<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Buletin Studia Tahun kedelapan</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-studia/buletin-studia-tahun-kedelapan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dan Kurindu Hadirmu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dan-kurindu-hadirmu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dan-kurindu-hadirmu#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 01:19:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dan-kurindu-hadirmu/</guid>
		<description><![CDATA[Rindu Ramadhan meski kita masih ada di tengah-tengahnya. Merindu Ramadhan meski kita belum meninggalkan bulan mulia ini dan harus menunggu sebelas bulan ke depan. Ya, Ramadhan memang pantas untuk dirindu karena berjuta hikmah terkandung di dalamnya.
Ramadhan, suatu momen penempaan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bulan puasa untuk menahan diri dari semua hawa nafsu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rindu Ramadhan meski kita masih ada di tengah-tengahnya. Merindu Ramadhan meski kita belum meninggalkan bulan mulia ini dan harus menunggu sebelas bulan ke depan. Ya, Ramadhan memang pantas untuk dirindu karena berjuta hikmah terkandung di dalamnya.<span id="more-677"></span></p>
<p>Ramadhan, suatu momen penempaan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bulan puasa untuk menahan diri dari semua hawa nafsu yang seringkali dominan pada diri kita. Bukan sekadar hawa nafsu untuk makan, minum dan syahwat yang harus ditahan, tapi nafsu-nafsu lain yang negatif dan nggak sesuai syariat juga harus dikontrol. Sehingga, selepas bulan Ramadhan, ajang latihan ini bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia akan mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang bertakwa). Insya Allah.</p>
<p>Namun, kenapa eh kenapa ya, selepas bulan Ramadhan, lepas pula seluruh kontrol hawa nafsu tadi? Seakan-akan Idul Fitri yang menjadi penanda usainya Ramadhan, menjadi penanda kebebasan hawa nafsu. Bukannya (mengharap) bebas dari api neraka, tapi malah semangat kebebasan untuk melakukan maksiat seperti bulan-bulan sebelumnya. Duhhh….</p>
<p>Lalu, apa dong efek puasa kalau ternyata maksiat masih merajalela di bulan-bulan selepas Ramadhan? Terus, kenapa pula bisa terjadi kondisi demikian? Fenomena masyarakat jadi suka buah ‘tomat’ alias Ramadhan tobat, selepasnya jadi kumat kembali. Naudzhubillah. Yuk, kita telusuri ‘what dan why’ ini semua terjadi.</p>
<p><strong>“What” yang terjadi di bulan Ramadhan?</strong><br />
Ramadhan adalah ajang penempaan dan kontrol diri dari segala hawa nafsu manusia, itu idealnya. Faktanya ternyata Ramadhan adalah ajang TP alias Tebar Pesona selebritis untuk menjadi sedikit lebih alim dan taat. Yang termasuk golongan selebritis ini bukan sekedar artis loh, tapi bisa juga para pejabat dan politikus yang aji mumpung dengan datangnya Ramadhan. Kok bisa?</p>
<p>Para artis, kita semua pasti paham banget kalo mereka sangat gembira dengan datangnya Ramadhan. Mau tobat dan insaf? Please deh, mereka malah kebanjiran job karena semua saluran TV siaran 24 jam nonstop untuk menemani pemirsa buka puasa dan sahur. Alih-alih semakin alim dan taat syariat, para selebritis dari kalangan artis ini dengan PD-nya bilang kalo mereka ‘dengan terpaksa’ membatalkan puasa bila memang dibutuhkan oleh tuntutan skenario.</p>
<p>Itu dari segi artisnya. Dari segi isi tayangan Ramadhan yang marak di TV, sangat jauh panggang dari api. Jauh banget dari mengajak permirsa untuk semakin bertakwa. Yang ada malah tayangan-tayangan nggak bermutu semacam Tassahur (Pentas Saat Sahur) yang berisi konser lenggok-lenggok umbar aurat. Belum lagi kuis yang ada juga sangat nggak mendidik. Bukannya memberi pertanyaan yang ada kaitannya dengan wawasan keislaman, tapi malah judul lagu-lagu dan nama artis yang jadi bahan kuis. Jadilah pemirsa makin hapal nama artis-artis dan lagu-lagunya daripada ayat-ayat al-Quran dan maknanya.</p>
<p>Itu dari selebritis kalangan artis. Sekarang coba kita tengok dari selebritis kalangan politisi. Tiba-tiba saja banyak di antara mereka yang mengadakan buka puasa bareng dengan kaum dhuafa. Bagus sih, tapi akan sangat jauh lebih bagus bila hak-hak kaum dhuafa ini juga diberikan bukan hanya berupa ajakan buka puasa bersama. Beri dong hak mereka berupa penyediaan lahan pekerjaan yang layak, jangan cuma memanjakan perusahaan-perusahaan asing seperti Exxon dan Freeport untuk mengeruk sumberdaya alam negeri ini. Beri juga mereka hak pendidikan dan kesehatan gratis. Itu hak masyarakat yang seharusnya diberikan bukan hanya di bulan Ramadhan berupa takjil gratis.</p>
<p>“TUTUP” ditulis dengan huruf besar. “Selama bulan Ramadhan” ditulis dengan huruf kecil. Tulisan di atas sangat banyak dijumpai di lokalisasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara di daerah Surabaya. Duh…betapa inginnya satu hari nanti kita bisa membaca tulisan ini menjadi “TUTUP, SELAMANYA”.</p>
<p>Ternyata, para pejabat terhormat itu mempunyai kekuatan juga untuk menutup lokalisasi pelacuran. Jadi, bukannya tidak bisa tempat-tempat semacam itu ditutup selamanya kan? Yang tidak ada cuma satu, KEMAUAN. Nah, di momen Ramadhan ini seharusnya kemauan itu harus mulai ditumbuhkan. Agar nggak sia-sia kita berpuasa selama satu bulan ini. Seperti yang dinyatakan oleh Rasul tercinta bahwa betapa banyak di antara kita yang puasanya tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Naudzhubillah.</p>
<p><strong>“Why” ini terjadi?<br />
</strong>Kelakuan para selebritis dari kalangan artis dan politisi, terjadi bukan tanpa sebab. Mereka hanya korban saja kok. Loh, kalo mereka korban, terus siapa dong biang keroknya?</p>
<p>Sekulerisme. Inilah biang kerok sebenarnya sebagai ide dasar dari kapitalisme. Sekularisme yang jelas-jelas memisahkan agama dari kehidupan merupakan akar masalah yang menyebabkan Ramadhan kehilangan makna. Artis-artis dan para pejabat menjadi saleh dadakan. Mereka jadi fasih menyebut lafadz-lafadz Islam di bulan Ramadhan. Tapi kondisi ini jadi berubah begitu Ramadhan berlalu. Maka sungguh, seandainya semua bulan adalah Ramadhan, tentu kesalehan ini akan bertahan selamanya.</p>
<p>Tapi apa bisa semua bulan adalah Ramadhan? Sedangkan hari saja bisa berganti malam, muda bisa berubah jadi tua, hidup ada saatnya untuk mati. Ternyata perubahan adalah sebuah keharusan dalam kehidupan. Maka bukanlah Ramadhan yang seharusnya diandaikan selamanya, tapi kesalehan sebulan itu yang seharusnya dijadikan dua belas bulan dalam setahun. Apa bisa?</p>
<p>Bisa banget! Kalau wajah palsu para selebritis artis dan pejabat adalah akibat sekulerisme, maka artinya harus ada wajah asli dari mereka semua. Wajah asli yang bersih tanpa noda. Wajah asli seorang hamba dari Sang Mahapencipta dan pengatur kehidupan. Wajah asli dari sosok manusia yang sadar akan kemanusiaannya.</p>
<p>Bila kapitalisme yang menjadikan materi sebagai berhala modern adalah ideologi penyebab ini semua, maka sudah saatnya kita bertanya: pantaskah ia dipertahankan? Atau adakah jalan keluar lainnya agar Ramadhan bukan sekadar bulan tebar pesona? Bisakah Ramadhan sungguh-sungguh memberi efek nyata bagi kehidupan?</p>
<p><strong>Sekulerisme? Campakkan!<br />
</strong>Sekulerisme yang menjadi asas bagi Kapitalisme sudah jelas kerusakannya bagi kehidupan. Paham ini meniadakan Tuhan sebagai pengatur kehidupan. Akal manusia menjadi berhala baru untuk sok jadi pembuat peraturan. Inilah yang menjadikan Ramadhan ternoda dan kehilangan makna.</p>
<p>Ramadhan dianggap bulan ibadah. Bulan lain selepas Ramadhan dianggap bulan bukan ibadah. Maka itu artinya semua kemaksiatan jadi boleh. Perzinaan dilindungi undang-undang. Minuman keras mempunyai izin usaha. Korupsi dianggap salah prosedur. Repot memang bila Islam hanya dijadikan stempel di KTP saja. Namun pemikiran dan prilaku sangat jauh dari aturan syariat Islam.</p>
<p>Tak heran bila Ramadhan dari tahun ke tahun tidak membuat bangsa ini dan orang-orangnya berubah jadi baik. Yang ada hanya kemunduran dan keterpurukan yang semakin menjadi-jadi. Karena sungguh, Islam adalah ad-diin alias the way of life (baca: ideologi). Bila Islam hanya diambil separuh-separuh, bukannya bermanfaat tapi malah seringkali jadi kambing hitam atas semua masalah. Padahal sudah nyata terbukti, Islam akan memberi rahmat bagi semua bila ia diambil total tanpa pilih-pilih hukum. Ingat, 14 abad lamanya Khilafah Islam tegak dan berjaya ketika syariat diterapkan.</p>
<p>Ramadhan akan terlihat efeknya bila saja selepas Ramadhan, penduduk negeri ini mempunyai kesalehan yang sama dengan di bulan puasa. Tidak boleh ada lagi pembedaan antara bulan Ramadhan dengan bukan Ramadhan. Bila lokalisasi ditutup selama bulan Ramadhan, maka itu artinya ia harus ditutup juga di luar bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>Ramadhan, bulan perubahan</strong><br />
Harus ada yang berubah selepas Ramadhan. Harus ada efek yang membekas pertanda kita pernah berpuasa di bulan Ramadhan. Agar di saat Idul Fitri nanti, kita pantas menyandang predikat muttaqin (orang-orang yang bertakwa) dan menjadi orang yang menang.</p>
<p>Indahnya Ramadhan, tak akan pernah memberi efek nyata bagi kehidupan bila tak ada kemauan dari semua pihak untuk menjaga prilaku saleh di bulan lain. Saya individu ingin bertahan baik. Kamu juga sama. Tapi itu tak cukup bila masyarakat kita tidak mendukung niat baik ini. Bila pun masyarakat sudah mendukung niat baik dan menolak kemaksiatan tidak hanya di bulan Ramadhan, masih ada satu lagi pihak yang ketinggalan. Siapakah dia?</p>
<p>Penguasa negara beserta kewenangan yang dipunyainya. Mereka ini yang mempunyai wewenang untuk menutup atau memberi izin atas sesuatu, termasuk buka atau tutupnya tempat perzinaan terbesar di Asia Tenggara. Akan sangat timpang bila masyarakat menolak, tapi kemaksiatan itu sendiri mempunyai izin dari penguasa daerah untuk beroperasi.</p>
<p>Jadi tidak bisa tidak, para pejabat berwenang, masyarakat serta individu harus bergandengan tangan. Kita tidak ingin momen Ramadhan ini berlalu sia-sia. Kita tidak ingin bencana alam akan semakin sering menghampiri negeri ini karena kelalaian kita. Yuk, saatnya kita introspeksi diri di Ramadhan tahun ini.<br />
 <br />
<strong>Kurindu Ramadhan</strong><br />
Ketika hari demi hari, detik demi detik Ramadhan berjalan menuju penghujung waktu, ada getir di sana. Seperti kata Rasulullah tercinta bahwa seandainya saja manusia tahu keistimewaan bulan Ramadhan, pastilah mereka akan meminta semua bulan adalah Ramadhan. Terlebih lagi saat ini. Ketika perbedaan antara Ramadhan dengan bulan lain begitu jelas terasa, maka sunguh, ingin sekali semua bulan adalah Ramadhan.</p>
<p>Ketika masjid-masjid jadi semarak dengan suara tadarus al-Quran. Ketika malam-malam jadi hidup dengan makan sahur dan qiyamul lail. Ketika siangnya adalah ajang menahan diri dari segala hal yang sia-sia apalagi maksiat. Ketika tiap diri ingin meraih pahala dengan bersedekah sebanyak-banyaknya. Ketika diskotik, bar, pub, rumah mesum dan lokalisasi kompak untuk tutup (meski sementara).</p>
<p>Dan rindu itu akan semakin kental ketika selepas Ramadhan, kemaksiatan seakan menemukan pembenaran. Semua tempat maksiat yang selama Ramadhan tutup, kembali dibuka dan semakin ramai pengunjung. Naudzhubillah.<br />
Maka, rindu Ramadhan itu semakin kental dan pekat. Rindu Ramadhan berarti rindu tutupnya tempat-tempat maksiat, selamanya. Bukan sementara.</p>
<p>Rindu Ramadhan berarti rindunya nuansa keislaman hadir di tengah-tengah kita, setiap hari. Rindu Ramadhan artinya rindu syariat Islam diterapkan, dan syariat Islam tak mungkin sempurna pelaksanaannya tanpa adanya Daulah Khilafah Islamiyah.</p>
<p>Semoga rasa rindu ini bukan hanya milik perorangan saja. Tapi rasa ini sudah menjadi milik semua, yaitu kaum muslimin yang rindu kejayaan Islam kembali seperti sedia kala. Dan sungguh, kurindu hadirmu Ramadhan. Bahkan di bulan-bulan selepas Ramadhan berikutnya. Selamanya. [ria: <a href="mailto:riafariana@yahoo.com">riafariana@yahoo.com</a>]</p>
<p>[<em>STUDIA Edisi 361/Tahun ke-8/1 Oktober 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dan-kurindu-hadirmu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat untuk “Punkers”</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nasihat-untuk-punkers</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nasihat-untuk-punkers#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 09:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/nasihat-untuk-punkers/</guid>
		<description><![CDATA[Jumlahnya emang nggak banyak. Tapi kalo udah nongol di jalanan, setiap mata terpancing untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk ala suku Indian dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot Dr. Marteen, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta ‘spikes’ (gelang berbahan kulit dan besi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumlahnya emang nggak banyak. Tapi kalo udah nongol di jalanan, setiap mata terpancing untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk ala suku Indian dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot Dr. Marteen, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta ‘spikes’ (gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat di sekelilingnya) yang menghiasi pergelangan tangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana mereka. Begitu juga dengan celana jeans super ketat hingga mata kaki yang dipadukan dengan baju lusuh, makin menguatkan kesan anti kemapanan dan antisosial pada mereka. Masyarakat mengenal mereka sebagai anak punk.<span id="more-649"></span></p>
<p>Sayangnya, pandangan negatif masih menyertai setiap kehadiran anak punk. Kalo ibu saya ditanya komentar tentang dandanan anak punk, jawabnya “idih.. nggak ada pantes-pantesnya”. Tanpa bermaksud menyudutkan, tampilan anak-anak punk yang cenderung ‘menyeramkan’ seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, vandal, bikin onar, dan semau gue. Padahal boleh jadi, itu cuma perilaku segelintir remaja yang berpenampilan nge-punk. Daripada berprasangka, mending kita coba kenal kaum punk lebih dekat. Sehingga penilaian dan sikap kita lebih objektif. Otreh?</p>
<p><strong>Sekedar  musik dan Tam-‘Punk’?</strong><br />
Hadirnya generasi punk nggak bisa dilepaskan dari hingar-bingar dunia musik. Konon kisah lahirnya kaum punk pun diawali dari musik. Pada 1971, Lester Bangs, wartawan majalah semi-underground Amerika, Creem, menggunakan istilah punk untuk mendeskripsikan sebuah aliran musik rock yang semrawut, asal bunyi, namun bersemangat tinggi.</p>
<p>Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia, menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, termasuk kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang didominasi oleh musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi, apalagi rekaman. Boro-boro!</p>
<p>Tak hanya dalam lirik lagu, teriakan kekecewaan kaum punk juga ditunjukkan dalam berbusana. Seperti dituturkan Putu Aliki, designer asal Bali, “Sudah nggak zamannya lagi, kalo remaja -cewek atau cowok- tidak diberi kebebasan dalam memilih alternatif-alternatif berbusana yang ada di hadapannya sekarang ini. ‘Kalau memang sreg dan PeDe, kenapa tidak boleh memakai sesuatu yang aneh’. Misal, memakai paku-paku, gelang baja, peniti yang penuh menghias lengan baju, rok pendek, transparan, atau seksi bagi cewek, atau baju dan celana ketat bagi cowok. Biasanya kan selama ini, kalau ada yang berani berpakaian begitu sudah dicap yang nggak-nggak oleh orang lain. Nah itulah yang ingin didobrak.”(Bali Post, 18/05/03)</p>
<p>Tapi menurut Awal Fahma, redaktur F-Magazine Bogor yang kena todong STUDIA: “Kalo menurut gue anak punk Bogor itu mayoritas cuma sekedar style aja, kalo ditanya makna punk yang sesungguhnya belum tentu pada ngerti&#8230;buat mereka punk itu cuma dandanan, attitude sama musik keras. Sekarang punk udah keilangan identitasnya &#8230; ini gara gara para prudusen ngeliat style punk bisa dijual mulai dari gaya rambut sampai pakaian &#8230;.”.</p>
<p><strong>Punk adalah idealisme</strong><br />
Dalam “Philosophy of Punk”, Craig O’Hara (1999) menyebut tiga definisi punk. Pertama, punk sebagai tren remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri. Definisi pertama adalah definisi yang paling umum digambarkan oleh media. Tapi justru yang paling tidak akurat karena cuma menggambarkan kesannya saja.</p>
<p>Menurut Indie, kru MQ-FM Solo, “Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang keresahan untuk menemukan solusi “menghancurkan tiran”. Lalu keresahan itu mereka wujudkan dengan pemberontakan dengan berbagai wujudnya baik lewat jalur musik, propaganda, bikin produk sendiri, dll. Pokoknya anti segala sesuatu yang bersifat status quo. Karena menurut mereka, yang namanya status quo itu bikin beku. At least, mereka nggak terbawa mainstream. Mampu menciptakan arus sendiri.,” tuturnya Indie penuh semangat ngejelasin ke STUDIA.</p>
<p>Di setiap tempat, sepak terjang kaum punk mampu menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang konsisten melawan pemaksaan ide maupun budaya oleh para kapitalis maupun negara. Yup, mereka nggak setuju banget ama yang namanya otoritas. Sehingga mereka hidup berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tato. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya.</p>
<p>Dalam skala negara, punk mengusung ide anarkisme. Eit, jangan salah tafsir ya. Menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail A Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara. Di sini anarkisme menghendaki tatanan sosial yang tidak seorangpun bisa menindas atau mengekspolitasi orang lain; sebuah tatanan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang setara untuk mencapai perkembangan material dan moralnya secara maksimal. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.</p>
<p>Nampaknya, idealisme kaum punk dalam konteks negara kudu siap ngadepin kenyataan sosial. Seperti yang pernah dikatakan Lenin, anarkisme adalah paham yang naif milik para pemimpi dan orang-orang putus asa. Mereka menyadari ideologi ini sulit dikembangkan karena masyarakat masih membutuhkan negara untuk mengatur mereka. Benar, tentunya negara yang menerapkan Islam sebagai ideologi di bawah naungan Khilafah Islamiyah.</p>
<p><strong>Semua ada batasnya, Bro!</strong><br />
Ngomongin tentang kebebasan, emang indah. Apalagi kalo bisa bebas ngapain aja, nggak ada yang larang atau maksain aturan yang mesti dipatuhi. Sayangnya, kebebasan model gini cuma ada di negeri khayalan. Ya, sengotot apapun kita menuntut kebebasan, pada akhirnya kita bakal ngebentur kenyataan kalo semua ada batasnya.</p>
<p>Misal, kita emang bisa bebas makan setiap menu favorit, sanggup begadang semalaman, atau kuat nenggak berliter-liter aneka cairan penghilang dahaga. Tapi kenyataannya, perut dan mata kita ada batasnya dan perlu istirahat. Kalo diporsir, perut kita bisa mules, beser, dan mata berkunang-kunang. Tubuh kita yang menentukan kapan saatnya lapar, haus, ngantuk, atau buang hajat, bukan kita. Ini contoh kecil, Bro!</p>
<p>Begitu juga dalam hidup. Kita boleh acungi jempol buat temen-temen yang nyadar dan pengen merdeka dari para idola yang mengendalikan perilaku kita, para kapitalis yang membobol kocek kita, atau kebijakan negara yang bikin sengsara. Seperti idealisme temen-temen punk. Tapi kalo merdeka dari aturan agama terutama Islam, eit&#8230; entar dulu.</p>
<p>Kita memang punya pilihan untuk nggak shalat, ogah nahan lapar-haus puasa Ramadhan, cuek bebek dengan dakwah, berlomba-lomba mengumbar aurat, atau menjadi pemuja hawa nafsu. Tapi itu bukan pilihan yang baik mengingat hidup kita juga ada batasnya. Kesempatan kita untuk bertobat juga ada batasnya. Percaya atau nggak, akan ada kehidupan lain di akhirat setelah kita meninggal dunia. Tempat kita mempertanggung-jawabkan setiap perbuatan kita selama di dunia. Ini berlaku untuk semua: muslim or non muslim. Tentu, termasuk di antara yang beriman dan kafir itu ada yang memilih punker, maupun non-punker sebagai gaya hidupnya.</p>
<p>Sebagai seorang muslim, ketaatan terhadap aturan hidup Islam bukan rantai besi yang menggembok hidup kita, tapi justru yang membebaskan kita dari perbudakan hawa nafsu dan materi. Ketaatan ini yang akan menyelamatkan kita dunia-akhirat. Dan sewajarnya ketaatan ini juga yang membatasi kebebasan kita dalam berbuat atau berpendapat. Nggak asal dandan atau nggak asal berjuang.</p>
<p><strong>Jadilah manusia paling cerdas</strong><br />
Sobat, sebebas-bebasnya kita, pastinya nggak bisa nentuin kapan jadwal malaikat Ijrail ‘ngecengin’ kita. Meski kita tinggal di bunker bawah tanah dengan ketebalan dinding beton satu meter atau dikawal bodyguard from Bojong, eh, Beijing sekaliber Jet Lee, nggak akan bisa menghalangi ajal yang menjemput kita. Pertanyaannya, siapkah kita mati besok?</p>
<p>Bagi sebagian orang, pertanyaan ini lebih sulit dijawab dibanding soal ujian atau saat sidang skripsi yang tanpa persiapan. Nggak bisa jawab soal ujian atau saat sidang, paling nggak lulus, down sebentar, terus ngulang di kesempatan berikutnya. Tapi nggak bisa jawab soal kesiapan mati esok pagi, menunjukkan ketakutan kita meninggalkan kehidupan dunia ini. Persis konsep eskapisme yang berkembang di masyarakat Barat. Mereka berusaha lari dari kenyataan hidup (tentang kematian yang pasti) dengan menenggelamkan diri dalam gaya hidup hedonis. Bagaimana dengan kita?</p>
<p>Sebagai seorang muslim, ngomongin soal kematian berarti menyadarkan kita akan kehidupan dunia yang hanya sementara dan bisa melalaikan kalo kita teledor. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>????????? ???????? ?????????? ?????????? ?????? ????????<br />
“<em>Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan</em>” (<strong>QS al-Hadîd [57]: 20</strong>)</p>
<p>Biar kita nggak terjebak dalam permainan dunia, apalagi sampai jadi penganut eskapisme, jadilah manusia cerdas seperti kata Rasulullah saw. Ibnu Umar meriwayatkan: “Kami bersepuluh datang kepada Nabi saw, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘<em>Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat</em>.” (<strong>HR Ibnu Majah</strong>)</p>
<p>Oke, daripada ikut-ikutan tren tapi merusak masa depan kita di akhirat, pasti lebih untung menabung amal baik dalam menyelamatkan diri dan manusia lainnya dengan  ngaji dan dakwah. Mumpung masih di bulan penuh rahmat dan ampunan, bulan penuh bonus pahala berlimpah, mari kita sama-sama penuhi keseharian kita dengan ibadah sunnah (selain yang wajib), tilawah al-Quran, aktif di forum pengajian, serta membasahli lisan kita dengan aktivitas dakwah amar makruh nahi munkar. Ini baru anak ‘punk’-ajian (baca: pengajian) yang cerdas dan beramal shaleh. Yuk! [<em>hafidz: hafidz341@gmail.com</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nasihat-untuk-punkers/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Sia-sia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/puasa-sia-sia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/puasa-sia-sia#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 08:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/puasa-sia-sia/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah nggak ketika udah capek lari-lari mo naik kereta, eh begitu nyampe stasiun bener-bener pas-pasan: pas nyampe stasiun pas kereta berangkat. Kira-kira gondok nggak? Udah mah capek, eh malah ketinggalan kereta pula. Sia-sia deh perjuangan kita lari-lari. Gara-gara kita telat bangun, salah perhitungan dan jalanan macet. Duh, rugi banget kan?
Oya, ngomong-ngomong soal sia-sia sebenarnya banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah nggak ketika udah capek lari-lari mo naik kereta, eh begitu nyampe stasiun bener-bener pas-pasan: pas nyampe stasiun pas kereta berangkat. Kira-kira gondok nggak? Udah mah capek, eh malah ketinggalan kereta pula. Sia-sia deh perjuangan kita lari-lari. Gara-gara kita telat bangun, salah perhitungan dan jalanan macet. Duh, rugi banget kan?<span id="more-641"></span></p>
<p>Oya, ngomong-ngomong soal sia-sia sebenarnya banyak kok yang mungkin aja udah jadi pengalaman keseharian kita. Misalnya aja nih, sia-sia saja kita usaha setengah mati mencintainya, ketika menyatakan cinta malah ditolak. Tanya kenapa? Selain soal takdir, bisa jadi karena pesona kita nggak membuat si dia yakin akan kesungguhan kita. Apalagi kita udah kegeeran duluan, bahwa dia pasti menerima cinta kita. Padahal mah yang terjadi, dia nggak mikirin kita sama sekali. Tentu saja selain takdir, memang ada syarat dan ketentuan yang berlaku. salah satunya karena kita nggak punya potensi dan pesona yang membuat dia tertarik. Sia-sia kita mencintainya dengan bertepuk sebelah tangan. Sakit dan perih tuh!</p>
<p>Nah, gimana jadinya kalo kita udah setengah mati puasa tapi cuma dapetin lapar dan haus doang? Sia-sia udah pasti. Rugi? Jelas. Kecewa? Ya iya lah! Duuuh, sebulan penuh puasa cuma dapetin perut keroncongan seharian, mulut kering karena nggak dialiri air minum. Tanya kenapa?</p>
<p>Sobat muda muslim, untuk melaksanakan ibadah dalam Islam itu ada lho syarat dan ketentuannya. Nggak bisa bebas sesuka kita. Syaratnya apa? Namanya syarat, berarti kalo nggak terpenuhi ya nggak sah ibadah yang dilakukannya. Untuk melaksanakan puasa ini, syarat sah puasa adalah dia seorang muslim/muslimah. Jelas dong, karena puasa Ramadhan hanya diwajibkan bagi kaum muslimin. Selain wajib muslim/muslimah, syarat sah bisa puasa adalah orang tersebut waras alias nggak gila, juga bukan anak-anak dan tentu saja yang mampu melakukannya.</p>
<p>Sementara ketentuannya, puasa Ramadhan itu adalah dilakukan pada bulan Ramadhan. Ya iya lah, kalo bulan Rajab kita puasa bukan puasa Ramadhan namanya, tapi puasa di bulan Rajab. Kemudian, puasa Ramadhan itu dilaksanakan setelah waktu fajar hingga maghrib setiap harinya selama sebulan penuh. Tentu saja, nggak boleh makan dan minum di siang hari, bagi yang udah nikah tentunya nggak berhubungan seks di siang hari, dan ketentuan lainnya yang bisa membatalkan puasa harus dihindari.</p>
<p>Lalu, apa hubungannya dengan puasa yang sia-sia? Hmm&#8230; gini sobat, ibadah puasa syarat dan ketentuannya memang demikian seperti yang ditulis di atas itu. Namun, bukan berarti kalo kita puasa makan dan minum, puasa pula perbuatan kita sehari-hari. Nggak lha yauw. Nah, di antara perbuatan kita itu sangat boleh jadi ada perbuatan yang maksiat. Kira-kira gimana jadinya tuh kita getol puasa dan tanpa batal tapi mulut berbusa ngomongin kejelekan orang lain? Puasanya nggak batal, tapi perbuatannya berpotensi menggerus pahala puasa. Ih, rugi banget kan?</p>
<p>Itu sebabnya Rasulullah saw. bersabda: Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga”  (HR Ahmad)</p>
<p>Sobat, hadis ini memberikan gambaran kepada kita untuk senantiasa waspada dengan apa yang akan kita perbuat. Sebab, puasa tidak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang, menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor, mengumpat, dan menggunjing. Pun menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang.</p>
<p>Nah, kira-kira sanggup nggak kita puasa dari makan dan minum di siang hari sekaligus mulut kita puasa dari perbuatan bohong, puasa dari ngomongin kejelekan orang lain? Insya Allah ada yang sanggup memang, tapi kebanyakan manusia nggak sanggup. Buktinya Rasulullah saw. menyampaikan hadis tersebut. Iya nggak?</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Allah baginya berpuasa dari makan dan minum” (HR Bukhari)</p>
<p>Hehe&#8230; ini bukan berarti mendingan nggak puasa. Nggak otomatis lho. Puasanya tetap nggak batal, tapi sangat berpotensi sia-sia karena pahala puasa kita ketelen terus setiap kali melakukan maksiat. Ibaratnya, maksud hati missed call sama temen, eh malah pulsa kita ketelen karena mailbox. Berkurang deh pulsa kita. Gondok nggak? Pasti, nyesel. Nah, apalagi puasa, capek-capek sebulan penuh cuma dapet lapar dan haus doang. Cacingan deh lu!</p>
<p>Begitu juga yang puasa dari makan dan minumnya sangat tahan godaan, tapi begitu bertemu dengan pacarnya hawa nafsu yang jadi panglimanya. Jebol sudah pertahanannya. Memang masih puasa dari makan dan minum, tapi pergaulannya dengan lawan jenis bukan mahram justru udah melanggar aturan Islam. Iya dong, kan Islam mengharamkan hubungan akrab pranikah antar lawan jenis seperti yang udah sering dibahas oleh buletin ini . Nah, kira-kira, puasanya batal nggak? Puasanya insya Allah nggak batal (selama nggak makan dan minum saat kencan tersebut), tapi pahala puasa itu bakalan ‘didiskon’ gara-gara melakukan maksiat tersebut. Kalo maksiatnya lebih banyak, mana tabungan pahalanya dong? Jadi, yang didapat nantinya cuma lapar dan haus doang. Halah, rugi euy!</p>
<p><strong>Berlomba memperbanyak amal shaleh</strong><br />
Sobat muda muslim, bagi kamu yang senang belanja dan kebetulan di tempat belanja langgananmu itu diadakan diskon gede-gedean semua produk yang dijual selama sebulan penuh dan pada saat itu kamu lagi banyak duit, kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Yup, umumnya bakalan datengin tuh tempat jualan karena diskonnya sangat menggiurkan. Misalnya, sepatu yang tadinya berbandrol Rp 100 ribu di lain waktu, tapi kalo saat diskon di bulan ini jadi cuma Rp 40 ribu. Waduh, bisa dapet dua kan? Seneng banget nggak? Pasti, apalagi itu sepatu inceran sejak lama.</p>
<p>Nah, di bulan Ramadhan juga kira-kira begitu deh analoginya. Karena pada bulan Ramadhan ini Allah Swt. benar-benar memberikan pahala yang banyak dan dalam jumlah yang besar. Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (HR Ahmad)</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi saw. bersabda: “Setiap amal yang dilakukan anak adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, itu untukKu dan Aku yang langsung membalasnya. Ia telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karenaKu.’ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.”</p>
<p>Sobat, pada malam di bulan Ramadhan, Islam memotivasi umatnya untuk mengerjakan amalan sunnah; shalat tarawih dan tadarus al-Quran. Dorongan untuk melaksanakan shalat sunnah harus dipahami bahwa shalat wajib harus lebih giat lagi untuk dilakukan. Jangan sampe tarawih mah getol karena senang rame-rame di masjid tapi kewajiban shalat yang lima waktu dilaksanakan sesukanya, yee itu salah prosedur atuh. Karena tidak ada shalat sunnah bagi yang tidak pernah shalat wajib. Sungguh sangat aneh bila kita giat melaksanakan shalat sunnah, sementara shalat wajib dilalaikan atau bahkan ditinggalkan. Tul nggak?</p>
<p>Kenapa hal ini bisa terjadi? Yup, karena kaum muslimin acapkali terjebak dalam ritualisme ibadah. Artinya, kaum muslimin ketika melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kewajiban semata, tanpa memperhatikan esensi dari setiap bacaan yang ia ucapkan atau gerakan yang ia lakukan dalam ibadahnya itu. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberi pengaruh terhadap perilaku, menjadi gerakan atau ucapan yang kosong tanpa makna. Idih, sia-sia banget kan?</p>
<p>Maka sungguh sangat disayangkan jika di antara kita banyak yang kuat menahan diri dari rasa lapar dan haus, sementara tak bisa berkutik untuk menahan godaan hawa nafsu. Mulut kita bisa bertahan dari makanan atau minuman, tetapi tidak bisa menahan dari menggunjing, mengumpat, dan bicara kotor. Puasanya memang tidak batal, tetapi esensi dari ibadah shaum yang mengajarkan untuk semakin meningkatkan ketakwaan kita (sebagaimana dalam QS al-Baqarah ayat 183), menjadi tidak bermakna. Puasa kita menjadi sia-sia. Sebab tak mendapatkan apa-apa (pahala), kecuali hanya rasa lapar dan haus.</p>
<p>Sobat, Islam adalah totalitas. Itu artinya, saat kita ibadah ritual dengan ketika kita melakukan muamalah (jual beli, bekerja dsb.), keduanya harus senantiasa berpatokan kepada aturan Islam. Nggak boleh aturan lain.</p>
<p>Banyak aktivitas amalan sunnah di bulan Ramadhan yang berpotensi mendulang pahala yang bisa kita kerjakan bersama atau sendiri. Selain tadarus al-Quran dan shalat tarawih, masih ada i’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sekalian untuk ‘nangkep’ lailatul qadr, kalo punya rejeki banyak silakan umrah ke tanah suci. Yuk, terus perbanyak amal shaleh kita. Tapi, tentunya amal buruk sebisa mungkin dikurangi, syukur-syukur kalo bisa menghilangkannya sama sekali. Semoga Allah Swt. memudahkan segala upaya kita untuk meraih pahalaNya. Amin.</p>
<p><strong>Sekadar ngingetin</strong><br />
Sekadar ngingetin aja nih. Tentunya bukan cuma buat kamu semua, tapi juga saya sendiri sebagai penulis artikel ini. Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan iman, kekuatan takwa, dan kekuatan fisik dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan ini. Semoga puasa kita bukan puasa yang sia-sia, tapi puasa yang diberkahiNya. Itu sebabnya, ibadah puasa kita selama Ramadhan ini, harus dibarengi dengan banyaknya amal shaleh yang kita kerjakan dan insya Allah mampu menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt. Nggak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Swt. Yuk, kita sama-sama berdoa dan berusaha agar Allah Swt. memilih kita sebagai hamba-hambaNya yang beriman dan bertakwa. Amin. [<em>solihin: www.osolihin.wordpress.com</em>]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 359/Tahun ke-8/17 September 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/puasa-sia-sia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Serentak Puasa Sedunia!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yuk-serentak-puasa-sedunia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yuk-serentak-puasa-sedunia#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 01:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/yuk-serentak-puasa-sedunia/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, sebentar lagi Ramadhan 1428 H datang menjelang hanya dalam hitungan hari (paling nggak kalo edisi cetak buletin ini terbit serentak setiap senin, maka edisi ini terbit pada tanggal 10 September 2007 dan itu artinya 2 atau 3 hari lagi tanggal 1 Ramadhan 1428 H). Kita udah siapin segala keperluan untuk ibadah full selama sebulan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, sebentar lagi Ramadhan 1428 H datang menjelang hanya dalam hitungan hari (paling nggak kalo edisi cetak buletin ini terbit serentak setiap senin, maka edisi ini terbit pada tanggal 10 September 2007 dan itu artinya 2 atau 3 hari lagi tanggal 1 Ramadhan 1428 H). Kita udah siapin segala keperluan untuk ibadah full selama sebulan. Karena pada Ramadhan ini, Allah Swt. sedang TP alias Tebar Pahala bagi kaum muslimin yang melaksanakan ibadah shaum dan amalan lainnya. Semoga Allah Swt. memudahkan kita untuk melaksanakan ibadah Ramadhan ini dengan benar dan baik sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku dalam ajaran Islam.<span id="more-627"></span></p>
<p>Sobat, sudah menjadi rahasia umum kalo tiap awal dan akhir Ramadhan ini selalu membuat kita berbeda dalam memulainya. Ada yang lebih dulu sehari, dengan alasan sudah terlihat hilal, tapi ada juga yang tetap konsisten rukyatul kalender alias melihat kalender hijriah hasil hisab, dan yang pasti di negeri ini nggak pernah beda ama kalender meskipun ada tim rukyat yang dibentuk dan ditunjuk.</p>
<p>Nah, STUDIA pada edisi ini akan bahas setidaknya tiga hal: Pertama, tentang rukyat dan rukyat global. Kedua, tentang hisab. Ketiga, tentang wajibnya serentak dalam memulai dan mengakhiri Ramadhan. Kita batasi dengan tiga poin ini. Supaya nggak panjang dan ngelebar kemana-mana. Maklum, panjang kalo dikalikan lebar kan hasilnya jadi luas. Betul nggak?</p>
<p><strong>Melihat hilal</strong><br />
Apa sih hilal itu? Yang dimaksud dengan hilal adalah bulan sabit pertama yang tampak setelah bulan baru (ijtima’). Tampaknya di ufuk sebelah barat menjelang maghrib.</p>
<p>Ijtima’ adalah “bertemunya” (conjunction) bulan dan matahari pada bujur ekliptik yang sama.  Bila lintangnya juga sama terjadilah gerhana matahari.  Para astronom kini sanggup memprediksi ijtima’ ribuan tahun ke depan dengan kesalahan kurang dari semenit.  Ijtima’ terjadi serentak, dan cuma sekali setiap bulan.  Kecuali saat gerhana, peristiwa ijtima tidak bisa dilihat karena matahari di belakang bulan sangat menyilaukan.</p>
<p>Setelah ijtima’, bulan yang makin tinggi lambat laun akan menyentuh horizon bagi tempat di muka bumi yang sedang mengalami matahari terbenam. Bila bulan ini tepat di horizon, dikatakan irtifa’-nya nol dan sejak itu dia “wujud” (wujud ul hilal).  Makin lama irtifa’ ini makin besar.  Dalam 24 jam (sehari) dia akan naik sekitar 12 derajat. Para astronom berdasarkan pengamatan puluhan tahun mendapatkan bahwa hilal baru akan teramati ketika irtifa minimal 5 derajat. (Dr. Ing. Fahmi Amhar, pada makalah, Teknologi Pemburu Hilal)</p>
<p>Melihat hilal, atau dalam bahasa Arab disebut rukyatul hilal, adalah sebuah metode untuk menentukan awal atau akhir dari umur bulan. Karena dalam kalender Islam itu jumlah harinya nggak tetap, yakni kalo nggak 29 ya 30 hari dalam setiap bulannya. Khusus untuk bulan Sya’ban dan Ramadhan, Rasulullah saw. memberikan perhatian lebih dalam mengamati hilal ini.</p>
<p>Dari Aisyah ra., ia berkata: “Adalah Rasulullah saw. sangat mencermati keadaan hilal pada bulan Sya’ban, melebihi perhatian beliau akan bulan selain Sya’ban. Beliau pun melakukan puasa Ramadhan karena terlihatnya hilal. Maka apabila hilal terhalang awan, beliau menghitung 30 hari, kemudian beliau berpuasa” (HR Ahmad, Abu Dawud, Daruquthni).</p>
<p>Dalam hadis lain Rasulullah saw. menyampaikan, “”Berpuasalah kalian karena melihat bulan sabit, dan berhari rayalah kalian ketika melihat bulan sabit. Maka, jika mendung menghalangi penglihatan kalian dari melihat bulan sabit, sempurnakanlah 30 hari bulan Sya’ban” (HR Bukhari dan Muslim)<br />
Ini menjadi dalil bahwa metode penentuan bulan baru dalam Islam dilakukan dengan rukyatul hilal alias melihat hilal.</p>
<p><strong>Rukyat global</strong><br />
Rukyat global maksudnya adalah satu pengamatan berlaku untuk seluruh dunia. Sehingga serentak memulai dan mengakhiri Ramadhan. Itu maksudnya. Hal ini tentu berdasarkan dalil juga dong.</p>
<p>Ketiga imam madzhab, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad sepakat bahwa penentuan awal-akhir Ramadhan harus dengan rukyat global, tanpa lagi mempertimbangan mathla’ (jarak wilayah) untuk daerah tertentu. Misalnya pengikut Imam Syafi’i menentukan radius 120 km. Maka, antara Jakarta dengan Bandung saja bisa berbeda memulai Ramadhan jika mengikut pendapat ini. Kalo mengadopsi rukyat global, berarti seluruh dunia seharusnya bisa serentak memulai awal dan akhir Ramadhan ini. Iya kan?</p>
<p>Maka, menurut Imam asy-Syaukani, “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan (rukyatul hilal), maka rukyat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.” (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Jilid III, hlm. 125)</p>
<p><strong>Hisab adalah…</strong><br />
Hisab itu artinya menghitung. Sebelum dijelasin lebih jauh, kamu kayaknya perlu mengenal terlebih dahulu bahwa ukuran waktu dalam penanggalan Islam (kalender hijriah) itu didasarkan pada peredaran bulan murni. Jadi hitungannya berdasarkan umur bulan. Bukan matahari. Berbeda dengan kalender Masehi yang penanggalannya didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari. Jelas beda banget.</p>
<p>Melalui hisab inilah penangalan kalender hijriah disusun dan tanggalnya kadang ditemukan di beberapa kalender untuk ‘mendampingi’ kalender masehi yang udah diterapkan secara internasional. Misalnya, tanggal 13 September 2007 di kalender kita saat ini, itu sama dengan 1 Ramadhan 1428 H. Itu berdasarkan perhitungan ahli hisab. Jangankan setahun ke depan, seratus tahun ke depan pun dengan metode hisab bisa ditentukan kapan satu Ramadhan diawali dan diakhiri. Memudahkan memang. Apalagi setelah berkembang teknologi di bidang astronomi yang dilengkapi peralatan canggih bisa menentukan kapan gerhana matahari, kapan gerhana bulan, dan tentunya kapan memulai ibadah-ibadah sampai ribuan tahun ke depan (sebelum kiamat tentunya) dengan tingkat akurasi tinggi, kalo pun meleset tak lebih dari 1 menit. Wuih!</p>
<p>Pertanyaannya, apakah hisab itu diperbolehkan? Para fuqaha berbeda pendapat dalam masalah ini. Dahulu para imam madzhab tidak membolehkan penggunaan hisab, sebab hisab tidak memberikan hasil perhitungan yang meyakinkan bahkan tidak menghasilkan perhitungan yang rajih. Sebabnya apa? Karena saat itu ilmu hisab belum berkembang dengan bantuan teknologi seperti sekarang.</p>
<p>Dalam kitab Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi, jilid VII hlm. 192 dan dalam kitab Fathul Bari Bisyarhi Shahih Al Bukhari karya Ibnu Hajar Al Asqalani, jilid V hlm. 126-127 terdapat hadits Nabi saw.: Kami adalah umat yang ummi. Kami tidak dapat menulis atau menghitung. Satu bulan ada begini, begini, begini (seraya menyodorkan kesepuluh jari tangan tiga kali, dengan menekuk jari jempol pada sodoran ketiga) dan satu bulan adalah begini, begini, begini (dengan membuka semua jari pada ketiga sodoran). (Lafazh hadits menurut Imam Muslim)</p>
<p>Imam Hajar kemudian memberi komentar (syarah) hadits ini sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan hisab dalam hadits ini adalah hisabun nujum (perhitungan ilmu falak) dan peredarannya. Orang-orang dahulu belum mengetahui ilmu itu, kecuali sedikit dan pengetahuannya pun amat sederhana. Dikaitkan dengan puasa dan (perkara) lainnya dengan rukyat adalah untuk menghilangkan kesukaran dari mereka dalam menggunakan hisab peredaran bulan.”</p>
<p>So, dalam penjelasan di atas ini, menggunakan metode hisab, apalagi dengan bantuan teknologi astronomi yang cukup bagus, hukumnya boleh. Silakan saja. Namun, perlu diingat bahwa hisab bukan alat utama untuk menentukan awal dan akhir dari umur bulan hijriah. Tapi tugasnya adalah untuk mendukung rukyat. Misalnya untuk menentukan kapan dimulai melihat hilal bulan baru. Ini penting agar jangan sampe baru tanggal 28 udah melihat hilal. Itu sih nggak bakalan ketemu, karena yang dilakukannya itu adalah rukyatul qomar alias melihat bulan (hehehe&#8230;). Maka, pengerjaan hisab pun, akhirnya memang harus dilakukan oleh ahli rukyat yang handal dan mumpuni di bidangnya supaya antara hisab dan rukyat itu saling mendukung, gitu lho.</p>
<p><strong>Ayo, serentak puasa!<br />
</strong>Memang nggak mudah untuk bisa menyatukan pendapat dalam kondisi kaum muslimin seperti saat ini yang terpecah lebih dari 50 negara dalam ikatan nasionalisme masing-masing. Meski secara ilmiah metode hisab sudah berkembang dengan bagus, memburu hilal pun sudah menggunakan teknologi canggih seperti melengkapi teleskop horizontal dengan kamera digital yang berresolusi geometris tinggi dan juga berresolusi spektral (radiometris) yang luas.</p>
<p>Sobat muda muslim, meskipun sumberdaya manusia kaum muslimin hebat, peralatan canggih, metode menghitung dengan hisab juga oke, tapi kalo nggak ada pemersatunya tetep nggak akan bisa menyatukan kaum muslimin dalam memulai ibadah Ramadhan ini. Karena masing-masing akan mengklaim bahwa metodenyalah yang terbaik. Susah kan?</p>
<p>Itu sebabnya, keberadaan Khilafah Islamiyah akan memberikan solusi, bukan hanya dalam masalah menentukan awal dan akhir Ramadhan, tapi seluruh problem hidup manusia di dunia ini. Khalifah, sebagai kepala negara akan mengambil keputusan untuk menentukan awal dan akhir sebuah bulan. Sebab, akan berpengaruh kepada waktu-waktu ibadah. Padahal, ibadah harus jelas waktunya. Itu sebabnya, kita nggak boleh melaksanakan shalat Idul Fitri tapi tanggal 2 Syawal. Waduh!</p>
<p>So, untuk menyelesaikan masalah ini Khilafah Islamiyah akan mengerahkan para astronom muslim untuk melakukan rukyat dan laporannya diberikan kepada khalifah sehingga khalifah bisa menentukan keputusan tepat untuk serentak berpuasa. Kalo sekarang? Ya, kita harus sabar sebab negara juga kayaknya susah dipercaya. Apalagi selama ini nggak pernah beda ama kalender yang udah ditulisi itu.</p>
<p>Tapi tentu saja kita harus berupaya mencari informasi yang benar dan akurat tentang rukyatul hilal ini dari berbagai sumber terpercaya di bidangnya. Oya, jangan lupa untuk senantiasa bergerak menyampaikan dakwah agar Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah Islam kembali tegak untuk kemaslahatan seluruh manusia. Bagaimana? [solihin: <a href="http://www.osolihin.wordpress.com/">www.osolihin.wordpress.com</a>]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 358/Tahun ke-8/10 September 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yuk-serentak-puasa-sedunia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beauty and the Beast</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/beauty-and-the-beast</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/beauty-and-the-beast#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 04:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/beauty-and-the-beast/</guid>
		<description><![CDATA[Beauty and the beast, kali ini bukan untuk membahas lagu atau film dari negeri Barat sono yang sudah kondang gulindang. Tapi kali ini kita akan membahas kecantikan versus keburukan. Why? Supaya kita bisa membedakan mana cantik betulan dan mana yang palsu atau beast yang dibungkus sedemikian rupa sehingga kehilangan bentuk aslinya dan terlihat cantik semu.
Beauty, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beauty and the beast, kali ini bukan untuk membahas lagu atau film dari negeri Barat sono yang sudah kondang gulindang. Tapi kali ini kita akan membahas kecantikan versus keburukan. Why? Supaya kita bisa membedakan mana cantik betulan dan mana yang palsu atau beast yang dibungkus sedemikian rupa sehingga kehilangan bentuk aslinya dan terlihat cantik semu.<span id="more-623"></span></p>
<p>Beauty, perempuan mana yang nggak mau disebut beautiful? Pasti deh hidungmu bakal kembang kempis kalo ada yang bilang how beautiful you are. Apalagi kalo bodimu menunjang dengan tubuh yang semampai (bukan semester tak sampai, lho), langsing, putih dan rambut lurus indah terurai. Walah&#8230;persis iklan-iklan di televisi. Kamu pun jadi percaya seratus persen bila ada yang memuji bahwa kamu terlihat cantik dengan modal sedemikian rupa. Sudah nggak keingat lagi kalo itu semua cuma rayuan gombal yang basi dan pasti ada maunya.</p>
<p>Sedangkan bagi kamu yang nggak punya ciri-ciri di atas, pasti cuma manyun karena merasa diri nggak cantik. Udah tubuh kalo nggak kelewat kurus pastilah kelewat gemuk, kulit coklat kusam plus rambut yang keriting. Duh, seakan-akan kelahiranmu di dunia menjadi sebuah kutukan dengan penampilan seperti ini. Kamu merasa menjadi perempuan paling merana sedunia karena tak ada sedikit pun kriteria cantik yang bisa dibanggakan. Tapi apa iya sih, definisi cantik cuma yang kayak gini aja?</p>
<p><strong>Cantik, bagaimanakah?</strong><br />
Beauty is in the eye of the beholder. Kecantikan itu tergantung siapa yang melihat dan menilai. Di jaman Kaisar Romawi dulu, perempuan cantik adalah yang bertubuh gendut dan subur. Kalo nggak percaya, coba lihat buku komik koleksimu. Yang jadi primadona kebanyakan perempuan bertubuh subur dan bukannya si kurus kering. Perempuan kurus dianggap kurang gizi dan tidak menarik.</p>
<p>Seiring perkembangan waktu, kriteria cantik menjadi berubah. Karena manusia terutama perempuan mempunyai kecenderungan mudah menjadi gemuk daripada kurus, maka ada pihak-pihak tertentu melihat peluang ini. Diciptakanlah stereotip perempuan cantik itu dengan tubuh yang langsing cenderung kurus. Model-model iklan dan peragawati adalah ikon untuk mengopinikan bagaimana menjadi perempuan cantik. Berlomba-lombalah perempuan seluruh dunia meniru ikon itu. Obat pencahar dengan berbagai merek laris manis diserbu perempuan supaya dirinya bisa menjadi langsing dan kurus.</p>
<p>Barbie adalah gambaran sempurna tentang sosok perempuan ideal dalam bentuk boneka. Tubuh ramping, bagian pinggul bak gitar Spanyol, hidung mancung, mata biru, bibir tipis, kulit putih dan rambut pirang. Perempuan seluruh dunia pun berlomba-lomba meniru sosok ini tak peduli dengan cara apa pun. Jadilah laris manis obat pelurus rambut, pemutih kulit, pelangsing tubuh hingga dokter bedah untuk kecantikan.</p>
<p>Perempuan gendut dengan kulit coklat atau hitam dicitrakan sebagai perempuan jelek di banyak film-film produksi dalam dan luar negeri. Diopinikan dengan gencar agar para perempuan merasa malu menjadi gendut dan berkulit yang tidak putih. Jadilah para perempuan bukan lagi sibuk mengurusi akhlak, upgrade pemikiran, dan iman tapi malah pusing mikirin berat badan, kosmetik terbaru apa yang lagi in, atau baju model apa yang lagi musim. Bagi yang berduit operasi plastik memancungkan hidung, sedot lemak, menghilangkan kerut wajah hingga (maaf) payudara pun dipermak di sana sini. Tujuannya, tampil cantik secara fisik.</p>
<p>Padahal, kecantikan fisik sama sekali nggak berbanding lurus dengan kecantikan akhlak dan sikap. Seperti inikah gambaran cantik yang kita inginkan?</p>
<p><strong>Siapakah si cantik (beauty)?</strong><br />
Si cantik atau the beauty adalah seseorang yang padanya terpancar kecantikan alami dan sejati. Bukan cantik yang pura-pura dengan memakai topeng kosmetik atau pun kesemuan yang pasti akan luntur.</p>
<p>Si cantik ini adalah yang mempunyai beauty luar dalam dengan bukti akhlak yang baik, otak yang cerdas dan paling utama adalah iman yang mantap. Kamu bakal bisa merasakan seseorang itu cantik ketika kamu merasa damai di dekatnya. Kamu nggak bakal terlukai karena pedasnya perkataan. Sebaliknya, kamu akan merasa selalu bisa introspeksi bila berinteraksi dengannya.</p>
<p>Kulit si cantik selalu terlindung di balik kain kerudung dan jilbabnya. Hanya laki-laki yang bertanggung jawab saja yang mampu menyibak pesona kecantikan alami di baliknya. Bukan tropi kuningan, segepok rupiah atau pun secarik kertas penghargaan. Tapi nilai kecantikan perempuan ini adalah dunia-akhirat. Tak ada harta dunia yang mampu membelinya.</p>
<p>Biar kata secara fisik tidak cantik menurut pendapat orang, perempuan jenis ini tak pernah ambil pusing. Kurus atau pun gendut bukan masalah besar lagi asalkan pola hidup sehat telah dijalankan. Karena tak dipungkiri ada perempuan yang membawa gen keluarga yang memang bertubuh gendut meski pola makannya sedikit. Begitu sebaliknya, ada perempuan yang sulit gemuk meski sudah berusaha makan banyak.</p>
<p>Kulit tak harus putih asal selalu ditutup dengan sempurna sesuai perintah Allah. Hidung pesek, bibir yang tak setipis bibirnya Cindy Crawford, dan dagu yang sederhana tidak seseksi dagu Nadine Candrawinata, itu semua nggak masalah sama sekali. Bahkan Maha Sempurna Allah Yang Maha Tahu proporsi ideal wajah perempuan. Meski pesek tapi masih terlihat manis apalagi dengan ghodul bashor-nya (menundukkan pandangan) mata karena takwa. Bibir meski tak tipis tapi selalu basah dengan dzikrullah dan kalimat yang baik menjadikannya terlihat indah.</p>
<p>Sungguh, kecantikan alami akan terpancar dari perempuan semacam ini. Bila ada senyum terukir, bukan demi gelar acara beauty pageant. Tapi semata-mata keramahan tulus yang hadir bernilai sedekah dan menuai pahala. Pancaran matanya bening bukan genit. Ayunan langkahnya ringan ke majelis-majelis ilmu dan dakwah. Cantik jenis ini tak akan pernah lekang dimakan usia dan zaman. Jadi meskipun satu ketika nanti masa muda pergi dan digantikan oleh masa tua, perempuan ini akan tetap terlihat cantik di mata siapa pun yang memandang. Yang begini ini nih yang pantas disebut inner beauty sejati.</p>
<p><strong>Siapakah si jelek (beast)?</strong><br />
Si jelek atau the beast adalah mereka yang mempunyai kecantikan semu dan penuh kepura-puraan. Kecantikan yang terpancar darinya cuma sebatas permukaan dan penuh dengan polesan di sana-sini. Semua yang ada di dirinya serba palsu, ya senyumnya, ya ketulusannya, dan lain-lain deh. Mereka ini ibarat manekin yang bisa berjalan. Tahu kan apa itu manekin? Boneka cantik yang biasa dipajang di toko-toko baju, diam tak bergerak, tak punya otak. Namanya juga benda mati.</p>
<p>Kecantikan jenis ini sangat suka dengan kilatan kamera dan rekaman video. Setiap inci senyumnya ada yang nge-shoot. Tanpa itu semua nggak bakal dia mau senyum atau pun berbuat baik pada sesama. Demi sekadar mendapat pengakuan cantik, cewek-cewek seperti ini merasa perlu mengikuti berbagai jenis beauty pageant untuk mendapat pengakuan dari para juri. Kasihan banget kan, hanya sekadar untuk mendapat predikat putri tercantik, para cewek ini kudu obral harga diri. Aurat diumbar kemana-mana, rasa malu sudah tergadaikan karena gepokan rupiah dan iming-iming ketenaran nama.</p>
<p>Jadi kamu jangan terkecoh dengan kecantikan jenis yang ini. Selain nggak riil, kecantikan ini juga nggak bakal tahan lama. Berapa sih usia seseorang mampu bertahan dengan kulit mulus dan kencang? Beberapa tahun ke depan, kulit luar yang selalu dibangga-banggakan itu akan kendor dan keriput. Biar kata krim awet muda merek apa pun yang dipakai, nggak pernah ada krim yang mampu melawan kodrat alam atau sunatullah. Menjadi tua adalah satu kepastian yang tak mungkin ditolak siapa pun juga, kecuali kematian.</p>
<p>Kalo udah ngomongin kematian, yang namanya kulit semulus apa pun ia hanyalah onggokan benda mati yang segera menjadi santapan cacing tanah. Secantik dan semolek apa pun seorang perempuan, semulus dan sehalus apa pun kulitnya, itu semua tak ada gunanya bila ajal telah menjemput. Bahkan di akhirat kelak, kulit cantik yang kerjaannya umbar aurat ini akan menjadi kulit terjelek yang pernah ada. Kulit itu akan dibakar di api neraka karena suka dipamerkan kepada laki-laki yang tak berhak untuk menikmatinya. Hiii…</p>
<p><strong>Siapa di balik beauty and the beast?</strong><br />
Sesuatu di balik beauty sudah jelas dong. Islam sebagai ideologi alias the way of life menciptakan perempuan-perempuan cantik luar-dalam. Islam mampu menghasilkan perempuan berkualitas dalam posisinya sebagai manusia sesungguhnya, bukan boneka pun bukan makhluk jadi-jadian. Maksudnya jadi-jadian adalah sosok yang tak mengenal dirinya sendiri dan bahkan merasa asing dengan kepribadiannya sendiri.</p>
<p>Itu semua bisa terjadi karena tak pernah ada keraguan lagi bahwa Islam berasal dari Yang Maha Menciptakan dan Mengetahui kapasitas manusia dalam kedudukannya sebagai hamba. Seluruh aturan hidup yang diberikannya untuk manusia termasuk hamba berjenis perempuan semuanya pas dan klop dengan kebutuhan perempuan sendiri. Sebagai misal perintah menutup aurat ternyata selaras dengan kebutuhan perempuan untuk melindungi kulit lembutya dari sengatan matahari. Tak perlu lagi berbagai jenis krim tabir surya dibeli yang itu semua ujung-ujungnya adalah menguntungkan pengusaha kapitalis. Tapi ingat, ketika kamu menutup aurat bukan karena supaya kulit menjadi sehat loh. Tapi itu semua dijalankan sebagai bukti kepatuhan kita pada Allah Swt. Setuju kan?</p>
<p>Sedangkan sesuatu di balik the beast adalah semua ideologi yang tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan, tidak memuaskan akal dan pastinya menggelisahkan jiwa. Ini semua dipenuhi oleh dua ideologi besar dunia yaiti kapitalisme dan sosialisme. Karena sosialisme telah ambruk sebelum genap satu abad usianya, maka untuk sementara topik ini kita lewati dulu. Fokus kita tujukan pada kapitalisme yang saat ini seakan-akan telah menguasi dunia dengan akidah sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan.</p>
<p>Kapitalisme inilah biang kerok semua kerusakan di bumi termasuk hadirnya perempuan-perempuan sebagai the beast alias korban keserakahan para borjuis capital. Ideologi inilah yang menyulap perempuan lugu menjadi boneka-boneka manekin yang diberinya pakaian tapi telanjang. Tubuh perempuan yang seharusnya dilindungi malah diumbar auratnya kemana-mana demi menangguk untung materi. Wajah perempuan juga tak ubahnya badut dan topeng karena tebalnya lapisan kosmetik membelit kulit. Dari ujung rambut yang penuh semprotan hair spray hingga ujung kaki yang penuh coretan kuteks, menjadikan perempuan tak beda dengan seonggok benda mati.</p>
<p>Kejamnya perlakuan kapitalisme terhadap perempuan sepeti gambaran di atas, tidakkah menggugah hati nurani dan akal kita untuk berontak? Cuma mayat hidup saja yang rela dirinya dan ketinggian martabatnya sebagai manusia diinjak-injak sedemikian rupa. So, bila sudah tahu dampak buruk kapitalisme terhadap kehidupan, ayo kita sama-sama campakkan ideologi ini ke tong sampah peradaban. Kita ganti ideologi Kapitalisme ini dengan Islam. Yup, Islam saja jawabannya. Kesimpulannya nih, ayo kita perjuangkan Islam sebagai ideologi yang akan mengganyang dan mengubur kapitalisme yang sudah sekarat ini. Ayo berjuang bersama! [ria: riafariana@yahoo.com]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 357/Tahun ke-8/3 September 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/beauty-and-the-beast/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Superhero Sejati</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/superhero-sejati</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/superhero-sejati#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 07:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/superhero-sejati/</guid>
		<description><![CDATA[Mulai awal bulan Agustus 2007 ini, salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini menggelar film serial televisi Heroes yang konon kabarnya heboh di Amrik sono sejak tahun 2006 lalu. Yup, kita jadi tambah kenalan superhero macam Nathan Petrelli (Adrian Pasdar), Peter Petrelli (Milo Ventimiglia), Angela Petrelli (Cristine Rose), Claire Bennet (Hayden Panettiere), Hiro Nakamura [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mulai awal bulan Agustus 2007 ini, salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini menggelar film serial televisi Heroes yang konon kabarnya heboh di Amrik sono sejak tahun 2006 lalu. Yup, kita jadi tambah kenalan superhero macam Nathan Petrelli (Adrian Pasdar), Peter Petrelli (Milo Ventimiglia), Angela Petrelli (Cristine Rose), Claire Bennet (Hayden Panettiere), Hiro Nakamura (Masi Oka), Ando Masahashi (James Kyson Lee), dan jagoan superhero lainnya dalam serial televisi ini.<span id="more-611"></span></p>
<p>Di film ini ada superhero yang lentur banget tulangnya. Lehernya bisa berputar sampe 360 derajat. Jadi kalo kecelakaan di bagian leher tetep aman. Ada yang bisa terbang dengan kecepatan bak meteor, ada yang bisa ninju orang ampe mental dengan tenaga dalam yang super-duper (eh, istilah ini mah buat makanan atuh ya, karena arti kiasan dari super-duper adalah enak sekali).</p>
<p>Para pahlawan super ini kayaknya kian melengkapi jagoan khayalan dari negeri Ajo Rijal, eh, Ajo Sam ini (backsound: kalo Ajo Rijal sih identik ama Sate Padang ya?). Superhero yang udah kita kenal banget sejak kecil adalah Superman, Batman, Captain America, Spiderman, terus gerombolan mutan macam Wolverine, Cyclops, Magneto, Profesor Xavier, dll yang tergabung dalam komunitas X-Men.</p>
<p>Superhero jadi-jadian alias khayalan ini memang menghibur siapa pun. Punya kelebihan dan keahlian yang bisa diandelin untuk melawan kejahatan dan menegakkan keadilan. Masyarakat Amerika barangkali udah jenuh dengan kondisi hidup mereka yang diliputi rasa cemas karena banyaknya kejahatan, sementara pihak-pihak yang seharusnya memberikan perlindungan malah cuek aja (backsound: jadi inget film jaman baheula yang diputer di televisi: LA Law yang berkisah kalo hukum di negara kapitalis Amerika sana bisa dijual-beli alias ada mafianya. Pantes aja yang banyak duit jadi kebal hukum, yang kismin, eh miskin mah harus rela nggak dapet perlindungan).</p>
<p>Nah, kejadian-kejadian seperti itu yang terus berulang akhirnya menginspirasi orang-orang kreatif untuk berkarya. Kalo Winston Groom membesut karya fenomenalnya, Forrest Gump yang menyindir Amerika secara ‘pelan-pelan’ dari berbagai sudut kehidupan (pernah difilmkan dengan judul sama. Forrest Gump diperani oleh Tom Hanks), maka tim kreatif di DC Comics mengeluarkan Superman, Batman, Wonder Woman, dan The Flash. Nggak ketinggalan tim kreatifnya Marvel Comics (Marvel Enterprises Inc.) menciptakan superhero Spiderman, Captain America, the X-Men, the Fantastic Four, dan the Incredible Hulk, serta superhero imajiner lainnya.</p>
<p>Meski awalnya sekadar hiburan, tapi sangat boleh jadi keberadaan para superhero itu terinspirasi dari kehidupan masyarakat Amerika yang mendambakan para pahlawan yang bisa memberi perlindungan kepada mereka. Siapa tahu kan? Iya kan?</p>
<p>Okelah, terlepas dari asal-usulnya penciptaan para superhero itu, yang jelas bahwa saat ini hampir di seluruh dunia superhero tersebut menjadi idola anak-anak, bahkan sejak jaman kakek-nenek kita anak-anak. Maklum, Marvel Comics udah ada sejak tahun 1932, Bro. Sekadar tahu aja, pada tahun 1941 Joe Simon dan Jack Kirby menciptakan Captain America dengan maksud sebagai bentuk ‘perlawanan’ terhadap Nazi Jerman waktu itu. Laku banget dah komik tersebut. Tuh kan, kayaknya kakek-nenekmu waktu mereka anak-anak juga pernah mengidolakan superhero ini.</p>
<p>Sobat, sekarang kayaknya kita perlu bertanya: mengapa kita perlu pahlawan, bahkan bila perlu superhero?</p>
<p><strong>Idola sekaligus inspirator</strong><br />
Superhero diciptakan sangat boleh jadi tujuannya adalah untuk menjadi idola kaum lemah dan pelindung mereka yang tak berdaya. Why? Sebab, manusia itu beda-beda kekuatannya, beda-beda kondisinya, beda-beda ketahanannya, beda-beda emosinya, termasuk beda-beda nasibnya. Begitulah manusia diciptakan.</p>
<p>Itu sebabnya, dengan potensi kehidupan yang seperti itu, manusia itu akan saling terinspirasi, saling terpengaruh, dan saling membantu satu sama lain. Mereka yang dinilai memiliki kelebihan, pasti menjadi andelan. Hmmm.. jadi inget film-film laga yang diperankan Barry Prima, George Rudy, Johan Saimima dan Advent Bangun yang menjadi idola anak-anak dan remaja di tahun 1980-an. Mereka kuat, gagah dan mahir olah kanuragan. Di film-film selalu jadi bintang utama dan selalu menang (kecuali Advent bangun kali ye, yang sering kebagian peran penjahat—meski jago berantem ya tetep aja ujungnya sih harus kalah sesuai tuntutan skenario hehehe…).</p>
<p>Sobat muda muslim, setiap orang pasti mencari sosok yang bisa dijadikan idola bagi dirinya masing-masing. Setidaknya bisa mewakili perasaannya, mewakil pendapatnya, mewakili keinginannya, dan mewakili cita-citanya. Yup, sang idola akan menjadi inspirator orang yang mengidolakannya. Bukan tak mungkin pula kan ada orang yang mengidolakan superhero macam Spiderman dan Superman, karena dianggapnya bisa menolong penderitaannya dan merasa tenang jika ada superhero tersebut di sampingnya. Iya kan?</p>
<p>Nah lho, superhero idolanya kok  superhero khayalan sih? Memangnya nggak ada yang nyata? Maksudnya bukan legenda apalagi mitos gitu lho. Ada faktanya.</p>
<p>Hehe.. ada sih. Yup, meski kita nggak pernah ketemu langsung sama Tjut Nyak Dien, tapi insya Allah kita yakin bahwa Tjut Nyak Dien bukanlah tokoh fantasi. Tapi nyata adanya.</p>
<p>Terus, apakah superhero tersebut bisa menjadi inspiratormu dalam beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari?</p>
<p>Yes! Seharusnya memang demikian. Seorang hero bisa memberikan semangat kepada ‘pengikutnya’. Kita pasti tahu bagaimana kuatnya kharisma Tjut Nyak Dien ketika berjuang menggelorakan semangat rakyat Aceh untuk berjuang melawan Belanda yang waktu itu sebagai penjajah. Semangatnya mampu menyebar di dada para pejuang Aceh.</p>
<p>Kalo sekarang mungkin yang jadi hero adalah orang yang bisa memberikan inspirasi dalam hidup kita. Untuk lebih percaya diri, untuk lebih bisa tenang menjalani hidup karena merasa ada orang yang mampu dijadikan rujukan dalam berbuat dan bertindak. Karena jujur aja nih, kita sering ingin banget dapetin ‘pembenaran’ dan dukungan atas apa yang kita lakukan. Salah satunya dengan kita mengikuti gaya hero yang kita teladani.</p>
<p>Sekalian bisa bilang ke orang-orang, bahwa apa yang kita lakuin memang ada teladannya, yakni hero kita itu. Sehingga orang lain bisa ngeh dengan apa yang kita lakuin dan menganggap wajar karena ngikutin idola kita yang udah teruji keteladanannya di mata banyak orang. Tentu teladan dalam kebenaran dong.</p>
<p>Oya, yang terpenting agar kita bisa meneladani sang hero, maka hero yang kita pilih adalah yang benar dan bagus. Yang tentunya lebih baik dari kita. Bisa dipercaya, bisa dijadikan rujukan dalam kebaikan. Terlebih, seorang hero tuh harus mampu memberi inspirasi yang baik buat kita. Hmm.. jika tipe hero yang diinginkan seperti itu, tentu bukan yang ecek-ecek dong ya. Kelasnya lain. Berarti tuh hero kudu menjadi inspirator ulung bagi setiap calon pengikutnya. Inspirator dalam melakukan kebenaran dan kebaikan tentunya. Kebenaran Islam dan kebaikan Islam, gitu lho.</p>
<p><strong>Superhero “made in” Islam</strong><br />
Islam sejak lama sudah menjadi magnet kuat bagi manusia yang cinta kebenaran. Sosok Muhammad saw. pasti salah satu daya tariknya. Para sahabat menjadikan beliau guru, sahabat, sekaligus hero dalam kehidupannya.</p>
<p>Allah Swt. menegaskan dengan  sangat jelas dalam firmanNya (yang artinya): “<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>.” (<strong>QS al-Ahzab [33]: 21</strong>)</p>
<p>Bahwa Rasulullah saw. adalah manusia yang telah diberi ‘ishmah atas dosa-dosa beliau, baik yang lalu maupun yang akan datang, itu telah jelas. Tapi itu bukan berarti kita tidak mampu dan tidak akan pernah bisa mengikutinya. Justru tujuan pengangkatan beliau sebagai utusan Allah adalah untuk memberi teladan, contoh serta pemahaman kepada kita akan mulianya ajaran Islam. Firman Allah Swt. (yang artinya<em>):”(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em>” (<strong>QS an-Nisaa’ [4]: 165</strong>)</p>
<p>Arthur Glyn Leonard menuliskan dalam bukunya bahwa Muhammad saw. adalah: “Seorang laki-laki yang bukan saja besar, tapi salah seorang yang terbesar … yang paling besar … yang dihasilkan kemanusiaan. Pembangunan material dan spiritual yang membangun suatu bangsa yang besar, suatu empirium besar, dan bahkan lebih dari segalanya ini, suatu agama yang lebih besar lagi.” (Major Arthur Glyn Leonard, Islam, Her Moral and Spiritual Value)</p>
<p>Muhammad saw. menginspirasi banyak manusia. Islam yang dibawanya mampu menjadi sumber keberanian dan motivasi dalam hidup, maka banyak dari pengikut Muhammad saw. yang tadinya manusia biasa menjadi luar biasa. Mereka menjadi hero di antara para hero dan tentunya layak dan pantas kita jadikan hero dalam kehidupan kita dengan cara meneladaninya. Yup, ‘mencontek’ gaya hidupnya dan prinsip hidupnya yang memang keren itu.</p>
<p>Nah, ada beberapa superhero ‘made in’ Islam yang bisa kita kenal adalah Khalid bin Walid. Beliau adalah mantan panglima perang kafir Quraisy ketika memukul mundur pasukan kaum muslimin di Perang Uhud, ternyata kemudian terpesona dengan Islam dan mengubah dirinya dari hero jahat menjadi hero baik di jalan kebenaran Islam.</p>
<p>Sosok Usamah bin Zaid yang masih muda usia melambung namanya setelah menjadi panglima perang pada usia 18 tahun. Salman al-Farisi yang semula penyembah api, lalu masuk Islam dan menjadi sosok hero buat kita yang bisa diandalkan. Ali bin Abi Thalib yang gagah berani, cerdas, ahli fikih dan pernah menjadi khalifah (kepala negara Islam) juga layak kita jadikan teladan dalam hidup kita.</p>
<p>Ada lagi yan lain? Masih banyak, Bro. Masih ribuan sosok hero yang berhasil ‘diproduksi’ Islam sebagai ideologi yang udah menyelamatkan banyak manusia. Tapi, maaf ya nggak bisa ditulis satu persatu di sini.</p>
<p>Intinya nih, kita bisa meneladani hero-hero yang lahir dari rahim Islam. Bahkan, jika kita meneladani mereka, terus kita ‘menjerumuskan’ diri kepada Islam dengan sepenuh hati, suatu saat—cepat atau lambat, insya Allah pasti kita jadi hero pula. Menjadi teladan buat anak-cucu kita. Teladan dalam dakwah dan perjuangan menegakkan Islam. Inilah sosok hero yang sebenarnya, bahkan boleh dibilang superhero sejati. Karena riil dan tentu saja bukan khayalan belaka. [solihin: www.osolihin.wordpress.com]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 355/Tahun ke-8/20 Agustus 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/superhero-sejati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Warisan Rasulullah saw.?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/apa-warisan-rasulullah-saw</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/apa-warisan-rasulullah-saw#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2007 08:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/apa-warisan-rasulullah-saw/</guid>
		<description><![CDATA[Selamat! Kamu mendapat warisan Rp 1 miliar!” Waaaah, pasti kamu nggak percaya kalo dapat kabar seperti ini. Menganggap lagi mimpi dan buru-buru pengen cepat bangun. Kenapa nggak percaya? Karena duit segitu tuh banyak banget. Nggak nyangka aja bakalan dapetin warisan, gitu lho. Tapi kalo emang itu adalah kenyataan, ya terima saja. Kali aja dirimu jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat! Kamu mendapat warisan Rp 1 miliar!” Waaaah, pasti kamu nggak percaya kalo dapat kabar seperti ini. Menganggap lagi mimpi dan buru-buru pengen cepat bangun. Kenapa nggak percaya? Karena duit segitu tuh banyak banget. Nggak nyangka aja bakalan dapetin warisan, gitu lho. Tapi kalo emang itu adalah kenyataan, ya terima saja. Kali aja dirimu jadi ahli waris dari ortumu yang ngedadak kaya karena dapet undian, terus saking kagetnya meninggal. Jadi deh kamu ahli warisnya. Siapa tahu kan? Ih, tapi amit-amit deh dapetin duit banyak juga kalo harus kehilangan ortu mah. Tul nggak?<span id="more-607"></span></p>
<p>Tapi intinya, mendapatkan warisan tuh senang. Apalagi sebanyak itu pasti senangnya berlipat-lipat banget kan? Pasti gembira sekali. Hmm.. ini wajar banget kok. Sebab, siapa sih yang nggak senang dapetin harta, apalagi melimpah begitu? But, kalo warisannya berupa harta sih, sehari aja bisa habis kok. Entah ada yang ngerampok atau kamu langsung borong sembako, beli rumah, beli mobil dan macem-macem. Sampe puas. Kalo pun nggak sehari habis, tapi cepat atau lambat pasti habis juga kalo nggak bisa ngelolanya.</p>
<p>Eit, cukup prolognya ya jangan ngayal dan jangan keterusan ngomongin soal ini. Dua paragraf pembuka tadi sekadar cantolan aja dari pembahasan utama kita pada edisi pekan ini. Yup, intinya kita emang bakalan ngomongin soal warisan, tapi bukan warisan berupa harta, gitu lho.</p>
<p>Lalu warisan apa? Yes, mari kita bicara soal warisan Rasulullah saw. untuk kaum muslimin. Untuk kita-kita yang emang meneladani beliau dalam seluruh aspek kehidupan. Nah, Rasulullah saw. sebenarnya udah ngasih warisan yang nggak bikin kita sesat kalo kita mau mengamalkan warisan yang harganya nggak bisa ditukar dengan duit Rp 1 miliar atau berapa pun besarnya.</p>
<p>Sobat, apa yang diwariskan oleh Rasulullah saw. kepada kita? Beliau saw. bersabda:</p>
<p>???????? ??????? ?????????? ???? ????????? ??? ????????????? ??????? ??????? ??????? ????????? ?????????<br />
“<em>Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya; Kitabullah dan Sunnah nabiNya,</em>” (<strong>HR Imam Malik</strong>)</p>
<p>Kalo membaca hadis ini, kayaknya nggak ada yang aneh deh. Maksudnya? Iya, maksudnya al-Quran dan as-Sunnah adalah dua istilah yang udah kita kenal sejak pertama kali ngaji. Cuma yang jadi masalah tuh, sejauh mana sih kita mau ngerti dan mengamalkan ajaran-ajaran di dalamnya yang udah diwariskan oleh Rasulullah saw. itu. Iya nggak sih? Sebab, praktiknya sih kaum muslimin malah banyak yang ngamalin ajaran yang bukan warisan dari Rasulullah saw. Mau bukti? Yuk kita bahas sama-sama.</p>
<p><strong>Nasionalisme warisan Rasulullah saw.?<br />
</strong>No! No! Salah banget, Bro. Rasulullah saw. sama sekali nggak nyuruh kita menjadikan nasionalisme sebagai bagian dari pandangan hidup kita. Ya, Rasulullah saw. mengecam mereka yang mengamalkannya. Beliau saw. bersabda: “<em>Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah</em>.” (<strong>HR Abu Daud</strong>)</p>
<p>Oya, dalam hadis ini disebut dengan istilah ashabiyyah. Apa itu ashabiyyah? Ashabiyyah artinya semangat golongan. Sekarang-sekarang kita suka dengar istilah itu dengan nama sukuisme, patriotisme, nasionalisme. Pokoknya ashabiyyah itu adalah bangga terhadap kelompoknya, sukunya, atawa negaranya melebihi kebanggaannya kepada Islam.</p>
<p>Kabilah-kabilah di wilayah Arab pada masa jahiliyah acapkali membanggakan kelompok masing-masing. Termasuk kalo ada kabilah yang kebetulan lebih maju dari kabilahnya, mereka suka iri, lalu menebar dendam dan terjadilah perang. Idih, hina banget ya? Cuma persoalan sepele kok ribut. Aneh ya?</p>
<p>Sepanjang abad kelima, salah satu perang yang sangat terkenal alah Harb al-Basus, yang disebabkan oleh terbunuhnya unta bernama Basus milik seorang tua dari Bani Bakr. Perang ini berlangsung selama 30 tahun dan masing-masing saling menyerang, merampas, dan membunuh. Harb Dahis wa’l Ghabraa timbul karena ketidak-jujuran dalam suatu pacuan kuda antara Suku Abs dan Dhabyan di Arabia Tengah. Perang ini berlangsung sampai beberapa waktu. Kedua Suku Aus dan Khazraj di Yastrib (sekarang Madinah) juga terlibat dalam Harb al Bu’ath (Perang Bu’ath), dan di Mekkah Suku Quraisy dan sekutunya, Bani Kinanah, berperang dengan Suku Hawazin dalam perang Harb al-Fujjar (Akar Nasionalisme di Dunia Islam, hlm. 14).</p>
<p>Rasulullah saw, baginda kita bersabda saat terjadi peristiwa perang yang mengusung semangat antar golongan: “Wahai kaum muslimin, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala saat aku hadir di tengah kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam; yang karena itulah kalian menjadi mulia dan men­jauhkan diri dari paganisme, menjauhkan kalian dari kekufuran dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?”</p>
<p>So, jangan sampe kita membela kelompok yang menyerukan semangat golongan. Padahal seharusnya kita membela kelompok, dimana dasar pembelaan kita adalah karena ikatan akidah Islam. Bukan yang lain. Sebab, inilah yang diperintahkan oleh Allah Swt. dalam firmanNya:</p>
<p>????????????? ???????? ??????? ???????? ????? ??????????? ??????????? ???????? ??????? ?????????? ???? ???????? ????????? ????????? ?????? ??????????? ?????????????? ???????????? ?????????? ?????????? ????? ????? ???????? ???? ???????? ?????????????? ??????? ???????? ????????? ??????? ?????? ?????????? ??????????? ???????????<br />
“<em>Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan hingga Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk</em>. (<strong>QS Ali Imrân [3]: 103</strong>)</p>
<p>So, kalo sekarang seorang muslim semangat banget memperingati berdirinya negara atas dasar nasionalisme, bahkan penuh perjuangan membela dan mempertahankan ikatan nasionalisme ini, berarti emang udah nggak nganggap Islam sebagai warisan pandangan hidup yang wajib dijaga dan dipertahankan. Atau minimal banget dirinya tidak tahu masalah yang sebenarnya karena nggak pernah mempelajari Islam dengan benar dan baik. Lebih kenal dengan nasionalisme ketimbang dengan Islam. Sungguh memprihatinkan, Bro!</p>
<p><strong>Demokrasi warisan Rasulullah saw.?<br />
</strong>Sumpah. Nggak banget. Salah besar kalo Rasulullah saw. mewariskan demokrasi kepada kita. Justru demokrasi itu bertentangan dan bahkan menentang Islam.</p>
<p>Sobat, asas dari ideologi Kapitalisme adalah Sekularisme. Nah, sekularisme ini merupakan dasar bagi semua penyelesaian yang ditetapin sama Kapitalisme lho. Sekaligus juga Sekularisme menjadi asas bagi setiap pemikiran yang dicetuskan oleh Kapitalisme. Sebenarnya sih, sekularisme yang emang lahir dari sebuah proses kompromi ini telah memberikan suatu anggapan bahwa manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Hal ini nggak akan bisa terealisasi kecuali jika manusia diberikan kebebasan dan dilepaskan dari segala ikatan. Dari sini, lahirlah kemudian ide kebebasan (liberalisme) yang selanjutnya menjadi sesuatu yang inheren alias melekat dalam ideologi Kapitalisme. Dari ide kebebasan ini, pada gilirannya, lahirlah konsep demokrasi; sebuah konsep yang menghendaki manusia steril dari intervensi pengaturan pihak lain (baca: agama atau Tuhan), sekaligus menghendaki agar manusia diberikan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri.</p>
<p>Sederhananya gini deh. Sekularisme itu akidahnya Kapitalisme. Sementara mesin politiknya untuk menggerakkan sistem Kapitalisme ini adalah demokrasi. Sebagaimana sejarahnya, demokrasi itu bukan berasal dari ajaran Islam. Tapi, mengapa sebagian besar kaum muslimin lebih suka mewarisi aturan buatan manusia ini ketimbang aturan buatan Allah Swt.? Mengapa lebih memilih warisan Voltaire dan Montesque ketimbang warisan Rasulullah saw.? Sungguh terlalu!</p>
<p>Akibat menjadikan demokrasi sebagai pandangan hidup di seluruh dunia (termasuk di negeri-negeri kaum muslimin), kini sudah biasa kita lihat orang bebas berbuat apa saja atas nama HAM (Hak Asasi Manusia) yang memang dinaungi oleh demokrasi. Seks bebas sudah marak, korupsi jadi budaya, kriminalitas tiada henti, perzinaan yang dilindungi (baca: lokalisasi pelacuran), dan banyak masalah manusia yang lahir akibat diterapkannya demokrasi bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Celaka dua belas!</p>
<p><strong>Pilih warisan Rasulullah saw.  or penjajah?<br />
</strong>Sobat, semoga kita mulai sadar dengan kondisi kita saat ini. Benarkah dalam praktik kehidupan sehari-hari kita udah menjadikan warisan Rasulullah saw. (yakni Islam) sebagai pedoman hidup kita atau malah sebaliknya menjadikan warisan penjajah negeri ini (Belanda) sebagai pedoman hidup kita?</p>
<p>Setiap tahun masyarakat Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan negeri ini. Merasa udah merdeka dan merasa udah bebas dari tekanan penjajahan. But, kayaknya kita banyak lupa atau malah melupakan kalo yang namanya penjajahan bukan cuma secara fisik, tapi juga secara ideologi, hukum, pemerintahan, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Nyatanya? Sungguh kita pantas bersedih karena negeri ini—meski ngaku-ngaku merdeka dari penjajahan secara fisik—ternyata masih menjadi hamba penjajah. Buktinya apa? KUHP alias Kitab Undang-Undang Hukum Pidana misalnya, masih setia dipake untuk ngatur kehidupan negeri ini. Demokrasi menjadi konsep politik yang diyakini kebenarannya, bahkan diperjuangkan oleh tokoh-tokoh muslim. Lha, masih cinta sama penjajah dan rela dijajah rupanya. Piye iki? Dapat imbalan apa sih kalo bela-belain demokrasi? Jabatan? Harta? Hmm.. jangan sampe syahadat kita tak berkutik di hadapan demokrasi.</p>
<p>Pantesan aja kita banyak yang tersesat saat ini dan kehidupan kita ancur-ancuran karena nggak menjadikan Islam yang merupakan warisan Rasulullah saw. sebagai pandangan hidup kita (ideologi negara). Justru malah menjadikan warisan penjajah sebagai the way of life. Cinta dan ketaatan kita bukan kepada Allah Swt. dan RasulNya kalo tetap menjadikan demokrasi sebagai pedoman hidup kita dan sekularisme sebagai akidah kita. Yuk, ada baiknya kita renungkan firman Allah Swt.: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaahaa [20]: 124)</p>
<p>Ah, jangan harap kita bisa lepas dari penderitaan ini jika masih setia dengan kebodohan kita mempertahankan (dan bahkan memperjuangkan) demokrasi, sekularisme, nasionalisme, dan kapitalisme ini. Mimpi kali! [solihin: <a href="http://www.studia-online.com/">www.studia-online.com</a>]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 354/Tahun ke-8/13 Agustus 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/apa-warisan-rasulullah-saw/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cowok, Temenan Yuk!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cowok-temenan-yuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cowok-temenan-yuk#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 05:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cowok-temenan-yuk/</guid>
		<description><![CDATA[Emangnya kalo nggak temenan sama cowok, apaan dong? Jangan salah, di beberapa kalangan terutama pengusung ide feminisme, mereka menganggap bahwa cowok adalah rival atau saingan cewek dalam banyak hal. Cowok tuh makhluk paling nyebelin dan penjajah sedunia. Makanya, kaum feminis berusaha sok tegar hidup tanpa cowok karena mereka nggak mau dijajah sama makhluk berjenis cowok. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Emangnya kalo nggak temenan sama cowok, apaan dong? Jangan salah, di beberapa kalangan terutama pengusung ide feminisme, mereka menganggap bahwa cowok adalah rival atau saingan cewek dalam banyak hal. Cowok tuh makhluk paling nyebelin dan penjajah sedunia. Makanya, kaum feminis berusaha sok tegar hidup tanpa cowok karena mereka nggak mau dijajah sama makhluk berjenis cowok. Masa sih sampe segitunya?<span id="more-595"></span></p>
<p>Di pihak lain, ada sekelompok cewek yang ganjen bin lembeng (ini temennya ganjen loh) tergantung banget sama yang namanya cowok. Seakan-akan mereka ini nggak bakal bisa survive tanpa cowok. Cowok adalah makhluk perkasa yang akan memperlakukan mereka ibarat putri dari kahyangan. Cewek jenis ini merasa butuh dimanja dan disayang oleh cowok all the time.</p>
<p>Waduh, kayaknya kedua kutub di atas ekstrim banget ya. Trus, gimana sih seharusnya kamu sebagai kaum cewek kudu bersikap terhadap cowok? Lanjut aja bacanya ya.</p>
<p><strong>Cowok-cewek, partner-an<br />
</strong>Allah Swt. berfirman: “<em>Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara</em>” (<strong>QS al-Hujuraat [49]: 10</strong>). Seorang mukmin dengan mukmin lainnya (tentu termasuk mukminah) adalah bersaudara. Jadi, laki-perempuan juga bersaudara asal mereka beriman kepada Allah Swt. Maksudnya saudara di sini bukan kayak kakak or adik kandung, tapi saudara seiman dalam Islam.</p>
<p>Saudara? Indah nian ungkapan ini untuk menggambarkan posisi antara laki dan perempuan, cowok dan cewek. Mereka berdua bukan musuh satu sama lain yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Bila pun yang satu menjadi pemimpin terhadap yang lain, tak akan ada ungkapan ‘ya gitu itu kalo pemimpinnya laki-laki’. Masalahnya bukan laki atau perempuan, tapi aturan apa yang diterapkan dalam periode kepemimpinan itu.</p>
<p>Cowok adalah mitra sejajar bagi cewek. Ia tidak lebih tinggi atau pun lebih rendah daripada cewek. Memang sih, di beberapa hal cowok diberi kelebihan oleh Allah dalam hal keperkasaan fisik dan fungsi sebagai pemimpin. Meskipun demikian, perkasanya cowok bukanlah untuk menindas cewek. Begitu juga ketika ia menjadi pemimpin bukan pula untuk mendzalimi yang dipimpin.</p>
<p>Begitu juga bagi para cewek. Tidak lantas karena fitrahnya lembut, cewek jadi lemah dalam segala hal. Pasrah saja ketika ia didzalimi dan diperlakukan semena-mena. Kamu tahu ibunda Khaulah binti Tsa’labah yang berani menegur pemimpin negara selevel Umar bin Khaththab? Beliau ini adalah seorang wanita tua yang ketika berpapasan dengan amirul mukminin, ia berani menegur dan menasihatinya agar bertakwa di dalam memimpin umat. Tangguh banget nih cewek. Dan kamu tahu apa tanggapan Umar bin Khaththab? Ia tertunduk, mendengar dengan takzim nasihat wanita tua ini.</p>
<p>Bayangkan, kalo kamu sebagai cewek melakukan hal yang sama pada pak presiden atau bupati deh yang paling dekat dengan tempat tinggalmu. Kamu sebagai cewek menasihati bapak-bapak pejabat ini untuk bertakwa dengan menjalankan syariah Islam dalam naungan Khilafah. Hayooo…berani nggak?<br />
 <br />
<strong>Cowok, bukan musuh cewek<br />
</strong>Sebelum paham Islam, saya dulu sempat berpikir bahwa cowok itu selalu mendominasi dalam kehidupan cewek. Makanya saya pingin melakukan sebaliknya. Jadi ketua kelas tiap tahun plus juara kelas, saya lakoni untuk membuktikan bahwa cewek juga bisa sebaik cowok dalam hal prestasi dan kepemimpinan. Kalo ngomong, saya paling ogah berlembek-lembek karena itu cuma membikin cewek terlihat ganjen dan lemah. Saya dulu sempat merasa bahwa dunia akan baik-baik saja tanpa cowok. Wiih….ekstrim banget ya?</p>
<p>Untunglah, ketika SMA saya insaf. Islam telah menunjukkan jalan kebenaran bagaimana kedudukan cowok dan cewek sesuai dengan tempat dan fitrahnya. Kedua makhluk ini bukan musuh satu sama lain. Tidak ada yang lebih baik di antara dua jenis ini kecuali takwanya. Iya kan?</p>
<p>Dengan pemahaman Islam yang benar, ide gender (baca: jender) dan feminisme nggak bakal bisa menjajah otak dan pemahaman kamu. Agama yang biasa dituding sebagai biang munculnya budaya patriarki (laki-laki dianggap yang paling unggul), selalu mengarah ke Islam, bisa kamu patahkan dengan mudah.</p>
<p>Memang sih pada faktanya ada beberapa ketidak-idealan dalam pelaksanaan. Salah satu teman saya ada yang curhat kalo cowok aktivis rohis itu menyebalkan. Hanya karena sedikit salah paham dengan pihak aktivis rohis cewek, mereka ‘balas dendam’. Ketika ada acara out bound ke luar kota, para cewek dicuekkin. Para cewek ini  yang notabene muslimah berjilbab dan berkerudung, tidak diberi tempat wudhu yang tertutup. Mereka dibiarkan saja tanpa diurusi oleh panitia cowok. Duh…</p>
<p>Begitu juga yang cowok. Saya sering mendapat laporan dari kubu ini bahwa para cewek itu jahat-jahat dan suka memaksakan kehendak. Kalo maunya begini pasti minta dituruti begini. Sulit ditawar. Jadinya mereka malas berurusan dengan cewek aktivis rohis dan memilih kerja sama dengan pihak lain. Nah, loh…</p>
<p>Cowok itu bukan musuh cewek. Kalo pun ada cowok yang semena-mena memperlakukan cewek, itu pasti karena ia belum paham Islam dengan benar. Atau pun bila ia mengaku paham Islam, pasti ia sedang lalai. Tugas kamu sebagai saudara seiman untuk mengingatkan kalo kondisi seperti ini terjadi.</p>
<p><strong>Penyebab cowok baik jadi langka</strong><br />
Cowok emang banyak banget bertebaran di muka bumi ini. Tapi cowok yang baik, cerdas, sopan, alim, sholeh dan hanif (lurus) kayaknya ini jenis yang hampir punah dari muka bumi ini. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, cowok beginian emang nggak mudah ditemui. Tahu nggak kamu apa penyebabnya?</p>
<p>Yup, betul banget. Sistem Kapitalisme-Sekulerisme. Inilah biang kerok semua masalah di dunia ini. Cowok baik menjadi langka bukan tanpa sebab. Mereka ini sudah hampir punah karena sistem yang ada membuat cowok-cowok baik tak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Yang menjamur malah cowok-cowok ala manekin yang oke bodinya tapi kosong otak dan imannya. Ihh…males banget kan jadinya.</p>
<p>Cowok tipe ini akan dengan enaknya menganggap cewek sekadar mainan untuk diperlakukan semaunya sendiri. Ini namanya cowok jadi-jadian. Karena kalo cowok beneran yang gentle, maka ia akan memperlakukan cewek dengan penuh hormat. Meskipun kuat dan perkasa, cowok akan berlaku lemah lembut pada cewek dan tidak akan menyakitinya meskipun sedikit. Masalahnya, cowok kaliber ini emang nggak mudah dicari ya? Hayo…kamu pasti lagi mengangguk-angguk tanda setuju.</p>
<p>Sistem rusak yang diterapkan pada kita saat ini membuat cowok-cowok nggak dewasa. Tubuh aja yang digedein tapi kepribadian dan mentalnya masih kayak baby. Usia SMP dan SMA yang seharusnya udah tahu tanggung jawab dan kewajiban, eh malah disia-siakan. Apa-apa mama, dikit-dikit papa. Nggak punya sikap dan pendirian. Udah mending begitu, nggak sedikit juga yang malah terjerumus dalam narkoba dan pergaulan bebas. Jadinya nggak asyik banget punya temen cowok model begini.</p>
<p>Bila saja kita mau mencampakkan sistem rusak ini ke tong sampah peradaban, bisa dipastikan cowok jadi-jadian ala manekin ini akan hilang bin raib. Sebagai gantinya, maka cowok-cowok oke akan hadir di dunia dan tipe ini nih yang asyik buat temenan. Kamu tahu sahabat Rasulullah saw. yang bernama Ali bin Abi Thalib? Cowok imut ini datang ke hadapan Rasulullah untuk menjadi umat beliau. Karena masih belum baligh, Rasulullah saw. menganjurkan untuk minta ijin dulu ke ortunya. Ali bin Abi Thalib pergi tapi tak lama kemudian ia kembali. Apa katanya?</p>
<p>“Ya Rasulullah, ketika Allah menciptakan aku, orang tuaku tak diminta persetujuannya. Mengapa sekarang ketika aku ingin menjadi hambaNya dan memeluk agamaNya, harus meminta ijin dulu ke orang tuaku? Sungguh, aku tak butuh ijin mereka.”</p>
<p>Subhanallah banget! Belum lagi cowok oke bernama Mush’ab bin Umair. Dia ini sudah tampan, kaya raya dan cerdas. Ketika nur Islam menyentuhnya, ia rela meninggalkan semua kemewahan dunia demi perjuangan dan dakwah Islam. Ini belum seberapa. Kamu tahu siapa cowok tangguh dan keren penakluk Konstnatinopel? Yup, Muhammad al Fatih namanya. Umurnya masih 24 tahun tapi sudah menjadi panglima perang yang ahli dalam siasat menaklukkan musuh. Kedekatannya pada Allah tak terkatakan lagi. Lalu ada juga Muadz bin Jabal yang tampan, menarik, bermata jeli, bergigi putih dan bila berbicara seakan-akan ada untaian cahaya dan keluar dari mulutnya. Wiih pasti jadi idola cewek mana pun.</p>
<p>Masih seabrek cowok-cowok oke yang jumlahnya bisa ribuan bila disebutkan satu per satu. Apa penyebab dari semua fenomena unik ini? Ternyata cowok-cowok ideal di atas cuma bisa dihasilkan oleh sebuah kondisi tertentu di mana Islam diterapkan secara sempurna sebagai ideologi. Maksudnya Islam bukan hanya ada di pojok-pojok masjid saja tanpa ada aplikasi di bidang politik, pendidikan dan pemerintahan. Karena bila Islam cuma diambil sholat, zakat, puasa dan ada di masjid saja, nggak heran bila cowok generasi Si Boy yang STMJ merebak. STMJ = Sholat Terus Maksiat Jalan, gubraks!<br />
 <br />
<strong>Cowok, teman dalam dakwah</strong><br />
Meskipun langka, bukan mustahil tipe cowok ini ada di sekeliling kamu. Udah tampan, cerdas, juara kelas, kaya, takwa dan aktivis dakwah. Wuih, dijamin jadi idola nih. Tapi wait! Tunggu dulu, girls. Usia kamu saat ini yang masih imut, jangan ngeres dulu mikir yang nggak-nggak ya. Seberapa okenya cowok yang ada di sekolah kamu, luruskan niat. Kamu kontak dengannya karena ada urusan dakwah atau sekolah. Bukan urusan pribadi yang nggak ada hubungannya dengan hal-hal di atas.</p>
<p>Nggak boleh ada acara pinjam catatan kimia padahal itu bisa kamu pinjam dari teman sesama cewek. Nggak boleh ada sok ada acara rapat padahal kamu cuma pingin melihat senyum manisnya. Walah! Ingat, bersihkan hati jangan kau kotori. Hati-hati dengan niat yang emang nggak kelihatan ikhlas nggaknya. Jangan sampai yang kamu lakukan ternyata bukan karena mengharap ridho Allah. Kamu jadi nggak bakal dapat apa-apa bila niatmu salah.</p>
<p>Oya, hati-hati juga dengan virus VMJ yang kerap menjangkiti pengemban dakwah. Luruskan niat. Urusanmu dengan cowok adalah sebatas berteman dan berpartner dalam kebaikan. Paling banter bersaudara dalam ikatan akidah Islam. Meskipun wajib menjalin ukhuwah, jangan kebablasan saling kunjung sana kunjung sini dengan alasan menjaga uyhuwah. Berteman dengan cowok adalah dalam rangka kemaslahatan bersama dalam lingkup sosial bukan lingkup pribadi. Ingat ini ya.</p>
<p>Intinya, cowok dan cewek itu emang saling melengkapi satu sama lain. Mereka diciptakan oleh Allah bukan untuk saling menyakiti atau pun menguasai satu pihak terhadap pihak yang lain. Mereka ini adalah manusia-manusia pelanjut risalah dakwah untuk memakmurkan bumi dan seisinya. Jadi, oke banget kan Islam dalam menempatkan posisi cewek dan cowok? Tentu dong. Makanya ayo kita ramai-ramai campakkan ide gender dan feminisme terus kita ambil Islam saja sebagai ideologi. Setuju? Akurrrrr..! [ria: <a href="http://www.riafariana.com/">www.riafariana.com</a>]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 353/Tahun ke-8/6 Agustus 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cowok-temenan-yuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“MOS” Wanted!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mos-wanted</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mos-wanted#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jul 2007 06:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mos-wanted/</guid>
		<description><![CDATA[First day at school boleh jadi jadi momen yang tak terlupakan. Terutama bagi pelajar SMP, SMA, dan Mahasiswa tentunya. Yup, lantaran mereka kudu rela paksa ‘menikmati’ suka-duka masa orientasi siswa alias MOS yang udah jadi agenda rutin lembaga pendidikan formal setiap tahunnya. Kalo ditingkat perguruan tinggi, umumnya dikenal dengan Orientasi Studi dan Perkenalan Kampus alias [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>First day at school boleh jadi jadi momen yang tak terlupakan. Terutama bagi pelajar SMP, SMA, dan Mahasiswa tentunya. Yup, lantaran mereka kudu rela paksa ‘menikmati’ suka-duka masa orientasi siswa alias MOS yang udah jadi agenda rutin lembaga pendidikan formal setiap tahunnya. Kalo ditingkat perguruan tinggi, umumnya dikenal dengan Orientasi Studi dan Perkenalan Kampus alias OSPEK.<span id="more-587"></span></p>
<p>Seandainya MOS diisi dengan acara biasa-biasa aja, tentu pelajar baru nggak perlu was-was bin H2C. Kenyataannya, selalu ada yang luar biasa dalam setiap MOS. Dari tahun ke tahun, dari sekolah ke sekolah, MOS selalu punya ciri khas masing-masing. Yang pasti, MOS berbanding lurus dengan tugas-tugas ‘aneh bin ajaib’ yang bikin repot keluarga, bahkan warga sekampung (kayak mo kawinan aja!)</p>
<p>Kalo nggak bikin repot, bukan MOS namanya. Inilah yang adakalanya bikin sewot keluarga, terutama orangtua. Bayangin aja, saat pulang sekolah menjelang maghrib di hari pertama MOS, nggak ada wajah ceria bin riang gembira terlukis di wajah anaknya. Yang ada, wajah kusut, panik, bingung, dan sedikit ketakutan. Semuanya terjawab saat sang anak menyodorkan daftar tugas yang mesti kelar besok sebelum jam 6 pagi. Yang bikin parah, tugas yang diberikan panitia, instruksinya juga nggak jelas, penuh teka-teki, dan memungkinkan salah tafsir. Seperti misalnya disuruh nyari tip-ex warna biru atau sendal bakiak jepang yang nggak pake karet. Malam-malam gini? Nah lho! (kesurupan kali yee?)<br />
 <br />
<strong>Sekadar having fun</strong><br />
Kegiatan orientasi siswa emang punya acara berbeda tiap sekolah atau kampus. Tapi secara umum, kegiatan MOS dimaksudkan untuk mengenalkan siswa baru pada lingkungan sekolahnya. Terutama sistem pendidikannya, aturan administrasi sekolah, metode belajar, ekstra kurikuler yang bisa diikuti, staf pengajar, hingga perkenalan dengan kakak kelas dan senior mereka. Selain acara wajib di atas, MOS juga selalu disusupi acara tambahan yang seru dan adakalanya gokil biar suasana masa orientasi nggak monoton. Untuk urusan ini, pantia tahu yang mereka mau.</p>
<p>Acara tambahan biasanya dimaksudkan untuk ngelatih mental dan disiplin siswa baru. Siswa baru kudu siap dan berani malu berdandan ‘unix’ dengan membawa tugas yang ‘aneh bin ajaib’. Sialnya, bukan tanpa hukuman kalo mereka lupa atau salah bawa tugas dari panitia. Mereka bisa dikerjain abis-abisan. Disuruh nyari wafer coklat yang gambar catwomen-lah, nyari pulpen dengan tinta putih, atau ngumpulin 27 semut yang terdiri dari 10 pasangan suami-istri dan 7 anaknya. Nah lho, puyeng-puyeng dah!</p>
<p>Nggak heran kalo bagi panitia dan kakak kelas, MOS menjadi ajang senang-senang. Kapan lagi bisa ngecengin adik kelas yang cakep. Kapan lagi bisa ngerjain adik kelas yang tengil. Kapan lagi bisa ngeliat pelajar yang berdandan dan bertingkah laku kayak badut sirkus. Dan kapan lagi bisa sok kuasa biar ditakuti serta kapan lagi bisa sok pahlawan untuk menarik simpati. Ya, kapan lagi&#8230;.</p>
<p><strong>Ada juga bumbu kekerasannya</strong><br />
Memang nggak se-ekstrim yang pernah terjadi di sebuah institusi pencetak birokrat di Bandung, tapi bumbu kekerasan dalam masa orientasi sekolah tetep aja kerasa. Meski nggak di setiap sekolah. Saat MOS, biasanya hubungan panitia sebagai senior dan siswa baru yang berstatus junior nggak jauh beda kayak atasan dan bawahan. Dengan waktu yang terbatas, panitia kudu berimprovisasi di sela-sela kegiatan wajib MOS untuk melatih mental dan disiplin siswa baru. Konsekuensinya, junior nggak punya pilihan untuk menolak permintaan panitia kalo pengen selamat. Nah lho!</p>
<p>Kerja panitia tentu lebih ringan kalo saja juniornya mudah diajak kerjasama. Sayangnya, dengan beragam latar belakang dan karakter, jangankan dengan panitia, sesama juniornya aja masih napsi-napsi. Kalo udah gini, panitia kudu narik urat leher berkali-kali untuk meminta kerjasama mereka. Kondisi ini yang seringkali melahirkan fenomena bullying alias tindakan sewenang-wenang senior kepada junior (murid baru) saat MOS. Baik secara mental maupun fisik. Hati-hati ah!</p>
<p>Secara mental, bullying biasanya mulai nongol saat panitia keabisan cara bijak bin santun untuk mengarahkan juniornya. Walhasil, kata-kata cacian, makian, dan daftar absen penghuni kebon binatang berhamburan tak terkendali. Harapannya sih, junior jadi takut dan under pressure biar lebih mudah diajak kerjasama. Padahal kenyataannya, bisa jadi junior malah depresi, menutup diri serta lebih mikirin diri sendiri, boro-boro kepikiran untuk kerjasama. Yang penting nyari selamet. Waduh!</p>
<p>Secara fisik, ini mah udah bukan lagi kata-kata yang keluar, tapi bisa bogem mentah atau tendangan tanpa bayangan yang unjuk gigi. Kondisi ini sangat mungkin terjadi, jika panita ketemu junior yang ngeyel dan bergengsi tinggi. Junior yang dengan sengaja nggak bawa ‘properti’ pesanan panitia. Atau junior yang tingkah lakunya dianggap melecehkan wibawa senior di hadapan junior yang lain. Udah mah panitia capek-capek ngorbanin waktu, tenaga, dan pikiran, untuk siapkan MOS, eh juniornya malah berbuat seenaknya. Gimana nggak esmosi coba?</p>
<p>Kekerasan saat MOS emang susah dikikis kalo ego dan emosi antara senior dan junior udah ikutan main. Apalagi usia SMA dan mahasiswa yang emosinya mudah terpancing saat dirinya tersinggung, dilecehkan, diledek, atau dipermainkan. Buntutnya, kekerasan fisik saat MOS bisa menyulut konflik yang lebih besar antara senior dan junior. Berabe kalo udah gini mah. Makanya mesti ada yang dibenahi agar hubungan senior dan junior tetep harmonis, nggak cuma saat MOS. Setuju?</p>
<p><strong>Senior-Junior, tetep akur</strong><br />
Sobat, nggak enak rasanya kita pake status senior atau junior. Kesannya pembedaan kelas gitu. Khawatir yang senior ngerasa paling berkuasa dan yang junior kebagian jadi objek penderita. Apalagi di hadapan Allah, semua punya kedudukan sama. Yang bedain hanya ketakwaan dan keilmuan masing-masing aja. Nggak diliat siapa yang duluan sekolah, yang duluan ikut ngaji, atau yang duluan aktif dakwah. Meski boleh jadi yang duluan, kaya akan pengalaman dan ilmu. Tapi tetep, nggak membenarkan adanya diskriminasi terhadap yang lebih muda. Karena itu, kita pake sebutan senior-junior semata-mata untuk ngebedain yang duluan masuk sekolah. Nggak ada maksud lain. Setuju?</p>
<p>Untuk hubungan antara yang senior dan junior sendiri, Rasul udah ngingetin kita dalam sabdanya: “<em>Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak muda dan tidak mengetahui hak (dalam riwayat yang lain: tidak menghormati) orang-orang dewasa, maka ia bukanlah golongan kami</em>.” (<strong>HR Abu Dawud</strong>)</p>
<p>Kita bisa meneladani keseharian Rasul ketika berhadapan dengan yang tua atau saat membimbing yang lebih muda. Beliau sangat menghormati sahabatnya yang lebih tua dan memerintahkan umatnya agar menempatkan para senior lebih dahulu dibanding yunior. Sabda beliau, “<em>Sesungguhnya termasuk dalam mengagungkan Allah adalah memuliakan orang-orang tua.</em>..” (<strong>HR Abu Dawud</strong>).</p>
<p>Tapi bukan berarti membenarkan yang lebih tua untuk menyombongkan diri dan membangga-banggakan keseniorannya. Nggak ada alasan yang membolehkan kita bersikap angkuh bin tinggi hati. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>????? ????????? ???????????? ???? ???????? ?????? ???????</p>
<p><em>Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (di antaramu)</em>. (<strong>QS an-Najm [53]: 32</strong>)</p>
<p>Beliau pun tak memandang sebelah mata kepada yang lebih muda. Sebagaimana perkataan sahabat abu Said al-Khudhriy r.a.: “Ketika masa Nabi saw. aku masih remaja, dan aku banyak menghafal perkataan beliau saw., tidak ada yang menghalangiku untuk banyak menceritakan hadits beliau saw. ketika itu kecuali karena pada saat itu masih banyak para sahabat yang lebih senior dari aku.” Bahkan Usamah bin Zaid yang baru berusia 17 tahun pernah ditunjuk untuk memimpin para shahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar sebagai komandan pasukan kaum Muslim menghadapi pasukan Romawi.</p>
<p>Nah sobat, indah banget kan kalo hubungan antara senior dan junior dilandasi persaudaraan dan kasih sayang seperti dicontohkan Rasulullah saw.? Nggak ada rasa ingin menjatuhkan atau meremehkan satu sama lain. Apalagi sampe melahirkan fanatisme terhadap angkatannya. Nggak banget dah!<br />
 <br />
<strong>Merajut ukhuwah, meraih berkah</strong><br />
Masa orientasi sekolah merupakan ajang yang pas bagi kita untuk menjalin pertemanan, bukan nambah musuh. Karena itu, nggak ada salahnya kalo kita modifikasi MOS menjadi lebih asyik, antisakit hati, dan penuh berkah. Nggak datar, garing, sekadar having fun, atawa dibumbui kekerasan. Artinya, selain materi-materi wajib dari sekolah, kita sisipkan juga games-games seru yang merekatkan hubungan antar siswa baru maupun dengan kakak kelas. Lebih bagus lagi kalo kita masukkan juga materi berupa motivasi dan dorongan untuk melecutkan semangat pada siswa baru dalam menuntut ilmu dan berprestasi. Ditambah pembinaan akhlak dengan ajaran Islam biar tahu gimana harusnya bersikap yang baik dan benar.</p>
<p>Sekadar catatan untuk para senior, kalo pengen dihargai dan dihormati oleh junior, ada baiknya kita pun kudu mau menghormati dan menghargai mereka. Rasa hormat itu lebih ngejoss kalo lahir dari perasaan hati yang ikhlas, bukan hasil dari tekanan mental atau sok kuasa kita kepada junior. Bikin deh junior pede dan nyaman jika berteman dengan senior. Tetap berwibawa di hadapan junior saat membina mereka, tapi jangan pasang muka serem or sadis. Biasa aja lagi.</p>
<p>Dan nggak usah berlindung di balik pembinaan mental dan melatih disiplin untuk membenarkan kekerasan. Jika kita mengharapkan rasa simpati junior pada kakak kelas, staf pengajar, atau aturan sekolah, jangan bikin mereka antipati dan menyimpan dendam. Karena junior juga manusia, punya hati punya rasa. Udah nggak jamannya MOS dijadikan ajang bullying alias tindakan sewenang-wenang senior kepada junior. Apalagi sampe jadi mata rantai yang terus berulang setiap tahun sebagai bentuk balas dendam. Sebaliknya, jadikan junior sebagai mitra dan teman seperjuangan meski beda usia. Bahkan seharusnya senior menjadi kakak yang baik buat adik-adiknya yang berstatus murid baru. Jangan ada gap atau dendam antara junior dan senior.</p>
<p>Oya, khusus di rohis nih, tentu wajib nyontohin dan bimbing junior dengan metode pembinaan Islam. Lemah-lembut tapi tidak longgar. Ketat dan tegas tapi tidak membuat stres. Disiplin tapi tetap enjoy bagi yang diajarin. Eh, yang pasti kita kasih gambaran bagaimana Islam mengatur perilaku kita agar lebih mulia sebagai manusia. Mari, kita jadikan MOS sebagai sarana untuk merajut ukhuwah dan meraih berkah. Bukan menambah masalah dan mencari musuh. Yup, inilah MOS wanted! Setuju? [hafidz341@gmail.com]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 352/Tahun ke-8/30 Juli 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mos-wanted/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mamamia: Hancur Bersama Mama</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mamamia-hancur-bersama-mama</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mamamia-hancur-bersama-mama#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jul 2007 12:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mamamia-hancur-bersama-mama/</guid>
		<description><![CDATA[Acara Mamamia yang digeber saban Selasa malam di stasiun televisi Indosiar ini sebenarnya mirip dengan kontes audisi pencarian bakat lainnya yang udah ada sebelumnya. Diadap-tasi dari Quincianera—ditayangkan televisi berbahasa Spanyol di Amerika—Mamamia mampu menggugah emosi penonton, termasuk juri vote lock (100 orang juri independen yang nggak ada hubungan kekerabatan atau teman dengan peserta). Apalagi acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Acara Mamamia yang digeber saban Selasa malam di stasiun televisi Indosiar ini sebenarnya mirip dengan kontes audisi pencarian bakat lainnya yang udah ada sebelumnya. Diadap-tasi dari Quincianera—ditayangkan televisi berbahasa Spanyol di Amerika—Mamamia mampu menggugah emosi penonton, termasuk juri vote lock (100 orang juri independen yang nggak ada hubungan kekerabatan atau teman dengan peserta). Apalagi acara ini mirip kayak AFI, yang sering mengekspos latar belakang peserta audisi. Biasanya yang mengharukan gitu deh. Jadinya ya kalo dilihat dari kualitas acara sih biasa-biasa aja. Tapi ada yang membedakan dari segi format acara, yakni peran mama yang biasanya berada di belakang layar, kini tampil bareng dengan anaknya.<span id="more-552"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, mama dan anak di acara ini bisa bekerja sama, bahkan mamanya langsung jadi manajer anaknya. Pihak stasiun televisi Indosiar pun mengklaim bahwa acara ini cukup laris. Seperti biasa, yang dijual untuk menggoda pengiklan agar ikut mensponsori acara tersebut adalah dari ‘makhluk’ bernama rating. Ambil contoh pada episode kelima, 15 Juni 2007 lalu, di Balai Sarbini, Jakarta, data AGB Nielsen Media Research mingguan pada 1 Juni &#8211; 23 Juni menyebutkan rating 6,5 dengan share penonoton 19,4 persen. Pada minggu berikutnya, rating mingguan meningkat lagi menjadi 8,3 dengan share penonton 25,3 persen. (Koran Tempo, 8 Juli 2007)</p>
<p>Maraknya acara seperti ini bukan tanpa sebab lho. Pasti ada banyak alasan dan tentu kepentingan. Gampang aja sih ngelihatnya, orang berbuat itu umumnya disetir oleh kepentingan. Beragam kepentingan tentunya tergantung setiap orang. Sementara kepentingan dari setiap orang biasanya lahir dari sebuah persepsi alias cara pandang yang tentunya saja mempengaruhi sikap. Jadi, berawal dari cara pandang, kemudian melahir-kan sikap, diteruskan dengan kepentingan, dan akhirnya ditumbuhkanlah keinginan.</p>
<p>Ambil contoh masalah ini, cara pandang terhadap acara pencarian bakat secara instan, apalagi ditambah banyak hadiahnya, maka orang pasti senang. Siapa sih yang nggak ingin populer? Manusia mana yang nggak butuh duit—apalagi nyarinya cepat? Maka, ketika memahami bahwa hal itu menyenangkan, akan tumbuh sikap terhadap hal itu. Misalnya, ingin meraihnya dengan penuh ambisi. Sikap ini tentu saja berbanding lurus dengan kepentingan. Apa kepentingannya? Ya, tadi itu: tenar dan tajir dalam waktu sesingkat mungkin. Akhirnya, keinginan untuk merasakan kesenangan itu tumbuh subur. Itulah sebabnya mengapa acara seperti ini begitu marak dan banyak peminat-nya. Berjubel euy!</p>
<p>Bukannya kita ngiri apalagi kebakaran jenggot karena nggak bisa ngikutin acara tersebut. Sori lha yauw, kita cuma ngerasa kasian sama temen-temen yang bela-belain meminati acara begituan. Lho kok kasian, bukannya mereka dapetin semua yang mereka inginkan? Bukankah dengan ikut acara tersebut mereka jadi tenar dan dapat duit banyak? Khusus acara Mamamia, kan bisa barengan ngetop mama sama anaknya, kenapa harus kita yang merasa kasian sama mereka?</p>
<p>Hmmm jawabnya gampang aja: karena kita ngerasa kasian ngeliat mereka terjerumus dalam budaya yang hedonis dan jauh dari nilai-nilai Islam. Itu aja kok. Sederhana banget kan? Kalo kita cuek mana mungkin cerewet nulis artikel kayak gini. Justru ini sebagai tanda cinta kita kepada saudara yang lain. Biar nggak terlalu jauh melangkah meninggalkan Islam. Itu aja kok. Setuju kan?</p>
<p><strong>Mafahim, maqayis, dan qanaat<br />
</strong>Sobat muda muslim, mafahim itu artinya pemahaman. Ya, pemahaman seseorang tentang kehidupan. Bisa juga berarti cara pandang alias persepsi. Sementara maqayis adalah tolok ukur alias standar perbuatan. Ketika kita berbuat pastinya kita dikendalikan oleh pemahaman dan memiliki standar perbuatan sesuai pemahaman tersebut. Nah, kalo qanaat itu adalah kerelaan, ridho. Bisa juga berarti kesenangan dan ketenangan.</p>
<p>Mengapa ini dibahas? Sebab, manusia mana pun ketika melakukan sesuatu perbuatan atau mengeluarkan pendapat bisa dilihat dari tiga komponen ini. Nah, sebagai muslim, maka mafahim, maqayis, dan qanaat-nya kudu Islam. Bukan yang lain.</p>
<p>Lha, kalo sekarang? Duh, sedih banget deh. Ternyata banyak di antara kita yang mafahim-nya tentang kehidupan berdasarkan kapitalisme-sekularisme. Cara pandang sebagian besar manusia saat ini dikendalikan oleh idoelogi tersebut. Sadar atau nggak sadar. Kalo yang sadar, berarti dia meyakini kebenaran kapitalisme-sekularisme. Kalo yang nggak sadar, ia masih percaya Islam tapi karena nggak mendalam akhirnya terjebak oleh pola yang diajarkan kapitalisme-sekularisme.</p>
<p>Hmm.. repot juga ya? Ya, iyalah. Saat ini, sebagian besar kaum muslimin (termasuk yang nonmuslim) sudah tergoda dengan aturan hidup kapitalisme-sekularisme. Oya, kapitalisme itu akidahnya adalah sekularisme. Apa itu sekularisme? Sekularisme itu memisahkan antara kehidupan dunia dengan urusan agama. Misal, kalo lagi shalat mah khusyu’ bukan main. Selesai shalat langsung berdoa dengan penuh pengharapan kepada Allah Swt. But, di luar shalat dan doa, kita liar nggak mau diatur sama Islam. Shalat kuat, ngaji kuat, tapi pacaran dan berzina juga doyan. Halah, itulah sekular, Bro!</p>
<p>Sobat, gara-gara cara pandang kita tentang kehidupan menggunakan standar kapitalisme-sekularisme, maka maqayis alias tolok ukur perbuatannya juga ngikutin ideologi ini. Asas kehidupannya adalah asas manfaat menurut ukuran logika dan hawa nafsu manusia. Kalo jualan miras dan narkoba itu bikin untung, ngapain jualan air mineral kemasan dan bubur ayam, misalnya. Kalo menjadi artis di dunia hiburan saat ini bikin terkenal dan banyak duit, ngapain jadi orang berilmu (ustad or ilmuwan) yang saat ini nggak terlalu dihargai, udah gitu hidupnya nggak sejahtera pula. Inilah cara pandang kapitalisme-sekularisme dan tolok ukurnya.</p>
<p>Apakah mereka rela dan tenang hidup dalam kondisi seperti ini? Sangat boleh jadi mereka menikmati. Tentu saja dong. Sebab, gara-gara cara pandang dan tolok ukur ala kapitalisme-sekularisme, maka qanaat-nya juga ngikutin. Itu sudah satu paket. Nggak bisa dipisah-pisah dan nggak mungkin dipilah-pilah. Orang yang menganggap bahwa jualan miras dan narkoba boleh, maka dia akan melakukan dan merasa ridho serta senang jika udah bisa menjual barang tersebut, apalagi kalo barangnya laku. Sekular itu. Pasti deh.</p>
<p>Terus gimana dengan acara Mamamia? Sama aja, Bro. Ini cuma beda kasus. Mereka yang menganggap bahwa kehidupan dunia saat ini hanya semata untuk senang-senang dan bebas nilai, maka tolok ukur perbuatannya pun semata ngikutin logika dan hawa nafsu tanpa tuntunan dari Allah Swt. dan RasulNya. Itu sebabnya, bagi mereka yang udah terpola dengan cara pandang ini, ikut acara Mamamia (atau acara audisi sejenis) adalah bagian dari jalan meraih kehidupan yang lebih baik. Untung-ruginya diukur dari manfaat, bukan syariat. Mereka juga qanaat alias rela dan merasa puas serta senang ikut acara itu, apalagi jika berhasil.</p>
<p>Padahal, menurut cara pandang Islam, sebelum kita melakukan suatu perbuatan harus dilihat dulu faktanya. Apakah perbuatan tersebut sesuai dengan ajaran Islam atau malah bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab, meraih kehidupan yang lebih baik, bukan berarti menghalalkan segala cara. Islam membolehkan kok umatnya kaya raya, tapi harus diraih dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Islam. Bukan yang lain.</p>
<p>Acara Mamamia (termasuk KDI, Indonesian Idol dan sejenisnya) banyak sekali yang bertentangan dengan Islam. Seperti cara berpakaian yang melanggar ajaran Islam (tak menutup aurat), campur-baurnya penonton laki dan perempuan, dan lagu-lagu yang dinyanyikan tak sedikit yang marusak akidah dan bahkan melanggar syariat. Lebih dari itu, acara semacam ini telah mengubah gaya hidup manusia. Celakanya, gaya hidup yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam.</p>
<p><strong>Mama teladan dan pelindung anak</strong><br />
Mama seharusnya menjadi teladan bagi anaknya dan juga pelindung anaknya. Mampu mengarahkan anaknya menjadi anak yang baik dan shaleh/shalihah. Apalagi jika anaknya menjadi pejuang dan pembela Islam. Bukan malah mengarahkan dan membimbing anaknya menuju kehidupan yang lebih rusak. Sungguh malu dan kasihan melihat mama dan anaknya manggung bersama di acara Mamamia. Gemer-lap memang, bertabur pujian memang, terkenal memang, mendapat banyak hadiah memang, tapi sebenarnya itu semua semu belaka.</p>
<p>Jadi seleb di dunia hiburan saat ini memang tak lepas dari kehidupan yang hedonis dan permisif. Meski mungkin saja ada seleb yang ‘bersih’, tapi karena kehidupan itu sangat dekat dengan gaya hidup seperti itu, akhirnya ya kena cap juga. Makanya, jangan dekat-dekat atau malah mendekat dan ingin terlibat di dalamnya. Bahaya, Bro.</p>
<p>Mendidik anak itu memang susah. Nggak gampang. Tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan. Bisa kok. Asal ada kemauan dan sadar bahwa pendidikan itu sangat berharga. Apalagi pendidikan yang membentuk mafahim, maqayis, dan qanaat yang berlandaskan ajaran Islam. Insya Allah sangat berharga bagi anak. Dan, ibulah yang paling mungkin untuk lebih banyak mengajarkannya kepada anak-anaknya. Meski tentu saja ada peran dari ayahnya juga. Lha, kalo manggung bareng anak di acara Mamamia, berarti sedang mendidik anak untuk jauh dari ajaran Islam. Sudahlah dirinya tak mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya sesuai ajaran Islam, eh, malah ngajakin anaknya untuk rusak juga. Halah, menyedihkan sekali.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: “<em>Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, ibu-bapaknya-lah yang menjadikan ia yahudi, nasrani, atau majusi</em>.” (<strong>HR Bukhari</strong>)</p>
<p>Tuh, berat banget kan tugasnya? Itu sebabnya, pendidikan harus dimulai sejak usia dini. Bahkah sebelum mentransfer nilai, kedua orangtua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari (menjadi teladan). Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat.</p>
<p>Selain itu, bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain. Oya, nggak lupa menjaga lingkungan si anak, harus menciptakan lingkungan yang sesuai dengan ajaran yang diberikan pada anak.</p>
<p>Nggak heran dong kalo Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkomentar, “<em>Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orang tuanya</em>.”</p>
<p>Itu artinya, kalo orangtua ngajarin kebaikan, maka hasilnya juga insya Allah baik. Syaikh Sayyid Quthb memberikan testimoni untuk ayahnya: “Semasa kecilku, ayah tanamkan ketakwaan kepada Allah dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir”</p>
<p>Tuh, tentunya kita sangat mendambakan kehidupan yang lebih baik. Yakin deh, orangtua yang baik, terutama ibu, pasti akan mendidik anak-anaknya ke arah yang benar dan baik sesuai ajaran Islam. Bukan ajaran lain. Sesulit apapun, insya Allah akan dilakukannya demi masa depan anak-anaknya. Sebab, insya Allah akan berbuah pahala dan hasil yang bagus. Bagaimana menurutmu? Setuju kan? [solihin: <a href="http://www.studia-online.com/">www.studia-online.com</a>]</p>
<p>[Buletin STUDIA Edisi 350/Tahun ke-8/16 Juli 2007]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mamamia-hancur-bersama-mama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gals, Berapa Harga Dirimu?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gals-berapa-harga-dirimu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gals-berapa-harga-dirimu#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 07:47:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/gals-berapa-harga-dirimu/</guid>
		<description><![CDATA[Berapa harga dirimu? Waduh, seakan-akan harga diri bisa ditakar dengan materi. Emang begitu kan kondisi saat ini. Yang namanya harga diri, murah banget. Diobral seribu tiga juga banyak yang mau. Kok bisa? 
Coba kamu amati lingkungan sekitarmu. Harga diri, terutama kaum perempuan alias cewek, sudah banting harga di mana-mana. Mulai dari gaya berpakaian yang kelihatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berapa harga dirimu? Waduh, seakan-akan harga diri bisa ditakar dengan materi. Emang begitu kan kondisi saat ini. Yang namanya harga diri, murah banget. Diobral seribu tiga juga banyak yang mau. Kok bisa? <span id="more-541"></span></p>
<p>Coba kamu amati lingkungan sekitarmu. Harga diri, terutama kaum perempuan alias cewek, sudah banting harga di mana-mana. Mulai dari gaya berpakaian yang kelihatan pusar, (maaf) celana dalamnya, underwear alias kaos daleman, sampai berpakaian tapi telanjang. Yaitu berpakaian tapi semua lekuk tubuhnya kelihatan dengan amat sangat jelas bentuk dan ukurannya.</p>
<p>Dikomporin oleh sinetron kacangan di TV yang isinya melulu pacaran dan pacaran, remaja kita jadi ikutan. Tubuh cewek, bagian mana yang belum terekspos oleh lawan jenisnya (baca “ pacarnya”) sih? Dalih palsunya sih biasanya sebagai bukti cinta. Padahal mah, pelecehan harga diri yang seharusnya nggak boleh dibiarkan begitu saja. Tapi kalo mau sama mau, kan nggak ada hukumnya tuh. Nah loh, bingung juga kan? Yuk, kita preteli satu per satu masalah ini.</p>
<p><strong>Cewek dan harga sebuah diri<br />
</strong>Perkembangan jaman modern bukannya diikuti dengan perkembangan pola pikir yang modern pula. Tapi pola pikir hingga pola sikap berkembang ke arah jahiliyah (kebodohan). Hanya saja kali ini memakai bungkus baru: jahiliyah modern. Lomba-lomba kecantikan yang semua ujung-ujungnya pamer aurat, digelar di mana-mana. Mulai tingkat RT hingga dunia. Bahkan institusi kampus yang katanya tempatnya intelektual muda, juga terkontaminasi dengan pagelaran miss kampus.</p>
<p>Baju minim dan seronok namun berharga mahal jadi gaya hidup. Lenggak-lenggok di atas panggung jadi kebanggaan. Paling banter harga dari diri yang dipajang itu cuma sebuah piala dari kuningan dan karton satu lembar bertuliskan angka nominal uang.</p>
<p>Bagi mereka yang nggak kebagian lenggak-lenggok di atas pentas, ada cara lain yang bisa ditempuh untuk menikmati dunia kemilau itu. Malakin cowok tajir. Si cowok juga nggak kalah ‘cerdik’ yaitu dengan memanfaatkan cewek rese dan matre untuk mendapat kemauannya. Mau dibawa kemana aja asal pulang dibelikan HP. Mau diapa-apakan saja asal ada ongkos ganti pulsa. Halah!</p>
<p>Akhirnya muncul istilah cewek bispak, bisa dipake. Dipake betulin genting, mompa air atau ngayuh becak? Ya nggaklah. Bisa dipake di sini maksudnya buat hal-hal yang tak bermoral.<br />
 <br />
<strong>Cewek, kok mau dihargai rendah?<br />
</strong>Kalo dipikir-pikir, kenapa pula para cewek itu mau dihargai rendah ya? Para cewek yang seharusnya punya rasa malu yang tinggi melebihi kaum adam, jadi berubah. Sudahlah aurat dipamerkan ke mana-mana, mereka ini mudah banget dijadikan mangsa oleh cowok-cowok tak bertanggung jawab. Seakan-akan mereka pasrah dan tak punya sikap untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.</p>
<p>Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kontrol masyarakat sekitar. Mereka cuek bebek dengan merosotnya moral para remaja, terutama ceweknya. Tak ada lagi sanksi sosial semisal didatangi pak RT bila ada cowok bertandang ke rumah cewek hingga larut malam. Dan semakin lengkap keparahan ini ketika negara sebagai penegur utama tak berdaya. Tak ada KUHP atau hukum perdata yang bisa menjerat cowok yang wakuncar (waktu kunjung pacar) ke ceweknya. Lha wong suka sama suka, bisa-bisa malah dilindungi sama sistem yang bernama sekulerisme. Apalagi cuma sekadar pakaian yang kelihatan pusar. Dalih kebebasan perempuan akan menjadi senjata andalan bila ada yang berusaha mengingatkan.</p>
<p>Gaya hidup mewah adalah penyebab lain dari fenomena cewek murah harga diri. Semua ini akibat dari kehidupan yang mengagungkan materi alias materialistis. Materi oriented ini adalah khas milik kapitalisme. Sebuah paham yang sangat memuja kepemilikan modal atau lapital. Sistem inilah sebetulnya yang kudu bertanggung jawab terhadap merebaknya cewek-cewek tak berharga diri. Udahlah ceweknya lemah iman, dikomporin pake kemilau fana duniawi. Klop, jadi pada lupa daratan.</p>
<p><strong>Cewek, kamu bisa apa?<br />
</strong>Biar pun berjenis cewek, perempuan juga manusia. Dengan kemanusiaan ini pula cewek juga dikaruniai akal untuk membedakan mana baik dan buruk. Sayangnya, seringkali otak cewek nggak dipake. Bawaannya silau mulu kalo liat barang mewah sampai harga diri tergadaikan nggak jadi masalah.</p>
<p>Akal yang dipunya cewek, nggak beda dengan yang dipunya cowok. Tapi seringkali cewek sendiri yang membuat rendah dirinya sehingga mudah aja dipermainkan cowok. Bukan hanya cowok, tapi pemilik modal juga ikut menghinadinakan kaum cewek dengan mengeksploitasi keindahan fisik. Oya, sebelum saya diprotes oleh kaum cowok baik-baik, saya ingin tekankan bahwa nggak semua cowok suka mempermainkan cewek. Ada kok cowok baik-baik yang menghargai cewek dengan harga sangat tinggi. Karena tingginya, harganya sebanding dengan surga.</p>
<p>Dengan potensi akal ini, cewek bisa memilih jalan hidupnya. Mau dijadikan objek ketelajangan dan permainan jaman edan bernama modern ini atau sebaliknya. Cewek sebagai subjek perubah dan pelaku sejarah sebuah peradaban. How? Gimana caranya?</p>
<p>Gals, cewek kudu nyadar untuk apa sih dia hidup di dunia ini. Untuk hura-hura, senang-senang dan foya-foya? Hmm.. cewek kudu nyadar bahwa hidup ini sementara. Kalo ada sementara pasti ada yang selamanya. Kalo bermakna selamanya berarti bukan di dunia. Nggak ada orang hidup kekal di dunia ini. Lha wong dunianya aja fana, kok penghuninya minta kekal. Bila sudah menyadari kenyataan dunia fana ini, ingatlah bahwa semua yang bernyawa pasti mati. Kalo sudah mati, lihat tuh jadi teman cacing tanah dan belatung di tanah pekuburan. Ternyata manusia itu hina ya. Cuma sebegitu aja akhir hidupnya.</p>
<p>Kalau ingat kematian, manusia normal mana pun juga pasti akan berpikir. Merenung dan berinsaf diri. Apalagi cewek yang memang dasarnya bersifat peka. Maka akan mudah tersentuh hatinya dengan ajakan mengingat kematian ini. Kecuali orang-orang bebal yang telah ditutup hatinya oleh Allah. Mereka ini adalah yang enggan membicarakan kematian. Bahkan ada yang dengan sengaja mengolok dan mencemooohnya loh.</p>
<p>Dengan mengingat kematian, manusia termasuk para cewek tergugah untuk mencari makna hidupnya. Tak lain dan tak bukan, ternyata hidup ini adalah sarana saja untuk sebuah kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. Bila ini sudah kamu sadari, maka sesungguhnya uang, katu kredit, mobil dan gaya hidup mewah jadi tak ada artinya lagi. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu semua.</p>
<p>Beramal untuk akhirat. Jangan bayangkan beramal untuk akhirat ini hanya dengan sibuk sholat, dzikir, puasa dan ngaji saja. Bukan! Aktivitas-aktivitas ini memang harus tapi tidak berhenti di situ saja. Bumi dan seisinya perlu dimakmurkan dengan karya nyata kamu, para cewek. Kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau, sukses dunia tapi punya investasi juga untuk akhirat. Dengan menjadi ahli lomputer untuk mengacak-acak radar musuh Islam yang akan menyerang negeri muslim, misalnya. Atau menjadi bisnis woman yang berhasil dan sebagian laba untuk kepentingan dakwah dan perjuangan menegakkan Islam sebagai ideologi negara di bawah naungan Daulah Khilafah. Gimana, keren kan? </p>
<p><strong>Cewek, punyai harga diri!<br />
</strong>Harga diri bukan barang obralan yang gampang banget dibeli dengan gepokan rupiah atau kartu kredit. Masalahnya, gimana caranya agar cewek mempunyai harga diri yang menjadikannya mulia?</p>
<p>Karena di bahasan awal tadi kita sudah tahu bahwa hidup ini sementara dan kudu nurut sama aturan Sang Pencipta, maka inilah langkah praktis itu:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, hiasi diri dengan rasa malu. Malu akan menjadi tameng seorang cewek dari perbuatan maksiat.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tundukkan pandangan. Dengan menundukkan pandangan, cewek akan menjadi makhluk berharga di muka bumi karena nggak jelalatan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, tutupi auratmu. Auratmu yang indah bukan untuk pajangan apalagi pameran. Oleh karena itu tutupi dengan pakaian takwa berupa kerudung dan jilbab.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, jaga interaksi pergaulan. Langkah di atas nggak bakal ada gunanya kalo kamu masih enteng aja colak-colek sama cowok. Batasi interaksi dengan mereka seperlunya dan sewajarnya. Nggak perlu over.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, dekatkan dirimu pada Allah. Dekat dengan Allah itu artinya nggak ada satu celah kecil pun kamu berbuat dosa. Meski nggak ada kakak pembina pengajian, ortu nggak liat, atau nggak ada satu orang pun menyaksikan, kamu nggak bakal bisa lari dari pengawasanNya.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, last but not least, proaktif gals! Kalo kamu udah menjadi cewek baik-baik, jangan simpen sendiri. Ajak teman-teman dan sodara-sodara kamu untuk baik juga. Kalo kamu segan untuk negur secara lisan, bisa juga pake tulisan. Berikan lembaran Studia ini untuk dibaca mereka, misalnya.</p>
<p>Nah, ternyata nggak susah kan untuk membangun harga diri pada seorang cewek. Murah meriah kecuali berbekal kemauan aja. Tips di atas bisa kamu amalkan tuh. Nggak berhenti di sini aja, ternyata memutus rantai rusak ini kamu nggak bisa sendirian. Ajak teman-teman dan sodaramu untuk bareng-bareng merusak rantai ini. Kita ganti dengan rantai baru yang indah dalam balutan ukhuwah Islamiyah, dasarnya akidah Islam. Setuju kan?</p>
<p>Jadi kalo ada yang nanya berapa sih harga diri seorang cewek? Kamu bisa dengan bangganya menjawab ‘ridho Allah plus surga dengan segala isinya’. Bila ini yang jadi jawabanmu, maka gepokan rupiah, kinclongnya mobil nggak bakal bisa mengusikmu. Harga dirimu bukan lagi obralan seribu tiga. Harga dirimu saat ini cuma surga yang mampu membeli. Jangan ragu, teriakkan dengan lantang bahwa harga diri seorang cewek cuma satu jawabnya; ISLAM! Oke? [ria: <a href="mailto:riafariana@yahoo.com">riafariana@yahoo.com</a>]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA Edisi 349/Tahun ke-8/9 Juli 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gals-berapa-harga-dirimu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Hanya untuk Kaum Borju?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sekolah-hanya-untuk-kaum-borju</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sekolah-hanya-untuk-kaum-borju#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 10:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sekolah-hanya-untuk-kaum-borju/</guid>
		<description><![CDATA[Punya anak kandung memang selalu jadi dambaan setiap keluarga. Apalagi yang baru merit. Biar ketahuan hasilnya. Hehehe&#8230;tapi nggak bagi seorang teman kuliah penulis yang udah mo merit dalam waktu dekat. Doi justru agak paranoid untuk punya anak kelak. Apa pasal? Doi bilang, takut kalo entar anaknya nggak bisa sekolah. Kok? Iya, lantaran biaya pendidikan kian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Punya anak kandung memang selalu jadi dambaan setiap keluarga. Apalagi yang baru merit. Biar ketahuan hasilnya. Hehehe&#8230;tapi nggak bagi seorang teman kuliah penulis yang udah mo merit dalam waktu dekat. Doi justru agak paranoid untuk punya anak kelak. Apa pasal? Doi bilang, takut kalo entar anaknya nggak bisa sekolah. Kok? Iya, lantaran biaya pendidikan kian hari kian melangit. Daripada nggak bisa penuhi hak pendidikan anaknya, kan dosa, mendingan punya anak entar aja kalo rumah tangganya udah mapan. Nggak sekalian aja daripada nggak punya keturunan, jadi mendingan nggak usah merit. Huehehe&#8230;<span id="more-531"></span></p>
<p>Sobat, rasa khawatir yang dirasain temen penulis di atas, juga hadir di hati mayoritas orangtua di negeri ini. Bagi orangtua yang masih bisa berpikir jernih demi memenuhi hak pendidikan anaknya, insya Allah cara halal masih mereka utamakan. Tapi nggak sedikit orangtua yang depresi juga dengan permasalahan pendidikan anaknya. Hingga mereka kudu berbuat kriminal dengan mencuri, mengutil, mencopet, atau perilaku harian Gerombolan Si Berat lainnya demi membiayai sekolah anaknya. Malah ada yang sampe ‘mengajak’ anak-anaknya mengakhiri hidup lebih cepat, seperti yang pernah terjadi di Malang. Naudzubillah!</p>
<p>Ongkos pendidikan formal di negeri ini nggak murah. Untuk setiap jenjang pendidikan, kita kudu merogoh kocek dalem banget. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, apalagi pendidikan tinggi. Sementara lebih dari setengah penduduk di negeri ‘kucing garong’ ini hidup di bawah garis kemiskinan. Walhasil, seorang penulis dari Yogyakarta, Eko Prasetyo, coba tuangkan keprihatinannya dalam sebuah buku dengan judul “Orang miskin dilarang sekolah”. Nah lho!</p>
<p><strong>Kenapa biaya pendidikan mahal?<br />
</strong>Tingginya ongkos pendidikan bisa disebabkan dua faktor. Pertama, faktor internal terkait dengan kebijakan masing-masing sekolah untuk menaikkan biaya pendidikan setiap tahunnya. Dulu, masuk sekolah negeri jadi dambaan lantaran lebih murah biayanya dibanding swasta yang kudu menghidupi keberlangsungan pendidikannya tanpa subsidi pemerintah. Kini, udah nggak ada bedanya euy. Sekolah negeri atawa sekolah swasta, sama mahalnya.</p>
<p>Kita juga bisa memaklumi kenapa tiap sekolah menaikkan ‘harga jual’-nya. Mereka mesti menjaga kualitas pendidikan dengan penyediaan sarana dan prasarana memadai dan  staf pengajar yang handal. Sementara sumber pendanaan, yang keliatan cuma dari siswa atau investor. Kalo udah gini, ujungnya bakal lari ke komersialisasi pendidikan. Akibatnya, fungsi sekolah pun bergeser. Tadinya sebagai tempat pendidikan yang non profit oriented, menjadi layaknya tukang dagang yang menawarkan produk pendidikan. Kalo setuju dengan harga masuknya, silahkan daftar. Kalo nggak, silahkan cari sekolah lain. Kejem amat ya?</p>
<p>So, nggak heran, jika tiap sekolah berlomba-lomba berpromosi dengan menonjolkan keunggulan fasilitas yang disediakan bagi siswanya. Dengan harapan bisa menggaet calon pelajar meski biaya pendidikan di tempatnya lumayan tinggi. Kalo udah begini, ortu kita yang setengah hidup mempertahankan stabilitas ekonomi keluarga jadi tambah pusing. Kudu milih antara melanjutkan pendidikan anaknya atau menyelamatkan kondisi keuangan keluarga yang tarikan napasnya udah senen-kemis.</p>
<p>Kedua, faktor eksternal yang menopang mahalnya biaya pendidikan adalah kebijakan pemerintah yang berpengaruh besar pada keberlangsungan nasib pendidikan formal di masing-masing sekolah. Semenjak pemerintah mencabut subsidi pendidikan, sekolah negeri khususnya tingkat menengah, pontang-panting nyari dana untuk ‘mempertahankan hidup’.</p>
<p>Kondisi ini diperparah dengan perubahan status perguruan tinggi menjadi PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara) yang diperkuat dengan RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan). Agar negara bisa lebih lepas tangan untuk ngurusin pendidikan rakyatnya. Semuanya diserahkan pada rakyat dan pihak swasta. Akibatnya, perguruan tinggi pun kudu ikut-ikutan banting tulang nyari sumber pendanaan biar nggak gulung tikar. Nah, cara paling mudah, ya dengan menaikkan biaya pendidikan. Halah!</p>
<p>Sobat, kita pasti nggak akan mencak-mencak soal biaya pendidikan yang kian melangit ini kalo aja negara komitmen dengan perannya sebagai pengayom rakyat. Seperti tercantum dalam UUD’45 pasal 31 tentang hak pendidikan rakyat. Ayat (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Dan ayat (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Sayangnya, pemerintah suka pura-pura lupa kalo diingetin aturan di atas. Bukan lupa sih tepatnya, tapi melupakan. Iya tuh, lupa aja nggak baik, apalagi melupakan. Inilah ruginya diatur sistem Kapitalisme! Catet tuh!</p>
<p><strong>Diskriminasi di alam Kapitalisme</strong><br />
Fenomena “orang miskin dilarang sekolah” hanya sebagian kecil saja bentuk diskriminasi yang terjadi di alam kapitalisme. Walau teorinya bilang kapitalisme ngasih kesempatan dan hak yang sama pada setiap anggota masyarakat, tapi kenyataan menunjukkan sebaliknya. Terutama dalam hal pelayanan publik, orang miskin nggak hanya dilarang sekolah, tapi juga dilarang sakit, lapar, atau malah dilarang hidup. Walah!</p>
<p>Ya, inilah yang terjadi ketika pemilik modal (kapitalis) alias yang punya duit banyak bisa bebas beli apa aja (termasuk pulau, hutan, sungai, minyak bumi, sekolah, rumah sakit, atau sumber sembako) dan menguasinya secara pribadi. Kemudian menjualnya kepada masyarakat yang membutuhkan dengan harga tinggi demi meraup keuntungan berlipat. Dasar mata duitan!</p>
<p>Di dunia pendidikan, kabanyakan hanya para orang kaya yang dengan mudah masuk sekolah unggulan dengan kualitas pendidikan maksimal, yakni sarana yang lengkap mulai dari komputer berikut fasilitas internet, perpustakaan, laboratorium, hingga ruangan kelas yang full AC. Sementara orang miskin, jangankan sekolah, bermimpi biar nggak buta huruf aja mesti mengorbankan jeritan pilu cacing-cacing yang menghuni perut keroncongannya. Kacian banget cih!</p>
<p>Akibatnya, saat ini terdapat sedikitnya 283.990 anak dari 21,7 juta anak di Indonesia yang mengalami buta aksara. Selain itu, data yang diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Tahun 2002 juga menunjukkan angka putus sekolah tingkat SD sebesar 1,46 persen, tingkat SLTP/MTs 2,27 persen serta tingkat SLTA yang mencapai 2,48 persen.</p>
<p>Data yang masih dianggap mutakhir tersebut juga menyebutkan presentasi tidak terjangkaunya anak-anak usia SD hingga SLTA ke dalam jenjang pendidikannya masing-masing. Sedikitnya 5,50 persen anak usia 7-12 tahun tidak mendapat layanan pendidikan SD/MI, 44,30 persen anak usia 13-15 tahun tak mendapat pendidikan SLTP/MTs, 67,68 persen anak usia 16-18 tahun tak memperoleh pendidikan SLTA serta 72,65 persen anak usia 0-6 tahun tidak mengalami pendidikan usia dini. (<a href="http://www.indonesia.go.id/">www.indonesia.go.id</a>, 07/08/06).</p>
<p>Sikap diskriminatif di alam kapitalisme juga telah memaksa setiap orang untuk menyetujui prinsip hidup “uang adalah segalanya”. Sehingga, orang berlomba-lomba meraup materi sebanyak mungkin meski kudu menghalalkan segala cara. Ini yang bisa memicu konflik dan membidani lahirnya masalah sosial. Kriminalitas, bandar narkoba, prostitusi, atau kerusuhan hanya sebagian kecil saja produk sampingan akibat diterapkannya kapitalisme oleh negara selain pengangguran atau anak putus sekolah. Kalo kondisi ini yang tengah mengepung kita sekarang, masa’ sih kita tetep betah? Ora sudi kita mah!</p>
<p>Yup, kondisi ini harus segera diakhiri. Cukup sekali saja kita merasa dikadalin ama Kapitalisme. Nggak mau ditipu lagi.</p>
<p><strong>Ini juga urusan kita, Bro&#8230;<br />
</strong>Sobat, adanya pilih kasih dalam pendidikan kian mensukseskan proses pembodohan massal di tengah kita. Serem ya kedengerannya. Tapi emang ini yang sedang terjadi. Persis kayak jaman penjajahan. Dulu, rakyat jelata banyak yang buta huruf lantaran dilarang sekolah oleh pemerintah penjajah. Hanya golongan ningrat dan keluarga penjajah aja yang bisa mengenyam pendidikan formal. Kondisi ini yang mendorong RA Kartini untuk memperjuangkan kesamaan hak dalam berpendidikan bagi rakyat pribumi.</p>
<p>Bedanya, saat ini tembok pembatas hak pendidikan bukan diciptakan oleh penjajah Barat, melainkan secara tidak langsung oleh kebijakan pendidikan pemerintah sendiri. Ironis emang. Di satu sisi, pemerintah mewajibkan rakyatnya untuk sekolah, tapi di sisi lain justru pemerintah sendiri yang menghalangi rakyat untuk menunaikan kewajibannya. sungguh terlalu! (gayanya Samin di sinetron Entong)</p>
<p>Kalo udah terjadi pembodohan massal dari sekarang, bisa kita bayangin deh gimana nasib negeri ini pada 5 sampai 10 tahun ke depan. Iih&#8230; syerem. Kita bakal kekurangan orang-orang yang berpendidikan. Orang-orang yang layak menjadi tumpuan harapan perbaikan kondisi di negeri kita. Orang-orang yang menyadarkan rakyat dari penipuan di balik liberalisasi pendidikan. Dan orang-orang yang bersama rakyat bergerak untuk mengingatkan pemerintah dari penjajahan terselubung di balik pinjaman dan hutang luar negeri. Kalo orang-orang berpendidikan kayak gini kian hari kian langka, alamat penjajahan di negeri kita juga bakal awet. Berabe tuh!</p>
<p>Nah sobat, meski untuk urusan pendidikan, kebanyakan kita masih disubsidi ortu bukan berarti kita cuek bebek dengan kondisi itu. Tetep, biaya pendidikan yang kian mahal kudu jadi urusan kita. Lantaran akibatnya juga bakal kita rasain. Allah swt berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya.” (QS al-Anfâl [8]: 25)</p>
<p>Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat ini dengan, ‘Allah menyuruh kaum Mukminin agar jangan membiarkan orang mungkar di tengah-tengah mereka, maka nanti azab akan meliputi mereka.’ Penafsiran ini ditegaskan oleh Rasul dalam sabdanya, “<em>Sesungguhnya manusia, bila melihat kemungkaran sedangkan tidak berupaya mencegahnya, maka tunggulah  saatnya Allah akan menurunkan azabnya secara menyeluruh</em>.” (<strong>HR Abu Dawud</strong>)</p>
<p>Kini, yang bisa kita lakukan adalah seoptimal mungkin menjadi orang-orang berpendidikan seperti harapan umat. Bukan malah asyik kelayapan nggak karuan saat jam pelajaran cuma lantaran diajak teman dan takut dianggap nggak toleran. Kita yang akan menyadarkan umat, mengingatkan pemerintah, dan berjuang untuk mengembalikan negara pada perannya sebagai pengayom rakyat. Bukan malah menjadi pengayom penjajah yang menguras sumber daya alam kita dan memeras keringat dan tenaga kita untuk kepentingan mereka. Saatnya bangkit dengan Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Yuk! [hafidz: <a href="mailto:hafidz341@telkom.net">hafidz341@telkom.net</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sekolah-hanya-untuk-kaum-borju/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Perbedaan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/arti-sebuah-perbedaan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/arti-sebuah-perbedaan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jun 2007 05:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/arti-sebuah-perbedaan/</guid>
		<description><![CDATA[Saat mengendarai sepeda motor sepulang kerja, di depan saya ada sebuah mobil sedan. Karena jalanan cukup sempit saya nggak bisa menyalipnya dengan mudah. Apalagi dari arah berlawanan sering ada mobil juga. Setiap kali direm, di bagian belakang mobil sedan itu, di balik kaca belakangnya, ada tulisan teks berjalan dengan warna merah yang membuat saya harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat mengendarai sepeda motor sepulang kerja, di depan saya ada sebuah mobil sedan. Karena jalanan cukup sempit saya nggak bisa menyalipnya dengan mudah. Apalagi dari arah berlawanan sering ada mobil juga. Setiap kali direm, di bagian belakang mobil sedan itu, di balik kaca belakangnya, ada tulisan teks berjalan dengan warna merah yang membuat saya harus berpikir keras untuk menyerap maknanya. Kalimat itu tertulis: â€œJangan berani untuk samaâ€?.<span id="more-511"></span></p>
<p>Jangan berani untuk sama? Ya, ada baiknya juga memang kalimat tersebut, meski kalimat itu menurut saya sangat bersayap alias bisa berarti banyak. Tergantung siapa yang menerjemahkannya dan untuk menjelaskan beragam maksud. Tentu sesuai pula dengan persepsi masing-masing orang. Itulah sebabnya kalimat tersebut saya nilai sebagai kalimat â€œbersayapâ€?.</p>
<p>Kalimat â€œJangan berani untuk samaâ€?, bisa berarti bahwa kita nggak perlu minder untuk berbeda dengan yang lain. Bahkan perbedaan itu sangat boleh jadi justru sebuah keberanian. Tentu, kalo untuk sesuatu yang sama, nggak usah (terlalu) berani. Begitu kira-kira. Sebuah pilihan yang mungkin saja sudah dipertimbangkan sangat matang. Nggak asal aja.</p>
<p>Misalnya nih, kalo ada temen yang punya hobi mantengin info olahraga sepakbola mancanegara (dari mulai baca sampe nonton setiap pertandingannya di televisi), ya kita nggak perlu harus merasa sama dengan hobi temen kita itu. Apalagi jika kita nggak terlalu suka dengan segala hal yang berkaitan dengan sepakbola. Tapi, karena ingin dianggap gaul soal sepakbola dan supaya diterima dalam komunitas itu, akhirnya kita memberanikan diri untuk punya hobi yang sama. Hmm.. itu salah besar karena nggak mau jujur sama diri sendiri. Betul nggak sih? Meski tentu saja, dalam hal ini, kalo pun pengen sama hobinya dengan teman kita itu, silakan saja. Mubah aja kok.</p>
<p><strong>Persamaan dan perbedaan</strong><br />
Sobat muda muslim, persamaan dan perbedaan itu memang bisa berarti banyak dan bisa banyak persepsi. Itu sebabnya, kita preteli dikit-dikit, pilah-pilah supaya bisa menentukan sikap. Nggak asal beda aja, atau nggak cuma merasa sama dengan yang lain. Setuju kan?</p>
<p>Nah, kalo kita â€?syarahâ€™ (dianalisis dan diperjelas) lagi, insya Allah kita bisa nentuin sikap. Misalnya tentang keputusan kita memilih menjadi aktivis rohis. Tentunya kita memilih berbeda dengan kebanyakan teman lain yang justru saat itu lebih cenderung gabung di klub ekskul olahrga, tari, pecinta alam, atau kegiatan lainnya. Berbeda dari teman lain dengan menjadi aktivis rohis, tentunya ini adalah sebuah keberanian. Iya kan? Berani untuk beda dengan teman yang â€?biasaâ€™ aja, dan berani untuk sama dengan aktivis rohis.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan teman kita yang justru ingin berbeda dari komunitas anak rohis? Ia nggak berani untuk sama dengan anak rohis. Tapi berani untuk berbeda dari anak rohis dengan menjadi anak gaul yang hobinya dugem dan gaul bebas dengan lawan jenis. Baginya, menjadi aktivis dugem dan gaul bebas adalah sebuah keberanian untuk tidak sama dengan anak rohis.</p>
<p>Memang sih itu pasti bergantung sudut pandang. Maka, sebuah standar wajib dimiliki. Supaya nggak semua orang bisa mengklaim bahwa dirinya benar. Boleh aja sih merasa dirinya benar, tapi harus bisa buktiin dengan kuat kalo dirinya tuh benar.</p>
<p>Lha, kalo yang kayak gini gimana jadinya? Hmm.. itu sebabnya, menurut saya kalimat itu disebut â€œbersayapâ€? alias banyak arti tergantung persepsi orang yang menerjemahkannya. Waduh, gimana urusannya dong? Mana yang benar dan mana yang salah? Kapan boleh berbeda dan kapan seharusnya sama?</p>
<p>Tenang sobat, nggak usah keburu bingung atau stres. Ini justru menurut saya adalah bagian dari kelemahan kita sebagai manusia. Dengan demikian, kita memang nggak bisa menentukan sesuatu itu benar atau salah sesuka hati, pikiran, atau perasaan kita (termasuk hawa nafsu kita). Bahaya. Karena apa? Karena bisa jadi banyak persepsi. Singkatnya, kita perlu standar yang mengatur batasan-batasan tersebut. Ya, kudu ada ukuran yang fixed. Nggak bisa sembarangan.</p>
<p>Inilah barangkali alasan kenapa â€œukuran panjang satu meterâ€? pun sudah ditetapkan secara internasional. Alat pengukur lain harus dikalibrasi?  (diuji, dicocokan) dengan standar yang dibuat. Supaya ada kesamaan dan kejelasan penilaian. Bayangin deh kalo untuk sebuah ukuran saja harus ada sekian ukuran yang ditentukan sesuai selera masing-masing, kita pasti bingung pilih yang mana. Iya kan? Misalnya aja ukuran panjang â€œsedepaâ€? itu diukur lewat panjang rentangan dua tangan tiap orang yang beda-beda. Kalo kemudian masing-masing orang meyakini sesuai pengukurannya, kita pusing. Karena setiap ukuran panjangnya jadi sesuai â€?ukuranâ€™ rentangan tangan masing-masing. Padahal, orang yang tinggi dengan yang pendek pasti beda ukuran rentang tangannya. Betul apa bener?</p>
<p><strong>Boleh beda, tapi ada saatnya wajib sama</strong><br />
Sobat muda muslim, saya menulis artikel ini dengan judul, â€œarti sebuah perbedaanâ€? tentu bukan tanpa alasan, lho. Begini nih penjelasannya. Berbeda boleh saja kok. Asal, itu dalam sebuah koridor yang dibolehkan untuk berbeda. Misalnya, untuk selera makan, ya nggak bisa disamain tiap orang. Rasa suka kepada lawan jenis juga nggak bisa disamain untuk semua orang. Warna baju juga boleh berbeda kok. Termasuk boleh juga berbeda pendapat dalam masalah furuâ€™iyah (cabang). Misalnya, kita nggak bisa maksa orang untuk melakukan sholat shubuh dengan melakukan qunut atau tidak. Karena kedua pendapat itu masing-masing memiliki dalil. Untuk kasus ini nggak perlu ributlah. Nggak perlu mengklaim salah satu benar dan satunya pasti salah. Karena yang seharusnya disalahkan adalah yang nggak sholat shubuh. Seharusnya kedua belah pihak bersatu padu untuk menyadarkan yang masih belum mau sholat shubuh. Tul nggak seh?</p>
<p>Bagaimana dengan yang tidak boleh berbeda (dan itu harus sama), dalam masalah apa aja? Nah, menurut saya di sini berlaku pernyataan bahwa â€œbagi yang mau samaâ€?, dapet gelar berani. Misal, sebagai muslim kita wajib menjadikan Islam sebagai the way of life kita. Bukan agama lain, atau kepercayaan lain (termasuk ideologi lain) untuk menuntun hidup kita. Ya, cuma Islam. Di sinilah kita wajib sama dan kudu berani untuk sama. Karena kesamaan ini jelas ada dalilnya. Ketika kita sudah menyatakan sebagai muslim, maka seluruh kehidupan kita harus rela diatur oleh Islam. Bukan yang lain.</p>
<p>Lho kok Islam sih? Ya iyalah, memangnya mau aturan yang mana? Apakah kepala sekolahmu nggak marah dan murka kalo sekolah di sekolahnya, tapi kamu malah milih aturan sekolah lain, atau setidaknya nggak percaya dengan aturan di sekolahmu sendiri. Adil nggak sih? Begitu juga dengan Islam. Kalo udah menyatakan masuk Islam, berarti kudu setia diatur sama Islam. Iya ndak?</p>
<p>Allah Swt. berfirman, â€œ<em>Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan..</em>â€? (<strong>QS al-Baqarah [2]: 208</strong>)</p>
<p>Dalam?  menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: â€œ<em>Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (â€?akidah) dan syariâ€™at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu</em>.â€? (<strong>Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247</strong>)</p>
<p>Imam an-Nasafiy?  menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa berserah diri dan taat kepada Allah Swt. atau Islam (<strong>Imam an-Nasafiy, Madaarik al-Tanzil wa Haqaaiq al-Taâ€™wiil, I/112</strong>).</p>
<p>Imam Qurthubiy menjelaskan bahwa, lafadz â€œkaaffahâ€? merupakan â€œhaalâ€? dari dlamiir â€œmuâ€™miniinâ€?. Makna â€œkaaffahâ€? adalah â€œjamiiâ€™an.â€? (<strong>Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, III/18</strong>)</p>
<p>Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsaâ€™labah, â€?Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka (padahal mereka sudah masuk Islam). Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas.</p>
<p>Terus nih, Imam Thabariy juga menyatakan: â€œ<em>Ayat di atas merupakan?  perintah kepada?  orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syariat Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satu pun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam</em>.â€? (<strong>Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337</strong>)</p>
<p>Ini artinya, kita nggak boleh menawar-nawar lagi untuk melakukan ibadah yang bukan berasal dari Islam. Misalnya aja, bagi seorang mualaf, karena dulunya setiap minggu ke gereja untuk kebaktian, maka setelah masuk Islam udah nggak boleh lagi tuh ikutan kebaktian di gereja. Karena emang udah bukan lagi ajaran dari Islam. Sebaliknya wajib taat sama Islam.</p>
<p>Sobat muda muslim, dengan ayat ini, berarti kita kudu total dalam memeluk Islam. Nggak boleh belang-belang. Nggak boleh setengah-setengah. Jangan sampe berbagai aturan kita pake untuk ngatur hidup kita, padahal kita muslim. Itu namanya â€œmalapraktekâ€?. Kita ngakunya muslim, tapi nyuri barang orang lain jadi hobi kita. Kita bilang ke mana-mana bahwa kita aktivis rohis, ternyata kita malah melakukan pacaran. Ortu kita rajin ngajinya, tapi yang diulik bukan al-Quran, melainkan primbon Jawa atau ajaran sekularisme. Lha, ini jelas salah prosedur, guys!</p>
<p>Di sinilah kita harus berani untuk sama. Nggak boleh nekat berbeda. Allah kembali menjelaskan dalam firmanNya, â€œ<em>Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata</em>.â€? (<strong>QS al-Ahzab [33]: 36</strong>)</p>
<p>Sebagai kesimpulan, bahwa â€œarti sebuah perbedaanâ€? itu kudu jelas batasannya. Ada saatnya kita boleh berbeda, tapi ada saatnya kita harus sama. Tapi standar boleh dan tidaknya kita berbeda atau sama itu hanya aturan Islam. Ya, itu karena kita sebagai seorang muslim.</p>
<p>Guys, jangan sampe kita berani untuk beda, tapi ternyata â€œbedanyaâ€? kita itu malah dibenci dalam ajaran Islam. Karena apa? Karena perbedaan yang kita kampanyekan justru melanggar ajaran Islam. Misalnya, kita sebagai muslim berani beda dengan cara mengkampanyekan pentingnya demokrasi dan sekularisme sebagai the way of life kita. Atau, kita menganggap bahwa Islam nggak boleh diterapkan sebagai ideologi negara. Wah, itu sih namanya perbedaan yang tak pantas disandang dan bahkan mencoreng kepribadian kita sebagai Muslim. Bukan pahala yang didapat, tapi dosa. Ati-ati ya Bro! Yuk, kita berani sama menjadi seorang muslim yang taat dan pejuang Islam. Itu baru oke! [solihin: <a href="http://www.osolihin.wordpress.com/">www.osolihin.wordpress.com</a>]</p>
<p>(<em>Buletin STUDIA Edisi 347/Tahun ke-8/25 Juni 2007</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/arti-sebuah-perbedaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihati &#8216;Si Entong&#8217;, Yuk!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nasihati-si-entong-yuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nasihati-si-entong-yuk#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2007 08:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/nasihati-si-entong-yuk/</guid>
		<description><![CDATA[Sobat muda muslim, yang suka nemenin adiknya (kalo saya nemenin anak) nonton tivi kayaknya agak-agak apal, atau bahkan apal banget ama sinetron yang tayang di TPI, yakni Si Entong (Abunawas dari Betawi). Sebagai hiburan, sinetron yang skenarionya ditulis oleh Ayesha Adam, Imam Salimy, dan Zainal Radar T memang oke banget. Lucu dan tokoh-tokohnya sangat berkarakter, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sobat muda muslim, yang suka nemenin adiknya (kalo saya nemenin anak) nonton tivi kayaknya agak-agak apal, atau bahkan apal banget ama sinetron yang tayang di TPI, yakni Si Entong (Abunawas dari Betawi). Sebagai hiburan, sinetron yang skenarionya ditulis oleh Ayesha Adam, Imam Salimy, dan Zainal Radar T memang oke banget. Lucu dan tokoh-tokohnya sangat berkarakter, sehingga pemirsa yang sering nonton sinetron ini mengenal betul karakter khas para tokohnya.<span id="more-493"></span></p>
<p>Sinetron bergenre drama komedi religi ini dibintangi oleh Fachri (Entong), Adi Bing Slamet (Ustad Somad), Rheina Ipeh (Fatimah), Hafiz API (Salim) Ana Shierly (Mpok Lela) dan pemeran lainnya. Sinetron ini mengisahkan kehidupan Entong, anak lelaki berusia 12 tahun, anak semata wayang Fatimah. Ayahnya sih udah meninggal dunia. Penampilan Entong yang suka berpeci merah dan mengenakan kain sarung yang dikalungkan di lehernya ini punya guru ngaji, namanya Ustad Somad.</p>
<p>Layaknya anak-anak yang lain, Entong juga punya teman sekaligus â€?musuhâ€™ bebuyutannya, yakni Memet, Udin, Ucup, dan Siti. Meski kalo dilihat sebenarnya yang dominan nakal tuh Memet, ketiga kawannya sih cenderung ngikutin aja apa maunya Memet. Apalagi Siti, meski banyak nge-gank ama Memet, tapi suka curi-curi kesempatan biar bisa ketemuan ama Entong. Maklum Siti nih suka ama Entong.</p>
<p>Banyak kejadian kocak khas Betawi dalam sinetron ini. Berbagai peristiwa dikemas dengan menarik meski sebenarnya kejadian yang biasa terjadi sehari-hari. Barangkali di sinilah kekuatan sinetron Si Entong ini.</p>
<p>Meski demikian, bukan berarti sinetron ini adalah tontonan yang aman buat anak-anak dan bahkan untuk orangtua. Lho kok?</p>
<p><strong>Tanya kenapa?</strong><br />
<strong>Pertama</strong>, sinetron ini kerap mengeksploitasi hal-hal yang nggak masuk akal. Dari judul per episodenya aja bisa ketahuan, misalnya Pancing Ajaib, Gelang Laba-laba Ajaib, Baju Ajaib, Tongkat Ajaib dan lainnya. Ada sih judul yang nggak pake kata ajaib, tapi umumnya cerita itu ya seputar keajaiban juga. Pada episode Senter Wasiat misalnya, senter yang dimiliki Entong, kalo disorotkan ke wajah orang, maka tuh orang wajahnya langsung jadi cantik atau ganteng. Kalo disorotkan ke makanan, maka makanan tiba-tiba jadi banyak.</p>
<p>Hmmâ€¦ juga dalam episode Memet Jadi Dua, Ustad Somad menjelaskan ketika ngisi pengajiannya Entong Cs, bahwa manusia itu punya teman dalam dirinya, yang disebut hati nurani atau hati kecil. Memet yang penasaran pas nyampe rumah langsung bercermin dan mencari-cari teman dalam dirinya. Tapi nggak nemu. Eh, pas Memet pergi malah bayangannya?  di cermin nggak mau pergi. Tetap ada di cermin, bahkan bisa keluar kemudian main layaknya Memet yang asli. Nah, bayangannya itu disebut Mumut. Hihi.. lucu dan kreatif, plus menghibur. Yup, memang sinetron ini sifatnya hiburan, tapi kenapa harus melanggar logika?</p>
<p>Ya, mungkin manusia memang menyukai hal-hal yang ajaib dan segala hal yang berkaitan dengan kekuatan atau kelebihan ideal yang diinginkannya dari diri atau sebuah benda. â€?Kebiasaanâ€™ menyukai hal yang ajaib ini memang bukan milik orang-orang sini aja, di Amerika pun udah ada sejak dulu. Misalnya cerita Superman, Batman, Catwoman, Hulk, X-Men, Fantastic Four, Spiderman, Captain America dan cerita superhero fiksi lainnya.</p>
<p>Jangankan anak-anak, orang dewasa aja suka. Apalagi setelah diangkat ke layar lebar, gambaran kekuatan tokoh superhero yang ada di komik jadi lebih terasa nyata dengan bantuan teknologi. Misalnya saja film X-Men (yang diangkat dari komik karya Stan Lee dan Jack Kirby), tokoh Wolverine/Logan yang memiliki cakar besi di tangannya jadi kelihatan gagah. Juga Ororo Munroe/Storm yang punya kekuatan menghadirkan badai petir, nampak lebih keren dengan bantuan efek. Scott Summers/Cyclops bisa nyemburin api dari matanya. Wah, kalo mo dipreteli satu-satu bakalan banyak dan nggak cukup halamannya di buletin ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, sinetron Si Entong ini sering nampilin adegan pergaulan antara laki-perempuan yang longgar, khususnya tokoh yang dewasa. Misalnya, adegan tentang Ustad Somad yang kerap mampir ke warungnya Fatimah yang janda itu. Kalo ketemuan, duduknya juga suka deketan. Apalagi Fatimah naksir berat sama Ustad Somad. Begitu juga Ustad Somad dengan Jamilah. Jamilah diajarin ngaji sama Ustad Somad. Lha, apa nggak ada ustazah tuh buat ngajarin kaum Hawa?</p>
<p>Oke, mungkin bagi sebagian orang hal ini dianggap wajar. Toh, dalam kehidupan sehari-hari juga banyak yang begitu. Cuma persoalannya nih, apakah realita yang ada di tengah kehidupan itu nggak bisa kita nilai? Hanya dibiarkan apa adanya dan bahkan dijadikan inspirasi tanpa ada penilaian dari si penulis cerita untuk menjelaskan bahwa hal itu sebenarnya nggak boleh?</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, obrolan yang ditampilkan kerap kasar dan tidak mendidik anak-anak. Apalagi kalo tokoh Salim dan Samin bertemu, pasti banyak ungkapan, obrolan, sindiran, dan adegan yang nggak pantes ditonton. Setali tiga uang dengan Salim-Samin adalah tokoh Mpok Lela dan Mamake Memet, yakni Mpok Zaenab. Dua orang ini kerap mengumbar ungkapan dan istilah yang juga nggak pantes untuk diteladani.</p>
<p><strong>Sekadar hiburan?<br />
</strong>Mungkin aja ada yang bertanya, emangnya nggak boleh kalo bikin cerita tentang khayalan kayak X-Men dan sejenisnya, termasuk Si Entong, kan yang penting menghibur?</p>
<p>Sobat muda muslim, saya malah khawatir dengan pernyataan orang-orang yang menganggap bahwa hiburan ya hiburan dan itu bebas nilai. Hiburan dipercaya sebagai bagian dari kesenian dan ekspresi berkesenian. Mereka beralasan bahwa namanya juga hiburan, yang penting kan bisa mengobati kepenatan, kejenuhan dan membuat kita rileks.</p>
<p>Oke, penulis juga nggak anti kok sama hiburan, toh sinetron ini penulis tonton juga untuk mendampingi anak yang memang hobi nonton sinetron ini sambil harus rajin ngasih tahu mana yang benar-salah, mana yang baik-buruk, dan yang nggak boleh dan boleh dilakukan. Namun, jujur aja bahwa kita juga nggak bisa memantau setiap hari tontonan anak-anak. So, yang diperlukan adalah kerjasama dari pihak lain, khususnya yang bergelut di media massa televisi supaya nggak menampilkan film atau sinetron yang nggak mendidik. Baik aspek kognitif maupun afektifnya. Mungkin kalo orang dewasa sih nggak mudah dibohongi dengan cerita semacam itu. Tapi anak-anak? Nggak ada jaminan kan kalo kemudian nggak terpengaruh dengan melakukan adegan yang berhasil ditiru dari tokoh cerita tersebut?</p>
<p>Waktu kecil dulu, saya dan temen-temen main sering mengekspresikan diri dengan tokoh-tokoh superhero fiksi yang dilihat di televisi: Superman, Batman, Flash Gordon, Gundala dan sejenisnya.</p>
<p>Jadi, kalo pun ingin menampilkan cerita tersebut, harus ada penjelasan di akhir cerita bahwa itu sekadar khayalan belaka. Tapi menurut saya lebih baik bikin cerita yang masuk akal dan pendidikan yang sesuai dengan kenyataan kehidupan manusia pada umumnya.</p>
<p>Begitu pula apakah kita kembali berlindung dengan pernyataan: â€œIni kan hiburan. Nggak usah diributkan. Nikmati aja. Repot amat!â€?</p>
<p>Well, apakah kemudian kita berdalih pula ketika adik atau anak kita yang terpengaruh sebuah adegan atau obrolan dan ungkapan dari sebuah tayangan yang nggak mendidik, bahwa hal itu sekadar efek biasa dari sebuah hiburan? Sesederhana itukah berpikirnya? Padahal, kebiasaan akan berubah menjadi karakter. Bayangkan jika ada tokoh yang ditontonnya itu sering berkata tidak baik, kemudian ia mencontohnya dalam kehidupan nyata dan berlaku kasar kepada temen-temennya. Sudah saatnya kita menerapkan prinsip bahwa hiburan yang kadang disebut sebagai hasil ekspresi dari sebuah estetika, tetap harus berdampingan dengan etika. Nggak cuma menampilkan estetika (keindahan seni menghibur), tapi sekaligus selaras dengan etika. Utamanya, etika dalam ajaran agama kita, yakni Islam. Setuju kan? Yes! (backsound: harusnya ini jawabannya ya!)</p>
<p><strong>Hiburan yang mendidik</strong><br />
Sobat, betul banget kalo dikatakan bahwa kita sangat butuh hiburan. Tapi kan masalahnya nggak semua hiburan bisa kita nikmati begitu saja. Ada ukuran dan nilai yang harus dimiliki sebuah hiburan sehingga kita nggak sembarang menikmati. Sebagai seorang muslim, tentu saja hiburan harus disesuaikan dengan standar ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Itu sebabnya, meski kita butuh hiburan, tapi nggak melampiaskannya dengan dugem, kumpul bareng teman (campur-baur cowok-cewek) di diskotik dan menikmati irama musik yang hingar-bingar. Ya, bagi seorang muslim/muslimah, menikmati hiburan jenis itu jelas nggak sesuai ajaran Islam.</p>
<p>So, berarti kita kudu pandai-pandai memilih dan memilah jenis hiburan. Lebih bagus lagi jika kita bisa menikmati hiburan yang mendidik dan sekaligus sangat bermanfaat bagi perkembangan kognitif (ilmu pengetahuan), afektif (perasaan atau emosional), dan psikomotorik (keterampilan) yang sesuai dengan gaya hidup kita sebagai seorang muslim. Tul nggak sih?</p>
<p>Sobat, sebenarnya bisa saja hiburan kemudian dijadikan sarana untuk menyampaikan informasi yang benar dan mendidik. Sangat bisa dan sangat mungkin untuk digarap. Sehingga nggak sekadar hiburan an sich. Tapi ada nilai yang bisa membentuk kepribadian kita: baik pola pikir maupun pola sikap kita. Nilai yang benar dan baik tentunya. Bukan ukuran nilai universal atau humanisme, tapi nilai berdasarkan Islam. Malu dong, ngakunya muslim, tapi kelakuan sekuler abis, hedonis en permisif. Sungguh terlalu! (silakan nyebutin kalimat ini pake gaya Samin di sinetron Si Entong kalo mau hehehe..)</p>
<p>Insya Allah nggak ada ruginya ngajarin dan nyampein kebaikan. Hiburan yang baik dan bermanfaat dalam mendidik insya Allah selain membantu orang untuk menjadi benar dan baik, kita juga dapat pahala. Sebaliknya, kalo ngajarin keburukan tentu aja kita dapet bagiannya juga, yakni dosa. Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p>?…???†?’ ?³???†?‘?? ?³???†?‘???©?‹ ?­???³???†???©?‹ ?????¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?ƒ???§?†?? ?„???‡?? ?£???¬?’?±???‡???§ ?ˆ???…???«?’?„?? ?£???¬?’?±?? ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?„?§?? ?????†?’?‚???µ?? ?…???†?’ ?£???¬???ˆ?±???‡???…?’ ?´?????’?¦?‹?§ ?ˆ???…???†?’ ?³???†?‘?? ?³???†?‘???©?‹ ?³?????‘???¦???©?‹ ?????¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?ƒ???§?†?? ?¹???„?????’?‡?? ?ˆ???²?’?±???‡???§ ?ˆ???ˆ???²?’?±?? ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?…???†?’ ?¨???¹?’?¯???‡?? ?„?§?? ?????†?’?‚???µ?? ?…???†?’ ?£???ˆ?’?²???§?±???‡???…?’ ?´?????’?¦?‹?§</p>
<p>â€œ<em>Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikit pun</em>,â€? (<strong>HR Ibnu Majah</strong>)</p>
<p>Oke deh, ini aja sekadar nasihat kecil buat â€œSi Entongâ€?, yakni bagi penulis ceritanya, produsernya, sutradaranya dan seluruh kru yang terlibat di sana. Ini nasihat karena Entong mengusung genre drama komedi religi (dalam hal ini nilai-nilai ajaran agama Islam). Jadi, ini sekadar tanda cinta dari saya untuk saling menasihati dan mengingatkan sesama muslim. Iya nggak sih? Gejlig! Tewewew! [solihin: <a href="http://www.osolihin.wordpress.com/">www.osolihin.wordpress.com</a>]</p>
<p>(<em>Buletin STUDIA Edisi 346/Tahun ke-8/18 Juni 2007</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nasihati-si-entong-yuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suka Sejenis? Amit-amit!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/suka-sejenis-amit-amit</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/suka-sejenis-amit-amit#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 04:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/suka-sejenis-amit-amit/</guid>
		<description><![CDATA[Bahasan kali ini mungkin nggak menarik bagi kamu-kamu yang merasa normal. Maksudnya normal karena nggak bakal ada bibit-bibit untuk suka sejenis. Kalo cewek ya suka sama cewek, kalo cowok demen sama cowok. Demen dan suka di sini bukan sekadar untuk berteman, tapi sudah menjurus ke hubungan khusus alias mengarah ke hubungan seksual. Hiiii&#8230;
Jangan kaget. Fenomena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahasan kali ini mungkin nggak menarik bagi kamu-kamu yang merasa normal. Maksudnya normal karena nggak bakal ada bibit-bibit untuk suka sejenis. Kalo cewek ya suka sama cewek, kalo cowok demen sama cowok. Demen dan suka di sini bukan sekadar untuk berteman, tapi sudah menjurus ke hubungan khusus alias mengarah ke hubungan seksual. Hiiii&#8230;<span id="more-482"></span></p>
<p>Jangan kaget. Fenomena seperti ini memang belum umum terjadi di sekitar kita. Tapi bukan berarti kejadian seperti ini nggak nyata. Secara sekilas, kelainan suka sejenis memang nggak mudah terlihat. Jadi, seringnya kita merasa aman-aman saja dan merasa: â€œAh&#8230; nggak mungkin itu terjadi di aku or temen-temenkuâ€?. Ati-ati lho!</p>
<p>Jangan salah. Sesuatu yang nggak mungkin bisa berubah menjadi mungkin kalo kita nggak waspada. Masalahnya â€™penyakitâ€™ beginian bersifat laten, bisa muncul sewaktu-waktu tergantung situasi dan kondisi yang menyertai.</p>
<p><strong>Kenali gejalanya</strong><br />
Mengenali gejala penyakit suka sejenis emang nggak mudah. Karena awalnya emang bermula dari perasaan yang kemudian berimbas ke tingkah laku. Biasanya â€™si penyakitanâ€™ akan menyimpannya cukup dalam hati saja. Secara fisik, mungkin ia nggak beda dengan anak lainnya. Nggak harus karena fisiknya terlihat tomboy, terus kamu main curiga aja jangan-jangan dia lesbi. Begitu juga buat cowok, nggak perlu kudu lemah gemulai untuk menjadi homo. Kamu tahu grup band Boyzone yang sempat tenar beberapa tahun lalu? Nah, salah satu dari cowok macho itu homo loh.</p>
<p>Jadi lesbi dan homo memang nggak bisa dideteksi dari penampilan. Biasanya pada tataran awal, gejala ketidaknormalan ini akan membuat pelakunya suka gelisah. Biasalah, kayak gejala orang kalo poling in lop gitu, cuma bedanya ini dengan sesama jenis. So, hati-hati dengan teman yang suka meraba-raba misalnya. Atau memandang dengan pandangan yang mupeng (muka pengen) dicampur nafsu.</p>
<p>Lagi, gejala di atas tidak mutlak harus ada pada seorang yang berpenyakit lesbi dan homo. Yang penting kamu bersikap waspada dan hati-hati bila ada teman yang tingkah lakunya mulai membuat resah teman yang lain. Suka intip-intip teman yang lagi ganti baju, misalnya.</p>
<p><strong>Penyebab suka sejenis</strong><br />
Penyebab penyakit ini bisa macam-macam. Ada yang karena dikecewakan pacar, terus jadi trauma dengan lawan jenis. Ada juga yang karena broken home. Saya dulu punya teman yang sering banget melihat bapaknya memukul fisik baik ibu maupun anak-anaknya, termasuk teman saya ini. Terus ia juga sering banget lihat cowok-cowok urakan yang gampang banget mempermainkan cewek. Ia pernah bilang kalo ia jadi illfeel sama yang namanya makluk berjenis cowok. Untungnya doi belum parah. Alhamdulillah akhirnya ia rajin belajar Islam, berjilbab dan menikah.</p>
<p>Salah asuh juga bisa menjadi biang keladi penyakit suka sejenis ini. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang kering kasih sayang dan dibeda-bedakan antara anak laki dan perempuan, bisa jadi pemicunya. Diperparah dengan jauhnya suasana keimanan dalam keluarga makin membuat anak semakin â€™sakitâ€™.</p>
<p>Kondisi lingkungan juga punya andil besar dalam menyuburkan penyakit ini. Tayangan sinetron dan film layar lebar banyak diproduksi seputar tema suka sejenis. Ambil contoh Cornelia Agatha dan Shanty di filmnya yang terbaru juga berkisah tentang gadis lesbi ini.</p>
<p>Sobat, yang paling parah adalah lesbi dan homo yang tidak merasa bahwa mereka ini sedang sakit. Berdalih atas nama Hak Asasi Manusia dengan kebebasan berekspresinya, mereka merasa sah-sah saja untuk menjalani hidup sebagai â€™penyakitanâ€™. Toh, perbuatan itu tidak merugikan siapa-siapa, selalu itu yang menjadi alasan pembenaran untuk kerusakan yang mereka perbuat.</p>
<p>Sejatinya, ide inilah yang jadi biang kerok kompleksnya permasalahan yang ada. Ibarat benang kusut, nggak ketahuan ujung pangkal untuk mengurainya. Ide HAM yang merupakan anak kandung demokrasi inilah yang menjadikan fenomena suka sejenis begitu merebak.</p>
<p>Kehidupan yang â€™berakidahâ€™ sekulerisme alias memisahkan agama dari kehidupan menjadi ide yang diadopsi bersama-sama. Orang tak lagi takut dosa melakukan hal yang melanggar perintah agama. Sekedar ditakut-takuti sama yang namanya dosa, nggak bakalan mempan. Dosa kan nggak kelihatan. Dosa kan entar aja urusannya di akhirat. Ihh&#8230; nggak beriman banget dalih seperti ini.</p>
<p><strong>Solusi dong!<br />
</strong>Harus ada solusi bagi semua permasalahan kehidupan. Kalo suatu sistem yang berlaku dalam masyarakat nggak punya solusinya, buang ke laut aja tuh sistem dan ganti dengan yang baru. Membiarkan fenomena lesbi dan homo dengan alasan HAM dan kebebasan bertingkah laku bukan solusi, tapi bom waktu. Tinggal menunggu aja ledakan dahsyatnya yang akan menghancurkan bumi seisinya.</p>
<p>Di tataran awal, ketiga komponen solusi harus ada. Apakah itu? Kontrol diri dengan keimanan yang kuat pada individu-individunya. Kedua, kontrol masyarakat yang tak segan untuk beramar makruf nahi mungkar bila melihat gejala penyimpangan prilaku pada pelaku lesbi dan homo. Bukan malah sok nggak mau tahu karena sudah terjangkitnya masyarakat oleh penyakit individualisme. Dan yang ketiga serta paling menentukan posisinya adalah kontrol negara. Negara nggak bisa menutup mata bahwa fenomena lesbi dan homo sudah ada di tengah masyarakat kita.</p>
<p>Bukan jamannya lagi negara melalui perantara DPR yang sok mengaku sebagai wakil rakyat melakukan rapat dan cuma rapat untuk menentukan rumus baru tentang definisi suatu kejahatan dan hukumannya. Kelamaan boo. Hukum Indonesia yang digali dari hukum Belanda itu notabene buatan manusia dan nggak akan mungkin bisa menjangkau kesempurnaan hukum buatan Sang Pencipta. So, waktunya kita menoleh dan mengambil sistem hukum Yang Maha Sempurna. Solusi tuntas atas semua permasalahan kehidupan tanpa menimbulkan masalah baru.</p>
<p>Harus ada solusi hukum yang praktis bagi mereka yang masih bengal hobi lesbi dan homo. Solusi hukum yang akan membuat mereka jera. Bukan solusi hukum yang bisa dijadikan tawar menawar rupiah. Allah Swt. dan RasulNya telah menetapkan hukum bunuh bagi pelaku liwath (homoseksual). Rasulullah saw bersabda: â€œBarangsiapa menjumpai orang yang berbuat homoseks seperti praktek kaum Luth, maka bunuhlah si pelaku dan yang diperlakukan (pasangannya)â€? (HR Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, Abu Daud, dan an-Nasaâ€™i)</p>
<p>Ide ini jelas janggal banget untuk orang yang sudah terasuki ide kebebasan bertingkah laku. Wong suka sama suka kok dibunuh. Jangankan sesama jenis yang sulit pembuktiannya, seks bebas antar lawan jenis yang jelas-jelas ada bukti hamil tanpa suami aja masih bisa dilindungi oleh negara dan adat. Dengan cara apa? Yup, dicarikan â€™pejantanâ€™ untuk melindungi aib keluarga. Jadilah lingkaran setan, anak-anak lahir dengan nasab yang amburadul, anak-anak nakal karena berasal dari keluarga yang broken home dan penyakit demi penyakit â€™anehâ€™ muncul sebagai peringatan terhadap pembangkangan manusia ini.</p>
<p>Kembali ke bahasan suka sejenis. Kalo ada temanmu yang sudah terlanjur kena penyakit lesbi dan homo ini, segera ingatkan dia untuk segera taubatan nasuha. Taubat yang sebenar-benarnya dan tidak akan pernah diulangi lagi. Saya yakin, tingkat penyakit ini bila menjangkiti orang yang masih percaya keberadaan Allah dan hari akhir, ada harapan untuk bisa disembuhkan. Levelnya juga belum menjurus ke hubungan seksual, semoga. Paling masih taraf getaran rasa bila berdekatan dengan orang tertentu, sesama jenis yang lagi disuka.</p>
<p>Jangan memberi solusi yang aneh dan mengakibatkan masalah baru. Biasanya solusi aneh yang diberikan adalah dikenalkan dengan lawan jenis dan didorong untuk pacaran. Walah, ini namanya menyembuhkan penyakit dengan mengundang penyakit baru. Menghindar dari mulut harimau malah lari ke mulut buaya. Sama-sama bahaya dan binasanya, Non.</p>
<p><strong>Mencegah suka sejenis</strong><br />
Mencintai seseorang karena Allah memang harus. Tapi mencintai seseorang karena nafsu seksual apalagi sesama jenis, naudzhubillah. Jangan sampai kamu jadi penerus jejak kaum Nabi Luth yang dimusnahkan Allah karena bengal dan nggak mau sembuh dari penyakit lesbi dan homo ini. Nah, supaya nggak terjerumus, ada kiat-kiat tertentu neh.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, meskipun berteman atau bersahabat dengan sesama jenis, jangan keterlaluan dekatnya. Ada batas-batas tertentu yang nggak boleh dilanggar. Tidur (bagi kamu yang ngekost atau bermalam di rumah teman), jangan sampai satu selimut. Hal ini cucok banget dengan apa yang telah diperingatkan oleh Rasulullah. Mandi, teramat sangat tidak boleh alias haram berdua. Ada batasan aurat sesama perempuan yang tidak boleh dilihat oleh perempuan lain. Begitu juga laki-laki. Antara pusar dan lutut itu tak boleh diumbar sembarangan. Sayangnya masih banyak di sekitar kita para gadis memakai celana sangat pendek dengan cueknya keluar rumah. Begitu juga dengan cowok-cowok yang pada enggan menutup aurat di atas lutut.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, saling menasihati dalam kebenaran dan kebaikan. Kalo ada temanmu yang kelihatannya mulai terjangkit penyakit ini, jangan dijauhi. Coba nasehati pelan-pelan dan pahamkan tentang Islam. Ajak ia lebih mendekat pada Allah agar gejala penyakitnya itu tak semakin parah.</p>
<p><strong>Yang ketiga</strong>, jangan diam saja. Jadikan Islam sebagai solusi dalam semua aspek kehidupan. How? Sebarkan pemahaman Islam sebagai the way of life. Kita tadi sudah paham kan bahwa kejadian suka sejenis ini hanya salah satu imbas saja dari kerusakan ide HAM dan demokrasi. Kerusakan-kerusakan yang lain sudah tak terkatakan banyaknya. AIDS adalah salah satunya. Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyerukan agar ide-ide rusak seamcam ini dibuang aja ke tong sampah peradaban. Ganti dengan yang sudah pernah terbukti menyejahterakan satu pertiga penduduk bumi, yaitu Islam sebagai ideologi.</p>
<p>Kalo kita nggak mau turut andil berpartisipasi mengukir sejarah menyongsong peradaban baru yang lebih baik dengan Islam? Yakinlah, bahwa Islam nggak butuh kita tapi kitalah yang butuh Islam. Dengan mudah Allah akan menggantikan orang-orang pembangkang di muka bumi ini dengan orang-orang yang akan nurut serta cinta pada Allah. Allah pun pasti akan mencintai mereka. Masa dengan janji mendapat cinta dan surga Allah, kamu masih malas untuk berubah dan turut andil dalam perjuangan? Ih&#8230; rugi banget!</p>
<p>So, ayo kita babat lesbi dan homo dengan penerapan Islam secara kaffah, buang ide demokrasi dengan anak turunannya berupa HAM&#8211;yang salah satu aturannya membolehkan kebebasan bertingkah laku. Yuk, tegakkan Islam! [ria: <a href="mailto:riafariana@yahoo.com">riafariana@yahoo.com</a>]<br />
(STUDIA Edisi 345/Tahun ke-8/11 Juni 2007)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/suka-sejenis-amit-amit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpisah Kok Pesta?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berpisah-kok-pesta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berpisah-kok-pesta#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2007 03:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berpisah-kok-pesta/</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahanâ€?. Begitu pepatah mengatakan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman sekolah, tak terbayangkan kalo suatu hari nanti, kita pun kudu rela angkat kaki darinya. Ketika pertama kali berkenalan dengan teman sekolah saat masa orientasi siswa, nggak kebayang kalo suatu saat kita pun mesti ikhlas melepas kepergian mereka. Ketika pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahanâ€?. Begitu pepatah mengatakan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman sekolah, tak terbayangkan kalo suatu hari nanti, kita pun kudu rela angkat kaki darinya. Ketika pertama kali berkenalan dengan teman sekolah saat masa orientasi siswa, nggak kebayang kalo suatu saat kita pun mesti ikhlas melepas kepergian mereka. Ketika pertama kali mengenal guru yang mengajar dan membimbing kita layaknya orangtua, nggak kepikiran kalo tiga tahun akan datang, dengan berat hati kita lambaikan tangan pada mereka. Memang, nggak akan ada acara perpisahan kalo sebelumnya nggak pernah ketemuan. (hiks&#8230;hiks&#8230;hiks&#8230;. jadi bernostalgia).<span id="more-465"></span></p>
<p><strong>Perpisahan sekolah, sebuah tradisi</strong><br />
Menjelang berakhirnya tahun ajaran, tiap sekolah tidak hanya disibukkan dengan persiapan penerimaan siswa baru, tapi juga acara perpisahan yang nggak boleh kelewatan. Mulai dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, atau SMA, semuanya ikut melestarikan momen spesial ini. Maklum, sudah tradisi!</p>
<p>Seperti penuturan Pak Hilman, salah staf pengajar di SMP PGRI 1 Ciawi Bogor, beliau menuturkan, acara perpisahan sekolah selalu ada di akhir tahun ajaran. Biasanya digelar di halaman sekolah pada pagi hingga siang hari yang diisi dengan pentas seni antar kelas atau angkatan serta pengumuman siswa berprestasi. Tujuannya, semata-mata untuk mendekatkan hubungan antar siswa sekaligus penyerahan kembali tanggung jawab pendidikan dari pihak sekolah pada orang tua.</p>
<p>Namun bagi Anindy, muslimah alumnus SMA Ibnu Aqil di Bogor tahun 2006, acara perpisahan di masanya cukup bikin bete. Lantaran acara bebas, nggak ada batasan antara siswa dan siswi. Jadinya campur baur deh alias ikhtilat. Padahal aturan Islam yang mulia udah ngatur tata cara pergaulan dengan lawan jenis. Nah, ikhtilat kan termasuk yang dilarang. Kondisi yang sama juga dihadapi Fida, muslimah alumnus SMAN 4 Kendari, Sulawesi Tengara, tahun 2000. Nggak heran kalo mereka nggak ikut ambil bagian dalam acara itu.</p>
<p>Tak hanya dalam negeri, acara perpisahan sekolah juga hadir di setiap negara dengan kekhasan budayanya. Seperti cerita Norhafidzah, siswi Kolej Matrikulasi Pahang, Malaysia, kepada penulis. Di negeri jiran, acara perpisahan sekolah lazimnya diisi dengan jamuan makan dengan tempat duduk terpisah antara putra en putri. Kadang ada juga yang meramaikannya dengan permainan cabutan bertuah atau kotak beracun alias kotak undian. Waduh! Apa yang dapet undian disuruh minum racun? â€œterpulang (tergantung).. suruh menyanyi.. melakonkan.. atau terkadang ada juga buat perkara2 yang tidak senonoh macam cium dinding (nyium tembok), cium kasut (nyium sepatu)â€? nah lho, nggak sekalian disuruh nyium aspal! Hehehe&#8230;.</p>
<p><strong>Terjebak budaya pesta</strong><br />
Derasnya arus informasi budaya sekular yang menyapa remaja kita, menginspirasi mayoritas pelajar muslim untuk lebih maksimal dalam menikmati hidup dengan bersenang-senang. Tak heran kalo gaya hidup yang berorientasi pada fun (hiburan/kesenangan), food (makananâ€”termasuk minuman), serta fashion (pakaian/penampilan) kian banyak digandrungi. Kondisi ini melekat sekali dalam budaya pesta remaja saat ini.</p>
<p>Jika budaya pesta udah ngecengin remaja, kondisi apapun bisa dijadikan alasan kuat untuk berhura-hura. Dapet kecengan baru, makan-makan. Mau merit, ngadain bachelor party alias pesta bujang. Putus cinta juga bisa jadi alasan untuk berpesta sebagai simbol kemerdekaan dari sebuah komitmen. Malah bisa jadi, pesta juga digelar demi merayakan keberhasilan mencabut gigi sakit yang udah berminggu-minggu menyiksa batin. Sampe segitunya. Ya iyalah, namanya juga maniak pesta!</p>
<p>Apalagi momen perpisahan sekolah, tentu nggak perlu ditanyain lagi kelayakannya sebagai alasan untuk bersenang-senang. Mulai dari aksi corat-coret pylox di baju seragam, hangout ke tempat wisata, hingga ngadain hajatan malam pesta dansa alias prom night. Parahnya nih ye, di Balikpapan, 13 pelajar merayakan perpisahan dengan teman-teman sekolahnya sambil berpesta miras sebelum diciduk polisi. (Pos metro Balikpapan, 15/05/07).</p>
<p>Sebagai pelajar muslim, tentu budaya pesta yang nggak ada manfaatnya (hura-hura dan maksiat) nggak layak mengisi hari-hari kita. Apalagi prom night yang jelas-jelas datang dari budaya Barat, bisa dipastiin steril dari aturan agama, apalagi aturan Islam. Mulai dari campur baur cewek-cowok, pamer aurat, hingga gaul bebas yang menjurus pada freesex. Budaya pesta hanya akan membuat hati kita membatu, egois bin individualis. Iya dong, coba tengok sekeliling kita. Tega bener kita berpesta-pora dengan menghambur-hamburkan uang sementara teman sekolah kita, tetangga, atau bahkan sodara kita kudu berjuang mati-matian demi mempertahankan hidup. Mana empati kita?</p>
<p><strong>Perjalanan belum berakhir</strong><br />
Sobat, wajar aja kalo kita merasa senang bin gembira karena berhasil menyelesaikan masa pendidikan di tingkat menengah. Meski nilainya pas-pasan banget. Tapi bukan berarti boleh euphoria alias berlebih-lebihan dong. Apalagi sampe terjerumus dalam kegiatan pesta-pora. Nggak deh.</p>
<p>Inget Bro, lulus sekolah bukan berarti akhir dari perjalanan hidup kita. Lulus sekolah cuma sebagian kecil dari penggalan kisah kehidupan kita. Coba deh tarik napas dalam-dalam, keluarkan sedikit-sedikit dari mulut (bukan dari bawah), tenangkan hati, dan coba pikirkan hari esok. Di sana udah nunggu episode kehidupan baru yang bakal kita jalani lagi dari nol.</p>
<p>Yup, dari SMP kita akan masuk ke masa SMA dengan gejolak jiwa muda yang membara dan bisa membakar kita jika salah mensikapinya. Lulus SMA, kita pun disodorkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan kita ke perguruan tinggi atau terjun ke dunia kerja. Kedua-duanya menuntut kesiapan mental dan jiwa kita selain materi. Lantaran kita akan berhadapan dengan wajah-wajah baru dengan berbagai karakter. Nah, yang jadi pertanyaan apa yang sudah kita persiapkan?</p>
<p>Setelah tamat perguruan tinggi, masyarakat pun telah menunggu kontribusi positif kita. Usai titel sarjana kita raih, apa yang akan kita perbuat? Menjadi bagian dari komunitas pencari kerja? Atau malah menambah deretan jumlah pengangguran intelek?</p>
<p>Sobat, mau dibingkai seperti apa masa depan kita jika budaya pesta-pora tanpa yang berbalut maksiat lebih kita minati dibanding belajar, berpikir, berdakwah, dan memberikan manfaat bagi semua? Tak tergiurkah kita dengan sabda Rasul: â€œ<em>Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain</em> â€œ (<strong>HR Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>Kemuliaan dalam kesederhanaan</strong><br />
Sobat, kalo kita nyadar bahwa potret masa depan telah kita bingkai sejak saat ini, tentu hidup sederhana dalam keseharian lebih keren dibanding terjebak dalam hingar-bingar kesenangan dunia belaka. Hidup sederhana yang kita maksud adalah membelanjakan harta dengan tidak berlebihan untuk memuaskan nafsunya serta nggak pelit dalam berbuat kebaikan. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?ˆ???????§???? ?°???§ ?§?„?’?‚???±?’?¨???‰ ?­???‚?‘???‡?? ?ˆ???§?„?’?…???³?’?ƒ?????†?? ?ˆ???§?¨?’?†?? ?§?„?³?‘???¨?????„?? ?ˆ???„?§?? ?????¨???°?‘???±?’ ?????¨?’?°?????±?‹?§.?¥???†?‘?? ?§?„?’?…???¨???°?‘???±?????†?? ?ƒ???§?†???ˆ?§ ?¥???®?’?ˆ???§?†?? ?§?„?´?‘???????§?·?????†?? ?ˆ???ƒ???§?†?? ?§?„?´?‘?????’?·???§?†?? ?„???±???¨?‘???‡?? ?ƒ???????ˆ?±?‹?§</p>
<p><em>â€œDan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannyaâ€?</em>(<strong>QS al-Isr?¢ [17]: 26-27</strong>)</p>
<p>Jadi, kalo punya harta berapa pun, kita ikhlas membaginya untuk berbuat kebaikan, nggak semuanya dilalap untuk memenuh hasrat belanja kita yang nggak ketulungan. Oya, kalo pun mo beli barang untuk memenuhi keperluan, ya disesuaikan dengan kebutuhan kita. Bukan dipaksa memenuhi keinginan kita yang gampang tergoda oleh iklan yang bombastis. Tetep kalem, Bro! Nggak usah tergesa untuk tergoda.</p>
<p>Untuk itu, kita bisa menauladani kehidupan Rasulullah saw. Umar Ibnu Khattab bercerita: â€œAku pernah minta izin menemui Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada di atas tanah, beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya, aku tidak sanggup menahan tangisku.</p>
<p>â€œMengapa engkau menangis, hai putra Khaththab?â€? Rasulullah bertanya.  Aku berkata, â€œBagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasihNya, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas kastil emas, berbantalkan sutraâ€?.</p>
<p>Nabi yang mulia berkata, â€œMereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia seperti seseorang yang bepergian pada musim panas, ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannyaâ€?. (Hayat al- Shahabah 2: 352)</p>
<p>Untuk mewujudkan pola hidup sederhana dalam keseharian, bisa kita mulai dengan: Pertama, jinakkan perasaan tidak puas terhadap kenikmatan yang udah Allah kasih buat kita. Hidup kita bakal dibikin tekor dunia dan akhirat kalo pikiran selalu terfokus pada apa yang belum kita miliki, bukan mensyukuri apa yang sudah kita punya.</p>
<p>Kedua, lejitkan rasa percaya diri dalam diri kita. Orang psikologi bilang, Orang yang punya merasa rendah diri akan mudah terjebak dalam pola hidup yang tidak sederhana dengan cara menipu diri -self deception (<strong>Hamacheck: 1987</strong>). Dia takut memunculkan identitas aslinya sehingga menipu dirinya dengan menghadirkan jati diri orang lain yang dipercaya bisa diterima oleh lingkungan dibanding dirinya. Maka, sebagai remaja muslim, kudu tetep confident dengan kesederhanaan hidup kita yang terbalut ridho ilahi. Nggak mesti jadi bebek kan? Nggak usah semangat ikut yang salah.</p>
<p>Nah sobat, alangkah indahnya jika kita bisa menghiasi hidup kita dengan kesederhanaan. Kita bisa ngasih nilai tambah pada momen perpisahan sekolah tanpa harus menyeretnya dalam budaya pesta berbalut maksiat. Kegiatan bakti sosial, foto bareng temen-temen sekelas di halaman sekolah, atau bikin buku angkatan yang berisi biodata singkat semua sohib satu angkatan dengan catatan dan harapan masing-masing, bisa jadi alternatif agenda di akhir tahun ajaran.</p>
<p>So, yang penting mari kita sama-sama belajar mencontoh kehidupan Rasulullah saw. maupun para sahabat yang sederhana dalam penampilan namun berlimpah dalam kebaikan serta memberikan manfaat bagi semua orang. Itu baru cool, calm, en confident as a moslem![hafidz: <a href="mailto:hafidz341@telkom.net">hafidz341@telkom.net</a>]</p>
<p>[<em>Buletin STUDIA - Edisi 344/Tahun ke-8/4 Juni 2007</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berpisah-kok-pesta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbahagialah Orang-orang â€˜Anehâ€™</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berbahagialah-orang-orang-%e2%80%98aneh%e2%80%99</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berbahagialah-orang-orang-%e2%80%98aneh%e2%80%99#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 May 2007 09:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berbahagialah-orang-orang-%e2%80%98aneh%e2%80%99/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar, sesuai tuntunan syariat Islam, banyak orang merasa heran. Bahkan ada sebagian besar yang menganggapnya aneh. Sebab, di tengah maraknya busana wanita yang mengeksploitasi keindahan tubuh wanita, muslimah yang mengenakan jilbab dengan sempurna tentunya adalah fenomena keanehan. Sebuah keterasingan.
Bahkan seringkali pemakai busana muslimah ini (kerudung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar, sesuai tuntunan syariat Islam, banyak orang merasa heran. Bahkan ada sebagian besar yang menganggapnya aneh. Sebab, di tengah maraknya busana wanita yang mengeksploitasi keindahan tubuh wanita, muslimah yang mengenakan jilbab dengan sempurna tentunya adalah fenomena keanehan. Sebuah keterasingan.<span id="more-447"></span></p>
<p>Bahkan seringkali pemakai busana muslimah ini (kerudung lengkap dengan jilbabnya), dianggap kuno dan nggak nyetel dengan perkembangan jaman (walah, kalo ukuran modern adalah irit kain dalam berbusana, orang-orang Suku Asmat lebih modern dong, karena mereka cuma pake koteka doang?). Bagi muslimah yang termakan propaganda seperti ini, akhirnya mencoba berbaur dengan budaya yang ada. Pengen tetep mengenakan busana muslimah, tapi juga modis dan nggak mau dianggap aneh, maka maraklah pengguna busana muslimah yang nggak ngikut aturan Islam. Misalnya, pake kerudung doang, sementara tubuhnya nggak ditutupi jilbab, tapi malah mengenakan pakaian ketat baik baju maupun celana panjang. Ciloko!</p>
<p>Begitu pula ketika seorang Muslim yang mempertahankan keislamannya di tengah berserakannya ide sekularisme dijual di pasar bebas kehidupan, kerap disindir: â€œJangan sok suci!â€? â€œJangan sok alim!â€?, begitu kira-kira umpatan banyak orang kepadanya ketika ia tidak mau berbuat maksiat. Ia tetap tegar dengan keyakinannya meski harus menelan cemoohan dan sindiran dari pihak yang benci Islam. Ya, ternyata berpegang teguh kepada ajaran Islam dalam kondisi seperti saat ini, di tengah kehidupan sekularisme, menjadi sangat terasing dan dianggap aneh.</p>
<p>Sobat muda muslim, sebenarnya siapa pun boleh mengklaim dirinya paling benar. Tapi masalahnya, pasti kita bakalan bingung menentukan siapa yang benar dan paling benar kalo nggak ada batasan dan ukurannya. Iya nggak? Nah, sebagai muslim tentu aja standar kebenaran itu hanyalah Islam. Bukan yang lain. So, semua hal wajib disesuaikan dengan ajaran Islam. Baik-buruknya, terpuji-tercelanya, dan halal-haramnya harus pake aturan Islam. Sebab, Islam adalah cara hidup kita.</p>
<p>Oya, nggak perlu khawatir dianggap aneh, selama yang kita pegang adalah kebenaran Islam. Tak perlu minder apalagi patah semangat, selama yang kita yakini adalah Islam. Justru menjadi orang-orang yang dianggap aneh atau terasing dalam komunitas yang menurut ajaran Islam justru dianggap komunitas yang aneh adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Bahkan Rasulullah saw. memuji orang-orang yang terasing dalam kehidupan yang rusak. Rasulullah saw. bersabda: â€œ<em>Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.</em>â€? (<strong>HR Muslim no. 145</strong>)</p>
<p>Dalam hadis lain, Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin yang senantisa bersabar dalam menghadapi godaan dan rayuan kehidupan yang akan memalingkan dirinya dari Islam. Sabda beliau: â€œSesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,â€™Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?â€? Rasululah saw. menjawab,â€?Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).â€? (<strong>HR Abu Dawud, dengan sanad hasan</strong>)</p>
<p>Subhanallah. Rasulullah saw. memberikan penghargaan yang luar biasa kepada kita yang bisa bertahan dalam kondisi yang rusak ini. Meski hidup di tengah kemaksiatan, kita nggak tergoda untuk ikut larut dalam kehidupan yang rusak dan bejat. Malah sebaliknya bertahan dengan memeluk ajaran Islam sepenuh hati dan sekuat tenaga. Tak akan melepaskannya selama hayat masih dikandung badan. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjaga diri dan berusaha untuk tetap istiqomah dalam kebenaran bersama Islam. Meski taruhannya adalah dianggap aneh atau bahkan diasingkan. Bukan hanya kita, tapi juga ajaran Islam yang kita peluk erat saat ini dianggap asing oleh mereka yang membenci Islam. Bersabarlah, sobat. Allah Swt. bersama dengan orang yang beriman kepadaNya dengan penuh keyakinan, beramal shalih dan bersabar.</p>
<p><strong>Iman harus tetap hidup</strong><br />
Ketika cahaya iman tetap menyala dalam hati dan pikiran kita, insya Allah kita tak akan pernah berada dalam kegelapan. Iman akan hidup dan memberikan tenaga bagi kita untuk memandu ke jalan yang benar. Kita tak akan pernah terpengaruh dengan kerusakan yang melingkari kehidupan kita.</p>
<p>Ibarat ikan yang hidup di air laut yang penuh dengan garam. Air laut yang asin itu, selama ikan masih hidup bisa bergerak ke sana kemari, asinnya air laut tak akan mampu meresap ke dalam tubuhnya. Tapi begitu ikan mati, maka air laut yang asin itu akan dengan mudah menyusup ke dalam tubuhnya. Sehingga tubuh ikan itu menjadi asin.</p>
<p>Seorang Muslim yang keimanannya tetap hidup dalam dirinya, insya Allah tak akan mudah larut dalam kehidupan yang rusak. Oya, harus dipahami bahwa keimanan itu harus kita pelihara terus. Bagaimana cara memelihara agar iman tetap hidup?</p>
<p>â€œIman itu kadang bertambah dan kadang berkurang,â€? begitu sabda Rasulullah saw. Itu memang benar. Tapi Rasulullah saw. melanjutkan dalam hadis tersebut adalah, â€œiman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat.â€?</p>
<p>Ya, ketika kita berbuat maksiat, maka tentu saja keimanan kita telah turun atau berkurang. Cepatnya pengurangan tergantung jenis kemaksiatan dan banyaknya kemaksiatan yang kita lakukan. Begitu pula bertambahnya keimanan akibat kita taat. Seberapa cepat bertambahnya? Itu bergantung jenis dan banyaknya ketaatan yang kita lakukan.</p>
<p>Itu sebabnya, nyalakan terus cahaya keimanan dalam hidup kita agar senantiasa menjaga kita. Bagaimana agar cahaya keimanan tetap menyala? Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, â€œCahaya dan sinar iman adalah banyak berpikirâ€? (<strong>Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409</strong>)</p>
<p>Jadi, agar cahaya iman kita tetap menyala dalam kehidupan kita, banyaklah berpikir. Berpikir adalah proses terakhir setelah kita tahu dan belajar. Sebab, jika kita hanya tahu saja tentang Islam, tapi belum menyempatkan diri untuk belajar, maka besar kemungkinan kita tak akan pernah bisa mencapai derajat berpikir. Jadi, biasakan kita melalui proses KLT (Knowing, Learning, and Thinking: tahu, belajar, dan berpikir).</p>
<p>Jika kita tahu bahwa Islam mengajarkan kebaikan, maka kita akan belajar tentang kebaikan itu, dan berusaha untuk memikirkan bagaimana menyampaikan kebaikan itu kepada orang lain. Inilah yang insya Allah akan menjadikan cahaya iman tetap menyala bagi kita. Kita bukan hanya berusaha menyelamatkan diri sendiri, tapi berupaya juga menyelamatkan orang lain agar bisa menerima cahaya iman. Sehingga akan banyak orang yang berbuat untuk memelihara keimanan ini agar tetap hidup dalam diri mereka. Kita semua sebagai kaum Muslimin. Insya Allah.</p>
<p><strong>Penyebab Islam terasingkan</strong><br />
Ada dua faktor yang bisa dianggap sebagai penyebab Islam menjadi terasing. Pertama, dari faktor internal. Kedua, dari faktor eksternal.</p>
<p>Apa saja faktor internal yang menyebabkan Islam terasingkan? <strong>Pertama</strong>, kaum Muslimin yang malas belajar. Ini akan menyebabkan kaum Muslimin tidak mengenal dan memahami, serta mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar. Ya iyalah, gimana mau mengamalkan ajaran Islam, wong dirinya aja nggak paham dengan ajaran Islam. So, jangan malas belajar ya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tidak terjalin ukhuwah dengan benar antar kaum Muslimin. Meski kelihatan bersama, tapi kaum Muslimin nggak bersatu. Jadinya, ya jalan masing-masing deh. Mereka yang aktif berdakwah seringnya dicuekkin, yang aktif maksiat juga nggak mau diingatkan. Oya, yang lebih parah sesama aktivis dakwah malah nggak akur. Halah! Padahal bersaudara itu adalah sebuah kenikmatan dari Allah Swt. Jika kita bersama dan bersatu, insya Allah kita akan terlihat sebagai kekuatan yang besar. Firman Allah Taâ€™ala:</p>
<p>?ˆ???§?¹?’?????µ???…???ˆ?§ ?¨???­???¨?’?„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¬???…?????¹?‹?§ ?ˆ???„?§?? ?????????±?‘???‚???ˆ?§ ?ˆ???§?°?’?ƒ???±???ˆ?§ ?†???¹?’?…???©?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¹???„?????’?ƒ???…?’ ?¥???°?’ ?ƒ???†?’?????…?’ ?£???¹?’?¯???§???‹ ?????£???„?‘?????? ?¨?????’?†?? ?‚???„???ˆ?¨???ƒ???…?’ ?????£???µ?’?¨???­?’?????…?’ ?¨???†???¹?’?…???????‡?? ?¥???®?’?ˆ???§?†?‹?§ ?ˆ???ƒ???†?’?????…?’ ?¹???„???‰ ?´???????§ ?­?????’?±???©?? ?…???†?? ?§?„?†?‘???§?±?? ?????£???†?’?‚???°???ƒ???…?’ ?…???†?’?‡???§ ?ƒ???°???„???ƒ?? ?????¨?????‘???†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„???ƒ???…?’ ?????§?????§?????‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ?????‡?’?????¯???ˆ?†??<br />
â€œ<em>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk</em>.â€? (<strong>QS Ali Imran [3]: 103</strong>)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, sedikit atau bahkan hilangnya aktivitas dakwah. Ini akan menjadi faktor pelemah kekuatan Islam karena Islam tidak tersebar dan tidak diketahui banyak oleh kaum Muslimin (dan juga nonMuslim).</p>
<p><strong>Keempat</strong>, berhentinya proses ijtihad. Ini menjadi bencana bagi kaum Muslimin karena banyak masalah baru nggak bisa terpecahkan dengan benar dan baik.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, hancurnya daulah Khilafah Islamiyah, sehingga nggak ada pelindung bagi kaum Muslimin. Akibatnya kaum Muslimin hidup dalam â€?kesendirianâ€™ mereka masing-masing setelah induknya dibuang. Saat ini, kita terkotak-kotak di lebih dari 50 negara kecil yang tak memiliki kekuatan berarti karena disekat oleh nasionalisme. Nasionalisme telah membuat kaum Muslimin di masing-masing negara tak mau peduli dengan saudaranya yang berbeda negara. Menyedihkan banget!</p>
<p>Sobat, adapun faktor eksternal penyebab Islam menjadi terasing adalah upaya musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam melalui perang pemikiran dan budaya (ghazwul fikri dan ghazwuts tsaqafiy). Sehingga kaum Muslimin menjadi gamang dalam hidup bahkan sebagian besar merasa minder menyandang predikat Muslim. Mereka takut terasing dan akhirnya larut bersama kehidupan yang rusak: jadi hedonis dan permisif.</p>
<p>Itu sebabnya, mari kita bekerjasama untuk segera bangkit dari kondisi ini. Harus segera sadar, tahu, dan mau mengamalkan dan memperjuangkan Islam, tentu agar Islam tidak asing dan kaum Muslimin tidak merasa terasingkan. Kobarkan semangat dan tetap istiqomah bersama Islam. Allahu Akbar! [solihin: <a href="http://www.osolihin.wordpress.com/">www.osolihin.wordpress.com</a>]</p>
<p>(<em>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 343/Tahun ke-8/28 Mei 2007</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berbahagialah-orang-orang-%e2%80%98aneh%e2%80%99/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama Oke; Iptek juga Dong!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/agama-oke-iptek-juga-dong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/agama-oke-iptek-juga-dong#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2007 04:33:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/agama-oke-iptek-juga-dong/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum masukkin anaknya ke sekolah, pertimbangan ortu nggak cuma biaya sekolah aja, tapi juga kualitas pendidikan yang dihasilkan sekolah yang bersangkutan. Pastinya,?  setiap ortu pengen anaknya pinter, shalih/shalihah, en nggak gagap teknologi. Sayangnya, lumayan susah nyari sekolah yang mampu menghasilkan produk pelajar shalih/shalihah dan melek teknologi. Kalopun ada, biayanya mahal. So, dengan berat hati ortu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum masukkin anaknya ke sekolah, pertimbangan ortu nggak cuma biaya sekolah aja, tapi juga kualitas pendidikan yang dihasilkan sekolah yang bersangkutan. Pastinya,?  setiap ortu pengen anaknya pinter, shalih/shalihah, en nggak gagap teknologi. Sayangnya, lumayan susah nyari sekolah yang mampu menghasilkan produk pelajar shalih/shalihah dan melek teknologi. Kalopun ada, biayanya mahal. So, dengan berat hati ortu kudu memilih kualitas pendidikan anaknya. Shalih/shalihah dan dalem ilmu agamanya atau melek teknologi? Hmm.. pilihan yang sulit. Arrghh&#8230;<span id="more-440"></span></p>
<p>Emang faktanya, kita juga bisa liat kalo kualitas pelajar Islam secara umum masih belon ideal. Keliatan banget â€?jomplangnyaâ€™. Ada yang ilmu agamanya lumayan bagus lantaran mengenyam pendidikan di sekolah agama. Sayangnya, mereka umumnya ketinggalan di bidang iptek mengingat beban pelajaran agamanya yang dominan dibanding sains dan teknologi. Ada juga pelajar yang ipteknya nggak buta-buta amat lantaran sekolahnya rajin mengenalkan perkembangan teknologi pada siswanya sebagai sarana penunjang mata pelajaran sains. Namun sayang,?  ilmu agamanya malah kedodoran.</p>
<p>Nah, yang bikin sedih lagi, masih ditemukan juga pelajar Islam yang ngendon di sekolah agama atau pesantren, tapi malah malpraktik terhadap aturan Islam. Seperti berpacaran atau cara berpakaian yang fastabiqul aurat alias berlomba-lomba memamerkan auratnya yang masih lekat dalam keseharian siswi madrasah, terutama kalo lagi di luar lingkungan sekolah. Piye iki?!</p>
<p><strong>Dikotomi pendidikan</strong><br />
Sobat, jomplangnya kualitas pelajar Islam dalam ilmu agama dan sains teknologi jadi petunjuk yang nyata akan adanya dikotomi alias pembagian orientasi dalam sistem pendidikan di negeri ini (dan juga negeri lainnya deh).</p>
<p>Ada model pendidikan yang fokus membekali anak didiknya dengan pengetahuan agama. Konsekuensinya, siswa yang mengenyam pendidikan di madrasah atau pondok pesantren nggak boleh alergi ama materi bahasa Arab, fiqh, al-Quran hadits, aqidah-akhlak, atau sejarah kebudayaan Islam yang jadi menu hariannya. So, dengan begitu diharapkan bisa menghasilkan generasi yang gape alias mahir untuk urusan agama.</p>
<p>Oya, ada juga model pendidikan yang lebih besar ngasih porsi ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan umum dan teknologi bagi siswanya. Pelajaran agama Islam? Cukup sebagai pelengkap kurikulum aja di sekolah dasar maupun menengah. Bahkan di tingkat perguruan tinggi, nasib pelajaran agama kian mengenaskan. Cuma dikasih jatah 2 SKS. Itupun hanya dalam satu semester. Lebih parah lagi, ada PT yang menjadikan matakuliah agama sebagai matakuliah pilihan, ditawarkan pada semester akhir, bahkan ditiadakan. Ngenes!</p>
<p>Sobat, adanya dikotomi pendidikan kian melengkapi indikator kentalnya sekularisasi dalam kehidupan kita. Ini merupakan bagian dari upaya musuh-musuh Islam untuk mengkerdilkan ajaran Islam yang mulia. Seolah kehidupan beragama itu cuma boleh nongol di bulan, saat peringatan hari besar Islam, atau dalam masjid dan musholla. Tapi di luar itu, agama dilarang hadir. Sialnya, upaya ini seolah diamini oleh pemerintah seperti yang tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang?  jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus. Betul kan?</p>
<p>Dikotomi pendidikan emang bikin serba salah. Kita dipaksa untuk memilih antara sekolah berbasis agama atau umum yang dua-duanya nggak baik buat kesehatan jiwa dan intelektual kita. Makanya, apapun model pendidikan yang kita ambil semuanya sama-sama melestarikan pemisahan agama dari kehidupan kita.</p>
<p>Tapi, bukan berarti kita ngelarang kalian untuk sekolah lho. Sekolah tetep wajib sebagaimana yang diperintahkan Allah pada kita untuk menuntut ilmu. Nah, yang penting secara pribadi kita ngaji ideologi, melek teknologi, dan nggak ikut ambil bagian dalam komunitas pelajar sekuler. Teknisnya, biar ada di sekolah sekuler, tapi ngaji jalan terus dan gaul teknologi pula. Sehingga agama dan kehidupan selalu sinergi. Akur dong?</p>
<p><strong>Mengenal sistem pendidikan Islam</strong><br />
Rasul saw. bersabda: â€œ<em>Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (dan muslimah)</em>â€? (<strong>HR Ibnu Adi dan Baihaqi, dari Anas ra</strong>)</p>
<p>Kata â€?ilmuâ€™ pada hadits di atas, bermakna umum. Baik ilmu agama maupun sains dan teknologi. Sehingga dalam pendidikan Islam, ilmu agama dan ilmu umum diberikan pada anak didik dengan porsi yang sama besarnya dan didukung oleh media yang menunjang terhadap pendalaman ilmu keduanya.</p>
<p>Ilmu agama diajarkan untuk membentuk kepribadian Islam yang unggul pada anak didik. Untuk itu, saat mengajar guru pun nggak asal nyablak. Tapi selalu menekankan peran agama sebagai aturan hidup dengan mengkaitkan setiap mata pelajaran dengan akidah Islam dan hukum-hukum Islam. Guru juga selalu mengingatkan anak didik akan kehidupan mereka di dunia dan akhirat serta hubungan erat dua kehidupan itu. Sehingga cara berpikir dan berperilaku anak didik disandarkan pada aturan hidup Islam. Makanya mengenal Islam lebih dalam wajib hukumnya bagi tiap individu (fardhu aâ€™in), nggak boleh diwakilkan. Karena berkaitan dengan masa depan kita di akhirat. Masing-masing lho dihisabnya.</p>
<p>Sementara pengetahuan sains dan teknologi disajikan untuk mempersiapkan generasi yang punya keahlian dalam memanfaatkan alam semesta yang telah Allah anugerahkan untuk kemaslahatan umat.</p>
<p>Rasul pernah mengutus dua orang shahabatnya ke negeti Yaman untuk mempelajari teknologi pembuatan tank kayu pelempar batu (dababah/manjanik). Beliau pun menganjurkan kaum wanita agar mempelajari ilmu tenun, menulis, dan merawat orang-orang sakit (pengobatan). Rasul bersabda, â€œ<em>Hiasilah wanita-wanita kalian dengan ilmu tenun</em>â€?. (<strong>HR al-Khatib dari Ibnu Abbas ra</strong>)</p>
<p>Tidak hanya antidikotomi, sistem pendidikan juga bisa diakses siapa aja meski beda agama, suku, dan ras. Nggak pake komersialisasi karena semua biaya pendidikan serta pengadaan media dan sarana pendidikan ditanggung oleh negara. Treus nih, nggak pake lama apalagi sampe nunggu anggaran tahun depan untuk merenovasi bangunan yang sudah diujung ambruk. Keren kan?</p>
<p><strong>Produk sistem pendidikan Islam</strong><br />
Untuk ngukur kesuksesan sebuah model pendidikan, pastinya orang ngeliat dari kualitas lulusannya. Kita nggak asal ngomong kalo sistem pendidikan Islam itu memang unggul bin berkualitas. Buktinya, bejibun ilmuwan-ilmuwan Islam yang mampu ngasih jalan dan menjadi inspirator perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nggak cuma lokal di negeri Islam, tapi sampe Eropa dan seluruh dunia. Ckckck&#8230;!</p>
<p>Sobat, di antara mereka adalah Ibnu Khaldun. Dunia mengenalnya sebagai seorang ilmuwan muslim yang gape dalam bidang sosiologi dan ilmu sejarah. Nama lengkapnya Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili. Beliau populer berkat sebuah buku masterpiece-nya berjudul â€œMuqaddimahâ€? (Pendahulan) yang mengupas tuntas mengenai filsafat sejarah dan sosiologi. Di dalamnya, beliau menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara.</p>
<p>Ada juga Ibnu Haitham. Dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata â€?mencernaâ€™ penampakan suatu obyek. Nama lengkapnya Abu al-Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop.</p>
<p>Dalam bidang kedokteran ada Abu Bakr Muhammad bin Zakariya ar-Razi (Razes [864-930 M]) yang dikenal sebagai â€?dokter Muslim terbesarâ€™; atau pakar kedokteran Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina (Avicenna [981-1037 M]); serta Ibnu Rusyd yang merupakan filosof, dokter, dan ahli fikih Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata.</p>
<p>Dalam bidang matematika, ada al-Khawarizmi. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi (770-840) lahir di Khwarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) tahun 770 masehi. Inilah penemu salah satu cabang ilmu matematika, Algoritma. Diambil dari namanya, al-Khawarizmi. Beliau juga yang menjadi penemu angka nol.</p>
<p>Dalam bidang kimia, ada Jabir Ibn Hayyan. Ide-ide eksperimen Jabir sekarang lebih dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal, dan penguraian zat kimia. Karya-karya beliau yang masyhur Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sabâ€™een, sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Terjemahan Kitab al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab as-Sabâ€™een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona. Lalu tak ketinggalan Berthelot pun menerjemahkan beberapa buku Jabir, yang di antaranya dikenal dengan judul Book of Kingdom, Book of the Balances, dan Book of Eastern Mercury.</p>
<p>Dalam bidang geografi, ada al-Idrisi, orang Barat menyebutnya Dreses. Al-Idris (1099-1166) dikenal oleh orang-orang Barat sebagai seorang pakar geografi, yang telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia. Globe buatan al-Idrisi ini secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan pula beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian secara tepat. Bola dunianya itu, oleh Idris sengaja dilengkapi pula dengan Kitab al-Rujari (Rogerâ€™s Book). Wuih, super keren deh!</p>
<p><strong>Kembali keâ€¦ ideologi Islam!<br />
</strong>Sobat, lahirnya ilmuwan-ilmuwan Islam jempolan yang mendunia seperti dipaparkan sebelumnya, bukti nyata gemilangnya Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara untuk mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Bahkan nggak sedikit ilmuwan Barat yang mengakui peran ilmuwan Islam yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia.</p>
<p>Seperti Montgomerry Watt, â€œPeradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi â€?dinamoâ€™-nya, Barat bukanlah apa-apaâ€?. Atau Jacques C. Reister, â€œSelama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatan, ilmu pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi.â€? (O. Solihin, Yes! I am MUSLIM, hlm. 321 dan 325)</p>
<p>Pengakuan ini tentu nggak akan keluar kalo model pendidikan yang dipake di negeri-negeri Islam seperti di Indonesia, masih dikotomi alias menduakan ilmu agama dan sains teknologi. Sistem pendidikan Islamlah yang mampu mengikis dikotomi pendidikan dan mendongkrak kualitas pelajar Islam. Karena itu, hanya ketika Islam diterapkan sebagai ideologi sistem pendidikan Islam bisa terlaksana dengan sempurna. Semua pelajar Islam akan dibekali ilmu agama sekaligus iptek. Sehingga agama oke, ipteknya juga oke. Kini, saatnya kembali ke&#8230; ideologi Islam. Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Oke? [hafidz: <a href="mailto:hafidz341@telkom.net">hafidz341@telkom.net</a>]</p>
<p>(<em>Buletin STUDIA Edisi 342/Tahun ke-8 / 21 Mei 2007</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/agama-oke-iptek-juga-dong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dhani Vs Maia: Perbedaan Ideologi?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dhani-vs-maia-perbedaan-ideologi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dhani-vs-maia-perbedaan-ideologi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2007 03:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dhani-vs-maia-perbedaan-ideologi/</guid>
		<description><![CDATA[Heheheâ€¦ pas baca judul ini, kayaknya kamu langsung mikir dan bilang, â€œWah, STUDIA berubah jadi bulletin gossip tak ubahnya dengan infotainmentâ€?. Eitsâ€¦tunggu dulu. Donâ€™t judge a book by its cover, jangan menuduh dulu sebelum baca sampai tuntas. Sengaja judulnya dibikin begitu supaya kamu tertarik untuk mengambil dan membaca STUDIA edisi ini.
Sebelum mulai membahas, ada dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Heheheâ€¦ pas baca judul ini, kayaknya kamu langsung mikir dan bilang, â€œWah, STUDIA berubah jadi bulletin gossip tak ubahnya dengan infotainmentâ€?. Eitsâ€¦tunggu dulu. Donâ€™t judge a book by its cover, jangan menuduh dulu sebelum baca sampai tuntas. Sengaja judulnya dibikin begitu supaya kamu tertarik untuk mengambil dan membaca STUDIA edisi ini.<span id="more-415"></span></p>
<p>Sebelum mulai membahas, ada dua alasan mengapa topik selebritis bisa menjadi bahasan STUDIA kali ini. Yang pertama, karena dalam masalah ini Dhani menyinggung kosakata ideologi, sampai-sampai professor dalam kuliah saya membahasnya dengan menunjukkan apa itu makna ideologi. Khawatir semakin banyak orang rancu memaknai ideologi, maka penting sekali topik ini diangkat. Bukan pada masalah ruwetnya rumah tangga mereka, tapi lebih ke makna ideologi.</p>
<p>Yang kedua, adanya permintaan dari pembaca STUDIA yang mampir ke e-mail saya untuk membahas masalah ini karena semakin tak jelasnya mana hak dan mana batil. Kekaguman pada sosok Ahmad Dhani sebagai orang yang sangat islami dan mendukung syariat, bisa mengacaukan makna syariat itu sendiri. Di sinilah bahasan STUDIA akan terfokus yaitu pada ideologi dan syariat. Jangan keder dulu, karena kami akan membahasnya tentu dengan bahasa remaja dong. Lanjuuut!</p>
<p><strong>Ideologi, apaan tuh?<br />
</strong>Di salah satu tabloid gosip Indonesia, dikutip pernyataan Ahmad Dhani sebagai berikut â€œPerbedaan saya dan Maia ada pada ideologi kami yang berbeda. Saya ingin Maia menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, sedangkan Maia menuntut persamaan hak.â€?</p>
<p>Ideologi, satu kata yang saat ini menjadi laris manis bak kacang goreng. Apalagi setelah artis yang mengucapkannya, kosakata ideologi bukan lagi menjadi sesuatu yang berat, serius dan aneh. Lihat aja pasti sebentar lagi teman-teman kamu pada ikut-ikutan menirukan Om Dhani ini. â€œAku putus dengan pacarku karena ideologi kami berbeda. Dia minta making love, aku minta cuma kiss aja.â€?</p>
<p>Nah, yang paling parah kalo temenmu ada yang bilang dia pacaran nggak hot-hot, tapi pacaran yang sesuai syariat aja. Walahâ€¦kacau-beliau kalo begini urusannya. Antara yang hak dan yang batil campur aduk kayak susu dicampur air comberan. Emang kamu mau meminumnya? Ih, nggak banget! So, coba kita telusuri yuk.</p>
<p>Ada banyak orang mengaku-ngaku tahu tentang ideologi dan maknanya. Ada juga yang bilang bahwa macam ideologi itu ada ratusan bahkan ribuan di dunia ini. Tapi sebetulnya apa sih ideologi itu? Ideologi adalah pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta dan kehidupan yang darinya kemudian terpancar peraturan. Maksudnya pemikiran menyeluruh ini adalah pemikiran yang lengkap dan sempurna dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah apa pun itu jenisnya. Intinya, ideologi tuh cara hidup. Itu sebabnya, pemikiran, perasaan, dan perbuatan kita akan mencerminkan ideologi apa yang kita ambil. Kalo pemikiran, perasaan dan perbuatan kita disesuaikan dengan Islam, maka kita udah berideologi Islam.</p>
<p>Sobat, sebuah ideologi pasti mempunyai peraturan untuk menyelesaikan permasalahan yang umum hadir dalam kehidupan. Apa pun masalahnya, ideologi pasti punya solusinya.</p>
<p>Dalam pernikahan misalnya, ideologi Kapitalisme yang mengusung ide feminisme dan kesetaraan gender menganggap menikah itu bukan ibadah. Pernikahan hanya ikatan kontrak sebagaimana kamu jadi kuli di pabrik. Karena kontrak salah satu pihak bisa sewaktu-waktu membatalkannya kalo sudah bosan. Alasan klise sih sudah tak ada kecocokan.</p>
<p>Beda Kapitalisme, beda pula dengan Islam. Tidak ada pacaran dalam konsep Islam karena aktivitasnya yang mendekati zina, bukan berarti Islam tidak punya solusi mengatasi naluri alami antar lawan jenis ini. Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap gentleman, berani bertanggung jawab dan mempunyai komitmen dalam hidup. So, menikah adalah solusinya.</p>
<p>Pernikahan dalam Islam adalah dalam rangka ibadah yang itu ada nilai pahalanya. Laki-laki berposisi sebagai kepala rumah tangga bukan untuk mendholimi dan menyiksa perempuan, melainkan untuk melindungi dan menanggung nafkah serta kebutuhan hidupnya. Perempuan sebagai manajer keluarga bukan berarti lebih rendah dari laki-laki. Tapi lebih sebagai istri dan ibu yang baik bagi anak-anak untuk menghasilkan generasi berkualitas.</p>
<p>Kalo suami meminta istri menutup aurat dan lebih memperhatikan anak-anak dan keluarga, seharusnya bukan karena sok jadi pemimpin rumah tangga. Tapi permintaan ini semata-mata karena Islam telah menggariskannya demikian. Begitu juga istri, tidak harus menunggu diminta oleh suami, ia sendiri sudah harus mengerti hak dan kewajibannya. Ada kalanya istri yang lebih paham Islam, maka ia yang harus menasehati suami. Karena sesungguhnya kehidupan suami istri adalah kehidupan yang penuh persahabatan, bukan permusuhan dan persaingan. Jadi sejak sebelum menikah, seharusnya laki-laki dan perempuan sudah mempunyai bekal mendasar ini. Bukan ribut-ribut kemudian yang menjadikan anak sebagai korban.</p>
<p><strong>Om Dhani, sosok pro syariat?<br />
</strong>Itu harapan kita semua. Tapi sementara itu coba sedikit kita lihat apa yang telah dilakukannya ketika sebagian dari kita mengidolakannya karena seakan-akan sosok ini pro syariat. Terlepas kasus kaligrafi asma Allah yang dijadikan alas konser dan dinjak-injak beberapa saat lalu, coba lihat juga gaya hidup sehari-harinya sebagai seorang artis dan selebritis.</p>
<p>Hidup di tengah glamour keartisan, campur baur alias ikhtilath laki dan perempuan adalah hal biasa. Cipika-cipiki dengan lawan jenis adalah gaya hidup. Apalagi ketika Om Dhani mencari Dewi-dewi yang notabene peserta audisinya adalah perempuan-perempuan setengah telanjang alias berpakaian sangat minim.</p>
<p>Memang sih, sosok Ahmad Dhani secara sekilas kayak ikhwan banget (heheheâ€¦) Saya ingat waktu masih berpakaian putih abu-abu alias SMA dulu ada teman yang bertanya begini, â€?Ciri-ciri ikhwan yang sholeh tuh gimana sih?â€?</p>
<p>Karena masih imut dan polos, saya jawab â€œYang punya jenggot dan celananya kayak kebanjiran alias di atas mata kaki.â€?</p>
<p>Teman saya kontan menjawab, â€œWahâ€¦Ahmad Dhani memenuhi syarat dong. Asyik nanti aku cari pacar kayak doi aja deh. Terus kakakku yang cowok aku suruh panjangin jenggot, biar kayak ikhwan. Keren dong.â€?</p>
<p>Waduhâ€¦kok jadi begini responnya? Dan mungkin banyak orang di luar sana yang juga salah kaprah tentang ciri-ciri keislaman seseorang. Hanya karena namanya berbau arab terus dianggap yang paling sholeh. Atau hanya karena simbol-simbol tertentu dipakai semisal jenggot buat cowok, maka sudah pasti ia taat syariat. Padahal, belum tentu!</p>
<p>Begitu juga dengan sosok selebritis. Hanya karena ia sering menyebut syariat Islam, tidak lantas ia pro syariat. Hanya karena ingin istri nurut suami, maka syariat dibawa. Tapi dalam masalah lainnya, syariat dicampakkan. Ini khas banget sebagai ciri-ciri sekuler yaitu ketika aturan agama dipakai untuk urusan domestik aja. Urusan publik semisal perdagangan dan politik, balik lagi ke hukum kapitalis yang persis hukum rimba.</p>
<p>Banyak pemberitaan yang menyatakan bahwa Om Dhani ingin rumah tangganya sesuai dengan syariat Islam. Memang sih, siapa juga orang yang nggak pingin rumah tangganya sakinah mawaddah wa rahmah. Dan itu semua cuma bisa didapat bila seluruh anggota keluarga semuanya tunduk pada syariat. Tapi apa iya sih syariat cuma dibutuhkan dalam rumah tangga doang? Gimana dengan yang lainnya kayak kehidupan bisnis, pendidikan, berpolitik, bergaul dengan lawan jenis, memakai pakaian dll? Apa sudah bisa disebut pro syariat hanya dengan sering menyebut-nyebut syariat Islam saja tanpa pengamalan yang benar menurut Islam?</p>
<p><strong>Syariat Islam itu all in<br />
</strong>Sobat, syariat Islam kudu diambil secara keseluruhan alias all in, nggak bisa dan nggak boleh diambil secara parsial alias sebagian aja. Kalo ini yang dilakukan maka fenomena Om Dhani-Tante Maia dan berbagai rumah tangga kacau beliau?  yang dimotori oleh selebritis akan menjadi tren masa kini. Naudzhubillah. Di mulut sih ringan aja bilang sesuai syariat, tapi di kelakuan? Nanti dulu.</p>
<p>Biar aja Allah yang menilai, manusia nggak berhak dong menghakimi. Emang nggak kok, selama itu masalah keimanan yang urusannya memang sama Allah langsung. Tapi keimanan dalam Islam bukan cuma keyakinan dalam hati aja, tapi kudu mewujud dalam perbuatan. Itulah gunanya ada syariat, untuk mengukur apakah keimanan itu cuma asal ngaku atau emang serius dipraktikkan dalam perbuatan supaya bisa dilihat dan diukur.</p>
<p>Dalam perintah menutup aurat misalnya. Mana yang nurut sama syariat mana yang nggak jelas terlihat. Begitu juga dalam pergaulan. Seseorang nggak akan bisa berkelit bahwa ia suci dan alim ketika jelas-jelas ia cipika-cipiki (cium pipi kanan/kiri) dengan lawan jenis. Akan sangat aneh juga bila ia bicara syariat Islam tapi pada saat bersamaan ia memperjuangkan feminisme. Bisa jadi orang seperti ini memang tidak tahu beda syariat Islam dan feminisme. Hanya karena ada beberapa kesamaan, lalu dipukul rata bahwa sudah pasti sama semuanya. Persis dengan ide demokrasi. Hanya karena ada unsur musyawarah di dalamnya, lantas dikira sama dengan Islam yang juga ada unsur musyawarah. Padahal monyet dan manusia sama-sama suka makan pisang. Apa kamu mau disamakan dengan nyemot, ehâ€¦monyet? Pasti nggak kan?</p>
<p>Belajar Islam dengan baik dan benar itu penting. Supaya kamu nggak mudah terombang-ambing oleh opini publik tentang hal-hal yang nggak benar. Terus yang utama nih, dengan belajar Islam diharapkan kamu bisa memandang banyak hal dalam hidup ini dengan sudut pandang yang benar pula. Oya, tak ada kebenaran kecuali dalam Islam saja, bukan hanya dalam ibadah ritual semata, tapi juga dalam semua aspek kehidupannya. Cuma Islam yang benar. Yang lain? Buang aja ke tong sampah peradaban!</p>
<p>Sobat, nggak usah deh tersepona, eh terpesona maksudnya, dengan kehidupan selebritis mana pun. Kalo cuma menampilkan simbol Islam tanpa ada isinya, siapa juga yang nggak bisa? Julia Perez aja (itu yang suka tampil di film komedi porno) selalu bilang ahamdulillah dengan kariernya yang melejit sehingga menjadikannya terkenal. Apa lantas kalo sudah begitu, Neng Julia ini bisa disebut alim, sholihah dan menjadi panutan? Naudzhubillah banget tuh. Sori, ini bukan ghibah atau ngegosip, karena kenyataannya udah bisa dilihat banyak orang. Oke?</p>
<p>Terlepas daru itu, kita doakan saja semoga mereka, para selebritis yang suka membawa-bawa syariat Islam, satu ketika nanti dibuka pintu hatinya oleh Allah untuk tobat dan benar-benar berjuang demi penegakkan syariat. Bukan hanya lip service saja atau omong doang.</p>
<p>Sementara itu, perjuangan untuk menegakkan syariat nggak bisa dipisahkan dari ideologi. Syariat Islam tidak mungkin bisa ditegakkan di fondasi yang bernama ideologi Kapitalisme. Syariat islam kudu bin harus tegak di atas fondasi ideologi Islam. Jadi kalo ada yang bilang pro syariat, kudu pro ideologi Islam juga dong. Dan itu nggak boleh setengah-setengah tapi kudu all in diterapkan dalam semua aspek kehidupan. So, jangan salah lagi yah dalam memaknai ideologi dan syariat Islam. Hidup Islam! [ria: <a href="mailto:riafariana@yahoo.com">riafariana@yahoo.com</a>] (<em>Buletin STUDIA Edisi 341/Tahun ke-8/14 Mei 2007</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dhani-vs-maia-perbedaan-ideologi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Generasi Gemilang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjadi-generasi-gemilang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjadi-generasi-gemilang#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2007 02:49:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menjadi-generasi-gemilang/</guid>
		<description><![CDATA[Kamu pernah dengar nama-nama beken dan keren kayak Imam Syafiâ€™i, Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Ali bin Abi Thalib; Sufyan ats-Tsauriy; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Sina, al-Khawarizmi dan ratusan bahkan ribuan nama-nama generasi emas yang dilahirkan Islam? Atau jangan-jangan nama-nama ini kalah sama idola kamu saat ini: Pasha, Bams, Tompi, Luna Maya, Titi Kamal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamu pernah dengar nama-nama beken dan keren kayak Imam Syafiâ€™i, Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Ali bin Abi Thalib; Sufyan ats-Tsauriy; Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Sina, al-Khawarizmi dan ratusan bahkan ribuan nama-nama generasi emas yang dilahirkan Islam? Atau jangan-jangan nama-nama ini kalah sama idola kamu saat ini: Pasha, Bams, Tompi, Luna Maya, Titi Kamal, dan Omaswati? Hehehe.. maaf-maaf aja, kalo kamu lebih kenal deretan nama yang kedua, berarti sungguh sangat memprihatinkan. Why?<span id="more-384"></span></p>
<p>Yup, sebab deretan nama-nama yang disebut pertama adalah nama-nama ulama dan ilmuwan Islam dari generasi sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan salafus shalih Sementara nama-nama di deretan kedua adalah seleb di dunia hiburan saat ini. Jelas beda dong kelas dan kualitasnya.</p>
<p>Oke. Back to laptop, eh, back to tema. Iya, seenggaknya kita bisa merenung dengan deretan nama ulama dan ilmuwan Islam tersebut. Betapa hebatnya Islam memoles manusia biasa menjadi yang luar biasa. Manusia yang sederhana menjadi manusia istimewa. Oya tentu, di atas nama-nama itu, Muhammad Rasulullah saw. adalah orang yang paling keren dan beken dalam sejarah panjang peradaban Islam dan peradaban manusia.</p>
<p>Sobat, kamu pasti pada penasaran dong kenapa mereka bisa sampe â€œdahsyatâ€? dan â€œluar biasaâ€?, iya kan? Hmm.. mari kita temukan jawabannya dalam tulisan ini. Kita akan eksplor beberapa nama yang bisa mewakili betapa hebatnya Islam dalam mendidik dan mengarahkan manusia menjadi lebih mulia. Nggak kayak sekarang, dalam kehidupan masyarakat yang dinaungi kapitalisme-sekularisme, tumbuh banyak generasi â€?sampahâ€™ ketimbang generasi emasnya. Menyedihkan banget!</p>
<p>Oya, itung-itung â€?memperingatiâ€™ Hardiknas yang jatuh pada 2 Mei (nah, pas tulisan ini dibuat memang tepat tanggal 2 Mei 2007), maka STUDIA juga bahas tentang pendidikan. Tapi, STUDIA ingin fokus bahas tentang generasi gemilang yang berhasil dihasilkan peradaban Islam. Generasi yang dididik oleh keluarga yang hebat, dididik oleh masyarakat yang peduli, dan dibina negara yang bertanggung jawab. Sebab, jujur aja bahwa keluarga dan masyarakat yang hebat seperti ketika Islam digdaya itu adalah hasil dari pemerintahan yang menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Sudah terbukti kok. Sumpah!</p>
<p><strong>Lahir dari keluarga hebat</strong><br />
Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah menyampaikan bahwa, â€œBila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.â€? Nah, lho. Benar firman Allah Swt. yang tercantum dalam al-Quran agar kita waspada dengan anak-keturunan kita dan diwajibkan untuk menjaga diri kita dan diri mereka dari siksa api neraka:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?‚???ˆ?§ ?£???†?’?????³???ƒ???…?’ ?ˆ???£???‡?’?„?????ƒ???…?’ ?†???§?±?‹?§ ?ˆ???‚???ˆ?¯???‡???§ ?§?„?†?‘???§?³?? ?ˆ???§?„?’?­???¬???§?±???©??<br />
<em>â€œHai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.â€?</em> (<strong>QS at-Tahrim [66]: 6</strong>)</p>
<p>Sabda Rasul saw.: <em>â€œSetiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi</em>. (<strong>HR Bukhari</strong>)</p>
<p>Bro, untuk bisa dapetin keluarga yang hebat dalam mendidik anak, hebat dalam kualitas keimanannya kepada Allah Swt., tentunya kita sendiri wajib menjadi baik berdasarkan tuntutan dan tuntunan ajaran Islam yang benar pula. Kita dan calon pasangan hidup kita kudu baik dua-duanya. Sebab, tentu bagai pungguk merindukan bulan berharap dapet keturunan yang berkualitas tapi kita sendiri sebagai ayahnya atau ibunya nggak taat total sama Allah Swt. dan RasulNya. Iya nggak sih? So, mari kita menjadi baik dan mencari pasangan yang baik pula suatu saat nanti.</p>
<p>Ini mutlak dipenuhi. Sebab, hanya dari keluarga hebat yang menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya yang akan melahirkan generasi gemilang super keren. Kamu pernah tahu Zubair bin Awam? Ia adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rasulullah saw. yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khaththab, â€œSatu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.â€? Ia seorang pemuda yang kokoh akidahnya, terpuji akhlaknya, tumbuh di bawah binaan ibunya, Shafiyah binti Abdul Muthalib, yakni bibinya Rasulullah atau saudara perempuannya Hamzah ra (pamannya Nabi). Wuih, pantes aja keren!</p>
<p>Ali bin Abi Thalib juga nggak kalah keren. Sejak kecil hidup bersama Rasulullah saw. (bahkan masuk Islam pada usia 8 tahun), beliau adalah pemuda teladan bagi pemuda seusianya. Beliau dibina langsung oleh ibunya, yakni Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya, Khadijah binti Khuwailid ra. Waduh, jaminan mutu dah!</p>
<p>Begitu pula dengan Abdullah bin Jaâ€™far, seorang bangsawan yang terkenal kebaikannya. Beliau dididik langsung oleh ibunya yang bernama Asma binti Umais.</p>
<p>Sobat, tiga nama ini tentu menjadi bukti bahwa bakalan lahir generasi hebat dan gemilang jika keluarganya juga hebat. Tentu keluarga seperti ini pasti udah menyiapkan generasi penerusnya agar lebih baik dari mereka. Nggak main-main, gitu lho.</p>
<p>Kalo kamu belum puas dengan tiga nama tadi, Islam masih memiliki Umar ibnu Abdul Aziz. Beliau pernah menangis sedih ketika usianya masih sangat kecil. Ibunya bertanya kenapa Umar menangis? Beliau menjawab, â€œAku ingat mati, Bu!â€? Saat itu, beliau sudah hapal al-Quran. Mendengar jawaban sang buah hati, ibunya pun menangis terharu. Duh, pantes aja udah dewasanya beliau menjadi Khalifah (kepala negara pemerintahan Islam). Subhanallah!</p>
<p>Boys, berkat didikan dan pembinaan ibunya yang shalihah, Sufyan ats-Tsauriy tumbuh menjadi ulama besar dalam bidang hadist. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, â€œCarilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.â€? Wuih, berbahagialah memiliki ibu yang bisa memotivasi kita untuk menjadi lebih baik. Benar-benar udah disiapkan dengan matang. Semoga kita juga bisa seperti beliau-beliau ya. Amin. Sekarang belum terlambat kok untuk berbenah. Insya Allah.</p>
<p>Girl, sosok ayah juga kerap mampu memberikan warna bagi anak-anaknya. Kalo baik dalam mendidik anaknya, insya Allah akan melahirkan generasi yang super keren. Salah satunya adalah ulama penulis tafsir Fizilalil Quran, yakni Syaikh Sayyid Quthb. Beliau menyampaikan testimoni untuk ayahnya, â€œSemasa kecilku, ayah tanamkan ketakwaan kepada Allah Swt. dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir.â€? (Majalah al-Muslimun No. 298, Januari 1995)</p>
<p>Duh, keluarga yang hebat. Maka, wajar pasti akan lahir generasi gemilang hasil pendidikan keluarga yang keren seperti itu. Pantas saja Imam Syafiâ€™i udah bisa hapal al-Quran seluruhnya pada usia 7 tahun dan menjadi qadhi (hakim) pada usia 17 tahun. Luar biasa dan super genius!</p>
<p><strong>Di bawah lindungan negara<br />
</strong>Sobat, generasi gemilang Islam juga bisa kian mengkilap setelah â€?diproduksiâ€™ oleh pemerintahan yang menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Untuk mencerdaskan kaum Muslimin dan rakyatnya secara umum, Khilafah Islamiyah menyediakan lembaga-lembanga keilmuan. Islam membangun ribuan al-Katatib, yakni wadah keilmuan untuk mempelajari al-Quran, menulis dan berhitung. Dibudayakan juga diskusi-diskusi keilmuan di masjid-masjid untuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat soal fikih, hadis, tafsir dan bahasa. Bahkan Muqri Rasyâ€™an bin Nazhif ad-Dimasyqi mendirikan lembaga keilmuan Quran (untuk mempelajari al-Quran) pada tahun 400 H di Damaskus. Sementara khusus untuk hadis, didirikan oleh Nuruddin Mahmud bin Zanky, juga di Damaskus. Selain itu, madrasah (sekolah) dan Jamiâ€™ah (universitas) juga didirikan.</p>
<p>Al-Hakam bin Abdurrahman an-Nashir telah mendirikan Universitas Cordova yang saat itu menampung (mahasiswa) dari kaum muslimin maupun orang Barat. Selain itu dibangun pula Universitas Mustanshirriyah di Baghdad. Sekadar tahu aja, universitas-universitas ini telah mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya mendunia hingga saat ini melalui berbagai temuan-temuannya, seperti al-Khawarizmi, Ibnu al-Haisam, Ibnu Sina, Jabir bin Hayan, dan lainnya (Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 158-159)</p>
<p>Hasil pendidikan dan penyediaan fasilitas yang bagus ini paling nggak dalam sejarah tercatat beberapa perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Beberapa di antaranya: bidang kedokteran (kaum muslimin berhasil mengembangkan teknik pembiusan untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran dunia, dikembangkan juga teknik operasi, pendirian rumah sakit dan obat-obatan).</p>
<p>Dalam ilmu kimia (di sini kaum muslimin mengenalkan istilah alkali, menemukan amonia, teknik destilasi atau penyulingan, penyaringan, dan sublimasi, memperkenalkan belerang dan asam nitrit, mempopulerkan industri kaca dan kertas, serta penemuan lainnya). Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan (melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk pengobatan, bahkan mengklasifikasikan berbagai jenis tumbuhan).</p>
<p>Terus, dalam ilmu pengetahuan alam (penemuan neraca, penemuan pendulum untuk jam dinding, ilmu optik, dan telah mampu merumuskan perbedaan antara kecepatan cahaya dan kecepatan suara, termasuk kaum muslimin berhasil menemukan teknologi kompas magnetis untuk mengetahui arah mata angin); matematika (berhasil dikembangkan perhitungan desimal dan kwadrat, juga menciptakan berbagai rumus) (O. Solihin, Yes! I am MUSLIM, hlm. 315-316)</p>
<p>Bro, kalo mo ditulis semua kayaknya nggak bakalan cukup cuma di satu edisi buletin kesayangan kamu ini. Mungkin perlu beberapa edisi. Tapi yang pasti, kita pun bisa menjadi generasi gemilang seperti pendahulu kita tersebut. Insya Allah bisa dengan mencontoh model pendidikan yang dikembangkan Islam.</p>
<p>Ya, sebab tujuan pendidikan dalam Islam adalah</p>
<ol>
<li>Membentuk manusia agar memiliki kepribadian Islam,</li>
<li>Mengarahkan peserta didik agar bisa menguasai tsaqafah Islam,</li>
<li>Menciptakan manusia yang ngerti soal iptek, dan</li>
<li>Islam mendidik manusia agar memiliki keterampilan yang memadai untuk pelengkap dalam kehidupannya.</li>
</ol>
<p>So, tentunya dibutuhkan jaringan dan kerjasama pembinaan yang mantap antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan juga negara. Semua komponen wajib serius dan penuh perhatian untuk menghasilkan generasi gemilang. Jangan sampe beda arah dan salah mendidik, sehingga ketika di rumah udah oke, eh, di sekolah nggak benar (atau sebaliknya) karena beda cara dan kebijakan. Nggak banget!? </p>
<p>Yuk, kalo emang benar meneladani Rasulullah saw., maka kita teladani juga cara beliau dalam mendidik manusia dengan Islam.?  [<a target="_blank" href="http://www.osolihin.wordpress.com" title="Solihin Website">solihin</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjadi-generasi-gemilang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Depan Milik Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masa-depan-milik-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masa-depan-milik-kita#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 05:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/masa-depan-milik-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Gimana kabar kamu semua? Pasti senang ya UN udah kelar digelar. Kalo kamu termasuk orang yang was-was dengan hasil UN, itu tandanya wajar. Berarti kamu memang memikirkan masa depan kamu. Tapi, yang nggak wajar tuh kalo kamu menganggap bahwa masa depan kamu cuma ditentukan oleh hasil UN. Sehingga kalo nilai UN-nya jelek, kamu ngerasa dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gimana kabar kamu semua? Pasti senang ya UN udah kelar digelar. Kalo kamu termasuk orang yang was-was dengan hasil UN, itu tandanya wajar. Berarti kamu memang memikirkan masa depan kamu. Tapi, yang nggak wajar tuh kalo kamu menganggap bahwa masa depan kamu cuma ditentukan oleh hasil UN. Sehingga kalo nilai UN-nya jelek, kamu ngerasa dunia bagai kiamat dan hidup kamu berakhir karena semua orang merendahkanmu. Nggak lha yauw!<span id="more-357"></span></p>
<p>Bro, jalan panjang kehidupan masih terbentang luas. Lulus sekolah dengan nilai UN keren sebenarnya nggak terlalu ngejamin bisa bertahan dalam kehidupan. Ini bukan nakut-nakutin, tapi sekadar ngingetin aja, bahwa hidup tak sesederhana mengerjakan soal-soal UN yang targetnya harus bagus. Hasilnya harus sesuai target. Sehingga kamu merasa terbebani karena harus berhasil. Nah, karena targetnya hasil, seringkali lupa diri hingga akhirnya menempuh cara-cara tak terpuji demi menggapai hasil maksimal. Nggak, kehidupan nyata nggak seperti itu. Kehidupan itu butuh proses. Jalani aja dengan penuh kenikmatan sambil mencari jalan keluar yang positif ketika bertemu kesulitan atau rintangan.</p>
<p>Boys and gals, para orangtua kita mungkin sering banget nasihatin kita soal kehidupan. Maklumlah, mereka kan lebih banyak waktu yang dihabiskannya di dunia ini ketimbang kita. Usianya aja jelas jauh beda ama kita. Iya dong, kalo seumuran namanya temen, bukan ortu. So, wajar banget dong kalo nasihatin kita-kita soal hidup. Karena ortu kita udah pengalaman puluhan tahun lebih lama di dunia ini ketimbang kita-kita. Tul nggak sih?</p>
<p>Sobat, kita juga jadi bisa belajar kepada ortu atau siapa pun yang lebih pengalaman dan lebih tahu tentang bagaimana menjalani hidup dengan nyaman, aman, dan tentunya menikmatinya dengan senang hati. Meski, tentu saja, bukan hidup namanya kalo nggak ada rintangan, halangan, dan bahkan tekanan. Karena kehidupan itu sendiri adalah ladang ujian buat kita, sekaligus ladang ibadah dan amal. Kalo kita bisa menjalaninya dengan baik, maka ujian hidup itu akan memberikan kita pengalaman yang sangat berarti.</p>
<p>Itu sebabnya, kita wajib heran kalo ada orang yang menjalani kehidupan tanpa mimpi, tanpa cita-cita, tanpa target, tanpa evaluasi, dan bahkan tanpa belajar. Sebab, hidup di dunia ini harus ada bekasnya. Baik untuk diri sendiri, orang lain, untuk agama kita, dan juga untuk ibadah kepada Allah Swt. Tolong dicatet ya.</p>
<p><strong>Hidup mengasah kedewasaan kita</strong><br />
Kita bisa belajar dari siapa pun dan di mana pun. Selama kita masih hidup di dunia, berarti masih ada kesempatan untuk belajar di sekolah kehidupan yang bisa kita lakoni sepanjang usia kita. Melintasi setiap jengkal peristiwa yang akan memberikan hikmah bagi kehidupan kita. Kita bisa belajar tentang hidup dan kehidupan dari siapa saja. Tentu, selama hal itu memang bermanfaat bagi kita dan bernilai pahala di sisi Allah Swt.</p>
<p>Yup, layaknya sekolah tempat kita menimba ilmu, sekolah kehidupan akan memberikan polesan dalam kepribadian kita. Bahkan akan lebih banyak dan lebih luas lagi jangkauan dan juga multidimensi. Nyaris nggak ada blank spot-nya deh. Nah, salah satu dari hasil didikan di sekolah kehidupan itu insya Allah bakalan mengasah kedewasaan kita. Jujur aja nih, hidup di dunia emang nggak lurus-lurus aja. Kalo lurus terus, kayak jalan tol, rasa-rasanya mungkin kita nggak akan belajar dan bahkan melalaikan atau menyepelekan kehidupan ini. Karena udah merasa enak, nyaman, dan nggak banyak halangan. Itu sebabnya sering menganggap gampang dan ujungnya nggak bakalan bisa mengasah pribadi kita dengan lebih baik dan benar. Kita mungkin saja nggak bisa dewasa karena nggak pernah merasakan â€œlika-likuâ€? kehidupan di dunia ini. Justru dengan â€œgelombangâ€? kehidupan itulah seenggaknya kedewasaan kita mulai akan terasah dengan baik.</p>
<p>Kalo kita ngelihat di perempatan jalan, betapa banyak pengamen dan pengemis yang mencari makan di sana. Nggak usah kita berburuk sangka kepada mereka dengan menyebut mereka pemalas. Belum tentu, karena siapa tahu mereka berbuat demikian karena memang nggak mampu kerja di tempat lain, sementara urusan perut begitu mendesak. Hanya itu yang bisa dilakukan mereka.</p>
<p>Terus, kita bisa berpikir dan mengukur diri sambil merenung, â€œIya ya, saya bisa hidup enak. Seenggaknya untuk makan nggak perlu ngamen atau ngemis-ngemis. Bisa sekolah dan ortu kita masih kuat nyari nafkah.â€? Kesadaran seperti ini hanya mungkin tumbuh kalo kita tuh udah berpikir dewasa. Mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita pun bisa mengetahui dengan pasti dan yakin perbuatan apa saja yang terkategori terpuji dan perbuatan mana yang disebut tercela. Kesadaran dan pengetahuan yang ajeg seperti ini adalah hasil belajar kita memahami kondisi kita dan kehidupan kita. So, nggak berlebihan banget kalo sekolah kehidupan itu bakalan ngasah kedewasaan kita.</p>
<p>Oya, karena kita hidup di masyarakat dan kehidupan yang begitu luas, maka mau nggak mau, suka or nggak suka, pada akhirnya kita akan belajar dari sekolah kehidupan ini. Ya, benar. Sekolah kehidupan memang bisa mengajarkan dan membeberkan begitu banyak peristiwa dan fakta yang bisa kita rasakan dan bisa kita nilai. Ada yang baik, tentu banyak juga yang buruk. Berhadapan dengan dua fakta ini, kita seenggaknya bisa memilih dan menilai. Mana yang akan diambil, dan mana yang harus ditinggalkan. Pilihan dan keputusan ada di tangan kita dan kita memutuskan sesuai dengan pemahaman kita tentang kehidupan. Benar atau salah.</p>
<p>Bro, kita bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman Rasulullah saw. Banyak para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada Islam sangat besar. Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena kondisi kehidupannya mendukung. â€œSekolah kehidupanâ€? telah mengajarkan dan membentuk kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika sekarang banyak remaja yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik, itu juga karena model kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak benar. Gimana pun juga, individu itu pasti akan terwarnai oleh kondisi masyarakat. Kalo masyarakatnya rusak seperti sekarang, kayaknya udah alhamdulillah banget jika masih ada remaja yang selamat kepribadiannya, bahkan berani melawan arus kerusakan dan berupaya mengubahnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang dewasa tentu satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak akan tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda Rasulullah saw.: â€œApabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Nah, karena di sekolah kehidupan ini nggak seragam semuanya. Masih mungkin muncul perbedaan di antara kita yang sama-sama belajar di masyarakat, maka kedewasaan kita dalam menyikapi perbedaan harus terus dipoles. Tapi dengan catatan, perbedaan tersebut sebatas hal-hal yang mubah. Maka, di sekolah kehidupan kita bisa belajar untuk menghargai pendapat orang lain atau belajar menerima masukan dari orang lain. Bandingkan waktu kita masih kecil. Kita pengennya menang sendiri, ingin menguasai permainan dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena waktu kecil kita belum ngeh dan belum mengerti soal pergaulan dan hubungan dengan pihak lain. Lagian, anak-anak kan memang belum dewasa.</p>
<p>Selain itu, yang belum dewasa adalah ketika menghadapi kenyataan pesimis, cenderung menyerah, mudah putus asa, dan sikap negatif lainnya. Sikap seperti itu wajar kalo â€?menyerangâ€™ anak-anak. Tentu, jadi nggak wajar kalo dalam diri mereka yang sudah dewasa masih ada hal-hal demikian. Tul nggak?</p>
<p>Meski demikian, karena di sekolah kehidupan ini memang nggak semuanya benar. Apalagi kehidupan saat ini adalah produk dari sistem kehidupan Kapitalisme-Sekularisme, maka belajar untuk dewasa dari sekolah kehidupan saat ini lebih berat dan harus lebih selektif lagi. Itu sebabnya, dibutuhkan bimbingan dan arahan dari mereka yang udah tahu dan paham mana yang keliru dan mana yang benar. Are you ready? Yes! (jawabnya kudu itu ya. Semangat!)</p>
<p><strong>Jadilah yang terbaik</strong><br />
Sobat, menjadi baik saja belum cukup. Tapi harus menjadi yang terbaik. Upayakan sebisa mungkin. Kita bisa kok asal kita mau. Yakin deh. Lagian karena kehidupan itu adalah sebuah proses, maka kita akan jalani tahap demi tahap. Rasakan perbedaannya dari setiap tahap yang kita lalui.</p>
<p>Nah, karena setiap manusia itu saling mempengaruhi satu sama lain, maka dalam menjalani kehidupan ini nggak lepas juga dari proses benchmarking. Artinya, jika kita ingin tampil sukses seperti seseorang yang kita anggap berhasil dalam hidupnya, maka kita akan menerapkan prinsip 3N. Apakah itu?</p>
<p>Niteni, niroake, dan nambahi. Ini bukan bahasa Italia, tapi ini bahasanya Mbah Marijan. Niteni itu artinya mengamati, niroake artinya menirukan, dan nambahi boleh dibilang modifikasi. So, biar lidah nggak keseleo gara-gara nggak biasa ngomong Jawa, kita sepakati aja dengan istilah ATM alias Amati, Tirukan, dan Modifikasi. Setuju ya?</p>
<p>Nah, untuk jadi yang terbaik dalam kehidupan ini, pastinya kita pernah ukuran siapa yang dianggap menurut kita terbaik dan perlu dicontoh, maka kita akan melakukan benchmarking. Pertama banget, kita kudu amati perilakunya, juga kebiasaannya. Kemudian tirukan apa yang dilakukannya untuk meraih sukses menjadi yang terbaik. Biar nggak disebut membebek, maka lakukan modifikasi untuk meraih sukses itu dengan kreasimu yang kamu ciptakan. Wuih, insya Allah keren deh!</p>
<p>Sekadar contoh nih, jika kamu ingin pinter dakwah dan sekaligus sukses di bidang akademik, teladani deh mereka yang udah berhasil di kedua bidang tersebut. Kamu amati kegiatan hariannya, cara belajarnya, dan sikap serta perbuatan baiknya. Kemudian kamu tiru semua kebaikannya. Oya, karena nggak ada orang yang sempurna dalam hidup ini, maka kalo ada yang kurang bagus dari karakter idolamu itu, kamu nggak usah contek, tapi bikin polesan lain dengan modifikasi hasil kreasimu. Jadilah diri sendiri, gitu lho. Oke?</p>
<p>So, bukan tak mungkin pula kalo masa depan bakalan menjadi milik kita. Tentu, masa depan yang penuh dengan prestasi terbaik dari segala yang telah kita impikan, cita-citakan dan upayakan dengan usaha keras untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupan ini. Insya Allah.</p>
<p>Oya, donâ€™t forget,?  ukuran menjadi manusia yang terbaik bagi seorang muslim adalah: beriman kepada Allah Swt., bertakwa kepadaNya, bermanfaat bagi manusia lainnya, dan senantiasa bersemangat membela agamaNya dengan dakwah dan jihad. Siap ya? [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 339/Tahun ke-8/30 April 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masa-depan-milik-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noda di Ujian Nasional</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/noda-di-ujian-nasional</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/noda-di-ujian-nasional#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 06:22:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/noda-di-ujian-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Ujian Nasional untuk siswa SMA digelar pada 17-19 April 2007. Sampai tulisan di buletin kesayangan kamu semua ini dibuat, Ujian Nasional hari kedua sedang berlangsung. Namun, seperti udah bisa ditebak sebelumnya, sudah ada berita yang menodai penyelenggaraan ujian nasional kali ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ada saja noda yang muncul dalam pelaksanaan ujian nasional. Pelanggaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ujian Nasional untuk siswa SMA digelar pada 17-19 April 2007. Sampai tulisan di buletin kesayangan kamu semua ini dibuat, Ujian Nasional hari kedua sedang berlangsung. Namun, seperti udah bisa ditebak sebelumnya, sudah ada berita yang menodai penyelenggaraan ujian nasional kali ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ada saja noda yang muncul dalam pelaksanaan ujian nasional. Pelanggaran paling banyak adalah bocornya soal sebelum ujian berlangsung. Supaya pas ujian berlangsung pelakunya bisa memberikan contekan jawaban kepada para siswa yang mengikuti ujian nasional.<span id="more-343"></span></p>
<p>Ambil contoh kasus di Ngawi, Jawa Timur. Mendiknas mengakui adanya kebocoran UN. Di sana, seorang kepala sekolah kedapatan mengambil soal ujian. â€œSaya telah mendapatkan laporan dari Irjen bahwa ada kepala sekolah di Ngawi yang mengambil soal ujian nasional. Polisi berhasil menangkap kepala sekolah itu sebelum sempat menggandakan soal yang dicuri, kata Mendiknas (Koran Seputar Indonesia, 18 April 2007)</p>
<p>Bahkan dalam program berita Reportase Malam Trans TV, 17 April 2007, sempat menginvestigasi beberapa oknum pelaku yang memberikan kunci jawaban via SMS kepada para siswa yang ikut UN. Tentu saja, kunci jawaban itu ada bandrol harganya yang berkisar antara puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah per mata pelajaran. Halah!</p>
<p>Sobat muda muslim, tentu saja fakta ini bikin kita malu, plus tentunya sangat sedih. Kalo emang kayak gitu, buat apa ada ujian. Buat apa kita kudu belajar setiap hari, kalo akhirnya pas UN â€?dimintaâ€™ nyontek. Iya nggak?</p>
<p>Oya, denger-denger sih, UN ini kerap jadi persaingan gengsi antarsekolah lho (termasuk tentunya dinas pendidikan di daerah). Saingan gengsi? Yup, sebab, pihak dinas pendidikan setempat dan (terutama) pihak sekolah lebih mementingkan citra. Tentu kalo para siswa di sebuah sekolah banyak yang lulus UN apalagi dengan nilai yang sangat memuaskan, maka citra sekolah dan juga dinas pendidikan setempat jadi terangkat bagus.</p>
<p>Sebenarnya jika proses persaingannnya sehat jadi bagus kan dengan adanya kompetisi tersebut? Tapi yang terjadi, justru pada pengen hebat namun dengan cara instan, jadinya yang muncul adalah kecurangan. Waduh!</p>
<p>Seorang teman penulis yang hadir di sebuah acara sosialisasi tentang UN dari dinas pendidikan di sebuah kota, doi menyampaikan bahwa di acara tersebut oknum dari dinas pendidikan malah menyarankan agar para pengawas UN membiarkan jika ada para siswa yang kedapatan mencontek. Lebih parah lagi adalah cerita dari seorang teman penulis yang kebetulan berprofesi guru. Doi diminta jadi pengawas UN tapi harus membiarkan jika ada kunci jawaban yang berseliweran di antara para peserta ujian. Sebab, pasti kunci jawaban itu diedarkan atas sepengetahuan pihak sekolah. Lha, buat apa ada pengawas? Trus, buat apa ada ujian kalo â€?direstuiâ€™ untuk nyontek? Phew!</p>
<p>Sobat, ini sekadar sedikit pemaparan fakta noda-noda yang ada di UN alias Ujian Nasional. Menyedihkan memang. UN memang masih diperlukan. Tapi jangan dijadikan standar satu-satunya kelulusan, sehingga akan memicu kecurangan bagi orang-orang yang pendek akal dan kendor iman. Emang sih, saat ini UN bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa, masih ada faktor penentu lainnya, yakni lulus ujian akhir semester yang diadakan oleh sekolah dan juga lulus secara etika atau kepribadian. Sebagaimana tercantum dalam PP 19/2005 tentang standar nasional pendidikan yang memuat empat faktor penentu kelulusan siswa, yakni ujian nasional, ujian sekolah, nilai rapor semester terakhir, dan sikap anak dalam proses belajar-mengajar.</p>
<p>Tapi, kenapa masih juga ada noda di UN? Wah, kalo gitu, oknum kepala sekolah yang di Ngawi itu mencuri soal ujian, atau oknum dinas pendidikan yang menganjurkan siswa mencontek, atau pihak sekolah yang meminta pengawas ujian membiarkan berseliwerannya kunci jawaban soal ujian, mereka malah yang bisa ditunjuk hidung sebagai biang perusak etika dan kepribadian. Setuju nggak? Mengenaskah sekali, Bro!</p>
<p><strong>Lingkaran setan<br />
</strong>Boys and gals, problem tentang penyelenggaraan dan pelaksanaan UN ini ibarat lingkaran setan. Udah nggak jelas lagi ujung-pangkalnya karena udah saling berkaitan dan beririsan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Jadinya makin kompleks.</p>
<p>Siswa yang ikut UN tentu nggak mau dong kalo nilai ujian nasionalnya jeblok. Sebab, bakalan mengganggu masa depannya di dunia pendidikan. Maka, ditempuh segala cara buat meningkatkan nilai ujian nasional. Tentu saja ini adalah sebuah peluang emas.</p>
<p>Maka, seperti kata Bang Napi, kejahatan bukan hanya karena niat pelakunya tapi juga karena ada kesempatan. Pihak sekolah jelas udah ada niat, apalagi kalo ngeliat dan ngerasakan langsung kualitas dan kemampuan para siswa, sementara tuntutan dari Depdiknas yang mensyaratkan kelulusan peserta UN dengan mematok angka tinggi, maka kecurangan adalah jalan keluar. Siswa butuh, pihak sekolah juga perlu. Siswa butuh lulus, pihak sekolah perlu menjaga citra sekolahnya. Klop.</p>
<p>But, dengan kedua kondisi ini berarti kita langsung menyalahkan siswa dan pihak sekolah dan menjadikan mereka kambing hitam dari noda UN ini? Nggak juga. Masih ada pihak lain yang bertanggung jawab, yakni tentu saja pemerintah, dalam hal ini direpresentasikan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Sebab, penentuan target angka kelulusan yang cukup tinggi nggak dibarengi juga dengan program pendidikan yang memadai.</p>
<p>Udah jadi rahasia umum bahwa mutu pendidikan di negeri ini sangat menyedihkan. Misalnya nih, lucu banget kan kalo misalnya di sekolah ada mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), tapi yang ngajarnya nggak ada. Kalo pun ada pengajarnya, tapi ia malah nggak menguasai materi pelajaran. Sementara dalam KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) tercantum materi tersebut. Wah, gimana nih?</p>
<p>Pemerintah juga kurang memperhatikan nasib para guru. Meski jasa yang diberikan guru tuh besar banget dalam membantu upaya mencerdaskan para punggawa bangsa kelak, tapi kehidupan ekonomi para guru malah termasuk golongan bernasib serupa Guru Oemar Bakri dalam lagu Iwan Fals. Akibatnya, banyak guru yang nggak fokus ngajar di satu tempat. Masih belum cukup banyak juga yang nyambi kerjaaan lain. Kalo nggak gitu, gimana bisa ngasapin dapur, euy. Jadi, wajar deh kayaknya kalo banyak guru (nggak semua lho) yang tidak menjadi pendidik yang baik. Mereka hanya sekadar melakukan transfer ilmu aja. Maka, tanggung jawab mengajar jadi rendah. Kalo dia nggak bisa datang ngajar di sekolah, cukup ngasih tugas mencatat pelajaran kepada para siswanya. Sebab, nggak bisa juga nyalahin seratus persen kepada guru yang bersangkutan (garuk-garuk kepala nih. Bingung!)</p>
<p><strong>Pentingnya ujian<br />
</strong>Sobat, meski ngeliat kondisi pelaksanaan UN yang masih ada nodanya, bukan berarti nggak perlu ujian. Ujian tetap perlu dan tentunya bisa dibilang penting. Salah satu alasannya adalah untuk mengukur seberapa pantas para siswa menguasai keilmuan yang dipelajari selama ini di sekolah. Ukuran ini hanya bisa dicek tentu lewat ujian.</p>
<p>Hanya saja, untuk mengukur kemampuan intelektual siswa melalui ujian, harus dibuat juga suasana belajar yang menyenangkan, kurikulum yang jelas dan mudah diterapkan, sarana pendukung belajar yang memadai, biaya pendidikan yang nggak mahal sehingga bisa dijangkau keluarga siswa yang ekonominya kurang begitu bagus, juga faktor lainnya seperti pembinaan mental dan keimanan siswa, seenggaknya mereka harus bersaing dengan cara yang sehat untuk meraih predikat siswa berprestasi di sekolahnya atau bahkan secara nasional. Oya, pembinaan mental dan keimanan juga perlu diberikan kepada guru dan pihak-pihak terkait lainnya dalam lingakaran yang ikut mendukung pelaksanaan program pendidikan yang berkualitas tinggi.</p>
<p>So, kalo emang sistem belajar dan sarana pendukung belajar udah oke, ujian bukan lagi masalah. Nggak kayak sekarang, dituntut lulus ujian dengan skor yang udah ditentukan tapi metode belajar dan sarana pendukung belajar nggak diperhatikan, ya ambil jalan pintas negatif, yakni bermain curang. Arghhhâ€¦!</p>
<p><strong>Cacatnya penyelenggaraan UN<br />
</strong>UN sejak digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003 emang menuai kontroversi alias perdebatan. Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan (Koran Tempo, 04-02-2005), setidaknya ada empat penyimpangan dengan digulirkannya UN.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, aspek pedagogis. Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi peserta didik dan orangtua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan di-UN-kan di sekolah ataupun di rumah.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan UN memboroskan biaya. Tahun lalu, dana yang dikeluarkan dari APBN mencapai Rp 260 miliar, belum ditambah dana dari APBD dan masyarakat. Pada 2005 memang disebutkan pendanaan UN berasal dari pemerintah, tapi tidak jelas sumbernya, sehingga sangat memungkinkan masyarakat kembali akan dibebani biaya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama ini masih sangat tertutup dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.</p>
<p><strong>Potret buram</strong><br />
Bro, inilah potret buram dunia pendidikan di negeri ini. Memang nggak mudah mengatur urusan seperti ini. Justru karena nggak mudah itulah seharusnya dibuat sistem yang seenggaknya bisa meminimalisir kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya kecurangan. Jangan dibiarkan kayak sekarang.</p>
<p>Ya, saat ini tujuan pendidikan kurang mantap karena hanya menitik-beratkan pencapaian yang terukur dari segi akademik semata, sementara aspek kepribadian yang merupakan penerapan dari aspek afektif (sikap) nyaris dikesampingkan. Padahal, kita juga ingin menyaksikan para siswa yang didik itu selain mantap ilmunya, juga kokoh keimanannya kepada Allah Swt. dan banyak amal sholehnya.</p>
<p>Lha, kalo sekarang, dalam negara yang menerapkan sistem Kapitalisme-Sekularisme? Hehehe kamu bisa saksikan dan rasakan sendiri kerusakannya yang memang sudah sistemik banget. Kasus UN yang ternoda dan kerap menimbulkan kontroversi ini memang lahir dari sistem yang rusak.</p>
<p>Jadi gimana? Saatnya mengubur Kapitalisme-Sekularisme sambil mengkampanyekan penerapan Islam sebagai ideologi negara demi mewujudkan peradaban yang benar dan mencerahkan kehidupan umat manusia seluruhnya.</p>
<p>Teknisnya gimana nih? Mulai sekarang, yuk hentikan diam kita dan segera beraksi. Kita bisa mengkaji Islam, mempelajari Islam, belajar menganalisis masalah yang terjadi di sekitar kita, mulai hobi belajar tentang ideologi dan Islam ideologis. Ayo, siapa di antara kamu yang ingin ngaji dan dakwah? Semangat! [<a target="_blank" href="http://osolihin.wordpress.com" title="Solihin Blog">solihin</a>]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA Edisi 338/Tahun ke-8/23 April 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/noda-di-ujian-nasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini Vs Kartono</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kartini-vs-kartono</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kartini-vs-kartono#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 06:18:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kartini-vs-kartono/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan April, apa sih yang ada di benak kamu? Hari Kartini, pastinya. Hari yang diyakini sebagai tonggak emansipasi kaum wanita. Nggak bosan-bosannya topik ini dibicarakan terutama di kalangan aktivis feminisme dengan judul baru bernama pemberdayaan perempuan. Seakan-akan tanpa program mereka, kaum perempuan tak berdaya.
Diperparah dengan beberapa lagu yang sengaja memanas-manasi para perempuan untuk mau â€?berjuangâ€™. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan April, apa sih yang ada di benak kamu? Hari Kartini, pastinya. Hari yang diyakini sebagai tonggak emansipasi kaum wanita. Nggak bosan-bosannya topik ini dibicarakan terutama di kalangan aktivis feminisme dengan judul baru bernama pemberdayaan perempuan. Seakan-akan tanpa program mereka, kaum perempuan tak berdaya.<span id="more-342"></span></p>
<p>Diperparah dengan beberapa lagu yang sengaja memanas-manasi para perempuan untuk mau â€?berjuangâ€™. Nah, salah satunya lagu di bawah ini neh.</p>
<p>Di era tahun 80-an, ada lagu yang berlirik seperti ini :</p>
<p>Semenjak Kartini itu lahir di hari itu<br />
Contoh dan teladan diberi pada kaumku<br />
Wanita bukan budak yang hina<br />
Anggapan lama semua kaum pria<br />
Gunung kan kudaki laut kuseberangi<br />
Mencari Bahagia<br />
Aku disakiti aku diingkari<br />
Dan aku dihina<br />
Apa pria tega menghina wanita<br />
Sayang sayang sayang<br />
Adam tanpa hawa<br />
Tak ada artinya<br />
Sayang sayang sayang</p>
<p>Waduh, hapal banget yah? Hehe, kebetulan aja kakak-kakak saya yang cewek adalah penggemar lagu melow, salah satunya adalah lagu ini. Dan kebetulan aja saya yang saat itu masih pake seragam putih merah alias SD teringat dengan lirik ini. Coba deh kamu tanya ke mamamu yang barangkali aja ingat dengan lagu ini.</p>
<p>Kita bukan mau berlatih olah vokal. Saya juga tak akan mengajari kamu bagaimana cara menyanyikan lagu ini. Tapi saya akan ajak kamu untuk berpikir kritis dalam menyikapi hari Kartini dan juga lagu-lagu sejenis ini. Supaya apa? Supaya kamu nggak terjebak dan terjerumus dengan ide feminisme yang kedengarannya aja manis di mulut dengan tajuk perjuangan hak perempuan. Padahal mah ide ini jauh panggang daripada api, alias nggak ada bagusnya bagi perbaikan nasib dan harga diri kaum perempuan sendiri. Nggak percaya? Baca aja lanjut, okay?</p>
<p><strong>Perjuangan Kartini<br />
</strong>Tak ada yang salah dengan perjuangan Kartini. Toh beliau memang hidup di alam penjajahan dan jaman feodalisme Jawa masih mengungkung erat. Jaman ketika perempuan masih dianggap rendah sekedar â€?konco wingkingâ€™ alias teman di belakang bagi para pria. Maksudnya perempuan itu tempatnya cuma dapur, sumur dan kasur. Walah! Perempuan nggak boleh ikut mengurusi selain ketiga hal itu. Karena urusannya cuma itu, maka nggak perlu perempuan sekolah tinggi-tinggi. Nggak ada gunanya. Toh, nanti kembalinya juga bakal ke dapur lagi.</p>
<p>Kartini, sebagai seorang perempuan cerdas, nggak terima dengan kondisi ini. Apalagi lingkungan bangsawan Jawa membuatnya sering bergaul dengan noni-noni Belanda yang dianggapnya mempunyai derajat lebih tinggi. Kartini pun ingin seperti mereka. Ia ingin derajat kaumnya meningkat melalui dunia pendidikan. Nah, seringkali perjuangan Kartini dipelintir, berhenti cukup sampai di sini. Jadilah mereka menjadikan sosok Kartini sebagai sosok pejuang emansipasi yang berusaha memperjuangkan hak perempuan.</p>
<p>Mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa ada lanjutan dari kisah hidup perjalanan Kartini. Selain berkorespondensi dengan noni-noni Belanda, Kartini juga belajar membaca al-Quran dengan salah satu Kyai di jaman itu. Sayangnya, guru yang menjadi guru ngaji Kartini adalah orang yang berpikiran kolot dengan menyatakan bahwa kitab ini terlalu suci untuk diterjemahkan. Kartini sedih, bagaimana mungkin ia bisa memahami isi kitab suci bila ia tak mengerti makna apa yang dibacanya.</p>
<p>Dari sinilah diskusi-diskusi kecil Kartini muda tentang Islam dimulai. Hingga salah satu buku fenomenal yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang adalah terinspirasi dari salah satu ayat al-Quran (minadzulumaati ila nuurâ€”dari gelap menuju cahaya). Tidak berhenti sampai di sini, Kartini pun akhirnya menyadari bahwa apa yang diperjuangkannya, bukan karena ingin bersaing dengan para pria. Sebaliknya, pendidikan bagi perempuan yang ia maksudkan adalah sebagai upaya agar perempuan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Karena anak-anak yang baik dan berkualitas hanya bisa terlahir dari ibu-ibu yang terdidik, bukan yang bodoh. Jadi pendidikan yang perjuangkan adalah dalam rangka mempersiapkan perempuan untuk menjadi sosok ibu yang berkualitas demi terciptanya generasi yang berkualitas pula. Inilah yang nggak pernah disinggung oleh mereka yang mengaku sebagai pejuang hak perempuan.</p>
<p>Lirik lagu di atas dan mungkin lagu lain yang sejenis, seringkali menyesatkan maknanya. Kartini nggak perlu mendaki gunung dan menyeberangi sungai untuk meraih cita-citanya. Dengan tegas, ia tolak tawaran beasiswa ke Belanda untuk sekolah. Bahkan dengan penuh harga diri, ia tulis surat untuk sahabatnya di Belanda itu bahwa ia tak hendak lagi menjadikan mereka sebagai panutan. Perjuangannya adalah di sini, di tanah Jawa Indonesia untuk mendidik perempuan-perempuan di sekitarnya.<br />
Kartini menerima pinangan seorang laki-laki bijak yang memberinya ijin dan kesempatan untuk melanjutkan cita-citanya. Ia pun menikah.</p>
<p><strong>Andai Kartini tahu<br />
</strong>Betapa Islam yang menjadi agamanya itu sudah mempunyai konsep tentang perempuan secara ideal. Betapa semua yang ia perjuangkan sudah tercantum dengan gamblang dalam kitab suci al-Quran. Betapa yang ia rindukan tentang perempuan yang berpendidikan untuk mencipta generasi terdidik sudah pernah terterapkan. Yahâ€¦andai Kartini tahu itu.</p>
<p>Generasi selevel Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Muslim, Abu Hanifah dan masih banyak jutaan lain ilmuwan yang mengguncang dunia dengan karya-karyanya, adalah hasil didikan dari sosok ibu yang berkualitas dan terdidik. Sosok laki-laki yang sebagian tersebut di atas adalah sosok yang sangat memuliakan perempuan. Jadi lagu era 80-an itu sangat menyesatkan ketika menyatakan bahwa anggapan lama semua kaum pria bahwa wanita itu hina.</p>
<p>Bila yang dimaksud anggapan lama itu adalah sebelum Islam datang, itu memang iya. Tapi bila anggapan lama itu adalah masa sebelum tahun 80-an ketika lagu itu digubah, maka itu juga tak sepenuhnya salah. Kok bisa? Perempuan jadi terperosok lagi ke lumpur kehinaan, secara resmi yaitu sejak tahun 1924. Ada apa di tahun 1924, tepatnya 3 Maret?</p>
<p>Runtuhnya Khilafah Islam yang menjadi satu-satunya payung dan benteng terakhir untuk menjaga kewibawaan dan harga diri kaum muslimin termasuk perempuan. Sejak saat itulah harga diri perempuan dengan sah diinjak-injak dengan dalih kesetaraan. Perempuan ditarik ke sektor publik dengan jargon emansipasi. Pabrik dan jalanan penuh sesak oleh perempuan. Padahal, rumah adalah tempat ternyaman bagi perempuan untuk beraktivitas dibandingkan dengan pabrik yang penuh dengan kebisingan itu.</p>
<p>Sejalan dengan cita-cita perjuangan Kartini, pendidikan bagi perempuan bukanlah untuk bersaing dan menyamai laki-laki. Tapi semata-mata sebagai fungsi awal yang sesuai dengan fitrah yaitu sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.</p>
<p><strong>Kartono menuntut hak<br />
</strong>Ketika ide emansipasi tak lagi murni, para Kartono ehâ€¦maksudnya laki-laki pun berusaha menuntut haknya pula. Sebagai ayah, ia menuntut haknya untuk dihormati oleh istri dan anak-anaknya. Bagaimana pun ia adalah wali bagi anak perempuannya. Ijinnya mutlak diperlukan oleh istri bila akan keluar rumah. Tapi ketika hak ini semakin memudar, istri dan anak tak lagi mau mengakuinya sebagai pemimpin rumah tangga, maka wajar bila kaum pria ini juga berhak menuntut.</p>
<p>Sebagai suami, keberadaannya semakin tak dihargai. Posisinya sebagai qowwam alias kepala rumah tangga dihujat. Istrinya menuntut posisi sama, tak mau kalah hanya karena perbedaan jenis kelamin. Maka, muncullah fenomena paguyuban STI alias Suami Takut Istri.</p>
<p>Anak-anak perempuannya tak lagi mengindahkan kata-katanya. Dengan dalih demokrasi dan kebebasan perempuan, anak-anaknya menolak menutup aurat. Bahkan sang ayah bisa diajukan ke komisi perlindungan anak dengan tuduhan pemaksaan dan pemerkosaan hak berekspresi. Hingga taraf pindah agama alias murtad, wewenang sang ayah tak lagi berguna. UU perlindungan anak akan sigap melindungi siapa pun yang berstatus anak untuk menjadi murtad. Nah, lho? Ciloko!</p>
<p>Belum lagi para pria yang jomblo yang semakin merana. Mereka harus mulai mencari solusi karena ternyata gerakan feminisme radikal telah sebegitu dalam menanamkan kebencian terhadap makhluk berjenis laki-laki. Dampaknya adalah perempuan ini tak mau lagi menikah dengan laki-laki dan memilih sesama perempuan sebagai gantinya alias mempraktikkan lesbian. Naudzhubillah min dzalik.</p>
<p>Selain penyakit AIDS, menurunnya tingkat kelahiran menjadi satu masalah tersendiri bagi dunia. Hingga tak heran bila di negara seperti Italia, ada insentif menggiurkan untuk mereka yang mau punya anak. Jadilah, bank sperma laris manis tanpa perlu menikah dengan laki-laki. Nasab sang anak jadi kacau beliau eh, balau. Laki-laki pun harus merana karena defisitnya perempuan untuk dinikahi. Seperti pernyataan seorang penulis perempuan yang karyanya melulu pada tema esek-esek bahwa â€?pernikahan adalah ibarat hukum permintaan dan penawaran. Dan saya tidak menikah untuk mengurangi penawaran di pasar.â€™ Duile, sebegitunya si Mbak ini cinta pada Kapitalisme (atau justru tertipu?). Sampe-sampe penikahan pun ia ibaratkan dan perlakukan ibarat orang jual beli di pasar.<br />
? ? ? ? <br />
<strong>Bukan masalah emansipasi<br />
</strong>Dari gambaran di atas, masalah sesungguhnya bukanlah pada emansipasi. Bukan pula pada kesetaraan hak. Dan nggak juga pada perjuangan pemberdayaan perempuan atau pun Kartono yang menuntut karena terdzalimi oleh para Kartini.</p>
<p>Masalah utama terletak pada pemahaman dan kesadaran perempuan yang masih terjajah oleh ide Kapitalisme dengan anak turunnya bernama feminisme. Feminisme inilah yang nantinya punya istilah emansipasi bagi perempuan. Karena bila ini yang kita perjuangkan maka akan ada kutub lain yang bereaksi. Merekalah kaum pria itu. Meskipun tidak sedikit kaum pria ini juga menjadi antek dan aktivis feminisme sendiri. Tujuannya jelas yaitu untuk semakin melanggengkan dominasi Kapitalisme dan Sekularisme dalam kehidupan di tengah merebaknya kampanye dakwah penerapan Islam sebagai ideologi negara dalam bingkai Khilafah Islamiyah.</p>
<p>Inilah sebetulnya yang menjadi pangkal masalah perempuan. Ketika sudut pandang keperempuanan yang ditonjolkan maka solusi yang dihasilkan pastilah timpang. Mengapa tak coba kita lihat masalah ini sebagai masalah kemanusiaan yang utuh? Karena laki-laki pun banyak kok yang terdzalimi, banyak yang tidak mendapat haknya, tidak memperoleh apa yang seharusnya. Jadi harus ada bentuk penyelesaian masalah yang tidak memihak salah satu pihak saja.</p>
<p>Islam adalah jawabnya. Tak lagi ada sudut Kartini (perempuan) menuntut hak. Atau Kartono (laki-laki) yang terdepak karena si Kartini yang berulah. Islam adalah solusinya ketika kedua jenis ini didudukkan pada masing-masing fungsi yang saling melengkapi. Bukan saling mengiri hati. Perempuan dengan fitrahnya bukan berarti lemah. Itu adalah sebuah kelebihan untuk mendidik generasi yang berkualitas. Laki-laki dengan fitrahnya bukan berarti kuat dan sewenang-wenang terhadap perempuan. Itu maknanya ia berfungsi untuk melindungi, menyayangi dan menghormati perempuan.</p>
<p>Tak ada lagi perjuangan emansipasi. Tak ada lagi penuntutan hak perempuan atas laki-laki dan sebaliknya. Yang ada tinggal perjuangan yang hakiki ketika Islam butuh untuk diterapkan lagi sebagai ideologi negara. Yang tertinggal adalah penuntutan hak kaum muslimin yang selama ini dirampas dan dirampok. Hak untuk mengembalikan Islam dalam semua aspek kehidupan. Kartini (perempuan) dan Kartono (laki-laki) tak lagi saling iri hati. Tak lagi bersaing hak yang semuanya itu terjamin utuh dalam Islam ketika sistemnya sudah diterapkan. Mereka boleh bersaing hanya dalam satu hal, berlomba-lomba dalam kebaikan.</p>
<p>Ayoâ€¦ayo, para Kartini dan Kartono, mari berlomba tiket ke surgaNya. Yuuukkk! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA Edisi 337/Tahun ke-8/16 April 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kartini-vs-kartono/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taat Kalo Ada yang Liat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/taat-kalo-ada-yang-liat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/taat-kalo-ada-yang-liat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 06:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/taat-kalo-ada-yang-liat/</guid>
		<description><![CDATA[Priiit..!!!â€? teriakan peluit menghentikan seorang pengendara motor yang baru aja nerobos lampu merah. Dengan perasaan cemas, doi segera menghentikan kendaraannya. Kepalanya celingak-celinguk nyari sumber suara peluit. Dari kejauhan tampak tukang gorengan berjalan mendekati doi. Rupanya, tukang gorengan itu polisi yang menyamar. Dengan muka sangar, pak polisi membentak sang pengendara.
â€œKenapa kamu nerobos lampu merah?â€?
â€œMaaf pak, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Priiit..!!!â€? teriakan peluit menghentikan seorang pengendara motor yang baru aja nerobos lampu merah. Dengan perasaan cemas, doi segera menghentikan kendaraannya. Kepalanya celingak-celinguk nyari sumber suara peluit. Dari kejauhan tampak tukang gorengan berjalan mendekati doi. Rupanya, tukang gorengan itu polisi yang menyamar. Dengan muka sangar, pak polisi membentak sang pengendara.<span id="more-341"></span></p>
<p>â€œKenapa kamu nerobos lampu merah?â€?<br />
â€œMaaf pak, saya nggak liat.â€? Jawabnya dengan muka memelas.<br />
â€œMasaâ€™ lampu merah segede itu nggak keliatan?â€? hardik pak polisi tanpa belas kasihan.<br />
â€œLampu merah sih liat pak. Cuma&#8230;.â€? sang pengendara ragu meneruskan kalimatnya.<br />
â€œCuma apa?!!â€?<br />
â€œCuma saya nggak liat ada bapak. Hehehe&#8230;â€? jawabnya sambil nyengir.<br />
Gubraks!</p>
<p>Penggalan cerita di atas boleh jadi mewakili mental masyarakat kita kalo udah berurusan dengan aturan. Yup, seperti episode sebuah iklan rokok. â€œtaat kalo cuma ada yang liatâ€?. Di tempat kerja, kalo ada bos atau atasan, sibuk kasak-kusuk ketik sana-sini di depan komputer biar keliatan kerja. Giliran bos udah berlalu, kembali ke aktivitas rutin dengan bermain solitaire, chatting, atau ngotak-ngatik friendster.</p>
<p>Begitu juga dengan lingkungan sekolah. Dandanan seragam sekolah rapi lengkap dengan bet dan lokasi plus dasi cuma keliatan pas ujian doang. Soalnya kalo nggak gitu, pengawas bakal mengeliminasi kita dari ruang ujian. Berabe dong. Ternyata saat ujian, nggak cuma pakaiannya aja yang rapi, tapi contekan pun nggak kalah rapinya. Sampe-sampe pengawas sulit menemukan jejak-jejak keberadaannya. Tapi giliran pengawas meleng dikit atau permisi ke belakang, langsung deh contekan dengan ukuran font kecil dan tulisan nggak karuan mulai menampakkan diri. Mumpung nggak ada yang liat. Nah lho?</p>
<p><strong>Aturan Islam juga kebagian</strong><br />
Sobat, mental â€?taat kalo diliatâ€™ ternyata mewabah juga pada sikap remaja muslim terhadap hukum Islam. Beberapa aturan Islam yang lengket dalam keseharian kita, masih aja pake pertimbangan ada yang ngawasin apa nggak.</p>
<p>Seperti shalat lima waktu misalnya. Sedih juga kalo kita tahu ternyata masih ada sebagian temen-temen kita yang shalatnya angin-anginan. Kalo disuruh ortu dengan ancaman pemblokiran uang jajan, baru deh mau shalat meski dengan berat hati. Pas lagi bareng bokin yang baru jadian, shalat nggak pernah ketinggalan. Tapi pas nggak disuruh ortu atau nggak terancam pemblokiran uang jajan, shalatnya tergantung mood. Gitu juga pas lagi sendiri tanpa kehadiran pujaan hati, urusan shalat mah entar-entar dulu. Payah deh!</p>
<p>Kewajiban menutup aurat juga mengalami nasib yang sama. Banyak remaja muslimah yang baru mau nutup aurat alias pake kerudung dan pakaian tertutup saat mau ikut pengajian atau pesantren kilat. Nggak enak kalo keliatan ustadz nggak nutup aurat. Ada juga yang rajin pake seragam sekolah yang menutup aurat lantaran diwajibkan sekolah. Diluar itu, mereka kembali ke alamnya yang dijejali tren fashion yang mengumbar aurat dalam berbusana. Sayang ya?</p>
<p>Sobat, mental â€?taat kalo diliatâ€™ ini memang gaswat kalo dibiarkan. Remaja bisa terbiasa jadi munafik. Plus bisa terkontaminasi penyakit riyaâ€™ yang seneng dipuji atau diliat orang. Dua sikap ini yang bisa menggerogoti keikhlasan kita dalam beramal kebaikan. Nabi saw. bersabda: â€œAku akan memberitahukan beberapa kaum dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung tihamah yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebaran. Tsaubah berkata: â€œWahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya.â€? Rasulullah saw. bersabda: â€œIngatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapa pun ketika menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggarnya.â€? (HR. Ibnu Majah).</p>
<p>Tuh kan sobat, cuma para pengecut yang pantas punya mental â€?taat kalo diliatâ€™. Mungkin aja dia merasa hebat dan jagoan bisa lolos dari pengawasan atas pelanggarannya, tapi sebenernya dia justru berjiwa kerdil yang nggak punya nyali untuk tetep komitmen dengan perilakunya yang terpuji. So, udah deh buang jauh-jauh mental pecundang ini. Atau kamu bakal tekor dunia-akhirat? Ih, amit-amit.</p>
<p><strong>Cuma taat kalo diliat, kenapa?<br />
</strong>Mental â€œtaat kalo diliatâ€™ tumbuh subur lantaran empat hal: niat, sanksi, pengawasan, en kesadaran.</p>
<p>Pertama, niat. Kita pasti tau kalo niat selalu ada di balik setiap perbuatan. Terlepas apa niat itu udah direncanain jauh-jauh hari atau spontan. Untuk ketaatan pada aturan, nggak semuanya enjoy jalaninnya. Aturan udah kadung dianggap ngebatasin gerak. Kalo ngadepin aturan, bawaan niatnya jelek mulu. Pikirnya, aturan ada untuk dilanggar, bukan untuk ditaati. Walhasil, kalo niat udah kuat, ngelanggar aturan jadi kebiasaan. Malah perbuatan dosa pun dianggap sepele. Dari sekedar nggak shalat, nggak nutup aurat, sampe jadi pelaku tetap maksiat apa pun. Cuma lantaran nggak ada yang liat. Berabe kan?</p>
<p>Kedua, sanksi. Sebuah aturan bakal tegak en punya power buat ngatur kalo ada sanksi yang tegas. Tanpa itu, orang bisa setengah-setengah taat ama aturan. Jangan mentang-mentang punya duit, aturan bisa dibeli. Sementara yang duitnya pas-pasan, kudu relapaksa hadir di pengadilan. Kalo rasa adil itu pilih kasih, orang nggak ngerasa penting untuk taat aturan. Ya, untuk apa taat, kalo yang nggak taat pun bisa seenaknya ngebeli aturan. Kalo udah begini, taat sama dengan makan ati. Cuapek deeeh!!</p>
<p>Ketiga, pengawasan. Ketegasan sanksi nggak punya arti tanpa pengawasan. Makanya, pengawasan yang kendor terhadap aturan, memancing orang untuk maen curang. Nggak ada polantas alias polisi lalu lintas, berarti ada kesempatan untuk nyari jalan pintas. Payah!</p>
<p>Keempat, kesadaran. Ini gerbang terakhir sebelum seeorang ngelanggar aturan. Niat udah kuat, sanksi nggak ketat, yang ngawasin juga nggak ada di tempat, berarti tinggal selangkah lagi. Kalo dia sadar ada beban moral untuk melanggar atau ngerasa bakal bikin rugi semua pihak, tentu mikir-mikir lagi untuk nggak taat. Sayangnya, beban moral terlalu lemah untuk mencegah pelanggaran. Di zaman nafsi-nafsi kayak sekarang, moral udah jadi almarhum. Yang ada tinggal kepentingan diri sendiri dan cuek dengan sekitarnya. Nggak asyik tuh!</p>
<p>Sobat, dari keempat faktor di atas, yang terakhir kudu dapet perhatiin khusus. Yup, soalnya kalo kesadaran seseorang dilandasi dorongan yang shahih, tentu nggak gampang tergoda melanggar aturan. Mesti niat, sanksi, atau pengawasan udah kondusif. Di sinilah pentingnya kita punya kesadaran shahih yang nggak cuma ngandelin beban moral. Dan itu ada dalam Islam. Yuk!</p>
<p><strong>Allah pasti Ngeliat, Bro!<br />
</strong>Sebagai seorang muslim, kita udah sering dengar sifat-sifat Allah yang biasa dikenal dengan sebutan asmaâ€™ul husna. Keyakinan terhadap asmaâ€™ul husna ini yang mengokohkan keimanan kita kepada Allah Swt. Keimanan yang akan melahirkan kesadaran akan adanya Allah dalam setiap perilaku kita di dunia. Penting nih!</p>
<p>Salah satu sifat Allah yang mulia itu adalah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Itu artinya, Allah bisa melihat dan mengetahui setiap perilaku hambaNya baik di tempat terang maupun tempat yang tersembunyi. Termasuk mengetahui letak semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Tuh kan, makhluk kecil yang tak terjangkau penglihatan manusia aja dengan mudah diketahui Allah, gimana kita yang ukurannya beberapa ratus kali lipat dari ukuran semut. Makanya nggak wajar kalo kita selaku muslim merasa nggak ada yang ngawasin perbuatan kita saat berbuat maksiat.</p>
<p>Dalam sebuah kisah pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, terjadilah dialog antara ibu penjual susu dengan putrinya.<br />
â€œTidakkah kau campur susu daganganmu dengan air? Subuh telah datang,â€? kata sang Ibu.<br />
â€œBagaimana mungkin aku mencampurnya, sedangkan Amirul Mukminin telah melarang mencampur susu dengan air?â€? jawab putrinya.<br />
â€œOrang-orang telah mencampurnya. Kau campur saja. Toh, Amirul Mukminin tidak akan tahu.â€?<br />
Putrinya menjawab, â€œJika Umar tidak tahu, Tuhan Umar pasti tahu. Aku tidak akan mencampurnya karena dia telah melarangnya.â€?<br />
Dari kisah di atas, kita bisa ambil pelajaran berharga bahwa pengawasan manusia terbatas, namun pengawasan Allah unlimited!</p>
<p><strong>Lolos di dunia, belum tentu di akhirat<br />
</strong>Sobat, di antara kita mungkin udah tau celah untuk lolos dari razia polantas. Ada juga yang mahir ngibulin guru biar bisa cabut tepat waktu. Atau mungkin udah terbiasa menghilangkan jejak agar tak terdeteksi oleh pengawasan ortu. Tapi siapa yang jamin kamu bisa sembunyi dari pengawasan Allah? Nggak ada. Kalo kamu ngerasa aman dan bebas ngelanggar aturan Allah cuma lantaran Allah nggak terlihat, siap-siaplah menghadapi rasa takutmu yang menjadi-jadi di akhirat nanti.</p>
<p>Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman: â€œDemi kemuliaanKu, aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepadaKu di dunia, maka Aku akan memberikannnya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dariKu di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat.â€? (HR Ibnu Hibban)</p>
<p>Karena itu, agar kita nggak ngerasa aman dari Allah di dunia, Allah udah ngasih konsekuensi pahala dan dosa untuk ngukur ketaatan kita pada syariatNya. Kalo kita senantiasa taat dan ikhlas dalam ngikutin tuntunan Allah dan RasulNya di hari-hari kita, kita bisa meraih pahala. Sebaliknya, kalo kita melanggar atau taat setengah hati terhadap Allah, dosalah yang kita dapetin. Semuanya bakal diperlihatkan pada kita diakhirat nanti.</p>
<p>Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS al-Zalzalah [99]: 7-8)</p>
<p>Hanya ada satu cara untuk memperkuat kesadaran akan adanya Allah Taâ€™ala, yaitu dengan ngaji. Yup, dengan mengaji kita selalu diingatkan akan kebesaran Allah dengan sifat-sifatNya yang mulia, kelengkapan syariatNya untuk mengatur hidup kita, dan kasih sayang Allah bagi hamba-hambaNya yang selalu berusaha untuk taat di segala situasi dan kondisi. Selalu pake ukuran dosa atau pahala sebelum berbuat.</p>
<p>Kini, saatnya kita menguatkan kesadaran kita akan adanya Allah Swt. dan sifat-sifatNya. Cukup mental â€?taat kalo diliatâ€™ hanya ada dalam pariwara aja. Nggak usah ditiru dalam berperilaku. Sebaiknya kita berprinsip: dengan atau tanpa pengawasan dari manusia, kita tetep taat ama aturan Allah. Karena Allah Swt. pasti ngeliat, malaikat Raqib dan Atid selalu mencatat, so, taat syariat nggak kenal tempat.[Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA Edisi 336/Tahun ke-8/9 April 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/taat-kalo-ada-yang-liat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Audisi Penghuni Surga</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/audisi-penghuni-surga</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/audisi-penghuni-surga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 06:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/audisi-penghuni-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Jujur aja nih, kita pantas bertanya: baik dalam hati maupun teriak keras. Bertanya tentang apa? Lengkapnya bukan bertanya aja, tapi sekaligus mempertanyakan. Kita harus bertanya: mengapa begitu banyak temen-temen remaja yang berebut ambil jatah untuk audisi jadi seleb? Lihat aja, bukan cuma rela berkeringat dan pegal menunggu giliran audisi KDI dan Indonesian Idol, tapi begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur aja nih, kita pantas bertanya: baik dalam hati maupun teriak keras. Bertanya tentang apa? Lengkapnya bukan bertanya aja, tapi sekaligus mempertanyakan. Kita harus bertanya: mengapa begitu banyak temen-temen remaja yang berebut ambil jatah untuk audisi jadi seleb? Lihat aja, bukan cuma rela berkeringat dan pegal menunggu giliran audisi KDI dan Indonesian Idol, tapi begitu semangat ketika memamerkan keahliannya menyanyiâ€”dan tentu bergayaâ€”di depan juri audisi acara tersebut.<span id="more-340"></span></p>
<p>Pertanyaan tadi kudu terjawab. Nah, sebelum menjawab pertanyaan, saya justru ingin mempertanyakan: mengapa audisi semacam itu yang ditumbuh-suburkan oleh pengelola media massa? Mengapa bukan audisi untuk berlomba dalam menggapai kehidupan akhirat? Kalo pun ada audisi dai (Dai TPI dan Pildacil), sayangnya nggak jauh beda dengan audisi untuk kepentingan entertainment semata. Cuma bungkusnya doang pake label islami. Ciloko!</p>
<p>Sobat muda muslim, sungguh kita prihatin banget dengan kondisi seperti ini. Sekadar membandingkan aja dengan â€?perlombaanâ€™ teman-temen remaja untuk â€?audisiâ€™ menjadi bintang di akhirat kelak. Mereka yang ikut audisi KDI dan Indonesian Idol mau aja untuk ngantri, berjubel ribuan orang. Buktinya bisa kamu saksikan berita tentang hal itu di televisi dan baca di media cetak. Iya kan? Tapi nih, untuk menghadiri majelis-majelis ilmu dan taushiyah yang hadir untuk â€?audisiâ€™ biar kepilih sama Allah Swt. untuk mendapatkan bekal amal baik di akhirat jumlahnya nggak seheboh audisi KDI dan Indonesian Idol. Iya nggak seh?</p>
<p>Terus nih, sungguh kita juga kecewa kok media massa (baik cetak maupun elektronik) seolah bersatu padu untuk memeriahkan audisi macam KDI dan Indonesian Idol. Iklannya gede-gedean, dan publikasinya sangat sering. Wajar dong kalo kemudian opini tersebut mendominasi informasi dan bikin temen-temen remaja kepengen banget ikutan untuk kepilih. Ya, siapa tahu jadi seleb dadakan di bidang olah vokal dan olah tubuhâ€”maksudnya menari yang seringnya kalo di KDI jadi murahan karena memamerkan auratnya. Halah!<br />
? <br />
<strong>Karena dunia lebih menyilaukan</strong><br />
Nah, ini jawaban buat pertanyaan pertama yang ditulis di awal obrolan kita tadi. Dunia memang menyilaukan. Perhiasanya rata-rata menyilaukan dan mempesonakan: harta, tahta, dan tentu ketenaran. Siapa sih yang nggak butuh duit? Siapa pula yang nggak mau punya jabatan? Ehm, angkat tangan kalo ada di antaramu ingin terkenal. Semua orang pasti ingin memiliki harta-tahta-popularitas. Iya kan? Apalagi sekarang ada jalan pintas untuk mendapatkannya. Jadinya ya, sangat wajar kalo ribuan teman remaja berlomba ikutan audisi untuk jadi seleb dadakan. So, niat udah kuat dan kesempatan dapat. Klop.</p>
<p>Boys and girls, dunia memang gemerlap. Siapa pun pasti terpesona dengan indah dan kerlap-kerlipnya kehidupan dunia. Ini memang fakta. But, apa karena terpesona dunia, lalu kita nggak pilih-pilih hiasan dunia itu? Boleh kok menikmati gemerlapnya dunia, asalkan hal itu sesuai tuntunan ajaran Islam, agama yang kita peluk dan jadikan cara hidup. So, nggak asal ambil aja. Kita punya patokan untuk menentukan baik-buruk, terpuji-tercela dan halal atau haram suatu perbuatan menurut ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Setuju kan?</p>
<p>Nah, itu artinya dalam hidup ini kita kudu punya pegangan. Kita wajib tahu dan sadar dari mana kita berasal, mau ngapain di dunia ini, dan akan ke mana setelah â€?pensiunâ€™ dari dunia ini. Kita berasal dari Allah Swt. Untuk apa di dunia? Untuk ibadah kepadaNya. Lalu, akan ke mana setelah mati dan ninggalin dunia ini? Jawabannya, kita akan kembali kepada Allah Swt. Makanya nih, di keranda jenazah biasanya ditutup kain hijau bertuliskan: â€œInnalillaahi wa inna ilaihi roojiuunâ€? (sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya). Yup, alasan yang paling masuk akal kenapa di keranda jenazah mesti ditulis seperti itu adalah untuk ngingetin kita yang masih hidup, bahwa suatu saat kalo ajalnya udah datang pasti menyusul teman atau saudara yang sedang diusung jenazahnya saat itu. Iya nggak sih? Kecuali kalo di tempatmu ada orang iseng dengan mengganti tulisan di keranda jenazah dengan tulisan: â€œYang tidak berkepentingan dilarang masuk!â€? Walah!</p>
<p>Oke, setelah kita tahu dan sadar soal kehidupan ini, lalu apa yang akan kita lakukan? Tentu, berlomba untuk memperbanyak amal shalih buat bekal di akhirat kelak dong ya. Itu alasan yang paling logis, Bro. So, wajar dong kalo kemudian kita berusaha untuk berlomba dalam kebaikan demi dapetin predikat penghuni surga. Perlu audisi atau tes juga kelihatannya ya. Surga emang nggak gampang untuk diraih, perlu ketahanan, kesabaran, semangat, dan yang utama adalah keimanan. Kita siap kan?</p>
<p><strong>Provokasi media massa<br />
</strong>Bro, publikasi acara audisi macam KDI dan Indonesian Idol emang gencar banget. Terutama tentu disyiarkan terus oleh jaringan media yang menjadi penggagas acara tersebut. MNC (Media Nusantara Citra) yang menaungi stasiun televisi TPI, RCTI, dan Global TV, juga menggurita di media cetak dengan bendera koran Seputar Indonesia dan Tabloid Genie terus mengobarkan opini dua program audisi tersebut.</p>
<p>Nah, karena disebarkan via media massa, maka jelas ada pengaruhnya dong ya. Baik bagi masyarakat secara umum maupun individu. Budaya massa bisa saja tercipta. So, kalo terus ditayangkan program pencarian bakat macam KDI dan Indonesian Idol (dan juga sejenisnya) ini, maka akan membekas dalam benak pemirsanya dan sangat mungkin menjadi budaya mereka. Ini bisa dibuktikan dengan teori agenda seting yang digagas Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Menurut dua pakar komunikasi ini, teori agenda seting bisa diliat dari seringnya media massa â€?memilihkanâ€™ topik tertentu bagi pemirsa atau pembaca sehingga mereka menjadi akrab dengan topik tersebut dan dianggap penting. Iya kan, Bro? Rasakan buktinya saat ini ya.</p>
<p>Sobat muda, provokasi media massa juga bakalan menumbuhkan pengaruh kepada individu dan juga masyarakat yang mengakses opininya. Satu lagi teori yang bisa membuktikan pengaruh dari media massa adalah teori Spiral of Silence alias spiral kebisuan yang dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman bisa menjadi dalil bahwa media massa cukup berpengaruh kepada masyarakat pemirsa atau pembacanya.</p>
<p>Menurut teori ini, individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi, dalam arti sendirian mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Itu sebabnya, orang akan mengamati lingkungannya untuk mempelajari pandangan-pandangan mana yang bertahan dan mendapatkan dukungan dan mana yang tidak dominan atau populer. Jika orang merasakan bahwa pandangannya termasuk di antara yang tidak dominan atau tidak populer, maka ia cenderung kurang berani mengekspresikannya, karena adanya ketakutan akan isolasi tersebut.</p>
<p>Maka nih, jika media massa secara agresif dan getol&#8211;apalagi itu dilakukan oleh banyak media&#8211;dalam nampilin gambaran tentang prestasi remaja dalam KDI dan Indonesian Idol atau ajang sejenis, maka pemirsa atau pembaca yang tak ingin terisolasi dari lingkungannya akan melakukan perintah seperti â€œapa kata mediaâ€?. Itulah alasan mengapa banyak bacaan dan visualisasi tentang audisi jadi seleb, dalam kasus ini, menjadi terus marak dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat secara luas. Meski tentu tak semua bisa terpengaruh memang. Tapi kita melihat dampak yang nyata secara umum. Betul?</p>
<p><strong>Siapa mau ikut ke surga?<br />
</strong>Jika ditanyakan kepada manusia, pilih surga atau neraka? Dengan pengetahuan yang seadanya, dengan bekal info minim bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah?</p>
<p>Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: â€œKetika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, â€?Pergi dan lihatlah (surga itu)â€™. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, â€?Tuhanku, demi keperkasaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinyaâ€™. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, â€?Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu)â€™. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, â€?Tuhanku, demi keperkasaanMu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinyaâ€™.â€?</p>
<p>Rasulullah saw. juga bersabda: â€œTatkala Allah Taâ€™ala menciptakan neraka, Dia berfirman, â€?Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)â€™. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, â€?Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemuliaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuai ia tidak berkeinginan untuk memasukinyaâ€™. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, â€?Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah neraka ituâ€™. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, â€?Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemualiaanMu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinyaâ€™.â€? (Dalam penjelasan kitab Sunan Abu Daud, hlm. 13-14)</p>
<p>Surga dan neraka adalah ibarat ganjaran bagi orang yang lulus ujian (semacam audisi kali ye?). Oya, perlu ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh Allah Swt.</p>
<p>Jangan bayangkan bahwa ujian selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan Allah Taâ€™ala justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekafiran. Tapi, jangan bayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari Allah. Sebab, siapa tahu sehat tapi nggak bersyukur kepada Allah Swt., kaya raya tapi kikir, tenar tapi merendahkan orang lain, berkuasa tapi dzalim. Iya nggak?</p>
<p>Ini kian meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan datang menghampiri kita selama itu. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada Allah Swt. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka.</p>
<p>Oke Bro, pertanyaannya sekarang, ada yang mau ikut audisi penghuni surga nggak? Kalu mau ikut audisi penghuni surga, maka dalam setiap kehidupan kita pastikan selalu dalam koridor syariat Allah Swt., yakni Islam. Bukan yang lain. Landasan berbuat kita adalah halal-haram menurut ajaran Islam. Penilaian kita terhadap suatu perbuatan apakah baik-buruk atau terpuji-tercela juga wajib mengikuti aturan baku yang ditetapkan Islam. Bukan yang lain. Tolong dicatet baik-baik ye. Makasih.</p>
<p>Sobat, syaratnya insya Allah mudah saja kalo pengen berhasil dalam â€?audisiâ€™ penghuni surga. Pertama, beriman kepada Allah Swt. Kedua, berilmu agar bisa membedakan mana yang salah dan benarâ€”baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ketiga, beramal baik. Keempat berdakwah, yakni melakukan amar maâ€™ruf (mengajak kebaikan) sekaligus nahyi munkar (melarang kemungkaran) baik melalui lisan maupun tulisan dan sarana lainnya. Kelima, ikhlas dalam setiap amal kita. Itu aja dulu ye.</p>
<p>Oke deh, semoga kita menjadi para penghuni surgaNya kelak. Yuk, mulai sekarang kita cintai Islam, pelajari, pahami, dan amalkan ajarannya. Jangan lupa semarakkan syiarnya dengan dakwah. Jangan kalah dengan syiar yang miskin manfaat apalagi syiar yang udah jelas maksiat kepada Allah Swt. Hidup kita di dunia ini cuma sekali dan sementara pula, Bro. Waktu kita makin berkurang setiap detik, maka mari berlomba dalam kebaikan untuk mendapat ridhoNya. Siap? [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 335/Tahun ke-8/2 April 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/audisi-penghuni-surga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Tiada Henti</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dakwah-tiada-henti</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dakwah-tiada-henti#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 06:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dakwah-tiada-henti/</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin kita pernah bertanya kepada diri sendiri: mengapa ada banyak orang yang mau bersusah payah mengingatkan orang lain? Mengapa ada begitu banyak orang yang rela kehilangan begitu banyak waktu hanya untuk menyampaikan kepada orang lain apa yang dipahami dan diyakininya? Mengapa selalu saja ada orang yang merasa harus peduli dan cinta kepada orang lain, sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin kita pernah bertanya kepada diri sendiri: mengapa ada banyak orang yang mau bersusah payah mengingatkan orang lain? Mengapa ada begitu banyak orang yang rela kehilangan begitu banyak waktu hanya untuk menyampaikan kepada orang lain apa yang dipahami dan diyakininya? Mengapa selalu saja ada orang yang merasa harus peduli dan cinta kepada orang lain, sehingga ia merasa perlu untuk menegur dan menyadarkan? Apakah kita sudah punya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut?<span id="more-339"></span></p>
<p>Seorang teman pernah menyampaikan bahwa ia merasa hampa dalam hidupnya. Padahal, ia sudah mendapatkan segala cita-cita dan keinginannya. Ia sudah bekerja di sebuah perusahaan asing. Perusahaan yang setidaknya memberikan jaminan hidup yang lebih dari cukup. Ia pun berambisi ingin meraih gelar sarjana, maka ia kuliah meski dengan susah payah karena harus berbagi waktu dengan pekerjaannya. Beberapa tahun kemudian berhasil lulus. Keluarga? Ia bahkan sudah lebih dulu menikah ketimbang saya yang waktu itu masih luntang-lantung tak karuan. Keluarga? Ia sudah punya anak-anak dan istri yang siap menemani, mendampingi dan menghidupkan hari-harinya.</p>
<p>Tapi mengapa ia merasa hampa dalam hidup, padahal ia sudah berhasil meraih segala yang diangankan dan diinginkannya selama ini? Bukankah sebuah kebahagiaan ketika kita bisa berhasil meraih apa yang selama ini kita harapkan? â€œMemang bahagia, tapi rasanya belum lengkap,â€? begitu jawabnya suatu saat.</p>
<p>Ia lantas bercerita bahwa dirinya merasa iri dengan teman-temannya semasa sekolah dulu dan saat itu masih sering bertemu karena ada sebagian yang bekerja di kota yang sama dengannya. Ia sampaikan bahwa ia merasa tak berarti apa-apa di hadapan teman-temannya. Meski jika dibandingkan secara ekonomi, beberapa temannya tak seberuntung dirinya. Tapi ia tetap memendam rasa iri sekaligus rasa kagum kepada teman-temannya yang senantiasa istiqomah dalam dakwah. Sementara ia sendiri merasa bahwa hidup sekadar menikmati untuk diri dan keluarganya saja. Ia pantas merasa iri dan kagum kepada teman-temannya yang, meski dengan kondisi jauh lebih sederhana darinya, tapi mampu berbagi dengan orang lain. Meski kehidupan ekonomi teman-temannya terbilang biasa, tapi baginya adalah istimewa. Karena teman-temannya bisa berbagi tenaga, berbagi waktu, dan berbagi ilmu dengan sesamanya.</p>
<p>Kemudian, tak lama setelah â€?curhatâ€™ kecil-kecilan itu, ia bertekad untuk membagi kehidupannya untuk orang lain. Ia sudah azzam-kan kuat-kuat dalam niatnya untuk terjun dan menyiapkan diri dalam barisan pengemban dakwah. Ia semangat mengkaji Islam dan tak kenal lelah mencari ilmu. Tak lama kemudian, dakwah telah menjadi pilihan hidupnya. Ia sudah menyiapkan segalanya untuk itu. Alhamdulillah. Tapi beberapa waktu lalu, terdengar kabar dari teman saya yang satu daerah dengannya. Kabar yang tak sedap tentang dirinya: ia futur dari dakwah. Innalillaahi. Mungkin ia belum sepenuhnya siap.</p>
<p>Sebelum bisa menulis seperti ini, sebelum bisa menyampaikan secara lisan kepada orang lain tentang Islam, saya termasuk orang yang cuek terhadap orang lain. Saya punya prinsip, â€œUrus diri sendiri, jangan campuri urusan orang lain. Dan yang terpenting: Jangan membuat susah orang lainâ€?. Itu saja sudah cukup bagi saya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.</p>
<p>Tapi, ternyata prinsip itu runtuh seketika saat seorang teman mengajak saya untuk merenung tentang hidup. Saya termasuk kagum kepadanya karena di usianya yang masih remaja (waktu itu SMA kelas 2) sudah berani berbicara tentang bagaimana memiliki rasa peduli kepada orang lain, ia sudah dengan tegas menyampaikan bahwa dakwah adalah perjuangan antara hidup dan mati. Entah dari siapa dan bagaimana caranya ia mendapatkan prinsip tersebut. Yang jelas dan pasti, pikiran dan perasaannya sudah jauh lebih dewasa dari fisiknya itu sendiri. Saya salut kepadanya. Karena ia telah begitu serius menyiapkan diri di jalan dakwah. Subhanallah.</p>
<p>Masih di tahun-tahun yang sama, awal tahun 90-an waktu itu, gairah mengkaji Islam di kalangan pelajar sangat semarak. Semangat mereka mampu membakar perasaan dan pikiran saya waktu itu. Saya bahkan merasa yakin, jika banyak anak muda yang memiliki semangat untuk mengkaji Islam, bukan mustahil bila Islam akan semakin banyak pendukungnya, pembelanya, dan pejuangnya. Akan banyak anak muda yang mengemban dakwah Islam dengan semangat berkobar-kobar laksana api yang membakar. Ia akan mendidihkan pikiran dan jiwa sesamanya untuk bangkit bersama membela Islam. Tentu, dengan tiada henti.</p>
<p>Kini, belasan tahun sejak saya tercerahkan dengan Islam, kebanggaan saya kian memuncak, karena ada banyak generasi pembela dan pejuang Islam yang masih belia, padahal jaman saya seusia mereka, saya masih senang main-main. Kini, semangat untuk mengemban dakwah mengalir sampai jauh ke generasi yang masih belia. Saya yakin, ini tidak jadi dengan sendirinya, tapi disiapkan oleh orang-orang yang punya semangat untuk menggerakkan segenap potensi yang dimiliki kaum Muslimin. Insya Allah, kemenangan Islam, bukan khayalan. Kemenangan Islam bukan juga mimpi atau ilusi. Tapi sebuah kenyataan. Insya Allah.</p>
<p><strong>Mari peduli dengan dakwah</strong><br />
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek terhadap dakwah berarti bukan mukmin sejati. Apa iya kita tega jika ada teman kita yang berbuat maksiat tapi kita diamkan saja?</p>
<p>Bahkan Allah Taâ€™ala memuji aktivitas mulia ini dalam firmanNya:</p>
<p>â€œSiapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: â€œSesungguhnya aku termasuk orang-orang muslimâ€??  (QS Fushshilat [41]: 33)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:</p>
<p>â€œSerulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.â€? (QS an-Nahl [16]: 125)</p>
<p>Menyeru kepada yang maâ€™ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga planet bumi ini. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Betul, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Subhanallah, inilah prestasi hebat para pendahulu kita. Itu karena mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat â€œtauhidâ€? di bumi ini dan punya kepedulian untuk menyebarkan dakwah dan jihad. Sesuai dengan seruan Allah Swt.â€œDan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.â€? (QS al-Baqarah [2]: 193)</p>
<p>Kini, jaman sudah jauh berubah ketimbang ribuan tahun lalu saat Islam mulai menyebar. Saat ini arus informasi makin sulit dikontrol. Internet, misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata banyak di antara kita yang harus mengurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Mengerikan.</p>
<p>Sobat, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.</p>
<p>Coba, apa kita tidak merasa risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja (dan juga orangtua)? Apa kita tidak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar dan tentunya orang dewasa yang makin meroket saja? Apa kita tidak merasa kesal melihat tingkah sebagian teman remaja yang hidupnya tak dilandasi dengan ajaran Islam?</p>
<p>Seharusnya masalah-masalah seperti inilah yang menjadi persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita tidak tenang jika belum berbuat untuk menyadarkan sesama dengan dakwah ini.</p>
<p>Itu sebabnya, kita sebisa mungkin melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda: â€œPerumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: â€œSeandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.â€? Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atau Rambo yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Jika kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita harus disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya alasan kenapa kita wajib berdakwah, menaruh peduli, dan tentunya menyiapkannya dengan benar dan baik.</p>
<p>Sobat muda muslim, biar dakwah kita mantap, mulailah menancapkan niat yang kuat untuk mengkaji Islam. Insya Allah, ketika udah mantap, tanpa harus dipaksa pun kita akan memulai berdakwah. Terus dan terus tanpa henti. Kata seorang teman, pokoknya â€œsejatiâ€? alias sekali jajal tak mau henti. Percayalah!</p>
<p>Oya, meski dalam dakwah pasti ada ujian dan fitnah, kita harus tetap sanggup bertahan. Jangan cengeng kayak Aas Rolani yang nyanyiin Tetes Banyu Mata 2 dalam irama tarling dangdut: â€œfitnahan lan hasutan wis ora sanggup nahanâ€? Halah! Jangan nyerah dong!</p>
<p>Sobat, Allah Swt. udah memotivasi kita:â€?You are the best!â€? Yup, â€œKuntum khairu ummah!â€? (kamu sekalian adalah umat yang terbaik!) Wuih, keren banget kan? Nah, biar disebut umat terbaik, maka kita kudu beriman kepada Allah Swt. serta aktif dan giat berdakwah (amar maâ€™ruf nahi munkar). Tentu, dengan tiada henti. Allahu Akbar! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 334/Tahun ke-8/26 Maret 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dakwah-tiada-henti/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cewek Juga Kudu Dakwah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cewek-juga-kudu-dakwah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cewek-juga-kudu-dakwah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 06:02:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cewek-juga-kudu-dakwah/</guid>
		<description><![CDATA[Jangan merasa serem dulu dengan judul di atas. Apa sih yang ada di benakmu kalo mendengar kosakata dakwah? Apakah sosok Bu Lutfiah Sungkar yang kalem dan keibuan dalam berdakwah? Ataukah sosok bu kyai kamu di pondok dan suka beri wejangan-wejangan dakwah ke muridnya? Hmm.. mungkin malah kamu kawatir bakal jadi guru agama kayak bu guru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan merasa serem dulu dengan judul di atas. Apa sih yang ada di benakmu kalo mendengar kosakata dakwah? Apakah sosok Bu Lutfiah Sungkar yang kalem dan keibuan dalam berdakwah? Ataukah sosok bu kyai kamu di pondok dan suka beri wejangan-wejangan dakwah ke muridnya? Hmm.. mungkin malah kamu kawatir bakal jadi guru agama kayak bu guru di sekolah?<span id="more-338"></span></p>
<p>Heheheâ€¦ kalem aja. Jangan kayak saya dulu yang udah merinding denger kata dakwah. Kesannya serius dan kerjaan para orangtua. Kita yang muda-muda gini rasanya ogah banget untuk mikir yang?  berat-berat. Tul nggak?</p>
<p>Tapi ternyata eh ternyata setelah tahu apa dakwah itu jadi ketagihan deh. Maunya pingin melakukan terus untuk â€?menjerumuskanâ€™ orang lain ke jalan yang benar (cieeâ€¦). Maksudnya sama-sama mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik sesuai dengan apa yang dimau oleh dakwah yaitu Islam. Kalo nggak percaya, simak terus yee. Jangan ke mana-mana sebelum tuntas, okay? Lanjuuuttt!</p>
<p><strong>Kenapa harus dakwah?<br />
</strong>Sejak diruntuhkannya daulah khilafah (negara Islam) tahun 1924 di Turki oleh Musthafa Kamal at-Taturk, praktis umat Islam berada pada kondisi yang mengenaskan. Tanpa negara, tanpa aturan Allah untuk mengatur kehidupan dan tanpa pelindung dari bahaya sipilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme). Contoh sederhana, bisa kamu lihat dari umat Islam yang ada di Irak dan Afghanistan yang jadi bulan-bulanan kafir penjajah Amerika. Harga nyawa umat Islam lebih murah daripada harga ayam. Tiap hari ada aja yang dibunuh dan muslimahnya banyak yang diperkosa oleh mereka.</p>
<p>Itu penjajahan yang terlihat secara fisik dan kasat mata melalui berita-berita di media. Lalu yang nggak terlihat alias tersamar bentuknya gimana? Bisa berbentuk penjajahan pemikiran dan bisa juga kebudayaan, tuh. Nggak usah jauh-jauh kalo mau ambil contoh tentang ini. Coba lihat fenomena remaja Indonesia yang mayoritas hobinya pada dugem dan foya-foya. Sudah prestasi belajar dan berkarya merosot, angka kejahatan dan maksiat malah makin meningkat. Sebut saja mulai dari merebaknya narkoba, seks bebas, saling bunuh antar teman, bunuh diri, dan masih banyak yang lain.</p>
<p>Eksploitasi perempuan terutama muslimahnya makin melonjak tajam. Hmm.. yang namanya lomba audisi jadi seleb full sebagai ajang pamer aurat menjamur di mana-mana. Popularitas, ketenaran dan budak uang menjadi gejala yang memprihatinkan. Sampai-sampai adik-adik kita yang masih balita tergoda untuk menirukannya. Coba perhatikan apa yang mereka dendangkan waktu nyanyi, mulai Lelaki Buaya Darat-nya Ratu, Aku Ingin Bercinta-nya Dewa 19, hingga lagu dangdut SMS-nya Trio Macan dan Jablay-nya Titi Kamal udah sangat dihapalnya.</p>
<p>Itu adalah sedikit gambaran tentang kondisi masyarakat kita. Coba bayangkan kalo kita diam saja terhadap semua kondisi nggak ideal ini, mau jadi apa masyarakat 10 tahun ke depan? Bukankah kata Rasulullah, gambaran masyarakat itu ibarat orang naik kapal. Ada yang berada di dek bawah dan ada pula yang di dek atas. Orang yang di dek bawah harus naik dulu bila mau minum. Karena malas naik turun akhirnya mereka berinisiatif untuk melubangi kapal aja supaya mudah untuk dapat air. Lha kalo orang yang ada di dek atas nggak peduli untuk menasehati maka alhasil kapal itu pasti tenggelam dalam waktu dekat.</p>
<p>Sama. Meskipun kamu merasa baik tapi nggak peduli dengan kemaksiatan yang dilakukan orang lain tanpa mau menasehati atau berdakwah pada mereka, maka tunggu saja kehancuran itu akan datang. Bukankah adzab itu nggak akan pilih-pilih kalo sudah ditimpakan pada suatu kaum? Baik yang saleh atau yang salah, semuanya pasti kena imbasnya. Makanya sebelum itu semua terjadi, dakwah yuk dakwah. Berangkaaat!<br />
? <br />
<strong>Dakwah yang kayak gimana?<br />
</strong>Dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam. Walah, istilah apa pula ini? Maksudnya Islam drjsk dulu kan udah pernah diterapkan dalam bentuk yang paling oke yaitu seluruh aturan diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari bukan saja atas nama individu tapi juga dalam tataran masyarakat dan negara. Wuihâ€¦top banget!</p>
<p>Nah, kondisi itu sudah nggak ada lagi sekarang. Makanya dakwah yang ada adalah upaya untuk mengembalikan Islam itu supaya diterapkan lagi dalam kehidupan. Jadi ideologi negara, gitu. Gimana caranya?</p>
<p>First of all, kamu kudu membenahi diri dulu. Ya iyalah, masaâ€™ mau berdakwah tapi kondisi diri masih kacau balau? Mulai detik ini, kuatkan tekad untuk menjadi seseorang?  yang lebih baik. Nah, untuk tahu gimana caranya jadi orang baik, maka kamu kudu ngaji. Nggak bisa nggak tuh. Harga pas. Nggak bisa ditawar lagi. So, untuk itu kudu ada orang yang bakal membimbing kamu supaya jadi orang baik. Mirip analogi or contoh kasus kapal di atas.</p>
<p>Ngaji di sini bukan ngaji sekadar baca al-Quran tanpa paham maknanya. Tapi ngaji yang mendalam hingga kamu dapetin ilmunya dan paham untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalo ini udah mendarah daging dalam diri, jangan diam aja. Sampaikan kebaikan Islam itu pada orang lain. Inilah yang namanya dakwah. Menyeru orang lain pada kebaikan yaitu al-Islam dan mencegah orang lain berbuat kemungkaran.</p>
<p>Oya, untuk berdakwah nggak harus nunggu hapal al-Quran seluruh juz dahulu baru berdakwah. Nggak kok. Tapi sesedikit apa pun ilmu yang kamu punya, sampaikan. Bukankah Rasulullah saw. pernah menyampaikan bahwa â€œSampaikanlah dariku meskipun satu ayatâ€??</p>
<p>Satu ayat ini kalo kamu bisa menerapkannya terus diikuti oleh orang lain, wuihâ€¦ ditanggung deh bisa jadi tabungan di akhirat kelak. Pahala yang kamu dapatkan sama dengan pahala orang yang melakukan kebaikan itu. Hal itu insya Allah akan makin berlipat-lipat manakala orang yang kamu dakwahi tadi berdakwah lagi, terus orang terakhir tadi mendakwahkannya lagi, begitu terus dan terus. Pahala akan mengalir ke kamu tak putus-putus. Keren banget kan?</p>
<p>Misal nih, sebagai contoh sederhana. Kamu paham bahwa menutup aurat bagi perempuan itu wajib. Selain kamunya sendiri sudah berkerudung dan berjilbab, kamu menyebarkannya juga pada teman-teman di sekeliling dan keluargamu. Terus nih, perbuatanmu ini diikuti sama mereka dan disebarkan lagi pada orang lain. Orang lain ini menyebarkan lagi pada orang-orang lain lagi. Selain kebaikan akan semakin bertambah banyak dan menyebar, pahala untuk kamu juga semakin bertambah, insya Allah. Hmmâ€¦ dan yang pasti kalo kamu lakukan semua ini dengan ikhlas karena Allah semata, ditanggung deh Allah Swt. pasti akan makin cinta sama kamu. Insya Allah.</p>
<p>Tapi ini cuma contoh kecil dari berdakwah. Sebab sesungguhnya Islam itu luas, bahkan bisa dikata setiap detil perbuatan kita di dunia ini nggak ada yang nggak diatur sama Islam. Menjadi kewajiban tiap individu muslim untuk memahaminya kemudian menjalankannya dalam amalan praktis sehari-hari.</p>
<p>Sobat, dakwah ini harus ada skala prioritas. Teman-temanmu yang muslim menjadi perhatian utama daripada yang nonmuslim. Bukan berarti menganak tirikan mereka yang nonmuslim, tapi bukankah Allah sendiri yang berfirman bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk Islam? Lagipula, mereka yang nonmuslim ini bakal tersentuh hati dan akalnya bila mereka nantinya melihat sendiri indahnya Islam bila diterapkan oleh pemeluknya.</p>
<p>Nggak kayak sekarang. Berapa banyak mereka mencemooh Islam hanya karena oknum yang mengaku muslim tapi sikapnya sangat tidak mencerminkan Islam. Belum lagi tuduhan terorisme, udik, bodoh, kuno, dan berbagai julukan nggak pantas lainnya. Itu semua disebabkan karena dakwah Islam nggak jalan. Makanya banyak di antara kaum nonmuslim itu sering salah sangka tentang Islam. Jangankan yang nonmuslim, lha wong dari kalangan muslim sendiri aja banyak kok yang nggak paham keindahan dan rahmatnya Islam. Betul itu!</p>
<p><strong>Cewek ambil peran<br />
</strong>Jangan mau jadi cewek pasif yang cuma buat pajangan tanpa karya nyata. Emangnya kamu boneka pake dipoles make up tebal kayak badut terus lenggak-lenggok di depan para lelaki? Idih, murahan banget! Nggak jaman, Non.</p>
<p>Cewek tuh merdeka, dari eksploitasi ataupun dari intimidasi. Walah, istilah apa pula ini? Maksudnya sudah nggak jaman, modal kecantikan fisik cewek dijadikan alat untuk mencari duit dan menggoda laki-laki. Cewek kudu diperhitungkan karena kiprahnya, peran nyata dengan modal kecerdasan, keimanan dan akhlaknya.</p>
<p>Begitu juga dalam dakwah. Jangan mau jadi obyek saja, tapi kita kudu jadi subyek yang akan merubah jaman. Plis deh coba kamu renungkan, dengan populasi penduduk dunia yang diyakini mayoritas adalah cewek, dan kemudian bayangkan kalo semuanya itu adalah perempuan sadar yang bertekad kuat untuk melakukan revolusi kebaikan dengan dakwah. Dijamin deh, kehidupan Islam yang kita cita-citakan bersama akan mudah terwujud, insya Allah. Karena sungguh, di balik lemah lembutnya cewek sebetulnya tersimpan kekuatan dahsyat di baliknya untuk mewarnai dunia. Masalahnya, warna apa yang akan kita torehkan itu bergantung pada kita sendiri, para cewek.</p>
<p>Meskipun dakwah cewek bisa ke semua kalangan, tapi sebetulnya ada fokus tertentu biar dakwah ini efektif. Cewek dakwah juga ke cewek. Bukan nggak boleh dakwah ke cowok, cuma seringnya bukannya dakwah malah jadi demenan. Nah lho! Kecuali kalo kamu bisa menjaga izzah sebagai muslimah, ini sih no problemo. Tapi jangan keterusan yah. Selanjutnya serahkan pada teman cowok yang udah ngaji duluan untuk membina teman cowok kamu itu. Sedangkan kamunya sendiri balik lagi deh fokus untuk membina cewek dan asyik berdakwah-ria dengan mereka.</p>
<p>Oya, dakwah bisa dilakukan baik dengan sendiri-sendiri ataupun bersama-sama, lho. Tapi ibaratnya sapu lidi, ia akan mempunyai kekuatan kalo dijadikan satu dalam ikatan yang sama. Kamu nggak bakal bisa menyapu dengan bersih hanya dengan sebatang sapu lidi. Beda banget kalo puluhan atau ratusan batang sapu lidi tadi diikat kuat dalam satu ikatan terus buat nyapu pasti bakal bersih bin kinclong.</p>
<p>Sama dengan dakwah. Meskipun bisa dilakukan sendiri-sendiri tapi hasilnya pastilah tidak seoptimal apabila dilakukan secara berjamaah. Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik bisa dikalahkan oleh kejahatan yang diatur dengan rapi. Tapi itu pun dengan catatan, kalo dakwahnya juga niat banget dan caranya benar sesuai tuntunan dakwah Rasulullah saw.</p>
<p>Eh, bukan dominasi cowok aja lho yang bisa mengatur langkah dakwah dengan rapi, cewek juga nggak kalah. Karena sesungguhnya perintah untuk berdakwah ini ditujukan emang buat hamba Allah baik cowok ataupun cewek. Betul kan?</p>
<p>Ibaratnya timbangan, cewek dan cowok di dunia ini saling bekerjasama dalam kebenaran dan kebaikan. Jadi, kalo pun cewek berdakwah, itu bukan dalam konteks saingan atau pun pemberdayaan perempuan sebagaimana slogan para feminis. Tapi dakwah ini sebagai bukti ketundukan diri seorang hamba Allah untuk mengharap ridhoNya semata.</p>
<p>Jadi, dakwah bukan monopoli para cowok or ibu kyai or ibu ustad aja. Tapi dakwah wajib bagi tiap individu yang mengaku dirinya muslim, tanpa dibedakan lagi jenis kelamin. Dari sini kalo mau bicara tentang kesetaraan, Islam sudah punya konsep ini jauh hari sebelum para feminis teriak-teriak. Namanya juga sistem hidup yang sempurna, maka sudah komplit-plit semua apa yang ada di dalamnya. Nggak ada yang namanya pameo surga nunut neraka katut. Terjemahan bebasnya sih, kemana pun para cowok pergi entah ke surga or neraka, cewek bisanya cuma ngikut aja. Idihâ€¦ogah banget!</p>
<p>Dalam Islam, cewek punya sikap untuk menentukan masa depannya sendiri. Mau masuk surga or neraka, cewek punya hak untuk memilih. Nggak cuma bisa ikut-ikutan. Mau mengubah dunia ini menjadi makin rusak or jadi lebih baik, cewek punya peran. Jadi keberadaan cewek emang kudu diperhitungkan dalam segala seginya. So, kalo kamu emang cewek oke, yuk kita pilih surga dengan melakukan dakwah demi mengubah wajah dunia menjadi indah dalam naungan Khilafah yang menerapkan syariah Islam. Setuju? Pasti dong, namanya aja cewek oke. Iya kan? Siiipppp dah! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 333/Tahun ke-8/19 Maret 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cewek-juga-kudu-dakwah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Santriwati Gaul</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/santriwati-gaul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/santriwati-gaul#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 05:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/santriwati-gaul/</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan para santri ternyata bisa diangkat kisahnya jadi cerita yang lumayan menarik. Paling nggak bisa kita nikmati dalam sinetron yang tayang di TPI akhir-akhir ini (setiap hari Minggu, jam 19.00 WIB). Yup, judulnya Santriwati Gaul. Dibintangi tiga artis remaja yang ngetop sebelumnya di layar lebar. Mereka adalah Zhi F, Tania Harjosoebroto dan Fitria Rachmadina. Zhi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehidupan para santri ternyata bisa diangkat kisahnya jadi cerita yang lumayan menarik. Paling nggak bisa kita nikmati dalam sinetron yang tayang di TPI akhir-akhir ini (setiap hari Minggu, jam 19.00 WIB). Yup, judulnya Santriwati Gaul. Dibintangi tiga artis remaja yang ngetop sebelumnya di layar lebar. Mereka adalah Zhi F, Tania Harjosoebroto dan Fitria Rachmadina. Zhi F dan Tania adalah pemeran di film horor Bangku Kosong. Sementara Fitria Rachmadina di film Bintang di Surga. Oya, pemeran lain di sinetron Santriwati Gaul ini adalah Gunawan dan Renny Umari. <span id="more-337"></span></p>
<p>â€œSelama ini, pesantren masih dianggap sebagai pilihan sekunder dalam sebuah sistem pendidikan formal di negara kita. Padahal, tak sedikit pesantren modern yang punya sistem pendidikan yang bagus,â€? ujar sutradara Gambulano APH mengenai misi yang terkandung dalam Santriwati Gaul (<a href="http://seputar-indonesia.com/">http://seputar-indonesia.com</a>, 20/01/2007)</p>
<p>Lebih lanjut menurut Gambulano, Santriwati Gaul adalah sinetron sosial dengan pendekatan komedi berlatar belakang pesantren dengan tiga orang gadis remaja sebagai tokoh utamanya. Mereka adalah sosok remaja yang tengah mencari jati diri, layaknya remaja lain. Namun karena alasan tertentu, ketiga orangtua mereka memilih pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dapat membimbing anak gadis mereka menjadi manusia yang bisa diharapkan di kemudian hari.</p>
<p>â€œPada intinya, tiga santriwati yang menjadi inti dalam sinetron ini adalah gambaran gadis remaja pada umumnya,â€? ungkap Gambulano. Dikisahkan, Aulia (Zhi F), Betty (Tania Harjosoebroto), dan Mardiyah (Fitria Rachmadina), tiga murid Pesantren Kharisma Hati yang tinggal sekamar dan bersahabat. Aulia adalah anak pengusaha kaya yang cantik, modis, gaul, berani, serta memiliki gaya bicara ceplas-ceplos. Sementara Betty, seorang gadis gendut, gemar makan, cuek, berani, tetapi sembrono, datang dari keluarga pedagang kaya. Adapun, Mardiyah adalah gadis keturunan priyayi Solo yang cantik, jujur, dan lugu. Oya, Aulia adalah sosok yang mengenal seluk-beluk dunia remaja metropolis.</p>
<p>Bro, cerita di sinetron ini cukup unik dan karakternya cukup kuat dari setiap tokohnya. Selain karakter tiga santriwati seperti yang udah dipaparkan tadi, ada juga karakter ustad Sobri yang diperankan Gunawan. Digambarkan bahwa ustad Sobri ini orangnya bijaksana, pintar, welas asih, gentleman ditambah paras yang rupawan. Karakter berikutnya adalah Ustadzah Habibah (Renny Umari) yang rada-rada galak, sinis (terutama kepada Aulia), judes, dan suka caper alias cari perhatian (terutama dari ustad Sobri).</p>
<p>Inilah sekilas gambaran tentang sinetron Santriwarti Gaul keluaran Starvision yang kini sedang tayang di stasiun televisi TPI.</p>
<p><strong>Masih minim tuntunan</strong><br />
Sebagai sebuah tontonan yang menghibur, sinetron ini cukup menyegarkan di tengah derasnya sinetron remaja yang melulu tentang cinta dan hedonisme. Santriwati Gaul boleh dibilang beda. Meski tentu saja masih memiliki kekurangan di sana-sini. Terutama soal pesan tuntunan Islam yang ingin disampaikan dalam cerita itu masih kurang menekan.</p>
<p>Sekadar contoh aja dalam dua episode yang pernah tayang, Kamus Nabi Yusuf dan Kemelut di Tengah Musibah. Kalo dilihat dari segi penceritaan bisa dibilang lumayan bagus. Alurnya mengalir enak dan banyak adegan kocak yang segar. Tanpa dibuat-buat. Namun, soal isi masih perlu pembenahan. Misalnya tentang hubungan pergaulan antara laki dan wanita. Memang, dalam kehidupan nyata tentang longgarnya pergaulan antara laki dan perempuan, termasuk di lingkungan pesantren, faktanya memang ada. Bahkan sangat boleh jadi dalam sinetron ini adalah menangkap pesan yang udah nyata di lapangan.</p>
<p>Dikisahkan misalnya dalam episode Kamus Nabi Yusuf, Ustad Sobri yang merasa iba kepada Rena, yang mengaku bahwa perbuatan tak terpuji yang dilakukannya kepada Aulia dkk adalah karena minimnya pemahaman agama, akhirnya mau ngajarin Rena mengaji.</p>
<p>Nah, sebetulnya di sini jadi masalah. Sebab, pergaulan antara laki dan perempuan masih longgar. Padahal, supaya nggak terjadi hal-hal yang bisa mengantarkan kepada maksiat atau minimal fitnah, seharusnya Ustad Sobri nggak ngajarin Rena ngaji (kan bisa sama ustadzah atawa santriwatinya). Apalagi hal itu dilakukan di luar pesantren, yakni di rumah Rena. Udah gitu, nggak ada mahramnya lagi. Wah, dalam kehidupan nyata pun, kata Rasulullah saw., setan adalah pihak ketiga yang menyertai pertemuan mereka. Terbukti, dikisahkan bahwa Rena sebenarnya pura-pura aja minta diajarin ngaji karena niat utamanya adalah ingin memperdaya Ustad Sobri dan berusaha untuk memfitnahnya bahwa Ustad Sobri hendak memperkosanya.</p>
<p>Masih di episode itu, Ustad Sobri juga digambarkan mau aja alias nurut ketika Ustadzah Habibah meminta ditemenin ke toko buku. Lucunya, pas hendak ke toko buku, mereka berdua kepergok Ustad Mubin. Tapi Ustad Mubin bukannya melarang mereka agar tidak berduaan (berkhalwat), eh ternyata malah ngajak mereka naik mobilnya dengan alasan tempat yang akan ditujunya searah dengan yang dituju Sobri-Habibah. Waduh!</p>
<p>Oya, dalam episode Kemelut di Tengah Musibah juga sama, meski niat Ustadzah Habibah untuk berangkat umrah bareng Ustad Sobri nggak kesampaian, tapi penggambaran sikap Ustad Sobri yang mau saja diajak bareng sama Ustadzah Habibah pergi umroh menjadi fakta bahwa aturan pergaulan pria-wanita itu sangat longgar. Padahal, mereka jelas-jelas dalam cerita itu bukan mahram.</p>
<p>Sobat, ini memang kisah fiksi. Bahkan sangat boleh jadi terinspirasi dari kehidupan nyata. But, jika emang ingin memberikan tuntunan, bisa ditayangkan pesan singkat dari seorang ustad yang mengomentari cerita sinetron yang baru saja ditayangkan. Misalnya, â€œSinetron yang baru saja Anda saksikan, memang gambarannya bisa jadi ada dalam kehidupan nyata di sekitar kita. Namun, penggambaran dalam sinetron ini hanyalah sebagai salah satu pemaparan fakta dalam bentuk visual. Bahwa inilah akibat longgarnya aturan yang mengikat hubungan antara laki-perempuan yang sebenarnya sudah dijelaskan dalam Islam. Sehingga pemirsa diharapkan tidak terinspirasi dengan isi cerita ini untuk melakukan kemaksiatanâ€?</p>
<p>Hmm.. tapi kalo pesan singkat dari tokoh agama di akhir cerita dianggap sebagai bentuk yang menggurui atau menghakimi, bisa saja diciptakan satu tokoh yang terlibat dalam cerita itu yang selalu menjadi pengingat bagi beberapa adegan maksiat atau mendekati maksiat yang dilihatnya. Sehingga pemirsa menjadi tahu bahwa sebenarnya mereka sedang diberikan wawasan baru. Mengkritisi fakta dengan standar ajaran Islam. Bukan malah pemirsa dibiarkan menilai sendiri.</p>
<p>Boys and gals, tapi terlepas dari itu semua, sebenarnya masih ada pertanyaan besar: bolehkah secara hukum syara, orang-orang yang terlibat dalam sinetron tersebut itu dan melakukan adegan yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam? Sebab, gimana pun juga sebagai Muslim kita terikat dengan aturan Islam. Belum lagi kalo ngomongin soal perilaku para pemeran di luar sinetron. Kita kadang berpikir: apa mereka kemudian nggak merasa harus menjadi baik terus setelah membintangi sinetron religi? Apakah itu hanya dilakukan sebatas tuntutan skenario aja? Lalu lenggang kangkung di luar sinetron; misalnya cuek aja nggak pake kerudung dan jilbab? Hmm.. lain kali mungkin kita bisa bahas deh.</p>
<p><strong>Gaul tapi syarâ€™i dong ya</strong><br />
Sobat muda muslim, Islam nggak melarang kok kita gaul. Tapi tentu aja syaratnya adalah bahwa gaulnya masih dalam batasan yang dibolehkan dalam ajaran Islam. Kalo ngelihat tayangan sinetron Santriwati Gaul, kayaknya ada yang perlu diluruskan deh. Terutama pergaulan yang kesannya longgar banget antara pria dan wanita, dan itu sangat boleh jadi memang faktanya banyak terjadi di kehidupan nyata, termasuk di lingkungan pesantren.</p>
<p>Padahal nih, alangkah lebih kerennya lagi kalo orang yang ngerti agama tuh nggak kuper dan paham batasan syariat. Orang-orang yang seperti Ustad Sobri dan Ustadzah Habibah sangat boleh jadi banyak di kehidupan nyata. Maklumlah, meski di lingkungan pesantren tapi kan dunia ini udah sangat sesak dengan aturan Kapitalisme-Sekularisme, sehingga boleh dibilang pengaruhnya bisa saja menggerus kehidupan para santri dan orang yang ngerti agama. Bisa aja kok. Sehingga jadi nggak ada bedanya dengan orang awam dalam kelakuannya kecuali simbol dan predikat yang menyertainya. Bahkan malah jadi malu-maluin kan orang yang paham agama tapi masih suka gaul bebas dengan lawan jenis. Halah!</p>
<p>Bro, idealnya memang orang yang ngerti agama tuh selain seneng mengenakan simbol agama, juga pikiran dan perasaannya taat juga dengan aturan agama. Kalo cuma mengenakan peci dan baju koko, siapa aja bisa dan mampu. Kalo hanya mengenakan kerudung dan jilbab, orang kafir aja bisa kok mengenakannya. Kita jadi nggak tahu apakah mereka muslim atau bukan. Bahkan sangat boleh jadi penilaian kita langsung menyimpulkan kalo yang mengenakan simbol agama (Islam) itu adalah Muslim atau Muslimah. Betul nggak? Wong dalam film Ar Risalah aja, pemeran Hamzah adalah bintang Hollywood bernama Anthony Queen, yang pada waktu itu bukan Muslim. Meski ada kabar (yang masih perlu dicek kebenarannya) setelah main di film itu, doi kemudian masuk Islam. Wallahuâ€™alam.</p>
<p>Tapi soal pikiran dan perasaan yang akan menggerakkan tingkah laku kita, itu yang nggak bisa ditutup-tutupi. Rambut boleh ditutupi kerudung, seluruh tubuh dihijab jilbab, tapi kalo perbuatannya tak mencerminkan ajaran Islam, ya perlu dipertanyakan keislamannya. Misalnya, orang tersebut malah menyerang ajaran Islam dan semangat menyerukan ide feminisme.</p>
<p>Begitu pula kalo ada anak cowok yang pake peci, baju koko, berjenggot, aktif di rohis, tapi masih senang pacaran, atau minimal gaul bebas dengan lawan jenis (meski dengan sesama anak rohis), itu juga nggak bisa ditutup-tutupi karena udah nyata perbuatannya. Perbuatan yang bisa diukur sebagai pembeda mana yang ngerti ajaran Islam dan yang nggak. Selain itu, tentu saja perbuatannya yang seperti itu adalah melanggar hukum syaraâ€™. Nah, jadi kudu ati-ati deh. Gaul tentang segala hal bukan berarti kemudian mencoreng predikat santri atau anak ngaji yang ngerti Islam. Jadi, kudu tahu batasannya, dan itu standarnya adalah Islam. Tul nggak sih?</p>
<p><strong>Tunjukkin kepribadian Islam kita!<br />
</strong>Sobat muda muslim, kepribadian Islam atau syakhsiyyah islamiyah kita itu nggak bisa dinilai langsung dari pakaian yang dikenakan, lho. Sebab, itu cuma aksesoris dan bisa dipake untuk nipu bin ngibulin orang. Tapi standar penilaian kepribadian Islam adalah pemikiran dan perasaan. Pemikiran dan perasaan Islam ini akan tergambar dalam sikap dan perbuatan. Itu udah pasti. Sebab, yang namanya tingkah laku pasti ngikutin pemikiran dan perasaan. So, kalo pemikiran dan perasaannya udah islami, insya Allah perbuatan dan tingkah laku juga bakalan Islami.</p>
<p>Itu sebabanya, kalo ada akhwat yang kepribadiannya udah islami, maka bukan saja ia gemar mengenakan jilbab dan kerudung, tapi juga pemikiran dan perasaannya senantiasa berdasarkan ajaran Islam. Beda banget kalo yang cuma nyadar dengan simbol doang, tapi belum mantap pemikiran dan perasaannya. Mungkin cuma seneng pake kerudung doang tapi kelakuannya nggak mencerminkan seorang muslimah. Iya nggak sih?</p>
<p>Maka, satu-satunya jalan untuk menumbuhkan kepribadian Islam kita adalah belajar. Yakni, belajar Islam dengan rutin dan intensif biar mantap, gitu lho. Kenapa harus belajar? Karena dengan belajar diharapkan kita bisa dapetin perubahan beberapa aspek, yakni aspek kognitif alias ilmu pengetahuan (tadinya nggak tahu tentang Islam jadi tahu banyak), aspek afektif alias perasaan atau emosi (tadinya nggak mau mengenakan jilbab jadi mau mengenakan jilbab karena tahu aturan dan hukumannya&#8211;pahala dan dosa), dan aspek psikomotorik alias keterampilan (tadinya nggak bisa pake jilbab jadi mahir pakenya). Oke?</p>
<p>So, mari kita balajar mengkaji Islam dengan rutin dan intensif untuk membentuk kepribadian Islam kita. Rutin bisa seminggu sekali, misalnya. Intensif berarti materinya berkesinambungan. Membentuk kerangka berpikir yang utuh tentang Islam. Sehingga kita lebih mantap karena tahu ilmunya. Nggak asal ikut-ikutan tren doang. Betul nggak sih? So, jangan takut jadi pinter dan shaleh-shalihah ya! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 331/Tahun ke-8/5 Maret 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/santriwati-gaul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Itu&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cinta-itu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cinta-itu#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 05:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cinta-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Sobat muda muslim, jumpa lagi ama STUDIA ye. Edisi pekan ini, masih tentang cinta. Moga aja nggak bosen, dan nggak pernah bosen. Gimana pun juga, tema cinta tuh emang everlasting alias kagak ada matinye. Nah, di edisi ini, sengaja dan terpaksa STUDIA bahas soal cinta lagi. Tapi, semoga aja ini agak lain. Sebenarnya tema cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sobat muda muslim, jumpa lagi ama STUDIA ye. Edisi pekan ini, masih tentang cinta. Moga aja nggak bosen, dan nggak pernah bosen. Gimana pun juga, tema cinta tuh emang everlasting alias kagak ada matinye. Nah, di edisi ini, sengaja dan terpaksa STUDIA bahas soal cinta lagi. Tapi, semoga aja ini agak lain. Sebenarnya tema cinta yang akan ditulis di buletin ini udah banyak berseliweran di dunia maya, tapi STUDIA akan berusaha memodifikasinya, mempermaknya, dan men-syarah-nya dengan sudut pandang Islam yang lebih dalem, dan tentu dengan gaya STUDIA dong ya. Makasih buat yang udah nulis pertama kali artikel ini di internet. Penulis asli tulisan ini jadi nggak ketahuan karena tulisan tersebut udah berbiak di banyak situs dengan sumber â€œunknownâ€?.<span id="more-336"></span></p>
<p>Oya, ada beberapa penjelasan tentang cinta. Kamu kayaknya nggak ada salahnya kalo tahu soal ini. Oke, biar nggak makan banyak tempat dan ngebusa mulu di prolognya, kita jembrengin dan pretelin satu per satu tentang karakter cinta ini. Siap ya. Go!</p>
<p><strong>Cinta=perasaan sekaligus akal sehat</strong><br />
Bro, benar banget. Cinta emang soal rasa. Meski demikian, bukan berarti akal sehat ditaro di dengkul dong. Oya, karena cinta tuh sangat luas, maka penampakkannya juga ngikuti naluri yang dimiliki manusia. Misalnya aja nih, orang bisa cinta mati sama benda, juga bisa cinta sama Allah Swt, RasulNya, ortunya, kaum muslimin secara umum, dan juga sama lawan jenis. Cinta emang luas, Bro.</p>
<p>Betul banget, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat. Bohong besar deh kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita berasal.</p>
<p>Nol besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungan jawab bila perbuatan-perbuatan impulsif alias memperturutkan kata hati itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan. Waduh sadis banget bahasane.</p>
<p>Jadi nih, akal sehat tetap kudu kita jadikan pertimbangan juga biar nggak nyelenong ngikutin perasaan aja. Bisa bahaya besar, tuh!</p>
<p><strong>Cinta membutuhkan proses</strong><br />
Setuju banget deh. Cinta emang butuh proses. Butuh waktu agar bisa tumbuh perasaan satu sama lain. Ini khususnya cinta dengan lawan jenis ya. Eh, kalo pun ada orang yang love at first sight, tentunya bukan cinta namanya, tapi ketertarikan. Karena ketertarikan orang bisa dengan begitu mudah muncul manakala ada obyek yang memang menurutnya menyenangkan. Tapi cinta nggak begitu ternyata. â€œCinta itu tumbuh, berkembang dan merupakan emosi yang kompleks,â€? kata Bowman, salah seorang pakar psikologi.</p>
<p>Sobat, untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi emang nggak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu aja. Cinta nggak pernah menyerang tiba-tiba, nggak juga jatuh dari langit. Cinta datang kalo udah saling kenal dan memahami pribadi masing-masing meski nggak terlalu detil. Jadi, minimal emang kenal dulu: siapa sih si dia itu?</p>
<p>Itu sebabnya, cinta insya Allah bisa aja tumbuh kalo kita terus ketemu dan saling komunikasi. Teman dekat yang saling mencintai, itu hanya bisa dicapai setelah kedua partner itu lama hidup bersama. Sehingga tahu kebiasaannya masing-masing, tahu makanan favoritnya, warna kesukannya, sampe tahu jadwal tidurnya, tahu tempat nongkrongnya, dan segala hal yang berkaitan dengannya.</p>
<p>Begitu pun kalo kita mencintai Islam, akan semakin lengket dan bahkan bangga dengan Islam ketika kita udah lama â€?berkenalanâ€™ (baca: belajar) dengan Islam. Nggak mungkin tumbuh cinta kepada Islam kalo kitanya aja nggak berusaha mengenal lebih dalam tentang Islam dengan cara mempelajarinya. Setuju nggak?</p>
<p>So, kalo ada orang bisa jatuh cinta pada saat ketemuan pertama kali, sebenarnya bukan sedang jatuh cinta tuh, tapi sedang tertarik satu sama lain dengan ketertarikan yang amat sangat luar biasa. Hal ini perlu ditindaklanjuti, yakni dengan berusaha untuk mengenal lebih dekat dan lebih dekat lagi. But, kudu tahu rambu-rambu juga dong kalo urusannya dengan lawan jenis yang bukan mahram. Sebab, nggak bisa bebas sesuka kita tuh. Boleh kenalan lebih dalam, kalo niatnya emang untuk menikah degannya. Ssstt&#8230; kalo untuk pacaran? Hah? Hari gini masih pacaran? Nggak lha yauw!</p>
<p><strong>Cinta itu konstruktif</strong><br />
Well, kita kayaknya kudu setuju nih kalo cinta itu emang konstruktrif. Eh, jangan-jangan ada teman kita (atau kita sendiri?) yang mendadak jadi kreatif, ngedadak jadi suka pake wangi-wangian biar nggak BB, ngedadak juga jadi senang baca novel cinta. Padahal, sebelum tertarik dengan salah seorang dari lawan jenis, mandi sekali sehari aja udah untung banget. Wah, kok males mandi sih, Bro?</p>
<p>Boys and gals, seseorang yang mencintai bisa berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia bakalan berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Wuih, keren banget deh.</p>
<p>Eit, tapi tunggu dulu. Sebab, ada juga orang ketika jatuh cinta ternyata malah amburadul. Kok bisa sih? Hmm&#8230; orang model gini,?  bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, tapi dia malah kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Doi cuma memikirkan kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi pengganti kenyataan. Parah banget, Bro!</p>
<p>Kalo ada orang yang jatuh cinta tapi malah bikin lemah dan loyo kayak gini, berarti dia belum mampu memaknai cinta. Jangan-jangan lebih banyak ngelamunnya karena terjerat mimpi-mimpi indah kalo sampe mencintai lawan jenis yang dia idamkan itu. Padahal, yang namanya cinta nggak begitu kok. Cinta itu konstruktif. Bisa membangun segala daya cipta dan kreativitas kita. Suer!</p>
<p><strong>Cinta tak melenyapkan semua masalah</strong><br />
Konon kabarnya, penganut faham romantik percaya banget bahwa cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit. Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta nggaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih (suami-istri) berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang berarti nggak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem. Betul nggak?<br />
Maka, kalo misalnya kita mo nikah, selain cinta tentu kudu ada persiapan ilmu, mental, dan juga jaminan untuk nafkahnya, lho. Kalo modalnya cinta doang, harus dipertanyakan tuh, sebab menikah bukan cuma modal cinta. Suer. Kalo nggak punya beras, apa cukup dengan cinta? Nggak kan? Cinta tuh hanya akan memotivasi kita untuk mencari jalan keluar supaya bisa dapetin beras. Misalnya, bisa dengan nyari pinjeman uang, atau ngutang dulu ke warung sebelah, bahkan banyak juga orang yang kemudian dapetin beras spanyol alias separo nyolong (hehehe.. kalo yang terakhir ini sih jangan kamu lakuin deh)</p>
<p><strong>Cinta cenderung konstan</strong><br />
Ya, cinta itu bergerak konstan, sobat. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada sesuatu atau kekasih (suami-istri or calon suami dan calon istri) yang kita cintai tuh turun-naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis.</p>
<p>Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan (baca: suami-istri), kita menyukainya dalam kadar sebanding.</p>
<p>Nah, begitupun kalo kita mencintai Allah Swt, RasulNya, dan juga Islam. Cinta kita bisa dibilang hebat kalo sinyalnya terus-menerus kuat. Nggak ada blank spot-nya. Di mana pun selalu ada sinyal kecintaan kita kepada Allah Swt., RasulNya, dan juga Islam. Cirinya apa? Contoh cinta kepada Allah Swt. Pas kita lagi seneng, tetap inget sama Allah Swt. Lagi sedih juga selalu inget sama Allah Swt. Kalo sebaliknya? Berarti cinta kita nggak konstan. Kalo nggak konstan berarti ada yang error. Jadinya bisa kena sindir Allah Taâ€™ala deh dalam firmanNya:</p>
<p>â€œDan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.â€? (QS al-Hajj [22]: 11)</p>
<p>So, cinta tuh seharusnya memang konstan. Kalo turun-naik grafiknya perlu dipertanyakan. Yuk, kita muhasabah diri. Oke?</p>
<p><strong>Cinta tak bertumpu pada daya tarik fisik</strong><br />
Dalam hubungan cinta dengan lawan jenis, daya tarik fisik bisa jadi penting. Tapi bahaya bila kita menyukai lawan jenis hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah sobat, itu hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan (baca: suami-istri) saling menyukai pribadi masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi alias perasaan terwujud belakangan saat hubungan kian dalam antara sepasang suami-istri. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan. Waspadalah buat yang masih senang pacaran. Sebab kontak fisik sering terjadi, sementara hal itu dinilai sebagai maksiat karena belum terikat tali pernikahan. Betul?</p>
<p><strong>Cinta merhatiin kelanjutan hubungan</strong><br />
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasihnya (baca: suami-istri atau calon suami dan calon istri). Dia bakal menghindari segala hal yang mungkin aja ngerusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan.</p>
<p>But, orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta akan menyenangkan pasangan (yakni suami atau istri dan juga calon suami or calon istri) untuk memperkuat hubungan. Sip deh!</p>
<p><strong>Cinta berani melakukan hal menyakitkan</strong><br />
Selain berusaha menyenangkan kekasih (suami-istri atau calon suami dan calon istri), orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata â€œtidakâ€? saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.</p>
<p>Begitu juga ketika kita berani menegur sahabat kita saat dia melakukan maksiat, meski risikonya harus mendapat bencinya&#8211;dan itu menyakitkan, itulah cinta.<br />
Semoga pengenalan beberapa hal tentang cinta ini bisa menjadi inspirasi kita untuk lebih bersih dalam mencintai, yakni taat aturan Allah Swt. Berbahagialah karena kita memiliki cinta.[solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 330/Tahun ke-8/26 Februari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cinta-itu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jomblo Vs Pacaran</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jomblo-vs-pacaran</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jomblo-vs-pacaran#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 05:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jomblo-vs-pacaran/</guid>
		<description><![CDATA[Jomblo. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idihâ€¦nggak laku? Emangnya jualan kolor?
Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jomblo. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idihâ€¦nggak laku? Emangnya jualan kolor?<span id="more-335"></span></p>
<p>Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.</p>
<p>Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.</p>
<p>Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.</p>
<p>So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.</p>
<p>Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (heheheâ€¦)</p>
<p>Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak? ?  nyari pacar. Tulalit banget kan?</p>
<p>Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.</p>
<p>Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!</p>
<p><strong>Kenapa harus pacaran?<br />
</strong>Hayoâ€¦bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmmâ€¦mungkin di antara kamu ada yang menjawab:<br />
â€?biar nggak kuperâ€™<br />
â€?biar nggak dibilang nggak lakuâ€™<br />
â€?biar ada cowok yang sayang sama kitaâ€™<br />
â€?biar ada semangat untuk belajarâ€™<br />
â€?biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar jugaâ€™<br />
â€?sekedar pingin tahu rasanyaâ€™<br />
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.</p>
<p>Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?</p>
<p>Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?</p>
<p>Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.</p>
<p>Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah saw., â€œBarangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka?  adalah setanâ€? (HR Ahmad)</p>
<p>Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.<br />
Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan. Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!<br />
? ? ? ? <br />
<strong>Jomblo adalah pilihan<br />
</strong>Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masaâ€™ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?</p>
<p>Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huhâ€¦jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: â€œjomblo tapi sholihahâ€?. Huhuy!</p>
<p>Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound : Kacian banget!).</p>
<p>Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.</p>
<p>Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?</p>
<p>Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masaâ€™ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung dating ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayoâ€¦pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?<br />
? ? ? ? <br />
<strong>Jomblo tapi sholihah<br />
</strong>Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.</p>
<p>Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idihâ€¦nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu â€?dalemannyaâ€™, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.</p>
<p>Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?? </p>
<p>Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkeredung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!</p>
<p>Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja â€?jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!â€™. Hidup jomblo!?  [riafariana]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA Edisi 329/Tahun ke-8/19 Februari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jomblo-vs-pacaran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sex on Valentine</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sex-on-valentine</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sex-on-valentine#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 05:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sex-on-valentine/</guid>
		<description><![CDATA[â€œOnly You The One that I Love The Most in The Whole Worldâ€?. Tulisan yang berisi ungkapan rasa cinta model gini gampang kita temuin di bulan Februari. Yup, bulan Februari jadi istimewa dan penuh cinta lantaran kehadiran Valentineâ€™s Day (VD) yang jatuh pada tanggal 14-nya. Nggak heran kalo jutaan remaja di seluruh dunia tak sabar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€œOnly You The One that I Love The Most in The Whole Worldâ€?. Tulisan yang berisi ungkapan rasa cinta model gini gampang kita temuin di bulan Februari. Yup, bulan Februari jadi istimewa dan penuh cinta lantaran kehadiran Valentineâ€™s Day (VD) yang jatuh pada tanggal 14-nya. Nggak heran kalo jutaan remaja di seluruh dunia tak sabar menantinya. Lantaran VD menjadi hari dimana mereka bebas nunjukkin kasih sayangnya pada pacar alias kekasih gelapnya. Nah lho, sephia dong? Ya iyalah, soalnya kan kebanyakan mereka belon pada merit alias nikah. Hubungan resmi laki-perempuan kan melalui ikatan pernikahan, bukan pacaran. Betul?<span id="more-334"></span></p>
<p>Bagi para pelaku bisnis, VD berarti momen penting untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin dari penjualan produk dan pernak-pernik Valentine. Lantaran menjelang VD, daya beli masyarakat terutama remaja mendadak dangdut, eh meningkat drastis. Remaja berlomba-lomba berburu kado spesial yang unik dan menarik agar perayaan VD ngasih kesan yang mendalam bagi pasangannya. Ada buket bunga mawar nan cantik, coklat dalam kotak berbentuk hati, perhiasan, CD lagu romantis, permen, kartu Valentine, hingga sepasang sendal jepit!</p>
<p>Nggak cuma pernak-pernik, perayaan VD juga dilengkapi dengan acara bernuansa pesta pora bin hura-hura yang bikin remaja terlena. Mulai dari acara yang romantis abis hingga yang berbau erotis yang pastinya nggak pake gratis. Ada konser musik dari para musisi idola yang melantunkan lagu-lagu melankolis, pesta pribadi yang mendatangkan penari striptease, atau acara arisan teman kencan yang berujung pada perilaku seks bebas. Ih najis!</p>
<p>Padahal nggak semuanya tahu asal-usul VD. Kebanyakan mungkin cuma ikut-ikutan tren aza. Jangan-jangan, VD cuma mitos yang digede-gedein dan dianggap istimewa. Bisa jadi kan?</p>
<p><strong>VD, hari kasih sayang?<br />
</strong>The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentineâ€™s Day. Sebagian memahaminya sebagai Perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.<br />
Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.</p>
<p>Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity).<br />
Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentineâ€™s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).</p>
<p>Sementara The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian nggak jelas siapa â€œSt. Valentineâ€? yang dimaksud. Malah kisahnya juga nggak ketahuan ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.?  (idem).</p>
<p>Sobat, dari sejarahnya aja udah keliatan kalo Valentineâ€™s Day nggak jelas asal-usulnya alias banyak versi yang nggak pasti. Cuma akal-akalan doang yang dipake untuk menyebarkan agama kristiani termasuk budaya dan tradisi Barat. Nggak heran kalo kini makna VD kian tulalit. Lebih ke arah kebebasan yang kebablasan untuk nunjukkin kasih sayang kepada pasangan yang dicintainya, khususnya kalangan remaja. Bahaya tuh!</p>
<p><strong>Sex on Valentineâ€™s Day</strong><br />
Menjelang hari Valentine, banyak remaja sibuk nyari kado spesial sebagai tanda cinta bagi sang kekasihnya. Di balik kegembiraan anak muda merayakan VD ternyata tersembunyi bahaya besar yang mengintai para aktivisnya. Mulai dari penularan HIV/AIDS hingga kehamilan tak dikehendaki. Waduh!</p>
<p>Ini dikemukakan oleh dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. â€œSekarang Valentineâ€™s Day nuansanya cenderung romantis dan erotis,â€? tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho. Ternyata eh ternyata&#8230;</p>
<p>Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentineâ€?s Day, di Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). â€œMaksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentineâ€?s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen,â€? imbuh dr. Andik.</p>
<p>Bagaimana di dalam negeri? dr Andik menuturkan, tiga tahun lalu ia diundang sebuah hotel berbintang di Surabaya menghadiri pesta Valentineâ€?s. Bonusnya undangan boleh check in sehari bersama pasangannya dengan jaminan tak dicek identitasnya (suami istri atau bukan). (<a href="http://www.beritakesehatan.com/">www.beritakesehatan.com</a>, Rabu, 14/02/2001)<br />
Fenomena sex on valentine dikuatkan juga saat seorang penulis, menjelang Valentineâ€™s Day tahun 2004, pernah melakukan survei terhadap remaja pinggiran Kota Bandung seperti Cimahi, Batujajar, Padalarang, dan Lembang. Dibantu Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (eL-TAM) penulis menyebarkan 500 angket ke siswa siswi tingkat SMA di daerah tersebut. Hasilnya? Mengejutkan!</p>
<p>Dari 413 responden yang menjawab angket secara â€œsahâ€? 26,4% di antaranya mengaku lebih suka merayakan Valentine bersama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan lalu berciuman (melakukan seks). (Lihat, Samsul Maâ€™arif, â€œValentine Day Bukan Budaya Kita, Tapi &#8230;â€?Pikiran Rakyat, 12 Februari 2005).<br />
Bahkan lembaga sosial Family Health International (FHI) Jabar yang berkedudukan di Kota Bandung, mempublikasikan hasil riset dan surveinya tentang perilaku seks remaja Kota Bandung. Dari penelitian itu disimpulkan bahwa 54% remaja Kota Bandung pernah berhubungan seks! (Kompas, 25 Januari 2006). Bahkan, persentasenya paling tinggi dibandingkan kota-kota besar lain, seperti Jakarta (51%), Medan (52%) dan Surabaya (47%).</p>
<p>Prihatin juga ya, ternyata gaya hidup permissif alias serba boleh dalam berbuat kian banyak menjerat temen-temen kita. Terutama dalam urusan ekspresi cinta mereka pada pujaan hatinya. Katanya cinta suci, ternyata cuma cinta birahi. Ini gaswat sobat. Kalo tetep dibiarin, gaya hidup sekuler ini bisa menyeret remaja pada kehidupan yang menuhankan hawa nafsu. Kalo itu terjadi, kehidupan kita nggak jauh bedanya dengan marga satwa. Nggak lah yauw! Amit-amit banget deh.</p>
<p><strong>Hati-hati tertipu&#8230;<br />
</strong>Sobat, karakter remaja yang doyan having fun gampang dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk menjerat remaja muslim dalam gaya hidup hedonis demi meraih keuntungan yang bombastis. Remaja muslim digiring agar aktif merayakan hari kasih sayang. Padahal jelas-jelas VD adalah budaya Barat yang harus kita hindari bukan malah kita ikuti.</p>
<p>Seperti kebiasaan mengirim kartu Valentine disertai ucapan â€œBe My Valentine?â€?. Ken Sweiger dalam artikel â€œShould Biblical Christians Observe It?â€? (<a href="http://www.korrnet.org/">www.korrnet.org</a>) mengatakan bahwa kata â€œValentineâ€? berasal dari Latin yang berarti : â€œYang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasaâ€?. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, kalo kita meminta orang menjadi â€œto be my Valentineâ€?, hal itu berarti memintanya menjadi â€œSang Maha Kuasaâ€? dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Syirik tuh!</p>
<p>Kamu juga kudu tahu kalo Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod â€œthe hunterâ€? dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!</p>
<p>So, nggak usah minder untuk ngakuin VD yang pastinya bukan budaya Islam. Kalo kita tetep ngotot ikut ngerayain, bisa-bisa kita bakal termasuk golongan orang-orang kafir yang menjadikan VD sebagai salah satu hari besar agamanya. Seperti diingatkan Rasul saw dalam sabdanya: â€œBarangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk salah seorang dari mereka.â€? (HR Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabran?®)</p>
<p><strong>Sempurnakan cinta kita<br />
</strong>Sobat, VD sebagai simbol ekspresi cinta telah menyeret para aktivisnya keliru memaknai hakikat cinta. Gaya hidup permissif seperti terlihat dalam perayaan VD selalu memandang baik apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya dan menjadikannya sebagai jalan hidup. Kondisi ini sama dengan menyekutukan Allah Swt. dengan menuhankan hawa nafsu. Seperti disebutkan Allah swt dalam firman-Nya:</p>
<p>Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,?  Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS al-Furqaan [25]: 43-44)</p>
<p>Kalo kita nggak mau disamain dengan ayam, kambing, atau sapi seperti ayat di atas, maka berperilakulah layaknya manusia. Allah Swt. udah ngasih kita akal agar bisa bedain perilaku yang diridhoin Allah ama yang nggak. Jangan mau diperbudak hawa nafsu dan ngikutin perasaan aja. Kita ini lebih mulia dibanding hewan sobat.</p>
<p>So, untuk nunjukkin kasih sayang, nggak mesti saat VD. Kapan aja boleh kok. Yang terpenting dan pokok adalah ekspresikan cinta-kasih-sayang sesuai ajaran Islam yang mulia dan masuk akal. Bukan ajaran lain yang justru merendahkan derajat kita. Maka, kalo pengen selamat dunia-akhirat: cintai Islam dan pake aturan Islam dalam keseharian kita. Biar mantep cintanya, kuatkan dengan ikut pembinaan dan pengkajian Islam. Biar kokoh dan utuh dalam membentuk kerangka berpikir, maka pembinaan itu harus dilakukan intensif dan rutin. Jangan setengah-setengah. Kini, saatnya kita bareng-bareng mengkaji Islam untuk sempurnakan rasa cinta kita! [hafidz341]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 328/Tahun ke-8/12 Februari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sex-on-valentine/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat-Saat Jatuh Cinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/saat-saat-jatuh-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/saat-saat-jatuh-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 04:59:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/saat-saat-jatuh-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk mendekatinya.<span id="more-333"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, kenapa kita merasa senang dan bahagia kalo jatuh cinta? Menurut Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah,?  kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari â€œskenarioâ€? yang sudah dikenalnya, apakah dari orangtua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan. (<a href="http://e-psikologi.com/">http://e-psikologi.com</a>, pada pembahasan tentang â€œCintaâ€?)</p>
<p>Ketika jatuh cinta, kita tiba-tiba merasakan dorongan ingin bertemu dengan orang yang kita cintai. Dorongan itu bahkan sangat kuat menekan kita manakala ada orang yang membicarakan si dia, atau ada orang yang menyebutkan namanya, lebih lucunya ketika membaca tulisan yang kemudian menuliskan sebuah nama yang sama dengan nama orang yang kita cintai. Kita jadi rindu berat ingin bertemu, atau sekadar ingin berkomunikasi dengannya. BTW, ngerasain kayak gini nggak?</p>
<p>Tapi anehnya, seringkali kita juga merasa harus jaim alias jaga imej. Pura-pura jual mahal ketika berkomunikasi atau kebetulan bertemu dengan orang yang kita cintai. Meski rasa ingin mencurahkan perasaan itu begitu kuat menekan. Lucu juga memang. Itu artinya, bahwa jatuh cinta memang unik. Tapi dengan catatan nih, biasanya jika yang jatuh cintanya itu masih malu-malu. Eh, umumnya memang malu-malu kan? Jarang yang agre, gitu deh. Meski ketika jaman sudah berubah kayak sekarang, banyak pula yang agre (baca: agresif) untuk ngungkapin cintanya. Ya, seperti pada reality show, â€œKatakan Cintaâ€? itu.</p>
<p>Sobat muda muslim, ketika jatuh cinta, kita jadi merasa lembut. Baik lisan kita atau saat kita menulis. Kita mulai belajar mengatur pilihan kata saat bicara. Terutama ketika bicara dengan si dia yang telah membuat kita jatuh hati. Itu kita lakukan biasanya untuk mendapat perhatiannya. Untuk memberikan imej bahwa kita baik di hadapannya. Ujungnya, bukan tak mungkin kalo akhirnya kita mendapat simpati darinya. Awalnya memang simpati, siapa tahu lama-kelamaan menumbuhkan empati dan akhirnya jatuh hati. Bukan tak mungkin kan?</p>
<p><strong>Karakter cinta</strong><br />
Jatuh cinta membuat kita merasa harus menumbuhkan perhatian, merasa harus bertanggung jawab, merasa harus hormat di hadapan orang yang kita cintai, dan merasa harus mengetahui segala seluk-beluk tentang dirinya. Erich From, murid kesayangan Sigmund Freud pernah menyampaikan bahwa dalam cinta itu harus ada empat unsur yang perlu dimiliki, yakni:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Termasuk jika kita jatuh cinta dengan mencintai lawan jenis kita, maka segala bentuk perhatian akan kita tunjukkin sama si dia. Kita jadi sering menulis namanya, menyebutkan namanya, mungkin diam-diam mengoleksi fotonya. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi kita bisa mengintip diary online (blog) dirinya yang mungkin saja memajang foto dirinya. Diam-diam kita menjadi secret admirer-nya. Minimal itu. Karena tujuan mulianya adalah mendapat perhatiannya sebagai seorang kekasih.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orangtua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai istrinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Seorang jejaka atau gadis yang saling jatuh cinta, ia akan berusaha untuk memposisikan bahwa mereka bertanggung jawab terhadap hubungannya. Menjaganya dan merawatnya jangan sampai kebablasan. Mereka yang ngerti ajaran Islam, maka jatuh cinta itu bukan untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Sang Pemilik Cinta, yakni Allah Swt. Ia akan menjaga pandangannya, perasaan, hatinya, dan juga aktivitasnya agar tak kebablasan. Tapi, cinta bukan lagi tanggung jawab jika sepasang remaja yang dilanda cinta itu mengekspresikannya dengan cara yang membuat mereka dibenci Allah Swt, seperti seks bebas misalnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect. Itu sebabnya, seringkali kita mendengar cerita ada orang yang saling jatuh cinta itu meski berbeda etnis, berbeda bahasa, berbeda budaya, bahkan ada yang sampe cinta buta, yakni berbeda agama. Itu karena merasa bahwa cinta akan melahirkan sikap menerima apa adanya. Wah, jika tak ada filter akidah memang akhirnya akan hancur. But, ini kita bicara secara umumnya lho. Bahwa cinta akan melahirkan respect kepada obyek yang kita cintai. Betul nggak?</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Nggak asal jatuh cinta juga. Eh, kalo kita bicara secara umum pun, sebenarnya ketika jatuh cinta kita bakalan nyari tahu dari obyek yang kita cintai. Nah, tentu standar yang diinginkan dalam pencarian itu tergantung kepribadian orang yang bersangkutan. Ada yang merasa agama tak perlu menjadi pertimbangan, tapi ada pula yang merasa bahwa agama harus menjadi pertimbangan saat jatuh cinta. Kepada siapa kita harus mencintai. Begitu kan? But, intinya secara umum, cinta memang akan melahirkan rasa ingin tahu untuk menyelidiki si dia yang kita cintai, yang telah membuat kita jatuh hati dan jatuh cinta kepadanya. Setuju?</p>
<p><strong>Tetap iffah selama jatuh cinta<br />
</strong>Menurut Hamka, â€œCinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.â€?</p>
<p>Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan. (dalam kitab al-Jawabul Kafi Liman Saalaâ€™ Anid Dawaaisy-syafi, edisi terjemah. hlm. 255)</p>
<p>Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, â€œSemua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.â€?</p>
<p>Mungkin kayak kita lagi haus nih, udah gitu di siang hari dengan terik matahari yang menyengat, maka kita akan semakin haus dan semakin ingin mencari air untuk memenuhi rasa haus kita. Nah, begitu dapetin air, maka nikmatnya bener-bener terasa. Tanya kenapa? (Yee.. jadi malah ngikutin iklan?)</p>
<p>Sobat muda muslim, kita sering mendengar bahwa jatuh cinta dan akhirnya mencintai orang yang kita cintai adalah sebagai anugerah terindah. Mungkin ada benarnya juga. Meski menurut saya itu terlalu didramatisir. Sebab, urusan cinta ini sangat kompleks, sobat. Tidak seperti hitungan matematika yang serba pasti. Tapi yang jelas dan yang paling utama, cinta bagi kita sebagai Muslim, harus sesuai sudut pandang Islam. Bukan yang lain.</p>
<p>Guys, setiap perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara pandang kita terhadap perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita tentang hidup. Kalo kita memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu sampai titik tertentu mati (dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan kita pun bakalan ngikutin apa yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita bisa bebas berbuat apa saja sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa hidup cuma di dunia. Kehidupan setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya, kita jadi nggak kenal ada istilah pahala dan dosa.</p>
<p>Sebaliknya, bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah Swt. yang menciptakan kita semua, maka hidup di dunia juga adalah untuk ibadah kepadaNya, dan setelah kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan amalan yang kita lakukan di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan, insya Allah balasannya pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih banyak atau selama hidup kita maksiat dan nggak sempat bertobat, jelas dosa dan kita ditempatkan di akhirat di tempat yang buruk, yakni neraka. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Nah, dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka ketika berbuat apapun kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang kehidupan yang benar itu. Termasuk ketika kita jatuh cinta. Jangan mentang-mentang jatuh cinta, lalu mengekspresikan cinta seenak hawa nafsu kita. Nggak dong, Brur. Nggak asal seneng ngeliat enak dipandang mata lalu main tubruk. Nggak banget. Tapi intinya sih, kita bakalan berpikir gimana seharusnya menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan yang saat ini dilakoni. Tolong dicatet ye.</p>
<p>Ini penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya â€œsebagaimana adanya kehidupanâ€?, ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu dianggap berhak melakukan apa saja dalam kehidupan yagn ada sekarang, yakni Kapitalisme-Sekularisme, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina, minum khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran dsb). Karena merasa mereka berhak ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar. Bahaya besar, Bro!</p>
<p>Sementara yang berpikirnya â€œsebagaimana seharusnyaâ€?, maka ia akan nyocokkin dengan aturan yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini harus sesuai aturan yang benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar. Bukan yang lain.</p>
<p>Itu sebabnya, ketika jatuh cinta pun kita harus tetap iffah alias menjaga kehormatan dan kesucian diri. Ibnu Abbas berkata bahwa orang yang jatuh cinta tidak akan masuk surga kecuali ia bersabar dan bersikap iffah karena Allah dan menyimpan cintanya karena Allah. Dan, ini tidak akan terjadi kecuali bila ia mampu menahan perasaannya kepada maâ€™syuq-nya (kepada orang yang dicintainya), mengutamakan cinta kepada Allah, takut kepadaNya, dan ridha denganNya. Orang seperti ini yang paling berhak mendapat derajat yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam al-Quran:</p>
<p>â€œDan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).â€? (QS an-Naaziâ€™aat [79]: 40-41)? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? </p>
<p>Kita boleh dan wajar-wajar aja untuk jatuh cinta. Tapi, tetap harus menjaga kehormatan dan kesucian diri. Yakni dengan cara tetap menjadikan Allah dan RasulNya sebagai pemandu hidup kita. Kita melakukan perbuatan atas dasar petunjuk dari Allah lewat al-Quran dan petunjuk dari Rasulullah saw. berupa as-Sunnah. Inilah pedoman hidup kita. Oke? [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 327/Tahun ke-8/5 Februari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/saat-saat-jatuh-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Ada Dendam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-dendam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-dendam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 04:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jangan-ada-dendam/</guid>
		<description><![CDATA[Eh, gampang nggak sih kita ngasih maaf kalo ada temen kita yang minta maaf sama kita? Hmm.. gimana ya, apalagi doi tuh udah nyakitin kita banget. Kayaknya nggak gampang deh kalo kita langsung nerima permintaan maafnya. Menyembuhkan luka batin atau nyembuhin perasaan itu katanya sih lebih sulit ketimbang nyembuhin luka fisik. Bagi banyak orang, katanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eh, gampang nggak sih kita ngasih maaf kalo ada temen kita yang minta maaf sama kita? Hmm.. gimana ya, apalagi doi tuh udah nyakitin kita banget. Kayaknya nggak gampang deh kalo kita langsung nerima permintaan maafnya. Menyembuhkan luka batin atau nyembuhin perasaan itu katanya sih lebih sulit ketimbang nyembuhin luka fisik. Bagi banyak orang, katanya sih lebih baik tubuh tertusuk pedang ketimbang ditusuk lidah dengan omongan yang nggak enak en nggak sedap. Mungkin bener juga kali ya kalo Bung Meggy Z sempat berdendang: â€œKalau terbakar api, kalau tertusuk duri, mungkin masih dapat kutahan. Tapi ini.. sakit lebih sakit, kecewa karena cinta&#8230;. Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa&#8230;â€? (ih, kalo saya sih nggak kepengen dua-duanya tuh!)<span id="more-332"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, biasanya kita inget terus kepada orang yang udah nyakitin perasaan kita. Sebab, rasa sakitnya kadang nggak bisa ditelan oleh waktu (duilee sampe segitunya). Gimana nggak, kita suka gondok kalo ada teman yang udah ngerendahin kita misalnya. Apalagi di depan banyak orang. Wuih, dendamnya bisa delapan turunan tuh. Iya, nyebelin nggak sih kalo kita misalnya minta diajarin ngaji Quran, terus doi ngomentarin: â€œUdah gede kayak gini masih belum bisa baca Quran? Kalah ama adek gue tuh yang masih SD!â€? Waduh, kalo di film kartun tuh muka kita udah merah padam dan keluar asap dari idung (banteng kalee&#8230;)</p>
<p>Mungkin wajar kalo kita gondok abis kalo dihina-dinakan dengan dahsyat. Mendingan dipukul pake kayu atau benda lainnya kali ya daripada dirajam pake kata-kata hinaan di depan banyak orang pula. Malu, kesel, dan juga marah sama orang yang model begitu. Nah, suatu ketika tiba-tiba doi minta maaf nih sama kita. Kira-kira apa yang bakalan kita lakukan?</p>
<p>Hmm.. kalo ngikutin hawa nafsu sih, kita pengennya nyiksa perasaan dia juga. Kayaknya sampe sujud juga nggak bakalan dikasih maaf kali tuh. Mau nangis darah dan ngesot-ngesot juga kayaknya nggak bakalan kita maafkan kesalahannya. Saking kesel dan gondoknya tentu. Duilee sebegitu sadisnya ya!<br />
Kasus lainnya adalah meminta maaf. Ini juga hampir sama sulitnya dengan ngasih maaf. Gimana nggak, kadang gengsi juga bikin kita malas minta maaf. Apalagi mungkin menurut kita hal itu sepele. Jangan salah, banyak lho orang yang sulit meminta maaf. Kayaknya tuh lidah udah dipaku sehingga satu kata pernyataan maaf pun tak keluar dari mulut kita.</p>
<p>Kita malah cuek dan merasa benar sendiri. Kita jadi gengsi dan merasa tak perlu meminta maaf, apalagi kepada orang yang levelnya lebih rendah dari kita. Kita khawatir menjadi rendah di hadapan orang yang kita anggap status sosial maupun intelektualitasnya di bawah kita (ah, masaâ€™ iya sih?)</p>
<p><strong>Dendam? Nggak banget!<br />
</strong>Sobat muda muslim, ngasih maaf dan meminta maaf seharusnya menjadi budaya yang baik di antara kita. Apa sih susahnya ngasih maaf, dan apa sih sulitnya minta maaf? Rasa-rasanya, itu hal yang kecil tapi dibesar-besarkan deh. Suer, Allah saja Maha Pengampun kepada hambaNya, masaâ€™ sih kita kejam dan nggak mau sedikit pun ngasih maaf kepada teman kita. Dan, apakah kita udah ngerasa benar dan sempurna banget di hadapan manusia lain sehingga nggak perlu minta maaf? Rasulullah saw. saja mengajarkan bagaimana menghormati sahabat-sahabatnya. Tentu saja, jika beliau mau menghormati dan lemah-lembut kepada sahabatnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa beliau pun mau dan biasa meminta maaf kepada sahabat-sahabatnya.</p>
<p>Di dalam ash-Shahihain dari hadis Aisyah ra, dari Nabi saw., beliau bersabda: â€œSesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai kelemah-lembutan dalam segala urusan.â€?(HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Gondok sama orang boleh aja. Tapi bukan berarti harus terus-terusan dipelihara. Selain capek ati, juga kita jadi keras hati. Salah-salah malah jadi pendendam. Memang sakit banget kalo dihina sama seseorang. Kita bisa kecewa jika dikhianati, kita bisa muak jika dibohongi. Tapi, bukan berarti kita terus memendam perasaan itu apalagi berniat tak akan pernah memaafkannya sampe delapan turunan (bosen nih tujuh turunan mulu!).</p>
<p>Sobat, di dunia ini memang penuh lika-liku kehidupan. Ada suka ada duka, ada kecewa ada bahagia, ada pengkhianatan ada pembelaan, ada kebohongan ada kejujuran. Kita pernah merasakannya, atau bahkan memberikan ketidaksukaan kepada orang lain. Kecewa boleh, sakit hati boleh, tapi jika hal itu dipelihara dalam kurun waktu yang lama, bahkan diabadikan dalam ruang batin kita, tentunya akan menyiksa kita. Selain itu, kita akan terus selamanya mendendam kepada orang yang telah melukai perasaan kita. Dampak lainnya kita bisa saja jadi orang yang traumatis, frustasi dan mungkin saja minder karena telah dihinakan oleh orang lain. Akibatnya, yang menjadi masalah bukan benar-salah, melainkan apa untungnya dan apa ruginya buat kita.</p>
<p>Jika benar-salah bukan lagi pertimbangan, tapi yang jadi pertimbangan adalah untung-rugi apa jadinya dunia ini? Padahal, bisa jadi memang dia salah kepada kita. Tapi, apakah dia akan selamanya salah? Nggak juga kan? Sama seperti kita, apa ketika kita berbuat benar, kemudian selamanya akan benar? Nggak ada jaminan tuh! Kita juga nggak mau dianggap salah terus, padahal kita udah berusaha untuk menjadi lebih baik. Iya kan? Nah, cobalah dipikir ulang soal ini.</p>
<p>Sobat, Rasulullah saw. pernah menyampaikan sabdanya: â€œShadaqah tidak mengurangi sebagian dari harta, dan Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan, dan seseorang tidak bertawadhuâ€™ karena Allah, melainkan Allah meninggikannya.â€? (Ibnu Qudamah, dalam kitab Minhajul Qashidin, hlm. 233)</p>
<p>Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, â€œRasulullah saw. bersabda, â€œWahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimimu.â€? (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Baghawy)</p>
<p>Subhanallah, Rasulullah saw. telah mengajarkan kita untuk lemah-lembut, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita. Kita ngasih maaf kepada orang yang udah ngelukain hati kita. Hebat. Padahal, banyak di antara kita yang masih gengsi karena ego kita yang gede banget. Ngerasa hal itu amat hina jika dilakukan. Tapi Rasulullah saw., yang lebih mulia dari kita, mengajarkan kita untuk gampang ngasih maaf, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita. Agak sulit memang, tapi bisa dicoba.</p>
<p>Sobat muda muslim, ketika kita meyakini bahwa dendam, sakit hati, dan kebencian adalah jawaban paling benar di dunia ini, dan itu satu-satunya jawaban, maka pengetahuan, pengalaman, dan kesadaran kita akan kalah, tak berguna, dan lumpuh total.</p>
<p>Nah, nggak mungkin kan selamanya kita dendam sama orang? Emang sih, sebelum kita tahu banyak hal tentang kehidupan dunia ini, kayaknya kitalah yang ngerasa paling benar atas apa yang kita lakukan. Kita menghibur diri kita bahwa kita wajar ngelakuin apa pun yang kita suka. Termasuk menjadi pendendam. Tapi ketika begitu banyak menyimak â€?hikmahâ€™ dari segala peristiwa di dunia ini, kita mulai sadar. Kita akan lebih bijak menikmati dunia ini. Pengetahuan, pengalaman, dan kesadaran kita akan menjadikan kita dewasa dan bukan mustahil kalo akhirnya kita mau menerima perbedaan, mau mengampuni orang-orang yang telah berbuat buruk kepada kita. Karena kita tahu dan yakin, bahwa tak selamanya manusia itu buruk, dan tak selalu manusia itu berbuat baik. Manusia tuh dinamis. Asal kita mau mengubah (kepada kebaikan tentunya), insya Allah bisa. Tul nggak?</p>
<p><strong>Jadilah pemaaf</strong><br />
Dalam riwayat al-Bukhari, dari hadis Ibnu Abbas ra, bahwa ada seseorang yang meminta izin untuk bertemu Umar bin Khaththab. Setelah orang itu diizinkan, dia berkata, â€œWahai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami yang banyak dan tidak membuat keputusan di antara kami secara adilâ€?.</p>
<p>Umar pun marah besar mendengarnya, bahkan hampir saja dia memukulnya. Al-Hurr bin Qais segera berkata, â€œWahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman kepada Nabi saw., â€?Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang maâ€™ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodohâ€™ (QS al-Aâ€™raaf [7]: 199). Dia adalah termasuk orang-orang yang bodoh.â€?</p>
<p>Maka Umar pun mengurungkan niatnya untuk menghajar orang itu setelah dibacakan ayat ini. Setelah itu pikirannya terus menerawang terhadap Kitab Allah (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin, hlm. 228)</p>
<p>Sobat, kalo udah jadi orang yang pendendam biasanya kita akan memikirkan terus masa lalu kita. Kita akan tetap merasa kecewa dan sakit hati kepada mereka yang telah melukai perasaan kita. Kita akan memeliharanya dalam jangka waktu lama. Kita tetap begitu, padahal orang lain sudah berubah. Setiap kali inget orang yang telah menzhalimi kita, kita bertambah sebal dan rajin menyiapkan strategi untuk membalas luka di hati kita. Kalo setiap saat kita begitu, bisa-bisa bikin stres deh. Suer. Hidup ini untuk dinikmati dengan benar dan baik. Bukan dengan stres. Mulailah bersikap dewasa dan menghargai setiap perubahan. Ya, kita harus menghargai. Kalo dulu teman kita menghina kita, tapi kini ketika dia meminta maaf kepada kita, berarti insya Allah dia udah mulai berubah. Setidaknya ingin menghapus kejahatannya kepada kita.</p>
<p>Semoga kita gampang memaafkan orang yang telah menzhalimi kita sekali pun. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk sabar, lemah lembut, dan pemaaf. Oya, sikap pemaaf adalah suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam bahasa Arab sifat pemaaf tersebut disebut dengan al-â€?afwu yang secara etimologis berarti kelebihan atau yang berlebih, sebagai mana yang terdapat dalam ayat: â€œDan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: â€œYang berlebih dari keperluan&#8230;â€? (QS al-Baqarah [2]: 219)</p>
<p>Penjelasannya nih, yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Dari pengertian mengeluarkan yang berlebih itu, kata al-â€?afwu kemudian berkembang maknanya menjadi menghapus. Dalam konteks bahasa ini memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. (M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, hlm. 247)</p>
<p>Oke, itu sebabnya menjadi pendendam itu nggak baik. Nggak ada untungnya juga. Rasulullah saw. bersabda: â€œTidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya bertemu tapi saling memalingkan mukanya. Dan yang paling baik di antara keduanya ialah yang memulai lebih dahulu mengucapkan salamâ€? (Muttafaqun â€?Alaihi)</p>
<p>Jadi, mulai sekarang berlapang dadalah. Juga harus ngakuin bahwa setiap manusia pasti punya kesalahan. Permintaan maaf itu sebagai bukti bahwa ia pernah berbuat salah dan ingin menebusnya. Karena definisi dari maaf itu sendiri adalah pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. Mau kan kita mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepada kita?</p>
<p>So, kita juga bisa jadi pernah (atau bahkan sering?) berbuat salah, dan orang lain juga pernah berbuat salah dan menyakitkan kepada kita. Itu sebabnya, kita harus mengakui kenyataan ini dan berusaha untuk bersikap bijak. Tak ada manusia yang terus berbuat salah dan tak ada manusia yang selamanya berbuat baik. Dengan demikian, yang lebih oke adalah mereka yang saling memaafkan dengan sesamanya. Akur dong ya? Siiip! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 326/Tahun ke-8/29 Januari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-dendam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cewek Matre, ke Laut Aje?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cewek-matre-ke-laut-aje</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cewek-matre-ke-laut-aje#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 04:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cewek-matre-ke-laut-aje/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar lirik lagu ini nih: â€œCewek matre, cewek matre, ke laut ajeâ€?. Ehm, kalo pernah tahu, syukurlah. Bagi yang nggak tahu, kamu bisa tanya aja ke yang udah tahu heheâ€¦
Cewek matre emang nyebelin. Semua-mua dihitung dengan takaran materi. Atau paling nggak, ada azas manfaat yang berusaha diraih oleh cewek matre dalam melakukan sesuatu. Taruhlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar lirik lagu ini nih: â€œCewek matre, cewek matre, ke laut ajeâ€?. Ehm, kalo pernah tahu, syukurlah. Bagi yang nggak tahu, kamu bisa tanya aja ke yang udah tahu heheâ€¦</p>
<p>Cewek matre emang nyebelin. Semua-mua dihitung dengan takaran materi. Atau paling nggak, ada azas manfaat yang berusaha diraih oleh cewek matre dalam melakukan sesuatu. Taruhlah contoh misalnya dalam persahabatan. Tipe matre ini mau menjalin persahabatan hanya kalo ada manfaat yang ia dapat dari orang lain, terutama materi yang dia incar. Kalo unsur ini nggak doi dapatkan, jangan harap bisa temenan deh dengannya.<span id="more-331"></span></p>
<p>Bukan hanya dalam berteman, dalam mencari pasangan hidup pun, cewek matre cenderung mencari yang kaya raya alias tajir. Alasan klise sih, biar hidup nggak susah. Hidup sekali kudu dibikin bahagia dengan mencari suami yang kaya raya. Nggak cukup berhenti di sini, ketika berpacaran pun cewek matre cenderung suka morotin pacarnya demi sesuap nasi dan segenggam berlian. Hehehe&#8230;</p>
<p>Walhasil, sifat matre seringkali ditempelkan pada makhluk berjenis cewek. Seakan-akan semua cewek identik dengan matre dan doyan harta. Waduhâ€¦gawat juga. Moga kamu bukan termasuk ke dalam golongan cewek tipe ini yah. Tapi, apa benar sih semua cewek itu emang matre? Dan apa iya sifat matre itu bawaan orok? Kita telusuri yuk biar nggak salah menilai. Cie&#8230;</p>
<p><strong>Cewek = matre?<br />
</strong>Matre asal katanya dari materialistis, sebuah sikap dan sifat turunan dari kapitalisme. Asal kamu tahu, kapitalisme ini adalah paham yang memuja kepemilikan harta atau modal. Mereka yang punya harta dan beruang bisa menjadi raja dan menguasai banyak hal. Mereka yang tak berduit, minggir aje ke trotoar.</p>
<p>Dari ilustrasi kecil di atas, matre dan kapitalisme mempunyai kaitan erat satu dengan yang lain. Mereka dukung mendukung untuk menumbuh-suburkan paham ini di tengah-tengah masyarakat kita. Mendompleng keberadaan media semisal TV dan majalah, mereka hadir dalam bentuk iklan dan tayangan yang serba wah dan glamour. Tiap hari bahkan tiap saat ada aja produk baru yang ditawarkan. Dan itu semua hanya bisa didapatkan bila ada duit sebagai alat tukar. Nggak ada duit kartu kredit pun jadi. Kartu kredit pun dibayar pake duit. Emang bisa kartu kredit dibayar pake daun? Ya nggak lah.</p>
<p>Dari sini, bagi cewek yang matanya ijo kalo ngelihat barang mewah, langsung berubah bentuk menjadi cewek matre. Apalagi cewek-cewek yang kurang iman dan kurang cerdas. Mereka mengira bahwa materi dan barang mewah itulah yang bisa membawa kebahagiaan dalam kehidupannya. Bahkan tak jarang mereka rela menggadaikan keimanan dan kehormatan demi materi. Hiiâ€¦naudzhubillah.</p>
<p>Tapi apa iya sih, semua cewek matre kayak gini? Ya nggak dong. Pasti ada cewek dari golongan baik-baik yang nggak melulu menilai seseorang dari harta yang ia punya. Ada kok cewek yang lebih melihat ke hati, akhlak dan kebaikan seseorang. Kalo pun terlihat langka jenis yang terakhir ini, itu karena emang sistem yang diberlakukan ke kita saat ini adalah sistem penghambat karakter baik. Meski sebetulnya bukan hanya cewek aja sih yang bersikap matre, tapi cowok juga ada kok yang matre. Cuma pamor cowok matre emang kalah tenar dibanding dengan para cewek.</p>
<p>Nah, kita sudah tahu kan bahwa ternyata nggak semua cewek itu matre. Ada juga ternyata yang baik dan lebih mengutamakan inner beauty kata orang bule. Melihat seseorang bukan dari apa yang telah dicapai tapi lebih ke bagaimana ia mencapainya. Kalo ada dua kubu yaitu cewek matre dan yang nggak, terus apa iya sih untuk menjadi matre itu emang bawaan orok?</p>
<p>Sikap matre itu bentukan lingkungan. Nggak ada yang namanya sikap matre bawaan orok. Karena bagaimana pun setiap bayi yang dilahirkan ke dunia ini berada dalam kondisi fitri alias suci. Orangtua dan lingkunganlah yang akan membentuk karakter dia. Kalo ortu dan lingkungan mendidiknya dengan budaya matre, maka si anak nggak bakal deh jauh dari pola didik ini. Begitu juga sebaliknya. Kalo didikan ortu dan lingkungan baik dan benar, maka hasilnya juga akan baik dan benar pula. Nggak bakal sifat dan sikap matre jadi bagian hidupnya. Kira-kira siapa mereka ini?</p>
<p>Mereka adalah cewek-cewek yang mempunyai mabdaâ€™ atau ideologi oke. Yup, ideologi itu adalah Islam sebagai the way of life. Kalo Islam yang dijadikan dasar dan sandaran dalam berbuat dan bersikap, sifat matre bakal ngacir jauh-jauh deh. Lha wong dalam Islam, materi itu bukan menjadi tujuan dan cita-cita hidup kok. Materi hanya sarana dan alat untuk meraih tujuan lain yang lebih indah?  yaitu ridho Allah. Jadinya virus matre ini nggak bakal punya kesempatan untuk hinggap di benak orang-orang?  yang beriman. Insya Allah. Catet itu yee. Awas kalo nggak dicatet. Ini bukan ngancem, cuma saran aja, karena biasanya lupa kalo nggak dicatet. Ehm.</p>
<p><strong>Matre dan Islam</strong><br />
Cewek matre adalah anak turunan dari kapitalisme. Terus, gimana Islam menyikapinya ya? Gimana pula sebaiknya kita bersikap?<br />
Matre yang bermakna materi dan bukan paham, diakui keberadaannya dalam Islam. Uang, harta, perhiasan, dan segala pernik-pernik kemewahan itu digambarkan oleh Allah sebagai bentuk ujian bagi hambaNya untuk menguji mana yang bertakwa or cuma sekadar boleh ngaku. Karena kan banyak tuh yang langsung silau bin lupa daratan ketika ujian berbentuk kemewahan menghampiri. Dia sudah langsung lupa aja bawaannya akan misi dan visinya dalam hidup. Seakan-akan harta dan dunia adalah segalanya.</p>
<p>Beda banget dengan orang bertakwa. Ia sadar bahwa semua materi yang dipunyainya berupa harta dan perhiasan adalah titipan Allah yang tidak kekal. Karena sifatnya yang fana inilah maka satu ketika mereka bisa musnah, hilang tak berbekas bila memang dikehendaki oleh Sang Maha Memiliki. Jadi ia akan menaruh semua benda materi itu di tangannya saja, bukan di hatinya apalagi di pikirannya.</p>
<p>Fungsi materi dalam Islam hanyalah sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Dan tujuan akhir seorang muslim adalah ridho Allah saja. Maka materi yang ia punya digunakannya untuk beramal di jalan Allah dengan banyak sedekah dan infaq. Kalo zakat mah emang sudah kewajiban untuk dibayarkan oleh pemilik harta yang mencapai nishab-nya, yakni batas jumlah harta yang bisa dikeluarkan untuk zakat.</p>
<p>Meteri yang dipunyai digunakannya untuk ikut membiayai perjuangan di jalan Allah. Kamu tahu Umar bin Khaththab? Beliau ini menginfakkan separuh dari hartanya untuk perjuangan di jalan Islam. Tapi ternyata kedermawanan ini masih kalah dengan sosok mulia Abu Bakar ash-Shidiq yang mengifakkan seluruh hartanya untuk kemenangan dakwah. Wuihâ€¦bisa nggak yah kita seperti ini?</p>
<p>Jadi ternyata materi itu diakui keberadaannya dalam Islam. Nggak salah kok kalo misalnya kamu pingin kaya dan berharta banyak, selama itu bukan dijadikan tujuan. Bahkan umat Islam kudu kaya dan banyak harta supaya bisa banyak infaq dan shodaqoh demi perjuangan menegakkan kalimat Allah. Tapi ingat bahwa itu semua kudu tetap mengikuti rambu-rambu syariatNya. Oke kan?</p>
<p><strong>Cewek matre yang islami, emang ada?<br />
</strong>Di atas tadi sudah ada contoh dari kalangan para cowok yang nggak matre. Para cewek pun nggak mau ketinggalan. Ketika Rasulullah mengumumkan bahwa dakwah membutuhkan dana yang besar, para muslimah dari kalangan shahabiyah langsung mempreteli alias melepaskan semua perhiasan yang ada di tubuhnya. Mereka dengan ikhlas memberikan semuanya untuk dakwah demi kemenangan Islam. Itu karena mereka tahu bahwa nilai perhiasan itu sangatlah kecil bila dibandingkan dengan ganjaran di surga kelak. Dan pastinya ganjaran ridho dan cinta dari Allah akan berlipat-lipat kita dapatkan dong ya.</p>
<p>Kamu tahu seorang wanita mulia bernama Khadijah r.a.? Beliau ini adalah wanita bangsawan yang kaya raya. Tapi tahukan kamu siapa yang dipilihnya sebagai suami? Adalah seorang pemuda miskin bernama Muhammad yang notabene adalah pegawainya. Padahal kalo beliau mau, bisa saja dipilihnya salah satu bangwasan terkaya di jamannya yang juga ingin menikahinya. Tapi ternyata ia memilih seseorang bukan karena harta dan kekayaannya, tapi karena akhlak dan agamanya.</p>
<p>Oya, pernah tahu kan dengan Fatimah az-Zahra putri Rasulullah? Beliau ini menikah dengan Ali bin Abi Thalib yang miskin. Karena miskinnya, sampai-sampai mahar penikahannya adalah sebuah cincin dari besi. Tidak berhenti di sini saja, karena miskinnya tangan Fatimah sampai bengkak-bengkak karena menumbuk gandum dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Meski putri Rasulullah yang merupakan pemimpin negara, tapi Fatimah hidup sederhana. Subhanallah.</p>
<p>Lalu ada juga wanita mulia bernama Zainab binti Jahsi. Ia menikah dengan mantan budak (maksudnya budak yang telah merdeka) yang hitam legam lagi miskin. Meski awalnya ia menolak karena status kebangsawanan dan kekayaannya, akhirnya ia pasrah apabila memang itu perintah Allah dan rasulNya. Subhanallah sekali kan?<br />
Tuh kan, bagai langit dan bumi perbedaan cewek matre dengan sosok-sosok mulia itu.</p>
<p>Apa itu berarti kita tak boleh menikah dengan pemuda kaya? Bukan itu intinya, Non. Sah-sah aja kamu nanti punya suami yang kaya raya. Tapi jangan sampai mengutamakan kekayaan daripada akhlak dan kebagusan agamanya. Memang sih idealnya adalah udah kaya, agama bagus lagi. Hmmâ€¦cewek mana yang nggak bakal bilang â€œhoâ€™ohâ€? tuh?</p>
<p>Jangan lupa, Allah Maha Pembolak-balik hati. Ada kalanya seseorang yang awalnya idealis pingin punya suami yang agamanya bagus, berubah pikiran ketika ada pemuda tampan dan kaya naksir dirinya. Waduh, lupa deh dengan kriteria awal yang dipatoknya. Eh, ini bukan berarti kamu nggak boleh punya suami yang kaya dan cakep. Boleh aja kok selama suamimu itu muslim dan akhlaknya baik meski pemahaman agamanya masih biasa. Barangkali memang itulah yang terbaik untuk kamu yang telah diberikan oleh Allah Swt. Tul nggak?</p>
<p>Begitu juga ketika berteman. Awalnya pingin punya teman yang baik agamanya supaya bisa tertulari kebaikan juga. Tapi ketika ada teman tajir tapi agama kurang mendatangi, udah deh langsung lupa dengan tujuan semula. Ini bukan berarti kamu nggak boleh berteman dengan anak tajir loh. Cuma masalahnya kalo temanmu ini tajir tapi ternyata rusak akhlaknya, wah kamu kudu hati-hati deh. Jangan-jangan bukannya mengajak dia insaf malah kamu sendiri yang ikutan rusak. Duh, jangan sampai deh.</p>
<p><strong>Finally<br />
</strong>Jangan sampe deh kamu jadi generasi dengan gelar cewek matre. Nggak ada bagus-bagusnya tuh. Mending kamu jadi generasi dengan gelar cewek sholihah yang cerdas dan taat syariat. Wuih..te o pe be ge te tuh alias top banget. Materi adalah hal kecil dan remeh bagi kita. Ia bukan tujuan tapi sarana aja untuk mencapai ketakwaan.</p>
<p>Bila pun satu ketika nanti Allah mengaruniai kelebihan harta dan kita menjadi cewek tajir bin kaya raya (amin), kita nggak bakal gelap mata. Sebaliknya, kita akan menjadi pemurah terhadap orang tak berpunya dan pemurah pula dalam memberikan kontribusi dana bagi perjuangan dakwah. Toh, semua kekayaan yang bersifat materi itu cuma titipan aja yang bersifat fana alias nggak kekal. Masih ada kok kekayaan lain yang bakal menjadi bagian diri kita selamanya. Apakah itu? Yaitu kekayaan berupa iman, Islam dan ketakwaan. Ketiga hal inilah yang kekal menjadi milik kita dunia akhirat. Insya Allah jika kita ikhlas meraihnya.</p>
<p>So, bagi mereka para cewek matre, segera sadar dan insaf deh. Bukan nyuruh-nyuruh nih, tapi ngajak. Masih bagus tuh daripada disuruh ke laut aje. Iya kalo bisa berenang, kalo nggak kan bakal tenggelam tuh. Bisa berenang pun bakal capek deh di laut seluas itu. Sekarang mending jadi cewek sholihah aja yang cerdas dan taat syariat Islam. Bakal beruntung dunia-akhirat. Akur dong ya. Kudu atuh! Biar kompak. Hehehe.. [riafariana]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 325/Tahun ke-8/22 Januari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cewek-matre-ke-laut-aje/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita dan Ortu, Mesti Bersatu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kita-dan-ortu-mesti-bersatu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kita-dan-ortu-mesti-bersatu#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 04:51:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kita-dan-ortu-mesti-bersatu/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Keluarga Cemara, udah lama tutup usia. Serial yang mengupas kehidupan keluarga sederhana dengan segala suka dukanya ini cukup menyita perhatian pemirsa. Meski nih cerita karya Arswendo Atmowiloto kalo versi novelnya ya bernuansa keluarga Nasrani. Begitu juga dengan daya pikat yang dihadirkan Keluarga Senyum saat menyapa kita Ramadhan kemaren.?  Hubungan yang terjalin antar anggota keluarga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Keluarga Cemara, udah lama tutup usia. Serial yang mengupas kehidupan keluarga sederhana dengan segala suka dukanya ini cukup menyita perhatian pemirsa. Meski nih cerita karya Arswendo Atmowiloto kalo versi novelnya ya bernuansa keluarga Nasrani. Begitu juga dengan daya pikat yang dihadirkan Keluarga Senyum saat menyapa kita Ramadhan kemaren.?  Hubungan yang terjalin antar anggota keluarga cukup harmonis. Komunikasi antara anak dan orangtua begitu cair tapi tetep sopan. Sehingga setiap permasalahan yang dihadapi keluarga, bisa diatasi?  bareng-bareng. Asyik ya? Pastinya!<span id="more-330"></span></p>
<p>Sayangnya, keharmonisan Keluarga Cemara atau Keluarga Senyum hanya ada di layar kaca. Dalam keseharian kita, bukannya pesimis, cuma kayaknya kondisi keluarga yang ideal boleh dibilang jarang kita temui. Emang sih, mungkin ada di antara temen kita yang cukup deket dengan orangtuanya yang jadi tempat curhat dan berbagi suka-duka. Tapi boleh dibilang jumlahnya masih kalah dengan keretakan hubungan anak dan orangtua.</p>
<p>Di kalangan selebriti aja, ada beberapa artis yang dapet gelar â€?selebriti durhakaâ€™ versi kapanlagi.com lantaran tersandung masalah perselisihan dengan orangtuanya. Ada Kiki Fatmala dengan ibunya Fatma Farida, kerenggangan Kiki Maria dengan Suzanna, atau Lyra Virna dan Amara â€?Linguaâ€™ yang tak kunjung mendapat restu pernikahan dari ibunya. Kok bisa ya? Bisa aja, lha mereka buktinya. Ehm..</p>
<p><strong>Ortu, kenapa sih?<br />
</strong>Sobat, kamu pasti pernah berselisih pendapat dengan ortu. Bukannya nuduh, cuma vonis doang (hehehe&#8230;). Terus, gimana perasaan kamu saat beradu pendapat dengan ortu? Biasanya sih kalah telak en bikin bete, kesel, jengkel, marah dan kawan-kawannya. Gimana nggak, masa ikut ngaji beneran yang bukan cuma baca al-Quran aza nggak boleh, misalnya. Padahal ngaji kan bagus untuk mengenalkan kita lebih dekat dan dalam dengan Islam. Kalo udah gini, kita sering ngerasa ortu nggak bisa ngertiin kita. Ortu masih menganggap kita sebagai anak kecil yang belon bisa ngambil sikap dan keputusan terbaik. Ortu kenapa sih?</p>
<p>Sobat, nggak usah sewot gitu dong. Tenang. Lebih baik kita cari tahu alasan ortu yang terkesan sering melarang, mengatur, atau membatasi aktivitas kita. Agar kita bisa memahami dan menghargai pendapat ortu sebagaimana harapan kita agar ortu pun mau memahami dan menghargai keinginan kita. Betul ndak, guys?</p>
<p>Pertama, nggak ada ortu yang ingin membuat anaknya sedih. Karena itu, kita wajib positive thinking dengan tuntutan ortu. Meskipun itu berlainan dengan keinginan kita. Saya teringat penuturan seorang ibu dari Imam Purnomo (13), salah satu korban tewas konser Ungu di Pekalongan lalu. Sebelum kejadian, sang Ibu udah mengingatkan agar siswa kelas 1 SMP jangan ikut nonton konser yang digelar di depan rumahnya. Khawatir terjadi sesuatu melihat kerumunan massa yang membludak. Tapi Imam tetep ngeyel nonton band idolanya bersama teman-temannya. Dan ternyata, berangkat masih sehat pulangnya sudah jadi mayat. Kisah ini emang cuma sebuah kasus. Tapi kita bisa ambil banyak pelajaran berharga darinya. Bisa kan ya?</p>
<p>Kedua, anak adalah amanah alias titipan dari Allah pada orangtuanya. Ortu akan sangat merasa bersalah dan dianggap tak bisa menjaga amanah jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa buah hatinya. Makanya nggak heran ada ortu yang terkesan protektif terhadap anaknya. Doyan melarang ini-itu dan nggak ngasih kesempatan anaknya untuk menentukan pilihannya sendiri. Untuk itu, kita wajib melihat sikap ortu ini sebagai ekspresi rasa sayang dan cinta sepenuh hati mereka untuk kita. Sehingga kita bisa mendiskusikan kenginan kita dan tuntutan ortu dengan pikiran dan hati terbuka. Barengan mencari win-win solution yang sama-sama enak. Oke banget kan?</p>
<p>Berikut sedikit catatan untuk ortu kita dan juga kita jika kelak dikasih kesempatan oleh Allah untuk menjadi orang tua: â€œ..Berikan kasih sayangmu, tapi jangan paksakan pikiranmu. Sebab mereka berbekal pikiran sendiri. Berikan rumah untuk raganya, bukan jiwanya. Jiwa mereka adalah penghuni masa depan. Yang tak dapat kau gapai, meski dalam impian. Engkau dapat menjadi seperti mereka. Tapi jangan buat mereka menjadi seperti kamu. Sebab kehidupan tidak surut, dan tiada tinggal bersama kemarin. Engkaulah busur, dan mereka anak panah yang meluncur&#8230;â€? (Suara Merdeka, 19/09/06, kalo nggak salah ini adalah salah satu petikan dari puisi karya Kahlil Gibran)</p>
<p><strong>Taqarrub ila Ortu<br />
</strong>Sobat, kamu tahu apa reaksi temen-temen remaja saat berselisih pendapat alias ribut dengan orangtua? Hmm&#8230; biasanya sih ada yang langsung ngambek bin uring-uringan lalu banting pintu kamar en ngurung diri sambil berurai air mata sampe ortu luluh dan mengabulkan permintaannya. Ini biasanya kerjaan remaja putri neh. Heheheâ€¦</p>
<p>Ada juga yang langsung cabut binti kabur dari rumah terus nginep di rumah temennya. Ini mungkin belon seberapa. Di tempat laen, ada juga yang terjerumus ke kehidupan malam dengan ber-clubbing, nge-track, nyekek botol, sampe nge-drugs. Intinya sih, biar ngelupain masalah dengan ortunya. Ini sih cowok banget!</p>
<p>Lantas apa setelah itu masalahnya dengan orangtua selesai? Boro-boro! Yang ada, kita makin jauh dengan orangtua. Lambat-laun hubungan emosi kita dengan ortu mulai luntur. Ortu menganggap kita susah diatur dan tak tau berbalas budi. Sementara nilai orangtua pun di mata kita hanya sebatas pensuplai kebutuhan hidup. Akhirnya masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri dan cuek satu-sama lain. Tak ada lagi kasih sayang ortu yang bikin hidup kita nyaman dan penuh arti. Dan itu bisa menutup jalan kita menuju surga. Gaswat khan?</p>
<p>Rasulullah saw. pernah mencela seseorang yang tidak dapat masuk surga karena tidak berbuat baik kepada orangtuanya. Rasulullah saw. bersabda: â€œSungguh kecewa, sungguh kecewa, dan sungguh kecewa, siapa saja yang mendapat (memiliki) kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya sampai tua, kemudian ia tidak dapat masuk surga.â€? (HR?  Muslim)</p>
<p>Kalo ortu misalnya ngelarang kita ngaji. Jangan dilawan, tapi diajak diskusi. Syukur-syukur kalo bisa ngasih argumen yang bagus. Sebab, ortu juga punya hak untuk dapetin kebenaran dari Islam melalui kita yang dekat dengan mereka. Ajak ortu untuk ikut dengan kegiatan pengajian yang kita lakukan. Biar mereka nggak penasaran dan nggak punya persepsi keliru tentang pengajian kita. Jika kita ngerasa sungkan dan nggak biasa ungkap perasaan dengan bahasa verbal (berbicara langsung), coba sampaikan dalam bahasa non verbal. Misalnya, dengan menulis surat untuk mereka tentang harapan kita dan kondisi kita yang mungkin dianggap berbeda sama ortu. Intinya, jangan putus asa untuk mengajak ortu menerima Islam.</p>
<p>Jangan lupa, tunjukkan juga bakti kita kepada ortu dengan membantu kegiatan di rumah, misalnya. Kalo anak puteri bisa melakukan cuci piring, cuci baju setrika, masakâ€”kalo jenis pekerjaan ini udah dilakukan sama pembantu, nggak ada salahnya ikut bantuin, misalnya pada hari libur. Wuih, selain bikin ortu seneng bisa juga sebagai ajang pelatihan sebelum menjabat sebagai istri dan pengurus rumah tangga. Sebab, perubahan menjadi baik dari kita bukan cuma ilmu agamanya, tapi juga perhatian dan kepedulian kepada ortu dalam bentuk fisik (bantu-bantu pekerjaan) dan juga nonfisik (mengajak mereka mendalami Islam).</p>
<p>Kalo ortu masih belum sejalan dengan kita, tetaplah menghormati dan berbakti pada mereka. Contoh deh Saâ€™ad bin Abi Waqqash. Meski ibunya senantiasa menghalanginya untuk ber-Islam, tapi Saâ€™ad dengan sabar melayaninya dan tetap menghormatinya. Allah swt berfirman:</p>
<p>Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. (QS. Lukman [31]: 14)</p>
<p>Sekarang, mending kita belajar meredam emosi saat berbeda pendapat dengan ortu. Jauhkan dalam benak kita kebencian terhadap segala tuntutan ortu, yang bisa memancing kita menjadi â€?pemberontakâ€™ di rumah. Selalu positive thinking dan buka jalur komunikasi. Jangan sampai masalah yang sebenernya bisa cepat diselesaikan, menjadi awet dan menggerogoti pikran dan perasaan cuma lantaran kita menutup akses komunikasi pada ortu dan ortu pada kita. Rugi banget deh. Betul?</p>
<p><strong>Together we canâ€¦<br />
</strong>Sobat, sebagai muslim pastinya kita berharap keluarga kita masuk kategori keluarga ideal. Eits, jangan salah ya. Keluarga ideal yang kita maksud bukan yang punya dua anak, laki perempuan sama saja. Ini mah keluarga berencana kalee. Yang kita maksud, keluarga muslim ideal yang dibangun dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Hubungan yang harmonis antara ortu dan anak juga didasarkan pada aturan Islam. Pokoknya, Keluarga Cemara atau Keluarga Senyum mah lewaat!</p>
<p>Sebagai kepala rumah tangga, seorang ayah akan banting tulang menafkahi keluarga dari jalan yang halal. Meski dalam keadaan terdesak, beliau tak akan menggadaikan kemuliaannya sebagai muslim untuk bermaksiat demi mencari penghasilan. Karena beliau memahami, setiap kepingan nafkah yang diberikan dari jalan yang tidak diridhoi Allah, hanya akan mendekatkan orang-orang yang dicintainya pada siksa neraka.</p>
<p>Sebagai istri dan pengatur rumah tangga, seorang ibu berusaha menjaga dan memelihara keharmonisan dalam rumah. Melayani suami dan mencurahkan kasih sayang untuk anaknya dengan sepenuh hati. Tidak terjebak dalam tren wanita karir yang bisa melalaikan tugas mulianya.</p>
<p>Sebagai orangtua, ayah-ibu berusaha menganggap anaknya (terutama yang remaja) sebagai sahabat untuk mencairkan komunikasi di antara mereka. Sehingga tidak canggung untuk membicarakan dari hati ke hati dengan pikiran terbuka jika ada perbedaan pendapat. Namun tetap tegas dengan prinsip aturan Islam meski anak memiliki pendapat yang berlainan. Terlebih lagi, ortu nggak sungkan untuk berusaha memahami masa remaja yang penuh eksprimen dengan mengenal dunia anaknya dan teman-teman dekatnya.</p>
<p>Sebagai anak, kita berusaha mendahulukan ridho Allah dan ridho orangtua?  dalam setiap aktivitas keseharian kita. Kita pun tak sungkan untuk lebih dekat dengan ortu dan menggali pelajaran dari pengalaman masa muda mereka. Kita bangga memiliki ayah yang bertanggung jawab, perhatian, peduli, dan sayang sama keluarga. Kita juga sangat salut sama ibu yang mampu menjaga anak-anaknya dan memelihara kehormatan keluarga. Itu namanya kerjasama apik antara ayah dan ibu. Lha, kalo mereka aja kompak, maka kita nggak?</p>
<p>Tapi, kita juga sangat berharap agar orangtua kita juga pandai bersyukur kepada Allah Swt. dengan menunjukkannya dalam bentuk ridho dengan Islam. Sehingga kita merasa memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Kita sebagai anaknya jelas bangga dong ya. Jika belum memiliki keluarga ideal, tentu kita berusaha untuk meraihnya. Tak ada salahnya kita sampaikan keinginan mulia tersebut kepada ortu. Bisa secara lisan dengan mengajaknya ngobrol maupun tulisan. Yup, â€œTogether we canâ€? (ini sih mottonya partai Pak SBY ya? Hehehe..).?  [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 324/Tahun ke-8/15 Januari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kita-dan-ortu-mesti-bersatu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Emang BEDA!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-emang-beda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-emang-beda#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 21:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/islam-emang-beda/</guid>
		<description><![CDATA[Beda? Yup, nggak usah ngerasa risih dengan perbedaan, Bro. Sebab, perbedaan yang ada di antara kita ini justru menjadikan diri kita spesial dibanding yang lain. Bayangin deh, kalo semuanya sama, nggak seru kan? Jadinya nggak khas. Bener ndak?
Sobat, kalo pengen ilmiah-ilmiahan dikit, definisi dari beda itu sendiri akan memberikan kejelasan buat kita. Menurut kamus nih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beda? Yup, nggak usah ngerasa risih dengan perbedaan, Bro. Sebab, perbedaan yang ada di antara kita ini justru menjadikan diri kita spesial dibanding yang lain. Bayangin deh, kalo semuanya sama, nggak seru kan? Jadinya nggak khas. Bener ndak?<span id="more-328"></span></p>
<p>Sobat, kalo pengen ilmiah-ilmiahan dikit, definisi dari beda itu sendiri akan memberikan kejelasan buat kita. Menurut kamus nih, beda itu adalah sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara benda yang satu dengan benda yang lain; ketidaksamaan. Kalo berbeda berarti ada bedanya; berlainan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Cetakan III, 2003, h. 119)</p>
<p>Oke. Di kamus tertulis kayak gitu. Kita sepakati aja. Meski tentu bukan cuma benda yang bisa beda. Tapi segala hal yang berlainan satu sama lain bisa disebut beda. Cuma nih, yang perlu diperhatikan bahwa beda tuh tak selalu identik dengan aneh. Sumanto aja waktu diinterogasi kenapa makan daging mayat, dia komentar, â€œSaya tidak gila. Tapi memang tidak biasa.â€? Hehehe.. saya nggak bermaksud menganalogikan antara Islam yang akan kita bahas ini dengan kelakuan Sumanto.</p>
<p>Islam emang beda dengan agama lain dan ideologi lain. Beda bisa berarti nggak biasa seperti pada umumnya. Tapi meski beda, Islam seharusnya nggak dianggap aneh dan aturannya dinilai asing hanya karena penghakiman sepihak dari kalangan tertentu bahwa Islam nggak cocok dengan kondisi kehidupan saat ini. Kalo pun boleh dianggap aneh bin asing dan nggak biasa adalah karena Islam dinilai nggak nyetel dengan kondisi yang udah rusak seperti sekarang ini. Bagus dong, sebab dianggap aneh dan nggak biasa karena nggak ikutan rusak. Nah lho, gimana tuh?</p>
<p>Sobat muda muslim, nggak usah bingung bin heran. Sebab, segala sesuatu tuh memang tergantung sudut pandang. Meski demikian, seharusnya tetap sudut pandang itu punya standar. Biar nggak mengklaim sesuai sudut pandang masing-masing dari para pemberi nilai. Misalnya aja nih, waktu jaman penjajahan Belanda, sebagian rakyat Indonesia yang melawan Belanda disebut kaum ekstrimis. Sakit hati nggak tuh? Tapi di mata rakyat mereka adalah pahlawan. Wah, betapa relatifnya kan?</p>
<p>Itu sebabnya, sebagai Muslim, sudut pandang kita ya harus Islam. Bukan yang lain. Lagipula kalo penilaian diserahkan kepada masing-masing orang, ya akan begitu banyak klaim dan merasa paling benar sendiri. Sanes kitu? (baca: begitu begitu? Sori, ini pake bahasa Planet Pajajaran heheheâ€¦)</p>
<p>Nah, Islam emang beda dengan agama dan ideologi lain. Islam ya Islam. Islam beda dan memang berbeda dengan Sosialisme-Komunisme. Islam juga beda dengan Kapitalisme-Sekularisme. Bukan hanya beda sebenarnya. Tapi juga bertentangan, gitu lho.</p>
<p>Nah, kalo kamu berani mengatakan â€œIslam emang beda!â€?, syukur deh. Kenapa? Karena masih punya harga diri dan sekaligus percaya diri. Harga diri itu mahal, jarang ada yang rela kalo harga dirinya diinjak-injak (kecuali yang nekat dan gelap mata dengan menjual dirinya sendiri dalam kenistaan). So, harga diri harus dipelihara karena urusan hidup dan mati.</p>
<p>Terus kalo percaya diri, itu berarti kita percaya dengan karakter diri kita dan apa yang kita perbuat. Orang yang berani melakukan suatu perbuatan dan kegiatan, sudah pasti bertanggung jawab. Itu sebabnya, dengan memiliki rasa percaya diri bisa dipastikan orang tersebut udah punya alasan dan tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.</p>
<p>Sekali lagi, Islam emang beda. Nggak bisa disamakan dengan agama dan ideologi lain. Nggak bisa disatukan pula. Karena ibarat air dengan minyak, maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah akidah. Tidak ada gaya elektrostatis alias gaya tarik-menarik dalam urusan syariat antara Islam dan agama lain.</p>
<p>Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun, bunga dan buahnya jelas berbeda dong. Tul nggak? Maka sangat wajar dan adil jika Allah Swt. aja mengajarkan bahwa keyakinan kita berbeda dengan keyakinan agama lain. Itu sebabnya, jangan bingung pula kalo syariatnya juga beda. Maka, apa hak kita menyatakan bahwa semua agama sama? Sehingga kita merasa kudu terlibat dan melibatkan diri dalam ibadah agama lain? Nggak lha yauw!</p>
<p><strong>Aneh dan asing, kok bisa?<br />
</strong>Ketika ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar, sesuai tuntunan syariat Islam, banyak orang merasa heran. Bahkan ada sebagian besar yang menganggapnya aneh. Sebab, di tengah maraknya busana wanita yang mengeksploitasi keindahan tubuh wanita, muslimah yang mengenakan jilbab dengan sempurna tentunya adalah fenomena keanehan. Mereka dianggap orang asing dalam kehidupan saat ini.</p>
<p>Begitu pula ketika seorang Muslim yang mempertahankan keislamannya di tengah berserakannya ide sekularisme dijual di pasar bebas kehidupan. Ia tetap berpegang teguh meski harus menelan cemoohan dan sindiran begitu banyak orang: â€œJangan sok suci!â€? â€œJangan sok alim!â€?, begitu kira-kira umpatan banyak orang kepadanya ketika ia tidak mau berbuat maksiat. Ya, ternyata berpegang teguh kepada ajaran Islam dalam kondisi seperti saat ini, di tengah kehidupan sekularisme, menjadi sangat terasing dan dianggap aneh.</p>
<p>Tapi jangan khawatir, selama yang kita pegang adalah kebenaran Islam, tak perlu minder apalagi patah semangat. Justru menjadi orang-orang yang dianggap aneh atau terasing dalam komunitas yang menurut ajaran Islam justru dianggap komunitas yang aneh adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Bahkan Rasulullah saw. memuji orang-orang yang terasing dalam kehidupan yang rusak. Rasulullah saw. bersabda: â€œIslam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.â€? (HR Muslim no. 145)</p>
<p>Dalam hadis lain, Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin yang senantisa bersabar dalam menghadapi godaan dan rayuan kehidupan yang akan memalingkan dirinya dari Islam. Sabda beliau: â€œSesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,â€™Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?â€? Rasulullah saw. menjawab,â€?Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).â€? (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)</p>
<p>Subhanallah. Rasulullah saw. memberikan penghargaan yang luar biasa kepada kita yang bisa bertahan dalam kondisi yang rusak ini. Iman kita menolong kita untuk nggak ikut larut dalam kehidupan yang rusak dan bejat. Tapi sebaliknya bertahan dengan memeluk ajaran Islam sepenuh hati dan sekuat tenaga. Tak akan melepaskannya selama hayat masih dikandung badan. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjaga diri dan berusaha untuk tetap istiqomah dalam keimanan dan kebenaran bersama Islam. Meski taruhannya adalah dianggap aneh atau bahkan diasingkan. Bukan hanya kita, tapi juga ajaran Islam yang kita peluk erat dianggap asing. Bersabarlah!</p>
<p><strong>Iman harus tetap hidup</strong><br />
Ketika cahaya iman tetap menyala dalam hati dan pikiran kita, insya Allah kita tak akan pernah berada dalam kegelapan. Iman akan hidup dan memberikan tenaga bagi kita untuk memandu ke jalan yang benar. Kita tak akan pernah terpengaruh dengan kerusakan yang melingkari kehidupan kita saat ini.</p>
<p>Ibarat ikan yang hidup di air laut yang penuh dengan garam. Air laut yang asin itu, selama ikan masih hidup bisa bergerak ke sana kemari, asinnya air laut tak akan mampu meresap ke dalam tubuhnya. Tapi begitu ikan mati, maka air laut yang asin itu akan dengan mudah menyusup ke dalam tubuhnya. Sehingga tubuh ikan itu menjadi asin.</p>
<p>Seorang Muslim yang keimanannya tetap hidup dalam dirinya, insya Allah tak akan mudah larut dalam kehidupan yang rusak. Dan, harus dipahami bahwa keimanan itu harus kita pelihara terus. Pelihara iman dengan ketaatan kepada Allah Swt. Yup, kalo kita iman kepada Allah, ya harus taat kepadaNya. Itu sebabnya, nyalakan terus cahaya keimanan dalam hidup kita. Bagaimana agar cahaya keimanan tetap menyala? Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, â€œCahaya dan sinar iman adalah banyak berpikirâ€? (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, h. 409)</p>
<p>Jadi, agar cahaya iman kita tetap menyala dalam kehidupan kita, banyaklah berpikir. Berpikir adalah proses terakhir setelah kita tahu dan belajar. Sebab, jika kita hanya tahu saja tentang Islam, tapi belum menyempatkan diri untuk belajar, maka besar kemungkinan kita tak akan pernah bisa mencapai derajat berpikir. Jadi, biasakan kita melalui proses KLT (Knowing, Learning, and Thinking: tahu, belajar, dan berpikir).</p>
<p>Boys and gals, jika kita tahu bahwa Islam mengajarkan kebaikan, maka kita akan belajar tentang kebaikan itu, dan berusaha untuk memikirkan bagaimana menyampaikan kebaikan itu kepada orang lain. Inilah yang insya Allah akan menjadikan cahaya iman tetap menyala bagi kita. Kita bukan hanya berusaha menyelamatkan diri sendiri, tapi berupaya juga menyelamatkan orang lain agar bisa menerima cahaya iman. Sehingga akan banyak orang yang berbuat untuk memelihara keimanan ini agar tetap hidup dalam diri mereka.</p>
<p><strong>Penyebab Islam terasingkan</strong><br />
Ada dua faktor yang bisa dianggap sebagai penyebab Islam menjadi terasing (bahkan bagi kaum Muslimin sendiri). Pertama, dari faktor internal. Kedua, dari faktor eksternal. Apa saja faktor internal yang menyebabkan Islam terasingkan?</p>
<p>Pertama, kaum Muslimin yang malas belajar. Ini akan menyebabkan kaum Muslimin tidak mengenal dan memahami, serta mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar.</p>
<p>Kedua, tidak terjalin ukhuwah dengan benar di antara kaum Muslimin. Kaum Muslimin tidak bersatu. Padahal bersaudara itu adalah sebuah kenikmatan dari Allah Swt. Jika kita bersama dan bersatu, insya Allah kita akan terlihat sebagai kekuatan yang besar. Firman Allah Taâ€™ala:<br />
â€œDan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.â€? (QS Ali Imran [3]: 103)</p>
<p>Ketiga, sedikit atau bahkan hilangnya aktivitas dakwah. Ini akan menjadi faktor pelemah kekuatan Islam karena Islam tidak tersebar dan tidak diketahui banyak oleh kaum Muslimin (dan juga nonMuslim).</p>
<p>Keempat, berhentinya proses ijtihad. Ini menjadi bencana kaum Muslimin karena banyak masalah baru tidak bisa terpecahkan dengan benar dan baik. Kelima, hancurnya Daulah Khilafah Islamiyyah, sehingga tak ada pelindung bagi kaum Muslimin. Akibatnya banyak kaum Muslimin yang hidup dalam kemaksiatan, kenistaan, dan penderitaan panjang.</p>
<p>Adapun faktor eksternal penyebab Islam menjadi terasing adalah upaya musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam melalui perang pemikiran dan budaya. Sehingga kaum Muslimin menjadi gamang dalam hidup bahkan sebagian besar merasa minder menyandang predikat Muslim. Mereka takut terasing dan akhirnya larut bersama kehidupan yang rusak.</p>
<p>Itu sebabnya, mari kita bekerjasama untuk segera bangkit dari kondisi ini. Harus segera sadar, tahu, dan mau mengamalkan dan memperjuangkan Islam. Agar Islam tidak asing dan kaum Muslimin tidak merasa terasingkan. Kobarkan semangat dan tetap istiqomah bersama Islam! Sebab, Islam emang beda dengan agama dan ideologi lain. Pede aja lagi! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 323/Tahun ke-8/8 Januari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-emang-beda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Ini Fana, Bro!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dunia-ini-fana-bro</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dunia-ini-fana-bro#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 21:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun kedelapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dunia-ini-fana-bro/</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah merasakan kehilangan seorang teman yang begitu dekat dalam hidup saya. Ia menjadi inspirasi, sering memberi motivasi dan dengan kepolosan khas anak SMP, ia menjadi teman akrab saya. Sayangnya, kebersamaan kami akhirnya dipisahkan ketika sama-sama lulus SMP. Bahkan kami dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Saya melanjutkan studi di kota lain. Hari-hari pertama jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah merasakan kehilangan seorang teman yang begitu dekat dalam hidup saya. Ia menjadi inspirasi, sering memberi motivasi dan dengan kepolosan khas anak SMP, ia menjadi teman akrab saya. Sayangnya, kebersamaan kami akhirnya dipisahkan ketika sama-sama lulus SMP. Bahkan kami dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Saya melanjutkan studi di kota lain. Hari-hari pertama jauh darinya, saya merasa kehilangan candanya, tawanya, dan gaya marahnya jika saya guyonin. Saya memang cukup iseng kepadanya, bahkan tak jarang kami marahan. Meski akhirnya baikan lagi. Ya begitulah anak-anak. Kami pasangan sahabat yang sangat akrab waktu itu.<span id="more-327"></span></p>
<p>Untuk mengobati kerinduan di antara kami, kami rajin saling berkirim surat. Hampir setiap bulan surat darinya saya terima. Lengkap dengan kabar terbaru tentang dirinya dan juga tentang kehidupannya. Begitupun yang saya kabarkan. Sampai suatu hari, bukan surat darinya yang datang ke saya. Tapi surat dari adik saya yang mengabarkan bahwa sahabat saya itu meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan saat olahraga renang yang diadakan sekolahnya. Ia tenggelam dan akhirnya meninggal dunia. Saya sangat terpukul. Benar-benar kehilangan. Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun.</p>
<p>Ya, itu kehilangan untuk kedua kalinya. Pertama, merasa kehilangan saat kami harus berpisah karena masing-masing melanjutkan studi ke sekolah yang berbeda. Dan kedua, ternyata kami harus berpisah dari dunia ini. Tentu, tak mungkin bisa berkomunikasi lagi dengannya untuk menanyakan kabarnya.</p>
<p>Meski saya sudah merasa paham bahwa kehidupan ini tidaklah abadi, tapi baru merasakan pedihnya ketika kehilangan orang yang begitu dekat di hati. Ya, benar. Kita memang tidak abadi. Kita suatu saat pasti menghembuskan nafas yang terakhir dalam hidup kita. Menyusul teman dan saudara kita yang lain yang sudah lebih dulu â€?hijrahâ€™ dari dunia ini dan meninggalkan gemerlapnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, ini sekadar kisah pengantar tulisan sederhana ini. Bahwa apa yang kita miliki bisa begitu saja meninggalkan kita. Harta yang kita miliki bisa hilang. Begitu pun sahabat yang telah menemani hidup kita, bisa saja pergi tanpa pesan meninggalkan kita dan dunia ini. Dan, suatu saat justru kita sendiri yang akan meninggalkan teman-teman kita, saudara kita, dan indahnya dunia ini. Bahkan, dunia ini pun akan berakhir dengan datangnya kiamat. Benar, dunia dan seluruh isinya ini adalah fana, Bro. Nggak abadi.</p>
<p>Memang benar bahwa kehidupan kita fana, dunia ini juga fana, tapi yang harus menjadi perhatian kita dan kekhawatiran kita adalah: dengan cara apa kita meninggalkan dunia ini? Pada saat seperti apa kita wafat? Dan, bekal amal apa yang kita bawa untuk dibawa menghadap Allah Swt.? Amal baikkah, atau justru amal buruk? Pilihan ada di tangan kita.</p>
<p>Pilihan? Betul. Sebab keyakinan kita tentang akhir dunia dan kehidupan akhirat adalah pilihan yang kita dapatkan setelah memahami hakikat penciptaan kita, alam semesta, dan kehidupan ini. Begitu pula dengan amalan yang kita lakukan, adalah atas dasar pilihan yang kita dapatkan setelah memahami hakikat dan tujuan kita selama di dunia ini. Masing-masing kita membawa amal kita. Bukan amalan orang lain.</p>
<p>Sobat, kita berasal dari Allah Swt. dan akan kembali kepadaNya pada waktu yang telah ditentukan. Nah, selama di dunia ini kita juga diminta untuk beribadah kepada Allah Swt. Melaksanakan semua perintahNya dan nggak melakukan segala hal yang memang dilarang Allah Swt. Ini memang sederhana secara teori, tapi jarang yang bisa sukses dalam prakteknya. Semoga kita sih masuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan beramal sholeh untuk bekal kehidupan setelah dunia ini. Amin.</p>
<p><strong>Cinta dunia? Sewajarnya saja</strong><br />
Mencintai dunia boleh saja. Sebab, dunia adalah tempat tinggal kita saat ini yang dipenuhi dengan segala gemerlap dan keindahan yang membuat kita terpesona. Tapi jangan khawatir, kita boleh kok menikmatinya. Allah Swt. berfirman:<br />
â€œDan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawiâ€¦â€? (QS al-Qashash [28]: 77)</p>
<p>Sobat, kalo kamu pengen nikmatin keindahan dunia, silakan aja. Nggak dilarang kok. Ingin kaya? Monggo aja. Ingin mendapatkan status sosial yang tinggi menurut ukuran dan pandangan manusia, juga boleh-boleh saja. Belajar jenjang demi jenjang untuk mendapatkan ilmu dan gelar akademis, Islam pun tak pernah membatasi. Silakan.</p>
<p>Cuma nih, yang perlu dapet perhatian adalah jangan sampe kita terlalu silau dengan gemerlap indahnya dunia, sehingga malah bikin kita lupa diri dan melupakan Allah Swt. Kalo kita menikmati dunia bukan cuma yang halal, tapi yang haram pun diembat juga, itu namanya kita udah lupa diri, Bro. Bener.</p>
<p>Ada syair yang bagus dari sebuah nasyid yang mengingatkan agar kita tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia dan segala perhiasannya yang membuat kita lalai dan bahkan meninggalkan kewajiban. Begini sebagian lirik dari nasyid berjudul Fatamorgana yang dipopulerkan oleh Hijaz yang berkolaborasi dengan In Team: â€œ&#8230;Deras arus dunia, menghanyutkan yang terlena/indah fatamorgana melalaikan menipu daya/dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi/ tiada sudahnya dunia yang dicari/Begitu indah dunia siapa pun kan tergoda/harta pangkat dan wanita melemahkan jiwa/Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai/syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi/Pulanglah kepada Tuhan cahaya kehidupan/Keimanan, ketakwaan kepadaNya senjata utama&#8230;â€?</p>
<p>Alangkah lebih mengenanya jika tak sekadar membaca syairnya seperti ini. Coba deh dengerin lagunya yang easy listening ini. Biasanya, nasyid seperti ini memang bisa menggugah nafsiyah kita yang mungkin saja udah tertimbun begitu banyak kesibukan dan urusan dunia lainnya.</p>
<p>Benar, dunia begitu indah gemerlapnya. Tapi tak semua yang ditawarkan itu baik, bahkan mungkin adalah jebakan untuk tergoda mencicipi kemaksiatan yang dikemas dengan manis dan menarik. Minuman keras, perzinahan, judi dan sejenisnya, menurut hawa nafsu manusia memang menyenangkan. Tapi, karena semua perbuatan itu dilarang oleh Allah Swt., maka hanya akan menuai siksa dan dosa jika dilakukan. Jika tak bertobat, tentunya nerakalah tempat kembalinya. Naudzubillahi min dzalik. Yuk, kita sadar diri ya.</p>
<p>Belajar, berdakwah, berjihad, dan amal shalih lainnya seringkali memberatkan kita. Belajar seringkali dihinggapi rasa malas, berdakwah pun kerap mendapatkan tekanan yang akhirnya kita futur, termasuk berjihad dan amalan shalih lainnya menjadi beban berat kita. Padahal, semua itu jika kita tunaikan dan dibarengi dengan keikhlasan, insya Allah akan mendatangkan pahala, dan juga menjadi jalan menuju surga yang telah dijanjikan Allah Swt. bagi hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih.</p>
<p>Dunia memang gemerlap, dan boleh saja kita nikmati. Tapi, jangan sampai gemerlap dunia itu membuat kita lalai dan meninggalkan kewajiban kita. Sewajarnya saja menikmati dunia, karena selebihnya dunia itu adalah ladang ujian yang harus menjadi perhatian kita agar tak terjerumus dalam tipu dayanya.</p>
<p>Itu sebabnya, kita memang boleh saja memiliki banyak harta, tapi jangan sampe kekayaan yang kita miliki menjeremuskan kita ke dalam kesesatan atau membuat kita lalai dari mengingat Allah Swt. dan RasulNya. Yakni membuat kita malas berbuat baik atau enggan menginfakkan harta demi kemajuan Islam dan umatnya ini.</p>
<p>Yup, Islam nggak melarang kita menikmati segala macam perhiasan dan pernak-pernik yang ditawarkan dunia. Tapi, sewajarnya saja kita meraihnya. Jangan sampai kita tertipu dan gelap mata mencintainya untuk terus mengejarnya bak bayangan tak bertepi atau terus dicari seolah tiada bosannya dan tiada akhirnya. Semoga tidak demikian yang kita lakukan.</p>
<p><strong>Jangan takut mati</strong><br />
Kamu yang ngefans sama grup band Ungu, pasti hapal deh lagu â€œAndai Kutahuâ€? yang dinyanyikan Pasha, vokalisnya. Seperti ini nih sebagian liriknya: â€œAndai Kutahu, kapan tiba ajalku. Kuakan memohon: Tuhan tolong panjangkan umurku. Andai kutahu, kapan tiba masaku, kuakan memohon: Tuhan jangan Kau ambil nyawaku. Aku takut, akan semua dosa-dosaku. Aku takut dosa yang terus membayangikuâ€¦â€?</p>
<p>Hmm.. sayangnya â€?permintaanâ€™ Pasha dan Ungu-nya nggak bisa dikabulkan. Sebab, Malaikat Ijrail tuh kalo mo datang nyabut nyawa kita nggak pake ngasih kabar dulu, bahkan sekadar â€œmissed callâ€? sekalipun. Kalo ajal kita udah tiba, ya langsung aja diambil, gitu lho. Nggak bisa ditangguhkan. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>â€œMaka jika telah datang waktunya (ajal), mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.â€? (QS al-Aâ€™raaf [7]: 34)</p>
<p>Bro, meski demikian, kita nggak usah merasa takut mati. Sebab, semua makhluk hidup pasti akan mati. Cuma nih, kalo pun boleh takut adalah kalo kita selama di dunia ini nggak nyiapin bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Kalo udah siap bekal mah insya Allah nggak bakalan takut. Sebab, risiko orang hidup yang paling tinggi adalah kematian. Berani untuk hidup, berarti berani menghadapi risiko kematian.</p>
<p>Masalahnya, gimana dengan bekal kita? Kalo dosa yang kita koleksi, sangat wajar jika kita takut menghadapi kematian. Itu sebabnya, seminimal mungkin kita nggak berbuat dosa. Syukur-syukur kalo nggak pernah berbuat dosa. Tapi, manusia nggak ada yang sempurna kayak gitu deh. Pasti ada salahnya. Itu sebabnya, Rasulullah ngasih tahu bahwa seluruh bani Adam tuh nggak bisa lepas dari salah (dosa). Nah, sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang segera bertaubat. Dan, jangan â€œtobat sambalâ€?, lho. Tahu istilah â€œtobat sambalâ€?? Yup, sekarang bilang tobat, besoknya malah ngulangin lagi kemaksiatan. Aduh, jangan sampe deh ya. Soalnya, rugi benar kita kalo pas lagi ngelakuin perbuatan dosa, eh nyawa kita malah diambil. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Sobat, betul bahwa kita jangan takut menghadapi kematian. Tapi bukan berarti kita lantas menikmati dunia sebebasnya yang kita inginkan seolah nggak akan ada kematian. Justru sebaliknya, â€œjangan takut menghadapi kematianâ€? harus diartikan bahwa hal itu pasti terjadi. Biasa aja gitu lho. Bahkan dunia ini juga akan berakhir. Itu sebabnya yang diperlukan adalah persiapan. So, tugas kita hanyalah berusaha sebaik dan sebanyak mungkin untuk mengumpulkan pahala.</p>
<p>Boys and galz, orang yang baik-baik pasti akan mati, begitu pula dengan orang yang bermaksiat pasti akan mati juga. Termasuk, orang yang giat berdakwah dan berjuang untuk Islam juga akan mati, dan tentu orang yang diam sambil bengong juga bakalan mati. Bedanya adalah nilai dan amal yang dibawanya untuk menghadap Allah Swt. Betul ndak?</p>
<p>Ayo berjuang, seperti pesan Shoutul Harokah dalam bait syair di bawah ini: â€œMengarungi samudera kehidupan, kita ibarat para pengembara. Hidup ini adalah perjuangan, tiada masa tuk berpangku tangan. Setiap tetes peluh dan darah tak akan sirna ditelan masa. Segores luka di jalan Allah, kan menjadi saksi pengorbananâ€¦â€?. Kita bisa kok, sobat! Semangat! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 322/Tahun ke-8/1 Januari 2007</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dunia-ini-fana-bro/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
