokrasi? Jangan-jangan gue dan elo akan dibodohin lagi untuk dukung mereka supaya berkuasa dan akhirnya melupakan gue dan elo, mengkhianati gue dan elo, dan bahkan ngabisin gue dan elo suatu saat nanti. Waduh!</p>
<p style="text-align: justify;">Lho, emang demokrasi itu nggak benar ya? Bobrok ya? Hehehe.. elo emang nggak ngerasa ya kalo selama ini kita ini sengsara? Elo nggak mikir kalo selama ini kita cuma jadi obyek pemuas nafsu elit politik untuk dapetin suara kita di setiap pemilu? Janji udah banyak digembar-gemborkan tapi faktanya ingkar janji ada di mana-mana. Seolah lupa kalo udah duduk manis jadi wakil rakyat atau pemipin lalu pura-pura ATM alias Aksi Tutup Mata dengan kenyataan bahwa rakyat yang dulu pernah diiming-imingi janji manis tetap menderita meski dirinya dan partainya berkuasa. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemilu cuma menipu!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan? mau dibodohi apalagi ditipu, Bro. Keledai aja nggak mau terperosok dan jatuh ke lubang yang sama sebanyak dua kali. Itu hewan yang cuma ngandelin insting. Kita kan manusia, harusnya lebih cerdas karena udah dikasih akal. Jangan sampe kita tertipu dan selalu tertipu. Atau.. jangan-jangan kita merasa senang dengan adanya pemilu karena emang bisa nikmatin kesempatan dapetin duit yang pastinya bertebaran di mana-mana karena kampanye tiap partai dan calegnya pasti membutuhkan duit. Kita seneng-seneng aja karena ada peluang kecipratan orderan. Halah!</p>
<p style="text-align: justify;">Gue yakin banget kalo elo kena tipu pasti gondok dan kecewa. Gue juga gitu kok. Sebenarnya gue sih orangnya asik-asik aja. Tapi kalo udah ada yang berani nipu gue, wah gue bisa kejar tuh orang sampe gue dapet untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan menipunya. Nah, pemilu dalam sistem demokrasi juga sebenarnya arena tipu-menipu, lho. Sumpah gue nggak bo&#8217;ong. Ini yang gue tahu tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kok bisa sih? Gini ceritanya, Bro. Pemilu dalam sistem demokrasi ini adalah untuk cari wakil rakyat atau kepala daerah dan kepala negara. Khusuh untuk wakil rakyat, katanya sih agar aspirasi dari rakyat banyak bisa diwakilkan kepada wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif. Tapi apa bener bisa dipercaya? Ah, kalo gue sih nggak percaya. Soalnya, dari awal aja udah nggak beres kok. Pertama, caleg yang ikutan pemilu tuh nggak gue kenal. Kalo pun ada yang kenal tapi yang dipajang tuh wajahnya dia di spanduk atau selebaran dan sejenisnya plus sedikit janji dan program-program dia. Sementara upaya dia untuk perubahan malah nggak nyata terlihat jelas karena masih ngandelin pola lama dan kendaraan lama. Jadinya gue ogah dah ketipu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, kalo yang namanya wakil rakyat berarti akadnya kudu jelas bahwa dia pasti jadi wakil rakyat. Lha, ini kan baru caleg, gimana kita bisa mempercayakan ke dia sebagai wakil rakyat (itu juga kalo kepilih). Padahal, akad kan kudu jelas. Misalnya gini, elo mau ke Jakarta, terus elo jadi wakil gue untuk beli sesuatu dimana gue udah nyerahin semuanya ke elo yang penting tugas yang gue serahkan ke elo selesai. Ini pasti orangnya. Tapi kalo milih caleg, selain gue nggak kenal dia, juga karena dia belum pasti jadi wakil gue. Kok bisa ya kita mewakilkan sesuatu kepada orang yang belum jelas jadi wakil kita. Akadnya jadi nggak benar dong? Ya, gitu deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, pemilu cuma jadi ajang buang-buang duit doang. Daripada tuh duit triliunan rupiah dihambur-hambur gitu mending buat mengentaskan kemiskinan. Jangan cuma mengentaskan orang miskinnya supaya nggak ada di dunia dengan cara menerapkan sistem kapitalisme yang pasti nguntungin segolongan orang yang punya modal dan kekuasaan. Memang untuk kampanye dan nyalonin diri kayak berjudi. Bisa untung bisa rugi. Terus yang gue heran kenapa mereka ngejanjiin macem-macem kepada kita-kita kalo milih dia. Kok kesannya pengen banget jadi wakil rakyat. Percaya deh, kalo yang pengen banget dapat jabatan elo kudu ati-ati karena belum tentu dia bener. Bisa jadi kan cuma memperalat elo doang supaya nyalurin suara elo ke dia. Karena demokrasi memang mensyaratkan demikian. Sementara kalo udah kepilih, mungkin elo nggak jadi pikirannya karena dia memikirkan yang lain. Ketipu deh lo!</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat, kekuatan semu. Sumpah, gue pernah tuh ada orang yang nawarin gue bahwa dirinya bisa ngerahin massa untuk kampanye. Bayaran bisa diatur. Hehehe.. berhubung gue nggak peduli yang ginian ya gue cuekkin aja. Eh, nggak lama muncul deh tuh di tivi kalo ada massa bayaran untuk kampanye. Yee.. gimana urusannya tuh. Berarti yang selama ini kalo kampanye massanya membludak belum tentu aktivis parpol tersebut. Belum tentu juga mereka mengerti dalemannya parpol tersebut. Bagi mereka yang penting dibayar, dapet kaos, bisa jalan-jalan, bisa joget-joget di arena kampanye terbuka. Bukan tak mungkin orang yang ikut kampanye di satu partai bakalan ikut juga di partai lain. Komentar mereka bisa jadi, &#8220;Yang penting, bayarannya Bung!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hahaha.. gue jadi inget kalo ternyata dalam pemilu sistem demokrasi itu yang penting banyak massa. Padahal mah, belum tentu mereka mendukung or milih. &#8220;Yang penting, terlihat banyak massa pendukung, euy!&#8221; gitu kali komentar pengurus parpol. Halah, berarti kekuatan semu. Ya, gitu deh, kampanye kan ajang unjuk kekuataan, supaya orang yang dalam hatinya nggak punya pilihan bakalan tergoda milih partai tertentu yang massanya banyak. Waduh, kasihan sekali masyarakat kita ya. Padahal, golongan yang banyak belum tentu benar. Wong, kalo kita berada di rumah sakit jiwa pasti lebih banyak pasien nggak warasnya. Masa&#8217; sih kita jadi minder karena waras lalu ikutan jadi gila? Yang benar saja, Bung! <em>So</em>, jangan sampe elo ketipu, man!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Demokrasi itu sampah!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Gue seratus persen kagak percaya kalo ada yang mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem yang mensejahterakan umat manusia. Demokrasi itu justru sebaliknya, yakni bikin manusia sengsara setelah menjadikan sistem ini sebagai aturan hidupnya. Demokrasi nggak menjanjikan apa-apa selain kerusakan. Contoh udah banyak, elo tinggal nulisin sendiri daftarnya. Kalo elo punya buku yang judulnya Amerika Nomor 1 karya Andrew L Saphiro, elo bakalan tahu deh gimana dahsyatnya kerusakan yang diakibatkan demokrasi. Angka pelacuran di Amerika tinggi, seks bebas tinggi, angka kehamilan remaja tinggi, bunuh diri juga meningkat. Amerika babak belur gara-gara nerapin demokrasi. Termasuk diungkap juga di buku itu bahwa biaya untuk mencalonkan diri seorang senator aja bisa mencapai US 43 juta dolar. Gila nggak? Pantesan aja di negeri ini juga untuk anggaran (dana awal) pemilu sebuah partai ada yang mencapai belasan miliar rupiah. Waduh, yang jelek kok diikutin ya. Pantes aja ikutan ancur.</p>
<p style="text-align: justify;">Demokrasi emang ngejamin kebebasan, tapi kebebasan tanpa batas yang bukannya membuat orang kreatif untuk hal-hal yang positif, tapi lebih banyak jadi kreatif yang negatif. Gimana nggak, saking bebasnya perjudian sekarang banyak ragamnya. Nggak cuma nongkrong ngumpul di meja judi, tapi udah ada judi online bahkan via SMS untuk mendukung ajang tertentu. Belum lagi seks bebas dan pelacuran, kalo jaman dulu untuk cari mangsa harus jalan-jalan langsung ke tempat pelacuran atau datengi orang yang bisa disebut mucikari. Kini, segalanya tersedia dalam genggaman. Ponsel yang <em>highend</em> bisa mengakses internet dan situs penyedia jasa layanan pelacur pun gampang diakses. Belum lagi situs porno.</p>
<p style="text-align: justify;">Jamannya ortu kamu remaja mungkin perlu ngumpet-ngumpet baca buku porno. Tapi sekarang mau gumpet or mau terang-terangan udah disediain dengan bebas dan murah. Maka, jangan heran kalo ada warnet yang di-<em>setting</em> bak kamar pas kalo di toko pakaian (atau sebenarnya mirip kakus kali ye?). Kalo masih malu ke warnet ya di komputer sendiri yang udah ada fasilitas internet bisa mantengin sesukanya. Mau lebih pribadi lagi dan nyantai, ponsel kelas <em>highend</em> udah memfasilitasinya. <em>So</em>, karena bebasnya nggak dikendalikan akidah dan syariat yang benar hasilnya jadi ancur deh. Dan, demokrasi memang menginginkan kehancuran itu. Sumpah!</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, gue kok jadi inget lirik plesetan karya temen gue yang bernama Murdock. Lagunya Bang Haji Rhoma Irama yang berjudul <em>Judi</em> ini bagian reff-nya diplesetin jadi gini nih: <em>Yang ulama bisa jadi murtad../apalagi ustadnya&#8230;Oo..oo/ Wakil rakyat bisa jadi jahat&#8230;/apalagi rakyatnya&#8230;Oo&#8230;oo/ Yang kaya semakin berkuasa&#8230;/ Yang miskin semakin sengsara../Demokrasi najis tiada berkah&#8230;&#8230;../ Demokrasi&#8230;!/ Meracuni pemikiran..!/ Demokrasi&#8230;!/ Meracuni kehidupan..!/ Pasti&#8230;! karena demokrasi pemikiran kufur menyesatkan../ Pasti&#8230;! karena demokrasi sistem kehidupan jahiliyyah&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Halah, elo jadi ikutan goyang ya gara-gara gue tulisin lirik lagunya Bang Haji nih. Hehehe.. demokrasi emang najis tiada berkah. <em>So</em>, kalo sebagai muslim elo ikut-ikutan senang dengan demokrasi dan nyaman terjebak dengan demokrasi sebagai jalan perubahan, elo berarti udah ngasih nafas tambahan buat demokrasi untuk terus hidup. Gawat, coy!</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, dari buku yang gue baca, demokrasi itu bertentangan dengan Islam dan bahkan menentang Islam. Why? Karena demokrasi bukan dari Tuhan. Bukan aturan Allah Swt. Isinya pun banyak banget yang bertentangan dengan Islam. Padahal Islam udah ngasih aturan yang bener buat manusia, yakni Islam itu sendiri yang diterapkan sebagai akidah dan syariat dan menjadi ideologi negara agar rahmatnya bisa menyebar ke seluruh alam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, gimana pun juga kalo sampe gue dan elo ikutan terlibat dalam demokrasi dan seluruh mekanisme untuk melanggengkan demokrasi (seperti pemilu), berarti udah ngedukung demokrasi. Padahal tuh sistem sampah banget dan kudu di-<em>replace</em> dengan Islam. Gue merenung nih, setelah baca al-Quran (surat al-Maidah ayat 50: <em>&#8220;Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?&#8221;</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, di surat yang sama gue udah dibuat bergetar dengan <em>kalamullah</em> ini: (ayat 44; 45; dan 47). Silakan elo baca sendiri dah biar puas. Yuk, tinggalin demokrasi. Ngapain juga sampah dipelihara, bikin penyakit, tahu!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Harus mau berubah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hahaha&#8230; gue jadi inget lagu melow milik ST 12, <em>Jangan Pernah Berubah</em>. Tapi untuk hidup yang lebih baik harus berani berubah. Nih gue plesetin deh bagian reff dari lirik lagunya ya&#8230; <em>Jangan pernah kau coba untuk bertahan/berteman dengan demokrasi yang rusak/Jangan pernah kau coba untuk bertahan/karena demokrasi memang bukan pilihan&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yuk ah kita sama-sama berubah ke arah yang benar dan baik. Ibarat <em>hardisk</em> komputer yang udah kena virus yang bahaya hingga mematikan seluruh sistem operasi komputer, maka nggak ada jalan selain kudu diinstal ulang deh otak kita yang udah teracuni virus demokrasi hingga kita nggak bisa bedain lagi mana karya demokrasi dan mana karya Islam. Ibarat virus yang udah menduplikasi file-file or folder di <em>hardisk</em> sehingga kita nggak bisa bedain mana folder yang berisi file sehat dengan folder yang sebenarnya adalah virus, maka penyelesaiannya adalah tuh <em>hardisk</em> perlu diformat ulang dan diinstal ulang. Begitu juga dengan pikiran kita. Enyahkan tuh demokrasi di pikiran kita dan ganti dengan Islam. Sebagai muslim hanya percaya Islam dan mau diatur hanya dengan syariat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, gue sedih banget karena meski banyak partai Islam yang ikut pemilu saat ini tapi satupun tak ada yang berani melakkan perubahan fundamental dalam programnya. Perubahan fundamental itu adalah, hancurkan demokrasi dan terapkan syariat Islam dalam bingkah Daulah Khilafah Islamiyah. Kagak ada! Gawat bener kan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, buat para pejuang Islam yang ingin hancurkan demokrasi, harapan itu masih ada. Jangan pernah mencoba untuk mengubah metoda dakwah dengan cara masuk parlemen sistem kufur. Tetaplah lakukan revolusi, bukan perbaikan parsial. Harapan itu masih ada kawan, selama kita mau berjuang dengan penuh semangat yang dilandasi keimanan, ilmu, kesabaran, ikhlas dan cerdas mencari cara untuk menyampaikan kebenaran Islam yang udah terbukti unggul dibanding sistem lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Yuk, saatnya berubah. Harapan itu masih ada. Islam pasti menang, demokrasi pasti mati! Tapi, kalo kita masih percaya demokrasi dan mekanisme untuk melanggengkannya seperti pemilu yang diatur dalam demokrasi, maka selamanya kita akan sengsara. Demokrasi terbukti gagal tuh. Gagal maning, gagal maning! (backsound: apa nggak pada nyadar ya para pembela demokrasi?). Sadarlah, kawan. Hanya Islam yang bisa selesaikan masalah saat ini.<strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemilu-yang-gue-tahu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba &#8220;Jadi Lelaki Sejati&#8221;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/lomba-jadi-lelaki-sejati</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/lomba-jadi-lelaki-sejati#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 01:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2331</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 075/tahun ke-2 (3 Rabiul Akhir 1430 H/30 Maret 2009)

Yup! Be a man, be a real man.  Sebuah reality show yang kembali ditayangin oleh salah satu stasiun televisi swasta. Setelah sukses dengan Be A Man ternyata dibikin lanjutannya lagi nih, jadi Be A Man 2. Pesertanya adalah 25 orang waria yang dikumpulin di sebuah kamp [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="../files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /></p>
<p style="text-align: justify;">edisi 075/tahun ke-2 (3 Rabiul Akhir 1430 H/30 Maret 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yup! <em>Be a man, be a real man</em>.  Sebuah <em>reality show</em> yang kembali ditayangin oleh salah satu stasiun televisi swasta. Setelah sukses dengan <em>Be A Man</em> ternyata dibikin lanjutannya lagi nih, jadi <em>Be A Man 2</em>. Pesertanya adalah 25 orang waria yang dikumpulin di sebuah kamp tentara terus digembleng selama 14 hari, ini acara diyakini bisa nyedot para penonton buat mantengin layar tv (terserah deh, tv tetangga, tv sendiri, tv umum ato dapet minjem&#8230;). Kan bikin penasaran tuh!  Masa&#8217; iya bisa nyulap tuh para waria dalam 14 hari terus jadi lelaki sejati lagi? Au deh, Booo!</p>
<p style="text-align: justify;">Gue juga penasaran abis sih, <em>cos</em> pas ngubek-ngubek di alam maya, yang gue dapet nih dari situs <em>globaltv.co.id</em> kalo materi yang dikasih buat para peserta <em>Be A Man</em> nggak tanggung-tanggung. Mereka dibekali strategi perang dalam misi menjaga keamanan negara kayak: wawasan nusantara, dasar kemiliteran, kepemimpinan, pengenalan senjata, survival en terjun payung. Wuih&#8230; keren !</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, tapi realitanya para waria kan rata-rata pada lebay abis, ngalahin para <em>real woman.</em> Yang bener aja, buat ngikutin nih acara mereka semua pada bawa perabotan yang cewek abis! Mulai boneka, kosmetik, <em>wig</em>, <em>high heels</em>.. kagak tahu deh apa <em>stiletto</em> dibawa juga, emang mo <em>fashion show,</em> apa?<span id="more-2331"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pas ospek calon siswa <em>Be A Man 2</em> aja nih, di tengah area <em>outbond</em> kan mereka pada diomelin gara-gara pada lelet abis tuh pas disuruh kumpul apel pagi. Herannya, masih sempet aja pake wig. Bahkan saking buru-burunya ada yang seragam ospeknya nggak dipake tapi malah pake rok. Disela-sela omelan mas instruktur yang garang abis sempet-sempetnya ada yang ngaca buat ngecek penampilan (masih ok belum?). Soalnya subuh dah dibangunin en ributnya sumpeh kayak orang kebakaran. Udah gitu belum mandi apalagi sarapan. Sabina, Ayubie, Aldona, Ade Jengker dan kawan-kawan sengsara abis! Pagi-pagi, belum sarapan, disuruh merayap-rayap di atas tanah yang katanya ada kotoran kebonya, terus berkubang di tengah lumpur yang baunya minta ampun, push-up, jalan jongkok tapi tangan di atas kepala, terus merayap di bawah bentangan kawat berduri ampe ada anggota badan yang lecet-lecet.  Eh, pas mandi malah ada yang nggak kebagian air, jatah airnya cuma dua tong gede doang buat 25 orang. Berantem abis deh tuh para waria, diusut-usut ternyata ada salah satu waria yang mandinya terbiasa pake <em>shower</em> berhubung dia lama tinggal di Jerman dan barusan pulang ke Indonesia (wuuuu&#8230; gaya !!!).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenernya sih, nih acara ada nilai positifnya juga yang mudah-mudahan emang niat dari sononya pengen ngebantu para waria supaya bisa <em>back to normal</em> lagi. Menjadi lelaki sejati. Cuma yang bikin nih ati nggak sreg, masa&#8217; cuma secara fisik aja sih digemblengnya? Walo pun emang ada juga ngefek dikit ke mental akibat perlakuan fisik yang terlalu keras. Tapi sisi <em>ruhiyah</em>nya, rasa keterikatan dirinya dengan Allah justru nggak dibenahi. Karena yang gue tau, untuk bisa mengubah seseorang tuh kudu mengubah persepsi seseorang tentang kehidupan, tentang manusia dan tentang alam semesta secara menyeluruh. Diajak dan dituntun buat mikir dan mikir tentang Sang Pencipta, Rasulullah, kitabullah terutama al-Quran, para malaikat Allah, qadha dan qadar sampe hari kiamat. Terus deh &#8216;digojlok&#8217; sampe dia ngerti kalo manusia tu makhluk yang lemah dan terbatas. Gitu juga dengan alam semesta en kehidupan yang pasti ada <em>finish-</em>nya. Dan yang berkuasa atas semua itu kan hanyalah Allah Swt.  Kalo dah nyadar gitu, kan mau nggak mau so pasti kudu tunduk dong ama kekuasaan Allah dan dia insya Allah mampu memilih yang terbaik buat dirinya. Gitu. Waduh, gue kok jadi serius gini ya? Udahlah, nyantai aja! Lanjuuutt!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kaleng jadi baja</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Heleh! Nih lagi&#8230; ada-ada aja. Sewaktu gue asik <em>browsing</em> soal &#8216;kaleng jadi baja&#8217;, eh gue malah jadi tahu kalo salah satu alumni <em>Be A Man</em> tahun lalu dinilai sebagai waria berprestasi. Haduh, gimana kabarnya tuh? Nama tuh alumni adalah Merlyn Sopjan.</p>
<p style="text-align: justify;">Merlyn ini ternyata juga pernah nulis buku yang judulnya &#8220;Jangan Lihat Kelaminku&#8221; (idih&#8230;) yang ngebeberin aktivtas dirinya en para waria lainnya. Mo tahu prestasi Merlyn lainnya? Dia menjadi doktor honoris causa dari Northern California Global University karena aktivitas sosialnya dalam bidang HIV/AIDS, Ratu Waria Indonesia di tahun 1995, menjabat sebagai Ketua Ikatan Waria Malang (IWAMA) dan pernah mencalonkan diri menjadi Bakal Calon Walikota Malang (gak jelas nih tahun berapa). Selain Merlyn ada juga Rahma/Rahmat (udah meninggal), selama hidupnya dia <em>care</em> ama anak-anak jalanan dengan ngajarin Bahasa Inggris en Matematika.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi.. <em>please</em>.. itu semua nggak bikin gue terkesan. Gue justru terkesan kalo para waria tuh bertekad kuat untuk mengubah diri mereka lahir en batin terus menjadi hamba Allah yang ikhlas dalam menerapkan syariatNya. Apalagi kalo sampe ikutan memperjuangkan khilafah. Wah, seru abis tuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi? Ya walaupun si waria sukses en lulus melalui segala rintangan dalam <em>Be A Man</em>. Dia nggak kena eliminasi dan ditambah segambreng prestasi dalam kehidupan warianya.  Jujur nih, gue belum yakin aja kalo dia akan terpanggil untuk menjadi hamba Allah yang seutuhnya. Yang bakal rela en ikhlas dalam ngejalanin syariatNya. <em>Cos</em>, yang dimaksud rela ngejalanin syariatNya bukan sekedar rajin shalat, sedekah en zakat atau rutin yasinan loh.  Itu mah cetek banget, Bro en Sis! Maksudnya tuh, kudu rela jadi lelaki sebenernya. Rela ngejalanin kewajibannya bahkan berani untuk memperjuangkan haknya sebagai lelaki, sebagai manusia, sebagai hamba Allah. Nggak maen perasaan apalagi kebiasaan tanpa dasar syariatNya. Tapi, meski demikian gue berharap mereka mulai sadar dan mencoba cari jalan petunjuk. Hidayah nggak gratis, tapi kudu dicari. Ada niat untuk nyari dan usahanya juga. Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">Kan aneh tuh, hanya karena gara-gara demen kumpul ama waria, gaul ama mereka terus punya perasaan <em>comfort</em> menjadi waria terus ikut-ikutan juga jadi &#8216;kaleng&#8217;. Atau dari &#8217;sono&#8217;nya dia terlahir sebagai lelaki yang manis, kemayu, lemah lembut atau mungkin karena &#8216;pola asuh&#8217; yang salah apalagi temennya juga pada cewek semua eh terus frustasi akibat diolok-olokin sebagai <em>pinky boy</em>. Akhirnya, keterusan deh jadi <em>pinky</em> beneran. Waduh, nggak asik banget tuh !</p>
<p style="text-align: justify;">Makanya nih Bro, kalo punya temen or sodara cowok yang tipenya waria &amp; <em>pinky boy</em> gini ya kudu dimotivasi supaya <em>back to normal</em> terus diajak ngaji en ngelakuin aktivitas yang positif plus menantang. <em>So</em>, kebutuhan naluri mulai dari urusan beribadah, mempertahankan eksistensi diri dia sebagai lelaki dalam kehidupan juga urusan <em>love &amp; care</em>-nya bisa terarah ke arah yang bener saat nyalurinnya. Selain itu juga biar dia sadar kalo temenan tuh kudu dalam lingkungan yang positif en kondusif (canggih amat sih bahasanya hehehe..).  Jadi dia nggak ada pikiran untuk berubah menjadi makhluk &#8220;jadi-jadian&#8221; begitu&#8230;<em>Na&#8217;udzubillah min dzalik</em> deh!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, bagi para cewek juga nih. Jangan asal maen peluk, becanda ngablak serasa becanda ama sesama cewek apalagi pamer aurat di depan para waria en <em>pinky boys</em>. <em>Coz</em>, sejatinya ya mereka lelaki juga. Bukan mahram tuh! Kalo kita memperlakukan para waria sebagai pria, mudah-mudahan mereka sadar bukannya kita pengen musuhin mereka tapi supaya mereka sadar kalo mereka adalah pria.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah sendiri juga benci tuh ama orang-orang yang meniru-niru yang diluar kodratnya. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas r.a yang berkata: <em>&#8220;Rasulullah saw. melak­nat laki-laki yang berlagak (seperti) perempuan dan perempuan yang berlagak (seperti) laki-laki&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Waow! Tegas bangetkan Islam ngasih aturan nih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lihat mereka sebagai manusia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada slogan dari para pengusung liberalisme nih: &#8220;Jangan dilihat dari kelaminnya tapi lihat diri mereka sebagai manusia&#8221; (maaf nih.. bukan bermaksud omong jorok tapi ya emang begitu slogannya) ketika mempersoalkan masalah kesetaraan gender, homoseksual termasuk eksisnya waria.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo waria jelas laki-laki. Umumnya gitu. Nah, gimana kalo yang memang sejak lahir udah berkelamin ganda? Begini, memang benar kalo dikatakan bahwa para ahli fiqih Islam telah mendefinisikan istilah <em>&#8220;khanatsa&#8221;</em>, yakni orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit), atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan <em>khuntsa musykil</em>, artinya tidak ada kejelasan. Sebab, setiap manusia seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas, laki atau perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya. Utamanya da­lam menjalankan syariat. Seperti sholat, haji, batasan aurat, dan lain-lain. Kalo nggak jelas kan bingung. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, adanya dua jenis kelamin pada seseorang-atau bahkan sama sekali tidak ada-disebut sebagai <em>musykil</em>. Karuan aja kea­daan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan, kendati pun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi, misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang &#8220;air kecil&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila urine-nya keluar dari penis, maka ia divonis sebagai laki-laki dan aturan hukumnya jelas, yakni sesuai dengan yang dibebankan untuk laki-laki. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina, ia divonis sebagai wanita dan tentunya menjalankan syariat sesuai dengan jenis kelaminnya. Namun, bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan, maka inilah yang dinyatakan sebagai <em>khuntsa musykil</em>. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain cara tadi, bisa juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badan­nya, atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Misalnya, bagaimana cara ia ber­mimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani, gitu lho), apakah ia tumbuh kumis dan jenggot, apakah tumbuh payudara­nya, apakah ia haid sehingga memungkinan untuk hamil, dan sebagainya. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak, maka ia divonis sebagai <em>khuntsa musykil</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa kudu jelas? Sebab akan mem­bantu dalam praktik penerapan syariat Islam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasu­lullah saw. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian, maka beliau menjawab dengan sabdanya: <em>&#8220;Lihatlah dari tempat keluarnya air seni.&#8221; </em></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, Islam memang <em>the best </em>banget! Islam mengatur manusia  nggak cuma secara fisik, tapi juga naluri. <em>Cos, </em>pada fitrahnya manusia tuh punya yang namanya kebutuhan jasmani (<em>organic needs/hajatun udhowiyah</em>) dan kebutuhan naluri (<em>instinct needs/gharizah</em>). Allah Swt. pun udah secara adil nyiptain laki-laki en perempuan dengan hal-hal yang beda.  Nah, pembedaan ini bukan buat diskriminasi tapi justru buat saling melengkapi. Eh, malah hadir tuh makhluk jadi-jadian.  Jadi kacau deh aturan Allah. Jadi, jangan memperkeruh masalah deh, inget firman Allah <em>&#8221; Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa&#8221; </em><strong>(QS Ali Imran [3]: 133)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, <em>sutralah</em> gue dianggep sok tahu atau apa. Tapi, gue berpikir kalo para waria itu diperlakukan secara manusiawi dan mereka sendiri dimotivasi oleh keluarga mereka, masyarakat juga pemerintah, gue yakin insya Allah mereka mau berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya manusiawi di sini bukan memaklumi or justru ngedorong potensi waria mereka loh tapi seperti yang gue bilang di subjdul &#8220;kaleng jadi baja&#8221;, bahwa mereka kudu diperlakukan sebagai lelaki yang <em>real</em> juga. Apalagi &#8216;kasusnya&#8217; udah dikasih solusi dalam fikih Islam. Karena kalo nggak didorong dan dibina sebagai lelaki sejati maka orang-orang yang punya kecenderungan sebagai waria or dia demen niru-niru diri sebagai cewek entar bisa kebablasan tuh. Makanya, Rasulullah dengan tegas menindak para waria ini sebagaimana hadist beliau dari Abu Hurairah,<em>&#8220;Rasulullah saw. telah melaknat seorang pria yang berpakaian menyerupai pakaian wanita dan melaknat seorang wanita yang berpakaian menyerupai pakaian pria.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwasanya Nabi saw sedang berada di rumah Ummu Salamah-di rumah itu sedang ada seorang waria-Waria itu berkata kepada saudara laki-laki Ummu Salamah, Abdullah bin Abi Umayah, &#8216;Jika Allah membukakan buat kalian Thaif besok, maka aku akan tunjukkan kepadamu anak perempuan ghoilan, ia seorang yang memiliki perut yang langsing. Maka Nabi saw pun bersabda, &#8220;Janganlah orang ini (waria) memasuki (tempat-tempat) kalian.&#8221; <strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Memang kalo diliat secara harfiah, nih hadis kesannya memojokkan para waria. Tapi maksudnya mereka ditegasin kalo <em>real</em>nya nggak ada makhluk lelaki yang menyerupai perempuan. Walaupun dari sononya dia kemayu ya tetep bukan pengecualian. Dia tetep sebagai lelaki. Gitu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, kudu dipikirin nih ayat berikut ini: <em>&#8220;Dan tidak layak bagi seorang beriman laki-laki dan juga bagi orang beriman perempuan, -apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan atas perkara- ada pilihan lain dalam urusan mereka&#8221;</em> <strong>(QS al-Ahzab [33] 36)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi menurut gue nih, acara <em>Be A Man</em>, memang udah mencoba berusaha untuk ngebina para waria secara manusiawi walaupun dari segi pembinaan keimanan masih <em>blank</em>. Nggak jelas. Padahal untuk ngubah diri seseorang justru yang kudu diubah adalah pemikiran tuh orang dulu. <em>Cos</em>, pada dasarnya seseorang bertingkah laku sesuai pemikirannya, sesuai pemahamannya, sesuai akidah yang ada dalam dirinya.  Kalo para waria itu dibina en digembleng secara fisik <em>only</em> tapi keimanannya nol justru dalam diri waria itu nggak akan tertanam dengan benar gimana sih <em>be a real man</em> itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu juga kudu ada upaya serius nih. Jangan cuma berharap ama acara <em>Be A Man </em>aja yang gue nilai cuma industri hiburan. Selama ini waria-waria yang terjaring dalam operasi Satpol PP tuh diapain sih? Beneran dibina dengan serius atau cuma dikasih nasehat bla-bla-bla terus diwanti-wanti jangan jadi kaleng jalanan lagi? Nggak ngefek lagi! Justru pemerintah di sini kudu membuktikan kalo bisa membina rakyatnya ke jalan yang bener. Waduh, kok gue jadi ngomel gini ya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The end</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Emang sih <em>Be A Man</em> udah bikin waria <em>on</em> tv jadi laen dari yang laen. Tapi kalo emang serius pengen ngebina para waria, gue pikir nggak harus juga ngebikin <em>reality show</em> begini kalo ujung-ujungnya cuma ngedongkrak rating penonton doang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini nih, kapitalisme bermain di sini. Masyarakat yang nonton cuma karena ramenya doang, cuma nganggap tontonan ini sebagai hiburan aja bukan sebagai tontonan yang bisa diambil hikmahnya. <em>So</em>, banyak penonton, banyak juga sponsor yang dateng terus tuh stasiun tv dapet duit banyak deh tanpa mikirin lagi acara tv-nya mendidik masyarakat atau malah ngebuka aib orang lain di depan orang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>? <em>Be a man, be a real man!</em> Yuuuuk&#8230;! <strong>[anindita; coffee.prince70@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/lomba-jadi-lelaki-sejati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Termehek-mehek&#8221;, Rekayasa?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/termehek-mehek-rekayasa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/termehek-mehek-rekayasa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 01:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2295</guid>
		<description><![CDATA[
 edisi 074/tahun ke-2 (26 Rabiul Awal 1430 H/23 Maret 2009)
Reality show saat ini sedang menjamur. Tapi di antara semua tayangan reality show, Terhehek-Mehek adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang prime time yaitu 18.15-19.00 WIB hingga back song-nya yang keren dan syahdu, membuat acara ini makin diminati.
Pertama kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /></p>
<p><strong> </strong>edisi 074/tahun ke-2 (26 Rabiul Awal 1430 H/23 Maret 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Reality show saat ini sedang menjamur. Tapi di antara semua tayangan reality show, <em>Terhehek-Mehek</em> adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang <em>prime time</em> yaitu 18.15-19.00 WIB hingga <em>back song</em>-nya yang keren dan syahdu, membuat acara ini makin diminati.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama kali nonton <em>Termehek-mehek</em>, apa sih yang ada di benak kamu? Pastinya sih terseret arus cerita yang seringkali mengaduk-aduk perasaan di tengah-tengah acara pencarian orang yang dikasihi. Kamu diajak untuk ikut dag-dig-dug menanti <em>ending</em> cerita, <em>happy</em> <em>or</em> <em>sad ending</em>? Jadinya berat rasanya mata untuk dialihkan ke hal lain selain mantengin monitor TV sampai acara selesai. Ehem..iya apa iya?</p>
<p style="text-align: justify;">Mayoritas dari kita, saya dan kamu pasti yakin dan percaya bahwa acara tersebut adalah nyata dan bener terjadi. Dan masih banyak jutaan pemirsa TV lainnya juga yang ikut menangis dan bahagia sesuai dengan jalan cerita <em>Termehek-mehek</em>. Eh&#8230;usut punya usut, ternyata acara <em>Termehek-mehek</em> dan mayoritas reality show lainnya itu adalah rekayasa, bukan murni nyata kejadiannya. Kok bisa sih? Makanya, supaya ngerti, ikutin terus pembahasan ini yah. Lanjuutt!<span id="more-2295"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ternyata rekayasa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bahasa Jawa, ada istilah &#8216;nggak mehek&#8217; yang artinya kurang lebih meremehkan atau menganggap kecil sesuatu. Namun <em>Termehek-mehek</em> yang sekarang lagi <em>booming</em>, mempunyai arti menangis tersedu-sedu. Acara ini muncul sekitar Mei 2008 dan langsung menarik perhatian mayoritas pemirsa TV. Ide acara adalah membantu mencari seseorang yang lama hilang. Jalinan ceritanya begitu mempesona karena dibuat seakan-akan nyata dan terjadi dengan sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya yang semula juga tersepona eh&#8230;terpesona pada <em>Termehek-mehek</em>, jadi kuciwa juga mengetahui fakta sebenarnya. Helmi Yahya sebagai yang punya ide cerita mengakui bahwa ia memanfaatkan karakter orang Indonesia yang suka diberi mimpi.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pemeran di tiap episode sengaja diambil dari masyarakat umum terutama mahasiswa agar terkesan alami karena wajahnya belum pernah nongol di TV sebelumnya. Ada satu kasus ketika seorang mahasiswa langsung diteleponin oleh banyak teman-temannya setelah <em>shooting</em> reality show. Jelas aja nih mahasiswa langsung menjelaskan pada teman-temannya itu bahwa cerita yang diangkat bukanlah kisah pribadinya, tapi rekayasa berdasarkan skenario belaka. Malulah kalau sampai beneran kisah pribadinya jadi konsumsi banyak orang se-Indonesia, begitu katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian dari kamu bisa jadi nggak terima dengan kenyataan ini. Kok bisa sih? Bukankah jelas-jelas sang target pernah mengusir kameramen acara termasuk host-nya yaitu Panda dan Mandala? Masa&#8217; rekayasa pake acara usir-usiran segala? Bahkan Panda pake acara nangis juga bila kebetulan <em>ending</em> cerita mengharukan atau sedih. Mungkin kamu berpikir na?f seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yupz, kamu emang nggak salah. Namanya aja <em>acting</em>, pastilah ya harus meyakinkan. Bahkan Panda dan Mandala pun dibayar bukan cuma untuk menjadi host, tapi plus <em>acting</em> juga. Bagi mereka yang bekerja di dunia pertelevisian, sedari awal langsung ngeh bahwa acara-acara reality show seperti ini penuh dengan rekayasa. Namanya aja show atau pertunjukkan yang sudah jelas ada unsur menghiburnya dong. Hal ini tidak bisa dihindari karena tuntutan <em>deadline</em>. Ketika tidak ada satu kisah nyata yang bisa diangkat ke layar TV, maka solusinya adalah bikin skenario dan membayar pemain amatiran agar terkesan alami. Nah, awalnya saya pikir sebagian, tapi ternyata <em>most of them</em> alias hampir semua episode adalah rekayasa!</p>
<p style="text-align: justify;">Cara gampang untuk mengenali bahwa ini adalah rekayasa yaitu kamu perhatikan aja kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, client dan target. Kalau memang si target benar-benar tidak tahu sebagaimana ekspresi mukanya yang seringkali berakting bingung ketika didatangi host, maka seharusnya kualitas suara mereka tidak sejernih yang kita dengar di TV. Kejernihan suara itu karena memang adanya chip untuk mikrofon yang biasanya dipasang di baju. Nah loh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo kamu jeli, ada wajah tokoh pada acara termehek-mehek yang juga sedang bermain sinetron meskipun hanya sebagai tokoh figuran. Lagipula, bila acara ini menyajikan kejadian sebenarnya, apa ada orang yang rela aibnya ditampilkan sedemikian rupa di TV? Kan sudah mendapat persetujuan dari semua pihak, mungkin itu kilahmu. Namanya juga dramatisasi Non, pastilah acara ini dihadirkan agar seolah-olah semuanya terlihat real.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa terjadi?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yupz&#8230;kalo di benakmu sempat terbersit pertanyaan seperti ini, itu tandanya kamu sudah selangkah lebih cerdas. Kok bisa-bisanya reality show yang seharusnya real alias nyata, eh ternyata malah rekayasa. Kondisi ini memang memanfaatkan psikologi orang Indonesia yang cenderung pasif dan konsumtif. Mereka mudah &#8216;dicekoki&#8217; apa saja terutama yang bertujuan pembodohan secara massal. Hal ini pula yang terjadi pada berbagai macam program TV di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Deadline, biasanya menjadi alasan utama rekayasa tayangan reality show. Jadi kalo nunggu kisah nyata beneran untuk ditayangkan, itu bakal menunggu waktu lama dan belum ada kepastian juga kasusnya bisa selesai atau nggak. Kalo direkayasa dengan skenario layaknya sinetron, maka menjual program ini ke stasiun TV jadi lebih mudah karena semuanya serba mudah dan pasti. Karena mudah dan ditonton banyak pemirsa, maka rating pasti naik. Kalo rating naik, iklan pun bakal rebutan untuk ambil porsi tayang. Nah, loh&#8230;UUD juga alias Ujung-Ujungnya Duit.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan data AC Nielsen di akhir tahun 2008, <em>Termehek-mehek</em> merupakan program acara paling populer dengan raihan rating 7,2 poin dan share 27,3 persen. Ini adalah yang tertinggi dari semua acara reality show yang ada di stasiun televisi lainnya. Menurut Gusti M Taufik, salah satu Event Coordinator pada sebuah Production House (PH) di Jakarta mengatakan bahwa budget produksi pasti akan membangkak jika shooting menggunakan kejadian real. Belum lagi memburu target pasti akan makan waktu lama. Perhatikan saja pada acara <em>Termehek-mehek</em>, meyoritas pencarian orang bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari. Padahal faktanya itu adalah skenario yang bisa diselesaikan hanya dalam waktu hitungan jam saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Uang adalah raja diraja manusia saat ini, apalagi untuk program TV. Meskipun sebuah tayangan dikatakan bermutu dan mendidik, namun tanpa uang atau iklan yang menyokong, maka bisa dipastikan program tersebut akan gulung tikar dengan cepat. Begitu sebaliknya, meskipun sebuah tayangan dikategorikan &#8216;junk program&#8217; alias tidak bermutu, tapi bisa tetep jalan bila didukung kekuatan modal. Inilah pola hidup kapitalisme yang memang sangat mendewakan modal dan pemodal sebagai penguasa zaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi intip-mengintip, mencari celah untuk tahu aib orang, bertengkar dengan kasar di depan umum, berkata-kata jorok sehingga TV perlu menyensor dengan bunyi &#8216;tiiiittt&#8217;, adalah sebagian budaya reality show terutama <em>Termehek-mehek</em> yang berusaha diajarkan pada kita. Sifat dasar manusia yang selalu saja ingin tahu urusan orang dijadikan komoditi, tak ubahnya seperti infotainment. Bedanya, kali ini yang dijadikan objek pengintipan adalah mereka yang bukan selebritis. Tapi intinya sih tetep aja, melakukan hal-hal yang nggak penting dan nggak bermanfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana sikap kita?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin awalnya kita nggak paham tentang realitas reality show. Jadinya kita gampang banget tertipu dan ngefans dengan sebuah program tayangan tertentu. Sampai-sampai kita bela-belain untuk menunda keperluan lain demi nggak mau ketinggalan acara tersebut. Ehem&#8230;iya apa iya?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sekarang kamu jadi ngerti tentang apa dan bagaimananya reality show itu terutama <em>Termehek-mehek</em> yang sekarang ini lagi <em>booming</em>. Terus, apa dong yang kita lakukan sebagai pemuda cerdas plus beriman? Ya&#8230;nggak usahlah terlalu serius nonton acara reality show itu. Apalagi tayangan favorit begini biasanya sengaja ditaruh di jam-jam darurat. Perhatikan aja <em>Termehek-mehek</em> ini tayang di waktu Maghrib yang singkat. Kalo kamu udah taraf kecanduan sama acara beginian, bisa dipastikan bakal males mau berangkat sholat. Bila pun melakukan, pasti maunya pingin cepet-cepet selesai alias sholat ala kilat khusus (emangnya surat?).</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal itu semua rekayasa loh. Seandainya pun bukan rekayasa, masa iya sih tayangan reality show bisa mengalahkan waktu sholat kamu? Semua ini adalah langkah awal bagi media TV untuk menanamkan racunnya ke dalam benak kaum muslimin terutama pemudanya. Kamu jadi terlena di depan TV dan males untuk sholat secara khusyuk dan tumakninah. Boro-boro baca al-Quran setelah sholat Maghrib, yang ada juga baca al-Fatihah nggak jelas bacaannya karena cepet-cepetan mau nonton <em>Termehek-mehek</em>. Aduh&#8230;.moga aja kamu bukan type ini ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabtu sore dan Minggu sore itu biasanya banyak kegiatan di sekitar rumah kamu karena anak-anak sekolah dan kuliah pada santai. Dengan adanya <em>Termehek-mehek</em> ini biasanya kamu-kamu pada males untuk berangkat ngaji atau kegiatan positif lainnya. Pinginnya cuma duduk manis sambil mantengin layer TV nunggu acara reality show kelar.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, mulai sekarang udah nggak musim lagi males ngaji dan ikut pembinaan. Meskipun acara TV kesayangan kamu lagi main, waktunya berangkat menimba ilmu ya berangkat aja. Emang TV bisa menyelamatkan dunia-akhirat kamu? Pasti nggak dong. <em>So</em>, nonton reality show ya wajar-wajar aja kaleee, nggak perlu sampai kecanduan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Semua ini sandiwara</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang nggak begitu suka dengan sinetron, biasanya terjebak dengan reality show semacam <em>Termehek-mehek</em>. Padahal program jenis ini setali tiga uang alias sama saja dengan sinteron hanya beda kemasan. Sang produser tahu bener bahwa tidak semua orang bisa ditipu untuk program pembodohan ala tayangan sinetron. Oleh karena itu butuh polesan cerdas untuk tope orang-orang seperti ini dengan tayangan jenis lain. Reality show adalah jawabannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya, semua ini adalah sandiwara. Sandiwaranya para pemodal untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah tayangan itu merusak generasi atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah rating tinggi yang berarti iklan banyak, duit pun mengalir menambah penuh pundi-pundi uang mereka. Parahnya lagi, masyarakat kita terlena dengan kebodohan ini. Maka sudah saatnya bagi kamu-kamu yang selangkah lebih cerdas daripada rakyat kebanyakan karena kamu udah membaca gaulislam ini (ehem&#8230; kagak nyombong Non!) untuk tidak berdiam diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Yuk, kita sebarkan pemahaman ini pada umat. Bukan melulu tentang rekayasa reality show saja tapi juga muatan isinya yang bisa merusak generasi secara perlahan tapi pasti. Ingat, tayangan TV hanya hiburan. Ibarat garam pada masakan, bila kebanyakan maka selain rasanya nggak enak juga pasti menimbulkan berbagai macam penyakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dengan tayangan TV, nggak perlu menjadikan TV sebagai menu pokok harian kamu. Sekadarnya saja untuk mengetahui berita terkini terutama tayangan yang bermutu dan bermanfaat. Selebihnya, kita kudu ingat bahwa hidup ini bukanlah main-main. Hidup di dunia juga bukan sandiwara, tapi sungguhan. Kita berbuat salah ya akan mendapat dosa, kalo beramal shalih akan dapat pahala. Hidup kita akan dihisab, akan dimintai pertanggungan jawabnya. Allah Swt. yang akan mengawasi kita semua. Dia tidak bisa ditipu dengan <em>acting</em> kita yang bepura-pura alim atau berpura-pura ikhas. Jadi, beramallah sebaik-baiknya untuk kehidupan sebenarnya di negeri akhirat kelak. Biarkan saja <em>Termehek-mehek</em> dengan acara &#8216;nggak mehek&#8217;nya itu, yang penting kamu nggak lagi sebagai orang na?f yang percaya banget sama reality show. <em>So</em>, ayuk bergerak dan berdakwah untuk perubahan! <strong>[ria: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/termehek-mehek-rekayasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nakalnya Orang Tua</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nakalnya-orang-tua</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nakalnya-orang-tua#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 00:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2280</guid>
		<description><![CDATA[
edisi 073/tahun ke-2 (19 Rabiul Awal 1430 H/16 Maret 2009)
Orang mungkin bosan banget kalo ngomongin kenakalan remaja en kenakalan anak-anak. Tapi, kita jarang dengar en ada orang yang ngomongin kenakalan orang tua. Padahal, kalo mo dirunut lumayan banyak juga lho kenakalan ortu dan emang sangat berpengaruh kepada kehidupan anak-anak. Kenakalan orang tua ini bisa diperluas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /></p>
<p>edisi 073/tahun ke-2 (19 Rabiul Awal 1430 H/16 Maret 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Orang mungkin bosan banget kalo ngomongin kenakalan remaja en kenakalan anak-anak. Tapi, kita jarang dengar en ada orang yang ngomongin kenakalan orang tua. Padahal, kalo mo dirunut lumayan banyak juga lho kenakalan ortu dan emang sangat berpengaruh kepada kehidupan anak-anak. Kenakalan orang tua ini bisa diperluas bukan hanya orang tua di rumah alias keluarga kita. Tapi orang tua di masyarakat seperti guru-guru di sekolah, orang-orang dewasa di lingkungan sekitar, orang-orang dewasa yang bisa kita lihat tampilan wajah dan aksinya di televisi, orang-orang dewasa yang saban hari kita temui di sekolah kehidupan kita, termasuk dalam hal ini adalah para orang tua yang menjadi pejabat di negeri ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, bukan maksud mo ngejelek-jelekkin ortu kita. Nggak. Ini sekadar renungan aja, betapa kita suka lupa bahwa kenakalan remaja nggak bisa lepas juga dari teladan yang sudah ada. Biar adil nih ye, kalo kita ngomongin kenakalan remaja sampe berbusa-busa atau nulis sampe berlembar-lembar lengkap dengan taburan faktanya, maka nggak ada salahnya juga dong kalo kita nyentil dikit kenakalan orang tua. Eh, sebenarnya bukan nyentil sih, tapi dikit aja kita bahas sebagai bahan renungan buat kita semua. Ya, semoga saja kita juga jadi bisa ngingetin para ortu yang mau nggak mau memang sudah dan akan mewarnai kehidupan kita saat ini. Ortu di rumah, ortu di masyarakat, dan tentunya ortu yang bertugas sebagai pengurus negara dan rakyat. Semua itu adalah ortu kita yang seharusnya menjadi teladan yang baik buat kita dalam menjalani kehidupan ini.<span id="more-2280"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, jangan sampe keterusan nyalahin remaja aja yang kebetulan berbuat nakal. Sebab, kita yakin banget bahwa kenakalan remaja juga ada pemicunya. Kenakalan remaja nggak muncul dengan sendirinya. Pasti ada faktor &#8220;x&#8221; yang udah bikin mereka nakal. Bisa karena lemahnya pendidikan ortunya di rumah, bisa juga karena kedodorannya pengawasan ortu di masyarakat, bahkan sangat mungkin karena lemahnya tanggung jawab ortu yang mengurus negara dengan tak memberikan penerapan aturan dan sanksi yang tegas dan benar. Iya kan?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kenakalan orang tua dalam ikatan keluarga</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apa sih yang dilakukan ortu kita di rumah dan keluarga besar kita sehingga bisa disebut kenakalan orang tua?</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, soal akhlak. <em>Wallahu&#8217;alam</em>, apakah karena terlalu sibuk atau nggak ngerti harus berbuat, banyak ortu di rumah yang abai dalam soal akhlak Islam yang baik ini. Padahal, anak or kita-kita akan belajar pertama kali dari cara ortu, karena begitu dekatnya jarak antara kita dengan ortu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, para ortu kita di rumah nggak semuanya ngerti soal ini. Bukan kita ngeledekin or ngejelek-jelekin, tapi emang faktanya ada yang begitu. Dalam hubungan dengan tetangga saja, banyak ortu yang malah secara tidak langsung ngajarin anak-anaknya untuk nggak baik dengan tetangga. Misalnya, kelakuan ortu yang doyan berantem ama tetangga atau yang kasuk-kusuk ngomongin tetangga. Eh, tetangga yang digosipin nggak suka, akhirnya nggak jarang terjadilah adu mulut sampe adu otot.</p>
<p style="text-align: justify;">Duh, kacau banget kan? Model ortu dalam keluarga yang kayak gitu nggak baik buat perkembangan anak-anaknya. Sebab, dalam hal akhlak bertetangga dan bergaul aja malah ngajarin nggak benar. Padahal, kita bertetangga dengan baik tuh bagian dari ajaran Islam. Oya, selain diminta berbuat baik, kita juga dilarang mengganggu tetangga kita. Nabi saw. bersabda, <em>&#8220;Tidak akan masuk surga orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.&#8221; </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, mengabaikan pelaksanaan syariat. Urusan sholat seringkali jadi masalah. Pelaksanaan syariat untuk individu ini acapkali diabaikan. Kalo ortunya aja sholatnya sesukanya, atau bahkan nggak sama sekali, akan menimbulkan dampak bagi anak. Apalagi jika menyuruh atau mengingatkan anaknya saja untuk sholat nggak pernah. Wah, mungkin nggak adil juga kalo di kemudian hari nyalahin anak yang nggak sholat. <em>Wong</em>, orang tuanya aja nggak sholat dan nggak membimbing anaknya untuk sholat. Kasihan juga kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, dalam kasih sayang dan perhatian. Bila anak tumbuh menjadi liar, keras, pendendam, dan tidak punya sikap penyayang. Tentu tidak muncul begitu saja. Para orang tua yang merekayasa semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka tidak ada &#8216;horor&#8217; yang lebih menakutkan bagi anak-anak selain kehilangan kasih sayang. James Coleman, dalam <em>Abnormal Psychology and Modern Life</em>, menyebut kekurangan kasih sayang sebagai <em>communicable disease </em>(penyakit menular). Karena itu Islam sebagai agama yang membawa misi <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em> mewajibkan orang tua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. <em>&#8220;Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,&#8221; </em>kata Rasulullah saw. Bahkan Allah Swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Bertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.&#8221;</em> <strong>(QS an-Nis?&#8217; [4]: 1)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu? ketika Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya. &#8220;Wahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Agama,&#8221; jawab Luqman.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau dua?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Agama dan harta.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau tiga?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Agama, harta dan rasa malu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bila empat?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Agama, harta, rasa malu dan akhlak yang mulia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika lima?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang mulia dan dermawan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Anaknya bertanya lagi, &#8220;Jika enam?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Luqman menjawab, &#8220;Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang hamba maka dia adalah orang yang bertakwa, dan Allah akan menolong orang yang menjauhi syetan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda,<em> &#8220;Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.&#8221;</em> <strong>(HR al-Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kenakalan orang tua di masyarakat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nih, daftar kenalan orang tua di masyarakat. Pertama, menciptakan suasana yang nggak produktif. Wah, yang dipelihara tuh harusnya yang produktif, gitu lho. Ini kok memelihara rasa malas. Kayak gimana sih modelnya? Hmm&#8230; kayaknya udah jadi rahasia umum deh kalo untuk bapak-bapak kalo mereka udah kumpul pasti ada aja yang dilakukan yang deket-deket dengan sikap malas. Bapak-bapak kalo mereka berdua, selain ngobrol bisa juga main catur. Kalo berempat, malah ada kemungkinan main gaple. Seringnya sih begitu. Terutama kalo malam hari sambil nemani yang ronda (yee.. justru mereka yang keenakan, ditemani sama yang ngeronda).</p>
<p style="text-align: justify;">Main catur dan main gaple ada yang bilang boleh-boleh aja kalo nggak pake duit alias judi. Cuma nggak <em>muru&#8217;ah</em> aja. Nggak menjaga kehormatan diri gitu lho. Maklumlah, orang yang kerjanya cuma gaple aja tiap malam dicap orang <em>pangedulan</em> alias tukang malas (idih, malas ada tukangnya juga ya?). Apalagi kalo main catur or gaple itu dilakukan pagi hari di hari kerja, atau siang hari di hari kerja, kayaknya nggak enak banget dilihat deh. Tul nggak? Kesan yang muncul kan jadinya memelihara kemalasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, menyediakan sarana kemaksiatan. Di kampung halaman saya nun jauh di mata, ada warga masyarakat yang secara terang-terangan ngejualin minuman keras. Berbagai merek dan jumlahnya sangat banyak. Tiap malam pasti ada pesta minuman keras. <em>So</em>, aksi para pemabuk jadi pemandangan yang biasa dilihat setiap malam. Kebanyakan pemabuk adalah remaja. Yang buka warung itu siapa? Orang dewasa. Ya, orang tua yang di masyarakat. Yang seharusnya ikut ngejaga dan mendidik anak-anak remaja. Tapi yang dia lakukan sebaliknya. Menjejali anak baru gede dan remaja dengan minuman keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan warga dan aparat sekitar menutup mata dengan adanya pesta mabuk setiap malam di situ. Tapi nih orang bandel banget. Udah dikasih tahu secara baik-baik, nggak mempan. Malah ngelawan. Pengurus masjid yang mendatangi rumahnya untuk menasihati malah diusir dan dicaci-maki. Bahkan sesumbar bahwa bisnisnya nggak bakalan ditutup karena ia udah punya tameng, yakni seorang oknum petugas kepolisian. Duh, jelas banget ini adalah kenakalan yang dilakukan oleh orang tua di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain miras, kita juga udah pada apal kalo judi kini udah membudaya. Mulai dari judi togel, sabung ayam, pacuan kuda, taruhan di pertandingan sepakbola, gaple yang pake duit, rolet, casino, sampe judi via fasilitas pengiriman SMS. Waduh, itu sudah jadi tradisi yang berurat berakar. Kalo mo ditelusuri, tentu mereka yang jadi bandar judi adalah para orang tua. Ya, orang tua di masyarakat yang seharusnya menjadi pelindung dan memberikan teladan yang benar dan baik, khususnya bagi anak muda. Ternyata mereka malah memfasilitasi sarana kemaksiatan dan tentunya mencontohkan kenakalan. Menyedihkan banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, membudayakan malas belajar. Contohnya nih, ibu-ibu yang aktif di pengajian lebih sedikit ketimbang mereka yang atas nama olahraga mengelar senam bersama dengan pakaian yang tentu saja mengumbar aurat. Ini umumnya lho, kalo yang nggak mengumbar aurat ya jangan ngambek. Nah, sadar atau pun nggak, aksinya itu mempengaruhi cara pandang warga sekitar, khususnya anak-anak. Jangan salahkan mereka seratus persen kalo akhirnya juga ikut-ikutan nggak benar akibat dari aksi nakal yang dilakukan para ortu di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, kalo pengajian digalakan, keterampilan tertentu (seperti menjahit, memasak, menulis, retorika berdakwah dsb) yang bisa dijadikan pegangan dalam menajalani kehidupan terus diajarkan, rasa-rasanya nggak bakalan ada deh yang terus memelihara rasa malasnya untuk belajar. Tul nggak?</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat, pendidik yang abai. Mungkin kedengaran aneh ada pendidik yang abai terhadap murid atau santrinya. Tapi memang benar-benar ada dan hal ini kerap terjadi. Ada oknum guru yang mengajarkan asusila kepada murid-muridnya, ada ustadz di pesantren yang nggak konsisten menerapkan disiplin. Faktanya, kalo sempat baca-baca berita ada oknum guru yang melakukan pelecehan seksual kepada muridnya, ada oknum ustadz di pesantren yang ngelarang santrinya untuk ngerokok, tapi dianya sendiri &#8216;ngebul&#8217; terus saban hari, bahkan dengan atraktif memajang bungkus rokoknya di jendela dan lubang-lubang angin di atas pintu kamarnya. Duilee.. yang begini ini bisa memicu kenakalan anak didiknya. Mengkhawatir banget deh. Semoga saja jumlahnya nggak banyak ortu di masyarakat yang model gini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kenakalan orang tua di pemerintahan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jujur saja, rasa-rasanya kita pantas khawatir jika orang tua di pemerintahan udah nakal banget. Meski tentu kenakalan ortu di rumah dan kenakalan ortu di masyarakat juga tetap berbahaya. Tapi, kalo yang nakal adalah ortu di pemerintahan, dampaknya bisa lebih luas. Bahayanya bisa lebih besar. Sebab, gimana jadinya kalo pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung paling kuat bagi rakyatnya justru malah mencontohkan kenakalan, efeknya jadi global tuh. Oya, apa aja sih kenakalan orang tua di pemerintahan?</p>
<p style="text-align: justify;">Melanggengkan kemaksiatan. Benar, kalo kenakalan ortu di masyarakat<em> </em>cuma menyediakan sarana kemaksiatan, maka negara (dalam hal ini pemerintah) malah melanggengkan kemaksiatan. Yup, melanggengkan kemaksiatan. Karena apa? Karena udah ngasih banyak izin untuk usaha-usaha pelacuran, diskotik, pabrik minuman keras, dan jenis kemaksiatan lainnya. Termasuk menutup mata terhadap problem-problem yang diakibatkan usaha pelacuran, diskotik, peredaran minuman keras dan narkoba, perjudian, dan sejenisnya. Ini adalah bentuk kenakalan ortu di pemerintahan yang sangat membahayakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kekuatannya sebagai pengelola negara, seharusnya para orang tua yang jadi pejabat bisa memberikan teladan yang benar dan baik. Tapi, nyatanya yang menonjol adalah prestasi ancurnya. Jangan salahkan rakyat (termasuk di dalamnya remaja) seratus persen kalo akhirnya mereka jadi amburadul dalam hidupnya akibat kenakalan yang dilakukan para ortu di pemerintahan. Rakyat cuma korban kenakalan yang dilakuan pemerintah yang rata-rata udah pada berumur itu (kalo dilihat dari usia, lho) Iya kan? <em>So</em>, jangan cuma nyalahin remaja dengan melabeli &#8220;kenakalan&#8221; ketika ada remaja yang nyandu judi, nyandu miras dan hobi mengkonsumsi narkoba, atau jadi pelacur dan sejenisnya. Karena mereka lebih banyak sebagai korban akibat kenakalan yang dilakukan oleh para orang tua di pemerintahan. Tul nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Wahai para orang tua, dengarlah kami&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tolong dong jangan salahkan kami terus. Seolah yang salah tuh remaja, yang selalu nakal tuh pasti remaja. Padahal, kami adalah korban dari kondisi yang ada saat ini. Banyak ortu di rumah yang kurang peduli, kurang menyayangi kami, dan nggak serius mengarahkan kami ke jalan yang benar. Memang nggak semua dari ortu di rumah itu nakal, tapi sayangnya ortu yang baik tuh kalah jumlahnya dengan ortu yang nakal.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitupun dengan para ortu di masyarakat, mohon dengarlah keluhan kami. Sudah begitu banyak masalah yang ditimbulkan akibat kenakalan para orang tua di masyarakat yang seharusnya menjadi pilar kedua dalam penegakan hukum. Tapi, mereka malah menyediakan sarana kemaksiatan, menciptakan budaya yang nggak produktif, dan membiasakan malas belajar serta mendidik yang setengah hati. Belum lagi para orang tua di masyarakat yang menjadi pemilik media massa (baik cetak maupun elektronik: koran, majalah, tabloid, radio, televisi, dan juga internet) yang &#8216;hobi&#8217; menampilkan bacaan, gambar dan tontonan yang merusak akhlak (pornografi, kekerasan, dan seks bebas) yang berlindung atas nama bisnis. Duh, tolong jangan salahkan kami secara mutlak akibat kenakalan ortu di masyarakat ini. Kami udah cukup menderita.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga kepada para ortu di pemerintahan, yakni ortu yang menjadi pejabat negara. Seharusnya ini adalah pilar paling kuat dalam penegakan hukum, tapi nyatanya malah ikut-ikutan nakal. Padahal kenakalan yang dilakukannya berdampak lebih besar bagi seluruh rakyat. Wahai para pejabat negara, dengarlah kesedihan kami akibat kenakalan yang bapak-ibu lakukan dengan menerapkan aturan kehidupan yang nggak benar dan nggak baik, yakni Kapitalisme-Sekularisme (termasuk juga Sosialisme-Komunisme). Karena yang benar adalah Islam. Pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, meski yang kita sorot adalah kenakalan orang tua, tapi bukan berarti kemudian sebagai remaja kita berusaha mengampuni diri sendiri dengan menimpakan semuanya kepada kalangan orang tua, karena kita juga wajib belajar dan wajib menjadi benar dan baik dalam hidup ini. Itu sebabnya, meski sekarang kenakalan para orang tua marak, tapi remaja yang tetap baik insya Allah masih ada. Bahkan insya Allah akan terus berjuang mengingatkan para orang tua di rumah, di masyarakat, dan ortu di pemerintahan untuk nggak nakal lagi. Yuk, perbaiki diri kita dan jangan ikut-ikutan nakal. <em>So</em>, mari bina diri kita dengan cara mengkajiIslam dengan lebih semangat dan lebih serius lagi. Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua. Ok? <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nakalnya-orang-tua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Kita Cinta Rasulullah saw.?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/benarkah-kita-cinta-rasulullah-saw</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/benarkah-kita-cinta-rasulullah-saw#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 01:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2257</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 072/tahun ke-2 (12 Rabiul Awal 1430 H/9 Maret 2009)
Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Bener juga sih kalo mau dipikir-pikir. Gimana nggak, wong kalo gue lagi di kendaraan umum kayak di bis or lagi di kereta api, gue cengok aja sendirian kalo pas nggak ngajak teman jalan bareng. Banyak orang sih di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2291" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/02/logo-gi-3.jpg?w=128" alt="logo-gi-3" width="128" height="31" /> edisi 072/tahun ke-2 (12 Rabiul Awal 1430 H/9 Maret 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Bener juga sih kalo mau dipikir-pikir. Gimana nggak, wong kalo gue lagi di kendaraan umum kayak di bis or lagi di kereta api, gue cengok aja sendirian kalo pas nggak ngajak teman jalan bareng. Banyak orang sih di sekitar gue. Tapi yang terjadi kan masing-masing sibuk dengan urusannya. Boro-boro sayang ama gue (gue aja nggak sayang ama mereka), wong kenal aja nggak. Kadang sekedar nyapa pun nggak gue lakuin, kecuali kalo ada yang duluan nyapa gue sekadar basa-basi. Kadang, gue juga nyoba basa-basi nanya ini dan itu. Tapi ya namanya juga belum kenal banget, rada kaku gitu deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, ngomong-ngomong soal &#8220;terkenal&#8221; atau kenalan supaya sayang, kalo elo ngeh dan tahu, Rasulullah saw. tentu lebih terkenal dari pada selebritis mana pun di dunia ini. Emang sih, gue dan elo tahu juga soal Muhammad saw. Setiap Muslim insya Allah tahu betul kalo Nabi Muhammad saw. adalah Rasulullah. Maklumlah, setiap bulan <em>Rabiul Awwal</em> di masyarakat kita suka diadain peringatan Maulid Nabi. Yup, bulan <em>Rabiul Awwal</em> adalah satu dari 12 bulan dalam kalender <em>Qomariah</em> yang kayaknya kita apal banget. Jujur, gue apal banget.<span id="more-2257"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, penulis buku <em>Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia</em>, Michael Hart, menyebutkan, &#8220;Dia (Muhammad saw.) adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus (Nabi Isa) atau siapapun di dunia ini.&#8221; Keren banget kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu pula, yang gue tahu dan pernah baca keterangannya, Dr. Ahmad Muhammad al-Hufy sebelum menulis <em>Min akhlak an-Nabiy</em> beliau bertutur penuh kerendahan hati, <em>&#8220;Ya, Rasulullah, junjunganku! Apakah kata-kata yang tak berdaya ini mampu mengungkapkan ketinggian dan keluhuranmu? Apakah penaku yang tumpul ini dapat menggambarkan budi pekertimu yang mulia? Bagaimana mungkin setetes air akan sanggup melukiskan samudera yang luas? Bagaimana mungkin sebutir pasir akan mampu menggambarkan gunung yang tinggi? Bagaimana mungkin sepercik cahaya akan dapat bercerita tentang matahari? Sejauh yang dapat dicapai oleh sebuah pena, hanyalah isyarat tentang keluhuran martabatmu, kedudukanmu yang tinggi, dan singgasanamu yang agung.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Itulah alasannya. Rasulullah memang sosok yang agung, mulia dan bermartabat tinggi. Agak sukar bagi gue untuk menjelaskannya dengan amat detil. Guru ngaji gue pernah ngasih tahu bahwa, Ali bin Abi Thalib ra pernah ditanya sama seseorang dari kalangan Yahudi tentang akhlak Nabi. Apa reaksi Ali? Beliau malah balik bertanya, &#8220;Lukiskan keindahan dunia ini, dan aku akan gambarkan kepada Anda tentang akhlak Nabi Muhammad saw.&#8221; Lelaki Yahudi itu berkata, &#8220;Tidak mudah bagiku.&#8221; Ali menukas, &#8220;Engkau tidak mampu melukiskan keindahan dunia, padahal Allah telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ketika berfirman, <em>&#8216;Katakan, keindahan dunia itu kecil&#8217;&#8221;</em> <strong>(QS an-Nis? [4]: 77)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro, Nabi kita, Muhammad saw., adalah sosok pribadi yang hebat dan keren banget. Maka, sekarang adalah saatnya untuk mulai mengenal pribadi Rasulullah saw. Belum terlambat banget kok. Kita kenal pribadinya, biar gue dan elo tahu dan tentu mencintai dan menyayangi beliau juga. Jujur, gue nggak bakalan kenal Islam, kalo beliau nggak membawa pertama kali risalah Islam dari Allah Swt. untuk umat manusia ini. Gue yang hidup di jaman sekarang, tentu nggak ketemu Rasulullah saw., tapi gue bisa kenal Islam yang diajarkan oleh beliau melalui para pewaris kenabiannya, yakni para ulama. Alhamdulillah, gue (dan juga elo) pantas berbahagia dan bersyukur karena kita bisa menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuma masalahnya nih, meski demikian ternyata banyak kaum muslimin yang nggak kenal lebih jauh dan dalam tentang Rasulullah saw. Kecuali beberapa informasi yang umum aja seperti nama orangtua beliau, tahun kelahirannya, sedikit tentang akhlaknya, dan perjuangan dakwahnya di Mekkah dan Madinah. Tapi, kepribadian dan kehidupan beliau lebih detil, jarang ada kaum muslimin yang tahu: berapa istrinya; namanya siapa aja; nama anak-anak beliau siapa aja; bagaimana perjuangan menegakkan Islam yang beliau lakukan; tugasnya sebagai kepala negara Islam; bagaimana cara beliau memimpinnya; dsb. Sangat boleh jadi, malah ada yang nggak mau tahu. Wah, kalo yang nggak mau tahu itu lebih parah dari mereka yang sekadar belum tahu. Sebab, kalo belum tahu bisa belajar untuk tahu. Tapi kalo mereka yang nggak mau tahu, dikasih info dan diajarin juga nggak bakalan mempan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, satu-satunya cara untuk mengenal pribadi Nabi Muhammad saw., adalah dengan mempelajari dan memahami kehidupan beliau. Insya Allah udah banyak buku yang mengupas keagungan pribadi Rasulullah saw. Elo bisa belajar dari situ.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Cinta dan taat kepada Rasulullah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. telah membawa risalah Allah Swt. ini untuk umat manusia. Penuh cinta beliau sampaikan untuk umat manusia di seluruh dunia ini. Seperangkat aturan dari Allah Swt. beliau sampaikan, baik melalui al-Quran maupun hadis. Harapannya, agar seluruh umat manusia sadar dengan status dirinya sebagai hamba Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberadaan Rasulullah saw. harus gue akui sebagai manusia pilihan Allah untuk menyampaikan risalah Islam yang agung ini. Itu artinya, kalo gue menolak keberadaan beliau, berarti secara nggak langsung udah menolak juga keberadaan Allah Swt. Ih, jangan sampe deh gue punya pikiran kayak gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Gue dan elo percaya kepada Allah Swt. tentu udah satu paket bahwa bukan cuma percaya kepada keberadaan Allah Swt. saja, tapi juga wajib percaya kepada aturanNya, dan juga orang-orang pilihanNya, yakni para Nabi dan Rasul. Jadi, kalo untuk kita nih, kaum Muslimin, berarti kita wajib percaya dengan Muhammad saw. karena beliau adalah utusan Allah Swt. yang terakhir untuk umat manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu artinya, kalo gue dan elo ngakui sepenuh hati bahwa Muhammad saw. adalah utusan Allah Swt., maka semua aturannya, baik yang bersifat perintah maupaun larangan harus kita perhatiin. Kalo perintah (bisa wajib dan bisa sunnah), kita harus berusaha untuk melaksanakannya. Terutama yang wajib. Begitu pun dengan larangan dari beliau (baik yang haram ataupun makruh), kita harus berusaha untuk menghindarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagian kita juga kudu nyadar bahwa apa yang dibawa Rasulullah saw. tuh hakikatnya berasal dari Allah Swt. Gue pernah dikasih tentang firman Allah Swt.: <em>&#8220;kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.</em> <em>Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),&#8221; </em><strong>(QS an-Najm [53]: 2-4)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro and Sis, dengan ayat ini rasa-rasanya gue pantas takut kalo sampe ngelanggar perintah dari Rasulullah saw. Sebab, hakikatnya adalah perintah dari Allah Swt. Maka, biar gue nggak salah jalan dalam hidup ini, selain mempelajari al-Quran, juga kudu gaul ama hadis-hadis Rasulullah saw. Bukan apa-apa, karena adakalanya penjelasan Allah Swt. nggak kita temukan dengan mudah di al-Quran, tapi bisa kita dapatkan di hadis Rasulullah saw. Contohnya adalah perintah shalat, di al-Quran emang ada perintah shalat (baik yang wajib lima waktu maupun shalat sunnah seperti tahajjud), tapi perintah itu nggak dijelaskan dengan detil tatacaranya. Tapi dalam hadis, Rasulullah saw. menjelaskan sabdanya: <em>&#8220;Shalatlah kalian sebagaimana kalian menyaksikan (cara) aku shalat.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalo pengen lebih detil lagi tentang bagaimana cara takbir, cara rukuk, cara sujud, bacaannya, waktunya, dan sejenisnya kita bisa cari di buku-buku fikih. Para ulama udah ngasih kemudahan kita lewat ijtihad yang dilakukannya ketika memahami dalil syara&#8217; dari al-Quran dan as-Sunnah ini. Ini baru perintah shalat lho. Masih banyak perintah Rasululullah saw. lainnya. <em>So</em>, kalo sampe kita nggak ngeh atau malah dengan terang-terangan menolak berarti kita melawannya. Ih, <em>naudzubillahi min dzalik</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Mencintai dan meneladani Rasulullah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro, ngomong-ngomong soal idola, gue jadi kepikiran nih sama idola sepanjang masa, dan kaum muslimin pastinya harus menjadikan beliau sebagai teladan. Meski udah wafat, tapi kharismanya masih bersinar. Tak pupus oleh waktu. Siapakah dia?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, betul! Dia adalah Muhammad Rasulullah saw. Elo pinter deh. Bener. Rasulullah saw. udah diset oleh Allah Swt. agar menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Beda banget dengan idola-idola yang selama ini ada dan diidolakan kebanyakan manusia. Lagian, nggak ada jaminan dari Allah Swt. kalo mereka harus diidolakan. Tapi khusus untuk Rasulullah saw., Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya: <em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#8221; </em><strong>(QS al-Ahzab [33]: 21)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tuh, jaminan langsung dari Allah Swt. Gimana nggak oke, Bro. Itu artinya, kebenaran dan kebaikannya emang jaminan mutu. Bukan katanya. Tapi udah jelas faktanya. <em>So</em>, nggak meragukan lagi sebagai tokoh yang pantas kita jadikan teladan. Setuju kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana tuh biar gue dan elo semua bisa meneladani Rasulullah? Pertama nih, yang gue tahu dari pak ustad gue, makna <em>ittiba&#8217;</em> adalah mengikuti syariat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. Firman Allah Swt.:<em>&#8220;Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah&#8221;</em> <strong>(QS al-Hasyr [59]: 7)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, kalo emang elo cinta, kagum, dan pengen menjadikan beliau teladan dalam hidup elo, maka elo (termasuk gue) kudu ngikutin semua yang dibawa oleh Rasulullah saw. buat kita semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, syariat Islam diturunkan oleh Allah kepada seluruh manusia dengan melihat bagi kemanusiaannya. Dalam hal ini, syariat tidak mengenal perbedaan suku, bangsa, bahasa, waktu, dan tempat. Artinya, hukum Islam berlaku bagi seluruh manusia kapan pun dan di mana pun. Dan tentu aja bakal cocok untuk semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi nih, kalo emang mencintai Rasulullah dan meneladaninya, sebenarnya bukan cuma kita doang. Umat lain juga selain harus ngakuin Muhammad saw. sebagai Rasulullah, juga kudu meneladani beliau dalam syariatnya. Dari keterangan yang pernah gue baca, Beliau saw. bersabda: &#8220;<em>Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, seandainya Musa as. masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku sunguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus, seandainya ia (Musa) masih hidup dan mengetahui kenabianku sungguh ia akan mengikuti aku.&#8221;</em> <strong>(HR ad-Darimiy dalam <em>as sunan</em> no. 436)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, menurut ustad gue, ada kaidah ushul (fikih), &#8220;<em>syar&#8217;u man qablana laisa syar&#8217;an lana</em>&#8221; (syariat orang-orang sebelum kita bukanlah syariat bagi kita). Nah, kaidah ini tentu nggak asal dibuat, karena tentunya berdasarkan ijma&#8217; para shahabat bahwa syariat Muhammad saw. merupakan penghapus seluruh syariat terdahulu. Dengan demikian maka Nasrani dan Yahudi, mereka diseru dengan syariat Islam dan diperintahkan untuk meninggalkan syariat mereka. Karena Islam telah menghapus (<em>menasakh</em>) syariat mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus yang ketiga neh, bahwa <em>ittiba&#8217;</em> alias mengikuti en meneladani Rasulullah saw. emang sesuai fitrah manusia. Kita perlu memahami bagaimana mengikuti Rasul dalam melakukan aktivitas kesehariannya; seperti memperlakukan pekerjanya, istri-istrinya, para sahabatnya, termasuk memimpin negara dalam berbagai urusan; politik, ekonomi, sosial, budaya, pengadilan, hukum, dan pemerintahan. Dan, kita pun insya Allah bisa menjadikan beliau sebagai teladan dalam aktivitas keseharian kita. Siap kan? Insya Allah bisa deh. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. berfirman:<em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</em> <strong>(QS Ali Imran [3]: 31)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tuh, jika kita benar-benar mencintai Allah, berarti gue dan elo kudu mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Artinya juga, kalo gue dan elo emang mencintai Rasulullah saw. seharusnya udah pasti juga kudu menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan kita. <em>So</em>, udah bener belum ya gue dan elo semua mencintai Rasulullah saw.? Tanya kenapa? <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/benarkah-kita-cinta-rasulullah-saw/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Dunia tak Seindah Mimpi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ketika-dunia-tak-seindah-mimpi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ketika-dunia-tak-seindah-mimpi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 02:27:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2242</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 071/tahun ke-2 (5 Rabiul Awal 1430 H/2 Maret 2009)
Terpaksa, itu adalah hal yang ada dalam benak gue ha