<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Tahun III/2009-2010</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-gaul-islam/tahun-iii2009-2010/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 17:02:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tuhan Ada dan Tuhan Tidak Mati</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tuhan-ada-dan-tuhan-tidak-mati</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tuhan-ada-dan-tuhan-tidak-mati#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 23:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah Swt.]]></category>
		<category><![CDATA[atheis]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3506</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 156/tahun ke-3 (10 Dzulqaidah 1431 H/ 18 Oktober 2010) Apa yang kamu tahu tentang Friedrich Wilhelm Nietzsche? Yup, doi lebih akrab dengan panggilannya “Nietzsche Sang Pembunuh Tuhan” yang memproklamirkan bahwa “Tuhan telah mati” menjelma menjadi tokoh atheis yang cukup ternama. Kamu tahu band metal di Bandung yang bernama Forgotten? Yup, band ini juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 156/tahun ke-3 (10 Dzulqaidah 1431 H/ 18 Oktober 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Apa  yang kamu tahu tentang Friedrich Wilhelm Nietzsche? Yup, doi lebih  akrab dengan panggilannya “Nietzsche Sang Pembunuh Tuhan” yang  memproklamirkan bahwa “Tuhan telah mati” menjelma menjadi tokoh atheis  yang cukup ternama. Kamu tahu band metal di Bandung yang bernama  Forgotten? Yup, band ini juga mempunyai lagu dengan judul yang sama  dengan apa yang telah diproklamirkan oleh Nietzsche: “Tuhan telah mati”.</p>
<p>Mungkin  Forgotten banyak terinspirasi dari Nietzsche. Nietzsche tidaklah  sendirian dalam keatheisannya, masih ada beberapa tokoh seperti Sigmun  Freud, Charles Darwin, Ludwig Feuerbach, Stephen Hawkins dan lain-lain.  Tokoh-tokoh ini adalah orang-orang yang tidak percaya akan eksistensi  Tuhan dan mungkin bila Tuhan itu ada, Tuhan tidak lagi dibutuhkan di  dunia ini dan telah menjadi sampah. Begitulah kalo kaum agnostik  ngomongin soal Tuhan yang hampir-hampir mirip dengan golongan atheis.</p>
<p><strong>Kebanggaan atheis</strong></p>
<p>Bro  en Sis, para atheis sering lho ngebangga-banggain teori Big Bang dalam  proses penciptaan bumi dan pada proses tersebut mereka mengatakan tidak  ada campur tangan Tuhan di sana. Ada juga beberapa pertanyaan klasik  dari para atheis yang sering dilemparkan kepada para theis, yaitu:  “Dapatkah Tuhan menciptakan batu yang sangat besar sehingga Tuhan tidak  dapat mengangkatnya?” dan yang kedua “Untuk apa Tuhan menciptakan  manusia?”.<span id="more-3506"></span></p>
<p>Bro en Sis, pertanyaan  mereka tersebut merupakan pertanyaan-pertanyaan klasik yang sudah  terjawab, hanya saja mereka mengembangkannya dengan beberapa sangkalan  untuk memojokkan para theis. Contohnya pertanyaan pertama, kalo kita  kaji lagi pertanyaan tersebut maka pertanyaan tersebut tidak bisa kita  jawab dengan “Tuhan dapat menciptakan batu tersebut dan tidak dapat  mengangkatnya” atau “Tuhan tidak dapat menciptakan batu tersebut”.  Karena jika Tuhan dapat menciptakan batu tersebut maka mereka para  atheis bertanya: “Di mana ke-Mahakuasaan Tuhan sehingga Ia tidak dapat  mengangkat batu tersebut?” atau jika Tuhan tidak dapat menciptakan batu  tersebut, mereka akan bertanya: “Di mana ke-Mahakuasaan Tuhan sehingga  Ia tidak dapat menciptakan batu tersebut?”</p>
<p>Contoh yang kedua,  “Untuk apa Tuhan menciptakan Manusia?”. Boys and gals, masih banyak lho  orang yang bingung saat ditanyakan soal ini. Sebagian kaum muslimin  meyakini apa yang mereka kerjakan sebagai perintah dari Allah Swt. yang  wajib dijalankan. Misalnya shalat 5 waktu, orang yang ditanyatakan  tersebut langsung menjawab “Manusia diciptakan untuk menyembahNya”.  Pertanyaan tersebut tidak langsung usai dengan jawaban itu, kaum atheis  biasanya kembali bertanya: “Apakah Tuhan membutuhkan sesembahan dari  manusia, sehingga Ia menciptakan manusia untuk menyembahNya?”</p>
<p>Lalu bagaimana jawaban yang tepat?</p>
<p><strong>Ini dia: bantahan untuk para atheis</strong></p>
<p>Dalam  teori Big Bang yang mereka katakan tidak ada campur tangan Tuhan, coba  kita berpikir bersama “Adakah suatu materi yang dapat berkuasa atas  dirinya sendiri?” Contoh kecilnya nih gua kasih, apakah batu dapat  berkuasa atas dirinya sehingga ia bisa membentuk suatu bangunan rumah  dengan sendirinya tanpa ada campur tangan manusia? Gua rasa hal ini  mustahil terjadi atau apakah kita manusia dapat berkuasa sepenuhnya atas  diri kita?</p>
<p>Coba deh Bro en is, elo inget-inget waktu elo pada  kebelet pengen buang air kecil, bisa nggak elo kendaliin diri elo supaya  nggak jadi buang air kecil? Gua rasa jawabannya adalah “Nggak bisa!”,  yang ada elo semua nantinya bakal kena penyakit kencing batu. Hehehe…</p>
<p>Jadi  dalam ledakan Big Bang yang meluas ke seluruh penjuru mustahil terjadi  bila tidak ada campur tangan Allah Ta’ala. Hal ini bisa kita lihat dalam  firman Alla Swt.: “Dia Pencipta langit dan bumi.” (QS al-An’aam [6]:  101). Pada firman Allah tersebut telah dinyatakan bahwa Allah pencipta  langit dan bumi dan permasalahan ledakan Big Bang yang meluas ke seluruh  penjuru tersebut juga bisa kita lihat pada firman Allah Swt.: “Dan  langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami  benar-benar meluaskannya.” (QS dz-Dzaariyaat [51]:47)</p>
<p>Untuk  masalah Tuhan dan batu tersebut pas banget tuh sama kejadian beberapa  hari yang lalu waktu gua pulang dari Bandung menuju Bogor. Di bis gua  duduk berdampingan dengan seorang pemuda, yang jelas lebih tua dari gua  dan gua lebih ganteng dari dia. (Narsis abis!)</p>
<p>Untuk ngilangan  kejenuhan di perjalanan, gua baca buku yang gua pinjam dari teman. Buku  tersebut mengulas permasalahan agama dan filsafat. Pemuda rupanya  tertarik dan nanya ke gua: “Mas, suka sama filsafat?”</p>
<p>Gua langsung aja nyeletuk, “Gua masih suka manusia dan karena gua laki-laki gua suka manusia berjenis kelamin wanita.”</p>
<p>Pemuda  itu langsung ketawa dan lanjut bertanya “Maksud gua mas suka baca buku  filsafat?”Gua langsung ngeduga kalau orang yang nanya ke gua pasti punya  hobi yang sama kayak gua, yaitu filsafat. Gua langsung jawab, “Lumayan  tapi nggak begitu ngerti. Hehehe…”</p>
<p>Dia langsung nanya ke gua,  “Menurut Mas, apakah Tuhan dapat menciptakan batu yang sangat besar  sehingga dia tidak dapat mengangkatnya.” Dalam hati sih gua ketawa,  selain pertanyaannya yang menurut gua jadul banget. Gua jadi inget  tentang kisah di jerman yang pernah gua baca, yang juga mendiskusikan  hal ini di dalam bus. Maka, gua nggak pengen memberi pernyataan, tapi  gua langsung bilang: “Nanti masalahnya Tuhan tidak Maha Kuasa ya Mas?  Kalo begitu saya mau tanya, “Kalau setelah Tuhan tidak dapat menciptakan  batu tersebut atau Tuhan dapat menciptakan batu tersebut dan dia tidak  dapat mengangkatnya, lalu dengan hal itu ke-Mahakuasaan Tuhan  hilang.Terus, siapa yang menjadi Maha Kuasa?”</p>
<p>Ya, seperti yang  udah gua duga, orang tersebut nggak bisa jawab pertanyaan gua dan  diskusi kami tentang masalah filsafat terhenti sampai di situ.</p>
<p>Bro  en Sis, kita mengenal banyak sifat-sifat Allah Swt., selain itu ada  juga sifat yang “mustahil” ada pada Allah Swt., contohnya: Allah Swt.  mustahil tidak kekal, Mustahil lemah, Mustahil tuli, dan lain  sebagainya. Jadi yang seharusnya diketahui orang tersebut sebelum  mempertanyakan hal itu adalah mengenal Allah Swt.</p>
<p>Terus, untuk jawaban mengenai “Untuk apa Tuhan menciptakan manusia di bumi?” Jika kita membaca firman Allah Swt.:  <em>“Hai  manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang  Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia  menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang  baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak  sulit bagi Allah.”</em> <strong>(QS Faathir, [35]: 15-17)</strong></p>
<p>Dari ayat ini maka kita dapat menyimpulkan bahwa Allah Ta’ala sama sekali tidak membutuhkan manusia.</p>
<p>Di lain ayat: <em>”Dan  Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan  bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari  menyembahKu</em><em> </em><em>akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”</em> <strong>(QS al-Mukmin [40]: 60)</strong></p>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa manusialah yang butuh Allah Swt (menyembahNya) supaya manusia tersebut selamat dari siksa neraka.</p>
<p><strong>‘Logika’ menuju adanya Tuhan</strong></p>
<p>Bro  n Sis, gua di sini mau ngajak untuk sedikit bermain logika, yaitu suatu  rentetan peristiwa mundur atau bahasa kerennya tuh “regresi”. Jika kita  hitung mundur dari kita, lalu ayah kita, lalu, mbah kita, terus ke  babehnya mbah kita, terus lagi, terus dan terus, maka kita akan  mendapatkan sepasang manusia yang kita kenal Nabi Adam dan istrinya.  Setelah itu timbullah pertanyaan dari dalam tempurung kepala kita  “Berasal dari mana atau siapa yang membuat atau siapa yang menciptakan  mereka?” Maka akan ketemu jawaban mutlak dari pertanyaan tersebut adalah  “Tuhan”. Seperti saat kita menghitung mundur dari angka “10” maka akan  timbul angka “0” sebagai penghitungan akhir, dan para atheis tidak dapat  bertanya “Dari mana adanya Tuhan?” karena Dia adalah awal dari  segalanya, seperti angka “0” yang juga tidak dapat mereka jelaskan “dari  mana adanya “0”?”, karena angka “0” adalah awal dari angka.</p>
<p>Bro  en Sis, dengan segala penjelasan gua yang sangat singkat, bahwa Tuhan  itu MUTLAK ada dan Dia tidak mungkin ada dari adanya suatu dan dia tidak  dapat menjadi lemah bahkan mati. Sebagai muslim, kita memang  mempercayai adanya Allah, dan kita harus beriman kepadaNya. Itu  sebabnya, kita harus menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala  apa yang dilarangNya. Soalnya, nanti segala perbuatan kita akan kita  pertanggungjawabkan di hari akhir kelak. Insya Allah jika kita telah  menjalankan apa-apa yang Allah perintahkan dan menjauhi semua apa-apa  yang telah Allah larang, maka kita akan selamat dari siksa neraka.Kita  akan diberikan balasan yang layak, yaitu surga yang berlimpah segala  nikmatNya.</p>
<p>Bro n Sis, kita semua seharusnya bersyukur karena telah  memeluk agama Islam, agama yang akan mengantarkan manusia ke dalam  keselamatan. Allah Swt. telah memberi al-Quran sebagai petunjuk untuk  menyelamatkan kita. Al-Quran juga menjelaskan bahwa Tuhan itu ada dan  Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Jadi kita  tidak perlu lagi pusing memikirkan pertanyaan-pertanyaan konyol: “Tuhan  itu ada nggak ya?”; “Siapa yang menciptakan bumi?”; “Akan ke mana  manusia setelah mati?” atau hal-hal yang lainnya. Sebabnya, di dalam  al-Quran, hal itu telah dijelaskan dan bagi yang mengingkari Allah Swt.,  maka tunggu saja siksa yang akan terjadi nanti, entah itu di dunia ini  atau akhirat.  <strong>[putra: utha_freak@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tuhan-ada-dan-tuhan-tidak-mati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakat Anak Indonesia Dieksploitasi!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bakat-anak-indonesia-dieksploitasi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bakat-anak-indonesia-dieksploitasi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 17:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[bakat]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[idol]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3501</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 155/tahun ke-3 (3 Dzulqaidah 1431 H/ 11 Oktober 2010) Acara bertajuk mencari bakat anak-anak Indonesia sedang menjamur sekarang ini. Hampir semua stasiun TV berlomba-lomba menggelar acara yang mirip satu sama lain. Indonesia Mencari Bakat yang diselenggarakan oleh Trans TV muncul lebih dulu dan menyedot banyak perhatian permirsa. Tak lama kemudian, nongol Indonesia’s Got [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 155/tahun ke-3 (3 Dzulqaidah 1431 H/ 11 Oktober 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Acara bertajuk mencari bakat anak-anak Indonesia sedang menjamur sekarang ini. Hampir semua stasiun TV berlomba-lomba menggelar acara yang mirip satu sama lain. Indonesia Mencari Bakat yang diselenggarakan oleh Trans TV muncul lebih dulu dan menyedot banyak perhatian permirsa. Tak lama kemudian, nongol Indonesia’s Got Talent, sebuah acara yang mendapat lisensi dari Fremantle Media. Isinya persis plek dengan America’s Got Talent, Britain’s Got Talent, dll.</p>
<p>Setelah era AFI, Indonesian Idol dan dan beberapa acara sejenis namun kurang tenar berlalu, muncul yang namanya Mama Mia dan hal-hal yang ber’bau’ anak dan mama. Kemudian, muncullah ajang pencarian bakat baik yang memakai judul bahasa Indonesia ataupun yang menjiplak plek dari bahasa aslinya yaitu bahasa Inggris. Tapi intinya <em>mah</em> saja, mengekor kreativitas dari negara yang dianggap lebih daripada dirinya sendiri.</p>
<p>Masyarakat Indonesia pun terlena, mulai dari anak kecil hingga dewasa bahkan ibu-ibu dan bapak-bapak serta kakek-nenek pada mantengin acara pencarian bakat ini. Semua punya jago masing-masing. Ada yang milih Hudson, penyanyi ‘transgender’ alias separuh laki-laki dan separuh perempuan. Ada juga yang ngefans berat dengan Brandon, si kecil yang lincah kayak bola bekel. Lalu ada juga yang berada di pihak Putri, si penyanyi seriosa atau bahkan Klanthink, grup pemusik jalanan yang bisa eksis hingga tahap final.<span id="more-3501"></span></p>
<p>Sebagai remaja muslim yang cerdas, gimana sih kita menyikapi semua ajang pencarian bakat seperti ini? Apa iya kita kudu mantengin aksi-aksi mereka setiap tampil di TV terus ikut-ikutan kirim polling SMS? Atau kita sama sekali anti terhadap tayangan sejenis dan tak mau tahu sama sekali tentangnya? Hmm…gimana ya enaknya. Yuk kita bahas satu demi satu. Lanjoott!</p>
<p><strong>Tambang uang kapitalisme</strong></p>
<p>Semua acara audisi yang mengeksploitasi kemampuan diri apalagi body (baca: tubuh), bertujuan UUD (Ujung-Ujungnya Duit) juga. Masyarakat yang gampang dibuat tersihir oleh tayangan TV adalah mangsa yang empuk untuk menggali tambang uang ini. Mereka enggan beranjak apalagi ketika jagoannya lolos dari eliminasi. Karena itu, si pembawa acara tak bosan-bosannya mengajak pemirsa untuk terus mengirim SMS dukungan agar idolanya tidak berada di level terendah perolehan SMS.</p>
<p>SMS ini tarifnya premium alias kalo bahasa awamnya sih, MAHAL. Normal SMS kan tarifnya sekitar 100-150 rupiah sekali kirim. Kalo tarif lomba-lomba beginian biayanya 2000 rupiah. Coba kamu kalikan nilai ini dengan 1000 orang yang mengirim SMS, dan satu orang mengirim nggak hanya sekali tapi bisa 10 kali misalnya. Berhubung jumlah masyarakat Indonesia sekitar 200 juta lebih, 1% saja mengirim, wow….akan didapati jumlah yang sangat fantastis hanya dari perolehan SMS.</p>
<p>Perolehan iklan bagaimana? Ini juga tak kalah fantastis dan bombastis jumlahnya (hehehe…sesekali memakai kosakata hiperbola). Hitung saja jumlah iklan setiap jeda penampilan dan kalikan berapa kali jeda selama acara tersebut ditayangkan. Padahal sekali tampil suatu iklan, nilai nominalnya lumayan mahal juga lho. Itungannya per detik dan tergantung ditaro di prime time (waktu utama) atau bukan. Kalo nggak salah di waktu biasa aja, pagi menjelang siang, per 15 detiknya bisa 30 juta lho. Kalo 30 detik yang 60 juta. Itu sekali tayang. Kalo sehari sampe 10 kali tayang? Lebih dari setengah M (ini singkatan dari Milyar, bukan eMber hehehe). Belum lagi produksi iklannya yang bisa mencapai ratusan juta karena harus ngurus ijin, menggunakan jasa selebriti dan sebagainya. Pasti deh langsung *tuing-tuing* pusing karena mikirin duitnya. Gimana nggak, kalo uang sebanyak itu kita cuma bisa menghitung di atas kertas tanpa pernah punya sendiri (huu…bilang aja kalo pingin jadi orang kaya juga <img src='http://www.gaulislam.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</p>
<p><em>So</em>, gimana dengan bakat dari para pelaku entertainer itu sendiri ya? Beberapa bakat anak bangsa yang diaudisi sudah diseleksi, sekarang bagaimana dengan bakat mereka sendiri untuk menampilkan karya anak bangsa yang kreatif? Kenapa juga harus membebek terus pada program sejenis dari mancanegara? Indonesia adalah megara ke-35 yang menjadi pemegang izin terselenggaranya acara serupa loh. Semua ini tak lebih hanya sekadar mencari formulasi baru agar masyarakat Indonesia tetap keranjingan TV.</p>
<p><strong>Wanted: bakat dunia akhirat</strong></p>
<p>Bukan maksud ikut-ikutan acara audisi pencarian bakat seperti di TV swasta itu. Tapi di sini kita semua diajak mikir, apakah tak ada bakat lainnya yang dimiliki oleh anak Indonesia selain dari joged dan nyanyi? Hampir semua peserta menampilkan kebolehan dirinya di bidang ini. Mengapa pula tak ada ajang pencarian bakat yang menyaring anak-anak hebat bukan hanya berdimensi dunia tapi juga akhirat?</p>
<p>Acara Laptop si Unyil pernah menampilkan sosok tiga bersaudara yang hafidz alias penghafal al-Quran. Usia mereka di bawah 10 tahun dan hidup dalam kondisi sangat sederhana. Anak-anak ini adalah anak-anak hebat yang ‘bakatnya’ (baca: potensinya) sangat susah dicari tandingannya di zaman yang semua serba matrealistis ini. Tapi adakah yang peduli dengan kehebatan anak Indonesia yang model begini?</p>
<p>Orang-orang, baik pemirsa TV, pemilik TV, penggiat TV mulai dari produser, sutradara, penata acara, dll cenderung lebih suka anak-anak Indonesia yang terlihat glamour daripada sosok yang bersahaja namun jelas-jelas berprestasi. Bukan hanya bakat, tapi kecemerlangan otak telah dimiliki oleh anak-anak yang hafal al-Quran ini. Hanya orang-orang dan anak-anak yang ‘bersih’ dan cemerlang daya pikirnya saja yang bisa mencapai tahap level ini.</p>
<p>Potensi yang dimiliki seseorang itu bukan sesuatu yang tiba-tiba atau jatuh dari langit datangnya. Seorang Brandon yang pintar <em>breakdance</em> bukan tiba-tiba bisa begitu saja. Sejak kecil ia terbiasa mendengar musik rancak yang memang memancing pendengarnya untuk bergerak. Bukan itu saja, Brandon juga sering melihat video yang berisi orang-orang dewasa sedang ‘dance’. Input dari musik dan tayangan ini memberi efek pada Brandon untuk menirukan gaya mereka. Di usia 3 tahun, ia sudah bisa menari perut meskipun di usia selanjutnya ia lebih tertarik pada gerakan breakdance.</p>
<p>Itu hanya satu contoh saja. Lingkungan yang membentuk ‘bakat’ seseorang. Kesempatan memperoleh orang tua yang mendukung pilihan anaknya adalah hal lain. Begitu juga faktor minat si anak juga menentukan apakah anak tersebut bisa disebut berbakat atau tidak. Tapi di atas semua itu, bakat yang ada seharusnya makin membuat nilai kemanusiaan kita bertambah di mata Allah. Karena kehidupan sekarang ini kan bukan segalanya. Materi juga akan ada habisnya. Cuma bekal yang baik saja sebagai teman menuju kehidupan abadi, akhirat yang kekal.</p>
<p><strong>So, finally…</strong></p>
<p>Bagi diri seorang muslim, ada standar yang harus diikuti olehnya yaitu apa kata hukum syara terhadap setiap perbuatan. Plus juga ada skala prioritas yang harus diingat. Entah berapa waktu yang dihabiskan oleh Brandon, Putri Ayu dan remaja-remaja lain yang ingin kaya dan terkenal dengan instant untuk melatih bakat mereka itu. Padahal masih banyak PR remaja yang harus segera dikerjakan agar negeri ini tidak terus terpuruk pada kubangan kenistaan karena ditinggalkannya syariat Islam.</p>
<p>Pada website resmi transTV sebagai penyelenggara acara <em>Indonesia Mencari Bakat</em>, tertulis tujuan bahwa program ini bisa menjadi sebuah kampanye untuk membangkitkan semangat anak bangsa, memotivasi setiap generasi, dan mendobrak pesimisme bangsa ini. Tapi saya pribadi sangat tidak yakin tujuan ini tercapai. Yang ada malah jutaan anak bangsa semakin hidup dalam dunia impian bisa ke Jakarta dan menjadi terkenal dengan cara instan. Anak bangsa yang terpinggirkan oleh sistem dan semakin pesimis menghadapi kehidupan.</p>
<p>Lihat saja, betapa banyak anak cerdas yang tak bisa sekolah. Padahal pendidikan adalah pintu gerbang luar biasa untuk memperbaiki taraf kehidupan. Bandingkan dengan mereka yang cuma goyang kanan dan kiri langsung dapat uang banyak. Karena memang faktanya di negeri ini, intelektualitas anak bangsa berharga jauh lebih murah daripada suara biduan dan akting para aktris. Jadi tujuan diselenggarakannya program pencarian bakat sejenis sebagaimana ditulis di atas, jauh panggang dari apinya, alias gatot (gagal total).</p>
<p>Tak bisa tidak kita kembali saja kepada aturan hidup yang memanusiakan manusia. Aturan hidup ini sudah teruji selama 14 abad menghasilkan anak-anak cemerlang yang berbakat dunia akhirat. Siapa tak kenal nama Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Khawarizmi dan masih banyak lagi talenta-talenta hebat yang membawa peradaban gemilang. Mereka paham dunia sebagai ilmuwan (fisika, astronomi, kedokteran, dll) dan paham akhirat sebagai ilmuwan juga (ulama). Keilmuwan mereka mencakup ilmu dunia dan akhirat. Belum pernah terdengar ada peradaban bangsa yang besar berawal dari pemudanya yang suka joget atau nyanyi. Itu mah, peradaban sampah!</p>
<p>Nah, tak usah bermimpi lagi ya sebagai <em>the next idol</em> dalam pencarian bakat anak bangsa ini. Menonton pun sekadarnya saja, sebagai upaya untuk memahamkan umat tentang tidak pentingnya acara beginian dalam kehidupan kamu. Bahkan bukan hanya acara ini saja, mayoritas acara di TV nasional kita adalah racun bagi jiwa dan otak kita.</p>
<p><em>So</em>, ayo kita pakai saja audisi potensi anak Indonesia dan bahkan anak dunia dengan Islam sebagai tolok ukur aturan dan Allah sebagai tujuan. Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah aktivitasnya, bukan yang lain. Tentu, semuanya berdasarkan ajaran Islam dong ya. Gimana, setuju? Kalau begitu, mari kita mulai lomba ini. Siap? Mulai! <strong>[ria: riafariana@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bakat-anak-indonesia-dieksploitasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin-pemimpin Hebat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemimpin-pemimpin-hebat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemimpin-pemimpin-hebat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 17:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3495</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 154/tahun ke-3 (25 Syawal 1431 H/ 4 Oktober 2010) Sobat muda muslim, ngomongin soal Islam, nggak lengkap kalo kita nggak ngebahas tentang pemimpin-pemimpin Islam yang mejadikan Islam tersebar dan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Memberikan manfaat terbanyak yang menjangkau wilayah hampir 1/3 luas daratan di dunia. Subhanallah. Kalo mikirin pemimpin sekarang?Aduh, kayaknya ribet. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 154/tahun ke-3 (25 Syawal 1431 H/ 4 Oktober 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Sobat  muda muslim, ngomongin soal Islam, nggak lengkap kalo kita nggak  ngebahas tentang pemimpin-pemimpin Islam yang mejadikan Islam tersebar  dan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Memberikan manfaat  terbanyak yang menjangkau wilayah hampir 1/3 luas daratan di dunia. Subhanallah.</p>
<p>Kalo mikirin pemimpin sekarang?Aduh, kayaknya ribet. Sori ya bukan  maksud merendahkan, tapi faktanya lebih banyak yang rese. Korupsi  merajalela di mana-mana, kriminalitas membengkak jumlahnya, kerusakan  moral ada di tiap sektor kehidupan, banyak juga remaja yang asik masyuk  dalam birahi ilegal, seneng nyantai mantengin game online sampe nggak  shalat, narkoba jadi barang dagangan dan lain sebagainya. Selain itu,  aksi Densus 88 Antiteror yang main hakim sendiri dan menebar teror atas  nama keamanan negara. Ngeri. Welcome to the Jungle! (begitu kira-kira  Axl Rose, vokalisnya Guns N’ Roses berteriak di album <em>Appetite for Destruction</em>, 1987).<span id="more-3495"></span></p>
<p><strong>Belajar dari pemimpin Islam </strong></p>
<p>Ini sepenggal kisah tentang Abu Bakar ash-Shiddiq ra. yang dinukil  dari kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, bab Masa Khulafaur Rasyidin, karya  Ibnu Katsir. Selepas dibaiat, Abu Bakar mulai berpidato setelah memuji  Allah Pemilik segala pujian, ‘Amma ba’du, <em>“Para hadirin sekalian,  sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan  bukanlah aku yang terbaik. Maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku.  Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah  amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di  antara kalian, sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat  mengembalikan haknya kepadanya, insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat  di antara kalian, maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan  mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu  kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan  kepada mereka suatu kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian terbesar di  tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh  kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya.  Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas  kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat  semoga Allah merahmati kalian.”</em> (Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah 4/413-414, tahqiq Hamma Sa’id dan Muhammad Abu Suailik)</p>
<p>Bagaimana dengan Umar bin Khaththab ra? Bro, beliau bahkan sudah  didoakan oleh Rasulullah untuk bisa masuk Islam. Dalam sebuah riwayat  dituturkan, <em>“Nabi saw telah berdoa kepada Allah swt, Ya Allah  kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau  cintai, dengan ‘Umar bin Khaththab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.” </em><strong>(HR Tirmidziy, dari Ibnu Umar. Shahih)</strong></p>
<p>Inilah doa Rasulullah saw. ketika beliau sangat menginginkan salah  seorang dari dua umar tersebut bisa masuk Islam. Ketika itu, keduanya  masih dalam kondisi kafir. Mereka juga memiliki kesamaan karakter,  bersikap sangat keras terhadap siapa saja yang dimusuhinya. Hingga  akhirnya, Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw dengan menjadikan  Umar bin Khaththab sebagai seorang Muslim. Bahkan lebih dari itu, Umar  ra. menjadi pengikut Muhammad saw. yang setia membela dan memperkokoh  risalah Islam seraya tetap memiliki sifat kerasnya, yang sangat keras  terhadap musuh-musuh Allah dan RasulNya, musuh-musuh Islam, namun sangat  terlihat lembut kepada kaum Muslimin, bahkan lebih lembut daripada  perlakuan mereka kepada Umar sendiri. Sebagaimana yang dikatakannya,  “Kekerasanku hanya berlaku bagi mereka yang menyimpang dari aturanku.  Dan bagi mereka yg bersama Allah maka kelembutanku melebihi dari pada  saudaraku sendiri”</p>
<p>Khalifah Umar ra., pemimpin negara Khilafah yang luas wilayahnya  meliputi Jazirah Arab, Persia, Irak, Syam (sekarang: Syria, Yordania,  Lebanon, Israel, dan Palestina), serta Mesir, pernah berkata: “Andaikan  ada seekor hewan di Irak kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah  akan meminta pertanggung-jawabanku kenapa tidak mempersiapkan jalan  tersebut (menjadi jalan yang rata dan bagus).”</p>
<p>Bahkan, beliau tidak pandang bulu. Khalifah Umar bin al-Khaththab  pernah menyita sendiri seekor unta gemuk milik putranya, Abdullah bin  Umar, karena kedapatan digembalakan di padang rumput milik Baitul Mal.  Ini dinilai Umar sebagai bentuk penyalahgunaan fasilitas negara.</p>
<p>Kerisauan Umar ra. yang takut kelak akan dihadapkan pada pengadilan  Allah, kemudian beliau risau kalau ditanya tentang rakyatnya. Kata  beliau, “demi Allah kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka,  aku tetap khawatir akan diri ini. Aku khawatir tidak dapat menjawab  pertanyaan Allah. Dan risau kalau ada rakyat yang terzalimi olehku,  sedangkan aku tidak menyadarinya”</p>
<p>Umar bin Khaththab terkenal tegas dan kukuh dalam berpegang kepada  kebenaran. Namun, dalam hal kematian beliau pun senantiasa teringat  padanya. Beliau menangis saat mendengarkan ayat-ayat atau peringatan  tentang akhirat. Bahkan cincin yang dikenakannya bertuliskan “Kematian  itu sudah cukup sebagai peringatan, wahai Umar!” Demi menumbuhkan  keberanian rakyat mengoreksi aparat, Khalifah Umar bin al-Khaththab di  awal pemerintahannya pernah menyatakan, <em>“Jika kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam maka luruskan aku walaupun dengan pedang.”</em></p>
<p>Beliau juga mengajarkan para pemimpin di bawahnya, yakni para  gubernur untuk tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Pernah ‘Amru bin Ash,  gubernur yang sangat berjasa menaklukkan Mesir, diberi hukuman cambuk  karena seorang rakyat Mesir melapor bahwa dirinya pernah dipukul sang  gubernur. Orang yang melapor itu sendiri yang disuruh memukulnya.</p>
<p>Abdulah bin Qathin, seorang gubernur yang bertugas di Hamash, pernah  dilucuti pakaiannya lalu disuruh menggantinya dengan baju gembala,  kemudian disuruh menggembala domba beberapa saat. Sebelumnya ada yang  diperintahkan membakar pintu rumahnya, karena salah seorang rakyatnya  bercerita setelah ditanya oleh Umar tentang keadaan gubernurnya. Dia  menjawab, “Cukup bagus, hanya sayangnya dia mendirikan rumah mewah.”</p>
<p>Kemudian gubernur itu disuruh memasang kembali pintunya dan dipesan,  “Kembalilah ke tempat tugasmu tapi jangan berbuat demikian lagi. Saya  tidak pernah memerintahkan engkau membangun rumah besar,” tegas Umar.</p>
<p>Sebaliknya, terhadap gubernurnya yang sederhana, Umar sangat sayang.  Seperti yang dilakukannya terhadap Sa’ad bin al-Jamhi yang diprotes  rakyatnya karena selalu terlambat membuka kantornya, tidak melayani  rakyatnya di malam hari dan tidak membuka kantor sehari dalam seminggu.  Itu dilakukan karena Sa’ad tidak memiliki pembantu sehingga dia membantu  istrinya membuatkan adonan roti. Nanti setelah adonan itu mengembang,  barulah berangkat ke kantor.</p>
<p>Sa’ad tidak melayani rakyatnya di malam hari karena waktu itu  digunakan untuk bermunajat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa  Ta’ala. Dan sengaja tidak membuka kantor sehari dalam seminggu kecuali  di sore hari karena ia harus mencuci pakaian dinas dan menunggu hingga  kering.</p>
<p>Bro en Sis, kayaknya kamu perlu tahu juga deh kisah Umar bin Abdul  Aziz, yang juga sebagai khalifah (kepala negara). Ketika itu, dunia  Islam berada di bawah kepemimpinan Khilafah Bani Umayyah. Tersebutlah  dalam sejarah, Khalifah ke-8 Bani Umayyah, yakni Umar bin Abdul Aziz  (memerintah 717-720 M) sebagai salah seorang Amirul Mu’minin yang  menggoreskan tinta emas dalam bingkai sejarah kejayaan kekhalifahan di  masanya. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang menjadi teladan atas  kepemimpinannya serta dalam menjaga kesejahteraan dan keamanan  rakyatnya.</p>
<p>Beliau juga dikenal teladan dalam mengatur pemerintahan dan mengatur  aparat-aparatnya, lho. Termasuk dalam memberantas korupsi. Dalam sebuah  riwayat disebutkan, suatu ketika, demi menjaga agar tidak mencium bau  minyak wangi yang bukan haknya, Khalifah Umar bin Abdul Azis sampai  menutup hidungnya saat mengunjungi baitul mal yang di dalamnya ada  tempat penyimpanan minyak wangi. Maka, dengan teladan pemimpin,  pemberantasan tindak korupsi jadi mudah. Umar berupaya untuk  membersihkan baitul mal dari pemasukan harta yang tidak halal dan  berusaha mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya saja. Umar  membuat perhitungan dengan para Amir bawahannya agar mereka  mengembalikan harta yang sebelumnya bersumber dari sesuatu yang tidak  sah. Di samping itu, Umar sendiri mengembalikan milik pribadinya, yang  waktu itu berjumlah sekitar 40.000 dinar setahun, ke baitul mal. Harta  tersebut diperoleh dan warisan ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan.</p>
<p>Ini dia yang benar-benar ikhlas demi semata mengharap ridho Allah  Swt. ketika berkuasa dan memimpin rakyat. Jabatan bukanlah alat untuk  menumpuk harta demi memperkaya diri dan keluarganya. Sebab, jabatan  adalah amanah. Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz udah nunjukkin  tanggung jawab dan keikhlasannya ketika menjadi pemimpin. Subhanallah.  Keren banget euy! Pas deh dengan sabda Rasulullah saw.,<em>”Seorang imam  (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat  dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rakyatnya.” </em><strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Bro en Sis, mimpikah semua itu? Nggak. Itu pernah terjadi di masa  pemerintahan Islam. Kalo sekarang? Ah, kamu jangan pura-pura nggak tahu,  kamu kan bisa lihat sendiri gimana para pemimpin sekarang. Iya kan?  Pada ngejar jabatan. Nyari suara sebanyak-banyaknya dalam pemilu atau  pemilukada demi meraih jabatan tertinggi itu. Obral janji manis yang  sering kali tak terbukti (backsound: langsung deh nyanyi dangdut: “kau  yang berjanji kau yang mengingkari”). Jadi wajar memimpin bukan untuk  mengayomi rakyat, tapi menghamba pada kepentingan pribadi, keluarga,  partai, dan kelompoknya. <em>Naudzubillah min dzalik!</em> <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemimpin-pemimpin-hebat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peduli Dakwah, Kenapa Tidak?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/peduli-dakwah-kenapa-tidak</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/peduli-dakwah-kenapa-tidak#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Sep 2010 17:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3493</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 153/tahun ke-3 (18 Syawal 1431 H/ 27 September 2010) Sori bin maaf Bro en Sis, pas mau liburan kemarin nggak bilang-bilang dulu. Nggak ngasih pengumuman di edisi cetak. But, bagi kamu yang stay tune terus di edisi online-nya, gaulislam tetap terbit tanpa henti setiap pekannya. Lagian nggak ada alasan untuk nggak terbit tiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 153/tahun ke-3 (18 Syawal 1431 H/ 27 September 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sori bin maaf Bro en Sis, pas mau liburan kemarin nggak bilang-bilang dulu. Nggak ngasih pengumuman di edisi cetak. <em>But</em>, bagi kamu yang <em>stay tune</em> terus di edisi <em>online</em>-nya, gaulislam tetap terbit tanpa henti setiap pekannya. Lagian nggak ada alasan untuk nggak terbit tiap pekan. Sebabnya, gaulislam udah punya website, terus editor dan para penulisnya juga pada punya website, blog dan akun di facebook, jadi publikasi tulisannya bisa langsung deh di website, blog, dan akun facebook mereka. Belum lagi gaulislam punya kerjasama dengan banyak pihak, khususnya para pengelola website, jadi bisa naro naskah di manapun. Adapun edisi cetak, ini untuk memberikan kesempatan bagi kamu yang nggak bisa akses internet. Supaya bisa ngikutin juga manfaat yang ditebar gaulislam. Insya Allah.</p>
<p>Bro en Sis, akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan banyaknya informasi yang bikin umat Islam merasa terpojok. Abisnya, gimana dong, kasus di Ciketing, Bekasi, malah umat Islam di situ yang dituduh tidak toleran kepada umat agama lain, sampe-sampe ada lho mereka yang ngaku muslim malah merasa minder dan bela-belain agama lain. Padahal, mereka bukan orang yang tinggal di sana dan hanya tahu dari media massa. Jadinya gimana? Ya, jadinya ngawur,, ngasih judgement nggak pas. Tuduh sana tuduh sini. Seharusnya kan, lakukan investigasi, media massa juga wajib beritakan secara berimbang. Bagi kita yang ingin mendapatkan keputusan akurat, bawalah kasus itu ke pengadilan atau pihak berwenang sejenisnya untuk mengurus masalah itu. Setelah tahu duduk perkaranya, bolehlah kita menilai. Siapa yang salah, siapa yang benar, siapa yang berbohong, siapa yang jujur. Gitu lho.<span id="more-3493"></span></p>
<p>Eh, masalah itu belum beres, muncul kasus lain. Densus 88 Antoteror menembak mati beberapa orang dari gerombolan perampok Bank CIMB di Medan. Belum selesai penyelidikan dan penyidikan, kok tiba-tiba diberitakan bahwa perampokan itu adalah bagian dari aksi teroris Al Qaeda Aceh. Menurut cerita polisi (yang belum tentu benar itu), para teroris melakukan perampokan untuk membiayai perjuangan mereka. Lha, tahu dari mana? Parahnya, media massa juga bukan memberikan berita, tapi menuliskan cerita yang sumbernya juga cuma dari polisi. Walhasil, kasus ini diduga kuat merupakan rekayasa dan upaya pemberian cap negatif kepada kelompok tertentu, khususnya umat Islam. Waduh!</p>
<p><strong>Jangan ragu, dakwah tetaplah melaju</strong></p>
<p>Bro en Sis, berdakwah itu tugas mulia seorang muslim. Terlepas dari adanya kasus terbaru itu atau tidak, dakwah mah tetap wajib terus berjalan. Termasuk buat kita para remaja muslim yang shalih dan shalihah, jangan kendor dong semangatnya. Justru kita kudu buktikan bahwa tuduhan-tuduhan yang menyebutkan Islam sebagai agama teror dan umatnya gemar bikin teror adalah tuduhan keliru yang punya bapak salah alias keliru bin salah. Tuduhan yang ngaco, gitu lho.</p>
<p>Oya, ngomongin soal dakwah biasanya kamu langsung mengkerut dahinya. Hehehe.. pengalaman membuktikan bahwa remaja ogah deket-deket dengan dakwah. Tapi, gaulislam, buletin kesayangan kita semua ini, bakalan ngajak kamu bermain sambil belajar mengenal apa itu dakwah dan tentu saja menyarankan kamu semua untuk peduli dengan dakwah. <em>So</em>, pasti dakwah Islam, dong. Dan, harap dipahami, bahwa dakwah Islam nggak melulu tugas dan tanggung jawab para ulama atau ustad, lho. Tapi kita semua, sebagai muslim. Lagian, dakwah bukan selalu berarti harus disampaikan di depan forum besar, tabligh akbar atau sejenisnya. Nggak juga lho. Kamu menegur dan mengingatkan kawan kamu yang nggak shalat pun, itu adalah dakwah. Betul?</p>
<p>Mungkin kita pernah bertanya kepada diri sendiri: mengapa ada banyak orang yang mau bersusah payah mengingatkan orang lain? Mengapa ada begitu banyak orang yang rela kehilangan begitu banyak waktu hanya untuk menyampaikan kepada orang lain apa yang dipahami dan diyakininya? Mengapa selalu saja ada orang yang merasa harus peduli dan cinta kepada orang lain, sehingga ia merasa perlu untuk menegur dan menyadarkan? Apakah kita sudah punya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut?</p>
<p>Seorang teman pernah menyampaikan bahwa ia merasa hampa dalam hidupnya. Padahal, ia sudah mendapatkan segala cita-cita dan keinginannya. Ia sudah bekerja di sebuah perusahaan asing. Perusahaan yang setidaknya memberikan jaminan hidup yang lebih dari cukup. Ia pun berambisi ingin meraih gelar sarjana, maka ia kuliah meski dengan susah payah karena harus berbagi waktu dengan pekerjaannya. Beberapa tahun kemudian berhasil lulus. Keluarga? Ia bahkan sudah lebih dulu menikah ketimbang saya yang waktu itu masih luntang-lantung tak karuan. Keluarga? Ia sudah punya anak-anak dan istri yang siap menemani, mendampingi dan menghidupkan hari-harinya.</p>
<p>Tapi mengapa ia merasa hampa dalam hidup, padahal ia sudah berhasil meraih segala yang diangankan dan diinginkannya selama ini? Bukankah sebuah kebahagiaan ketika kita bisa berhasil meraih apa yang selama ini kita harapkan? “Memang bahagia, tapi rasanya belum lengkap,” begitu jawabnya suatu saat.</p>
<p>Ia lantas bercerita bahwa dirinya merasa iri dengan teman-temannya semasa sekolah dulu dan saat itu masih sering bertemu karena ada sebagian yang bekerja di kota yang sama dengannya. Ia sampaikan bahwa ia merasa tak berarti apa-apa di hadapan teman-temannya. Meski jika dibandingkan secara ekonomi, beberapa temannya tak seberuntung dirinya. Tapi ia tetap memendam rasa iri sekaligus rasa kagum kepada teman-temannya yang senantiasa istiqomah dalam dakwah. Sementara ia sendiri merasa bahwa hidup sekadar menikmati untuk diri dan keluarganya saja. Ia pantas merasa iri dan kagum kepada teman-temannya yang, meski dengan kondisi jauh lebih sederhana darinya, tapi mampu berbagi dengan orang lain. Meski kehidupan ekonomi teman-temannya terbilang biasa, tapi baginya adalah istimewa. Karena teman-temannya bisa berbagi tenaga, berbagi waktu, dan berbagi ilmu dengan sesamanya.</p>
<p>Kemudian, tak lama setelah ‘curhat’ kecil-kecilan itu, ia bertekad untuk membagi kehidupannya untuk orang lain. Ia sudah <em>azzam</em>-kan kuat-kuat dalam niatnya untuk terjun dan menyiapkan diri dalam barisan pengemban dakwah. Ia semangat mengkaji Islam dan tak kenal lelah mencari ilmu. Tak lama kemudian, dakwah telah menjadi pilihan hidupnya. Ia sudah menyiapkan segalanya untuk itu. Alhamdulillah. Tapi beberapa waktu lalu, terdengar kabar dari teman saya yang satu daerah dengannya. Kabar yang tak sedap tentang dirinya: ia futur dari dakwah. Innalillaahi. Mungkin ia belum sepenuhnya siap.</p>
<p>Sebelum bisa menulis seperti ini, sebelum bisa menyampaikan secara lisan kepada orang lain tentang Islam, saya termasuk orang yang cuek terhadap orang lain. Saya punya prinsip, “Urus diri sendiri, jangan campuri urusan orang lain. Dan yang terpenting: Jangan membuat susah orang lain”. Itu saja sudah cukup bagi saya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.</p>
<p>Tapi, ternyata prinsip itu runtuh seketika saat seorang teman mengajak saya untuk merenung tentang hidup. Saya termasuk kagum kepadanya karena di usianya yang masih remaja (waktu itu SMA kelas 2) sudah berani berbicara tentang bagaimana memiliki rasa peduli kepada orang lain, ia sudah dengan tegas menyampaikan bahwa dakwah adalah perjuangan antara hidup dan mati. Entah dari siapa dan bagaimana caranya ia mendapatkan prinsip tersebut. Yang jelas dan pasti, pikiran dan perasaannya sudah jauh lebih dewasa dari fisiknya itu sendiri. Saya salut kepadanya. Karena ia telah begitu serius menyiapkan diri di jalan dakwah. <em>Subhanallah.</em></p>
<p>Masih di tahun-tahun yang sama, awal tahun 90-an waktu itu, gairah mengkaji Islam di kalangan pelajar sangat semarak. Semangat mereka mampu membakar perasaan dan pikiran saya waktu itu. Saya bahkan merasa yakin, jika banyak anak muda yang memiliki semangat untuk mengkaji Islam, bukan mustahil bila Islam akan semakin banyak pendukungnya, pembelanya, dan pejuangnya. Akan banyak anak muda muslim yang berdakwah dengan semangat berkobar-kobar laksana api yang membakar. Ia akan mendidihkan pikiran dan jiwa sesamanya untuk bangkit bersama membela Islam.</p>
<p>Kini, sudah dua puluh tahun tahun sejak saya tercerahkan dengan Islam, kebanggaan saya kian memuncak, karena ada banyak generasi pembela dan pejuang Islam yang masih belia, yang ketika jaman saya seusia mereka masih senang main-main. Kini, semangat untuk mengemban dakwah mengalir sampai jauh ke generasi yang masih belia. Saya yakin, ini tidak jadi dengan sendirinya, tapi disiapkan oleh orang-orang yang punya semangat untuk menggerakkan segenap potensi yang dimiliki kaum Muslimin. Insya Allah, kemenangan Islam, bukan khayalan. Kemenangan Islam bukan juga mimpi atau ilusi. Tapi sebuah kenyataan. Insya Allah.</p>
<p>Jadi, yuk kita peduli terhadap dakwah. Sejak dari sekarang. Kalo kamu udah jadi anak ngaji dan aktif berdakwah, sebaiknya pedulimu terhadap dakwah makin kuat. Saya juga sama. Ingin lebih baik lagi kepeduliannya terhadap dakwah—termasuk tentunya terjun langsung dalam dakwah. Mari sama-sama saling peduli dan saling menguatkan. Sip deh, kalo barengan gini kan jadinya asik. Ok?</p>
<p>Oya, nih ada pesan bagus lho dari Ustad Aa Gym. Aa Gym, dalam narasi awal di salah satu lagu The Fikr bertutur: “jalan berliku, terjalnya tebing, curamnya jurang, bukanlah sesuatu yang mengerikan. Yang paling mengerikan adalah kehilangan keberanian untuk mengarungi kehidupan. Siapapun yang berani mengarungi kehidupan, dia harus menikmati hiruk-pikuk kesulitan, terjalnya masalah, dalamnya kepiluan, karena di balik semua itu tersimpan hikmah yang dalam. Bagi pencari kebenaran, kenikmatan adalah untuk terus mencari, mengarungi samudera kehidupan.”</p>
<p>Ayo, tetap semangat, Bro en Sis! Pasti! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/peduli-dakwah-kenapa-tidak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinetron: Yang Dibenci, Yang Dinanti</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sinetron-yang-dibenci-yang-dinanti</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sinetron-yang-dibenci-yang-dinanti#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 17:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[rating]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3490</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 152/tahun ke-3 (11 Syawal 1431 H/ 20 September 2010) Hari gini yang punya TV pasti nggak asing sama tontonan yang namanya sinetron. Sinema elektronik atawa sinetron –istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Bapak Soemardjono, salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ)-udah jadi menu sehari-hari yang buat sebagian orang kudu dinikmati. Mau yang sinetron [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 152/tahun ke-3 (11 Syawal 1431 H/ 20 September 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hari  gini yang punya TV pasti nggak asing sama tontonan yang namanya  sinetron. Sinema elektronik atawa sinetron –istilah ini diperkenalkan  pertama kali oleh Bapak Soemardjono, salah satu pendiri Institut  Kesenian Jakarta (IKJ)-udah jadi menu sehari-hari yang buat sebagian  orang kudu dinikmati. Mau yang sinetron sekali tayang habis ala FTV atau  yang <em>stripping </em>beratus episode ala Cinta Fitri ada penggemarnya  sendiri. Atau sinetron yang diimpor dari luar Indonesia kayak telenovela  yang asalnya dari Amerika Latin atau <em>soap opera </em>alias opera  sabun yang lahir pertama kali di Amerika, plus drama seri Asia yang  diisi akting para artis Korea, Taiwan, dan Jepang, semua makin bikin  warna sinetron di Indonesia beragam, banyak pilihan.</p>
<p>Banyak yang suka sama sinetron karena cerita sinetron yang bikin  orang penasaran. Tiap episode berakhir dengan cerita yang dibuat  ngegantung, bikin orang geregetan dan “nagih” untuk besok nonton lagi.  Plus juga pemain-pemainnya yang cantik-cantik en ganteng bikin tangan  makin nggak sanggup pencet <em>remote</em> pindah <em>channel.</em></p>
<p>Tapi ternyata nggak semua masyarakat merespon keberadaan sinetron  ini dengan suka. Ada juga sebagian masyarakat yang memilih untuk nggak  nonton sinetron apalagi yang produk dalam negeri. Bahkan ada yang sampai  bikin gerakan “Anti Sinetron”!<span id="more-3490"></span></p>
<p>Kalau dicek n crosscek ketidaksukaan sebagian masyarakat terhadap  sinetron wajar-wajar aja. Karena produk sinetron yang ada kebanyakan  emang nggak bikin orang tambah pinter ngeliat hidupnya dan hidup orang  lain. Nggak tambah bijak dan lihai untuk bisa ngejadiin diri cari solusi  untuk permasalahan hidup yang sedang dihadapi.</p>
<p>Loh kan sinetron emang bukan media pendidikan kan? Sinetron kan  emang peruntukkannya cuma untuk menghibur. Gitu sih ngelesnya. Iya sih.  Sinetron emang dibikin untuk menghibur, tapi kan bukan berarti melupakan  unsur pendidikan. Contohnya –ini contoh yang sering banget dipake,  karena selain yang ini nggak ada lagi yang lain hehe..- sinetron Kiamat  Sudah Dekat, Lorong Waktu, atau Para Pencari Tuhan. Lewat  sinetron-sinetron  tersebut banyak cerita keseharian ditampilkan plus  bagaimana contoh penyelesaiannya sesuai dengan syariat Islam. Orang  nggak ngerasa diguruin, nggak ngerasa diceramahin, tapi bisa dengan baik  bercermin.</p>
<p>Sayangnya nggak banyak sinetron yang semacam itu. Ada juga sih  sinetron yang mencoba tampil islami, apalagi seperti pada Ramadhan  kemarin. Tapi karena global idenya masih yang kebanyakan: perseteruan  karena warisan, harta, perempuan, dan mistis  hantu-hantuan, walhasil  nama Allah,  ayat-ayat Allah yang digunakan di tiap adegan jadi tampak  garing. Nggak ada “ruh” yang ditampilkan, bahkan bertentangan dengan  syariat Islam.</p>
<p><strong>Sinetron dihujat, rating tetap nanjak?</strong><br />
Nah, ini fenomena lain dari sinetron di tanah air.  Banyak kejadian  sinetron yang isinya dinilai banyak pihak nggak mutu tapi ratingnya  tinggi. Kesimpulannya, tontonan yang nggak mutu juga banyak penontonnya.  Berarti penontonnya juga banyak yang nggak mutu dong. Bisa jadi. Bener  nggak tuh? Harusnya bener kan? Glodak!</p>
<p>Tapi, ada temuan nih yang bilang kalo rating bisa juga direkayasa.  Rating yang jadi “tuhan” di jagad sinetron ternyata nggak melulu  presentasi dari pilihan penonton. Apalagi mengingat lembaga perating  tayangan televisi di Indonesia itu hanya diisi oleh AC-Nielsen yang asal  Amerika. Posisi monopoli  bisa memungkinkan segala praktek di luar  kelaziman karena nggak ada yang bisa kontrol.</p>
<p>Jadi nggak seutuhnya bener kalo sinetron <em>booming</em> karena  mengikuti keinginan pasar, keinginan masyarakat. Jangan-jangan  masyarakat lah yang dikondisikan untuk mau nerima sinetron dengan segala  jenisnya itu. Sama seperti dulu masyarakat yang semula nggak peduli  sama urusan gosip via layar kaca, sekarang malah ketagihan  infotaintment.</p>
<p>Nah lho! Kok bisa? Coba deh kita sama-sama teliti tulisan <em>Steven Sterk yang merupakan nama samaran dari </em>karyawan  yang sudah bekerja 6 tahun di AC Nielsen.  Teliti sebelum menyimpulkan,  dan teliti dengan menghubungkannya dengan fakta yang ada di hadapan.  Siap? Oke, ini dia.</p>
<p>Tujuh fakta di balik AC-Nielsen:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal  profesional yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan  sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang  sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia, yang sebagian  besar dari mereka adalah fresh graduated (sebagian besar adalah lulusan  statistik dan matematika). Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya  tidak benar-benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga  kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan  anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah jauh lebih murah dibanding  mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Bahkan  Hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen adalah para mahasiswa  yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan  efisiensi pada sumber daya manusia, mereka bisa lebih banyak mendapat  keuntungan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah  dan mahasiswa magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan  data. Terutama data-data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami  penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata-mata.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, untuk pemilihan demografis responden rating televisi  cenderung dilakukan dengan asal-asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan  pada sebaran datanya. Misalnya, untuk mengetahui berapa kecendrungan  pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah responden yang  seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi menengah  33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Dengan  model seperti ini, diharapkan angka rating yg didapat adalah lebih  obyektif. Namun pada prakteknya, AC Nielsen Indonesia banyak mengambil  data responden sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil mereka  sebagian besar adalah: ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak  mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang  kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain-lain. Hal ini  menjelaskan mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang  memiliki rating tinggi justru yang memiliki cita rasa rendah dan  apresiasi seni yang rendah. Seperti tayangan gosip artis, tayangan  mistik, film-film hantu, dan sinetron-sinetron picisan.</p>
<p>Tayangan-tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan  mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC  Nielsen. Kebijakan ini diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar  uang imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah  kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.</p>
<p><strong>Keempat</strong>,untuk pemilihan responden secara geografis juga  dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah  dilakukan dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan  sekitar lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta saja.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, sebagai imbalan (honor), responden rating hanya  mendapat souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,-saja per bulannya.  Sehingga responden cenderung ogah-ogahan untuk menjaga integritasnya.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang  menjadi responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau  maksimal selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden  baru. Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektivitas  data. Agar secara psikologis, <em>mood</em> responden tidak mempengaruhi  data selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan  bisa menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni  dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan  pemeriksaan ke lapangan.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak  mempunyai integritas. Dengan demikian, beberapa oknum televisi beserta  oknum AC Nielsen dapat memberikan “pesanan” kepada ratusan responden  sekaligus agar “memanteng” program televisi tertentu, agar hitungan  rating program tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang diajak  adalah sekitar 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden. dengan 700  orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari  total rating. Biasanya tiap satu kali “memanteng” (demikian sebutannya)  tiap responden meminta bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x  Rp 100,000,-, oknum pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp  70,000,000 saja per satu kali “manteng”. Dengan begitu angka rating  dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah  sebenarnya bagi para stasiun televisi.</p>
<p>Bro en Sis, saya dapetin data ini dari sebuah blog. Silakan cek di:  (http://illegalblogging.wordpress.com/2009/06/05/%E2%96%A0-kenapa-sinetron-picisan-bisa-masuk-prime-time-rating-palsu-ac-nielsen/)</p>
<p>Nah gimana menurut kamu setelah meneliti tulisan Steven  Sterk di atas? Nyium-nyium bau nggak sedap “rekayasa” atau “konspirasi”  kah? Hehehe … lebay ya pake bawa-bawa istilah konspirasi?  Apapun  istilahnya, fakta di lapang sinetron yang isinya nggak jelas tapi  ratingnya teratas emang nggak jauh dari apa yang dibeberkan oleh Steven.  Penyebabnya? Ya karena “ada main mata” antara pihak TV atau  PH dengan  AC Nielsen. Rahasia umum yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang  untuk dibilang bukan rahasia lagi.</p>
<p><strong>Behind the scene</strong><br />
Sinetron bisa ada di layar kaca pastinya dengan proses. Proses berlapis  yang melibatkan banyak pihak. Kalau bicara soal konten cerita ada tiga  pihak yang punya peran penting yaitu produser, sutradara, dan penulis  skenario, selain TV sebagai fasilitator.</p>
<p>Produser punya wewenang yang sangat besar  untuk nentuin mana cerita  yang lolos, mana yang harus direvisi dulu, mana yang harus langsung  masuk tong sampah. Penulis skenario jarang banget punya <em>bargaining position </em>untuk  menyampaikan argumentasi. Ya iyalah, karena produserlah  yang punya  fulus. Apalagi TV kadang punya permintaan-permintaan khusus ke PH  (produser) demi upaya penyelamatan rating. Ceritanya harus ditambah  porsi Si Tokoh X, dikurangin di bagian ini, yang bagian itu dihilangin  aja. Begini-begitu. Begitu-begini. Jadi, nggak ada tayangan sinetron  yang asli 100% eksekusi ide dari penulis.</p>
<p>Makanya jadi berat untuk para penulis idealis untuk bisa tetap mempertahan idealismenya, yang nggak pengen <em>keyboard-</em>nya  dinodai pembodohan masyarakat. Semua akhirnya runtuh di hadapan kapital  alias uang.  Hidup kan butuh duit. Keluarga mau dikasih makan apa kalau  nggak ada job nulis. Muncul dilema.</p>
<p>Kalau yang masih bertahan, pilihannya cuma dua. Mereka harus  berusaha lebih keras lagi, doa lebih khusyuk lagi untuk bisa nyantol  sama produser dan sutradara yang punya visi dan misi idealisme yang  sama, dan itu jaraaa&#8230;ng banget.  Atau banting stir nulis yang lain  yang dinilai itu bisa menyelamatkan misinya. Ya gitulah kapitalisme  bikin keinginan hidup yang lempeng jadi susah banget.</p>
<p><strong>Semua kudu bertanggung jawab </strong><br />
Masalah mutu tayangan TV di Indonesia termasuk sinetron nggak cuma jadi  tanggung jawab satu pihak.  Pemerintah, pengusaha televisi,  PH,  juga  masyarakat penonton punya porsi tanggung jawab masing-masing.</p>
<p>Bagi pengusaha televisi dan PH udah saatnya menginvestasikan  modal yang dimiliki untuk ikut mencerdaskan bangsa. Cerdas yang nggak  hanya ukuran duniawi, materi, tapi juga ukhrowi. Cerdas menjalani hidup  sebagai makhluk Allah Swt.: mampu mengurai permasalahan hidup  menggunakan penuntun yang sudah dianugerahkan Allah yaitu al-Quran dan  as-Sunnah dan mampu menghadirkan solusi itu buat orang lain juga.</p>
<p>Bagi masyarakat penonton, punya tanggung jawab untuk saling  mengingatkan demi saling meningkatkan kualitas diri. Kualitas sejati  sebagai hamba Allah yang peduli, bervisi  kebangkitan dan bermisi  perjuangan bersandar keimanan, seperti yang selama ini diupayakan oleh  buletin kesayangan kamu, gaulislam ini.</p>
<p>Tanggung jawab terbesar ada pada pemerintah sebagai pihak yang diamanahi  untuk mengayomi dan membina masyarakat. Sabda Rasulullah saw: <em>“Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.”</em> <strong>(HR Muslim dan Ahmad)</strong></p>
<p>Sudah saatnya para pemimpin negeri ini mengambil standar yang mapan yang  benar-salah, hitam-putihnya jelas dan terang yaitu syariat Islam.  Sehingga tayangan pun bisa disensor atau dinilai dengan benar-salah yang  juga terang. Menutup kemungkinan tumpulnya gunting sensor. Karena yang  jadi korban nantinya juga anak bangsa sendiri. Jika anak bangsa rusak,  negeri ini pun akan terpuruk. Dan, pastinya bukan itu yang kita semua  mau. <strong>[nafiisah fb: http://sastralangit.wordpress.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sinetron-yang-dibenci-yang-dinanti/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menapaki Jejak Ramadhan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menapaki-jejak-ramadhan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menapaki-jejak-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Sep 2010 17:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[idul fithri]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3486</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 151/tahun ke-3 (4 Syawal 1431 H/ 13 September 2010) Pekan ini, saat buletin remaja kesayangan kamu ini terbit, adalah hari keempat di bulan Syawal. Yup, edisi Senin tanggal 13 September 2010 adalah bertepatan dengan tanggal 4 Syawal 1431 H. Subhanallah. Nggak terasa ya, kayaknya minggu kemarin kita masih berada di bulan Ramadhan. Waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 151/tahun ke-3 (4 Syawal 1431 H/ 13 September 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Pekan ini, saat buletin remaja kesayangan kamu ini terbit, adalah hari keempat di bulan Syawal. Yup, edisi Senin tanggal 13 September 2010 adalah bertepatan dengan tanggal 4 Syawal 1431 H. Subhanallah. Nggak terasa ya, kayaknya minggu kemarin kita masih berada di bulan Ramadhan. Waktu itu, di sepuluh hari terakhir Ramadhan, kita menikmati semua fasilitas yang diberikan Allah Swt. untuk mengeruk pahala sebanyak mungkin di bulan penuh barokah. Seminggu kemudian, ya pekan ini, kita udah ada di bulan Syawal, bulan kesepuluh dalam hitungan tahun hijriah. Gimana, masih terasa kan indahnya Ramadhan? Masih terasa saat-saat nikmat beribadah? Insya Allah ya. Semoga jejak Ramadhan masih terasa bekasnya hingga saat ini dan pada bulan-bulan yang akan datang.</p>
<p>Bro en Sis, Ramadhan memang telah berlalu. Tak mungkin bisa kita minta kembali pada saat ini. Sebab, waktu memang hakikatnya adalah terus berjalan tanpa perlu menunggu kita siap atau nggak untuk ngikutinnya. Maka, berbahagialah bagi kita yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan bahkan sangat baik. Kita akui bahwa Ramadhan masih menyisakan kenangan, menyisakan segala pernik indah hari-hari penuh semangat ibadah. Berbagai kegiatan kita gelar. Semua aktivitas yang berpeluang mendapatkan pahala kita lakukan. Kadang, saking semangatnya, hujan tak peduli, malam tak kita takuti. Subhanallah. Berkah Ramadhan bisa memberikan energi bagi kita untuk memanfaatkan momen beribadah dengan sebaik-baiknya. Insya Allah, kita senantiasa berdoa agar apa yang selama ini kita kerjakan mendapat pahala yang setimpal di sisi Allah Swt. Allah Ta’ala berkenan pula mengampuni dosa-dosa kita sesuai harapan yang kita selalu penjatkan dalam bait-bait doa kita kepadaNya. Insya Allah.<span id="more-3486"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, hari ini kita sedang menikmati indahnya Syawal. Menikmati karunia Allah Swt. kepada kita semua untuk bisa bertemu di bulan bahagia. Saling bermaafan dan saling berbagi rasa cinta dengan sahabat dan juga keluarga besar kita. Buat yang mudik pasti punya pengalaman indah juga ya. Berkumpul dengan keluarga, dengan orang tua, bahkan teman lama yang berbilang tahun tak jumpa. Momen Idul Fitri kita manfaatkan dengan lebih baik. Semoga pula, shaum or puasa yang kita laksanakan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan berbuah takwa. Yup, menjadi orang-orang beriman yang bertakwa. (backsound: Lho, kok nulisnya orang beriman yang bertakwa? Bukankah kalo udah beriman harusnya juga takwa?)</p>
<p>Hmm.. gini deh, perlu diketahui bahwa orang yang beriman, belum tentu otomatis bertakwa lho. Itulah sebabnya, Allah Swt. dalam al-Quran menjelaskan bahwa perintah puasa Ramadhan yang diwajibkan kepada orang-orang yang beriman adalah untuk menjadikannya orang-orang yang bertakwa (coba deh bukan lagi al-Quran surat al-Baqarah ayat 183 ya). O gitu tah? Iya, karena di awal ayat tersebut Allah Swt. memang memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Kemudian diakhiri dengan kalimat: agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Itu artinya, antara iman dan takwa adalah dua hal yang berbeda. Waduh, kalo gitu ternyata berat juga jadi orang beriman ya. Sebab, beriman aja ternyata belum cukup kalo belum bertakwa. Semoga kita menjadi orang-orang yang beriman dan bertakwa ya. Insya Allah.</p>
<p><strong>Meraih takwa</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, takwa (taqwa) itu berasal dari kata <em>waqa</em>, <em>yaqii</em>, <em>wiqayah</em> dengan makna yang sejalan, sedang kata <em>muttaqin</em> adalah bentuk <em>faa’il</em> (pelaku) dari <em>ittaqa</em> suatu kata dasar bentukan tambahan (<em>mazid</em>) dari kata dasar <em>waqa</em> atau secara singkatnya <em>waqa-yaqi-wiqayah</em> yang artinya memelihara.</p>
<p>Ada juga yang membagi dua definisi taqwa, yakni pertama, hati-hati dan yang kedua meninggalkan yang tidak berguna. Ada juga yang mengatakan takwa itu mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan. Sementara <em>muttaqin</em> dapat diterjemahkan menjadi orang yang menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan.</p>
<p>Nah, secara keseluruhan kata <em>muttaqin</em> adalah menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan. Merugikan di sini yang dimaksud yaitu melindungi diri dari segala perbuatan yang mengandung kemaksiatan, syirik, kemunafikan dsb.</p>
<p>Allah Swt. berfirman (yang artinya): “<em>Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” </em><strong>(QS al-Baqarah [2]: 233)</strong></p>
<p>Bro, dalam al-Quran bisa kita temui perintah dan dukungan untuk melaksanakan ketakwaan. Nggak heran jika seruan agar kaum Muslim meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt. sering dilontarkan para khatib Jumat, dan para aktivitis dakwah lainnya pada berbagai kesempatan.</p>
<p>Syaik Abdullah Nashih Ulwan dalam kitab <em>Ruhaniyatud Da&#8217;iyah</em> menjelaskan mengenai hakikat takwa. Menurutnya, takwa lahir sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan <em>muraqabatullah</em>, merasa takut dengan murka dan azabNya, serta selalu berharap limpahan karunia dan <em>maghfirah</em>Nya.</p>
<p>Para sahabat dan <em>salafus shaleh </em>(orang-orang saleh terdahulu) yang memahami betul tuntunan al-Quran, mempunyai perhatian besar terhadap takwa. Mereka terus mencari hakikatnya. Mereka sering bertanya satu sama lain dan berusaha untuk mendapatkan jawaban tentang takwa. Dalam suatu riwayat yang sahih, disebutkan bahwa Umar bin Khattab ra bertanya kepada Ubai bin Ka&#8217;ab ra tentang takwa. Ubai menjawab, &#8220;Bukankah Anda pernah melewati jalan yang penuh duri?</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; jawab Umar.</p>
<p>&#8220;Apa yang Anda lakukan saat itu?&#8221; tanya Ubai lagi.</p>
<p>&#8220;Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati,&#8221; kata Umar.</p>
<p>&#8220;Itulah takwa,&#8221; kata Ubai.</p>
<p>Berkaitan dengan hal itu, Sayyid Quthb menuliskan dalam buku tafsir <em>Fi Zhilalil Qur&#8217;an,</em> “Itulah takwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan.”</p>
<p>Bro en Sis, ternyata takwa itu identik dengan kehati-hatian. Khawatir berbuat salah. Takut kepada Allah kalo kita berbuat dosa. Itu artinya, orang yang bertakwa sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Allah (<em>hablum minallah</em>), juga dengan sesama manusia (<em>hablum minan naas</em>), dan dengan makhluk Allah lainnya. <em>So</em>, apakah kita udah dapetin ketakwaan melekat erat dalam diri kita? Semoga ya. Dan, semoga pula bukan cuma di Ramadhan aja kita mendadak takwa. Tetapi takwa itu bisa awet berlanjut hingga akhir hayat kita. Insya Allah.</p>
<p><strong>Jejak indah dalam ibadah</strong></p>
<p>Hayo, siapa di antara kamu yang nggak puasa di bulan Ramadhan? Owh.. masa’ sih harus ditanya seperti ini? Hehehe.. kalem aja, Bro. Saya sekadar sedang menguji. Karena insya Allah saya tahu kok bahwa kamu&#8211;yang insya Allah beriman dengan benar&#8211;pasti melaksanakan perintah shaum atau puasa Ramadhan ini. Iya kan? Yup, saya sekadar ingin meyakinkan aja bahwa kamu baik-baik saja dan rela melaksanakan ibadah shaum ini. Kalo nggak shaum, duh kebangetan deh. Sebab, semarak Ramadhan cukup terasa di mana-mana: di rumah, di lingkungan tempat tinggal kita, di sekolah, di tempat kerja, di pasar, di mal, di jalan raya, di gedung-gedung pemerintahan, di mana saja. Ramadhan memberikan warna dan nuansa berbeda. Hampir semua orang memanfaatkan momen Ramadhan ini dengan beragam aktvitas bernilai pahala. Itu sebabnya, nggak usah kaget kalo selain ibadah puasa, juga ramai dengan tadarus al-Quran, sanlat, kajian keislaman di masjid-masjid bahkan di televisi dan radio. Semua ikut bergembira menyambut dan mengisi bulan Ramadhan dengan aktivitas yang bisa meningkatkan keimanan dan meraih pahala sebanyak mungkin.</p>
<p>Sungguh saya sangat terkesan dengan aktivitas yang dilakukan oleh banyak kaum muslimin. Shalat subuh berjamaah terlihat semarak. Masjid seolah sesak dengan membludaknya jamaah. Terutama di awal-awal Ramadhan. Begitupun dengan shalat dhuhur, ashar, maghrib dan isya. Hampir di semua masjid berbeda dari biasanya. Terutama dalam jumlah jamaah yang melaksanakan shalat lima waktu. Nggak ketinggalan juga shalat sunnah taraweh berjamaah di masjid, sangat antusias dilakukan kaum muslimin. Buktinya, hampir setiap malam masjid ramai dijejali jamaah yang ingin ‘ngalap’ pahala yang melimpah. Subhanallah. Sungguh indah ibadah di bulan Ramadhan. Pantas saja banyak kaum muslimin yang merindukan Ramadhan datang kembali di tahun depan.</p>
<p>Bro en Sis, meski demikian, tentu saja nikmatnya ibadah Ramadhan bukan sekadar untuk dikenang rasanya. Tidak. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa “napak tilas” perjalanan ibadah kita pada bulan Ramadhan agar semangatnya bisa ditularkan di bulan-bulan berikutnya di luar Ramadhan. Sayang banget kan kalo nikmatinya ibadah hanya dilakukan saat Ramadhan saja. Padahal masih ada sebelas bulan selain Ramadhan yang bisa kita isi dengan ibadah juga. Sehingga bila perlu Ramadhan terasa ‘sepanjang tahun’. Jejak indah ibadah di bulan Ramadhan terasa sepanjang tahun karena kita tetap semangat beribadah meski bukan lagi di bulan Ramadhan. Insya Allah.</p>
<p><strong>Masih ada noda di Ramadhan </strong></p>
<p>Sobat muda muslim, di balik indahnya beribadah di bulan Ramadhan, ternyata kita juga tidak menutup mata bahwa masih ada noda di Ramadhan. Tepatnya, masih ada cela yang ‘merusak’ kemuliaan Ramadhan. Apa itu? Rasa-rasanya kamu semua udah bisa tahu deh jawabannya. Yup, selama Ramadhan kita bisa menyaksikan acara televisi yang miskin manfaat, bahkan beberapa acara bisa dikategorikan melanggar syariat. Tak perlu menyebut nama program dan televisi yang menyiarkannya, insya Allah kamu semua pada tahu ya (kalo kamu merhatiin perkembangan tersebut tentunya). Ya, hampir selalu seperti itu dalam beberapa tahun terakhir ini. Ketimbang informasi penting yang berkaitan dengan pendalaman terhadap ajaran Islam, ternyata banyak acara yang malah menjauhkan hati dan pikiran kita dari mengingat Allah Swt., dan nikmatnya ibadah Ramadhan pun hilang begitu saja. Inilah pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan segera.</p>
<p>Coba deh kamu ingat-ingat, apa saja yang masih terasa menodai indahnya Ramadhan. Masih ingat? “Hmm.. banyak orang yang nggak puasa. Bener nggak?” mungkin ada di antara kamu yang menjawab seperti ini.</p>
<p>Owh.. tebakan kamu ada benarnya. Ya, saya sedih banget dan juga kesal. Banyak di antara kaum muslimin yang nekat nggak puasa. Buktinya, di hari pertama Ramadhan saja masih banyak warung yang buka di siang hari, meski harus pake hijab alias dihalangi kain untuk menutupi aksi para pelaku maksiat tersebut. Mungkin masih bisa ditolerir lah kalo jualannya di terminal bis antarkota. Sebab, untuk melayani mereka yang boleh tidak berpuasa karena sedang dalam perjalanan jauh. Tapi, ini warungnya di sekitar perumahan atau tempat di mana banyak orang yang tidak terkategori musafir. Itu kan sama aja dengan memberi peluang orang untuk nggak puasa. Iya nggak sih?</p>
<p>Selain itu, banyak juga remaja yang di bulan Ramadhan, justru pacarannya tetap hot. Halah, memang sih mereka pergi ke masjid. Tapi ternyata itu sekalian bikin janji untuk dilanjutkan dengan memadu asmara setelah taraweh atau jalan-jalan subuh dengan lawan jenis. Yee.. puasa sih puasa, tapi kok masih ngelakuin maksiat? Ingat lho. Memang aktivitas itu nggak bikin puasa kita batal. <em>But</em>, aktivitas tersebut berpeluang menjadikan kita nggak dapat pahala. Ih, jangan sampe deh. Ngeri en rugi euy!</p>
<p><strong>Bikin Ramadhan sepanjang tahun!</strong></p>
<p>Well, ini tentu bukan berarti menjadikan bulan Ramadhan jadi setahun. Duh, gimana jadinya. Sebulan aja nggak tahan, karena buktinya banyak yang nggak kuat puasa, gimana kalo sepanjang tahun? Hehehe… tentu ini bukan maksud saya mengharap Ramadhan sepanjang tahun, tapi kita ambil semangatnya dalam beribadah. Kalo di bulan Ramadhan kita beribadah seperti nggak kenal lelah, maka di bulan lainnya pun, diusahakan untuk tetap beribadah, bahkan bila perlu lebih banyak lagi karena nilai pahalanya nggak sebanding dengan ‘bonus’ pahala di bulan Ramadhan.</p>
<p>Bro en Sis, yuk mulai dari sekarang merencanakan hidup kita setelah Ramadhan ini. Pastikan kita memiliki konsekuensi takwa tadi. Yakni, menjadi hamba Allah yang takut kepadaNya, sehingga hanya mau mengerjakan perbuatan sesuai dengan tuntunan Allah Swt. dan RasulNya saja. Bukan aturan lain. Orang yang bertakwa juga akan memelihara lisan, hati, pikiran, dan perbuatannya agar tetap sejalan dengan Islam. Konsekuensi ini memang berat. Tapi, harus kita jalankan. Kalo memang kita ingin tunjukkin bahwa kita orang yang bertakwa. Jangan sampe deh takwa sekadar harapan kosong. Tetapi jadikan takwa sebagai penghias kehidupan kita sehari-hari dalam segala aktivitas.</p>
<p>Semoga semangat ibadah di bulan Ramadhan yang berhasil kita torehkan bisa kita ikuti jejaknya hingga sebelas bulan ke depan, meraih sebanyak mungkin pahala bagi bekal di kehidupan akhirat kelak. Iman kita bertambah, ilmu kita luas, sabar kita meningkat, rasa syukur kita makin kuat, keberanian kita kian kokoh, semangat dakwah kita makin bergelora, kecintaan kepada Islam terus membara. Subhanallah. Keinginan ini memang sulit diwujudkan, namun bukan berarti tidak bisa dilaksanakan. Iya kan? Kita bisa senantiasa berdoa kepada Allah Swt. dan menguatkan tekad untuk memperbaiki diri kita setiap waktu. Agar kita kuat menjalani sisa kehidupan kita di dunia ini, sehingga tetap semangat dan tetap istiqamah dalam kebenaran ISLAM. Allahu akbar! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menapaki-jejak-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebaran Sebentar Lagi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/lebaran-sebentar-lagi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/lebaran-sebentar-lagi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 17:37:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3479</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 150/tahun ke-3 (27 Ramadhan 1431 H/ 6 September 2010) Udah tradisi dan udah jadi kebiasaan kalo nyambut Idul Fitri harus pake yang ‘serba baru’!  Hm, bisa dibayangin ya, tiap jauh hari sebelum lebaran, semua pusat perbelanjaan full Sale alias diskon gede-gedean bahkan ampe Midnight Sale (tengah malem, bo!) yang akhirnya dipenuhin pembeli yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 150/tahun ke-3 (27 Ramadhan 1431 H/ 6 September 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Udah tradisi dan udah jadi kebiasaan kalo nyambut Idul Fitri harus pake yang ‘serba baru’!  Hm, bisa dibayangin ya, tiap jauh hari sebelum lebaran, semua pusat perbelanjaan <em>full Sale</em> alias diskon gede-gedean bahkan ampe <em>Midnight Sale</em> (tengah malem, bo!) yang akhirnya dipenuhin pembeli yang berjubel (awas copet!).  Toples kue baru, cangkir baru, mukena baru, kerudung baru, baju baru, sepatu baru, HP baru, kue-kue baru seabreg…semuanya dah serba baru!  Habis berapa duit tuh? Waduh…Jadi pada <em>shopaholic</em> alias gila belanja!</p>
<p>Belum lagi yang kudu mudik. Pasti pusing banget mikirin tiket or karcis. Kalo dapet sih ya udah <em>booking </em>jauh hari. Bahkan sebelum Ramadhan tiba udah <em>booking</em> di agen. Cuma ada aja yang <em>booking</em>nya pas Ramadhan ato mepet-mepet lebaran, padahal udah masuk <em>Peak Season</em>. <em>So</em>, pastilah kena harga mahhhaaal! Sementara nih pikiran cuma mikir kampung halaman en keluarga aja. Bikin ibadah jadi nggak khusyuk deh.</p>
<p>Nah, kayaknya di Indonesia nih kalo nyambut Idul Fitri kok justru paling heboh banget ya?  Tapi ya namanya juga hari rayanya umat muslim jadi ya kudu tetep disambut dengan gembira, cuma jangan berlebihan lah.  Itu aja kok.  <em>Cos,</em> berhasilnya shaum Ramadhan kita kan bukan dinilai dari yang serba baru yang kita pake pas lebaran tapi dari pemikiran en sikap kita terhadap segala sesuatunya apakah udah make Islam sebagai sudut pandang dan standar berpikir plus berbuat? Kalo belum? Nah, gagal maning dunk&#8230;<span id="more-3479"></span></p>
<p>Padahal nih ya, menjelang Idul Fitri yaitu 10 hari ketiga di bulan Ramadhan, waduh momen menjemput surga tuh buanyaak banget! Nah, kalo momen begini malah dipake buat <em>midnight sale, hunting</em> barang ke pusat-pusat perbelanjaan, kan sayaaang!</p>
<p><em>Ummul Mu`minin </em>‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> meriwayatkan kalo Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pada 10 terakhir Ramadhan: <em>“Adalah Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em><em>apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.”</em> (<strong>Muttafaqun ‘alaihi)</strong></p>
<p>Itu kan, Rasulullah…Pantes aja ibadahnya kenceng.  Wuups! Salah besar kalo ngiranya kayak gitu. Justru kita sebagai pengikut Rasulullah ya kudu ngikutin apa yang beliau contohin buat kita. Nah, bahkan ada empat keutamaan 10 hari terakhir Ramadhan nih. Gue kopas dari www.ikhwanmuslim.or.id. Cekidot, Guys!</p>
<p><strong>Pertama: </strong>Rasulullah<em> </em>serius tuh dalam melakukan amaliah ibadah yang lebih banyak dibanding hari-hari lainnya. Keseriusan dan peningkatan ibadah di sini nggak terbatas pada satu jenis ibadah tertentu saja, tapi semua jenis ibadah baik shalat, <em>tilawatul qur`an</em>, dzikir, shadaqah, dll.  Ya sayang ajah, kalo duit jajan habis cuma buat hal-hal yang nggak penting. <em>So</em>, jangan berat hati yah untuk bersedekah bahkan sampe berinfak. Ya siapa tahu kalo harta kamu cukup nisabnya, bisa sampe bayar zakat mal. Hehe..</p>
<p><strong>Kedua: </strong>Rasulullah bahkan sampe<em> </em>ngebangunin istri-istri <em>beliau</em> agar mereka juga berjaga untuk melakukan shalat, dzikir, dan lainnya. Yup, coz Rasulullah juga pengen supaya keluarganya meraih keuntungan besar pada waktu-waktu utama tersebut.</p>
<p><strong>Ketiga: </strong>Rasulullah <em>saw.</em><em> </em>ber<em>i’tikaf </em>pada 10 hari terakhir ini. Mau nyoba? Silakan. Kan, sekolah juga masih libur. Minta ijin deh sama ortumu buat i’tikaf di masjid.</p>
<p><strong>Keempat: </strong>Pada malam-malam 10 Terakhir ini sangat besar kemungkinan salah satu di antaranya adalah Lailatul Qadar. Suatu malam penuh berkah yang lebih baik daripada seribu bulan. Woow!</p>
<p><em>Allah Swt. bahkan nyatain dalam firmanNya</em><em>: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu? Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”.</em> (<strong>Al-Qadr: 1-5</strong>)</p>
<p><em>Ditambah lagi sebuah hadis</em><em> : “Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”.</em> <strong>(</strong><strong>H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 82)</strong></p>
<p>Bahkan temen gue , seorang muslimah asal Irlandia sono ngasih tips ngadepin lebaran dari message FB-nya: <em>“Spend the last 10 days worshipping Allah rather than trying to prepare for Eid! A day that is better than a thousand months is in these last 10 days. You can&#8217;t afford to miss this.”</em> Trus dia bilang lagi : <em>“Eid doesnt require loads of preparation. Dont fall into this trap! Keep it simple, and it will be blessed”.</em> Tuh kan, bener. Jangan berlebihan. Yang penting kualitas ibadah yang udah kita kerjain dan setelah Ramadhan tetep dilaksanain. Gicu Guys!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Udah capek</strong></p>
<p>Gue maklum deh kalo waktu shaum Ramadhan ternyata ada yang  masih tetep pada kerja. Jadi begitu nyampe rumah, udah tepar. Tapi walaupun gitu sebenernya ibadah-ibadah yang lain ya jangan ditinggal donk! Sebab, di bulan Ramadhan kan ibadah bukan cuma puasa doang. Justru shalat fardhu tetep! Tarawih, kudu! Baca al-Quran, harus!  Eh, ini malah molor, hehehe.  Iya iya capek.  Tapi kalo inget iklan obat vitamin neh “Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan.” Walopun ujung-ujungnya ya ngiklanin supaya puasa tetep fit kudu makan tuh vitamin, hehe.. Supaya tetep fit, ya bener minum vitamin tapi jangan lupa, makanan dan minuman juga kudu halal nan bergizi, banyak minum air putih en buah-buahan plus sunnah nabi juga diamalin. Itu tuh, makan kurma baik sewaktu sahur maupun buka puasa.  Catet tuh!</p>
<p>Sebenernya dalam ngejalanin shaum Ramadhan juga perlu trik khusus tuh supaya nggak terlalu lemes.  Yaitu, segera berbuka kalo tiba waktunya dan bersahur di akhir waktu.  Selain jaga makanan, aktivitas juga kudu tetep jalan.  Tapi kalo nggak terbiasa, ya memang kudu dibiasakan.  Mungkin awalnya dikit, tapi besok-besok jadi super sibuk ama agenda Ramadhan en jadi lupa tuh ama aktivitas yang nggak berpahala dan nggak berdosa alias mubah yang tak penting-penting banget. Misalnya ngabisin masa shaum Ramadhan dengan maen game online, PS, nonton DVD, de el el.  Masih banyak kan aktivitas yang status hukumnya fardhu en sunnah.  Contoh, mengkaji Islam bareng gaulislam or para Pembina Pesantren Ramadhan di sekolahmu, ngebantu ortu, ngadain acara-acara yang bermanfaat misalnya training menulis, jurnalis, motivasi dll.</p>
<p>Bro en Sis, kalo di kampus gue, awal Ramadhan malah dipake buat Ospek Mahasiswa Baru lagi! Mampusnya lagi, gue perwakilan civitas akademika ditunjuk jadi koordinator P3K. Waduh, nyawa anak orang nih jadi tanggungan. Serasa jadi aktivis relawan kemanusiaan deh.  Cuma nih, nggak ngenakin banget yah kalo penyebab sakit dan dirawat di P3K cuma karena dibentak-bentak ama senior (Ckckck..). Akhirnya, efek psikologis dari dibentak-bentak gitu adalah mual dan pusing dan akhirnya ya kudu buka shaum deh berhubung udah puyeng dan mualnya nggak alang kepalang ampe bikin bodi panas dingin. Selain itu senior juga ada yang sesak nafas en pingsan juga.  Kesian kesian… Tapi walopun puasa, tim kami (saya dibantu mahasiswa dan tim dinkes) tetep siap kok. Semangat!</p>
<p><em>So</em> ? Nah, maksud gue tuh jangan ampe shaum Ramadhan kita cuma menahan lapar dan haus doang.  Tapi hawa nafsu juga. Kelakuan juga. Rasulullah yang dijamin masuk surga aja ibadahnya kenceng, akhlaknya keren, imannya pun nggak diragukan lagi berhubung beliau memang diutus Allah sebagai ‘Messenger’ bagi umat manusia, nah kita-nya?</p>
<p>Itulah, guys.  Maksud gue lagi, ya ironis aja kalo di bulan Ramadhan para pembawa acara infotainmet juga dialog-dialog di tv-tv swasta tuh cewek-ceweknya baju-bajunya pada maksimal nutupnya. Kalo udahan Ramadhannya? Eh, kembali lagi ke asal.  Kok jadi maenin hukum Allah gitu yah? Terus di bulan Ramadhan ada yang ngejaga banget, ampe pacarannya libur dulu (hehe, kayak sekolahan aja pake libur), tarawih nggak pernah absen, ngaji al-quran juga..yah iyalah, kan buat diisi ke dalam cek list.  Jaim dunk ama guru agama. Jaman gue sekolah dulu tuh ada cek list gitu..</p>
<p>Eh, Ramadhan bubar, kenceng lagi pacarannya.Ngaji al-Qurannya udah pada lupa, tergantikan ama aktivitas ekskul en sekolah. Hm..udah capek? Masa’ pengen masuk surga, capek mulu&#8230;(hehe).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Udah kelar</strong></p>
<p>Yup, akhirnya Ramadhan bakal kelar juga.  <em>Coz</em>, memang cuma dikasih jatah 29 hari ama Allah.  Kalopun lebih, paling juga cuma 1 hari. Jadi digenapin 30 hari. Biasanya itu dlakukan jika ru’yatul hilal Syawal nggak terlihat dari belahan bumi mana pun dan hilalnya tertutup awan. <em>So?</em> <em>Have fun with family, Guys! </em> Silaturahmi deh, insya Allah bakal memperbanyak rejeki. Bagi yang udah berpenghasilan or punya rejeki rada banyakan, bagi-bagi dunk ama sodara-sodaranya yang nggak berpunya. Maaf-maaf’an? Ya nggak salahnya sih. Tapi, besoknya jangan balik cari-cari masalah lagi loh.  Gara-gara saling ejek, ada yang sensi. Kebakar aja tuh hati n berantem lagi. Wuadu! Semoga Ramadhan membuat kita makin dewasa.</p>
<p>Kembali ke fitrah kembali kepada kesucian. <em>So?</em> Tua-muda teteplah kudu introspeksi diri.  Jangan ampe maksiat yang dulu-dulu dilakuin lagi. Kalo udah berubah dalam kebaikan, kita doain bareng-bareng yah supaya tetep <em>istiqomah </em>dan <em>husnul khotimah</em>. <em>Amiiin ya rabbal’alamin.</em></p>
<p>Akhir kata: <em>Taqabalallahu mina wa minkum.  Shiyaamanaa wa shiyaamakum</em>. Mohon maaf atas segala kesalahan.  Semoga Allah menerima seluruh amal kita semua. <strong>[Anindita: e-mail : thefaith_78@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/lebaran-sebentar-lagi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Industri Ramadhan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/industri-ramadhan-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/industri-ramadhan-2#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 17:18:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3473</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 149/tahun ke-3 (20 Ramadhan 1431 H/ 30 Agustus 2010) Suatu siang di kota Hujan, gue berada di antara ribuan angkot yang berjubel memenuhi jalanan. Gue kejebak macet di Pasar Anyar. Di tengah macet parah, gue melamun. Sambil mata gue ngeliat keluar angkot dan gue dapatin sederet pedangang lengkap dengan barang dagangannya, berusaha memikat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 149/tahun ke-3 (20 Ramadhan 1431 H/ 30 Agustus 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Suatu siang di kota Hujan, gue berada di antara ribuan angkot yang berjubel memenuhi jalanan. Gue kejebak macet di Pasar Anyar. Di tengah macet parah, gue melamun. Sambil mata gue ngeliat keluar angkot dan gue dapatin sederet pedangang lengkap dengan barang dagangannya, berusaha memikat pembeli, dan selalu aja ada orang yang mampir atau paling tidak milih-milih dan cuma nanya harga doang. Beberapa saat kemudian baru gue nyadar ternyata emang ada yang beda dengan pemandangan ini. Jumlah barang yang didagangkan lebih banyak, jumlah orang yang lalu lalang juga lebih banyak, macem/jenis dagangan juga lebih bervariasi. Jelas banget kalo pasar yang tiap hari gue lewatin ini, emang sekarang nampak lebih hidup. Nggak ada yang istimewa akhir-akhir ini, kecuali&#8230; sekarang bulan puasa, iya bulan puasa!</p>
<p>Hmm… jadi inget gue obrolan dengan temen soal keberhasilan doi jualan HP dengan keuntungan per unit yg cukup lumayan, plus perkembangan dagang dia dan rencana-rencana ke depan. Masih inget juga berita pagi ini soal harga sembako yang beranjak melangit, dan yang paling gress adalah harga tiket yang naik ugal-ugalan dibanding tahun kemaren. Hei guys, <em>this all happened during</em> Ramadhan. Ya ini adalah kondisi klasik Ramadhan di negeri kita. Sepertinya tidak ada yang baru dari fakta yang gue sodorin, karena emang kita udah biasa banget ngadepin suasana seperti ini. Menyedihkan ya? Loh kok menyedihkan?<span id="more-3473"></span></p>
<p><strong>Kapitalisasi dalam agama kita</strong></p>
<p>Gue yakin kapitalisme bukanlah kata baru lagi bagi kamu, tapi mari kita samakan pemahaman dulu sebelumnya. Kapitalisme gue definisikan sebagai sistem ekonomi dimana produksi barang dilakukan oleh individu/private (bukan negara) dan dilakukan semata untuk tujuan profit. <em>Supply dan demand</em>, harga dan investasi semuanya juga dikendalikan oleh sektor private (bukan negara) dalam sebuah pasar bebas (pasar dengan persaingan bebas tanpa aturan).</p>
<p>Melonjaknya harga hampir pada semua sektor, perputaran uang yang lebih cepat, pergerakan sektor riil di pasar-pasar tradisional mengindikasikan bergairahnya pasar, meningkatnya <em>demand</em> (permintaan) masyarakat yang pada kahirnya memicu kenaikan harga berantai. Bila harga menjadi tinggi, beban hidup yang harus diemban masyarakat juga semakin berat dan susah. Menyedihkannya kondisi ini terjadi setiap tahun, ketika Ramadhan, Bro!</p>
<p>Kapitalisme diam-diam telah mencemari suasana khusyuk Ramadhan kita. Bulan yang seharusnya mengajarkan kita bagaimana menghargai rasa lapar dan haus. Bulan dimana kita ditempa untuk mampu mengendalikan diri dengan lebih baik, ternyata malah sebaliknya. Statistik menunjukkan tingkat konsumerisme masyarakat kita yang melonjak tajam, justru selama bulan Ramadhan. Keuntungan mengalir bak air bah ke pemilik modal kuat, dimana mereka telah mempersiapkan diri untuk mengkapitalisasi Ramadhan.</p>
<p>Hingar-bingar industri Ramadhan merambah juga sektor media elektronik, hal ini ditandai dengan banyaknya stasiun TV yang me-<em>launching</em> program special Ramadan. Dari program yang bersifat religi, film hingga komedi digelar bak dagangan di pasar pagi. Setiap hari acara-acara inilah yang menemani sebagain besar muslim di Indonesia dalam melalui waktu sahur dan buka puasa kita. Hampir bisa dipastikan selama sahur dan buka puasa, TV dinyalain, entah ditonton atau tidak, di jutaan rumah muslim di Indonesia. Dengan kondisi semacam ini, stasiun TV memiliki kesempatan emas untuk bisa mencetak box office dari program/acara yang mereka tayangkan, yang pada akhirnya membawa keuntungan besar bagi stasiun TV dari para pengiklan yang berebut jatah tayang iklan walaupun dengan harga premium.</p>
<p>So, nggak heran kalo selama Ramadhan, penjualan baju dan aksesoris muslim juga meningkat. Tradisi menggunakan baju baru selama lebaran, emang nggak ada matinya. Artis, politikus dan para pelakon TV pun seketika didandanin islami selama bulan Ramadhan. Acapkali para <em>public figure</em> ini, menggunakan momentum Ramadhan untuk mengenalkan “trend fasion” baru. Kalo kamu udah berencana bakal pake baju koko lengan pendek, dipadu dengan sandal model ‘croc’ dan tentengan HP QWERTY, gue jamin, tahun ini kamu bakal mati gaya abis, karena emang gaya seperti ini yang lagi laku banget saat tulisan ini dibikin. Bisa kebayang nggak kalo 50% aja muslim pake gaya beginian waktu lebaran, boring banget kan ngelihatnya? Inget, Allah saja menciptakan setiap manusia unik, alias nggak ada yang sama. So, kamu nggak perlu ikut-ikutan deh. Karena gue yakin nggak ada satupun sobat gaulislam yang pengen tampilan lebarannya “pasaran” banget kan?</p>
<p><strong>Pelajaran Ramadhan</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, emang kesel, risih, gemes, sebel dan entah kosakata apalagi untuk menggambarkan keprihatinan kita tentang kondisi kaum muslimin saat ini, khususnya di bulan suci Ramadhan. Gimana nggak kesel, gimana nggak sebel, kalo Ramadhan nggak bisa membekas dalam kehidupan kita. Cuma numpang lewat dalam hidup kita. Kalo pun kita berupaya menyambutnya, tapi itu pun sekadar “dalam rangka”. Jadi ketika Ramadhan berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Bah!</p>
<p>Ramadhan mengajarkan pada kita untuk mampu mengendalikan diri, mengendalikan rasa haus dan lapar yang merupakan ‘basic needs’ manusia, juga mengendalikan hawa nafsu yang sebagian besar melekat pada kenikmatan dunia. Pelajaran utama Ramadhan adalah untuk mengendalikan ‘keduniaan’ kita untuk lebih fokus pada akhirat kita. Dalam kenyataannya, yang terjadi adalah kita justru lebih terfokus ke hal-hal duniawi selama bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Sehingga muncul pertanyaan besar, bagaimana kualitas keislaman kita? Apakah layak kita disebut sebagai muslim yang kuat? <em>To be honest</em>, kita sangat lemah Bro!</p>
<p>Selama Ramadhan seharusnya tingkat konsumsi kita menurun, karena makan dibatasi dan ketika kita ‘lemes’ keinginan lainnya pun menjadi berkurang. Kalo kita puasa, seharusnya perut kita jadi lebih kecil (cepet kenyang) bukan malah sebaliknya. Selama Ramadhan fokus kita lebih banyak ke akhirat, bukan malah sebaliknya. Jadi dalam kondisi yang ideal, selama Ramadhan, harga-harga menjadi lebih murah (turun) karena demand berkurang, acara TV juga berkurang jam tayangnya karena orang pada males nonton TV, karena lebih seneng ke mesjid dan pengajian.</p>
<p>Ramadhan juga mengajarkan ketika manusia mulai menginjeksi tradisi baru dalam agama ini, seabrek masalah pun mucul. Kalo kita tengok kembali ajaran tentang Ramadhan bukanlah seperti yang kita rayakan selaman ini. Nggak ada tuh perintah untuk pake baju baru selama lebaran. Nggak ada perintah dalam agama ini untuk ngabuburit ataupun sekatenan di Jawa. Nggak ada juga perintah menjual dan nyalain petasan. Bro en Sis, ketika tradisi sudah disandingkan dengan syariat, maka kehancuranlah yang akan terjadi.</p>
<p>Kehancuran yang disebabkan percampuran antara yang haq dengan yang bathil bukanlah hal yang baru. Berapa banyak kaum terdahulu yang mengalami kehancuran disebabkan mereka mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil? Ingatlah: <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”</em> <strong>(QS al-An’am [6]: 82)</strong></p>
<p><strong>Khulasooh (alias kesimpulan)</strong></p>
<p>Bro en Sis, kondisi Ramadhan tiap tahun yang kita lalui cukuplah menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk sadar bagaimana lemahnya keislaman kita. Wasapadai semua hal yang ditambahkan ke dalam agama ini, baik yang dianggep sebagai tradisi ataupun budaya. Kalo hal itu nggak bertentangan emang nggak masalah. Cuma nggak semua yang tidak bertentangan tersebut tidak bermasalah pada akhirnya. Tidak mudah mengubah budaya Ramadhan di Indonesia, apalagi budaya yang telah diwariskan turun temurun. Allah berfirman (yang artinya): <em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”</em> <strong>(QS al-Baqarah [2]: 170)</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, memang kaum muslimin nggak salah-salah banget dalam kondisi ini. Karena kelakuannya pun lebih banyak disetir oleh sistem kehidupan saat ini. Sistem kehidupan kapitalisme-sekularisme yang udah berurat-berakar ini menjadikan kaum muslim banyak yang nggak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Banyak di antara kita yang lebih patuh dan ridho diatur oleh kenyataan saat ini, ketimbang mempertahankan akidah Islam kita. Itu sebabnya, nggak berlebihan dan memang pantas dan pas kalo kita mulai mencintai Islam. Ramadhan ini saat yang ideal untuk <em>come back</em> kepada Islam. Mempelajarinya, memahaminya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan lupa juga,supaya lebih mantap, apa yang udah kita pelajari, sampaikan lagi deh ke teman-teman yang lain agar mereka juga jadi ikutan sadar. Syukur-syukur malah jadi lebih baik lagi penguasaan ilmu dan wawasan islamnya. Ok?</p>
<p>Bro en Sis, berhentilah menambahkan tradisi nggak berguna kedalam Agama kita. Tidak perlu kita mengulangi kesalahan yang sama seperti kaum-kaum sebelum kita. Wapadai komersialisasi selama Ramadhan, jangan mau kita dijadikan obyek eksploitasi.</p>
<p>Mari kita retas Ramadhan dengan cara yang benar, sesuai yang maksud oleh syariat Islam. <strong>[aribowo: aribowo@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/industri-ramadhan-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nggak Virgin Nggak Ok!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nggak-virgin-nggak-ok</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nggak-virgin-nggak-ok#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 00:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keperawanan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[virgin]]></category>
		<category><![CDATA[virginitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3464</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 148/tahun ke-3 (13 Ramadhan 1431 H/ 23 Agustus 2010) Sori Bro, di bulan puasa gini ane kudu nulis masalah virginitas. Sekali lagi harap dipersori ya. Soalnya ente kan juga puasa. Khawatir kalo bahas ginian jadi langsung ngerumpi deh ama temen-temen ente ngomongin soal ini, ujung-ujungnya bukan buka bersama tapi batal puasa bersama. Padahal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 148/tahun ke-3 (13 Ramadhan 1431 H/ 23 Agustus 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Sori Bro, di bulan puasa gini ane kudu nulis masalah virginitas. Sekali lagi harap dipersori ya. Soalnya ente kan juga puasa. Khawatir kalo bahas ginian jadi langsung ngerumpi deh ama temen-temen ente ngomongin soal ini, ujung-ujungnya bukan buka bersama tapi batal puasa bersama. Padahal kan kalo puasa kata temen ane nih, kudu ngomongin atau bahas seputar puasa dong. Tapi ane sih berpikirnya sederhana aja. Nggak ada larangan kok kalo kita bahas tema selain puasa meski lagi bulan Ramadhan. Iya nggak sih? Sebab, yang penting isinya ngajak kepada kebaikan, ada pesan takwanya, ada pesan sponsor dari Islam sebagai ideologi kita. Ok? Sip deh.</p>
<p>Tulisan di buletin gaulislam edisi ini sengaja ane pilih dengan tema virginitas. Sebabnya, sekarang banyak remaja putri yang lemah iman dan pergaulannya naudzubillah udah menganggap bahwa virginitas bukanlah hal penting. Ada sayup-sayup terdengar sampai ke meja redaksi nih, bahwa banyak remaja putri (di Bandung khususnya) yang berprinsip: “Virgin nggak ok!” Waduh, berarti itu artinya ngeledekin yang masih virgin dong ya. Makin bermasalah karena yang ngomongin adalah remaja putri yang masih duduk di bangku SMA. Naudzubillah banget deh. Wajar kalo sekarang angka aborsi meningkat, karena pergaulan bebasnya juga makin marak. Nggak heran kalo kehamilan tak diinginkan kian sering terdengar beritanya, karena banyak remaja putri yang gampangan diajak berzina. Jangan kaget kalo “keong racun’ berkeliaran karena “tokek racun”-nya juga gampang dicari. Hehehe.. sori bukan ane latah ikutan trennya si Jojo ama Sinta, tapi nih fakta emang bikin miris, Bro en Sis. Ente semua pada paham deh kayaknya.<span id="more-3464"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, mengapa banyak remaja yang tak lagi menghargai dan merasa harus peduli dengan kehormatannya? Hmm.. susah juga ane menjawab nih. Tetapi sejauh yang ane terawang, nih masalahnya ada pada banyak faktor, baik faktor internal anaknya itu sendiri, juga faktor eksternal dari keluarga, lingkungan dan pergaulannya secara umum. Problem besar dan berat, Bro. Tak semudah menggulingkan traktor.</p>
<p>Jaman ane sekolah dulu (duluuuu banget), sebelum internet marak dan stasiun televisi jumlahnya bejibun seperti saat ini, fakta bahwa ada pergaulan bebas sampe seks bebas sudah ada lho. Meski tak semarak sekarang. Jujur aja ane kaget baru-baru ini saat ngisi ekskul [menuliskreatif] di sebuah sekolah dasar, peserta ekskul yang cowok—tentu masih bau kencur alias belum baligh—malah lancar nyeritain kasus video mesum bin porno selebritis (nih anak sering nonton infotainment kali ye?). Seorang siswa lainnya malah dengan sangat atraktif menceritakan praktik pacaran—konon dia menceritakan itu  kisah teman-temannya . Hmm.. masih SD gitu, lho. Astaghifrullah aladhim.</p>
<p>Bro en Sis, kasus anak SD yang nyerocos soal berita video porno dan soal pacaran itu ketika mereka ane minta menceritakan kisah apa saja yang pernah dialami atau yang berkesan dimana nantinya kisah-kisah itu bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Di luar dugaan mereka ternyata melahap juga informasi yang berkaitan dengan info-info yang betebaran di media massa. Waduh, berarti tugas orang tua makin berat aja nih, terutama untuk melindungi anak-anaknya agar tidak terkontaminasi dari virus liberalisme saat ini. Khususnya dari informasi yang tak layak dikonsumsinya. Sebab, gimanapun juga, hal itu akan mempengaruhi kepribadian mereka.</p>
<p><strong>Internet ‘memicu’ maraknya gaul bebas</strong></p>
<p>Teknologi informasi sebenarnya nggak salah-salah amat. Sebab, yang salah adalah yang menggunakannya untuk penyimpangan. Adanya internet memang bagai pisau bermata dua: untuk menunjang kebaikan, juga bisa sekaligus menjadi jalan keburukan. Bahkan sangat boleh jadi efeknya lebih dahsyat.</p>
<p>Teknologi internet ini juga bukan berarti steril dari informasi asusila. Apalagi kebebasan berinternet di banyak negara memang nggak dibatasi. Itu sebabnya, informasi macam pornografi juga hadir di internet. Bahkan pornografi di internet lebih parah lagi. Karena bebas diakses dan privasinya lumayan terjaga. Bisa diam di kamar, nyalakan komputer langsung konek ke internet. Bisa juga pergi ke warnet. Bisa dikunjungi kapan saja. Tentu selama servernya nggak ngadat. Meski jaraknya jauh sekalipun. Itu sebabnya, internet ini ibarat kampung besar. Situsnya ada di Amerika, tapi bisa diakses dari Bogor. Mudah, cepat, murah pula. Gambarnya bisa di-<em>download</em>, isi ceritanya bisa di-<em>save</em>. Nah lho.</p>
<p>Sori ye, ini bukan ngajarin atau ngasih tahu supaya melakukan kunjungan ke situs “begituan”. Sekadar ngasih info bahwa kalo berburu informasi yang bermanfaat sama cara kerjanya dengan berburu informasi sampah. Cara kerja sama, isinya yang beda. Pilihan tentu ada di tanganmu. Lengkap dengan konsekuensinya dong, Iya nggak? Cuma masalahnya, apa pantas kita sebagai Muslim jadi pelanggan tetap situs porno?</p>
<p>Maraknya situs porno, tentu menjadi tambang uang bagi pengusaha yang menginvestasikan duitnya di bisnis situs porno itu. Untuk pengelola situs porno yang serius, mereka memang jual-beli. Entah gambar atau video porno dari internet. Pengguna internet tentu kudu bayar.</p>
<p>Yup, kini teknologi itu dalam genggaman. Ponsel kini bukan sekadar untuk SMS-an dan nelepon doang, tapi sudah bisa untuk internetan. Bisa nyari teman di dunia maya melalui situs jejaring sosial, misalnya. Tentu hal ini berpeluang memberikan efek samping yang negatif.</p>
<p>Kalo dulu orang harus susah payah ngintip dengan mata langsung ke kamar mandi untuk melihat orang yang sedang mandi demi memuaskan nafsu seksnya, kini kamera pengintai bisa mempermudah. Bahkan saking canggihnya ponsel berkamera dan mampu merekam, kita malah bereksperimen dengan benda itu untuk membuat klip video. Termasuk video porno sekali pun. Celaka lagi jika kemudian ditransfer ke komputer via <em>bluetooth</em> atau kabel USB, dan selanjutnya klip porno itu, atau foto pose syuur itu, akan berseliweran di dunia maya dan bisa diakses oleh banyak orang.</p>
<p>Oke, nafsu mesum memang nggak berubah. Sejak dulu udah ada. Tapi kini sarana untuk mengekspresikannya udah sedemikian canggih, sehingga sangat membahayakan. Jelas, ini udah mengubah gaya hidup kita.</p>
<p>Sobat, tentu saja nggak semua hasil perkembangan teknologi ini buruk. Banyak juga beragam kebaikan yang bisa dicapai dan diraih berkat teknologi informasi lengkap dengan perubahan gaya hidupnya. Seperti misalnya memanfaatkan teknologi ponsel dan internet untuk berdakwah. Jelas hal itu udah mampu merevolusi cara kita berkomunikasi dalam meyampaikan dakwah dan mengubah gaya hidup kita dalam menikmati teknologi komunikasi tersebut untuk kebaikan. Tapi anehnya, mengapa lebih banyak orang bereksperimen menggunakan teknologi ini untuk hal yang buruk dan maksiat? Ah, di sinilah perlunya faktor keimanan dan akidah Islam yang kuat. Iya nggak, Bro? Yup, emang kudu kuat menahan godaan yang nyaris setiap hari kita dapatkan.</p>
<p><strong>Jangan dekati zina</strong></p>
<p>Allah Swt. menegaskan pengharamannya dalam firmanNya (yang artinya): <em>“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-orang yang bertaubat &#8230;” </em><strong>(QS al-Furqan [25]: 68-70)</strong></p>
<p>Sobat, dalam kamus virgin itu bermakna keperawanan. Artinya, tak pernah melakukan seks. Dalam <em>Encarta Dictionary Tools</em> misalnya, virgin diartikan sebagai: <em>somebody, especially a woman, who has never had sexual intercourse</em>.</p>
<p>Dalam <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> perawan adalah: belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; masih murni (tt anak perempuan). <em>(KBBI, 2003, hlm. 855)</em></p>
<p><em>Boys and gals</em>, dari pengertian menurut kamus tersebut, tentunya kita harus berhati-hati dengan kelamin kita. Nggak boleh diobral dan dijajal or diujicoba sebelum waktunya, yakni sebelum menikah. Pemuasan hawa nafsu melalui kelamin masing-masing hanya halal setelah adanya pernikahan di antara kalian. Kalo belum terikat pernikahan? Itu namanya perzinaan. Dosa besar. lho.</p>
<p>Dalam sebagian jalan (riwayat) hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam <em>Shahih Bukhari</em>, bahwa Nabi saw. bersabda: <em>“Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berzina.”</em> Ih, <em>naudzubillahi min dzalik.</em></p>
<p><em>So</em>, sebenarnya yang nggak ok tuh yang nggak virgin. Islam sangat menghargai kehidupan manusia. Maka, dalam kehidupan cowok-cewek ada aturannya yang jelas dan ketat. Kalo sekarang ada sebagian remaja putri yang terjun bebas mengobral keperawanannya (dan tentu saja dalam waktu yang bersamaan anak cowok udah ngobral keperjakaannya), ini udah musibah besar, Bro. Jangan sampe terjadi lebih banyak lagi yang seperti itu. Jangan punya prinsip kepalang basah sehinga teriak: “virgin nggak ok!”. Tapi sebaliknya hrus berani bilang: “nggak virgin nggak ok!” Sip deh! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nggak-virgin-nggak-ok/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngaku Mukmin? Akan Diuji, Lho!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ngaku-mukmin-akan-diuji-lho</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ngaku-mukmin-akan-diuji-lho#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 17:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3457</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 147/tahun ke-3 (6 Ramadhan 1431 H/ 16 Agustus 2010) Hmm.. kebagian juga jatah nulis di buletin gaulislam. Ya, lumayan buat isi kegiatan sehari-hari gue yang kurang produktif akhir-akhir ini. Maklum, setelah keluar dari tempat kerja, gue keseringan tidur, makan, ngopi, main, dan tentu nggak lupa ibadah. Lumayanlah, nggak kayak Patrick Star lagi gue [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 147/tahun ke-3 (6 Ramadhan 1431 H/ 16 Agustus 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Hmm.. kebagian juga jatah nulis di buletin gaulislam. Ya, lumayan buat isi kegiatan sehari-hari gue yang kurang produktif akhir-akhir ini. Maklum, setelah keluar dari tempat kerja, gue keseringan tidur, makan, ngopi, main, dan tentu nggak lupa ibadah. Lumayanlah, nggak kayak Patrick Star lagi gue sekarang, yang kerjaannya hanya bermalas-malasan di balik batu. Walaupun dia bilang “menganggur” itu adalah pekerjaan tersulit, terkadang kita harus menggaruk punggung, di mana itu bagian yang sulit terjangkau oleh kita. Setelah itu kita harus bolak-balik memutar antenna televisi untuk mendapatkan gambar yang jernih dan harus kehilangan remote juga. Lho, jadi ngomongin Patrick gini yah? Hahaha… Mumpung lagi bisa diajak kerja sama nih otak, kayaknya langsung ajah deh gue mulai nulisnya. Daripada ngalor ngidul.</p>
<p>Bro en Sis, di antara remaja saat ini banyak juga lho yang jauh dari ajaran Islam. Nggak tahu deh apa alasannya. Mungkin mereka malu dengan Islam atau cuman pengen hidup ala hedonis yang kehidupannya hanya bersenang-senang dengan hal yang berbau dunia dengan jargonnya “Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati.”</p>
<p>Kalau denger kata-kata ini jadi ingat seorang teman waktu gue lagi aktif main skate di Taman Kencana. Dia sih ngakunya “Atheis”. Pas gue tanya “Emang elo atheisnya apa?” Dia cuma ngejawab, “Ya atheis”. Gue pojokin lagi deh buat mengetahui nih orang ngerti atheis dan bener atheis nggak yah?<span id="more-3457"></span></p>
<p>Gue tanya ajah: “Ya, atheis apa? Hedonis? Materialis? Humanis atau rasionalis? Nggak tahu deh bener nggak nih bagian dari atheis. Soalnya, gue dulu pernah atheis lho. Waktu itu, setelah gue tanya gitu dia cuma bisa diam dan bengong. Jadi bisa gue ambil kesimpulan kalau teman gue itu nggak ngerti sama sekali tentang atheis dan dia bisa jadi hanya ikut-ikutan aja atau aturan agama (Islam) yang dia peluk itu tidak sesuai dengan pola hidup dia yang senang minum-minuman keras (non HCl dan H2SO4 tentunya: idih, nekat banget kalo sampe minum asam klorida ama asam sulfat mah. Koit bisa jadi luh!), free sex dan masih banyak lainnya. Musibah deh!</p>
<p>Semoga saja remaja yang model gini cuma sedikit jumlahnya. Sayang banget kan kalo jumlahnya banyak tapi cuma jadi SPAM di dunia ini. Jangan sampe lah!</p>
<p><strong>Melewati ujian iman</strong></p>
<p>Boys and Gals, ngomongin tentang ujian dalam masalah keimanan memang nggak ada abisnya. Apalagi di bulan Ramadhan, ujian keimanan so pasti lumayan berat. Entah ujian itu waktu kita lagi di rumah, terus melihat adik kita lagi makan bakso sambil minum es campur. Bisa juga lagi di sekolah kita ngelihat teman yang nyeruput teh manis. Wuih, jangan ampe batalin puasa, Bro.</p>
<p>Di sini keimanan kita diuji. Seberapa besar ketundukan dan kepatuhan kita terhadap aturan Allah Swt. dan RasulNya. Sebab, iman yang benar seharusnya mau menjalani semua perintahNya dan menjauhi apa yang dilarang olehNya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”</em> <strong>(QS al-‘Ankabuut [29]: 2-3)</strong></p>
<p>Ujian terhadap iman seseorang nggak jauh beda deh sama ujian yang ada di sekolah. Setelah kita belajar pasti ada ujian. Kita tentu akan mendapatkan hasilnya. Bisa lulus, bisa juga gagal total. Seberat apapun ujian yang kita hadapi, kita harus tetap menjalaninya. Jangan jiper duluan, terus ambil satu langkah ke belakang buat menghindar dari ujian tersebut. Yakinlah, hal itu malah membuat kita menjadi jauh dan menyimpang dari ajaran Islam.</p>
<p>Memang sih, meghindari ujian itu akan terlihat tidak menyusahkan kita.Malah seperti memberi suatu kesenangan pada saat kita menghindari ujian tersebut. Padahal, kesenangan itu hanya berupa hal duniawi yang merupakan salah satu komponen untuk kita tetap hidup dan menjalankan hidup untuk mencapai tujuan dari hidup itu sendiri.</p>
<p>Dalam menghadapi ujian, sebenarnya kita sudah diberi beberapa contoh dari para sahabat Rasululllah saw.. Mereka orang-orang yang gigih dan selalu berjuang untuk bisa tetap mempertahankan keimanan mereka meskipun ujian itu berat dan barang kali dapat membahayakan nyawa mereka. Seperti Bilal al Habsyi yang disiksa oleh majikannya yang bernama Umyyah bin Khalaf. Umayyah menyiksa Bilal dengan meletakan sebuah batu yang sangat besar di dadanya sehingga Bilal tidak dapat bergerak, bisa saja waktu itu Bilal selamat dari siksaan tersebut, dengan syarat Bilal harus meninggalkan Islam, tetapi Bilal hanya berkata “Ahad, Ahad ( hanya satunya berhak disembah )”.</p>
<p>Siksaan yang diberikan kepada Bilal bukan hanya itu saja. Pada malam hari ia dirantai dan dicambuk terus menerus sehingga badannya penuh luka.dan pada esok harinya dengan luka itu dijemur kembali di padang pasir yang panas sehingga lukanya semakin parah, Tuannya berharap ia akan meninggalkan Islam atau mati pelahan dengan cara tersebut.</p>
<p>Orang yang menyiksak Bilal r.a. silih berganti, kadangkala Abu Jalal atau Umayyah bin Khalaf, bahkan orang lainpun ikut menyiksanya. Setiap orang berusaha menyiksanya dengan lebih berat. Ketika Abu Bakar r.a. melihat hal itu ia menebusnya dan segera memerdekakannya. Kita bisa lihat nih, apa yang harus kita lakukan saat keimanan kita sedang diuji, tapi kayaknya berat banget yah? (iyalah, nyawa gitu!). Tetapi tetap ajah kita tidak boleh menukarkannya dengan keselamatan dunia. Belum tentu kan nanti kita selamat dari siksaan neraka kalau kita memilih selamat dari siksaan di dunia tapi ngorbanin keimanan kita.</p>
<p><strong>Gue pernah ngalamin ujian itu…</strong></p>
<p>Oya, ngomongin soal ujian keimanan, gue juga pernah diuji waktu gue masih baru memeluk agama Islam (narsis dikit deh heuheu..). Waktu itu keluarga gue belum tahu kalau gue udah pindah agama. Keluarga gue semuanya pemeluk agama Kristen Protestan. Jadi semua keluarga gue tahunya guw masih Kristen sama seperti mereka.</p>
<p>Ketika itu ortu gue lagi ada di rumah. Biasanya bokap gue udah nangkring depan televisi jam setengah lima. Pas banget udah mau shalat subuh tuh. Gue sempat kelabakan cari alasan biar bisa ambil air wudhu di kamar mandi agar bisa shalat subuh. Tapi kalau gue ke kamar mandi jam segitu sampai nyalain pompa air bokap pasti nanya mau ngapain. Bagi gue ini juga sebuah ujian. Bagaimana pun juga gue harus tetap shalat. Ujian buat gue belum selesai sampai di sana. Waktu itu bokap gue manggil gue pagi-pagi. Dia ngajak gue ngobrol-ngobrol dulu sambil nawarin gue kuliah.</p>
<p>Wwaktu lagi asik ngobrol tiba-tiba bokap nanya ke gue, “Yang di kamar itu sajadah siapa?” Gue sempat bingung tuh waktu ditanya itu. Mesti jawab jujur atau bohong. Kayak ada iblis dan malaikat yang sedang berkelahi deh rasanya di dalam hati gue saat itu. Tapi entah kenapa gue tiba-tiba jawab “Sajadah saya pak”.</p>
<p>Bokap gue kaget waktu dengar jawaban gue. dia langsung bilang “Kamu udah masuk Islam, udah benar-benar positif itu? Coba kamu pikir-pikir lagi!”. Gue langsung spontan ngejawab “Udah Pak. Saya udah benar-benar yakin. Soalnya saya masuk Islam bukan karena iming-iming sembako atau harta, saya udah pelajarin.”</p>
<p>Bokap gue langsung ngusir gue waktu itu. Padahal gampang aja buat gue biar bisa aman, gue tinggal balik ke agama gue yang lama terus gue nggak jadi diusir dan langsung dimasukin kuliah deh. Tapi ya namanya ujian, seberat apapun itu, kita harus tetap menghadapinya. Gue benar-benar diusir.</p>
<p><strong>Jangan menyerah</strong></p>
<p>Ada beberapa tips nih dalam ngadepin ujian keimanan: <em>Pertama</em>, sering baca. Yang jelas bukan baca komik. Ribuan komik elo baca juga gak bakal berpengaruh itu <em>mah</em>. Bacaan-bacaan tentang islam tentunya. Entah itu tetang apa saja yang berkaitan dengan Islam. Kalo males buat ke toko buku terus beli bukunya, bisa juga download digibook atau ebooknya dari internet. BTW, di blog gue juga ada lho: www.sisigelapotak.blogspot.com (iklan gratis deh neh hehehe..). Atau pantengin aja terus website gaulislam: www.gaulislam.com. Insya Allah banyak manfaatnya.</p>
<p><em>Kedua</em>, kalau kata teman gue, sebut saja Ecot (bukan nama sebenarnya) “Mending kita nonton video Harun Yahya aja rame-rame untuk dapetin ilmunya”. Yup, kalo malas baca, nonton video bisa jadi alternatif. Seru tuh buat belajar tentang Islam.</p>
<p><em>Ketiga</em>,  yang jelas mah NGAJI deh. Di tempat ngaji kita bisa banyak nanya tuh sama gurunya. Mungkin dari situ juga nanti ada masukan-masukan yang bermanfaat.</p>
<p><em>Keempat</em>, yakinlah apa yang direncanakan oleh Allah Ta’ala itu adalah yang terbaik untuk kita dan yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “<em>Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” </em><strong>(QS al-Baqarah [2]: 216)<em> </em></strong></p>
<p><em>So</em>, jangan pernah salah dalam bertindak dan mengambil keputusan jika yang sedang dipertaruhkan itu adalah keimanan kita. Sebab, Iman itu mahal harganya. Jangan sampai menukarkan iman kita dengan sekardus mie instan, kecantikan wanita, harta, jabatan,  atau iming-iming kenikmatan duniawi lainnya. Semoga kita semua dianugerahkan kesabaran dan kekuatan oleh Allah Swt. untuk menghadapi ujian keimanan yang mungkin saja sedang dan akan kita alami. Jangan menyerah. Semoga kita tetap istiqomah bersama Islam sampai akhir hayat kita. Islamlah jalan hidup kita. Allahu Akbar! <strong>[putra: utha_freak@yahoo.com]<em> </em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ngaku-mukmin-akan-diuji-lho/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambut Ramadhan dengan Cinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sambut-ramadhan-dengan-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sambut-ramadhan-dengan-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 17:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3447</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 146/tahun ke-3 (28 Sya’ban 1431 H/ 9 Agustus 2010) Wah, nggak kerasa ya kita sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Nggak kerasa pula nih ternyata gue udah lebih dari satu tahun bersama gaulislam. Oya, berhubung sebentar lagi kita bakal bertemu bulan Ramadhan nih, elo semua udah pada siap-siap belum? Kita bakal bertemu bulan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 146/tahun ke-3 (28 Sya’ban 1431 H/ 9 Agustus 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Wah, nggak kerasa ya kita sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Nggak kerasa pula nih ternyata gue udah lebih dari satu tahun bersama gaulislam. Oya, berhubung sebentar lagi kita bakal bertemu bulan Ramadhan nih, elo semua udah pada siap-siap belum? Kita bakal bertemu bulan yang paling spesial buat umat Islam. Udah seharusnya kan kita bangga akan datangnya bulan ini. Soalnya ada keistimewaan di bulan ini.</p>
<p>Allah Swt. berfirman yang (artinya): <em>“Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur<strong>.</strong>”<strong> </strong></em><strong>(QS al-Baqarah [2]: 185)</strong></p>
<p>Tuh kan sampe Allah Swt aja memerintahkan kita untuk berpuasa ketika bulan ini tiba. Selain ayat di atas keistimewan bulan Ramadhan adalah dibukanya pintu rahmat dan dibelenggunya para syaithon. “<em>Jika datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu syurga (Dalam riwayat Muslim : “Dibukakan pintu-pintu rahmat”) dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggulah syaithan.” </em><strong>(HR Bukhori (4/97) dan Muslim (1079)<span id="more-3447"></span></strong></p>
<p>Dalam riwayat lainnya: <em>“Jika telah datang awal malam bulan Ramadhan, diikatlah para syaithan dan jin-jin yang jahat, ditutup pintu-pintu neraka tidak ada satu pintu pun yang dibuka, dan dibukalah pintu-pintu syurga tidak ada satu pun yang tertutup, menyerulah seorang penyeru : “Wahai orang yang ingin kebaikan lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan kurangilah, Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka, itu terjadi pada setiap malam. </em><strong>(Diriwayatkan oleh Tirmidzi (682) dari Ibnu Majah (1642) dan Ibnu Khuzaimah (3/188) dari jalan Abi Bakar bin Ayyash drai Al-A’masy)<em> </em></strong></p>
<p>Pada bulan Ramadhan ini jin jahat dan syaithan aja dibelenggu, sembari dibukakan juga pintu surga dan diampuni dosa-dosanya yang yang telah lewat, kurang asik gimana tuh.</p>
<p>Kadang gue suka sedih juga kalo gue liat-liat nih dari pengalaman Ramadhan bulan kemaren masih ada juga orang-orang yang menyediakan lapak untuk orang lain nyemen (baca: makan di siang hari) atau malah orang-orang yang nyemen sambil ngajak temennya.  Kalo mau buka warungnya ketika menjelang senja aja. Jangan pernah berpikiran bahwa elo nggak bakal bisa dapat rejeki kalo nggak dagang siang hari atau elo berpikiran bahwa kalo elo nggak gitu kapan majunya. Wah, kalau sampe gitu pemikiran elo berarti elo udah dalam keadaan kritis dan harus segera ditolong tuh keimanan elo. Apa-apa harus diukur dengan materi. Padahal bukankah urusan rezeki udah ada yang ngatur? Jangan gadaikan urusan akhiratmu dengan urusan dunia yang tidak lebih berat dari sayap nyamuk. Yakin deh Allah pasti menolong hamba-hambaNya baik dalam perkara dunia maupun akhirat. Ok?</p>
<p><strong>Persiapan menghadapi bulan Ramadhan</strong></p>
<p>Karena keistimewaannya bulan ini maka kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapinya. Ya, sesuatu yang istimewa itu butuh persiapan yang istimewa juga.</p>
<p>Apa saja sih persiapannya? Jangan males untuk makan sahur. Dari Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu Rasulullah saw. bersabda (yang artinya):<em> “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur” </em><strong>(HR Muslim (1096))</strong><em></em></p>
<p>Selama kurang lebih 14 jam kan tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi. Padahal sel-sel dalam tubuh kita membutuhkan energi dalam jumlah yang cukup. Itu sebabnya, makan sahur adalah cara sehat untuk menghadapi puasa. Oya, jangan lupa makan sahurnya harus diakhirkan ya. Misalnya 20 menit menjelang imsak. Supaya bisa terus ikutan shalat shubuh berjamaah di masjid.</p>
<p>Kedua, ketika tiba saatnya berbuka maka segeralah untuk membatalkan puasa. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu’anhu, Rasulullah saw. bersabda: <em>“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” </em><strong>(HR Bukhari (4/173) dan Muslim, No. 1093)</strong><em></em></p>
<p>Kalo urusan berbuka sih untuk gue pribadi nggak usah disuruh lagi. Pokoknya ketika denger adzan maghrib langsung cari maanan seadanya supaya cacing di perut gue berhenti demo. Dalam berbuka juga diusahakan makan makanan yang manis-manis terlebih dulu buat ganti energi yang ilang selama elo berpuasa. Ngomong-ngomong soal buka puasa gue jadi inget nih kalo nanti insya Allah tanggal 22 Agustus 2010 buletin gaulislam dan Radio MARS 106 FM mengundang kalian untuk berbuka puasa bersama yang bertempat di gedung Pusat Pengembangan Islam Bogor. Elo semua udah dapet undangannya kan via Facebook?</p>
<p>Tips ketiga, usahakan jangan ninggalin olahraga. Jangan mentang-mentang elo puasa bawaannya tidur melulu. Ngapa-ngapain lemes. Olahraga tetep berjalan tapi nggak usah olahraga yang berat-berat seperti ngangkat 30 karung beras atau lari keliling GOR Pajajaran 30 kali. Elo kan bisa jogging atau lari lari kecil di pagi hari atau sore, yang penting kalori dapat terbakar atau bahkan dengan ikut sholat tarawih selain dapet pahala itu juga dapat membakar kalori juga lho.</p>
<p><strong>Perbanyak amal baik dan jauhi maksiat</strong></p>
<p>Ramadhan ini adalah kesempatan kita untuk berbuat amal sebanyak-banyaknya. Bukan waktu kita untuk berleha-leha. Gara-gara berpuasa elo males belajar, malas ikut pengajian, males disuruh ke warung sama nyokap. Alasannya lemes lagi puasa. Padahal kan nggak masuk akal tuh alasan kalo elo males keluar untuk ikut pengajian elo kan bisa ikutin acara [klinik] gaulislam di KISI 93.4 FM Bogor atau ikutin tuh acara-acara gaulislam yang ada di Radio MARS 106 FM Bogor seperti Taman Ccurhat Rremaja, Fresh Air dan Remaja Shalihin. Pasti seru kalo ada pertanyaan tinggal SMS or telepon.</p>
<p>Ramadhan ini seharusnya adalah sarana menempa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ada sedikit cerita pengalaman gue sendiri. Sekitar dua tahun lalu gue adalah perokok dan sulit sekali menghilangkan kebiasaan tersebut karena udah kecanduan. Tapi gue janji gue bakal berhenti ngerokok di bulan Ramadhan. Soalnya kan gampang nahannya kalo gue ngerokok siang hari konsekuensi gue bakal batal puasa tapi kalo malem hari kan waktunya cuma sedikit jadi nahannya nggak terlalu lama. Hasilnya, alhamdulillah sampe sekarang gue udah sembuh dari kebiasaan buruk gue dan nggak kecanduan rokok lagi.</p>
<p>Kadang gue suka heran aja ada orang bisa puasa tapi nggak bisa mempertahankan sholat 5 waktu dan masih banyak melakukan perbuatan yang melanggar hukum syara. Rasulullah bersabda:<em> “Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja”<strong> </strong></em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p>Jadi di bulan ramadhan ini kita nggak cuma nahan lapar dan haus aja. Tetapi kita juga harus menahan hawa nafsu kita. Nggak boleh melakukan hal-hal yang dilarang Islam, seperti berbohong, mencuri dan bekhalwat (hehe..). Mulailah coba untuk menghindari hal seperti itu di bulan Ramadhan ini supaya puasa elo nggak sia-sia.</p>
<p><strong>Sambut ramadhan dengan cinta</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> telah menjanjikan hal-hal yang spesial buat kita di bulan ini. Tentulah kita harus bergembira karena yang janji adalah Allah Swt. yang setiap janjinya pasti benar dan melalui rasulNya yang jujur. Salah satu janji Allah untuk orang yang berpuasa dan berpuasa dengan sempurna yaitu diterangkan dalam hadist: “Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam bulan ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo’a akan dikabulkan do’anya.”  <strong>(HR Bazzar (3142), Ahmad (2/254) dari jalan A’mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1643))<em></em></strong></p>
<p>Oya,hati-hati juga dengan hukumanNya: Dari Abi Umamah al-Bahili ra, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:<em>”Ketika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian memegang dhobaya (dua lenganku) membawaku kesatu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata : “Naik, aku katakan : “aku nggak mampu, keduanya berkata: “kami akan memudahkanmu,” akupun naik hingga ketika aku sampai ke puncak gunung ketika itulah aku mendenganr suara yang keras. Akupun bertanya : “Suara apakah ini ? Mereka berkata: “Ini adalah teriakan penghuni neraka kemudian keduanya membawaku, ketika aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki diatas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya: “Siapakah mereka ? keduanya menjawab : “mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka.” </em>(<strong>Riwayat an-Nasa’i dalam “al-Kubra” sebagaimana dalam “tuhfatul Asyraf” (4/166) dan Ibnu Hibban (no. 1800- zawahidnya) dan Al-Hakim (1/430) dari jalan Abdur Rahman bin Yazid bin Jabir, dari Salim bin Amir, dari Abu Umamah. Sanadnya SHAHIH)<em></em></strong></p>
<p>Bro en Sis, kita persiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya supaya bisa ngadepin bulan yang istimewa ini dengan sempurna dan insya Allah dapat menjadi bekal elo di akhirat kelak. Tetap semangat ya.</p>
<p>Gue dan seluruh kru buletin gaulislam mengucapkan selamat menunaikan ibadah shaum semoga amal ibadah kita semua diterima Allah Swt. Yuk, sambut Ramadhan dengan penuh kecintaan kepada Allah Swt. <strong>[ikrar: ikrarestart@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sambut-ramadhan-dengan-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Ada Cinta di Facebook!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-cinta-di-facebook</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-cinta-di-facebook#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 17:48:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3445</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 145/tahun ke-3 (21 Sya’ban 1431 H/ 2 Agustus 2010) Lah kok facebook lagi? Haduh-haduh! Jangan kaget gitu dong. Bagi pembaca setia buletin remaja gaulislam pasti tahu kalau kita udah pernah buat tema yang sama mengenai facebook. Ups! Meskipun demikian jangan menilai artikel ini monoton atau itu-itu aja. “Emang apanya yang beda?” ya beda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 145/tahun ke-3 (21 Sya’ban 1431 H/ 2 Agustus 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Lah kok facebook lagi? Haduh-haduh! Jangan kaget gitu dong. Bagi pembaca setia buletin remaja gaulislam pasti tahu kalau kita udah pernah buat tema yang sama mengenai facebook. Ups! Meskipun demikian jangan menilai artikel ini monoton atau itu-itu aja. “Emang apanya yang beda?” ya beda lah kali ini kita nggak bahas facebook tapi kita bahas FB. “Lah sama aja itu sih!” haha bukan ding. Kali ini kita akan bahas facebook dari segi C.I.N.T.A.  “Kayak judul lagu?” nggak apa-apa ya? Heup! Serius donk! Kapan mulainya, nih!</p>
<p>Situs jejaring sosial facebook bisa dibilang semua orang udah familiar dengan situs ini. Penggunaan jejaring sosial di internet ini baru meningkat pesat di Indonesia pada tahun 2008 meninggalkan situs jejaring yang populer sebelumnya, Friendster. Wuihh fenomenal kan. Gimana nggak, tukang siomay aja punya akun facebook. Berdasarkan statistik pertumbuhan, pengguna facebook di Indonesia meningkat 645% sejak 2008 hingga 2010. Sebanyak 831.000 user di akhir tahun 2008. Meningkat pesat pada pertengahan tahun 2010 ini menjadi lebih dari 21 juta user. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan pengguna tertinggi di Asia dan hingga tahun 2010. Tumbuh tertinggi kedua di Asia setelah Malaysia.</p>
<p>Facebook memang situs asik yang mudah digunakan untuk bertukar pikiran. Namun, facebook atau yang popular disingkat FB juga banyak menuai masalah. Beberapa di antaranya berita penculikan yang berawal karena perkenalan melalui FB. Kasus pencermaran nama baik, kasus perzinaan. Tetapi belakangan si pelaku zina dapat keringanan hukuman karena mengaku melakuknnya atas dasar suka sama suka. Halah, tetep aja zina! Facebook juga sempat menjadi perantara kasus pemerkosaan, hingga pembunuhan telah terjadi hanya gara-gara situs jejaring sosial satu ini.<span id="more-3445"></span></p>
<p><strong>Ati-ati kalo ‘nongkrong’ di facebook</strong></p>
<p>Bro en Sis, mudah saja bagi siapa pun untuk mengakses situs ini, dan memberi peluang untuk melakukan tindak kejahatan atau penyalah-gunaan yang melenceng dari fungsi sebenarnya. Dengan FB seseorang mudah menjadi siapa saja misalnya kita bisa menutupi kekurangan diri sendiri. Wajah yang PPD alias Pas Pasan Deh juga bisa kita <em>make over</em>. Pasang foto dengan gaya narcis (kayak di iklan kaos, tapi kaos lampu! Whuhaha..), mengedit foto menjadi lebih ganteng atau lebih cantik dari aslinya. Kita juga bisa menciptakan karakter yang berbeda. Contohnya nih, ada teman saya memiliki 3 buah akun facebook. Itu pun yang saya ketahui lho! Masing-masing akun memiliki karakter yang berbeda, bahkan saling bertentangan satu sama lain. Satu di antara ketiga akunnya berkarakter satanik atau penyembah setan. Tidak percaya Tuhan dengan memasang foto-foto menyeramkan namun di sisi lain pada akun lainya mimiliki profil islami. Sopan dan sholeh ini bisa di lihat dari info profil dan komentar-komentarnya di fitur status wall, “waduhhh kok bisa ya?” Dari contoh kecil tersebut kita dapat melihat fakta bahwa di situs jejaring sosial ini, kita mudah saja menjadi siapapun yang kita mau.</p>
<p><strong>Jangan mudah jatuh cinta di facebook</strong></p>
<p>Bro en Sis, di facebook juga saja muncul benih-benih cinta, lho. Maklum, namanya juga situs jejaring sosial, pasti dihuni oleh banyak orang. Itu artinya, ada peluang untuk saling berbagi informasi dan bukan mustahil jika saling menebar pesona dan akhirnya bertautlah hati di antara mereka. Tapi, apa iya kita begitu mudah percaya dan mau menjalin ikatan hati hanya karena si dia menarik hati dan mau peduli dengan kita? Jangan mudah percaya lho, siapa tahu itu adalah jebakan. Apalagi kalo kita nggak pernah tahu siapa dia sesungguhnya.</p>
<p>Khususnya buat para cewek nih. Kayaknya kaummu deh yang lebih mudah tergoda bujuk rayu kaum lelaki. Bukan gue bias gender. Tapi gue kasih tahu aja bahwa gue juga lelaki, tahu betul dah gimana akal bulusnya cowok kalo lagi kepengen. Hahaha… gue buka rahasai daleman cowok neh. <em>So</em>, nggak usah percaya kecuali ke gue (idih, narsis abis deh gue!). Bener, gals. Jangan mudah percaya kepada cowok yang belum pernah kamu tahu jati dirinya. Di facebook kan orang bisa jadi siapa aja dan apa aja. Ini informasi awal yang kudu diperhatikan banget. Kalo boleh membuat kaidah ushul, “hukum asal semua teman di facebook adalah patut diwaspadai karena berbahaya, kecuali setelah ada informasi bahwa teman tersebut orang baik-baik” (ehm.. jadi kayak intelijen dong ya. Hehehe…)</p>
<p>Masih inget pesan Bang Napi? Yup, “kejahatan bukan saja karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan”. Sementara kesempatan, seringnya datang dari kita sendiri. Maka, kita wajib ‘mempersenjatai’ diri agar tak mudah mengobral data diri, apalagi jatuh hati. Waspadalah!</p>
<p>Nih ada sedikit tips aman ber-facebook ria, hehe!<strong> </strong>Pertama, jangan mencantumkan info profil atau data diri di facebook terlalu lengkap apalagi sampai masalah-masalah privasi. Kasih gambaran umum aja. Bila perlu nomor telepon nggak ditulis lengkap. Jangan membuka diri terlalu jauh. Itu sebabnya, kamu perlu tahu fitur-fitur di facebook agar kamu terhindar atau diminimalisasi dari kejahatan orang lain. Meski tentu, itu tak berarti aman dan bebas aja. Siapa tahu, ada celah yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan. Jaga dirimu ye!</p>
<p>Kedua, jangan memasang foto-foto diri kamu yang sekiranya kamu sendiri nggak akan merasa nyaman foto tersebut tersebarluaskan secara bebas. Nggak maukan kalau fhoto kamu disalahgunakan orang lain untuk hal-hal yang tidak menyenangkan.</p>
<p>Ketiga, jangan sembarangan ‘add friend’ alias tambah teman atau melakukan approval alias mengkonfirm permintaan seseorang untuk menjadi teman kamu. Pilih-pilihlah dalam mengkonfirm teman pastikan kita sudah mengenalnya di dunia nyata atau lihat jumlah teman yang sama atau <em>mutual friends</em>-nya cukup banyak.</p>
<p>Keempat, yang sedang marak adalah akun FB yang di hack atau dibajak orang lain bahkan ada akun yang sama persis dengan akun milik kita namun disalah-gunakan untuk kepentingan pihak lain coba bayangkan kalau akun aspal (asli tapi palsu) kita digunakan untuk hal-hal yang tidak diinginkan semisal meminjam uang ke pada teman kita, memaki-maki orang lain, membuat status wall dengan kata-kata kasar dan tidak senonoh wahh bakal marah-marah sendiri jadinya.  Jika terjadi hal tersebut jangan dibiarkan segera laporkan ke pengelola layanan untuk mencabut akun tersebut, atau meminta bantuan kepada kenalan yang kiranya faham dan bisa membantu.</p>
<p>Terus yang nggak kalah penting dan kudu waspada sesuai dengan judul artikel ini, facebook ternyata banyak digunakan sebagai ajang mencari jodoh atau istilah liberalisnya pacaran. Iddih ampun deh! Nggak tau apa kalo istilah pacaran ngak ada dalam Islam? Kalo bermesra-mesraan tanpa ikatan pernikahan itu haram? Kalau sudah terikat pernikahan pun tak selayaknya mengumbar kemesraan di muka monitor, eh di muka umum! Dan bagaimana hukum asal pergaulan antar lawan jenis dalam Islam? Hei-hei! Kalo pengen tahu ulasan tentang pergaulan antar lawan jenis silahkan baca di website gaulislam <em><span style="text-decoration: underline;">www.gaulislam.com</span></em> salah satu judulnya “Pacaran? Nggak, Ah!”, hehe. (sstt.. itu tulisan gue. Busyet, narsis lagi dah gue!)</p>
<p>Islam udah mewanti-wanti tentang hubungan antar lawan jenis dengan firman Allah (yang artinya):<em>”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”</em> <strong>(QS al-Isra [17]: 32)</strong></p>
<p>Khusus masalah hubungan lawan jenis, facebook juga berpotensi mengikatkan jalinan hati para penggunanya, iyakan? <em>So</em>, mesti waspada! Apa lagi bagi sobat-sobat muda dalam masa puber. Sadar nggak sadar kita mudah tergoda dengan profil-profil yang kelihatanya amat meyakinkan, Halo-Halo! Aduh jadi flashback lagi dech ke masalah aturan antar lawan jenis. Intinya kita jangan mudah tergoda untuk melakukan kemaksiatan dimanapun bahkan di dunia maya. <em>So</em>, jangan ada cinta di Facebokk, hehe!</p>
<p>Buat kamu-kamu nih yang nggak mau pacaran karena sudah tahu itu nggak boleh dalam Islam, tapi sungguh-sungguh ingin cari jodoh kuncinya jangan mudah percaya dan tergoda yang belum jelas juntrunganya di dunia maya. Ada<strong> </strong>Alternatif kalau mau cari jodoh: Pertama, lewat orang yang kita kenal dan orang tersebut bisa dipercaya. Kedua, mencari sendiri tapi pastikan jati diri orang tersebut, harus yakin keberadaannya dan kebenarannya, jangan pake hawa nafsu ya! Ketiga, seleksilah tawaran dari orang yang tak kita kenal dan percayai.</p>
<p>Tentunya kita nggak ingin membuang waktu hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, seperti yang di jelaskan dalam firman Allah Swt. (yang artinya): <em>Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran</em>.<em>”</em> <strong>(QS al-Ashr : 1-3)</strong></p>
<p>Sekali lagi kita pastikan pada diri kita sendiri untuk tetap syar’i di manapun dan kapanpun. Gunakan facebook untuk hal-hal positif dan bermanfaat seperti berdiskusi tentang ilmu pengetahuan umum, tentang keislaman dan lain sebagainya. Bukan hanya sekedar update status yang berisi semua keluhan-keluhan yang nggak penting sama sekali untuk kemaslahatan umat. <em> </em></p>
<p><em>So</em>, tetap semangat dan tetap syar’i alias selalu merujuk kepada syariat Islam. Selain itu, jangan mudah jatuh hati dan kelilit cinta di facebook. Jangankan di dunia maya, di dunia nyata aja banyak penjahatnya. Siapa tahu itu jebakan yang bakal merugikan kita di kemudian hari. Bener. Nggak seru dong kalo tiba-tiba nama kamu muncul di media massa sebagai korban kejahatan. <em>Naudzubillahi min dzalik</em> <strong>[samsi: samsi_hn@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-cinta-di-facebook/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“3 Hati 2 Dunia 1 Cinta”</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9c3-hati-2-dunia-1-cinta%e2%80%9d</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9c3-hati-2-dunia-1-cinta%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[beda agama]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3439</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 144/tahun ke-3 (14 Sya’ban 1431 H/ 26 Juli 2010) Sudah pernah nonton film “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” belum? Kalo belum, nggak usah malu. Itu karena film ini isinya nggak penting alias nggak bermutu. Tema yang diangkat oleh film ini adalah hubungan cinta beda agama antara laki-laki muslim dengan perempuan non muslim. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 144/tahun ke-3 (14 Sya’ban 1431 H/ 26 Juli 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sudah pernah nonton film “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” belum? Kalo belum, nggak usah malu. Itu karena film ini isinya nggak penting alias nggak bermutu. Tema yang diangkat oleh film ini adalah hubungan cinta beda agama antara laki-laki muslim dengan perempuan non muslim. Diceritakan dalam film tersebut tentang cinta sepasang remaja yang berbeda keyakinan. Antara Rosid dan Delia. Rosid adalah seorang seniman keturunan Arab sedangkan Delia adalah seorang penganut Kristen Katolik. Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul “The Da Peci Code”. Dalam film ini tokoh Rosid yang kribo diperankan oleh Reza Rahadian. Dalam film ini juga turut bermain Laura Basuki dan Arumi Bachsin.</p>
<p><strong>Campur aduk hak dan batil</strong></p>
<p>Usaha musuh-musuh Islam untuk mengalahkan kaum muslimin begitu kreatif. Anak-anak muda yang cenderung suka <em>having fun</em> dicekoki dengan film yang mengarahkan ke tujuan tertentu. Tak bisa meraih tujuan dengan cara biasa, maka diambillah langkah tak biasa. Toleransi semu yang seringkali digembar-gemborkan misalnya ajakan untuk merayakan hari raya agama lain tak berhasil, maka dicarilah cara lain. Salah satunya adalah dengan memberikan topik ringan yang disuka kaum muda yaitu tema cinta.<span id="more-3439"></span></p>
<p>Toleransi semu yang melibatkan perasaan, seringkali menjebak banyak kaum muda. Jiwa muda yang menggelora dan meledak-ledak apalagi untuk urusan cinta menjadi begitu mudah dimanipulasi. Sudah pada dasarnya orang yang jatuh cinta itu seringkali logikanya meluncur ke level paling rendah, ditambah lagi dengan cinta buta terhadap lawan jenis beda keyakinan. Top dah, cinta buta bin tolol yang pernah ada di dunia.</p>
<p>Gula Jawa rasa coklat, logika miring orang jatuh cinta. Tapi ini masih mendinglah, daripada tahi kucing rasa coklat. Ini logika orang gila yang kehilangan indra perasa. Tapi di antara itu semua, ada yang kehilangan akal sehat melebihi sekadar kehilangan indra perasa seperti perumpamaan di atas. Yaitu ketika jatuh cinta pada seseorang beda keyakinan, dinasehatin tetap saja ngeyel, bahkan suka memutar balik ayat hanya sekadar mencari pembenaran plus durhaka sama orang tua demi cinta buta. Pesan-pesan seperti inilah yang berusaha ditanamkan dalam film ini.</p>
<p>Sobat muda, hubungan “cinta-kasih” beda agama itu bukan masalah sepele. Bukan cuma melibatkan hati dan perasaan saja, tapi lebih ke berbagai aspek luas lainnya. Di sini nanti akan bersinggungan dengan yang namanya etika pergaulan antar lawan jenis. Bila berhubungan dengan seseorang yang beda keyakinan, akan ribet urusannya karena si dia pasti terheran-heran bahwa ada agama yang begitu mengatur secara detil tentang pergaulan. Belum lagi terkait juga dengan keberatan dari kedua belah pihak karena itu nantinya pihak keluarga harus siap menerima calon anggota keluarga yang berbeda keyakinan, dan itu tidak mudah. Yang paling penting adalah terkait dengan akidah yang ini urusannya sama sekali tidak bisa dipandang enteng. Dunia dan akhirat, Bro!</p>
<p>Telah jelas yang hak dan yang batil itu. Adanya hubungan beda keyakinan ibarat mencampur air susu dengan air comberan. Apakah kamu mau meminum air yang sudah terkontaminasi ini? Boro-boro disuruh minum, mendengarnya saja kamu pasti sudah jijay bajay alias ogah banget. Seperti ini juga gambaran orang yang menjalin hubungan asmara dengan beda keyakinan. Bila perempuannya muslimah dan laki-lakinya non muslim, hubungan seperti ini sudah jelas haram. Ikatan mereka tidak sah, bahkan hubungan suami istri mereka statusnya sama dengan berzina. Naudzubillah.</p>
<p>Bila yang laki-lakinya muslim dan perempuannya non muslim, memang ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Perbedaan pendapat inilah yang sepertinya dimanfaatkan oleh orang-orang liberal yang berada di balik pembuatan film “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” untuk dibidik dalam melemehkan keyakinan pemuda muslim lainnya. Ada pendapat yang membolehkan bila laki-lakinya muslim, karena dialah yang akan menjadi imam dalam keluarga. Diharapkan ia bisa memimpin istri dan anak-anaknya agar masuk Islam bersama-sama. Tapi bagaimana bila kenyataan berbicara sebaliknya? Hmm&#8230;</p>
<p><strong>Pemurtadan terselubung</strong></p>
<p>Banyak kasus terjadi, laki-laki tidak bisa membuat istrinya yang beda agama agar mau memeluk Islam. Sebaliknya, si suami malah terseret murtad karena bujuk rayu mulut perempuan non muslim yang telah menjadi istrinya itu. Si suami pun mudah tergoda dengan alasan demi keutuhan rumah tangga dan anak-anak. Bukannya menyelamatkan keluarga dari siksa api neraka seperti yang diperintahkan dalam al-Quran, si suami malah dengan sukarela akhirnya menapak jejak yang mendekatkannya pada neraka jahanam.</p>
<p>Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”</em> <strong>(QS al-Baqarah [2]: 221)</strong></p>
<p>Yang sudah menikah saja kasus seperti ini banyak, apalagi yang belum menikah. Selain pemurtadan, kedua pasangan ini akan banyak melanggar etika pergaulan dalam Islam. Misalnya saja berkhalwat atau berdua-duaan dengan non mahram alias mojok berdua sebagaimana pada umumnya aktivitas pacaran. Masa’ iya hubungan dengan seorang non muslim diajak berta’aruf yang islami? Pastilah akan banyak pertanyaan dan keberatan yang menyertai. Tidak bisa tidak, memahamkan secara akidah harus diberikan sebelum sampai pada etika hubungan dengan lawan jenis. Nah, bisakah ini dilakukan?</p>
<p>Kamu jangan lupa juga bahwa seringkali orang yang nekat menjalin hubungan asmara beda agama adalah mereka yang cenderung tidak paham terhadap Islam. Bila pun mereka mengaku paham, sebetulnya mereka cuma hapal tanpa tahu konteks makna dalil yang dihapalkan itu. Hal ini banyak menimpa mereka yang sok hapal plus sik tahu banyak dalil kemudian dengan sombongnya memutar balik ayat. Bahkan ada juga seorang yang mengaku dirinya ulama, anak perempuannya malah menikah dengan non muslim keturunan yahudi. Bahkan dia sendiri yang menjadi wali bagi anaknya yang itu artinya dia restui poerzinaan tersebut. Sebab,  menurut hukum Islam, haram seorang muslimah menikah dengan orang musyrik dan kafir.</p>
<p>Upaya para manusia yang mengaku dirinya ulama dan cendekiawan muslim ini jelas-jelas merusak. Mereka mempunyai makar, tapi rencana Allah jauh lebih dahsyat untuk menggagalkan upaya liberalisasi ide Islam ini. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”</em> <strong>(QS Ali Imraan [3]: 54)</strong></p>
<p>Bro en Sis, mereka sering kalah dan gagal ketika duduk berdialog dengan ulama dan cendekiawan Islam yang lurus. Karena gagal di ranah ilmiah inilah, akhirnya ada orang-orang yang seide dengan para sekularis bin liberalis ini mengangkatnya dengan tema hiburan berupa film. Cemen banget dah!</p>
<p><strong>Be careful!</strong></p>
<p>Setelah mendapatkan wawasan baru tentang upaya musuh-musuh Islam dalam merusak generasi muda muslim, kamu kudu waspada. Nonton film tersebut sih boleh-boleh saja, tapi kamu kudu siap dengan saringan atau filternya. Apaan tuh filternya? Tentu saja Islam dong. Emang ada filter yang lain selain Islam? Jawabnya tak ada filter yang mampu menyaring sampah-sampah ide kotor semisal toleransi semu ala sekularis kecuali Islam saja.</p>
<p>Nonton film tak sekadar nonton film. Karena setiap perbuatan anak manusia akan dipertanggungjawabkan di yaumul akhir nanti, maka berbuatlah bijaksana meskipun hanya untuk nonton film ini. Seharusnya setelah membaca uraian di atas, kamu bisa menyikapi dengan bijak isi film tersebut dan menangkap makna tersirat dalam upaya melegalkan kawin campur beda keyakinan yang merusak itu. Kamu semakin kritis dan cerdas, plus juga makin hati-hati dalam memilih tontonan.Ingat, fungsi tontonan saat ini sangat berpeluang besar untuk menjadi tuntunan alias ditiru oleh para penontonnnya.</p>
<p>Jangan sampai kamu terjerumus! Menonton film apalagi yang merusak akidah dan pemahaman, kudu hati-hati banget. Perkuat dulu keimanan dan wawasan keislaman kamu. Jangan sampai niat hati mau cari hiburan tapi malah menjerumuskan. Begitu juga dengan teman-teman kamu yang biasanya pada demen nonton film. Paling tidak pelajari dulu isi film, pahamkan tentang muatannya yang merusak akidah dan mengajak pada kebatilan, baru deh nonton filmnya penuh dengan kekritisan khas pemuda muslim yang cerdas.</p>
<p>Kalau ini yang kamu lakukan, <em>so</em> pasti keimanan dan kecerdasan kamu bakal makin meningkat, insya Allah. Wawasan ini tak boleh hanya diketahui oleh kamu sendiri saja. Sebarkan isi artikel ini sehingga akan banyak generasi muda muslim yang terselamatkan pemikirannya. Karena hubungan beda agama, jelas-jelas tak membawa manfaat apa pun bagi pelakunya. Selain aktivitasnya yang notabene mendekati zina dengan pacaran, sangat berpeluang mengajak kamu kepada meragukan keyakinanmu sendiri yang nantinya bisa berakibat murtad. <em>Be careful! So</em>, hubungan “cinta-kasih” beda agama? NO WAY! Catet ya! Sip deh. <strong>[ria: riafariana@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9c3-hati-2-dunia-1-cinta%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unlimited Liability</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/unlimited-liability</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/unlimited-liability#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 17:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3437</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 143/tahun ke-3 (7 Sya’ban 1431 H/ 19 Juli 2010) Buat new comer seperti kamu alias siswa anyar pasti baru aja bisa bernapas lega setelah ’disambut’ serangkaian acara MOS di sekolah baru. Mudah-mudahan udah nggak ada lagi perploncoan yang keterlaluan. Kalo masih ada praktiknya di sekolah baru kamu, wajib tuh dilaporin ke Disdik di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 143/tahun ke-3 (7 Sya’ban 1431 H/ 19 Juli 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Buat <em>new comer </em>seperti kamu alias siswa anyar pasti baru aja bisa bernapas lega setelah ’disambut’ serangkaian acara MOS di sekolah baru. Mudah-mudahan udah nggak ada lagi perploncoan yang keterlaluan. Kalo masih ada praktiknya di sekolah baru kamu, wajib tuh dilaporin ke Disdik di daerahmu. <em>Coz, </em>udah nggak musim yang kayak gitu. Lagian nggak mendidik. Alhamdulillah, saya liat di beberapa sekolah konten acara MOSnya tahun ini mulai terkemas baik dan lebih bermakna. Salah satunya ada sesi training motivasi <em>The Spirit of Soul</em> dari saya dan temen-temen Segi3 Learning Centre, lho (wew, iklan niye). Tema training motivasi yang diangkat pun sama persis dengan judul di atas.</p>
<p>Sobat muda, kalo ngomongin sekolah saya jadi inget film India yang baru saya tonton sekitar dua minggu yang lalu. File filmnya dikasih sama temen yang dia copyin ke USB saya. Saking banyaknya temen yang merekomendasikan buat nonton film ini, akhirnya terpaksa saya tonton (padahal hobi) dan kemudian dapet beberapa pelajaran berharga dari film yang berjudul “3 Idiots” ini.</p>
<p>Btw, kamu udah nonton belum, pren? Kalo belum, hitung-hitung <em>refreshing</em> ba’da MOS saya ceritain deh sedikit. Buat kamu yang ngerasa kakak kelasnya boleh juga kok ikutan baca. Pengen tahu apa pelajaran dari film tersebut? Klik&#8230;<span id="more-3437"></span></p>
<p><strong>All iz well&#8230;</strong></p>
<p>“3 Idiots” adalah film yang mengisahkan 3 orang mahasiswa yang kuliah di jurusan teknik dengan motivasi yang berbeda. Adalah Rancho alias Phunshuk Wangdu yang diperankan aktor muda India Aamir Khan (yang sepintas mirip ex-pemeran film Spiderman 1-3) dan kedua temannya, Farhan dan Raju (dibintangi R. Madhavan dan Sharman Joshi), 3 sekawan yang banyak mengajarkan kepada penonton tentang hakikat persahabatan, belajar, dunia pendidikan, cita-cita, pilihan hidup, dan cinta. Tak ketinggalan Kareena Kapoor yang memerankan tokoh Pia, putri rektor, ikut melengkapi jalan ceritanya yang di akhir film ternyata berjodoh dengan Rancho. Prikitiw.</p>
<p>Meski film produksi Vinod Chopra ini sarat nilai, tapi tetap saya punya catatan minus buat film ini. Beberapa bagian memang perlu diedit karena nggak pantas dilakukan sebagai seorang terpelajar. Apalagi kalo kita muslim. Jadi kudu pinter pilah-pilih yang tepat.</p>
<p>Ok. Semua berawal dari Rancho, mahasiswa yang sebenarnya jenius walau kadang kelewat keblinger sampe disangka idiot oleh para dosen dan teman-temannya. Ia adalah sosok manusia pembelajar sejati yang sangat menikmati proses pendidikan yang dilakoninya. Semenjak kecil ia memang sangat bersemangat belajar. Ia bahkan mampu menuntaskan soal-soal kelas 10 saat masih duduk di kelas 6. Kepandaiannya itulah yang mengantarkannya diterima di kampus favorit yang ia cita-citakan sejak dulu. Nggak aneh kalo akhirnya ia selalu jadi peringkat 1 dan setelah lulus kuliah berhasil menjadi ilmuwan besar dengan nama asli Phunshuk Wangdu yang memiliki 400 paten karya ilmiah plus memiliki sekolah keren yang menerapkan teknologi terpadu dalam pembelajaran.</p>
<p>Sementara kedua rekannya, adalah mahasiswa yang terpaksa harus kuliah di jurusan teknik karena tuntutan keluarga. Farhan kuliah disitu karena tuntutan sang ayah yang menginginkannya menjadi seorang insinyur. Padahal ia tidak menyukai bidang itu, dan lebih tertarik pada fotografi. Jadilah ia selama kuliah mendapatkan posisi dan nilai terbawah. Tapi karena keberanian yang diajarkan Rancho, nyaris di akhir studinya, ia memberanikan diri untuk meyakinkan, menyampaikan keinginannya menjadi fotografer <em>wild animal</em> plus berhenti kuliah kepada ayahnya yang sangat berharap ia menjadi insinyur. Keyakinan dan doa restu orangtuanya itulah yang kemudian membawa ia menjadi fotografer handal.</p>
<p>Setali tiga uang, nasib Raju juga nggak jauh beda dengan Farhan. Ia terpaksa kuliah di jurusan teknik karena tuntutan ekonomi keluarga. Ia berasal dari keluarga sangat miskin. Kalo ia berhasil menjadi insinyur, terus bekerja, pasti dapet gaji besar sekaligus bisa ngangkat ekonomi dan martabat keluarga. Itu yang jadi harapan besar orang tuanya. Makanya selama kuliah ia merasa terbebani dan selalu dilanda ketakutan bilamana gagal mewujudkan impian dan harapan dari orang-orang tercinta. Nggak usah tanya gimana prestasi akademisnya. Ya agak lumayan lah dibanding temennya yang tadi. Persis 1 tingkat di atas Farhan. Mereka berdua memang terkenal ’istiqomah’ dalam mempertahankan prestasi dan posisi terbawah selama kuliah. <em>Don’t try this at school</em> ya.</p>
<p>Raju sebenarnya terancam DO gara-gara bikin onar di rumah rektornya dalam keadaan mabuk bersama Rancho dan Farhan, yang mengantarkannya lumpuh sementara setelah loncat dari lantai 3 rektorat. Tapi peristiwa itu ternyata merubah hidup Raju secara drastis. Ia sadar, sembuh kembali normal, menjadi lebih baik dan optimis sehingga berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan besar meski kalo diliat dari nilai akademisnya mustahil terjadi. Lagi-lagi, semua berkat <em>advice</em> Rancho, sahabat sejati mereka.</p>
<p>Sobat muda, menurut saya banyak yang menarik dari sosok Rancho dalam film tersebut. Nilai persahabatan yang diangkat lumayan mantap. Ia pun mengajarkan bahwa kesuksesan diawali oleh motivasi belajar yang luar biasa. Ia begitu mencintai ilmu. Hingga menganggap bahwa belajar lebih dari sekedar kewajiban. Ya, belajar adalah sebuah bentuk pertanggungjawaban hamba kepada Robbnya untuk terus memperbaiki diri dan bermanfaat bagi sekitar tanpa ada batasan ruang dan waktu selama hayat masih dikandung badan. Inilah yang saya istilahkan dengan <em>Unlimited Liability.</em> Kalo di dunia pendidikan dikenal dengan istilah <em>Long Life Education</em> (pendidikan sepanjang hayat). Kesimpulannya hidup adalah belajar, dan belajar untuk hidup. Kesadaran inilah yang sejatinya mutlak ada serta dimiliki oleh setiap kita sebagai manusia pembelajar. Termasuk juga kamu yang baru aja mulai <em>start </em>lagi untuk mengitari ‘sirkuit’ pendidikan sampe nanti kamu jadi orang besar dan dipanggil Yang Mahakuasa. Bukankah kata nabi menuntut ilmu itu dari sejak buaian ibu hingga ke liang lahat?</p>
<p>Rancho juga mengajarkan agar kita kritis terhadap metode dan sistem pendidikan yang berlaku saat ini yang lebih membentuk pelajar menjadi tak ubahnya seperti mesin dan kehilangan kemanusiaannya. Siswa  terkesan ’dipaksa’ untuk mengikuti kemauan orang tua dan sekolah tanpa mempedulikan potensi yang dimiliki sebenarnya oleh sang anak. Jadilah produk pendidikan itu seperti robot, cerdas intelektualnya namun tidak berhati. Orientasi pendidikan hanya tertuju pada sesuatu yang bernilai material. Ya, apalagi kalo bukan harta, tahta, dan manusia. Cukup hanya bisa bekerja dengan posisi terpandang dan berkelimpahan kekayaan. Padahal pendidikan itu bukan hanya untuk hidup kita saat ini di dunia, melainkan juga untuk hidup kita yang kedua dan abadi kelak di akhirat. Berarti, ada yang salah dalam kurikulum pendidikannya. Nah, lho.</p>
<p>Yang menarik, Rancho mengajarkan mengenai manajemen konflik kepada kita. Kalimat sugesti yang nyaris mirip mantra dan selalu ia ajarkan kepada banyak orang manakala berhadapan dengan masalah adalah <em>all iz well</em> yang maksudnya semua akan baik-baik saja. Dalam Islam, kita juga telah diajarkan lho. Firman Allah Swt. (yang artinya): “<em>Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” </em><strong>(QS al-Baqarah [2]: 286) </strong></p>
<p>Jadi, nggak usah takut menghadapi hidup dan masalah. Karena pada hakikatnya hidup adalah masalah. Dan yang perlu kita syukuri adalah karena masalah itulah kita bisa hidup dengan tegar. Bukankah selama kita tetap berada di jalan yang benar, semua akan baik-baik saja?</p>
<p><strong>Mau dibawa ke mana?</strong></p>
<p>Bukan maksud nulisin judul lagunya Armada yang lagi kamu suka. Kali ini saya agak serius neh. Sebait pertanyaan itu saya ingin sodorkan pada pembaca dan sobat muda sekalian. Kita harus mengakui kalo selama ini tanpa sadar kita udah ngelakuin kesalahan dalam proses pendidikan. Betapa sering kita meniatkan proses belajar hanya untuk keuntungan duniawi saja. Betapa sering kita punya motivasi dalam belajar yang keliru dan kadang untuk mengejar prestise (strata sosial) semata. Dan betapa sering kita belajar dengan tujuan yang nggak jelas juntrungannya. Lalu, hendak dibawa ke manakah diri dan hidup kita?</p>
<p>Niat, motivasi, dan tujuan yang salah sudah pasti akan menghasilkan suatu kesalahan. Begitu pun bila sebaliknya. Hati-hatilah terhadap ketiga hal ini. Karena Nabi Saw. mengingatkan: <em>“Segala sesuatu tergantung dari niat. Dan tiap-tiap orang akan mendapatkan sesuatu dari apa yang diniatkan&#8230;”</em> <strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Idealnya sebagai muslim dalam mengenyam pendidikan selalu bermuara pada ridho Allah semata. Niat, motivasi, dan tujuan belajar hanya untukNya. Di sinilah konsep Islam mengenai iman-ilmu-amal harus kita aplikasikan secara nyata. Seorang bijak pernah berkata, jangan belajar untuk mencapai sukses tapi belajarlah untuk membesarkan jiwa. Ya, sekolah adalah tempat untuk kita dapat menemukan jati diri kemanusiaan agar memiliki jiwa besar dengan keyakinan penuh kepada Allah Rabbul ‘Izzati dengan proses pembelajaran yang bermakna. Lalu kedewasaan pun akan menghampiri kita.</p>
<p>Sekarang saatnya menata diri, hati, dan hari dengan rencana dan aktivitas bermanfaat dan terarah. Nikmati perjalanan pencarian makna hidup kita dengan Islam sebagai <em>guide</em>-nya. Jangan lewatkan setiap momen hidup kita untuk terus dicari plus ditemukan hikmahnya. Dan songsong keberhasilanmu dalam naungan rahmat, berkah, dan ridhoNya selalu. Salam <em>Mumtaz</em>! <strong>[anto apriyanto, <em>the spirit of soul</em> </strong> | <strong>anto.mumtaz@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/unlimited-liability/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman adalah Guru Terbaik</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pengalaman-adalah-guru-terbaik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pengalaman-adalah-guru-terbaik#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 22:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3434</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 142/tahun ke-3 (30 Rajab 1431 H/ 12 Juli 2010) Bro en Sis, tanggal 12 Juli 2010 ini adalah hari petama masuk sekolah ya? Sip deh. Bagi kamu yang naik kelas, jadikan pelajaran kemarin untuk lebih baik lagi prestasinya. Kamu yang udah lulus sekolah juga dan masuk SMA atau kuliah, jadikan pengalaman selama belajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 142/tahun ke-3 (30 Rajab 1431 H/ 12 Juli 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Bro en Sis, tanggal 12 Juli 2010 ini adalah hari petama masuk sekolah  ya? Sip deh. Bagi kamu yang naik kelas, jadikan pelajaran kemarin untuk  lebih baik lagi prestasinya. Kamu yang udah lulus sekolah juga dan  masuk SMA atau kuliah, jadikan pengalaman selama belajar sebelumnya  untuk evaluasi kita. Semoga menjadi lebih baik lagi segalanya.</p>
<p>Pepatah yang mengatakan bahwa “Pengalaman adalah guru yang terbaik”,  kayaknya ada benarnya juga lho. Sumpah. Saya sering ngalamin kejadian  begitu. Bisa kejadian buruk atau baik. Keduanya bisa dijadikan sebagai  pengalaman untuk pelajaran pada waktu yang akan datang. Istilah kerennya  sih, menjadi cermin gitu deh. Jadi bisa ngukur. Bisa membandingkan.  Misalnya, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Sebab, hari-hari  kemarin setelah dievaluasi ternyata kita banyak ngelakuin kesalahan.  Sehingga kesempatan hari ini dan hari esok harus dimanfaatkan dengan  sebaik mungkin. Tidak mengulangi kesalahan apalagi menambah kesalahan  baru. Jadikan sebagai pelajaran berharga bagi kita. Insya Allah.</p>
<p>Begitu pula sebaliknya, kalo itu pernah ngalamin kejadian yang  menyenangkan tentang sesuatu, maka jadikan sebagai ukuran dan pelajaran  berharga agar kejadian yang menyenangkan itu bisa terulang lagi, atau  bahkan bisa lebih menyenangkan lagi. Tul nggak sih? Itu semua belajar  dari pengalaman.</p>
<p>Di dunia sepakbola, seringkali pengalaman bertanding yang banyak bisa  mengalahkan teknik dan strategi dari klub atau timnas yang belum  pengalaman. Timnas Spanyol contohnya. Timnas Spanyol di Piala Dunia 2010  ini sebagian dihuni pemain yang punya pengalaman bertarung di kompetisi  Eropa sebelumnya. Bahkan pernah menjuarai Piala Eropa 2008 yang di  final mengalahkan Jerman melalui gol Fernando Torres. Banyak pengamat <em>soccer</em> menyebutkan bahwa pasukan yang dibesut Vicente Del Bosque ini punya  pengalaman bertanding yang cukup. Pada semifinal Piala dunia 2010  melawan Jerman, Carlos Puyol dan kawan-kawan berhasil memupus mimpi  juara pasukan muda Jerman yang ditangani Joachim Loew. Jerman menyerah.  Maklum, pasukan mudanya, meski pada Piala Dunia 2010 menunjukkan  agresivitas yang oke ketika melumat Inggris dan Argentina dengan skor  telak, tapi sejatinya pengalaman bertanding mereka sangat kurang,  apalagi melawan timnas Spanyol yang dihuni para pemain berpengalaman dalam  kompetisi tersebut. Bahkan akhirnya Spanyol menjadi juara dunia untuk pertama kalinya setelah di final mengalahkan Belanda lewat gol tunggal Andres Iniesta.<span id="more-3434"></span></p>
<p>Ngomongin soal pengalaman yang saya alami sendiri. Saya juga punya  cerita lho. Kayaknya nggak seru kali ya kalo sampe saya pendem terus  tanpa ada yang tahu. Begini ceritanya. Saya kadang agak nggak enak ati  kalo ditanya sama peserta bedah buku atau acara talkshow lainnya yang  saya isi: “Kang Oleh, gimana sih bisa nulis seperti di buku yang Kang  Oleh tulis tersebut. Bahasanya lincah, mudah dipahami, ringan,  inspiratif dan menghibur serta tanpa menggurui.” (perhatian: ini bukan  narsis, tapi menyambung lidah beberapa peserta diskusi pada acara bedah  buku saya. Yuhuuu! Hehehe…)</p>
<p>Menjawab pertanyaan yang cukup panjang ini, saya biasanya menjawab  singkat saja: “Pengalaman.” Di antara mereka ada yang belum ngeh.  Sehingga saya harus jelasin lagi. “Iya, saya bisa nulis seperti itu  butuh waktu, butuh proses, dan juga kesabaran dan keuletan. Termasuk  tentunya pengorbanan uang, tenaga, dan juga waktu.”</p>
<p>Karena menulis adalah keterampilan, saya ibaratkan belajar menulis  seperti kita sedang belajar naik sepeda. Udah nggak keitung deh berapa  kali saya jatuh dari sepeda, dapet pinjem, lagi. Saya pinjem sepeda dari  adiknya nenek saya (berarti kakek saya juga istilahnya ya?) waktu di  kampung halaman dulu. Saking pengen bisanya naik sepeda, saya paling  bersemangat kalo adiknya nenek saya sowan ke nenek saya. Sepeda onthel  yang biasa dinaikinya saya pinjem. Beliau baik banget dan tanpa ragu  minjemin walaupun udah saya bilang untuk belajar dan udah tahu  risikonya.</p>
<p>Wah, kebayang kan gimana jadinya tuh sepeda? Lampu depannya pernah  copot, rantainya pernah lepas, pedalnya juga sempat ilang bautnya  sehingga nyaris lepas. Itu terjadi karena saya sering kompakan jatuh  bareng sepeda tersebut. Kalo sepedanya aja sampe babak belur gitu, tentu  yang naiknya lebih parah lagi. Tapi demi cita-cita mulia (idih,  cita-cita mulia, man!) pengen bisa mengendarai sepeda, lutut  berdarah-darah, tangan baret-baret sampe badan pegal-pegal karena  “jatuh-bangun” nggak terlalu dirasakan, apalagi dipikirkan. Jalan aja  terus demi keinginan kuat: lihai naik sepeda.</p>
<p>Pengalaman “jatuh-bangun” itu saya jadikan sebagai pelajaran. Saya  akhirnya bisa mengatur pengereman sepeda. Nggak tiba-tiba atau sekaligus  direm. Tapi pelan-pelan. Cara belokkin stang, cara ngayuh alias  ngegowes, dan terutama belajar keseimbangan badan saat mengendarai  sepeda tersebut. Pengalaman jatuh itu pula yang kemudian membuat saya  jadi lebih hati-hati di kemudian hari. Akhirnya, saya bisa naik sepeda.</p>
<p>Menulis juga sama. Pengalaman saya waktu pengen bisa nulis itu  lumayan perih juga. Jangankan komputer, mesin tik aja nggak punya. Tapi  semangat saya untuk bisa menulis lebih besar dari kendala yang saya  hadapi. Maka, tak putus dihadang kondisi, saya cari cara untuk bisa  belajar nulis. Cara yang paling mudah itu adalah menulis pake pulpen di  kertas kosong yang saya miliki. Hasilnya, banyak catatan di buku hasil  karya saya dalam menuangkan gagasan lewat tulisan, termasuk catatan  utang ke warung nasi juga ada di situ. Hehehe… Itu saya lakukan setelah  belajar pelajaran sekolah ketika duduk di bangku SMA. Jadi malam hari  biasanya saya berlatih menulis. Menulis apapun sesuka saya, karena yang  terpenting saya bisa menuangkan gagasan melalui tulisan.</p>
<p>Hanya saja, karena tulisan tangan saya itu mengalahkan cara dokter  menulis resep, maka saya seringnya malah nggak bisa baca tulisan  sendiri. Wacks! Bener. Maka, karena saya pikir kurang efektif, mulailah  saya menulis pake mesin tik hasil pinjam dari teman saya. Jadi deh, saya  yang paling sering minjem tuh mesin ketik. Satu halaman, dua halaman  saya tulis. Dan, sejumlah itu pula saya buang tulisan tersebut karena  saya merasa nggak sreg dengan tulisan saya sendiri. Rasanya memang  jelek. Susunan katanya acak-acakan, nggak jelas ujung-pangkalnya, dan  solusinya nyaris nggak ada. Halah!</p>
<p>Saya nggak peduli walau harus susah payah menulis dan membuang  tulisan yang saya pikir kurang bagus. Terus dan terus begitu untuk  berlatih menulis. Sambil tentunya saya mengasah wawasan menulis dari  para penulis terkenal waktu itu melalui buku-buku mereka yang saya beli  maupun pinjam dari teman. Wawasan dan keterampilan menulis saya akhirnya  makin terlihat karena seringnya berlatih. Saya ‘contek’ gaya menulisnya  Bung Emha Ainun Nadjib dari beberapa bukunya, di antaranya: <em>Markesot  Bertutur</em>, <em>Slilit Sang Kiai</em>, <em>Secangkir Kopi Jon Pakir</em>,  <em>Dari Pojok Sejarah</em> dan lain sebagainya. Selain Bung Emha,  karya-karya lain juga saya baca seperti karya Bang Eka Budianta. Maka,  proses belajar menulis saya mendapatkan pengalaman berharga dari para  penulis terdahulu yang karyanya saya baca tersebut. Sungguh pengalaman  belajar yang sangat langka dan memberikan pengaruh besar dalam upaya  saya meniti karir menjadi seorang penulis.</p>
<p>Itulah mengapa saya berkeyakinan, bahwa saya bisa menulis seperti  sekarang adalah memang karena pengalaman. Yup, bahwa pengalaman adalah  guru terbaik yang bisa dijadikan ukuran dan bahan evaluasi dalam belajar  meniti kesuksesan yang kita idamkan. Percayalah. Tak ada orang yang  langsung bisa. Semuanya melewati proses, butuh waktu, butuh pengorbanan,  dan jangan takut melalui kendala dan halangan-halangan. Bahkan bila  perlu banyak mencoba hal baru untuk mencari pengalaman. Sebab, bukan  mustahil hal baru itu akan memberikan pengalaman berharga bagi kita.  Siapa tahu kan?</p>
<p><strong>Jangan ragu, cobalah hal baru</strong></p>
<p>Bro en Sis, waktu saya kelas 3 sampe kelas 5 SD (tahun 1983-1985),  sering banget diajak sama ayah saya naik bis ke Jakarta. Paling nggak  sebulan sekali. Maklum, ayah saya adalah seorang sopir bis AKAP (Antar  Kota Antar Propinsi), trayeknya Kuningan-Jakarta. Dulu <em>mah</em> belum  ada jalan tol Jakarta-Cikampek. Terus terminalnya juga masih di  Cililitan. <em>So</em>, jauh banget kan? Bisa seharian di bis untuk  perjalanan PP. Berangkat abis subuh, pulang lagi ke rumah menjelang  isya. Lelah banget. Tapi, kelelahan saya itu terbayar dengan banyaknya  pengalaman merasakan jauhnya perjalanan dan apa saja yang bisa dilihat  di jalan. Lalu yang paling seneng dan membahagiakan adalah ketika  menceritakan pengalaman tersebut ke teman-teman saya. Mereka sih  terbengong-bengong aja sambil berusaha ngebayangin tentang kota Jakarta  yang saya ceritakan.</p>
<p>Oya, sejak kecil saya termasuk senang ‘bertualang’ dengan hal baru.  Selain pengalaman pergi ke kota dengan ayah naik bis, pengalaman belajar  naik sepeda, saya juga sama ibu saya diajarkan untuk berjualan. Nah,  saya waktu SD kelas 3 sampe kelas 6 setiap bulan Ramadhan pasti dikasih  modal sama ibu saya untuk jualan. Jualannya juga keren. Mungkin kalo  dulu saya udah kenal Adnan Kasoghi&#8211;pedagang senjata saat perang  Iran-Irak itu—boleh juga masok barang dari dia. Ciee.. maklum waktu itu  ibu saya modalin saya untuk berjualan petasan! Hehehe…</p>
<p>Sebulan penuh saya jualan petasan. Saya udah belajar prihatin sejak  SD. Itu semua jadi pengalaman saya. Banyak pengalaman berharga yang saya  dapatkan. Mulai bagaimana mencari tempat belanja dan barang yang murah,  jenis petasan yang sedang jadi tren, sampe gimana masarin petasan itu  agar lebih laku dijualnya. Belanjanya bareng ibu saya. Seminggu dua kali  ke pasar. Jualan tiap hari mulai jam 4 sore. Sekalian <em>ngabuburit</em>.  Waktunya buka puasa sampe shalat tarawih dan ikut tadarusan di masjid  saya nggak jualan. Setelah itu sampe sekitar jam 10-an malam dilanjutkan  lagi jualannya. Wah, seru deh. Saya yang jualin petasan, teman-temen  saya yang ngebakarnya. Saya dapet duitnya. Temen-temen yang ‘ngasih’  duit ke saya. Dikumpulin tuh duit sampe lebaran. Jadi, ketika  temen-temen dibelikan pakaian baru sama ortunya, saya malah bisa membeli  pakaian sendiri selain yang dikasih dari ortu, plus bisa jajan di hari  lebaran dan masih bisa nabung. Seneng banget deh. Ini kok jadi nostalgia  ya? Halah!</p>
<p>Kebiasaan saya jualan kebawa juga sampe di SMA. Saya kebetulan  sekolah di sekolah kejuruan kimia di Bogor, tapi karena padat dan harus  konsentrasi belajar, saya baru bisa jualan mulai kelas 4, berarti tahun  terakhir sekolah di sana. Waktu itu memang terdesak juga dengan  kebutuhan hidup karena uang kiriman dari ortu di kampung sering telat  dan kalo pun udah keterima, eh nggak nyampe hitungan sebulan uang  tersebut udah habis. Bukan karena boros, tapi karena SPP di sekolah  tersebut menurut saya cukup malah dan biaya hidup sebagai anak kos  termasuk gede, lho. Apalagi jumlah uang yang dikirim juga ngepas banget.  Maka, saya jualan <em>nata de coco</em> deh demi nambah-nambah uang saku.  Barangnya saya ambil dari guru ngaji saya yang mahasiswa di sebuah  perguruan tinggi di Bogor yang juga wirausahawan. Duh, seru deh  pokoknya. Itu yang harus saya lakukan jika tak ingin bokek di kota yang  jauh dari ortu saya. Ya, saya menyadari karena saya anak pertama dan  adik saya ada 5 orang yang juga masih sekolah dan ortu udah cerai. Jadi,  saya yang harus berjuang lebih keras dibanding adik-adik.</p>
<p>BTW, ini sekadar berbagi aja ya. Bahwa pengalaman yang kita alami  akan menjadi modal berharga bagi kehidupan kita di kemudian hari. Sampai  sekarang pun, saya masih selalu mencoba dan ingin mendapatkan  pengalaman baru. Maka, selain menjadi penulis, saya juga jualan buku  saya dan pernah juga buku orang lain. Seru juga sih. Sebab, dengan  menjalani aktivitas ini, saya jadi bisa dapetin pengalaman gimana  berhubungan dengan pembaca atau konsumen lainnya. Saya bisa  mengeksplorasi keinginan pasar, selain tentunya jadi banyak kenalan dan  relasi dalam bisnis.</p>
<p>Bro en Sis, jangan pernah ragu untuk mencoba hal baru. Baik dalam  kondisi “normal” alias nggak ada masalah lain yang mengharuskan terjun  ke situ, maupun karena terpaksa mencoba hal baru itu dengan alasan  terdesak kebutuhan hidup. Insya Allah pengalaman yang akan didapat  menjadi sangat berharga. Dalam kondisi seperti ini, kita nggak bisa  terus ngandelin ijazah atau gengsi karena menekuni pekerjaan yang  bertolak belakang dengan keahlian bidang akademik yang diajarkan di  sekolah atau perguruan tinggi tempat kita belajar.</p>
<p>Pengalaman memang guru yang terbaik. Sensasinya akan memberikan  tambahan wawasan, tambahan informasi, dan tambahan inspirasi dalam  menjalani kehidupan kita. Tak perlu ragu atau bimbang. Yakin sajalah.  Karena tak ada yang sia-sia dengan pengalaman yang kita jalani jika kita  mau mengambil hikmahnya, mengambil pelajarannya dan menjadikan sebagai  evaluasi untuk kemajuan kita di masa yang akan datang. Jangan diam, ayo  bergerak. Lakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Kerjakan dengan  ikhlas, kerjakan dengan keras, lakukan hingga tuntas dan tak kenal  lelah. Juga, resapi setiap jengkal pengalaman hidup sebagai sesuatu yang  sangat luar biasa yang akan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik  dan meraih ridha Allah Swt. Percayalah!</p>
<p><strong>Tips singkat nih</strong></p>
<p><em>Pertama</em>, nikmati hidup dengan penuh ketenangan dan kesadaran.  Yakinlah, bahwa kehidupan yang kita jalani tak selamanya lurus. Pasti  ada saatnya melalui jalan berliku dan terjal. Kaki kita mungkin untuk  kesekian kalinya harus terpeleset dan membuat tubuh kita terjerembab.  Tapi, nikmatilah dengan tenang dan sadar. Bangkit kembali dan jangan <em>down</em>!  Ketenangan akan membuat kita bisa mencari jalan keluar. Kesadaran akan  memberikan dorongan bahwa apa yang kita alami adalah nyata, dan perlu  waspada sehingga tidak terlena atau malah terpuruk. Jalani saja apa  adanya sambil mencari solusi. Hadapi kenyataan sambil menghayati  pengalaman apa yang akan menjadi pelajaran dalam hidup kita.<strong> </strong></p>
<p><em>Kedua</em>, berbagilah dengan yang lain. Ini penting lho. Sebab,  dengan berbagi pengalaman kepada orang lain kita jadi merasa ada teman  dan insya Allah sebagai ladang amal dan pahala karena bisa memberikan  manfaat atau inspirasi bagi orang lain. Siapa tahu, mereka akan belajar  dari pengalaman hidup kita. Susah atau senang, sedih atau gembira.  Ceritakanlah. Bila perlu secara total.<strong> </strong></p>
<p><em>Ketiga</em>, ambil hikmahnya.<strong> </strong>Sebagian dari kita mungkin  sering merasakan berbagai peristiwa yang dialami, tapi jarang yang bisa  mengambil hikmahnya. Cobalah sejenak untuk berhenti. Renungkan  perjalanan atau peristiwa yang kita alami. Ambil hikmahnya, jadikan  sebagai pengalaman berharga. Agar ke depannya lebih baik dan lebih baik  lagi. Insya Allah. <em>So</em>, tetap semangat menatap masa depan ya. Kita  raih ridho Allah Swt. untuk kemuliaan hidup kita. <strong>[solihin:  osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pengalaman-adalah-guru-terbaik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Mangan ora Mangan”, Facebook!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9cmangan-ora-mangan%e2%80%9d-facebook</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9cmangan-ora-mangan%e2%80%9d-facebook#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 02:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3432</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 141/tahun ke-3 (23 Rajab 1431 H/ 5 Juli 2010) Budayawan Umar Kayam pernah nulis buku, “Mangan ora Mangan Kumpul”. Ini memang diambil dari kultur masyarakat Jawa secara umum di masa lalu, bahwa makan tidak makan yang penting ngumpul. Artinya, dalam kondisi apapun, baik susah maupun senang tetap kumpul bersama keluarga. Makan itu simbol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 141/tahun ke-3 (23 Rajab 1431 H/ 5 Juli 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Budayawan Umar Kayam pernah nulis buku, “<em>Mangan ora Mangan</em> Kumpul”. Ini memang diambil dari kultur masyarakat Jawa secara umum di masa lalu, bahwa makan tidak makan yang penting ngumpul. Artinya, dalam kondisi apapun, baik susah maupun senang tetap kumpul bersama keluarga. Makan itu simbol bahwa kita senang. Nggak makan perlambang kalo kita susah. Jadi, apapun kondisinya, <em>sing</em> penting ngumpul, rek!</p>
<p>Nah, kalo sekarang saya plesetkan jadi mangan ora mangan yang penting facebook! Hehehe… soalnya ngeliat fenomena yang ada, kok orang betah banget berintim-ria dengan facebook. Sehari nggak ketemu situs jejaring sosial ini perasaannya kok seperti nggak plong. Masih menyimpan penasaran. Meski praktiknya, sekadar ngecek status teman atau melihat apakah ada permintaan teman baru yang masuk ke akun facebook kita. Jika ada remaja yang tak bisa lepas dari facebook meskipun untuk itu dia nggak makan, berarti udah parah tingkat ketergantungannya kepada situs jejaring sosial ini.</p>
<p>Facebook emang bisa dijabanin kapan aja, situs itu nggak peduli orang yang mengunjungi dan bekumpul di komunitas yang difasilitasinya udah makan atau belum. Makan secara fisik dengan memasukkan makanan ke tubuh bisa jadi akan tahan beberapa saat, tapi yang tak bisa dilakukan orang yang terkena facebook addict itu adalah tahan dari tidak berinteraksi dengan sesamanya di dunia maya. Agar bisa tetap berinteraksi dengan teman-temannya di dunia tersebut, dia akan ambil jatah uang makannya untuk beli pulsa telepon agar bisa ngenet terus. Atau setidaknya nongkrong di warnet. Waduh!<span id="more-3432"></span></p>
<p>Bro en Sis, karena facebook juga bisa diakses via ponsel, maka akan lebih banyak lagi pengguna yang kecanduan situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini. Nggak perlu pake komputer. Maka, kita saksikan ada tukang bakso keliling yang asik main facebook. Meski doi nggak punya komputer, online bisa tetap jalan asal punya ponsel, Bro. Ya, lagian kalo pun punya komputer pasti bakalan ribet karena harus dibawa keliling sambil jualan bakso. Tukang bakso aja tetap bisa online di facebook dengan fasilitas layanan GPRS atau 3G yang tertanam di ponsel yang dimilikinya. Hebat bener facebook, bisa mengubah cara pandang orang tentang makna pertemanan dan eksistensi diri meskipun di dunia maya.</p>
<p>Banyak sudah komentar dan sindiran kepada orang-orang yang “facebook addict” bertebaran di dunia maya seperti di blog dan website. Gambar-gambar yang dihadirkan lucu-lucu. Ada foto tengkorak lagi ngetik pake notebook, terus yang muncul di layar notebooknya adalah logo facebook. Foto menarik lainnya ada yang posenya orang yang sedang berhubungan seksual di balik selimut. Yang muncul di situ, ada satu tangan yang keluar dari balik selimut yang menggambarkan sedang menekan tombol enter di laptop yang berlogo facebook. Tentu, meski mungkin dalam kenyataannya di lapangan sulit dibuktikan faktanya bahwa ada yang sampai seperti itu, tapi bisa kita rasakan. Bahwa banyak orang yang tidak bisa lepas dari facebook. Mereka rela menahan lapar dan haus asalkan tetap bisa online di facebook. Waduh, jangan-jangan di bulan Ramadhan nanti banyak orang ngabuburit dengan nongkrong di facebook nih?</p>
<p>Facebook emang fenomenal dan mengasikkan, tapi kalo sampe kita nggak makan gara-gara facebook itu kebangetan. Bahwa facebook bisa juga ada manfaatnya memang iya, tapi kan nggak mesti berbuat konyol dan punya prinsip: mangan ora mangan, yang penting facebook. Ah, itu lebih dari kebangetan, yakni: Sungguh terlalu! (backsound: tunjukkan dengan ekspresi Bang Rhoma ya!) Hehehe..</p>
<p><strong>Facebook Addict</strong></p>
<p>Gila kerja, meskipun hal itu berdampak kepada bertambahnya pendapatan, tetap saja ada yang dikorbankan. Salah satunya, waktu berharga bersama keluarga. Gila belajar, meskipun ada manfaatnya, namun tetap saja ada yang diabaikan. Salah satunya, kita menjadi pribadi yang hanya fokus kepada belajar, belajar, dan belajar. Gila bola, akan menjadikan orang rela menjadi suporter fanatik sebuah klub atau timnas yang berlaga di piala dunia, misalnya. Mereka yang gila bola, rela memasang atribut timnas tertentu, memiliki koasnya, bahkan di Polman (Polewali Mandar) ada seorang pria tewas tersengat aliran listrik saat hendak memasang bambu basah—karena bambu tersebut mengenai kabel listrik bertegangan tinggi—untuk mengibarkan bendera timnas Belanda sesat setelah tim negeri kincir angin itu meremukkan Brasil di perempat final Piala Dunia 2010 lalu. Halah!</p>
<p>Bro en Sis, gila kerja memang ada manfaatnya, gila belajar juga tak sedikit manfaatnya. Namun bukan berarti harus terus begitu sepanjang waktu. Selain kudu menghemat tenaga untuk bisa istirahat, juga agar kita tak selalu fokus ke satu masalah. Sebab, ada waktu yang juga kita alokasikan untuk istirahat, berhubungan dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Ssst.. kalo gila belanja gimana? Wah, itu berdampak tidak baik bagi diri kita, meskipun ada manfaat bagi para penjual produk karena produknya pasti laku kalo di dunia ini banyak orang yang gila belanja.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal kecanduan, ternyata nggak cuma narkoba yang bisa bikin orang kecanduan. Seks bisa bikin orang kecanduan juga lho. Kalo itu dilakukan suami-istri sih nggak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika dilakukan oleh mereka yang bukan mahrom. Kita prihatin dengan seks bebas yang kian marak dilakukan remaja dan orang dewasa yang lemah iman tapi kuat nafsunya (setidaknya kalo itu diukur dan dilihat dari PNDK alias Penulusuran Nafsu Dan Kekuatan, hehehe). Obat-obatan tertentu pun bisa bikin orang ketagihan untuk terus mengkonsumsi.</p>
<p>Ada ketagihan yang lain nggak? Hehehe.. ada. Ya, salah satunya ketagihan untuk online. Sebelum ada situs jejaring sosial bernama Facebook, orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk <em>chatting</em>, untuk kumpul-kumpul di komunitas grup diskusi. Apalagi kalo udah berselancar nyari data. Bisa data yang bermanfaat, maupun data yang tidak bermanfaat. Situs porno pun jadi tempat mangkal netter yang ketagihan cerita dan gambar erotis. Belum lagi game online. Halah makin tekun deh tuh di depan komputer!</p>
<p>Maniak-online juga bisa membahayakan lho, meskipun ada manfaatnya. Ya, kalo seharian online, apa nggak bosen tuh? Facebook-an seharian apa nggak pegel? Kalo sampe kamu ngerasa kehilangan facebook sehari aja, itu tandanya kamu sudah kecanduan. Uring-uringan kayak orang kebakaran kumis (bagi yang punya kumis tentunya), kalo yang nggak punya kumis, ya ibarat orang kebekaran bulu keteknya. Hihihi..</p>
<p>Bro en Sis, kalo sampe tiap hari kamu merasa kudu online terus di facebook,  waspadalah! Sebab, bisa jadi kamu mulai terkena gejala “Facebook Addict” alias kecanduan facebook. Bawaannya liat hape pengennya langsung browsing dan yang terbayang di pikirannya logonya facebook plus teman-teman dunia maya tempat ngumpul bareng secara virtual. Pengen tahu “status” terbaru teman-teman yang ada dalam list kita. Penasaran dengan apa yang dikerjakan mereka saat ini. Geregetan pengen nyapa, pengen cari informasi, pengen komentar, pengen ngasih “jempol” tanda suka dengan statusnya. Bener lho.</p>
<p>Saya, pada awal-awal kenal facebook, meski nggak sampe ‘gila’, tapi sering nongkrong di situs jejaring sosial. Cuma kalo saya tertantangnya pengen mengeksplorasi apa aja fitur dan fungsinya. Diulik (bukan diulek lho!) semua fitur yang ada. Satu per satu saya cobain dan praktikkan. Setelah merasa puas, barulah jarang buka-buka lagi. Toh, cuma “gitu-gitu” aja. Saya lebih memilih memfungsikan semaksimal mungkin fitur yang cocok untuk berbagi manfaat dengan teman lainnya. Untuk update status juga perlu dipilih isinya lho. Jangan sampe cuma nyampah aja. Tapi pastikan yang bermanfaat bagi teman kita yang baca. Misalnya tentang motivasi, kutipan hadis atau ayat al-Quran, bisa juga info kegiatan positif dan sejenisnya yang memang bermanfat.</p>
<p><strong>Waktu yang terbuang</strong></p>
<p>Yuk, kita kalkulasikan waktu yang kita korbankan untuk ngenet dan mangkal di facebook dengan waktu kita di tempat lain yang lebih bermanfaat. Misalnya, dalam sehari kita nongkrong di facebook minimal 5 jam, itu udah parah lho. Berarti dalam sebulan waktu yang habis untuk ‘bermesraan’ dengan situs jejaring sosial ini adalah (150 jam, yakni 30 hari dikali 5 jam). Silakan hitung sendiri jika dikonversi dengan duit yang kudu dikeluarkan untuk beli pulsa telepon. Juga yang terpenting, soal memanfaatkan waktunya itu lho. Waktu 5 jam itu kalo dibagi-bagi buat istirahat, belajar, dan bekerja bisa sangat berharga.</p>
<p>Oya, waktu yang dipake 5 jam sehari untuk facebook-an itu, baik waktu 5 jam itu secara berturut-turut atau memanfaatkan waktu di sela-sela aktivitas lain, tetap aja ada waktu yang secara khusus dialokasikan untuk main-main di facebook. Saya kok nggak merasa yakin kalo remaja yang mangkal di facebook itu memanfaatkannya dengan kebaikan. Masih ragu gitu lho. Soalnya, yang saya tahu lebih banyak dipake sekadar “hiburan” dan “main-main” saja. Mungkin ada juga yang memanfaatkan untuk dakwah misalnya, tapi jumlahnya tak sebanyak yang dipake untuk main-main. Sori ya, bukan nuduh tapi emang ada faktanya. Kalo kamu baca artikel ini nggak ngerasa sampe facebook addict, ya jangan tersinggung. Namanya juga nggak ngelakuin ya jangan ngaku. Heheh.. anggap aja dalam contoh ini adalah teman kamu. Ok?</p>
<p><em>So</em>, waktu 5 jam sehari main facebook aja udah kebanyakan, apalagi yang lebih dari 5 jam sehari online terus, bisa-bisa jadi manusia online deh. Itu namanya udah sampe taraf kecanduan lho. Ati-ati jangan sampe kamu terkena “Facebook Addict”. Pikirin lagi sebelum berbuat, dan yang pasti, kamu tinggal lebih banyak di dunia nyata. Bukan di dunia maya dan bukan cuma di facebook. Ok? Dunia tak seluas “update status, news feed, atau note” di facebook. Manfaatkan waktumu dengan cara yang benar dan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan bekal di akhirat kelak. Akur ya? Harus! (ciee… saya kok jadi ngatur-ngatur gini?). Ngatur-ngatur? Kalo untuk kebaikan, kenapa nggak? Yes!</p>
<p><strong>Manfaatkan waktu </strong></p>
<p>Waktu yang kita miliki bisa jadi amat luang dan lapang, namun adakalanya kita nggak bisa memanfaatkan untuk hal-hal yang benar dan baik. Jasiem M. Badr dalam buku <em>Efisiensi Waktu dalam Islam</em> memberikan alternatif cara mengefisienkan waktu: Pertama, pergerakan (kegiatan) terarah. Untuk mencapainya, seseorang kudu memprogram dan menggariskan tujuan geraknya. Dan pastikan bahwa tujuan dari setiap gerak itu nggak boleh lepas dari haluan Allah. Misalnya untuk dakwah, untuk beramal shalih lainnya, untuk ibdah, bekerja dan semua yang bermanfaat dan bernilai ibadah.</p>
<p>Kedua, bergaul dengan masyarakat. Ini juga penting, sebab waktu kita jadi lebih bermanfaat, apalagi kalo kita adalah pengemban dakwah, tanpa bergaul dengan masyarakat, alamat aktivitas kita nggak ada apa-apanya. Jadikan masyarakat itu sebagai lahan dakwah kita. Jadi gaul dong. Jangan hanya gaul dalam urusan yang nggak bener doang. Meskipun di faceboo kita juga dakwah, tapi jangan sampe dakwahnya hanya di dunia maya aja. Ok?</p>
<p>Ketiga, suka membantu orang lain. Keberadaan orang lain di sekitar kita jangan dianggap sebagai bilangan doang, tapi juga kudu diperhitungkan. Kalo mereka membutuhkan uluran kita, ya kita kudu peduli. Sabda Rasulullah saw.: <em>“Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi seorang mukmin, maka Allah pasti akan melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat.” </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Keempat, menjalani lima perkara yang disukai para sahabat, yakni selalu bergabung dengan orang-orang shaleh yang aktif, mengikuti sunnah Rasul saw., memakmurkan masjid, baca al-Quran, dan jihad fii sabilillah.</p>
<p>Kelima, membaca. Kata Imam Ahmad: “Kebutuhan manusia terhadap ilmu penge­tahuan itu porsinya lebih besar daripada kebutuhan makan dan minum. Kebutuhan makan dan minum dalam sehari bisa dihitung, tapi mencari ilmu adalah sebanyak tarikan napas kita. Ilmu akan menerangi jalan hidup kita.”</p>
<p>Jadi jangan sampe kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt. (yang artinya):<em> </em><em>“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” </em><strong>(QS ar-Rûm [30]: 57)</strong></p>
<p><em>So</em>, jangan sampe hidup kita hanya diisi dengan kegiatan yang nggak ada manfaatnya. Apalagi karena kehidupan akhirat kita hanya membutuhkan bekal sebanyak mungkin amal shalih. Bukan amal salah. Yuk, mulai sekarang tinggalkan segala aktivitas yang merugikan kita. Meski mungkin tampaknya aktivitas itu bakalan nguntungin menurut penilaian kita; popularitas, harta, kesenangan dan sebagainya. Tapi kalo itu maksiat kepada Allah, nggak ada artinya kan? Kalo aktif di facebook gimana? Manfaatkan seperlunya saja (khususnya untuk dakwah). Jangan berlebihan dan jangan sampe kecanduan mengaktifkan facebook untuk hal-hal yang miskin manfaat, apalagi maksiat. Setuju kan? <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9cmangan-ora-mangan%e2%80%9d-facebook/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ideologi Suporter Sepakbola</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ideologi-suporter-sepakbola</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ideologi-suporter-sepakbola#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 03:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[suporter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3427</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 140/tahun ke-3 (16 Rajab 1431 H/ 28 Juni 2010) Kamu pasti pernah tahu kan gimana aksi-aksi suporter sepakbola dalam mendukung klub atau timnas pujaannya? Mereka bela-belain datang ke stadion jika klub pujaannya bertanding. Ada yang memang bayar masuk ke stadion untuk nonton, nggak sedikit juga yang cuma ngeramein jalanan aja karena nggak punya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 140/tahun ke-3 (16 Rajab 1431 H/ 28 Juni 2010)</p>
<p>Kamu pasti pernah tahu kan gimana aksi-aksi suporter sepakbola dalam mendukung klub atau timnas pujaannya? Mereka bela-belain datang ke stadion jika klub pujaannya bertanding. Ada yang memang bayar masuk ke stadion untuk nonton, nggak sedikit juga yang cuma ngeramein jalanan aja karena nggak punya ongkos untuk beli tiket pertandingan. Para suporter ini nyaris memiliki semua atribut klub kebanggaannya: kaos, slayer, stiker, bendera, dan sejenisnya. Selain itu, mereka ada yang rela mati demi membela klub pujaannya dan juga rela melakukan kerusakan dalam melampiaskan kegembiraan (apalagi kekecewaan).</p>
<p>Rasanya masih membekas dalam ingatan ketika final Liga Indonesia tahun 1998. Saat itu, ribuan suporter Persebaya yang dikenal sebagai bonek, alias bodo dan nekat, eh, maksudnya <em>bondo </em>(modal) nekat, turun ke jalanan begitu timnya berhasil menggulingkan Persib Bandung. Toko-toko dijarah, puluhan mobil dibakar. Bahkan aparat keamanan pun kerepotan mengawal mereka sampe Stasiun Senen. Keberingasan belum selesai, kawasan sepanjang jalur kereta Jakarta-Cirebon dihujani batu oleh para suporter brutal ini. Gila!</p>
<p>BTW, artikel ini adalah sebagai pelengkap dari edisi 138 lho. Waktu itu saya menjanjikan akan menulis lanjutannya tentang sepakbola dan pembahasan yang dikaitkan dengan Islam. <em>So</em>, dengan demikian janji itu insya Allah udah terlunasi. Jadi kamu nggak nunggu-nunggu dan tuntas sudah rasa penasaran kamu dengan adanya gaulislam edisi 140 ini. Ok?</p>
<p>Bro en Sis, nuansa ashobiyah (bangga dengan kelompok atau kesukuannya) juga kentara kok dalam polah para suporter. Saya pernah baca di jalan ada anak Viking yang di kaosnya ada tulisan: “Aing Persib, Sia Naon?” Hehehe.. itu artinya “gue Persib, elu apa?” Nggak ketinggalan suatu ketika ada suporter Persija yang saya lihat di kaos bagian belakangnya tertulis: “Kuserahkan hidup-matiku hanya untuk Persija” Waduh!<span id="more-3427"></span></p>
<p>Sekadar tahu aja, Persib Bandung punya suporter berjuluk Viking (nama suporter ini di Italia juga ada, yakni basis suporternya Intermilan, Juventus dan Lazio yang dijejali para ekstrim kanan alias kelompok fasis). Persebaya dengan boneknya. Laskar Jakabaring (Sriwijaya FC) punya suporter Sriwijayamania. Ada yang serem lho, suporternya PSMS Medan, yakni Kampak FC. Eh, julukan klub yang rada keren juga ada: Badai Pengunungan Selatan (sebutan untuk Persiwa Wamena), dan nama suporternya Persiwamania.</p>
<p>Mungkin kita yang tinggal di Jabodetabek dan Jabar lebih sering denger nama suporter seperti The Jakmania (Persija), Kabomania (Persikabo Bogor), dan Viking (Persib). Masih banyak sebenarnya yang lainnya. Banyaknya nama-nama suporter tentu seiring dengan banyaknya klub yang tumbuh subur setelah kompetisi menggunakan sistem liga yang dimulai pada 1994 yang waktu itu langsung dijuarai Persib Bandung. Sebelumnya, di era galatama dan perserikatan klub yang bertanding dikit banget. Maka suporter yang ada juga biasa-biasa saja. Meski tetap terasa nuansa dukungan mereka terhadap klub kebanggaannya.</p>
<p><strong>Sepakbola dan kebanggaan kelompok</strong></p>
<p>Sepakbola seperti ditakdirkan bukan sekadar olahraga. Di Jerman dan Perancis sepakbola adalah kebanggaan teritorial dan pesta. Kalo di Inggris lain lagi, sepakbola adalah ritual dan hiburan. Tak heran kalo di Old Trafford, stadion klub berjuluk Setan Merah, Manchester United sering dibentangkan spanduk dalam ukuran raksasa: <em>Manchester United is My Religion, Old Trafford is My Church</em>. Mungkin ritualnya di stadion karena agamanya adalah MU. Ckckckck…</p>
<p>Bagaimana dengan di Brazil? Hmm.. ternyata sepakbola adalah jalan hidup. Jutaan orang menggantungkan hidupnya kepada sepakbola untuk melepaskan jeratan kemiskinan yang parah di negara tersebut. Lihat saja, talenta-talenta keren mereka hampir semuanya sukses bersama klub-klub raksasa di daratan Eropa. Mulai dari jamannya Pele (Edson Arantes do Nascimento) sampe yang muda belia macam “Si Bebek” Alexander Pato yang main di AC Milan.</p>
<p>Oya, kalo kita mau jeli, ternyata di Spanyol dan Italia, sepakbola adalah politik. Real Madrid adalah klub dengan basis suporter fanatik yang dihuni para ultra kanan yang fasis. Sevilla adalah bentuk perwakilan rakyat Andalusia. Sementara Barcelona adalah bentuk perlawanan rakyat katalan (Katalunya) yang sering diidentikan dijajah Spanyol (diwakili klub Real Madrid). Perseteruan bukan hanya terjadi antara Real Madrid dan Barcelona, ternyata pemerintah Spanyol melakukan “devide et impera” dengan membiarkan tumbuh subur klub Espanyol yang merupakan rival sekota Barcelona. Suporternya? Tentu saja berpotensi saling memusuhi. Selain itu di daerah Basque yang didominasi basis politik kelompok perlawanan ETA (Euskadi ta Askatasuna: Tanah air Basque dan Merdeka) yang diduga kuat mendukung Athletic Bilbao, maka pemerintah Spanyol menghidupkan klub kedua sebagai penyeimbang atau oposisi, yakni Real Sociedad.</p>
<p>Bro en Sis, di Italia sendiri sudah tumbuh subur pertikaian politik dan kelompok-kelompok fasis. Mungkin itu udah dari sononya ya. Sebab, orang Italia kayaknya dari jaman dulu udah ‘hobi’ dengan persekutuan politik. Kamu mungkin pernah tahu mitosnya kisah Romus dan Romulus yang saling bunuh untuk merebut Roma. Maka, para tifosi (suporter) klub-klub di Italia secara sadar membawa atribut kesadaran politik ke dalam stadion. Bukan mustahil pada akhirnya bentrok fisik juga terjadi antar suporter. Terutama klub-klub yang basis suporternya sangat fanatik macam Juventus, Intermilan, AS Roma serta Lazio.Mereka rata-rata dihuni para Irriducibilli, suporter garis keras nan fasis bin rasis.</p>
<p><strong>Suporter sepakbola Vs Suporter Islam</strong></p>
<p>Kalo kamu sempat belajar psikologi, mungkin pernah dengar istilah konformitas. Nah, konformitas ini secara sederhana sering disebut kenyamanan (berada dalam sebuah kelompok). Supaya nggak bingung, saya kutipkan definisi konformitas menurut Brehm dan Kassin. Kedua orang ini mengatakan bahwa konformitas adalah kecenderungan untuk mengubah persepsi, pendapat, perilaku seseorang sehingga konsisten dalam perilaku atau norma kelompok. Setiap seseorang yang masuk ke dalam suatu kelompok (termasuk kelompok pendukung sepakbola) memiliki kecenderungan untuk menyamakan presepsi, pendapat dan perilaku seseorang terhadap kelompoknya. Coba deh kamu lihat, nggak mungkin banget kan kalo ada suporter Viking tapi berhati Bonex. Begitu juga nggak mungkin ada Banaspati (suporternya Persijap) tapi berjiwa Pasoepati (suporternya Persis Solo). Itu artinya kalo kedua klub kebetulan bertanding, pasti suporternya masing-masing membela klub kebanggaannya. Intinya, menurut teori konformitas ini rasanya nggak mungkin ada individu kelompok yang berbeda dengan kelompoknya. Dalam level tertentu, meskipun ada individu yang berbeda tapi biasanya mereka ngikut pendapat kelompoknya karena khawatir ada celaan terhadapnya. Inilah yang juga terjadi dalam sepakbola. Melihat temannya jadi pendukung Maung Bandung, ikut-ikutan jadi bobotoh Viking. Nggak enak sama temannya yang mendukung Persija, rela juga jadi bagian The Jakmania. Kalo beda dianggap di luar kelompoknya. Jadi nggak nyaman kan hidupnya? Padahal <em>mah</em>, cuekkin aja lah. Tetapi nggak semua remaja begitu. Lebih banyak yang ikut-ikutan arus yang besar, meskipun itu salah. Musibah memang.</p>
<p>Bro en Sis, jika dalam sepakbola saja banyak orang rela menjadi pendukung setianya, maka seharusnya dalam Islam kita bisa menjadi bukan hanya pendukung tapi pembela dan pejuangnya. Perbedaan dukung mendukungnya hanya pada ideologi. Kalo para suporter sepakbola mungkin ada yang sekadar ikut-ikutan, ada yang memang menjadikan sepakbola sebagai muara emosi kesukuan dan kelompoknya, ada yang sebagai jalan hidup dan politik, maka para suporter Islam seharusnya menjadikan Islam sebagai pilihan hidup. Islam sebagai ideologi yang wajib diperjuangkan dan ditegakkan dalam kehidupan individu, masyarakat, dan juga negara.</p>
<p>Saya dan kawan-kawan yang ngelola pengajian suka sedih banget ketika melihat banyak teman kita yang sampe bela-belain memenuhi stadion untuk mendukung klub pujaannya bertanding, sementara untuk memenuhi masjid dalam pengajian mereka nggak mau meski udah kita kasih undangan khusus. Miris deh.</p>
<p>Nggak abis pikir juga banyak kaum muslimin yang pelit ngeluarin zakat, infak dan shadaqah atau apapun yang berkaitan dengan kebaikan dalam Islam. Tetapi mereka jor-joran bin royal dalam membelanjakan uangnya untuk sepakbola: beli kaos, merchandise, tiket stadion dan lain-lain. Aneh yang punya bapak ajaib alias aneh bin ajaib.</p>
<p>Kalo suporter sepakbola banyak yang mengerahkan tenaga dan pikirannya serta kreativitasnya dalam mendukung tim-tim kebanggaannya, tentu sebagai mukmin sejati seharusnya kita lebih hebat lagi dalam menyumbangkan tenaga, pikiran, dan memunculkan kreativitas untuk kemajuan Islam di berbagai bidang: pendidikan, dakwah, sosial, budaya, teknologi dan sebagainya. Inilah seharusnya yang membuat kaum muslimin berbeda dengan umat lainnya. Kaum muslimin lebih merindukan kehidupan akhirat ketimbang hiasan dunia yang sifatnya fana.</p>
<p>Soal ibadah juga seharusnya seorang muslim pejuang Islam lebih memilih memperbanyaknya. Jangan sampe kalah dengan para bolamania. Kita patut menyayangkan energi yang digeber tanpa lelah oleh mereka yang gila bola. Demi melihat  aksi tim kesayangannya bertanding, tak bisa ke stadion maka di televisi pun tak jadi soal. Meski waktu mainnya di sini dinihari nggak jadi masalah. Shalat tahajud? Ah, mungkin mereka sudah lupa. Aneh ya? Padahal kekuatan Islam seharusnya lebih menggerakkan untuk beramal baik sebanyak mungkin. Ironi memang.</p>
<p>Bro en Sis, banyak remaja muslim yang lebih mengenal nama-nama pemain sepakbola dalam negeri maupun luar negeri ketimbang nama-nama sahabat nabi atau kisah hidup para nabi. Banyak pula yang sudah menjadi martir dalam kerusuhan antar suporter sepakbola. Mereka berani mati demi klub kebanggaannya. Tapi jarang yang secara umum terang-terangan mengatakan berani mati membela Islam sebagai agamanya. Mungkin saja ada, tapi saat ini jumlahnya tak sebanyak para suporter sepakbola.</p>
<p>Kalo para suporter Liverpool saja menyemangati tim kesayangannya saat bertanding, maka seharusnya pemuda Islam lebih bersemangat lagi dalam berjuang membela Islam. Kita kenal, para Liverpudlian, suporternya Liverpool sering menyemangati tim kesayangannya dengan menyanyikan: <em>&#8220;Walk on&#8230; Walk on&#8230; with hope in your heart&#8230; and you&#8217;ll never walk alone&#8230; Berjalanlah&#8230;berjalanlah dengan harapan di hatimu&#8230; dan kau takkan pernah berjalan sendirian&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em>You&#8217;ll Never Walk Alone</em> adalah lagu karya klasik Rogers dan Hammerstein, untuk penghias drama musikal Carousel. Gerry Marsden and The Pacemakers menyanyikan lagu ini di klub-klub yang bertebaran di kota Liverpool sejak 1963.</p>
<p>Mungkin, tak ada salahnya jika para remaja muslim menyanyikan nasyid untuk menyemangati dakwah. Misalnya lagunya Izatul Islam yang liriknya kayak gini: <em>“Barisan mujahid melangkah ke depan/ Tanpa rasa takut menghalau rintangan/ Cahya Islam kan selamanya memancar/ Dengan darah kami sebagai pembakar”</em>. Tetep semangat berjuang sampai akhir hayat. Ehm, kalo dalam bahasanya White Lion sih: <em>Till Death Do Us Part. </em>Huhuy!</p>
<p>Bro en Sis, padahal kalo dipikir-pikir para suporter itu nggak dibayar lho untuk melakukan berbagai cara dalam mendukung klub kebanggaannya. Tapi segala cara dilakukan demi klub pujaannya. Yel-yel yang banyak terdengar di antara para suporter di ISL (Indonesia Super League) aja lebih mengarah kepada tindakan rasis dan pelecehan satu terhadap yang lainnya. Tak perlulah ditulis di sini sebagai contohnya karena sangat tidak etis—termasuk nama-nama binatang kerap dikumandangkan untuk melecehkan suporter lawan.</p>
<p>Apalagi saat ini, Piala Dunia 2010 tengah digelar dan mencapai babak perdelapan final, di mana klub-klub unggulan sudah ada yang lolos ke babak perempat final. Pastinya emosi para suporter makin diaduk-aduk karena tangga juara sebentar lagi diraih. Jerman, Argentina, Ghana, Uruguay adalah tim yang sudah lebih dulu menembus babak perempat final dengan mengalahkan lawannya masing-masing. Kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukan para suporter ketika tim pujaan mereka saling ‘membunuh’ untuk menjadi juara.</p>
<p><strong>Sekadar renungan</strong></p>
<p>Bagi kita, kaum muslimin, pembelaan tertinggi kita adalah untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin atas landasan keimanan kepada Allah Swt. dan RasulNya. Sementara para suporter fanatik klub sepakbola, lebih mengarah kepada loyalitas semu dan konyol. Padahal, menurut Sayyid Quthb, kita mati karena membela negara yang nggak ada urusan dengan iman saja bisa dikatakan mati bukan di jalan Allah Swt., apalagi sekadar urusan sepakbola.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): <em>“Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashabiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme kelompok).”</em> <strong>(HR Abu Dawud)</strong></p>
<p>Syaikh Safiyurrahman al Mubarakfuri dalam kitab <em>al-Ahzab as-Siyasiyyah fil Islam</em> mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya): <em>“Barangsiapa berjuang di bawah bendera kefanatikan, bermusuhan karena kesukuan dan menyeru kepada kesukuan, serta tolong menolong atas dasar kesukuan maka bila dia terbunuh dan mati, matinya seperti jahiliyah.”</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Bro en Sis, jika “judulnya” sama-sama mendukung sesuatu dengan totalitas dan nggak dibayar, alangkah lebih eloknya bila kita membela Islam. Menjadi suporter sepakbola itu nggak dibayar, sukarela dan bahkan mengeluarkan banyak duit, tenaga dan pikiran. Iya kan? Membela Islam juga sama, tidak dibayar. Tenaga, pikiran dan harta kita rela dikeluarkan. Tetapi yang berbeda adalah nilainya dan rasa perjuangannya. Jika para suporternya menjadikan sepakbola sebagai muara emosi dan jalan hidupnya, maka sebagai pejuang Islam kita jadikan Islam sebagai muara emosi dan jalan perjuangan. Para suporter sepakbola mungkin saja akan mati “fi sabili bola”, tapi pejuang Islam insya Allah mati “fi sabilillah”. Itulah bedanya.</p>
<p>Ok deh kayaknya pengen terus nulis nih kalo nggak dihentikan oleh deadline dan batasan panjang halaman. Semoga gaulislam edisi ini bisa bermanfaat buat kita semua. Semoga kita tetap menjadikan Islam sebagai jalan hidup kita. Bukan yang lain. Islam sebagai ideologi kita. Cukuplah sepakbola sebagai hiburan, itupun jangan berlebihan dan sekadar ditonton pertandingannya di televisi saja. Kalo mau main dengan kawan-kawan, mainlah seperlunya saja bukan sebagai profesi atau maniak. Sebab, yang layak dijadikan jalan hidup hanyalah Islam. Sekali lagi: ISLAM. Tetap semangat! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ideologi-suporter-sepakbola/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Pornografi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/melawan-pornografi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/melawan-pornografi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 17:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>
		<category><![CDATA[pornografi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[selebiritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3421</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 139/tahun ke-3 (9 Rajab 1431 H/ 21 Juni 2010) Halah, masalah pornografi kayaknya lagi banyak disorot. Nggak tanggung-tanggung, kasus terbaru melibatkan para selebritis. Apa sebabnya? Karena dalam video yang sudah beredar luas di masyarakat—seorang teman bilang bahwa dalam seminggu video tersebut didownload hingga 700 ribu kali—pemeran dalam video tersebut mirip Ariel Peterporn (eh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 139/tahun ke-3 (9 Rajab 1431 H/ 21 Juni 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Halah, masalah pornografi kayaknya lagi banyak disorot. Nggak tanggung-tanggung, kasus terbaru melibatkan para selebritis. Apa sebabnya? Karena dalam video yang sudah beredar luas di masyarakat—seorang teman bilang bahwa dalam seminggu video tersebut didownload hingga 700 ribu kali—pemeran dalam video tersebut mirip Ariel Peterporn (eh, Peterpan); Luna Maya dan Cut Tary. Waduh, kata urang Sunda <em>mah</em>: <em>geunjleung euy! </em> (bikin geger gitu lho). Sampe-sampe Wagub Jabar Dede Yusuf melarang mereka tampil manggung (show atau performance) di wilayah Jawa Barat. Wedew! (malu banget tuh!)</p>
<p>Oya, ampir lupa nih. Sebelumnya gaulislam mohon maaf kalo pekan kemarin menjanjikan pekan ini mau bahas kelanjutan tentang sepakbola. <em>But</em>, berhubung lagi anget “bola panas video porno”, maka pekan ini kita dahulukan pembahasan seputar pornografi ya. Insya Allah tentang sepakbola kita lanjutkan pekan depan. <em>So</em>, jagain terus gaulislam setiap pekannya. Akur ya? Sip deh. Gitu dong. Hehe..</p>
<p>Bro en Sis, gaulislam sengaja ikutan bahas masalah ini bukan mau nambahin masalah, tapi insya Allah menawarkan penyelesaian atas masalah tersebut. Benar, masalah ini harus diselesaikan tuntas, bukan malah dibiarkan liar kemana-mana. Seolah masalah yang sangat menghebohkan. Padahal mah, pornografi udah marak terjadi. Kebetulan aja pemerannya mirip (atau emang beneran) selebritis tertentu. <em>Name makes news</em>. Ini kaidah jurnalistik, Bro. Nama membuat berita. Coba kalo nama orang yang nggak terkenal dan nggak dikenal luas kayaknya media massa juga adem-adem aja. Palingan beritanya cuma masuk kolom <em>Nah Ini Dia</em> di Pos Kota kali ye hehehe..<span id="more-3421"></span></p>
<p>BTW, ada juga lho yang mengaitkan maraknya pemberitaan video porno mirip artis tertentu itu untuk kepentingan lain. Misalnya, untuk mengalihkan perhatian masyarakat pada kasus Bank Century yang malah mulai dilupakan. Selain itu, ada yang menganalisis bahwa pemberitaan ini untuk meredupkan pemberitaan seputar penahanan Susno Duadji yang kemungkinan bakal menyeret para petinggi polri dan kejaksaan dalam kasus mafia pajak miliaran rupiah. Juga (walah banyak amat), ada yang menghubungkannya dengan akan digulirkannya dana aspirasi Rp 8,4 tiliun atau sebesar Rp 15 miliar per anggota (sumber: www.itempoeti.com) yang kabarnya sudah jadi keputusan resmi Badan Anggaran DPR. Sumber lain menyebutkan bahwa dana aspirasi itu adalah Program Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah. Namun yang jadi soal dikhawatirkan dikorupsi lagi. Duitnya dari pemerintah turun tapi programnya nggak jalan. Wah, wah, wah, masuk akal juga kalo berita ini rekayasa. <em>But</em>, terlepas dari rekayasa atau tidak, tapi tetap kita harus menilai kasus per kasus. Gimana pun juga, masyarakatlah yang telah jadi korban. Coba deh, berapa banyak remaja dan anak-anak yang kebablasan pengen tahu dan akhirnya bela-belain ngunduh video porno tersebut dan tentu saja menontonnya.</p>
<p><strong>Pelaku dan penyebar kudu dihukum</strong></p>
<p>Ada wacana yang berkembang bahwa pelaku ‘sambungraga’ di video mesum yang diperankan oleh orang yang mirip Ariel, Luna Maya, dan Cut Tary adalah korban. Ya, ada yang bilang bahwa mereka korban. Itu sebabnya yang harus dihukum adalah para penyebar konten video yang katanya koleksi pribadi dari orang yang mirip selebritis di atas. Hehehe… kalo statusnya korban berarti nggak dihukum dong ya? Enak banget dong kalo gitu. Menurut saya yang kudu diseret ke meja hijau bukan cuma pengedarnya, tapi juga pelakunya. Sebab, nggak mungkin akan ada penyebaran video mesum kalo nggak ada yang membuatnya atau mengabadikan adegan asusila tersebut.</p>
<p>Oya, meskipun itu koleksi pribadi, tapi kalo pemiliknya lalai bisa berbahaya lho. Misalnya aja dia simpen di harddisk laptop atau komputer, atau handphone. Eh, laptop atau handphonenya ilang atau ada yang nyuri. Terus, ada yang beli, atau sebelum dijual sama malingnya dilihat-lihat dulu tuh isi laptop atau hape. Pas ada adegan begituan, muncul niat isengnya, diupload deh tuh video. Hasilnya? Nyebar seantero dunia. Apalagi didukung pemberitaan media massa. Wassalam deh. Nah, apakah pelakunya nggak dihukum? Ya, tetap dihukum dong. Karena meskipun koleksi pribadi tapi kalo udah masuk ke ranah publik si pemiliknya kudu bertanggung jawab juga.</p>
<p>Bener lho. Logikanya gini deh. Kalo si A punya anjing gede, gagah, dan tentu saja galak. Si A membelinya untuk koleksi pribadi. Diikat di halaman rumah. Tapi, suatu hari anjing itu lepas karena pemiliknya lalai ketika mengikat anjing galak itu. Kejadian berikutnya, banyak orang yang kena gigit si anjing galak. Kalo udah kejadian begitu apa pantas pemiliknya disebut korban? Yang pasti orang di sekitaranya yang kena gigit adalah korban dari anjing yang pemiliknya lalai.</p>
<p>Contoh lain: Si B iseng nanam pohon ganja di halaman belakang rumahnya. Sebagai koleksi pribadi. Niatnya sih begitu. Terus, suatu ketika ada orang yang iseng nyuri ke rumahnya di siang hari. Eh, pas kabur lewat halaman belakang, si maling tahu ada pohon ganja, dan pas nengok ke sisi rumah ada juga beberapa gulung daun ganja yang sudah dikeringkan. Maka, dicomotlah daun ganja sekalian dengan barang yang berhasil dicurinya. Ketika dia ditangkap polisi (nih singkat cerita ya hehehe—apes bener tuh maling), si maling tersebut buka mulut (pake bau juga nggak?). Sekaligus ngasih tahu kalo si pemilik rumah yang dia curi, juga menyimpan daun ganja, yang sebagian dia curi. Nah, apakah pemilik daun ganja itu sekadar korban atau wajib diseret juga sebagai pemilik barang haram? Well.. ini harus dihukum juga.</p>
<p>Jadi dalam kasus maraknya peredaran video porno ini, bukan cuma penyebarnya aja, tapi juga pelakunya. Walaupun itu ranah pribadi dan untuk koleksi pribadi ketika bikinnya, tapi kalo sudah masuk ke ranah publik, baik karena kelalaiannya ataupun ada laporan dari pihak lain, tetap saja pemiliknya kudu dihukum.</p>
<p><strong>Pengaruh pornografi bagi remaja</strong></p>
<p>Bro en Sis, dalam pemberitaan yang marak di media massa, ternyata ada yang terlupakan atau memang sengaja dilupakan, adalah dampak. Yup, dampak dari pemberitaan yang seringkali lebih mirip show dan menguliti sampai detil, bahkan disertakan gambar dan videonya segala (meskipun disamarkan) telah memberikan rasa penasaran bagi remaja—termasuk juga para orang tua sih hehehe..). Warning banget tuh!</p>
<p>Bener! Sebab, dengan adanya video porno ini akan mempengaruhi naluri seksual, termasuk pada diri remaja. Allah Swt. sudah ‘menyetel’ manusia secara default memiliki nasluri seksual, yang perwujudannya mencintai lawan jenis. <em>So</em>, kalo kian sering remaja menkonsumsi hal-hal bernuansa pornografi, maka naluri seksualnya bakalan makin bergejolak.</p>
<p>Selain itu, bacaan pornografi baik melalui media cetak maupun internet tentu saja sangat berpengaruh bagi perkembangan kepribadian manusia, termasuk remaja. Apalagi jika hal itu dilakukan setiap hari. Ditambah pula dengan malas ikut pengajian atau datang ke majlis taklim. Udah deh, wassalam namanya. Kok bisa? Ya iyalah, kan di majlis taklim mah yang dibaca dan didengerin adalah ayat-ayat al-Quran atau hadis. Misalnya tentang larangan mendekati zina. Insya Allah akan mengendalikan hawa nafsu kita. Apalagi jika belajarnya serius. Bukan asal dateng terus bercanda. Ok?</p>
<p>Terus, apa dong yang harus dilakukan remaja terhadap masalah pornografi ini?</p>
<p>Hmm.. gini deh. Pertama, kamu yang cowok kudu mau mikir ribuan kali sebelum ngelakuin perzinaan (termasuk jangan dekati zina). Nah, yang mendekati zina itu adalah ngintip en nonton video mesum. Waspadalah! Kalo kita berteman dengan kaum Hawa. Hargai mereka. Kamu kan pasti punya ibu, atau mungkin punya adik dan kakak perempuan. Sebelum berzina dengan pacarmu, pikirin dulu gimana kalo ibumu, kakak dan adik perempuanmu ada yang menzinai? Wedeh.. pasti nggak rela kan. Makanya, jangan coba-coba melecehkan wanita dengan cara memacarinya, apalagi menghamilinya. Hih, jangan sampe ‘test drive’ segala kalo belum resmi nikah. Dosa, euy!</p>
<p>Kedua, pikirkan masa depanmu, Bro. Jangan sampai rusak hanya gara-gara sering ngintip pornografi (film dan gambar). Ih, kalo isi otak kamu cuma dipenuhi dengan bayangan erotis dan sensual, rasanya hidup nggak ada artinya deh. Suer. Gimana nggak, kamu hanya kecanduan pornografi. Padahal seharusnya ‘kencanduan’ ngaji, belajar dan dakwah. Iya nggak sih? <em>So</em>, hentikan deh kegiatan ngintipin mulu pornografi ke hal yang positif, misalnya ngintipin ayat-ayat al-Quran sebagai pedoman hidup kita. Terus, dibaca dan diamalkan. Ok?</p>
<p>Ketiga, prioritaskan keperluan hidupmu. Yup, daripada tuh duit dipake beli <em>download</em>-an video porno atau main internet saban hari nyari konten-konten mesum, mendingan tuh duit ditabungin. Udah jelas itu cara sehat berhemat. Bisa juga duitnya dibeliin baju, buku, shadaqah atau keperluan bermanfaat lainnya. <em>So</em>, mumpung masih muda, nggak usah mikirin yang begituan. Suatu saat, kalo udah mapan dan kuat ilmu dan mentalnya, silakan nikah aja. Kalo cuma pacaran, itu mah mental pengecut!</p>
<p>Keempat, kita lawan pornografi dan kasihani pelakunya. Eit, tunggu dulu. Maksud saya mengasihani pelakunya itu adalah karena bisa jadi mereka nggak sadar dan lupa (termasuk melupakan), atau belum tahu (termasuk yang tak mau tahu). Kasihan, andai mereka tahu dan takut pasti nggak mau melakukan perbuatan bejat yang mengundang laknat itu. Sebab, kalo mereka nggak tobat, tubuhnya bisa jadi bahan bakar api neraka. <em>Naudzubillahi!</em></p>
<p>Jadi, tulisan ini pun sekaligus untuk media menyadarkan siapapun para pelaku pornografi dan perbuatan melanggar syariat Islam lainnya, bahwa perbuatannya pasti nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Di dunia ini mungkin nggak mau ngaku karena gengsi dan malu, atau bisa lolos dari pengadilan dunia dengan membayar sejumlah uang untuk pengacara dan hakim. Hmm… ingatlah di akhirat Allah Swt. tak akan bisa disuap. Hukum berat menanti. Jangan sampe deh! (sori, ini bukan nakut-nakutin lho, tapi emang demikian adanya). Ayo kita lawan pornografi! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/melawan-pornografi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soccer Industry</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/soccer-industry</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/soccer-industry#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 17:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[fifa world cup 2010]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia 2010]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[soccer]]></category>
		<category><![CDATA[south africa 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3413</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 138/tahun ke-3 (2 Rajab 1431 H/ 14 Juni 2010) Penggila sepakbola sudah mulai dimanjakan dengan hajatan akbar di Afrika Selatan. Ya, World Cup 2010! Pesta pembukaannya sudah dilakukan di Johannesburg pada 11 Juni 2010 lalu. Gelaran ini akan berlangsung sebulan penuh. Mulai 11 Juni hingga 11 Juli 2010. Afrika Selatan menjadi tuan rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 138/tahun ke-3 (2 Rajab 1431 H/ 14 Juni 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penggila sepakbola sudah mulai dimanjakan dengan hajatan akbar di Afrika Selatan. Ya, World Cup 2010! Pesta pembukaannya sudah dilakukan di Johannesburg pada 11 Juni 2010 lalu. Gelaran ini akan berlangsung sebulan penuh. Mulai 11 Juni hingga 11 Juli 2010. Afrika Selatan menjadi tuan rumah ajang pesta bola empat tahunan kelas dunia tahun ini. Sepuluh stadion megah di sembilan kota siap menampung ribuan penonton dan menjadi saksi sejarah helatan akbar sepakbola sejagat. Soccer City Stadium, salah satu stadion yang berkapasitas 94.700 tempat duduk akan menjadi stadion yang menggelar laga perdana dan laga final.</p>
<p>Bro en Sis, membangun sepuluh stadion untuk menggelar ajang sekelas piala dunia tentu nggak mudah. Butuh waktu, perlu dana banyak dan mempertaruhkan kepercayaan dunia. Maka, pemerintah Afrika Selatan pasti sudah menghitung dengan cermat sebelum nekat menjadi tuan rumah. Faktor duit yang bakalan dikeruk dari ajang itu sekaligus ketenaran nama negara bisa menjadi pemicu untuk menggelar event tersebut. FIFA sendiri, sebagai badan resmi yang mengatur turnamen ini, sudah menghitung laba. Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke, menyebutkan bahwa keuntungan FIFA yang bakal didapatkan di Piala Dunia nanti mencapai 1,65 miliar pounsterling atau sekitar Rp 22 triliun. Keuntungan tersebut berasal dari pendapatan dari sponsor, hak tayang, dan sumber lainnya <em>(dapunta.com, 4 Juni 2010)</em></p>
<p>Itu baru FIFA lho yang menangguk untung. Di era industri sepakbola ini, bagi mereka yang ngurusin event sebesar piala dunia pasti kecipratan ‘rejekinya’. Kalo FIFA dapetin untung segede gitu, maka tuan rumah pun pasti dapat untung. Kerjasama lah. Ini kan bisnis, bos. Sebagai tuan rumah, pemerintah Afsel memiliki pos-pos yang sudah pasti jadi tambang duit adalah dari tiket penonton, sponsor, merchandise resmi, jatah prosentase dari hak siar. Pemilik hotel dan pengusaha café atau sejenisnya juga ketiban rejeki nomplok. Gimana nggak, ratusan ribu atau bahkan jutaan orang yang bakalan tumplek blek datang ke Afsel pasti butuh tempat tinggal, butuh makan, butuh minum dan keperluan hajat hidup lainnya. Sudah pasti putaran duit dari industri sepakbola itu bakalan berpusat di sana. Wrrr.. siapa yang nggak ngiler kalo urusan duit?<span id="more-3413"></span></p>
<p><strong>Sepakbola dan industri olahraga</strong></p>
<p>Tak seperti olahraga lainnya, sepakbola adalah olahraga yang bisa disulap jadi industri. Maklum, olahraga ini memiliki penggemar fanatik dan jumlahnya miliaran di seluruh dunia. Itu artinya, jika ngomongin soal bisnis, maka tentu saja jumlah penggila sepakbola adalah potensi bisnis yang sangat besar. Tak heran jika event akbar seperti piala dunia adalah saatnya panen duit bagi semua pihak yang terlibat dalam ajang tersebut. Tukang cetak termasuk yang kecipratan duit segar lho. Bayangin aja, tiket kan perlu dicetak tuh. Nah, so pasti orderan kenceng banget kalo kudu cetak tiket resmi piala dunia. Meski tiket yang dicetak hanya sekitar 3,5 juta lembar, tapi kalo per lembarnya dapat laba bersih sepuluh ribu rupiah saja, yang dapet tender tersebut bisa kebagian 35 miliar rupiah. Sampe bulan Maret 2010 saja, tiket resmi yang sudah terjual adalah 2,1 juta dari total 3,5 juta tiket yang dicetak. Mau tahu berapa harga tiket termurah dan termahal? Pada laga pertama antara Afsel lawan Meksiko, tiketnya Rp 1,8 juta. Untuk pertandingan lainnya, termurah adalah Rp 740 ribu. Dan, untuk nonton laga final piala dunia pada 11 Juli 2010, tiketnya Rp 8,3 juta. Terus, kalikan dengan ribuan penonton yang bakal memenuhi stadion. Kamu udah bisa ngitung sendiri deh. Benar-benar bisnis yang menggiurkan! BTW, berarti orang yang bisa nonton langsung ke Afsel (selain yang dapat jatah nonton gratis karena menang undian) pastinya berkocek tebal dong ya. Indonesia sendiri dikasih jatah 1500 tiket.</p>
<p>Selain gelaran piala dunia yang pastinya bertabur duit, klub-klub sepakbola di liga-liga Eropa doyan menghambur-hamburkan duitnya untuk menggaji pemain topnya. Bagi kamu yang ngikutin info sepakbola dunia, pasti pernah tahu nilai transfer termahal yang saat ini dipegang oleh Cristiano Ronaldo. Yup, nilai transfer yang nyaris mimpi untuk bisa mempercayainya. Kepindahannya dari Manchester United ke tim berjuluk <em>Los Galacticos</em>, Real Madrid dihargai Rp 1,3 triliun. Ini lebih mahal dari biaya operasi Dono di film yang diproduksi tahun 80-an: “Manusia 6 juta Dolar” (hehehe.. nyambung nggak sih?)</p>
<p>Selain nilai transfer termahal, ternyata industri sepakbola royal menggelontorkan duitnya untuk menggaji pemain top mereka. Saat ini, rekor gaji tertinggi dipegang Lionel Messi. Pemuda asal Argentina yang menunjukkan permainan atraktifnya ini dibandrol 33 juta euro atau sekitar Rp 406 miliar per tahun oleh manajemen Barcelona (mengungguli David Beckham, 30,4 juta euro dan Cristiano Ronaldo, yang digaji 30 juta euro). Artinya, Messi digaji Rp 33,8 miliar per bulan atau sama dengan Rp 8,5 miliar per pekan. Waduh, itu duit semua. Bukan daun!</p>
<p>Bagaimana para pemain di liga Indonesia? Hmm.. memang jauh banget sih nilainya. Rekor gaji tertinggi pemain ISL (Indonesia Super League) dipegang Bambang Pamungkas (Persija), Rp 1,37 miliar per tahun. Disusul Abanda Herman (Persija) Rp 1,315 miliar dan di urutan ketiga C. Gonzales (Persib) Rp 1,3 miliar. Wedeh, gaji ilmuwan dan para guru kalah tuh kayaknya (hehehe).</p>
<p><strong>Kapitalisme dalam sepakbola</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, yang paling mencolok dalam sistem ekonomi kapitalisme adalah modal. Duit dan selalu duit yang jadi ukuran. Maka tak heran jika dalam industri sepakbola pun hukum itu berlaku. Menang dan selalu menang yang ditargetkan dalam setiap pertandingan. Kalo kalah sekali aja berarti bencana bagi pelatih dan pemain. Pasti kena semprot manajemen klub. Sebab, jika selalu menang, pendapatan juga meningkat. Jika juara, bukan saja pretasi yang didapat, tapi juga duit. Dan, itu jumlahnya pasti berlipat.</p>
<p>Bagi para pemain di liga-liga Eropa, mereka harus selalu siap bertanding. Kalo klub besar dan berprestasi maka pertandingan bukan hanya sekali sepekan. Bisa jadi maksimal 3 kali dalam sepekan di semua kompetisi yang diikuti. Waktu habis hanya dengan sepakbola. Mungkin itu pula yang akhirnya para pemain topnya dihargai miliaran rupiah per pekan. Meski demikian, gaji tinggi tak membuat mereka menikmati sepenuhnya profesi tersebut. Setidaknya Nemanja Vidic, bek Manchester United asal Serbia ini pernah bilang, “Bermain sepakbola di Inggris sangat menguras waktu, kita harus selalu bermain, dan harus selalu dalam kondisi prima. Kita tidak bisa menikmati setiap waktu kita, karena semuanya habis oleh sepakbola.”</p>
<p>Nah, karena ukurannya adalah uang bin duit, maka industri sepakbola ini dimanfaatkan juga oleh para penjudi. Lho kok bisa? Taruhan, Bro! Ya, pasar taruhan di setiap pertandingan liga-liga Eropa termasuk di Indonesia selalu ramai. Bahkan ada judi online segala. Para bandar judi ini ada juga yang berani masang logo usahanya di kaos klub. Itu pula yang sempat membuat Frederick Kanoute, pemain Sevilla yang kebetulan muslim, menolak mengenakan kaos yang disponsori perusahaan judi online. Bayangin aja sekarang saat digelar hajatan sepakbola sedunia, pasti pasar taruhan bakalan lebih ramai dari biasanya. Waktu Piala Dunia 2006 di Jerman saja, menurut <em>Titan Sports Weekly</em>, Cina menghabiskan sampai 500 milyar yuan (73 miliar dolar AS) untuk judi “online” selama Piala Dunia tahun 2006. Jumlah tersebut sebanding dengan dua persen dari PDB Cina. Waduh!</p>
<p>Inilah kapitalisme, Bro. Segalanya memang hanya diukur dengan duit dan asas manfaat yang ujungnya juga duit. Meski di beberapa negara judi diangap ilegal, tapi jika duit yang bicara, siapa yang nggak tergiur? Seperti di Korea Selatan misalnya, ada institusi khusus yang memegang ijin dari pemerintah untuk menyelenggarakan taruhan di segala turnamen olahraga, termasuk piala dunia, dengan syarat harus memberikan 25 % pendapatannya kepada pemerintah. Ya, duit lagi, duit lagi.</p>
<p>Namun bersamaan dengan itu, kemiskinan tetap menjadi problem tersendiri di tengah gemerlapnya industri sepakbola. Pada gelaran Piala Dunia saja, meski Afsel terus berbenah dengan membangun stadion-stadion megah tapi kemiskinan tetap ada di Capetown. Menurut Harian Belanda, <em>Trouw</em>, betapa kemewahan akan sangat kontras dengan kemiskinan Capetown. Di kota ini 26.2% penduduk berpenghasilan tidak lebih dari 1.25 dolar&#8211;atau sekitar Rp 12.000&#8211; per hari. “Dengan stadion-stadion baru, hidup kami tidak akan jadi lebih baik. Afrika Selatan tidak akan jadi lebih maju,” kata Simon Nomolkma, penduduk Capetown. Sayang, lanjut <em>Trouw</em>, pendapatnya tidak akan terdengar sampai ke gelanggang-gelanggang besar yang baru dibangun. Tidak juga sampai ke pembuat kebijakan yang seolah tak melihat kenyataan di balik pagar stadion.</p>
<p>Gedenya gaji para pemain sepakbola di Eropa pun sering mendapat kritikan. Ketimpangan itu sangat nyata terlihat. Di Inggris saja, para pekerja rumah sakit (perawat) pernah protes karena gaji mereka setahun masih kalah jauh dengan gaji para pemain sepakbola liga Inggris dalam sepekan. Brasil, negara pemegang rekor dengan 5 kali juara dunia, negerinya tetap dibelit kemiskinan. Karena yang makmur hanyalah para pemain bintangnya saja yang merumput di liga-liga Eropa. Tak heran pula, jika para orang tua di negara-negara Afrika lebih memilih anaknya jadi pemain sepakbola di liga-liga Eropa demi meraih mimpi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.</p>
<p>Oke deh, sampe sini dulu ya, insya Allah pekan depan kita lengkapi dengan pandangan Islam terhadap permasalahan ini. <em>Stay tune</em> terus di buletin gaulislam. <em>So</em>, jagain terus waktu terbit buletin ini. Kalo nggak dapet edisi cetak, ada kok edisi internetnya. Jangan sampe nggak baca ya! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/soccer-industry/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama, Israel, dan Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/obama-israel-dan-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/obama-israel-dan-kita#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 15:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalis]]></category>
		<category><![CDATA[obama]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3411</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 137/tahun ke-3 (24 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 7 Juni 2010) Hmmm.. udah bulan Juni nih, Bro en Sis.  Pada inget nggak kalo entar kedatangan Obama ke Indonesia dijadwal ulang? Kemungkinan pertengahan bulan Juni ini. Kapan tepatnya sih masih belum ada kepastian (tapi berdasarkan berita dari ‘telik sandi’, doi batal datang lagi di Juni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 137/tahun ke-3 (24 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 7  Juni 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Hmmm.. udah bulan Juni nih, <em>Bro en Sis</em>.  Pada inget  nggak kalo entar kedatangan Obama ke Indonesia dijadwal ulang?  Kemungkinan pertengahan bulan Juni ini. Kapan tepatnya sih masih belum  ada kepastian (tapi berdasarkan berita dari ‘telik sandi’, doi batal  datang lagi di Juni 2010, tapi katanya nanti bulan Nopember karena bulan  Mei kemarin Teluk Meksiko tercemar karena ketumpahan minyak dari kilang  milik British Petroleum yang bikin rugi ekonomi rakyat sono) <em>Wait  and see</em> lah. <em>Coz</em>, akhir bulan Maret kemarin, kan doi batal  tuh ke Indonesia.  Ehm, kejadian terbaru yang mungkin saja bisa  ngebatalin rencana Obama berkunjung ke Indonesia adalah gara-gara ‘anak  emas’ Amrik, yakni Israel kembali bikin ulah. Pada 31 Mei 2010 lalu  tentara Israel nembakin konvoi relawan yang tergabung dalam misi  kemanusiaan untuk Gaza. 16 orang relawan meninggal dunia. Nah, lho.  Jangan-jangan Obama batal lagi datang ke sini karena ngeri dihadang  demonstran anti Israel dan Amerika. Syukurlah kalo begitu. Hehehe…</p>
<p><strong>Siapa sih Obama?</strong></p>
<p>Doi adalah presiden ke 44 di Amrik  dan yang pertama berkulit item. Konon, buat ngebuktiin kalo Amrik tuh  soko gurunya demokrasi akhirnya yang berkulit item pun dikasih  kesempatan buat jadi presiden.  Yah, <em>sakarepmu lah.<span id="more-3411"></span></em></p>
<p>Kenapa  sih Obama sampe dapet tempat di hati rakyat Indonesia ya?  Ampe  dibikinin patung monumen ‘Obama kecil’ lagi! Oww…ternyata doi sempet  tinggal di Indonesia dari tahun 1967-1971. Hmm, 4 taon dong yah ?  Ternyata lagi, Obama jadi tinggal di Indonesia gara-gara nyokapnya, Ann  Dunham menikah dengan orang Indonesia, Lolo Soetoro, temennya sekampus  di Universitas Hawaii. Obama sendiri adalah anak dari pernikahan Ann  dengan suami yang sebelumnya. Di Indonesia, Obama dan ibu serta ayah  tirinya tinggal di Jl. Taman Amir Hamzah 22 Jakarta (heu..kira-kira tu  rumah jadi korban gusuran apa kagak ya?)  Trus sekolahnya di sebuah SDN  Menteng 01, Jakarta Pusat.</p>
<p>Kadang ane bingung, yang dibilang  Obama pulang kampung lah; Obama bernostalgia lah. Padahal, kalo  diutak-utik urusan keluarga doi, aslinya doi cuma numpang lewat doang di  Indonesia, apalagi pernikahan kedua ortunya juga mengalami perceraian.  Abis bercerai, doi, adek tiri en nyokap balik ke Amrik. Terus apa  istimewanya? Ya, mungkin bagi orang-orang yang pernah deket ama mereka  secara personal sih pastinya ada kenangan. Tapi, kunjungan Obama ke  Indonesia nggak cuma buat bernostalgia deh. Tapi ’lebih’ dari itu. Dan  masalah ‘lebih’ ini nih yang pengen lebih ane curhatin lagi. Serius neh!  Nggak pake lebay! So, baca aja terus curhat terbuka ane di buletin  kesayagan kamu ini. Ok? Tetep <em>stay tune</em> bersama buletin gaulislam  ya. Semangat!</p>
<p><strong>Di balik rencana kunjungan itu…</strong></p>
<p>Nah, curhat ane berikutnya nih, kalo pun Obama udah terlanjur  dianggap istimewa ama rakyat Indonesia kok mereka nggak nyadar kayak  gimana peta perpolitikan Amrik ? <em>Cos</em>, intinya gini Bro n Sis,  siapa pun kepala negaranya kalo sistem or ideologi alias pondasi negara  itu nggak berubah. Itu artinya, kebijakan yang bakal dihasilkan ya sama  aja walopun dalam kemasan yang berbeda.  Mungkin yang dulu terlihat  nyeremin karena sering bunuh-bunuhin orang demi memperkaya diri dengan  minyak bumi en sumber daya alam lainnya (taktik <em>hard power</em>), kalo  yang sekarang terlihat lebih manis dan kalem, ngggak kerasa ngebunuhnya  (taktik <em>soft power</em>).</p>
<p>Selain itu, kita juga kudu  menganalisa tentang konstelasi internasional (hehehe, apa pula tuh?)   Konstelasi Internasional <em>is</em> struktur hubungan internasional yang  berpengaruh antara satu negara dengan negara-negara lainnya dengan  posisi-posisi entah mengikuti satu negara adidaya, saling bersaing atau  menjadi negara satelit.  Gitu.  Jadi kita kudu ngerti kedudukan Amerika  dan Indonesia di dunia ini sebagai negara apa? Dari konstelasi  internasional justru yang ane liat nih, Amrik punya kedudukan sebagai  negara pertama di dunia, terus Indonesia sebagai negara pengikut Amrik.  Kok jadi pengikut?  Yup, <em>cos </em>Indonesia terikat secara politik  luar negeri dengan Amrik bahkan sebagian masalah dalam negerinya juga.</p>
<p>Berat yah curhat ane? Makanya nih, ane sharing ke ente biar nggak  berat-berat banget jadinya. Intinya?  Yah, kasarnya sih, Amrik sebagai  penganut kapitalisme sekuler memang udah mengikat Indonesia sedemikian  rupa. Dan efeknya, luar biasa negatifnya! Nggak percaya?</p>
<p>Ane nemu  buku tebeeel banget. Ngulik soal “Apakah Indonesia merdeka karena  Amerika” hasil tulisan peraih beasiswa Fullbright, Frances Gouda &amp;  Thijs Brocades Zaalberg.  Ternyata perang ideologi pada masa 1920-1948  di dunia termasuk Indonesia antara ideologi Kapitalisme dan  Komunis-Sosialis lagi bentrok-bentroknya. Untuk itulah dibikin <em>Truman  Doctrine</em> trus disusul <em>Marshall Plan</em> demi mengepung kekuatan  komunis.  Dan hasilnya memang terbukti, kekuatan komunis-sosialis  terpatahkan dan digantikan oleh kapitalis sekuler.  Efek ini keliatan  begitu Perjanjian <em>Renville</em> (diplomasi Indonesia-Belanda di kapal  Perang US Renville) 1948 diadakan, <em>cos </em>perjanjian ini sepenuhnya  didukung oleh Amrik. Selain itu para nasionalis Indonesia juga emang  pada nge<em>fans</em> banget ama Amrik.  Ibarat mercusuar di tengah  lautan, Amrik dielukan sebagai pemberi petunjuk yang cespleng buat  Indonesia yang saat itu masih muda dalam ‘bernegara’.</p>
<p>Jangan  heran kalo sampe sekarang pada nongkrong tuh korporasi multinasional (<em>MNC/multinational  corporation</em>) <em>made in USA </em>di Indonesia juga negara-negara  yang dinilai punya seabreg sumber daya alam (SDA).  <em>Chevron</em> asal <em>California</em>,  <em>Freeport</em> juga dari Amrik, <em>Murphy Oil &amp; Gas</em> sama juga  dari USA. Bahkan mereka nggak segan-segan ‘ganti nama’ dengan nama  pribumi supaya gak ketauan itu adalah MNC. Tahu sendiri kan kalo aktivis  lingkungan udah pada peka dengan nama-nama MNC yang terkenal, yang  kerjaannya eksplorasi-eksploitasi SDA tanpa menghiraukan lingkungan dan  rakyat.</p>
<p>MNC hingga kini dikawal oleh pemerintah dan kekuatan  militer terus menggerus kekayaan SDA Indonesia tanpa rakyat menikmati  hasil dengan sepenuhnya.  Yang nikmatin ya cuma segelintir orang aja.   Udah gitu masih aja pada merindukan kerja di MNC, iya sih, gajinya gede,  tapi efek ke rakyat apa gak mikir? Kalo kamu jalan-jalan ke Kalimantan,  sempetin nengokin tambang batu bara dan tambang minyak bumi-gas. Liat  deh gimana kondisi alam juga rakyat yang tinggal di wilayah itu.  Apa  sepenuhnya sejahtera? Yang ada sering banjir.   Rencananya, Obama juga  bakal mengunjungi <em>Chevron</em> di Sukabumi sekalian inspeksi aktivitas  en operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi milik <em>Chevron</em>.</p>
<p>Hm… bener-bener SDA udah dikuasai asing. Dan kayaknya Amrik kena  efek kedzalimannya sendiri deh, barusan Mei kemarin kan Teluk Meksiko  kena tumpahan minyak dari kilangnya British Petroleum (BP). Efeknya,  pencemaran lingkungan dashyat banget terus ekonomi rakyat jadi merugi.</p>
<p><strong>Pelanggar HAM</strong></p>
<p>Amerika tetep ngedukung  kebijakan Israel buat ngegempur Palestina. Asal tahu aja nih, mentornya  Obama yaitu Abner Mikva nyablak kalo <em>“Obama will be the first Jewish  President of USA”</em> !  Tiap agresi Israel ke Palestina malah Amrik  ngak ada reaksi apa-apa. Selama rentang waktu penyerangan kapal misi  kemanusiaan Mavi Marmara bareng dengan penulisan curhat ane ini Obama  cuma menyesalkan aksi militer Israel, tapi nggak ngasih hukuman.  Sementara VOA (metrotv 1/6/2010) memberitakan terjadinya protes dari  sebagian rakyat Amrik yang udah sebel banget ama pemerintahan Obama yang  <em>idem ditto</em> ama Bush karena sikap mereka yang pro Israel plus  mendanai agresi militer ke negeri-negeri Muslim selama ini yang mereka  anggap sarang teroris. Halah, parah banget kan?</p>
<p>Itu baru di  Palestina. Belon lagi yang di Afganistan dan Irak. Memerangi terorisme  dan membumikan demokrasi itu adalah dalih mereka. Buktinya, dengan  dar-der-dor rakyat sipil termasuk wanita, anak-anak en manula malah  tewas. Yang idup dan pro kepada Amrik akhirnya ikut-ikutan liberal ala  Amrik  Liat aja sekarang di Afganistan dan Irak para muslimahnya jadi  bebas milih nutup aurat or nggak trus pada latah jadi idol ala Amrik.  Bioskop-bioskop dengan film-film yang nyeleneh didatangi para penonton.  Yang pro Islam malah kian disudutkan dengan cap teroris.</p>
<p><strong>Walhasil…</strong></p>
<p>Sampe sini ane cuma mo bilang, kalo dalam konteks kenegaraan, dan  dalam Islam sendiri Amrik termasuk negara <em>kafir muhariban fi’lan</em> (kafir yang memerangi Islam) terus berkunjung ke negara Indonesia yang  mayoritas penduduknya muslim, jelas haram menerima kunjungan itu. <em>Cos,</em> Obama maen ke Indonesia bukan cuma mo makan bakso, nasi goreng ama  rambutan, tapi masalah bilateral negara yaitu mo ngumumin masalah  Perjanjian Kemitraan Komprehensif (<em>Comprehensive Partnership  Agreement</em>). Bahkan Menteri Perekonomian, Hatta Rajasa bilang akan  ada 6 perjanjian yang bakal dioprek, mulai dari bidang invesasi,  pendidikan, kehutanan, pertanian, migas, dll. Bahkan, militer pun diajak  latihan bersama. Ampe bikin Densus 88 segala yang bahkan didanai  Departemen Dalam Negeri AS. Buat merangin siapa coba kalo bukan merangin  yang mereka sebut teroris (baca: kaum muslimin)?</p>
<p><em>So</em>, <em>Bro  n Sis</em>, aneh banget kalo kamu justru nganggap Obama adalah tamu yang  kudu disambut dengan baik.  Penjajah kok disambut?! Orang yang  melanjutkan <em>War on Terrorism</em> tapi justru ngebunuhin rakyat sipil  negeri muslim dan <em>brain washing</em> dengan pemikiran sekuler  kok  dibangga’in? Ngarep Obama ngasi kesempatan untuk kemajuan Indonesia?  Jangan ngarep deh! Yang ada, <em>soft power</em> Amrik bakal memakan  rakyat Indonesia abis-abisan dengan kekuatan Kapitalis-Sekulernya.</p>
<p><em>Kaifa</em>?  Demikianlah curhat ane, sodara-sodara sekalian. <em>So</em>, yang muda  yang bertakwa, ayo tetep tolak Obama! <strong>[anindita. email/fb:  coffee.prince70@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/obama-israel-dan-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memotivasi Diri, Raih Prestasi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/memotivasi-diri-raih-prestasi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/memotivasi-diri-raih-prestasi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 17:21:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3393</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 136/tahun ke-3 (17 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 31 Mei 2010) Suatu hari di tahun 711 M, armada berkekuatan 7.000 prajurit itu merapat di pantai Andalusia. Sang Panglima lantas memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh armada mereka. Sebuah orasi tersulut dari mulut Sang Panglima, “Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 136/tahun ke-3 (17 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 31 Mei 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Suatu hari di tahun 711 M, armada berkekuatan 7.000 prajurit itu merapat di pantai Andalusia. Sang Panglima lantas memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh armada mereka. Sebuah orasi tersulut dari mulut Sang Panglima, “Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?&#8230;” Instruksi ini dimaksudkan agar semua pasukan membakar habis pilihan untuk menjadi pecundang dan pengecut. Mereka hanya diberi dua pilihan, memenangkan pertempuran atau mati syahid.</p>
<p>Ya, sebait episode di atas adalah sebuah epik tentang seorang Thariq bin Ziyad, panglima pembebas Andalusia, beserta pasukannya yang berhasil menaklukkan 25.000 prajurit Visigoth di bawah komando Raja Roderick Spanyol. Kemenangan yang diraih pasukan kavaleri Islam tersebut termasuk <em>historical moment. </em>Berkat perjuangan mereka, Islam menaungi benua Eropa.<em> </em>Nggak heran kalo akhirnya nama beliau diabadikan untuk menyebut sebuah bukit karang setinggi 450 meter di semenanjung pantai tenggara Spanyol, Jabal Thariq. Orang Barat menyebutnya <em>Gibraltar. </em></p>
<p>Sobat muda, motivasi adalah salah satu kunci selain keimanan dan doa yang menjadi penentu kemenangan tersebut. Dalam bahasa Arab, motivasi diistilahkan sebagai <em>al-quwwah.</em> Mutlak dalam menjalani hidup, kita memerlukan motivasi. Keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam karir dan hidup, disinyalir dipengaruhi erat oleh motivasi yang dimilikinya. Itulah mengapa saat ini menjamur kemasan program-program <em>training</em> (pelatihan) dalam rangka memfasilitasi peningkatan motivasi berprestasi (<em>achevement motivation</em>). Termasuk salah satunya <em>Training the Spirit of Soul</em>-nya Segi3 Learning Centre (permisi, numpang promosi dikit, heuheu).</p>
<p>Tapi sayangnya, di saat yang bersamaan pula, kita saksikan betapa banyak remaja yang diharapkan menjadi calon-calon pemimpin masa depan, seolah kehilangan semangat dan motivasinya untuk berlomba mengukir prestasi serta mempersiapkan hari esoknya. Ada apa gerangan? Awal kisah kita mulai dari te-ka-pe…<span id="more-3393"></span></p>
<p><strong>Remaja, riwayatmu kini&#8230;</strong></p>
<p>Seperti sedang berada di persimpangan jalan dan kebingungan, itulah gambaran remaja <em>kiwari</em>. Bak hidup segan mati tak mau. Kadang mengenaskan melihat rutinitas harian mereka yang nggak lebih dari sekedar <em>having fun</em> ’menikmati masa muda’, nyaris minus nilai. Bukan bermaksud mendikte apalagi usil sama urusan kamu, Pren. Anggaplah ini sekadar masukan konstruktif dari saya yang seumuran, atau lebih duluan hidupnya dibanding kamu, sebagai bukti <em>care­</em> dan sayangnya saya. Moga kamu semua ikhlas nerimanya, ya.</p>
<p>Dalam perenungan, saya sering ketakutan terhadap eksistensi remaja ke depannya. Klop, seperti yang Allah Swt. firmankan (yang artinya): “<em>Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” </em><strong>(QS an-Nisaa’ [4]: 9)</strong></p>
<p>Ketakutan yang saya maksud bukan tanpa dasar. Semakin hari, kita semakin lemah. Baik dari sisi personal maupun persatuan umat. Dengan prestasi jeblok. Kita jadi asyik dengan aktivitas <em>nafsi-nafsi.</em> EGP. Saya sering menemukan remaja yang malah nggak peduli sama hidup dan masa depannya sendiri. Jangankan punya <em>sense of belonging</em> (rasa memiliki) untuk Islam, atau motivasi berprestasi dan jadi pemimpin hari esok, dirinya sendiri pun nggak apik ngelolanya. Apalagi buat masalah yang ada kaitannya sama mikirin masalah umat. Nggak ada semangat. Sayyid Quthb pernah mengibaratkan kondisi ini dengan mengatakan, <em>“al-islamu syaiun wal muslimu syaiun akhar </em>(Islam itu seperti sesuatu dan penganutnya seperti sesuatu yang lainnya)<em>”. </em>Itu artinya, dia sendiri nggak kenal sama jati diri sendiri dan Islam yang dianutnya. <em>Nastaghfirullah…</em></p>
<p>Buat masalah pacaran, tawuran, vandalisme, seks bebas, narkoba, dkk, baru pada semangat nunjukin ’ke-aku-annya’. Prestasi yang ada malah untuk yang sifatnya negatif. Coba deh perhatiin gaya remaja sekarang yang katanya ’gaol’. Budaya malu seakan terkikis seiring perkembangan zaman. Nggak ada lagi akhirnya istilah <em>ewuh pakewuh</em> (sungkan) untuk melakukan perbuatan negatif di depan publik dalam kamus hidup mereka. Belum lagi ditambah fakta menyedihkan mengenai minimnya jumlah remaja yang bisa baca tulis al-Quran dengan fasih dan lancar. Gimana mau ngerti plus faham kandungan al-Quran, baca aja nggak bisa! Mungkin ada benarnya juga pepatah latin mengatakan <em>Omnia mutantur nos et mutamur in illis </em>(segala sesuatunya berubah dan manusia pun ikut berubah dengannya). Hal ini terjadi karena sebagian besar remaja kita nggak punya konsep dan tujuan hidup yang jelas. Victor Frankl, psikolog yang pernah disiksa oleh Nazi dan kemudian memopulerkan Logoterapi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya”. Itulah sebabnya, nggak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri juga disebabkan oleh kehilangan arah atau pun tujuan hidup.<em>Oalah rek!</em></p>
<p><strong>Motivasi dan prestasi</strong></p>
<p>Barangkali ada yang masih belum <em>ngeh </em>apa seh motivasi itu? Nah, menurut David C. McClelland (1961), psikolog asal Harvard University, motivasi diartikan sebagai <em>“&#8230;is impertus to do well relative to some standard of excellence.” </em>(Jhonson, 1984). Suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji.</p>
<p>Motivasi adalah bahan bakar yang dapat menggerakkan mesin kehidupan kita. Apa yang kita cita-citakan bisa tercapai kalo kita punya motivasi yang tak terhingga. Sebab, kemampuan tubuh kita terbatas. Tapi kekuatan motivasi nyaris nggak ada batasnya. Motivasi ini juga yang sekarang nyaris raib di dunia Islam, baik untuk motivasi hidup ber-Islam maupun berprestasi. Hmm&#8230;padahal kita umat terbaik.</p>
<p>Bro, sebagai bukti, kedahsyatan efek motivasi ini bisa kita lihat dari cuplikan kemenangan Italia pada <em>World Cup 2006</em> silam. Masih inget nggak? Bicara soal <em>skill </em>pemain, kerjasama tim, dan strategi yang dipilih pelatih, pasti semua tim yang berlaga memilikinya dengan ciri khas masing-masing. Tapi yang membedakan adalah motivasi. Faktor inilah yang mendorong Italia berusaha sekuat tenaga untuk menang melawan Jerman di partai semifinal. Di lain pihak, tim yang berjuluk Panser itu sedang berusaha memaksakan supaya permainan berakhir seri lalu adu penalti. Karena di sanalah mereka berharap bisa mengalahkan lawan, seperti ketika melawan Argentina. Hasilnya? Hanya dalam dua menit sisa pertandingan, Italia berhasil menjebol pertahanan Jerman dengan dua gol. Jadilah Italia melaju ke final dan akhinya juara.</p>
<p>Gimana caranya melahirkan motivasi? Bisa melalui perenungan, pengalaman empiris dari sebuah peristiwa yang berkesan, bacaan, atau peniruan (imitasi/<em>copy paste</em>) dari orang yang lebih dulu memiliki motivasi tinggi. Tapi perlu digarisbawahi, karena motivasi terbagi dalam beberapa jenis, jangan asal atau salah memiliki. Menurut Syaikh Muhammad Muhammad Ismail dalam buku <em>al-Fikru al-Islami,</em> seenggaknya ada tiga motivasi yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan, yaitu motivasi fisik-material (<em>al-quwwah al-madhiyah</em>), motivasi emosional (<em>al-quwwah al-ma’nawiyah</em>), dan motivasi ilahiyah (<em>al-quwwah ar-ruhiyah</em>). Sebagai muslim, yang pantas untuk dimiliki hanyalah motivasi yang terakhir.</p>
<p>Berbicara motivasi dan tokoh motivator dunia, Muhammad Saw., nabi yang mulia, boleh disebut bapak motivasi <em>numeru uno </em>(nomor wahid) dunia. Karena Beliau adalah utusan panyampai wahyu dari Sang Mahamotivator, Allah ’Azza wa Jalla. Dari Beliau memang tidak lahir dari kerajaan bisnis, ketenaran, atau kekayaan pribadi. Tapi sebuah peradaban yang agung. Dari masyarakat jahiliyah yang nggak ngenal etika, dengan penuh kesabaran, ketekunan, dan motivasi untuk melaksanakan titah Ilahi, Beliau membawanya menjadi masyarakat yang penuh takwa. Berbilang abad lamanya dan menaungi hampir ke seluruh pelosok dunia.</p>
<p>Sobat muda, prestasi bukan cuma ukuran di dunia, tapi juga akhirat. Kalo cuma berhubungan sama karir atau prestise, belum terlalu bernilai di hadapan Allah Swt. Maka kita harus mempersiapkan prestasi yang hakiki dalam bentuk ketaatan kepada hukum-hukumNya serta nggak lupa mengamalkannya agar bermanfaat. Langkah yang bisa ditempuh biar kita bisa melejitkan motivasi plus mudah menggapai prestasi adalah dengan cara mengenali diri, menerima diri, dan membangkitkan diri kita sekarang juga. Kewajiban kita hanya berusaha dalam proses semaksimal mungkin. Selebihnya (hasil) adalah hak Allah. Pepatah latin bilang, <em>Ultra posse nemo obligatur (of tenetor),</em> tidak ada seorang pun yang diwajibkan untuk melakukan sesuatu melebihi kemampuannya.</p>
<p><em>So</em>, ayo tunggu apa lagi. Seorang muslim yang kuat nggak pernah putus asa. Inget, <em>Philosophus non curat</em> (seorang yang bijaksana nggak pernah menyerah). Begitu kaum Salsa menyatakan.</p>
<p>Tujuan kita memotivasi diri adalah tidak lain hanya untuk meraih prestasi yang tinggi di hadapan Allah Swt. Hanya muslim yang memiliki motivasi tinggi untuk bisa menjalani hidup di dunia dengan penuh takwa sembari terus berusaha meraih capaian spektakuler di berbagai bidang saja yang akan sampai pada predikat <em>insan kamil</em> (manusia paripurna) yang berhak meraih <em>fauzul ‘azhim</em> (kesuksesan besar di dunia dan akhirat). Semangan dan salam <em>Mumtaz</em>! <strong>[anto apriyanto, <em>the spirit of soul</em> </strong> | <strong>anto.mumtaz@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/memotivasi-diri-raih-prestasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilarang Percaya Paranormal</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dilarang-percaya-paranormal</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dilarang-percaya-paranormal#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 20:12:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mama lauren]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[paranormal]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3390</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 135/tahun ke-3 (10 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 24 Mei 2010) Kematian paranormal Mama Lauren pekan kemarin ternyata jadi ajang cari jimat. Gimana nggak, sisa kain kafan untuk membungkus jasad Mama Lauren diperebutkan warga yang ikut melayat. Hingga akhirnya ada pihak keluarga yang kepikiran untuk menjaga makam Mama Lauran selama 40 malam. Tujuannya, supaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 135/tahun ke-3 (10 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 24 Mei 2010)</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Kematian paranormal Mama Lauren pekan kemarin ternyata jadi ajang cari jimat. Gimana nggak, sisa kain kafan untuk membungkus jasad Mama Lauren diperebutkan warga yang ikut melayat. Hingga akhirnya ada pihak keluarga yang kepikiran untuk menjaga makam Mama Lauran selama 40 malam. Tujuannya, supaya tidak ada orang-orang yang membongkar makamnya. Hmm.. konon menurut keyakinan sebagian orang, terutama penganut ilmu hitam, kain kafan dan tali pocong dari orang yang diyakini punya ilmu tertentu bisa membuat dirinya makin digdaya. Ah, yang benar saja, Bung!</p>
<p>Kematian Mama Lauran mengundang kontroversi. Kalo saya menyimak di berbagai pemberitaan, termasuk entertainment, Mama Lauren katanya tahu saat dia akan mati. Walah, kaum muslimin seharusnya tidak percaya dengan kabar tersebut. Sebabnya apa? Sebab, kematian adalah rahasia Allah. Allah Swt. tidak memberikan pengetahuan tentang yang ghaib kepada siapapun kecuali yang dikehendakiNya, yakni kepada rasul yang diridhoiNya. Lha, Mama Lauren itu siapa? Cuma paranormal! Jadi nggak bisa dipercaya.</p>
<p>Ssstt.. seseorang pernah bilang ke saya: “Bingung juga sih. Ramalannya kok kadang-kadang benar ya? Terus gimana tuh?” Ah, itu kan kebetulan aja. Lagian biasanya paranormal nggak bisa nyebutin dengan pasti tentang ramalannya. Cuma bilang: “akan ada ini dan itu”. Kitanya aja yang tertipu karena udah terlanjur percaya. Glodak!</p>
<p>Jaman dulu di kampung saya ada juga dukun. Orang bilang sekarang paranormal atau pinter. Dia ngakunya bisa ngeramal dan nyembuhin orang. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya, tapi orang-orang di desa udah kadung menganggapnya hebat. Tapi setelah saudara saya bilang, “Ngapain minta tolong ke dia, shalat aja dia nggak. Gimana bisa dipercaya?” Hmm.. bener juga ya, jangan-jangan dia temenannya ama jin bin iblis deh yang memang para pembangkang Allah Swt. Sejak saat itu saya sama sekali nggak percaya.<span id="more-3390"></span></p>
<p><strong>Masyarakat primitif</strong></p>
<p>Jaman boleh berubah. Teknologi boleh serba digital, tapi soal kepercayaan tentang hidup, masyarakat kita masih banyak yang mengandalkan kepada ramalan para dukun (kecuali dukun beranak dan dukun urut kali ya..?), masih percaya mitos, dan segala urusan klenik. Itu sebabnya, nggak salah-salah amat kalo dibilang bahwa masyarakat kita masih primitif. Ciri khas masyarakat primitif adalah percaya kepada para dukun dan tukang ramal. Di masa jahiliyah dulu, yang subur makmur adalah tukang sihir, tukang tenung, dan tentunya dukun ramal. Mereka banyak didatangi orang yang ingin mengetahui nasib mereka di masa depan. Untuk jasanya, sejumlah harta kekayaan mereka raih.</p>
<p>Sekarang, di jaman kuda gigit prosesor, masih banyak juga orang yang percaya dukun dan tukang ramal. Kalo kamu baca tabloid or majalah mistik, di situ banyak iklan tentang klenik. Dari mulai yang menawarkan jasa untuk keselamatan, sukses usaha, dagang, ruwatan rumah, kemasukan jin, sampe urusan jodoh. Dan, boleh jadi dukun sekarang lebih modern lho, nggak heran kalo syarat yang diminta bukan lagi ayam hitam cemani, tapi Toyota Crown Royal Saloon atau mobil Aston Martin DB5 yang pernah dipakai James Bond (beuuu itu sih dukun matre kali yeee…)</p>
<p>Suer, masyarakat kita emang bener-bener aneh bin ajaib. Selain percaya sama dukun, perkara mitos juga akrab banget dalam kehidupan masyarakat negerinya Mak Lampir—yang jadi bintang utama MGM alias Misteri Gunung Merapi ini. Misalnya, banyak yang masih percaya tentang keberuntungan disesuaikan dengan hari kelahiran, terus nggak boleh bepergian jauh pada hari-hari tertentu. Kalo mau menikahkan anak saja harus nyari hari baik. Kalo sopir di jalan kebetulan ngelindes kucing, sampe kudu bela-belain beli kain kafan dan dikubur karena takut kualat, sebaliknya kalo yang ketabrak orang malah ngibrit ninggalin korbannya nggak pake lihat lagi karena takut dipenjara. Aneh memang. <em>Astaghfirullah…</em></p>
<p>Nah, maraknya tayangan dan bacaan seputar klenik ini makin mengukuhkan bahwa masyarakat kita masih percaya tahayul, dukun, perbintangan, dan ramalan. Sama seperti masyarakat Inggris dan suku-suku di Afrika yang masih banyak percaya sihir.</p>
<p>Oya, ternyata dalam pertandingan sepakbola juga ada mitos dan ritual aneh-aneh. Dulu waktu saya SD, pernah liat beberapa pemain kencing di sekitar gawang. Katanya bisa nggak kalah. Pletak! Ternyata ritual aneh bukan cuma ada di sini, di Eropa banyak juga pemain sepakbola yang percaya tahayul. Johan Cruyff salah satunya. Demi mendapatkan kemenangan, legenda sepakbola Belanda itu juga punya kebiasaan aneh, mulai dari menjadikan kiper Gert Bals sebagai sansak hidup saat masih di Ajax, hingga membuang permen karet yang dikunyahnya ke lapangan lawan sebelum kick-off. Ritual yang terakhir sempat lupa dilakukannya saat Ajax melawan AC Milan di final Piala Eropa 1969. Hasilnya? Ajax babak belur dihajar AC Milan 4-1.</p>
<p>Di Afrika lain lagi. Ritual konyol pernah dilakukan Midlands Portland Cement<strong>.</strong> Klub Zimbabwe ini sempat melakukan ritual pada Oktober 2008 lalu. Pelatih klub ini meminta 17 pemainnya nyebur ke sebuah sungai yang dipenuhi buaya untuk menghilangkan nasib buruk mereka. Hasilnya? Hanya 16 pemain yang keluar dari sungai dalam kondisi hidup. Tim juga masih kerap mengalami kekalahan. Beeuh.. berlatih malah ditinggalin. Pengen instan sih!</p>
<p>Bro en Sis, kalo ditelusuri lebih banyak lagi. Memang sih, dari ritual yang mereka lakukan, timnya kadang menang kadang kalah. Itu artinya untung-untungan alias nggak pasti. Hehe.. yang berlatih aja kadang masih keok, apalagi cuma ngandelin nasib via tahayul.</p>
<p><strong>Merusak akidah</strong></p>
<p>Sudah bisa dipastikan bahwa tayahul, klenik dan sejenisnya bukan tambah iman kita mantap, justru menodai, bahkan merusak akidah dan keimanan kita kepada Allah Swt. Sebab, Islam telah mengharamkan kita pergi ke tempat dukun or paranormal untuk menanyakan perkara-perkara ghaib, juga Islam mengharamkan perbuatan sihir atau pergi ke tukang sihir untuk mengobati suatu penyakit yang diderita, atau untuk mengatasi problem yang sedang dihadapi. Cara-cara semacam ini tidak diakuinya oleh Nabi saw. sebagai golongannya. Sebagaimana sabdanya: <em>Tidak termasuk golongan kami, barangsiapa yang menganggap sial karena alamat (tathayyur) atau minta ditebak kesialannya dan menenung atau minta ditenungkan, atau menyihir atau minta disihirkan. dan barangsiapa yang mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kafir dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad” </em><strong>(HR Bazzar; </strong>dari hadits Imran bin Hushain. Al-Haitsami menyebutkan dalam al-Majma’ (5/117) dan berkata: perawinya adalah para perawi shahih selain Ishaq bin Rabi’, dia tsiqah).</p>
<p>Padahal urusan gaib itu nggak ada yang tahu kecuali Allah sendiri. Bisa kamu simak firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua hal yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”</em><strong>(QS al-An’âm [6]: 59)</strong></p>
<p>Allah Swt. juga berfirman (yang artinya):<em>”(Dialah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun (sesuatu) tentang yang ghaib itu. Kecuali pada rasul yang diridlaiNya.” </em><strong>(QS al-Jin [72]: 26-27)</strong></p>
<p>Sobat pembaca, kondisi masyarakat yang seperti ini memang bukan tanpa sebab. Saat ini, masyarakat kita bukan masyarakat Islam. Tapi masyarakat yang hidup dan dibina dalam sistem kehidupan kapitalisme yang memang mengajarkan segala kebebasan. Atas nama HAM, sistem demokrasi (alat politiknya Kapitalisme) justru mengajarkan kebebasan kepada setiap orang, di antaranya adalah kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku, dan kebebasan pemilikan. Dalam masalah ini, berarti kebebasan berakidah. Bahaya, sobat!</p>
<p>Gimana nggak, kita bisa saksikan sendiri, bahwa menjamurnya tayangan dan bacaan bernuansa klenik nggak dilarang sama sekali. Masyarakat dibiarkan bebas memilih. Bahkan sampe perkara apakah ia akan bergama atau tidak, bukan tanggung jawab negara. Sebab, dalam pandangan sistem Kapitalisme, yakni sistem yang berlandaskan pemisahan antara agama dengan politik (kehidupan), hak individu sangat dijunjung tinggi, bahkan oleh negara sekalipun. Seseorang dibiarkan untuk melakukan apa saja. Permisif alias serba boleh banget. Pokoknya terserah berbuat apa pun sesuka hatinya. Dan itu nggak ada sanksinya, kecuali bila tindakannya merugikan orang lain.</p>
<p>Kok bisa begitu ya? Kamu jangan heran bin aneh, sebab sistem ini—yang sekarang mengatur kehidupan kita—memang buatan manusia. Bayangin aja, <em>masak</em> agama dipisahkan dari politik (kehidupan). Ini jelas nggak bener. Itu artinya, agama nggak boleh mengurusi problem kehidupan manusia. Dengan kata lain agama nggak boleh ikut campur dalam menata kehidupan. Itu sebabnya, agama cukup diterapkan oleh individu sebatas urusan ibadah ritual. Untuk masalah sosial, ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, peradilan, dan hukum diserahkan kepada penguasa dengan aturan buatan manusia. Inilah jalan kompromi yang kemudian melahirkan sistem rusak ini.</p>
<p>Maka, akibatnya kita bisa ngelihat dengan jelas, banyak bukti yang menunjukkan bahwa dalam sistem kapitalisme orang banyak yang sudah tak jelas agamanya. Sebab, gaya hidupnya aja udah bebas nilai. Tayangan dan bacaan merusak akidah sekalipun nggak bakalan dilarang. Alasannya, selama masih ada orang yang membutuhkan, tak jadi soal. Meski ada sebagian masyarakat yang teriak protes kenceng-kenceng menolak bacaan dan tayangan berlumur tahayul, negara cuek bebek aja, semboyan yang diusung adalah “Anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Glodaks!!</p>
<p>Oke deh, sudah saatnya kita sadar, bahwa cuma Islam solusi tunggal atas masalah ini. Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Insya Allah, jangankan masalah tahayul bin klenik yang bakal diberangus, musuh yang mengancam kedaulatan negara pun akan dihadapinya. Mari, jadikan Islam sebagai <em>way of life</em> kita. Hanya dengan Islam hidup kita mulia. Yakin! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dilarang-percaya-paranormal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaatkan Waktu Hidupmu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/manfaatkan-waktu-hidupmu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/manfaatkan-waktu-hidupmu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 11:43:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3385</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 134/tahun ke-3 (3 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 17 Mei 2010) Asik! Cihuy! Dapet jatah nulis lagi di buletin gaulislam tercinta (maklum lho, ada 9 penulis (termasuk gue) di buletin ini, tiga di antaranya adalah penulis senior: Kang O. Solihin, Mbak Ria Fariana, dan Mbak Nafiisah FB). Gue rada-rada gimana gitu kalo diminta nulis. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 134/tahun ke-3 (3 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 17 Mei 2010)</p>
<p><strong> </strong><br />
Asik! Cihuy! Dapet jatah nulis lagi di buletin gaulislam tercinta (maklum lho, ada 9 penulis (termasuk gue) di buletin ini, tiga di antaranya adalah penulis senior: Kang O. Solihin, Mbak Ria Fariana, dan Mbak Nafiisah FB). Gue rada-rada gimana gitu kalo diminta nulis. Tapi, ini kesempatan berharga, Bro! Siapa tahu gue bisa jadi penulis terkenal kayak mereka itu. Hehehe&#8230;</p>
<p>Di tengah kesibukan sehari-hari, berkelana kemana-mana cari lowongan kerja baru, huft! Ternyata sesulit membalikkan telapak kaki gajah! Tiap Senin  keliling Bogor nyebar buletin gaulislam ke sekolah-sekolah kalian sambil cari inspirasi tapi konsentrasi kabur-kaburan terus hehe.. Lho kok malah cerita kegiatan gue? Sori en asikkin aja dah!</p>
<p>Oke deh, dan akhirnya dapet juga inspirasi buat nulis, memang betul-betul banget (lebay : mode on). Inspirasi bisa dapet dari mana aja bisa dapet pas lagi diem di kamar  apa lagi di kamar kecil, ngak usah pake semedi tujuh hari tujuh malam di gua atau kuburan atau nginep di rumahnya Ki Joko Stupid, eh Ki Joko Bodo.</p>
<p>Malam ini gue lagi di warnet en lumayan rame. Suara-suara bising motor, mobil odong-odong (baca: angkutan umum plat hitam) yang berseliweran di jalan setia menemani..Oya,  karena harus berbagi tempat dengan user lainnya di warnet, maka kedua kaki wajib dilipat alias bersila. Masalahnya, kalo terlalu lama bisa pegel dengkul ini, hadeu! (maklum gue ngetik di rental komputer yang lesehan)<span id="more-3385"></span></p>
<p>Kawan-kawan gaulislam yang gue cintai!  (jiaah masih aja sempet-sempet ngegombal? Wataw!!) Terus baca ya! <em>To the point</em> aja, kalian suka perhatiin kondisi anak muda zaman sekarang kan? (termasuk kalian juga—dan gue tentunya, hehe..) Coba deh cek en observasi di daerah terdekat. Hitung seberapa banyak anak muda yang aktif di pengajian? Jarang kita temui anak muda yang kritis terhadap agamanya. Waduh,  kalo begini terus gimana bisa berdakwah? Huft!</p>
<p>Gue denger juga ada yang nyeletuk “Duh nggak usah repot-repot peduli sama gue, yang penting gue nggak nyusahin orang lain kok!” Malah pernah ada cewek yang ditanya: “Kenapa kamu nggak pake kerudung. Padahal kan kamu tahu perempuan seumur kamu wajib menutupi aurat?” Eh, dia bilang: “Aku nggak munafik kayak cewek-cewek yang pake kerudung itu. Padahal hatinya busuk. Aku sih ada apanya, eh apa adanya sesuai dengan kata hati. Nantilah kalo udah tobat baru pake..Slow ajah ah mumpung masih muda hehe..”. Halah… amit-amit gue!</p>
<p>Bro end Sis! Perempuan berkerudung belum tentu hatinya juga ‘berkerudung’ alias alim. Tapi kalo terus-terusan ngikutin kata hati dan hawa nafsu dijamin nggak bakalan ada usaha untuk jadi lebih baik. Gue belum jadi orang tua aja udah pusing duluan kalau-kalau nanti punya anak tantangan untuk mendidiknya pasti berat cuy. Hwach nggak kebayang! Sistem kapitalisme udah bener-bener meracuni anak bangsa! “Asal hati senang urusan yang lain <em>what ever</em> lah!” Musibah deh…</p>
<p><strong>Bekal buat akhirat</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, jelas kita nggak dilarang buat ngejar urusan duniawi tapi kita juga wajib menomor satukan masalah akhirat. Yup, kita wajib nabung pahala. Beramal sholeh di dunia buat di akhirat kelak.  Mumpung masih muda isi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal yang positif dan syar’i, betul?</p>
<p>Oya, di luar kegiatan sekolah pasti kamu punya banyak agenda. Mulai dari kursus atau ikutan bimbingan belajar, les musrik, ech musik, latihan band, olah raga dll. Kegiatan tersebut sah-sah aja dilakukan selama ngikut tuntunan syariat Islam dan nggak nyita waktu, plus bermanfaat untuk masa depan kalian (buset, banyak amat syaratnya).</p>
<p>Tentu bukan kegiatan miskin manfaat macam pulang sekolah terus nongkrong seharian di warung atau di depan gedung bioskop ngobrol ini itu pura-pura nunggu film dimulai. Padahal nggak nonton sama sekali. Hehe pengalaman gue ini. Hus-hus yang ini jangan dicontoh!</p>
<p>Jangan sampe pula kamu seharian di depan komputer en mantengin situs jejaring sosial macam facebook. Terus update statusnya yang tulisannya pake bahasa plat nomer alias nulis kata-kata dicampur pake angka. Huhu, bikin orang lain pusing bacanya. Oya, nggak baik juyga kalo sampe terus-terusan main game online.  Facebook-an nggak ada salahnya tergantung kita memanfaatinnya. Contoh yang baik nih ya kalian update status dengan nasihat-nasihat yang berguna atau tulis terjemahan ayat al-Quran atau hadist untuk saling mengingatkan dalam kebaikan keren dah pastinya. Ok?</p>
<p><strong>Memanfaatkan waktu</strong></p>
<p>Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.”</em> <strong>(QS adz-Dzariyat [51]: 56)</strong></p>
<p>Pernah nggak membandingkan waktu kegiatan untuk hal duniawi dengan waktu buat akhirat? Lebih banyak mana hayo? Contohnya nih, kita melaksanakan sholat fardu rata-rata butuh waktu hanya 5-10 menit. Itu juga kadang suka males-malesan apalagi sholat subuh. Terus tinggal dikurangin 24 jam (jumlah waktu dalam sehari). Nah sisanya kita ngapain aja—selain tidur dan sekolah?</p>
<p>Sudah semestinya (ciee.. gue jadi tua gini), kita yang masih muda harus mengisi kehidupan ini dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Betul? Jangan punya prinsip “mumpung masih muda seneng-seneng aja dulu, tobatnya belakanganlah kalau sudah tua”. Waduh, emangnya kamu tahu kapan datang ajalmu?</p>
<p>Bukan nggak boleh senang-senang dalam hidup. Silakan aja. Tentu dengan tujuan rekrasi atau me-refresh pikiran dan tetap dalam koridor syariat Islam. Ok?</p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, kita wajib memanfaatkan waktu hidup kita dengan amalan-amalan sholeh agar tidak menyesal dan merugi nantinya. Sesuai dengan firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. </em><strong>(QS al-Ashr  [103]: 1-3)</strong></p>
<p>Terus, bagaimana caranya supaya waktu kita bisa bermanfaat dan ngak sia-sia? Nih sedikit advice yang bisa kalian lakukan. <em>Pertama</em><strong>, </strong>mulailah setiap pagi dengan berdzikir kepada Allah, niatkan semua hal yang akan kita lakukan semata hanya untuk beribadah kepadaNya. Bukan untuk yang lain.</p>
<p><em>Kedua</em><strong>, </strong>jadwalkan semua kegiatan kita pada hari ini dengan jelas. Begitu ada waktu luang, segera isi dengan kegiatan bermanfaat, contohnya membaca buku, menkhatamkan al-Quran, membaca kitab, baca gaulislam (ehm..), dan lain sebagainya. <em>Ketiga</em><strong>,</strong> manfaatkan dengan baik waktu yang memiliki keistimewaan, misalnya pada sepertiga malam kamu bisa bangun dan melaksankan sholat malam.</p>
<p><strong>Ngaji aja!</strong></p>
<p>Bro and Sis, meskipun sudah diniatkan untuk mengisi waktu kita dengan hal-hal yang berguna, tapi kalo nggak konsisten kadang kita terlena dengan urusan duniawi. Iya kan? Kita mudah tergoda, suka ikut-ikutan tren—meskipun trennya yang nggak bener—karena hanya pengen diakui dalam komunitas kita biar dicap gaul. Huh cape dech! Kalau begini terus kita bakalan jadi budak kapitalis, generasi pengekor kayak kerbau yang diiket idungnya supaya mau ikut kemana-kamana. (No my way dech!) Saatnya  sadar dan memikirkan kehidupan kita.</p>
<p>BTW, ada nggak cara buat mem-protect kita dari serangan “racun dunia” sistem en budaya Barat? Well, salah satu jalannya kita wajib ngaji atau mengkaji serta aktif dalam pengajian. Ikut aja acara-acara kajian keislaman, kumpul bareng temen yang sholeh atau yang lebih paham agama. Bisa juga kita bentuk kelompok kajian Islam. Adakan pertemuan rutin sembari ngobrol bebas masalah agama, mengkaji  materi keislaman yang memang kita butuhin seperti fikih, akidah, muamalah, akhlak, dakwah, syariah, dan juga khilafah. Hwach pasti seru bro!</p>
<p>“Bosen dan Jenuh”? Halah, itu dua kata yang pertama kali muncul di benak gue ketika diajak caplin (bukan nama sebenarnya) ikutan ngaji. Pasti ini godaan setan! Tapi setelah terjun langsung ke TKP alias ke tempat pengajian ternyata setan itu pendusta sejati! Hehe.. gue <em>enjoy</em> di pengajian, karena bahasannya nyantai gue bisa sharing apa aja. Ngobrolin masalah ini itu dari a ampe z, mulai dari masalah pacaran dalam Islam gue tanyain, prikitiw! Sampai masalah ideologi dan sebagainya. Yang lebih serunya lagi kadang kita ngaji di tempat terbuka atau tempat rekreasi, asikk dah! Ilmu dapat, pikiran jadi tenang perut juga kenyang khwkhwk (jadi inget waktu ngajinya abis mancing deh). Hwaaah asiknya!</p>
<p>Boys and gals, pokoknya buat acara pengajian senyaman mungkin dan tetap semangat aktif di pengajian serta sebagai bekal berdakwah atau menyampaikan kebaikan kepada teman yang lainnya. Rasulullah saw. Bersabda: <em>“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari a-Quran dan mengajarkannya” </em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p><em>So</em>, kamu-kamu mulai deh dari sekarang ikutan ngaji, mengkaji Islam secara kaffah atau menyeluruh, bersosialisasi dengan agama kita sendiri, satu-satunya agama yang di ridhoi Allah Swt. Dijamin bakalan lebih enteng hadapi hidup! Menjadikan kita lebih berideologi dan bangga karena punya prinsip hidup, ketimbang cuma ikuat-ikutan biar dianggap gaul. Dengan ngaji juga kita terhindar dari dosa-dosa, terjaga dari maksiat, juga punya temen yang bisa saling mengingatkan kalau kita berbuat salah dan pastinya berguna untuk dunia dan akhirat.Jangan lupa sebagai anak pengajian, sikap dan perilaku kita wajib dijaga, agar terlihat ciri khas seorang muslim sejati. Oke?</p>
<p>Oke deh,  tetap semangat. Jangan putus dalam memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang positif dan sesuai syariat Islam. Semoga kita selalu ingat bahwa semua hal dicatat oleh Allah Swt., baik yang besar maupun yang kecil. Bijaksanalah dengan apa-apa yang dimudahkan oleh Allah. Yuk, manfaatkanlah waktu yang ada dengan kegiatan bermanfaat buat hidup kita. Jangan tertipu hawa nafsu. Siap? Yup, sampai jumpa di acara [klinik] gaulislam yang membedah buletin ini setiap pekannya. Masih inget kan semboyan khasnya: “Ngak Ngaji Ngak Trendy!” <strong>[samsi: saidansam.wordpress.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/manfaatkan-waktu-hidupmu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjilbab Itu, Modern!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berjilbab-itu-modern</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berjilbab-itu-modern#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 17:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3374</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 133/tahun ke-3 (26 Jumadil Ula 1431 H/ 10 Mei 2010) Satu kali, sebuah situs tentang cewek memberikan tips bagaimana caranya tampil PD dengan tank top meskipun lengan tangan besar. Saya pun merespon bahwa berpakaian menutup aurat (kerudung plus jilbab) adalah solusi cerdas bagi cewek tanpa harus meributkan ukuran lengan. Kelanjutannya adalah masing-masing bertahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 133/tahun ke-3 (26 Jumadil Ula 1431 H/ 10 Mei 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Satu kali, sebuah situs tentang cewek memberikan tips bagaimana caranya tampil PD dengan tank top meskipun lengan tangan besar. Saya pun merespon bahwa berpakaian menutup aurat (kerudung plus jilbab) adalah solusi cerdas bagi cewek tanpa harus meributkan ukuran lengan. Kelanjutannya adalah masing-masing bertahan pada pendapatnya. Situs tersebut menyatakan bahwa kita harus menghargai pilihan orang dalam memilih pakaian. Saya pun tidak keberatan karena pendapat tentang kerudung dan jilbab itu juga pendapat pribadi sebagai seorang perempuan.</p>
<p>Kamu masih ingat kan kasus temen-temen kita yang mengenakan kerudung sekitar tahun 90-an? Kalau nggak ingat, boleh kok tanya ke ortu, kakak atau tante kamu. Saat itu muslimah yang mengenakan kerudung diusir dari kelas beberapa sekolah negeri karena mempertahankan diri untuk menutup auratnya (wuih, baru pake kerudung aja dipermasalahkan, gimana kalo pake lengkap dengan jilbabnya ya?). Okelah, itu tahun jadul (jaman dulu). Kejadian paling baru pada bulan kemarin, yakni seorang wartawati sebuah stasiun televisi dilarang mengenakan kerudung ketika mewawancarai ibu presiden di istana. Ya, kita tahu sendirilah, ibu presiden kita kan nggak pake kerudung, apalagi berjilbab. Tetap kalo sampe pihak proteokoler istana ngelarang wartawati itu mengenakan kerudung saat mewawancarai ibu presiden namanya kebangetan. Hmm. ini mirip ketika presenter Sandrina Malakiano memutuskan mengenakan busana muslimah, dia malah dilarang tampil di layar televisi lagi dengan berbagai dalih. Herman, eh, heran deh!<span id="more-3374"></span></p>
<p><em>So</em>, dari beberapa contoh di atas bisa terlihat sebetulnya siapa yang tidak menghargai siapa. Apabila seseorang mengakui dirinya sebagai muslimah, maka sudah ada aturan khusus tentang tata cara berpakaiannya. Jadi tidak bisa semau gue atas nama kebebasan memilih atau bahkan memakai dalih HAM.</p>
<p><strong>Cara berbusana cewek modern</strong></p>
<p>Pembaca setia gaulislam, banyak orang salah mengira kalau modern itu adalah berpakaian yang mengumbar aurat. Tank top, rok mini, <em>you can see</em> (everything?), bahkan pusar pun diobral adalah gaya berbusana cewek modern. Orang yang berpendapat begini pasti sedang mabok. Coba deh kamu perhatikan film kartun Flinstone yang settingnya adalah zaman batu. Atau mungkin film Robin Hood dan Xena yang settingnya adalah zaman kuno abad pertengahan. Baju yang dipakai di sana sangat minim, hampir semua aurat terutama pemeran cewek diobral semua.</p>
<p>Terus, gimana dong dengan beberapa suku di Indonesia yang pakaian tradisionalnya adalah koteka semisal suku Asmat? Coba deh kamu lihat, bagaimana kehidupan dan tingkat berpikir suku tersebut. Seharusnya menjadi tugas bersama untuk membina suku-suku pedalaman yang masih awam terhadap Islam dan hukum menutup aurat. Bukan malah dijadikan tontonan sebagai aset pariwisata dengan alasan melestarikan budaya bangsa. Kasihan mereka. Bayangkan bila kamu yang di posisi mereka berpakaian, minim kemudian menjadi bahan tontonan. Pasti rasanya tak nyaman.</p>
<p>Tak ada orang yang bilang kalo mereka hidup di zaman modern. Yang ada adalah mereka hidup di zaman batu, kuno, jadul dan yang utama jahiliyah alias bodoh. Yang namanya modern adalah ketika manusia itu jelas bedanya dengan binatang yaitu ketika akalnya dimanfaatkan secara sempurna. Akal inilah yang menuntun manusia untuk mempunyai malu dan iman. Jika malu dan iman ada maka otomatis manusia akan memilih busana yang menutup aurat sebagai gaya berbusananya.</p>
<p>Hal ini pas banget dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dalam QS an-Nur: 31 dan al-Ahzab: 59 bahwa kerudung dan jilbab adalah pakaian muslimah bila mereka keluar rumah. Rasional dan masuk akal, itulah ciri-ciri Islam. Termasuk juga dalam mengatur cara berbusana perempuan, Islam jauh lebih modern daripada agama ataupun ideologi dan budaya mana pun di dunia ini. Ini karena memang Islam diturunkan oleh yang Mahamenciptakan manusia sendiri, jadi Ia pula yang berhak mengaturnya.</p>
<p>Di atas semua itu, modern atau tidaknya seseorang bisa dilihat dari pola pikirnya. Pola pikir inilah yang akan menentukan pola sikap dia termasuk dalam hal memilih pakaian. Jadi meskipun gelar selangit, rumah di kawasan elit, mobil keluaran terbaru tapi memakai rok mini dan tank top, sudah langsung bisa dilihat kualitas pola pikirnya. Semua materi duniawi yang disebutkan tersebut cuma aksesoris saja, tidak menyentuh intinya.</p>
<p><strong>Jilbab, pakaian modern</strong></p>
<p>Boys and girls komunitas gaulislam, jilbab itu pakaian perempuan modern dan beradab. Dari busana ini pula, terlihat identitas seseorang apakah ia muslim atau bukan. Jilbab adalah pakaian takwa yang merupakan bukti tunduknya seorang hamba kepada penciptanya. Siapa saja yang memperolok pakaian takwa ini, itu artinya ia juga memperolok Sang Pencipta yang menurunkan aturan tersebut.</p>
<p>Tak jarang muslimah berjilbab mendapat cobaan berupa suara-suara miring semisal disebut ‘sok alim-lah’, ‘sok suci’, dan berbagai sebutan lainnya. Biar saja, Non. Daripada harus menjadi orang yang sok kafir dan menjadi pembangkang perintah Allah, itu jauh lebih buruk dan hina untuk dilakukan. Cuekkin saja komentar-komentar tak penting seperti itu.</p>
<p>Sedangkan bagi kamu yang masih belum berkerudung (apalagi belum berjilbab) karena satu dan lain hal, mulai saat ini niatkan dirimu untuk berubah. Kamu tak akan pernah tahu kapan tibanya sang ajal. Nggak usah menunggu berjilbab ketika sudah menikah. Atau bahkan ada juga yang bernazar untuk berjilbab ketika keterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Lalu apabila tidak keterima di PTN, kewajibab berjilbab tersebut bisa gugur? Tentu saja tidak.</p>
<p>Yang namanya wajib ya wajib saja hukumnya, tidak usah menunggu persyaratan tertentu semisal kalau keterima di PTN. Bila pun misalnya cewek itu ketrima di PTN, maka itu artinya niatnya tidak karena Allah, tapi karena sekadar memenuhi nazar saja. Bukannya tidak mungkin, dia berjilbabnya juga setengah hati karena salahnya niat sedari awal. Di tengah jalan, ia akhirnya membuka jilbabnya dan kembali umbar aurat. Nggak banget deh!</p>
<p>Sobat muslim, berjilbab itu indah. Tapi bukan karena lantas terlihat indah ini kita mau berjilbab. Betapa banyak perempuan berkerudung karena setelah mematut diri di depan cermin, mereka merasa lebih cantik. Jadi ketika berkerudung (apalagi kalo sampe berjilbab) membuat dirinya tidak terlihat cantik, maka orang semacam ini tidak akan mau berjilbab. Banyak sekali ungkapan yang menyatakan enggan berjilbab karena pakaian tersebut hanya akan membuat dirinya terlihat gemuk dan tidak menarik. Meskipun tahu bahwa jilbab adalah perintah Allah, mereka lebih mementingkan apa kata manusia daripada kata-kata atau firman Allah. Semoga kamu bukan tipe perempuan seperti ini.</p>
<p><strong>Berjilbab, mutiara dalam etalase</strong></p>
<p>Pembaca setia gaulislam, perempuan berjilbab ibarat mutiara indah dalam etalase. Orang yang lalu-lalang bisa melihat tanpa bisa menyentuh, apalagi menodai. Mutiara ini hanya bisa dibeli dengan harga mahal dan seizin penjualnya. Tak jarang mutiara dalam etalase ini dilengkapi dengan kunci pengaman agar terjaga kemurniannya.</p>
<p>Bandingkan dengan perempuan yang tidak berjilbab. Mereka ini ibarat mutiara yang diobral di kaki lima. Semua orang tidak hanya bisa melihat, tapi juga menyentuhnya. Tak jarang tangan-tangan yang menyentuh mutiara tersebut ternyata bernoda sehingga membuat si mutiara tak lagi putih cemerlang. Cacat-cela pun hinggap di permukaannya yang indah. Bila si penjual lengah, bisa jadi ada maling yang menyusup dan mencuri mutiara itu dari tempatnya berada.</p>
<p>Ya, mutiara dalam etalase adalah muslimah berjilbab yang hanya bisa disentuh oleh laki-laki beriman yang berani mengucapkan akad nikah di depan wali dan saksi. Nama Allah sebagai jaminan bahwa laki-laki ini akan menjaga si muslimah hingga kelak dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilanNya. Mutiara ini terjaga kehormatan dan harga dirinya, setara dengan upayanya untuk tunduk pada aturanNya pula.</p>
<p>Mutiara kaki lima, kita semua sudah tahu bagaimana nasibnya. Di antara kedua pilihan ini, muslimah cerdas pastilah tahu harus memilih yang mana. Karena sudah sunatullah bahwa Allah akan memasangkan wanita baik-baik dengan laki-laki yang baik pula, begitu sebaliknya (QS an-Nur: 36). Ini adalah janji Allah. Tapi seorang muslimah salihah bukan tujuan tersebut yang menjadi incarannya. Ridho Allah adalah segalanya di atas semua tujuan.</p>
<p>Jadi, mulai sekarang luruskan niatmu bila sebelumnya ada niat lain mengotori keputusanmu untuk berjilbab. Oya, kalo baru sebatas bisa berkerudung, tingkatkan untuk bisa mengenakan kerudung plus jilbabnya (semacam baju kurung yang longgar, lebar dan tebal). Yakin deh, niat-niat duniawi itu umurnya tidak bertahan lama. Betapa banyak muslimah yang berkerudung (termasuk yang mengenakan jilbabnya) karena sekadar ingin agar segera bisa bersuami, setelah nikah menanggalkan kerudungnya, termasuk jilbabnya. Karena tujuannya sudah tercapai, buat apalagi memakai kerudung dan jilbab? <em>Naudzubillah.</em></p>
<p>Namun bila yang menjadi tujuan adalah ridho Allah semata, apa pun halangan dan rintangan yang menghadang karena keputusannya dalam berjilbab, hal itu tak akan menggoyahkannya. Sebaliknya, ia akan semakin tegar dalam mempertahankan identitasnya sebagai muslimah berjilbab.</p>
<p>Jadi sobat muda muslimah, jangan cuma berkerudung aja, tapi tingkatkan levelnya untuk juga berjilbab. Insya Allah, bakalan keren deh karena menunjukkan karakter positif seorang perempuan yang punya prinsip. Kamu tak akan pernah diombang-ambingkan oleh tren mode berbusana jahiliyah berkedok modern. Karena tren berjilbab adalah mode busana <em>everlasting</em> yang tak akan lekang oleh zaman. Oleh karena itu, tak ada pilihan lain bagi seorang perempuan yang sudah meng-azzamkan diri atau bertekad kuat menjadi seorang muslimah kecuali berbusana sesuai dengan yang ditentukan oleh Islam. <em>So</em>, ayo berjilbab mulai sekarang! Sip deh <strong>[riafariana: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berjilbab-itu-modern/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Kita Manusia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/karena-kita-manusia-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/karena-kita-manusia-2#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 17:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3369</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 132/tahun ke-3 (19 Jumadil Ula 1431 H/ 3 Mei 2010) Manusia dengan segala macam latar belakang, warna kulit, dan bahasa sebenarnya menjalani fenomena kehidupan yang serupa. Lihat saja diri kita dan putar kembali memori kita ke sebelas atau bahkan dua puluh tahun silam lewat foto-foto yang sempat diabadikan, lewat video yang sempat direkam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 132/tahun ke-3 (19 Jumadil Ula 1431 H/ 3 Mei 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Manusia dengan segala macam latar belakang, warna kulit, dan bahasa sebenarnya menjalani fenomena kehidupan yang serupa. Lihat saja diri kita dan putar kembali memori kita ke sebelas atau bahkan dua puluh tahun silam lewat foto-foto yang sempat diabadikan, lewat video yang sempat direkam.</p>
<p>Kelahiran misalnya; dari tidak ada menjadi ada. Kulit mulai bersentuhan dengan udara bumi. Panca indera mulai difungsikan. Terus, tumbuh dan berkembang; yang lemah menjadi mandiri. Kita sebelumnya  adalah para bayi mungil yang bisanya cuma <em>ngompol</em> dan menangis untuk meminta sesuatu. Kemudian berbulan berikutnya kita menjadi tahu cara lainnya untuk mengekspresikan keinginan walaupun baru sekadar bergumam dan… <em>ngompol</em> (teteep, ya hehe…). Merangkak lalu berdiri. Berdiri lalu berjalan.  Berjalan lalu melesat berlari. Kita tumbuh menjadi sosok dengan segudang potensi yang berhasrat besar meraih ribuan keinginan dan berjuta impian.</p>
<p>Terus kematian; ada menjadi tiada. Manusia-manusia gesit melemah. Tulang mulai terasa goyah. Beban badan yang sebenarnya ringan terasa menjadi berat.  Perlahan waktunya datang. Kematian pun menjemput semua orang.<span id="more-3369"></span></p>
<p><em>That’s</em> <em> life! </em> Tidak ada satu manusia pun yang bisa keluar dari putaran hidup yang semacam itu. Babak kehidupan yang sama. Hanya ceritanya saja yang berbeda di setiap episodenya dengan <em>ending </em>yang beragam pula.</p>
<p>Menjadi hamba Allah yang istimewa<strong> </strong></p>
<p>Proses keimanan yang kita jalani memuarakan kita kepada satu keyakinan penuh dan utuh bahwa tuhan kita adalah Allah Swt. Kita yakin sepenuh hati bahwa Allah lah yang menciptakan kita. Kita pun yakin hanya Allah yang patut disembah dan dipuja.</p>
<p>Allah telah memberikan banyak anugerah kepada kita. Panca indera yang lengkap dan akal yang membuat kita mampu berpikir. Allah telah mengutus Rasulullah saw. dan menurunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi kita ke jalan yang terang, yakni Islam.</p>
<p>Islam dianugerahkan kepada para manusia sebagai agama yang sempurna. Semua persoalan bisa kita temukan jawabannya dalam Islam. Masalah menuntut ilmu ada jawabannya dalam Islam. Sering marahan dengan ortu, carilah solusinya di Islam. Ada masalah sama cowok? Islam juga ngasih jalan keluarnya. Persoalannya sekarang, seberapa sering kita mencari jawaban di Islam ketika bertemu dengan masalah? Jangan-jangan jarang atau malah nggak pernah sama-sekali. Waduh!</p>
<p>Kenapa, sih, harus Islam? Persoalan yang kita hadapi, kan, kebanyakan persoalan dunia bukan akhirat.  Emang, sih. Tapi, jangan lupa. Kita semua kan pasti akan menuju ke sana, ke kehidupan yang abadi. Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Perbuatan kita ketika hidup di dunia,  memecahkan persoalan hidup dunia, akan menjadi penilaian amal baik atau buruk.</p>
<p>Buat kita yang mengaku  beriman kepada Allah, wajar kalau kita pakai apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Wajar aja, kan, kita cari jawaban di Islam atas segala permasalahan yang kita hadapi. Itulah yang membuat kita menjadi istimewa. Manusia yang tidak hanya memperturutkan hawa nafsu dalam menyelesaikan persoalan hidup. Manusia yang beradab yang mau mengakui kelemahan di hadapan Zat Yang Maha Perkasa sekaligus taat terhadap aturan hidup yang diperuntukkan baginya oleh Allah yang menciptakannya.</p>
<p><strong><em>Care</em></strong><strong> terhadap sesama<em></em></strong></p>
<p>Saat ini orang-orang yang punya rasa peduli itu langka. Kehidupan modern yang serba instan bikin kita nggak peka. Atmosfir kapitalisme yang pekat menyelubungi keseharian membuat kita cuma sibuk sama urusan uang.  Kita dibuat lebih nyaman mikirin urusan perut sendiri, dan mikirin nasib orang lain itu cuma jadi beban. Prinsipnya: “Elo ya urusin diri elo. Gua, ya gua”. Halah!</p>
<p>Padahal kita sadar kita nggak bakal bisa hidup tanpa keberadaan orang lain. Kita punya uang, tapi tanpa mbok, mbak, mas pedagang di pasar, apa tuh uang bisa langsung jadi makanan? Bisa c<em>are</em> <em>en share</em> terhadap dan dengan orang lain bukan soal kemampuan, tapi kemauan. Untuk bisa seperti itu semua orang pasti mampu, tapi sayangnya tidak semua orang mau.</p>
<p>Buat saudara-saudara kita yang masih hidup dalam kekurangan dan kelaparan, mereka yang masih hidup dalam kecemasan dan penindasan penjajahan, seharusnya perasaan kita terusik, dan kita mau mulai berpikir. Apa yang kita bisa lakukan buat mereka? Penggalangan dana, mungkin. Penyampaian aspirasi ke pihak-pihak yang berwenang?  Boleh juga dicoba, atau kalaupun semua itu masih dirasa sulit masa iya seuntai doa saja kita pelit?</p>
<p>Buat teman-teman kita yang masih terbelenggu dengan masalah narkoba, berkutat dengan bentuk kemaksiatan lainnya, kita harusnya mau berbagi Islam dengan mereka. Kita coba rangkul mereka, gandeng tangan mereka dalam genggaman persaudaraan. Persaudaraan sejati yang hanya keimanan sebagai pondasi.</p>
<p>Kita bimbing mereka dengan pengetahuan Islam yang kita punya dengan rasa sayang dan cinta. Cinta tulus sebagai saudara yang diikat oleh Allah dengan Islam sebagai sandaran. Indah rasanya hidup kalau setiap diri kita bisa menjadi orang yang semanis itu buat sesama.</p>
<p><strong>Kita bisa berdakwah</strong></p>
<p>Kita mungkin tidak punya cukup uang untuk membantu teman yang sudah kecanduan narkoba masuk rehabilitasi. Kita pastinya tidak bisa menangkap para dedengkot korupsi karena kita bukan polisi. Tapi kita memiliki kekuatan yang lain. Kemampuan untuk berbicara.  Berbicara tentang yang haq, tentang Islam. Kemampuan untuk menulis. Menulis tentang kebenaran, ya tentang Islam. Kemampuan  yang Allah berikan menyertai kewajiban dakwah yang Allah bebankan. <em>Fair</em>, kan?</p>
<p>Al-Quran menyebut orang-orang mukmin laki-laki perempuan saling tolong dalam dakwah.  Allah Swt. berfirman: <em>Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma‘ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta‘at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em><strong>(QS at-Taubah [9]: 71)</strong><em> </em></p>
<p>Rasul pun memberikan peringatan kepada kita.   Beliau saw. bersabda: <em>“Hendaklah kalian benar-benar menyuruh perbuatan yang ma’ruf dan benar-benar melarang perbuatan yang munkar, atau (bila tidak kalian lakukan) Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian berkuasa atas kalian semua (yang akibatnya banyak sekali kejahatan dan kemungkaran diperbuatnya) lalu orang-orang yang baik di antara kalian berdoa (agar kejahatan dan kemungkaran itu hilang) maka doa mereka (orang-orang baik itu) tidak diterima” </em><strong>(HR al-Bazzar dan ath-Thabrani)</strong></p>
<p>Bro en Sis, dakwah tak berarti harus menjadi ustadz or ustadzah dahulu. Nggak kok. Nasihat kita kepada sesama juga adalah dakwah. Menegur dan mengingatkan saudara kita yang lalai menjalankan kewajiban ajaran agama juga adalah bagian dari dakwah. Yup, dakwah merupakan tugas yang mulia sekaligus bentuk teragung kepedulian kita kepada manusia lainnya.  Kita tentu tidak ingin menjadi orang baik sendirian. Apa gunanya menjadi orang baik seorang diri sedangkan sekelilingnya berbuat kemaksiatan dibiarkan?</p>
<p>Seperti orang yang tidak pernah mau membuang sampah sembarangan tapi tidak mencegah orang lain membuang sampah sembarangan. Sampah semakin bertumpuk, tapi orang itu masih merasa aman karena dia merasa tidak melakukan kesalahan. Toh, bukan dia yang melakukan. Tapi, di bulan-bulan selanjutnya bencana itu pun datang. Hujan lebat turun. Sampah yang menggunung menghambat air sungai mengalir. Air sungai berlimpah dan deras berbelok arah ke jalan raya, perlahan menggenangi perumahan dan akhirnya menenggelamkannya. Kita yang tidak pernah membuang sampah ke sungai tapi tidak pernah pula mencegah orang berbuat itu ikut merasakan akibatnya. Tragis!</p>
<p>Rasulullah saw bersabda :<em>”Tidaklah suatu kaum yang orang-orang taatnya lebih banyak daripada pelaku maksiatnya, tetapi mereka membiarkannya, melainkan Allah akan mengadzabnya secara merata.” </em> <strong>(HR Ahmad dan Baihaqi)</strong></p>
<p>Menyeramkan. Kita tentunya tidak ingin itu menimpa. <em>So,</em> buruan deh meng-<em>upgrade </em>diri untuk menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang bergerak dan menunjukkan kepedulian dengan berbagi Islam. Caranya? Terus belajar Islam dan segera menyampaikannya kembali kepada orang-orang di sekitar.  Insya Allah keberkahan hidup bisa kita genggam.<em></em></p>
<p><strong>Kita tidak sempurna</strong></p>
<p>Kita tetap manusia yang penuh dengan keterbatasan dan kelemahan ketika menjalani aktivitas dakwah.  Kita tetap cewek yang butuh sahabat ketika bertemu dengan rintangan hidup. Kita tetap butuh makan dan minum. Kita bisa merasakan sakit dan sedih. Kita juga bisa tertawa dan merasakan bahagia.</p>
<p>Kita tetap manusia. Kita tidak pernah akan sempurna, tapi kita bukan manusia biasa. Buat kita yang sudah meniatkan diri menjadi pengawal agama Allah di muka bumi <em>reward</em> Allah pasti menanti. Rasulullah saw. bersabda: <em>“Siapa saja yang menyeru manusia kepada petunjuk (Islam),dia pasti akan dapat pahala yang diperoleh orang yang mengikuti petunjuk itu tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya.” </em><strong>(HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)</strong></p>
<p>Kesadaran kita sebagai manusia justru akan membawa kita kepada kehati-hatian dalam melangkah di dunia. Kita akan selalu senang hati belajar Islam secara kontinyu, sehingga selalu terjaga dari kesalahan dan selalu punya bahan untuk disampaikan ke orang lain. Kalaupun kita pernah berbuat salah, kita tidak akan pernah berlama-lama betah. Kita segera bangkit kembali menyusuri jalan yang seharusnya, yakni jalan Allah dan RasulNya. Islam memuliakan kita. Semangat! <strong>[nafiisah: http://nafiisahfb.co.cc]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/karena-kita-manusia-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nggak Ngaji Nggak Trendy</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nggak-ngaji-nggak-trendy</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nggak-ngaji-nggak-trendy#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 17:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3366</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 131/tahun ke-3 (12 Jumadil Ula 1431 H/ 26 April 2010) Halah, ini kan semboyannya program [klinik] gaulislam yang kita geber saban Rabu abis shubuh di Radio KISI 93.4 FM Bogor ya? Hehe.. bener Bro, ini sengaja kita jadikan judul buletin gaulislam edisi ini. Biar mantaplah. Soalnya, kita masih sering ketemu sama temen-temen yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 131/tahun ke-3 (12 Jumadil Ula 1431 H/ 26 April 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Halah, ini kan semboyannya program [klinik] gaulislam yang kita geber saban Rabu abis shubuh di Radio KISI 93.4 FM Bogor ya? Hehe.. bener Bro, ini sengaja kita jadikan judul buletin gaulislam edisi ini. Biar mantaplah. Soalnya, kita masih sering ketemu sama temen-temen yang lebih asyik ngomongin dandanan, gaul soal film terbaru, konser musik, berbusa-busa bahas kehidupan selebriti, gitu lho. Untuk apa tujuan mereka ngobrolin semua itu? Konon kabarnya biar disebut anak gaul dan ngetren. Sementara kalo urusan ngaji mah dibilangnya kampungan dan jatahnya orang yang udah TOP alias Tua Ompong Peot. Glodak!</p>
<p>Bro en Sis, udah saatnya deh kita percaya diri bilang kalo ngaji adalah bagian dari tren saat ini. Saat ini emang banyak orang udah stres dengan kehidupan dunia. Stres cari duit, stres pengen terkenal, stres pengen naik jabatan, stres dengan tekanan target pekerjaan dan bentuk-bentuk tekanan jiwa lainnya, Itu sebabnya, sebenarnya orang udah mulai senang lho ngaji. Seneng kumpul-kumpul bahas persoalan agama. Mereka banyak yang yakin kok bahwa kembali kepada ajaran agama adalah obat antistres. Insya Allah. Semoga demikian. <em>So</em>, itu artinya pula, sebenarnya kalo orang nggak ngaji saat ini, bisa dibilang nggak trendy dong ya? Hmm.. betul betul betul.<span id="more-3366"></span></p>
<p>Oya, meski demikian, tetap aja lho ada temen kita yang masih ragu untuk ngaji. Ngerasa belum maksimal dalam niat, dan yang pasti banyak banget godaannya. Sehingga akhirnya sedikit demi sedikit mulai malas ngaji dan akhirnya bukan tak mungkin nggak ngaji sama sekali. Waduh!</p>
<p><strong>Beratnya godaan</strong></p>
<p>Saat masih belum ngerti tentang Islam, apalagi tentang dakwah, saya masih merasa bahwa godaan itu hanya ada pada diri orang yang lemah iman. Eh, ternyata yang sudah mulai baikan pun, godaan tetap saja ada. Di masa Rasulullah saw. ada kisahnya lho. Telah diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Khathab ra. mendatangi Rasul dengan membawa naskah (sepucuk tulisan) Taurat lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah ini adalah tulisan Taurat, lalu Rasul diam. Lalu ‘Umar membacanya, maka berubahlah raut muka Rasulullah kemudian Beliau bersabda: “<em>Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, seandainya Musa as. masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus, seandainya ia (Musa) masih hidup dan mengetahui kenabianku sungguh ia akan mengikuti aku.”</em> <strong>(HR ad-Darimiy dalam <em>as sunan</em> no. 436)</strong></p>
<p>Kenapa Rasululllah saw. marah? Ini untuk membuktikan bahwa ketika sudah masuk Islam, kita nggak boleh lagi menjadikan ajaran lain sebagai aturan. Dekat-deket aja dan mempelajari ajaran mereka tanpa ilmu yang cukup bisa nggak boleh lho. Why? Ya, karena khawatir kita tergoda. Kan banyak kasus orang yang tertipu dengan ide selain Islam. Ada yang tergoda karena harta, ia belajar Islam tapi untuk ngancurin Islam. Ada yang dikasih beasiswa untuk kuliah hingga dapat gelar master atau doktor, tapi syaratnya harus ikut rencana para donatur tersebut dalam rangka menghancurkan ajaran Islam. Lha, kalo sampe kita tergoda demi harta dan status sosial dengan cara ninggalin ajaran agama, namanya kacau, Bro. Biarlah kita banyak harta yang penting tetap beriman. Beu&#8230; kalo itu sih ideal dong namanya.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari kita juga mungkin udah ngalamin ya gimana beratnya kalo godaan datang menghampiri. Lagi enak-enak puasa, ada yang nawarin makanan dan minuman. Lagi seneng-senengnya belajar, ada teman yag ngajakkin main PS. Hati dan pikiran kita semangat mengkaji ilmu Islam, eh ada orang nawarin liburan ke Ancol gratis. Termasuk ketika kita udah merasa enjoy ikut ngaji dan mencoba sedikit demi sedikit berani untuk berdakwah, nggak tahunya ada orang iseng nyebar isu kalo pengajian yang kita ikuti adalah bagian dari jaringan teroris. Waduh!</p>
<p>Ya, kita harus siap ketika godaan itu datang. Jadikan sebagai ujian untuk  mengukur kualitas iman, takwa, dan komitmen kita. Tidak usah putus asa. Tak usah pula merasa ternistakan gara-gara memilih jalan perjuangan dakwah dan aktivis pengajian. Justru sebaliknya harus bangga. Hidup ini adalah anugerah. Nikmati sajalah.</p>
<p>Nih, D’Masiv mode “on” dalam lagu <em>Jangan Menyerah</em>:</p>
<p align="right"><em>tak ada manusia yang terlahir sempurna/ jangan kau sesali segala yang telah terjadi kita pasti pernah.dapatkan cobaan yang berat seakan hidup ini/tak ada artinya lagi syukuri apa yang ada. hidup adalah anugerah. tetap jalani hidup ini. melakukan yang terbaik</em></p>
<p>Oke deh, sebagai muslim, godaan itu memang bisa jadi ujian. Kita kaya dan miskin pun adalah ujian keimanan lho. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.”</em> <strong>(QS al-Fajr [89]: 15-16)</strong></p>
<p>Semoga kita tetap sabar, tahan godaan dan tetap semangat jalani kehidupan dan jalan dakwah ini.</p>
<p><strong>Percaya diri jadi anak ngaji</strong></p>
<p>Jadi aktivis kudu optimis. Tampang pun boleh klimis meski jenggotnya tipis. Pakaian juga necis meski dompet selalu tipis. Ya, asal jangan sering meringis sampai tampangnya kayak <em>teletubbies</em>. Hehehe.. nggak ding. Kamu kudu tampil pede dengan predikat jadi aktivis masjid or kampus. Nggak boleh minder. Meski kadang cibiran, cemoohan termasuk sindiran suka mampir juga ke telinga para aktivis rohis. Dicap sok alim, sok suci, mau menang sendiri, nggak suka gaul, bahkan ‘bau surga’ lekat dengan anak rohis. Kalo yang puteri kebetulan lewat di tengah-tengah gerombolan cowok okem, suka diledekin dengan sapaan, “Assalamu’alaikum bu haji..”</p>
<p>Bro en Sis, menjadi aktivis rohis atau anak ngaji adalah pilihan bukan kebetulan. Jadi kamu kudu tahu betul risikonya. Sama seperti halnya anak funky dan okem, mereka juga udah memilih apa yang diinginkannya. Dan tentunya kudu tahu juga risiko yang bakalan diterima dari pilihannya itu. Jadi, kenapa musti minder, kita di jalan yang bener sobat. Uppss.. tapi inget, teman kita yang masih jahiliyah bukan berarti musuh kita, tetep kita anggap sebagai teman. Cuma, memang masih berada di tempat gelap aja. Jadinya, kita yang kudu nuntun. Okeh?</p>
<p>Nah, karena kita boleh dibilang dianggap beda sama teman-teman pada umumnya, maka gerak-gerik kita selalu aja jadi sorotan. Ada yang bangga, tapi nggak sedikit yang sinis. Itu biasa, romantika hidup sobat. Nggak seru rasanya kalo hidup cuma lurus-lurus aja. Hmm.. coba deh telusuri jalan tol, wuih jenuh banget deh rasanya. Jadi, kalo pun ada cibiran dan cemoohan dari kawan-kawan kita, anggap aja bumbu dalam kehidupan ini.</p>
<p>Anak masjid sering diidentikan dengan penampilan yang rada-rada beda, seperti memelihara jenggot, anak putrinya pakai jilbab, ilmu agamanya lumayan oke, dan perilakunya kalem. Terjun sebagai aktivis masjid sekolahan emang gampang-gampang susah. Gimana nggak, hampir setiap gerak-gerik kita pasti dalam pantauan teman dan guru. Uniknya lagi, pandangan miring dan lurus bisa aja ditujukan sama anak masjid ini. Nah, itulah kenapa gampang-gampang susah.</p>
<p><strong>Ngaji? Enjoy!</strong></p>
<p>Bro en Sis, mengkaji Islam itu menyenangkan lho. Jangan dianggap ngaji itu sebagai beban, sehingga terkesan kepaksa banget. Itu cuma faktor kebiasaan. Sama seperti ketika saya belum ngaji, saya <em>enjoy</em> dengan kebiasaan saya buang waktu dengan nonton film di bioskop, dengerin lagu-lagu dari <em>Bedil Karo Kembang</em> alias <em>Guns N Roses</em> (yang merupakan grup band favorit saya waktu itu). Kebiasaan seperti itulah yang saya lakukan hampir di setiap waktu luang.</p>
<p>Bayangkan, jika kita udah <em>enjoy</em> dengan kebiasaan kita, rasanya <em>flow</em> aja menjalaninya. Ngaji nggak bakalan membosankan sama seperti orang yang sudah menjadikan aktivitas memancing sebagai kebiasaannya (hehehe.. sambil ngelirak-ngelirik temen saya nih). Mereka bisa tahan berjam-jam nungguin ikan yang masuk perangkapnya.</p>
<p>Nah, kalo kamu memandang bahwa ngaji itu adalah sarana mencari ilmu, mungkin bakalan sutris duluan. Kenapa? Karena kalo “judulnya” dianggap sebagai aktivitas mencari ilmu, biasanya akan tergambar dalam pikiran kamu segala hal yang berkaitan dengan sesuatu berat dan perlu banyak mikir. Sekarang saya ubah pandangannya, bahwa ngaji itu mengasyikan sebagai sarana memperkaya wawasan kita tentang kehidupan. Beda nggak seh kalimat ini dengan sebelumnya: “mencari ilmu” dan “memperkaya wawasan kita tentang kehidupan”? Kalimatnya jelas berbeda dan “rasa bahasanya” berbeda pula, meski tujuan akhirnya bisa sama. Betul?</p>
<p>Oke deh, dengan ngaji, kita bakalan diperkaya dengan nilai gizi yang tinggi untuk pelajaran hidup kita. Wawasan kita bakalan bertambah, karena ngaji nggak cuma belajar tsaqafah (pengetahuan yang titik tolak pembahasannya adalah akidah), tapi juga belajar tentang makna hidup, tentang ukhuwah, tentang empati, tentang harga diri, tentang peduli, tentang pengorbanan, tentang kesetiaan, dan lain sebagainya. Semua itu bisa kita dapatkan dalam pengajian.</p>
<p>Ngaji, nggak cuma memperkaya akal kita dengan wawasan tentang berbagai pemikiran, tapi juga menghaluskan perasaan kita tentang berbagai sikap yang membuat ruangan di hati bisa menampung banyak hal yang indah. Ngaji juga selain mengembangkan kebiasaan kita mengkaji ilmu-ilmu berat, tapi juga menumbuhkan persahabatan yang nggak kenal kata putus.</p>
<p>Sobat muda muslim, jadikan ngaji sebagai kebiasaan dalam hidup kita. Nikmati saja dengan penuh kesenangan. Semua itu bisa kita ciptakan bersama teman pengajian lainnya. Ada canda-tawa, ada keseriusan meski tetap santai, tegur sapa, saling mengingatkan, saling menghargai dan menghormati. Wah, indah banget kan? <em>So</em>, mulai sekarang kita bilang: nggak ngaji nggak trendy. Sip deh! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nggak-ngaji-nggak-trendy/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Main-main dengan Hidupmu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-main-main-dengan-hidupmu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-main-main-dengan-hidupmu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 17:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3357</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 130/tahun ke-3 (5 Jumadil Ula 1431 H/19 April 2010) Pernah dengar nggak ungkapan-ungkapan kayak gini? “Ah elo nggak keren kalo nggak mabok!” ; “Ah elo nggak jantan kalo nggak ngerokok”; “Ah elo nggak gaul kalo nggak ditato” Setuju nggak elo sama ungkapan-ungkapan tersebut? Kalo elo nggak setuju gue kasih jempol deh buat elo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 130/tahun ke-3 (5 Jumadil Ula 1431 H/19 April 2010)</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Pernah dengar nggak ungkapan-ungkapan kayak gini? “Ah elo nggak keren kalo nggak mabok!” ; “Ah elo nggak jantan kalo nggak ngerokok”; “Ah elo nggak gaul kalo nggak ditato”</p>
<p>Setuju nggak elo sama ungkapan-ungkapan tersebut? Kalo elo nggak setuju gue kasih jempol deh buat elo karena elo bisa menggunakan pikiran dan akal sehat elo dengan baik. Tetapi kata-kata tersebut  sering banget menginspirasi banyak orang—nggak peduli tua atau pun muda—yang penting orang yang pikirannya pendek pasti akan ngikut aja. Orang model gini, biasanya berprinsip: yang penting sebuah pengakuan supaya bisa dibilang kerenlah, jantanlah gaullah dan sejuta predikat yang nggak nyambung sama fakta. Iya nggak?</p>
<p><strong>Hasrat menjadi penting</strong></p>
<p>John Dewey pernah bilang: “Desakan yang paling dalam di dalam diri manusia adalah hasrat menjadi penting”. Maka dari itu sesuai dengan faktanya banyak manusia berlaku bodoh hanya untuk menjadi penting, merasa dihargai, dipandang, serta dihormati, bahkan tak jarang hal bodoh itu dapat merusak diri mereka sendiri, orang lain serta membuat mereka tampak lebih bodoh.<span id="more-3357"></span></p>
<p>Ya, ketika sesorang ditanya apakah ditato itu sakit, mereka menjawab, “Ya, tentu saja sakit” (gimana nggak sakit, wong jarum ditusuk-tusukkan ke tubuh campur tinta). Lalu kenapa kamu masih mau ditato? Dengan berbagai alasan pun dikemukakan: mulai dari alasan seni sampe alasan supaya sangar (apalagi kalo tatonya di wajah dengan gambar topeng Bali pasti dijamin tambah sangar).</p>
<p>Bro en Sis, tetapi apapun alasannya mereka telah melakukan hal yang tidak berguna. Udahlah ngabisin duit, nahan sakit, eh ujungnya susah cari kerja. Padahal mereka itu bukan anak orang kaya, istilahnya biar tekor asal nyohor. Kasihan deh, mereka cuma ikut-ikutan supaya dianggap keren. Istilahnya “posser”, atau <em>follower</em>, mereka mengikuti seorang <em>public figure</em> yang dianggap keren oleh kaum-kaum mereka sesuai dengan jamannya walaupun yang diikutinnya sisi negatifnya aja.</p>
<p>Dandanan sih masberto (masyarakat bertato) ala Oliver Skyes, Lars Federiksen atau Travis Barker tapi tetep aja kagak terkenal habisnya cuma <em>follower</em>. Yang ada malah jadi korban cibiran orang, karena bisanya cuma mengekor dan nggak punya jati diri. Kalo dipikir-pikir sih malah jadi alay (kampungan), Bro! Jadi, pikir-pikir lagi deh kalo mau ngelakuin suatu perbuatan. Jangan cuma ngikut doang. Ok?</p>
<p><strong>Ghazwul fikri</strong></p>
<p>Lha, istilah apaan nih? Kok pake bahasa Arab? Well, nggak apa-apa dong, biar kamu dikit-dikit ngerti istilah ini. Yup, artinya adalah perang pemikiran, euy! Nah, ada baiknya deh kita buka salah satu ayat di al-Quran (yang artinya): <em>“…mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”</em> <strong>(QS al-Baqarah [2]: 217)</strong></p>
<p>Seperti nukilan ayat di atas Allah Swt. telah memperingatkan kita bahwa orang-orang kafir selalu berusaha mengembalikan kita kepada kekafiran dengan cara apapun. Nah, cara yang paling efektif saat ini dilakukan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah dengan <em>ghozwul fikri</em> atau perang pemikiran.</p>
<p>Seperti yang dikatakan Samuel Zwemer dalam konferensi al-Quds pada tahun 1935: <em>“Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian. Akan tetapi menjauhkan mereka dari agamanya (al-Quran dan Sunnah). Sehingga mereka menjadi orang-orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan), menjadi terpecah-belah dan jauh dari persatuan. Dengan demikian kalian telah menyiapkan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian”.</em></p>
<p>Nah lho, bagi elo yang mengaku Islam elo kudu hati-hati dengan alat perang yang namanya ghozwul fikri ini karena metode yang satu ini mempunyai banyak kelebihan yaitu dananya sedikit, dampaknya fatal dan berjangka panjang, sasarannya tidak terbatas dan tidak menimbulkan korban bagi si penyerang.</p>
<p>Dalam rangka memenuhi ambisi mereka maka diciptakanlah sebuah “trend” yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Banyak perbuatan yang tidak berguna dianggap “keren”, maka diciptakanlah acara-acara televisi yang berbau budaya kebarat-baratan dalam sisi negatif seperti sinetron percintaan yang berujung pamer aurat dan perzinahan. Payahnya, hal itu kemudian diikuti oleh pemuda-pemudi yang akhlak dan pola pikirnya lemah. Malah akhir-akhir ini nih ada metode baru yang diciptakan dalam perang pemikiran, yaitu pencitraan bahwa orang Islam yang sering ngaji, berjenggot dan sering aktif dalam acara keislaman adalah teroris. Waduh!</p>
<p>Ngomong-ngomong soal ini, gue jadi inget cerita temen gue. Kalo nggak salah temen gue itu cerita waktu dia balik kampung ada seorang bapak yang bilang gini ke dia hanya karena liat penumpang lain yang berjenggot panjang sambil bawa tas, “Dek, saya kalo ngeliat orang seperti itu ngeri jadinya, takut bawa bom”. Ckckck…</p>
<p>Bro en Sis, lagian bukankah seharusnya kita bertanya lagi: kok kalo ada mafia di Italia atau Yakhuza di Jepang yang sering bikin onar, mereka nggak menghubungkan dengan agamanya? Atau Israel yang udah jelas-jelas telah membantai umat Islam di Palestina mereka nggak pernah ngehubungin sama agamanya. Tapi kalo orang Islam, langsung aja deh dituduh tanpa bukti. Jadinya orang takut untuk mengkaji Islam lebih dalam. Padahal kalo yang udah mengkaji Islam pasti tahu deh kalo Islam itu mengajarkan kebaikan bukan keburukan. Wah, wah, bahaya benar ya perang opini ini. Sampe-sampe  orang Islam aja saling curiga dengan sesamanya. Waspadalah!</p>
<p><strong>Jangan sia-siakan hidupmu</strong></p>
<p>Boys and gals, kita kudu yakin bahwa kita itu diciptain sama Allah Swt. nggak sia-sia. Sebab, hidup kita ini terlalu berharga bila nggak digunakan dengan sebaik mungkin. Sampai-sampai Allah berfirman dalam surat al-Mu’minuun ayat 115 (yang artinya). <em>“Maka Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”</em></p>
<p>Tuh kan, bener lho. Kematian itu selalu dekat dengan kita. Jadi kita harus memanfaatkan hidup kita dengan sebaik mungkin. Allah Swt. aja menciptakan kita bukan main-main (bukan asal aja), kok kitanya malah main-main di dunia ini. Jangan mentang-mentang elo masih muda lalu elo hidup maen-maen dan cenderung santai. Pikirin deh, gimana jadinya kalo di tengah jalan tiba-tiba elo meninggal dunia dalam keadaan bermaksiat? Nggak banget ah. <em>So</em>, mulai sekarang elo harus berpikir kematian itu mengincar siapa aja dan jangan sampai elo meninggal dalam keadaan <em>suul khotimah</em> (buruk di akhir hayat). Justru di masa mudalah kita harus menggunakan waktu sebaik-baiknya.</p>
<p>Sebenarnya nih, Bro, kalo ingin mendapat pengakuan dari orang lain dengan menjadi terkenal sebenarnya ada dua jenis: terkenal dari sisi positif dan terkenal dari sisi negatif. Sedangkan keduanya juga sama-sama membutuhkan usaha yang sama sulitnya. Jadi kita tinggal milih tuh mau terkenal lewat sisi mana. Kita tuh hidup di dunia bukan cuma numpang makan dan buang air doang (plus beranak), tapi harus bisa menjadi pribadi yang bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi orang lain.</p>
<p>Udah seharusnya kita bangga jadi orang muslim. Banyak tokoh muslim yang menginspirasi dunia. Contohnya Ibnu Sina (Avicena), karena keilmuan kedokterannya dia menjadi inspirasi dunia karyanya yang terkenal yaitu <em>al-Qonun fi at-Tibb</em> yang menjadi suatu rujukan ilmu kedokteran. Ada lagi nih seorang penemu konstruksi mesin terbang pada abad ke 9 yaitu Abbas ibn Firnas. Dia mendesain sebuah perangkat sayap dan secara khusus membentuk layaknya kostum burung. Dalam percobaannya yang terkenal di Cordoba Spanyol, Firnas terbang tinggi untuk beberapa saat sebelum kemudian jatuh ke tanah dan mematahkan tulang belakangnya. Desain yang dibuatnya secara tidak terduga menjadi inspirasi bagi seniman Italia Leonardo da Vinci ratusan tahun kemudian. Tapi tetep aja yang sering diangkat ke media atau yang kebanyakan orang tahu Da Vinci lah penemu konstruksi pesawat terbang pertama. Ini juga bagian dari ghazwul fikri.</p>
<p>Wuih kalo bicara tentang ilmuwan muslim yang sukses dan orang muslim yang menggoncang peradaban dunia nggak bakal ada abisnya, Bro. Tetapi memang kadang kita nggak mengenal mereka, apalagi orang-orang dulu karena orang Eropa sering mengganti nama ilmuwan muslim menjadi nama-nama latin. Mungkin juga itu dilakukan supaya kita nggak mengenal kejayaan Islam di masa lalu. Kalo zaman sekarang kayaknya sedikit sekali ilmuwan muslim dan tentunya amat beda kualitasnya jika dibandingkan dengan masa kekhalifahan. Sebab, di masa kekhalifahan pendidikan itu harganya nggak mahal. Malah, di masa Khalifah Harun ar-Rasyid, beliau mendirikan Baitul Hikmah atau gedung ilmu pengetahuan dimana kitab-kitab bahasa asing diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sehingga pengetahuan itu gampang didapat oleh rakyat dan dikembangkan lagi oleh ilmuwan muslim.</p>
<p>Sebenarnya kalau kita ingin mendapatkan pengakuan dan dikenang orang dalam kebaikan, bukanlah dengan cara-cara yang nggak bener, tetapi dengan cara yang sesuai dengan koridor keislaman. Contohnya nih, dengan belajar. <em>So</em>, selagi elo masih sekolah elo belajar yang pinter supaya nanti bisa menjadi ilmuwan muslim yang handal. Selanjutnya karena belajar adalah tradisi utama bagi umat Islam, maka harus dihiasi dengan akhlak islami. Supaya apa? Supaya mantap dong ya. Nah, biar lebih mantap lagi, jangan lupa juga dengerin acara kita di program [klinik] gaulislam setiap hari Rabu jam 05.30 WIB di KISI 93,4 FM Bogor. Kamu bisa kirim SMS pas acara, atau malah bisa ikutan siaran bareng. Kamu mau kan? <em>So</em>, biar keren, kita bilang: “Nggak ngaji, nggak trendi!” <strong>[ikrar muhammad: ikrarestart@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-main-main-dengan-hidupmu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Belajar dari Kehidupannya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/anak-belajar-dari-kehidupannya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/anak-belajar-dari-kehidupannya#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 17:02:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ortu]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3354</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 129/tahun ke-3 (27 Rabiuts Tsaniy 1431 H/12 April 2010) Bro en Sis, mungkin kamu tahu berita tentang anak umur 4 tahunan yang udah lihai merokok dan terbiasa bicara cabul. Aduh, pas tahu ada berita ini, saya sedih banget. Terus jadi inget deh waktu saya nulis di buku Jangan Jadi Bebek (2002). Pada bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 129/tahun ke-3 (27 Rabiuts Tsaniy 1431 H/12 April 2010)</p>
<p>Bro en Sis, mungkin kamu tahu berita tentang anak umur 4 tahunan yang udah lihai merokok dan terbiasa bicara cabul. Aduh, pas tahu ada berita ini, saya sedih banget. Terus jadi inget deh waktu saya nulis di buku <em>Jangan Jadi Bebek</em> (2002). Pada bagian akhir buku ini membahas tentang perilaku orang tua yang akan dicontek oleh anak-anaknya. Baik orang tuanya, insya Allah baik anaknya. Buruk orang tuanya, buruk pula anaknya. <em>So</em>, emang kudu ati-ati memberikan contoh perilaku kepada anak kecil. Memang sih, nggak murni salah orang tua kandungnya aja. Orang dewasa di sekitar kehidupan anak kecil juga akan turut mempengaruhi lho.</p>
<p>Ada pepatah/peribahasa lama, “Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga”. Yup, pepatah ini pernah menjadi judul tulisan di buku saya, <em>Jangan Jadi Bebek</em>. Dengan indah peribahasa itu mengumpamakan orang tua sebagai atap, bagian paling atas dari rumah. Posisi yang memberikan perlindungan kepada seluruh anggota keluarga. Atap jugalah yang kemudian meneteskan air ke pelimbahan, yakni anak-anak kita. Dan air, adalah karakter yang diwariskan kepada anak-anak, meluncur deras – sesuai <em>sunatullah</em> — dari atap menuju pelimbahan.<span id="more-3354"></span></p>
<p><em>So</em>, disadari atau nggak tingkah laku dan kebiasaan para orang tua, sebenarnya menjadi cerminan bagi anak-anak di rumah. Memang benar ada karakter yang diwariskan secara genetis kepada anak-anak, seperti yang diuraikan berbab-bab oleh para ahli biologi. Tetapi sebenarnya jauh lebih banyak karakter yang diperoleh anak-anak dari hasil didikan kita.</p>
<p>Anak-anak belajar dari orang tua mereka dengan cara mendengarkan, mengamati dan memikirkan tingkah laku orang tua. Ayah dan ibunya mengajak anak-anak untuk sholat, akan direkamnya, kebiasaan ibunya membuatkan secangkir kopi bagi ayahnya, kebiasaan ayahnya berpamitan kepada ibunya saat berangkat ke tempat kerja, kebiasaan mereka berdua mencurahkan kasih sayang pada mereka, anak-anaknya, menjadi pelajaran-pelajaran yang lebih berkesan ketimbang duduk mendengarkan ceramah berjam-jam. Bahkan kebiasaan ‘sepele’ seperti jam berapa menyalakan televisi dan acara apa yang biasa kita saksikan, seluruhnya terekam baik dalam ingatan anak.</p>
<p>Anak-anak adalah cermin bagi orang tua. Bagaimana orang tuanya, begitulah anaknya. <em>Like father, like sons</em>. Saat para orang tua menatap mata anaknya, mengamati bentuk hidungnya, cara berjalannya dan gaya bicaranya, pasti mereka akan temukan diri mereka pada anak-anaknya. Maka bila kita tidak ingin dipermalukan di depan orang lain oleh tingkah polah anak-anak, berarti kita pun jangan berbuat hal yang memalukan di depan anak-anak kita sendiri. Setuju kan, Bro?</p>
<p><strong>Salah asuhan</strong></p>
<p>Ini bukan judul cerita roman karya Abdoel Moeis, lho. Meski mungkin saja kisah di dalamnya mirip dengan kondisi masyarakat kita saat ini. Silakan dibaca aja novelnya. Yup, <em>Salah Asuhan</em> bukan sekadar novel biasa, ia juga merupakan pandangan kritis pengarangnya, Abdoel Moeis, terhadap dampak politik etis (Etische Politiek) yang dilancarkan pemerintah Hindia Belanda sejak awal abad ke-20. Moeis menyiratkan pesan, pendidikan Barat yang dinikmati sebagian kaum bumiputra seharusnya tak membuat mereka tercabut dari akar budayanya. “Orang Timur jangan sekali-kali menjadi sepuhan Barat,” ujar Mariam, ibu dari tokoh utama novel ini, Hanafi.</p>
<p>Ok, kisah hidup di novel itu mirip-mirip dikitlah dengan kondisi kehidupan kita sekarang. Sekularisme, hedonisme, permisifisme, liberalism menjadi bagian dari hidup kita. Jelas ini salah asuhan. Sebab masyarakat Indonesia, khususnya yang muslim seharusnya menjadikan Islam sebagai pilihan dan bagian dalam hidupnya. Seluruh hidupnya adalah cerminan dari ajaran Islam. Kalo boleh menggunakan istilah full time muslim, maka seorang muslim dalam seluruh hidupnya harus senantiasa menjadi muslim dan mengamalkan ajaran Islam. Nah, kalo pengen lengkap gimana itu model Full Time Muslim, insya Allah penjelasan detilnya ada di buku yang sedang saya garap tersebut (hehehe.. jadi promosi deh gue!).</p>
<p>Bro en Sis, Kak Seto Mulyadi dari Komnas Perlindungan Anak bilang bahwa kasus serupa Sandi (bocah 4 tahun yang merokok dan videonya udah tayang di Youtube itu), saat ini di Indonesia ada 12 kasus. Walah, banyak amat! Kirain cuma anak itu aja. Ckckck… kasihan juga ya. Waktu mencoba <em>searching</em> di mbah google, saya ngeri banget membaca berita yang bertebaran di sana, plus yang bikin penasaran adalah di sebuah blog ditampilkan juga video berdurasi 3:29 menit yang merekam aktivitas Sandi yang lagi ngerokok dan berkata cabul.</p>
<p>Kalo diperhatiin emang itu ada peran orang dewasa di sekitarnya. Dia menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan orang dewasa (yang tidak diperlihatkan batang hidungnya) seputar kata-kata cabul. Setelah Sandi menjawab, terdengar tertawa ngakak dari sejumlah orang dewasa di sekitarnya. Astaghfirullah. Udah deh, haqqul yakin kalo ini memang ada peran orang dewasa dalam membentuk perilaku anak itu. Bener-bener salah asuhan. Kasihan dia. Oya, update terakhir bocah itu udah mulai berkurang aktivitas merokoknya sejak publik tahu kasus dia dan banyak yang merhatiin serta mau bantu menyelesaikan masalahnya. Syukurlah kalo memang begitu. Mudah-mudahan bisa dibina dengan cara yang benar dan baik.</p>
<p>Bro en Sis, orang tua memang paling bertanggung jawab, tapi tentu saja lingkungan sekitarnya juga harus ikut mencontohkan perilaku yang baik. Bukan perilaku yang malah memberikan efek negatif, apalagi kepada anak-anak kecil yang memang mudah untuk meniru.</p>
<p><strong>Tanggung jawab bersama</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, benar banget bila anak tumbuh menjadi liar, keras, pendendam, dan tidak punya sikap penyayang, tentu tidak muncul begitu saja. Para orang tua dan orang-orang dewasa di sekitarnyalah yang merekayasa semuanya. Jadi waspadalah!</p>
<p>Maka tidak ada ‘horor’ yang lebih menakutkan bagi anak-anak selain kehilangan kasih sayang. James Coleman, dalam <em>Abnormal Psychology and Modern Life</em>, menyebut kekurangan kasih sayang sebagai <em>communicable disease </em>(penyakit menular). Karena itu Islam sebagai agama yang membawa misi <em>rahmatan lil ‘alamin</em> mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. <em>“Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,” </em>kata Rasulullah saw. Bahkan Allah Swt. berfirman: <em>“Bertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.”</em> <strong>(QS an-Nisâ’ [4]: 1)</strong>.</p>
<p>Tidak ada tempat yang lebih aman bagi seorang anak selain di dalam pelukan orang tuanya. Karena anak-anak senantiasa membutuhkan kekuatan untuk bersandar, dada untuk menangis dan contoh untuk belajar. Bila kita memberikan itu semua pada mereka, maka lebih dari sekadar perwujudan kasih sayang, tapi bernilai ibadah di sisi Allah Swt.</p>
<p>Ada sebuah riwayat menarik mengenai hal itu. Diriwayatkan bahwa ada seorang seorang perempuan miskin datang menemui Aisyah r.a. “Ia membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda; <em>“Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” </em><strong>(HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)</strong></p>
<p>Selain itu anak-anak juga memiliki hak untuk mendapatkan harta dan pendidikan. Tanpa keduanya, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lemah. Allah Swt. berfirman: <em>“Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”</em> <strong>(QS an-Nisâ’ [4]: 9)</strong>.</p>
<p>Bukanlah orang tua yang baik yang meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan lemah. Baik iman, ilmu dan harta. Anak-anak membutuhkan semuanya.</p>
<p>Suatu  ketika Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya. “Wahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?”</p>
<p>“Agama,” jawab Luqman.</p>
<p>“Kalau dua?”</p>
<p>“Agama dan harta.”</p>
<p>“Kalau tiga?”</p>
<p>“Agama, harta dan rasa malu.”</p>
<p>“Bila empat?”</p>
<p>“Agama, harta, rasa malu dan akhlak yang mulia.”</p>
<p>“Jika lima?”</p>
<p>Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang mulia dan dermawan.”</p>
<p>Anaknya bertanya lagi, “Jika enam?”</p>
<p>Luqman menjawab, “Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang hamba maka dia adalah orang yang bertakwa, dan Allah akan menolong orang yang menjauhi syetan.”</p>
<p>Yuk, kita jaga bersama masa depan generasi muslim. Agar mereka tumbuh dengan benar dan baik. Kalo bocah usia 4 tahun itu fasih berkata-kata cabul dan lihai merokok, itu membuktikan bahwa dia memang belajar dari kehidupannya. Pastilah, itu karena dia melihat faktanya dan bisa jadi di-<em>create</em> oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Apalagi kasus serupa lainnya, bocah umur 3 tahun merokok karena kakek dan kakaknya merokok dan si bocah melihat kenyataan itu. Waduh, ngeri deh. Saya kepikiran juga, kalo bocah-bocah itu dengan mudah bisa merokok, seharusnya dia bisa juga diarahkan untuk hal positif. Karena anak-anak memang relatif lebih mudah dibentuk karakternya ketimbang yang udah bangkotan. Semoga ini menjadi pelajaran kita semua dan mulai berpikir serius untuk menyelamatkan generasi ini dari pengaruh buruk. Yuk dakwah yuk! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/anak-belajar-dari-kehidupannya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Bule di Sekolahmu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/guru-bule-di-sekolahmu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/guru-bule-di-sekolahmu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 17:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3352</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 128/tahun ke-3 (20 Rabiuts Tsaniy 1431 H/5 April 2010) Diberlakukannya internasionalisasi pendidikan di Indonesia, telah mengakibatkan berbagai dampak sosial dalam kehidupan pendidikan di negara kita. Mulai dari pendidikan biaya tinggi, pengkelasan level pendidikan hingga standardisasi mutu pendidikan dengan UN. Namun tidak banyak yang memperhatikan bagaimana sekolah bisa mengejar ‘status’ internasional mereka, sehingga bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 128/tahun ke-3 (20 Rabiuts Tsaniy 1431 H/5 April 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Diberlakukannya internasionalisasi pendidikan di Indonesia, telah mengakibatkan berbagai dampak sosial dalam kehidupan pendidikan di negara kita. Mulai dari pendidikan biaya tinggi, pengkelasan level pendidikan hingga standardisasi mutu pendidikan dengan UN. Namun tidak banyak yang memperhatikan bagaimana sekolah bisa mengejar ‘status’ internasional mereka, sehingga bisa mengklaim dengan instan kalo pendidikan yang mereka selenggarakan adalah berskala internasional. Salah satu cara yang paling sering dan mungkin paling mudah ditempuh, adalah dengan mengimpor guru asing. Yuk kita bedah lebih dalam bagaimana kiprah guru asing di sekolah-sekolah elit di negara kita.</p>
<p>Perut keroncongan and konsentrasi buyar adalah dua tanda yang sangat jelas kapan gue harus makan siang, setelah sholat dhuzur, gue turun deh cari makan, (maklum ngantor di atas puhun). Longok kanan, en kiri, hmmm kok nggak ada yang menarik. Akhirnya setelah berfikir keras selama tiga jam, gue putusin makan di kantin sekolah, sebelah kantor. Siang itu kantin udah kaya pasar. Namanya juga kantin sekolah, rame banget. Dari pembicaraan seputar gosip paling gress di kelas sampe berapa jumlah rambut tupai langsung bisa kita denger seketika. Di antara kericuhan kantin itu, sempet gue simak diskusi soal guru bule.<span id="more-3352"></span></p>
<p>Gini nih obrolannya: (kode: A=Murid cewek, B= Murid Cowok) Murid A1: “Eh tahu nggak? Ada guru bule di kelas bahasa gantiin pak Amir, tampangnya miriiiip banget bule!”. Murid A2 bilang: “Ya iyaalah”. Terus Murid B1, “Eh namanya siapa? Gue habis ini ada kelas bahasa”. Murid A1 bilang, “Namanya mister Frank”. Murid A2 nimpali, “Sodaranya mister baso ya?” Murid A1, “Huss, sembarangan, bule gitu looh”. Tiba-tiba ada murid yang nggak jelas (tampang sih B tapi kelakuan A) ikut ngomong, “Cakep nggak? Cakep nggak?”. Murid A1: “Yah, Bule gitu looh” udah deh gue akhiri sampai di sini aja percakapan mereka, mules perut gue.</p>
<p>Sebenernya pembicaraan mereka hari itu tidak begitu menarik buat gue, sampai suatu ketika di dalem angkot Bogor yang kesohor, dua orang guru terlibat perbincangan seru soal guru bule, yang intinya mereka “khawatir” dengan keberadaan guru asing tersebut. Hmm dapet bahan menarik neh buat artikel buletin gaulislam. BTW, kalo ngomongin inspirasi buat nulis, semua ada di sekitar kehidupan kita.</p>
<p><strong>Tuntutan globalisasi</strong></p>
<p>Dengan embel-embel sekolah internasional atau sekolah nasional plus, maka dijanjikanlah pendidikan yang lebih maju dibanding sekolah-sekolah umum lainnya. Pada awalnya sekolah internasional dibuat untuk memenuhi permintaan pendidikan putra-putri warga asing di Indonesia. Tapi lambat laun, sekolah tersebut juga berisi murid lokal dari keluarga mampu yang menginginkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anaknya.</p>
<p>Pada akhirnya, bisnis pendidikan juga mulai dilirik oleh pemodal asing, agar lebih menarik, sekolah bermodal asing inipun memberdayakan SDM asing. Sehingga guru-guru asing pun didatangkan. Selain untuk memikat para orang tua murid, tuntutan globalisasi untuk memenuhi pendidikan dengan mutu yang mampu bersaing dalam skala internasional memaksa untuk mendatangkan guru-guru alien (baca asing) ini ke negara kita. Ada beberapa bidang pendidikan yang biasanya memanfaatkan jasa para guru alien ini, yang paling sering adalah bidang pendidikan bahasa, baik bahasa Ingris, Jepang, Cina, Arab maupun bahasa asing lainnya yang diajarkan di sekolah tersebut.</p>
<p>Guru asing dalam pendidikan bahasa memang lebih dianggap kredibel ketimbang guru lokal, walaupun guru tersebut punya nilai TOEFL yang tingginya selangit 7 lapis. Tetep saja guru dengan tampang bule (apalagi beneran orang bule) bakal dianggap lebih kredibel. Sebagai contoh salah satu lembaga pendidikan Bahasa asing Elit di seputar Sempur Bogor, malah menggunakan 100% tutor <em>alien</em>. Jangan tanya soal biaya pendidikan, karena sudah pasti di atas rata-rata. Sebab, memang tidak murah biaya yang harus dikeluarkan untuk “merayu” para guru alien ini untuk mau dateng ke negara kita untuk jadi guru. Ah, gue  jadi inget lagunya Iwan Fals, Umar Bakrie. Nasib guru Umar Bakri yang tetap miskin meski telah melahirkan murid yang pinternya nggak ketulungan. Kasihan deh!</p>
<p>Kredibilitas guru dalam pendidikan memang sangat berpengaruh. Penguasaan terhadap materi ajar dan kemampuan untuk berimprovisasi dan kecerdasan dalam mengajar, memang sangat diperlukan. Tengoklah di Jepang, murid setara SD rata-rata sudah bisa merakit komputer atas arahan gurunya. Kalo di sini jangan ditanya, lulusan SLTA pun banyak yang belum bisa mengoperasikan komputer.</p>
<p><strong>Culture shock</strong></p>
<p><em>Culture shock</em> adalah suatu kondisi kebingungan yang dialami ketika seseorang meninggalkan lingkungan budayanya untuk tinggal di lingkungan dengan budaya baru. Ini adalah kondisi dimana seseorang dipaksa untuk menghadapi begitu banyak perubahan dalam hidupnya. Orang yang tidak kuat dengan kondisi ini biasanya mereka akan merasa sedih, frustasi dan ingin pulang ke lingkungan asalnya. Nah budaya bule yang dibawa atau dikenalkan oleh guru-guru asing ini cepat atau lambat akan membawa kita pada pertarungan budaya yang lebih seru. Misal budaya bule yang suka banget mempertontonkan auratnya, mungkin menjadi lebih menarik untuk dicoba dan dipraktekkan dengan kehadiran examplenya/contohnya di depan mata para remaja kita. Bukan tak mungkin, para remaja akhirnya doyan mempertontonkan ketek mereka. Ampuuuun, ketek bagian dari aurat, Non. Sebagai muslim kita tidak boleh mempertontonkannya, apalagi mempertontonkan bau ketek kita, ampyuuun!</p>
<p>Kalo kita terbiasa dengan olahraga macem badminton, sepak bola kampung, renang, balap lari, panjat pohon dan sebagainya, mungkin banget rasanya guru-guru alien ini mengajarkan olahraga kampung mereka, jadi olahraga bangsa berkuda, rugby, maupun hocky. Sangat memungkinkan untuk bisa diajarkan juga. Anyway, entah kenapa olah raga berkuda jarang banget diajarin di sekolah-sekolah kita, padahal kalo kita ke pasar bogor, seabreg-abreg kuda bersliweran ke sono kemari (baca: tukang delman).</p>
<p>Disiplin dan budaya tepat waktu adalah salah satu hal yang bakalan bisa juga dinikmati dari para guru alien ini. Karena memang sudah sangat umum di negeri bule sono, untuk selalu tepat waktu. Jargon macam “time is money” udah hampir pasti akan diajarkan, padahal <em>time is</em> jelas-jelas bukan <em>money</em> (saya simpan pembahasan ini untuk artikel lainnya di buletin gaulislam, so tunggu saja!)</p>
<p>Bro en Sis, benturan budaya nggak bisa dihindarkan. Budaya baru yang diusung para guru alien ini, mau tidak mau bakal menjungkir balikkan budaya lokal sekolah yang telah lama tumbuh. Mulai dari benturan waktu ngaret, bekerja secara professional sampai dengan benturan nilai-nilai sosial budaya lainnya. Interaksi murid dengan guru emang nggak akan bisa dibatesin pada satu pelajaran saja, sangat memungkinkan para guru alien ini bakal jadi pembimbing untuk beberapa kegiatan ekskul yang udah pasti memberikan ruang dan waktu yang lebih luas untuk berinteraksi dengan para muridnya.</p>
<p><strong>So, harus gimana dong?</strong></p>
<p>Secara umum sikap kita terhadap keberadaan guru bule sebenernya sederhana saja dan cukup klasik, yaitu mengambil yang baik, dan membuang yang buruk. Namun sikap ini hanya bisa dilakukan dengan sempurna, kalo kita sudah memiliki dasar keimanan yang kuat, sehingga dengan keimanan tersebut kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Selain filter dipasang di setiap individu, perlu juga diterapkan oleh tiga komponen utama pendidikan di Indonesia, yaitu pemerintah, sekolah dan orang tua.</p>
<p>Pemerintah memiliki dua peran utama, yaitu pertama untuk menentukan regulasi yang jelas bagi warga negara asing yang ingin bekerja sebagai guru di Indonesia, terutama dalam hal perekrutan dan kualifikasi. Pemerintah harus memastikan kalo para guru impor ini memang digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sebagai alat penarik pelanggan (marketing).</p>
<p>Peran kedua pemerintah adalah untuk menentukan regulasi yang lebih fair dalam penentuan standar gaji guru. Dengan memberikan kebebasan bersaing dalam ranah gaji, tentunya sesuai dengan prestasi yang dicapai. Sehingga menjadikan profesi guru sebagai salah satu profesi yang cukup menjanjikan.</p>
<p>Sementara sekolah sendiri memiliki dua peran utama, yaitu 1) harus mempunyai sistem pengawasan dan kontrol yang cukup baik terhadap performa guru bule di sekolah mereka. Kontrol dan pengawasan ini merupakan alat utama pengendali mutu pendidikan di sekolah tersebut. Sehingga bila fungsi ini melempem, mau sehebat apapun guru yang didatangkan, tidak akan banyak manfaatnya.</p>
<p>Peran kedua sekolah adalah meningkatkan kemampuan SDM yang sudah ada, sehingga mampu bersaing dengan guru impor ini. Jangan pernah bermimpi untuk bisa bersaing di dalam pasar bebas, kalo untuk memberikan pengajaran yang layak saja kita masih bergantung dengan para guru asing ini.</p>
<p>Terakhir adalah peran murid/orang tua, peran orang tua dan setiap individu murid adalah menjaga Islam dan imannya. Bila kiprah para guru asing ini jelas-jelas melanggar hukum syara, maka hukumnya kudu bin wajib bagi kita untuk menolaknya. Tetap yang jadi masalah, ngerti nggak sih kita sama batasan-batasan hukum syara agama yang kita cintai ini? Kalo jawabannya nggak, berarti “Selamat! Kamu ketambahan PR kudu belajar agama lebih giat lagi!”. Yuk, kita belajar bersama memahami Islam. Semoga bermanfaat dan jangan lupa semboyan khas gaulislam, nggak ngaji nggak trendi! Tetap semangat, Bro!<strong>[aribowo: aribowo@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/guru-bule-di-sekolahmu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pikirkan Masa Depanmu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pikirkan-masa-depanmu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pikirkan-masa-depanmu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 18:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3349</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 127/tahun ke-3 (13 Rabiuts Tsaniy 1431 H/29 Maret 2010) Hai putih-abuabuers! Alhamdulillah, akhirnya UN kelar juga. Setelah kamu dibikin ‘sport jantung’ ngadepinnya, sekarang kamu bisa sedikit bernapas lega. Eits, inget jangan banyak-banyak dulu bernapas leganya, karena perjuanganmu masih belum berhenti. Jangan dulu terlalu ‘over pede’ ngerasa pasti lulus sebelum surat keputusan kelulusan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 127/tahun ke-3 (13 Rabiuts Tsaniy 1431 H/29 Maret 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hai putih-abuabuers! Alhamdulillah, akhirnya UN kelar juga. Setelah kamu dibikin ‘sport jantung’ ngadepinnya, sekarang kamu bisa sedikit bernapas lega. Eits, inget jangan banyak-banyak dulu bernapas leganya, karena perjuanganmu masih belum berhenti. Jangan dulu terlalu ‘over pede’ ngerasa pasti lulus sebelum surat keputusan kelulusan itu kamu baca dengan mata-kepala sendiri. Ok? Yang pasti, kami segenap kru gaulislam (tanpa diminta pun) bakal selalu ngedoain kalian semua supaya bisa lulus 100% dengan nilai yang memuaskan dan bisa ngelanjutin pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Insya Allah, amin Ya Robb.</p>
<p>Sedikit tips aja buat kamu yang mungkin masih bingung mau ngapain abis UN ini sembari menunggu hasilnya kelar. Pertama, pasrahkan semua usaha yang udah kamu lakukan pada Allah Swt. dalam arti tawakal. Jadikan diri kamu dalam posisi <em>zero</em> alias nol menghadapi ketentuanNya kelak. Kita hanyalah makhluk kecil dan lemah di hadapan keMahaKuasaanNya. Saat usaha sudah kita lakukan semaksimal mungkin, diiringi munajat yang tiada henti-hentinya, maka diri kita sudah harus disiapkan dalam posisi <em>zero </em>tadi. Karena, <em>faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah </em>(dan jika kamu sudah berusaha, tawakkallah pada Allah Swt). Katakan, <em>“Ya Allah, aku sudah berusaha maksimal, sekarang aku pasrah pada ketentuanMu. Aku yakin, Engkau pasti akan memberi yang terbaik untuk hamba-hambaMu yang senantiasa dekat denganMu.” <span id="more-3349"></span></em></p>
<p>Kedua, meski UN udah lewat, jangan pernah berhenti untuk terus beribadah dan berdoa. Allah berjanji di dalam al-Quran (yang artinya): <em>“…Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”</em> <strong>(QS al-Baqarah [2]: 186)</strong>.</p>
<p>Ini adalah jaminan dari Allah bagi siapa aja yang mau terus berdoa tanpa lupa ibadah dan ikhtiar tentunya. Mohon agar selalu diberi yang terbaik di dalam suka maupun duka. Lengkapi juga dengan aneka rutinitas ibadah sunnah seperti sholat sunnah dhuha, tahajjud, hajat, istikharah (saat harus memilih di antara dua pilihan), plus shaum sunnah senin-kamis, atau bisa juga shaum sunnah daud (dua hari sekali), shaum sunnah tengah bulan (tiap tanggal 13,14,15 bulan hijriah), shaum sunnah di momen yang dicontohkan oleh Rasul Saw., dan nggak ketinggalan juga baca al-Quran, shalawat, dzikir, serta istighfar. Ditambah lagi sama sedekah. Beberapa keutamaan sedekah itu antara lain bisa memudahkan rizki dan menolak marabahaya. Tunggu apa lagi, kalo sobat muda mengamalkan semua ini dengan ikhlas, pasti Allah memberi yang terbaik dalam hidup, cita-cita, karir, dan masa depan.</p>
<p>Ketiga, kamu boleh bernazar kok. <em>Nazar</em> adalah janji kepada Allah Swt. bila keinginan kita dikabulkanNya akan melakukan suatu ibadah atau perbuatan baik. Misalnya kamu bernazar, Ya Allah kalo saya lulus UN dengan nilai rata-rata 7, saya akan puasa tiga hari berturut-turut.  Hukum asalnya boleh. Saat dikabulkan, janji tersebut hukumnya menjadi wajib untuk ditunaikan. Tapi kalo nggak terkabul, nggak dipenuhi pun <em>ora popo.</em></p>
<p>Keempat, ba’da UN jangan pernah melakukan perbuatan sia-sia dan dosa. Hayo ngaku, siapa yang pas pulang UN hari terakhir kemarin corat-coret seragam? Atau ngerayain dengan aneka <em>party</em>, dari mulai minuman keras, narkoba, sampe <em>free sex</em>?<em> Na’udzu billahi min dzalik. </em>Semoga nggak ada yang ngelakuin hal ‘bodoh’ itu ya. Udah sia-sia, dosa pula. Jangan sampai kamu dicap sama orang tua, para guru, dan masyarakat sebagai pelajar yang nggak terpelajar atau pelajar yang kurang ajar. Belum terlambat kok untuk istighfar mohon ampunan pada Allah Swt. dan mohon maaf pada ortu, guru, dan diri sendiri kalo kamu udah terlanjur ngelakuinnya. Bersyukur atau meluapkan suka-cita bukan begitu caranya, Pren. Tunjukkan kalo kamu udah dewasa. Karena hanya orang-orang dewasalah yang mampu berpikir, berucap, dan bersikap sesuai kebutuhan.</p>
<p>Kelima, persiapkan kuliah. Di antara kamu mungkin ada juga yang mau langsung kerja terus pesimis nggak mampu kuliah karena masalah biaya. Iya kan? Berdasar pengalaman pribadi, kalo boleh ngasih saran, mumpung masih muda, kamu menimba ilmu dulu aja sampe ke jenjang yang paling tinggi kalo bisa. Karena masa depan kita insya Allah lebih cerah dengan ilmu, wawasan, pengalaman, plus <em>skill</em> yang didapet di bangku kuliah. Nggak percaya? Nyok kite bahas…</p>
<p>Masa depan butuh ilmu!<strong> </strong></p>
<p>Sobat muda, sebagai muslim kita diperintahkan untuk terus menuntut ilmu. Banyak sekali firman Allah Swt. yang menganjurkan untuk berilmu. Pun Rasulullah Saw. teladan kita sangat menganjurkan umatnya untuk berilmu. Bahkan, salah satu keutamaan menuntut ilmu itu bisa menjadi penebus dosa-dosa kita yang telah lalu. Rasullulah bersabda: <em>“Siapa saja yang menuntut ilmu, maka menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lalu.”</em> <strong>(HR at-Tirmidzi)</strong></p>
<p>Sampai-sampai dalam Islam, kedudukan mencari ilmu itu sejajar dengan berjihad. Maka tatkala ada kewajiban berjihad, tidak boleh semua orang terjun ke medan perang. Sebagian <em>‘alim ‘ulama </em>(orang yang berilmu) harus tetap tinggal di tempat untuk terus mengajar dan mendidik generasi penerus. Mutlak, dalam menjalani kehidupan ini kita pasti membutuhkan ilmu.</p>
<p>Seringkali banyak orang menilai pendidikan yang sarat ilmu dengan sebelah mata. Sehingga menyimpulkan bahwa pendidikan itu nggak penting. Belajar nggak penting. Pengennya langsung bisa kerja dan punya banyak uang. Padahal untuk kerja aja butuh ilmu. Maka yang terjadi adalah seperti yang kita lihat saat ini, selepas SMA/sederajat banyak yang ingin langsung bekerja. Di satu sisi itu bagus, menandakan kamu adalah orang yang mandiri dan bertanggungjawab. Tapi di sisi lain kamu melupakan kewajiban untuk terus menuntut ilmu. Bukankah menuntut ilmu itu kewajiban dari mulai dalam buaian ibu hingga ke liang lahat, sebagaimana yang telah disabdakan Beliau Saw.? Lagian, nyari ilmu bisa kapan aja, termasuk sambil kita cari nafkah. Iya kan?</p>
<p>Bro en Sis, hati-hati dengan motivasi kamu. Apakah kamu termasuk orang yang punya motivasi materi, yang mau melakukan sesuatu hanya karena ingin dapat kepuasaan berdasar materi alias kekayaan keduniawian belaka? Atau termasuk orang dengan motivasi moral, yang mau melakukan sesuatu hanya karena ingin dapat pujian, penghargaan, alias <em>prestise </em>dari manusia saja? Semoga nggak ada ya. Karena bagi seorang muslim, setiap melakukan apa pun, selalu motivasi yang dimiliki adalah motivasi ilahiyah, hanya karena Allah Swt. (<em>lillah</em>), <em>billah</em> (dengan Allah/mengikut-sertakan Allah), dan <em>ilallah (</em>untuk Allah Swt.).</p>
<p><em>So</em>, yuk kita ubah <em>mindset</em> (pikiran) kita. Hidup kita jangan diorientasikan dengan hal-hal yang bersifat duniawi doang. Jangan pula memfokuskan hidup kita hanya untuk karir dan pekerjaan aja. Alangkah indahnya jika kita berprinsip bahwa hidup adalah untuk belajar dan beramal. Di sinilah letak pentingnya ilmu.</p>
<p>Pilihan baik setelah kamu lulus dari SMA/sederajat adalah melanjutkan kuliah. Menuntut ilmu di lembaga formal di jenjang perguruan tinggi bisa kamu pilih dari mulai jalur D1, D2, D3, D4, atau S1 yang diselenggarakan oleh universitas, institut, akademi, sekolah tinggi, atau lembaga pendidikan setingkat itu, sampai nanti S3 dan dianugerahi gelar profesor. Atau di lembaga non-formal seperti tempat kursus keterampilan. Atau magang bersama ahli kemudian belajar sendiri untuk pengembangannya. Pilih jurusan dan program studi yang sesuai dengan minat, bakat, serta cita-cita kamu. Tentu yang nggak bertentangan sama Islam, dong. Kuliah, kursus, atau belajar mandiri adalah dalam rangka menuntut ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan mudah-mudahan juga untuk akhirat. Masalah biaya? Gampang, komunikasikan dengan ortu kita, atau nabung dulu, meminjam biaya sementara kepada saudara, mencari orang tua asuh, atau mencari beasiswa.</p>
<p>Nah ini pilihan berikutnya, kuliah sambil bekerja. Waktunya diatur sedemikian rupa. Berikutnya, jangan pernah pesimis dengan biaya. Karena yang punya rizki hanyalah Sang Maha Pemberi Rizki, Allah ar-Razaq. Bukan ortu atau manusia lainnya. Pokoknya, yakini bahwa dengan jalan menuntut ilmu di bangku kuliah, kursus, atau otodidak ini kita bisa mendapatkan ridho dan kemudahan dari Allah Swt. Nggak ada yang lain, semua yang kita persiapkan ini adalah (sekali lagi) untuk masa depan bahagia.</p>
<p><strong>Menata masa depan</strong></p>
<p>Kita sadar hidup di dunia nggak akan selamanya. Kita sedang menuju masa depan (baca: akhirat) yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Semoga surga adalah tempat yang Allah Swt. sediakan buat kita semua, hamba-hambaNya yang senantiasa beriman dan beramal shalih. <strong> </strong></p>
<p>Bro en Sis, tuk melengkapi semua rencana masa depan kita, nggak lupa juga saya ingetin agar terus istiqomah mengkaji Islam. Kamu bisa memulainya dengan masuk pondok pesantren sambil kuliah atau bekerja, atau rutin mengikuti pembinaan dalam <em>halqoh </em>dan <em>liqo’</em>. Atau minimal kamu rutin mengikuti kajian Islam yang digelar di tiap masjid, majlis ta’lim, radio, tv, de-el-el, saban minggunya (BTW, dengerin juga acara klinik gaulislam di radio KISI 93.4 FM Bogor ya, setiap Rabu mulai jam 05.30 WIB). Nggak lupa juga mengamalkan dan mendakwahkannya. Semua ini kita lakukan (lagi-lagi) untuk melengkapi persiapan kita dalam menata masa depan, agar hidup kita seimbang dunia-akhirat, sebagaimana firman Allah (yang artinya): <em>“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi&#8230;”</em> <strong>(QS al-Qashash [28]: 77) </strong> <strong></strong></p>
<p>Sebagai kesimpulan, mari kita mulai menata masa depan kita dari mulai mempersiapkan kuliah, kuliah sambil bekerja, kursus keterampilan atau otodidak, kemudian bekerja mencari nafkah, sembari tetap istiqomah mengkaji, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam hingga maut memisahkan kita. Insya Allah. <em>Wallahu a’lamu bi ash-shawaab. </em>Salam <em>Mumtaz</em>! <strong>[anto apriyanto, <em>the spirit of soul</em> </strong> | <strong>anto.mumtaz@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pikirkan-masa-depanmu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takwa Sampai Akhir</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/takwa-sampai-akhir</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/takwa-sampai-akhir#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 18:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3340</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 126/tahun ke-3 (6 Rabiuts Tsaniy 1431 H/22 Maret 2010) Semoga kamu pernah dengar ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18) Nah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 126/tahun ke-3 (6 Rabiuts Tsaniy 1431 H/22 Maret 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Semoga kamu pernah dengar ayat ini: <em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> <strong>(QS al-Hasyr [59]: 18)</strong></p>
<p>Nah yang menjadi pertanyaan, udah belum ya kita semua bertakwa kepada Allah? Terus gimana caranya supaya bisa bertakwa? Sampe akhir lagi! Ibarat film, kan kagak afdol tuh kalo nggak tahu <em>ending-</em>nya. Nggak tahu jagoannya mati or tetep idup. Gitu juga dengan bertakwa kepada Allah, pastinya nggak afdol dong kalo nggak ampe kelar. Cuma setengah-setengah, eh berakhir di tengah jalan. Akhirnya nggak ketahuan jelas tuh kita tetap bertakwa kepada Allah atau nggak hingga akhir hayat. Idih, serem banget dah!</p>
<p>Oya, ngomongin soal takwa, berdasarkan yang gue pahami, takwa itu adalah menjalankan perintahNya en menjauhi laranganNya. Tapi, ya gitu deh..sayang seribu sayang, cuma tahu artinya tapi nggak nahan ama konsekuensinya. Alesan sih macem-macem. Misalnya: “Secara, kan masih muda. Masa’ sih kudu ngejalanin semua perintahNya, kayaknya nggak <em>fun</em> banget dah!” Eits, emang bertakwa ada umurnya gitu? Sembarangan! Cuma ya gitu, remaja biasanya identik dengan hal-hal yang <em>fun</em>. Tapi, fun yang gimana dulu tuh? Cos, <em>fun</em> juga tergantung ama apa yang kita pahami. Bisa jadi menurut temen-temen kamu seharian nongkrongin pensi, maen <em>skateboard</em> di taman kota, ML ama pacar itu <em>fun</em> (Naudzubillah!).<span id="more-3340"></span></p>
<p>Tapi bagi kita yang udah ngeh banget ama <em>takwallah</em> alias takwa kepada Allah, malah bilangnya ngaji, tahajjud, nggak ninggalin shalat wajib, nggak pacaran, nggak berzina twrus ikutan aksi damai menentang kapitalisme di jalanan itu adalah <em>fun</em>!</p>
<p>Bro en Sis, kadang ada temen kita yang mikirnya buat ngejalanin ketakwaan justru baru muncul begitu usia menjelang <em>underground</em> alias udah uzur. Padahal ketakwaan adalah konsekuensi dari keimanan kita kepada Allah, Rasulullah, malaikat-malaikat Allah, al-Qur’an dan as-Sunnah plus Qadha dan Qadar. Nggak kebayang deh baru semangat ber-Islam begitu usia dah tua. Terus waktu mudanya tu ngapain aja ya? Ya, untung juga masih dikasih umur sama Allah, coba kalo ternyata di waktu muda udah duluan dipanggil. Ngeri, apalagi bekal amalnya kagak ada.</p>
<p>Inget lho, iman Islam bukanlah iman yang menjadikan orang bagaikan orang yang tua renta. Menjadi serba terbatas karena usia yang udah uzur. Justru dengan iman Islam sebenarnya bikin insan muda menjadi <em>smart,</em> shalih-shalehah en militan! Wow!</p>
<p><strong>Jangan setengah-setengah</strong></p>
<p>Kok bisa sih makna ketakwaan nggak meresap dalam diri? Padahal, ketakwaan adalah bukti dari keimanan. Kalo takwanya setengah-setengah, atau malah nggak sama sekali, bisa gawat tuh. Apalagi kalo nyari-nyari dalil cuma buat pembenaran dari perbuatan yang sebenarnya nggak mencerminkan ketakwaan kepada Allah. Contohnya aja Allah udah memerintahkan untuk tolong-menolong dalam kebaikan. Eh, kita malah nekat berbaik hati ngasih contekan ke temen berhubung temen udah buntu banget ngejawab soal-soal ujian. Ngelesnya pake dalil lagi di al-Quran surat al-Maidah ayat 2: “<em>Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan..” </em>Padahal, masih ada sambungannya tuh! <em>“..dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”</em><strong>)</strong></p>
<p>Bro, al-Quran dan as-Sunnah adalah sumber hukum Islam yang isinya adalah kebenaran, bukan buat pembenaran.  Catet tuh!</p>
<p>Ati-ati lho! Kalo semakin sering ngeles pake dalil untuk ngedukung pembenaran entar malah jadi kebiasaan.  Apalagi kalo ke depannya sampe diiming-imingi harta dan jabatan. Pada tahu Islam Liberal? Nah, kerjaan mereka kayak gitu tuh. Kucuran dolar dari berbagai lembaga asing, salah satunya <em>The Asia Foundation</em>, sebagai imbalan buat nge-golin sekulerisasi global.</p>
<p>Terus, ada lagi nih cermin ketakwaan yang retak.  Udah tau gimana sepak terjang negara adidaya, Amrik? Biarpun diganti ama siapa pun kepala negaranya tapi <em>criminal state</em>-nya tetep dilanjutkan. <em>Coz</em>, ideologi Amrik tetep kapitalisme sekuler. Penjajahan di negeri-negeri muslim seperti Irak, Afghanistan, nggak berhenti juga. Udah jelas-jelas status AS adalah negara <em>kafir harbi fi’lan</em> (kafir yang statusnya memerangi muslim) seperti itu, masih aja dianggap baik, berhubung Obama sempet tinggal di Indonesia, keluarganya keturunan Muslim (yeee.. itu kan keluarganya, belum tentu Obamanya), apalagi Obama nggak keliatan jahat-jahat amat kayak George W.Bush, jadi jangan <em>su’udzon</em>. Kali aja dengan Obama datang ke Indonesia bisa memperbaiki keretakan antara Islam dan Barat, memperkuat hubungan Amerika dan Indonesia. Gubrak!</p>
<p>Yang bener aja, Cuy! Artinya ente udah kena perangkap <em>soft power</em>nya Amrik. Sebab, waktu Bush dulu, dia konsen ke <em>hard power</em>. Bagi seorang muslim yang <em>takwallah</em>, dia jelas jeli banget merhatiin kondisi politik negeri Islam dan hubungan bilateral– multilateral dengan negara asing kafir.  Jadi nggak sembarangan nerima baek-baek kunjungan ‘tamu’ luar yang mau maen. Apalagi ‘tamu’ yang buang omong kosong bakal membina hubungan baik dengan umat Islam tapi ‘tamu’ itu merestui lahir batin agresi Israel di bumi al-Quds Palestina. Dan udah berapa lama <em>Freeport</em> di bumi Papua dikeruk habis-habisan oleh Amrik? Belum lagi sumber daya alam lainnya, minyak bumi en gas di negeri-negeri muslim termasuk Indonesia, lewat perpanjangan tangan multinational corporation (MNC) perlahan-lahan tapi pasti dieksploitasi. <em>The real terrorist! That is it! </em></p>
<p>Jadi mulai sekarang latihan deh baca buku-buku non fiksi kayak <em>The Economic Hitman</em>-nya John Perkins, trus terjemah dari buku <em>American Visions of The Netherlands East Indies/Indonesia ; US Foreign Policy and Indonesian Nationalism</em>-nya Frances Goude dan Thijs Brocades Zaalberg (penerima beasiswa Fullbright Foundation), dll. <em>So</em>, jangan dikira orang yang <em>takwallah</em> itu jadul!</p>
<p>Nah, sekarang apa yang salah ya kok jadi sering terjebak dalam pemikiran yang nyeleneh, pemikiran yang bertolak-belakang ama perintah Allah Swt.? Yup! Nggak salah lagi! IMAN. Itu dia! Umumnya iman kita terhadap Islam cuma iman keturunan, bukan Iman yang lahir dari proses berpikir, yang membuat kita bener-bener akhirnya yakin kebenaran Islam. Kalo itu yang kamu alami juga, berarti kudu di<em>refresh</em> lagi tuh keimanannya. Gimana <em>tho</em> nge-<em>refresh</em>nya?</p>
<p>Ya, dengan berpikir berpijak pada dalil al-Quran dan as-Sunnah. <em>Refresh </em>iman artinya kudu ngerti kenapa manusia, alam semesta, kehidupan itu ada dan sifatnya serba terbatas. Sementara Allah Swt. adalah yang maha atas segalanya. <em>So</em>, jangan sampe deh Iman Islamnya di-<em>delete </em>trus di<em>-empty recycle bin</em>! Itu mah ngilangin akidah namanya! Yang jelas, pembinaan keimananlah yang sebenernya bermasalah. Nggak membekas dalam benak dan menjadi pemahaman, cuma sekedar transfer pemikiran. Pelajaran agama cuma 2 jam di sekolahan dalam sepekan, dan parahnya ortu juga cuek-cuek aja ama pembinaan keimanan keluarga. Selain itu, negara juga nyerahin balik pembinaan keimanan ini ke keluarga tanpa ada aktivitas keren buat memelihara dan melindungi akidah rakyatnya. Kalo udah kayak itu, akhirnya iman pun jadi nggak imun, <em>Pren</em>!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sekelumit potret militansi remaja</strong></p>
<p>Yap! Takwallah akan mencetak pribadi muslim yang tangguh en militan. Nggak cuma muncul sosok takwallah dimana orang-orang yang uzur, lanjut usia dan menghabiskan sisa hidup di atas sajadah dengan shalat dan zikir melulu. Tetapi justru yang terlihat adalah insan-insan tua maupun muda yang enerjik sebarkan energi positif, nggak lalai ama kewajibannya kepada Allah swt., sabar dan tabah terhadap ujian dari Allah Swt. serta mandiri karena ia yakin Allah Ta’ala sajalah yang menjadi penolongnya.</p>
<p>Pernah nemu orang-orang kayak demikian? Ada banyak kok. Misalnya, teman kamu yang selama ini dianggap pelit kasih contekan, sok alim <em>coz</em> sering negur jangan pacaran karena ngedeketin zina, suka absen dari kegiatan pensi yang dia anggap momen <em>khalwat</em> dan <em>ikhtilat</em>,<em> </em>terus dia lebih banyak ngehabisin waktu buat diskusi, nyebar-nyebar selebaran islami. Kalo pun FB-an juga suka pasang status dan kirim note yang memotivasi semangat, terus ngumpulnya juga suka di mushola sekolah. Tetep sabar dengan nunjukin <em>akhlakul karimah-</em>nya walaupun suka dituduh dan dicurigai sebagai sel dari teroris baek ama pihak sekolah maupun temen-temen. Ckckck..Aneh juga ya, yang baik-baik dianggap berbahaya?</p>
<p>Ada kisah nyata yang lebih keren lagi. Ane ambil dari sebuah tabloid Islam yang menuliskan <em>feature</em> seorang pemuda Islam asal Palestina. Nama pemuda itu adalah Muhammad, masih berumur 16 tahun. Kejadiannya tanggal 25 Januari 2010. Ia tiba-tiba diculik oleh pihak Pemerintah Palestina untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lha, apa sebab? Jadi bandar narkoba? Nyebar video mesum? Pelaku pencabulan? Idiiiih! Ngawur.</p>
<p>Doi ditangkep karena nyebar selebaran ke orang-orang tentang otoritas Palestina yang tunduk kepada Yahudi.  Dia bersikeras dan menyatakan di depan Jaksa Militer, “Karena Otoritas ini dibentuk berdasarkan kesepakatan Oslo, sementara kesepakatan Oslo batal demi hukum syariah.  Sebab, berdasarkan kesepakatan itu, justru Otoritas telah menyerahkan Palestina kepada Yahudi, dan ini merupakan perbuatan haram. Sehinga setiap yang dibangun di atas sesuatu yang haram, maka ia juga haram, dan tidak sesuai syariah. Oleh karena itu bagaimana mungkin saya mengakui legitimasi sesuatu, sementara Allah tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sah dan bagaimana mungkin saya menentang perintah Allah?” Subhanallah! Keren banget, kan?</p>
<p>Apalagi Otoritas Palestina malah menjaga Yahudi dan di satu sisi menyiksa dan membunuh warga Palestina yang ikhlas ingin merdeka dari penjajahan Yahudi. Setelah 15 hari dipenjara, dipaksa menandatangani lembar pernyataan untuk tunduk pada otoritas Palestina yang pro Yahudi, juga diinterogasi habis-habisan, akhirnya, buah <em>takwallah </em>pun didapat oleh pemuda tersebut. Muhammad akhirnya dibawa ke sebuah kota yang nggak dikenal sama dia, lalu ia dilepas begitu saja oleh petugas. Cengo abis deh! Uang nggak ada, pengen balik ke rumah juga nggak tahu arah, naek angkot juga kudu bayar (emang ada angkot di Palestina, Neng?). Akhir cerita, dia ketemu orang baek yang mau nganter dia balik ke rumahnya (wilayahnya sengaja nggak disebutin, sori).</p>
<p>Nah, kira-kira kita bisa nggak bakal setangguh pemuda Palestina itu? Kalo ketakwaan dia dijadikan indikator ketakwaan kita, dan ternyata kita masih dibawah dia… beuh<em>,</em> kalah tangguh tuh kita, Bro! Padahal dia dan kita sama-sama manusia, ciptaan Allah Swt., bukan makhluk tanpa dosa dan dilengkapi hawa nafsu pula.</p>
<p><strong><em>Finally&#8230;</em></strong></p>
<p>Iman adalah senjata kekuatan bagi Islam. Jadi, kalo cuma ngakunya Islam tapi kekuatan imannya nggak ada penampakan, percaya deh, ketakwaan kita berada pada level paling bawah, krisis lagi! Susahnya, kalo pengen beriman yang nggak setengah-setengah juga kudu siap dengan konsekuensinya. Siap ama segala tanggung jawab sebagai hamba Allah, siap melaksanakan kewajiban, siap dicibir jadi sok alim dll, dst. <em>So</em>, biarlah anjing menggonggong kafilah tetep berlalu! <em>Just think about</em>: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” <strong>(QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)</strong></p>
<p>Ketangguhan Muhammad, pemuda Palestina yang Ane ceritain tadi cukup menjadi contoh bukti ketakwaan seorang manusia kepada Allah. Jauh banget ama kita-kita yang kali aja pas UN ampe nekat berani beli soal dan lembar jawaban biar lulus, gengsi nutup aurat dengan sempurna biar nggak dituduh jadi teroris. Apalagi yang mikirnya <em>fine-fine</em> aja nggak ngerjain perintah Allah karena merasa masih muda, umur panjang, dan merasa belum saatnya buat jadi alim. Ckckck… Jauh banget dah. <em>So</em>, cepetan dah introspeksi diri.  Siapa tahu besok ente dipanggil Allah, nah lho!</p>
<p>Bro en Sis, kalo sekarang kamu merasa kurang banget ngedapetin pembinaan keimanan, jangan gengsi dah! Panggil aja kru gaulislam ke sekolahmu (loh?). Iya, bisa kok. Kayak beberapa sekolah udah kerjasama dengan gaulislam. Atau kamu bisa dengerin siaran [klinik] gaulislam yang setiap pekan sekali ba’da shalat Shubuh (kalo di kota Bogor sih, pantengin aja di Radio KISI 93.4 FM).</p>
<p>Pren, kalo mo berubah memang perlu proses. Bisa cepet bisa lambat. Tergantung kamunya juga. Kalo udah berubah, dipertahankan perubahannya dan jangan lupa untuk tetep <em>fastabiqul khairat</em> alias berlomba-lomba dalam kebaikan  Kadang ane bête juga nih, gara-gara isu teroris yang dituduhkan berasal dari Islam, orang-orang yang lagi proses berubah dan yang udah berubah jadi dipengaruhin macem-macem ama orang-orang di sekitarnya. Akhirnya mereka pun jadi mundur satu-persatu dan berguguran. Ane juga punya temen yang mempertahankan jilbab (baju jubah)nya untuk keluar rumah terus diplorotin ama nyokapnya gara-gara isu teroris ini. Bahkan ada yang ampe digebukin bokapnya gara-gara cuma mo ikut pengajian. Sebel banget dah! Tapi teteplah bertahan. Inilah ujian bagi orang-orang yang bertakwa.  Doakan para ortu kita, keluarga juga guru-guru kita semoga mereka dibukakan hatinya oleh Allah agar nggak dibutakan oleh syaithan dan dimudahkan oleh Allah untuk memahamkan mereka akan syariat-Nya.  <em>Amin ya rabbal’alamin.</em></p>
<p>Buat pihak sekolah juga ortu, semoga sadar bahwa selama ini negara nggak menjaga dan melindungi akidah rakyatnya dengan menyeluruh. Kita semua kan pengen masuk surga. So, Ane menyarankan untuk benar-benar berdiskusi dengan orang-orang yang Aanda percaya untuk membina keimanan dan ketakwaan remaja agar pembinaan yang dijalankan nggak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah. Bebas dari paham kufur seperti sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Ngobrol dulu, jangan maen percaya aja ama media massa, lagian tuh orang yang ditembak mati belum tentu teroris. Gimana bisa kita yakin mereka teroris, wong langsung ditembak mati. Harusnya tangkep dulu, adili, dan tanya kenapa berbuat begitu, dari mana sejantaranya, dan siapa dalangnya. Ssst.. jangan-jangan kalo digituin ketahuan deh dalang sesungguhnya, karena isu terorisme yang selama ini dihembuskan memang demi kepentingan negara penjajah, yakni Amerika. Weleh-weleh!</p>
<p>Yup, bertakwalah sampe akhir. <em>Til the end of ur life!  Allahu Akbar!</em><strong> [anindita; email/facebook: coffee.prince70@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/takwa-sampai-akhir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Berhenti Belajar</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-berhenti-belajar</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-berhenti-belajar#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 17:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3337</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 125/tahun ke-3 (29 Rabiul Awal 1431 H/15 Maret 2010) Bro, waktu pertama kali saya diminta ngisi pengajian, terus terang saja saya merasa takut. Takut salah, takut nggak bisa nguasai audiens, takut kalo ditanya nggak bisa jawabnya. Tapi, atas dorongan dari rekan-rekan DKM sekolah, akhirnya saya mau juga meski agak ragu. Oya, waktu itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 125/tahun ke-3 (29 Rabiul Awal 1431 H/15 Maret 2010)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Bro, waktu pertama kali saya diminta ngisi pengajian, terus terang saja saya merasa takut. Takut salah, takut nggak bisa nguasai audiens, takut kalo ditanya nggak bisa jawabnya. Tapi, atas dorongan dari rekan-rekan DKM sekolah, akhirnya saya mau juga meski agak ragu.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, waktu itu saya kelas 2 atau kelas 3 di sekolah kejuruan kimia di Bogor. Terus, yang membuat saya makin nggak percaya diri waktu itu karena saya pun baru ikutan ngaji. <em>So</em>, tentu ilmunya masih <em>cetek</em> banget. Eh, malah diminta ngisi pengajian untuk membina adik kelas. Jujur, saya stres dan tertekan. Ketika ngisi pengajian, yang lancar keluar adalah keringat dingin. Udah gitu saya selalu ngeliatin jam tangan aja. Sebab, saya rada heran, perasaan udah semua hal saya sampaikan, tapi kok waktu di jam tangan saya seperti bergerak lambat. Ternyata memang baru 20 menitan.<span id="more-3337"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Yup, saya akhirnya menyadari bahwa saya miskin penguasaan terhadap materi yang diajarkan dan juga miskin wawasan tambahannya. Itu menjadi evaluasi berharga bagi saya. Selain itu yang terpenting, saya juga bersyukur banget karena teman-temen tetap memotivasi saya. Selain karena jumlah mentornya kurang, jadi mau nggak mau memang saya harus bisa—juga karena mereka memberi saya kesempatan untuk belajar. Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align: justify;">Menghadapi tantangan yang seperti itu, akhirnya saya berusaha belajar. Cara yang saya lakukan adalah dengan melihat dan berusaha mencontoh teman yang udah bisa ngisi pengajian dalam teknik penyampaiannya yang menarik, juga mendengarkan ceramah-ceramah ustad atau ulama yang udah terkenal dan bagus dari radio yang saya miliki. Pokoknya segala cara saya coba pelajari. Alhamdulillah, meskipun saya yakini tak sebagus gaya penyampaian saya dalam menulis waktu itu, tapi saya bisa memberikan kontribusi sekecil apapun untuk kemajuan kaum muslimin. BTW, kalo sekarang sih, ketika ngisi acara seringkali malah diingatkan panitia karena jatah waktu bicara tinggal sedikit lagi. Nyerocos aja karena merasa banyak yang diketahui dan ingin disampaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat pengalaman pertama kali belajar, saya menyadari betul bahwa belajar itu mendatangkan banyak manfaat. Sebagaimana yang memang diajarkan dalam ilmu <em>pedagogi</em> (kependidikan) bahwa dengan belajar ada banyak aspek yang bisa kita raih. Pertama, aspek kognitif (ilmu pengetahuan). Yup, dengan belajar, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Betul. Awalnya saya nggak tahu teknik menyampaikan pesan dengan lisan yang bagus tuh seperti apa, tapi setelah belajar jadi tahu dan mulai memahami dan mempraktikkan ilmu baru tersebut. Begitu pula dalam menulis, awalnya sangat berantakan sekali sistematika penulisannya, tapi setelah belajar dan belajar terus, akhirnya jadi lebih rapi dan insya Allah mahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, aspek afektif (perasaan/emosional), yakni dari yang tadinya tidak mau menjadi mau, dari tidak suka menjadi suka, dari benci menjadi cinta, dari cinta menjadi benci dsb. Itulah sebabnya, orang yang belajar, perasaan atau emosionalnya akan lebih terasah. Misalnya, awalnya seorang wanita nggak mau berbusana muslimah, tapi setelah belajar dan mendapatkan informasi bahwa mengenakan busana muslimah itu wajib bagi seorang muslimah yang sudah baligh, kemudian disampaikan juga dalilnya, dijelaskan juga ancaman bagi yang melanggar, maka sedikit demi sedikit hatinya mulai lunak dan mau mengenakan busana muslimah untuk menutup auratnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, manfaat belajar yang bisa diraih adalah dalam aspek psikomotorik alias keterampilan, yakni dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Pasti banget deh. Orang yang senantiasa belajar pastinya akan lebih baik dari waktu ke waktu. Apalagi belajarnya tak pernah henti. Coba deh, tanya sama teman yang berlatih dan belajar terus tentang karate dengan tekun, insya Allah dia akan lebih mahir dari yang belajarnya malas-malasan, apalagi yang nggak belajar sama sekali. Saya sendiri bisa menyampaikan gagasan melalui tulisan, kemudian bisa menyampaikan materi secara lisan di hadapan banyak orang adalah karena belajar. Percayalah, bahwa belajar akan mengasah kemampuan kita. Apalagi jika belajarnya tak pernah henti dan tak pernah bosan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Fokuskan dalam bidang tertentu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saran ini bukan berarti menghalangi kreativitas diri kita. Nggak. Sama sekali bukan itu tujuannya. Hanya saja, seseorang yang fokus terhadap satu bidang keahlian yang sangat diminatinya dan dinikmatinya akan memberikan efek kreativitas dan ketahanan mental juang yang lebih baik ketimbang mereka yang ingin meraih segalanya untuk bisa dikuasai atau mereka yang merasa beban dalam menekuni bidang yang ingin diraihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa demikian? Tentu saja faktor konsentrasi dan perhatian. Bila banyak yang dipikirkan dan dikerjakan, maka dalam konsentrasi dan mengerahkan kemampuan berpikirnya juga jadi lebih besar. Berbeda dengan yang fokus pada satu bidang. Kerja otak jadi lebih ringan. Lagipula, kita harus mengakui bahwa kemampuan otak setiap orang nggak bisa disamakan satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, untuk menjadi pintar memang harus belajar. Belajar kapanpun, di manapun, dari siapapun, melalui jalan apapun. Untuk bisa menulis, saya belajar kapan pun ada kesempatan. Waktu sekolah dulu memang lebih banyak punya waktu khusus, yakni setelah selesai belajar pelajaran sekolah, biasanya malam hari. Umumnya waktu itu yang saya gunakan. Tapi di lain waktu khusus tadi, saya belajar mengasah kemampuan saya dalam membaca banyak hal. Ini sebagai bagian dari belajar dalam rangka menambah wawasan untuk bahan penulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga belajar menulis tak terikat tempat. Meski umumnya di rumah, tapi sesekali saya juga bisa belajar di tempat lain. Biasanya ini dilakukan untuk bahan penulisan, yakni membaca fakta dan data. Kalo perjalanan jauh saya bawa buku, beli koran, beli majalah. Sehingga nggak ada waktu terbuang percuma. Termasuk jika jenuh dengan bacaan saya kadang ngobrol dengan orang yang ada di perjalanan baik di kereta, bis, pesawat terbang, atau kapal laut. Sedikit basa-basi berkenalan dan umumnya yang pertama kali dilakukan adalah melemparkan satu topik untuk diobrolkan. Tanpa terasa, jika nyambung kita akan dengan mudah berbagi ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, saya meyakini betul bahwa setiap orang itu unik, maka saya mencoba “menyadap” informasi darinya dan saya jadikan sebagai pelajaran. Jujur saja, saya seringkali terinspirasi dari orang yang saya ajak ngobrol. Tak segan pula saya ngasih apresiasi kepadanya bahwa saya sangat beruntung bisa bertemu dan berbagi pengalaman dengannya. Ternyata, banyak juga di antara mereka yang saya ajak ngobrol mengaku mendapat informasi baru, wawasan baru sebagai inspirasi bagi dirinya setelah ngobrol dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yup, ternyata kita bisa belajar dengan mudah dan murah serta menyenangkan saat saling berbagi informasi dengan siapapun. Apalagi jika kegiatan ini kita lakukan sesering mungkin dengan orang yang berbeda-beda. Jangankan dengan orang yang berbeda-beda, dengan orang yang sudah lama kita kenal pun selalu ada hal baru dalam obrolannya. Sebab, saya juga merasa yakin dia pasti belajar terus dalam kesehariannya dan itu bisa kita ambil manfaat darinya. Maka, bergaullah dengan orang-orang yang semangat belajarnya tinggi. Kita jadi kebawa pinter. Insya Allah. <em>So</em>, beruntung banget bisa ketemu orang-orang spesial dalam hidup kita, sehingga kita bisa belajar darinya dengan mudah dan murah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, Ngomongin soal teman dan memilih tempat belajar, saya jadi inget pernyataan Luqman al-Hakim yang menyampaikan pesan kepada anaknya, <em>“Wahai anakku! Berhati-hatilah memilih suatu majelis. Apabila kamu berjumpa majelis yang mengingat Allah, segeralah kamu ikut duduk bersama mereka. Karena kalau sekiranya kamu orang alim, ia akan bermanfaat pada kealimanmu. Jika engkau orang yang bodoh, ia akan memberikan pengajaran kepadamu dan Allah akan mencurahkan rahmat kepada mereka yang mengena juga kepadamu,”</em> paparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Luqman melanjutkan nasihatnya, <em>“Wahai anakku, janganlah engkau duduk di dalam majelis yang tidak mengingat Allah. Jika engkau seorang pandai, ia tidak akan memberikan manfaat kepadamu, dan jika engkau seorang yang bodoh, maka akan bertambah-tambahlah kebodohanmu akibat ikut berada di majelis yang lupa kepada Allah itu. Di samping itu Allah marah kepada mereka dan kamu akan mendapat kemarahan Allah sama seperti mereka juga.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, meskipun saya merasa harus belajar dari siapapun dan di manapun, tapi saya membatasi diri untuk hanya belajar dari mereka yang secara akhlak tuh bagus dan memang di situ tempatnya mencari ilmu yang benar dan baik. Kalo untuk belajar secara umum, ilmu umum maksudnya, ya saya tidak terlalu membatasi, sekadar berbagi informasi aja siapa tahu memang ada sedikit manfaat bagi perkembangan pengetahuan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kita ngobrolin tentang harus fokus dalam belajar. Benar banget yang pernah saya alami. Sejak awal saya memang sangat meminati dan menikmati dunia tulis-menulis (termasuk jurnalistik), maka saya fokuskan belajar untuk bidang ini. Maka, ketika sudah bisa dan lancar menulis pun, demi mendapat informasi lebih banyak lagi tentang bidang jurnalistik dan kepenulisan secara umum, saya mengoleksi banyak buku yang berkaitan dengan itu. Tujuannya tentu saja adalah untuk menambah wawasan dan meng-<em>upgrade</em> kemampuan menulis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, memang terasa banget manfaat belajar itu. Ilmu bertambah, wawasan meningkat, pengetahuan meluas, dan menjalin ukhuwah dengan banyak orang. Wuih, seru abis deh. <em>So</em>, jangan cuma diem sambil bengong meratapi nasib diri yang tak kunjung membaik. Bergeraklah untuk mencari jalan keluar dari penderitaan. Salah satunya melalui proses belajar. Apalagi belajarnya tak pernah henti. <em>Learning never ending</em> (termasuk <em>learning never pusing</em> kali ye? Hehehe…). Insya Allah, kesuksesan bukanlah impian untuk kita raih jika kita mau serius untuk mendapatkannya. Yuk, kita berusaha maksimal, Bro. Semangat! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-berhenti-belajar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Takut Hadapi UN</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-takut-hadapi-un</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-takut-hadapi-un#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 21:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3333</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 124/tahun ke-3 (22 Rabiul Awal 1431 H/8 Maret 2010) Bro en Sis, ngomongin rasa takut, saat ini ada banyak siswa kelas XII atau kelas IX yang lagi deg-degan menghadapi UN (Ujian Nasional). Kalo nilainya jeblok pas ujian tersebut alamat bakalan nggak lulus. Duh, siapa yang nggak takut? Udah gitu malu lagi. Hmm.. wajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 124/tahun ke-3 (22 Rabiul Awal 1431 H/8 Maret 2010)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><br />
</strong>
</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, ngomongin rasa takut, saat ini ada banyak siswa kelas XII atau kelas IX yang lagi deg-degan menghadapi UN (Ujian Nasional). Kalo nilainya jeblok pas ujian tersebut alamat bakalan nggak lulus. Duh, siapa yang nggak takut? Udah gitu malu lagi. Hmm.. wajar sih punya perasaan seperti itu. Tetapi yang nggak wajar adalah kamu nggak berupaya untuk meminimalisir rasa takut tersebut. Termasuk kalo nggak berusaha sedikit pun untuk mengatasinya. Logika sederhananya kan, kalo takut gagal ujian, ya belajar dong. Kadang, yang udah belajar aja masih gagal ujian apalagi yang nggak belajar. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Siapkan mental</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat, kadang pada kondisi tertentu, kemauan lebih utama dari kemampuan. Maksudnya, kemauan untuk belajar, kemauan untuk mengubah keadaan, kemauan untuk bersusah payah mengatasi kendala akan bisa mengalahkan mereka yang memiliki kemampuan tapi malas belajar, tapi tidak mau mengubah keadaan, dan tidak sabar dalam mengatasi kendala. Inilah yang kita sebut kesiapan mental. Kita sudah cukup banyak lho menyaksikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Saya pernah tahu ada teman yang kalo dari segi IQ itu kalah jauh dibanding teman lainnya. Tapi, dia rajin belajar. Rajin berlatih. Akhirnya dia dapat prestasi juga. Jadi, persoalannya bukan melihat kekuatan atau kemampuan yang kita miliki semata, tapi juga sikap mental untuk menghadapi kondisi tertentu dan berusaha agar tidak tegerus meskipun dengan kemampuan seadanya.<span id="more-3333"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Klub sepakbola yang kaya raya dan bertabur bintang serta bejibun prestasi, Manchester United, pernah dikalahkan lho sama tim dari divisi di bawahnya dalam kompetisi Piala FA,. Leeds United. Jadi, kemampuan dan kekuatan bukan segalanya. Kalo sikap mentalnya pada saat bertanding sedang lamah bin loyo ya bisa kalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kalo sekarang kamu akan ngadepin UN, jangan kepikiran hal-hal negatif. Jangan dipikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi seperti: takut nggak bisa ngejawab soal, takut nilainya buruk, dan akhirnya yang kepikiran takut gagal ujian. Lha, buat apa kamu belajar selama ini kalo masih takut juga dengan hal-hal yang belum tentu terjadi? Ini ibarat dalam ujian kehidupan lho. Apapun yang terjadi, kita harus fokus pada tujuan dan berusaha meraih hasil maksimal. Tetapi kalo tujuan itu tidak tercapai, bukan berarti menyesal seumur-umur dan kamu kecewa selamanya. Nggak lah ya. Ambil sisi positifnya. Kamu bisa rencanakan skenario berikutnya sambil menyiapkan semua yang diperlukan. Nikmati aja. Tapi jangan khawatir, insya Allah jika kamu udah berusaha maksimal, kamu pantas untuk mendapatkan hasil terbaik yang diberikan Allah Swt. Jangan sampe kita berharap mendapat hasil maksimal, tapi belajar aja nggak. Iya kan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, sikap mental perlu kamu miliki untuk hadapi UN. Mental juara layak dipupuk. Meski demikian, kamu perlu lapang dada jika hasilnya belum maksimal. Sebab, dalam sebuah pertandingan, adakalanya seorang jawara menjadi pecundang. Siapkan mental untuk fokus hadapi UN. Semaksimal kekuatan dan usaha yang kamu miliki. Selebihnya, serahkan kepada Allah Swt. Biarlah Allah Swt. yang menyempurnakan usaha kita. Tawakal sajalah. Sebab, untuk mewujudkan tawakkal bukan berarti meniadakan usaha. Nggak lah. Usaha terus, hasilnya serahkan kepada Allah Swt. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Belajar dengan strategi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, setiap orang pasti memiliki cara atau strategi untuk mencapai hasil terbaik dari setiap tujuannya. Strategi mutlak diperlukan lho. Dalam ilmu beladiri aja ada banyak teknik menyerang dan bertahan. Maka, tak heran jika muncul beragam teknik beladiri dari berbagai negara: karate, aikido, taekwondo, tarung drajat, gulat, silat, kung fu, capoera, dan lain sebagainya. Dalam dunia sepakbola juga ada strateginya lho. Meski kita nggak jadi pelatih atau pemain sepakbola profesional, setidaknya kita bisa baca, apalagi kalo main gim Champion Manager, di situ ada simulasi menerapkan berbagai strategi dalam bermain sepakbola. Kita mungkin kenal teknik <em>Catenaccio</em> (Italia), <em>Kick and Rush</em> (Inggris), <em>Total Football</em> (Belanda) dan adu jotos ala ISL (hehehe.. sori bukan nyindir, tapi faktanya sepakbola kita seringnya ricuh sih).</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, ternyata dalam belajar juga ada strateginya lho. Tiap orang pasti beda-beda caranya. Boleh-boleh saja. Selama itu diyakini akan memberikan hasil positif dari apa yang kita upayakan. Guru-guru di sekolah juga pasti punya gaya mengajar berbeda-beda. Tapi selama yang diajarkanya sesuai dengan kurikulum tentunya akan memudahkan untuk memahaminya dan menjawab soal-soal yang diujikan. Untuk bisa mendapat hasil maksimal dalam ujian, tentunya tidak instan alias perlu perjuangan yang mungkin saja memakan waktu, menyedot energi, menguras pikiran dan perasaan. Itu, hanya bisa ditempuh sejak kamu memutuskan masuk sekolah. Jadi tentu sangat mengkhawatirkan kalo kamu baru belajar serius—meski dengan strategi jitu—ketika jadwal ujian nasional seminggu lagi. Wedeh, ajaib aja kalo sampe berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini ada tips belajar yang bisa kamu coba (meski mungkin tulisan ini termasuk telat ya karena jadwal ujian udah dekat):</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, <em>preview</em> semua materi pelajaran yang akan diujikan. Maksud <em>preview</em> di sini adalah men-survei secara umum materi-materi yang ada dalamnya. Bila perlu menandai beberapa bagian yang dianggap penting dan kemungkinan besar akan terdapat dalam soal ujian. Kamu bisa konsultasikan dengan guru pelajaran tersebut dan minta sarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, supaya belajarnya lebih maksimal, cobalah susun semacam pertanyaan-pertanyaan untuk membantu memahami topik tertentu. Pertanyaannya bisa kamu buat sendiri. Misalnya, apa sih reaksi reduksi-oksidasi itu?; “mengapa bisa tejadi demikian?”; atau pertanyaan lain: “genetika adalah…”; “apa yang menyebabkan sebuah benda padat larut?” dan sebagainya sesuai dengan mata pelajaran yang akan diujikan. Ini cuma contoh aja dari saya yang kepikiran kalo lagi belajar. <em>Question</em> atau pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita buat agar memudahkan pemahaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, <em>read</em>. Tentu saja untuk memahami materi pelajaran tertentu kamu harus membacanya secara cermat sambil mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang udah kamu susun tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat, <em>reflect</em>. Selama membaca materi pelajaran, hendaknya kamu ‘mengenangnya’ secara mendalam (dipikirkan), seraya berusaha memahami isi dan menangkap contoh-contohnya serta menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. <em>So</em>, ini akan menjadi aktivitas belajar yang menyenangkan, karena bukan menghapal, tapi memahami.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelima, <em>recite</em> alias diingat. Nah, kalo sebuah subbab atau dalam satu mata pelajaran selesai dibaca, informasi yang ada di dalamnya kudu diingat-ingat. Lalu semua pertanyaan mengenai subbab tersebut dijawab. Kalo ada jawaban yang menurut kamu kurang maksimal atau malah salah, kamu bisa baca lagi secara cermat dan teliti agar lebih paham.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya masih banyak strategi dalam belajar. Kalo ditulis semua kayaknya nggak cukup deh dalam satu lembar buletin ini. Tetapi mudah-mudahan meski cuma satu strategi belajar kamu bisa mengambil manfaatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Tawakkal, Bro! </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tawakkal itu di awal. Artinya, sebelum memulai usaha yang hendak kita lakukan, kita udah tawakkal lebih dahulu kepada Allah Swt. bahwa hanya Allah Swt. saja yang akan memberi pertolongan kepada kita, bukan yang lain. Terus, kita menyerahkan segala keputusan kepada Allah Swt. Lanjutkan dengan niat yang kuat, sikap mental kita upgrade jadi lebih baik, dan tentu saja usaha untuk belajarnya juga diupayakan maksimal, dan jangan lupa agar tak putus berdoa. Sip banget kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan salah paham terhadap tawakkal lho. Untuk mewujudkan tawakkal, bukan berarti meniadakan usaha. Nggak <em>atuh</em>. Allah Swt. berfirman: <em>“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”</em> <strong>(QS Huud [11]: 123)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat lain dijelaskan bahwa tawakkal adalah salah satu buah keimanan: <em>“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”</em> <strong>(QS al-Maaidah [5]: 23)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. juga berfirman: <em>“(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.”</em> <strong>(QS at-Taghaabun [64]: 13)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, setelah tawakkal langsung wujudkan dengan usaha, Bro. Jangan bengong aja. Ada satu kisah menarik yang perlu kita jadikan bahan pelajaran. Di masa Imam Ahmad bin Hanbal ada seorang yang malas bekerja dan masa bodoh. Ketika beliau bertanya mengenai sikapnya itu, ia menjawab: “Saya telah membaca hadis Rasulullah saw. yang mengatakan: <em>“Jika saja kamu sekalian bertawakkal kepada Allah dengan sepenuh hati niscaya Allah akan memberi rizki untukmu sekalian, sebagaimana Ia memberinya kepada burung; burung itu pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.”</em> <strong>(HR Tirmidzi dan Ibnu Maajah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terus dia bilang lagi, “maka sebab itu saya tawakkal kepada Zat yang memberi rizki kepada burung itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ahmad lalu mengatakan: <em>“Kamu belum mengerti maksud hadis tersebut. Rasulullah menyebutkan bahwa pulang-perginya burung itu justru dalam rangka mencari rizki. Jika burung itu duduk saja di sarangnya, tentulah rizkinya tidak akan datang”</em> <strong>(Muhammad al-Ghazali dkk, <em>Wasiat Takwa</em>, terjemahan Husein Muhammad, hlm. 139)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, artinya memang selain harus tawakkal hanya kepada Allah Swt., tetapi kudu ada upaya dari kita untuk mewujudkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh, semoga pembahasan singkat ini mampu menyemangati dan menginspirasi kamu agar siap hadapi UN tahun ini. Jangan lupa tetap tawakkal hanya kepada Allah, giat belajarnya, rajin berlatih dan jangan pernah putus berdoa. Tetap semangat! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-takut-hadapi-un/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kado Cinta dari Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kado-cinta-dari-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kado-cinta-dari-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 00:03:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3329</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 123/tahun ke-3 (15 Rabiul Awal 1431 H/1 Maret 2010) Harta terbesar pada diri manusia adalah adanya iman Islam dalam diri. Betapa banyak manusia lainnya yang tersesat tak menemukan jalan kebenaran meskipun sepanjang hidupnya ia telah mencari. Dalam pencariannya itu, tak jarang di antara mereka kemudian menjadi atheis alias tak percaya adanya Tuhan. Ludwig [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="border: 0pt none;" title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 123/tahun ke-3 (15 Rabiul Awal 1431 H/1 Maret 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Harta terbesar pada diri manusia adalah adanya iman Islam dalam diri. Betapa banyak manusia lainnya yang tersesat tak menemukan jalan kebenaran meskipun sepanjang hidupnya ia telah mencari. Dalam pencariannya itu, tak jarang di antara mereka kemudian menjadi atheis alias tak percaya adanya Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ludwig Feurbach bilang: “Tuhan itu hanya proyeksi manusia yang kosong hatinya”. Karl Marx bilang: “Kalau manusia secara sosial ekonomi bisa hidup dengan baik, Tuhan just die out”. Fredrich Nietchze bilang: “Tuhan telah mati”. Sigmund Freud: “bertuhan itu seperti mendambakan seorang ayah saja, maka kalau kita langsung dewasa, kita tidak lagi butuh Tuhan”. Richard Dawkins bilang: “kebutuhan akan Tuhan itu hanya <em>meme</em> (semacam gene) yang menular dari brain-to-brain dalam proses evolusi”. Daniel Dennett bilang: “Pikiran akan Tuhan itu hanyalah gen mistik yang tertinggal dalam proses evolusi manusia”.<span id="more-3329"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pengikut mereka banyak, tersebar di seluruh penjuru dunia. Bahkan anehnya, banyak juga perguruan tinggi Islam yang menjadikan mereka, para atheis itu sebagai idola. Pemikirannya yang tulalit itu dikaji dan diikuti. Padahal sepanjang kisah hidup mereka hingga akhir hidupnya, berisi kisah tragis sepanjang masa. Contohnya Karl Marx. Ia hidup dalam kemelaratan dan keterasingan. Bahkan sedikit sekali orang yang mau menjadi temannya karena sikapnya yang buruk dalam berinteraksi dengan orang. Sebuah sikap seseorang ketika ia tidak menemukan apa yang dicari dalam hidup yaitu keimanan. Hidupnya penuh kegelisahan dan penuh ketidakteraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersyukurlah kita yang sudah dikaruniai iman dan Islam sejak lahir. Meskipun begitu, iman ini haruslah ditingkatkan terus dan terus. Apalagi Allah Swt. sudah memberi bekal akal untuk semakin meyakini iman Islam ini. Bila potensi akal ini maksimal kamu gunakan, tak akan pernah goyah meskipun banyak orang dan peristiwa datang berusaha untuk meruntuhkannya. Bahkan dalam kondisi sepahit apa pun menurut kebanyakan orang, seorang mukmin itu bisa merasakan manisnya iman. Hebat!</p>
<p style="text-align: justify;">Kado indah bernama iman ini pantas dan harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Kamu masih ingat kan seorang budak bernama Bilal bin Rabbah yang bertahan pada iman Islamnya meskipun dadanya ditindih batu besar di tengah padang pasir yang panas? Yang dilafalkan Bilal cuma ‘Ahad! Ahad!’ secara berulang-ulang. Keimanan inilah yang mampu membuat seseorang bertahan dan berjuang seberapa berat kehidupan menghampiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Beda banget dengan kondisi jiwa orang-orang atheis itu. Akhir hidupnya selalu dipenuhi kisah memprihatinkan. Rumah tangga para tokoh calon penghuni neraka ini juga berantakan, bahkan tak jarang matinya pun bunuh diri. Jadi, sungguh nikmat iman dan Islam ini benar-benar begitu indah hadir sebagai kado kita sepanjang zaman.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kado bernama Freedom</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Freedom atau kebebasan adalah kado terindah bagi setiap makhluk hidup. Jangankan manusia, lalat aja bila ditangkap dan dimasukkan toples pastilah berjuang keras untuk menemukan jalan keluar agar bisa bebas lagi. Apalagi manusia yang mempunyai akal untuk berpikir, sudah pasti ia tak akan mau dipenjara atau diperbudak. Jadilah kebebasan menjadi daya tarik tersendiri untuk diperjuangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam datang sejak awal memberi kebebasan pada manusia. Kebebasan dari segala macam pemberhalaan terhadap sesama makhluk. Berhala yang mengurung kebebasan ini bisa berupa harta, tahta dan wanita. Coba lihat, berapa banyak yang lemah tak berdaya di bawah kerling wanita. Kebebasannya jadi hilang karena yang ada hanya terpenjara pada nafsu syahwat saja. Begitu juga dengan harta dan tahta. Terjadinya saling bunuh dan pertikaian biasanya bermula dari rebutan harta dan tahta.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia tak pernah bisa menjadi bebas hingga Islam datang dengan memberikan jalan keluar berupa penghambaan pada yang sepantasnya. Sifat lemah manusia membutuhkan sesuatu di luar dirinya yang bersifat Maha. Ketika manusia berhasil ‘menemukan’ Sang Maha ini, maka pada saat itulah ia merasa bebas karena keresahan hati telah terobati.</p>
<p style="text-align: justify;">Penghambaan pada Allah Yang Esa telah menjadikan manusia menggapai kebebasan sejatinya. Gimana nggak kalo semua aturan Allah Swt. yang harus ditaati sebagai bukti taat sebagai hamba, pas bener dengan fitrah dan akal manusia. Coba deh kamu cari orang mukmin yang merasa gelisah dan terkekang karena kebebasannya terbatas. Nggak bakal nemu deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya saja seorang muslimah berjilbab karena taat pada Allah Ta’ala. Ketika orang-orang kafir itu menyebutnya sebagai pengekangan kebebasan perempuan untuk memilih mode, para muslim berpikir sebaliknya. Mereka merasa bebas dengan aturan dari Allah ini karena tak ada lagi laki-laki yang menilai mereka sebatas kulit dan daging saja. Mereka merasa menjadi perempuan berharga diri karena keimanan, ketakwaan, kecerdasan dan kebaikan hati-lah yang menjadi ukuran, bukan panjang pendeknya rambut sebagai mahkota yang harus ditutupi. Mereka jadi pengendali mata lelaki dalam memandang bagian tubuh mana yang boleh dilihat dan yang tidak. Tuh kan, keren banget!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kado bernama syariah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syariah adalah aturan. Yang dimaksud di sini so pasti syariat Islam bukan syariat lain-lain yang nggak jelas asal-usulnya. Syariah adalah kado cinta Islam bagi umat manusia dan lingkungan, bukan hanya muslim semata. Bagaimana bisa? Syariah menjamin kesejahteraan umat manusia dan lingkungan yang berada dalam lingkup penerapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya saja perbuatan merusak alam dan lingkungan dengan menebang pohon sembarangan dilarang keras. Perilaku ini memberikan efek berantai bagi rusaknya keseimbangan alam berupa tanah longsor dan banjir. Bencana alam ini efeknya menelan korban jiwa manusia dan binatang di sekitarnya. Syariah Islam memberikan tuntunan agar tidak merusak pohon-pohon.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu dari segi perlindungan alam. Dari segi perlindungan manusia, Islam mempersembahkan kado indah  untuk melindungi akal, jiwa dan harta. Gentel, seimbang dan impas.</p>
<p style="text-align: justify;">Haramnya khamr atau minuman keras beralkohol adalah dalam rangka melindungi akal ini. Haramnya membunuh jiwa manusia tanpa alasan jelas bertujuan melindungi jiwa sehingga ada hukum qishash atau balik membunuh si pembunuh. Bahkan qishash ini bisa tak dilaksanakan apabila keluarga yang dibunuh memaafkan dan sebagai kompensasi ‘hanya’ dengan membayar sejumlah ganti rugi. Bukan kejam tapi ini manusiawi agar manusia tak sembarangan membunuh orang lain seperti misalnya Babeh yang membunuh banyak anak jalanan tapi proses hukumnya belibet.</p>
<p style="text-align: justify;">Pencuri yang sudah mencapai jumlah tertentu dan bukan karena kelaparan akibat paceklik, dihukum potong tangan. Sanksi ini memberi efek jera kepada pelaku. Bandingkan dengan hukum sekuler yang memberi sanksi penjara 3 bulan bagi maling ayam dan cuma 2 tahun bagi koruptor milyaran rupiah. Keluar dari penjara bukannya insaf tapi malah lebih lihai karena para pencuri ini berguru kepada teman sesama napi trik-trik mencuri dan korupsi yang lebih canggih.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih banyak aturan Islam lainnya yang indah semisal di bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, ekonomi, bertetangga dan lain sebagainya. Islam itu bukan hanya hukum potong tangan, tapi Islam itu meliputi seluruh aspek kehidupan. Dan seluruh aspek kehidupan yang diatur oleh Islam ini tak bakal dapat terwujud nyata tanpa adanya sebuah sistem yang menerapkannya. Ibaratnya sebuah air yang jernih, kejernihan itu tak akan tampak ketika tak ada wadah yang menampungnya. Dan wadah bagi aturan Islam yang indah ini hanya ada pada sebuah sistem bernama Daulah Khilafah Islamiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Meraih kado cinta Islam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak diruntuhkan oleh seorang keturunan Yahudi bernama Mustafa Kemal Attaturk pada 3 Maret 1924, daulah Khilafah ini tak lagi ada di tengah-tengah kita. Maka pantas saja umat Islam jadi merana dan terlunta-lunta serta teraniaya karena tak punya pemimpin dan rumah yang bisa melindungi. Tapi jangan berkecil hati! Selalu saja ada cara untuk meraih kemuliaan itu dengan memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam sebagaimana telah terbukti selama lebih dari 14 abad.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara meraih kemuliaan itu adalah dengan dakwah dan jihad. Dakwah di sini adalah dakwah tanpa kekerasan. Ya, dakwah dengan membangkitkan pemikiran umat agar sadar dan bergerak. Jihad di sini pun bukan jihad ngawur mengebom sana-sini tanpa ilmu. Adanya sebagian orang yang suka bom inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk menyudutkan aktivis dakwah. Oleh karena itu dakwah dan jihad pun ada ilmunya, nggak bisa sembarangan aja main pukul rata.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, untuk mencari ilmunya, kamu kudu bergerak dong! Nggak bisa ilmu datang tiba-tiba tanpa diupayakan. Yuk, hadir di majelis ilmu yang membahas tentang Islam sebagai <em>the way of life</em>, aturan hidup yang menyeluruh. Bukan hanya sekadar bisa sholat dan puasa tapi tak mau berdakwah. See, asik kan ternyata jadi orang muslim itu. Selalu ada kado cinta berebut pahala kebaikan di setiap kesempatan. Tidak tegaknya syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah ini jangan sampai membikin kamu pasif. Sebaliknya, ketiadaan ini malah bikin kamu makin semangat bergerak dan berjuang untuk mewujudkannya lagi dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanamkan dalam diri kamu bahwa seorang muslim itu hidupnya mulia. Jadi jangan pernah deh mau diremehkan dan diinjak-injak oleh kaum kafir. Apabila ini yang terjadi maka mati syahid jauh lebih baik daripada hidup terhina di bawah kaki penjajah. Penjajah bukan hanya ada dalam sejarah kumpeni yang melakukan kerja rodi pada kakek nenek moyang kita. Tetapi penjajah masih ada saat ini dalam bentuk penjajahan ekonomi, politik, sosial, budaya dsb. Wah… makin gemas dan menambah semangat berjuang nih. Yuk, cintai Islam, pelajari dan pahami ajarannya, praktikkan dalam kehidupan nyata. Dukung dengan aktivitas dakwah Islam yang tanpa kekerasan. Kita bisa terlibat bersama dalam dakwah. Tentu sepakat dong ya. Harus itu! <strong>[ria: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kado-cinta-dari-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hitam-Putih Facebook</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hitam-putih-facebook</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hitam-putih-facebook#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 17:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[gaul]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3326</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 122/tahun ke-3 (8 Rabiul Awal 1431 H/22 Februari 2010) Setelah kasus heboh Nova-Ari yang mengaku mereka suka sama suka melakukan hubungan badan, Facebook kian disorot. Khususnya sisi negatifnya. Ya, melalui perantaraan situs jejaring sosial inilah Nova dan Ari bertemu dan sekaligus dilanjutkan berkencan di dunia nyata. Nggak hanya kasus Nova-Ari, berikutnya muncul kasus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 122/tahun ke-3 (8 Rabiul Awal 1431 H/22 Februari 2010)</p>
<p>Setelah kasus heboh Nova-Ari yang mengaku mereka suka sama suka melakukan hubungan badan, Facebook kian disorot. Khususnya sisi negatifnya. Ya, melalui perantaraan situs jejaring sosial inilah Nova dan Ari bertemu dan sekaligus dilanjutkan berkencan di dunia nyata. Nggak hanya kasus Nova-Ari, berikutnya muncul kasus ‘menghilangnya’ gadis berumur 20 tahun asal Bantul. Ada juga mahasiswi asal Jambi yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tak diketahui jejaknya, dan belakangan ketahuan kalo dia ada di suatu tempat bersama kekasihnya asal Brebes. Pertemuan mereka, via Facebook. Oya, nggak ketinggalan kasus 4 orang siswa yang dipecat dari sekolahnya gara-gara menghina salah seorang guru mereka. Nah, mereka melakukan penghinaan tersebut di Facebook. Waduh!</p>
<p>Bro en Sis, deretan fakta terbaru untuk saat ini tentang sisi negatif Facebook perlu menjadi perhatian kita semua. Jangan sampe kejadian tersebut juga menimpa kita. Ih, nggak banget deh! Fakta ini pun sekaligus meyakinkan kita semua bahwa teknologi, tetap saja memiliki sisi positif sekaligus negatif. Kita perlu waspada deh kalo kenyataannya kayak gini sih.<span id="more-3326"></span><strong>Fenomena Facebook</strong></p>
<p>Facebook memang fenomenal! Situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini digilai oleh lebih dari 350 juta manusia di seluruh dunia. Di sini setiap orang bisa berkomunikasi, bergaul, berinteraksi, bahkan bertransaksi bisnis. Facebook menjadi dunia sendiri. Dunia yang dihuni oleh ratusan juta orang yang memang senang berhubungan dengan sesamanya. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial.</p>
<p>Fasilitas yang diberikan Facebook memang tak tanggung-tanggung. Selain daftarnya free alias gratis, juga di dalamnya terdapat fasilitas standar yang dibutuhkan manusia dalam berkomunikasi di dunia maya. Facebook sudah menanam beragam fitur yang oke punya (setidaknya sampai saat ini). Ada “note” ini untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran kita. Catat sepuasnya di sana. Jika belum puas bahwa catatan kita akan dibaca banyak orang, kita bisa bikin grup. Facebook menjembatani upaya merengkuh banyak orang melalui sebuah grup.</p>
<p>Masih ingat kan tentang dukungan Facebookers (sebutan untuk jamaah facebookiyah alias orang-orang yang bergaul di dalam komunitas Facebook) terhadap KPK, khususnya Bibit dan Chandra? Juga menggalang dukungan bagi Prita dan Balqis. Melalui grup ini, pembuatnya bisa mengundang banyak orang untuk bergabung. Disediakan juga “Wall” tempat menumpahkan segala pendapat. Member grup bisa mengeluarkan unek-uneknya di sini. Kalo mau kirim pesan juga bisa. Menyebarkan pesan berharga kepada sebanyak orang itu, dan dengan fasilitas yang gratis, tentu sangat menyenangkan. Kita hanya membayar pulsa telepon atau bayar di warnet, bisa juga nebeng dari fasilitas kantor.</p>
<p>Selain bikin “grup” dan “note”, pengelola Facebook juga memahami betul keinginan manusia untuk interaksi, maka fasilitas chat disediakan, pencarian teman yang unik yang dilacak berdasarkan nama perusahaan, asal sekolah, asal daerah, dan sejenisnya. Selama member yang bersangkutan meng-input data yang sebenarnya, maka biarkan mesin pintar Facebook mencarikannya untuk kamu. Saya sering mengalaminya. Tiba-tiba muncul “saran teman” dari Facebook di beranda akun kita. Beberapa kali mengamati nama-nama yang muncul memori saya mengingatkan masa lalu. Hehehe.. ada teman yang pernah ngilang sejak lulus SMP sekitar 20 tahun yang lalu, eh ketemu lagi. Ada yang <em>loss contact</em> sejak beberapa tahun lalu, tiba-tiba nongol dan nyapa minta di-<em>confirm</em> jadi teman. Wah, asik benar.</p>
<p>Oya, pengguna Facebook tahu betul fitur-fitur yang ada di dalamnya. Termasuk fasilitas “status” kita yang selalu ‘ditanya’ “apa yang anda pikirkan?” Lalu kita jawab semau kita. Ada yang ngocol, ada yang asal tulis, ada yang protes, ada yang maki-maki, pengeluh, tukang ngasih motivasi, ada yang jualan, dan sebagainya. Di situ setiap orang yang sudah tergabung dengan orang tersebut bisa tahu update statusnya dan bisa ngasih komentar. Paling banter kalo malas ngasih komen, cukup ngasih “jempol” dengan meng-klik “like/suka” terhadap status temannya tersebut. Tapi, di sini kudu ati-ati lho, karena siapa tahu kamu malah jadi ngikutin jejak Evan Brimob yang bikin heboh karena komentarnya yang emosional menyikapi kasus KPK vs Polri. Hehehe… yang aktif di Facebook pasti tahu deh kasus detilnya. Iya nggak?</p>
<p>Bro en Sis, inilah Facebook, salah satu situs jejaring sosial yang ngetren saat ini. Saya punya pengalaman tentang hal ini. Seorang tetangga paman saya di Bandung, minta dibikinkan akun facebook saat saya <em>browsing</em> internet pas berkunjung ke sana dalam suatu acara. Meski dengan pengetahuan seadanya, ia nekat minta dibikinkan akun facebook. Ya, gimana nggak bisa disebut seadaanya, wong istilah e-mail saja dia masih bingung. Sami mawon dengan cara buat e-mail, dia nggak tahu. Padahal, untuk bisa daftar ke facebook kudu punya e-mail. Akhirnya, ya dibuatkan dulu e-mailnya. Lucunya, alasan yang bersangkutan pengen punya akun facebook biar bisa gaul. Nggak kuper lah. Hehehe.. padahal usia udah menjelang pensiun, anaknya udah ada yang kuliah. Tragisnya, pake komputer aja masih gagap. Tapi, dia nggak putus asa, karena Facebook bisa diakses via ponsel. Waduh, benar-benar sudah tergoda Facebook. Prikitiw!</p>
<p>Lain waktu, teman saya cerita bahwa supir mobil odong-odong minta dibikinkan akun Facebook. Oya, istilah odong-odong ini untuk angkutan umum yang kendaraannya udah nggak ada surat-suratnya, operasinya di jalur khusus giliran dengan tukang ojek. Biasanya ke dalam komplek perumahaan yang jauh dari jalan raya. Teman saya yang jaga warnet itu sempat bingung, tapi kemudian supir mobil odong-odong itu bilang bahwa nanti pakenya di ponsel. Wedeh, gaul juga nih supir mobil odong-odong!</p>
<p><strong>Dunia maya lebih menggoda?</strong></p>
<p>Sejak kenal dunia maya, saya penasaran banget. Kenapa penasaran? Karena bisa berhubungan dengan banyak orang di ‘seberang’ sana hanya melalui komputer yang terhubung dengan modem dan perangkat lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan internet. Meski komunikasi lebih banyak via tulisan, tapi rasanya asik-asik aja. Pertama kali diajari chatting, langsung nyetel dan betah berlama-lama. Apalagi ketika sudah kenal e-mail, wuih, makin anteng aja dah di depan komputer. Punya e-mail seperti punya alamat kotak pos sendiri. Urusan komunikasi jarak jauh lebih lancar terjalin. Meski tentu saja nggak interaktif. Tapi tetap asik. Lebih keren lagi ketika era web 2.0 yang ditandai dengan munculnya blog, maka komunikasi di dunia maya jadi lebih dinamis dan lebih variatif. Bahkan melalui blog yang dimilikinya, seorang blogger bisa menyampaikan pendapatnya tanpa perlu kena sensor pihak lain. Kecuali kalo diketahui melanggar <em>term of service</em> yang dibuat situs penyedia blog gratis tersebut, maka situs itu bakalan dibekukan.</p>
<p>Bro en Sis, dunia maya itu ibarat pasar. Apa aja ada. Mau yang gratis, harga murah, dan juga harga mahal. Semua bisa diatur dan ada. Konten atau isi situs yang halal, yang subhat, bahkan yang haram tersedia di sana. Tergantung kita, apakah akan memilihnya atau tidak. Semua berdasarkan pilihan dan tentu saja ada konsekuensinya atas pilihan tersebut. Dunia maya sama seperti halnya dunia nyata, ada yang buruk dan ada yang baik. Ada yang tercela dan ada yang terpuji. Ada yang halal dan ada yang haram. Pornografi ada, judi ada, gosip bejibun, fitnah marak, motivasi kehidupan banyak, dan dakwah pun gencar. Kebaikan akan selalu berhadapan dengan keburukan. Kesalahan akan bertarung dengan kebenaran. Kelebihannya (sekaligus kekurangannya) di dunia maya, semua orang bisa jadi apa saja dan bisa jadi siapa saja. Phew!</p>
<p>Iya, karena meski di dunia nyata dan dunia maya bisa sama-sama berbohong, tapi di dunia maya kebohongan kita sulit dideteksi. Jika di dunia nyata orang tak mudah untuk mengelabui orang lain dengan penampilan beda jenis, tapi dunia maya hal itu bisa dilakukan. Kita hampir tidak pernah bisa melacak keberadaan seseorang apakah dia berjenis kelamin laki-laki atau wanita. Kita pun hampir tak pernah bisa mendeteksi apakah teman misterius itu baik atau jahat. Ya, di satu sisi, orang bisa ‘bersembunyi’ untuk menasihati orang lain, dan hal itu bisa menjadi kebaikan karena ingin ikhlas dalam beramal. Tapi di sisi lain, orang bisa ‘sembunyi’ untuk melakukan kemaksiatan, dan tentu bisa menjadi bahaya dan dosa bagi pelaku dan juga orang lain. Waspadalah!</p>
<p>Dunia maya memang lebih menggoda. Baik untuk hal yang bermanfaat maupun berbuat jahat. Sebenarnya sama dengan di dunia nyata. Orang bisa berbuat salah dan bisa berbuat baik. Namun, di dunia maya orang akan lebih ‘agresif’ karena halangan-halangan seperti minder, malu, segan, dan rasa inferior lainnya, bisa dikikis habis di balik topeng kepalsuan (jika mau). Percaya atau tidak, banyak yang sudah membuktikannya. Saya juga insya Allah banyak tahu bahwa ada orang yang lebih tampil percaya diri di dunia maya, padahal aslinya di dunia nyata dia orang yang agak minder. Well.. dunia maya memang lebih memberikan atmosfir rasa yang lain. Seringkali bisa ‘memanipulasi’ fakta yang sesungguhnya dan bisa juga menjadi pemicu orang untuk menunjukkan kemampuan terpendamnya (termasuk aksi jahatnya).</p>
<p>Namun demikian, dunia maya tetaplah dunia maya. Tak selamanya kita hidup di dunia tersebut. Emangnya kalo mau nikah bisa secara virtual? Hehe.. nanti anaknya virtual juga dong? Tetap saja kita akan lebih banyak berhubungan di dunia nyata. Meski dunia maya lebih menggoda, tapi waspadalah, kita tetap hidup bersama orang lain yang bisa saja mereka berbuat nggak benar kepada kita. <em>So</em>, sewajarnya sajalah. Jangan sampai lupa diri, lupa daratan, apalagi lupus alias lupa usia (umur udah bangkotan tapi kelakuan kayak bocah). Jangan juga mudah percaya sama orang yang belum kita kenal, apalagi awal mengenalnya via Facebook. Kalo diajak ketemuan, tolak saja. Nggak ada jaminan kan kalo dia bakalan baik sama kita? Terus, jangan  memberikan informasi detil tentang diri kamu.  Kita nggak tahu kan, kalo kita ternyata jadi  sasaran kejahatan mereka? <em>So</em>, waspadalah!<strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hitam-putih-facebook/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Tanpa Koma</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-koma</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-koma#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 11:04:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3322</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 121/tahun ke-3 (1 Rabiul Awal 1431 H/15 Februari 2010) Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /><strong> </strong>gaulislam edisi 121/tahun ke-3 (1 Rabiul Awal 1431 H/15 Februari 2010)</p>
<p>Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.</p>
<p>Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan.</p>
<p>Ramai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak  heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan.<span id="more-3322"></span></p>
<p>Lalu bagi kita,  cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?</p>
<p><strong>Cinta sejati yang terabai</strong></p>
<p>Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.</p>
<p>Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.</p>
<p>Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.</p>
<p>Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?</p>
<p>Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.</p>
<p><strong>Cinta sejati tak akan pernah menyakiti</strong></p>
<p>Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka <em>(Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)</em></p>
<p>Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya.  Dia berfirman : <em>‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan.  Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”</em></p>
<p>Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:<em>”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.</em>” <strong>(Mutafaq ‘alaih)</strong></p>
<p>Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.</p>
<p>Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Cinta tanpa koma</strong></p>
<p>Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”</p>
<p>Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik.  Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta&#8217;ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” <em>(Sabili No.09 Th.X)</em></p>
<p>Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke  sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.</p>
<p>Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.</p>
<p>Allah berfirman dalam hadist Qudsi:<em>”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”</em></p>
<p>Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam.  Ketiganya  adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H.  Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan  air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia  meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.</p>
<p>Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.</p>
<h3>“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekerti</h3>
<p><em>dipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri</em></p>
<p><em>kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya</em></p>
<p><em>kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga</em></p>
<p><em>kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab</em></p>
<p><em>dia menangis  tatkala tak mampu lagi bangkit” </em><strong>(Syair Abu Bulaf al-Ajly)</strong><em> </em></p>
<p>Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu  mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita?  Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.</p>
<p>Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan. <strong>[nafiisah: http://nafiisahfb.co.cc]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-koma/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Valentine&#8217;s Day Tak Istimewa</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/valentines-day-tak-istimewa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/valentines-day-tak-istimewa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 05:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[jahiliyah]]></category>
		<category><![CDATA[kufur]]></category>
		<category><![CDATA[valentine's day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3318</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 120/tahun ke-3 (24 Safar 1431 H/8 Februari 2010) Bro en Sis, bulan Februari ini orang-orang pada sibuk ngurusin keperluan Valentine’s Day (VD). Seolah, menjadi hajatan wajib yang kudu digelar tiap tahun. Nggak cuma remaja yang serius menyambut tanggal 14 Februari yang menurut mereka hari spesial, tapi orang dewasa dan anak-anak juga nggak mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 120/tahun ke-3 (24 Safar 1431 H/8 Februari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bro en Sis, bulan Februari ini orang-orang pada sibuk ngurusin keperluan Valentine’s Day (VD). Seolah, menjadi hajatan wajib yang kudu digelar tiap tahun. Nggak cuma remaja yang serius menyambut tanggal 14 Februari yang menurut mereka hari spesial, tapi orang dewasa dan anak-anak juga nggak mau ketinggalan ngeramein. Ada yang bener-bener menganggap bahwa VD adalah hari kasih sayang, tapi nggak sedikit yang cuma latah ikutan karena melihat banyak yang ngerayain dan sepertinya asik dilakuin. <em>So</em>, bulan Februari selalu identik dengan momen hari kasih sayang. Maka, nggak heran dong kalo tiap tahun tanggal 14 Februari dirayakan banyak orang. Momen yang menurut mereka pas untuk mengungkapkan kasih sayang. Benarkah?</p>
<p>Di edisi kali ini gaulislam nggak bakalan bahas sejarah VD dari berbagai versi, karena pastinya banyak yang udah bahas, termasuk gaulislam sendiri pernah bahas di tahun-tahun sebelumnya. Kamu bisa buka arsipnya di website kita. Silakan cari sendiri deh. Hehehe.. bukan nggak mau nulisin lagi, tapi khawatir kamu bosan. Sebab, udah jelaslah bahwa VD bukan berasal dari ajaran Islam. Tapi kali ini, kita lebih fokus membahas dari sudut pandang gaya hidup remaja muslim yang seharusnya memang tak terkontaminasi gaya hidup asing, salah satunya nggak ikut-ikutan kejeblos ngerayain VD. Ok?<span id="more-3318"></span></p>
<p><strong><em>Be My Valentine? </em></strong><strong> </strong></p>
<p>Para cowok yang percaya bahwa VD adalah hari kasih sayang, biasanya ngedadak romantis. Mereka sibuk nyari pasangan atau menjalin hubungan erat dengan kekasihnya yang sudah lama dipacarinya. Di antara mereka ada yang serius nyari buat dijadiin kekasih sejati atau memperkuat ikatan yang udah ada, tapi nggak sedikit yang cuma nebar rayuan gombal dan nyari gebetan baru. Ya, niatnya pasti beragam.</p>
<p>Bro en Sis, di bulan ini sebagian dari kita kayaknya ngedadak jadi lebih sentimentil, lebih romantis (asal jangan roman manis hati iblis aja yee—atau romantis=rokok makan gratis), lebih peka, dan ujug-ujug jadi pujangga karbitan yang bisa melahirkan puisi cinta. Ibarat grafik pada sitemeter, bulan ini mencapai <em>peak</em> (puncak) tertinggi. Itu karena tingkat kunjungan ke website meningkat dan juga karena banyak netter lain nge-link ke web or blog kita. Lho apa hubungannya? Ada. Maksudnya, sekadar ingin menjelaskan bahwa di bulan ini suasana hati orang-orang sedang berada di puncak untuk mikirin momen hari kasih sayang. Jadi bawaannya romantis dan lembut serta ceria (hehehe.. analoginya maksain nggak sih?).</p>
<p>Oya, jangan-jangan banyak di antara teman kamu (atau kamu sendiri?) yang udah nyiapin <em>big deal</em> neh dengan kekasih hatimu? Tambah berbunga-bunga deh menjelang perayaan Valentine Day’s. Wah, bisa-bisa banyak cowok yang nawarin diri jadi ‘pangeran’. Itu sebabnya, sekarang udah berseliweran tuh rayuan gombal: “Be My Valentine?” <em>So</em> pasti tuh cowok minta jawaban dari kamu yang cewek untuk menganggukkan kepala sebagai bentuk persetujuan. Pernah ngalamin nggak? Kalo saya belum hehehe.. belum mampu ngerayu cewek kalo urusannya untuk maksiat (ciee.. boleh dong punya prinsip, swit swiw..)</p>
<p>Hati-hati lho kalo ada cowok kurang ajar berani nanya-nanya kayak gitu sama kamu yang cewek. Waspadalah, siapa tahu itu hanya jebakan alias perangkap. Kita nggak pernah tahu kan isi hati seseorang? Dalamnya samudera bisa diselami, dangkalnya hati manusia susah dipahami. Setuju?</p>
<p>Boys and gals, rasanya makhluk bernama cinta bisa dipoles sedemikian rupa bergantung latar belakang yang se-dang jatuh cinta. Itu sebabnya, cinta itu memang universal banget. Kita bisa menumpahkan energi cinta kita kepada orang yang kita sayangi dan kasihi. Tapi hati-hati lho, cinta juga butuh aturan. Nggak sembarangan main tubruk atau main pukul aja dalam mengekspresikannya (*main pukul, emangnya tinju?). Yup, cinta butuh aturan, bro!</p>
<p><strong>Jangan tergoda rayuan</strong></p>
<p>Saling tukar kado spesial, berbalas kirim SMS cinta, adu bikin puisi cinta, saling ngasih coklat, dan ngajak jalan-jalan saat VD sudah menjadi tradisi. Nggak heran kalo hampir semua orang yang percaya bahwa VD adalah hari kasih sayang dia akan ngelakuin hal-hal tersebut.</p>
<p>Bro en Sis, salah satu upaya agar tak terjerumus ikutan VD, buat kita yang muslim, adalah jangan mudah tergoda rayuan. Baik rayuan dari teman yang ngajak <em>dating </em>di tanggal 14, maupun rayuan gombal penjual pernak-pernik VD. Ada baiknya memperhatikan pepatah Woodrow Wyatt, “seorang pria jatuh cinta melalui matanya, seorang wanita jatuh cinta melalui telinganya”. Maka pantas saja banyak cowok yang hobinya lirak-lirik nyari tampang cewek yang enak dipandang mata. Karena dari situlah jalan untuk jatuh cinta, sekaligus pintu hawa nafsu. Nah, karena cewek mudah tergoda dari rayuan, dan tentu saja itu menggunakan telinganya untuk mendengar rayuan itu, maka banyak cewek yang lemah tak berdaya ketika diberi harapan, dijanjikan, dan dirayu ini dan itu. Hmm.. apalagi di momen 14 Februari ini, banyak peluang ke arah sana. Waspadalah!</p>
<p>Hehehe.. jadi inget tulisan saya dan Kang Iwan Januar di buku yang kami tulis 7 tahun lalu, <em>Jangan Nodai Cinta</em>. Ada beberapa keterangan yang perlu saya bagikan dalam tulisan ini. Berikut kutipannya:</p>
<p>Pada masa Rasulullah saw. ada seorang pria sedang berjalan-jalan ketika kemudian ia melihat seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wanita itupun memandangnya. Syetan kemudian membisikkan godaan pada keduanya hingga keduanya terus bertatapan sampai-sampai pria itu tidak menyadari bahwa ada dinding di hadapannya. Akhirnya ia menabraknya dan hidungnya terluka. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan menghapus darah sampai aku mendatangi Rasulullah saw. dan memberitahukan pada beliau tentang kejadian ini.” Ketika ia berjumpa dengan Rasulullah saw. dan menceritakan peristiwa tersebut Allah Swt. pun menurunkan ayat 30-31 dari surat an-Nuur: <em>&#8220;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,&#8221;</em><strong>(QS an-Nuur [24]: 30-31)</strong></p>
<p>Sejak saat itu kaum muslimin diperintahkan untuk saling menjaga pandangan yang dapat memunculkan syahwat mereka.</p>
<p>Ketika Rasulullah saw. tengah membonceng al-Fadhl bin Abbas ra. pada saat pelaksanaan qurban dari Mudzalifah hingga ke Mina, mereka berpapasan dengan serombongan wanita yang mengendarai unta. Al-Fadhl melihat mereka dan terus menatapnya lekat-lekat. Rasulullah saw yang mengetahui hal itu lalu membalikkan kepalanya ke arah yang lain.</p>
<p>Sementara itu kepada Ali bin Abi Thalib ra. beliau juga bersabda: <em>&#8220;Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan dengan pandangan lagi, karena yang pertama menjadi bagianmu dan yang berikutnya bukan lagi untukmu (menjadi dosa)&#8221;</em><strong>(HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud)</strong></p>
<p>Nah, semoga sedikit kutipan ini bisa menyegarkan kembali ingatan kamu tentang ajaran Islam. Ajaran Islam ini menyelamatkan lho. Maka, pada momen VD ini, waspadalah terhadap segala rayuan dan godaan yang bisa mengajak kepada maksiat. Berbahaya, gan!</p>
<p><strong>Ikut pesta Valentine? No!</strong></p>
<p>Bro en Sis, meski pada tanggal 14 Februari seluruh dunia pesta cinta, tapi bukan berarti pesta itu layak juga kamu lakuin. Bener lho. Karena yang jelas, pesta ini nggak ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam, bahkan ada juga kalangan Kristen yang nggak suka dengan pesta ini.</p>
<p>Mau tahu pendapat mereka? Menurut mereka, VD nggak ada hubungannya dengan keimanan kaum Kristen. Menurut Ken Sweiger yang menulis artikel <em>“Should Biblical Christians Observe It?”</em> <em>(www.korrnet.org)</em> kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jadi, sama sekali nggak ada hubungan dengan agama Kristen. Walaupun ada juga yang menyebutkan bahwa ketika agama Kristen masuk ke Romawi, khususnya untuk menarik perhatian para pemuda Romawi agar memeluk agama Kristen, tapi mereka masih suka dengan tradisi mereka, maka dibuatlah pesta Valentine agar tradisi kaum pagannya nggak ilang.</p>
<p>Boys and gals, Islam juga nggak mengajarkan masalah ini. Coba deh kamu buka al-Quran en kitab-kitab hadis, dan juga fikih. Nggak ada an-juran untuk ngerayain V Day. Sebaliknya, malah dilarang abis. Misalnya dalam firman Allah Swt.: <em>“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”</em> <strong>(QS al-An’am [6]: 116)</strong></p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: <em>“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istia-datnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.” </em><strong>(HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)</strong></p>
<p>Jadi, kalo sampe ada remaja muslim dan muslimah yang ikutan latah ngasih kado berupa permen, coklat, atau ngirim e-mail bergambar Cupid en hati, kirim SMS, EMS, MMS, cuap-cuap di status en note facebook, bikin tweet di twitter dan lainnya yang bernuansa VD kepada seseorang yang kamu sukai, apalagi terus ngerayain pesta VD, aduh, mohon untuk segera minta ampunan sama Allah deh. Istighfar yang banyak yee&#8230; (maaf lho, bukan nyuruh-nyuruh, tapi sekadar ngingetin aja)</p>
<p>Bro, Islam adalah agama yang khas peribadatannya, termasuk dalam soal hari raya. Rasulullah saw. udah mengingatkan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kita hari raya yang terbaik dari yang pernah ada. Sabdanya: <em>“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik; hari fitri dan hari adha.”</em><strong>(HR Abu Dawud)</strong></p>
<p>Allah telah melarang kaum muslimin terlibat dalam hari raya orang-orang kafir. FirmanNya (yang artinya): <em>“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan (az-zûr)…” </em><strong>(QS al-Furqan [25]: 72)</strong></p>
<p>Terdapat kesalahan dalam sejumlah penerjemahan ayat tersebut di dalam terjemahan al-Quran bahasa Indonesia. Ayat tadi sering diterjemahkan “dan orang-orang yang tidak bersaksi palsu”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan beragam seperti kebohongan, kebatilan dan perbuatan syirik. Ibnu Abbas ra. menjelaskan ayat itu sebagaimana tercantum di atas, yakni hari raya orang musyrik. Sayyidina Umar bin Khaththab memerintahkan kaum muslimin untuk menjauhkan diri dari hari raya orang-orang kafir. Sebab, pada saat itulah azab Allah Swt. akan hadir.</p>
<p><em>So</em>, walhasil nggak ada istimewanya VD bagi kaum muslimin yang tetap berpegang teguh pada ajaran Islam. Oya, sebenarnya bukan hanya tak istimewa, tapi VD adalah budaya jahiliyah bin kufur. Maka, jauhilah. Setuju kan? <strong>[solihin: </strong><strong>osolihin@gaulislam.com</strong><strong> | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/valentines-day-tak-istimewa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Kenal Maka Tak Benci</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tak-kenal-maka-tak-benci</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tak-kenal-maka-tak-benci#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 05:14:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 119/tahun ke-3 (17 Safar 1431 H/1 Februari 2010) Pepatah yang sering kita dengar adalah: “tak kenal maka tak sayang”. Ya, kalo kita nggak kenal sama seseorang, kita nggak akan sayang. Begitupun kalo kita nggak kenal sama Islam, maka kita nggak akan bisa sayang sama Islam. Apalagi sampe menjadi pembela dan pejuangnya. Iya nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 119/tahun ke-3 (17 Safar 1431 H/1 Februari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pepatah yang sering kita dengar adalah: “tak kenal maka tak sayang”. Ya, kalo kita nggak kenal sama seseorang, kita nggak akan sayang. Begitupun kalo kita nggak kenal sama Islam, maka kita nggak akan bisa sayang sama Islam. Apalagi sampe menjadi pembela dan pejuangnya. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, selain pepatah yang udah bertahun-tahun kita hapal itu, kita juga perlu membudidayakan (idih, emangnya lele dumbo?), maksudnya mensosialisasikan pepatah: “tak kenal maka tak benci”. Sebenarnya nggak ada yang aneh dengan istilah ini. Sebab hanya lawan kata saja dari pepatah pertama. Ya, ini juga kudu kita pahami. Bahwa kita nggak bakalan benci sama seseorang kalo kita nggak kenal siapa dirinya. Kita nggak bakalan benci sama ide-ide yang bertentangan dengan Islam, kalo kita nggak mengenalnya. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Coba, kamu pasti nggak bakalan ngerasa benci setengah idup sama Si Babeh sang penjagal itu. Sebelumnya apa pernah kamu tahu siapa doi? Nggak juga kan? Baru deh setelah media massa ramai menjadikan doi sebagai berita kita jadi tahu kesadisan doi. Kita benci banget karena doi tega-teganya membunuhi anak-anak jalanan dan bahkan mensodominya. Bejat bener tuh orang! (hehe..ini salah satu rangkaian kalimat yang spontan keluar dari mulut kita atau nengalir deras dalam tulisan kita). Kenapa bisa benci? Karena udah mengenalnya, atau minimal mengetahui perilakunya yang bejat itu. Iya kan?<span id="more-3309"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, ini artinya bahwa kita seharusnya mampu mengetahui dan mengenali segala sesuatu. Supaya kalo kita tahu dan kenal, maka kita akan bisa memutuskan pendapat kita. Bisa menilai dan memberikan kesimpulan. Bisa sayang, bisa benci. Bisa bahagia, bisa kecewa. Mungkin saja bersenang-senang, bisa juga bermuram-durja. Semua itu, setelah kita mengetahui dan mengenalnya. Itu sebabnya, kita harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Siapa yang perlu didukung dan siapa pula yang wajib dilawan. Cara pandang kita yang akan menentukan sikap dan perilaku kita. Dan, sebagai muslim kita harus menjadikan Islam sebagai tolok ukur dalam berbuat dan berpendapat. Setuju kan? Kudu!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kapitalisme-Sekularisme? Benci banget!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara singkat saya coba jelasin buat kamu nih. Biar kamu kenal dengan sistem kufur ini. Yup, kapitalisme adalah ideologi dan sistem yang lahir dari doktrin sekular yang diadopsi Eropa setelah runtuhnya kekuasaan gereja dalam arena politik. Kamu kayaknya pernah dengar deh semboyan pas revolusi Perancis: “Gantung kaisar terakhir, dengan usus pendeta terakhir”. Nah, itu sebagai protes dari rakyat Perancis waktu itu untuk mengakhiri kekuasaan gereja terhadap urusan pemerintahan. Jadi, nih Kapitalisme tuh ‘akidahnya’ adalah sekularisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Soalnya dulu kekuasaan gereja ikut andil banget dalam menentukan kehidupan bernegara. Menurut Victor Hugo (dalam <em>History of Free Thought</em>, hlm. 147, dalam kutipan di buku <em>PeradabanBarat dalam Kacamata Islam</em>, www.irib.ir), sejarah gereja yang sebenarnya bukan saja dapat dibaca lewat halaman-halaman buku, tetapi juga di celah-celah baris catatan resmi. Gereja telah menyebabkan Parnili dihukum cambuk sehingga hampir saja menemui ajalnya. Hal itu terjadi lantaran ia menyatakan bahwa bintang tidak jatuh dari jalan yang telah ditentukan. Pihak gereja melemparkan Campland ke dalam penjara sebanyak 27 kali karena dia mengklaim adanya kehidupan selain di bumi. Gereja menyiksa Harvey karena membuktikan bahwa darah beredar lewat urat dan saluran darah di dalam badan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, Hugo menambahkan bahwa gereja juga memenjarakan Galileo karena dia menyatakan bahwa bumi mengitari matahari, sebuah pernyataan ilmiah yang kontradiktif dengan teori yang terdapat dalam perjanjian lama dan baru. Gereja memenjarakan Christopher Columbus yang menemukan benua tanpa memberitahu Saint Paul. Gereja memvonis setiap penemuan hukum alam, evolusi dunia, ataupun benua yang sebelumnya tidak diramalkan oleh kitab suci, sebagai sebuah pelanggaran moral. Gereja menyingkirkan Pascal dan Montey karena dianggap tidak bermoral, dan Muller dengan tuduhan pencabulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Karuan aja, sikap model gini bikin panas masyarakat, khususnya para ilmuwan dan cendekiawan saat itu. Mereka menganggap bahwa kalangan gereja terlalu ngatur dan ngekang akal mereka. Setelah banyak protes di sana-sini dari rakyat, akhirnya dicari jalan tengah, yakni urusan pemerintahan diserahkan kepada kalangan negarawan, dan urusan agama diberi wewenang kepada pihak gerejawan untuk mengaturnya. Begitu cerita singkatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, konsep sekularisme ini berkembang, apalagi setelah diadopsinya HAM alias Hak Asasi Manusia. Nah, salah satu konsep fundamental  yang lahir dari sekularisme adalah adanya keharusan negara atau kelompok atau individu untuk melindungi hak manusia dalam kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan individu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari prinsip kebebasan kepemilikan muncul sistem ekonomi kapitalis. Demokrasi, atau konsep ‘kedaulatan rakyat’, adalah sistem politik yang juga lahir dari keyakinan sekular, tapi sebagai sistem politik demokrasi kurang menonjol dibandingkan sistem ekonomi kapitalis. Meskipun secara teoretis demokrasi memberikan kekuasaan legislasi kepada rakyat, tapi pada kenyataannya mereka yang memiliki kekayaan ekonomi adalah pihak yang secara riil memiliki kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, sistem ekonomi kapitalis boleh dikata bisa mengendalikan dan mengambil peran dalam pemerintah, dan pembuatan kebijakan di Barat hampir sepenuhnya didorong oleh faktor-faktor ekonomi. Dari pemikiran ekonomi kapitalis lahir konsep <em>benefit</em> dan<em> interest</em>, dan keharusan untuk memaksimalkan benefit dan interest individu dan masyarakat. Konsep ini menjadi <em>driving</em> <em>force</em> sistem politik dan kebijakan luar negeri negara-negara Barat. Terus nih, para kapitalis, yaitu mereka yang menguasai kapital dan kekayaan, adalah penguasa yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya aja nih, kalo ada pilkada alias pemilihan kepala daerah (termasuk pilpres tentunya), tuh yang berperan bukan cuma calon bupati atau gubernurnya aja. Tapi juga ada tim sukses. Nah, tim sukses inilah yang akan bekerja nyari dukungan, termasuk pencarian dana. Dananya dari siapa? Ya, dari para konglomerat yang punya modal. Ikhlas? Hmm.. dukungan tuh nggak ada yang gratis, man! Kalo nanti ‘jagonya’ kepilih jadi bupati atawa gubernur (atau yang lebih keren lagi, presiden), maka proyek-proyek di daerah itu, atau dalam skala nasional kalo yang dukung adalah presiden, bakalan jatuh ke tangan penyandang dana tersebut. Di Amerika juga sama. Bahkan ada konglomerat asal Indonesia yang punya bank di sini, ikut patungan untuk pemilihan presiden Bill Clinton beberapa tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, perlu diketahui bahwa demokrasi bukanlah monopoli sekularisme. Komunisme juga mengklaim dirinya demokratis dan mengklaim bahwa pemerintahan berasal dari rakyat.  Oleh karena itulah, ideologi ini lebih tepat disebut Kapitalisme, dengan sekularisme sebagai landasannya alias akidahnya. (Diadapatasi dari M. Ramdhan Adi, <em>Globalisasi</em>; <em>Skenario Mutakhir Kapitalisme</em>, al-Azhar Press, 2005)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Komunisme-Sosialisme? Halah, benci juga!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Walah, jadi nostalgia deh kalo ngomongin sosialisme dan komunisme. Soalnya apa? Soalnya secara institusi nih ideologi udah “wasalam”. Udah nggak diemban lagi oleh negara besar sekelas Uni Soviet atau USSR (Union of Soviet Socialist Republics) yang udah bubar pada tahun 1991. Banyak yang seneng dengan bubarnya Uni Soviet, terutama negara-negara pengemban kapitalisme. Oya, grup rock sekelas Scorpion juga ikutan bikin satu lagu manis berjudul <em>Wind of Change</em> sebagai bentuk ‘syukuran’ berakhirnya era sosialisme-komunisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, sosialisme-komunisme praktis berakhir. Secara individu atau kelompok masih ada yang memperjuangkan. Negara kecil juga masih ada sih yang menerapkan, Vietnam salah satu contohnya. Nama resmi negaranya adalah <em>Socialist Republic of Vietnam</em>. Selain Vietnam, Korea Utara dan Cina adalah dua kekuatan negara Sosialisme yang masih dianggap sebagai ancaman bagi Amerika, meski Uni Soviet udah hancur.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, pada dasarnya sosialisme tuh muncul sebagai tandingan kapitalisme, lho. Sosialisme sebagai bentuk perlawanan kepada kapitalisme yang udah bikin sengsara kaum buruh di Eropa pada abad 19.</p>
<p style="text-align: justify;">Emang sih, pada satu sisi industrialisasi&#8211;dengan kapitalisasinya&#8211;telah mendorong dengan pesat laju produksi barang dan jasa. Akan tetapi industrialisasi juga bertanggung jawab terhadap kesenjangan dan krisis sosial yang merugikan kaum buruh. Upah kerja rendah, jam kerja panjang, eksploitasi tenaga anak dan wanita, serta pabrik yang kurang&#8211;bahkan tidak&#8211;memperhatikan keamanan kerja dan kesejahteraan kaum buruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Muncul kemudian Robert Owen<strong> </strong>(1771-1858) di Inggris, Saint Simon (1760-1825), dan Fourier (1772-1837) di Perancis berusaha memperbaiki kondisi buruk ini. Didorong rasa kemanusiaannya mereka memformulasikan teori-teori tentang sosialisme. Namun usaha mereka tidak dibarengi dengan tindakan nyata, maupun konsepsi nyata mengenai tujuan dan strategi dari perbaikan itu. Sehingga teori-teori mereka dianggap sebagai khayalan semata. Terutama oleh Marx dan Engels.  Muncul kemudian istilah Sosialisme Utopis.</p>
<p style="text-align: justify;">Karl Marx (1818-1883) dari Jerman, tampil ke depan.  Ia juga mengecam keadaan ekonomi dan sosial yang bobrok akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalistik. Untuk mengubah kondisi bobrok masyarakat tersebut, Karl Mark berpendapat bahwa masyarakat harus diubah dengan perubahan radikal (revolusioner) bukan dengan perubahan tambal sulam. (baca Robert A. Isaak, <em>International Political Economy (terj. Ekonomi Politik Internasional; pentj</em>. Muhadi Sugiono; ed.I, <em> </em>Juli 1995, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta)<em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Terus Marx menyusun teori-teori sosial bertumpu pada hukum-hukum ilmiah. Ia menamakan teori sosialnya dengan nama Sosialisme Ilmiah (Scientific Socialism), untuk membedakan pahamnya dengan Sosialisme Utopis. Dalam menyusun teori-teori sosialnya Marx banyak dipengaruhi oleh filsuf Jerman Hegel (1770-1831, terutama filsafat Hegel tentang dialektika. Kemudian ia dan Engels menerbitkan berbagai macam karangan, salah satunya yang paling masyhur adalah Manifesto Komunis dan Das Kapital.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, sosialisme-komunisme nggak bertahan lama lho. Cuma 70-an tahun diterapkan sebagai ideologi negara oleh Uni Soviet. Karl Marx sebagai konseptornya. Sementara Stalin, Lenin dan pemimpin berikutnya sampe bubar di tahun 1991 adalah sebagai pelaksana aturan hukumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan kehidupan Kapitalisme yang individualistis, Sosialisme memiliki prinsip kesetaraan. Dalam Kapitalisme, kalo pun berkelompok atau berserikat, tapi kepentingan pribadi lebih menonjol. Sementara dalam sosialisme nggk boleh ada ambisi pribadi untuk memiliki apa pun. Semuanya harus sama. Karena kepentingan pribadi bisa ngerusak kesatuan. Konsepnya sih gitu deh. Tapi kenyataannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, tapi kenyataannya nih, pemikiran itu cuma teori doang. Prakteknya nol besar. Buktinya, para petinggi partai komunis berebut harta dan kekuasaan. Bukan hanya itu, pejabatnya juga sering mengeksploitasi rakyat dan mengatasnamakan rakyat untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Itu sebabnya, jangan heran kalo muncul lelucon-lelucon satire (sindiran) oleh banyak rakyat Soviet. Kalo nggak percaya silakan baca buku <em>Mati Ketawa Cara Rusia</em>. Dijamin ngakak sendiri, tapi sekaligus bikin kita mikir. Ya, karena sosialisme-komunisme juga nggak ada bedanya ama kapitalisme kalo dilihat dari merusaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, kayaknya kamu perlu tahu deh bahwa ‘akidahnya’ Sosialisme adalah materialisme. Prinsip materialisme menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Nggak ada Tuhan, nggak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Jadi, materilah asal-usul segala sesuatu. Materi juga merupakan dasar eksistensi segala macam pikiran. Dari ide materialisme inilah dibangun dua ide pokok dalam Sosialisme yang mendasari seluruh bangunan ideologi Sosialisme, yakni <em>Dialektika Materialisme</em> dan <em>Historis Materialisme</em>. (Ghanim Abduh, <em>Kritik Terhadap Sosialisme-Marxisme</em>, Pustaka Al-Izzah, 2003)</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, atas dasar ide materialisme ini, dengan sendirinya agama nggak punya tempat dalam Sosialisme-Komunisme. Sebab agama berpangkal pada pengakuan atas eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh ide materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya nih, menurut Sosialisme hubungan negara-agama dapat diistilahkan sebagai hubungan yang negatif. Dalam arti Sosialisme telah menafikan alias secara mutlak eksistensi dan pengaruh agama dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Agama merupakan candu masyarakat yang harus dibuang dan dienyahkan. Begitu deh singkatnya. Oke? Kalo pengen lengkap sekarang udah banyak buku-buku yang bahas tentang sosialisme, baik pandangan pemikir Kapitalisme, Islam, maupun dari praktisi Sosialisme-Komunisme sendiri. Biar mantep, gitu lho.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Islam adalah ideologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, jelas banget kalo Islam tuh adalah ideologi. Itu sebabnya, jangan lagi kita menganggap bahwa Islam cuma ngurus soal akhirat aja. Islam lihai juga lho ngurus dunia. Tapi dengan catatan, yakni kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memahami Islam sebagai ideologi. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">Sekadar menekankan aja nih, bahwa nggak ada keraguan kalo akidah Islam tuh menjelaskan bahwa sebelum ada kehidupan dunia ini ada Allah Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan; bahwa Allah Pencipta manusia telah menurunkan aturan-aturanNya ke dunia ini untuk mengatur kehidupan manusia; dan bahwa manusia akan menuju alam akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga atau neraka—begantung pada terikat-tidaknya dirinya dengan aturan-aturanNya. Itulah realitas akidah Islam yang harus diyakini oleh setiap Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, agama Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menaati Allah Swt. di rumah, di pasar, di mal, di kendaraan, di kantor, di sekolah, di masjid, di ruang pertemuan, di mess, di hotel, dan di setiap tempat. Demikian juga ketika makan, minum, berpakaian, berakhlak, beribadah, dan berbagai muamalah. Semuanya kudu ngikutin aturan Allah Swt. dan RasulNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: <em>“Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.” </em>(Dalam kitabnya, <em>al-Iqtishad fil I’tiqad</em> hlm. 199)</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, mulai sekarang, tanamkan pemahaman tentang Islam sebagai ideologi agar lebih mantep mengenal dan meyakini Islam. Supaya makin sayang sama Islam. Sebaliknya, kenali lebih dalam kapitalisme, sosialisme, komunisme, sekularisme, liberalisme, dan keyakinan serta semua ideologi rusak lainnya agar kita makin benci dan mencampakkan aturan-aturan kufur tersebut. Hanya Islam yang wajib tegak di muka bumi ini, bukan yang lain. Setuju kan? <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tak-kenal-maka-tak-benci/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biar Miskin Asal Nyenengin</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/biar-miskin-asal-nyenengin</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/biar-miskin-asal-nyenengin#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 19:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3297</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 118/tahun ke-3 (10 Safar 1431 H/25 Januari 2010) Arrrrrggggggh! Saya geram bukan kepalang tiap kali menyaksikan dengan mata-kepala sendiri potret memilukan di tiap sudut tempat yang saya lewati dengan ‘bebek’ saya. Pemandangan asli dari kondisi kehidupan mayoritas penduduk negeri ini yang jarang dijadikan setting cerita sinetron apa pun. Kontras banget dengan setting cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 118/tahun ke-3 (10 Safar 1431 H/25 Januari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Arrrrrggggggh! Saya geram bukan kepalang tiap kali menyaksikan dengan mata-kepala sendiri potret memilukan di tiap sudut tempat yang saya lewati dengan ‘bebek’ saya. Pemandangan asli dari kondisi kehidupan mayoritas penduduk negeri ini yang jarang dijadikan <em>setting </em>cerita sinetron apa pun. Kontras banget dengan <em>setting</em> cerita di hampir semua sinetron atau film yang menyuguhkan kemewahan.</p>
<p>Coba telusuri tiap jalan di seantero kota kamu, Bro. Itu yang namanya gelandangan dan pengemis (gepeng) makin bejibun. Mereka duduk memelas menengadahkan tangan, mengelilingi mobil dan motor yang lagi antri lampu merah, bahkan berkeliling menyambangi tiap komplek perumahan, lengkap dengan ‘atribut’ compang-campingnya. Ngapain? Ya ngemis lah. Pernah ada guyonan, pas seorang ibu yang biasa ngemis di lampu merah tertangkap petugas tramtib, si ibu bilang: “ampun pak, saya memang ngemis di sini, tapi anak saya yang satu di UI, satu lagi di Trisakti.” “Kuliah?”, tanya petugas. “Bukan…., ngemis juga Pak!” Pletak! (nggak usah ketawa terus, karena ini guyonan yang bikin miris)<span id="more-3297"></span></p>
<p>Buat mereka yang nggak punya rumah alias tunawisma, mereka kudu rela bergeletakkan tidur di emper-emper toko tiap malam. Diwarnai juga dengan kisah-kisah getir para tukang, yang menjajakan barang dagangannya dengan harap-harap cemas sampai terkantuk-kantuk, yang menunggu para konsumen menggunakan jasanya, baik tenaga maupun keahlian. Sebagian dari mereka adalah orang tua di atas kepala lima atau enam yang seharusnya sudah mengenyam masa istirahat di rumah dengan fasilitas lengkap yang disediakan anak-cucu mereka. Tapi keadaan memaksa mereka untuk terus <em>survive </em>dengan cara masing-masing.</p>
<p>Tiap menyaksikan itu semua dada saya serasa sesak, pun nafas terasa tercekat, menahan pilu. Sering ada yang bilang: Ini hidup, Bung! Memang begini adanya. <em>Whats?</em> Betul ini hidup, tapi kehidupan yang sudah mulai bergeser menjadi rimba belantara akibat keserakahan sebagian besar manusianya. Catet!</p>
<p>Bro en Sis, menyelami masalah kemiskinan itu ibarat dihadapkan pada tugas menguraikan benang kusut. Kudu hati-hati dan bijaksana. Masalahnya, ada yang miskin itu karena memang alamiah, ada juga yang karena pengen dikasihani. Buat kasus yang kedua emang nyata terjadi di sekitar kita. Cuma karena pengen dapet jatah raskin alias beras buat orang miskin sama minyak tanah bersubsidi, warga kampung berebut daftar jadi orang miskin. Di tiap jendela rumah mereka ditempelin stiker “Keluarga Miskin (Gakin)”.</p>
<p>Jadi serba salah kadang memandangnya. Di satu sisi kita ngerasa apa yang mereka lakukan nggak seharusnya begitu, sampai banting harga diri. Tapi di sisi satunya lagi, kita nyadar emang ini seharusnya hak mereka sebagai warga negara yang dijamin seluruh kebutuhannya oleh pemerintah. Cuma pemerintahnya aja yang nggak nyadar. Iya kan?</p>
<p><strong>Susahnya jadi orang miskin</strong></p>
<p>Pernah baca sebuah penelitian nih, jumlah orang miskin di negeri kaya SDA Indonesia itu mencapai setengah lebih dari total penduduknya yang berjumlah 220 juta jiwa. Cuma, lagi-lagi, realitas pada tataran praktis di lapangan, semua fasilitas kehidupan yang disediakan pemerintah kok banyak yang nggak berpihak kepada golongan ini ya. Coba aja dipikirin. Meski kebijakan mendiknas melalui pimpinan daerah masing-masing menegaskan untuk membebaskan seluruh biaya pendidikan di sekolah negeri (baru SD-SMP), tapi tetep aja masih banyak ditemukan praktik-praktik pemungutan biaya seputar LKS, renang, ekstrakurikuler, bla bla bla.</p>
<p>Kasian kan buat orang tua yang penghasilannya kecil atau pas-pasan. Baru aja bisa bernapas lega ngedenger biaya sekolah digratiskan, eh dibikin megap-megap lagi dengan urusan tetek-bengek yang disebutin tadi. Apalagi yang nyekolahin anaknya di sekolah swasta. Buat yang nggak tahan dengan tekanan seperti ini, mau nggak mau anaknya dipaksa putus sekolah dan akhirnya berkeliaran di jalan sambil menenteng okulele: “permisi pak numpang ngamen.”</p>
<p>Belum lagi buat yang sakit. Udah jadi rahasia umum kalo berkaitan sama biaya pengobatan di RS, nggak ada pembedaan buat pasien. Bisa dihitung dengan jari rumah sakit yang melayani sesuai kondisi pasien. Rata-rata sih nggak ada keringanan biaya buat yang miskin. Pokoknya tetep kudu bayar mahal. Meskipun udah ditunjukkin kartu askeskin ke bagian administrasinya.</p>
<p>Ada juga kondisi yang lebih parah. Pasien jenis ini biasanya dinomorduakan alias didaftar-tunggukan setelah selesai melayani pasien yang siap bayar mahal. Sampai akhirnya banyak yang keburu meninggal sebelum sempat mendapat pengobatan apalagi perawatan. Masya Allah! Begitulah susahnya hidup di negeri ini. Mungkin ini semua memang harus terjadi sebagaimana yang diamanatkan UUD’45 Pasal 34 yang bunyinya: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Hiks, hiks, jadi sedih, masa’ orang miskin disamain kayak ayam, dipelihara. (jangan-jangan dipelihari untuk tetap ada? Semoga bukan ya!)</p>
<p>Sementara nun di Senayan sana, para wakil dari rakyat miskin yang hidupnya nggak kayak rakyatnya, hidupnya wah bermandikan harta dan kesenangan. Gajinya, fasilitasnya, yang selama ini udah dinikmatin, masih kurang juga ternyata buat mereka. Sekarang mereka minta renovasi rumah dinas, ngabisin duit negara yang nyata-nyata punya rakyat sampai milyaran rupiah. Para menteri juga nggak mau ketinggalan, mereka dikasih mobil dinas yang mewah. Istighfar lagi, yuk! <em>Astaghfirullah al-‘Azhim…</em></p>
<p><strong>Kok bisa miskin?</strong></p>
<p>Sobat muda, kamu mungkin bertanya, faktor apa aja seh yang bikin seseorang jadi miskin secara harta? Jawabannya (ngikutin Fitri Tropika di Missing Lyrics, hehe) ada beberapa sebab. Kalo kata saya seenggaknya ada tiga faktor. Pertama, faktor manusianya sendiri yang males-malesan; atau sering maksiat, jarang ibadah, nggak bersyukur, dan nggak rajin berdoa. Pantes aja rezekinya seret, kita sendiri yang bikin.</p>
<p>Selain itu, kemiskinan bisa diakibatkan oleh sistem kehidupan yang diterapkan bukan sistem Islam. Padahal Allah Swt. udah memperingatkan kita (yang artinya): <em>“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”</em> <strong>(QS Thaahaa [20]: 124)</strong></p>
<p>Jelas banget kan ayat ini. Kalo hidup kita jauh dari Allah Swr., pasti hidup kita susah. Apalagi lanjutan ayatnya, wuih serem. Makanya jangan berani-berani ngelanggar perintah Allah Swt. Kalo kemudian kamu temukan sosok manusia yang senantiasa maksiat, berbuat kejahatan—atau malah nggak beriman—tapi hidupnya bergelimang harta dan kemewahan, menurut para ulama itu cuma sebatas <em>istidraj. </em>Oya, istidraj adalah mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa, tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat dan dilupakan untuk minta ampunan, kemudian dibinasakan.</p>
<p>Tentang istidraj ini dijelaskan dalam firmanNya (yang artinya): <em>“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam, berputus asa.”</em> <strong>(QS al-An’aam [6]: 44)</strong></p>
<p>Rasullulah saw. bersabda: <em>“Apabila kamu melihat bahwa Allah Swt. memberikan nikmat kepada hambaNya yang selalu berbuat maksiat, ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah Swt.”</em> <strong>(HR at-Tabrani, Ahmad dan al-Baihaqi)</strong></p>
<p>Bro en Sis, faktor lainnya yang memunculkan kemiskinan adalah faktor bumi. Maksudnya kemiskinan yang dialami adalah akibat terjadinya fenomena alam di bumi. Bisa karena gempa, banjir, longsor, dan sebagainya, yang berpengaruh pada produksi alam dalam penyediaan makanan dan minuman bagi manusia. Sering kan kita dengar gagal panen padi di suatu daerah karena angin puting beliung yang menyebabkan warga di sekitarnya menderita kelaparan. Tapi kalo mau ditelusuri, semua bencana alam itu juga disebabkan sama tangan-tangan manusia yang nggak bertanggungjawab sehingga terjadilah kerusakan hingga menimbulkan kemiskinan. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”</em><strong> (QS ar-Ruum [30]: 41)</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni dalam kitab Shafwatu at-Tafasir, menafsirkan kalimat <em>bimaa kasabat aydinnaas </em>(disebabkan perbuatan tangan manusia) dalam ayat tersebut dengan <em>bi sababi ma’ashi an-naas wa dzunubihim </em>(disebabkan kemaksiatan dan dosa yang dilakukan oleh manusia). Maksudnya, tiap kali manusia melakukan maksiat dan dosa kepada Allah Swt., maka akan terjadi kerusakan di bumi. Salah satu kemaksiatan bahkan telah menjadi kemungkaran saat ini adalah nggak diterapkannya hukum-hukum Allah Swt., yakni syariat Islam. Itu sebabnya, kita butuh Khilafah yang bakal nerapin semua itu. Allahu Akbar!</p>
<p>Nah, faktor yang ketiga dari masalah kemiskinan ini adalah faktor kekuasaan Allah Swt. Kemiskinan seseorang memang bisa jadi sudah Allah tetapkan dalam waktu tertentu atau seumur hidupnya sebagai takdir. Kita nggak bisa menilai hal ini cuma dari logika manusia yang pasti nyimpulin kalo Allah nggak adil. Karena Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“&#8230; Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” </em><strong>(QS al-Baqarah [2]: 216)</strong></p>
<p>Pasti ada hikmah di balik kemiskinan yang Allah tetapkan itu. Orang yang beriman adalah orang yang menerima ujian dari Rabb-nya dengan penuh kesabaran. Dengan kesabaran yang diperbuatnya itulah kelak Allah akan menggantinya dengan surga. Tapi bukan berarti pasrah begitu aja dengan keadaan. Kudu tetep berusaha semaksimal mungkin, sembari dirangkai dengan aneka ibadah dan munajat kepada Allah Swt.</p>
<p><strong>Renungan</strong></p>
<p>Bro en Sis, kalau mau ditelusuri sejarah kehidupan Rasul saw. beserta para sahabat, ternyata kita bakal nemuin juga kesusahan hidup mereka. Diriwayatkan dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad, bahwa Rasul saw. ada kalanya beberapa malam bersama keluarganya kelaparan, nggak punya makanan buat disantap. Dalam kisah lain, beliau sering berpuasa atau mengganjal perutnya dengan batu kalo pas kebetulan nggak ada makanan di rumahnya. ‘Aisyah ra pernah bertutur bahwa: <em>“Tidak pernah keluarga Muhammad saw. merasa kenyang makan roti tepung sya’ir dua hari berturut-turut, sampai masa beliau meninggal tiba.” </em><strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Atau kisah yang diceritakan dalam hadis riwayat Bukhari bahwa Abu Hurairah ra sering pingsan di lokasi antara mimbar dan rumah ‘Aisyah sampai disangka gila. Padahal pingsannya itu hanya karena kelaparan. Kenapa Rasul kok seolah menerima keadaan itu? Kenapa nggak berdoa aja minta segala kebutuhan kepada Allah, bukankah doa Rasul mustajab? Semua ini beliau terima sebagai ujian yang harus dijalani dengan kesabaran.</p>
<p>Saat kita dilanda kekurangan materi alias finansial, inget juga firman Allah (yang artinya):  <em>“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Serta berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”</em> <strong>(QS Al-Baqarah [2]: 155)</strong></p>
<p>Ada keutamaan untuk orang-orang miskin yang tetap sabar, beribadah, dan berikhtiar sampai akhir hayatnya. Dalam sebuah hadis Rasul saw. bersabda: <em>“Hai orang-orang fakir, sukakah aku beritakan padamu kabar gembira? Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum mukmin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya kira-kira setengah hari, yaitu lima ratus tahun.” </em><strong>(HR Ibn Majah)</strong></p>
<p>Dalam hadis lain, <em>”Aku melihat ke surga, kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku melihat ke neraka, maka kebanyakan penghuninya adalah wanita.” </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Sobat muda, semoga kita semua meski dalam kondisi ekonomi yang carut-marut begini tetap istiqomah beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. semata. Karena pada dasarnya, walaupun secara materi (harta), misalnya, kita serba kekurangan, pada hakikatnya kita tetap kaya akan fisik yang sehat dan kuat; tetap kaya akan ilmu; tetap kaya akan iman; tetap kaya akan amal shalih, dan tentunya tetap kaya akan kemuliaan karena kita muslim.</p>
<p>Yang harus kita lakukan sekarang adalah tetap bersyukur kepada Allah Swt. Salah satu wujud syukur adalah beribadah secara totalitas. Jangan dilupakan juga buat senantiasa qana’ah (menerima pemberian dari Allah Swt.). Karena kata Rasul saw.: <em>”Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rizkinya cukup, serta merasa cukup dengan apa-apa pemberian Allah kepadanya.” </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Jangan berhenti berusaha dan berdoa. Karena tugas manusia hanya berusaha dan berdoa, Allah yang menentukan. Makna kebahagiaan yang sejati bukan sebanyak apa harta atau kekayaan kita. Tapi seluas apa hati kita dalam menerima setiap rizki dan mempergunakannya dalam ibadah. Lagi-lagi Rasulullah saw. mengingatkan, <em>”Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda. Tapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” </em><strong>(HR Muttafaq ’Alaih)</strong></p>
<p>Semoga kita bisa semakin mensyukuri segala nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepada kita. Allah Swt. Berfirman (yang artinya):<em>“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” </em><strong>(QS al-A’raaf [7]: 96) </strong></p>
<p>Yuk, tetap jaga diri dan jaga iman, biar miskin asal nyenengin Allah Swt. karena tetap beriman dan bersabar serta berusaha menjadi lebih baik disertai doa yang sungguh-sungguh. <em>Wallahu a’lamu bi ash-shawaab. </em>Salam <em>Mumtaz</em>! <strong>[anto apriyanto, <em>the spirit of soul</em></strong><strong> </strong><strong>I </strong><strong>segi3_lc@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/biar-miskin-asal-nyenengin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjemput Hidayah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 20:05:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3294</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 117/tahun ke-3 (3 Safar 1431 H/18 Januari 2010) Horee bertemu lagi dengan kamu semua. Alhamdulillah kita tetap bersama meski hanya dijembatani buletin kesayangan kamu ini. Kalo pekan kemarin gaulislam bahas tentang tobat, maka sekarang semacam lanjutannya: menjemput hidayah. Ya, mudah-mudahan bisa melengkapi pemahaman kamu sebelumnya dan kamu semua jadi tambah wawasan tentang Islam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 117/tahun ke-3 (3 Safar 1431 H/18 Januari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Horee bertemu lagi dengan kamu semua. Alhamdulillah kita tetap bersama meski hanya dijembatani buletin kesayangan kamu ini. Kalo pekan kemarin gaulislam bahas tentang tobat, maka sekarang semacam lanjutannya: menjemput hidayah. Ya, mudah-mudahan bisa melengkapi pemahaman kamu sebelumnya dan kamu semua jadi tambah wawasan tentang Islam. Sip deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, ada satu pepatah menarik yang pernah saya dapatkan ketika mengisi salah satu acara bedah buku saya. Pengisi acara yang lain menyampaikan sebuah kata-kata mutiara: “Orang yang terbiasa berada dalam kegelapan, cahaya terang sangat menyilaukan”. Saya catat dalam ingatan saya. Saya tulis agar tak lupa. Pesan ini sangat bermakna bagi saya. Betapa dulu yang pernah saya rasakan, memang berat meninggalkan kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan. Anggapan yang sudah bercokol di benak harus dipaksa berubah bukanlah hal yang mudah. Saya berempati dengan teman-teman yang masih belum mau meninggalkan kebiasaan yang buruk untuk berganti dengan kebiasaan yang baik. Memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa diubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, sebenarnya “kebiasaan” itu netral lho. Karakter “kebiasaan” itu sulit dimulai, dan sulit juga dihentikan. Beruntung bagi yang sudah melakukan “kebiasaan” baik, akan sulit baginya dipaksa untuk melakukan “kebiasaan” buruk. Tapi perlu kesadaran penuh bagi yang sering melakukan kebiasaan buruk, untuk dipaksa melakukan kebiasaan baik. Ia perlu banyak merenung dan menimbang-nimbang pikir dan rasa.<span id="more-3294"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada niat berubah, ada hidayah </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, orang yang selalu berbuat maksiat belum tentu maksiat selamanya. Asalkan dia ingin berubah menjadi baik, ada niat dan usaha untuk mewujudkannya, insya Allah ada jalan untuk menjemput hidayah. Ada kisah menarik yang perlu menjadi inspirasi bagi kita. Kamu tahu Syaikh Fudail bin Iyadh? Bagi yang pernah tahu, beliau adalah salah satu guru Imam asy-Syafii. Tahukah masa lalunya?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, inilah kisahnya: Fudhail bin Iyadh, semasa masih jahat, bermaksud mengganggu seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu bacaan al-Quran yang artinya: <em>“Belumlah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka).”</em> <strong>(QS al-Hadiid [57]: 16)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat tersebut menyentak sanubari Fudhail bin Iyadh, membuatnya terdiam di atas tembok. Tiba-tiba Bin Iyadh merasa persendiannya lumpuh. Lalu dengan tubuh gemetar dia mengiba, “Oh Tuhan, telah tiba waktuku. Telah tiba waktuku.” Dia pun turun dari tembok dan berjalan pulang dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kemalaman di jalan, Bin Iyadh istirahat di sebuah rumah kosong yang ditemuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan musafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo kita berangkat sekarang saja,” dari luar bilik Fudhail mendengar seorang dari mereka berkata demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lain menjawab, “Jangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar percakapan mereka itu, Fudhail menampakkan dirinya sambil berkata, “Akulah Fudhail. Tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.” <strong>(kisahnya dikutip dari Islamia, edisi April-Juni 2005)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, banyak teladan di masa lalu yang bertaubat dari maksiat yang dilakukannya. Tak sedikit sahabat Nabi Muhammad saw. yang awalnya adalah musuhnya dan musuh Islam. Tahu kan Umar bin Khaththab ra? Semasa jahiliyahnya, yakni ketika belum jadi muslim, Umar bin Khaththab adalah halangan bagi dakwah Islam. Selain beliau, yang jadi halangan dakwah saat itu adalah Umar bin Hisyam alias Abu Jahal. Sampai-sampai Rasulullah saw. berdoa memohon kepada Allah agar Islam bisa kokoh dengan salah satu dari dua orang bernama Umar ini. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzii dari Abdullah bin ‘Umar ra dan ath-Thabranii dari Abdullah bin Mas’uud dan Anas bin Malik <em>Radhyillaahu ‘Anhuma</em>, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda dalam doanya, “<em>Allahummaa,</em> kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin al-Khaththab atau dengan Abu Jahal (Umar bin Hisyam).”</p>
<p style="text-align: justify;">Mau tahu kisahnya? Begini riwayat singkatnya: Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Anas bin Malik ra. dan Abdullah bin Abbaas ra., bahwasanya di tengah perjalanan mencari mereka, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nahlam al-Adwii, atau seorang laki-laki dari Bani Zuhrah, atau seorang laki-laki dari Bani Makhzum, yang bertanya kepadanya, “Hendak ke mana engkau wahai Umar?” Lantas di jawab oleh Umar dengan geramnya, “Aku mencari Muhammad yang telah memecah belah persatuan kita, mengacau ketentraman Quraisy, dan mencela agama nenek-moyang. Aku ingin membunuhnya!”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tadi lalu bekata kepada Umar, “Demi Allah, kau sangat sombong wahai Umar. Apakah kiranya Bani Abdi-Manaf akan membiarkan kau berjalan di atas bumi setelah kau berhasil membunuh Muhammad? Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar kemudian menjawab, “Menurut pengamatanku, rupanya engkau telah keluar dan meninggalkan agama yang telah engkau peluk selama ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang itu lantas menjawab, “Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk. Adikmu Fathimah dan suaminya telah menjadi pengikut Muhammad. Lebih adil engkau habisi mereka terlebih dahulu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar kabar itu, maka dengan terburu-buru Umar berlalu dan begegas menuju rumah Fathimah binti al-Khaththab, adik perempuannya. Di rumah Fathimah saat itu ada suaminya yaitu Sa’id bin Zaid bin Nufail dan kawan mereka yaitu Khabbaab bin al-Arat ra. Mereka sedang mendengarkan ayat al-Quran yang dibacakan oleh Khabbab yaitu dari surah Thaahaa (20). Ketika Khabbaab mendengar suara kedatangan Umar, dia segera menyingkir ke bagian belakang ruangan, sedangkan Fathimah menyembunyikan <em>shahifah </em>(lembaran) berisi ayat al-Quran. Namun tatkala mendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?” tanya Umar ketika sudah masuk rumah. “Hanya sekadar obrolan di antara kami, “ jawab Fathimah dan suaminya. “Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama, “kata Umar lagi. Kemudian Sa’id bin Zaid bin Nufail yang merupakan adik ipar Umar itu berkata, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan memukul mukanya hingga jatuh tak berkutik lantas menginjak-injaknya keras-keras. Fathimah kemudian mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun Umar memukul Fathimah hingga bibirnya luka dan bercucuran darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi melihat keadaan adiknya, Umar akhirnya sadar dan timbul rasa iba dalam hatinya. Sementara Fathimah dengan berang berkata kepadanya, “Wahai Umar, benar kami telah memeluk Islam, beriman kepada Allah dan RasulNya. Sekarang kau boleh berbuat apa saja terhadap kami.” Kemudian Fathimah berkata lagi, “Wahai Umar, jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada <em>Ilaah </em>selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar mulai merasa putus asa, dan dia melihat darah yang meleleh dari bibir adiknya. Maka Umar merasa menyesal dan malu atas perbuatannya. Lalu ia berkata, “Serahkan lembar-lembar yang kalian baca itu kepadaku. Aku ingin membaca apa yang telah diajarkan Muhammad!” Tetapi Fathimah menjawab, “Engkau adalah orang yang najis. <em>Shahifah </em>ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!” Maka Umar segera mandi dan setelah itu memegang<em> shahifah</em> tadi dan mulai membaca isinya yaitu surat Thaahaa (20) dari awal dengan membaca, “<strong><em>Bismillaahir rahmaanir rahiim.</em></strong>” Lalu Umar berkata, “Nama-nama yang bagus dan suci.” Kemudian ia melanjutkan pembacaan dari ayat satu hingga berhenti pada firman Allah di ayat 14: <strong><em>Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa’ budni wa aqimish shalaata li dzikrii</em></strong>. Diterjemahkan, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membaca ayat tersebut, sanubarinya tersentuh dan Umar serta merta sadar bahwa yang telah dibacanya belum pernah terdengar olehnya. Maka tiba-tiba secara drastis suara dan sikapnya berubah. Umar lantas berkata, “Alangkah indah dan mulianya kata-kata ini! Tunjukkan padaku di mana Muhammad berada saat ini!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar perkataan Umar barusan, maka Khabbaab bin al-Arat muncul dari belakang rumah dan berkata, “Terimalah kabar gembira wahai Umar. Karena aku benar-benar berharap agar doa Rasulullah saw. pada malam Kamis itu jatuh kepada dirimu. Segeralah engkau menghadap beliau, wahai Umar!”</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, Umar bin Khaththab masuk Islam langsung di hadapan Rasulullah saw. Ketika itu, sesampainya Umar di kamar dan bertemu dengan Rasulullah saw., ia disambut oleh beliau dengan cara memegang baju dan pegangan pedangnya, lalu menariknya dengan tarikan yang keras seraya bersabda, “Apakah engkau tidak mau menghentikan tindakanmu wahai Umar, hingga Allah menurunkan kehinaan dan bencana seperti yang menimpa al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah. Inilah Umar bin al-Khaththab. Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin al-Khaththab.”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, aku datang untuk menyatakan iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta apa-apa yang datang dari Allah.” Umar berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilaah selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin al-Khaththab ra adalah seseorang yang memiliki watak tempramental dan sulit dihalang-halangi, sehingga dengan dirinya masuk ke dalam Islam sangat mengguncangkan orang-orang musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka. Sebaliknya, hal ini mendatangkan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang-orang muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Subhanallah. Tak ada yang mustahil. Siapa pun bisa menjadi baik. Ahli maksiat sekalipun bisa berubah jadi baik, bahkan jadi ulama. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa juga menyaksikan satu per satu kawan kita menjadi baik. Teman sepermainan kita yang lama tak jumpa, ketika bertemu sudah berubah penampilannya. Berubah pula akhlaknya. Dia menemukan kebenaran Islam di tempat lain. Bukan mustahil toh?</p>
<p style="text-align: justify;">Kita yang kini termasuk para pengemban dakwah, bisa jadi bukanlah orang yang baik-baik di masa lalu. Bisa jadi malah penghalang dakwah. Seorang kawan pernah bercerita, bahwa ketika dirinya sekolah di SMA, kepala sekolahnya sangat tidak setuju dengan siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab. Bahkan sempat bersitegang mempertahankan pendapatnya bahwa dirinya memimpin sekolah umum, bukan pesantren. Namun ketika dirinya dipindahkan tugas ke sekolah lain, ternyata ada kabar baik, bahwa kini dirinya sudah mengenakan kerudung. Sudah berbusana muslimah, dan malah baik kepada siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, ini menunjukkan bahwa tak selamanya manusia itu berada dalam maksiat. Tak selamanya terus berbuat dosa. Pasti ada saatnya untuk berbuat baik. Asalkan ada kemauan untuk mengubah, insya Allah akan mendapat hidayah dari Allah Swt. Memang, kalo ngikutin hawa nafsu, rasanya betapa berat meninggalkan maksiat. Namun demikian, bukan berarti harus menyerah, apalagi “kepalang basah”. Tidak. Kesadaran untuk berubah jauh lebih baik dan bisa mengalahkan hawa nafsu. Insya Allah. Percayalah!<strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

