<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Buletin Studia Tahun ketiga</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-studia/buletin-studia-tahun-ketiga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Setiap Habis Ramadhanâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/setiap-habis-ramadhan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/setiap-habis-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 10:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/setiap-habis-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[Hmmâ€¦ jadi inget syair lagunya Bimbo, Setiap Habis Ramadhan. Syairnya begitu syarat makna dan mendalam. Beberapa bait bunyinya begini: Setiap habis ramadhan/ hamba rindu lagi ramadhan/ Saat-saat padat beribadah/ tak terhingga nilai mahalnya/ setiap habis ramadhan/ hamba cemas kalau tak sampai/ umur hamba di tahun depan/ berilah hamba kesempatanâ€¦.
Sobat muda muslim, nggak terasa bulan Ramadhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hmmâ€¦ jadi inget syair lagunya Bimbo, Setiap Habis Ramadhan. Syairnya begitu syarat makna dan mendalam. Beberapa bait bunyinya begini: Setiap habis ramadhan/ hamba rindu lagi ramadhan/ Saat-saat padat beribadah/ tak terhingga nilai mahalnya/ setiap habis ramadhan/ hamba cemas kalau tak sampai/ umur hamba di tahun depan/ berilah hamba kesempatanâ€¦.<span id="more-127"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, nggak terasa bulan Ramadhan udah berada di akhir perjalanannya. Padahal, kayaknya baru kemarin kita bergembira dengan datangnya Ramadhan. Padahal, rasanya baru kemarin kita mengawali indahnya sahur dan buka pertama dalam puasa kita. Padahal, rasanya baru kemarin pula kita sama-sama ikutan tarawih pertama berjamaah di masjid. Begitulah. Waktu memang berjalan tanpa kompromi. Meninggalkan kita. Nggak peduli kita lagi ngapain. Mau yang sedang memanfaatkannya atau malah yang getol membuang percuma kesempatan. Semua ditinggalin tanpa ampun.</p>
<p>Kita pantas merenung. Di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini, waktu yang tersisa buat kita, apa yang akan kita lakukan? Menghitung hari seperti kemarin dengan tanpa ada aktivitas amal sholeh? Atau sekadar mengisinya dengan hal-hal yang amat jauh dari nilai-nilai Islam? Rasanya, kita semua udah pada tahu, apa yang harus kita lakukan. Tapi celakanya, kita juga seringkali lalai dengan apa yang seharusnya kita lakukan. Hati-hati yoâ€¦</p>
<p>Kita tahu bahwa puasa adalah wajib. Kita yakin (meski dengan keyakinan seadanya), bahwa kalo nggak puasa kita akan berdosa. Namun, ternyata dalam praktiknya ada saja yang error. Selalu saja ada sebagian besar dari kita, yang ternyata masih melalaikan puasanya. Siang hari masih bebas makan dan minum. Emang sih, yang barangkali masih punya â€?setitikâ€™ rasa malu tapi besar hawa nafsunya, ia akan makan dan minum di warung-warung yang tertutup kain. Kalo yang bebal mah, alias muke tebel, cuek aja â€?cacaplukâ€™ di siang hari secara terang-terangan juga. Aduh, ini kok kayaknya nggak takut dosa gitu lho. Ckckckâ€¦</p>
<p>Sobat muda muslim, bagi kita-kita yang mengawali dan mengisi Ramadhan ini dengan harapan ridho Allah, tentunya ingin selalu mendapat kesempatan emas dalam beribadah kepada Allah. Apalagi di bulan Ramadhan, di mana banyak kaum muslimin berlomba mengumpulkan pahala untuk meraih derajat takwa. Nggak heran jika semua merasa Ramadhan adalah saat-saat padat beribadah. Rasulullah saw. jika Ramadhan tiba, beliau adalah orang yang paling dermawan.?  Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw. adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan. Kedermawanannya meningkat pada bulan Ramadhan, yaitu ketika beliau bertemu dengan malaikat Jibril. Disebutkan bahwa kedermawanan beliau melebihi kecepatan angin bertiup. Duh, betapa mulianya Ramadhan&#8230;</p>
<p><strong>Senang, sedih, dan cemas&#8230;<br />
</strong>Sobat muda muslim, jika setiap habis Ramadhan, gimana sih perasaan hatimu? Senang, sedih, cemas? Kayaknya gampang-gampang susah menjawab pertanyaan model begini. Sebab memang sulit memisahkan perasaan itu sendiri-sendiri. Maklum, ketika berakhirnya Ramadhan banyak perasaan yang muncul di hati kita. Bercampur jadi satu.</p>
<p>Perasaan senang muncul karena setidaknya kita merasa berhasil telah lolos dari medan ujian yang berat sebagai pemenang. Benar-benar sangat berat. Sebab, selain harus menahan diri dari rasa lapar yang mengiris-ngiris lambung kita, selain harus menahan haus yang terasa mengeringkan kerongkongan kita, juga kita dituntut oleh Allah Swt. untuk mengendalikan hawa nafsu kita. Tujuannya, agar puasa kita juga dibarengi dengan tambahan pahala yang lain dari Allah Swt.</p>
<p>Perasaan sedih juga muncul dari kita. Kenapa sedih dengan berakhirnya Ramadhan? Karena kita kehilangan kesempatan emas untuk menanam pahala di bulan tersebut. Sedih rasanya merasakan perpisahan dengan bulan yang telah dimuliakan Allah sebagai tempat untuk â€?menimbunâ€™ pahala. Lebih sedih lagi kalo kita sampe tak mendapat apa-apa di bulan Ramadhan ini, kecuali rasa lapar dan haus. Atau lebih rugi lagi adalah nggak dapat apa-apa. Termasuk nggak dapat pahala puasa karena memang nggak puasa. Duh, rugi berat deh.</p>
<p>Rasa cemas juga kerap muncul dari kita. Khususnya bagi kita-kita yang memang telah mengisi Ramadhan tahun ini dengan segala aktivitas amal sholeh kita. Sehingga setiap habis Ramadhan, yang dirindukan adalah kembali bisa menikmati Ramadhan di tahun depan. Namun, ada kecemasan yang menggunung manakala menyadari dan khawatir jika usia kita nggak sampe di Ramadhan berikutnya. Harapan dan kecemasan bercampur jadi satu. Sampe kita sendiri nggak tahu, apa sebetulnya yang kita inginkan. Sebab, antara harapan dan kecemasan kelihatannya saling melengkapi. Setiap kali kita berharap, selalu saja ada kecemasan, meski sekecil apapun rasa cemas itu.</p>
<p>Sobat muda muslim, perasaan-perasan tadi muncul secara wajar dalam diri kita. Alhamdulillah, moga kita menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Tapi jika sebaliknya, yakni kita tak pernah merasa senang, sedih, apalagi cemas dengan habisnya Ramadhan ini, wah, pantesnya kita mulai mengukur diri tuh. Sudah seberapa pantas menjadi seorang muslim. Dan itu berarti pula kita adalah termasuk manusia super cuek, nggak peduli dengan masa depan kita sendiri. Sungguh keras hati kita jika tak pernah ada ungkapan dari perasaan hati kita ini. Meski cuma diungkapkan setitik saja. Ah, rasanya kita pantas untuk â€?dimurkaiâ€™ Allah. Naudzubillahi min dzalik!</p>
<p>Padahal sobat, kita pantesnya malu sama Allah. Pantas â€?berhutangâ€™ kepada Allah. Betapa banyak rizki dari Allah yang telah kita makan. Betapa bejibun nikmat Allah yang telah kita rasakan. Betapa tak ternilai harganya ketika Allah menjadikan kita sebagai seorang muslim. Sebab, menjadi muslim, adalah petunjuk dari Allah. Itu adalah hidayah-Nya. Dan itu tak semudah membalikkan telapan tangan.</p>
<p>Barangkali kita nggak merasakan tantangannya ketika menjadi muslim. Sebagian besar dari kita menjadi muslim karena memang lahir di keluarga muslim. Bayangkan jika kamu mendapatkan hidayah Allah ini berkat perjuangan yang melelahkan antara hidup dan mati.</p>
<p>Saâ€™ad bin Abi Waqqash, salah seorang sahabat Rasulullah, begitu berat menghadapi kenyataan ketika beliau menjadi muslim. Sang ibu melakukan protes keras dengan mengancam akan melakukan mogok makan sampe tuntutannya agar Saâ€™ad kembali ke agama nenek moyangnya dipenuhi Saâ€™ad. Tapi Saâ€™ad tak mudah untuk tergoda lagi. Berat bukan? Begitupun dengan Amr bin Yassir, yang harus rela melihat dengan mata-kepalanya sendiri orangtuanya menemui ajal di tangan orang-orang kafir Quraisy karena mempertahankan keyakinan mereka tentang Islam. Begitu pula, pernahkah kamu membayangkan bagaimana menderitanya Salman al-Farisi yang berusaha mencari kebenaran. Sempat pindah-pindah keyakinan sebelum akhirnya istiqomah dengan Islam. Saking istiqomahnya dengan Islam, beliau rela hidup menderita untuk membela Islam.</p>
<p>Wajar kan, jika nilai keimanan beliau-beliau boleh dibilang sangat mahal ketika â€?membelinyaâ€™. Amat beda dengan kita yang langsung instan. Karena memang lahir dan dididik di lingkungan keluarga muslim. Tapi walau bagaimanapun juga, ini merupakan hidayah dari Allah juga. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya. Salah satunya adalah dengan taat terhadap apa yang diturunkan Allah Swt. kepada kita. Wajib tunduk dan patuh terhadap perintahNya.</p>
<p><strong>Peduli kita untuk mereka&#8230;</strong><br />
Sobat muda muslim, selain kita mengukur apa yang telah kita lakukan di bulan pernah berkah, rahmat, dan ampunan ini, juga kita tumpahkan energi peduli kita untuk teman-teman yang masih tetap â€?istiqomahâ€™ dalam kemaksiatannya. Nggak jarang kita jumpai, saudara kita yang masih berprinsip â€œsemau gueâ€? dalam berbuat. Malah tetep maksiat meski di bulan suci dan mulia ini. Astaghfirullah.</p>
<p>Kepada mereka, sikap peduli layak kita berikan. Tentu ini sebagai tanda kasih kita kepada mereka. Sebagai tanda cinta kita kepada mereka. Sebab kita adalah saudara seakidah. Bedanya, kita sudah mulai ingin benar dalam hidup ini, teman-temanâ€”yang karena keterbatasan ilmunyaâ€”masih betah maksiat.</p>
<p>Kita pantas cemas menyaksikan polah teman-teman yang menjalani puasa hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum doang. Sementara,?  mereka tetep keukeuh pacaran, tetep membuka auratnya, tetep tidak mengontrol mata, telinga, dan hatinya dari perbuatan kotor dan nista. Kita khawatir banget, jangan-jangan, cuma mendapatkan rasa lapar dan haus dari puasanya itu. Rugi deh. Rasulullah saw. bersabda: â€œBetapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahagaâ€??  (HR Ahmad)</p>
<p>Kita pun pantas prihatin dengan kondisi masyarakat ini. Saat ini, masyarakat sepertinya sederhana saja memandang kehidupan ini. Ringan aja menghadapi dinamikanya. Kita sedikit meragukan jika masyarakat ini masih menyimpan rasa peduli akan kebenaran. Sebab, buktinya banyak yang menyepelekan kebenaran. Individu memang banyak yang berbuat salah. Tapi yakinlah, ini akibat dari lingkungan tempat hidupnya. Sudahlah takwa individu carut marut, dan ini jumlahnya banyak, eh, masyarakat secara umum juga udah terbiasa dengan kemaksiatan yang berlangsung dalam kehidupannya. Bahkan celakanya ada yang sampe menganggap bahwa itu emang bagian dari kehidupan sekarang. Individu dan masyarakat yang udah jebol ini makin diperparah dengan kedodorannya negara dalam mengatur rakyat. Karuan aja, makin surem aja deh kehidupan nih.</p>
<p>Itu sebabnya, meskipun kita gembar-gembor mengkampanyekan untuk melakukan perbaikan individu. Tapi dalam waktu yang bersamaan nggak dibarengi dengan mengubah masyarakat, maka kemungkinan besar akan mengalami kegagalan. Sebab, masalah akan terus berputar di situ. Jadi, mari ubah individu, dengan melakukan perubahan terhadap masyarakat. Jadikan masyarakat ini sebagai masyarakat Islam. Masyarakat yang diatur dalam negara yang menerapkan syariat Islam.</p>
<p>Dengan begitu, kita tak perlu cemas, sedih, dan prihatin lagi menyaksikan kondisi kaum muslimin saat ini. Bukan hanya setiap habis Ramadhan, tetapi sepanjang waktu. Sebab, semuanya udah benar. Tinggal diarahkan aja. Sekarang? Kita harus membenarkan sekaligus mengarahkan. Relatif berat bukan?</p>
<p>Oke deh, moga-moga kita nggak cemas dan prihatin lagi setiap habis Ramadhan gara-gara mikirin kondisi umat ini. Tapi ya, selama kita hidup di bawah sistem kapitalisme seperti sekarang ini, kehidupan senantiasa diliputi rasa cemas, dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk saat seperti ini, setiap habis Ramadhan. Cemas, kalo umat ini akan balik bejat lagi setelah Ramadhan berlalu. Ya, jangankan nanti, saat Ramadhan aja masih banyak yang memamerkan kesombongannya dengan nggak mau taat kepada aturan Allah dan RasulNya.</p>
<p>Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang mendapat berkah, rahmat, dan ampunan. Dan senantiasa memohon kepada Allah agar kita digolongkan kepada orang-orang yang berjuang demi tegaknya syariat Islam di muka bumi ini. Sekali lagi kita ngingetin, mari ubah individu dengan melakukan perubahan terhadap masyarakat. Setuju kan? Harus Setuju!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 125/Tahun ke-3/25 Nopember 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/setiap-habis-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Ada Noda di Ramadhan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-noda-di-ramadhan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-noda-di-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 10:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jangan-ada-noda-di-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[Eko Patrio bareng Ulfa Dwiyanti mandu acara Sahur Kita di SCTV. Lengkap dengan gaya â€?norakâ€™ dan nyablaknya yang memang lengket masket dengan pribadi mereka. Boleh dibilang dua orang ini memang klop dalam urusan ngocol. Hampir tiap pagi Eko dan Ulfa menemani kita makan sahur (tentu bagi yang tune in di stasiun SCTV dong). Penonton senang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eko Patrio bareng Ulfa Dwiyanti mandu acara Sahur Kita di SCTV. Lengkap dengan gaya â€?norakâ€™ dan nyablaknya yang memang lengket masket dengan pribadi mereka. Boleh dibilang dua orang ini memang klop dalam urusan ngocol. Hampir tiap pagi Eko dan Ulfa menemani kita makan sahur (tentu bagi yang tune in di stasiun SCTV dong). Penonton senang, karena dihibur dua makhluk ini. Hasilnya, acara yang dipandu komedian ini tetap mendapat tempat di hati pemirsa. Lihat saja iklan yang nangkring di acara itu bejibun banget. Itu salah satu tanda kalo acara tersebut berhasil merebut perhatian pemirsa. Konon, Eko dan Ulfa tetep betah memandu acara itu karena honornya juga kenceng.<span id="more-126"></span></p>
<p>Taufik Savalas, Elma Theana, dan Dik Doank nggak ketinggalan ikutan menyemarakkan tayangan Ramadhan. Beliau-beliau ini tampil di RCTI membawakan acara Salam Mesra (Satu dalam Kemesraan Ramadhan). Bodoran khas Taufik juga bikin pemirsa betah menontonnya.</p>
<p>TPI, stasiun pendidikan yang kini berubah jadi televisi hiburan untuk keluarga juga nggak mau ketinggalan. Stasiun televisi milik Mbak Tutut ini setiap sahur memasang Peggy Melati Sukma, Topan, dan Leysus di acara Mozaik Ramadhan. Hasilnya, acara ini pun bersaing ketat dengan tayangan sejenis di televisi lain. Seleb lain seperti Bang Miing, Didin, Parto, Akrie, dan Mbak Maudi Koesnaedy sering nongol di Trans TV lewat acara Yuk Sahur Yuk.</p>
<p>Tayangan sinetron Ramadhan juga masih laku keras. Jalan Lain Ke Sana yang didukung Kang Syahrul Gunawan, Alya Rohali, Enno Lerian, dan bintang lainnya, menjadi andalan stasiun SCTV untuk menarik perhatian pemirsa setianya. Alung, yang dibintangi Billy Glenn cukup mendapat tempat di hati penonton. Apalagi di sinetron itu bercokol para artis lainnya; di antaranya Gito Rollies dan Ineke Koesherawaty. Mas Deddy Mizwar juga nggak ketinggalan main untuk sinetron Lorong Waktu 3 di SCTV. Di TPI ada sinetron Doa dan Cinta, dan di Indosiar menggelar Doa dan Anugerah. TV7, stasiun televisi milik grup usaha Kelompok Kompas Gramedia menggelar sinetron Ramadhan berjudul Jendela Hati yang Terbuka.</p>
<p>Sobat muda muslim, di satu sisi, tentunya kita merasa senang juga bahwa kalangan seleb mau menunjukkan identitas kemuslimannya di bulan suci ini. Terlepas dari niat pribadi masing-masing, yang penting beliau-beliau ini udah menunjukkan kepada pemirsa bahwa ia, paling nggak, ingin menjadi pihak yang mengisi Ramadhan dengan baik. Konon kabarnya mereka juga terus terang mengaku bahwa keterlibatannya dalam acara-cara Ramadhan di televisi tersebut adalah untuk membantu syiar Islam. Semoga saja memang demikian adanya. Wallahuâ€™alam.</p>
<p>Namun sobat, belajar dari pengalaman sebelumnya, ternyata kalangan seleb yang biasa tampil di acara sejenis tahun kemarin aja, â€?nyadarnyaâ€™ pas Ramadhan doang. Bulan syawal dan seterusnya kembali â€?senewenâ€™ dengan kelakuannya. Secepat kilat berubah wujud. Secepat kilat pula berubah jadi liar. Yang tadinya tampil manis dengan kerudung, bahkan ada juga seleb yang menutup tubuhnya dengan jilbab, tapi begitu Ramadhan selesai, mereka kembali ke â€?habitatâ€™ awalnya; amburadul!</p>
<p>Aduh, sayang banget ya? Kenapa musti begitu rupa kelakuan para seleb? Aduh, bukan kita sok suci, apalagi sok alim kalo kita ngomentarin kelakuan mereka. Justru kita peduli dan kasihan juga sama mereka. Sebab, penghibur adakalanya nggak bisa lepas dari tuntutan skenario meski itu kudu bertentangan dengan tuntunan syariat. Celaka dua belas ini mah!</p>
<p><strong>Mereka menodai Ramadhan</strong><br />
Hmm&#8230;ini bukan maksud kita nantangin kaum seleb. Nggak. Kita sekadar berbagi rasa peduli, dan juga mungkin empati terhadap Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang kebetulan jadi seleb. Risiko jadi seleb memang harus kehilangan privasi, selain tentunya jaminan ngetop dan beken udah di depan mata. Dua â€?risikoâ€™ yang kudu dijalani oleh seorang selebriti.</p>
<p>Sobat muda muslim, kalangan seleb yang bisa kita saksikan di setiap tayangan televisi di rumah kita, memang tampil alim dan sopan di bulan Ramadhan, tapi begitu Syawal tiba, banyak di antara mereka yang kembali maksiat. Aduh, jangan sampe deh kamu-kamu mah ya? Emang sih, nggak cuma artis yang begitu, dari kalangan kita juga sama. Cuma nggak diekspos aja tuh. Maklum, bukan bahan berita. Kalo seleb kan hampir seluruh kegiatanya layak jadi berita.</p>
<p>Bahkan sebetulnya, sebagian besar dari gaya kaum seleb yang mengisi acara Ramadhan saat ini lebih banyak yang bikin rancu ajaran Islam. Ambil contoh sinetron Jalan Lain Ke Sana. Kak Gun yang juga ngetop di film Pernikahan Dini berperan sebagai ustadz muda dari desa yang mengembara di kota, lengkap dengan lika-liku laki-laki yang tak laku-laku (upppsss, sori deh, he..he..he..) di sinetron garapan Pak Chairul Umam itu. Dalam sinetron itu masih ada?  bias, bahkan rancu dan racun bagi remaja. Gimana nggak, masak Jaka (ustadz muda) yang diperani oleh, Syahrul Gunawan itu ternyata â€™ngajarinâ€™ juga hubungan bebas atara laki dan wanita. Tepatnya?  ngasih peluang pemirsa untuk bisa berbuat salah (baca: ngasih legalisasi). Coba, kalo kayak gini, rasanya sulit banget bagi kita untuk tidak mengatakan bahwa?  kaum seleb bersih. Sebaliknya, duh nggak tega deh nyebutnyaâ€¦.ihik..ihik..</p>
<p>Dan biasanya kaum seleb juga ogah kalo kudu menuai badai kritik dari pemirsanya. Karena dianggap pemirsa udah terlalu lancang menjamah ruang pribadinya. Bahkan nggak segan ada kaum seleb yang mengatakanâ€”untuk menutupi kebejatannyaâ€”bahwa itu adalah hak asasi manusia. Jadi, orang lain nggak punya hak itu mengatur kehidupan orang lain. Titik. Suka-suka, yang penting asyik. Sekali lagi.. asyik!</p>
<p>Kalo gitu, kita juga mau ngasih masukan sama Mbak dan Mas kalangan seleb, bahwa silakan saja sibuk dengan urusan Mbak dan Mas, tapi inget lho dengan Allah Swt., jangan sampe kita mendapat murka-Nya. Allah itu murka, jika kita juga udah bikin Dia murka. Salah satunya, dengan kelakuan buruk yang kita tampilkan. Jadi mohon segera sadar.</p>
<p>Memang bukan cuma kalangan seleb papan atas yang sering tampil di acara Ramadhan itu, tapi hampir semua seleb, termasuk kelas â€?ecek-ecekâ€™, boleh dibilang punya catatan rekor jelek juga untuk urusan label â€?selebriti bunglonâ€™. Maksudnya, saat Ramadhan tiba, mereka berlomba-lomba untuk tampil dan menghibur pemirsa. Sangkaannya, yang penting pemirsa senang, dia senang, dan tentunya semua senang. Selesai Ramadhan, setumpuk kertas perjanjian untuk ditanda-tangani dalam berbagai tayangan lengkap dengan segala tuntutan skenario menjadi hal sulit yang biasanya menjadi alasan untuk kembali tampil senewen. Maklum, sebagai peghibur, mereka merasa bahwa hidupnya sudah dimiliki penggemar dan pembuat skenario. Alamaaaak..!</p>
<p>Inilah yang kita bilang, bahwa tingkah polahnya itu malah menodai kesucian Ramadhan itu sendiri. Padahal kita juga ngotot ingin bisa menjadi baik. Nggak mau juga kalo tontonan kita sekalipun, dan sekecil apapun dijejali dengan racun buat pemikiran kita. Memang sih, aktivitas mereka itu kagak bikin puasa kita-kita batal dalam pengertian menahan rasa lapar dan haus, tapi, kelakuan Mbak dan Mas kalangan seleb yang ikutan gabung mengisi program acara Ramadhan itu udah menodai kesucian Ramadhan. Tentu dengan ragam kegiatan dan gayanya ketika mengisi acara tersebut. Apalagi kalo di situ kudu di-match-kan antara ucapan dan perbuatan. Malu dong kalo sampe tulalit antara teori dan praktik. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ƒ???¨???±?? ?…???‚?’???‹?§ ?¹???†?’?¯?? ?§?„?„?‘???‡?? ?£???†?’ ?????‚???ˆ?„???ˆ?§ ?…???§ ?„?§?? ???????’?¹???„???ˆ?†??<br />
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (TQS ash-Shaff [61]: 3)</p>
<p><strong>Nggak mau dong salah terus&#8230;<br />
</strong>Sobat muda muslim, jawaban yang sering muncul dari kalangan seleb (termasuk kita-kita) ketika kelakuan salahnya dikritik orang adalah, â€œKita kan manusia biasa, nggak bisa lepas dari kesalahanâ€?. Barangkali, jawaban â€?saktiâ€™ seperti itu bisa menenangkan penggemarnya, utamanya yang masih awam. Tapi tentunya nggak berlaku buat kaum muslimin yang memang kritis. Boleh jadi pernyataannya itu adalah salah satu bentuk dari upaya pembelaan diri. Tul nggak?</p>
<p>Emang sih, paling enak itu berlindung di balik itu. Dulu aja banyak artis ngeles ketika dikritik soal penampilannya yang kelewat seronok berlindung di balik pernyataan bahwa itu adalah tuntutan skenario, bahwa itu trik kamera saja, dan inilah risiko sebagai penghibur. Aduh, kita pikir itu memang alasan yang sebenarnya nggak bisa dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Benar, kalo dikatakan bahwa manusia itu tempatnya salah dan dosa. Jadi, manusia memang punya potensi untuk bisa berbuat salah dan juga baik. Itu artinya, manusia dimaklumi jika berbuat salah. Sebab, nggak ada manusia yang salah selamanya dalam hidupnya, begitupula nggak ada manusia yang benar terus selama hidupnya. Hanya saja, kita juga nggak mau kalo terus menerus dalam kesalahan. Pengennya sih baik terus, supaya kita terpacu untuk selalu benar sesuai ajaran Islam. Karena memang ada pahala di sisi Allah untuk orang-orang yang berbuat baik.</p>
<p>Bicara soal kalangan seleb yang kebetulan bermasalah dalam gaya hidupnya selama ini, khususnya yang â€?berubahâ€™ di bulan Ramadhan, untuk kemudian â€?berubahâ€™ lagi di bulan lainnya, kita cuma bisa berpesan, bahwa jangan merasa bahwa kelakuannya itu bisa menjamin untuk tidak dihisab oleh Allah Swt. Manusia bisa saja mengelabui manusia lain, tapi Allah Swt. nggak akan bisa dikibulin. Jadi nggak bisa lolos dong. Dan tentunya Mas dan Mbak kaum seleb, kudu merasa bahwa apa yang menjadi tingkah lakunya bakalan ditiru ribuan penggemarnya di seluruh tanah air. Jika Mas dan Mbak kalangan seleb berbuat salah, dan kemudian kesalahan itu diikuti oleh penggemar lainnya, aduh, nggak kebayang deh betapa besar dosanya. Dan sebaliknya, jika mengajarkan kebaikan, lalu diikuti oleh orang lain, maka insya Allah akan bertambah banyak pahalanya.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p>?…???†?’ ?³???†?‘?? ?³???†?‘???©?‹ ?­???³???†???©?‹ ?????¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?ƒ???§?†?? ?„???‡?? ?£???¬?’?±???‡???§ ?ˆ???…???«?’?„?? ?£???¬?’?±?? ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?„?§?? ?????†?’?‚???µ?? ?…???†?’ ?£???¬???ˆ?±???‡???…?’ ?´?????’?¦?‹?§ ?ˆ???…???†?’ ?³???†?‘?? ?³???†?‘???©?‹ ?³?????‘???¦???©?‹ ?????¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?ƒ???§?†?? ?¹???„?????’?‡?? ?ˆ???²?’?±???‡???§ ?ˆ???ˆ???²?’?±?? ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?¨???‡???§ ?…???†?’ ?¨???¹?’?¯???‡?? ?„?§?? ?????†?’?‚???µ?? ?…???†?’ ?£???ˆ?’?²???§?±???‡???…?’ ?´?????’?¦?‹?§<br />
Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikitpun, (HR. Ibnu Majah)</p>
<p><strong>Apa yang bisa kita lakukan?</strong><br />
Sobat muda muslim, paling nggak ada tiga hal yang bisa kita lakukan dalam menyikapi masalah ini. Pertama, kita menyeru kepada kalangan seleb supaya menghentikan prinsip â€?bunglonâ€™. Jadikan Ramadhan kali ini sebagai momen yang tepat untuk mengubah diri. Nggak sulit kok, asal kita mau, insya Allah dimudahkan oleh Allah Swt. Allah akan menolong orang-orang yang mencari kebenaran. Silakan dicoba.</p>
<p>Kedua, kita, dan masyarakat yang lain jangan menganggap wajar kelakuan kalangan seleb. Kenapa kita katakan demikian? Karena banyak juga masyarakat yang menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh kalangan seleb itu adalah hal yang nggak usah dianggap masalah. Artinya memang wajar saja. Nah, kini diubah cara pandangnya, bahwa itu nggak wajar dan kudu diubah. Ketiga, agar kesucian Ramadhan tak ternodai, maka pemerintah kudu cepat tanggap atas masalah ini. Kita ngasih masukan buat bapak-bapak pejabat kita supaya lebih serius dalam menyeleksi tayangan televisi dan mensensor semua media massa. Dan tentunya ini hanya bisa dilakukan dengan menempuh jalur pembinaan kepada masyarakat dan menerapkan aturan dan sanksi dengan tegas. Memang ini butuh waktu yang lama. Tapi bukan berarti nggak bisa dicoba untuk diupayakan. Insya Allah bisa deh.</p>
<p>Jadi, mari selamatkan puasa kita dengan menyelamatkan masyarakat ini dengan syariat Islam. Supaya jangan lagi ada noda di Ramadhan kita. Setuju kan? Yuk, kita upayakan!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 124/Tahun ke-3</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-ada-noda-di-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Tiba, Maksiat Jeda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ramadhan-tiba-maksiat-jeda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ramadhan-tiba-maksiat-jeda#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 10:15:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ramadhan-tiba-maksiat-jeda/</guid>
		<description><![CDATA[Burhan, anak yang terkenal paling okem di kampung itu kini telah berubah. Alhamdulillah, barangkali inilah â€?hikmahâ€™nya bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Jika Burhan pada bulan biasanya tampil mirip-mirip para personelnya Limp Bizkit atawa Korn, yang memang pada liar, kini doi kelihatan lebih tenang. Raut muka yang bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Burhan, anak yang terkenal paling okem di kampung itu kini telah berubah. Alhamdulillah, barangkali inilah â€?hikmahâ€™nya bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Jika Burhan pada bulan biasanya tampil mirip-mirip para personelnya Limp Bizkit atawa Korn, yang memang pada liar, kini doi kelihatan lebih tenang. Raut muka yang bulan kemarin bertampang Romusa, alias Roman Muka Sadis, kini setelannya Primus, alias Pria Muka Sholeh. Kalo dulu, kemana-mana nyekek botol cap â€œTopi Miringâ€? kini lebih sering bawa al-Quran dan kepalanya tertutup peci (tapi bukan peci miring lho, he..he..he..), bahkan doi ikutan aktif di remaja masjid di kampungnya. Pokoknya, kita-kita kaget banget, tapi sekaligus senang, karena ada perubahan dalam diri doi. Syukurlah.<span id="more-125"></span></p>
<p>Burhan, orangnya memang cool, tapi dulu suka bikin kesel. Makanya, anak-anak kampung situ suka ngeledekin doi dengan membuat akronim untuk namanya, Burhan, adalah akronim dari burung hantu. Hih (nyambung nggak seh? He..he..he..). Tapi label itulah yang diberikan teman-temannya saat Burhan merajalela dengan kemaksiatannya. Yup, ketika Burhan lagi seneng-senengnya berbuat dosa. Tapi sekali lagi, alhamdulillah, sekarang nggak lagi. Moga-moga seterusnya berubah jadi baik, bukan sekadar jeda, untuk kemudian kembali gokil. Amit-amit ya? Meskipun doi imut-imut (tapi ini bukan akronim dari item mutlak lho&#8230;)</p>
<p>Sobat muda muslim, contoh kasus Burhan kayaknya menarik juga. Moga aja bisa jadi semacam cermin buat kita, ternyata orang sebejat apapun dia, insya Allah masih bisa berubah. Tentunya jika dia memang berusaha keras untuk mengubah dirinya. Sekadar tahu saja, perubahan Burhan nggak begitu saja terjadi. Tapi, teman-teman di sekitar Burhan sebelumnya juga kerap ngingetin doi. Lama-lama doi mikir juga, ternyata banyak temannya yang mau peduli dengan doi. Ternyata begitu berharga memiliki teman-teman baik. Teman yang mau bersusah payah mengingatkan dirinya di kala berada dalam kegelapan. Teman yang mampu menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam kehidupannya. Maka, sungguh sangat malu bagi Burhan, jika temannya begitu menaruh perhatian kepada masa depan dirinya, sementara dirinya sendiri masa bodoh dengan masa depan. Inilah yang membuat Burhan mau mikir dan akhirnya berubah.</p>
<p>Nah, proses ini kemudian menghantarkan Burhan mulai mengenal Islam. Bulan Ramadhan inilah waktu yang pas buat doi untuk berubah. Ramadhan memang mampu menjadikan orang bisa mengubah gaya hidupnya. Tentu buat mereka yang memang menginginkan dengan serius perubahan dalam dirinya. Tapi, bagi mereka yang hanya menganggap bahwa Ramadhan adalah bulan dimana dia kudu berubah sesaat, maka orang model begitu kemungkinan besar nggak akan berubah menuju kebaikan. Buktinya, banyak seleb yang begitu. Sebelum Ramadhan kelakuannya naudzubillah, pas Ramadhan berubah drastis, jadi kalem. Eh, begitu selesai Ramadhan, mereka kembali â€?gilaâ€™. Emang sih bukan cuma kalangan seleb yang begitu rupa, dari kalangan kita-kita juga banyak. But, berhubung kaum seleb mudah dilihat penampilannya di layar kaca dan media cetak, maka merekalah yang paling mungkin untuk disorot. Duh, pada sadar ngapa?</p>
<p><strong>Yang taat Vs yang maksiat</strong><br />
Memang sih, pengennya ketika Ramadhan tiba, maksiat serta merta jeda, atau malah reda sama sekali. Tapi lain di harapan, lain pula dalam kenyataan. Di satu sisi, kita nggak menutup mata kalo memang ada perubahan yang berarti bagi sebagian dari kita. Tapi kita juga prihatin, sebab masih ada juga yang nggak kenal kata akhir dalam maksiat. Ramadhan dibabat juga. Orang model begini memang rada susah diajak untuk baik.</p>
<p>Coba deh kalo kamu jalan-jalan ke pasar, meski di hari pertama bulan puasa, sudah banyak dijumpai mereka yang melalaikan kewajiban puasa. Konyolnya, sambil melayani pembeli mulutnya nggak berhenti ngunyah makanan. Padahal, mereka muslim lho. Tapi apa mau dikata, orang model begitu maunya menang sendiri. Kalo disebut bukan Islam kayaknya bakalan murka juga, tapi, kelakuannya malah bertolak belakang dengan prinsip hidup seorang muslim. Apa nggak aneh tuh orang?</p>
<p>Malah, bulan suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum untuk menambah kuantitas amal dan kualitas amal kita, ternyata justru dinodai dengan tetap bukanya tempat-tempat hiburan yang full maksiat. Coba, siapa yang kagak dongkol?</p>
<p>Eh, udah gitu, di Surabaya beberapa hari menjelang Ramadhan ratusan pekerja seks komersial (baca: pelacur) yang bekerja di diskotik, bar, dan club-club malam memprotes pemda kota Surabaya agar mencabut larangan beroperasinya hiburan malam di kota tersebut selama Ramadhan. Sebab, kalo tempat itu ditutup mereka nggak bisa kerja. Parahnya lagi, mereka berdalih bahwa jika mereka tidak bekerja di tempat hiburan tersebut, bagaimana bisa membeli kebutuhan untuk lebaran? Waduh, ini benar-benar IQ jongkok! Sori rada kasar dikit. Lebaran mau, tapi maksiat jalan terus. Wah, berarti perzinahan jalan terus meski sedang puasa. Aduh, pantas jika Allah murka kepada mereka. Rasulullah saw. bersabda: â€œApabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.â€? (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132).</p>
<p>Sobat muda muslim, terus terang kita sedih, kesal, dan juga kecewa dengan kenyataan ini. Ternyata Ramadhan, bagi sebagian dari kaum muslimin yang masih getol maksiat, tidak membuat mereka berhenti dan meninggalkan kebiasaan buruk dan terkutuknya itu. Malah tetep maju terus pantang mundur. Mereka bisa berbuat begitu, selain karena kebodohannya, juga karena kemalasannya untuk mencari ilmu, yakni malas untuk mengetahui tentang ajaran Islam. Jadi ada kesan masa bodoh dengan ajaran Islam. Dengan demikian, orang model begini layak dicap sebagai orang yang tak mau tahu dengan ajaran Islam. Bahaya sobat.</p>
<p>Begitu pula kita prihatin dengan kondisi pergaulan teman-teman remaja, baik di kota maupun di desa. Ternyata aktivitas maksiatnya tetep jalan meski sedang berpuasa. Ambil contoh tentang pergualan laki-perempuan, sampe sekarang masih dijumpai remaja yang tak bisa lepas dari pacaran. Maka jangan kaget jika acara JJS (Jalan-Jalan Subuh) di bulan Ramadhan jadi ajang untuk PDKT dengan pasangannya. Hasilnya, mulut mereka memang puasa dari makan dan minum, tapi beliau-beliau ini tidak tidak puasa dari berbuat maksiat. STMJ, Shaum Terus, Maksiat Jalan! Walah?</p>
<p>Maka, kita-kita ingin ngingetin teman-teman yang masih doyan maksiat, tolong hentikan semua aktivitas tercela itu. Mari kita mengubah diri kita dengan Islam, dan tentunya tidak setengah-setengah, tapi kudu totalitas dengan tuntunan Islam. Yang memang satu-satunya solusi untuk kemaslahatan manusia di muka bumi ini. Maka sungguh heran jika masih ada manusia yang nggak demen dengan Islam. Apalagi sampe membencinya setengah mati. Kita nggak ingin menyaksikan ada umat Islam yang tidak kenal dengan ajaran agamanya sendiri. Mengerikan banget kalo memang itu terjadi. Semoga saja, temen-temen remaja segera sadar dari kekeliruannya. Oke deh, pengennya kita neh, kamu-kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat. Jadi, jangan coba-coba maksiat lagi ya?</p>
<p><strong>Jangan malu untuk berubah!<br />
</strong>Sobat muda muslim, kalo merhatiin perkembangan sekarang, kayaknya dari kita-kita jadi pada malu untuk berbuat baik. Nggak semua sih, tapi.. ada aja. Aneh memang. Padahal, justru kudu bangga kalo kita berbuat kebenaran dan kebaikan sesuai ajaran agama kita, Islam. Mau bukti?</p>
<p>Hmm.. kelihatannya udah mengikis rasa bangga menjadi seorang muslim. Teman remaja kita justru bisa merasa bangga ketika menyandang cacat, eh, predikat yang wah di mata masyarakat umum. Misalnya, ada anak (sekaligus orangtuanya) yang bangga kalo jadi bagian dari anggota paskibra (pasukan pengibar bendera). Ada juga yang bangga jika doi adalah pemain basket. Maka, jangan kaget kalo doi kerapkali memamerkan keterampilannya dalam memainkan bola basket tersebut. Ada juga teman yang merasa udah hebat kalo doi jadi orang yang wara-wiri di panggung show.</p>
<p>Sayangnya, kebanggaan semu seperti itu seperti telah mengubur kebanggaan lainnya, yang justru kudu dimiliki setiap muslim, yakni bangga menjadi seorang muslim. Sori, bukannya kita merendahkan teman-teman yang punya keahlian di bidang yang tadi kita sebutkan. Nggak. Kita â€?menghargaiâ€™ kok. Tapi inget lho, kebanggaan seperti itu nggak akan memberikan kontribusi yang besar untuk kemajuan Islam. Lagian itu kan kebanggaan semu.</p>
<p>Oke, rasanya kudu ditumbuhkan kembali kebanggaan menjadi seorang muslim. Itu sebabnya, jangan minder kalo jadi anak muslim. Jangan pernah merasa bersalah dan mengutuki diri sendiri hanya gara-gara kamu muslim. Sehingga membuat kamu kudu tampil dengan gaya hidup seperti orang-orang Barat. Kamu pun jadi terbiasa dengan model kehidupannya. Bahkan untuk sekadar nama saja, kamu pengen nama itu terdengar modern, dan tentu mengandung unsur dari â€?kulonâ€™. Maka jangan heran jika para orangtua di kampung saja bangga punya anak yang namanya David, misalkan. Lucunya, kalo pas ditanya, â€œDavid ke mana?â€? Jawabannya, â€œLagi ngambil kayu di hutanâ€? Wackss..? Jangan-jangan namanya David Bacem!</p>
<p>Sobat muda muslim, dengan menuliskan gambaran seperti itu, tentunya kita punya tujuan ingin mengajak kamu untuk berubah. Jadi kita harap kamu jangan males, apalagi malu untuk berubah menjadi baik. Kalo dulu kamu bangga dengan hal-hal sepele, termasuk bangga menjadi bagian dari masyarakat Barat, maka sekarang tunjukan kebanggaan kamu sebagai seorang muslim. Nggak ada salahnya kamu belajar dari kasus Burhan di atas. Dari okem menjadi alim. Sebuah prestasi hebat bukan? Dan itu hanya bisa diraih ketika kita juga punya niatan yang benar dan sungguh-sungguh ingin mengubah diri. Sebab, Allah akan menolong orang-orang yang memang mau mengubah dirinya. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„?§?? ???????????‘???±?? ?…???§ ?¨???‚???ˆ?’?…?? ?­?????‘???‰ ???????????‘???±???ˆ?§ ?…???§ ?¨???£???†?’?????³???‡???…?’<br />
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (TQS ar-Raâ€™d [13]: 11)</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah Swt. Akan menolong orang-orang yang beriman. Jadi, kalo pengen ditolong oleh Allah di dunia dan di akhirat, maka jangan malu untuk berbuat baik (baca: beriman) Allah Swt. menjelaskan:</p>
<p>?¥???†?‘???§ ?„???†???†?’?µ???±?? ?±???³???„???†???§ ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?????? ?§?„?’?­???????§?©?? ?§?„?¯?‘???†?’?????§ ?ˆ???????ˆ?’?…?? ?????‚???ˆ?…?? ?§?„?£?’???´?’?‡???§?¯??<br />
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (TQS al-Mukmin [40]: 51)</p>
<p>Yuk, kita benahi diri kita untuk menjadi baik mumpung bulan Ramadhan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang mendapat berkah, rahmat, dan ampunan. Jadi, jangan takut untuk berubah menjadi baik! Semoga â€?semangatâ€™ Ramadhan ini bikin kita berhenti sama sekali dari perbuatan maksiat. Dan sebaliknya, kita getol beribadah. Amin.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 123/Tahun ke-3/11 Nopember 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ramadhan-tiba-maksiat-jeda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang Ramadhan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/selamat-datang-ramadhan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/selamat-datang-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 10:12:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/selamat-datang-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, Ramadhan kini datang menjelang. Kaum muslimin semua senang. Suasana pun jadi tenang. Karena memang bulan ini adalah bulan kemenangan. Buat siapa? Tentunya buat kita, kaum muslimin. Kayaknya kita juga udah ngeh kalo bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt. Itu sebabnya, kita semua gembira menyambut Ramadhan. Nggak percaya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, Ramadhan kini datang menjelang. Kaum muslimin semua senang. Suasana pun jadi tenang. Karena memang bulan ini adalah bulan kemenangan. Buat siapa? Tentunya buat kita, kaum muslimin. Kayaknya kita juga udah ngeh kalo bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt. Itu sebabnya, kita semua gembira menyambut Ramadhan. Nggak percaya? Lihat aja adik-adik kita udah mulai pada semangat nyundut petasan. Lho kok? Iya, kita juga nggak abis pikir kenapa Ramadhan selalu identik dengan tradisi bakar petasan. Aneh ya? Tapi, itulah sisi lain dari tradisi Ramadhan di negeri ini sobat.<span id="more-124"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, semangat kaum muslimin dalam menyambut bulan mulia ini juga terlihat dengan maraknya kegiatan-kegiatan yang bernuansa Ramadhan. Stasiun televisi, seperti tahun-tahun sebelumnya, juga getol menayangkan program unggulan mereka. Mulai dari acara kuis, acara ceramah pengantar sahur, ceramah menjelang berbuka puasa, iklan berbagai produk yang banyak muncul selalu disisipi pesan â€œselamat menunaikan ibadah puasaâ€?, dan nggak ketinggalan tayangan favorit untuk menemani â€œngabuburitâ€?, yakni sinetron Ramadhan; seperti yang sekarang muncul adalah Alung, Jalan Lain Ke Sana, Doa dan Anugerah, dan judul lainnya . Tentu degan artis-artis ngetop yang tampil lebih sopan ketimbang bulan sebelumnya. Gimana pun juga, Ramadhan memang memiliki nilai lebih bagi perubahan individu. Meski dengan beragam niat tentunya. Ada yang sungguh-sungguh karena keimanan, tapi nggak sedikit juga yang ikut-ikutan aja. Wallahuâ€™alam.</p>
<p>Di lingkungan sekitar kita pun kena imbasnya. Masjid-masjid mulai direhab, sebagian warga malah menghias rumahnya agar terlihat lebih asri dan apik, agenda kegiatan udah disusun rapi oleh DKM setempat, termasuk kegiatan remaja masjid; ada ceramah baâ€™da shubuh, ada acara pengajian menjelang berbuka puasa, juga shalat tarawih berjamaah. Duh, indah nian suasana Ramadhan ini ya? Coba kalo kondisi model begini ada sepanjang hari selama hidup kita. Ueeenak tenaan!</p>
<p>Kalo pada bulan biasa kita males bangun pagi, malah ada juga yang baru bisa bangun kalo udah diguyur pake air, tapi nggak di bulan Ramadhan. Hmmâ€¦ di bulan Ramadhan, selain karena suasana menjelang shubuh menjadi rame oleh aktivitas para ibu yang memasak makanan dan hingar-bingar oleh anak-anak yang ngebangunin sahur dengan memainkan beragam alat musik, juga karena tumbuh dalam diri kita kesadaran dan tanggung jawab tentang kewajiban tersebut. Tul nggak?</p>
<p>Eh, ngomong-ngomong soal tradisi ngebangunin orang yang mau sahur, kamu pernah nggak ikutan? Asyik juga ya bisa bantuin orang bangun pagi, sambil tentunya bisa menjajal keahlian kamu dalam olah vokal dan memainkan alat musik â€?band kepretâ€™. Itu sebabnya, bagi teman-teman kita yang kebetulan sempat menikmati Ramadhan di negeri orang, suasana seperti itu amat dirindukan.</p>
<p>Ini juga sisi lain yang kayaknya nambah indah suasana. Meski tentunya naif banget kalo Ramadhan cuma diisi dengan kegiatan begituan, bahkan sampe menjadi ciri khas. Banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Bahkan lebih besar nilai pahala bagi ibadah kita. Itu sebabnya, siapkan sejak sekarang. Menyambut datangnya Ramadhan sama artinya dengan menyiapkan berbagai rencana kita untuk mengisi bulan yang mulia ini. Tul nggak?</p>
<p><strong>Jangan sia-siakan puasamu</strong><br />
Kayaknya kamu semua udah pada tahu dong kalo puasa Ramadhan itu wajib hukumnya. Kalo ada yang belum tahu, waduh kasihan banget tuh. Tapi insya Allah semuanya udah paham ya? Sebab Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„?????’?ƒ???…?? ?§?„?µ?‘???????§?…?? ?ƒ???…???§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„???‰ ?§?„?‘???°?????†?? ?…???†?’ ?‚???¨?’?„???ƒ???…?’ ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????‘???‚???ˆ?†??<br />
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (TQS al-Baqarah [2]: 183)</p>
<p>Nah, ngomongin soal puasa, sepertinya semua orang udah ngeh bahwa yang namanya puasa itu adalah aktivitas fisik kita. Kudu kuat nahan lapar dan haus dari mulai shubuh sampe menjelang maghrib. Selama kurang lebih 12 jam organ tubuh tertentu kita di-off-kan dari aktivitas mengolah makanan. Kalo hari biasa mulut kita nggak henti-hentinya ngegares makanan, di bulan Ramadhan pere dulu di siang hari. Sekaligus memberi kesempatan kepada lambung kita untuk â€?istirahatâ€™.</p>
<p>Insya Allah deh, kalo aktivitas nahan lapar dan nahan haus hampir bisa dilakukan setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun. Dulu aja jamannya mahasiswa sering demo, ada juga lho yang nekat â€œmogok makanâ€?. Itu artinya secara fisik bisa kuat. Anak kecil aja, banyak yang udah mulai ikutan puasa. Malah hari biasa aja mereka bisa tahan untuk tidak makan kalo udah asyik dengan teman mainnya. Apalagi kalo udah lengket dengan video gim, dijamin bisa lupa segalanya. Jangan heran kalo ortu kamu misuh-misuh kesel karena adikmu ogah makan. Karena pikiran adikmu (atau malah kamu juga? He..he..) tertuju kepada level demi level, lengkap dengan ketegangan yang ada dalam permainan di video gim itu. Jadi intinya, secara fisik banyak di antara kita yang sanggup menahan rasa lapar dan haus. Kuat deh.</p>
<p>Tapi jangan salah lho, puasa juga sebetulnya bisa dijadikan sarana untuk menambah kuantitas amal kita, sekaligus memperbaiki kualitas amal kita. Jadi, kalo kamu kuat nahan lapar, belum tentu juga kuat nahan godaan hawa nafsu kamu untuk ngomongin orang, untuk ngejailin orang, dan untuk berbuat maksiat lainnya. Insya Allah kita percaya deh sama kamu kalo kamu bisa menahan mulut kamu untuk tidak makan dan minum selama puasa, tapi kita khawatir kalo mulut kamu juga bisa puasa dari ghibah dan berbohong.</p>
<p>Emang sih, puasa kamu kagak batal kalo berbohong, tapi itu bisa mengurangi pahala puasa kamu. Sayang kan, udah capek-cepak, eh, cuma dapet lapar dan dahaga aja. Rasulullah saw. bersabda: â€œBetapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahagaâ€??  (HR Ahmad)</p>
<p>Jadi sayang kalo puasa fisik nggak dibarengi juga dengan â€?puasaâ€™ dari perbuatan yang maksiat. Sungguh rugi pula kalo berlalu begitu saja tanpa ada aktivitas amal shaleh yang kita lakukan. Sebab, saat Ramadhan Allah memberikan â€œbonusâ€? yang besar dalam ibadah kita.</p>
<p>Jadi, jangan sia-siakan deh puasamu. Sayang banget. Apalagi belum tentu tahun depan kita ketemu lagi Ramadhan. Yuk, kita manfaatkan kesempatan ini. Jangan sampe lepas begitu saja. Puasa fisik wajib, tapi menjaga agar puasa ini nggak sia-sia juga wajib. Mulai sekarang, kita isi Ramadhan dengan kegiatan yang bernilai pahala di sisi Allah. Setuju kan? Siap&#8230;siap, siap..siap</p>
<p><strong>Tetep produktif dong&#8230;<br />
</strong>Sobat muda muslim, puasa bukan saatnya untuk malas-malasan, apalagi malas beneran. Emang sih, kalo puasa bawaannya ngantuk melulu. Jadi jangan kaget kalo ada yang terus â€?zzzzzzzâ€™ (baca: tidur). Betul, kalo puasa, tidur aja dinilai ibadah, lho. Tapi bukan berarti seharian kamu tidur melulu. Rugi berat sobat!</p>
<p>Banyak hal yang bisa kamu lakukan selama menjalani puasa. Sebab puasa emang bukan penghalang kita untuk beraktivitas. Justru sebaliknya kian getol menambah jumlah amal baik kita, dan jangan lupa kualitas amal kudu diperhatikan. Banyak beramal juga bisa percuma aja kalo kualitasnya jelek (baca: tidak sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya; dilihat dari niat dan caranya).</p>
<p>Seperti penjelasan di awal tulisan ini, bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Maka, jika kita melakukan kebajikan pada bulan Ramadhan, maka Allah Swt. akan membalasnya dengan sejumlah ganjaran. Tepatnya, pahalanya jadi berkali lipat. Bayangkan jika itu kamu lakukan setiap hari selama sebulan penuh di bulan mulia tersebut. Coba, siapa yang nggak tergiur?</p>
<p>Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagi-Ku. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)</p>
<p>Jadi, sungguh aneh bin ajaib kalo ada teman remaja yang masih malas bin ogah untuk beraktivitas di bulan Ramadhan. Oke deh, mari kita perbanyak amal ibadah kita sekaligus meningkatkan kualitasnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini sobat. Pokoke, setiap ada kegiatan di masjid, di sekolah, or di kampus yang berhubungan dengan Ramadhan; seminar, ceramah baâ€™da shubuh, pengajian menjelang buka puasa, bahkan shalat tarawih berjamaah, usahakan kamu bisa menjalaninya dengan sempurna dan penuh semangat.</p>
<p>Syukur-syukur kalo kamu sendiri justru aktif mengisi kegiatan tersebut; entah sebagai panitia, atau pengisi acara-acara tersebut. Duh, indah nian sobat. Ramadhan terasa begitu nikmat. Semoga kita bisa melakukannya dengan sempurna ya?</p>
<p><strong>Stop maksiat!<br />
</strong>Emang sih, kalo maksiat, meski di luar bulan Ramadhan tetep nggak boleh. Tepatnya apapun jenis perbuatan maksiatnya, tetep haram untuk dilakukan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, kayaknya lebih nggak pantes lagi kalo itu dilakukan. Tul nggak? Itu sebabnya, jangan nekatz untuk melakukan maksiat.</p>
<p>Tapi sayang, bagi sebagian teman remaja masih aja ada yang betah melakukan maksiat. Coba deh lihat, shalat tarawih berjamaah di masjid aja pake acara jemput-jemputan pasangannya. Duh, puasa ternyata nggak bikin maksiat berhenti, malah semakin â€?gilaâ€™ aja melakukannya. Alasan temen kita, biasanya menganggap bahwa pacaran menurutnya nggak membatalkan puasa. Hmm&#8230; emang bener sih, karena hal-hal yang membatalkan puasa adalah makan dan minum di siang hari. Tapi aktivitas pacaran bisa merusak pahala puasa kita. Hih, rugi atuh Neng!</p>
<p>Kalo puasa nggak menjadikan kita mawas diri, nggak menjadikan kita malu, bahkan nggak menjadikan kita jadi anak shaleh, itu berarti ada â€œapa-apanyaâ€?. Sebab, seharusnya kan puasa bisa menjadi perisai kita dari berbuat nggak bener. Puasa adalah tameng kita.</p>
<p>Sabda Rasulullah saw.: Puasa adalah perisai (dari api neraka). Jika seseorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan bertengkar. Jika dimaki-maki orang lain, katakanlah: â€?Saya sedang berpuasaâ€™ (HR Bukhari)</p>
<p>Diriwayatkan pula dari Abu Hurayrah r.a.: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan dusta dan berbuat buruk pada bulan Ramadhan, Allah tidak butuh kepada usahanya meninggalkan makan dan minum. (HR Bukhari)</p>
<p>Nah lho. Hadis ini memberikan sinyal buat kita, bahwa kalo kita masih tetep kuat maksiat meski sedang puasa, maka jangan harap kalo puasa kita mendapat berkah dari Allah Swt. Ih, naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Jadi, kita sambut gembira Ramadhan ini, perbanyak amal sholeh, tingkatkan kualitasnya, dan tentu, tinggalkan maksiat. Jangan lupa, tetep giat mengkaji Islam. Siap?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 122/Tahun ke-3/4 Nopember 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/selamat-datang-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemuda-Pemudi Harapan Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemuda-pemudi-harapan-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemuda-pemudi-harapan-islam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 10:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pemuda-pemudi-harapan-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Tika, sebut saja begitu. Tampilannya oke juga. Begitu kata orang-orang. Maklum, doi blesteran punya. Ayah Singapur, Ibu Singecet. Upss.. itu sih kerja bakti bebenah rumah atuh ya? Itu bahasa Jawa yang artinya; ayah yang ngapur, ibu yang ngecat. He..he..he..
Yup, Tika dijuluki sama teman sekelasnya sebagai â€œsi gadis seksiâ€?. Kalo mau dibandingin sama Norah Jones? Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tika, sebut saja begitu. Tampilannya oke juga. Begitu kata orang-orang. Maklum, doi blesteran punya. Ayah Singapur, Ibu Singecet. Upss.. itu sih kerja bakti bebenah rumah atuh ya? Itu bahasa Jawa yang artinya; ayah yang ngapur, ibu yang ngecat. He..he..he..<span id="more-123"></span></p>
<p>Yup, Tika dijuluki sama teman sekelasnya sebagai â€œsi gadis seksiâ€?. Kalo mau dibandingin sama Norah Jones? Ya, kira-kira setingkat di bawah penyanyi yang ngetop via tembang Donâ€™t Know Why itu lah. Waduh, pantesan tuh gerombolannya Rudy pada ijo matanya kalo Tika lewat di hadapan mereka.</p>
<p>Tika, adalah gadis muslimah. Tapi, kayaknya doi masih doyan hidup bebas sesuka hatinya. Agama, menurutnya cuma urusan sholat, zakat, dan puasa. Paling banter Islam yang doi kenal adalah pas perayaan Maulid, Isra Miâ€™raj, dan juga lebaran. Selain itu, doi nggak ngeh soal Islam. Kasihan banget ya?</p>
<p>Sobat muda muslim, Tika juga punya teman main lho. Namanya, Rangga. Tapi sumpah, ini bukan Rangga â€œsi mata elangâ€? di film A2DC? Kebetulan aja memang namanya sama. Oya, Rangga-nya Tika ini mirip-mirip Justin Timberlake yang pernah punya â€?skandalâ€™ sama Britney Spears. Maklumlah seleb, full skandal. Duh, kok mirip seleb semua ya? Tak usah heran, dua anak ini emang indo. Seperti kebanyakan bintang muda di sinetron kita; Roger Danuarta, Indra L Brugman, Nicolas Saputra, dan teman satu â€?spesiesâ€™ lainnya.</p>
<p>Tika dan Rangga akrab banget. Sampe-sampe sulit dipisahkan antara keduanya. Di mana ada Tika, di situ ada Rangga. Anehnya, meski menyandang gelar anak sekolah, tapi mereka sama sekali nggak mood belajar. Sebaliknya, justru malah jadi aktivis ngeceng di mal, atau sekadar larak-lirik adik kelas pas waktu istirahat atau olahraga. Siapa tahu mau temenan sama orang beken (idih, maunya).</p>
<p>Teman remaja, sedihnya lagi, remaja muslim dan muslimah yang menjalani kehidupan begitu jumlahnya bejibun banget, lho.</p>
<p>Nggak di kota, nggak di desa. Teman remaja yang nyablak bin amburadul kelakuannya sangat mudah kita jumpai. Ada yang kuat pacarannya, ada yang sok jagoan dengan menjadi aktivis tawuran, termasuk banyak juga yang hura-hura alias â€?binatangâ€™ pesta, nggak ketinggalan teman remaja yang tampangnya kalem, tapi bandelnya minta maaf.</p>
<p>Oya, ada juga lho yang kayaknya pengen kelihatan islamnya. Misalnya, teman remaja puteri banyak yang udah mau pake kerudung. Yang cowoknya juga mulai seneng melihara jenggot dan pake baju koko. Tapi, maaf-maaf saja, itu nggak dibarengi dengan ilmu agama yang cukup. Jadinya, yang puteri juga pake kudung gaul, yang cowoknya juga masih liar. Jenggot sih boleh, tapi kelakuannya sebelas-duabelas, alias sodaraan ama Daron Malakian, John Dolmayan, Shavo Odadjian, dan Serj Tankian yang tergabung dalam SOAD (System of A Down). Itu tuh, grup band pujaan anak sekarang yang ngetop lewat tembang Toxicity dan Chop Suey. Wis, pokoke komplit tipe remaja muslim kita ini.</p>
<p>Sobat muda muslim, tipe remaja yang tadi disebutkan adalah contoh amburadulnya sebagian besar remaja Islam. Padahal, merekalah yang seharusnya menjadi tumpuan harapan Islam. Tapi apa mau dikata, wong di antara kita udah banyak yang begitu. Terus, kudu seperti apa sih pemuda-pemudi harapan Islam itu?</p>
<p><strong>Ahli pikir dong!<br />
</strong>Tampilannya sih boleh aja rapi jali. Tapi kudu dibarengi dengan pemikiran yang oke juga dong. Malu atuh, kalo ada remaja Islam yang nggak tahu bagaimana caranya sholat. Konyol juga kalo masih nanyain gimana caranya wudhu. Tapi beginilah realita yang kayaknya pantas juga bagi kita untuk prihatin. Betapa banyak teman remaja yang nggak mengisi otaknya dengan pemikiran Islam yang mantap. Maklum, rata-rata remaja sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang dengan pembicaraan yang miskin makna.</p>
<p>Sobat muda muslim, tradisi para sahabat, kaum muslimin generasi pertama, adalah banyak berpikir. Sebab, kalo kita jadi ahli pikir, insya Allah bisa menjalani hidup ini dengan benar. Saking pentingnya aktivitas berpikir ini, para sahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: â€œCahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir.â€? (dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, jilid II, hlm. 409).</p>
<p>Memang sih, aktivitas berpikir saat ini sangat langka dilakukan anak muda. Jangankan anak muda, wong tuo aja udah pada males mengoptimalkan peran otaknya. Padahal kalo otak kita digunakan, itu sama dengan mengasah pedang, akan kian tajam. Justru kalo otak dibiarin nganggur, alias nggak pernah diajak untuk mikir, apalagi mikir yang berat-berat, Insya Allah, dijamin bakalan tumpul binti beku.</p>
<p>Aduh, sayang banget lho. Padahal, tentu saja, kemampuan otak kita bisa deh diaduin sama produk keluaran intel, pentium 4. Prosesor ini sebenarnya masih kalah jauh dengan kemampuan otak kita, sebab Allah Swt. menciptakannya untuk bisa berpikir dan menganalisa dengan mantap. Entah berapa juta giga, space yang Allah berikan untuk otak kita. Inilah pemberian Allah yang kudu kita syukuri. Itu sebabnya, sungguh hueran jika masih ada manusia yang ogah untuk memanfaatkan kinerja otak dengan optimal. Utamanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan kehidupan ini.</p>
<p>Kita seharusnya â€?ngiriâ€™ juga lho, sama Imam Syafiâ€™i yang pada usia 7 tahun udah hapal al-Quran 30 juz. Insya Allah, itu adalah contoh bagaimana membiasakan otak kita bekerja keras. Makin sering digunakan, otak kita makin oke. Para sahabat Rasulullah, utamanya yang termasuk khulafa ar-Rasyiddin, semuanya mujtahid mutlaq. Artinya, Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah orang-orang yang ahli pikir, alias mufakkir.</p>
<p><strong>Ahli ibadah euy!<br />
</strong>Nah, pemuda dan pemudi Islam kudu memposisikan diri sebagai ahli ibadah (mutaâ€™abid). Dan memang kalo udah ahli pikir, kemungkinan besar, kalo nggak mau menyebut pasti, biasanya juga ahli ibadah.</p>
<p>Dalam kitab Taqarrub ila Allah, karangan Fauziy Sanqarth terdapat sebuah pernyataan dari salah seorang pemimpin Islam ketika menggambarkan kader-kadernya. Seperti ditulis dalam kitab itu, salah seorang pemimpin Islam yang dimaksud mengatakan bahwa, â€œSebaik-baik pemuda adalah yang bersikap sebagai orang tua, bisa memejamkan matanya dari kejahatan; berat langkah kakinya menuju kebathilan; demi beribadah ia khusyuâ€™ dan betah begadang semalaman. Sungguh Allah melihat mereka pada malam hari ketika punggung-punggung mereka condong kepada juz al-Quran. Setiap kali salah seorang dari mereka membaca ayat tentang surga, mereka menangis karena rindu kepadanya. Ketika membaca ayat tentang neraka, mereka benar-benar histeris seakan-akan bencana neraka jahannam itu ada di antara kedua telinga mereka.â€?</p>
<p>Sobat muda muslim, sekadar sebuah pertanyaan, dan jawabannya cukup kamu sendiri yang tahu. Jujur saja pada diri kamu sendiri. Pertanyaan kita sederhana saja; bagaimana dengan sholat kamu? Pengennya kita sih, moga saja nggak bolong-bolong ya?</p>
<p>Bagaimana dengan puasa kamu? Harapan kita, kamu juga getol puasa sunah Senin-Kamis. Apalagi mau deket ramadhan, jangan lupa puasa ramadhan pol sebulan penuh. Wajib lho.</p>
<p>Bagaimana dengan baca al-Quran? Wah, kepengen kita sih kamu bisa menyempatkan diri baca tiap hari, meski cuma sepuluh ayat sekalipun. Tul ngagk? Jadi, biasakan deh.</p>
<p>Terus, bagaimana dengan shalat malam kamu? Hmm.. sekali lagi, harapan kita nih, kamu lebih sering untuk melakukannya. Amalan sunah ini sebagai tambahan pahala ibadahmu. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???…???†?? ?§?„?„?‘?????’?„?? ?????????‡???¬?‘???¯?’ ?¨???‡?? ?†???§?????„???©?‹ ?„???ƒ?? ?¹???³???‰ ?£???†?’ ?????¨?’?¹???«???ƒ?? ?±???¨?‘???ƒ?? ?…???‚???§?…?‹?§ ?…???­?’?…???ˆ?¯?‹?§<br />
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (TQS al-Isr?¢â€™ [17]: 79)</p>
<p>Oya, bagaimana pula dengan shadaqoh kamu? Moga aja nggak sayang menyisihkan uang seribu atau dua ribu rupiah ke keropak masjid ya? Soalnya, adakalanya uang dua puluh ribu rupiah bisa dengan mudah langsung â€?menguapâ€™ kalo kamu jajan di resto sekelas McD or KFC. Bebas aja â€?ngasihâ€™ uang ke resto Amrik itu. Kalo ke masjid, naga-naganya sih masih nimbang untung-rugi. Duh, jangan sampe deh!</p>
<p>Oya, kamu perlu tahu, apa sih arti ibadah? Sobat, ibadah (al-â€?Ibaadah) secara bahasa adalah (ath-Thaaâ€™ah) taat (Kamus al-Muhiith, oleh Fair?»z Ab?¢diy, bab tentang ibadah). Sedangkan menurut istilah (makna hukum), al-â€?Ibaadah memiliki dua makna, yaitu secara umum dan secara khusus. Makna al â€?ibaadah secara umum, yaitu ketaatan kepada perintah-perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Dalil dalam masalah ini adalah:</p>
<p>?ˆ???…???§ ?®???„???‚?’???? ?§?„?’?¬???†?‘?? ?ˆ???§?„?¥?’???†?’?³?? ?¥???„?§?‘?? ?„???????¹?’?¨???¯???ˆ?†??<br />
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (TQS. adz-Dz?¢riy?¢t [51]: 56)</p>
<p>Adapun makna khusus dari al-â€?Ibaadah adalah segala?  bentuk perintah dan larangan hukum syaraâ€™ yang mengatur hubungan seorang muslim dengan Rabb-nya, yaitu apa-apa yang disebutkan oleh fuqaha sebagi ibadah seperti shalat, zakat, haji, puasa, dan jihad. Dalam hal ini, maka yang kita maksudkan sebagai ibadah hanyalah dalam maknanya yang?  khusus saja.</p>
<p>Kita berdoa, moga kamu dan kita juga tentunya, jadi ahli ibadah (mutaâ€™abid). Amin.</p>
<p><strong>Pejuang Islam</strong><br />
Wow, keren banget. Perfect memang. Sudahlah ahli fikir, ahli ibadah, ditambah pula dengan menjadi pejuang Islam. Itu sih ideal banget ya? Kamu tentunya mau punya tipe seideal begini kan? Bagi yang akalnya masih â€?warasâ€™, tentunya kepengen banget tampil sempurna. Iya nggak? Jadi, kita upayakan yuk!</p>
<p>Sobat muda muslim, pemuda dan pemudi harapan Islam. Selain ahli pikir dan ahli ibadah, maka akan lebih utama jika menjadi pejuang Islam juga. Para sahabat Rasulullah, telah memiliki tiga kriteria tersebut. Ambil contoh, Ali bin Abi Thalib, selain cerdas dan sholeh, juga adalah pemuda pejuang Islam. Hebat bukan?</p>
<p>Saat ini, Islam membutuhkan kaum muslimin yang kuat dalam segala hal, termasuk kemampuannya dalam rangka perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Tentunya, agar Islam menjadi satu-satunya sistem kehidupan yang diterapkan di dunia ini, dan memberikan rahmat bagi seluruh alam.</p>
<p>Sobat muda muslim, saudara-saudara kita di Palestina bahkan sudah membuktikannya. Mereka tak gentar dalam berjuang melawan penjajah Israel. Bahkan banyak di antara mereka yang rela meregang nyawa demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Tidakkah kita tergoda untuk mengikutinya? Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???„?§?? ?????­?’?³???¨???†?‘?? ?§?„?‘???°?????†?? ?‚???????„???ˆ?§ ?????? ?³???¨?????„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?£???…?’?ˆ???§???‹?§ ?¨???„?’ ?£???­?’?????§???Œ ?¹???†?’?¯?? ?±???¨?‘???‡???…?’ ?????±?’?²???‚???ˆ?†??<br />
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (TQS Ali â€?Imran [3]: 169)</p>
<p>Oke deh, kita bertekad dalam ucapan dan perbuatan kita untuk menjadi pemuda dan pemudi harapan Islam yang mufakkir, mutaâ€™abid, dan mujahid. Jadi ngaji yuk! Allahu Akbar!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 121/Tahun ke-3/28 Oktober 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemuda-pemudi-harapan-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggugat â€œKudung Gaulâ€</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menggugat-kudung-gaul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menggugat-kudung-gaul#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 10:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menggugat-kudung-gaul/</guid>
		<description><![CDATA[Rina sebut saja begitu. Siswi sebuah Madrasah Aliyah di Bogor. Penampilannya modis banget. Kalo ke sekolah, seperti kebanyakan teman yang lainnya, pake kerudung. Tapi model kerudungnya, kira-kira mirip dengan yang dipake sama Mbak Inneke Koesherawaty dan Teh Desy Ratnasari.
Model kerudung itu dibuat ngepas dan ketat pada bagian leher. Model yang dipake sama Mbak Inneke sebagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rina sebut saja begitu. Siswi sebuah Madrasah Aliyah di Bogor. Penampilannya modis banget. Kalo ke sekolah, seperti kebanyakan teman yang lainnya, pake kerudung. Tapi model kerudungnya, kira-kira mirip dengan yang dipake sama Mbak Inneke Koesherawaty dan Teh Desy Ratnasari.<span id="more-122"></span></p>
<p>Model kerudung itu dibuat ngepas dan ketat pada bagian leher. Model yang dipake sama Mbak Inneke sebagian kain kerudung yang harusnya menutup bagian dada dan punggung malah dimasukkin ke baju. Modelnya Teh Desy lain lagi, ujung-ujung kain penutup kepala itu yang seharusnya menutupi bagian dada malah ditarik ke atas dan dilipat ke bagian belakang leher lalu diikat. Kesannya memang jadi lucu. Itulah yang disebut sebagai kudung gaul.</p>
<p>Kontan aja, tren itu diikuti banyak remaja, termasuk ibu-ibu yang kudu merasa tampil modis dan trendi juga sekaligus â€?mahabbahâ€™ kepada seleb (idih, emangnnya ulama pake acara mahabbah segala?). Nah, karena dipromosikan sama artis, jadinya cepet nyebar tren kudung gaul ini. Buktinya, diamalkan juga oleh teman kita Rina. Bahkan â€œRina-Rinaâ€? yang lain aktif juga mengenakan kudung gaul tersebut.</p>
<p>Bagi mereka yang merasa kudu tampil modis dan trendi, tren ini jadi semacam bentuk penyaluran dari seleranya. Maksudnya pengen mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang â€?inâ€™ saat ini. Akibatnya, dalam masalah kerudung aja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri.</p>
<p>Sobat muda muslim. Sebenarnya sih kita bahagia dengan mulai tumbuhnya dalam diri temen-temen remaja puteri semacam kerinduan untuk tampil dengan simbol-simbol Islam. Jujur saja, itu udah merupakan prestasi tersendiri bagi yang bersangkutan. Maklum, jaman sekarang banyak kaum muslimin yang mulai berani mencampakkan nilai-nilai Islam. Rasanya sulit menemukan orang yang mau bener-bener menegakkan nilai dan ajaran Islam. Hanya saja, buat temen-temen yang masih begini, perlu bimbingan lanjut supaya nggak salah arah.</p>
<p>Termasuk dalam tren kudung gaul ini. Di mana-mana memang marak. Satu sisi, untuk kelas orang awam bolehlah berbangga diri. Tapi inget lho, yang seperti itu bisa bikin blunder. Tahu blunder kan? (jangan sampe ketuker dengen blender ya?) Coba, betapa ngerinya kalo itu kemudian bikin repot sendiri, layaknya orang yang melakukan blunder dalam permainan sepakbola. Maksud hati menghalau bola keluar lapangan, eh, ndak tahunya bola malah nemplok di kaki lawan. Karuan aja, bikin lawan mudah untuk menceploskan ke gawang kita sendiri. Eh, hubungannya dengan kudung gaul apa neh?</p>
<p>Begini sobat. Saat ini mungkin kamu belum menyadari akibatnya. Tapi suatu saat nanti, yang beginian bakalan bikin repot, lho. Why? Because, maraknya temen-temen remaja puteri yang mengenakan kudung gaul ini, justru karena ketidak-tahuannya tentang aturan Islam dalam masalah ini (juga ada yang ngak mau tahu tuh). Adakalanya temen-temen itu ikut-ikutan doang. Sebab, pemahaman Islamnya masih belum mapan. Maka, maraknya kudung gaul ini justru akan semakin memberikan citra buruk buat kaum muslimin. Karena, mereka udah merasa seneng ber-Islam tapi cuma mengandalkan modal semangat. Sementara ilmunya, maaf-maaf aja, masih perlu perbaikan. Itulah kenapa kita bilang berpotensi untuk jadi blunder buat Islam dan kaum muslimin. Begitcu&#8230;</p>
<p><strong>Pilih syariat atau mode?</strong><br />
Nah, dalam masalah kudung gaul ini, kalo dilihat dengan jernih, sebenarnya yang ditonjolkan dari pemakainya adalah aturan modenya ketimbang aturan dalam ajaran Islam. Apalagi diperparah dengan salah mendefinisikan istilah jilbab dan kerudung. Ada yang nggak bisa ngebedain, malah kebalik-balik. Puguh aja, ini bikin kita yakin kalo emang banyak temen kita nyang kagak paham soal ini.</p>
<p>Lihat aja di sekolah-sekolah berbasis agama sekalipun, ternyata pihak sekolah tidak mewajibkan mengenakan jilbab bagi para siswinya. Yang boleh adalah cukup mengenakan kerudung, karena katanya itulah jilbab. Lho kok?</p>
<p>Iya,?  banyak di antara kita suka kebalik-balik dalam membedakan antara kerudung dengan jilbab. Ada yang bilang, kerudung malah disebut jilbab. Padahal, kerudung ya, kerudung, alias penutup kepala. Sementara jilbab adalah pakaian longgar semacam jubah. Nah, itu aturan syariatnya. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?†?‘???¨?????‘?? ?‚???„?’ ?„?£?????²?’?ˆ???§?¬???ƒ?? ?ˆ???¨???†???§?????ƒ?? ?ˆ???†???³???§???? ?§?„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?????¯?’?†?????†?? ?¹???„?????’?‡???†?‘?? ?…???†?’ ?¬???„?§???¨?????¨???‡???†?‘?? ?°???„???ƒ?? ?£???¯?’?†???‰ ?£???†?’ ?????¹?’?±?????’?†?? ?????„?§?? ?????¤?’?°?????’?†?? ?ˆ???ƒ???§?†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?????????ˆ?±?‹?§ ?±???­?????…?‹?§<br />
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (TQS. al-Ahzab [33]: 59).</p>
<p>Kita coba ngasih penjelasan sedikit. Moga-moga aja kamu pada paham ya? Jilbab bermakna milh?¢fah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kis?¢â€™) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muh?®th dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sird?¢b (terowongan) atau sinm?¢r (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.</p>
<p>Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahh?¢h, al-Jawh?¢r?® menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milh?¢fah) yang sering disebut mul?¢â€™ah (baju kurung). Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung.</p>
<p>Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita â€?cerewetâ€™ begini bukan ngiri or nggak suka sama kamu. Tapi justru sebagai bentuk kepedulian. Tentu karena sayang sama kamu. Supaya ketika kamu berbuat patokannya adalah syariat Islam, bukan mode atawa selera kamu semata.</p>
<p><strong>Islam nggak sekadar simbol lho&#8230;</strong><br />
Memang sih, mengenakan simbol-simbol bisa dengan mudah kita mengenali siapa orang tersebut. Simbol itu bisa berupa busana atau aksesoris lainnya. Busana, menurut Kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku, dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, atau golongan lain. Kalo ada orang yang pake tanda â€œsalibâ€?, kamu udah langsung bisa nebak, kalo orang tersebut agamanya Nasrani. Begitu juga ketika kamu ngelihat di televisi ada orang yang pake topi yarmelke, kamu bisa langsung menyimpulkan kalo orang itu adalah Yahudi. Begitupun ketika kamu menyaksikan ada orang yang pake baju koko, sarung, berpeci, dan masuk mesjid, segera saja kamu menyimpulkan kalo orang itu adalah muslim. Paling nggak ini sebagai identifikasi awal. Dan tentunya simbol-simbol itu udah disepakati bersama.</p>
<p>Bagi teman remaja puteri yang mengenakan jilbab dan kerudung, tentunya itu adalah bagian dari simbol Islam. Dan jelas itu membedakan dengan golongan lain. Kita udah memposisikan diri siapa kita. Sebab, busana juga bisa sebagai sarana untuk menyampaikan pesan. Minimal, siapa kita. Tul nggak?</p>
<p>Terus, busana juga bisa mengendalikan perilaku, lho. Betul banget. Sebab, ketika kamu pake sarung dan baju koko, maka pantesnya kamu menjaga tingkah lakumu. Jadi kalo pas penampilan kamu begitu, pastinya kudu malu dong kalo kamu main gaple or joget dangdutan di pesta kawinan tetangga kamu. Termasuk teman remaja puteri bisa menjaga diri. Nggak pantes rasanya kalo udah pake jilbab, tapi ngomongnya sering nyakitin ati teman kamu.</p>
<p>Lalu, busana juga ternyata bisa berfungsi emosional. Jaman kampanye pemilu dulu, ketika kamu pake kaos partai pujaan kamu, kamu bangga banget. Ketika konvoi bareng satu kelompok dengan kaos yang sama, terasa lebih terlibat secara emosi. Begitupun ketika kamu tampil dengan kostum bak pejuang intifadha, rasanya seperti sedang berada di medan tempur melawan Israel. Jadi jelas busana dan aksesoris itu bisa berfungsi sebagai emosi.</p>
<p>Busana muslimah, jilbab, adalah juga simbol identitas. Simbol pembeda antara yang benar dan salah. Memakai busana muslimah sekaligus merupakan simbol mental baja pemakainya. Gimana nggak, dalam kondisi masyarakat yang rusak binti amburadul ini masih ada orang yang berani tampil dan bangga dengan jilbab. Maklum saja, jaman sekarang ini jaman amburadul, utamanya kaum wanita dalam soal busana. Nggak abis pikir memang.</p>
<p>Padahal pabrik tekstil banyak, tapi aneh bin ajaib para wanita lebih seneng berpakaian irit bahan. Termasuk yang rada kacau adalah tren kudung gaul ini. Mereka masih malu untuk menyampaikan pesan Islam yang tegas dan benar. Masih percaya mode ketimbang syariat. Barangkali cukup merasa sudah ber-Islam meski dengan simbolnya yang â€?minimâ€™ itu. Walah?</p>
<p>Seharusnya, di tengah kondisi masyarakat yang memuja kebebasan, di dalam arena kehidupan yang kusut bin suram ini pemakai busana muslimah adalah orang-orang yang bersemangat pantang menyerah. Ia tak gentar melawan kemunafikan, mereka tak takut melawan arus, berani tampil beda dalam kebenaran. Inilah jilbab. Inilah identitas muslimah. Inilah perjuangan mereka melawan hegemoni budaya tak beradab. Dan jilbab menggelorakan emosi: emosi membela Islam, umat, dan dakwahnya. Maka sungguh aneh apabila wanita berjilbab tidak marah kepada Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya yang doyan menghancurkan Islam. Sungguh hueran pula, bila ada wanita berjilbab yang tidak sedih saat membaca berita penderitaan saudaranya di Afghanistan, Poso, dan Ambon. Juga sebaliknya, sungguh tragis ada jilbaber kok sempet-sempetnya histeris nonton Soneta, eh, Coldplay manggung.</p>
<p>Saudaraku, seharusnya, jadikan citra jilbab dalam perspesi sosial umum sebagai kebaikan; sopan, ramah, kalem, tahu agama, alim dan sebagainya. Jadi, seperti kata Kefgen dan Touchie-Specht, bahwa busana adalah â€œmenyampaikan pesanâ€?. Kamu menerima pesan di balik busana orang, kemudian merespon sesuai persepsi sosial kamu.</p>
<p><strong>Nggak usah setengah-setengah</strong><br />
Benar, nggak usah ragu untuk melaksanakan ajaran Islam. Buat kamu yang masih betah berkerudung gaul, udah saatnya deh tampil lebih sempurna, yakni sesuai syariat Islam; pake jilbab plus kerudungnya. Inget ya, jangan kudung gaul. Sebab, malah bikin citra negatif tentang Islam. Lagipula, Islam tak sekadar simbolâ€”apalagi simbolnya nggak sempurna, tapi Islam adalah ajaran yang kudu diterapkan dalam ucapan dan perbuatan pemeluknya. Sesempurna mungkin. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?§?¯?’?®???„???ˆ?§ ?????? ?§?„?³?‘???„?’?…?? ?ƒ???§???‘???©?‹<br />
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (totalitas), (TQS al-Baqarah [2]: 208)</p>
<p>Sekali lagi buat teman remaja puteri jangan setengah-setengah deh kalo mau melaksanakan ajaran Islam, khususnya dalam masalah busana muslimah ini. Insya Allah kita yakin sama kamu, bahwa kamu bisa membedakan mana yang salah dan mana yang bener. Sebab, kalo dikasih tahu tentang kesalahan biasanya ngaku. Jujur gitu lho. Tapi, biasanya rada susah kalo kudu mengubah kebiasaan. â€?Mitosâ€™ bahwa teori lebih gampang ketimbang praktik jadi bener-bener ada. Bagi sebagian orang memang begitu kendalanya. Nah, kalo itu masalahnya, berarti kamu butuh untuk mengubah kebiasaan kamu. Caranya, kamu kudu berani tampil beda. Dalam kebaikan tentu ya? Nggak usah malu. Buang jauh-jauh rasa malu. Juga, coba gabung en gaul dengan teman-teman yang udah sempurna mengenakan busana muslimahnya. Biar mantep.</p>
<p>Asal sabar, insya Allah kamu mampu untuk melepaskan kudung gaulmu, dan mengenakan busana muslimah sesuai syariat; jilbab dan kerudungnya. Dan jangan lupa, senantiasa punya semangat untuk mengkaji Islam. Insya Allah, bersama Islam kita raih kemenangan.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 120/Tahun ke-3/21 Oktober 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menggugat-kudung-gaul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merajut Ukhuwah Islamiyyah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/merajut-ukhuwah-islamiyyah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/merajut-ukhuwah-islamiyyah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/merajut-ukhuwah-islamiyyah/</guid>
		<description><![CDATA[Kata pepatah, nyari musuh seribu gampang, tapi nyari teman satu aja susahnya minta ampun. Bener lho. Coba, kalo kita nyari musuh, bisa dari hal-hal sepele. Misalnya, ngelempar batu kepada setiap orang yang lewat. Itu sih, dijamin kamu banyak dimusuhi orang sekampung dalam waktu cepat. Tapi sekarang kamu coba nyari teman, apalagi sahabat, belum tentu sehari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata pepatah, nyari musuh seribu gampang, tapi nyari teman satu aja susahnya minta ampun. Bener lho. Coba, kalo kita nyari musuh, bisa dari hal-hal sepele. Misalnya, ngelempar batu kepada setiap orang yang lewat. Itu sih, dijamin kamu banyak dimusuhi orang sekampung dalam waktu cepat. Tapi sekarang kamu coba nyari teman, apalagi sahabat, belum tentu sehari dapet, lho. Sebab, kalo nyari orang untuk dijadikan teman, apalagi sahabat, butuh waktu untuk adaptasi dalam rangka mengenali karakternya. Bahkan udah dapet sekalipun adakalanya kita sulit menjaga hubungan itu supaya tetep langgeng. Tul nggak?<span id="more-121"></span></p>
<p>Nah, ngomongin soal ukhuwah islamiyah, alias persaudaraan Islam, kita jadi kepikiran bahwa harga sebuah persaudaraan itu memang mahal. Bayangkan jika kamu hidup sendiri, selain kesepian, kamu juga nggak ada yang ngingetin kalo kamu berbuat salah. Nggak heran dong kalo kemudian kamu nyaris hidup tanpa bimbingan. Silakan dirasakan sendiri. Bahwa kalo hidup tanpa teman itu gimana rasanya. Duh, menyakitkan banget deh. Jangan dicoba!</p>
<p>Contoh seperti ini bisa dirasakan oleh mereka yang baru masuk ke lingkungan anyar. Tadinya banyak teman untuk ngobrol, curhat, dan bercerita apa saja tentang kehidupan, eh, begitu masuk lingkungan baru, kita jadi kikuk. Untuk menjalin dan membangun hubungan dengan orang-orang baru itu ngak mudah lho. Bahkan butuh waktu yang lumayan lama. Jadi, kalo kita udah bisa berteman, apalagi dalam ikatan Islam, rasanya nggak bisa dibayar dengan uang. Sebesar apapun. Jadi emang ukhuwah islamiyah itu mahal harganya.</p>
<p>BTW, sebetulnya di antara kita udah banyak yang ngeh soal yang satu ini. Jadi, anggap aja tulisan ini sebagai bentuk nasihat untuk ngingetin di antara kita. Sebab, teorinya sih udah pada mahir ya? Praktiknya yang nggak tahu. Ya, namanya juga manusia. Nggak salah dong kalo kita saling mengingatkan. Setuju kan?</p>
<p>Sobat muda muslim, terus terang saja, kita khawatir dengan kondisi saat ini, saat beban kehidupan kian menghimpit kita, hingga nggak jarang di antara kita kudu bersaing untuk mendapatkan kenikmatan dan keindahan hidup ini. Bersaing boleh aja, dan silakan kejar apa yang ingin kita raih dan cita-citakan, tapi jangan sampe deh kalo harus memutuskan tali persaudaraan di antara kita. Jangan mentang-mentang lagi asyik dan getol nyari duit or ngejar cita-cita, eh, sampe mengabaikan persaudaraan Islam yang selama ini kita bangun bersama. Itu sih kebangetan ya?</p>
<p>Jadi, sudahlah susah nyari teman dan sahabat, eh, udah dapet malah kita nggak pandai untuk merawatnya. Sayang banget kan? Itu sebabnya, kita kudu apik untuk menjaganya. Jangan sampe putus di tengah jalan.</p>
<p>Sobat, menjalin ikatan ukhuwah islamiyah itu nikmat banget. Islam menjadi bagian dalam kehidupan kita. Suka duka kita dalam perjuangan menyebarkan dakwah Islam terasa lebih nikmat. Sampe-sampe kalo kita harus berpisah dengan kawan seperjuangan itu terasa begitu menyakitkan. Coba deh, simak nasyid dari Brothers yang judulnya Doa Perpisahan. Di situ ada lirik yang begini bunyinya, â€œPertemuan kita di suatu hari/ menitikkan ukhuwah yang sejati/ bersyukurku kehadirat ilahi/ di atas jalinan yang suci. Namun kini perpisahan yang terjadi/ cobaan yang menimpa diri/ bersabarlah di atas suratan/ kutetap pergi juaâ€?</p>
<p>Bahkan, pahit-manis perjuangan saat bersama membela Islam, akan selalu terkenang. Beda banget dengan hubungan pertemanan biasa yang nggak dilandasi dengan Islam. Bener lho. Ukhuwah Islamiyah itu terasa lebih bertenaga dan nikmat, bahkan awet banget.</p>
<p><strong>Bagaimana memulainya?<br />
</strong>Sebetulnya nggak terlalu susah, tapi tentu juga nggak terlalu gampang. Meski demikian, kita kudu berani untuk memulainya. Apalagi Allah Swt. udah berpesan kepada kita bahwa:</p>
<p>?¥???†?‘???…???§ ?§?„?’?…???¤?’?…???†???ˆ?†?? ?¥???®?’?ˆ???©?Œ ?????£???µ?’?„???­???ˆ?§ ?¨?????’?†?? ?£???®???ˆ?????’?ƒ???…?’ ?ˆ???§???‘???‚???ˆ?§ ?§?„?„?‘???‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ?????±?’?­???…???ˆ?†??<br />
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (TQS al-Hujur?¢t [49]: 10)</p>
<p>Nah, kita ini bersaudara sobat. Jadi, yang disebut sebagai saudara itu bukan semata yang satu darah, alias keluarga dekat. Tapi seluruh kaum muslimin di dunia ini adalah saudara kita. Meski tentunya kita nggak bisa berhubungan dengan leluasa ya? Karena memang terbatasi oleh jarak yang memisahkan kita. Tapi, hati kita dekat lho dengan mereka. Buktinya, ketika kaum muslimin di Afghanistan digempur oleh pasukan Amrik, kita yang di sini merasa kasihan sama mereka. Dan tentunya menanam kebencian kepada Amerika. Itu sebagai tanda bahwa kita masih punya ikatan batin yang sulit untuk diputuskan begitu saja.</p>
<p>Nah, bagaimana memulai untuk menjalin persaudaraan? Kenalan. Seperti kata pepatah, tak kenal maka taâ€™aruf, eh, tak kenal maka tak sayang. Kalo kita udah kenal dengan seseorang, biasanya kita rada leluasa untuk bicara. Pererat ikatannya dengan sering dateng ke rumahnya, atau jika ada masalah, kamu coba bantu. Jadi memang kitanya yang kudu agresif. Kalo saling ngandelin mah, biasanya lama nyambung. Sebab, kita tahu sendirilah, yang namanya orang baru kenal itu banyak sungkannya.</p>
<p>Insya Allah dari seringnya kita bertemu akan muncul perasaan yang TST, alias tahu sama tahu tentang kondisi masing-masing. Apalagi kalo sama-sama aktivis pengajian, insya Allah itu akan lebih banyak membantu untuk akrab. Cobalah!</p>
<p><strong>Merawat ukhuwah</strong><br />
Memulai memang berat, tapi lebih berat lagi merawatnya. Sebab, orang yang selalu bersama itu bukan tak mungkin muncul gesekan di antara keduanya. Kamu yang sama-sama aktif di Rohis sekolah, bisa juga muncul benih-benih yang bisa merapuhkan ikatan ukhuwah.</p>
<p>Perbedaan pendapat dalam hal-hal yang umum dan mubah bisa saja terjadi. Misalnya, ketua Rohis ingin bikin acara sanlat, sementara anggota Rohis ada yang nggak setuju. Itu, kalo nggak dikelola dengan baik, bisa muncul konflik yang bisa mengancam keutuhan ukhuwah kita.</p>
<p>Jadi gimana dong? Begini, intinya memang kudu bisa saling menjaga perasaan. Boleh berbeda pendapat, tapi jangan sampe berantem. Kalem aja. Toh juga untuk kebaikan bersama. Lagipula adanya konflik itu kan untuk mendewasakan kita. Bukan malah menjadikan kita berpikir seperti anak kecil, yang menganggap bahwa setiap konflik selalu berarti ancaman. Itu salah. Sebab, adakalnya konflik itu justru pertanda ada kepedulian, bukan sebaliknya. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengelola konflik itu dengan baik.</p>
<p>Inget lho, itu baru sesama aktivis Rohis. Skalanya masih kecil. Gimana kalo itu harus berhadapan dengan yang lebih luas lagi, misalnya di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Wah, di situ menuntut kita untuk ekstra hati-hati dalam bersikap dan mengambil keputusan. Sebab, masalahnya bisa amat njlimet.</p>
<p>Oke deh, kita sih amat yakin bahwa kamu masih bisa sepaham dan sejalan dengan temen-temen satu kelompok pengajian. Tapi adakalanya ketika kita berhadapan dengan teman dari kelompok pengajian lain malah saling sikut, karena, maaf saja, â€?rebutanâ€™ lahan dakwah misalnya. Sayangnya, itu banyak terjadi, lho. Lebih tragis lagi berlangsung turun temurun dengan dibumbui dendam segala. Wah, wah, wah.</p>
<p>Anehnya lagi, seringkali generasi di bawahnya juga ikut-ikutan tanpa tahu kenapa mereka harus seperti itu. Duh, di sini kita sudah kalah. Dan yang tertawa, selain setan, tentunya adalah musuh kita, orang-orang kafir itu. Itu artinya, tugas mereka jadi mudah, karena tinggal ngomporin aja salah satu kelompok dan kemudian menerapkan strategi â€?belah bambuâ€™. Sebagaimana yang sukses dijalankan oleh Belanda saat menjajah kita. Kita bertarung mati-matian. Sementara yang menjadi pemenang adalah penjajah. Keciaaaan deh luh!</p>
<p>Padahal sobat muda muslim, selama masih sesama kaum muslimin, dan jika kemudian dalam perjalanannya muncul konflik karena perbedaan pendapat, jangan langsung musuhan. Nggak baik. Kalo kita musuhan, baik itu diwujudkan dengan adu fisik ataupun perang dingin, padahal itu sesama aktivis Islam, aduh, itu artinya ukhuwah yang selama ini digembar-gemborkan cuma sekadar teori. Praktiknya nol!</p>
<p>Dalam kitab Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah bahwa Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk tidak menyakiti sesama muslim, baik dengan perkataan atau perbuatan, bertawadhu kepada sesama muslim, tidak menyombongkan diri di hadapannya, tidak menggunjing orang lain di hadapannya dan tidak mendengarkan gunjingannya. Juga tidak boleh menghindari (baca: marahan or musuhan) sesama muslim selama lebih dari tiga hari.</p>
<p>Nabi saw. bersabda: â€?Tidak diperbolehkan seorang mukmin untuk menghindari mukmin lainnya lebih dari tiga hari. Jika sudah lebih dari tiga hari lalu dia bertemu dengannya, maka hendaklah dia mengucapkan salam kepadanya. Jika dia menjawab salamnya, maka keduanya bersekutu dalam pahala. Jika dia tidak menjawab salamnya, maka yang mengucapkan salam sudah terbebas dari dosa menghindarinya.â€? (HR Bukhari dan Abu Daud)</p>
<p>Maka, jika ada di antara kita, hanya karena berbeda kelompok pengajian, hanya karena berbeda guru pengajian, atau hanya karena perbedaan kitab yang dikaji, lalu kita memasang kuda-kuda dan siap perang, bahkan banyak kejadian saling mengumbar fitnah, aduh, mengerikan sekali. Sekali lagi, di mana praktik ukhuwah islamiyah yang selama ini dikaji? Apakah nggak ada kesempatan untuk bicara menyamakan persepsi?</p>
<p>Sabda Rasulullah saw : &#8220;Jangan kamu saling dengki dan iri, dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi saw menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya&#8221; (HR Muslim)</p>
<p><strong>Bela Islam, hancurkan kekufuran!<br />
</strong>Sobat muda muslim, udah saatnya kita memantapkan barisan. Meski di antara kita beragam kelompok pengajian, tapi bukan berarti lahan subur untuk permusuhan. Sebaliknya, kita jadikan sebagai kekuatan. Uslub (cara) dalam berdakwah boleh berbeda selama itu memang hal-hal yang mubah. Silakan saja. Bahkan seharusnya saling melengkapi. Sebab, yang penting adalah tujuan kita sama, yakni untuk membela Islam dan menghancurkan kekufuran.</p>
<p>Malu dong dilihat sama orang awam, masak para aktivis Islamnya berantem melulu, perang dingin melulu. Kapan mikirin umatnya? Kapan belain Islam dan umatnya? Kalo â€?berantemâ€™ terus, bukan mustahil kan kalo umat malah nggak simpati dengan dakwah Islam.</p>
<p>Tapi jika kita bersatu dalam tujuan, insya Allah akan memberikan nuansa sejuk dan menakutkan orang-orang kafir. Pantesnya memang begitu. Kita bersaudara, sementara Amerika dan para begundalnya yang memerangi Islam adalah musuh. Ya, kita teladani saja bagaimana Rasulullah saw. bersikap kepada kaum muslimin dan sikapnya kepada orang-orang kafir. Allah Swt. menggambarkan dalam firman-Nya:</p>
<p>?…???­???…?‘???¯?Œ ?±???³???ˆ?„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?…???¹???‡?? ?£???´???¯?‘???§???? ?¹???„???‰ ?§?„?’?ƒ?????‘???§?±?? ?±???­???…???§???? ?¨?????’?†???‡???…?’<br />
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, (TQS al-Fath [48]: 29)</p>
<p>Oke, mulai sekarang, rajut benang ukhuwah di antara kita, dan kita jaga bersama agar orang-orang yang membenci Islam gentar menghadapi keutuhan persaudaraan kita. Mereka takut lho kalo kita bersatu. Siap kan?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 119/Tahun ke-3/14 Oktober 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/merajut-ukhuwah-islamiyyah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cekal â€œ5 Sehat 4 Sempurnaâ€!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cekal-5-sehat-4-sempurna</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cekal-5-sehat-4-sempurna#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cekal-5-sehat-4-sempurna/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sukses menggeber penonton remaja dengan film Ada Apa Dengan Cinta?, Jelangkung, dan Eliana, Eliana, kini film layar lebar yang membidik pasar remaja kembali muncul. Judulnya mirip-mirip semboyan yang sejak SD udah kita kenal. Utamanya soal menu makanan untuk kesehatan, â€œempat sehat lima ratusâ€?, eh, â€œempat sehat lima kenyangâ€?, upsss, maksudnya, â€œempat sehat lima sempurnaâ€?. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah sukses menggeber penonton remaja dengan film Ada Apa Dengan Cinta?, Jelangkung, dan Eliana, Eliana, kini film layar lebar yang membidik pasar remaja kembali muncul. Judulnya mirip-mirip semboyan yang sejak SD udah kita kenal. Utamanya soal menu makanan untuk kesehatan, â€œempat sehat lima ratusâ€?, eh, â€œempat sehat lima kenyangâ€?, upsss, maksudnya, â€œempat sehat lima sempurnaâ€?. Nah, judul film karya Richard Buntario itu â€?diplesetkanâ€™ jadi â€œ5 Sehat 4 Sempurnaâ€?. Katanya nih film berjenis urban pop comedy, yang menceritakan tentang kehidupan anak muda di kota metropolitan. Film ini konon kabarnya menyajikan suatu komedi yang memang dapat dijumpai di sekitar kita.<span id="more-120"></span></p>
<p>Gaya bahasa, cara berpakaian, bahasa yang digunakan hingga ungkapan-ungkapan yang terlontar disesuaikan dengan apa adanya dari gaya hidup remaja sekarang. Ditambah pula dengan karakter tidak biasa yang mungkin sudah biasa, Vantje. Seorang tokoh yang punya â€?dua alamâ€™, yang kedua-duanya ia nikmati. Jadi perempuan dan laki-laki. Wackss?</p>
<p>&#8220;Ini jenis komedi baru yang berbeda dengan gaya Warkop yang pernah ada. Film ini tidak menampilkan slapstick, tapi komedi yang khas pada masyarakat urban, bukan jenis slapstick,&#8221; ujar Richard Buntario seperti yang dikutip detik.com.</p>
<p>Bintang yang ikut berperan dalam film ini kebanyakan muka baru yang dianggap cukup layak mewakili generasi saat ini. Mereka adalah Fathir Muchtar, Rena Tabitha, Ivan Gunawan, Irfan Penyok, Eddies Adelia, Jae&#8217;im, Elzan Aziz, Indra Bekti, dan Judith.</p>
<p>Dengan dasar persahabatan, pergaulan dan keseharian dari 9 orang remaja di kota metropolitan, film ini mengisahkan pertaruhan gila yang digunakan untuk mengukur kemampuan masing-masing. Danny (Fathir Muchtar) menantang Julia (Rena Tabitha) untuk dapat kencan dengan artis luar negeri yang sedang berkunjung ke Indonesia. Sedang Julia menantang Danny untuk dapat kencan dengan Mona, bekas pacar Danny.</p>
<p>Aduh, sebenarnya kita males juga deh ngebeberin film ini di buletin kesayangan kita. Sebab, jadi mirip-mirip promosi gratis. Tapi nggak apa-apa, maksud kita menggempur lewat tulisan seperti ini, dengan harapan bahwa temen-temen remaja jadi berpikir lebih bijak.</p>
<p>Emang sih, buat temen-temen yang lagi asyik menikmati kebebasan dunianya, nggak bakalan suka dikritik habis-habisan seperti ini. Tapi inget lho, boleh jadi kamu yang lagi seneng-senengnya dengan kehidupan yang serba bebas ini, bahkan sekarang diberikan semacam pembenaran dalam film tersebut. Maka, jelas aja kamu akan menilai orang-orang yang merecoki kehidupan kamu dengan sebutan kuno, cerewet, sirik, bawel, dan puluhan sebutan lain yang dikeluarkan dari mulut kamu. Tapi intinya sama; kamu membela apa yang kamu sukai supaya orang lain nggak menganggap or menilai salah terhadap masalah itu. Lha, ini kan sesuatu yang mengkhawatirkan. Bahaya sobat!</p>
<p>Inget lho, kita banyak mengkritisi bukan berarti benci, apalagi antipati. Tapi justru adalah wujud peduli dan simpati sama kamu-kamu. Yakinlah, nggak ada sedikitpun perasaan sok suci, or arogan dari kita-kita yang selalu bikin merah kuping kamu, khususnya bagi yang kena sindir dong (he..he..he..). Jadi jangan pernah kamu menganggap kalo itu bagian dari kepuasan kita-kita dalam mempermak kamu. Nggak lha yauw. Sekali lagi, kita cuma sharing, alias berbagi apa yang kita tahu soal itu. Harapannya, kamu juga bisa ngerti. Selanjutnya, mari sama-sama belajar Islam dengan lebih giat lagi. Begitu sobat. Setuju kan?</p>
<p><strong>Produk kapitalisme</strong><br />
Film â€œ5 Sehat 4 Sempurnaâ€?, seperti yang udah sering kita lihat klip promonya di televisi, nggak beda dengan film-film remaja sejenis yang nggak ngasih penyelesaian atas persoalan yang terjadi. Malah sebaliknya tambah bikin puyeng dan kebelit-belit dengan kenyataan yang begitu banyak disodorkan tanpa ada solusi yang benar. Jadi, boro-boro menawarkan solusi islami, solusi untuk memperbaiki â€?moralâ€™ sekalipun tidak disentuh.</p>
<p>Jadi jelas, sinema remaja yang ada justru merasa wajib untuk menjauhkan remaja dari ajaran Islam. Akibatnya, bisa kamu lihat sendiri, seperti film-film sejenis yang udah tayang duluan, baik itu layar lebar atau di sinetron remaja yang udah bejibun banget, semuanya telah menggiring remaja untuk menjalani gaya hidup bebas sebagai aktivis free thinkers alias para pemikir bebas. Bebas berbuat apa saja. Intinya, selama itu menyenangkan dan bikin enak, jalani aja. Nggak usah kenal halal dan haram. Lha, ini kan sangat gawat surawat.</p>
<p>Tapi jangan heran sobat muda, ini kan bagian dari kehidupan. Kita belajar dari kehidupan yang ada saat ini. Coba renungkan kembali, kita yang sekarang udah bisa ini dan itu dalam ajaran Islam, pastinya melalui proses yang amat panjang. Bahkan melalui perjuangan batin untuk melepaskan diri dari pengaruh bejat budaya jahiliyah yang ada saat ini.</p>
<p>Kita, waktu masih jahiliyah dulu, pastinya kita seneng banget kalo ngelihat ada orang yang pacaran. Dalam hati kita, pengen juga ikutan. Bahkan mungkin bercita-cita untuk bisa kencan dengan pasangan yang oke dan keren. Itu terjadi saat jiwa dan pikiran kita di-format oleh kehidupan tersebut. Itu akan nyetel terus lho, sebelum akhirnya ada yang mengatakan bahwa itu salah.</p>
<p>Dulu, penulis malah sempat sebel sama seorang teman yang terus-terusan ngajak ngaji sama penulis. Sebab, waktu itu penulis berpikir, bahwa kalo udah bisa sholat, bisa baca quran; ngapain lagi ngaji? Males ah! Kenapa bisa begitu? Karena jiwa dan pikiran penulis saat itu masih menilai dan memandang persoalan dari kacamata kehidupan yang dipahami penulis saat itu. Jadi orang berpikir dan bertindak bisa distel sesuai dengan kondisi yang mendominasi kehidupannya. Bahaya memang.</p>
<p>Nah, ternyata kalo kita coba hubungkan jalan cerita yang ditawarkan film remaja yang baru dirilis awal bulan Oktober ini, tepatnya tanggal 3 Oktober 2002, bakalan ketemu deh, bahwa film itu juga bercerita tentang gimana amburadulnya produk sistem kapitalisme. Memang, sangat boleh jadi sang produser, sutradara, pemain film, dan juga sebagian besar penonton remaja nggak ngeh kalo itu adalah keburukan. Mereka malah menganggapnya sebagai bagian dari kondisi kehidupan saat ini. Nggak lebih, nggak kurang. Kenapa bisa begitu? Karena mereka menganggap bahwa beginilah kehidupan yang terjadi saat ini. Jadi prinsipnya, jalani aja. Tentunya itu semua karena ketidaktahuan mereka. Sebab, mereka dan juga mayoritas temen remja adalah bagian dari realitas sistem kehidupan kapitalisme itu sendiri.</p>
<p>Sobat muda muslim, yakin saja, bahwa munculnya film remaja seperti ini karena memang inilah produk dari sistem kapitalisme. Sistem kehidupan yang memberikan ruang yang amat besar buat individu. Individu diberikan kebebasan untuk berbuat sesukanya, bahkan negara bertujuan melayani kepentingan individu. Akibatnya, sistem ini juga melahirkan orang-orang yang individualistis. Sederhananya, napsi-napsi deh. Elo mikirin urusan elo sendiri, jangan suka ngerecokin urusan orang lain. Dengan demikian bakalan pula berkembang kehidupan permisif, alias serba bebas. Tanpa nilai!</p>
<p>Nah, sisi kehidupan yang coba dipotret dalam film â€œ5 sehat 4 Sempurnaâ€? adalah kehidupan yang memberikan ruang yang amat besar bagi aktivitas individu. Individu dibiarkan bebas melakukan apa saja. Bahkan â€?diajarkanâ€™ bahwa kebebasan itu adalah â€?dewaâ€™ dan kudu dijadikan sebagai realitas yang nggak bisa diubah. Celaka!</p>
<p><strong>Kita korban ghazwul fikriy</strong><br />
Do you know ghazwul fikriy? Yup, bahasa kitanya, ghazwul fikriy adalah perang pemikiran. Layaknya sebuah perang, maka ada yang menang dan yang kalah. Dan itu bergantung kepada kekuatan yang dimiliki oleh salah satu pelaku. Kalo ia bersenjata lengkap dan kreatif dalam penyerangannya, maka ia dipastikan akan menjadi pemenangnya. Nah, dalam perang pemikiran juga sama. Yang mendominasi maka akan memiliki peluang yang besar untuk mempengaruhi lawannya.</p>
<p>Amrik boleh dibilang mewakili negara yang mengemban ideologi kapitalisme, yakni sistem kehidupan yang berakidah sekular, alias memisahkan agama dari kehidupan politik, telah melancarkan serangannya kepada Islam dan umatnya. Ini mutlak terjadi. Kenapa? Karena karakter ideologi itu akan selalu trengginas dan sregep. Pokoknya rada nggak rela kalo itu hanya dimiliki sendiri. Itu sebabnya, selalu ada keinginan untuk menyampaikanya kepada orang lain. Nggak kenal kata diem. Orang yang memahami kapitalisme sebagai sebuah ideologi, maka ia akan memperjuangkannya. Begitupun dengan orang yang memahami Islam sebagai sebuah ideologi, maka ia pun bakal rela untuk berkorban dalam membelanya. Klop. Dan ini akan selalu berbenturan. Pasti, lho.</p>
<p>Siapa yang kalah? Dalam kasus sekarang, kita, remaja muslim yang menjadi korbannya. Buktinya apa? Kita malah menjadi pengikut budaya mereka. Udah berapa juta remaja yang melakukan seks bebas, juga udah nggak keitung jumlah teman remaja yang mengkonsumsi narkoba dan miras, dan bahkan mencontek abis gaya hidup Barat. Itu artinya kita sudah kalah. Sosiolog Islam kondang, Ibnu Khaldun pernah mengatakan, bahwa: â€œYang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.â€?</p>
<p>Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???„???¦???†?’ ?£?????????’???? ?§?„?‘???°?????†?? ?£???ˆ?????ˆ?§ ?§?„?’?ƒ???????§?¨?? ?¨???ƒ???„?‘?? ?????§?????©?? ?…???§ ?????¨???¹???ˆ?§ ?‚???¨?’?„???????ƒ?? ?ˆ???…???§ ?£???†?’???? ?¨???????§?¨???¹?? ?‚???¨?’?„???????‡???…?’ ?ˆ???…???§ ?¨???¹?’?¶???‡???…?’ ?¨???????§?¨???¹?? ?‚???¨?’?„???©?? ?¨???¹?’?¶?? ?ˆ???„???¦???†?? ?§???‘???¨???¹?’???? ?£???‡?’?ˆ???§?????‡???…?’ ?…???†?’ ?¨???¹?’?¯?? ?…???§ ?¬???§?????ƒ?? ?…???†?? ?§?„?’?¹???„?’?…?? ?¥???†?‘???ƒ?? ?¥???°?‹?§ ?„???…???†?? ?§?„?¸?‘???§?„???…?????†??<br />
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. (TQS al-Baqarah [2]: 145)</p>
<p>Sobat muda muslim, sekali lagi, kalo kita ternyata menjadi pengikut dari ajaran mereka, maka artinya kita memang layak menjadi pecundangnya. Ih, naudzbillahi min dzalik.</p>
<p><strong>Bagaimana langkah kita?</strong><br />
Ya, persoalan kita adalah, kalah bersaing dalam menampilkan produk. Memang benar kalo dikatakan bahwa remaja kita kehilangan figur untuk dijadikan teladan. Informasi yang masuk semuanya berasal dari Barat, atau sudah bercampur dengan ide-ide dari Barat, yang sebenarnya bukan obat, tapi racun.</p>
<p>Bagaimana langkah kita? Secara teknis bisa ditempuh jalur berikut; mencari konglomerat muslim untuk mendanai semua kegiatan yang bertujuan mengenalkan Islam kepada remaja. Misalnya, melobi mereka untuk menerbitkan buku-buku, majalah, koran, dan tabloid yang mengajarkan tentang Islam, atau kalo mungkin televisi khusus yang menyiarkan ajaran Islam. Jadi ada investasi di jalur itu.</p>
<p>Kalo ini bisa dilakukan, maka lambat-laun akan mengikis pemahaman remaja yang sudah terbentuk dengan ajaran dari Barat, dan akan berganti dengan mencintai dan mengamalkan ajaran Islam. Itu tidak mustahil, alias bisa dicoba. Persoalannya, masih perlu ditumbuhkan niat yang ikhlas dan sikap rela berkorban dari para konglomerat muslim untuk menjalankan proyek ini. Yakinlah, boleh dbilang ini adalah sebagai satu upaya kecil yang bisa dilakukan. Bila tidak? Tampaknya kita kudu kembali berjuang dengan amat berat. Karena selain harus menangkis serangan mereka, juga sekaligus kudu menahan serangan dari dalam kalangan kita sendiri yang sudah trepengaruh dengan ide Barat. Berat juga memang.</p>
<p>Sobat muda muslim, paling sederhana lagi yang bisa kita lakukan adalah, memilih dan memilah tayangan yang ada. Sortir aja deh. Kalo ada yang salah kita buang, yang benarnya kita ambil. Tapi inget, supaya kamu bisa membedakan mana yang salah dan mana yang bener, ikut pengajian. Dengan kita kaji Islam secara benar dan bai, Insya Allah akan jadi modal perjuangan kita. Maju terus pantang mundur. Jadi, kita cekal saja film â€œ5 Sehat 4 Sempurnaâ€?!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 118/Tahun ke-3/7 Oktober 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cekal-5-sehat-4-sempurna/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalo Kamu Dikhitbahâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalo-kamu-dikhitbah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalo-kamu-dikhitbah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kalo-kamu-dikhitbah/</guid>
		<description><![CDATA[Dikhitbah? Wow, suka dong. Yup, ini adalah artikel â€?sekuelâ€™-nya tentang khitbah. Kalo minggu kemarin kita ngajak yang cowok untuk mengkhitbah, sekarang, biar adil, kita mencoba ngajak anak puteri untuk bersikap bijak seandainya ada anak cowok yang â€?nekatâ€™ mengkhitbah dirinya. Gimana, setuju kan?
Oke deh, yang baca edisi kemarin insya Allah bakalan klop kalo kita ajak ngomongin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikhitbah? Wow, suka dong. Yup, ini adalah artikel â€?sekuelâ€™-nya tentang khitbah. Kalo minggu kemarin kita ngajak yang cowok untuk mengkhitbah, sekarang, biar adil, kita mencoba ngajak anak puteri untuk bersikap bijak seandainya ada anak cowok yang â€?nekatâ€™ mengkhitbah dirinya. Gimana, setuju kan?<span id="more-119"></span></p>
<p>Oke deh, yang baca edisi kemarin insya Allah bakalan klop kalo kita ajak ngomongin yang satu ini. Bagi yang ketinggalan baca edisi kemarin, mohon pinjem saja sama temennya. Pokoke, ini ceritanya khusus buat temen-temen yang emang udah siap segalanya. Jadi sekali lagi, bukan ditujukan buat kamu yang masih SMU, apalagi SMP. Bagi kamu-kamu yang masih ke sekolahnya pake seragam, jadikan aja sebagai wawasan untuk jaga-jaga. Siapa tahu nanti kamu membutuhkan bimbingan, tul nggak?</p>
<p>Nah, ngomongin soal khitbah berarti kita sedang bicara tentang cinta. Khususnya tentang sarana untuk menyalurkan rasa cinta ini dengan baik. Memang sih, kalo lihat temen-temen remaja yang lain, kalo di antara mereka saling jatuh cinta, biasanya langsung diwujudkan dengan pacaran. Dan ini kita pikir udah pada tahu semua gimana sih rasanya, or ngelihat orang yang sedang pacaran. Mesra danâ€¦ ah, nggak usah diterusin deh. Tapi inget lho, pacaran itu kan cara penyaluran rasa cinta yang diharamkan oleh Allah Swt.</p>
<p>Oya, seperti yang udah kita baca di edisi kemarin, khitbah adalah pernyataan seorang lelaki kepada wanita yang disukainya untuk serius menikahinya. Dan ini disampaikan kepada ortunya. Tentu setelah kita udah sama-sama janjian dong. Kalo nggak, bisa gaswat. Jadi khitbah boleh dibilang â€?nandainâ€™ calon kita. Pokoknya diiket dulu deh, sebelum akhirnya dinikahi.</p>
<p>Nah, kadangkala, anak puteri yang akhirnya kebingungan. Kalo kemarin kita bahas anak cowok yang bimbang dan kurang pede untuk mengkhitbah akhwat, kita kasih support supaya mantap dan berani, sekarang kita coba nemenin anak puteri untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi pinangan anak cowok.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman neh, paling nggak ada beberapa masalah yang dihadapi anak puteri dalam urusan ini. Misalnya, ketika datang anak cowok yang berani menyatakan keseriusannya untuk menikah dengannya, adakalanya anak puteri suka keder menghadapai ini. Sebab, tak selamanya begitu mendapat pinangan langsung seneng. Kenapa? Bisa jadi kasusnya adalah begini; ada orang yang meminang dirinya, tapi ternyata nggak sesuai dengan kriteria pria idamannya. Kan itu bikin bingung. Maksud hati berharap yang datang tipe Arjuna, eh, yang berani dan nekat ngedatengin malah tipe Rahwana. Karuan aja bak serasa disamber petir. Waduh, gimana cara menolaknya? Apalagi ortu juga turut campur, makin berabe aja tuh.</p>
<p>Masalah lain yang biasanya terjadi adalah, begitu ada anak cowok yang berminat sama kita, eh, kitanya masih pada sekolah or kuliah. Wah, itu bikin masalah juga ya? Mungkin kalo yang udah kuliah nggak terlalu bermasalah, asal pandai ngasih keyakinan sama ortu, karena memang kalo udah kuliah boleh nikah. Itu bedanya dengan yang masih sekolah di SMU. Paling nggak itu berdasarkan aturan main di negeri ini. Karena dalam Islam nggak begitu kok. Boleh-boleh aja asal udah pada baligh.</p>
<p>Masalah lainnya apa? Kita udah sama-sama oke dengan pasangan kita, eh, ortu kita malah nggak setuju. Mending kalo alasannya bisa dipertanggung jawabkan secara ajaran Islam, kadangkala hanya persoalan nasab, harta, status sosial, dan seabrek masalah yang nggak perlu dijadikan sebagai paramater untuk membina sebuah rumah tangga. Tapi walau bagaimana pun juga itu adalah masalah yang kudu diselesaikan dengan tuntas.</p>
<p><em>Ngomong-ngomong, jadi gimane neh kalo kamu dikhitbah?</em></p>
<p><strong>Jangan repot-repot; terima!<br />
</strong>Wacksss? Sembarangan, main terima aja. He..he..he.. ini ceritanya kalo memang udah sreg gitu lho. Apalagi ortu kita setuju. Kita dan anak cowok itu juga sama-sama aktivis pengajian. Wah, itu sih jangan dilama-lamain, mending segera terima pinangan dan nikah. Duh, enak banget ya kalo itu terjadi sama kita-kita. Jelas aja, itu kan kondisi ideal.</p>
<p>Oya, kita ngasih saran begini bukan ngebelain anak cowok lho. Tapi kita mencoba memberikan gambaran buat kamu-kamu anak puteri. Seperti halnya anak cowok, yang puteri juga jangan pilih-pilih deh. Maksudnya, menggunakan pilihan yang nggak perlu. Seperti, menentukan bahwa calon suaminya kudu pandai bahasa Arabnya, kudu sekufu dalam hal status sosial (kalo kita sarjana, ya, calon suami kita juga kudu sarjana), terus minimal punya wajah yang nggak kalah ganteng dengan para personelnya Westlife, udah gitu harus keturunan ningrat, lagi. Wah, itu keberatan sama kriteria, bisa-bisa jadi keburu tue Non, karena kriterianya ideal banget.</p>
<p>Uppsss.. sori, kita nggak nuduh lho, tapi mengingatkan. Apalagi kamu udah tahu kalo yang berminat sama kamu itu orangnya berakhlak mulia dan pengetahuan agamanya oke. Cuma kurangnya, seperti yang tadi disebutkan. Jadi, sebetulnya nggak bijaksana dong kalo kamu menolak, dan kayaknya nggak pantes. Apalagi sih yang mau diharapkan? Iya nggak?</p>
<p>Lagipula, kriteria pemilihan yang berlaku buat kaum lelaki, juga berlaku buat anak puteri. Umar r.a. pernah berkata: â€œJanganlah kalian menikahkan puteri kalian dengan lelaki yang buruk perangainya, karena kriteria-kriteria yang berlaku pada laki-laki juga berlaku bagi perempuan.â€?</p>
<p>Dan buat para ayah serta walinya anak puteri, kudu waspada. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???„?§?? ?????†?’?ƒ???­???ˆ?§ ?§?„?’?…???´?’?±???ƒ?????†?? ?­?????‘???‰ ?????¤?’?…???†???ˆ?§<br />
Dan janganlah kamu nikahkan wanita-wanita mukminat dengan pria-pria musyrik sebelum mereka beriman.â€? (TQS al-Baqarah [2]: 221)</p>
<p>Tapi kita yakin kok, bahwa kamu yang puteri juga udah ngeh dan nggak salah pilih dalam menentukan kriteria. Kalo yang dateng itu orangnya sholeh dan berakhlak mulia, biasanya temen puteri juga langsung nyetel aja. Iya nggak? Tapi kalo memang nggak sreg. Namanya juga manusia ya? Ada aja keinginan lebih dari itu. Dan keinginan itu boleh-boleh aja kok. Sebab yang namanya perasaan itu susah sih. Kudu bener-bener ada â€?getaranâ€™ yang, gimanaaa gituâ€¦ Aduh, sulit menjelaskan dengan kata-kata atau tulisan.</p>
<p>Kalo kejadiannya kayak gitu, kamu boleh aja nolak. Tapi kudu baik-baik ya. Anak cowok juga sama punya perasaan. Jadi kalo kamu nolak pinangan, ya jangan dipublikasikan ke orang lain dong. Apalagi sampe bangga segala, dan menganggap pasaran kamu naik karena kamu jual mahal. Wah, itu nggak baik, Non.</p>
<p><strong>Boleh nggak wanita â€?menawarkanâ€™ diri?<br />
</strong>Wah, nekat amat? Nggak juga tuh. Memang sih umumnya wanita bersikap pasif. Artinya nungguin ada yang meminang dirinya. Tapi Islam membolehkan lho, wanita menawarkan diri kepada seorang laki-laki untuk dijadikan istri. Pada masa Rasulullah saw. ada perempuan yang pernah melakukannya seperti diriwayatkan dalam hadis berikut: â€œDari sahl bin saâ€™ad, bahwa Rasulullah saw. pernah didatangi oleh seorang perempuan, lalu ia berkata: â€?Ya Rasulullah, sesungguhnya saya menyerahkan diri kepada Tuanâ€™. Ia berdiri lama sekali, kemudian tampil seorang laki-laki dan berkata: â€?Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengan perempuan ini seandainya tuan tidak berhasrat kepadanyaâ€¦â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Nah, jadi silakan saja, kalo emang kamu berkenan untuk melakukan itu. Nggak dilarang kok. Memang sih, tradisi yang ada di sini, mengharuskan wanita bersikap pasif. Kalo ada yang â€?agresifâ€™, malah mungkin dianggap kenapa-napa. Jadi dari segi hukum boleh-boleh aja. Mau? Silakan dicoba. He..he..he..</p>
<p><strong>Kalo ortu yang bikin masalah?<br />
</strong>Nah, ini juga jadi persoalan Non. Untuk urusan ini adakalanya gampang-gampang susah. Tapi jangan sedih. Tenang aja. Misalnya, kamu â€?dijodohinâ€™ sama ortu kamu. Padahal kamu nggak suka sama lelaki yang dipilihin sama ortumu. Sebenarnya kamu bisa aja nolak. Boleh kok.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas bahwa seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu ia menceritakan kepada beliau tentang ayahnya yang mengawinkannya dengan laki-laki yang ia tidak sukai. Maka Rasulullah menyuruh dia untuk memilih (menerima atau menolak).â€? (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Daruquthni)</p>
<p>Begitu Non. Tapi tentunya kamu menyampaikan kepada ortu dengan baik-baik pula. Nggak boleh sambil marah-marah. Jadi, mau nerima silakan, mau nolak juga nggak masalah. Semua diserahkan kepada kamu, kok. Dan cuma kamu yang berhak menentukan pilihan. Bukan orang lain.</p>
<p>Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, ia berkata: â€œSeorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu katanya: â€?Sesungguhnya ayahku mengawinkan aku dengan anak saudaranya, agar dengan begitu terangkat martabatnya. Kata Abdullah: â€?Lalu Rasullah saw. menyerahkan urusannya kepadanya. Dan katanya: â€?Saya mengizinkan tindakan ayahku kepadaku. Tetapi yang aku kehendaki yaitu memberitahu kepada kaum wanita bahwa bapak-bapak itu tidak mempunyai apa-apa dalam urusan ini (perkawinan).â€? (HR Ibnu Majah yang dikutip dalam kitab Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq)</p>
<p><strong>Kalo udah jadian dikhitbah?<br />
</strong>Wah, alhamdulillah atuh. Tapi inget, khitbah adalah semacam â€?pintuâ€™ menuju nikah. Jadi belum sah ngapa-ngapain. Memang sih, mentang-mentang anaknya udah ada yang meminang, suka ada ortu yang membiarkan anaknya bebas kemana-mana bareng tunangannya. Wah, kalo gitu apa bedanya dengan pacaran? Itu kan sama aja gaul bebas. Dan jelas berdosa dong. Haram lho.</p>
<p>Nah, kalo emang kamu udah â€?kebeletâ€™ mendingan nikah aja langsung. Nggak usah ditunda-tunda lagi. Lebih save. â€?Penyakitâ€™ orang yang udah punya tempat untuk berbagai cerita, biasanya pengennya ketemu melulu. Celakanya, kalo terus-terusan ketemu, nggak ada jaminan kalo iman kamu juga makin menipis. Jangan heran kalo kemudian malah berzina. Ih, naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Memang sih, kalo kamu udah jadian dikhitbah, berbicara or kirim-kirim surat dengan calonmu nggak dilarang. Sah-sah saja. Tapi inget, jangan keterusan. Bisa gaswat. Jangan-jangan nanti kamu sulit ngebedain antara rasa suka dengan nafsu bisikan iblis. Celaka!</p>
<p>Kita sih menyarankan kalo udah oke mending segera nikah aja. Meski memang waktu dari khitbah ke nikah itu nggak ditentukan dengan jelas, artinya mau 50 tahun lagi nikah juga boleh (ih, udah jadi nenek-nenek dong? Ya, salah sendiri he..he..). Tapi meski demikian, alangkah utamanya kalo kamu segera menikah saja.</p>
<p><strong>Pesan buat yang masih sekolah</strong><br />
Memang asyik ya kalo bicara soal cinta dan pernikahan. Jujur saja, hampir semua orang seneng ngomongin ini. Tapi inget, karena kita yakin neh, mayoritas pembaca buletin ini adalah masih anak sekolah, jadi jangan keburu sregep dapat pembahasan seperti ini.</p>
<p>Pesan kita, jadikan saja ini sebagai tambahan wawasan buat kamu. Dan kita yakin kok, bahwa kamu udah bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang bisa ditunda. Iya nggak? Sekarang fokus belajar, dan jangan nekat pacaran. Kita juga nggak abis pikir sama kondisi masyarakat dan negara sekarang ini; gaul bebas dimudahkan, tapi nikah malah dipermasalahkan. Kebalik-balik memang. Oke, jangan lupa, tetep semangat mengkaji Islam!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 117/Tahun ke-3/30 September 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalo-kamu-dikhitbah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Kita Khitbah!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-khitbah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-khitbah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:37:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/yuk-kita-khitbah/</guid>
		<description><![CDATA[Duh, judulnya kok provokatif banget ya? Hmmâ€¦ nggak juga kok? Lagian kenapa musti ditutup-tutupi, iya nggak? Masak kita kalah sama yang aktivis pacaran. Mereka sampe nekat over acting di depan banyak orang. Nggak tanggung-tanggung, mereka cuek aja bermesraan. Nggak peduli lagi dengan orang di sekitarnya. Bahkan mungkin ada rasa puas udah bisa ngasih â€?hiburanâ€™ ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duh, judulnya kok provokatif banget ya? Hmmâ€¦ nggak juga kok? Lagian kenapa musti ditutup-tutupi, iya nggak? Masak kita kalah sama yang aktivis pacaran. Mereka sampe nekat over acting di depan banyak orang. Nggak tanggung-tanggung, mereka cuek aja bermesraan. Nggak peduli lagi dengan orang di sekitarnya. Bahkan mungkin ada rasa puas udah bisa ngasih â€?hiburanâ€™ ke orang lain. Hih, dasar!<span id="more-118"></span></p>
<p>Lihat aja di angkot, di pasar, apalagi di mal, ada aja pasangan ilegal ini yang nekat melakukan adegan yang bisa bikin orang yang ngeliat merasa muak dan sebel. Aksi nekat dan berani malu memang. Hubungan gelap dan liar!</p>
<p>Pacaran dikatakan hubungan gelap? Ya, sebab, ikatan antara laki-laki dan wanita yang sah dalam pandangan Islam adalah dengan khitbah dan nikah. Nggak ada selain itu. Dengan demikian yang boleh dibilang sebagai hubungan yang â€?terangâ€™ itu adalah khitbah dan nikah itu. Namun demikian, jangan dianggap bahwa khitbah sama dengan pacaran islami, lho. Itu salah besar sodara-sodara.</p>
<p>Sobat muda muslim, khitbah dalam bahasa Indonesia artinya meminang. Udah pernah kenal istilah ini? Jangan sampe kuper ya? Apalagi selama ini, kayaknya banyak juga dari kita yang nggak kenal istilah-istilah islami. Yang kita hapal betul dan udah terformat dalam otak dan pikiran kita adalah istilah dan aturan main yang bukan berasal dari Islam. Jadinya ya pantes aja nggak ngeh, bahkan mungkin nggak kenal sama sekali. Memprihatinkan memang.</p>
<p>Anehnya, kita lebih kenal dan paham istilah pacaran. Akibatnya, sebagian besar dari kita mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maklum, perbuatan itu kan selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Itu mutlak lho, nggak bisa ditawar-tawar lagi.</p>
<p>Ujungnya, ada juga yang kemudian menganggap bahwa pacaran adalah semacam aktivitas â€?wajibâ€™ bagi orang dewasa, ketika ingin memilih or mencari pasangan hidup. Itu sebabnya, jangan heran pula kalo ada ortu yang begitu resah dan gelisah ketika menyaksikan anak gadisnya masih menyendiri. Pikirannya selalu yang serem-serem. Ujungnya, untuk mengusir perasaan itu, nggak sedikit ortu yang tega ngomporin anaknya supaya nyari pasangan. Dalam beberapa kasus malah lebih mengerikan, ada ortu yang ngasih pernyataan, bahwa siapa pun deh pacar anak gadisnya yang penting laki-laki. Wacksss?</p>
<p>Nah lho, apa nggak salah tuh? Tentu salah dong dalam pandangan Islam. Kok nggak disuruh nikah? Kok malah dibiarin pacaran dulu? Waduh. Bahaya Mas!</p>
<p>Dan, tentunya ada juga di antara mereka yang menjalani aktivitas itu karena memang nggak tahu hukumnya, alias kagak nyaho, jadinya ya kayak begini ini.</p>
<p><strong>Apa yang kudu dilakukan sebelum khitbah?<br />
</strong>Ini ceritanya kalo kita udah serius mau nikah lho. Jadi, untuk temen-temen yang masih SMP or SMU, kayaknya jadikan aja sebagai wawasan ya? Untuk sementara kok. Kali aja nyangkut-nyangkut dikit deh. Biar nggak buta banget. Emang sih kagak enak ati ye, cuma dapet teorinya dong. Praktiknya belum. Tapi nggak apa-apa kan? Kuat nahan aja dulu ya?</p>
<p>Buat para cowok, sebelum kita â€?nekatâ€™ mengkhitbah pasangan kita. Ada beberapa kriteria yang kudu jadi patokan kita. Nggak asal aja ya? Pesan kita neh, â€œJangan keburu-buru. Gunung tak akan lari dikejarâ€? Kalem aja Mas!</p>
<p><strong>Pertama</strong>, carilah wanita yang sholihah. Abdullah bin Amr berkata bahwa Rasulullah saw suatu saat bersabda:â€œDunia ini sesungguhnya merupakan kesenangan, dan kesenangan dunia yang paling baik adalah seorang wanita yang shalihâ€? (HR Ibnu Majah)</p>
<p>Nah, itu pesan nabi kita sobat. Jadi jangan sekali-kali nyari yang bakalan bikin repot buat kita-kita. Pokoke, jangan ambil risiko dengan memilih gajah, alias gadis jahiliyah. Masak tega-teganya sih kamu milihinhj buat anak-anak kamu nanti ibunya yang amburadul begitu rupa.</p>
<p>Dan tentunya biar peluang kamu gede untuk dapetin gadis yang sholihah, maka kamunya juga kudu jaim (jaga imej). Kamu musti taat dan sholeh juga dong. Malu atuh, seorang muslim tapi kelakuannya nyontek abis kaum lain. Mana ada cewek baik-baik mau sama kamu yang begitu. Jadi, dua-duanya emang kudu oke.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, kalo kamu pengen nyari calon istri, sebelum meminta ke ortunya (mengkhitbah), pastikan calon kamu itu oke punya dong. Utamanya dalam soal agamanya. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah juga pernah bersabda:â€œWanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Tetapi hendaklah kamu memilih wanita yang beragama. Camkanlah hal ini olehmu.â€? (HR. Jamaâ€™ah kecuali Tirmizi)</p>
<p>Betul. Itu bakalan bisa memberikan yang terbaik buat kita. Memang sih, kita kepengen banget dapet pasangan yang wajahnya enak dan sedap dipandang mata. Yang laki barangkali mengkhayal, kali aja dapet istri yang wajahnya kembaran banget ama Shakira or Jessica Alba. Aduh, gimana senengnya kali yee. Begitu juga anak cewek, berharap banget dapet gandengan itu cowok yang mirip-mirip Vaness Wu or Vic Zhou. Wah, bisa-bisa â€?kesetrumâ€™ tuh.</p>
<p>Tapi tentunya bakalan percuma aja kalo punya gandengan yang tampilannya oke tapi bikin berabe. Karena doi nggak taat sama Allah. Kalo dalam istilah komputer, jangan sampe kita punya pasangan tipe Windows, tampilan luar sih boleh, tapi dalemnya penuh bugs. Wacksss?</p>
<p>Ini berlaku buat kedua belah pihak dong. Yang laki kudu taat, begitu pun yang wanita. Jangan sampe yang wanita nyablaknya minta maaf (bosen pake â€?ampunâ€™ aja). Gaswat itu. Kalo dalam istilah komputer, cewek model gitu katanya tipe monitor; genit, senangnya diperhatiin, suka pamer, padahal belum tentu yang dipamerin bagus.</p>
<p>Oke, paling nggak inilah panduan awalnya sebelum kamu mengkhitbah wanita pujaan hatimu. Jadi jangan asal aja. Begitu juga kamu yang wanita atau walinya, jangan cuma seneng ngelihat cowok atau calon menantunya dari tampilan fisiknya aja, padahal pikirannya amburadul. Intinya carilah yang beriman kepada Allah Swt.</p>
<p>Abu Nuâ€™im mentakhrij di dalam al-Hilyah, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata: â€œYazid bin Muâ€™awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Dardaâ€™ untuk menikahi putrinya. Namun Abu Dardaâ€™ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, â€?Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Dardaâ€™?â€? Yazid menjawab, â€œCelaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.â€? Temannya berkata, â€œPerkenankan aku untuk menikahinya, semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu.â€? Terserahlah,â€? jawab Yazid. Ketika Abu Dardaâ€™ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Dardaâ€™, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Dardaâ€™ menerima dan menikahkannya. Lalu Abu Dardaâ€™ berkata,â€?Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.â€?</p>
<p><strong>Khitbah saja!<br />
</strong>Lho, iya, ngapain dilama-lamain, kalo emang kamu udah merasa cocok dan yakin dengan pilihanmu dengan kriteria seperti disampaikan di atas. Nggak usah ragu Mas, silakan saja. Kalo masih ragu, coba lakukan sholat istikharah. Siapa tahu tambah ragu, eh, sori, bisa bikin yakin hati kamu.</p>
<p>Terus kalo udah siap segalanya? Pokoknya, bagi yang udah siap nikah neh. Jadi memang kalo belum siap or berani untuk nikah, mendingan jangan mengkhitbah akhwat. Itu bakalan bikin runyam. Oya, gimana sih cara kita melakukan khitbah sama gadis idaman kita?</p>
<p>Nggak susah. Kalo kamu udah siap mental, insya Allah kendala yang lain bisa diatasi. Awalnya, pas kamu dapet â€?kembangâ€™?  yang bisa membikin hatimu kesengsem, dan itu kemudian terus membetot-betot hatimu untuk selalu tentrem kalo mengingat namanya, apalagi sampe ketemu segala. Nah, kalo kamu berani, bilang aja sendiri sama beliau kalo kamu tuh tertarik. Aduh, â€?radikalâ€™ amat?</p>
<p>Ah, nggak juga tuh. Mudahnya begini. Jurus pertama,?  tanya dulu, apakah doi udah ada yang punya atau belum. Soalnya jangan sampe kita meminang pinangan orang lain. Bisa gaswat. Namanya juga orang. Punya hati, dan sangat mungkin sakit hati. Kalo sampe begitu, udah mending kalo cuma digebukin pake omongan, lha kalo sampe digebukin pake pentungan besi? Nggak mustahil kalo urusannya bisa langsung ngontak tukang gali kubur kan?</p>
<p>Adalah Abu Hurairah yang berkata: â€œRasulullah saw. bersabda: â€?Seorang laki-laki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang oleh saudaranya.&#8221; (HR. Ibnu Majah)</p>
<p>Kalo ternyata gadis itu masih â€?sendiriâ€™? Nggak dilarang kalo kamu ngajuin pinangan. Lebih sueneng lagi kalo doi menyambut cinta kita. Aduh enake. Jadi jurus keduanya, langsung datengin ortunya. Minta langsung kepada mereka. Tapi jangan ngeper ya? Jangan sampe pas dateng ke rumahnya, begitu pintu dibuka, yang muncul adalah lelaki setengah baya dengan kumis tebel segede ulet jambu, kamu langsung ngibrit balik lagi. Yeeâ€¦ itu sih kebangetan. Hadapi aja. Nggak usah takut. Kata pepatah; segalak-galaknya macan, nggak bakalan berani makan sendal, eh, anaknya sendiri.</p>
<p>Lagian, itu kan boleh dibilang camer (calon mertua), ngapain kudu takut segala. Iya nggak? Sampaikan saja apa maksud kedatangan kamu ke mereka. Bahwa kamu berminat kepada putri mereka, dan serius ingin membina rumah tangga dengannya. Kalo ditolak? Ya, jangan sampe dukun bertindak dong. Itu namanya cinta terpadu, alias terpaksa pakai dukun. Nggak boleh. Kalem aja. Sabar. Kembang tak hanya setaman. Ceileee.. menghibur diri, padahal mah hati serasa kompor meledug!</p>
<p>Jadi intinya, kamu mengkhitbah akhwat pujaan hatimu itu langsung ke ortunya. Tentunya setelah oke dengan doi dong. Kenapa kudu menyampaikan ke ortunya? Lho, itu kan walinya. Sebab seorang gadis itu dalam pengawasan walinya. Karena walinya (ayah, dan saudara dari ayahnya), bertanggung jawab penuh.</p>
<p>Terus selain meminta kepada ortunya, dan jika ortu udah oke, boleh nggak melihat calon istri kita? Misalnya, untuk memastikan apakah telinganya masih utuh ada dua-duanya ataukah tidak. Karena kan selama ini nggak kelihatan ditutupi kerudung terus. Intinya, jangan sampe kita beli karung dalam kucing, eh, beli kucing dalam karung. Yup, boleh melihat kok. Tapi bukan seluruh tubuhnya. Bisa gawat!</p>
<p>Anas bin Malik berkata: â€œMughirah bin Syuâ€™bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan, lalu Rasulullah memberi nasihat kepadanya: â€œPergilah untuk melihat perempuan itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk lebih dapat membina kerukunan antara?  kamu berduaâ€? Lalu?  ia?  pun melakukannya, kemudian menikahi perempuan itu, dan ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan perempuan itu. (HR. Ibnu Majah)</p>
<p>Sobat muda muslim, kayaknya kalo dibahas terus bakalan asyik juga ya? Tapi sayang, buletin ini nggak cukup menampung semua persoalan itu. Jadi intinya, bagi kamu yang udah siap moril, materiil, maupun â€?onderdilâ€™, segera saja menikah. Mau khitbah dulu juga boleh. Tapi jangan lama-lama. Dan inget, kalo pun udah khitbah, kamu kudu tetep menjaga batasan dalam bergaul. Kan, tetep aja belum sah jadi suami-istri. Makanya, cepetan nikah aja!</p>
<p>Dan buat kamu yang masih SMP or SMU, jadikan aja ini sebagai wawasan awal ya? Biar ngeh juga. Jadi, hindari pacaran dan fokus belajar. Untuk yang udah mapan, langsung nikah sajalah. Ya, kalo nikah itu halal, buat apa pacaran? Iya nggak?</p>
<p>Soal Rizki? Dari Allah. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???£???†?’?ƒ???­???ˆ?§ ?§?„?£???????§?…???‰ ?…???†?’?ƒ???…?’ ?ˆ???§?„?µ?‘???§?„???­?????†?? ?…???†?’ ?¹???¨???§?¯???ƒ???…?’ ?ˆ???¥???…???§?¦???ƒ???…?’ ?¥???†?’ ?????ƒ???ˆ?†???ˆ?§ ?????‚???±???§???? ???????’?†???‡???…?? ?§?„?„?‘???‡?? ?…???†?’ ?????¶?’?„???‡?? ?ˆ???§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???§?³???¹?Œ ?¹???„?????…?Œ<br />
â€œDan kawinkanlah orang-orang?  yang sendirian di antaramu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Alah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (TQS an-N?»r [24]: 32)</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œAda tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah Swt: Seorang Mujahid di jalan Allah, Mukatab (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan seorang yang kawin karena mau menjauhkan diri dari yang haramâ€??  (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)</p>
<p>Jadi begitu sobat. Paham kan?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 116/Tahun ke-3/23 September 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-khitbah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalo Seleb Bertingkahâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalo-seleb-bertingkah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalo-seleb-bertingkah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kalo-seleb-bertingkah/</guid>
		<description><![CDATA[Nafa Urbach tampil ala Britney Spears saat mendendangkan lagu Lebih Baik Putus. Liukan tubuh dan dandanannya yang.. ah, nggak usah diterusin. Hasilnya, sebagian dari kita ada yang bengong, juga ada yang matanya nggak merem-merem, alias melotot terus. Nggak sedikit juga yang merem-melek, dan tentunya banyak juga yang malah memalingkan wajah sambil nggerutu, Sebel!
Apa komentar wong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nafa Urbach tampil ala Britney Spears saat mendendangkan lagu Lebih Baik Putus. Liukan tubuh dan dandanannya yang.. ah, nggak usah diterusin. Hasilnya, sebagian dari kita ada yang bengong, juga ada yang matanya nggak merem-merem, alias melotot terus. Nggak sedikit juga yang merem-melek, dan tentunya banyak juga yang malah memalingkan wajah sambil nggerutu, Sebel!<span id="more-117"></span></p>
<p>Apa komentar wong Magelang itu ketika mendapat kritik pemirsanya? â€œAku sempat down. Untung orang-orang di sekitarku tetep ngedukung. Mereka bilang, â€?kritikan itu justru bagus untuk kemajuan kamuâ€™,â€? kata seleb kelahiran 15 Juni 1980 ini.</p>
<p>Hmm.. ngibul. Terang aja maju terus pantang mundur, abis para pembisiknya orang dekat beliau yang setuju dengan karir doi. Coba kalo kita-kita, huh, udah mencak-mencak kali ye. Sayangnya, kita bukan orang dekatnya. Jadinya ya, cuma bisa ngomong dalam ati, atau sekadar nulis di buletin ini. Lagian kalo ngomong langsung bisa disepak duluan sama pengawalnya. Tapi kita â€?cerewet kayak begini bukan berarti iri lho, justru kita merasa kasihan sama doi. Ya, itung-itung ngasih masukan. Tul nggak?</p>
<p>Memang pusing seribu keliling kalo mikirin tingkahnya kaum seleb. Kayaknya neh, mereka sih udah nggak mikir apakah perbuatannya bakalan dicontek ama penggemarnya apa kagak, nyang penting bagi doi, adalah tenar bin ngetop. Maka, jangan heran kalo Nafa Urbach tetap easy going aja meski menuai banyak kritik atas aksinya yang â€?mengundangâ€™. Gerimis Mengundang maksudnya? Ya, kamu coba terjemahin sendiri deh!</p>
<p>Hasil â€?mission muke tebelâ€™-nya?  itu, album Nafa tersebut terjual hingga 400 ribu kopi. Berarti bener kata pembisik Nafa? Yup, tapi apa artinya banyak materi kalo nggak dapet ridho Allah Swt. Tul nggak?</p>
<p>Dan rupanya, tampil seksi di panggung or di depan kamera udah jadi tren buat para seleb cewek di negeri ini. Lihat aja gimana â€?liarnyaâ€™ tingkah Mbak Shanty di video klip Hanya Memuji bareng tandemnya, Marcel. Aduh, maaf-maaf aja ya.., kita nggak tega kalo harus nyeritain gimana isi video klip itu. Kayaknya kamu juga udah pada ngeh duluan kan? Hih, â€?asetâ€™ berharga kok diobral, Neng!</p>
<p>Oya, cewek kelahiran 30 Desember 1978 yang punya nama lengkap Annisa Nurul Shanty Kusuma Wardhani Heryadie ini kemaruk profesi, lho. Buktinya, selain jadi VJ MTV, doi juga aktif sebagai penyanyi, model, dan MC. Cuma satu yang belum disandangnya; ustadzah, he..he..he.</p>
<p>Ada yang lain? Masih ada Non. Setelah cabut dari AB Three, Lusy Rahmawati kian caur aja kelakuannya. Cewek yang main di sinetron Gadis Penakluk ini sering tampil seksi. Selain pakaiannya yang â€?begitu-begituâ€™ itu, aksinya juga kerap bikin para cowok yang ngelihat aksinya pada blingsatan kagak karu-karuan.</p>
<p>Bagaimana dengan Mbak KD? Wah, kayaknya beliau biangnya dalam urusan penampilan menor. Penyanyi paling ngetop pilihan pemirsa di ajang SCTV Awards tahun ini, ternyata sudah mulai kelihatan â€?nyablakâ€™ gaulnya sejak dapet juara di ajang Asia Bagus. Dan ke sininya, order nyanyinya kian kenceng aja. Bukan cuma nyanyi yang melambungkan namanya, iklan dan dunia model juga ikut nyumbang untuk kemajuan karirnya. Sekarang, nyonya Anang ini kelihatan makin susah dikontrol gaya hidupnya. Utamanya dalam urusan dandan dan aksi panggung or di depan kamera. Duh, kasihan sekaleee..</p>
<p>Sobat muda muslim, itu baru empat seleb yang kita kenal banget. Maklum, nyaris saban hari mereka â€?ngedatenginâ€™ kita lewat layar kaca. Entah lewat sinetron, tayangan musik, or iklan yang diperaninya. Mbak-mbak tadi neh, udah bikin kepala kita pusing kayak ketiban dinding runtuh. Puyeng mikirin tingkahnya itu yang seperti nggak kenal kata malu. Celaka!</p>
<p><strong>Cara jitu nyari perhatian?<br />
</strong>Boleh jadi. Sebab, di tengah maraknya persaingan nyari duit di jalur itu, cara yang efektif adalah tampil sensasional. Artinya, sebisa mungkin tampil aneh-aneh, bila perlu norak sekalipun. Pokoknya, berani tampil beda. Dengan begitu, bisa nyedot perhatian pemirsa.</p>
<p>Andhien yang tadinya masih â€?kalemâ€™ sekarang mulai berani dandan menor dan pakaiannya kian irit bahan. Jadinya, penyanyi jazz ini nggak ada bedanya dengan para seniornya. Aduh!</p>
<p>Sensasi memang senjata ampuh. Itu sebabnya banyak orang mau ngelakuin itu dengan tujuan &#8216;mulia&#8217; untuk mendapat perhatian. Itu sebabnya, boleh jadi ada teman kamu yang nyari perhatian dengan tampilan amburadul. Pakaian nggak disetrika. Rambut dibiarin acak-acakan. Bahkan kalo sekolah aja Cuma bawa buku satu. Udah gitu dilipet dan dimasukkin ke saku celana bagian belakang.</p>
<p>Sebenarnya teman yang model begitu lagi nyari perhatian lingkungan sekitar. Sayangnya, doi memilih tampil begitu. Ya, barangkali mau tampil perlente nggak ada yang bisa dibanggakan. Pengen pinter? Otak aja udah turun ke dengkul. Gimana mau bersaing dalam urusan itu. Iya nggak? Jadinya, nyoba-nyoba tampil acak adul begitu. Siapa tahu ada yang menaruh perhatian sama tingkahnya.</p>
<p>Nah, seleb juga sama, mereka suka bikin sensasi. Kamu tahu adiknya Vety Vera? Yup, Alam pun perlu tampil sensasional membawakan lagu Mbah Dukun-nya. Pokoknya dibuat seunik mungkin. Hasilnya? cowok asal Tasikmalaya ini meraih gelar pendatang baru paling favorit di ajang AMI SHARP. Terus terang, aksinya emang bikin orang fokus merhatiin doi. Sampe-sampe saat mau nerima hadiah di ajang Anugerah Musik Indonesia itu, Alam bergaya â€?robotâ€™ saat menaiki panggung. Dasar!</p>
<p>Benar, sensasi itu cara efektif menarik perhatian. Tahun 70-an Ahmad Albar tampil dengan rambut kribo. Puguh aja, langsung mendapat perhatian penggemarnya di negeri ini. Sampe-sampe model rambut begitu jadi tren. Seleb jaman kiwari pun udah membuktikan, betapa sensasional itu bikin melambungkan namanya. Jadi jangan heran kalo Limp Bizkit, Linkin Park, System of a Down, Cold, atau Blink 182 kian jadi favorit anak muda seantero jagat ini. Sebab mereka menawarkan sesuatu yang baru dan â€?radikalâ€™. Pokoknya, menggemparkan!</p>
<p>Blink 182, malah parah banget. Lagunya What my age again? layak dihujani protes. Sebab, video klip lagu itu menampilkan adegan personel grup band asal Amrik ini sedang berlari-lari di tengah kota tanpa sehelai benang pun menutup tubuhnya. Gokil!</p>
<p>Sobat muda muslim, ya, boleh dibilang, bikin sensasi memang cara jitu mengundang perhatian banyak orang. Logis saja. Orang biasanya tertarik atau langsung tertarik dengan sesuatu yang mencolok. Jadi kalo kamu ke sekolah pake kolor doang, pasti jadi perhatian banyak orang. Apalagi kalo udah pake kaca mata item, rambut klimis, pake jas, dasi, eh, kelupaan pake celanaâ€¦.</p>
<p><strong>Free thinker<br />
</strong>Wackss? Pemikir bebas? Betul. Udah banyak seleb kita yang begitu rupa. Jelas dong, pernyataan bahwa perbuatan seseorang adalah bergantung kepada pemahamannya itu benar. Coba, kaum seleb yang nekat tampil los-polos itu, karena doi memahami bahwa hal itu bukan perbuatan yang asusila. Dan sah-sah aja menurut penilaiannya. Jadi intinya memang bebas nilai tuh. Asal!</p>
<p>Maka jangan heran kalo seleb sekelas Dian Sastro aja udah nekat tampil sensual di cover majalah remaja pria terkenal di negeri ini. Juga jangan kaget kalo seleb yang masih â€?imut-imutâ€™ kayak Dhea Ananda udah berani â€?mengangkatâ€™ roknya tinggi-tinggi. Mantan personel Trio Kwek Kwek ini mulai beranjak dewasa. Dan itu artinya udah merasa boleh melakukan hal yang dulu dianggap tabu ketika masih cuilik.</p>
<p>Natalie Portman misalkan, yang main di sekuel Star Wars: The Pantom Menace pernah melakukan adegan telanjang dalam film Anywhere but Here. Padahal menurut sang sutradara ia masih berumur 16 tahun saat itu dan belum pantas melakukan adegan telanjang.</p>
<p>Namun sebuah protes dilayangkan oleh Liv Tyler ketika dalam film &#8220;Onegin&#8221; dengan Ralph Fiennes ia diminta untuk beradegan telanjang dengan alasan ia belum genap berumur 21 tahun. â€œJadi kadang-kadang ada aktris yang bersedia melakukan adegan telanjang untuk menunjukkan bahwa ia bukan anak kecil lagi,â€? kata Hosoda penulis buku Fakta-Fakta Ketelanjangan. Hih, dasar free thinker.</p>
<p>Terus, kenapa pula Britney Spears nekat memakai pakaian minimnya? &#8221;Saya hanya mengenakan pakaian yang bagian atasnya pendek, sebab pakaian lain membuat saya berkeringat ketika saya menari,&#8221; ujar penyanyi cewek ini seperti dikutip majalah Jerman, InStyle.</p>
<p>Menurutnya, dia tidak pernah berkeinginan menampilkan kesan seksi. &#8221;Saya tidak pernah berharap tampil seksi,&#8221; ujar penyanyi yang cukup laris dengan &#8216;Baby One More Time&#8217; dan kerap tampil di berbagai situs internet itu. Ah, masak iya sih?</p>
<p>Sobat muda muslim, memang rada sulit diarahkan kalo orang udah punya prinsip bebas nilai. Baginya, segala perbuatan bergantung kepada selera hatinya. Rasa suka or benci diukur dari mood dalam dirinya. Nggak pake patokan. Nyang penting enak untuk dilakukan dan mendatangkan manfaat. Tentunya ngikutin ukuran yang dibuatnya dong. Bahaya!</p>
<p>Jadi jangan heran sobat dengan kelakuan para pengagum free thinker ini. Mereka berbuat sesuai dengan apa yang dipahaminya tentang perbuatan tersebut. Celakanya, mereka kok mendapat tempat ya? Maksudnya kok tetep jadi bahan omongan, bahkan mungkin rujukan? Nggak usah bingung. Mereka yang senewen kayak gitu bisa mendapat tempat, karena yang ngasih tempatnya juga sama senewennya.</p>
<p>Lihat saja faktanya. Banyak banget kan yang caur? Malah mereka masih bisa leluasa bertingkah saenake udhele dhewek, udah gitu mendapat ekspos dari media massa (baca: didukung). Baik cetak maupun elektronik. Bandingkan dengan kita kalo ngadain kegiatan keislaman. Boro-boro jadi ngetop, karena media aja males ngedatengin kita.</p>
<p>Why? Karena kita bukan sumber berita, sedangkan kaum seleb adalah sumber sekaligus bahan berita. Media massa mana sih yang kagak butuh berita? Justru itu bahan bakarnya biar tetep eksis. Kalo tabloid, koran or majalahnya ditinggal pembaca gara-gara nggak memuat dan mendukung aksi seleb, alamat bisnis gulung tiker. Jadi, apa pun risikonya, tetep memuat mereka sebagai berita. Itu sebabnya KISS, Kabar-Kabari, Cek and Ricek, Bibir Plus, Otista, dan program sejenis di layar kaca tetap memberitakan kaum seleb, dan tentunya mendulang duit banyak. Kenapa? Banyak penonton berarti banyak iklan yang dipajang di situ. Di sinilah hukum pasar berlaku. Hmm&#8230;ck..ck..ck..</p>
<p><strong>Jangan biarkan kami berdosa&#8230;<br />
</strong>Benar. Tolong jangan berikan teladan yang nggak benar kepada kami. Apa iya mbak-mbak dan mas-mas mau menanggung dosa, gara-gara kami nyontoh kelakuan mbak-mbak dan mas-mas? Maklum dong, sebagai selebriti, biasanya akan dicontoh oleh penggemarnya. Nah, kalo perbuatan jelek Anda yang dicontoh? Wuih, alamat Anda dicap sebagai teladan dalam perbuatan dosa. Dan tentunya berdosa dong?</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: &#8220;Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikitpun,&#8221; (HR. Ibnu Majah).</p>
<p>Sobat muda muslim, itu sebabnya kita khawatir banget dengan kondisi sekarang ini. Kaum seleb makin banyak tingkah. Dan teman remaja juga suka ikutan yang nggak benernya dari mereka. Udah gitu, masyarakat kayaknya nggak mau ambil pusing. Celakanya lagi, pemerintah nyuekkin aja kasus model beginian. Aduh, merana deh.</p>
<p>Jadi, untuk para seleb segera sadar deh. Buat temen-temen, jangan mudah tergoda dan jangan membebek kelakuan buruk mereka. Banyak belajar deh. So, mari sama-sama kita memahami, bahwa kaum seleb bukanlah â€?nabiâ€™ yang kudu diikuti sabdanya. Catet yaâ€¦!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 115/Tahun ke-3/16 September 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalo-seleb-bertingkah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Amerika, Kita, dan Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/antara-amerika-kita-dan-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/antara-amerika-kita-dan-islam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/antara-amerika-kita-dan-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa sih yang nggak kenal Amerika? Kayaknya, kata Amerika hampir ada di setiap kepala manusia di dunia ini. Dan nggak heran kalo muncul banyak persepsi tentang Amerika. Bisa jadi, ada orang yang berpikir bahwa Amerika adalah negara maju dan hebat, tentunya ketika ia melihat perkembangan teknologi militer dan komunikasinya. Maklum saja, serdadu Paman Sam ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa sih yang nggak kenal Amerika? Kayaknya, kata Amerika hampir ada di setiap kepala manusia di dunia ini. Dan nggak heran kalo muncul banyak persepsi tentang Amerika. Bisa jadi, ada orang yang berpikir bahwa Amerika adalah negara maju dan hebat, tentunya ketika ia melihat perkembangan teknologi militer dan komunikasinya. Maklum saja, serdadu Paman Sam ini lebih hebat ketimbang tentara lain di dunia dalam hal perlengkapan dan kecanggihan senjatanya. Begitupun dalam teknologi komunikasi, Amerika adalah negara yang handal saat ini di bidang itu. Komputer dan internet, adalah dua teknologi yang kayaknya sulit dilepaskan dari atribut Amerika. Jadi, kalo ngomong soal komputer dan internet, mesti kita bakalan merangkainya dengan kata Amerika.<span id="more-116"></span></p>
<p>Itu satu pendapat. Sah-sah aja kok kalo ada yang menilai begitu. Karena kebetulan faktanya juga nggak salah-salah amat. Bagi yang punya pandangan lain juga boleh. Itu kan haknya. Misalnya, kalo ada teman remaja yang nyebut Amerika adalah identik dengan film, musik, dan kaum selebnya, itu pun nggak salah.</p>
<p>Amrik punya segudang seleb dunia. Lihat saja penampilan seleb Amrik dan seleb mancanegara yang nyari duit di Amrik, macam Britney Spears, Kylie Minogue, Mandy Moore, Jessica Alba, Kristin Kreuk (yang berperan sebagai Lana Lang di film Smallville), Alicia Keys, Natalie Portman, Shakira, Kirsten Dunst (yang berperan sebagai Mary Jane Watson di Spiderman), Zhang Ziyi (yang ngetop lewat Crouching Tiger, Hidden Dragon dan Rush Hour 2), Kelly Hu (yang memerankan Cassandra dalam film The Scorpion King), Anna Kournikova, juga ada Michelle Branch (yang tembangnya bertitel You Set Me Free diangkat jadi tema WNBAâ€”liga basket wanita di Amrik untuk musim kompetisi tahun ini).</p>
<p>Itu seleb cewek, seleb cowok juga segudang. Sebut saja Tom Cruise, Brad Pitt, Leonardo DiCaprio, Justin Timberlake, James Van der Beek, Owen Wilson, Josh Hartnet, Matt Damon, dan seabrek seleb lainnya. Pokoknya, Amrik adalah basisnya bisnis hiburan dan tempat mangkal untuk jadi penghibur kelas dunia. Itulah Amerika dari sudut pandang lain.</p>
<p>Sobat muda Muslim, ada juga lho yang memandang Amerika adalah negara yang paling arogan sedunia. Utamanya pemimpin negeri itu yang sekarang, George W. Bush. Pandangan seperti ini juga nggak salah, dan sah-sah saja. Karena selama ini Bush dan antek-anteknya kian banyak tingkah. Apalagi dalam setahun ini, Bush jadi tambah kelihatan buasnya. Tragedi WTC 11 September 2001 bikin Bush dan orang-orang Amrik bak kebakaran jenggot. Pasalnya, negara yang katanya paling hebat dalam urusan teknologi militer dan biro intelejennya yang cekatan, masih juga kecolongan oleh serangan udara ke menara kembar WTC New York. Hmm.. jadi kita berpikir begini; kecolongan atau emang rekayasa Amrik aja? Boleh jadi dua-duanya bener. Malah belakangan banyak orang curiga, jangan-jangan tragedi itu direkayasa oleh AS sendiri sebagai dalih untuk menghajar Islam sebagai musuh bebuyutan Bush dan kawan-kawan.</p>
<p>Ternyata, emang banyak pandangan soal Amerika. Beragam deh. Ada yang menganggap Amerika bak dewa penolong, ada juga yang menilai AS sebagai monster. Dua-duanya tak salah. Tergantung siapa yang bicara.</p>
<p>Nah, kalo kita gimana? Yup, di sinilah kita kudu punya wawasan dan kesadaran politik yang bagus dan benar. Jangan cuma melihat berita sepotong-sepotong lalu menyimpulkan. Itu sih nggak bener. Akibatnya apa? Sekarang banyak teman kita yang termakan isu nggak benar dari media massa Amrik. Salah satunya mengkampanyekan perang melawan teroris. Dan, yang dimaksud teroris oleh Amrik adalah Islam. Jadi, Islam dan umatnya kini jadi sasaran tembak. Celakanya lagi, media massa di sini juga ikut ngomporin Amrik dan para begundalnya. Hingga akhirnya Islam dan umatnya jadi bulan-bulanan.</p>
<p>Sebetulnya, media massa dunia dan di sini secara sadar atau tidak udah mempropagandakan budaya Amrik sejak lama. Utamanya dalam soal budaya. Celaka banget kan?</p>
<p>Itu sebabnya, gaya hidup Amerika kini menjelma dalam kehidupan kita. Misalnya aja, banyak remaja yang doyan seks bebas, setelah melihatnya dalam film buatan Amrik. Banyak teman remaja puteri yang ogah mengenakan jilbab. Sebaliknya, dengan sukarela dan sukahati, plus tanpa malu mereka memamerkan auratnya. Lihat saja bagaimana Nafa Urbach yang â€?ikhlasâ€™ jadi plagiator gaya Britney Spears. Lihat juga bagaimana Agnes Monica yang super cuek dengan gaya dandannya. Agnes betah mengenakan rok mini yang tak habis menutup pinggulnya. Akibatnya, bukan hanya bagian pusarnya yang jadi tontonan pemirsa, aurat vitalnya pun nyaris terintip. Gaswat!</p>
<p><strong>Amerika sebagai musuh<br />
</strong>Sobat muda muslim, nggak salah-salah amat kalo kita sebut bahwa Amrik adalah musuh ideologi kita. Amerika sebagai salah satu negara yang mengemban ideologi kapitalisme adalah musuh Islam. Dan jelas kita terlibat di dalamnya. Mau nggak mau kita juga akan menjadi bagian dari sasaran tembak negerinya Brad Pitt ini. Jadi kudu siap dong? Tepat.</p>
<p>Kita menganggap Amerika sebagai musuh bukan dalam masalah teknologi, bukan pula dalam masalah ilmu pengetahuan. Sebab, iptek sifatnya universal. Siapa saja berhak untuk menciptakan dan menggunakan. Tapi kita menilai Amerika sebagai musuh ideologi. Sebetulnya, mereka sendiri sih yang menobatkan diri sebagai bagian dari penghalang Islam. Itu artinya menjadi musuh Islam. Tul nggak?</p>
<p>Dengan begitu, Amerika adalah musuh kita dalam masalah pandangan hidup. Bush sebagai kepala negara AS yang kapitalis jelas akan bertindak sesuai dengan prinsip hidupnya yang dibentuk dari ideologi sekuler itu. Itu sebabnya, ia akan berusaha menghalangi setiap usaha yang dilakukan lawan ideologinya. Maka, begitu gedung WTC ambruk diterjang dua pesawat terbang komersial, Bush langsung sesumbar bahwa pelakunya adalah Osama bin Laden. Dengan kata lain, ia menuduh Islam. Padahal, sampe sekarang pun tak ada bukti atas sangkaan Bush itu. Bukan hanya itu, doi aktif menekan para penguasa muslim dengan arogannya, â€œEither you are with us or you are with the terroristâ€™s,â€? begitu ancamnya.</p>
<p>Dan jangan heran tentunya, sebab benturan peradaban itu niscaya akan terjadi. Islam nggak klop dengan kapitalisme. Mau tahu? Islam itu langsung dibuat oleh Allah Swt. Sementara kapitalisme dibikin oleh manusia. Jadi jelas sekali pertentangannya kan? Sistem mana yang ampuh? Jelas Islam dong. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?£???????­???ƒ?’?…?? ?§?„?’?¬???§?‡???„?????‘???©?? ?????¨?’?????ˆ?†?? ?ˆ???…???†?’ ?£???­?’?³???†?? ?…???†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?­???ƒ?’?…?‹?§ ?„???‚???ˆ?’?…?? ?????ˆ?‚???†???ˆ?†??<br />
â€œApakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?â€? (TQS al-M?¢idah [5]: 50).</p>
<p>Itu sebabnya, kita jangan mudah tergoda dengan bujuk rayu dan godaannya yang ditebar lewat media massa mereka. Entah itu berita seputar politik, ekonomi, apalagi budaya (baca: hiburan). Bukan apa-apa, karena yang disebarnya adalah racun. Sangat mematikan lagi. Karena yang diserang adalah pemikiran. Pemikirannya kacau, pasti perbuatannya juga kacau.</p>
<p>Jadi jangan kaget kalo kemudian Amrik dan Barat kian aktif saja menggempur kita dengan ide-ide sesatnya. Hasilnya, banyak di antara kawan kita yang udah nggak asing lagi dengan maraknya seks bebas, penggunaan narkoba, pelacuran, dan kriminalitas, nyaris sepenuhnya diajarkan oleh Amrik, tentu lewat media massa. Nggak percaya? Lihat saja klip musik di televisi, atau syair-syairnya yang menjurus ke â€?sonoâ€™. Tahu kan apa yang kita maksud? Sebab, itu bukan ciri dari budaya Islam. Jadi, jangan sampe kita terpengaruh, apalagi menjadi teman dan terekrut menjadi bagian dari pengamal gaya hidupnya yang amburadul itu. Hati-hati!</p>
<p>Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?„?§?? ???????‘???®???°???ˆ?§ ?¨???·???§?†???©?‹ ?…???†?’ ?¯???ˆ?†???ƒ???…?’ ?„?§?? ?????£?’?„???ˆ?†???ƒ???…?’ ?®???¨???§?„?§?‹ ?ˆ???¯?‘???ˆ?§ ?…???§ ?¹???†?????‘???…?’ ?‚???¯?’ ?¨???¯?????? ?§?„?’?¨?????’?¶???§???? ?…???†?’ ?£?????’?ˆ???§?‡???‡???…?’ ?ˆ???…???§ ?????®?’?????? ?µ???¯???ˆ?±???‡???…?’ ?£???ƒ?’?¨???±?? ?‚???¯?’ ?¨?????‘???†?‘???§ ?„???ƒ???…?? ?§?„?¢?????§???? ?¥???†?’ ?ƒ???†?’?????…?’ ?????¹?’?‚???„???ˆ?†??<br />
â€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.â€? (QS. Ali â€?Imr?¢n [3]: 118).</p>
<p><strong>Islam sebagai kekuatan</strong><br />
Sobat muda muslim, kamu jangan ngeper duluan kalo kita ajak untuk yang â€?syerem-syeremâ€™ kayak begini. Mereka yang tak suka umat Islam maju, bakalan nakut-nakutin begitu. Kamu yang tadinya okem dan gambreng banget, terus tiba-tiba pengen aktif ikutan dalam kegiatan remaja masjid, suka diledekin. Pernah lho kejadian, ada anak yang tadinya super okem, terus karena sering bergaul dengan anak-anak remaja masjid, doi akhirnya dapat hidayah Allah. Sadar. Tapi tantangannya berat juga. Doi sering dicemooh dan diledekin sama temen-temennya yang masih jahiliyah. Untungnya kuat iman. Jadi nggak kembali caur.</p>
<p>Nah, dalam skala yang gede, maka kalo ada umat Islam yang mulai sadar dan bangkit dengan memahami bahwa Islam adalah ideologi yang kudu diperjuangkan, maka orang-orang yang benci Islam eksis kembali, bakalan sewot berat. Itu pasti. Ujungnya, jangan kaget kalo mereka tidak sekadar nyindir, tapi udah berani pake cara kekerasan. Kita? Jangan takut dong!</p>
<p>Jangan ngeper dan jangan minder, kita di jalur yang bener. Bahkan sebetulnya kita layak untuk bangga sobat. Islam adalah sebuah kekuatan ideologi yang tak tertandingi bila diterapkan dalam sebuah negara. Salahnya kita adalah, belum banyak kaum muslimin yang memahami Islam sebagai akidah dan syariat, alias ideologi. Dan tentunya, namanya juga ideologi, nggak seru dong kalo nggak diterapkan dalam sebuah negara. Itu sebabnya, ketika banyak orang yang mulai memahami Islam sebagai ideologi, Barat dan Amrik khususnya, mulai gerah dan ketahuan sifat jahatnya. Tampak nyata lho.</p>
<p>Kalo sudah begitu, maka kita nggak boleh tinggal diem aja. Kita kudu melawannya dengan kekuataan yang ada. Sepenuh kemampuan kita. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah pandai memilah dan memilih tren yang muncul. Kita jadi paham apa yang harus dilakukan. Misalnya aja, kita nggak tergoda untuk latah ngikut gaya hidupnya kaum seleb. Baik mancanegara maupun lokal. Jadi minimal untuk jaga diri deh. Selanjutnya, kita bisa nyebarin ajaran Islam kepada kawan yang lain.</p>
<p>Sebab, kalo kita udah memahami Islam sebagai sebuah ideologi, maka akan selalu ada rasa ingin menyebarkan kepada yang lain. Itulah karakter sebuah ideologi. Nggak rela kalo cuma dimiliki sendiri. Karena pengennya semua orang seperti kita. Itulah hebatnya sebuah ideologi. Jadi, mulai sekarang, pahami Islam sebagai sebuah ideologi. Insya Allah bakal memberikan kekuatan yang dahsyat dalam hidup kita. Bukan hanya itu, Islam juga bakal menjadi kekuatan di dunia ini. Dijamin deh!</p>
<p>Sabda Rasulullah: â€œPerkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuranâ€? (HR. Ibnu Hibban)</p>
<p><strong>Kita sebagai pejuang</strong><br />
Sudah jelas bagi kita, siapa musuh ideologi yang sebenarnya. Amerika, sebagai negara pengemban ideologi kapitalisme yang paling agresif saat ini harus kita lawan. Dan kayaknya kita nggak pantas deh jadi pecundang. Kita mewarisi semangat juang yang tinggi untuk menjadi pembela kebenaran. Untuk menjadi pejuang Islam.</p>
<p>Caranya? Rasulullah udah ngajarin kita. Waktu masih di Mekkahâ€”belum punya kekuatan penuh, yang dilakukan beliau dan para sahabat adalah pergolakan pemikiran, bahasa kerennya shirraâ€™ul fikriy. Di situ mereka menyerang pemikiran orang-orang yang menyembah berhala. Mematahkan berbagai argumentasinya dan menawarkan solusinya, yakni Islam. Baru setelah Islam diterapkan sebagai sebuah ideologi negara di Madinah, barulah menggunakan kekuatan dahsyatnya.</p>
<p>Jadi yang bisa kita lakukan sekarang adalah melakukan pergolakan pemikiran. Kita menyerang ide-ide yang dikeluarkan kapitalisme, sosialisme, termasuk komunisme. Kita sampaikan kepada kaum muslimin tentang kebobrokan ideologi-ideologi buatan manusia itu. Kalo kaum muslimin udah tahu dijamin bakalan ninggalin, bahkan berusaha untuk menghancurkan ideologi tersebut. Pasti!</p>
<p>Bagaimana supaya kita bisa tahu soal itu? Satu-satunya cara adalah belajar. Dengan belajar kita jadi tahu segalanya. Jadi, jangan malas mengkaji Islam ya? Selamat berjuang!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 114/Tahun ke-3/9 September 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/antara-amerika-kita-dan-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Berhutang Kepada Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dunia-berhutang-kepada-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dunia-berhutang-kepada-islam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:25:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dunia-berhutang-kepada-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo kamu rajin baca buku-buku tentang sejarah perkembangan Islam. Insya Allah, kamu akan mendapatkan kalo Islam tuh hebat banget di masa lalu. Jempolan di saat Eropa dan negara lainnya terbelakang. Bener. Coba deh baca. Kita menyarankan agar kamu rajin datengin perpustakaan sekolah atau perpusatkaan umum. Kalo bosen bisa juga jalan-jalan ke toko buku setempat. Baca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo kamu rajin baca buku-buku tentang sejarah perkembangan Islam. Insya Allah, kamu akan mendapatkan kalo Islam tuh hebat banget di masa lalu. Jempolan di saat Eropa dan negara lainnya terbelakang. Bener. Coba deh baca. Kita menyarankan agar kamu rajin datengin perpustakaan sekolah atau perpusatkaan umum. Kalo bosen bisa juga jalan-jalan ke toko buku setempat. Baca sepuasnya, walau kudu ngumpet takut kena tegor penjaga toko. Tapi tentunya yang dibaca adalah buku yang ada kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam. Coba yaâ€¦<span id="more-115"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, kayaknya banyak dari kita-kita yang nggak ngeh dengan sejarah Islam yang gemilang banget. Abis kita kebanyakan baca buku-buku yang sebetulnya nggak terlalu berpengaruh besar buat pengetahuan Islam kita. Informasi yang kita dapatkan lebih benyak berita seputar kaum seleb. Sampe obrolan di antara kita pun nggak jauh dari urusan gosip selebritis, sinetron, film, musik, dan seabrek info sejenis. Akibatnya kita jadi males mikir yang berat-berat. Kayaknya, otak kita jadi turun ke dengkul. Karena nggak pernah dipake mikir serius dan bermanfaat.</p>
<p>Nah, ngomong-ngomong soal kejayaan Islam, kita patut bersyukur. Karena kita ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk menjadi seorang muslim. Islam itu hebat lho. Mampu memimpin dunia ini selama 14 abad tanpa henti. Sejak Rasulullah saw. memimpin dunia ini, sistem kehidupan Islam baru ambruk tahun 1924. Dihancurkan oleh Musthafa Kamal at-Taturk yang keturunan Yahudi itu bekerjasama dengan Inggris.</p>
<p>Peradaban lain nih, nggak level deh. Sosialisme, termasuk Komunisme cuma bisa bertahan sekitar 70-an tahun. 1917 Revolusi Bolshevic, awal tahun 90-an ambruk. Sampe-sampe grup rock sekaliber Scorpion bikin lagu Wind of Change yang ngetop itu. Mungkin sebagai bentuk â€œsyukuranâ€? kali ye?</p>
<p>Termasuk yang lagi sekarat sekarang ini adalah kapitalisme. Meski tampak sehat, tapi sistem kehidupan yang mengatur kita saat ini udah keropos dan udah siapâ€“siap akan istirahat dengan tenang. Kita siapin aja kuburannya. Itu sebabnya, kita songsong kebangkitan Islam. Kita sambut dengan hangat. Insya Allah, Islam akan menghancurkan semua ideologi buatan manusia yang udah bikin sengsara dalam kehidupan ini.</p>
<p>Sobat muda muslim, bicara tentang masa lalu Islam, adalah sesuatu yang terindah. Orang Barat yang berpikir obyektif bakalan muji-muji Islam lho. Betapa hebatnya al-Quran yang bisa membimbing manusia menjadi mulia.</p>
<p>â€œTetapi hendaklah diingat, bahwa Quran memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum muslimin daripada Bibel dalam agama Kristen; ia bukan saja kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text-book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatanâ€¦Demikianlah, setelah melintasi masa selama 13 abad Quran tetap merupakan kitab suci bagi seluruh Turki, Iran, dan hampir seperempat penduduk India. Sungguh, sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa kiniâ€¦â€? (E. Denisen Ross, seperti dikutip dalam buku Kekaguman Dunia Terhadap Islam)</p>
<p>Coba, orang Barat aja mengagumi al-Quran, masak kita males-malesan hanya untuk sekadar baca? Padahal, di dalamnya terkandung banyak pelajaran, termasuk menuntun kita untuk bisa menjadi yang terbaik dengan ilmu pengetahuan. Bener lho.</p>
<p>Itu sebabnya, W.E. Hocking berkomentar, â€œOleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan abad ke tigabelas, Islam-lah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.â€? (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461)</p>
<p>Sobat muda muslim, barangkali kitanya yang jarang bersentuhan dengan al-Quran dan juga Islam, hingga kita nggak menyadari kalo kita adalah umat yang mulia dan berhasil memberikan pencerahan kepada umat lain.</p>
<p><strong>Sumbangan Islam</strong><br />
Kita kudu bersyukur bahwa Islam amat disegani sekaligus dipuji di seluruh dunia. Sampe-sampe Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam menuliskan, â€œPenyelidikan telah menunjukkan, bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan merekaâ€?</p>
<p>â€œSelama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi,â€? komentar Jacques C. Reister.</p>
<p>Sobat muda muslim, kekaguman dunia terhadap Islam, bukanlah basa-basi. Buktinya, Islam telah melahirkan begitu banyak ilmuwan yang memberi jalan kepada penduduk dunia untuk bisa menjadi yang terbaik. Dari segala bidang lagi. Dari akidah, syariah, sampe iptek.</p>
<p>Di bidang iptek khususnya, udah nggak keitung sumbangannya. Pernah dengar nama al-Khawarizmi? Nah, inilah penemu salah satu cabang ilmu matematika, Algoritma. Diambil dari namanya, al-Khawarizmi. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi (770-840) lahir di Khwarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) tahun 770 masehi. Pengaruhnya dalam perkembangan matematika, astronomi dan geografi tidak diragukan lagi dalam catatan sejarah. Pendekatan yang dipakainya menggunakan pendekatan sistematis dan logis.</p>
<p>Beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa latin pada awal abad ke-12, oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmatikanya, seperti Kitab al-Jam&#8217;a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi, Algebra, Al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah, hanya dikenal dari translasi berbahasa latin. Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa. Buku geografinya berjudul Kitab Surat-al-Ard yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.</p>
<p>Selain beliau, masih ada nama yang patut disebut sebagai penyumbang untuk dunia. Hmm.. bagi kamu yang udah ngelotok ngapalin nama-nama ilmuwan Kimia dari Barat, kayaknya kudu malu deh. Sebab, ada masternya yang diakui oleh dunia. Dialah Jabir Ibn Hayyan.</p>
<p>Ide-ide eksperimen Jabir sekarang lebih dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal, dan penguraian zat kimia.</p>
<p>Di abad pertengahan karya-karya beliau di bidang ilmu kimia&#8211;termasuk kitabnya yang masyhur Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sab&#8217;een, sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Terjemahan Kitab al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab as-Sab&#8217;een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona. Lalu tak ketinggalan Berthelot pun menerjemahkan beberapa buku Jabir, yang di antaranya dikenal dengan judul Book of Kingdom, Book of the Balances, dan Book of Eastern Mercury.</p>
<p>Kamu suka mainin bola dunia, alias globe? Nah, inilah orang yang berhasil membuatnya pertama kali. Namanya al-Idrisi, orang Barat menyebutnya Dreses. Al-Idris (1099-1166) dikenal oleh orang-orang Barat sebagai seorang ahli geografi, yang telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia. Globe buatan al-Idrisi ini secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan pula beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian secara tepat. Bola dunianya itu, oleh Idris sengaja dilengkapi pula dengan Kitab al-Rujari (Roger&#8217;s Book).</p>
<p>Sobat muda muslim, kagum ya??  Tenang, masih ada ilmuwan lainnya yang kudu kamu ketahui. Nashiruddin ath-Thusi, beliau adalah masternya ilmu astronomi dan perbintangan. Ibnu al-Haytsam jagoannya ilmu alam dan ilmu pasti. Beliau menulis buku berjudul al-Manazir yang berisi tentang ilmu optik. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Frederick Reysnar, dan diterbitkan di kota Pazel, Swiss pada tahun 1572 dengan judul Opticae Thesaurus.</p>
<p>Kamu perlu juga berkenalan dengan Ibnu Rusyd, beliau adalah filosof, dokter, dan ahli fikih Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata. Masih di bidang kedokteran, ada nama yang kayaknya kamu juga udah pernah denger, dialah Ibnu Sina, orang Eropa menyebutnya Avicena. Beliau adalah pakar kedokteran. Meninggalkan sekitar 267 buku. Al-Qanun fi al-Thibb adalah bukunya yang terkenal di bidang kedokteran.</p>
<p>Islam juga punya ahli geografi ulung yang bernama Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi. Bukunya, Ahsan at-Taqasim merupakan buku geografi yang nilai sastra Arabnya paling tinggi. Buku tersebut menguraikan tentang semenanjung Arabia, Irak, Syam, Mesir, Maroko, Khurasan, Armenia, Azerbaijan, Chozistan, Persia, dan Karman.</p>
<p>Kemudian ada al-Kindi, beliau adalah simbol kedigdayaan ilmuwan muslim. Jempolan dalam ilmu fisika dan filsafat. Beliau bahkan mewariskan sekitar 256 jilid buku. 15 buku di antaranya khusus mengenai meteorologi, anemologi, udara (iklim), kelautan, mata, dan cahaya. Dan dua buah buku mengenai musik. Muhammad, Ahmad, dan Hasanâ€”tiga keturunan Musa Ibnu Syakir, menyumbangkan ilmu teknik pengairan dan matematika. Dan mengenai dunia sejarah, filsafat, dan sosiologi, kudu mengakui sang maestro, Ibnu Khaldun.</p>
<p>Sobat, kalo mau dirinci lagi, wah, kayaknya nggak cukup deh empat halaman buletin ini untuk menuliskan daftar nama ilmuwan muslim yang udah banyak jasanya untuk dunia ini.</p>
<p>Dunia memang pantas berhutang kepada Islam dan kaum muslimin, yang telah memberikan jalan untuk meraih kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>Amat wajar dong kalo ilmuwan sekelas Emmanuel Deutch berkomentar, â€œSemua ini memberi kesempatan bagi kami (bangsa Barat) untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, sewajarnyalah jika kami selalu mencucurkan airmata manakala kami teringat saat-saat terakhir jatuhnya Granada.â€? Granada adalah benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia yang jatuh ke tangan bangsa Eropa yang kafir.</p>
<p>Sobat muda muslim, orang lain di luar Islam saja mengagumi agama kita, masak kita anteng-anteng aja, bahkan nggak kenal Islam dan kejayaannya. Malu dong. Iya nggak?</p>
<p>Memang sih, nggak salah-salah amat kita-kita jadi begini. Sebab, Barat udah berhasil memisahkan Islam dari kehidupan kita. Akibatnya, kita jauh banget dengan Islam. Ironinya, banyak di antara kita yang malah mengamalkan ajaran Barat yang kufur. Buwahaya!</p>
<p>Jadi, mulailah belajar tentang Islam. Kalo males? Wah, kayaknya apa yang disampaikan Imam as-Syafiâ€™i patut kita renungkan, â€œBarangsiapa tidak memanfaatkan masa mudanya untuk menuntut ilmu, maka bertakbirlah empat kali untuknya sebagai tanda kematiannya.â€?</p>
<p>Nah lho. Jadi, kita ngaji yuk!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 113/Tahun ke-3/2 September 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dunia-berhutang-kepada-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Maksiat Makin Galak</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yang-maksiat-makin-galak</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yang-maksiat-makin-galak#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/yang-maksiat-makin-galak/</guid>
		<description><![CDATA[Jack, begitu orang sekampung biasa memanggilnya. Nama aslinya sih Jaka. Tapi kayaknya doi lebih seneng dipanggil dengan nama yang berbau Barat itu. Tampangnya dingin. Kira-kira hampir sodaraan deh ama tampang aktor watak Robert De Niro yang langganan meranin tokoh berkarakter â€œdinginâ€? tapi ganas.
Di lingkungan RW setempat, Jack dikenal tukang judi, doyan nenggak miras, dan tentunya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jack, begitu orang sekampung biasa memanggilnya. Nama aslinya sih Jaka. Tapi kayaknya doi lebih seneng dipanggil dengan nama yang berbau Barat itu. Tampangnya dingin. Kira-kira hampir sodaraan deh ama tampang aktor watak Robert De Niro yang langganan meranin tokoh berkarakter â€œdinginâ€? tapi ganas.<span id="more-114"></span></p>
<p>Di lingkungan RW setempat, Jack dikenal tukang judi, doyan nenggak miras, dan tentunya main perempuan. Aksi bejatnya selama ini nyaris tak bisa diubah, dan itu terus berlangsung sampe sekarang. Kenapa bisa begitu bebas? Sebab doi punya wadyabalad yang jumlahnya lumayan banyak. Yup, para preman yang selalu bikin onar di kampung itu siap mendukung Jack.</p>
<p>Suatu hari, Jack dan komplotannya lagi asyik main judi rolet. Konyolnya, ia lakukan perjudian itu dekat masjid. Barangkali doi udah tahu reaksi warga. Pikirnya, paling-paling juga diem dan nyuekkin aja kelakuan bejatnya. Bukan apa-apa, warga pasti takut dong dengan para begundalnya yang nekat-nekat itu. Dugaan Jack tak salah. Warga yang tak setuju alias benci dengan kelakuan Jack dan gerombolannya cuma berani cas-cis-cus di belakang.</p>
<p>Nah, karena masalah ini makin rame dibicarakan orang, dan Jack kian agresif saja memamerkan keberaniannya, maka nggak salah dong kalo suatu saat bakalan ada tandingannya. Tapi Jack tak takut itu terjadi padanya, sebab dia punya banyak jaringan yang siap mati membela bisnis dirinya. Itu sebabnya, kian hari aksi Jack kian menjadi-jadi. Makin tak bisa dikendalikan lagi oleh pengurus warga setempat. Karena konon kabarnya juga Jack udah punya link dengan banyak polisi di kota tersebut. Celaka!</p>
<p>Jadinya, Jack tak hanya berani bicara, tapi juga berani beraksi. Perjudian dan pesta miras kian menjadi-jadi di lingkungan itu. Apalagi pas banget dengan ajang perayaan kemerdekaan yang kerap menggelar acara lomba gaple yang direstui oleh ketua RW setempat seperti memberi angin sorga buat komplotan Jack untuk pesta judi.</p>
<p>Sobat muda muslim, untungnya, di tengah kondisi seperti itu masih ada orang yang peduli dan berani untuk melawan kedzaliman. Anak masjid yang tadinya juga nggak berani melarang aksi Jack dan kawan-kawanya, mulai bangkit. Apalagi setelah mendapat dukungan dari sebagian warga yang juga tak rela kampungnya itu jadi sarang perjudian, prostitusi dan peredaran miras.</p>
<p>Agenda aksi tandingan disiapkan anak-anak masjid. Mulai dari menyebarkan pamflet berisi ajakan untuk kembali kepada Islam dan meninggalkan aktivitas maksiat, terus ngadain ceramah di masjid secara marathon. Hampir tiap malam diisi oleh para ustadz, baik dari warga setempat maupun ngundang dari tempat lain. Selain itu, anak-anak remaja masjid juga aktif melobi ketua RW/RT untuk menggunakan kekuasaannya dalam melawan kemaksiatan.</p>
<p>Sobat muda muslim, sepertinya memang perjuangan lengket banget dengan yang namanya pengorbanan. Itu sebabnya, perjuangan anak-anak remaja masjid juga tak selalu kudu berjalan mulus. Akibat aksi tandingan yang dilancarkan seminggu belakangan ini, teror mulai mengancam anak-anak remaja masjid. Ada anak buah Jack yang dengan sewotnya merobek pamflet yang banyak disebar di lingkungan itu.</p>
<p>Nggak cukup di situ, mereka mendatangi ketua RW dan RT setempat. Mereka melobi (baca; mengancam) juga supaya tetap mendukung kegiatan maksiat mereka selama ini. Kalo berani mengusik, maka jabatan RW dan RT bakalan melayang ke tangan orang lain. Lucunya, ketua RW dan RT malah ngeper. Akibatnya, anak-anak remaja masjid kian berat aja perjuangannya. Sebab, kudu melawan konspirasi antara pejabat pemerintah setempat dengan komplotan Jack yang punya duit dan mengendalikan keamanan.</p>
<p>Ternyata kini orang-orang yang maksiat udah berani bicara dan beraksi. Ironi, jadi lebih galak yang maksiat ketimbang yang bener.</p>
<p>Sobat muda, kisah tadi boleh jadi terjadi juga di tempat lain. Tak menutup kemungkinan kan? Sebab, kondisi kehidupan sekarang memang memberi peluang kepada individu dan masyarakat?  untuk berani berbuat maksiat. Gimana nggak, perjudian, pelacuran, peredaran miras dan narkoba tak mampu diselesaikan dengan benar dan baik. Bahkan cenderung mengalami peningkatan yang berarti. Ada apa ini? Apakah orang-orang udah tak peka lagi dengan perbuatan dosa? Apanya yang salah?</p>
<p><strong>Masyarakat kita sedang sakit</strong><br />
Kamu pernah nggak sakit or ngeliat orang yang sakit? Misalnya, menderita sakit yang berat. Biasanya, penampilan yang muncul selalu yang jelek-jelek dong. Badan kurus kering, rambut rontok, kulit borok-borok, napas udah senen-kemis, degub jantung aja lemah banget.</p>
<p>Kondisi masyarakat kita sekarang juga nggak jauh beda dengan orang yang sedang sakit. Tanda-tandannya apa? Angka kejahatan terus membesar, perjudian, pelacuran, kemiskinan yang grafiknya kian meningkat, biaya pendidikan yang kian mahal, pejabat pemerintah yang doyan korupsi, ekonomi yang morat-marit, perpecahan di mana-mana, kerusuhan seperti udah nggak kenal lelah, hiburan bertabur maksiat kian marak, baik di tayangan tv maupun lingkungan kita sendiri, dan beragam kemaksiatan lainnya udah jadi label yang kayaknya sulit banget untuk dihapus dari masyarakat kita.</p>
<p>Idih, siapa sudi sih hidup kayak begini? Andai semua orang tahu kalo masyarakatnya sedang sakit, kayaknya bakalan cepet berusaha untuk menyembuhkannya. Seperti halnya, kalo yang sakit tubuh kita sendiri. Biasanya, langsung trengginas berobat ke dokter. Sayangnya, sebagian besar masyarakat nggak ngeh dengan panyakit yang mendera kehidupan ini. Atau karena mereka menjadi bagian dari penyakit itu? Wah, sangat boleh jadi, dan itu artinya nggak bakalan merasakan kejanggalan tersebut, dong? Tepat sekali.</p>
<p>Akibatnya, sebagian ada yang berusaha untuk memberikan penyembuhan, eh, sebagian yang lain, yang emang pelaku kemaksiatannya malah kalap dan nolak mentah-mentah, bahkan pake ngancem segala. Kayak bujangan yang lagi seneng ngimpi ketemu puteri cantik dan dikipasin segala di taman yang indah, eh, kita bangunin. Udah untung nggak disepak juga. Padahal, kalo kita pikir kan kesenangan itu cuma mimpi.</p>
<p>Ya, seperti dalam kisah di atas tadi. Orang-orang yang maksiat malah lebih galak ketimbang yang baik-baik. Aneh bin ajaib. Padahal mereka itu sedang bersenang-senang dengan sesuatu yang buruk. Kenapa? Meski menurut mereka mendatangkan kenikmatan dengan banyak duit dan kebebasan tapi kan Allah nggak ridho. Itu artinya mereka tengah menabung untuk azab Allah di akhirat.Amit-amit deh!</p>
<p>Sobat muda muslim, idealnya, karena sedang sakit berarti butuh dokter dong? Tepat sekali. Dan biasanya, kalo orang udah sadar dengan penyakitnya, maka ia akan berusaha untuk menyembuhkannya. Bahkan boleh jadi taat banget sama anjuran dokter. Misalnya aja dokter memberi resep agar obat ini diminum sehari tiga kali, obat yang itu diminum setelah makan siang, obat lain lagi diiminum dua hari sekali. Selain itu, kudu getol menjaga kesehatan badan, misalnya dianjurkan untuk olahraga ringan di pagi hari. Ada makanan yang pantang untuk?  dimakan, guna mempercepat proses penyembuhan. Bahkan bila sang dokter menganjurkan untuk ngecek kesehatan secara rutin tiap bulan pun akan dilakukan. Kenapa? Karena doi sayang sama badannya.</p>
<p>Sobat muda muslim, itu juga bisa diumpamakan kepada kehidupan masyarakat lho. Bener. Jadi, kondisi masyarakat yang tengah sakit ini butuh dokter sebagaimana halnya kalo tubuh kita lagi nggak enak badan. Tentu tujuannya supaya masyarakat ini bisa sembuh dari penyakit yang selama ini dideritanya.</p>
<p>Nah, yang jadi dokter masyarakat ini adalah orang-orang yang tentunya udah tahu kondisi penyakit masyarakat. Dalam contoh kasus di atas adalah anak-anak remaja masjid dan ustadz-ustadz yang mencoba untuk menyadarkan orang-orang di lingkungan sekitarnya itu. Sayangnya, orang yang sakitnya itu sok tahu. Tak mau diobatin, malah ngancam segala.</p>
<p>Maklum sobat, mereka kan lagi kenceng-kencengnya maksiat. Menurut kita memang maksiat, tapi bagi mereka bisa jadi jalan hidup. Itu sebabnya, mereka bakalan bela-belain untuk melakukannya meski kanan-kiri banyak yang nggak suka dengan aktivitas rusak bin bejatnya. Ya , namanya juga orang lagi gelap kali ye?</p>
<p><strong>Kita selamatkan mereka</strong><br />
Sobat muda muslim, ini memang tugas kita untuk menyelamatkan mereka. Bukan so tahu, bukan pula sok jagoan, apalagi sok suci. Nggak. Kita mencoba empati dengan keadaan teman-teman kita yang masih berada dalam kegelapan. Bukan apa-apa, kita bisa begini â€?hebatâ€™ tahu ini dan itu, juga dengan melalui proses yang amat panjang dalam hidup ini. Kita bisa merasakan bagaimana nikmatnya saat kita berhasil melaksanakan kewajiban. Dengan proses yang amat panjang pula dalam belajar kita, kita jadi tahu kalo kita melakukan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam adalah haram. Dan jelas dosa. Dan kita pun berupaya untuk bisa menghindari aktivitas tersebut.</p>
<p>Nah, jadi jangan putus asa untuk bisa menjadi penerang orang-orang yang sedang berada dalam kegelapan. Kita coba raih mereka. Kita sampaikan kebenaran ini dengan jelas dan tegas. Apalagi, kita sebagai seorang muslim dituntut untuk melakukan amar maâ€™ruf dan nahyi munkar. Itu kan dalam upaya menyelamatkan mereka. Tul nggak? Meski kadang kita kudu menghadapi cemoohan dan celaan dari mereka, karena kita berusaha mengusik ketenangannya dalam bermaksiat. Tapi kalo kita mendiamkan, alamat kita juga bakalan kena dampaknya.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œPerumpamaan keadaan suatu kaum/masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: â€œSeandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.â€? Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda: â€œApabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab dari Allah.â€? (HR Ath Thabrani, Al Hakim dari ibnu Abbas)</p>
<p>Sobat muda muslim, kita sering mengkritisi keadaan bukan berarti tanda benci, apalagi antipati, tapi menunjukkan sikap empati dan peduli. Tul nggak? Apalagi yang melakukan maksiatnya teman sendiri, atau tetangga sendiri, bahkan mungkin saudara sendiri. Jadi jangan dimusuhi, tapi kita dekati.</p>
<p>Tapi gimana kalo setelah kita menggunakan cara yang baik tapi mereka tetep ngeles dan bahkan galak? Ya, bersabar saja. Tugas kita kan menyampaikan. Tapi tetap jangan menyerah. Teruskan perjuangan kita, meski, barangkali sekadar menuliskannya seperti dalam buletin ini. Rasulullah saw. bersabda: â€œBarangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya; maka bila ia tidak mampu, maka dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.â€? (HR Muslim)</p>
<p>Sobat muda muslim, kondisi ini rasanya sulit kalo kita cegah sendirian, maka perlu peran negara dalam mengatasinya. Bukan apa-apa, kemaksiatannya udah mengglobal. Jadi kalo ingin aman dan sejahtera, ingin hidup tanpa kekerasan, ingin selamat dunia dan akhirat, tak usah repot dan pusing-pusing, kita ajak masyarakat dan minta kepada bapak-bapak pejabat di negeri ini untuk mencampakkan sistem kehidupan kapitalisme yang selama ini diterapkan, dan ganti dengan sistem pemerintahan Islam. Supaya tak banyak yang berani bicara dan beraksi dalam kemaksiatan. Tapi justru nantinya masyarakat akan berani bicara dan beraksi sesuai tuntunan syariat Islam. Setuju kan?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 112/Tahun ke-3/26 Agustus 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yang-maksiat-makin-galak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Tak Ada Lagi Perang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ketika-tak-ada-lagi-perang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ketika-tak-ada-lagi-perang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:18:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ketika-tak-ada-lagi-perang/</guid>
		<description><![CDATA[Rudi, sebut saja begitu. Pemuda berambut gondrong dengan sedikit janggut nemplok di dagunya itu aktif banget belakangan ini. Bareng gang-nya di kampung itu, doi rela ngeluarin tenaga dan meluangkan waktunya untuk mensukseskan beragam acara yang digelar menjelang, selama, dan setelah 17 Agustus. Dalam tradisi masyarakat kita, mudahnya suka disebut dengan istilah â€œagustusanâ€?. Dan itu kudu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rudi, sebut saja begitu. Pemuda berambut gondrong dengan sedikit janggut nemplok di dagunya itu aktif banget belakangan ini. Bareng gang-nya di kampung itu, doi rela ngeluarin tenaga dan meluangkan waktunya untuk mensukseskan beragam acara yang digelar menjelang, selama, dan setelah 17 Agustus. Dalam tradisi masyarakat kita, mudahnya suka disebut dengan istilah â€œagustusanâ€?. Dan itu kudu dirayakan pol-polan. Barangkali, kalo boleh mengatakan, tradisi ini sudah seperti kewajiban. Gimana nggak, masyarakat setempat suka protes sama ketua RT dan RW kalo di lingkungannya nggak digelar acara begituan. Pernah ada lho, Pak RT-nya males bikin acara itu, eh warganya protes. Malah warga sampe rela membiayai seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan, kalo emang kendalanya soal biaya. Coba, gimana nggak â€?hebohâ€™ kan? Itu sebabnya, kalo nggak merayakan bakalan, maaf saja, dianggap sebagai perbuatan dosa besar. Wah, gaswat kan? Asal!<span id="more-113"></span></p>
<p>Gang-nya Rudi, meski bukan gang hijau di iklan salah satu produk rokok, dengan dibantu warga setempat kompakan banget dalam persiapan berbagai kegiatan yang disponsori ketua RW-nya. Mulai dari bikin gapura peringatan, menghiasi jalanan dengan lampu, mendandani lingkungan dengan aksesoris bernuansa merah putih, pasang bendera, dan bahkan bikin spanduk tentang acara tersebut. Selain itu, mereka nyiapin karung goni untuk lomba balap karung, nyewa tukang krupuk untuk nyiapin lomba makan krupuk, pekerja bengkel juga diundang untuk bagi-bagi oli bekas yang akan digunakan untuk melumuri pohon pinang pada lomba panjat pinang, atau pada lomba ngambil duit pake mulut yang ditancepin di jeruk bali berlumur oli.</p>
<p>Nggak cukup di situ, Rudi and the gang siap-siap menggalang dana dan sponsor untuk kegiatan lomba gaple, main bola anak-anak, sepakbola ibu-ibu, lomba masak, dan berbagai lomba lainnya. Termasuk acara puncak, yang biasanya menggelar pesta yang nggak kalah seru dengan acara semacam konser musik. Acara favoritnya, dangdutan lengkap dengan lomba joget ala tayangan Joged-nya RCTI, dengan artis menor produk lokal. Yang suaranya pas-pasan tapi goyangannya hot. Waduh!</p>
<p>Sobat muda muslim, boleh jadi orang-orang seperti Rudi dan gang-nya nggak cuma di kampung itu aja. Tapi merata di seluruh nusantara. Maklum saja, mereka juga merasa ingin ambil bagian dalam pesta tahunan itu. Mereka bergotong-royong dengan warga sekitar turut mensukseskan acara-acara yang mereka sebut sebagai aktivitas untuk memeriahkan acara tujuh belasan. Sekaligus, barangkali, melegalkan kebebasan mereka selama ini. Mumpung lagi ajang perayaan kemerdekaan, yang emang biasanya serba bebas itu. Walah?</p>
<p>Hmmâ€¦ karena semua lomba yang digelar bertujuan untuk memeriahkan dan menghibur, maka, yang digelar adalah lomba yang ringan dan yang lucu. Acara ini juga merupakan ungkapan rasa bangga kepada para pahlawan yang telah mengusir penjajah dari negeri ini dengan tebusan darah dan air matanya.</p>
<p>Dan barangkali, nilai penting bagi masyarakat kita pada umumnya, adalah mengungkapkan rasa syukur itu dengan mewah dan meriah. Itu bisa kamu lihat bahwa kebanyakan masyarakat kita (utamanya di desa), kalo ngadain pesta sunatan atau pernikahan anaknya aja, hajatan yang digelar biasanya acara yang serba wah. Tentunya yang punya duit dong. Misalnya, ada pagelaran wayang golek semalam suntuk, bisa juga menggelar pesta jaipong or dangdut sampe pagi.</p>
<p>Jadi jangan heran kalo untuk acara â€œsyukuranâ€™ atas kemerdekaan ini juga harus diwujudkan dengan acara-acara yang serba â€œwahâ€?. Perkara acara itu nantinya bikin rusuh dan bertabur maksiat, nggak jadi soal. Yang penting gemerlap dan menghibur. Celaka sobat!</p>
<p><strong>Miskin makna perjuangan</strong><br />
Dulu, para pejuang negeri ini memeras keringat, mengeluarkan darah dan air mata demi bebasnya negeri ini dari cengkeraman penjajah Inggris, Portugis, Belanda, dan Jepang. Para pejuang kita insya Allah sudah ikhlas menebusnya dengan nyawa mereka, asal anak-cucunya bisa menikmati hidup dengan layak di negeri sendiri, tanpa tekanan para penjajah.</p>
<p>Sekarang, memang tak ada desingan peluru, tak ada dentuman bom. Pistol lebih sering betah disarungkan, bedil juga lebih banyak diemnya ketimbang dikokang, meriam pada nganggur, kendaraan lapis baja setia nongkrong di kandangnya, bahkan pesawat tempur cuma sekali-kali aja melakukan manuver, itu pun di acara pesta dirgantara atau di acara ulang tahun kemerdekaan seperti ini. Jadi, lebih banyak digunakan untuk melindungi rakyat, bukan untuk melawan musuh. Maklum, kini sudah tak ada lagi perang.</p>
<p>Kondisi yang sepi dari suara dar-der-dor ini, memang nikmat. Semua, alhamdulillah, menikmatinya dengan senang hati. Meski tentunya sesuai dengan kesempatan yang didapatnya masing-masing. Ada yang sudah merasa nikmat hidup di desa, mengurus ternak dan mengolah sawah. Hidup rukun tanpa diganggu suara bising kendaraan bermotor. Sepi dari dar-der-dor perang mulut para politisi. Mereka yang tinggal di lembah dan gunung, serta di pulau-pulau terpencil menikmati kemerdekaan negeri ini dengan caranya sendiri. Adem ayem.</p>
<p>Yang di kota juga menikmati kemerdekaan ini, meski kudu dibayar mahal untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Boleh dibilang, damai tapi gersang. Memang tak ada perang, tapi tetap was-was menghadapi hidup ini. Tapi anehnya tetap merasa merdeka, karena mereka mendefinisikan kemerdekaan itu dengan tak adanya perang. Wah?</p>
<p>Memang damai negeri ini. Maksudnya tak ada perang. Nggak ada lalu lalang serdadu musuh. Tentrem dan enak ngapa-ngapain aja. Termasuk kita bisa sekolah, kerja, dan bahkan berkeluarga dengan aman. Meski terus terang saja, sebagian dari kita yang lain rasanya sulit untuk mendapatkan apa yang pernah kita raih dan rasakan tersebut.</p>
<p>Sobat muda muslim, dengan kondisi sesejuk ini, maka pantas kalo masyarakat kita jadi terlena. Sampe-sampe setiap acara tujuh belasan selalu diperingati dengan hal-hal yang jauh dari makna perjuangan. Pagi di tanggal 17 Agustus, biasanya upacara dengan khidmat. Pas beres upacara, baru deh ketahuan jeleknya kita. Pagelaran bertabur hura-hura, bahkan maksiat pun dengan semangat digelar.</p>
<p>Ironinya ada saja orang yang memasukkan jenis lomba dan pesta dalam rangkaian acara kemerdekaan itu yang miskin makna perjuangan. Di antaranya lomba gaple dan pesta band or dangdutan. Lah, ini mau ngasih jalan orang-orang untuk malas atau mau menumbuhkan semangat berjuang?</p>
<p>Sekadar tahu saja, Pangeran Diponegoro saat berjuang dulu nggak main gaple tuh apalagi goyang dangdut segala. Nggak lah yauw. Beliau dan para pejuang negeri ini sibuk ngangkat senjata dan rela berkorban. Sayangnya, kita suka tulalit dalam memaknai kemerdekaan ini yang merupakan hasil yang telah dicapai oleh para pejuang kita dulu. Celakanya, kita merasa bangga lagi, bahwa kita ikut menghormati jasa para pahlawan negeri ini dengan menggelar beragam acara seperti tadi. Hih, amit-amit deh. Jangan sampe kamu ikut-ikutan senewen.</p>
<p><strong>Kita masih terjajah lho&#8230;</strong><br />
Sobat muda muslim, sedih dan perih hati ini. Bener, lho. Nggak bohong. Soalnya, kalo kita nyaksiin temen-temen remaja banyak yang masih sibuk dengan gaya hidupnya saat ini. Kita, layak untuk prihatin, lho.</p>
<p>Ada banyak teman remaja puteri yang tetap betah dengan pakaiannya yang irit bahan. Banyak yang tak sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa. Tapi nggak sedikit juga lho yang emang sengaja melakukan itu, meskipun doi udah dengar dan tahu kalo perbuatannya itu salah dan jelas dosa. Nah, tipe yang kedua ini boleh dibilang sebagai agent of change, agen perubah. Mereka secara tidak langsung udah jadi kader pengemban dakwah ajaran Barat untuk menghancurkan Islam.</p>
<p>Nah, kasus yang masih ada hubungan dengan acara â€œagustusanâ€? adalah dengan digelarnya acara-acara yang tulalit dengan makna perjuangan. Utamanya yang paling seru dan heboh adalah acara puncaknya, yang berupa lomba nari dan nyanyi. Aduh, rasanya bergolak hebat dalam dada kita rasa kesal atas kegiatan itu. Teman-teman kita kayaknya nggak nyadar kalo sedang memamerkan produk penjajah kita. Mengumbar auratnya di panggung dan memancing pikiran yang nggak-nggak dari para penonton, jelas bukan budaya kita, Islam. Tapi itu budaya dari luar Islam. Jadi, ternyata kita masih terjajah secara pikiran dan budaya. Padahal itu jauh lebih berbahaya akibatnya, lho. Ibaratnya, rusak badan tertembus peluru masih mudah obatnya, tapi rusak pikiran dan jiwa, rada sulit obatnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, arti merdeka adalah terbebasnya kita?  dari segala penghambaan kepada hawa nafsu dan aturan orang lain, seraya kita mengikatkan dan menundukkan diri kita sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebab, itulah sebaik-baik penghambaan kita. Kalo sekarang kita masih terjajah oleh hawa nafsu, masih dikendalikan dan didikte oleh orang lain, maka kita jelas masih terjajah alias belum merdeka. Padahal dalam shalat, kita udah berikrar kepada Allah, bahwa kita akan menyerahkan segalanya kepada Allah Swt. Firman-Nya:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?µ???„?§???????? ?ˆ???†???³???ƒ???? ?ˆ???…???­?’?????§???? ?ˆ???…???…???§?????? ?„???„?‘???‡?? ?±???¨?‘?? ?§?„?’?¹???§?„???…?????†??<br />
&#8220;Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,â€? (TQS al-Anâ€™?¢m [6]: 162)</p>
<p>Inilah hakikat kemerdekaan. Kalo kita bicara soal masyarakat, berarti masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman aturan masyarakat lain, begitu pula dengan negara. Negara yang merdeka adalah negara yang mandiri, dan tidak dikendalikan oleh aturan negara lain. Kalo sekarang? Kita masih terjajah, kawan.</p>
<p>So, masyarakat kita masih belum bisa melepaskan ikatan yang dijeratkan ideologi kapitalisme. Tragisnya lagi, kita malah menjadi pejuang pesan-pesan ideologi kufur ini. Sebut saja, masyarakat kita masih doyan bergaya hidup permisive alias bebas nilai. Makna kebahagiaannya adalah banyaknya materi yang berhasil dikoleksi, bukan lagi ridho Allah. Itu sebabnya, kemudian masyarakat kita dituntut untuk melakukan hal yang haram sekalipun untuk meraih kebahagiaan materi. Bila perlu nyari harta dengan cara gila-gilaan. Misalnya aja, maaf, kaum seleb, mau dibilang gila, tapi mereka bisa nyari duit. Tapi dibilang waras, kok nyari duitnya dengan cara gila-gilaan. Ah, bingung jadinya.</p>
<p>Masyarakat kita pun malah fasih melafalkan dan melaksanakan ide demokrasi ketimbang Islam. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih menjadi bagian dari masyarakat Barat. Itu artinya belum merdeka, sobat. Celakanya lagi, ketika kita merayakan kemerdekaan, ternyata pengungkapannya menggunakan cara-cara yang bukan dari Islam. Nyanyi dan nari yang diiringi dengan perbuatan maksiat lainnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita pengen banget ngasih tahu sama mereka. Tapi adakalanya mereka suka nggak terima. Memang ini juga dilematis bagi kita. Di satu sisi kita mau ngajak mereka ke jalan yang benar dan meninggalkan aktivitas sia-sia dan maksiat, tapi di sisi lain, mereka menolak mentah-mentah dan mencap kita sebagai orang yang sok suci dan mencampuri urusan mereka. Lha, ini kan repot? Teman-teman kita itu bukan musuh, tapi saudara kita. Jadi kita berusaha menolong. Cuma, karena teman-teman udah merasa hidup enak dalam keadaan yang seperti ini, yakni serba bebas berbuat. Jadi, ketika diajak bener susahnya minta maaf, malah pake ngancam segala lagi.</p>
<p>Teman-teman, sejujurnyalah saat ini kita belum merdeka, selama kita tidak menjadikan Islam sebagai jalan hidup, alias ideologi.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 111/Tahun ke-3/19 Agustus 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ketika-tak-ada-lagi-perang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Berlumur Noda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cinta-berlumur-noda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cinta-berlumur-noda#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cinta-berlumur-noda/</guid>
		<description><![CDATA[Gaswat! 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan lagi. Wow, sungguh mencengangkan dan mengerikan mengetahui kehidupan seks mahasiswi di kota pelajar Yogyakarta. Benar. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.
Seperti yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gaswat! 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan lagi. Wow, sungguh mencengangkan dan mengerikan mengetahui kehidupan seks mahasiswi di kota pelajar Yogyakarta. Benar. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.<span id="more-112"></span></p>
<p>Seperti yang ditulis detik.com pada 2 Agustus 2002 lalu, bahwa yang lebih mengenaskan, semua responden mengaku melakukan hubungan seks tanpa ada paksaan. Semua dilakukan atas dasar suka sama suka dan adanya kebutuhan. Selain itu, ada sebagian responden mengaku melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan dan tidak bersifat komersil. Wah, wah, wah.</p>
<p>Hal itu dikemukakan Direktur Eksekutif LSCK PUSBIH, Iip Wijayanto, kepada wartawan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jl. Malioboro, Yogyakarta, Kamis (1/8/2002).</p>
<p>Menurut Iip, penelitian itu dilakukan selama 3 tahun mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan melibatkan sekitar 1.660 responden yang berasal dari 16 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Yogya. Dari 1.660 responden itu, 97,05 persen mengaku sudah hilang keperawanannya saat kuliah.(detik.com, 2 Agustus 2002)</p>
<p>Sobat muda muslim, tentunya hal itu bukan kabar baik. Sebaliknya itu merupakan tamparan buat kita, kaum muslimin, khususnya yang berada di Yogyakarta. Bukan apa-apa, sangat boleh jadi yang melakukannya dan yang jadi korbannya adalah mahasiswi muslim. Maklum saja, jumlah umat Islam di negeri ini cukup banyak ketimbang jumlah umat lainnya. Andai dari 97,05 persen itu sekitar 60 persennya pelaku kebejatan itu adalah beragama Islam, maka hampir 1000 orang umat Islam dari 1660 yang disurvei adalah pelaku aktif maksiat jenis itu. Astaghfirullah&#8230;</p>
<p>Jadi jangan heran or jangan kaget, apalagi bingung setengah hidup. Karena sebenarnya itu baru di Yogyakarta. Masih ada Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, Surabaya, Makasar, dan kota besar lainnya yang barangkali bernasib sama. Jadi kebingungan kamu sebenarnya belum seberapa. Maklum saja, kemaksiatan saat ini bener-bener kompakan. Nggak cuma milik daerah tertentu aja. Boleh dibilang merata di mana-mana. Itu sebabnya, kita khawatirkan banget, jangan-jangan tetangga di lingkungan tempat tinggal kita malah pelaku seks bebas itu. Ih, naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Sobat muda muslim, terus terang kita prihatin dengan kondisi ini. Gimana nggak, kalo ternyata hasil survei itu benar-benar valid, maka kita pantas untuk khawatir. Kalo gitu susah juga nyari yang masih baik-baik ya? Wah, bisa berabe kan? Sebab, 97 banding 3. Jadi tiap 100 orang yang disurvei, hanya 3 yang masih â€?bersegelâ€™, alias masih baik-baik dan selamat. Wuih, kebayang nggak sih betapa bingungnya kalo kita disuruh untuk milih yang masih baik-baik. Itu sih ibarat nyari jerami dalam tumpukan jarum, eh, nyari jarum dalam tumpukan jerami. Bisa keteteran.</p>
<p><strong>Pengaruh globalisasi</strong><br />
Nggak salah lagi, yang patut ditunjuk hidung sebagai terdakwa dalam kasus ini adalah maraknya budaya bebas nilai alias permisivisme. Akibatnya, kalo dulu masyarakat kita masih malu-malu untuk berbuat asusila, tapi sekarang, yang namanya perbuatan merusak moral itu udah jadi tren. Pelakunya bahkan udah nggak merasa bersalah lagi. Lihat aja, lokalisasi judi kian marak dan berani, lokalisasi pelacuran apalagi, makin berani aja buka praktiknya. Dan orang-orang yang terlibat dalam kedua bisnis haram itu tidak merasa malu apalagi merasa berdosa. Cuek aja lagi. Ih, kacau bener!</p>
<p>Sobat muda muslim, mungkin semua itu karena saking banyaknya yang melakukan dan nggak ada teguran dari masyarakat yang lain. Bisa jadi, lho. Sebab, manusia itu adakalanya berbuat sebagaimana orang lain melakukan perbuatan tersebut. Apalagi nggak ada teguran dari masyarakat dan pihak keamanan, dijamin makin betah aja berbuat maksiat. Celaka dua belas memang.</p>
<p>Nah, dalam kasus ini, memang diakui juga bahwa dampak budaya rusak itu udah masuk ke dalam pergaulan muda-mudi, khususnya di kota-kota besar.</p>
<p>Jadi kalo ditanyakan, apa yang salah sehingga 97,05% mahasiswi Yogyakarta hilang kegadisannya? Menurut psikolog sosial asal UGM, Mohammad Asâ€™ad, hal itu terjadi karena suasana kos-kosan yang mendukung, tanpa kontrol. Demikian sebagaimana dituturkannya kepada detik.com.</p>
<p>&#8220;Ini diakibatkan terjadinya pergeseran dalam perilaku permisif atau serba boleh. Dan juga ada perubahan orientasi dalam pengelolaan kos-kosan. Sehingga hubungan induk semang dan penghuni kos hanya bersifat ekonomis yaitu antara penjual dan konsumen, tanpa memperhatikan nilai-nilai sosial yang ada,â€? papar Asâ€™ad.</p>
<p>Menurutnya, dulu kalau orang kos di Yogyakarta, hubungan sosialnya sangat dekat dengan pemilik rumah maupun dengan masyarakat. Namun sekarang ini telah berubah. â€œDengan pemilik rumah pun kadang-kadang tidak kenal, apalagi dengan warga sekitar,â€? lanjut psikolog sosial ini.</p>
<p>Sobat muda muslim, ini memang pengaruh globalisasi. Buktinya, kelakuan bejat remaja Amrik bisa dengan cepat ditiru oleh remaja negerinya Si Unyil ini. Maklum saja, sekarang kan jaman kuda gigit prosesor, jaman digital. Dengan internet dan parabola semua informasi dunia luar bisa diakses dengan mudah dan bahkan murah. Wajar aja, kalo remaja kita banyak yang kaget dan kemudian latah ngikut budaya mereka dengan sepenuh hati.</p>
<p>Coba, saat kamu mengakses internet, nyaris seluruh informasi dunia luar bisa diserap dengan mudah. Termasuk budaya bejat remaja Barat dalam bergaul dengan lawan jenisnya. Begitupun ketika kamu nongkrongin acara televisi. Mulai dari iklan, sinetron, sampe film, semua memberikan kesan yang bikin otak kamu jadi piktor, alias pikiran kotor. Jadi kamu mikirnya ke â€œsituâ€? melulu. Bisa gaswat kan?</p>
<p>Celakanya lagi, kalo kamu kemudian merasa ada justifikasi alias pembenaran. Merasa banyak yang berbuat begitu, akhirnya kamu ikutan juga jadi senewen. Ditambah masyarakat sekitar cenderung melakukan ATM, alias Aksi Tutup Mata, seolah nggak melihat bahayanya.</p>
<p><strong>Cinta berarti seks bebas?</strong><br />
Sobat muda muslim, manusia punya potensi kehidupan (thaqatul hayawiyah). Potensi tersebut berupa naluri dan kebutuhan jasmani. Naluri dalam diri manusia ada tiga; naluri mempertahankan diri, naluri melanjutkan keturunan, dan naluri beragama. Keduanya (naluri dan kebutuhan jasmani) berbeda lho dalam pemenuhannya.</p>
<p>Dalam masalah rangsangan pun keduanya berbeda. Kebutuhan jasmani rangsangannya dari dalam. Artinya, kalo perut kita udah merasa lapar, tenggorokan terasa tercekik karena kehausan, maka sudah mutlak kudu dipenuhi. Kalo nggak? Alamat bakalan sakit atau malah koit. Itu artinya rangsangan dari dalam diri kita, dan pemenuhannya mutlak.</p>
<p>Sedangkan naluri, rangsangannya dari luar. Ambil contoh dalam kasus ini naluri melanjutkan keturunan. Salah satunya diwujudkan dengan rasa cinta terhadap lawan jenis. Nah, itu akan muncul kalo ada rangsangan dari luar. Misalnya, kalo kamu udah pernah ketemu seorang cewek cakeup, baik, kiut, imut-imut, dan yang pasti kamu suka. Maka sejak saat itu kamu bakalan salting sekaligus seneng kalo ketemu doi. Rasanya jantungmu bakalan berdetak dua kali lebih kenceng. Makin senang lagi kalo ternyata gayung bersambut, alias doi juga suka sama kamu. Artinya, doi mengharapkan kamu seperti kamu mengharapkan dirinya.</p>
<p>Hanya saja, naluri itu pemenuhannya tidak mutlak, alias kalo pun nggak terpenuhi, nggak bakalan sakit apalagi koit. Ya, cuma bikin kamu gelisah doang. Nggak lebih dari itu.</p>
<p>Tapi celakanya, kalo kamu nggak bisa nahan nafsu, bakalan berani mewujudkannya dengan gaul bebas. Akibatnya, boleh jadi kayak kasus mahasiswi Yogya itu. Cinta mereka berlumur noda. Parahnya lagi, kalo teman-teman kita itu ada yang udah nggak peduli lagi dengan kesucian dan kehormatan dirinya. Waduh, itu sih emang udah bejat banget ya? Kasihan.</p>
<p>Ini terjadi karena kita sering kali memahami bahwa cinta itu sama dengan seks. Bila kita jatuh cinta, berarti kita harus berhubungan seks. Itu keliru kawan. Ya, sangat keliru. Emang sih, sebagian besar orang Barat selalu mengidentikan bahwa cinta sama dengan seks. Bercinta dalam istilah mereka berarti bermain seks. Bilang â€œI love youâ€?, dalam â€?kamusâ€™ sebagian besar remaja Barat adalah â€œI wanâ€™t your sexâ€?. Idih serem banget, ya?</p>
<p>Nah, kabar dari Yogya itu emang bikin merinding bulu kuduk lho. Seremnya bukan karena abis nonton film horor, tapi nggak habis pikir kalo ngebayangin kejadian tersebut. Baca beritanya saja udah lunglay, gimana kalo langsung ikutan survei dan dapat jawaban seperti itu, bisa ngejoprak duluan deh.</p>
<p>Situs berita detik.com juga mengutip pernyataan Direktur Eksekutif LSCK PUSBIH Iip Wijayanto yang menyebutkan bahwa pergaulan mahasiswa dan mahasiswi di tempat kos-kosan itu udah parah banget. Agar tidak ketahuan pemilik kos ataupun petugas ronda kampung, responden mengaku mengakali dengan cara memasukkan pasangannya sejak pukul 07.00 WIB dan baru keluar atau pulang pada pukul 21.00 malam. Wacksss?</p>
<p>Sobat muda muslim, pemahaman yang salah tentang cinta mengakibatkan temen-temen remaja berbuat sesuka hatinya. Parahnya lagi, dalam kehidupan sistem kapitalisme seperti sekarang ini, celah-celah atau peluang yang memungkinkan terjadinya â€?kegiatanâ€™ yang bikin bejat dibuka lebar-lebar. Lihat aja, film, sinetron, novel, musik, tempat hiburan malam, dan tata aturan dalam kehidupan masyarakat kita secara tidak langsung udah ngasih lampu ijo. Makna cinta yang diekspos pun adalah yang berkaitan dengan bagaimana upaya memenuhi gejolak naluri itu.</p>
<p>Celakanya, upaya pemenuhannya nggak memperhatikan aturan dan norma agama. Akibatnya, acapkali berujung dengan hubungan seks di luar nikah. Ih, parah sekuwali tuh. Payahnya lagi, masyarakat di lingkungan kita sebagian besar nggak serius mengajarkan kepada kita bagaimana mengendalikan cinta agar tak berujung di â€?tangan hansipâ€™ alias kepergok lagi â€œbegituanâ€? oleh petugas siskamling, misalkan. Ih, hina banget?</p>
<p>Emang sih, bila ngikutin pendapatnya Sigmund Freudâ€”ilmuwan Jerman yang kesohor dengan teori psikoanalisa-nyaâ€”yang melontarkan pernyataan bahwa libido seksual itu harus disalurkan, bila nggak, bakalan menyebabkan kita sakit atau malah koit. Dan rupanya, banyak yang menerjemahkan â€?ocehanâ€™ Freud ini dengan serampangan, itu sebabnya muncul pernyataan bahwa cinta identik dengan aktivitas seks. Waduh, bikin berabe tuh!</p>
<p><strong>Bertobat ngapa?</strong><br />
Seorang muslim pantang berputus asa, apalagi dari ampunan dan rahmat Allah. Manusia saja ada yang begitu pengampun, apalagi Tuhannya manusia. Sebesar apapun dosa yang kita lakukan, maghfirah dari Allah jauh lebih besar lagi. Dan kasih sayang Allah mendahului murka-Nya. Dosa perzinaan yang pernah dilakukan, bukanlah dosa yang tak berampun. Kamu bisa bertobat dengan memohon ampunan kepada Allah Swt.</p>
<p>Lalu bagaimana soal â€?kesucianâ€™ yang sudah hilang? Kawan, dengan tobat yang kita lakukan insya Allah Dia akan memberikan jalan terbaik bagi kita. Bahkan, pasangan hidup yang baik. Yakinlah.</p>
<p>Jika Allah sayang kepada kita karena kita ngikutin aturan-Nya, kelak jodoh yang baik alias sholeh or sholehah akan datang menghampiri. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?§?„?’?®???¨?????«???§???? ?„???„?’?®???¨?????«?????†?? ?ˆ???§?„?’?®???¨?????«???ˆ?†?? ?„???„?’?®???¨?????«???§???? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???§???? ?„???„?·?‘?????‘???¨?????†?? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???ˆ?†?? ?„???„?·?‘?????‘???¨???§????<br />
â€œWanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).â€? [TQS an-N?»r [24]: 26]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 110/Tahun ke-3/12 Agustus 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cinta-berlumur-noda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Cinta di Sekolahâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-cinta-di-sekolah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-cinta-di-sekolah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ada-cinta-di-sekolah/</guid>
		<description><![CDATA[Sobat muda muslim, ngomongin soal cinta, nuansanya bisa berwarna-warni. Apalagi kalo yang ngomongin adalah anak sekolah seusia kamu. Dijamin obrolan seputar cinta jadi acara yang spesial dan seru. Utamanya bagi kamu yang baru kenal makhluk bernama cinta. Serasa menemukan dunia baru. Persis adik kita yang kesengsem berat sama mainan barunya. Sampe tidur pun dibawa-bawa aja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sobat muda muslim, ngomongin soal cinta, nuansanya bisa berwarna-warni. Apalagi kalo yang ngomongin adalah anak sekolah seusia kamu. Dijamin obrolan seputar cinta jadi acara yang spesial dan seru. Utamanya bagi kamu yang baru kenal makhluk bernama cinta. Serasa menemukan dunia baru. Persis adik kita yang kesengsem berat sama mainan barunya. Sampe tidur pun dibawa-bawa aja tuh mainan. Bahkan boleh jadi kebawa juga dalam mimpinya. Sampe-sampe ortu kita suka geleng-geleng kepala, saat adik kita ngigo soal mainan barunya. Maklum saja, baru merasakan gimana senengnya suasana hati.<span id="more-111"></span></p>
<p>Kata Mbak Titik Puspa dalam sebuah lagunya, jatuh cinta itu katanya berjuta rasanya. Bener nggak sih? Hanya mereka yang pernah merasakannya. Konon kabarnya, emang begitu kok. Dari mulai asem, manis, asin, kecut, sampe pedes dan turunannya yang berjumlah ribuan rasa. Wah, kayak lidah aja yang punya ribuan sensor syaraf untuk mengidentifikasi rasa. Seru banget ya? Hmmâ€¦</p>
<p>Well, apalagi kalo yang jatuh cinta itu remaja yang masih pada sekolah. Bisa tambah heboh sekaligus menggelikan. Lho, kok bisa? Maklum, biasanya teman remaja suka malu-malu kucing. Sebab, bagi kamu yang jatuh cinta pertama kali adalah pengalaman yang mendebarkan. Boleh dibilang bisa bakalan dicatat dalam lembaran sejarah kehidupan kamu. Soalnya, emang seru sih. Tul nggak? Jadi deh, sesuatu yang terindah dalam hidup kamu.</p>
<p>Sobat muda muslim, anak remaja mana sih yang awalnya nggak malu-malu kucing kalo ketemu kecengannya? Kayaknya, hampir semua teman remaja begitu. Biasanya anak SMP yang paling banyak, meski anak SMU juga nggak sedikit yang masih polos tentang urusan cinta.</p>
<p>Bagi tipe kebanyakan dari kamu yang emang malu-malu kucing, biasanya cuma seneng ngincer doang. Pas ketemu orangnya bisa salting banget. Kalo jauh dengan doi, hati kita rindu. Eh, begitu doi dekat kita, malah dak-dik-duk, sebagian lagi malah memasang tampang jual mahal. Pura-puranya sih, nggak suka. Padahal, justru pengen disapa. Dasar!</p>
<p>Nah, rupanya di sinilah serunya urusan cinta anak sekolah. Selain karena masih pemula dalam masalah cinta, juga karena persoalan kesiapan mental. Maklum saja, baru lepas dari masa kanak-kanak beranjak dewasa. Itulah remaja. Pengennya nggak disebut anak kecil lagi. Itu sebabnya, untuk bisa lepas dari predikat bocah cilik, biasanya teman remaja suka melakukan banyak hal, termasuk dalam urusan cinta, yang katanya salah satu ciri anak remaja. Tapi sayangnya, dari segi mental masih belum mapan. Artinya kadang masih merasa sebagai anak kecil. Cirinya apa? Biasanya teman remaja merasa jangan disalahkan bila berbuat sesuatu. Anggaplah itu sebagai sebuah â€?kesalahanâ€™ kecil yang wajar dilakukan. Walah?</p>
<p>Termasuk dalam urusan cinta ini. Nggak heran kalo ada anak puteri yang suka ngumpet-ngumpet alias backstreet bareng gebetannya karena takut ketahuan sang ortu. Satu sisi pengen disebut udah dewasa, dengan menjalin hubungan cinta dengan sang kekasih, tapi di satu sisi lagi, doi nggak mau disalahkan juga. Itu sebabnya, doi melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Takut direcokin sama ortunya. Berbahaya memang!</p>
<p><strong>Mewujudkan cinta</strong><br />
Hmmâ€¦ ini yang paling greng dan favorit untuk dibicarakan. Bukan apa-apa, rasanya cinta yang hadir dalam diri kita kagak bakalan seru kalo nggak berusaha untuk diwujudkan. Artinya, kalo cinta cuma mampir di hati, bikin jantung berdetak dua kali lebih kenceng, dada kita terasa bergolak oleh panasnya api cinta, itu belum seberapa dahsyat. Kenapa? Sebab, bagi sebagai teman remaja, biar oke kudu diwujudkan dalam bentuk aktivitas yang lebih kreatif. Yang paling mudah adalah pacaran. Nah lho?</p>
<p>Betul, banyak teman kita yang menempuh jalur itu. Katanya sih, pacaran adalah wujud dalam mengekspresikan cinta yang hadir dalam diri kita. Tanpa diwujudkan dengan pacaran, cinta ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Begitulah komentar para aktivis pacaran.</p>
<p>Sobat muda muslim, pacaran bukan barang aneh bagi anak jaman kiwari. Jaman penulis kecil dulu, kira-kira ketika masih SD, sebetulnya rasa suka sama lawan jenis sudah muncul. Naluriah kok. Tapi tentunya belum berani untuk maju sejauh anak sekarang. Maklum saja, jaman dulu sarana komunikasi terbatas banget. Televisi yang ada baru TVRI. Siarannya kebetulan masih lebih banyak pendidikannya. Jadi nggak banyak contoh untuk berbuat lebih jauh dari itu, misalnya untuk melakukan pdkt (baca: pendekatan) ke lawan jenis. Cukup ngincer di balik pohon kembang di taman sekolah.</p>
<p>Nah, ketika jaman berubah. Teknologi informasi makin mudah diakses, maka dimulailah babak baru perubahan gaya hidup masyarakat. Siaran radio masuk, televisi swasta banyak didirikan. Koran, tabloid, dan majalah muncul dan dicetak ribuan eksemplar. Semuanya berlomba menggaet iklan sebanyak mungkin. Maka jangan kaget kalo para konglomerat media massa, khususnya televisi jor-joran bikin tayangan unggulan. Tujuan mulianya, tentu saja untuk menggenjot pendapatan usahanya. Tapi celakanya, mereka nggak peduli lagi apakah program acaranya bakalan merusak ataukah tidak bagi pemirsanya. Prinsip kapitalisme mengajarkan: &#8220;Asal ada manfaat di sana yang berupa materi, kejar!&#8221; Jadi, yang penting bisa mendatangkan rejeki nomplok. Habis perkara.</p>
<p>Saat ini, jangankan anak SMP, anak SD aja udah banyak yang berani untuk ngedeketin lawan jenis. Bahkan pake acara nge-date segala. Kok bisa? Siapa lagi teladannya kalo bukan ngeliat dari tayangan di televisi. Atau baca di media cetak. Nggak repot kan?</p>
<p>Jadi, keberanian anak sekolah dalam mewujudkan cintanya secara berlebihan ternyata amat dipengaruhi juga oleh berkembangnya teknologi informasi. Komunikasi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat kita melaju dengan cepat dan adakalanya mengalahkan norma-norma yang berlaku.</p>
<p>Sobat muda muslim, jadi jangan heran kalo pacaran dinobatkan sebagai cara untuk mewujudkan cinta yang paling efektif. Bahkan boleh jadi pacaran diyakini betul oleh sebagian besar remaja sebagai satu-satunya cara untuk mengekspresikan cintanya kepada lawan jenis. Ah, masak iya sih?</p>
<p>Benar. Bagi sebagian teman kamu boleh jadi berpendapat begitu. Sebab, berdasarkan bisik-bisik tetangga, pacaran itu bikin hidup lebih hidup. Nggak heran, banyak teman remaja yang meyakini bahwa pacaran tempatnya untuk mendapat perhatian dari lawan jenis. Lihat deh teman sekelas kamu yang kuat pacarannya, biasanya selalu memperhatikan penampilan. Gengsi dong kalo penampilannya kumuh bin kucel, sementara sang kekasih kayak guru yang kelewat telaten merhatiin kita. Tapi berbeda dengan guru, kalo diperhatiin sama si doi mah bisa jadi bikin kaki kita serasa nggak di tanah lagi, alias mengawang-awang. Suweneng buwanget. Pokoknya OKâ€™s bang-get deh!</p>
<p>Memang manusia itu seneng diperhatiin kok. Itu sebabnya, teman kamu yang lagi getol pacaran, biasanya jadi rajin banget ke sekolah. Biar bisa merhatiin dan diperhatiin sama lawan jenisnya. Lho, jadi bukan untuk nuntut ilmu? Ssssttt, itu mah usaha sampingan. Walah?</p>
<p>Bagi teman kamu yang lagi dilanda kasmaran, kadang cuma denger suaranya atawa papasan di perpus aja suasana hatinya udah berbunga-bunga. Saking senangnya tentu. Apalagi kalo kemudian doi ngajak jalan-jalan ke kantin or sekadar duduk-duduk di taman sekolah. Ditanggung anti manyun deh. Dan biasanya langsung sregep menyambut rayuan tersebut.</p>
<p>Sobat muda muslim, pacaran sebagai perwujudan dari rasa cinta sering dianggap mendatangkan berkah. Berdasarkan desas-desus teman sekelas yang dulu pernah aktif, pacaran juga sebagai ajang sharing, alias berbagi. Coba deh kamu lihat teman kamu yang getol pacarannya, biasanya suka berbagi cerita, pengalaman, masalah, termasuk mungkin berbagi utang (heâ€¦heâ€¦, kayaknya yang ini mah jarang diungkap. Malu dong).</p>
<p>Yup, pacaran seringkali dianggap harus dijalani karena diyakini sebagai cara ampuh untuk berbagi cerita di antara dua lawan jenis ini. Katanya sih, cita-cita mulianya kepingin bisa menyelami siapa jati diri pasangannya. Itu sebabnya, banyak teman remaja yang merasa wajib melakukan pacaran. Berbahaya!</p>
<p>Padahal, itu cuma alasan aja. Klise lagi. Biar disebut legal aja hubungan gelapnya itu. Pacaran hubungan gelap? Betul, sebab itu udah termasuk gaul bebas. Hati-hati lho!</p>
<p><strong>Antara cinta dan cita-cita</strong><br />
Sebagian dari kamu boleh jadi protes karena nggak setuju dengan apa yang diungkap di atas. Tapi ingat sobat, kita ngebahas dan menilai masalah ini bukan karena benci sama kamu, bukan pula karena sinis. Nggak lah yauw. Justru kita ingin supaya kamu juga lebih dewasa dan bijak menilai setiap perbuatan. Nggak cuma ngikutin apa kata hawa nafsu kamu. Itu sih, bisa gaswat suraswat atuh!</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo kamu masih sekolah, pantasnya fokus mikirin pelajaran dong, ketimbang mikirin pujaan hati kamu. Memang, rasa cinta bisa muncul di mana saja, termasuk di sekolah. Tapi kan nggak mesti kudu diwujudkan dalam aktivitas maksiat. Tul nggak?</p>
<p>Di sekolah boleh ada cinta, tapi jangan sampe membunuh cita-cita kamu. Cinta itu anugerah kok, dan bahkan sangat boleh jadi membawa berkah kalo kita bisa mengendalikannya. Tapi cinta bakalan membawa petaka, kalo kita nggak bisa mengendalikannya. Kata pepatah, Omnia vincit Amor: et nos cedamus Amori. Dalam bahasa kita berarti, Cinta menaklukan segalanya: dan kita takluk demi cinta.</p>
<p>Bahaya banget kan kalo kita takluk oleh cinta, justru pada saat kita kudu meraih cita-cita dalam belajar kita. Sayang dong, cita-cita ortu kita, cita-cita kita untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya harus kandas gara-gara hadir juga cinta dalam diri kita, dan menggerogoti niat kamu untuk meraih cita-cita. Artinya, sekolah bagi kamu bukan ladang memuluskan cita-cita kamu, tapi malah jurang untuk menghancurkan cita-cita dan mengejar cinta yang, barangkali, masih belum pantas untuk kamu dapatkan. Maklum saja, cinta anak sekolah kan masih angin-anginan. Tul nggak?</p>
<p>So, daripada kamu mengorbankan masa depanmu dengan mengejar cinta dan mewujudkannya dalam pergaulan bebas, mending kamu konsentrasi mikiran pelajaran sebagai bagian dari usaha kamu meraih cita-cita setinggi langit. Tapi sayangnya, nggak banyak dari kita yang kemudian menyadari masalah ini. Akibatnya, meski masih sekolah, banyak teman remaja yang getol menyalurkan syahwatnya via pergaulan bebas (baca: pacaran), dengan atas nama cinta. Kalo udah kebablasan dalam bergaul, yang repot bukan cuma guru, sekolah, dan ortu kamu, tapi kamu pun bisa ketiban getahnya. Anggaplah misalnya bagi kamu yang puteri, ternyata hamil akibat hubungan intim dengan pacar kamu. Sekolah udah pasti mengeluarkan kamu, guru kamu sewot, terlebih ortu kamu merasa dikhianati sama kamu. Dan, kamu pun menanggung malu juga.?  Duh, jangan sampe deh itu menimpa kamu.</p>
<p>Nah, sebagai bekal kamu dalam meniti cita-cita dengan tanpa terganggu oleh cinta (palsu), kamu perlu tahu tips-tips berikut:</p>
<p>Pertama, jangan sekali-kali menganggap bahwa cinta kudu diwujudkan dengan pacaran. Kedua, cinta bisa muncul di sekolah. Tapi kamu kudu tetap meraih cita-cita. Caranya? Tunda dulu keinginan kamu untuk mikirin soal cinta dengan banyak belajar dan aktivitas untuk meraih cita-cita. Ketiga, dekati teman-teman yang emang nggak suka ngomongin soal pacaran. Keempat, menempa diri dengan banyak mengkaji Islam. Jadi kamu jangan malas ikut pengajian. Kelima, sekuat mungkin kendalikan nafsumu, misalnya dengan banyak olah raga dan puasa.</p>
<p>Yup, semoga ini bisa bikin kamu tentrem dan bisa untuk ngendaliin diri kamu. Tapi tentunya, karena yang terjadi sekarang ini bersifat massal, maka kita menyeru juga kepada bapak-bapak pejabat kita supaya jangan segan untuk memberangus tayangan dan bacaan yang merusak kepribadian remaja. Khususnya yang berkaitan dengan masalah pergaulan bebas.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 109/Tahun ke-3/5 Agustus 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-cinta-di-sekolah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adikku Sayang, Adikku Malang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/adikku-sayang-adikku-malang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/adikku-sayang-adikku-malang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 08:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/adikku-sayang-adikku-malang/</guid>
		<description><![CDATA[Sedih! Terus terang sedih banget saat menyaksikan tayangan langsung TPI, 23 Juli 2002 kemarin. Operet Anak berjudul â€œPeluklah Dakuâ€? ikut memeriahkan rangkaian dari puncak acara perayaan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia Indah. Di situ banyak pula artis cilik top yang mengisi acara. Ada Joshua yang tampil dengan Lonjak Lonjak. Juga ada Mega Utami, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedih! Terus terang sedih banget saat menyaksikan tayangan langsung TPI, 23 Juli 2002 kemarin. Operet Anak berjudul â€œPeluklah Dakuâ€? ikut memeriahkan rangkaian dari puncak acara perayaan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia Indah. Di situ banyak pula artis cilik top yang mengisi acara. Ada Joshua yang tampil dengan Lonjak Lonjak. Juga ada Mega Utami, Cindy Cenora, bahkan Tina â€œgoyang leherâ€™ Toon yang tampil sebagai MC bersama Kang Izur Muhtar.<span id="more-110"></span></p>
<p>Kenapa sedih? Karena kita nggak ingin adik-adik kita merana dan menderita di masa depan. Bukan apa-apa, masih banyak yang perlu dibenahi dalam mengurusi adik-adik kita yang masih berlabel anak-anak itu. Memberikan kegembiraan kepada adik-adik kita di Hari Anak Nasional nggak bakalan bisa mengangkat nasib mereka. Suer, perayaan boleh dibilang cuma sebatas memberikan hiburan doang. Udah selesai acara itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, adik-adik kita yang masih polos-polos itu kembali dicampakkan.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita pantas bersedih. Coba aja kamu lihat, bagaimana banyak adik kita â€?dididikâ€™ untuk jadi artis. Aduh, mana centil-centil lagi. Mereka yang jadi penghibur, hidup dalam segala kecukupannya. Mereka punya banyak duit dan sering keliling kotaâ€”bahkan duniaâ€”nerima order manggung. Tawaran iklan dan main sinetron pun antri. Masa kanak-kanaknya nyaris dihabiskan di berbagai pentas. Joshua misalnya, mengaku biasa pulang pukul 12 malem. Itupun pagi harinya doi harus sudah siap dengan seabrek jadwal rekaman, syuting sinetron dan iklan. Sibuk banget ya?</p>
<p>Sayangnya, adik-adik kita yang â€?dididikâ€™ oleh ortu dan lingkungannya tersebut miskin dalam pendidikan kepribadiannya. Mereka boleh dibilang hanya dijadiin mesin pencari uang yang menguntungkan, khususnya bagi ortunya. Kasihan sekaleeee.</p>
<p>Di sisi lain, ada banyak adik kita yang hidup di jalanan. Mereka berlomba mencari dan mengejar materi, meski dengan susah payah. Pokoke, mereka &#8216;dididik&#8217; untuk kreatif sendiri dalam menghadapi segala rintangan dan hambatan dalam kehidupannya. Hmm&#8230; sudahlah miskin dalam materi, miskin pula dalam kepribadiannya. Harta tak punya, pendidikan pun sulit untuk mereka dapatkan. Mereka benar-benar tumbuh di jalanan dengan segala pesonanya. Memang benar, boleh jadi masih ada di antara mereka yang terjun ke jalanan karena kemiskinan ortunya. Mereka mencoba memeras keringat jadi penyemir sepatu, penjaja koran, sekadar jual suara, atau mungkin jadi pengemis untuk menambal bolong-bolong ekonomi ortunya. Tapi jangan salah, banyak juga di antara mereka yang entah siapa ortunya. Mereka tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu dan ayahnya. Duhâ€¦</p>
<p>Sobat muda muslim, inilah masalah yang dihadapi adik-adik kita. Upsss, jangan-jangan, adik kita di rumah juga udah ketularan dengan pesonanya â€?adik-adikâ€™ kita yang jadi artis. Walah, celaka juga ya? Bisa kebayang nggak sih, kalo tiba-tiba adik kita di rumah kepengen beli baju yang diiklankan Joshua, atau kepingin produk minuman dan makanan yang diklankan Sherina atau Cindy Cenora. Dan masih banyak lagi keinginan yang kadang nggak masuk akal. Celaka dua belas!</p>
<p><strong>Gemerlapnya artis cilik</strong><br />
Jaman dulu, yang jadi artis cilik kayaknya bisa dihitung dengan jari. Jaman penulis kecil, cuma mengenal Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Ira Maya Sopha, Joan Tanamal, Dina Mariana, dan sedikit artis cilik lainnya. Tapi sekarang, udah puluhan artis cilik yang rajin tayang di layar kaca. Ngetop-ngetop lagi.</p>
<p>Sobat muda muslim, mereka dibesarkan oleh media massa; televisi, radio, koran, majalah, tabloid, bahkan sekarang adik-adik kita yang artis cilik itu rata-rata udah pada punya website sendiri. Mereka punya â€?rumahâ€™ maya yang bisa dikunjungi oleh siapapun dan dari mana pun. Keren abis deh pokoknya. Bagi teman-teman yang udah gape soal teknologi komunikasi yang satu ini, silakan untuk jalan-jalan sekadar mampir ke rumah maya mereka. Di situ kamu bisa saksiin deh, gimana sebuah industri hiburan telah menciptakan mereka menjadi jutawan cilik. Situsnya aja dikelola dengan rapi dan baik. Maklum saja, sebab adik-adik kita itu adalah tambang uang yang potensial. Jadi kudu dijaga. Ckckck..</p>
<p>Sebagai contoh, adik kita yang bernama Joshua Suherman. Nah, Jojo, panggilan akrab penyanyi cilik yang ngetop dengan Cit Cit Cuit dan Diobok-obok ini sekali show satu jam saja di Jakarta, honor manggungnya Rp 9 juta. Di situ Jojo menyanyikan enam lagu, jadi setiap lagu dihargai Rp 1,5 juta. Show di luar kota lain lagi. Bisa menyentuh bandrol Rp 11 juta. (GATRA, 24 Juli 1999)</p>
<p>Masih menurut laporan GATRA, Joshua Inc udah menghasilkan pendapatan dari Iklan sekitar Rp 525 juta, dari show bisa menembus angka Rp 220 juta, penjualan topi â€?kuplukâ€™ Joshua mampu menyumbang pundi-pundi usahanya sekitar Rp 900 juta. Angka itu masih ditambah dengan penjualan berbagai merchandise yang bisa menghasilkan Rp 180 juta. Totalnya, Joshua Inc. bisa meraup untung bersih senilai Rp 1,825 milyar. (GATRA, 24 Juli 1999)</p>
<p>Mau tahu pendapatan artis cilik yang lainnya? Sebut saja Geofanny. Masih menurut laporan GATRA, untuk iklan doi berbandrol Rp 35 juta per tahun. Kalo main sinetron, Geofanny dibayar Rp 1,5 juta per episode. Chikita Meidy sekali show di luar amal, bisa dihargai Rp 5 juta. Trio Kwek Kwek sekali manggung di luar kota Rp 9 juta, dalam kota Rp 6 juta. Untuk model iklan bisa menyentuh angka Rp 50 juta. Gilbert Boboho, untuk menyanyi tarifnya antara Rp 5 juta-Rp 7 juta. Dan, Cindy Cenora, artis cilik yang melambungkan produsen sepatu New Era hingga penjualannya membengkak 200 persen, sekali nyanyi di panggung dihargai sekitar Rp 8 juta. Wah, wah, gimana nggak bikin ortu mereka menelan ludah menyaksikan anak-anaknya pinter nyari duit.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita sih mengkhawatirkan banget masa depan mereka. Suer, apalagi dalam dunia serba gemerlap itu, mereka hanya dijadikan sebagai mesin pencari uang yang kudu digeber habis-habisan. Soal pembinaan kepribadian adalah nomor sekian dari daftar perhatian ortu mereka yang lagi getol menambang uang. Kasihan.</p>
<p><strong>Jangan sampe tertular</strong><br />
Kalo melihat dari gampangnya nyari duit sebagai artis, jangan heran kalo ada orang tua muslim yang kesengsem berat ingin menjadikan anaknya artis cilik seperti Joshua dkk. Banyak ortu muslim yang mencoba memasukkan anak-anak mereka ke sanggar atau sekolah vokal atau musik. Harapannya, tentu mereka bisa dijadiin tambang uang yang mucekil.</p>
<p>Sobat muda muslim, rasanya pengen muntah juga kalo dengerin adik-adik kita yang tampil di televisi nyanyiin lagu-lagu mereka. Yang suaranya emang bagus bisa dihitung dengan jari. Selebihnya, enak banget didengar kalo mereka diem. Suer, adakalanya suara mereka nggak bagus-bagus amat. Malah pernah suatu kali si Kiki â€œgundulâ€? yang nanyiin â€œJarananâ€? bareng Oky Lukman itu dikritik habis-habisan oleh seorang pengamat karena suaranya yang ngepas banget. â€œBerhentilah bernyanyi Kiki!â€? Wackssâ€¦</p>
<p>Tapi, show must be go on. Barangkali yang penting ada duit. Soal kemampuan bisa ditutupi dengan mixing saat rekaman. Lah, pokoknya banyak ortu yang maksain supaya anaknya jadi artis cilik. Selain ngetop, mereka juga tajir. Kalo udah gitu, yang kebagian â€?berkahâ€™ bukan cuma anaknya, tapi ortunya juga.</p>
<p>Kasihan memang, adik-adik kita itu tengah dibuai mimpi indah tentang kekayaan dan ketenaran. Bahkan boleh jadi banyak artis cilik yang secara tidak langsung adalah korban keinginan ortunya.</p>
<p>Padahal, kebahagiaan tidaklah dapat diukur dengan banyaknya harta atau ketenaran. Percuma saja ngetop dan tajir, tapi mengorbankan keimanan dan ketakwaan. Apalagi ini kudu mengorbankan masa depan anak-anak. Bisa dibayangkan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan masa depan negeri ini bakalan buram. Barangkali akan diisi oleh anak-anak yang nggak siap menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Iya dong, bisa apa generasi pesinden, penari, pemain sinetron, dan model iklan dalam memberikan kemajuan bagi sebuah bangsa. Yang pasti ancuran-ancuran deh.</p>
<p>Allah swt berfirman:<br />
â€œDan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.â€? (TQS an-Nis?¢â€™ [4]: 9).</p>
<p>Bukanlah orang tua yang baik yang meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan lemah. Baik iman, ilmu dan harta. Anak-anak membutuhkan semuanya.</p>
<p>Suatu?  ketika Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya. â€œWahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?â€?</p>
<p>â€œAgama,â€? jawab Luqman.</p>
<p>â€œKalau dua?â€?</p>
<p>â€œAgama dan harta.â€?</p>
<p>â€œKalau tiga?â€?</p>
<p>â€œAgama, harta dan rasa malu.â€?</p>
<p>â€œBila empat?â€?</p>
<p>â€œAgama, harta, rasa malu dan akhlak yang mulia.â€?</p>
<p>â€œJika lima?â€?</p>
<p>Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang mulia dan dermawan.â€?</p>
<p>Anaknya bertanya lagi, â€?Jika enam?â€?</p>
<p>Luqman menjawab, â€œAnakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang hamba maka dia adalah orang yang bertakwa, dan Allah akan menolong orang yang menjauhi syetan.â€?</p>
<p>Jadi buat para ortu, sudah selayaknya tidak tergoda untuk menjerumuskan anak-anak balitanya menjadi sampah. Kasihan. Anak-anak adalah sumber alam yang paling berbahagia, begitulah pepatah Herbert Hoover. Jadi, jangan disia-siakan.</p>
<p><strong>Tanggung jawab kita</strong><br />
Memang tak gampang mengubah kondisi yang kini tengah berlangsung. Tapi juga bukan berarti itu sulit diwujudkan. Asal ada kemauan, insya Allah bisa tercapai. Soalnya kita udah males banget ngeliat tingkah centil adik-adik kita itu. Kita udah bosen nyaksiin gaya â€?dewasaâ€™ mereka di layar kaca. Maklum, yang bikin video klipnya senewen juga. Anak kecil aja didandanin kayak orang dewasa. Terus disuruh joget-joget mirip penari goyang dombret. Si â€œBolo-Boloâ€? Tina Toon kayaknya udah rela memposisikan diri sebagai spesialis goyang leher dan goyang perut. Maklum saja, meski adik kita yang satu ini bodinya gembrot tapi tak menghalanginya untuk tetap goyang. Dahsyat!</p>
<p>Rasanya, bila tak ada perhatian serius dari kita-kita nih, khususnya para orangtua, masyarakat dan bapak-bapak pejabat kita, mereka akan terus betah nyari duit dan ketenaran dengan caranya selama ini. Sayang, kalo kita harus mengorbankan potensi mereka yang masih seger dan imut-imut seperti itu. Kayaknya terlalu nekat menjual masa depan mereka untuk kesenangan semu sesaat. Bayangin, udah semu, sesaat lagi. Waduh!</p>
<p>Sobat muda muslim, kita meminta kepada bapak-bapak pejabat yang punya kekuatan dan kemampuan untuk membereskan persoalan ini. Tanpa peran serta bapak-bapak aparat dan pejabat dalam kasus ini, rasanya protes apapun nggak bakalan mempan. Kasus perjudian dan pelacuran aja sampe sekarang nggak kelar-kelar. Karena emang â€?dipeliharaâ€™. Kenapa dipelihara? Karena banyak duit beredar di sana. Nah, kasus maraknya artis cilik ini juga nggak jauh dari persoalan duit.</p>
<p>Sekarang pilih mana, banyak duit atau kita bakalan kehilangan generasi yang baik? Rasanya, bagi kita yang masih punya akal sehat, tentunya bakalan membela masa depan anak-anak dan adik-adik kita dari kehancuran. Kasihan mereka. Tegakah kita membenamkannya di kubangan lumpur dunia? Lagipula anak yang sholeh adalah satu dari tiga perkara yang dapat terus menerus mengalirkan pahala kepada kita. Rasulullah saw bersabda:â€œApabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal: shadaqah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.â€? (HR. Muslim)</p>
<p>Adikku sayang, adikku malang. Kamu juga segera sadar dong!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 108/Tahun ke-3/29 Juli 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/adikku-sayang-adikku-malang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balada â€œPuteri Indonesiaâ€</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/balada-%e2%80%9cputeri-indonesia%e2%80%9d</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/balada-%e2%80%9cputeri-indonesia%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 08:49:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/balada-%e2%80%9cputeri-indonesia%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Acara Pemilihan Puteri Indonesia ke-7/2002 di Teater Tanah Airku kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jumat malam (12/7) berlangsung meriah. Ajang yang mengusung prinsip brain, behavior, and beauty seperti biasa digelar dengan kemasan mewah. Para finalis biasanya dites macem-macem. Utamanya soal tiga kriteria tadi; kecerdasan, tingkah laku, dan kecantikan.
Meski hampir semua orang TST, alias tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Acara Pemilihan Puteri Indonesia ke-7/2002 di Teater Tanah Airku kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jumat malam (12/7) berlangsung meriah. Ajang yang mengusung prinsip brain, behavior, and beauty seperti biasa digelar dengan kemasan mewah. Para finalis biasanya dites macem-macem. Utamanya soal tiga kriteria tadi; kecerdasan, tingkah laku, dan kecantikan.<span id="more-109"></span></p>
<p>Meski hampir semua orang TST, alias tahu sama tahu kalo ajang tersebut secara tidak langsung cenderung â€?hanyaâ€™ menonjolkan unsur beauty-nya aja. Bahkan â€?sinismeâ€™ lebih tajam, menyebutkan bahwa ajang itu lebih mengarah kepada fetisme, alias pemberhalaan penampilan. Ya, nggak ada salahnya juga sih protes tersebut. Karena, kalo lihat faktanya emang begitu kok. Tul nggak?</p>
<p>Coba aja pelototin, yang ikutan bersaing untuk jadi â€œPuteri Indonesiaâ€? biasanya punya tampang dan bodi yang oke menurut kesepakatan hampir semua orang. Bener nggak? Jadi, yang â€?settingâ€™ wajahnya rada-rada amburadul, harap tahu diri. Atau yang penampilannya kagak full pressed body harap dengan sukarela minggir dari ajang tersebut. Walhasil, emang itu udah hasil seleksi yang ketat banget. Yang dipilih yang oke punya. Pokoknya menarik deh.</p>
<p>Sobat muda muslim, seperti disebutkan dalam harian Kompas, 14 Juli 2002, bahwa dalam lomba kecantikan tersebut selalu saja ada kontroversi. Lucunya, pada puncak acara Pemilihan Puteri Indonesia tahun ini sebagian besar penonton barangkali tersenyum kecut. Kenapa? Katanya brain, behavior, and beauty tapi tak tahu chauvinisme? Waduh!</p>
<p>Saat itu, ada pertanyaan â€œpengetahuan politikâ€? yang disampaikan salah seorang juri: Jean Louis Ripoche, Manajer Hotel Le Meridien, Jakarta, tentang apakah peserta setuju pada chauvinisme. Sebagaimana bisa disaksikan di layar televisi oleh jutaan pemirsa, si peserta spontan bertanya balik kepada pembawa acara Tantowi Yahya: apa itu chauvinisme.</p>
<p>Ketika Tantowi menjawab balik sekenanya bahwa itu artinya nasionalisme, peserta sambil memasang senyum dengan antusias mendekatkan mikrofon ke mulutnya, lalu menjawab, â€œYa, saya setuju sekali dengan chauvinisme.â€? Walah?</p>
<p>Kamu tahu istilah chauvinisme kan? Yup, chauvinisme adalah perasaan cinta yang berlebihan kepada tanah airnya, dengan mengabaikan sifat-sifat baik dari bangsa lain. Nah, tahu sendiri kan gimana orang yang lihat pada tersenyum kecut? Waduh!</p>
<p>Sobat muda muslim, emang sih, ini nggak menimpa semua peserta. Tapi kan paling nggak bisa dijadiin sampel. Yang tembus ke final aja nggak tahu apa-apa. Gimana yang nggak tembus. Barangkali lebih kacau lagi. Malah jadinya kita kepikiran; jangan-jangan emang yang dinilai pertama kali adalah penampilannya. Bukan brain. Bisa jadi kan?</p>
<p><strong>Curhat mantan â€œPuteri Indonesiaâ€?</strong><br />
Oya, ada yang menarik dari kontes kecantikan tersebut. Biasanya, penyandang gelar sebelumnya terlibat langsung sejak awal. Jadi dia yang keliling nyari pemenangnya (tentu namanya sudah ia ketahui dari juri sebelumnya). Tahun ini, berubah format. Angeline Patricia Pingkan Sondakh sebagai Puteri Indonesia sebelumnya (tahun 2001) tugasnya dipangkas. Jadi langsung melepas mahkotanya untuk diserahkan ke pemenang baru.</p>
<p>Konon kabarnya, dari kabar yang belum tentu kabur juga, itu dikarenakan tulisannya dalam sebuah bukunya yang baru diluncurkan, â€œKecantikan bukan modal utama sayaâ€?. Itu merupakan kata-kata awal dalam bukunya yang konon kabarnya bikin â€œsewotâ€? beberapa kalangan di Yayasan Puteri Indonesia sebagai lembaga penyelenggara ajang tersebut.</p>
<p>Sobat muda muslim, seperti dikutip Kompas, 14 Juli 2002, paling nggak buku itu membuka informasi dari sudut pandang yang intim dari tidak saja pengalaman, juga perenungan seorang Puteri Indonesia tentang bagaimana ia memahami posisinya. Dengan begitu, pembaca dapat info jujur karena buku itu berasal dari catatan harian, catatan pribadi Angieâ€”nama panggilannya&#8211;kepada seorang teman khayali bernama â€œRasaâ€?</p>
<p>Angie menuliskan curahan hatinya dalam bukunya tersebut, â€œSaya sangat bersyukur pernah menyandang gelar Puteri Indonesia dan saya menjalankan semua tugas saya selama ini dengan senang hati. Meskipun ada yang â€œdisayangkanâ€?, saya lebih banyak tampil untuk demo kecantikan dan berbicara tak jauh dari topik kecantikan. Saya sama sekali tidak keberatan, asalkan diimbangi dengan kegiatan yang menonjolkan kriteria yang lain, yaitu kecerdasan intelektual.â€?</p>
<p>Nah, lho, kian jelas kalo ajang itu emang cuma â€?memujaâ€™ penampilan. Khususnya kecantikan.</p>
<p>Pada kesempatan lain, Angie mengeluh (catatan 13 Desember 2001): â€œDan memang tidak bisa dipungkiri selama masih di dunia entertainment, phisical appearance will be top of the list. Kadang hal itu memberatkan. Harus memikirkan masalah berat badan, jerawat, kehalusan kulit dan semua yang berhubungan dengan penampilan. Ohâ€¦.â€?</p>
<p>â€œLewat tulisan ini, saya ingin mendidik calon peserta Puteri Indonesia dan kebanyakan remaja puteri, bagaimana memahami makna kecantikan. Dan, bagaimana nilai diri tidak semata ditentukan oleh kecantikan, tidak jadi hamba terhadap usaha menjadi cantik,â€? tutur Angie yang mengaku baru saja mendapat permintaan terjemahan bukunya ke bahasa Inggris oleh dua lembaga di AS dan Australia (Kompas, 14 Juli 2002).</p>
<p>Sobat muda muslim, rasanya cukup memberikan gambaran yang jelas dan utuh tentang sosok Puteri Indonesia. Paling nggak, karena yang melukiskan adalah penyandang gelarnya langsung. Tak banyak memang yang berpikir seperti itu. Yang mau berpikir lebih bijak dan dewasa. Sebab, yang kita saksikan sekarang, teman remaja puteri sepertinya kenceng banget keinginannya untuk menjadi yang tercantik penampilannya. Bahaya!</p>
<p><strong>Pelecehan terhadap wanita</strong><br />
Sebetulnya, kalo mau merenung dalam-dalam, ajang tersebut, atau ajang sejenisnya, secara tidak langsung merupakan pelecehan terhadap harga diri seorang wanita. Gimana nggak, teman remaja puteri dituntut untuk tampil lebih pol-polan dalam urusan penampilan tubuh. Sebab, konon kabarnya itu adalah daya tarik seorang wanita di mata pria. Benarkah? Tak sepenuhnya salah memang. Tapi tentunya amat rendah bila wanita hanya dinilai dari sudut penampilannya saja. Tul nggak?</p>
<p>Sayangnya, nggak banyak teman remaja puteri yang mau berpikir menggunakan akal sehatnya. Celakanya, justru mereka kian berani untuk berlomba memamerkan apa yang menjadi â€?aset nasionalnyaâ€™. Gaswat!</p>
<p>Sobat muda muslim, terus terang kita prihatin melihat kondisi ini. Gimana nggak, teman remaja puteri yang terjun ke dunia seperti itu lebih disebabkan karena mereka mengejar karir dan juga popularitas, yang ujungnya memang urusan duit. Tapi untuk itu mereka rela mengorbankan kehormatan dan kesucian dirinya. Ah, nggak habis pikir memang.</p>
<p>Buktinya? Kamu bisa simak gimana penuturannya Angie di atas. Ia selama mengenakan mahkota â€œPuteri Indonesiaâ€? seperti dibelenggu. Harus inilah, harus itulah, yang intinya bagaimana kudu jaim, alias jaga imej. Iya dong, masak Puteri Indonesia itu mukanya penuh dengan jerawat, kulitnya kagak halus, apalagi mungkin bodinya gembrot. Pokoknya penampilannya nggak keurus deh. Waduh, menurut sudut pandang penilaian â€?pemujaâ€™ kecantikan hal itu udah masuk kategori out of spec., alias diluar spesifikasi yang diharapkan.</p>
<p><strong>Catatan untuk remaja puteri Islam</strong><br />
Menarik banget untuk disimak dari kontes Puteri Indonesia adalah prinsip 3B; brain, behavior, and beuaty. Nah, kudu ada standar yang pasti yang bisa menunjukkan bahwa kepribadian seseorang bukan perkara penampilannya doang, tapi juga tingkah lakunya, alias isi juga jadi ukuran.</p>
<p>Persoalannya, apakah dalam kriteria yang ditetapkan di ajang pemilihan Puteri Indonesia sesuai dengan syariat Islam, rasanya semua orang pasti udah tahu jawabannya. Yup, jauh banget dari ajaran Islam. Sebab, dalam masalah kepribadian aja, lebih menitikberatkan kepada tingkah laku. Celakanya, tingkah laku yang diinginkan kudu sesuai dengan kondisi yang ada di masyarakat sekarang. Jadi harus sesuai dengan aturan kehidupan dari sistem sekular yang diterapkan selama ini. Bahaya!</p>
<p>Sobat muda muslim, khususnya remaja puteri, kecantikan dan kecerdasan bukanlah segalanya. Sebab, rasanya percuma aja punya wajah cantik, penampilan tubuh aduhai, dan memiliki tingkat kecerdasan yang lumayan, kalo nggak punya keimanan. Sia-sia deh. Bener lho. Kita nggak bohong. Sebab, dalam pandangan Allah, manusia itu dinilai dari ketakwaannya, bukan dari yang lain. Penampilan fisik bisa disulap. Sangat boleh jadi orang-orang akan berdecak kagum melihat penampilan kita yang nyaris sempurna. Kita bisa mempermak wajah asli kita menjadi sangat lain. Tepatnya, bisa menipu pandangan orang lain tentang siapa kita. Itu bisa membuat kita menutupi jati diri kita yang sesungguhnya. Tapi kalo soal ketakwaan, nggak bisa dinilai hanya karena orang tersebut mengenakan embel-embel tertentu. Nggak bisa. Selintas mungkin iya, tapi itu nggak hakiki. Tul nggak? Yang dia lihat adalah hasilnya, yakni bagaimana ia wujudkan dalam kehidupan sehari-harinya sebagai seorang muslim dan mukmin sejati. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?£???ƒ?’?±???…???ƒ???…?’ ?¹???†?’?¯?? ?§?„?„?‘???‡?? ?£?????’?‚???§?ƒ???…?’ ?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¹???„?????…?Œ ?®???¨?????±?Œ<br />
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(TQS al-Hujur?¢t [49]: 13)</p>
<p>Teman remaja puteri, bagi kamu sudah ada aturan mainnya dalam menutup aurat. Artinya, kamu nggak bisa seenaknya ngobral tubuh kamu kepada siapapun yang bukan mahram kamu. Lagi pula, udah jadi rahasia umum kalo ajang pemilihan â€?ratu-ratuanâ€™ atau sejenisnya itu seringkali kali dipake untuk ngejajal kemampuan yang mereka miliki. Pamer aurat pun nggak masalah. Celaka! Firman Allah Swt:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?†?‘???¨?????‘?? ?‚???„?’ ?„?£?????²?’?ˆ???§?¬???ƒ?? ?ˆ???¨???†???§?????ƒ?? ?ˆ???†???³???§???? ?§?„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?????¯?’?†?????†?? ?¹???„?????’?‡???†?‘?? ?…???†?’ ?¬???„?§???¨?????¨???‡???†?‘?? ?°???„???ƒ?? ?£???¯?’?†???‰ ?£???†?’ ?????¹?’?±?????’?†?? ?????„?§?? ?????¤?’?°?????’?†?? ?ˆ???ƒ???§?†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?????????ˆ?±?‹?§ ?±???­?????…?‹?§<br />
â€œHai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.&#8221;(TQS. al-Ahzab [33]: 59).</p>
<p>Sabda Rasulullah saw.:â€œWanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya bagai punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan keharumannya, meskipun harum surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.â€?(HR Muslim)</p>
<p>Sobat muda muslim, sayangnya ajang seperti ini sepertinya akan terus diadakan. Salah satu alasannya karena masalah perbedaan persepsi. Maklum, dalam kehidupan yang udah jauh banget dari nilai luhur ajaran Islam, masyarakat cenderung bebas berbuat. Prinsipnya, selama hal itu menguntungkan dan mendatangkan manfaat, maka akan dikejar terus. Nggak peduli halal atawa haram.</p>
<p>Itu sebabnya, mulai sekarang kita berupaya untuk mengubah kondisi ini. Apalagi kalo bukan dengan Islam. Jadi, jangan ragu dan malu untuk mengkaji Islam, sobat. Ngaji yuk!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 107/Tahun ke-3/22 Juli 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/balada-%e2%80%9cputeri-indonesia%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Jadi Syuhadaâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/indahnya-jadi-syuhada%e2%80%a6</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/indahnya-jadi-syuhada%e2%80%a6#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 08:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/indahnya-jadi-syuhada%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Jumat 22 Maret 2002 sekitar pukul 10 waktu setempat, Radio Israel memberitakan ledakan bom di supermarket Nataynya, dekat Yerusalem. Peristiwa ini menyebabkan tiga orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka. Pelakunya diduga kuat seorang putri Palestina.
Mengutip laporan Republika pada 3 Juli 2002 lalu, pelaku â€œbom syahidâ€? itu ternyata adalah seorang remaja puteri berusia 16 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat 22 Maret 2002 sekitar pukul 10 waktu setempat, Radio Israel memberitakan ledakan bom di supermarket Nataynya, dekat Yerusalem. Peristiwa ini menyebabkan tiga orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka. Pelakunya diduga kuat seorang putri Palestina.<span id="more-108"></span></p>
<p>Mengutip laporan Republika pada 3 Juli 2002 lalu, pelaku â€œbom syahidâ€? itu ternyata adalah seorang remaja puteri berusia 16 tahun, Ayat al-Akhras namanya.</p>
<p>Bagi keluarganya, syahidnya Ayat al-Akhras cukup mengagetkan juga. Meski tahu bahwa syahidah adalah cita-cita tertinggi anaknya, Ny Al-Akhras tetap saja merasa kehilangan. Dengan mata berlinang, dia mengulang kata-kata sang anak ketika berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap warga Muslim Palestina. &#8220;Apa nikmatnya hidup di dunia ketika kematian selalu mengintai kita. Mana yang lebih indah, mati dalam ketidakberdayaan dan kehinaan atau gugur di medan jihad.&#8221;</p>
<p>Shaadi Abu Laan (20), calon suami Ayat, termangu beberapa saat ketika kabar itu sampai padanya. Dia nyaris tak percaya Ayat pergi begitu cepat mendahuluinya. Padahal Juli ini, jelas Shaadi, &#8220;Kami sudah berencana untuk resmi berumah tangga. Begitu Ayat lulus ujian, kami akan menempati rumah sederhana yang belum didekor.&#8221; Mereka, tulis Azaalcity, sudah satu setengah tahun ini tunangan (khitbah). Keduanya bahkan telah menyiapkan nama &#8216;Adiyy untuk bayi pertamanya.</p>
<p>Sobat muda muslim, anak-anak Palestina dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan konflik. Saban hari mereka merajut kesulitan hidup, merenda rintangan, dan menjahit potongan nestapa hidup. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lebih dewasa ketimbang umurnya. Itulah sebabnya mereka tumbuh menjadi generasi pejuang yang gagah berani dan pantang menyerah. Beda banget dengan anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang serba enak. Ya, barangkali seperti kita-kita di sini. Hidup kita nyaris nggak menemui rintangan yang berarti, bahkan mungkin sedikit banget tantangan. Itu sebabnya, kita nggak termotivasi untuk berjuang dan berkreasi lebih inovatif dalam menjalani hidup ini.</p>
<p>Kita-kita yang tinggal di daerah yang aman, apalagi gemah ripah loh jinawi, cenderung nyantai dan lamban dalam aktivitas. Malah yang terjadi adalah membuang begitu banyak waktu luang untuk pesta dan hura-hura. Coba lihat kehidupan remaja Amerika, Perancis, Arab Saudi, Jepang, termasuk di negeri ini. Nyaris semuanya nyantai. Yang lebih parah lagi di negeri kita. Sudahlah sekarang negara ancur-ancuran, eh, kehidupan remajanya juga amburadul. Parah deh!</p>
<p>Sobat muda muslim, Ayat al-Akhras adalah contoh bagi kita. Betapa perjuangan hidup memang butuh pengorbanan yang tak sedikit. Bahkan ia harus rela memupus impiannya untuk menikah dengan pemuda pujaan hatinya. Ia lebih memilih menjadi syuhada. Indah!</p>
<p>Ayat, menurut ABC News, termasuk anak cerdas dan rajin belajar. Sampai saat-saat menjelang syahidnya, dia masih rajin menasihati teman-temannya untuk terus belajar dan belajar. &#8220;Penguasaan ilmu dan teknologi amat penting dan diperlukan untuk mendukung perjuangan kita, apa pun bentuknya.&#8221;</p>
<p>Hayfaa, teman baiknya, berujar, &#8220;Dia selalu menasihati kami bahwa belajar harus tetap berjalan, meski rintangan dan bahaya mengancam di sekeliling kita.&#8221;</p>
<p>Tentang jihad, Ayat selalu berkata, &#8220;Jihad itu kewajiban setiap Muslim. Termasuk wanita. Mengapa kita harus membiarkan nyawa kita terenggut sia-sia oleh kebiadaban zionis Israel.&#8221; Kematian seorang mujahid, kata dia, akan membangkitkan keberanian mujahid-mujahid lain, Bukan sebaliknya.</p>
<p>Hayfaa tak menyangka Ayat syahid secepat itu. Dalam hari-hari terakhirnya, dia rajin mengumpulkan foto-foto mujahid Palestina. Di meja belajarnya berjejer slogan-slogan jihad dan kepahlawanan. &#8220;Dia pergi untuk bergabung dengan barisan syuhada lainnya.&#8221; (Republika, 3 Juli 2002)</p>
<p>Sobat muda muslim, Ayat, menurut data Islamic Movement Crescent, kini tercatat sebagai syahidah kedua di Palestina atau yang keenam dalam barisan pelaku aksi bom syahid sepanjang tahun 2002. Syahidah pertama adalah Wafa Idris (27), janda kembang yang berprofesi sebagai paramedis di Ramallah. Dia gugur dalam aksi menjelang akhir Januari 2002 yang menimbulkan seorang Israel tewas dan melukai 100 orang lainnya.</p>
<p>Di Palestina, aksi bom syahid sendiri telah berlangsung setidaknya dalam 21 bulan terakhir dan melibatkan sedikitnya 250 mujahid, umumnya berusia di bawah 30 tahun.</p>
<p><strong>Bukan teror</strong><br />
Sebagian besar orang, terutama mereka yang membenci Islam, menyebut aksi â€?kamikazeâ€™ pejuang Palestina tersebut sebagai bentuk teror dengan sebutan â€œbom bunuh diriâ€?. Inilah istilah yang amat menyakitkan bagi kita. Terus terang perih dan kesal bila mendengar atau membaca berita tersebut dengan istilah â€œbom bunuh diriâ€?. Pers Barat sengaja mengekspos kasus tersebut dengan harapan dunia internasional mengutuk aksi mulia para pejuang Palestina. Jahat nian ya?</p>
<p>Ironisnya, sebagian dari kita tertipu dengan berita mereka, hingga seringkali menutup mata atas perlakuan serdadu-serdadu Yahudi Israel atas warga Palestina. Barangkali, banyak di antara kita yang tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengecam Yahudi. Wah, gaswat!</p>
<p>Sobat muda muslim, pers Barat memang licik. Mereka selalu mengekspos hal â€?kecilâ€™ yang dilakukan pejuang Palestina dalam memerangi Israel. Misalnya dalam pemberitaan tentang â€?bom syahidâ€™ ini. â€?Kamikazeâ€™ yang dilakukan pejuang Palestina suka diplintir. Tepatnya mereka mendramatisir kejadian, lengkap dengan embel-embel teror yang dilakukan Palestina atas Israel. Dan itu biasanya akan menjadi justifikasi (pembenaran) tindakan balasan Israel yang jauh lebih dahsyat. Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana pasukan Yahudi Israel?  membumi-hanguskan kota Jenin atas perintah Ariel Sharon sang durjana, sebagai aksi pembalasan.</p>
<p>Barangkali karena termakan provokasi pers barat, akhirnya sebagian pers â€œIslamâ€? juga ikutan memandang sinis terhadap perjuangan rakyat Palestina tadi, dengan menyebutnya sebagai, â€œteror yang tidak menyelesaikan masalah, dan bahkan membawa kematian sia-siaâ€?. Walah, tega nian dikau?</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, apakah semua teror itu jahat? Ada baiknya kamu memahami kenapa sebagian pejuang Palestina melakukan aksi teror pada lawan-lawannya (Israel dan antek-anteknya). Pertama, teror Palestinaâ€”itupun kalo mau dikatakan terorâ€”adalah â€?counter terrorâ€™, yakni aksi balasan terhadap teror, kesewenang-wenangan, dan penindasan Israel terhadap bangsa Palestina sebagaimana filsafat klise, â€œselemah-lemahnya cacing, kalo diinjek menggeliat jugaâ€?.</p>
<p>Kedua, teror Palestina adalah tindakan untuk membuktikan eksistensi bangsa Palestina yang tanah airnya dirampas Yahudi Israel. Hal ini persis dengan peristiwa Serangan Umum atau Serangan Fajar atas Yogyakarta pada 1 Maret 1949 oleh pejuang kemerdekaan Indonesia, yang membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia â€?masih adaâ€™.</p>
<p>Dan ketiga, di atas semua itu, teror Palestina dianggap sebagai bagian dari jihad. Walhasil, teror Palestina berdimensi sekaligus kemanusiaan, politik, dan juga relijius. Jadi bukan suatu kesia-siaan, sobat!</p>
<p>Kalo yang dilakukan Israel? Itu sih sudah pasti disebut teror dong. Ups.., bukan hanya teror, tapi sekaligus perampasan, perampokan, dan pembantaian. Terlaknat Yahudi!</p>
<p><strong>Bukan bunuh diri</strong><br />
Sobat muda muslim, aksi â€œbom syahidâ€? para pejuang Palestina yang rata-rata masih belia itu bukanlan bunuh diri. Sebab, kita yakin banget, mereka nggak mungkin untuk melakukan bunuh diri. Bunuh diri bukan saja tindakan konyol tapi jelas berdosa. Rasulullah saw. bersabda: â€œBarangsiapa bunuh diri dengan menggunakan besi yang tajam, maka alat yang digunakannya itu akan dihunjamkan ke dalam perutnya kelak di hari kiamat dalam api neraka; di dalamnya ia kekal abadi. Barangsiapa bunuh diri dengan meminum racun, maka kelak dalam api jahanam racun tersebut akan diminum dengan tangannya; di dalamnya ia kekal abadi. Barangsiapa yang terjun dari sebuah gunung (tempat yang tinggi) untuk bunuh diri, maka ia akan terjun di dalam api neraka; di dalamnya ia kekal abadi.â€? (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaâ€™i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra, dalam al-Fath al-Kabir III/224)</p>
<p>Adapun aktivitas jihad, seperti aksi bom syahid yang dilakukan saudara kita di Palestina, yang di dalamnya mengandung aktivitas yang dapat menghantarkan kepada kematian (secara pasti menurut sunatullah) atau berisiko kematian besar bagi pelakunya, maka hal itu termasuk kekecualian dari keumuman dalil larangan tentang bunuh diri. Firman Allah Swt:</p>
<p>â€œHai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukminin untuk berperangâ€? (TQS al-Anf?¢l [8]: 65)</p>
<p>Sobat muda muslim, para ahli tafsir menghubungkan ayat ini dengan sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa sebelum meletus Perang Badar al-Kubra, Rasulullah saw. telah bersabda:â€œBersegeralah (ke suatu tempat) yang di situ kalian (dapat) meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi.â€? Maka Umair bin al-Humam bertanya, â€?Apakah benar luasnya seluas langit dan bumi?â€™ â€?Yaâ€™, jawab Rasulullah, seraya â€?Umair berkata, â€?wah, wah, wah (hebat sekali).â€™ Maka Rasulullah saw. Kemudian berkata, â€?Apa yang mendorongmu berkata â€?wah, wah, wahâ€™? Jawabnya, â€?Karena aku berharap menjadi penghuninyaâ€™. Maka Rasulullah bersabda, â€?Kamu pasti menjadi penghuninya.â€™ Kemudian laki-laki itu memecahkan sarung pedang lalu mengeluarkan beberapa butir kurma. Memakannya sebagian dan membuang sisanya seraya berkata, â€?Apabila aku masih hidup sampai aku menghabiskan kurma tersebut maka kehidupan ini terlalu lamaâ€™ Bergegas ia maju ke baris depan, memerangi musuh (agama) hingga ia mati syahid.â€? (Shahih Muslim No. 1901, dan Tafsir Ibnu Katsir II/325).</p>
<p>Yup, itu bukan diri, tapi bagian dari aktivitas jihad. Dr Abdul Aziz Al-Rantisi, salah satu pemimpin Hamas, menjelaskan bunuh diri biasanya dilakukan oleh orang putus asa yang ingin lari dari masalah. Sedangkan aksi syahid dilakukan dengan niat ingin menyelesaikan masalah, menghilangkan kezaliman. Al-Fidaii &#8216;pengorbanan nyawa&#8217; dilakukan dengan harapan mendapat ridha dan rahmat Allah. &#8221;Kami tak ragu sedikit pun meneruskan aksi jihad ini sampai Israel hengkang dari wilayah Palestina.&#8221; (Republika, 5 Juli 2002)</p>
<p><strong>Kita juga ingin jadi syuhada</strong><br />
Sobat muda muslim, rasanya amat pantas kalo kita jadikan sebagai teladan yang baik aksi â€?kamikazeâ€™ pejuang Palestina itu. Mereka masih muda usia. Tapi soal keberanian dan jiwa berkorbannya mampu mengalahkan siapapun. Semoga kita pun bisa seperti mereka. Kuatkan keinginan itu dalam hati kita. Bahwa kita ingin juga menjadi syuhada dalam berjuang membela agama Allah ini.</p>
<p>Sebab kita yakin bahwa mati sebagai syuhada adalah sebuah kemuliaan dan tentunya keindahan. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?§?´?’?????±???‰ ?…???†?? ?§?„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?£???†?’?????³???‡???…?’ ?ˆ???£???…?’?ˆ???§?„???‡???…?’ ?¨???£???†?‘?? ?„???‡???…?? ?§?„?’?¬???†?‘???©?? ?????‚???§?????„???ˆ?†?? ?????? ?³???¨?????„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?????????‚?’?????„???ˆ?†?? ?ˆ???????‚?’?????„???ˆ?†??<br />
â€œSesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.â€? (TQS at-Taubah [9]: 111)</p>
<p>Sobat muda muslim, kita doakan saudara kita di Palestina agar mereka mampu menghancurkan kekuatan Yahudi Israel dan antek-antkenya (Amerika, Inggris, dan seluruh negara yang mendukung aksi biadab Zionisme Israel).</p>
<p>Satu kata melawan Israel adalah â€œJIHADâ€?. Bukan perdamaian. Sebab, berdamai hanya akan membuat senang para petinggi Israel dan antek-anteknya. Sebaliknya, rakyat Palestina akan tetap menderita.</p>
<p>Kalo pun kemudian ketika mereka berjihad melawan Yahudi Israel itu harus meninggal, semoga saja mereka menjadi syuhada.</p>
<p>Sobat muda muslim, apakah kita tidak ingin mendapat pahala seperti mereka? Kita juga kudu punya cita-cita mulia seperti mereka. Yes, menjadi syuhada. Allahu Akbar!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 106/Tahun ke-3/15 Juli 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/indahnya-jadi-syuhada%e2%80%a6/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Pemuda Pejuang Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjadi-pemuda-pejuang-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjadi-pemuda-pejuang-islam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 08:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menjadi-pemuda-pejuang-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi pejuang Islam? Hiii takuuut! Lho, kenapa musti takut? Hmm.. rupanya ada bisik-bisik tetangga nih. Maklum, di jaman sekarang ini, jadi aktivis itu katanya bikin hidup kagak lebih hidup. Abisnya, masyarakat suka mencontohkan hal-hal serem berkaitan dengan hal itu. Celakanya, itu menurut penilaiannya yang emang nggak objektif. Misalnya, ada yang bilang kalo jadi aktivis itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi pejuang Islam? Hiii takuuut! Lho, kenapa musti takut? Hmm.. rupanya ada bisik-bisik tetangga nih. Maklum, di jaman sekarang ini, jadi aktivis itu katanya bikin hidup kagak lebih hidup. Abisnya, masyarakat suka mencontohkan hal-hal serem berkaitan dengan hal itu. Celakanya, itu menurut penilaiannya yang emang nggak objektif. Misalnya, ada yang bilang kalo jadi aktivis itu risikonya berat. Lihat aja orang-orang yang melakukan demonstrasi, mereka dikejar, ditangkapi, dijebloskan ke bui, bahkan nggak sedikit yang kemudian dikasih â€œkopi pahitâ€?, alias dipateni. Wah syerem juga ya? Tapi anehnya meskipun udah tahu risikonya, kok masih banyak yang mau melakukannya?<span id="more-107"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, hidup ini adalah perjuangan. Dan yang namanya perjuangan, selalu punya risiko. Itu sudah pasti. Uniknya, rata-rata risikonya udah ketahuan, alias bisa kita perhitungkan. Ya, ibarat tukang dagang, sebetulnya doi udah tahu ada risikonya, yakni rugi. Kerugian tersebut bisa aja berasal dari barang dagangannya yang emang nggak laku dijual, alias masyarakat nggak minat beli barang dagangannya. Bisa juga faktor lain, misalnya, ada penertiban dari aparat tibum. Baru aja nongkrong, eh barangnya udah diangkut truk aparat tibum karena berjualan di jalur terlarang. Itu risiko. Tapi apakah itu kemudian membuat mereka males jualan? Rasanya, kalo kamu lihat dengan bijak, mereka tetap punya semangat untuk berdagang. Alasan mereka, inilah perjuangan hidup.</p>
<p>Setiap orang, siapapun ia dan apapun jenis pekerjaannya selalu punya risiko. Pak sopir yang sehari-hari hidup di jalanan, risikonya udah ketahuan kan? Bisa aja terjadi kecelakaan atau sebangsanya. Jadi tentara? Juga udah jelas risikonya. Dikirim ke daerah konflik seperti di Ambon atau NAD (Nangroe Aceh Darussalam), pilihannya cuma dua, selamat atau mati di medan tempur. Termasuk mereka yang bekerja di belakang meja sekalipun, ada risikonya. Hidup memang penuh risiko. Jadi kenapa musti takut?</p>
<p>Sobat muda muslim, kita memaparkan contoh-contoh tadi dengan harapan kamu juga bisa bersikap lebih dewasa dan bijak. Sekali lagi, hidup ini penuh risiko. Tinggal bagaimana kita bisa menjadikan hidup ini enjoy untuk dinikmati. Sobat, yang terpenting dari semua itu, kita kudu punya tujuan dalam hidup ini. Tanpa tujuan, rasanya hidup ini garing bin bete banget. Tom Bodett punya pepatah begini: â€œMereka berkata bahwa setiap orang membutuhkan tiga hal yang akan membuat mereka berbahagia di dunia ini, yaitu; seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan.â€?</p>
<p>Rasanya nggak salah-salah amat Tom Bodett menuliskan kata-kata mutiaranya begitu. Sebab, kita di dunia membutuhkan kejelasan arah. Apalagi kita sebagai seorang muslim, harus sudah tahu apa yang kudu dilakukan, yakni berjuang untuk Islam, dan sudah ngeh dengan apa yang diharapkan, yakni terwujudnya kembali kehidupan Islam di dunia ini.</p>
<p>Sobat pembaca, inilah cita-cita tertinggi kita sebagai pemuda pejuang Islam. Berjuang, berjuang, dan berjuang untuk Islam. Bukan untuk yang lain. Kita harusnya malu dengan saudara kita di Palestina, mereka punya semangat yang pantang menyerah dan tahu betul makna hidup. Mereka bilang, berperang melawan tentara Yahudi, atau diam di rumah, kematian pasti akan datang menjemput. Yup, persoalan yang terpenting adalah bagaimana cara mati kita? Apakah sedang dalam berjuang untuk Islam, atau malah sedang maksiat? Itu yang kudu jadi perhatian kita..</p>
<p><strong>Menanamkan keberanian</strong><br />
Setelah punya tujuan dan cita-cita dalam hidup ini, satu hal yang wajib dimiliki oleh kaum muslimin, khususnya pemuda, adalah keberanian untuk menjadi pejuang dan pembela Islam. Tanpa keberanian, rasanya semangat itu hanya berkecamuk saja dalam dada. Nggak terwujud dalam perilaku keseharian.</p>
<p>Kamu pernah menyaksikan aksi heroik Letnan Chris Burnett yang diperankan Owen Wilson dalam film perang berjudul Behind Enemy Lines?</p>
<p>Di situ, kita bisa ambil semacam hikmah. Bahwa keberanian dan kecerdasan sangat diperlukan dalam kondisi kritis seperti itu. Chris Burnett, sebagai pilot jempolan yang lihai menerbangkan jet tempur F/A-18 Superhornet harus menerima kenyataan pahit ketika pesawatnya dihantam rudal musuh saat akan melakukan investigasi tentang kekejaman Serbia di Bosnia. Beruntung Owen Wilson, eh, Chris Burnett bisa menyelamatkan diri dengan kursi pelontar. Tapi celakanya, doi terperangkap di belakang garis musuh. Inilah cerita yang amat mendebarkan tentang sisi lain dari perang Bosnia. Apa yang dilakukan Burnett? Sembari menunggu datang pertolongan, ia berusaha untuk melepaskan diri dari kejaran tentara Serbia yang kejam. Rasanya, tanpa keberanian, meskipun ini hanya sekadar dalam film, Burnett sudah nyerah duluan, apalagi temannya ditembak mati di depan mata kepalanya sendiri. Tapi keberanian ternyata tetap bersemayam dalam dadanya.</p>
<p>Nah, kita, sebagai seorang muslim jangan pernah merasa takut, kecuali hanya kepada Allah. Kita jangan kalah semangat dengan salah seorang prajurit perang salib yang berkata lantang kepada ibunya ketika ia hendak menghancurkan Islam. â€œIbuâ€¦tenangkan hatimu, berbahagialah, anakmu pergi ke Tripoli siap mengalirkan darah demi melumatkan bangsa yang terkutuk. Dengan segala kekuatan yang aku miliki akan aku lenyapkan Islam. Akan aku bakar al-Quranâ€? (al-Qoumiyyah wal Ghozwul Fikriy, hlm. 208)</p>
<p>Bayangkan, prajurit Perang Salib saja yang jelas-jelas di jalur yang salah punya keberanian seperti itu. Kita, pemuda Islam harus bisa lebih dari keberanian orang-orang kafir. Sebab kita di jalur yang benar dalam pandangan Allah Swt.</p>
<p>Sobat muda muslim, para sahabat yang mulia adalah sosok yang layak untuk dijadikan teladan bagi kita dalam mencontoh keberaniannya. Ada satu peristiwa yang sangat menarik untuk direnungkan para pemuda jaman kiwari. Peristiwa ini selengkapnya diceritakan oleh Abdurrahman bin â€?Auf: â€œSelagi aku berdiri di dalam barisan pada Perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku, saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat dari padanya. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka menekanku seraya berkata: â€?Hai Paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal?â€™ Aku jawab: â€?Ya, apakah keperluanmu padanya, hai anak saudaraku?â€™ Dia menjawab: â€?Ada seorang yang memberitahuku bahwa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah saw. Demi (Allah) yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika aku menjumpainya tentulah tak akan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati, antara aku atau dia!â€™ Berkata Abdurrahman bin â€?Auf: â€?Aku merasa heran ketika mendengar ucapan anak muda ituâ€™. Kemudian anak yang satunya pun menekanku dan berkata seperti temannya tadi. Tidak lama berselang, aku pun melihat Abu Jahal sedang mondar-mandir di dalam barisannya, segera aku katakan (kepada kedua anak muda itu): â€?Itulah orang yang sedang kalian cari!â€™ Keduanya langsung menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu mereka menghampiri Rasulullah saw. (dengan rasa bangga) untuk melaporkan kejadian itu. Rasulullah saw. berkata: â€?Siapa di antara kalian yang menewaskannya?â€™ Masing-masing menjawab: â€?Sayalah yang membunuhnyaâ€™. Lalu Rasulullah bertanya lagi: â€?Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?â€™ â€?Belumâ€™ jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: â€?Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal (boleh) dimiliki Muadz bin al-Jamuh.â€? (Berkata perawi hadis ini): Kedua pemuda itu adalah Muâ€™adz bin â€œAfraâ€? dan Muadz bin Amru bin al-Jamuh (Musnad Imam Ahmad I/193. Shahih Bukhari hadis nomor 3141 dan Shahih Muslim hadis nomor 1752)</p>
<p>Sobat muda muslim, pemuda seperti inilah yang bakal menjadi pembela dan pejuang Islam yang tangguh. Selain semangat, tentunya wajib memiliki keberanian.</p>
<p><strong>Rela berkorban</strong><br />
Yup, perjuangan, selain butuh keberanian, juga kudu rela berkorban. Apapun jenis pengorbanan yang kudu kita berikan untuk tegaknya Islam di muka bumi ini. Bisa berupa waktu kita, harta kita, tenaga kita, bahkan nyawa kita. Semuanya harus rela kita korbankan. Sebab, kita yakin hal itu bukanlah kesia-siaan. Firman Allah Swt.:</p>
<p>â€œTetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan merekalah orang-orang yang memperoleh berbagai kebaikan dan merekalah orang-orang yang beruntung.â€? (TQS at-Taubah [9]: 88)</p>
<p>Sobat muda muslim, benar bahwa kita harus menjadi pemuda pejuang Islam. Untuk itu kita harus punya keberanian dan rela berkorban. Supaya perjuangan ini lebih punya makna. Rasanya memang janggal ya, kalo kita berjuang, terus pengen berhasil, tapi sedikitpun nggak berani dan nggak rela untuk berkorban. Itu mah sama aja dengan boong, ya nggak?</p>
<p>Aneh banget kan, kalo ada orang yang ingin menang dan sukses, tapi dirinya nggak berani menghadapi rintangan dan ogah berkorban. Rasanya emang nggak ada dalam kehidupan nyata. Jadi, jangan ngimpi!</p>
<p>Nah, apalagi dalam urusan hidup dan mati untuk tegaknya Islam ini, jelas diperlukan keberanian dan sikap rela berkorban yang tinggi. Masak kita kalah sama mereka yang cuma berjuang untuk yang sebetulnya nggak perlu bagi sebuah kemajuan bangsa. Kita, insya Allah akan menjadi pembela dan pejuang Islam, yang akan menentukan masa depan Islam. Rasanya, pantas bila memiliki sikap rela berkorban yang tinggi. Untuk mengalahkan segala hambatan. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?§?„?‘???°?????†?? ?‚???§?„???ˆ?§ ?±???¨?‘???†???§ ?§?„?„?‘???‡?? ?«???…?‘?? ?§?³?’?????‚???§?…???ˆ?§ ?????????†???²?‘???„?? ?¹???„?????’?‡???…?? ?§?„?’?…???„???§?¦???ƒ???©?? ?£???„?‘???§ ?????®???§?????ˆ?§ ?ˆ???„?§?? ?????­?’?²???†???ˆ?§ ?ˆ???£???¨?’?´???±???ˆ?§ ?¨???§?„?’?¬???†?‘???©?? ?§?„?‘???????? ?ƒ???†?’?????…?’ ?????ˆ?¹???¯???ˆ?†??<br />
â€œSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: &#8220;Tuhan kami ialah Allah&#8221; kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): &#8220;Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu&#8221;. (QS. Fushilat [41]: 30)</p>
<p><strong>Berilmu, bertakwa, dan optimis</strong><br />
Imam asy-Syafii mengatakan bahwa: &#8220;Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).&#8221; Sabda Rasulullah saw: â€œApabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.â€? (HR. Bukhari).</p>
<p>Sobat muda muslim, untuk menjadi pemuda pejuang Islam, kamu kudu menyiapkan mental dan juga ilmu. Keberanian dan rela berkorban kudu ditunjang dengan ilmu dan ketakwaan. Dan terakhir, rasa optimis perlu juga dimiliki. David J. Schwartz, menyebutkan bahwa ujian bagi seseorang yang sukses bukanlah pada kemampuannya untuk mencegah munculnya masalah, tetapi pada waktu menghadapi dan menyelesaikan setiap kesulitan saat masalah itu terjadi. Jadi optimis. Bener juga ya?</p>
<p>Oke deh, mulai sekarang kita kaji Islam. Pahami dan amalkan dalam kehidupan kita. Jadi, jangan malas ngaji lagi ya?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 105/Tahun ke-3/8 Juli 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjadi-pemuda-pejuang-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Right or Wrong is My Gang?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/right-or-wrong-is-my-gang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/right-or-wrong-is-my-gang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 08:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/right-or-wrong-is-my-gang/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo kamu merhatiin film-film yang bercerita tentang sepak terjang para bandit Yakuzaâ€”mafia Jepang, maka akan mengetahui salah satu tradisi mereka dalam membela kelompoknya. Ada salah satu kebiasaan mereka bila tertangkap polisi atau bersumpah, yakni rela memotong jari kelingking dari salah satu tangannya. Itu dimaksudkan sebagai bentuk sumpah setia untuk tidak membahayakan kelompoknya. Di situ, udah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo kamu merhatiin film-film yang bercerita tentang sepak terjang para bandit Yakuzaâ€”mafia Jepang, maka akan mengetahui salah satu tradisi mereka dalam membela kelompoknya. Ada salah satu kebiasaan mereka bila tertangkap polisi atau bersumpah, yakni rela memotong jari kelingking dari salah satu tangannya. Itu dimaksudkan sebagai bentuk sumpah setia untuk tidak membahayakan kelompoknya. Di situ, udah nggak peduli lagi benar atau salah, yang penting anggotanya dididik untuk bisa â€œmembenarkanâ€? dan menyelamatkan gang-nya. Pokoke, hidup dan mati untuk kelompoknya. Kayak robot dong? Bisa jadi.<span id="more-106"></span></p>
<p>Kamu pernah dengar istilah KGB? Itu tuh, singkatan dari Komitet Gosudarstvenoi Bezopasnoti. Ih susah banget melapalkannya ya? Lidah kita ampe kebelit-belit nih. Udah deh, mudahnya, KGB adalah dinas rahasia di masa kejayaan Uni Soviet. Ya, setara CIA-nya Amrik atau BIN (Badan Intelijen Negara) di sini. Nah, para agen rahasia negerinya Vladimir Putin ini, kalo mereka gagal dalam misi negaranya, misalnya ketangkep, mereka rela melepaskan nyawanya yang cuma satu-satunya itu, dengan menelan cairan kimia mematikan bernama sianida yang dibungkus semacam kapsul dan diletakkan di sela-sela giginya. Yang penting, rahasia negara kagak kebongkar pihak musuh. Duh, setia banget ya?</p>
<p>Rupanya, tradisi setia ama kelompok, khususnya yang dicontohkan oleh para gangster itu mendapat perhatian juga dari sebagian besar remaja kita. Utamanya yang emang hobi bikin gang, kelompok, komplotan, or apalah namanya. Mereka berikrar untuk sehidup-semati demi kelompoknya. Rela berkorban demi kelompoknya. Dalam hal apapun, salah or bener. Gaswat. Kalo ada anggota gang menderita, teman satu gang yang lain menghibur. Ada yang lagi seneng, dijalani bersama. Makan sepiring berdua pun rela dilakoni (jadi inget lagu dangdut jaman baheulaâ€”Sepiring Berdua, he..he..he..). Termasuk kalo ada yang mencederai, langsung dibela. Pokoknya, solider ama teman kelompok kayaknya menjadi prioritas. Tapi nggak tahu juga sih, kalo dalam soal utang mah.</p>
<p>Maka jangan heran bila kemudian kita sering lihat ada banyak anak sekolah yang terlibat tawuran demi mempertahankan kelompoknya. Kalo salah satu anggota gang-nya dihina, maka seribu yang lain siap marah dan menyerbu. Tragisnya, soal bener atawa salah nggak jadi ukuran. Yang penting, bila ada yang macam-macam terhadap kelompoknya, maka â€œdarahâ€? urusannya. Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, manusia hidup memang senang berkumpul, berkelompok, atau istilah gaulnya nge-gang. Kalo waktu di kampung dulu, mungkin kita pernah ngalami juga hal ini. Ada anak yang tinggal di daerah sekitar kuburan, karena alasan senasib dan sepenanggungan, mereka bikin gang yang menggambarkan kondisi wilayahnya, misalkan diberi nama GAMAL alias Gabungan Anak Makam Lebak. Maksudnya wilayah makam bagian bawah. Terus ada yang merasa satu selera dan satu tujuan dalam berbuat. Istilahnya bisa diajak ngapain aja. Mau duel atau damai hayo aja. Nah, merujuk tujuan mulianya (ceile tujuan mulia!) terus mereka bikin deh nama kelompoknya, misalnya, RIBODABO (Ribut Boleh Damai Boleh). Itu untuk menggambarkan bahwa mereka bisa diajak damai or ribut. Ih, plin-plan dong?</p>
<p>Malah ada juga yang kacau banget, pake bawa-bawa nama malaikat segala. Di kampung penulis, pernah ada kelompok remaja yang menamakan dirinya JIBRIL, alias Jiwa Berandal Ingat Ilahi. Walah, aneh-aneh aja ya? Sesuai dengan namanya, mereka kerap bikin onar, tapi juga kadang suka sholat dan puasa ramadhan. Wah, ini yang namanya kadarkum, alias kadang sadar kadang kumat. Celaka!<br />
Walhasil, banyak banget yang bikin gang dan masing-masing mempertahankannya sekuat tenaga dengan pilihan hidup atau mati. Nggak peduli gang-nya merusak atawa membawa berkah. Yang penting, membela kelompok adalah fardhu. Pokoknya, right or wrong is my gang! Wackss? Tapi itulah fakta yang banyak terjadi.</p>
<p><strong>Tradisi kuno</strong><br />
Nenek moyang kita dulu, juga nggak ada bedanya sama kita sekarang. Bahkan mungkin lebih luas lagi jangkauannya. Bisa keluarga, bisa suku, kampung, kabupaten, atawa malah negara. Sekarang-sekarang kita suka dengar istilah itu dengan nama sukuisme, patriotisme, nasionalisme. Pokoknya ashabiyyah alias bangga terhadap kelompoknya, sukunya, atawa negaranya.</p>
<p>Kabilah-kabilah di wilayah Arab pada masa jahiliyah acapkali membanggakan kelompok masing-masing. Termasuk kalo ada kabilah yang kebetulan lebih maju dari kabilahnya, mereka suka iri, lalu menebar dendam dan terjadilah perang. Idih, hina banget ya? Cuma persoalan sepele kok ribut. Aneh ya?</p>
<p>Sepanjang abad kelima, salah satu perang yang sangat terkenal alah Harb al-Basus, yang disebabkan oleh terbunuhnya unta bernama Basus milik seorang tua dari Bani Bakr. Perang ini berlangsung selama 30 tahun dan masing-masing saling menyerang, merampas, dan membunuh. Harb Dahis waâ€™l Ghabraa timbul karena ketidakjujuran dalam suatu pacuan kuda antara Suku Abs dan Dhabyan di Arabia Tengah. Perang ini berlangsung sampai beberapa waktu. Kedua Suku Aus dan Khazraj di Yastrib (sekarang Madinah) juga terlibat dalam Harb al Buâ€™ath (Perang Buâ€™ath), dan di Mekkah Suku Quraisy dan sekutunya, Bani Kinanah, berperang dengan Suku Hawazin dalam perang Harb al-Fujjar (Akar Nasionalisme di Dunia Islam, hlm. 14).</p>
<p>Ya, itulah kebodohan yang emang sedang merajalela saat itu. Dan tradisi tersebut terus berlangsung sampai Islam datang di tengah kehidupan mereka. Maka kalo sekarang, setelah Islam datang, kita-kita masih betah dengan nasionalisme, kesukuan, atau membanggakan ras, maka kita sama saja dengan kembali ke masa jahiliyah dulu. Amit-amit deh!</p>
<p>Kamu perlu tahu, bahwa ide ini amat rusak dan berbahaya banget. Lho kok bisa? Begini sobat, misalnya kamu ngefans banget dengan klub sepakbola kampung kamu, kamu rela bermandikan keringat dan suara serak saat mendukung tim kesayangan kamu main lawan kampung sebelah. Bila perlu, siap berjuang sampe titik darah yang penghabisan dalam 2 kali 15 menit perpanjangan baku hantam dengan suporter klub lain. Uppsss, karena menggunakan sistem sudden death, jadi yang ngejoprak duluan yang KO (he..he..he..)</p>
<p>Sobat muda muslim, yang begitu itu, namanya fanatik banget sama klub yang kamu kagumi dan senangi. Kira-kira kayak gitu deh. Jadi kamu merasa melibatkan emosi kamu. Itu artinya kamu adalah bagian dari kelompok itu.</p>
<p>Fanatisme memang seringkali bikin buta mata tuli telinga. Kalo orang udah kadung cinta tapi nggak bijak, jadinya ya kayak begitu. Salah or bener bukan lagi ukuran, yang penting adalah nama besar kelompoknya. Aduh, ini pemahaman yang salah sobat. Itu sebabnya, kudu belajar manahan diri. Kudu bijak dalam menilai persoalan. Tepatnya, kita kudu proporsional. Jangan sampe karena itu adalah kelompok or gang kita, lalu kita asal bela aja. Seolah mata dan telinga kita ditutup rapat-rapat untuk melihat dan mendengarkan kejelasan dari masalah yang terjadi. Padahal, siapa tahu, gang or anggota gang kita itu memang terbukti salah. Tul nggak?</p>
<p>Sayangnya, banyak di antara teman remaja yang nggak mau peduli dengan persoalan ini. Buktinya, banyak yang mau aja kalo diajak untuk tawuran. Padahal, doi belum ngecek, siapa yang salah dalam kasus itu. Lagian, bela-belain masalah yang sebetulnya nggak perlu dipersoalkan.</p>
<p>Ashabiyyah, bahaya dan haram, lho!<br />
Sobat muda muslim, ikatan semacam itu nggak bisa bertahan lamaâ€”dan emang bisa menimbulkan pertentangan terus. Terus dan terus nggak ada akhirnya, sampai di antara mereka ada yang tersungkur dan kalah. Itupun akan diteruskan oleh generasi berikutnya. Wah, dunia kok rasanya gelap banget ya kalo begini?</p>
<p>Sudah terbukti bahwa ikatan-ikatan ini rentan banget terhadap goncangan. Kalau ada musuh, kita bangkit dan trengginas. Pas nggak ada ancaman dari musuh, kita adem ayem aja. Itu namanya ikatan yang nggak stabil. Udah gitu yang dibelanya juga suka nggak jelas dan amat rendahan. Bener, yang dibela itu paling-paling cuma urusan sepele dua pele.</p>
<p>Kayak sekarang nih, lagi rame-ramenya ajang World Cup 2002 di Korea dan Jepang. Kamu bisa saksikan gimana para pendukung kesebelasan negara tertentu ikutan sedih or seneng. Liat aja gimana sedihnya pendukung kesebelasan Korea Selatan saat digilas tim Panser Jerman dalam babak semifinal ajang bal-balan sejagat itu. Sebaliknya, pendukung berat tim asuhan Rudi Voeller itu bersuka cita saat Michael Ballack menyarangkan bola ke gawang yang dikawal Lee Woon-jae. Rasa kebangsaan, bahkan ras mereka pun muncul tiba-tiba.</p>
<p>Bahkan boleh jadi akan memicu â€?pertempuranâ€™ baru dari ajang ini. Orang-orang Korea mulai memandang curiga dan memendam benci terhadap orang-orang Eropa. Pasalnya, di pesta sepakbola sedunia itu, para pendukung tim-tim tangguh seperti Portugal, Italia, dan Spanyol yang berhasil dijungkalkan oleh Korsel protes keras seolah nggak terima atas kekalahan tersebut. Jadi deh, dua kubu dari dua benua akan saling berhadapan di luar ajang bal-balan ini. Pokoknya berpotensi siap ricuh. Walah, inilah nasionalisme, sobat. Makanya berbahaya banget deh. Emang racun tuh!</p>
<p>Hmm.. masalah-masalah sepele memang. Penghinaan saat kalah main basket, kalah rebutan cewek favorit di sekolah. Atau dalam tataran yang lebih luas, bapak-bapak kita suka kelabakan saat negeri ini ada yang mengancam; embargo ekonomi, invasi militer musuh, or negara lain ikut campur urusan politik dalam negeri. Semuanya bak kebakaran jenggot. Bahkan mulai kampanye untuk bikin perlawanan.</p>
<p>Itu kalo lagi ada ancaman, lho. Kalo lagi aman sejahtera? Lihat aja, kemana-mana juga enjoy aja berkendara Mercy, BMW or Volvo. Melupakan rakyat dan melupakan siapa musuh yang siap mengancam lagi. Nah, itu sebabnya, dalam Islam paham ini mendapat kritikan tajam dan dikasih label haram untuk dipake dan disebarluaskan. Hati-hati ya!</p>
<p>Gimana urusannya? Begini, pertama kamu kudu nyadar or ngeh, bahwa seorang muslim itu standar perbuatannya adalah aturan Islam. Hala or haram menurut Islam. Bukan yang lain. Jadi apa katanya Islam. Titik.</p>
<p>Ashabiyyah artinya semangat golongan. Dan dalam faktanya, semangat golonganisme ini terdapat di dalamnya sukuisme dan nasionalisme, patriotisme, dan sejenisnya.</p>
<p>Rasulullah saw, baginda kita bersabda saat terjadi peristiwa perang yang megusung semangat antar golongan: â€œWahai kaum muslimin, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala saat aku hadir di tengah kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam; yang karena itulah kalian menjadi mulia dan menjauhkan diri dari paganisme, menjauhkan kalian dari kekufuran dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?â€?</p>
<p>Jadi, jangan sampe kita membela kelompok yang menyerukan semangat golongan. Padahal seharusnya kita membela kelompok, dimana dasar pembelaan kita adalah karena ikatan akidah Islam. Bukan yang lain. Sebab, inilah yang diperintahkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya:</p>
<p>?ˆ???§?¹?’?????µ???…???ˆ?§ ?¨???­???¨?’?„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¬???…?????¹?‹?§ ?ˆ???„?§?? ?????????±?‘???‚???ˆ?§ ?ˆ???§?°?’?ƒ???±???ˆ?§ ?†???¹?’?…???©?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¹???„?????’?ƒ???…?’ ?¥???°?’ ?ƒ???†?’?????…?’ ?£???¹?’?¯???§???‹ ?????£???„?‘?????? ?¨?????’?†?? ?‚???„???ˆ?¨???ƒ???…?’ ?????£???µ?’?¨???­?’?????…?’ ?¨???†???¹?’?…???????‡?? ?¥???®?’?ˆ???§?†?‹?§ ?ˆ???ƒ???†?’?????…?’ ?¹???„???‰ ?´???????§ ?­?????’?±???©?? ?…???†?? ?§?„?†?‘???§?±?? ?????£???†?’?‚???°???ƒ???…?’ ?…???†?’?‡???§ ?ƒ???°???„???ƒ?? ?????¨?????‘???†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„???ƒ???…?’ ?????§?????§?????‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ?????‡?’?????¯???ˆ?†??<br />
â€œBerpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan hingga Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk. (TQS Ali Imr?¢n [3]: 103)</p>
<p>Jadi mulai sekarang yang wajib kita bela dan perjuangkan adalah Islam. Jangan sampe kita membela gang atawa kelompok yang ikatannya bukan akidah Islam. Sesama muslim kita bersaudara, kawan. Kita hidup dan mati hanya untuk Islam. Begitu, sobat!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 104/Tahun ke-3/1 Juli 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/right-or-wrong-is-my-gang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>World Cup 2002; Pestamu, Dukaku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/world-cup-2002-pestamu-dukaku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/world-cup-2002-pestamu-dukaku#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/world-cup-2002-pestamu-dukaku/</guid>
		<description><![CDATA[Gebyar World Cup 2002 Korea-Jepang makin panas menjelang semifinal dan final pada akhir bulan ini. Tim-tim unggulan banyak yang rontok. Pemain dan ofisial Argentina, Perancis, dan Portugal bahkan lebih dulu mengemas koper mereka untuk meninggalkan medan tempur sepakbola sejagat itu. Mereka babak belur di babak pertama.
Ada tangis dan tawa di arena dan di kampung mereka. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gebyar World Cup 2002 Korea-Jepang makin panas menjelang semifinal dan final pada akhir bulan ini. Tim-tim unggulan banyak yang rontok. Pemain dan ofisial Argentina, Perancis, dan Portugal bahkan lebih dulu mengemas koper mereka untuk meninggalkan medan tempur sepakbola sejagat itu. Mereka babak belur di babak pertama.<span id="more-105"></span></p>
<p>Ada tangis dan tawa di arena dan di kampung mereka. Saat tim Dinamit Denmark â€œmelepesâ€? dihantam tim â€œUnion Jackâ€? Inggris 3 gol tanpa balas, pendukung Inggris di Niigata, stadion tempat mereka bertarung gegap gempita. Pun nggak ketinggalan masyarakat London, dan juga penggemar di negeri ini yang menyaksikan adegan itu, ikutan heboh. Sebaliknya, di Kopenhagen dan belahan dunia lainnya, pendukung tim â€œDinamitâ€? merana total.</p>
<p>Begitu pula saat tim Rusia digasak Jepang dalam babak penyisihan, ratusan pendukung kesebelasan â€œBeruang Merahâ€? mengamuk di kota Moskow. Sebaliknya, di Jepang pendukung kesebelasan negeri â€œMatahari Terbitâ€? itu tenggelam dalam pesta.</p>
<p>Pendukung tim â€œAzzurriâ€? Italia gondok berat saat timnya dibungkam tuan rumah Korea dalam babak perdelapan final. Penggemar Del Piero dan kawan-kawan di seluruh dunia, termasuk di negeri ini terpaksa gigit jari menyaksikan tim favoritnya terjungkal. Yup, dalam pertandingan memang selalu ada suka dan ada duka. Yang satu pesta, yang lainnya sudah pasti berduka. Itulah â€?perjuanganâ€™.</p>
<p>Tapi sobat muda muslim, bagi kita, kaum muslimin, adanya hajatan ini makin membuat kita berduka. Gimana nggak, nyaris seluruh penduduk dunia perhatiannya tersedot untuk mantengin aksi-aksi bintang lapangan hijau mengolah si kulit bundar. Sementara persoalan umat ini nyaris nggak teramati.</p>
<p>Coba aja perhatiin di stadion Sogwipo, pemain, ofisial, dan pendukung tim Jerman pesta ketika Miroslav Klose dan kawan-kawan berhasil menjegal langkah tim asuhan Cesare Maldini, Paraguay. Kita di sini juga ikutan heboh. Sementara di Jenin, serdadu Israel kian garang menggempur rumah-rumah penduduk Palestina. Di Miyagi, pemain dan pendukung Turki meneteskan airmata kebahagiaan setelah sukses menghentikan langkah Jepang di babak perdelapan final, sementara di Yerusalem, airmata dan darah warga Palestina menjadi saksi kekejaman Israel. Tentunya dua kenyataan ini amat kontras. Lalu, mana kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita di sana?</p>
<p>Sobat muda muslim, gara-gara hajatan sepakbola sejagat ini, sebagian dari kita kian nggak peduli dengan nasib saudara kita sendiri. Entah itu yang dekat, lebih-lebih di tempat yang jauh dari tempat tinggal kita. Gimana nggak, saat tak ada hajatan putaran final sepakbola dunia aja banyak di antara kita yang cuek bebek ama nasib saudaranya, apalagi sekarang yang nyaris tiap hari hadir di layar kaca siaran langsung dan tunda ajang bal-balan sedunia itu. Pastinya makin lupa diri tuh. Ih, jangan sampe deh.</p>
<p><strong>Globalisasi emosi</strong><br />
Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat dunia ini bak sebesar daun kelor. Jarak satu kota di suatu negeri dengan kota di negeri lain nyaris tanpa batas. Jauhnya jarak bukan lagi persoalan. Sekarang, hal itu bisa diatasi dengan satelit dan kabel. Pertandingan di Jepang dan Korea bisa dinikmati langsung di Jakarta, hanya dengan me-relay siaran tersebut melalui stasiun televisi RCTI sebagai official tv partner World Cup 2002. Gratis lagi. Akibatnya, luapan emosi penonton di stadion dengan di rumah atau yang nonton bareng di kafe dan tempat umum lainnya sama hebohnya. Tertawa dan nangis barengan!</p>
<p>Hmmâ€¦ ternyata sepakbola pun menyimpan pesona globalisasi juga. Coba aja, kita bisa saksikan kesedihan yang amat mendalam dari para pendukung tim Portugal di Lisabon saat menyaksikan pahlawan mereka gagal membungkam Korea Selatan di babak penyisihan. Bahkan kesedihan para penggemar berat tim Portugal di seluruh dunia menjadi â€œsatuâ€?. Teman-teman kita di sini yang ngefans sama Luis Figo dan Rui Costa juga ikutan sedih, apalagi yang kalah taruhan. Dijamin kecewa berat.</p>
<p>Untuk mendukung â€?programâ€™ globalisasi emosi ini, seluruh negara yang menjadi peserta Piala Dunia 2002 dan juga negara yang tak ikutan Piala Dunia rela me-relay siaran pertandingan tersebut. Termasuk di negeri ini, meski kesebelasan Indonesia nggak ikutan di ajang itu, tapi penggemar tim-tim langganan juara seperti Brasil, Jerman, Italia, Spanyol, dan Argentina bejibun. Itu bisa disaksikan saat acara nonton bareng yang digelar di restoran, kafe, sampe hotel, bahkan rencananya RCTI bakalan menggelar nonton bareng di stadion Senayan saat pertandingan final berlangsung akhir bulan ini. Wuih, bener-bener merasa kudu ikutan heboh di ajang bal-balan sejagat ini.</p>
<p>Kita jadi merasa ikut terlibat secara emosi dengan para pemain yang sedang berlaga. Saat tim favorit kita menyerang dan menjaringkan bola ke gawang musuhnya, kita ikutan seneng, lega, dan teriak kegirangan. Dan sebaliknya, saat tim kesayangan kita terdesak, bahkan kipernya harus memungut bola dari dalam gawangnya sendiri, kita juga ikutan sedih, kecewa, dan gondok. Nggak habis pikir memang. Tapi inilah kenyataannya.</p>
<p><strong>Pestamu, dukaku</strong><br />
Sobat muda muslim, terus terang kita sedih lho. Ternyata ada juga di antara kita yang mudah meneteskan airmata. Sayangnya, airmata itu bukan ketika mendengar atau membaca berita tentang saudaranya di Palestina yang dibantai serdadu Israel. Ada juga teman kita yang ternyata bisa tertawa dan heboh bela-belain tim kesayangannya berjuang. Tapi kita amat jarang menemukan teman kita, atau malah mungkin kita sendiri yang begitu senang dan gembira ketika saudara kita berhasil menggempur serdadu Israel misalnya. Malah celakanya, banyak di antara kita yang kemudian mengutuki aksi â€œbom syahidâ€? saudara kita di sana. Ironi bukan? Inilah yang membuat kita sedih banget sobat.</p>
<p>Padahal, persoalan umat jauh lebih penting ketimbang persoalan hiburan tersebut. Sekarang begini. Kita pikirkan dan renungkan secara mendalam. Apakah ada pengaruhnya buat kita, ketika tim â€œAyam Jantanâ€? Perancis harus pulang kandang lebih awal? Apakah ada pengaruhnya bagi kita ketika tim â€œAzzurriâ€? Italia keluar lapangan dengan wajah ditekuk setelah kalah secara menyakitkan dari Korea Selatan? Juga apakah ada keuntungannya bagi kita ketika tim â€œSambaâ€? Brasil sukses melenggang ke perempat final dan berhadapan dengan Inggris di semifinal? Apakah kita akan dikasih hadiah ketika Senegal berhasil menjegal Swedia dan akan bertemu tim â€œAbu Nawasâ€? Turki di perempat final? Rasanya, di antara kita sendiri sebetulnya udah tahu jawabannya. Yup, nggak ada untungnya buat kita. Yang taruhan sekalipun sebetulnya nggak untung, karena ia sedang terlena. Bahkan ia telah melupakan kewajibannya sendiri sebagai seorang muslim.</p>
<p>Di Korea dan Jepang, juga di belahan dunia yang lain tengah berlangsung drama. Ada kesenangan dan kesedihan. Tapi yakinlah, bahwa itu sekadar permainan. Itu sekadar hiburan. Ya, cuma menemani di sela-sela waktu luang kita aja. Nggak lebih dari itu. Lagi pula, bagi kita di sini, rasanya, yang kita dapatkan hanyalah sedikit rasa lega dan senang kalo tim favorit kita sukses. Atau kita kecewa kalo â€œjagoanâ€? kita keok. Tapi apakah kemudian akan berpengaruh kuat dalam kehidupan kita di dunia ini atas kegagalan atau kesuksesan mereka? Nothing!</p>
<p>Itu sebabnya, kita sedih, kecewa, dan tentu saja berduka banget menyaksikan teman-teman kita yang ternyata lebih semangat mengikuti berita mengenai seputar piala dunia, lebih getol menyaksikan siaran langsung pertandingan demi pertandingan yang digelar dengan tanpa ngantuk sedikitpun. Padahal kalo ngaji mah, baru setengah jam aja matanya udah 5 watt, alias redup. Tinggal nungguin â€œngamplehâ€? aja. Aduh, betul-betul prihatin. Benar, pesta itu milik mereka, tapi duka ternyata jadi milik kita. Kita berduka karena sebagian besar dari kita lebih care dengan urusan yang mubah, bahkan cenderung sia-sia itu. Sementara urusan penting bagi kelangsungan masa depan ummat ini diabaikan, alias nggak mendapat perhatian sedikitpun. Gaswat!</p>
<p><strong>Hidup hanya untuk Islam</strong><br />
Kita, kaum muslimin, udah diajarkan oleh Rasulullah untuk belajar memahami hidup ini. Setelah kita mampu menjawab pertanyaan; dari mana kita? Mau ngapain di dunia ini, serta akan kemana kita setelah kehidupan dunia ini, insya Allah kita bisa memahami arti kehidupan ini. Yup, kita berasal dari Allah Swt., di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Dan tempat kembali pasti kepada Allah Taâ€™ala. jua. Firman Allah Swt.:</p>
<p>ï???ˆ???…???§ ?®???„???‚?’???? ?§?„?’?¬???†?‘?? ?ˆ???§?„?¥?’???†?’?³?? ?¥???„?§?‘?? ?„???????¹?’?¨???¯???ˆ?†??ï?›<br />
â€œDan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Kuâ€? (TQS adz-Dz?¢riy?¢t [51]: 56)<br />
Apalagi kita sudah menyatakan â€œsumpah setiaâ€? kita kepada Allah dalam doa iftitah kita ketika shalat. Firman Allah Swt.:</p>
<p>ï???‚???„?’ ?¥???†?‘?? ?µ???„?§???????? ?ˆ???†???³???ƒ???? ?ˆ???…???­?’?????§???? ?ˆ???…???…???§?????? ???„?„?‡?? ?±???¨?‘?? ?§?„?’?¹???§?„???…?????†??ï?›<br />
â€œKatakanlah: &#8220;Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,â€? (TQS al-Anâ€™?¢m [6]: 162)</p>
<p>Sobat muda muslim, hidup kita hanyalah untuk Islam. Pastikan itu tetap berada dalam tujuan kita. Kalo kita udah merasa hidup untuk Islam, insya Allah, biasanya kita akan selalu menjadi pembela Islam. Itu bisa diwujudkan dengan perhatian kita terhadap persoalan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Kemudian juga bisa kita wujudkan dengan perhatian yang mendalam tentang masa depan Islam.</p>
<p>Jadi ketika kita bergaul dengan masyarakat, Islam selalu jadi patokan dalam menyelesaikan problem mereka. Itu sebabnya, kalo kita nggak serius untuk mempelajari dan memahami Islam, rasanya bakalan nggak ngeh terhadap problem-problem yang dihadapi kaum muslimin dan persoalan yang mengancam keberlangsungan agama kita ini.</p>
<p>So, kalo sekarang kita lebih betah, lebih getol, en kian semangat mengikuti perkembangan World Cup, ketimbang mendalami Islam dan mengamati perkembangan kaum muslimin ini, satu tenaga sudah terkuras sia-sia. Dan bayangkan bila ada sekitar 100 juta kaum muslimin yang begitu sikapnya di seluruh dunia, berarti energi yang seharusnya dicurahkan untuk Islam, berkurang sebesar itu pula. Umat ini jelas sudah kalah, sobat. Telak lagi.</p>
<p>Sobat muda muslim, kesedihan, kekecewaan, dan duka kita seharusnya dialamatkan ketika kita melihat umat Islam ini berada dalam jurang kehancuran. Ibarat tim favorit kita berada di ujung tanduk. Meski tentu ada bedanya. Yakni, bila kita sedih menyaksikan penderitaan umat, lalu kita berusaha untuk menyelesaikannya, insya Allah dapat pahala, sementara kalo kita sedih dan kecewa karena tim favorit kita bangkrut di ajang World Cup 2002, nggak dapat pahala sedikit pun. Jadi, berpikirlah sejernih mungkin, sobat.</p>
<p>So, pikiran dan perasaan hanya kita curahkan semata untuk Islam dan kaum muslimin, bukan untuk yang lain. Itu sebabnya, rasa suka dan duka kita pun pastikan ada kaitannya dengan Islam. Kita gembira, bila memang Islam mulai banyak dipelajari dan dibela oleh umatnya. Kita gelisah dan marah, saat kita menyaksikan ada orang yang mengancam Islam dan umatnya.</p>
<p>Oke deh. Jangan sampe gempita World Cup 2002 menyita dan memalingkan perhatian kita dari upaya mengemban dakwah dalam rangka melanjutkan kembali kehidupan Islam. Catet yaâ€¦!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 103/Tahun ke-3/24 Juni 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/world-cup-2002-pestamu-dukaku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Geger VCD Iklan Sabun Mandi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/geger-vcd-iklan-sabun-mandi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/geger-vcd-iklan-sabun-mandi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/geger-vcd-iklan-sabun-mandi/</guid>
		<description><![CDATA[Ngomong-ngomong soal iklan, saat ini lagi gonjang-ganjing tentang VCD casting iklan sabun mandi yang heboh diobrolin masyarakat. Korbannya sudah jelas anak puteri. Kenapa heboh? Konon kabarnya calon model yang katanya untuk iklan sabun mandi itu melaporkan kepada polisi, bahwa mereka udah ditipu pihak production house (rumah produksi). Tadinya mereka berpikir bahwa casting (pemilihan) tersebut adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ngomong-ngomong soal iklan, saat ini lagi gonjang-ganjing tentang VCD casting iklan sabun mandi yang heboh diobrolin masyarakat. Korbannya sudah jelas anak puteri. Kenapa heboh? Konon kabarnya calon model yang katanya untuk iklan sabun mandi itu melaporkan kepada polisi, bahwa mereka udah ditipu pihak production house (rumah produksi). Tadinya mereka berpikir bahwa casting (pemilihan) tersebut adalah untuk jadi calon bintang iklan sabun mandi, eh, ndak tahunya ternyata malah rekaman adegan â€œbuka-bukaanâ€? tubuh mereka digandakan dan dijual bebas dalam bentuk VCD. Bisa didapatkan di pedagang kaki lima lagi. Ya, mirip-mirip kasus Bandung Lautan Asmara yang dulu sempat bikin heboh juga. Walah?<span id="more-104"></span></p>
<p>Kasus VCD porno casting iklan sabun mandi ini kian hari kian runyam. Bahkan VCD itu konon banyak dicari. Tapi semoga saja pembahasan ini bukan untuk semakin membuat penasaran kamu, untuk kemudian bela-belain nyari VCD-nya. Wah, jangan sampe deh. Maksud kita hanya ingin mengingatkan, jangan sampe kasus seperti ini terus dan terus terulang. Kita benci juga sama para model tersebut karena mereka rela nyari duit dengan cara yang haram, termasuk kepada pemilik rumah produksi, dan juga pengganda VCD tersebut, sekaligus menyayangkan masyarakat yang beli VCD yang bersangkutan. Pokoknya, benci tulen deh!</p>
<p>Sekadar tahu saja, VCD yang memamerkan 9 calon model lokal yang tengah melenggak-lenggok memamerkan tubuhnya yangâ€”maafâ€”tanpa busana itu, oleh pihak berwajib dianggap sebagai salah satu bentuk VCD porno, meski konon kabarnya di dalamnya tidak ada satupun di antara model tersebut yang beradegan sedangâ€”maafâ€”bergelut dengan seorang pria. Ih, jijay deh!</p>
<p>Lucunya, berdasarkan laporan dari situs kafegaul.com, dari 9 model tersebut, beberapa di antaranya pernah membintangi sejumlah iklan dan sinetron. Bahkan ada juga yang pernah menjadi gadis sampul sebuah majalah remaja. Mereka yang disebut-sebut terlibat dalam casting itu di antaranya Cut Nadira (18), siswi SMU Jakarta, Susi Widaningsih (14) siswi SLTP Jakarta, Helen (20), mahasiswi universitas swasta, Jakarta. Gadis ini mengaku pula sebagai model dan bintang sinetron. Lalu, Melvy Noviza (20), tamatan SMA yang mengaku sempat pula menjadi gadis sampul sebuah majalah tahun 1996, sempat membintangi beberapa sinetron, dan iklan. Reski Novita (19), yang pernah menjadi foto model kalender dan gadis sampul majalah tahun 1999, juga pernah membintangi beberapa sinetron. Kemudian Gerhana (22), seorang model, Marita (25), bintang iklan, serta Nadia (19), model dan bintang iklan produk Nature, juga sempat menjadi gadis sampul majalah.</p>
<p>Melvy Novita Z (20) adalah salah satu di antara sembilan orang model yang di-casting untuk iklan sabun. Ia pernah menjadi figuran di beberapa sinetron, di antaranya FTV Cinta Tak Semanis Gula dan sebuah miniseri dengan judul Duda. Ia juga pernah membintangi beberapa iklan di antaranya Biore Scrub. &#8220;Saya ini merasa sangat dirugikan dan merasa sangat terpukul. Saya tidak pernah mau menjual tubuh saya. Benar-benar ini saya tidak tahu,&#8221; ungkap Melvy dengan pandangan mata berkaca-kaca. Ia merasa harga dirinya hancur karena ada gambarnya dalam video tersebut. (tabloid-citra.com)</p>
<p>Coba, masih muda, enerjik, dan tentunya punya tampang yang menjual dong. Sebab, kalo yang tampangnya kartu mati atawa PPD alias Pas-Pasan Deh, kayaknya cocok untuk iklan kaos. T-Shirt maksudnya? Bukan, tapi iklan kaos lampu! He..he..he.., sori sobat.</p>
<p>Sobat muda muslim, atas kejadian ini kita prihatin. Bukan karena mereka dijebak or ditipeng habis-habisan sama agennya. Tapi kita prihatin kenapa masih ada remaja yang mau mencari rezeki dari pekerjaan yang haram. Pun kita juga kecewa dan geram kepada para agen model, kenapa mereka masih nyari duit dengan cara yang haram. Astaghfirallah!</p>
<p><strong>Siapa yang disalahkan?<br />
</strong>Sobat muda muslim, jangan sampe kita salah memberi hukuman. Mentang-mentang para model tersebut dirugikan, lalu kita secara tanpa sadar belain mereka. Dengan alasan kasihan atau karena hak asasi manusia. Wah, itu namanya dukungan yang nggak proporsional, alias nggak pada tempatnya. Bahaya kawan.</p>
<p>Dalam kasus ini, semuanya bisa ditunjuk hidung. Paling nggak yang pertama adalah para model tersebut. Mengapa mereka mau menjalani profesi yang bertabur maksiat? Berikutnya adalah pemilik rumah produksi, karena mereka telah memberi peluang orang untuk berbuat maksiat. Termasuk bisa jadi masyarakat juga disalahkan. Kenapa? Karena mereka malah menjual dan membeli VCD tersebut. Padahal seharusnya ikut andil dalam memberantas peredarannya. Bukan malah menikmatinya juga. Wah, benar-benar kacau semuanya nih. Itu sebabnya, yang pantas disalahkan jadi banyak, bukan cuma pemilik rumah produksi.</p>
<p>Celakanya, nggak sedikit orang yang â€œmembelaâ€? para model. Dengan alasan mereka dilanggar privasinya. Lho, apa nggak kebalik nih? Dengan mereka ikut mendaftar jadi calon model iklan tersebut berarti mereka udah rela diapain aja dong, termasuk disuruh pamer aurat.</p>
<p>Tapi anehnya, sikap kecewa, geram, dan dongkol dari 9 calon model yang ikutan casting iklan sabun mandi itu, adalah karena adegan â€œbuka-bukaanâ€? yang dilakukannya â€?disalahgunakanâ€™ pihak rumah produksinya, yakni digandakan dan dijual bebas dalam bentuk VCD. Apalagi pihak kepolisian kemudian menggolongkan ke dalam VCD porno. Nah lho, kok bisa?</p>
<p>Barangkali akan lain ceritanya kalo benar-benar casting tersebut dibuat untuk iklan sabun mandi, apalagi merek terkenal. Rasanya mereka nggak bakalan protes tuh. Yakin deh, walaupun pada akhirnya tubuh mereka sama-sama â€?dinikmatiâ€™ banyak pemirsa televisi misalnya. Padahal, itu kan sama-sama jual tubuh. Iya nggak? Wah, ini logikanya gimana sih? Kasiaan deh. Jadi apa bedanya? Keduanya sama-sama bejat. Dan seharusnya mereka juga udah paham risikonya dong. Bahwa yang namanya casting untuk model iklan sabun mandi pastinya kudu melakukan adegan â€œbuka-bukaanâ€? pakaian. Berarti kan udah rela untuk diapain aja. Iya nggak? Mengapa musti protes? Cuma mungkin lebih â€?sopanâ€™ kali ye, karena bisa tampil mengiklankan produk sabun mandi merek terkenal, ketimbang dijajakan di VCD porno. Logikanya kok aneh ya?</p>
<p>Tambah ribet lagi karena kita saat ini hidup dalam sistem kehidupan kapitalisme. Dalam sistem kehidupan ini, kita dididik dengan gaya hidup yang permisif (serba boleh) dan hedonis (memuja kenikmatan jasmani dan materi belaka). Dua gaya hidup ini paling nggak sudah mendarah-daging dalam kehidupan kita. Dengan demikian, yang patut disalahkan adalah negara, masyarakat dan terakhir individu. Untuk mengubah kondisi ini, juga dibutuhkan pembenahan dari ketiga komponen tersebut. Dan itu hanya bisa diubah dengan syariat Islam. Jadi mulai sekarang kita dukung dan perjuangkan tegaknya syariat Islam secara menyeluruh.</p>
<p><strong>Mengapa jadi model?<br />
</strong>Kayaknya kalo diajukan pertanyaan macam begini, nyaris bisa dipastikan jawabannya seragam; yakni untuk nyari popularitas, dan tentunya tujuan akhirnya mengeruk banyak duit. Siapa tahu berawal dari model, tawaran untuk jadi bintang iklan dan sinetron bejibun. Jadi, siapa yang nggak mau hidup enak kayak begitu? Dan siapa pula yang nggak tergiur dengan dunia yang kerlap-kerlip seperti itu? Banyak kasus memang. Dessy Ratnasari misalnya,?  bisa tenar jadi bintang sinetron berangkat dari dunia model. Dulu, Teh Dessy ini pernah jadi gadis sampul di majalah GADIS. Dari situ tawaran iklan dan main film antri. Banyak duit dong? Betul, ya ngetop, ya tajir.</p>
<p>Tapi nggak semua orang beruntung, lho mengadu nasib di dunia model. Maklum banyak saingan. Ketatnya persaingan acapkali membuat sebagian besar calon model rela diapain aja. Celakanya kalo sampe â€?dikerjainâ€™ pihak pencari bakatnya (agen). Bisa berabe kan? Tapi bagi yang masih berpikir waras demi menjaga kehormatan barangkali nyesel dan gondok banget. Tapi bagi remaja puteri yang cuek dan punya prinsip â€œBiar tekor asal kesohorâ€?, kayaknya enjoy aja tuh. Biarin nggak dipajang sebagai sampul majalah, dipasang jadi sampul rapot or sampul â€œSurat Yasinâ€? yang dibagiin pas 40 hari wafat pun mau. Lho?</p>
<p>Udah jadi rahasia umum kalo dunia model bisa menjadi jalan pintas untuk tenar dan sekaligus gampang nyari duit. Remaja puteri yang punya tampang sedikit di bawah J. Lo (Jennifer Lopez), kayaknya udah bisa lolos jadi model iklan tuh. Maklum, berdasarkan kesepakatan umum, tampang kayak begitu menjual banget. Maka kalo udah lulus jadi model, siap-siaplah tenar dan peluang nyari duit semakin cerah. Bukan apa-apa, tawaran jadi bintang sinetron atawa bintang iklan kian terbuka lebar. Jadi kian jelas, bahwa tujuan teman-teman remaja puteri yang terjun sebagai model adalah untuk mencari ketenaran dan uang.</p>
<p>Sobat muda muslim, tapi rasanya sedih banget denger dan baca cerita tentang teman-teman remaja puteri yang mengadu nasib jadi model iklan atau bintang sinetron. Bener. Rasanya kok aneh ya, apa yang mereka cari? Kalo kesenangan yang dicari mengapa harus mengorbankan harga diri? Bukankah itu juga adalah sebuah bentuk kerugian besar. Aneh memang. Inilah alasn yang nggak bisa kita terima.</p>
<p><strong>Taubatlah<br />
</strong>Sobat muda muslim, khususnya bagi teman remaja puteri yang sudah terlanjur meniti karir jadi model, atau yang akan menjadi model, atau yang bercita-cita jadi model, sadarlah. Jalan yang sedang kamu tempuh itu banyak peluang untuk berbuat maksiat. Pekerjaan seperti itu haram ditekuni seorang muslimah.</p>
<p>Bagi yang masih sekadar bercita-cita, urungkan lagi cita-cita kamu dan ubahlah dengan cita-cita yang baik dan halal. Mumpung belum terlambat. Bagi yang sudah melangkah ke dunia itu, dan boleh dibilang jadi model, meski kelas amatiran, segeralah sadar. Nggak usah diterusin menjalani profesi yang dekat dengan kemaksiatan tersebut. Nggak baik. Masih banyak waktu untuk mencari jenis pekerjaan yang halal. Kalo pun kamu mau sekolah lagi, itu juga baik. Rajin belajar dan semangat mencari ilmu, untuk bekal kehidupan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Nah, bagi teman remaja yang sudah kepalang basah, alias udah terlanjur jadi model, dan ngetop lagi. Ingat, itu nggak jadi jaminan kalo kamu terus kepake dan banyak disuka. Kamu bakalan tua, kulit keriput, dan nggak laku lagi. Atau malah sebelum usia kamu bertambah tua, ajal sudah datang duluan menjemput kamu. Sementara kamu masih bergelimang dalam kemaksiatan. Apa yang mau dibawa sebagai bekal di akhirat kelak? Aduh, jangan sampe deh.</p>
<p>Sobat muda muslim, masih ada waktu untuk berubah. Tentu, selama kita masih diberikan hidup oleh Allah Swt. Jadi manfaatkan kesempatan hidup ini. Sebab, kita juga nggak tahu kapan kematian itu akan menjemput kita. Oke, mulai dari sekarang benahi kehidupan kita. Jangan ditunda-tunda lagi. Sebab, kalo nggak?  dimulai dari kita sendiri, siapa lagi? Allah Swt. menyebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„?§?? ???????????‘???±?? ?…???§ ?¨???‚???ˆ?’?…?? ?­?????‘???‰ ???????????‘???±???ˆ?§ ?…???§ ?¨???£???†?’?????³???‡???…<br />
â€œSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.â€? (TQS ar-Raâ€™d [13]: 11)</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo pun kebahagian yang dicari dan didapat oleh teman-teman remaja puteri yang jadi model, tapi sebenarnya itu adalah kebahagiaan semu semata. Bagi kita, kaum muslim, makna kebahagiaan adalah tercapainya ridho Allah, bukan dengan banyaknya harta kekayaan atau popularitas. Sebab percuma aja banyak harta dan ngetop, tapi Allah nggak ridho karena kita nyari rizki dari jalan yang diharamkan oleh Allah. Iya nggak?</p>
<p>Oke deh, mulai saat ini, dekati teman kamu yang udah sholehah, terus minta pengajian kepada mereka secara intensif. Pelajari Islam dengan serius dan benar. Insya Allah, dengan begitu kamu bisa menjadi generasi muda yang selamat di dunia dan di akhirat. Kita bukan sok suci lho, tapi ngingetin kamu. Setuju kan?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 102/Tahun ke-3/17 Juni 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/geger-vcd-iklan-sabun-mandi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Cinta Jangan Maksiat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalau-cinta-jangan-maksiat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalau-cinta-jangan-maksiat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:42:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kalau-cinta-jangan-maksiat/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia perfilman Indonesia mulai bangkit dari liang lahat, eh, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Setelah sekian lama terlelap en cuma bisa bikin filmâ€“film yang isinya nggak jauh dari â€?sepeda bupatiâ€™, alias, maaf, seputar perut dan dada serta buka paha tinggi-tinggi (idih, film apa senam aerobik) Kamu boleh bangga ngeliat film-film layar lebar produksi dalam negeri udah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia perfilman Indonesia mulai bangkit dari liang lahat, eh, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Setelah sekian lama terlelap en cuma bisa bikin filmâ€“film yang isinya nggak jauh dari â€?sepeda bupatiâ€™, alias, maaf, seputar perut dan dada serta buka paha tinggi-tinggi (idih, film apa senam aerobik) Kamu boleh bangga ngeliat film-film layar lebar produksi dalam negeri udah bisa â€?nangkringâ€™ di bioskop-bioskop bonafide, saingan ama â€œThe Scorpion Kingâ€?-nya The Rock. Ditambah lagi maraknya pemutaran SMS (Sinetron Mini Seri) yang habis satu muncul banyak menjadi ajang seleksi bintang muda untuk diangkat ke layar lebar. Siapa yang nggak kenal, Irgi Fahrezi dan Marcella dalam Sephia-nya, atau Leony yang membintangi Siapa Takut Jatuh Cinta? Penulis yakin kamu-kamu udah nggak asing ama mereka. Atau mungkin malah ada yang ngefans dengan salah satu dari mereka.<span id="more-103"></span></p>
<p>Bejibunnya saluran TV swasta baru, menuntut para produser TV banting tulang untuk ngegaet pemirsa. Salah satunya via pemutaran sinetron, biar pemirsa kecantol dan nggak pindah chanel. Maka lahir sinetron-sinetron remaja kayak Percikan, Dilarang Jatuh Cinta, atawa Kalau Cinta Jangan Marah. Ditambah pemaennya juga bintang-bintang muda yang lagi naik daon (ulet kali..). Udah gitu, ceritanya nggak jauh dari persoalan cintrong dua insan yang selalu menarik perhatian. Siapa yang nggak betah ngecengin Didi â€?Elementâ€™ en Vonny â€?Beningâ€™ dalam Tunjuk Satu Bintang atawa muka-muka baru kayak Adelia Lontoh, Revalina dan Diana Fitria yang membintangi â€?Percikanâ€™?</p>
<p>Meskipun judul en pemaennya beda, isinya nggak jauh dari seluk-beluk cinta remaja. Diawali masa perjuangan saat PDKT. Benci dan rindu jadi satu. Diikuti aksi â€œnembak pujaan hatiâ€?. Mengikat janji setia menjalin cinta kasih hingga ujung waktu (cieeeeâ€¦). Yang berarti lampu hijau buat?  jalan bareng alias pacaran sebagai episode terakhir upaya mencari cinta bak arjuna.</p>
<p>Namun, kayaknya nggak semua setuju ama gaya pacaran remaja sekarang. Banyak pro dan kontra yang cukup bikin kepala kita pusing tujuh belas koma tiga puluh empat keliling lapangan senayan (makin pusing khan?). Bukannya dapet jalan terang, malah bikin remaja ngambil kesimpulan sendiri. Pokoke, pacaran itu boleh dan keputusan itu nggak bisa diganggu gugat. Titik! Nah lho!</p>
<p><strong>Cinta = Pacaran + Seks?<br />
</strong>Tren orang pacaran, kayaknya udah mendarah daging dan berurat akar di negerinya si Unyil ini. Seakan nggak bisa di-delete dari kehidupan kita. So, istilah pacaran dan segala kembarannya udah populer. Sepopuler album â€?07 Desâ€™-nya Sheila on Tujuh. Ada istilah cimot (cinta monyet), cilok (cinta lokasi), atawa cimplung yang artinya cinta kecemplung, alias kasih tak sampai. Juga ada ciner (eh, itu sih adiknya Cuplis ya?). Lucunya lagi, ada gaya pacaran Islami. No kiss no touch. Aneh-aneh aja, emangnya jalan bareng atawa nonton bareng, bisa disebut islami? Asal!!</p>
<p>Celakanya lagi, banyak yang menobatkan pacaran sebagai simbol pergaulan modern. Kamu baru dianggap dewasa en gaul kalo udah punya doi. Kalau belum punya, siap-siap aja dinobatkan jadi pejabat, alias pemuda jaman batu. Dan itu bisa bikin kamu manyun en berjuang dengan semangat â€?45 ngegaet sang buah hati. Meski harus ngorbanin uang SPP biar bisa nge-date nonton aksi Tobey â€?Spideyâ€™ Maguire. Sekaligus biar nggak disebut jomblo!</p>
<p>Sobat muda muslim, banyak teman remaja yang pacaran beralasan bahwa doi butuh seseorang yang bisa ngertiin dan merhatiin kamu. Pokoknya, yang lebih dari sekadar temen, bisa mompa semangat bak cheerleader waktu kamu lagi putus asa, bisa jadi tempat berbagi rasa dan masalah, atau paling jauh buat ajang seleksi pasangan hidup. Tiap remaja membutuhkan orang dekat yang bisa mengingatkan dan?  membimbing tanpa harus menggurui. Dan biasanya teman sebaya atau lawan jenis berada di urutan pertama (emangnya klasemen) sebelum orangtua atawa guru.</p>
<p>Tapi kayaknya alasan-alasan temen kamu itu cuma justifikasi aja, alias pembenaran biar dilegalisasi sekolah, keluarga dan lingkungan. Buktinya pacaran cuma jadi ajang baku syahwat. Nggak hanya jalan bareng, tapi bisaâ€”bahkan kebanyakan remajaâ€”sampe rela â€?tidur barengâ€™. Naudzubillah min dzalik!</p>
<p>Sobat, setan paling doyan nongkrongin orang yang lagi pacaran alias mojok, lho. Temen kamu boleh bilang pacaran itu manis, tapi sebenarnya itu jalan iblis!</p>
<p>â€œIh, itukan tergantung orangnya?â€?. Bisa jadi. Tapi nggak selalu. Sekuat-kuatnya iman, tetep akan ambrol juga. Karena rasa cinta plus kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian akan selalu menghinggapi manusia selagi masih hidup. Seperti halnya hawa nafsu. Ketika berpacaran, batas antara cinta dan nafsu itu jadi bias, alias nggak jelas.</p>
<p>Nggak ada yang ngejamin kamu atau pacar kamu bisa jaga diri alias tahan godaan ketika lagi asyik berduaan. Apalagi di tengah maraknya kampanye gaul bebas (baca: seks bebas) melalui media massa dan tayangan televisi. Awalnya mungkin cuma nonton bareng, makan bareng, pegangan tangan, berpelukan kayak teletubies, sampe teler abis. Udah gitu, wallahuâ€™alam. En, kalo kamu udah lengket ama doi, kamu akan ngerasa berat banget untuk menolak â€?aksi gerilyaâ€™ tangan pacar kamu yang bisa berujung kamu nggak gadis lagi. Ih, syerem..! Jangan sampe deh.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œBarangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka?  adalah setanâ€? (H.R. Ahmad)</p>
<p><strong>Kalau cinta jangan maksiat</strong><br />
â€œCinta itu anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara, bila tak punya cintaâ€?. Kamu pasti inget ama penggalan lirik lagunya Kang Doel Soembang itu. Dan so pasti setuju juga kalo rasa cinta itu adalah anugerah terindah yang kita miliki. Nggak kebayang deh, kalo kita nggak punya rasa cinta. Mungkin nggak jauh bedanya ama patung pak polisi di perempatan jalan. Karena itulah, Mbak Melly Guslaw wanti-wanti agar kita jangan pernah menyanjung cinta bila tak mengerti maknanya cinta, yang dilantunkan lewat â€œHanyaâ€? dalam album OST A2DC. Tapi, tahukah kita maknanya cinta?</p>
<p>Tatkala Allah Swt. menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbaik. Allah pun mengkaruniakan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi agar manusia bisa hidup dan nggak punah sebelum hari kiamat. Ada kebutuhan jasmani (hajjatul â€?udawiyah) seperti rasa lapar, haus, tidur atau pengen buang air. Kebutuhan ini mutlak harus dipenuhi. Kalau nggak, badan kita bakal protes dan bisa sampai pada kondisi yang?  â€œmengundangâ€? malaikat Ijrail.</p>
<p>Ada juga yang disebut kebutuhan naluri (hajjatul gharaaâ€™iz). Terdiri dari naluri beragama (gharizatun tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizatu al-baqa) yang berbentuk rasa takut, atau pengen populer, terakhir naluri melestarikan keturunan (gharizatun nauâ€™) yang berwujud rasa cinta. Kalo kebutuhan ini nggak dipenuhi, perasaan kita jadi resah dan gelisah. Tapi badan kamu pun nggak akan protes. Persis perasaan kamu waktu lagi nunggu jawaban dari doi. Kalo ternyata cinta kamu sebatas mimpi, biasanya kamu cuma uring-uringan terus dengan â€?bijakâ€™ sana-sini kamu bilang â€œcinta kan tak harus memilikiâ€? dengan suara nge-bass kayak Butet Kertaradjasa. Padahal gondok. Hatinya serasa kompor meledug. Kasiaanâ€¦ deh!</p>
<p>Sobat muda muslim, Allah mengkaruniakan kebutuhan-kebutuhan itu satu paket ama aturan maennya. Nggak bisa cara pemenuhan kebutuhan itu semau gue. Karena manusia itu lemah, nggak tahu mana dan apa yang terbaik buat dirinya. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?ˆ???¹???³???‰ ?£???†?’ ?????ƒ?’?±???‡???ˆ?§ ?´?????’?¦?‹?§ ?ˆ???‡???ˆ?? ?®?????’?±?Œ ?„???ƒ???…?’ ?ˆ???¹???³???‰ ?£???†?’ ?????­???¨?‘???ˆ?§ ?´?????’?¦?‹?§ ?ˆ???‡???ˆ?? ?´???±?‘?Œ ?„???ƒ???…?’ ?ˆ???§?„?„?‘???‡ ?????¹???’?„???…?? ?ˆ???£???†?’?????…?’ ?„?§?‹ ?????¹?’?„???…???ˆ?†??<br />
â€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu,?  padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai?  sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu?  tidak mengetahui.â€? [TQS al-Baqarah [2]: 216]</p>
<p>Termasuk dalam masalah cinta kepada lawan jenis. Allah Swt. udah ngasih aturan pemenuhannya melalui pernikahan seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan begitu, manusia akan lebih mulia kedudukannya dan jelas asal-usulnya. Nggak kayak ayam yang maen sosor aja kalo lagi â€?pengenâ€™. Ditambah dengan janji Allah yang akan memberi pertolongan dan kemudahan buat para bujangan yang udah nggak kuku pengen nikah biar bisa jaga diri dari perbuatan maksiat. Apa nggak pengen?</p>
<p>Nah, sobat muda muslim, kalo rasa cinta itu diwujudkan dengan pacaran, berarti udah ngelanggar aturan Allah. Itu maksiat. Selain dosa, kesengsaraan akan menimpa. Alih-alih sayang sama pacar, malah kamu bikin celaka. Maka, kalau kamu jatuh cinta jangan terus maksiat, karena akan rugi dunia akhirat!</p>
<p>Sobat muda muslim, sekarang?  kita udah tahu kalo pacaran itu nggak boleh (baca: haram). Terus kamu pasti berpikir gimana caranya bisa mengendalikan virus cinta itu. Tapi tidak untuk dihilangkan. Biar virus ini nggak bikin hati kita tergoda untuk pacaran. Mau tahu?</p>
<p>Rasa cinta itu muncul tatkala ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu bisa berupa film yang berkisah tentang cinta, lagu-lagu melankolis, atawa majalah remaja yang nggak bosen-bosennya ngomongin cinta. Selain itu, pergaulan juga kudu diwaspadai. Seperti kata pepatah jawa, witing trisno jalaran soko kulino. Terjemah bebasnya, rasa cinta itu tumbuh karena keseringan meeting alias ketemu. Kebayang kan kalo kita bergaul bebas, persahabatan dengan lawan jenis akan menjadi lahan subur tumbuhnya benih-benih cinta. Persis dalam film â€œKuch Kuch Hota Haiâ€?.</p>
<p>Itu sebabnya, kita bisa mulai upaya mengendalikan virus cinta dengan membatasi pergaulan bebas. Dalam Islam, ada aturan mainnya lho. Ketemu atawa berinteraksi cuma seperlunya aja, jika memang diperlukan. Udah gitu, jika dikhawatirkan virus itu meradang lagi, tahan diri untuk nonton film romantis, atawa enjoy dengerin â€œSeberapa Pantasâ€?-nya So7.</p>
<p>Nggak cukup sampe situ, kita juga kudu bangun benteng pertahanan dengan ikut pengajian. Karena dengan ikut pengajian, kecintaan terhadap Allah, keyakinan terhadap janji Allah, dan kebenaran aturan Allah bisa terpupuk. Dengan begitu, kita bisa istiqomah meski banyak penghalang. Jika Allah sayang kepada kita karena kita ngikutin aturan-Nya, kelak jodoh yang baik alias sholeh or sholehah akan datang menghampiri. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?§?„?’?®???¨?????«???§???? ?„???„?’?®???¨?????«?????†?? ?ˆ???§?„?’?®???¨?????«???ˆ?†?? ?„???„?’?®???¨?????«???§???? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???§???? ?„???„?·?‘?????‘???¨?????†?? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???ˆ?†?? ?„???„?·?‘?????‘???¨???§????<br />
â€œWanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).â€? [TQS an-N?»r [24]: 26]</p>
<p>Sobat muda muslim, bisa jadi kamu ngerasa berat bin bete kalo harus berbuat kayak gitu. Tapi berat, bukan berarti nggak bisa. Pasti bisa. Masalahnya cuma waktu dan kemauan kamu untuk dapetin ridho Allah. Iya nggak?</p>
<p>Nah,?  Buat kamu atau temen kamu yang masih aktif pacaran, pintu taubat insya Allah masih terbuka. Jangan sampe kita habiskan masa muda kita dengan menabung dosa tiap harinya. Nggak ada yang tahu kapan Allah bakal â€?memecatâ€™ kita jadi manusia ketika ajal menjemput. Mari,?  kita kuatkan tekad untuk nggak pacaran. Jangan lupa, ikut pengajian!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 101/Tahun ke-3/10 Juni 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalau-cinta-jangan-maksiat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BOOM Bola-Mania!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/boom-bola-mania</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/boom-bola-mania#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:37:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/boom-bola-mania/</guid>
		<description><![CDATA[Heboh! Kesan pertama yang bisa kita lihat saat berlangsungnya pagelaran akbar sepakbola sejagat, yang bertitel World Cup 2002. Hajatan para penendang bola itu digelar di Korea Selatan dan Jepang.
Sobat muda muslim, demam piala dunia ini udah nyebar kemana-mana. Nggak di kampung, nggak di kota. Di warung kopi, di pangkalan ojek, di terminal, di kantor, malah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Heboh! Kesan pertama yang bisa kita lihat saat berlangsungnya pagelaran akbar sepakbola sejagat, yang bertitel World Cup 2002. Hajatan para penendang bola itu digelar di Korea Selatan dan Jepang.<span id="more-102"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, demam piala dunia ini udah nyebar kemana-mana. Nggak di kampung, nggak di kota. Di warung kopi, di pangkalan ojek, di terminal, di kantor, malah mungkin di masjid. Pokoknya, latah ikutan heboh. Lagu resmi World Cup, BOOM, yang dibawakan Anastacia pun kayaknya udah akrab di telinga kita. Pokoke, semua ngomongin sepakbola. Maklum, para penggila bola sejagat bakalan asyik masyuk mantengin televisi. Dan bagi yang maniak banget dan kebetulan berkantong tebel bisa langsung terbang ke Korea dan Jepang. Walah? Sebegitu serunya ajang ini.</p>
<p>Bagi teman-teman yang nggak puas hanya ngikutin perkembangan piala dunia via televisi,?  mereka juga ngelirik koran, tabloid, dan majalah yang mengupas abis serba-serbi piala dunia lengkap dengan poster-poster pemain pujaannya yang keren-keren itu.</p>
<p>Sobat muda muslim, seperti tahun-tahun sebelumnya, pesta sepakbola empat tahunan ini kerap membawa â€œberkahâ€? bagi penghuni dunia lainnya. Produsen makanan dan minuman, pakaian, telekomunikasi, sampe media massa menuai hasil maksimal. Sebut saja misalnya Extra Joss yang udah â€œngerayuâ€? Del Piero untuk jadi bintang iklannya. Harapannya, tentu supaya para penikmat bola juga ikutan mengkonsumsi energi drink tersebut. Siapa tahu penghasilannya melonjak tajam.</p>
<p>Nggak heran pula kalo pabrik-pabrik besar jadi sponsor utama di ajang piala dunia ini. Sebut saja Coca Cola, Nike, dan Gillette. Bahkan kabarnya Nike udah mengontrak 24 pemain top dunia untuk iklan sepatunya yang terbaru â€œScorpionâ€?. Menurut sejumlah sumber, Nike mengeluarkan duit 14,6 juta dollar AS untuk iklan televisi â€œScorpionâ€?. Dan tentunya pihak Nike berharap mengail pemasukan yang lebih gede dari itu.</p>
<p>Pengusaha dan pelaku sepakbola sama-sama diuntungkan memang. Pemain, pelatih, penyelenggara, dan juga para sponsor dalam ajang itu. Bagi para pemain yang bermain cemerlang di ajang itu, nggak mustahil kalo sampe diburu banyak klub kaya. Nggak heran kalo gaji pemain sepakbola dunia mampu mengalahkan gaji para insinyur atawa profesor yang ngajar di universitas sekalipun. Ada yang mau nyaingi Zinedine Zidane?</p>
<p>Teman pembaca, bagi kita, remaja muslim, kondisi ini amat mengkhawatirkan. Sangat boleh jadi, hajatan akbar sepakbola ini akan memalingkan kita dari persoalan-persoalan penting dalam kehidupan ini. Itu sebabnya, kita mencoba mengajak kamu untuk berpikir lebih bijak. Jangan sampe latah terbawa arus global. Sepakbola sekarang sedang jadi mainstream (arus utama) dalam obrolan penduduk dunia. Dan bukan tak mungkin akan memberikan dampak yang berbahaya bagi para penggilanya.</p>
<p><strong>Menyuburkan perjudian</strong><br />
Ternyata sepakbola bukan hanya urusan menggocek, ngejar, nendang, dan nangkep bola aja. Sekarang, atau mungkin sejak dulu, sepakbola juga bisa dipake sebagai ajang judi. Boleh diilang jadi?  trademark kali yeeeâ€¦. Soalnya, di ajang tarkam (antar kampung) aja, â€œtaruhanâ€? seperti udah jadi tradisi. Pun termasuk di ajang Ligina, atau kompetisi Eropa; Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Italia dan lainnya. Apalagi di ajang seheboh Piala Dunia, pastinya yang taruhan bisa jor-joran banget.</p>
<p>Untuk judi dalam bentuk â€œtaruhanâ€? ini, ada yang dikelola bandar, ada juga yang masing-masing antar kawan aja. Misalnya kamu jagoin Perancis pas ngelawan Denmark di Grup A. Kamu dan temanmu masang taruhan dengan uang lima rebu perak misalnya. Begitu Perancis menang, kamu yang ambil uangnya, dan teman kamu yang gigit jari. Nah, itu namanya judi. Bayangkan bila yang â€œtaruhanâ€? seperti itu minimal jumlahnya seratus juta orang di seluruh dunia. Anggap masangnya sama, Rp 5000. Udah berapa uang yang berputar di perjudian itu? Kalo boleh menghitung, jumlahnya adalah 500 miliar rupiah. Itu satu pertandingan lho. Belum model judi lainnya yang digelar televisi, radio, koran, majalah, dan tabloid. Apalagi dilakukan oleh lebih dari 100 juta orang dengan jumlah â€œtaruhanâ€? yang lebih gede dari itu. Wow, yang jelas, duitnya nggak bakalan bisa ditampung di celengan bagong kamu.</p>
<p>Sobat muda muslim, itu sebabnya, kita wanti-wanti banget, jangan sampe kamu pun ikutan nggak bener. Nonton ya nonton aja. Nggak usah pake â€œtaruhanâ€? duit atau barang lainnya segala. Selain bikin ludes harta benda, aktivitas judi jelas haram. Allah Swt, berfiman:</p>
<p>?¥???†?‘???…???§ ?§?„?’?®???…?’?±?? ?ˆ???§?„?’?…?????’?³???±?? ?ˆ???§?’?„?£???†?’?µ???§?¨?? ?ˆ???§?’?„?£???²?’?„?§???…?? ?±???¬?’?³?Œ ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?§?„?´?‘?????’?·???§?†?? ?????§?¬?’?????†???¨???ˆ?‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????’?„???­???ˆ?†??<br />
â€œ&#8230;sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.â€? [TQS al-M?¢idah [5]: 90]</p>
<p><strong>Memicu permusuhan</strong><br />
Gaswat memang. Sebab, nggak sedikit yang kejadian. Orang yang kalah judi dan nggak terima, bisa jadi dendam banget. Jangan heran kalo doi berani tarung lawan temannya sendiri. Awalnya sih duduk bareng sambil nonton televisi. Bercanda ketawa-ketiwi, begitu salah satu tim favoritnya kalah, mulai deh muncul benih-benih dendam. Apalagi kalo yang menang judinya heboh banget merayakannya. Bisa-bisa yang kalah taruhan langsung naik darah. Nggak heran kalo urusannya langsung â€œtahlilanâ€?.</p>
<p>Rasanya, kasus Andreas Escobar, yang melakukan gol bunuh diri di ajang Piala Dunia 1994 di AS kudu jadi pelajaran. Sangat boleh jadi, gembong mafia Kolombia udah bertaruh besar dan menjagokan Kolombia, eh, gara-gara gol bunuh diri Escobar, mereka rugi berat karena tim favoritnya tersingkir. Nggak menunggu lama, sehari setelah main, Escobar tewas ditembus timah panas â€œpenggemarnyaâ€? sendiri.</p>
<p>Itu kasus yang kalah judi bisa bermusuhan gara-gara sepakbola. Tapi urusan dukung-mendukung pun bisa jadi pertumpahan darah. Sebab, nonton sepakbola kan nggak kayak nonton permainan catur yang sepi teriakan suporternya. Di sepakbola, tifosi (pendukungnya) bisa berbuat sesukanya. Dari sekadar memakai kostum kebanggaan timnya, mengecat wajah dan rambut, tampil â€?anehâ€™, sampe jejingkrakan. Pokoknya siap â€œgagah-gagahanâ€?, bila perlu berjuang sampai titik darah yang penghabisan dalam 2 kali 15 menit perpanjangan baku hantam dengan kesebelasan dan pendukung lawan. Wah, wah, wah..</p>
<p>Sobat muda muslim, udah saatnya deh budaya jahiliyah tersebut kamu tinggalkan. Jangan sampe ngebelain yang nggak jelas juntrungannya. Sepakbola kan sekadar main-main. Ngapain capek-capek ngedukung tim favorit kamu sampe rela berdarah-darah. Percuma, nggak dapet pahala. Kalo kamu belain Islam sampe berdarah-darah dan bahkan rela melepas nyawa kamu, insya Allah akan dapat pahala.</p>
<p>Hmmâ€¦ kian jelas bahwa sepakbola juga bisa jadi pemicu permusuhan. Berarti bohong besar dong omongan Bill Clinton saat membuka Wolrd Cup 1994 USA, â€œSepakbola adalah bahasa universal untuk mempersatukan manusiaâ€?. Buktinya? Andreas Escobar koit di ajang bal-balan ASU, eh, USA 1994.</p>
<p><strong>Mengalahkan pesona ajaran agama</strong><br />
Yup, selain menyuburkan perjudian dan nggak jarang memicu permusuhan, sepakbola juga bisa melalaikan orang, baik pemain, pelatih, maupun penontonnya. Di Italia aja, kalo digelar Lega Calcio Serie A setiap pekannya banyak orang nongkrong di stadion dan di depan televisi ketimbang kebaktian di gereja.</p>
<p>Di negeri kita juga nggak kalah serem. Pertandingan di ajang Ligina (Liga Indonesia) aja, rasanya masih ragu ada pelatih, pemain, dan penonton muslim yang inget dan melakukan sholat. Padahal, rata-rata pertandingan itu digelar pas jam empat sore. Dan barangkali sebagian besar tentunya udah stand by sejak jam dua siang. Sholat Ashar sih kayaknya lewat deh. Maghrib, kemungkinan udah capek teriak-teriak, jadi lewat juga. Isya? Wah, udah kecapean di jalan, pas datang ke rumah langsung nyungsep. Shubuh? Walllahualam. Tapi yang pasti kita prihatin, ternyata sepakbola, bagi teman-teman yang nggak bisa ngendaliin diri, bisa mengalahkan kewajiban agamanya. Celaka!</p>
<p>Sobat muda muslim, di luar negeri, sepakbola malah udah jadi agama. Klub berjuluk â€œSetan Merahâ€?, Manchester United, oleh sebagian penggilanya dinobatkan sebagai â€œagamaâ€?. Itu sebabnya, mereka rela menjadi pembelanya di setiap pertandingan kandang maupun tandang klub terkaya di dunia itu. Waduh, Keterlaluan banget emang. Semoga saja di kita nggak ada yang sampe sejauh itu tersesatnya.</p>
<p>Sebab, kalo udah jadi â€œagamaâ€?, kita seperti kembali ke jaman nenek moyang manusia di dunia ini yang menyembah pohon, batu, kuburan dan sejenisnya. Itu memang jaman jahiliyah. Jaman kebodohan. Apa bagusnya sepakbola hingga rela â€œdisembahâ€?? Jangan-jangan kitanya yang udah nggak waras?</p>
<p>Lihat aja sekarang lagi musim World Cup, yang diobrolin nggak jauh dari sepakbola. Si mamang tukang sayur, si mas tukang Bakso, abang supir angkot, guru, pegawai kantoran, buruh pabrik, mungkin juga pemulung, mahasiswa, pelajar, sampe ibu-ibu rumah tangga jadi heboh ikutan ngomongin aksinya Alesandro Del Piero, David Trezeguet, David Beckham, Ronaldo, Zinedine Zidane, Michael Owen, Michael Ballack, dan seabrek pemain bintang lainnya. Dari sekadar ngikutin perkembangan tim favoritnya, sampe nyari info seputar kehidupan pribadi para pemainnya. Hmmâ€¦ kita khawatir banget, kalo bulan Juni ini bakalan jadi bulan bola. Jangan-jangan, bulan ini pada lupa ngaji, sholat, baca al-Quran, dan dakwah. Aduh, jangan sampe deh ikutan gokil.</p>
<p><strong>Nonton boleh, asalâ€¦<br />
</strong>Teman pembaca, emang nggak dilarang nonton bola via televisi atau main bola itu sendiri. Asal jangan kemudian melalaikan kewajiban yang telah dibebankan oleh agama kita.</p>
<p>Imam Asy Syathibi menyatakan: &#8220;Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang.&#8221; Selanjutnya beliau menambahkan, &#8220;Namun demikian hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi&#8221;. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad shahih: Setiap permainan di dunia ini adalah bathil, kecuali tiga hal; memanah, menjinakan kuda, dan bermain dengan istri&#8230; Yang dimaksud bathil di sini, adalah sia-sia atau yang semisalnya, yang tidak berguna dan tidak menghasilkan buah yang dapat dipetik (Al Muwaafaqaat, Jilid I, hlm 84).</p>
<p>Nah, apalagi kayak ajang World Cup, jelas ini permainan yang terorganisir. Ini udah dirancang oleh orang-orang kafir (Zionis) untuk melenakan kaum muslimin. Ini bisa disimak Protocol of Zion poin ke-13 yang diterbitkan Prof. Sergyei Nilus di Rusia pada 1902. Intinya, â€œZionisme merencanakan hendak mengundang masyarakat melalui surat-surat kabar waktu itu, untuk mengikuti berbagai lomba yang sudah diprogram. Diharapkan kesenangan baru yang diciptakan itu secara perlahan akan melenakan kaum muslimin dari konflik-konflik kaum muslimin dengan bangsa Yahudi.â€? Nah lho, apa kita rela ditipu oleh mereka? Jangan mau!</p>
<p>Makanya kita khawatir banget, kalo kemudian kita, remaja muslim, malah dibuat sibuk dengan urusan sepakbola, ketimbang ngurusin umat. Tragisnya lagi kalo sampe kaum muslimin di Palestina juga ikutan heboh dengan World Cup 2002, dan bahkan melupakan perjuangannya untuk melawan Israel. Celaka!</p>
<p>Sobat muda muslim, bentengi diri kamu dengan akidah Islam yang kuat. Jangan lupa tetap aktif ngaji dan dakwah. Jangan sampe pesona World Cup ini mengalahkan ajaran agama kita. Hati-hati yaâ€¦</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 100/Tahun ke-3</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/boom-bola-mania/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cekal Prom Night Party!!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cekal-prom-night-party</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cekal-prom-night-party#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cekal-prom-night-party/</guid>
		<description><![CDATA[Kayaknya nggak ada abisnya teman remaja bikin heboh. Sekarang ini, selain teman remaja lagi pada sibuk nyiapin untuk ujian, ternyata nggak sedikit juga yang justru nyiapin pesta perpisahan. Istilah kerennya, Prom Night Party. Istilah prom, diambil dari kata promena?¬de yang artinya pergi jalan-jalan dengan orang lain. Kalo prom night, jalan-jalannya berarti ber?¬dansa dengan orang lain.Walah?
Prom [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kayaknya nggak ada abisnya teman remaja bikin heboh. Sekarang ini, selain teman remaja lagi pada sibuk nyiapin untuk ujian, ternyata nggak sedikit juga yang justru nyiapin pesta perpisahan. Istilah kerennya, Prom Night Party. Istilah prom, diambil dari kata promena?¬de yang artinya pergi jalan-jalan dengan orang lain. Kalo prom night, jalan-jalannya berarti ber?¬dansa dengan orang lain.Walah?<span id="more-101"></span></p>
<p>Prom night ini lagi heboh-hebohnya diob?¬rolin. Nggak di kantin, nggak di kelas, malah sampe di WC sekalipun yang jadi bahan obrolan adalah seputar prom night (idih, sempet-sem?¬petnya?). Duh, apa nggak ada bahan obrolan lain? Misalnya, tentang bahan ujian yang kudu dipelajari, atau kalo udah lulus mau ngapain. Tapi ya, inilah fakta sebagian besar teman re?¬maja kita. Gaulnya yang nggak-nggak aja.</p>
<p>Sobat muda muslim, namanya juga pes?¬ta, apalagi pesta yang katanya cuma sekali seumur hidup, pastinya kudu tampil all out tuh. Dari mulai dandanan, make up, tunggangan, tongkrongan, sampe gacoan. Pokoke kudu berani tampil beda dan sedep dipandang mata. Itu sebabnya sebagian besar teman kamu ada yang udah siap-siap dari sekarang untuk ngada?¬in pesta perpisahan sekolah itu, yang tentunya bakalan heboh banget deh.</p>
<p>Nah, karena merasa kudu tampil all out, maka soal dandanan pun kudu yang ciamik en menarik. Baju model hippie dan gypsi yang seka?¬rang lagi ngetren, dijamin nggak bakalan luput dari daftar belanjaannya anak cewek. Belum lagi kudu nyiapin aksesoris yang meriah tapi romantis. Sampe soal makanan, minuman, mo?¬del acara, dan tentunya soal jenis musik udah disiapin dan disusun anggarannya.</p>
<p>Urusan jenis musik juga katanya kudu heboh dong. Masak prom night party musiknya dang?¬dut, apalagi campursari? Kata teman kita, yang heboh sekalian, bila perlu ngedatangin artis beken. Muter lagu-lagu yang asyik punya, tipe â€œworld musicâ€?. Atau lagu-lagu slow latin yang ngetop kayak No Me Ames-nya J. Lo dan Marc Anthony atau Spanish Eye-nya Madonna. Untuk semua itu, tentu kamu kudu bikin proyeksi. Kira-kira, berapa sih uang yang kudu dirogoh dari kocek ortu kamu? Nah, lho.</p>
<p>Well, inilah pesta anak muda yang kata?¬nya sekalian â€œsyukuranâ€? kelulusan. Mereka me?¬rasa bahwa inilah saat yang tepat untuk mem?¬buat kenang-kenangan, dan bersenang-senang tentunya. Oya, karena Prom Night adalah acara spesial, maka kudu memakai dandanan yang spesial, tunggangan spesial, makanan dan mi?¬numan yang spesial juga, termasuk gebetan yang tentunya istimewa. Biar bisa dipamerin ke teman-teman yang datang di acara glamour itu.</p>
<p>Sobat muda muslim, teman remaja yang punya rencana ngegelar hajatan itu, makin panas aja karena dikomporin dengan maraknya media massa yang mendukung niat dan tekad mereka. Film misalnya, jauh-jauh hari udah siap dengan tayangan yang ada hubungannya dengan acara tersebut. Majalah, tabloid, en koran rame-rame ngangkat berita seputar prom night. Celakanya, banyak majalah remaja yang getol banget narik-narik remaja supaya ikutan atau ngadain pesta prom night. Ya, jadi makin bikin remaja geregetan aja pengen cepet-cepet hadir di acara spesial itu.</p>
<p>Film Dawsonâ€™s Creek, misalnya, dalam episode â€œmenyambut prom nightâ€? ini, meng?¬angkat tema acara prom, meski pemirsa remaja kudu merasa unhappy. Kenapa? Acara prom yang katanya kudu meriah, saat yang spesial banget bagi mereka yang udah punya gandeng?¬an. Hingga harus maksain tampil cantik dan me?¬narik, eh, di episode itu, Dawsonâ€™s Creek beda banget dengan harapan sebagian besar pemir?¬sanya. Kok bisa?</p>
<p>Sebab, di episode itu, mengutip tulisan di majalah GADIS, pasangan Dawson-Gretchen, Pacey-Joey, Jen-Mark, serta Jack dan Toby yang awalnya berjalan lancar dan bakalan menyenangkan, eh, begitu mereka tiba di kapal pesiar (bayangin, kapal pesiar!) tempat pesta berlangsung, Pacey yang terancam nggak lulus SMU mulai rewel hingga Joey berpaling ke Dawson (hmm, betapa mudahnya hati berpaling, kayak di iklan Antis itu lho&#8230;.). Joey ama Dawson pun berdansa mesra, sampai Pacey dan Gretchen memergoki mereka berdua. Karuan aja, Pacey yang cemburu berat marah-marah dan langsung mutusin hubungannya dengan Joey saat itu juga di depan semua orang. Hmm.. teman remaja yang nonton episode ini, yang merasa senasib dengan Joey, pasti deh bakal luka hatinya. Meski itu di acara semeriah prom night party. Walah?</p>
<p><strong>Ajang gaul bebas</strong><br />
Bener. Nggak boong. Selain bikin nguap duit jutaan rupiah, prom night ini juga memberi peluang bagi pesertanya untuk bebas bergaul dengan lawan jenis. Apalagi memang acara ini udah punya tujuan khusus, yakni tampil menarik bareng gandengan. Rasanya nggak seru kalo kebetulan nggak bawa kecengan datang ke prom night party. Tanpa gebetan nekad datang ke pesta seheboh itu? Wah, tentu bikin sebel dong. James Van Der Beek aja pernah bete bin gondok. â€œPesta prom saya nyebelin banget. Soalnya, waktu itu saya datang sendirian. Be?¬lum punya cewek, sih.â€? sesalnya. (GADIS, 14/XXX/24 Mei-3 Juni 2002)</p>
<p>Sobat muda muslim, teman-teman kita di sini pun nggak jauh beda. Bukan beda sih, tapi udah seperasaan dan satu pikiran dengan remaja Amrik. Mereka yang bakal datang ke pesta prom night tentunya udah nge-date duluan sama pasangannya. Kalo udah sampe di sana, rasanya nggak ada yang berani ngasih jaminan kalo acaranya bakalan tertib. Maksud?¬nya, sepi dari persoalan esek-esek dengan pa?¬sangannya. Wong yang demonstrasi maha?¬siswa tahun 1998 aja, banyak ditemukan kon?¬dom (he..he..he.. tahu kan yang kita maksud?) di gedung DPR tempat mereka nginep bela-belain ngegolin reformasi itu, apalagi yang sudah jelas-jelas pesta? Plus acaranya di-setting menuju ke â€œsonoâ€? lagi. Nggak ada jami?¬nan bersih kan?</p>
<p>Prom Night Party, emang salah satu tradisi yang nggak bener dari masyarakat Amrik. Kita tahu, kebanyakan dari mereka, baik remaja maupun orang dewasanya udah terbiasa hidup ngedugem, seks bebas, narkoba, hedonis en permisif banget. Mereka bebas nilai. Dengan begitu, boleh dibilang budaya ini emang sampah!</p>
<p>Emang sih, kalo menuruti hawa nafsu, kayaknya asyik banget tuh pergi ke pesta perpi?¬sahan bareng gandengan. Sekalian bisa nunjuk?¬kin ke teman-teman kalo dirinya cukup pantas untuk mendapatkan gebetan. Syukur-syukur yang jadi gacoan kamu itu orangnya cool en cute banget kayak gerombolan F4. Wuih, betapa bahagianya hati ini. Rasanya kaki kamu udah nggak nginjek tanah lagi. Terbang! Zwiiiing&#8230;! Saking senengnya tentu. Begitupun kalo yang cowok berhasil diminati gadis-gadis secantik Katie Holmes, Sarah Michelle Gellar, Leslie Bibb, dan yang lainya. Dunia begitu terang benderang, alias ngagebray!</p>
<p><strong>Ngedugem banget<br />
</strong>Ugh, kalo liat mereka yang udah pasang kuda-kuda untuk menggelar pesta prom night itu, rasanya kita sedang berada di tengah-tengah kalangan berkantong tebel. Gimana nggak, dandanan, makanan, minuman, model acara, tunggangan, dan juga pagelaran musik dibikin super heboh. Dan untuk semua keperluan itu, nggak mungkin cukup ngeluarin duit sedikit.</p>
<p>Di Amrik sono, asal budaya prom night ini, yang biasa ngadain adalah anak-anak grade 12 (setara dengan kelas 3 SMU). Maklum, mereka udah siap-siap cabut dari sekolahnya. Sebelum cabut, lebih seru dong kalo ngadain acara prom night itu. Mengutip laporan majalah GADIS, buat anak cewek Amrik, prom night party adalah a big deal. Saking big deal-nya, mereka nekat membeli gaun yang harganya 500 dollar! (sekitar 5 jt perak bila 1 dollar setara dengan Rp 10.000) Hih, gila-gilaan deh!</p>
<p>Nggak cukup dengan dandanan aja, anak cewek di negeri Paman Sam juga bela-belain nyari pasangan prom (date), yang bakal ngasih corsage (bunga plastik untuk dipakai di perge?¬langan tangan). Dan biasanya anak cowok rela nyewa tunggangan sekelas limousine untuk menjemput pasangannya. Wacksss&#8230;.itu kan mobil kelas jetset? Justru karena mereka pengen tampil dugem (dunia gemerlap), sobat!</p>
<p>Itulah acara prom night yang ditunggu-tunggu sebagian besar remaja, termasuk rema?¬ja di negeri yang kaya dengan utang luar negeri ini. Meski tentunya nggak seheboh bila diban?¬dingkan dengan acara prom night yang digelar oleh remaja Amrik. Tapi tetap, untuk ukuran kehidupan di musim paceklik ekonomi kayak sekarang, ngadain pesta begitu udah luar biasa (baca: kebangetan!).</p>
<p>Sobat muda muslim, terus terang kita prihatin sekaligus khawatir sama teman-teman kita yang begitu. Prihatin, karena ternyata mereka masih bisa tertawa dan menari di atas penderitaan sebagian besar rakyat negeri ini yang memang lagi nelangsa. Jadi menumbuhkan sikap cuek, alias nggak peduli sama orang lain. Dan jelas hal itu juga bikin kita-kita khawatir, sebab kondisi tersebut akan menciptakan gene?¬rasi aktivis dugem. Kalo udah maniak nge?¬dugem, rasanya harga diri juga bisa dijual, yang penting tampil keren. Wah, celaka dua belas!</p>
<p>Masih mending yang emang ortunya tajir, bagaimana dengan yang kismin tapi gengsinya gede? Bisa-bisa jemuran orang juga diembat buat beli aksesoris pesta prom night. Ih, jangan sampe deh.</p>
<p>Sobat muda muslim, jangan lagi berpikir soal gengsi di depan teman-teman. Mahluk yang bernama gengsi itu bila dituruti maunya, ibarat kanker ganas yang bercokol dalam tubuh yang terus menerus menggerogoti hidup kita. Nggak ada matinya! Begitulah gengsi, tidak pernah ada kata berhenti, kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.</p>
<p>Lagi pula, sebenarnya orang lain akan menghargai kepribadian kita pada tingkah laku dan cara berpikir, bukan pada penampilan. Memang sih lazimnya manusia, akan mengukur pribadi orang dari penampilan. But, percaya saja kalau kemudian orang akan terpesona pada cara bersikap dan cara berpikir kamu.</p>
<p>Lagipula apa pantas kita bermewah-mewah, sementara di kanan-kiri, bahkan mung?¬kin depan-belakang kita menjerit-jerit kelaparan. Apa iya kamu tega?</p>
<p><strong>Setelah pesta berakhir&#8230;<br />
</strong>Sobat muda muslim, lulus bukan berarti bebas merdeka dan nggak ada halangan lain. Apalagi bagi kamu yang masih duduk di bangku SMP, tentunya kudu mikirin di SMU mana kamu nerusin belajar. Bagi yang sudah lulus SMU, masih harus dipertegas, mau kuli (he..he..he.. sori, rada bikin merah kuping) atau mau kuliah? Jangan cuma heboh wara-wiri ikutan or ngadain prom night party, sementara masa depan kamu masih burem.</p>
<p>Lulus bukan berarti selesai pekerjaan kita. Nggak sayang. Masih banyak tugas yang kudu kita kerjakan. Kamu yang lulus SMU, tentunya kudu mikirin jauh-jauh hari untuk masa depan kehidupan kamu. Kalo mau kerja, berarti dari sekarang udah nyiapin segala kebutuhan?¬nya. Daripada uang itu dibuang-buang di acara prom night, mendingan ditabung. Iya nggak? Bagi kamu yang mau nerusin studi, maka udah dari sekarang ancang-ancang. Mau di swasta atau ikut UMPTN? Itu harus sudah dirancang dari sekarang. Tul nggak?</p>
<p>Sobat muda muslim, hidup ini bukan sekadar untuk main-main. Hidup adalah perju?¬angan, dan itu butuh pengorbanan dari kita. Apalagi untuk urusan masa depan kita. Jangan sampe berani mengorbankan masa depan, ha?¬nya untuk setitik kenikmatan semu saat ini.</p>
<p>Hmm&#8230; setelah pesta berakhir, kita mau apa? Sayang banget kalo cuma jadi pelengkap penderitaan bagi negeri yang udah carut-marut ini. Mulai sekarang, berpikir jernih deh. Kita kan seorang muslim. Bisa kan? Yes!<br />
? <br />
(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 099/Tahun ke-3/27 Mei 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cekal-prom-night-party/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangkit dong Sobat!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bangkit-dong-sobat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bangkit-dong-sobat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bangkit-dong-sobat/</guid>
		<description><![CDATA[Kayaknya sering banget kita denger istilah ini. Utamanya kalo kita selalu berhubungan dengan urusan kemajuan. Misalnya, kamu down pas nilai ujian dapet angka dela?¬pan ngakak, alias angka tiga. Pada saat seperti itu, kayaknya kamu butuh dukungan orang lain. Bisa teman, bisa juga ortu kamu, untuk bisa mem?¬bangkitkan mental kamu yang lagi memble itu. Maklum, rasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kayaknya sering banget kita denger istilah ini. Utamanya kalo kita selalu berhubungan dengan urusan kemajuan. Misalnya, kamu down pas nilai ujian dapet angka dela?¬pan ngakak, alias angka tiga. Pada saat seperti itu, kayaknya kamu butuh dukungan orang lain. Bisa teman, bisa juga ortu kamu, untuk bisa mem?¬bangkitkan mental kamu yang lagi memble itu. Maklum, rasanya dunia begitu gelap, sem?¬pit, dan pengap saat kita mendapati diri kita dalam posisi yang sulit dan memalukan.<span id="more-100"></span></p>
<p>Tapi yang pasti, jangan sampe kegagalan itu membuat kamu patah semangat, apalagi patah arang. Kalo kamu terus-terusan down, hih, itu sih bukan ciri orang yang punya mental juara. Yup, pastikan kamu kudu nyari solusi supaya bisa bangkit kembali untuk menjadi yang terbaik. Iya nggak?</p>
<p>Nah, supaya kamu bisa mencapai keber?¬hasilan itu, kamu kudu mengevaluasi diri. Kira-kira kegagalan kemarin itu karena apa ya? Kalo ternyata kegagalan itu disebabkan karena kamu malas belajar, maka tentunya kudu menggeber lagi dong semangat untuk melahap berbagai pelajaran supaya kamu bisa menjadi yang terbaik di lain waktu. Gagal itu biasa, tapi berusaha terus, itu yang luar biasa. Jadi, jangan pesimis!</p>
<p>Sobat muda muslim, kebangkitan itu bukan hanya perlu tapi juga wajib. Sangat besar makna kebangkitan ini. Sebab, dari sanalah akan lahir sesuatu yang baru. Kamu pastinya inget dan apal banget kan dengan sejarah negeri â€œMatahari Terbitâ€?, Jepang. Nah, negerinya Dora?¬emon ini pernah luluh-lantak dihujani bom atom oleh pasukan AS saat Perang Dunia II tahun 1945 lalu. Nyaris kehidupan itu mati. Daerah-daerah yang berdekatan dengan dija?¬tuhkannya bom atom tersebut, terutama dekat kota Hirosima dan Nagasaki, hancur luluh tak berbentuk. Maklum bom atom, energi yang dike?¬luarkannya juga berkekuatan dahsyat. Bukan tak mungkin bakalan terjadi mutasi gen besar-besaran dalam tubuh orang yang ada pada saat kejadian. Hih ngeri deh.</p>
<p>Tapi apa yang terjadi sekarang? Di rumah kamu aja nyaris semua barang elektronik buatan mereka. Dari mulai televisi, radio, tape, mainan kamu, sampe mobil ortu kamu, semua buatan negeri Sakura. Wah, hebat bukan?</p>
<p>Apa yang bisa diambil dari kenyataan itu? Ini menunjukkan bahwa rata-rata orang Jepang punya semangat yang pantang menyerah. Negara boleh hancur lebur, tapi semangat tak boleh kendur. Terpuruk memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi kalo kita hanya diam dan menangis?  meratapi keterpurukan kita. Harusnya, bangkit dan berjuang kembali dong. Hapus semua ketakutan dalam diri kita. Sebab, nantinya bisa menjadi â€œhantuâ€? bagi diri kita dan bukan tak mungkin bakal mengancam dan menghambat kebangkitan kita. Bener itu. Jadi, jangan merasa putus asa.</p>
<p>Nah, ngomong-ngomong soal kebang?¬kitan, dua kasus di atas rasanya bisa kita jadikan sebagai contoh, betapa kebangkitan itu bukan persoalan sulit, tetapi yang sering mengganjal kebangkitan adalah mental kita sendiri. Tul nggak? Sebab, kalo kitanya nyantai banget, atau malah nggak peduli dengan kondisi kita sendiri, mana mungkin bakalan terjadi kebangkitan besar dalam diri kita. Lha iya, apa orang yang nggak nyadar dengan kondisi dirinya akan memperbaiki diri? Rasanya, nggak mungkin deh. Harus sadar diri dulu dong. Siapa kita? Ada di mana? Mau ngapain? Dan akan ke mana melangkah nantinya??  Jangan cuek bebek aja dengan kehidupan ini, apalagi kehidupan dirimu. Sebab, nggak selamanya kan kamu jadi anak-anak, suatu saat nanti bisa jadi punya anak, terus punya menantu, cucu, dsb. Iya nggak?</p>
<p><strong>Mengapa harus bangkit?<br />
</strong>Pastinya kita nggak mau dong jadi orang yang punya semangat minimalis. Qonaah boleh saja, tapi jangan sampe merasa puas dengan kondisi kita saat ini. Celakanya justru kondisi kita sekarang ini lagi ada di bawah. Kan aneh dong kalo nggak mau bangkit. Kamu yang gagal lulus ujian, kamu yang gagal ngelamar kerjaan, termasuk kamu yang gagal menjadi menantu, jangan putus asa. Masih ada hari esok untuk kita. Tapi tentunya, hari esok yang lebih baik tak akan pernah ada bagi mereka yang malas untuk bangkit. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>ï???¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?„?§?? ???????????‘???±?? ?…???§ ?¨???‚???ˆ?’?…?? ?­?????‘???‰ ???????????‘???±???ˆ?§ ?…???§ ?¨???£???†?’?????³???‡???…?’ï?›<br />
â€œSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.â€? [TQS ar-Raâ€™d [13]: 11]</p>
<p>Bangkit itu perlu, bahkan wajib sobat. Apalagi bila kita bicara tentang masa depan Islam. Ya, Islam. Agama yang selama ini kita anut, belum kembali ke puncak kejayaan setelah mengalami kemunduran. Dan yang berperan selama iniâ€”disaat maju dan mundurâ€”adalah kita, kaum muslimin.</p>
<p>Ketika Islam mencapai kegemilangan di masa Rasulullah dan Khulafa ar-Rasyiddin serta pemimpin-pemimpin setelahnya, umat Islam sedang getol-getolnya menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya. Islam udah menyatu dalam pemahaman dan tingkah laku kaum muslimin di masa lalu. Mereka sama sekali tak mau mele?¬paskan diri dari Islam. Islam maju, ketika umat?¬nya juga lengket dengan ajaran Islam. Daripada melepaskan akidah Islam, lebih baik nyawa mela?¬yang. Lebih mulia kok di hadapan Allah.</p>
<p>Eh, begitu umat Islam menjauhi agama?¬nya, saat itulah Islam perannya mulai pudar. Semakin hari semakin hilang wibawanya. Umat Islam berlomba-lomba meninggalkan Islam. Maklum, pada saat yang bersamaan serangan terhadap Islam semakin gencar. Sebagai contoh, umat Islam dicekoki dengan pema?¬haman bahwa jihad tidak wajib lagi. Jihad itu defensif, alias bertahan. Padahal, jihad bisa opensif, alias melakukan berbagai penaklukan seperti di masa Rasulullah, para khulafa ar-Rasyidin, dan pemimpin setelahnya. Jihad juga bisa berarti defensif, alias bertahan.</p>
<p>Singkatnya, begitu kaum muslimin terbuai dengan pemahaman itu, Palestina diserbu dan direbut Pasukan Salib Eropa. Saat itu, kaum muslimin lengah. Memang, meski akhirnya Palestina kembali bisa menjadi milik kaum muslimin pada perang berikutnya, tetapi ide sesat kadung udah menyebar di kalangan kaum muslimin. Akhirnya apa yang terjadi? Kita lihat sekarang, giliran Isreal yang mengacak-ngacak tanah Palestina. Dan kita semua hanya mampu diam. Ini salah satu contoh, lho. Masih banyak kasus lain yang menunjukkan keter?¬purukan kita saat ini.</p>
<p>Jadi, upaya membangkitkan Islam dan kaum muslimin, adalah syarat mutlak untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan handal di dunia ini. Dan ini tanggung jawab kita sobat.</p>
<p><strong>Mulai dari mana?<br />
</strong>Jepang, Amerika, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, dan negara-negara maju lainnya, telah membuktikan betapa rasa â€œsupe?¬riotasâ€? itu perlu dimiliki. Mereka bisa begitu, tentunya dengan pengorbanan yang nggak sedikit. Dan yang lebih penting dari itu semua, mereka punya semangat untuk bangkit.</p>
<p>Kalo kamu baca buku sejarah dunia, pas pada pembahasan Revolusi Industri pada tahun 1776, pastinya dijelaskan sama gurumu di sekolah, bahwa masa inilah masa kebangkitan Eropa. Mereka suka bilang, masa Renaissance, alias pencerahan. Ditemukannya mesin uap oleh ilmuwan bernama James Watt telah membuka mata bangsa Eropa lebar-lebar, bahwa dunia itu luas, dan bahwa mereka bisa menjadi maju. Maka, dampaknya, dimulailah berbagai ekspedisi mengelilingi dunia. Pada saat yang sama, mereka membangun beragam industri untuk mewujudkan impiannya menjadi yang terbaik di dunia.</p>
<p>Sobat muda muslim, mereka bisa bangkit adalah dengan mengasah pikiran mereka bagaimana supaya bisa bangkit dari kegela?¬pannya selama ini. Seluruh ketakutan dan ke?¬khawatiran yang ada dalam dirinya disingkirkan jauh-jauh. Mereka punya ambisi untuk maju. Tentunya semua itu didukung dengan visi, misi dan program yang jelas menurut cita-cita mereka. Hasilnya, mereka menjadi yang terbaik. Tapi dengan catatan, baiknya hanya dalam soal iptek. Soal moral? Wuih, amburadul!</p>
<p>Lihat saja, Perancis adalah negara maju, tapi moral warga negaranya rata-rata bejat. Prostitusi ada di mana-mana, judi nggak dila?¬rang, pun pergaulan bebas di kalangan remaja bangsa Perancis sudah amat parah. Seperti mengikuti jejak Perancis, Amerika juga didera dengan ber?¬bagai kasus; kriminalitas yang ang?¬kanya terus meroket, seks bebas yang makin meng?¬gila, pelacuran, judi, dan peredaran minu?¬man keras dan narkoba menjadi bagian dari kehi?¬dupan negara adidaya ini. Ironi bukan? Di satu sisi, mereka digdaya dalam iptek, tapi di sisi lain, mereka terpuruk dalam moral.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Karena kebangkitan mereka tidak benar. Kebangkitan yang masih rentan dengan kegagalan di masa depan. Sebab, kebangkitan mereka dibangun di atas pondasi akidah yang rapuh, bahkan rusak. Terus gimana yang bener?</p>
<p><strong>Kebangkitan yang hakiki<br />
</strong>Sobat muda muslim, untuk mewujudkan kebangkitan yang kita cita-citakan memang butuh keseriusan dari kita semua, kaum mus?¬limin. Meski kita masih remaja, bukan berarti nggak boleh serius. Justru seharusnya, masa remaja kita gunakan untuk mengasah supaya bisa mempertajam kemampuan berpikir kita. Lebih khusus lagi kemampuan untuk berpikir islami. Ada beberapa tahap yang bisa kita jadi?¬kan sebagai jalan untuk meniti kebangkitan yang hakiki. Dalam kitab an-Nahdhah (hlm. 132-155), karya Ustadz Hafidz Shalih, dijelaskan sbb.:</p>
<p>Pertama, setiap muslim kudu menyadari tugasnya sebagai pengemban dakwah. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>ï???§?¯?’?¹?? ?¥???„???‰ ?³???¨?????„?? ?±???¨?‘???ƒ?? ?¨???§?„?’?­???ƒ?’?…???©?? ?ˆ???§?„?’?…???ˆ?’?¹???¸???©?? ?§?„?’?­???³???†???©?? ?ˆ???¬???§?¯???„?’?‡???…?’ ?¨???§?„?‘???????? ?‡?????? ?£???­?’?³???†??ï?›<br />
â€œSerulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.â€œ [TQS an-Nahl [16]: 125]</p>
<p>Kedua, setiap muslim harus memahami Islam sebagai sebuah mabda, alias ideologi. Dengan begitu, kita bisa menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita. Islam bukan hanya mengatur urusan sholat, zakat, puasa aja, tapi sekaligus mengurusi masalah ekonomi, politik, pendidikan, hukum, peradilan, pemerin?¬tahan, dsb. Ketiga, kita kudu berjuang mene?¬gakkan Islam. Keempat, melakukan kontak pemikiran dengan masyarakat, nggak cuma diem doang. Sebarkan ide-ide Islam kepada mereka. Kalo ternyata timbul pro dan kontra, itu wajar. Rasulullah saw. saja pernah merasakannya. Tenang. Kita di jalur yang benar. Kelima, harus jelas dalam berjuang. Artinya, kita kudu fokus dan membatasi mana yang pokok, dan mana yang cabang. Allah swt berfirman:</p>
<p>ï???‚???„?’ ?‡???°???‡?? ?³???¨?????„???? ?£???¯?’?¹???ˆ ?¥???„???‰ ?§?„?„?‘???‡?? ?¹???„???‰ ?¨???µ?????±???©?? ?£???†???§ ?ˆ???…???†?? ?§???‘???¨???¹???†???? ?ˆ???³???¨?’?­???§?†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???…???§ ?£???†???§ ?…???†?? ?§?„?’?…???´?’?±???ƒ?????†??ï?›<br />
â€œKatakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik&#8221;. [TQS Yusuf [12]: 108]</p>
<p>Keenam, harus berani melakukan shiraul fikriy (pertarungan pemikiran) dengan berbagai ide sesat yang ada di masyarakat. Misalnya, sampaikan bahwa demo?¬krasi sesat, nasiona?¬lisme itu tercela, seku?¬larisme adalah bagian dari kekufuran dan sebagainya. Itu sebabnya, perjuangan Boedi Oetomo yang katanya sebagai tonggak kebangkitan, ternyata malah menuju kemunduran. Kenapa? Karena menyerukan nasi?¬onalisme. Nah, pemuda Islam, harus berani melawan itu semua!</p>
<p>Ketujuh, selalu meng-update perkem?¬bangan yang terjadi di masyarakat. Dan berikan solusinya dengan ajaran Islam. Kedelapan, kita harus bisa menunjukkan kelemahan dan kepal?¬suan sistem kufur yang tengah meng?¬atur kehidupan masyarakat kita saat ini. Su?¬paya mereka juga ngeh, bahwa selama ini ternyata hidup dalam lingkungan yang tidak islami. Itu sebabnya kita juga mengajak kaum muslimin untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam.</p>
<p>Oya, semua itu nggak mungkin dong, kalo dilakukan seorang diri, tapi mutlak berjamaah. Lha wong main bola aja nggak bisa sendirian kan, tapi perlu kesebelasan. Inilah yang disebut kekompakan dan kebersamaan.</p>
<p>Sobat muda muslim, mau bangkit dan berjuang kan? Apalagi untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Pahalanya besar, lho. Jadi, buruan sadar, pelajari Islam, dan ayo bangkit!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 098/Tahun ke-3/20 Mei 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bangkit-dong-sobat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Heboh &#8216;Meteor Garden&#8217;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/heboh-%e2%80%9cmeteor-garden%e2%80%9d</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/heboh-%e2%80%9cmeteor-garden%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/heboh-%e2%80%9cmeteor-garden%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Remaja mana sih yang nggak kenal en suka dengan film remaja baru berjudul Meteor Garden (Liu Xing Hua Yuan), yang ditayangkan Indosiar setiap Senin malam? Hmm.. kayaknya kalo kamu diminta untuk nyebutin tokoh-tokoh?¬nya, nyaris semuanya pada apal. Film adaptasi dari komik laris Jepang berjudul Hana Yori Dango (Flower Boys) ini diubah jadi serial drama remaja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Remaja mana sih yang nggak kenal en suka dengan film remaja baru berjudul Meteor Garden (Liu Xing Hua Yuan), yang ditayangkan Indosiar setiap Senin malam? Hmm.. kayaknya kalo kamu diminta untuk nyebutin tokoh-tokoh?¬nya, nyaris semuanya pada apal. Film adaptasi dari komik laris Jepang berjudul Hana Yori Dango (Flower Boys) ini diubah jadi serial drama remaja. Hasilnya, ternyata jadi feno?¬mena baru untuk tayangan drama remaja di Taiwan, Cina dan Hong Kong. Uniknya lagi, berkat serial 19 episode (awal) ini, muncul boys band bentukan baru, F4 (Flower Four) dengan popu?¬laritas di awang-awang.<span id="more-99"></span></p>
<p>Pastinya kamu udah pada akrab juga dong dengan nama-nama beken seperti Vic Chou, Jerry Yan, Vaness Wu dan Ken Zhu. Yup, mereka adalah empat pemuda yang merasakan nikmatnya disanjung, dipuji dan diidolakan remaja se-Asia. Mereka telah menyi?¬sihkan sedi?¬kitnya 1.000 pesaing dalam audisi mencari bintang Meteor Garden.</p>
<p>Meteor Garden bertutur tentang Shan Cai atau Sao Cai (Xu En Ai) yang ngebet banget pengen masuk sekolah elit yang didirikan anak-anak orang superkaya. Di antaranya adalah Dao Ming Shi (Jerry Yan), Hua Ze Lei (Vic Chou), Xi Men (Ken Zhu) dan Mei Zuo (Vaness Wu).</p>
<p>Dalam satu kesempatan, Sao Cai ber?¬temu dengan Dao Ming. Sayangnya, Sao Cai menolak cinta Dao Ming. Ia lebih menyukai Hua Ze Lei. Hua sendiri menyukai Teng Tang Jing. Lha, jadi bingung kan?</p>
<p>Nah, cinta segi empat inilah yang menjadikan jalinan cerita Meteor Garden?  begitu disuka banyak remaja. Sukses di Taiwan, Meteor dilempar ke pasaran Asia lainnya dan mendapat sambutan yang tak kalah hangat. Di Singapura, pada jam tayang Meteor Garden gadis-gadis remaja sudah duduk anteng di depan televisi untuk menyaksikan aksi Jerry, Vic, Ken dan Vanness versus San Chai. Di Hongkong para penggemar berat Meteor Garden menyerbu kios-kios penjualan asesoris bergambar tokoh-tokoh Meteor Garden. Tak heran pula jika kemudian Meteor Garden dino?¬batkan sebagai drama terpopuler di Hong?¬kong.</p>
<p>Hebohnya lagi, setelah Meteor Garden ikut ditayangkan di Indosiar, berarti menambah daftar penggandrung film ini. Yup, remaja Indonesia pun kini begitu gandrung dengan film mandarin yang satu ini, menyusul teman-temannya di Cina, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. Bener-bener bikin heboh!</p>
<p>Tema percintaan dan pergaulan ini emang jadi senjata andalan dalam film ini. Udah gitu, theme song-nya juga oke punya. Utamanya bagi teman-teman yang lagi lengket sama yayang?¬nya. Simak aja potongan lirik lagunya yang bikin gimanaaa&#8230; gitu. Seperti lagu Qing Fei De Yi (Mengelak Cinta). Yang kayak gini nih, nan yi wangji chu zhi jian ni (sulit melupakan jumpa pertama denganmu)/yi shuang mi ren de yanjing (sepasang mata yang penuh misteri)/zai wo nao hai li ni de shen ying (masih terlintas di benakku bayangan dirimu)/hui san bu qu (tak bisa pupus)/mo ni de shuangshou (saat kusentuh kedua tangan?¬mu)/ganjue ni de wenrou (saat kurasakan hangatnya ciumanmu). Walah, rasa?¬kan degup jantungmu yang berdetak dua kali lebih kenceng! Zwing, dak-dik-duk!</p>
<p>Meteor Garden emang sebuah fenomena baru film drama remaja, yang dikemas amat apik dan jeli melihat pasar. Dan lucunya, di tengah popularitasnya yang memuncak itu, ada saja pihak yang memanfaatkan kesuksesannya. Itu sebabnya, nggak heran kalo ada yang bilang bahwa film ini udah dicontek abis sama sinetron buatan Prima Entertainment yang tayang di SCTV, yakni Siapa Takut Jatuh Cinta. Film ini, oleh banyak pemirsa ABG, disebut-sebut nyon?¬tek abis Meteor Garden. Siapa Takut Jatuh Cinta, dengan bintang Leony, Indra, Bertrand, dan lain-lain yang menjiplak habis-habisan serial asal Taiwan Meteor Garden. Mulai dari cerita, pemain, bahkan gaya pakaian pun ditiru.</p>
<p>Sebenarnya meniru atau tidak memang masih belum jelas. Tapi bagi kita bukan itu persoalan pentingnya. Sebab, terlepas dari itu semua, kita coba kritisi dari sudut yang berbeda. Yakni, soal cinta dan pergaulan remaja yang ditampilkan dalam film Meteor Garden, juga termasuk dalam sinetron Siapa Takut Jatuh Cinta. Jadi kita menilai muatan gaya hidup yang ditampilkannya. Tul nggak sobat?</p>
<p><strong>Budaya pop<br />
</strong>Bagi remaja, tampil gaul dan ngetren adalah fardhu. Nah, budaya pop yang lagi ngetren saat ini adalah tentang pergaulan, cinta, dan fenomena bintang idola. Maka nggak heran dong kalo film-film dan nyanyian bertema pergaulan remaja laris manis diserbu peng?¬gemarnya.</p>
<p>Sekadar tahu saja, menurut laporan Tabloid Bintang Indonesia edisi online-nya, boyband bentukan dari film Meteor Garden, F4 mampu menembus bursa musik di Taiwan. Sebagai pendatang baru, grup boyband F4 yang beranggotakan empat jejaka muda tegap ganteng ini, luar biasa fantastis. Cuma dalam tempo 6 bulan kwartet ini sukses menyedot perhatian publik Taiwan dan &#8220;memaksa&#8221; seluruh media hiburan mau tak mau menyajikan segala pemberitaan yang berkaitan dengan mereka. Apa saja sajiannya pasti ditelan habis-habis. Bahkan model rambut mereka yang gondrong pun jadi tren anak muda.</p>
<p>Bayangin aja, baru beredar tujuh jam, angka penjualan menembus 100 ribu kopi. Belum lagi konser yang mengundang puluhan ribu penonton. Pernah juga acara jumpa fans mendadak batal akibat massa membludak. Me?¬reka yang gagal antre untuk minta tanda tangan, berani membeli nomor urut seharga 6 ribu dolar Taiwan sekadar bisa tatap muka.</p>
<p>Dalam waktu 6 bulan, grup ini sukses meraup omset 150 juta dolar Taiwan. Da?¬gangan seheboh ini di musim ekonomi paceklik, jelas bikin kaget para petinggi Sony yang mengontraknya. Apalagi F4 bukan siapa-siapa dibanding Emil Chou, Richie Ren, atau Jimmy Lin yang sudah beken. Dalam sekejap mereka jadi idola baru. Kalau mengutip media sana, kehadiran F4 memberi angin segar bagi remaja sana yang kehilangan idola selama 10 tahun terakhir. Bahkan, mereka menyebut F4 sebagai SMAP-nya Taiwan. Tahu kan SMAP, itu band beken asal negeri Sakura. Heboh bener, ya?</p>
<p>Apa sih yang jadi daya tarik empat pemuda tampan ini? Tentu saja, seperti personel boyband lain di berbagai negara, penampilan jadi faktor utama. Wajah tampan, tarian seragam dan balutan kostum yang cukup aduhai menutupi postur atletis menjadi peman?¬dangan yang sedap dipandang mata. Daya tarik inilah yang membuat ribuan remaja peng?¬gemarnya rela berjejal-jejal untuk menyak?¬sikan mereka dari dekat dalam setiap acara konser ataupun jumpa penggemar.</p>
<p>Tragisnya, fenomena itu nggak cuma nyetel dengan remaja Taiwan aja, tapi udah lengket masket ama gaya hidup sebagian besar remaja muslim di Indonesia. Yup, budaya pop memang selalu begitu. Mengimbas siapa saja yang cenderung nggak punya daya tawar. Artinya, main telen aja sesuai dengan selera masing-masing. Bagi remaja model begitu, dunia ini adalah persoalan menjual dan membeli. Nggak peduli, apakah yang dijajakannya rusak atau mulus. Yang penting, ngetren dan gemerlap. Kalo nggak berusaha â€œtune inâ€?, baka?¬lan ketinggalan kereta tuh. Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, terus terang aja kita prihatin dengan fenomena ini. Kita, remaja muslim, yang seharusnya mewarnai kehidupan ini dengan Islam, ternyata banyak di antara kita yang justru mewarnai kehidupannya dengan gaya hidup di luar Islam. Pacaran, seks bebas, juga narkoba. Menyakitkan sekali. Sebab, kita nyaris sudah tak punya lagi harga diri dan citra diri sebagai remaja muslim. Apa sekarang harga diri dan citra diri islami bukan lagi kebanggaan setiap remaja muslim? Rasanya nyesek banget kalo jawabannya â€œiyaâ€?. Itu artinya kita udah kalah perang. Meski masih hidup, tapi seperti kata Bung Ebiet G. Ade, kita itu seperti mati dalam hidup. Kebayang nggak sih, walah?</p>
<p>Iya dong. Sebab, udah nggak punya lagi identitas diri yang bisa dijadiin sebagai ukuran keberadaan dan kebanggaan seorang muslim. Celaka banget kan? Itu dia, yang bikin kita-kita ketar-ketir nyaksiin tingkah sebagai besar teman-teman remaja muslim. Kalo dibiarkan, bisa tambah ruwet sayang. Suer, apa nggak ada teladan Islam yang bisa dijadikan contoh?</p>
<p>Padahal, kita adalah umat yang mulia. Bahkan Allah telah meridhoi Islam sebagai agama kita. Nggak layak dong kalo berbuat seperti mereka-mereka yang telah dihinakan oleh Allah Swt. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?§?„?’?????ˆ?’?…?? ?£???ƒ?’?…???„?’???? ?„???ƒ???…?’ ?¯?????†???ƒ???…?’ ?ˆ???£?????’?…???…?’???? ?¹???„?????’?ƒ???…?’ ?†???¹?’?…???????? ?ˆ???±???¶???????? ?„???ƒ???…?? ?§?„?¥?’???³?’?„?§???…?? ?¯?????†?‹?§<br />
â€œPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.â€? (TQS al-M?¢idah [5]: 3)</p>
<p><strong>Jangan latah!<br />
</strong>Derasnya arus informasi yang datang silih berganti bagai gelombang ini, bukan tak mungkin bakal menghadirkan petaka. Akibat yang sudah jelas kentara adalah sebagian dari kita hanyut terbawa budaya yang mendominasi kehidupan kita. Seluruh aktivitas yang kita lakukan, adalah wujud dari perilaku pembawa budaya tersebut. Raga boleh berbeda, tapi pikiran bisa sama dengan pikiran para pengusung budaya pop Barat. Nama bisa islami, tapi sayang jiwanya udah sesuai dengan gaya hidup yang dijajakan Barat. Jangan sampe deh. Naudzu billahi min dzalik!</p>
<p>Bener sobat, meski dalam contoh kasus adalah film Taiwan, Meteor Garden, pun sine?¬tron lokal Siapa Takut Jatuh Cinta, tapi nggak ada bedanya dengan film-film buatan Hollywood. Yakni menjajakan gaya hidup sekularisme, khas ideologi kapitalisme. Bertentangan dengan Islam? Jelas dong.</p>
<p>Budaya yang dibangun dari sebuah kerusakan, maka hasilnya juga nggak jauh-jauh amat dari kerusakan. Budaya percintaan dan pergaulan bebas remaja yang ditampilkan dalam Meteor Garden dan juga termasuk dalam Siapa Takut Jatuh Cinta adalah jiplakan asli dari gaya hidup Amrik. Bener lho. Dan yang menggan?¬drunginya saat ini adalah remaja Islam. Menye?¬dihkan banget, sobat.</p>
<p>Sobat muda muslim, agak aneh memang. Kita ini suka latah ikut-ikutan dengan gaya yang lagi tren. Celakanya, adakalanya nggak ngerti dengan apa yang sedang dilakoninya. Wah, itu sih kayak kerbau dicocok hidungnya dong? Bener. Sebagian teman remaja ada juga yang tampil bak idola mereka (baca: njiplak abis).</p>
<p>Sebagai sebuah hiburan, Meteor Garden emang punya pesona. Tapi hati-hati sobat, sebab tidak semua yang indah dan gemerlap itu menghadirkan kebaikan. Bukan tak mungkin justru malah menghadirkan bencana. Emang sih, nggak langsung terasa akibatnya. Tapi kan, lambat laun, kamu pun akan bersikap seperti tokoh idola kamu dalam film tersebut. Sebab, kalo pemahaman udah nyetel dalam diri kamu, maka tingkah lakumu pun akan match banget dengan pemahaman kamu tentang sesuatu. Bahaya kan?</p>
<p>Inilah yang kita khawatirkan. Memang, itu hanyalah tontonan, tapi bukan berarti boleh ditelan mentah-mentah setiap gaya hidup yang ditampilkan di sana. Tepatnya, kita kudu punya filter (cieee&#8230;). Iya, jadi kita bisa memilih dan memilah. Mana yang baik, dan mana yang buruk. Yang baik kita ambil, yang buruknya kita tendang jauh-jauh. Gampang kan?</p>
<p>Jadi mulai sekarang bentengi diri kamu dengan ajaran Islam. Kalo belum? Mari kita benahi bersama. Nggak ada alasan untuk malas mengkaji Islam. So, semarakkan masjid-masjid?  dan sekolah dengan kajian Islam. Masuk akal kan? Mari berjuang sobat! Tinggalkan maksiat!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 097/Tahun ke-3/13 Mei 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/heboh-%e2%80%9cmeteor-garden%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Tradisi â€œUltahâ€?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-tradisi-%e2%80%9cultah%e2%80%9d</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-tradisi-%e2%80%9cultah%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:15:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-tradisi-%e2%80%9cultah%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Phuuuh! Lilin berbentuk angka 17 itu menyisakan asap tipis setelah ditiup Meta, sejurus kemudian terdengar gemuruh tepuk tangan tanda bahagia dari keluarga dan teman-temannya. Hari itu Meta genap berusia 17 tahun. Lagi lucu-lucunya, lagi lincah-lincahnya (kelinci kaliâ€¦). Lagu â€œHappy Birthdayâ€? pun mengalun dengan jenis suara yang caur banget dari hadirin yang ikut menyaksikan pesta ultah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Phuuuh! Lilin berbentuk angka 17 itu menyisakan asap tipis setelah ditiup Meta, sejurus kemudian terdengar gemuruh tepuk tangan tanda bahagia dari keluarga dan teman-temannya. Hari itu Meta genap berusia 17 tahun. Lagi lucu-lucunya, lagi lincah-lincahnya (kelinci kaliâ€¦). Lagu â€œHappy Birthdayâ€? pun mengalun dengan jenis suara yang caur banget dari hadirin yang ikut menyaksikan pesta ultah Meta.<span id="more-98"></span></p>
<p>Terlihat mata Meta berbinar tanda suka. Dengan mengenakan gaun putih kayak Putri Salju, Meta menerima ucapan selamat dan kado dari teman-teman sekelasnya. Pestanya sendiri diadain di sebuah gedung pertemuan yang luasnya setengah lapangan sepakbola standar internasional. Walah, heboh bener ya?</p>
<p>Ultah, bagi Meta memiliki makna yang cukup dalam. Bukan saja karena berhasil menghirup udara sampai usia 17. Tapi sekaligus ingin menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk dihargai dan dihormati. Maklum, penampilan dan gaya adalah nomor wahid bagi Meta. Dengan mengadakan pesta ultah, berarti emang doi pantas diperhitungkan. Siapa dulu dong bapaknya, ibunya, kakeknya, neneknya, lhoâ€¦.?</p>
<p>Sobat muda muslim, Meta dan juga teman remaja lainnya, rasanya udah biasa ngadain pesta ultah. Bahkan mungkin semacam â€œkewajibanâ€? yang kudu dibayar tunai. Itu sebabnya, kadang ada remaja yang maksain kudu ngadain pesta ultah, meski isi koceknya terbilang cekak abis. Biar tekor asal kesohor. Begitu kira-kira prinsipnya.</p>
<p>Ngeliat faktanya begitu, nggak salah-salah amat dong kalo kita bilang bahwa pesta ultah udah jadi semacam gaya hidup. Budaya tersebut telah menjadi trademark kehidupan remaja gaul. Pokoknya, remaja yang nggak ngadain pesta ultah, siap dicap sebagai remaja kuper dalam komunitas seperti itu. Sayangnya, ternyata banyak remaja yang tak siap dibilang kuper dan kampungan. Walhasil, banyak banget yang tergoda untuk melangsungkan pesta ultah.</p>
<p>Acaranya bisa beragam memang. Tentu bergantung kepada isi kocek yang punya hajat. Bagi yang cekak atau boleh dibilang mau ngirit, cukup bikin tumpeng dan ngundang teman seperlunya. Berdoa, dan makan-makan.</p>
<p>Selain itu, tradisi yang nggak kalah heboh, yakni suka ada yang jail. Biasanya, kalo kebetulan tahu ada teman yang ulang tahun pada hari tersebut, mereka biasanya bikin kejutan. Apalagi kejutannya kalo bukan ngejailin yang berultah. Misalnya dengan melemparkan telor ke kepalanya, pake telor busuk lagi. Udah gitu, masih ditambah dengan taburan tepung terigu. Jadinya? Kayak mau manggung di Ketoprak Humor-nya Mas Timbul.</p>
<p>Hmm.. begitulah gaya sebagian teman remaja. Mereka menjadikan hari kelahirannya diperingati dengan amat istimewa. Meski pada praktiknya lebih ke arah hura-hura belaka. Oke deh, terlepas dari itu semua, kamu nyadar nggak sih dengan apa yang telah kamu lakukan dengan menjadikan budaya tersebut sebagai tradisi? Yup, baru kepikiran deh. Nah, pertanya?¬annya begini, â€œdari mana asal mula?¬nya budaya ulang tahun itu?â€? Kamu perlu tahu sobat.</p>
<p><strong>Impor dari Eropa</strong><br />
Dalam catatan di Tabloid NOVA, 679/XIV, 4 Maret 2001, ternyata tradisi pera?¬yaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus mem?¬bacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pem?¬berian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan mem?¬buat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun. Hmm.. ini memang warisan zaman kegelapan Eropa.</p>
<p>Sobat muda muslim, berdasarkan cata?¬tan tersebut, awalnya perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang tahun. Utamanya yang punya duit.</p>
<p>Kalo begitu, pesta ulang tahun itu bukan berasal dari ajaran Islam? Tepat sekali. Sebab, dalam Islam, tak pernah diajarkan untuk itu. Kalo pun kemudian ada teman remaja yang ber?¬argumen bahwa dengan diperingatinya Mau?¬lid Nabi, hal itu menjadi dalil kalo ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Wah, kamu jangan gegabah dulu dong. Hati-hati lho, jangan sampe apa yang kita lakukan justru dimurkai oleh Allah Swt. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Begini, mungkin sekilas kita coba ngeje?¬lasin kepada teman remaja yang berdalil demi?¬kian. Kamu tahu nggak sejarahnya perayaan Maulid Nabi? Well, yang pasti Rasulullah saw. sendiri tak pernah mengajarkan kepada kita melalui hadisnya. Nggak, nggak pernah. Dan jangan salah, Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati, tapi tadzkirah, alias peringatan. Maksudnya? Kalo kamu baca buku tarikh Islam, di situ ada catatan bahwa Sultan Sholahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi umat Islam pada saat itu. Di mana bumi Palestina dirampas oleh Pasukan Salib Eropa. Sultan Sholahuddin menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan kekuatan Pasukan Salib Eropa yang berhasil menguasai Palestina, lebih karena mereka udah kena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Mereka bisa begitu karena mengabaikan salah satu ajaran Islam, yakni jihad. Bahkan ada di antara mereka yang nggak ngeh dengan perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya.</p>
<p>Nah, untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan Shala?¬huddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian disebutâ€”entah siapa yang memulainyaâ€”sebagai maulid nabi. Tujuan intinya mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan Islam ke selu?¬ruh dunia. Singkat cerita, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit. Karuan aja, berkobarlah semangat jihad dalam jiwa kaum muslimin, dan bumi Palestina pun kembali ke pangkuan Islam, tentu setelah mereka mempecundangi Pasukan Salib Eropa. Begitu, sobat. Jadi Maulid nabi bukan dalil dbolehkannya pesta ultah. Keliru itu.</p>
<p>Yup, kita kembali ke soal pesta ultah ini. Jadi tahu dong sekarang bahwa pesta ultah itu bukan warisan Islam. Tapi warisan asing, alias ajaran di luar Islam. Lalu gimana kalo kita mela?¬kukannya? Berdosakah?</p>
<p><strong>Hati-hati!<br />
</strong>Nah, karena tradisi itu adalah tradisi orang-orang Eropa, yang saat itu berkembang ajaran Kristen, maka pesta ultah tentu saja merupakan tradisi kaum non-muslim. Kalo kita melakukannya? Dosa dong. Rasulullah saw. bersabda:â€œBarangsiapa menyerupai suatu ka?¬um, maka dia termasuk dalam golongan mere?¬kaâ€? [HR. Abu Dawud]</p>
<p>Dalam riwayat lain. Rasulullah saw. ber?¬sabda:â€œKamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?â€? (HR. Bukhari Muslim).</p>
<p>Waduh, berarti selama ini kitaâ€¦ Tepat, kita melakukan tradisi yang bukan berasal dari Islam. Dan tentu saja haram. Berdosa. Aduh, jangan sampe deh dilakukan lagi. Sadar dong sadar. Bukan kita sok suci nasihatin kamu, tapi ini demi kebaikan kita semua, kaum muslimin.</p>
<p>Oya, mungkin ada pertanyaan begini, â€œbolehkah merayakan ulang tahun dalam arti berdoa atau mendoakan agar yang berulang tahun selamat, sehat, takwa, panjang umur, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan cara dan isi doa yang syar&#8217;i, tanpa upacara tiup lilin dan sebagainya seperti cara Barat, lalu dilanjutkan acara makan-makan. Bolehkah?â€?</p>
<p>Begini sobat, berdoa dan makan-makan adalah halal. Tetapi bila dilakukan pada hari seseorang berulang tahun, maka akan terkena hukum haram ber-tasayabbuh bil kuffar. Jadi di sini akan bertemu hukum haram dan halal. Dalam kondisi seperti ini wajib diutamakan yang haram daripada yang halal sebab kaidah syara&#8217; menyebutkan: â€œIdza ijtama&#8217;a al halaalu wal haraamu, ghalaba al haramu al halaalaâ€?. Arti?¬nya, â€œjika bertemu halal dan haram (pada satu keadaan) maka yang haram mengalahkan yang halal (Kitab as-Sulam, Abdul Hamid Hakim)</p>
<p>Dengan demikian, jika merayakan ultah diartikan sebagai â€œberdoa dan makan-makanâ€?, dan dilaksanakan pada hari ultah, hukumnya haram, sesuai kaidah syar&#8217;i di atas. Akan tetapi jika dilaksanakan bukan pada hari ultah, maka hukumnya&#8211;wallahu a&#8217;lam bi ash shawab&#8211; menurut pemahaman kami adalah mubah secara syar&#8217;i. Sebab?  hal itu tidak termasuk tasyabbuh bil kuffar karena yang dilakukan pada faktanya adalah â€œberdoa plus makan-makanâ€?, yang mana keduanya adalah boleh secara syar&#8217;i. Lagi pula hal itu dilakukan tidak pada hari ultah sehingga di sini tidak terjadi pertemuan halal dan haram sebagaimana kalau acara tersebut dilaksanakan pada hari ultah. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Oke deh, kalo kamu udah ngeh soal yang satu ini, maka kamu kudu menghentikan kebia?¬saan dan mengubah pandangan kamu tentang perayaan ulang tahun. Sebab, udah jelas ber?¬tentangan dengan ajaran Islam. Padahal, kita kudu berpegang hanya kepada Islam. Bukan kepada ajaran yang lain. Allah Swt. Berfirman:</p>
<p>ï???ˆ???…???†?’ ?????¨?’???????? ???????’?±?? ?§?„?¥?’???³?’?„?§???…?? ?¯?????†?‹?§ ?????„???†?’ ?????‚?’?¨???„?? ?…???†?’?‡?? ?ˆ???‡???ˆ?? ?????? ?§?„?¢?’?®???±???©?? ?…???†?? ?§?„?’?®???§?³???±?????†ï?›??<br />
â€œBarangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.â€? (TQS ali Imr?¢n [3]: 85)</p>
<p>Terus yang terpenting, kamu juga jangan asal gabres aja, alias main seruduk. Mentang-mentang sesuai hawa nafsu kamu, sesuai selera nafsu kamu, main ikuti aja tradisi itu. Apalagi dengan anggapan biar disebut gaul dan modern. Nggak boleh sayang. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>ï???ˆ???„?§?? ?????‚?’???? ?…???§ ?„?????’?³?? ?„???ƒ?? ?¨???‡?? ?¹???„?’?…?Œ ?¥???†?‘?? ?§?„?³?‘???…?’?¹?? ?ˆ???§?„?’?¨???µ???±?? ?ˆ???§?„?’?????¤???§?¯?? ?ƒ???„?‘?? ?£???ˆ?„???¦???ƒ?? ?ƒ???§?†?? ?¹???†?’?‡?? ?…???³?’?¦???ˆ?„?§?‹ï?›<br />
â€œDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesung?¬guhnya pen?¬dengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung?¬jawaban?¬nya.â€? (TQS al-Isr?¢â€™ [17] : 36).</p>
<p>Rasullah saw. juga bersabda: Belum sempuran keimanan salah seorang di antara kalian, sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (al-Quran) (Hadis ke-41 dalam Hadits al-Arbaâ€™in karya Imam Nawawi)</p>
<p>Sobat muda muslim, sekarang tentu kamu jadi paham tentang masalah ultah ini. Udah jelas kan persoalannya? Yup, boleh dibilang, udah kentara perbedaan antara yang hitam dan yang putih. Nggak abu-abu lagi. Semoga saja kamu bener-bener paham.</p>
<p>Selain itu, apa cukup pantas kita menari di atas penderitaan orang lain. Masih banyak lho, saudara kita yang didera kemiskinan, jangan sampe kita menghamburkan duit. Untuk yang haram lagi. Wah, celaka dua belas ini mah!</p>
<p>Sobat muda muslim, ternyata kita selama ini terbiasa melakukan aktivitas yang justru bertentangan dengan Islam. Gaswat!</p>
<p>Mari jadikan hidup ini lebih hidup. So, hanya dengan mengenal, mencintai, dan meng?¬amalkan Islam dalam kehidupan, kita bisa menik?¬mati hidup ini dengan benar dan baik. Insya Allah. Mulai sekarang, lho. Jangan ditunda-tunda lagi. Jadi, ngaji yuk?!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 096/Tahun ke-3/6 Mei 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-tradisi-%e2%80%9cultah%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutu Pendidikan Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mutu-pendidikan-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mutu-pendidikan-kita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mutu-pendidikan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Ngomongin soal pendidikan emang seperti kagak ada matinya. Semakin sering diobrolin, kian banyak pene?¬muan baru dan data anyar tentang bidang yang satu ini. Entah data yang mengenakkan, atau justru data yang bikin enek. Nggak apa-apa. Yang penting, kita bisa ngambil hikmahnya dari kenyataan tersebut.
Kalo mau mikirin lebih jauh, emang sih kita juga suka bingung. Jumlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ngomongin soal pendidikan emang seperti kagak ada matinya. Semakin sering diobrolin, kian banyak pene?¬muan baru dan data anyar tentang bidang yang satu ini. Entah data yang mengenakkan, atau justru data yang bikin enek. Nggak apa-apa. Yang penting, kita bisa ngambil hikmahnya dari kenyataan tersebut.<span id="more-97"></span></p>
<p>Kalo mau mikirin lebih jauh, emang sih kita juga suka bingung. Jumlah sekolah di negeri ini udah nggak bisa diitung dengan jari dari dua tangan kita, lho. Saking banyaknya tentu. Dari semua itu, tentu aja bisa kamu bayangkan berapa puluh juta siswa yang mampu diserap oleh sekolah. Belum lagi perguruan tinggi, baik yang plat merah, alias perguruan tinggi negeri, maupun yang swasta punya. Wuah, jumlahnya banyak banget tuh.</p>
<p>Oke deh, dari soal jumlah kita memang menang. Pokoknya kagum, bahwa negara dan pihak swasta bisa membangun sekolah. Dan itu boleh kita acungin jempol. Bahkan ada juga di antara mereka yang melengkapinya dengan fasilitas yang canggih dan mewah. Hanya saja persoalan?¬nya nggak berhenti di situ. Kita masih menyim?¬pan segudang tanda tanya. Boleh dibilang tanda tanya besar. Pertanyaannya sederhana saja sebetulnya. Begini, mengapa kualitas pendidikan kita selalu berjalan di tempat? Ini untuk tidak mengatakan terbela?¬kang, lho. Bener. Nggak meningkat gitu.</p>
<p>Banyak hal sebetulnya, tapi kita mulai dari beberapa persoalan yang bisa kita lihat langsung akibatnya. Pertama, soal beban pelajaran. Kedua, masalah moralitas pendidik dan siswanya. Ketiga, mengenai kesejahteraan bagi tenaga pendidik. Keempat, tentang tujuan pendidikan. Kita rasa keempat persoalan ini yang secara langsung bisa mempengaruhi level mutu pendidikan di negeri ini. Sebab, terus terang saja, kalo kita simak sendiri, perkem?¬bangannya emang bikin pegel yang merasakan. Ada apa sebenarnya?</p>
<p>Sobat muda muslim, kayaknya pas banget jika pertanyaan tadi kita ajukan. Itung-itung buat renungan. Syukur-syukur jika kemu?¬dian ada pihak berwenang yang merespon baik. Anggaplah ini sebagai sebuah â€œprotesâ€? kecil ketika kita mencoba menilai tentang mutu pendidikan di negeri kita saat ini. Nggak salah kan? Yup, ini merupakan bagian dari sebuah upaya untuk bisa memberikan yang terbaik untuk pendidikan di masa depan. Siapa tahu kan? Semoga saja demikian.</p>
<p><strong>Masih belepotan</strong><br />
Ibarat seorang tukang bangunan amatir, setiap kerjaan yang dibuatnya masih jauh dari sempurna. Untuk merapikan genteng saja, masih berantakan. Memasang keramik untuk lantai aja, masih mencang-mencong dan berge?¬lombang. Pun ketika bikin pondasi, masih serampangan nyetel ukuran. Sama halnya ketika harus ngecat tembok, masih terlihat â€œbelang-belangâ€?. Jadi deh, hasilnya adalah bangunan yang mudah banget untuk roboh atau diroboh?¬kan, dan nggak enak dipandang mata.</p>
<p>Itu soal bangunan. Kalo pengibaratan itu coba kita?  terapkan juga dalam bidang pendi?¬dikan ini, rasanya semua pihak bisa mema?¬haminya deh. Tentunya termasuk kamu yang masih remaja. Coba aja lihat, beban belajar yang berat bikin anak-anak kelenger. Sebagian lagi malah udah jelas-jelas KO. Buktinya, setiap pelajaran apapun yang disampaikan kepadanya selalu berhasil memantul sempurna, alias nggak ada yang masuk satu pun.</p>
<p>Bisa kamu rasakan sendiri. Teman-teman yang masih di SMP, udah dijejali dengan mata pelajaran yang banyaknya minta ampun. Udah gitu materinya langsung yang berat-berat. Emang sih, kalo dipikir-pikir sekilas bagus juga, tapi ini amat berbahaya bagi perkem?¬bangan selanjutnya. Apalagi metode yang dipa?¬kai di sini, langsung â€œtelanâ€? aja gayanya. Bahkan tragis?¬nya, dengan amat sedikit praktik untuk mata pelajaran yang seharusnya membutuhkan prak?¬tik. Jadinya bingung. Asli, tanpa daun.</p>
<p>Misalnya aja, kamu pasti kesulitan dong kalo harus ngebayangin bahwa reaksi antara Natrium Hidroksida dengan Asam Chlorida bakalan menghasilkan garam (NaCl). Reaksi ini, sulit digambarkan kalo nggak dicoba diberikan praktiknya. Sebab, reaksi ini nggak sederhana, harus ada proses evaporasi (penguapan). Jadi bukan hanya teori yang masih mengawang-ngawang. Sama halnya dengan pelajaran mate?¬matika, kalo nggak ada aplikasinya kayaknya nggak seru deh. Jangan-jangan nanti belajar banyak matematika malah jadi matematika, alias makin tekun makin tidak karuan. Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, itu satu hal dari beban pelajaran. Berat memang. Bisa dibayang?¬kan tentunya, dengan materi pelajaran yang super banyak itu bukan malah jadi pinter, tapi mereka justru akhirya jenuh. Emang sih, bagi beberapa siswa yang kecerdasannya di atas rata-rata bisa nyetel. Tapi kan persoalannya, pendidikan bukan hanya untuk mereka yang udah cerdas aja, tapi untuk semua. Tul nggak?</p>
<p><em>Sekarang soal moralitas pendidikan. Mengapa soal ini dibahas juga</em>?</p>
<p>Malasnya pendidik membaca buku rujukan lainnya juga bisa bikin para siswa boring, karena nyaris pendidik cuma memindahkan teks dari buku pegangan. Nggak ada pengembangan sama sekali. Akibatnya, bikin siswa boring. Ujungnya, sangat boleh jadi ada siswa yang malas belajar dan lebih memilih bolos sekolah. Tentu ini diluar anak yang emang hobi bolos. Oya, pelajar yang nyantai juga banyak. Nggak habis pikir deh. Bukan apa-apa, ada aja pelajar yang ke sekolah cuma bawa buku satu, udah gitu dilipat dan dimasukkin ke saku bagian belakang celananya. Mau ngapain ke sekolah? Bingung deh. Udah gitu, ada juga yang pakaian seragam?¬nya mirip-mirip gembel; celana bertam?¬bal, dan dicorat-coret pake tipe-ex. Hmmâ€¦</p>
<p>Soal moralitas ini juga nampak banget dalam masalah pendidikan agama. Islam khusus?¬nya. Sang guru nggak berusaha untuk men?¬jelaskan bahwa pelajaran itu bukan cuma untuk diketahui, tapi wajib di?¬pahami. Artinya, jangan sampe anak hanya pin?¬ter ngapalin dalil-dalil, tapi aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari nol. Karena emang nggak dituntut untuk itu. Sholat misalnya, betapa banyak teman-teman yang sebetulnya udah hapal bacaannya, udah hapal gerakannya. Tapi anehnya, sebagian besar dari mereka sholatnya nggak ada yang bener. Ada yang kadarkum, alias kadang sadar kadang kumat. Artinya, lagi sadar, ya sholat. Kalo lagi kumat, ya kagak. Celakanya lagi, sang guru nggak ngecek sampe ke situ. Harusnya kan ada penekanan, penga?¬rahan, dan bimbingan. Supaya paham tentunya. Jangan cuma teori doang. Tapi kudu didukung dengan praktiknya.</p>
<p>Akibat lanjutnya, tentu siswa banyak yang memahami Islam hanya sebatas penge?¬tahuan belaka, bukan dijadikan sebagai pema?¬haman. Betapa banyak siswa yang tawuran tiada henti, udah nggak keitung jumlahnya siswa yang melakukan seks bebas, kita juga prihatin karena tingkat kejahatan meningkat di kalangan pelajar. Inikah hasil dari pendidikan kita selama ini? Rasanya inilah memang jawabannya. Duh, nyesek banget deh. Bener.</p>
<p>Sobat muda muslim, tentang kesejah?¬teraan bagi tenaga pendidik juga amat mempri?¬hatinkan. Bahkan ini bisa jadi mata rantai yang berhubungan secara siginifikan (nyata) dengan kualitas pendidikan. Benar, sebab kita belajar dari orang yang kita sebut sebagai guru. Sementara kalo yang kita saksikan sekarang, gaji guru seringkali nggak cukup bagi mereka untuk menyambung hidup, meski sebulan sekali?¬pun. Gaji guru SD di daerah misalnya.</p>
<p>Penghargaan kepada pendidik yang rendah ini, amat beralasan tentunya bila kemu?¬dian perhatian pendidik terbelah. Mikirin siswa, juga mikirin dapur. Apalagi bagi pendidik yang di daerah. Sudahlah peluang nyari tambahan sedikit, masih harus menerima kenyataan pahit, yakni gaji disunat. Jadi, boro-boro untuk beli buku referensi sebagai tambahan mengajar, untuk beli nasi aja repot.Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, ini amat ber?¬pengaruh lho kepada kualitas yang dididik. Kalo sang guru aja kurang persiapan dalam meng?¬ajar, karena memang waktunya lebih banyak tersedot untuk mikirin dapur supaya ngebul. Gimana dengan muridnya?</p>
<p>Padahal di Jepang, gaji seorang profesor yang ngajar di universitas di sana, ada yang bergaji Rp 1 milyar setahun. Bahkan masih juga ditambah dengan fasilitas dan tunjangan lainnya yang serba wah (Kompas, 22 April 2002).</p>
<p><strong>Bagaimana seharusnya?<br />
</strong>Rasanya, tujuan pendidikan kita perlu dipertanyakan lagi. Akan ke mana arahnya? Sampai sekarang masih nggak jelas. Itu sebab?¬nya, kita sulit ngebayangin pelajar Indonesia bisa bersaing di kancah internasional kalo mutunya seperti sekarang ini. Kalo mau nyoba ngebandingin, ada data menarik. Menurut skor yang dikeluarkan World Competitiveness Year?¬book 2002, di bidang sains, skor tertinggi diraih Taiwan (569), lalu Singapura (568), Jepang (550), Korea Selatan (549), dan kemudian Hongkong (530). Malaysia (492), Thailand (482), Indonesia (435), dan Philipina (345). (Kompas, 22 April 2002).</p>
<p>Malu deh. Alih-alih bersaing dengan negara lain, di sini aja kita masih kebingungan dengan segudang problem yang ada; krimi?¬nalitas pelajar, seks bebas, dan narkoba masih akrab banget dalam kehidupan pendidikan kita. Persoalan lain seperti pengangguran juga adalah bom waktu. Bila dibandingkan antara pengang?¬guran yang terjadi tahun 1997 dan 2000, peningkatan yang terjadi bervariasi antara 74 persen hingga 186 persen. Peningkatan angka pengangguran terdidik ter?¬besar terjadi pada tingkat pendidikan DIII atau akademi. Pada tahun 1997, pengangguran DIII/akademi berjumlah 4.899 jiwa, dan pada tahun 2000 menjadi 14.014 atau naik sekitar 186 persen. (Kompas, 16 Februari 2002). Padahal, data tadi baru di Jawa Timur aja.</p>
<p>Sebenarnya di negara lain juga ada, tapi masih bisa â€œdihiburâ€? dengan prestasi aka?¬demiknya. Meski tetap menurut pandangan Islam segitu itu belum maksimal dan optimal.</p>
<p>Dalam Islam, tujuan pendidikan itu secara singkatnya adalah untuk mewujudkan manusia yang memiliki kepribadian Islam yang handal. Itu saja. Tentu, untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dibuat beberapa metode. Di antaranya: kurikulum pendidikan Islam didasarkan kepada akidah Islam. Bukan akidah yang lain. Kemudian materi sains dan teknologi terapan dibedakan dengan tsaqafah Islam (ilmu yang lahir dari akidah Islam). Materi tsaqafah Islam harus dipelajari sejak tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Untuk semua itu, disediakan fasilitas penunjang seperti perpus?¬takaan, asrama, dan bebas biaya pendidikan, juga tenaga pengajar yang mum?¬puni. Islam sadar betul akan hal ini. Itu sebabnya, untuk gaji guru aja Islam berani membayar mahal. Ambil contoh di masa Khalifah Umar bin Khaththab ra, gaji guru TK aja sebulan 15 dinar (hampir Rp 5 juta dengan hitungan 1 gram emas seharga Rp 75 ribu). Kamu perlu tahu, 1 dinar sama dengan 4.25 gram emas. Besar sekali bukan?</p>
<p>Tapi&#8230;ya, sekarang yang diterapkan kapitalisme. Sistem kehidupan yang emang mengabaikan ajaran agama. Kalo pun kemudian sukses dalam bidang akademisnya, tapi sering?¬kali mencampakkan agama. Rusak memang.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita coba mengenalkan Islam dalam persoalan ini. Sebab Islam nggak cuma ngatur urusan shalat semata, tapi juga ngurus pendidikan, bahkan sampe pemerintahan. Inilah Islam sebagai sebuah ideologi. Jadi, bila mutu pendidikan ingin oke, libatkan syariat Islam. Dan syaratnya, tentu saja, terapkan dulu Islam dalam kehi?¬dupan bermasya?¬rakat dan bernegara. Sebab, tanpa itu mustahil terwujud. Bener lho.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 095/Tahun ke-3/29 April 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mutu-pendidikan-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini-Kartini Millenium</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kartini-kartini-millenium</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kartini-kartini-millenium#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kartini-kartini-millenium/</guid>
		<description><![CDATA[Memang tak mudah hidup di jaman sekarang. Serba sulit, serba bingung, en tentunya serba was-was. Maklum, hidup di jaman sekarang membutuhkan beragam trik. Agar di jalan nggak memancing lirikan mata copet, maka kamu kudu waspada dalam menjaga penampilan. Maklum, â€œlirikanâ€? copet bisa merobek kantongmu. Rasa aman memang mahal. Begitupun supaya dapur tetep ngebul, kita kudu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memang tak mudah hidup di jaman sekarang. Serba sulit, serba bingung, en tentunya serba was-was. Maklum, hidup di jaman sekarang membutuhkan beragam trik. Agar di jalan nggak memancing lirikan mata copet, maka kamu kudu waspada dalam menjaga penampilan. Maklum, â€œlirikanâ€? copet bisa merobek kantongmu. Rasa aman memang mahal. Begitupun supaya dapur tetep ngebul, kita kudu lihai putar otak. Maklum, jaman krismon harga sembako dan harga barang lainnya serba mahal. Sulit dikejar deh.<span id="more-96"></span></p>
<p>Nah, karena alasan ini pula, sebagian ibu-ibu merasa nggak betah dengan penghasilan sang suami. Uang 10 ribu perak rasanya cuma ngepas untuk belanja sehari dengan menu makanan yang standar. Maksudnya, standar kere. Aduh, kasihan deh. Makanya, banyak ibu-ibu yang terjun untuk membanting tulang ngebantuin suami. Akhirnya, sektor publik banyak dipenuhi kaum Hawa. Di pasar, di kantor, dan juga di pabrik. Semua berlomba menuai harapan dan mimpi menjadi wanita karir dan banyak duit.</p>
<p>Lisma, sebut saja begitu. Selepas kuliah langsung terjun mengais rupiah di kantor mentereng di lokasi se-strategis kawasan segi tiga emas Jakarta. Jabatan yang disandangnya pun bikin kaum cowok yang minder bisa ketar-ketir. Lisma sebagai manager marketing andalan kantornya. Untuk itu ia harus ikhlas (baca: terpaksa) mengikuti aturan main yang dibuat perusahaannya. Pakaian harus yang elegan, tapi dengan mengorbankan bagian tubuhnya dilirik dan dinikmati banyak orang. Gaya bicara harus sopan dan menjaga etika bisnis. Waktu, baginya terasa tak bermakna lagi. Sebab, hampir sepanjang pagi sampai malam, harus bisa memberikan yang terbaik buat perusahaan. Imbalannya? Tentu saja karir dan duit. Sampe-sampe di usianya yang udah berkepala tiga ini, Lisma kesulitan mencari pendamping hidup. Mungkin, karena ia nggak punya waktu untuk mikirin begituan, atau bisa juga kaum Adam rada keder kalo harus berhadapan dengan wanita yang status sosialnya lebih tinggi dari dirinya. Banyak hal, selain tentunya faktor jodoh.</p>
<p>Bagi sebagian kalangan yang mendukung gerakan feminisme, Lisma adalah contoh konkrit gerakan mereka. Bahwa wanita harus tumbuh, berkembang, luwes, cerdas, dan mampu menjadi dirinya sendiri tanpa kudu merasa tergantung kepada kaum Adam. Begitulah, Kartini yang satu ini. Modern, enerjik, tapi melupakan segala hal yang berkaitan dengan dunia kewanitaannya. Kasihan memang.</p>
<p>Sobat muda muslim, inilah satu fakta tentang geliat kaum Hawa saat ini. Masih ada lho yang lainnya. Marina, demikian sapaan akrab gadis manis anak cikal seorang petani di kampungnya. Marina dibesarkan dalam kultur yang membekap dan mengekang gerak kaum wanita. Beruntung, Marina bisa sekolah di kota, meski tidak seberuntung Lisma yang bisa mengecap bangku kuliah. Pengalamannya bergaul dengan banyak kalangan membuatnya tumbuh menjadi aktivis pejuang hak-hak wanita. Di pabrik tempat dirinya bekerja, Marina terkenal sebagai penggerak demo buruh. Utamanya berkaitan dengan tuntutan hak-hak pekerja wanita. Marina, bukan Marsina. Tapi emang punya kesamaan jalan hidup. Meski nggak sampe didzalimi seperti Marsina. Karuan aja, Marina jadi andalan kaumnya yang kebanyakan memang bersikap melunak alias nggak mau ambil pusing. Sebagai seorang wanita, teman-teman Marina di pabrik memang cenderung nrimo aja dengan kondisi yang menimpa mereka. Hanya Marina yang mau bersuara lantang menentang sikap sewenang-wenang kaum borjuâ€”begitu biasanya mereka menyebut bosnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, Marina adalah â€œKartiniâ€? Millenium yang kental dengan perjuangannya membela hak-hak wanita. Sebab, dalam pandangan dara dari desa ini, kaum lelaki sudah melanggar hak kaum wanita. â€œHarusnya sama dong hak kita dengan kaum lelaki!â€? cetusnya suatu saat.</p>
<p><strong>Nggak betah di rumah</strong><br />
Rumah adalah penjara. Begitu kata sebagian kaum Hawa yang nekat terjun menjalani kehidupan di jalan-jalan. Rela bergelantungan di bis dan KRL, nggak takut lagi dari ancaman penodong dan penjahat. Alasannya, itulah bagian dari realitas hidup. Bahkan sangat boleh jadi, bagi para aktivis pejuang hak wanita, itu adalah bagian dari sebuah perjuangan. Pengorbanan adalah bumbunya. Wah, heroik sekali.</p>
<p>Sobat muda muslim, â€œKartini-Kartiniâ€? yang tadi udah bisa mewakili kondisi kaumnya saat ini. Di jaman millenium. Tentu aja, sebab fakta ini yang dominan di tengah kehidupan abad digital ini. Emang sih ada juga yang baik-baik. Tapi ya.. jumlahnya bisa diitung dengan jari. Maksudnya dikit banget.</p>
<p>Fakta ini tentu aja bikin kita ketar-ketir dengan masa depan generasi mendatang. Khawatir banget deh. Kamu bisa bayangkan sendiri, gimana jadinya masa depan kita, dan adik-adik kita nanti. Sebab, gimana bisa merasakan kasih sayang sang ibu, kalo tiap hari ia harus belajar sendiri tanpa didampingi sang ibu. Ortunya lebih banyak di luar rumah. Kasihan memang. Percaya atau nggak, kondisi ini bisa menyumbang angka kerusakan dan kejahatan sosial. Sebab, anak-anak akan belajar sendiri tentang kehidupannya.</p>
<p>Anak-anak yang hidup tanpa bimbingan ortu, cenderung lepas kendali, alias liar. Akibatnya, ia bisa saja salah gaul. Nggak heran kan kalo kemudian ditemukan anak yang nenggak miras, ngisep putauw, atau pelaku aktif seks bebas. Walah, rusak banget kan?</p>
<p>Seandainya para ibu dan juga kaum wanita memahami posisinya yang benar dalam Islam, rasanya kondisi ini bisa ditekan dan dikontrol. Nggak bebas bin liar seperti sekarang.</p>
<p><strong>Kartini Vs â€œKartiniâ€?</strong><br />
Kayaknya nggak banyak anak puteri atau kaum wanita dewasa saat ini yang ngerti betul perjuangan Kartini. Yang mereka paham hanya satu: emansipasi. Itupun dengan tafsir sendiri dan terkesan suka-suka. RA. Kartini yang tekun memberikan wacana berpikirnya tentang wanita, ternyata dipahami salah oleh â€œKartiniâ€? Millenium. Contohnya aja, kalo Kartini dulu rela dimadu, â€œKartiniâ€? Millenium menganggapnya sebagai pelecehan atas kebebasan wanita. Kan kebalik-balik ya? Wajar, sebab, perjuangan mereka udah kecampur dengan perjuangan kaum kapitalis. Rusak deh.</p>
<p>Sobat muda muslim, rasanya, Kartini juga nggak mengajarkan kebebasan bagi kaum wanita yang kelewat batas seperti sekarang. Kudu malu dong â€œKartini-Kartiniâ€? millenium. Jangan ngaku-ngaku mengikuti jejak Kartini dengan aktivitas liarnya yang kelewat batas. Seolah-olah Kartini mengajarkan itu. Padahal, nggak seliar itu kan Kartini mengajarkan wawasannya?</p>
<p>Gaung emansipasi yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan wanita saat ini, sebenarnya bukan madu, tapi adalah racun. Sebab, untuk sekadar merasa tidak terikat dan tidak tergantung kepada lelaki, para wanita banyak yang terjun di sektor publik; khususnya di industri. Merasa bahwa itu adalah sebuah bagian dari kebebasan, kaum wanita banyak yang lupa diri. Nggak heran kalo sekarang banyak bermunculan profesi kaum wanita yang sebetulnya telah menjerumuskan mereka sendiri kepada kerusakan. Iklan misalnya,?  telah merenggut kebebasan wanita. Karena mereka ternyata tetap dikendalikan dengan tuntutan profesinya. Apakah itu yang diinginkan kaum hawa dengan emansipasinya? Rasanya, bagi yang mikir-mikir, nggak bakalan nekat menerjuni karir seperti itu. Bila demikian, emansipasi adalah racun, bukan madu. Ngeri banget ya?</p>
<p>Pada masyarakat bebas kayak begini, wanita dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif, kecuali kepentingan industri. Tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Coba bayangin, betapa konyolnya, iklan mobil mewah rasanya belum lengkap kalau tak hadir disampingnya gadis berbodi aduhai. Permen rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual mengunyah permen. Dengan mengesankan adegan udah mandi, Lisa Natalia mengiklankan produk pompa air. Apa hubungannya coba? Udah gitu, gaya dan kata-katanya bikin gimanaaa.. gitu. Walah, bikin deg-degan gitu, lho.</p>
<p>Akibat lanjutnya, pelecehan seksual menjadi tren tersendiri. Digandrungi sekaligus dikecam. Saling tunjuk hidung antara kaum cowok dan kaum cewek sudah biasa. Sama-sama tak mau disalahkan. Kaum pria protes ketika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual. Ramai-ramai para pria berdalih menirukan gaya sebuah iklan layanan masyarakat yang bunyinya, &#8220;Bagaimana angka perkosaan akan semakin rendah kalau pakaian anda semakin tinggi?&#8221; Masalahnya beres? Tak cukup sampai di situ, ternyata kaum wanita juga menuduh para cowok karena tak mampu menahan nafsu. Tak ada yang mau kalah dan disalahkan. Kacau banget kan? Itulah kapitalisme.</p>
<p><strong>Berkaca kepada Islam</strong><br />
Amat bijak tentunya bila kita mencoba mengembalikan semuanya kepada kebenaran ajaran Islam. Artinya, kita merujuk kepada Islam. Anna Rued yang menulis dalam sebuah bukunyaâ€”Eastern Mail, ia menyebutkan bahwa &#8220;Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyakâ€”yang tidak saja menyalahi kodratâ€”tetapi bisa menghancurkan kehormatannya&#8221;.</p>
<p>Yup, demikian pengakuan jujur seorang penulis bule. Bagaimana dengan kita? Padahal, kita udah punya panutan, yakni Nabi Muhammad saw. yang senantiasa memberikan bimbingan dalam banyak hadisnya. Banyak pula wanita teladan di masa kejayaan Islam yang patut diacungi jempol. Kenapa tidak meneladani mereka?</p>
<p>Suatu ketikaâ€”saat sidang Asma melontarkan pertanyaan yang membebani kaum wanita. &#8220;Ya Rasulullah. Aku mewakili kaum wanita untuk menanyakan kepadamu tentang beberapa hal. Bukankah engkau diutus oleh Allah untuk rahmat bagi manusiaâ€”laki-laki dan wanita? Namun dalam beberapa masalah ternyata kami merasa dibedakan dengan laki-laki. Kami sama-sama beriman dan bertakwa, namun kami juga merasa iri dengan perbuatan kaum laki-laki yang seolah menempatkan mereka pada posisi yang baik untuk mendapatkan pahala yang besar. Mereka boleh berjihad, sementara kami hanya mengurus anak-anak dan menjahit pakaian mereka. Mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan pahala sholat jumat, sementara kaum wanita tak boleh. Bagaimana ini ya Rasulullah?&#8221;</p>
<p>Rasulullah tersenyum dan berkata kepada Asmaâ€™: &#8220;Wahai Asma&#8217; kau pahami dan sampaikan nanti pada kaummu. Kebaktianmu pada suami dan usaha mencari kerelaannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan suami kalian (kaum pria),&#8221;?  jawab Rasulullah singkat, namun padat dan bermakna tinggi.</p>
<p>Sobat muda muslim, Islam juga memuliakan kaum wanita. Untuk itu, kaum wanita ditempatkan pada posisi yang aman, terhormat dan terjaga kesuciannya. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuriaâ€”.terletak antara wilayah Irak dan Syamâ€”berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu&#8217;tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan saja sang pejabat, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan.</p>
<p>Sayangnya, kondisi seperti itu belum bisa kita saksikan sekarang. Dan nggak bakalan kita saksikan selama sistem kehidupannya bukan Islam. Dalam sistem kapitalisme seperti sekarang ini, rasa aman, kehormatan, dan kesucian diri amat mahal. Nggak bisa kita beli kalo kita nggak punya duit. Negara bukannya memberikan rasa aman, tapi sebaliknya, menyediakan fasilitas dan suasana yang bisa bikin kaum wanita menderita. Untuk itu, berkacalah kepada Islam, khususnya bagi â€œKartini-Kartiniâ€? millenium ini. Dengan taat dan patuh kepada ajaran Islam, insya Allah selamat dunia dan akhirat. Gimana mulainya? Mari belajar tentang Islam. Islam sebagai sebuah ideologi.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 094/Tahun ke-3/22 April 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kartini-kartini-millenium/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waria Oh Waria</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/waria-oh-waria</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/waria-oh-waria#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 06:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/waria-oh-waria/</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 2 April 2002 ada sebuah pesta besar. Sebuah kontes yang boleh dibilang nggak lazim digelar. Yup, saat itu di Bali Room, Hotel Indonesia Jakarta, ada kontes kecantikan yang nggak biasanya. Pesertanya? Para waria. Wuah? Jumlahnya juga lumayan banyak, 300 orang peserta. Dan pemenangnya? Tentunya kaum waria juga dong. Ehm, pemenangnya adalah Balkist alias Rizki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selasa, 2 April 2002 ada sebuah pesta besar. Sebuah kontes yang boleh dibilang nggak lazim digelar. Yup, saat itu di Bali Room, Hotel Indonesia Jakarta, ada kontes kecantikan yang nggak biasanya. Pesertanya? Para waria. Wuah? Jumlahnya juga lumayan banyak, 300 orang peserta. Dan pemenangnya? Tentunya kaum waria juga dong. Ehm, pemenangnya adalah Balkist alias Rizki Murni asal Palembang. (Kompas, 7 April 2002)<span id="more-95"></span></p>
<p>Hmm&#8230; kaum waria, yang selama ini oleh sebagian besar masyarakat dipandang sebagai makhluk anomali, kini muncul dengan berani di ajang tersebut. Digelarnya kontes â€œkecantikanâ€? antarmereka, boleh dibilang sepertinya ingin menunjukkan identitas dirinya kepada masyara?¬kat luas, bahwa mereka layak dihargai.</p>
<p>Wah, wah, wah, ternyata mereka kini mulai berani unjuk kekuatan. Berani tampil beda. Jangan heran sobat, sebab ini nggak lepas dari aturan main yang ada dalam kehidupan masyarakat kita. Inilah bagian dari sebuah produk kebebasan khas kapitalisme. Bebas bagi siapa saja untuk berekspresi, dan saenake udele dhewek dalam berbuat. Bagi para aktivisnya, kebebasan adalah segalanya. Siapa?¬pun tak berhak untuk melarang seseorang dalam berbuat. Pokoknya, nafsi-nafsi en nggak boleh cerewet bin bawel terhadap apa yang dilakukan orang lain. Termasuk dalam soal kehidupan waria ini, menurut mereka, tak boleh dilarang. Biarkan bebas, lepas, dan jangan ada yang usil. Titik. Well, itu pulalah yang kemudian menjadi â€œangin surgaâ€? bagi orang-orang yang tipis iman untuk melakukan apapun yang ingin dijalaninya tanpa perlu memandang aturan agama. Naudzubillah min dzalik.</p>
<p>Terus terang aja kita khawatir dengan semakin banyaknya populasi mereka. Nggak mustahil bila kemudian menjadi tren yang diakui dan dianggap wajar oleh kita-kita yang normal. Celaka memang, sebab, ini sudah merupakan pembangkangan terhadap kodrat. Bayangkan bila orang-orang model begini jumlahnya banyak, betapa kacaunya kan? Anggap saja dalam pembagian waris, nanti gimana ngaturnya? Atau dalam berpakaian, batasan auratnya yang mana dan seperti apa? Belum lagi dalam urusan sholat misalnyaâ€”itupun kalo ada yang sholatâ€”bagaimana pengaturannya?</p>
<p>Mengerikan banget. Apalagi banyak dari mereka yang disebut waria ini sebetulnya adalah berjenis kelamin tunggal, yakni lelaki. Tapi karena kondisi lingkungannya nggak men?¬dukung perkembangan kepribadiannya, maka akhirnya mereka â€œmenjadiâ€? perempuan. Bener lho. Banyak kasus kejadiannya begitu.</p>
<p>Seperti kalo ada anak laki yang kerja di salon kecantikan, mereka biasanya akan kebawa jadi â€œperempuanâ€?. Maklum, bergaulnya kan se?¬ring dengan perempuan. Bagi yang nggak tahan godaan, jadi deh ikutan dalam komunitas mereka. Mulai dari soal busana, cara dandan, bahkan cara jalan dan logat bicara. Ini jelas merupakan kejanggalan berbuah dosa. Kalo dibiarkan bisa berbahaya.</p>
<p>Bahkan kalo mau dilihat akibatnya, sekarang aja udah banyak orang yang mencoba berpenampilan seperti itu. Di film misalkan, setidaknya mengajarkan model gaya hidup yang nggak bener. Ada yang berperan menjadi bencong, kayak Tata Dado. Doi istiqomah banget berperan sebagai banci (atau emang banci?). Anehnya masyarakat nggak ada yang protes atas aksi anehnya. Jadinya betah deh Tata Dado berpenampilan seperti itu. Ini satu contoh lho. Masih banyak yang lainnya; Ozy Syahputra, Ade Juwita, dan kawan-kawan seprofesinya yang betah berpenampilan perempuan. Aduh, ini masalah besar yang kudu segera dibereskan.</p>
<p><strong>Hermaphrodite?<br />
</strong>Wow, emangnya cacing? Upssss. Begini.Sebagian kecil memang ditemukan kasus orang-orang yang berkelamin ganda. Tapi kejadian yang ada saat ini lebih karena faktor lingkungan yang telah menjadikan pelakunya berubah jadi â€œperempuanâ€™. Karuan aja fenomena ini tentunya bikin kita miris. Bikin kita merasa was-was, dan tentunya sekaligus kasihan sama mereka. Sebab, mayoritas yang menjadi waria saat ini sama sekali bukan karena faktor genetik. Tapi karena faktor lingkungan sekitar. Allah Swt hanya menciptakan dua jenis kelamin bagi manusia. Laki-laki dan wanita. Itu saja. Nggak ada jenis ketiga. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?†?‘???§?³?? ?§???‘???‚???ˆ?§ ?±???¨?‘???ƒ???…?? ?§?„?‘???°???? ?®???„???‚???ƒ???…?’ ?…???†?’ ?†?????’?³?? ?ˆ???§?­???¯???©?? ?ˆ???®???„???‚?? ?…???†?’?‡???§ ?²???ˆ?’?¬???‡???§ ?ˆ???¨???«?‘?? ?…???†?’?‡???…???§ ?±???¬???§?„?§?‹ ?ƒ???«?????±?‹?§ ?ˆ???†???³???§???‹<br />
â€œHai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah mencip?¬takan isterinya; dan daripada keduanya Allah memper?¬kembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.â€? (TQS an-Nis?¢ [4]: 1)</p>
<p>Tuh kan, dari keterangan ayat ini amat jelas bahwa Allah Swt. hanya menciptakan manusia berpasangan, yakni laki-laki dan wanita. Nggak ada jenis ketiga. Apalagi yang sekarang disebut waria, yang emang udah jelas-jelas laki menyerupai perempuan, dosa itu. Bagaimana dengan yang emang berkelamin ganda?</p>
<p>Begini, memang benar kalo dikatakan bahwa para ahli fiqih Islam telah mendefinisikan istilah â€œkhanatsaâ€?, yakni orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit), atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil, artinya tidak ada kejelasan. Sebab, setiap manusia seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas, laki atau perempuan.</p>
<p>Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya. Utamanya da?¬lam menjalankan syariat. Seperti sholat, haji, batasan aurat, dan lain-lain. Kalo nggak jelas kan bingung. Jangan sampe kejadian, ketika diwajibkan pake jilbab, tapi jenggotan dan suaranya berat. Gimana urusannya kan?</p>
<p>Oleh karena itu, adanya dua jenis kelamin pada seseorangâ€”atau bahkan sama sekali tidak adaâ€”disebut sebagai musykil. Karuan aja kea?¬daan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan, kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi, misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang &#8220;air kecil&#8221;.</p>
<p>Bila urinenya keluar dari penis, maka ia divonis sebagai laki-laki dan aturan hukumnya jelas, yakni sesuai dengan yang dibebankan untuk laki-laki. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina, ia divonis sebagai wanita dan tentunya menjalankan syariat sesuai dengan jenis kelaminnya. Namun, bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan, maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa musykil. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh.</p>
<p>Selain cara tadi, bisa juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badan?¬nya, atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Misalnya, bagaimana cara ia ber?¬mimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani, red), apakah ia tumbuh kumis dan jenggot, apakah tumbuh payudara?¬nya, apakah ia haid atau hamil, dan sebagainya. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak, maka ia divonis sebagai khuntsa musykil.</p>
<p>Kenapa kudu jelas? Sebab akan mem?¬bantu dalam praktik penerapan syariat Islam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasu?¬lullah saw. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian, maka beliau menjawab dengan sabdanya: &#8220;Lihatlah dari tempat keluarnya air seni.&#8221;</p>
<p><strong>Menyalahi kodrat!<br />
</strong>Lho kok? Iya, sebab sudah jelas mereka itu laki-laki, tapi berlagak perempuan, dalam bahasa Arab disebut sebagai al-khuntsa (banci). Istilah ini diambil dari kata khanatsa berarti &#8216;lunak&#8217; atau &#8216;melunak&#8217;. Misalnya, khanatsa wa takhannatsa, yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas r.a berkata: &#8220;Rasulullah saw. Melak?¬nat laki-laki yang berlagak (seperti) perempuan dan perempuan yang berlagak (seperti) laki-lakiâ€?</p>
<p>Dalam redaksional hadis lain, yakni hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Abu Hurairah r.a. berkata: â€œRasulullah saw. telah melaknat orang laki-laki yang meniru pakaian perempuan, dan orang perempuan yang meniru pakaian lelaki.â€??  (kitab Riadhus Shalihin jilid II, hlm. 490).</p>
<p>Untuk melengkapi penjelasan, kamu bisa simak juga sebuah riwayat dari Abdullah bin Amr bin Ash yang mengatakan bahwa dirinya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: â€œBukan termasuk golonganku wanita yang me?¬nyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.â€? (HR Ahmad).</p>
<p>Sobat muda muslim, para banci alias waria ini memang bener-bener menyalahi kodrat. Dosa dong? Tentu sobat. Jangan sampe deh kita ikutan-ikutan begitu hanya karena melihat tren. Bener, sebab sekarang kelakuan rusak begitu sudah menjadi tren gaya hidup sendiri. Bahkan acapkali digembar-gemborkan bahwa itu merupakan bagian dari sebuah realitas dan harus dilembagakan.</p>
<p>Maraknya orang jadi waria, memang realitas, tapi bukan berarti harus diakui dong. Iya nggak? Sebab, kalo pun itu sebuah kenyataan, tapi bila menyalahi syariat, tentunya dipandang sebagai perbuatan dosa dong. Rasanya kaum muslimin kudu mulai mengubah cara pandang. Yup, supaya kita bisa menilai benar dan salah sesuai syariat Islam.</p>
<p>Teman, kamu pantas miris. Dalam buku Memberi Suara pada yang Bisu, Dede Oetomo, pendiri Lambda Indonesia, yakni organisasi para gay pertama di Indonesia mencatat bahwa sebenarnya telah terjadi pelembagaan terhadap transvestisme (paham tentang banci) secara tradisional di Indonesia. Komunitas seperti bissu di Sulawesi Selatan, gemblak dan gand?¬rung di Jawa dan Bali, atau beberapa pelem?¬bagaan lainnya, merupakan bentuk-bentuk pengakuan keberadaan kaum homoseksual. (Waria juga dalam orientasi seksnya cenderung homoseksual). (Kompas, 7 April 2002). Waduh!</p>
<p>Lalu gimana perlakuan Islam terhadap para banci alias waria ini? Dalam riwayat az-Zuhri dari Aisyah r.a. disebutkan (tatkala beliau menjumpai seorang banci) Rasulullah saw. bersabda: â€œIngatlah, aku tidak mau lagi melihat orang ini mengetahui apa-apa yang terjadi di sini, maka jangan diizinkan lagi masuk (rumah).â€? Kemudian Rasulullah saw. mengeluarkan dan mengasingkannya dan ia hanya datang ke kota di waktu hari Jumat untuk mencari makanan. Nah, mengasingkan waria alias banci merupa?¬kan salah satu taâ€™z?®r (sanksi yang diserahkan kepada qadly/Khalifah) terhadap kelompok waria. Nah lho, berat kan?</p>
<p>Berat memang hukumannya, itu sebab?¬nya, kita mengimbau kepada para waria untuk segera bertobat. Insya Allah masih ada waktu untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi bila tetap betah jadi banci, berarti menghalalkan dirinya dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya, Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Sobat muda muslim, sekali lagi kita tegaskan, bahwa inilah produk hukum kapitalis?¬me. Sistem yang senantiasa melahirkan kejang?¬galan, kejahatan, dan globalisasi kemaksiatan. Rasanya, tak ada harapan lagi bagi kita untuk terus mendambakan kedamaian dan ketentra?¬man dari sistem kehidupan yang rusak bin error ini. Bukan hanya rusak, bejat, nggak mutu, tapi emang kapitalisme, beserta turunannya, yakni demokrasi adalah sistem kufur, sehing?¬ga kita haram mengadopsinya. Jadi jangan sampe kita latah ikut memperjuangkan demokrasi. Justru yang kudu kita perjuangkan adalah islam. Sekali lagi, Islam!</p>
<p>Islam, sebagai sebuah ideologi, bakalan mampu mengatasi seluruh problem kehidupan, ter?¬masuk membereskan masalah menjamurnya tren kehidupan menjadi waria (banci) ini. Islam akan menindak tegas mereka yang menyalahi kodrat dan syariat Allah ini dengan jenis sanksi seperti yang udah disebutkan di atas. Sebab kalo dibiarkan begitu saja bakalan menjamur dan menyeret orang yang normal lainnya. Bahaya bukan? Waria, oh&#8230; waria&#8230; tobatlah engkau!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 093/Tahun ke-3/15 April 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/waria-oh-waria/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berteman Yes!, Pacaran No!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berteman-yes-pacaran-no</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berteman-yes-pacaran-no#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 05:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berteman-yes-pacaran-no/</guid>
		<description><![CDATA[Laki-laki dan wanita â€œditakdirkanâ€? untuk saling tertarik. Pesonanya kerap memberikan suasana yang lain daripada yang lain. Pokoknya, bikin hidup lebih hidup. Lihat deh iklan salah satu produk rokok untuk pasar remaja, edisi â€œjatuh cintaâ€?. Bener-bener lain dari yang lain. Maksudnya, rasakan sendiri deh bedanya. Lho, kok nyuruh?
Hubungan yang terjadi di antara mereka pun nggak jarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Laki-laki dan wanita â€œditakdirkanâ€? untuk saling tertarik. Pesonanya kerap memberikan suasana yang lain daripada yang lain. Pokoknya, bikin hidup lebih hidup. Lihat deh iklan salah satu produk rokok untuk pasar remaja, edisi â€œjatuh cintaâ€?. Bener-bener lain dari yang lain. Maksudnya, rasakan sendiri deh bedanya. Lho, kok nyuruh?<span id="more-94"></span></p>
<p>Hubungan yang terjadi di antara mereka pun nggak jarang bikin heboh. Bahkan banyak â€œdiabadikanâ€? melalui karya sastra dan seni yang bertebaran dalam puisi, lagu, film, dan juga dalam cerpen atawa novel. Dalam lagu misalnya, kayaknya nggak seru kalo nggak ada unsur hubungan antara dua jenis manusia ini. Kamu bisa lihat sendiri, banyak musisi yang menjadi?¬kan â€œkisahâ€? hubungan antara kaum Adam dan kaum Hawa ini. Kisah cinta di antara keduanya pun senantiasa menjadi cerita tersendiri yang menarik untuk disimak. Kisah tentang kepedihan ataupun tentang kebahagiaan, kedua sisi itu tetap punya pesona.</p>
<p>Jelasnya, laki-laki dan wanita ibarat magnet yang berbeda kutub. Satu sama lain saling memiliki daya tarik. Kalo yang laki kutub selatan, maka yang perempuan sudah pasti kutub utara. Atau sebaliknya. Dua kutub ini pasti saling tertarik dan menarik. Kalo nggak saling menarik berarti ada apa-apanya. Misal?¬nya, kedua magnet itu tidak saling berdekatan. Sebab, â€œhukum asalnyaâ€?, magnet hanya akan saling menarik bila masih dalam medan magnet yang bisa dijangkaunya. Kalo berjauhan dijamin kagak bakalan saling menarik. Coba aja, satu magnet sepatu kuda di letakkan di Bandung, dan magnet lainnya disimpan di Jakarta. Walah? He..he..he..</p>
<p>Sobat muda muslim, hubungan antara lelaki dan wanita selalu menarik perhatian. Bahkan ada teman yang bilang, bahwa intensitas pertemuan dua lawan jenis ini bisa menimbulkan â€œenergiâ€? lain. Seperti rasa senang, suka, cinta, bahagia, bahkan juga bisa kebencian. Wah, wah, wah. Kok?</p>
<p>Begini, lelaki dan wanita memang diciptakan dengan kondisi yang berbeda satu sama lain. Baik itu postur tubuh, cara bicara, cara berjalan, juga model suaranya. Wis, pokoke berbeda banget di antara keduanya. Itu pulalah yang kemudian dalam kehidupan sehari-hari memerlukan aturan baku yang bisa menjaga hubungan di antara keduanya.</p>
<p>Dalam batasan aurat misalnya, lelaki dan perempuan berbeda aturannya. Kalo perempuan sekujur tubuhnya adalah aurat, kecuali muka dan kedua telapak tangannya. Itu artinya, kalo keluar rumah, dan kalo ada lawan jenis yang bukan mahrom di hadapannya, maka auratnya wajib tertutup rapat. Kalo anak laki gimana? Wah, pasti kamu udah pada tahu dong. Yup, anak laki lebih â€œringanâ€?. Maksudnya cuma bagian pusar sampe lutut. Dengan begitu, anak laki kalo keluar rumah atau bertemu dengan lawan jenisnya kudu menutup daerah batas aurat tersebut. Kalo melanggar, ya berdosa, dong.</p>
<p>Sobat muda muslim, dalam kondisi di lapangan, kita memang nggak mungkin bisa menghindarkan diri 100 persen dari lawan jenis. Nggak. Nggak mungkin. Kalo pun bisa, gharizah an-naâ€™u (naluri mempertahankan jenis) akan senantiasa hadir dalam diri kita. Bedanya, dalam hal kuat atau tidaknya gelombang pera?¬saan tersebut. Mungkin kalo sering bertemu, gelombangnya makin kenceng, bahkan mungkin menandingi gelombang tsunami (emangnya bisa?). Tapi kalo jarang ketemu, bisa tenang. Terdeteksi sih, kalo ada gelombang perasaan itu, tapi tak sedahsyat kalo sering bertatap wajah atau dengerin suaranya di gagang telepon saat kita mengontaknya.</p>
<p>Nah, karena kita nggak mungkin hidup menyendiri, maka antara lelaki dan wanita juga bisa dibangun mitra kerja. Anggaplah untuk beberapa keperluan, kita bisa bekerjasama dengan lawan jenis. Dalam bahasa mudahnya, kita bisa berteman; entah di kampus, di pesantren, di sekolah, atau di antara pengurus pengajian di lingkungan tempat kita tinggal. Bisa aja kan itu terjadi. Dan memang mutlak terjadi. Hanya saja, perlu aturan main juga, biar nggak kebablasan. Sebab, adakalanya di antara kita yang lupa dan nggak ngeh. Mentang-mentang berteman, tapi yang terjadi adalah gaul bebas. Kan itu bahaya binti gawat, iya nggak? Jadi hati-hati deh!</p>
<p><strong>Berteman dengan lawan jenis</strong><br />
Sebut saja Rina, anak kelas 3 SMU ini terkenal sering curhat sama Ferry, teman sekelasnya. Bagi Rina, punya teman curhat lawan jenis betul-betul mengasyikkan. Alasan beliau, kalo dengan anak cewek lagi suka nggak enak ati. Masih ada perasaan ragu dan khawatir. Apalagi kebetulan temen-temen Rina mulutnya lebih dari satu. Maksudnya doyan ngegosip ke sana kemari. Jadi Rina nggak mau curhat sama temen ceweknya itu. Sebab, terlalu berisiko. Jangan-jangan masalah dirinya bakalan diobral kepada siapa aja. Kan malu. Itu sebabnya Rina lebih percaya sama anak cowok. Menurutnya, anak laki nggak banyak omong. Lagi pula, berdasarkan pengalamannya, Ferry amat ngertiin kondisi dirinya. Karuan aja, itu membuat Rina makin percaya sama anak cowok sekelasnya itu. Maklumlah, anak cowok kan berbeda dalam mengendalikan emosinya ketim?¬bang anak cewek. Benarkah?</p>
<p>Jadi deh, Rina lengket sama Ferry, bahkan punya lagu kebangsaan segala. Apalagi kalo bukan lagu Sobat-nya Padi. Wah, Rina-Ferry ini deket banget bergaulnya. Meski mere?¬ka menampik kalo hubungan keduanya adalah pacaran. â€œNggak kok, kita cuma berteman,â€? kilah Rina. Hmm&#8230;</p>
<p>Sobat muda muslim, Allah memang menciptakan dua jenis manusia ini. Bahkan bukan hanya itu, Allah Swt. telah menciptakan manusia ini menjadi bersuku-suku dan ber?¬bangsa-bangsa. Tujuannya adalah untuk saling mengenal. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?†?‘???§?³?? ?¥???†?‘???§ ?®???„???‚?’?†???§?ƒ???…?’ ?…???†?’ ?°???ƒ???±?? ?ˆ???£???†?’?«???‰ ?ˆ???¬???¹???„?’?†???§?ƒ???…?’ ?´???¹???ˆ?¨?‹?§ ?ˆ???‚???¨???§?¦???„?? ?„???????¹???§?±???????ˆ?§<br />
â€œHai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perem?¬puan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.â€? (TQS al-Hujur?¢t [49]:13)</p>
<p>Tapi jangan salah, meski tujuan kita adalah berteman, tapi tetep kudu mematuhi rambu-rambu pergaulan. Maklum, dengan lawan jenis kan ada â€œmagnetnyaâ€?. Khawatir nggak tahan godaan. Entar â€œkeceburâ€? aja. Bahaya banget. Itu sebabnya, nggak boleh sesuka kita dalam berbuat. Tapi ada aturan mainnya. Nah, karena kita adalah seorang muslim, maka tentu saja yang dipakai adalah aturan Islam. Bukan aturan lain. Pastikan standarnya adalah Islam.</p>
<p>Berteman dengan lawan jenis, bukan berarti secara â€?saklekâ€™ haram. Nggak. Silakan saja, asal masing-masing memegang prinsip pergaulan yang diajarkan Islam. Sebab, berte?¬man adalah bagian dari sosialisasi kita. Dan yang namanya sosialisasi, bukan berarti hanya dengan kawan sejenis aja kan? Tapi bisa lintas jenis. Anak laki dengan anak puteri.</p>
<p>Kamu yang kebetulan aktif di masjid sekolahan atau lembaga keislaman di kampus, pasti saling membutuhkan peran masing-masing. Anak laki butuh teman dari kalangan anak puteri, dan sebaliknya. Itu ada gunanya pas kita mengelola dakwah di sekolah atau di kampus. Utamanya ketika kita harus bero?¬rganisasi untuk keperluan pembinaan. Berarti berteman itu boleh-boleh saja, selama masih menjaga batasan-batasan yang diajarkan Islam.</p>
<p>Seperti apa sih aturan mainnya? Singkat?¬nya begini, anak putra dan anak puteri kalo bertemu untuk membicarakan suatu keperluan dakwah misalnya, harus tetap menjaga diri. Keduanya usahakan harus bertemu di tempat umum; seperti masjid, jalan, atau ruang kelas. Selain itu, kudu tetap menutup aurat. Terus, menjaga pandangan, artinya mata kamu jangan jelalatan kayak mau maling jemuran (uppsss..). Meski tentu nggak perlu terus menunduk (emangnya lagi ngegojlok semut?). Jangan lupa, kita juga kudu sopan santun dalam berba?¬hasa, artinya kita jangan sembarangan ngomong. Anak puteri kalo pas ngomong dengan anak laki, suaranya jangan dibuat-buat. Tahu kan yang kita maksud? Yes, dibuat semerdu mungkin atau mendesah kayak para pesinden musik dangdut. Sebab, khawatir diterjemahkan lain sama anak laki. Maklum, hubungan ini tetap menyimpan pesona. Sekali lagi, hati-hati!</p>
<p>Untuk semua itu, Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita melalui firman-Nya:</p>
<p>?ˆ???‚???„?’ ?„???„?’?…???¤?’?…???†???§???? ???????’?¶???¶?’?†?? ?…???†?’ ?£???¨?’?µ???§?±???‡???†?‘?? ?ˆ???????­?’?????¸?’?†?? ?????±???ˆ?¬???‡???†?‘?? ?ˆ???„?§?? ?????¨?’?¯?????†?? ?²?????†???????‡???†?‘?? ?¥???„?§?‘?? ?…???§ ?¸???‡???±?? ?…???†?’?‡???§ ?ˆ???„?’?????¶?’?±???¨?’?†?? ?¨???®???…???±???‡???†?‘?? ?¹???„???‰ ?¬???????ˆ?¨???‡???†?‘??<br />
â€œKatakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, (TQS an-N?»r [24]: 31)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah Swt. Berfirman:</p>
<p>?‚???„?’ ?„???„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?????????¶?‘???ˆ?§ ?…???†?’ ?£???¨?’?µ???§?±???‡???…?’ ?ˆ???????­?’?????¸???ˆ?§ ?????±???ˆ?¬???‡???…?’ ?°???„???ƒ?? ?£???²?’?ƒ???‰ ?„???‡???…?’ ?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?®???¨?????±?Œ ?¨???…???§ ?????µ?’?†???¹???ˆ?†??<br />
â€œKatakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pan?¬dangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;. (TQS an-N?»r [24]: 30)</p>
<p>Dengan begitu, kamu kudu mampu untuk menjaga dan mempertahankan aturan main itu sebagai tameng dalam berteman dengan lawan jenis. Sebab, banyak juga di antara teman remaja yang ngakunya berteman, eh, buktinya malah pacaran. Kan itu berbahaya sobat. Dosa!</p>
<p><strong>Pacaran? No Way!</strong><br />
Bagi sebagian teman remaja, berteman dengan lawan jenis bisa dijadikan sebagai sarana untuk menjajaki hubungan di antara keduanya. Malah lucunya, banyak juga teman remaja yang sulit membedakan antara berte?¬man dengan pacaran. Maklum, kalo kita lihat di lapangan, anak laki dan anak puteri banyak juga yang main bareng layaknya dengan kawan sejenis. Kadang ada juga yang suka main timpuk-timpukan, atau saling curhat. Perbua?¬tan itu menurut sebagian besar teman remaja adalah wajar alias nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal dalam ajaran Islam, hubungan mereka sudah termasuk gaul bebas, meski tidak kelewat batas memang. Tapi celah itu bisa menjadi peluang untuk berhubungan ke arah yang lebih jauh. Maksudnya bisa bikin deket, makin deket dan pengen deket aja. Nggak heran kalo kemudian banyak yang akhirnya nekat z-i-n-a. Naudzubillah min dzalik.</p>
<p>Sobat muda muslim, pacaran adalah salah satu jalan menuju perzinaan. Itu sebabnya, Allah Swt. sudah mewanti-wanti umat Nabi Muhammad ini melalui firman-Nya:</p>
<p>?ˆ???„?§?? ?????‚?’?±???¨???ˆ?§ ?§?„?²?‘???†???§ ?¥???†?‘???‡?? ?ƒ???§?†?? ?????§?­???´???©?‹ ?ˆ???³???§???? ?³???¨?????„?§?‹<br />
&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.&#8221; (Al Isra: 32).</p>
<p>Sobat muda muslim, pacaran bagi sebagian besar teman remaja adalah aktivitas normal. Yakni aktivitas yang tidak perlu dipersoalkan. Malah seringkali para aktivis beratnya punya dalil, bahwa pacaran adalah bagian dari proses kehidupan, khususnya dalam mengenal seseorang. Siapa tahu, suatu saat bisa terus ke pernikahan. Walah? Padahal faktanya, banyak juga yang udah bertualang â€œluar-dalamâ€?, akhirnya kagak jadian alias salah satu mengkhianati, yakni menikah dengan orang lain. Wuah?</p>
<p>Kamu jangan heran or bingung, dalam kondisi kehidupan yang jauh dari ajaran Islam ini, banyak orang, termasuk remaja menjadi liar. Gaya hidup hedonis (mendewakan kenikmatan materi dan jasmani) yang kemudian melahirkan gaya hidup permisi?¬visme (serba boleh). Akibatnya, banyak teman remaja yang memiliki gaya hidup â€œsemau gueâ€?. Khususnya, dalam ajang gaul bebas. Kasihaaan deh kamu&#8230;.</p>
<p>Oke deh, berteman yes, pacaran no!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 092/Tahun ke-3/8 April 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berteman-yes-pacaran-no/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musik Manis, Musik Meringis</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/musik-manis-musik-meringis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/musik-manis-musik-meringis#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 05:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/musik-manis-musik-meringis/</guid>
		<description><![CDATA[Musik adalah mata untuk telinga. Demikian tertulis dalam sebuah peribahasa. Telinga kamu pasti bisa membedakan, mana musik yang enak, dan mana musik yang bikin bete. Telingalah yang bisa menyeleksi. Ibarat kamu melihat sesuatu, matalah yang pandai menyeleksi, mana gambar yang indah dan mana tampilan yang buruk. Begitulah.
Ngomong-ngomong soal musik, kayaknya paling asyik deh. Bukan apa-apa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musik adalah mata untuk telinga. Demikian tertulis dalam sebuah peribahasa. Telinga kamu pasti bisa membedakan, mana musik yang enak, dan mana musik yang bikin bete. Telingalah yang bisa menyeleksi. Ibarat kamu melihat sesuatu, matalah yang pandai menyeleksi, mana gambar yang indah dan mana tampilan yang buruk. Begitulah.<span id="more-93"></span></p>
<p>Ngomong-ngomong soal musik, kayaknya paling asyik deh. Bukan apa-apa, musik ibarat udah jadi teman hidup kita. Menemani kita dalam segala kondisi. Saat sedih atawa pas kita lagi seneng, musik jadi teman setia kita. Termasuk, musik juga teman dalam mengeks?¬presikan keinginan kita. Sampe ada teman yang bilang kalo musik emang bikin hidup lebih hidup.</p>
<p>Sobat muda muslim, tanpa kita sadari biasanya kita udah punya selera sendiri tentang musik. Ada yang senang musik dan lagu yang romantis, juga ada yang suka musik yang bikin meringis. Jenis musik dan lagu romantis? Hmm&#8230; siapa sih yang nggak kenal Rio Febrian? Wah, anak cewek biasanya udah hapal banget sama suara emas milik cowok ganteng ini. Lagu-lagunya? Wow, pasti banyak disuka. Kelompok musik Padi, juga nggak ketinggalan dari daftar selera anak muda saat ini. Gimana nggak, grup band asal Surabaya ini udah mengumpulkan banyak penggemar, selain tentunya juga mengeruk banyak duit.</p>
<p>Taruhlah itu di jalur musik pop. Musik dangdut juga sebetulnya banyak penggemarnya lho. Cuma biasanya anak sekolah rada malu-malu kalo harus ngobrolin jenis musik ini di sekolahan. Maklum, selera mereka kalah bersaing dengan teman-temannya yang udah kecantol sama jenis musik pop, rock, dan juga metal. Jadi yang diobrolin di sekolah biasanya musik begituan. Karena ngikutin teman. Katanya sih, kalo seneng musik dangdut takut disebut kampungan. Di sekolah bolehlah ngalah, tapi tidak untuk di rumah. Buktinya banyak juga yang aktif nge-request lagu ke radio khusus yang muterin lagu-lagu dangdut. He..he..he&#8230; di sekolah sih ngomongin Lem Biskuit (sori, mak?¬sudnya Limp Bizkit), eh, pas di rumah yang didengerin lagu-lagunya Bung Meggy Z.</p>
<p>Sobat muda muslim, ada juga teman kita yang menyukai musik berisik. Sebut saja mereka gandrung sama Metallica, Guns â€?N Roses, Sepultura, Limp Bizkit, atau yang lokal punya macam Power Metal, Slank, juga termasuk PAS dan Netral, serta Jamrud.</p>
<p>Eh,?  nggak ketinggalan, ada juga teman kita yang suka musik dan lagu kocak. Kayak lagu-lagunya P-Project dan HarJay alias Harapan Jaya. Lagu Piki-Piki milik gerom?¬bolannya P-Project ini banyak disuka remaja. Maklum kocak banget. Atau lagu-lagunya HarJay. Ambil contoh, kalo kamu kebetulan dengerin lagu metal 80-an â€œNKOTBâ€? (singkatan dari Narkotika Berbahaya) milik HarJay, yang bisa jadi idenya ngambil dari lagu Tornado of Souls-nya Megadeth. Ada yang bilang kagak kuat dengerin lengkingan â€œnar-ko-tiâ€¦kaaaa!!!â€? di akhir lagu ini. Kocak abis. Selain itu, judul lagu yang pake singkatan ada â€œMaju 13 KLâ€? (Malam Jumat 13 Kliwon) yang pake suara efek turntable seadanya, dan â€œMKBPâ€? (Mulutnya Kok Bau Pete). Ah, dunia ternyata cuma dimanfaatkan untuk main-main</p>
<p><strong>Jangan cuma enak didengar</strong><br />
Sobat muda muslim, karena musik hampir selalu berkaitan erat dengan lagu-lagunya, maka biasanya ketika kita ngomongin musik, udah pasti ngomongin lagunya juga.</p>
<p>Nah, dari sekian banyak jenis musik yang ada, paling nggak kita bisa membagi dua kutub. Pertama adalah musik yang emang manis, dan yang kedua musik yang bikin kita meringis. Maksud â€œmanisâ€? di sini bukan cuma karena genre alias jenis musiknya yang emang slow dan kemudian bisa dibilang enak didengar. Nggak. Dan emang bukan cuma itu yang kita nilai. Tapi kita menilai lagunya juga dong. Disebut manis, berarti emang lagunya oke punya. â€œOkeâ€? di sini maksudnya mengajarkan kebenaran dan kebaik?¬an. Kalo meringis, ya sebaliknya.</p>
<p>Sebut saja ada jenis musik dan lagunya yang bikin kita meringis. Kamu kenal Ozzy Osbourne? Yup, yang suka dengan musik metal biasanya hapal banget dengan nama ini. Maklum, rocker yang punya nama asli John Michael Osbourne ini gemar berpenampilan aneh. Ozzy pernah beraksi di panggung ditemani puluhan babi yang kemudian disembelihnya. Pernah pula ia menggigit kepala kelelawar hingga putus. Ozzy juga termasuk musisi yang tak lepas dari pengaruh obat-obatan dan minuman keras. Pokoknya, namanya selalu identik dengan segala hal yang menyeramkan dan menjijikkan.</p>
<p>Berbagai protes dan kecaman pernah silih berganti mendera Ozzy. Misalnya dari tiga pasang keluarga asal Georgia dan California, yang menuduh Ozzy telah mempengaruhi anak mereka untuk bunuh diri. Menurut mereka, lirik lagu Ozzy yang berjudul Suicide Solution (dari album Blizzard of Ozz) berisi ajakan untuk menghabisi hidup anak mereka. Tapi tuduhan tersebut ditampik oleh Ozzy. &#8221;Lagu Suicide Solution justru berisi imbauan anti-alkohol dan anti-bunuh diri,&#8221; kilahnya. Wah, jangan-jangan pas ngejawabnya Ozzy lagi teler berat. Jadi ngelantur!</p>
<p>Lagu kondang We are the Champions sepintas bersyair baik, namun ternyata oleh kelompok Queen lagu itu dibuat untuk mendukung keberadaan homo seksual. Lagu tersebut dijadikan â€œlagu kebangsaanâ€? kaum homo dan dipakai untuk mendukung gerakan Gay Liberation (Pembebasan kaum homo). Maklum Freddy Mercury, sang vokalis, ternyata juga seorang bohemian biseksual penganut freesex yang meninggal akibat AIDS. Hmm&#8230;</p>
<p>Syair yang parah ternyata nggak cuma milik musik dan lagu metal. Di jalur musik pop dan dangdut juga banyak yang nakal. Hih, syairnya bikin otak kita mau pecah. Maklum, di situ ada juga lagu-lagu yang â€œmenawarkanâ€? seks bebas, narkoba, kerusuhan, dan juga anti-agama. Sebut saja lagunya milik Dewa 19, Restoe Boemi. Kalau kamu pernah dengar lagu ini mungkin bakalan miris. Kenapa? Karena Dewa ngajak melakukan freesex. Coba perhati?¬kan syair lagunya &#8220;Se?¬wangi bunga mawar tubuhmu/Menghampar di permadani/Mengetuk hasrat â€?tuk menyentuh â€¦surgamu&#8221; Hmm&#8230; logikanya, gimana kamu mampu merasakan keharuman tubuh sese?¬orang, taruhlah sewangi mawar, bila tak menciumnya sedekat mungkin dan sedalam mungkin tanpa embel-embel nafsu setan? Walah?</p>
<p>Kamu juga bisa menilai sendiri, gimana â€œnakalnyaâ€? lagu Semua Tak Sama milik Padi. Simak potongan syairnya, â€œ&#8230;Coba tuk melawan getir yang terus kukecup merasuk ke dalam relung sukmaku/Coba â€?tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu mengalir mengisi laju darahkuâ€? Wah, wah, wah, pantesan aja banyak teman remaja yang demen banget lagu beginian, terutama yang lagi kasmaran.</p>
<p>Oya, lagu â€œmanisâ€? milik Rio Febrian juga udah memberi peluang dalam merusak hati kita. Lagu Katakan Kau Milikku, terutama pas reff-nya juga parah, â€œDengarkanlah kata hatiku Ini bukanlah rayu atau sekedar janji/Untuk memikat hatimu/Seribu bintang yang jadi saksinya/ Betapa kumau hanya kamu dan hanya dirimu satu-satunya yang kucinta, kasihâ€? Wah, kita diajak untuk mengagungkan kekasih kita, padahal, Allah lebih utama untuk kita cintai.</p>
<p>Lagu yang mengajarkan anti agama juga ada, meski dibawakan dengan merdu dan dengan musik kalem. Bagi kamu yang kenal grup musik The Beatles, pasti mengenal sosok John Lenon. Nah, John Lenon pernah berkoar lewat lagu Imagineâ€”yang juga menjadi soundtrack film terkenal The Killing Fieldâ€”. Doi bilang begini,â€?No heaven, no hell, and no religion too..â€?</p>
<p>Lagu dangdut gimana? Wah, ada juga tuh yang â€œngeres-ngeresâ€? seperti Goyang Dombret, Gula Gula, Bisik-Bisik Tetangga, dan sejenisnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, jadi yang kita amati bukan sekadar enak didengar telinga, tapi kudu menilai juga syair-syairnya. Siapa tahu emang bermasalah kan? Seperti contoh lagu di atas.</p>
<p><strong>Mana yang manis?</strong><br />
Sobat muda muslim, selain musik-musik yang bisa merusak pikiran dan perasaan kita, ternyata masih ada juga yang bikin perasaan kita tentrem. Sebut saja nasyid, saat ini perkembangannya cukup menggembirakan, meski masih kalah bersaing. Maklum, jenis musik ini bagi sebagian kalangan hanya cocok untuk diputer saat bulan puasa. Padahal, banyak syair-syairnya yang bisa menjaga hati kita. Malah bukan tak mungkin bisa menim?¬bulkan semangat rela berkorban untuk agama?¬nya bagi kaum muslimin yang dengerin.</p>
<p>Ambil contoh lagu Rasulullah milik The Zikr. Grup nasyid asal Malaysia ini lewat lagu itu berupaya menggambarkan bagaimana Rasu?¬lullah, simak potongan syairnya, â€œEngkau tabur?¬kan pengorbananmu/ Untuk umatmu yang tercinta/Biar terpaksa tempuh derita/Cekalnya hatimu menempuh ranjaunyaâ€? Duh&#8230;.manis bukan? Yup, emang manis banget.</p>
<p>Lagu nasyid juga ada yang bikin kita gembira dan bersemangat untuk membela Islam. Ambil contoh lagunya Intifada milik Rabbani, yang irama musiknya emang ceria. Simak deh potongan syairnya&#8230;â€? Oh..semerbak harum bingkisan annur/Berterbangan tinggi ke Intifada/Oh merentas misi risalah suci/Mewa?¬ngikan taman yang dicemariâ€? Coba, siapa yang nggak semangat dengerin lagu begini?</p>
<p>Sobat muda muslim, nasyid paling nggak bisa menjadi alternatif musik dan lagu yang ada saat ini. Tentunya di tengah gemuruh musik dan lagu yang amburadul. Tapi sayangnya, baru sedikit remaja yang menggandrunginya. Ada apa sebenarnya?</p>
<p>Ini amat berkaitan erat dengan cara pandang masyarakat sekarang, sobat. Maklum, sistem kehidupan yang ada sekarang memberi peluang orang untuk bebas berbuat sesukanya. Tak terkecuali dalam urusan musik dan lagu. Karena para musisi dan penyanyi udah terbiasa dengan kehidupan yang rusak, maka jangan heran pula bila karya yang dihasilkannya nggak jauh dari situ. Rusak juga.</p>
<p>Saat ini nyaris tak ada yang mengontrol aliran dan macam musik-musik seperti itu. Bahkan untuk sekadar mengendalikan kelakuan remaja-remaja yang error. Maka tatkala ada remaja yang nyeleneh hampir-hampir tak ada yang menghiraukannya.</p>
<p>Bagi kita, remaja muslim, sikap yang harus diambil sudah jelas. Yang merusak harus kita hindari dan kalo sanggup kita ubah. Mengapa kita tidak sama-sama mengajukan protes atau boikot atau apalah yang bisa bikin kapok para musisi dan artis yang mengusung gaya hidup liberal. Bukannya sok suci, tapi itu semua kan demi kebaikan kita bersama.</p>
<p>Terus, masyarakat juga harus kompak dalam menilai tercela atau tidaknya suatu perbuatan. Yang jelas-jelas maksiat, ya harus distop dengan tanpa pandang bulu. Dan akan lebih afdhol, bila kemudian negara memberikan sanksi yang tegas, misalnya membrei?¬del albumnya atau mencekal dan memperkarakan pemusik dan pencipta lagunya. Kasus lagu Takdir-nya Dessy Ratnasari bisa menjadi contoh, bahwa lagu-lagu yang membahayakan akidah dan akhlak remaja, dan juga masyarakat, memang harus diberi peringatan. Bila demikian, rasanya bakal tak muncul para pemusik yang berekspresi macam-macam.</p>
<p>Para musisi dan artis juga harus sama-sama paham, bahwa lagu-lagu mereka dan juga gaya hidup mereka itu diteladani oleh para penggemar mereka. So, kalau mereka berting?¬kah macam-macam sama artinya dengan mengajarkan perilaku yang buruk kepada rema?¬ja. Apakah mereka siap tanggung jawab di akhirat nanti? Pasti nggak mau kan? Kayaknya kalo tahu begitu, pasti mikir-mikir deh.</p>
<p>Ini bukan berarti mendengarkan musik menjadi barang yang terlarang. Musik tetap boleh-boleh saja didengarkan, asal selektif. Nggak boleh asal telan saja. Harus bijaksana. Kata orang bijak, kalau itu manis, jangan segera ditelan. Dan bila pahit, jangan cepat dimuntah?¬kan. Kan masih banyak lagu-lagu yang syairnya baik dan musiknya enak didengar. Dan pastikan selalu, bahwa Islam akan membawa kebaha?¬giaan. Di dunia dan akhirat lho. Maka, mulai sekarang, tanamkan kecintaan kita kepada Islam. Salah satunya dengan mulai ikut ngaji.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 091/Tahun ke-3/1 April 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/musik-manis-musik-meringis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Seks Gaya Hai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pendidikan-seks-gaya-hai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pendidikan-seks-gaya-hai#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 05:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pendidikan-seks-gaya-hai/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo kamu membaca majalah Hai edisi 4-10 Maret 2002 lalu, kayak?¬nya bakalan dibikin kaget deh. Bukan apa-apa, edisi â€œbermasalahâ€? dari majalah remaja pria ini banyak diprotes. Majalah berpengaruh di kalangan remaja pria kota-kota besar ini mengangkat laporan utama soal seks di luar nikah. Pengelolanya mungkin berhasrat menyajikan pendidikan seks bagi pembaca muda. Namun, alih-alih mendorong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo kamu membaca majalah Hai edisi 4-10 Maret 2002 lalu, kayak?¬nya bakalan dibikin kaget deh. Bukan apa-apa, edisi â€œbermasalahâ€? dari majalah remaja pria ini banyak diprotes. Majalah berpengaruh di kalangan remaja pria kota-kota besar ini mengangkat laporan utama soal seks di luar nikah. Pengelolanya mungkin berhasrat menyajikan pendidikan seks bagi pembaca muda. Namun, alih-alih mendorong remaja untuk menjauhi seks bebas, majalah ini justru membangun citra bahwa aktivitas seks di luar nikah adalah bagian yang sah, exciting (yang mengasyikan), dan normal. Wah?<span id="more-92"></span></p>
<p>Kecaman terhadap majalah Hai terasa banget kalo kamu juga menyimak diskusi-diskusi di beberapa mailing list di internet. Karena banyaknya kecaman tersebut, pengelola Hai memutuskan untuk tidak menampilkan artikel-artikel tersebut di edisi online-nya. Tapi ya, kalo edisi cetaknya udah nyebar kemana-mana. Mungkin di antara kamu ada yang udah baca juga. Gimana, parah kan?</p>
<p>Sobat muda muslim, pendidikan seks yang diajarkan majalah Hai di edisi tersebut benar-benar bikin kita-kita senewen. Bahkan terkesan hendak meracuni kita. Gimana nggak, dalam beberapa bagian, memang disajikan keluhan dan derita akibat hubungan seks di luar nikah. Ada masalah aborsi, kehamilan remaja, bahaya penyakit kelamin, menjadi orangtua tunggal, dan sebagainya.</p>
<p>Tapi, sebaliknya Hai juga tak mengajarkan pembacanya menjauhi seks. Menurut catatan Mas Ade Armando di harian Republika pada 16 Maret 2002, pesan utama edisi itu tampaknya adalah, &#8221;Kalau melakukan hubungan seks, berhati-hatilah.&#8221; Sebagai contoh, Hai menulis, &#8221;Premarital seks sebaiknya jangan dilakuin. Bukan apa-apa, risikonya berat. Tapi, kalau udah nggak tahan lagi dan nekat, ya terserah.&#8221; Wuah, kacau banget kan?</p>
<p>Seperti biasa, untuk seolah-olah menjus?¬tifikasi apa yang ingin disampaikannya, Hai?  menurunkan laporan investigasinya. Berisi pengakuan tiga artis muda Jakarta. Pengan?¬tarnya begini, &#8221;Making love bagi sebagian orang memang menjadi bumbu penyedap dalam pacaran. Meski begitu, nggak berarti jadi keharusan. Lebih bagus kalo kita melakukannya saat benar-benar sudah siap dan berani bertanggung jawab. Artinya, tau apa akibat yang akan ditimbulkan. Dan terutama, do it safely.</p>
<p>Wah, wah, wah, ini gimana urusannya? Nggak dikomporin aja teman-teman remaja banyak yang udah nekat ngelakuin, gimana kalo dikomporin (baca: dianggap wajar). Bener-bener kacau bin parah. Itu artinya, Hai lewat artikelnya itu tidak menganggap salah hubungan seks di luar pernikahan. Ketiga artis yang diwawancara&#8211;Mario Lawalata, Shirley Marga?¬reta, dan Tomas &#8221;Gigi&#8221;&#8211; jelas lebih menekankan aspek kehati-hatian seks. Berzina bolehlah, yang penting hati-hati. Naudzubillah min dzalik!</p>
<p>Parahnya lagi, Hai juga menunjukkan betapa normalnya perilaku seks bebas di kalangan remaja. Buktinya, Hai menurunkan hasil wawancara dengan delapan remaja usia 16-20 tahun. Hampir semua mengaku senang berhubungan seks, yang mereka gambarkan sebagai kegiatan yang &#8221;menyenangkan, mem?¬buat ketagihan, dilakukan suka-sama-suka&#8221;. Wah, wah, wahâ€¦</p>
<p>Selain itu, Hai juga menurunkan kuis. Salah satu pertanyaannya adalah &#8221;apa yang akan kamu lakukan bila cewek kamu bilang pengen nyobain intercourse&#8221;. Alternatif jawa?¬bannya adalah (A) mau ngasih, tapi bilang dulu, risikonya kamu yang tanggung ya; (B) Wuih mau mau, tapi nanti kalau kenapa-kenapa gimana?; dan (C) Nasehatin dia kalau itu berbahaya. Tapi, kalau dia maksa juga, ya hayo. Naudzubillahi min dzalik!</p>
<p>Sobat muda muslim, ini emang keterlaluan banget. Tren mengajak maksiat makin berani dilakukan berbagai kalangan, termasuk oleh majalah Hai. Yup, emang bukan cuma Hai yang brengsek. Semua media yang mengusung dan mengajak kepada kemaksiatan juga amburadul.</p>
<p><strong>Membahayakan</strong><br />
Pepatah lama menyebutkan, kalo takut dilebur ombak, jangan berumah di tepi pantai. Kalo takut kebakar, jangan coba-coba main api. Nah, begitu pula kalo kita nggak mau kecebur pergaulan bebas, jangan deket-deket dengan pemicunya. Salah satunya, jangan deketin bacaan-bacaan atawa tontonan yang merang?¬sang nafsu seks kamu. Berbahaya.</p>
<p>Tapi celakanya, justru kini semua media mengepung kita dan seolah memaksa kita untuk menikmati suguhan mereka yang beracun itu. Kalo kita menolak pun, mereka tetap â€?ngototâ€™ dengan segala macam cara. Karena tujuan utamanya adalah menciptakan kondisi tersebut.</p>
<p>Nah, Hai adalah contoh kasus dan saat ini jadi â€œsasaran empukâ€? berbagai kalanganâ€”termasuk Studia tentunya&#8211;untuk mengecam majalah remaja pria ini. Abisnya, ini benar-benar membahayakan pembacanya. Apalagi kalo dilihat profil pembaca Hai ini kan rata-rata remaja ibukota, dengan pendidikan agama yang minim, dan jauh dari perhatian ortu. Paling nggak, Hai udah ngajak mereka mencari jalan hidup sendiri, khususnya yang berkaitan dengan â€œpetualangan seksâ€?. Waduh!</p>
<p>Sobat muda muslim, perkembangan ini memang amat memprihatinkan. Terus terang saja, ini semakin menambah daftar panjang noda hitam bagi perkembangan kepribadian remaja negeri ini. Sebab, selama ini pun televisi getol banget menayangkan program acara yang bikin otak pemirsanya jadi piktor alias pikiran kotor. Mikirnya ke â€œsituâ€? melulu. Tahu kan apa yang kita maksud? Ehmâ€¦ Tahu aja deh!</p>
<p>Akibatnya nggak usah heran pula, kalo remaja di kota-kota besar makin berani berhubungan seks. Salah satu penyebabnya adalah media yang mereka baca dan tonton bukan saja merangsang aktivitas seksual, namun juga memberi pembenaran bahwa &#8221;berzina tidak salah dan lazim dilakukan banyak remaja lainnya&#8221;. Wuah?</p>
<p>Kita seharusnya amat bisa memahami bahwa media massa adalah alat yang amat ampuh untuk menyampaikan beragam ide. Kalo itu ide baik, tentu amat bermanfaat. Celakanya, kalo itu kejadian seperti kasus majalah Hai ini. Media massa berubah jadi â€œsetan besarâ€? pen?¬cipta dan penyebar globalisasi kesesatan.</p>
<p>Sobat muda muslim, kondisi ini terasa kian berat bagi kita. Sebab, setiap tarikan napas kita sudah bercampur debu kemaksiatan. Mau nonton televisi, tayangan yang banyak muncul justru yang â€œgersangâ€? alias â€œsegerâ€? merangsang. Mau baca tabloid, majalah, koran, juga kita rasanya pengen muntah karena disuguhi menu yang â€œitu-ituâ€? aja. Utamanya kini marak tabloid dan majalah â€œesek-esekâ€?. Nyaris nggak ada pilihan bagi kita. Wah, karena semuanya begitu, maka jangan salahkan pem?¬baca dan pemirsa 100 persen, bila kemudian mereka berperilaku bejat. Para pengelola acara televisi dan pengelola bisnis majalah, koran, dan juga tabloid kudu bertanggung jawab juga dong. Kenapa? Karena mereka telah menyediakan tempat yang amat berbahaya bagi perkem?¬bangan kepribadian pembaca dan pemirsanya. Media massa emang â€œagen perubahâ€?.</p>
<p>Jadi begitulah, saat ini remaja pria Indonesia terus dibombardir dengan rang?¬sangan seks yang disertai pembenaran bahwa seks di masa remaja di luar nikah adalah &#8221;asyik, mengikuti zaman, normal, serta dilakukan banyak artis dan anak muda kota.</p>
<p>Jangan sampe deh, Allah mengazab kita semua, karena kita udah menganggap wajar perbuatan zina. Rasulullah saw. bersabda: â€œApabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.â€? (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132).</p>
<p><strong>Pendidikan seks, yang bagaimana?</strong><br />
Kalo model pendidikan seks yang diajarkan majalah Hai dan juga konco-konco seperjuangannya, maka jelas itu adalah sebuah kesalahan. Bukan hanya salah, tapi malah memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk berbuat maksiat. Itu artinya menje?¬rumuskan orang kepada dosa dan kesesatan. Wah, bener-bener ngaco deh.</p>
<p>Oya, kayaknya perlu kita pahami dulu, bahwa Hai, dan juga majalah remaja lainnya, adalah produk dari sebuah sistem kehidupan yang ada saat ini, yakni kapitalisme. Do you know capitalism? Yes, kapitalisme adalah sistem kehidupan untuk mengatur manusia berdasarkan â€œakidahâ€? pemisahan agama dari kehidupan. Artinya, kalo mau ngurus kehidupan manusia, jauhkan agama sejauh-jauhnya. Alasannya, karena agama dituding sebagai penghalang kebebasan manusia. Bahkan mereka menuduh agama biang perpecahan di antara umat manusia. Padahal, justru model kehidupan yang diajarkan oleh kapitalismelah yang telah memberikan ruang yang besar untuk kehan?¬curan umat manusia. Kenapa? Sebab dalam kapitalisme diajarkan kebebasan dan asas manfaat. Kalo itu bermanfaat, kalo itu bisa mengun?¬tungkan secara materi, maka sah-sah saja untuk dilakukan. Meski hal itu adalah per?¬buatan yang terlarang dalam pandangan agama.</p>
<p>Nah, ngomong-ngomong tentang pendi?¬dikan seks ini, sebetulnya yang kayak gimana sih yang kudu diajarkan itu? Soalnya, biar nggak distorsi. Biar jelas gitu lho.</p>
<p>Singkatnya begini, Islam telah menga?¬jarkan prinsip-prinsip dasar tentang pendidikan seks, khususnya melalui institusi keluarga. Meski tidak secara langsung dan vulgar tentu?¬nya. Misalnya, anak laki dan anak perempuan kalo tidur udah mulai dipisahkan tempatnya. Sejak kecil pula dibiasakan untuk mengenali batasan auratnya. Misalnya, bila â€œbidadariâ€? kecil ini akan diajak keluar rumah, pastikan disediakan busana muslimah untuknya. Itu akan membekas banget. Kalo ibunya udah nyiapin baju itu, maka pasti ia akan diajak keluar rumah. Hal itu dilakukan terus menerus. Nah, gedean dikit, yakni ketika udah bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, ortu harus memasukkan konsep-konsep tentang aurat. Supaya lebih mantap. Firman Allah Swt.:</p>
<p>ï???ˆ???‚???„?’ ?„???„?’?…???¤?’?…???†???§???? ???????’?¶???¶?’?†?? ?…???†?’ ?£???¨?’?µ???§?±???‡???†?‘?? ?ˆ???????­?’?????¸?’?†?? ?????±???ˆ?¬???‡???†?‘?? ?ˆ???„?§?? ?????¨?’?¯?????†?? ?²?????†???????‡???†?‘?? ?¥???„?§?‘?? ?…???§ ?¸???‡???±?? ?…???†?’?‡???§ï?›<br />
Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (bia?¬sa) nampak daripadanya. (TQS an-N?»r [24]: 31)</p>
<p>Setelah usianya bertambah, kenalkan juga hubungan antara laki-laki dan wanita. Misalnya, biasakan mereka hidup terpisah satu sama lain. Tidak campur-baur dan bebas ber?¬gaul dengan lawan jenis tersebut.</p>
<p>Kedekatan ibu dengan anak perempuan?¬nya juga akan menolong anak-anak mengerti tentang dirinya. Sebab, ketika anak mulai beranjak remaja, maka ibu kudu bener-bener telaten memperhatikan perkembangannya. Dalam acara â€œcurhatâ€? antar mereka bisa saja sang ibu memberikan pengalamannya sebagai wanita. Bahwa wanita itu bisa mengalami haid, hamil, melahirkan, bahkan menyusui anak. Pola hubungan sebab-akibat yang terjadi di antara fase-fase itu juga bisa disampaikan, meski tetap dengan bahasa yang sopan. Anak laki juga demikian. Ayahnya berperan juga. Selain bacaan tentang masalah â€œkhususâ€? tersebut, juga disampaikan pandangan Islam terhadapnya. Insya Allah, hal ini akan bisa menolong remaja dari kebingungan tentang seks. Sebab, kalo dilihat kasusnya yang terjadi sekarang, mereka miskin bimbingan yang benar dan baik.</p>
<p><strong>Peran negara</strong><br />
Kita menyadari bahwa kita banyak kelemahan dan keterbatasan. Keluarga misal?¬nya, meski setiap hari dikondisikan dengan penanaman nilai yang benar dan baik, tapi jangan harap bisa bertahan ketika terjun ke lingkungan yang amburadul. Yup, sebab kita nggak mungkin dikurung terus di dalam rumah (emangnya burung?). Kita butuh sosialisasi. Namun kita juga khawatir, bila kondisi masyara?¬kat kita brengsek; misalnya, sekolah nggak ketat dalam membina kita, media massa menyuguh?¬kan kerusakan, kehidupan masyarakat yang doyan berbuat maksiat; itu bisa membuat dinding pertahanan iman kita jebol. Bukan mustahil tentunya kan? Ckckckck&#8230;.</p>
<p>Itu sebabnya, kita juga menyerukan kepada bapak-bapak pejabat dan aparat kita supaya segera membreidel media massa brengsek yang mengajak dan mengajarkan kemaksiatan. Kalo nggak, rasanya kehancuran itu sudah kian mendekat. Jadi emang kudu ada niat baik dan sungguh-sungguh dari pemerintah untuk menyelesaikan problem ini.</p>
<p>Tapi yang pasti, bila sistem kehidupan?¬nya masih model sekarang (baca: kapitalisme), maka dijamin nggak bakalan bisa kelar-kelar. Seba?¬liknya, bila yang diterapkan adalah syariat Islam, maka apapun jenis kemaksiatan yang terjadi akan segera dibumi-hanguskan. Tanpa ragu-ragu lagi. Pasti. Itulah okenya syariat Islam. Jadi, tunggu apalagi? Terapkan syariat Islam!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 090/Tahun ke-3/25 Maret 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pendidikan-seks-gaya-hai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Biang Togel</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/generasi-biang-togel</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/generasi-biang-togel#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 05:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/generasi-biang-togel/</guid>
		<description><![CDATA[Judi! Menjanjikan kemenangan/Judi! Menjanjikan kekayaan/Bohong! Bila engkau menang, itu awal dari kekalahan/Bohong! Bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan&#8230;..Apa pun nama dan bentuk judi/Semuanya perbuatan keji/Judi&#8230;.
Hmm.. petikan lagu karya Bang Rhoma Irama ini kayaknya pas sekali dengan kasus judi togel yang marak banget belakangan ini. Gimana nggak, yang namanya judi togel, nggak di kampung, nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judi! Menjanjikan kemenangan/Judi! Menjanjikan kekayaan/Bohong! Bila engkau menang, itu awal dari kekalahan/Bohong! Bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan&#8230;..Apa pun nama dan bentuk judi/Semuanya perbuatan keji/Judi&#8230;.<span id="more-91"></span></p>
<p>Hmm.. petikan lagu karya Bang Rhoma Irama ini kayaknya pas sekali dengan kasus judi togel yang marak banget belakangan ini. Gimana nggak, yang namanya judi togel, nggak di kampung, nggak di kota. Dari mulai abang tukang becak, abang tukang bakso, abang sopir, penjual sayur, ibu rumah tangga, petani, sampe pelajar, mahasiswa dan bahkan pekerja kantoran. Wuih, pokoknya mereka tumblek-blek menyatukan perasaan dan pikirannya dengan judi togel alias toto gelap. Hanya dengan rumus â€œsuka-sukaâ€? utak-atik angka, keluar tuh angka hoki yang kalo dipasang dan menang bakal bikin tajir mendadak. Setidaknya itulah anggapan mereka.Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Suatu hari seorang teman cerita kalo doi nggak habis pikir dengan ulah beberapa mahasiswa yang nggak malu dan ragu lagi untuk main togel. Saat itu, sang teman cerita kalo di sebuah universitas di Bogor, teman-teman mahasiswa harapan bangsa ini sedang sibuk mengutak-atik angka yang akan dipasangnya lewat permainan togel. Sang mahasiswa, dengan semangat meramu angka-angka itu bak seorang pakar matematika untuk menurunkan rumus â€œsuka-sukaâ€?. Hasilnya adalah angka yang bakal dipasangnya malam itu. Walah? Padahal, kalo disuruh ngerjain soal kalkulus mah, maaf, begonya setengah hidup. Ih, amit-amit deh.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita prihatin banget. Terus terang, apa yang mau diandalkan untuk kemajuan negeri ini di masa mendatang, kalo sekarang generasi ini jadi cikal-bakal generasi biang togel. Teman mahasiswa selain sibuk memfotocopy diktat kuliah, juga sibuk mengisi kupon togel. Malah boleh jadi ngisi kupon togel adalah kebiasaan rutin yang bisa mengalahkan urusan kuliah. Aduh biyuuuunggg.</p>
<p>Wah, wah, wah, togel emang bikin orang jadi bertingkah nggak normal. Tepatnya kudu dirujuk ke RSJ (Rumah Sakit Jiwa). Gimana nggak, contohnya, ada yang nyari angka keberuntungan itu lewat mimpi. Hebatnya lagi, mereka punya kitab tafsir mimpi segala. Caranya dengan mencocokkan mimpi yang dialaminya lalu dicari padanannya di kitab tafsir mimpi. Soalnya di situ udah ada angka-angkanya. Selanjutnya? Masang angka itu lewat permainan judi togel. Ada juga yang rela nanya sama orang gila (lho, ini yang gila siapa?), malah ada yang nggak takut lagi ngedatangin kuburan dan nginep di sana, dengan harapan dapat wangsit untuk nomor hoki, termasuk kalo harus melototin plat nomor mobil yang kebetulan ngelewat di jalan. Celakanya lagi, malah ada yang percaya dengan ucapan anak-anak segala, dengan anggapan bahwa ucapan anak adalah omongan malaikat. Walah, untuk urusan judi sampe bawa-bawa malaikat, gimana nggak parah kan? Udah gitu kadang ngomongnya enteng banget, kayak yang nggak takut dosa, gitu lho. Naudzubillah min dzalik. Dunia&#8230;dunia&#8230;</p>
<p>Ah, maaf saja, kayaknya emang udah pada nggak waras. Nggak heran dulu ada juga jenis judi dengan nama PORKAS yang kemudian diplesetkan jadi Putar Otak Rencana Kaya, Akhirnya Sinting. Kalo TOGEL? Bisa jadi, maaf saja, Tolol dan Gelo (baca: gila). Ih?</p>
<p><strong>Mengkhawatirkan<br />
</strong>Sobat muda muslim, kalo lihat faktanya, batasan antara iseng dan nyandu jadi tipis banget. Ada yang ngakunya iseng, tapi masangya hampir tiap hari putaran. Biasanya seminggu bisa sampe lima kali, dengan beragam jenis kupon togel; ada Singapura, Malaysia, Pek Kong, Tokam, Sampurna, dan Kim. Bayangin, kalo masang semua jenis kupon itu, udah berapa duit bisa menguap? Itu mah nyandu dong, bukan lagi iseng.</p>
<p>Pesona togel emang bikin kita miris. Masyarakat jadi pemalas dan dibuai mimpi. Melihat faktanya, pemasang yang ngejagoin dua nomor hokinya, hanya cukup membayar seribu perak saja. Dan kalo tembus, sang pengepul (koordinator pengecer) kudu membayar pemasang tersebut 60 ribu rupiah. Wah, bagi orang yang malas usaha dan lemah iman, pasti deh tergiur ikutan masang.</p>
<p>Sobat muda muslim, togel udah kayak semut, ada di mana-mana dan kian mengkha-watirkan. Celakanya lagi, para pejudi adalah kalangan rakyat jelata, yang rela ngeluarin uangnya demi mewujudkan mimpi menjadi miliuner dadakan.</p>
<p>Ada fakta menarik tapi sekaligus bikin miris, sebuah penelitian menyebutkan kalangan miskin perkotaan di Jakarta kini mencapai enam juta orang. Dengan perhitungan minimal, kalau separuhnya (tiga juta orang) terlibat dalam perilaku judi togel ini dan mengeluarkan uang bervariasi mulai dari Rp 3.000 &#8211; Rp 10.000 per harinya, akan diperoleh 3 juta X Rp 5 ribu (ambil angka rata-rata per orang) sebesar Rp 15 miliar sehari. (Media Indonesia, 7 Maret 2002)</p>
<p>Judi, apapun namanya kerap memun-culkan penyakit sosial yang super kompleks (ciee.. ngomongnya serius banget..he..he..he..). Bener, kalo kamu perhatiin masyarakat miskin ibu kota, mereka terus menerus membeli togel dengan harapan jadi jutawan mendadak. Bisa dibayangkan, mereka yang menghuni rumah-rumah kumuh di bantaran kali, di pinggir rel kereta api, hidup susah sebagai pemulung, penghasilan pas-pasan dari usahanya yang seringnya seret dan cemas dikejar-kejar tibum. Eh, ternyata uang yang didapat dari kerja susah payah itu harus dikeluarin untuk beli togel. Harapannya hanya satu, kaya mendadak. Atau paling nggak, bisa mendapat uang banyak untuk menutupi â€?lubang-lubangâ€™ kehidupannya yang biasa â€?gali lubang tutup lubangâ€™ itu. Di kalangan masyarakat menengah ke bawah, berlaku hukum, bila lupa membeli togel, berarti janganlah bermimpi kaya mendadak. Tapi, itu hanya mimpi. Ketika &#8216;terbangun&#8217;, kepahitan hidup menderanya kembali.</p>
<p>Sobat muda muslim, kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi. Gimana nggak, para pejudi yang mayoritas rakyat miskin yang terbuai mimpi, tetap dalam penderitaannya, sementara para bandar hidup senang dan foya-foya mandi duit. Misalnya, satu bandar di Jakarta beromzet Rp 300 juta hingga Rp1 miliar per malam (Media Indonesia, 7 Maret 2002).</p>
<p>Tentu ini pemandangan yang kontras banget. Perihnya lagi, para aparat dan pejabat yang seharusnya menjebloskan para bandar itu ke bui, malah rela mengais rejeki haram dengan mengamankan usaha mereka. Untuk â€œjasanyaâ€? itu, bapak-bapak oknum aparat dan oknum pejabat bakal menerima uang setoran dari para raja judi. Bagi yang setorannya â€?kencengâ€™, dijamin aman usahanya. Kalo nggak nyetor, itu sih alamat bakal dikarungin! Meski akhirnya dilepas juga kalo udah ngasih sogokan. Ambil contoh, pekan lalu seorang bandar togel di Cimanggis, berinisial PA, ditangkap oleh Polda Metro karena bandar ini terkenal &#8216;bandel&#8217;, menolak memberikan setoran ke institusi keamanan Ibu Kota ini. Kecuali kepada keamanan setempat, seperti koramil, polsek, dan Babinsa. Namun, setelah membayar tebusan Rp 40 juta, bandar ini akhirnya dilepas. (Media Indonesia, 7 Maret 2002)</p>
<p>Coba, gimana nggak mengkhawatirkan kondisi ini. Tapi anehnya, meski udah banyak yang jadi korban togel, pemerintah milih adem-ayem aja. Sebagian masyarakat yang teriak protes keras supaya pemerintah menutup bisnis haram ini, tapi rupanya protes itu dikacangin alias didiemin ama bapak-bapak pejabat dan aparat kita. Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, kita pantas untuk khawatir dan sekaligus kecewa. Khawatir, karena kondisi ini bisa tambah parah dan runyam. Bisa menyeret semua orang masuk ke dalam lingkarannya. Semua bisa jadi nyandu judi togel. Kita kecewa, karena bapak-bapak pejabat dan bapak-bapak aparat yang harusnya menegakkan hukum, malah kompakan menga?¬man?¬kan usaha para bandar judi. Teman, inilah salah satu produk dari sistem kapitalisme. Sistem yang bertentangan dengan Islam.</p>
<p><strong>Haram berjudi</strong><br />
Kondisi masyarakat yang kian jauh dari Islam ini telah membuat mereka hidup dengan motto â€œsemau gueâ€?. Padahal bagi seorang muslim, hidup di dunia ini nggak bisa dengan aturan â€œsuka-sukaâ€? sesuai selera masing-masing. Tapi semuanya kudu tunduk pada aturan Allah dan Rasul-Nya. Termasuk dalam urusan permainan togel ini. Togel termasuk judi, dan jelas hukumnya haram. Firman Allah Swt.:</p>
<p>???³?’?£???„???ˆ?†???ƒ?? ?¹???†?? ?§?„?’?®???…?’?±?? ?ˆ???§?„?’?…?????’?³???±?? ?‚???„?’ ???????‡???…???§ ?¥???«?’?…?Œ ?ƒ???¨?????±?Œ ?ˆ???…???†???§?????¹?? ?„???„?†?‘???§?³?? ?ˆ???¥???«?’?…???‡???…???§ ?£???ƒ?’?¨???±?? ?…???†?’ ?†?????’?¹???‡???…???§ï?›<br />
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya&#8221;.(TQS al-Baqarah [2]: 219)</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman:</p>
<p>ï???????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?¥???†?‘???…???§ ?§?„?’?®???…?’?±?? ?ˆ???§?„?’?…?????’?³???±?? ?ˆ???§?„?£?’???†?’?µ???§?¨?? ?ˆ???§?„?£?’???²?’?„???§?…?? ?±???¬?’?³?Œ ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?§?„?´?‘?????’?·???§?†?? ?????§?¬?’?????†???¨???ˆ?‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????’?„???­???ˆ?†??ï?›<br />
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (TQS al-M?¢idah [5]: 90)</p>
<p>Sobat muda muslim, nampaknya nggak banyak masyarakat ngeh soal hukum berjudi. Atau kalo pun tahu bahwa itu dilarang dalam Islam, alasannya suka ada aja. Tepatnya â€œngelesâ€?. Pura-pura nggak tahu atau nggak mau tahu? Para pejudi bisa bebas main togel tanpa diusik aparat. Mungkin inipula yang membuat mereka berani berbuat dosa. Selain yang nekat seperti itu, ada juga yang masih â€œmaluâ€?. Misalnya, mereka acapkali ngakalin, bahwa ini bukan judi, tapi sekadar permainan aja. Udah gitu suka ada aja yang bilang cuma iseng. Wah, kamu bisa bilang sama teman kamu itu, walaupun alasannya cuma iseng, tapi bukan berarti judi jadi boleh. Tetep aja perbuatan itu haram dan pelakunya akan diganjar hukuman. Dalam Islam, kasus perjudian ini masuk dalam pembahasan taâ€™z?®r. Artinya, sanksi untuk kasus ini akan ditentukan oleh seorang hakim (qadly). (Abdurrahman al-Maliki, Nidzamul â€?Uqubat, Bab Taâ€™zir, hlm. 203)</p>
<p>Nah, nanti bergantung keputusan hakim, pejudi bisa dicambuk bisa juga dipenjara. Wah?</p>
<p><strong>Tanggung jawab bersama</strong><br />
Ngeliat faktanya yang makin nggak karuan, tentunya ini kudu segera diselesaikan. Kalo nggak, kita udah bisa ngebayangin gimana nasib masa depan negeri ini.?  Ancor pesena telor, kata Yus Yunus mah. Akibat judi, yang kaya aja bisa jatuh bangkrut, apalagi yang miskin? Tambah kelelep aja. Yang ada di awang-awang, cuma mimpinya doang. Dirinya, tetap bergelut dengan kemiskinan. Orang yang begitu, kata Pak Zainuddin MZ mah ibarat orang makan roti tapi ngimpi. Ya, nggak nikmat dong.</p>
<p>Lebih-lebih bagi teman mahasiswa dan pelajar, kamu adalah masa depan kemajuan negeri ini. Pelajar dan mahasiswa Islam apalagi, punya tanggung jawab yang besar untuk memajukan Islam. Gimana jadinya kalo kamu cuma sibuk ngurusin kupon-kupon togel dengan harapan tajir mendadak. Kata Bang Rhoma, Kalo pun menang adalah awal dari kekalahan.</p>
<p>Sobat muda muslim, ini tanggung jawab bersama; Individu (termasuk di dalamnya keluarga), masyarakat, dan juga negara. Semuanya kudu kompakan memberantas togel. Sebab, inilah tiga pilar penegakan hukum. Kalolah kejadian bahwa ada individu dan masyarakat yang kebetulan senewen, namun bila penguasanya tegas, maka insya Allah bisa aman. Karena hukum ditegakkan. Tapi kalo semua pilar penegakkan hukum roboh, apalagi yang mau diharapkan? Jadi deh, generasi biang togel makin berbiak. Naudzubillah min dzalik!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 089/Tahun ke-3/18 Maret 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/generasi-biang-togel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Narkoba; Jangan Coba-Coba!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/narkoba-jangan-coba-coba</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/narkoba-jangan-coba-coba#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 05:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/narkoba-jangan-coba-coba/</guid>
		<description><![CDATA[Operasi narkoba yang dilancarkan Polda Metro Jaya antara 9-23 Februari 2002 berhasil menangkap 155 tersangka dengan barang bukti 56.060 gram ganja, 1.914,25?  gram heroin, 3.489 butir ekstasi, 61,9 gram sabu-sabu dan 352 butir obat golongan IV. Demikian dikatakan Kepala Satuan Reserse Narkotika Polda Metro Jaya AKBP Carlo B Tewu (Warta Kota, 26 Februari 2002) 
Hmm&#8230; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Operasi narkoba yang dilancarkan Polda Metro Jaya antara 9-23 Februari 2002 berhasil menangkap 155 tersangka dengan barang bukti 56.060 gram ganja, 1.914,25?  gram heroin, 3.489 butir ekstasi, 61,9 gram sabu-sabu dan 352 butir obat golongan IV. Demikian dikatakan Kepala Satuan Reserse Narkotika Polda Metro Jaya AKBP Carlo B Tewu (Warta Kota, 26 Februari 2002) <span id="more-90"></span></p>
<p>Hmm&#8230; ini adalah operasi yang kesekian kalinya dilakukan aparat kepolisian sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi anehnya, semakin banyak operasi, kok malah kian banyak aja yang make. Artinya kayak nggak ada abisnya, gitu lho. Narkoba tetap merajalela. Korbannya pun udah nggak keitung jumlahnya. Karena sampe sekarang aja kasusnya ibarat kasus â€œabadiâ€?. Nggak kelar-kelar. Udah gitu membawa petaka lagi. Wuah, narkoba bener-bener bikin repot semua orang.</p>
<p>Oya, ada yang belum gaul dengan istilah narkoba nggak? Oke deh, kita coba jelasin lagi, semoga yang udah tahu kagak bete apalagi sewot. Sobat muda, narkoba adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, dan Obat-obatan Berbahaya. Selain itu ada istilah lain yang mempunyai makna sama, yaitu: NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif), atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Istilah NAPZA lebih tepat karena di dalam singkatan tersebut terdapat psikotropika, obat yang biasanya digunakan untuk gangguan kesehatan jiwa.</p>
<p>Narkoba pada awalnya adalah sejenis obat-obatan tertentu yang digunakan oleh dunia kedokteran. Biasanya untuk terapi penyakit, misalnya untuk menghilangkan rasa nyeri. Namun pada perkembangannya obat-obatan itu disalahgunakan (abuse) sehingga menimbulkan ketergantungan (adiksi).</p>
<p>Sobat muda muslim, bicara soal narkoba adalah bicara tentang nasib masa depan anak muda negeri ini. Gimana nggak, lebih dari 80 persen korbannya adalah remaja. Khususnya adalah remaja muslim. Nah lho. Gaswat bener kan? Sebab kalo dibiarin aja bisa tambah ruwet dan berbelit-belit. Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi bersama. Dan tentunya kenyataan yang begitu pahit. Karena, banyak teman remaja yang â€œahlul boatâ€? kayaknya udah rada sulit untuk bisa dijadikan sebagai pewaris kehidupan masa depan. Tragisnya lagi, nggak sedikit yang akhirnya keburu â€œpensiunâ€? dari dunia ini setelah mereka OD (over dosis) mengkonsumsi boat.</p>
<p><strong>Kenapa jadi junkies?<br />
</strong>Sebut saja Rudi, cowok kutilang (kurus tinggi langsing) ini mengaku sebagai junkies gara-gara frustasi masalah keluarga. Nggak tahan, akhirnya nyobain make narkoba. Itu pun setelah diajak teman sekelasnya. Sejak saat itu, Rudi selalu pake karena emang ketagihan. Rudi, mungkin tipe anak laki yang nggak bisa menghadapi kenyataan hidup. Ia gamang melihat kehidupan ortunya nggak harmonis, akhirnya milih menggunakan narkoba untuk menghilang-kan kekecewaannya. Meski akhirnya bikin kecewa semua orang, karena jadi junkies.</p>
<p>Bagi orang model begini, apapun masalah yang dihadapinya seringkali lari ke boat (drugs). Karena emang boleh dibilang punya â€œkepribadianâ€? drugs (drugs personality), yaitu orang yang gampang putus asa, nggak tahan konflik (misalnya, nggak berani bilang â€œnggakâ€? terhadap teman, atau nggak bisa keluar dari masalah), terus nggak tahan stres, dan semua yang bersumber pada kelemah-an dirinya. Pendek kata, mereka gampang frus-trasi. Walah? Hati-hati.</p>
<p>Sobat muda muslim, pengaruh teman sebaya emang amat besar. Itu sebabnya banyak juga yang make boat gara-gara ditawari temannya yang kebetulan badung bin nakal. Celakanya, ada juga tipe anak yang nggak bisa bilang â€œnggakâ€? sama temennya itu. Jadi deh langsung nyetel alias ngikutin kemauan sang teman. Wuah, ini bahaya banget. Dan terus terang aja, model teman kamu yang seperti ini amat mudah dijumpai, karena emang banyak.</p>
<p>Sebetulnya, dari banyak kasus yang sering dijadiin alasan bahwa dirinya jadi junkies adalah alasan yang sepele banget. Cuma, karena kebetulan temen kita yang labil ini salah gaul, ditambah keimanannya â€œblongâ€?, maka nggak heran kalo akhirnya jadi nyandu boat. Padahal, bahaya bagi dirinya sedang mengintai. Jangan sampe deh.</p>
<p><strong>Sekali coba â€œerrorâ€?<br />
</strong>Kamu memang pantas takut dan jangan bergaul dengan narkoba. Karena seperti kata iklan, â€œsekali dicoba, narkoba langsung disukaâ€?. Narkoba mampu membuatmu ketagihan alias sakaw dan menjadikanmu seorang junkies (pecandu) yang menghamba luar dalam kepada narkoba. Sekalipun kamu harus tersiksa saat sakauw, tapi kamu tetap membutuhkannya, meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Hih, syerem!</p>
<p>Selain menguras uang, narkoba adalah zat yang amat beracun bagi tubuhmu. Banyak efek berbahaya yang terdapat pada narkoba, diantaranya;</p>
<ol>
<li>Secara umum, peng-guna narkoba akan menjadi kehilangan kepercayaan diri, lemah, dan bloon.</li>
<li>Para pengguna ekstasi dan kokain akan mengalami perubahan tingkah laku yang menjurus ke arah paranoid dan antisosial sebagai akibat rusaknya sel-sel syaraf otak. Akibatnya mereka dapat dengan mudah untuk melakukan tindak kriminal.</li>
<li>Penggunaan zat adiktif juga mengakibatkan gangguan konsentrasi belajar.</li>
<li>Heroin atau putauw juga dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan narkotik dapat menekan pusat pernafasan yang terletak di batang otak (depresi pusat pernafasan), pembengkakan (edema) paru-paru secara akut atau karena terjadi reaksi yang fatal?  (syok-anafilaktik). Heroin juga memiliki daya ketagihan yang tinggi (adiksi) sehingga si pengguna harus menambah dosis agar mereka memperoleh euphoria yang diharapkan.</li>
<li>Selain memberikan good tripping (rasa menyenangkan), ekstasi juga memberikan bad tripping. Seorang pengguna yang sedang tripping bisa mengalami halusinasi untuk membunuh orang, atau bunuh diri seperti meloncat dari gedung tingkat tinggi karena terhalusinasi ada kolam renang di bawahnya.</li>
<li>Ekstasi dapat menyem-pitkan pembuluh darah perifer (vasocinsyrici perifer), membuat peng-guna merasa kedinginan, kesemutan; untuk itu ia harus menggoyangkan tubuhnya (tripping), juga karena vasoconstricsi tersebut si pengguna tidak mungkin bisa ereksi.</li>
<li>Di luar negeri tingkat kecelakaan lalu lintas akibat mengkonsumsi ekstasi ternyata telah meningkat.</li>
<li>Cimeng bisa bikin paru-paru jebol. Berbagai penyakit paru-paru, dari yang ringan sampe yang berat, seperti asthma, bronkhitis kronis, dan kanker paru-paru, secara berurutan atau seka-ligus, akan menyerang tubuh. Repotnya, tanda-tandanya sering nggak disadari.</li>
</ol>
<p>Nah, lho. Kamu jangan coba-coba bergaul dengan narkoba. Bisa berabe. Uang melayang, badan ringsek. Pokoknya â€œerrorâ€? berat deh. Kalo pun mau, ya â€œnarkobaâ€? yang lain aja, yakni, nasi, roti, kopi, dan bala-bala&#8230;.</p>
<p><strong>Barang haram</strong><br />
Mungkin saja, teman-teman kamu yang terlibat narkoba ada yang nggak ngeh kalo ternyata barang tersebut adalah termasuk daftar barang haram dalam pandangan Islam. Soalnya, banyak juga temen-teman kamu yang ngakunya muslim, tapi terlibat dalam kasus ini. Jelas, bahwa beliau tidak ngerti dan nggak paham seputar barang tersebut. Soalnya, bisa jadi informasi seputar narkoba dalam pandangan Islam belum menyentuhnya. Kemu-dian yang paling parah adalah, lingkungan tempat kawan-kawan kita bergaul amburadul. Jadinya klop.</p>
<p>Itu sebabnya, perlu diberi penjelasan bahwa narkoba itu, apa pun jenisnya; dari mulai ganja alias cimeng, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu, putauw dan saudara-saudaranya itu adalah barang haram. Sabda Rasulullah saw: â€œSegala yang menga-caukan akal dan mema-bukkan adalah haramâ€? (HR. Imam Abu Daud).</p>
<p>Syeikh Ibnu Taimi-yah sebagaimana yang dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqh as-Sunah, menyatakan bahwa ha-dis tersebut mencakup segala benda yang merusakkan akal tanpa membeda-bedakan jenis dan tanpa terikat cara pemakaiannya, baik di-makan, diminum, di-hisap, disuntik dan sebagainya. Maka ben-da-benda yang merusak akal tersebut, termasuk putauw, ekstasi dan sejenisnya dari anggota narkoba, jelas terkategori haram. Dan sebagai-mana pedoman Islam setiap pelaku perbuatan haram akan diganjar dengan hukuman.</p>
<p>Bagaimana dengan para penjualnya? Adalah hal yang menggelikan bila sekarang ini hanya dikenakan sanksi bagi para pemakai tapi membiarkan penjualnya berkeliaran dengan bebas. Dalam hal ini terdapat kaidah umum dari para ulama: â€œApa saja yang diharamkan, maka diharamkan pula dijualbelikannyaâ€?. Kaidah ini berlandaskan kepada hadis Rasulullah saw dari Ibnu Abi Syuaibah: â€œJika Allah mengharamkan sesuatu, maka haram pula harganya (yang diperoleh dari benda tersebut).</p>
<p><strong>Sadar diri<br />
</strong>Cukuplah ini memberikan gambaran yang jelas buat kita semua, bahwa jangan berani coba-coba akrab dengan narkoba. Kalo udah jadi junkies, pengobatannya aja nggak cukup ratusan ribu rupiah, bisa jadi malah jutaan. Ambil contoh metode akupuntur. Biaya yang biasa diperlukan untuk terapi ini di Jakarta bervariasi dari 20 ribu sampai 75 ribu rupiah per pertemuan. Bahkan ada yang harus?  berobat sampe 20 kali pertemuan (HAI, No 6 Tahun 25). Belum lagi harga obat lainnya. Untuk menghantam pengaruh morfin di dalam tubuh penderita, ada yang harus minum obat rata-rata 10-12 butir per hari. Harga obatnya sendiri mencapai 1,5 juta sampe 2 juta perak per 50 butir. Maklum obat impor. Walah? Naudzubillahi min dzalik!</p>
<p>Terakhir, kita tetep meminta bapak-bapak aparat dan pejabat untuk menyelesaikan kasus ini. Sebab, tanpa peran aktif penguasa, rasanya boleh dbilang bakalan kurang â€œgeregetâ€™ deh. Jadinya percuma aja BIP jadi Duta Anti Narkoba RCTI, yang sering gembar-gembor, â€œAku gemuk lagiâ€¦â€? Iya nggak?</p>
<p>Sobat muda muslim, narkoba emang â€œnikmatâ€? membawa sengsara. Wuah, keluar duit gede, badan rusak, dosa lagi. Apa yang mau diharapkan? Jadi, jangan coba-coba deh! Dan, tentu jangan sampe salah gaul dong.</p>
<p>Istilah â€œGaulâ€? untuk NAZA:</p>
<ul>
<li><strong>Junkie</strong> &#8211; Pemakai NAZA/Drugs</li>
<li><strong>Pe-te/PTW/Etep</strong> &#8211; sebutan untuk putaw, heroin yang lagi ngetrend</li>
<li><strong>Ubas/Sabu/s.s</strong> &#8211; sebutan untuk shabu-shabu</li>
<li><strong>Inex/I/kancing</strong> &#8211; sebutan untuk extacy</li>
<li><strong>Cimeng/gele/HWhite</strong> &#8211; Ganja</li>
<li><strong>Obat/Bo&#8217;at/Boti</strong> &#8211; Obat-obatan daftar G, misalnya Nipam, Rohypnol, Dumolit, Ritovil, atau obat tidur jenis lainnya</li>
<li><strong>Alcohol/Tokipan</strong> &#8211; Minuman</li>
<li><strong>Bogep/Bopeng</strong> &#8211; Minuman Alkohol buat lokal yang dikemas dalam bentuk botol pipih (botol gepeng) misalnya jenis vodka atau wiski</li>
<li><strong>B.D/edeb/Bandar</strong> &#8211; penjual drugs</li>
</ul>
<p><strong>Kelompok Narkoba Berdasarkan Cara Kerja</strong></p>
<ul>
<li><strong>Central Nervous System Depresant (CNS)</strong>? - Alkohol; Chloral hydrate; Barbiturates; Benzodiasepines (Ativan, Dalmane, Valium, Librium, Xanax, serax, Halcion, etc); Hypnotis sedative (Parest, Quaalude, Doriden);</li>
<li><strong>Narkotik</strong>? - Opium, Codein, Heroin, Morphine, Demerol, Pethidine, Dilaudid, Methadone, Percocet, Percodan, Darvon, Tussionex, Fentanyl, Lomotil, Numorphan, agonist-antagonist (TalwinStadol, Buprenex, Temgesic, Nubain)<br />
Stimulan? Amphethamine, caffeine, cocaine, nikotine, Preludine, Ritalin, pill diet, khat</li>
<li><strong>Hallusinasi</strong>? - Amphetamine variants (2,5 DMA, PMA, STP, MOA, DOM, MMDA, TMA, DOB); LSD, macaline, peyote, phencyclidine dan analognya, psilocybin, psicocyn, DMT dan DET</li>
<li><strong>Canabis</strong>? - Marijuana, Hashish, THC</li>
<li><strong>Hisap</strong>? - Nitrous oxide, berbagai jenis cat dan thinner untuk cat, dan Lem</li>
</ul>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 088/Tahun ke-3/11 Maret 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/narkoba-jangan-coba-coba/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Militan, Siapa Takut?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-militan-siapa-takut</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-militan-siapa-takut#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 04:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/remaja-militan-siapa-takut/</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad, begitu ia biasa dipanggil di kalangan teman sekolahnya. Anak-nya pendiem. Nggak banyak tingkah, nggak pernah bikin onar. Ahmad, teman kita kali ini, biarpun pendiem tapi doi amat tegas dalam bersikap. Sorot matanya yang tajam, seringkali bikin ciut nyali kawan-kawannya. Tepatnya, segan kalo harus bertatap wajah dengan anak muda ini. Ahmad berwibawa. Umurnya baru aja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ahmad, begitu ia biasa dipanggil di kalangan teman sekolahnya. Anak-nya pendiem. Nggak banyak tingkah, nggak pernah bikin onar. Ahmad, teman kita kali ini, biarpun pendiem tapi doi amat tegas dalam bersikap. Sorot matanya yang tajam, seringkali bikin ciut nyali kawan-kawannya. Tepatnya, segan kalo harus bertatap wajah dengan anak muda ini. Ahmad berwibawa. Umurnya baru aja 17 tahun, tapi pikirannya jauh melebihi usianya. Contohnya aja, Ahmad sangat bersemangat kalo ngomongin soal kejadian yang ia baca di koran atau dengar di radio, juga ketika kebetulan nonton televisi. Ahmad selalu membahasnya. Seakan ia nggak mau melepaskan begitu saja kesempatan yang dimilikinya untuk ngobrol bareng teman sekolahnya. Malah beberapa teman sekolahnya menjuluki Ahmad dengan sebutan â€œSuhuâ€?. Bukan apa-apa, selain getol ngebahas setiap kejadian yang ia lihat, doi juga lihai ngasih solusi Islam atas persoalan tersebut. Jitu lagi. Gimana nggak oke kan?<span id="more-89"></span></p>
<p>Selain itu, Ahmad juga aktif banget di kegiatan remaja masjid sekolahnya. Rasanya, hampir di setiap kegiatan selalu ada Ahmad. Ahmad yang menggerakkan semua kegiatan rohis. Entah itu pengajian di kelas, di masjid sekolah, atau kegiatan-kegiatan keislaman lainnya. Pokoknya anak kelas 2 SMU ini oke banget deh. Idealismenya tinggi. Semangatnya dalam mengkaji dan mengamalkan Islam udah teruji. Ahmad memang jempolan. Alhamdulillah.</p>
<p>Wuih, kalo saja anak muda banyak yang seperti Ahmad, rasanya Islam bakalan terus bersinar. Mengapa? Sebab â€œruhâ€? Islam betul-betul lengket dan menyatu dalam pikiran dan jiwanya. Lalu diwujudkan dalam lisan dan perbuatan keseharian. Boleh jadi, rasanya nggak bakalan ada anak sekolah yang nongkrong di mal saat jam pelajaran berlangsung. Bukan tak mungkin, nggak akan ada lagi anak yang mencoba untuk menjajal nyalinya lewat tawuran dengan anak sekolah lain. Barangkali, nggak akan ada anak putri yang ngebet dandan ala Britney Spears, Mariah Carrey, atau Madonna. Mungkin juga, tak ada anak cowok yang hobinya nyantai karena emang nggak banyak aktivitas berguna dalam hidupnya. Tapi semuanya menyatu dalam nuansa Islam yang menyejukkan. Islam menjadi gaya hidupnya. Insya Allah.</p>
<p>Oya, ada satu lagi tentang Ahmad. Remaja ini punya motto hidup: â€œHidupku hanya untuk Islam!â€? Wah, gimana nggak hebat. Itu sebabnya pula, ada banyak temannya yang bilang, Ahmad militan banget.</p>
<p>Hmmm&#8230; kamu tahu istilah militan? Kalo kamu baca Kamus Besar Bahasa Indonesia, bakalan menemukan definisi militan. Di situ disebutkan bahwa militan adalah bersemangat tinggi, penuh gairah, dan berhaluan keras.Wah, oke banget kan kalo jadi orang yang militan?</p>
<p>Ahmad, yang muda yang militan. Gelar itu tampaknya pantas disandang anak laki ini. Sebab, antara ucapan dan tindakannya memang mencerminkan sikap seperti itu. Terus terang saja, anak muda yang seperti Ahmad sulit ditemukan saat ini. Sebab yang kita tahu sendiri, banyak anak muda seumuran Ahmad justru tenggelam dalam â€œhajatanâ€? shabu-shabu, larut dalam kriminalitas, asyik-masyuk dalam baku syahwat, enjoy dalam gemuruh pesta musik, yang puteri masih betah berdandan ala kadarnya (baca: pamer aurat), malah ada juga yang sedang menapaki karir bak penjudi Monte Carlo dan Las Vegas. Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, kita semua merindukan remaja seperti Ahmad. Semangat-nya nggak pernah mati. Tetap menyala dalam jiwanya. Ia tak pernah gentar menghadapi segala rintangan dan hambatan hidup. Sebab yang ia tahu, hidup bukan untuk ditakuti, tapi hidup kudu dinikmati, meskipun harus mengha-dapi ketakutan. Ahmad adalah fenomena remaja militan. Semoga saja ia bisa menularkan semangatnya kepada teman-teman remaja yang lainnya. Dan tentunya, semoga teman remaja lainnya juga bisa mencontoh Ahmad. Jadi, buatlah seperti contoh.</p>
<p><strong>Yang muda yang militan</strong><br />
Kalo di kampung kamu atau di sekolah kamu ada anak yang sangat teguh dalam memegang prinsip Islam, orang sering bilang, â€œfanatik amat sih anak ituâ€?. Hmm&#8230; kamu jangan terkecoh dengan ungkapan sebagian orang yang ngomong begitu. Memegang teguh ajaran Islam justru adalah sebuah kewajiban. Kenapa? Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???§?¹?’?????µ???…???ˆ?§ ?¨???­???¨?’?„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¬???…?????¹?‹?§ ?ˆ???„?§?? ?????????±?‘???‚???ˆ?§<br />
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.. (TQS ali Imr?¢n [3]: 103)</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?§?¯?’?®???„???ˆ?§ ?????? ?§?„?³?‘???„?’?…?? ?ƒ???§???‘???©?‹<br />
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (total)â€¦(TQS al-Baqarah [2]: 208)</p>
<p>Sobat muda muslim, istilah â€œfanatikâ€? memang selalu dialamatkan kepada orang-orang yang berpegang teguh dengan prinsip Islam. Tapi biasanya orang yang ngomong begitu dibumbui dengan nada â€œsinisâ€?. Tujuan utamanya, supaya yang lain jangan ikut seperti orang yang mereka beri gelar itu. Padahal, fanatik terhadap Islam itu bagus. Biar â€œkencengâ€?.</p>
<p>Ibaratnya kamu mencintai sesuatu. Kalo kamu nggak ngotot, maka masih diragukan kecintaan kamu kepada sesuatu itu. Untuk mencintai, kamu perlu berkorban. Bahkan bukan tak mungkin harus mengorbankan apa yang sangat kita cintai; harta, tenaga, waktu, keluarga, dan juga kehidupan ini. Kita rela meregang nyawa demi sebuah cinta sejati.</p>
<p>Cinta kita kepada Islam, memang kudu diwujudkan dalam ucapan dan tindakan kita. Itu sebabnya, bohong besar, kalo kita mencintai Islam, tapi?  ucapan dan tindakan kita bertolak belakang dengan Islam itu sendiri. Itu sih cinta palsu, gombal, dan murahan. Orang yang begitu, biasanya menjadikan Islam hanya sebagai kedok aja biar orang nggak menganggapnya atheis atau sebangsanya.</p>
<p>Sobat muda muslim, istilah militan akhir-akhir ini memang sering dimunculkan. Majalah remaja ibukota, HAI, bahkan mengangkat tema ini dalam rubrik lifestyle pada salah satu edisinya di bulan Februari 2002 lalu. Hanya saja, pembahasannya cenderung bias. Mungkin karena tujuan mereka? Wallahualam. Tapi yang pasti, pembaca disuruh milih; mau jadi militan atau nggak, terserah. Kan bingung ya?</p>
<p>Militan bukan ganas, bukan pula garang. Dan tentu, bukan mau menang sendiri. Sikap militan adalah sikap yang teguh memegang prinsip. Tapi bukan berarti kemudian boleh ganas dan garang. Nggak dong. Kalo pun kemudian orang menilai bahwa militan ini cenderung keras, mungkin karena mereka ngeliat bahwa orang yang militan itu nggak kenal takut, nggak pernah menyerah. Padahal, justru begitulah sikap militan. Ini hanya persoalan persepsi. Kata yang masih betah â€œnyantaiâ€?, sikap militan tentu berbahaya. Tapi bagi yang militan, sikap nyantai dan loyo adalah pengecut.</p>
<p>Keduanya melihat dari persepsi yang berbeda. Terus gimana sikap kita? Yup, ketika kita menilai atau melakukan suatu perbuatan, pastikan punya standar. Standar? Betul, standar atau patokan itu mutlak. Supaya menutup kemungkinan akan adanya persepsi lain yang muncul karena berbeda pendapat pada tiap orang. Itu sebabnya, kudu ada standar. Dan itu harus satu. Nggak boleh berbeda. Sebagai seorang muslim, patokan dalam ucapan dan tindakan adalah syariat Islam. Bukan syariat atau aturan lain. Karena yang benar hanyalah Islam. Allah Swt berfirman:</p>
<p>?ˆ???…???§ ?ƒ???§?†?? ?„???…???¤?’?…???†?? ?ˆ???„?§?? ?…???¤?’?…???†???©?? ?¥???°???§ ?‚???¶???‰ ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?£???…?’?±?‹?§ ?£???†?’ ?????ƒ???ˆ?†?? ?„???‡???…?? ?§?„?’?®???????±???©?? ?…???†?’ ?£???…?’?±???‡???…?’ ?ˆ???…???†?’ ?????¹?’?µ?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?????‚???¯?’ ?¶???„?‘?? ?¶???„?§???„?§?‹ ?…???¨?????†?‹?§<br />
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (TQS al-Ahzab [33]: 36)</p>
<p>Teman remaja muslim, bagi kita, kaum muslimin, sikap militan terhadap Islam adalah sikap yang terpuji dan menjadi modal dasar bagi perjuangan dalam mensyiarkan Islam. Tapi bagi orang-orang yang â€œloyoâ€? dan cenderung tidak mau ambil risiko, sikap militan adalah sikap yang berbahaya. Inilah perbedaan pemahaman yang seharusnya tidak perlu terjadi.</p>
<p>Islam membutuhkan tenaga, waktu, dan pikiran kita. Sebab kita masih muda, kuat fisik dan kuat akal, masih banyak harapan, dan tentunya, masih banyak waktu luang untuk dakwah Islam. Jadi, nggak ada alasan untuk tidak jadi militan kan?</p>
<p><strong>Pilih mana, jadi militan atau pengecut?<br />
</strong>Walah, kejam dan pedas amat subjudul ini. Nggak dong. Segini mah belum kejam dan belum pedas. Malah kalo mau ngebandingin, lebih pedas dan kejam mana dengan yang menyebutkan, â€œfundamentalisâ€?, â€œekstrimisâ€?, atau malah â€œterorisâ€?.?  Sebutan yang terakhir ini tentu bikin kita, kaum muslimin, sakit hati. Sebab kita bukan fundamentalis, kita bukan ekstrimis, dan tentu kita bukan teroris. Islam dan ummatnya justru membawa rahmat bagi seluruh alam. Firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???…???§ ?£???±?’?³???„?’?†???§?ƒ?? ?¥???„?§?‘?? ?±???­?’?…???©?‹ ?„???„?’?¹???§?„???…?????†<br />
Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (TQS al-Anbiy?¢â€™ [21]: 107)</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo diajukan pertanyaan, â€œapakah jadi militan atau pengecut?â€?, rasanya kita udah bisa ngejawab deh. Dengan jawaban yang benar lagi. Kayaknya emang nggak ada orang yang ingin disebut pengecut. Semuanya ingin disebut berani dan tegas. Jadi pilih militan dong? Ya, siapa takut?</p>
<p>Nggak usah takut dan bersedih hati hanya gara-gara disebut militan. Justru kita kudu bangga. Dan sebetulnya, tanpa ada embel-embel istilah begitu, dan juga tidak ada pujian begitu, kita tetap istiqomah dalam ajaran Islam. Allah pasti akan mencatat amal kita. Yakin deh. Nggak usah ragu.</p>
<p>Tapi emang kudu diakui bahwa sikap militan ini rada sulit ditemukan di kalangan remaja sekarang. Jangankan yang emang kelakuannya udah amburadul, yang udah â€œkalemâ€? aja, masih sulit menemukan yang militan. Contohnya, banyak juga teman remaja muslim yang aktif di masjid sekolah. Eh, begitu ada ancaman dari pihak sekolah supaya menghentikan kegiatan pengajian misalnya, langsung drop, down, en kolaps. Wah, payoyeh dong. Garing bin jayus deh kehidupan ini. Nggak ada dinamikanya.</p>
<p>Tapi tentu hal itu nggak berlaku bagi yang punya sikap militan. Ia akan nyari berbagai jalan supaya tetap bisa eksis dalam kegiatan keagamaan di sekolah. Ia akan memutar otaknya untuk nyusun berbagai rencana dan formula supaya tetap bisa menjalankan aktivitas keislaman tersebut. Nah, ini dia yang kita cari: Remaja Militan!</p>
<p><strong>Jangan merasa lebih istimewa</strong><br />
Benar. Meski kita dianjurkan punya sikap militan dalam berislam, tapi tidak berarti kudu merasa lebih istimewa ketimbang teman lain. Itu bisa berbahaya, dan bahkan sangat boleh jadi penyakit ini bisa menghinggapi teman remaja yang militan seandainya nggak pandai menjaga hati. Jangan sampe deh, kita menganggap bahwa kita lebih hebat ketimbang teman lain. Nggak boleh.</p>
<p>Justru sebaliknya yang kita lakukan adalah mengajak mereka supaya bisa seperti kita. Jadi kita nggak boleh eksklusif. Malah seharusnya kita nge-floor dengan teman lain. Istilah gaulnya, kita kudu â€œmerakyatâ€?. Sebab, bukan tak mungkin simpati akan mengalir dari sana. Tul nggak? Lagipula, perjuangan bukan hanya milik kita, tapi milik seluruh kaum muslimin. Sebab Islam emang bukan hanya milik mereka yang militan saja, tapi Islam adalah milik seluruh kaum muslimin. Itu sebabnya, baik yang militan, atau yang belum militan, punya tanggung jawab yang sama dalam membela dan memperjuangkan Islam. Kalo pun boleh beda, adalah semangatnya. Jadi, kamu yang belum militan sekarang, tetap kudu berjuang untuk Islam. Siapa tahu, lambat laun kamu bisa jadi militan juga. Benar nggak? Kita coba saja.</p>
<p>Sobat muda muslim, lahan dakwah kita masih luas dan kelewat banyak. Sebab teman remaja yang amburadul dalam hidupnya masih bejibun banget. Itu tanggung jawab mereka yang udah paham Islam. Dan mungkin di antaranya adalah kita. Kita harus sanggup menjadi obor penerang bagi perjalanan hidup mereka yang tengah diliputi kegelapan. Kita kudu mengingatkan teman-teman yang masih buta dengan ajaran Islam. Inilah salah satu alasan wajibnya kita berdakwah. Dan kebetulan, dakwah hanya bisa diemban oleh mereka yang militan. Jadi, nggak usah takut dan ragu jadi militan. Malah harusnya bangga. Kita coba dan tetap semangat! Allahu Akbar!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 087/Tahun ke-3/4 Maret 2002</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-militan-siapa-takut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teman Gaul Kita Itu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/teman-gaul-kita-itu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/teman-gaul-kita-itu#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 04:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/teman-gaul-kita-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia modern kayaknya makin kesulitan untuk mengatur dirinya sendiri. Termasuk rada repot kalo harus bergaul dengan manusia lainnya. Pendek kata, gaya hidup manusia kian berubah. Celakanya, berubah ke arah yang kurang baik. Ambil contoh dalam mencari teman gaul. Manusia?  modern bener-bener dibuat senewen. Semakin berkembang teknologi informasi, malah tambah betah hidup menyendiri. Bahkan untuk sekadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia modern kayaknya makin kesulitan untuk mengatur dirinya sendiri. Termasuk rada repot kalo harus bergaul dengan manusia lainnya. Pendek kata, gaya hidup manusia kian berubah. Celakanya, berubah ke arah yang kurang baik. Ambil contoh dalam mencari teman gaul. Manusia?  modern bener-bener dibuat senewen. Semakin berkembang teknologi informasi, malah tambah betah hidup menyendiri. Bahkan untuk sekadar berteman pun, banyak juga yang akhirnya mencarinya di â€œudaraâ€? atau di dunia maya.<span id="more-88"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, sekadar contoh, bagi kamu yang sering nongkrongin acara televisi, kayaknya udah akrab banget dengan iklan jasa â€œparty lineâ€?. Itu lho, jalur bebas bicara, jalur bebas curhat, dan juga bebas ngobrol ngalor-ngidul dengan teman yang kita sendiri nggak tahu orangnya. Tapi, atas nama kesamaan â€œpenderitaanâ€? biasanya langsung klop dan langsung tancap gas ngomong sampe ngebusa. Apa yang diobrolin? Wallahualam, yang pasti hanya mereka yang pernah melakukannya saja yang tahu apa yang diobrolkannya.</p>
<p>Kita menduga, mungkin bagi sebagian orang, ada juga yang kesulitan mencari teman. Rasanya sesulit ketika kita harus ngerjain tugas pelajaran yang â€œdibenciâ€? segala ummat; matematika, kimia, dan fisika. Sulit banget mengerjakan soal pelajaran begituan. Tapi tentunya nggak berlaku dong bagi yang otaknya â€œencerâ€? mah.</p>
<p>Kehadiran seorang teman, memang amat dibutuhkan oleh seseorang. Sebab tanpa lawan bicara, kita menjadi terisolasi, en dijamin nggak ngerti apa-apa. Artinya, komunikasi menjadi amat penting. Dan sebenarnya banyak sarana komunikasi, dan siapa yang bisa diajak komunikasi. Bisa ortu, guru, nenek, kakek, kakak, adik dan yang lainnya, termasuk teman. Tapi biasanya, khusus bagi remaja, teman sebaya sangat besar pengaruhnya ketimbang ortu sekalipun. Itu sebabnya, banyak yang memilih lebih percaya kepada omongan dan perilaku teman ketimbang petuah dari ortu yang panjang lebar. Gaswatnya, nggak sedikit teman yang akhirnya malah mencelakakan temannya sendiri. Walah?</p>
<p>Melihat fakta sekarang, sangat boleh jadi ada masalah juga dalam gaya hidup kita saat ini. Yang tadinya kita sering bertemu dengan orang. Ngobrol dalam suka dan duka. Tapi sekarang, peran teknologi informasi telah mengubah gaya hidup kita dalam bersosialisasi. Telepon misalnya, cukup dengan memencet tombol angka-angka, dan beberapa detik kemudian terdengar suara di seberang sana. Bagus juga sebenarnya untuk berkomunikasi, karena membantu melancarkan urusan. Efektif dan efisien lagi. Tapi sayangnya, namanya juga teknologi, tergantung siapa yang memanfaatkan dan menggunakannya. Bisa baik tapi juga sekaligus bisa berubah jadi ancaman.</p>
<p>Contohnya? Kian marak saja jasa â€œparty lineâ€?, yang tidak saja bikin kantong bolong karena pulsa telepon yang tiap bulannya membengkak, tapi juga mengubah gaya hidup kita menjadi manusia yang â€œanti dunia nyataâ€?. Apalagi kalo kita ngomongin internet. Walah, yang namanya chatting, kayaknya udah jadi jalur â€œwajibâ€? bagi para user. Pengalaman penulis aja, kalo lagi browsing di warnet, di kanan-kiri banyak ABG yang asyik dan heboh â€œngobrolâ€? via jaringan itu. Bahkan banyak alasan yang meluncur dari mulut mereka; sekadar iseng nyari teman, siapa tahu dapat yang cucok untuk curhat. Hmm&#8230; bisa tambah runyam deh urusannya.</p>
<p><strong>Party line dan chatting</strong><br />
â€œIngin gabung dengan teman di seluruh dunia. Ingin dapat teman curhat. Ingin cari jodoh. Gabung segera di nomor ini&#8230; bla..bla..blaâ€? Begitu kira-kira pesan yang disampaikan jasa party line. Rupanya, masih untung juga tuh. Padahal internet udah bisa diakses di mana-mana dengan harga murah. Artinya, meski ada jaringan internet, tapi jalur ini masih banyak juga peminatnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, melihat kenyataan ini, kita jadi prihatin. Sebab, bukan karena pulsa telepon yang kian membengkak dip