<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Buletin Studia Tahun ke Lima</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-studia/buletin-studia-tahun-kelima/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Materi Siaran VOI, Selasa 23 September 2008</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/materi-siaran-voi-selasa-23-september-2008</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/materi-siaran-voi-selasa-23-september-2008#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 04:54:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1476</guid>
		<description><![CDATA[
Assalaamu?alaikum wr wb
Anda bisa mendengarkan materi siaran Voice of Islam [VOI] di radio tercinta  di kota Anda. Untuk Hari Selasa, 23 September 2008, Rubrik &#8220;Konsultasi Surat&#8221;  akan membahas tema &#8220;TANDA-TANDA KEMUNAFIKAN&#8221;. Narasumber untuk membahas tema ini  adalah Usth. Ir. Lathifah Musa, beliau adalah penulis buku Kejahatan  Demokrasi.
Radio-radio di seluruh Indonesia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="main">
<p><em>Assalaamu?alaikum wr wb</em></p>
<p>Anda bisa mendengarkan materi siaran Voice of Islam [VOI] di radio tercinta  di kota Anda. Untuk Hari Selasa, 23 September 2008, Rubrik &#8220;Konsultasi Surat&#8221;  akan membahas tema <strong><span style="color: #0000ff;">&#8220;TANDA-TANDA KEMUNAFIKAN&#8221;</span></strong>. Narasumber untuk membahas tema ini  adalah Usth. Ir. Lathifah Musa, beliau adalah penulis buku Kejahatan  Demokrasi.</p>
<p>Radio-radio di seluruh Indonesia yang sudah menyiarkan acara Voice of Islam  dan jam siarnya, bisa Anda <a href="../voi-radionetwork" target="_blank"><strong>KLIK di sini</strong></a>. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Media Islam Net</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/materi-siaran-voi-selasa-23-september-2008/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Materi Siaran VOI, Rabu 2 Juli 2008</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/materi-siaran-voi-rabu-2-juli-2008</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/materi-siaran-voi-rabu-2-juli-2008#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 09:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Warta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1079</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Anda bisa mendengarkan materi siaran Voice of Islam [VOI] di radio tercinta di kota Anda. Untuk Hari Rabu, 2 Juli 2008, Rubrik &#8220;Tamu&#8221; akan membahas tema &#8220;RAMALAN PARANORMAL&#8221;. Narasumber untuk membahas tema ini adalah Usth. Faturrahman Abu Rabbani, beliau adalah ahli ruqyah dan bekam.
Radio-radio di seluruh Indonesia yang sudah menyiarkan acara Voice of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p>Anda bisa mendengarkan materi siaran Voice of Islam [VOI] di radio tercinta di kota Anda. Untuk Hari Rabu, 2 Juli 2008, Rubrik &#8220;Tamu&#8221; akan membahas tema <span style="color: #0000ff;"><strong>&#8220;RAMALAN PARANORMAL&#8221;</strong></span>. Narasumber untuk membahas tema ini adalah Usth. Faturrahman Abu Rabbani, beliau adalah ahli ruqyah dan bekam.</p>
<p>Radio-radio di seluruh Indonesia yang sudah menyiarkan acara Voice of Islam dan jam siarnya, bisa Anda <strong><a href="http://www.gaulislam.com/voi-radionetwork/" target="_blank">KLIK di sini</a></strong>. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Media Islam Net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/materi-siaran-voi-rabu-2-juli-2008/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Perayaan Tahun Baru Masehi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/di-balik-perayaan-tahun-baru-masehi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/di-balik-perayaan-tahun-baru-masehi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 08:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/di-balik-perayaan-tahun-baru-masehi/</guid>
		<description><![CDATA[Sreet&#8230;.! Satu lembar lagi kalender sobek yang mangkal di atas meja kerja kudu menghuni tempat sampah. Phew&#8230;.sobat, nggak kerasa ya, dalam hitungan hari, sebentar lagi kita akan memasuki tanggal keramat di awal tahun. 1 Januari bow! Tanggal yang memaksa kita mencampakkan kalender lama yang lecek bin dekil of the kumel dengan semua kenangan yang tersimpan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sreet&#8230;.! Satu lembar lagi kalender sobek yang mangkal di atas meja kerja kudu menghuni tempat sampah. Phew&#8230;.sobat, nggak kerasa ya, dalam hitungan hari, sebentar lagi kita akan memasuki tanggal keramat di awal tahun. 1 Januari bow! Tanggal yang memaksa kita mencampakkan kalender lama yang lecek bin dekil of the kumel dengan semua kenangan yang tersimpan di setiap tanggalnya. Posisinya kudu digantikan oleh almanak baru yang siap merekam setiap peristiwa dalam keseharian kita. Ibarat pepatah, â€œHabis tanggal, kalender dipenggalâ€? Kejam nggak sih?<span id="more-226"></span></p>
<p>Nggak cuma ganti kalender secara massal, akhir tahun juga selalu diwarnai berbagai tradisi. Di stasiun tv, ada tayangan kaleidoskop yang mengulas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu tahun yang akan ditinggalkan. Dukun dan paranormal banyak disantroni untuk dapetin ramalan jodoh, rizki, musibah, atau peruntungannya di tahun depan. Para desainer pakaian, penata rambut, atau produsen kosmetik juga udah siap me-launching produk-produk terbarunya untuk dipopulerkan di tahun mendatang.</p>
<p>Ada juga yang punya tradisi berburu kalender baru yang gratisan (jangan tesinggung ya?). Di mana saja dan kapan saja, panca inderanya nggak lepas dari pantauan sinyal-sinyal yang menunjukkan keberadaan kalender gratisan. Dari tukang bakso sampe supir angkot, sempet-sempetnya pake ditagihin kalender. Malahan, yang biasanya beli kopi Liong Bulan sebungkus di warung depan rumah, bela-belain pergi ke toko kopi di pasar biar dapet kalender. Jalan kaki lagi. Idih, ini sih tipe remaja hemat setiap saat. Watau!</p>
<p>Tapi semuanya kalah prestise dibanding tradisi perayaan tahun baru. Sudah harga mati kalo momen istimewa ini nggak boleh lewat tanpa dirayakan dengan heebooooh! Buat remaja, terasa garing binti kering-kerontang kalo malam tahun baru kagak pake acara arak-arakan di jalan raya. Baik dengan jalan kaki atau pake kendaraan bermotor sambil bakar petasan dan kembang api, niup terompet, metik gitar, nabuh gendang, plus ngedarin â€?kotak infakâ€™ dari gelas plastik (ini konvoi ama ngamen seh?)</p>
<p>Tiap stasiun televisi jauh-jauh hari udah wanti-wanti bakal ngegelar acara spesial dalam rangka menyambut tahun baru. Musik, dance, kuis, games, semuanya digelar hingga larut?  malam. Puncak kemeriahan terjadi pada saat perhitungan mundur menjelang detik-detik proklamasi, eh pergantian tahun sebelum jarum jam menunjukkan pukul 00.00 (tahun baru) Lima&#8230; empat&#8230; tiga&#8230; dua&#8230; satu&#8230; toooeet!!!</p>
<p>Tanpa dikomando, penonton di studio maupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet. Di jalan raya, raungan keras dari knalpot dan teriakan klakson kendaraan bermotor memecah kesunyian malam. Nyala kembang api dalam berbagai warna menerangi gelapnya langit dan makin menambah kemeriahan dan semaraknya suasana. Kemudian berlanjut dengan pemberian ucapan selamat tahun baru, sun pipi kiri-kanan dan tukar-menukar kado dalam iringan musik yang hingar-bingar.</p>
<p><strong>Tradisi perayaan tahun baru masehi</strong><br />
Sobat muda muslim, ternyata perayaan tahun baru nggak cuma sebatas merengkuh kebersamaan aja lho. Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka terhadap dewa. Nah lho!</p>
<p>Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja. Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara si â€œToloy Bocah Saktiâ€? Ronaldo.</p>
<p>Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).</p>
<p>Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Yearâ€™s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Masaâ€™ sih? Ah&#8230;namanya juga takhayul!</p>
<p><strong>Sejarah tahun masehi</strong><br />
Sobat muda muslim, di tengah gencarnya ajakan dari sana-sini untuk ngerayain tahun baru, kita justru sedih. Sedih karena banyak di antara kita, khususnya remaja mulim, nggak ngeh kalo perayaan tahun baru merupakan bagian dari hari suci umat Kristen. Seperti yang tercantum dalam pernyataan dari kedubes AS perihal sejarah dan perayaan tahun baru.</p>
<p>Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi. Gitchu ceritanya!</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari tahun baru. Tepatnya tanggal 1 Januari tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Tak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, ahli astronomi dari Aleksandria, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. (<a href="http://www.irib.ir/">www.irib.ir</a>)</p>
<p>Sementara kalender sekarang yang banyak dicari di akhir tahun adalah Kalender Gregorian atau kalender Masehi. Kalender ini yang dinobatkan sebagai standard penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menentukan jadual kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Termasuk untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia. (<a href="http://www.babadbali.com/">www.babadbali.com</a>).</p>
<p><strong>Hindari tasyabuh&#8230;</strong><br />
Sobat muda muslim, sekarang kita tahu dong kalo perayaan pergantian tahun merupakan tradisi yang berasal dari orang kafir. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang mereka kuasai, mereka menyeru dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-olah hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum, populer, tren, dan bisa diperingati oleh siapa saja. Padahal ini merupakan salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Hati-hati ya&#8230;</p>
<p>Sialnya, banyak dari kita yang nggak menyadari serangan budaya ini. Terlena oleh acara malam tahun baru yang dikemas secara apik dan menarik. Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi agama atau kepercayaan lain. Rasulullah saw. bersabda: â€œBarangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.â€? (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani)</p>
<p>Dalam hadits lain diceritakan: ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi saw. menanyakan kepadanya (yang artinya): â€œApakah di sana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah?â€? Dia menjawab, â€œTidakâ€?. Beliau bertanya, â€œApakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?â€? Dia menjawab, â€œTidakâ€?. Maka Nabi bersabda, â€œTepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adamâ€? [Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Hadits di atas mengajarkan kita untuk menghindari syiar dan ibadah orang kafir baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Meski itu dalam rangka beribadah kepada Allah. Sebab hal itu sama aja turut menghidupkan syiâ€™ar-syiâ€™ar mereka.</p>
<p>Sobat, semoga dalil di atas cukup mampu mengerem keinginan untuk berpartisipasi dalam perayaan tahun baru atau hari-hari besar umat lain. Kecuali kalo kita mau digolongkan ke dalam penganut agama selain Islam. Tahu dong, konsekuensinya kalo Allah menggolongkan kita ke dalam golongan orang-orang kafir. Kita bakal kekal â€?nginepâ€™ di neraka. Iih, nggak lah yauw..!</p>
<p><strong>Trus gimana dong?</strong><br />
<strong>Pertama</strong>, kita nggak perlu malu bin segan untuk menolak ajakan sohib untuk hura-hura bin pesta-pora di malam tahun baru. Di hadapan temen-temen boleh jadi kita dianggap sombong, nggak toleran, atau malah dikira alien alias makhluk asing karena â€?bedaâ€™. Tapi di hadapan Allah, kita bisa termasuk golongan para penghuni surga. Amiin.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, kita nggak ngikut tahun baruan bukan berarti kita nggak peduli dengan pergantian tahun lho. Tetep kita nyadar kalo pergantian tahun merupakan bagian dari perubahan waktu. Saking sadarnya, kita mencoba mensikapi sang waktu seperti yang dicontohkan tauladan kita, Nabi saw. Bukan dengan euforia bergelimang maksiat, tapi sebagai alat ukur untuk mengevaluasi kemajuan diri kita.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œSebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.â€? (HR. Ahmad)<br />
Sobat muda muslim, kesempatan yang Allah berikan nggak akan datang dua kali. Waktu yang telah kita lewati nggak akan bisa diputar ulang. Tapi akan terus ngotot lari dan pergi.</p>
<p>Kita perlu sadari bahwa kita nggak akan selamanya muda. Jika usia kita panjang, mau nggak mau, waktu bakal nganterin kita memasuki kehidupan orang dewasa dengan segudang permasalahannya. Apa yang kita harapkan di masa depan jika sekarang kita lebih doyan hura-hura bin pesta-pora dibanding memanfaatkan waktu untuk mengasah keterampilan, pola sikap, dan pola pikir kita. Bisa-bisa otak kita sampai meninggal masih orisinil karena jarang dipake buat nyari pemecahan masalah. Walah!</p>
<p>Suatu saat juga kita akan sampai di ujung waktu. Satu masa dalam hidup saat kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat. Masihkah kita memimpikan kesenangan surgawi di kala kita sibuk mengejar materi dan popularitas dengan mengorbankan aturan Ilahi.</p>
<p>Karena itu, mari kita sama-sama sambut kesempatan yang Allah berikan dengan memperbanyak amal saleh dan mengurangi amal salah. Kita luruskan niat dalam berperilaku semata-mata mengharap ridho Allah Swt. Kita ringankan langkah kaki menuju taman-taman surga tempat mengkaji, memahami, meyakini semua aturan Allah Swt. Kita kuatkan pijakan kaki kita di atas akidah Islam di tengah serangan budaya dan pemikiran Barat. Kita padati hari-hari kita untuk siapkan perbekalan dalam menghadapi masa tua dan masa persidangan yaumul hisab kelak. Terakhir, kita semayamkan dalam diri kita semangat perjuangan Rasulullah saw., para shahabat, tabiâ€™in, tabiâ€™ut tabiâ€™in, dan para mujahid di medan perang untuk mengembalikan izzah Islam wal Muslimin. Allahu akbar! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 224/Tahun ke-5/27 Desember 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/di-balik-perayaan-tahun-baru-masehi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agamaku, Agamamu&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/agamaku-agamamu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/agamaku-agamamu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 08:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/agamaku-agamamu/</guid>
		<description><![CDATA[Andai saja semua agama itu sama, maka tak ada yang namanya perbedaan. Andai saja semua agama itu benar, tak perlu ada yang ngotot ingin benar sendiri. Andai saja semua agama itu menyembah Tuhan yang sama, nggak perlu ada pertumpahan darah atas nama agama. Andai saja semua agama itu menuju ke jalan yang sama, tak perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai saja semua agama itu sama, maka tak ada yang namanya perbedaan. Andai saja semua agama itu benar, tak perlu ada yang ngotot ingin benar sendiri. Andai saja semua agama itu menyembah Tuhan yang sama, nggak perlu ada pertumpahan darah atas nama agama. Andai saja semua agama itu menuju ke jalan yang sama, tak perlu ada kitab suci yang berbeda. Tapi fakta dan sejatinya memang berbeda kok. Justru pertanyaan saya: kenapa harus dipaksakan untuk disamakan?<span id="more-225"></span></p>
<p>Sayangnya, sekarang banyak usaha-usaha yang menjurus ke arah sana dengan alasan perdamaian dunia. Karena menurut para penggagasnya, seluruh agama akarnya satu, yakni dari sang pencipta, sehingga mereka berdalil: â€œKenapa harus berbeda? Berbeda itu bikin konflik dan itu sangat berbahaya!â€?</p>
<p>Tapi yang jelas, kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi (gali sumur kali!), kita justru akan menemukan bahwa masing-masing agama memang beda. Beda banget. Bahkan bukan hanya beda, tapi juga bertentangan, dan bahkan saling menentang satu sama lain.</p>
<p>Itu sebabnya, tentu nggak bisa mendefinisikan atau membuat pernyataan yang cuma berdasarkan logika dan hawa nafsu kita. Tapi kebenaran adalah muncul dari yang membuat kebenaran itu sendiri, yakni pencipta kita, Allah Swt. Karena kalo kebenaran diserahkan kepada masing-masing manusia, maka yang muncul bukan kebenaran, tapi pembenaran. Udah gitu miskin makna dan kaya dengan salah persepsi.</p>
<p>Sobat muda muslim, ngomongin soal agama kata sebagian kalangan dianggap sensitif. Saking sensanifnya, eh, sensitifnya maka kita nggak boleh ngomongin agama secara vulgar di tempat umum. Misalnya, kamu nanya sama teman kamu di sekolah dalam forum umum: â€œAgama kamu apa?â€? Wuih, kayaknya kita dianggap arogan atau sok, atau dicap sebagai orang yang melontarkan pertanyaaan dengan nada sentimen atau tendensius serta SARA dan macam-macam pikiran lainnya.</p>
<p>Kenapa? Karena kita terbiasa menabukan hal tersebut. Dianggap bahwa agama adalah urusan masing-masing individu. Nggak boleh ada individu lain yang mempertanyakan dan mempersoalkan status agama seseorang. Alasannya, kita menjunjung kebersamaan. Jadi jangan heran pula kalo kemudian muncul istilah toleransi, anak bangsa, dialog lintas agama dan iman, dan lain sejenisnya untuk mengkampanyekan tentang pentingnya persamaan. Padahal jelas sangat berbeda jauh. Wong dasarnya juga beda kok. Jadi apa yang mau disamakan? Betul ndak? Semoga kamu bisa memahaminya.</p>
<p>Dalam tulisan di sampul depan buku Psikologi Agama karya Kang Jalal, panggilan akrab Jalaluddin Rakhmat, dituliskan bahwa agama adalah kenyataan terdekat dan misteri terjauh. Begitu dekat: ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hariâ€”di rumah, kantor, media, pasar, di mana saja. Begitu misterius: ia menampakkan wajah-wajah yang sering tampak berlawananâ€”memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi (ketakhayulan); menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.(Mizan, 2003)</p>
<p>Nah, karena itulah barangkali ada orang yang merasa bingung dengan agama, mulai menghindarinya dan mengajarkan atheisme. Maka, nggak usah heran kalo Darwin, Marx, Freud membunuh Tuhan dan Nietzsche turun dari bukit, menyanyikan lagu Zarathusta: Gott is gestorben (alias Tuhan sudah mati) (Psikologi Agama, hlm. 64)</p>
<p>Sobat muda muslim, karena saat ini banyak kaum kaum muslimin yang mulai kendor ikatannya dengan ajaran Islam, ada pula yang bahkan sudah melawan setiap ajaran yang ada dalam Islam, juga banyak yang berupaya menyamakan Islam dengan agama yang lain, maka saya merasa perlu untuk menjelaskan (semoga saja mencerahkan), tentang masalah ini. Saya ingin menegaskan bahwa Islam emang beda dengan agama yang lain. Jadi, nggak bisa pula keyakinan kita digeser-geser dan dipindah-pindah ke tempat lain (digeser-geser? Emangnya pot bunga?)</p>
<p><strong>Islam emang beda!</strong><br />
Kalo kamu berani mengatakan ini, syukur deh. Kenapa? Karena masih punya harga diri dan sekaligus percaya diri. Harga diri itu mahal, jarang ada yang rela kalo harga dirinya diinjak-injak (kecuali yang nekat dan gelap mata dengan menjual dirinya sendiri dalam kenistaan). Kebanyakan orang kalo bicara harga diri semangat dan antusias. Harga diri harus dipelihara karena urusan hidup dan mati.</p>
<p>Percaya diri berarti kita percaya dengan apa yang kita perbuat. Orang yang berani melakukan suatu perbuatan dan kegiatan, sudah pasti bertanggung jawab. Itu sebabnya, dengan memiliki rasa percaya diri bisa dipastikan orang tersebut udah punya alasan dan tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.</p>
<p>Yup, Islam memang beda. Beda banget dengan agama lain. Nggak bisa disamakan. Nggak bisa disatukan. Karena ibarat air dengan minyak, maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah akidah. Tidak ada gaya elektrostatis alais gaya tarik-menarik dalam urusan syariat antara Islam dan agama lain.</p>
<p>Sekarang coba kita bandingkan mulai dari yang sangat prinsip: yang disembah. Kita, kaum muslimin, cuma menyembah Allah Swt. bukan yang lain. Sementara agama lain, Nasrani misalnya, mereka punya konsep trinitas. Ajaran lain juga sama, menyekutukan Allah. Jelas beda kan? Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???‡???ˆ?? ?§?„?„?‘???‡?? ?????? ?§?„?³?‘???…???ˆ???§???? ?ˆ???????? ?§?„?£?’???±?’?¶?? ?????¹?’?„???…?? ?³???±?‘???ƒ???…?’ ?ˆ???¬???‡?’?±???ƒ???…?’ ?ˆ???????¹?’?„???…?? ?…???§ ?????ƒ?’?³???¨???ˆ?†??<br />
Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (QS al-Anâ€™aam [6]: 3)</p>
<p>Sementara dalam ayat lain, Allah Swt, pencipta kita semua menegaskan dalam firmanNya:</p>
<p>?§?„?’?­???…?’?¯?? ?„???„?‘???‡?? ?§?„?‘???°???? ?®???„???‚?? ?§?„?³?‘???…???ˆ???§???? ?ˆ???§?„?£?’???±?’?¶?? ?ˆ???¬???¹???„?? ?§?„?¸?‘???„???…???§???? ?ˆ???§?„?†?‘???ˆ?±?? ?«???…?‘?? ?§?„?‘???°?????†?? ?ƒ???????±???ˆ?§ ?¨???±???¨?‘???‡???…?’ ?????¹?’?¯???„???ˆ?†??<br />
Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (QS al-Anâ€™aam [6]: 1)</p>
<p>Dalam pernyataan lebih jelas dan tegas, Allah Swt menyebutkan (yang artinya): â€œSesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: â€œSesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryamâ€?, padahal Al Masih (sendiri) berkata: â€œHai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmuâ€? Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.â€? (QS al-Maaidah [5]: 72)</p>
<p>Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun, bunga dan buahnya jelas berbeda dong. Tul nggak? Lagian kita belum pernah tuh denger ada pohon mangga berbuah durian (mungkin Om Broery aja yang pernah mendendangkan lagu yang ada liriknya â€œbuah semangka berdaun sirihâ€?!)</p>
<p>Maka sangat wajar dan adil jika Allah Swt. aja mengajarkan bahwa keyakinan kita berbeda dengan keyakinan agama lain. Itu sebabnya, jangan bingung pula kalo syariatnya juga beda. Maka, apa hak kita menyatakan bahwa semua agama sama? Sehingga kita merasa kudu terlibat dan melibatkan diri dalam ibadah agama mereka. Bahkan hal itu dianggap wajar.</p>
<p>Bener lho, saking nggak ngertinya, ada sebagian dari kita yang latah ikutan perayaan natal bersama, misalnya. Malah dengan semangat dan gagah berani biar dianggap toleran menyambut dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka. Ah, itu namanya sudah salah menempatkan toleransi dong. Karena dalam urusan keimanan dan ibadah ini nggak berlaku istilah toleransi. Sebaliknya, kita kudu keukeuh memegang prinsip. Allah Swt udah wanti-wanti soal ini dalam al-Quran (yang artinya): â€œKatakanlah: â€œHai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.â€? (QS al-Kaafiruun [109]: 1-6)</p>
<p><strong>Islam akan menang!<br />
</strong>Bukan sulap bukan sihir bukan pula guna-guna en santet, kalo Islam bakalan memenangkan semua ideologi dan agama yang ada di dunia ini. Allah bahkan sudah menjanjikan kemenangan itu dan menjaminnya tetap menang. Nih, pernyataan Allah Swt itu (yang artinya): â€œDia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.â€? (QS ash-Shaff [61]: 9)</p>
<p>Cuma masalahnya, kita udah siap nggak sebagai pemeluknya untuk berjuang membela Islam? Inilah yang kudu ditanyakan ke diri kita masing-masing. Ada baiknya memang kita introspeksi diri; udah sejauh mana sih kita cinta sama Islam, seberapa pantas masih menyandang gelar muslim, masih ragu nggak dengan ajaran Islam ini, masih suka malas nggak melaksanakan berbagai kewajibannya, masih kalah dengan hawa nafsu atau justru kita udah mampu mengendalikannya dan tunduk kepada syariat, masih kagum dengan potret bening kemaksiatan atau justru bersedia untuk ridho diatur dan pasrah kepada Allah Swt.?</p>
<p>Rasa-saranya ini emang yang sering kita lupakan. Kita lebih trengginas mengejar mimpi, sementara kenyataan yang ada dalam hidup kita dilepaskan. Kita bangga dengan westernisasi, dan malu bila masih berstatus muslim. Maka kita berlomba memamerkan aurat, padahal agama mengajarkan untuk menutupnya rapat-rapat. Kerudung dan jilbab dianggap kuno (kalo pun tetep dipake, tapi kudu ngikutin tren yang ada), sementara remaja muslimah banyak yang sregep mengenakan busana yang irit bahan (kali aja bermimpi bisa jadi kembarannya Jeniffer Aniston, Britney Spears, Mandy Moore, Shakira wa akwatuha)</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo emang kita siap memenangkan Islam (dan menjaga kemenangannya), kita kudu setulus hati mencintainya. Karena cinta, adalah ketulusan. Kalo sudah sangat tulus mencintai, maka pengorbanan pun bukan sesuatu yang ditakutkan, malah dicari. Pemuda yang punya semangat seperti ini, nggak bakalan goyah menerima iming-iming ide murah dan murahan yang ditawarkan lingkungannya. Ia akan tetep berpegang teguh dengan prinsip hidupnya dan bangga menjadi seorang muslim.</p>
<p>Oke deh, mulai sekarang, kita benahi lagi cara pandang kita tentang iman dan Islam kita. Kita sanggup kok. Jangan sampe kita mengaku muslim, tapi sholat cuma sekali pas jadi mayat (eh, itu mah bukan sholat, tapi disholatkan!). Nah, mumpung belum disholatkan, mumpung belum pensiun dari dunia fana ini, kita kobarkan lagi semangat sebagai seorang muslim. Kita kokohkan iman kita, tingkatkan ilmu kita, dan baguskan amal kita. Kita ridho kepada Allah dan agar Allah pun ridho kepada kita.</p>
<p>Nah, mulai sekarang, yuk sama-sama kita kaji Islam, pahami, dan amalkan. Syukur-syukur kamu masih punya semangat untuk memperjuangkannya. Kita bisa barengan bahu-membahu dalam mensyiarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Biar semua kenal dan tahu. Ya, karena Islam emang beda dengan agama lain dan kita nggak usah nekat menyamakannya. Oke? Tetep semangat! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 223/Tahun ke-5/20 Desember 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/agamaku-agamamu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>â€œVirginâ€; Ketika Keperawanan Dilecehkan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/virgin-ketika-keperawanan-dilecehkan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/virgin-ketika-keperawanan-dilecehkan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/virgin-ketika-keperawanan-dilecehkan/</guid>
		<description><![CDATA[Kembali, film remaja merajai bioskop-bioskop Nusantara. Kali ini, sutradara Hanny R. Saputra di bawah bendera Star Vision berhasil menggarap film bertajuk â€?Virginâ€™ Ketika Keperawanan Dipertanyakan (VKKD), yang menyedot perhatian remaja beberapa minggu terakhir. Pihak pengelola Bioskop Mataram Yogyakarta Mustofa mengatakan, setiap satu hari pihaknya dapat menerima pendapatan sebesar Rp 1 juta dari total 5 kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kembali, film remaja merajai bioskop-bioskop Nusantara. Kali ini, sutradara Hanny R. Saputra di bawah bendera Star Vision berhasil menggarap film bertajuk â€?Virginâ€™ Ketika Keperawanan Dipertanyakan (VKKD), yang menyedot perhatian remaja beberapa minggu terakhir. Pihak pengelola Bioskop Mataram Yogyakarta Mustofa mengatakan, setiap satu hari pihaknya dapat menerima pendapatan sebesar Rp 1 juta dari total 5 kali penayangan Virgin. Film ini menduduki posisi keempat baik dalam hal pendapatan maupun jumlah penonton yang melihat film tersebut versi Bioskop Mataram. (Gudeg.net, 27/11/04). <span id="more-224"></span></p>
<p>Film ini mengisahkan tentang seorang remaja cewek bernama Biyan yang bersahabat dengan Stella dan Ketie. Ketiganya bergabung dalam komunitas â€œanak gaulâ€?. Sebuah komunitas â€œrusak rame-rameâ€? dari remaja belasan tahun di ibukota yang nggak mau ketinggalan tren.</p>
<p>Dalam komunitas ini, kebebasan dan keberanian menjadi tolak ukur eksistensi. Sehingga mereka rela ngapain aja untuk hidup mewah bin glamour agar diakui dalam pergaulan. Salah satunya dengan melepaskan keperawanannya. Bagi Stella dan Ketie, virgnitas adalah aset berharga yang pantas di tukar dengan sejumlah materi atau popularitas. Berbeda dengan kedua temannya, Biyan menuliskan dalam diarinya: â€œBagi gue, kehilangan virgin (keperawanan) sama seperti kehilangan harga diri.â€?</p>
<p>Sayangnya, nggak semua orang sepakat dengan potret anak gaul versi sang sutradara VKKD. Penonton bakal dibikin shock dengan aksi-aksi pelanggaran norma budaya timur dan agama yang disajikan dengan vulgar dan provokatif sepanjang film. Mulai dari bahasa yang digunakan, perilaku yang ditunjukkan, hingga busana yang dikenakan. Nggak sopan gitu lho!</p>
<p>Nggak heran kalo nasib film ini menuai protes dari berbagai pihak. Walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin, memerintahkan penghentian penayangan dan penarikan peredaran film Virgin dari seluruh bioskop di kota ini, menyusul protes dari berbagai elemen masyarakat seperti MUI Makassar, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel, Komunitas Film Makassar dan Pemberdayaan Perempuan Pemkot Makassar. (Gatra, 27/11/04). Masaâ€™ sih nggak belajar dari BCG?</p>
<p><strong>Berlindung di balik pesan moral</strong><br />
Dengan mengantongi stempel lulus sensor dari Lembaga Lulus Sensor (LSF), Chand Parwez Servia sang produser VKKD mencoba bertahan di tengah gelombang protes penyiaran VKKD dengan berlindung di balik pesan moral.</p>
<p>Chad Parwez kepada pers seusai preview menuturkan bahwa dalam film ini terdapat hikmah dan karena itu bisa menjadi pelajaran bagi remaja. Bahwa penjahat akhirnya akan kalah, dan janganlah mengorbankan segala-galanya demi meraih tujuan. Tirulah Biyan yang bisa mempertahankan keperawanan ketika orang-orang di sekitarnya sudah menihilkan apa artinya kesucian seorang gadis. (Media Indonesia, 21/11/04)</p>
<p>Sobat muda muslim, kita tentu sepakat dengan penuturan Parvez di atas. Sayangnya, VKKD kurang cantik menyampaikan pesan moral itu kepada penonton. Simak saja pemberitaan dalam Detikhot, 01/12/04 tentang film ini. Film remaja berlabel dewasa ini vulgar banget mengeksploitasi pergaulan bebas remaja metropolitan.</p>
<p>Orientasi seks sangat kental dalam film ini. Dari sekadar obrolan hingga perilaku para pemainnya. Wanita diposisikan semata-mata sebagai objek seks. Sekolah sebagai lembaga pendidikan pun sepertinya cuma melengkapi status pelajar yang disandang pemeran utama. Bahkan terkesan dilecehkan. Siswinya berangkat ke sekolah dengan rok super mini khas bupati alias buka paha tinggi-tinggi (ups!). Kancing seragam yang terbuka sampai dada. Tindikan dan tatto dianggap sebagai asesoris sehari-hari yang menjadi kebanggaan sehingga layak untuk dipamerkan. Meski tatto itu mangkal di â€?bemper belakangâ€™. Gaswat!</p>
<p>Nggak cuma itu, rokok slim yang tak pernah lepas dari tangan para tokoh dan minuman keras menjadi penghias tetap film. Fastabiqul aurat alias berlomba-lomba dalam mempertontonkan aurat diperagakan lewat busana para pemainnya baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Bahkan kata-kata kasar juga hal yang sangat biasa. Tak terhitung berapa kali penggunaan kata â€œAnjingâ€?, â€œF***â€?, â€œS***â€? dan kata-kata makian gaya Barat lainnya.</p>
<p>Kalo udah kayak gini, kita layak bertanya, mana pelajaran mulia yang pengen disampaikan ke penonton, khususnya remaja? Kalo pun ada, kayaknya nggak begitu ketangkep. Kecuali pelajaran bagaimana bergaul bebas (atau seks bebas) yang trendi; berbusana yang buruk bin norak di mana aja; belajar memfasihkan kata-kata makian yang kasar; atau belajar mengikuti kehidupan Barat yang sekuler dan berlumuran hawa nafsu. Masaâ€™ iya mau ngasih pelajaran kepada remaja supaya mempertahankan keperawanan malah dengan menyodorkan tokoh-tokoh dalam film itu yang justru melecehkan keperawanan?</p>
<p><strong>Seks bebas kian beringas</strong><br />
Sobat muda muslim, opini gaul bebas di kalangan remaja kian gencar dan tanpa hambatan menyapa kita. Tayangan pornografi dan pornoaksi nggak ada matinya di layar kaca atau layar lebar. Akibatnya, gaul bebas yang mengarah pada seks bebas kian populer di lingkungan generasi muda.</p>
<p>Di Kab. Bandung diperoleh data sedikitnya 38.288 remajanya diduga pernah berhubungan intim di luar nikah atau melakukan seks bebas. Jumlah ini berdasarkan hasil polling â€œSahabat Anak Remaja (Sahara) Indonesia Foundationâ€? yang terungkap pada seminar dan lokakarya â€œKependudukan dan Kualitas Remajaâ€? di Banjaran (Pikiran Rakyat, 29/07/04).</p>
<p>Ada sejumlah alasan kenapa remaja Bandung melakukan kegiatan seksual pranikah. Hasilnya, upaya menyalurkan dorongan seks (57,89%), sebagai tanda ungkapan cinta (38,42%), terpaksa atau dipaksa pacar (27,37%), dan biar dianggap modern (20,53%). (Tempo Interaktif, 13/06/04)</p>
<p>Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan seksual pranikah, diperoleh data survei MCR (Mitra Citra Remaja)-PKBI Jabar: sulit mengendalikan dorongan seksual (63,68%), kurang taat menjalankan agama (55,79%), rangsangan seksual (52,63%), sering nonton blue film (49,47%), dan tak ada bimbingan orangtua (9,47%). Tiga faktor terakhir yang turut menyumbang hubungan seksual pranikah adalah pengaruh tren (24,74%), tekanan dari lingkungan (18,42%), dan masalah ekonomi (12,11). (idem)</p>
<p>Parahnya, fenomena ini nggak cuma terjadi di satu tempat saja. Tapi hampir merata di seluruh Nusantara. Sekitar 18-20 persen remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan seks bebas. â€?â€™Itu hasil penelitian yang pernah kami lakukan terhadap pelajar dan mahasiswa,â€™â€™ ujar dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS, saat berbicara dalam acara â€?â€™Letâ€™s Talk About Drugs &amp; Free Sexâ€™â€™, Minggu (1/6) di Gedung Dharma Wanita Jateng. (Suara Merdeka, 02/06/2003).</p>
<p>Kebebasan perilaku seksual di kalangan temen-temen kita adalah hasil tiruan gaya hidup remaja Barat yang diklaim gaul bin modern seperti dalam film seri Beverly Hils 90210, Melrose Place, Dawsons Creek, Friends, atau American Pie.</p>
<p>Dalam American Pie I diungkap budaya remaja Amrik yang merasa nggak pede bin terkucil kalo lulus SMA masih berstatus perawan atau perjaka ting-ting. Sehingga mereka berusaha melepaskan statusnya itu maksimal menjelang kelulusan. Parah tenan iki!</p>
<p>Yang lebih mengerikan adalah dampak buruk yang dilahirkan oleh perilaku seks bebas ini. Penularan penyakit seksual; mewabahnya virus HIV/AIDS; aborsi, hingga prostitusi yang makin lestari. Perkiraan jumlah penderita HIV di Indonesia sampai akhir 2004, menurut ASA (Aksi Stop Aids) mencapai 90.000-130.000 orang. Hingga 30 September 2004 saja terdapat 3338 kasus HIV positif dan 2362 kasus AIDS. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat perilaku remaja kita yang demikian bebas. (Kompas, 01/12/04). Masihkah kita cuek dengan kondisi ini?</p>
<p><strong>Hidup mulia bersama Islam</strong><br />
Sobat muda muslim, kondisi di atas tumbuh dan berkembang akibat penerapan aturan hidup kapitalis yang sekuler oleh negara. Kehormatan dan derajat manusia telah kehilangan kesuciannya. Kian hari, orang ngerasa nggak ada kata tabu buat pemenuhan kebutuhan biologis ini secara liar.</p>
<p>Parahnya, kontrol dari negara berupa pemberlakuan sanksi untuk menjaga moral masyarakat kian tumpul. Makanya kudu ada upaya tegas dari negara biar negeri kita nggak ikut amburadul. Untuk urusan ini, Islam jagonya. Masaâ€™ sih?</p>
<p>Asli, nggak boâ€™ong. Soalnya, syariat Islam punya resep jitu bin mujarab untuk menjaga kehormatan manusia. Bagi para pelaku seks bebas yang terbukti berzina, negara akan memberlakukan sanksi yang tegas seperti dalam firman Allah swt:</p>
<p>?§?„?²?‘???§?†???????©?? ?ˆ???§?„?²?‘???§?†???? ?????§?¬?’?„???¯???ˆ?§ ?ƒ???„?‘?? ?ˆ???§?­???¯?? ?…???†?’?‡???…???§ ?…???§?¦???©?? ?¬???„?’?¯???©?? ?ˆ???„?§?? ?????£?’?®???°?’?ƒ???…?’ ?¨???‡???…???§ ?±???£?’?????©?Œ ?????? ?¯?????†?? ?§?„?„?‘???‡??<br />
â€œPerempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah.â€? (QS. An-N?»r [24]: 2)</p>
<p>Untuk mencegah eksploitasi seksual melalui media massa, negara akan mengenakan sanksi penjara sampai 6 bulan bagi siapa aja yang memproduksi, mencetak, menjual, atau menyimpan media porno. (Sistem Sanksi, Abdurrahmah al-Maliki, hlm. 266.)</p>
<p>Islam memerintahkan umatnya untuk menutup aurat. Sialnya, tren fashion Barat sering menggoda umat Islam untuk menanggalkan busananya yang menutup aurat dan menjaga kehormatannya. Dalam hal ini, negara akan menegaskan kewajiban menutup aurat dengan pemberlakuan sanksi jilid (cambuk) bagi wanita yang membuka auratnya (selain wajah dan kedua telapak tangannya). Kalo nggak kapok juga, ia akan diasingkan selama 6 bulan. (idem, hlm. 267)</p>
<p>Sobat muda muslim, banyak orang yang beranggapan kalo hukum Islam itu, kejam, sadis, atau tidak berperikemanusiaan. Padahal, justru membiarkan kemaksiatan merajalela di sekitar kita, lebih kejam, lebih sadis, dan nggak punya hati. Dan kudu dicatet, siapa aja yang bersedia dihukum dengan syariat Islam di dunia, dia akan terbebas dari azab Allah swt di akhirat nanti. Orang cerdas pasti akan mikir beribu-ribu kali lipat untuk berbuat maksiat. Kalo pun udah terlanjur, doi pasti minta disucikan dengan sanksi hukum Islam di dunia seperti kasus al-Ghomidiyah dan Maiz al-Islamiy yang rela dirajam karena telah berzina. Betul?</p>
<p>Oke deh sobat, saatnya kita bersama-sama berjuang agar hukum Islam diberlakukan oleh Negara. Nggak lupa kita membina diri untuk menghindari godaan media massa yang bisa bikin syahwat kita kebakar. Berusaha hidup bersama orang-orang yang bisa menjaga dan membantu kita mengendalikan hawa nafsu. Bagi yang udah mampu dan berani, segeralah menikah untuk menjaga kehormatan. Kalo belum, berpuasalah untuk membangun benteng perlindungan dari hawa nafsu. Terakhir, jangan lupa untuk hadir di pengajian. Karena kita bakal berat ngejalanin semuanya kalo belum memahami dan meyakini bahwa cuma aturan Islam yang bikin hidup kita mulia. Bukan yang lain. Betul? Siip dah! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 222/Tahun ke-5/13 Desember 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/virgin-ketika-keperawanan-dilecehkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam, Ya Islam!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-ya-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-ya-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/islam-ya-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sulap bukan sihir. Jangan pula kaget, apalagi sutris kalo akhir-akhir ini banyak yang benci sama Islam. Kalo dia musuh Islam, ya wajar aja. Tapi mungkin rada-rada terkejut kalo yang nggak suka sama Islam justru kaum muslimin itu sendiri. Ada yang nekatz bikin tafsir baru tentang ayat-ayat yang ada di al-Quran, ada pula yang tega [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan sulap bukan sihir. Jangan pula kaget, apalagi sutris kalo akhir-akhir ini banyak yang benci sama Islam. Kalo dia musuh Islam, ya wajar aja. Tapi mungkin rada-rada terkejut kalo yang nggak suka sama Islam justru kaum muslimin itu sendiri. Ada yang nekatz bikin tafsir baru tentang ayat-ayat yang ada di al-Quran, ada pula yang tega menyebutkan bahwa Islam nggak berpihak pada wanita dengan adanya hukum poligami, yang menurut pengkritiknya, menyengsarakan kaum wanita. Malah, nggak sedikit yang kemudian memodifikasi Islam dengan ajaran lainnya, maka muncul istilah Islam liberal, Islam moderat untuk menandingi istilah yang mereka buat sendiri, yakni Islam fundamentalis, Islam radikal, Islam garis keras dsb. Waduh!<span id="more-223"></span></p>
<p>Ehm, saya nggak bermaksud memprovokasi supaya kamu jadi beringas, pasang muka garang, tangan mengepal siap melayangkan bogem mentah kepada mereka yang mulai mempertanyakan kebenaran Islam. Nggak, di buletin ini saya cuma ingin ngajak kamu belajar, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam.</p>
<p>Tenang aja. Nggak gerasak-gerusuk kayak orang mo kebelet pipis. Pikiran tenang, hati jernih, insya Allah bisa ngendaliin keadaan. Jadinya, kita juga bisa melawan setiap upaya penghancuran ajaran Islam dengan kajian yang mencerdaskan pula. Paling nggak, kita ngasih jawaban yang berasal dari ajaran Islam. Bukan dari yang lain. Sebab, kalo dilawan dengan hawa nafsu juga akibatnya bisa fatal banget.</p>
<p>Kita pengen coba bahas sedikit kenapa masih ada yang meragukan ajaran Islam. Padahal, Islam emang beda! Beda ama agama mana pun dan emang nggak bisa disamain dengan ideologi mana pun. Makanya banyak yang nyesek kalo Islam sampe kembali memimpin dunia ini. Panas dingin deh. Kenapa? Karena pasti akan menjadi pesaing utama ideologi yang ada, khususnya Kapitalisme. Jadinya, setiap ada usaha kaum muslimin untuk memurnikan ajaran Islam, pasti deh dikecam, pasti tuh dicemooh, bahkan dengan sadis bilang kalo Islam tuh ngajarin terorisme. O..ow! (nggak salah nuduh nih?)</p>
<p>Sobat muda muslim, jangan dulu begidik tanda nggak suka dengan bahasan kita kali ini, jangan pula langsung melempar buletin ini ke tempat sampah. Sebab, di sini saya janji nggak bakalan ngedoktrin kamu dengan cara menggurui (apalagi menghakimi). Nggak. Tapi saya coba ngajak kamu berpikir, berusaha menuntun kamu dengan ngajak ngobrol asyik soal yang katanya berat-berat itu. Setuju kan?</p>
<p><strong>Ketika Islam dipertanyakan</strong><br />
Rasa-rasanya emang aneh. Tapi beginilah kenyataannya. Kamu pasti udah denger dong soal KHI alias Kompilasi Hukum Islam? Yup, counter legal draft KHI ini udah bikin geger. Kenapa? Soalnya, draft yang disusun oleh Tim Pengarusutamaan Gender bentukan Depag ini ganjil banget (makhluk ganjil dong?). Disebutkan bahwa poligami dilarang. Perkawinan beda agama malah disahkan. Kawin kontrak diizinkan. Pembagian waris antara laki dan perempuan harus sama dan sebanding. Udah gitu, ngasih batas perkawinan minimal 19 tahun. Laki-laki, sebagaimana umumnya perempuanâ€”juga memiliki masa â€?iddah (misalnya kalo udah cerai kudu menanti sekian bulan untuk bisa menikah lagi), seorang gadis boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa walinya (padahal yang benar hal itu cuma berlaku untuk para janda). Walah!</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo diusut-usut (tapi nggak sampe kusut lho), ternyata draft KHI ini disusun berdasarkan empat pendekatan: gender, pluralisme, hak asasi manusia dan demokrasi. Heuheu&#8230; pantes aja kacau-beliau. Karena semua itu tidak saja bertentangan dengan Islam, tapi juga menentang Islam. Jadi, memang nggak bakalan bisa nyetel untuk ngatur Islam, tapi aturannya dari luar Islam. Ibarat mo bikin sayur lodeh kok pake resep bumbu untuk sop? Nggak nyetel tuh!</p>
<p>Kalo menurut Pak Adian Husaini, salah seorang anggota MUI, â€œMenyimak dasar pijakan penyusunan draft KHI, sebenarnya pola pikir yang mendasari tim penyusun bukanlah pola pikir yang berkembang dalam tradisi Islam. Epistimologi atau metodologi penafsiran al-Quran dan Sunnah yang digunakan bukanlah metodologi penafsiran yang digunakan kaum muslimin selama ini. Mereka lebih suka meminjam metodologi hermeneutis. Mereka lebih percaya kepada Paul Ricour, Ferdinand de Saussure, Emmilio Betti, Michel Foucault, Antonio Gramsci, John Hick, Wilfred Cantwell Smith, dan teman-temannya, ketimbang percaya kepada Imam as-Syafiâ€™i atau al-Ghazali.â€? (Sabili, No. 8 Th. XII 5 Nopember 2004)</p>
<p>Ambil contoh soal larangan poligami yang termuat dalam draft KHI tersebut, â€œAsas perkawinan adalah monogami. Perkawinan di luar itu harus dinyatakan batal secara hukum (pasal 3 ayat 2)â€?</p>
<p>Aneh banget deh, sesuatu yang dimubahkan Allah malah mereka larang, tapi yang udah jelas haramnya malah didiamkan atau bahkan didukung, seperti pasal-pasal yang membolehkan perjanjian perkawinan dalam jangka waktu tertentu dan perkawaninan beda agama. Kacau euy, padahal Allah telah menghalalkan poligami sebagai solusi atas suatu permasalahan, bukan untuk membuat permasalahan baru. Allah Swt. berfirman: â€œJika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kalian mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.â€? (QS an-Nisaâ€™ [4]: 3)</p>
<p>Tujuan ayat tersebut adalah membatasi jumlah isteri maksimal empat, karena sebelum turunnya ayat ini, jumlah wanita yang boleh diperisteri?  tidak ada batasannya. Dalilnya antara lain hadis Ghaylan bin Salamah ra, yang telah masuk Islam dan dia mempunyai sepuluh isteri, lalu mereka masuk Islam bersama Ghaylan. Maka Nabi saw. memerintahkan Ghaylan untuk memilih empat orang di antara mereka. (HR. Ahmad dan?  at-Tirmidzi)</p>
<p>Jadi, poligami jelas adalah sesuatu yang halal. Bukan sesuatu yang haram. Lalu, atas dasar apa mereka berani melarang sesuatu yang telah dihalalkan Allah?</p>
<p>Sobat muda muslim, belum lagi soal perkawinan beda agama, â€œPerkawinan beda agama bolehâ€? (pasal 54). Idih, nekatz banget bilang boleh, padahal Allah menjelaskan dalam firmanNya:</p>
<p>?ˆ???„?§?? ?????†?’?ƒ???­???ˆ?§ ?§?„?’?…???´?’?±???ƒ???§???? ?­?????‘???‰ ?????¤?’?…???†?‘?? ?ˆ???„?£?????…???©?Œ ?…???¤?’?…???†???©?Œ ?®?????’?±?Œ ?…???†?’ ?…???´?’?±???ƒ???©?? ?ˆ???„???ˆ?’ ?£???¹?’?¬???¨?????’?ƒ???…?’ ?ˆ???„?§?? ?????†?’?ƒ???­???ˆ?§ ?§?„?’?…???´?’?±???ƒ?????†?? ?­?????‘???‰ ?????¤?’?…???†???ˆ?§ ?ˆ???„???¹???¨?’?¯?Œ ?…???¤?’?…???†?Œ ?®?????’?±?Œ ?…???†?’ ?…???´?’?±???ƒ?? ?ˆ???„???ˆ?’ ?£???¹?’?¬???¨???ƒ???…?’<br />
â€œJanganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hati kalian. Janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik daripada orang-orang musyrik walaupun dia menarik hati kalian.â€? (QS al-Baqarah [2]: 221)</p>
<p>Ini dua contoh pasal ganjil di draft KHI tersebut, kalo dirunut semua, nggak cukup di buletin ini. Tapi intinya, draft itu dibuat memang untuk melawan Islam.</p>
<p><strong>Islam for All<br />
</strong>Tolong, jangan ragukan Islam. Jangan coba-coba ngobrolin Islam dan membahas aturannya dari kacamata ajaran lain. Apalagi sampe memasukkan ajaran dari ideologi dan agama lain. Itu namanya nyari perkara. Bukan beresin masalah, tapi bikin masalah tuh.</p>
<p>Justru sebaliknya kita pegang erat-erat ajaran Islam, pahami, dan amalkan. Biar siapa pun tahu bahwa Islam memang rahmat bagi seluruh alam. Nggak cuma untuk kaum muslimin aja. Kehadirannya bisa dirasakan dan menyelamatkan kehidupan manusia. Tapi, kalo sekarang ada segolongan aja dari kaum muslimin yang memasukkan â€?virusâ€™ pemikiran asing ke dalam ajaran Islam, mana mungkin Islam bisa disebut rahmat bagi seluruh alam. Tul nggak? Entar malah orang-orang yang nggak suka dengan Islam makin sebel aja ngelihat â€œkekacauanâ€? yang kini terjadi di antara kita.</p>
<p>Beginilah kalo Islam nggak diterapkan sebagai ideologi negara. Banyak masalah muncul (termasuk soal KHI ini), dan jelas itu membuat imej bahwa Islam bukan lagi menjadi rahmat bagi seluruh alam, tapi menjadi bahaya bagi seluruh alam. Gawat banget kan? Padahal, jika Islam diterapkan sebagai ideologi negara, paling nggak ada delapan aspek dalam kehidupan luhur masyarakat manusia yang akan dipelihara, yaitu (lihat Muhammad Husain Abdullah, Dirasat fil Fikri al Islami, 1990, hlm. 61):</p>
<p>Memelihara keturunan, yakni dengan mensyariatkan nikah dan mengharamkan perzinaan, serta menetapkan berbagai sanksi hukum terhadap para pelaku perzinaan itu, baik hukum jilid maupun rajam.</p>
<p>Memelihara akal, yakni dengan mencegah dan melarang dengan tegas segala perkara yang merusak akal seperti minuman keras (muskir) dan narkoba (muftir) serta menetapkan sanksi hukum terhadap para pelakunya.</p>
<p>Memelihara kehormatan, yakni dengan melarang orang menuduh zina, mengolok, menggibah, melakukan tindakan mata-mata, dan menetapkan sanksi-saksi hukum bagi para pelakunya.</p>
<p>Memelihara jiwa manusia, yakni dengan menetapkan sanksi hukuman mati bagi orang yang telah membunuh tanpa hak, dan menjadikan hikmah dari hukuman itu (qishash) adalah untuk memelihara kehidupan (coba deh lihat QS al-Baqarah [2]: 179). Kalaupun tidak dikenai hukum Qishash, yang berlaku adalah hukum diat. Yakni, keluarga korban berhak atas ganti rugi yang wajib diberikan pihak keluarga pembunuh sebesar 1000 dinar (4250 gram emas) atau 100 ekor onta atau 200 ekor sapi.</p>
<p>Memelihara harta, yakni dengan menetapkan sanksi hukum terhadap tindakan pencurian dengan hukuman potong tangan yang akan mencegah manusia dari tindakan menjarah harta orang lain. Demikian pula peraturan pengampunan (hijr), yakni pencabutan hak mengelola harta bagi orang-orang bodoh dengan menetapkan wali yang akan memelihara harta yang bersangkutan Islam juga melarang tindakan belanja berlebihan, yakni belanja pada perkara haram.</p>
<p>Memelihara agama, yakni dengan melarang murtad serta menetapkan sanksi hukuman mati bagi pelakunya jika tidak mau bertobat kembali kepangkuan Islam. Sekalipun demikian, Islam tidak memaksa orang untuk masuk Islam (lihat deh QS al-Baqarah [2]: 256).</p>
<p>Memelihara keamanan, yakni dengan menetapkan hukuman berat sekali bagi mereka yang mengganggu keamanan masyarakat, misalnya dengan memberikan sanksi hukum potong tangan plus kaki secara silang serta hukuman mati dan disalib bagi para pembegal jalanan (lihat: QS al-Maidah [5]: 33). Hukum syariat demikian diberikan kepada semua warga negara, baik muslim atau nonmuslim tanpa diskriminatif.</p>
<p>Memelihara negara, yakni dengan menjaga kesatuannya dan melarang orang atau kelompok orang melakukan pemberontakan (bughat) dengan mengangkat senjata melawan negara.</p>
<p>Oke deh, setiap hukum Islam bila diterapkan akan menghasilkan ketenangan seperti itu. Kesemuanya itu akan dirasakan dan menjadi hak setiap orang yang tunduk kepada aturan syariat Islam tersebut, baik muslim ataupun bukan. Dengan demikian, melalui penerapan syariat Islam secara total kemaslahatan akan dirasakan oleh semua umat manusia. Islam emang for all.</p>
<p>So, kurang apalagi? Selain kitanya yang emang kurang berjuang. Yuk, berjuang untuk Islam. Jangan menghancurkannya! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 221/Tahun ke-5/6 Desember 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-ya-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Should Never Die</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ramadhan-should-never-die</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ramadhan-should-never-die#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ramadhan-should-never-die/</guid>
		<description><![CDATA[All?¢hu akbarâ€¦.All?¢hu Akbarâ€¦. All?¢hu Akbarâ€¦. L?¢il?¢haillall?¢h wall?¢hu Akbarâ€¦.All?¢hu Akbar wa Lill?¢h Ilhamdâ€¦.
Menjelang Idul Fitri kemaren, pengeras suara yang nangkring di atap masjid dan mushala tanpa lelah mengumandangkan takbir. Selembar kulit kambing kering yang diregangkan menutupi drum minyak dipukul bertalu-talu. Diiringi suara cempreng khas kentongan dan suara ngebas galon kosong yang dipukul sekenanya dengan gaya Wong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>All?¢hu akbarâ€¦.All?¢hu Akbarâ€¦. All?¢hu Akbarâ€¦. L?¢il?¢haillall?¢h wall?¢hu Akbarâ€¦.All?¢hu Akbar wa Lill?¢h Ilhamdâ€¦.<br />
Menjelang Idul Fitri kemaren, pengeras suara yang nangkring di atap masjid dan mushala tanpa lelah mengumandangkan takbir. Selembar kulit kambing kering yang diregangkan menutupi drum minyak dipukul bertalu-talu. Diiringi suara cempreng khas kentongan dan suara ngebas galon kosong yang dipukul sekenanya dengan gaya Wong Aksan yang dipaksakan. Meski agak berisik, tapi tetep asyik.<span id="more-222"></span></p>
<p>Konvoi kendaraan bak terbuka berpenumpangkan bedug, kaleng cat, kentongan, dan para personil band takbiran menghiasi jalan raya. Sayup-sayup terdengar suara petasan yang memecah kesunyian malam. Dari pasar tradisional sampe pusat perbelajaan di mal-mal dipadati konsumen yang berburu baju, celana, sepatu, sendal, atau tas yang serba baru dengan harga menggiurkan.</p>
<p>Para pemudik rela bersabar dalam bis yang padat penumpang dan berjalan merayap. Semangat berlebaran di kampung bareng ortu dan sodara mengalahkan kejenuhan perjalanan yang lamanya bisa sampe dua kali lipat dari biasanya. Pikirannya dipenuhi bayangan senyum ceria yang menghiasi wajah polos keponakan saat menerima kado atau angpaw. Begitu juga dengan penganan khas lebaran racikan ortu yang bikin air liur menetes membasahi kursi penumpang sebelah. Hiiiâ€¦..jijay deh!</p>
<p>Yup, suasana lebaran nggak akan pernah sepi dari keramaian. Nggak cuma di lingkungan masjid, RT, kelurahan, kecamatan, kotamadya, atau propinsi, tapi di setiap negeri muslim di seluruh dunia. Semoga kita nggak kebablasan ya ngerayain lebarannya. Apalagi lebaran selalu identik dengan liburan dari kerja, sekolah, bahkan aktivitas dakwah. Gawat tuh!</p>
<p><strong>Dua rasa di hari raya</strong><br />
â€œBagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.â€? (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sobat muda muslim, kita semua sepakat kalo kegembiraan ketemu Idul Fitri sulit kita bendung. Sama sulitnya membendung kegembiraan saat mendengar suara bedug maghrib di bulan puasa. Dalam hitungan detik, segelas es campur, sepiring bakwan, dan semangkok mie goreng ludes berpindah tempat ke dalam perut. Inilah kegembiraan yang dijanjikan dalam hadis Rasulullah saw di atas.</p>
<p>Apalagi secara materi, dompet kita mendadak obesitas karena rupiah. Bagi yang kerja, dapet Tunjangan Hari Rabu eh, Raya alias THR. Yang masih sekolah, dapet Subsidi Hari Raya alias SHR dari ortu tercinta.</p>
<p>Di hari yang fitri itu juga pintu maaf plus pintu rumah terbuka lebar. Ucapan selamat Hari Raya dan permintaan maaf diobral gede-gedean. Pengiriman SMS, MMS, atau EMS yang berseliweran memacetkan lalu lintas antar operator kartu GSM dan CDMA. Mr. Postman juga disibukkan untuk mengantar kartu lebaran. Indahnya lagi, silaturahmi antar tetangga en sodara jadi agenda wajib. Kita juga ngerasa belon afdhol kalo lebaran tanpa aksi salam-salaman atau adu pipi kiri-kanan dalam acara halal bi halal dengan rekan kerja atau teman sekolah. Meski bulan Syawal sudah memasuki minggu kedua, nggak ada kata basi untuk saling memaafkan. Betul?</p>
<p>Namun sobat, di tengah kegembiraan menyambut Idul fitri, masih tersisa kepedihan dan keprihatinan yang dialami kaum Muslimin. Di Irak, arogansi pasukan AS menghancurkan kota Fallujah untuk kedua kalinya. Di Thailand, puluhan sodara kita mati mengenaskan pada Ramadhan lalu. Sementara di Belanda, aksi diskriminasi terhadap kaum Muslim meningkat. Hal ini dipicu dengan terbunuhnya Theo Van Gogh, seorang sutradara yang bikin film kontroversial mengenai Islam, oleh seorang pria yang mempunyai berkewarga-negaraan, Belanda dan Maroko 2 Nopember 2004 silam. Parahnya, nggak banyak yang peduli atau sekadar mengetahui kondisi ini.</p>
<p>Menjelang Ramadhan berakhir aja, banyak temen kita yang ber-â€?itikafâ€™ di mal-mal dan pusat perbelanjaan di sepuluh hari terakhir. Mentang-mentang pundi rupiahnya tengah terisi luber, jadi lupa ama perburuan lailatul qadar atau merhatiin kondisi sodaranya yang tertindas di belahan dunia lain. Lingkungan mengkondisikan remaja untuk berlomba tampil cantik di hari raya. Padahal Imam Syafiâ€™i pernah berpesan, â€œIdul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru, tetapi dipersembahkan bagi orang yang ketaatannya bertambahâ€?.</p>
<p>Nggak heran kalo para sahabat dulu begitu bersedih meninggalkan bulan mulia penuh ampunan dan pahala. Bukan karena nggak dapet THR, SHR, atau keabisan Nutrisari. Rasa ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan Ibn Masâ€™ud: â€œSekiranya para hamba (kaum Muslim) mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada sepanjang tahun.â€? (HR Abu Yaâ€™la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami)</p>
<p>Karena itu, selain kegembiraan berlebaran, seharusnya kita juga bersedih seperti para sahabat. Soalnya belum tentu kita ketemu Ramadhan di tahun berikutnya. Nggak ada yang ngejamin kalo kita masih bisa mendulang pahala di bulan puasa yang akan datang. Betul?</p>
<p><strong>Setelah Ramadhan berlalu</strong><br />
Sobat muda muslim, kita seneng buanget lho ngeliat perkembangan remaja muslim selama Ramadhan kemaren. Acara keislaman semacam sanlat, kajian mingguan, kultum tarawih, atau kuliah subuh banyak digelar dengan melibatkan remaja. Nggak cuma itu, banyak juga temen kita yang jago mengendalikan obrolannya dari godaan gosip yang tekutuk. Malamnya khusyu shalat tarawih baik di rumah atau di masjid berjamaah. Waktu luang dipake buat tilawah quran. Intinya, Ramadhan bikin teman remaja kecanduan ibadah.</p>
<p>Namun sobat, ada tradisi pasca Ramadhan berlalu yang bikin hati kita pilu. Atmosfer ibadah di bulan puasa alon-alon tapi pasti, memudar ketika Syawal menjemput. Remaja muslim banyak yang kembali ke habitat awalnya. Tercebur di genangan limbah pergaulan kapitalis sekuler yang doyan hura-hura plus maksiat.</p>
<p>Aktivitas peribadatan menyusut menjadi yang lima waktu doang. Itu juga kalo sempet. Kantong belanjaan gosip dibongkar di mana saja, kapan saja, menggantikan lantunan ayat suci al-Quran. Kecanduannya hadir di acara-acara kajian Islam terlarut dalam hingar-bingar dunia gemerlap di pub atau diskotik. Jarak pergaulan cewek-cowok yang dipertahankan selama Ramadhan, diterobos hingga bebas tanpa batas. Pemikiran Islam tentang dosa, pahala, surga, atau neraka menguap ditelan budaya sekuler Barat yang individualis dan steril dari aturan agama.</p>
<p>Inilah tradisi â€œsholatâ€? alias sholeh sesaat di kalangan remaja. Sholeh cuma pas Ramadhan doang. Bagian Syawal datang, kembali ke habitat awal. Semoga kamu-kamu nggak termasuk aktivis tradisi ini ya?</p>
<p><strong>Meraih kemenangan Ramadhan</strong><br />
Sobat muda muslim, gimana rasanya setelah melewati Ramadhan? Biasa aja atau ada peningkatan dari sisi ketakwaan? Syukur kalo kamu rasakan ada peningkatan. Tapi kalo kamu ngerasa biasa aja, walah! Rugi banget tuh. Asli rugi.</p>
<p>Kita tahu sendiri, nggak ada bulan yang paling kondusif untuk menggembleng pengendalian hawa nafsu dalam diri kita selain di bulan Ramadhan. Allah begitu sayang ama kita hingga Dia mempermudah dengan membelenggu syetan. Lingkungan sekitar kita juga ikut terwarnai oleh cahaya Islam. Makanya rugi kalo bulan puasa kemaren cuma diisi rutinitas nahan lapar, haus atau formalitas nggak ngegosip serta hadir di pengajian doang. Soalnya, kalo puasa kita bener, bisa menyucikan badan dan mempersempit gerak setan sebagaimana hal ini dikemukakan dalam shahih Bukhari-Muslim (194): â€œWahai para pemuda, barang siapa di antara kamu sudah mampu memikul beban keluarga, maka kawinlah, dan barang siapa belum mampu maka berpuasalah karena itu merupakan benteng baginya.â€? (HR Bukhari-Muslim)</p>
<p>Aa Gym bilang, saat kita berpuasa Ramadhan, ibarat menjalani proses metamorfosis ulat dalam sebuah kepompong. Kalo proses metamorfosisnya berjalan sempurna, maka pasca Ramadhan kita akan menjadi manusia baru bergelar muttaqin layaknya seekor kupu-kupu yang indah dan cantik keluar dari kepompong.</p>
<p>Untuk itu, demi meraih kemenangan Ramadhan di bulan Syawal, kita manfaatin bener-bener modal yang kita kumpulin sewaktu puasa kemaren. Jangan sia-siakan usaha kita mengendalikan hawa nafsu, banyak bersabar, atau bersikap simpati dan empati terhadap orang lain. Jangan sesali kebiasaan kita baca al-Quran baâ€™da shalat fardhu dan di waktu senggang. Jangan disayangkan harta yang kita keluarkan untuk bersedekah. Karena semua itu akan menjadi penolong kita kelak di akhirat.</p>
<p>Yang bisa kita kerjain sekarang adalah merawat agar modal itu nggak keburu abis untuk menghadapi godaan syetan di sebelas bulan pasca Ramadhan. Bagian ini yang biasanya agak repot. Soalnya lingkungan yang selama Ramadhan mengenakan topeng kebaikan becorak Islam, mulai menampakkan wujud aslinya. Menjadi penyambung lidah dan perpanjangan tangan budaya dan pemikiran Barat yang sekuler.</p>
<p>Tapi kita nggak perlu khawatir bin takut terwarnai tradisi â€œsholatâ€?, asal kita mau memelihara â€?kebiasaanâ€™ yang udah kita bangun di bulan puasa kemaren. Caranya? Tetep semangat hadir di pengajian untuk meningkatkan wawasan Islam. Agar setiap perbuatan yang kamu lakukan bisa disesuaikan dengan aturan Islam. Selain itu, nggak boleh absen untuk mengkondisikan keimanan dalam diri kita. Kalo yang ini caranya bisa dengan bergaul di tengah orang yang baik-baik (sholeh or sholehah), biar terkondisikan oleh kebiasaan baik mereka. Juga tingkatkan amalan-amalan sunnah seperti membaca al-Quran, shaum sunnat, atau mengkaji sirah (riwayat) Rasulullah dan para sahabat untuk diteladani.</p>
<p>Mari kita bersama-sama meraih kemenangan Ramadhan. Isi lembaran baru dalam keseharian kita dengan identitas baru sebagai orang yang bertakwa. Kita bisa memulainya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Seperti diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis, kecuali Bukhari dan Nasaâ€™I, dari Abu Aiyub al-Anshari bahwa Nabi saw. bersabda: â€œBarangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan diiringinya dengan enam hari bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa sepanjang masa.â€?</p>
<p>Menurut Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak, dan tidak ada kelebihan yang satu dari yang lainnya. Sedang menurut golongan Hanafi dan Syafiâ€™I lebih utama melakukannya secara berturut-turut sesudah hari raya. (Sayyid Sabbiq, Fikih Sunnah jilid 3).? </p>
<p>Oke deh sobat, kita memang nggak bisa menahan agar Ramadhan selalu bersama kita. Tapi semangat Ramadhan udah seharusnya nggak pernah mati dalam dada kita. Semangat untuk mengkaji Islam. Semangat untuk menyuarakan Islam. Dan semangat untuk menjadi pembela Islam. Idul Fitri makan ketupat, azamkan di hati tetap semangat! Ramadhan Should Never Die! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 220/Tahun ke-5/29 Nopember 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ramadhan-should-never-die/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Telah Mati?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ramadhan-telah-mati</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ramadhan-telah-mati#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ramadhan-telah-mati/</guid>
		<description><![CDATA[Buku yang pernah saya coba â€?kulitiâ€™ dalam sebuah acara bedah buku di sebuah kampus di Jakarta awal Ramadhan ini, judulnya cukup menggelitik dan saya coba â€?plesetkanâ€™ menjadi judul tulisan di buletin kesayangan kamu edisi pekan ini. Penulis muda yang baru berusia 19 tahun (ini seumuran Wayne Rooney, striker Manchester United yang baru saja membuat gol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buku yang pernah saya coba â€?kulitiâ€™ dalam sebuah acara bedah buku di sebuah kampus di Jakarta awal Ramadhan ini, judulnya cukup menggelitik dan saya coba â€?plesetkanâ€™ menjadi judul tulisan di buletin kesayangan kamu edisi pekan ini. Penulis muda yang baru berusia 19 tahun (ini seumuran Wayne Rooney, striker Manchester United yang baru saja membuat gol ke gawang Arsenal dan mengakhiri rekor tak terkalahkan dari Arsenal selama 49 pertandingan berturut-turut!). Nama penulisnya Shofwan Al Bana. <span id="more-221"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, sengaja saya mengambil judul buku unik dan menarik isinya ini sebagai cantolan di awal tulisan ini. Kenapa unik? Judulnya saja menghentak, meski menurut pembedah lain judul ini misterius. Terlepas dari itu, tulisan anak muda asal Yogya ini sangat jelas menampar kebiasaan kita di bulan Ramadhan.</p>
<p>Gaya bertuturnya dan bahasa yang disajikan di bukunya tegas mengkritik dan memberi solusi. Intinya, dalam buku itu kita diajak untuk merenung. Betapa kita masih nggak rela meninggalkan hal-hal yang sia-sia bahkan maksiat meski di bulan suci Ramadhan. Betapa kita cuma menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang, menurut istilah seorang pengamat media, Veven Sp. Wardhana sebagai â€œdalam rangkaâ€?, sehingga hanya alim saat di bulan Ramadhan. â€œDalam rangkaâ€? menghormati bulan Ramadhan, televisi pun berubah jadi â€?musholaâ€™ dengan beragam tayangan bernuansa islami. Masyarakat kita masih tergantung dengan â€œdalam rangkaâ€?, sehingga hanya bisa?  masuk dan merasuk dalam tema tertentu saja. Begitu pendapat Direktur Institute for Media and Social Studies Jakarta ini, dalam tulisannya di Koran Tempo 23 Oktober 2004 lalu.</p>
<p>Ah, jika dari tahun ke tahun selalu begitu, nggak ada lagi nikmat yang kita reguk dari Ramadhan. Nggak terasa lagi beda yang nyata dan memberi pengaruh besar dalam hidup kita dari â€œgemerlapâ€? cahaya Ramadhan ini. Malam-malam yang kita lalui nggak terasa lagi syahdu mengharap berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah. Bahkan sebaliknya, malam-malam yang kita lalui nggak ada bedanya dengan nuansa pada bulan lainnya. Kelakuan dan kebiasaan kita masih â€œistiqomahâ€? dengan cara lama sebelum Ramadhan. Cuma bungkusnya aja yang berganti, tapi isinya udah basi. Kalo begitu, rasanya wajar kalo bilang: Ramadhan Is Dead!â€? (seperti dalam bukunya teman kita Shofwan Al Bana itu).</p>
<p>Sobat muda muslim, seorang peserta bedah buku tersebut bertanya dan gelisah dengan maraknya tayangan televisi di bulan Ramadhan. Bukan tayangan yang sudah jelas rusaknya, tapi dia memprihatinkan ragam tayangan menjelang berbuka dan pengantar makan sahur yang seolah â€?melecehkanâ€™ kesucian dari Ramadhan itu sendiri. Nggak usah disebutin nama acaranya, karena terlalu banyak dan semuanya juga begitu rupa.</p>
<p>Mungkin masyarakat kita udah terbiasa dengan humor, sehingga tayangan-tayangan tersebut pun rasanya tak elok alias nggak sedap dipandang mata kalo nggak nyelipin (sebenarnya bukan nyelipin definisinya, sebab faktanya humor ini jadi mayoritas di acara itu, dan justru ceramahnya yang nyempil). Hmmâ€¦ acara taushiyah pun berubah jadi sebagai pelengkap acara. Benar-benar tragedi.</p>
<p>Kalo ada program acara yang kerasa kuat pesannya, tapi lagi-lagi dikemas dengan guyon. Lihat aja acara â€œCeceâ€? alias Ceramah Ceria. Sebetulnya nggak masalah juga menyampaikan materi dengan rileks dan ringan, serta mengibur. Boleh jadi itu memang cara efektif untuk menyampaikan pesan kepada kalangan tertentu. Tapi, tentunya nggak elok kalo kemudian jadi kebanyakan guyonnya. Lebih celaka lagi kalo jamaahnya ditanya, â€œMaterinya apa tadi?â€? Lucu! (cuma itu jawaban yang keluar). Ya, sangat boleh jadi, acara ini digelar pun mengikuti selera pasar (logika pengelola media sih dari dulu emang begitu karena sejatinya emang lagi mancing iklanâ€”bukan ikan lho).</p>
<p><strong>Mengapa kita tidak berubah?<br />
</strong>AlvinToffler pernah menyampaikan bahwa: â€œPerubahan tak sekadar penting untuk kehidupan. Perubahan adalah hidup itu sendiri.â€? Nah, pertanyaannya kenapa kita masih malas untuk berubah dalam hidup ini? Tentunya berubah ke arah yang baik ya. Karena kalo berubahnya ke arah yang buruk rada gampang. Disenggol dikit aja ama Topi Nyengled alias Topi Miring, keimanan yang cuma nyangkut di KTP itu langsung goyang deh. Lalu rame-rame nenggak nama minuman keras tersebut. Gaswat!</p>
<p>Sobat muda muslim, menjadi baik itu nggak susah. Asal kita mau dan punya niat tulus untuk mengubah kebiasaan buruk kita. Apalagi kalo kita nyadar bahwa hidup ini cuma sekali, dan sementara pula. Apa yang bakal kita bawa sebagai bekal kalo tiba-tiba besok pagi Allah mengutus Malaikat Ijrail membawa surat perintah untuk mencabut nyawa kita? Cuma orang yang nekatz dan nggak tahu diri aja yang berani menghadap Allah dengan bekal amal baik yang minim. Jangan sampe deh ngalamin seperti itu. Jangan.</p>
<p>Seorang teman yang sering diundang untuk mengisi acara training motivasi punya motto: Be The Best, Not â€œBe-asaâ€? (kira-kira begini artinya: Jadilah yang terbaik, jangan yang biasa). Bahkan ia menekankan: berubahlah 1 persen 1 hari (eh, kalo 100 persen berarti dalam 100 hari ya? Hehehe kayaknya cocok nih buat nguji kesungguhan Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan SBY. Ah, tapi kalo sistemnya masih kapitalisme yang diemban, mau seratus tahun juga nggak bakalan berubah jadi baik negeri ini!).</p>
<p>Kalo ngomongin soal perubahan, yang dekat dengan kita saat ini dan bisa nyambung, ya tentang Ramadhan. Sebenarnya perintah Allah jelas banget, bahwa diwajibkannya puasa buat kita, kaum mukminin, adalah untuk mendapatkan predikat takwa. Bukan yang lain. Firman Allah Swt:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„?????’?ƒ???…?? ?§?„?µ?‘???????§?…?? ?ƒ???…???§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„???‰ ?§?„?‘???°?????†?? ?…???†?’ ?‚???¨?’?„???ƒ???…?’ ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????‘???‚???ˆ?†??<br />
â€œHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,â€? (QS al-Baqarah [2]: 183)</p>
<p>Nah, ketakwaan inilah yang seharusnya menjadi target perubahan kita dalam menjalankan kewajiban puasa Ramadhan. Kompetisi kita dalam Ramadhan ini harus berhasil meraih gelar muttaqien alias orang-orang yang bertakwa. Kalo dalam bahasanya Shofwan Al Bana sang penulis buku â€œRamadhan Is Dead?!â€?: Takwa adalah gelar paling keren yang bisa diraih oleh manusia.</p>
<p>Secara sederhana takwa itu artinya kita taat bin patuh melaksanakan perintah dari Allah Swt. juga berani dan ikhlas untuk menjauhi setiap larangan yang telah ditetapkan Allah Swt. Itu sebabnya, yuk kita jadiin Ramadhan sebagai akademi untuk menuju puncak takwa. Jangan sampe kita tereliminasi di sepuluh hari pertama, atau sepuluh hari kedua. Intinya, kita harus bisa sukses menuju final. Jadi persiapan kudu oke nih. Soalnya kita nggak bisa membujuk penonton untuk mendukung kita lewat SMS, karena â€?juriâ€™ yang menilai dan menentukan puasa adalah Allah Swt. langsung. Betul?</p>
<p>Oke, saatnya kita jadikan Ramadhan menjadi momentum perubahan kita menuju level ketakwaan yang lebih tinggi (jangan cuma semangat naikkin level kalo main gim Gunbound atau Ragnarok aja hehehe). Yuk, berlomba menjadi yang terbaik. Itu sebabnya ubah kebiasaan, khususnya kebiasaan buruk. Pokoknya, seperti kata Linkin Park: â€œBreaking the Habitâ€?. Huhuy!</p>
<p><strong>Jangan kubur Ramadhan!</strong><br />
Sobat muda muslim, emang kesel, risih, gemes, sebel dan entah kosakata apalagi untuk menggambarkan keprihatinan kita tentang kondisi kaum muslimin saat ini, khususnya di bulan suci Ramadhan. Gimana nggak kesel, gimana nggak sebel, kalo Ramadhan nggak bisa membekas dalam kehidupan kita. Cuma numpang lewat dalam hidup kita. Kalo pun kita berupaya menyambutnya, tapi itu pun sekadar â€œdalam rangkaâ€?. Jadi ketika Ramadhan berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Bah!</p>
<p>Itu sebabnya, mumpung belum kelewat, jangan kubur Ramadhan. Karena ia belum mati. Kitalah yang menjadikan Ramadhan mati. Ramadhan akan tetap hidup bersama orang-orang yang merindukannya. Mereka akan tetap bermesraan dengan Ramadhan di setiap detik yang ia lewati, di setiap menit yang ia lalui, dan di setiap malam yang selalu membuatnya terjaga untuk senantiasa mengisinya dengan ibadah. Ramadhan memang tidak akan pernah mati, ia akan hidup terus bersama orang-orang beriman yang mencintainya.</p>
<p>Kalo sekarang Ramadhan tampak seperti mati (karena memang nggak kerasa banget nuansanya), maka sebenarnya kitalah yang membuatnya mati dan bahkan sudah menguburkannya dalam-dalam. Itu sebabnya jangan heran jika masih banyak kaum muslimin yang anteng aja makan dan minum di siang hari tanpa sedikit pun merasa takut kepada ancaman Allah. Dan tanpa sedikit pun merasa sayang mencampakkan beragam kemuliaan di dalamnya. Padahal, itu cuma diberikan sebulan dalam setahun oleh Allah. Hmmâ€¦ bener-bener nggak tahu diri (maaf lho saya nyebutin begini, jika ada kata yang lebih pantas dan dahsyat lagi dari ini untuk menggambarkan orang-orang durhaka bolehlah diucapkan).</p>
<p>Sekali lagi, jangan kubur Ramadhan. Karena ia masih hidup. Sebaliknya, kita nyalakan semangat dan ceriakan Ramadhan dengan amal sholeh yang berlimpah. Deras mengalir dari setiap ucapan dan perbuatan kita. Agar banjir nikmatnya terasa sampe membekas dalam hidup kita selamanya.</p>
<p>Sobat muda muslim, memang kaum muslimin nggak salah-salah banget dalam kondisi ini. Karena kelakuannya pun lebih banyak disetir oleh sistem kehidupan saat ini. Sistem kehidupan kapitalisme-sekularisme yang udah berurat-berakar ini menjadikan kaum muslim banyak yang nggak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Banyak di antara kita yang lebih patuh dan ridho diatur oleh kenyataan saat ini, ketimbang mempertahankan akidah Islam kita. Itu sebabnya, nggak berlebihan dan memang pantas dan pas kalo kita mulai mencintai Islam. Ramadhan ini saat yang ideal untuk come back kepada Islam. Mempelajarinya, memahaminya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sambil berupaya keras agar Islam diterapkan sebagai ideologi negara dalam bingkai Negara Khilafah Islamiyah. Iya nggak?</p>
<p>Sobat, sumpah kita udah nyeri, sakit, dan pedih hidup dalam sistem kehidupan bobrok ini. Cuma Islam yang bisa menyelamatkan kita. Jangan cintai kapitalisme-sekularisme, jangan pula nekat berselingkuh dengan sosialisme-komunisme. Berbahaya! (dan juga berdosa)</p>
<p>Semoga Ramadhan kali ini (dan juga seterusnya) memberikan kekuatan yang besar dalam hidup kita untuk mengubah kebiasaan buruk kita. Berubah menjadi lebih baik. Karena Ramadhan memang belum mati. Akan tetap hidup bersama orang-orang beriman yang ikhlas menjalankan syariatNya. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 219/Tahun ke-5/1 Nopember 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ramadhan-telah-mati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Bukan Cuma Nasyid</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-bukan-cuma-nasyid</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-bukan-cuma-nasyid#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/islam-bukan-cuma-nasyid/</guid>
		<description><![CDATA[Nama-nama Raihan, Saujana, Hijjaz, atau Brothers makin familier di telinga kita. Lagu-lagu nasyidnya itu lho yang bikin kita kesengsem. Lembut, syahdu, dan kalem. Bisa menghanyutkan kita dalam mengingat Allah atau bermuhasabah (tapi bukan sebagai pengantar tidur lho). Kaset dan CD-nya juga gampang diperoleh di toko-toko kaset. Apalagi di bulan suci ini. Dijamin bejibun. Abis laku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama-nama Raihan, Saujana, Hijjaz, atau Brothers makin familier di telinga kita. Lagu-lagu nasyidnya itu lho yang bikin kita kesengsem. Lembut, syahdu, dan kalem. Bisa menghanyutkan kita dalam mengingat Allah atau bermuhasabah (tapi bukan sebagai pengantar tidur lho). Kaset dan CD-nya juga gampang diperoleh di toko-toko kaset. Apalagi di bulan suci ini. Dijamin bejibun. Abis laku keras sih. Malah ada juga kompilasi MP3-nya yang bajakan dan dijual eceran di kaki lima. Itu juga kalo nggak keburu digerebek ama aparat. Heheheâ€¦<span id="more-220"></span></p>
<p>Nggak cuma didengerin, nasyid mulai banyak dilantunkan oleh remaja muslim. Buat mereka yang lagi kasmaran kontan hapal Teman Sejati-nya Brothers. Ehm, buat yang lagi berkobar semangat Islamnya langsung melalap semua lagu dalam album Kembali-nya Izzatul Islam. Mereka yang merasa ideologis juga ikutan berhip-hop nyanyiin tembang-tembang Soldiers of Allah. Atau yang lagi belajar bahasa arab berpartisipasi dengan Hadad Alwi dan Sulis dalam Cinta Rasul.?  Bang Toyyiiibâ€¦.Bang Toyyiiib. Eh maaf, salah muter kaset. Harusnya: Ya Thoyyibaahâ€¦.ya thoyyibaahâ€¦. (Hihihi)</p>
<p>Biasanya anak-anak rohis atau primus alias pria mushola keranjingan bikin group nasyid. Selain untuk menggiatkan syiar Islam, bisa juga sebagai media penyaluran bakat bermusik. Booming grup-grup nasyid baru pun tak terbendung. Apalagi sekarang banyak digelar festival nasyid. Semuanya pada pengen unjuk gigi. Mentang-mentang pake pepsodent (ini iklan ya?). Syukur-syukur bisa masuk dapur rekaman. Kan lumayan. Daripada masuk dapur restoran. Entar disuruh cuci piring lagi. Heheheâ€¦.</p>
<p>Dan kini nasyid makin dianggap spesial dan jadi komoditi bisnis. Buktinya sampai dibikin festival dan konser segala. Ditayangin di layar kaca lagi. Kayak Festival Nasyid Indonesia (FNI) dan Nasyid Tausyiah dan Qiraah (NTQ) yang lagi jadi pembicaraan hangat.</p>
<p>FNI yang dilaunching 23 Juni 2004 silam kini memasuki babak final dengan 10 group yang berhasil lolos audisi. Para finalis ini akan menjalani masa karantina dengan sistem pesantren. Di sini mereka bakal dapetin pembekalan dari segi musikal, performance, siraman rohani, dan pengembangan diri. Indosiar menyiarkan kegiatan mereka setiap hari selama Ramadhan dari tanggal 15 Oktober hingga 12 November 2004. Setiap minggunya akan ada dua grup yang akan tereliminasi, hingga tersisa empat grup yang akan bertemu di grand final 12 November mendatang.</p>
<p>Sekadar tahu aja, modal untuk menggelar FNI itu cukup gede lho, ongkos produksinya dari mulai penginapan peserta festival (di Raffles Hill, yang pernah dipake peserta AFI 1-3), hingga ditayangkan di layar kaca, kata Manajer Nondrama Indosiar, Jufipriyanto, sekitar Rp 1 Miliar. (Koran Tempo, 17 Oktober 2004)</p>
<p>Sementara TV7 nggak mau kalah dengan menghadirkan NTQ dari tanggal 7 Oktober hingga 4 November 2004. Festival yang satu ini agak laen. Selain menuntut kemampuan munsyid (penyanyi nasyid) untuk menunjukkan harmonisasi olah vokal (nasyid), salah seorang munsyid dalam grup masing-masing juga dituntut untuk dapat menunjukkan kemampuannya melantunkan ayat suci al-Quran (qiraah) dengan benar serta menginterpretasikannya dengan baik (tausyiah). Biar para finalis nggak cuma bisa nyanyi, tapi juga nyelipin tausyiah atau qiraâ€™ah dalam aksi panggungnya. Jangan-jangan ini kaderisasi ABRI alias Anak Buah Rhoma Irama. Hehehe&#8230;</p>
<p><strong>Seni Islam di negeri kita</strong><br />
Seni Islam yang berwujud tembang-tembang religius emang bukan barang baru di negeri kita. Jaman bonyok (bokap-nyokap) kita, masyarakat kenal seni Islam terbatas pada musik qasidah atau irama gambus. Dengan iringan alat musik kepret (tabuh/pukul) semacam rebana atau ketimpring (kecrekan), jenis musik ini dianugerahi julukan â€?band kepretâ€™. Meski begitu, lagu Perdamaian, Indung-indung, atau Jilbab-jilbab Putih masih populer di kalangan guru-guru Agama Islam setingkat SD. Bener lho!</p>
<p>Sayangnya, personel qasidah ini yang biasanya akhwat suka ikut joget bin goyang pinggul ngikutin irama gambus yang mepet-mepet dangdut. Malah seringkali mereka tampil ber-tabarruj (menampakkan kecantikan tubuhnya). Polesan lipstik di bibir dan sapuan make up di wajah yang terkesan menor. Jelas perpaduan ini jadi keliatan norak dengan balutan busana muslimah yang menjaga kehormatannya. Terus alunan musiknya juga terdengar monoton binti kaku. Otomatis lambat laun qasidah atau irama gambus ini kian terkubur di telan perkembangan musik pop. Wassalam deh!</p>
<p>Tahun 70-an, musik religius mulai mendapatkan tempat lagi di hati para penggemar musik. Adalah Bimbo Cs yang mengenalkan musik pop berlirik religius. Kelompok asal Bandung itu telah menggarap lagu seperti Tuhan, Rindu Rasul, sampai Anak Bertanya pada Bapaknya yang terbukti menjadi lagu sepanjang masa.</p>
<p>Suasana musik religius makin kondusif dengan hadirnya nasyid. Terutama setelah muncul kelompok vokal Raihan dari Malaysia yang turut mempopulerkan nasyid yang ngepop dan easy listening sekitar tahun 1996. Tak lama kemudian, grup nasyid asal Malaysia pun membanjiri Indonesia. Sebut saja Rabbani, Hijjaz, Brothers, In-Team, atau The Zikr dan masih banyak lagi.</p>
<p>Grup nasyid domestik yang mengemas lirik religius dengan pendekatan pop juga kian berkibar. Ada Senandung Nasyid dan Dakwah alias Snada, Suara Persaudaraan, Izzatul Islam, ar-Ruhul Jadid, atau Shoutul Harakah.?  Oya, Ruhul Jadid dan Izzatul Islam terkenal sebagai grup nasyid yang mengobarkan semangat juang. Aseli semangat banget tuh!</p>
<p>Sejak saat itu, popularitas nasyid kian booming. Bagi remaja muslim, nasyid udah jadi bagian dari keseharian mereka. Gimana nggak, dengan variasi jenis musik, nasyid kini mampu mewakili budaya remaja yang beragam. Semua aliran musik mampu diselami grup-grup nasyid baru. Dari yang nge-pop, mars yang menggugah semangat, melankolis, sampe yang rap bin hip-hop. Tinggal milih sesuai selera.?  Makanya nggak usah kaget kalo kita nemuin temen kita tengah komat-kamit kayak dukun baca mantra. Kali aja doi lagi nge-rap Staring Into Kafirs Eyes-nya Soldiers of Allah (SOA). Huhuy!</p>
<p><strong>Jangan terlena alunan nada</strong><br />
Sobat muda muslim, bukan aib kalo kita jatuh cintrong ama nasyid-nasyid yang kian trend. Saking kesengsemnya, winamp di komputer penulis nggak mau berhenti muterin lagu-lagu dari Hawari, BMP, Bijak, Nada Murni, Saujana, atau The Fikr sambil bikin tulisan ini. Tapi kita juga nggak pengen nasyid bikin kita terlena. Idih, emangnya Ikke Nurjannah? Wacks!</p>
<p>Sobat muda muslim, tentu kita semua udah tahu kalo hukum bernyanyi itu mubah. Karena pada masa Rasul banyak shahabat yang hobi nyanyi atau sekadar bersenandung sepengetahuan beliau. Dan beliau mendiamkannya (taqrir). Seperti yang dikerjakan Salman al-Farisi saat menggali parit ketika akan menghadapi perang Khandaq. Bahkan Rasul sendiri mengangkat seorang shahabat ahli syair bernama Hasan bin Tsabit. Doi bertugas mengobarkan semangat kaum Muslimin di medan pertempuran dengan syair-syairnya yang heroik plus energik.</p>
<p>Dan sudah sepatutnya kemubahan itu tetap pada tempatnya alias nggak ngotak-ngatik aktivitas lain yang hukumnya wajib atau sunnah. Ada kekhawatiran pada ajang festival nasyid seperti yang digeber FNI atau NTQ. Kenapa?</p>
<p>Mengingat banyaknya porsi waktu, pikiran, tenaga, dan harta yang dialokasikan dalam pagelaran festival yang makan waktu cukup lama ini bisa bikin lalai dari kewajiban untuk berdakwah, mengkaji Islam secara intensif, atau mengoreksi kebijakan penguasa yang mendzhalimi rakyat. Panitia sibuk nyiapin perlengkapan, akomodasi, sampe monitoring perkembangan peserta saban hari. Pesertanya juga nggak kalah sibuk latihan biar penampilan mereka di atas panggung tidak mengecewakan.</p>
<p>Lagian kalo kita bercermin pada perilaku keseharian Rasulullah dan para sahabat, waktu mereka lebih banyak dialokasikan untuk beribadah, menyebarkan pemahaman Islam, berjihad, dan sesekali bercengkrama dengan keluarga. Ini berarti sedikit sekali waktu yang diberikan untuk mencari hiburan, termasuk bernyanyi-nyanyi. Catet tuh!</p>
<p>Selain itu, kehadiran FNI atau NTQ berbarengan dengan tren ajang pencarian bakat sekuler kayak AFI, Indonesian Idol, atau KDI. Seolah festival itu digelar sebagai ajang tandingan. Moga-moga nggak ya. Afwan, bukannya kita mau ngerecokin. Cuma was-was aja dengan format acara itu yang dikemas seperti AFI dkk yang kental dengan alam kapitalis bin komersil. Jangan sampe deh nasyider jadi kayak seleb pada umumnya: haus popularitas, pujian, jadi sumber penghasilan, serta bergaya glamour. Bahkan nggak mau manggung kalo bayarannya rendah. Walah!</p>
<p>Yang lebih parah, kalo niat ikhlas untuk berdakwah via jalur nasyid lambat laun bermetamorfosis menjadi riyaâ€™. Masaâ€™ sih? Asli. Bayangin aja, pas di atas panggung. Benih-benih takabbur dan riyaâ€™ mulai mencari mangsa. Tepukan tangan yang gemuruh, pujian serta histeria pendengar bisa menenggelamkan akal sehat dan melambungkan perasaan kita. Rasullah saw. bersabda: â€œSiapa yang memperdengarkan amalnya kepada lain orang, maka Allah memalukannya di hari kiamat, dan barang siapa yang memperlihatkan amalnya kepada orang, Allah membalas riyaâ€™nya itu.â€? (HR Bukhari, Muslim)</p>
<p>Kalo sudah begini, apa mungkin jebolan FNI atau NTQ itu bisa seperti Hasan bin Tsabit? Mungkinkah akan muncul generasi Salman al-Farisi? Atau jangan-jangan malah berkeliaran versi islamnya Very atau Sutha AFI??  Walah, seleb islami kali yee (hehehe).</p>
<p><strong>Budaya bukan yang utama</strong><br />
Sobat, kita bersyukur banget dengan antusias semua lapisan masyarakat terhadap seni Islam. Setidaknya mulai tumbuh kecintaan terhadap Islam. Sekaligus mampu meng-kick balik seni-seni jahiliah bin sekuler yang meraja lela. Tapi tentu kita nggak merasa cukup dengan kegembiraan ini. Tanpa bermaksud mengecilkan peran nasyid atau munsyid yang berdakwah di jalur seni suara, kita kudu nyadar kalo Islam isinya bukan cuma budaya. Bener. Budaya cuma bagian kecil aja.</p>
<p>Belum pas rasanya kalo kita jadikan tren nasyid sebagai parameter kebangkitan Islam. Sebab kebangkitan itu hanya akan diraih dengan adanya perubahan pemikiran dan perilaku umat ke arah yang lebih baik. Dan Rasulullah nggak ngasih contoh kalo perubahan itu bisa diraih dengan bersenandung. Tapi dengan pembinaan akidah, syariat, dan dakwah secara intensif. Pokoknya digeber iman, ilmu dan amalnya untuk perjuangan membela Islam.</p>
<p>Karena itu, boleh aja kita dengerin nasyid dikala jenuh binti bete atau bikin grup nasyid untuk sekadar penyaluran bakat. Anggap aja sebagai penyemangat dan penghibur perjuangan. Tapi inget, di luar sana umat yang tengah dijajah sistem sekuler sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk bangkit.</p>
<p>Kalo pengen menghidupkan Islam, Islam itu ideologi, bukan budaya. Sehingga, jika ingin menghidupkan Islam, maka harus difokuskan perjuangannya kepada kampanye penerapan syariat Islam sebagai ideologi negara. Seni, musik, dan sejenisnya adalah bagian kecil saja dalam khasanah ideologi Islam. Kalo ideologi Islam udah diterapkan dalam bingkai negara, maka insya Allah nyanyian pasti akan bercitarasa Islam. Bahkan bukan cuma nyanyian, segala aspek kehidupan pasti akan berlandaskan ideologi Islam. Yakin itu.</p>
<p>Sobat muda muslim, yang dibutuhkan Islam saat ini adalah keseriusan dalam berdakwah menegakkan Khilafah. Jangan sampe nasyid menjadi senjata dari musuh-musuh Islam untuk melenakan kita. Karena kita menganggap bahwa dengan maraknya seni Islam, Islam akan bangkit. Nggak lha yauw! Kita harus berjuang, dan tanpa perlu menjadikan nasyid sebagai senjata utama! (nasyid mah pelengkap aja deh!). Akur dong? [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 218/Tahun ke-5/25 Oktober 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-bukan-cuma-nasyid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambut Ramadhan, Jemput Ampunan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sambut-ramadhan-jemput-ampunan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sambut-ramadhan-jemput-ampunan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sambut-ramadhan-jemput-ampunan/</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan, bulan suci yang penuh ampunan telah datang. Duh, pasti dong kamu-kamu suka cita menyambutnya. Apalagi bila di benak sudah terbayang lebaran di depan mata ketika puasa usai. Watauâ€¦sebulan lagi atuh itu mah. 
Mungkin yang membuat Ramadhan berkesan buat kita-kita selain suasananya, juga soal daftar makanan yang cuma ngetren di saat Ramadhan. Ehm, nanti bakal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan, bulan suci yang penuh ampunan telah datang. Duh, pasti dong kamu-kamu suka cita menyambutnya. Apalagi bila di benak sudah terbayang lebaran di depan mata ketika puasa usai. Watauâ€¦sebulan lagi atuh itu mah. <span id="more-219"></span></p>
<p>Mungkin yang membuat Ramadhan berkesan buat kita-kita selain suasananya, juga soal daftar makanan yang cuma ngetren di saat Ramadhan. Ehm, nanti bakal ada lagi kolak pisang yang manis legit, bubur kacang ijo, es kelapa muda, kurma, dan makanan-makanan lain yang jadi rajin hadir ketika Ramadhan datang. Lauk pauk pun jadi lebih istimewa daripada hari-hari biasanya. Yang biasanya cuma tahu, tempe, dan krupuk jadi ada ayam goreng, ayam opor, pepes ikan, dan lain-lain. Biasanya ibu kamu pasti beralasan untuk menghargai yang berpuasa, katanya.</p>
<p>Belum lagi jam sekolah yang jadi lebih pendek setiap harinya plus libur awal dan akhir Ramadhan yang selalu ditunggu. Guru-guru pun juga jadi lebih sabar. Yang biasanya killer jadi lebih anteng di bulan puasa ini. Mengendalikan hawa nafsu, dalihnya.</p>
<p>Program-program televisi, radio, surat kabar, majalah, sekolah, kantor dan lain-lain semua jadi sok sibuk menyambut datangnya Ramadhan. Acara demi acara digelar untuk menambah semarak bulan suci ini. Disesuaikan dengan kondisi. Ada ngabuburit atau acara yang dikemas menjelang berbuka, ada kentongan sahur, buka puasa bersama, siraman ruhani hingga kuis-kuis juga tak mau ketinggalan.</p>
<p><strong>Ramadhan adalahâ€¦<br />
</strong>Bagi remaja seusia kamu, nggak semua loh bersuka cita menyambut Ramadhan. Ada yang menganggap kalo Ramadhan adalah bulan siksaan karena harus puasa menahan lapar dan haus. Belum lagi kudu tarawih malamnya karena paksaan mama-papa. Atau bahkan satu bulan menyebalkan karena kamu tak lagi bisa indehoi pacaran bebas kayak bulan-bulan lainnya. Gubrakzâ€¦naudzhubillah, nyebut Neng!</p>
<p>Kalo kata yang Tercinta kita. Yup, siapa lagi kalo bukan Rasulullah Muhammad saw. dalam khutbahnya tentang Ramadhan:</p>
<p>â€œWahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakanNya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu adalah ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah.â€?</p>
<p>Tuh kan, sudah gamblang bin jelas banget diterangkan oleh Rasulullah tentang apa itu Ramadhan. Rugi banget kalo kita nggak bisa manfaatin bulan spesial ini. Martabak aja kita maunya yang spesial, masaâ€™ bulan penuh ampunan ini dijalani biasa aja. Betul?</p>
<p>Sobat, kamu pasti bakal nyesel bila Ramadhan tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Padahal jelas-jelas di bulan ini obral pahala begitu banyaknya. Seperti sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits qudsiy: â€œDemi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang yang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya.â€? (HR Bukhari dari Abu Hurairah)</p>
<p>Emang sih, semua juga butuh upaya supaya kamu dapetin berkahnya Ramadhan. Bayangin, cuma bernafas dan tidur aja udah dapat pahala. Gimana lagi nilainya kalo kamu juga ngelakuin sholat, puasa, bersedekah, berbakti pada guru dan ortu, menyantuni fakir miskin, belajar Islam, dan mengamalkannya. Wuih&#8230;kamu bakalan bingung cara ngitungin pahalanya hehehe. Semoga ya.</p>
<p>Eitsâ€¦jangan berbangga dulu. Pahala emang mudah banget didapat di bulan Ramadhan ini, tapi hal-hal yang mengakibatkan pahala itu ngabur kayak ditiup angin juga banyak. Kalo kamu nggak bisa ngejagain mulut kamu dari bergunjing, memfitnah, mengolok dan menyakiti hati orang lain, maka semua pahala puasa kamu jadi sia-sia di bulan ini. Rasulullah bersabda: â€œBetapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.â€? (HR Ahmad)<br />
? ? <br />
<strong>Jangan nodai Ramadhan</strong><br />
Banyak banget yang bilang kalo bulan Ramadhan itu adalah bulan suci jadi kita kudu menghormati. Mereka yang biasanya suka pake baju kurang kain, jadi alim berbaju panjang pas Ramadhan. Kamu yang biasanya hot kalo pacaran jadi agak kaleman. Pun mereka yang biasanya suka korupsi jadi brenti sementara. Wah, itu namanya pembodohan. Sebab, yang namanya umbar aurat, pacarannya hot atau nggak, korupsi biar dikit or banyak, sekali haram tetap haram. Nggak peduli di bulan Ramadhan or di bulan lain.</p>
<p>Jadilah bulan Ramadhan ini menjadi ajang ganti kulit bagi mereka yang nggak punya pendirian. Kerudung jadi rajin nempel di kepala yang biasanya suka berpakaian sexi. Apalagi didukung oleh artis pujaan yang mencontohkan demikian. Bukannya suâ€™udzon, tapi fakta hehe.</p>
<p>Bahkan beberapa stasiun radio menyiapkan sebuah acara bertajuk â€?Ramadhan khusyuk asmara syahduâ€™. Walah! Dari judulnya aja kamu pasti sudah bisa ngebayangin jalannya acara. Kamu-kamu yang notabene masih remaja berebut telepon ke stasiun radio itu untuk berbagi cerita tentang bagaimana kamu menjalani ibadah di bulan Ramadhan tapi aktivitas pacaran kamu juga semakin hot. Misal, ketika tarawih janjian berangkat bareng dengan pacar, atau ketika ikutan kuliah shubuh bareng mama eh, ternyata malah dapat gebetan baru.</p>
<p>Belum lagi para ibu-ibu kita yang juga biasanya jadi suka sok sibuk menyambut Ramadhan. Persediaan makanan yang jadi berlimpah, ditumpuk di rumah hingga masak makanan yang seakan menjadi â€?wajibâ€™ menjelang Ramadhan untuk dibagikan ke para tetangga. Tak ada yang salah sih, tapi jangan lupa Ramadhan bukan hanya sekadar itu.</p>
<p><strong>Jadikan Ramadhan-mu berarti</strong><br />
Sungguh sobat, kamu bakal nyesel seumur-umur kalo Ramadhan tahun ini nggak dimanfaatin sebaik-baiknya. Belum tentu kamu masih bisa bersua lagi dengan Ramadhan tahun berikutnya. Biar kamu nggak salah langkah, ini ada tips-tips sederhana buat kamu:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, niatkan ibadahmu karena Allah semata. Yang semula punya niat puasa supaya nyenengin ortu, buang pikiran itu sejauh-sejauhnya. Karena kamu nggak bakal dapat nilai apa pun di sisi Allah kecuali lapar dan haus aja. Rugi banget dong. Lagipula kalo niat puasamu karena apa-apa selain untuk Allah, kamu bakal mudah tergoda. Pulang sekolah di siang bolong ketemu abang jual es, udah kepikiran aja untuk mengabatalin. (hayoâ€¦ngaku. Sori bukan nuduh). Belum lagi waktu tarawih. Kalo niat kamu gak murni untuk meraih ridho Allah, kamu bakal males berangkat ke masjid kalo si doi nggak ada. Udah capek jalan jauh-jauh ke masjid eh, tanpa pahala pula.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, perbanyak tilawah Quran. Selain pahala yang berlipat-lipat ganda di bulan suci ini, banyak baca al-Quran bikin hati dan pikiran kamu tentram. Nggak melulu nungguin waktu berbuka yang terasa lama. Apalagi melulu ke doi karena jadwal apel terhadang sholat tarawih. Udah dehâ€¦niatkan sejak Ramadhan ini adalah ajang kamu mengendalikan hawa nafsu dan syahwatmu. Pacaran mah cuma ajang mancing-mancing kamu mendekati zina. Naudzubillah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, perbanyak sodaqoh dan amal sholih lain. Uang jajanmu yang praktis utuh karena puasa, bisa kamu gunakan untuk memberi sedekah kepada orang yang lebih membutuhkan. Bukannya berkurang, harta yang kamu belanjakan di jalan Allah ini bakal kamu petik hasilnya yang berlipat-lipat kali di akhirat kelak. Uang seribu yang cuma buat segelas es, bisa jadi satu kolam es di surga kelak untuk kamu minum sepuasnya. Insya Allah.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, tinggalkan dusta dan berbuat buruk. Diriwayatkan dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah bersabda: â€œBarangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum.â€? (HR Bukhari). Apa sih yang buruk itu? Semua hal yang nggak dibolehin sama syaraâ€™ (hukum Allah) maka itu adalah buruk. Mulai dari berbohong, korupsi, pamer aurat, hingga aktivitas mendekati zina alias pacaran adalah nggak boleh. Hehe, ke sini lagi dah. Semua hal buruk itu nggak boleh dilakukan di bulan Ramadhan. Eitsâ€¦bukan berarti yang nggak boleh di bulan Ramadhan, berarti di bulan lainnya jadi boleh loh. Ati-ati dengan jebakan ini.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, ini yang pasti, tingkatkan pemahamanmu tentang Islam. Amal tanpa ilmu buta dan ilmu tanpa amal sia-sia. Jangan mau jadi remaja muslim yang bodoh. Ilmu Islam sedemikian luasnya, kamu tinggal pilih. Otomatis kamu bakal pilih belajar Islam yang bisa buat kamu jadi remaja oke dong. Ibadah bagus, wawasan luas, amal segudang. Jangan mau jadi tipe Si Boy. Sholat oke maksiat jalan terus. Intinya, kita harus punya iman, ilmu, dan amal. Tingkatin yuk!</p>
<p><strong>Finallyâ€¦<br />
</strong>Udah seabreg tips yang bisa kamu amalkan untuk Ramadhan kali ini. Sejuta contoh hal buruk yang nggak patut kamu tiru. Bilapun masih ada hal-hal yang bikin kamu nggak nyaman menjalankan ibadah Ramadhan, itu bukan salah kamu. Ketika kamu berangkat dan pulang sekolah masih nemuin warung dan kedai makanan buka serta orang-orang yang dengan cueknya makan minum di sana, anggap itu ujian. Ketika kamu istirahat pingin baca buku di perpus sekolah masih aja ada yang mojok berdua, atau di pojok taman ada temen kamu yang merokok, teman kamu menggunjing, mengolok, dan semua hal yang bikin nggak khusyuk Ramadhan-mu, itu semua bukan salah kamu.</p>
<p>SEKULER. Yahâ€¦semua fenomena yang terjadi adalah produk sekularisme ketika agama dipisahkan dari kehidupan dan dianggap cuma ngurusin sholat, puasa dan zakat doang. Kamu nggak perlu merasa tertekan karena takut mengotori ibadah di bulan Ramadhan. Sebaliknya, kamu kudu peduli dan sayang sama mereka. Kamu kudu ngingetin. Apalagi kalo kamu kebetulan punya kedudukan jadi ketua Rohis or OSIS misalnya. Dengan jabatanmu ini kamu punya hak dan wajib mengingatkan teman-temanmu yang salah jalan dan belum tercerahkan. Atau dengan serendah-rendahnya iman, kamu wajib mengingkari dalam hatimu dengan perbuatan mereka yang jelas-jelas dilarang oleh Islam.</p>
<p>Finallyâ€¦Ramadhan telah datang. Jangan mau hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Raihlah ampunan Allah yang seluas langit dan bumi itu. Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, sobat. Selamat berjuang di bulan Ramadhan ini untuk mendapat predikat muttaqin, orang yang bertakwa. Sambut Ramadhan, jemput ampunan. [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 217/Tahun ke-5/18 Oktober 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sambut-ramadhan-jemput-ampunan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Jomblo di Tengah Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-jomblo-di-tengah-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-jomblo-di-tengah-kita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ada-jomblo-di-tengah-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Semua itu mimpi o&#8230;o u o u o
Hanyalah bualan o&#8230;o u o u o
Semua itu bohong o&#8230;o u o u o
Aku tetap saja o&#8230; tetap sendiri
Kamu pasti udah hapal ama lirik lagu yang dilantunkan Armand Maulana sang vokalis GIGI di atas. Apalagi kalo ditanya judul lagunya? Hmmâ€¦pasti deh pada ngacung. Tapi pleaseâ€¦, yang belon pake [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua itu mimpi o&#8230;o u o u o<br />
Hanyalah bualan o&#8230;o u o u o<br />
Semua itu bohong o&#8230;o u o u o<br />
Aku tetap saja o&#8230; tetap sendiri</p>
<p>Kamu pasti udah hapal ama lirik lagu yang dilantunkan Armand Maulana sang vokalis GIGI di atas. Apalagi kalo ditanya judul lagunya? Hmmâ€¦pasti deh pada ngacung. Tapi pleaseâ€¦, yang belon pake Rexona jangan ikutan ngacung ya (eh, ini iklan ya?). Bukan apa-apa. Takut disangka sumber polusi udara. Heheheâ€¦.keep smile ya.<span id="more-218"></span></p>
<p>Selain easy listening, tuh lagu turut mempopulerkan istilah jomblo di kalangan anak muda. Liriknya seolah mengungkap kegelisahan hati seseorang yang belon punya gandengan. Soalnya, truk aja bisa punya gandengan masaâ€™ doi nggak. Betul? Betuulâ€¦! Tapi ngomong-ngomong, jomblo itu apa sih? Ihâ€¦ tulalit deh!</p>
<p>Gini, secara etimologi seperti tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jomblo itu artinya perempuan tua yang nggak laku-laku alias perawan tua. Tapi seiring berjalannya waktu, terjadi perluasan makna pada kata jomblo. Kini, jomblo dimaknai sebagai julukan â€?trendiâ€™ buat mereka (baik cowok maupun cewek) yang masih sendiri, belum punya pacar, dan belum punya gandengan (emangnya truk?). Pokoknya masih suka sendiri aja (atau memang belum ada yang ngajak barengan). Gitchu. Ehm, apakah kamu termasuk di dalamnya? Hehehe</p>
<p><strong>Pro-kontra seputar jomblo</strong><br />
Dalam pergaulan remaja, perdebatan tentang status jomblo nggak kalah serunya dengan debat capres kemaren-kemaren. Banyak yang pro, tapi nggak sedikit juga yang kontra.</p>
<p>Bagi yang pro, mereka enjoy bilang â€œits oke to be jombloâ€?. Predikat itu bukan masalah bagi mereka. Justru mereka menikmati hidup tanpa pasangan. Sebagai wujud rasa syukur mereka, ada di antaranya yang bikin perkumpulan dengan nama Jojoba alias Jomblo-jomblo Bahagia. Malah ada juga yang tergabung dalam komunitas Kelompok Jomblo Ceria yang disingkat Kejora. Ehm, Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut) boleh juga tuh. Ada yang mau gabung? Pilih yang oke visi, misi, dan programnya (duileee). Wis, sundut terus!</p>
<p>Mereka ngerasa keberadaan pasangan malah bikin ribet. Kayak memasung kebebasan bin kreativitasnya gitu lho. Deket dikit aja ama temen lawan jenis, dicemburuin. Nggak mau ngikutin kemauan â€?yayangâ€™, dibilang nggak cinta. Nggak balas SMS atau missed call aja disangka selingkuh. Punya pendapat berbeda malah dicemberutin. Kalo udah gini, tentu being jomblo lebih asyik. Nggak terikat atau mengikat orang lain. Punya otoritas penuh nentuin langkah kakinya sendiri mau belok kiri, kanan, atau lurus tanpa intervensi dan pengawasan dari pihak lain. Mereka juga ngerasa nggak membebani orang lain untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Nggak heran kalo para jomblo itu begitu bahagia dan ceria menikmati kesendiriannya. Huhuy!</p>
<p>Sementara yang kontra, mereka juga punya alasan yang nggak kalah dahsyatnya. Bagi mereka, menyandang status jomblo seperti kutukan (wuiih syerem bener..). Soalnya hidup tanpa curahan kasih sayang dari lawan jenis ibarat sayur tanpa garam. Garing bin kering kerontang. Apalagi di kalangan remaja yang menobatkan pacaran sebagai simbol pergaulannya. Alamat bakal tersisih dari pergaulan dan memanen kata-kata sindiran yang pelan tapi dalem dan bikin kuping panas. Seperti yang dialami tiga cewek jomblo Gwen, Keke, dan Olin dalam film 30 Hari Mencari Cinta yang dituding lesbian cuma karena nggak punya gacoan. Gimana nggak gondok? Nggak ku..ku.. deh!</p>
<p>Makanya bagi kaum antijomblo, nggak punya pasangan bisa bikin depresi. Gejala yang ringan sih mungkin cuma uring-uringan, mimik mupeng ngeliat temennya yang pacaran, atau krisis percaya diri karena tak kunjung laku (emangnya jualan?). Tapi bagi yang sudah akut, gejalanya bisa parah. Karena nggak kuat lagi menahan rasa malu, gunjingan atawa sindiran, orang bisa menarik diri dari pergaulan sosial atawa malah terdampar di Rumah Sakit Jiwa. Bukannya kita nakut-nakutin ya, cuma bikin kamu parno (paranoid) aja. Yee&#8230;sama aja atuh!</p>
<p>Kaum yang kontra ini, ada yang sampe mendeklarasikan berdirinya PJI alias Partai Jomblo Indonesia. Mereka memperjuangkan persamaan hak dalam mendapatkan jodoh. Mengingat ada di antara mereka yang terkena dampak buruk dari rolek alias risiko orang jelek. Loyalitas mereka dalam perjuangannya terukir dalam semboyannya yang menggugah semangat. â€œJomblo itu pedih, Jendral&#8230;!â€? Walah!</p>
<p><strong>Mending jomblo daripada maksiat</strong><br />
Sobat muda muslim, kian hari opini media yang memojokkan para jomblo kian tak terkendali. Remaja makin diarahkan untuk berani mengekspresikan rasa suka kepada lawan jenis dengan berpacaran. Tayangan-tayangan ghibahtaintment yang berseliweran tiap hari di layar kaca, bikin permasalahan cinta menjadi masalah utama dalam hidup manusia. Kedekatan seorang selebritis dengan lawan jenis dikupas habis dengan bumbu sana-sini biar layak jual. Aksi â€œpenembakanâ€? yang dilakukan remaja diabadikan dalam â€œKatakan Cintaâ€?. Perselingkuhan di antara mereka pun sampe melibatkan detektif H2C atau dengan pembuktian Playboy Kabel.</p>
<p>Parahnya, remaja mengkonsumsi semua tayangan di atas setiap minggu. Cinta&#8230; cinta&#8230;.dan cinta&#8230;.. Tiada hari tanpa obrolan cinta. Otomatis secara psikologi ada beban tersendiri dalam perkembangan jiwa mereka. Malu bin nggak pede dalam kesendiriannya. Merasa terasingkan ketika kebanyakan temen-temennya udah punya gebetan meski usia baru belasan. Pengaruh media membuat murid-murid SMP pun udah Saatnya Mencari Pacar.?  Berabe euy!</p>
<p>Maaf, bukannya kita mau melestarikan status jomblo. Bukannya mau ngelarang temen-temen jomblo untuk nyari pasangan. Bukan juga mengajak para jomblo untuk tabbatul (membujang). Tapi kalo upaya pelepasan predikat jomblo selalu berujung pada aktivitas pacaran, mendingan tetep istiqomah menyandang status jomblo. Seperti pepatah bilang, biar jomblo asal selamat dari aktivitas maksiat. Setuju?</p>
<p><strong>High Quality Jomblo= JI<br />
</strong>Sobat muda muslim, istiqomah dengan predikat jomblo bukanlah sebuah aib yang kudu disesali. Karena derajat manusia di hadapan Allah tidak dinilai berdasarkan predikat ini. Itu berarti kaum jomblo punya peluang yang sama besar dengan para alumninya yang udah merit untuk dapetin pahala Allah yang berlimpah. Jadilah High Quality Jomblo (HQJ) di hadapan Allah. Caranya?</p>
<p>Pertama, HQJ nggak semata dinilai dari penampilan fisik seperti yang disyaratkan dalam â€œKatakan Cintaâ€?. Tapi dinilai dari keterikatannya dengan aturan Allah. Ini berlaku untuk setiap perbuatan dia. Dari bangun tidur sampe tidur lagi. Sehingga melahirkan sikap akhlakul kariimah. Dengan tetangga sebelah rumah akur. Nggak sungkan ngasih pertolongan sesuai kemampuannya. Anti sikap individualis bin egois. Santun dalam bertutur kata dan menyampaikan pendapat. Bersikap tegas tanpa harus bertindak keras. Atau terbuka untuk menerima perbedaan pendapat.</p>
<p>Kedua, seorang HQJ nggak dosa punya tampang menawan hati. Itu kan anugerah dari Allah, ya kudu disyukuri. Tapi bakal dosa kalo anugerah itu dipake tebar pesona sana-sini. Apalagi sampai diobral. Emangnya produk sisa ekspor? Nggak lha yauw!</p>
<p>Ketiga, seorang HQJ juga pandai memanfaatkan masa kesendiriannya. Waktu, pikiran, tenaga, dan isi dompetnya nggak dihabisin buat ngurusin cinta yang nggak sehat. Tapi dioptimalisasi untuk mengekspresikan cinta kepada Allah dan RasulNya. Kegigihannya dalam menuntut ilmu semata-mata demi kemaslahatan umat. Ngasih porsi yang lebih besar dari waktu yang dimilikinya untuk terjun ke dunia dakwah.</p>
<p>Itu sebabnya, doi aktif ngaji, getol dakwah, sopan, dan taat syariat. Malah ada juga lho di antara mereka yang prestasi akademisnya berbanding lurus dengan kecintaannya terhadap perjuangan menegakkan Islam. Karena doi yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuknya (ajal. jodoh, rejeki, kebaikan dsb). Rasul saw. bersabda: â€œTidak layak seseorang, ketika menyaksikan suatu tempat di dalamnya ada kebenaran, kecuali dia akan mengatakannya. Sesungguhnya sekali-kali hal itu tidak akan pernah memajukan ajalnya dan tidak akan mencegah apa yang telah menjadi rezeki baginyaâ€? (HR al-Baihaqi)</p>
<p>Nah sobat, tiap orang pantas dan pasti menjadi HQJ seperti di atas (kecuali yang udah merit kali ya). Jangan minder meski tampang kita pas-pasan. Kuncinya cuma satu, ridho ngikutin aturan Allah yang original dalam keseharian kita. Bukan aturan bajakan yang doyan kompromi ama sekulerisme dan anak cucunya. Sebab cuma buat yang original Allah bakal ngasih garansi. Nggak cuma seumur hidup, tapi dunia akhirat. Di akhirat kita selamat, di dunia kita bisa jadi anggota JI.</p>
<p>Hah?! JI?! Sstâ€¦jangan bilang-bilang polisi ya. Entar didatengin pasukan antiteror 88 lagi. JI di sini artinya Jomblo Idaman yang bisa menjelma jadi CIA (Cowok Incaran Akhwat) atau FBI (Female Bidikan Ikhwan). Masaâ€™ nggak kepengen sih?</p>
<p><strong>Mengakhiri masa jomblo</strong><br />
Sobat muda muslim, meski telah menjadi anggota JI, semoga kamu nggak puas dengan predikat itu. Apalagi sampe mengikrarkan diri untuk menjadi jomblo abadi binti sejati. Jangan deh. Gimanapun juga, Rasul mensunnahkan kita yang sudah mampu untuk mengakhiri masa jomblo. Dengan menikah, kita turut menambah barisan perjuangan Islam dan kaum Muslimin. Bagi ikhwan, jangan lewatkan peluang menjadi suami dan seorang ayah. Betapa nikmatnya memikul tanggung jawab. Terlahir suatu kekuatan yang mampu menggali potensi untuk menafkahi keluarga. Dan bagi akhwat, rasakan asyiknya menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga, menjadi madrasah buat jundullah tercinta, atau mendampingi suami meraih ridho ilahi. Bener lho!</p>
<p>Makanya kudu tetep semangat. Meski usia sudah masuk kepala tiga atau masih berstatus mahasiswa. Percaya deh, Allah pasti akan menunjukkan jalan bagi hambaNya yang hendak menikah demi menjaga kehormatannya. Kuncinya sabar dan tawakkal.</p>
<p>Sabar tatkala kendala menghadang di tengah perjalanan kita. Misalnya calon mertua belon bisa menerima kita. Itu cuma butuh introspeksi dan usaha gigih untuk melumerkan diding esnya. Sama halnya dengan kesiapan materi yang selalu menjadi momok di kalangan ikhwan sebelum naik ke pelaminan. Yang perlu dilakukan hanya menentukan batas waktu yang jelas untuk memotivasi usaha persiapan materi. Bisa usia, tanggal, bulan, atau tahun. Jangan menggantungkan kesiapan diri kita pada materi. Karena materi nggak akan pernah membuat kita siap. Betul?</p>
<p>Sobat muda muslim, perlu dicatet ya, kalo perlu pake stabilo merah menyala, kita di sini tidak bermaksud manas-manasin para jomblo untuk segera melepaskan statusnya. Kita cuma ngomporin doang kok. Heheheâ€¦nggak ding, kita cuma mau ngasih informasi yang lengkap seputar pro kontra status jomblo dalam kacamata Islam. Ehm, moga paham.</p>
<p>Kita udah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Kalo masih betah dengan status jomblo, jadilah High Quality Jomblo. Kalo nggak tahan ama sundutan untuk merit, ikhlaskan niat untuk meraih pernikahan berkah. Intinya, mari kita sama-sama berusaha agar keseharian kita tak lepas dari keterikatan dengan aturan Allah. Jomblo atau mantan jomblo, ya nggak masalah. Betul? Betuuuul! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 216/Tahun ke-5/11 Oktober 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-jomblo-di-tengah-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai Sang Pemilik Cinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mencintai-sang-pemilik-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mencintai-sang-pemilik-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mencintai-sang-pemilik-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Kayaknya udah jadi â€?kesepakatanâ€™ umum kalo cinta itu bisa membuat hidup lebih hidup. Karena cinta konon kabarnya mengandung segala perasaan indah tentang kebahagiaan (happiness), menyenangkan (comfort), kepercayaan (trust), persahabatan (friendship), dan kasih-sayang (affection).
Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kayaknya udah jadi â€?kesepakatanâ€™ umum kalo cinta itu bisa membuat hidup lebih hidup. Karena cinta konon kabarnya mengandung segala perasaan indah tentang kebahagiaan (happiness), menyenangkan (comfort), kepercayaan (trust), persahabatan (friendship), dan kasih-sayang (affection).<span id="more-217"></span></p>
<p>Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: â€œKarena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar&#8230;â€?. Itu sebabnya, nggak usah heran kalo naluri mencintai akan mendorong manusia untuk memenuhi keinginan cintanya itu. Orang yang jatuh cinta akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian orang yang ia cintai (itu karena terlihat indah kali ye?).</p>
<p>Kalo udah cinta, kata Gombloh, maaf nih, tahi kucing rasa coklat! (idih, itu sih indera perasanya udah error kali ya?). Ehm, tapi nggak salah juga. Ini sekadar idiom kok. Karena cinta seringkali buta. Why? Kalo VMJ alias Virus Merah Jambu udah menginfeksi hati kita, perasaannya kok inget terus sama si dia, pengennya ketemu terus, rindu terus ingin ngobrol, seharian nggak kirim SMS aja rasanya sakauw berat, pokoknya meski jauh jaraknya bukan halangan untuk komunikasi. Ehm, untuk menggambarkan itu seorang teman nulis puisi di internet : â€œwalau jarak kita bagai Matahari dan Pluto saat aphelium/amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatikuâ€? Huhuy!</p>
<p>Seorang teman lain pernah bercerita bahwa ia tak sanggup untuk melupakan calonnya. Rasanya udah deket aja sambil merenda bahagia membina rumah tangga idaman. Kebetulan sang calon jauh di negeri orang dan komunikasi cuma bisa via jaringan internet. Eh, itu sih namanya meski jauh di mata, tapi dekat di Yahoo! Messenger (apalagi kalo pake webcam hehehe..)</p>
<p>Cinta bisa juga tak pandang bulu (karena yang benar mungkin pandang tak jemu kali ye? Ehm&#8230;). Tak pandang bulu bisa berarti kita mencintai siapa saja, dan dari kalangan mana saja. Nggak pilih-pilih. Karena semua berhak mendapatkan cinta. Namun jangan salah, meski cinta tak pandang bulu, tapi bukan berarti juga kita dibutakan oleh cinta. Iya dong, kalo bayang si dia terlanjur lekat di hati, biasanya segala kesalahan dan kekurangannya cenderung kita abaikan. Waduh, berbahaya banget tuh. Padahal kata Ibnu Masâ€™ud ra, â€œApabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekankejelekannya!â€?</p>
<p>Duh.. kejam amat ya? Ah, nggak juga, karena manusia seringkali berubah-ubah dalam bersikap. Itu harus kita sadari juga. Bukan tak mungkin kan suatu saat orang yang kita cintai karena kita kagum akan kepandaiannya, karena kesholehannya, dan juga perangainya yang baik, suatu saat akan berbalik 180 derajat. Jadi, nggak usah rela dibutakan cinta. Artinya, sikapi aja dengan wajar sisi-sisi kemanusiannya yang lain selain sisi yang membuatmu kagum setengah hidup. Itulah pesan yang dikirimkan Ibnu Masâ€™ud kepada mereka yang sedang jatuh cinta. Betul?</p>
<p>Sobat muda muslim, paparan di atas sebagai fakta aja, bahwa energi cinta bisa membuat â€?penderitanyaâ€™ berbunga-bunga, bahkan sering tanpa bisa membedakan mana cinta dan mana nafsu. Gawat kan? Nah, sekarang coba kita bandingan kecintaan kita kepada Allah Swt, Sang Pemilik Cinta. Jika memang sama-sama cinta, harusnya kan sama ya? Artinya, kecintaan kita kepada Allah pun akan mirip gejalanya dengan cinta kita kepada sesama makhlukNya. Meski tentu saja, mencintai Allah jauh lebih besar manfaat dan pahalanya. Karena Allah adalah Pemilik Cinta, dan sekaligus Pemberi Cinta kepada kita-kita sebagai makhlukNya.</p>
<p>Bahkan Allah sudah memberikan sinyal kuat kepada kita dalam sebuah hadis Qudsy: â€œKalau hambaKu mendekat sejengkal, Kusambut ia sehasta. Kalau ia mendekat sehasta, Kusambut ia sedepa. Kalau hambaKu datang padaKu berjalan, Kusambut ia dengan berlariâ€¦â€?</p>
<p>Duh, betapa begitu besar cinta Allah kepada kita, hambaNya. Tidakkah ini membuat cinta kita lebih besar lagi kepada Allah Swt.? Hmmâ€¦rasanya kita perlu berlari untuk mendekat kepadaNya. Subhanallah.</p>
<p><strong>â€?Mencuriâ€™ perhatian Allah</strong><br />
Kalo dengan sang inceran kita biasa nyari-nyari perhatian, bisa curi pandang kalo kebetulan si dia ada di kelas, kenapa dengan Allah tidak bisa? Kalo dengan si dia yang udah mencairkan dinding es yang selama ini kita bangun, kita bisa begitu getol menjaga penampilan agar ia tetap merasa betah melihat kita, kenapa dengan Allah tidak bisa? Ah, rasanya nggak adil deh kalo njomplang begitu.</p>
<p>Memang sih, Allah Mahatahu apa yang kita lakuin, nggak perlu mencuri perhatianNya pun Allah tahu apa maksud kita. Ini sekadar ungkapan aja kalo kita pun bisa membuat Allah bahagia dengan apa yang kita perbuat. Aktivitas mulia penuh pahala dan taat syariatNya, udah cukup menarik perhatian Allah kepada kita untuk lebih sayang dan cinta kepada kita.</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo mau jujur, kita jarang banget mencuri perhatian Allah. Kalo benar kita cinta kepadaNya, seharusnya memang kita sering mencuri perhatianNya agar Dia suka kepada kita. Sebagaimana halnya kalo kita sering CPCP alias curi pandang cari perhatian dengan orang yang kita incer abis-abisan. Harapannya, tentu ketika beradu pandang atau ketika dia melihat penampilan dari pesona yang kita miliki bisa jatuh hati. Ya, ibarat memasang ranjau deh. Ehm, ati-ati aja kena batunya.</p>
<p>Oya, pernah nggak kamu pdkt alias pendekatan sama seseorang yang mampu melelehkan hatimu? Hmmâ€¦ deg-degan juga kan? Khawatir pendekatan kita nggak sempurna dan gagal mencuri perhatiannya. Segala daya dan upaya kita jajal, sambil berharap ia berpaling kepada kita. Asyik juga ya?</p>
<p>Nah, bagaimana jika kita pdkt juga kepada Allah? Rasa-rasanya pasti lebih seru. Bener lho, orang yang melakukan pdkt jelas karena ada yang diharapkan dari yang sedang didekati. Kita bisa mencoba deketan sama inceran, karena kita udah kadung jatuh hati karena pesonanya. Jadi, cinta juga memang memerlukan sebab, â€œkenapa jatuh cinta?â€?.</p>
<p>Sebaliknya, kalo sebab yang membuat kita cinta itu lenyap, maka kita nggak bakalan lagi jatuh cinta. Ibnul Qayyim menuliskan sebuah kaidah sederhana dalam kitab cinta yang sangat populer, Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin, â€œCinta akan lenyap dengan lenyapnya sebabâ€¦â€?</p>
<p>Sobat muda muslim, pertanyaannya sekarang, â€œApakah ada sebab untuk mencintai Allah, sehingga kita perlu mencari perhatianNya?â€? Ehm, alasannya tentu ada dong sayang. Wong kepada makhlukNya aja kita bisa jatuh hati dan cinta setengah mati hanya karena melihat pesona yang dimiliknya. Entah gaya bicaranya, entah itu wajahnya, bisa juga karena kepintarannya, termasuk perangainya, pun karena bentuk fisik yang membuatmu jatuh cinta. Bener nggak seh?</p>
<p>Nah, harus diakui bahwa Allah punya banyak pesona yang itu layak kita kagumi dan membuat kita lebih mencintaiNya, dan punya alasan bagi kita untuk bisa mencuri perhatainNya. Alasan sederhananya, karena Allah adalah pencipta semesta alam dan seluruh isinya, termasuk kita. Hmmâ€¦ sangat elok tentunya kalo kita mencintaiNya.</p>
<p>Bukan apa-apa, kalo kita sering kagum dan jatuh cinta dengan seseorang yang cerdas, maka Allah lebih harus kita kagumi dan cintai karena Dia yang menganugerahkan kecerdasan kepada orang yang kita anggap cerdas. Begitu pun kalo kita mengagumi seseorang yang punya wajah yang menggetarkan nurani kita, maka seharusnya kita berpikir lebih jauh, bahwa Allah layak lebih kita cintai karena Dia telah menciptakan orang yang kita anggap punya wajah yang enak dipandang mata itu.</p>
<p><strong>Menjadi kekasih Allah<br />
</strong>Seorang tetangga pernah bilang kalo anaknya itu penurut, rajin, cinta dan berbakti kepada ortunya sepenuh hati. Sang tetangga tersebut karuan aja seneng bukan kepalang. Karena memang nikmat banget dicintai, dihargai, dan dihormati itu. Iya nggak?</p>
<p>Nah, apalagi Allah. Kalo ortu kita bisa cemburu gara-gara kita lebih percaya dan mengikuti pendapat orang lain, Allah tentunya lebih â€?cemburuâ€™ lagi kalo kita nggak mau mengamalkan syariatNya. Rasulullah saw. bersabda: â€œWahai umat Muhammad. Demi Allah saat hamba laki-laki berzina, dan saat hamba perempuan berzina, tidak ada yang lebih cemburu daripada Allahâ€¦â€? (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam kisah yang sering kita dengar dan baca, Nabi Ibrahim begitu mencintai putranya. Luapan cinta yang tak tertahankan kepada putranya yang setelah puluhan tahun didambakannya. Ismail menjadi muara kehidupan bagi Nabi Ibrahim. Namun, Allah menguji cintanya dengan menurunkan perintah untuk mengurbankan anaknya. Aduh, hati orang tua mana yang nggak remuk kalo perintahnya seperti ini. Tapi, Nabi Ibrahim berhasil lulus ujian tersebut. Terbukti ia lebih mencintai Allah dengan menjalankan perintahNya ketimbang mencintai anak dan keluarganya. Nabi Ibrahim ikhlas melakukannya. Subhanallah.</p>
<p>Cinta kepada Allah itu mutlak, tiada sekutu bagiNya. FirmanNya:</p>
<p>?´???‡???¯?? ?§?„?„?‘???‡?? ?£???†?‘???‡?? ?„?§?? ?¥???„???‡?? ?¥???„?§?‘?? ?‡???ˆ??<br />
? â€œAllah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Diaâ€? (QS ali Imaran [3]: 18)<br />
Bahkan Allah memberi cap kafir kepada orang-orang yang menolak untuk menyembahNya. Allah berfirman:</p>
<p>?‚???„?’ ?£???·?????¹???ˆ?§ ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???§?„?±?‘???³???ˆ?„?? ?????¥???†?’ ?????ˆ???„?‘???ˆ?’?§ ?????¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„?§?? ?????­???¨?‘?? ?§?„?’?ƒ???§?????±?????†??<br />
â€œKatakanlah: â€?Ta`atilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafirâ€™.â€? (QS ali Imran [3]: 32)</p>
<p>Menjadi kekasih itu butuh pengorbanan. Tentu, agar cinta yang kita berikan kepada kekasih kita bermakna. Itu sebabnya, mencintai Allah pun memerlukan pengorbanan. Seorang tokoh sufi bernama Bayazid Bustami mengatakan: â€œCinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang diperoleh kekasih, meskipun itu sedikit.â€?.</p>
<p>Itu sebabnya, jangan heran kalo Rasulullah saw. berani menolak permintaan para gembong kafir Quraisy untuk menghentikan dakwahnya. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Muhammad saw. mengatakan kepada pamannya: â€œWahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasaâ€?. Duh, hebat banget semangatnya.</p>
<p>Selain berkorban, mereka yang mencintai Allah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa-apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.</p>
<p>Dan jujur saja, kalo kita sedang jatuh cinta, menyebut namanya saja ada gejolak hebat di hati kita. Maka, jika Allah kita cintai, rasanya pantas jika kita pun bergetar menyebut namaNya. Firman Allah Swt.: â€œSesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,â€? (QS al-Anfaal [8]: 2)</p>
<p>Sobat muda muslim, yuk kita cintai Allah dengan sepenuh hati. Tunjukkan cinta kita kepadaNya dengan mentaati seluruh syariatNya. Amalnya perintahNya, jauhi laranganNya. Insya Allah kita bisa kok. Yakin sajalah. Wallahuâ€™alam bishshowwab. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 215/Tahun ke-5/4 Oktober 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mencintai-sang-pemilik-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asyiknya Jadi Pengemban Dakwah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/asyiknya-jadi-pengemban-dakwah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/asyiknya-jadi-pengemban-dakwah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/asyiknya-jadi-pengemban-dakwah/</guid>
		<description><![CDATA[Jadi pengemban dakwah? Hmmâ€¦ di mata remaja, sepertinya â€?jabatanâ€™ ini kalah menarik dibanding kontes menjadi bintang yang kian menjamur. Meski kagak pake audisi atau ekstradisi yang bikin sensasi, tetep aja remaja yang terjun ke dunia dakwah bisa dihitung pake jari. Padahal untuk jadi pengemban dakwah, nggak kudu bisa nyanyi, nari, atau akting. Cukup bermodalkan keimanan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi pengemban dakwah? Hmmâ€¦ di mata remaja, sepertinya â€?jabatanâ€™ ini kalah menarik dibanding kontes menjadi bintang yang kian menjamur. Meski kagak pake audisi atau ekstradisi yang bikin sensasi, tetep aja remaja yang terjun ke dunia dakwah bisa dihitung pake jari. Padahal untuk jadi pengemban dakwah, nggak kudu bisa nyanyi, nari, atau akting. Cukup bermodalkan keimanan, ilmu, dan kemauan. Sayangnya, justru tiga faktor itu yang lumayan langka ditemuin pada mayoritas remaja yang kian terhipnotis gaya hidup hedonis. Gaswat!<span id="more-216"></span></p>
<p>Kalo kita sempet nanya kenapa seseorang nggak atau belum mau ikut berdakwah, pasti mereka segera ngeluarin kunci gembok buat bongkar gudang alasannya. Soalnya mereka juga ngerti kalo dakwah itu wajib. Cuma masalahnya, banyak orang yang ngerasa belon siap ngadepin risiko dakwah. Emang apa sih risiko dakwah?</p>
<p>Itu lho, gosipnya ada anak yang berselisih ama bokapnya karena ngritik sistem demokrasi. Dijauhin temen lantaran cerewet ngingetin untuk nutup aurat, nggak pacaran, atau antitawuran. Tereliminasi dari kantor saat bawa-bawa aturan Islam ke alam kapitalis di dunia kerja. Diancam skorsing dari sekolah ketika ngotot pengen pake seragam yang nyarâ€™i.?  Dicemberutin tetangga coz nggak ikut berpartisipasi dalam pilpres alias â€œmemilih untuk tidak memilihâ€? (bahasa kerennya golput). Atau malah berhadapan dengan aparat keamanan karena dituding terlibat aksi pemboman. Waduh!</p>
<p>Kebayang kan, kalo berita duka seputar lika-liku aktivis dakwah kayak di atas lebih populer dibanding ridho Allah yang menyertai kegiatan dakwah. Udah pasti bayangan rasa takut bin cemas selalu menghantui pas lagi mujur ada kesempatan untuk berdakwah. Jangankan jadi pengemban dakwah, sekadar menyuarakan Islam aja mungkin malu. Repot juga kalo kayak gini.</p>
<p><strong>Disayang Allah, lhoâ€¦<br />
</strong>Bener sobat. Kita sekadar ngingetin aja, kalo jadi pengemban dakwah udah pasti disayang Allah. Allah swt. berfirman:</p>
<p>?ˆ???…???†?’ ?£???­?’?³???†?? ?‚???ˆ?’?„?§?‹ ?…???…?‘???†?’ ?¯???¹???§ ?¥???„???‰ ?§?„?„?‘???‡??<br />
â€œSiapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah?â€? (QS Fushhilat [41]: 33)</p>
<p>Menurut Imam al-Hasan, ayat di atas berlaku umum buat siapa aja yang menyeru manusia ke jalan Allah (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi). Mereka, menurut Imam Hasan al-Bashri, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya. Bener kan?</p>
<p>Selain itu, pujian bagi para pengemban dakwah senantiasa disampaikan Rasulullah untuk mengobarkan semangat para shahabat dan umatnya. Seperti dituturkan Abu Hurairah: â€œSiapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.â€? (HR Muslim)</p>
<p>Nggak heran dong kalo para shahabat Rasulullah begitu gigih bin pantang menyerah dalam berdakwah. Sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga bahkan nyawa pun rela mereka korbankan untuk dapetin pahala Allah yang melimpah dalam aktivitas dakwah. Kalo nggak begitu, mana mungkin nenek moyang kita dan juga kita mengenal Islam dan menjadi penganutnya. Bener nggak seh?</p>
<p>Dan kita pun bisa seperti para shahabat. Walau nggak hidup di zaman Rasulullah, tapi warisan beliau yang berupa al-Quran dan as-Sunnah tetep eksis sampe sekarang dan terjaga kemurniannya. Tinggal kemauan kita aja untuk serius mempelajari, memahami, meyakini, dan mengamalkan warisan itu. Mau dong? Heuâ€™euh!</p>
<p><strong>Nilai plus lainnya</strong><br />
Bay de wey sobat, ternyata aktivitas dakwah nggak cuma berlimpah pahala. Dari sisi psikologis, aktivitas dakwah sangat membantu remaja untuk mengenali diri dan masa depannya. Asli!</p>
<p>Menurut Maurice J. Elias, dkk dalam bukunya berjudul â€œCara-cara Efektif Mengasuh EQ Remajaâ€?, ada beberapa hal yang dibutuhkan remaja untuk jalanin tugas di atas.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, hubungan spiritualitas. Ketika menginjak masa remaja, normalnya kita mulai berpikir tentang makna dan tujuan hidup yang sangat erat kaitannya dengan agama. Karena hal ini bakal membimbing kita dalam jalani hidup dan membingkai masa depan.</p>
<p>Ketika terjun ke dunia dakwah, seorang remaja muslim akan menemukan arti dan tujuan hidup yang hakiki. Dia diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah sepanjang hayat dikandung badan. Untuk itu, Allah menurunkan aturan hidup yang lengkap en sempurna tanpa cacat cela bagi manusia. Agar manusia bisa beribadah nggak cuma di masjid atau majelis taâ€™lim. Tapi di mana saja, kapan saja selama terikat dengan aturan Allah. Selain itu, dengan pemahaman ini remaja akan termotivasi dan terarah dalam membingkai masa depan ideal dunia akhirat sesuai identitas kemuslimannya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, penghargaan. Setiap remaja kayak kita-kita pasti membutuhkan hal ini untuk mengembangkan potensi dan kemampuan diri. Aktivitas dakwah akan menyalurkan secara positif bakat dan potensi yang kita miliki untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Hebatnya, insya Allah kita bakal dapetin juga penghargaan atas prestasi itu langsung dari Allah swt. Hmmâ€¦ yummy!</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, rasa memiliki. Remaja seusia kita sering termotivasi untuk bergabung dalam kelompok yang memiliki dan dimiliki kita. Karena di sana kita bisa belajar banyak hal, tambahan informasi, konsultasi gratis, merasa aman, nyaman, dan diterima. Tempat yang tepat jika kita ikut dalam komunitas dakwah. Rasa kebersamaan, sikap empati, simpati, dan pertolongan tanpa pamrih antar individu dalam komunitas ini, lahir dari keimanan. Itu berarti nggak mudah luntur karena perbedaan status sosial atau pendidikan.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kecakapan dan kepercayaan diri. Remaja seumuran kita sering terlihat pengen diakui kalo doi cakap alias mampu dan percaya diri untuk jalanin hidup mandiri. Mampu menentukan pilihan atau mengatasi masalah tanpa bergantung kepada orang lain.</p>
<p>Dalam lingkungan dakwah, kita bakal dilatih untuk berpikir panjang merunut setiap permasalahan dan mencari pemecahannya sesuai aturan Islam yang pasti mendatangkan maslahat. Ketegasan sikap kita bisa lahir dari kemandirian yang ditopang oleh pemahaman Islam. Kita juga dilatih untuk mengambil hikmah dalam setiap musibah atau kegagalan yang menimpa kita semua. Karena kita-kita paham, apa pun yang menimpa diri kita, itu adalah jalan terbaik yang Allah berikan. Jadi nggak ada kamus stres bin uring-uringan pas ngadepin masalah bagi para pengemban dakwah. Tetep semangat. Catet tuh!</p>
<p><strong>Kelima</strong>, konstribusi. Merasa ngasih kontribusi alias ikut berperan serta, nggak egois bin individualis, atau sikap dermawan sangat penting buat perkembangan identitas yang sehat pada remaja seusia kita. Dengan begini kita-kita bakal terlatih untuk peduli dan peka terhadap permasalahan di sekitar kita. Sehingga kita termotivasi untuk mengembangkan kemampuan diri biar bisa ikut beresin masalah itu.</p>
<p>Dan semua perasaan di atas pasti bakal didapetin kita-kita dalam aktivitas dakwah. Selain bernilai pahala, kita bakal ngerti kalo masalah dunia atau masyarakat juga masalah kita. Kita juga wajib ngerasa bertanggung jawab dengan akibat dan penyebab masalah itu. Karena kita bakal kecipratan dampak buruk masalah itu kalo dibiarin. Betul?</p>
<p>Nah sobat, ternyata nggak ada ruginya kan terjun ke dunia dakwah. Dilihat dari sisi mana aja, jadi pengemban dakwah pasti berlimpah berkah. Masa nggak kepengen?</p>
<p><strong>Nikmati risiko dakwah</strong><br />
Risiko dakwah mah udah sunntatullah atuh alias wajar terjadi. Bayangin aja, yang kita dakwahkan ajaran Islam. Sementara obyek dakwah kita yang di rumah, sekolah, kampus, atau tempat kerja semuanya udah kadung diselimuti aturan sekuler yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Otomatis dakwah kita nggak akan berjalan semulus di jalan tol.</p>
<p>Makanya kita nggak usah bermimpi kalo dakwah itu tanpa rintangan. Justru kita kudu siapkan nyali untuk hadapi risiko dalam dakwah demi meraih ridho Allah. Kita bisa contoh 75 orang muslim dari suku Khajraj saat terjadi peristiwa Baiâ€™atul Aqabah kedua. Saat itu salah seorang paman Nabi yang melindungi dakwah beliau meski bukan muslim, bernama â€?Abbas bin Ubadah, mengingatkan kaum muslim dari Khajraj itu akan risiko dakwah yang akan dihadapi jika tetap membaiâ€™at Nabi.</p>
<p>Kaum itu pun menjawab, â€œSesungguhnya kami akan mengambilnya (membaiâ€™at Nabi saw) meski dengan risiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya banyak tokoh.â€? Kemudian mereka berpaling pada Rasulullah dan berkata, â€œWahai Rasulullah, jika kami memenuhi (seruan)mu, maka apa balasannya bagi kami?â€? â€œSurgaâ€?, jawab beliau dengan tenang. (Negara Islam, Taqqiyuddin an-Nabhani)</p>
<p>Nah sobat, ternyata risiko dalam dakwah adalah jalan menuju surga Allah yang selama ini kita rindukan. Seberat apapun jalan itu, kita hanya perlu bersabar dan tetep istiqomah. Abu Dawud telah meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad hasan: â€œSetelah engkau akan datang masa kesabaran. Sabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang-orang yang bersabar akan mendapatkan pahala sebagaimana lima puluh orang laki-laki yang mengerjakan perbuatan tersebut. Para shahabat bertanya, â€œWahai Rasulullah, apakah pahala lima puluh (laki-laki) di antara mereka?â€? Rasul menjawab, â€œBukan, tetapi pahala lima puluh orang laki-laki di antara kalianâ€?</p>
<p>Kita juga nggak punya alasan untuk berdiam diri membiarkan kemaksiatan merajalela karena khawatir akan dekatnya ajal, seretnya rizki, atau jauhnya jodoh. Soalnya kan yang ngasih rizki adalah Allah. Yang nentuin jodoh kita Allah. Yang nyuruh Malaikat Ijrail nyabut nyawa kita juga Allah. Bukannya semua urusan hidup kita akan terasa mudah kalo kita disayang ama Allah dengan ngikutin perintahNya seperti aktif dalam dakwah?</p>
<p><strong>Pengemban dakwah Islam ideologis</strong><br />
Satu hal lagi yang kita nggak boleh lupa. Bagusnya kita nggak merasa cukup dengan mendakwahkan Islam cuma sebagian. Seolah perbaikan moral atau peningkatan akhlak individu masyarakat menjadi solusi pamungkas dalam setiap permasalahan. Padahal syariat Islam itu begitu luas mencakup solusi dalam permasalahan pemerintahan, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dll.</p>
<p>Karena itu kita wajib memahami dan mendakwahkan Islam sebagai Nidzhomul hayah alias aturan hidup yang nggak cuma ngatur ibadah atau akhlak semata. Islam yang memiliki peran sebagai qaidah fikriyah (landasan berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Sebagai qaidah fikriyah, Islam akan menjadi filter alias saringan sekaligus tameng menghadapi serangan pemikiran dan budaya Barat sekuler. Dan sebagai qiyadah fikriyah, Islam akan membimbing kita dalam menyelesaikan dan mencegah terulangnya setiap masalah hidup yang mampir ke kita dengan tuntas dan berpahala.</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo kamu punya nyali, mari kita libatkan diri kita untuk memperkuat barisan perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Jangan sampe jalan menuju surga dalam aktivitas dakwah, kita pandang sebelah mata. Ntar nyesel lho. Berani? Pasti dong! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 214/Tahun ke-5/27 September 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/asyiknya-jadi-pengemban-dakwah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Yang â€œNyundutâ€ Bom Kuningan?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/siapa-yang-nyundut-bom-kuningan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/siapa-yang-nyundut-bom-kuningan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/siapa-yang-nyundut-bom-kuningan/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang menduga bahwa bom akan kembali meledak di negeri ini, khususnya di Ibukota (kecuali yang merencanakannya). Itu terjadi hanya selang beberapa menit saja setelah Kapolri Daâ€™i Bachtiar menyatakan dalam acara dengar pendapat bersama DPR, bahwa secara umum kondisi keamanan di negeri ini cukup kondusif. Eh, ndak tahunya ada yang nyundut bom dan meledak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang menduga bahwa bom akan kembali meledak di negeri ini, khususnya di Ibukota (kecuali yang merencanakannya). Itu terjadi hanya selang beberapa menit saja setelah Kapolri Daâ€™i Bachtiar menyatakan dalam acara dengar pendapat bersama DPR, bahwa secara umum kondisi keamanan di negeri ini cukup kondusif. Eh, ndak tahunya ada yang nyundut bom dan meledak pula. Kecolongan lagi dah!<span id="more-215"></span></p>
<p>Kali ini, ledakan bom memakan korban nyawa manusia hingga 9 orang ratusan lainnya luka-luka. Polisi menduga bahwa bom ini sebagai aksi bunuh diri. Sebab beredar berita dari hasil penyelidikan sementara bahwa ada tiga orang yang sudah meminta ijin kepada keluarganya masing-masing untuk melakukan aksi bunuh diri. Itu terungkap dari keterangan beberapa tersangka yang kena jaring Satuan Khusus Detasemen 88 Antiteror jauh sebelum kejadian tersebut di wilayah Jateng dan Jatim. Jadinya ceritanya kayak?  puzzle neh, nyambung-nyambungin dari fakta yang berserak hingga utuh jadi satu bentuk keputusan.</p>
<p>Menurut juru bicara Markas Besar Kepolisian RI Inspektur Jenderal Paiman, tiga orang itu bahkan telah mengirimkan surat kepada keluarga masing-masing untuk mengakhiri hidup dengan bom. â€œMereka telah disumpah untuk melakukan pengeboman oleh tersangka Azahari dan Noor Din,â€? katanya kepada para wartawan di Jakarta (Koran Tempo, 11 September 2004)</p>
<p>Terlepas dari kontroversi apakah bom itu bersumber dari mobil boks (sesuai rekaman kamera CCTVâ€”closed circuit televisionâ€”yang dipasang di Kedubes Australia, Plasa Kuningan, dan Plasa 89), ataukah dari sepeda motor yang kebetulan melintas bareng dengan mobil boks, yang jelas bom itu sangat dahsyat. Selain merenggut 9 korban jiwa dan ratusan orang luka-luka, efek ledakan juga merusak gedung-gedung yang berada di sekitarnya. Mungkin perlu lebih dari satu kali bilang dahsyat (saingan ama Bang Meggy Z dong? Heheheâ€¦)</p>
<p>Bom pula yang telah merenggut nyawa orang-orang yang tak bersalah dalam kasus itu. Tepatnya mereka jadi korban deh. Mungkin kalo suasananya sedang perang, bisa dimaklumi, sebab dalam perang justru kita menggunakan bom sebagai senjata untuk melawan musuh. Tapi kalo sekarang, bom untuk siapa? Nggak tahu pasti, yang jelas semua mimpi dan harapan para korban peledakan bom di depan Kedubes Australia itu sudah buyar berganti trauma. Bahkan bom ikut mendorong sebagian dari mereka menuju liang lahat. Menyedihkan memang. Lebih sedih dan kesal lagi, nggak jelas siapa pelakunya. Polisi kan baru menduga-duga, seperti kejadian sebelumnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, sekarang peledakan bom udah jadi peristiwa biasa. Mungkin ketika ada ledakan bom pertama, kita masih dibuat heran. Tapi ledakan-ledakan bom berikutnya, seolah dinikmati. Artinya udah nggak gereget lagi meski kaget luar biasa. Kalo dulu kita barangkali bertanya kenapa bisa terjadi, jangan-jangan sekarang malah bertanya, kapan lagi ada ledakan bom? Waduh!</p>
<p><strong>Tuduhan yang nggak kreatif</strong><br />
Sobat muda muslim, sampe sekarang kita emang bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang tega meledakkan senjata yang biasa digunakan dalam perang itu. Kasus-kasus peledakan bom di beberapa wilayah di negeri ini selalu tanpa berhasil menyeret pelaku utamanya. Tepatnya, pihak yang menjadi otak serangan-serangan tersebut. Aparat keamanan â€œcumaâ€? bisa nangkepin para kurcacinya doang. Sementara bosnya tetep jadi the untouchable alias nggak bisa disentuh (ehm, kayak bandit Al Capone aja ya?)</p>
<p>Udah gitu, aparat keamanan seringnya kayak supir angkot yang ngejar setoran. Maka, terkesan asal cepet ada yang bisa dijadikan tertuduh. Mungkin karena beban yang ditanggungnya begitu berat kali ye, jadi malu dong kalo nggak bisa mengungkap dengan cepat siapa pelaku di balik peledakan tanggal 9 September 2004 di depan Kedubes Australia tersebut. Jadi jangan heran kalo hanya dalam hitungan jam dengan â€?rumusâ€™ tertentu akhirnya disimpulkan bahwa pelaku peledakan bom di Kuningan, adalah orang yang sama dalam peledakan bom di Hotel JW Marriott (5 Agustus 2003) dan Bali (12 Oktober 2002). Benarkah? Wallahuâ€™alam. Karena sampe sekarang tetep menjadi tanda tanya segede-gede gajah!</p>
<p>Kalo cuma nuduh doang emang gampang. Tapi bukankah kita butuh bukti untuk tuduhan itu? Sebab sampe sekarang, orang yang dicari sejak peledakan bom di Bali itu masih buron (jika memang itu yang dicari). Lagian, kalo tuduhannya yang itu-itu aja, kayak muterin kaset yang sama. Bosen deh. Itu namanya tuduhan yang nggak kreatif. Apakah kemungkinan lain sudah tertutup sehingga setiap ada peristiwa peledakan bom selalu dihubungkan dengan aksi terorisme dan pelakunya orang yang sama? Basi ah!</p>
<p>Memang sih, agak sulit sebenarnya untuk menentukan siapa pelaku peledakan bom tersebut, dan juga motifnya. Maklum, dalam suasana politik yang ada saat ini, sebenarnya banyak peluang yang bisa dijadikan sebagai bahan untuk menyusun tuduhan. Jadi seharusnya semua pihak yang berwenang menahan dulu mulutnya untuk tidak berkomentar.</p>
<p>Karena komentar-komentar yang muncul lebih bersifat politis ketimbang mengorek fakta sesungguhnya tentang bom itu sendiri. Mulai dari bahan peledak yang digunakan yang bisa dilihat dari efek ledakan, bagaimana bisa meledak, juga apakah bahan-bahan tersebut bisa didapatkan di dalam negeri atau justru harus diimpor dari luar negeri. Itu semua agak luput dari perhatian pihak berwenang. Padahal, bukti-bukti fisik bisa juga menuntun pelacakan kepada siapa pelakunya sekaligus pihak yang menjadi dalangnya. Kenapa nggak dicoba dianalisis?</p>
<p>Peledakan bom di Bali misalnya, selain banyak kejanggalan dalam pengumpulan buktinya, banyak pengamat, terutama ahli bahan peledak berpendapat bahwa bom yang meledak dengan kekuatan dahsyat tersebut, Indonesia belum memiliki teknologinya. Dengan kata lain, ada kemungkinan pihak asing bermain di sini. Minimal menyuplai bahan-bahannya deh. Siapa tahu kan?</p>
<p>Sobat muda muslim, banyak kemungkinan memang. Salah satunya adalah berkaitan dengan kondisi politik dalam negeri yang berkembang akhir-akhir ini. Bayangin aja, bom meledak 11 hari sebelum dilangsungkannya pilpres putaran kedua. Tentunya muncul juga dugaan bahwa bom ini ditujukan untuk mengacaukan jalannya pilpres pada 20 September 2004. Paling nggak, bikin ketar-ketir menjelang hajatan besar itu. Ini kemungkinan pertama.</p>
<p>Kemungkinan kedua, bom ini sebagai pesan bahwa masih ada jaringan teroris di negeri ini. Hal ini pun bisa kita pecah menjadi dua alasan. Alasan pertama, para teroris masih berkeliaran (seperti tuduhan selama ini). Alasan kedua, bisa jadi sebenarnya â€?terorisâ€™ lokal nggak ada, tapi pihak asing ingin mengesankan demi kepentingannya bahwa masih ada teroris di negeri ini.</p>
<p>Alasan kedua dari kemungkinan kedua ini bisa kamu liat dari sewotnya Amrik dan Australia atas putusan hakim untuk Ustadz Abu Bakar Baâ€™asyir yang dianggap sebagai Pemimpin Jamaah Islamiyah di wilayah Asia Tenggara, menurut mereka hukumannya kelewat ringan (mungkin pengennya hukuman mati kali ye?). Udah gitu, para tersangka kasus bom Bali sampe sekarang belum ada yang dieksekusi mati sesuai putusan hakim sebelumnya. Gimana nggak nepsong tuh Amrik, padahal negerinya Spiderman ini paling getol mengobarkan perang melawan terorisme sambil menekan negara-negara yang dianggap melindungi para teroris.</p>
<p>Kemungkinan ketiga, sangat boleh jadi adanya pihak yang ingin mengesankan bahwa pemerintahan yang dipegang saat ini oleh kalangan sipil rawan terhadap aksi teror. Nggak kayak jamannya Pak Harto yang adem ayem aja. Saat itu, pemerintahan dipegang militer. Ini juga kemungkinan lho.</p>
<p>Dari ketiga kemungkinan ini, kira-kira kemungkinan yang mana yang mendekati kebenaran? Gampang-gampang susah sih. Tapi paling nggak kalo kita jeli dalam mengikuti perkembangan setiap persitiwa politik belakangan ini, bisa saja kemungkinan kedua, khususnya alasan kedua, yakni adanya campur tangan pihak asing dalam ngobok-ngobok kondisi negeri ini. Sangat mungkin kok, apalagi Amrik dan Australia masih sangat getol mengagendakan serangan melawan terorisme. Siapa yang dianggap teroris? Menurut definisi Amrik dan Austaralia, teroris itu dari kalangan kaum muslimin. Heuh, tuduhan palsu!</p>
<p>Jadi jangan kaget kalo sekarang banyak berkeliaran para intel ke pesantren-pesantren untuk mengawasi setiap pendatang, paling nggak itu di wilayah Kalimantan Tengah dan Jawa Tengah (khususnya Solo) (Koran Tempo, 15-9-04). Pantesan dulu pernah berkembang anekdot bahwa banyak pesantren yang menolak bantuan komputer dari pemerintah karena ada tulisan â€œIntel Insideâ€? di CPU-nya heheheâ€¦</p>
<p><strong>Terorisme dan agenda Amerika</strong><br />
Setelah tragedi 11 September 2001 di Amerika, peta politik dunia semakin semrawut dengan tingkat kecurigaan yang sangat tinggi. Apalagi sejak Presiden Amerika, George W Bush mengumumkan â€œWar Against Terrorismâ€?, maka dunia terbelah menjadi dua kubu, mereka yang memerangi terorisme, dan satu kubu lain yang dianggap sebagai teroris atau membela teroris. Sayangnya, kenapa harus Islam yang disalahkan? Asal deh!</p>
<p>Sobat muda muslim, awalnya Amerika mendefinisikan terorisme sebagai bentuk penggunaan kekerasan untuk melawan kepentingan-kepentingan sipil guna mewujudkan target-target politis. Maka, mereka memasukkan gerakan atau kelompok yang masuk dalam kategori tersebut seperti gerakan perlawanan rakyat Zapatista (di Nikaragua), atau IRA (Tentara Pembebasan Irlandia).</p>
<p>Tapi kemudian Amerika mempersempit definisi terorismenya menjadi gerakan atau kelompok yang berupaya untuk merintangi kepentingan-kepentingan Amerika. Jadi jangan kaget kalo FIS, al-Qaidah, Jamaah Islamiyah, Tanzhimul Jihad, dan Hamas dikelompokkan sebagai teroris dan harus dilawan.</p>
<p>â€œBeberapa bulan setelah tragedi 11 September, kita menemukan kosakata baru: Jamaah Islamiyah&#8211;organisasi yang sangat jarang kita dengar namanya namun tiba-tiba datang seperti hantu besar yang muncul dari debu. Dengan dalih membasmi Jamaah Islamiyah bin al-Qaidah, Amerika punya alasan untuk mendatangkan kembali pasukannya di Filipina&#8211;pasukan yang kehilangan pangkalan Subic dan Clark setelah jatuhnya diktator Marcos. Tanpa harus mengatakan secara eksplisit, Amerika kini punya cara untuk mencegah perluasan pengaruh Republik Rakyat Cina&#8211;pesaing paling potensialnya di kawasan ini (Asia Tenggara), baik secara ekonomi maupun militerâ€? (Farid Gaban, dalam tulisannya di Koran Tempo, 11-9-2004)</p>
<p>Kenapa semua yang dianggap teroris adalah gerakan Islam? Karena saat ini, Islam telah dinominasikan oleh Amerika untuk menjadi musuhnya setelah robohnya Komunisme, maka negeri-negeri Islam menjadi wilayah terpenting yang akan menjadi sasaran Amerika dalam?  penerapan undang-undang terorisme.</p>
<p>Tujuannya jelas untuk mengokohkan cengkeraman Amerika di negeri-negeri Islam itu serta melestarikannya agar tetap ada di bawah hegemoni Amerika. Sebab, kaum muslimin memang telah mulai merintis jalan menuju kebangkitan untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah, yang telah dimengerti betul oleh Amerika dan negara-negara kafir lainnya, bahwa Khilafah itulah satu-satunya negara yang berkemampuan untuk meluluhlantakkan ideologi kapitalisme yang dipimpin oleh Amerika.</p>
<p>Jadi, siapa tahu kan, aktor di balik semua teror ini adalah Amerika dan Australia. Itu sebabnya, sekarang kita kudu lebih cerdas menyikapi setiap peristiwa yang berkembang. Jangan kebawa opini murahan kayak sekarang. Kepada saudara-saudaraku aktivis gerakan Islam, perkuat barisan, jangan terpancing dan terjebak permainan politik musuh-musuh Islam, dan tetap semangat berjuang demi tegaknya Islam sebagai ideologi negara. Terus melaju, jangan ragu! Allahu Akbar! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 213/Tahun ke-5/20 September 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/siapa-yang-nyundut-bom-kuningan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Dambaan Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemimpin-dambaan-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemimpin-dambaan-kita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pemimpin-dambaan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Pemilihan presiden putaran pertama telah berakhir sejak 5 Juli lalu. Hasilnya pun kita udah tahu. Rakyat Indonesia memilihâ€¦.. Joy Tobing sebagai Indonesian Idol. Ups! Sorry maksudnya, tiga kandidat ca(wa) pres kudu rela angkat kaki dengan kebesaran hati karena tereliminasi. Foto pasangan Wiranto-Wahid, Amin-Siswono, dan Hamzah-Agum nggak akan lagi menghiasi surat suara dalam pilpres putaran kedua. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilihan presiden putaran pertama telah berakhir sejak 5 Juli lalu. Hasilnya pun kita udah tahu. Rakyat Indonesia memilihâ€¦.. Joy Tobing sebagai Indonesian Idol. Ups! Sorry maksudnya, tiga kandidat ca(wa) pres kudu rela angkat kaki dengan kebesaran hati karena tereliminasi. Foto pasangan Wiranto-Wahid, Amin-Siswono, dan Hamzah-Agum nggak akan lagi menghiasi surat suara dalam pilpres putaran kedua. <span id="more-214"></span></p>
<p>Di sana hanya akan terpampang foto pasangan SBY-Kalla di sudut biru partai demokrat dan Mega-Hasyim di sudut merah PDI-P. Keduanya siap bertarung memperebutkan kursi Presiden untuk masa jabatan lima tahun mendatang.</p>
<p>Bisa jadi bakalan banyak yang berduyun-duyun masuk ke TPS pada tanggal 20 September untuk memberikan suara sambil membawa kartu pemilih sebagai karcis tanda masuk (ini pilpres apa kejuaraan sabuk emas RCTI sih? Hehehe)</p>
<p>Pascaputaran pertama usai, genderang perang opini pun ditabuh bertalu-talu oleh kedua kubu. Masing-masing kembali berlomba-lomba meraih simpati pemilih. Biar target perolehan suara minimal 50% + 1 di putaran kedua nanti bisa mereka raih. Tim sukses masing-masing kubu sibuk menggaet pemilih yang jagoannya kalah di putaran pertama. Koalisi dengan partai-partai besar, parpol gurem, atau ormas pun dibentuk.</p>
<p>Dukungan kepada pasangan Mega-Hasyim mengalir deras dari PDI Perjuangan, Partai Golkar, PPP, dan PDS yang tergabung dalam Koalisi Kebangsaan. Keempat partai besar ini rela â€?memaksaâ€™ para kadernya untuk memenangkan pasangan Mega-Hasyim. Mengkritisi hal ini, Mahfud MD (wakil ketua umum DPP PKB) berpendapat: â€œKoalisi itu sama dengan upaya para elit politik untuk merampas kembali hak rakyat dalam pemilihan langsung saat ini. Sekarang ada upaya elit politik kembali merampas hak rakyat, dalam pemilihan langsung. Itu dilakukan dengan mengatasnamakan rakyat. Padahal dulu kita mengamandemen UUD agar rakyat bisa memilih langsung,â€? (Kompas, 20/08/04). Sebenernya masih LUBER gak sih asas pemilu di sini?</p>
<p>Sementara dukungan kepada pasangan SBY-Kalla juga nggak kalah hebohnya. PKS yang pada putaran pertama menjatuhkan pilihannya pada pasangan Amien-Siswono, rupanya bertolak belakang dengan KLA Project yang tak bisa pindah ke lain hati. Parpol pimpinan Hidayat Nur Wahid ini secara resmi justru mendukung penuh pasangan SBY-Kalla. (Liputan6.com, 01/09/04). Dukungan juga diberikan oleh pengurus Partai Demokrat, PBB, PKPI, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Solidaritas Independen Gabungan Advokat Pemilihan Presiden (SIGAPP), dan Keluarga Cendana. (Kompas, 20/08/04). Eit, yang terakhir kayaknya kenal deh. Keluarga siapa ya?</p>
<p><strong>Golput yang bikin ribut<br />
</strong>Di lain pihak, gelombang golput yang membayangi pilpres putaran kedua sempet bikin ketar-ketir beberapa pengamat politik. Apalagi sikap netral alias nggak mendukung salah satu kandidat ini secara jelas dan resmi ditunjukkan oleh PAN, PKB, Gus Dur, serta pasangan Wiranto-Wahid. Bisa-bisa pilpres putaran kedua nanti dimenangkan oleh golput nih!</p>
<p>Bisa jadi. Karena menurut catatan eramuslim.com, 16/07/04, pemilu legislatif kemarin jumlah Golput diperkirakan mencapai 16 persen, sementara dalam pilpres putaran pertama 5 Juli 2004, Golput diperkirakan mencapai 20 hingga 30 persen, dari total pemilih sebanyak 155.048.803 orang.</p>
<p>Menurut pengamat politik Indra J Piliang, ada 3 kelompok Golput dalam kategori ini, yaitu Golput ideologis, yang terdiri dari orang-orang yang anti demokrasi dan anti sistem dan kebanyakan massa elit. Kemudian Golput pragmatis, yaitu pemilih yang kecewa. Namun kelompok kategori ini bisa berubah kalau capres yang bertarung di putaran selanjutnya masih dalam kriteria pilihannya. Dan kelompok ketiga adalah Golput secara politik, jumlahnya paling besar karena mereka adalah orang-orang yang kecewa karena capres pilihannya tidak lolos dalam putaran selanjutnya. (Eramuslim.com, 16/07/04). Eh, kamu termasuk yang mana neh? Ideologis dong ya.</p>
<p>Sobat, rupanya fenomena golput selalu bikin ribut di setiap pemilu. Termasuk menjelang pilpres putaran kedua. Seperti Gusdur bilang, â€œSeharusnya sikap untuk tidak memilih itu juga dihargai sebagai satu pilihan.â€?</p>
<p>â€œTapi kan, sayang kalo hak pilih kita nggak dipake&#8230;â€?</p>
<p>Ah, masa sih? Ngasih suara justru bertanggung jawab langsung dalam masalah tersebut. Beda dengan yang nggak milih alias golput, mereka nggak terlibat. Lebih cerdas malah. Kata Pak Amin Rais: â€œPada pemilu presiden penghitungannya bukan sekadar mubazir atau tidak, tetapi bagaimana tanggung jawab yang lebih dalamâ€? (Kompas, 23/08/04). Catet tuh!</p>
<p>Virus EGP biangnya individualis<br />
Sobat muda muslim, ngikutin perkembangan politik bagi remaja memang bukan suatu hal yang menarik. Kebanyakan kita lebih gape untuk ngobrolin penobatan Joy Tobing sebagai Indonesian Idol, tren busana menggoda â€?Secret of Eveâ€™-nya Kanaya Tabita, atau film seru bin hebohnya â€?Alien vs Predatorâ€™. Boro-boro ngotak-ngatik panggung politik, sekadar peduli ama nasib anak-anak jalanan yang putus sekolah aja kudu ditugasin bikin kliping dulu ama guru. Ini bukan pujian lho. Heheheâ€¦</p>
<p>Gara-gara virus EGP, banyak remaja muslim yang ketularan sikap individualis. Mereka paling ogah kalo diajak mikirin kondisi negeri zamrud khatulistiwa yang makin terpuruk ini. Mahalnya biaya pendidikan atau tingginya jumlah pengangguran cuma sebatas informasi yang numpang lewat doang. Parahnya, saat mereka diajak atau diingetin untuk bersikap sedikit lebih peduli bin kritis, mereka malah nyiapin jawaban standar masyarakat Barat. â€œEmang Gue Pikirin â€¦!â€? Hmmâ€¦ berarti selama ini emang nggak mikir. Gubraks! (jangan marah kalo dipuji gini ya&#8230;)</p>
<p>Eh, padahal kudu kita pikirin juga, lho. Soalnya kita hidup di negeri ini. Bukan di negeri dongeng, negeri awan, atau negeri impian. Itu berarti baik-buruknya kondisi negeri ini akan banyak mewarnai hidup kita. Memang sih, udah tugas pemerintah untuk ngatur negeri ini. Tapi bukan lantas kita nggak ngingetin mereka dong yang tengah kasmaran ama sistem sekuler. Masa kita diem aja dengan maraknya kapitalisasi di bidang ekonomi dan pendidikan atau kebebasan berekspresi yang mendongkrak jumlah penduduk miskin, SDM yang berkualitas rendah, dan kebejatan moral di tengah masyarakat. Childish banget gitu lho kalo kita masih cuek. Bener tuh!</p>
<p>Makanya wajar bin wajib untuk menghadirkan sikap kritis bin peduli dalam diri kita. Apalagi bagi seorang muslim. Seperti sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh al-Hakim: â€œSiapa saja di pagi hari tidak memikirkan urusan kaum muslimin, maka bukan termasuk golongan mereka (kaum muslimin)â€?.</p>
<p>Menjelang pilpres putaran kedua nanti, kita juga wajib pikirin dengan penuh kepedulian dan sikap kritis. Karena pasangan yang terpilih nanti bakal turut melukiskan potret masa depan negeri kita. Apa masih tetep bermuram durja, tambah amburadul, atau berhasil dipermak jadi ciamik? Wallahu aâ€™lam.?  Yang pasti kita kudu punya karakter pemimpin ideal seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para khalifah sesudah beliau wafat buat ngebandingin hasil pilpres entar. Setuju? Pasti!</p>
<p><strong>Pemimpin pilihan kita</strong><br />
Keberadaan seorang pemimpin bagi kita selaku muslim merupakan suatu keharusan. Sama pentingnya dengan air dalam kehidupan kita. Sebab seperti kata Rasul, dengan adanya pemimpin, kaum muslimin akan terlindungi dan kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan layak.</p>
<p>Untuk melahirkan karakter pemimpin ideal, maka seorang pemimpin kaum Muslimin itu seharusnya:</p>
<ol>
<li>Memenuhi syarat-syarat menurut syariat Islam. Yaitu: Muslim, laki-laki, balig, berakal, adil/tidak fasik (konsisten dalam menjalankan aturan Islam), merdeka, dan mampu melaksanakan amanat Kekhalifahan.</li>
<li>Menjadikan kekuasaan negeri ini independen/mandiri. Bebas dari ketergantungan negara-negara kafir imperialis. Juga steril dari pengaruh orang-orang kafir. Makanya nggak pantas bagi parpol Islam (bukan cuma berlabel Islam) berkoalisi dengan parpol sekuler dalam rangka membentuk pemerintahan baru. Itu sih sama aja ngasih ikan ke kucing garong yang udah seminggu puasa. Bahaya bin gaswat. Firman Allah Swt.:
<p>ï???ˆ???„???†?’ ?????¬?’?¹???„?? ?§?„?„?‡?? ?„???„?’?ƒ???§?????±?????†?? ?¹???„???‰ ?§?„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?³???¨?????„?§?‹ï?›<br />
Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin. (QS an-Nisaâ€™ [4]: 141).</li>
<li>Menjadikan keamanan dari gangguan luar dan dalam negeri di tangan kaum Muslimin sendiri. Nggak boleh ada campur tangan negara kafir imperialis terhadap tentara dan polisi. Apalagi sampai ngasih izin mreka buat bikin pangkalan militer. Nggak lah yauw!</li>
<li>Segera menerapkan Islam secara serentak dan menyeluruh serta segera mengemban dakwah Islam.
<p>ï???ˆ???£???†?? ?§?­?’?ƒ???…?’ ?¨?????’?†???‡???…?’ ?¨???…???§ ?£???†?’?²???„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???„?§?? ???????‘???¨???¹?’ ?£???‡?’?ˆ???§?????‡???…?’ï?›<br />
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (QS. al-M?¢idah [5]: 49)</li>
<li>Mencegah disintegrasi dan menyatukan negeri-negeri kaum Muslimin di seluruh dunia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Sebab, umat Islam adalah satu tubuh dan kepemimpinannya pun harus satu.?  Nabi saw. bersabda:
<p>?«?¥???°?§?? ?¨???ˆ?’?????¹?? ?„???®???„?????????????’?†?? ?????§?‚?’?????„???ˆ?’?§?„?¢?®???±?? ?…???†?’?‡???…???§?»<br />
Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (HR Muslim)</li>
</ol>
<p>Tapi sayangnya, dua calon pemimpin yang bakalan berlaga pada 20 September 2004 nggak masuk kategori ini! Lagian ini bukan dalam sistem Islam, tapi kapitalisme. Nggak bakalan bisa nyetel. Kalo pun ada yang punya niat belain Islam. Mungkin saja niatnya bener, tapi caranya nggak sesuai ajaran Islam. Itu sama aja boâ€™ong. Di dieu yeuh, bahayana!</p>
<p><strong>Nggak asal nyoblos</strong><br />
Sobat muda muslim, kita semua pasti sudah ngerti kalo Allah bakal menyidang kita di yaumul hisab kelak. Setiap sisi perbuatan kita di dunia akan dimintai pertanggung jawaban. Dari kita bangun tidur sampe tidur lagi, nggak ada yang luput dari pengawasan Allah. Begitu juga dalam pilpres nanti. Siapa pilihan kita, alasan memilih, hingga harapan di balik sumbangan suara kita, Allah pasti tahu dan akan meminta pertanggungan jawab dari kita.</p>
<p>Karena itu kita juga wajib sadar kalo dalam pemilu itu nggak cuma bolongin kertas suara. Tapi ada tanggung jawab yang kita pikul di hadapan Allah terhadap pilihan kita. Di sinilah pentingnya kita mengenal lebih dekat calon pemimpin kita itu. Agar kita bisa mengetahui kesesuaiannya dengan karakter pemimpin ideal yang diatur oleh Islam. Kalo sesuai, jangan sungkan bin ragu untuk memberikan suara kita. Tapi kalo belum alias mereka sendiri masih betah dengan sistem sekuler yang selama ini mengatur dan menyengsarakan hidup kita, nggak usah dipilih. Malah seharusnya mereka berani rela untuk bilang ke kita-kita â€œaku bukan pilihanâ€? (Iwan Fals banget nih). Tapi, mana mungkin mereka mau jujur? Hehehe&#8230;</p>
<p>Trus gimana dong kalo karakter pemimpin ideal itu belum kita temukan dalam pilpres putaran kedua nanti? Hmmâ€¦yang pasti jangan tanyakan hal ini pada rumput yang bergoyang. Karena doi belon pernah ikut pemilu. Tapi tanyakan pada diri sendiri. Jika kita menginginkan air susu yang bikin tubuh kita sehat tapi ternyata dikasih 2 pilihan yang isinya racun semua. Satu racun serangga, satunya lagi racun tikus, apa yang akan kita lakukan?</p>
<p>Kita yang masih berakal sehat pasti setuju kalo sikap untuk tidak memilih salah satu racun itu masuk dalam pilihan yang pertama dan utama. Awas lho kalo gak setuju! (lagian golput bukan kriminal kok, hehehe). Oke, deh, sekarang kamu udah cerdas dan insya Allah atas nama ideologi alasan golputnya. Sebab, Islam tak bisa disatukan dengan kekufuran, dan tentunya nggak bisa diperjuangkan lewat jalan kekufuran juga. Islam ya Islam. Jadi, yuk kita kampanyekan Islam untuk diterapkan sebagai ideologi negara. Kobarkan revolusi! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 212/Tahun ke-5/13 September 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemimpin-dambaan-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cewek Tomboy? Jangan Ah!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cewek-tomboy-jangan-ah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cewek-tomboy-jangan-ah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 07:03:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cewek-tomboy-jangan-ah/</guid>
		<description><![CDATA[Tomboy. Kata itu berasal dari Tom yang boy, alkisah sih begitu awalnya. Tapi akhirnya kosakata ini identik dengan cewek yang sikap dan tingkahnya kayak Tom, ehâ€¦maksudnya kayak cowok. Mulai dari dandanannya, gaya berpakaiannya, rambutnya, hobinya, sampai ke tingkah segala rupa. Konon para cewek suka banget en pada bangga kalau mereka mendapat sebutan tomboy. Bener nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tomboy. Kata itu berasal dari Tom yang boy, alkisah sih begitu awalnya. Tapi akhirnya kosakata ini identik dengan cewek yang sikap dan tingkahnya kayak Tom, ehâ€¦maksudnya kayak cowok. Mulai dari dandanannya, gaya berpakaiannya, rambutnya, hobinya, sampai ke tingkah segala rupa. Konon para cewek suka banget en pada bangga kalau mereka mendapat sebutan tomboy. Bener nggak sih? <span id="more-213"></span></p>
<p>Coba lihat saja sinetron yang meng-explore sikap tomboy ini dalam Kecil-kecil Jadi Manten yang tokoh utamanya bernama Rohaye yang diperankan Sukma Ayu (anaknya Ibu Nani Wijaya yang main di sinetron Bajaj Bajuri sebagai emaknye Oneng). Doi berpenampilan ala cowok. Rambutnya aja dipermak?  ala pesepak bola asal Brasil, Ronaldo. Baju kaos dan celana yang identik dengan baju kebangsaan cowok. Udah gitu suka berkelahi en suka panjat-panjat pohon, main sepak bola meski doi cewek sendiri, hingga gaya berjalan semua dibuat sedemikian rupa biar kayak cowok beneran. Belum lagi sinetron-sinetron remaja yang kerapkali menggambarkan seorang cewek yang mukulin cowok hingga babak belur. Weh, bener-bener cewek maskulin tuh! Hehehe</p>
<p>Itu di sinetron, lho. Belum lagi media iklan yang juga suka banget munculin tokoh-tokoh tomboy terutama produk-produk buat remaja. Coba deh lihat di sekeliling kamu, akan banyak lagi dijumpai fenomena cewek tomboy ini. Seakan-akan jadi cowok tuh enak banget, cool man! Tapi apa iya sih jadi cewek yang bertingkah kayak cowok itu emang kelihatan cool dan asyik?</p>
<p><strong>Munculnya cewek tomboy</strong><br />
Cewek tomboy itu bukan karena keturunan, juga bukan penyakit menular (hehehe ngelantur deh). Maksudnya, cewek tomboy tuh emang bukan karena adanya faktor genetik atau semacam penyakit.</p>
<p>Terus, apa dong yang bikin tren cewek tomboy in marak? Ehm, munculnya fenomena cewek tomboy karena dibentuk oleh lingkungan, Non. Faktor keluarga yang cenderung bebas. Misalnya aja, ortu membiarkan alias nggak ngasih arahan buat anaknya yang cewek. Mereka mau jadi tomboy atau feminin, itu bukan menjadi perhatian ortu. Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, cewek tomboy juga bisa dibentuk atau tepatnya terbentuk dari pergaulan yang salah. Misalnya aja, ia merupakan perempuan satu-satunya di tengah saudara-saudaranya yang cowok semua. Jadi deh, perempuan di sarang penyamun, eh, di sarang cowok. Paling cantik sendiri (hihihi, iya dong, kan kakak-adiknya cowok semua. Kalo cewek kan cantik. Kalo cowok baru ganteng)</p>
<p>Anak cewek yang hidup di lingkungan keluarga yang saudaranya cowok semua, pola pergaulannya akan dominan terpengaruh gaya cowok tuh. Mulai berpakaian sampe gaya nongkrongnya (hehehe..bukan nongkrong di WC, tapi tampilannya maskulin banget).</p>
<p>Nah, selain dua kondisi di atas, cewek tomboy bisa juga hasil bentukan dan didikan keluarga karena memandang bahwa jadi cowok itu jauh lebih oke dan bergengsi daripada jadi cewek. Ada lho keluarga yang begini. Anak cewek sama cowok diperlakukan beda ama ortu dan juga lingkungan. Beda dalam pengertian memuji salah satu dan mengkerdilkan peran salah satunya. Jadilah yang terlahir sebagai cewek nggak pede dengan kodratnya dan memilih bertingkah sebagai cowok. Sebaliknya, sangat boleh jadi ada anak cowok yang minder punya otot kawat balung wesi (Gatot Kaca kali!), akhirnya memilih dan enjoy dengan gaya feminin kayak Si Ongky yang jadi suaminya Rohaye di sinetron Kecil-kecil Jadi Manten.</p>
<p>Sobat muda, ibarat banyak jalan menuju Roma, maka munculnya cewek tomboy bisa juga karena tren. Banyak banget tuh para cowok suka sama style cewek tomboy. Dengan alasan kalo cewek tomboy lebih enak diajak gaul daripada yang cewek beneran, atau orangnya nggak terlalu rewel dan nggak manja. Bisa menghidupkan segala suasana pergaulan. Sehingga cewek yang awalnya nggak tomboy, tapi karena tuntutan jaman dan tren akhirnya mulai coba-coba untuk bergaya tomboy. Mulai deh pake celana jins dan kaos oblong, topi dipakai terbalik kayak abang becak. Udah gitu, maennya sama cowok mulu. Sampe-sampe tertawa, berbicara, dan bergaya pun ala cowok agar sebutan cewek tomboy melekat pada dirinya. Duileeeâ€¦</p>
<p>Tapi, jadi cewek tomboy membawa konsekuensi tersendiri lho. Ada yang cuma gayanya aja kayak cewek tomboy, tapi diputusin cowoknya tetep nangis Bombay. Ih..jijay banget kan? Atau gayanya sok cowok, tapi ternyata pas ada cowok kiyut lewat, matanya tetep aja ijo. Itu mah cewek banget atuh. Hehehe..<br />
? <br />
<strong>Jadi wanita beneran</strong><br />
Kenapa sih rewel soal status? Begini sobat, kita sekadar ngingetin bahwa kalo kamu tuh cewek dan bukan cowok. Meski bergaya kepengen kayak cowok, toh perabotan alami diri kamu tetep cewek. Mau operasi ganti kelamin? Apa iya sebegitu sebalnya kamu jadi cewek sampe berpikir ke sana? Toh sekali waktu meski jarang dalam hidupmu kamu tetap mengakui bahwa kamu tuh emang cewek. Ayo ngaku! Hehehe</p>
<p>Karena dalam Islam sendiri jenis kelamin tuh cuma ada dua, kalo gak cewek yah cowok. Nggak ada jenis ketiga, cowok yang bercitra cewek atau cewek yang bergaya cowok alias tomboy. Makanya bagi kamu-kamu yang merasa tomboy, cepet insaf. Karena Islam sendiri melarang cewek yang bertingkah-laku dan berpakaian seperti cowok.</p>
<p>Oya, jadi cewek berani emang boleh dan kudu lagi. Misal, ketika kamu diajak dugem atau ke hal-hal yang nggak bener, kamu kudu berani bilang â€?TIDAKâ€™. Nggak pada tempatnya lagi kalo kamu diajak nggak bener tapi takut nolak. Tapi inget, jadi cewek berani nggak harus tomboy dalam kelakuan. Masak iya sih, kamu mau bawa golok untuk nunjukkin kalo kamu nggak mau diajak maksiat. Nggak kan?</p>
<p>Keras kemauan dan tekad itu bagus, bahkan kudu lagi. Apa yang menjadi cita-citamu kamu kudu berusaha meraihnya. Apa yang menjadi prinsip kamu, itu kudu dipegang dengan kuat. Tapi jangan salah, entar prinsip nggak berdasar kamu ikuti. Misal, kamu berprinsip teguh pendirian nggak bakal ikut-ikutan mode pake jilbab. Kamu pingin jadi dirimu sendiri dengan pake jins belel dan kaos oblong tiap hari. Itu bukan teguh prinsip atuh, tapi nekatz. Udah jelas dalam Islam kan jilbab dan kerudung itu wajib, masak iya sih kamu masih ngotot nggak mau pake? Kebangetan banget kalo gitu mah.<br />
? <br />
<strong>Cuma buat kamu</strong><br />
Trus gimana dong bagi yang udah terlanjur ngoboy? Gampang. Kamu percaya nggak sih kalo Islam itu mendudukkan cewek sempurna pada posisinya yang mulia? Setomboy apa pun kamu, Islam tahu bagaimana harus menyikapinya.</p>
<p><strong>Tips pertama</strong>: pake kerudung. Biar pun kamu cewek yang suka bersikap tegas dan nggak plin-plan ketika mengambil keputusan, kamu tetap berada pada posisimu yang mulia sebagai cewek dengan memakai kerudung. Atau mungkin postur tubuhmu udah dari sononya berbadan kekar dan hampir mirip cowok, maka nggak bakal ada orang yang memanggilmu Tono padahal namamu adalah Tini. Kenapa? Karena identitas kerudung kamu itu. Di mana-mana yang pake kerudung pasti cewek nggak mungkinlah cowok. Kecuali wadam or banci yang pura-pura pingin jadi muslimah sejati pake kerudung segala.</p>
<p><strong>Tips kedua</strong>: pake jilbab. Ini nih yang bakalan bikin kamu jadi cewek tulen. Why? Karena kalo cuma kerudung kan bisa dipasangin sama apa aja. Sama jins, sama hem lengan panjang, kaos oblong lengan panjang ato bahkan kain yang bikin kamu kayak lemper alias ketat banget. Jangan salah, adakalanya di antara kamu yang tomboy, ternyata kamu masih pingin menampilkan sisi kewanitaanmu dengan pake yang ketat-ketat. Ngaku aja deh (sori bukan nuduhâ€¦ hehehe).</p>
<p>Nah, dengan jilbab yang definisinya saya yakin kamu udah tahu, yaitu pakaian longgar terusan menjulur hingga menutup kaki, maka apa pun kamu adanya, kamu tetap dikenali sebagai muslimah. Nggak ada tempat lagi bagi celana jins belel, kaos oblong, kemeja cowok dll kecuali itu semua kamu pake dalam rumah atau sebagai pakaian â€?dalemanâ€™ jilbabmu itu (oya, kalo kamu berjilbab kudu ada kain pelapis di dalamnya loh, yaitu baju sehari-hari yang kamu pake dalam rumah. Jadi bukannya under wear aja atau bahkan nggak ada lapisan sama sekali)</p>
<p>Dengan jilbab dan kerudung ini, maka setomboy apa pun kamu akan selalu diingatkan secara langsung or nggak langsung tentang jati diri kamu sebagai seorang wanita muslimah. Selain itu asah kefemininan perasaan cewek kamu dengan kepedulian sosial, simpati, dan empati kepada orang lain. Coba yaaâ€¦ (insya Allah kamu bisa kok)</p>
<p><strong>Islam punya wanita-wanita perkasa</strong><br />
Kalo kamu ngaku seorang cewek yang nggak suka lemat-lemot, coba bandingkan dengan sosok-sosok perkasa wanita-wanita di masa kejayaan Islam dulu.</p>
<p>Kamu tahu Asma binti Abu Bakar? Nah, beliau adalah sahabat wanita terkemuka yang masuk Islam sejak dini. Bukan hanya pandai melantunkan syair dan fasih berbahasa tapi beliau juga ikut dalam perang Yarmuk sehingga dijuluki â€?Dzaatin Nithaqainâ€™ atau wanita bersabuk dua.</p>
<p>Lalu ada Asma binti Yazid al-Anshoriah. Beliau adalah seorang orator bangsa Arab yang terkemuka, berani dan selalu tampil ke depan. Di perang Yarmuk pun kiprah beliau layak diperhitungkan ketika berhasil membunuh sembilan prajurit Romawi di medan pertempuran.</p>
<p>Islam juga punya Gazalah al-Haruriah, Hindun binti Utbah bin Rabiah, dan Juwairiyah binti Abu Sofyan, yang juga turut berpartisipasi dalam perang Yarmuk baik sebagai penyedia minuman dan tenaga medis maupun terjun langsung dalam kancah perang dan membunuh musuh-musuh Islam.</p>
<p>Dalam perang Qadisiyah ada Khansa binti Amru yang syair-syairnya mampu membuat Rasulullah kagum. Khansa pula lah yang mendorong semangat keempat putranya dalam perang sehingga semuanya mati syahid. Belum lagi kalau kamu tahu yang namanya Khaulah binti Azwar al-Asadi yang aktivitas kemiliterannya mirip dengan Khalid bin Walid.</p>
<p>Selain itu, ada Laila al-Gifariah yang dari golongan wanita terpandang tapi rela bersusah-susah ikut Rasulullah ke medan tempur untuk mengobati pejuang yang sakit dan terluka. Bahkan pada waktu perang â€?Jamalâ€™ beliau ikut berangkat ke Basrah berperang di barisan Ali bin Abi Tholib.</p>
<p>Melengkapi jajaran waniat perkasa lainya, ada Rabayiâ€™ binti Miâ€™waz, sahabat wanita yang membaiat Rasulullah dan turut serta dalam berbagai pertempuran. Lalu Ummu Haram yang gabung dengan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Ciprus bareng suaminya. Dalam pertempuran ini beliau terjatuh dari kudanya dan menjadi syahidah. Lalu ini neh yang lebih dahsyat lagi, Ummu Imaroh. Prestasi beliau jangan diremehkan. Mulai dari Baiat Aqobah, Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Khaibar dan perang Hunain, semuanya ada partisipasi wanita perkasa ini. Di perang Uhud beliau terluka sebanyak dua belas goresan dan ketika perang Yamamah sebelah tangannya putus. Subhanallah (Xena pasti kalah tuh!)</p>
<p>Nah, kalo kamu emang pingin jadi cewek yang tangguh dan tegar, buktikan! Jangan cuma tampilan aja tomboy tapi menghadapi cobaan hidup kamu langsung melempem. Dan yang utama, tomboy bukan dalam hal penampilan dan tingkah laku. Karena sungguh Allah akan melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Emang nggak takut kena laknat Allah? Hiiiyâ€¦.</p>
<p>Tapi itu bukan berarti kamu nggak boleh jadi cewek yang bersikap tegas, teguh pendirian, kuat kemauan, dan mandiri. Sebaliknya, muslimah emang kudu punya sikap-sikap seperti itu. Nggak jaman lagi jadi cewek muslimah tapi dikit-dikit cengeng, mudah putus asa, nggak bisa mandiri dan aleman banget. Wah, jangan sampe deh.</p>
<p>So, tomboy dalam penampilan is no way. Tegas dan teguh pendirian dalam sikap? Kudu lagi. Karena jadi cewek bukan berarti lemah dalam segalanya. Nah, masih tetep nekat pengen jadi cewek tomboy? Jangan ah! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 211/Tahun ke-5/6 September 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cewek-tomboy-jangan-ah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Bangga Jadi Homoseks!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-bangga-jadi-homoseks</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-bangga-jadi-homoseks#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jangan-bangga-jadi-homoseks/</guid>
		<description><![CDATA[â€œSaya seorang lesbian. Apa salahnya jadi seorang lesbian? Ini hal yang normal. Masyarakat mungkin menilai ini kelainan atau melanggar norma-norma agama. Terserah saja. Saya tak terganggu dengan berbagai penilaian itu. Buktinya saya tetap bisa hidup bersama dengan pasangan saya selama lebih dari 10 tahunâ€? (Koran Tempo, 15/08/04).
Penggalan curhat di atas adalah kebanggaan dari salah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€œSaya seorang lesbian. Apa salahnya jadi seorang lesbian? Ini hal yang normal. Masyarakat mungkin menilai ini kelainan atau melanggar norma-norma agama. Terserah saja. Saya tak terganggu dengan berbagai penilaian itu. Buktinya saya tetap bisa hidup bersama dengan pasangan saya selama lebih dari 10 tahunâ€? (Koran Tempo, 15/08/04).<span id="more-212"></span></p>
<p>Penggalan curhat di atas adalah kebanggaan dari salah seorang pasangan lesbi yang sudah hidup serumah bin seranjang di kawasan Ciledug-Tangerang. Selain testimoni ini, MMS perilaku sepasang lesbian berseragam SMU sempat menggegerkan kota Kembang. Sama gegernya dengan informasi hasil penelitian dan penelusuran Yayasan Priangan Jawa Barat yang menunjukkan tingginya kasus homoseksual di kalangan pelajar di Bandung, 21% siswa SLTP dan 35 % siswa SMU disinyalir telah melakukan perbuatan homoseksual. (Swaramuslim.net, 19/12/03). Waduh!</p>
<p>Rupanya di negeri kita, geliat kehidupan kaum homoseks tidak lagi underground. Beberapa diskotek di kota-kota besar di Indonesia pun, tanpa risih bikin acara khusus gay dan lesbian setiap minggunya. Seperti di Moon Light Dischotheque Jakarta; Q Bar dan Kudos Bar Bali; atau Studio East di Kota Pahlawan. Acaranya begitu variatif. Fashion Show, Cowok Berbadan Atletis, Pemilihan Cowok-Cewek Trendi, Pemilihan Cowok Gerondong, atau acara tahunan Miss Universe Waria. (KoranTempo, 15/08/04)</p>
<p>Organisasi yang mewadahi mereka pun kian menjamur. Di awali Lamda Indonesia pada tahun 1982, kini bagi kaum gay, ada Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati (IPOS) di Jakarta; Gaya Dewata di Bali; Komunitas Pelangi di Yogya; Gaya Priangan di Bandung; atau Gaya Nusantara di Surabaya. Kaum lesbiannya banyak yang gabung di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Swara Srikandi, Jaringan Kerja Warna-Warni, atau Persatuan Lesbian Indonesia. Semua institusi di atas mengadakan advokasi, seminar, pendidikan tentang hak-hak politik dan sosial, kampanye anti narkoba dan bahaya HIV, pemberian beasiswa, hingga kegiatan pengajian. (KoranTempo, 15/08/04)</p>
<p>Di luar negeri, kaum homoseks kerap kali berparade bin karnaval untuk mendapatkan pengakuan atas eksistensi mereka. Di Berlin, sebuah kota dengan komunitas gay terbesar di Eropa, ada perayaan Christopher Street Day alias hari kaum gay. Di Amsterdam-Belanda, yang dijuluki Gay Capital of The World (Ibukota Dunia Gay), terdapat Gay Pride Amsterdam. Dan baru-baru ini ada Festival Nationsâ€™04, yang merupakan festival kaum homoseks dari tanggal 7-9 Agustus 2004 di Singaparna eh, Singapura. Heboh pisan euy!</p>
<p>Sobat muda muslim, nampaknya aksi coming out kaum homoseks semakin â€?memaksaâ€™ masyarakat untuk menganggap wajar kehadiran mereka. Tapi sebagai seorang muslim, mungkinkah kita menganggap wajar suatu perbuatan yang nggak wajar di hadapan Allah? Ada baiknya kita baca dulu buletin ini biar sikap kita terhadap pertanyaan itu bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Tafadhol!</p>
<p><strong>Mengenal lebih dekat homoseksual</strong><br />
Secara naluriah manusia punya ketertarikan seksual terhadap lawan jenisnya yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah heteroseks. Cowok kesengsem ama cewek pujaan hatinya. Gitu juga sebaliknya. Tapi ternyata, ada orang yang?  justru (lebih) tertarik pada orang-orang sejenis. Cowok tertarik pada sesama kaum Adam yang disebut gay. Dan cewek tertarik pada sesama kaum Hawa yang disebut lesbian. Gay dan lesbian inilah yang kemudian dikelompokkan dalam kaum homoseks. Malahan ada juga tipe orang yang ketertarikan seksualnya AC-DC alias biseksual. Ama lawan jenis oke, dengan sesama jenis juga nggak masalah. Kemaruk banget ya?</p>
<p>Dalam sejarahnya, aktivitas homoseksual sudah ada sejak zaman prasejarah. Tepatnya?  di kota Sodom dan Gomorah pada 3000 SM. Allah begitu sayang kepada para penduduk kota ini hingga mengutus Nabi Luth as untuk mengajak mereka yang berperilaku homoseks agar kembali ke jalan yang benar. Tapi apa daya, mereka begitu keukeuh sureukeuh istiqomah dalam kebejatan moralnya. Sehingga Allah menurunkan azab dengan membalikkan negerinya dan menghujaninya dengan batu dari tanah yang terbakar seperti diceritakan dalam QS. Huud [11]: 82.</p>
<p>Adapun penyebab orang bisa jadi homoseks, kita juga nggak bisa mastiin (belon berpengalaman sih, hihihi). Para ahli psikolog atau kedokteran juga keteteran menjelaskan penyebab orang jadi homoseks. Kalo menurut dr. Wimpie Pangkahila, ada empat kemungkinan penyebab homoseksual.?  Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak (seperti kasus sodomi pada anak di bawah umur). Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar (seperti tradisi warok yang memelihara gemblak di Ponorogo). Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.</p>
<p>Namun sobat, dari penjelasan dr. Wimpie, nampaknya tiga faktor yang bersifat eksternal selain biologis atau genetik paling masuk akal mampu menyeret seseorang menjadi homoseks. Karena perilaku seseorang tentu mencerminkan informasi yang dia serap tentang perbuatan itu dari lingkungan sekitarnya. Bukan semata-mata karena faktor biologis. Faktor biologis hanyalah pendorong orang untuk berbuat. Tapi bukan yang menentukan jenis perbuatan yang harus dilakukan.</p>
<p>Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar FKUI berkomentar, â€œSampai sekarang belum ada yang menyatakan karena faktor genetis, yang sudah jelas adalah faktor lingkungan.â€? (O. Solihin, Jangan Jadi Bebek, 2002).</p>
<p><strong>Virus kebebasan masyarakat Barat</strong><br />
Sobat muda muslim, berkembangnya kehidupan homoseks hanya terjadi di negeri-negeri yang aturan hidupnya steril dari syariat Islam. Ini disebabkan mereka menjadikan kebebasan individu di bawah lindungan demokrasi sebagai panglima tertinggi yang wajib dihormati. Catet tuh!</p>
<p>Menurut Syaikh Abdul Qadim Zalum, dalam bukunya, Ad-D?®mukrathiyyah Nizh?¢m Kufr, paling tidak ada 4 (empat) kebebasan yang dijamin dalam demokrasi: (1) kebebasan beragama; (2) kebebasan berpendapat; (3) kebebasan berekspresi/berprilaku; (4) kebebasan kepemilikan.</p>
<p>Hawa kebebasan individu yang ditawarkan demokrasi mengizinkan mereka mengibarkan bendera Pelangi sebagai simbol komunitas kaum homoseks. Ibarat oase di tengah panasnya padang pasir, kebebasan itu juga memancarkan sebuah asa bagi mereka untuk membuka diri tanpa takut mengalami diskriminasi. Sehingga perkawinan sejenis (gay) yang disyahkan pengadilan Tinggi Massachusset-AS Februari silam kudu diterima sebagai sebuah konsekwensi dari kebebasan individu. Meski Bush Jr bilang nggak setuju, tapi Hakim Pengadilan Tinggi negara bagian yang besangkutan mengatakan bahwa perkawinan sesama jenis dilindungi oleh Konstitusi Amerika Serikat. (Suara Merdeka, 05/02/04). Hayo lho?</p>
<p>Dan jika paham permisif ini dibiarkan, boleh jadi kita akan memanen kebejatan moral masyarakat di masa yang akan datang. Penularan HIV/AIDS atau mewabahnya Penyakit Menular Seksual semakin meningkat. Haruskah azab yang Allah timpakan pada kaum Nabi Luth terulang di negeri kita? Naudzubillahi min dzalik</p>
<p><strong>Rahasia Islam tangani homoseksual</strong><br />
Merajalelanya kaum homoseks memang nggak ada dalam sejarah peradaban Islam. Bahkan nggak akan pernah ditemui selama syariat Islam diterapkan oleh negara. Bukan itu saja, penerapan aturan Islam juga akan menjadikan pola hidup di tengah masyarakat mulia, aman, dan terkendali. Pengen tahu rahasianya?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, aturan Islam akan menindak tegas dengan pemberlakuan hukuman sampai mati bagi pelaku homoseksual. Baik yang gay maupun lesbian. Rasullah saw bersabda: â€œBarangsiapa menjumpai orang yang berbuat homoseks seperti praktek kaum Luth, maka bunuhlah si pelaku dan yang diperlakukan (pasangannya)â€? (HR Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, Abu Daud, dan an-Nasaâ€™i)</p>
<p>Para ulama dan shahabat berbeda pendapat dalam penggunaan jenis hukuman mati bagi pelaku homoseks itu. Sahabat Ali ra memilih merajam dan membakar pelaku. Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan berpendapat, pelaku dibenturkan ke tembok sampai mati. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, pelaku harus dilempar dari gedung yang tinggi dalam keadaan terjungkir dan dihujani dengan batu. Biar beda pendapat, tapi tetep ending-nya satu: Mati!</p>
<p>Tapi perlu kamu catet, hukuman di atas bukan tindakan sewenang-wenang. Tapi merupakan aturan Allah yang akan menebus dosa pelakunya di akhirat sekaligus mencegah orang berbuat serupa.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Islam punya rambu-rambu pergaulan yang akan menyelamatkan kita dari perilaku kaum nabi Luth.</p>
<ol>
<li>Penampilan luar cowok kudu beda dengan cewek. Gitu juga sebaliknya. Seorang muslimah nggak pantes menyandang gelar cewek tomboy. Sama nggak pantasnya dengan julukan banci, waria, wadam, atau bences bagi seorang muslim. â€œRasulullah saw melaknat kaum pria yang menyerupai (penampilan) wanita, dan kaum wanita yang menyerupai penampilan para pria.â€? (HR Bukhari)</li>
<li>Mata nggak jelalatan melihat aurat sesama jenis maupun lawan jenis. Mentang-mentang sejenis, bukan berarti boleh mandi bareng atau pamer aurat (pake celana di atas lutut atau malah bergaya tarzan) di depan gank-nya. â€œJanganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya, jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya.â€? (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)</li>
<li>Nggak tidur satu selimut dengan temen sejenis apalagi lawan jenis. Bisa-bisa ring WCW pindah ke kasur.?  Aturan ini juga berlaku buat anggota keluarga yang sudah baligh lho.â€?Janganlah seorang laki-laki tidur satu selimut dengan sesama laki-laki, jangan pula wanita tidur satu selimut dengan wanita lainnya.â€? (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)</li>
</ol>
<p>Nah sobat, fenomena kaum homoseks ini bukan untuk dibaca atau sekadar tambahan informasi saja. Sebagai seorang muslim, ada tuntutan bagi kita untuk ambil peduli. Mengingatkan teman-teman kita yang perilakunya menyimpang bukanlah hal yang hina atau tidak setia kawan. Justru itulah wujud rasa sayang kita sebagai seorang sahabat. Masaâ€™ sih kita membiarkan teman kita yang tengah berjalan menuju jurang yang dalam bin terjal. Tega bener. Kalo kita masih cuek, inga-inga, Allah nggak lupa akan kecuekan kita itu di yaumul hisab kelak.</p>
<p>Makanya mari kita niatkan bersama-sama untuk ikut terlibat dalam aktivitas dakwah. Songsong niat mulia itu dengan menghadiri kajian Islam secara rutin. Biar benteng akidah kita terjaga sekaligus kita punya modal tsaqofah untuk dibagi-bagikan ke orang lain saat berdakwah. Dan nggak ketinggalan, kita juga sampaikan koreksi terhadap pemerintah negeri ini yang lagi asyik bermesraan dengan demokrasi. Agar mereka meninggalkan aturan sekuler yang menuhankan hawa nafsu dengan segala kebobrokannya dan beralih kepada Syariat Islam yang agung dan mulia, untuk diterapkan sebagai ideologi negara. Tunggu apa lagi?[hafidz]</p>
<p>(Buletin Studia &#8211; Edisi 210/Tahun ke-5/30 Agustus 2004)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-bangga-jadi-homoseks/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>â€œBuruan Cium Gueâ€</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/buruan-cium-gue</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/buruan-cium-gue#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/buruan-cium-gue/</guid>
		<description><![CDATA[Kamu pasti udah tahu film layar lebar keluaran terbaru Multivison Plus ini. Bahkan sangat boleh jadi kamu merasa terlibat dan melibatkan diri dalam kontroversi film ini. Kalo saya sendiri rada males ikutan menuliskan di buletin ini. Kenapa? Karena bisa jadi hal ini kian melariskan film tersebut. Kritikan justru bisa berubah jadi iklan gratis. Tapi, alasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamu pasti udah tahu film layar lebar keluaran terbaru Multivison Plus ini. Bahkan sangat boleh jadi kamu merasa terlibat dan melibatkan diri dalam kontroversi film ini. Kalo saya sendiri rada males ikutan menuliskan di buletin ini. Kenapa? Karena bisa jadi hal ini kian melariskan film tersebut. Kritikan justru bisa berubah jadi iklan gratis. Tapi, alasan saya menuliskan kembali obrolan tentang kontroversi film yang dibintangi Masayu Anastasya dan Hengky Kurniawan ini tiada lain karena merasa tertantang dan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab untuk meluruskan pemahaman kamu semua. Semoga saja kamu semua juga setuju.<span id="more-211"></span></p>
<p>Oya, jangan dianggap ngeguruin ye. Itu sebabnya, kita ngobrol aja. Ya, anggap saja tulisan kali ini semacam curhat aja. Karena saya yakin, kamu udah pada tahu kontroversi yang berkembang saat ini tentang film remaja yang emang judulnya provokatif itu.</p>
<p>Sobat muda muslim, rasanya sudah sering banget kita disuguhi film-film remaja model begini. Dari yang pesannya â€?halusâ€™ sampe yang provokatif seperti film ini. Kita juga sudah kenyang melahap beragam informasi yang sayangnya banyak banget yang error. Kalo nggak kuat-kuat iman mah, bisa bablas deh. Maklum, siapa sih yang nggak tergoda ketika disuguhi adegan syur. Apalagi itu cuma pantas dinikmati oleh mereka yang udah sah jadi suami-istri. Buat para lajang bisa gaswat tuh!</p>
<p>â€œBuruan Cium Gueâ€?, yang ide cerita dan skenarionya ditulis oleh penulis pendatang baru, Ve Handojo ini mencoba memotret kehidupan remaja Jakarta dengan segala ulah dan permasalahannya. Berangkat dari pemikiran ini, Ve melihat bahwa ciuman di kalangan remaja masih dilihat sebagai sesuatu yang luar biasa. Banyak remaja yang penasaran bagaimana rasanya ciuman. Padahal, di balik satu ciuman sejuta resenya, seperti yang ditulis dalam slogan film ini.</p>
<p>Dari segi penggarapan cerita emang unik, meski hal itu udah biasa. Maklum, orang akan mudah terpikat dengan sesuatu yang umum tapi dengan kemasan yang lain daripada yang lain. Bisa jadi inilah yang diinginkan si penulis cerita dan juga produser film remaja ini.</p>
<p>Seperti yang udah kita ketahui bersama dalam cerita film ini (ciee bahasanya kok resmi amat. Kayak pak lurah aja!), karakter remaja yang penasaran ini tergambar lewat tokoh Desi (Masayu Anastasya), seorang murid kelas 3 SMU yang juga bekerja sebagai pembawa acara remaja di radio. Dia sudah menjalin hubungan asmara dengan Ardi (Hengky Kurniawan) yang sudah kuliah selama dua tahun. Selama berpacaran, Ardi ingin menerapkan gaya pacaran sehat dengan menjauhi segala bentuk kontak fisik, termasuk ciuman. (ada juga toh pacaran sehat? Jangan-jangan cuma sehat doang dalam pandangan hawa nafsu, tapi sejatinya melanggar syariat tuh!)</p>
<p>Oya, hubungan dua remaja ini mulus-mulus saja sampai suatu hari, di sela-sela siaran langsung di radio, Desi ditanya oleh seorang pendengar tentang pengalaman ciuman pertamanya. Karena terdesak, Desi berbohong dengan mengaku sudah pernah ciuman dengan Ardi. Pengakuan Desi membuat Ardi marah. Apalagi Desi diminta tampil di sebuah acara tv menceritakan pengalamannya itu bersama Ardi.</p>
<p>Masalah ini kontan membuat hubungan mereka terganggu. Ardi masih bersikeras tak mau mencium Desi, sementara Desi balik menganggap sikap Ardi terlalu kolot. Dari situ, Desi justru semakin penasaran untuk mendapatkan ciuman dari Ardi. Apalagi, teman-temannya selalu memanas-manasi untuk melakukannya. Desi pun mengerahkan segala cara demi merasakan ciuman pertamanya. Waduh!</p>
<p><strong>Satu film berjuta dampaknya</strong><br />
Disinggung bahwa film ini terlalu agresif memperlihatkan adegan ciuman seperti yang terlihat dalam trailer-nya, dan justru akan mendorong remaja melakukan hal yang sama, terlebih dengan judulnya yang amat provokatif, produser Raam Punjabi hanya menjawab silakan menonton filmnya dulu sebelum memberikan penilaian. Walah!</p>
<p>Ketika ditanya lebih lanjut, Raam menambahkan, â€œKita jangan cepat-cepat memberikan penilaian buruk mengenai masalah ciuman ini. Ciuman tidak dilarang dalam budaya kita, tergantung tempatnya di mana. Padahal, satu ciuman sejuta resenya. Kita ingin menunjukkan banyak pengalaman dan banyak pula akibatnya,â€? tandas Raam yang dijuluki sebagai rajanya sinetron remaja. (sinarharapan.co.id, 26/7/04)</p>
<p>Sobat muda muslim, film termasuk media komunikasi massa. Dari segi dampak atau pengaruhnya kepada khalayak jelas menjangkau lebih banyak massa. Beda banget kalo media kita cuma dinikmati teman satu kos atau keluarga di rumah aja. Tentunya, media itu cuma?  berdampak kepada sejumlah orang yang bisa diitung lewat jari. Tul nggak? Tapi satu film yang mengumbar maksiat, dan itu ditonton jutaan orang, wah, bisa dibayangkan dampaknya. Syerem abiz!</p>
<p>Ngomong-ngomong soal dampak sebuah film, kita bisa memelototi daftarnya yang emang cukup banyak. Kamu pernah nonton film Alladin versi Walt Disney? Dalam sebuah film animasinya yang berjudul Aladdin (1992), salah satu tema lagunya dengan nada cukup mengejek Islam dengan sebutan Arab adalah bangsa bar-bar, â€œItâ€™s barbaric, but hey, itâ€™s homeâ€?. Penonton terpengaruh? Tentu saja ada. Itu sebabnya sampai sekarang Amrik selalu curigesen sama etnis ini, yang menurut mereka mewakili Islam.</p>
<p>Saya pernah tanpa sengaja nonton film yang diputar?  lewat video dalam perjalanan ke luar kota menggunakan bis. Waktu itu film yang sedang diputar adalah Eraser. Film ini dibintangi oleh binaragawan asal Austria, Arnold Schwarzenegger. Dalam sebuah dialognya menyudutkan Hamas, kelompok pejuang Palestina, sebagai teroris. Ketika ditanya temannya, â€œDari mana kamu dapatkan senjata ini?â€?. Jawaban Arnold, â€œDari gerakan Hamas, teroris Palestina.â€?</p>
<p>Penodaan terhadap perjuangan Hamas dan rakyat Palestina melawan penjajah Israel sangat boleh jadi dipersepsi salah oleh ribuan, atau mungkin jutaan pemirsa yang menonton film tersebut. Diharapkan sikap pembelaan kepada Amrik dan Israel akan lebih besar setelah pemirsa nonton film ini.</p>
<p>Itu sebabnya, sangat boleh jadi jika banyak teman remaja yang takut dengan Islam dan merasa harus menolak ikut pengajian karena khawatir dianggap teroris, bukan saja karena seringnya membaca dan mendengar berita yang menyudutkan Islam, tapi bisa jadi karena kebanyakan nonton film laga Amrik macam Death Before Dishonor (1987), True Lies (1994), Executive Decision (1996), Delta Force yang dibintangi Chuck Norris, dan juga Top Gun yang pernah melambungkan nama Tom Cruise.</p>
<p><strong>Jangan anggap enteng</strong><br />
Jangan anggap enteng soal dampak yang dihasilkan media massa. Isi film â€œBuruan Cium Gueâ€? sangat mungkin untuk ditiru para remaja yang menjadi penontonnya. Sebab, gimana pun juga, film seringkali menginspirasi pemirsanya. Malah sangat boleh jadi akan diikuti rumah produksi lainnya jika ternyata film itu banyak ditonton orang (dasar otak kapitalis! Mikirnya duit mulu, soal moral mah ditaro di jempol kaki kali ye).</p>
<p>Sobat muda muslim, dalam kondisi seperti ini, alhamdulillah ternyata masih ada yang peduli untuk meluruskan keganjilan dari film ini (moga saja tulisan di buletin ini juga termasuk upaya amar maâ€™ruf wa nahyi munkar).</p>
<p>â€œBagi pria dan wanita yang bukan mahram, bersentuhan apalagi berciuman adalah perbuatan zinah. Dan film yang kira-kira judulnya Buruan Berzinah itu sama saja mengajak generasi muda kita untuk berzinah. Oleh karena itu saya mengimbau para sutradara dan pemain yang beragama Islam agar merenungi hal ini,â€? tutur Aa Gym saat menyampaikan ceramah di Masjid Itiqlal yang disiarkan langsung oleh SCTV 8 Agustus 2004.</p>
<p>Sebenarnya, sebelum Aa Gym mengeluarkan komentarnya di hadapan jutaan pemirsa televisi tersebut, berbagai mailing list (milis) perfilman dan pertelevisian juga sudah ramai membicarakan film yang digarap Sindo HW itu. Beragam tanggapan pro dan kontra pun keluar dari beberapa anggota milis. (suaramerdeka.com, 13/8/04)</p>
<p>Meski ini terjadi pro-kontra, tapi jangan anggap enteng bahwa kita boleh berbeda pendapat dalam masalah ini. Apalagi kemudian membiarkan masyarakat yang akan memilih. Wah, itu keliru. Kenapa? Karena, selain kebenaran bagi seorang muslim harus didasarkan pada ajaran Islam, juga untuk sesuatu yang jelas kerusakannya tidak perlu ada perbedaan pendapat atau perdebatan. Tapi harus segera diselesaikan lewat jalur hukum. Ditentukan kejelasannya. Nah, negara dong yang berperan besar dalam masalah ini. Tul nggak?</p>
<p>Film bernuansa pornografi ini sebetulnya bisa?  saja dengan mudah diberantas, asal penguasa di negeri ini mampu dan mau melakukannya dengan sepenuh hati. Cuma masalahnya, selama masih bermesraan dengan sistem kapitalisme yang emang rusak ini, maka nggak akan bisa selesai sampe tuntas. Selalu aja ada bara tersisa, dan itu bisa dikipasin lagi untuk kembali menyala. Maklumlah, penyelesaian setengah hati. Jangan kaget pula kalo kini permisivisme udah jadi â€?Tuhanâ€™.</p>
<p>Itu sebabnya, tampak jelas kalo saat ini para pejabat negara nggak begitu selera untuk membenahi persoalan ini. Apalagi sekarang lagi mikirin hari bersejarah 20 September 2004. Pasti mikirnya kursi kepemimpinan melulu. Kalo pun peduli sama rakyat, ya, sebatas nyari simpati aja untuk milih dirinya nanti. Celakanya, kepedulian itu pun cuma diwujudkan dengan mengadakan lomba balap karung dan panjat pinang dalam rangka memperingati kemerdekaan. Tulalit banget kan? (masih mending kata Si Oneng di Bajaj Bajuri, â€œEmang tahun â€™45 ada balap karung Mak?â€? ketika Si Emak mau ikutan lomba balap karung memeriahkan 17-an).</p>
<p><strong>Ini kapitalisme, Bung!<br />
</strong>Emang sih, kalo kita mau ngelihat secara jernih dan dengan akal yang waras, sinema lokal maupun yang impor tidak menawarkan solusi yang jelas. Oke deh, kalo ngomongin muatan Islam, kayaknya nggak ada tuh yang bener. Kalo kita bicara soal moral saja, mana ada sinema kita yang mendidik ke arah sana. Tul nggak? Kalo ngajak kepada yang nggak bener emang banyak.</p>
<p>Selain itu, kayaknya bisa bikin otak kamu turun ke dengkul deh. Hampir semua sinetron dan juga film remaja menjual mimpi. Semua bercerita tentang cinta, selingkuh, dan pernak-perniknya. Cerita kayak gitu menjual mimpi banget! Bikin kita males mikir. Akhirnya, ya jadi generasi pemimpi. Bukan generasi impian. Astaghfirullahâ€¦</p>
<p>Ya, maklumlah sobat, hidup di jaman yang serba bebas nilai begini, kita bakalan dihadapkan terus pada persoalan kehidupan yang njlimet. Dalam sistem kehidupan kapitalisme, manusia diajarkan dan dilatih untuk hidup semaunya, alias bebas nilai. Karena, yang terpenting adalah menguntungkan secara materi. Perkara apakah akan membawa kerusakan moral apa kagak, baik buat dirinya maupun orang lain, bukan urusan penting. Nggak peduli lagi soal halal dan haram. Sebab, urusan duit adalah di atas segalanya. Ini kapitalisme Bung! Mafih fulus mampus!</p>
<p>Bagi kita saat ini, paling banter adalah pandai memilih dan memilah. Emang sih, seharusnya negara yang bertanggung jawab. Sebab, merekalah yang punya kekuatan untuk mengubah. Sayangnya, selama masih betah dengan sistem kapitalisme, harapan untuk lebih baik nyaris tak mungkin terealisasi. Intinya, kita pahami Islam, dan buanglah jauh-jauh ajaran kapitalisme-sekularisme dari kehidupan kita. Jadi, mari kita kampanyekan untuk tegaknya kembali syariat Islam, di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Islam, wajib diterapkan sebagai ideologi negara.</p>
<p>Sebab dalam Islam, negara akan memberikan program untuk menanamkan pemahaman secara rutin kepada warga negaranya. Kalo masih ada yang bandel, maka aturan dan sanksi yang diterapkan akan menjerat mereka. Beres. Setuju kan? Harus! Hidup Islam! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 209/Tahun ke-5/23 Agustus 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/buruan-cium-gue/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemerdekaan; Disyukuri atau Dirayakan?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kemerdekaan-disyukuri-atau-dirayakan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kemerdekaan-disyukuri-atau-dirayakan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kemerdekaan-disyukuri-atau-dirayakan/</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki bulan Agustus, semua lapisan masyarakat ikut ngeramein perayaan HUT kemerdekaan RI. Siswa-siswi â€?playboyâ€™ alias anak-anak TK sibuk berkarnaval dengan baju adat yang berbeda-beda. Remajanya kudu rela ditodong jadi panitia tujuh belasan. Pak RT aja sampe mondar-mandir kayak setrikaan nagih iuran agustusan. Bener-bener nggak boleh ada yang cuek. Huhuy!
Bagi para penjual bendera dan umbul-umbul, bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memasuki bulan Agustus, semua lapisan masyarakat ikut ngeramein perayaan HUT kemerdekaan RI. Siswa-siswi â€?playboyâ€™ alias anak-anak TK sibuk berkarnaval dengan baju adat yang berbeda-beda. Remajanya kudu rela ditodong jadi panitia tujuh belasan. Pak RT aja sampe mondar-mandir kayak setrikaan nagih iuran agustusan. Bener-bener nggak boleh ada yang cuek. Huhuy!<span id="more-210"></span></p>
<p>Bagi para penjual bendera dan umbul-umbul, bulan ke delapan ini ibarat bulan berkah. Pernak-pernik kemerdekaan mereka tawarkan di pinggiran jalan raya. Ada juga yang keliling kampung bertemankan gerobak usangnya. Satu per satu bendera dengan berbagai ukuran, tongkat, atau kain umbul-umbul yang mereka pajang berpindah ke tangan pembeli. Pokoknya laris manis tanjung kimpul! Padahal di bulan-bulan laen, barang dagangan mereka jarang dilirik lho (karena memang nggak jualan hihihi)</p>
<p>Di ganggang rumah kita, aksesoris perayaan kemerdekaan yang penuh kreasi dan inovasi kian semarak. Tiap rumah kudu masang bendera. Jalanan dibersihkan dan dicat. Gapura yang awalnya kusam, lecek, bin dekil kini tampil lebih menarik setelah dicat. Pinggirannya dihiasi umbul-umbul dan pita dengan paduan warna mencolok. Nggak ketinggalan lukisan yang bernuansa patriotisme juga adakalanya numpang beken melatarbelakangi gapura.</p>
<p>Saking kreatifnya, gelas bekas minuman mineral pun diberdayakan. Mereka digantung terbalik melintangi jalan masuk gang setelah dicat merah-putih. Nasib yang sama juga dialami es mambo yang berwarna-warni kayak pelangi yang biasanya nongkrong dalam kulkas.</p>
<p>Belon lengkap rasanya kalo nuansa â€?independence dayâ€™ ini lolos dari otak fulus pengelola pusat perbelanjaan. Yup, jauh-jauh hari mereka udah bikin agenda khusus buat nyambut ajang ini. Setiap sisi mal bertaburan balon, pita, bendera plastik, dan segala aksesoris kemerdekaan. Potongan harga, door prize, hingga pagelaran musik mereka gelar dengan label â€œDalam rangka peringatan HUT kemerdekaanâ€? demi mendongkrak penjualan.</p>
<p>Phew! Melototin bentuk partisipasi penduduk negeri ini untuk memeriahkan kemerdekaannya emang capek. Selalu aja ada yang baru, aneh, dan spektakuler. Yang pasti, satu hal yang udah jadi â€?rukunâ€™ dalam setiap bentuk partisipasi itu: kudu meriah euyâ€¦!</p>
<p><strong>Satu hari di tanggal keramat<br />
</strong>Pagi itu waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Tapi tumben siswa-siswi dari SD, SMP, sampe SMU udah pada baris rapi di lapangan sepakbola di tengah kota. Padahal jam segitu biasanya mereka masih asyik bermesraan dengan bantal guling atau ngecengin serial kartun Goro-Goro. Anehnya lagi, Bapak-Ibu Guru, dan para karyawan instansi pemerintah juga ngikut baris. Coba tebak, mereka lagi ngapain hayo?</p>
<p>Yang pasti mereka bukan lagi pada antri sembako dong. Seratus! Mereka lagi ikut upacara perayaan HUT Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Lihat saja, pasukan pengibar bendera, baik yang Pusaka maupun yang Ichtra Jaya (eh, sori ini mah nama bis Bogor-Lebak Bulus ya? Hihihi) maksudnya yang biasa, udah siap dari baâ€™da shubuh tadi. Soalnya mereka yang jadi bintang. Iya dong. Bayangin aja, kalo mereka kebalik masang bendera, bisa jadi perayaan kemerdekaan negara Polandia. Berabe kan?</p>
<p>Selesai upacara, semua peserta yang kepanasan pada bubar tak tentu arah. Para pelajar langsung cabut menuju rumahnya. Biar nggak ketinggalan daftar perlombaan tujuh belasan. Maklum, antusias generasi muda untuk acara tahunan ini ngalahin audisi AFI, Indonesian Idol, KDI, atau Cantik Indonesia. Asli. Mereka bela-belain desak-desakan deh di pintu masuk biar dapet tiket. Sampe rela adu jotos segala. Ih, asal deh. Emangnya mo nonton konser apa? Heheheâ€¦</p>
<p>Tibalah saat yang dinantikan. Dikelompok balita, para peserta lagi sibuk lomba nangkep ikan pake tangan (masaâ€™ iya pake kail?). Yang belasan tahun lagi pada pemanasan sebelum balap karung, balap kelereng, balap makan kerupuk, lomba masukkin jarum ke benang (eh, kebalik ya?), atau ngambil uang pake gigi yang ditempelin di jeruk bali yang berlumuran darah, eh oli. Sementara orang dewasa sebangsa bapak dan ibu juga nggak kalah sibuknya nyusun strategi. Biar menang dalam lomba tarik tambang, bakiak racing, sepakbola pake rok, atau joged dangdut berpasangan sambil menghimpit bola (coba bolanya diganti granat. Seru kali yeeâ€¦? Hihihi)</p>
<p>Puncak acara siang itu diakhiri lomba panjat pinang yang diikuti cowok-cowok topless alias telanjang dada. Mereka kudu bisa manjat pohon pinang yang penuh dengan lumuran oli biar bisa dapetin hadiah menarik yang digantung di puncak pohon. Ada kaos, payung, buku, minuman, bola, sepeda, sampe duit kontan. Tapi kayaknya, monyet aja ogah kali kalo disuruh ikut. Udah mah licin banget, doi juga bisa minder. Sebab wajah para pesertanya yang dilulur oli nggak kalah cakepnya ama doi. Gubraks!</p>
<p>Lapangan yang tadi pagi dipake upacara, siangnya buat perlombaan, malamnya kudu rela dihiasi panggung pagelaran musik. Buat acara malam kesenian agustusan yang nggak kalah menariknya. Di sini, ada acara pembagian hadiah, live show, dangdutan, sampe tari kreasi. Parahnya, banyak tari kreasi yang ditampilkan grup cewek yang menggoda. Baik dari pakaiannya yang minim, ketat, bin seksi, juga gerakannya yang erotis. Nggak jauh beda ama perilaku bidadut. Udah gitu, para penontonnya juga campur baur laki-perempuan. Malah ada yang mojok juga. Parah pisan euy. Walhasil, ajang independence day ini ditutup dengan acara malam penuh maksiat. Ciloko tenan Rek!</p>
<p><strong>Benarkah kita sudah merdeka?<br />
</strong>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata merdeka berkaitan dengan penjajahan, berarti lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya, baik penjajahan secara fisik maupun penjajahan dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya.</p>
<p>Kalo baca definisi di atas, kita tentu yakin sejak dibacakannya teks proklamasi 59 tahun yang lalu, negeri ini udah terbebas dari penjajahan secara fisik. Nggak ada lagi perang, kerja paksa, kerja rodi, romusha, atau meneer Belanda yang sok kuasa. Para penjajah udah tereliminasi dari bumi pertiwi. Sehingga Kikan, vokalis Cokelat dengan lantang bisa menyuarakan â€œ..merah putih teruslah kau berkibar/di ujung tiang tertinggi/di Indonesiaku iniâ€¦â€? Taaarik Maaang!</p>
<p>Cuma yang bikin kita ragu, apa benar negeri ini udah merdeka dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya?</p>
<p>Soalnya, pemerintahan kita masih betah pake sistem demokrasi sekuler buatan orang kafir Barat yang bertentangan dengan Islam. Padahal mayoritas penduduk negeri ini muslim. Kebijakan ekonomi kita pun kudu tunduk di bawah tekanan lembaga keuangan dunia seperti IMF. Akibatnya sumber daya alam yang melimpah dikeruk seenaknya oleh para investor asing. Seperti yang terjadi pada sumur-sumur minyak negeri kita yang dikuasai perusahaan raksasa minyak asing berjaket Exxon/Caltex, Atlantic Richtfield/Arco, Mobil Oil. ConocoPhilips, British Petroleum dll. Pengusaha asing dapet minyak mentah, kita cuma kebagian minyak jelantah. Walah!</p>
<p>Kondisi ini diperparah dengan mewabahnya sikap individualis di masyarakat kita. Sedikit sekali yang peduli dengan penjajahan budaya Barat yang masuk via media massa. Sampe-sampe multivision plus berani ngajak remaja â€?berzinaâ€™ lewat film terbarunya bertajuk â€?Buruan Cium Gue!â€™. Masyarakat seolah menutup mata dan telinga dengan ancaman seks bebas, budaya permisif, atau gaya hidup hedonis yang tengah membidik remaja. Alamat hancur generasi muda Islam. Betul? Betuuul!</p>
<p>Di tingkat individu muslim, gencarnya opini sekuler via media massa lambat laun mengikis pertahanan akidah mereka. Standar perbuatan halal-haram tergeser oleh asas manfaat. Kebahagiaan hidup diorientasikan hanya kepada perolehan materi sebanyak mungkin dengan gampang. Harga diri dan kemuliaan sebagai seorang muslimah pun rela digadaikan di ajang pencarian bakat yang mengekspos aurat. Gaswat!</p>
<p>Sobat muda muslim, udah deh. Kita jujur aja. Kalo kita memang belon merdeka alias masih dijajah secara pemikiran dan budaya. Demokrasi, privatisasi, sikap individualis, asas manfaat, seks bebas, permisifisme, gaya hidup hedonis, atau budaya populer adalah raport merah peradaban Barat yang sekuler. Sialnya, di negeri kita justru raport merah itu dianggap nilai istimewa. Akhirnya, perlahan-lahan dengan penuh kebanggaan, nilai-nilai itu diperjuangkan, dipertahankan, malah diupayakan agar mampu mewarnai negara, masyarakat, dan teman-teman di sekeliling kita. Hiksâ€¦hiksâ€¦hiksâ€¦ Beginilah nasib negara kalah yang terjajah. Dijajah kok bangga?</p>
<p><strong>Mensyukuri kemerdekaan</strong><br />
Sobat muda muslim, nikmat kemerdekaan yang telah diberikan Allah ini udah sepatutnya kita syukuri. Bukan dirayakan. Karena mensyukuri berarti mengharapkan ridho ilahi. Sementara merayakan bisa melenakan dan diridhoi setan alias kufur nikmat. Apalagi dilengkali dengan maksiat. FirmanNya: â€œSesungguhnya jika kalian bersyukur pasti kami akan menambahkan nikmat kepada kalian. Jika kalian mengingkari nikmat-Ku sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.â€? (QS Ibrahim [14]: 7)</p>
<p>Sebagai wujud rasa syukur kita kudu kembali kepada Islam dengan segala aturan hidupnya yang mulia. Sebagaimana yang diperintahkan Allah swt.:</p>
<p>â€œWahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total. Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.â€? (QS al-Baqarah [2]: 208)</p>
<p>Eh, boro-boro bersyukur, malah kejebak dalam kondisi eforia alias hiburan yang kebablasan. Dengan menggelar ajang pesta-pora, hura-hura dan suka-suka yang nggak jelas juntrungannya, tapi jelas asalnya dari budaya Barat. Selain termasuk kufur nikmat, di mana penghargaan kita terhadap perlawanan para pahlawan Islam yang dilakukan Tjut Nyak Dien di Aceh; Sisingamaraja XII di Tapanuli; Patimura di Maluku; Imam Bonjol di Padang; Pangeran Diponegoro di Jateng; atau Panglima Besar Sudirman?</p>
<p>Para pendahulu kita itu tentu menginginkan kemerdekaan yang mereka perjuangkan diisi dengan aktivitas mulia. Melahirkan generasi muda muslim yang berprestasi. Menciptakan karakter remaja yang tangguh dan istiqomah. Sehingga mampu menghadapi penjajahan modern melalui serangan pemikiran dan budaya sekuler Barat. Jangan sampai rantai perjuangan itu terputus. Karena permusuhan orang kafir terhadap Islam, nggak ada matinya. Bahkan mereka â€œOLâ€? terus! Catet itu.</p>
<p>Itu sebabnya, mari kita perdalam Islam di forum-forum pengajian. Agar tidak terjebak budaya sekuler Barat (termasuk budaya Sosialisme-Komunisme). Kita amalkan syariat Islam dalam setiap aktivitas kita. Biar pola hidup kita nggak ketuker ama pola hidup Barat yang menuhankan hawa nafsu. Kita dakwahkan Islam sebagai ideologi. Supaya kaum muslimin memahami dan meyakini bahwa cuma Islam yang mampu melawan penjajahan fisik, pemikiran, dan budaya orang-orang kafir. Dengan begitu, kita semua bisa bersama-sama berjuang demi kemuliaan Islam melalui tegaknya Khilafah Islamiyah yang bakal ngasih garansi kemerdekaan hakiki negeri ini dan juga negeri muslim lainnya. Khilafah akan membebaskan penjajahan, baik yang bersifat fisik (militer), juga penjajahan dalam bentuk ekonomi, politik, budaya, juga sosial.?  Mau kan? Kamu harus bin kudu jawab: â€œYaâ€¦yaâ€¦yaâ€¦â€? [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 208/Tahun ke-5/16 Agustus 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kemerdekaan-disyukuri-atau-dirayakan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinetron Indonesia; Idiot dan Banci</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sinetron-indonesia-idiot-dan-banci</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sinetron-indonesia-idiot-dan-banci#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:49:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sinetron-indonesia-idiot-dan-banci/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ibu di Jakarta menulis surat pembaca tentang anak balitanya. Beliau menuturkan, tiba-tiba anaknya gagap dan tidak lagi berbicara normal seperti biasa, ibu tersebut amat terkejut. Setelah diselidiki ternyata si anak mengikuti cara bicara Yoyo dalam sinetron â€œSi Yoyoâ€? yang ditontonnya lewat layar kaca. (Kompas, 20/06/04)
Hmmâ€¦rupanya â€œSi Yoyoâ€? udah mulai makan korban neh. Kok bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ibu di Jakarta menulis surat pembaca tentang anak balitanya. Beliau menuturkan, tiba-tiba anaknya gagap dan tidak lagi berbicara normal seperti biasa, ibu tersebut amat terkejut. Setelah diselidiki ternyata si anak mengikuti cara bicara Yoyo dalam sinetron â€œSi Yoyoâ€? yang ditontonnya lewat layar kaca. (Kompas, 20/06/04)<span id="more-208"></span></p>
<p>Hmmâ€¦rupanya â€œSi Yoyoâ€? udah mulai makan korban neh. Kok bisa ya? Gimana nggak, kini hampir tiap hari kita disuguhin sinetron kaumnya Yoyo. Ada si Cecep, Lono dalam â€œSi Kembarâ€?, atau Titi Kamal dalam â€œChandaâ€?. Semuanya berkisah tentang orang yang mengalami keterbelakangan mental. Terutama si Cecep dan Yoyo. Yang lainnya, agak-agak idiot. Perilaku mereka pasti jadi tontonan menarik buat anak-anak. Apalagi masa kanak-kanak dike-nal sebagai masa copy-paste alias plagiator ulung. Boleh jadi entar ada anak yang minta gaya rambut antena biar mirip Cecep. Walah!</p>
<p>Kita pasti nggak asing ama â€œSi Cecepâ€?. Tokoh idiot ini pertama kali sukses diperankan Anjasmara dalam sinetron komedi â€œWah&#8230; Cantiknya!â€?. Sosoknya yang jujur, lugu, polos, malah terkesan lolot (dibaca dari kanan ke kiri) bin lemot menjadi bahan tertawaan yang renyah serenyah kentang goreng piatos.</p>
<p>Berikutnya hadir â€œSi Yoyoâ€? yang diperan-kan Teuku Ryan. Pemuda yang menderita men-talish retardict (keterbelakangan mental) dan sangat dekat dengan dunia anak-anak. Meski idiot, ternyata Yoyo yang sering dimarahin ba-paknya, lebih bijak jalanin hidup dibandingin Cecep yang selalu cengengesan binti ketawa-ketiwi. Tapi tetep bikin enek.</p>
<p>Nggak cukup dengan orang idiot, kaum banci juga makin banyak diangkat ke layar kaca. Sosoknya menjadi menu wajib dalam setiap sinetron. Biar penonton pada ngakak ngeliat kedipan nakal matanya, aksi tangannya yang kriting, atau gaya bicaranya yang cuentil abiz. Figur mereka diwakili oleh â€?Somadâ€™ dalam â€œCintaku Di Rumah Susunâ€? atau yang terbaru, dalam â€œGara-gara Inulâ€? berwujud Sutan Ayu Khairudin alias Sutan Bences yang diperankan Derry Drajat. Parahnya, sosok ini juga hadir di dunia lelembut. Seperti dalam â€œTuyul Mileniumâ€? dan â€œSi Manis Jembatan Ancolâ€?. (idihâ€¦. Jijay deh eike ngeliatnya!)</p>
<p>Untuk urusan untung-rugi, mata pengelola televisi emang jeli. Nggak nyesel mereka menayangkan produk lokal sejenis Forest Gump. Buktinya, Anjas bin Cecep sam-pai dua kali menggondol predikat â€œâ€?Aktor Ter-baikâ€? di ajang Panasonic Award dan juga SCTV Award. Padahal kita tahu sendiri, peran orang idiot atau banci dalam sinetron banyak dikeluh-kan masyarakat seperti penuturan seorang ibu di atas. Tapi kenapa ya para pengelola tv tetep melestarikan peran itu?&#8230;(pura-pura mikir ngikutin gaya patung The thinker karya Auguste Rodin). Huhuy!<br />
? <br />
<strong>Apapun demi rating</strong><br />
Sobat muda muslim, kalo lagi ngomongin tayangan televisi, sistem rating nggak boleh ketinggalan. Soalnya, doi udah kadung sohiban banget ama pengelola tv dan rumah pro-duksi. Makanya kalo nggak ikut di-bahas, doi bisa ngambek dan keluyuran ke mana-mana. Akibatnya, para pengelola tv dan rumah produksi dibikin pusing buat ngejar-ngejar rating. Nah lho? Emang siapa sih rating itu? Belagu banget. Apa doi semacam cabang pohon? Itu mah ranting atuh Non! Hihihi (garing ye?)</p>
<p>Seorang pengamat komunikasi, Bang Garin Nugroho menjelaskan, rating adalah suatu sistem yang mengukur daya kepopuleran program televisi dalam perspektif segmen pasar dan demografi serta analisisnya terhadap waktu dan ruang tayang televisi guna memahami daya jangkau suatu produk sponsor kepada khalayak. (Kompas, 09/06/04).</p>
<p>Moga-moga otak kamu nggak blue screen alias error ya baca penjelasan Bang Garin di atas. Singkatnya, sistem rating adalah ukuran untuk menilai popularitas suatu acara televisi di mata pemirsa. Baik itu sinetron, infotaint-ment, kuis, berita, dll. Kenaikan atau penurunan rating acara itu yang selalu dipelototin tanpa kedip oleh pengelola tv, rumah produksi, dan pemasang iklan. Tingginya rating suatu acara, bakal mengundang banyak sponsor iklan. Pemasukan dari iklan ini yang jadi ladang uang bagi para pengelola tv. Sehingga mereka bisa bernyanyiâ€¦kelingkingâ€¦jari manisâ€¦jari tengahâ€¦telunjukâ€¦(lagu kebangsaanya para teller bank hehehe)</p>
<p>Buntutnya, pengelola televisi menuntut rumah produksi untuk bikin acara tv yang layak tayang. Syaratnya cuma satu: banyak diminati dan?  memiliki rating tinggi (idih, nggak nyelipin unsur pendidikan sama sekali). Multivision Plus dan konco-konconya pun berlomba-lomba melakukan investigasi di lapangan. Nyari penampakan yang unik sekaligus menggelitik di lingkungan pemirsa tv. Dengan dalih merespon keinginan pemirsa, mereka pun menyulap kaum banci dan orang idiot menjadi bintang. Dan temen-temennya Cecep, Yoyo, atau Somad dan Sutan Bences pun jadi korban yang kian populer sebagai bahan tertawaan. Duh kaciaaanâ€¦.</p>
<p>Sobat muda muslim, rupanya gara-gara ngejar rating para pelaku tv suka sekenanya bikin acara. Persis seperti yang dikhawatirkan Bang Garin. Nggak peduli lagi ama kualitas acara yang disiarkan. Biar miskin unsur pendidikan, yang pentingâ€¦rating manâ€¦ ratiiing! Ciloko!</p>
<p><strong>Bahaya di balik acara televisi</strong><br />
Saat ini kotak ajaib bernama televisi sudah kita anggap sebagai anggota keluarga. Hampir setiap tetangga kita punya televisi. John Budd, Kepala Seksi Advokasi &amp; Mobilisasi Sosial Unicef, mengatakan, televisi telah menjangkau sekitar 90 % rumah tangga di Asia, termasuk Indo-nesia (Kompas, 20/06/04). Biar kata rumahnya tipe RS7 alias Rumah sangat sederhana, sempit, sesak, sunyi, senyap, sekali (ini rumah apa kuburan?), selalu ada tempat buat kotak ajaib ini.</p>
<p>Nggak rugi emang punya tv yang petama kali ditemukan oleh Viadimir Kozma Zworykin asal Rusia pada tahun 1923 ini (emang siapa sih yang ngilangin?). Dari alat elektronik ini kita bisa dapetin hiburan, informasi, wawasan, sampe keuntungan materi lewat telekuis. Nggak heran dong kalo Emaknya Oneng suka sewot kalo tv-nya raib dari atas raknya. Sayangnya, â€?anggota keluargaâ€™ ini bisa jadi musuh dalam selimut lho. Persis kayak hewan tumbila alias bangsat. Ah yang bener?!</p>
<p>Tenangâ€¦tenangâ€¦nggak usah pake nyolot gitu. Sebenarnya bukan tv-nya yang jadi musuh, tapi acara-acaranya yang makin amburadul. Dari berita kriminal yang belepotan darah, informasi seputar seks yang diumbar, hingga penampakan makhluk gaib, semua deh ada di situ. Termasuk sinetron komedi tentang orang idiot dan banci. Ini bahaya banget buat perkembangan jiwa anak. Apalagi berdasarkan penelitian YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) seperti dikemukakan B Guntarto, sekarang ini umummya anak sudah mengha-biskan waktunya di depan televisi selama 35 jam seminggu atau sekitar lima jam sehari (idem). Idealnya, anak menonton televisi tak lebih dari dua jam per hari.Walah!</p>
<p>Welldone sobat, masih ada lagi yang kudu kita cermati dari televisi. Yaitu pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau nggak wajar. Dalam ilmu komunikasi, kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Dan televisilah ujung tombak untuk pengopinian itu. Seperti kasus tokoh idiot atau bences dalam sinetron.</p>
<p>Masyarakat jadi terbiasa dengan kehadiran orang yang mengalami keterbela-kangan mental. Terbiasa dalam arti memo-sisikan orang idiot itu sebagai bahan terta-waan, olokan, dan tontonan hiburan.?  Karena bentuk penerimaan seperti itulah yang sampe kepada mereka melalui sinetron si Cecep atau si Yoyo. Waduh!</p>
<p>Sementara untuk kaum bences alias banci, masyarakat pun mulai mentoleransi keberadaan mereka. Ini yang bikin kita sedih, resah, gundah, dan gelisah. Kok bisa-bisanya orang dibiarin dalam â€?ketidakwajarannyaâ€™. Soalnya, dari sejak jamannya Nabi Adam dan Siti Hawa, Allah menciptakan manusia cuma dua jenis aja. Nggak lebih. Lelaki-perempuan, pria-wanita, pemu-da-pemudi, atau remaja-remaji. Itu berarti nggak ada status ketiga dengan sebutan banci, bences, bencong, waria, atau wadam. Kalo pun ada, itu udah melenceng dari kodratnya. Dosa! (lengkapnya soal Waria, lihat Studia edisi 093/15 April 2002. Klik deh <a href="http://www.dudung.net/">www.dudung.net</a>)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas r.a. ber-kata: Rasulullah saw. melaknat orang laki-laki yang berlagak perempuan, dan orang perem-puan yang berlagak meniru laki-laki. (HR Bukhari)</p>
<p>Nah sobat, keadaan yang salah jadi bener dan yang nggak wajar kudu dimak-lumi, udah lazim dalam masyarakat kapitalis. Kenapa? Karena opini itu dibuat oleh para kapitalis biar bisa jadi tambang fulus melalui media massa. Sembari menyebarkan paham untuk proses pengalihan perasaan dan pemikiran dari yang islami menjadi tidak islami. Bahaya banget kan? Ati-ati deh!</p>
<p><strong>Solusi praktis dan sistematis</strong><br />
Sobat muda muslim, protes terhadap ta-yangan televisi yang cuma ngejar rating udah sering dilontarkan. Tapi kagak ngaruh. Kayak kasus sinetron â€?Bunglonâ€™ yang diprotes banyak pihak tapi tetep ditayangin. Pengelola tv seolah cuek aja dengan kritikan dari penonton. Kalo rating acaranya tinggi, the show must go on. Ibarat pepatah, anjing mengonggong, Pak Bolot tetep berlalu. Gubrak!</p>
<p>Udah waktunya kita cari jalan keluar dari kemelut ini. Menurut analisis Detektif Conan dan Kindaichi (cieee.. lagaknya tuh!), yang terli-bat dalam masalah acara tv ini nggak cuma pengelola tv, rumah produksi, atau rating yang tinggi. Tapi juga melibatkan pemerintah sebagai instansi negara tertinggi. Makanya ada dua jalan keluar yang bisa kita tempuh.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, secara praktis kita kudu meminta pemerintah untuk memproduksi atau memilih tayangan cerdas berkualitas. Penuh unsur pendidikan tanpa harus kehilangan sentuhan hiburan. Film dokumenter Harun Yahya atau?  sinetron Keluarga Cemara bisa menjadi salah satu contoh. Catet, Bro!</p>
<p>Syukur-syukur kalo diputar tayangan cerdas yang islami yang menumbuh-kan semangat berjuang meng-ingat mayoritas penduduk negeri ini muslim. Seperti film ar-Risalah (The Message) garapan Mustafa Akkad yang mengisahkan perja-lanan hidup Nabi Muhammad saw.; Children of Heaven yang bercerita ten-tang adik-kakak yang pake sepatu gantian biar bisa sekolah; atau pengajaran tata cara berwudhu, shalat, dan doa sehari-hari.</p>
<p>Ditambah kisah-kisah perjuangan para pahlawan Islam yang kini makin banyak dibuat dalam bentuk VCD seperti Khulafa ar-Rasyidin atau The Lion of Desert. Malah ada yang kartun juga lho seperti Hancurnya Pasukan Gajah, Nabi Ibrahim dan Namrudz, atau Petualangan Si Salman. Bagusnya lagi kalo disiarin pada jam-jam pas anak-anak betah di depan TV. Kalo be-gini kan asyik. Generasi muda muslim jadi nggak asing ama agamanya sendiri. Yoâ€™i gak pren?</p>
<p><strong>Yang kedua</strong>, dan ini yang terpenting yang akan mengokohkan solusi pertama. Negara kudu berani menolak kapitalisme, mengubur sekulerisme, dan menerapkan aturan Islam. Dengan aturan Islam negara akan melarang beredarnya tayangan berbau syirik, mengum-bar seks, eksploitasi idiot dan banci, atau gambaran gaya hidup sekuler orang-orang Barat. Tayangan cerdas berkualitas seperti yang diharapkan, akan menemani hari-hari kita di ruang keluarga. Hmmâ€¦ indahnya. Karena itu nggak bosen-bosennya kita ngajak semuanya untuk aktif dalam dakwah. Terapkan syariah, tegakkan khilafah. Biar kita semua dapet ber-kah. Yuk ah, jangan tunggu hari esok! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 206/Tahun ke-5/2 Agustus 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sinetron-indonesia-idiot-dan-banci/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Ilmuwan dan Penghibur&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/antara-ilmuwan-dan-penghibur</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/antara-ilmuwan-dan-penghibur#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/antara-ilmuwan-dan-penghibur/</guid>
		<description><![CDATA[Kamu kenal Mulyono? Nggak kenal? Wow, doi tuh anak seorang pembantu rumah tangga yang ayahnya meninggal saat dia usia satu bulan. Mulyono tinggal nun jauh di Dusun Ngampel Kurung, Desa Srikaton, Kecamatan Papar, Kabutapen Kediri, Jatim. Kamu nggak tahu prestasi Mulyono? Yang jelas doi bukan salah satu akademia AFI 3. Mulyono hanya â€?sekadarâ€™ berprestasi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamu kenal Mulyono? Nggak kenal? Wow, doi tuh anak seorang pembantu rumah tangga yang ayahnya meninggal saat dia usia satu bulan. Mulyono tinggal nun jauh di Dusun Ngampel Kurung, Desa Srikaton, Kecamatan Papar, Kabutapen Kediri, Jatim. Kamu nggak tahu prestasi Mulyono? Yang jelas doi bukan salah satu akademia AFI 3. Mulyono hanya â€?sekadarâ€™ berprestasi di tingkat internasional. Tepatnya doi berhasil menggondol medali perunggu dalam ajang Olimpiade Biologi di Brisbane, Australia!<span id="more-209"></span></p>
<p>Apakah kamu juga kenal dengan Ika Rohmatina? Nggak kenal juga? Hmmâ€¦ ia adalah gadis desa anak seorang petani di Bojonegoro berusia 16 tahun. Prestasinya? Yang pasti bukan peserta KDI di TPI! Ika â€?sekadarâ€™ satu dari 10 pelajar yang mewakili Indonesia dalam APEC Youth Science Festival di Beijing 3-9 Agustus 2004 ini.</p>
<p>Di ajang ini, Ika yang tercatat sebagai siswa kelas II di SMA 1 Sumberejo itu akan kembali mempresentasikan karya ilmiyahnya berjudul â€œPengaruh Pemberian Biji Jarak Ricinus communis L terhadap Masa Kehamilan dan Jumlah Anak Mencitâ€?. Sekadar tahu aja, karya ilmiah ini sudah meraih gelar juara di ajang Kabupaten hingga tingkat Asia Tenggara!</p>
<p>Kamu pernah dengar nama Azis Adi Suyono? Nggak kenal juga? Jangan kaget, doi emang nggak masuk Indonesian Idol kok. Siswa kelas 2 SMP Negeri 9 Cilacap yang beralamat di Desa Jojok, Kelurahan Kota Waru, Kabupaten Cilacap ini â€?sekadarâ€™ peraih medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional Bidang Fisika yang digelar di Balikpapan pada September 2003 lalu.</p>
<p>Nah, kalo Sutha dan 11 akademia AFI 3 lagi dikarantina di Rafles Hills Cibubur untuk menjadi penghibur, Azis kini sedang mengikuti pemusatan bareng 11 teman lainnya sebagai tim IJSO (International Junior Science Olimpiade) di Perumahan Lippo Karawaci Tangerang untuk menjadi â€?ilmuwan cilikâ€™. Oya, acara hasil kerja bareng Diknas dan LIPI ini akan digelar di Jakarta Desember mendatang.</p>
<p>Sekali lagi, kamu kenal nggak dengan Yudistira Virgus? Yang pasti dan jelas, anak muda berwajah ganteng dan berkacata minus ini bukanlah peserta acara Variety Show bertajuk â€œLelakiâ€?. Yudistira â€?hanyalahâ€™ salah seorang generasi teknologi nano peraih medali emas pada Olimpiade Fisika di Pohan, Korea Selatan, Juli silam.</p>
<p>Selain Mulyono, Ika Rohmatina, Azis Adi Suyono, dan Yudistira Virgus, ternyata negeri ini masih memiliki remaja generasi teknologi nano seperti Ali Sucipto, Ni Komang Darmiastini, Budi Christanto, Andika Putra, Ardiansyah, Ihsan Tria Pramanda dkk.</p>
<p>Ngomong-ngomong, teknologi nano itu apaan sih? Hihihi mantengin AFI, Indonesian Idol ama KDI aja sih! (jangan ngambek ya kalo tuduhan ini bener). Menurut Prof Yohanes Surya, â€œDalam era ini ada tiga hal yang menjadi primadona perkembangan teknologi, yakni teknologi hayati (biotechnology), teknologi informasi, dan teknologi nano. Teknologi nano adalah tahapan paling aktual dari rekayasa manusia atas susunan atom. Kata nano diserap dari istilah â€œnanometerâ€? yang berarti sepermiliar meter (10 pangkat minus 9). Dus, teknologi ini menumpukan perkembangannya pada produksi mesin-mesin canggih berdimensi sangat kecil.â€?</p>
<p>Ide nanometer berkembang dari ceramah Richard Feyman (peraih Hadiah Nobel Fisika) pada 1959. Menurut dia, materi dapat disusun atau diubah dengan memanipulasi atom-atom pembentuk materi. Dengan kolaborasi bersama teknologi hayati, ditemukan aplikasi mesin atau robot canggih untuk beragam keperluan, antara lain menghancurkan kolesterol, memerangi virus/bakteri, dll (Koran Tempo, 1/8/04). Semoga nggak puyeng dengan penjelasan ini ya? Hehehe</p>
<p><strong>Jadi bintang tanpa SMS<br />
</strong>Saya tergelitik juga dengan tulisannya Putu Setia di Koran Tempo 1 Agustus 2004 lalu. Beliau menuliskan begini dalam artikelnya setelah â€œiseng-isengâ€? survey kecil-kecilan dengan kirim SMS ke ponakannya di Kalimantan: â€œâ€¦saya kirim sandek (pesan pendek, pengganti kata SMS) kepada ponakan saya, pelajar kelas II SMU Tanjung Selor di Kalimantan Timur. â€œIrma, kamu pernah dengar nama Yudistira Virgus?â€? Setelah lama menunggu, sandek balasan muncul: â€œGak Om, siapa ya?â€? Saya ulangi lagi dengan nama Edbert, Andika, Ardiansyah. Jawaban yang datang juga tidak kenali. Lalu saya tanya bagaimana dengan Tia dan Rindu? Hanya sebentar menunggu, jawaban sudah muncul: â€œTia itu anak Solo yg menang AFI 2, Rindu anak Bdg yg kalah.â€? Belum sempat membalas muncul lagi suara titâ€¦tit dan ada sandek menyusul. â€œOm, sumbang pulsa 50 rb ya, mau dukung Sutha anak Bali di AFI 3.â€? Gubraks!</p>
<p>Dalam artikel yang renyah dengan gaya khasnya, Putu Setia seolah protes dan mempertanyakan kenapa orang cerdas seperti Yudistira dkk nggak dikenal sesama anak SMU lainnya? Kenapa kebanggaan seperti ini nggak menyebar di sekolah-sekolah?</p>
<p>Putu Setia, atau siapa pun, termasuk saya sendiri sedih ngeliat teman-teman remaja yang lebih asyik menggeluti dunia hiburan, dan mendukung mereka di ajang tersebut. Sementara seorang anak bernama Mulyono yang dapetin medali perunggu dalam Olimpiade Biologi di Brisbane, jangankan didukung, dikenal aja nggak!</p>
<p>Padahal, Mulyono tinggal di desa dengan fasilitas penunjang belajarnya yang sederhana banget. Kalo belajar malam hari cuma mengandalkan penerangan dari keremangan lampu teplok. Jarak rumah dan sekolahnya 25 kilometerâ€”sehari-hari ditempuh dengan menumpang angkutan pedesaan. Sebelum mencapai jalan raya, Mulyono harus mengayuh sepeda pancal sejauh 6 kilometer dari rumah. Tentu saja, sang Ibu, Mujiati mengaku terharu anaknya bisa jadi jawara di ajang internasional. Karena ia sendiri nggak tahu apa itu biologi, dan apa itu olimpiade. (Koran Tempo, 1/8/04)</p>
<p>Yudistira, Mulyono, Ika Rohmatina, Ardiansyah dkk menuju puncak untuk menjadi bintang nggak perlu sumbangan SMS dari teman-temannya. Selain karena ajang ini nggak diliput secara khusus oleh media massa, juga karena kepandaian nggak diukur dari dukungan SMS, tapi dari keenceran otak yang dibangun dari kerja keras dalam belajar, ulet, semangat, dan juga keprihatinan.</p>
<p>Sobat muda muslim, maaf, bukannya saya bingung, bukannya saya iri (ini kok jadi gaya Mpok Minah di Bajaj Bajuri kalo ngomong sama si Emak! hehehe), saya nulis begini adalah sebagai bentuk protes kenapa ajang asah otak seperti ini dikalahkan oleh ajang olah vokal, olah gaya tubuh, dan olah raga?</p>
<p>Pemberitaannya aja seringkali nggak proporsional. Mungkin karena ajang asah otak bikin puyeng yang nonton dan baca kali yee? Saya sendiri khawatir teman-teman remaja sudah terjebak dalam gaya hidup yang nyantai, bahkan terkesan hura-hura dan hedonis banget. Kalo udah begini, apa jadinya generasi mendatang kalo hanya memproduksi remaja-remaja yang tidak saja lemah iman, tapi juga lemah ilmu. Bahaya banget tuh!</p>
<p><strong>Yang bahagia dan yang merana<br />
</strong>Meski sama-sama ngetop, bahkan seharusnya anak-anak yang cerdas ini lebih ngetop lagi ketimbang para remaja yang berlaga di ajang AFI, Indonesian Idol, dan KDI, karena sudah berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional, tapi angin â€œnasibâ€? nggak selalu berpihak kepada mereka. Bahkan untuk sekadar perhatian sekalipun.</p>
<p>Sebut saja Ni Komang Darmiastini, peraih medali perunggu pada Olimpiade Biologi Internasional di Brisbane, Australia, 11-18 Juli lalu, sebelum berangkat ke Brisbane, pihak sekolahnya, SMA 1 Singaraja, secara resmi sudah melayangkan surat ke DPRD Buleleng guna meminta bantuan. Permohonan itu tak mendapat respon positif. â€œTidak ada disposisi bantuan. Yang ada hanya disposisi untuk maklum. Artinya tidak dibantu.â€? Ujar seorang staf keuangan DPRD Buleleng kepada Koran Tempo (29/7), sambil memperlihatkan risalah surat-surat masuk (Koran Tempo, 1/8/04)</p>
<p>Waduh! Tapi lihatlah bagaimana Veri yang jawara AFI 1. Doi dieluk-elukan bak pahlawan oleh masyarakat Langkat, daerah kelahirannya. Disambut meriah. Bahkan sang Bupati menghadiahkan 4 hektar tanah untuk Veri. Atau Tia yang jawara AFI 2, ia sampe disambut Walikota Semarang setelah menang di AFI 2. Sebagai jawara di ajang itu, panitia ngasih Veri dan Tia mobil keren.</p>
<p>Sobat muda muslim, sebenarnya perhatian pemerintah terhadap orang-orang cerdas nyaris nggak ada. Sekadar nostalgia, yuk kita kenalan dengan Prof. Dr. Azhar Djaloeis, Ketua Badan Pemeriksa Tenaga Nuklir.<br />
Berdasarkan catatan Koran Tempo (1/8/04), tahun 1983, Prof. BJ Habibie meminta peneliti senior di KFA (Nuclear Riset Center) Juelich, Jerman, itu kembali ke tanah air guna menjadi staf ahli menteri di bidang nuklir.</p>
<p>Tapi apa lacur, saat pertama kali pulang ke Indonesia, beliau sempat kecewa. Kenapa? Karena penghargaan terhadap seorang ilmuwan sangat jauh jika dibandingkan dengan di Jerman. Padahal ketika diminta â€œpaksaâ€? balik ke tanah air, di sana beliau sudah punya rumah, kendaraan, dan kehidupan yang bagus. Bahkan sebagai peneliti senior di KFA dan guru besar beliau mendapatkan Aufenthaltsberechtigung (hak tinggal tetap).</p>
<p>Di sini, mantan pengajar Fisika Nuklir, Mekanika Quantum, dan Fisika Modern di Universitas Bonn, Jerman, ini hanya digaji Rp 6 juta sebulan (gaji pokok plus tunjangan jabatan). Kasihan banget deh.</p>
<p>Ini sekadar contoh aja, betapa pemerintah kurang peduli,?  terhadap mereka yang cerdas. Bandingkan dengan penghargaan pemerintah atau pihak mana pun di negeri ini kepada para penghibur, baik di ajang olah vokal, maupun olahraga. Nggak usah disebutin detil, toh kita sering juga melihat faktanya di lapangan. Kalo ada atlit yang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional, sambutannya luar biasa. Tapi mereka yang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional lewat kecerdasan otaknya, disambut seperlunya saja. Mengenaskan banget. Benar-benar sebuah tragedi.</p>
<p><strong>Penghargaan cara Islam<br />
</strong>Sobat muda muslim, bukan rahasia lagi kalo Islam, sangat menghargai orang-orang yang berilmu. Khalifah Umar pernah menghargai para pengajar di sekolah setingkat TK dengan gaji 15 dinar sebulan (1 dinar setara dengan 4,25 gram emas). Di jaman Khalifah Harun al-Rasyid, para penulis berbagai bidang ilmu, akan diberikan emas seberat buku yang ditulisnya. Fantastis!</p>
<p>Jadi jangan heran jika Islam di masa kejayaannya memiliki ribuan ilmuwan muslim. Salah satunya ketika Andalusia, Spanyol, menjadi pusat pemerintahan Islam. Bahkan Valencia menjadi kota tujuan utama para pelajar Eropa yang ingin belajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam.</p>
<p>Kamu kenal al-Khuwarizmi (kalo orang Eropa menyebutnya algoritma)? Nggak kenal? Nggak apa-apa, beliau â€?hanyalahâ€™ seorang ulama sekaligus pakar di bidang matematika. Buku beliau yang cukup terkenal di bidang matematika adalah â€œal-Jabr wa al-Muqabalahâ€?.</p>
<p>Kamu pernah dengar nama al-Khazini? Nggak pernah dengar? Nggak apa-apa, beliau â€?hanyalahâ€™ seorang ilmuwan Islam yang pakar di bidang fisika dan astronomi. Beliau menulis sebuah buku tentang mekanika, hidrostatik, dan fisika dengan judul â€œKitab Mizan al-Hikmahâ€?.</p>
<p>Al-Khuwarizmi dan al-Khazini adalah dua dari ribuan ilmuwan muslim hasil pembinaan, kepedulian, serta penghargaan dari Khilafah Islamiyah. Sampe-sampe George Sarton dalam â€œIntroduction to the History of Scienceâ€? menulis: â€œPada masa pemerintahan Khalifah al-Makmun (813-833 M), perkembangan ilmu-ilmu baru mencapai puncaknya. Pemerintah mendirikan sebuah sekolah reguler untuk penerjemahan di kota Baghdad. Sekolah itu dilengkapi dengan perpustakaan. Salah satu penerjemah yang terkemuka adalah Hunain ibn Ishaq (809-877 M), seorang filsuf berbakat sekaligus pakar fisika yang terpelajar.â€?</p>
<p>Tapi sayang banget, orang-orang berprestasi dengan keahlian di bidang sains dan teknologi, kurang pendapat perhatian dan penghargaan yang semestinya di negeri ini. Di negara maju saat ini, orang-orang cerdas ini sangat dihargai, karena mereka tahu betul, sangat boleh jadi satu orang berilmu lebih berharga ketimbang seribu orang bodoh.</p>
<p>Islam pun, sejak dulu sudah sangat menghargai keahlian orang-orang seperti ini, bahkan sejak awal menciptakan mereka. Tapi sayangnya, itu terjadi ratusan tahu lalu saat Islam berkuasa di dunia ini. Jadi, tugas kita saat ini, mengembalikan kejayaan Islam di muka bumi ini dengan mengkampanyekan penting dan wajibnya menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Yang tidak saja akan menciptakan dan menghargai orang-orang cerdas di bidang sains dan teknologi, tapi sekaligus menghancurkan segala kebatilan yang ada di dunia ini sambil menyebarkan cahaya Islam. Salam perjuangan dan kemenangan Islam! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 207/Tahun ke-5/9 Agustus 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/antara-ilmuwan-dan-penghibur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan AIDS dengan Kondom?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/melawan-aids-dengan-kondom</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/melawan-aids-dengan-kondom#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/melawan-aids-dengan-kondom/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak pihak masih percaya hampir seratus persen, bahkan mungkin sampe tujuh turunan yakin kalo AIDS bisa dicegah dengan penggunaan karet kondom. Lihat aja sebuah iklan layanan masyarakat yang kerap muncul di layar kaca. Bang Harry Rusli sebagai model utama dalam iklan itu dengan jelas dan terang mengkampanyekan kondom sebagai solusi menghentikan laju penyebaran AIDS, â€œKenakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak pihak masih percaya hampir seratus persen, bahkan mungkin sampe tujuh turunan yakin kalo AIDS bisa dicegah dengan penggunaan karet kondom. Lihat aja sebuah iklan layanan masyarakat yang kerap muncul di layar kaca. Bang Harry Rusli sebagai model utama dalam iklan itu dengan jelas dan terang mengkampanyekan kondom sebagai solusi menghentikan laju penyebaran AIDS, â€œKenakan kondom atau kena!â€? Duilee pede banget ya?<span id="more-207"></span></p>
<p>Penyakit yang belum ada obatnya ini memang udah merajalela. Nyaris nggak ada tempat untuk bersembunyi dari kejaran wabah maut HIV/AIDS yang penyebarannya emang secepat kilat (hiperbolik banget neh!)</p>
<p>Berdasarkan catatan UNAIDS, badan dunia yang khusus menangani masalah AIDS ini, tercatat pada tahun 2002 saja, jumlah penderita AIDS di dunia mencapai 42 juta jiwa. Kita yakin, ini yang tercatat, sementara yang nggak tercatat (termasuk penderita yang nggak mau dicatat) bisa jadi merupakan angka â€œgelapâ€? laksana bom waktu.</p>
<p>Sekadar tahu, tahun lalu saja (2003), jumlah penderita AIDS bertambah 5 juta jiwa. Angka ini termasuk 700 ribu bocah di bawah usia 15 tahun. Asia Timur dan Tengah termasuk paling cepat dijarah penyakit ini (Koran Tempo, 13 Juli 2004).</p>
<p>Masih menurut catatan Koran Tempo edisi tersebut,?  sebagai gambaran aja pada tahun 2003, di Afrika (Sub-Sahara) sekitar 3,2 juta orang terinfeksi virus ini, dan 2,3 juta di antaranya koit. Tragedi banget neh! Saat ini, di Afrika sudah mengoleksi sebanyak 26,6 juta jiwa yang berhasil terkena HIV.</p>
<p>Sementara di Asia Timur dan Tenggara, pada tahun yang sama mencatat angka 210 ribu orang terinfeksi virus mematikan ini, 45 ribu di antaranya tewas. Di Asia Selatan, dari 855 ribu orang yang terinfeksi, 460 ribu di antaranya meninggalkan dunia fana ini. Wis, pokoknya ini udah merupakan gejala menyeluruh di sekujur belahan dunia. Mengenaskan.</p>
<p>Ketika obat mujarab untuk membereskan HIV/AIDS belum ditemukan, orang kemudian searching berbagai kemungkinan untuk sekadar menahan laju wabah ini. Mereka berusaha mencegahnya. Namun sayangnya, kenapa musti kondom yang jadi pilihan? Bahkan di negeri ini juga sampe diatur dalam undang-undang segala.</p>
<p>Dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS (Keppres No. 36/1994 yang diatur dalam Keputusan Menko Kesra No. 9/Kep/Menko/Kesra/IV/1994) antara lain disebutkan â€œ&#8230;penyediaan dan pemanfaatan kondom dan lain-lain, merupakan unsur-unsur penting dalam pelaksanaan yang efektif dari kebijaksanaan ini (maksudnya strategi penanggulangan AIDS secara nasionalâ€”pen.).â€? Ciloko!</p>
<p>Well ini bukan tanpa sebab sobat. Maklumlah, masyarakat kita saat ini kadang belaga pilon atau emang pilon beneran (kayaknya pilon beneran deh, soalnya ada sinetron berjudul Culunnya Pacarku.. hihi&#8230; apa hubungannya?)</p>
<p>Kenapa pilon? Karena sebenarnya mereka menyadari bahkan sadar betul kalo penyebaran virus maut ini paling efektif melalui hubungan seks yang nggak aman. Maksudnya, seks bebas dan doyan berganti-ganti pasangan, gitu. Nah, ketika kondom ditemukan, meski pada awalnya adalah ditujukan untuk kontrasepsi, para maniak seks bebas mengira bahwa kondom cukup aman untuk menangkal sang virus agar tak masuk dan bersarang di tubuhnya. Tapi nyatanya, sejak dulu dikampayekan penggunaan karet KB ini, eh, angka penderita HIV/AIDS malah semakin meningkat tajam. Hal ini bahkan memicu turunnya harga diri manusia yang menistakan dirinya di komplek-komplek pelacuran dan dalam ajang baku syahwat yang bebas nian. Apa nggak tulalit tuh?</p>
<p><strong>Kondom KO lawan virus HIV</strong><br />
Sebelum ngomongin kelemahan kondom, biar nyambung, kamu yang belum tahu istilah HIV/AIDS perlu juga baca info ini. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus, suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit.</p>
<p>Sementara AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun,oleh karena adanya virus HIV di dalam darah.</p>
<p>Nah, kondom yang sebenarnya dibuat dengan tujuan sebagai alat kontrasepsi ini nggak tahan melawan virus HIV yang tentu ukurannya jauh kecil ketimbang sperma. Virus dilawan? Wong untuk melihatnya aja butuh pembesaran ribuan kali pake mikroskop elektron. Jadinya, KO deh.</p>
<p>Prof. Dr. Dadang Hawari menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari berbagai kalangan tentang kontroversi kondom sebagai pencegah penyebaran AIDS yang kemudian beliau kirim ke Harian Republika dan dimuat dalam rubrik SuaraPublika, 13 Sepetmber 2002. Berikut sebagian data-data tersebut:</p>
<ul>
<li>Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.</li>
<li>Pernyataan J Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom hanya 70 persen.</li>
<li>Penelitian yang dilakukan oleh Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang diperiksa (yang beredar di pasaran) ternyata 29 dari padanya terdapat kebocoran, atau dengan kata lain tingkat kebocoran kondom mencapai 30 persen.</li>
<li>Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus pori-pori kondom.</li>
<li>M Potts (1995), Presiden Family Health International, salah seorang pencipta kondom, mengakui, â€œKami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.</li>
<li>V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.</li>
<li>Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam me-reka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai â€œsama saja dengan mengundang kematianâ€?. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12 November 1995).</li>
<li>Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan bahwa besarnya sperma seperti ukuran jeruk Garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk program HIV/AIDS akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya.</li>
</ul>
<p>Mengakhiri pernyataan ini Prof. Dadang Hawari meyakini bahwa dari data-data tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan kebohongan. Tuh, catet!</p>
<p>Contoh yang â€?kualatâ€™ dalam kasus ini adalah dua bintang film porno Amrik terinfeksi HIV/AIDS, padahal setiap akan beradegan panas dihimbau untuk pake kondom (meski beberapa perusahaan film porno AS akan membayar mahal aktor yang berani beradegan hot tanpa mengenakan kondom). Kontan aja ini membuat sejumlah perusahaan film porno di AS puasa produksi (padahal Sekadar tahu aja, di Amrik sono, tercatat, 4000 film porno diproduksi setiap tahun, dan uang yang dihasilkan lebih dari 12 milyar dolar AS. Wacks!) setelah bintang andalan mereka, Darren James dan artis Lara Roxx, yang pernah bermain bersama setidaknya dalam satu film dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS. (kompas.com, 21 April 2004).</p>
<p><strong>Berantas seks bebas!</strong><br />
Sobat muda muslim, kalo kamu bisa berpikir jernih dan menggunakan akal sehat, melawan AIDS dengan kondom sama aja dengan bodoran alias lawakan. Kabayan atau tokoh pandir lainnya pasti merasa tersaingi. Gimana nggak, sudah jelas kelemahannya, masih aja dianggap dewa penyelamat. Tulalit!</p>
<p>Jadi, wahai remaja muslim, janganlah kalian menertawakan kekonyolan kampanye itu, karena memang sudah konyol. Hihihihiâ€¦</p>
<p>Nah, karena penyakit ini lebih disebabkan akibat liarnya perilaku manusia dalam menyalurkan naluri seksualnya, maka stop perilaku seks bebas yang jelas nggak beradab itu. Kalo hewan sih mending kali yee.. gaul bebas karena nggak ada syariatnya dan mereka jelas nggak mikir. Karena tentu saja, adanya aturan itu adalah untuk makhluk yang berakal, yang bisa memahami sebuah perintah dan larangan serta hakikat dari kebenaran.? </p>
<p>Oke deh,?  pertama kali yang kudu dilakukan adalah membenahi keyakinan manusia tentang adanya siksa dan pahala, adanya hisab dan azab. Tanamkan akidah Islam yang kuat menghunjam ke benak. Kalo udah yakin begini, kayaknya nggak bakalan berani deh deket-deket dengan zina, termasuk budaya pacaran yang merupakan pintu gerbangnya. Meski yakin bahwa itu akan dilakukan dengan cara yang aman dan bebas penyakit, tapi karena udah yakin dengan hisab dan azab Allah, mereka takut untuk berbuat nekatz zina, karena inget firman Allah Swt.: â€œDan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.â€? ( QS al-Isr?¢â€™ [17]: 32)</p>
<p>Sobat muda muslim, melawan AIDS dengan kampanye kondom (tanpa melarang seks bebas dan memberantas komplek-komplek pelacuran), sama saja dengan mengundang kematian akibat AIDS dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Di dieu yeuh bahayanya! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 205/Tahun ke-5/26 Juli 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/melawan-aids-dengan-kondom/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Pemilu Berlalu&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/setelah-pemilu-berlalu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/setelah-pemilu-berlalu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/setelah-pemilu-berlalu/</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu kali ini beda! Begitulah bunyi iklan yang kagak bosen-bosennya nongol menjelang pesta rakyat berlangsung. Se-telah delapan kali pelaksanaan pemilu (tahun 1955, 1971, 1977,?  1982, 1987, 1992, 1997, 1999) . Tahun 2004 ini emang beda. Tahu dong bedanya? 
Pertama, kali ini para rakyat bisa milih langsung wakilnya yang duduk di lembaga perwakilan rakyat maupun duet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu kali ini beda! Begitulah bunyi iklan yang kagak bosen-bosennya nongol menjelang pesta rakyat berlangsung. Se-telah delapan kali pelaksanaan pemilu (tahun 1955, 1971, 1977,?  1982, 1987, 1992, 1997, 1999) . Tahun 2004 ini emang beda. Tahu dong bedanya? <span id="more-206"></span></p>
<p>Pertama, kali ini para rakyat bisa milih langsung wakilnya yang duduk di lembaga perwakilan rakyat maupun duet pemimpin negeri ini. Kalo dulu, kita cuma nyoblos tanda gambar parpol. Lalu, parpol yang bakal nentuin siapa wakilnya yang duduk di kursi â€?basahâ€™ MPR/DPR. Makanya dalam pemilu kali ini kita banyak nemuin tempelan foto-foto wakil rakyat dan pasangan capres-cawapres nampang di tembok, angkot, sampe telepon umum (untungnya nggak ada yang nempel di sampul buku surat Yaasin. Heheheâ€¦)</p>
<p>Kedua, pemilu kali ini berjalan 3 putaran. Pemilu legislatif (milih wakil rakyat) tanggal 5 April yang diikuti 24 partai. Dan â€?semi finalâ€™ pemilu eksekutif (milih presiden) tanggal 5 Juli yang diikuti 5 pasang peserta. Kalo di semi final nggak ada pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50%, maka berlangsung babak final pada tanggal 5 September yang hanya diikuti dua kandidat. Itu berarti 3 kandidat kudu tereliminasi alias angkat koper dari bursa ca (wa) presiden. Dan perlu dicatat, nggak ada perebutan juara ketiga lho! (emangnya turnamen sepakbola hehehe&#8230;).</p>
<p><strong>Hiruk-pikuk kampanye Pemilu</strong><br />
Masa kampanye menjadi saat yang paling dinanti oleh masyarakat. Di sinilah tempatnya untuk ngasih dukungan kepada para kontestan pemilu. Sekaligus ajang yang pas buat nyari kaos atau souvenir gratisan. Asyiknya lagi, banyak calon wakil rakyat yang tiba-tiba jadi dermawan. Mereka rela merogoh kocek buat rehab mushola, bantuan sembako, sampe biaya bangun TPS demi menjaring simpati masya-rakat. Para peserta pemilu juga gencar bikin acara bakti sosial, panggung musik, tempel stiker, pasang spanduk sampe konvoi kenda-raan bermotor. Pokoknya meriah euy!</p>
<p>Biar kampanye sukses, pasti yang satu ini nggak boleh ketinggalan dan kudu ngalir deras. Yup, apa lagi kalo bukan: duit! Benda ini memang ajaib. Bisa masang spanduk, nempelin poster, diriin warung, bikin souvenir sampe pengerahan massa. Makanya nggak heran kalo tim sukses kontestan pilpres getol berekspe-disi mencari penampakkannya. Hasilnya bisa kita lihat. Pasangan Mega-Hasyim Rp 103,096 miliar, Wiranto-Wahid Rp 49,491 miliar, Sby-Kalla Rp 60,385 miliar, Amien-Siswono Rp 22,007 miliar, dan Hamzah-Agum Rp 2,75 miliar (Kompas, 05/07/04). Semuanya duit lho. Asli tanpa campuran daun. Gile beneerâ€¦.dari mana ya duit sebuanyak itu?</p>
<p>Kalo menurut UU Pemilihan Presiden No. 23/2003, dana kam-panye Pilpres 2004 berasal dari 3 sumber yaitu dari capres sendiri, dari parpol yang mencalonkan dan dari pihak lain yang tidak mengikat seperti perseorangan dan badan usaha. Dari semua sumber, kayaknya aliran dana dari pihak ketiga yang mendominasi. Malah bisa meli-batkan pihak asing. Nah lho? Nggak boâ€™ong.</p>
<p>Sekjen Government Watch (GOWA) Andi Syahputera menuturkan, aliran dana asing dalam pemilu sudah menjadi rahasia umum, karena sudah terjadi sejak zaman Soeharto berkuasa. â€œCuma permasalahan-nya, untuk membongkar aliran dana asing ini sangat sulit dilakukan dan susah dicari pembuktiannyaâ€?.?  Biasanya aliran dana asing itu berasal dari pengusaha-pengusaha Cina, AS, dan Eropa yang punya kepentingan bisnis di Indonesia. Mereka ini sangat menginginkan pemimpin Indonesia yang bisa menstabilkan kondisi ekonomi dan keamanan di dalam negeri, untuk mengamankan bisnis mereka di Indonesia. (Eramuslim, 18/06/04).</p>
<p>Masa kampanye pemilu pun nggak luput dari pelanggaran. Ini yang bikin KPU pusing tujuh keliling lapangan senayan. Dalam pemilu legislatif aja, Mabes Polri telah menerima laporan 1.009 kasus pelanggaran selama masa kampanye dan hari H Pemilihan Umum (Pemilu) 5 April di seluruh tanah air. (Tempo interaktif, 08/05/04). Sementara dalam masa kampanye pemilu eksekutif, panwaslu mencatat 267 pelanggaran administrasi dan 63 pelanggaran pidana. (Panwaslu, 02/07/04).</p>
<p>Nggak ketinggalan, janji-janji surga dari para kontestan pun mewarnai masa kampanye. Mewujudkan cita-cita reformasi, penyediaan lapangan kerja, meminimalisasi biaya pendi-dikan, pemberantasan KKN, peningkatan taraf ekonomi, sampai upaya pengentasan kemis-kinan begitu laku â€?dijualâ€™ oleh para jurkam (juru kampanye lho bukan juragan kambing!). Sayangnya, nggak ada satu pun partai politik Islam atau kontestan pilpres yang terang-terangan berani menyuarakan Islam dan mengkritisi sistem sekular. Gaung penerapan syariat Islam nyaris tak terdengar saat kampanye. Padahal mereka punya kesempatan untuk itu. Apa karena â€?daganganâ€™ syariat Islam nggak laku â€?dijualâ€™ di atas panggung kampanye? Hmmâ€¦bisa jadi tuh!</p>
<p>Udah gitu, masa kampanye yang idealnya jadi ajang untuk mengenal lebih dekat calon yang akan dipilih, minim dari pemaparan visi, misi, dan program yang akan dijalankan. Malah salah satu peserta pilpres dari moncong putih menuturkan tak perlu menyampaikan visi, misi, serta prog-ram yang akan dilakukan ca (wa) pres jika terpilih mengingat masa kam-panye yang hanya satu bulan. (Republika, 19/06/04). Lha, piye iki?</p>
<p><strong>Perbaikan di bawah panji demokrasi?</strong><br />
Sobat muda muslim, pemilu dan perubahan udah dinobatkan jadi dua sejoli dalam pemerintahan demokrasi. Nggak ada perubahan formasi para pejabat pemerintahan tanpa melalui proses pemilihan wakil rakyat ini. Baik anggota dewan, presiden, wakilnya, maupun?  susunan kabinet. Melalui pemilu, diharapkan para new comer emang orang yang dikehendaki oleh rakyat. Biar mampu menyalurkan aspirasi rakyat dan nggak lupa memperjuangkan hak-hak rakyat yang terkikis oleh para kapitalis. Sesuai mottonya, â€œdari rakyat-oleh rakyat-dan untuk rakyat.â€?</p>
<p>Sayangnya, motto pemerintahan rakyat itu sering nggak muncul dalam pemerintahan pascapemilu. Para kapitalis yang ikut â€?patunganâ€™ untuk membiayai kampanye bakal minta bagian. Dari jatah jabatan pemerintah yang strategis, kewenangan mengelola sumber daya alam, hingga kekebalan hukum atas bisnis yang mereka jalankan. Para wakil rakyat pun akan mendapat banyak â€?rezeki nomplokâ€™ dari para kapitalis itu agar kebijakan pemerintah yang dikeluarkan berpihak padanya. Sementara kewajiban mengurusi rakyat yang ada di pundak anggota dewan cuma masuk daftar tunggu prioritas. Makanya pas banget kalo kita bilang motto itu diubah menjadi â€œdari rakyat kecil (masyarakat) oleh rakyat menengah (para wakil rakyat) dan untuk rakyat besar (para konglomerat)â€?. Akur? Kudu!</p>
<p>Sobat muda muslim, pelaksanaan pemilu dalam bingkai demokrasi di setiap negeri Islam khususnya, semata-mata untuk melanggeng-kan sistem sekular itu. Buktinya, parpol pemenang pemilu atau wakil rakyat yang terpilih nggak boleh ngotak-ngatik falsafah negara dan UUD yang menjadi asas negara. Apalagi sampe menggantinya dengan aturan yang nggak sekular. Bisa berabe urusannya. Karena bertentangan dengan UU pemilu dan UU parpol yang udah disahkan. Karena itu, kita nggak akan pernah menjumpai perbaikan kondisi di bawah bendera demokrasi. Percaya deh!</p>
<p>Udah gitu, dosa lagi. Ibnu Taimiyah dalam â€œMajmu al-Fatawaâ€? mendefinisikan tahkim (at-Tahaakum) sebagai sebuah aktivitas ibadah dan berkata, â€œJika seseorang memutuskan perkara dengan selain agama Allah Swt. adalah musyrik.â€? Jadi, jika seseorang berargumen bahwa dia tidak tahu bahwa memilih suatu kekufuran ataupun memilih orang muslim namun berideologi dan bercita-cita tidak ingin menegakan syariat Islam adalah suatu hal yang serius, hendaknya dia mengambil pelajaran dari Abdullah bin Abbas r.a. yang berkata â€œDan orang akan men-jadi kafir karena ketidak-tahuannya.â€? Sehingga hal ini dipandang sebagai syirik akbar yang tidak dapat diampuni. Naudzubilahi min dzalik!</p>
<p><strong>Berjuang tegakkan syariat Islam<br />
</strong>Kedigjayaan Islam pada masa lalu terjadi justru karena dijadikannya Islam sebagai ideologi negara. Sementara dalam demokrasi, agama (Islam) wajib dipisahkan dari peme-rintahan. Itu artinya, kalo kita ingin mengubah kondisi negeri?  ini dan negeri-negeri Islam yang tengah terpuruk kuncinya cuma satu, ya kunci mas eh, tegaknya pemerintahan Islam alias Daulah Khilafah Islamiyah. Pemerintahan yang dikomandani oleh khalifah ini yang akan mengurusi dan mengayomi sepenuh hati rakyatnya dengan aturan Allah. Sehingga kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, keamanan, keluarga dan ibadah kita akan terjaga. Gimana nggak ngangenin coba?</p>
<p>Untuk sampai pada tegaknya kekhilafahan Islam, kita bersama umat kudu menggalang kekuatan. Sebagai pengemban dakwah, kita jelaskan pemahaman keliru tentang Islam yang berkembang di masyarakat. Kita ubah standar perbuatan mereka dari manfaat bin materi menjadi halal dan haram. Nggak lupa juga kita tanamkan keyakinan umat terhadap syariat Islam sebagai satu-satunya solusi dari setiap masalah yang menghampiri kita. Dengan begini, perubahan kondisi yang kita kehendaki nggak cuma janji. Pasti jadi!</p>
<p>Sobat muda muslim, pemilu boleh berlalu, tapi perjuangan kita nggak boleh surut. Kudu tetep berlanjut. Iya dong, selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula dakwah Islam kita kobarkan. Sehingga hari-hari kita dipenuhi aktivitas yang mulia dan bertaburan pahala. Makanya rugi banget buat orang yang hidup tanpa aktivitas dakwah. Oke deh. Pokoknya, tiada kemuliaan tanpa Islam, tiada Islam tanpa syariat, dan tiada syariat tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah. Yoâ€™i gak Coy? Huhuy!</p>
<p>Tapi inget, kita juga kudu siap ngadepin masalah dalam dakwah. Terutama dengan lingkungan tempat kita berdakwah. Rumah, keluarga, sekolah, kampus, atau tempat kerja. Apalagi saat kita coba istiqomah dengan aturan Islam. Akan selalu ada pihak yang beda pendapat dengan kita. Dari yang biasa sampe yang bikin sewot. Ada yang ngomong kalo saat ini udah waktunya hukum Islam menyesuaikan dengan realitas yang terjadi. Buat apa tereak-tereak mau diriin negara Islam kalo kebanyakan masyarakat lebih akur dengan demokrasi. Ringan sih, tapi dalem kan?</p>
<p>Lebih dalem lagi pas ada yang bilang perjuangan menegakkan khilafah itu utopia alias khayalan belaka. Padahal kalo kita piki-piki, yang berjuang dalam jalan salah, justru itulah yang utopia. Soalnya jalan yang kita pilih udah terbukti berhasil seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. hingga tegaknya Daulah Islam di Madinah. Sementara jalan yang lain, cuma trial and error! Yakin deh.</p>
<p>Yang penting buat kita, adalah berjuang untuk Islam semaksimal mungkin dengan apa yang kita miliki. Perkara hasil dan risiko yang bakal terjadi, serahkan kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah akan selalu bersama kita. Jadi nggak usah minder apalagi pusing mikirin suara sumbang dalam aktivitas dakwah. Kita berharap bisa seperti Rasulullah saw. dan para sahabat yang gigih mendakwahkan Islam. Pantang mundur walau selangkah. Meski penganiayaan, boikot, hingga fitnah senantiasa menghujani mereka. Pemilu boleh berlalu, tapi dakwah Islam kudu tetep maju. Di mana kaki berpijak atau oksigen dihirup, di sanalah dakwah Islam kita serukan. Tetep istiqomah![hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 204/Tahun ke-5/19 Juli 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/setelah-pemilu-berlalu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Takut Berjilbab</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-takut-berjilbab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-takut-berjilbab#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:33:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jangan-takut-berjilbab/</guid>
		<description><![CDATA[Takut? Emangnya uji nyali? Nggak cuma uji nyali aja yang bisa bikin orang takut, berjilbab pun ternyata masih banyak yang pada takut. Mulai dari takut dicemooh, takut nggak bisa bebas beraktivitas, takut gerah, takut sulit dapat pekerjaan hingga takut nggak dapat jodoh. Wasyah!
Padahal kalo dipiki-piki, jilbab adalah suatu gaya berpakaian yang lagi tren saat ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Takut? Emangnya uji nyali? Nggak cuma uji nyali aja yang bisa bikin orang takut, berjilbab pun ternyata masih banyak yang pada takut. Mulai dari takut dicemooh, takut nggak bisa bebas beraktivitas, takut gerah, takut sulit dapat pekerjaan hingga takut nggak dapat jodoh. Wasyah!<span id="more-205"></span></p>
<p>Padahal kalo dipiki-piki, jilbab adalah suatu gaya berpakaian yang lagi tren saat ini, lho. Emang sih beberapa tahun yang lalu, jarang banget kita nemuin cewek berjilbab. Tapi saat ini hampir di setiap sudut meja, eh, kota banyak muslimah yang sudah mulai sadar untuk berjilbab. Di sekolah-sekolah baik yang berbasis Islam atau pun umum, perguruan tinggi negeri dan swasta, tempat-tempat kursus hingga di pasar, mal, dan pabrik-pabrik, jilbab mulai marak. Bahkan di perkantoran yang dulunya jarang banget didapati busana muslimah ini, kini hampir di setiap kantor bisa dijumpai wanita muslimah yang berjilbab. Tuh kan, keren nggak sih?</p>
<p>Tapi ternyata di balik hingar-bingar cewek berjilbab, itu belum semuanya mau mengenakannya, sobat. Why? Karena banyak di antara mereka yang meskipun mengaku Islam, tapi masih juga enggan untuk berjilbab. Banyak sih alasan klise yang bakal dijadikan senjata andalan. Mulai dari pendapat yang bilang kalo jilbab tuh busana yang nggak gaul, ribet, dan bawaannya gerah mulu, hingga yang paling sering muncul nih, nggak siap. Nggak siap? Wah, macam mana pula ini?? </p>
<p>Bahkan ada juga yang mau pake jilbab asal dengan syarat dibeliin mobil sedan keluaran terbaru. Walah! Ehâ€¦tapi ini beneran ada lho.</p>
<p>Tapi jangan salah, kita kudu bersyukur juga, karena ternyata masih ada sodara kita yang sudah niat hati sih pingin berjilbab tapi apa daya nggak boleh sama ortu. Dengan alasan kayak anak udik-lah, entar sulit dapat kerjaan-lah, lama dapat jodohnya de el el. Ortu punya kuasa untuk melarang anaknya berjilbab. Gimana nggak, kalo larangan itu disertai ancaman bakal distop uang SPP dan uang saku, bahkan mungkin juga distop nggak boleh aktif di rohis (tempat dia sadar tentang wajibnya jilbab). Lalu gimana dong cara untuk meyakinkan ortu agar dibolehin pake jilbab?</p>
<p><strong>Jalin komunikasi yang baik</strong><br />
Kalo ortumu adalah orang awam yang belum ngeh terhadap ajaran Islam, jangan ngambek dulu ketika ortu ngelarangmu untuk berjilbab. Namanya juga belum tahu Neng.</p>
<p>Nah, kalo persoalannya karena ortumu belum ngeh dengan Islam, maka seperti kata pepatah, tak kenal maka taâ€™aruf alias kenalan dulu. Kenali Islam dan aturannya. Tugas kamulah menyampaikan ini dan itu tentang ajaran Islam, khususnya tentang jilbab kepada ortumu. Siap kan? Harus dong ya.</p>
<p>Sebab, kamu udah diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah dan mendapat berbagai ilmu, termasuk tentang wajibnya jilbab. Itu sebabnya, saatnya kamu yang memahamkan ortu tentang masalah ini. Jangan karena nggak boleh berjilbab, terus kamu antipati sama ortu dan dendam lagi. Nggak baik itu, Non.</p>
<p>Sobat muda muslim, ortu melarang pasti ada alasannya dong. Nggak ujug-ujug marah bin nepsong begitu. Jadi, komunikasikan dulu sama ortu. Bila perlu, dan kayaknya sih perlu banget, tanyakan alasan beliau ngelarang kamu berjilbab. Hehehe.. sekadar kamu tahu aja dan coba nyocokkin dengan fakta di lapangan, biasanya sih alasan ortu melarang kita-kita berjilbab yang paling sering muncul adalah ketakutan. Takut kalo kamu sebagai anak perempuannya nanti sulit dapat kerjaan. Pikir mereka, udah disekolahkan mahal-mahal cuma mau jadi Bu Nyai, begitu seringnya anggapan mereka terhadap jilbab.</p>
<p>Ketakutan yang kedua, khawatir anaknya sulit dapat jodoh karena terhalang oleh jilbabnya. Ketiga, ortu malu punya anak berjilbab karena kebetulan pengalaman ortumu nemuin anak berjilbab tuh malu-maluin. Duileee.. sampe segitunya ya? Hehehe</p>
<p>Kalo alasan pelarangan jilbab sudah diketahui kayak gini, sekarang kewajiban kamu untuk memahamkan ortumu. Bisa dicoba dengan ngejelasin tentang konsep rizki berkaitan dengan pekerjaan, atau pun jodoh yang memang itu semuanya tak ada kaitannya dengan berjilbab or nggaknya seseorang. Sebab, banyak juga tuh mereka yang nggak berjilbab dan berpakaian mini yang keluar masuk kantor melamar kerjaan tapi nggak dapat-dapat (kasihan banget kan?). Sebaliknya banyak juga tuh yang berjilbab karena kemampuan dan prestasinya malah bisa jadi dosen, guru, dokter, insiyur, wartawan, penulis, ahli kimia dll. Jadi, tulalit banget kalo ngata-ngatain bahwa jilbab penghambat dapat kerjaan.</p>
<p>Begitu juga dengan jodoh. Berapa banyak wanita-wanita seksi yang masih melajang di usia tua padahal mereka tidak berjilbab. Sebaliknya banyak juga muslimah berjilbab yang masih muda usia justru udah mendapatkan jodoh karena ketaatannya pada hukum Allah. Tolong yakinkan ortumu dengan janji Allah bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu sebaliknya. Sehingga tak ada alasan lagi bagi ortumu untuk melarang berjilbab bila mereka sudah paham. Oya, jelaskan juga bahwa jilbab adalah kewajiban bagi wanita muslimah yang nilainya seperti wajibnya sholat. Catet itu. Bila perlu ditebelin dan digaris bawah biar inget.</p>
<p><strong>Kalo ada yang reseh?</strong><br />
Mau berbuat baik itu memang nggak mudah, sobat. Pasti ada aja suara-suara miring ketika kamu pertama kali berjilbab. Ada yang nganggep kamu sok alim, nggak modern, primitif, iseng manggil dengan gelar Bu Haji, atau bahkan yang parah adalah mengucilkan kamu dari pergaulan. Terus gimana dong?</p>
<p>Kalo persoalannya mereka yang reseh, berarti masih ada celah untuk menasihati, maka jangan ragu untuk ngasih nasihat kepada mereka. Katakan bahwa dengan berjilbab, akan memperjelas posisi seorang wanita. Kamu bisa jelasin bahwa dengan berjilbab, seorang cewek tuh nggak hanya dinilai dari fisiknya semata (emang pelajaran olahraga pake acara penilaian fisik?), tapi cewek tuh juga punya kemampuan lain yang lebih layak dinilai. Kemampuan otaknya, prestasi belajarnya, keahlian di bidang yang ditekuninya, dan keterampilan dalam bidang yang lain juga yang nggak melulu cuma pamer fisik. Selain tentunya memiliki akhlak yang baik juga dong. Oya, kamu bisa membe-rikan penekanan khusus bahwa berjilbab adalah kewajiban bagi semua cewek yang mengaku muslimah dan mukminah. Itu sebabnya, berdosa bagi yang nggak mau melaksanakan kewajiban menutup aurat ini.</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo ada teman kamu yang nyindir ketika kamu pake jilbab dengan nyebutin kuno dan primitif, kamu bisa bilang ke doi. â€œEmangnya ada jaman primitif pake baju menutup aurat dan lengkap seperti jilbab? Wong jaman itu belum ditemukan kain, boro-boro menutup aurat.â€? Betul nggak seh?</p>
<p>Sebaliknya, jelaskan bahwa mereka yang nggak berjilbab dan menutup aurat itulah yang layak mendapat sebutan masih primitif. Gubrak!</p>
<p>Why? Karena banyak cewek yang pake baju yang kurang kain or pake baju adeknya yang masih SD. Gimana nggak, kalo bajunya ukuran kecil kan auratnya jadi bebas terlihat sama siapa pun. Mungkin ada teman kamu yang kemudian beralasan, â€œini kan modernâ€?</p>
<p>Nah, inilah alasan yang dibuat-buat. Karena sejatinya ini soal sudut pandang aja. Mungkin bisa dibilang perbedaannya hanyalah karena keprimitifan itu dibungkus dengan slogan yang bernama modern. Padahal intinya mah tetep aja primitif, tul nggak?</p>
<p>Jurus terakhir, yahâ€¦cuekkin aja lagi. Kalo dalam hal kebaikan kayak gini, EGP aja, Emang Gue Pikirin. Yang penting tuh apa dan gimana hukum Islam memberi aturan dalam segala hal, khususnya berbusana. Kalo kamu pusing dan selalu dengerin orang lain tentang keputusanmu berjilbab, kamu nggak bakalan bisa maju. Yakin deh.</p>
<p>Terus kamunya sendiri juga harus yang bener ketika memutuskan berjilbab. Masaâ€™ berjilbab bin menutup aurat tapi kayak lontong. Itu tuh, yang tertutup tapi semua lekuk tubuhmu keliatan, ya percuma tak bergun, alias percuma tak berguna Neng. Jangan sampe pake jilbab tapi gak ngerti definisi dan nggak paham yang sesuai syariat itu kayak apa.</p>
<p><strong>Jilbab sesuai syariâ€™at</strong><br />
Kalo dikembalikan lagi ke yang punya bahasa, dalam hal ini bahasa Arab, jilbab adalah kain longgar dan panjang yang menjulur hing-ga menutup kaki. Bentuknya seperti lorong dan tidak ada potongan di tengahnya, dan menutupi pakaian yang biasa kamu pake sehari-hari di rumah. Wahâ€¦nggak modis dong! Modis atau nggaknya tergantung kamu memodifikasinya. Kalo kamu gaul, banyak banget model jilbab yang oke tapi tetep syarâ€™i. Pokoknya inti berjilbab (yakni mengenakan pakaian yang tebel dan longgar, serta panjang sampe menutupi mata kaki) tetep nggak boleh ditinggalkan.</p>
<p>Lho bukannya jilbab itu kain yang sering digunakan untuk menutup rambut? Walah, kamu ternyata kuper en kupeng juga ya? Itu mah namanya khimar, Sayang. Kalo bahasa Indonesianya sih kerudung. Coba kamu buka QS an-Nur: 31. Allah Swt. berfirman: â€œâ€¦Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannyaâ€¦â€?</p>
<p>Nah, khimar atau kerudung ini juga bukan hanya menutup kepala aja, tapi harus sempurna menutup telinga, leher hingga menjulur menutup dada. Jadi nggak ada yang namanya kerudung gaul dengan mengikatkan ujung-ujungnya di belakang leher dan tidak menjulur sampe ke dada. Kalo dada masih belum tertutup, memang disebut berkerudung, tapi itu belum sempurna. Kamu perlu ngeh dong, bahwa busana muslimah itu adalah jilbab dan juga kerudung. Dipake bersamaan kalo keluar rumah or di rumah tapi ada pria asing yang bukan mahram kamu. Oke?<br />
? <br />
<strong>Jaim dong!<br />
</strong>Yup, kamu harus jaga imej, alias omongan dan perbuatan kamu kudu mencerminkan jati diri seorang muslimah. Kamu yang dulunya suka ngomong ceplas-ceplos tanpa peduli perasaan orang lain, sekarang kudu dipikir dan ditata dulu. Kamu yang dulunya suka ketawa ngakak, sekarang mulai belajar untuk lebih sopan. Kamu yang hobi pulang sekolah boncengan sama cowok, yang suka ngerumpi, yang suka jalan-jalan di mal sekadar cuci mata, en so on, maka itu semua kudu dibenahi. Ma-lu dong, berjilbab tapi tetep norak. Bukan kamu aja Non yang bakal kena getahnya dengan sikap-sikap negatif di atas, tapi nama besar jilbab dan Islam bisa ternoda (cieâ€¦Rinso â€?kali).</p>
<p>Berubah memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dilaksanakan. Ketika kamu memutuskan untuk berjilbab, pastikan itu semua karena kesadaran dan bukan hanya ikut-ikutan tren dan mode. Kalo hanya sekadar asal ngikut, kena cobaan dikit aja udah lepas tuh jilbab dari tubuhmu. Balik lagi deh jadi cemet alias cewek metal.</p>
<p>Iman itu kan bisa naik bisa turun, karena itu kamu kudu cari lingkungan yang mendukung keputusan kamu berjilbab. Apalagi di masa awal yang rentan banget sama godaan. Gabung deh ama temen yang udah baik-baik. Ibaratnya kamu temenan ama orang yang jualan minyak wangi, kamu akan ketularan wanginya. Kalo kamu berteman dengan orang yang baik, maka kamu akan ikutan baik. Pokoknya, akan ada orang yang mengingatkan kamu dalam ketakwaan.</p>
<p>Apalagi kalo keputusanmu berjilbab diiringi rajin ngaji. Wuihâ€¦ditanggung te o pe be ge te, alias top banget. Kamu yang semula merasa nggak siap jadi terdorong untuk segera mengenakan jilbab sesegera mungkin. Cobaan dan rintangan nggak akan menyurutkan keputusanmu tapi semakin mengokohkannya. Ibarat pohon yang akarnya kuat, angin topan sedahsyat apa pun nggak bakal bikin kamu jatuh. Oke deh, semakin mantap untuk berjilbab kan? So, berjilbab? Siapa takut! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 203/Tahun ke-5/12 Juli 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-takut-berjilbab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Cowok Kudu Berani</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jadi-cowok-kudu-berani</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jadi-cowok-kudu-berani#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jadi-cowok-kudu-berani/</guid>
		<description><![CDATA[Tayangan televisi yang menguji keberanian kian menjamur menghibur pemirsa. Reality show â€?Tantanganâ€™, â€?Berani Donkâ€™, â€?Nekatzâ€™, atau â€?Fear Factorâ€™ begitu menarik perha-tian. Buktinya antusias masyarakat untuk ikut ambil bagian membludak. Udah ditonton banyak orang, diliput, dapet duit lagi. Meski tantangan-nya agak-agak gokil tetep aja sang kontestan yang didominasi cowok pantang mundur. Disuruh makan cacing, dibotakin kepalanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tayangan televisi yang menguji keberanian kian menjamur menghibur pemirsa. Reality show â€?Tantanganâ€™, â€?Berani Donkâ€™, â€?Nekatzâ€™, atau â€?Fear Factorâ€™ begitu menarik perha-tian. Buktinya antusias masyarakat untuk ikut ambil bagian membludak. Udah ditonton banyak orang, diliput, dapet duit lagi. Meski tantangan-nya agak-agak gokil tetep aja sang kontestan yang didominasi cowok pantang mundur. Disuruh makan cacing, dibotakin kepalanya, atau berjalan di atas seutas tali yang meng-hubungkan dua gedung bertingkat juga nggak masalah. Hmmâ€¦bidikan produser acara emang tepat. Siapa yang nggak mau nunjukkin keberaniannya. Apalagi remaja cowok. Bener?<span id="more-204"></span></p>
<p>Sebagai cowok pasti mokal (baca: malu) dong kalo dikatain chicken alias penakut. Masaâ€™ mau disamain ama Scooby Doo en Shaggy. Makanya banyak remaja cowok yang berusaha nunjukkin kalo doi pemberani dan suka tan-tangan. Apalagi pas lagi ada demenannya. Udah deh, lagaknya bak pahlawan bertopeng pembela kebenaran. Nggak cuma di mulut bilang berani, mereka juga unjuk gigi (Mandra kaleeeâ€¦).</p>
<p>Ada yang doyan kebut-kebutan motor atau mobil di jalanan. Berisiko tinggi dan dijamin nggak malu-maluin kalo balapan ama bajaj Bajuri. Ada yang berlaga jadi bad boy alias co-wok badung. Dandanan sekenanya dengan rambut acak-acakan, baju untouchable by water (nggak pernah dicuci) selama seminggu, plus tindikan anting di hidung dan kuping.</p>
<p>Hobinya juga bolos, berantem, tawuran, sampe nge-drugs. Ada juga yang hobinya hiking, camping, atau travelling dengan modal seadanya. Ikat kepala, sandal jepit, serta tas ransel yang dihiasi cerek atau panci. Biar lebih menantang mereka berjalan kaki. Meski kadang-kadang nebeng di mobil bak terbuka atau truk yang berhasil mereka boikot di tengah jalan. Nestapa banget deh keliatannya. Persis kayak peserta training hidup sengsara. Hihihiâ€¦..(emang ada?)</p>
<p>BTW, ternyata nggak semua cowok pem-berani, macho, atau maskulin. Ada juga lho yang kadar keberaniannya masih di bawah 4,0 meski udah dikonversi (emangnya nilai UAN?). Nggak berani terima tantangan, apalagi sampe adu fisik. Malah cenderung cantik dan feminin. Body boleh atletis, tapi wajahnya itu seram alias sen-yum ramah. Perilaku dan tutur bahasanya luwes binti kemayu. Gayanya malah gagah gemulai. Bawaannya juga nggak jauh dari tas tangan, kipas, plus kosmetik. Sebangsanya â€?Somadâ€™ dalam â€?Cintaku di Rumah Susunâ€™ gitu deh.</p>
<p>Selain kedua tipe di atas, ada juga cowok yang biasa. Banyak malah. Biasa berantem, biasa kebut-kebutan, biasa tampil cantik, biasa ngegosip dll. Heheheâ€¦becanda dink. Maksudnya cewek banget juga nggak, tapi doi kagak berani nerima tantangan. Datar-datar aja hidupnya. Kayak kubangan air diselokan yang mampet. Seolah nggak ada keinginan untuk selangkah lebih maju atau menggali potensi diri. Cowok kayak gini yang patut dipaksa jadi peserta Fear Factor atau boleh juga ngikut acara â€œTan-tanganâ€?. Betul ? Betuuuul&#8230;! Makasih. Hehehe..</p>
<p><strong>Berani terima tantangan</strong><br />
Sobat muda muslim, tantangan (bukan acara TV lho) udah jadi bagian yang terpisahkan dalam hidup kita (cieeâ€¦ berlagak jadi pujangga nih ceritanya). Sama nasibnya dengan oksigen yang tiap hari kita hirup. Tiap orang pasti punya masalah dan tantangan yang kudu diatasi. Kalo ada yang sok bilang nggak punya masalah, itu berarti masalah buat dia. Tapi bukan berarti kita nyari masalah. Bisa urusan ama aparat entar. Berabe dong.</p>
<p>Maksudnya, tanpa kesulitan, kita nggak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya. Nikmatnya sembuh pasti karena kita pernah merasakan nggak enaknya sakit yang serba kesulitan. Setiap rintangan yang berhasil diatasi, bakal bikin kita lebih kuat. Punya pengalaman biar nggak terulang. Setiap tantangan yang dilewati, mengizinkan kita untuk tersenyum bahagia. Tantangan juga bikin hidup lebih dinamis dengan turut membantu menggali potensi diri kita. Coba bayangin, betapa garing hidup kita jika segala sesuatu yang kita inginkan gampang banget didapetin (emangnya kantung ajaib Doraemon?)</p>
<p>Itu sebabnya, udah sepatutnya kita tumbuhkan sikap berani. Berani hadapi tantangan hidup dan segala risiko dari keputusan yang diambil. Kita nggak perlu ngabisin tenaga buat lari dari masalah. Kecuali jika kita nggak tengsin dibilang pecundang sejati. Karena masalah menghampiri kita untuk diatasi, bukan dihindari.</p>
<p>Tapi perlu hati-hati, jangan sampe keliru. Sikap berani laen ama nekatz (pake â€?zâ€™ biar sangar). Jelas banget bedanya. Kalo berani, biasanya sudah diperhitungkan dan penuh perencanaan. Kita udah punya bekal buat ngadepin segala risiko yang bakal terjadi. Tapi kalo nekatz cenderung sembrono. Bisa dibilang nggak ada perencanaan. Apalagi persiapan untuk ngadepin kejadian-kejadian berikutnya. Bisa kacau-balau deh urusannya.</p>
<p>Terutama buat remaja cowok, sifat berani tanpa dibumbui nekat seperti yang udah diuraikan di atas nggak boleh lepas dari dirinya. Wajib nempel kayak perangko. Kalo perlu pake BB Harum Sari. Soalnya kelak banyak tanggung jawab yang mangkal di pundak mereka. Kalo udah waktunya, kita bakal jadi kepala keluarga boo. Untuk saat ini, kita bisa ambil bagian dalam melin-dungi keluarga, adik, kakak, atau ibu. Minimal jadi pemain ca-dangan buat ayah kalo se-waktu-waktu beliau cedera atau terkena kartu merah. Maka-nya dari sekarang, asah deh tuh sikap anticengeng dan pan-tang menyerah. Biar pantas menyan-dang julukan pejantan tangguh. Yoi nggak Coy?</p>
<p><strong>Dalam dakwah pun kita berani</strong><br />
Sebagai muslim, pasti julukan pejantan tangguh itu akan sejajar dengan paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, pemimpin para syuhada. Kok bisa? Kenapa nggak, kita kudu berani terjun ke dunia dakwah dan meneladani beliau. Berani mengatakan terikat dengan aturan Allah dalam setiap perbuatan itu wajib dan sekularisme itu haram. Meski ada sebagian masyarakat atau penguasa yang merasa risih dengan pendapat ini. Pokoknya tetep maju pantang ngacir.</p>
<p>Terjun ke dunia dakwah belom komplit tanpa dilengkapi keberanian menghadapi risiko dakwah. Sebab di sana banyak berkeliaran tantangan yang acapkali bisa melemahkan semangat dakwah kita. Ngadepin omongan orang yang sinis, mencemooh, sampe yang tega menyerang secara fisik. Makanya kita juga kudu siap pasang badan. Kalo perlu ikut bela diri semacam capoera yang lagi digandrungi remaja. Tapi nggak usah kuatir. Risiko apa pun yang menghadang kita dalam dakwah itu akan menjadi penolong kita untuk dapetin ridho Allah. Setiap harta, tenaga, pikiran, dan waktu yang dikorbankan akan bernilai guede buanget di hadapan Allah. Mau dong?</p>
<p>Sobat muda muslim, kudu digaris bawahi plus dipertebal pake stabilo, dakwah nggak ada hubungannya dengan mendekatnya ajal, seretnya rizki, atau menjauhnya jodoh. Yang ada justru Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, meluaskan rizkinya, dan menjanjikan pasangan hidup yang baik plus bertakwa bagi orang-orang yang selalu berusaha terikat dengan aturan-Nya. Pengemban dakwah yang istiqomah masuk dalam kategori ini. Catet tuh!</p>
<p>Allah swt. Befirman: â€œSesungguhnya orang-orang yang mengatakan â€?Tuhan kami ialah Allahâ€™ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): â€™Jangan-lah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalam-nya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.â€? (QS al-Fushilat [41]: 30-31)</p>
<p><strong>Jadi pemberani sejati</strong><br />
Sobat muda muslim, pernah denger sahabat Rasulullah saw. yang bernama Abdullah bin Rawahah? Kalo belum, kamu wajib tahu. Soalnya dialah sosok pemberani yang mengobarkan se-mangat 3000 pasukan kaum muslimin yang mulai ketar-ketir ngadepin 200.000 pasukan ga-bungan?  Romawi pada saat perang Muâ€™tah.</p>
<p>Beliau bilang: â€œWahai kaum Muslimin, sesung-guhnya yang hendak kalian hindari (perang ini) justru adalah jalan mencari sya-hadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil, juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua kebaikan. Menang atau mati syahid!â€? (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an- Nihayah, Juz III/428)</p>
<p>Dalam hal pengorbanan kepentingan pribadi demi Allah, kita bisa mencontoh figur Saâ€™di bin Amir yang diprotes sang istri karena besarnya infaq yang dikeluarkannya di jalan Allah. beliau berkata: â€œKetahuilah bahwa di dalam surga banyak terdapat bidadari yang cantik-cantik selain keindahan-keindahan yang mengagumkan, yang jika satu saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, niscaya akan menerangi semua yang ada. Sungguh kekuatan cahayanya sama dengan kekuatan cahaya matahari yang digabungkan dengan bulan sekaligus. Maka mengorbankan dirimu untuk mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada aku mengor-bankan mereka demi dirimu.â€?</p>
<p>Nah sobat, keberanian yang ditunjukkan Abdullah bin Rawahah atau Saâ€™di bin Amir cuma sebagian aja dari banyaknya kisah keberanian para sahabat. Kita dan mereka sama-sama muslim. Karena itu kita juga bisa seperti mereka. Untuk itu, berikut kita kasih beberapa tips yang mungkin bisa membantu menum-buhkan keberanian sejati dalam diri kita:</p>
<ol>
<li>Pelajari makna hidup ini (untuk apa kita hidup). Buat kita, tentu tujuan hidup udah jelas. Hidup mulia, wafat masuk syurga.?  Ini bisa didapetin kalo memahami Islam ideologis. Sudah terbukti, sudah teruji, bikin orang jadi berani.</li>
<li>Anggap yang lain sama seperti kita, meski tetap hormati dan hargai kelebihan masing-masing. Jadi nggak ngeper duluan lihat orang lain. Karena sama-sama makhluk ciptaan Allah yang lemah. Bedanya, Allah Maha Kuasa akan selalu bersama kita saat kita berani istiqomah dengan aturan-Nya.</li>
<li>Percaya diri. Ini penting banget. Karena Allah nggak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan kita sebagai manusia. Karena itu kita yakin pasti bisa menjadi pengemban dakwah yang istiqomah.</li>
<li>Jalan yang kita tempuh adalah kebenaran. Iya dong. Masa masih ragu dengan aturan Allah yang benar, mulia, dan sempurna?</li>
<li>Sering membaca biografi orang yang terkenal berani. Jangan sampe kelewat. Biar bisa jadi motivasi sekaligus meneguhkan keyakinan kalo istiqomah itu bukan impian, tapi kenyataan yang bisa diusahakan dan diwujudkan.</li>
</ol>
<p>Oke deh sobat, semoga tips di atas bisa banyak membantu. Buat semuanya, mari kita bangkit menghadapi tantangan pahit. Agar hidup kita terasa manis. Buat remaja cowok, tanamkan dalam diri kita prinsip, â€œberani karena benar.â€? Bukan karena dibayar. Ini baru pejantan tangguh nan syarâ€™i . Tetep berani dan istiqomah! Allahu Akbar![hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 202/Tahun ke-5/5 Juli 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jadi-cowok-kudu-berani/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesona Euro 2004</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pesona-euro-2004</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pesona-euro-2004#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pesona-euro-2004/</guid>
		<description><![CDATA[Ajang sepak bola Piala Eropa 2004 yang digelar di Portugal ternyata membakar atmosfir penggila bola di seluruh dunia. Pesonanya bikin geger para pecandu sepak bola di jagat ini. Selain menyuguhkan pertandingan kelas dunia yang diperagakan oleh lebih dari 300 pemain dari enam belas negara yang ikut adu otot dan adu strategi, juga mempesona para pengusaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ajang sepak bola Piala Eropa 2004 yang digelar di Portugal ternyata membakar atmosfir penggila bola di seluruh dunia. Pesonanya bikin geger para pecandu sepak bola di jagat ini. Selain menyuguhkan pertandingan kelas dunia yang diperagakan oleh lebih dari 300 pemain dari enam belas negara yang ikut adu otot dan adu strategi, juga mempesona para pengusaha jasa dan hiburan serta pemilik klub besar Eropa yang sedang mencari talenta baru untuk memperkuat skuad klubnya.<span id="more-203"></span></p>
<p>Ibarat sebuah drama menarik, Euro 2004 emang bikin pesona. Mampu menyihir en me-nyita perhatian siapa saja yang merasa terlibat secara emosi di ajang balbalan ini. Ketika tim unggulan Spanyol dan Italia tersingkir di babak awal turnamen ini, para pemain, pela-tih, penonton, dan seluruh pendukungnya di dunia hatinya sedih dan remuk. Lebih nelangsa lagi yang kalah taruhan, selain muram karena klub favoritnya angkat koper lebih dulu akibat tereliminasi, mereka juga menangisi duit yang ludes dipake taruhan judi. (Kasiaaan Deh Lo!)</p>
<p>Begitu sebaliknya, ketika Inggris berhasil menggebuk Kroasia di pertandingan akhir babak penyisihan, David Beckham dkk bersuka-cita di atas penderitaan Dado Prso dkk. Tomislav Buti-na, kiper Kroasia harus memungut bola dari dalam gawangnya sendiri sebanyak empat kali. Dua kali dikoyak Wayne Rooney bintang muda asal klub Everton, dua gol lagi hasil usaha Paul Scholes (MU) dan Frank Lampard (Chelsea).</p>
<p>Bahkan aksi bintang muda Wayne Rooney yang baru berusia 18 tahun itu memikat banyak petinggi klub Eropa. Menurut Presiden Bar-celona Joan Laporta, tim besar dari Spanyol, Italia, dan Jerman siap mengeluarkan 50 juta pound (sekitar Rp 865 miliar) untuk mendapat-kan Rooney. Wuih, keren banget!</p>
<p>â€œSaya tahu dari pembicaraan dengan pemilik, pelatih, dan manajer umum klub bahwa Rooney telah memikat semua orang. Seluruh Eropa sekarang membicarakannya,â€? ujar Laporta (Koran Tempo, 23 Juni 2004)</p>
<p>Pesona Euro 2004 belum berhenti di situ. Masih banyak kejutan. Yunani, di luar dugaan mampu lolos ke babak perempat final. Nyaris sulit dipercaya, tim yang ditangani Otto Rehha-gel mampu mengalahkan Portugal, menahan im-bang Spanyol, dan hanya kalah dari Rusia. Yunani berhak melenggang ke perempat final mendampingi Portugal yang menjadi juara grup. Dengan prestasi ini, para pemain Yunani baka-lan kian agresif dan bikin kejutan, karena bonus uang senilai US 2,4 juta dolar (atau sekitar Rp 22,6 miliar) sudah menanti mereka. Wuih!</p>
<p>RCTI, sebagai stasiun televisi pemegang tunggal hak siar ajang balbalan Eropa ini, gam-pang saja untuk mengutip saweran dari para produsen untuk masang iklan. Kabarnya, baru sepekan Euro digelar, dana sebesar US 5 juta dolar (sekitar Rp 42 miliar) yang dipake untuk membeli hak siar dan menyiapkan segalanya di dapur produksi RCTI, sudah hampir tertutupi. Wow, benar-benar bisnis menggiurkan tuh!</p>
<p>Zulfirman, wartawan Koran Tempo yang meliput langsung di Portugal, menulis-kan di harian tempatnya bekerja bahwa para pemilik hotel di Portugal juga menga-ku ajang ini mampu melipat-gandakan keuntungan bisnis-nya. Sekitar 12 ribu pendu-kung Rusia datang ke Portu-gal, kebanyakan mereka tinggal di kota Algarve. Karuan aja, pebisnis lokal sangat menikmati kehadiran mereka. Bayang-kan, selama seminggu mereka memesan katering khusus dengan cita rasa yang istimewa, bahkan ada satu keluarga Rusia yang menyewa di kamar suite hotel bebintang lima, Hotel Vilamoura Marine. Mau tahu tarifnya? 3.000 euro (setara dengan Rp 33 juta)!</p>
<p>Sobat muda muslim, masih banyak cerita yang lahir dari pesona Euro 2004. Dan yang jelas, sepak bola sebagai olahraga paling populer di jagat ini bikin segalanya gemerlap. Sepak bola sudah menjelma bukan aja sebagai sebuah pertandingan tapi udah jadi hiburan, bisnis menggiurkan, dan juga â€?ideologiâ€™. Walah!</p>
<p><strong>Bola bergulir, duit mengalir</strong><br />
Menyadari bisnis sepak bola sebagai bisnis paling menggiurkan di dunia, pemerintah negerinya Luis Figo ini ngotot en nekat mengajukan proposal ke UEFA sebagai negara penyelenggara ajang besar Eropa ini. Setelah direstui UEFA, maka Portugal berbenah diri. Sepuluh stadion disiapkan, tujuh di antaranya stadion baru. Berapa dana yang dikeluarkan pemerintah Portugal untuk ajang ini? US 4,8 miliar dolar (sekitar Rp 44 triliun). Wuih, pastinya merogoh kocek dalam-dalam tuh.</p>
<p>Dengan pengeluaran sebanyak itu, pemerintah Portugal seperti sedang bertaruh, karena mereka berharap akan mendapat pemasukan yang sangat boleh jadi lebih besar dari itu. Sebut saja pendapatan dari tiket yang 95 persen sudah ludes terjual sebelum digelar pesta ini. Panitia menargetkan angka 700 juta euro atau sekitar Rp 7 triliun.</p>
<p>Pendapatan lainnya dari penjualan hak siar senilai 580 juta euro. Sekadar tahu aja, di se-mua penjuru dunia, 200 stasiun televisi mendaf-tarkan diri untuk menyiar-kan pertandingan secara langsung. Saweran dari para sponsor resmi Euro 2004 cukup menggelem-bungkan pundi-pundi uang penyelenggara. Tercatat beberapa sponsor resmi separti Hyundai (yang juga menyediakan 399 mobil Hyundai berbagai tipe untuk keperluan trans-portasi 16 negara peser-ta), Canon, Carls-berg, T-Mobile, JVC, Mastercard, McDonaldâ€™s, dan Coca Cola. Hebat juga ya?</p>
<p>Sobat muda muslim, ajang ini bukan cuma pesta ngumpulin duit bagi negara penye-lenggara, tapi juga para pemain dan negara peserta. Majalah Tempo edisi 14-20 Juni 2004, melaporkan bahwa tim juara akan mengantongi 12 juta poundsterling (sekitar Rp 162 miliar). Wow, duit segitu banyaknya kalo buat ngembangin Studia kayaknya bisa jadi majalah besar neh heheheheâ€¦.(mimpi kali yee!)</p>
<p>Oya, untuk melecut semangat para pemain, masing-masing negara peserta ajang balbalan Euro ini sudah menyiapkan dana lumayan besar. Kepada para pemain Portugal, juga pelatihnya, sudah dijanjikan masing-masing Rp 2 miliar. Sementara Rusia yang merasa peluangnya untuk juara kecil, sudah minta jatah lebih dulu total Rp 16 miliar untuk sekadar tampil saja. Bisa mabuk duit tuh!</p>
<p>David Beckham dkk sudah minta jatah Rp 3,3375 miliar bila menang di final. Permintaan ini di luar uang saku mereka lho, yang mencapai Rp 202,5 juta per pekan. Hmmâ€¦ ini termasuk kecil Bro, karena gaji mereka per pekan di klub masing-masing angka ini bisa seperempatnya.</p>
<p>Ambil contoh Michael Owen, bintang muda Liverpool ini digaji 60 ribu poundsterling sepekan (sekitar Rp 1,02 miliar). Cckckckâ€¦ kita dapetin duit sejuta sebulan aja senengnya bukan main. Gimana kalo seminggu semiliar rupiah tuh! Bisa pingsan deh. Glodaks!</p>
<p>Pendapatan Owen belum seberapa jika dibanding kapten timnas Inggris di Euro 2004, David Beckham. Suaminya Victoria Adams ini mampu meraup penghasilan sampai Rp 202,5 miliar dalam setahun. Berarti doi seminggu bisa dapet sekitar Rp 4 miliar! Ckckckck..</p>
<p>Owen dan Beckham sekadar contoh dari ratusan pemain sepak bola yang bersinar di lapangan hijau. Mudahnya mencari uang, bikin para bintang ini punya gaya hidup yang wah dalam membelanjakan duitnya. Jangan heran kalo David Beckham saja mampu mengkoleksi mobil mewah sampe selusin; Porsche 911 Turbo, Aston Martin DB 7 Coupe, Jaguar XKR, BMW 450i Saloon, Mercedes Benz CLK 320, Lincoln Navigator, Ferrari 360, Modena Spyder, GMC Yukon 4&#215;4, Bentley, Range Rover V8 Vogue, dan Mercedes Benz S 500. Huhuy! ( Koran Tempo, 20 Juni 2004)</p>
<p>Untuk beli sedan mewah Mercedes Benz S 500, Beckham rela ngeluarin duit sebesar 150 ribu poundsterling (sekitar Rp 2,55 miliar). Jangan kaget, ini cuma setengahnya dari gaji doi seminggu! Hehehe kapan yang mereka kayak kita? (nggak kebalik neh?)</p>
<p>Duit yang mengalir dalam bisnis sepakbola ini bikin Roman Abramovich, rela membeli klub Chelsea. Orang kaya asal Rusia ini, sepertinya belum puas mengeruk keuntungan dari jual-beli minyak hingga mau terjun di bisnis bola. Kalo kebanyakan dari kita makan malam cuma dengan nar-koba (baca: nasi rames, kopi, dan bala-bala) yang bisa dibeli dengan duit 3000 perak, Abramovich menghabiskan makan malam senilai 22 ribu pound (sekitar Rp 374 juta)!</p>
<p>Sobat muda muslim, memang sulit diterima akal sehat uang yang mengalir dari bisnis bola yang bergulir itu. Nggak abis pikir, tapi itulah cerita indah dunia sepak bola abad ini.</p>
<p><strong>â€œAgamaâ€? baru</strong><br />
Sekadar suka menonton aksi bintang lapangan hijau, masih dianggap wajar. Tapi kalo sampe nyandu. Ini yang nggak wajar. Gimana nggak, kalo orang udah nyandu bola, akal sehatnya bisa jadi udah â€?ditaroâ€™ di dengkul. Mi-kirnya jadi pengen yang ringan-ringan aja, dan tentunya segala berbau sepak bola. Gawatnya kalo udah nyandu, maka bagi orang tersebut sepak bola jadi kebutuhan. Kalo udah butuh dan bergantung, sepak bola bagi dirinya adalah agama. Yup, agama baru jaman kiwari adalah sepak bola. Sampe segitunya ya?? </p>
<p>Bila memakai perspektif Robert N. Bellah tentang civil religion, maka sepak bola boleh dibilang jadi sebuah agama. Civil religion, menu-rut Bellah, tidak dalam arti agama konvensional. Tapi suatu bentuk kepercayaan dan gugusan nilai dan praktik yang memiliki semacam â€?teologiâ€™ dan ritual tertentu yang di dalam realisasinya menunjukkan kemiripan dengan agama. Boleh jadi ia adalah sebuah sistem atau praktik-praktik yang tidak ada hubungannya dengan agama. (Andai Kamu Tahu, hlm. 89)</p>
<p>Gimana nggak, bentuk â€?teologiâ€™ dari sepakbola adalah para suporter yang rela membela klub kebanggaannya atau tim nasionalnya. Dukungan pun nggak sekadar bersorak dan jejingkrakan di tribun sepanjang pertandingan berlangsung, tapi seringkali mereka gelap mata dan saking cintanya, mereka rela berkorban demi klub pujaan hatinya. Pokoknya siap â€?gagah-gagahanâ€™, bila perlu berjuang sampai titik darah yang penghabisan dalam 2 kali 15 menit perpan-jangan baku hantam dengan kesebelasan dan pendukung lawan. Gubrak!</p>
<p>Itu sebabnya, jangan heran kalo kejadian di Hesyel, Belgia pada tahun 1985 saat berlangsung final Liga Champions antara Juventus dan Liverpool. Kebetulan The Reds berhasil dipecundangi oleh Si Nyonya Besar asal Italia dengan kemenangan tipis 1-0 lewat gol Michael Platini dari titik putih. Suporter The Reds yang marah langsung beraksi brutal. Korban nyawa pun berjatuhan mencapai puluhan orang, karena sebagian tribun penonton ambruk.</p>
<p>Oya, ada juga lho sekolompok suporter Madrid yang kelewat beringas, â€œUltra Surâ€? namanya. Bagaimana aksinya? Mereka men-jadikan Stadion Santiago Bernabeu sebagai markas untuk berkumpul dalam merencanakan serangan. Mereka udah menyimpan semua alat â€?perangâ€™ tersebut di sebuah toko di sekitar stadion. Wasyah! Ini mo nonton bola apa mo tawuran sih? Begitulah, sepakbola acapkali dianggap sebagai pemuas atas gejolak jiwa para penganggum beratnya. Hmm.. jadi agama dong? Sangat boleh jadi.</p>
<p>Mungkin ada orang yang bilang, â€œItu kan ulah suporter edan aja!â€? Betul, tapi itu kan bagian dari hiburan yang mewarnai sepakbola. Tanpa suporter, sepakbola jadi hambar dinik-mati. Tapi kalo suporternya beringas kayak gitu, mana tahan? Tapi inilah â€?aturanâ€™ sepakbola sebagai pelengkap permainan.</p>
<p>Bang Farid Gaban, dalam tulisannya di Koran Tempo edisi 13 Juni 2004 mengutip pendapatnya Eric Hobsbawm yang menyebutkan bahwa sepak bola adalah salah satu bentuk â€œtradisi buatanâ€? (invented tradition)â€”serangkaian praktik, yang dikendalikan oleh aturan tertentu dan memiliki sifat ritualistik serta simbolis. Jadi jangan heran kalo sepak bola sudah menjadi â€œagamaâ€? baru. Jangan kaget pula jika sebagian suporter klub Manchester United (MU) sampe rela membentangkan spanduk bertuliskan â€œMU is My Religionâ€?. Aduh biyung!</p>
<p>Sobat muda muslim, akhirnya kita harus bilang, bahwa selain efektif menggerakkan massa, sepak bola telah menarik gerbong bisnis, dan kemudian menjadikan logika making money sebagai kitab suci. Kalo sudah begini, sepak bola alias soccer benar-benar udah jadi â€?agamaâ€™ baru bagi penghuni jagat ini. Udah jadi bagian dari kehidupan mereka. Moga kita nggak begitu rupa. Waspadalah! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 201/Tahun ke-5/28 Juni 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pesona-euro-2004/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Lebih Jago dari Amrik</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kita-lebih-jago-dari-amrik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kita-lebih-jago-dari-amrik#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kita-lebih-jago-dari-amrik/</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini hujan es sebesar buah anggur melanda Tokyo. Angin ribut mengguncang Hawaii. Sementara New Delhi dilanda hujan salju. Dan puncak-nya adalah topan hebat yang melanda seluruh wilayah Los Angeles. Anehnya, kejadian seheboh bin gempar di atas gak ada beritanya di Liputan 6, Info Mancanegara atau Headline News. Napa ya? Heheheâ€¦nggak usah bingung. Karena peristiwa-peristiwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini hujan es sebesar buah anggur melanda Tokyo. Angin ribut mengguncang Hawaii. Sementara New Delhi dilanda hujan salju. Dan puncak-nya adalah topan hebat yang melanda seluruh wilayah Los Angeles. Anehnya, kejadian seheboh bin gempar di atas gak ada beritanya di Liputan 6, Info Mancanegara atau Headline News. Napa ya? Heheheâ€¦nggak usah bingung. Karena peristiwa-peristiwa itu cuma terjadi dalam VCD, DVD, or bioskop. Kok bisa? <span id="more-202"></span></p>
<p>Iya. Soalnya Hollywood baru aja merilis film heroik full special effect dan science fiction terbaru. Judulnya â€œThe Day After Tomorrowâ€? alias â€œLusaâ€? atawa â€œPagetoâ€? kata orang planet pajajaran (baca: Sunda). Film ini menceritakan hasil penelitian seorang ahli klimatologis yang memberikan indikasi bahwa pemanasan global bisa memicu perubahan iklim besar di seluruh dunia secara mendadak. Walhasil dunia dilanda bencana seperti di atas. Gitchuâ€¦</p>
<p>Nggak cuma special effect-nya yang menarik perhatian, â€œpesan sponsorâ€? film itu juga kudu kita pelototin. Seperti dalam Indepen-dence Day atau Armageddon, film ini juga memperlihatkan Amerika sebagai tokoh pahlawan dunia. Seolah cuma dia yang paling jago yang bisa menyelamatkan dan mengaman-kan dunia. Memang sih untuk urusan kecanggi-han teknologi, negara ini nomor wahid. Negara lain mah, harap sabar menjadi pembebek dan jauh di bawah kelasnya. Pokoknya, dijamin pasti ketinggalan banget dibanding ama Amrik.</p>
<p>Dengan menyandang gelar globo cop alias polisi dunia, negara pimpinan Om Bush Jr ini jadi sombong binti arogan. Baginya, status negara lain nggak lebih tinggi dari seorang babu yang mesti tunduk melayani dan memenuhi segala keinginannya. Nggak heran kalo sikapnya yang kayak majikan ini bikin dunia jadi kacau beliau eh balau.</p>
<p>Salah satu ulahnya, AS bebas nyeleksi persenjataan yang boleh dimiliki dan digunakan oleh suatu negara. Kalo ada negara yang ngeyel punya senjata yang lebih hebat darinya, nggak segan-segan AS akan memojokkannya ke sudut ring dan memaksa masyarakat internasional untuk setuju dengan penilaiannya. Seperti yang terjadi pada kasus invasi AS ke Irak.</p>
<p>Padahal untuk urusan persenjataan, AS yang paling banyak rapot merahnya. Di dunia ini, cuma AS yang tega pake bom atom di Hiroshima dan Nagasaki Jepang, agent orange dan bom Napalm di Vietnam, serta hulu ledak yang diperkuat dengan Uranium (meng-akibatkan radiasi) pada perang Teluk. Bahkan AS menolak menandatangani perjanjian-perjanjian untuk menghentikan produksi dan ujicoba senjata-senjata nuklir, kimia, maupun biologis. Bener-bener nggak punya urat malu! Sejawara itukah AS?</p>
<p><strong>Dunia Islam yang tenggelam</strong><br />
Sobat muda muslim, apa yang terbayang dalam benak kita saat nonton sepakbola antara tim mahasiswa melawan tim â€?playboyâ€™alias anak yang suka bermain atau anak TK? Hihihiâ€¦.kita pasti geli ngeliatnya. Dan kita mungkin malu mengakui kehebatan tim mahasiswa itu meski mereka dengan mudah mempecundangi lawan-nya. Ya kan? Masaâ€™ mahasiswa yang udah bangkotan dengan stamina fisik yang fit sparing partner-nya ama anak TK. Tebel banget tuh kulit muka.</p>
<p>Seperti mahasiswa itulah gambaran AS. Kehebatannya bersifat semu. Karena lawannya, negara-negara lain di luar AS, khususnya dunia Islam yang sedang dalam kondisi lemah, loyo, tidak berdaya, kurang tenaga, dan kurang ber-gairah. Persis kayak orang yang kekurangan gizi alias penderita mal nutrisi. Akibatnya negeri-negeri Islam dengan mudah dicabik-cabik oleh para penjajah kafir yang haus darah dan harta (persis drakula matre).</p>
<p>Sungguh menyedihkan kondisi sodara-sodara kita di belahan dunia lain. Tetesan darah bercampur bau mesiu menjadi pemandangan sehari-hari di Timur Tengah. Di Irak, lebih 5.500 warga sipil tewas dalam satu tahun pertama pendudukan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat. (Waspada online, 25/05/04). Sedikitnya 55 warga Palestina, termasuk 15 anak-anak di bawah usia 18, telah dibantai Israel pada periode 1 sampai 20 Mei. (Eramuslim, 20/05/04). Rabu, 28 April lalu, militer Thailand membantai 107 muslim Pattani di dalam masjid. (Eramuslim, 30/04/04). Di Nigeria, Fundamentalis Kristen kembali Bantai 67 Muslim setelah sebelumnya memakan korban 300 muslim. (Eramuslim, 05/05/04). Dan masih banyak lagi berita duka yang menimpa sodara-sodara kita.</p>
<p>Hampir nggak ada satu kabar gembira pun yang lahir dari negeri-negeri Islam. Tingkat ekonominya kian terpuruk akibat terjerat hutang luar negeri yang dikucurkan IMF atau Bank Dunia. Kesejahteraan penduduknya makin mengkhawatirkan. Pemerintahan mereka pun nggak lepas dari campur tangan para penjajah. Melihat kondisi kayak gini, nggak heran kalo opini kebangkitan Islam dan kaum Muslimin dianggap sebatas impianâ€¦</p>
<p><strong>Nggak ada alasan buat minder</strong><br />
Bener sobat. Nggak ada alasan buat kita selaku muslim untuk ngerasa minder, ngeper atawa jiper ama AS. Karena sebenernya, kita punya kekuatan-kekuatan yang bisa mengimbangi negara adikuasa itu. Asli kita nggak boâ€™ong. Buktinya AS getol banget nyaplokin negeri-negeri Islam. Karena doi menyadari kekuatan itu dan nggak mau potensi kekuatan itu bakal menghantamnya di masa depan. Begitu. Emang, apa sih yang dikhawa-tirkan AS dari negeri-negeri Islam? (sambil pegang dagu en pura-pura mikir)</p>
<p>Pertama, secara geografis kaum Muslimin menempati posisi yang strategis jalur laut dunia. Mereka mengendalikan Selat Gibraltar di Medite-rania Barat, Terusan Suez di Mediterania Timur, Selat Balb al-Mandab yang memiliki teluk-teluk kecil di Laut Merah, Selat Dardanelles dan Bosphorus yang menghu-bungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, serta Selat Hormus di Teluk. Dengan posisi ini, para penjajah kafir akan keteteran menyerang negeri-negeri Islam lewat jalur laut. Karena pintu-pintu strategis laut dikuasai oleh kaum Muslimin. Rasain lo!</p>
<p>Kedua, faktor sumber daya alam (SDA). Negeri-negeri Islam dikenal sebagai negeri yang subur untuk bercocok tanam. Dengan begitu, kaum Muslimin akan terhindar dari ketergan-tungan pada negara lain. Nggak cuma itu, sumber bahan mentah juga bejibun di negeri-negeri Islam. Mereka mengendalikan cadangan minyak (60%), Boron (40%), Fosfat (50%), Perlite (60%), Strontium (27%), dan Tin (22%). Dengan senjata emas hitam, kaum Muslimin dengan mudah mengguncang ekonomi AS dan negara-negara Eropa hanya dengan menyetop suplai minyak ke mereka. Seperti yang pernah terjadi pada tahun 1973-1974. (Hans J, Morgenthau, Politics Among Nations, terj. Hlm. 175).</p>
<p>Ketiga, jumlah penduduk. Sebuah bangsa akan bertambah kuat dengan dukungan jumlah penduduk. Tanpa penduduk yang banyak, tentu akan kerepotan menjalankan pabrik industri yang akan menopang kekuatan negara yang bersangkutan. Dan saat ini, jumlah kaum Muslimin di seluruh dunia lebih kurang 1miliar atau 20% dari pupulasi di dunia. Sementara jumlah penduduk AS 278.058.881 jiwa (CIA The World Fact Book). Hampir 1 banding 5 coy&#8230;</p>
<p>Keempat, kekuatan militer. Berdasarkan data CIA The World Fact Book, potensi kekuatan militer dan dinas militer yang dimiliki beberapa negeri muslim bakal begitu fantastis. Hanya dengan menggabungkan tentara Mesir, Irak, Iran, Pakistan, Turki, dan Indonesia saja jumlah pasukan kaum Muslimin yang tersedia sekitar 162 juta. Bandingkan dengan potensi militer AS yang cuma 79 juta. Atau Israel yang cuma punya sekitar 1,5 juta pasukan pria dan 1,4 juta pasukan wanita.</p>
<p>Sobat muda muslim, hanya satu yang disayangkan dari semua kekuatan yang dimiliki negeri-negeri Islam. Mereka semua nggak bersatu. Terpecah-belah lebih dari 56 negara kecil. Otomatis nggak ada kekuatan tanpa persatuan. Makanya dengan mudah AS menghantam negeri-negeri Islam dari segala sisi. Menanamkan budaya Barat dan meracuni pemikiran umat. Gaswat!</p>
<p>Karena itu kudu ada upaya untuk menggalang kekuatan kaum Muslimin di seluruh dunia. Rasulullah dan para sahabat mencontohkan bahwa pengga-langan kekuatan itu akan solid jika Daulah Khilafah Islamiyah alias DKI (hati-hati ketuker ama KDI) tegak di muka bumi ini. Negara Islam ini yang akan menghimpun potensi kekuatan yang dimiliki kaum Muslimin. Institusi ini pula yang akan menyatukan Dunia Islam untuk kemudian berjihad melawan penindasan negara-negara Barat Kapitalis. Dengan begitu, keberadaan DKI sebagai negara adikuasa akan melindungi dan mengayomi seluruh kaum Muslimin serta menghentikan arogansi AS di planet bumi. Ini baru seimbang&#8230;Tul nggak seh?</p>
<p><strong>Membangun â€?adikuasaâ€™ baru</strong><br />
Perlu dicatat sobat, kita selaku remaja muslim juga wajib terlibat dalam usaha mulia untuk menegakkan DKI. Karena kewajiban ini bukan cuma untuk para ulama, aktivis dakwah, atau ustadz. Tapi buat kita semua yang masih ngerasa muslim. Catet tuh!</p>
<p>Sebagai tahap awal terjun ke dunia dakwah kita kudu memahami Islam sebagai sebuah ideologi yang akan diterapkan oleh negara. Hanya dengan kekuatan ideologi, sebuah negara bisa menjadi adikuasa van adi-daya (tapi gak termasuk Adi Nugroho lho..). Secara jujur hal ini diakui Carleton S, Chairman and Chief Executive Officer, Hewlett-Packard Company, waktu ngomentarin peradaban Islam dari tahun 800 sampe 1600 (masa kekhilafahan) dalam ceramahnya tanggal 26 September 2001 dengan judul â€œTechnology, Business, and Our Way of Life: Whats Nextâ€?.</p>
<p>Dia bilang:?  â€œPeradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinen-tal (continental super state) yang terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tro-pik dan gurun de-ngan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan keper-cayaan dan asal suku.. Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya.â€?</p>
<p>Sobat muda muslim, moga-moga kita gak alergi ama Islam ideologi. Apalagi sampe gatel-gatel di seluruh permukaan tubuh. Iih&#8230;itu mah PKK atuh alias Panu, Kurap, dan Kudis. Nggak ada ruginya kita ringankan kaki kita ke forum pengajian yang bahas politik, ekonomi, dll. Gak ada jeleknya kita mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam sebagai sebuah ideologi. Bagus malah. Karena akan membuka wawasan kita, melatih daya nalar kita, sekaligus menjadikan kita pahlawan bertopeng, eh pembela Islam. Hehehe&#8230;</p>
<p>Nah, dengan menjadi pembela Islam kita bisa membantu umat untuk mendapatkan pencerahan dari ide-ide sesat. Pemerintahan demokrasi di-replace dengan kekhilafahan Islam. Nasionalisme dibuang, ganti dengan akidah Islam untuk merajut persatuan Umat seluruh dunia. Sekularisme tereliminasi oleh kekuatan Islam ideologi. Dengan begitu kita harapkan tumbuh kembali kepercayaan umat terhadap ajaran Islam yang sempat pupus terkikis pemikiran sekuler Barat. Selanjutnya kita bersama umat berjuang demi tegaknya Khilafahan Islamiyah yang dijanjikan Allah Swt. Tunggu apalagi, mari kita jadi pembela Islam. Tetep semuanget! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 200/Tahun ke-5/21 Juni 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kita-lebih-jago-dari-amrik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kala Cinta Datang Menggoda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kala-cinta-datang-menggoda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kala-cinta-datang-menggoda#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kala-cinta-datang-menggoda/</guid>
		<description><![CDATA[Begitu banyak cerita, ada suka ada duka, namun cinta yang kutulis bukan cinta biasaâ€¦â€?Eiit stop dulu ya. Buat kamu yang suka dengan lagu Mbak Siti Nurhaliza, penyanyi asal Malay-sia ini, mendingan?  dilanjutin dalam hati aja. Bisa berabe kan kalo semua lirik lagunya ditulis. Ini sekadar contoh satu lagu dari sekian lagu yang bertemakan cinta.
Mereka yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu banyak cerita, ada suka ada duka, namun cinta yang kutulis bukan cinta biasaâ€¦â€?Eiit stop dulu ya. Buat kamu yang suka dengan lagu Mbak Siti Nurhaliza, penyanyi asal Malay-sia ini, mendingan?  dilanjutin dalam hati aja. Bisa berabe kan kalo semua lirik lagunya ditulis. Ini sekadar contoh satu lagu dari sekian lagu yang bertemakan cinta.<span id="more-201"></span></p>
<p>Mereka yang sedang dilanda â€?virusâ€™ cinta, hampir setiap hari bersenandung melantunkan lagu-lagu kesukaannya mulai dari lagu Padi yang judulnya Semua tak Sama sampe lagu Jika-nya Melly Goeslaw. Sekali waktu ia juga melantun-kan lagu Balonku Ada Lima dengan cengkok Arab dalam versi qasidah (hihihiâ€¦ jangan-jangan kesengsem ama orang Arab nih).</p>
<p>Sobat muda muslim, cinta itu membuat segalanya berubah lho. Mereka yang tadinya pendiem bisa menjadi penyanyi dadakan. Yang okem juga tiba-tiba berubah menata perila-kunya. Jangan heran binti kaget kalo melihat temanmu tiba-tiba menjadi kinclong (panci kali ya?). Padahal sebelumnya terkenal dengan atribut 4 K; Kusut, Kumel, Kucel, dan terakhir Kutuan lagi. Hiii jijay deh. Kebayang kan drastis banget perubahannya?</p>
<p>Api cinta emang nggak pernah ada matinya. Sampe kamu pun nggak nyadar apakah cintamu terbalas atau bablas. Pengennya bersambut tapi malah tersumbat. Coba, gimana nggak hancur hati ini. Makanya kudu mikir-mikir dulu deh untuk mengucapkan kata love ini pada seseorang yang kamu sukai.</p>
<p>Jangan sampe uang bayaran sekolah jadi kepake cuma untuk mendapat perhatian si doi. Waktu luang yang harusnya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat kamu gunakan untuk menunggu doi yang belum tentu menepati janji. Keciaan deh lo!</p>
<p>Sobat muda muslim, buat para ikhwan, kudu ati-ati juga lho. Para akhwat nggak selamanya tertarik hanya dengan penampilan. Lagian, jarang ada deh yang ngerti rahasia hati para akhwat. Jadi jangan kejebak ya? Hehehehe..(pede banget ya?)</p>
<p>Soalnya wanita itu kalo dikatakan padanya aku cinta padamu, atau diberi perhatian yang lebih sebagai bukti kalau ia sedang dicintai seperti burung merpati. Pura-pura acuh tapi mau. Coba aja kalau diperhatiin malah buang muka. Sekalinya nggak diperhatiin pasang tampang yang maniiis banget. Saudara-saudara, bener nggak sih?</p>
<p>Makanya gak salah-salah amat kalau di film Titanic, mantan pacarnya Jack Dawson ketika ditanya tim ekspedisi pencarian Titanic tentang kenapa baru bilang sekarang soal kalung mutiara itu dan kisah-kasih dengan Jack Dawson, dia bilang, â€œRahasia hati wanita itu sedalam samuderaâ€?. Sulit ditebak. Nah lho?</p>
<p>And then, kebayang gak sih dampak yang kamu peroleh dari gangguan virus merah jambu ini. Kalau yang cintanya bersambut sih gak masalah.?  Justru hari-harinya selalu bahagia. Hidupnya lebih berwarna. Kata iklan di TV mah â€œbakal seru harimuâ€?. Sepahit apa pun jamu yang kamu rasakan tetep aja manis. Sebau apa pun tahi ayam rasanya seperti coklat (Wah, pabrik coklat bisa bangkrut neh).</p>
<p>Tapi bagi kamu yang cintanya bertepuk sebelah tangan bagai mimpi di siang bolong. Sedih tiada akhir. Bagaimana tidak, orang yang selama ini kamu kagumi dan selalu menghiasi mimpi di kala tidur bahkan kamu simpan baik-baik dalam hati putihmu. Tapi tiba-tiba saja ia pindah ke lain hati. Sakiiit banget rasa-nya. Hidup menjadi tak bergai-rah. Nilai pelajaran di sekolah menjadi semakin parah. Pengennya marah aja.</p>
<p>Itulah Cinta bisa membuatmu ceria, berbunga, mulia, bahkan bisa mengajakmu ke surga. Tapi tidak sedikit yang bisa membuatmu merana, kecewa, terlena, dan hati buta.</p>
<p><strong>Stay cool aja yaâ€¦<br />
</strong>Harus itu! Meski hurufnya cuma lima yaitu C-I-N-T-A tapi energinya melebihi semua huruf abjad yang ada. Dampaknya juga rrruar biasa. Kekuatannya bisa mencairkan hati dari kebekuan, menerangi hati setelah kelam, juga bisa menguatkan jiwa dari kerapuhan. Fantastis bukan?</p>
<p>Karena cinta itu hadirnya kayak lirik lagu yang mengawali setiap penayangan sinetron Di Sini Ada Setan (DAS) â€œKau tahu..kurasa hadirmu antara ada dan tiadaâ€?, maka nyikapinya juga jangan berlebihan deh, apalagi didramatisasi. B aja lagi alias biasa aja.</p>
<p>Tetep gunakan akal sehatmu. Jangan sampe ketika cinta datang menggoda, baik disadari atau tidak kamu memanfaatkan perasaan itu sangat nggak bijak, bahkan cenderung hawa nafsu yang berbicara. Misalnya kamu sudah berkerudung rapi, karena merasa terganggu sama keberaadan doi (baca: suka), kerudung kamu dibuat gaul untuk men-cari perhatiannya. Nah, karena si doi nggak juga ngasih respon, aksimu malah buka kerudung. Berdandan semenor mungkin.</p>
<p>Sang Arjuna juga nggak mau kalah, karena yang dikecenginnya wanita cantik, anggun, dan berjilbab pula, kamu buru-buru manjangin jenggot biar dibilang ikhwan. Maksud hati biar wanitanya melirik makanya manjangin jenggot. Alih-alih biar dibilang laki-laki sholeh tapi malah salah. Berjenggot sih boleh aja tapi kalo telinga diberi anting-anting, dus hidung ditindik, orang bisa nyangka yang bukan-bukan; ini kambing seperti sapi atau sapi yang kayak kambing.</p>
<p>Percuma saja tampilan ikhwan tapi sholat kagak pernah, mirit kartu gaple malah sering. Weleh..weleh itu sih kelewatan. Jujur aja, ini nafsu atau akal sehat? Kamu pasti tahu jawabannya. Phew!</p>
<p>Nah, sobat remaja muslim kamu juga harus tahu kalo perubahan yang kamu lakuin bukan semata-mata untuk si dia. Itu sih murahan. Gimana kalau kamu yang tadi-nya rajin sholat, setelah ditolak jadi malas sholatnya? Bisa-bisa pas cinta ditolak dukun bertindak. Kamu harus sikapi dengan bijak bahwa cinta yang kita miliki jangan kamu nodai. Peliharalah ia jangan pernah ada yang mengo-torinya. Jadi Letakkan rasa itu pada yang berhak menerimanya. Gunakan akal sehat dan taati syariat kala cinta datang menggoda. Oke?</p>
<p><strong>Tak tergesa ungkapkan cinta</strong><br />
Perasaan menyukai seseorang itu sulit untuk kamu sembunyikan tapi kamu juga harus punya wawasan tentang cinta, wujud dari cinta itu sendiri, dan dampak dari cinta bila tidak terpenuhi dengan benar. Jangan buru-buru ungkapkan cinta. Pelajari sedetail-detailnya tentang cinta. Apalagi kalau kamu sampai tahu tentang sejatinya cinta. Salut deh buat kamu.</p>
<p>Tak sedikit dari remaja muslim yang memahami cinta itu harus diekspresikan dengan pacaran. Bahkan jarang sekali yang mengerti dampak yang terjadi bila berdua-duaan dilegalkan. Jalan berdua, duduk mojok berdua. Tidur santai berdua. Kalo udah begini, mungkinkah zina bisa dihindari sementara hasrat ingin dipenuhi? Mereka berdalih, â€œitu sih tergantung orang, jangan salahkan perbuatan-nya. Buktinya sudah 5 tahun saya pacaran tapi Itâ€™s oke. No problem.â€?</p>
<p>Andai saja kamu tahu kalo aturan Allah diciptakan untuk semua manusia termasuk kita-kita ini, tentu kita dan banyak teman lainnya nggak akan senekat itu. Pasti.</p>
<p><strong>Mencari cinta hakiki</strong><br />
Karena cinta itu memang sudah dari sononya, susah diilangin. Paling nggak kamu juga harus tahu kepada siapa saja cinta itu berhak untuk kamu labuhkan. Jangan asal seruduk (kayak banteng aja neh!)</p>
<p>Kasus aborsi dan penyakit menular seksual sebagai bukti kalo fenomena ini terjadi bukan tidak diawali dengan rasa cinta saja. Tapi pengetahuan kamu tentang arti cinta yang sejati sangat minim. Sementara dalam diri kamu bersemayam keinginan untuk mewujud-kan cinta. Gaswat banget kan kalau itu menimpa dirimu atau keluargamu?</p>
<p>Yup, mencintai dan dicintai, adalah salah satu bukti kalo Allah menciptakan rasa itu. Kata Kang Doel Soem-bang, â€œCinta itu anugerah maka ber-bahagialah sebab kita sengsara bila tak punya cinta.â€? Sayangnya, nggak banyak yang tahu apa itu cinta, lebih sedikit yang men-cari tahu tentang hakikat-nya. Banyak orang memberi definisi, tapi kalimatnya susah kita pahami.</p>
<p>Berbahagialah kita karena Rasulullah sang pembawa risalah memberikan tuntunan yang membimbing dan mengajarkan kepada kita tentang arti cinta yang hakiki. Allah berfirman:</p>
<p>?‚???„?’ ?¥???†?’ ?ƒ???§?†?? ?????§?¨???§?¤???ƒ???…?’ ?ˆ???£???¨?’?†???§?¤???ƒ???…?’ ?ˆ???¥???®?’?ˆ???§?†???ƒ???…?’ ?ˆ???£???²?’?ˆ???§?¬???ƒ???…?’ ?ˆ???¹???´?????±???????ƒ???…?’ ?ˆ???£???…?’?ˆ???§?„?Œ ?§?‚?’?????±?????’?????…???ˆ?‡???§ ?ˆ???????¬???§?±???©?Œ ?????®?’?´???ˆ?’?†?? ?ƒ???³???§?¯???‡???§ ?ˆ???…???³???§?ƒ???†?? ?????±?’?¶???ˆ?’?†???‡???§ ?£???­???¨?‘?? ?¥???„?????’?ƒ???…?’ ?…???†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?ˆ???¬???‡???§?¯?? ?????? ?³???¨?????„???‡?? ?????????±???¨?‘???µ???ˆ?§ ?­?????‘???‰ ?????£?’???????? ?§?„?„?‘???‡?? ?¨???£???…?’?±???‡?? ?ˆ???§?„?„?‘???‡?? ?„?§?? ?????‡?’?¯???? ?§?„?’?‚???ˆ?’?…?? ?§?„?’?????§?³???‚?????†??<br />
â€œKatakanlah: â€œJika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.â€? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.â€? (QS at-Taubah [9]: 24)</p>
<p>So, nggak usah bingung bin gelisah kepada siapa kamu berikan cinta ini. Islam punya jawaban tentang rasa ini. tidak mengekang dan tidak juga membebaskan tanpa batas. Boleh saja kamu curahkan perasaan cintamu pada orang-orang di sekitarmu. Tapi kamu juga harus bisa menempatkan rasa itu dengan wajar. Jangan berlebihan.</p>
<p>Sobat muda muslim, karena hakikinya cinta itu hanya pada Allah saja, jangan pernah deh untuk bela-belain berbuat nekat, maksiat lagi. Cukup Allah dan Rasul saja cinta sejati ini kamu berikan, dijamin nggak salah alamat dus bertepuk dua tangan.</p>
<p>Oya, kita juga boleh memelihara rasa cinta kepada lawan jenis. Syarat-nya, tetap ngikut semua aturan Allah dan Rasul-Nya. Itu semua se-bagai bukti bahwa kita juga cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang telah mem-berikan aturan buat kita semua. Betul ya?</p>
<p><strong>Tips menyikapi cinta</strong><br />
Halo..halo.. masih pada baca kan? Biar tambah oke, kayaknya kamu juga mesti tahu deh beberapa tips untuk menyikapi rasa cinta.</p>
<p>Pertama. Be silent, sikapi dirimu dengan tenang. Ini penting lho. Kalo gayung bersambut sih itâ€™s oke, gimana kalo bertepuk sebelah tangan? Tuwewew! Tapi inget-inget lhoâ€¦ semua itu kudu sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya. Nggak boleh menerapkan aturan sendiri. Buat yang udah siap nikah (kayaknya nggak ada deh ya? Hehehe), silakan langsung ke penghulu. Buat yang belum siap, jangan nekat pacaran en gaul bebas. Bahaya!</p>
<p>Kedua. Waspada. Cinta itu bisa berwujud bunga bahkan nggak sedikit yang berwujud api. Hati-hati menggunakannya, eh, hati-hati menyikapinya.</p>
<p>Ketiga. Tidak mudah tergoda. Nah kalo yang ini harus mengakar pada diri kamu. Gunakan akal sehat dan taati syariat.</p>
<p>Keempat. Tanyakan pada yang ngerti. Ini jurus yang nggak boleh kamu lupa. Kalo belum ngerti juga tanyain pada mbahnya yang ngerti.</p>
<p>Kelima. Cari ilmunya. Benar kata Imam Malik, â€œIlmu itu harus didatangi, bukan mendatangiâ€?. Bagaimana kamu bisa meraih cintaNya sementara kamu malas mencari ilmuNya. Oke deh selamat mencoba! [sausan]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 199/Tahun ke-5/14 Juni 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kala-cinta-datang-menggoda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Bukan Kisah 1001 Malam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ini-bukan-kisah-1001-malam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ini-bukan-kisah-1001-malam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ini-bukan-kisah-1001-malam/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah jatuh tertimpa tangga, terus kejedot tembok. Nestapa banget kan? Kira-kira itulah kondisi yang tengah menimpa negerinya Saddam Husein. Setelah hancur porak-poranda akibat invasi AS Maret 2003 lalu, kini petaka juga menimpa para tawanan Irak. Dalam penjara bernama Abu Ghraib di kota Baghdad, mereka mengalami penyiksaan secara fisik dan pelecehan seksual dari serdadu Amrik. 
Awalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah jatuh tertimpa tangga, terus kejedot tembok. Nestapa banget kan? Kira-kira itulah kondisi yang tengah menimpa negerinya Saddam Husein. Setelah hancur porak-poranda akibat invasi AS Maret 2003 lalu, kini petaka juga menimpa para tawanan Irak. Dalam penjara bernama Abu Ghraib di kota Baghdad, mereka mengalami penyiksaan secara fisik dan pelecehan seksual dari serdadu Amrik. <span id="more-200"></span></p>
<p>Awalnya dunia nggak gitu percaya ama â€œkisahâ€? ini. Tapi semuanya mulai terkuak dalam program 60 Minutes II CBS 29 April lalu. Dalam tayangan itu tampak seorang warga Irak yang menjadi tawanan AS dalam keadaan telanjang, ditutupi kepalanya, dan disiksa oleh tentara AS. Nggak cuma ditelanjangi dan ditutup kepalanya, para tawanan itu juga ditunggangi seperti binatang, dipaksa untuk mengutuk agama mereka sendiri, disuruh mengkonsumsi minuman beralkohol dan makan daging babi, sampai disuruh mengambil makanan dari dalam toilet. (Liputan6, 27/05/04).</p>
<p>Malah dalam Laporan Khusus, GATRA, Edisi 28 Beredar Jumat 21 Mei 2004, dituturkan ada tahanan yang dilempar ke tengah lorong penjara kemudian seorang prajurit AS (Charles A. Graner Jr.) berlari dengan sepatu larsnya dan melompat-lompat bak bocah yang gembira bermain di atas tumpukan daun kering. Di malam yang lain, Graner duduk bersama seorang tawanan yang tertembak kakinya. Graner kemudian berdiri dan mengayunkan tongkat bisbol ke kaki tawanan yang terluka itu berkali-kali. â€?â€™Mister, Mister, please stop,â€? teriak tawanan itu mengiba dengan bahasa Inggris sekenanya. Mendengar itu, Graner mencibir, â€œMasak, gitu aja sakit?â€?</p>
<p>Siapakah para pelaku tragedi Abu Ghraib yang bikin dunia geger itu? Tak lain dan tak bukan adalah para tentara AS dan Inggris seperti yang dilansir harian Daily Mirror, Washington Post, dan Majalah Time. Tujuh tentara AS yang terlibat berasal dari Satuan Polisi Militer 372. Perlakuan mereka yang di luar batas perikemanusiaan, perikehewanan, juga peri-peri yang ada di negeri dongeng, memang pantas disebut â€?Iblisâ€™ seperti judul liputan khusus GATRA.</p>
<p><strong>Wajah asli AS</strong><br />
Ramainya liputan media seputar tragedi Abu Ghraib bikin Bush Jr, pimpinan para â€?Iblisâ€™ itu misuh-misuh. Gimana nggak, kesaksian Prajurit Joseph Darby yang membongkar peristiwa memalukan di jajaran Angkatan Bersenjata Amerika ini sama dengan mencoreng muka AS yang paling getol menyuarakan HAM. Walhasil, badai kecaman menimpa AS. Guna menetralisir keadaan, Bush dalam pidato radio mingguannya, yang disiarkan hari Sabtu (8/5), menyatakan bahwa tindakan yang salah itu dilakukan hanya oleh segelintir tentara dan tidak mencerminkan karakter keselu-ruhan pasukan AS di Irak, yang berjumlah lebih dari 200.000 orang sejak awal apa yang ia sebut sebagai operasi pembebasan Irak. (Kompas, 10/05/04). Bokis banget neh. He..he..he..</p>
<p>Kekerasan yang dilakukan militer AS di Irak sebenarnya udah kecium dari dulu. Sebagaimana diberitakan majalah New Yorker, memo internal militer AS sejak lama menyebutkan bahwa tahanan tersebut menjadi sasaran bagi tindakan sadis, brutal, dan memalukan. Juru Bicara Amnesti Internasional untuk Kawasan Timur Tengah, Nicole Choueiry, mengatakan aksi kekerasan yang dilakukan tentara AS seolah telah menjadi pola yang baku. Oleh karena itu, tegas Choueiry, hal itu dengan mudah ditemukan di berbagai penjara Irak. (Republika, 04/05/04). Malah nggak cuma di Irak, hal yang sama juga pernah terjadi di penjara Mazhar-e Syarif di Afghanistan, dan camp Guantanamo, Kuba.</p>
<p>Di Irak, serdadu AS kerap kali menodai tempat suci umat Islam. Masjid Abu Hanifah di Baghdad menjadi saksi teranyar penodaaan tempat suci bagi ummat Islam ini. Senin (16/5), serdadu AS menggeledah sampai sudut-sudut masjid tanpa melepas sepatu dan memporak-porandakan kitab suci al-Quran yang ada di dalamnya. Anjing-anjing dibawa berkeliaran sampai ke halaman masjid.</p>
<p>Laporan tahunan Amnesty Internasional, Rabu (26/5), menyebutkan perang melawan terorisme yang digulirkan AS menjadikan negara itu pelanggar terburuk HAM dalam 50 tahun terakhir.?  (Republika, 27/05/04). Di Irak saja, lebih 5.500 warga sipil Irak tewas akibat tindak kekerasan. Itu baru di Baghdad dan tiga provinsi lainnya dalam 12 bulan pertama pendudukan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat. (Waspada online, 25/05/04).</p>
<p>Sobat muda muslim, melihat fakta-fakta di atas masihkah kita percaya bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan militer AS di setiap tempat itu ulah segelintir oknum seperti pidatonya Om Bush? Rasanya pas banget kalo kita bilang: inilah wajah asli AS!</p>
<p><strong>Nasionalisme di dunia Islam</strong><br />
Kalo kita pelototin berita seputar dunia Islam, ternyata diskri-minasi terhadap kaum Muslimin justru lebih sering terjadi di negerinya sendiri. Di Palestina, dengan seenaknya serdadu Zionis nan keji itu menghancurkan rumah-rumah di kamp pengungsi Rafah. Di Irak, militer AS bebas membunuh dan memperkosa rakyat Irak, bahksan tega menodai masjid. Kok bisa ya?</p>
<p>Jelas bisa. Karena para penjajah itu telah menguasai para penguasa muslim di Timteng. Sehingga para penguasa itu cuma bisa berdiam diri, mengutuk, menge-cam, atau menempuh jalan damai melalui perun-dingan. Mereka buta dan tuli terhadap perilaku keji para penjajah yang meneteskan darah rakyatnya di depan mata kepala mereka sendiri. Padahal mereka punya persenjataan juga bala tentara. Seandainya mereka mau bersatu, maka semudah menghembuskan napas dan secepat kedipan mata mereka bisa mengusir para penjajah itu dari negeri-negeri Islam. Iihâ€¦.jadi gemes!</p>
<p>Kiranya inilah hasil dari paham nasio-nalisme yang digulirkan orang-orang kafir sejak runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyah. Karena paham ini, kaum muslimin yang dulunya bersatu di bawah naungan Khilafah kini terpecah-belah menjadi lebih dari 56 negara-negara kecil. Mereka dibatasi oleh batas negara imajinatif yang cuma keliatan di peta doang. Nggak ada lagi ikatan akidah di antara mereka. Yang ada cuma ikatan emosional karena kesamaan suku atau negara. Rendah nian semangatnya!</p>
<p>Akhirnya, paham ini mengangkat kebang-saan menjadi satu Tuhan; membuat kepen-tingan nasional sebagai kepentingan tertinggi; norma-norma untuk perbuatanya tidak diambil dari firman Tuhan, melainkan dari sumber-sumber yang keruh, yakni darah dan bumi. (Etika Kristen, hlm. 170-172). Mereka berpikir yang penting negeri mereka aman. Ngapain ikut campur urusan negara lain, mending mikirin negerinya sendiri biar nggak dicaplok AS. Chicken banget khan?</p>
<p>Ingat dong sabda Rasul saw.: â€œKamu semua adalah anak cucu Adam dan Adam tercipta dari tanah. Manusia harus mening-galkan kebanggaan mereka terhadap bangsa (suku) mereka karena hal itu merupakan bahan bakar dari api neraka. Jika mereka tidak menghentikan ini semua, maka Allah akan menganggap mereka lebih rendah daripada cacing tanah yang menyusupkan dirinya sendiri ke dalam limbah kotoran.â€? (Abu Dawud dan Tirmidzi)</p>
<p><strong>Hentikan diam kita!<br />
</strong>Sobat muda muslim, ada pepatah yang bilang diam itu emas. Tapi kalo diam kita berarti nggak peduli ama kondisi sodara-sodara kita di seluruh belahan dunia, kayaknya nggak pantas disamain dengan emas. Pantesnya disandingkan dengan besi bekas yang tua, rapuh, penuh karat dan bolong-bolong. Heheheâ€¦ Iya,?  dong.</p>
<p>Lagian, nggak layak seorang muslim punya sifat individualis atawa EGP (Emang Gue Pikirin). Meski Irak atau Palestina di Timur Tengah, mereka tetep sodara kita. Jangan sampe deh, prinsip EGP menjangkiti kita. Karena prinsip EGP sama dengan penyakit stroke. Nah lho? Bingung kan? Coba simak sabda Rasulullah saw berikut: â€œOrang-orang yang beriman, seperti satu tubuh. Jika matanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit juga.â€? (HR Muslim)</p>
<p>Dari hadis itu bisa kita pahami kalo ikatan persaudaraan antar sesama muslim ibarat satu tubuh. Pas kaki kita nginjek pecahan kaca, otomatis mulut kita mengaduh, mata kita meneteskan air mata, tangan kita memegang bagian yang luka, dan dengan cepat darah kita pun membentuk antibodi biar nggak infeksi. Perlu dicatet, semuanya terjadi tanpa instruksi. Nah, orang yang terkena stroke biasanya nggak bisa ngerasain keberadaan bagian tubuh yang lain. Gitu lhoâ€¦</p>
<p>So, nggak ada alasan buat kita untuk cuek-bebek dengan sodara-sodara kita yang di Irak, Palestina, atau tempat lain. Kudu ada yang kita kerjain buat menolong mereka. Meski kita nggak punya senjata, kita punya solusi jitu yang di-acc ama Allah. Kita tahu kalo musuh-musuh Islam itu nggak cuma serdadu, tank, atawa pesawat tempur melainkan sebuah negara adidaya yang menguasai dunia.</p>
<p>Itu sebabnya, kita kudu lawan dengan yang sebanding. Apalagi kalo bukan dengan kekuatan Daulah Islam. Negara yang dipimpin oleh seorang khalifah yang akan menyatukan kaum Muslimin di seluruh dunia yang terkotak-kotak oleh batas negara. Negara ini yang bakal melindungi, menjaga, serta mengayomi seluruh kaum Muslimin yang ada di dunia.</p>
<p>Bukti nyata peran negara dalam melin-dungi rakyatnya terlihat ketika peristiwa pengusiran kaum Yahudi Bani Qainuqa oleh Rasulullah selaku kepala negara di Madinah. Pengusiran itu terjadi karena kaum Yahudi Bani Qainuqa membunuh seorang muslim yang membela muslimah yang â€?dijailiâ€™ hingga auratnya tersing-kap. Hebat banget!</p>
<p>Hal yang sama juga terjadi pada zaman Khalifah Abbasiah al-Muâ€™ta-shim. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuriaâ€”terletak antara wila-yah Irak dan Syamâ€”berteriak meminta pertolongan karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan itu ternyata â€œter-dengarâ€? oleh Khalifah Muâ€™tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan tersebut. Dan bukan saja sang pejabat nekat itu, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwiyatkan, â€œkepalaâ€? pasukan sudah berada di Amuria sedangkan â€œekornyaâ€? berakhir di Baghdad, bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang. Fantastis! Dan untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan.</p>
<p>Langkah sangat praktis yang bisa kita lakukan sekarang adalah, mulailah getol untuk mengkaji Islam. Baik di sekolah, di pesantren, di lingkungan sekitar kita, via kajian-kajian langsung maupun membaca berbagai tulisan untuk memperkaya wawasan kita. Satu hal yang kudu jadi patokan kita: pahami Islam sebagai ideologi negara. Tanpa itu, tidak saja Islam kehilangan ruhnya, tapi juga wibawanya. Jadi, kita rintis dari sekarang usaha untuk menerapkan Islam sebagai ideologi negara di bawah naungan negara Islam, Daulah Khilafah.</p>
<p>Nah, sobat muda muslim, keberadaan sebuah Negara Islam itu emang penting banget. Malah nggak cuma penting, tapi wajib bin kudu alias fardhu. Karena tiada kemuliaan tanpa aturan Islam, tiada aturan Islam tanpa tegaknya Syariah, dan takkan tegak syariah tanpa Daulah Khilafah. Karena itu, mari kita sama-sama satukan visi dan ikhlaskan hati dalam rangka menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah â€?Ala Minhajin Nubuwwah. Sehingga skandal Abu Ghraib nggak jadi bahan cerita layaknya kisah 1001 malam. Tetep semangat, sobat! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 198/Tahun ke-5/7 Juli 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ini-bukan-kisah-1001-malam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam, Iâ€™m in Love</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-im-in-love</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-im-in-love#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/islam-im-in-love/</guid>
		<description><![CDATA[Huhuy! Kesannya gimanaa gitu. Bukan sulap bukan sihir, dan ini juga bukan judul film tandingan Eiffel, Iâ€™m in Love. Ini sekadar judul yang moga saja â€?efekâ€™-nya bisa lebih dalem lagi tentang perasaan cinta kita kepada Islam. Tul nggak seh? Moga juga bikin kamu tambah kesengsem kepada Islam. Karena apa? Karena jatuh cinta sama Islam bikin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Huhuy! Kesannya gimanaa gitu. Bukan sulap bukan sihir, dan ini juga bukan judul film tandingan Eiffel, Iâ€™m in Love. Ini sekadar judul yang moga saja â€?efekâ€™-nya bisa lebih dalem lagi tentang perasaan cinta kita kepada Islam. Tul nggak seh? Moga juga bikin kamu tambah kesengsem kepada Islam. Karena apa? Karena jatuh cinta sama Islam bikin segalanya tampak indah. Bener lho, kagak boâ€™ong!<span id="more-199"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, banyak jalan untuk jatuh cinta. Banyak ragam cara kita menemu-kan cinta. Itu sebabnya, nggak usah heran bila akhirnya banyak pula yang langsung lengket-masket kepada apa yang dia cintai. Jatuh hati setengah mati.</p>
<p>Nah, ngomong-ngomong soal Islam, ternyata banyak manusia yang tergoda dan akhirnya tulus mencintai agama Allah yang risalahnya dibawa Muhammad saw. ini. Abisnya, pesona Islam bikin hidup lebih hidup sih. Jadi, siapa pula yang tega menelantarkannya? Kayaknya itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang nggak kenal sama Islam dan satu lagi, yang membenci Islam. Setuju? Kudu! (maksa banget neh!)</p>
<p>Tipe yang manakah kamu? Kayaknya masih mending deh kalo sekadar belum kenal sama Islam. Itu bisa kita upayakan untuk mengenal-nya lebih dekat, lebih dalem, dan lebih intim. Kata pepatah, â€œtak kenal maka taâ€™arufâ€? Hehehe.. bener dong. Kalo nggak kenal ya, kita kenalan. Biar tambah kenal. Terus, ujungnya kita bisa sayang tuh. Betul?</p>
<p>Sobat muda muslim, bagaimana rasanya orang yang sedang dirundung rasa suka? Wuih, kayaknya kamu udah paham banget di level ini mah. Bawaannya seneng mulu kan? Bikin kita enak tidur dan enak makan kan? Bisa juga kita bangga memilikinya kan? Bahkan sangat boleh jadi kita bakalan rela berkorban demi cinta kita kepada yang sedang kita cintai. Nggak cuma rela ngorbanin perasaan, tapi ikhlas dan ridho kalo harus mengorbankan nyawa yang cuma satu-satunya ini. Bener lho.</p>
<p>Islam, agama yang sudah malang-melintang selama lebih dari 14 abad ini banyak yang mencintainya, meski kudu diakui bahwa banyak juga yang membencinya. Kenapa? Karena kehadirannya bagi yang memiliki akal sehat dan nalar yang cerdas, Islam adalah sebuah kenikmatan luar biasa. Tapi bagi mereka yang akalnya turun ke jempol kaki, dan nalarnya jongkok, ditambah hawa nafsu yang menjadi panglimanya, maka Islam layak untuk dibenci.</p>
<p>Jadi, ini bergantung sudut pandang dan tentunya keimanan saja. Memang benar, bahwa kita harus menilai sesuatu itu secara objektif. Sebab kalo berat sebelah, itu namanya subjektif. Nggak cocok jadi wasit neh. Hehe..</p>
<p>Buktinya? Jangan heran kalo kecintaan kita yang berlebih kepada seseorang, akan menggelapkan penilaian kita kepadanya. Kalo cinta udah terpatri di dada, kita bisa dikalahkan oleh cinta. Celakanya, kalo pun doi berbuat salah, rasanya nggak pantes untuk dikasih masukan berupa saran dan kritik. Celaka â€?kali dikau, bah!</p>
<p>Sebaliknya juga sama, kalo kita udah benci sama seseorang, rasanya orang tersebut pasti salah aja di mata kita. Meski adakalanya dia memiliki kebenaran. Nah, jangan sampe kita seperti itu.</p>
<p>Tapi Bro, cinta kita kepada Islam, ini persoalan yang lain daripada yang lain. Karena apa? Karena Islam adalah agama yang dijamin kebenarannya oleh Allah. Agama ini diemban risalahnya oleh Nabi Muhammad saw. Jelas, Islam berasal dari sumber yang nggak mungkin lagi salah. Itu sebabnya, kecintaan kita kepada Islam, bukan lagi menggelapkan mata istilahnya, tapi mencerahkan hidup kita. Ujungnya, kita akan taat kepada seluruh ajaran Islam dan bahkan kita ingin menyampaikan kebenaran Islam ini kepada siapa pun dengan segala kemampuan yang kita miliki. Tentunya, ini sebagai bukti kecintaan kita kepada Islam, Rasulullah saw., dan juga Allah Swt. Begitu sobat.</p>
<p><strong>Bukan cinta biasa</strong><br />
Sobat muda muslim, Salman al-Farisi demi cintanya kepada kebenaran. Ia rela mencari agama yang sanggup mencerahkan pikiran dan mengobati kegundahan jiwanya.</p>
<p>From Persia With Love. Yup, boleh dibilang Salman al-Farisi begitu. Sebab, dengan cinta di dada untuk mencari kebenaran, beliau rela jauh-jauh dari Persia berkelana sampe terdampar di Madinah. Bertemu Rasul dan masuk Islam. Kecintaannya kepada Islam mengalahkan kepercayaannya sebagai kaum penyembah api. Yes, Salman meninggalkan agama Majusi (Zoroaster).</p>
<p>Dikau tahu Mushâ€™ab bin â€?Umair? Duh, sahabat Rasulullah saw. yang satu ini ridho ninggalin istana megahnya demi cintanya kepada Islam. Rela mencampakkan pakaian indah dan gelimang harta. Islam, mampu me-nenggelamkan segala kenikmatan dunia lainnya.</p>
<p>Mushâ€™ab bin â€?Umair adalah orang pertama yang diutus Rasulullah saw. untuk membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada masya-rakat Madinah. Mushâ€™ab mene-mani 12 orang laki-laki Madinah setelah Baiâ€™at â€?Aqabah pertama.</p>
<p>Alhamdulillah, Islam kemudian tersebar cepat di Madinah, hingga membuat Rasulullah saw. gembira dan memikirkan untuk hijrah ke sana sekaligus menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Subhanallah, begitulah jika cinta sudah terpatri kuat di hati. Islam memang layak kita cintai, kita bela, dan kita perjuangkan.</p>
<p>Drama ke-hidupan bersama Islam yang di-mainkan para sa-habat Rasulullah saw. dalam membela Allah, Rasul-Nya, dan tentunya juga Islam sungguh sangat mengagumkan. Suatu ketika Zaid bin Datsinah bersama lima sahabat lainya diutus Rasulullah menemani sekelompok kecil kabilah untuk mengajarkan Islam ke kabilah yang bertetangga dengan Bani Hudzail tersebut. Waktu itu, negara Islam sudah berdiri. Kejadiannya pasca Perang Uhud.</p>
<p>Sayangnya, enam utusan Rasulullah saw. itu dikhianati. Tiga di antaranya syahid. Tiga lagi menjadi tawanan dan dijadikan budak untuk dijual (termasuk Zaid bin Datsinah). Waktu itu, Zaid hendak dibeli oleh Shafwan bin Umayyah, untuk kemudian dibunuh sebagai balasan atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf, yang tewas di tangan kaum Muslimin saat Perang Badar. Bales dendam nih ceritanya.</p>
<p>Zaid ditanya oleh Abu Sufyan: â€œHai Zaid, aku telah mengadukanmu kepada Allah. Sekarang, apakah engkau senang Muhammad berada di tangan kami menggantikan tem-patmu, lalu engkau memenggal lehernya dan engkau kembali kepada keluargamu?â€?</p>
<p>â€œDemi Allah!â€? jawab Zaid lantang, â€œAku tidak rela Muhammad menempati suatu tempat yang akan dihantam jerat yang menyiksanya, sementara aku duduk-duduk dengan keluargaku.â€?</p>
<p>Abu Sufyan terkesan banget tuh dengan kata-kata Zaid. Bibirnya menyungingkan senyuman sinis sambil bilang, â€œAku tidak pernah melihat seseorang yang mencintai sahabatnya seperti kecintaan sahabat-sahabat Muham-mad,â€? kata Abu Sufyan geram di tengah kekagumannya. Kemudian, Zaid pun dibunuh. Subhanallah, ini memang bukan cinta biasa.</p>
<p>Membela dan memperjuangkan Islam, sebagai bentuk kecintaan kepada agama Allah ini, membuat Khubaib, temannya Zaid yang juga diutus Rasulullah dalam misi tersebut, rela melepaskan nyawanya. Sebelum syahid, beliau memandang musuh-musuh Allah dengan marah sambil meneriakkan doa, â€œYa Allah, sesung-guhnya telah sampai kepada kami risalah Rasul-Mu, maka besok sampaikan kepadanya apa yang membuat kami demikian. Ya Allah, hitunglah (bilangan) mereka (dan lemparkan mereka) berkali-kali, bunuhlah mereka dengan sekali lumat, dan janganlah Engkau biarkan mereka hidup seorang pun dari mereka!â€? Mendengar teriakan Khubaib, mereka menjadi gemetar. Dengung suara itu seolah merobek-robek nyawa mereka. Kemudian, Khubaib pun dibunuh.</p>
<p>Ini baru sahabat Rasulullah saw. bagai-mana dengan Rasulullah saw.? Ini salah satu kisahnya. Simak ye.</p>
<p>Aisyah ra. bercerita tentang Rasulullah saw. setelah didesak oleh Abdullah bin Umar. Apa yang diceritakan Ummul Mukminin Aisyah ra? Beliau menceritakan sepotong kisah bersama Rasulullah saw. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 1441): â€œPada suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah ber-sentuhan dengan kulitku, dia ber-kata, â€œYa, Aisyah, izinkan aku ber-ibadah kepada Rabbku.â€? Aku ber-kata, â€œAku sesung-guhnya senang me-rapat denganmu, tetapi aku senang meli-hatmu beribadah kepada Rabbmu.â€?Dia bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis. Kemudian dia duduk membaca al-Quran, juga sambil menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya, ketika dia berbaring, air matanya mengalir lewat pipinya mambasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi saw. menangis,â€?Mengapa Anda menangis, padahal Allah ampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang kemudian?â€? tanya Bilal. â€œBukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun ayat Ali Imran 190-191. Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.â€?</p>
<p>Demi cintanya kepada Allah, dan juga agama ini, Rasulullah saw. sanggup menge-sampingkan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Subhanallah. Sekali lagi, ini bukan cinta biasa!</p>
<p><strong>Kenali, sayangi!<br />
</strong>Kalo udah kenal, rasa sayang itu dengan sendirinya akan muncul. Bahkan rasa sayang itu bisa diterjemahkan kebih dalem lagi, yakni dengan pembelaan dan perjuangan. Hebat sekali bukan?</p>
<p>Gimana caranya kenal sama Islam? Seperti halnya Rasulullah saw. mengutus Mushâ€™ab bin â€?Umair untuk mengajarkan Islam, maka satu-satunya cara mengenal Islam adalah dengan mempelajarinya. Jadi, ngaji.</p>
<p>Suer, dengan belajar kita jadi tahu segalanya. Waktu kita SD, kita nggak tahu huruf abjad, nggak bisa nyebutin angka 1 sampe 10, juga nggak mengenal bagaimana indahnya bersahabat. Itu semua karena kita mau belajar.</p>
<p>Sobat muda muslim, banyak orang tertarik dengan Islam, ketika mereka mengetahuinya. Tentunya, me-reka jadi kenal Islam setelah belajar. Salah satunya Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam yang menuliskan, â€œPe-nyelidikan telah menun-jukkan, bahwa yang dike-tahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengeta-huan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan merekaâ€?</p>
<p>Sejarawan Barat, W. Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam nggak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.</p>
<p>Jadi, intinya memang dengan belajar untuk bisa mengenali Islam. Ujungnya, kita jadi sayang. Jangan kalah dengan rasa cinta kita kepada lawan jenis aja. Kalo udah seneng sama seseorang yang kinclong di kelas, pengennya deket, biar bisa tahu rahasia hatinya. Berbagai cara dilakukan untuk PDKT. Tujuannya? Untuk bisa tahu seberapa pantas ia jadi calon kita, dan yang penting, seberapa besar ia mencintai kita. Jangan-jangan kitanya aja yang kegeeran, padahal mah doi nggak cinta seujung rambut pun kepada?  kita. Kalo gitu, langsung deh nyanyi Pupus-nya Dewa. Kasihan deh lo!</p>
<p>Sobat muda muslim, kita kudu yakin lho kalo mencintai Islam pasti ada untungnya juga. Kita jadi lebih lega, lebih tenang, dan lebih nyaman dalam menjalani hidup ini. Islam memberikan segalanya buat kita. Kenikmatan di dunia dan juga di akhirat. Dijamin nggak bakalan bertepuk sebelah tangan deh kalo kita mencintai Islam, Rasul-Nya, dan juga Allah Swt. Insya Allah sukses dunia akhirat. Yakin itu.</p>
<p>Setiap kita melakukan perintah yang wajib maupun sunnah, juga memutuskan untuk tidak melakukan perbuatan haram, insya Allah ada ganjarannya. Inilah okenya Islam.</p>
<p>Mulai sekarang, tancapkan niat untuk belajar mengenal Islam. Sabda Rasulullah saw.: â€œApabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Nah, kalo udah tahu, kan kita bisa sayang sama Islam tuh. Kayaknya pantes deh kalo kita tulis besar-besar di depan meja belajar kita: â€œIslam, Iâ€™m in Loveâ€? [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 197/Tahun ke-5/31 Mei 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-im-in-love/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaul, Syar&#8217;i, dan Mabd&#8217;i</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gaul-syari-dan-mabdai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gaul-syari-dan-mabdai#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:35:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/gaul-syari-dan-mabdai/</guid>
		<description><![CDATA[Eh, ikut gaul emang asyik, lho. Coz lewat pergaulan banyak informasi yang kita dapetin. Malah kita juga bisa update informasi yang kita punya. Dari perkembangan teknologi ampe gaya hidup yang lagi trendi. Dari sekadar info selebritis hingga tempat jajanan yang laris. Semuanya lengkap. Dan tentu kita bakal nge-rasa pede dalam bergaul kalo nggak ketinggalan informasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eh, ikut gaul emang asyik, lho. Coz lewat pergaulan banyak informasi yang kita dapetin. Malah kita juga bisa update informasi yang kita punya. Dari perkembangan teknologi ampe gaya hidup yang lagi trendi. Dari sekadar info selebritis hingga tempat jajanan yang laris. Semuanya lengkap. Dan tentu kita bakal nge-rasa pede dalam bergaul kalo nggak ketinggalan informasi. Nggak jadi kambing congek pas sohib-sohibnya lagi ribut karena nggak nyangka Adit, akademia dari Surabaya bisa tereliminasi. Nggak cuma mupeng liat orang-orang asyik browsing and chatting. Apalagi sampe ke-bingungan pas ketiban rezeki dipinjemin Nokia Comunicator 9210i.?  Pokoknya, kita nggak bakal dapet julukan â€?pejabat gatekâ€™ alias pemuda jaman batu yang gagap teknologi. Hahahaha<span id="more-198"></span></p>
<p>Ngomong-ngomong, ada juga lho temen kita yang nggak ngerasa asyik kalo ikut gaul. Iya, katanya doi takut kebawa-bawa ama pengaruh buruk pergaulan. Karena dalam pergaulan kan bukan cuma kecanggihan teknologi, tapi ada juga gaya hidup trendi yang diadopsi dari negerinya Britney Spears. Lebih banyak Having fun daripada manfaatin masa muda. Kalo nggak ngikut, dibilangnya nggak solider. Apalagi ama temen deket. Repot banget kalo kudu nolak ajakannya. Kalo diajak makan sih mending. Nah kalo diajak ngedugem, free sex, narkoba, atawa malak. Gaswat banget kan?</p>
<p>Nah, sobat muda muslim. Ternyata nggak semua remaja doyan gaul. Ada yang mikir mendingan tersisihkan dari pergaulan daripada jadi korban. Pendapat ini nggak salah, karena kita nggak bisa boâ€™ong kalo remaja yang jadi korban salah gaul makin banyak. Tapi ada juga yang bilang justru remaja kudu gaul biar potensi dirinya berkembang. Ini juga bener. Karena sebagai makhluk sosial, sulit buat kita hidup tanpa orang lain. Lantas gimana dong?</p>
<p>Berikut penuturan seorang psikolog, Bpk. Zainun Muâ€™tadin, SPsi., MSi tentang remaja. Beliau bilang, remaja sama seperti makhluk hidup lainnya bakal melewati masa penyesuaian diri. Guru biologi kita bilang kemampuan beradaptasi. Seperti yang dilalui burung penguin hingga kulitnya tahan dingin walau nggak pake sweater atau syal.</p>
<p>Gitu juga yang dialami jerapah hingga lehernya panjang biar bisa makan pucuk-pucuk daun. Dalam istilah psikologi, adaptasi itu disebut adjusment. Yaitu suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Ka-rena itu karakter remaja akan sangat dipenga-ruhi oleh faktor lingkungan tempat doi beradaptasi. Catet yoo!</p>
<p>Nah, ternyata dari sisi teori bergaul emang penting buat remaja. Karena lewat pergaulan, remaja akan dididik secara tidak langsung untuk menyesuaikan sisi pribadi maupun sosialnya dengan lingkungan sekitar. Supaya bisa tetep diakui keberadaannya. Tapi, seperti orang bilang, teori nggak selalu berbanding lurus ama praktiknya di dunia nyata. Makanya kita kudu intip fakta pergaulan remaja biar punya sikap terbaik dalam bergaul. Yuk? Ngikuuut&#8230;!</p>
<p><strong>Gaul trend masa kini</strong><br />
Anak gaul nggak boleh amburadul. Prinsip ini yang sering dipegang teguh ama temen-temen remaja sekarang. Bener lho. Penampilan bagi remaja setara dengan harga diri. Buruk penampilan alamat terkucil dari pergaulan. Maka-nya tren penampilan remaja nggak ada matinya. Dari gaya rambut, pakaian, sampe aksesoris semuanya kudu trendi.</p>
<p>Gaya rambut lurus, hitam, bebas ketombe, bebas kutu, bebas pajak, atau bebas parkir jadi impian remaji (remaja putri). Meski rambutnya kriba alias kribo abis, bukan hambatan untuk ikut kontes rambut indah sunsilk. Kalo perlu di-rebonding abis-abisan pake mobil galendong yang biasa ngeratain jalan yang mau diaspal. Untuk urusan pakaian juga sama. Basi bin kuno kalo pakaiannya nggak irit bahan, full press body, atau nggak bikin adre-nalin cowok marathon. Malah nggak sedikit yang mengamalkan lirik lagunya Tata Young yang Sexy, Naughty, Bitchy. Walah!</p>
<p>Anak cowok juga nggak mau ketinggalan. Penampilannya pengen kayak Samuel Rizal atau Nicholas Saputra yang termasuk 11 cowok terseksi dari layar lebar versi tabloid tv remaja, Gaul. Punya kekuatan magnet untuk menarik cewek-cewek kece. Gimana nggak, badan macho, seksi, plus camera face. Tahu kan camera face? Itu lho tipe wajah yang mirip kamera. Baik yang pake blitz maupun yang nggak. Cocok nongkrong di etalase studio foto bareng kodak (apa kodok neh?). Heheheâ€¦.</p>
<p>Gaya rambut yang trendi, pakaian yang seksi, atau badan yang macho belon pas tanpa dilengkapi aksesoris. Topi, kalung, anting, gelang, tas, arloji, ponsel, walkman, atau mp3 player. Semuanya kudu yang paling anyar bin canggih. Nggak boleh ketinggalan juga informasi terbaru seputar tokoh idola, musik, film, atau dunia olahraga. Setelah semua peralatan dan perbekalan seperti di atas udah lengkap, tiba saatnya bagi remaja en remaji untuk unjuk gigi tebar pesona. Di sekolah, kantin, perpustakaan, mal, ang-kot, mikrolet, atau metro mini. Pede banget boo!</p>
<p>Tapi ngomong-ngo-mong, buat apa rem-aja-remaji bela-belain penam-pilannya? Ih. Plis dehâ€¦.jangan â€?ppoâ€™ (pura-pura oâ€™on) gitu dong. Ya tentu untuk menarik perha-tian lawan jenis dong. Soalnya obrolan seputar tips en trik jitu untuk curi?  pandang cari perhatian dari lawan jenis udah jadi menu wajib remaja di se-tiap kesempa-tan. Kan nggak enak kalo ngedugem, ngeliat konser AFI, nonton Di Sini Ada Setan the Movie, atau ngisi perut paket Hokka Irrito cuma sendiri. Asyiknya ditemenin demenan. Selain ada temen ngobrol, kali aja doi juga bisa nraktir. Matre banget neh! Bukan anak gaul namanya kalo nggak punya hasrat untuk berpacaran atau gaul bebas yang kian tanpa batasâ€¦. tasâ€¦ tasâ€¦</p>
<p>Sobat muda muslim, nggak salah kan kalo kita bilang gaul remaja kian hari kian identik dengan gaya hidup hedonis. Gaya hidup yang mengejar kesenangan dunia semata. Materi, popularitas, dan penampilan jadi tujuan utama. Mereka cenderung untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serba kecukupan tanpa harus bekerja keras. Buat yang banyak doku, bisa aja ngikutin gaya hidup ini. Tapi buat yang kere, bisa-bisa malah ikutan casting artis Patroli, Sergap, atau Tangkap.</p>
<p>Gaya hidup ini juga melahirkan remaja bermental instan. Nggak mau jalanin proses untuk dapetin keinginannya. Yang penting hasil. Kalo ada jalan tikus atau pintu belakang, ngapain juga susah-suah lewat depan yang dijaga satpam en kudu permisi segala. Makanya nggak heran kalo yang ikut audisi AFI dan Indonesian Idol bejibun banget demi status seorang bintang. Udah gitu, mereka juga nggak gitu peduli ama orang lain. Yang penting dirinya sukses dan segala kebutuhannya terpenuhi. EGP (Emang Gue Pikirin alias individualis) banget tuh!</p>
<p><strong>Gaul syarâ€™i tetep trendi</strong><br />
Sobat muda muslim, pasti kita nggak pengen dong dibilang gagap teknologi en minim informasi karena kita jarang gaul. Padahal kita yang punya peran mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Bisa-bisa entar malah dianggap asing oleh umat kayak Tarzan tour ke Metropolitan. Memang, pergaulan remaja sekarang udah nggak islami. Tapi bukan berarti kita nggak gaul. Tetep aja ada kewajiban bagi kita untuk memperhatikan kondisi sodara-sodara kita. Lha, nanti kalo jadi korban per-gaulan yang salah gimana?</p>
<p>Nggak usah takut. Karena kita punya Islam. Ya, Islam yang kita pelajari, yakini, amalkan, dan dakwahkan bakal menjadi pelindung kita. Makanya kita sebagai remaja muslim boleh aja ikut trendi pake aksesories. Tapi dengan catatan, cuma terkait dengan hal-hal yang sifatnya mubah. Misalnya perkem-bangan teknologi. Kita nggak diharamkan punya ponsel terbaru yang bisa SMS, EMS, atau MMS plus dilengkapi kamera, radio, atau internet. Malah kita bisa kirim-kiriman sms tausyiah atau tahajjud call at the middle of the night kepada temen kita. Kan lumayan buat tabungan di akhirat.</p>
<p>Dalam berpenampilan pun Islam nggak mengharuskan hambanya untuk kumel, lecek bin dekil. Pokoknya bersih, suci dan diperoleh dari jalan halal. Itu sebabnya, remaja putri boleh pake kerudung bermotif bunga dihiasi renda yang bagian pinggirnya dineci. Tapi tetep kudu rapi sampai menutupi dada, nggak kayak kudung gaul yang amburadul.</p>
<p>Jangan lupakan juga jilbab (pakaian kurung yang longgar, tidak transparan, dan tidak ketat) yang melengkapi kerudung. Model atau desainnya silahkan bervariasi. Apa mau motif bunga, pohon, binatang, pemandangan, perumahan, atau perkotaan. Sesuai selera lah. Kainnya juga boleh â€?ngejrengâ€™ dan warna-warni kayak pelangi. Asal jangan tengsin aja kalo ada yang ngatain badut. Sundut terus!</p>
<p>Untuk anak laki juga kemana-mana nggak harus pake peci, sarung, koko plus sendal biar mencirikan muslim. Soalnya setelan kayak gitu lebih mirip anak-anak yang mo ikutan sunatan massal. Sok aja mo pake celana panjang, Levis, Lea, Pantalon, yang dipadukan kemeja atau kaos Dagadu, C59, atau H&amp;R. Asal jangan nggak pake baju or celana aja. Buat anak laki yang punya jenggot, boleh aja dipanjangin. Tapi nggak usah dikepang kayak si Erwin Dr PM. Apalagi sampe dipakein wig atau sanggul. Biar sama-sama rambut tetep aja nggak cocok. Huhuy!</p>
<p>Satu lagi yang kudu kita perhatiin. Kemampuan kita untuk berpenampilan trendi atau kecang-gihan teknologi yang dipunya jangan sampe bikin kita jadi sombong atau arogan. Ingat baik-baik lho sabda Rasulullah saw. seperti ini. BIar kita juga enak gitu lho. Biar ati-ati banget dalam setiap perbuatan kita: â€œTidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan ada kesombongan (meski hanya) seberat dzarrah. Lalu seorang sahabat bertanya, â€œada kalanya seseorang menyukai pakaian yang indah dan sepatu yang bagus.â€? Maka Rasulullah saw. menjawab â€œSesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.â€? (HR Bukhari).</p>
<p><strong>Tetep kudu mabdaâ€™i</strong><br />
Bener sobat. Meskipun ikut trendi kita tetep kudu mabdaâ€™i alias ideologis. Artinya, ketika gaul tentang segala hal, jadikan sebagai informasi pelengkap untuk dianalisis dan kita sampaikan lagi ke orang lain dengan sudut pan-dang Islam. Jadi, kita dan temen-temen nggak mudah tergoda untuk ikutan tren yang nggak bener. Apalagi sampai terjerumus ke dalam pola hidup Barat yang sekuler. Nggak deh!</p>
<p>Makanya kita boleh nyari informasi seputar kehidupan selebritis, film baru yang lagi diputar di twenty one, atau musik yang lagi banyak digandrungi. Biar nggak ketinggalan informasi. Lebih bagus lagi kalo kita juga â€?ngehâ€™ ama tren gaya hidup remaja. Kan aneh kalo kita bilang pacaran itu haram. Sementara kita nggak punya wawasan tentang asal-muasal pacaran, akibat yang ditimbulkan, dan solusi yang ditawarkan. Pokoke kudu komplit biar nggak tulalit. Jangan sampe berbelit-belit!</p>
<p>Gimana caranya biar tetep mabdaâ€™i? Ngaji solusinya. Tentu yang dikaji adalah Islam sebagai sebuah ideologi. Islam sebagai sebuah aturan hidup yang bisa memfilter budaya sekular dan ide-ide rusak yang berasal dari Barat. Nggak cuma itu, sebagai sebuah ideologi, Islam juga mampu membimbing kita dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi.</p>
<p>Oya, harus dipahami bahwa dalam kondisi masyarakat yang amburadul seperti sekarang ini, kita harus selektif, Bro. Buat apa tampil â€œgaulâ€? kalo harus mengorbankan akidah, iya nggak seh? Mendingan perdalam Islam supaya bisa selamat dunia dan akhirat. Pelajari Islam, pahami sebagai sebuah ideologi.</p>
<p>Perlu kamu catet baik-baik, bahwa Islam nggak pernah kok â€?alergiâ€™ dengan yang namanya perkembangan jaman. Welcome aja. Nggak masalah kok. Tapi dengan catatan, perkem-bangan jaman itu wajib sesuai dengan ajaran Islam. Kalo nggak? Ke laut aja deh!</p>
<p>Intinya sih, kamu boleh aja gaul tren, tetep syarâ€™i, juga mabdai. Oke? [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 196/Tahun ke-5/24 Mei 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gaul-syari-dan-mabdai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trik Melawan Cowok Penggoda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/trik-melawan-cowok-penggoda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/trik-melawan-cowok-penggoda#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/trik-melawan-cowok-penggoda/</guid>
		<description><![CDATA[â€œSuitâ€¦suitâ€¦mau ke mana Neng?â€? Pernah nggak sih kamu sebagai cewek mendapat godaan seperti ini? Disuitin (emangnya burung?), disapa menggunakan kata-kata yang sepertinya sangat dipaksakan, hingga keluar kata-kata tidak senonoh or dua nonoh. Nah lho.
Mungkin yang beginian kamu alami ketika pulang sekolah dan melewati sekelompok cowok yang nongkrong di pinggir jalan. Bisa juga lagi asyik nunggu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€œSuitâ€¦suitâ€¦mau ke mana Neng?â€? Pernah nggak sih kamu sebagai cewek mendapat godaan seperti ini? Disuitin (emangnya burung?), disapa menggunakan kata-kata yang sepertinya sangat dipaksakan, hingga keluar kata-kata tidak senonoh or dua nonoh. Nah lho.<span id="more-197"></span></p>
<p>Mungkin yang beginian kamu alami ketika pulang sekolah dan melewati sekelompok cowok yang nongkrong di pinggir jalan. Bisa juga lagi asyik nunggu bis sekolah or mikrolet yang akan mengantar kamu pulang les. Bahkan ketika disuruh ibumu untuk beli garam di warung sebelah rumah pun nggak lepas dari godaan para cowok iseng. Oya, tempat yang rawan godaan juga buat cewek adalah mal. Di sini banyak penggoda! Ati-ati euy!</p>
<p>Buat kamu yang udah berkerudung en berjilbab pun, godaan itu adakalanya datang tak undang. Meski bisa dibilang skalanya agak sedikit beda dari yang nggak berjilbab. Bentuk godaan bisa berupa basa-basi dengan â€?pura-puraâ€™ mengucapkan salam. Hihihi, ini taktik standar cowok usil lho.?  Yup, trik andalan anak cowok untuk menggoda cewek berkerudung atau yang udah berjilbab.</p>
<p>Hebohnya lagi, dan ini sangat mungkin lho, kalo para cowok usil itu nekatz godoain kita-kita sampe menempuh sentuhan fisik segala. Waduh! Ati-ati deh. Sayangnya, fenomena kayak gini sudah jadi menu sehari-hari kita. Coba deh lihat di sinetron. Isinya kalau nggak cowok yang ngegodain para cewek, ya, anak ceweknya yang keganjenan minta digodain. Walah?<br />
? <br />
<strong>Cowok penggoda=cewek jail?<br />
</strong>Nah lhoâ€¦apa pula ini? Yang cowok kalau ditanya kenapa kok hobi ngegodain cewek yang lewat, jawabnya karena ceweknya pasang aksi minta digoda. Eh, yang cewek nggak mau disalahkan dengan tuduhan pasang aksi minta digoda. Kaum cewek bilang, â€œDasar cowoknya aja tuh yang nggak punya iman, pake jelalatan mata segala sabil mulutnya usil godain.â€? Wah, kalo diterusin bisa jadi mirip-mirip tebakan tentang telor dan ayam. Hehehe, pertanyaan-nya: duluan mana; telor apa ayam? Mbulet!</p>
<p>Sobat muda muslim, sekarang coba dengan kepala dingin kita kupas satu per satu masalah ini. Di sini ada dua pihak yang ingin kita bahas, pihak cowok dan pihak cewek. Ada aksi dan ada reaksi, itu prinsip kimia kan? Dan dua makhluk berlainan jenis ini memang sudah dari sononya menyimpan energi kimia yang dahsyat. Jadi be carefull aja dalam menyikapi-nya. Kenapa ini bisa terjadi?</p>
<p>Pertama, munculnya cowok penggoda bisa jadi merupakan reaksi dari aksi yang diberikan si cewek sendiri.?  Pernah dengar istilah â€?cowok, godain kita dongâ€™? Nah, kalimat ini populer sejak beberapa tahun yang lalu karena para cewek merasa garing kalo nggak ada cowok yang godain mereka. Gatel!</p>
<p>Atau dengan aksi dalam bentuk lain, yakni tanpa kata-kata (bukan bisu lho). Ada lho cewek yang nekat me-launching bahasa tubuhnya. Mereka sengaja minta digoda kaum cowok. Bisa jadi dari gaya berjalan mere-ka, cara bicara yang dibuat-buat, lirikan mata, atau apa pun yang mengarahkan agar mereka digoda oleh kaum adam. Bahaya!</p>
<p>Belum lagi gaya ber-busananya yang kayaknya kurang kain banget. Jadi asset berharganya malah dipamerin ke mana-mana. Giliran dia yang digodain sama cowok sampe level pelecehan, ehâ€¦berkelitnya dengan menga-takan â€œTuh cowok emang piktor alias pikiran kotorâ€?, â€œnggak bermoralâ€? de el el. Waduh!</p>
<p>Lalu kemungkinan kedua, emang sudah dari sononya tuh cowok hobi ngegodain cewek. Bawaannya gatel mulu bila ada cewek di dekatnya cuma dianggurin (dianggurin? Emangnya obat nyamuk?). Jadi biar ceweknya udah nutup aurat hingga rapet sekali pun, tetap aja tuh cowok tipe begini selalu punya celah untuk bisa ngegoda cewek. Ya itu tadi, tidak bisa dengan suitan, dengan ucapan salam pun jadi. Padahal kenal juga nggak. SKSD banget tuh cowok ya? Hehehe&#8230;<br />
? <br />
<strong>Biar nggak digoda</strong><br />
Kalau kamu para cewek emang ngerasa sebel digodain cowok, ada tips-tips khusus nih untuk menghindarinya.</p>
<p>Pertama, tundukkan pandanganmu. Tapi ini bukan berarti jalan sambil nunduk terus kayak orang nyari recehan ilang sampe kejentus tiang listrik. Menundukkan pandangan maksudnya mata nggak jelalatan. Mentang-mentang yang godain cakep, kamu jadi enggan berkedip en ridho untuk digodain. Gubraks! Inget lho firman Allah Swt: â€œKatakanlah kepada mukmin perempuan, hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. â€¦.â€? (QS an-Nuur [24] : 31)</p>
<p>Kedua, kamu yang merasa dirinya cewek, perhatikan gaya berpakaianmu. Dalam Islam ada aturan berbusana khusus bagi cewek ketika keluar rumah yaitu menutup seluruh aurat kecuali muka dan telapak tangan. Lengkap dengan kerudung dan jilbabnya.?  Allah Swt. berfirman:â€œDan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang kelihatan dari-padanya&#8230;â€? (QS An- Nuur [24] : 31)</p>
<p>Firman Allah lainnya: â€œHai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perem-puanmu dan isteri-isteri orang mukmin: â€œHendaklah mereka mengu-lurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merekaâ€?. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.â€? (QS al-Ahzab [33]: 59)</p>
<p>Perhatikan juga bahwa jilbabmu longgar dan nggak tipis. Jangan kayak lemper, menutup aurat tapi lekuk tubuhmu kelihatan alias seksi. Sama juga boong, Non.</p>
<p>Ketiga, cuekkin. Kalau godaan itu â€?cumaâ€™ dengan suitan, atau ucapan-ucapan dan tidak sampai menyentuh fisik, lebih baik kamu cuekkin aja. Soalnya kalo kamu nanggepin, bukannya kapok mereka malah akan semakin menjadi-jadi. Cowok penggoda itu bakal senang kalo godaan mereka ditanggapi atau dijawab. Entah kamu jawabnya dengan ketus, sinis, marah, mencaci-maki, semua itu nggak bikin cowok penggoda jera. Selain kamu akan terlihat nggak bijak karena berjilbab kok maki-maki, secara nggak langsung kamu malah menjatuhkan harga diri kamu sendiri di depan umum. Waspadalah!</p>
<p>Kalo godaan itu di jalan umum dan lebar, kamu lewat saja dan berjalan biasa. Jangan pelan-pelan atau malah berlenggak-lenggok. Kalau itu jalan sempit, usahakan memilih jalan lain untuk menghindari kemungkinan mereka ngegodain kamu. Kalo memang tidak ada jalan alternatif, usahakan jangan sendirian. Cari teman yang searah.</p>
<p>Lagipula, umumnya cowok penggoda tuh akan segan menggoda mereka yang â€?diamâ€™ dalam arti nggak nanggepin godaan-godaan mereka. Jadi bukan diam yang ridho dan senang digoda lho. Ketahuan kok itu dari sikap dan ekspresi wajah kamu; mana yang diam tegas bin cuek dengan diamnya senang bin antusias. Kalau udah begini, biasanya cowok penggoda jadi malas godain cewek yang nggak bereaksi sama godaannya. Tapi tentunya setelah kamu mengamalkan trik-trik di atas itu dong.<br />
? <br />
<strong>Munculnya cowok penggoda</strong><br />
Kalo kita cermati, kok bisa sih muncul cowok penggoda yang semakin merajalela di jaman sekarang. Itu tak lain dan tak bukan karena ideologi kapitalisme-sekulerisme yang udah jadi gaya hidup. Sekulerisme emang gak menghiraukan agama untuk mengatur kehidupan. Yang dikejarnya di dunia ini cuma kenikmatan jasadi atau materi semata. ngegodain cewek salah satunya. Kalo itu dianggapnya memberi kepuasan dan kebaha-giaan bagi dirinya, maka akan dilakoninya aja aktivitas sia-sia itu, dengan rasa suka.</p>
<p>Nongkrong di pinggir jalan, di mal-mal, dan di warung-warung sambil gitaran, itu semua kondisi yang paling strategis untuk menggoda cewek-cewek yang lewat. Seakan-akan hidup tanpa beban (atau sebetulnya itu adalah cara mereka untuk menghilangkan beban?).</p>
<p>Maklum aja, bisa jadi udah puluhan surat lamaran kerja dimasukkan tapi tak satu pun yang berhasil. Mau sekolah lagi tak ada biaya. Di rumah mulu juga dimarahi ortu karena cuma jadi pengangguran yang kerjaannya makan dan tidur.</p>
<p>Nah lho, lingkaran kapitalisme jadi momok. Siapa yang kuat dan berduit dia yang akan survive. Dan karena lontang-lantung tanpa kegiatan, jadilah pelampiasan ngegodain cewek yang lewat.</p>
<p>Padahal kalo kita mau lihat bagaimana Islam sebagai the way of life ngatur kehidupan, tipe cowok penggoda nggak bakal muncul. Gimana nggak, kalo sejak awal Islam sudah memberi aturan pergaulan laki-perempuan, cowok-cewek. Yang cowok nggak boleh jelalatan matanya kalo melihat cewek, begitu juga sebaliknya. Catet yoo!</p>
<p>Terus, yang cowok juga diajarkan menjadi laki-laki sejati dalam Islam, sebagai pelindung dan penanggung jawab keselamatan dan harga diri cewek. Suatu ketika di Madinah ada seorang muslimah yang â€?dikerjainâ€™ oleh tukang emas di sebuah pasar dengan cara mengkait-kan tali di belakang jilbabnya. Begitu bangun, tersingkap-lah auratnya. Saat itu, sekelompok pemuda Yahudi yang ada di sekitar kejadian mener-tawakan dan melecehkan muslimah itu.</p>
<p>Kebetulan, seorang pemuda muslim melihatnya. Dan ia langsung menikam si tukang emas itu hingga tewas. Para pemuda Yahudi itu nggak terima, lalu mereka mengeroyok pemuda muslim tersebut sampe tewas. Mendengar berita ini, Rasulullah?  saw. mengeluarkan perintah untuk membu-nuh seluruh Yahudi Bani Qainuqaâ€™. Tapi niat Rasulullah urung, atas lobi Abdullah bin Ubay bin Salul. Sebagai gantinya, Rasulullah saw. mengusir seluruh Yahudi Bani Qainuqaâ€™ dari kota Madinah. See, harga diri seorang wanita muslimah begitu tinggi.</p>
<p>Lagipula dalam kehidupan di mana Islam diterapkan sebagai aturan praktis, nggak bakal ada pemuda nongkrong di pinggir jalan yang akhirnya kurang kerjaan godain cewek yang lewat. Karena dalam kehidupan Islam, setiap pemuda memahami jati dirinya sebagai agent of change, pembawa perubahan dunia ke arah yang lebih baik. Mereka akan tersibukkan dengan aktivitas positif di sekolah-sekolah atau majelis-majelis menuntut ilmu, bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, berdakwah dan bahkan berjihad. Sehingga gak ada satu menit pun dalam kehidupan pemuda muslim yang terbuang sia-sia dengan kongkow-kongkow di pinggir jalan. Apalagi nyuitin or ngegodain cewek, apalagi muslimah berjilbab yang lewat. Yakinlah!</p>
<p>So, fenomena cowok penggoda bukan sim salabim muncul begitu saja. Tapi lebih merupakan produk dari suatu sistem, yaitu kapitalisme-sekulerisme. Kalo kita pingin memberangus habis kebiasaan buruk ini, tak lain dan tak bukan, berangus sistem yang melahirkannya.</p>
<p>Yup, kita enyahkan sejauh-jauhnya ideologi buatan manusia ini dari kehidupan kita. Ambil Islam saja sebagai the way of life, ideolog, dan pengatur kehidupan. Secara otomatis, budaya cowok penggoda akan lari terbirit-birit dan kita sebagai cewek muslimah akan beraktivitas dengan nyaman tanpa khawatir suitan dan godaan nggak bermutu mampir lagi. Kalau sudah begini, ocre nggak sih melakoni hidup di bawah naungan ideologi Islam? Pasti dong! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 195/Tahun ke-5/17 Mei 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/trik-melawan-cowok-penggoda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Syarâ€™i, Tinggalkan Kompromi!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pilih-syari-tinggalkan-kompromi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pilih-syari-tinggalkan-kompromi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pilih-syari-tinggalkan-kompromi/</guid>
		<description><![CDATA[Tantangan nggak cuma ada di Indosiar, tapi nongol di setiap sisi kehidupan kita. Konon kabarnya, orang bijak bilang tantangan dalam hidup adalah suatu anugerah yang bakal bikin kita lebih dewasa dalam bersikap dan berbuat. Cieeeâ€¦ karena adanya tantangan bakal ngetes sejauh mana kesungguhan niat kita tuk meraih tujuan. Siapa yang berani ngadepin setiap tan-tangan, berarti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tantangan nggak cuma ada di Indosiar, tapi nongol di setiap sisi kehidupan kita. Konon kabarnya, orang bijak bilang tantangan dalam hidup adalah suatu anugerah yang bakal bikin kita lebih dewasa dalam bersikap dan berbuat. Cieeeâ€¦ karena adanya tantangan bakal ngetes sejauh mana kesungguhan niat kita tuk meraih tujuan. Siapa yang berani ngadepin setiap tan-tangan, berarti doi punya nyali bin tekad untuk maju. Sebaliknya, siapa yang justru malah menghindari tantangan alias jago ngeles, bisa-bisa dicap Dygta sebagai Pecundang Sejati.<span id="more-196"></span></p>
<p>Tantangan juga hadir di hadapan aturan Islam. Aturan yang kita yakini bakal bikin selamet dunia akhirat bagi yang istiqomah. Tantangan?  itu muncul karena perbedaan waktu antara zaman Rasulullah dan sekarang. Karena beda masa beda sarana. Dulu perbankan nggak ada, sekarang bejibun. Dulu pemerintahan demokrasi belum lahir, kini demokrasi dianggap satu-satunya solusi. Makanya ada yang ber-pendapat kudu ada reformasi terhadap aturan-aturan Islam. Terutama bagian yang dirasa udah nggak cucok lagi ama kondisi sekarang.</p>
<p>Nah, lalu muncul deh gaya hidup â€œkompromiâ€? di kalangan umat Islam. Gaya hidup yang mencoba menjadikan aturan Islam sebagai aturan yang fleksibel. Nggak kaku bin jumud terhadap perkembangan zaman. Mirip-mirip sifat air yang selalu bisa menyesuaikan dengan tempat doi berada. Aturan poligami dianggap udah basi. Karena kini ada aturan emansipasi wanita yang kudu dijunjung tinggi. Sampe ada mahasiswi yang menggelar aksi penentangan terhadap aturan poligami. Wah berabe nih urusannya! Inga..inga.. firman Allah Swt.:</p>
<p>?£???????????¤?’?…???†???ˆ?†?? ?¨???¨???¹?’?¶?? ?§?„?’?ƒ???????§?¨?? ?ˆ???????ƒ?’?????±???ˆ?†?? ?¨???¨???¹?’?¶?? ?????…???§ ?¬???²???§???? ?…???†?’ ???????’?¹???„?? ?°???„???ƒ?? ?…???†?’?ƒ???…?’ ?¥???„?§?‘?? ?®???²?’???Œ ?????? ?§?„?’?­???????§?©?? ?§?„?¯?‘???†?’?????§ ?ˆ???????ˆ?’?…?? ?§?„?’?‚???????§?…???©?? ?????±???¯?‘???ˆ?†?? ?¥???„???‰ ?£???´???¯?‘?? ?§?„?’?¹???°???§?¨??<br />
â€œApakah kalian mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian yang lainnya? Tiada balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antara kalian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, sementara pada hari Kiamat kelak mereka dilemparkan ke dalam azab yang sangat berat.â€? (QS al-Baqarah [2]: 85)</p>
<p><strong>â€œKompromiâ€? di sekitar kita<br />
</strong>Sobat muda muslim, tentu kita udah nyadar kalo lingkungan di sekitar kita kian steril dari aturan Islam. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, di tempat kerja, sekolah, atau di sekitar rumah. Semuanya udah dibalut dengan paham sekuler yang berasal dari gaya hidup Barat. Paham ini yang nempatin aturan agama cuma buat di masjid atau majelis taklim doang. Itu pun sebatas lisan. Padahal kita sebagai muslim juga kudu terikat ama aturan Allah di mana aja dan kapan aja. Ini yang seringkali jadi dilema bagi remaja muslim. Bener kan?</p>
<p>Tentu, dilema yang dialami remaja muslim amat wajar terjadi. Karena aturan ling-kungan di sekitar kita seolah memaksa me-reka untuk sekuler. Inilah yang dikehen-daki musuh-musuh Islam. Melalui media informasi mereka, kita digiring me-ngikuti budaya Barat yang se-kuler dengan cap mo-dern, gaul bin trendi. Hingga kita nggak bisa lihat, denger, tonton, kecuali apa yang mereka tayangkan. Walhasil, pola pikir dan pola sikap kaum Muslimin banyak yang berkiblat pada gaya hidup Barat. Gaswat!</p>
<p>Akibat gaya hidup kompromi, banyak temen-temen kita yang mengalami krisis identitas sebagai muslim. Mereka seolah malu menampilkan sosoknya sebagai muslim atau muslimah. Seperti dalam tren busana musli-mah yang lagi banyak digandrungi. Berkerudung tapi seksi bin modis. Kerudungnya begitu ketat membalut kepala. Terus, ujung-ujung kain penutup kepala itu yang syarâ€™i-nya menutupi bagian dada, malah ditarik ke atas dan dililitkan ke bagian belakang leher. Mereka menyebutnya kudung gaul. Tapi kok amburadul. Piye iki?</p>
<p>Dalam pergaulan remaja ada istilah â€?pacaran islamiâ€™ dengan batasan no kiss no touch. Padahal jalan berdua dengan lawan jenis yang bukan mahramnya aja udah nggak boleh. Gimana bisa ada pacaran islami? Kecuali aktivitas pacaran itu dilakukan after merit. Itu baru siip! Uhuy!</p>
<p>Dalam aktivitas dakwah juga sami mawon. Ada yang coba mengompromikan metode dakwah Rasulullah dengan situasi dan kondisi untuk menarik simpati. Nggak berani nyinggung-nyinggung tradisi, adat, budaya, atau kebiasaan rusak yang berkembang di tengah masyarakat. Nggak pede jelasin kalo perayaan tahun baru masehi, Valentine Days, atau ikut kontes-kontes kecantikan dan penca-rian bakat itu bertentangan dengan Islam. Kalo gini sih, kesannya kayak nyari selamet. Padahal apapun risiko yang dihadapi atau hasil yang diraih, dakwah Islam tetep kudu disampaikan. Bisa-bisa kita termasuk pihak yang ikut melestarikan budaya sekuler kalo menutup-nutupi kebenaran yang datang dari Islam. Betul? Jangan sampe deh!</p>
<p><strong>Jalan tengah = jalan salah</strong><br />
Gencarnya opini sikap kompromi bikin kaum Muslimin banyak yang tejebak. Mereka jadi doyan bersikap moderat (maksudnya jalan tengah. Bukan modal dengkul dan urat lho..) dalam menghadapi setiap permasalahan. Seolah sikap itu yang paling oke, paling selamet, dan diterima semua pihak. Padahal justru sikap itu malah menghindari masalah bukan menghadapinya. Nah lho, kok jadi muter-muter gini?</p>
<p>Begini, jalan tengah adalah konsep yang membangun ideologi kapitalisme. Ini diawali sekitar abad pertengahan. Ceritanya, saat itu ada dua pihak yang lagi bersitegang. Antara pihak gereja yang jadi perpanjangan tangan raja melawan pihak pemikir dan filosof Barat. Keduanya berbeda pendapat tentang agama Kristen dan perannya dalam kehidupan. Rohaniwan dan raja berpendapat kalo Kristen adalah agama yang layak untuk mengatur seluruh kehidupan. Sementara para pemikir dan filosof justru berpendapat sebaliknya. Karena mereka menganggap agama Kristen sebagai penyebab kehinaan dan ketertinggalan. Seharusnya akal manusialah yang layak untuk mengatur segala urusan kehidupan.</p>
<p>Dan ternyata, setelah melewati dua babak yang cukup sengit (emangnya sepak bola?) nggak ada yang menang atau kalah. Dua-duanya sama-sama ngeyel. Akhirnya keduanya me-nyepakati suatu jalan tengah. Mereka mengakui kalo aturan agama emang cocok buat ngatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapii&#8230; aturan agama nggak boleh ikut campur dalam kehidupan manusia. Pokoke, pengaturan urusan kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada akal manusia. Titik. Dari sinilah lahir ide pemisahan agama dari kehidupan alias sekulerisme yang jadi prinsip dasar ideologi Kapitalisme. Moga-moga sampe sini kamu ngerti ya. Lanjuut!</p>
<p>Dengan prinsip di atas, orang-orang Barat itu selalu nyari jalan tengah untuk beresin persoalannya atau masalah orang lain. Katanya biar sama-sama enak dan nggak ada yang dirugikan. Seperti solusi yang ditawarkan negara-negara Barat dalam masalah negeri Palestina pada tahun 1948. Mereka melakukan pembagian tanah untuk dua negara: Palestina dan Israel. Tapi, bukannya menyelesaikan masalah, konsep jalan tengah ini malah menambah panjang permasalahan. Karena sampai saat ini, konflik Palestina masih to be continued. Suer!</p>
<p>Dari cerita di atas kita bisa lihat kalo jalan tengah nggak beresin masalah tapi malah menghindarinya. Nggak ada yang bisa tuntaskan masalah perbedaan pendapat dari masing-masing pihak yang berseteru. Baik tentang peran agama Kristen dalam kehidupan maupun perseteruan kaum Muslimin dan kaum Zionis Yahudi di Palestina. Padahal ini kan masalah keyakinan agama yang sifatnya prinsip banget. Jadinya masalah itu dibiarkan tetep ada alias ngambang. Garing banget kan? Padahal mah kudu ada ketegasan untuk hal-hal yang sifatnya prinsipil. Betul?</p>
<p>Ibaratnya, kudu ada yang menang atau kalah di putaran final Liga Champions. Kudu ada kejelasan diterima atau ditolak pas kita melamar seorang gadis. Dan kudu ada akademia yang tereliminasi di setiap konser AFI. Biar ketahuan siapa yang berhak mem-boyong piala Champions dan menyandang gelar tim terbaik Eropa. Siapa yang berhak mengikuti jejak Veri AFI. Atau siapa yang akan segera mengakhiri masa jomblonya. Yoâ€™i kan?</p>
<p><strong>Islam is never die</strong><br />
Allah swt. berfirman: â€œPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.â€? (QS al-M?¢idah [5]: 3)</p>
<p>Dalam ayat di atas Allah swt. memastikan kalo agama Islam adalah agama yang sempurna tanpa cacat en cela. Aturannya layak dipakai oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Ini berarti nggak ada masalah yang nggak bisa diatasi oleh aturan Islam. Termasuk masalah baru yang muncul karena perkembangan zaman. Semuanya bisa diselesaikan. Pasti.</p>
<p>Adapun pendapat yang bilang hukum Islam itu fleksibel sebenernya berasal dari orang kafir. Seperti yang pernah disampaikan seorang orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, dalam bukunya. The Introduction to Islamic Law. Dia bilang, perubahan hukum tidak bisa diingkari lagi dengan adanya perubahan tempat dan zaman. Ini artinya fakta yang terjadi karena perkembangan zaman bisa jadi sumber buat pengambilan hukum Islam. Asal deh!</p>
<p>Padahal sampai kiamat sumber hukum Islam hanya al-Quran, as-Sunnah, dan yang dibenarkan oleh keduanya; yaitu Ijma Sahabat dan Qiyas. Sehingga dalam hal ini kedudukan fakta dijadikan sebagai obyek hukum. Kalo ada fakta baru, maka akan ada proses istinbath alias penggalian hukum terhadap fakta itu. Di sini terjadi proses penelaahan informasi yang lengkap bin komplit seputar fakta itu. Lalu digali status hukumnya berdasarkan sumber hukum Islam. Proses ijtihad yang dilakukan para muj-tahid inilah yang menjadikan Islam is Never Die!</p>
<p><strong>Pilih syarâ€™i, tinggalkan kompromi!<br />
</strong>Sobat muda muslim, sekarang saatnya kita berkaca pada diri kita. Jalan hidup seperti apa yang akan kita pilih. Haruskah kita mengorbankan jati diri kita sebagai muslim demi status gaul, seksi, atau tren? Pantaskah kita mengutamakan ridho masyarakat daripada ridho Allah? Ragukah kita terhadap kesem-purnaan aturan Allah? Malukah kita kalo kudu istiqomah dengan aturan Islam di lingkungan sekuler sekitar kita?</p>
<p>Adakah kompromi atau jalan tengah yang ditunjukkin Rasulullah dalam hidupnya? Seperti saat pamannya, Abu Thalib, menawarkan pangkat, harta, dan kehormatan agar beliau mau meninggalkan Islam? Jawabnya: nggak ada. Nggak ada banget. Yang ada justru ketegasan sikap Rasulullah: â€œDemi Allah, wahai Paman, an-daikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini (Islam), niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah me-menangkan perkara itu atau aku hancur karenanya!â€?</p>
<p>So, mari kita jadikan Islam sebagai aturan hidup kita. Kita pelajari, pahami, amalkan, yakini, dan dakwahkan. Oke deh, pilih syarâ€™i, and?  no compromise! Met berjuang ye! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 194/Tahun ke-5/10 Mei 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pilih-syari-tinggalkan-kompromi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pede Dong jadi Remaja Muslim!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pede-dong-jadi-remaja-muslim</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pede-dong-jadi-remaja-muslim#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:26:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pede-dong-jadi-remaja-muslim/</guid>
		<description><![CDATA[Bener lho. Percaya diri itu bikin kita enjoy menikmati hidup. Bikin asyik menikmati tan-tangan dan rintangan. Percaya diri pun diyakini bisa menem-patkan kita sebagai orang yang bisa mengelola emosi. Duileee sampe segitunya ya? Bener. Sebab, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bener lho. Percaya diri itu bikin kita enjoy menikmati hidup. Bikin asyik menikmati tan-tangan dan rintangan. Percaya diri pun diyakini bisa menem-patkan kita sebagai orang yang bisa mengelola emosi. Duileee sampe segitunya ya? Bener. Sebab, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang yang percaya dengan kemampuan dirinya, biasanya bakalan rileks en tanpa beban dalam berbuat. Ini, tidak saja membawa hasil maksimal, tapi juga antistres. Nggak percaya? Silakan dicoba.<span id="more-195"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, percaya diri alias pede emang kudu ditumbuh-kembangkan dalam diri kita. Kita rawat, kita bersihkan, kita poles dengan apik, dan kita sirami agar terus bersemi. Insya Allah, itu akan membuat kita tak pernah merasa terbebani. Kita akan menatap masa depan dengan penuh semangat dan tentunya tak mudah goyah dengan berbagai godaan en rayuan. Mulai dari rayuan pulau kelapa ampe rayuan gombal sekali pun. Nggak mudah percaya ama rayuan. Yakin itu.</p>
<p>Mungkin sebagian teman kita sutris banget pas ada yang ngata-ngatain bahwa umat Islam itu terbelakang en bodoh. Emang dalem banget en nyelekit pernyataan tersebut. Terus karena kalah mental akhirnya doi nggak pede lagi jadi seorang muslim. Jangan sampe tuh ngendon juga di jiwamu!</p>
<p>Padahal, cobalah kita berpikir lebih jernih. Sikap minder itu muncul justru karena kita merasa rendah diri. Merasa kerdil di hadapan orang lain. Padahal sejatinya, belum tentu orang lain lebih baik dari kita. Belum tentu pula kita lebih jelek di hadapan mereka. Itu semua adalah sekadar nilai dan cara pandang aja. Meski emang kudu ada standar nilai dan standar cara pandang yang benar.</p>
<p>Tapi terlepas dari salah-benar standar hidupnya, rasa percaya diri itu bisa menuntun kita lebih bijak dalam bersikap. Coba aja pikirkan. Kalo ada pernyataan seperti tadi, kamu jangan terpancing dan terbawa opini untuk ikut-ikutan merasa terbelakang, hanya karena kita sebagai muslim. Lagian pernyataan itu kan nggak sepenuhnya benar. Masih perlu diujicoba dan dibuktikan argumentasinya di lapangan. Tul nggak seh?</p>
<p>Mungkin benar pernyataan tersebut kalo fakta yang ditunjukkinnya adalah kaum muslimin yang berada dalam kondisi miskin dan tingkat pendidikannya rendah. Tapi kan masih ada kalangan muslim yang kaya dan jenjang pendidikannya lebih tinggi. Nah, jadi nggak perlu minder kan?</p>
<p>Bahkan jika pernyataan itu memojokkan kita sekali pun, bukan berarti kita pantas untuk minder en bersedih. Sebaliknya, fakta itu kita jadikan sebagai bahan renungan untuk lebih memberikan perhatian yang banyak kepada Islam dan umatnya. Tentunya, agar di kemudian hari kita lebih terhormat. Betul?</p>
<p>Jadi, nggak usah minder ya. Kita berjuang tanpa bosan, tanpa beban, dan tentunya tetap semangat. Buang jauh-jauh file minder van rendah diri dari daftar file di direktori otak kita. Kita cerahkan masa depan hidup kita dengan rasa percaya diri. Apalagi, kita adalah pejuang Islam, nggak pantes deh kalo kita malah nggak pede. Malu banget tuh sama jenggot yang jumlahnya cuma lima lembar itu. Heheheh (apa hubungannya ya?)</p>
<p><strong>Tetep cool yaâ€¦<br />
</strong>Wuih, cool? Emang mainnya hobi yang dingin-dingan aja ya? Kata teman saya sih, kalo kita cool berarti profesinya nggak jauh dari tukang reparasi kulkas? Hihihi.. ngaco aja ah. You pasti udah understand-lah dengan istilah cool ini.</p>
<p>Oke deh, kita sepakati aja dulu tentang istilah ini. Berdasarkan kamus bahasa slang yang berceceran banyak di internet, istilah cool ini muradif alias padanan katanya sama dengan asyik. Asyik? Bener. Wah, ternyata enak juga jadi remaja yang cool ya? Jadi, tetep saâ€™ik alias asyik dalam menjalani hidup ini. Kita bisa kok. Nggak masalah.</p>
<p>Sobat muda muslim, gimana dong buat yang belum pede? Kita kan pengen juga neh. Iya ya? Yang belum pede, berarti kudu belajar untuk pede. Kalo yang udah pede mah, kudu dipertahankan ya. Biar tetep pede.<br />
Oke deh, buat kamu yang belum pede en supaya tetep cool, kita ngasih beberapa tips nih supaya bisa pede. Secara umum tapi ye. Insya Allah tetap bermanfaat kok.</p>
<p>Pertama, mengenali diri sendiri. Lho, emangnya ada yang masih belum kenal dengan dirinya sendiri? Wah, jangan heran Bro, banyak di antara kita yang nggak ngeh dengan diri kita sendiri. Caranya begini. Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar â€™kekayaanâ€™ pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri.? </p>
<p>Kamu kudu nyadar dengan semua aset berharga yang kamu miliki. Terus, silakan temukan pula aset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri kamu, seperti: pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab eksternal lain.</p>
<p>Kalo pengen lebih keren, bikin deh hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunity and Threats) diri, kemudian digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengem-bangan diri yang lebih realistik. Coba ye..</p>
<p>Kedua, menilai diri sendiri dengan jujur. Nah lho, jarang banget nih ada orang yang pandai menilai pribadinya dengan jujur. Mayoritas kalo udah bicara tentang dirinya, pasti GUE BANGET. Orang lain mah LEWAAAT. Ih, jangan sampe begitu ya.</p>
<p>Sobat muda muslim, sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang kamu miliki. Ingat lho, bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi (perubahan) diri sejak dulu ampe sekarang. Kalo kamu mengabaikan/meremeh-kan satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu kamu menemukan jalan yang tepat menuju masa depan.</p>
<p>Oya, ati-ati lho, kerana ketidakmampuan menghargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan; contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik en getop, mendapat jabatan penting dengan segala cara. Kalo dipiki-piki, semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidak-mampuan menghargai diri sendiri&#8211;hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri.?  Heuheuheu.. jangan ampe hinggap di dirimu deh!</p>
<p>Ketiga, berpikir positif. Cobalah kamu perangi setiap asumsi, prasangka, atau persepsi negatif yang muncul dalam benak kamu. Kamu bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobodyâ€™s perfect dan itâ€™s okay if I made a mistake (duileee nih ngomongnya David Beckham banget).</p>
<p>Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang, dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Walah?</p>
<p>Itu sebabnya, jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan kamu. Hati-hatilah agar masa depan kamu nggak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar. Coba ya? Iya sih! (nah kalo ini Dian Sastro banget neh! Hihihi)</p>
<p>Keempat, boleh deh pajang slogan-slogan oke. Tempelin dekat meja belajarmu: â€œSaya pasti bisa!â€?, â€œSaya akan belajar dari kesalahan iniâ€? â€œHari esok milik sayaâ€?, â€œIslam pasti menang!â€?, â€œAku ingin syahidâ€?. Wis, pokoke sebanyak-banyak yang bisa menggugah semangatmu.</p>
<p>Kelima, berani ambil risiko. Nah, ini juga perlu kamu kembangkan. Hidup ini selalu berubah sobat. Seringjkali bahkan kudu berani ngambil risiko. Kami nggak perlu menghindari setiap risiko, melain-kan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah atau pun mengatasi risiko tersebut.</p>
<p>Contohnya, kamu nggak perlu menyenangkan orang lain untuk meng-hindari risiko ditolak. Jika kamu ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada risiko dan tantangannya. Namun, lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju berkembang dengan mengambil risiko. Ingat: No Risk, No Gain. Huhuy!</p>
<p>Keenam, tetapkan tujuan yang realistis. Nah, ini perlu sobat. Kamu perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang kamu tetapkan selama ini; apakah tujuan tersebut sudah realistik atau nggak. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan kamu dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian kamu akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya risiko yang tidak diinginkan.</p>
<p>Ketujuh, bersyukur dan tawakal. Wajib deh buat kita semua untuk mensyukuri nikmat dari Allah. Kita kadang sulit menghadapi hidup ini, tapi dengan banyak bersyukur, pikiran dan perasaan kita jadi lebih tenang menghadapinya.</p>
<p>Moga beberapa tips yang berhasil saya ramu dari berbagai pendapat ini bisa bikin kamu tambah pede?  en tentunya tetep cool ya.</p>
<p><strong>Islam bikin kita pede</strong><br />
Ada beberapa alasan yang sebenarnya bisa bikin kita pede dengan jadi muslim. Islam, agama kita, memiliki banyak kelebihan yang bisa dibanggakan. Dan tentunya bisa bikin pede dong. Jadi bener ya, kalo kita kenal dengan agama kita sendiri, dan tahu apa aja kelebihan-nya, insya Allah bikin pede.</p>
<p>Pertama, Islam mengajarkan bahwa tuhan kita adalah Allah. Maha segalanya. Tuhan yang lain mah lewaat deh. Firman Allah Swt.: â€œKatakanlah: â€œDia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Diaâ€?. (QS al-Ikhlas [112]: 1-4)</p>
<p>Insya Allah ini juga bisa bikin kita pede. Kepada siapa lagi coba kita akan menyembah kecuali kepada Allah? Betul?</p>
<p>Kedua, Islam juga punya al-Quran. Ini benar-benar the amazing book. Pedoman hidup kita dari masalah yang kecil ampe yang besar. Mulai soal bersuci sampe pemerintahan dan negara. Wuih, mana ada kitab lain yang bisa begitu? Wah bener-bener bikin pede dan membanggakan banget.</p>
<p>Sampe-sampe W.E. Hocking berkomen-tar, â€œOleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikata?­kan, bahwa hingga pertengahan abad ke tiga?­belas, Islam-lah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.â€? (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461)</p>
<p>Ketiga, kita punya nabi yang dikagumi orang sejagat. Rasulullah saw. diakui oleh kawan dan lawannya. Penulis buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, Michael Hart, menyebutkan, â€œDia (Muhammad saw.) adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus (Nabi Isa) atau siapapun di dunia ini.â€?</p>
<p>Oke deh, paling nggak itu beberapa alasan kenapa kita kudu pede jadi remaja muslim. Yuk, kita sama-sama membangun rasa percaya diri dan mempertahankannya.Kita bisa mencoba mulai?  dari sekarang. Nggak perlu nunggu lama lagi. Apalagi, kita sebagai remaja muslim dan juga pengemban dakwah. Kalo sampe nggak pede, aduh, malu atuh! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 193/Tahun ke-5/3 Mei 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pede-dong-jadi-remaja-muslim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Kudu Jadi Striker!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-kudu-jadi-striker</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-kudu-jadi-striker#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/remaja-kudu-jadi-striker/</guid>
		<description><![CDATA[Goool&#8230;.!! teriakan sang komen-tator bola memecah kesunyian para penonton yang tengah berharap-harap cemas menan-ti kemenangan tim kesayangan-nya. Tepat sesaat setelah aksi piawai Raul Gonzalez, Andrey Shevchenko, atau Ronaldo yang berhasil merobek jaring gawang lawan. Jepretan kamera wartawan dan sorotan televisi pun terfokus pada sosok bintang lapangan yang tengah melakukan victory lap itu. Wajar kalo pelatih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Goool&#8230;.!! teriakan sang komen-tator bola memecah kesunyian para penonton yang tengah berharap-harap cemas menan-ti kemenangan tim kesayangan-nya. Tepat sesaat setelah aksi piawai Raul Gonzalez, Andrey Shevchenko, atau Ronaldo yang berhasil merobek jaring gawang lawan. Jepretan kamera wartawan dan sorotan televisi pun terfokus pada sosok bintang lapangan yang tengah melakukan victory lap itu. Wajar kalo pelatih dan para pemain lain menyambut dengan antusias kemenangan tim mereka. Nggak salah. Striker atau ujung tombak selalu menjadi tumpuan harapan tim. Posisi mereka di garis depan udah pasti punya peluang besar buat ngobrak-ngabrik perta-hanan dan ngejebol gawang lawan. Betul?<span id="more-194"></span></p>
<p>Kayaknya, karakter striker atau ujung tombak itulah yang idealnya melekat dalam diri remaja. Bukan sebagai pemain bola, tapi pelaku kebangkitan. Seperti yang udah sering kita denger, masa depan sebuah bangsa amat tergantung dengan kiprah para pemudanya. Mereka adalah tumpuan harapan bangsa di masa yang akan atang. Semakin berprestasi para pemudanya, tentu masa depan bangsa punya peluang besar untuk bersinar. Tapi, kalo pemudanya miskin prestasi, udah kebayang masa depan negeri itu bakal kayak gimana. Sebuah potret buram coy!</p>
<p>Hmm&#8230;sebagai bentuk evaluasi, patut juga kita bertanya bakal kayak gimana wajah negerinya Indonesian Idol ini. Apa secakep Dini Aminarti, seteduh Veri AFI, atau seamburadul Setan Kepala Penyok di sinetron Di Sini Ada Setan? Tanyain ama diri kita masing-masing yang emang hidup di dalamnya. Karena kita yang ngerasa bangga kalo negeri kita bisa bangkit. Kita juga yang malu kalo negeri kita makin diremehkan karena terlilit hutang. Karena itu, nggak salah dong kalo kita sedikit kontrasepsi eh, instrospeksi. Yuuuukâ€¦.!</p>
<p><strong>Pergaulan dan idealisme remaja</strong><br />
Sobat muda muslim, gencarnya penyebaran gaya hidup Barat bikin temen-temen kita seperti ngadepin dilema. Tapi bukan dilema cinta. Kudu milih salah satu antara gaul atau Rasul. Ngikutin tren atau pengajian. Biar jadi remaja muslim yang punya idealisme. Gaul iya, identitas muslim juga terjaga. Karena bagi remaja yang pengen trendi, pilihan itu darurat banget. Seperti hidup dan mati. Deeuâ€¦ sampe segitunya.</p>
<p>Gaul dalam dunia remaja udah dipatok jadi harga mati. Kudu banget. Nggak ada tawar-menawar lagi. Nggak gaul berarti dikacangin. Makanya wajar kalo ada remaja yang mati-matian nggak jajan seminggu buat beli voucher isi ulang ponsel yang 25 rebu-an perak. Yang penting tetep gaul meski cuma modal dengkul.</p>
<p>Berani bergaul berarti kita kudu siap berkorban. Mulai dari uang jajan sampe nilai-nilai Islam. Soalnya, banyak akse-soris dan kegiatan yang udah kepalang dino-batkan jadi simbol pergaulan. Ponsel, jajan di McD, nonton di bioskop, atau nge-dugem. Semuanya perlu doku. Adakalanya pula selalu nyari jalan tengah biar aturan Islam cocok ama simbol-simbol itu. Inilah yang bikin remaja muslim kehilangan identitas. Status keislaman nggak jelas, potret hari depan pun kian bias.</p>
<p>Kini, gaya hidup mengejar mimpi menjadi bintang kian menggejala. Biar bisa ngerasain gaya hidup seleb yang glamour bin mewah. Gaya hidup yang menjanjikan kesenangan dan popularitas. Akhirnya, yang ada dalam benak mereka cuma satu, gimana caranya biar ngetop.. topâ€¦top kayak SCTV. Segala potensi yang ada dikerahkan.</p>
<p>Lihat saja, ajang pencarian bakat bintang muda yang digelar beberapa stasiun televisi ibarat gayung bersambut. Peserta yang ikut audisi membludak. Antriannya panjang banget. Tercatat, remaja yang mendaftar ikut audisi AFI periode pertama aja sebanyak 1112 orang. Sementara yang pengen jadi Indonesian idol sampe nyentuh angka 28 ribu! Nggak peduli suara atawa wajahnya pas-pasan. Pokoknya tampil pede. Kali aja jurinya ngelindur terus ngelolosin doi. Diterima syukur, nggak juga bisa nyoba lagi. Seperti semangat detektif H2C â€œmungkin hari ini kita gagal. Siapa tahu besok kita gaga lagilâ€¦â€? huahahahaâ€¦ upss!</p>
<p>Gaya hidup pengacara alias pengangguran banyak acara juga banyak peminatnya di kalangan remaja. Tiap hari doyannya ngabisin waktu. Nongkrong atawa jalan-jalan nyari kesibukan. Status pengacara terus disandang sampe dapet kerja. Pas giliran dapet kerja, nggak sedikit yang cuma seumur jagung. Bisa karena statusnya karyawan kontrak, bisa juga karena nggak betah. Kudu bangun pagi, kalo telat dimarahin, waktu nongkrong bareng sohib berkurang, atau gajinya yang pas-pasan. Akhirnya kembali lagi ke alamnya menyandang gelar pengacara. Ini sih namanya istiqomah di jalan yang salah atuh! Heheheâ€¦</p>
<p>Sobat muda muslim, hubungan pergaulan dan idealisme remaja emang deket banget. Fase pen-carian identitas yang dilalui remaja menuntut kita untuk punya idealis-me alias tujuan hidup. Mau nggak mau, kita kudu bergaul biar kebayang idealisme kayak gimana sih yang pengen kita usahain. Tentu sesuai kemampuan dong. Cuma sayang seribu sayang, kian hari tren gaul teman remaja kian menuntut para aktivisnya untuk steril dari aturan agama. Hasilnya, tujuan hidup yang mangkal di benak sebagian besar teman remaja cuma sebatas materi, popularitas, atau pengakuan sebagai yang terhebat. Inilah produk gaya hidup Barat yang sekuler. Yang bikin temen-temen kita jadi teler. Waspadalah!</p>
<p><strong>Meneladani sahabat Rasul</strong><br />
Sobat muda muslim, banyak temen kita yang ngefans banget ama bintang-bintang kenamaan; penyanyi pop, bintang sepak bola, tokoh legendaris, atau tokoh-tokoh fiktif. Sekarang coba kamu ceritain mana yang paling kamu kenal kehidupannya: Ali bin Abi Thalib ra atau David Beckham? Abdullah bin Masâ€™ud atau Michael Jackson? Mushab bin Umair atau Eminem? Usamah bin Zaid atau Gareth Gates?</p>
<p>Nggak usah malu. Jujur aja kalo kita lebih kenal orang-orang yang ada di pilihan kedua yang udah jelas orang kafir dan doyan maksiat. Malah nggak sedikit di antara kita yang ngefans sampe mencontoh gaya hidup mereka. Gaswat kan? Makanya sebagai remaja muslim, kita juga kudu kenal tokoh-tokoh di urutan kedua yang udah terbukti menjadi pemimpin dan pelopor kebangkitan di usia muda. Biar nggak salah pilih idola. Betul nggak seh?</p>
<p>Ali bin Abu Thalib ra.?  Beliau termasuk generasi pertama pemeluk Islam. Pada usia yang masih sangat belia, delapan tahun, beliau berani memeluk Islam atas keinginannya sendiri. Padahal ayahnya, Abu Thalib, masih tetap dalam keadaan kafir.</p>
<p>Ketika beliau ditanya, â€œApakah engkau tidak minta izin dulu kepada Bapakmu untuk masuk Islam?â€?, maka beliau menjawab dengan tegas, â€œAllah tidak meminta izin kepada bapakku ketika Ia menciptakanku. Lantas, mengapa aku harus meminta izin kepada ayahku untuk menyembah-Nya?â€?</p>
<p>Abdullah bin Masâ€™ud. Abdullah ra masuk Islam pada usia 14 tahun. Beliau termasuk salah satu pembaca al-Quran yang paling baik, yang disebut-sebut Rasulullah dalam hadisnya: â€œBarangsiapa yang hendak membaca al-Quran sebagaimana ia diwahyukan, maka bacalah sesuai dengan bacaannya Ibnu Ummi Abdin (Abdullah bin Masâ€™ud).â€?</p>
<p>Selain Ali dan Abdullah, masih banyak contoh-contoh pemuda muslim lain yang nggak kalah hebatnya. Mushâ€™ab bin Umair baru berusia 24 tahun ketika diutus Rasulullah saw. pergi ke Madinah untuk menyebarluaskan Islam. Usamah bin Zaid di usianya yang sweet seven teen, memimpin para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar sebagai Amirul Jihad (komandan pasukan kaum Muslim menghadapi pasukan Romawi). Jaâ€™far bin Abu Thalib yang berani berdiri di depan Raja Najasy dari Habsyah (Ethiopia) untuk mewakili dan membela Islam walau usianya baru 20 tahun. Imam Syafiâ€™i, salah satu ulama terbesar berhasil menghafal al-Quran pada usia 7 tahun dan menjadi mujtahid pada usia 14 tahun.</p>
<p>Pokoknya banyak banget deh figur pemuda Islam yang bener-bener berdiri di garis depan kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Tapi jangan sampe lupa, semuanya bisa berprestasi karena mereka hidup dengan aturan Islam dan berjuang untuk kejayaan Islam. Catet ya?</p>
<p><strong>Menjadi striker handal</strong><br />
Striker handal nggak cuma milik Dado Prso yang membela klub asal Perancis, AS Monaco. Kita juga bisa meski nggak di lapangan hijau. Kita yang bakal mendobrak pertahanan musuh-musuh Islam yang tengah mengepung kita. Kita juga yang bakal memimpin umat ke arah kebangkitan yang selama ini kita dam-bakan bersama. Karena itu, mari kita sama-sama jadikan diri kita sebagai ujung tombak kebangkitan umat. Berikut beberapa tips sebagai masukan buat yang belum bisa istiqomah dengan Islam. Juga diharapkan bisa menjadi pemicu bagi para aktivis agar lebih dekat kepada Allah Swt.:</p>
<p>Pertama, menempa diri dengan tsaqofah Islam. Nggak usah alergi bin gengsi ikut pengajian. Galilah tsaqofah Islam sedalam mungkin. Sampai kita bener-bener yakin kalo Allah itu ada dan selalu mengawasi kita. Al-Quran itu perkataan Allah yang kudu kita jadiin pegangan dalam hidup. Dan Rasulullah saw. adalah panutan kita dalam berbuat.? </p>
<p>Kedua, mengaitkan perbuatan kita dengan kehidupan akhirat. Sebagai muslim, udah seharusnya kita selalu mikir imbalan yang bakal kita terima sebelum berbuat. Pahala atau siksa di akhirat. Walaupun rencana itu masih diperdebatkan dalam hati. Kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. dan akhirat ini yang bisa jadi perisai buat lindungi diri kita dari dosa sekaligus memicu kita mencari pahala.</p>
<p>Ketiga, hidup dalam lingkungan yang baik. Salah satu upaya pencegahan biar kita nggak tergoda berbuat maksiat adalah hidup dalam lingkungan yang sehat dan steril dari godaan setan. Seperti dalam sebuah hadis: â€œPerumpa-maan teman pendamping yang shalih dan teman pendamping yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Dari penjual minyak wangi kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium bau harumnya; sedangkan dari tukang besi kalau tidak membakar pakaianmu, maka kalian akan mendapatkan bau busuk darinya.â€? (HR Bukhari Jilid 3 No. 314)</p>
<p>Keempat, berdakwah kepada orang lain. Nggak cukup rasanya kalo kita menimba tsaqofah tapi cuma buat diri sendiri. Kebayang, nggak akan tersebar Islam kalo kita nggak ikut nyampein ke orang lain. Karena kita memeluk Islam pun karena ada orang yang nyampein ke kita, keluarga, atau nenek moyang kita. Betul apa bener? Hehehe&#8230;</p>
<p>Kelima, ngikut aturan Islam nggak kayak robot. Istiqomah dengan aturan Islam bukan berarti kita nggak boleh senang-senang. Sok aja. Karena Rasulullah pun dulu suka becanda dengan istrinya, berolahraga dengan sahabatnya, atau pake baju yang bagus dan rapi. Tapi tetep, semuanya kudu nyarâ€™i. Dan kita kudu hati-hati biar nggak terlena dengan berbagai macam hiburan atau larut dalam kesenangan. Karena itu kerjaan orang kafir. Kita tentu, BEDA!</p>
<p>Nah, sobat muda muslim, mumpung kita masih muda, jangan sia-siakan potensi yang kita punya. Manfaatkan waktu yang ada untuk belajar, berdakwah, berbuat baik kepada umat, dan berkarya sebelum masa muda hilang ditelan usia. Nggak ada kata terlambat buat jadi pemuda dambaan umat. Jadi striker pembela Islam ye! Tarik teruusâ€¦! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 192/Tahun ke-5/26 April 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-kudu-jadi-striker/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islamnya Satu, Pejuangnya Banyak</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islamnya-satu-pejuangnya-banyak</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islamnya-satu-pejuangnya-banyak#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:18:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/islamnya-satu-pejuangnya-banyak/</guid>
		<description><![CDATA[Nama Syekh Ahmad Yassin akan tetap di hati para pejuang Palestina, dan juga para pejuang Islam lainnya di dunia. Darah syuhadanya akan terus mengalir dalam urat nadi para pejuang Islam. Kita pantas memiliki semangat yang sama dengan beliau. Yup, â€œIhna kulluna Ahmad Yassin!â€? (kita semua Ahmad Yassin!).
Pendiri Hammas (Harakatul al-Muqawwa-mah al-Islamiyahâ€”Gerakan perlawanan Islam) itu insya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama Syekh Ahmad Yassin akan tetap di hati para pejuang Palestina, dan juga para pejuang Islam lainnya di dunia. Darah syuhadanya akan terus mengalir dalam urat nadi para pejuang Islam. Kita pantas memiliki semangat yang sama dengan beliau. Yup, â€œIhna kulluna Ahmad Yassin!â€? (kita semua Ahmad Yassin!).<span id="more-193"></span></p>
<p>Pendiri Hammas (Harakatul al-Muqawwa-mah al-Islamiyahâ€”Gerakan perlawanan Islam) itu insya Allah telah syahid setelah dirudal pasukan Israel pada 22 Maret 2004 lalu. Beliau menjadi bagian dari ribuan pejuang yang telah mengorbankan harta dan jiwanya untuk membela Islam. Lalu, bagaimana dengan kita? Insya Allah, kita pun akan ambil bagian untuk membela Islam. Pasti!</p>
<p>Sobat muda muslim, jangan pernah merasa sendirian. Kita, kaum muslimin, terus berjuang di mana pun kita berada. Tengoklah saudara kita di Irak, mereka bahu-membahu melawan imperialis Amerika dan Inggris. Dengarlah pekikan perjuangan anak-anak Palestina saat mereka melemparkan batu ke hadapan tank-tank Israel, ke hadapan tentara-tentara Yahudi yang bersenjata lengkap. Lihatlah para pemuda Islam yang gagah berani di Uzbekistan dalam menyebarkan dakwah, meski tekanan pemerintah negara pecahan Uni Soviet ini sangat kuat. Polisi dan tentara Uzbek beringas dan haus darah. Tapi semangat saudara kita di sana, mampu mengalahkan rasa takut mereka, dan melupakan kenikmatan dunia yang mestinya bisa diraih.</p>
<p>Di negeri ini, kita juga terus berjuang menyebarkan dakwah, membela dan memper-juangkan diterapkannya kembali Islam sebagai ideologi negara. Meski tekanan secara fisik belumlah puncak seperti yang dialami saudara kita di Palestina, Irak, Afghanistan, Uzbekistan, Kashmir, Moro dan belahan dunia lainnya yang bergolak, tapi tekanan mental kerap menggoda semangat juang kita. Saudaraku, jangan pernah behenti berjuang. Singkirkan segala keluh kesah, gundah gulana, dan sikap minder di hadapan para penentang Islam dan para pembenci aktivis pejuang Islam. Kita, adalah generasi yang akan memberikan warna cerah bagi dunia. Kita generasi harapan Islam.</p>
<p>Sobat muda muslim, perjuangan mene-gakkan agama Allah ini sudah dirintis oleh Nabi kita sejak awal penyebaran Islam. Rasulullah saw. tak pernah gentar menghadapi para pembesar Quraisy yang seringkali melakukan penekanan. Rasulullah saw. telah memberi contoh bagaimana kuatnya tekad beliau dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah ini. Ketika dakwah beliau dirasa meresahkan kalangan penduduk Quraisy waktu itu, beberapa tokoh mereka mendatangi paman Rasul, Abu Thalib, untuk meminta keponakannya itu menghentikan dakwahnya. Namun apa yang dikatakan Rasulullah saw.?</p>
<p>â€œ(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggal-kannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.â€? (dalam Sirah Ibnu Hisyam)</p>
<p>Rasulullah saw. pun mengajarkan bagai-mana beraninya meng-hadapi segala risiko dakwah untuk memper-juangkan Islam ini. Meski akhirnya kudu menelan pil pahit. Pada suatu kesempatan Rasulullah saw. berhenti di depan rumah sejumlah kabilah sembari berkata: â€œWahai Bani Fulan, sesungguhnya aku ini adalah Rasulullah untuk kalian, memerin-tahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Hendaklah kalian meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya sekaligus beriman kepadaku, membenarkanku, dan membelaku sampai aku menjelaskan dari Allah wahyu-Nya yang dengan itu Dia mengutusku.â€? (Sirah Ibnu Hisyam)</p>
<p>Ketika itu paman beliau, Abu Lahab, sedang berdiri di belakang beliau. Dia menolak segala ucapan Nabi saw. sekaligus mendus-takannya. Saat itu, tak ada seorang pun yang mau menerima ajakan beliau. Mereka kemudian berkata, â€œKaummu saja, yang lebih mengetahui tentang siapa dirimu, tidak mengikutimu.â€?</p>
<p>Sobat muda muslim, kita pantas berbangga pula, bahwa apa yang dirintis oleh Rasulullah saw. ini kemudian dilanjutkan generasi berikutnya sampai sekarang. Yup, kita memiliki ribuan, bahkan jutaan pejuang yang siap mengorbankan waktu, tenaga, pemikiran, harta, dan bahkan nyawanya untuk Islam. Inilah kenapa kita menyebutnya, â€œKartunya satu, ATM-nya banyak!â€œEh, maksudnya â€œIslamnya satu, pejuangnya banyakâ€?. Iklan banget ya?</p>
<p><strong>Satukan perjuangan!<br />
</strong>Pernah dengar lagu milik Brothers berjudul Satu Perjuangan? Begini nih sebagian liriknya: â€œDengan satu perjuangan/ satu arah tujuan/di bawah rahmat Yang Esa/Kita melangkah seiringan/ satu perjuangan/ Rintangan pasti melanda/ jangan undur walau selangkah/ teruskan perjuangan/ hingga ke akhirnya&#8230;</p>
<p>Duh, meski lagu-nya nggak kenceng-kenceng amat, bahkan kesannya lembut, tapi isinya sih lumayan memberikan semang-at juang. Penekannya pada satu perjuangan, yakni untuk membela Islam. Bukan membela yang lain.</p>
<p>Sobat muda muslim, perlu kamu pahami bahwa banyak pula di antara kita yang warna-warni bendera dari ma-sing-masing kelompok perjuangan Islam, bahkan ada yang asem-manis-asin kayak permen Nano-Nano da-lam model perjuangan-nya. Tapi bairin deh, yang penting harus satu yang kita perjuangkan, yakni Islam. Keragaman ini kudu dijadikan sebagai aset perjuangan yang moga-moga saja sinergis. Saling melengkapi deh.</p>
<p>Itu soal ijtihad en kebijakan kelompok perjuangan Islam aja. Nggak terlalu berma-salah. Meskipun kalo ada yang menyimpang, ya kita saling mengingatkan aja. Dan tentunya kudu lapang dada ye buat yang merasa telah menyimpang dari ajaran Islam. Lha iya, masaâ€™ masih keukeuh berjuang untuk Islam kalo caranya salah? Nggak asyik tuh! Oke deh, saling menasihati dan mengingatkan ya. Namanya juga ama sodara. Tul nggak? Jangan sampe ma-lah berantem nggak jelas juntrungannya. Malu!</p>
<p>Apa yang akan kita perjuangkan? Jelas Islam dong, Say! Bukan yang lain. Islam yang kayak gimana? Hehehe.. Islam ya Islam. Emangnya Islam ada berapa?</p>
<p>Lho, itu kan ada Islam Muhamadiyah, Persis, NU, Salafi, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, al-Muhajirun, Majelis Mujahidin Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, dan ratusan partai politik dan kelompok dakwah lainnya. Hehehe.. jangan bingung. Deretan nama yang ditulis tadi sekadar kendaraan aja. Kendaraan perjuangan! Nggak lebih dari itu deh.</p>
<p>Bahkan banyaknya organisasi, kelompok dakwah, atau partai politik juga ada dasarnya kok. Sebab, yang penting satu: berjuang untuk Islam. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???„?’?????ƒ???†?’ ?…???†?’?ƒ???…?’ ?£???…?‘???©?Œ ?????¯?’?¹???ˆ?†?? ?¥???„???‰ ?§?„?’?®?????’?±?? ?ˆ???????£?’?…???±???ˆ?†?? ?¨???§?„?’?…???¹?’?±???ˆ???? ?ˆ???????†?’?‡???ˆ?’?†?? ?¹???†?? ?§?„?’?…???†?’?ƒ???±?? ?ˆ???£???ˆ?„???¦???ƒ?? ?‡???…?? ?§?„?’?…?????’?„???­???ˆ?†??<br />
â€œDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.â€? (QS ali â€?Imran [3]: 104)</p>
<p>Selain itu, kaum muslimin juga tersebar di seluruh penjuru dunia dengan lebih dari 50 negara. Perlu dicatat pula bahwa banyaknya negeri muslim, selain sebagai aset perjuangan, ini juga kendala untuk menyatukan. Kenapa? Karena masih banyak yang merasa satu sama lain bukan sebagai saudara meski sama-sama muslim. Inilah buah pengkotak-kotakan yang berhasil dilakukan Barat untuk mencerai-beraikan persatuan kaum muslimin.</p>
<p>Itu sebabnya, meski banyak parpol Islam dan juga organisasi Islam, jangan jadikan alasan untuk berseberangan. Meskipun banyak negeri-negeri Islam, bukan alasan pula untuk tidak saling peduli. Kita, adalah kaum muslimin yang satu. Udah sepantasnya juga memiliki per-juangan yang satu, yakni tegaknya Islam di muka bumi ini. Pokoknya, dite-rapkannya Islam sebagai ideologi ne-gara di bawah na-ungan Khilafah Isla-miyah. Cuma itu kok tujuan kita.</p>
<p>Dengan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah, akan da-pat diterapkan sya-riat Islam yang berfungsi sebagai muâ€™alajat li masyakil al-Insan (pemecahan problem-problem manusia). Dengan kembalinya Khilafah pula, akan dapat dilangsungkan kembali metode yang shahih untuk menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia, yaitu dakwah islamiyah dan jihad fi sabilillah. Semua ini insya Allah akan segera terwujud dengan upaya dan perjuangan kita bersama-sama, walaupun kita maklumi banget, bahwa orang-orang kafir pasti membencinya. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?????±?????¯???ˆ?†?? ?„???????·?’?????¦???ˆ?§ ?†???ˆ?±?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¨???£?????’?ˆ???§?‡???‡???…?’ ?ˆ???§?„?„?‘???‡?? ?…???????…?‘?? ?†???ˆ?±???‡?? ?ˆ???„???ˆ?’ ?ƒ???±???‡?? ?§?„?’?ƒ???§?????±???ˆ?†??<br />
â€œMereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.â€? (QS ash-Shaff [61]: <img src='http://www.gaulislam.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Bangkit dong, Sobat!<br />
</strong>Pastinya kita nggak mau dong jadi orang yang punya semangat minimalis. Qonaah boleh saja, tapi jangan sampe merasa puas dengan kondisi kita saat ini. Celakanya justru kondisi kita sekarang ini lagi ada di bawah nih. Kan aneh dong kalo nggak mau bangkit. Tul ngak sih? Kamu yang gagal lulus ujian, kamu yang gagal ngelamar kerjaan, termasuk kamu yang gagal menjadi menantu, jangan putus asa. Masih ada hari esok untuk kita. Tapi tentunya, hari esok yang lebih baik tak akan pernah ada bagi mereka yang malas untuk bangkit. Sampe kamu nangis bombay or nangis dayak sekali pun, tetep aja nggak bakal berubah kalo kamu nggak berusaha untuk mengubah nasib kamu. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„?§?? ???????????‘???±?? ?…???§ ?¨???‚???ˆ?’?…?? ?­?????‘???‰ ???????????‘???±???ˆ?§ ?…???§ ?¨???£???†?’?????³???‡???…?’<br />
â€œSesungguhnya Allah tidak mengu-bah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.â€? [TQS ar-Raâ€™d [13]: 11]</p>
<p>Bangkit itu perlu, bahkan wajib sobat. Apalagi bila kita bicara tentang masa depan Islam. Ya, Islam. Agama yang selama ini kita anut, belum kembali ke puncak kejayaan setelah mengalami kemunduran. Dan yang berperan selama iniâ€”disaat maju dan mundurâ€”adalah kita, kaum muslimin.</p>
<p>Sobat muda muslim, ayo bangkit dan masuk ke dalam barisan pejuang Islam. Makin banyak yang berjuang, insya Allah kian besar pengaruhnya dalam mewarnai kehidupan ini. Meski adakalanya sebuah peperangan atau revolusi tak selalu berbanding lurus dengan jumlah pejuangnya. Artinya, tak selamanya jumlah banyak bisa memenangkan pertem-puran. Karena yang terpenting adalah kesa-maan visi dan misi. Lebih hebat lagi tentunya jumlah banyak dan punya kesatuan visi dan misi. Betul nggak seh?</p>
<p>Jadi, mari tekadkan dan kuatkan per-juangan kita. Jangan pernah takut terhadap apapun. Kecuali kepada Allah. Bahkan kita kabarkan kepada dunia, bahwa ancaman kematian, bukanlah penghalang bagi perjuangan kita untuk membela Islam. Seperti kata Syekh Ahmad Yassin: â€œKematian tak pernah menakut-kan kami. Sebab, melalui itu, kami menemukan jalan menjadi syuhada.â€? Allahu Akbar!</p>
<p>Ayo, jangan takut, jangan minder, dan jangan malu en males jadi pejuang Islam. Kita di jalan yang benar sobat. Kita tidak sendirian. Jumlah kita ribuan, bahkan jutaan yang akan berjuang membela Islam. Sebagai penyemangat perjuangan, yuk kita sama-sama senandungkan salah satu lirik nasyid Izzatul Islam yang oke punya: â€œBarisan mujahid melangkah ke depan/ Tanpa rasa takut menghalau rintangan/ Cahya Islam kan selamanya memancar/ Dengan darah kami sebagai pembakarâ€?. Tetep semangat berjuang sampai akhir hayat. Ehm, kalo dalam bahasanya White Lion sih: Till Death Do Us Part. Huhuy! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 191/Tahun ke-5/19 April 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islamnya-satu-pejuangnya-banyak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Bersemi Saat Aktif</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cinta-bersemi-saat-aktif</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cinta-bersemi-saat-aktif#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cinta-bersemi-saat-aktif/</guid>
		<description><![CDATA[Di mana aja, kapan aja, dan siapa aja dijamin nggak akan bisa lolos dari serangan virus yang satu ini. Bukan DBD, Flu Bu-rung, atau Worm. Tapi virus yang kekuatannya bisa bikin sang pejuang mati-matian ngapalin lagu melankolis First Love-nya Nika Costa atau Shoulder to Cry On-nya Tommy Page. Meski nilai bahasa Inggris di raport-nya delapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di mana aja, kapan aja, dan siapa aja dijamin nggak akan bisa lolos dari serangan virus yang satu ini. Bukan DBD, Flu Bu-rung, atau Worm. Tapi virus yang kekuatannya bisa bikin sang pejuang mati-matian ngapalin lagu melankolis First Love-nya Nika Costa atau Shoulder to Cry On-nya Tommy Page. Meski nilai bahasa Inggris di raport-nya delapan ngakak alias 3! Pede banget kan?<span id="more-192"></span></p>
<p>Yup. Virus yang dikenal dengan julukan virus merah jambu (VMJ) pembangkit rasa cinta ini kagak ada matinya. Malah mungkin kita berharap nggak mati-mati. Coz, hidup kita bakal terasa garing bin monoton tanpa kehadiran cinta. Baik cinta kepada yang Maha Pencipta maupun kepada lawan jenis. Ali bin Abdah berkata, â€œtak mungkin seseorang menghindar dari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras, atau tidak mempunyai gairah.â€? Maka berbahagialah orang-orang yang masih bisa mencintai dan dicintai. Cieeâ€¦.Aa Gym banget neh!</p>
<p>Bener sobat, nggak lengkap rasanya jadi manusia kalo kita nggak bisa mencintai dan dicintai. Karena ini fitrah. Jadi wajar aja kalo virus ini merajalela mencari mangsa di setiap kesempatan. Maka di kalangan selebritis dikenal istilah â€?cilokâ€™ alias cinta lokasi. Sebutan untuk pasangan seleb yang terlibat jalinan asmara karena sering ketemu di lokasi syuting.</p>
<p>Sstttâ€¦.jangan bilang-bilang ya. Ternyata di kalangan aktivis dakwah juga ada â€?cilokâ€™ lho. Hah?! Masaâ€™ sih? Beneran. Cuma di kalangan jilbaber en jenggot simpatik ini, â€?cilokâ€™ berubah menjadi â€?CBSAâ€™. Mentang-mentang mayoritas pelajar. Do you know CBSA? Ini nih: Cinta Bersemi Saat Aktif. (ehm..ehm..KLBK euy!) Tapi jangan salah, meski â€?Cilokâ€™ dan â€?CBSAâ€™ sama-sama mengandung unsur cinta, tapi keduanya tetep beda. Kalo â€?CBSAâ€™, lebih terjaga dari kontaminasi. Sementara â€?cilokâ€™ lebih kepada cinta yang ternodai. Ups!</p>
<p>So, kalo kamu pengen tahu lebih banyak tentang CBSA, kamu bisa tanya guru SD masing-masing. Tapi, kalo penasaran ama â€?CBSAâ€™, kamu dah bener kalo baca Studia kali ini. Yuuuuk!</p>
<p><strong>Romantika aktivis dakwah</strong><br />
Sobat muda muslim, kalo mengamati pergaulan para aktivis dakwah mungkin ada beberapa pertanyaan yang mampir di benak kita. Apalagi keseharian mereka yang gaul ama sesamanya. Cewek ama cewek. Cowok ama cowok. Kesannya antilawan jenis banget. Apa mereka steril dari rasa cinta? Apa yang ada dalam benak mereka cuma dakwah doang? Apa menjadi aktivis dakwah kudu punya antivirus untuk menghadang VMJ? Apa-apanya dongâ€¦eh, kok jadi lagu sih?</p>
<p>Nggak usah dibikin pusing, sampe nyanyiin lagu Nek Titik Puspa gitu. Para aktivis dakwah itu sama aja kayak kita. Sejenis manusia yang punya rasa cinta. Cuma bedanya, mereka nggak show of forces untuk urusan ini. Apalagi sampe deklarasi segala di acara reality show Katakan Cinta atau Playboy Kabel. Nggak lah yauw. Mereka punya prinsip yang bagi sebagian orang terdengar â€?anehâ€™ dalam hal pengungkapan rasa cinta. Anti-pacaran en nggak phobi ama nikah dini. Catet ya!</p>
<p>Nah, masalah-nya, kita sering bertanya-tanya, gimana mung-kin bisa terjalin rasa cinta di antara mere-ka kalo mereka sendiri anti-gaul bebas. Bukankah gaul bebas itu terbukti menjadi media subur untuk memupuk rasa cinta kepada lawan jenis? Eit, jangan salah. Nggak gaul bebas bukan berarti nggak berinteraksi dengan lawan jenis. Emangnya penghuni dunia dakwah cuma satu jenis? Tetep, aktivitas dakwah juga meng-haruskan mereka berhubungan dengan lawan jenis. Apalagi yang tergabung dalam sebuah organisasi. Kudu ada konsolidasi dakwah. Inget-inget tuh!</p>
<p>Sebagai aktivis dakwah, tentu konsolidasi itu mengharuskan pihak ikhwan (muslim) menjalin kerjasama dengan para anggota â€?divaâ€™ alias divisi akhwat (muslimah). Saling tukar informasi. Rapat bulanan untuk evaluasi kinerja dakwah sekaligus planning untuk masa mendatang. Sampe tergabung dalam kepani-tiaan acara. Dan nggak mungkin kegiatan kayak di atas dilakukan tanpa adanya pertemuan. Walau mungkin rapat bisa aja pake fasilitas teleconference. Tapi itu pasti bakal menyedot banyak biaya. Bisa-bisa acaranya nggak jadi digelar gara-gara nggak ada biaya. Berabe kan?</p>
<p>Nah, dari seringnya pertemuan itulah bisa menyita perhatian khusus antar aktivis. Meski nggak terungkap, VMJ tengah mengamati mangsa yang hendak diburu. Satu sama lain saling menyimpan rasa kagum. Dari sinilah tumbuh perasaan simpati, empati, yang seterusnya bisa bikin jatuh hati. Walau hanya tersimpan rapi dalam diary atau menghiasi relung hati. Intinya, malu-malu tapi mau!</p>
<p>Proses tumbuh dan mewabahnya VMJ di kalangan aktivis, nggak jauh beda dengan â€?cilokâ€™ ala seleb. Cinta bersemi saat aktif dalam dakwah. Makanya kita nggak usah ragu bin worried untuk jadi seorang aktivis dakwah. Pergaulan mereka yang terkesan anti-lawan jenis, hanya salah satu cara buat nunjukkin kalo Islam juga punya aturan maen dalam pergaulan. Justru kita kudu bangga jadi aktivis. Karena untuk urusan jodoh, Allah bakal ngasih pasangan hidup yang â€?qualifiedâ€™ buat para aktivis pengemban dakwah yang istiqomah.</p>
<p>Firman Allah Swt:</p>
<p>?§?„?’?®???¨?????«???§???? ?„???„?’?®???¨?????«?????†?? ?ˆ???§?„?’?®???¨?????«???ˆ?†?? ?„???„?’?®???¨?????«???§???? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???§???? ?„???„?·?‘?????‘???¨?????†?? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???ˆ?†?? ?„???„?·?‘?????‘???¨???§????<br />
â€œWanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang (baik) pula.â€? (QS an-N?»r [24]: 26)</p>
<p><strong>Mengendalikan rasa cinta</strong><br />
Sobat muda muslim, nggak salah kalo cinta bisa mendera siapa aja. Termasuk para aktivis dakwah. Tapi tetep kita kudu waspada ama VMJ ini. Soalnya orang bisa berubah karena kasmaran. Yang pasti nggak berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Tapi perubahan yang lambat laun nampak dalam diri kita. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin menuliskan komentar sejumlah orang tentang pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.</p>
<p>Di antaranya sebagai berikut: â€œCinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadahâ€?.</p>
<p>Nah, lho? Ternyata cinta bukan cuma Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki seperti kata Sheila On Tujuh. Tapi juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah pe-nampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.</p>
<p>Tentu kita nggak pengen dong, aktivitas dakwah kita yang mulia jadi kacau-beliau gara-gara kita terpana pesona cinta. Makanya kita kudu pandai mengendalikan rasa itu. Seperti kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk urusan cinta juga sama. Lebih baik kita mencegah aktivitas yang bikin VMJ meradang. Ada dua hal yang bisa kita jalanin sebagai langkah pencegahan (kayak 3M DBD aja neh!).</p>
<p>Pertama, dari dalam diri kita. Di sini kita kuatkan benteng pertahanan dari serangan rasa cinta yang membabi buta. Caranya, rajin puasa sunat. Rasulullah menganjurkan pemuda-pemudi untuk berpuasa sebagai satu perisai takwa. Perbanyak membaca al-Qurâ€™an, shalat tahajjud, dan berdzikir kepada Allah saat godaan itu datang. Perbanyak juga doa kita kepada Allah. Minta kepada-Nya biar kita dijauhin dari perbuatan yang haram, minta juga kepada-Nya biar kita dikasih jodoh yang qualified dunia-akhirat. Mau dong?</p>
<p>Kedua, dari luar diri kita. Ini juga nggak kalah pentingnya. Faktor ling-kungan gampang banget meluluhlantakkan pertahanan yang kita bangun. Itu sebabnya, kita kudu bisa menata lingkungan sekitar kita. Misalnya, memini-malisasi pertemuan dan komunikasi dengan lawan jenis. Walau itu untuk konsolidasi dakwah. Sorry, bukannya mo ngerecokin, cuma kita khawatir, jiwa muda kita tak kuasa meredam gejolak rasa cinta itu. Kita juga bisa gaul ama temen-teman yang bisanya nggak cuma manas-manasin doang. Tapi mampu membantu kita menjaga izzah alias harga diri. Sehingga kita bisa belajar menundukkan pandangan. Baik terhadap para â€?macanâ€™ (makhluk cantik) mau pun terhadap media â€?syeremâ€™ yang bisa memacu adrenalin kita.</p>
<p>Kita kudu nyadar kalo seorang aktivis dakwah sering jadi panutan dan teladan bagi orang lain. Nggak cuma Allah yang mengawasi tiap omongan ama tingkah lakunya, tapi juga umat. Gimana jadinya kalo pas ngisi pengajian begitu bersemangat bilang pacaran itu haram. Tapi, pas doi lagi kasmaran, perilakunya nggak beda ama aktivis pacaran. Apalagi pake ngeles dengan istilah â€?pacaran islamiâ€™. Idiihâ€¦malu ama umat tuh! Firman Allah Swt: â€œAmat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS ash-Shaf [61]: 3)</p>
<p><strong>Menentukan prioritas</strong><br />
Sobat muda muslim, kalo kamu udah bisa atau minimal lagi belajar mengendalikan rasa cinta, sekarang kamu udah pantes buat belajar menentukan prioritas. Karena untuk urusan ekspresi cinta, Islam cuma mengatur dua tahap. Khitbah dan nikah. Nggak ada lagi. Masalahnya, kadang para aktivis dakwah yang mayori-tas pelajar terbentur dengan banyak hal sampe kerepotan memilih satu di antara dua pilihan itu. Kalo pun ada yang berani, lebih didominasi faktor emosi. Bisa jadi was-was sang target â€?disamberâ€™ duluan ama yang laen (Emangnya bis kota maen serobot?)</p>
<p>Kalo mau khitbah dulu, kecil kemungkinan bisa bertahan sampe kamu lulus sekolah atau kuliah terus dapet kerja. Bawaannya pasti pengen segera ijab qabul. Padahal, segala kebutuhan keuangan masih disubsidi penuh ama ortu. Bakal berabe ke depannya. Perhatian kamu bakal terpecah. Antara beresin kuliah atau matengin rencana nikah. Bisa-bisa nggak optimal dua-duanya. Padahal kehidupan rumah tangga bakal menuntut suami untuk mencari nafkah materi. Nggak cuma bermodalkan cinta. Sementara ijazah pendidikan pun adakalanya punya peranan bagi sang suami demi mem-peroleh nafkah.</p>
<p>Nah, kalo udah gini bagusnya kita pusatkan perhatian pada aktivitas tholabul â€?ilmi yang lagi digeluti. Biar masa depan juga terbingkai dengan rapi. Tapi, bukan berarti kita ngelarang kamu mikirin soal nikah lho. Nggak. Silakan aja kalo kamu mau mulai mempelajari soal pernikahan lebih dalam. Karena terpancing ama senior yang bilang nikah itu nikmat, indah dan ibadah, misalnya. Tapi kamu kudu siap hadapi risiko yang bakal menyedot perhatian kamu. Berani ambil risiko? Pikirkan dengan mateng!</p>
<p>Oke deh sobat. Kita percaya kamu-kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak. Jangan sampe CBSA bikin aktivitas dakwah kamu kendor. Catet, sekali lagi kita ngingetin, dakwah itu untuk mendapat ridho Ilahi. Bukan karena orang yang dikasihi. Dan jangan takut keduluan, karena jodoh masing-masing nggak akan kelayapan. Oke? Tetap semangat! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 190/Tahun ke-5/12 April 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cinta-bersemi-saat-aktif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Politik Yes, Agama Yes</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/politik-yes-agama-yes</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/politik-yes-agama-yes#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/politik-yes-agama-yes/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo kamu merhatiin tayangan iklan di televisi waktu musim kampanye parpol kemarin, ada pesan yang disampaikan Ja-ringan Islam Liberal (JIL), begini pesannya: â€œMau berpolitik? Jangan bawa agama deh!â€?. Nah, iklan ini tentunya direspon beragam sama pemirsa. Ada yang menganggap bahwa pesan itu benar, ada juga yang menolak mentah-mentah, pun yang cuek juga nggak keitung jumlahnya.
Sobat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo kamu merhatiin tayangan iklan di televisi waktu musim kampanye parpol kemarin, ada pesan yang disampaikan Ja-ringan Islam Liberal (JIL), begini pesannya: â€œMau berpolitik? Jangan bawa agama deh!â€?. Nah, iklan ini tentunya direspon beragam sama pemirsa. Ada yang menganggap bahwa pesan itu benar, ada juga yang menolak mentah-mentah, pun yang cuek juga nggak keitung jumlahnya.<span id="more-191"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, kenapa kita bahas masalah ini? Karena kita punya kepedulian memahamkan kamu semua tentang persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya lagi tentang Islam. Sebagai remaja, tentunya wajib ngeh juga dong dengan urusan politik. Jangan cuma faqih fis seleb aja. Betul?</p>
<p>Jangan biarkan orang-orang menuduh remaja buta politik. Jangan mau juga kamu dianggap sebagai kaum yang cuma ikut-ikutan urusan yang kerap hanya bisa dimainkan orang dewasa. Kini saatnya mengubah imej bahwa remaja bukan kaum pinggiran ketika ngobrolin soal politik. Sejatinya, kita bisa terlibat dan melibatkan diri dalam aktivitas politik, lho.</p>
<p>Sobat muda muslim, sayangnya, kini muncul pula pemahaman keliru di antara kaum muslimin tentang politik. Ada yang sama sekali menjauhinya, dengan alasan bahwa politik itu kotor, najis, dan wajib dihindarkan dari menu sehari-sehari pergaulannya. Sangat boleh jadi, kelompok ini sudah putus asa ketika melihat perkembangan bahwa politik seringkali cuma sebagai alat untuk menuju tangga kekuasaan sambil sikut sana jegal sini. Paling nggak, itu gambaran aktivitas politik yang bisa dilihat saat ini. Menyebalkan dan norak, memang.</p>
<p>Sebagian lagi memilih terjun dalam aktivitas politik praktis seperti yang kemarin dan hari ini, juga mungkin esok kita saksikan. Mereka ikut pemilu, kampanye, dan akhirnya kalo mujur bisa menempatkan wakil-wakilnya di DPR atau MPR. Sayangnya, ini juga seringkali tulalit banget. Pikirnya, aktivitas politik cuma urusan kekuasaan belaka. Padahal nggak gitu deh. Karena aktivitas politik begitu luas, mulai dari urusan pemerintahan, hukum, tatanegara, peradilan, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi dan sejenisnya. Pokoknya, semua tindakan un-tuk mengatur urusan rakyat, baik dalam negeri maupun luar negeri.</p>
<p>Itu sebabnya ketika kita udah peduli terhadap urusan kaum muslimin di negeri ini dan juga di belahan dunia lain, itu udah bisa disebut berpolitik. Dan perlu kita tegasin lagi deh, bahwa politik kudu sejajar dengan agama. Pendek kata, seiring sejalan. Bisa dibilang agama dan politik ini adalah â€œDuet Mautâ€? untuk menyelesaikan problem kehidupan manusia. Dan, cuma Islam yang mampu melakukannya. Yang lain? Lewaaaaat!</p>
<p>Jadi, siapkan sabuk pengaman, kita akan tancap gas ngomongin soal yang satu ini. Pembahasan yang dijamin asyik punya dan kamu wajib ngeh. Jangan sampe kamu jadi objek penderita terus. Emang enak jadi pecundang? Emang enak dibodohin sama iklan yang menyesatkan itu? Emang kamu rela bin pasrah kalo agama kudu dijauhkan dari kehidupan politik? Kita kan bukan kaum sekuler. Kita remaja muslim yang berusaha menjadi benar dalam memahami ajaran agama. Kita kabarkan kepada dunia, bahwa kita generasi Islam yang akan menjadi â€œhaarisan amiinan lil Islamiâ€? alias penjaga (Islam) yang terpercaya.</p>
<p><strong>Buah sekularisme</strong><br />
Majalah Tempo edisi 29 Maret-4 April 2004 lalu menggeber laporan utama tentang partai Islam. Salah satu artikelnya yang menarik adalah â€œPartai Islam Yes, Asas Islam Noâ€?. Ketika menyikapi fenomena partai Islam dan masyarakat Indonesia saat ini, majalah mingguan tersebut menuliskan, â€œBila seku-larisasi menjadi niat Nurcholis Madjid ketika mempopulerkan slogan â€?Islam yes, partai Islam noâ€™ lebih dari 30 tahun lampau, saat ini mungkin maksud itu telah kesampaian. Masyarakat Indo-nesia tampaknya makin mempercayai bahwa urusan agama tak sama dengan urusan politik.</p>
<p>Buktinya aja sekarang, meski sudah ada yang mulai merintis mendirikan partai Islam, tapi masyarakat masih belum melirik sepenuh-nya parpol berasas Islam. Selain masih setia dengan partai berideologi sekular, banyak pihak yang bikin kisruh â€?manas-manasinâ€™ dengan bikin pernyataan bahwa â€œkalo mo berpolitik, jangan bawa agamaâ€?. Hhh.. sekularisme udah menjadi bagian dari hidup masyarakat kita. Celaka!</p>
<p>Sobat muda muslim, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: â€œKarena itu, dikatakanlah bahwa aga-ma dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.â€? (dalam kitabnya al-Iqtishad fil Iâ€™tiqad hlm. 199)</p>
<p>Benar banget pernyataan ini. Islam tanpa politik (negara) akan mudah lenyap, begitu pula, politik tanpa agama, niscaya akan mudah roboh. Sejarah udah ngebuktiin tuh, kalo agama dipi-sahin dari politik, alamat ancur-ancuran deh. Nah, ini yang namanya sekularisme. Bahaya!</p>
<p>Kamu bisa rasakan sendiri bahwa hidup dalam sistem sekular seperti sekarang benar-benar merana. Ketika agama nggak boleh ikut campur ngurusin kehidupan bernegara dan bermasyarakat, maka banyak orang berbuat sesukanya atas nama kebebasan. Mau jadi gay or lesbian nggak boleh dilarang. Kamu yang puteri milih pake jilbab dan kerudung syukur, milih telanjang pun nggak dilarang. Badannya diukir tatto monggo wae, rambutnya dipermak gaya anak punk silakan. Sholat boleh, nggak sholat pun jangan ada yang ngelarang. Walah, semau gue tuh!</p>
<p>Itu sebabnya, para pembela dan pejuang sekularisme sering bertindak melawan kebebasan itu sendiri. Terutama bila ada yang ingin menyuarakan Islam. Intinya, boleh berbuat sesukanya asal jangan ngomongin Islam, apalagi Islam ideologi. Kalo dibiarkan, maka sama dengan bunuh diri bagi kaum pembela seku-larisme. Maka, setiap ada gerakan ke arah menggabungkan Islam dengan politik (baca: islam ideologi) wajib dicegah. Kenapa?</p>
<p>Menurut cara pandang ideologi kapitalis-me, Islam ideologi jelas merupakan ancaman baginya. Sebab?  ideologi kapitalisme bertumpu pada ide dasar sekulerisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan (fashl al din â€?an al hayah). Maka bagi ideologi kapitalisme, agama adalah masalah pribadi antara individu dengan tuhannya. Agama nggak dibenarkan turut cam-pur dalam pengaturan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Itu sebabnya, Islam dalam bentuk ideologi jelas merupakan ancaman terhadap eksistensi sekulerisme, â€?akidahnyaâ€™ kapitalisme itu, bro. Sebab Islam dalam bentuk ideologi berarti mengharuskan adanya peran agama (Islam) dalam seluruh tatanan aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tanpa kecuali.</p>
<p>Menghadapi ancaman ini, para penganut kapitalisme melakukan berbagai langkah, antara lain, melakukan manipulasi dengan me-nyebarkan opini bahwa Islam adalah agama, bukanlah ideologi. Islam diilusikan seperti agama Kristen atau Katolik yang harus terlepas dari kekuasaan dan pemerintahan. Memandang Islam sebagai ideologi, kata mereka, adalah suatu apologi yang muncul karena perasaan inferior di bawah dominasi dan imperialisme Barat. Ckckck.. sampe segitunya.</p>
<p>Dikatakan pula bahwa konsep kenegaraan dalam Islam itu nggak ada, karena dalam al-Quran tidak ada kata â€œdaulahâ€? (negara). Jadi dalam persepsi para penganut kapitalisme, Islam ideologi itu mengada-ada dan hanya utopia. Walah, nekatz tenan rek!</p>
<p>Sobat muda muslim, para pejuang dan pembela kapitalisme-sekularisme juga getol bener bikin opini miring tentang Islam, khususnya Islam ideologi. Itu sebabnya para penganut kapitalisme berusaha membuktikan ancaman ideologi Islam dengan berbagai data dan bukti sejarah. Tapi informasinya yang udah dimodifikasi sesuai kepentingannya.</p>
<p>Jadi, mereka se-ngaja menutupi prinsip bahwa Islam nggaklah bersumber dari peris-tiwa sejarah, melain-kan bersumber dari nash-nash al-Quran dan as-Sunnah. Maka mereka mengeksploitir penyimpangan-penyim-pangan yang terjadi dalam sejarah Islam, untuk membuktikan betapa buruk akibat yang terjadi kalo Islam memegang kekuasaan. Misalnya terbunuhnya tiga khalifah (Umar, Utsman, dan Ali) dari empat Khulafaâ€?ur Rasyidin. Atau perilaku sebagian khalifah yang menyimpang dari Islam, seperti perilaku Sultan Muhammad III (1595-1603 M), pengganti Murad III, seorang khalifah dalam masa Utsmaniyah, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 9 orang dan menenggalamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentingan pribadi. (Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 155)</p>
<p>Tapi mereka sengaja menutupi prestasi gemilang ketika Islam ideologi diterapkan. Mereka khawatir banget dengan kebangkitan Islam, maka salah satu caranya, mereka berusaha menebar opini bahwa politik kudu dijauhkan dari agama. Pesan kita: jangan percaya euy!<br />
? <br />
<strong>Agama dan negara: Wajib kompak!<br />
</strong>Sobat muda muslim, menurut â€?akidahâ€™ Kapitalisme, model hubungan agama-negara dapat disebut sebagai hubungan yang separatif, yaitu suatu pandangan yang berusaha memi-sahkan agama dari arena kehidupan. Agama hanya berlaku dalam hubungan secara individual antara manusia dan tuhannya, atau berlaku secara amat terbatas dalam interaksi sosial sesama manusia. Agama nggak terwujud secara institusional dalam konstitusi atau perun-dangan negara, namun hanya terwujud dalam etika en moral individu-individu pelaku politik. Lihat aja kampanye partai Islam sekarang, sudahlah nggak tegas mengagendakan pene-gakkan syariat Islam, eh malah lebih menyukai ketenangan dan kelem-butan yang sekadar sifat moral belaka. Semoga saja sikap itu nggak berlanjut.</p>
<p>Sementara Bro, akidah Islamiyah adalah iman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir, dan qadar (taqdir) Allah. Akidah ini merupakan dasar ideologi Islam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum Islam yang mengatur kehidupan manusia. Akidah Islamiyah menetapkan bahwa keimanan harus terwujud dalam keterikatan terhadap hukum syaraâ€™, yang cakupannya adalah segala aspek kehidupan, dan bahwa pengingkaran sebagian saja dari hukum Islam (yang terwujud dalam sekularisme) adalah suatu kebatilan dan kekafiran yang nyata. Hati-hati ye, Allah Swt berfirman:</p>
<p>â€œMaka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikat-nya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan..â€? (QS an-Nisaa` [4] : 65)</p>
<p>Firman Allah lainnya: â€œBarangsiapa yang tidak memberi keputusan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.â€? (QS al-Maa`idah [5]: 44)</p>
<p>Jadi, dengan penjelasan ini, seluruh hukum Islam tanpa kecuali harus diterapkan kepada manusia, sebagai konsekuensi adanya iman atau akidah islamiyah. Dan karena hukum-hukum Islam ini nggak bisa diterapkan secara sempurna kecuali dengan adanya sebuah institusi negara, maka keberadaan negara dalam Islam adalah suatu keniscayaan.</p>
<p>Itu sebabnya, model hubungan agama-negara dalam pandangan Islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam arti bahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sem-purna dan bahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama (cieeee bahasane bro!). Buktinya, masyarakat kita lebih suka mengamalkan gaya hidup permisif dan hedonis. Agama? Ke laut aje!</p>
<p>Jadi, agama tentunya nggak dapat dipi-sahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalam konstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Inilah hubungan serasi antara politik (negara) dan agama. Islam ideologi euy! Oke deh, mulai sekarang kita kudu berani mengatakan, â€œpolitik yes, agama juga yesâ€? [solihin, berbagai sumber]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 189/Tahun ke-5/5 April 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/politik-yes-agama-yes/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menata Waktu, Menuai Sukses</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menata-waktu-menuai-sukses</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menata-waktu-menuai-sukses#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:06:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menata-waktu-menuai-sukses/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa sih yang nggak kenal waktu? Pasti nggak ada. Anak kecil aja tahu. Makanya waktu dikenal tiap orang. Apa pun makanannya, eh profesi atawa kerjaan kita, pasti waktu ikut ngerecokin.
Bagi redaksi waktu berarti deadline yang bisa bikin kepala redaktur berasap ngejar naskah biar kelar. Buat kaum pekerja, biasanya mereka inget waktu pas mo pulang, libur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa sih yang nggak kenal waktu? Pasti nggak ada. Anak kecil aja tahu. Makanya waktu dikenal tiap orang. Apa pun makanannya, eh profesi atawa kerjaan kita, pasti waktu ikut ngerecokin.<span id="more-190"></span></p>
<p>Bagi redaksi waktu berarti deadline yang bisa bikin kepala redaktur berasap ngejar naskah biar kelar. Buat kaum pekerja, biasanya mereka inget waktu pas mo pulang, libur nasional, ama tanggal gajian. Nah, kalo yang statusnya pelajar atawa mahasiswa, waktu identik dengan SKS alias Sistem Kebut Semalam ngerjain tugas. Bentuk waktu yang abstrak nggak bikin doi tiada arti. Bagi yang bisa menghargainya, kesuksesan bakal didapet. Sementara bagi yang suka ngacangin doi, tahu sendiri akibatnya. Under pressure euy!</p>
<p>Sayangnya, waktu lebih sering berstatus kambing hitam dari pada dewa penolong. Kalo kerjaan belon kelar atawa tugas sekolah ngaret beresnya, pasti deh waktu yang disalahin. Mepetlah. Terlalu pendeklah. Atawa nggak ada waktu luang. Kasian deh sang waktu. Kebagian apes mulu. Nah, biar nggak nyalahin waktu mulu, nggak ada ruginya dong kalo kita bahas tentang waktu. Biar hidup kita lebih bermutu!</p>
<p><strong>Remaja dan waktu</strong><br />
Pinggir jalan menjadi lokasi yang paling banyak digandrungi anak muda buat ngumpul. Kalo nggak percaya boleh tanya Sony Tulung (deuuu&#8230;.). Selain tanpa ongkos, bisa cuci mata, dan sekalian test vokal bermodalkan gitar pinjeman plus galon air mineral yang dipaksa jadi gendang. Kali aja ada produser yang lewat, terus tertarik ama vokalnya. Kan lumayan buat dubbing film Charlie Chaplin tuh! Huhuy!</p>
<p>Kian hari, kegiatan nongkrong seperti di atas kian banyak peminatnya. Tiada waktu dan tempat strategis yang steril dari anak nongkrong. Pagi-pagi mereka udah nongkrong di toilet. Berangkat sekolah udah mangkal di halte atau pinggir jalan nungguin angkot. Waktu istirahat sekolah yang cuma seperapat jam juga nggak boleh lolos dari aksi mejeng di kantin. Di mana pun, kapan pun, always mejeng en main-main. He..he..he..</p>
<p>Pulang sekolah giliran mal, plaza, atau pusat perbelanjaan yang kudu rela ditongkrongin mereka. Sampe rumah langsung deh betah nongkrongin Nirina atau Arie di MTV. Malemnya giliran La Liga, Lega Calcio, Liga Inggris Premiere atau Bundesliga yang ditongkrongin. Kalo perlu ampe dini hari. Wuiihâ€¦segitunya.</p>
<p>Besoknya, meski jam beker yang diset pukul 5 pagi ampe serak berteriak ngeba-ngunin, eh, bangun pukul 7 teng. Padahal masuk sekolah 7.15. Akhirnya waktu yang cuma lima belas menit itu dipake buat gosok gigi, cuci muka, cuci baju, eh cuci tangan trus cabut. Boro-boro mikirin sholat atawa sarapan.</p>
<p>Sampai di kelas pelajaran pertama udah dimulai. Pas ditanya pak guru kenapa datang telat? Jawabnya: â€œabisâ€¦waktu masuknya sih pak kependekan. Coba masuknya pukul delapan-an gitu, pasti deh nggak kesiangan.â€? Nah lho? Udah waktu luangnya dicuekkin, eh giliran kena batunya, waktu juga yang disalahin. Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, fenomena di atas cuma salah satu contoh dari sekian banyak kegiatan yang sering kita kerjain tapi miskin manfaat. Kita selalu ada waktu untuk bermain, ngeceng, â€?no-matâ€™ di twenty one, atau untuk window shopping di pusat perbelanjaan. Tapi kita sering ngerasa berat ngasih waktu kita meski sejenak untuk belajar, berdakwah, hadir di penga-jian, atau membantu orang tua di rumah. Acara malem mingguan udah disiapin seminggu sebelumnya. Se-mentara untuk ngerjain tugas sekolah atau beribadah kudu nunggu sampe waktu mepet. Alasannya sibuk. Sebenernya, kita nggak punya waktu luang atau nggak mau meluangkan waktu? Hayooâ€¦!</p>
<p>Pasti kita udah pernah ngerasain gimana sengsaranya ngerjain tugas dikejar-kejar waktu. Budaya SKS seolah udah mendarah daging. Begadang sampe larut ditemani sebungkus Star Mild, segelas Nescafe, dan hentakan musik Superman is Dead yang memecah keheningan malam. Malah kita ngerasa bangga dan hebat dengan hasil kerja kita yang digeber semaleman. Karena waktu luang kita abis buat maen. Padahal kita juga yang rugi. Payah deh!</p>
<p><strong>Waktu bagi seorang Muslim</strong><br />
Sobat muda muslim, udah dari sononya sang waktu akan terus berjalan bagaikan awan. Kadang kita suka bilang kalo waktu berlalu begitu cepat saat kita lagi happy. Baru kemaren naek kelas, eh, sekarang udah siap ngadepin ujian semester. Baru minggu kemaren kita gajian, minggu berikutnya udah siap-siap kasbon. Kita juga sering bilang kalo waktu jalannya lelet abis pas kita lagi sedih. Berlarut-larut dalam kesedihan. Padahal, itu semua cuma perasaan kita aja. Asli. Kalo nggak per-caya, coba aja perhatiin. Sampe kiamat pun, satu hari akan tetep 24 jam, 1440 menit, 86400 detik. Meski kita lagi sedih atau happy. Bener nggak seh?</p>
<p>Waktu yang udah kelewat pasti nggak bisa balik lagi. Meski udah di-undo beberapa kali (emangnya program Windows?). Di mana aja kita cari, waktu yang hilang nggak ada gantinya. Karena itulah waktu menjadi sangat ber-harga buat kita. Lebih berharga dari harta ter-mahal yang kita punya. Kita kudu pandai-pandai menjaga dan meman-faatkannya. Jangan sampe nasi keburu menjadi bubur terus pancinya kesenggol kucing dan tumpah di lantai dapur yang kotor. Rugi banget kan?</p>
<p>Makanya Rasulullah saw. ngingetin kita melalui sabdanya: â€œJika kalian bangun di pagi hari, janganlah mengharap akan (hidup) sampai sore; dan jika berada di waktu sore jangan berharap akan (hidup) sampai besok pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk (mempersiapkan) masa sakit, dan masa hidup untuk (menyiapkan bekal) kematian, seakan-akan kalian tidak tahu nama kalian besok pagi.â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Banyak yang bisa kita kerjain untuk memanfaatkan waktu. Saking banyaknya kadang kita bingung mana dulu yang musti diutamain. Sebagai seorang muslim, tentu kegiatan yang kaya manfaat dunia akhirat kudu jadi prioritas. Mumpung masih muda yang full tenaga en menggelora semangatnya. Supaya tiap hari ada peningkatan amal ibadah kita. Ini bisa kita dapetin kalo kita mau terus belajar. Baik wawa-san Islam atau pun ilmu umum. Isi hari-hari kita dengan berlomba-lomba dalam kebaikan (fasthabiqul khairat).</p>
<p>Nah, untuk urusan belajar dan fasthabiqul khairat, jangan sampe ditunda-tunda. Sebisa mungkin dikerjain sekarang, jangan tunggu besok. Karena kita nggak akan tahu apa yang bakal terjadi esok hari. Bisa jadi kita sakit atau pas jadwalnya â€?didatenginâ€™ malaikat Ijrail. Wah?</p>
<p><strong>Belajar dari para ulama</strong><br />
Waktu adalah sohib terbaik yang bakal nganterin kita menuju kesuksesan kalo kita bisa menghargainya. Dalam buku berjudul â€œNilai Waktuâ€?, sang penulis, Abdul Fattah Abu Ghuddah memaparkan kisah sukses para ulama Shalaf dan Khalaf yang menghargai waktu.</p>
<p>Bagi mereka, nggak ada yang lebih berharga dibandingkan waktu. Seperti dalam kisah Muhammad bin Salam, guru dari Imam Bukhari. Suatu kali ia asyik mendengar pelajaran dari gurunya, tiba-tiba pensil yang lagi dipake patah. Kontan ia langsung teriak â€œsiapa yang menjual pensil, aku akan membayarnya seharga satu dinar (mata uang berbentuk koin seberat 4,25 gr emas)!â€? Kalo diitung-itung, misal harga 1 gr emas = Rp 80 ribu, doi berani bayar Rp 340 ribu untuk sebuah pensil biar nggak ketinggalan pelajaran.</p>
<p>Mereka juga benci dengan orang-orang yang menyia-nyiakan waktu. Malah Imam Syafiâ€™i mengatakan orang yang kayak gitu, matinya lebih baik daripada hidupnya. Karena orang itu telah melewatkan peluang emas untuk ber-ibadah dan menabung pahala. Kalo gitu, apa bedanya dengan orang mati yang nggak punya kesempatan lagi buat nabung pahala? Catet!</p>
<p>Nggak heran kalo Ibnu Taimiyah sampe minta seseorang untuk membacakan kitab dengan suara keras. Agar dia bisa men-dengarnya dan nggak ada ilmu yang kelewat ketika dia sedang di dalam kamar mandi!</p>
<p>Saking tingginya penghargaan mereka terhadap waktu, diki-sahkan bahwa para ulama itu membiasakan sedikit makan dan tidur. Karena banyak makan bakal bikin ngantuk. Dan kalo udah ngantuk, pasti bawaannya males ngapa-ngapain. Apalagi untuk belajar. Pengennya tidur mulu. Padahal banyak tidur, menurut al-Qadhi Iyadh, merupakan ciri orang yang lemah dan nggak mau peduli ama urusan dunia akhirat. EGP banget tuh!</p>
<p>Sobat muda muslim, nggak salah kalo kisah para ulama itu banyak ngasih kita pelajaran berharga tentang waktu. Terbukti, penghargaan mereka terhadap waktu turut menjadikannya ulama terkemuka di dunia Islam. Nggak heran pula kalo mereka mampu menelorkan karya-karya yang spektakuler. Ambil contoh, tafsir buah tangan Abu Bakar Ibn al-Arabi berjudul Anwarul Fajr yang tebalnya sampe 80.000 halaman. T-O-P B-G-T?  deh!</p>
<p><strong>Bikin hidup lebih bermutu<br />
</strong>Kebayang nggak sih berapa banyak waktu yang udah kita sia-siakan sampe sekarang? Udah gitu, minim pula dari kegiatan untuk dunia dan akhirat. Padahal berapa banyak ilmu yang bakal kita dapet. Keterampilan yang bisa kita pelajari. Atau tabungan pahala yang dicicil tiap hari. Kalo kita sempatkan waktu untuk baca buku, mengulang pelajaran di sekolah, belajar komputer, bantu orang tua, ikut pengajian, puasa sunat, shalat sunat, atau berdakwah? Banyak buanget manfaatnya!</p>
<p>Nah, kalo kita pengen sukses, udah saatnya kita pake waktu yang Allah kasih sebaik-baiknya. Sebelum gigi kita pada ompong, kulit kita pada keriput, usia kita kian lanjut, dan ajal datang men-jemput. Mengisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Mulai mengenali bidang yang pengen kita geluti lebih jauh. Jangan biarkan kegiatan bikin tulisan, memasak, menjahit, ngoprek komputer, atau ngotak-ngotik motor cuma jadi hobi. Berikan waktu khusus dalam hidup kita untuk mempelajarinya. Percaya nggak percaya, di masa depan itu banyak membantu kita.</p>
<p>Tapi jangan sampe kelupaan ama tugas kita untuk beribadah kepada Allah ya? Kita bisa menabung pahala dengan selalu mengikuti aturanNya. Semakin kita dekat denganNya, semakin sayang Allah ama kita. Itu artinya, Dia akan selalu memberikan yang terbaik buat kita.</p>
<p>Karena itu, biasakanlah untuk meng-ingatnya di waktu-waktu luang kita. Saat istirahat sekolah pagi, bisa kita isi dengan shalat dhuha. Terbangun di malam hari dilan-jutkan dengan shalat tahajjud. Lengkapi juga dengan tilawah Quran baâ€™da maghrib dan shubuh. Nggak cuma beribadah ritual aja, kita juga kudu mengenali ajaranNya lebih dalam dengan ikut pengajian. Ditambah memberani-kan untuk mendakwahkannya kepada orang lain.</p>
<p>Oke deh, sekarang kita tinggal memu-lainya. Berlomba mengukir prestasi dunia dan akhirat. Meskipun waktu kita hanya sesaat. Insya Allah itu akan mendatangkan manfaat. Yakin deh, orang-orang yang telah sukses juga punya jumlah waktu yang sama ama kita. Seminggu 7 hari dan sehari 24 jam. Nggak lebih en nggak kurang. Pas. Karena itu berusahalah dan tetap semangat! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 188/Tahun ke-5/29 Maret 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menata-waktu-menuai-sukses/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemilu; Melanggengkan Demokrasi!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemilu-melanggengkan-demokrasi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemilu-melanggengkan-demokrasi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 04:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ke Lima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pemilu-melanggengkan-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kamu yang udah usia 17 tahun ke atas, kayaknya tahun ini punya hak untuk milih ya? Ehm, bukan cuma milih calon pasangan hidup, tapi juga milih mereka yang katanya mau memimpin negeri ini. Oke, jangan terburu-buru menggunakan hak pilih, jangan asal pilih, dan yang penting, jangan ikut-ikutan aja. Kudu ngeh segalanya. Setuju? Kudu! Jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kamu yang udah usia 17 tahun ke atas, kayaknya tahun ini punya hak untuk milih ya? Ehm, bukan cuma milih calon pasangan hidup, tapi juga milih mereka yang katanya mau memimpin negeri ini. Oke, jangan terburu-buru menggunakan hak pilih, jangan asal pilih, dan yang penting, jangan ikut-ikutan aja. Kudu ngeh segalanya. Setuju? Kudu! Jadi baca buletin kita edisi ini ampe tuntas..tas..tasâ€¦<span id="more-189"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, pesta demokrasi lima tahunan ini selalu menyita perhatian kita, selalu bikin was-was kalo suatu saat rusuh, selalu bikin meriah karena kita dapetin jatah dari parpol kontestan Pemilu, dan selalu mengumbar janji tanpa bukti. Suer, kagak bohong. Sumpeh Lo!</p>
<p>Ehm, kalo mo melek sedikit aja, kita bisa temuin tuh banyak dagelan alias bodoran dalam kampanye. Para jurkam sampe berbusa-busa menyampaikan pidatonya. Janji inilah, janji itulah. Pokoknya, bikin janji sebanyak-banyak-nya. Tapi buktinya? â€œKau yang berjanji, kau yang mengingkariâ€¦â€? Eh, dangdut banget neh!</p>
<p>Sebagian janjinya memang ditepati, tapi lebih kepada hal-hal teknis. Itu pun sebagai penghibur saja, setelah kemauannya tercapai. Di jaman baheula, waktu saya kecil, ada partai besar yang berkuasa saat itu. Kalo masuk desa, selalu saja para jurkamnya menjanjikan akan masuk listrik dan jalan akan diaspal untuk desa kami. Tapi ada syaratnya, yakni kudu milih partai tersebut dalam Pemilu. Pamrih banget!</p>
<p>Kontan aja, bagi rakyat jelata yang memang mendambakan semua itu, nggak pikir panjang lagi, apalagi tugasnya gampang banget, cuma nyoblos tanda gambar partai tersebut. Itu sebabnya, ketika di desa itu partai tersebut menang, nggak lama listrik masuk, jalan diaspal. Janjinya ditepati. Harapan para petinggi partai tersebut, lima tahun mendatang tetep bakal dipilih. Langgeng deh jadi penguasa.</p>
<p>Saat ini, haruskah semua ini terjadi lagi? Sayangnya, gejala ke arah sana sejelas siang hari tanpa mendung alias nyata banget. Partai-partai melakukan kampanye simpatik dengan membagi-bagikan sembako, malah ada yang menyediakan pangkas rambut gratis. Tujuan mulianya, untuk menarik calon pemilih berpaling ke partainya. Supaya nanti pas pemilu mencoblos gambar partai dan juga calegnya. Kalo yang nyoblos jumlahnya ribuan, apalagi jutaan, maka itu jelas akan menambah suara dukungan kepada partainya. Sambil berharap dapet suara mayoritas.</p>
<p>Sobat muda muslim, jangan mau ditipu lagi dengan janji-janji manis. Nantikan, bahwa pepatah â€œhabis manis sepah dibuangâ€? akan populer pasca Pemilu. Percaya nggak percaya, kamu kudu percaya. Sudah banyak buktinya. Lha wong sekarang yang berkuasa aja dulunya ngemis-ngemis suara sampe ngejual atas nama wong cilik. Eh, begitu pesta demokrasi bubaran, nasib wong cilik tetep terpuruk. Itu namanya mereka wong licik! Apa mau dibohongi lagi? Apa rela dikhianati lagi? â€œCukup sekali.. aku merasa kegagalan cin.. â€œ eh, kok malah nyanyi dangdut lagi he..he.he..</p>
<p>Mungkin di antara kamu ada yang protes bahwa Pemilu sekarang beda. Apalagi Pemilu seka-rang diikuti beberapa partai Islam yang tegas memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dan syariat Islam. Kasi-han dong kalo nggak dipilih, nanti partai sekular yang berkuasa lagi. Gimana tuh?</p>
<p><strong>Kita tak butuh demokrasi!<br />
</strong>Nah, ini jawaban kita. Kita hargai perjuangan teman-teman kita untuk menegakkan syariat Islam di mana pun termasuk di negeri ini. Tapi jangan lupa syariat kita dalam mengatur kehidupan kita. Nggak asal njeplak aja. Nggak cuma mengandalkan perasaan doang. Tapi nyatanya malah melanggar aturan Allah. Naudzubillahi min dzalik!</p>
<p>Sekadar intermezo, di kampung saya ada geng anak muda bernama Jibril. Jibril? Yup, kepanjangannya adalah Jiwa Berandal Ingat Ilahi. Gubrak! Kayak gimana ingat ilahi? Apa ketika hendak nenggak minuman keras baca doa dulu? Terus ketika sendawa bilang alhamdulillah? Walah, itu mah sama dengan mengaduk-ngaduk antara yang haq dengan yang bathil dong.</p>
<p>Memang antara perjuangan menegakkan syariat Islam melalui pemilu dalam sistem demokrasi nggak bisa disamain dengan geng anak muda tadi. Tapi alasan saya memasukkan contoh tadi dalam tulisan ini, adalah lebih menekankan, bahwa perbuatan kita nggak bisa cuma diukur dari jargon hebat dan islami, nggak juga dinilai dari niat baik saja. Kenapa? Karena jalan yang kita tempuh pun kudu ajeg mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Pendek kata, niat saja belum cukup, kalo caranya bertentangan dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Begicu&#8230;</p>
<p>Lho memangnya nggak boleh ya ikut pemilu dalam sistem demokrasi? Ehm, jawabannya cukup dengan kaidah syara ini: Wasilah (sarana) yang pasti menghantarkan kepada perbuatan haram adalah juga haram.</p>
<p>Sobat muda muslim, kayaknya kita udah ngelotok abis kalo ditanya demokrasi itu apa. Lidah kita udah fasih nyebutin bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Artinya apa? Rakyatlah yang berkuasa. Rakyatlah yang punya kedaulatan. Saking berkuasa dan berdaulat, maka rakyat (melalui wakilnya yang udah dipilih dalam Pemilu) akan memerintah suatu negara, termasuk membuat undang-undang untuk mengatur kehidupan umat manusia. Ini yang jadi masalahnya, Bro!</p>
<p>Why? Begini, dalam sistem politik demokrasi sekuler, wakil rakyat sebagai penetap hukum, dianggap mampu mene-tapkan apa yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Padahal belum tentu yang dinyatakan baik itu benar-benar baik dan yang dinyatakan buruk juga benar-benar buruk, karena mereka adalah manusia biasa yang pengetahuannya sangat terbatas.</p>
<p>Kenyataannya, banyak sekali yang disangka baik padahal buruk, sedang yang disangka buruk padahal baik. Begitu juga pemberian mandat atau kepercayaan kepada pemerintahan sekular yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), memilih presiden, dan memberikan pengesahan terhadap berbagai kesepakatan, perundang-undangan, dan berbagai perjanjian, merupakan wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan pada keharaman. Jadi kudu ati-ati. Jangan libatkan dirimu dalam dosa dan kemaksiatan, sobat!</p>
<p>Allah Swt. menyatakan: â€œBarang siapa tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), maka mereka termasuk orang-orang kafir.â€? (QS al M?¢â€™idah [5]: 44)</p>
<p>Terus, wakil rakyat kan duduknya di legislatif alias lembaga pembuat undang-undang dalam sistem sekular ini, maka, keberadaan mereka di sana untuk membuat undang-undang udah jelas-jelas â€?nantanginâ€™ Allah. Duh, jangan sampe deh!</p>
<p>Gimana nggak, sebab dalam pandangan Islam, manusia nggak berhak membuat hukum dan undang-undang untuk ngatur kehidupan ini, tetapi yang berhak membuat hukum perundang-undangan hanyalah Allah Swt. Allah berfirman: â€œKeputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. (QS Y?»suf [12]: 40)</p>
<p>Oya, kamu juga kudu paham. Bahwa seluruh keputusan yang diambil di parlemen dalam sistem demokrasi ini menggunakan voting. Lha, kalo yang udah jelas haram terus masih juga dilakukan voting, gimana urusannya?</p>
<p>Sebab, menurut sistem demokrasi, kepu-tusan di parlemen senantiasa diambil ber-dasarkan keputusan mayoritas. Jadi, meskipun nanti di parlemen duduk wakil dari parpol Islam, dan berusaha untuk menerapkan syariat Islam, maka ini nggak bisa suka-suka tuh.</p>
<p>Tapi kudu mendapat restu suara mayoritas. Kalo suara mayoritas menghendaki, maka berlakulah syariat Islam, begitu juga sebaliknya. Dalam hal ini, penerapan syariat Islam hanya menjadi salah satu pilihan (option) bukan satu-satunya pilihan yang wajib dilaksanakan atas dasar keimanan, ketundukan, dan kepatuhan terhadap hukum Allah, tanpa memperhatikan hal-hal lain.</p>
<p>Jadi pertanya-annya, layakkah ma-nusia melaksanakan hukum Allah, karena dianggap sebagai hukum yang diterima oleh mayoritas me-reka, bukan karena dibangun berdasarkan keimanan kepadanya, sebagai perintah dan larangan dari Allah Swt? Padahal, Allah Swt. berfirman: â€œDemi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan atas putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS an-Nis?¢â€™ [4]: 65)</p>
<p>Sobat muda muslim, dengan demikian, kita nggak butuh demokrasi untuk menerapkan syariat Islam. Selain banyak gagal, seperti yang dialami FIS di al-Jazair dan Partai Refah di Turki, juga terlibat di dalamnya diharamkan dalam Islam. Tegas aja deh. Toh juga sekarang kaum sekular tegas juga dalam kemaksiatan. Masalahnya, kitanya yang jangan tergoda untuk ikutan senewen. Harusnya, kita tegas juga dalam kemaslahatan dan ketundukan kepada aturan Allah. Betul?</p>
<p>Kayaknya tepat firman Allah Swt.:â€?Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang uru-san mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka se-sungguhnya dia akan sesat, sesat yang nyataâ€? (QS al-Ahzab [33] : 36)</p>
<p><strong>Kobarkan revolusi!</strong><br />
Kalo anak-anak punk yang masih kental banget dengan ide sosialismenya berani berkoar menentang kapitalisme-sekularisme, kenapa kita juga nggak berani mengobarkan perang melawan kapitalisme-sekularisme, bahkan kita sekaligus menentang sosialisme-komunisme? Ideologi Islam wajib kita emban untuk mengalahkan ideologi kufur lainnya. Caranya? Tentu bukan bermanis-muka dan pasrah aja ngikut aturan kapi-talisme. Tentu bukan pula rela terlibat dalam arena atau wadah yang dibuat untuk melanggeng-kan sistem itu. Kita tawarkan revolusi!</p>
<p>Revolusi kayak gimana Mas? Begini, yang harus kita lakukan saat ini adalah mengkampanyekan Islam sebagai ideologi yang wajib diterapkan oleh negara.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita sebaiknya melihat sejarah perjuangan Rasulullah saw. Nah, waktu itu Rasulullah gencar melakukan aktivitas dakwah politis. Di antaranya, Pertama, pemantapan akidah Islamiyyah (tatsqif wa al-takwin). Akidah sebagai asas perbaikan individu, asas perbaikan masyarakat, dan asas penyelenggaraan negara.</p>
<p>Kedua, Rasulullah dan para sahabat melakukan pergulatan pemikiran (shiraaâ€™u al-fikri); yakni membantah hujjah orang-orang kafir dan menyerang pemikiran-pemikiran serta akidah-akidah mereka. Ketiga, Rasulullah menerapkan perjuangan politik (kifahu al-siyaasi), menentang pembesar dan pemimpin mereka dan membongkar rahasia rencana serta konspirasi mereka. Selanjutnya, Rasulu-llah saw dan para sahabatnya menyerang hubungan yang rusak di antara anggota masya-rakat serta adat istiadat yang telah usang yang mengatur masyarakat mereka.</p>
<p>Terakhir, Rasulullah saw dan para sahabat bersabar. Bahkan Allah meneguhkan hati Rasulullah dan orang-orang mukmin dengan kisah-kisah dan janji Allah yang sangat dirin-dukan berupa kemenangan dan kedudukan di muka bumi. Jadi, berjuang dan bersabar ya.</p>
<p>Cara seperti inilah yang harus kita perjuangkan. Kita giatkan revolusi berpikir di tengah-tengah umat ini. Agar umat paham dengan apa yang kudu mereka lakukan. Yakni, hanya tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan RasulNya. Jangan dibiarkan ikut larut dalam aturan main yang mereka buat. Pemilu dalam sistem demokrasi seperti sekarang, adalah jebakan untuk kita, umat Islam. Hati-hati dalam pemilu yang keliru ini. Jangan nekatz berjuang di jalan yang salah, jika tidak ingin bernasib seperti saudara kita yang tergabung dalam FIS dan Partai Refah. Jadikan pelajaran berharga.?  Mari berjuang dan rapatkan barisan. Islam pas-ti menang tanpa harus ikut pemilu dalam bingkai demokrasi. Kobarkan revolusi demi tegak-nya Khilafah Islamiyah. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 187/Tahun ke-5/22 Maret 2004</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemilu-melanggengkan-demokrasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
