<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Buletin Studia Tahun keenam</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-studia/buletin-studia-tahun-keenam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 17:26:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Jalan Masih Panjang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jalan-masih-panjang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jalan-masih-panjang#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 08:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jalan-masih-panjang/</guid>
		<description><![CDATA[Sobat muda muslim, nggak terasa ya kita udah ada di ujung tahun 2005. Setahun itu memang cepat sekali. Benar juga kata Musashi, â€œSeribu tahun itu ibarat kilatan cahayaâ€?. Ragam peristiwa tentu sudah kita jalani selama ini. Jika kamu umur 16 tahun saat ini, maka hidupmu yang sudah dilalui adalah selama itu. Dan di penghujung tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sobat muda muslim, nggak terasa ya kita udah ada di ujung tahun 2005. Setahun itu memang cepat sekali. Benar juga kata Musashi, â€œSeribu tahun itu ibarat kilatan cahayaâ€?. Ragam peristiwa tentu sudah kita jalani selama ini. Jika kamu umur 16 tahun saat ini, maka hidupmu yang sudah dilalui adalah selama itu. Dan di penghujung tahun ini, insya Allah usiamu akan memasuki sweet seventeen, usia 17 tahun!<span id="more-275"></span></p>
<p>Hitungan waktu memang ukuran yang dibuat manusia untuk menandai perubahan atau lamanya proses. Dalam kamus malah lebih jelas disebut bahwa waktu adalah rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Supaya terlihat perubahan dari sebuah proses, maka ditetapkanlah waktu. Misalnya aja, setahun itu 12 bulan. Sebulan itu 30/31 hari. Sehari adalah 24 jam. Dan 1 jam 60 menit. 1 menit 60 detik. Batasan aturan seperti itu dibuat untuk mengukur seberapa lama kita melakukan sebuah kegiatan dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika saya menulis di judul artikel ini â€œjalan masih panjangâ€?, tentunya punya ukuran. Mengapa disebut masih panjang? Memangnya berapa panjangnya? Berapa panjang jalan yang sudah dilewati selama ini? Kemungkinan besar pertanyaan mengarah ke sana. Meski kelihatannya klise, tapi kita ternyata masih butuh dengan kalimat seperti ini. Pertanyaannya: untuk apa?</p>
<p>Saya bisa menjawab bahwa dengan menuliskan â€œjalan masih panjangâ€? ingin menekanan bahwa kita masih ada waktu untuk melangkah lebih jauh dalam hidup ini. Soalnya kita udah ngerasa berjalan. Cuma memang belum banyak pengalaman yang dialami, masih sedikit wawasan yang kita dapatkan, bahkan masih kecil kontribusi amal kita untuk kehidupan ini. Selain itu, perjalanan hidup kita dalam menyebarkan Islam juga masih harus menempuh perjalanan panjang. Mungkin akan melelahkan, membuat kita tak bisa bertahan, bahkan gugur di tengah jalan. Sangat boleh jadi bukan? Ya, sangat boleh jadi.</p>
<p><strong>Semangat perubahan</strong><br />
Nah, kalo kita udah sepakat dengan hitungan waktu, udah setuju dengan batasan ukuran waktu, ada baiknya kita mulai merenung dalam-dalam, sudah seberapa jauh kita melangkah dalam hidup ini? Adakah perubahan-perubahan yang berarti dalam hidup kita? Kita harus berubah? Ya, jika perubahan itu ke arah kebaikan atau memang dengan perubahan itu akan memberikan manfaat yang banyak. Tidak sekadar berubah atau asal berubah.</p>
<p>Sekadar bertanya, kamu tahu grup musik KoRn? Nah, di album mereka yang kedelapan dilakukan revolusi alias perubahan besar-besaran. Band metal yang udah mengguncang panggung Woodstock 1999 itu seolah muncul dengan nyawa baru dalam album terbarunya bertitel See You on The Other Side.</p>
<p>Perubahan apa yang dilakukan Jonathan Davis, sang vokalis KoRn dan juga koleganya yang kayaknya udah dikenal banget sama penggemar KoRn, seperti David Silveria (si tukang gebuk drum), James â€œMunkyâ€? Shaffer (gitar), dan Fieldy yang kebagian betotin bas?</p>
<p>Ehm, KoRn yang dikenal doyan bermain hip metal, kini nggak malu kalo harus memainkan lagu slow yang diiringi piano akustik, biola dan juga bagpipe Skotlandia. Paling nggak itu bisa disimak dalam lagu Seen It All.</p>
<p>Perubahan KoRn ampir sama dengan Metallica ketika membesut Black Album. Di album itu ada lagu manis yang kayaknya aneh banget kalo itu keluar dari tampang-tampang garang James Hetfield cs. Lagunya? Pasti kamu yang penggemar Metallica tahu semua. Yup, lagu itu berjudul Nothing Else Matters. Nih lagu cinta yang menurut saya romantis banget. Ternyata, Metallica melanggar janjinya sendiri untuk tak pernah bikin lagu romantis.</p>
<p>Tapi itulah perubahan. Kata pepatah, â€œTak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiriâ€?. Kisah KoRn dan Metallica sekadar cantolan aja. Sekadar contoh bahwa kita tak malu dan nggak takut untuk berubah. Meski KoRn dan Metallica hanyalah grup band. Tapi kita bisa mencontoh semangatnya. Semangat untuk berubah.</p>
<p>Jika KoRn hanya berubah dalam soal gaya musik, kita harusnya lebih keren lagi, yakni mengubah kebiasaan hidup yang nggak baik. Syukur-syukur kamu kemudian bisa mengubah secara revolusioner gaya hidup kita. Kita yang tadinya jahat, bisa berubah jadi baik. Kita yang pemalas akan menjadi super rajin. Kita yang sama sekali tak diperhitungkan di kelas, ternyata bisa menjadi juara umum menjelang kelulusan. Kita bisa berubah karena punya impian, punya obesi untuk menjadi lebih baik dan dinamis. Bukan mustahil kan?</p>
<p>Memang sih, perubahan nggak bisa langsung terasa hasilnya. Perubahan itu memerlukan proses, dan mungkin waktu yang tak sebentar. Jalan yang ditempuh juga sangat boleh jadi panjang banget, berliku, berkelok, ada tanjakan dan turunan. Tapi demi sebuah perubahan, semua itu akan dengan semangat dalam menjalaninya.</p>
<p>Sobat, mumpung kita masih punya kesempatan saat ini, kita kayaknya harus merasa bahwa jalan kita masih panjang, sehingga akan tergerak terus untuk semangat melakukan perbaikan hidup. Bukankah kita pernah diajarkan bahwa hidup itu harus selalu lebih baik setiap waktunya? Kalo hari ini lebih jelek dari kemarin, itu artinya rugi. Kalo hari ini sama dengan kemarin berarti nggak ada peningkatan. Iya kan?</p>
<p>Allah mengajarkan kepada kita dalam firmanNya (yang artinya):â€œDemi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.â€? (QS al-â€?Ashr [103]: 1-3)</p>
<p>Mengerjakan amal shalih tentunya mengerjakan kebaikan. Kita yang masih malu untuk berubah, sudah saatnya memberanikan diri untuk melakukan perubahan dalam hidup ini. Ahli maksiat sekali pun, jika dia mau untuk mendengarkan omongan orang yang baik atau petunjuk yang tak disangka-sangka dari sebuah peristiwa atau seseorang, insya Allah akan berubah menjadi orang yang?  baik-baik.</p>
<p>Syaikh Fudhail bin Iyadh, seorang ulama dan menjadi salah satu guru Imam Syafiâ€™i punya sisi gelap dalam hidupnya sebelum menjadi ulama. Dikisahkan bahwa Fudhail bin Iyadh, semasa masih jahat, bermaksud mengganggu seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu bacaan al-Quran yang artinya: â€œBelumlah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka).â€? (QS al-Hadiid [57]: 16)</p>
<p>Ayat tersebut menyentak sanubari Fudhail bin Iyadh, membuatnya terdiam di atas tembok. Tiba-tiba Fudhail bin Iyadh merasa persendiannya lumpuh. Lalu dengan tubuh gemetar dia mengiba, â€œOh Tuhan, telah tiba waktuku. Telah tiba waktuku.â€? Dia pun turun dari tembok dan berjalan pulang dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.</p>
<p>Karena kemalaman di jalan, Fudhail bin Iyadh istirahat di sebuah rumah kosong yang ditemuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan musafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.</p>
<p>â€œAyo kita berangkat sekarang saja,â€? dari luar bilik Fudhail mendengar seorang dari mereka berkata demikian.</p>
<p>Yang lain menjawab, â€œJangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.â€?</p>
<p>Mendengar percakapan mereka itu, Fudhail menampakkan dirinya sambil berkata, â€œAkulah Fudhail. Tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.â€? (Jurnal Islamia, April-Juni 2005)</p>
<p><strong>Hidayah tak â€?gratisâ€™</strong><br />
Sobat muda muslim, jalan kita masih panjang, insya Allah masih ada banyak kesempatan bagi kita untuk melakukan banyak perubahan revolusioner dalam hidup kita. Berubah ke arah yang benar dan baik tentunya. Harus ada kekuatan dan niat yang mantep dari kita untuk berubah. Kalo nggak, ya susah, Bro. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„?§?? ???????????‘???±?? ?…???§ ?¨???‚???ˆ?’?…?? ?­?????‘???‰ ???????????‘???±???ˆ?§ ?…???§ ?¨???£???†?’?????³???‡???…?’<br />
â€œSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.â€? (QS ar-Raâ€™d [13]: 11)</p>
<p>Itu sebabnya, memang kudu ada upaya dari kita. Jadi nggak ngandelin â€?tangan takdirâ€™. Petunjuk alias hidayah itu sebetulnya udah banyak di kanan-kiri; depan-belakang; atas-bawah dalam hidup kita. Ada bacaan yang menuntun, ada ucapan orang-orang yang mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Tapi sayangnya, kita seringnya menyepelekan, ogah denger apalagi baca. Cuek banget, gitu lho.Padahal, itu jalan menuju hidayah.</p>
<p>Menurut Imam as-Syaâ€™rawi, bahwa orang yang diberikan hidayah atau petunjuk itu seperti kita bertanya tentang alamat rumah seseorang, lalu diberitahu oleh orang yang kita tanya, dan kita langsung mengikuti petunjuk itu hingga sampai ke alamat rumah orang yang kita maksud. Jadi memang ada upaya juga dari kita. Tul nggak?</p>
<p>Soalnya aneh banget kan kalo misalnya kita nanya alamat rumah temen kita. Udah dikasih tahu, tapi kita malah nggak mengikuti petunjuknya, ya udah nggak bakalan ketemu tuh. Padahal itu hidayah udah nampak segede-gede gajah kali. Tapi kita cuek. Itu sebabnya, kalo ada anak cewek yang ditanya, â€œKenapa kamu belum pake jilbab dan kerudung?â€?, lalu dia menjawab, â€œWaduh, saya belum dapat hidayah Mas!â€? Hmm.. ia sebetulnya bisa dibilang menyia-nyiakan hidayah. Karena yang ngasih tahu udah banyak, al-Quran juga udah turun semua ayatnya, mungkin ia rajin membacanya dan bahkan jadi juara MTQ.</p>
<p>Jadi, kalo menerjemahkan pendapatnya Imam as-Syaâ€™rawi, nih anak cuma ngapalin jalan dan alamat orang yang ditanyanya aja, tanpa bergerak untuk mengikuti petunjuk sehingga sampai ke yang dia tuju. Bener nggak sih? Jadi hidayah emang nggak â€?gratisâ€™, tapi kudu ada usaha dari kitanya juga. Tolong catet ye.</p>
<p>Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Miftahu Daarissaâ€™aadah menjelaskan bahwa mengikuti petunjuk Allah Swt. adalah membenarkan pemberitahuanNya tanpa menampakkan keraguan yang merusak pembenaran itu, serta melaksanakan perintahNya tanpa adanya hawa nafsu yang menjadi penghalang. Kedua hal ini merupakan inti keimanan, yaitu pembenaran berita dan ketaatan terhadap perintah. Kemudian kedua hal tersebut diikuti dua perkara. Yaitu meniadakan keraguan yang menghalangi dan mengotori kesempurnaan itu, serta menolak hawa nafsu yang menyesatkan dan menggoda yang menghalangi kesempurnaan pelaksanaan syariatNya.</p>
<p>Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa mengikuti petunjuk Allah Swt. mengandung empat perkara: Pertama, membenarkan pemberitahuanNya. Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk menolak dan melawan segala keraguan yang dibisikkan setan-setan dari jenis jin dan manusia. Ketiga, menaati perintahNya. Keempat, melawan hawa nafsu yang menghalangi seorang hamba dalam menyempurnakan ketaatan.</p>
<p>Oke deh, semoga sejenak kita berhenti untuk merenungkan perjalanan kita. Di depan jalan masih panjang. Kita masih ada kesempatan untuk ngumpulin ilmu, wawasan, dan amal baik kita untuk menempuh perjalanan panjang kita. Semoga kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Semoga pula perubahan kita bukan hanya pada diri kita, tapi setelah kita menjadi benar dan baik dengan Islam, kita juga harus berusaha untuk mengubah masyarakat. Karena sejatinya, jika kita ingin berpikir global harus punya prinsip: â€œMari kita ubah individu dengan melakukan perubahan terhadap masyarakat.â€?</p>
<p>Sobat, semoga di tahun depan, kita menjadi bagian dari barisan orang-orang yang berjuang untuk menerapkan Islam sebagai ideologi negara di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Tentu, tujuannya adalah untuk mengubah dan menyingkirkan sekular-isme-kapitalisme yang telah berjasa menyengsarakan kehidupan umat manusia di dunia ini. Jalan masih panjang. Semoga masih banyak waktu untuk melakukan perubahan. Salam revolusi! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 273/Tahun ke-6/26 Desember 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jalan-masih-panjang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosa-dosa Kita&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dosa-dosa-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dosa-dosa-kita#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:59:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dosa-dosa-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Rasa-rasanya jarang banget di antara kita-kita yang sering nginget-nginget soal dosa. Justru sebaliknya kita paling asyik dan hot kalo ngomongin tentang kebaikan kita. Mungkin itu naluriah kali ye? Manusia kan punya harga diri. Itu sebabnya manusia bisa malu kalo dirinya dianggap rendah di hadapan orang lain. Siapa sih yang nggak malu kalo ketahuan kita berbuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasa-rasanya jarang banget di antara kita-kita yang sering nginget-nginget soal dosa. Justru sebaliknya kita paling asyik dan hot kalo ngomongin tentang kebaikan kita. Mungkin itu naluriah kali ye? Manusia kan punya harga diri. Itu sebabnya manusia bisa malu kalo dirinya dianggap rendah di hadapan orang lain. Siapa sih yang nggak malu kalo ketahuan kita berbuat salah? Pasti malu banget. Loss pride. Iya kan?<span id="more-274"></span></p>
<p>Rasa malu ini sebenarnya wajar. Cuma mungkin penempatannya kudu diperhatikan dengan baik. Kalo kita malu sama orang ketika kita berbuat salah, rada-rada mendinglah. Tapi kalo kemudian diem-diem tetap melakukan kesalahan tersebut, nah ini yang bandel. Dan mungkin nggak punya rasa malu sebenarnya.</p>
<p>Lebih hebat lagi kalo kita punya rasa malu sama Allah. Wuih, keren banget tuh. Kalo malu kepada manusia dibilang masih â€œmendingâ€?, tapi malu kepada Allah itu yang luar biasa hebatnya. Kalo kita malu kepada manusia wajar, karena manusia bisa dilihat sama kita dan kita pun bisa melihat manusia lainnya. Jadi dari sisi psikologis kita malu kalo perbuatan kita ketahuan sama orang lain.</p>
<p>Itu sebabnya, minggat dari sekolah pada jam pelajaran, kebanyakan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Kalo puasa Ramadhan makan di siang hari, banyak teman kita yang sangat malu. Makanya, pas makan di restoran or sekadar di warteg pasti tuh warung ditutupin pake kain (kayaknya cuma Ramadhan aja tuh warung pake hijab). Begitu pun para pelaku kriminal yang sering jadi bintang utama di acara Buser, TKP, Sergap dan lainnya hampir selalu di antara mereka menutup wajahnya kalo di-shoot sama kamera televisi.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita pun rada-rada malu kalo harus nyeritain dosa kita kepada teman-teman. Aib euy. Iya sih, tapi itu masih wajar lho. Yang nggak wajar tuh kalo kita nggak malu dan terus berbuat dosa. Misalnya aja, dengan bangga ada orang yang bilang ke teman-temannya kalo dia tuh udah ngelakuin seks bebas, udah nyoba narkoba, udah ngerampok dsb. Bahkan dengan hebatnya bisa ngitung pasti jumlah maksiat yang dikerjakan. Tapi bukan untuk dijadikan pelajaran dan dia meninggalkan perbuatan itu, tapi malah direken sebagai prestasi hidupnya. Waduh!</p>
<p>Tapi rasanya kita juga harus meluangkan waktu untuk merenung. Berhenti sejenak dari segala aktivitas hidup kita. Kita coba menghitung dosa yang pernah kita lakukan. Kalo yang besar-besar dan mungkin sering kayaknya kita inget. Tapi berapa pasti jumlah keseluruhan dosa yang pernah kita buat mungkin nggak tahu. Karena jarang juga ada yang mau menghitungnya. Mungkin karena malas atau memang nggak peduli.</p>
<p>Sobat, dosa yang kita perbuat memang nggak perlu dipublikasikan kepada orang lain. Tapi kita wajib mengingatnya agar tak pernah lagi kita lakukan di masa yang akan datang. Kita wajib malu sama Allah. Itu sebabnya, kita selalu minta ampunan dalam doa-doa kita setelah selesai sholat. Karena kita sangat yakin, bahwa ada aja dosa besar ataupun kecil yang kita buat dalam hidup ini. Meski kita beramal baik juga, tapi kita senantiasa khawatir kalo-kalo tuh dosa lebih banyak ketimbang amal baik kita. Jadi, pantas banget kan kalo kita memohon ampunan kepada Allah?</p>
<p>Jangan sombong dong, dengan tak pernah minta ampun kepada Allah. Apalagi kalo terus berbuat dosa dengan alasan itu dosa kecil. Inget Bro, kecil juga kalo ditumpuk jadi besar. Sedikit juga kalo ditabung terus jadi banyak. Awalnya malu berbuat dosa, tapi lama-lama bisa tebal muka karena merasa terbiasa. Ini gawat. Maka, dari sekarang deh mulai interospeksi tentang dosa-dosa kita. Siap?</p>
<p><strong>Dosa menghalangi ilmu dan rezeki</strong><br />
Suatu ketika Imam Syafiâ€™i duduk di hadapan Imam Malik. Ketika itu Imam Malik terkesima dengan kelebihan yang dimiliki Imam Syafiâ€™i. Lalu Imam Malik berkata, â€œAllah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka janganlah sekali-kali kamu memadamkannya dengan kegelapan maksiat.â€?</p>
<p>Namun pada suatu hari ketika Imam Syafiâ€™i sedang dalam perjalanan menuju rumah gurunya, Wakiâ€™ Ibnul Jarah, wasiat Imam Malik tersebut ia langgar. Ia melihat tumit seorang wanita. Seketika itu pulalah hafalannya kacau, padahal ia terkenal mampu menghafal persis seperti yang tertulis, bahkan agar hafalannya tak tercampur ia meletakkan sebelah tangannya di atas lembaran berikutnya. Imam Wakiâ€™ pun kembali mengingatkan Syafiâ€™i terhadap nasihat Imam Malik, yaitu agar ia meninggalkan dosa sebagai obat manjur menguatkan hafalannya.</p>
<p>Imam Syafiâ€™i kemudian mengakui â€?penyesalannyaâ€™ dengan mengatakan, â€œKuadukan kepada Wakiâ€™ buruknya hafalanku. Maka ia menasihatiku agar aku meninggalkan maksiat. Ia juga mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.â€? (Dr. Khalid Abu Syadi, Alangkah Buruknya Dosa, hlm. 13-14)</p>
<p>Sobat, nggak kebayang gimana kalo seandainya orang seperti Imam Syafiâ€™i hidup di jaman kita. Pasti sulit banget untuk terhindar dari dosa. Gimana nggak, begitu keluar rumah aja banyak dijumpai wanita yang bukan mahram kita membuka auratnya. Bukan hanya tumit yang kelihatan seperti yang tak sengaja dilihat Imam Syafiâ€™i , justru bisa jadi jaman sekarang banyak wanita yang kelihatan seluruh tubuhnya kecuali tumitnya.</p>
<p>Duh, mungkin ini juga yang bikin banyak di antara kita yang sangat buruk hafalannya. Karena setiap hari kita menyaksikan aurat wanita di mana-mana. Termasuk buat yang perempuan juga lho, mereka sering ngelihat aurat kaum cowok. Meski mungkin jumlahnya lebih banyak kaum cewek yang â€?terbukaâ€™.</p>
<p>Ya, kayaknya kita juga kudu interospeksi diri kalo banyak di antara kita yang bodoh dan sedikit ilmu. Selain karena nggak pernah belajar (mungkin sebagian lagi karena nggak bisa belajar karena nggak punya duit untuk sekolah), juga karena kita banyak berbuat maksiat. Sehingga ilmu nggak bisa mampir kepada orang yang selalu berbuat maksiat. Kita jadi sulit belajar. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p><strong>Maksiat tuh ngilangin rasa malu<br />
</strong>Berbuat dosa alias maksiat kepada Allah bisa ngilangin rasa malu, lho. Suer. Abu Masâ€™ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: â€œPerkataan (sabda) Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, â€œJika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu.â€? (HR?  Bukhari, Abu Dawud, Ahmad)</p>
<p>Jangan salah lho, hadis ini pemahamannya bukan berarti bahwa Rasulullah memberikan kebebasan yang membawa manfaat, melainkan mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki, padahal risikonya ditanggung sendiri, tuh. Ungkapan itu seperti firman Allah Swt.:</p>
<p>?§?¹?’?…???„???ˆ?§ ?…???§ ?´???¦?’?????…?’ ?¥???†?‘???‡?? ?¨???…???§ ?????¹?’?…???„???ˆ?†?? ?¨???µ?????±?Œ<br />
â€œPerbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.â€? (QS Fushshilat [41]: 40)</p>
<p>Malu bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Perbuatan yang akan membuatnya merasa dikejar-kejar rasa bersalah. Dengan malu pula, kita bisa mencegah diri ketika akan melakukan dosa. Secara naluri memang demikian, siapapun orangnya yang masih punya hati nurani. Dan memang hanya rasa malu yang mampu membawa kepada kebaikan. Sabda Nabi yang mulia: â€œMalu hanya membawa kepada kebaikan.â€? (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga kita supaya sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, kalo ada di antara kita yang pacaran dan gaul bebas, lalu sadar dan merasa bahwa perbuatannya itu bertolak belakang dengan keimanan dan agamanya. Kemudian merasa malu untuk melakukan kebiasaannya, hingga akhirnya menjadi anak yang baik, sholeh, taat sama agamanya. Dengan begitu, insya Allah selamatlah dia. Namun lebih parah lagi, bila ada orang yang sudah sadar bahwa dia telah melakukan perbuatan yang salah, tapi ternyata masih getol melakukannya. Benar-benar orang tersebut tidak punya rasa malu.</p>
<p>Tanpa kita sadari, ternyata kita sering mengabaikan sikap yang satu ini. Entah karena kita sudah merasa bahwa tak perlu punya rasa malu lagi, atau memang tak tahu malu. Pepatah baik yang disampaikan kepada kita dari siapapun sering kali kita mendiamkannya. Padahal, saat itu kita sedang melakukan perbuatan yang memalukan. Malu-maluin!</p>
<p><strong>Jangan merasa aman</strong><br />
Kadang kita merasa aneh yang punya bapak heran alias aneh bin heran ketika melihat mereka yang berbuat maksiat itu banyak juga yang malah hidup enak. Hidup berkecukupan. Punya jabatan mentereng, mobil mewah, rumah megah, dan kekayaan melimpah. Kondisi hidupnya itu ditunjang karena hasil dari usaha membuka rumah judi, menjual minuman keras. Sementara kita yang insya Allah taat kepada Allah dan sepenuh hati melaksanakan ajaran Islam, kok malah hidup miskin dan menderita?</p>
<p>Kadang kita heran juga ngelihat George W. Bush yang udah memerintahkan tentaranya nyerbu Irak dan Afghanistan malah aman-aman aja dan hidup tenang dan menikmati kebabasan dan kekayaan yang dimilikinya. Banyak juga yang maksiat tuh pinter-pinter dari sisi akademik. Apa skenario Allah di balik ini?</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œApabila kamu menyaksikan seorang hamba mendapatkan dari Allah Taâ€™ala apa yang ia sukai dari kehidupan dunia, namun ia terus berkecimpung dalam kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa semua itu hanyalah istidraaj.â€? (dalam kitab Wa Aswataah Wa In â€?Afauta)</p>
<p>Lalu Rasulullah saw. membacakan firman Allah Swt.:</p>
<p>?????„???…?‘???§ ?†???³???ˆ?§ ?…???§ ?°???ƒ?‘???±???ˆ?§ ?¨???‡?? ?????????­?’?†???§ ?¹???„?????’?‡???…?’ ?£???¨?’?ˆ???§?¨?? ?ƒ???„?‘?? ?´?????’???? ?­?????‘???‰ ?¥???°???§ ?????±???­???ˆ?§ ?¨???…???§ ?£???ˆ?????ˆ?§ ?£???®???°?’?†???§?‡???…?’ ?¨?????’?????©?‹ ?????¥???°???§ ?‡???…?’ ?…???¨?’?„???³???ˆ?†??<br />
â€œMaka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.â€? (QS al-Anâ€™aam [6]: 44)</p>
<p>Sobat, dari ayat ini bisa dipahami tentang makna istidraaj, yakni penangguhan hukuman dan ditundanya azab. Itu sebabnya, jangan merasa aman ketika kita telah begitu banyak dikelilingi kemewahan hasil perbuatan maksiat kita. Jangan merasa bangga hidup berkecukupan meski selalu berbuat dosa. Karena, itu hanya penangguhan saja dari Allah.</p>
<p>Semoga kita cepetan sadar ya. Memang sih anak keturunan Adam nggak bisa lepas dari dosa. Tapi, sebaik-baik yang berbuat dosa adalah mereka yang bertobat. Tobat nggak mau ngelakuin maksiat lagi. Menghindari maksiat dan senantiasa taat kepada Allah dan berharap ampunan dariNya.</p>
<p>Kita pantas untuk waspada, karena Allah sudah menggambarkan tentang keadaan orang-orang kafir. Nggak mau kan kita digolongkan dengan mereka? Allah menjelaskan dalam firmanNya: â€œDan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.â€? (QS az-Zukhruf [43]: 33-35)</p>
<p>Oke deh, semoga tulisan sederhana di buletin ini membuat kita tercerahkan dan senantiasa mengingat dosa-dosa yang pernah kita lakukan dan berusaha untuk bertobat dan tak akan pernah melakukannya lagi. Insya Allah bisa. Yakin itu. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 272/Tahun ke-6/19 Desember 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dosa-dosa-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Free Sex, IDU, dan HIV</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/free-sex-idu-dan-hiv</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/free-sex-idu-dan-hiv#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/free-sex-idu-dan-hiv/</guid>
		<description><![CDATA[â€?Say No to Free Sex and Drugsâ€™. Tulisan poster itu mendominasi perayaan Hari AIDS di seluruh dunia tanggal 1 Desember kemaren. Perayaan tahunan ini ngingetin kita akan bahaya Human Immunodeficiency Virus (HIV). Suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit. Kalo udah parah, tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€?Say No to Free Sex and Drugsâ€™. Tulisan poster itu mendominasi perayaan Hari AIDS di seluruh dunia tanggal 1 Desember kemaren. Perayaan tahunan ini ngingetin kita akan bahaya Human Immunodeficiency Virus (HIV). Suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit. Kalo udah parah, tubuh penderita bakal menjadi sarang berbagai penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah yang disebut AIDS alias Acquired Immunodeficiency Syndrome. <span id="more-273"></span></p>
<p>Sejak pertama kali dikenali tahun 1981,?  HIV udah ngabisin kontrak hidup lebih dari 25 juta orang pengidapnya. Kini, pengidapnya sudah melebihi 40 juta orang. Hal tersebut terungkap dalam laporan terakhir epidemi HIV/AIDS PBB yang disiarkan di New Delhi, India, Senin (21/11). (Metrotvnews.com, 21/11/05). Sementara di Indonesia, Jumlah pengidap HIV/AIDS mencapai angka 8.251 orang.</p>
<p>Data itu berdasarkan hasil laporan Departemen Kesehatan per tanggal 31 September 2005. Dengan angka ini Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara pengidap HIV/AIDS terbesar di Asia setelah Cina dan Vietnam. (Indosiar.com, 08/11/05). Ini yang terdata lho. Yang belon terdata, mungkin lebih banyak lagi. Gawat!</p>
<p>HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, atau air susu ibu. Ini artinya, perilaku seks bebas, penggunaan jarum suntik yang nggak steril di kalangan pecandu narkoba (IDU), transfusi darah, atau wanita hamil yang terjangkit HIV berisiko memberikan tongkat estafet mewabahnya HIV. Di antara perilaku yang memancing kehadiran HIV ini, Injection Drug Use (IDU) memimpin klasemen.</p>
<p>Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), per 30 September 2005 dari 32 provinsi ada sekitar 600 ribu orang Indonesia terjangkit HIV/AIDS.?  Di Papua, penyebaran HIV melalui narkoba, jumlahnya mencapai 14 ribu atau 30 % dari total kasus. Di Pontianak, 70 % dari total kasus, dimana 3/4 dari mereka adalah pengguna narkoba.?  Di Bali 53 % dari pengguna narkoba suntik positif HIV. Dan di DKI Jakarta 48 persen pengguna narkoba suntik positif HIV.</p>
<p><strong>HIV/AIDS itu belum ada obatnya</strong><br />
Sobat, meski para ilmuwan udah banyak ngabisin waktu untuk nyari penangkal HIV, ternyata hasilnya masih nihil. Berbagai tes klinis menunjukkan mayoritas pasien yang telah menerima vaksin pun, tetap menunjukkan gejala AIDS. Para ilmuwan menduga bahwa HIV mempunyai kemampuan untuk terus-menerus memutasikan dirinya sehingga antibodi yang sudah terbentuk tidak dapat mengenalinya lagi dan infeksi berlangsung terus tanpa bisa dihentikan (Chemistry.org). â€?cerdasâ€™ juga ya?</p>
<p>Kalo kita pikir, boleh jadi kemunculan virus HIV yang â€?cerdasâ€™ dan mematikan ini sebagai peringatan dari Allah Swt. kepada para pelaku seks bebas, penyimpangan seks, atau pemakaian narkoba. Juga kepada masyarakat dan negara yang cuek dengan kemaksiatan ini. Catet tuh!</p>
<p>Perilaku seks bebas yang lahir dari gaya hidup permisif?  alias serba boleh ini kian menjamur seiring masuknya budaya sekular-Barat ke negeri-negeri Muslim. Melalui jalan masuk kecanggihan teknologi dalam tv kabel dan internet, setiap orang dengan mudah mengakses segala info tentang seks. Nggak cuma teori, tapi merambah sampe tontonan yang dijadikan tuntunan. Walah!</p>
<p>Parahnya, kondisi yang memancing hasrat seksual ini seperti kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kemampuan negara untuk menyensor tayangan pornografi dan porno aksi yang beredar di televisi seolah tumpul di hadapan kebebasan pers yang diusung media massa. Penjualan atau penyewaan vcd/dvd porno tak pernah tuntas diberantas. Bahkan prostitusi yang udah jelas-jelas jadi penyakit masyarakat, dilegalkan dengan pemberian tempat lokalisasi. Kalo udah gini, sama aja ngasih dukungan bagi HIV untuk berkembang biak dari satu raga ke raga lainnya. Menyedihkan?</p>
<p>Lebih menyedihkan lagi jika penularan virus mematikan ini menghampiri korban yang tidak berisiko menjadi pengidap seperti bayi dan pasien transfusi darah. Lantaran sang ibu atau kantung darahnya telah terinfeksi HIV. Juga kemunculan anak-anak yatim-piatu yang ditinggal mati orangtuanya akibat AIDS. Masaâ€™ sih kondisi ini akan terus dibiarkan?</p>
<p><strong>Wajib dihentikan</strong><br />
Pasti. Penyebaran HIV emang kudu kita stop. Banyak cara dilakukan orang-orang yang peduli untuk menghentikan laju wabah HIV. Seperti kampanye safe sex yang pernah dipopulerkan mendiang Harry Roesli melalui iklan layanan masyarakat. â€œKenakan kondom atau kena!â€?. Ketika budaya seks bebas sulit dikendalikan, penggunaan kondom dijadikan andalan. Sehingga karet pengaman ini dengan mudah diperoleh di warung-warung. Malah ada penemuan yang menghadirkan mesin penyedia karet KB ini layaknya sebuah ATM yang ditempatkan di mal atau pusat perbelanjaan. Tapi benarkah alat pengaman ini bener-bener aman?</p>
<p>Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom. Masaâ€™ saringan pasir dipake buat nyaring beras? Hehehe&#8230;</p>
<p>Makanya kampanye safe sex with condom nggak akan pernah bisa menahan laju penyebaran HIV. Malah mungkin makin mempercepat. Soalnya para pelaku seks bebas ngerasa aman sehingga berani gonta-ganti pasangan (padahal mah boro-boro aman. Udahk kena HIV, dosa lagi. double tekor tuh!).</p>
<p>Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai â€œsama saja dengan mengundang kematianâ€?. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995). Tuh kan? Jadi jangan termasuk mitos ye.</p>
<p>Cara lain yang modelnya kurang lebih sama adalah penerapan metode harm reduction di berbagai kantong pengguna narkoba. Metode harm reduction dalam jangka pendek berupaya mengurangi dampak buruk penularan HIV lewat penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Caranya dengan menyuruh pengguna narkoba untuk tidak bergantian menggunakan jarum suntik yang sama, menyediakan jarum suntik steril, atau mengajari pengguna narkoba mensterilkan jarum suntik. Dalam jangka panjang, harm reduction memberikan penyuluhan dan berbagai upaya peningkatan life skill agar pemakaian narkoba berhenti. (Kompas, 19/05/05). Ah, yang benar aja neh?</p>
<p>Sobat, dua model kampanye di atas merupakan ciri khas masyarakat kapitalis yang kian frustasi ngadepin wabah HIV. Demi mengurangi risiko terinfeksi HIV, mereka tega ngebiarin orang tetep terjerumus. Padahal seks bebas juga berisiko menyebarkan Penyakit Menular Seksual (PMS). Dan pengguna narkoba bisa OD dan madesu alias masa depan suram.?  Kalo kita mau berpikir lebih jernih, tentu bukan toleransi terhadap seks bebas atau penggunaan narkoba yang dikampanyekan sebagai wujud kepedulian terhadap HIV/AIDS. Melainkan mendesak pemerintah agar melarang dengan tegas segala bentuk seks bebas, penyimpangan seks, dan narkoba serta mengkondisikan masyarakat agar dapat menjauhi perilaku maksiat itu. Dan satu lagi yang nggak boleh lupa, terapkan hukum Islam oleh negara. Akur dong? Pasti!</p>
<p><strong>Kiat Islam menggasak HIV/AIDS</strong><br />
Sobat muda muslim, masyarakat mungkin frustasi ngadepin HIV yang tetep mewabah. Tapi kita selaku muslim, justru kudu optimis kalo Islam pasti punya jalan keluarnya. Pada masa Rasulullah saw., pernah ada satu daerah yang terjangkiti wabah penyakit thaâ€™un (sejenis kolera.). Penyakit ini dengan mudah dan cepat?  menular kepada yang lainnya. Mendengar berita ini Rasulullah saw bersabda: â€œJika kamu mendengar wabaâ€™ (thaâ€™un) sedang berjangkit di suatu tempat, maka jangan kamu masuk ke tempat itu. Dan jika berjangkit dalam negeri yang kamu sedang berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar daripadanya.â€? (HR?  Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan pada kita upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular ke orang lain. Sepertinya upaya ini juga bisa dipake untuk kasus HIV/AIDS. Ada baiknya jika pengidap HIV/AIDS dikumpulkan pada satu daerah dengan kelengkapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup yang memadai.</p>
<p>Meski terkesan agak â€?kejamâ€™ dengan mengisolasi para ODHA bukan berarti mereka dikucilkan lho. Karena penyebaran virus HIV ini tidak melalui udara, jabatan tangan, atau sekeaar ngobrol, boleh jadi mereka tetep bisa sosialisasi dengan yang lain di luar komunitasnya. Negara tetep memenuhi kebutuhan hidup mereka seperti yang lain. Hanya saja, dengan dikumpulkan di satu daerah, tentu penyebaran HIV akan lebih mudah terawasi oleh pemerintah. Sehingga diharapkan wabah HIV bisa lebih cepat ditangani oleh negara.</p>
<p>Bagi yang belum terinfeksi, tentu negara bakal gencar mensosialisasikan informasi seputar HIV/AIDS, bahayanya, dan cara menghindarinya. Selain itu, negara juga kudu?  turun tangan untuk ngebenahin kondisi yang bisa memancing orang ngeseks bebas dan make narkoba. Dengan menutup semua lokalisasi/pub/diskotik, mencekal tayangan erotis di televisi dan bioskop, dan pemberantasan narkoba tanpa kecuali. Ditambah pemberlakukan hukuman jilid (cambuk) atau rajam bagi pelaku seks bebas. Juga jilid plus penjara bagi bandar, penjual, pengedar, peracik, atau pengguna narkoba.</p>
<p>Semua langkah-langkah di atas akan terlaksana sesuai harapan kita kalo negara mau nerapin hukum Islam secara menyeluruh. Seperti diperintahkan Allah swt dan dicontohkan Rasulullah saw. Tapi kan negara kita sekarang bukan negara Islam?</p>
<p>Itulah masalahnya. Ketika hukum Islam dicuekin oleh negara, nggak sedikit rakyatnya yang ikut-ikutan cuek. Akibatnya, kesengsaraan hidup seperti penyebaran HIV/AIDS bakal diperoleh. Padahal Allah udah ngingetin dalam firmanNya:</p>
<p>?????…???†?? ?§???‘???¨???¹?? ?‡???¯???§???? ?????„?§?? ?????¶???„?‘?? ?ˆ???„?§?? ?????´?’?‚???‰.?ˆ???…???†?’ ?£???¹?’?±???¶?? ?¹???†?’ ?°???ƒ?’?±???? ?????¥???†?‘?? ?„???‡?? ?…???¹?????´???©?‹ ?¶???†?’?ƒ?‹?§<br />
â€œSiapa saja yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.â€? (QS Thaahaa [20]: 123-124)</p>
<p>Untuk itu, mari kita sama-sama suarakan kebenaran Islam di tengah masyarakat. Kita desak negara agak mau pake sistem Islam untuk ngatur rakyatnya. Kita bongkar kebusukan sistem kapitalisme yang selama ini mengatur hidup kita. Kita lawan produk-produk sistem ini yang mengajak masyarakat untuk hidup sekuler, serba boleh (permissif) dalam berbuat demi meraih keuntungan, gaya hidup hedonis, atau memuja materi dan kesenangan dunia. Dan kita perdalam Islam dengan ikut ngaji. So, tunggu apalagi. Safe Our Live With Islam! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 271/Tahun ke-6/12 Desember 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/free-sex-idu-dan-hiv/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumpah, Nggak Abis Pikir!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sumpah-nggak-abis-pikir</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sumpah-nggak-abis-pikir#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:51:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sumpah-nggak-abis-pikir/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari terakhir ini saya sering dibuat bingung. Entah karena saya sudah mulai banyak pikiran atau memang yang membuat saya berpikir itu membingungkan. Banyak peristiwa yang mengherankan. Baca koran, banyak yang bikin saya nggak abis pikir. Ngeliat acara berita dan tayangan program lainnya di televisi juga menurut saya banyak yang bikin heran. Eh, denger radio [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini saya sering dibuat bingung. Entah karena saya sudah mulai banyak pikiran atau memang yang membuat saya berpikir itu membingungkan. Banyak peristiwa yang mengherankan. Baca koran, banyak yang bikin saya nggak abis pikir.</p>
<p>Ngeliat acara berita dan tayangan program lainnya di televisi juga menurut saya banyak yang bikin heran. Eh, denger radio juga sering muncul celetukan dan komentar yang menurut saya sendiri menganehkan. Begitu surfing di internet, keanehan makin meraja. Duh, kenapa saya memandang itu semua sebagai keanehan? Apakah saya sudah tidak aneh sehingga merasa perlu menganggap sesuatu dan orang lain sebagai keanehan, atau saya yang justru dianggap aneh oleh mereka yang saya nilai aneh itu? Ah, bener-bener aneh, heran dan membingungkan. Sumpah deh, nggak abis pikir banget.<span id="more-272"></span></p>
<p>Berikut ini saya paparkan kepada teman-teman beberapa masalah yang bikin saya nggak abis pikir untuk memikirkannya. Kenapa bisa begitu? Kok kayak kebalik-balik gitu? Kenapa yang baik dianggap jelek, dan sebaliknya?</p>
<p><strong>Terorisme dan kriminalitas</strong><br />
Sumpah, nggak abis pikir. Kenapa kasus terorisme begitu sering diekspos besar-besaran oleh media massa ketimbang kasus kriminalitas? Okelah, dalam dunia jurnalistik sesuatu yang baru sering kali dibesar-besarkan. Dalam jurnalistik berlaku juga semacam semboyan: â€œbad news good newsâ€?. Artinya, kalo ada berita tentang kejelekan dari mana saja, itu adalah berita baik bagi insan pers. Misalnya aja kasus perceraian kalangan seleb lebih heboh beritanya ketimbang kasus pernikahan seleb. Kasus korupsi di Departemen Agama lebih santer beritanya ketimbang kasus serupa di Depertemen Keuangan. Karena apa? Selain karena ironisme, juga karena berita buruk dari seseorang atau sesuatu adalah berita baik bagi pengelola media. Makanya, akan dipelihara. Akan dibesar-besarkan.</p>
<p>Itu sebabnya, baca dan denger berita seputar terorisme akhir-akhir ini sampe bikin saya muak. Apalagi terorisme selalu dan kesannya ditujukan untuk Islam dan kaum muslimin. Iya, gimana nggak begitu, wong pesantren diminta diawasi dan dikaji ulang kurikulumnya. Itu namanya udah nuduh dong. Meskipun banyak di antara mereka yang pura-pura bijak dengan mengatakan bahwa ini bukan berarti terorisme berkaitan langsung dengan Islam, tapi anehnya malah langsung menunjuk hidung. Bukan lagi menggunakan asas praduga tak bersalah. Bahkan banyak media massa yang bikin editorial yang nyebelin abis karena terorisme tuh identik dengan Islam. Waduh.</p>
<p>Akibatnya, masyarakat jadi merasa aksi terorisme benar-benar dilakukan oleh umat Islam dan memang dalam Islam diajarkan. Dan lebih malu-maluin lagi ada juga tokoh Islam yang ikutan minder duluan, terus bereaksi bikin pernyataan seolah-olah dia dan kelompoknya nggak tahu menahu soal terorisme dengan memberi pernyataan mendukung arus. Bukan melawan arus.</p>
<p>Lalu, hubungannya dengan kriminalitas, masalah ini seperti dianggap angin lalu aja. Mungkin juga karena masalah ini sudah biasa, sehingga nggak merasa kaget atau heran. Kecuali kasusnya yang heboh seperti misalnya (kalo ada), pejabat anu ketangkep basah lagi berselingkuh, atau anak pejabat negara overdosis narkoba.? </p>
<p>Sumpah, nggak abis pikir kenapa terorisme mengarah kepada Islam dan umat Islam. Padahal, padahal pada waktu yang bersamaan kriminalitas tiap hari angkanya melompat jauh dan kian nggak aman saja kita hidup. Tapi, lagi-lagi, masalah kriminalitas ini nggak jadi berita besar untuk mendapat perhatian yang besar pula dari masyarakat.</p>
<p><strong>Jilbab dan bikini<br />
</strong>Sumpah, nggak abis pikir neh. Orang yang berjilbab dan berkerudung kok banyak yang dianggap kampungan, kuno, dan fanatik? Sementara wanita yang pake bikini atau you can see disanjung sebagai golongan modern dan berpikiran maju. Nggak kebalik?</p>
<p>Padahal nih, kalo misalnya modernitas diukur dari perkembangan budaya, teknologi, dan pemikiran, maka orang yang masih mengenakan busana irit bahan pas keluar rumah, kayaknya itu deh yang nggak ngikuti perkembangan jaman. Betul?</p>
<p>Kenapa? Karena sekarang pabrik tekstil saja sudah banyak, teknologinya bukan lagi dengan mesin tenun tradisional, tapi sudah mesin pemintal canggih, terus secara pemikiran mereka yang modern pasti butuh pakaian untuk nutupin badan biar nggak malu.</p>
<p>Beda banget kan dengan jaman nenek moyang manusia di jaman purba. Pakaian aja nggak punya, karena belum tahu bagaimana cara bikin pakaian. Terus teknologinya belum kepikiran. Jadinya mikirnya sederhana: ngapain harus malu, toh yang lain juga melakukan hal yang sama. Gitu kali ye? Hehehe..</p>
<p>Itu sebabnya, para akhwat yang ogah make jilbab dan kerudung, kudu mengedit kembali pemahamannya biar benar dan lurus tentang Islam. Setuju?</p>
<p><strong>Aborsi boleh, seks bebas dibiarin?<br />
</strong>Sumpah, nggak abis pikir. Aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan dan karena belum siap jadi ibu dibolehin. Lalu diminta dilegalkan saja oleh pemerintah. Udah gitu, pake ngedalil segala lagi: â€œIni kan demi menolong orang. Kasihan mereka daripada aborsi di tempat yang tak aman secara medis bisa merenggut jiwanya.â€?</p>
<p>Sumpah nggak abis pikir, kok jaman kiwari masih ada aja yang berpikir kurang cerdas. Maaf, saya menggunakan kata-kata ini karena agak-agak kesel gitu deh. Abisnya, kalo emang yang pengen aborsi karena malu setelah berbuat zina, kenapa mesti dibantu menggugurkan kandungannya? Udahlah dia dosa berzina, eh, ngebunuh anaknya lagi. Lagian, kalo emang malu nanti hamil sebelum nikah, kenapa nekat gaul bebas? Kok kayaknya aneh banget deh: malu sama manusia, tapi nggak malu sama yang menciptakan manusia. Padalah Dia pasti tahu apa yang telah kita lakukan. Iya kan?</p>
<p>Terus, kalo emang mau nolong orang yang kebetulan hamil di luar nikah, kenapa nggak dinasihatin aja supaya menjaga kandungannya dan bertobat kepada Allah Swt. Tul nggak? Nah, kepada mereka yang belum kebablasan segera dikampanyekan untuk tidak gaul bebas or seks bebas dengan lawan jenis. Iya nggak seh?</p>
<p>Sumpah, nggak abis pikir banget kalo aborsi dalilnya untuk nolongin orang dan dianggap wajar, terus gaul bebas juga dipelihara, jangan harap dapetin kehidupan yang tenang, adem, ayem, dan bikin nikmat. Karena apa? Karena akan terus menciptakan perasaan was-was dan masalah besar bagi keberlangsungan umat manusia ini. Masaâ€™ sih kita tega mengembangbiakkan keturunan kita di jalan yang salah? Ih, amit-amit deh.</p>
<p><strong>Anak ngaji dicurigai?<br />
</strong>Sumpah, nggak abis pikir. Anak ngaji kok dicurigai. Dianggap aliran sesat ketika pemahamannya dianggap beda ama yang udah ada dan biasa. Kenapa langsung curiga dan ngasi keputusan sepihak padahal mereka belum diajak dialog soal keyakinannya? Apa karena udah risih duluan atau takut kebawa-bawa?</p>
<p>Ini sering terjadi lho. Di sekolah terutama. Anehnya, pihak sekolah sering kali pake standar ganda. Heran deh. Anak ngaji sampe dicurigai dan dianggap bahaya, tapi yang gaul bebas di sekolah dibiarin. Mereka yang pacaran aman-aman saja nggak dirazia. Anak akhwat yang pake kerudung dianggap melanggar peraturan seragam sekolah, tapi yang pake roknya di atas lutut dibiarin aja. Temen-temen yang di luar sekolah ketahuan suka nenggak miras dan make narkoba seringnya didiemin aja. Dengan alasan asal tidak ngelakuinnya di dalam lingkungan sekolah. Tapi anak ngaji, sampe ke kos-kosannya aja dipantau gerak-geriknya. Idih, aneh banget kan? Sumpah nggak abis pikir.</p>
<p>Padahal kan kita sebagai anak rohis mau lho kalo diajak sama pihak sekolah untuk bantuin nyadarin temen-temen supaya kembali yang benar. Suer, kita mau!</p>
<p>Tapi ya, lagi-lagi nggak abis pikir banget karena ternyata anak ngaji mah tetep aja dicurigai, apalagi pas musim aksi terorisme yang diidentikkan dengan Islam dan kaum muslimin. Makin males aja tuh mereka yang emang sejak awal nggak mau ngaji. Ah, udah banyak yang aneh penghuni dunia ini memang.</p>
<p><strong>Amerika dipuja, Islam dihina?<br />
</strong>Sumpah, nggak abis pikir. Iya, gimana nggak, aksi terorisme yang kini diidentikkan dengan Islam udah bikin takut dan risih umat Islam sendiri. Apalagi setelah beredar VCD pengakuan orang-orang yang akan melakukan bom bunuh diri pada peristiwa peledakan bom di Bali 1 Oktober 2005. Kesan bahwa itu dilakukan umat Islam jadi kian mengental.</p>
<p>Padahal nih, kalo pun ada umat Islam yang begitu (meski kudu dicek sampe jelas), tapi bukan berarti itu dilakuan oleh kaum muslimin. Nggak bisa men-generalisir gitu dong. Sekarang gini aja, pasti deh nggak mau kalo misalnya ada polisi yang jadi bandar narkoba, lalu kemudian kita rame-rame mencap semua polisi begitu. Terus melakuan sweeping ke polsek-polsek untuk menggeledah semua polisi. Siapa tahu ada yang bawa narkoba. Siapa tahu ada temannya polisi yang kebetulan ketangkep, padahal sang teman nggak tahu apa-apa dan emang nggak make narkoba, apalagi jadi bandarnya. Tul nggak?</p>
<p>Nah, kalo pun mau, polisi atau siapa pun yang berwenang ngusut terorisme jangan men-generalisir bahwa itu dilakukan umat Islam lalu merasa berhak menggeledah setiap pesantren dan bikin kurikulum baru di pesantren.</p>
<p>Ah, model seperti ini kan gayanya Amerika yang nggak setuju dengan Islam yang akan menjadi pesaing ideologinya. Sebab, kalo banyak umat Islam yang sadar tentang pentingnya perjuangan untuk menegakkan kembali Islam di dunia ini, itu sama dengan alarm tanda bahaya bagi Kapitalisme telah berbunyi. Amerika, sebagai pengemban ideologi ini pasti akan bertindak apa pun untuk mengamankan dan mempertahankan ideologinya. Termasuk dengan cara yang kotor.</p>
<p>Nah, anehnya, kita malah ngikutin dan memuja Amerika, lalu merasa minder sebagai muslim, dan bahkan terkesan (ikut) menuduh or menginakan Islam dengan tuduhan-tuduhan agama Islam tuh ngajarin terorisme dan kaum muslimin sebagai teroris. Okelah sobat, jangan sampe termakan propaganda jahat Amrik ye.</p>
<p><strong>Bersabarlah pejuang Islam<br />
</strong>Sobat muda muslim, jangan takut dan jangan sedih, jangan menyerah terhadap orang-orang yang mencela, jangan pula minder karena kaum muslimin seolah-olah dianggap bagian dari teroris, jangan putus asa jika kita dicemooh oleh mereka yang membenci Islam. Sabar dan tetap berpegang teguh kepada Islam dan kepada Allah Swt.</p>
<p>Firman Allah Taâ€™ala: â€œHai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberianNya), lagi Maha Mengetahui.â€? (QS al-Maaidah [5]: 54)</p>
<p>Kita harus yakin, berapa pun jumlah orang yang akan mencela, mencurigai, menuduh, membenci, dan menghina kita, tapi jika Allah akan memuliakan kita, kita nggak bakalan sanggup dikalahkan. Insya Allah. Pasti.</p>
<p>Allah Swt. berfirman: â€œMereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.â€? (QS at-Taubah [9]: 32)</p>
<p>Sobat, lebih baik kita terus meyakinkan siapa pun bahwa Islam bukanlah ancaman, tapi Islam adalah pencerahan. Mereka yang menganggap Islam sebagai ancaman pasti berada di jalur yang salah. Sementara yang menganggap Islam sebagai pencerahan, adalah mereka yang insya Allah mendapat petunjuk. Gimana, setuju kan? [fahmarosyada]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 270/Tahun ke-6/5 Desember 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sumpah-nggak-abis-pikir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapitalisme Tetap Berbahaya, Bro!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kapitalisme-tetap-berbahaya-bro</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kapitalisme-tetap-berbahaya-bro#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kapitalisme-tetap-berbahaya-bro/</guid>
		<description><![CDATA[Tewasnya Dr. Azahari yang dicap sebagai gembong teroris di Indonesia pada 9 Nopember 2005 silam di Batu, Malang, Jatim, spontan menjadi headline media massa nasional. Buronan nomor wahid berkewarganegaraan Malaysia ini emang udah lama diburu pihak kepolisian. Terutama pascatragedi bom Bali I yang menyeret â€?Mr. Smileâ€™ Amrozi cs ke balik jeruji besi. Sebab hasil penyelidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tewasnya Dr. Azahari yang dicap sebagai gembong teroris di Indonesia pada 9 Nopember 2005 silam di Batu, Malang, Jatim, spontan menjadi headline media massa nasional. Buronan nomor wahid berkewarganegaraan Malaysia ini emang udah lama diburu pihak kepolisian. Terutama pascatragedi bom Bali I yang menyeret â€?Mr. Smileâ€™ Amrozi cs ke balik jeruji besi. Sebab hasil penyelidikan polisi menyimpulkan bahwa pimpinan aksi teror Bom yang menghujani negeri ini beberapa tahun terakhir didalangi oleh duet maut, Dr. Azahari dan Noordin M. Top.<span id="more-271"></span></p>
<p>Tapi sobat, seandainya DR. Azahari bisa ditangkep hidup-hidup, pasti asyik ya. Nah lho? Kok pengen ditangkep hidup. Bukannya doi emang pantes mati. Eits! Jangan sewot dulu. Coba pikir, seiring dengan kematian sang doktor, teka-teki pelaku aksi teror bom selama ini tetep jadi tanda tanya besar. Kalo doi masih hidup, mungkin bakal ketauan siapa dedengkot?  teroris sebenarnya. Bukan cuma operatornya aja yang ketangkep. Mungkin aja sang doktor punya atasan yang menyuplai bantuan dana maupun persenjataan. Makanya kita doain aja Mr. TOP nasibnya lebih baik dari pak doktor alias ketangkep idup-idup. Biar kebenaran sedikit terungkap.</p>
<p>Ya, kebenaran emang kudu cepet-cepet diungkap. Lantaran pemberitaan media massa yang mengupas tentang teroris akhir-akhir kian memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Banyak aktivis gerakan Islam yang dicurigai terlibat jaringan teroris lalu diciduk. Pak Wapres pun jadi rajin ngegelar acara nonton bareng pemutaran rekaman vcd pengakuan pelaku bom Bali II dengan ulama dan sesepuh pondok pesantren. Plus pesan-pesan sponsor bagi pengasuh ponpes tentunya. Belum lagi permintaan mantan kepala Badan Intelijen Nasional, Hendro Priyono, agar pemerintah melarang pemikiran Sayyid Qutb dan mengubah kurikulum pesantren (Hidayatullah.com, 21/11/05). Semuanya mengarah pada pencitraburukan Islam. Bahaya neh!</p>
<p><strong>Bahaya Kapitalisme tetap mengintai kita</strong><br />
Gencarnya pemberitaan media massa seputar terorisme banyak menyita perhatian masyarakat. Apalagi udah bawa-bawa unsur agama yang dianut pelaku teror. Agak sensi kan. Akibatnya perhatian kaum Muslimin banyak tersedot dan melupakan kondisi negerinya yang kian jauh dari aturan Islam. Kayak di negeri kita.</p>
<p>Berbagai kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat tak ada habisnya dikeluarkan. Awal oktober lalu kita dihadiahi kenaikan harga BBM yang gila-gilaan. Lebih dari 80 % bo! Kini, pemerintah berencana untuk mengimpor beras yang tentu saja merisaukan para petani. Alamat harga beras dalam negeri di pasaran turun. Kasian deh pak tani. Teganya pemerintah kalo rencana ini gol.</p>
<p>Dalam hal kemiskinan yang dihasilkan kebijakan pemerintah, menurut hasil simulasi Investor Daily (13/9), penduduk miskin akan bertambah sekitar 20 juta jika pemerintah pada awal Oktober menaikkan harga BBM sebesar 35 persen. Dan ternyata, pemerintah memutuskan kenaikan BBM lebih dari 80 %. Itu berarti perkiraan penduduk miskin pasca kenaikan BBM bertambah 40 juta. Dan angka ini masih mungkin bertambah karena keputusan kenaikan BBM awal oktober lalu bukan yang terakhir. Waduh!</p>
<p>Kemiskinan yang menjerat sebagian besar masyarakat ini cukup berpotensi meningkatkan tindakan kriminalitas. Demi memenuhi kebutuhan hidup yang kian sulit, para pelaku kejahatan rela menggadaikan akal sehatnya. Sehingga permasalahan sepele pun bisa memicu pertumpahan darah.</p>
<p>Di tengah masyarakat, prostitusi yang merajalela kian mengancam kebejatan moral. Transaksi perzinahan ini bisa ditemui dengan mudah dari pinggiran jalan hingga hotel berbintang. Meski aparat kepolisian rajin melakukan razia, hasilnya hanya sebagian kecil saja yang berhasil ditertibkan. Yang lainnya tetep berlangsung dalam lindungan oknum aparat. Hmm.. kerjasama dalam kemaksiatan.</p>
<p>Ancaman yang sama juga ditunjukkan oleh perilaku seks bebas remaja yang kian beringas. Baru-baru ini tersiar kabar dua pasang siswa SMA di Cianjur yang kepergok guru tengah berbuat mesum di dalam kelas saat jam pelajaran sekolah. Parahnya, mereka merekam adegan bejatnya dengan ponsel yang mereka bawa. Dan ternyata, bukan hanya dua pasang, tapi banyak siswa-siswi yang melakukan hal yang sama dalam lingkungan sekolah di waktu yang berbeda. (Sinar Indonesia, 21/11/05).</p>
<p>Mungkin inilah konsekuensi dari kurang seriusnya penanganan aparat berwenang dalam menertibkan maraknya pornografi dan pornoaksi. Pergaulan bebas yang dikampanyekan sinetron-sinetron remaja menggoda pemirsanya untuk mencicipi gaya hidup Barat yang sekuler. Petualangan seks remaja Barat dengan mudah diakses melalui dunia maya. Tabloid, majalah, atau vcd porno dijajakan dengan bebas di emperan jalan. Kondisi ini memancing remaja yang selalu pengen tahu untuk membeli, menikmati, mengkhayalkan, hingga mempraktikkannya di jalan yang salah. Naudzubillah!</p>
<p>Sobat, inilah beberapa contoh permasalahan yang setiap hari mengancam kita. Permasalahan yang timbul akibat dijauhkannya aturan Islam dalam kehidupan kita. Penerapan sistem kapitalisme-sekulerisme oleh negara mengkondisikan masyarakat untuk hidup dalam lingkungan yang bebas nilai. Sehingga menjadi budak materi dengan mengejar-ngejar kesenangan duniawi. Parahnya, kebejatan yang ditimbulkan kapitalisme seperti di atas tidak diekspos besar-besaran. Padahal sangat boleh jadi jauh lebih berbahaya dibanding isu terorisme. Karena bukan hanya 100 atau 1000 orang yang menjadi korbannya, tapi miliaran orang yang terkena rusaknya ide kapitalisme-sekularisme. Masa kita mau jadi mangsa kapitalisme terus sih?</p>
<p><strong>Kita wajib nyadar, Bro!<br />
</strong>Sobat, pascatragedi WTC tahun 2001 yang memakan korban ribuan jiwa itu, Amerika langsung menabuh genderang perang melawan terorisme. Malah George W. Bush gencar melobi para pemimpin negara untuk ikut memperkuat barisannya memerangi aksi-aksi teroris. Eh, ngomong-ngomong, siapa sih teroris yang dimaksud AS itu?</p>
<p>Bagi pemerintah AS, teroris adalah orang dan kelompok yang dalam prinsip dan kegiatannya tidak sesuai dengan kepentingan AS. Makanya meski terang-terangan melakukan kekerasan, membantai dan mengusir penduduk Palestina hingga detik ini, Israel sebagai anak kesayangan AS nggak dikalungkan julukan teroris kepadanya. Tapi kalo terjadi peledakan bom yang bikin heboh, tudingan selalu diarahkan pada kelompok Islam. Kalo nggak al-Qaidah, ya Jamaah Islamiyah. Basi banget kan? Padahal IRA (Irish Republican Army) di Irlandia berasal dari Katoilik yang berperang melawan Protestan. Di Spanyol, gerilyawan ETA (Euskadi Ta Askatasuna) yang dicap sebagai teroris bukan berasal dari Islam. Kenapa sekarang kok jadi sempit definisi terorismenya?</p>
<p>Emang basi sih. Tapi AS paling jago ngangetin tudingan-tudingan yang udah basi itu. Buktinya, setiap ada tragedi bom, AS pasti langsung ngerespon. Apalagi kalo pelakunya disinyalir berasal dari kaum Muslimin. Udah deh, doi langsung getol menawarkan bantuan dan kerjasama militer untuk menjaga keamanan negara terkait (padahal mah mau menjajah tuh!). Pada tragedi Bom Bali II awal Oktober lalu aja Kedubes AS di Jakarta langsung mengeluarkan pernyataan: â€œKami akan terus bekerja sama dengan teman-teman di Indonesia di dalam perjuangan bersama melawan terorisme dan kami siap membantu apa saja yang kami bisa.â€? (Gatra.com, 03/10/05)</p>
<p>AS emang nggak memerangi Islam atau Umat Islam secara keseluruhan. Tapi menurut Guru Besar Sarah Lawrence College, Fawaz A Gergez dalam buku America and Political Islam (1999), meski para pemimpin AS menolak hipotesis clash of civilization, kebijakan AS pasca Perang Dingin memang sangat dipengaruhi oleh ketakukan adanya â€œancaman kaum Islamisâ€? (Islamist threat).</p>
<p>Yup, AS cukup paranoid dengan aksi-aksi gerakan Islam yang gencar melawan arogansinya. Lantaran perlawanan ini dikhawatirkan bakal mengancam penguasa dari negeri Muslim yang selama ini tunduk pada AS dan mampu menjaga kepentingan AS di negeri itu. Kalo tetep dibiarin, perlawanan ini bakal merembet ke negeri-negeri Muslim yang laen. Kondisi ini bagi AS udah red alert neh. Makanya, sebelum merembet, AS berusaha untuk menghancurkannya selagi masih kecil dan lokal. Nah, biar dapet dukungan dari dunia internasional, dirancanglah apa yang mereka sebut the global war on terrorist. Sehingga, perang melawan teroris tidak lain adalah perang melawan (gerakan) Islam. Itulah yang kini sedang terjadi. Gitu ceritanya.</p>
<p>Makanya kita kudu ngeh dengan hangatnya pemberitaan isu teroris di negeri ini pasca tewasnya DR. Azahari. Boleh jadi ada agenda terselubung di balik semua itu.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, pencitraburukan Islam. Pemutaran vcd pengakuan pelaku Bom Bali II, pengawasan terhadap pondok pesantren, penangkapan beberapa aktivis Islam yang dituduh terkait dengan jaringan teroris, hingga larangan pengajaran ide dari ulama sekaliber Sayyid Qutb tentu makin menguatkan opini Islam agamanya teroris. Akibatnya, kaum Muslimin dibikin ciut nyalinya untuk menyuarakan secara terbuka kebenaran Islam. Daripada ditangkep, mending nyari jalan selamet. Ogah ikut dakwah. Dan sepertinya kondisi ini yang dikehendaki oleh penggagas kampanye The War Against Terorism.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, pengalihan perhatian. Betul. Isu terorisme ini yang dianggap paling berbahaya cukup banyak menyedot perhatian masyarakat. Kebejatan moral dan kerusakan tata hidup akibat penerapan aturan kapitalisme-sekulerisme lambat laun luput dari perhatian masyarakat. Padahal ini nggak kalah bahayanya lho dengan isu teroris itu. Malah lebih berbahaya lantaran kerusakan ini nggak ada matinya selama aturan kapitalisme-sekulerisme itu tetep dipelihara oleh negara. Dan selama itu pula korban kian banyak berjatuhan. Inilah bom waktu yang tengah ditanam oleh musuh-musuh Islam di negeri-negeri Muslim. Waspadalah!</p>
<p><strong>Melek politik itu penting</strong><br />
Sobat, di sinilah perlunya kesadaran politik. Nggak ada salahnya kita berpikir â€?melawan arusâ€™ bahwa jangan-jangan terorisme di Indonesia melibatkan aksi rekayasa dari pihak asing. Soalnya menurut Pengamat Timur Tengah Riza Sihbudi mengatakan bahwa penyandang dana teroris yang disebut dari Timur Tengah itu sangat dimungkinkan berasal dari Israel. (Media Indonesia online, 20/10/05). Atau menurut Mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), AC Manulang, kemungkinan orang yang terbunuh adalah â€œAzahari-Azaharianâ€?. Ada rekayasa intelijen, katanya. (Hidayatullah.com, 15/11/05)</p>
<p>Oke deh sobat, nggak rugi kan kalo kita melek dengan urusan politik. Kita jadi tahu banyak dan nggak gampang terjebak oleh opini yang menyudutkan Islam dan kaum Muslimin. Kalo kita cuek, bisa-bisa kita nggak diakui sebagai seorang Muslim. Seperti sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh al-Hakim, â€œSiapa saja di pagi hari tidak memikirkan masalah kaum Muslimin, maka bukan termasuk golongan mereka.â€? Nggak lah yaw!</p>
<p>So, meski isu teroris banyak memangsa para aktivis, tetaplah bersikap optimis. Bahwa Islam bukan agama teroris. Isu teroris dan sistem kapitalis itulah yang patut diwaspadai. Jadi jangan lupakan bahaya kapitalisme. Itu sebabnya, mari kita sama-sama gencar menyuarakan kebenaran Islam secara terbuka dan getol membongkar kejahatan dan keburukan kapitalisme. Yakin saja, karena cahaya Islam tak akan pernah padam. Tak akan pernah. Itu sebabnya, kita harus semangat memperjuangkannya. Allahu Akbar! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 269/Tahun ke-6/28 Nopember 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kapitalisme-tetap-berbahaya-bro/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teman Tapi Mesra</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/teman-tapi-mesra</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/teman-tapi-mesra#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:45:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/teman-tapi-mesra/</guid>
		<description><![CDATA[Kayaknya kamu sering dengerin deh lagunya Ratu yang berjudul Teman Tapi Mesra. Seperti ini sebagian liriknya: â€œCukuplah saja berteman denganku/ janganlah kau meminta lebih/ ku tak mungkin mencintaimu/ kita berteman saja/ teman tapi mesraâ€¦â€? Ehm, punya teman tuh emang asyik. Selain ada orang yang bisa diajak ngobrol dan saling membantu di kala saling membutuhkan, teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kayaknya kamu sering dengerin deh lagunya Ratu yang berjudul Teman Tapi Mesra. Seperti ini sebagian liriknya: â€œCukuplah saja berteman denganku/ janganlah kau meminta lebih/ ku tak mungkin mencintaimu/ kita berteman saja/ teman tapi mesraâ€¦â€?</p>
<p>Ehm, punya teman tuh emang asyik. Selain ada orang yang bisa diajak ngobrol dan saling membantu di kala saling membutuhkan, teman juga bisa menjadi tempat muara emosi kita. Ngobrol biasa mungkin sering. Tapi ngobrol yang lebih dalam, rasanya agak jarang dilakukan dengan seseorang yang sekadar teman biasa. Kita agak canggung. Itu sebabnya, kehadiran seorang sahabat karib yang bisa menjadi tempat muara emosi kita, sangat diharapkan.<span id="more-270"></span></p>
<p>Teman sejenis pun, cowok dengan cowok maupun cewek dengan cewek, sebenarnya bisa juga sangat akrab. Itu kalo di antara kita udah terjalin sikap saling percaya, saling memahami, dan saling menghargai. Mungkin bisa saja yang seperti ini dibilang mesra. Karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata mesra adalah lekat dan sangat erat.</p>
<p>Sobat muda muslim, cuma masalahnya, gimana kalo teman tapi mesra itu adalah antar lawan jenis. Wow, ini dia yang kudu jadi perhatian dan bikin kita jaga-jaga biar nggak kebablasan. Gimana pun juga, hubungan pria dan wanita pasti nimbulin perasaan-perasaan yang â€?lainâ€™. Perasaan suka, sayang, cinta, termasuk cemburu kalo sang teman tapi mesra itu deket ama yang lain. Karena apa? Karena masing-masing merasa ingin memiliki lebih dari sekadar teman. Tul nggak? Seperti syair di awal lagu dari duo Ratu ini: â€œAku punya teman/ teman sepermainan/ kemana pun dia pergi selalu ada aku/ dia manis dan juga baik hati/ tapi aku bingung ketika dia bilang cintaâ€¦â€?</p>
<p>Inilah unik dan menariknya hubungan antar manusia. Dan harus diakui bahwa manusia tuh makhluk sosial, sehingga ia merasa kesepian kalo nggak ada teman. Padahal manusia bukan hanya terdiri dari sejenis. Itu sebabnya, dalam beberapa kondisi, komunikasi dengan lawan jenis untuk berbagai keperluan dalam melakukan kegiatan sehari-hari nyaris nggak bisa dihindari. Mungkin kita biasa bergaul dalam komunitas sejenis, tapi dalam beberapa kondisi kadang kita harus merambah ke luar komunitas kita, maka kita akan berhubungan dengan banyak pihak, termasuk dalam hal ini dengan lawan jenis.</p>
<p>Sebagai teman akrab atau sebagai sahabat, berteman dengan lawan jenis besar kemungkinan akan menjadi ajang curhat dan saling berbagi cerita mesra. Apalagi teman tapi mesra ini sangat mungkin hubungannya akan ditingkatkan menjadi â€?kekasihâ€™. Bila itu yang terjadi, maka ketika kita curhat dengannya, kita jadi nggak ngerasa sedang ngobrol dengan teman biasa. Tapi dengan seorang kekasih hati, meski baru anggapan sepihak saja dari kita.</p>
<p>Dengan kenyataan seperti ini, cerita dan curhat kita akan semakin terasa bermakna. Pandangan dan pendapatnya yang disampaikan kepada kita sering membuat kita bertenaga. Hidup rasanya dapat tambahan darah segar. Nafas baru dan semangat menggelora. Rasa-rasanya dunia adalah milik kita, yang sedang dimabuk cinta dan dibakar api asmara (meski baru kita sendiri yang merasakannya alias geerâ€”entah dirinya. Mungkin malah sebel). Kita jadi ngedadak â€?lupa diriâ€™, dan kita menjadikan orang yang kita cintai sebagai dewi or pangeran pujaan hati. Kita bersedia berkorban dan menjadi bagian dari hidupnya. Sehari saja tak jumpa dan komunikasi, rasanya hati kita jadi dingin dan beku. Tapi, ketika rindu itu terpuaskan, dinding es yang kokoh menyelimuti hati kita pun perlahan mencair (suit..suit.. swiiw!)</p>
<p><strong>Dari temen jadi demen</strong><br />
Pernah nonton sinetron â€œDari Temen Jadi Demenâ€? di sebuah stasiun televisi swasta? Yup, sinetron ini bercerita tentang kisah-kasih sepasang anak manusia. Benar kata pepatah jawa: â€œWiting tresno jalaran soko kulinoâ€?, bahasa nasionalnya: â€œMunculnya cinta, karena seringnya bertemuâ€?. Hati-hati buat kamu yang sering ketemu dengan lawan jenisnya. Kalo berteman kan sering bertemu lho. Dan, bisa-bisa â€?pepatahâ€™ ini ada benarnya. Singkat kata, kamu jadi demen sama temen kamu. Huhuy!</p>
<p>Sobat muda muslim, gambaran di sinetron yang dibintangi oleh Jonathan Frizzi dan Wulan Guritno ini bisa jadi muncul dalam kisah nyata. Ya, kisah-kasih di antara kita. Bahkan sangat boleh jadi lho kalo cerita itu justru terinspirasi dari kejadian nyata. Tul nggak?</p>
<p>Saya pernah punya kawan yang mengalami kejadian begini. Doi bilang bahwa berteman itu memang mengasyikan, apalagi dengan lawan jenis. Untuk ukuran sesama jenis aja, berteman efektif untuk menumbuhkan kebersamaan, memupuk kasih sayang, bahkan kita saling mencintai. Tengok aja orang yang udah lengket sohiban. Kamu pastinya ngiri deh ngelihat di sekolahmu ada dua orang teman yang lengket bak perangko. Kemana-mana nyaris bareng. Mirip kisah Ujang dan Aceng yang pernah muncul di televisi dulu. Sohiban Ujang dan Aceng ini kebawa sampe mereka dewasa. Bener lho. Asyik banget kan punya teman yang seide dan seperasaan. Itu sebabnya, banyak orang yang kepengen banget punya teman sehidup-semati. Bahkan, teman ibarat cermin buat kita.</p>
<p>Eh, tapi berteman pun bisa berpotensi bikin kita berabe. Kok bisa sih? Iya, kalo berteman sejenis dengan akrab, ati-ati aja jangan sampe kecemplung jadi homoseks. Terus kalo kita berteman dengan lawan jenis, juga kudu taat syariat Islam. Waspada ya.</p>
<p>Nah, khusus ketika berteman dengan lawan jenis, karena selain menumbuhkan rasa kebersamaan, juga efektif memunculkan rasa simpati, selanjutnya empati, berikutnya mulai tumbuh benih-benih cinta di hati. Akhirnya, jatuh hati. Huhuy! Itu namanya bukan lagi temenan, tapi malah demenan. Malah pas lagi sakit pun kita bisa lupa diri kalo ada kekasih di samping kita. Jadinya, kata Wong Cerbon (orang Cirebon) DBD deh, Demam Bari Demenan (baca: demam sambil pacaran)</p>
<p>Sobat muda muslim, seperti kata pepatah lama, â€œBanyak jalan menuju Romaâ€?, maka sekarang kita â€?plesetkanâ€™ jadi â€œbanyak jalan menuju cintaâ€?. Berteman, salah satu jalannya. Yup, karena cinta itu ibarat jelangkung; datang nggak dijemput, pulang nggak dianter. Diusir pun susyeh! (backsound: ehm.. bener nih?)</p>
<p><strong>Jaga jarak aman</strong><br />
Berteman, bisa juga lho jadi jembatan menuju cinta. Jangan heran, sebab frekuensi bertemu dan berhubungan jadi sering banget. Sekadar basa-basi ngobrolin pelajaran sekolah, sampe janjian untuk nomat alias nonton hemat di bioskop. Kalo udah gitu, jadi bias deh definisi teman kalo dengan lawan jenis. Berteman apa pacaran? Berteman apa demenan? Nah lho.</p>
<p>Sobat muda muslim, memang nggak kerasa sih kalo kita udah merasa deket banget dengan teman lawan jenis kita. Tahu-tahuâ€¦ eh, lengket bak perangko. Pokoknya, kalo kita udah biasa main bareng, makan bareng, dan ke sekolah pun bareng dengan teman lawan jenis, itu artinya alarm tanda bahaya udah berbunyi. Beware! Kamu bisa berabe.</p>
<p>Why? Yup, karena sangat boleh jadi kondisi ini bikin kamu ketagihan untuk terus berduaan dan konek terus dengan si doi. Nggak heran kan kalo kamu akhirnya bisa tidur bareng dengan lawan jenis kamu. Upss.. Amit-amit, jangan sampe deh!</p>
<p>Mungkin, di antara kamu juga ada yang interupsi van protes kalo temenen nggak identik dengan pacaran, dan tentunya nggak gitu-gitu amat sampe kudu tidur bareng.</p>
<p>Oke, kalo kamu punya argumentasi begitu. Tapi, apa ada yang ngejamin kalo udah berduaan bakalan aman dari perbuatan ini dan itu yang lebih â€?syeremâ€™? Apa kamu dan temanmu berani jamin bisa tahan godaan kalo udah berduaan begitu? Jangan-jangan, susyeh tuh ngebedain mana sayang, suka, simpati, empati dengan nafsu liar. Lagian, banyak juga kok faktanya yang â€?begituanâ€™ justru karena udah saling mengenal. Hati-hati menggunakannya, eh, melakukannya. Gejlig!</p>
<p>Yup, seperti pernyataan dalam Hukum Coloumb yang membahas gaya elektrostatis (tarik menarik), hubungan cowok-cewek berpotensi untuk saling tertarik satu sama lain yang dibumbui perasaan cinta. Soalnya cowok ama cewek berbeda â€?muatanâ€™, pasti saling tertarik. Karena bunyi Hukum Coloumb sendiri bahwa gaya tarik menarik antara dua buah benda (F) yang berlainan muatan (q1 dan q2) sebanding dengan konstanta (k) dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak keduanya (r). Semakin besar muatan kedua benda serta semakin pendek jaraknya, semakin besar pula gaya tarik menarik yang ditimbulkannya. Nah lho, kudu ekstra ati-ati deh.</p>
<p>Ketertarikan pria terhadap wanita atau sebaliknya dipengaruhi oleh â€œmuatannyaâ€? (q), yaitu akumulasi dari faktor pendorong (q1) dan penarik (q2). Faktor pendorong berasal dari diri sendiri seperti rasa kagum, rasa suka, kesengsem, keblinger, kesepian, atau mungkin nafsu yang mengebu-gebu. Sedangkan faktor penarik berasal dari lawan jenis seperti rupa, harta, sikap, keturunan, kecerdasan dan sebagainya. Jika kedua faktor tesebut nilainya sama-sama besar, maka sudah pasti saling ketertarikan antara pria dan wanita akan bertambah besar pula.</p>
<p>Dalam kondisi sadar dan berada di bawah naungan rambu-rambu agama, hubungan-hubungan ini dapat melahirkan pertautan dua hati yang mengarah ke pernikahan. Ini tentu akan lebih utama lagi bila faktor pendorong semata-mata karena lillahi taâ€™ala dan faktor penarik berupa akhlak yang mulia atau ketaatan beribadah. Namun celakanya, dan tampaknya ini yang semakin merajalela, bahwa di luar kendali fenomena tarik-menarik antara pria dan wanita ini bisa pula mendorong timbulnya perzinahan seperti terjadinya penyelewengan, perselingkuhan, perkosaan, pelacuran, pelecehan seksual, dan bahkan seks bebas. (O. Solihin, Asmara Aktivis Dakwah, hlm. 29-32, mengutip penjelasan di <a href="http://www.isnet.org/">www.isnet.org</a>)</p>
<p><strong>Jadi teman biasa aja</strong><br />
Berteman itu mubah alias boleh-boleh saja. Toh memang itu adalah bagian dari dinamika kehidupan kita sehari-hari. Kita akan bertemu dan berhubngan dengan lawan jenis. Di sekitar rumah, di sekolah, di tempat pengajian, di tempat kuliah, juga di tempat kerja. Semua akan kita temui. Hanya saja, kita kudu membedakan jenis dari masing-masing hubungan tersebut.</p>
<p>Kalo kamu gabung dengan organisasi remaja masjid, itu artinya kamu berteman dengan semua kalangan; laki-perempuan di organisasi itu. Tentunya, itu adalah teman kamu dalam pengajian. Di tempat kuliah or sekolah dan di kantor juga silakan berteman dengan lawan jenis. Asalâ€¦ jaga jarak aman, dan tentunya nggak â€?spesialâ€™. Cukup teman biasa. Kita berhubungan dan bergaul sebatas keperluan di masing-masing kondisi tersebut.</p>
<p>Sangat ditekankan untuk tidak saling curhat masalah pribadi. Berbahaya euy! Memang, cinta akan tumbuh saat masing-masing dari pelakunya membuka diri (apalagi kalo sampe membuka auratâ€”itu sih cinta berbalut nafsu liar). Jangan ada hubungan spesial kalo kamu nggak berniat untuk menikah. Meski tujuannya untuk menikah sekalipun, tetep aja ada aturan mainnya. Nggak liar. Apalagi sekadar berteman.</p>
<p>Nah, karena Allah Taâ€™ala tahu betul dengan karakter manusia (jelas dong, karena Allah adalah al-Khalik), maka ada aturan mainnya tuh hubungan di antara kedua makhluk ini. Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita melalui firmanNya (yang artinya): â€œKatakanlah kepada wanita yang beriman: â€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, (QS an-N?»r [24]: 31)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah Swt. Berfirman (yang artinya): â€œKatakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: â€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuatâ€?. (QS an-N?»r [24]: 30)</p>
<p>Dengan begitu, kita kudu mampu untuk menjaga dan mempertahankan aturan main itu sebagai tameng dalam berteman dengan lawan jenis. Sebab, banyak juga di antara teman remaja yang ngakunya berteman, eh, buktinya malah pacaran. Bilangnya temenan, eh, malah demenan. Ngakunya teman, eh teman tapi mesra. Kata Bang Napi: Waspadalah! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 268/Tahun ke-6/21 Nopember 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/teman-tapi-mesra/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abis Ramadhan Mau Ngapain?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/abis-ramadhan-mau-ngapain</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/abis-ramadhan-mau-ngapain#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/abis-ramadhan-mau-ngapain/</guid>
		<description><![CDATA[Kewajiban shaum alias puasa di bulan Ramadhan udah tamat. Hari Raya Idul Fitri baru aja lewat. Hidangan ketupat pun habis disikat. Nggak ketinggalan, baju lebaran ikut dipamerkan di lingkungan sanak kerabat. Namun, apa yang kita dapat? Adakah kesan yang dalem yang kita dapet dari Ramadhan kemaren? Tentu, kita sendiri yang tahu. Sobat, lima tahun lalu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kewajiban shaum alias puasa di bulan Ramadhan udah tamat. Hari Raya Idul Fitri baru aja lewat. Hidangan ketupat pun habis disikat. Nggak ketinggalan, baju lebaran ikut dipamerkan di lingkungan sanak kerabat. Namun, apa yang kita dapat? Adakah kesan yang dalem yang kita dapet dari Ramadhan kemaren? Tentu, kita sendiri yang tahu.</p>
<p>Sobat, lima tahun lalu, seorang Inneke Koesherawati alias Bunda Arini punya pengalaman religius yang menarik di bulan Ramadhan. Dulunya doi dikenal sebagai bintang film panas sebangsa adegan kebakaran hutan atau dikejar-kejar lahar gunung berapi (upss.. maksudnya, seks!). Ceramah agama yang membanjiri tayangan televisi saat itu memaksa doi untuk menyimak meski dengan rasa malas.<span id="more-269"></span></p>
<p>Alhamdulillaah, satu kutipan pernyataan seorang ustadz perihal taubatan nasuha (sebenar-benarnya tobat) bagi pelaku maksiat mampu membuka jalan masuk cahaya Islam di hatinya. Yup, pasca ramadhan itu, doi insyaf dan berusaha mengubur masa lalunya yang kelam dengan ketekunannya mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam.</p>
<p>Ini baru satu contoh kecil aja sobat. Mungkin banyak di antara temen-temen kita yang punya pengalaman sejenis di bulan Ramadhan. Pengalaman unforgetable yang membuka hati dan pikiran kita tentang ajaran Islam. Subhanaalah. Nikmat banget rasanya ketika Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang menunjukkan jalan untuk taubatan nasuha di bulan penuh ampunan ini.</p>
<p>Lingkungan yang kondusif di bulan mulia nan penuh rahmat tersebut bakal jadi berkah bagi insan yang serius, dua rius, bahkan seratus rius berupaya memperbaiki dirinya. Asli. Kita bakal nyesel dunia akhirat bin tujuh turunan kalo cuma mengisi bulan Ramadhan seperti hari-hari lainnya. Tanpa ada peningkatan aktivitas ibadah untuk menyongsong bonus pahala yang Allah obral abis-abisan. Garing banget tuh. Makanya pasca Ramadhan kali ini, nggak ada ruginya dong kalo kita sedikit merenung apa yang udah kita kerjain di bulan suci kemaren. Dan mo ngapain kita setelah Ramadhan berlalu. Lanjuut!</p>
<p><strong>Menengok bekal yang kita punya</strong><br />
Sobat muda muslim, seperti yang udah sering kita denger, Ramadhan merupakan saat yang tepat bagi kita buat ngumpulin bekal dunia dan akhirat. Bekal dunia berupa tambahan ilmu tentang ajaran Islam yang bisa mengokohkan akidah kita di tengah serangan gencar budaya sekular. Sementara untuk bekal di akhirat, Allah membuka pintu rahmat seluas-luasnya di?  bulan suci ini. Seperti sabda Rasulullah saw: â€œDatang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah menaungi kamu di dalamnya. Dia menurunkan rahmat, melebur dosa, dan mengabulkan permohonan di dalamnya. Allah akan melihat kegiatan dan perlombaanmu di dalamnya. Dia membanggakan ini kepada para malaikat. Maka perlihatkanlah kebaikan dirimu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang terhalang dari Rahmat Allah Swt.â€? (HR Thabrani)</p>
<p>Untuk urusan bekal akhirat, memang cuma Allah yang tahu berapa saldo kita dalam catatan amal sholeh. Tapi, Allah udah ngasih rambu-rambu aktivitas mana aja yang bisa menambah pundi pahala kita. Makanya pinter-pinternya kita aja untuk memilih aktivitas yang penuh manfaat dan berpahala. Soalnya, nuansa Ramadhan juga menjanjikan kegiatan-kegiatan yang miskin manfaat dan minim pahala. Sayangnya justru kegiatan model gini yang banyak digandrungi oleh remaja muslim. Waduh!</p>
<p>Di antara kegiatan yang terkategori miskin manfaat adalah aktivitas wasting time alias ngabisin waktu. Dengan alasan nunggu bedug maghrib, bermain untuk mengalihkan perhatian dari lapar dan dahaga banyak diminati. Soalnya kalo udah maen, suka lupa waktu, lupa shalat, lupa tadarusan, lupa ikut ngaji de el el. Tahu-tahu udah bedug maghrib. Padahal baru bada shubuh tadi maennya. Nggak heran kalo permainan dadu sejenis monopoli, halma, atau ular tangga sempet meroket popularitasnya di bulan Ramadhan. Begitu juga dengan keasyikan bermain video game.</p>
<p>Ada juga yang mengisi Ramadhan-nya dengan menambah jam tidur di siang hari. Kalo ditanya alasannya, daripada berbuat maksiat yang bisa batalin puasa, mending tidur. Selain aman, berpahala lagi. Emang sih, tidurnya orang puasa itu berpahala. Tapi, apa bener cuma bermaksiat aja yang bisa dikerjain orang puasa selain tidur? Kalo emang ngerasa ahli maksiat bukannya justru di bulan penuh ampunan ini saat yang tepat untuk bertobat. Dengan hadir di pengajian untuk mengenal Islam lebih dalam, membasahi lisan dengan tadarus al-Quran, atau menghabiskan malam dengan shalat tarawih dan tahajud. Ini baru pilihan yang masuk akal. Betul?</p>
<p>Nah sobat, kebayang nggak bekal yang kita punya kalo model kegiatan di atas jadi aktivitas kebangsaan kita saat Ramadhan kemaren. Padahal perjalanan panjang dengan tantangan yang lebih dahsyat dalam menghadapi ujian hidup dan godaan setan baru dimulai pasca Ramadhan berakhir. Dan kita tahu kalo godaan setan itu nggak mempan kalo keimanan kita mantap. Tapi, gimana kita bisa ngandelin iman kita kalo kesempatan untuk merawatnya di bulan Ramadhan kemaren kita sia-siakan. Nah lho? Rugi banget kan!</p>
<p><strong>Ramadhan berakhir, lebaran hadir</strong><br />
Menjelang Idul Fitri, keramaian di masjid-masjid yang ditemui saat awal Ramadhan berpindah ke pusat perbelanjaan. Perburuan lailatul qadar kalah pamor dengan hujan diskon gede-gedean yang ditawarkan di mal-mal. Semua pada sibuk berbelanja. Lebaran udah kadung dikaitkan dengan penampilan baju, sepatu, tas, sampe dompet serba baru. Padahal, boleh jadi tradisi pemberian baju baru awalnya hanya sebuah bentuk reward alias penghargaan bagi adek-adek kita yang puasanya penuh. Sayangnya, kian hari bentuk penghargaan ini bergeser menjadi tradisi menyambut idul fitri.</p>
<p>Padahal Imam Syafiâ€™i pernah berpesan, â€œIdul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru, tetapi dipersembahkan bagi orang yang ketaatannya bertambahâ€?.</p>
<p>Sobat, terkadang kita kebablasan mengekspresikan kebahagiaan menyambut lebaran. Sampe-sampe ngerasa Idul Fitri adalah akhir dari sebuah perjuangan melawan hawa nafsu. Padahal, secara bahasa syawwal artinya peningkatan. Ini berarti, memasuki bulan Syawal seharusnya kualitas ketakwaan kita meningkat seperti pesan Imam Syafii di atas, bukannya malah nge-drop mentang-mentang nggak puasa lagi.</p>
<p>Pasca Ramadhan, setan-setan yang terbelenggu bakal terbebas. Arus budaya Barat bakal kembali menyapa remaja muslim di seluruh penjuru dunia. Gaya hidup hedonis plus pesta pora dijajakan dengan kemasan perayaan Idul Fitri dalam konser-konser musik di berbagai kota. Pergaulan bebas yang sempet direm saat Ramadhan kembali dikampanyekan media massa. Seolah mengajak para aktivis pacaran untuk kembali ke habitat baku syahwatnya. Gaswat kan? Jadi ati-ati ye.</p>
<p>Makanya para shahabat dulu justru bersedih ketika Ramadhan akan segera berakhir. Seperti sabda Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan Ibn Masâ€™ud: â€œSekiranya para hamba (kaum Muslim) mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada sepanjang tahun.â€? (HR Abu Yaâ€™la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami)</p>
<p>Ketika lebaran hadir, idealnya kita udah menjalani masa karantina yang menggembleng kita untuk menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Sehingga bulan Syawal justru menjadi bulan penentuan bagi kita. Sejauh mana kita bisa mempertahankan keberhasilan Ramadhan. Masihkah kita mampu menjaga lifetime battery akidah kita hingga memasuki masa charge di Ramadhan yang akan datang.</p>
<p><strong>Tetap nyalakan semangat Ramadhan-mu!<br />
</strong>Bener sobat. Nggak gampang ngadepin godaan setan di sebelas bulan berikutnya pasca Ramadhan. Apalagi kalo bekal yang seharusnya kita kumpulkan di bulan Ramadhan malah disia-siakan. Tentu perlu perjuangan lebih keras lagi untuk mempertahankan keislaman kita. Idih, kayak mo perang aja persiapanya.</p>
<p>Emang. Saat ini, kehidupan sekular udah menjadi kebiasaan dalam keseharian kita. Mungkin kita baru menemukan nuansa lingkungan yang agak islami hanya di bulan Ramadhan aja. Makanya, mumpung Ramadhan belon lama lewat, tetep jaga semangat kita agar tetap menyala. Caranya?</p>
<p>Pertama, upgrading ilmu. Pasca Ramadhan boleh jadi kegiatan pengkajian Islam nggak lagi ramai diadakan. Tapi bukan berarti nggak ada sama sekali. Tetep ada asalkan kita mau dan serius ngikutinnya. Lebih bagus kalo menindaklanjuti kegiatan pengajian atau sanlat yang udah ada di Ramadhan kemaren. Kan oke punya tuh. Kita dan temen-temen jadi punya sarana untuk menambah ilmu Islam.</p>
<p>Aktivitas menuntut ilmu ini nggak boleh kelewat sobat. Kapan aja, di mana aja, dengan siapa aja kita bisa menambah wawasan Islam. Di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Kok kayaknya penting banget sih ngaji itu? pasti dong. Hare gene, cuma akidah Islam yang bisa menjaga diri kita dari pesona kemaksiatan yang disyiarkan budaya Barat.</p>
<p>Dengan ikut ngaji, kita ada usaha untuk menjaga akidah tetep kokoh dan terpelihara. Nggak gampang dikoyak oleh ide-ide kufur berlabel Islam model pacaran Islami atau kesamaan semua agama yang dikampanyekan musuh-musuh Islam.</p>
<p>Selain ngaji, upgrading ilmu Islam juga bisa kita lakukan dengan menumbuhkan ketertarikan membaca media-media Islam. Nggak mesti yang berat bin kompleks isinya kalo emang kesulitan ngertinya. Masih banyak kok media Islam alternatif?  yang cocok buat remaja tapi tetep terjaga isinya dari kontaminasi ide dan budaya kufur. Coba deh. Asyik lho! (salah satunya STUDIA, deuuu geer banget! Heheheâ€¦)</p>
<p>Kedua, menjaga dan meningkatkan taqarrub Ilallah. Meski nggak ada shalat tarawih di malam hari, shalat tahajjud tetep ada kok. Walau puasa wajib udah berakhir, bukan berarti yang sunnah juga abis dong. Biarpun nggak dikejar target khatam al-Quran dalam satu bulan, tadarus al-Quran masih menjadi ladang pahala tanpa henti lho. Yup, ramadhan emang udah berlalu. Tapi nggak otomatis aktivitas ibadah kita mati kutu. Toh pahala Allah nggak cuman ada di bulan Ramadhan aja kan. Dan malaikat Raqib-Atid tetep bersedia â€?kerja lemburâ€™ untuk mencatat amal ibadah kita di malam hari. Dengan menjalin kedekatan dengan yang Maha Kuasa dan Maha Pemberi Pertolongan, tentu nggak ada alasan lagi untuk takut atau bersedih hati menghadapi setiap godaan setan pasca Ramadhan. Betul?</p>
<p>Oke deh sobat, dua tips di atas semoga bisa tetap menjaga semangat Ramadhan kita tetep menyala sepanjang masa. Kita juga pengen lifetime battery akidah kita bertahan lama hingga ajal menjemput. Karena itu, hari lebaran makan ketupat. Pasca Ramadhan tetep semangat. Mengkaji, memahami, meyakini, mengamalkan, dan memperjuangkan Islam.</p>
<p>Dan jangan lupakan puasa sunat 6 hari di bulan Syawal ya. Biar pahalanya tambah lengkap. Seperti diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis, kecuali Bukhari dan Nasaâ€™i, dari Abu Aiyub al-Anshari bahwa Nabi saw. bersabda: â€œBarangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan diiringinya dengan enam hari bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa sepanjang masa.â€? Okeh? Siip dah! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 267/Tahun ke-6/14 Nopember 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/abis-ramadhan-mau-ngapain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaum Muslimin Bukan Teroris!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kaum-muslimin-bukan-teroris</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kaum-muslimin-bukan-teroris#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:39:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kaum-muslimin-bukan-teroris/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pria berjalan memasuki Rajaâ€?s Bar and Restaurant di Kuta Square, Denpasar, Bali. Dengan tas punggung yang nemplok di pundaknya, pria itu terus berjalan ke tengah-tengah kafe yang saat itu dipadati pengunjung wisatawan asing dan turis domestik. Maklum, pada asyik weekend tuh. Nggak ada angin nggak ada ujan, tak lama kemudian&#8230;&#8230;buum!!! Sebuah ledakan terdengar memecah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pria berjalan memasuki Rajaâ€?s Bar and Restaurant di Kuta Square, Denpasar, Bali. Dengan tas punggung yang nemplok di pundaknya, pria itu terus berjalan ke tengah-tengah kafe yang saat itu dipadati pengunjung wisatawan asing dan turis domestik. Maklum, pada asyik weekend tuh. Nggak ada angin nggak ada ujan, tak lama kemudian&#8230;&#8230;buum!!! Sebuah ledakan terdengar memecah keramaian kafe tepat pukul 19.33 WITA. <span id="more-268"></span></p>
<p>Begitulah detik-detik menjelang terjadinya ledakan bom Bali II 1 Oktober 2005 kemaren yang berhasil terekam oleh kamerawan amatir. Nggak cuma satu, dalam waktu yang hampir bersamaan, dua bom juga meledak di Pantai Muaya dan Kafe Manage, Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali pada pukul 19.32 dan 19.34 WITA. Sementara lima bom lainnya tidak sampai meledak dan ditemukan personel Brigade Mobil. Sampai saat ini, jumlah korban tewas tragedi bom Bali II sebanyak 23 orang. Dan ratusan lainnya cedera. Kita patut berduka untuk tragedi ini.</p>
<p>Bukan cuma kita, tapi semua pihak serta merta berkomat-kamit melontarkan beragam kutukan terhadap pelaku pengeboman. Indonesia selaku tempat berdiamnya pulau dewata kudu rela kebagian getahnya dicap sebagai negara yang nggak aman dari aksi teroris. Hingga Swedia dan Australia pun mengeluarkan travel warning bagi warganya yang akan berkunjung ke Bali. Demi membersihkan nama baiknya, Pemerintah pun kudu sibuk kasak-kusuk nyari tahu pelaku Bom Bali II. Kira-kira siapa ya?</p>
<p><strong>Kenapa mesti kaum Muslimin?<br />
</strong>Sobat, sebagai seorang muslim kita pun tentu membenci peledakan Bom Bali II yang memakan korban jiwa dan hancurnya fasilitas umum. Sebab Islam mengajarkan kita untuk menghargai jiwa manusia. Tanpa alasan syarâ€™i, kita nggak diizinkan untuk menumpahkan darah atau menghilangkan nyawa orang lain.</p>
<p>Sayangnya, dugaan bernada tuduhan bahwa pelaku Bom Bali II dialamatkan kembali kepada kaum muslimin. Terutama organisasi Jamaah Islamiyah (JI). Padahal penyelidikan pun masih terus berlanjut alias belon sampe garis finish. Mentang-mentang pelaku tragedi bom di negeri kita sering menyeret nama-nama berlabel Islam kayak Imam Samudera, Asmar Latin Sani, atau Ali Gufron, bukan berarti bisa dipukul rata. Tetep kudu ada penyelidikan dulu.</p>
<p>Pengamat intelejen Juanda dalam Todays Dialogue MetroTV sempat mempertanyakan dan bahkan mengaku kecewa mengapa aparat keamanan buru-buru menyebut pelakunya adalah Dr. Azhari dan Moh Nurdin M Top. Sebab menurutnya, tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa ada kesamaan antara bom Bali I dengan Bom Bali II. (Hidayatullah.com, 04/10/05)</p>
<p>Sialnya, lantaran pelaku pengeboman sering dituduhkan pada aktivis gerakan Islam, ajaran Islam sering ikut dituduh ngajarin untuk menjadi teroris. Wasyah! Asal banget tuh!</p>
<p>Penulis terkenal Inggris Karen Armstrong aja menyatakan, Islam tidak selayaknya diasosikan dengan serangan teroris yang dilakukan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim. Karena tindakan orang-orang itu justru sudah melanggar prinsip-prinsip esensial Islam. (Eramuslim, 12/07/05)</p>
<p>Kalo pun pelakunya seorang muslim, bisa jadi dia merupakan korban dari sebuah rekayasa intelijen. Sehingga bisa jadi tragedi Bom Bali II ini bagian dari konspirasi tingkat tinggi untuk menyudutkan Islam dan kaum Muslimin di Indonesia. Mengingat sikap pemerintah yang masih adem ayem dengan geliat gerakan-gerakan Islam yang mengkampanyekan syariat Islam dan membongkar rencana jahat musuh-musuh Islam. Padahal justru kondisi ini yang dikhawatirkan bisa mengancam kepentingan?  musuh-musuh Islam di negeri ini.</p>
<p><strong>False Flag dalam Bom Bali II<br />
</strong>Menurut mantan KABAKIN alm. Z.A. Maulani, terdapat istilah false flag dalam sebuah operasi intelijen. False flag adalah kegiatan atau operasi yang dilakukan suatu pihak sehingga dampak kejadian itu bakal diarahkan ke pihak yang dikehendaki. Dengan kata lain, false flag dilakukan untuk menebar fitnah atau citra negatif kepada pihak yang dikehendaki.</p>
<p>Khusus dalam kasus Bom Bali II ini, beberapa kejanggalan yang mengarah pada false flag terungkap dalam sebuah acara â€?To days dialogueâ€™ Metro TV yang dipandu reporter Najwa Shihab dengan menampilkan pakar intelijen Juanda, Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Soenarko D Ardanto. Beberapa kejanggalan yang sempat didialogkan dalam diskusi itu adalah; Pertama, hasil rekaman video amatir koleksi keluarga yang menunjukkan detil pelaku bom Bali. Kalo itu video keluarga, kok bisa nge-shoot gerak-gerik pelaku yang saat ini diakui Polri sebagai tersangka secara detil. Dari duduk, berjalan hingga bom diledakkan. Layaknya kameramen film yang sengaja dan dibayar untuk merekam adegan sang aktor.</p>
<p>Kedua, mengapa hasil video itu yang telah diberikan pada pihak keamanan Indonesia itu justru datang dari Australia.</p>
<p>Ketiga, beberapa hari sebelum terjadi ledakan, para pecalang (keamanan adat Bali) telah mengingatkan para turis akan ada ledakan.</p>
<p>Dan yang keempat, beberapa hari sebelum kejadian beberapa masyarakat juga memperingatkan turis untuk tak memasuki daerah itu.</p>
<p>Selain kejanggalan di atas, perhatian AS dan Australia akan tragedi ini gede banget. Hingga Amerika Serikat, Kamis (6/10), mengumumkan tawaran hadiah berupa uang sebesar US$ 10 juta atau sepuluh milyar rupiah bagi setiap informasi yang dapat menunjukkan di mana keberadaan tersangka utama peledakan bom di Bali tahun 2002 lalu. (Hidayatullah, 07/10/05).</p>
<p>Dan Menlu Australia, Downer juga mengatakan bahwa Australia akan memberikan santunan senilai US$770 ribu (sekitar Rp7,7 miliar) untuk pemulihan ledakan Bali. Nggak lupa mendesak pemerintah Indonesia untuk melarang organisasi Jamaah Islamiyah yang mereka sinyalir aktor dibalik tragedi Bom Bali I dan II. (Kaltim Post, 05/10/05).</p>
<p>Apalagi, masih menurut pengamat intelijen, Juanda, ada kepentingan tinggi pihak Australia kepada Indonesia dalam hal ini. Kabarnya, beberapa menit setelah peristiwa pengeboman beberapa aparat intelijen Australia sudah langsung sampai di lokasi dan ikut?  menginvestigasi di TKP. (Hidayatullah.com, 04/10/05). Mungkinkah ada indikasi false flag di tragedi Bom Bali? Bisa jadi.</p>
<p><strong>Teroris teriak teroris!<br />
</strong>Sobat, dalam pertemuan Trade Union Congress, Senin (12/9/05), Walikota London Ken Livingstone mengatakan bahwa kebijakan-kebijakan Bush lah yang menimbulkan â€?benturan peradabanâ€™ antara umat Islam dan masyarakat Barat. (Eramuslim, 14/09/05).</p>
<p>Kampanye The Global Wars against Terorism sendiri hanyalah kedok untuk melawan gerakan-gerakan Islam yang mengancam kepentingan politik ekonomi AS di dunia Islam. Buktinya, perilaku Israel yang terang-terangan menebar teror, melakukan tindakan kekerasan, membantai, hingga mengusir penduduk Palestina sampai saat ini nggak dicap sebagai teroris. Keliatan banget kan standar gandanya? Iya nggak?</p>
<p>Fakta ini dikuatkan dengan data lebih dari 90% daftar Foreign Terrorist Organization (FTO) adalah individu dan kelompok muslim. Sementara nama-nama orang atau organisasi yang udah dikenal dunia sebagai teroris seperti ekstrimis Irlandia Utara, kelompok separatis Basque ETA, atau organisasi 17 November di Yunani nggak termasuk dalam daftar.</p>
<p>Akibatnya, AS gencar melakukan penangkapan terhadap aktivis gerakan-gerakan Islam di berbagai negara. Seperti skenario penangkapan Umar al-Faruq, Agus Budiman, Fathurahman al-Ghazi, Agus Dwikarna dan warga Indonesia lainnya yang dicap sebagai bagian dari organisasi teroris seperti al-Qaida. Seolah AS mau teriak ke dunia kalo di negeri ini sudah menjadi sarang teroris. Agar mereka punya alasan kuat untuk ikut campur urusan dalam negeri kita, terutama dalam hal keamanan negara. Langkah yang sama yang dilakukan AS sebelum memporak-porandakan Afghanistan dan Irak.</p>
<p>Dengan memegang kontrol media informasi dunia, AS dengan mudah mendramatisasi setiap peristiwa yang berbau teror untuk memojokkan Islam dan kaum Muslimin dengan stempel teroris, radikal, fundamental, dll. Kalo pemerintah negeri ini nggak nyadar dengan taktik busuk AS ini, bisa-bisa arogansi militer kampiun demokrasi ini nggak cuma kita lihat di Afghanistan, Irak, atau penjara-penjara AS seperti Abu Ghraib. Tapi di depan mata kita.</p>
<p>Padahal yang sebenernya terjadi adalah seperti penuturan Prof. Noam Chomsky dalam bukunya Maling Teriak Maling: Amerika Sang Teroris (2001), AS dan Israel lah sang teroris sejati. Beliau menambahkan, serangan AS ke Afghanistan itu lebih jahat dari serangan 11 September 2001. Bahkan Human Right Watch di New York sudah menyatakan, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Tapi apa sanksi bagi AS? Nggak ada banget. Posisi The Globo Cop yang disandangnya, bikin AS ngerasa nggak pernah berbuat salah dalam aksi-aksinya demi keamanan dunia. Padahal dia yang bikin dunia makin nggak aman. Dasar maling, eh, teroris!</p>
<p><strong>Never ending dakwah</strong><br />
Sobat, gencarnya pemberian citra negatif terhadap gerakan Islam tak jarang menimbulkan Islamphobia alias ketakutan terhadap Islam pada diri kaum Muslimin. Seolah menjadi seorang aktivis adalah jalan menuju tempat peristirahatan di balik jeruji besi. Karena kekhawatiran itu, ada orang tua yang melarang anaknya untuk aktif dalam dakwah. Atau surutnya semangat para pengemban dakwah dalam mengopinikan syariat Islam di tengah masyarakat. Tentu bukan sikap seperti ini yang kita kehendaki.</p>
<p>Ingatlah firman Allah swt:</p>
<p>ï???ˆ???¥???°?’ ?????…?’?ƒ???±?? ?¨???ƒ?? ?§?„?‘???°?????†?? ?ƒ???????±???ˆ?§ ?„???????«?’?¨???????ˆ?ƒ?? ?£???ˆ?’ ?????‚?’?????„???ˆ?ƒ?? ?£???ˆ?’ ?????®?’?±???¬???ˆ?ƒ?? ?ˆ???????…?’?ƒ???±???ˆ?†?? ?ˆ???????…?’?ƒ???±?? ?§?„?„?‡?? ?ˆ???§?„?„?‡?? ?®?????’?±?? ?§?„?’?…???§?ƒ???±?????†??ï?›<br />
â€œDan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.â€? (QS al-Anf?¢l [8]: 30)</p>
<p>Sikap terbaik yang bisa kita lakukan justru tetap berdakwah membongkar rencana jahat musuh-musuh Islam. Agar tumbuh kesadaran di tengah-tengah masyarakat akan bahaya yang mengancam kita semua jika cuek dengan kondisi negeri ini en sodara-sodara kita di tempat laen. Tak lupa untuk mengajak masyarakat bersama-sama mengembalikan harga diri kaum Muslimin melalui tegaknya Khilafah Islamiyah. Sebuah Negara Islam yang akan menghimpun kekuatan negeri-negeri Muslim yang saat ini terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara kecil. Sehingga Islam punya kekuatan untuk melawan arogansi AS, melindungi kaum Muslimin dan menebar rahmat bagi seluruh alam.</p>
<p>So, nggak ada alasan untuk berhenti berdakwah. Kita selaku generasi muda Islam adalah martir revolusi putih. Yang akan menjadi ujung tombak kebangkitan ideologi Islam dan penghancuran sekulerisme di tengah masyarakat. Dengan keikhlasan yang tertanam dalam hati dan keimanan yang mantap, Allah akan selalu bersama kita. Tetaplah semangat. Karena semangat nggak pernah tamat. Allahu Akbar! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 266/Tahun ke-6/17 Oktober 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kaum-muslimin-bukan-teroris/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meraih Cinta di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/meraih-cinta-di-bulan-ramadhan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/meraih-cinta-di-bulan-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/meraih-cinta-di-bulan-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[Rasa-rasanya nggak ada deh orang yang nggak mau dicintai. Saya yakin kita semua pengen dicintai. Karena ketika dicintai seseorang, insya Allah akan tumbuh rasa percaya diri. Cinta juga akan memberikan rasa pasti dalam diri kita bahwa kita diakui sekaligus dihargai. Nggak kebayang banget kan kalo kita dimusuhin temen. Percaya diri kita bakalan drop banget. Mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasa-rasanya nggak ada deh orang yang nggak mau dicintai. Saya yakin kita semua pengen dicintai. Karena ketika dicintai seseorang, insya Allah akan tumbuh rasa percaya diri. Cinta juga akan memberikan rasa pasti dalam diri kita bahwa kita diakui sekaligus dihargai. Nggak kebayang banget kan kalo kita dimusuhin temen. Percaya diri kita bakalan drop banget. Mau ketemu orang tersebut jadi minder, dan mungkin malah takut. Terus, jelas aja kalo kita dimusuhi berarti nggak diterima oleh teman kita itu. Artinya, kita nggak diakui dan dihargai. Wuih, merana banget euy!<span id="more-267"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, ngomongin cinta di bulan Ramadhan ini, tentunya yang kepikiran sama kita adalah, bagaimana meraih cinta Allah di bulan yang penuh berkah ini. Iya kan? Saya ingin memfokuskan pembahasannya ke sini. Karena di bulan Ramadhan ini, Allah Taâ€™ala benar-benar obral pahala. Dia memberikan cintaNya kepada kita semua, yang insya Allah adalah orang-orang yang beriman, dengan beragam kesempatan untuk mengumpulkan pahala di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Itu sebabnya, aneh banget deh kalo kita nggak berusaha meraih cintaNya itu.</p>
<p>Jujur saja, jika kita ingin meraih cinta dari teman kita, katakanlah yang lawan jenis. Pasti kita akan memoles segala apa yang kita miliki agar bisa dilihat oleh orang yang diharapkan bisa memberikan cintanya kepada kita. Abis-abisan kita dandan, dan jor-joran banget tampil sesempurna mungkin untuk meraih cintanya. Cinta yang akan membuat kita merasa percaya diri, diakui, dan sekaligus dihargai.</p>
<p>Beragam lagu tentang cinta antar lawan jenis saja bukan hanya begitu indah didengar, tapi juga dirasakan. Gimana nggak, banyak pencipta lagu cinta yang memasukkan emosinya ketika membuat lagu. Sehingga tak terasa sudah mencengkeram emosi kita sejak pertama kali mendengarkan lagu cinta itu.</p>
<p>Maka, jika Radja bersenandung, â€œAku tak ingin melupakanmu, aku tak ingin meninggalkanmuâ€¦â€? dalam salah satu lagu cintanya, yang kepikiran sama kita adalah bagaimana perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta itu nggak mau terpisah sedetik pun dari sang kekasih pujaan?  hatinya. Bahkan bila mungkin akan terus menyalakan sinyal cintanya, agar amplitudo gelombang hati masing-masing saling berinterfensi.</p>
<p>Nah, jika di Ramadhan ini kita ingin meraih cinta dari Allah Swt., maka seharusnya dan mungkin lebih dari apa yang disenandungkan Radja dalam lagunya tersebut. Tentu kita ingin banget meraih ridho Allah en ngedapetin cintaNya di bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Itu sebabnya, amat wajar jika kita berusaha memperbaiki diri kita. Pikiran dan perasaan kita difokuskan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan Allah Swt. Perbuatan yang bisa mendapatkan ridho dan cintaNya. Betul nggak sih?</p>
<p>Jangan sampe deh, kita â€?pinter kodekâ€™ alias pengen enak sendiri. Iya, kita pengen dapetin cinta dari Allah Swt., tapi kita sama sekali ogah ngelakuin apa yang Allah perintahkan. Gimana bakalan bisa ngeraih cintanya. Itu sama saja dengan niat kita ingin ditaksir orang yang kita idamkan, tapi kita nggak berusaha menampilkan diri kita agar bisa dilirik oleh orang yang kita harapkan akan memberikan cinta kepada kita. Mimpi kali yee?</p>
<p>Sobat muda muslim, rasanya pantes banget deh kalo kita mati-matian berusaha untuk ngedapetin cintaNya di bulan yang terbaik dari bulan-bulan lainnya dalam kalender hijriah ini. Sayang banget kan kita lewati begitu saja bulan penuh bonus pahala ini. Kita yakin banget deh, jika memang kita nyadar, pasti bakalan ngerahin segala daya dan upaya biar kita bisa dapetin kesempatan meraih pahala yang udah disebar karena cinta Allah Swt. kepada kita. Iya nggak seh?</p>
<p>Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan membukakan pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka. Itu artinya, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih banyak dalam mengumpulkan pahala. Sabda Rasulullah saw.: Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)</p>
<p><strong>Cinta tapi eror</strong><br />
Aduuuh.. parah nggak sih, kalo cinta tapi eror? Saya sih nggak mau nuduh-nuduh sama kamu. Nggak mau juga nuding-nuding siapa aja yang emang eror.</p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata eror yang diambil dari bahasa Inggris (error) ini bermakna: kesalahan teratur, terjadi dalam pemerolehan atau belajar bahasa. Bisa juga masuk dalam istilah hukum dengan makna: kesesatan yang dapat menjadikan batalnya suatu perjanjian jika menyangkut sifat pokok benda yang diperjanjikan.</p>
<p>Oke deh, kita nggak bakalan ngebahas lebih lanjut soal bahasa tersebut. Kita maknai saja secara sederhana bahwa eror atau error itu sebagai kesalahan. Nah, kalo ngomongin cinta tapi eror, berarti cinta yang salah. Cinta yang keliru. Kita cinta tapi salah atau keliru dalam memaknai cinta dan cara mendapatkan cinta tersebut. Malah, bisa jadi kita cinta tapi nggak nyambung dengan upaya untuk mendapatkan cinta tersebut.</p>
<p>Ambil contoh kayak sekarang nih, saya yakin banyak banget dari kita yang berusaha dan berlomba untuk meraih cinta di bulan Ramadhan ini, tapi kayaknya juga nggak tahu caranya untuk meraih cinta tersebut. Sebagian mungkin bukan lagi nggak tahu, tapi nggak mau tahu. Wah, gaswat itu namanya. Ada yang puasa biar dapet pahala. Rela menahan rasa lapar dan haus. Bela-belain nggak melakukan kegiatan berat dan bahkan minta ditambah jatah tidur. Tapi lisannya sering nyakitin orang, lidahnya dipake ngegosip alias ngomongin kejelekan orang, bahkan aktivitas pacaran tetep dilakuin meski dikurangi frekuensi ketemuannya. Lha, itu sih, ngelaksanain satu kewajiban sambil melanggar larangan lainnya.</p>
<p>Orang yang pacaran emang nggak batal puasanya, kecuali pas pacaran mereka makan dan minum. Batal puasanya karena makan dan minum di siang hari. Tapi aktivitas pacaran bisa mengurangi pahala kita. Itu sebabnya, Rasulullah saw. bersabda: â€œBetapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahagaâ€??  (HR Ahmad)</p>
<p>Rugi banget! Rugi abis! Nggak mau dong kita cuma dapetin lapar dan haus aja. Padahal, puasa itu seharusnya menjadikan kita yang melaksanakannya mendapat predikat orang-orang yang bertakwa. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„?????’?ƒ???…?? ?§?„?µ?‘???????§?…?? ?ƒ???…???§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„???‰ ?§?„?‘???°?????†?? ?…???†?’ ?‚???¨?’?„???ƒ???…?’ ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????‘???‚???ˆ?†??<br />
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS al-Baqarah [2]: 183)</p>
<p>Mana mungkin bisa ngedapetin segala yang diberikan Allah Swt. jika kita nggak ngikutin prosedur yang ditetapkan oleh Allah Swt. untuk meraih cintaNya? Plis deh.</p>
<p>Kalo kita pengen dapetin pahala di bulan Ramadhan karena cinta kita kepada Allah Swt., maka untuk negdapetin segala yang Allah berikan buat kita karena cintaNya kepada kita, tentunya kita harus meraihnya dengan aturan yang sudah dijelaskan melalui tuntunan Allah dan RasulNya. Kalo nggak, pasti cinta kita eror deh. Tul nggak?</p>
<p><strong>Allah sayang banget sama kita</strong><br />
Sobat muda muslim, alhamdulillah sampai juga kita di Ramadhan ini. Bulan yang setiap harinya Allah berikan kemudahan bagi kita untuk meraih pahala yang sudah disiapkan untuk kita. Pahala yang banyak. Ampunan yang besar. Bahkan di bulan ini pun Allah memberikan â€?super bonusâ€™ dengan diturunkannya Malam Kemuliaan alias â€œLailatul Qodarâ€?. Jika kita mendapatkannya dan ketika itu kita sedang beribadah kepada Allah Swt., insya Allah pahala kita layaknya orang yang beribadah selama 1000 bulan. Subhanallah.</p>
<p>Allah Swt. berfirman (yang artinya): Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS al-Qadr [97]: 1-5)</p>
<p>Abu Hurayrah ra berkata, bersabda Rasulullah saw.:â€?Siapa saja yang bangun pada malam Qadr karena dorongan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang lalu.â€? (HR Bukhari, Muslim)</p>
<p>Lailatul Qadr adalah malam yang penuh berkah dan rahmat dari Allah Swt. Oya, Qadr itu punya makna al-Manzilah yang artinya kedudukan atau derajat. Selain itu qadr juga bermakna asy-Syarif dengan arti kemuliaan. Tuh catet lho. Jangan lupa yaâ€¦</p>
<p>Abu Bakar al-Warraq menjelaskan tentang kenapa dinamai dengan Lailatul Qadr, beliau menyebutkan bahwa alasannya adalah karena pada malam tersebut diturunkan sebuah kitab yang mempunyai Qadr (kemuliaan) oleh malaikat yang mempunyai Qadr, kepada Rasulullah saw. yang mulai dan untuk umat yang mulia pula. Subhanallah&#8230;</p>
<p>Entah, jika tidak ada Ramadhan, mungkin kita kebingungan gimana caranya ngebersihin diri kita yang banyak dosa ini. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Allah Swt. tuh sayang banget sama kita, kaum muslimin. Karena dengan Ramadhan, kita bisa berlomba meraih pahala yang tebarkan karena kecintaan Allah Swt. kepada orang-orang yang beriman. Dan, ada nilai plus lagi buat kita. Mumpung diberikan kesempatan untuk menikmatinya, kita harus mengerahkan segala daya upaya agar bisa meraih cintaNya. Agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa kepadaNya. So, nggak jaman lagi kalo ada di antara kita yang nggak puasa, udah ketinggalan jaman kalo ada kita-kita yang puasanya getol tapi pacarannya juga hot. Hih, amit-amit dah. Semoga kita terhindar dari segala perbuatan maksiat yang bisa mengurangi atau bahkan membakar pahala puasa kita jadi abu. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Sobat muda muslim, Emang sih, kalo maksiat, meski di luar bulan Ramadhan tetep nggak boleh. Tepatnya apapun jenis perbuatan maksiatnya, tetep haram untuk dilakukan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, kayaknya lebih nggak pantes lagi kalo itu dilakukan. Tul nggak? Itu sebabnya, jangan nekatz untuk melakukan maksiat.</p>
<p>Kalo puasa nggak menjadikan kita mawas diri, nggak menjadikan kita malu, bahkan nggak menjadikan kita jadi anak shaleh, itu berarti ada â€œapa-apanyaâ€?. Sebab, seharusnya kan puasa bisa menjadi perisai kita dari berbuat yang nggak bener. Puasa adalah tameng kita.</p>
<p>Sabda Rasulullah saw.: Puasa adalah perisai (dari api neraka). Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: â€?Saya sedang berpuasaâ€™ (HR Bukhari)</p>
<p>Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum. (HR Bukhari)</p>
<p>Nah lho. Hadis ini memberikan sinyal buat kita, bahwa kalo kita masih tetep kuat maksiat meski sedang puasa, maka jangan harap kalo puasa kita mendapat berkah dari Allah Swt. Ih, naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Oke deh, karena Allah Swt sayang banget sama kita, maka sudah sepantasnya kita berusaha utuk meraih cintaNya di bulan Ramadhan ini. Insya Allah kita bisa. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 265/Tahun ke-6/10 Oktober 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/meraih-cinta-di-bulan-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akur Sama Ortu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/akur-sama-ortu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/akur-sama-ortu#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:31:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/akur-sama-ortu/</guid>
		<description><![CDATA[Ortu, orang utan eh orang tua yang melahirkan, membesarkan dan mendidik kita. Sedari kita kecil sampe kita jadi manusia sebenarnya (emangnya kita dulunya belum manusia ya?). 24 jam sehari waktu kita mayoritas ada bersama mereka. Apalagi kalo masih balita. Gedean dikit (jangan banyak-banyak, nanti batuk!), banyak waktu dihabiskan lebih dengan teman sebaya. Sekolah, kursus ini-itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ortu, orang utan eh orang tua yang melahirkan, membesarkan dan mendidik kita. Sedari kita kecil sampe kita jadi manusia sebenarnya (emangnya kita dulunya belum manusia ya?). 24 jam sehari waktu kita mayoritas ada bersama mereka. Apalagi kalo masih balita. Gedean dikit (jangan banyak-banyak, nanti batuk!), banyak waktu dihabiskan lebih dengan teman sebaya. Sekolah, kursus ini-itu, mendekam dalam kamar, main gitar lebih menjadi favorit kita daripada ngobrol dan bercengkerama dengan ortu. Iya apa bener? (jangan milih apa, lho!)</p>
<p>Belum lagi ortu yang biasanya suka otoriter dan diktator (bukan jual diktat beli motor) bikin si anak malas dekat-dekat. Mau ini jangan, mau itu nggak boleh. Semua serba dilarang. Jadilah jurang antara ortu dan anak menganga lebar (kayak mulutmu yang sedang menguap itu. Awas ada lalat!)<span id="more-266"></span></p>
<p>Kayak-kayaknya sih nggak bakal bisa ortu dan anak jadi temenan atau jadi sahabat. Apa iya? Soalnya kan ortu suka banget nganggap anaknya sebagai anak yang masih kemaren sore, masih kecil, masih bau kencur. Sedangkan mereka menganggap dirinya sudah makan asam garam serta gula kehidupan. Semua omongan dan keputusannya pastilah benar dan harus duturut (emangnya atasan perusahaan?). Ih..bete banget kalo kondisi ortu dan anak udah kayak gini. Lalu gimana dong supaya ortu dan kita sebagai anak tetap harmonis dan ada suasana saling hormat dan menyayangi serta mencintai? Kita tanyakan pada Galilei-Galileo (yee.. apa hubungannya!).</p>
<p><strong>Ortu POV<br />
</strong>Maksudnya orang tua point of view, sudut pandang kita lihat dari orang tua. Gimana sih rasanya jadi orang tua itu? Sejak awal kelahiran kamu, ortu sudah deg-deg plas. Lahir, menjadi bayi kemudian beranjak kanak-kanak, ortu masih punya peran besar. Ketika beranjak remaja, anak sudah tak lagi sama. Yang sudah mulai ingin mandiri tapi masih minta or nodong duit ke ortu, yang udah pingin dianggap dewasa tapi sikapnya masih kekanak-kanakan (sekolahin aja lagi di taman kanak-kanak! Mau?).</p>
<p>Di sini seringkali ortu juga serba salah. Mau memperlakukan kamu kayak biasanya, nyatanya kamu udah agak gedean dikit. Mau diperlakukan kayak orang dewasa, nyatanya kamu masih kecil. Emang ini yang bikin bingung 14 keliling ortu (bosen ah, pusing tujuh keliling)</p>
<p>Jadi ortu emang nggak mudah. Apalagi di jaman sekarang. Kondisinya bener-bener nggak sama dengan kondisi di mana para ortu kita masih remaja dulu bagaikan bumi dan langit. Jadilah ortu diliputi rasa was-was tentang perkembangan anaknya, apalagi pergaulannya di luar sana. Rasa khawatir ini diekspresikan ortu menjadi larangan-larangan buat kamu, anak-anaknya.</p>
<p>Ortu merasa bertanggung jawab atas berhasil atau gagalnya si anak. Dan untuk kamu yang semua apa kamu inginkan diizinin ortu, bisa-bisa ortu tidak punya rasa khawatir terhadap kamu. Ortu akan membiarkan kamu, entah kamu jungkir balik nggak karuan sampai kamu kepleset atau sampai jatuh baru ortumu nangis sejadi-jadinya. Emang ortu itu kadang tidak memikirkan apa yang terjadi pada anaknya setelah keinginan anaknya itu dipenuhi atau dituruti. Pusing, pusing, pusing!</p>
<p><strong>Remaja POV</strong><br />
Nah sekarang kita lihat point of view or sudut pandang remaja. Remaja itu kan identik dengan pencarian jati diri. Mencari sosok ideal untuk dijadikan panutan. Keterikatan remaja dengan teman mainnya jauh lebih besar daripada keterikatan dengan ortunya. Beda banget dengan kondisi anak-anak yang ikatan kepada ortu emang jauh lebih besar. Kondisi ini yang biasanya membuat remaja cenderung nggak nurut sama ortu. Bersyukurlah kamu yang ortunya mempunyai banyak kekangan (lho, kok?). Jangan bingung dulu, itu tandanya bahwa kamu termasuk anak yang diperhatiin sama ortu. Jangan senang kalau kamu tidak dikekang ortu untuk nglakuin yang kamu mau. Itu tandanya, ortumu nggak perhatian banget ama kamu. Begitu.</p>
<p>Kadang kita anggap ortu udah ketinggalan jaman, sementara itu perkembangan remaja yang semakin beda dengan masa kanak-kanak, jadinya kita merasa ortu sudah nggak bisa ngikuti tren lagi. Padahal ortu jaman sekarang lebih gaul daripada anaknya. Contohnya aja ortu udah bisa ngobrol ama orang di lain tempat yang nun jauh alias chatting sedangkan anaknya belum bisa dan nggak tahu caranya. Bahkan pake HP yang mudah aja nggak bisa. Kamu jangan pernah merasa gaul kalau kamu belum ikut kegiatan rohis di skul-mu. Betul nggak?</p>
<p><strong>Akur yuk ama ortu<br />
</strong>Akur sama ortu? Kenapa nggak. Biar bagaimana pun ortu adalah orang yang berjasa banget buat kehidupan kita. Merekalah orang pertama kali yang mengenalkan kita pada kehidupan di dunia. Mengenalkan kita arti senyum, tawa, tangis dan kecewa, serta arti cinta (kayak lagunya Ari Lasso aja!). Semua hal dalam hidup yang kita alami dan rasakan tak terlepas dari peran ortu. Kalo pun ada kesenjangan di antara anak dan ortu, paling itu cuma masalah komunikasi dan kata (kuis komunikata doong?)</p>
<p>Nah, kita nih yang kudu nyadar untuk menjembatani komunikasi dua arah (telepon, kah?) antara ortu dan anak. Nggak ada salahnya kok kamu cerita dan curhat sama ortu tentang apa saja yang kamu alami. Mulai pengalaman di sekolah, teman-temanmu, guru-gurumu, aktivitasmu di rohis, grup pecinta alam, di tempat kursus, sampe kamu dikejar anjing dan lari terbirit-birit.</p>
<p>Bisa juga sekali tempo kamu ajak ortu hang out bareng. Misalnya aja waktu belanja kebutuhan sekolah beli buku, tas, sepatu, beli perlatan musik, beli peralatan komputer, atau apa aja. Selain bisa menambah rasa saling terbuka dan bisa ngirit duit kamu karena ortu pasti kasian liat anaknya beli barang keperluan pake uang sendiri dan akhirnya semua yang kamu perlukan dibelikan semua pake duit ortu.</p>
<p>Bila temenmu datang main ke rumahmu, sekali-kali ajak juga ortu untuk ikut nimbrung obrolan kita ama teman. Maksudnya biar ortu tahu dengan siapa kamu berteman. Dengan anak manusia atau dengan anak selain manusia (Iihh&#8230;. syerem, Auu&#8230;).</p>
<p>Kalo teman-temanmu memang tipe anak yang bisa dipertanggungjawabkan, ortu jadi percaya dengan kamu dan keputusanmu dalam memilih teman. Beda kalo teman yang kamu punya suka minum minuman keras dan bolos sekolah (itu bolos makan juga nggak ya?), maka jangan salahkan ortu kalo mereka jadi was-was dan nggak percaya sama kamu.</p>
<p>Ortu pun bisa menyawa atau membeli Spy-Agent untuk memata-matai gerak-gerikmu selama kamu berada di luar rumah sampe di kamar kamu. (WARNING! Ini nggak berlaku kalo kamu ke kamar mandi).</p>
<p>Intinya tuh, di kamunya sendiri. Kamu ingin dipercaya ortu biasakan seperti tulisan di atas itu dan ditambah dengan membiasakan diri menyapa ortu dengan senyuman. (Kan, senyum itu ibadah. Apalagi ama ortu. Tul nggak?). Tapi jangan senyum-senyum terus, nanti malahan kamu dibawa ortu ke RSJ. Pastikan diri kamu ke ortu bahwa kamu baik-baik saja dan normal-normal aja. Jangan sampe di atas normal. Bisa berabe urusannya. Atawa kamu ingin sebaliknya? Up 2 U!</p>
<p>Kalo kamu dimarahi ortu atau dilarang ortu jangan ngambek masuk kamar dikunci rapat-rapat, ortu bukannya malah kasihan atau salut tapi malah kesel dan kamu pasti malu kalo laper terus keluar menuju meja makan bareng ortu.</p>
<p>Sebaiknya nih, kamu tetap di tempat dan jangan bergerak! (kok jadi nyuruh sih?). Berandai-andai saja kamu sedang nginjek ranjau yang siap saji dan kalau kamu beranjak, ranjau itu siap memakanmu mentah-mentah tanpa diberi bumbu dan digoreng. Kalau kamu bertingkah demikian, ortu akan salut kepada kamu karena kamu tegar menghadapi ranjau itu (lho kok, jadi membahas soal ranjau gini seh?) sehingga ortu mikir lagi sebanyak bilangan: 22+43+890+45= (itung aja sendiri!) tentang apa yang kalian inginkan. Dan ada dua kemungkinan. Boleh atau tetep nggak boleh itu terserah ortu yang penting&#8230; So What Gitu Lho&#8230;!</p>
<p>Selain itu kamu juga bisa melakukan pendekatan atau PDKT ama ortu dengan cara kalo aja ortumu capek karena habis masak atau kerja, pijitin aja kakinya atau pundaknya. Jangan takut melakukan itu. Nggak mungkin dong ortu kalau dipijitin nolak apalagi sampai kamu ditendang. Mungkin aja kamu nggak sengaja ketendang ortu karena ortumu heran kenapa kok kamu tumben mijitin (biasanya kamu bikin capek, sih. Dasar!).</p>
<p>Mungkin dengan cara lain yaitu lewat curhat. Nggak hanya sahabat yang dijadiin tempat curhat melulu. Kasihan kan, sahabatmu pasti capek mikirin curhatmu. Oleh karenanya, jadiin ortu sebagai tempat curhat cadangan (emangnya mau main bola?). Entah masalah uang jajan, kekurangan dana untuk kegiatan yang bermanfaat, de el el.</p>
<p>Mungkin dengan kamu melaksanakan resep-resep di atas, ortumu bisa jadi akan sehati dengan kamu dan mungkin juga hanya setengah hati (keluar deh ADA Band-nya). Selain itu ortumu juga akan tahu seluruh kebutuhan jiwa ragamu, sehingga kamu dengan mudah mendapat apa yang kamu butuhkan. Ortu tidak lagi curiga kepada kamu tentang apa yang kamu lakukan.</p>
<p>Tapi ingat-ingat pesan mama. Jangan menggunakan kesempatan ini dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. Mentang-mentang ortu percaya ama kamu, kamu seenaknya menggunakannya dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. dan RasulNya. Jangan sampe dah. Lebih baik ajak ortu shalat berjamaah di mushalla terdekat atau mintai sumbangan untuk acara yang diadakan di rohis. Dengan kegiatan itu kamu ama ortumu kan dapet pahala dari Allah Swt. daripada yang aneh-aneh, bisa-bisa kamu malah dapet dosa. Tul nggak?</p>
<p>Sobat muda muslim, bentar lagi kan bulan yang penuh hikmah akan datang, tentu dengan berlaku sedemikian itu menambah pahalamu sampe berlipat-lipat menjadi beberapa lipat. Jangan sampe kamu ngambek ama ortu, bisa-bisa kamu nggak dikasih uang jajan dan makan untuk buka puasa. Repot kan?</p>
<p>Makanya di bulan Ramadhan ini dan bulan-bulan lainnya gunakanlah untuk melahirkan sikap saling percaya, saling mendukung, saling menghargai (dan jangan sampe salah pengertian, lho!), dan bahkan saling mencintai antar anggota keluargamu terutama ortumu serta jangan saling menggebukin (yee sadis banget!).</p>
<p>Enak lho kalo kamu sekeluarga bisa nyetel abis. Manfaatnya banyak, misalnya aja kamu bisa berunding untuk mempertimbangkan baik-buruknya kegiatan yang kamu lakukan dengan ortu, kamu bisa didukung ortu untuk malakukan kegiatan semacam acara rohis, dan kamu juga bisa menghemat uang jajan. Enak kan?</p>
<p>Makanya, kamu jangan musuhan ama ortumu walaupun kadang ortumu yang salah. Peristiwa apa pun yang terjadi di rumahmu jadikan itu menyenangkan. Dan tetep akur sama ortu. Dijamin, kamu nggak bakalan nyesel. Coba deh! Dan rasakan khasiatnya (yee kayak iklan minuman energi aja!). [Tito Firmanto, kontributor magang di STUDIA. Pelajar kelas 1 SMAN 7 Surabaya]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 264/Tahun ke-6/3 Oktober 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/akur-sama-ortu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BBM Naik Lagi? Ya Ampuun!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bbm-naik-lagi-ya-ampuun</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bbm-naik-lagi-ya-ampuun#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:28:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bbm-naik-lagi-ya-ampuun/</guid>
		<description><![CDATA[Gonjang-ganjing kabar harga BBM bakal naek lagi mendominasi pemberitaan di media massa. Untuk kedua kalinya di tahun ini sejak Pak SBY menjabat orang no. 1, harga BBM dipaksa melangit lagi (baru satu tahun udah dua kali naik, gimana nih Pak?). Malah Pak Wapres Yusuf Kalla, sempet ngasih bocoran kalo kenaikan itu bakal dipatok pemerintah minimal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gonjang-ganjing kabar harga BBM bakal naek lagi mendominasi pemberitaan di media massa. Untuk kedua kalinya di tahun ini sejak Pak SBY menjabat orang no. 1, harga BBM dipaksa melangit lagi (baru satu tahun udah dua kali naik, gimana nih Pak?). Malah Pak Wapres Yusuf Kalla, sempet ngasih bocoran kalo kenaikan itu bakal dipatok pemerintah minimal 50% dari harga sekarang. Waduh!</p>
<p>Nggak ada pilihan. Yup, jawaban klasik itu seolah jadi senjata pamungkas pemerintah dalam menghadapi kritikan pedas dari semua pihak. Keputusan itu kudu diambil lantaran harga minyak mentah dunia melambung hingga 70 US$ per barel. Itu berarti, pemerintah kudu ngerogoh kocek lebih dalem buat mensubsidi BBM hingga Rp 130 triliun dengan harga sekarang. Padahal alokasi dana yang disediakan cuma Rp 68,7 triliun untuk asumsi harga minyak dunia 40 US$ per barel. Kalo tetep mempertahankan harga sekarang, pastinya APBN bakal jebol buat nombokkin subsidi BBM ini. Hmm&#8230;. begitu ya?<span id="more-265"></span></p>
<p>Tapi&#8230;, lucu juga ngedenger jawaban klasik di atas. Soalnya, kenaikan harga BBM ini bukan satu-dua kali dihadapi pemerintah. Berarti udah banyak dong pengalaman dan pelajaran yang diperoleh buat nyiasatin kondisi kayak gini. Namun sayangnya, pemerintah seolah tak memperoleh pelajaran dari kondisi yang sama pada tahun-tahun lalu. Hingga mereka tetep menggantungkan kebutuhan pasokan minyak mentah dari luar. Padahal zamrud khatulistiwa ini tajir lho akan sumber daya alam seperti minyak bumi.</p>
<p>Sebagaimana yang terungkap dalam makalah berjudul, â€œThe Impact of Oil Industry Liberalization on the Efficiency of Petroleum Fuels Supply for the Domestic Market in Indonesia,â€? tulisan Dr. Kurtubi, Head Office Pertamina dan Pusat Kajian Minyak dan Energi, bahwa di Indonesia ada sekitar 60 ladang minyak (basins), 38 di antaranya telah dieksplorasi, sementara sisanya masih belum. Di dalamnya terdapat sumberdaya energi yang luar biasa, kira-kira mencapai 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Di sana terdapat stok cadangan energi sekitar 9.67 miliar barel minyak dan 146.92 TCF. Sementara kapasitas produksinya hingga tahun 2000 baru sekitar 0,48 miliar barel minyak dan 2,26 triliun TCF. Tuh kan banyak?</p>
<p>Makanya nggak heran kalo aksi penolakan kenaikan BBM pun banyak digelar di berbagai daerah. Dari mahasiswa sampe supir angkot, rame-rame turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Sayangnya, pemerintah sering menganggap aksi protes-protes itu nggak lebih dari media kebebasan berpendapat. Bukan sebuah tuntutan yang bisa memaksa mereka untuk menghentikan kebijakan-kebijakannya yang bikin rakyat sengsara. Waduh!</p>
<p><strong>Harga BBM naik, rakyat tercekik</strong><br />
Dampak kenaikan harga BBM ini emang dahsyat. Baru sekedar isu aja, udah bikin panik masyarakat. Kelangkaan BBM dirasakan beberapa daerah di Nusantara. Seperti di kawasan Pantai Timur Sumatra Utara misalnya, sebagian besar nelayan terpaksa menginap di pom bensin untuk mendapatkan solar. Bahkan, di Semarang, Jawa Tengah, solar dan premium sudah sejak dua pekan silam sulit didapat. Sementara Warga Jalan Dago, Suci dan Tubagus Ismail, Bandung, Jawa Barat, mereka rela menunggu berjam-jam sejak pukul 07.00 WIB demi mendapatkan lima liter minyak tanah dengan harga lebih murah: Rp 900 per liter. Sebab, di tingkat pengecer minyak tanah sudah dijual Rp 1.500/liter. (Liputan 6.com, 15/09/05)</p>
<p>Akibat kelangkaan BBM itu, ongkos transportasi jadi naik sebelum waktunya. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sopir angkutan umum di dalam kota maupun luar kota mulai menaikkan tarif. Alasannya, akibat terlalu lama antre BBM, angkutan umum yang biasanya tiga rit atau pergi pulang dalam sehari hanya menjadi dua kali. Padahal, uang setoran kepada pemilik kendaraan tetap. (Kompas, 15/09/05).</p>
<p>Seperti gerak roda dalam sebuah mesin, kenaikan tarif angkutan sebelum waktunya dan kelangkaan BBM, secara otomatis menaikkan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat. Di Banyuwangi Jawa Timur, harga kebutuhan pokok dalam sepekan terakhir naik hingga mencapai 40%. (Kompas, 12/09/05)</p>
<p>Kondisi seperti ini yang mencekik leher masyarakat. Imbas kenaikan harga BBM yang memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya bikin masyarakat keteteran. Harga sembako, ongkos angkot, tarif bis/kereta api, listrik, gas, biaya pendidikan, kesehatan, dan tentunya minyak tanah suka ikut-ikutan naek. Sementara kenaikan itu tidak diimbangi dengan kenaikan penghasilan. Akibatnya lebih besar pasak dari pada tiang. Alias tekor setiap saat. Alamat harga gorengan bisa jadi 1500 perak per biji tuh! (jadi lebih mahal dari harga?  buletin ini per lembar dong? Hehehe..)</p>
<p>Emang sih, konon kabarnya kualitas minyak mentah negeri ini cuma bertengger di level 4 (nomor 1 dipegang kawasan Timur Tengah). Dengan fakta seperti itu, berarti membutuhkan pengolahan lagi. Teknologi dan sarananya kita terbatas, akhirnya kudu dijual ke luar negeri untuk diolah dulu jadi BBM. Terus, kita beli lagi hasil minyak olahan itu. Jadi jatohnya emang mahal.</p>
<p>Nah, harusnya kan kalo udah tahu kayak gitu, kita bikin sarana dan teknologinya. Tul nggak? Tapi, kalo kebijakan ini diambil, para koruptor yang mengais suap dari penjualan minyak mentah ke luar negeri dan pembelian lagi BBM jadi bakalan kehilangan lahan untuk dikorupsi. Terus, negeri-negeri kapitalis Barat juga bakalan keder dan nggak bisa mendikte lagi secara ekonomi untuk memiskinkan negeri ini. Itu sebabnya, kondisi seperti ini akan terus dipelihara oleh mereka. Jadi, kita kudu nyadar neh. Ayo bangkit untuk melawan kapitalisme!</p>
<p><strong>Sengsara bersama kapitalisme</strong><br />
Permasalahan BBM merupakan bagian dari produk sistem kapitalis. Dalam bingkai politik demokrasi, ruang kebebasan atas dasar sekulerisme terbuka lebar. Ini bisa dilihat pada UU No. 22/2001 tentang Minyak Bumi dan Gas yang mencantumkan pembatasan kewenangan Pertamina sebagai pemain utama di sektor ini, sekaligus pemberian hak/kewenangan kepada perusahaan minyak lainâ€”baik perusahaan domestik maupun asingâ€”untuk terlibat di sektor ini.</p>
<p>Dengan kata lain, pemerintah udah ngasih jaminan privatisasi bagi para pemilik modal untuk mengeksploitasi kandungan minyak bumi dalam negeri. Seperti yang terjadi pada blok Cepu. Pemerintah malah memberikan kontrak pengelolaan sumur minyak dengan kandungan mencapai 180.000 barel per hari ini ke tangan Exxon Mobil. Bukan Pertamina yang jelas-jelas perwakilan negara dalam penyediaan kebutuhan BBM dalam negeri. Payah deh!</p>
<p>Dampak permasalahan BBM ini merembet pada tingkat kesejahteraan penduduk. Jumlah keluarga miskin semakin meningkat. Menurut data PT ASKES, jumlah orang miskin Indonesia pascakenaikan BBM melambung hingga 54 juta orang. Menurut Menneg PPN/Kepala Bappenas Sri Mulyani, angkanya telah melambung mendekati 60 juta. Penambahan data ini juga diakui oleh Menko Perekonomian. (Kompas, 15/09/05)</p>
<p>Akibat kemiskinan ini, kesehatan menjadi barang mahal. Di Serang sebanyak 1.150 anak-anak usia di bawah lima tahun (Balita) dinyatakan menderita gizi buruk. Gizi buruk juga diderita 134 anak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (Jatim). Di NTT sebanyak 45 sebanyak 45 anak di enam kabupaten Nusa Tengara Timur (NTT) positif menderita penyakit busung lapar. Sementara itu, 33.910 anak lainnya mengalami kurang gizi dan 8.218 gizi buruk (Tempo Interaktif 31/5/05)</p>
<p>Demi mempertahankan hidup di tengah himpitan ekonomi, nggak sedikit masyarakat di lingkungan kita yang gelap mata. Mereka ambil jalan pintas untuk memperoleh harta dengan melakukan pencopetan, pencurian, penjambretan, hingga perampokan dengan kekerasan. Pemberitaan seputar korban harta dan jiwa akibat tindakan kriminal setiap hari menghiasi layar kaca. Persediaan aktor yang berlaga dalam siaran Buser, Derap Hukum, TKP, atau Tikam nggak pernah kehabisan stok. Situasi kayak gini bikin rasa aman kian sulit diperoleh masyarakat. Pantaskah sikon kayak gini kita pertahankan? Nggak lah yauw!</p>
<p><strong>Sejahtera di bawah naungan Islam</strong><br />
Sobat, kehidupan yang menyesakkan dalam alam kapitalis-sekuler sudah sepatutnya kita tinggalkan. Saatnya kita melek kalo permasalahan yang kerap kali muncul menghampiri negeri ini dibidani oleh sistem demokrasi sekuler. Sistem yang menyerahkan sepenuhnya pengaturan hidup manusia kepada dirinya sendiri. Sehingga aturan yang dihasilkan selalu berujung pada kesengsaraan. Akibat keterbatasan manusia dalam memahami kebutuhan dan kepentingan manusia lainnya. Dan parahnya, meski kebobrokan sistem ini udah kasat mata banget, masih aja dipertahankan. Teu kapok-kapok nya!</p>
<p>Hanya Islam lah yang pantas dan mampu menggantikan sistem kapitalis sekuler yang diadopsi negeri ini. Sebab aturan Islam yang diterapkan oleh negara akan memberikan jaminan kepada rakyatnya dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup. Rasulullah saw bersabda: â€œSungguh Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban setiap pemimpin terhadap apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga atau bahkan menyianyiakannya.â€?</p>
<p>Umar bin Khaththab telah membangun suatu rumah yang diberi nama â€?daar ad daqiiqâ€™ (rumah tepung). Di sana tersedia berbagai jenis tepung, korma, dan barang-barang kebutuhan lainnya yang bertujuan menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.</p>
<p>Dalam kasus BBM, negara akan mengembalikan posisinya sebagai hak milik umum yang pengelolaannya di atur oleh negara. Ini berarti, nggak boleh ada campur tangan swasta alias privatisasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Sebab hasil pengelolaan itu akan dikembalikan kepada rakyat dengan harga semurah mungkin. Tidak untuk jadikan barang dagangan. Sehingga pengelolaan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negeri-negeri Muslim lebih optimal untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Bukan malah dikasih ke para kapitalis sekuler itu. Enak aja!</p>
<p>Kebutuhan pokok rakyat menjadi prioritas negara. Nggak bisa pake alasan lantaran kas negara kosong kebutuhan rakyat terlalaikan. Ada mekanisme pengambilan kelebihan dari orang-orang kaya untuk membantu pemenuhan kebutuhan rakyat sat kas baitul mal defisit. Negara juga akan menugaskan al â€?Aamilunâ€™ untuk menarik zakat yang akan disimpan di Baitul mal sebelum didistribusikan kepada delapan golongan yang berhak seperti tercantum dalam al-Quran. Di antaranya fakir-miskin. Dengan terpenuhinya kebutuhan pokok, tentu nggak ada alasan karena urusan perut orang berbuat kriminal. Betul?</p>
<p>Dalam urusan kesehatan, negara wajib memenuhi kebutuhan rakyat tanpa melihat status sosial atau kudu beresin urusan administrasi dahulu. Pernah delapan orang dari suku Urairah datang mengunjungi Rasul di Madinah lalu menyatakan keimanannya. Di Madinah, mereka menderita sakit limpa. Rasul memerintahkan mereka beristirahat di pos penggembalan ternak kaum Muslimin milik Baitul Maal bernama â€œZhi Jadrâ€?. Mereka tinggal di sana hingga sembuh dan gemuk kembali. Mauâ€¦mauâ€¦mauâ€¦.</p>
<p>Dalam bidang pelayanan kesehatan, Bani Ibnu Thulun di Mesir memiliki Masjid yang dilengkapi dengan tempat-tempat untuk mencuci tangan, lemari tempat menyimpan minuman dan obat-obatan serta dilengkapi dokter untuk memberikan pengobatan gratis kepada orang-orang sakit.</p>
<p>Sobat, demikian beberapa bukti sejarah saat aturan Islam diterapkan oleh negara dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Besarnya perhatian negara terhadap terpenuhinya kebutuhan BBM, sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, keamanan, atau lapangan kerja bagi rakyat menunjukkan betapa mulianya hidup di bawah naungan Islam. Karena itu, kita cuma punya satu pilihan untuk membenahi negeri ini yang amburadul akibat penerapan sistem kapitalis sekuler. Yaitu dengan menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Jangan lupa, kapitalisme sebagai biang kehancuran ini jangan dijadikan sebagai pandangan hidup. Setuju? Yoâ€™i![Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 263/Tahun ke-6/26 September 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bbm-naik-lagi-ya-ampuun/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Tak Sendiri</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kita-tak-sendiri</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kita-tak-sendiri#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kita-tak-sendiri/</guid>
		<description><![CDATA[Kamu suka nonton pertandingan sepakbola? (mana neh para JakMania dan siapa aja yang jadi Serdadu Bonek?) Yap, dalam pertandingan sepakbola, sebuah tim terdiri dari sebelas orang, itu sebabnya disebut kesebelasan. Dari sebelas orang itu kemampuannya berbeda-beda dan sangat spesifik sesuai keahliannya. Ada yang bertugas jadi penjaga gawang. Meski â€?kerjaannyaâ€™ lebih banyak diem tapi bukan berarti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamu suka nonton pertandingan sepakbola? (mana neh para JakMania dan siapa aja yang jadi Serdadu Bonek?) Yap, dalam pertandingan sepakbola, sebuah tim terdiri dari sebelas orang, itu sebabnya disebut kesebelasan. Dari sebelas orang itu kemampuannya berbeda-beda dan sangat spesifik sesuai keahliannya. Ada yang bertugas jadi penjaga gawang. Meski â€?kerjaannyaâ€™ lebih banyak diem tapi bukan berarti paling enak. Tetep punya tanggung jawab di bidangnya.</p>
<p>Nah, karena sangat disadari betul sehebat apa pun sang penjaga gawang tetap harus dibantu pemain belakang (bek: kiri, tengah, dan kanan), malah ada juga pelatih yang memasang wing back segala. Biasanya ini untuk membantu serangan. Coba deh, Gianluigi Buffon yang jadi kiper Juventus meski doi jagoan, nggak bakalan tahan kalo tanpa dibantu Fabio Cannavaro dkk di lini belakang.<span id="more-264"></span></p>
<p>Pelapisan kekuatan itu untuk mengantisipasi kemampuan penjaga gawang yang ada batasnya. Di sinilah diperlukan kerjasama. Nggak boleh seorang striker alias penyerang merasa paling berjasa karena bisa menceploskan bola ke gawang lawan. Mustahil, tanpa dukungan semua pemain dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing bakalan menuai hasil maksimal. Kalo sendirian? Babak belur!</p>
<p>Kerjasama seperti ini asyik dilaksanakan dan enak buat yang nonton. Semuanya bergerak untuk menciptakan irama dan dinamika permainan yang oke punya. Bahkan, beragam pemain dengan tingkat kemampuan yang berbeda sulit disatukan jika seorang pelatih nggak ngerti en nggak menguasai teknik sepakbola dan pandai memoles sisi psikologis pemain. Iya kan?</p>
<p>Kemampuan dan kebijakan seorang pelatih diharapkan mampu mensinergikan kekuatan para pemain. Ada saatnya merotasi pemain jika kebetulan punya skuad banyak di satu posisi. Misalnya, ia harus pandai membujuk dan meyakinkan pemain bahwa pola rotasi yang digulirkannya tanpa maksud mengecilkan peran dari pemain tertentu. Tapi bisa dijelaskan bahwa hal itu sebagai bentuk penghematan tenaga, apalagi kompetisinya ketat seperti di Liga Inggris.</p>
<p>Terus kalo menghadapi pemain yang ogah dirotasi, tugas pelatih dan jajarannya untuk menjelaskan dan membantu meyakinkan bahwa keutuhan tim dan kerjasama harus dikedepankan tanpa melukai perasaan invidu pemain. Meski pada praktiknya kadang sulit dihindarkan dengan tanpa mencederai hati para pemain yang kebetulan â€?tersisihâ€™ sementara. Ya, namanya juga manusia.</p>
<p>Itu sebabnya yang terpenting bukan sebisa mungkin berbuat adil dan menyenangkan tiap individu pemain, tapi harus diciptakan komunikasi yang terbuka. Pelatih bisa menerima kritik dan saran dari pemain, mau dan mampu mendengar keluhannya dan menentukan keputusan yang bijak dan obyektif. Pemain pun dituntut untuk berjiwa besar jika kebetulan duduk di bangku cadangan dengan alasan yang memang bisa dipertanggung-jawabkan. Bukan karena alasan politis atau karena sentimen pribadi dari pelatih atau pihak manajemen. Iya nggak?</p>
<p>Selain itu, suasana kompetisi yang sehat juga harus dibudayakan. Misalnya saja, bagi pemain yang bisa mencetak gol ke gawang lawan diberikan bonus tertentu. Kemudian untuk yang melakukan pelanggaran berat atau mangkir saat latihan, bisa dikenakan denda atau sanksi administratif seperti tidak boleh bermain dalam satu pertandingan. Begitu pula â€?reward and punishmentâ€™ diberlakukan kepada pihak manajemen. Mulai dari official tim, asisten pelatih sampe menajer tim. Rasanya, bukan mustahil jika tercipta kenyamanan karena kita bisa bekerjasama dengan baik dan benar sesuai porsi dan kemampuannya masing-masing. Oke nggak tuh?</p>
<p>Sobat muda muslim, belajar dari fakta tentang sepakbola di atas, rasa-rasanya kita tak perlu sedih dalam hidup ini karena memang kita tak sendiri. Adanya teman, guru, keluarga, dan orang-orang yang bisa memberikan kenyamanan, kedekatan, perhatian, kepedulian, kepercayaan akan menjadikan kita lebih berarti dalam hidup ini. Kita akan bekerjasama untuk mewujudkan impian terindah dalam hidup kita. Ya, karena kita tak sendiri.</p>
<p><strong>Berbahagialah punya teman</strong><br />
Memiliki teman bisa menjadikan hidup lebih hidup. Minimal kita nggak kesepian di dunia ini. Kita masih punya teman untuk berbagi cerita, berbagi kesedihan, termasuk berbagi kebahagiaan. Kita, nyaris selalu merasa lega setelah berbagi dengan orang lain. Apalagi jika orang itu amat dekat dengan kita secara psikologis. Asyik tenan.</p>
<p>Nggak salah-salah amat kalo Alan Loy McGinnie berkomentar: â€œOrang-orang dengan persahabatan yang dalam dan langgeng bisa pendiam atau suka ngobrol, bisa muda atau tua, bisa membosankan atau menarik, bisa pandai atau bodoh, bisa sederhana atau berpenampilan baik; tetapi satu karakteristik mereka yang selalu sama adalah: keterbukaan.â€?</p>
<p>Yup, benar. Keterbukaan adalah modal sebuah persahabatan. Kalo udah saling terbuka, maka kita akan tahu masing-masing dari kita. Kita jadi TST alias tahu sama tahu soal kelebihan masing-masing, termasuk kekurangan masing-masing. Kalo udah begini, biasanya kita akan saling melengkapi. Bahkan tak jarang akan memicu kita untuk saling terwarnai. Jadi jangan heran kalo ada orang yang bersahabat dengan seseorang, sampe perilaku dan gayanya mirip banget. Sulit dikatakan kalo satu sama lain saling mencontek, tapi saya yakin, mereka saling memberi insipirasi satu sama lain. Inilah enaknya bersahabat baik.</p>
<p>Sobat muda muslim, saya yakin banget kalo teman bisa memberikan inspirasi buat kita. Terlepas dari apakah inspirasinya salah atau benar. Kasus narkoba yang mudah menyebar lewat peer group (kelompok teman sebaya), menjadi bukti kuat bahwa kumpulan itu saling memberi warna dan inspirasi buat yang lain. Mungkin awalnya satu orang yang berani ngisep ganja, lama-lama menularkannya kepada yang lain.</p>
<p>Yup, banyak jalan menuju ke sana. Bisa karena sama-sama ada masalah dengan keluarganya, dan kasusnya mirip. Kemudian ketika sang teman nyandu putauw, ia terinspirasi untuk melakukan â€?kegiatanâ€™ yang sama, dengan alasan temannya melakukan itu sebagai â€?solusiâ€™ atas masalah yang sedang dihadapinya. Atau lihat deh gimana akrabnya Bonnie and Clyde, dua orang perampok kesohor di Amrik dulu, bahkan sempat difilmkan segala, pastinya mereka saling memberi inspirasi dalam melakukan aksi perampokannya, tapi ini inspirasi dalam kejahatan. Nah lho? Saya pernah menerima rengekan anak saya minta dibelikan sebuah makanan, ia â€?terinspirasiâ€™ temannya yang telah lebih dulu mengunyah makanan yang dia maksud. Teman anak saya telah menjadi inspirasi bagi anak saya untuk berbuat hal yang sama.</p>
<p>Oke deh, karena teman ini sangat berpengaruh dalam hidup kita, dan bahkan mampu memberi inspirasi buat kita, tolong deh untuk membiasakan mencari teman yang baik-baik. Jadi, inspirasi yang muncul dan kita ikuti juga adalah hal yang baik-baik. Siap kan? Supaya apa? Selain berteman menjadikan kita tak merasa sendiri dalam hidup ini, juga agar pergaulan kita juga sehat. Tul nggak seh?</p>
<p><strong>Tak pernah benar-benar sendiri</strong><br />
Sobat muda muslim, dalam hidup ini segalanya bisa saja berubah-ubah. Jalan yang kita tempuh tuh nggak lurus terus, pun nggak melulu berkelok-kelok. Itu sebabnya, jika suatu saat karena dakwah kita menyebabkan orang lain menjauhi kita, kita jangan kaget. Karena hidup tak bisa selamanya memilih dengan pilihan yang baik-baik saja menurut ukuran kita. Ini risiko yang telah kita ambil.</p>
<p>Risiko yang nggak jarang bikin sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantep sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Selain itu, tentu kudu ikhlas juga dong ya.</p>
<p>Para pendahulu kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: â€œApakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: â€œBilakah datangnya pertolongan Allah?â€? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.â€? (QS al-Baqarah [2]: 214)</p>
<p>Beliau saw. pun pernah berdoa di kebun anggur milik seorang Nasrani, Uqbah bin Rabiâ€™ah setelah dakwahnya di Thaif tidak mendapat sambutan, tetapi sambitan. Rasulullah saw. berdoa seperti ini: â€œYa Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah, dan Engkau jualah Pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajahMu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murkaMu yang hendak Engkau turunkan kepadaKu. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenanMuâ€?</p>
<p>Meski demikian, Rasulullah saw. pun tetap semangat dan berani dalam berdakwah. Beliau pernah berkata kepada pamannya ketika diminta untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: â€œ(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.â€?</p>
<p>Berbagai penyiksaan pun dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri bahkan sempat akan membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang membenci Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah â€œbagi mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukanâ€?. Pantes aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka reaktif. Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan sampe pukulan.</p>
<p>Padahal, maksud kita juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya, kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, â€œEngkau buta, sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengertiâ€? Tul nggak?</p>
<p>Kesabaran dan istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu akan menjadi penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok tahu, mau menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis. Meski semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam bentuk lain. Firman Allah Swt.: â€œSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: â€?Tuhan kami ialah Allahâ€™ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): â€œJanganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamuâ€?. (QS Fushilat [41]: 30)</p>
<p>Jadi jangan cemas, hanya karena dijauhi oleh orang-orang yang tak mau mendengar dakwah kita. Kita nggak pernah benar-benar sendiri kok. Karena Allah akan senantiasa bersama orang-orang yang berjuang membela agamaNya. Yakin deh. Itu sebabnya, tetap semangat!?  [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 262/Tahun ke-6/19 September 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kita-tak-sendiri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Juga Bisa Trendi, Lho&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-juga-bisa-trendi-lho</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-juga-bisa-trendi-lho#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:21:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/islam-juga-bisa-trendi-lho/</guid>
		<description><![CDATA[Ngobrolin seputar tren remaja kayak kita-kita ini, pasti nggak jauh dari persoalan gaya hidup. Mulai cara berdandan sampe berperilaku, remaja nggak pernah kehilangan dunianya yang mesti gaul, beken, en trendi. Dan lucunya sebagian kita suka seenak dengkul ngikutin tren. Asalkan asyik dan populer, tren apa aja dijabanin biar tetep diakui sebagai remaja gaul. Nggak peduli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ngobrolin seputar tren remaja kayak kita-kita ini, pasti nggak jauh dari persoalan gaya hidup. Mulai cara berdandan sampe berperilaku, remaja nggak pernah kehilangan dunianya yang mesti gaul, beken, en trendi. Dan lucunya sebagian kita suka seenak dengkul ngikutin tren. Asalkan asyik dan populer, tren apa aja dijabanin biar tetep diakui sebagai remaja gaul. Nggak peduli norak, murahan, mahalan, atau bebas nilai. Cuek aja meski ortu, temen, dan lingkungan sekitar nganggap aneh. Namanya juga tren. Pikirnya selalu diawali dari keterasingan. Wuih!, nyomot filsafat dari mana tuh? Ada-ada aja neh!<span id="more-263"></span></p>
<p>Dan akhir-akhir ini, tren hiburan dari negerinya Hidetoshi Nakata lagi banyak digandrungi remaja. Popularitas tokoh kartun produk negeri sakura ini kian sulit dihilangkan dari benak kita. Lagi nonton sepakbola, terlintas sosok Kapten Tsubasa dan kiper tangguh Wakabayashi. Mau jalan-jalan tapi nggak pake ongkos, inget â€?Pintu Kemana Sajaâ€™ punya Doraemon. Atau terbang pake â€?Baling-baling Bambuâ€™. Pas lagi marah banget, pengen punya kekuatan Super Saiya Songgoku plus â€?Kungfu Peremuk Tulangâ€™-nya Chinmi. Giliran kehilangan dompet, nyariin Detektif Conan atau paling nggak Detektif Kindaichi untuk dimintai bantuan. Wis pokok komplit dah!</p>
<p>Nggak cuma tokoh kartun, mainan anak-anak jepang juga populer di lingkungan adek-adek kita. Ada mobil balap Tamiya yang melesat cepat dalam sirkuit layaknya balap Formula 1. Ada juga gangsing model baru yang dikenal dengan julukan Bey Blade. Terbuat dari plastik yang dilengkapi lempengan logam di pinggirnya yang bisa mengeluarkan percikan api jika beradu dan nggak pake tali untuk memutarnya. Atau Yoyo modern yang juga terbuat dari plastik dan bisa nyala ketika berputar. Nggak ketinggalan kendaraan Sinchan alias otophet yang juga ikut beken.</p>
<p>Selain dari Jepang, tren budaya Barat juga sering menyapa remaja muslim via tayangan televisi. Bombardir iklan yang membidik pasar remaja menggiring generasi muda untuk terjun dalam gaya hidup konsumerisme. Gaya hidup yang memaksa remaja untuk gila belanja produk-produk terbaru biar nggak ketinggalan zaman. Telgam polyphonic yang dilengkapi camera, t-shirt tang top yang full pressed body, atau makan fast food seolah menjadi symbol remaja trendi. Tengsin dong kalo masih nenteng ponsel monophonic. Apalagi nggak punya ponsel. Malu!</p>
<p>Gaya hidup maksimalis dalam menikmati hidup, juga kian santer di lingkungan remaja. Liburan, udah nggak jamannya ngerjain tugas sekolah atau berkutat di perpustakaan nyari referensi. Kalo ada duit, berlibur ke luar negeri kudu jadi prioritas. Kalo bokek, cukup menikmati alam kebebasan gaya pengembara China Kwai Chang Kaine yang murah meriah. Bermodalkan panci butut, tas ransel pinjeman, atau slayer dari lap pel, pede nyabotase pick up/truk kosong untuk sampe di tujuan. Kalo perlu, jalan kaki sampe gempor. Niatnya sih mau hiking, tapi tuh badan malah tambah ceking. Mentang-mentang ngefans sama Aming. Heheheâ€¦ (ayo ngaku aja, bukan nuduh lho!)</p>
<p>Mumpung masih muda, nggak sedikit dari kita-kita yang tergoda untuk menjadi bintang. Apalagi jalan pintas menjadi selebriti via tren audisi pelawak atau penyanyi makin menjamur. Potensi remaja dipasung sebatas penampilan modis dan suara merdu. Masa depan remaja pun seolah dipatok di atas panggung hiburan. Bisa-bisa otak remaja kita tetep orisinil nih lantaran jarang dipake. Gaswat euy!</p>
<p><strong>Mengapa jadi tren?</strong><br />
Sobat, kalo di jalan kita ketemu satu orang pake baju dan celana terbalik, kita pasti mikir nih orang mungkin pasien Rumah Sakit Jiwa. Tapi kalo ternyata yang pake pakaian terbalik nggak cuma satu alias banyak, mungkin kita pikir ini gaya berbusana yang lagi tren. Nah lho? Macam mana pula itu?</p>
<p>Yup, pada hakikatnya tren adalah kebiasaan yang dibesarkan media massa sehingga banyak penganutnya. Hal ini pasti melibatkan pihak kapitalis yang menarik keuntungan dari tren yang diangkat ke permukaan. Iya dong. Soalnya mereka yang jualin produk dalam bentuk merchandise, accessories, dan segala pernak-pernik dari tren yang diangkat. Mereka juga yang dapet untung gede dari selebriti muda pendatang baru yang diangkat jadi simbol tren remaja. Dulu, mungkin kita malu pake pakaian warisan ortu yang bergaya tahun 60-an. Tapi ketika dicetuskan trend busana back to sixty terus dipake ama sang idola, kita bangga dan rela merogoh kocek lebih dalam untuk dapetin pakaian model tahun 60-an. Betul?</p>
<p>Media massa sebagai gerbang informasi bagi masyarakat, gampang banget dipake untuk mengangkat sebuah tren. Apalagi kebanyakan konsumen informasi mengandalkan media massa untuk meng-upgrade wawasannya. Mereka nggak punya kemampuan untuk mencari berita sendiri atau sekadar cross check informasi yang didapet dari media massa. Hasilnya, mereka menjadi mangsa keperkasaan media massa dalam menampilkan sebuah tren.</p>
<p>Menurut Elisabeth Noelle-Neuman, seorang peneliti media massa, ada tiga faktor yang membuat media massa begitu perkasa dalam mengangkat sebuah opini. Yaitu, ubiquity, akumulasi pesan, dan keseragaman wartawan.</p>
<p>Ubiquity artinya serba ada. Media massa mampu menghadirkan segala informasi yang dibutuhkan konsumen. Dimana aja, kapan aja, tentang apa aja. Akibatnya, konsumen akan sulit menghindari pesan yang disampaikan oleh media massa dalam setiap liputannya. Informasi dari media massa sering disampaikan dalam bentuk potongan puzzle alias nggak utuh. Informasi lanjutannya diangkat pada edisi-edisi berikutnya. Hingga akumulasi informasi itu terkesan selalu update dan awet. Efek ini diperkuat oleh keseragaman pemberitaan wartawan terhadap sebuah informasi. Sehingga informasi yang sama bisa kita temukan di berbagai stasiun televisi. Kondisi kayak gini yang biasanya mampu melahirkan sebuah tren.</p>
<p>Selain sebagai tambang emas, sebuah tren juga bisa difungsikan sebagai media penjajahan budaya. Tren gaya hidup masyarakat Barat yang bobrok dan sekuler dikemas dalam hiburan trendi yang membidik remaja. Penyebaran ide kebebasan bertingkah laku dalam serial sejenis Dawson Creek atau klip-klip musik MTV sering tak disadari kita-kita, generasi muda muslim. Akibatnya, gaya hidup permissif alias keserbabolehan dalam berbuat lambat laun mendarah daging pada diri remaja muslim. Bahaya kan?</p>
<p>Nah sobat, inilah model penjajahan gaya baru yang dikampanyekan musuh-musuh Islam.Silent tapi mematikan. Karena itu, ingat pesan Bang Napi. Waspadalahâ€¦.. waspadalahâ€¦.waspadalah!</p>
<p><strong>Tantangan bagi Islam</strong><br />
Maraknya tren remaja yang amburadul, menjadi tantangan tersendiri bagi Islam. Dua tugas berat kudu ditanggung Islam dalam menghadapi tren itu. Menjadikan ide-ide Islam sebagai tren untuk melawan serangan ide dan budaya Barat serta membentuk generasi muda yang tangguh.</p>
<p>Islam juga bisa jadi tren kalo terus disebarkan. Didukung banyak kalangan, khususnya media massa. Sayangnya, Islam dan kaum muslimin sering muncul di media massa sebagai â€œtertuduhâ€? dan bertaburan cap jelek aja. Kalo ada bom meledak, langsung deh ke Islam dan umatnya. Seperti tuduhan yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair saat mensikapi peristiwa 7/7, yakni meledaknya bom di London Juli lalu.</p>
<p>Kalo kalangan Islam ingin memurnikan ajaran Islam, selalu ditembaki dengan argumentasi HAM. Ketika perhatian kaum Muslimin begitu besar akan kasus â€?nyelenehâ€™ seperti sholat dua bahasa di Malang atau wanita jadi imam dan khatib jumat di US, dituduh memasung kebebasan beragama. Nada protes yang sama juga ditujukan ke MUI ketika Munas-nya menghasilkan sebelas fatwa yang di antaranya mengharamkan aliran ahmadiyah. Lucunya, nada protes itu disampaikan oleh kaum Muslim yang dikomandani orang-orang yang sering dilabeli cendikiawan muslim. Ini kan aneh? Iya nggak seh?</p>
<p>Dalam pemberitaan tentang Islam, kemampuan media massa dalam menghasilkan second hand reality begitu kental. Realitas Islam disajikan pada konsumen setelah melalui proses editing dan rekayasa sehingga jauh dari fakta sesungguhnya. Hal ini bisa kita pahami dari pernyataan seorang Rabi Yahudi Rashoron (1869) dalam suatu khutbahnya di kota Braga. Dia mengatakan: â€œJika emas merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi dunia, maka dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua bagi kitaâ€?.?  Yup, musuh-musuh islam sering membohongi publik melalui media massa yang dikuasainya.</p>
<p>Karena itu, kita kudu pandai memilih dan memilah informasi yang kita peroleh. Kita berharap, menjamurnya media massa Islam mampu menghadirkan informasi first hand reality. Semata-mata fakta, bukan rekayasa!</p>
<p><strong>Islam pasti jadi tren!<br />
</strong>Sobat, dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya, Jepang mampu menjajakan tren-nya di negara-negara berkembang. Budaya Barat khususnya Amerika juga menjadi tren di negeri kita lantaran negara mereka punya kekuatan adidaya yang punya akses informasi ke setiap negara. Kita nggak perlu minder akan ketertinggalan sains dan teknologi dari negara-negara maju. Sebab benih sains dan teknologi yang dipake negara-negara maju itu berawal dari para cendekiawan Muslim. Yang kita perlukan sekarang adalah Islam yang hadir dalam bentuk negara adidaya.</p>
<p>Dan someday, yakin deh kalo Islam bakal kembali menjadi adidaya dan tentunya ngetren karena akan memimpin dunia ini. Insya Allah. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???¹???¯?? ?§?„?„?‘???‡?? ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?…???†?’?ƒ???…?’ ?ˆ???¹???…???„???ˆ?§ ?§?„?µ?‘???§?„???­???§???? ?„???????³?’?????®?’?„???????†?‘???‡???…?’ ?????? ?§?„?£?’???±?’?¶?? ?ƒ???…???§ ?§?³?’?????®?’?„?????? ?§?„?‘???°?????†?? ?…???†?’ ?‚???¨?’?„???‡???…?’<br />
â€œAllah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasaâ€¦.â€? (QS an-N?»r [24]: 55)</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œIslam pasti akan mencapai wilayah yang diliputi siang dan malam (seluruh dunia). Allah tidak akan membiarkan rumah yang megah maupun yang sederhana, kecuali akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan memuliakan orang yang mulia dan menghinakan orang yang hina. Mulia karena Allah memuliakannya dengan Islam; hina karena Allah menghinakannya akibat kekafirannya.â€? (HR Ahmad dalam Musnad-nya, jld. IV/103)</p>
<p>Saat ini, nggak cukup ngandelin media massa untuk menjadikan ide-ide Islam sebagai sebuah tren yang nggak ada matinya. Saatnya kita ikut terjun ke dunia dakwah. Berani menghadirkan Islam yang murni, benar, dan baik. Sehingga layak dijadikan aturan hidup. Baik oleh individu, masyarakat, maupun negara.</p>
<p>Nah sobat, untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti janji Allah dan RasulNya di atas, aktivitas dakwah nggak boleh kelewat (baik secara lisan maupun tulisan). Selain berlimpah pahala, aktivitas dakwah juga akan membantu kita menjadi remaja muslim yang tangguh. Mampu mensikapi gaya hidup remaja yang lagi in dalam sudut pandang Islam. Nggak asal ngikut kemana angin berhembus.</p>
<p>Oke deh, sebagai langkah awal, yuk kita sama-sama mengenal Islam lebih dalam dan lebih detil lagi. Jangan tunggu hari esok atau waktu luang. Tapi mulai sekarang. Setuju kan? [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 261/Tahun ke-6/12 September 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-juga-bisa-trendi-lho/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Ada Benci di Antara Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-benci-di-antara-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-benci-di-antara-kita#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:18:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jangan-ada-benci-di-antara-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Hehehe&#8230; akhirnya kudu memplesetkan juga judul lagu Mbak Dewi Yull dan Om Broery jadi judul bahasan buletin kesayangan kita pekan ini. Judul lagu beliau-beliau adalah: Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Tapi kita nggak terlalu parah nyonteknya, abis P Project (apa Project Pop ya? CMIIWâ€”Correct Me If Iâ€™m Wrongâ€”deh) juga pernah bikin parodi sinetron yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hehehe&#8230; akhirnya kudu memplesetkan juga judul lagu Mbak Dewi Yull dan Om Broery jadi judul bahasan buletin kesayangan kita pekan ini. Judul lagu beliau-beliau adalah: Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Tapi kita nggak terlalu parah nyonteknya, abis P Project (apa Project Pop ya? CMIIWâ€”Correct Me If Iâ€™m Wrongâ€”deh) juga pernah bikin parodi sinetron yang punya judul (hampir) sama dengan lagu tersebut, judulnya: â€œJangan Ada Vespa di Antara Kitaâ€? sambil digambarkan ada vespa lagi ngejogrok di tengah sepasang suami-istri yang lagi tidur di atas ranjang. Yeeâ€¦ ini kok jadi ngelantur kemana-mana ya?<span id="more-262"></span></p>
<p>Oke deh, edisi pekan ini kita mo bahas tentang â€?rasa benciâ€™. Rasa benci yang mungkin saja bersemayam di antara kita. Lebih khusus lagi dengan sesama muslim. Utamanya kalo udah hidup bersama. Misalnya, kayak di sekolah tuh. Antara anak Rohis dengan anak OSIS terlibat perang dingin karena beda pendapat dan mungkin juga kepentingan. Lebih lucu lagi kalo sesama muslim di organisasi keislaman sekolah pada â€?berantemâ€™. Kadang gara-garanya cuma â€?beda pendapatâ€™ yang sifatnya masih bisa ditolerir, gitu. Karena nggak bisa mengendalikan emosi, akhirnya saling membenci (idih, malu atuh ya?)</p>
<p>Hmm.. jadi inget lagunya Naif neh, yang judulnya Air dan Api. Mau tahu liriknya? Ini dia: â€œApa mauku, apa maumu. Selalu saja menjadi satu masalah yang tak kunjung henti. Bukan maksudku, bukan maksudmu. Untuk selalu meributkan hal yang itu-itu saja. Mengapa kita saling membenci, awalnya kita selalu memberi. Apakah mungkin hati yang murni, sudah cukup berarti. Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika. Jangan seperti selama ini. Hidup bagaikan air dan api.â€?</p>
<p>Sobat muda muslim, hidup bersama pasti deh ada gesekan. Sekecil apa pun gesekan itu. Gaya geseknya tak bernilai â€œnolâ€?. Ini wajar kok. Karena hidup bersama kan mengumpulkan banyak orang dengan banyak karakter dan (mungkin) juga kepentingan. Jadi, nggak usah darah tinggi dulu menyikapi kondisi â€?gesekanâ€™ dengan temen-temen di sekolah. Oke?</p>
<p>Seorang pembaca buletin ini pernah cerita kalo dirinya pernah ditegur oleh temen-temen rohis di sekolahnya karena menyebarkan buletin ini di sekolah. Kenapa ditegur? Alasannya juga nggak bisa dipertanggungjawabkan. Dari kabar yang sampe ke kita-kita, katanya buletin ini ditulis oleh orang-orang yang punya ide dari kelompok dakwah tertentu. Yang, mungkin saja berbeda pendapat atau berbeda kepentingan dengan program rohis di sekolah teman kita itu. Hasilnya? Memang bener-bener dilarang disebarin. Weh!</p>
<p>Ini bukan cerita baru. Karena dulu juga pernah ada, eh, pas ditanya kenapa harus dilarang, apakah ada yang salah dengan buletin itu? Mereka seringkali ATM alias aksi tutup mulut karena (mungkin) mereka juga bingung apa alasan yang tepat. Bahkan ketika sebagian ada yang menyampaikan bahwa buletin ini sesat, dikejar lagi sama anak-anak yang pernah baca, â€œSesatnya di mana?â€? Nggak bisa jawab juga. Waduh!</p>
<p>Mohon maaf, bukan maksud kita membuka â€?frontâ€™, bukan niat kita untuk saling menghadapkan â€?mesin perangâ€™. Nggak lha yauw, ini sekadar ingin jelasin supaya nggak ada lagi rasa benci di antara kita yang tak perlu. Karena kita muslim. Bersaudara. Buat apa capek-capek mengumbar rasa benci. Selain cuma ngabisin energi, juga khawatir kecemplung jadi dosa. Ih, naudzubillahi min dzalik. Jangan sampe kita berbuat kayak gitu. Semoga.</p>
<p><strong>Belajar dewasa yuk!<br />
</strong>Boys en galz, riak-riak yang ada dalam hubungan kita selama ini berpotensi bikin â€?letusan dahsyatâ€™. Jangan sepelekan kondisi yang kontraproduktif ini. Karena seharusnya kita bisa bersinergi dengan memberdayakan kemampuan yang kita miliki masing-masing.</p>
<p>Plis deh, nggak usah kayak anak kecil ketika melihat sebuah perbedaan yang biasanya akan mensikapinya dengan penuh kecurigaan dan bahkan merasa harus menjaga jarak. Seharusnya bertanya kenapa kita berbeda, apakah perbedaan itu dibolehkan (atau seharusnya tidak ada perbedaan). Kita diskusi untuk menyatukan pandangan. Iya kan? Semestinya itu yang kita lakukan. Bukan saling membenci apalagi saling menjaga jarak. Kalo gitu, kita cuma bisa bersama, tapi tak pernah bisa bersatu. Sayang banget kan?</p>
<p>Sobat muda muslim, sudah saatnya kita belajar untuk menjadi dewasa. Kalo fisik sih emang udah bisa dibilang dewasa. Tapi pikiran dan perilaku kadang masih kekanak-kanakan. Semoga saja kita sudah mulai belajar untuk menjadi dewasa. Karena biasanya kalo udah dewasa akan bertambah bijak. Akan melihat suatu persoalan secara obyektif. Bahkan sangat boleh jadi kita akan openmind alias punya pikiran terbuka. Nggak merasa kita sendiri yang benar, dan nggak mencap orang lain yang beda dengan kita tuh pasti salah.</p>
<p>Belajar menjadi dewasa juga sekaligus menunjukkan karakter kita yang ingin mencari kebenaran, bukan pembenaran. Beda lho, kebenaran dengan pembenaran itu. Kalo kebenaran, berarti kita akan berusaha untuk menempuh jalan agar bisa mendapatkan kebenaran. Dari pihak manapun. Jika itu benar, kita akan ambil. Tentu, untuk menentukan benar atau salah, sebagai muslim standarnya cuma satu, yakni Islam. Bukan yang lain.</p>
<p>Nah, kalo pembenaran, itu cenderung berkonotasi negatif (meski tidak selalu). Contohnya, ketika kita melakukan sesuatu, kemudian ada orang yang protes dengan perbuatan kita, dan ia sudah menasihati kita dengan argumentasi yang logis dan syarâ€™i, dan dalam hati kita juga diam-diam mengakui kesalahan kita, tapi karena kita gengsi, akhirnya ngotot mempertahankan pendapat dan bahkan mencari dukungan untuk mendukung perbuatan kita. Nah, ini bisa digolongkan kepada upaya mencari pembenaran. Tul nggak?</p>
<p>Jadi, ketika kita berbeda pendapat dengan saudara kita, nggak usah memunculkan kebencian, tapi hiasi perbedaan itu dengan cinta. Jika memang perlu dialog untuk membunuh rasa penasaran kita, lakukanlah dialog. Sangat boleh jadi itu lebih baik. Nggak usah dipendam dalam hati. Selain nggak menemukan kepuasan juga berpotensi menimbun penyakit. Minimal kan makan ati. Ehm.. pasti nggak mau mangkel kan?</p>
<p>Itu sebabnya, kita budayakan sikap bersahabat dengan saudara kita. Kalo pun ada perbedaan dalam beberapa hal, bukan berarti harus berhenti mencintainya, dan mulai menyemai garam kebencian (hmm.. pedih dan perih tuh jadinya). Sebaliknya, kita akan bertanya kepada saudara kita kenapa melakukan perbuatan (yang kita anggap beda dengan kita). Dengan dialog, bukan saja kita akan mendapatkan argumentasi darinya, juga akan terjalin emosi yang baik. Karena semua rasa yang kita miliki akan tersalurkan dan akan bermuara ketika kita saling terbuka untuk mencari kebenaran. Jadi, yuk, belajar menjadi dewasa. Singkirkan perbedaan yang tak perlu dan mulai menjalin kebersamaan untuk membangun ikatan ukhuwah kita. Oke?</p>
<p><strong>Berbeda tapi tetap bersatu</strong><br />
Yap, berbeda boleh. Sesama muslim kita boleh aja kok berbeda pendapat, asal pendapatnya memang berdasarkan dalil yang benar dan baik yang dilandaskan ajaran Islam. Tapi, jangan sampe membedakan diri dengan menjaga jarak dan menganggap mereka yang berbeda dengan kita harus dibabat habis dan dikucilkan, padahal mereka juga punya dalil untuk berbeda pendapat. Jadi, nggak usah menyemai rasa benci ya. Tapi upayakan persatuan yang dilandasi dengan cinta.</p>
<p>Menghargai pendapat teman kita boleh-boleh aja selama memang alasannya bersumber pada ajaran Islam. Hmm.. jadi inget kisah ulama jaman dulu. Suatu saat Imam Syafiâ€™i mengatakan, â€œPendapatku benar, tapi ada kemungkinan pendapat orang lain tidak salah.â€? Beliau juga menegaskan, â€œApa yang aku tuangkan dalam kitabku tidak semuanya harus kalian ikuti. Yang benar ambil, yang salah tinggalkan.â€?</p>
<p>Sementara itu, Imam Hanafi berkata, â€œJika saya sampaikan itu benar, berarti itu datangnya dari Allah. Bila salah itu datangnya dari setan.â€? Sedangkan Imam Ahmad mengatakan, â€œAmbillah yang benar-benar saja dari pendapatku. Yang kalian ragukan, tinggalkan.â€?</p>
<p>Meskipun berpegang teguh pada hasil ijtihadnya sendiri, para Imam saling bertoleransi. Kata Imam Syafiâ€™i, â€œSeluruh manusia di dalam bidang fikih adalah keluarga Abu Hanifah.â€? Imam Syafiâ€™i menyunahkan doa qunut dalam shalat subuh. Namun tatkala shalat subuh di dekat kubur Abu Hanifah, ia meninggalkan bacaan qunut (al-Syarani: 213 dalam Islamia No 5/II April-Juni 2005)</p>
<p>Itu sebanya, jika di sekolahmu kebetulan ada yang berbeda model busana muslimah, ya jangan serta merta menyalahkannya. Nggak boleh tuh. Lebih baik, ditanyakan kepada yang bersangkutan untuk mencari tahu alasannya. Jadi, kalo ada temanmu yang make busana muslimah dengan model; kerudung dipadu dengan pakaian longgar atas-bawah (bukan terusan), ya tanya aja kenapa memakai itu dan dalilnya ada nggak. Kalo ada dan hal itu berasal dari pendapat Islam, ya nggak usah memaksakan pendapat kita tentang jilbab yang kita dapetin dari sumber yang berbeda.</p>
<p>Supaya klop dan bisa menghargai pendapat orang lain, kita harus punya persepsi utuh tentang pendapatnya. Sebab, â€œPerception is the basis of wisdomâ€? (Persepsi adalah landasan kearifan), kata pakar psikologi Dr Edward de Bono. Sebelum menilai atau memutuskan, de Bono menganjurkan kita mengeksplorasi situasi dari berbagai sudut pandang. Baru setelah persepsi kita lengkap, kita menanggapi atau bereaksi terhadap masalah tersebut (Koran Tempo, 27 Agustus 2005)</p>
<p>Oya, kudu dibedakan antara memaksakan pendapat dengan mempertahankan pendapat. Kalo memaksakan, berarti ada objek yang ditekan, yakni orang lain supaya sama dengan kita. Tapi kalo mempertahankan pendapat boleh kok. Artinya, ketika kita udah ambil suatu pendapat dan merasa yakin itu benar, ya harus dipertahankan selama belum ada dalil yang lebih kuat dari yang kita yakini kebenarannya. So, nggak usah berantem, nggak baik menabur benci. Kita bisa bekerjasama dan bersatu dalam memajukan Islam.</p>
<p>Daripada ribut ama temen soal model busana muslimah, padahal keduanya udah punya dalil sendiri yang juga berasal dari Islam, lebih baik kan kita bekerjasama untuk mengajak teman muslimah lain yang belum berbusana muslimah dengan benar dan baik. Tul nggak?</p>
<p>Itu sama artinya dengan kasus teman kita yang ditegur karena menyebarkan buletin ini. Harusnya kan dibiarin aja, bahkan bila perlu didukung karena isinya kan insya Allah mengajarkan kebaikan. Malah sebaliknya, kita bekerjasama menangkal media yang akan merusak Islam. Dan itu perlu dicatat jumlahnya lebih bejibun dari media Islam. Oke? Jadi, tak perlu ada benci di antara kita kan?</p>
<p>Sobat muda muslim, semoga kita tetap bersatu. Bukan hanya selalu bersama. Karena apa? Karena kalo bersatu artinya kita nggak akan membuat jarak, meski di antara kita ada yang berbeda pendapat. Tapi perbedaan itu kita jadikan rahmat dan harusnya bisa bersinergi untuk membangun kekuatan dahsyat.</p>
<p>Nggak baik deh kita berantem dengan sesama kita sendiri, sementara kita lupa terhadap musuh-musuh agama ini yang selalu siap menerkam kita kapan saja. Kalo kita ribut mulu, mereka yang membenci Islam bakalan seneng. Karena nggak perlu capek-capek bertempur, toh kita bakalan ancur-ancuran karena menyulutkan api â€?perang saudaraâ€™.</p>
<p>Ada baiknya kita mencoba merenungkan firman Allah Swt.:</p>
<p>?¥???†?‘???…???§ ?§?„?’?…???¤?’?…???†???ˆ?†?? ?¥???®?’?ˆ???©?Œ ?????£???µ?’?„???­???ˆ?§ ?¨?????’?†?? ?£???®???ˆ?????’?ƒ???…?’ ?ˆ???§???‘???‚???ˆ?§ ?§?„?„?‘???‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ?????±?’?­???…???ˆ?†??<br />
â€œSesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.â€? (QS al-Hujuraat [49]: 10)</p>
<p>Oke? Mulai sekarang, jangan ada (lagi) benci di antara kita. Sebaliknya, semaikan rasa cinta. Karena sesama muslim adalah bersaudara. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 260/Tahun ke-6/5 September 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-benci-di-antara-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Judi yang Jadi Tradisi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/judi-yang-jadi-tradisi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/judi-yang-jadi-tradisi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/judi-yang-jadi-tradisi/</guid>
		<description><![CDATA[Perjudian di negeri kita kian marak. Dari yang kelas teri, hingga kelas kakap. Dari yang cuma bermodalkan duit seceng buat beli kupon togel, sampe jutaan bahkan miliaran rupiah yang ludes di meja judi. Bukan omong kosong lho. Ini bukti bro. Di kota Metropolitan aja, uang judi yang berputar mencapai sekitar Rp 40 triliun per tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjudian di negeri kita kian marak. Dari yang kelas teri, hingga kelas kakap. Dari yang cuma bermodalkan duit seceng buat beli kupon togel, sampe jutaan bahkan miliaran rupiah yang ludes di meja judi. Bukan omong kosong lho. Ini bukti bro. Di kota Metropolitan aja, uang judi yang berputar mencapai sekitar Rp 40 triliun per tahun (Liputan6.com, 31/07/05). Semuanya duit. Nggak campur daun.</p>
<p>Di Kota Kembang, menurut Anggota DPRD Kota Bandung Iman Setiawan Latief, terdapat sedikitnya 400 lokasi perjudian. (Tempo Interaktif, 06/03/05). Di Bekasi, judi dilakukan terang-terangan. Para penjudi bebas keluar masuk lokasi perjudian tanpa ada rasa takut tertangkap aparat berwajib. Kalo ada pers yang berani menyinggung kegiatan judinya di media massa, bakal dapet teror dan intimidasi secara fisik dari pihak bandar. Nggak heran kalo Bekasi dapet julukan Kota Judi. (Tempo interaktif, 05/05/05). <span id="more-261"></span></p>
<p>Kini, kita boleh sedikit berlega hati. Begitu menjabat kapolri, Jenderal Polisi Sutanto langsung meminta seluruh kepala kepolisian daerah di Indonesia segera memberantas judi. Nggak tanggung-tanggung, para kapolda cuma dikasih waktu sepekan untuk memberantas judi di wilayahnya. â€œKalo enggak mampu, masih banyak pejabat lain yang bisa melaksanakan,â€? ancam Sutanto. (Liputan6.com, 31/07/05). Nah lho?</p>
<p>Hasilnya, sejumlah tempat judi digerebek, alat-alat judi disita, dan banyak penjudi yang masuk bui. Mabes Polri mencatat sampai tanggal 24 Juli 2005, aparat kepolisian di seluruh Indonesia sudah berhasil menangkap 2.043 penjudi dari 903 kasus perjudian. Sayangnya, sejumlah tempat judi yang digerebek kebanyakan kelas teri. Sedangkan rumah judi kakap banyak yang tutup sementara.</p>
<p>Neta S. Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch, menyatakan menutup usaha atau tiarapâ€”istilah penjudiâ€”merupakan kebiasaan mereka saat mendengar ada pergantian pejabat Polri. Mereka bersembunyi dulu, rumah judi mereka ditutup dan mereka ke luar negeri. Sementara yang kecil-kecil karena asetnya terbatas, keuangan terbatas, mereka tetap nekat beroperasi,â€? kata Neta Pane. Makanya banyak yang ketangkep.</p>
<p><strong>Kok nggak ada abisnya?<br />
</strong>Sobat, usaha pemberantasan judi oleh pihak kepolisian bukan kali ini saja dilakukan. Namun, dari zamannya model rambut cewek dikepang dua sampe yang direbonding kayak sekarang, perjudian tetep eksis. Banyak faktor yang menobatkan judi sebagai sebuah tradisi di masyarakat kita. Di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, bentuk judi yang kian bervariasi. Dari yang resmi hingga yang sembunyi-sembunyi. Undian resmi berbau judi pertama kali muncul pada 1968. Namanya lotto, singkatan lotere totalisator yang awalnya digelar di Jawa Timur. Selanjutnya era 70-an muncul Nalo, toto hingga undian berhadiah. Pada 1986, pemerintah mengeluarkan Porkas disusul KSOB. KSOB dibubarkan sehabis meraup dana sekitar Rp 1,2 triliun. Patah tumbuh hilang berganti. KSOB bubar dan terbitlah Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). SDSB yang muncul sekitar Januari 1989 ini amat populer. Selama empat tahun, SDSB berhasil mengumpulkan dana lebih Rp 4 triliun. Duit panas nih!.</p>
<p>Judi kecil-kecilan juga nggak kalah populernya. Dari mulai sabung ayam, adu jangkrik, banting kartu remi/domino, tebak skor pertandingan sepakbola, sampe papan rolet jadi media pertaruhan. Di tengah lilitan ekonomi, masyarakat mudah tergiur dengan keuntungan 60 ribu perak yang bakal diperolehnya kalo dua nomor togelnya yang dibeli seharga seribu tembus. Dengan kecanggihan teknologi komunikasi, dalam telekuis SMS atau premium call juga tercium unsur perjudian.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, adanya oknum pejabat pemerintah yang melindungi perjudian. Siapa sih yang nggak ngiler ngeliat derasnya kucuran duit dari meja judi. Omzet judi massal seperti di Kalijodo, Jakarta aja bisa mencapai Rp 2 miliar dalam sehari. Kalo dapet 10%-nya aja buat uang keamanan, kan lumayan bisa buat beli kerupuk satu truck (kenyang-kenyang dah!). Indonesia Police Watch bahkan menyebut ada sebanyak 14 kapolda yang melindungi judi sehingga perlu dicopot dari jabatannya. (Liputan6.com, 31/07/05)</p>
<p><strong>Haruskah dilokalisasi?<br />
</strong>Pernah denger Genting Highland, Malaysia? Genting Highland adalah sebuah daerah wisata yang menjadi kawasan judi kasino paling diburu para penjudi khususnya dari Indonesia. Kawasan wisata ini terletak sekitar 51 kilometer sebelah utara Kota Kuala Lumpur. Genting Highland dicetuskan Tan Sri Lim Goh Tong, pengusaha Cina, pada 1965.</p>
<p>Atau kota Macau di China? Lebih dari 40 persen penduduk pulau dan kota judi yang hanya berjumlah 430.000 jiwa (Juli 2003) ini mencari sesuap nasi di ladang judi. Di Macau terdapat 12 tempat kasino di Hotel berbintang lima. Mungkin di sini banyak beredar anak buat Chow Yun Fat sang God of Gamblers.</p>
<p>Nggak cuma di Las Vegas, Genting Highland atau Macau, legalisasi perjudian juga pernah terjadi di Nusantara. Ali Sadikin, Gubernur DKI periode 1966-1977 ini menyadari uang panas dari ladang judi bisa dihimpun untuk berbuat hal positif (positive thinking nih ceritanya). Bang Ali, sapaan Ali Sadikin, lalu memutuskan untuk melegalisasi judi. Saat itu, untuk pertama kali dibuka kasino resmi di Indonesia dengan dua pengusaha kasino besar, Apyang dan Yo Putshong yang bertindak selaku investor. Hasilnya tak sia-sia. Anggaran pembangunan DKI yang semula Rp 66 juta melonjak tajam hingga lebih Rp 89 miliar dalam tempo sepuluh tahun. Sejumlah pasar, sekolah, puskesmas, dan jalan-jalan baru berhasil dibangun.</p>
<p>Pemerintah sempet kepikiran ngikutin jejaknya Bang Ali untuk nertibin judi berlandaskan pada asas manfaat. Seperti yang diusulkan Fraksi PDIP DPRD Kota Bekasi, Jabar. Prinsipnya, daripada pusing-pusing berantas judi tapi nggak pernah kelar, mending dilokalisasi. Tertib, terkendali, dan ngasih subsidi buat pemerintah. Apalagi kalo tempat-tempat judi ditutup bakal menambah jumlah pengangguran. Untung khan?</p>
<p>Ya, untung buat pemerintah, tekor buat rakyatnya. Lokalisasi kemaksiatan kayak judi dan PSK cuma jadi bibit kehancuran masyarakat di hari depan. Kalo negara udah melegalisasi, siapa lagi yang ditakuti oleh para penjudi dan pelaku kemaksiatan. Bisa-bisa banyak orang yang lemah iman pengen coba-coba dan akhirnya kecanduan. Negara bukannya memfasilitasi rakyatnya ke arah kebaikan, malah menjerumuskan. Piye iki?</p>
<p><strong>Judi, bikin lupa diri</strong><br />
Biarpun sekadar iseng-iseng berhadiah, orang maen judi seperti minum air laut. Nggak pernah terpuaskan dahaganya. Kalo menang, makin pede masang lagi. Pas kebagian kalah, justru makin penasaran. Selalu ber-husnudzon. Ujung-ujungnya, nggak sedikit kehidupan para gambler yang hancur lebur dipertaruhkan di meja judi. Cerai dengan istri, kehilangan pekerjaan atau dalam hitungan menit konglomerat bisa jadi melarat. Apalagi yang udah melarat terus nyandu maksiat, dijamin tekor dunia akhirat deh.</p>
<p>Salah satu korbannya?  adalah Dedi Dores. Musisi yang ngetop pada dekade 80-an ini mengaku telah berjudi sejak 70-an. Dedi bahkan terpaksa bercerai dengan sang istri karena hobi judi. Doi mengaku sedikitnya telah menghabiskan Rp 20 miliar di meja judi. Dedi mengatakan biasa bermain di luar negeri seperti di Australia, Genting Highland hingga ke Makau. (Liputan6.com, 31/07/05)</p>
<p>Judi juga bikin orang jadi malas. Setiap detik waktu yang dimilikinya dihabiskan untuk ngotak-ngatik angka togel atau berburu nomor jitu ke makam-makam keramat (Wacks! Syirik tuh!). Yang ada di pikirannya, cuma gimana caranya biar menang atau menebus kekalahan sebelumnya. Akibatnya, di luar meja judi produktivitas dalam bekerja, ngurusin keluarga, atau rumah tangga terbengkalai. Yang lebih parah, akal sehatnya bisa K.O. dibanting kartu remi atau domino saat kecanduannya memasuki stadium empat. Demi tersalurkan hobi berjudi, orang bisa nekat berbuat jahat.</p>
<p>Dan yang paling penting, Ajaran Islam, jelas-jelas melarang praktik perjudian. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?¥???†?‘???…???§ ?§?„?’?®???…?’?±?? ?ˆ???§?„?’?…?????’?³???±?? ?ˆ???§?„?£?’???†?’?µ???§?¨?? ?ˆ???§?„?£?’???²?’?„?§???…?? ?±???¬?’?³?Œ ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?§?„?´?‘?????’?·???§?†?? ?????§?¬?’?????†???¨???ˆ?‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????’?„???­???ˆ?†??. ?¥???†?‘???…???§ ?????±?????¯?? ?§?„?´?‘?????’?·???§?†?? ?£???†?’ ?????ˆ?‚???¹?? ?¨?????’?†???ƒ???…?? ?§?„?’?¹???¯???§?ˆ???©?? ?ˆ???§?„?’?¨?????’?¶???§???? ?????? ?§?„?’?®???…?’?±?? ?ˆ???§?„?’?…?????’?³???±?? ?ˆ???????µ???¯?‘???ƒ???…?’ ?¹???†?’ ?°???ƒ?’?±?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???¹???†?? ?§?„?µ?‘???„?§???©?? ?????‡???„?’ ?£???†?’?????…?’ ?…???†?’?????‡???ˆ?†??.<br />
â€œHai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).â€? (QS al-Maâ€™idah [5]: 90-91)</p>
<p><strong>Yuk, kita berantas perjudian</strong><br />
Judi bersama â€?anak-cucunyaâ€™ emang kudu dibabat abis. Pak polisi bilang: NOBAT alias Nongol-Babat. Selain dosa, bahayanya udah jelas banget. Apa pun bentuknya, selama ada aktivitas yang mempertaruhkan sejumlah harta â€“bisa duit, mobil, rumah, atau makananâ€”antara dua pihak yang berlawanan, bisa termasuk judiâ€¦judiii!â€¦.teeet!</p>
<p>Yang mesti kita inget, perjudian nggak bakal berhenti kalo negara dan masyarakat keukeuh-sureukeuh (tetep) pake kapitalisme sebagai aturan hidup. Sebab tidak terpenuhinya kebutuhan hidup rakyat akibat penerapan sistem kapitalisme oleh negara kerap memicu orang untuk menggantungkan hidupnya di meja judi.</p>
<p>Tapi seandainya negara mau pake aturan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah untuk ngatur rakyatnya, Insya Allah faktor yang memicu orang berjudi akan diminimalisir (bahkan bukan mustahil kalo benar-benar hilang). Sanksi taâ€™jir yang bisa berupa hukum cambuk bagi para penjudi di tempat umum seharusnya akan membuat mereka jera dan masyarakat ogah ngikutin jejaknya.</p>
<p>Sekadar contoh aja, di NAD meski syariat cuma diberlakukan parsial, tapi cukup bikin jera. Ketua Forum Masyarakat Berantas Judi Buntut-Togel di NAD, Tarmizi HA Hamid H, menuturkan bahwa sebelum hukum cambuk diberlakukan, Bireuen adalah satu daerah di Aceh yang perjudiannya cukup marak. Omzet judi buntut-togel, setiap harinya rata-rata mencapai Rp 110 juta. Setelah diberlakukan syariat Islam, perjudian berkurang antara 70 sampai 80 persen. (Eramuslim, 28/07/2005).</p>
<p>Catet tuh, meski parsial tetep ada pengaruhnya. Tapi jangan puas dulu, karena seharusnya syariat Islam diterapkan untuk seluruh dunia dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah, bukan penerapan syariat Islam yang cuma lokal kayak gitu. Oke?</p>
<p>Oya, pembinaan dari sisi mental dan ketakwaan juga kudu diperhatikan. Agar mental rakyat dan aparat pemerintah nggak gampang rapuh ngambil jalan pintas untuk tuntasin masalah. Sebaliknya, justru ketakwaan memotivasi mereka untuk untuk nyari jalan keluar di jalan yang halal.</p>
<p>Dan kita selaku remaja muslim, nggak ada pantasnya ikut-ikutan jadi pecandu judi. Meski sekadar iseng, selain tetep dosa bisa juga nyeret kamu jadi nyandu. Itu berarti sama dengan menggadaikan hari depan kamu dengan selembar kupon togel atau di meja judi. Idih, tengsin deh eike!</p>
<p>Sebaiknya kita pake keseharian kita dengan berdakwah menyampaikan kebenaran Islam. Ini bukan pilihan lho. Tapi kewajiban yang nggak pake tawar-menawar. Kalo belum bisa, mulailah dengan mengkaji Islam dengan benar dan baik. Agar kita bisa optimalkan waktu yang kita punya untuk dapetin ridho Allah swt. Di mana aja, kapan aja. Mantapkan niat untuk mencari ilmu dan semoga dimudahkan untuk memahaminya. Oke banget kan?</p>
<p>Yap, daripada jadi penjudi, mendingan jadi dai meski nggak harus ikut audisi. Yuk, ah!?  [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 259/Tahun ke-6/29 Agustus 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/judi-yang-jadi-tradisi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Guruku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-guruku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-guruku#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/terima-kasih-guruku/</guid>
		<description><![CDATA[Engkau bagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan /Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Rasa-rasanya lagu ini selalu inget di hati kita. Yup, bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah kayaknya nggak bakalan lupa deh sama syair lagu ini. Apalagi buat kamu yang masih duduk di bangku sekolah. Iya kan? Lagu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Engkau bagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan /Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.</p>
<p>Rasa-rasanya lagu ini selalu inget di hati kita. Yup, bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah kayaknya nggak bakalan lupa deh sama syair lagu ini. Apalagi buat kamu yang masih duduk di bangku sekolah. Iya kan? Lagu yang kalo sekarang dinyanyikan pun harusnya tetap membuat kita menghormati para guru. Soalnya cita-cita dan harapan yang bisa kita raih sekarang ini juga ada andil dari mereka. Sekecil apa pun. Apalagi kalo besar. <span id="more-260"></span></p>
<p>Masih terbayang bagaimana kita pas pertama kali masuk sekolah, pertama kali belajar nulis. Pensil yang kita pegang ikut bergetar karena tangan kita baru melakukannya, ditambah grogi pula. Tapi guru kita di sekolah dasar itu dengan telaten mengajari dan membimbing kita dengan tanpa pernah bosen. Seorang teman malah menikmati profesi guru sebagai jalan hidupnya. Ya, memberi pelita kepada yang sedang kegelapan adalah perbuatan yang insya Allah mulia. Apalagi jika ikhlas dilakukan. Allah pasti akan memberikan hujan pahala yang deras. Sangat deras barangkali.</p>
<p>Boys en galz, lagu Hymne Guru ini selalu mengingatkan kita pada mereka, para guru. Perhatian, kasih sayang, dan rasa pedulinya begitu luas hingga sulit bagi lisan ini untuk?  mengukir kata-kata yang terindah untuk mereka. Didikan dan bimbingannya masih terekam dalam benak kita dan tiap kata yang diucapkannya banyak mengandung nasihat.</p>
<p>Kalo di rumah kita mendapatkan rasa itu dari ayah, ibu, dan juga kakak-adik kita. Sementara di sekolah, guru yang memberikan semua rasa itu pada kita. Rasanya tak mungkin kalo bukan karena itu semua mereka mau membimbing kita. Mereka mengajar dengan penuh perhatian, selain karena ada tujuan materi yang diinginkan dari ilmu yang diajarkan kepada kita-kita, juga insya Allah berangkat dari idealisme untuk menciptakan manusia-manusia pembelajar di masa depan. Tentu, kita-kita ini diharapkan yang akan meneruskan perjuangan membangun negeri ini sesuai bidang yang digarap dan mampu kita lakukan. Awalnya, tentu kita belajar karena ada guru di sekolah.</p>
<p>Kalo udah ngomongin kebaikan juga pengorbanan yang mereka berikan untuk kita sepertinya nggak ada the end-nya. Bener nggak seh? Coba aja lihat, setiap hari mereka lebih banyak luangkan waktu di sekolah mulai dari ngajar, pertemuan para guru dan mengerjakan soal-soal ditambah lagi kudu membimbing dan membina kalo ada murid yang error tingkah lakunya. Waah itu semua rasanya butuh mata yang harus awas dan tentunya waspada. Berat memang tugasnya dan juga pengorbanannya. Tapi tentu betapa mulianya menjadi guru.</p>
<p>Pernah kan kamu lihat murid-murid pada ngumpul pada jam istirahat? Bagi seorang guru fenomena ini tidak pernah lepas dari perhatiannya. Tentu harapan guru semoga ngumpulnya mereka membicarakan sesuatu yang baik. Bukan sebaliknya malah â€™hajatanâ€™ obat. Berabe kan kalo masalah ini lepas dari perhatian guru? Makanya bagi mereka dijuluki pahlawan sudah bukan sesuatu yang langka. Emang sih bukan pahlawan dalam kisah peperangan tapi?  kalo baca di Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah pahlawan itu terkait erat dengan sifat pengorbanannya. Setuju nggak? BTW, gimana neh nasib guru kita saat ini? Sejahterakah mereka? Cerahkah masa depan mereka?</p>
<p><strong>Nasib guru kita</strong><br />
Entah, karena pemerintah menerjemahkan lirik lagu â€?hymne guruâ€™ itu secara keliru, sehingga yang dimaksud â€?pahlawan tanpa tanda jasaâ€™ itu adalah mereka yang tanpa pamrih. Sehingga nggak dihargai dengan gaji pun mungkin nggak akan melawan atau berontak. Kenapa? Ya gitu deh, namanya pahlawan tanpa tanda jasa. Menyedihkan sekali ya?</p>
<p>Jadi inget lagunya Bang Iwan Fals yang sangat terkenal, yakni â€œOemar Bakriâ€?. Lagu ini berkisah tentang keprihatinan terhadap nasib guru. Seorang guru bernama Oemar Bakri dalam lagu Bang Iwan Fals ini digambarkan sebagai sosok guru yang sangat mengabdi sampai usia tuanya. Tetap semangat mengajar murid-murid tercintanya meski gaji sering â€?disunatâ€™. Tragis sekali.</p>
<p>Bahkan ketika murid-muridnya sudah â€?jadi orangâ€™, sosok Oemar Bakri tetap saja sederhana, dan nasibnya tak kunjung membaik. Saat ini pun kita sering mendengar kisah-kisah memilukan tentang profesi guru. Ada banyak â€?Oemar Bakriâ€™ lainnya yang kini menderita. Ya, seperti melanjutkan â€?estafetâ€™ nasib Oemar Bakri dalam lagu Bang Iwan Fals tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah kisah seorang guru yang mengajar di sebuah wilayah di daerah Gorontolo. Ibu guru kita ini bercerita di acara Kembang Api-nya API (Audisi Pelawak TPI) 14 Agustus 2005 lalu. Untuk mengambil gajinya yang menurut pengakuannya sekitar 1 jutaan itu, ia harus berangkat dari rumahnya jam 5 pagi, dan baru sampai di kota tujuan untuk mendapatkan gajinya sekitar jam 8 malam. Wuih, jauh banget tuh (berapa kali ganti sendal ya?). Untuk menempuh perjalan jauh itu, 200 ribu rupiah katanya harus dikeluarkan. Kita bisa bayangin sendiri gimana memprihatinkannya nasib guru di daerah.</p>
<p>Kalo di kota mungkin masih agak-agak bisa terobati kali ye? Misalnya untuk menambah biaya dapur, bisa jadi tukang ojeg. Ini juga ada kisah memilukan tentang seorang guru. Saya melihatnya di Trans TV dalam acara Good Morning yang dipandu Ferdy Hassan dan Rieke â€?Onengâ€™ Dyah Pitaloka. Dalam salah satu laporannya, ada seorang guru di Bekasi yang nyambi jadi tukang ojeg. Maklum guru honorer. Jika tak salah dengar gajinya sekitar 400 ribuan gitu deh per bulannya.</p>
<p>Ini memang baru satu kasus, entah kasus lainnya yang tak terberitakan. Wallahuâ€™alam. Tapi meski hanya satu atau beberapa kasus yang bisa dihitung dengan jari, tentunya ini adalah sebuah musibah. Ya, musibah bagi profesi pengajar yang dengan ilmunya menjadikan kita-kita bisa belajar dan bahkan bisa lebih pinter dari mereka dan nasib kita barangkali juga ada yang lebih baik dari mereka.</p>
<p>Kita yakin juga kok, bahwa nasib guru yang agak-agak lebih baik atau mungkin sangat baik juga ada. Tapi jumlahnya tak sebanyak yang â€?meranaâ€™. Tentunya harus ada perhatian dan juga tindakan nyata dari pemerintah untuk memikirkan solusi dari nasib guru dan juga masalah pendidikan ini.</p>
<p>Ini memang harus diupayakan untuk segera ditangani. Maklum saja, waktu terus berjalan dan roda kehidupan juga butuh energi untuk menggerakkannya. Jika nasib guru terus memburuk, khawatir idealisme sebagai pengajar juga akan pudar. Tergerus oleh naluri untuk mempertahankan hidup. Idealismenya dikalahkan oleh urusan perut. Itu sebabnya, jangan salahkan pula jika banyak dari kita sudah tak punya cita-cita untuk menjadi guru. Karena melihat nasib para guru (secara umum) yang mengenaskan.<br />
? <br />
<strong>Kenapa ini terjadi?<br />
</strong>Sobat muda muslim, kita jadi berpikir lebih jauh, ada apa sebenarnya dengan kondisi guru? Separah inikah nasib â€œpahlawan tanpa tanda jasaâ€?? Mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa terus menghantui kita dan berusaha mendapatkan jawaban yang benar dan masuk akal.</p>
<p>Memang sih, masalah di negeri kita bukan hanya soal guru. Bukan hanya soal pengangguran, bukan pula sekadar masalah kriminal yang kian menggila. Masalah di negeri kita banyak sekali. Saking banyaknya, rasanya tak akan cukup dituliskan secara lebih detil di buletin kesayangan kamu yang cuma empat halaman ini.</p>
<p>Jika kita melihat lebih dalam (sumur kale!), tentu kita berpikir bahwa kondisi masyarakat ini tak bisa lepas dari sistem kehidupan yang mengendalikannya. Apakah akan bergolak atau tetap dingin, sistemlah yang?  mengaturnya. Ambil contoh air yang ada di tempayan. Jika tidak dipanasi dengan api ia tidak akan bergolak. Tetep dingin. Nggak bereaksi sedikit pun.</p>
<p>Air yang ada di lemari es, karena dikondisikan oleh â€?sitem pendinginâ€™ dari kulkas itu, maka ia akan menjadi dingan dan bahkan beku. Di sinilah sebuah sistem berperan besar.</p>
<p>Itu sebabnya, jika melihat fakta saat ini, ternyata dalam kehidupan negara yang menerapkan kapitalisme-sekularisme, asas manfaat yang disandarkan pada materi menjadi tolok ukur. Memang sangat kompleks untuk menjelaskan tentang sistem kapitalisme. Mungkin saja memerlukan berlembar-lembar halaman. Tapi di sini kita â€?bicaraâ€™ singkat aja. Semoga mengena. Oke?</p>
<p>Kita lebih melihat fakta dari diterapkannya kapitalisme di sini, bahwa pemerintah lebih memfokuskan perhatiannya kepada sektor-sektor yang cepat menghasilkan duit (itu pun jika tidak dikorupsi pejabatnya). Dalam satu kasus saja, misalnya program pemberdayaan guru dan peningkatan kesejahteraannya sering hanya berhenti di seminar-seminar saja. Nyaris realisasinya tak terwujud di lapangan. Menyedihkan.</p>
<p>Tapi sebaliknya, pemerintah kelihatan sangat getol jika ada proyek-proyek yang cepat mendatangkan uang, seperti eksplorasi minyak bumi, izin untuk tempat-tempat hiburan, pelacuran, perjudian, pabrik minuman keras, dan bahkan â€?tutup mataâ€™ terhadap peredaran narkoba. Tentu untuk beberapa kasus ada yang ditindak juga, tapi biasanya itu yang nggak mendapatkan izin dan nggak â€?nyetorâ€™ upeti.</p>
<p>Coba aja dipikirin deh, daripada bikin lokalisasi pelacuran, komplek perjudian dan â€?melindungiâ€™ peredaran narkoba, anggarannya kan bisa dipake untuk kesejahteraan guru. Jangan sampe guru yang kesulitan mengepulkan asap dapurnya karena gajinya rendah ikutan-ikutan masang nomer cantik pembawa hoki di arena judi togel.</p>
<p>Menyoroti nasib guru ini, Ketua Umum Persatuan Guru RI, Muhammad Surya menyampaikan, â€œApa pun yang diperjuangkan untuk perbaikan kesejahteraan guru berpulang pada sejauh mana komitmen penyelenggara negara terhadap pendidikan. Studi banding kemana pun jika tidak mengedepankan kepentingan pendidikan itu sendiri maka percumaâ€? (Koran Tempo, 5 Agustus 2005)</p>
<p>Sobat muda muslim, masalah ini memang kompleks banget. Satu-satunya jalan adalah dengan mengubah kondisi yang ada supaya menjadi lebih baik. Selama sistem yang mengkondisikan kehidupan ini tidak kita enyahkan, maka selama itu pula kita akan tetap terkurung dalam arus kehidupan yang membuat kita semua menderita lahir-batin.</p>
<p>Ini insya Allah nggak akan terjadi jika kita mau menerapkan aturan Islam yang akan mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini. Yakin itu.? <br />
? <br />
<strong>Untukmu guruku<br />
</strong>Semoga saja, nasib guru menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang. Kita sendiri baru bisa mendoakan dan sedikit memberi solusi. Namun, solusi yang baru bersifat wacana ini membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk merealisasikannya. Sebab, tanpa peran mereka, harapan kita untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para guru tak akan pernah terwujud. Karena jasa guru termasuk berharga bagi kemajuan sebuah peradaban. Pemerintah harus menghargai para pendidik dan memajukan dunia pendidikan.</p>
<p>Itu sebabnya, amat wajar bahwa kita pantas dan layak untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru kita semua. Ijinkan kami memberikan tanda cinta kami yang tak pernah luntur oleh waktu. Guruku, ketulusan dan keluasan ilmumu yang berguna selalu kau limpahkan untuk bekalku nanti. Bila masih bisa mulutku berbicara kukatakan padamu: terima kasih guruku.</p>
<p>Dan, semoga saja pemerintah bisa mewujudkan niat baiknya untuk menghormati, menghargai, dan memberikan yang terbaik untuk para guru sebagai tanda cinta dan rasa terima kasih yang amat dalam. Semoga Allah memudahkan niat dan langkah baik kita. Amin.</p>
<p>Tapi, rasanya sangat sulit terwujud jika pemerintah masih menerapkan kapitalisme. Saatnya menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Siap kan? [fahmarosyada]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 258/Tahun ke-6/22 Agustus 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-guruku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usia Remaja Kudu Bebas?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/usia-remaja-kudu-bebas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/usia-remaja-kudu-bebas#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/usia-remaja-kudu-bebas/</guid>
		<description><![CDATA[Brak!!! Diyan membanting pintu kamarnya dengan keras. Brug! Tas sekolahnya dilempar ke kasur. Pluk! Seekor cicak terjatuh saking kagetnya ngedenger pintu dibanting. Waaa!! Kalo ini Diyan ngejerit karena cicak itu jatuh tepat di kakinya. Setelah berjingkrak-jingkrak nggak karuan, badannya pun ikut ambruk menyusul tasnya. Di sudut matanya terlihat aliran bening air mata. Sedih nih yee? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Brak!!! Diyan membanting pintu kamarnya dengan keras. Brug! Tas sekolahnya dilempar ke kasur. Pluk! Seekor cicak terjatuh saking kagetnya ngedenger pintu dibanting. Waaa!! Kalo ini Diyan ngejerit karena cicak itu jatuh tepat di kakinya.</p>
<p>Setelah berjingkrak-jingkrak nggak karuan, badannya pun ikut ambruk menyusul tasnya. Di sudut matanya terlihat aliran bening air mata. Sedih nih yee? Yaa gitu deh!<span id="more-259"></span></p>
<p>Diyan sedih bukan lantaran kejatuhan cicak. Bukan juga lantaran nggak diizinin pak RT jadi peserta lomba panjat pinang. Pelajar kelas dua SMA ini lagi ngambek ama mamanya. Soalnya mama belon ngijinin doi untuk jalan-jalan ke mal sampe sore sepulang sekolah; atau minta jatah uang sakunya dijadiin bulanan; atau ikut clubbing di malam minggu bareng temen-temennya; atau pake baju tang top ngikutin tren; atau punya temen deket cowok dan masih banyak lagi tren remaja yang pengen Diyan ikutin. Padahal Diyan udah udah tujuh belas tahun. Dan temen-temen sebayanya pada bisa ngikut tren. Kenapa Diyan nggak boleh? Makanya dari sepulang sekolah tadi, doi mogok keluar kamar. Kecuali pas lagi laper, pengen ke toilet, pas mamanya nawarin es krim, atau pas tukang somay kesenengannya lewat. Yeeeâ€¦mogok kok banyak kecualinya.</p>
<p>Kasus model Diyan di atas kayaknya sering banget deh kita denger. Bisa jadi kita juga pernah ngalamin (ehmâ€¦ehmâ€¦jadi malu). Di usia yang menginjak remaja, kita sering ngerasa ortu belon ngasih kita kebebasan. Ortu masih nganggap kita anak kecil. Setiap jengkal keseharian kita masih diatur ama ortu. Dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Sementara di luar rumah, alam kebebasan yang mulai banyak digandrungi temen-temen remaja menggoda kita untuk mencicipinya. Enak kali ya?</p>
<p><strong>Kenapa pengen bebas?<br />
</strong>Memasuki umur belasan tahun, biasanya remaja mulai merasakan perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter. Tapi nggak pake perubahan identitas jadi Ksatria Baja Hitam atau Sailor Moon lho. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, atau mulai tumbuhnya â€“maaf- payudara pada cewek menunjukkan adanya perubahan fisik. Tapi untuk perubahan non fisik, nggak terlalu keliatan. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!</p>
<p>Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: â€œPerilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lainâ€?. Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orangtua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.</p>
<p>Robert Havighurst menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, pertama emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orangtua. Kedua aspek ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orangtua.</p>
<p>Ketiga, aspek intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Dan terakhir, aspek sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.</p>
<p>Itulah sedikit tinjauan psikologis akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya. â€œMasaâ€™ Mama nggak ngerti sih?â€? pikir Diyan.</p>
<p><strong>Ketika kebebasan menjadi kebablasan</strong><br />
Sobat, setiap orangtua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Dan emang bagusnya, proses itu diawali oleh orangtua ketika sang anak menginjak usia remaja. Namun, pergaulan remaja modern yang kental dengan nuansa kebebasan bikin sebagian orangtua keberatan untuk memenuhi keinginan anaknya.</p>
<p>Ya, gimana nggak, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktekkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan kita selaku muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri. Bahaya kan?</p>
<p>Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja terhadap budaya barat adalah:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Terutama dalam upaya mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cara untuk meraih keinginannya. Nggak ada yang ngontrol saat benaknya ngasih jalan pintas untuk beresin masalahnya. Bisa bunuh diri, nge-drugs, atau nyekek botol minuman keras. Bisa juga jadi pelaku kriminal atau cewek â€?bispakâ€™ pas lagi nggak punya doku.</p>
<p>Nggak ada juga yang ngasih pengarahan di benaknya saat kebutuhan nalurinya minta dipenuhi. Demi popularitas dan limpahan harta, harga diri dan kehormatan rela dipertaruhkan di kontes kecantikan. Ketika pornoaksi bin pornografi yang mudah ditemui menggedor hasratnya, apa aja bakal dijabanin asalkan terpuaskan. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri banget deh jadinya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di mana aja jadi prinsip remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh. Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku. Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendalian tutur katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho! (Yako banget neh!)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye teselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan. Nggak sebatas punya gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena nonton vcd porno yang dijual bebas atau melototin tayangan erotis di televisi. Kurangnya kontrol dari orangtua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?</p>
<p>Nah sobat, coba aja bayangin. Gimana nggak keder ortu dengan akibat kebebasan remaja yang kebablasan seperti dipaparkan di atas. Niat ortu ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan harga diri. Makanya kita pantas ber-husnudzan ama ortu. Kalo pengen dipercaya ortu, jalin komunikasi dan tunjukkin dong kalo kita udah dewasa dan siap belajar mandiri. Nggak perlu pake ngambek. Malu kan ama seragam SMA-nya? Heheheâ€¦</p>
<p><strong>Dewasa di usia remaja</strong><br />
Sobat, kemandirian bagi remaja memang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan jiwanya. Tapi kita kudu mikir seribu kali kalo remaja dibiarkan menafsirkan sendiri kebebasan yang dikehendakinya. Jiwanya yang labil sangat mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Gelora jiwa mudanya paling gampang terpincut ama budaya Barat yang steril dari aturan Islam. Makanya kudu ada perhatian agar generasi muda Islam nggak salah langkah dalam menapaki jalan panjang mencari jati diri.</p>
<p>Kita sebagai remaja muslim wajib nyadar kalo kebebasan dalam berpikir dan berperilaku nggak pernah diajarin dalam Islam. Islam ngajarin adanya kehidupan akhirat yang akan memintai pertanggungjawaban setiap amal perbuatan kita di dunia. Otomatis ini nyambung dengan tabungan pahala dan dosa yang kita kumpulkan sepanjang hidup di dunia. Tiket surga bakal kita peroleh kalo pahala kita surplus. Sebaliknya, kita bakal diceburkan ke dalam neraka seandainya dosa kita yang surplus. Dan pahala itu baru kita dapetin kalo Allah ridha dengan perbuatan kita. Itu berarti keterikatan dengan aturan Islam seharusnya jadi standar perbuatan dalam keseharian kita. Kalo udah gini, masaâ€™ iya kita mau melepaskan diri dari aturan Allah demi sebuah kebebasan? Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?£???????­???ƒ?’?…?? ?§?„?’?¬???§?‡???„?????‘???©?? ?????¨?’?????ˆ?†?? ?ˆ???…???†?’ ?£???­?’?³???†?? ?…???†?? ?§?„?„?‡?? ?­???ƒ?’?…?‹?§ ?„???‚???ˆ?’?…?? ?????ˆ?‚???†???ˆ?†??<br />
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)</p>
<p>Sebagai pengingat, kita bisa renungkan firman Allah Swt.:</p>
<p>?ƒ???„?‘?? ?†?????’?³?? ?¨???…???§ ?ƒ???³???¨?????’ ?±???‡?????†???©?Œ<br />
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (QS al-Mudatsir [74]: 38)</p>
<p>Usia remaja mengharuskan kita belajar untuk bertanggung jawab. Masa depan di dunia dan akhirat ada di tangan kita. Bukan dalam genggaman orangtua atau uluran tangan dari seorang teman. Proses pembelajaran itu bisa kita awali dengan mengkaji Islam dengan giat. Agar keimanan kita terhadap hubungan kehidupan dunia dan akhirat terpatri dengan kuat. Selain itu, aturan Islam yang komplit juga menawarkan solusi untuk setiap permasalahan hidup yang kita temui. Pemahaman Islam kayak gini yang akan membiasakan kita untuk berpikir panjang sebelum berbuat. Hawa nafsu dan godaan setan mampu kita tundukkan. Sehingga setiap langkah yang kita ambil bisa memberikan kebaikan. Inilah cerminan dari kedewasaan kita dalam bersikap dan berbuat. Mau dong? Pasti!</p>
<p>Kebebasan berekspresi bagi remaja tidak seharusnya dapet dukungan penuh dari orangtua dan pihak sekolah. Khawatir kebablasan dan menjerumuskan mereka ke dalam kemaksiatan. Ortu dan pihak sekolah akan lebih berperan jika bersedia memfasilitasi dan mengizinkan adanya pengajian yang menjembatani remaja dalam melalui masa transisinya dengan positif. Dan kekhawatiran akan pengaruh buruk lingkungan akan sedikit terkurangi. Sebab ketika remaja jauh dari pantauan orangtua dan pengawasan pihak sekolah, akidah Islam akan menjaganya. Bukankah ini yang kita kehendaki? Mari kita sama-sama dukung pengajian remaja. Yuk? [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 257/Tahun ke-6/15 Agustus 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/usia-remaja-kudu-bebas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Kita Renungkan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/untuk-kita-renungkan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/untuk-kita-renungkan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 07:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/untuk-kita-renungkan/</guid>
		<description><![CDATA[Baca-baca arsip lama di komputer saya ternyata asyik juga tuh. Kebetulan saya memang biasa mengoleksi banyak tulisan. Tentang apa saja dan dari siapa saja. Ada yang hasil browse sendiri dari internet, pun banyak tulisan yang dikirim via e-mail dari teman-teman ke mailing list. Semua itu akan saya pilah dan ditempatkan di folder tertentu yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baca-baca arsip lama di komputer saya ternyata asyik juga tuh. Kebetulan saya memang biasa mengoleksi banyak tulisan. Tentang apa saja dan dari siapa saja. Ada yang hasil browse sendiri dari internet, pun banyak tulisan yang dikirim via e-mail dari teman-teman ke mailing list. Semua itu akan saya pilah dan ditempatkan di folder tertentu yang sudah diberi tanda. Tujuannya, tentu sebagai bahan untuk menulis.</p>
<p>Nah, pas baca artikel tentang renungan yang entah siapa pembuatnya (karena ini sudah banyak dikirim oleh pengirim yang berbeda ke berbagai mailing list yang saya ikuti), saya jadi terinspirasi untuk membuat hal yang sama. Sebagian memang saya modifikasi dan kembangkan lagi, tapi jujur saja inspirasi tulisannya dari artikel tersebut. Jadi, makasih deh kepada â€œentah siapaâ€? yang menjadi penulis pertama â€œrenunganâ€? tersebut. <span id="more-258"></span></p>
<p>Sobat muda muda muslim, barangkali inilah enaknya punya banyak teman dan bergaul dengan mereka (terutama yang baik-baik ya). Kalo ada yang pinter, insya Allah kita kebawa pinter juga. Banyak teman kita yang rajin, maka insya Allah kita pun akan kebawa rajin.</p>
<p>Oya, berikut ini saya tulis ulang dan sedikit dikasih tambahan beberapa kalimat atau mungkin paragraf (karena renungan itu berupa artikel singkat). Apa aja sih? Yuk, kita sama-sama renungkan dalam-dalam:</p>
<p><strong>Sedekah vs belanja</strong><br />
Lucu ya, uang Rp 20.000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.</p>
<p>Jujur saja, kalimat ini begitu kena banget (khususnya kepada saya sendiri). Gimana nggak, kadang seringnya di antara kita ngisi kotak amal di masjid dengan uang recehan. Makanya, kalo pas kotak amal diedarin ke jamaah yang duduk berderet rapi di shaf-nya masing-masing suka terdengar bunyi nyaring tanda uang recehan jatuh menimpa benda keras (apalagi kalo kotaknya terbuat dari kaleng, lebih keras bunyi gemerincingnya).</p>
<p>Mungkin uang itu pecahan seratus, lima ratus, atau seribu rupiah yang logam. Tapi bukan berarti nggak boleh beramal dengan jumlah seperti itu. Jika ikhlas, insya Allah dapet pahala juga dong. Begitu pun sebaliknya, meski yang dimasukkin pecahan lima puluh ribu tapi nggak ikhlas kan sayang juga ya? Mendingan ngasih lima puluh ribu dan ikhlas kan? Hehehe.. itu sih, bagus banget atuh ya.</p>
<p>Terlepas dari nilai â€œikhlasâ€?, kita coba renungkan aja dikit ya, betapa kita masih merasa â€œpelitâ€? untuk bersedekah. Padahal itu buat kita juga amalannya di sisi Allah. Tapi, kita harus merasa â€œroyalâ€? kalo jajan or belanja di mal. Bawa uang 50 ribu rupiah aja serasa masih kurang. Iya nggak? Kalo saya pernah ngerasa demikian. Astaghfirullahâ€¦</p>
<p>Semoga kita, bisa seperti Abdurrahman bin â€?Auf dan sahabat Rasul lainnya yang seperti nggak sayang sama harta. Mereka sedekahkan hartanya untuk urusan di jalan Allah dengan sangat banyak (menurut kita).<br />
? <br />
<strong>Ngaji vs nonton sepakbola</strong><br />
Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk dengerin pengajian, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk nonton pertandingan sepakbola</p>
<p>Yap, memang kadang lucu abis, kalo dengerin pengajian mah rata-rata dari kita baru lima menit berlalu aja mata kita udah merem-melek. Ngantuk! Apalagi kalo sampe harus 45 menit, wah jarang-jarang deh yang bisa bertahan dengan penuh semangat dan aktif dengerin dan bertanya kepada narasumber pengajian.</p>
<p>Tapi kalo kita nonton pertandingan sepakbola di televisi, waktu â€œsetengah mainâ€? itu terasa pendek banget. Kita terhipnotis oleh aksi bintang-bintang lapangan hijau pujaan kita. Kita pun betah menikmatinya. Nggak terasa, 45 menit berlalu singkat banget. Lucu ya?</p>
<p><strong>Doa vs ngobrol</strong><br />
Lucu ya, seringnya kita susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa kepada Allah Swt., tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman dan kata-kata dari mulut kita begitu lancar mengalir.</p>
<p>Hmmâ€¦ abis sholat aja, kadang banyak di antara kita yang buru-buru pulang dari masjid atau mushola. Berdoa seperlunya dan mungkin doanya monoton alias yang diucapkan yang itu-itu aja (bosen nggak sih?).</p>
<p>Okelah, mungkin di antara kita ada keperluan sehingga begitu selesai sholat berjamaah, berdoa sebentar dan keluar dari masjid. Nggak apa-apa, karena sebetulnya berdoa sunnah hukumnya. Cuma, di sini kita sedikit aja merenung dan evaluasi diri: â€œApa iya kalo kita berdoa meminta kepada Allah begitu singkatnya? Begitu buru-burunya? Dan nggak pandai merangkai kata dalam berdoa untuk â€?memikatâ€™ Allah Swt.?â€?</p>
<p>Emang iya sih, Allah Mahatahu apa yang diinginkan hambaNya dalam berdoa, tapi adabnya kan kita kudu sopan. Wong sama orang aja kita sopan dan menghargai. Iya nggak?</p>
<p>Tapi lucunya pas kita ngobrol bareng teman-teman, rangkaian kata dari mulut kita mengalir deras. Nggak ada beban dan lepas aja, gitu. Lain kali ye hawanya? Lucu juga tuh.</p>
<p><strong>Sepakbola vs sholat<br />
</strong>Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan sepakbola favorit kita, tapi betapa bosannya kita bila imam sholat tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.</p>
<p>Eh, jujur aja nih, terutama kalo nonton sepakbola di pertandingan final. Kalo hasilnya seri di waktu normal, maka diadakan perpanjangan waktu. Nah, banyak di antara kita yang betah menikmatinya. Apalagi kalo sampe nontonnya berjamaah di kafe. Dijamin seru abis.</p>
<p>Tapi, kalo bacaan ayat dari sang imam pas sholat tarawih panjang dikit aja, kita langsung pegel-pegel, dan nekat ngejatuhin â€?talak tigaâ€™ untuk nggak sholat di masjid itu lagi kalo imamnya orang tersebut. Walah?</p>
<p>Itu sebabnya, masjid or mushola yang melaksanakan sholat tarawih berjamaah dengan imam sholatnya yang biasa ngebut dengan kecepatan tinggi dalam membaca ayat, pasti membludak jamaahnya. Ckckck.. betapa banyak dari kita yang pengennya instan dan serba cepat dalam hal ibadah.<br />
? <br />
<strong>Baca al-Quran vs baca novel</strong><br />
Lucu ya, susah banget baca al-Quran 1 juz saja, tapi baca novel best sellers 100 halaman pun habis dilalap dalam sekejap dan kita merasa enjoy.</p>
<p>Hihihi.. iya juga ya? Waktu sekolah dulu saya bareng temen-temen pernah baca Wiro Sableng yang judulnya â€œPetaka Gundik Jelitaâ€? dan â€œLima Iblis dari Nankingâ€? antara 1 sampe 2 jam. Dan itu harus ngorbanin baca Fessenden &amp; Fessenden yang nulis Kimia Organik. Padahal besoknya mo ujian kimia. Baca al-Quran? Hmm.. satu halaman kayaknya udah merasa â€œberuntungâ€? deh. Ckckckâ€¦ kenapa ya? Lucu sekaligus sedih kalo mengenang ini.</p>
<p>Rahasianya apa? Mungkin kalo bacaan al-Quran cepet bosen karena nggak ngerti artinya. Mugkin juga. Eh, tapi ada juga teman yang asyik banget baca Harry Potter edisi bahasa Inggris-nya sampe berjam-jam kok. Ya, kita sih khusnudzan saja, mungkin juga baca al-Quran pun doi sanggup berjam-jam dan berjuz-juz. Tapi umumnya, kita suka cepet bosen kan baca al-Quran lama-lama? Lebih sregep baca novel, baca komik, atau lainnya.</p>
<p>Eh, bukan berarti nggak boleh lho. Silakan aja baca novel. Ini juga sekadar renungan, bahwa ternyata kita lebih susah dan lebih banyak malasnya untuk baca al-Quran ketimbang baca bacaan lainnya. Tul nggak?<br />
? <br />
<strong>Konser musik vs shalat jumat</strong><br />
Lucu ya, orang-orang pada berebut untuk dapetin tempat di barisan paling depan ketika nonton konser musik, tapi berebut cari shaf paling belakang bila shalat jumat agar bisa cepat keluar.</p>
<p>Coba deh tengok acara konser musik di televisi, banyak orang rebutan untuk mendapatkan â€?shafâ€™ terdepan biar bisa ngelihat dengan jelas bintang pujaannya, syukur-syukur kalo sampe bisa salaman.</p>
<p>Kalo pun harus bayar, banyak di antara kita yang rela ngeluarin duit untuk nebus tempat strategis di arena konser. Tapi pas sholat jumat mah, nyari tempat di shaf paling belakang biar cepet keluar, atau paling nggak nyari dinding or tiang untuk nyender. Lucu ya?<br />
? <br />
<strong>Dakwah vs gossip<br />
</strong>Lucu ya, susahnya orang diajak untuk partisipasi dalam dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi dalam menyebar gossip.</p>
<p>Ckckckâ€¦ untuk ngajak dakwah susahnya setengah hidup. Alasannya macem-macem. Entah dengan alasan karena belum cukup ilmu, atau karena malu. Sehingga bikin lidah kelu. Tapi begitu ada yang ngomporin untuk ngegossip, lidahnya langsung fasih dan ikut nyebarin lagi. Wuih, aneh ya? Lucu ya?</p>
<p>Padahal, tentu saja, nilai perbuatannya lain banget. Kalo dakwah insya Allah dapet pahala, tapi ngegossip? Selain dibenci orang, juga dibenci Allah Swt. Amit-amit deh. Tapi, kenapa banyak di antara kita yang hobi ngegossip ketimbang semangat dakwah? Semoga menjadi renunganâ€¦</p>
<p><strong>Media massa vs al-Quran</strong><br />
Lucu ya, kita begitu percaya banget pada apa yang disampaikan media massa, tapi kita sering mempertanyakan apa yang disampaikan al-Quran.</p>
<p>Jujur saja, media massa saat ini menjadi salah satu kekuatan untuk melakukan perubahan sosial, politik, ekonomi dsb. Banyak dari kita yang percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan media massa. Kasus peledakkan bom di London awal Juli lalu, media massa hampir di seluruh dunia langsung â€œmenudingâ€? Islam dan kaum muslimin berada di balik serangan tersebut.</p>
<p>Eh, kita yang baca, banyak juga yang kemudian terprovokasi dan ikut-ikutan menjatuhkan vonis kepada Islam dan umatnya. Apa nggak bahaya banget tuh?</p>
<p>Tapi kita, kaum muslimin, ada juga yang masih mempertanyakan apa yang disampaikan oleh al-Quran. Isinya diutak-atik dan dipersepsi sendiri demi keuntungan dan tujuan tertentu. Kebalik-balik memang. Padahal, dalam surat al-Baqarah ayat 2 saja Allah Swt. sudah menjamin bahwa al-Quran itu â€œlaaroiba fiihiâ€? alias tidak ada keraguan di dalamnya. Nggak cuma itu, ayat tersebut melanjutkan (yang artinya): â€œpetunjuk bagi mereka yang bertakwaâ€?.</p>
<p>Yap, al-Quran itu pasti kebenarannya, dan sekaligus petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Jadi, mengapa harus mempertanyakan lagi apa yang disampaikan Allah dalam al-Quran? Tapi dalam waktu bersamaan, kita lebih percaya kepada media massa (bahkan ada yang sampe nggak perlu ngecek kebenarannya), padahal nggak jarang isinya berupa â€?kabar burungâ€™ dan juga informasi yang sesat dan menyesatkan.</p>
<p><strong>Surga pengen, beramal ogah</strong><br />
Lucu ya, pengen masuk surga, tapi ogah beramal. Hmm.. ini sih bukan hanya lucu, tapi juga aneh bin ajaib. Emangnya surga gratis? Nggak lha yauw. Kita-kita aja masih was-was, khawatir amalan baik selama ini nggak keterima karena mungkin nggak ikhlas. Lebih sedih lagi seharusnya jika kita berharap surga tapi nggak pernah (atau sedikit) beramal baik.</p>
<p>Sobat muda muslim, banyak di antara kita yang kepengen masuk surga, tapi diminta untuk sholat aja susahnya setengah mati. Banyak juga di antara kita yang pengen dapetin surgaNya, tapi diminta untuk taat dan patuh sama ajarannya aja ogah. Itu sih sama artinya ngarepin dapet uang pensiun tapi tanpa kerja selagi usia produktif. Lucu dan aneh banget kan?</p>
<p>Pengen masuk surga tapi tanpa?  beriman dan tanpa beramal sholeh, kira-kira mungkin nggak? Mimpi kali ye!</p>
<p>Ini sedikit renungan aja buat kita semua. Semoga kita mulai berbenah dalam hidup ini. Mumpung masih muda. Selagi mudah untuk melakukan berbagai amal kebaikan, jangan sia-siakan waktu kita. Kita bisa berbuat lebih banyak. Karena kita nggak pernah tahu kapan kita dijemput oleh Malaikat Ijroil untuk menghadap Allah Swt. dan mempertanggung-jawabkan perbuatan kita selama di dunia. Mumpung masih ada waktu, sebisa mungkin kita mengumpulkan banyak amal baik untuk bekal di akhirat kelak.</p>
<p>Rasul mulia saw. telah bersabda: â€œBersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.â€? (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Taâ€™ala untuk melakukan amalan yang baik sesuai ajaran Islam. Ditanamkan dalam hati kita untuk gampang menerima kebenaran dan mengamalkannya. Semoga. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 256/Tahun ke-6/8 Agustus 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/untuk-kita-renungkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajar Kok Bunuh Diri?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pelajar-kok-bunuh-diri</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pelajar-kok-bunuh-diri#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 11:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pelajar-kok-bunuh-diri/</guid>
		<description><![CDATA[Jumat (15/7) petang lalu, penduduk Desa Cikiwul, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, dikagetkan dengan peristiwa bunuh diri seorang siswi SMP 10 Bantar Gebang. Vivi Kusrini nekat mengakhiri hidup dengan menggantung diri memakai seutas tali di kamar mandi rumahnya. Menurut penuturan sang Ayah, mungkin alasan vivi gantung diri karena malu sering diejek teman sekolahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat (15/7) petang lalu, penduduk Desa Cikiwul, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, dikagetkan dengan peristiwa bunuh diri seorang siswi SMP 10 Bantar Gebang. Vivi Kusrini nekat mengakhiri hidup dengan menggantung diri memakai seutas tali di kamar mandi rumahnya. Menurut penuturan sang Ayah, mungkin alasan vivi gantung diri karena malu sering diejek teman sekolahnya sebagai anak tukang bubur. Apalagi menjelang tahun ajaran baru ini Vivi belum punya seragam sekolah. (liputan6.com, 16/07/2005)<span id="more-257"></span></p>
<p>Kejadian serupa juga menimpa Oman, seorang pelajar kelas enam Sekolah Dasar Karang Asih 04, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/6/2004), yang nekat meminum racun tikus karena tidak mempunyai uang untuk membayar biaya ujian akhir nasional (UAN) sebesar seratus ribu rupiah. Kasus Oman ini mengingatkan kembali kasus bunuh diri yang dilakukan Haryanto, murid SD Megeri Sanding IV Garut, Jawa Barat, pada tahun 2003. Hariyanto juga mencoba bunuh diri karena tidak mampu membayar uang ekstrakurikuler sebesar Rp 2.500 (liputan6.com, 05/06/2004)</p>
<p>Parahnya, gejala bunuh diri yang dilakukan pelajar juga merembet pada anak usia prasekolah. Diduga gara-gara dimarahi ibunya karena tidak mau disuruh mandi, seorang bocah di Blora, Sabtu (14/5) nekad bunuh diri. Renaldi Sembiring (5,9 tahun), pelajar Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi, Kelurahan Tempelen Kecamatan/Kota Blora Jawa Tengah, ditemukan tergantung di tali plastik jemuran yang berada di kayu penyangga atap dalam ruangan kosong di rumah yang berlokasi di komplek Rumah Dinas Hakim PN Blora, Kelurahan Tempelen Blora. (Republika, 15/05/2005)</p>
<p>Sobat, maraknya kasus bunuh diri yang menimpa pelajar, bikin hati kita prihatin bin terenyuh. Prihatin, lantaran mereka selaku pelajar adalah generasi harapan masa depan negeri ini. Dan tentu terenyuh mengingat usia mereka yang masih belia. Sedih rasanya menyaksikan satu per satu dari mereka kudu mengakhiri hidupnya dengan tragis. Bukannya menggantungkan cita-cita setinggi langit, malah gantung diri pake seutas tali. Piye iki?</p>
<p><strong>Kenapa mesti bunuh diri?</strong><br />
Kalo kita perhatikan (ciee kayak pengamat politik aja), kayaknya ada misspersepsi di kalangan anak (terutama pelajar) tentang cara mengatasi masalah yang dihadapinya. Mereka menganggap bunuh diri sebagai jalan keluar yang praktis dan mudah untuk mengakhiri masalah. Atau bisa juga sebagai ungkapan dari rasa kecewanya. Nggak pake mikir or nyadar kalo bunuh diri itu termasuk perbuatan dosa besar dan bakal dapet siksa di akhirat.</p>
<p>Allah Swt. sudah menjelaskan tentang larangan untuk melakukan bunuh diri. Seperti dalam salah satu ayat dalam al-Quran:</p>
<p>?ˆ???„?§?? ?????‚?’?????„???ˆ?§ ?£???†?’?????³???ƒ???…?’ ?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ƒ???§?†?? ?¨???ƒ???…?’ ?±???­?????…?‹?§<br />
â€œDan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.â€? (QS an-Nisaa` [4]: 29)</p>
<p>Rasulullah saw. juga bersabda dalam sebuah hadis: â€œBarangsiapa yang mencekik lehernya, ia akan mencekik lehernya sendiri di neraka. Dan barang siapa yang menusuk dirinya, ia akan menusuk dirinya sendiri di neraka.â€? [HR Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Dari beberapa kejadian di atas, ada tiga motif yang umumnya memancing para pelajar itu berbuat nekat melakukan bunuh diri.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kesulitan ekonomi. Ketika biaya pendidikan di negeri kita kian mahal, para pelajar itu kudu berhadapan dengan ekonomi keluarga yang pas-pasan. Padahal orang tua mereka udah banting tulang plus peras keringat biar anaknya bisa mengenyam pendidikan formal. Tapi ternyata, bisa sekolah aja belon cukup. Sebab mereka kudu mengeluarkan kocek lagi untuk biaya ujian, seragam, buku, ekstra kulikuler dan lainnya. Walhasil, rasa malu van minder dengan mudah menghinggapi pelajar yang tak bisa memenuhi tuntutan biaya pendidikan. Kalo nggak kuat iman, nasibnya bisa ngikutin jejak Vivi atau Oman. Gaswat banget kan?</p>
<p><strong>Kedua</strong>, hubungan keluarga yang kurang harmonis. Masih ada orang tua atau sang kakak mengekspresikan rasa sayangnya kepada adik dengan kemarahan ketika berselisih. Seolah-olah yang paling muda selalu salah. Sang adik masih dianggap anak kecil yang nggak punya hak untuk bicara atau membela diri. Parahnya, ungkapan kekecewaan seorang adik kepada kakaknya atau kepada orang tua sering nggak dapet tempat dalam keluarga. Anak jadi ngerasa sendiri. Tak ada yang memperhatikan. Akhirnya, mereka pun mengambil keputusan â€?pensiun diniâ€™ dari kehidupan dunia. Seperti yang terjadi pada Priyo atau Renaldi Sembiring.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, dampak negatif pemberitaan media. Menurut Wakil Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jabar, Ir. H. Zulkarnaen, media massa baik cetak maupun elektronik juga ikut â€œmenyumbangkanâ€? dampak negatif, karena anak-anak belum memiliki filter. â€œSeperti kasus bunuh diri Haryanto (â€œPRâ€?, 13/8-2003) yang diberitakan besar-besaran oleh media massa dengan banjirnya bantuan dari pejabat sampai artis. Anak-anak yang tidak paham meyakini enaknya bunuh diri sebab mendapat hadiah uang cukup banyak.â€?</p>
<p>Padahal seharusnya peran media massa bisa lebih mengedepankan unsur edukasi kepada masyarakat. Bukan menginspirasi supaya berbuat yang sama. Sepertinya nggak ada standar nilai yang dipake media untuk menentukan perbuatan tersebut salah atau benar. Sehingga opini di tengah masyarakat dibiarkan mengambang atau diarahkan untuk setuju dan diam terhadap kemaksiatan yang terjadi di depan mata. Parahnya, di era kapitalis kayak gini, standar nilai yang dipake pihak media adalah rating tinggi dan membanjirnya iklan. Unsur pendidikan? Dipending aja dulu kali yaâ€¦!</p>
<p><strong>Hidup itu indah sobat&#8230;<br />
</strong>Sobat, dalam menjalani kehidupan ini, berbagai tuntutan kebutuhan hidup datang silih berganti nggak kenal situasi dan kondisi. Sementara kemampuan yang kita miliki terbatas alias nggak stabil. Ketika tuntutan kebutuhan hidup tak sejalan dengan kemampuan, timbullah permasalahan. Ini yang bikin kita ngerasa hidup itu begitu menekan, sulit, dan penuh dengan penderitaan (hihihi..kaya lirik lagu dangdut). Sampe-sampe kita kalungkan predikat musibah untuk setiap masalah yang menghampiri kita. Tepatkah predikat itu?</p>
<p>Nggak sobat. Rugi kalo kita anggap sebuah masalah itu adalah musibah. Segenap jiwa raga, waktu, pikiran, dan tenaga kita bakal terkuras habis untuk menghindari masalah. Akibatnya, panca indera kita seolah mati rasa untuk menikmati segala anugerah yang Allah berikan dan merasakan hal-hal yang menarik dalam hidup kita. Padahal mereka yang tergolek lemah di rumah sakit pengen cepet sembuh biar bisa menikmati hangatnya sinar mentari pagi. Malah ada yang kudu bayar ratusan ribu untuk menghirup udara segar dari tabung oksigen. Sementara kita bisa mendapatkannya dengan cuma-cuma setiap pagi. Masihkah kita ngerasa hidup itu sulit?</p>
<p>Kesulitan hidup adalah bagian dari kenikmatan yang Allah berikan pada kita. Makanya nikmatilah kesulitan itu dengan selalu berpikir positif. Dengan berpikir positif, mata kita akan lebih terbuka, hati kita akan lebih peka, dan pikiran kita lebih leluasa memandang sebuah permasalahan dari berbagai sisi. Dan ternyata, Allah nggak akan pernah ngasih beban hidup di luar kemampuan kita. Harapan ini yang harus kita pegang. Agar kita punya alasan yang kuat untuk tetap hidup demi meraih ridho Allah dalam kehidupan dunia.</p>
<p>Coba sesekali kita ikut prosesi perlakuan terhadap jenazah. Mulai dari memandikan, mengkafani, mensholatkan, sampe menguburkan. Kita bisa lihat, orang yang sudah wafat nggak bisa apa-apa (apa pernah dengar jenazah bisa mandi sendiri?). Pintu taubat dan ladang pahala sudah tertutup baginya. Ini menunjukkan betapa berharganya hidup kita. Karena kita masih punya kesempatan untuk bertobat, berburu ridho Allah, dan mensyukuri kenikmatan yang diberikanNya. Nikmat iman, Islam, sehat, sakit, bahagia, atau sedih. Ini yang bikin hidup kita indah.</p>
<p>Keindahan hidup nggak diukur dari panjang-pendeknya umur atau kaya-miskinnya kita. Tapi dilihat dari usaha kita mengisi hidup. Pilihannya cuma dua, dengan ketaatan atau kemaksiatan. Sebab keindahan hidup, tidak seharusnya hanya kita rasakan di dunia saja. Tapi juga di akhirat. Dan ketaatan terhadap aturan Allah Swt. dalam menjalani hidup menjadi kunci untuk mendapatkan keindahan hidup dunia dan akhirat. Makanya, bangkit dan hadapilah setiap tantangan hidup dengan berpegang pada aturan Islam. Percaya deh, kita pasti bisa melaluinya. Terlalu berharga hidup ini jika harus diakhiri dengan cara bunuh diri. Selain dosa, juga sia-sia. Double kan ruginya?</p>
<p><strong>Jangan sampai terulang lagi<br />
</strong>Bener sobat, harus ada peran serta dari negara, sekolah, keluarga, dan remaja itu sendiri agar kasus bunuh diri yang dilakukan para pelajar seperti di atas tidak terulang lagi.</p>
<p>Negara dalam hal ini sangat berkepentingan untuk memberikan jaminan kesejahteraan, terutama pada rakyat miskin. Jaminan itu bisa berupa terpenuhinya kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan); biaya pendidikan dan ongkos kesehatan yang murah atau gratis. Sehingga alasan ekonomi tidak lagi memicu orang untuk melakukan aksi bunuh diri. Selain itu, negara juga kudu rajin memberikan â€œsiraman rohaniâ€? lewat program yang benar di media massa, sehingga mental masyarakat kuat dan tak mudah putus asa dalam menjalani kehidupan ini. Kondisi ini bakal mudah terpenuhi jika negara pake aturan Islam untuk ngatur rakyatnya. Kalo sekarang? Lihat aja hasil buruk akibat diterapkannya sistem kapitalisme. Betul?</p>
<p>Pihak sekolah tidak seharusnya mengarahkan siswa hanya untuk mengejar nilai mata pelajaran. Sementara perkembangan jiwa dan psikologinya dibiarkan tandus. Akibatnya, seperti dituturkan Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo, siswa tak punya life skills untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata. Sehingga jiwanya rapuh dan mudah terguncang. Adanya pengajian yang diagendakan sekolah, bisa menjadi alternatif untuk menyokong emotional intelegencia yang diperlukan siswa untuk memupuk perkembangan jiwanya ke arah positif.</p>
<p>Keluarga, idealnya bisa menjadi â€?katup pengamanâ€™ bagi para pelajar dalam menghadapi masalah sosialnya. Jika ada masalah di sekolah atau dengan temannya, ia bisa memperoleh solusi di keluarganya. Pembicaraan dari hati ke hati antara orang tua dan anak atau antar anggota keluarga, bisa membantu mencairkan kekecewaan yang dialami anak serta membesarkan hatinya. Sehingga bunuh diri tidak menjadi pilihan mereka dalam menyelesaikan masalahnya.</p>
<p>Dan yang terakhir, mungkin temen remaja kurang mendapatkan dasar ilmu agama yang bisa â€?memaksaâ€™ mereka untuk selalu berpikir akan pahala dan dosa sebelum berbuat sesuatu. Padahal ilmu agama (Islam) menjadi benteng terakhir yang dimiliki kita dalam menghadapi setiap masalah agar tidak salah jalan. Dan emang udah seharusnya setiap muslim giat mengkaji Islam lebih dalam dan lebih detil dengan serius dan penuh semangat.</p>
<p>Tujuannya? Untuk mendapatkan petunjuk hidup yang jelas dan benar. Sehingga, dalam keadaan suka dan duka, ia akan selalu ingat kepada Allah dan jalan keluar yang ditawarkan Islam. Nggak akan milih jalan lain yang belum jelas (apalagi nggak benar). Sebab, dengan menempuh jalan yang benar, kita merasa tentram dan aman. Nggak was-was lagi menjalani hidup yang penuh â€?kejutanâ€™ ini.? </p>
<p>Oke deh, daripada bunuh diri, mending bunuh tuh rasa malas yang ngendon dalam diri kita pas mau ikut pengajian. Berani? Siapa takut! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 255/Tahun ke-6/1 Agustus 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pelajar-kok-bunuh-diri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Working Women</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/working-women</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/working-women#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 11:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/working-women/</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan bekerja, bukan hal asing lagi di jaman sekarang. Mulai dari bidang berat seperti di perindustrian dengan menjadi tenaga yang menggerakkan roda-roda mesin, jadi kuli bangunan hingga ke bidang yang emang sesuai dengan fitrahnya seperti jadi perawat or guru. Semua seakan berlomba-lomba untuk mendapatkan lahan pekerjaan di sektor publik. Bahkan karena tidak mencukupinya lahan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perempuan bekerja, bukan hal asing lagi di jaman sekarang. Mulai dari bidang berat seperti di perindustrian dengan menjadi tenaga yang menggerakkan roda-roda mesin, jadi kuli bangunan hingga ke bidang yang emang sesuai dengan fitrahnya seperti jadi perawat or guru.</p>
<p>Semua seakan berlomba-lomba untuk mendapatkan lahan pekerjaan di sektor publik. Bahkan karena tidak mencukupinya lahan di dalam negeri, banyak dari para perempuan yang eksodus ke luar negeri dengan menjadi TKW alias Tenaga Kerja Wanita. Kalo kita mau mencermati mereka yang disebut TKW ini biasanya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang. Hayoâ€¦mana ada professor Indonesia yang menjadi dosen di perguruan tinggi luar negeri disebut TKW? Nggak kan? Sebutannya pasti bukan TKW.<span id="more-256"></span></p>
<p>Bukan masalah penyebutan ini yang bakal kita bahas di topik Studia kali ini. Tapi ramainya perempuan di sektor publik inilah, sebab musababnya, fenomena kemunculannya hingga sejauh mana hak perempuan dilindungi dikaitkan dengan sistem Islam dan bagaimana cara mengaturnya. Duh..berat yah? Ahâ€¦nggak juga. Lanjut yuk? Siapa takut!</p>
<p><strong>Working women, beginilah nasibmu&#8230;<br />
</strong>Pernah gak kamu baca surat kabar atau menyimak acara berita di TV tentang nasib para TKW ini? Ato jangan-jangan ketika kamu baca surat kabar cuma kolom gossip artis dan jadwal sinema aja yang kamu buka. Ato bila nonton TV, maka acara infotainment jadi pilihan? Wahâ€¦kamu bakal jadi remaja yang kuper (kurang pergaulan) dan kupeng (kurang pengetahuan) kalo gitu. Sorry ya, Non.</p>
<p>Nasib TKW ato nama kerennya working women, baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri sesungguhnya gak beda jauh. Bedanya mungkin bagi mereka yang jadi TKW di luar negeri mempunyai prestise tersendiri karena pernah ke Singapura, Malaysia, Hongkong atau bahkan Arab Saudi. Pulang-pulang bawa duit banyak dan membeli selusin sapi dan berhektar-hektar sawah.</p>
<p>Eits, tapi jangan salah. Disamping kesuksesan para TKW yang mampu membawa devisa bagi negara itu, sesungguhnya nasib ribuan yang lainnya jauh merana. Banyak diberitakan media massa bahwa ada TKW asal Lampung yang terancam hukuman mati di Singapura. Belum lagi yang ramai diberitakan baru-baru ini adalah TKW yang bekerja di Arab Saudi yang disiksa oleh majikannya. Dan masih banyak lagi kasus TKW yang tidak terekspos.</p>
<p>Sedangkan jadi TKW di negeri sendiri seringnya jadi pembokat orang kaya dengan gaji standar yang seringkali di bawah UMR (Upah Minimum Regional). Sudah bukan rahasia lagi kalo rata-rata orang Indonesia itu terkenal malasnya (terutama orang-orang berduit) untuk melakukan pekerjaan domestik semacam mencuci baju, piring, bersihin rumah, nyuci kendaraan, dll. Mereka cenderung mengambil pembantu rumah tangga yang seringkali diperlakukan semena-mena. Naudzhubillah.</p>
<p>Fakta TKW negeri sendiri juga banyak dijumpai di pabrik-pabrik sebagai buruh. Mereka bekerja enam hari seminggu dan lebih dari delapan jam per hari dengan upah yang sangat minim. Ketika UMR berkisar sekitar lima ratus ribu rupiah untuk saat ini, mereka para buruh itu menerima gaji jauh di bawah itu. Belum lagi apabila tidak masuk kerja karena alasan tententu, sakit atau keperluan keluarga misalnya, maka potongan gajinya jauh lebih besar daripada pendapatannya. Bisa-bisa mereka cuma kerja bakti selama menjadi buruh di pabrik itu. Mengenaskan banget!</p>
<p>Ini masih fenomena TKW yang bergerak di sektor domestik dan buruh. Belum lagi kita bicara tentang perempuan yang bergerak di sektor lain semisal guru, perawat, pegawai kantoran, atau bahkan eksekutif muda. Begitu banyak PR yang harus dipikirkan berkaitan dengan kondisi para tenaga kerja wanita ini.</p>
<p><strong>Kenapa bisa begitu?<br />
</strong>Sistem yang diterapkan atas kita saat ini adalah sistem kapitalisme dengan asas liberalisasinya. Inilah akar masalah munculnya fenomena TKW ini. Ketika semua ukurannya jadi materi, perempuan yang â€?sekadarâ€™ menjadi ibu rumah tangga dianggap tidak produktif. Produktif dalam isi kepala kapitalis adalah mengerjakan sesuatu yang itu nantinya bisa menghasilkan uang.</p>
<p>Perempuan-perempuan yang semula bangga dan bahagia menjadi ibu rumah tangga diperdaya untuk keluar rumah atas nama emansipasi dan kesetaraan gender. Mereka tak lagi puas berdiam diri di rumah untuk mendidik anak dan menjadi pendamping setia sang suami. Bahkan ketika harta sudah berkecukupan pun serasa ada yang kurang bila ibu hanya tinggal di rumah. Jadilah mereka mulai mencari eksistensi dirinya dengan bekerja atau aktif di luar rumah.</p>
<p>Padahal di sisi lain, begitu banyak perempuan keluar rumah untuk bekerja bukan karena gengsi, tapi murni karena tuntutan ekonomi. Misalnya, karena terlahir dari keluarga yang miskin dan tidak ada saudara laki-laki yang menafkahi. Atau bila pun ada saudara laki-laki tetapi karena pemahaman Islam yang minim, sehingga tidak merasa wajib menghidupi adik atau kakak perempuannya.</p>
<p>Inilah lingkaran setan yang diciptakan oleh sistem sekularisme. Ketika agama hanya digunakan untuk mengurusi urusan manusia dengan tuhannya, dan kehidupan dunia diserahkan pada akal manusia untuk mengaturnya. Kacau bin balau, Neng.</p>
<p>Kondisi ini emang sengaja diciptakan untuk ada. Eksisnya sebuah ideologi tidak bisa bersanding dengan ideologi yang lain. Begitu juga dengan kapitalisme. Runtuhnya Sosialisme-Komunisme sebagai tandingannya, mereka menoleh pada Islam sebagai ancaman. Maka sebelum Islam sebagai ideologi ini muncul, diantisipasilah dengan cara menyeret para muslimahnya ke ruang publik. Demi sebuah eksistensi, kata kalangan atas. Demi sesuap nasi, kata kalangan bawah.</p>
<p>Lalu gimana dong Islam menyikapi persoalan TKW ini dengan benar dan bijak?</p>
<p><strong>Islam juga mengurus TKW<br />
</strong>Islam adalah aturan hidup yang lengkap, kita yakin itu. Tidak ada satu persoalan pun yang lepas dari solusi Islam. Termasuk masalah TKW ini. Perempuan dalam Islam begitu mulia dan dilindungi. Tidak ada kewajiban untuk bekerja sebagaimana dibebankan pada laki-laki. Bahkan kewajiban para laki-laki yang berstatus bapak, suami, kakak atau adik laki-laki untuk menafkahi perempuan.</p>
<p>Kewajiban laki-laki dan hak perempuan ini dibuat oleh Yang Maha Mengetahui tentang hakikat manusia. Perempuan dengan seluruh fitrahnya begitu halus dan lembut. Ia telah diberi amanah untuk mengandung dan melahirkan, sesuatu yang tidak dimiliki oleh kaum Adam. Sehingga karena fungsinya keperempuanannya inilah, Islam mengatur hukum bekerja baginya.</p>
<p>Dalam kehidupan Islam yang ideal, perempuan tidak ada kewajiban sedikit pun baginya untuk bekerja. Bila pun ia memang memiliki potensi yang bermanfaat untuk umat sesuai dengan fitrahnya, semisal dengan menjadi guru dan dokter, maka ada syarat-syarat yang harus diperhatikan ketika keluar rumah.</p>
<p>Menutup aurat dengan berkerudung dan berjilbab adalah wajib bagi perempuan. Lalu diperhatikan pula lingkungan tempatnya bekerja apakah ikhtilat/campur baur ataukah tidak. Bidang pekerjaan apa yang ditekuninya, sesuai dengan fitrahnya ataukah tidak. Jangan sampai sudah menutup aurat dan tidak ikhtilat tapi pekerjaannya ternyata mengayuh becak. Duhâ€¦ tega nian. Bukan bermaksud meremehkan satu pekerjaan tertentu, tapi lihatlah perempuan secara fitrah, fisiknya tidak sekuat laki-laki. Perhatikan tekstur kulit dan tulangnya, beda banget. Belum lagi setiap bulan harus dikunjungi â€?tamuâ€™ tertentu yang akan semakin menambah lemah tubuhnya.</p>
<p>Karena itulah Islam tahu betul tentang hal ini. Dalam pandangan Islam, perempuan tuh mubah hukumnya untuk bekerja. Selama aktivitas mubah ini dilakukan dengan tidak mengabaikan yang wajib seperti menjadi pengurus rumah tangga dan pendidik utama bagi anak-anaknya, maka bekerja adalah sah-sah aja bagi perempuan.</p>
<p>Bandingkan dengan sistem kapitalisme yang begitu kejam dengan perempuan tapi berkedok emansipasi. Perempuan-perempuan ditarik ke sektor publik, digiring ke pabrik-pabrik untuk menjadi penggerak roda perindustrian. Mereka dibayar dengan gaji lebih murah daripada laki-laki, Tau nggak kamu fakta di lapangan bahwa betapa banyak perempuan yang tidak boleh ambil cuti ketika nyeri masa haid datang. Belum lagi cuti melahirkan yang begitu singkat. Hanya dengan dua atau tiga bulan mereka harus kembali bekerja lagi. Anak yang seharusnya mendapat ASI hingga 2 tahun akhirnya harus menjadi â€?anak sapiâ€™ karena terlalu banyak minum susu sapi.</p>
<p>Belum lagi pendidikan anak yang diserahkan begitu saja kepada pembantu dan televisi karena sibuknya sang ibu. Kalo udah begini kondisinya, lalu kualitas generasi mendatang kayak apa neh yang bisa kita harapkan?</p>
<p>Memang sih perempuan boleh bekerja. Tapi yang utama haruslah mendapat ijin dari walinya dulu. Kalo masih gadis berarti ayahnya yang menjadi wali. Bila sudah menikah maka suaminya adalah wali dari si perempuan. Tanpa ijin dari walinya, maka sesungguhnya haramlah bagi perempuan untuk keluar rumah.</p>
<p>Kalo boleh nyaranin nih yah, profesi â€?amanâ€™ sebagai wiraswastawati (ingat ibunda Khadijah kan?) atau sebagai penulis (seperti saya ini.. heheheâ€¦ pede banget!) adalah alternatif untuk perempuan memilih profesi. Atau bisa juga sebagai guru, dosen, perawat, dokter dan profesi lain yang sesuai dengan fitrah perempuan. Tentunya dengan tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai â€œibu dan pengatur rumah tangganyaâ€?.</p>
<p>Sayangnya, ketika tidak diterapkannya sstem Islam, semua memang serba salah. Ketika wali mengijinkan perempuan untuk keluar rumah, kondisi situasi kerja yang tidak kondusif bagi perempuan adalah kenyataan yang harus dihadapi. Penjagaan dan perlindungan perempuan ketika keluar rumah minim sekali. Sedangkan bila ayah atau suami sendiri yang?  banting tulang mencari nafkah, masih saja belum mencukupi untuk keperluan rumah tangga. Jadilah perempuan juga ambil bagian untuk menjaga agar dapur rumah tetap mengepul.</p>
<p>So, ternyata masalah TKW atau working women ini bukan melulu masalah ekonomi atau sekadar aktualisasi diri. Tapi ada masalah mendasar alias sistem yang melingkupinya. Ini juga kalo gak bisa dibilang malah akar permasalahan dari semua keruwetan yang ada. Trus, gimana dong?</p>
<p>Apa iya, meski miskin perempuan gak usah kerja dan harus pasrah aja? Apa iya, mereka yang diberi anugerah Allah dengan segudang potensi disimpan aja di dalam rumah dengan alasan kondisi gak sesuai syaraâ€™? Apa iya, gak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah kondisi ini? Padahal dalam al-Quran, Allah sendiri yang berfirman: â€œSesungguhnya Allah tidak mengubah nasib (keadaan) sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.â€? (QS ar-Raâ€™d [13]: 11)</p>
<p>Ngaji dan dakwahkan jawabnya. Di mana pun kamu para muslimah bekerja, entah karena tuntutan ekonomi keluarga ataupun memaksimalkan potensi diri, yang penting jangan berdiam diri. Jangan sampai waktumu hanya habis untuk bekerja saja. Tapi yang utama kemauan untuk mengubah kondisi tidak ideal ini (sistem kapitalisme yang melingkupi kita) dengan sistem ideal yaitu sistem Islam.</p>
<p>Benar juga apa yang dituliskan Pierre Crabbites, dalam artikel â€?Paham Muhammad terhadap Kaum Wanitaâ€™: â€œTiga belas abad silam, Muhammad memberikan jaminan kepada kaum ibu, para isteri, dan anak-anak perempuan muslimah dengan mengangkat derajat mereka, yang pada galibnya belum pernah diterapkan terhadap kaum wanita pada sistem perundang-undangan yang berlaku di Barat!â€?</p>
<p>Oya, untuk berjuang mengubah kondisi ini gak mungkin bisa kamu lakukan tanpa kamu sendiri tahu gimana Islam ngasih solusi. Dan itu semua gak bisa kamu dapatkan tanpa ngaji. Tanpa belajar. So, yok ayok kita kaji Islam sebagai bekal mengubah nasib TKW yang banyak kisah pilunya ini menjadi kondisi ideal dengan Islam saja sebagai ideologinya. Setuju kan? Harus itu! [riafariana]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 254/Tahun ke-6/25 Juli 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/working-women/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Jadi Waria?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengapa-harus-jadi-waria</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengapa-harus-jadi-waria#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 11:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mengapa-harus-jadi-waria/</guid>
		<description><![CDATA[Jangan ganggu banciiii.!/jangan ganggu banciiii..!/jangan ganggu banciiii&#8230;.!/jangan, ganggu&#8230;.!â€? Penggalan lirik lagu terbaru dari Project Pop ini kian mengakrabkan kosakata â€?banciâ€™ di telinga kita. Dan kayaknya, bukan cuma kosakatanya aja yang makin dekat dengan kita, tapi juga wujud aslinya. Buktinya, Ahad 26 Juni lalu komunitas banci, bencong, waria, atau wadam berani ngegelar hajatan gede-gedean dalam acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan ganggu banciiii.!/jangan ganggu banciiii..!/jangan ganggu banciiii&#8230;.!/jangan, ganggu&#8230;.!â€?<br />
Penggalan lirik lagu terbaru dari Project Pop ini kian mengakrabkan kosakata â€?banciâ€™ di telinga kita. Dan kayaknya, bukan cuma kosakatanya aja yang makin dekat dengan kita, tapi juga wujud aslinya. Buktinya, Ahad 26 Juni lalu komunitas banci, bencong, waria, atau wadam berani ngegelar hajatan gede-gedean dalam acara pemilihan Miss Waria Indonesia 2005 di Gedung Sarinah Lt. 14,?  Jakarta. Meski sempet diancam laskar FPI bakal dibubarkan, kontes itu jalan terus. Urusan kayak gini, emang negara yang kudu turun tangan untuk menyelesaikannya.<span id="more-255"></span></p>
<p>Sebanyak 30 waria dari berbagai daerah mengikuti kontes ini. Mereka menunjukkan kebolehan masing-masing seperti bernyanyi, menari, dan tentunya berperilaku plus berdandan seperti wanita. Olivia, kontestan dari Jakarta, akhirnya terpilih sebagai Miss Waria Indonesia 2005. Penyematan mahkota langsung dilakukan Miss Waria Indonesia 2004 Megi Megawati. Menurut ketua dewan juri Ria Irawan, salah satu penilaian adalah kesempurnaan fisik peserta yang menyerupai wanita. (Liputan 6, 27/06/05)</p>
<p>Nggak cuma berlomba tampil cantik, para waria juga berusaha nunjukkin kalo mereka punya skill. Sebut saja Merlyn Sopjan, seorang penulis buku Jangan Lihat Kelaminku. Waria lulusan Institut Teknologi Nasional Malang ini pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif Kota Malang mewakili Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia pada 2003. Waria cantik kelahiran Kediri ini bahkan dianugerahi gelar Doktor HC dari Northern California Global University Amerika karena keterlibatannya sebagai aktivis sosial HIV/AIDS. Ketua Ikatan Waria Malang yang pernah menjadi Ratu Waria Indonesia 1995 ini akan mengikuti kontes Miss Internasional Waria di Thailand November mendatang. (Suara Merdeka, 12/05/2005)</p>
<p>Selain Merlyn, ada juga Shunniyah R.H, seorang waria berkerudung (atau sengaja dikerudungin untuk mengesankan simbol islami?) yang menulis buku berjudul Jangan Lepas Jilbabku. Doi adalah alumni UGM Yogyakarta jurusan sospol dengan predikat cum laude dalam waktu 3 tahun 40 hari.</p>
<p>Inilah beberapa aksi dan prestasi dari para pria cantik ini demi mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Sebab seperti yang udah sering diberitakan media massa, negeri kita yang dihuni mayoritas muslim ini masih banyak yang belum bisa menerima keberadaan mereka. Maklumlah, perilaku dan dandanan mereka yang menyerupai wanita, terlihat ganjil jika mengingat statusnya sebagai lelaki. Gagah gemulai, cantik berotot, tentu dengan gaya bicara yang dibuat segenit mungkin. Kok bisa ya? Makanya kita cari tahu. Yuk!</p>
<p><strong>Menjadi waria sebuah kodrat?<br />
</strong>Ario Pamungkas alias Merlyn Sopjan pernah menuturkan, â€œKami tak pernah meminta dilahirkan sebagai wariaâ€?. Bagi Ario, dengan mendandani diri seperti perempuan, ia mendapatkan kenikmatan batin yang begitu dalam. Ia seolah berhasil melepas beban psikologi yang selama ini masih memberatkannya. (Republika, 29/10/2004)</p>
<p>Waria, menurut Pakar Kesehatan Masyarakat dan pemerhati waria dr Mamoto Gultom, adalah subkomunitas dari manusia normal. Bukan sebuah gejala psikologi, tetapi sesuatu yang biologis. Kaum ini berada pada wilayah transgender: perempuan yang terperangkap dalam tubuh lelaki. (Kompas, 07/04/2002).</p>
<p>Kenapa orang bisa menjadi waria, menurut Guru besar psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan (jawapos.com, 08/06/2005)</p>
<p>Sobat, boleh jadi pada diri laki-laki terdapat sisi feminin yang Allah anugerahkan. Tapi nggak lantas dengan alasan itu, laki-laki dibolehkan jadi waria. Nggak sobat. Karena pada hakikatnya, seperti penuturan Prof. Dr. Koentjoro, kecenderungan menjadi waria lebih diakibatkan oleh salah asuh atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Bukan penyakit turunan atau karena urusan genetik. Ini pun diakui oleh Merlyn Sopjan (Republika, 29/10/2004).</p>
<p>Parahnya, opini yang dikembangkan oleh media massa tertentu membuat pilihan untuk menjadi waria adalah hal yang wajar, normal, manusia bin kodrati. Mereka semakin merasa menjadi waria bukanlah sebuah penyimpangan, tapi hanya sebuah perbedaan yang terdapat pada diri manusia sama seperti halnya orang yang cacat secara fisik. Sehingga mereka berusaha memperjuangkan haknya untuk diterima oleh masyarakat. Seperti yang terjadi di Papua pada tahun 1992-1997. Mereka berhasil memperjuangkan pencantuman â€œwariaâ€? pada kolom-kolom kartu tanda penduduk (KTP). Waduh!</p>
<p>Padahal pilihan untuk menjadi waria bagi seorang muslim, adalah pilihan buruk yang dibenci Allah dan RasulNya. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ibn Abbas, telah melaknat perilaku seperti itu:</p>
<p>?«?„???¹???†?? ?±???³???ˆ?„?? ?§?„?„?‡?? ?µ???„?‘???‰ ?§?„?„?‡?? ?¹???„?????’?‡?? ?ˆ???³???„?‘???…?? ?§?„?’?…???????´???¨?‘???‡?????†?? ?…???†?? ?§?„?±?‘???¬???§?„?? ?¨???§?„?†?‘???³???§???? ?ˆ???§?„?’?…???????´???¨?‘???‡???§???? ?…???†?? ?§?„?†?‘???³???§???? ?¨???§?„?±?‘???¬???§?„???»<br />
Rasulullah saw. telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan para wanita yang menyerupai para lelaki. (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad)</p>
<p>Adanya kata-kata â€?melaknatâ€™ (laâ€?ana) dalam hadis di atas adalah indikasi (qar?®nah) yang menunjukkan bahwa perilaku semacam itu telah diharamkan oleh Rasulullah saw. Sehingga lebih pas kalo laki-laki yang meniru perempuan disebut sebagai pelaku maksiat, bukannya menyesuaikan dengan kodrat. Betul?</p>
<p><strong>Bagian dari serangan budaya Barat<br />
</strong>Sobat, maraknya kampanye legalisasi keberadaan waria menunjukkan gencarnya serangan budaya Barat ke negeri kita. Hal ini berdampak pada dua hal:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, setelah keberadaan mereka dipopulerkan televisi dalam sinetron atau iklan komersil, masyarakat jadi penasaran pengen tahu banyak dengan kehidupan waria. Dari asal-usulnya, suka-dukanya, kesehariannya, sampe masa depan mereka. Liputan tentang diskriminasi terhadap waria dikemas sedemikian rupa untuk memancing emosi dan perasaan kasian pemirsa. Ujung-ujungnya, informasi seputar waria yang disuguhkan lebih diarahkan kepada legalisasi waria di mata masyarakat. Parah banget kan?</p>
<p>Media mampu menyulap kebiasaan yang salah menjadi sesuatu yang lumrah. Waria dijadikan produk hiburan. Dengan cara bicaranya yang kemayu, keluar deh tuh kata-kata asing khas kamus gaulnya Debby Sahertian yang mengundang gelak tawa. Cara berdandannya juga rada-rada unik. Wajah dipoles sana-sini pake kosmetik biar tampak cantik. Meski hasilnya lebih sering bikin yang ngeliat cekakak-cekikik.</p>
<p>Dan akhirnya, terjadi pergeseran sudut pandang dan sikap kaum Muslimin terhadap keberadaan waria. Kita seperti nggak punya pilihan untuk mengatakan kalo perilaku mereka itu keliru. Yang ada, kita dikasih pilihan untuk cuek bebek atau mendukung. Sebab dalam kehidupan sekuler yang banyak diopinikan media, kebebasan dalam berperilaku adalah hak individu yang nggak bisa diganggu gugat. Dan menjadi waria, merupakan salah satu ekspresi kebebasan yang dimaksud. Kalo ada yang nggak setuju? Ya, dilarang dengan keras untuk ngerecokin. Termasuk nggak boleh aktif mengingatkan waria untuk kembali ke jalan yang benar. Apalagi sampai melarang atau memvonis bersalah. Bisa-bisa berurusan ama aparat karena dianggap mengganggu kebebasan orang lain. Nah lho? Diajak baik kok ngancem ya?</p>
<p><strong>Kedua</strong>, maraknya ekspos media terhadap waria menjadi cara yang jitu yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kampanye penerapan syariat Islam yang tengah gencar di berbagai daerah di nusantara ini. Aktivitas amar makruf nahyi munkar pun terlupakan. Masyarakat semakin cuek dengan berbagai permasalahan yang muncul akibat diterapkannya sistem sekuler. Jika dibiarkan, boleh jadi negeri kita akan semakin liberal dan mungkin suatu saat nanti legalisasi perkawinan sejenis nggak cuma terjadi di Belanda, Spanyol atau Kanada. Tapi juga di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini. Gawat nih!</p>
<p><strong>Back to Islam</strong><br />
Sobat, sampe kiamat pun Islam nggak akan pernah mentoleransi keberadaan waria di tengah masyarakat. Meski media massa tertentu mengopinikan kalo menjadi waria itu bagian dari kodrat, Islam tetep melihatnya sebagai perilaku maksiat.</p>
<p>Aturan hidup sekuler telah memanjakan manusia untuk berbuat semau gue. Penyaluran yang salah dari potensi yang dimiliki manusia dalam peradaban Barat lebih populer dibanding cara yang benar. Makanya nggak heran kalo gaya hidup free sex, homoseks, lesbian, atau waria merajalela di Eropa. Sebab mereka pikir lebih baik mati-matian mereguk kepuasan dunia daripada setengah hidup menahan hasrat demi kehidupan akhirat. Apa kita mau ikut sesat?</p>
<p>Dan baru-baru ini terdengar kabar di beberapa negara Eropa seperti di Belanda, Belgia, Spanyol, dan Kanada, pemerintahnya melegalkan perkawinan sejenis. Seolah melestarikan keberadaan kaum homoseks dan lesbian. Padahal lebih dari 500.000 umat Katolik berkampanye didukung sekitar 20 uskup senior untuk menentang hukum baru di Spanyol yang mengesahkan perkawinan sesama jenis. Tapi tetep aja pemerintah Spanyol nggak menggubris larangan itu. Nekat, man!</p>
<p>Di sinilah pentingnya kita kembali kepada aturan Islam sebagai jalan kebaikan yang udah dijamin keselamatan dunia-akhirat oleh Allah Swt. Dalam kasus waria, Islam mengajarkan agar orang tua mendidik anaknya sesuai dengan kodratnya. Perlahan-lahan diperkenalkan hukum-hukum Islam sesuai dengan jenis kelaminnya. Ketika beranjak dewasa, diajarkan untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis.</p>
<p>Dan peran negara dalam hal ini, membentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak sesuai dengan kodratnya. Di antaranya dengan mencegah masuknya peradaban Barat yang rusak melalui media massa cetak dan elektronik. Kalo masih ada yang nekat berperilaku waria, mereka kudu berhadapan dengan aturan Islam yang diterapkan negara. Mereka bakal terkena sanksi yang ditentukan oleh khalifah (taâ€™jir). Bisa berupa karantina di balik jeruji besi sambil diberikan nasihat agar tobat dan tidak mengulanginya lagi. Makanya mending jadi cowok tulen. U are u!</p>
<p>Saat ini, sikap terbaik yang kudu kita tunjukkan terhadap waria bukanlah dengan kebencian, tapi cinta. Eits, jangan salah. Wujud cinta kita adalah dengan mengajak para waria untuk meninggalkan statusnya. Tulisan ini adalah satu bentuk penyadaran terhadap mereka untuk jadi cowok tulen. Bukti cinta kita. Kalo kita cuek kan, kita biarin aja nggak usah dinasihatin. Betul? Oya, selain itu, kita juga kudu terus berupaya menyadarkan masyarakat untuk ber-amar makruf nahyi munkar; dan meminta negara untuk menerapkan aturan Islam. Kita udah bosen hidup sengsara di bawah naungan kapitalisme-sekularisme. Sumpah!</p>
<p>Oya, teknisnya nih, kalo kamu punya temen cowok yang agak-agak feminin dan lebih suka gaul ama cewek, ajaklah doi untuk berpikir lebih jernih tentang kodratnya sebagai cowok tulen. Bukan dijauhi atau malah dikucilkan. Biar doi nggak terjerumus ke dalam dunia â€?eike bin akikahâ€™ tsb. Jangan lupa untuk memperkenalkan aturan Islam padanya. Sebab cuma aturan Islam yang akan membebaskan manusia dari kebodohan dan kesesatan. So, jangan jadi waria ya. Nggak baik. Menyalahi kodrat tuh.?  Oke? [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 253/Tahun ke-6/18 Juli 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengapa-harus-jadi-waria/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah yang Menyenangkan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sekolah-yang-menyenangkan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sekolah-yang-menyenangkan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 11:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sekolah-yang-menyenangkan/</guid>
		<description><![CDATA[Andai semua sekolah tempat kita menimba ilmu membuat kita betah berlama-lama di sana. Sekolah yang selalu dirindukan. Bahkan kalo libur pun kita rasanya nggak betah untuk berlama-lama di rumah. Sekolah yang menggerakkan kita untuk selalu belajar dan belajar. Sekolah yang nyaman dan aman, bangunannya kokoh meski tidak mewah, fasilitasnya keren punya; ada perpustakaan yang lengkap, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai semua sekolah tempat kita menimba ilmu membuat kita betah berlama-lama di sana. Sekolah yang selalu dirindukan. Bahkan kalo libur pun kita rasanya nggak betah untuk berlama-lama di rumah. Sekolah yang menggerakkan kita untuk selalu belajar dan belajar. Sekolah yang nyaman dan aman, bangunannya kokoh meski tidak mewah, fasilitasnya keren punya; ada perpustakaan yang lengkap, kebersihannya terjaga, tersedia laboratorium buat praktek mata pelajaran eksakta, plus ada ruangan khusus untuk belajar komputer, selain bangunan kelas, juga kita bisa belajar di alam terbuka. Dan yang terpenting, biayanya murah, syukur-syukur kalo sampe gratis. <span id="more-254"></span></p>
<p>Udah gitu, guru-guru kita pun ikhlas dan penuh semangat mendidik kita (tapi kesejahteraan mereka juga terpenuhi). Teman-teman yang ceria menghibur kita dan menjadi inspirasi kita untuk senantiasa berkompetisi menjadi yang terbaik. Saling menolong dan saling mendukung. Ah, asyik banget kan? Iya, menyenangkan!</p>
<p>Sobat muda muslim, boleh dibilang kita ini sedang mengkhayal. Ini belum sempurna lho mengkhayalnya, karena kalo mo disebutin satu per satu pasti banyak. Kira-kira segitu aja dulu deh harapan kita tentang sekolah kita. Abisnya, di sini nyaris nggak ada yang begitu. Kapan ya bisa kita nikmati? Asyik en seru kayaknya.</p>
<p>Potret sekolah kita emang buram banget saat ini. Nggak semuanya sih, tapi ada. Agak banyak juga. Terutama kalo kita jalan-jalan ke daerah. Kalo mo langsung lihat boleh aja. Mumpung liburan sekolah. Tengok deh sekolah teman-teman kita di daerah nun jauh di desa sana. Tapi kalo nggak sempat jalan ke daerah, lihat dari televisi juga silakan.</p>
<p>Saya pernah tuh lihat berita di televisi, ada sekolah dasar (SD) yang ambruk di sebuah desa. Padahal nggak ada hujan nggak ada badai. Aseli karena memang udah tua usianya. Udah keropos bangunannya (mungkin karena dulu sebagian dananya dikorupsi sehingga bahan bangunannya cuma beli yang murah meriah, atau memang karena udah lama nggak diurus). Untung (masih untung juga rupanya?) nggak makan korban jiwa karena pas runtuh siswanya lagi pada di luar kelas. Menyedihkan deh.</p>
<p>Sobat muda muslim, kira-kira apa yang kebayang dalam pikiran kamu tentang kondisi sekolah yang tadi saya ceritakan? Saya yakin itu tidak menyenangkan, bukan? Melihat kondisi itu, rasanya pantas kalo kita sedih, kesal, kecewa, marah, dan beragam rasa tak enak menyesaki dada kita. Abis mo gimana lagi. Kita sedih pun, belum tentu bapak-bapak pejabat kita sedih juga kan? (atau malah ada yang nggak tahu fakta itu). Di NTT aja ada proyek pembangunan rumah dinas gubernur berbandrol 13 miliar rupiah. Sementara dana untuk mengentaskan busung lapar cuma Rp 11,5 miliar. Ironi banget kan?</p>
<p>Ya, ironi memang. Mengapa ini bisa terjadi? Saya bingung harus menjawab apa. Cuma nih, dari pengamatan saya aja, alasan kuat mengapa ini bisa terjadi adalah karena kita berada dalam kehidupan yang dinaungi sistem kapitalisme. Kok bisa sih?</p>
<p>Begini sobat, kalo saya jawab bahwa kita kehilangan rasa malu. Betul juga. Tapi perlu dicari apa yang menyebabkan kita kehilangan rasa malu. Iya kan? Nanti ujungnya ada orang yang bilang bahwa dalam kondisi sekarang orang udah nggak malu-malu lagi korupsi, karena pas ngelakuin udah berjamaah. Sendiri memang malu, tapi kalo rame-rame kan jadi nggak malu. Betul kan?</p>
<p>Nah, kalo ditelusuri terus, ujungnya memang karena kondisi kehidupan saat ini sudah membentuk karakter manusia yang begitu rupa jeleknya. Jadi, memang ini akibat dipengaruhi dan diciptakan oleh sistem. Kalo diusut-usut, ya pas banget yang wajib ditunjuk hidung dan dijadikan tersangka utama dalah sistem kapitalisme. Iya nggak?</p>
<p>Masih ingin bukti? Kalo misalnya kita jawab bahwa kasus pembangunan rumah dinas gubernur NTT tadi yang anggarannya kelewat wah itu karena pejabat kita nggak peka. Itu harus ditelusuri juga apa yang menyebabkan nggak peka? Ada jawaban lanjutan, yakni karena kondisi saat ini membuat kita terbiasa untuk â€œtertawa di atas penderitaan orang lainâ€?. Kenapa bisa begitu? Karena sistem kehidupan saat ini mengajarkan bahwa â€œsiapa yang kuat, dialah yang menangâ€?. Wah, kalo gitu, berarti diciptakan oleh kondisi dong? Lha iya Bang! Kalo gitu kapitalisme kembali jadi tertuduh? Lha pasti Nyak!</p>
<p>Nah, setuju kan kalo yang jadi masalah tuh sistemnya? Kapitalisme itulah penyebabnya. Jadi, alasan sekunder apa pun, alasan primernya adalah kapitalisme. Begitu pun kenapa sekolah banyak yang kondisinya menyedihkan secara fisik? Karena anggarannya nggak ada. Atau kalo pun ada, sebelum nyampe ke tujuan akhir, udah banyak tangan oknum pejabat terkait yang menilepnya. Merana deh!</p>
<p><strong>Salah urus<br />
</strong>Sobat muda muslim, entah harus dari mana kita cerita soal buruknya sekolah di negeri ini. Padahal, sekolah adalah tempat kita belajar, menimba ilmu, dan harusnya bisa mendidik kita bukan hanya dari sisi akademik, tapi juga emosi kita dan kecerdasan sosial. Jadi, selayaknya sekolah menjadi tempat yang nyaman karena akan menularkan segala ilmu dan wawasan buat hidup kita.</p>
<p>Tapi apa jadinya kalo sekolah kemudian berubah jadi tempat yang buruk. Boro-boro bisa belajar, pikiran kita lebih nyetel untuk siap-siap melarikan diri kalo-kalo suatu ketika sekolah ini runtuh. Itu dari segi fisik lho. Belum lagi dari kondisi sosial dan juga kurikulum.Di sini juga jadi masalah dan kelihatan salah urusnya. Aduh, sampai kapan ya?</p>
<p>Oya, kayaknya kita malah ragu banget kalo dari kondisi sekolah yang buruk secara fisik akan ada tersedia perpustakaan lengkap buat nambah wawasan. Mungkin kalo pun ada kucuran dana, bakalan dibuat ngerehab ruangan kelas, bukan untuk sarana lainnya yang bisa menunjang wawasan. Padahal, saya yakin banget (kebetulan dulu sekolah di desa), bahwa anak desa aja bisa bersaing dengan anak di kota. Cuma, keterbatasan saranalah yang membuat temen-temen di desa kalah jauh wawasannya.</p>
<p>Soal kurikulum, kayaknya agak malu nih kalo kudu nyebutin bahwa ini juga salah urus. Mohon maaf lho, memang nggak gampang bikin konsep pendidikan, tapi bukan berarti kita nggak merasakan hasil sekarang yang amburadul. Saya tak menuduh seratus persen bahwa anak didik bermasalah, karena sangat boleh jadi memang konsep pendidikan yang tertuang dalam kurikulum itu sendiri yang bermasalah. Tul nggak?</p>
<p>Sebagai contoh, sekali lagi ini sekadar contoh. Kita sering dapetin ada anak didik yang pinter dari segi teori, tapi kedodoran dalam praktik. Dalam teori, nilai agama bisa nangkring dengan angka 9 di raport. Tapi, sholat aja ogah. Ini kan error namanya. Kita juga sering nemuan ada anak yang cerdas dan sering dapetin ranking yang bagus di sekolah, tapi ternyata secara emosi dan hubungan sosial doi nggak cerdas. Pendek kata, pinter tapi nyebelin. Berarti kan njomplang ya?</p>
<p>Sobat muda muslim, yang lebih parah tentunya pinter nggak, tapi bandelnya minta maaf. Wah, itu namanya musibah besar. Kalo mo ditelusuri mungkin bisa jadi salah dari anaknya. Bisa juga keteledoran dari pihak sekolah. Bahkan kalo banyak terjadi di mana-mana, nggak salah lagi, ini akibat kurikulum yang dibuat kurang bagus. Jadi memang banyak penyebabnya.</p>
<p>Nah, kalo harus menentukan siapa yang lebih berhak untuk disalahkan, dengan berat hati kita kudu bilang bahwa ini memang negara. Yeeâ€¦ nyalahin negara mulu. Emang gampang ngurus rakyat? Iya, memang susah, makanya kudu serius jangan main-main ngurus negara ini. Itu sebabnya, bikin konsep pendidikan lengkap dengan sarana penunjangnya agar kita yang sekolah bisa nyaman dan menyenangkan.</p>
<p><strong>Untuk kita renungkan</strong><br />
Sobat muda muslim, pendidikan boleh dibilang termasuk yang penting. Bahkan di Jepang setelah Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom oleh Amrik di Perang Dunia II, merasa khawatir kalo yang banyak korban adalah guru. Itu sebabnya, prioritas mereka adalah menggenjot sektor pendidikan agar banyak rakyat Jepang yang terpelajar dan cerdas. Sekarang, kita tahu sendiri deh kalo Jepang menjadi yang terkuat secara ekonomi dan juga teknologi di kawasan Asia. Sementara negeri ini, kita yakin kamu juga tahu sendiri. Pokoknya beda nasib deh.</p>
<p>Mendambakan sekolah yang menyenangkan memang impian semua orang. Menyenangkan dalam pengertian metode pengajarannya, kurikulumnya, sarananya, dan segala hal yang membuat kita itu betah berlama-lama di sekolah untuk belajar. Sangat mungkin banyak teman yang lebih suka nongkrong di mal atau gim stasion adalah karena nggak menyenangkan belajar di sekolah. Bisa karena anaknya, bisa pula karena di sekolah memang udah nggak ada yang bisa dianggap menyenangkan. Sulit menelusurinya memang. Tapi yang jelas, pola pendidikan kita yang bisa jadi kurang bagus. Buktinya, hasil UN (Ujian Nasional) aja banyak siswa SMU yang nggak lulus. Malah ada di sebuah kabupaten di Aceh persentasi kelulusannya 0% (alias satu siswa pun nggak ada yang lulus). Kasihan banget!</p>
<p>Mohon maaf saya juga belum tentu bisa mengatur dan mengurus soal pendidikan. Tapi paling nggak ingin menawarkan wacana. Semoga saja bisa dipikirkan lebih lanjut oleh pihak yang berwenang dalam masalah ini.</p>
<p>Begini, kita kan selalu terbentur soal dana ya untuk mengurus kebijakan di sektor apa pun, khususnya sektor pelayanan publik, seperti sekolah misalnya. Negara kewalahan ngatur arus dana yang masuk dan keluar. Terlalu banyak pemborosan dan menguntungkan segelintir kalangan aja. Memang rakyat juga kudu dididik untuk bijak menggunakan hartanya. Cuma negara lebih punya tanggung jawab besar.</p>
<p>Saya sering mikir secara sederhana. Uang yang beredar tiap minggu dari judi togel saja bisa miliaran rupiah lho. Coba deh kita menghitung (meski agak kasar), betapa besarnya dana yang terkumpul di arena judi togel. Anggap saja dari 200-an juta rakyat Indonesia yang nyandu judi togel sebanyak 25 juta orang (sekitar 10-an persen). Tiap minggu â€?nyumbangâ€™ minimal 5000 perak. Udah berapa tuh dana yang terkumpul? Yup, Rp 125 miliar! Anggap saja yang beruntung menang judi togel 50 persen. Berarti dana yang?  masuk ke kantong para bandar sekitar 62,5 miliar perak (per minggu lho). Wah, coba kalo dipake untuk benahin pendidikan. Berapa sekolah yang bisa dibangun dengan sarana yang layak, berapa sekolah yang bisa menyediakan perpustakaan keren, negara juga nggak perlu capek-capek menyubsidi dari minyak dan sebagainya.</p>
<p>Ini baru dari judi togel, belum lagi dari peredaran narkoba, miras, dan pelacuran. Nah, daripada dana itu ngucur ke tempat-tempat yang menguntungkan segelintir kalangan (udah gitu maksiat pula), kan mendingan digalakkan â€œshadaqahâ€? nasional untuk membiayai sektor pelayanan publik, pendidikan misalnya.</p>
<p>Itu semua memang bergantung sikap kita, mau apa nggak melakukan kegiatan beramal dan bermanfaat buat semua. Tapi jujur saja saya ragu kalo masih berada dalam naungan kapitalisme. Jangankan untuk kepentingan pendidikan dan sarana publik lainnya, eh untuk pengelolaan ibadah haji aja masih juga ditilep duitnya. Kapitalisme memang rusak, kita semua telah jadi korbannya.</p>
<p>Jadi sobat, kalo ingin sekolah kita menyenangkan (termasuk sektor lainnya), memang harus mengubah sistem yang ada saat ini dengan Islam yang telah teruji kehandalannya (tentang pendidikan di masa kejayaan Islam bisa tengok arsip tulisan STUDIA di: <a href="http://www.dudung.net/">www.dudung.net</a>. Klik deh. Sori nggak bisa ditulis di sini karena keterbatasan halaman).</p>
<p>Ya,?  syaratnya memang kudu diterapkan Islam sebagai ideologi negara. Kalo masih seperti sekarang, kita tetap akan jadi korban. Yuk, mulai sekarang kampanyekan Islam sebagai ideologi negara. Setuju kan? Oke deh. Dari sekarang ya. Biar mantap. Ajak juga yang lainnya. Makasih. [fahmarosyada]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 252/Tahun ke-6/11 Juli 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sekolah-yang-menyenangkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dai Audisi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dai-audisi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dai-audisi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 11:07:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dai-audisi/</guid>
		<description><![CDATA[Stasiun tv yang satu ini emang pandai menghadirkan tren baru dalam menghibur pemirsa. Setelah sukses dengan Kontes Dangdut TPI (KDI) dan Audisi Pelawak TPI (API), TPI kembali menyodorkan sebuah program dengan ide segar di tengah kegersangan budaya hedonis. Yup, pertengahan Juni kemaren, digelar pemilihan para dai muda berbakat lewat ajang Dakwah TPI (DAI). Ih, kayak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stasiun tv yang satu ini emang pandai menghadirkan tren baru dalam menghibur pemirsa. Setelah sukses dengan Kontes Dangdut TPI (KDI) dan Audisi Pelawak TPI (API), TPI kembali menyodorkan sebuah program dengan ide segar di tengah kegersangan budaya hedonis. Yup, pertengahan Juni kemaren, digelar pemilihan para dai muda berbakat lewat ajang Dakwah TPI (DAI). Ih, kayak Miss Universe aja pake dipilih-pilih segala. Nggak malu tuh ama jenggot. Ehmâ€¦ <span id="more-253"></span></p>
<p>Menurut General Manager Produksi TPI Nala Rinaldo, acara itu digelar bermula karena TPI pernah mengalami kesulitan untuk mencari dai untuk acara-acara keagamaan yang ada di stasiun televisi tersebut. â€œApalagi pas Ramadan, di mana stasiun televisi berlomba-lomba memproduksi tayangan dakwah. Kita jadi sering kesulitan mendapatkan dai karena kedahuluan dipakai oleh televisi lain,â€? ungkapnya. Hmmâ€¦rupanya profesi dai, lagi naik daun nih. Apalagi makin banyak tayangan religius. Cocok!</p>
<p>TPI makin semangat ngegeber kontes dai ini setelah mengetahui sambutan dari masyarakat lumayan hangat-hangat kuku. â€œAntusiasmenya sangat luar biasa. Sejak pendaftaran dibuka di Jakarta 26 Mei hingga 3 Juni, pendaftar hampir mencapai 3000 orang. Hari ini telah terjaring sepuluh peserta dari Jakarta,â€? ungkap Manajer Humas TPI Theresia Ellasari (Kompas, 07/06/2005)</p>
<p>Itu baru di Jakarta. Belon lagi peserta yang ikut audisi di Surabaya, Yogyakarta dan Bandung. Mereka yang lolos audisi bakal digembleng oleh dai-dai kondang. Ada Aa Gym, pakar ESQ Ary Ginanjar, Dr. Khairul Alwan Nasution dan Jazuli Juwaeni. Mereka bakal dapetin materi tentang ceramah, mengaji, pengurusan jenazah, jurit malam, salat malam, dan bakti kepada masyarakat. Makanya setelah cukup mateng (telor kalee) mereka bakal magang di masjid, penjara, atau panti asuhan. Pantes dong kalo peserta adusinya bejibun banget. Semoga niat baiknya bisa dipertanggungjawabkan. Kita berdoa ya.</p>
<p><strong>Bagus buat remaja, tapiâ€¦<br />
</strong>Sobat, rasanya kita emang pantas acungi jempol bagi penyelenggaraan kontes dakwah seperti di atas. Gimana nggak, di tengah gencarnya ajang penggalian potensi remaja yang steril dari nilai-nilai Islam, kontes ini hadir bagaikan oasis di tengah padang pasir. Cieeeâ€¦.berasa banget gitu lho bedanya. Ketika mayoritas remaja muslim berlomba-lomba tampil cantik atau bersuara merdu untuk menjadi bintang, kontes ini menawarkan pilihan untuk menjadi dai. Nggak pake liat tampang, penampilan fisik, atau suara yang merdu. Yang penting nggak tengsin jadi pengemban dakwah. Lho, emangnya kenapa mesti tengsin?</p>
<p>Sorry sobat, bukan menganaktirikan status dai lho. Cuma kebanyakan, menjadi dai alias pengemban dakwah, seringkali jadi underdog bagi remaja dalam menjalani masa mudanya. Selain dianggap kaku bin anti toleran, jadi dai kudu siap dikucilkan dari pergaulan remaja yang berkiblat pada budaya Barat. Seperti gaya hidup permissif alias serba boleh yang lagi tren. Makanya kita berharap, digebernya kontes ini setidaknya memberikan pancingan kepada remaja muslim untuk mengenal Islam lebih dalam dan ikut terjun ke dunia dakwah. Nggak asal ngikut kebiasaan remaja Barat yang semrawut. Wetul? (saking fasihnya bilang â€?betulâ€™).</p>
<p>Tapiâ€¦, ada uneg-uneg yang bikin kita khawatir dengan kontes dai. Ngeri kalo-kalo keikhlasan para calon dai terkikis ketika memasuki â€?pesantren entertaintmentâ€™ ini. Bukannya mau suâ€™udzhon, maaf saja. Ini sekadar masukan. Meski berbeda, kontes dai masih nggak bisa dipisahin dari ajang pencarian bakat remaja yang lagi menjamur dalam tayangan televisi. Tetep ada ekspos kehidupan para santri yang disiarkan ke seluruh pelosok negeri. Dari mulai kegiatan Pondok Dai, Titian Dai, sampe babak eliminasi dalam Mimbar Dai. Itu artinya, popularitas ala bintang sudah menunggu para calon dai yang lolos audisi.</p>
<p>Bener sobat, ketenaran dan limpahan harta sering kali menjadi bagian dari daya tarik yang menyedot ribuan peseta audisi untuk mengadu nasib dalam KDI, API, AFI, atau Indonesian Idol. Sekali lagi, ini yang kita khawatirkan. Haruskah popularitas juga yang meneteskan air liur para peserta audisi kontes dai? Semoga tidak.</p>
<p><strong>Tanpa kontes, dakwah tetep wajib<br />
</strong>Sobat, dakwah Islam yang identik dengan aktivitas amar makruf nahyi munkar memang nggak termasuk bagian dari rukun Islam. Tapi jangan salah, kewajibannya sama dengan shalat lima waktu, shaum Ramadhan, atau berzakat lho. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?ˆ???§?„?’?…???¤?’?…???†???ˆ?†?? ?ˆ???§?„?’?…???¤?’?…???†???§???? ?¨???¹?’?¶???‡???…?’ ?£???ˆ?’?„???????§???? ?¨???¹?’?¶?? ?????£?’?…???±???ˆ?†?? ?¨???§?„?’?…???¹?’?±???ˆ???? ?ˆ???????†?’?‡???ˆ?’?†?? ?¹???†?? ?§?„?’?…???†?’?ƒ???±?? ?ˆ???????‚?????…???ˆ?†?? ?§?„?µ?‘???„?§???©?? ?ˆ???????¤?’?????ˆ?†?? ?§?„?²?‘???ƒ???§?©?? ?ˆ???????·?????¹???ˆ?†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?£???ˆ?„???¦???ƒ?? ?³???????±?’?­???…???‡???…?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¹???²?????²?Œ ?­???ƒ?????…?Œ<br />
â€œ(Dan) orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksanaâ€? (QS At-Taubah [9]: 71)</p>
<p>Dalam hal ini, Imam al-Qurthubi menyatakan, â€œAllah Swt., telah menjadikan amar makruf nahi munkar sebagai faktor pembeda antara orang-orang Mukmin dan orang-orang munafik. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik dan sifat yang paling menonjol pada kaum Mukmin adalah amar makruh nahi munkar dan puncaknya adalah dakwah Islam.â€? (Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, jilid 4, hlm. 47)</p>
<p>Itu sebabnya, sebagai muslim yang taat kepada Allah dan RasulNya, nggak ada alasan untuk menyepelekan kewajiban mulia yang satu ini. Di mana aja dan kapan aja, dakwah Islam nggak bisa dipisahin dari identitas seorang muslim. Lantas gimana jadinya kalo kewajiban ini dicuekkin ama kaum Muslimin?</p>
<p>Imam al-Ghazali rahimahullah pernah bertutur di dalam bukunya, Ihya Ul?»m ad-D?®n: â€œAmma baâ€™d, sesungguhnya amar makruf nahi munkar merupakan bagian paling agung dalam agama dan merupakan tugas yang untuknya Allah mengutus para nabi seluruhnya. Seandainya amar makruf nahi murnkar ini â€œdipetieskanâ€?, sementara ilmu dan pengamalannya diremehkan, maka tidak akan ada kenabian; agama akan rusak; masa kevakuman (dari kenabian) tidak dapat dihindari; kesesatan akan segera tersebar luas; kebodohan akan menjadi hal biasa; kerusakan merajalela; pelanggaran akan semakin meluas; negeri-negeri akan hancur; dan manusia akan binasa.â€? Nah lho? Harap dicatat ya.</p>
<p>Kalo gini ceritanya, nggak ada kontes dai pun, dakwah Islam tetep kudu jalan. Nggak pake audisi, seorang muslim emang seharusnya jadi dai. Akur? Oke, kamu emang hebat!</p>
<p><strong>Biar dakwah mendapat berkah</strong><br />
Sobat, seperti yang udah kita paparkan sebelumnya, cuma ridho Allah yang pantas kita harapkan dalam aktivitas dakwah. Nggak boleh ada penumpang gelap dalam niat kita. Nggak peduli apa penumpang gelap itu berwujud popularitas, penghargaan, pujian dari keluarga, atau pengakuan dari temen. Pokoknya nggak boleh pada ngikut. Atau aktivitas dakwah kita nggak akan diterima oleh Allah Swt. Mau? Nggak lah yauw!</p>
<p>Seseorang pernah datang menemui Rasulullah saw. dan bertanya: â€œApa pendapat Anda jika ada seseorang berperang untuk memperoleh upah dan gelar; apa yang akan dia peroleh?â€? Rasulullah saw. menjawab: â€œTidak ada sedikit pun pahala baginya.â€? Orang tersebut bertanya hal yang sama sampai tiga kali. Akan tetapi Rasulullah saw. tetap menjawab bahwa tidak ada sedikit pun pahala baginya. Beliau kemudian melanjutkan sabdanya: â€œSesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan dalam rangka mencari keridhoanNya.â€? (HR an-Nasai)</p>
<p>Selain keikhlasan dalam niat, satu lagi yang nggak boleh kelupaan agar ridho Allah yang kita harapkan tak bertepuk sebelah tangan. Yaitu, cara mengemban dakwah yang kudu mencontoh pada baginda Rasul saw. Bener sobat. Dakwah nggak cuma asal mangap terus keluar suara (emangnya ikan?). Tapi wajib diperhatiin juga isi dan cara penyampaiannya. Biar on the target alias tepat sasaran. Gitchu!</p>
<p>Sebelum bercermin kepada dakwah Rasul saw., kita kudu pahami kalo metode dakwah Rasul itu bukan sebuah penawaran. Tapi kewajiban yang harus diikuti. Catet tuh!</p>
<p><strong>Mencontoh Rasul saw. dalam berdakwah</strong><br />
Tak ada sosok yang pantas kita teladani dalam berdakwah selain Rasul saw. Gimana nggak, Allah Swt. udah ngejamin kalo beliau steril dari kekeliruan dalam menyampaikan Islam. Dan terbukti Rasul saw. juga sukses membumikan Islam semasa hidupnya.</p>
<p>Dulu, Rasul berani menyampaikan bahwa penyembahan terhadap berhala saat itu salah besar. Meski cuma seorang diri en mayoritas kerabatnya membenci, Rasul tetap pede. Karena itulah berdakwah membutuhkan keberanian. Berani melawan kezaliman. Berani mengatakan kebenaran meskipun terasa pahit. Kalo hitam, bilang aja hitam. Nggak pake ditutup-tutupin jadi putih atau dimanipulasi jadi abu-abu. Oke? Ayo, katakan hitam!â€¦ katakan hitam!â€¦ katakan hitam! (Latah neh gara-gara sering main ama Dora! Heheheâ€¦)</p>
<p>Pernah suatu ketika Abu Jahal melarang Rasul untuk shalat di dekat Kaâ€™bah dengan ancaman akan menginjak leher beliau ketika sedang sujud jika masih ngotot. Rasul nggak peduli dengan ancaman itu. Beliau tetep shalat dekat Kaâ€™bah dan nggak ada para pembesar Mekkah yang dapat menghentikannya.</p>
<p>Keistiqomahan Rasul saw. juga patut kita teladani. Musuh-musuh Islam nggak akan tinggal diam membiarkan para pengemban dakwah merajalela menyampaikan kebenaran. Segala cara bakal mereka tempuh untuk melemahkan mental bin semangat para pengemban dakwah. Selama di Mekkah, Rasul saw. tak henti-hentinya mendapatkan tekanan, ancaman, boikot, sampe intimidasi terhadap para sahabat. Tapi beliau dan para sahabat sudah mempersiapkan dirinya untuk berjuang dan menghadapi segala risikonya. Meski harus berujung pada kematian.</p>
<p>Saking liciknya, para pemuka Quraisy sampe pake â€?senjataâ€™ paman Nabi, Abu Thalib, yang selama ini menjadi pelindungnya, untuk meminta Rasul meninggalkan dakwah. Jawab Rasul: â€œDemi Allah hai pamanku. Seandainya mereka mampu meletakkan matahari pada tangan kananku dan rembulan pada tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara (dakwah) ini, tiadalah aku akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan dakwah atau aku binasa karenanya.â€? (Tarikh Tabari II:326, Tarikh Ibnu Asir II:64)</p>
<p>Untuk itu kita harapkan kelak para dai yang lulus dari â€?pesantren ertertainmentâ€™ itu memiliki karakter seperti Rasulullah saw. dan para sahabat. Ikhlas mengharap ridho Allah. Nggak bermanis muka, apalagi menjilat, mengharap pujian dari orang lain atau menghindari celaan. Kalo tujuannya selain ridho Allah, dakwah akhirnya bakal terpeleset ikut selera masyarakat, bukan untuk mengubah selera rendah masyarakat saat ini. Gaswat!</p>
<p>Nah sobat, yang kudu diinget adalah never ending berdakwah sambil memoles kreativitas kita agar dakwah yang disampaikan mudah dipahami orang lain. Bukan mencari pujian orang lain dengan mengorbankan idealisme dan syariat. Oke? Kamu pasti bisa. Ayo Berangkaat! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 251/Tahun ke-6/4 Juli 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dai-audisi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Friends Are&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/friends-are</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/friends-are#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 11:04:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/friends-are/</guid>
		<description><![CDATA[Friends are the flowers in the garden of the heart. Saya pernah baca kalimat ini, di satu tempat. Dan saya langsung konek, wahâ€¦betul juga yah. Teman adalah bunga-bunga di taman hati, cieeâ€¦ Itu bagi saya. Tapi tidak semua setuju lho dengan apa yang saya yakini ini. Ada banyak versi bila saja kita mau bertanya ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Friends are the flowers in the garden of the heart. Saya pernah baca kalimat ini, di satu tempat. Dan saya langsung konek, wahâ€¦betul juga yah. Teman adalah bunga-bunga di taman hati, cieeâ€¦</p>
<p>Itu bagi saya. Tapi tidak semua setuju lho dengan apa yang saya yakini ini. Ada banyak versi bila saja kita mau bertanya ke orang-orang di sekeliling kita. Ada orang yang baik banget pada temannya, eh ternyata ada maunya. Buat nyontekkin kala ujian, misalnya. Ato buat ngutang saat gak punya duit? Hmm.. bisa juga buat jadi mak comblang waktu naksir incerannya. Kalo dah gak berguna? So, pasti bakal gak mau temenan lagi. Ada uang teman disayang,, gak ada uang teman ditendang. Welehâ€¦welehâ€¦ ini nggak baik banget lho.<span id="more-252"></span></p>
<p>Orang-orang seperti ini ada banyak di sekeliling kamu. Coba kamu amati. Or, jangan-jangan orang oportunis alias tipe yang cuma cari enaknya aja ini adalah diri kamu sendiri. Waksâ€¦.semoga bukan ya.</p>
<p>Tau gak gaya berteman kayak gimana yang lagi marak saat ini? Yang paling ngetren banget tuh style berteman yang bisa diajak gaul. Hmmâ€¦gaul definisi yang mana dulu neh? Diajak bolos oke? Diajak dugem, ayo aja? Nyoba ngedrugs, juga gak nolak? Pacaran, juga hoâ€™oh aja? Wah, itu gak beres. Buat kamu yang gak mau ngelakuin model gaul yang kayak gitu, bakal dikasih stempel antigaul. Runyam banget kan?</p>
<p>Belum lagi mereka paling ogah temenan sama orang-orang yang bakal negur mereka bila salah. Bolos diingetin, pacaran dilarang, ngedrugs gak dibolehin, dugem paling ogah. Mereka sebel banget kalo diingetin ke arah kebenaran. Diajak sholat alasan lagi M alias Males. Diajak ngaji, bilang gak hobi. Udah deh, susyeh banget temen kayak gitu kalo diajak kepada kebaikan. Trus, gimana dong?</p>
<p><strong>Nyari-nyari teman</strong><br />
Nyari teman emang gampang-gampang susah, apalagi yang baik. Ada teman saya yang tertutup banget orangnya. Usut punya usut ternyata doi kapok percaya sama teman. Karena dulunya doi pernah percaya dan curhat ke temannya itu, tapi malah bocor. Semua orang tahu rahasianya. Jadilah, dia gak mudah untuk mempercayai arti dan keberadaan seorang teman lagi. Putus dah!</p>
<p>Padahal, hidup tanpa teman ibarat bakso tanpa garam. Hambar. Gak ada rasanya. Lagi sedih, nangis sendiri. Giliran senang, ketawa sendiri. Ati-ati aja disangka gila ntar hehe, habisnya gak asyik banget ketawa dan nangis sendiri. Dada terasa sesak. Dunia terasa sempit. Gak ada siapa pun yang bisa kita bagi cerita, suka dan duka kita. Kecian banget kan?</p>
<p>Beda banget dengan mereka yang hidupnya gak pernah sepi dari teman. Ujian gambar gak punya rapido, eh ada yang baik hati minjemin. Istirahat bengong karena gak punya duit, ada yang baik hati nraktir. Saat sedih, ada a shoulder to cry on. Waktu lagi hepi (baca: happy) ada yang diajak berbagi tawa. Seneng banget. Dunia serasa luas dan penuh warna-warni. Iya apa iya? Coba aja!</p>
<p>Tapi ada juga orang yang begitu mudah mendapatkan teman. Di mana pun ia berada, maka dengan segera pula dikelilingi oleh teman-teman. Bagi tipe ini, mencari teman mudah saja seperti membalik telapak tangan. Kontras banget kan dengan tipe pertama tadi yang merasa sulit banget dapat teman, apalagi teman yang baik.</p>
<p>Nah, tipe yang manakah kamu? Pokoknya, tipe apa pun kamu, nyari teman bukan sekadar nyari aja. Tapi kudu benar-benar teman dalam arti sebenarnya, dalam suka maupun duka. Bukan ketika kamu lagi hepi aja teman-teman pada datang. Eh, giliran kena musibah or duka pada ngacir dah. Itu namanya bukan teman sejati, tapi mengkhianati. Males banget kan punya teman kayak gitu? Manyun terus deh!<br />
? <br />
<strong>Tips mencari teman</strong><br />
Mencari teman itu gampang-gampang susah. Kalo kamu salah memilih teman, bukan gak mungkin kamu pun salah dalam melangkah di kehidupan. Karena teman itu adalah cermin diri kita. Kata Rasulullah, bila kamu ingin tahu tentang seseorang, lihatlah siapa yang menjadi temannya. Berarti bagaimana orang lain menilai siapa kita sebenarnya, akan mudah dilihat siapa aja yang ada di sekeliling kita, teman-teman kita. Sabda Rasulullah saw.: â€œOrang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat.â€? (HR Tirmidzi)</p>
<p>Bila yang jadi teman kita adalah tipe suka nyontek, suka gak bayar di kantin sekolah waktu ibu penjual lengah, suka tawuran, malas sholat, sulit menerima nasihat dan kebenaran Islam, maka nilai diri kita juga gak jauh-jauh amat dari sikap-sikap di atas.</p>
<p>Begitu juga sebaliknya, bila yang jadi teman kita adalah mereka yang rajin belajar, jujur, aktivis rohis, hormat pada yang tua, mengayomi yang muda, patuh pada perintah Allah dan RasulNya, maka nilai diri kita juga gak jauh-jauh deh dari yang tersebut itu. Maka benarlah, ponakan saya yang remaja, paling malas berteman dengan tipe yang suka bolos, yang suka ngomong jorok dan gak berguna, urakan, gak patuh sama orang tua. Yup, doi selektif banget dalam memilih teman.</p>
<p>Karena memilih teman tuh ibarat deketan sama penjual minyak wangi or ikan asin. Kalo kamu banyak berteman dengan penjual minyak wangi, kamu bakal kecipratan wanginya. Tapi kalo kamu lebih demen main sama penjual ikan asin, secara otomatis bau kamu jadi amis bak ikan asin (ssttt.. ati-ati, kamu nanti dikejar-kejar ibu-ibu untuk digoreng!)</p>
<p>Kalo kata Aa Gym sih ada tiga tips untuk mencari teman yang baik. Pertama, cari teman yang aman buat kita. Ya iyalah, jangan sampe kamu punya teman tapi bawaannya was-was mulu. Jangan-jangan pas kamu lengah sedikit barang-barangmu langsung raib alias diembat doi. Ihâ€¦gak asyik banget.</p>
<p>Kedua, menyenangkan buat kita. Maksudnya teman kita tuh bawaannya asyik aja buat temenan. Jangan malah sebaliknya. Kalo bertemu doi kamunya bawaanya bete mulu dan pingin bertengkar. Ini teman apa musuh sih?<br />
Lalu yang ketiga, bermanfaat buat kita. Maksudnya, yang bisa buat diutangin, dicontekin, dipalakin, gitu? Ya nggaklah, Non. Bermanfaat maksudnya ada efeknya kita temenan sama doi. Kita yang semula malas belajar jadi terpacu untuk rajin. Yang semula malas ke pengajian jadi saling berlomba dalam kebaikan. Pokoknya bermanfaat di dunia dan juga di akhirat deh. Mau kan?</p>
<p>Seperti kata Rasulullah, kita nanti akan dibangkitkan dengan orang-orang yang kita cintai. Sabda beliau, â€œSeseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainyaâ€? (HR Bukhari dan Muslim dari Anas, Abu Musa, dan Ibnu Masâ€™ud)</p>
<p>Jadi siapa yang jadi teman kita di dunia, harapannya jadi teman pula di akhirat kelak. Bukankah ketika kita berteman, berarti pada saat yang sama kita mencintainya pula, karena Allah? So, karena cinta itulah kita pasti akan otomatis saling menasihati agar sama-sama bareng ketika dibangkitkan dan bareng pula ketika masuk surga. Asyik banget kan?? </p>
<p><strong>Berteman ala Rasulullah</strong><br />
Tau nggak kamu gimana style berteman teladan kita, Rasulullah saw.? Nih yah rahasianya, setiap temannya selalu merasa menjadi satu-satunya yang paling istimewa di depannya. Beliau hapal satu demi satu nama dan keberadaan sahabatnya. Ketika salah seorang sahabat beliau ada yang gak terlihat pas sholat berjamaah, beliau menanyakannya. Ternyata sakit. Maka dikunjunginya sahabatnya itu dan didoakannya agar cepat sembuh.</p>
<p>Karena kesetiaan Rasulullah yang sedemikian terhadap sahabat-sahabatnya, maka gak heran kalo sahabatnya sendiri juga begitu setia dan cintanya pada beliau. Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang jelas-jelas merupakan orang terpandang di kabilahnya, rela mengikuti Rasul hijrah dan memilih bersusah-payah dalam kesetiaannya berteman.</p>
<p>Ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar belum memperbolehkan Rasulullah masuk gua sebelum dibersihkannya tempat itu dan yakin tak ada hal-hal yang mengganggu kenyamanan beliau dalam beristirahat.</p>
<p>Begitu juga Umar bin Khaththab. Kalo ada musuh yang mencari Muhammad untuk dibunuhnya, beliau yang maju lebih dulu untuk menghadapi. Jangankan musuh, alkisah setan pun sangat takut pada Umar bin Khaththab karena kekuatan dan keimannya.</p>
<p>Ada yang lebih hebat lagi neh. Ketika satu malam terdengar kabar bahwa Rasulullah akan dibunuh waktu tidur malam, Ali bin Abu Thalib, yang masuk Islam waktu umurnya masih sangat imut itu, malah meminta menggantikan untuk tidur di pembaringan Rasulullah dan meminta beliau untuk segera menyingkir. Bayangkan, menggantikan posisi seseorang yang sudah begitu matang dipersiapkan untuk dibunuh. Allah masih melindungi Ali sehingga sebelum pedang dihunuskan, musuh masih sempat membuka kain selimut yang menutupi tubuhnya. Ternyata Muhammad sudah tak ada dan digantikan Ali. Hmm&#8230; kamu sanggup gak berkorban kayak Ali?</p>
<p>Belum lagi sahabat-sahabat Rasulullah yang lainnya. Ketika jihad membela agama Allah, para sahabat-sahabat itu rela menjadi tameng hidup bagi Rasulullah. Mereka rela mati syahid asalkan Rasulullah, sahabat yang mereka cintai selamat. Bayangkan kalo persahabatan kamu bisa seindah ini. Oke bangat kan? Iya gak?</p>
<p>Nah, bagaimana dengan style pertemanan yang kamu jalani selama ini? Kadang, jangankan setia hingga titik darah penghabisan, ada teman sakit paling juga lupa untuk menjenguk. Ada teman yang gak masuk sekolah juga gak bakal tahu kalo gak mau nyontek PR-nya aja. Ehm, ngaku aja deh. (sori bukan nuduh lho, tapi siapa tahu emang faktanya ada)</p>
<p><strong>Persiapkan dirimu jadi seorang teman</strong><br />
Setelah tahu bagaimana style Rasulullah dan beberapa sahabatnya dalam berteman, pengen gak sih kita mencontoh beliau-beliau itu? Mungkin sebagian dari kamu berpikir, â€œKayak mimpi aja hari gini mo nyari model teman kayak gituâ€?.</p>
<p>Jangan pemisis dulu, ada kok orang-orang yang begitu setia dan baik sama temannya. Asal satu hal yang harus ada ketika kita menjalin pertemanan itu, yaitu untuk mencari RidhoNya. Berteman karena Allah menjadi jaminan bagi kita untuk mendapatkan teman berkualitas seperti jamannya Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Insya Allah. Oke?</p>
<p>Tapi kamu jangan hanya berharap mendapat teman yang baik aja. Kamu sendiri juga harus memacu diri untuk bisa menjadi teman yang baik bagi semua teman-temanmu. Tempa diri kamu jadi sosok teladan agar pantas mendapat teman yang baik lagi setia. Bukankah siapa pun yang jadi teman kita adalah cermin diri kita? Bila kita baik dan setia maka yang jadi teman kita juga baik dan setia, begitu juga sebaliknya. Itu namanya kompak.</p>
<p>Intinya, mulailah dari diri kamu sendiri untuk menjadi seorang teman yang baik dan setia bagi teman-temanmu. Jadikan nilai dirimu selalu membawa kebahagiaan dan hikmah bagi teman-temanmu. Jangan hanya bisa menuntut, tapi beri contoh lebih dahulu bagaimana seharusnya kita berteman dan untuk apa gunanya. Bukan semata asas manfaat, tapi semata-mata karena Allah dan karena memang Islam memerintahkan demikian.</p>
<p>So, nggak usah pesimis ya. Yakin bahwa kualitas teman yang kamu punya berbanding lurus dengan kualitas diri kamu juga. Semakin oke kualitas kamu, semakin bagus juga teman yang menghampirimu. Tapi, teman yang kurang baik juga jangan ditinggalkan. Mereka inilah yang butuh sentuhan pertemanan kita. Butuh ketulusan kita untuk mendakwahi mereka agar sama-sama berjalan sesuai syariatNya.</p>
<p>Oya, berteman dengan mereka yang masih jauh dari nilai Islam memang kudu ati-ati. Kalo gak kuat prinsip dan mantep imannya, bisa kebawa lho. Suer. Itu sebabnya, memang kudu waspada. Gaul boleh, syukur-syukur bisa ngajak mereka untuk melakukan amal shaleh.</p>
<p>Nah, kalo udah begini, siapa bilang cari teman baik itu susah? Gak jaman lagi! Yuk ayuk cari teman sebanyak-banyaknya agar hidup jadi lebih berwarna. [riafariana]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 250/Tahun ke-6/27 Juni 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/friends-are/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar, Belajar, dan Belajar</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/belajar-belajar-dan-belajar</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/belajar-belajar-dan-belajar#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 11:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/belajar-belajar-dan-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Lakukan sekarang juga. Jangan tunda hari esok. Belajar yang banyak dan terus belajar. Duiele kesannya â€œsadisâ€? banget neh (bossy ya? Hehehe). Tapi nggak apa-apa, ini bukan doktrin, tapi anggap saja sebagai penyemangat kita-kita untuk tetap terus belajar. Sampai kapan pun. Pokoknya, tiada hari tanpa belajar. Kamu bisa belajar di sekolah, di pesantren, di majelis taklim, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lakukan sekarang juga. Jangan tunda hari esok. Belajar yang banyak dan terus belajar. Duiele kesannya â€œsadisâ€? banget neh (bossy ya? Hehehe). Tapi nggak apa-apa, ini bukan doktrin, tapi anggap saja sebagai penyemangat kita-kita untuk tetap terus belajar. Sampai kapan pun. Pokoknya, tiada hari tanpa belajar. Kamu bisa belajar di sekolah, di pesantren, di majelis taklim, di rumah, di masyarakat sekitar, dari koran, majalah, tabloid, televisi, radio, internet, termasuk di warung kopi, angkutan umum,?  dan seabrek fasilitas lainnya. Kamu bisa belajar apa pun dari tempat-tempat tersebut. Nggak perlu males. Dan memang nggak boleh males. Oke? Semangat terus!<span id="more-251"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, belajar emang bikin kita jadi cerdas. Jangan khawatirkan kemampuan otak kita untuk menerima masukan informasi. Nggak bakalan luber. Kalo tong sampah sih iya, makin banyak diisi, bisa luber juga meski ukurannya udah segede apa tahu. Tapi otak kita, meski kecil namun memiliki ruang penyimpanan memori yang cukup luas. Ukuran mini kualitas maxi, begitu kata-kata yang bisa kita contek dari sebuah iklan untuk menggambarkan potensi otak kita.</p>
<p>Sekadar tahu aja, saya kutipkan neh dari bukunya Pak Fauzil â€?Adhim, Dunia Kata, beliau menuliskan beberapa pendapat pakar tentang kemampuan mengingat dari manusia. Di antaranya pendapat John Griffith, seorang ahli matematika mengatakan, â€œSetiap manusia normal mampu mengingat 1.000.000.000.000 (1011) bit informasiâ€?. Sementara John von Neumann, ahli teori informasi, menghitungnya sampai 280.000.000.000.000.000.000 (280 diikuti delapan belas angka nol di belakangnya) atawa 280 kuintiliun bit). Oya, kamu perlu tahu, bahwa setiap satu bit mewakili satuan informasi terkecil, misalnya â€œyaâ€?, â€œtidakâ€?, â€œiâ€? atau â€œoâ€?, â€œonâ€? atau â€œoffâ€?.</p>
<p>Nah, jadi sebenarnya nggak ada alasan untuk males belajar. Kalo masih ada yang bilang bahwa dengan banyak belajar ubun-ubun kita bisa ngebul, itu cuma karena kita nggak bisa mengelola waktu dan cara belajarnya aja. Kalo baik mengelolanya, insya Allah bisa deh kita belajar dengan efektif tanpa perlu ubun-ubun ngebul. Menurut saya sih itu cuma faktor kelelahan baik fisik maupun psikis. Itu saja.</p>
<p>Kita mampu mengingat informasi sebanyak itu? Bisa kok. Cobalah tengok teman-teman yang kebetulan hapal al-Quran yang jumlah juz-nya 30 itu (dan ingat, tentunya ia juga hapal tajwid-nya). Hebat banget tuh. Padahal buat kita yang nggak biasa belajar dan ngapalin seluruh isi al-Quran bakalan tekor tuh. Jangankan tiga puluh juz, juz 30 (Juz â€?Amma) aja kayaknya kita banyak yang nggak hapal.</p>
<p>Nah, itu baru hapal Quran, gimana dengan merekayang hapal Quran sekaligus hadis? Imam Bukhari contohnya, beliau sanggup menghapal ratusan ribu hadis lengkap dengan sanad dan rawinya. Imam Syafiâ€™i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hambal pun, empat mujtahid yang hasil ijtihadnya banyak dijadikan rujukan kaum muslimin di seluruh dunia ini merupakan ulama sekaligus pelajar andal yang sanggup menguasai seluk-beluk ilmu fiqih. Subhanallah. Dan itu, nggak ujug-ujug bisa, tapi melalui proses belajar yang cukup lama, panjang, dan bahkan melelahkan.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita insya Allah bisa. Bisa pinter, bisa punya wawasan banyak. Semuanya karena dimulai dengan belajar. Ya, belajar. Terus dan terus. Bahkan Imam Syafiâ€™i dalam mencari ilmu memiliki semboyan yang bagus banget. Kata beliau, â€œCarilah ilmu seperti halnya seorang ibu yang kehilangan anak perawannya.â€? Artinya, dicari terus sampe dapet. Nggak pernah bosen, nggak pernah malas, nggak pernah putus asa. Belajar terus sampe dapat ilmu banyak. Jangan heran kalo Imam Syafiâ€™i begitu dihargai dan dihormati kaum muslimin karena tingkat keilmuannya yang fantastis. Sekali lagi, itu cuma bisa diraih dari belajar. Nggak belajar, ya nggak dapet apa-apa. Tul nggak?</p>
<p>Oya, Allah Swt. akan meninggikan derajat bagi orang-orang yang beriman dan berilmu. Jadi berbahagialah kalo kita udah beriman dan berilmu. Allah Swt. udah ngejelasin dengan gamblang dalam firmanNya:</p>
<p>?????±?’?????¹?? ?§?„?„?‘???‡?? ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?…???†?’?ƒ???…?’ ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?£???ˆ?????ˆ?§ ?§?„?’?¹???„?’?…?? ?¯???±???¬???§????<br />
â€œ&#8230;niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.â€? (QS al-Mujaadilah [58]: 11)</p>
<p>Bahkan nih, saking pentingnya punya ilmu dan ketakwaan, Imam syafiâ€™i pernah bilang begini, â€œSesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).â€?</p>
<p>Wadau, mau disindir kayak gitu? Nggak lha yauw. Makanya, untuk bisa punya ilmu dan ketakwaan, resepnya cuma satu: belajar. Bener lho, kagak boâ€™ong! Suer banget.</p>
<p>Maka, untuk urusan belajar ini, nggak salah dong kalo Rasulullah saw. menyampaikan: â€œApabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.â€? (HR Bukhari)</p>
<p><strong>Belajar dari mereka yang berhasil<br />
</strong>Nah, sebagai pemuda, kita harus memiliki ilmu dan ketakwaan. Bisa berilmu dan bertakwa pastinya kalo udah belajar dong ya. Jadi intinya, jangan malas belajar. Kita kepengen banget menjadi kebanggaan umat dan agama Allah ini. Kayaknya, kita mesti mencontoh Usamah bin Zaid yang masih muda belia, usianya 18 tahun saat diangkat menjadi Panglima Perang oleh Rasulullah saw. untuk memimpin pasukan kaum muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang berada di bawah kekuasaan Romawi pada waktu itu. Menakjubkan, bukan?</p>
<p>Usamah bin Zaid memang jago bin ahli perang. Keahliannya itu diperoleh karena terus mengasah diri untuk belajar. Karena, emang nggak ada orang yang langsung bisa pinter dan lihai keterampilannya tanpa melalui proses belajar. Ali bin Abu Thalib satu dari sekian ribu sahabat Rasulullah saw. yang diberikan pujian oleh Rasulullah sebagai sahabat yang berilmu tinggi.</p>
<p>Eh, kamu tahu Linkin Park? Grup band asal California yang 13 Juni 2004 lalu bikin goncang Jakarta, memang fenomenal. Salah satu lagunya yang asyik punya adalah â€œBreaking the Habitâ€?. Mike Shinoda, pentolan grup band yang mengusung irama musik â€œgado-gadoâ€? ini, ternyata mencipta lagu asyik tersebut selama hampir enam tahun. Jelas, selama hampir enam tahun itu nggak mungkin nggak belajar. Pasti dia belajar dan terus mengembangkan lirik tersebut lengkap dengan iramanya yang nyetel abis. Hasilnya, lumayan menggebrak, sampe-sampe kamu yang ngefans nggak nyadar udah melantunkan potongan syair: â€œ&#8230;I donâ€™t why I got this way/ I know itâ€™s not alright/ So Iâ€™m/ Breaking the habit tonight&#8230;â€? yang suka dibawain oleh suara serak dan sedikit berteriak milik Chester Bennington.</p>
<p>Sobat muda muslim, David Beckham, meski udah jago ngegocek bola, tapi dia merasa harus terus belajar untuk meningkatkan kualitas sepakannya, terutama kalo kebetulan jadi eksekutor tendangan bebas langsung ke gawang. Setiap malam sehabis latihan rutin, suaminya Victoria Adams ini selalu belajar dan berlatih untuk menendang bola agar masuk ke lubang ban mobil yang digantung di tiang dari jarak tertentu. Hasilnya? Kapten timnas Inggris ini masuk jajaran eksekutor tendangan bebas yang berbahaya bagi kiper lawan.</p>
<p><strong>Sekadar tips</strong><br />
Sobat muda muslim, saya yakin kalo kamu pun udah pada punya tips sendiri untuk selalu belajar dalam hidup ini. Itu akan menjadi patokan buat kita dalam melangkah. Intinya sih, jangan malu dan malas untuk belajar. Oke deh, nih ada sedikit tips buat kamu:</p>
<p>Jangan cepat puas. Perasaan cepat puas dalam diri kita kudu segera dikubur dalam-dalam. Nggak baik cepat puas ketika belajar. Jangan sampe baru bisa belajar di level 2 (dalam skala 10) kita udah merasa cukup puas. Lalu malas belajar. Dalam urusan yang lain, cepat puas boleh-boleh saja kok. Misalnya, udah puas bisa meraih kekayaan materi. Tapi dalam mencari ilmu, jangan cepat puas dengan hasil yang udah kita dapet. Cari terus sebanyak-banyaknya. Yup, belajar tak pernah henti. Terus belajar sampai mati.</p>
<p>Meluangkan waktu untuk belajar lebih banyak. Ini perlu banget sobat. Untuk kesuksesan kita juga kok. Konon kabarnya Bill Gates saja, untuk bisa membangun kerajaan bisnis Microsoft, pergi jam 6 pagi dan pulang jam 2 dinihari. Ia melakukan riset dan belajar serta mengembangkan program-program andalan yang kelak bisa dinikmati masyarakat dunia. Sekarang, selain pinter, jumlah kekayaan doi setara dengan jumlah total kekayaan dari seperempat jumlah total penduduk Amrik (jumlah penduduk Amrik pada tahun 2004 aja, adalah sekitar 280 juta jiwa. Wow!). Tahun 2005 ini doi kembali jadi juragan terkaya di dunia. Jadi, luangkan waktu lebih banyak untuk belajar. Jujur saja, waktu 24 jam dalam sehari tiap orang sama. Allah memberikan sama kepada setiap orang. Mereka yang berhasil dan sukses biasanya yang pandai memanfaatkan waktunya. Ada yang memanfaatkan waktu luang dengan santai, ada yang malah belajar. Jadi, yang membedakan mereka yang sukses dengan yang gagal salah satunya adalah dalam memanfaatkan waktunya. Betul ndak?</p>
<p>Jangan porsir otak kita. Meski memiliki kapasitas penyimpanan memori yang besar, tapi perlakukan otak kita dengan baik. Jangan porsir dengan terus-menerus. Biarkan beberapa waktu otak kita melakukan relaksasi dan pelemasan. Hibur dengan berbagai aktivitas yang menyegarkan dan menyenangkan. Misalnya dalam liburan ini kita ajak otak untuk jalan-jalan menikmati keindahan alam atau berpikir untuk yang ringan dulu. Tapi jangan kebanyakan waktu nyantai dan ringannya ya khawatir nanti otak kita merasa terbiasa nyantai dan malah susah lagi untuk diajak belajar. Kan berabe tuh. Jadi, sewajarnya saja.</p>
<p>Manfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Kata pepatah, kesempatan cuma datang sekali. Jadi, bersiaplah untuk menyambutnya. Lakukan sekarang juga, jangan tunggu esok. Saat ini, ketika masih muda, kesempatan itu segera manfaatkan untuk belajar. Jangan tunggu hari esok, apalagi kalo udah tua, selain susah mengingat, juga cepat lelah tenaga. Nggak mau dong kamu kayak gitu? Belajar tuh kapan aja, di mana saja, dan kepada siapa aja. Kalo ada kesempatan, langsung deh manfaatkan. Oke?</p>
<p>Pelajari, pahami, dan amalkan. Nah, ini penting juga sobat. Karena kita anak ngaji, maka nggak cuma belajar doang, tapi setelah dipahami kudu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Buat kita, dan juga buat orang lain. Jadi memang kudu didakwahkan. Soalnya memang sayang banget, kita udah banyak tahu selama belajar, kita juga udah paham luar-dalam, tapi nggak disampaikan lagi ke orang lain. Jangan sampe begitu deh.</p>
<p>Sobat muda muslim, itu sekadar tips kecil aja kok. Moga bisa memberikan nilai yang berarti buat hidup kita. Sebagai anak ngaji. Kita juga nggak bisa cukup puas diri dengan hasil yang udah kita peroleh selama ini. Sebaliknya, karena tantangan dakwah kian besar, semangat kita untuk memiliki ilmu yang banyak tentunya kudu terus dikobarkan. Nggak boleh padam. Jangan sampe kalah semangat oleh mereka yang memiliki tujuan hidup lebih rendah dari kita. Sebagai pengemban dakwah, kita belajar untuk bisa mengasah kemampuan kita dalam memberikan pencerahan kepada orang lain. Lebih mulia dalam pandangan Allah, bukan?</p>
<p>Nah, untuk memiliki semua ilmu, khususnya yang berkaitan dengan ajaran dan dakwah Islam, nggak ada cara lain kecuali belajar, belajar, dan belajar. Ayo, kamu bisa! Saya percaya, kamu bisa! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 249/Tahun ke-6/20 Juni 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/belajar-belajar-dan-belajar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ratu Sejagat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ratu-sejagat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ratu-sejagat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ratu-sejagat/</guid>
		<description><![CDATA[Ehm, â€?perjuanganâ€™ wakil Indonesia di ajang Miss Universe 2005, Artika Sari Devi, hanya sampai di babak 15 besar. Eh, prestasi 15 besar katanya sih udah keren. Katanya lho. Terus, Artika juga adalah satu-satunya wakil dari Asia. Siapa pemenang Ratu Sejagat tahun ini? Yup, gelar Miss Universe?  tahun ini diraih Natalie Glebova, gadis berusia 23 tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ehm, â€?perjuanganâ€™ wakil Indonesia di ajang Miss Universe 2005, Artika Sari Devi, hanya sampai di babak 15 besar. Eh, prestasi 15 besar katanya sih udah keren. Katanya lho. Terus, Artika juga adalah satu-satunya wakil dari Asia. Siapa pemenang Ratu Sejagat tahun ini? Yup, gelar Miss Universe?  tahun ini diraih Natalie Glebova, gadis berusia 23 tahun asal Kanada.</p>
<p>Kita nggak hendak menyesali usaha Artika yang gagal, atau mengucap syukur karena Artika menjadi satu-satunya wakil Indonesia (dan Asia pada umumnya) di ajang bergengsi pemilihan orang tercantik di dunia itu. Nggak keduanya. Kita akan coba bahas dari sisi lain. Yakni tentang pro-kontra ajang ratu-ratuan itu. Sejatinya kita kecewa kenapa harus ada pro dan kontra. Kok bisa? Iya, kita kecewa karena ternyata pendapat masyarakat dalam kasus ini malah terbelah menjadi dua kubu. Seharusnya satu kubu saja. Yakni menolak ajang pamer aurat ini. Begitu, bro.<span id="more-250"></span></p>
<p>Mengapa kita bisa berbeda pendapat justru pada masalah yang seharusnya satu suara ini? Karena kaum muslimin saat ini menggunakan standar yang berbeda. Sebagian menganggap bahwa ajang itu cuma bermanfaat bagi kalangan tertentu saja, dan membawa mudharat bagi banyak kalangan lain, khususnya kaum muslimin. Mereka ada di kubu yang menolak ajang tersebut. Sebagian lagi bersikukuh mendukung gelaran itu karena ajang itu menurut mereka bisa mengangkat martabat bangsa di mata dunia. Bahkan kubu ini melontarkan alasan bahwa penolakan ajang itu hanya akan memasung kreativitas dan hak orang lain. Apa benar?</p>
<p>Oke lah, terlepas dari pro-kontra di antara kaum muslimin ini, sebaiknya kita berpikir jernih. Merenung dan mencari kebenaran. Saran saya sih, nggak usahlah kita bicara dari sudut pandang kaum nonmuslim (atau dari standar yang bukan berasal dari Islam), karena pasti akan berbeda karena memang akidahnya lain dengan kita. Biarlah, mereka mau berbuat apa saja untuk kehidupannya kita nggak bakalan turut campur. Ini juga bagian dari toleransi.</p>
<p>Tapi, kita akan â€?cerewetâ€™ jika itu menyangkut masalah kita sendiri. Karena kita semua adalah bersaudara. Artika seorang wanita muslim. Sama seperti kita (muslim dan muslimah). Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain adalah bersaudara. Satu cirinya adalah saling mengingatkan jika ada di antara kita sedang lalai dan tentunya saling mendukung ketika ada di antara kita yang berbuat baik. Itu untuk kebaikan semuanya.</p>
<p>Ajang pemilihan Putri Sejagat, Ratu Sejagat, atau apalah namanya memang sudah berlalu. Tapi itu tetap menambah pekerjaan berat bagi kita yang rajin mengkampanyekan penerapan syariat Islam dalam kehidupan bernegara ini.</p>
<p>Sekadar tahu saja, pro-kontra ajang Miss Universe sebenarnya bukan barang baru. Karena dalam banyak kasus kita juga sering berbeda pendapat, padahal pendapat kaum muslim terhadap kasus-kasus tersebut seharusnya satu suara. Misal, tempat pelacuran. Aneh, sudah jelas merusak, sudah tegas dilarang dalam Islam, tapi masih aja ada yang pro.</p>
<p>Soal terorisme yang dituduhkan kepada Islam dan kaum muslimin, lagi-lagi kita juga berbeda pendapat. Padahal, seharusnya satu. Kalo kita merasa bahwa Islam tak mungkin melegalkan kekerasan tanpa alasan yang jelas dan syarâ€™i, kita yakin bahwa aksi itu bukan gaya Islam dan kaum muslimin. Jadi, tak usah ikut-ikutan latah mencap para pejuang Islam sebagai teroris. Bukan saja tidak benar, tapi tidak fair. Karena kita seringkali hanya â€?ikutan-ikutanâ€™ menilai sesuai propaganda media massa yang tak mendukung Islam.</p>
<p>Sobat muda muslim, kembali ke soal Miss Universe or Ratu Sejagat. Jujur saja, saya sering bertanya-tanya sendiri, motivasinya apa ya diadakan acara itu. Apa karena untuk mendongkrak harkat dan martabat bangsa? Ah, ini sih terlalu naif deh. Apa nggak ada cara lain yang lebih bergengsi dan dihargai, gitu lox?</p>
<p>Atau, acara itu diadakan sebagai ajang untuk promosi produk kosmetika? Waktu di Thailand kemarin, pemerintahnya malah mendompleng di acara itu untuk memamerkan industri pariwisatanya ke pelosok dunia. Maklum, seluruh finalis Miss Universe diajak jalan-jalan ke seluruh obyek wisata di sana dan disiarkan langsung ke seluruh dunia. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.</p>
<p>BTW, kenapa sih banyak wanita yang mau diadu secara fisik di ajang Miss Universe itu? Apakah karena ingin dianggap cantik? Mungkin iya. Ingin tenar? Bisa jadi. Ingin kaya? Mungkin juga. Banyak motivasinya.</p>
<p><strong>Menarik dan cantik itu mitos, lho</strong><br />
Sobat muda muslim, dari waktu ke waktu kriteria cantik bisa berubah-ubah lho. Selain tren yang sedang berjalan, juga kriteria itu bergantung kultur masing-masing masyarakat. Nggak percaya?</p>
<p>Di jaman kolonial, di kalangan etnik Maori, cantik adalah besar dan gemuk. Waduh? Kok bisa sih? Hehehe&#8230; itu soal persepsi sobat. Kita nggak bisa memprotes keputusan definisi cantik menurut suku Maori bahwa wanita yang cantik itu seperti di telenovela Mi Gorda Bella. Mungkin kalo kita bisa bilang, bahwa model begitu mah â€œGajah Bengkakâ€?, â€œKarung berasâ€? atau bahkan sebutan menyakitkan hati dan menyayat jiwa: mesin giling! Gejlig!</p>
<p>Itu suku Maori. Lain lagi di masyarakat Jawa. Menurut mereka, perempuan yang cantik adalah mereka yang memiliki tubuh di bagian belakang-bawahnya yang besar dan bulat. Perempuan seperti itu akan dikagumi para pria. Karena apa? Karena dianggap perempuan dengan model tubuh seperti itu menandakan mudah melahirkan dan banyak anak. Terus, kalo kamu sempat jalan-jalan ke Lembah Baliem, ternyataâ€”maaf, payudara yang turun jadi idaman perempuan dan impian pria. Nah lho.</p>
<p>Wanita Dayak yang kalo kita saksikan di acara semacam Jejak Petualang, Jelajah, dan Potret, mereka suka memelihara kebiasaannya untuk melubangi telinga mereka dengan semacam anting-anting ya? (tapi itu gede banget dan kayak gelang besi!). Akibatnya, tuh telinga jadi menjulur ke bawah kayak kupingnya Snoopy. Tapi dalam masyarakat Dayak, justru di situlah esensi kecantikan seorang perempuan dan sekaligus menandakan tingginya kelas sosial perempuan dalam masyarakat.</p>
<p>Perempuan cantik dalam masyarakat Indonesia secara umum saat ini diidentikan dengan kulit putih, rambut lurus hitam legam, hidung mancung, dan berbadan langsing. Itu sebabnya, jika ada perempuan Indonesia yang kulitnya gelap suka dapetin pelecehan. Lihat saja di salah satu iklan pemutih kulit digambarkan sangat berbeda antara kulit Santi dan Sinta. Label jelek adalah kulit yang gelap. Akibatnya, pemirsa cewek yang kebawa isu dan mitos ini mati-matian memutihkan kulitnya (asal jangan pake pemutih pakaian aja ya! Bisa iritasi!). Padahal, dalam waktu yang bersamaan, saudaranya di Papua atau di Afrika nyantai aja meski kulitnya gelap. Tul nggak? Apa pernah ada program khusus yang disponsori produsen kosmetika untuk memutihkan seluruh kulit penduduk Afrika?</p>
<p>Selain kulit putih, wanita cantik itu digambarkan memiliki rambut lurus yang hitam dan legam. Kalo keriting, selain diledekin hobi dangdut karena bagian dari ABRI alias Anak Buah Rhoma Irama (Maklum, Bang Rhoma dan penyanyi dangdut rata-rata keriting rambutnya!), juga dianggap tidak cantik. Untuk menyuntikkan penilaian bahwa wanita cantik itu adalah yang punya rambut lurus yang hitam dan legam, iklan-iklan di media massa, baik cetak maupun elektronik pasti menampilkan bentuk idealnya. Nah, bagi yang keriting rambutnya, karena takut dianggap jelek dan itu artinya nggak cantik, akhirnya ia bela-belain nge-rebonding rambut keritingnya biar lurus sesuai kriteria masyarakat saat ini.</p>
<p>Ketika dikampanyekan bahwa hidung mancung itu cantik, maka gelagapanlah para cewek yang kebetulan ditakdirkan oleh Allah Swt. punya hidung berjenis â€œbalukang nangkubâ€? alias mirip pelepah pohon kelapa yang ditaro terbalik (baca: pesek abis!). Kalo nggak rela disebut jelek dengan penampilannya itu, terus punya dana, bukan mustahil kalo akhirnya menjalani operasi bedah plastik biar hidungnya jadi mancung kayak hidung Madhuri Dixit. Tujuannya apa? Biar cantik.</p>
<p><strong>Mari menghargai wanita</strong><br />
Siapa yang kita ajak untuk menghargai wanita? Menurut saya, wanita itu sendiri dan laki-laki. Kepada para wanita, mohon untuk menghargai diri sendiri. Bagaimana mungkin orang lain (laki-laki akan menghargai wanita) jika wanitanya sendiri udah berani untuk kehilangan harga diri. Memang nggak semuanya, tapi kebanyakan. Kok bisa? Ya, gitu deh!</p>
<p>Lihat aja aksi para wanita di panggung?  hiburan dan ajang Miss Universe. Mereka jadi etalase yang bisa dipandang dengan beragam tatapan dari kaum lelaki dan juga wanita lainnya. Kaum lelaki bisa memelototi sepuasnya gambar-gambar sensual para waita yang jadi model iklan. Kalangan wanita lain berdecak kagum ingin mengikuti jejaknya. Wah, bisa tambah runyam kan? Itu sebabnya, sebaiknya kaum wanita yang terjebak di sana sadar diri, bahwa apa yang dilakukannya bisa menambah masalah. Bukan saja bagi orang lain, tapi juga bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Nah, himbauan untuk para wanita tentunya adalah mengkampanyekan untuk sadar diri. Mulai sekarang juga kudu ninggalin anggapan yang menyebutkan bahwa cantik dan menarik itu jika memamerkan bagian-bagian tubuhnya kepada khalayak ramai kayak di ajang â€œRatu Sejagatâ€? itu. Karena apa? Karena manusia yang mulia tidak dilihat dari cantik/ganteng dan berpenampilan menarik secara fisik. Tapi dari ketakwaannya. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?£???ƒ?’?±???…???ƒ???…?’ ?¹???†?’?¯?? ?§?„?„?‘???‡?? ?£?????’?‚???§?ƒ???…?’<br />
â€œSesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.â€? (QS al-Hujurat [49]: 13)</p>
<p>Jadi, buat para cewek yang belum berjilbab, mulai berani deh mengenakan jilbab. Terus bekali pemikiran dan perasaan kamu dengan ajaran Islam, biar ajeg bin stabil. Insya Allah itu akan menjadikan kamu cantik luar-dalam. Percayalah!</p>
<p>Buat kaum cowok, mulai sekarang kita meminimalisir pandangan sebelumnya yang melihat penampilan wanita cuma dari sisi fisik semata. Buang deh jauh-jauh pikiran murah dan murahan seperti itu. Jujur saja, bahwa kecantikan tak akan berarti apa-apa jika tidak berakhlak mulia dan berkpribadian islami. Hargailah wanita sebagaimana makhluk yang juga punya potensi lebih seperti kita laki-laki. Bisa cerdas, bisa bertakwa, dan bisa menjadi teman dalam kehidupan kita. Jangan saling memandang rendah dengan ukuran penampilan fisik. Oke?</p>
<p>Nah, yang paling penting dari semua itu, karena kondisi ini lebih disebabkan karena kerusakan sistem, maka untuk mengubah individu-individu yang bermasalah itu kita harus mengubah masyarakat ini. Satu-satunya kekuatan yang bakal bisa mengubah masyarakat adalah negara. Ya, cuma negara yang bisa lebih tegas dan paling mungkin untuk mengubah kondisi ini jadi lebih baik. Tapi, mungkinkah menggantungkan harapan kepada kapitalisme seperti sekarang ini untuk kehidupan lebih baik? Mimpi kali ye!</p>
<p>Oke deh, karena kerusakan ini akibat tidak diterapkannya Islam sebagai pengatur kehidupan, maka jalan untuk mengubahnya adalah dengan memperjuangkan tegaknya Islam sebagai ideologi negara di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Sehingga, para wanita akan dihargai sebagaimana ketika Khalifah al-Muâ€™thasim menggempur Romawi gara-gara seorang pejabat negeri itu melecehkan seorang wanita muslimah. Juga, agar tumbuh kesadaran di tengah masyarakat bahwa tubuh wanita bukanlah etalase yang bisa dipandang sesukanya dan dinilai dengan uang dan ketenaran untuk memuaskan nafsu syahwat belaka. Jadi Miss Universe? Nggak deh! Begitu dong. Tetep semangat! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 248/Tahun ke-6/13 Juni 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ratu-sejagat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISLAM for ALL</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-for-all</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-for-all#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/islam-for-all/</guid>
		<description><![CDATA[Pascatragedi WTC, penyakit islamophobia alias ketakutan bin kebencian terhadap Islam dan kaum Muslimin merajalela di belahan penjuru dunia. Wabah ini terutama menjangkiti masyarakat nonmuslim yang hidup di Eropa. Nggak sedikit di antara mereka yang agak parno bin paranoid kalo ngeliat atau ketemu orang Arab yang berjenggot dan pake sorban. Udah gitu ngomongnya pake bahasa Arab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pascatragedi WTC, penyakit islamophobia alias ketakutan bin kebencian terhadap Islam dan kaum Muslimin merajalela di belahan penjuru dunia. Wabah ini terutama menjangkiti masyarakat nonmuslim yang hidup di Eropa.</p>
<p>Nggak sedikit di antara mereka yang agak parno bin paranoid kalo ngeliat atau ketemu orang Arab yang berjenggot dan pake sorban. Udah gitu ngomongnya pake bahasa Arab yang pasti asing kedengerannya di kuping orang bule. Wah, udah deh, pikiran mereka langsung melayang pada tokoh teroris yang sering digambarkan sebagai orang-orang Arab/Muslim dalam film-film Hollywood. Padahal orang Arab itu lagi asyik ngomongin kekalahan AC Milan dari Liverpool di final Piala Champions kemaren. Heheheâ€¦ (makanya jangan keburu sewot)<span id="more-249"></span></p>
<p>Salah satu gejala islamophobia di AS terungkap dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Hamilton College dan Zogby Internasional. Polling itu menunjukkan ucapan-ucapan yang sering dilontarkan kepada kaum Muslim AS, antara lain: â€œKamu adalah setanâ€?, â€œAgama Babiâ€?, â€œKamu melakukan serangan terotis, dll. Pelecehan lain yang sering dilakukan adalah meludah dan membuka kerudung wanita muslim. (<a href="http://www.khilafah.com/">www.khilafah.com</a>, 24/6/2003).</p>
<p>Masih belon cukup, Council on America Islamic Relations (CAIR), salah satu organisasi Islam terbesar di Amerika menyebutkan telah terjadinya 959 kasus pelanggaran HAM atas kaum Muslim di AS. Seluruh kasus tersebut telah dilaporkan CAIR setelah peristiwa serangan WTC 11 September 2001. (<a href="http://www.eramuslim.com/">www.eramuslim.com</a>, 22/03/2003)</p>
<p>Saking santernya wabah islamophobia ini di Eropa, organisasi dunia sekaliber PBB sampe kudu ngadain seminar pada tanggal 24/12/04 yang menyangkut keprihatinan akan merebaknya gejala rasial ini. Menurut direktur Institut Ketelitian Publik AS, media AS dan iklim politis negara bahkan secara tegas-tegas membela Kristen. (<a href="http://www.hidayatullah.com/">www.hidayatullah.com</a>, 29/12/04)</p>
<p>Gejala islamophobia di kalangan nonmuslim kian menghebat dengan hadirnya ide pluralisme inklusif di tengah-tengah mereka. Ide yang menyatakan semua agama memiliki tujuan dan kebenaran yang sama ini berujung pada kesimpulan nggak boleh ada satu agama pun yang merasa benar. Apalagi sampe menjadi agama negara. Mereka pikir, itu bakal jadi sumbu yang memicu perseteruan antar agama. Makanya mereka benci banget ama orang Muslim yang pengen ngediriin Negara Islam. Mungkin merasa dirinya bakal terancam.</p>
<p>Rasa benci atau suka emang nggak bisa dipaksain. Tapi kayaknya nggak fair dong kalo rasa benci itu nggak jelas alasannya. Apalagi sampe berakibat pada diskriminasi pihak laen. Apa sih yang ditakutkan atau dibenci dari Islam? Apa bener aturan Islam yang diterapkan oleh negara bakal bikin orang nonmuslim jadi masyarakat kelas dua yang berstatus objek penderita? Atau itu cuma stempel buruk yang diopinikan para pengecut yang memusuhi Islam?</p>
<p>Hmm&#8230; kayaknya mending kita â€?gosipinâ€™ aja deh! Eh, baca dulu deh buletin ini ampe kelar. Baru ngasih komentar. Oke?</p>
<p><strong>Aturan Islam cocok untuk semua</strong><br />
Sobat, ketika Allah mengangkat Muhammad sebagai RasulNya, nggak ada penjelasan kalo beliau diangkat hanya untuk menyampaikan Islam bagi orang Arab. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?ˆ???…???§ ?£???±?’?³???„?’?†???§?ƒ?? ?¥???„?§?‘?? ?ƒ???§???‘???©?‹ ?„???„?†?‘???§?³?? ?¨???´?????±?‹?§ ?ˆ???†???°?????±?‹?§ ?ˆ???„???ƒ???†?‘?? ?£???ƒ?’?«???±?? ?§?„?†?‘???§?³?? ?„?§?? ?????¹?’?„???…???ˆ?†??<br />
â€œDan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad saw), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.â€? (QS Sabaâ€™ [34]: 28)</p>
<p>Dari ayat di atas, kita bisa pahami kalo aturan Islam diturunkan nggak cuma buat kaum Muslimin aja. Rasul mencontohkannya ketika menjadi kepala negara di Madinah. Saat itu, masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah saw. dihuni oleh tiga kelompok besar. Pertama, kelompok Muslim dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang mayoritas. Kedua, kelompok musyrik dari kalangan suku Auz dan Khajraz yang berjumlah sedikit. Ketiga, kelompok Yahudi yang terdiri dari Bani Qainuqaâ€™, Bani Nadhir, Bani Khaibar, dan Bani Quraidzah.</p>
<p>Di Madinah, Rasul nggak pake maksa orang-orang kafir itu untuk masuk Islam. Apalagi sampe mengajarkan tindakan diskriminasi, pelecehan, atau aksi kafirphobia kepada umatnya. Asli, nggak ada banget.</p>
<p>Yang ada, mereka cuma diminta menjadi kafir dzimmi yang tunduk dengan aturan Islam yang diterapkan oleh negara. Ketundukan itu pun hanya berlaku ketika mereka bermuamalah dalam masalah politik, ekonomi, sosial, budaya atau pendidikan yang semuanya di atur oleh negara. Sementara untuk perkara akidah, ibadah ritual, makanan, minuman, pakaian, perkawinan, atau perceraian, mereka bebas ngikutin aturan agamanya masing-masing. Nggak cuma itu, mereka pun bakal dapet jaminan terpenuhinya kebutuhan hidup, keselamatan harta, serta keamanan diri dan keluarganya. Rasul bersabda: Siapa saja yang membunuh seorang kafir muâ€™ahid (yang terikat dengan perjanjian/kafir dzimmi) yang dijamin oleh Allah dan RasulNya, tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu akan dapat tercium dari jarak perjalanan tujuh puluh tahun. (HR Ibn Majah).</p>
<p><strong>Bukti sejarah</strong><br />
Sobat, nampaknya cuma satu penyebab orang nonmuslim menolak kemuliaan aturan Islam atau bersikap islamophobia. Yup, mereka termakan oleh fitnah binti stempel negatif yang dikampanyekan oleh musuh-musuh Islam. Seperti dalam penayangan episode pertama serial drama laga berjudul â€œ24â€? yang mengisahkan tentang rencana aksi terorisme yang dilakukan oleh ayah dan anak yang merupakan warga Muslim di AS. Fitnah ini tidak lepas dari peran kelompok Yahudi di AS. Fox Broadcasting Company, perusahaan yang memproduksi serial drama itu, adalah bagian dari jaringan perusahaan milik milyuner Yahudi, Rupert Murdoch. (<a href="http://www.eramuslim.com/">www.eramuslim.com</a>, 11/01/2005)</p>
<p>Padahal faktanya, penghormatan Islam terhadap orang-orang nonmuslim tidak hanya terukir dalam teori. Banyak kisah nyata yang ditunjukkan para shahabat atau para khalifah sebagai perwujudan ajaran Islam yang mulia.</p>
<p>Diceritakan dalam kitab â€?Al-Kharajâ€™ karangan Imam Abu Yusuf, bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khathab r.a. melihat seorang yahudi tua di suatu pintu. Beliau bertanya, â€œApakah ada yang bisa aku bantu?â€? Orang Yahudi itu menjawab bahwa ia sedang dalam keadaan susah dan membutuhkan makanan, sementara ia harus membayar jijyah. Mendengar pengakuan tersebut,Umar r.a. berkata: â€œKalau begitu keadaanmu, alangkah tidak adilnya perlakuan kami. Karena kami mengambil sesuatu darimu di saat muda dan kami biarkan kamu di saat tuamuâ€?. Kemudian Khalifah membebaskan pembayaran jizyah Yahudi tua itu dan memerintahkan Baitul Mal menanggung beban nafkahnya beserta seluruh orang yang menjadi tanggungannya.</p>
<p>Ada juga?  kisah seorang wanita Nasrani dari penduduk Mesir yang pernah mengeluh kepada Umar bahwa Amr bin Ash telah menggusur rumahnya untuk keperluan perluasan mesjid. Amr lalu ditanya oleh Umar mengenai hal itu. Amr mengabarkan bahwa jumlah kaum Muslimin telah banyak dan masjid sudah tidak dapat lagi menampung mereka.</p>
<p>Kebetulan di samping mesjid itu rumah perempuan ini. Amr telah menawarkan kepadanya uang ganti rugi yang melebihi harga rumahnya tetapi ia tetep tidak mau. Maka terpaksa Amr merobohkan rumah itu dan memasukkannya ke dalam lingkungan masjid. Sementara uang ganti ruginya disimpan di Baitul Maal yang bisa diambil kapan aja semau perempuan itu.</p>
<p>Namun Umar menolak alasan Amr, dan memerintahkannya untuk merobohkan bangunan baru mesjid itu dan mengembalikan rumah perempuan Nasrani itu seperti sedia kala.</p>
<p>Bahkan dalam penaklukan negeri-negeri Eropa, penghormatan Islam terhadap rakyat nonmuslim ditunjukkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih saat menguasai Konstantinopel. Sultan memberikan jaminan kepada semua penduduknya yang beragama Nasrani atas harta benda, jiwa raga, akidah, gereja dan salib-salib mereka.</p>
<p>Makanya wajar, jika kondisi seperti di atas melahirkan sebuah pengakuan jujur dari seorang sejarawan Barat bernama Gustave Lebon. Dia menuturkan: â€œbelum pernah umat-umat mengenal penakluk-penakluk yang pengasih dan murah hati seperti bangsa Arab atau agama yang toleran seperti agama mereka (Islam).â€?</p>
<p>Nah, seharusnya hal ini menjadi bukti historis yang tak bisa dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Jadi, jangan cemburu dulu sama Islam ya, kata pepatah prokem, â€œcemburu tanda tak mampuâ€? Hehehe&#8230; sori.</p>
<p><strong>Nggak PeDe, ikut ngaji dong!<br />
</strong>Sobat muda muslim, semoga paparan di atas menambah keyakinan kita akan kemuliaan aturan Islam. Dan ternyata, sebenernya nggak ada alasan bagi orang nonmuslim untuk benci atau takut dengan aturan Islam. Yup, sebab Islam, satu untuk semua. Ups! Jadi mirip slogan salah satu tv swasta nih. Ehmâ€¦</p>
<p>Cuma masalahnya, nggak semua orang tahu kalo aturan Islam juga melindungi dan menjaga orang-orang nonmuslim. Kondisi ini kian diperparah ketika orang-orang Muslim yang tahu kayak kita-kita ini adakalanya nggak pede menyampaikan kebenaran Islam kepada orang lain. Boro-boro ama nonmuslim. Ama sodara seakidah aja entar-entar dulu. Entah karena sungkan, takut, atau emang nggak tahu. Yang pasti, hal itu malah bikin kebenaran Islam makin tertutupi oleh opini negatif yang dihembuskan musuh-musuh Islam. Gaswat kan? Lantas gimana dong?</p>
<p>Jangan tunggu orang lain menyuarakan Islam. Yup, kita kudu jadi yang terdepan. Masa depan Islam di tangan kita. Tapi gimana dengan krisis PeDenya?</p>
<p>Nggak usah dimanjain. Cari solusinya. Karena menurut Ustadz Sanusiâ€¦, eh menurut pengalaman orang sukses seperti Pak Sumardi, (Nah lho? Kok jadi ketularan API gini?) krisis PD lahir lantaran kita ngerasa ada yang kurang. Kurang bekal tsaqofah Islam, kurang pandai dalam mengolah kata, kurang berani dalam mengungkapkan pendapat, tapi masih untung nggak pake kurang ajar.</p>
<p>Karena itu, kita wajib segera menambal kekurangan itu untuk mendongkrak rasa percaya diri kita. Dan nampaknya, untuk menambal kekurangan itu bisa kita mulai dengan ikut pengajian. Lho kok, ujung-ujungnya ikut ngaji sih?</p>
<p>Bener guys! Karena ngaji bisa menjadi media yang pas untuk menambal kekurangan itu. Pertama, dalam pengajian so pasti tsaqofah kita bertambah. Mengenal Islam lebih dalam sampe ke segala sisi kehidupan kita. Nggak cuma setengah-setengah mempelajari Islam seperti akhlak, ibadah, atau munakahat (pernikahan) saja. Tapi utuh hingga menyentuh pembahasan politik, sosial, budaya, pendidikan, militer, ekonomi, atau penghargaan terhadap penganut agama lain.</p>
<p>Kedua, semakin banyak tsaqofah, semakin banyak perbendarahaan kata yang kita punya. Kita bisa belajar memilah dan memilih kata yang tepat biar penyampaian kita enak didenger, tepat sasaran, dan gampang dicerna.</p>
<p>Ketiga, udah nggak jamannya lagi ikut ngaji cuma pasang telinga dan tutup mata kaya orang khusyu padahal mah tidur. Kalo ada yang belon ngerti, jangan sungkan untuk berdiskusi. Di sini kita bisa belajar menyampaikan pendapat. Bener juga gak papa (yeeâ€¦.jelas gak papa dong!).</p>
<p>Nah, kalo proyek mendongkrak PD udah dimulai, yakin deh, Allah pasti bersama kita. Makanya, ngaji yuk? Nggak bakal nyesel deh. Yakin itu. [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 247/Tahun ke-6/6 Juni 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-for-all/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bring ISLAM Back!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bring-islam-back</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bring-islam-back#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bring-islam-back/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang peserta acara bedah buku â€œJangan Jadi Bebekâ€? bertanya kepada saya: â€œGimana ngilangin imej bahwa Islam itu radikal, keras, karena beberapa kasus yang ada saat ini? Terus gimana ngeyakinin orang-orang bahwa Negara Islam akan aman bagi pemeluk agama lain? Hmmâ€¦ sayangnya pertanyaan ini dia sampaikan di luar forum. Memang bukan tanpa sebab, keterbatasan waktulah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang peserta acara bedah buku â€œJangan Jadi Bebekâ€? bertanya kepada saya: â€œGimana ngilangin imej bahwa Islam itu radikal, keras, karena beberapa kasus yang ada saat ini? Terus gimana ngeyakinin orang-orang bahwa Negara Islam akan aman bagi pemeluk agama lain?<span id="more-248"></span></p>
<p>Hmmâ€¦ sayangnya pertanyaan ini dia sampaikan di luar forum. Memang bukan tanpa sebab, keterbatasan waktulah yang menjadi alasan sehingga ia tidak bisa bertanya di forum. Andai saja pertanyaan ini ditanyakan di dalam forum, mungkin jawaban saya bisa disimak teman-teman lain. Itu sebabnya, saya merasa harus menyampaikan ini dalam tulisan di buletin kesayangan kamu. Biar kamu semua juga bisa dapetin wawasannya. Oke?</p>
<p>Sobat muda muslim, tulisan ini awalnya berjudul â€œKatakan dengan ISLAMâ€?, tapi rasanya kurang gereget. Sambil nyari judul lain, saya aktifkan MP3 di komputer saya dan saya klik folder â€œSoldier of Allahâ€?. Nah, salah satu judulnya yang membuat saya terinspirasi untuk membuat judul artikel ini adalah lagunya yang berjudul â€œBring Islam Back!â€?. Isinya keren dan juga iramanya cocok buat senam pagi. Kayaknya klop deh judul lagu ini dengan artikel yang akan saya tulis. Jadi, â€?nyontekâ€™ aja sekalian judulnya.</p>
<p>Buat kamu yang kebetulan udah kenal grup nasyid asal California ini pasti apal dengan lirik lagu-lagunya yang oke punya dan pemicu semangat. Apalagi digeber dalam irama hip-hop yang asyik punya. Nggak cuma bisa bikin kita geleng-geleng kepala dan menghentakkan kaki, tapi isinya mantap banget. Rasa-rasanya para rapper Islam ini teriak di dekat telinga saya untuk sadar tentang Islam. Sadar tentang kemuliaannya, ngeh tentang hebatnya Islam, jelasin tuntas tentang beragam kesengsaraan tanpa menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Mantap Man!</p>
<p>Sobat muda muslim, jawaban saya kepada teman yang bertanya itu sebenarnya singkat saja, tapi di sini saya akan berusaha untuk menampilkan tambahan-tambahannya biar lebih detil. Pertanyaan ini saya kemas dalam beberapa subjudul. Biar kamu bisa merunut masalahnya. Semoga saja memang memudahkan kamu dalam mencernanya. Maklum, banyak kalangan yang kayaknya agak gerah bin alergi kalo udah ngomongin Islam. Kesannya berat banget. Insya Allah ini ringan dan menghibur, sekaligus mudah-mudahan mencerahkan kamu semua. Oke?</p>
<p><strong>Umat ini sedang sakit</strong><br />
Saya pernah mendapatkan slogan menarik, unik, dan menggugah dari FIS, partai Islam di al-Jazair saat kampanye di awal tahun 90-an. Bunyinya kira-kira begini, â€œUmat ini sedang sakit. Penyebab sakitnya karena meninggalkan Islam. Apa obatnya? Kembali kepada Islam. Siapa dokternya? Siapa saja dari kalangan kaum muslimin yang sehat dan mau mendakwahkan Islamâ€?. Semboyan ini tidak saja menggugah, tapi juga menggerakkan siapa saja. Buktinya, partai ini didukung lebih dari 80 persen suara. Sayangnya, demokrasi selalu ingkar janji. Maklum, demokrasi tak akan membiarkan musuhnya membunuh dirinya sendiri. Pemilu itu digagalkan dan hasilnya dibatalkan. Nggak cuma itu, para aktivis FIS dan pendukungnya diburu, dijebloskan ke penjara, dan sebagian dibunuh.</p>
<p>Sobat muda muslim, semboyan ini cocok jika kita mau melek dengan kondisi kaum muslimin saat ini. Ya, kaum muslimin saat ini sedang sakit. Berbagai masalah mendera kita; krisis ekonomi, kedzaliman penguasa, amburadulnya tatanan sosial; kriminalitas, pelacuran, seks bebas, peredaran narkoba dan miras. Nggak cuma itu, masalah hukum dan pendidikan juga bikin nyesek dada kita. Hukum nggak adil, pendidikan yang cuma bisa dinikmati kalangan berduit saja. Jelas, ini adalah kondisi sakitnya masyarakat di bawah belenggu ideologi kapitalisme.</p>
<p>Ketika Islam nggak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka umat sebenarnya sedang menurun tingkat kesehatannya. Kalo nggak ngeh bahwa dirinya sedang sakit, maka sudah pasti akan tambah parah karena nggak diobati dan agak sulit sembuh.</p>
<p>Bagi sebagian umat yang sadar, mulai mencari obatnya. Meski nggak semua obat yang dikonsumsi menyembuhkan total, paling nggak cukup untuk meredam rasa sakit. Ada yang mencoba menawarkan obat perbaikan akhlak, namun belum juga meredam kerusakan. Ini mungkin baru mengurangi jumlah yang sakit saja. Sedikit demi sedikit. Ada umat yang menawarkan obat ekonomi, karena merasa umat ini paling parah penyakitnya di bidang ekonomi. Tapi, tak jua sembuh total. Umat masih terus terpuruk dan bahkan mendekati Stadium IV. Walah, parah banget dong kalo penyakit kanker mah ya?</p>
<p><strong>Islam yang bagaimana?<br />
</strong>Saya setuju dengan semboyan FIS, bahwa Islam adalah solusi dari segala masalah yang ada saat ini. Islam yang bagaimana? Nah, ini pertanyaannya. Setelah dikaji ulang dan diteliti layaknya dokter spesialis yang mendiagnosis penyakit pasien, maka ditemukan bahwa masalah utama yang mendera umat ini adalah karena ditinggalkannya Islam sebagai ideologi negara. Nah, ini bedanya Islam dengan agama lain. Islam nggak cuma ngatur urusan kuburan dan akhirat, tapi Islam juga mengatur kehidupan dunia, lho.</p>
<p>Itu sebabnya, solusi yang insya Allah menurut saya logis dan sesuai syariat adalah dengan menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Karena apa? Karena masalah akhlak, masalah ekonomi, masalah kekacauan sosial, pendidikan, hukum, pemerintahan dan sebagainya insya Allah akan beres kalo diterapkan Islam sebagai ideologi negara. Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam bukunya, Al-Fikr al-Isl?¢mi (hlm. 9â€“11), yang disebut dengan mabdaâ€™ (ideologi) adalah akidah/keyakinan yang digali dari proses berpikir, yang kemudian melahirkan sistem atau aturan-aturan (â€?aq?®dah â€?aqliyyah yanbatsiqu â€?anh?¢ nizh?¢m). Menurut definisi ini, sebuah akidah/keyakinan disebut sebagai mabdaâ€™ (ideologi) jika memiliki dua syarat: (1) bersifat â€?aqliyyah; (2) memiliki sistem/aturan.</p>
<p>Akidah, dalam hal ini, bisa dimaknai sebagai pemikiran yang bersifat integral (menyeluruh) mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan ini; mengenai keadaan sebelum dan setelah kehidupan dunia; juga mengenai hubungan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudah dunia.</p>
<p>Sedangkan sistem aturan yang dimaksud mencakup berbagai pemecahan atas berbagai problem kehidupan (baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara; menyangkut persoalan ibadah, akhlak, sosial, politik, ekonomi, dan budaya); juga mencakup cara untuk menerapkan berbagai pemecahan tersebut serta cara memelihara sekaligus menyebarkan akidah tersebut (an-Nabhani, Nizh?¢m al-Isl?¢m, hlm. 22).</p>
<p>Oke deh, jadi solusinya memang Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Itu harga mati lho yang nggak bisa ditawar lagi. Kalo di supermarket kita bisa setuju aja dengan bandrol yang tertera di barang yang akan kita beli. Maka, harus lebih setuju lagi dengan pernyataan Allah di al-Quran yang menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya hukum yang kudu diterapkan. Tul nggak? Tanpa Islam, kehidupan kita akan sengsara seperti sekarang, ketika kita berada dalam naungan kapitalisme. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?£???????­???ƒ?’?…?? ?§?„?’?¬???§?‡???„?????‘???©?? ?????¨?’?????ˆ?†?? ?ˆ???…???†?’ ?£???­?’?³???†?? ?…???†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?­???ƒ?’?…?‹?§ ?„???‚???ˆ?’?…?? ?????ˆ?‚???†???ˆ?†??<br />
? â€œApakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?â€? (QS al-Maaidah [5]: 50)</p>
<p><strong>Wah, nanti dicap radikal dong?<br />
</strong>Sssttt.. sebenarnya apa sih artinya radikal? Jangan-jangan kita nggak tahu artinya? Hehehe.. Terus, jangan-jangan kita dapetin infonya dari media massa. Lalu kita telan mentah-mentah dan kita anggap sebagai kebenaran. Tul nggak?</p>
<p>Begini sobat, kalo di kamus bahasa Indonesia, radikal itu artinya mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Terus istilah radikalisme bisa banyak arti; salah satu artinya adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.</p>
<p>Hmm&#8230; jawaban saya kepada penanya yang saya ceritakan di awal tulisan adalah: â€œAmerika menurut Anda radikal tidak?â€? Setelah diminta melihat aksi brutalnya di Afghanistan, Irak, juga di penjara Abu Ghraib dan di kamp penahanan Guantanamo, teman kita manggut-manggut. Tapi kenapa tak ada cap radikalisme untuk Amrik? Kenapa pula cap radikal cuma disematkan kepada aktivis Islam, padahal tu pun sebenarnya lebih karena pembelaan seperti di Irak dan Afghanistan? Tapi anehnya, media massa Barat (dan diikuti media lokal di di negeri ini) dengan gagah berani menuliskan bahwa â€œKelompok radikal Islam berada dalam aksi kekerasan di Irakâ€? Walah, kenapa Amrik pada kesempatan yang sama tidak dituduh sebagai penyebar teror dan radikalisme?</p>
<p>Itu sebabnya, kamu nggak usah kemakan isu bahwa Islam itu penyebar radikalisme. Nggak, itu cuma propaganda media massa yang berdiri di belakang musuh-musuh Islam saja yang ingin membuat buruk citra Islam. Lagian, kalo mo â€?adilâ€? kan beritanya kudu sama. Artionya, sama-sama disebut bahwa Amrik juga mengobarkan radikalisme untuk â€?reformasiâ€™ di Irak. Iya nggak?</p>
<p>Dijawab seperti ini, teman kita ini bertanya lagi, â€œTapi ada kan Pak, gerakan Islam yang dakwahnya dengan kekerasan?â€? Saya bilang, â€œTapi itu tidak sebanyak yang menyampaikan dengan cara yang santunâ€?. Artinya, jika pun ada, mungkin karena tekanan aja. Imam Samudera dkk yang dituduh nyundut bom di Bali aja beralasan karena Amerika telah menyebarkan teror di mana pun. Mungkin saja, karena keterbatasan wawasan dan saking keselnya, akhirnya memilih jalan itu. Tapi ingat, itu pun masih perlu ditelusuri, jangan-jangan beliau-beliau ini kelompok militan Islam yang dijebak oleh skenario yang sudah disiapkan Amrik untuk mencitrakan bahwa Islam dan kaum muslimin itu menyebarkan radikalisme. Persis strategi â€œpancing dan jaringâ€? di masa orde baru dulu. Bahaya!</p>
<p>Sobat muda muslim, dengan melihat kenyataan ini, maka kita perlu bertanya tentang definisi radikalisme atau terorisme seperti yang dilakukan oleh negara-negara Amerika Latin ke PBB: â€œSebenarnya, apa sih definisi terorisme? Kok kelihatannya istilah ini selalu disematkan kepada pihak-pihak yang melawan Amerika? Sementara Amerika sendiri dibiarkan melanggar istilah ituâ€?</p>
<p>Hmm.. jadi inget ucapan Anakin kepada Obi-Wan di film Star Wars Episode III: Revenge of the Sith, â€œIf you not with me, then you my enemy!â€? yang diyakini mirip banget dengan ancaman Presiden George W. Bush terhadap pihak lain berkait perang melawan terorisme. Kalo gitu, siapa penyebar radikalisme dan terorisme yang sesungguhnya? Kamu pasti tahu jawabannya.</p>
<p><strong>Islam for all<br />
</strong>Sobat muda muslim, jawaban saya atas pertanyaan kedua yang dilontarkan teman kita di awal tulisan ini adalah, â€œIslam untuk semuaâ€?. Islam akan aman bagi pemeluk agama lain, asalkan mereka mau hidup diatur oleh Islam. Mau dengan sukarela hidup di bawah naungan Islam. Insya Allah akan dijamin hak-haknya. Ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw.</p>
<p>Insya Allah tentang ini akan dibahas lebih detil di edisi yang akan datang. Tunggu aja ya.. Soalnya emang masalah ini sering jadi bahan perbincangan, dan perlu dijelaskan. Oke?</p>
<p>Kalo ada kalangan agama lain yang merasa khawatir, itu mungkin karena mereka dibayangi oleh Perang Salib yang dipicu oleh leluhurnya ketika berperang melawan Islam. Mereka takut kalo Islam memimpin dunia ini, mereka dibinasakan. Itu namanya paranoid, bro.</p>
<p>Oke deh, mendingan sekarang kita kaji Islam, citrakan Islam yang ramah dan santun sekaligus tegas memperjuangkan Islam sebagai ideologi negara. Bring Islam Back! Siap kan? Jangan takut! Kita di jalan yang benar. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 246/Tahun ke-6/30 Mei 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bring-islam-back/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Aqsha, Palestina, dan Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/al-aqsha-palestina-dan-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/al-aqsha-palestina-dan-kita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:30:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/al-aqsha-palestina-dan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Media massa lokal dan internasional ngasih tahu kalo pada tanggal 10 April 2005 kelompok ekstrim sayap kanan Yahudi Revava berniat menyerbu Masjid al-Aqsha. Untungnya kaum Muslimin dari berbagai penjuru wilayah Palestina lebih dulu memasuki dan berjaga-jaga di sekitar masjid. Walhasil, rencana itu gagal. Tapi Revava tetep ngeyel dan bilang bakal balik lagi setelah pesan-pesan berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Media massa lokal dan internasional ngasih tahu kalo pada tanggal 10 April 2005 kelompok ekstrim sayap kanan Yahudi Revava berniat menyerbu Masjid al-Aqsha. Untungnya kaum Muslimin dari berbagai penjuru wilayah Palestina lebih dulu memasuki dan berjaga-jaga di sekitar masjid. Walhasil, rencana itu gagal. Tapi Revava tetep ngeyel dan bilang bakal balik lagi setelah pesan-pesan berikut ini, eh pada tanggal 09 Mei 2005 mo ngeruruk lagi. Tapi untuk kedua kalinya, rencana itu gagal lagi. Euleuhâ€¦euleuhâ€¦teu kapok-kapok nya!<span id="more-247"></span></p>
<p>Pengepungan al-Aqsha merupakan salah satu dari sekian banyak makar Yahudi di tanah Isra Miâ€™raj itu. Sejak mereka menjajah Palestina pada tahun 1948, tingkah polahnya terhadap tuan rumah udah kebangetan. Mereka malah punya rencana untuk melakukan yahudisasi kota al Quds (Palestina) yang tertuang dalam sebuah proyek besar bernama â€œJerusalem Rayaâ€?. Proyek ini mengusung slogan â€œSebanyak mungkin orang Yahudi dan sedikit mungkin orang Palestinaâ€? di al Quds. Rencana ini sempurna dilakukan pada tahun 2020 nanti. (Info palestina, 03/05/2005). Waduh!</p>
<p>Karena itu, pemerintah zionis Israel tiap hari kerjaanya bikin rencana jahat untuk menyingkirkan Islam dan kaum Muslimin, khususnya di?  Palestina. Apapun dijabanin biar rencananya berhasil. Akibatnya, korban harta dan jiwa banyak berjatuhan di pihak kaum Muslimin. Dalam empat tahun terakhir, sejak meletus aksi intifadhah di al-Aqsha, 28 September 2000, tercatat jumlah syuhada Palestina yang gugur akibat serangan penjajah Zionis Israel sebanyak 4.000 orang. Sementara yang luka-luka sebanyak 52.882 orang, sebagian besar dari mereka menderita cacat tetap. Sementara yang menghuni penjara-penjara Israel sebanyak 7.600 orang.</p>
<p>Rumah-rumah penduduk yang dirusak sebanyak 69.843 buah rumah dan 7.438 rata dengan tanah. Jumlah lembaga pendidikan yang hancur akibat bom/roket Israel sebanyak 316 sekolah, yayasan pendidikan serta perguruan tinggi. Sementara 43 sekolah lainnya berubah menjadi tangsi-tangsi militer Zionis Israel.</p>
<p>Masih belon cukup, Israel juga telah menghancurkan 740 ladang dan membumihanguskan 742 perkebunan, peternakan ayam dan pengembangbiakan hewan. Nggak ketinggalan 30.032 hektar jaringan irigasi serta 1311 kolam dan penampungan. Mereka juga memporakporandakan lebih dari 9066 toko dan kios.</p>
<p>Akibat dari aksi brutal Israel ini, sebanyak 15.879 petani kehilangan ladang garapannya; 32,3 % dari jumlah penduduk Palestina menganggur; dan angka kemiskinan selama operasi penutupan dan pengepungan militer Zionis lebih 67,6 %. Ini berdasarkan hasil sensus kemiskinan bulan Agustus 2003, juga berdasarkan kantor Pusat Statistik Palestina. (Ummi Online, 03/03/2005).</p>
<p>Itulah secuil fakta kebuasan Israel di negeri Palestina. Menyedihkan ya. Parahnya, pemimpin negeri-negeri Islam di Timur Tengah sono yang tetanggaan dengan Palestina paling banter cuma bisa mengecam bin mengutuk tindakan brutal Israel (Emangnya Malin Kundang pake dikutuk segala?). Dan kita yang mengaku-ngaku muslim juga sering pura-pura lupa, nggak denger, atau malah bungkam dengan kondisi sodara kita di Palestina. Ehmâ€¦jadi malu!</p>
<p>Bukannya nuduh, cuma faktanya banyak yang nganggap krisis Palestina sebatas masalah negeri-negeri di Timur Tengah saja. Padahal jelas-jelas negeri Palestina adalah negeri Islam dan bagian dari kaum Muslimin. Untuk menyegarkan ingatan kita, ada baiknya kita ulas sedikit sejarahnya. Nyokâ€¦nyokâ€¦ nyooookâ€¦!</p>
<p><strong>Sejarah Palestina</strong><br />
Negeri Palestina sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Islam dan kaum Muslimin. Di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Allah Swt. memerintahkan hambaNya untuk menghadap kiblat ke dua (Kaâ€™bah al-Musyarrafah), 16 bulan setelah peristiwa hijrah. Masjid al-Aqsha juga menjadi tempat â€?transitâ€™ Nabi Muhammad saw. ketika melakukan perjalanan suci Miâ€™raj menuju Sidratul Muntaha setelah beliau melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram dalam peristiwa Isra Miâ€™raj.</p>
<p>Palestina berada di bawah kekuasaan Islam saat khalifah kedua, Umar bin Khathab ra berhasil menaklukkannya pada tahun 15 H dan menerima (kunci)-nya dari Uskup Agung Saphranius. Mereka menyepakati perjanjian masyhur, yaitu perjanjian Umariyah, yang di antara isinya (atas permintaan orang Nasrani yang tinggal di sana) adalah: â€œTidak boleh satu orang Yahudi pun untuk tinggal di daerah Palestinaâ€?. Catet tuh!</p>
<p>Pada masa pemerintahan khilafah Abdul Hamid, kaum Yahudi yang nggak punya tempat tinggal (idih, kayak gelandangan ajaâ€¦) berusaha menjadikan Palestina sebagai tempat mukimnya. Dengan bantuan Inggris, mereka berupaya memicu timbulnya krisis keuangan di Negara Khilafah Ustmaniyah. Lalu Hertzl, pemimpin senior Yahudi saat itu (1901 M), menawarkan sejumlah uang kepada Khalifah untuk memulihkan ekonomi Daulah Khilafah. Tapi dengan catatan, kaum Yahudi dibolehkan tinggal di Palestina. Namun, Khalifah Abdul Hamid dengan tegas menolak tawaran Hertz. Beliau menjawab: â€œSungguh aku tidak bisa melepaskan bumi Palestina walau hanya sejengkal. Bumi itu bukan milikku, melainkan milik umat Islam. Bangsaku telah berjihad dalam mempertahankan bumi tersebut dan telah menyiraminya dengan darah-darah mereka. Lalu Yahudi itu meminta untuk orang-orang mereka, dan jika negara Khilafah suatu hari hancur, maka sungguh mereka pada saat itu akan dapat mengambil Palestina secara cuma-cuma. Namun, selama aku masih hidup, tertanamnya pisau bedah pada tubuhku lebih ringan bagiku daripada menyaksikan Palestina terlepas dari Negara Khilafah, dan hal itu tidak akan pernah terjadi. Sungguh aku tidak akan setuju untuk mencabik-cabik tubuh kita sendiri, padahal kita masih hidup.â€?</p>
<p>Ucapan Khalifah Abdul Hamid di atas, emang bikin Yahudi ciut. Keinginan mereka kudu tertunda. Tapi, harapan mereka kembali bersinar setelah pada tahun 1917 (menjelang runtuhnya Khilafah Utsmaniyah) dalam perang dunia I, Inggris berhasil menduduki Palestina. Saat itu, Inggris menetapkan sebuah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Balfour. Isinya, Inggris menjanjikan kepada Yahudi untuk dapat menduduki Palestina dan mendirikan negara bagi mereka di sana.</p>
<p>Usai perang dunia II, PBB seolah mengamini rencana Inggris dengan mengeluarkan resolusi No. 181 tanggal 29/10/1947. Isi resolusi itu, menetapkan pembagian daerah Palestina menjadi dua, antara penduduknya dan kaum pendatang yang merampasnya. Lalu Inggris merekayasa perang antara para penguasa Arab yang menjadi bonekanya, dengan Yahudi sebagai bentuk penolakan pendirian negara Yahudi di Palestina. Padahal hasil akhirnya sudah ditentukan oleh Inggris. Yahudi sebagai pemenang sehingga bisa mendeklarasikan negaranya pada tanggal 05 Mei 1948 dengan menguasai sebagian besar wilayah Palestina.</p>
<p>Sialnya, PBB yang katanya penjaga perdamaian dunia malah memasukkan negara penjajah Yahudi sebagai anggota PBB pada tanggal 18 Maret 1949. Nggak heran kalo Israel makin belagu karena AS, Inggris, dan PBB selalu menganakemaskannya. Huh, beraninya pake bodyguard!</p>
<p><strong>Yahudi, the troublemaker</strong><br />
Sobat, rencana penghancuran al-Aqsha oleh kaum yahudi Revava, makin menunjukkan sifat orang Yahudi yang kemaruk. Udah mah ngerampas negeri muslim, membantai penduduknya, kini mau ngancurin bangunan bersejarah umat Islam pula. Wajar kalo kebencian terhadap kaum Yahudi, sang trouble maker bukan hanya berasal dari kaum Muslimin. Seorang Presiden Amerika, Benjamin Franklin, pernah berpesan akan bahayanya Yahudi dalam konferensi penyusunan konstitusi Amerika pada tahun 1789 M: â€œKetahuilah, di sana terdapat bahaya besar yang mengancam Amerika Serikat, dan itu adalah bahaya yahudi. Di mana pun mereka berada selalu menimbulkan kehancuran terhadap moralitas dasar yang luhur dan merendahkan tingkat kepercayaan perdagangan. Mereka adalah para penumpah darah dan perampas harta. Sunguh, aku mengingatkan kalian wahai para pemuka bangsa Amerika, jika kalian tidak mengusir Yahudi secara tuntas, maka anak-anak dan cucu kalian akan melaknat kalian di atas kuburan kalian.â€?</p>
<p>Salah satu alasan yang melatarbelakangi pengepungan al-Aqsha oleh Revava adalah adanya sejumlah kelompok agama Yahudi meyakini bahwa tahun 2005 adalah tahun terakhir untuk membangun sinagog Yahudi (Haikal Sulaiman) di atas Masjid al-Aqsha. Jika sampai batas ini tidak terlaksana, Tuhan bakal marah dan mengazab mereka. Makanya, mereka sampe bikin kampanya gede-gedean dalam rangka mengajak kaum Yahudi untuk menyerang dan menduduki al-Aqsha. Dari masang baliho di kota-kota besar Israel hingga sosialisasi melalui audiovisual dalam maskapai penerbangan Israel. (Republika, 13/04/2005)</p>
<p>Sobat, selain alasan di atas, boleh jadi rencana penyerangan terhadap al-Aqsha ini sebuat test case dari musuh-musuh Islam. Mereka pengen mengecek sejauh mana respon kaum Muslimin di luar Palestina. Kalo kebanyakan kaum Muslimin adem ayem, bukan tidak mungkin kebencian mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin makin ditunjukkin secara terang-terangan. Misalnya dengan menghancurkan Kaâ€™bah al-Musyarofah. Nah lho?</p>
<p><strong>Perkuat barisan, tegakkan khilafah</strong><br />
Saat ini, penjajahan secara fisik yang menimpa kaum Muslimin nggak cuma terjadi di Palestina. Terjadi juga di Irak, Kashmir (India), Chechnya, Afghanistan, Cyprus, atau Sudan (selatan). Atau tempat-tempat lain yang nggak terekspos oleh media. Dan semuanya melibatkan negara-negara adidaya yang?  melanggengkan pejajahan itu. Masihkah kita berdiam diri dengan merajalelanya penindasan terhadap sodara-sodara kita ini?</p>
<p>Nehiâ€¦nehiâ€¦nehi! (sambil geleng-geleng kepala!) Ya, udah saatnya kita hentikan diam kita. Sudah waktunya kita tunjukkin bahwa kaum Muslimin nggak cuma ada di negeri-negeri yang terjajah. Kita juga wajib nyadar kalo penjajahan itu terjadi karena kaum Muslimin terpecah belah. Nggak punya kekuatan seimbang untuk melawan arogansi Israel, AS, atau Inggris. Makanya kita kudu tegakkan kembali Khilafah Islamiyyah yang akan menyatukan dan menjaga kaum Muslimin serta menyelamatkan dunia dari kejahatan Israel, AS, atau Inggris.</p>
<p>Untuk itu, mari kita perkuat barisan perjuangan Islam dengan terjun ke dunia dakwah. Dunia yang penuh dengan limpahan pahala. Mengisi hari-hari kita dengan menyuarakan kebenaran Islam, membongkar kejahatan musuh-musuh Islam, serta meminta para penguasa negeri-negeri muslim untuk menegakkan Khilafah dan membela negeri-negeri muslim yang terjajah.</p>
<p>Jangan lupa juga untuk?  membekali diri kita dengan tsaqafah Islam. Nggak alergi untuk hadir dalam forum-forum pengajian, membaca buku-buku islam, atau berdiskusi dengan teman seputar permasalahan yang menimpa kaum Muslimin. Inilah langkah awal yang bisa kita lakukan untuk membela Islam dan kaum Muslimin. Yuk? Siip dah. Ayo maju! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 245/Tahun ke-6/23 Mei 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/al-aqsha-palestina-dan-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Lebih Kuat dari Samson!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kita-lebih-kuat-dari-samson</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kita-lebih-kuat-dari-samson#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:27:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kita-lebih-kuat-dari-samson/</guid>
		<description><![CDATA[Sssttt.. judul tulisan ini sengaja memakai nama Samson. Dalam mitosnya, Samson tuh berotot kawat bertulang besi. Boleh dibilang saingan berat Gatot Kaca yang juga punya sebutan otot kawat balung wesi. Terutama setelah doi diceburin ke Kawah Candradimuka. Ini untuk mengidentikkan betapa kuatnya dua jagoan khayalan itu. Samson kuat, bahkan bisa berantem melawan banteng segala. Mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sssttt.. judul tulisan ini sengaja memakai nama Samson. Dalam mitosnya, Samson tuh berotot kawat bertulang besi. Boleh dibilang saingan berat Gatot Kaca yang juga punya sebutan otot kawat balung wesi. Terutama setelah doi diceburin ke Kawah Candradimuka. Ini untuk mengidentikkan betapa kuatnya dua jagoan khayalan itu. Samson kuat, bahkan bisa berantem melawan banteng segala. Mana ada kita-kita yang bisa sukses menjinakkan banteng ngamuk bila badan kita letoy dan nggak cukup pengetahuan bertarung. Tul nggak?<span id="more-246"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, kita juga sering terpukau yang punya bapak terpana alias terpukau bin terpana ketika menyaksikan kehebatan teman kita, atau idola kita. Utamanya jika kita melihat kelebihannya yang nggak ada di diri kita. Nggak percaya? Lihat Popeye si pelaut yang sering jadi kuat setelah makan bayem untuk menaklukan si brewok Brutus. Adik-adik kita pasti bertepuk tangan begitu Popeye mulai makan bayem sebagai senjata pemulih kesaktiannya.</p>
<p>Waktu SD dulu saya dan temen-temen sering nonton film via layar tancap di â€?bioskopâ€™ misbar alias kalo gerimis bubar. Menikmati hiburan layar tancap biasanya kalo ada yang hajatan sunatan atawa kawinan. Nah, film yang sering diputer tuh pasti itu-itu juga. Nggak jauh dari film laga, horor, dan juga komedinya Warkop. Film favorit saya waktu itu adalah Jaka Sembung. Wah, kalo Jaka Sembung manggung pasti saya serius menyimak dan punya obsesi punya ilmu kanuragan kayak doi. Gimana nggak, Jaka Sembung bisa kuat dan hebat. Apalagi pas doi duet ama Bajing Ireng melawan Belanda. Canggih punya. Padahal dari sinematografi dan permaian SFX-nya cemen banget kalo dibanding film-film sekarang. Tapi saya tetap menikmatinya dan mengingatnya sampe sekarang. Hehehe.. jadi nostalgia neh!</p>
<p>Kembali ke soal Samson yang selalu identik dengan kekuatan. Kekuatan jadi inspirasi dan sekaligus kebanggaan orang-orang. Untuk menyebarkan opini itu, di sini pernah ada parodinya. Jadi, cerita Samson dengan budaya lokal. Saya pernah nonton film parodinya dengan judul Samson Betawi yang dibintangi Bang Benyamin Sueb (sstt.. sekarang foto beliau suka nangkring di kaos anak muda kita dengan plesetan â€œBen Guevara!â€?) Eh, sekarang juga ada versi sinetronnya ya?</p>
<p>Sobat muda muslim, saya nggak akan bicara panjang lebar soal Samson, Gatot Kaca, Jaka Sembung, Popeye dkk. Biarlah mereka sebagai pengisi hari-hari jenuh kita setelah banyak kegiatan. Samson cuma cantolan aja biar tulisan ini rada-rada nyetel dengan gaya kamu. Karena konon kabarnya, itu semua bisa menjadi inspirasi bagi hidup kita. Kelebihan dan kekurangan orang lain bisa menjadi pelajaran bagi kita.</p>
<p>Nah, sekarang kita bicara tentang kita sendiri. Ya, karena ternyata, jika kita mau menggali potensi yang kita miliki, kita juga punya kekuatan, lho. Bahkan mungkin lebih kuat dari jagoan-jagoan khayalan kita yang seringnya berantem. Mereka kuat di otot. Karena memang yang sering dipamerin urusan otot. Tapi sejatinya kekuatan bukan cuma urusan otot, tapi juga otak dan mental.</p>
<p>Oya, meski setiap orang punya potensi kekuatan yang sama, tapi praktiknya sering berbeda satu sama lain. Karena apa? Karena sangat boleh jadi ada yang belum optimal memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Lebih parah lagi kalo sampe nggak tahu kalo kita memiliki potensi kekuatan tersebut. Wah, itu namanya nggak sadar diri.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita perlu tahu potensi kekuatan apa yang kita miliki. Setelah tahu, yuk sama-sama mengoptimalkannya. Apa aja tuh kekuatannya?</p>
<p><strong>Kekuatan untuk fokus</strong><br />
Yup, kita punya kekuatan untuk fokus. Sejatinya setiap orang punya. Tapi cara memanfaatkannya yang berbeda. Kekuatan untuk fokus bisa kita optimalkan asal kita mau menempuhnya dengan serius dan sabar.</p>
<p>Sebagai bukti bahwa secara reflek manusia punya kekuatan untuk fokus, silakan ganggu adik kita yang kecil saat nonton Dora The Explorer atau Sponge Bob. Kita tutupin matanya atau tivinya dihalangi, pasti dia bereaksi keras dengan melawan atau nyerocos protes sama kita. Begitu pun ketika kita mengendari mobil, terus diganggu teman kita, kita bisa marah karena fokus perhatian kita akan buyar. Konsentrasi akan terpecah. Alamat bisa nabrak deh. Tul nggak?</p>
<p>Nah, kenapa kita nggak mencoba saja dengan kegiatan lain untuk pengembangan diri kita bahwa kita akan fokus kepada suatu masalah atau suatu kegiatan? Kita udah punya â€?reflek fokusâ€™ yang bagus dan itu alami banget. Seharusnya bisa. Seorang kenalan baru saya mengaku gagap alias susah bicara sebelum akhirnya sekarang jadi pembicara hebat. Saya pernah bareng â€œmanggungâ€?, ternyata kocak abis dan bisa mengendalikan massa. Ia cerita bahwa dengan menyadari keterbatasannya, ia terus berlatih untuk bisa bicara. Fokus banget untuk bicara. Berlatih terus, dan alhamdulillah, dengan kekuatannya untuk fokus, ia berhasil menjadi pembiacara, bahkan trainer untuk motivasi bo!</p>
<p>Kamu tahu Garet Gates? Yup, Gareth Gates boleh aja bangga, maklumlah rasa-rasanya dulu mungkin mimpi kali ye bisa jadi idola. Sebab, Gates sendiri sebelumnya gagap, eh, malah jadi penyanyi beken. Debutnya yang melejitkan hits Anyone Of Us ini udah nembus plakat Gold! Terus, setelah melempar single daur ulang Unchainned Melody, nih cowok makin melesat dengan albumnya, What My Heart Wants To Say. Di Indonesia, album ini malah udah berhak meraih plakat Gold karena udah laku di atas 35 ribu keping!</p>
<p>Hmm.. kekuatan untuk fokus membuat Garet Gates bisa menggapai impiannya. Coba, kalo doi nggak fokus untuk satu masalah, yakni dengan menghilangkan penyakit gagapnya, kayaknya mimpi kali ye untuk jadi penyanyi (emang kamu mau dengerin penyanyi gagap?).</p>
<p>Sekarang, cobalah tentukan apa yang ingin kamu raih, dan kamu terus fokuskan supaya lebih hebat. Oke?</p>
<p><strong>Kekuatan untuk disiplin<br />
</strong>Kekuatan kedua yang udah dimiliki sama kita-kita adalah kekuatan untuk disiplin. Tapi seringkali kita nggak nyadar kalo kita punya kekuatan ini. Sebagai bukti alamiah, tubuh kita juga membutuhkan kedisiplinan. Misalnya kalo makan, pasti ada urutannya. Mulut membuka untuk menerima makanan yang disodorkan dengan apik oleh tangan kita, lalu gigi mengunyah, lidah merasakan aneka rasa yang ada di makanan tersebut, masuk ke kerongkongan, dan diteruskan ke lambung. Setelah digiling halus baru deh sisanya disetor ke usus. Selanjutnya, dibuang di toilet terdekat. Ups&#8230;</p>
<p>Tuh, betapa disiplinnya tubuh kita. Kalo ada sesuatu yang nggak sesuai dengan mekanisme kerja tubuh kita, bisa berontak tuh. Coba, sekarang kalo kamu ujan-ujanan pas pulang sekolah. Terus tubuhmu nggak fit dan staminanya lagi melorot, maka besar kemungkinan tubuhmu akan tak kuat menahan gempuran virus influensa. Jadilah flu. Reaksi tubuhmu itu sebagai bentuk protes karena ada yang merusak tatanan kedisiplinan dalam kinerja tubuh. Coba deh, resapi fenomena alamiah dalam tubuh kita itu. Untuk pelajaran.</p>
<p>Sekarang, saya yakin seyakin-yakinnya (eh, ngomongnya pake gaya Asmuni ye yang sampe medok banget: â€œkâ€?jadi â€œqâ€?) bahwa kamu bisa melakukan disiplin. Disiplin adalah sebuah kekuatan, Bro. Buktinya, kita bisa teratur masuk kerja atau kuliah. Itu salah satu tanda disipilin. Maka, jika ingin mengembangkan pribadi kita, kita bisa mengoptimalkan kekuatan disiplin kita. Kita bisa berlatih sesuai jadwal, kita bisa mengerjakan sesuai urutan waktu. Kalo gagal atau terlewat udah tahu risiko dan akibatnya. Nah, cobalah sekarang untuk lebih disiplin lagi. Oke?</p>
<p><strong>Kekuatan untuk berpikir</strong><br />
Nggak diragukan lagi. Setiap manusia udah diberikan kemampuan yang lebih dari hewan, yakni bisa berpikir. Sayangnya, banyak manusia yang nggak menyadari kekuatan berpikir ini. Buktinya masih ada aja yang malas berpikir. Jarang banget yang sampe memikirkan misalnya bagaimana bumi ini dihamparkan, bagaimana langit ini ditinggikan, bagaimana lautan diadakan.</p>
<p>Padahal di al-Quran amat banyak ayat yang menganjurkan kita untuk banyak berpikir, sekaligus sindiran kepada mereka yang nggak mau berpikir. Sayang banget kan kalo otak yang udah dibekali kemampuan untuk berpikir ini dibiarkan â€œjongkokâ€? terus. Nggak digunakan.</p>
<p>Sobat muda muslim, dengan kemampuan berpikirnya, peradaban manusia terus berkembang. Mereka memikirkan bagaimana bisa terbang, maka dengan serangkaain uji coba dan memikirkan dengan keras untuk mencari solusinya, manusia bisa menciptakan pesawat terbang, mulai yang khusus penumpang (komersial) sampe pesawat tempur. Udah gitu beragam jenis pula.</p>
<p>Duh, bayangin deh kalo nggak berpikir, kayaknya kita masih kayak di jaman Flinstone. Nggak berkembang. Lihat aja Sapi dkk, mereka sampe sekarang nggak mau pake busana. Mereka nggak malu, karena mereka nggak berpikir bahwa itu memalukan. Betul nggak?</p>
<p>Coba ye, optimalkan kekuatan berpikir kita untuk perkembangan kepribadian kita. Ayo, kamu pasti bisa!</p>
<p><strong>Kekuatan untuk belajar</strong><br />
Rasulullah saw. bersabda: â€œApabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Yup, kita nggak bisa pinter kalo nggak belajar. Dan sebetulnya kita semua punya kekuatan untuk belajar. Karena apa? Karena kita punya kemampuan untuk berpikir. Eh, jangkan manusia yang udah dilengkapi akal, hewan aja yang cuma punya otak doang, kalo dilatih kebiasaannya, bisa juga â€œpinterâ€? kok, apalagi kita.</p>
<p>Pernah lihat anjing pelacak? Ya, hewan itu diajarkan oleh pawangnya untuk mengendus benda-benda tertentu sebagai jalan untuk menemukan jejak. Khususnya berkaitan dengan dunia kriminal ya. Tahu topeng monyet? Hehehe.. tuh monyet dengan belajar dan latihan yang cukup akhirnya mau aja disuruh-suruh melakukan gerakan tertentu oleh pawangnya.</p>
<p>Itu sebabnya, kalo hari gini kita masih malas belajar, padahal kita punya potensi kekuatan untuk belajar, jangan salahkan orang lain kalo kamu tetap jalan di tempat. Betul?</p>
<p><strong>Kekuatan cinta</strong><br />
Wah, kayaknya ini sih kudu ada pembahasan khusus. Tapi intinya sih, kita memang punya kekuatan cinta. Kalo nggak, kita nggak bakalan bisa akur dengan teman, dengan ortu, dengan siapa pun. Justru kekuatan cinta telah mendorong setiap orang untuk membuktikan cintanya kepada orang yang dicintainya dengan melakukan apa pun demi menyenangkannya dan membahagiakannya. Kita bisa kok.</p>
<p><strong>Kekuatan mempertahankan diri</strong><br />
Secuek-cueknya kamu, pasti kalo mo nyebrang jalan tengok kanan-kiri. Karena apa? Karena kamu punya kekuatan, yakni potensi untuk mempertahankan diri. Kalo nggak, rumah sakit bakalan kewalahan menampung pasien. Lebih jauh lagi, dengan kekuatan ini kita akan terus bertahan dalam hidup. Rela kehilangan harta demi mempertahankan diri. Kalo pas banjir tiba-tiba, apa kamu masih inget untuk nyelametin ponsel kesayangan kamu? Pasti yang ada di pikiran pertama kali adalah gimana caranya nyelametin diri. Tul nggak? Nah, itu potensi kamu. kekuatan kamu!</p>
<p><strong>Kekuatan mewujudkan impian</strong><br />
Tahu Bang Helmy Yahya? Beliau, demi mewujudkan impiannya menggolkan Kuis Siapa Berani, tak lelah menawarkan program itu meski hampir semua stasiun televisi menolaknya. Tapi setelah ditayangkan Indosiar, kuisnya paling laris yang tidak hanya menyedot banyak pemirsa, tapi juga pengiklan!</p>
<p>Daya juangnya tinggi banget tuh untuk menggapai impian. Jauh sebelum ini, kita juga punya idola keren, Muhammad saw. Beliau berhasil mewujudkan impiannya untuk kemenangan Islam. Kalo nggak punya daya juang dan kekuatan mewujudkan impian yang kuat, rasanya kita mungkin nggak kenal Islam.</p>
<p>Oke deh, meski singkat, semoga ada manfaatnya. Selamat berjuang dan mencoba. Jangan takut gagal, karena kita punya kekuatan. Kegagalan itu kata orang bijak, adalah keberhasilan yang tertunda. Cobalah. Kamu pasti bisa. Semoga sukses! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 244/Tahun ke-6/16 Mei 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kita-lebih-kuat-dari-samson/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I Love You, Mom!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/i-love-you-mom</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/i-love-you-mom#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/i-love-you-mom/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika melihat tivi, ada selingan iklan. Muncul balita sebagai model salah satu produk susu bayi, bilang â€?I love you, Mom!â€™ Ihhâ€¦gemes banget. Pernah nggak sih kamu bilang ke ortumu kayak gitu? Hmm.. jangan-jangan tiap hari malah berantem mulu, kali ye. Uppss, kamu bukan tipe anak durhaka kan? Semoga. Banyak banget kejadian di sekeliling kita yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika melihat tivi, ada selingan iklan. Muncul balita sebagai model salah satu produk susu bayi, bilang â€?I love you, Mom!â€™ Ihhâ€¦gemes banget. Pernah nggak sih kamu bilang ke ortumu kayak gitu? Hmm.. jangan-jangan tiap hari malah berantem mulu, kali ye. Uppss, kamu bukan tipe anak durhaka kan? Semoga.<span id="more-245"></span></p>
<p>Banyak banget kejadian di sekeliling kita yang memberi contoh jelek, terutama perlakuan terhadap ortu. Dan yang paling parah adalah perlakuan buruk terhadap sosok ibu. Mulai berani membangkang terhadap perintahnya, membentak, hingga memukul ibu secara fisik. Hanya karena uang saku kurang, seorang anak bisa tega membentak, memarahi, bahkan memukul ibunya. Durhaka betul nih bocah. Belum lagi hanya karena ibunya berpendidikan lebih rendah dari dirinya, anaknya jadi malu mempunyai ibu yang bodoh. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Maraknya program tivi semisal Derap Hukum, Fakta, Brutal, Buser, Sergap dan tayangan sejenis lainnya, banyak sekali mengisahkan kejadian tragis seorang anak yang tega membunuh ortu kandungnya sendiri. Belum lagi bila kita perhatikan sekeliling kita, penuh dengan kejadian seperti itu di depan mata. Kenapa sih bisa muncul hal-hal yang tidak wajar seperti ini? Bukankah ortu adalah orang pertama yang harus kita hormati setelah Allah Taâ€™ala dan RasulNya?</p>
<p><strong>Salah asuh</strong><br />
Eitsâ€¦ini bukan judul roman yang ditulis oleh Marah Rusli itu lho. Salah asuh adalah pola didik salah yang diterapkan orangtua kepada anak. Ada atau bahkan banyak orangtua yang ketika menikah, belum siap menjadi orangtua. Menjadi seseorang yang kelak akan dipanggil ibu, mama, ummi, bunda atau sebutan apa pun bagi seseorang yang telah melahirkan kita. Begitu juga dengan sebutan bapak, ayah, papa, abi atau apapun sebutannya bagi seseorang yang ikut andil dalam keberadaan kita di dunia ini. Istilahnya sih semacam â€?urunanâ€™ kalo kata orang Jawa dan saweran kalo kata orang Sunda tentang keberadaan ayah ini hehe. Mereka tak tahu bagaimana mendidik anak dengan baik dan benar. Pernikahan bagi mereka hanya dianggap satu fase yang harus dilalui oleh manusia tanpa pernah berpikir serius tentang cara mendidik anak-anaknya.</p>
<p>Ketika anak nakal, dibiarkan saja. Ketika anak membangkang dan berani membentak ortu, dibilangnya masih kecil, entar juga bakal tahu sendiri. Padahal anak, tanpa dididik bahwa ini benar dan ini salah, dia akan menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah selalu benar. Jadilah ketika anak beranjak remaja, orangtua merasa kecolongan ketika anaknya menjadi sosok yang suka membantah dan tidak sopan terhadap orangtua.</p>
<p>Belum lagi faktor lingkungan. Seorang anak yang semula dididik dengan baik oleh ortunya di rumah, tapi ketika bergaul dengan temannya yang suka melawan ortunya, ia sangat mungkin untuk terpengaruh. Karena apa? Karena seringkali apa yang mereka dapat dari pergaulan lebih membekas daripada pendidikan dalam rumah. Jadilah anak meniru perilaku teman yang salah asuh tadi. Gawat kan?</p>
<p>Hal ini diperparah dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik, baik di sinetron atau pun program televisi yang lain. Anak berani sama ortu, mulai membentak hingga memukul seakan-akan menjadi hal yang lumrah dan biasa. Negara, yang seharusnya tanggap terhadap masalah ini, malah bungkam seribu bahasa. Ijin-ijin untuk tayangan merusak ini terus saja dikeluarkan tanpa mau peduli dengan masa depan generasi muda bangsa ini. Ciloko!</p>
<p>Sobat muda muslim, apapun adanya dirimu, tak ada alasan untuk berani dan bertingkah laku tidak sopan terhadap orangtua. Bagaimana pun mereka adalah orang yang â€?mengadakanâ€™ kita di dunia, membesarkan, mendidik, dan menyayangi serta mengasuh kita. Tidak seharusnya kita hanya bisa menyalahkan ortu. Kita harus bisa mengingatkan mereka bila salah, dan mematuhinya bila diajak kepada kebenaran.</p>
<p>Kalo kamu adalah salah satu dari mereka yang memang salah asuh, jangan hanya bisa nyalahin ortu. Interospeksi diri. Karena kita punya akal untuk tahu mana yang benar dan salah. Berani sama ortu jelas bukan tindakan yang bisa dibenarkan. Kalo memang kondisinya seperti itu, segera nyadar dan bertaubat. Meski ortu cuma lulusan SD, tanpa mereka kamu nggak bakal ada. Meski ortu bikin kamu nggak pede, bukan alasan untuk bertindak semau gue. Ortu tetap sosok yang patut mendapat cinta dan hormat kita, tak peduli apa latar belakang dan pendidikannya. Selama mereka berdua mengajak kebenaran, why not? Bahkan ketika mereka mengajak kepada kemungkaran pun kita tidak boleh berlaku kasar padanya. Cukuplah mengingatkan dengan cara yang maâ€™ruf, yaitu baik dan sopan. Mau kan? Kudu banget dong ya. Biar ahsan.</p>
<p><strong>Mau rukun sama ortu?<br />
</strong>Banyak cara agar bisa akur dan rukun sama ortu. Misalnya, mulai kenali dulu kebiasaan-kebiasaan beliau berdua, ambil simpatinya. Nggak ada salahnya juga jika kamu ambilin ayahmu minum sepulang lelah bekerja atau bahkan mijitin pundaknya. Kepada bunda yang sudah melahirkan kamu bisa memberi kejutan tiba-tiba dengan ngasih kado meski sederhana. Dijamin deh, mereka berdua bakal makin sayang sama kamu. Mereka yang semula agak keberatan kamu pake jilbab jadi luluh hatinya. Yang semula khawatir anaknya ikut kelompok pengajian karena isu teroris jadi makin getol malah berbalik nyuruh anaknya ngaji karena sudah tahu hasilnya. Ortu mana yang nggak makin sayang sama anaknya kalo ngaji itu ternyata membawa perubahan positif pada diri anaknya dan keluarga.</p>
<p>Hal lain yang bisa kamu lakukan dengan ortu adalah komunikasi. Tanpa diminta, tak ada salahnya kok kamu menceritakan tentang teman-teman kamu di sekolah atau di pengajian. Terutama nih yang bisa dijadikan teladan sama kamu dan ortumu. Misal, si Anto yang prestasinya bagus banget padahal doi aktif di rohis. Trus bagi cewek juga gitu. Tuh si Sari yang meski pake kerudung dan jilbab tapi bahasa Inggris-nya ngejos. Belum lagi prestasinya di lomba karya ilmiah remaja, jadi pemimpin OSIS lagi. Tapi ngaji dan dakwahnya juga pol. Wuih, keren kan?</p>
<p>Eh, tapi bagi cowok, sebaiknya contoh-contoh yang kamu berikan juga tentang temen cowok dong. Begitu juga dengan cewek, lebih baik cerita prestasi yang udah dicapai temen cewekmu. Bukan apa-apa sih, khawatirnya kalo kamu banyak cerita tentang lawan jenismu, entar ortumu malah bingung ngira kalo kamu lagi naksir dan pingin pacaran hehe. Berabe dong kalo gini. Tapi itâ€™s okay sih kalo kamu bisa menyampaikannya dengan proporsional, juga nggak masalah kok. Bahkan bisa sekalian jelaskan ke ortu gimana Islam menyikapi tentang pacaran. Asyik kan, sekali rengkuh dayung, dua-tiga hari capeknya masih kerasa, eh, maksudnya dua or tiga pulau terlampaui.</p>
<p>Begitu juga dengan kamu, para cewek yang kemungkinan bakal perang dingin sama ortu karena keputusanmu untuk memakai jilbab dan kerudung. Saya juga dulu pernah ngerasain yang seperti itu. Didiamkan ortu dan diboikot seluruh keluarga karena memutuskan menutup aurat di saat usia sekolah. Meski sedih, tapi nggak boleh dong jadi benci or berani sama ortu hanya karena berbeda pendapat tentang sesuatu. Tenang aja lagi.</p>
<p>Malah moment ini sebetulnya jadi ajang kita untuk berdakwah dan menjelaskan pada mereka bahwa Islam itu indah. Tetap sapa ortu dan keluarga kita. Tetap hormati dan patuhi selama tidak bertentangan dengan aturan Allah. Bahkan tunjukkin bahwa pemahaman Islam yang akhirnya mengantarkan kita berjilbab, seharusnya bisa membuat kita makin cinta sama ortu. Betul?</p>
<p>Kamu yang dulunya tiap pergi dan pulang ke rumah nggak pernah mengucap salam, eh&#8230; sekarang jadi sopan dengan selalu mengucap salam. Lebih bagus lagi kalo kamu mencium tangan ibu bapakmu sebelum berangkat sekolah. Canggung? So, pasti. Karena semua itu memang berawal dari kebiasaan. Saya dulu juga gitu kok. Tapi yakin deh, lama-lama ortu jadi terharu dan bakal makin sayang sama kita. Apalagi ada bonus tambahan pake cipika-cipiki sama ortu di moment tertentu. Lebaran misalnya. Ditanggung bakal basah mata ortumu karena terharu.</p>
<p>Wahâ€¦ malu dong kalo cowok cipika-cipiki sama ortu. Kata siapa? Itu kan masalah kebiasaan saja. Pernah lihat di tivi nggak, orang bule yang bukan muslim mencium pipi mamanya? Kalo mereka bisa menunjukkan sikap sayang ke mamanya sedemikian rupa, kenapa kita nggak? Kakak cowok saya aja, semakin doi belajar Islam semakin sering mencium pipi ibu. Saya aja yang anak cewek nggak sebegitunya, jadi ngiri heheâ€¦<br />
? <br />
<strong>Kenapa sih harus baik sama ortu?<br />
</strong>Selain memang perintah Islam untuk selalu berbuat baik pada orang tua kita, nggak ada jeleknya sama sekali kok kamu baik dan menunjukan perhatian ke ortu kamu. Bahkan banyak untungnya daripada mudharatnya. Meski bukan karena untung ini kamu melakukan kebaikan sama ortu. Paham kan maksudnya?</p>
<p>Jangan kayak Madonna yang hubungan dengan mamanya aja nggak harmonis. Di salah satu wawancara tivi, doi menyalahkan mamanya yang telah membuatnya menjadi remaja tak bahagia sebelum akhirnya tenar seperti sekarang. Atau seperti artis ibukota yang tak mau mengakui ayah kandungnya karena dianggapnya telah menyakiti hati ibunya dan juga dirinya sendiri. Atau seperti tetangga saya yang merasa ibunya salah asuh dan mendidik dirinya dengan tidak benar, hingga tega mau menukar tambah dengan orang lain. Duile emangnya panci bisa ditukar tambah, Non?</p>
<p>Sobat muda muslim, jangan sampai kita menjadi seseorang seperti contoh yang di atas itu. Apa pun yang dilakukan oleh kedua orang tua kita, mereka tetap layak mendapat penghormatan dan kasih sayang dari kita, anak-anaknya. Bahkan, kewajiban kitalah untuk menasihati dengan cara lemah lembut dan sopan bila mereka tidak tahu tentang hukum-hukum Allah. Ketika kita dilarang pake jilbab, nggak boleh ngaji, itu semua bukan karena ortu nggak sayang kita lagi. Tapi murni karena faktor ketidakpahaman dan salah persepsi tentang jilbab dan anak ngaji.</p>
<p>Bukan salah ortu kita 100% karena di sini peran lingkungan dan negara juga turut andil dalam persepsi yang dipunya masyarakatnya. Ledakan bom yang terjadi selalu dikaitkan dengan aktivis jamaah Islam. Jilbab seringkali diidentikkan dengan busana Arab dan sesuatu yang kuno dan tidak modis. Tulalit kan?</p>
<p>Jadi sekali lagi, jangan menyerah dalam memahamkan ortu ya. Saya aja dulu butuh waktu tahunan untuk membuat ortu dan keluarga bisa menerima bahwa jilbab dan aktivitas ngaji tidak menghalangi kita untuk berprestasi. Sebaliknya, pemahaman Islam yang benar akan membuat kita semakin sayang dan menghormati ortu. Jadilah, mereka tidak keberatan lagi dan bahkan menjadi pendukung utama aktivitas ngaji dan dakwah kita. Tidak berhenti di situ saja, mereka juga mulai memahami Islam dengan lebih baik dan mengamalkannya. Lebih asyik lagi ketika mereka juga turut andil dalam mendakwahkan Islam ke keluarga besar dan lingkungan sekitar rumah. Wihhhâ€¦senang nggak sih?</p>
<p>Itu semua nggak bakal kita dapat bila kita cuek terhadap ortu. Mereka pun akan sangat sedih bila anaknya menjaga jarak. Coba tanya kalo nggak percaya ke ortu kamu masing-masing di rumah. Mereka ingin memahami dunia anak-anaknya yang memang sudah berbeda banget dengan jaman mereka waktu masih remaja dulu. Nah, tugas kamulah untuk menjembatani dunia mereka dengan duniamu. So, mulai saat ini, detik ini, tekadkan dengan kuat di dalam hatimu untuk selalu menyayangi ortu dan membahagiakannya. Karena apa? Karena memang Islam menyuruh kita demikian. Miliki motto bagus untuk ortumu; â€œAnak ngaji, kudu peduli karena Islam menyuruh kita berbaktiâ€?. Ayo buktikan! [riafariana]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 243/Tahun ke-6/9 Mei 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/i-love-you-mom/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangkitlah Dunia Pendidikan!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bangkitlah-dunia-pendidikan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bangkitlah-dunia-pendidikan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bangkitlah-dunia-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Human Development Reports , HDR 2002 (Laporan Pembangunan Manusia 2002) yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan PBB (United Nations Development Programme, UNDP) tentang Human Development Indicators 2002, Indonesia menempati peringkat 110 dari 173 negara yang diteliti dengan Human Development Index (HDI) 0.684. Posisi Indonesia itu jauh di bawah negara anggota ASEAN, misalnya Singapura (25), Brunei [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Human Development Reports , HDR 2002 (Laporan Pembangunan Manusia 2002) yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan PBB (United Nations Development Programme, UNDP) tentang Human Development Indicators 2002, Indonesia menempati peringkat 110 dari 173 negara yang diteliti dengan Human Development Index (HDI) 0.684. Posisi Indonesia itu jauh di bawah negara anggota ASEAN, misalnya Singapura (25), Brunei Darussalam (32), Malaysia (59), Thailand (70), Vietnam (109). <span id="more-244"></span></p>
<p>Kemudian pada HDR 2003, indeks tersebut merosot menjadi 0,682. Penurunan indeks yang mencerminkan memburuknya kualitas manusia Indonesia ini juga terlihat dari menurunnya peringkat HDI, dari urutan 110 ke 112, sementara Malaysia naik ke peringkat 58 dan Vietnam masih di urutan ke 109. (Suara Pembaharuan, 23/07/2003)</p>
<p>Sedih nggak sih ngeliat data di atas. Dua puluh tahun yang lalu, Malaysia masih belajar banyak dalam bidang pendidikan kepada Indonesia. Kini kualitas pendidikan negerinya Siti Nurhaliza itu jauh di atas â€?mantan guruâ€™-nya. Ketika negara tetangga giat menggenjot prestasi intelektual kaum terpelajarnya, negerinya Samson Betawi ini malah disibukkan dengan audisi AFI, Indonesian Idol, API, atau KDI. Keciaaan Deh Iiihâ€¦!</p>
<p>Anehnya, bukannya memperbaiki citra pendidikan sekolah, pemerintah seperti mendiamkan acara-acara penjaringan bakat itu. Kenapa tidak diciptakan kondisi: â€œAku bangga jadi ilmuwanâ€? misalnya yang bisa memacu kreativitas siswa untuk berprestasi di ajang yang benar, baik, dan bermanfaat. Seperti temen-temen kita di bawah ini.</p>
<p>Ada Mulyana, peraih medali perunggu dalam ajang Olimpiade Biologi di Brisbane, Australia. Ada Azis Adi Suyono, peraih medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional Bidang Fisika yang digelar di Balikpapan pada September 2003. Ada Yudistira Virgus, peraih medali emas pada Olimpiade Fisika di Pohan, Korea Selatan, Juli 2004.</p>
<p>Akhir tahun lalu, tim Indonesia berhasil meraih predikat juara umum dalam The First Internasional Junior Science Olympiad (IJSO) alias Olimpiade Sains Internasional setingkat SMP yang diselenggarakan di Jakarta. Bahkan baru-baru ini, tim kita juga berhasil meraih juara 1 dalam kompetisi simulasi bisnis internasional yang diselenggarakan oleh perusahaan kosmetik dunia Lâ€™oreal (Lâ€™Oreal E-Strat Challenge 2004) di kota mode dunia, Paris.</p>
<p>Tapi sayangnya, kesedihan Ibu Pertiwi tak mampu terhapuskan dengan prestasi para pelajarnya itu. Sebab potret pendidikan yang ada di depan mata, kian hari kian buram. Bukan karena Ibu Pertiwi lupa pake kacamata minusnya atau belum cuci muka sehabis bangun tidur. Tapi emang kenyataan berkata demikian. Hiks&#8230; hiks&#8230; hiks&#8230;!</p>
<p><strong>Potret buram pendidikan kita</strong><br />
Kudu kita akui, kalo masalah pendidikan nasional nggak ada matinya. Belon beres satu, tumbuh seribu. Jadi numpuk dah. Dari mulai biaya sekolah, kondisi gedung sekolah, kurikulum pendidikan, atau nasib tenaga pengajarnya.</p>
<p>Mahalnya biaya sekolah mengakibatkan jumlah anak putus sekolah makin meningkat dari tahun ke tahun. Dalam sebuah tulisan terungkap jumlah anak putus sekolah untuk usia 0-6 tahun sebanyak 19 juta (73%); 7-12 tahun sebanyak 2 juta (6%), 13-15 tahun sebanyak 7 juta (55%). (Suara Pembaharuan, 07/03/2003).</p>
<p>Bangunan sekolahnya juga masih banyak yang tak layak. Seperti yang terjadi di Kab. Sumedang, Jawa Barat. Hampir 60% bangunan sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (SD/MI) di Kab. Sumedang saat ini kondisinya rusak. Dari persentase tersebut di antaranya dari data 2002 terdapat 1.241 ruang kelas tidak bisa digunakan karena rusak berat. (Pikiran Rakyat, 25/05/2004).</p>
<p>Kurikulum pendidikan nasional tak mampu mengatasi sekitar 2,5 juta lulusan SMA yang terpaksa menganggur akibat tidak memiliki keterampilan untuk bekerja atau berwirausaha. Jumlah pengangguran tersebut bertambah pula dari lulusan perguruan tinggi yang setiap tahun?  terjadi peningkatan sekitar 250 ribu orang sarjana, 120 ribu lulusan diploma III dan 60 ribu lulusan diploma I dan II. (Pikiran Rakyat, 28/06/2004)</p>
<p>Belum lagi dengan nasib para pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa kesejahteraan yang terlukis dalam lagu â€?Oemar Bakriâ€™-nya Iwan Fals. Udah mah gaji kecil bin pas-pasan, eh, disunat pula setiap bulan. Tekor dah!</p>
<p><strong>Ada apa dengan pendidikan nasional?<br />
</strong>Kalo kita cermati, nampaknya salah dua faktor yang ikut melestarikan krisis pendidikan di negeri kita adalah minimnya anggaran dan kurikulum pendidikan yang materialis-sekuleris.</p>
<p>Alokasi dana APBN yang dianggarkan untuk pendidikan begitu setia ngetem di bawah angka 10 persen. Untuk tahun 2005 aja, secara keseluruhan, Depdiknas memperoleh alokasi dana sebesar Rp 21,585 triliun, yang terdiri dari rupiah murni sebesar Rp 20,689 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar Rp 895 miliar yang dialokasikan ke dalam 20 program pembangunan pendidikan. (Media Indonesia, 23 Maret 2005).</p>
<p>Eit, jangan tersepona dulu ngeliat angka triliunan rupiah itu. Sebab kalo kita itung-itung dari total APBN 2005 yang jumlahnya Rp 377 triliun, anggaran pendidikan nasional cuma dapet sekitar 5,7 %. Belon yang ditilep ama oknum pejabatnya. Abis dah!</p>
<p>Minimnya anggaran pendidikan berakibat pada kurangnya pemeliharaan gedung sekolah, terlalaikannya kesejahteraan tenaga pendidik, atau terabaikannya pengadaan sarana dan prasarana pendidikan yang mendukung.</p>
<p>Padahal, kalo kita bandingkan dengan negara-negara tetangga kita, mereka cukup royal dalam mengalokasikan dananya demi peningkatan kualitas pendidikan. Kepala Perwakilan The United Nations Childrenâ€™s Fund (Badan PBB untuk masalah anak) di Indonesia, Steven Alen mengatakan, anggaran pendidikan Indonesia merupakan yang terendah di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Cina, Malaysia, Filipina dan Singapura mengeluarkan dana lebih dari tiga kali anggaran Indonesia. (Tempo interaktif.com, 23/12/2003).</p>
<p>Kurikulum pendidikan nasional kental sekali dengan sistem pendidikan kolonial yang materialis van sekuleris. Dibilang materialis lantaran hasil pendidikan cuma diukur dari gelar yang berhasil diraih atau selembar ijazah untuk bekal nyari kerja biar bisa balikin modal ke ortu yang udah biayain sekolah (idih, emangnya dagang kudu balik modal segala?).</p>
<p>Kondisi di atas makin diperunyam dengan prinsip bebas nilai agama alias sekuleris dalam mendidik siswa. Kalo pun ada pelajaran agama dalam kurikulum pendidikan umum, itupun cuma numpang lewat aja alias formalitas. Kegiatan belajar mengajarnya banyak dipake cuma buat transfer pulsa, eh ilmu. Steril dari upaya pembentukan (transform) watak dan karakter anak didik untuk menjadi generasi pelajar berkualitas. Hmm.. kalo pun pinter tapi tak berakhlak. Gawat juga kan?? </p>
<p><strong>Tanggung jawab siapa nih?<br />
</strong>Kalo nanya urusan tanggung jawab, pastinya yang berbuatlah yang kudu tanggung jawab. Dalam krisis pendidikan, tentu pemerintah dong yang paling besar tanggung jawabnya. Malah mereka berani disumpah untuk jalanin isi UUDâ€™45 yang salah satu pasalnya berbunyi, â€œsetiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layakâ€?. Betul?</p>
<p>Tapi kayaknya, kita kudu menelan kenyataan pahit kalo ternyata pemerintah belum serius beresin masalah pendidikan. Dulu, pemerintah gencar kampanyekan wajib belajar 9 tahun (hingga SMP). Tapi lucunya pemerintah malah menghentikan subsidi pendidikan. Waktu masih disubsidi aja banyak yang nggak mampu membiayai sekolah. Apalagi subsidi dicabut, sama aja dengan aksi pembodohan massal tuh urusannya.</p>
<p>Yang lebih lucu lagi, pemerintah malah berlepas tangan dengan memberlakukan otonomi pendidikan untuk menanggulangi minimnya anggaran pendidikan. Akibatnya, biaya pendidikan makin melambung tinggi. Jauh meninggalkan keluarga para pelajar atau calon pelajar yang tengah berjuang menahan himpitan ekonomi yang makin berat.</p>
<p>Amboi!,&#8230;udah mah rakyat senen-kemis bertahan hidup akibat kenaikan BBM, eh rakyat juga yang ketiban sial kudu ngurusin pendidikan yang jadi kewajiban pemerintah. Apes banget jadi rakyat negara kapitalis. Benar, kapitalisme telah membuat kita semua sengsara!</p>
<p><strong>Belajar dari sistem pendidikan Islam<br />
</strong>Puyeng juga ya mikirin masalah pendidikan? Ya, makanya jangan cuma dipikirin tapi kudu dicari solusinya. Wah, tambah puyeng dong? Tenang, kan ada puyer bintang toedjoeh, eh maksudnya emang puyeng kalo kita belum punya ilmunya. Tapi kalo kita menengok pada sistem pendidikan Islam, yakin deh, bintang toedjoeh aja kalah manjurnya. Hehehe&#8230;</p>
<p>Dari zamannya unta ngigit besi sampe kuda punya roda, Islam sangat menghargai pendidikan. Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya al-Ahkaam menjelaskan bahwa seorang kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Catet sobat!</p>
<p>Saking besarnya penghargaan pemerintahan Islam terhadap pendidikan, terutama kepada tenaga pengajar, Khalifah Umar bin Khaththab memberikan gaji pada tiga orang yang mengajar anak-anak di kota Madinah, masing-masing sebesar 15 dinar per bulan (1 dinar = 4,25 gr emas). Kalo kurs 1 gr emas seharga Rp. 90.000, berarti gaji guru setingkat TK sebesar 90.000 x 4,25 x 15 = 5.737.500 rupiah per bulan!</p>
<p>Negara juga bertanggung jawab terhadap pengadaan sarana pendidikan. Dari mulai kitab-kitab, perpustakaan, laboratorium, planetarium, gedung sekolah, universitas, masjid, majelis taklim, sampe toko buku. Dalam kitab Muâ€™jamul Udaba, karangan Yakut, disebutkan di salah satu pojok kota Khurasan (bagian timur Iran), terdapat sepuluh perpustakaan yang teratur rapi dan memiliki 12.000 kitab. Di antaranya, yang paling terkenal adalah â€œKhizanatul al-Ahkam ats-Tsaniâ€?, yang memiliki koleksi 400.000 kitab.</p>
<p>Gimana dengan biaya pendidikannya? Jangan khawatir, karena dalam Islam dikenal sistem pendidikan bebas biaya. Contoh praktisnya adalah Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntashir di kota Baghdad. Pada sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar. Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara.</p>
<p>Kurikulum pendidikan Islam yang berbasis syariah telah melahirkan banyak ilmuwan, di antaranya pakar pendidikan; al-Ghazali, pakar kedokteran; Ibnu Sina, atau al-Khawarizmi yang menemukan angka nol. Kurikulum yang nggak sekadar transfer of knowledge tapi juga pembentukan watak dan karakter sebagai muslim yang steril dari pemahaman sekuler.</p>
<p>Sobat, sekarang kita udah punya ilmu untuk ngobatin krisis pendidikan. Tinggal satu lagi yang kudu kita pahami dan jangan sampe kelupaan. Jika ingin membentuk manusia yang beriman, berilmu dan beramal baik, maka satu-satunya jalan adalah menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Negara yang akan mengatur seluruh aspek kehidupan dengan benar, termasuk pendidikan. Itu sebabnya, nyok bareng-bareng kampanyekan penerapan syariat Islam sebagai ideologi negara. Itu artinya pula, mulai sekarang kita campakkan kapitalisme, dan benamkan sosialisme-komunisme.</p>
<p>Oya, sebelum berjuang, bekali dulu dengan ilmu Islam. Biar kagak salah jalan. Yuk, tekadkan dalam diri kita untuk mengkaji Islam dengan serius dan penuh semangat, terus kita dakwahkan ke temen-temen, dan berbarengan dengan itu, kita kampanyekan Islam sebagai ideologi negara. Berangkaat! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 242/Tahun ke-6/2 Mei 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bangkitlah-dunia-pendidikan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GIRL Power!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/girl-power</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/girl-power#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:17:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/girl-power/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan April identik dengan bulannya para cewek, emansipasi menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Lihat tuh ada yang udah jadi tukang insinyur sejajar dengan si Doel anak sekolahan, ada yang jadi bu dokter, pilot, polisi, guru, profesor, dan ilmuwan. Ada nggak ya jenis profesi yang belum terjamah perempuan? Bisa dibilang nggak ada tuh. Eh, kira-kira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan April identik dengan bulannya para cewek, emansipasi menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Lihat tuh ada yang udah jadi tukang insinyur sejajar dengan si Doel anak sekolahan, ada yang jadi bu dokter, pilot, polisi, guru, profesor, dan ilmuwan. Ada nggak ya jenis profesi yang belum terjamah perempuan? Bisa dibilang nggak ada tuh. Eh, kira-kira mau nggak aktivis penyeru emansipasi itu untuk jadi sopir bajaj ala Bajuri? Phew!<span id="more-243"></span></p>
<p>Tapi ngomong-ngomong sobat, apakah program emansipasi or feminisme ini steril dari eksploitasi? Hmmâ€¦ kalo kamu jeli, lahan basah untuk cewek emang rawan eksploitasi, lho. Kalo udah kena istilah yang satu ini, nggak ada makna lain selain physically. Ya, eksploitasi fisik, Non. Itu bisa kamu lihat di iklan. Misalnya aja, mobil yang nggak ada hubungannya dengan tubuh, selalu kudu ditemani cewek dengan pakaian minim. Permen yang dulunya konsumsi anak kecil, juga nggak lepas dari penampilan cewek seksi. Bahkan pake ada cowok yang mendampingi, saling berdekatan, dekat, dan semakin dekat untuk menunjukkan nafas segarnya. Tahu sendiri deh kalo udah dekat gitu mau ngapain. Hiiiâ€¦naudzubillah.</p>
<p>Herannya nih, banyak cewek yang menikmati banget dirinya jadi barang jualan kayak gini. Bahkan ajang ratu kecantikan mulai tingkat kabupaten hingga dunia pun digelar untuk menjaring gelar cewek paling cantik sedunia. Tentu dengan nama pagelaran masing-masing. Mereka pun berbondong-bondong untuk fastabiqul-aurat alias berlomba-lomba pamer aurat. Seakan-akan dengan semakin cantik wajah dan bagusnya tubuh mereka, semakin tinggi pula pujian dan pujaan yang diberikan. Betul nggak sih, cewek tuh emang suka kayak gitu?</p>
<p><strong>Emang enak dieksploitasi?</strong><br />
Tergantung. Enak apa nggaknya dieksploitasi tiap cewek beda-beda. Kalo nggak percaya, silakan kamu tanya sendiri. Yang jelas?  bisa beragam jawabannya, tentu sesuai pertanyaan kamu juga dong. Jawaban mereka pun nggak bisa dilepaskan dari pemahamannya?  tentang apa itu eksploitasi dan gimana pula cara dia memandang dirinya sebagai cewek. Oya, jangan pula dilupakan, bahwa jawaban doi itu juga pasti mencerminkan pemahamannya tentang kehidupan ini. Jadi khas banget.</p>
<p>Kalo pertanyaan kita diajukan kepada mereka yang antusias daftar untuk jadi â€œputri-putrianâ€? itu, jelas mereka akan menjawab enak. Wajar. Tentu, karena menyandang gelar â€œPutri Indonesiaâ€? kan terkenal, tajir, en happy pula. Mau apa-apa juga tinggal bilang. Cowok-cowok pada ngantri untuk jadi pacar. Weleh&#8230;surga dunia deh pokoknya bagi mereka ini.</p>
<p>Tapi kalo pertanyaan diajukan kepada muslimah yang sholihah, jawaban yang didapat pastinya; NO WAY. Karena cewek tuh mulia, nilainya nggak sama dengan segepok rupiah. Islam telah menempatkan cewek pada kedudukan yang tinggi, dilindungi fisiknya dengan kerudung dan jilbab. Kepribadian mereka dihiasi dengan akhlak karimah, akhlak yang baik. Bagusnya bodi dan cantiknya wajah, adalah hal yang nggak bisa kita pesan sebelumnya. Di akhirat pun juga nggak bakal ditanyakan kenapa wajah kita begini atau begitu. Tapi yang pasti ditanya adalah amal kita, bagaimana menyikapi dan â€?memanfaatkanâ€? wajah yang sudah dianugerahkan itu.</p>
<p>Cewek, bukan fisiknya yang harus dinilai tapi akal dan akhlaknya itu yang lebih utama. Biar bodi bagus dan wajah cantik kalo nggak nutup aurat, apa gunanya? Cuma jadi santapan ringan mata-mata jalang cowok-cowok di jalan. Belum lagi otak yang pas-pasan kalo nggak dibilang STD banget, STanDard gitu loh. Nggak ada istimewanya sama sekali. Banyak tuh di ajang Miss or Putri yang diajak ngomong tentang fenomena sosial pada tulalit jawabannya. Apalagi iptek, nggak nyambung dah.? </p>
<p>Kenapa bisa ada dua jawaban yang bertolak belakang? Itu nggak lain dan nggak bukan karena persepsi mereka. Bukankah persepsi itu ada karena pemahaman? Nah, bagi mereka yang memahami bahwa dengan tampilnya mereka dengan kecantikan fisik itu adalah puncak kesenangan, maka golongan ini akan mati-matian diet ketat demi kaos singlet dan celana jeans seksi biar ngepas. Rela berjam-jam menghabiskan waktu di salon untuk mendapat perawatan meni-pedi (itu tuh, perawatan tangan en kuku plus perawatan kaki: manicure en pedicure) dan bentuk rambut yang lagi ngetren. Mereka merasa harus tampil sebaik mungkin secara fisik di depan umum. Urusan otak dan akhlak, nomer sekian. Dosa? Bisa jadi malah nggak kepikiran. Waduh! Hmm&#8230; dunia dianggapnya adalah tempat untuk bersenang-senang sepuas hati belaka. Hmm.. kasihan banget ya. Yuk, kita sadar yuukk..</p>
<p>Ketika ingin menjadi sosok yang berkepribadian, bukannya sibuk berbenah diri dengan memoles iman dan akhlak, malah ikut kursus kepribadian. Itu pun sekadar diajarkan bagaimana sikap duduk kalo pake rok mini, tangan ditaruh di mana, posisi kepala, posisi leher, bagaimana tersenyum dsb. Jadilah ketika di ajang adu wawasan, arti chauvinisme nggak bisa jawab (hmm.. masih inget kan kasus ini 2 tahun lalu di ajang Putri Indonesia?)</p>
<p>Sementara bagi mereka yang memahami bahwa cewek kudu diakui eksistensinya karena kecerdasan dan akhlaknya, maka mereka akan giat dan sibuk membaguskan imannya, mengembangkan wawasannya, dan mengasah kecantikan akhlaknya. Kamu mau pilih mana?</p>
<p><strong>Gimana harusnya jadi cewek?<br />
</strong>Sobat muda muslimah, jadi cewek tuh kamu kudu bisa menghargai diri sendiri dulu. Kalo kamu aja yang punya diri nggak bisa menghargai, gimana orang lain akan bisa kamu harapkan untuk bisa menghargai dirimu. Iya nggak sih? Coba deh renungkan.</p>
<p>Dari jaman baheula sampe jaman kiwari yang serba digital, cewek tuh emang cantik. Sejelek-jeleknya penampilan cewek, tetap aja aura tubuhnya menyimpan keindahan. Karena itu Islam tahu banget gimana menghargai tubuh ini. Jilbab dan kerudung adalah dua pakaian muslimah yang kudu dipakai bila keluar rumah. Dengan pakaian takwa ini sebagai cewek kamu punya otoritas penuh untuk pegang kendali siapa aja yang boleh lihat aurat kamu. Jangan diobral, gitu lho.</p>
<p>Itu sebabnya, kamu jangan terpengaruh oleh mereka yang berbusana minim dengan menunjukkan lekuk liku tubuhnya. Bukannya dihormati, harga mereka hanya sebatas suitan nakal cowok urakan, hingga ditowel en dijawil-jawil. Emang kamu mau diperlakukan seperti itu? Ogah banget tuh! Wong, sebagus apa pun nasib model yang mendulang rupiah karena rela umbar aurat, harga diri mereka masih bisa dinilai dengan uang.</p>
<p>Bukan fisik aja yang butuh cantik, tapi kepribadian harus jauh lebih cantik. Cantik menurut siapa? Cantik menurut Allah yang itu artinya sesuai dengan aturanNya. Kepribadian bukan dilihat dari dari gaya jalannya yang lenggak-lenggok. Bukan pula dari seberapa manis senyum yang ditebarkan. Tapi kepribadian adalah pola pikir dan pola jiwa seseorang. Ketika kamu mencampakkan ideologi selain Islam, saat itulah kamu disebut berpola pikir Islam. Ketika kamu naksir cowok tapi menjaga diri dari pacaran dan hanya mau dengan jalan nikah saja, saat itu kamu berpola jiwa Islam. Dari perpaduan unik ini kamu adalah seseorang dengan kepribadian unik pula.</p>
<p>Jelas dong jauh banget dibandingkan dengan cewek baik-baik yang menjaga aurat, diri dan kehormatannya. Harta dunia nggak bakal bisa membelinya. Cuma surga yang pantas sebagai imbalannya. Ibarat mutiara, nilainya jelas beda antara yang dijual di pinggir jalan sehingga semua orang akan mudah menjamahnya dengan yang dijual di etalase dan hanya yang berhak saja yang bisa menyentuhnya. Beda banget deh!</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œDunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah wanita (istri) yang shalihahâ€? (HR Muslim)</p>
<p><strong>Sampai kapan?</strong><br />
Sampai kapan kamu, para cewek mau dieksploitasi kayak gini? Ketika pelecehan seksual hingga perkosaan jadi menu sehari-hari. Ketika keluar rumah, selalu dibayangi rasa was-was. Khawatir kalo di jalan ada yang ngejailin; ditowel or disuitin hingga mungkin hal-hal yang lebih jauh. Udah gitu, hukum juga nggak bisa diharap lagi. Mau seperti ini terus?</p>
<p>So, mau nggak mau, kita para cewek kudu bangkit mulai sekarang, detik ini juga. Kita mampu untuk mengubah nasib kita sendiri. Bukan dengan feminisme, bukan dengan emansipasi, bukan pula dengan eksploitasi, tapi dengan harga diri, yakni ISLAM.</p>
<p>Dalam Islam kedudukan cewek jelas. Tidak seperti dalam sstem kapitalisme dengan demokrasinya yang memuja kebebasan individu. Namanya juga bebas, jadi manusia diberikan kebebasan berbuat; mau telanjang kek or pake koteka kek, tekek kek, upsâ€¦maksudnya?  bebas semau gue. Sementara Islam, Non, punya ketegasan dalam batasan aurat wanita yang boleh diperlihatkan. Cuma muka dan kedua telapak tangan doang yang boleh diliatin di depan umum. Itu artinya hampir seluruh tubuh wanita adalah aurat yang kudu ditutup rapat dan nggak boleh dilihat oleh lawan jenis yang bukan mahram di tempat umum.</p>
<p>Kedudukan sebagai anak nih, cewek tuh sejajar dengan cowok. Mempunyai kesempatan mendapat pendidikan dan perlakuan yang sama dari ortunya. Bahkan dalam hadisnya, Rasulullah saw, menyatakan bahwa siapa yang mempunyai anak cewek dan bisa mendidiknya dengan baik, maka ortunya akan masuk surga.</p>
<p>Lalu cewek sebagai ibu. Keyakinan mana sih yang punya konsep mulia bahwa surga di bawah telapak kaki ibu? Nggak ada, selain Islam saja. Kedudukan ibu lebih mulia tiga derajat daripada ayah.</p>
<p>Terus cewek sebagai istri, Rasulullah saw. sangat menekankan untuk bertingkah laku yang baik padanya. Memberi hak yang layak mulai masalah berpakaian, makanan, pendidikan, dll. Untuk itu, suaminya harus bisa memenuhinya dengan benar dan baik.</p>
<p>Oya, di masyarakat pun, cewek mempunyai kedudukan mulia dalam semua aspeknya, lho. Hak politiknya sudah diakui jauh sebelum feminisme didengungkan pada abad pertengahan. Ketika Khalifah Umar bin Khaththab mengeluarkan peraturan untuk membatasi mahar pernikahan, tampillah seorang wanita yang dengan tegas menegurnya karena hal itu tidak sesuai dengan tuntunan al-Quran. Dan Umar pun mengaku salah sehingga peraturan negara ditetapkan sesuai apa yang telah tertuang dalam al-Quran dan as-Sunah saja. Subhanallah, seorang wanita menegur pemimpin negara dan suaranya didengarkan? Tak ada lain kecuali bila Islam diterapkan sebagai ideologi negara, sehingga wanita pun termuliakan. Insya Allah.<br />
? <br />
<strong>AYO Bangkit!<br />
</strong>Hari gini jadi cewek masih mau dieksploitasi? KUNO! Udah terbukti kamu nggak bakal dapat apa pun dengan mengumbar aurat kamu di depan umum. Yang ada cuma pelecehan demi pelecehan yang membikin kamu semakin nggak ada artinya. Nggak ada artinya di hadapan manusia, apalagi di hadapan Allah. Yakin itu. So, ati-ati ya.</p>
<p>Sobat muslimah, cowok yang baik-baik nggak bakal mau sama cewek on the sale alias obralan. Gimana nggak, obralan kalo harga dia jadi murah, aurat tubuhnya jadi pemandangan umum. Jangankan cowok baik-baik, cowok urakan pun ketika sudah dihadapkan untuk memilih istri pasti yang dicari adalah yang masih fresh from the oven. Doi nggak mau dapat istri yang udah â€?bekasâ€™ dipelototin di jalan-jalan, di catwalk, di mal, dan di plaza yang memang ajang empuk untuk pamer aurat. Belum lagi kalo sampe pernah ditowel sana-sini, dan yang lebih parah kalo sempat di-test drive segala (mobiiil kaleee&#8230;). Amit-amit!</p>
<p>Itu sebabnya, kamu jangan mau?  dikendalikan oleh opini umum tentang â€œcewek modernâ€?. Jadi cewek itu kudu U are U (ngikut iklan neh&#8230; hehehe&#8230;). Yes, be the way you are. Jadilah diri kamu sendiri. Yang kayak gimana? Yang sesuai fitrah kamu sebagai cewek, sebagai muslimah. Tunjukkin girl power kamu, ubah dunia dengan prestasi-prestasi, bukan dengan eksploitasi. Ayo bangkit! [riafariana]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 241/Tahun ke-6/25 April 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/girl-power/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semangat Saja Belum Cukup, Bro!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/semangat-saja-belum-cukup-bro</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/semangat-saja-belum-cukup-bro#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:14:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/semangat-saja-belum-cukup-bro/</guid>
		<description><![CDATA[Sanksi eliminasi ternyata nggak cuma menimpa akademia yang terendah persentase polling SMS-nya. Jurinya pun kebagian juga. Nggak percaya? Lihat aja penampilan Mbak Trie Utami sekarang. Meski bukan kedudukannya sebagai juri yang tereliminasi, tapi ada salah satu ciri khasnya yang tereliminasi. Bukan, bukan penilaian â€?pitch controlâ€™-nya yang menghilang. Coba lihat lagi gaya busana Mbak Iie sekarang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sanksi eliminasi ternyata nggak cuma menimpa akademia yang terendah persentase polling SMS-nya. Jurinya pun kebagian juga. Nggak percaya? Lihat aja penampilan Mbak Trie Utami sekarang. Meski bukan kedudukannya sebagai juri yang tereliminasi, tapi ada salah satu ciri khasnya yang tereliminasi. Bukan, bukan penilaian â€?pitch controlâ€™-nya yang menghilang. Coba lihat lagi gaya busana Mbak Iie sekarang. Yup, kini penyanyi bertubuh mungil ini tak lagi mengenakan penutup kepala (menyerupai daleman kerudung) yang selalu identik dengan pakaiannya. Ada apa neh dengan Mbak Iie?<span id="more-242"></span></p>
<p>Semenjak perceraiannya dengan sang suami, Andi Ananta, penampilan Mbak Iie memang beda! Doi memutuskan untuk menanggalkan penutup kepalanya dan beralih pada wig dengan beberapa helai rambut yang berwarna emas. Bahkan kini Mbak Iie tidak lagi takut untuk berpenampilan funky dengan tindikan di hidung dan lima buah tindikan di telinga kanan dan kirinya. Wuih, mo jualan anting Mbak? (maaf lhoâ€¦ karena sol ini sudah diketahui umum, jadi bukan sedang ngegosip, tapi sekadar ngasih komentar aja)</p>
<p>Otomatis perubahan yang terjadi pada penampilan juri killer AFI ini mengundang kontroversi. Banyak yang menyayangkan walau nggak sedikit yang mendukungnya. Yang mendukung punya pendapat, itu hak Mbak Iie untuk mengubah penampilan. Ngapain juga orang lain kudu sewot. Sementara yang menyayangkan mungkin merasa kehilangan salah satu sosok selebriti yang konsisten dengan pakaian â€?sopanâ€™-nya. Gimana komentar Mbak Iie? Doi mengaku menyukai hal-hal yang aneh-aneh dan belum menjadi tren. Jadi ia selalu bereksperimen dengan dirinya sendiri (indosiar.com). Hati-hati lho Mbak dengan eksperimen, ntar jadi mutant lho! Heheheâ€¦</p>
<p>Fenomena perubahan penampilan Mbak Iie, sebelumnya pernah terjadi juga pada Tya Subiakto setelah berstatus janda. Tahu dong Tya? Yup, doi adalah seorang conductor (bukan penghantar listrik lho) sekaligus pimpinan T&amp;T Orchestra. Meski keputusannya menuai kontroversi. Tya tetep dengan pilihannya. â€œSaya tahu, saya punya hak pribadi untuk bisa memutuskanâ€? ujar Tya saat ditanya komentarnya. (SCTV Online, 10/02/05)</p>
<p>Sobat, seandainya Mbak Iie atau Tya bukan selebriti, tentu sorotan media massa nggak akan tertuju pada mereka. Itu artinya, kecil kemungkinan ada yang meneladani â€?hijrahâ€™ mereka. Tapi, berhubung mereka â€?bukan wanita biasaâ€™ alias seorang public figure, besar kemungkinannya dijadikan teladan oleh para penggemarnya. Atau malah dijadikan penguat opini yang mengatakan bahwa terikat dengan syariat bagi seorang muslim, itu sebuah pilihan, bukan kewajiban. Gaswat kan?</p>
<p><strong>Sebuah pilihan atau kewajiban?<br />
</strong>Sobat muda muslim, terikat dengan aturan Allah Swt. dalam setiap perbuatan kita sehari-hari merupakan konsekuensi dari keislaman kita. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?????„?§?? ?ˆ???±???¨?‘???ƒ?? ?„?§?? ?????¤?’?…???†???ˆ?†?? ?­?????‘???‰ ?????­???ƒ?‘???…???ˆ?ƒ?? ???????…???§ ?´???¬???±?? ?¨?????’?†???‡???…?’ ?«???…?‘?? ?„?§?? ?????¬???¯???ˆ?§ ?????? ?£???†?’?????³???‡???…?’ ?­???±???¬?‹?§ ?…???…?‘???§ ?‚???¶?????’???? ?ˆ???????³???„?‘???…???ˆ?§ ?????³?’?„?????…?‹?§<br />
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS an-Nis?¢ [4]: 65)</p>
<p>Mengomentari ayat ini, al-Jashash (seorang ahli tafsir) berkata: â€œAyat ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menolak salah satu perintah Rasulullah saw. telah keluar dari Islam: sama saja apakah penolakan itu disebabkan karena ragu, tidak menerima, atau menolak untuk tunduk. Inilah pendapat para sahabat ketika mereka menghukumi murtad orang yang menolak membayar zakat, membunuh mereka, dan menawan tawanan mereka. Sebab, Allah telah menetapkan bahwa siapa saja yang tidak menerima keputusan Nabi saw. dan hukumnya tidak termasuk ahl al-im?¢nâ€? (aj-Jashash, Ahkam al-Quran, Vol. 3, Beirut, Dar al-Fikr, 1993, hlm. 302)</p>
<p>Gencarnya serangan gaya hidup individualis bin egois yang dihembuskan musuh-musuh Islam bikin sebagian dari kita jadi males untuk saling mengingatkan dan saling menasihati antar saudara. Takut disangka turut campur privasi orang lain. Hasilnya, sodara-sodara kita ada yang dengan seenaknya mempermainkan aturan Allah Swt. karena nggak ada yang ngoreksi. Ikutan aturan hidup Islam disikapinya sebagai sebuah pilihan yang kadang-kadang bisa diambil atau dicuekkin seenak udel. Padahal Allah Swt. mengingatkan: â€œDan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.â€? (QS al-Ahzab [33]: 36)</p>
<p>Jadi, terikat dengan aturan Allah dalam keseharian kita merupakan kewajiban, bukan sebuah pilihan. Nggak ada alasan buat kita yang udah dewasa untuk menghindarinya. Kecuali karena 3M: Masih kecil, Menjadi orang gila, atau Murtad.</p>
<p><strong>Dorongan untuk terikat syariat</strong><br />
Sobat, secara umum kita begitu hormat kepada temen-temen yang berani en semangat nunjukkin identitasnya sebagai seorang muslim. Mulai dari cara berpakaian, perkataan, hingga perbuatannya yang berusaha meneladani Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Busananya rapat menutup aurat, pergaulannya terjaga dari kontaminasi gaul bebas, atau perkataannya yang penuh hikmah dan nggak sungkan untuk ngingetin sodaranya. Pokoknya karakter ikhwan atau akhwat banget deh. Tapiâ€¦.</p>
<p>Ada juga lho di antara mereka yang bikin kita kecewa. Bukan karena doi lupa bayar hutang atau jarang nraktir kita. Justru karena keistiqomahan mereka yang nggak awet. Nggak ada angin nggak ada hujan, dia berani menanggalkan busana muslimahnya demi mengubah penampilan. Nggak ada gempa nggak ada tsunami, pergaulan bebas dilakoninya dalam aktivitas bernama berpacaran. Nggak ada banjir apalagi longsor, aktivitas dakwahnya kian meredup. Sikapnya yang terkesan plin-plan nggak cuma mencoreng nama baiknya, tapi ajaran Islam sering jadi sasaran komentar miring dengan perilaku mereka. Disangkanya terikat dengan syariat dalam lingkungan sekuler kayak sekarang cuma makan ati. Makanya banyak yang gugur di tengah jalan. Coba, gimana jadinya ini?</p>
<p>Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam â€?Bunga Rampai Pemikiran Islamâ€™, dorongan seorang muslim untuk terikat syariat tergantung pada kekuatan yang dimilikinya. Semakin besar kekuatan yang dimilikinya, semakin kuatlah untuk tetep istiqomah. Kekuatan itu di antaranya: kekuatan materi/fisik, kekuatan moral/jiwa, dan kekuatan rohani.</p>
<p>Kekuatan materi/fisik bisa berupa dukungan harta yang disubsidi ortu atau adanya teman-teman senasib yang membakar semangatnya untuk tetep istiqomah. Tapi ketika subsidi mulai dicabut, nggak sedikit dari temen kita yang mempertaruhkan keistiqomahannya di dunia kerja. Lingkungan sekuler bin kapitalis di dunia kerja lambat laun menuntutnya untuk steril dari syariat. Ketika kita bercerai dengan temen senasib atau terpisah dari â€?sang targetâ€™, kekuatan itu seolah hilang. Kita merasa sendiri. Dan tak ada semangat untuk tetep istiqomah.</p>
<p>Kekuatan moral/jiwa sedikit lebih awet dibanding materi/fisik. Sebab berasal dari dalam diri kita untuk meraih kebersamaan, ketenangan, penghargaan, atau menumbuhkan jiwa pahlawan. Sayangnya, kekuatan ini lebih didominasi oleh perasaan yang tentu saja bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Persis kayak jadwal televisi atau harga barang yang tercantum dalam brosur penjualan. Ketika kekuatan rasa itu sulit diraih, keistiqomahan pun kian tersisih.</p>
<p>Kekuatan ruhani yang lahir dari kesadarannya akan hubungan dengan Allah Swt. terbukti paling awet yang bisa bikin kita tetep istiqomah sepanjang sejarah. Ciiieeeâ€¦Yup, karena Dia yang memberi kita rizki sehingga kita nggak khawatir melarat jika harus mengorbankan karir di dunia kerja untukNya. Dia akan selalu bersama hambaNya yang sholeh, sehingga kita nggak perlu bersedih jika ditinggal teman senasib atau terpisah dari â€?sang targetâ€™. Dia yang menyediakan pahala dan surga sebagai penghargaan atas amal baik kita di dunia baik yang biasa maupun yang ruarr biasa meski dianggap sepele di mata manusia.</p>
<p>Dari beberapa kekuatan di atas, kita bisa evaluasi diri. Kekuatan manakah yang bersemayam dalam diri kita. Yang paling penting, kudu ada upaya menumbuhkan kekuatan ruhani yang menyamai semboyan lampu Philips: Terus Terang dan Terang Terus!</p>
<p><strong>Merawat semangat dengan ilmu</strong><br />
Sobat, terikat dengan syariat setiap saat memang bukan perkara mudah. Apalagi kita selaku manusia besar kemungkinan untuk berbuat lupa dan khilaf. Rasulullah saw. juga udah wanti-wanti kalo keimanan kita kadang dalam keadaan naik, kadang turun. Pas lagi turun, semangat kita jadi mengendur. Gejalanya, kita jadi malas untuk lebih terikat dengan syariat. Pada kondisi yang akut, bisa menyebabkan kita berbuat dosa besar hingga murtad. Iih tatuut! Kondisi ini yang sering disebut dengan futur. Makanya kita kudu pandai merawat semangat kita ketika keimanan sedang naik biar nggak jatuh tersungkur saat menghadapi futur. Caranyaâ€¦ caranyaâ€¦ caranya?!</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œSetiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa futur (bosan). Barang siapa yang ketika futur tetap berpegang kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk dan barangsiapa yang ketika futur berpegang kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesatâ€? (HR al-Bazaar)</p>
<p>Hadis ini ngasih kita petunjuk kalo futur menghinggapi diri kita, jalan terbaik adalah dengan tetap berpegang teguh kepada aturan Islam. Hmm.. tapi kan justru masa-masa itu kita malas untuk tetep terikat syariat?</p>
<p>Iya, makanya biar tetep ada semangat meski kondisi lagi sekarat kita kudu tumbuhkan kekuatan dalam diri kita. Bukan kekuatan materi, fisik, moral, atau jiwa yang lemah, tapi kekuatan ruhani alias kesadaran akan hubungan dengan Allah Swt. Kekuatan seperti yang dimiliki para sahabat Rasulullah saw. sehingga mereka rela mewakafkan dirinya, keluarganya, hartanya, pikiranya, dan seluruh waktu hidupnya untuk terikat dengan syariat. Dan kekuatan ini mereka peroleh dengan mengenal Islam lebih dalam. Menimba ilmu untuk diyakini, dipahami, diamalkan, dan didakwahkan.</p>
<p>Jadi, cara tepat untuk merawat semangat adalah dengan giat menimba ilmu Islam yang pasti bermanfaat. Awalilah dengan meluangkan waktu untuk hadir di tempat pengajian, bertanya tentang Islam kepada teman, baca media cetak Islam seperti buletin STUDIA kesayanganmu ini (promosi nih yeeâ€¦), atau terjun dalam kepanitiaan acara-acara Islam. Kemudian songsonglah kegiatan-kegiatan di atas dengan aktivitas dakwah berjamaah. Agar ada yang mengingatkan dan menasihati kala kita terkena wabah futur. Sehingga bukan hil yang mustahal, eh kebalik, hal yang mustahil untuk tetep kobarkan semangat terikat syariat. But, semangat aja belum cukup kalo tanpa ilmu. Oke? [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 240/Tahun ke-6/18 April 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/semangat-saja-belum-cukup-bro/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta, Bisnis, dan Hiburan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cinta-bisnis-dan-hiburan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cinta-bisnis-dan-hiburan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:11:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cinta-bisnis-dan-hiburan/</guid>
		<description><![CDATA[Eh, pernah dengar lagu â€œRekayasa Cintaâ€? yang didendangkan Mbak Camelia Malik? Hmm, pasti apal deh buat kamu yang rambutnya keriting. Lho kok, bisa? Iya, karena biasanya orang yang rambutnya keriting hobi lagu dangdut tuh (hehehe.. sori sekadar menghubung-hubungkan aja nih, karena rata-rata para penyanyi dangdut rambutnya keriting, atau paling nggak ikalâ€”kecuali Alam kali ye? Terus, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eh, pernah dengar lagu â€œRekayasa Cintaâ€? yang didendangkan Mbak Camelia Malik? Hmm, pasti apal deh buat kamu yang rambutnya keriting. Lho kok, bisa? Iya, karena biasanya orang yang rambutnya keriting hobi lagu dangdut tuh (hehehe.. sori sekadar menghubung-hubungkan aja nih, karena rata-rata para penyanyi dangdut rambutnya keriting, atau paling nggak ikalâ€”kecuali Alam kali ye? Terus, temen-teman saya yang rambutnya keriting hampir semuanya hobi dangdut). Yeeâ€¦ ini ngelantur kemana-mana. Gejlig! <span id="more-241"></span></p>
<p>BTW, mau tahu lirik lagunya? Ini nih penggalannya, â€œCinta kini sudah direkayasa, diolah-alih semanis madu (hei tapi berbisa). Cinta&#8230; kini sudah jadi dilema, beritanya pun sudah jadi topik utama. Nuansanya tak lagi melukiskan, pesona indahnya kemesraan jalinannya tak lagi menjanjikan, masa depan kebahagiaan.â€? Silakan dinyanyikan dengan langgam dangdut biar terasa suasananya.</p>
<p>Sobat muda muslim, di jaman industrialisasi seperti sekarang, segalanya bisa direkayasa. Supaya apa? Supaya wajah yang tadinya tampak biasa-biasa, akan disulap jadi lebih kinclong, badan yang kerempeng bisa dipermak jadi atletis. Buat yang kebetulan punya wajah kayak buah mengkudu alias jerawatan, nggak usah khawatir. Karena apa? Karena tuh wajah bisa ditaburi atau diolesin pake kosmetika antijerawat. Biar mulus, biar kinclong dan bikin pede.</p>
<p>Supaya iklan shampo tampak menarik, maka teknologi siap merekayasa. Mulai dari memilih model yang emang rambutnya udah bagus, dibikin lebih keren. Kamera berperan untuk menyempurnakan gambar. Berbagai software pendukung dalam teknologi komputer bisa dimintai bantuan untuk membuat visualisasi seperti yang diinginkan. Intinya, biar tampak bagus dan pemirsa merasa kudu membeli produk itu karena tergiur oleh rekayasa iklan yang ciamik punya.</p>
<p>Sekarang, bukan hanya produk yang dikemas dengan sangat menarik. Direkayasa supaya bisa tampil menawan dan menggoda masyarakat untuk membelinya. Ya, bukan hanya barang yang direkayasa, sekarang urusan pribadi seseorang pun bisa pula direkayasa. Cinta salah satunya. Nggak percaya?</p>
<p>Hmm.. lihat deh etalase-etalase cinta di televisi, ada Katakan Cinta, Nikah Gratis, dan Joe Millionaire Indonesia (RCTI); Playboy Kabel dan H2C (Harap-harap Cemas) di SCTV; Outback Jack dan The Bachelorette (TV7); My Big Fat Obnoxious Fiance yang disiarin di Indosiar; termasuk Cinta Lokasi di Global TV.</p>
<p>Daftar di atas memang disebut sebagai acara reality show. Tapi meski nama acaranya â€œmenampilkan kenyataanâ€?, tetep aja nggak seru kalo nggak disuntikkan dramatisasi di dalamnya. Jadi, di sini jelas ada peran dari sutradara, penulis naskah, dan juga tukang rias. Supaya apa? Supaya lebih gereget. Contohnya Joe Millionaire Indonesia, untuk menampilkan Marlon yang tampan, gagah, dan miliarder, maka pemuda yang tadinya luntang-lantung sebagai peselancar di Pantai Kuta Bali, disulap jadi lebih keren dan supaya terkesan tajir. Inilah rekayasa saudara-saudara.</p>
<p>Rekayasa itu rasanya penting memang, bahkan bila perlu dibuat seideal mungkin. Kalo nggak ada rekayasa memang nggak seru kayaknya. Pemain sepakbola pun, meski tanpa skenario khusus dalam setiap pertandingan yang digelar, â€?dituntutâ€™ juga untuk melakukan trik-trik menjebak lawan supaya terkena offside, misalnya. Atau mungkin pura-pura terjatuh di dalam kotak penalti lawan. Itu disebut diving. Kalo itu itu dilakukan dengan piawai seperti yang sering dilakukan Jurgen Klinsman dan Filippo Inzaghi, dan wasitnya nggak ngelihat aksinya yang pura-pura itu, bisa langsung dihadiahi tendangan penalti. Ini juga rekayasa. Kalo nggak gitu, mungkin nggak dapat kesempatan mengalahkan lawan.</p>
<p><strong>Rekayasa realitas</strong><br />
Boleh dibilang saat ini kita kebingungan nyari realitas yang apa adanya tanpa direkayasa. Seringkali sebuah berita direkayasa sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi sebuah kenyataan. Padahal itu sudah dibubuhi opini si penulis berita di media massa yang bersangkutan. Jadi bias kan?</p>
<p>Ya, karena dalam teori komunikasi massa, media memang mutlak adanya seperti yang dikemukakan oleh Harold D. Laswell, yang disebut Channel atau saluran komunikasi. Saluran inilah yang akan menyalurkan massage atau pesan antar komunikan dan efek yang akan timbul dari komunikasi tersebut. Dari teori itu dapat diketahui adanya kemungkinan manipulasi dalam penyampaian pesan pada saat melewati saluran tersebut sangatlah besar. Sehingga Marshall Mcluhan menyatakan bahwa â€œThe Medium is the Massageâ€? yang berarti suatu?  medium (media)?  yang dipakai untuk menyampaikan suatu pesan merupakan pesan itu sendiri.</p>
<p>Wow, ternyata emang banyak peluang ya untuk bisa merekayasa sebuah pesan sebelum sampe ke masyarakat yang akan mengakses informasi yang ditayangkan atau ditulis di media massa. Pendek kata kudu dipoles sedemikian rupa, supaya tidak saja isinya sesuai keinginan pemilik media, tapi juga kudu punya nilai bisnis dan menghibur.</p>
<p>Untuk urusan cinta juga ternyata sama. Realitas yang ada itu direkayasa sedemikian rupa supaya tampak lebih gereget dan kelihatan dramatis. Lihat aja deh acara Playboy Kabel yang perlu menghadirkan jebakan berupa â€œumpanâ€? seorang cewek untuk menguji apakah seorang pemuda itu playboy apa nggak dengan cara meneleponnya atau ngirim SMS. Cara si â€œpenggodaâ€? berbicara dengan calon korbannya, pertanyaan apa saja yang kudu diajukan dan sebagainya, semuanya dibuat dan dirancang khusus. Tujuannya? Untuk memancing reaksi alamiah. Maklum, umumnya orang Indonesia katanya sulit untuk tampil ekspresif (menyatakan perasaan secara terbuka dan â€?hebohâ€™).</p>
<p>Sobat muda muslim, cinta sepertinya juga dibidik untuk ditampilkan dalam acara reality show. Kalo dulu, cinta cuma untuk dinikmati sepasang kekasih, kini nggak lagi. Kayaknya udah luntur dan berganti budaya bahwa cinta juga kudu diekspresikan dengan sesuatu yang unik, dan bahkan mungkin nekat. Coba deh lihat aksi para â€?pejuang cintaâ€™ dalam tayangan Katakan Cinta. Misalnya episode Adit yang menyatakan cintanya pada Anggia Karisma.</p>
<p>Dalam tayangan itu, tiba-tiba cowok itu muncul di layar lebar yang menayangkan pagelaran Jazz Goes to Campus di salah satu sudut Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Adit nggak cuma muncul, tapi ia melakukan hal yang terbilang nekat: menyatakan cinta kepada pujaan hatinya, Anggia Karisma yang menonton acara itu. Waduh, gimana urusannya tuh?</p>
<p>Meski pernyataan cintanya ditolak, tapi atas aksinya itu, Adit dinobatkan oleh pemirsa sebagai pejuang cinta favorit dan berhak menggondol duit 11 juta perak. Nah, di sini juga ada peran â€?tangan-tangan misteriusâ€™ yang membuat skenario seperti itu. Mungkin saja awalnya adalah ide Adit, tapi kemudian dipoles sedemikian rupa supaya lebih menarik pemirsa.</p>
<p>Persis kayak dalam pertandingan SmackDown yang boâ€™ong-boâ€™ongan itu. Tapi penonton suka, gitu lho. Aneh juga ya? Mungkin karena kita terbiasa nonton film dan sinetron, sehingga tayangan seperti reality show pun kudu benar-benar dramatis. Untuk alasan itu, sutradara dan tim kreatif acara reality show kudu berjibaku untuk membuat rekayasa. Ya, merekayasa sebuah realitas supaya terlihat lebih gereget dan dramatis. Hmm&#8230;</p>
<p><strong>Komoditas cinta</strong><br />
Dalam sistem ekonomi kapitalis, apa pun bisa dijadikan komoditas. Dipoles dan dikemas supaya menarik dan menghibur, lalu dijual. Uang saja bisa jadi komoditas yang diperjual-belikan, lihat deh gimana maraknya perdagangan uang di bursa efek. Nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa naik-turun tergantung supply and demand. Sama persis dengan harga jual beras atau cabe keriting yang bergantung penawaran dan permintaan pasar. Walah!</p>
<p>Cinta juga rupanya sama, perlu dijadikan komoditas untuk mengeruk keuntungan. Kok bisa sih? Hmm.. ini mirip acara infotaiment sobat. Para pemilik modal tahu bahwa manusia secara alamiah punya rasa ingin tahu terhadap kehidupan pribadi orang lain. Jadi, ini semacam memuaskan â€?instingâ€™ itu. Maka dikemaslah acara reality show. Bedanya dengan infotainment, dalam reality show tokohnya adalah orang biasa. Bukan selebritas. Begitu.</p>
<p>â€œKalau dulu, di Indonesia cinta itu terjadi antara dua orang yang malu-malu, yang orang lain nggak perlu tahu,â€? kata psikolog Harry Susianto, PhD. â€œTapi, kalau sekarang, seluruh Indonesia harus tahu, dan kesannya cinta bukan sesuatu yang serius. Kalau dulu, orang sampai demam karena cinta, tapi sekarang main-main, sudah seperti show,â€? tambahnya dalam wawancaranya dengan Koran Tempo.</p>
<p>Sobat muda muslim, yang namanya show, selain kudu ada unsur rekayasa juga kudu ada sisi yang menghibur dan bisa dijual. Jadi, cinta memang akhirnya sudah dianggap sebagai komoditas untuk dijual. Lucunya, ada juga masyarakat kita yang mau mengekspresikan cinta dan pengalaman pribadinya di acara reality show. Kok bisa ya? Psikolog Harry Susianto, PhD melihat masyarakat kini memang lebih ingin terkenal. â€œOrang sekarang lebih ada kebutuhan terkenal,â€? katanya. â€œIstilah mahasiwa saya itu, â€?banci tampilâ€™.â€? (Koran Tempo, 27 Maret 2005)</p>
<p>Kalo cinta sudah jadi komoditas, tentunya pengemasan produk dan pemasarannya kudu sangat serius. Bila perlu menyuntikkan kebiasaan (habit) kepada masyarakat. Sehingga seolah-olah bahwa itu adalah disukai masyarakat. Persis ketika mengiklankan sebuah produk sabun cuci, kudu ada orang-orang yang bukan selebritas yang mempromosikan keunggulan sabun cuci tersebut. Sehingga kesannya bahwa itu disukai oleh masyarakat. Padahal, kalo dipikir-pikir, masyarakat yang mana ya? Nggak jelas juga kan?</p>
<p>Itu sebabnya, Victor Menayang, pengamat media, menilai bahwa â€œpertunjukan kenyataanâ€? merupakan rekayasa. â€œBohong kalau mereka mengatakan bahwa itu selera masyarakat,â€? kata Victor.</p>
<p>Wah, wah, ketahuan dah modalnya. Iya sih, kayaknya jaman sekarang sulit juga nyari yang benar-benar sebuah â€œpertunjukan kenyataanâ€? yang steril dari rekayasa. Pasti ada polesan dikit-dikit untuk menciptakan dramatisasi. Maklumlah, namanya juga orang jualan. Kalo dagangannya nggak enak dipandang mata, nggak seru dinikmati, bisa nggak laku tuh. Kalo udah nggak laku, terancam gulung karpet deh usahanya. Betul?</p>
<p><strong>Melek media</strong><br />
Yup, kita kudu melek media alias media literacy. Nggak mudah untuk dibohongi dan dipermainkan. Kita juga nggak sekadar menikmati suguhan media massa, tanpa menyaring informasi tersebut. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang, kita sedang adu kuat dalam perang opini antar media. Siapa tahu justru kita malah jadi korbannya. Itu sebabnya, kita kudu waspada. Allah Swt. sebenarnya sudah mewanti-wanti dalam al-Quran, â€œâ€?Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahuan sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan.â€? (QS al-Hujurat [49]: 6)</p>
<p>Ibnu Qoyyim mendefinisikan an-nabaâ€™ dalam ayat ini berarti berita yang masih belum pasti yang disampaikan pembawa berita. At-tabayyun adalah mencari penjelasan hakikat berita itu dan memeriksa seluk beluknya. Sedangkan menurut Imam asy-Syaukani, tabayyanu berarti at-taâ€™arruf wa tafahhush (mengidentifikasi dan memeriksa) atau mencermati sesuatu yang terjadi dari berita yang disampaikan.</p>
<p>Nah, dalam melek media ini, yang bisa kita lakukan adalah: menyaring informasi dan sesuaikan dengan Islam. Jika menurut Islam benar dan baik, maka ambil. Kalo nggak, tentu kudu ditinggalin en dibuang.</p>
<p>Selain itu, upaya melek media ini kudu didukung pemerintah juga untuk mengawasi dan menghukum media yang menayangkan program yang tak bermanfaat, apalagi menyesatkan. Negara kudu mendidik pelaku bisnis media untuk tidak hanya sekadar menampilkan hiburan dan mengeruk duit saja, tapi kudu ada pesan kebenaran yang disampaikan.</p>
<p>Buat kamu, yuk kita kaji Islam lebih dalam lagi dan asah keterampilan kamu dalam menilai suatu peristiwa. Pastikan, bahwa patokan untuk menilainya adalah Islam. Bukan yang lain. Karena apa? Karena kita muslim. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 239/Tahun ke-6/11 April 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cinta-bisnis-dan-hiburan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Empati Hadir di Televisi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ketika-empati-hadir-di-televisi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ketika-empati-hadir-di-televisi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ketika-empati-hadir-di-televisi/</guid>
		<description><![CDATA[Reality show kini jadi idola. Ketika acara hiburan dipenuhi rekayasa di balik skenario, reality show hadir tanpa arahan sutradara atau koreografer. Rasa haru, marah, sedih, gembira, dan berbagai ekspresi wajah yang ditampilkan pemerannya begitu nyata, real, dan murni dari hati nurani. Yang kayak gini yang ditunggu-tunggu pemirsa. Dunia hiburan tanpa rekayasa dan muka dua. Jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Reality show kini jadi idola. Ketika acara hiburan dipenuhi rekayasa di balik skenario, reality show hadir tanpa arahan sutradara atau koreografer. Rasa haru, marah, sedih, gembira, dan berbagai ekspresi wajah yang ditampilkan pemerannya begitu nyata, real, dan murni dari hati nurani. Yang kayak gini yang ditunggu-tunggu pemirsa. Dunia hiburan tanpa rekayasa dan muka dua. Jadi wajar dong kalo acara ini mendapat sambutan hangat sehangat pantat penggorengan di kalangan penonton televisi. Plokâ€¦plokâ€¦plokâ€¦!<span id="more-240"></span></p>
<p>Bagi remaja, pasti nggak asing dengan reality show â€?Katakan Cintaâ€™, â€?Harap-Harap Cemas (H2C)â€™, atau â€?Playboy Kabelâ€™. Atau ajang pencarian bakat dalam AFI, KDI, Indonesian Idol, atau API. Ada juga acara yang menghibur pemirsa di atas penderitaan korban yang dikerjain oleh tim Ngaciir, Paranoid, atau Mbikin Orang Panik. Nggak mau ketinggalan reality show yang coba mengusik privasi selebritas seperti dalam Ketok Pintu atau Curi-curi Kesempatan.Wah, banyak banget ya?</p>
<p>Sayangnya, acara-acara reality show di atas terutama yang suka ngisengin orang sering terlihat mengabaikan etika penyiaran. Merekam dan menyiarkan perilaku korban yang dikerjain tanpa seizin dari yang bersangkutan. Kan malu diliat orang. Kayak nggak punya keâ€¦.eh, rasa malu aja. Tul gak?</p>
<p>Makanya nggak heran kalo nada protes banyak dilontarkan masyarakat demi mengkritisi acara-acara reality show di atas. Untuk acara hiburan, kayaknya keinginan masyarakat nggak neko-neko. Syaratnya paling-paling jangan sampe menjadikan pornografi dan pornoaksi sebagai menu utama; nggak ngejual mimpi di tengah himpitan ekonomi; nggak menyesatkan remaja dengan pancingan gaya hidup hedonis ala selebritas; tapi justru bisa memancing sikap empati melalui tayangan yang melibatkan masyarakat bukan sebagai korban, melainkan pihak yang diuntungkan. Asyik kan?</p>
<p><strong>Ramainya reality show sosial</strong><br />
Nampaknya, keinginan masyarakat sedikit banyak sudah mulai terkabul. Kini produsen acara-acara televisi berani tampil beda dengan menyajikan hiburan berkualitas. Reality show yang mengemas bantuan sosial. Wah acara baru nih? Bukan, â€¦ini baru acara!</p>
<p>Untuk menguji sikap masyarakat kita dalam menolong orang, reality show bertajuk â€?Tolooong!â€™ mencoba menjembatani pemirsa. Sedih juga ya ngeliat masih banyak masyarakat yang kayaknya berat banget untuk ngasih bantuan tanpa imbalan.</p>
<p>Ngasih duit secara cuma-cuma kepada orang yang membutuhkan. Tema inilah yang diusung dalam â€?Uang Kaget (Easy Money)â€™ dan â€?Rejeki Nomplokâ€™. Hal yang sama juga terjadi pada â€?Lunasâ€™. Bedanya, dalam Uang Kaget masyarakat yang terpilih kudu pake uang 10 juta dalam waktu 30 menit. Abis nggak abis kudu dikumpulin, en dibalikin sisa uangnya. Kalo Rejeki Nomplok, duit 5 juta dikeluarin untuk belanja didampingi sang hostest. Sementara untuk Lunas, uang yang dikasih kudu dipake buat bayar hutang sampe Lunas. Siip dah! Asyik banget kan?</p>
<p>Nggak cukup dengan pembagian uang tunai, bantuan dimodifikasi dalam bentuk pembenahan tempat tinggal seperti dalam â€?Bedah Rumahâ€™. Ada juga yang mendandani kendaraan bermotor atau mobil yang udah butut. Sst.. ada reality show yang pasti paling diminati para jomblo: Nikah Gratis. Siapa sih yang nggak kepengen?</p>
<p>Sobat, lega juga ya ngeliat ramainya acara reality show sosial di atas. Ternyata masih ada yang ingin berbagi kebahagiaan dan kesenangan dengan orang lain yang membutuhkan. Syukur-syukur acara ini ikut ngedongkrak sikap empati pemirsa yang kian langka terhadap lingkungan sekitarnya. Nggak cuek bebek aja. Semoga! (pake tanda seru biar kedengerannya nggak pesimis. Hehehe&#8230;)</p>
<p><strong>Agar sedekah berbuah berkah</strong><br />
Sobat, perintah untuk membelanjakan harta kita di jalan Allah seperti bersedekah udah sering kita denger. Ketika bersedekah, selain harta yang kita sedekahkan halal, kita juga kudu ikhlas. Agar ridho Allah Swt. menyertai amal baik kita itu. Kayak gimana sih ikhlas itu? Catet nih, sobat.</p>
<p>Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seseorang antara lahir dan batin. Menurut Abu Qasim al-Qusyairi: â€œIkhlas adalah menjadikan satu-satunya yang berhak ditaati dalam sebuah niat ialah Allah Swt. Artinya, bahwa yang diinginkan dengan ketaatannya itu hanyalah untuk bertaqarrub kepada Allah semata, tidak untuk yang lain, misalnya dipamerkan kepada seseorang, mencari popularitas, atau ingin disanjung-sanjung atau pun tujuan-tujuan lain selain bertaqarrub kepada Alah Swt.â€?</p>
<p>Sobat, menjaga keikhlasan niat dalam beramal kebaikan seperti bersedekah itu ternyata nggak gampang lho. Bener. Idealnya kan, kalo ikhlas mau ngasih, ya ngasih aja. Nggak perlu menyengaja ngadain jumpa pers, ngundang media massa untuk meliput, atau dikemas dalam acara reality show. Kalo nggak hati-hati, bisa terkontaminasi oleh sikap riyaâ€™. Pahala yang kita dapet bisa nyusut tuh, atau malah nggak dapat sama sekali. Rugi banget kan? Ya, benar-benar rugi, bo!</p>
<p>Emang sih, amal kebaikan yang dikemas dalam reality show sosial disatu sisi nggak selalu untuk menuai sanjungan. Mungkin saja dipake sebagai motivasi untuk diteladani pemirsa. Tapi khawatir juga lho kalo kegiatan amal itu orientasinya berubah. Yang tadinya sekadar liputan orang menolong, jadi meliput orang ditolong. Demi mempertahankan rating tinggi dan iklan masuk. Wah, gawat nih! Ini amal saleh atau amal salah ya? Wallahuâ€™alam.</p>
<p><strong>Teladan dari para pendahulu kita</strong><br />
Sobat muda muslim, kedermawanan adalah ciri khas dan tabiâ€™at asli kaum muslimin. Ikhlas. Nggak pake riyaâ€™ atau nyari popularitas. Hal ini dicontohkan oleh Rasul saw. dan para sahabatnya yang kaya maupun yang miskin.</p>
<p>Anas r.a. berkata: â€œTidak pernah Rasulullah dimintai sesuatu melainkan pasti ia memberikannya. Sungguh telah datang seorang peminta kepadanya, maka diberinya kambing yang berada di antara dua bukit, hingga ia kembali kepada kaumnya dan mengajak kaumnya: Hai?  kaumku segeralah kamu masuk Islam, karena Muhammad memberi seperti pemberian orang yang sama sekali tidak kuatir habis atau menjadi miskin. Sungguh dahulunya seseorang masuk Islam tidak lain karena ingin dunia, tetapi tidak lama kemudian mendadak ia cinta pada Islam melebihi dari semua kekayaan dunia.â€? (HR Muslim)</p>
<p>Pada suatu hari, Abdurrahman bin Auf mendengar Rasulullah saw. berkata kepadanya: â€œWahai Ibnu Auf sesungguhnya kamu termasuk orang yang kaya raya, akan tetapi kamu akan memasuki surga dengan merangkak. Maka berilah pinjaman kepada Allah (yaitu menafkahkan hartanya di jalan Allah), niscaya Allah akan menolongmu membebaskan kedua kakimu.â€? (HR Imam Ahmad)</p>
<p>Semenjak mendengar itu Abdurrahman menjadi sahabat yang paling â€?royalâ€™ dalam bersedekah. Suatu hari dia membeli tanah seharga 40.000 dinar kemudian membagikan semuanya kepada keluarga Bani Zahra, kepada isteri-isteri Rasululah saw. dan kaum muslimin yang fakir. Pada kesempatan lain, dia menyediakan 500 ekor kuda untuk berjihad fisabilillah. Pada hari yang lain lagi, ia menyerahkan 1500 ekor kuda. Pada saat meninggalnya, dia mewasiatkan 50.000 dinar dan berpesan pula agar para pejuang Badar yang masih hidup, masing-masing diberi 400 dinar. Ini berbagi rizki, bukan Easy Money lho!</p>
<p>Suatu hari Abdullah bin Amir membeli rumah Khalid bin â€?Uqbah yang ada di pasar seharga 90.000 dirham. Pada malam harinya ia mendengar tangis keluarga Khalid. Dia bertanya kepada keluarga itu, ada apa ini? Mereka menjawab: â€œMereka menangisi rumah mereka ituâ€? Abdullah berkata: â€œWahai anak, datangilah mereka dan beritahukanlah bahwa rumah dan uang itu untuk mereka semuaâ€?. Kagak pake â€?Bedah Rumahâ€™. Langsung dikasih rumah utuh.</p>
<p>Tatkala Qais bin Saâ€™ad bin Ubadah sakit, saudara-saudaranya belum juga pada menjenguknya. Ada yang kemudian berkata kepada Qais: â€œMereka malu karena hutang-hutang mereka kepadamu.â€? Maka Qais berkata â€œAllah akan menghinakan harta yang mencegah saudara-saudara untuk berziarah.â€? Lalu dia menyuruh seseorang untuk mengumumkan â€œSiapa saja yang ada tanggungan hutang pada Qais, sekarang ia telah membebaskannya.â€? Maka hari-hari berikutnya, tangga rumah Qais menjadi pecah karena banyaknya orang yang datang menjenguknya. Ini baru â€?Lunasâ€™!</p>
<p>Asmaâ€™ bin Rabiâ€™ah, seorang tabiâ€™in senior dari thabaqah â€?ula (generasi pertama) pernah?  menikahkah seorang pemuda yang tak dikenalnya dengan budak wanita yang dibelinya. Padahal waktu itu, si pemuda hanya melihat budak wanita yang disukainya masuk ke rumah Asmaâ€™ bin Rabiâ€™ah. Nah, ini baru â€œNikah Gratisâ€?.</p>
<p><strong>Catatan untuk kita semua</strong><br />
Sobat, ramainya reality sosial yang menyentuh aspek sosial sudah sepantasnya meninggalkan catatan tersendiri buat kita semua. Sebuah catatan untuk direnungkan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, reality show sosial dikemas seperti apapun tetep judulnya hiburan. Itu artinya, dengan mengantongi label hiburan tentu pihak produsen akan mencari sudut pandang terbaik agar tayangannya menarik untuk dilirik. Hasilnya, ekspresi wajah yang terharu atau tangisan tersedu-sedu menjadi tontonan yang dinanti pemirsa. Perilaku orang yang diburu waktu untuk ngabisin uang dijadikan daya tarik untuk menyedot perhatian pemirsa.</p>
<p>Tidakkah kondisi ini seperti memanfaatkan kecintaan manusia (terutama kaum fakir miskin) terhadap harta sebagai komoditi bisnis hiburan? Masihkah tersisa keikhlasan pada diri para pelaku bisnis hiburan itu dalam mendermakan harta seandainya bukan kamera dari kameraman yang merekam perbuatan terpuji mereka di lokasi syuting? Melainkan â€?kameraâ€™ Allah swt dan â€?rekamanâ€™ malaikat Raqib dan Atid yang tentu saja jauh dari popularitas, rating tinggi, atau banjir sponsor iklan. Lagian, nggak jelas juga kriteria pemilihan â€?calon korbannyaâ€™.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, buat kita selaku penonton setia acara reality show sosial, semoga nggak tergeser pemahaman kita akan nilai ibadah dalam membelanjakan harta kita di jalan Allah. Dengan atau tanpa adanya acara itu, nggak bikin sikap murah hati dan menolong saudara dalam diri kita jadi surut. Dan yang paling penting, bersedekah, berinfak, atau mendermakan harta nggak pantas dipamerkan. Sebab bisa mengundang decak kagum walaupun kita tidak mengharapkannya. Kata Rasul, kalo tangan kanan kita yang ngasih. Jangan sampe tangan kiri kita tahu. Diem-diem aja ya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, beratnya beban hidup rakyat yang coba diangkat dalam acara reality show sosial seharusnya mendapatkan perhatian penuh dari negara. Kemiskinan, lilitan utang, sulitnya berumah tangga, atau memperoleh tempat bernaung yang layak adalah sebagian kecil dari permasalahan sosial yang betah berkembang biak di tengah lingkungan kita. Makanya negara kudu mau membuang sistem demokrasi-kapitalis (yang dipake buat ngatur hidup kita agar sengsara sepanjang masa) ke tong sampah. Lalu berusaha untuk menerapkan sistem Islam dalam bingkai negara Khilafah Islamiyah demi untuk mensejahterakan rakyat. Bukan para konglomerat.</p>
<p>Nah sobat, jangan tunggu kita kaya untuk berderma. Jangan berharap banyak pada aturan kapitalis sekuler untuk menjadikan hidup kita lebih baik. Jangan berhenti menolong keluarga, kerabat, tetangga, atau saudara-saudara di sekitar kita sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jangan pula diam membisu dengan segala kemaksiatan yang ada di hadapan kita. Mari kita buktikan, bahwa empati tidak hanya ada di televisi. Tapi nyata di depan mata. Yoâ€™i gak guys! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 238/Tahun ke-6/4 April 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ketika-empati-hadir-di-televisi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Kita Manusia&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/karena-kita-manusia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/karena-kita-manusia#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/karena-kita-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[Bagus juga nih lirik lagunya Seurieus Band yang judulnya â€œRocker Juga Manusiaâ€?. Di antara kamu banyak yang apal kan lirik lagunya? Ini nih sebagian liriknya: â€œMungkin orang menyangka. Ku tak pernah terluka. Tegar bagaikan batu karang. Tabu cucurkan air mata. Kadang kumerasa lelah. Harus tampil sempurna. Ingin kuteriakkan. Andai mereka tahu. Perasaan dalam hatiku. Lembut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagus juga nih lirik lagunya Seurieus Band yang judulnya â€œRocker Juga Manusiaâ€?. Di antara kamu banyak yang apal kan lirik lagunya? Ini nih sebagian liriknya: â€œMungkin orang menyangka. Ku tak pernah terluka. Tegar bagaikan batu karang. Tabu cucurkan air mata. Kadang kumerasa lelah. Harus tampil sempurna. Ingin kuteriakkan. Andai mereka tahu. Perasaan dalam hatiku. Lembut bagaikan salju.â€?<span id="more-239"></span></p>
<p>Deuuuu sampe segitunya. Tapi bener juga kok tembang yang dinyanyikan band asal Bandung ini. Namanya juga manusia, pasti nggak lepas dari masalah. Bahkan masalah ini selalu menyertai selama kita masih hidup. Jadi, hidup itu memang penuh masalah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ada yang stres, nggak sedikit juga yang menikmatinya. Semoga kita cukup berani untuk menjalani kehidupan ini. Cuma orang yang ciut nyalinya aja yang nggak berani menghadapi tantangan hidup.</p>
<p>Benar juga pesan yang didendangkan Om Candil dari Seurieus, meski fokusnya ke profesinya sebagai rocker, tapi bisa juga bermakna umum lho. Ya, apa pun profesinya, dari kalangan mana pun, manusia tetaplah manusia. Yang punya hati punya jiwa. Punya pikiran, punya perasaan. Entah mereka rocker, ustadz, daâ€™i, seleb, pelajar, pedagang, pegawai, sopir, mahasiswa, ibu rumah tangga, polisi, preman, maling, perampok, koruptor, orang kaya, orang miskin, tentara, menteri, dan presiden sekali pun tetaplah manusia.</p>
<p>Mereka bisa salah dan bisa benar. Selalu merasakan sedih sekaligus bisa merasakan bahagia. Terbiasa menderita dan nggak jarang hidup senang. Manusia juga ingin dicintai dan mencintai. Bahkan nyaris selalu bisa memaafkan tapi sekaligus pula senantiasa memendam dendam. Bisa berbusa-busa cerita apa saja, tapi tak sedikit yang hidup menyendiri dan menikmati kesendiriannya tanpa perlu diobral ke yang lain. Ada hitam dan ada putih dalam sisi hidup manusia. Ya, karena kita memang manusia.</p>
<p><strong>Mengenal diri kita</strong><br />
Sobat muda muslim, manusia memang makhluk Allah Swt. Potensi makhluk tentunya sudah â€?disetâ€™ oleh Allah Taâ€™ala, yang memang paling tahu karater berbagai makhlukNya (termasuk manusia). Hal ini sekaligus memberi pesan yang jelas bahwa manusia tetaplah manusia, punya kelemahan di balik kelebihannya. Nggak ada manusia yang sempurna dalam pengertian sangat ideal dalam hidupnya.</p>
<p>Misalnya aja, kalo ngikutin ukuran logika kita bahwa orang yang sempurna itu adalah mereka yang secara fisik menarik, dan juga punya inner beauty. Kalo anak laki biasanya kita menilai oke kalo punya wajah ganteng, body atletis, tajir, pinter, keluarganya baik-baik, pemahaman agamanya bagus, dakwahnya pun kenceng. Begitu pula dengan yang cewek; cantik, langsing, kulitnya putih bersih, anak orang kaya, pinter, pendidikannya tinggi, punya bisnis yang maju, akhlaknya mulia, pemahaman agamanya nomor wahid, dan dakwahnya agresif. Wah, pokoknya jika ada yang model gini nih, pasti disebut sempurna dan ideal banget.</p>
<p>Tapi, ternyata dalam faktanya, kita selalu tidak pernah bisa menemukan yang lengkap seperti itu. Pasti ada aja kelemahan di balik kelebihannya yang lain. Saya pikir itu wajar kok. Jika sekarang ada orang yang cantik, tajir, anak orang kaya, pinter, tapi ternyata pemahaman agamanya kurang bagus, dan malah jadi penghalang dakwah. Sebaliknya, ada yang pemahaman agamanya bagus dan dakwahnya kenceng, tapi doi berasal dari keluarga biasa-biasa saja dan penampilannya kurang fotogenik menurut ukuran kita. Ya, itu semua karena kita memang manusia.</p>
<p>Sobat muda, dengan kondisi kita yang seperti ini seharusnya membuat kita berpikir lebih keras dan semakin sadar dengan diri kita sendiri. Itu sebabnya, rada-rada aneh gitu, kalo ada manusia yang masih nggak ngeh dengan dirinya sendiri. Nggak kenal siapa dirinya.</p>
<p>Padahal, coba deh tengok diri kita. Secara fisik Allah Swt. sudah memberikan kita mata. Fungsinya sudah jelas, yakni untuk melihat. Tapi seringkali kita lupa dan nggak bersyukur. Bukannya mata diberdayakan untuk hal-hal yang positif, ternyata kita malah bangga dengan â€?memaksaâ€™ mata untuk melakukan kegiatan yang nggak bermanfaat bahkan melanggar aturan agama. Misal, untuk ngintip yang bukan haknya, untuk menatap tajam dengan marah yang tak jelas dasarnya, bahkan selalu memasang pandangan curiga kepada setiap orang.</p>
<p>Belum lagi kalo harus berpikir dan menimang rasa, bahwa kita diberikan kedua bola mata yang sempurna. Harusnya bersyukur, karena kalo kita mau melihat ke sekitarnya masih banyak ditemukan saudara kita yang matanya cacat bahkan sampai buta. Di sinilah kadang kita nggak sadar bahwa kita adalah manusia, yang diciptakan oleh Allah lengkap dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Kalo kita mengenal siapa diri kita, maka yakin kita akan mengenal dengan mudah siapa yang menciptakan kita.</p>
<p>Contoh tadi baru sekadar mata lho, yang ada dalam diri kita. Dari satu organ tubuh itu kita bisa bercerita banyak sebenarnya dan diharapkan bisa memberikan keyakinan kepada kita untuk mengenal siapa kita dan pencipta kita. Kalo belum puas, coba deh sekarang direnungkan, Allah membuat hidung kita dengan amat bagus bentuknya dan betul-betul didesain dengan model yang sangat aman. Salah satunya lubang hidungnya menghadap ke bawah. Bayangkan kalo lubang hidungnya menghadap ke atas, bagaimana repotnya kita jika turun hujan sementara kita nggak bawa payung atau nggak ada tempat untuk berteduh. Pernahkah kita berpikir sampai ke sana? Semoga saja sering ya.</p>
<p>Itu baru hidung dan mata, ada yang mungkin sering kita lupakan, yakni jantung. Sekadar tahu saja, jantung setiap harinya dengan tak pernah bosan harus berdetak 101.000 kali. Selama kita hidup (misalnya rata-rata 63 tahun), jantung berdetak lebih dari dua miliar kali dan memompa kurang lebih 400 juta liter darah. Bekerja dengan tak perlu meminta ijin kita terlebih dulu. Jantung dengan cueknya (dan mungkin tanpa pamrih) terus melakukan tugasnya untuk kita. Kita mungkin berpikir, siapa sih diri kita, siapa sih yang memberikan segalanya yang ada dalam diri kita.</p>
<p>Nah, pertanyaan seperti ini bisa kamu dapatkan jawabannya dalam al-Quran. Allah Swt. berfirman: â€œHai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.â€? (QS al-Hajj [22]: 5)</p>
<p>Sobat muda muslim, inilah kita saat ini. Meski kita sekarang tampak kuat, bisa berpikir dengan cepat, melahirkan berbagai karya adiluhung, semuanya itu tetap tak lepas dari peran Allah Swt. Jadi, kayaknya kita perlu nyadar deh bahwa kalo aja Allah mematikan kita, nggak ada seorang pun bisa mencegahnya. Teknologi paling canggih yang telah berhasil diciptakan oleh manusia, ternyata belum tercipta teknologi untuk memperlambat datangnya ajal. Betul ndak? Inilah, karena memang kita adalah manusia. Bahkan Radja dengan manisnya berdendang, â€œAku hanyalah manusia biasa, yang tak pernah lepas dari khilaf.â€?</p>
<p><strong>Memanfaatkan potensi diri</strong><br />
Kalo kita mau berpikir lebih dalem lagi tentang diri kita, tentunya kita bisa merasakan betapa lemahnya kita. Betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Kalo ingin membayangkan gimana lemahnya kita, bisa kita mengkaji diri bahwa seteliti-telitinya kita, selalu aja ada celah kosong yang bisa membuat kita teledor. Sepandai-pandainya kita, selalu saja ada peluang untuk berlaku bodoh.</p>
<p>Tapi jangan khawatir, di balik kelemahan itu manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Potensi ini bahkan harusnya membuat kita lebih memahami dengan kondisi kita. Coba, dari jaman Nabi Adam diciptakan sampe sekarang ras manusia telah berhasil menciptakan berbagai kemajuan. Contoh kecil aja, apa pernah kita melihat kucing bisa membuat sepeda motor, terus makan dengan garpu (kecuali si Tom di film Tom and Jerry kali ye?), kemudian ada kucing yang sekolah sampe jenjang yang lebih tinggi. Belum pernah kita melihatnya, bahkan mendengarnya kecuali kalo kita mau mengkhayal dalam sebuah cerita. Tapi manusia, banyak pencapaian yang berhasil diraihnya dari jaman ke jaman. Iya kan? Tentu saja itu juga berkat kemurahan Allah Swt. yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhlukNya yang lain. Manusia diberi akal, sobat.</p>
<p>Allah Swt. menjelaskan dalam al-Quran:</p>
<p>?ˆ???„???‚???¯?’ ?ƒ???±?‘???…?’?†???§ ?¨???†???? ?????§?¯???…?? ?ˆ???­???…???„?’?†???§?‡???…?’ ?????? ?§?„?’?¨???±?‘?? ?ˆ???§?„?’?¨???­?’?±?? ?ˆ???±???²???‚?’?†???§?‡???…?’ ?…???†?? ?§?„?·?‘?????‘???¨???§???? ?ˆ???????¶?‘???„?’?†???§?‡???…?’ ?¹???„???‰ ?ƒ???«?????±?? ?…???…?‘???†?’ ?®???„???‚?’?†???§ ???????’?¶?????„?§?‹<br />
â€œDan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.â€? (QS al-Israaâ€™ [17]: 70)</p>
<p>Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita. Allah memberikan segalanya buat kita. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita kudu pandai mengelola segala potensi hidup yang telah diberikan Allah Swt. Aneh bin ajaib kalo masih ada manusia yang nggak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Sangat heran pula jika pun pandai memanfaatkan potensi yang dimilikinya tapi salah dalam mengamalkannya. Misal, ia memiliki potensi kreativitas yang tak ada hentinya, tapi kreatif dalam rangka mencuri barang orang lain. Wah, itu namanya memanfaatkan di jalur yang salah dong ya?</p>
<p>Sobat muda muslim, jika kita memanfaatkan potensi kita, tentunya tidak lepas dari rasa syukur kita kepada Allah Swt. yang telah memberikan segalanya buat kita. Artinya, amalan kita dalam memanfaatkan potensi pun kudu benar sesuai tuntunan Allah Swt. Nggak bisa asal njeplak berdasarkan hawa nafsu kita. Nggak bebas en liar gitu tentunya.</p>
<p>Sebab, jangan lupa, apa yang kita lakukan nggak bakalan lepas dari pengamatan Allah Swt. Kalo di sekolah kita bisa ngibulin teman atau guru dengan berbohong, maka Allah nggak bakalan bisa dibohongi. Kalo di dunia ini para pembunuh bisa nyantai, bebas berkeliaran belum dihukum oleh negara, maka di akhirat ia pasti nggak bakalan lolos dari hukuman yang diberikan Allah Swt. Bahkan Allah Swt. tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Nggak bakalan ketuker masukin data. Allah Swt. pasti jeli, amalan kita yang baik akan ditaro di â€œfolderâ€? amalan baik. Begitu pun amalan buruk kita. Terus, terminal akhir di akhirat pun sudah jelas buat tiap-tiap manusia sesuai amalannya. Surga buat yang amal baiknya banyak, sementara neraka khusus untuk yang berbuat maksiat waktu di dunia.</p>
<p>Watau, ini kok ngomongnya pahala-dosa dan surga-neraka aja sih? Ya, biar kita takut. Biar kita benar-benar taat kepada Allah Swt. Karena sejatinya yang menciptakan surga dan neraka juga Allah Swt. Tempat itu pun sudah disiapkan oleh Allah untuk kita sesuai amalan kita. Semoga surga yang kita dapatkan.</p>
<p>Hmm&#8230;jadi inget lagunya Chrisye, â€œJika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya?â€?? </p>
<p>Sayangnya, meski surga dan neraka sudah jelas diterangkan keberadaannya di al-Quran oleh Allah Swt. banyak manusia yang tetap berbuat maksiat. Nggak ngikutin perintah Allah dan bahkan ogah menyembahnya. Aneh banget kan? Apalagi kalo surga dan neraka nggak ada?</p>
<p>Sebaiknya, memang kita sadar diri. Yuk, kita mengkaji al-Quran, mengkaji Islam lebih dalam. Memahami siapa diri kita, siapa pencipta kita. Karena apa? Karena kita manusia, yang memang banyak kekurangannya dibanding kelebihannya. Sebagai wujud rasa syukur kita, pantes banget deh kalo kita beribadah hanya Allah Swt. Bukan kepada yang lain. Wallahuâ€™alam. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 237/Tahun ke-6/28 Maret 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/karena-kita-manusia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerdas, Tak Hanya di Atas Kertas</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cerdas-tak-hanya-di-atas-kertas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cerdas-tak-hanya-di-atas-kertas#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 10:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cerdas-tak-hanya-di-atas-kertas/</guid>
		<description><![CDATA[Conan Edogawa, detektif cilik nan imut yang hidup dalam dunia fiksi ini dikenal karena kejeniusannya dalam mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Karakter yang sama juga terdapat pada Chinmi. Jago kungfu asal Kuil Dairin ini juga mampu menarik minat pembaca komik â€?Kungfu Boyâ€™ dengan kecerdasannya dalam mempelajari jurus kungfu yang diuraikan seilmiah mungkin. Dua tokoh fiksi ini memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Conan Edogawa, detektif cilik nan imut yang hidup dalam dunia fiksi ini dikenal karena kejeniusannya dalam mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Karakter yang sama juga terdapat pada Chinmi. Jago kungfu asal Kuil Dairin ini juga mampu menarik minat pembaca komik â€?Kungfu Boyâ€™ dengan kecerdasannya dalam mempelajari jurus kungfu yang diuraikan seilmiah mungkin. Dua tokoh fiksi ini memang hidup di dunia komik. Tapi kecerdasannya digilai para penggemarnya di dunia nyata. Jangan-jangan, kamu salah satu fans mereka. Ayo ngaku! (maksa nih ceritanya)<span id="more-238"></span></p>
<p>Yup, jadi orang cerdas emang impian. Di sekolah, cerdas identik dengan popularitas. Siswa cerdas pasti tidak akan luput dari perhatian guru dan pihak sekolah. Soalnya siswa model gini jadi aset berharga untuk mengharumkan nama baik sekolah dengan ukiran prestasinya. Meski tampangnya nggak ada bakat fotogenik, temen-temennya sering SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat. Selidik punya selidik, ternyata contekan PR menjadi penyebab utama kedekatan temen-temennya itu. Walah?</p>
<p>Tapi cerdas kayak gimana? Ini yang jadi soal. Sebab saat ini, kebanyakan orang menganggap kecerdasan selalu berkaitan dengan intelektual, langganan juara kelas, atau jago ngerjain soal-soal rumit pelajaran Fisika, Matematika, Kimia, atau Biologi. Seolah nggak ada parameter pemaaf, penyabar, empati, suka menolong, suka ngingetin, atau aktivis dakwah pada diri siswa cerdas. Kalo pun ada siswa cerdas yang punya sifat-sifat di atas plus bersuara vokal, hmm&#8230;.boro-boro dilirik, kayaknya nggak diciduk ama pihak sekolah aja udah untung. Glodaks!</p>
<p><strong>Temukan: Cerdas rasa baru</strong><br />
Untuk mengukur kecerdasan seseorang, biasanya pihak sekolah, militer, atau tempat kerja pake hasil karya Alfred Binet (1857-1911) yang kita kenal dengan istilah IQ alias Intelegencia Quotient (Kecerdasan Intelektual). Tingkat kecerdasan seseorang dinilai berdasarkan skor yang diperolehnya dari jawaban atas soal-soal seputar nalar dan logika untuk mengetes kemampuan intelektualnya.</p>
<p>Akan tetapi, para ahli merasa terlalu sederhana ngukur kecerdasan hanya didasarkan pada nalar, matematika, dan logika yang diterjemahkan dalam nilai IQ. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa merumuskan standar baru untuk menilai kecerdasan seseorang. Maka lahirlah istilah EQ dan SQ yang bersahabat erat dengan IQ. Apaan tuh?</p>
<p>Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa â€œkontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosionalâ€?. Penjelasannya, kalo IQ mengangkat fungsi pikiran, maka EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya mensinergikan intelektualnya dengan perasaannya yang manusiawi. Biar nggak jadi sombong bin angkuh van jutek.</p>
<p>Danah Zohar, penggagas istilah teknis SQ (Kecerdasan Spiritual) menuturkan kalo IQ bekerja untuk melihat ke luar?  (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi â€?pusat-diriâ€™ ( Danah Zohar &amp; Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001). Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber â€“ SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Tolong catet ya.</p>
<p>Nah sobat, inilah rumusan cerdas rasa baru yang lagi â€œinâ€?. Kita nggak perlu minder meski IQ kita jongkok atau malah tiarap. Kita tetep bisa tergolong orang cerdas dengan mengedepankan EQ dan menonjolkan SQ dalam keseharian kita. Caranya nggak cuma rajin ngikut kursus atau training yang berkaitan dengan itu, kuatkan juga keinginan kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Sebab di sanalah bermuara segala kecerdasan baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Beneran lho!</p>
<p><strong>Menjadi cerdas dengan Islam</strong><br />
Menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia menganggurkan anugerah akal yang dimilikinya. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, atau punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan. Rugi amat ya?</p>
<p>Kondisi ini yang tidak dianjurkan oleh Islam terhadap umatnya. Justru Islam memerintahkan manusia untuk menghargai akalnya. Salah satunya dengan menggunakan akal dalam mengimani keberadaan al-Khalik, Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah, dan keotentikan al-Quran sebagai kalamullah (ucapan Allah). Agar akidah Islam tidak dibangun atas dasar taklid alias asal ngikut.</p>
<p>Saking pentingnya aktivitas berfikir, para shahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: â€œCahaya dan sinar iman adalah banyak berpikirâ€? (Ad-Durrul Mantsur, Jilid II, Hlm. 409). Otomatis hal ini mendorong kaum Muslimin untuk mempelajari, memahami, dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang mereka tuntut. Baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian sudah seharusnya kecerdasan intelektual dimiliki oleh setiap muslim.</p>
<p>Kecerdasan Emosional boleh dibilang kembaran dengan pembinaan nafsiyah (pola sikap) yang diajarkan Rasulullah saw. Untuk melembutkan perasaan, beliau mengajarkan kita sikap rendah hati, pemalu, atau qonaah. Agar kita nggak merasa angkuh ketika diberi kelebihan atau minder ketika kekurangan. Dalam bersosialisasi, beliau mencontohkan sikap empati, simpati, saling menolong, saling menasihati, saling mengingatkan, atau saling memaafkan dalam rangka menjalin persaudaraan. Sehingga kita nggak mudah melecehkan orang lain karena perbedaaan status ekonomi, pendidikan, atau sosial. Tingginya EQ bagi seorang muslim berarti memiliki akhlakul karimah dan menjadi pengemban dakwah.</p>
<p>Dan terakhir, kecerdasan spiritual (SQ) berarti kesadaran akan pengawasan Allah Swt. dan malaikat Raqib-Atid. Kesadaran ini tidak hanya sebuah wacana. Melainkan sebuah kekuatan yang memotivasinya untuk beramal. Melebihi motivasi yang dilahirkan dari materi, harta, popularitas, gengsi, atau kepintaran. Sebab SQ bagi seorang muslim terkait dengan hari penghisaban yang akan dijalaninya kelak di hari akhirat. Allah Swt. befirman:</p>
<p>?ˆ???„?§?? ?????‚?’???? ?…???§ ?„?????’?³?? ?„???ƒ?? ?¨???‡?? ?¹???„?’?…?Œ ?¥???†?‘?? ?§?„?³?‘???…?’?¹?? ?ˆ???§?„?’?¨???µ???±?? ?ˆ???§?„?’?????¤???§?¯?? ?ƒ???„?‘?? ?£???ˆ?„???¦???ƒ?? ?ƒ???§?†?? ?¹???†?’?‡?? ?…???³?’?¦???ˆ?„?§?‹<br />
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS al-Isr?¢ [17]: 36)</p>
<p>Sobat, semoga uraian di atas ngasih kamu pencerahan tentang kecerdasan dalam Islam yang khas dengan memasukkan unsur SQ dalam IQ dan EQ. Sebab cuma orang sekuler yang memisahkan kecerdasan intelektual atau kecerdasan emosional yang terpisah dari muatan spiritual. Sehingga kita bisa rumuskan kecerdasan bagi seorang muslim berarti perpaduan antara ISQ dan ESQ. Akur dong? Siip lah! Pokoknya lanjut terus bacanya!</p>
<p><strong>Produk perpaduan ISQ dan ESQ</strong><br />
Sobat, perpaduan ISQ dan ESQ pada masa kejayaan Islam, turut mendorong ilmuwan muslim untuk menghasilkan karya ilmiah yang tercatat dalam tinta emas perkembangan ilmu pengetahuan dunia.</p>
<p>Di antara mereka adalah Ibnu Khaldun. Dunia mengenalnya sebagai seorang ilmuwan muslim yang gape dalam bidang sosiologi dan ilmu sejarah. Nama lengkapnya Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili. Beliau populer berkat sebuah buku master piece-nya berjudul â€œMuqaddimahâ€? (Pendahulan) yang mengupas tuntas mengenai filsafat sejarah dan sosiologi. Di dalamnya, beliau menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara.</p>
<p>Ada juga Ibnu Haitham. Dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata â€?mencernaâ€™ penampakan suatu obyek. Nama lengkap ilmuwan ini Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Walaupun menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan.</p>
<p>Sobat, Ibnu Khaldun dan Ibnu Haitham adalah dua dari sekian banyak ilmuwan Islam yang layak kita teladani. Kegigihan mereka menuntut ilmu dan ketekunan mereka berkarya, mencerminkan tingginya motivasi ruhiyah yang tergabung dalam intelektual dan emosional mereka. Ipteknya jago, akhlaknya yahud, kecerdasan spiritualnya juga oke punya.</p>
<p><strong>Melahirkan generasi â€?Multi Cerdasâ€™</strong><br />
Pada akhirnya, kita patut prihatin dengan kurikulum pendidikan negeri kita yang berbasis sekuler. Bisanya cuma menggenjot pelajarnya untuk meningkatkan kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional siswa lambat laun terkikis dengan ditanamkannya materi atau prestasi sebagai tujuan akhir dalam mencari ilmu. Adapun kecerdasan spiritual siswa, nasibnya cukup mengenaskan. Dua jam pelajaran agama dalam seminggu lebih terlihat sebagai formalitas bin pelengkap. Parahnya, muatan pelajaran agamanya juga cuma â€?ngobrolinâ€™ seputar ibadah atau bersuci yang nilainya tidak lebih dari hapalan sebelum ulangan dibanding sebuah pemahaman untuk dipraktikkan. Masaâ€™ mau kayak gini terus?</p>
<p>Bener sobat, kudu ada upaya teknis dan sistemik untuk membenahi sistem pendidikan negeri kita agar dapat melahirkan generasi â€œmulti cerdasâ€?. Generasi unggulan yang mampu berbicara tidak hanya dalam sains teknologi, tapi juga dalam sikap serta kesadarannya sebagai seorang muslim. Secara teknis, pendidikan yang memadai sangat diperlukan untuk menggali potensi para pelajar dari sisi intelektual. Terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar. Seperti keberadaan laboratorium dengan alat dan bahan praktikum yang lengkap bin komplit.</p>
<p>Untuk mengatasi dekadensi moral yang masuk via media massa cetak dan elektronik, sudah sepantasnya pihak sekolah mengajarkan Islam secara utuh. Tidak membelah ilmu jadi umum dan agama. Agar terpompa kesadaran siswa akan kebesaran al-Khalik saat menekuni ilmu sains teknologi. Sekaligus, menanamkan sikap akhlakul karimah yang membentengi mereka dari pengaruh buruk lingkungan.</p>
<p>Secara sitemik, tentu kita tidak akan berpaling dari peran negara yang besar untuk mewujudkannya. Saatnya negara menyadari kekeliruannya karena telah menjadikan sekularisme sebagai asas dalam membangun sistem pendidikan negeri kita. Lalu menggantinya dengan sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan kepada kecerdasan intelektual saja. Akan tetapi mulai menghargai kecerdasan lainnya. Dan sebagai patokan dari semua itu: cuma ISLAM standarnya. Yang lain? Lewaaatâ€¦! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 236/Tahun ke-6/21 Maret 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cerdas-tak-hanya-di-atas-kertas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhenti Berharap Kepada Kapitalisme</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berhenti-berharap-kepada-kapitalisme</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berhenti-berharap-kepada-kapitalisme#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 09:58:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berhenti-berharap-kepada-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih kapitalisme itu? Kalo kamu mendengar berita ada anak SD yang berupaya melakukan bunuh diri dengan cara menggantung dirinya gara-gara nggak bisa bayar uang sekolah, itulah korban kapitalisme. Lho, kok bisa sih? Iya, karena dalam kapitalisme berlaku hukum: siapa yang punya kekuatan (termasuk duit), merekalah yang berhak mendapatkan segalanya (termasuk pendidikan). Buat rakyat miskin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa sih kapitalisme itu? Kalo kamu mendengar berita ada anak SD yang berupaya melakukan bunuh diri dengan cara menggantung dirinya gara-gara nggak bisa bayar uang sekolah, itulah korban kapitalisme. Lho, kok bisa sih? Iya, karena dalam kapitalisme berlaku hukum: siapa yang punya kekuatan (termasuk duit), merekalah yang berhak mendapatkan segalanya (termasuk pendidikan). Buat rakyat miskin, harap tahu diri. Karena sekolah hanya boleh bagi mereka yang punya duit cukup (atau lebih).<span id="more-237"></span></p>
<p>Apa sih kapitalisme itu? Kapitalisme adalah ketika kamu melihat â€œbisnis hukumâ€?. Siapa yang bisa menyogok para oknum hakim dan jaksa dengan duit dan harta, dialah yang akan memenangkan perkara. Tengok deh para bankir bermasalah yang kini mungkin sedang menikmati surga dunia di negeri orang. Pinjam uang ke negara, terus bisnis. Bisnisnya gagal (atau sengaja digagalkan), lalu kabur bawa sebagian uang pinjaman itu. Untuk mengamankan diri, ia sebar ratusan juta rupiah kepada para oknum penegak hukum (polisi, kejaksaan, dan mungkin?  juga petugas bagian emigrasi). Beres kan? Itulah kapitalisme.</p>
<p>Apa arti kapitalisme? Ketika negara tak lagi punya taring untuk memberangus para pengusaha, para konglomerat nakal. Penguasa dikalahkan oleh para pengusaha kelas kakap. Di Amerika, setiap ada pemilihan presiden, pasti para pengusaha sudah menyemut mendekati calon presiden sambil berjanji akan membantu kampanyenya. Sebagai imbalannya, jika sang calon terpilih, maka presiden terpilih harus mempermudah usaha para konglomerat yang telah mendanai kampanyenya.</p>
<p>Praktik seperti ini, berlaku hampir di semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Termasuk, bukan nuduh lho, bisa jadi di negeri ini. Sudah bukan rahasia lagi tuh. Benar, saya sering mendengar, bahkan sempat ngobrol dengan seorang karyawan pemda bahwa untuk menjadi penguasa daerah setingkat bupati saja dana yang dibutuhkan sekitar 5 miliar perak. Saya penasaran bertanya: â€œDari mana uang itu didapatkan dan akan disalurkan ke mana?â€?</p>
<p>â€œGampang Mas, banyak pengusaha yang mendanai kok. Lagian uang itu akan dibagikan juga ke anggota DPRD dan ke Departemen Dalam Negeri. Tapiâ€¦ dalam setahun atau dua tahun juga udah balik modal, Mas,â€? jelasnya tanpa ragu.</p>
<p>â€œWah, nggak takut dosa tuh?â€? tanya saya.</p>
<p>â€œYa, gimana lagi, itu kan aturan yang berlaku,â€? katanya sambil terus menyetir mobil.</p>
<p>Hmmâ€¦ ternyata begitu ya? Ya, inilah kapitalisme.</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan kapitalisme? Jika kamu sering melihat ada orang yang mengejar kenikmatan jasadi dan materi, meski untuk meraihnya harus melanggar aturan masyarakat, juga aturan agama, itulah bagian dari gaya hidup yang diajarkan kapitalisme. Karena apa? Karena tujuan utama dalam berbuat menurut kaum kapitalis adalah kenikmatan (material). Orang yang tidak mencari kenikmatan material itu tidak realistis. Dalam faham itu, sistem nilai ditentukan oleh keuntungan fisik.</p>
<p>Jadi jangan heran jika pelacuran merajalela, peredaran miras dan narkoba pun sulit dihentikan. Pemerintah bahkan â€œmelegalkanâ€? bisnis pelacuran dengan memberikan jabatan kepada pelaku utamanya sebagai PSK alias Pekerja Seks Komersial. Perjudian seolah bukan kegiatan terlarang. Buktinya, meski sudah banyak bertebaran tempat dan permainan judi, pemerintah dari tingkat kelurahan sampe pusat menutup mata. Bukan tak bisa membereskan, tapi nggak ada niat. Bahkan sangat boleh jadi mereka sudah dicocok duluan mulutnya pake duit jutaan rupiah. Malah nih, seringkali yang jadi â€œcentengâ€?-nya untuk mengamankan bisnis judi dan usaha birahi terlarang itu adalah oknum aparat keamanan. Inilah kapitalisme.</p>
<p>Kapitalisme itu apa ya? Ketika negara berbisnis dengan rakyat, ketika para penguasa ogah mengulurkan tangannya untuk mensejahterakan rakyat, malah membuat rakyat sengsara, itulah negara yang bermesraan dengan kekasihnya bernama kapitalisme. Karena prinsip utama paham ini adalah: di mana yang kuat harus (secara alami) mencaplok yang lemah. Jika ada yang menentang konsep semacam itu, maka ia dianggap tidak waras, terhalusinasi dan pembangkang karena â€œingin merusak tatanan ko-eksistensiâ€?. Lebih dari itu, itulah keadilan, menurut mereka.</p>
<p>Sederhananya, kamu bisa melihat bagaimana â€œserangan fajarâ€? dimulai pada 1 Maret 2005 oleh pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Untuk menutupi kebiadaban dan keganasannya, mereka tampil bak pahlawan pembela rakyat. Tak henti berkampanye dengan menggembar-gemborkan bahwa subsidi untuk beberapa jenis BBM itu salah sasaran. Karena ternyata katanya dinikmati oleh mereka yang termasuk golongan berduit. Maka, atas nama â€?keadilanâ€™, mereka mencabut subsidi untuk BBM itu dengan cara menaikkan harganya. Katanya sih, denger-denger, dana kompensasi dari kenaikan harga BBM itu akan diberikan kepada rakyat kecil berupa tunjangan kesehatan dan pendidikan.</p>
<p>Terwujudkah? Ya, jangankan merasakannya, mungkin rakyat nggak pernah tahu dengan rencana itu. Bukti nyata di lapangan aja, ternyata minyak tanah pun (padahal katanya nggak dinaikkan), harganya meroket hampir menyamai harga bensin (premium). Wajar sih, karena pengusaha minyak di tingkat eceran juga berdalil, â€œEmangnya bahan bakar yang dikonsumsi truk pengangkut minyak tanah dari depo pertamina pake minyak tanah juga? Pake bensin tahu!â€? Walah!</p>
<p>Jadi kalo pun akhirnya biaya kesehatan murah dan sekolah murah, tapi untuk mengepulkan dapur kewalahan, itu baru minyak tanah yang naik, padahal harga sembako udah ikut-ikutan latah naik. Ongkos anak ke sekolah pun jadi tambah besar. Akhirnya, memang bukan membantu rakyat miskin, tapi membantu memiskinkan rakyat. Glek!</p>
<p>Beginilah hidup sengsara di bawah naungan kapitalisme. Kalo mau dirunut lagi kayaknya perlu satu buku khusus yang halamannya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan untuk membeberkan segala kerugian yang diakibatkan sistem kapitalisme ini. Jujur saja, sebaiknya kita berhenti berharap kepada sistem kehidupan ini deh!</p>
<p><strong>Standar ganda</strong><br />
Sobat muda muslim, dalam kapitalisme memang dikenal kebebasan. Siapapun bebas melakukan apa saja. Mulai dari kegiatan untuk menyenangkan diri sendiri sampe untuk mengajak orang lain bersenang-senang bersamanya. Bebas. Bahkan saking bebasnya, seringkali kebablasan.</p>
<p>Ngomongin kebebasan, jadi pengen ngejelasin dikit nih bahwa kapitalisme itu punya instrumen politik bernama demokrasi. Nah, dalam demokrasi inilah dikenal adanya kebebasan yang bisa dirinci jadi empat bagian: kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan pemilikan, dan kebebasan bertingkah laku.</p>
<p>Lihat deh, dalam demokrasi ini orang boleh dan bebas mau beragama apa aja, sekaligus bebas mau beragama atau tidak. Karena agama adalah urusan pribadi. Orang lain jangan mengusik atau mempermasalahkannya. Tentang kebebasan berpendapat bisa kamu saksikan bahwa kini banyak orang bebas mengeluarkan pendapatnya. Baik pendapat yang salah maupun pendapat yang benar. Pokoknya bebas. Awalnya ada angin segar juga sih buat kita yang mendakwahkan Islam. Tapi, kalo menyuarakan kebenaran Islam itu untuk melawan demokrasi, tentunya bakalan digilas juga. Standar ganda dong?</p>
<p>Yup, silakan ikuti terus kasus Ustdaz Abu Bakar Baâ€™asyir yang nggak ada ujung pangkalnya itu. Tuduhannya aja jadi berlapis-lapis dan nggak logis. Amrik dan Australia pun berani-beraninya ikut-ikutan intervensi dalam kasus tersebut. Maklum, katanya sih karena berkaitan dengan terorisme. Tapi, dunia menutup mata ketika Amrik dan Inggris, juga Australia memercikkan api peperangan di Irak dan Afghanistan. Siapa sebetulnya yang jadi teroris?</p>
<p>Inilah standar ganda. Kapitalisme juga rajin membuat terminologi sendiri kepada mereka yang nggak suka dengan konsep kapitalisme, lalu menggembar-gemborkannya dengan kekuatan propaganda di segenap pelosok dunia. Terminologi itu menjelaskan bahwa yang bukan liberal adalah totalitarian, antiplural, pembangkang, utopian, fanatik dan fasis, termasuk tentunya teroris.</p>
<p>Dalam demokrasi juga diajarkan kebebasan memiliki. Maka lihat deh, berapa juta hektar hutan yang dimiliki oleh para konglomerat di negeri ini. Padahal, itu milik umum yang seharusnya dikelola oleh negara dan hasilnya diberikan untuk rakyat banyak.</p>
<p>Kebebasan bertingkah laku pun dilindungi dalam demokrasi. Itu sebabnya, para pelacur dan pezina, tukang copet, maling, koruptor, perampok, dll tidak semuanya dihukum. Mereka yang dihukum biasanya yang nggak bisa membelinya dengan uang dan harta. Bisnis pelacuran aman karena rajin â€?setorâ€™. Gawat!<br />
? <br />
<strong>Destroy capitalism, rise with Islam</strong><br />
Sobat muda muslim, sebagai remaja kita udah dewasa, sehingga pantas aja kalo mikirin soal kehidupan ini. Nggak tabu kok remaja ngomongin urusan politik. Karena yang namanya politik berarti â€œpengaturan urusan umatâ€?. Nah, kalo kamu udah mikirin kondisi umat ini, apalagi berusaha menyampaikan solusi dengan menghadirkan kebenaran Islam, kamu udah termasuk berpolitik lho. Bener.</p>
<p>Jangan anggap bahwa politik itu cuma urusan pemerintahan doang. Nggak. Itu keliru. Tapi politik itu mencakup urusan umat secara umum. Segala aspek kehidupan. Oke?</p>
<p>Itu sebabnya, ketika kamu udah membaca tulisan ini sejak awal, kemudian kamu kembangkan sendiri faktanya, kita yakin kamu udah ngeh dan paham sekarang, ternyata â€œinilah rasanyaâ€? hidup di bawah naungan kapitalisme. Nah, kalo udah ngeh kayak gini, seperti kata Sheila on 7: â€œberhenti berharapâ€?. Ya, tapi kita tambahin menjadi, â€œberhenti berharap kepada kapitalismeâ€?.</p>
<p>Itu sebabnya, mari kita kampanyekan keagungan Islam dan berusaha menerapkannya sebagai ideologi negara. Karena saat ini, ketika Islam tidak diterapkan sebagai ideologi negara, berbagai kerusakan sudah nyata di depan kita. Kalo rajin baca koran atau lihat berita kriminal di layar kaca, kita jadi miris karena ternyata rasa aman begitu mahal. Banyak sekali tindak kekerasan di sekitar kita.</p>
<p>Soal pelacuran juga sungguh sangat mengkhawatirkan, sebagai contoh, di Jawa Barat saja berdasarkan Data dari Kantor Dinas Sosial Provinsi Jabar tahun 2003, ada 300-an tempat pelacuran terbuka di wilayah ini dengan jumlah PSK sekitar 6.276 orang. Dari jumlah itu, sekitar 30 persen (sekitar 1.800) anak yang berusia di bawah 18 tahun bekerja sebagai PSK (Kompas, 27 Mei 2004)</p>
<p>Kalo dianggap bahwa itu terus bertambah, sudah berapa ribu coba? Itu yang terdata, belum yang liar. Seperti gunung es, kecil di permukaan ternyata besar di dalam. Itu baru di Jawa Barat, belum daerah lainnya. Mengerikan. Silakan kamu searching kasus lain yang jumlahnya banyak dan mudah kita jumpai.</p>
<p>Oke deh mulai sekarang, kita mulai mengkaji Islam dengan serius agar tahu keagungan Islam. Karena mustahil bisa kenal Islam, kalo nggak mempelajarinya. Terus, kalo udah tahu kita wajib mengamalkannya. Kita contoh perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang dengan semangat menyebarkan Islam. Sehingga Rasulullah saw. sanggup mendirikan negara Islam pertama di Madinah. Negara Islam itu tegak berdiri sampe akhirnya (setelah 1300 tahun lebih), karena banyak perlawanan dari musuh-musuhnya, plus kemunduran berpikir umat Islam karena teracuni tsaqafah asing, runtuh pada tanggal 3 Maret 1924. Waktu itu, pemerintahan Islam berpusat di Turki.</p>
<p>Ya, semoga saja, dengan kegigihan kita untuk belajar dan memperjuangkan Islam ini, kita bisa segera melepaskan diri dari belenggu kapitalisme. Rasa-rasanya sangat layak kalo kita sekarang teriak: destroy capitalism, rise with Islam. Kapitalisme sudah basi! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 235/Tahun ke-6/14 Maret 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berhenti-berharap-kepada-kapitalisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>â€œBersekolahâ€ di Sinetron Remaja</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bersekolah-di-sinetron-remaja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bersekolah-di-sinetron-remaja#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 09:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun keenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bersekolah-di-sinetron-remaja/</guid>
		<description><![CDATA[Makhluk berseragam dengan usia belasan sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Dari hari Senin sampe Sabtu, setiap pagi biasanya mereka mangkal di pinggiran jalan atau di halte-halte bis. Tapi jangan suâ€™udzon dulu ya. Mereka bukan lagi nunggu pelanggan lho (emangnya mbok jamu?). Tapi nunggu jemputan â€?satu untuk semuaâ€™ alias angkutan umum. Itu juga kalo sopir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Makhluk berseragam dengan usia belasan sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Dari hari Senin sampe Sabtu, setiap pagi biasanya mereka mangkal di pinggiran jalan atau di halte-halte bis. Tapi jangan suâ€™udzon dulu ya. Mereka bukan lagi nunggu pelanggan lho (emangnya mbok jamu?). Tapi nunggu jemputan â€?satu untuk semuaâ€™ alias angkutan umum. Itu juga kalo sopir ikhlas dengan tingkah polah mereka yang naeknya rame-rame, turunnya rame-rame, bayar ongkosnya juga rame-rame alias patungan. Harusnya bayar untuk sepuluh orang, cuma dibayar lima. Alasannya, yang lima cuma ikut-ikutan. Asal deh!<span id="more-236"></span></p>
<p>Kini, kehadiran mereka nggak cuma meramaikan angkot, tapi sudah merambah dunia layar kaca. Membanjiri sinetron remaja yang ngerasa belum afdhol kalo nggak nyisipin status pelajar bagi para pemerannya. Biar akrab ama keseharian pemirsanya yang dominan remaja. Lihat saja, untuk komunitas seragam putih-abu abu kita mengenal Cinta, Karmen, Maura, Alia, dan Milly yang bersekolah di SMA â€?Ada Apa Dengan Cinta?â€™. Nggak jauh dari situ ada SMA â€?Kawin Gantungâ€™ yang dihuni Ridho, Memey dan konco-konconya. Ada juga SMA â€?ABGâ€™ atau SMA â€?Cinta SMUâ€™ yang juga ikut ambil bagian.</p>
<p>Komunitas seragam putih-biru juga nggak mau ketinggalan. Meski sering dibilang masih bau kencur, mereka berani bilang kalo SMP juga punya daya pikat. Ada Bom kuadrat (baca: Bom-Bom) dan Lala yang tengah mengenyam pendidikan di SMP â€?Bidadariâ€™. Atau Nadya, Alex, Sofi, dan Jason dari SMP â€?Inikah Rasanyaâ€™.</p>
<p>Malah, adek-adek kita yang berseragam putih-merah pengen ikutan nimbrung juga. Seperti hebohnya aksi â€œJenderal Kancilâ€? dengan â€œPutri Maluâ€?. Atau kisah lugu â€œBulan dan Bintangâ€?. Bener-bener komplit. Tapi seperti apa sih keseharian temen-temen pelajar kita itu?</p>
<p><strong>Rusaknya citra pelajar, guru, dan sekolah</strong><br />
Secara umum, perilaku temen-temen kita di atas emang nggak beda ama kita selaku pelajar. Berangkat sekolah pake seragam, ikut kegiatan belajar di kelas, ngemil di kantin pas istirahat, dan kudu taat aturan sekolah. Bedanya, kita hidup di dunia nyata sementara mereka menjalani status pelajarnya di dunia layar kaca yang seolah nyata. Kita dituntut manut ama kurikulum pendidikan keluaran Diknas sementara mereka kudu ngikut skenario bimbingan sutradara. Sayangnya, justru perbedaan ini yang menimbulkan kesan pelecehan terhadap sekolah, guru, atau perilaku kaum terpelajar yang dipertontonkan para pemainnya.</p>
<p>Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dijadikan ajang pamer aurat, kekayaan, dan harga diri. Cara berpakaian siswi SMA, terutama pemeran utamanya, sangat mengumbar syahwat. Kemeja lengan pendek yang dikeluarin, transparan dan ketat hingga kancing bagian dadanya terlihat mau copot eh copot..copot. Rok yang dikenakannya pun mirip pemain tenis lapang. Mini dan jauh di atas lutut. Adakah sekolah yang melegalisasi seragam â€?fasthabiqul auratâ€™ (berlomba-lomba memamerkan aurat) kayak gini?</p>
<p>Eskploitasi gaya hidup mewah bin glamour yang menjual mimpi juga terasa kental di dunia dalam syuting ini. Aksesoris yang menunjang penampilan seperti ponsel terbaru, arloji, busana, sepatu, hingga kendaraan berseliweran di sekolah. Semuanya high class punya. Para pemain berlomba memamerkan kekayaannya. Nggak ada lagi rebutan angkot. Yang ada rebutan tempat parkir. Nggak ada kegiatan KBM. Yang keliatan nggak jauh dari acara makan fast food, shopping, atau ngeceng di mal.</p>
<p>Keberadaan guru sebagai pendidik hanya untuk meramaikan saja. Seperti yang diperankan pelawak Komar di SMU â€?Kawin Gantungâ€™. Tidak ada lagi rasa hormat yang seharusnya ditunjukkan murid pada gurunya. Profesi guru kehilangan kewibawaan di hadapan murid. Yang lebih parah dijadikan bahan tertawaan. Citra pahlawan tanpa tanda jasa disulap jadi pecundang tanpa wibawa.</p>
<p>Perilaku pelajar yang diperankan juga cenderung permissif dan bebas dari aturan sekolah. Siswanya berani memamerkan tatto, rambutnya dicat dengan warna mencolok kayak traffic light, memakai anting, slayer, topi koboi, gelang, atau berperilaku layaknya preman. Kancing baju bagian atas di buka dan kemeja lengan pendeknya digulung. Kata-kata kasar dengan nada celaan, cacian, makian mereka lontarkan sebagai bentuk kebencian, iri hati, dan kedengkian kepada lawan mainnya. Pergaulan bebas di antara mereka menjadi menu utama. Segala hal yang berbau cinta menyita perhatian, waktu, tenaga, dan juga materi para pemerannya sepanjang cerita. Seolah, urusan cinta adalah hidup-mati mereka. Sehingga dianggap wajar jika harus menelantarkan kepentingan sekolah. Waduh, itu namanya sebuah ancaman serius nih.</p>
<p>Sobat muda muslim, tega bener ya orang-orang yang nyomot status pelajar dan keberadaan sekolah dalam filmnya sekadar untuk menghilangkan dahaga mereka yang haus materi. Padahal mereka juga bisa kayak gitu karena jasa-jasa guru dan pihak sekolah. Yaâ€¦beginilah hidup di alam kapitalis. Norma, etika, ataupun hukum agama tidak lebih berharga dari setumpuk harta. Ciloko tenan!</p>
<p><strong>Sinetron remaja, miskin kreativitas</strong><br />
Sobat, kekhawatiran masyarakat akan pengaruh negatif dari sinetron remaja udah sering dilontarkan. Baik melalui media massa cetak maupun media elektronik. Salah satunya, surat pembaca yang dimuat Republika pada hari Rabu, 18/08/2004 dari seorang siswi SLTP IT Al-Hikmah bernama Hana. Menurut Hana, sinetron-sinetron itu memberi pengaruh besar terhadap merosotnya moral dan akidah pelajar Indonesia. (Eramuslim, 26/08/04). Sayangnya, pihak produser pura-pura nggak denger dan nggak tahu. Cuek bebek. Buktinya, sudah enam bulan berlalu dari surat Hana, produk sinetron remaja malah makin amburadul dan kian gawat. Nggak ngaruh bow!</p>
<p>Repotnya lagi, sekarang televisi sudah menjadi anggota keluarga. Itu berarti, nggak ada keluarga yang lolos dari informasi yang disampaikan lewat kotak ajaib ini. Padahal seorang pakar dan peneliti pertelevisian, Dwyer, menyimpulkan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga.TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar TV walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di TV setelah tiga jam kemudian dan 65 % setelah tiga hari kemudian (Dwyer, 1988). Gaswat banget kan kalo acara televisi didominasi unsur hiburan yang minim unsur pendidikan?</p>
<p>Kalo kita amati, setidaknya ada tiga aspek dalam sinetron-sinetron yang punya potensi mengkikis keislaman kita. Antara lain aspek kekerasan, aspek moralitas, aspek seksualitas.</p>
<p>â€œAspek moralitas misalnya, yang menyangkut nilai-nilai baik, buruk, benar, salah. Aspek ini memang tidak kelihatan seperti aspek kekerasan, tapi menjadi aspek yang penting. Perilaku tertentu yang di masyarakat dianggap salah, di sinetron ditampilkan begitu saja tanpa ada penekanan bahwa perilaku itu salah. Banyak sekali sinetron yang seperti itu,â€? ungkap Guntarto, Kepala Kajian Anak dan Media, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). (idem)</p>
<p>Aspek seksualitas terlihat dari cara berbusana pemain yang menonjolkan daya tarik seksualnya hingga ekspresi cinta di antara mereka yang cenderung vulgar. Dari sekadar bergandengan tangan, berciuman, hingga berpelukan mesra layaknya suami-istri.</p>
<p>Sementara aspek kekerasan menjadi bumbu penyedap yang menajamkan konflik. Pemainnya diarahkan untuk menyelesaikan masalah dengan melibatkan jotosan kepalan tangan, urat leher yang menegang, dan jebakan-jebakan yang bisa merenggut nyawa.</p>
<p>Dr. Arif Sadiman M.Sc dalam tulisannya yang berjudul â€œPengaruh televisi pada perubahan perilakuâ€? (jurnal teknodik No. 7/IV/Teknodik/Oktober 1999) mengutip Laporan UNESCO, 1994 yang menyatakan bahwa pada tahun 1994 koran-koran di Singapura menyajikan hasil polling pendapat yang dilakukan pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat tindak kekerasan. Hasil polling tersebut menyimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka yang melakukan tindak kekerasan suka menikmati film-film kekerasan di TV.</p>
<p>Orientasi materi-lah yang membuat produksi sinetron di negeri kita miskin kreativitas. Selalu berkutat pada harta, tahta, wanita, dan cinta. Yang pada akhirnya masa depan remaja pun dikorbankan. Teganya&#8230; teganya&#8230; teganya&#8230;. (jadi inget Meggy Z!)</p>
<p><strong>Menggagas sinetron remaja berkualitas</strong><br />
Sobat, kamu pernah tahu sinetron remaja bertajuk â€?ACIâ€™ atau â€?Jendela Rumah Kitaâ€™ yang dulu sempet populer? Masih ingat dengan kisah persahabatan Ading dan Dado? Atau pernah nonton â€?Keluarga Cemaraâ€™?</p>
<p>Sepertinya sinetron-sinetron di atas bisa mewakili tayangan yang pas buat remaja. Jalan ceritanya minim dari aspek bermasalah yang kita bahas sebelumnya. Menyajikan kesederhanaan, persahabatan, kehidupan di sekolah, belajar mandiri dan berusaha tidak membebani orang tua. Faktor edukasi lebih dominan dibanding eksploitasi modernitas yang menjebak remaja menjadi plagiator budaya sekuler Barat. Mungkinkah terjadi regenerasi film-film di atas saat ini?</p>
<p>Kenapa nggak? Kita yakin para pekerja seni itu mampu mewujudkannya. Langkah awal yang diperlukan adalah keikhlasan mereka untuk menyebarkan kebaikan. Dengan keikhlasan itu, mereka pasti mampu mempertahankan idealisme di tengah godaan materi yang mengkebiri kreativitasnya. Mengangkat kehidupan remaja yang kental dengan proses pendidikan formal di sekolah seperti mengemas fenomena Kurikulum Berbasis Kompetensi yang lagi popuer atau cerita ringan tentang remaja yang menjalani setiap proses yang harus dilaluinya sebelum menemukan perubahan. Semuanya tanpa harus kehilangan unsur hiburan.</p>
<p>Dengan begini, kita semua berharap pelajar mampu meraih predikat seperti yang dijanjikan Allah swt. Baik di dunia nyata atau dalam layar kaca.</p>
<p>?????±?’?????¹?? ?§?„?„?‘???‡?? ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?…???†?’?ƒ???…?’ ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?£???ˆ?????ˆ?§ ?§?„?’?¹???„?’?…?? ?¯???±???¬???§???? ?ˆ???§?„?„?‘???‡?? ?¨???…???§ ?????¹?’?…???„???ˆ?†?? ?®???¨?????±?Œ<br />
&#8230;Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Muj?¢dilah [58]: 11)</p>
<p>Sobat, pada akhirnya, kita semua tentu harus menyadari bahwa predikat yang Allah janjikan di atas akan sulit kita raih jika mengandalkan tayangan berkualitas saja. Selain jarang, tayangan itu juga kudu bersaing dengan tayangan sejenis yang tidak bermutu bagi pemirsa, tapi berduit bagi pengelola tv swasta, dan kebal dari pengawasan Komisi Penyiaran Indonesia. Belum lagi kian hari gaya hidup pelajar yang bebas aturan seperti dalam sinetron kian banyak dipraktikkan oleh temen-temen kita. Sehingga semakin besar peluang kita terpengaruh oleh budaya barat jika tidak ditopang dengan keistiqomahan kita. Dan untuk itu, sangat wajar rasanya jika hadir di tempat-tempat pengajian atau sekadar diskusi untuk mengenal Islam lebih dalam menjadi langkah awal untuk meraih predikat kaum terpelajar yang ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt. So, tunggu apa lagi? [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 234/Tahun ke-6/7 Maret 2005</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bersekolah-di-sinetron-remaja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

