<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Buletin Studia Tahun ketujuh</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-studia/buletin-studia-tahun-ketujuh/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>AWAS! Toleransi Semu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/awas-toleransi-semu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/awas-toleransi-semu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:36:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/awas-toleransi-semu/</guid>
		<description><![CDATA[Waduhâ€¦belum apa-apa judulnya udah serem banget. Seakan-akan ada sesuatu yang berbahaya dengan kosakata AWAS! Yup, emang kita mau ngomongin sesuatu yang berbahaya yang tanpa sadar mengintai akidah kaum Muslimin atas nama toleransi semu. Bahaya yang mengintai setiap bulan Desember dan tahun baru. Yup, bahaya perayaan Natal dan perayaan Tahun Baru.
Suasana natal merebak di sekitar kita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waduhâ€¦belum apa-apa judulnya udah serem banget. Seakan-akan ada sesuatu yang berbahaya dengan kosakata AWAS! Yup, emang kita mau ngomongin sesuatu yang berbahaya yang tanpa sadar mengintai akidah kaum Muslimin atas nama toleransi semu. Bahaya yang mengintai setiap bulan Desember dan tahun baru. Yup, bahaya perayaan Natal dan perayaan Tahun Baru.<span id="more-325"></span></p>
<p>Suasana natal merebak di sekitar kita. Mal, plaza, hotel, toko, baliho di jalan-jalan protokol, dan umbul-umbul sepanjang jalan terlihat semarak menyambut natal dan tahun baru. Tak ketinggalan televisi dan radio juga saling bersaing program natal dan tahun baru. Acara-acara yang tersuguh khas nuansa natal semisal pohon cemara dan pernik-perniknya, lagu malam kudus atau Holy Night dalam versi Inggris-nya dan juga nggak ketinggalan Jingle Bell. Juga ada Sinterklas dan kado-kado, kereta salju yang ditarik anjing kutub dan anak-anak miskin yang mendapat kegembiraan karena ada hadiah-hadiah yang mereka inginkan.</p>
<p>Tak jarang kaum Muslimin terlena dengan itu semua. Hati-hati dengan adek-adek kamu yang masih kecil. Mereka mudah sekali silau dengan gemerlap natal dan banyak kado menyertai. Tapi, yang silau sama natal bukan cuma anak-anak kecil. Orang-orang tua bahkan ulama banyak juga yang bukan hanya silau, tapi malah ikut-ikutan larut di dalamnya.</p>
<p>Karena terbiasanya mereka disuguhi pemandangan natal dan tahun baru Masehi, akhirnya merasa seakan-akan perayaan itu adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat. Belum lagi para bapak dan ibu yang duduk sebagai pejabat dan mengaku-aku dirinya ulama mencontohkan diri dengan ikut menghadiri perayaan natal dan tahun baru itu. Akhirnya kaum Muslimin dibuat bingung mana yang hak dan batil karena semua sudah dicampur aduk.</p>
<p><strong>Natal dan tahun baru bukan budaya kita</strong><br />
Natal dan tahun baru jelas-jelas budaya dan milik kaum Nasrani. Natal diperingati sebagai kelahiran Yesus yang mereka pertuhankan. Meskipun kita kaum Muslimin mengakui Nabi Isa, tapi tak dibenarkan untuk mengakuinya sebagai Tuhan. Bukan sekadar tak dibenarkan tapi juga haram alias mutlak tidak bolehnya. Lagi pula kelahiran Nabi Isa sendiri juga bukan di bulan Desember. Lha wong aliran sekte Kristen yang lain aja ada yang merayakan Natal di bulan Januari kok. Herbert W. Arsmtrong (1892-1986), seorang pastur di Worldwide Church of God, Amerika Serikat, menyatakan dalam bukunya, The Plain Truth about Christmas, bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Nah lho?</p>
<p>Abu Deedat Syihabuddin M.H, seorang kristolog dalam wawancaranya dengan majalah Sabili mengatakan, â€œIsa Almasih bukan lahir tanggal 25 Desember. Di kalangan Kristen sendiri ada perbedaan, ada yang tidak mau merayakan Natal pada 25 Desember seperti Advent dan Yehova. Mereka menganggap Yesus lahir tanggal 1 Oktober. 25 Desember itu, upacara penyembahan Dewa Matahari.â€?</p>
<p>Most of all, setelah Muhammad datang, cuma ajaran beliau aja yang boleh diikuti. Ajaran nabi-nabi sebelumnya sudah dihapus dengan kedatangan Muhammad Rasulullah saw. sebagai nabi akhir jaman.</p>
<p>Tahun baru juga sama aja. Ini tahun baru Masehi, diperingati untuk mengingat sang Mesiah (asal kata dari Masehi alias Nabi Isa juga) dilahirkan ke bumi. Kita nggak perlu latah ikut-ikutan merayakan meski sekadar mengucapkan selamat tahun baru. Karena bagaimana pun, ucapan tahun baru selalu mengekor dengan ucapan natal. Kita punya kok tahun baru sendiri. Tahun baru Hijriyah. Sebagai momentum peringatan Rasulullah saw. hijrah dari Mekah ke Medinah dan mendirikan Negara Islam di sana.</p>
<p>Selain tahun baru masehi bukan budaya kaum muslimin, lihat juga bagaimana orang-orang itu merayakannya. Hura-hura, pesta, kembang api, dansa, dan banyak acara maksiat lainnya yang digeber semalam suntuk. Jelas banget, semua hal itu sama sekali nggak sesuai dengan budaya kaum Muslimin yang sangat menjaga diri dari segala perbuatan sia-sia dan maksiat. Udah acaranya nggak ada tuntunannya dalam Islam, eh, cara merayakannya juga amat sangat tidak terpuji.<br />
? <br />
<strong>Bagaimana sikap kita?<br />
</strong>Jelas dong, sikap kita sebagai kaum Muslimin untuk tidak mengikuti perayaan itu meskipun sekadar mengucapkan natal dan tahun baru. Lha wong kita tidak meyakini kedua perayaan itu kok mau mengucapkan selamat. Bukankah yang selamat itu cuma mereka yang meyakini akidah Islam saja? Jangan khawatir kamu dituduh tidak toleran hanya karena tidak mau mengucapkan selamat natal dan tahun baru. Toh, makna toleran tidak sesempit itu.</p>
<p>Toleran itu cukup dengan mengakui adanya keberagaman di sekitar kita. Kita tak mengganggu keyakinan dan ibadah mereka dan begitu sebaliknya. Mereka juga tidak boleh mengusik akidah dah ibadah kaum Muslimin. Toleran tidak bermakna untuk ikut-ikutan dan mencampuradukkan keyakinan kita dengan keyakinan dan peribadatan agama lain. Bukankah telah dinyatakan oleh Allah dalam surat al-Kafirun bahwa bagimu agamamu dan bagiku agamaku? Ya sudah, cukup ini saja yang jadi patokan kita, oke?</p>
<p>Sering saya diberi ucapan selamat tahun baru oleh teman-teman baik Muslim atau nonmuslim. Kalo ucapan Natal jelas nggak, karena identitas saya sebagai muslimah dengan jilbab dan kerudung sangat jelas terlihat. Saya selalu katakan pada mereka, bahwa saya tidak merayakan tahun baru Masehi. Malam tahun baru toh nggak beda dengan malam-malam sebelum dan sesudahnya. Baru kalo di penghujung malam tahun baru matahari terbit dari barat, itu baru saya takjub dan pantas untuk dirayakan. Teman-teman langsung pada keki karena kalo beneran seperti itu, artinya kiamat dong heheheâ€¦</p>
<p>Tentunya tidak berhenti di situ saja. Harus ada penjelasan secara logis mengapa kita tidak mau merayakan atau sekadar mengucapkan selamat tahun baru. Penjelasan sederhana di atas sudah cukup kamu gunakan sebagai penjelasan bila ada yang nekat ngucapin hal yang sama ke kamu.</p>
<p>Jadi sikap kita jelas dalam hal ini. Tak ada yang namanya nggak enak ati karena ini menyangkut masalah akidah dan keimanan. Nggak main-main urusannya. Meskipun dengan itu kita harus dengan sabar memberi penjelasan dan pengertian bagi mereka yang emang belum ngerti.</p>
<p>Saya punya teman pena dari Finlandia. Kami bersahabat sudah lebih dari sepuluh tahun. Setiap bulan Desember tiba, ia selalu mengirim kartu ucapan merry christmas and happy new year pada saya. Bahasa Finland-nya sih â€œHyv?¤?  Joulua ja Onnellista Uutta Vuotta!â€? Padahal sudah berulangkali saya jelaskan padanya kalo saya seorang Muslim dan tidak merayakan natal atau pun tahun baru masehi. Saya jelaskan pula kalo kami punya tahun baru sendiri, Hijriyah. Tapi lucunya, dia selalu heran dan bingung dengan penjelasan saya.</p>
<p>Usut punya usut, ternyata merayakan natal di negeri Barat tidak berkaitan dengan keyakinan seseorang. Teman pena saya ini mengakunya bukan seorang nasrani, karena ia tidak percaya terhadap ketuhanan Yesus. Ia bilang kalo ia tidak percaya dengan tuhan yang ada di gereja. Ia percaya dengan tuhan menurut definisinya sendiri. Hihi, kacau yah?</p>
<p>Jadi, baginya natal adalah sebuah perayaan yang tidak ada nilai religiusnya sama sekali. Tidak ada acara pergi ke gereja. Tidak ada acara membaca doa atau pun hal-hal keagamaan lainnya. Natal cuma momen untuk bisa kumpul bersama keluarga, makan enak, pesta dan mabuk hingga pagi.</p>
<p>Tapi tetap saya jelaskan bahwa meskipun natal di Barat saat ini kehilangan nilai religinya, tapi saya tidak bisa menerima ucapan itu. Bagaimana pun natal tidak bisa dilepaskan dari mana ia berasal dan dalam konteks apa ia diperingati. Memang tidak mudah membuat teman saya ini paham karena perbedaan budaya dan keyakinan yang sangat mencolok di antara kami.</p>
<p>Pertemanan bukan berarti bisa dengan seenaknya mencampurkan akidah dan keimanan. Harus ada batas yang jelas untuk itu. Toh, kami tetap berteman dengan baik meskipun saya tak pernah mengucapkan merry christmas and happy new year padanya. Ia juga tak pernah menuntut saya untuk mengucapkannya. Malah yang sering, dia suka tanya-tanya tentang Islam dan saya dengan senang hati menjelaskannya.</p>
<p>Apa yang bisa diambil dari cerita saya di atas? Jangan pernah ambil kompromi untuk masalah penting dan mendasar. Perayaan dan ucapan natal dan tahun baru memang ringan di lidah, tapi berat di timbangan pada hari penghisaban nantinya. Maksudnya berat dalam hal mengurangi timbangan kebaikan kamu alias jadi tekor. Jadi jangan pernah menganggap enteng hal ini.</p>
<p><strong>Kok, ada ulama ikut natalan?<br />
</strong>Mungkin di antara kamu ada yang bertanya-tanya seperti ini. Jangan kuatir, ngaku-ngaku ulama saat ini memang gampang. Tapi dari perbuatannya, kamu kan bisa menilai ulama seperti apakah yang ada pada dirinya.</p>
<p>Merusak Islam sudah bukan jamannya lagi dari luar. Diperangi secara fisik, dibenci oleh kaum kafir, dicemooh dan diludahi seperti jaman nabi. Saat ini ada yang lebih keren tapi berbahaya dalam merusak Islam yaitu dari dalam. Dari pemeluk Islam sendiri dan dari mereka yang mengaku ulama panutan umat. Kalo ulamanya sudah kena, maka umat pun akan mudah diarahkan ke jalan tidak benar. Gampang kan?</p>
<p>Apalagi dengan adanya sebuah jaringan yang teroraganisasi dengan baik untuk menghancurkan Islam dari dalam, yakni JIL alias Jaringan Islam Liberal. Islam kok liberal? Hehe makanya nggak pantas banget kata Islam disandang dan bersanding dengan liberal. Terus, apa hubungannya dengan perayaan natal dan tahun baru?</p>
<p>Merekalah yang gencar mempromosikan ajakan untuk merayakan dan mengucapkan natal dan tahun baru. Alasannya sih slogan pluralisme agama yang sering jadi dalih. Merekalah yang suka memberi cap eksklusif pada kita-kita yang berusaha berjuang dan menerapkan Islam secara kaffah (keseluruhan). Lucu ya.</p>
<p>Musuh-musuh Islam nggak perlu repot-repot untuk menghancurkan Islam karena sudah ada mesin penghancur itu dari dalam. Pihak JIL inilah yang paling getol mengadakan diskusi dan seminar dalam merusak ide dan akidah Islam. Lha wong teman-teman saya yang nasrani aja nggak repot kok meski saya dan teman-teman yang lain nggak mengucapkan selamat natal pada mereka. Dan kami juga tetap berteman sebatas hal-hal yang memang dibolehkan. Bukan mencampuradukkan akidah dan keimanan. Kok, malah pihak yang mengaku dirinya muslim yang ajak-ajak untuk ikut natalan. Aneh!</p>
<p>Makanya, kamu jangan heran lagi kalo ada ulama yang ikut natalan bahkan ajak-ajak umatnya untuk mengikuti perbuatannya. Ingat, setiap individu akan bertanggung jawab terhadap amal perbuatan masing-masing. Nggak ada ceritanya entar di akhirat ketika dihisab dan ditanya kamu akan bikin alasan â€œSaya kan cuma ikut-ikutan ulama anu.â€? Ulama anu itu bisa jadi ikut bikin alasan â€œSalah sendiri, ngapain kamu mau ikut-ikutan saya?â€? Nah lho, jadi ribet kan urusannya?</p>
<p>Nah lho, masing-masing saling menyalahkan. Kalo kamu paham Islam dengan baik dan benar, kondisi itu nggak akan terjadi. Meskipun ulama, kalo perbuatannya gak benar ya seharusnya dinasehati bukan diamini aja. Bukankah itu sejatinya sikap seorang Muslim? Saling menasihati dalam kebenaran dan dalam kebaikan.</p>
<p>Kalo ternyata si ulama tetap ngeyel? Kita ingkari aja perbuatannya dalam hati sambil terus melakukan upaya penyadaran terhadap teman-teman dan keluarga kita, supaya mereka nggak ikut-ikutan perbuatan yang nggak bener itu. Kalo kamu punya kemampuan menulis, bisa tuh bikin tulisan sederhana terus kamu tempel di mading sekolah. Atau bisa kamu kirimkan ke surat pembaca di surat kabar kotamu. Jangan cuma diam aja.</p>
<p>Termasuk nih, kalo kamu pandai berbicara di depan banyak orang, jelaskan kepada mereka persoalan ini. Nggak perlu takut dicerca. Oke?</p>
<p>Kalo musuh Islam gencar menyerang dengan dalih toleransi dan pluralisme, maka kita harus lebih giat dan semangat untuk menyadarkan umat akan bahaya ide ini. Kalo mereka punya backing dana banyak, media massa yang jadi corong ide rusak, pejabat korup, ulama syuâ€™ (jahat), kita punya satu hal. Meski satu tapi dahsyat. Apakah itu? Kekuatan Iman. Backing-nya langsung bersandar pada Yang Maha Dahsyat. Pemilik langit dan bumi. Kalo Ia sudah menjadi sumber kekuatan kita, siapa yang bisa mengalahkan?</p>
<p>Tuh kan, keren banget! Allah sebagai backing kita. Allah sebagai sumber kekuatan kita. Hanya satu pertanyaan untuk kamu dan kita semua, maukah kita menjadi pejuang di jalanNya? Itu saja! Semoga kita semua siap. Setuju kan? [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 321/Tahun ke-7/25 Desember 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/awas-toleransi-semu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selebritis Remaja</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/selebritis-remaja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/selebritis-remaja#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/selebritis-remaja/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia layar kaca, kian dijejali para selebriti remaja. Popularitas yang berhasil diraihnya, kian melambungkan nama mereka di jajaran artis pendatang baru. Sebut saja Marshanda, Agnes Monica, Dini Aminarti, Samuel Rizal, Nicholas Saputra, Shandy Aulia, Alyssa Soebandono, Roger Danuarta, Nicky Tirta, Claudia Cynthia Bella, Samuel Zylgwyn lainnya. 
Saban hari, berita seputar seleb remaja emang nggak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia layar kaca, kian dijejali para selebriti remaja. Popularitas yang berhasil diraihnya, kian melambungkan nama mereka di jajaran artis pendatang baru. Sebut saja Marshanda, Agnes Monica, Dini Aminarti, Samuel Rizal, Nicholas Saputra, Shandy Aulia, Alyssa Soebandono, Roger Danuarta, Nicky Tirta, Claudia Cynthia Bella, Samuel Zylgwyn lainnya. <span id="more-324"></span></p>
<p>Saban hari, berita seputar seleb remaja emang nggak ada abisnya. Mulai dari liputan keseharian, kisah percintaan, hingga karirnya di dunia hiburan. Nggak heran dong kalo kita kian familier dengan wajah-wajah asing mereka yang sering menghias layar kaca. Sebagai bintang iklan, wara-wiri sebagai model, penyanyi, atau bintang sinetron.</p>
<p>Seperti Shandy Aulia. Dulunya kita nggak ngeh ama si â€?burketâ€™ yang membintangi salah satu iklan deodorant ini. Tapi setelah kesuksesannya berakting di film layar lebar bersama Samuel Rizal dalam â€?Eiffel Iâ€™m in Loveâ€™ dan â€?Apa Artinya Cintaâ€™, dia pun masuk dalam bursa seleb remaja beken tanah air. Begitu juga dengan anak â€?Juragan Jengkolâ€™, Claudia Cynthia Bella. Kontroversi yang menerpa di awal karirnya saat membintangi film â€?Virginâ€™, tak menahannya untuk terus berkiprah di dunia entertainmen. Malah gara-gara kontroversi, jadi makin populer deh.</p>
<p>Kesuksesan para seleb remaja meniti karir di dunia hiburan seringkali dijadikan ikon sosok remaja berprestasi. Lantaran media massa maupun negara lebih menghargai dan ngasih perhatian lebih pada mereka dibanding temen-temen pelajar yang sukses menggondol emas di kejuaraan science internasional. Seolah remaja berprestasi berbanding lurus dengan selebriti remaja. Lantas, gimana nasib pendidikan mereka di tengah kesibukannya sebagai seleb?</p>
<p><strong>Pilih karir apa sekolah?<br />
</strong>Layaknya remaja, bintang-bintang muda seperti Nadia Vega, Sakutra â€™Kipliâ€™ Ginting, Sherina, Nadia Shafira, atau finalis Indonesian idol 2006, Ghea, tetep kudu sekolah. Ya, status mereka tetep tercatat sebagai pelajar di masing-masing sekolahnya. Dan tetep kudu ngikutin kegiatan belajar-mengajar dengan seragam sama seperti temen-temen sekolahnya. Padatnya jadwal syuting yang menyita waktu, otomatis memaksa mereka untuk ngadepin pilihan antara karir dan pendidikannya. Syukur-syukur dua-duanya bisa sejalan. Lha, kalo waktunya bentrok, gimana tuh nyiasatinnya? Ada nggak sih yang kudu dikalahkan?</p>
<p>Untuk urusan membagi waktu, Nadia Shafira emang patut dicontoh. â€œKunci kesuksesan dalam belajar tidak luput dari kedisiplinan aku dalam belajar. Aku tidak mau meninggalkan pelajaran karena hanya syuting sinetron,â€? katanya. Dia mengaku selalu berusaha menyempatkan diri belajar saat rehat di lokasi syuting. â€œBagi aku syuting tidak harus meninggalkan belajar. Belajar tetap nomor satu, setelah itu karier,â€? tuturnya. Nggak heran kalo pemain serial TV AADC ini termasuk dalam deretan lulusan terbaik di antara siswa SMA 70 Jakarta untuk tahun 2006 ini, dengan nilai 8,90 untuk semua mata pelajaran. (Suara Karya Online, 30/06/06). Ck&#8230;ck&#8230;ck&#8230;</p>
<p>Nadia Vega, pemain serial remaja Inikah Rasanya, ngaku sering kerepotan dengan dengan syuting sinetronnya yang kejar tayang. Dia kudu pandai membagi waktu. â€œTerkadang kami harus minta izin dari sekolah. Saya juga harus rajin mencatat dari teman untuk mengejar ketinggalan dalam pelajaran di sekolah. Untunglah semuanya bisa diatasi dengan ketekunan dalam belajar,â€? tutur dara Sunda kelahiran Pekanbaru, Riau ini.</p>
<p>Alyssa Soebandono, yang akrab dipanggil Icha, adakalanya juga keteteran dalam soal pelajaran. Itu sebabnya ia memanggil guru privat untuk menambah pelajaran ekstra. â€œSetiap shooting saya selalu bawa buku pelajaran. Kadang guru privatku ikut ke lokasi shooting. Kan kalau di lokasi shooting suka ada waktu jeda, nunggu scene yang lain. Nah waktu itu saya manfaatin buat belajar,â€? terang Icha.</p>
<p>Akting berlanjut, sekolah jalan terus. Itulah prinsip yang dijalankan Sakutra â€?Kipliâ€™ Harahap Ginting. Caranya, siswa kelas VI SD ini berusaha membagi waktu sehingga sekolah dan karier dunia hiburannya tetap berjalan. Beruntung, teman main dan sutradara kerap memberinya kelonggaran. Saat penggarapan sinetron â€?Kiamat Sudah Dekatâ€™ yang kejar tayang, misalnya, ia juga sering diberi kesempatan shooting Sabtu dan Ahad. â€œBiasanya, selesai sekolah baru shooting. Tidak boleh sekolah diabaikan.â€?</p>
<p>Tapi Ghea, finalis Indonesian Idol 2006, tak seberuntung Nadia Shafira untuk urusan pendidikannya. Karena memilih untuk masuk Indonesian Idol dan dikontrak oleh MNC, kegiatan Ghea lumayan padat. Akibatnya, karier menanjak tapi prestasi sekolah menurun. Padahal tahun ini, Ghea harus ujian kelulusan SMA. â€œBuat aku sekolah tetap yang utama. Target aku sekarang lulus SMA. Memang sih nilai pelajaranku banyak yang turun, tapi aku merasa ini adalah risiko. Sekarang buat persiapan ujian, Ghea banyak latihan soal, dan ikut pelajaran tambahan di sekolah dan di rumah,â€? ujar Mojang yang bersekolah di SMAN 20 Bandung ini. Karena kegiatannya banyak di Jakarta pada weekend, akibatnya, doi kudu bolos setiap hari Senin.</p>
<p>Sobat, jadwal kegiatan di dunia hiburan yang cukup padat, ternyata nggak bikin mayoritas para bintang muda â€?ngacanginâ€™ pendidikannya. Teuteup, mereka utamakan pendidikan meski bolong-bolong absen sekolahnya, ngikut les privat, rajin nyalin catatan temen, atau sampe bawa guru lesnya ke tempat shooting. Gimana aja caranya, yang penting jangan sampe sekolah terbengkalai. Catet tuh!</p>
<p><strong>Beprestasi di usia dini<br />
</strong>Untuk urusan prestasi, tiap remaja pasti berlomba-lomba pengen unjuk gigi. Tapi bukan berarti saling pada nyengir alias memamerkan gigi lho. Yang pasti, pengen punya kemampuan yang bisa dibanggakan dan dikenal banyak orang. Salah satu prestasi yang paling banyak diminati oleh mayoritas remaja dan remaji saat ini adalah dengan menjadi selebriti.</p>
<p>Dalam sebuah rubrik â€?suara hati pelajarâ€™ Pikiran Rakyat edisi 08/08/06 yang mengangkat tema â€?jadi selebritiâ€™, terbukti semua koresponden pengen jadi seleb meski dengan catatan. Ada yang mengidolakan Peggy Melati Sukma, Agnes Monica, Tom Cruise, atau Iwan Fals. Yang pasti, kehidupan glamour dan mewah, materi yang berlimpah, serta dipuja banyak orang cukup memancing remaja untuk terobsesi menjadi selebriti.</p>
<p>Apalagi saat ini, pintu menuju gerbang kehidupan seleb terbuka luas. Maraknya program pencarian bakat yang membidik pasar remaja, menjadi jalan pintas meraih popularitas. Nggak heran kalo peserta remaja yang ikut audisi bejibun banget. Ada yang pengen jadi penyanyi, pelawak, pedangdut, foto model, penari, daâ€™i, atau pencipta lagu. Pokoknya, semuanya pengen berprestasi dan menjadi idola remaja.</p>
<p>Tapi sobat, sebagai seorang Muslim, tentu kita nggak bisa sembarangan mengukir prestasi. Lantaran setiap amal perbuatan kita udah ada aturan main dan statusnya. Mulai dari yang mubah, makruh, sunnah, haram, dan wajib. Itu berarti, udah seharusnya kita belajar memilih prioritas amal sebelum mengukir prestasi. Caranya, dengan menyandarkan setiap perbuatan kita pada aturan Islam. Kalo menurut Islam boleh, ya silakan dijalani, tapi kalo menurut Islam nggak boleh, apa boleh buatâ€”meski menyenangkan tapi kudu dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali.</p>
<p>Kita kudu nyadar, dunia selebriti itu identik dengan gaya hidup materialis. Satu sama lain saling berlomba menjaga popularitas biar tetep laku di pasaran. Nggak heran kalo lika-liku kehidupan para seleb yang terekam di media massa dipenuhi sensasi dan kontroversi. Memang betul bahwa nggak semua seleb tuh kacau, tapi paling nggak dunia itu memang memberikan peluang alias kesempatan yang lebih besar untuk nyerempet-nyerempet atau minimal coba-coba kepada jenis kehidupan yang memungkinkan berbuat maksiat. Sekecil apa pun. Lantaran pola hidupnya yang sekuler abiz!</p>
<p>Percaya deh, masih banyak prestasi halal yang bisa kita raih dan bahkan bisa membuat kita lebih berharga di sisi Allah. Kalo kita ngotot banget cinta dunia, inget deh kehidupan kita juga nggak lama kok di dunia ini. Coba pikir, kalo kontrak kita di dunia udah abis en nggak bisa diperpanjang, amal apa yang bakalan kita bawa ke hadapan Sang Khalik: baik atau buruk?</p>
<p>Coba baca en renungi pesan yang ada di lagu â€?Bila Waktu Tâ€™lah Berakhirâ€™, dari Opick yang syairnya kayak gini: â€œBagaimana kau merasa bangga akan dunia yang sementara/Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi meninggalkan dirimu&#8230;/Bagaimanakah bila saatnya waktu terhenti tak kau sadari/Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali mengulang ke masa lalu&#8230;/Dunia dipenuhi dengan hiasan. Semua dan segala yang ada akan kembali padaNya&#8230;/Bila waktu tlah memanggil, teman sejati hanyalah amal/Bila waktu tlah terhenti, teman sejati tinggallah sepi&#8230;</p>
<p><strong>Teladan untuk kebaikan</strong><br />
Sobat, kita nggak bermaksud nakut-nakutin kamu agar jangan berprestasi en dikenal banyak orang. Eits, jangan salah. Setiap kita boleh kok berprestasi sesuai dengan potensi yang dimiiki. Hanya saja catatan dari kita, raihlah prestasi lewat jalan yang baik dan diridhoi Allah. Nggak tergoda via jalan pintas dengan ikut audisi-audisi yang banyak ditawarkan media massa. En satu lagi, kalo kelak kita berprestasi dan populer, ingatlah satu hal bahwa kita bakal jadi panutan orang lain. Sebeb, jadi idola seharusnya nggak dipinta alias bakalan datang sendiri. Banyak orang yang bisa aja menjadikan kita idola. Terutama yang respek dengan kemampuan kita.</p>
<p>Untuk itu, kalo pun kemudian jadi teladan, tentunya harus mengajarkan kebaikan. Jangan sampe sekali-kali ngajarin keburukkan. Ingat lho, dosanya bisa MLM alias bisa berlipat-lipat. Kita nyontohin kesalahan, orang lain ikut dengan apa yang kita perbuat, maka dosa kita akan ditambah dengan dosa dari orang-orang yang ngikutin keburukan kita. Kebayang kan kalo perilaku buruk selebriti seperti nge-drugs, gaul bebas, konsumtif, atau mengumbar aurat, ditiru banyak fansnya? Ih, syerem abiz!</p>
<p>Rasul saw. bersabda: â€œSiapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikitpun,â€? (HR Ibnu Majah)</p>
<p>Nah ternyata, jadi orang â€?besarâ€™, risikonya juga besar. Makanya, mending jadi ordinary people alias orang biasa aja daripada kudu berkubang dalam kehidupan sekuler materialis khas selebriti. Toh untuk memberikan tauladan yang baik, nggak harus jadi populer. Dan untuk jadi populer dan berprestasi, nggak harus jadi selebriti di dunia entertainmen. Sebab, seharusnya definisi seleb pun secara umum bukan cuma buat mereka yang berkiprah di dunia hiburan, tapi semua orang yang terkenal di berbagai bidang bisa disebut seleb. Aa Gym adalah seleb. Helvy Tiana Rosa, sebagai novelis juga seleb. Pak SBY juga termasuk seleb, karena mereka terkenal di mana-mana.</p>
<p>So, buat kita, berprestasilah di dunia yang baik-baik. Terus, yang penting, kita berperilaku, berkata, berpikir, dan berdakwah ngikutin apa yang dicontohkan Rasul. Thats it! Perkara ada atau tidaknya orang lain yang meniru kita, biarlah itu jadi bonus kita saat itung-itungan pahala di akhirat nanti. Yuk, sebanyak mungkin kita berprestasi dan raih ridho Ilahi! Soalnya, kita nggak abadi di dunia ini. [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 320/Tahun ke-7/18 Desember 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/selebritis-remaja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Cuma SmackDown</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bukan-cuma-smackdown</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bukan-cuma-smackdown#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bukan-cuma-smackdown/</guid>
		<description><![CDATA[Stasiun televisi Lativi memang akhirnya nggak menayangkan SmackDown sejak 29 Nopember 2006 lalu. Itu pun setelah gencarnya protes dari banyak kalangan. Selain Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Komisi Penyiaran Indonesia yang melakukan protes, masyarakat juga gencar mengkampanyekan agar SmackDown dihapus dari daftar mata tayang stasiun Lativi.
Namun, langkah ini kayaknya masih belum efektif benar. Sebab, SmackDown [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stasiun televisi Lativi memang akhirnya nggak menayangkan SmackDown sejak 29 Nopember 2006 lalu. Itu pun setelah gencarnya protes dari banyak kalangan. Selain Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Komisi Penyiaran Indonesia yang melakukan protes, masyarakat juga gencar mengkampanyekan agar SmackDown dihapus dari daftar mata tayang stasiun Lativi.<span id="more-323"></span></p>
<p>Namun, langkah ini kayaknya masih belum efektif benar. Sebab, SmackDown udah terlanjur mewabah dalam bentuk video game dan VCD bajakannya karena program acara ini sudah ada sejak tahun 2000 lalu yang pernah ditayangkan oleh RCTI dan TPI.</p>
<p>Boys and gals, SmackDown emang ngajarin kekerasan. Meski tuh gulat boâ€™ong-boâ€™ongan karena memang sekadar hiburan (bunyi gemeretak tulang patah pun adalah bagian dari efek audio), tapi ketika udah ditonton anak-anak, mereka nggak bisa bedain lagi soal sandiwara atau beneran ketika para petarungnya saling gebuk dan saling piting. Lha, kalo petarung SmackDown mah udah terlatih dan sangat boleh jadi adalah para stuntman, tapi tentu nggak banget dengan anak-anak TK dan SD yang meniru adegan John Cena dkk.</p>
<p>Adalah Vince McMahon, orang yang punya ide untuk bikin SmackDown. Di pikirannya yang terbayang hanyalah fulus dan popularitas saat memproklamasikan acara gulat pura-pura pada 29 April 1999 silam itu. Terbukti, dolar dan popularitas akhirnya benar-benar diraih oleh Vince McMahon yang pada tahun 1976 pernah mempertarungkan petinju Muhammad Ali versus pegulat Jepang, Antonio Inoki, itu.</p>
<p>SmackDown sebenarnya boleh dibilang terinspirasi dari tayangan World Championship Wrestling (WCW) Thunder yang muncul di TV kabel TBS pada 1988. Nah, baru deh pada 29 April 1999, World Wrestling Federation (WWF) meniru Thunder dengan membuat SmackDown. Untuk melengkapi kesuksesan SmackDown, pada Februari 2000, Toy Headquarters membuat sembilan seri game-nya. Sekadar tahu aja bahwa pada pertengahan 2003, pemilik SmackDown mengakuisi WCW.</p>
<p>SmackDown bukan cuma terkenal di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia. Di Amerika, Eropa, dan Asia, SmackDown begitu populer dan nggak jarang penggemarnya (terutama anak-anak) ngikutin gulat gaya bebas tapi pura-pura yang diperagakan bintang-bintang SmackDown seperti John Cena, Rey Mysterio, Stone Cold, dan juga Kent.</p>
<p>Tayangan SmackDown boleh dibilang efektif merangsang â€?insting binatangâ€™ dari manusia. Pakar pendidikan Arief Rachman menuturkan adegan kekerasan yang ditayangkan televisi sangat efektif merangsang insting manusia yang paling rendah yang menyamai binatang. â€œInsting ini yang paling berbahaya,â€? katanya. (Koran Tempo, 29 Nopember 2006)</p>
<p>Sekadar tahu aja, anak-anak yang jadi korban gara-gara meniru adegan gulat gaya bebas SmackDown lumayan banyak. Beberapa di antaranya adalah: Reza Ikhsan Fadillah, 9 tahun, siswa SD Cingcing 1 Ketapang, Soreang, Bandung (meninggal 16 Nopember 2006). Angga Rakasiwi (11), siswa SD Babakan Surabaya 7 di Kiaracondong, Bandung (dijahit lima jahitan di kening). Fayza Raviansyah (4 tahun 6 bulan), siswa TK al-Wahab di Margayahu, Bandung (luka, muntah darah). Ahmad Firdaus (9), siswa kelas III SD 7 Babakan Suraaya Selatan, Bandung (pingsan). Nabila Amal (6 tahun 6 bulan), siswa kelas I SD Margahayu Raya 1, Bandung (patah tulang paha). Mar Yunani, siswa kelas III SD Wates IV Kulonprogo, Yogyakarta (gegar otak). Yudhit Bedha Ganang (10), siswa kelas V SDN 05 Duren Tiga, Jakarta Selatan (luka pada kepala dan kemaluan).</p>
<p>Okelah, mungkin tayangan kekerasan di televisi relatif berkurang dengan digusurnya SmackDown. Tapi, tentu bukan jaminan juga bagi kita, khususnya para orangtua untuk leha-leha. Sebab, video game SmackDown masih beredar dan dimainkan dengan penuh suka-cita oleh anak-anak. Pun VCD-nya sangat murah dan masih ada di pasaran meski mungkin sekarang sembunyi-sembunyi pas ngejualnya. Jadi, kekerasan masih mengintai kita. SmackDown belum berakhir. Waspadalah!</p>
<p><strong>SmackDown nggak sendirian</strong><br />
Kekerasan yang ditayangkan televisi sejatinya bukan cuma SmackDown. Sebab, film bertema kekerasan pun kerap hadir di televisi. Berita-berita kriminal yang dikemas seperti â€?dramaâ€™ punâ€”karena sering menampilkan adegan pengejaran atau penggerebekan polisi terhadap penjahat (termasuk di dalamnya reka ulang tentang adegan pembunuhan)â€”bukan tak mungkin pula akan menginspirasi individu masyarakat untuk berbuat yang sama atau minimal menganggap bahwa kekerasan adalah hal yang biasa dan wajar.</p>
<p>Pola kekerasan yang â€?diajarkanâ€™ televisi bisa juga lewat film kartun, lalu film dewasa yang kental dengan violence, dan seabrek tayangan lainnya yang menyisipkan kekerasan. Lihat aja film kartun macam Road Runner dan Tom and Jerry, di situ banyak banget adegan ketembak, digebuk, meledak sampai ketiban bongkahan batu sudah lumrah ada.</p>
<p>So, tayangan televisi memang sangat berpengaruh pada perkembagan penontonnya, apalagi usia penonton yang masih tergolong anak-anak dan remaja. Yang harus diakui bahwa mereka lebih mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang ada di televisi. Motifnya bisa beragam, mungkin ada yang cuma iseng alias mencoba-coba, ada juga yang lebih ke arah penyaluran untuk memenuhi pencarian jati dirinya. Malah tak mustahil bila ada yang betul-betul terobsesi menjadi seperti pelakunya dalam tayangan tersebut. Bila dibiarkan, bahaya besar, Bro!</p>
<p>Yup, SmackDown memang nggak sendirian mengajarkan kekerasan bagi penontonnya, tapi mungkin ikut menambah daftar panjang sebagai â€?teladanâ€™ yang jelek bagi pemirsanya dalam soal mengajari kekerasan. Saatnya kita nyadar untuk mikirin dan terus bertindak agar kekerasan nggak terus diekspos di televisi sebagai media komunikasi massa yang paling efektik menyampaikan pesan. Ayo, hentikan diam kita!</p>
<p><strong>Bahaya selain SmackDown</strong><br />
Korban SmackDown mungkin saja masih terus berjatuhan. Sebab, yang nggak tercatat karena nggak melaporkan kejadian gara-gara meniru adegan gaya gulat pura-pura itu sangat boleh jadi jauh lebih banyak.</p>
<p>Tapi, bahaya selain kekerasan fisik yang diperagakan gulat hiburan rekaan Vince McMahon ini, ternyata masih ada hiburan lain yang pengaruhnya boleh dibilang nggak bisa dianggap enteng. Kalo John Cena, Rey Mysterio dan kawan-kawannya berakting menyuguhkan kekerasan fisik, maka selebritis di dunia sinetron dan film berlomba memberikan hidangan gaya hidup yang permisif dan hedonis abis. Khususnya sinetron yang mengajarkan tentang percintaan dan pergaulan bebas antara cowok-cewek, termasuk seks bebas di dalamnya. Nggak ketinggalan para musisi yang getol menggarap lagu bertema cinta dalam berbagai jenis musik ikut menyumbang pembentukan karakter individu dan masyarakat sesuai dengan tema yang dibuat.</p>
<p>Film remaja seputar cinta dan pergaulan bebas secara tidak langsung memberikan visualisasi untuk menginspirasi pemirsanya dalam melakukan hal yang sama seperti di film. Meski mungkin tujuan dibuatnya film sebagai media penyadaran masyarakat dengan menampilkan realitas yang terjadi di masyarakat. Tapi, kenyataannya yang terjadi adalah bias. Sebab, sangat tipis bedanya antara membeberkan fakta dengan ngajarin. Tul nggak seh?</p>
<p>Sobat muda muslim, harus kita akui bahwa pengaruh budaya seperti ini sudah lama kita rasakan. Bukti bahwa masyarakat kita secara umum udah rusak bisa dilihat dari gaya hidupnya. Meski mengaku-ngaku sebagai Muslim, tapi gaya hidupnya sama sekali nggak mencerminkan sebagai Muslim. Nampak kemuslimannya hanya ketika berada di masjid atau di acara peringatan hari besar Islam. Eh, begitu berada di luar masjid gaya hidupnya juga berubah. Persis bunglon tuh. Di masjid tampak alim dan berserah diri memohon kepada Allah Swt. dengan berdoa hingga berlinang air mata. Tapi begitu keluar dari masjid, malah melakukan beragam kegiatan yang dilarang agama. Waduh tulalit banget ya?</p>
<p>Ya, sebab dalam kondisi kehidupan yang didominasi sekularisme ini, nggak ada jaminan juga kalo orang yang baik tuh bisa selamanya baik. Sebab, gimana pun lingkungan masyarakat dan negara bakalan mempengaruhi individu. Kasus beredarnya rekaman video adegan mesum seorang oknum anggota DPR RI dari sebuah partai dengan penyanyi dangdut baru-baru ini adalah satu dari sekian ribu kejadian akibat pengaruh gaya hidup sekularisme. Sekian ribu kejadian? Ya. Coba deh baca di koran yang getol memberitakan kasus perselingkuhan, ampir tiap hari ada. Bedanya hanya dalam soal menyedot perhatian publik. Kalo masyarakat biasa yang ngelakuin perselingkuhan dianggap cemen lah. Tapi kalo pejabat atau orang terkenal lainnyaâ€”karena mereka jadi sorotan publikâ€”maka jadi luar biasa dan bikin heboh. Padahal, yang dilakukannya sama aja kok. Sama-sama melanggar aturan agama.</p>
<p>Sobat, sekularisme emang udah menggiring manusia untuk bersikap mendua. Bukan hanya bagi kaum Muslimin, tapi bagi pemeluk agama lain dan manusia secara umum. Tuhan hanya ditempatkan di ruang ibadah, tapi hilang dalam kehidupan sehari-hari di luar tempat ibadah. Menyedihkan banget.</p>
<p>Tumbuhnya kesadaran kita untuk mengubah kondisi ini bukan cuma ketika ada tayangan di media massa yang pengaruhnya bisa dirasakan secara fisik dengan banyaknya jatuh korban akibat menirukan gaya SmackDown, misalnya. Nggak sesederhana itu. Sebab, tayangan perusak kepribadain juga telah menyulap masyarakat kita menjadi hedonis (menjadikan materi dan kenikmatan jasadi sebagai tujuan) dan permisif (serba boleh dan bebas nilai).</p>
<p>So, jangan cuma rame-rame protes saat ada sebuah tayangan di televisi yang pengaruhnya dirasakan secara fisik, tapi juga kita kudu ambil bagian dan bergerak untukâ€”minimal memprotesâ€”beragam tayangan yang merusak cara pandang dalam berpikir dan bertingkah laku. Sebab, sangat boleh jadi bahaya yang ditimbulkannya jauh lebih besar dan dahsyat. Buktinya, mungkin saja tayangan SmackDown, hanya berpengaruh pada anak-anak aja, golongan lain nggak mempan. Tapi tayangan yang menyebarkan gaya hidup sekularisme, bisa mempengaruhi banyak kalangan dalam berpikir dan berbuat. Contoh udah banyak, Bro. Benar-benar tragedi.</p>
<p>Hmm&#8230; media massa dalam sistem Kapitalisme-Sekularisme ini emang parah banget. Sebab, media massa, khususnya televisi selalu menjadikan rating sebagai ukuran kalo acara itu diminati. Kalo ratingnya tinggi, maka bisa dijadikan modal untuk menjerat pemasang iklan di program tersebut. Itu pula yang terjadi dengan tayangan SmackDown. Karena tingginya rating menunjukkan besarnya minat dan jumlah pemirsa terhadap acara tersebut. Padahal, acara tersebut mengajarkan kekerasan. Ini artinya, media massa lebih mengedepankan tayangan yang diinginkan sebagian pemirsa. Bukan tayangan yang seharusnya dibutuhkan oleh pemirsa pada umumnya.</p>
<p>Sobat, kita pantas untuk bersedih dan kesal hidup di bawah naungan sekularisme. Sebab, televisi lebih banyak dijubeli dengan tayangan yang merusak cara pandang kita dalam berpikir dan bertingkah laku. Sementara tayangan religius (khususnya Islam) sekadar tempelan aja. Itu pun disimpan pada jam dimana orang banyak nggak nonton. Yakni di pagi hari saat orang masih terlelap atau sedang pergi ke masjid menunaikan sholat subuh, dan di malam hari ketika orang sudah terlelap tidur. Mengenaskan sekali.</p>
<p>Jadi, tunggu apa lagi? Ayo sadar dan bergerak untuk belajar Islam. Pahami Islam sebagai akidah dan syariat alias ideologi. Mulai sekarang yuk kita ngaji sambil terus mengkampanyekan penerapan Islam sebagai ideologi negara agar beragam problem ini bisa dituntaskan. [solihin]</p>
<p>(<strong>buletin STUDIA &#8211; Edisi 319/Tahun ke-7/11 Desember 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bukan-cuma-smackdown/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenakalan Orangtua</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kenakalan-orangtua</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kenakalan-orangtua#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kenakalan-orangtua/</guid>
		<description><![CDATA[Kita mungkin bosan banget kalo ngomongin kenakalan remaja en kenakalan anak-anak. Tapi, kita jarang dengar en ngomongin kenakalan orangtua. Padahal, kalo mo dirunut lumayan banyak juga lho kenakalan ortu dan emang sangat berpengaruh kepada kehidupan kita. Kenakalan orangtua ini bisa diperluas bukan hanya orangtua di rumah alias keluarga kita. Tapi orangtua di masyarakat seperti guru-guru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita mungkin bosan banget kalo ngomongin kenakalan remaja en kenakalan anak-anak. Tapi, kita jarang dengar en ngomongin kenakalan orangtua. Padahal, kalo mo dirunut lumayan banyak juga lho kenakalan ortu dan emang sangat berpengaruh kepada kehidupan kita. Kenakalan orangtua ini bisa diperluas bukan hanya orangtua di rumah alias keluarga kita. Tapi orangtua di masyarakat seperti guru-guru di sekolah, orang-orang dewasa di lingkungan sekitar, orang-orang dewasa yang bisa kita lihat tampilan wajah dan aksinya di televisi, orang-orang dewasa yang saban hari kita temui di sekolah kehidupan kita, termasuk dalam hal ini adalah para ortu yang menjadi pejabat di negeri ini.<span id="more-322"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, bukan maksud mo ngejelek-jelekkin ortu kita. Nggak. Ini sekadar renungan aja, betapa kita suka lupa bahwa kenakalan remaja nggak bisa lepas juga dari teladan yang sudah ada. Biar adil nih ye, kalo kita ngomongin kenakalan remaja sampe berbusa-busa atau nulis sampe berlembar-lembar lengkap dengan taburan faktanya, maka nggak ada salahnya juga dong kalo kita nyentil dikit kenakalan orangtua.</p>
<p>Eh, sebenarnya bukan nyentil sih, tapi dikit aja kita bahas sebagai bahan renungan buat kita semua. Ya, semoga saja kita juga jadi bisa ngingetin para ortu yang mau nggak mau memang sudah dan akan mewarnai kehidupan kita saat ini. Ortu di rumah, ortu di masyarakat, dan tentunya ortu yang bertugas sebagai pengurus negara dan rakyat. Semua itu adalah ortu kita yang seharusnya menjadi teladan yang baik buat kita dalam menjalani kehidupan ini.</p>
<p>Oya, ampir lupa ngejelasin definisi nakal. Nakal tuh artinya suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu dsb, terutama bagi anak-anak). Juga berarti buruk kelakuan. Kalo kenakalan adalah kata sifat dari nakal atau perbuatan nakal. Bisa juga berarti tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku di masyarakat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, 2003, hlm. 772)</p>
<p><strong>Kenakalan orangtua dalam ikatan keluarga</strong><br />
Ehm, terpaksa kudu jujur nih. Seenggaknya ada dua poin yang bisa disebut sebagai kenakalan orangtua secara umum.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, soal akhlak. Wallahuâ€™alam, apakah karena terlalu sibuk atau nggak ngerti harus berbuat, banyak ortu di rumah yang abai dalam soal akhlak Islam yang baik ini. Padahal, anak or kita-kita akan belajar pertama kali dari cara ortu, karena begitu dekatnya jarak antara kita dengan ortu. Oya, akhlak ini adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim, lho.</p>
<p>Menurut Muhammad Husain Abdullah, dalam kitabnya, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm 100, disebutkan bahwa secara bahasa akhlak berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (as-sajiyah) dan tabiat (at-thabâ€™u). Sedangkan menurut istilah (makna syaraâ€™) akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat akhlak ini tampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitasâ€”seperti ibadah, muamalah, dan lain sebagainya. Tentu, jika semua aktivitas itu ia lakukan secara benar sesuai tuntunan syariat Islam.</p>
<p>Nah, para ortu kita di rumah nggak semuanya ngerti soal ini. Bukan kita ngeledekin or ngejelek-jelekkin, tapi emang faktanya ada yang begitu. Waktu saya di kampung dulu, ada orangtua yang suka ikut ngomporin anaknya untuk berantem dengan temannya. Kata-kata penyemangat yang sebenarnya lebih terasa hasutan dihembuskan, â€œKamu jangan mau kalah sama dia. Lawan!â€?, misalnya.</p>
<p>Akibatnya, memang anak-anak di satu keluarga itu akhirnya jadi belagu dan sering nyebelin kalo bergaul, juga kerap berbuat onar karena merasa ada legalitas secara tidak tertulis dari ortunya itu. Jadi, merasa pasti ada yang bakal ngebelain mereka, gitu lho.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, mengabaikan pelaksanaan syariat. Urusan sholat seringkali jadi masalah. Pelaksanaan syariat untuk individu ini acapkali diabaikan. Kalo ortunya aja sholatnya sesukanya, atau bahkan nggak sama sekali, akan menimbulkan dampak bagi anak. Apalagi jika menyuruh atau mengingatkan anaknya saja untuk sholat nggak pernah. Wah, mungkin nggak adil juga kalo di kemudian hari nyalahin anak yang nggak sholat. Wong, orangtuanya aja nggak sholat dan nggak membimbing anaknya untuk sholat. Kasihan juga kan?</p>
<p>Pengetahuan dalam hal pelaksanaan syariat untuk individu saja, khususnya berpakaian, seringkali terabaikan oleh para orangtua. Kenakalan ortu yang (mungkin saja) tidak disengaja ini bisa membentuk karakter kita dan sudut pandang kita dalam melihat berbagai masalah. Wajar dong kalo kemudian banyak di antara temen cewek kita yang sulit dikasih tahu tentang wajibnya berjilbab kalo keluar rumah atau ada orang asing (bukan mahram) yang berkunjung ke rumahnya. Karena merasa berkerudung en berjilbab tuh kalo mo ke tempat pengajian aja. Seperti yang dicontohkan ortunya. Sedih deh.</p>
<p>Ini baru soal sholat dan berbusana lho (dan kebetulan memang ini yang lebih menonjol masalahnya). Kayaknya masih banyak deh pelaksanaan syariat Islam yang belum dibiasakan di tengah keluarga oleh para orangtua.</p>
<p><strong>Kenakalan orangtua di masyarakat</strong><br />
Kamu perlu tahu soal kenakalan ortu di masyarakat. Apa aja sih?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, menciptakan suasana yang nggak produktif. Hmm&#8230; kayaknya udah jadi rahasia umum deh kalo untuk bapak-bapak kalo mereka udah kumpul pasti ada aja yang dilakukan yang deket-deket dengan sikap malas. Bapak-bapak kalo mereka berdua, selain ngobrol bisa juga main catur. Kalo berempat, malah ada kemungkinan main gaple. Seringnya sih begitu. Terutama kalo malam hari sambil nemani yang ronda (yee.. justru mereka yang keenakan, ditemani sama yang ngeronda).</p>
<p>Main catur dan main gaple ada yang bilang boleh-boleh aja kalo nggak pake duit alias judi. Cuma nggak muruâ€™ah aja. Nggak menjaga kehormatan diri, gitu lho. Maklumlah, orang yang kerjanya cuma gaple aja tiap malam dicap orang pangedulan alias tukang malas (idih, malas ada tukangnya juga ya?). Apalagi kalo main catur or gaple itu dilakukan pagi hari di hari kerja, atau siang hari di hari kerja, kayaknya nggak enak banget dilihat deh. Tul nggak? Kesan yang muncul kan jadinya memelihara kemalasan.</p>
<p>Belum lagi kalo ibu-ibu. Baik mereka berdua, bertiga, berempat, bahkan rame-rame di forum arisan, tetep aja yang dilakukan adalah ngegosip. Ini umumnya lho. Jadi kalo ada yang nggak pernah melakukan kegiatan seperti itu, mohon nggak merasa tersindir ye. Saya nulisnya â€œumumnyaâ€?, gitu lho.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, menyediakan sarana kemaksiatan. Pemilik pabrik narkoba rata-rata ya orangtua. Mereka yang jadi bandar besar ya kebanyakan para orangtua. Nah, yang mengkonsumsi narkobanya, selain orang dewasa, ada juga yang remaja. Wah, bukannya ngasih pelajaran yang baik, malah menjerumuskan remaja demi keuntungan dan kepuasan materi yang ingin diraih para pengusaha barang haram itu. Orangtua di masyarakat yang kayak gini, jelas nakal dan jahat. Tul nggak seh?</p>
<p>Selain narkoba, kita juga udah pada apal kalo judi kini udah membudaya. Mulai dari judi togel, sabung ayam, pacuan kuda, taruhan di pertandingan sepakbola, gaple yang pake duit, rolet, dan casino, sampe judi via fasilitas pengiriman SMS untuk mendukung kontestan pilihannya di ajang pencarian bakat tertentu di televisi. Ternyata mereka malah memfasilitasi sarana kemaksiatan dan tentunya mencontohkan kenakalan. Sebel abiz dah.</p>
<p>Bukan hanya narkoba dan judi, ortu di masyarakat juga malah menyediakan tempat hiburan seperti diskotik. Bukan berburuk sangka, tapi kenyataan umum yang namanya diskotik tuh identik banget dengan tempat hura-hura, tempat mangkalnya orang-orang nakal, tempat transaksi narkoba, transaksi pelacuran, dan aktivitas maksiat lainnya. Pelakunya, banyak juga yang remaja. Tuh, jadi kebawa nakal kan remajanya?</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, pendidik yang abai. Sekolah dan kampus boleh dibilang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar bagi kita. Namun, seringkali tak seperti tujuan awalnya. Memang, nggak semuanya jelek. Tapi, kita bicara umumnya. Misalnya, ada oknum guru yang mengajarkan asusila kepada murid-muridnya. Faktanya, kalo sempat baca-baca berita ada oknum guru yang melakukan pelecehan seksual kepada muridnya. Duilee.. yang begini ini bisa memicu kenakalan anak didiknya. Semoga saja jumlahnya nggak banyak ortu di masyarakat yang model gini.</p>
<p><strong>Kenakalan orangtua di pemerintahan</strong><br />
Wah, gimana jadinya kalo pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung paling kuat bagi rakyatnya justru malah mencontohkan kenakalan, efeknya jadi global tuh. BTW, apa aja sih kenakalan orangtua di pemerintahan?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, raja tega. Dengan kenakalannya alias buruk kelakuannya ketika udah menyengsarakan rakyatnya. Seperti misalnya menaikkan harga BBM, biaya pendidikan yang tinggi, mahalnya ongkos kesehatan, nggak terjangkaunya harga-harga kebutuhan bahan pokok dan sejenisnya udah bikin rakyat secara umum kesulitan mendapatkannya. Akibat kenakalan yang dilakukan pemerintah ini bisa memicu krisis sosial yang lebih parah.</p>
<p>Seringkali demi memenuhi kebutuhan hidup, banyak orang yang akhirnya menempuh cara-cara tidak halal. Ditambah pula dengan minimnya akses untuk mendapatkan pekerjaan atau mencari nafkah, kian melengkapi kacaunya kehidupan karena semakin menumpuk persoalan-persoalan hidup yang baru. Menyedihkan banget ya akibat kenakalan pemerintah yang emang terkesan raja tega, gitu deh. Padahal waktu pemilu dulu, para jurkam sampe berbusa-busa menyampaikan pidatonya. Janji inilah, janji itulah. Pokoknya, bikin janji sebanyak-banyaknya. Tapi buktinya? â€œKau yang berjanji, kau yang mengingkariâ€¦â€? Eh, dangdut banget neh!</p>
<p><strong>Kedua</strong>, melanggengkan kemaksiatan. Kalo kenakalan ortu di masyarakat cuma menyediakan sarana kemaksiatan, maka negara (dalam hal ini pemerintah) malah melanggengkan kemaksiatan. Yup, melanggengkan kemaksiatan. Karena apa? Karena udah ngasih banyak izin untuk usaha-usaha pelacuran, diskotik, pabrik minuman keras, dan jenis kemaksiatan lainnya. Termasuk menutup mata terhadap problem-problem yang diakibatkan usaha pelacuran, diskotik, peredaran minuman keras dan narkoba, perjudian, dan sejenisnya. Ini adalah bentuk kenakalan ortu di pemerintahan yang sangat membahayakan.</p>
<p>Belum lagi kalo ngelihat aksi para ortu yang jadi pejabat pemerintah yang mencontohkan praktik korupsi, suap-menyuap, dan sejenisnya yang full maksiat. Duh, jadinya kita kepikiran, gimana mereka mo ngurus rakyat kalo mereka sendiri harus diurus dan diawasi karena begitu nakalnya? Ampuuun deh!<br />
? <br />
<strong>Wahai para orangtua, dengarlah kami&#8230;</strong><br />
Tolong dong jangan salahkan kami terus. Seolah yang salah tuh remaja, yang selalu nakal tuh pasti remaja. Padahal, kami adalah korban dari kondisi yang ada saat ini. Banyak ortu di rumah yang kurang peduli, kurang menyayangi kami, dan nggak serius mengarahkan kami ke jalan yang benar. Memang nggak semua dari ortu di rumah itu nakal, tapi sayangnya ortu yang baik tuh kalah jumlahnya dengan ortu yang nakal. Duh, kayaknya parah banget ya?</p>
<p>Begitu pun dengan para ortu di masyarakat, mohon dengarlah keluhan kami. Sudah begitu banyak masalah yang ditimbulkan akibat kenakalan para orangtua di masyarakat yang seharusnya menjadi pilar kedua dalam penegakan hukum. Tapi, mereka malah menyediakan sarana kemaksiatan, menciptakan budaya yang nggak produktif, dan membiasakan malas belajar serta mendidik yang setengah hati. Belum lagi para orangtua di masyarakat yang menjadi pemilik media massa (baik cetak maupun elektronik: koran, majalah, tabloid, radio, televisi, dan juga internet) yang â€?hobiâ€™ menampilkan bacaan, gambar dan tontonan yang merusak akhlak (pornografi, kekerasan, dan seks bebas) yang berlindung atas nama bisnis. Jangan biarkan anak-anak kita mati sia-sia, hanya karena mereka mencontoh adegan gulat bebas dalam tayangan Smackdown di salah satu televisi swasta akhir-akhir ini.</p>
<p>Juga kepada para ortu di pemerintahan, yakni ortu yang menjadi pejabat negara. Seharusnya ini adalah pilar paling kuat dalam penegakan hukum, tapi nyatanya malah ikut-ikutan nakal. Padahal kenakalan yang dilakukannya berdampak lebih besar bagi seluruh rakyat. Wahai para pejabat negara, dengarlah kesedihan kami akibat kenakalan yang bapak-ibu lakukan dengan menerapkan aturan kehidupan yang nggak benar dan nggak baik, yakni Kapitalisme-Sekularisme (termasuk juga Sosialisme-Komunisme). Karena yang benar adalah Islam. Ya, saatnya pemerintah menerapkan Islam sebagai ideologi negara untuk mengatasi persoalan kehidupan yang ada saat ini. Wajib! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 318/Tahun ke-7/4 Desember 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kenakalan-orangtua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bikin GENK ala Cewek</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bikin-genk-ala-cewek</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bikin-genk-ala-cewek#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bikin-genk-ala-cewek/</guid>
		<description><![CDATA[Istilah genk awalnya sih identik sama cowok, trus prilakunya metal, urakan dan suka kebut-kebutan. Tapi pada perkembangannya istilah genk bisa juga bermakna luas. Bahkan banyak juga anak cewek yang menyebut kelompoknya dengan sebutan genk juga. Hal ini terjadi karena manusia memang pada dasarnya adalah makhluk sosial.
Nggak ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa ada interaksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah genk awalnya sih identik sama cowok, trus prilakunya metal, urakan dan suka kebut-kebutan. Tapi pada perkembangannya istilah genk bisa juga bermakna luas. Bahkan banyak juga anak cewek yang menyebut kelompoknya dengan sebutan genk juga. Hal ini terjadi karena manusia memang pada dasarnya adalah makhluk sosial.<span id="more-321"></span></p>
<p>Nggak ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan orang lain. Jadilah, mereka berkelompok untuk mewujudkan satu tujuan atau kepentingan dalam hidup. Walah, penjelasannya formil banget kayak belajar sosiologi neh. Nggak kok, ini cuma pengantar aja biar kamu pada ngeh makna genk yang akan dibahas kali ini.<br />
Karena cewek, biasanya aktivitasnya juga beda banget sama genk anak cowok. Biasanya sih mereka suka ngerumpi, ngobrol ngalor-ngidul, jalan-jalan ke mal cuci mata, bersikap ganjen, dan suka hura-hura.</p>
<p>Tapi nggak semua genk anak cewek berperilaku negatif kayak gitu. Ada juga genk anak cewek yang suka banget kumpul untuk belajar kelompok, membahas hal yang berguna semisal diskusi tentang fenomena remaja saat ini, saling mengajak kepada kebaikan bahkan sampe ngajakin teman-teman yang cewek untuk ngaji. Jadi istilah genk itu sudah mengalami pergeseran makna.</p>
<p>So, bisa kok kamu bikin genk positif ala cewek sholihah. Anggota-anggotanya bisa semua orang?  yang bejenis cewek tanpa membeda-bedakan status ekonomi, kedudukan, pangkat dan keturunan. Gimana caranya? Simak terus yah.</p>
<p><strong>Niat, tujuan, dan ikatan kudu bener</strong><br />
Yup, awal dari semua perbuatan adalah niat. Ketika kamu pingin bikin genk ala cewek keren beken tapi sholihah, niat ini harus sudah kamu benerin sejak awal. Apa sih niat kamu bikin genk? Trus, apa tujuannya? Visi dan misinya gimana?</p>
<p>Kalo niat awal sekadar buat ikut-ikutan aja supaya dibilang keren di saat semua teman sebaya bikin genk, percuma Non. Kamu nggak bakal dapat apa-apa dari niat seperti ini. Beda kalo kamu bikin genk cewek yang niatnya adalah untuk membuat kelompok atau jaringan kebaikan. Syukur-syukur bisa menjadi counter atau penolak dari genk sebaliknya, yaitu genk keburukan.</p>
<p>Kalo niat ini sudah bener, maka tujuan yang menjadi misi dan visi genk juga jadi bener. Tetapkan apa yang menjadi tujuan, visi dan misi kamu membentuk genk cewek. Belajar kelompok, ngaji bareng, saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan adalah contoh visi dan misi yang bisa kami adopsi.</p>
<p>Oya, jangan cuma bermodal semangat doang, lho. Karena apa? Karena bila kamu mengandalkan dengan modal ini aja, maka usia genk kamu nggak bakal tahan lama. Yang namanya semangat ada kalanya bisa habis. Apalagi kalo udah terbentur dengan kepentingan pribadi, pasti udah nggak bisa komit lagi.</p>
<p>Beda kalo sedari awal niat yang dicanangkan sudah kokoh, mantap dan bener. Sekuat apa pun badai berhembus, pasti deh genk kamu ini akan makin solid aja. Apalagi kalo didukung dengan sesuatu di antara kalian yang mengikat kuat. Apaan tuh? Akidah Islam. Kekuatan akidah dalam mengikat orang per orang di dunia ini sudah pasti tak teragukan lagi.</p>
<p>Kaum Muhajirin dan Anshor yang karakternya berbeda 180 derajat aja bisa tuh disatukan dengan ikatan ini. Bilal Bin Rabah yang berkulit gelap dan mantan budak bisa juga disatukan dengan Mushab bin Umar yang ganteng, bangsawan dan gagah perkasa. Umar yang keras dan Abu Bakar yang lembut, bersatu dalam naungan akidah Islam. Apalagi kalo cuma kamu dan teman-temanmu yang mau bikin genk cewek, nggak ada yang lain deh kecuali ikatan akidah yang bisa menyatukan kalian.</p>
<p>Tanpa ikatan akidah yang kuat jangan harap umur genk kamu bakal bertahan. Tanpa ikatan akidah Islam, jangan mimpi kamu bisa nge-genk dalam kebaikan. Meskipun begitu bukan berarti kamu anti terhadap mereka yang beragama lain. Hubungan baik tetap dijaga dengan nonmuslim meski itu bukan berarti kamu bisa berakrab-ria tanpa batas dengan mereka.</p>
<p><strong>Siapa aja anggotanya?<br />
</strong>Karena ikatan yang menjadi pemersatu para genkster (hihi, kesannya biar sangar gitu;p) adalah akidah Islam, maka so pasti anggota di dalamnya adalah mereka yang juga meyakini akidah Islam sebagai satu-satunya akidah yang boleh dipeluk. Kalo ada yang di luar akidah Islam, gimana dong? Boleh, tapi sebatas menjadi simpatisan aja.? </p>
<p>Kalo ada anggota kelompok yang nggak mematuhi, bisa dikenai sanksi atau bahkan didiskualifiasi alias dikeluarkan.</p>
<p>Misalnya saja ada anggota yang suka STMJ. Bukan susu telor dan jahe, tapi Sholat Terus Maksiat pun Jalan. Ngaji dan belajar getol, tapi pacaran juga pol. Nah, kalo ada anggota yang punya gelagat ke arah sini, kamu or teman-teman yang lain bisa menasehati dan mengingatkannya. Kalo tetep keukeuh untuk setia pada jalan kemaksiatan, udah nggak usah pake kompromi. Pecat aja, bleh! (ini gaya preman apa Pak Ogah neh? Hihihi)</p>
<p>Karena ada tipe orang yang mengadopsi sifat bunglon alias plin plan. Kalo kumpul sama para jilbaber, ikutan pake jilbab. Tapi kalo kebetulan kumpul sama anak yang hobi dugem, maka dia bakal ikutan juga. Alasannya sih biar fleksibel. Nggak usah kaku-kaku banget dalam bergaul. Idih, yang hak dan yang batil kok dicampur aduk. Ibaratnya air susu dicampur dengan air comberan. Emang kamu mau meminumnya? Naudzubillah banget tuh.</p>
<p>Muslim adalah syarat utama keanggotaan. Bukan karena ekslusif tapi realistis. Coba bayangkan kalo ada nonmuslim masuk sebagai anggota, apa iya dia akan menerima AD/ART yang sudah kamu buat? Contohnya, mengakui Allah sebagai al-Khaliq dan al-Mudabbir, pencipta dan pengatur. Salah satunya adalah dengan memakai aturan Allah dalam berbusana, yaitu berjilbab dan berkerudung.</p>
<p>Kalo temanmu yang nonmuslim bisa terima sih nggak masalah. Tapi kalo nggak yang kemudian berimbas ia melaporkan ke komisi HAM bahwa ada pemaksaan dalam berbusana di genk-mu, gimana coba? Waduh, bisa runyam urusannya entar. Bisa-bisa kamu dituduh melakukan islamisasi (itu tuh, memaksa masuk Islam seseorang, meski istilah ini kayaknya nggak tepat yah?) terselubung tuh.</p>
<p>Makanya, paling oke dan asyik memang memfokuskan diri pada teman-teman sesama muslimah. Karena orang nonmuslim akan tertarik pada Islam kalo mereka melihat bukti nyata keindahan Islam pada pemeluknya. Bukan karena paksaan, apalagi intimidasi disertai ancaman. Bukan sifat Islam tuh yang kayak begitu. Mohon dicatet ye.<br />
? <br />
<strong>Aktivitas genk juga kudu bener</strong><br />
Setelah niat dan tujuan bener, maka aktivitas or kegiatan genk juga kudu bener. Gak ada ceritanya tujuan menghalalkan segala cara. Misal nih, niat dan tujuan belajar dan ujian di sekolah ingin membahagiakan orangtua. Tapi cara kamu meraihnya dengan mencontek, misalnya. Yang begini neh yang nggak boleh. Tujuan emang mulia, tapi cara kamu salah besar, gitu lho.</p>
<p>Begitu juga bila kamu udah gabung dengan genk cewek keren beken dan sholihah ini. Dengan tujuan mendakwahi anak Cheerleaders, kamu sendiri malah ikutan gabung di dalamnya. Atau nih, dengan alasan mendakwahi aktivis rohis yang pacaran, kamu jadi SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan ikhwan. Bahkan nggak sungkan untuk ikut terjerumus menjadi aktivis pacaran dengan dalih dakwah. Hiiiâ€¦ngaco banget tuh!</p>
<p>Aktivitas itu kudu baik dan benar. Baik maksudnya ikhlas karena mencari ridho Allah saja, bukan karena pingin pujian dari sang ketua genk atau pun dari ketua Rohis yang kebetulan si ikhwan cakep. Sedangkan benar maksudnya adalah sesuai dengan tuntunan syariat. Karena sesungguhnya tujuan tidaklah menghalalkan segala cara.</p>
<p>Misalnya aja kamu dan genk bertujuan untuk mewarnai kegiatan di OSIS supaya lebih islami. But, ternyata kalo kalian rapat suka ikhtilat alias campur baur antara laki-laki dan perempuan. Belum lagi kegiatan yang diselenggarakan cuma sebatas pentas seni dengan band yang kedumbrangan. Udah gitu meet &amp; greet dengan artis terkenal di sebuah kafe atau diskotik. Aduh kalo kayak begini kondisinya, bukannya kamu yang mewarnai tapi bisa-bisa kamu yang terwarnai, Non.</p>
<p>Aktivitas atau cara yang kamu pilih kudu taat syariat. Itu harga yang nggak bisa ditawar lagi. Kalo memang OSIS di sekolah kamu masih sekuler banget dan keukeuh untuk bertahan dengan identitas itu, kamu bisa melakukan pilihan yang lain. Nggak perlu untuk maksa masuk menjadi bagian di dalamnya. Kamu and the genk bisa mulai mengaktifkan rohis sekolah, misalnya. Atau kalo rohis pun juga lebih bangga dengan identitas sekulernya (ada loh rohis kayak gini, biar dibilang gaul gitu), maka masih ada cara lain. Masih banyak jalan menuju Roma. Masih lebih banyak jalan lagi menuju surga.</p>
<p>Kamu adakan aja pdkt alias pendekatan intensif ke teman-teman, adik-adik kelas, atau bahkan kakak kelas. Pdkt untuk apa? Untuk me-landing-kan ide-ide kamu agar tuh sekolah nggak sekuler lagi. Agar almamater tercinta menjadi lebih baik dan lebih islami. Agar kamu nggak merasa berjuang sendiri. Agar semua teman kamu sama-sama merasakan indahnya hidup dalam naungan Islam kaffah.</p>
<p>Semuanya ini nggak akan terwujud tanpa kesolidan dari semua anggota genk ala cewek sholihah. Butuh kerjasama yang kuat dan mantap. Kalo kamu menolong agama Allah, yakin deh bahwa Allah pasti akan menolong kamu. Pelan tapi pasti kondisi dan situasi sekolah kamu akan berubah menjadi lebih baik. Sisa-sisa sekuler akan lenyap seiring dengan bangkitnya Islam menjadi the way of life bagi komunitas di sekolahmu. Insya Allah.? </p>
<p>Nah, kalo semua persayaratan utama di atas sudah kamu penuhi, maka kamu bisa beranjak ke bagian berikutnya. Ingat, genk kamu terdiri dari kumpulan manusia yang mempunyai kehendak dan perasaan masing-masing. Artinya, kamu jangan sembarangan memperlakukan mereka. Bila kamu suka diperlakukan dengan baik, maka itu juga yang harus kamu lakukan pada mereka. Ukhuwah satu sama lain kudu tetap dijaga.</p>
<p>Jangan seperti sosok monster bagi genkmu. Jangan karena alasan biar disegani, kamu jadi sok jual mahal dengan tampang angker biar lebih dihormati. Ada loh karakter seperti ini. Bawaannya jaim dan jaga wibawa mulu. Jarang senyum. Kalo pun ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, isinya cuma ngeritik dan bikin sakit hati orang lain or anggota genk yang lain. Moga deh kamu bukan tipe seperti ini.</p>
<p>Dan yang penting, meskipun genk ala cewek sholihah ini sudah eksis, jangan sampai orang di luar anggota genk merasa terganggu. Gimana nggak kalo kemana-mana kamu and the gank maunya kumpul dengan orang yang itu-itu aja. Nggak mau berinteraksi dengan mereka yang masih awam tentang Islam. Padahal tujuan didirikannya genk ala cewek sholihah ini kan sebagai sarana agar semakin banyak orang yang tertarik terus cinta sama Islam. Kalo kamu menarik diri dari pergaulan, sama juga boâ€™ong atuh. Yuk, jadikan kebersamaan genk kamu bukan cuma untuk kemaslahatan kelompokmu aja, tapi memberikan cahaya kebenaran dan kebaikan bagi orang lain.</p>
<p>Kalo udah pada kelar baca bahasan kali ini, apa kamu masih diam aja? Ayo bergerak. Bergerak untuk kebangkitan hakiki. Kebangkitan Islam pasti tak lama lagi. Masalahnya, kamu mau turut ambil bagian di dalamnya or hanya menjadi penonton yang cuma bisa sorak sorai bergembira? Itu semua membawa konsekuensi masing-masing di hadapanNya. Ayo, para cewek, jangan mau ketinggalan. Surga dan ridho Allah sudah menanti kalian. Jangan bengong aja. Tarik maaangâ€¦ [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 317/Tahun ke-7/27 Nopember 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bikin-genk-ala-cewek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mr Bush Si Raja Teror</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mr-bush-si-raja-teror</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mr-bush-si-raja-teror#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mr-bush-si-raja-teror/</guid>
		<description><![CDATA[Bukan maksud nuduh-nuduh tanpa bukti, bukan pula sedang ngegosip ampe ngebusa. Tapi ini ngomongin kenyataan. Kata Nabi saw. â€œnahnu nahkumu bidzawaahir, wallahu yahkumu bisysyaraairâ€? (kami menghukumi apa yang terlihat, dan Allah yang akan menghukumi apa yang tersembunyi). Nah, kenyataannya tentang perilaku Mr Bush memang bisa kita liat dan rasakan dengan jelas. Kita bakalan ngejembrengin sebagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan maksud nuduh-nuduh tanpa bukti, bukan pula sedang ngegosip ampe ngebusa. Tapi ini ngomongin kenyataan. Kata Nabi saw. â€œnahnu nahkumu bidzawaahir, wallahu yahkumu bisysyaraairâ€? (kami menghukumi apa yang terlihat, dan Allah yang akan menghukumi apa yang tersembunyi). Nah, kenyataannya tentang perilaku Mr Bush memang bisa kita liat dan rasakan dengan jelas. Kita bakalan ngejembrengin sebagian aksi-aksi doi yang bak koboi Texas. Dar-der-dor pake senjata nembakkin siapa aja yang berani ngelawan kebijakannya atau menekan secara politik kepada siapa pun yang membangkang kepadanya.<span id="more-320"></span></p>
<p>Pascatragedi 11 September 2001 di Amrik sono, Bush getol bin rajin ngeluarin pernyataan dan sekaligus tindakan yang membahayakan dunia. Khususnya dunia Islam. Hmm.. nggak perlu sulit ngeliat hasil kerja doi dan pasukannya. Bubuk roti kena mata alias bukti udah nyata. Liat deh di Afghanistan dan Irak.</p>
<p>Sebulan setelah tragedi â€œ911â€? Amerika nyerang Afghanistan. Sampe kini, Afghanistan jadi tak karuan kondisinya. Negeri ini dituduh sama Mr Bush telah nyembunyiin Osama bin Laden (Usamah bin Ladin) yang diduga kuat sebagai dalang dari serangan 911 ke gedung WTC yang menewaskan lebih dari 3000 orang. But, sampe kini yang dituduh nggak jelas di mana berada: apa udah mati atau masih keluyuran bebas entah di mana.</p>
<p>Lagian, bukti kalo Osama dan jaringan al-Qaedah adalah pelaku serangan teror di Amrik tersebut sampe sekarang masih gelap. Ada yang bilang kalo Bush cuma dendam ama Taliban. Soalnya, nih gerilyawan yang kabarnya pernah â€?dibinaâ€™ oleh CIA (Central Intelligence Agency), dinas rahasia paling top di Amrik, untuk bantuin ngusir Soviet malah mulai membangkang dan melawan kebijakan Amrik di sono. Selain itu, tentu Amrik pengen pengaruhnya di wilayah Asia Tengah tersebut diperhitungkan. Apalagi setelah Sovietâ€”yang mengemban ideologi Sosialisme-Komunismeâ€”bubar. Nggak ada lagi hambatan bagi Amerika buat nyebarin ideologi Kapitalisme. Kalo waktu perang dingin, agen CIA sering adu lihai dengan agen Soviet bernama KGB. Khong Guan Biskuit? Bukan, KGB tuh akronim dari Komitet Gosudarstvenoi Bezopasnoti. Kini, CIA melenggang sendirian.</p>
<p>Sobat muda muslim, catatan aksi Bush bukan cuma di Afghanistan, tapi juga di Irak. Bush memerintahkan invasi ke Irak pada Maret 2003. Saddam Husein memang berhasil digulingkan oleh â€?pasukan ahzabâ€™ alias pasukan gabungan dari Amerika, Inggris, Perancis dan negara sekutu Amrik lainnya di bawah pimpinan Mr Bush. Orang nomor wahid di Amrik ini melakukan invasi ke Irak dengan dalih bahwa Irak punya senjata pemusnah massal, dan itu akan membahayakan dunia. Meski pada faktanya sampe sekarang di Irak nggak ditemukan senjata pemusnah massal. Nah lho?</p>
<p>Di Irak, sejak pendudukan Amerika pada 2003 sampe sekarang, rakyat Irak yang menjadi korban sekitar 650 ribu orang. Sungguh prestasi Bush yang tak layak dijadikan teladan karena sangat kejam dan berbahaya bagi dunia. Belum lagi Bush menempatkan penjara berpengamanan tingkat tinggi di Guantanamo. Penjara ini untuk tawanan Taliban, pejuang Irak, mujahidin Afghanistan dan siapa saja yang dianggap teroris oleh Bush. Maka, nggak salah-salah amat kalo hasil polling oleh surat kabar Inggris, The Guardian (respondennya dari Inggris, Meksiko, Israel dan Kanada) menempatkan Bush sebagai orang yang lebih membahayakan bagi dunia ketimbang Presiden Korea Utara Kim Jong-il, Pemimpin Hizbullah Syaikh Hassan Nasrullah, dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad.</p>
<p>George W Bush memang getol banget ngajak dunia untuk memerangi terorisme. Siapa aja yang menolak ajakannya, bakalan dicap berkawan dengan teroris. Hmm.. jadi inget ucapan Anakin kepada Obi-Wan di film Star Wars Episode III: Revenge of the Sith, â€œIf you not with me, then you my enemy!â€? yang diyakini mirip banget dengan ancaman Presiden George W. Bush terhadap pihak lain berkait perang melawan terorisme. Dengan arogan dan nada mengancam Mr Bush bilang, â€œEither you are with us or you are with the terroristâ€™sâ€?. Bagi AS, dunia dibelah menjadi dua: pendukung AS atau pendukung teroris.</p>
<p>Itu artinya pula, Bush dan Amerika ingin menjadi polisi dunia. Tapi ternyata (juga) menjadi penjahat dunia. Atau.. Amerika memang berwajah ganda: menjadi polisi dunia sekaligus penjahat dunia? Oalah!<br />
Oke, kalo gitu siapa penyebar radikalisme dan terorisme yang sesungguhnya? Kamu pasti tahu jawabannya.</p>
<p><strong>Bush bikin repot</strong><br />
Dengan sederet prestasi Mr Bush yang membahayakan dunia itu, khususnya negeri-negeri Islam, apakah kita cengok aja atau melakukan ATM alias aksi tutup mulut lalu diam pura-pura nggak tahu? Terus, kita malah sibuk dan bergembira ikut menyambut kedatangan Bush ke negeri ini? Hmm.. seharusnya kita dengan jujur bisa menjawab pertanyaan: Apakah kita pantes memposisikan Bush sebagai tamu negara dan harus dilindungi? Lagian, untuk menyambut kedatangan Bush saja udah bikin repot di mana-mana. Khusus di Bogor, pengamanan Bush super ketat dan berlapis-lapis, Bro. Kesannya negeri ini adalah sarang teroris, gitu lho. Terlalu! (silakan tirukan gaya Bang Rhoma Irama pas nyebutin kata ini)</p>
<p>Ada 5 lingkaran kawasan yang harus steril dari aktivitas umum ketika Bush berkunjung pada 20 Nopember 2006. Ring 1 adalah bagian dalam Istana Bogor. Di sini ditempatin Secret Service, Detasemen Khusus Antiteror, dan Pasukan Pengamanan Presiden. Ring 2 adalah halaman seputar Istana Bogor. Ring ini bakalan diamankan oleh Satuan Keamanan Negara Polda Metro Jaya. Ring 3 adalah kawasan pintu gerbang dan pagar sepanjang 700 meter. Kawasan ini di bawah pantauan Mabes Polri bagian reserse dan kriminal. Ring 4 adalah putaran Kebun Raya dari Jalan Jalak Harupat sampai Jalan Ir. H. Juanda hingga Stadion Pajajaran. Tempat ini dipercayakan keamanannya kepada Kepolisian Wilayah Bogor. Nah, terakhir Ring 5, yakni kawasan sejauh 2 kilometer dari Istana Bogor. Disiagakan pengamaman dari Polwil Bogor (Koran Tempo, 7 November?  2006)</p>
<p>Akibat pengamanan yang berlebihan itu, kenyamanan warga Bogor di sekitar kawasan yang kudu steril dari aktivitas umum itu jadi terganggu. Angkutan umum dan kendaraan pribadi nggak boleh lewat situ. Pedagang yang berada di wilayah itu harus menyingkir dulu. Sekolah dan kantor pun kudu diliburkan. Jalur ponsel mati. Ya, bisa jadi kota Bogor â€œoffâ€? pada hari itu. Wah, jadi banyak yang dikorbankan nih gara-gara Mr Bush datang. Bikin repot aja tuh! (backsound: maklum, doi paranoid sama Islam, soalnya doi tuh getol banget musuhin kaum Muslimin. Jadinya merasa banyak musuh. Inikah rasanya jadi penjahat?)</p>
<p>Sobat, kita juga pantes mempertanyakan sama pemerintah kenapa untuk menyiapkan kedatangan Bush aja pengamanan sangat ketat dan dana yang dikucurkan begitu besar? Padahal, bangsa ini katanya lagi terpuruk. Nasib saudara-saudara kita di Yogyakarta dan sebagian Jateng yang kena gempa masih belum terurus semua. Warga di sekitar semburan lumpur dari perusahaan Lapindo Brantas aja nggak jelas nasibnya. Apalagi menjelang musim hujan, tanggul penahan lumpur bisa aja sewaktu-waktu jebol dan kemudian merendam desa mereka. Tapi kenapa untuk mengurus nasib rakyat pemerintah ini memble aje? Nggak serius gitu lho. Cuma sekadarnya aja. Ah, mana bisa diharepin kayak gitu mah atuh. Betul ndak?</p>
<p><strong>Waspadai agenda Mr Bush</strong><br />
Bertamu memang bisa dilakukan siapa aja, termasuk oleh Mr Bush. But, kita juga kudu waspada atau bahkan sangat wajar untuk mencurigainya. Soalnya udah ketahuan banget kan karakter Mr Bush yang kejam bin jahat itu. So, bukan tak mungkin juga kalo kedatangan Mr Bush ke negeri ini adalah membawa agenda tertentu yang kita belum tahu, tapi sebenarnya masih mungkin bisa ditebak.</p>
<p>Ditebak? Yup, kita bukan paranormal, tapi tebakan kita berdasarkan banyak peristiwa yang berkaitan dengan sepak terjang Mr Bush itu sendiri. Kalo kita punya waâ€™yu siyasi alias kesadaran politik, maka kita bisa menerka ke arah mana agenda Bush bergulir. Apalagi mengingat negeri ini adalah bangsa Muslim terbesar di dunia. Sementara Bush masih menilai bahwa perang melawan terorisme diterjemahkan sebagai perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Bukan tak mungkin kan, Bush ketika bertemu dengan Presiden SBY bakalan ngasih petunjuk langsung berbagai kebijakan yang hendak dicapai di negeri ini. Ya, ngasih petunjuk langsung, karena bisa jadi udah disiapkan draft-nya dan Pak SBY tinggal teken perjanjian aja. Bisa aja kan? Wallahuâ€™alam.</p>
<p>Sobat, kehati-hatian kita bukan tanpa alasan. Cendekiawan muslim, Adian Husaini dalam Catatan Akhir Pekan (CAP) tertanggal 12 Nopember 2006 di situs <a href="http://hiyatatullah.com/">http://hiyatatullah.com</a> menuliskan, â€œBagi umat Islam, Bush memang agak lain dengan Presiden AS sebelumnya. Semasa pemerintahannya, Presiden yang satu ini secara jelas merupakan pemimpin yang mengobarkan perang melawan umat Islam di berbagai tempat. Sebagai bagian dari kelompok neo-konservatif dari unsur fundamentalis Kristen, Bush telah memberikan corak yang khas dalam pemerintahannya.â€?</p>
<p>Adian Husaini juga mengutip pendapat Esther Kaplan, dalam bukunya, With God on Their Side: How Christian Fundamentalists Trampled Science, Policy, and Democracy in George W. Bushâ€™s White House, (New York: The New Press, 2004), menggambarkan bagaimana cengkeraman kelompok Kristen Fundamentalis dalam pemerintahan Bush. Di masa Bush inilah, untuk pertama kalinya diadakan pengajian Bibel seminggu sekali di Gedung Putih dan dihadiri oleh separoh lebih staf Gedung Putih. Di Department of Justice, setiap hari dibacakan ayat-ayat Bibel.</p>
<p>â€œTidak dapat dipungkiri, kebijakan perang melawan terorisme yang diluncurkan Bush adalah kebijakan yang diarahkan memerangi kelompok-kelompok Islam yang dipandang membahayakan kepentingan AS dan Israel,â€? tulis Adian dalam CAP-nya.</p>
<p>So, itu artinya, kita perlu waspada terhadap agenda tersembunyi yang bakalan diajukan Bush kepada pemerintah negeri ini. Kata Bang Napi: â€œKejahatan bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan.â€? Nah, kesempatannya adalah, kita membiarkan Bush leluasa datang ke sini. Klop. Ada niat pelaku, ada kesempatan yang diberikan sama kita. Gawat deh. Itu sebabnya kita kudu menolak kedatangan Mr Bush ke sini dan mewaspadai agenda politiknya.</p>
<p>Sobat muda muslim, pertimbangan utama kita menolak kedatang Mr Bush adalah pertimbangan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Sebab, udah jelas banget Allah Swt. mewanti-wanti kita dalam firmanNya: â€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin, pelindung, teman kepercayaan); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian lainnya. Barangsiapa di antara kamu yang mengambil mereka menjadi wali, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.â€? (QS al-Maidah [5]: 51)</p>
<p>Jadi, jangan cengok aja ya. Sebaliknya, segarkan pikiranmu dengan ideologi Islam dan tentu berjuang hanya untuk Islam. Allahu Akbar! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 316/Tahun ke-7/20 Nopember 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mr-bush-si-raja-teror/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersilaturahmi Pada Semua</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bersilaturahmi-pada-semua</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bersilaturahmi-pada-semua#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bersilaturahmi-pada-semua/</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, semua orang pada sibuk. Sebagian jamaah mesjid sibuk bikin acara itikaf di masjid untuk berburu lailatul qadar. Kegiatannya full ibadah. Mulai dari tadarus al-Quran, shalat sunnat, dan nggak ketinggalan mengkaji tsaqofah Islam hingga diskusi seputar permasalahan ummat. Terus, waktu senggang diisi dengan obrolan ringan antar jamaah masjid yang bikin cair komunikasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, semua orang pada sibuk. Sebagian jamaah mesjid sibuk bikin acara itikaf di masjid untuk berburu lailatul qadar. Kegiatannya full ibadah. Mulai dari tadarus al-Quran, shalat sunnat, dan nggak ketinggalan mengkaji tsaqofah Islam hingga diskusi seputar permasalahan ummat. Terus, waktu senggang diisi dengan obrolan ringan antar jamaah masjid yang bikin cair komunikasi di antara mereka.<span id="more-319"></span></p>
<p>Sebagian yang lain juga nggak kalah sibuknya â€?itikafâ€™ di pusat perbelanjaan untuk berburu pakaian lebaran dan potongan harga yang menggiurkan. Semenjak mall buka sampe mau tutup lagi, para pengunjung nggak ada abisnya nyantronin setiap toko. Dari mulai toko baju, sepatu, tas, aksesoris, ponsel, sampe kue-kue lebaran. Meski kaki pada pegel, yang penting dapet barang keren dengan harga miring. Yes!</p>
<p>Nggak ketinggalan, kesibukan juga terlihat di kantor travel, pool dan terminal bis, hingga stasiun kereta api. Mereka yang mau mudik ke kampung halaman berlomba-lomba dapet tiket yang murah dan sampe di tujuan sebelum lebaran. Saking ketatnya persaingan, nggak sedikit yang kudu bertransaksi dengan calo-calo tiket oportunis. Nggak apa apa deh mahal dikit, yang penting bisa pulang kampung untuk bersilaturahmi. Bisa ketemu ortu, sodara, kerabat jauh dan dekat, teman lama, guru-guru kita waktu sekolah di kampung dulu, dan semua tetangga kanan-kiri yang ikut menginspirasi kehidupan kita waktu kecil. Asyik deh!</p>
<p><strong>Tradisi mudik yang bikin asyik</strong><br />
Tradisi mudik alias kembali ke udik nggak pernah kelewat dalam menyambut hari lebaran di negeri kita. Lihat saja, tiket transportasi sudah banyak dipesan jauh-jauh hari sebelum idul fitri. Menjelang hari raya, masyarakat berbondong-bondong memadati terminal bus atau stasiun kereta api. Nggak cuma backpack yang nangkring di punggungnya, tangan mereka juga sibuk dengan barang bawaannya yang bejibun. Kalo diliat-liat, jadi mirip massa pengungsi korban perang. Heheheâ€¦</p>
<p>Nggak usah heran apalagi sampe tanya alasannya kenapa mereka bela-belain pada mudik padahal nanti juga balik lagi ke kota. Sebab entar mereka bakal tanya balik: â€œCoba aja pikir Mas. Untuk apa kita makan kalo entar juga laper lagi.â€? Tuh kan, itu berarti urusan mudik disejajarkan dengan urusan perut. Sama-sama penting dan mempertaruhkan hidup dan mati. Nah lho? Konek gak sih?! Hihihiâ€¦ (sori bukannya nuduh!)</p>
<p>Bener sobat, budaya pulang kampung tahunan ini udah mendarah daging di tengah kita. Nggak cuma para perantau atau mahasiswa luar kota, penduduk asli kota pun nggak sedikit yang kebawa arus ikut-ikutan mudik. Rasanya, nggak afdhol melewatkan perayaan lebaran kalo nggak hang out ke udik. Peduli amat punya kampung atau nggak, yang penting bisa ngerasain suasana asri dan menikmati udara segar khas pedesaan. Hidup mudik! (buat yang nggak mudik jangan ngiri ye!)</p>
<p>Silaturahmi, menjadi kata kunci untuk menggambarkan antusiasme masyarakat yang mudik. Yup, bersilaturahmi saat idul fitri punya kekuatan yang memaksa setiap orang untuk merogoh koceknya lebih dalam; menanggalkan sikap egoisnya; atau modal nekat pulang mudik meski duit pas-pasan. Mereka rela berjubel-jubel di gerbong kereta api atau berdesak-desakan di galangan kapal demi menjumpai sanak famili dan memupus kerinduan yang meradang. Hmmâ€¦.serunya.</p>
<p>Malah mayoritas para pemudik adu nyali menempuh jarak ratusan kilometer pake sepeda motor. Selain ongkosnya lebih murah karena nggak perlu beli tiket, lebih aman lantaran dikawal polisi, en perjalanannya juga nggak bikin boring. Bisa konvoi bareng-bareng dengan pemudik laen yang searah atau nambah kenalan saat istirahat di posko-posko yang digelar sponsor. Belon lagi pemandangan di kiri-kanan jalan raya yang alami, asri dan menyejukkan mata. Bagi yang biasa bergelut dengan hutan beton perkotaan, pergantian suasana alam pedesaan bikin relaks mata, hati, dan pikiran. Ih&#8230;jadi pengen mudik lagi.</p>
<p>Udah gitu, tradisi mudik juga banyak dapet dukungan dari berbagai pihak. Dari tempat kerja, dapet uang THR buat nambah-nambah ongkos mudik, ngasih angpaw, plus beli oleh-oleh. Terus libur lebaran yang lumayan panjang juga ngasih banyak waktu untuk bercengkerama dengan keluarga. Apalagi bagi yang berprofesi sebagai tukang mie rebus, jamu gendong, atau kuli bangunan dapet bantuan transportasi mudik gratis dari sponsornya masing-masing. Gimana nggak asyik tuh?</p>
<p><strong>Mengikis sikap egois</strong><br />
Dalam kehidupan kapitalis sekuler di sekitar kita, sikap nafsi-nafsi alias cuma mikirin diri sendiri udah jadi hal umum. Gimana nggak, pola hidup masyarakat kapitalis memaksa tiap orang untuk balapan biar bisa hidup enak, mewah, dan glamour. Siapa yang cepat dan kuat, dia yang dapat memenuhi segala kebutuhannya dengan mudah dan nggak pake lama. Walhasil, sikap peduli, empati, atau simpati terhadap sesama cuma nongol di layar kaca. Dalam kehidupan nyata? Dah hampir punah tuh!</p>
<p>Tanpa sadar, adakalanya kita juga kebawa arus hidup nafsi-nafsi. Padatnya aktivitas kita di tempat kerja, sekolah, kuliah, atau dakwah mengurangi kepekaan kita terhadap lingkungan. Baik terhadap sodara apalagi tetangga. Jarak hati kita dengan mereka seolah terpisah sejauh Sabang sampe Merauke. Yup, sikap nafsi-nafsi bikin hati kita dibentengi dinding es yang super tebal. Kita merasa nggak perlu tahu banyak suka dan duka kehidupan mereka. Yang penting, kita nggak ganggu dan bikin repot mereka. Padahal mereka termasuk orang-orang yang dekat dengan kita. Ehm..ehm..jadi malu.</p>
<p>Untungnya ada lebaran. Bersilaturahmi saat idul fitri ngasih kita kekuatan untuk berani mengikis sikap egois. Mengunjungi sodara dan tetangga sambil bertukar cerita lambat laun mencairkan dinding es dalam hati kita. Kegiatan open house saat hari raya membuat jarak hati kita dengan orang-orang terdekat ibarat telunjuk dan jari tengah. Saling berdampingan dan lebih mengenal satu sama lain. Hasilnya, hati kita dibuat nyaman menikmati indahnya bersosialisasi.</p>
<p>Silaturahmi saat idul fitri juga ngasih kita dorongan kuat untuk meninggalkan sejenak rutinitas di tempat kerja, sekolah atau kuliah yang selama ini banyak menyita waktu, perhatian, dan tenaga kita. Padahal sebelumnya, meleng dikit aja tuh rutinitas bikin kita pusing tujuh keliling. Kita juga rela terjebak dalam kemacetan berjam-jam dalam setiap rute perjalanan yang ditempuh. Kalo nggak lantaran pengen bersilaturahmi, macet sepuluh menit aja bikin kita uring-uringan. Cuape deh!</p>
<p>Sobat, rugi banget kalo kita cuek bebek dengan kegiatan silaturahmi. Mengenali dan dikenali banyak orang bikin hidup kita nggak kosong. Punya tempat berbagi kebahagiaan, kesedihan, atau kesulitan. Coba bayangin kalo kita keukeuh egois, cuma mikirin diri sendiri, en nggak peka ama lingkungan. Dijamin bakal hidup merana dalam kesendirian di tengah keramaian. Iihâ€¦.nggak deh!</p>
<p><strong>Silaturahmi sebagai ladang pahala</strong><br />
Silaturahmi dalam Islam nggak cuma menjaga hubungan baik dengan orang-orang dekat. Tapi juga termasuk perbuatan wajib yang berlimpah pahala. Rasulullah saw. bersabda: â€œSiapa yang percaya pada Allah dan hari kemudian hendaknya menghormati tamu. Dan siapa yang percaya pada Allah dan hari kemudian harus menghubungi sanak saudara (menjaga hubungan persaudaraan). Dan siapa yang percaya pada Allah dan hari kemudian harus berkata baik atau diam. â€œ (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Meskipun ada sodara atau tetangga kita yang jutek, bukan berarti menghalangi kita untuk bersilaturahmi. Tetep, kita kudu melatih hati dan kaki kita agar ringan mengunjungi mereka. Abu Hurairah r.a. berkata: Seorang bertanya: Ya Rasulullah, saya ada mempunyai famili, saya hubungi mereka dan mereka tetap memboikot padaku, dan saya baik pada mereka, mereka?  membalas busuk kepadaku, saya sabar terhadap mereka dan mereka tetap mengganggu padaku. Bersabda Nabi: kalau benar sebagaimana katamu itu, maka seolah-olah kau menelankan kepada mereka abu, dan selalu kau mendapat bantuan dari Allah selama kau tetap sedemikian. (HR Muslim)</p>
<p>Silaturahmi nggak hanya mendekatkan hati kita dengan saudara atau tetangga, tapi juga semakin mendekatkan kita dengan yang Mahakuasa atas rizki, ajal, jodoh, dan kehidupan kita. Anas ra. berkata: Bersabda Rasululah saw. â€œSiapa ingin dilapangkan rizqinya, dan ditunda umurnya (ajalnya) hendaknya menghubungi famili.â€? (HR Bukhari dan Muslim) Ditunda ajal ialah diberi berkat dalam umurnya, sehingga berkahnya sangat besar dan luas sekali.</p>
<p>Bahkan silaturahmi juga ngasih kita peluang untuk meraih kesuksesan di akhirat kelak. Seseorang bertanya: â€œYa Rasulullah, beritahukan kepadaku amal yang dapat memasukkan ke dalam sorga dan menjauhkan dari api neraka? Jawab Nabi: menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan denganNya sesuatu apapun, dan mendirikan sembahyang, dan mengeluarkan zakat, dan menghubungi famili kerabat.â€? (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>So, kalo kita malas bersilaturahmi, inget deh sabda Rasulullah saw. berikut: â€œTiada akan masuk sorga orang yang memutus hubungan familiâ€? (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Jangan pas lebaran doang!</strong><br />
Sobat, idealnya silaturahmi nggak cuma jadi ajang tahunan. Ya, nggak harus nunggu hari raya untuk main ke tetangga atau sodara. Nggak juga kudu nunggu acara halal bi halal biar bisa basa-basi ama temen sekolah atau rekan kerja. Jangan sampe deh dinding es yang mulai cair di hati kita mengeras lagi pasca idul fitri lantaran kita kembali menjalani rutinitas sehari-hari.</p>
<p>Sering kita ngerasa kesempatan yang kita miliki untuk bersilaturahmi cuma saat idul fitri. Padahal seharusnya kesempatan untuk bersilaturahmi nggak selalu terikat dengan hari-hari besar Islam. Berabe kalo hanya bisa nunggu sikon mendukung untuk bersilaturahmi.</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita yang kudu menciptakan kesempatan untuk bersilaturahmi. Misalnya kalo kita perlu pertolongan atau hendak memberikan bantuan, bisa jadi alasan untuk bersilaturahmi kepada saudara. Nabi saw. bersabda: â€œSedekah pada orang miskin itu sedekah satu kali dan kepada kaum keluarga berarti sedekah dua kali, mendapat pahala sedekah dan hubungan persaudaraan.â€? (HR at-Tirmidzy)</p>
<p>Jika kita mendapat undangan dari sahabat atau tetangga, usahakan untuk memenuhinya. Selain hak mereka, bisa juga sebagai ajang untuk mempererat persaudaraan. Nggak ada salahnya juga jika kita bertanya kabar mereka secara langsung atau via SMS. Dan jangan lupa untuk sekadar melempar senyuman termanis atau say hello jika berpapasan dengan mereka di jalan.</p>
<p>Nah sobat, ternyata alasan untuk bersilaturahmi nggak hanya saat idul fitri. Asalkan kita mau. Percaya deh, semakin sering kita bersilaturahmi, semakin lapang hati kita dan semakin indah hidup kita. Itu sebabnya, mari kita kikis sikap egois. Oke, mulai sekarang, kita bersilaturahmi pada semua deh. Yuk! [Hafidz341]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 315/Tahun ke-7/13 November 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bersilaturahmi-pada-semua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Amazing Quran</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/the-amazing-quran</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/the-amazing-quran#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/the-amazing-quran/</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan gini apaan sih yang asyik untuk dilakukan? Puasa, sholat, zakat, dan.. baca al-Quran yang banyak. Kenapa baca al-Quran? Karena membaca kitab suci yang satu ini emang bener-bener memberi efek yang amazing. Selain pahala yang berlipat ganda, efek sampingannya adalah ademnya hati ketika sedang membaca ataupun mendengarkannya. Kalo lagi khusyuk, bahkan tak jarang nih mata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan gini apaan sih yang asyik untuk dilakukan? Puasa, sholat, zakat, dan.. baca al-Quran yang banyak. Kenapa baca al-Quran? Karena membaca kitab suci yang satu ini emang bener-bener memberi efek yang amazing. Selain pahala yang berlipat ganda, efek sampingannya adalah ademnya hati ketika sedang membaca ataupun mendengarkannya. Kalo lagi khusyuk, bahkan tak jarang nih mata bisa meneteskan air loh. Beneran. Suer!<span id="more-318"></span></p>
<p>Selain yang tersebut di atas, di dalam al-Quran juga memuat banyak kisah tentang umat terdahulu baik yang kafir dan durhaka maupun yang baik dan sholeh. Itu semua bisa menjadi cermin bagi kita agar bisa diambil pelajaran darinya. Trus banyak juga tuh ayat-ayat yang berisi tentang rahasia penciptaan manusia, alam semesta bahkan kehidupan dunia dan akhirat. Di saat orang barat sibuk mereka-reka ada apa di balik kematian, apakah benar ada kehidupan lagi setelahnya, ternyata di dalam al-Quran semua itu sudah dijelaskan juga. Kalo kamu masih belum tahu,?  waah.. itu artinya kamu kurang gaul tuh dengan al-Quran.</p>
<p>Hebat banget ya ternyata Al-Quran itu. Kok bisa kitab semungil itu memuat hal-hal yang luar biasa mulai A sampe Z detil-detil yang luar biasa? AMAZING!</p>
<p>Itu semua karena al-Quran bukan sekadar kitab suci biasa. Tapi benar-benar merupakan firman Allah yang diturunkan kepada kekasihnya yaitu Rasulullah Muhammad saw. Bayangkan aja, bila kita membaca al-Quran itu artinya kita sedang membaca kalam Allah. Allah berbicara dan berkomunikasi dengan kita yang notabene cuma manusia biasa.</p>
<p>Al-Quran adalah kalam Allah, Dzat Yang Maha Tahu. Jelas aja isi al-Quran teramat sangat bisa dipertanggungjawabkan dan valid meskipun usianya sudah berabad-abad yang lalu sejak mula diturunkan pada Rasulullah saw. Di situ termuat banyak hal yang berguna banget buat kehidupan. Maka tak heran kalo al-Quran bisa juga disebut kitab penuntun dunia-akhirat.</p>
<p>Penuntun di dunia, itu karena al-Quran memuat sejumlah hukum syariat yang adil karena dibuat oleh Yang Maha Membuat manusia. Semua aturan itu ada hanya untuk kebaikan manusia semata, lain tidak. Penuntun di akhirat, karena dengan melaksanakan syariat maka menjadi salah satu tiket untuk terhindar dari murka Allah waktu hari penghisaban. Kok bisa? Ya jelas bisa. Allah menurunkan al-Quran bukan hanya untuk pajangan dan perlombaan. Tapi Allah menurunkan al-Quran untuk diamalkan.</p>
<p>Tapi eh tetapi, kenapa ya pada kenyataannya al-Quran yang sebetulnya sangat amazing karena memuat semua aspek kehidupan ternyata malah tidak dihiraukan? Jangankan dihiraukan, dibaca aja nggak. Bahkan selepas Ramadhan, gaung al-Quran bisa dibilang tak berbekas sama sekali. Al-Quran kembali menghuni rak-rak masjid yang berdebu dan akan dibersihkan nanti setahun sekali bila Ramadhan datang lagi. Duhâ€¦</p>
<p><strong>Al-Quran sebagai jimat</strong><br />
Kamu tahu jimat? Kalo kata orang Jawa singkatan jimat yaitu siji yen kerumat. Satu tapi dirawat. Meski pada tataran praktisnya jimat adalah sesuatu atau benda yang diagung-agungkan karena dianggap memiliki kekuatan supranatural.</p>
<p>Di negeri ini, al-Quran cuma difungsikan selayaknya jimat. Dirawat dan diagungkan tanpa diaplikasikan. Gimana mau diaplikasikan, lha wong selalu ada persyaratan tambahan yaitu tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku di negara ini. Hmmâ€¦.jadi al-Quran harus nurut dan disesuaikan dengan peraturan negara yang notabene buatan manusia? Jadi kedudukan manusia lebih tinggi dari Allah yang membuat peraturan itu dong? Naudzubillah. Tapi demikianlah faktanya memang.</p>
<p>Sehingga kamu jangan heran kalo al-Quran seakan menjadi kitab peninggalan masa lampau yang tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Opini seperti ini memang sengaja dihadirkan oleh mereka yang gerah apabila al-Quran kembali mempunyai peranan dalam kehidupan.</p>
<p>Jadilah, al-Quran boleh-boleh saja dibaca dan diperlombakan merdu-merduan suara. Tapi kalo diamalkan? Hohoho, nanti dulu. Sepasukan orang anti formalisasi (penerapan) al-Quran siap menghadang. Berbagai dalih dikemukakan untuk sekadar menghalangi al-Quran diterapkan. Jadilah, fungsi al-Quran menjadi jimat yang sama sekali tak ada peranan dalam kehidupan.</p>
<p><strong>Mengapa bisa terjadi?<br />
</strong>Pernah nggak terlintas dalam benakmu kenapa peranan al-Quran terpinggirkan? Mengapa umat Islam terutama pemudanya menjadi malu bila yang dibawa adalah al-Quran? Mengapa Das Kapital-nya Marx jauh lebih keren untuk ditenteng? Mengapa jangankan mengamalkan al-Quran, pemuda muslim ternyata banyak yang nggak bisa membaca al-Quran dengan baik dan benar? Apabila sudah bisa membaca dengan tartil, tapi mengapa sikap dan perilakunya sangat jauh dari pesan al-Quran? Dan masih banyak mengapa lain yang hinggap di benak dan sedang mencari jawabnya.</p>
<p>Mencari jawab dari semua pertanyaan di atas, mulai dari akar, runtutan peristiwa, sebab akibat, hingga teori konspirasi, semuanya membutuhkan analisa yang mendalam. Tapi karena space Studia terbatas dan supaya kamu menjadi cerdas, maka cuma ada satu jawabnya: SEKULERISME.</p>
<p>Yahâ€¦ inilah biang keladi dari terjauhkannya al-Quran dari pemuda dan pemudi Islam masa kini. Inilah penyakit yang menggerogoti umat Islam dari dalam. Why? Karena pengemban ide sekularisme ini bukan orang lain. Tapi mereka yang notabene mengaku dirinya Muslim. Bahkan banyak di antara mereka yang keluaran pondok pesantren terkenal dan perguruan tinggi Islam terkenal yang menolak al-Quran untuk diterapkan. Alasan klise sih, yang penting nilai moralnya saja yang diambil.</p>
<p>Salah satu cara dari banyak cara licik mereka untuk merendahkan al-Quran adalah menganggap kitab suci ini sebagai layaknya buku-buku lain ciptaan manusia. Kitab suci ini tidak lagi dianggap suci sebagai firman Allah. Pelecehan demi pelecehan dilakukan untuk menunjukkan bahwa al-Quran hanya sekadar kertas yang ditulisi dengan tulisan Arab. Naudzubillah.</p>
<p>Salah satu contoh pelecehan itu adalah yang dilakukan oleh dosen IAIN sunan Ampel bernama Sulhadi Ruba. Dosen ini menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk dan menulisi secarik kertas dengan lafal ALLAH kemudian menginjak-injaknya (Sabili edisi 1 Juni 2006).</p>
<p>Lalu yang terbaru adalah perdebatan salah satu mahasiswa yang kebetulan teman saya yang mengatakan bahwa al-Quran adalah karya sastra. Sehingga kedudukannya setara dengan Romeo Juliet-nya Shakespeare dan karya sastra lain buatan manusia. Al-Quran sekadar teks, sama dengan teks-teks lain kedudukannya. Untunglah, dari sekian banyak dosen sastra yang mayoritas sekuler, ada dosen yang cukup lumayan pemahamannya terhadap Islam. Dosen ini tetap menolak definisi al-Quran sebagai karya sastra meski pun nilai sastra yang maknanya keindahan memang terdapat dalam untaian ayat al-Quran. Ya, seharusnya memang begitu.<br />
? <br />
<strong>Apa sikap kita?<br />
</strong>Kalo?  kamu mengaku dirimu sebagai Muslim sejati, bukan jadi-jadian, maka kamu pasti nggak terima dengan pelecehan demi pelecehan yang dilakukan musuh-musuh Islam berkedok sebagai pembaharu. Tidak terima tuh harusnya membutuhkan sikap, bukan sekadar kecaman tanpa melakukan apa pun. Trus, gimana dong?</p>
<p>Pelajari al-Quran dengan baik dan benar. Mulailah belajar membaca dengan tartil, kemudian memahami artinya dan mengamalkan. Tanpa mengamalkan, sama aja kamu mejadikan al-Quran sebagai jimat yang nggak ada efeknya dalam kehidupan. Selain itu, kajilah al-Quran bersama dengan orang-orang yang hanif (lurus) sehingga ajaran al-Quran itu tercermin dalam tingkah lakunya sehari-hari.</p>
<p>Lalu apa sikap kita terhadap mereka yang melecehkan al-Quran? Dari hadits riwayat Abu Daud, ada sebuah hadits tentang penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad saw. dan vonisnya adalah hukuman mati. Ali bin Abi Thalib menuturkan bahwa ada seorang wanita Yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (Karena perbuatannya itu) perempuan tersebut telah dicekik sampai mati oleh seorang lelaki. Ternyata Rasulullah saw. menghalalkan darahnya.</p>
<p>See, ternyata melecehkan Rasulullah yang notabene adalah Nabi dan Rasul aja hukumannya sedemikian rupa. Apalagi melecehkan al-Quran yang merupakan firman Allah, Dzat Yang Maha Perkasa. Manusia itu memang sombong, cuma sedikit saja diberi nikmat akal, sudah berusaha untuk ngakalin ayat-ayat Allah. Wuihâ€¦ kira-kira hukuman apa yang lebih parah daripada hukuman mati yah?</p>
<p>Memberi hukuman apa pun itu bentuknya bukan dibebankan pada individu semata. Meskipun ada tetanggamu yang berzina dengan terang-terangan, kamu nggak boleh dan emang nggak bisa tiba-tiba mendera 100 kali cambukan meskipun al-Quran memerintahkan demikian. Pak RT? Sama juga nggak boleh. Pak RW, Pak Lurah, Pak Camat juga nggak boleh. Sama, ketika ada yang melecehkan al-Quran sedemikian rupa, tidak serta merta kita bisa membunuhnya bila bertemu dengan tuh oknum. Why?</p>
<p>Pelaksana sebuah hukum haruslah institusi yang mempunyai kekuatan hukum pula. Apa dong institusi yang mempunyai kekuatan hukum dalam Islam? Daulah Khilafah Islamiyah. Karena institusi ini saat ini belum terwujud, maka jadi kewajiban kita semua yang mengaku dirinya Muslim dan Mukmin untuk berjuang menegakkannya. Karena tanpa institusi ini, hukum Islam yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah tak bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan maksimal. Dan juga, para penghina al-Quran akan semakin merajalela saja pola tingkahnya bila tak ada kekuatan hukum dari insitusi bernama Daulah Khilafah Islamiyah ini.</p>
<p>So, sebagai remaja Muslim, pelanjut tongkat estafet perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam, harus mulai berakrab-ria dengan al-Quran sejak dini. Karena al-Quran inilah senjata ampuh untuk berjuang dan membentengi diri dari pengaruh kufur yang mengatasnamakan Islam. Al-Quran inilah pembeda (Furqaan), mana yang sekadar menjadikan ayat-ayat di dalamnya sebagai olok-olok dan mana yang benar-benar menjadi pembelanya. Dan dengan al-Quran inilah Islam akan kembali jaya dan tidak sekadar jadi bulan-bulanan Amerika dan sekutunya.</p>
<p><strong>Berlomba mengamalkan al-Quran</strong><br />
Berlomba-lomba mengkhatamkan al-Quran memang baik pada bulan suci ini. Tapi akan jauh lebih baik apabila berlomba-lomba untuk menerapkan al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Caranya adalah dengan mengkaji isi dan maknanya serta menyampaikannya kepada orang-orang di sekeliling kita. Kata Rasulullah, â€œdan sampaikanlah meskipun satu ayat.â€?</p>
<p>Al-Quran tak akan terlihat amazing-nya bila cuma ditumpuk di pojok masjid. Al-Quran tak akan terlihat luar biasa bila tak diambil secara keseluruhan. Al-Quran sudah sempurna, tak perlu tambal sulam dari kitab lain untuk melengkapinya. Tidak dari Das Kapital-nya Marx, bukan pula dari Republic-nya Plato. Bila pun al-Quran diturunkan dalam bentuk global, maka ada as-Sunnah yang akan memerincinya. Bila masih kurang juga, ada ijmaâ€™ shahabat dan qiyas yang akan menjelaskan dengan gamblang. Bila masih kurang juga, ada ijtihad yang bisa ditempuh dengan tetap mendasarkan pada al-Quran dan as-Sunnah.</p>
<p>Sungguh, umat Islam tak perlu kitab-kitab lain yang berasal dari keterbatasan akal manusia. Pemuda pemudi Islam tak perlu silau dengan kemajuan kaum yang mencampakkan kitab sucinya dengan dalih sekulerisme. Karena Islam sebaliknya. Bila al-Quran ini dicampakkan, maka kehinaan dan kemunduranlah akibatnya. Tapi bila ingin maju, maka al-Quran diterapkan adalah jawabannya. So, Sekulerisme? No Way! Demokrasi? Ke laut aje deh! Sosialisme-Komunisme? Enaknya dikubur tuh! Kebatinan? Yee.. hari gini masih ngimpi! Menerapkan Islam sebagai ideologi negara berlandaskan al-Quran? Yes! Yes! Yes! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 314/Tahun ke-7/9 Oktober 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/the-amazing-quran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan di Televisi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ramadhan-di-televisi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ramadhan-di-televisi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:04:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ramadhan-di-televisi/</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang Ramadhan, semua stasiun televisi rame-rame bikin promo acara yang bakalan ditayangkan di bulan Ramadhan. Dalam rangka menyambut Ramadhan dan mengisi Ramadhan, televisi kita dihiasi acara yang religius abis. Sinetron macam Indahnya KaruniaMu, Kembang Surga, Cahaya Surga, Taqwa dan lainnya hadir menemani saat berbuka kita atau setelah selesai tarawih. Menjelang buka puasa, kita dihibur dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang Ramadhan, semua stasiun televisi rame-rame bikin promo acara yang bakalan ditayangkan di bulan Ramadhan. Dalam rangka menyambut Ramadhan dan mengisi Ramadhan, televisi kita dihiasi acara yang religius abis. Sinetron macam Indahnya KaruniaMu, Kembang Surga, Cahaya Surga, Taqwa dan lainnya hadir menemani saat berbuka kita atau setelah selesai tarawih. Menjelang buka puasa, kita dihibur dengan acara seperti 1/2 Apartemen, Sambil Buka Yuk!, Taman Ramadhan dan sejanisnya. <span id="more-317"></span></p>
<p>Nggak cukup segitu, saat sahur pun kita masih ditemani sekaligus dihibur oleh acara-acara di televisi seperti STAR alias Stasiun Ramadhan, Kerajaan Sahur, Sana Sini Sahur, Gerebeg Sahur, Komidi Putar dan acara serupa lainnya. Televisi berubah wajah. Tadinya belepotan dengan acara yang umum dan kesannya â€œnakalâ€?, kini dalam rangka mengisi Ramadhan, televisi menjadi lebih sopan. Entah karena niat tulus mengisi Ramadhan dengan tayangan yang bernuansa islami, atau untuk menarik simpati kaum Muslimin di negeri ini. Wallahuâ€™alam. Cuma Allah yang tahu soal itu.</p>
<p>Cuma sayangnya nih, ketimbang informasi keilmuan yang disampaikan di layar kaca itu, ternyata lebih banyak banyolan atau guyonannya. Meski tentu, dikemas sesuai dengan nuansa Ramadhan. Ada sih ceramahnya dari ustadz yang mengisi, tapi durasinya kalah jauh dengan banyolan dan kuis. Ya, seperti yang kamu lihat sendiri di layar kaca tersebut.</p>
<p>BTW, senang nggak sih kamu ngeliat acara televisi kayak gitu rupa?</p>
<p>Teman kita, Rani namanya, pas ditanya saat chat bareng STUDIA di YM (Oya, Yahoo! ID STUDIA nih: redaksistudia, boleh di-add) doi ngasih komen, â€œBagi gue, asyik-asyik aja sih, apalagi ada kuisnya. Gue merasa terhibur. Lagian bete banget kalo ceramah mulu. Kalo ada hiburannya apalagi lawakan gue jadi fresh, gitu lhoâ€? tulis Rani yang anak Jakarta en masih sekolah kelas 2 SMK ini santai banget.</p>
<p>Lain Rani, lain Tuti. Doi cewek Bandung baru kuliah semester satu di salah satu perguruan tinggi negeri di sono, dan kayaknya sebel banget ama tayangan Ramadhan yang kebanyakan banyolan itu. Tuti bilang sih, â€œAku nggak suka. Jujur. Sebel banget. Sama sekali nggak dapet ilmu dari acara tersebut, kecuali sedikit banget. Itu pun kalo pemirsa ngeh. Soalnya disampaikan juga dengan banyolan kayak di acara Sana Sini Sahur. Di acara itu ada pemain yang memerankan seperti gaya Aa Gym. Duh, kasihan banget tuh Aa, jadi bahan guyonan,â€? Tuti panjang lebar. Waduh Tuti, sampe keriting nggak tuh jari-jarinya? Hehe.. untung kita copy-paste aja dari body chat di YM. Kalo nggak, pegel juga ngetik ulang cerocosanmu ini. Oke deh, thanks banget ya udah mau chat ama STUDIA.</p>
<p>Sobat muda muslim, Rani dan Tuti bisa saja berbeda pendapat. Sebab, setiap orang memang berpendapat sesuai dengan mafhum alias pemahamannya tentang kehidupan ini. Kalo Islam dijadikan sebagai â€œcara hidupâ€?, tentu jawabannya bakalan beda dengan kita yang memandang Islam sebagai pengetahuan atau informasi belaka. Tul ndak?</p>
<p>Eh, masih ada satu lagi nih teman kita yang kebetulan disita waktunya sama STUDIA buat chat di YM. Tapi insya Allah bermanfaat ya. Hmm.. namanya Andri. Asal Palembang. Udah kelas 3 SMA. Andri ngasih komen lumayan bijak dan juga panjang lebar. Menurutnya, â€œSaya merasa gembira dengan adanya acara religius di televisi saat Ramadhan ini. Itu artinya, kaum Muslimin, khususnya pengelola televisi masih punya kepekaan. Kalo waktu Ramadhan masih nayangin acara yang error juga, itu namanya muka badak. Cuma, ya aku juga terus terang menyayangkan banget karena acara-acara bernuansa Ramadhan itu dikemas dengan hiburan. Udah gitu, kebanyakan hiburan yang nggak berkelas banget. Banyak guyonnya. Jadinya kita nggak merasakan kalo Ramadhan itu mulia dan bermakna. Ramadhan udah kehilangan nyawanya,â€? tulis Andri nggak mau kalah panjang ama Tuti. Padahal, chat-nya kita terpisah lho, nggak pake fitur conference di YM. Hehehe.. abisnya enak kali ya kalo nulis. Bisa ngungkapin maksud sedetil mungkin.</p>
<p>Oke deh, makasih buat Rani, Tuti dan juga Andri yang udah mau sharing ama STUDIA. Ternyata soal ini memang pro-kontra ya. Itu semua bergantung pemahaman kita soal kehidupan ini. Perilaku kita, perasaan kita, pikiran kita, semuanya bergantung dari pemahaman kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman, bertakwa, berilmu, dan beramal shaleh. Agar bisa melakukan sesuatu dengan benar dan baik menurut Islam.</p>
<p><strong>Dampak media massa</strong><br />
Sobat muda muslim, keberadaan media (saluran atau channel) dalam komunikasi massa, menurut pakar komunikasi politik AS Harold D. Laswell adalah mutlak. Saluran komunikasi atau media massa inilah yang akan menyalurkan atau menyebarkan pesan (massage) dari komunikator ke komunikan dan akan memberikan efek pada keduanya. Ada empat aktivitas pokok yang menjadi fungsi media massa antara lain: Pengawasan lingkungan; Korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi lingkungan.; Transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya.; dan Entertainmen.</p>
<p>Nah, di abad yang disebut Alvin Toffler sebagai abad informasi ini, media massa memiliki posisi strategis lho, dimana informasi merupakan sentral dari perhatian, pemikiran dan kegiatan manusia. Semua aktivitas manusia pasti membutuhkan informasi. Karena informasi memiliki efek yang mendalam terhadap berlangsungnya proses produksi konvensional, proses berfikir itu sendiri dan bahkan terhadap proses kehidupan kita.</p>
<p>Nah, fungsi televisi sama dengan fungsi media massa lainnya (surat kabar, majalah, tabloid, dan radio siaran), yakni memberi informasi, mendidik, menghibur dan membujuk. Tapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi. Karakteristik televisi yang utama adalah audio-visual, yakni dapat dilihat dan sekaligus dapat didengar. Jadi dari segi pengaruh atau efek kepada masyarakat jelas sedikit lebih kuat ketimbang efek yang ditimbulkan media massa cetak. Tul nggak sih?</p>
<p>Sebagai contoh adalah MTV (Music Television). Enam kata mengubah budaya Amerika selamanya, â€œLadies and gentlemen, rock and roll!â€?. Dengan deklarasi singkat pada 1 Agustus 1981 itu sebuah generasi telah lahir; Generasi MTV. Bahkan generasi ini lebih heboh ketimbang generasi bunga (hippies) di tahun 60-an. Dengan menjadikan musik sebagai menu utama dalam siarannya selama 24 sehari itu, MTV telah berhasil memberikan warna tersendiri bagi kehidupan pemirsanya. Dan sampai tahun 2001 saja, MTV telah ditonton di lebih dari 350 juta rumah dan 70 persen di antaranya di luar AS. Pemasukan MTV pun kian menggelembung hingga mencapai angka 3 milyar dolar AS per tahunnya. Bayangkan, gede banget kan? (matamata.com, 1 Agustus 2001)</p>
<p>Profesor Robert Thompson, pengajar di Syracuse University, yang menonton dan menganalisis TV bagi kehidupan manusia, mengatakan bahwa MTV membidik kelompok masyarakat yang khusus dan memberi mereka identitas. Ketika MTV hadir, industri benar-benar berubah. Tiba-tiba musik tidak lagi sekadar suara yang bagus, tetapi juga yang terlihat bagus.</p>
<p>Nah, nggak heran banget kan kalo akhirnya televisi bisa menjadi guru bagi pemirsanya. Ini baru satu contoh kasus. Kasus lainnya yang hadir di televisi seringkali menginspirasi orang untuk berbuat hal yang sama dengan adegan yang ditayangkan di televisi. Anehnya, informasi yang kurang baik lebih banyak tersebar di sana. So, ati-ati deh.</p>
<p>Termasuk dalam rangka mengisi Ramadhan ini, akhirnya kita, sebagai bagian dari masyarakat yang nggak bisa lepas dari televisi dalam hidup kita, entah untuk mendapatkan informasi keilmuan atau hiburan, seringkali tanpa sadar menjadikan televisi sebagai rujukan.</p>
<p>Kalo udah kayak gini, pengaruh televisi pasti udah menjasad dalam keseharian kita. Malah susah dibedain mana tayangan yang menginspirasi kita atau sebenarnya tayangan tersebut terinspirasi dari perilaku masyarakat yang dibidik pengelola televisi? Nggak tahu pasti alias rada susah ngelacaknya.</p>
<p>Sobat, kita sebenarnya nggak ingin banget kehilangan makna Ramadhan gara-gara terpengaruh tayangan Ramadhan di televisi yang malah kian ngejauhin kita dari ketakwaan yang coba ditumbuhkan di bulan mulia ini. Tapi, nyatanya memang demikian. Kita jadi merasa santai dalam menjalani Ramadhan ini karena nggak ada tambahan ilmu. Padahal, kita lebih banyak hobi nonton televisi ketimbang baca buku atau dengerin ceramah ustad kalo kultum tarawih dan kuliah subuh atau di acara sanlat. Nah, lho. Ayo, ngaku! Hehe..bukan nuduh nih.</p>
<p>Ah, andai saja televisi lebih banyak menayangkan acara keilmuan tapi dibikin fun suasananya. Misalnya, ustadnya yang gaul soal remaja, ngerti masalah kehidupan remaja, ada selingan nasyid yang oke. Terus, isinya yang membekas di benak pemirsa. Meski menjelaskan â€œhitam-putihâ€?, tapi nggak terkesan kaku, garing dan menggurui. Tetep asyik dan cair. Ilmu dapat, hiburan berkualitas juga kita rasakan. Asyik banget kan? Betul itu! Tapi&#8230;</p>
<p>Eh, yang muncul malah hiburan an sich, bahkan seringkali melanggar hukum syara, seperti di acara Sana Sini Sahur ada yang memerankan sebagai banci. Waduh!</p>
<p>Sobat muda muslim, jujur aja bahwa soal ini bisa menjadi pengaruh buruk dari tayangan televisi kepada pemirsanya. Bukannya mendidik, tapi malah menjerumuskan dan memelihara kebodohan masyarakat. Tragis banget kan?</p>
<p><strong>Pada sadar ngapa?</strong><br />
Semoga saja, ke depannya umat mulai sadar. Umat menjadi cerdas dan nggak mau dibodohin terus. Bila perlu langkah praktis yang mungkin dilakukan adalah dengan cara nggak usah pada ikutan terlibat di acara tersebut. Misalnya jangan berpartisipasi dalam kuis yang digelar. Bisa juga dengan ngirim surat protes ke stasiun televisi tersebut atau menulis di berbagai media massa melalui surat pembaca.</p>
<p>Ini memang kesannya terlalu mengkhayal, tapi bukan mustahil juga kalo kita coba. Sebab, kalo nggak ada yang ikutan ngirim SMS atau telepon, kita insya Allah yakin kalo acara itu bakalan sepi. Dampaknya, mungkin pengelola televisi akan mengevaluasi acara tersebut.</p>
<p>Boleh dicoba juga ngirim surat protes. Seperti pernah kejadian untuk kasus tayangan Bantal alias Bercanda Tengah Malam yang diprotes ribuan orang baik lewat surat maupun e-mail, yang akhirnya acara tersebut distop penayangannya. Bisa aja kan ini kejadian juga di acara-acara yang mengisi Ramadhan? Dan kemudian diganti dengan program acara yang benar dan baik. Tapi mungkinkah?</p>
<p>Sobat, kalo upaya kita pengen menjadi kenyataan, insya Allah harus ditempuh juga jalur sistemik, selain yang teknis seperti yang disarankan tadi (nggak terlibat di acara tersebut dan mengirimkan pernyataan bernada protes). Bahkan cara sistemik ini insya Allah diyakini bakalan bisa lebih tokcer.</p>
<p>Nah, apa yang bakal kita lakukan? Yaup, mari kita mengubah masyarakat dan negara ini dengan aturan Islam. Campakkan ideologi Kapitalisme-Sekularisme yang selama ini kita peluk dan jadikan Islam sebagai ideologi negara untuk mengatur kehidupan. Bukan yang lain. Untuk mewujudkan itu, bisa dimulai dari sekarang dengan getol mengkampanyekan Islam lewat dakwah secara lisan maupun tulisan agar umat paham dan menyadari kekeliruannya selama ini, lalu berubah dan bergerak bersama untuk menerapkan Islam sebagai ideologi negara di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.</p>
<p>Sobat, ini bukan khayalan, tapi sebuah kepastian. Insya Allah. Semoga Ramadhan ini menjadi saat yang tepat untuk perubahan ke arah yang lebih benar dan baik. Dan cuma Islam yang menjanjikan kebaikan. Tentu, ketika Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Semangat! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 313/Tahun ke-7/2 Oktober 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ramadhan-di-televisi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Puasa Biasa</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bukan-puasa-biasa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bukan-puasa-biasa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 07:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bukan-puasa-biasa/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo Siti Nurhaliza pernah melantunkan Bukan Cinta Biasa, bukan latah atawa ikut-ikutan kalo STUDIA kali ini nyontek dan memplesetkan judul lagu tersebut jadi judul tulisan pekan ini. Bukan apa-apa, jujur aja kita terinspirasi, gitu lho. Boleh kan?
Oya, kenapa kita nggak mau dengan sesuatu yang â€œbiasaâ€?? Ehm, menurut kamus bahasa Indonesia, biasa itu artinya lazim atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo Siti Nurhaliza pernah melantunkan Bukan Cinta Biasa, bukan latah atawa ikut-ikutan kalo STUDIA kali ini nyontek dan memplesetkan judul lagu tersebut jadi judul tulisan pekan ini. Bukan apa-apa, jujur aja kita terinspirasi, gitu lho. Boleh kan?</p>
<p>Oya, kenapa kita nggak mau dengan sesuatu yang â€œbiasaâ€?? Ehm, menurut kamus bahasa Indonesia, biasa itu artinya lazim atau umum. Itu sebabnya, kenapa kalo ada yang nggak umum atau nggak lazim kita nyebutnya luar biasa. Bisa untuk nunjukkin positif, bisa juga negatif. Bergantung tema yang lagi dibahas. Misalnya, untuk menggambarkan betapa pinternya, bisa ditulis: luar biasa pinter. Begitu juga untuk ngejelasin betapa bodohnya, suka ditulisin: luar biasa bodoh. Hehehe.. sori ye bukan maksud diskriminasi.<span id="more-316"></span></p>
<p>Nah, yang akan kita bahas tentu sisi positifnya dong ya. Kalo bukan puasa biasa, berarti bukan puasa yang lazimnya kita lakuin saban Ramadhan yang udah-udah. Cuma nahan lapar dan haus di siang hari (termasuk nahan untuk nggak berhubungan seks di siang hari bagi yang udah married). Kegiatannya sambil nunggu buka puasa cuma tidur, buang air besar, buang air kecil. Mungkin ada yang sekolah tapi loyo, ikut tarawih seperlunya aja, ngadain sanlat sekadarnya doang. Idih, sederhana banget, gitu lho. Padahal, sayang kalo Ramadhan dijalani cuma gitu-gitu aja.? </p>
<p>Sobat muda muslim, bagi kita-kita yang udah segede gini, kayaknya kudu mulai malu deh kalo puasanya biasa-biasa aja. Cuma mindahin jadwal makan doang. Biasanya sarapan pagi, ditarik maju jadi sebelum shubuh, yakni makan sahur. Siang hari nggak makan. Pindah jadwalnya ke sore hari, yakni saat berbuka puasa pas maghrib.</p>
<p>Suer, pantas malu kalo cuma segitu doang kualitas ibadah puasa kita. Sebab, ngelakuin puasa dengan tidak makan dan minum di siang hari bukan berarti puasa juga dari kegiatan ibadah lainnya. Justru sebaliknya, selama puasa kita semangat ibadah karena dikasih â€?bonusâ€™ banyak sama Allah Swt. untuk beramal sholeh dengan pahala yang berlipat ganda. So, sayang banget kalo dilewatkan begitu saja.</p>
<p>Dari Salman al-Farisi ra. berkata: â€œRasulullah saw. berkhutbah pada hari terakhir bulan Syaâ€™ban: Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun.</p>
<p>Kami berkata: â€œWahai Rasulullah saw. Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa?â€?</p>
<p>Rasul shalallahu â€?alaihi wa sallam bersabda: â€œAllah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. 2 hal itu adalah; Syahadat Laa ilaaha illallah dan beristighfar kepadaNya. Adapun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw.) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surgaâ€? (HR al-â€?Uqaili, Ibnu Huzaimah, al- Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani)</p>
<p>Waaah, kebayang banget deh gimana senangnya hati kita. Berbunga-bunga kalo membaca hadis ini. Abisnya Allah Swt. udah nunjukkin rasa sayangNya ama kita-kita. Ngasih bonus pahala yang banyak di bulan Ramadhan ini. Lha, kalo kitanya cuek aja, apa pantas jadi hambaNya? Apa pantas juga kalo kita nggak taat sama Allah? Duh, moga kita nyadar ye.</p>
<p><strong>Agar puasa tak sia-sia</strong><br />
Sobat muda muslim, sungguh sayang seribu sayang kalo puasa kita cuma nahan lapar dan haus doang. Nggak ada pahala yang didapat. Rasulullah saw. bersabda: â€œBetapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahagaâ€??  (HR Ahmad)</p>
<p>Duh, rugi banget deh. Jujur aja pasti kita nggak mau kan kalo puasa kita tuh cuma dapetin lapar dan haus doang? Jangan sampe deh sia-siakan puasa kita.</p>
<p>Nah, hadis di atas tadi ngasih gambaran buat kita untuk senantiasa waspada dengan apa yang akan kita perbuat. Sebab nih, puasa nggak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum doang, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang (ayo, matanya jangan ampe jelalatan kayak mo maling jemuran), menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor, mengumpat, dan menggunjing. Pun menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang.</p>
<p>Duh, duh, kok jadi banyak banget larangannya? Hehehe.. kalem sobat, itu tandanya Allah Swt. dan RasulNya emang perhatian sama kita-kita. Larangan itu tanda cinta dan sayang lho. Sebab, nasihat nggak selamanya berupa ajakan kebaikan (amar maâ€™ruf), tapi juga melarang kemungkaran (nahyi munkar).</p>
<p>Selain itu, di malam bulan Ramadhan nih, Islam memotivasi umatnya untuk mengerjakan amalan sunnah; shalat tarawih dan tadarus al-Quran, misalnya. Dorongan untuk melaksanakan shalat sunnah harus dipahami bahwa shalat wajib harus lebih giat lagi untuk dilakukan. Jangan sampe tarawih aja yang semangat dikerjakan karena senang rame-rame ama temen, eh, sholat isya malah kelewat nggak dikerjakan. Waduh, nggak banget deh.</p>
<p>Sobat, dalam urusan ibadah di bulan Ramadhan ini, jangan sampe kita ngelaksanain cuma memenuhi ibadah ritual doang. Terjebak dalam ritualisme. Artinya apa? Artinya kaum Muslimin, kita-kita nih, ketika melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kewajiban semata, tanpa memperhatikan esensi dari setiap bacaan yang ia ucapkan atau gerakan yang ia lakukan dalam ibadahnya itu. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberi pengaruh terhadap perilaku, menjadi gerakan atau ucapan yang kosong tanpa makna. Gaswat deh kalo sampe kejadian begini. Dan, kalo diliat-liat sih emang begitu. Sedih banget euy.</p>
<p>Coba aja interospeksi diri atau mungkin ngeliat lingkungan sekitar. Pas di sekolah, pas di pasar, atau mungkin di perjalanan. Betapa banyak saudara kita (termasuk kita, barangkali) yang masih cuma bisa nahan lapar dan haus doang. Tapi nggak bisa nahan nafsu untuk nggak ngelakuin kemaksiatan. Ati-ati ye!</p>
<p>Itu sebabnya, sungguh disayangkan banget kalo di antara kita banyak yang kuat menahan diri dari rasa lapar dan haus, tapi malah nggak bisa berkutik saat melawan godaan hawa nafsu. Mulut kita bisa bertahan dari makanan atau minuman, tetapi nggak bisa menahan dari menggunjing, mengumpat, dan bicara kotor. Puasanya memang tidak batal, tetapi esensi dari ibadah shaum yang mengajarkan untuk semakin meningkatkan ketakwaan kita, menjadi tidak bermakna. Puasa kita menjadi sia-sia. Sebab tak mendapatkan apa-apa (pahala), kecuali hanya rasa lapar dan haus.</p>
<p>Sobat, Islam adalah totalitas. Itu artinya, saat kita ibadah dengan ketika kita bermuamalah dalam kehidupan duniawi kita, keduanya harus senantiasa berpatokan kepada aturan Islam. Bukan yang lain. Oke? Hmm.. semoga kamu sekarang udah paham ya. Insya Allah.<br />
? ? <br />
<strong>Agar puasa berbuah takwa</strong><br />
Sobat muda muslim, Allah mewajibkan puasa Ramadhan bagi orang-orang yang beriman kepadaNya agar dengan berpuasa itu menjadi orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„?????’?ƒ???…?? ?§?„?µ?‘???????§?…?? ?ƒ???…???§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„???‰ ?§?„?‘???°?????†?? ?…???†?’ ?‚???¨?’?„???ƒ???…?’ ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????‘???‚???ˆ?†??<br />
â€œHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,â€? (QS al-Baqarah [2]: 183)</p>
<p>Oke, agar puasa kita berbuah takawa ada beberapa tips nih buat kamu. Pertama, luruskan niat. Pastikan niat kita melaksanakan puasa Ramadhan benar-benar hanya karena Allah semata. Bukan karena paksaan ortu, atau sekadar menutupi rasa malu sama teman.</p>
<p>Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)</p>
<p>Kedua, kuasai ilmunya. Benar. Karena puasa bukan semata menahan diri dari rasa lapar dan haus. Tapi juga sekaligus menahan godaan hawa nafsu. Boleh dibilang tutup mulut, tutup mata, en tutup telinga dari segala aktivitas yang bisa nguras pahala puasa kita. So, ati-ati deh.</p>
<p>Itu sebabnya, kamu juga kudu ngeh ilmunya. Biar puasa kita mantep. Kalo tahu ilmunya, insya Allah akan membekas dalam diri kita bahwa puasa adalah kewajiban dan ladang amal yang luas. Maka, nggak bakalan disia-siakan tuh kesempatan emas ini untuk ibadah mendulang pahala. Terus, kita juga nggak bakalan gegabah balik ke â€?habitatâ€™ awal perbuatan kita yang agak-agak error itu, karena kita tahu bahwa perbuatan maksiat haram dilaksanakan di bulan mana pun, apalagi di bulan Ramadhan. Insya Allah nantinya kamu bisa jaga diri untuk tidak kembali jadi senewen pascapuasa. Kita jadi orang-orang yang bertakwa. Lagian kita nggak mau dong berbuat dosa yang buahnya nanti neraka. Naudzubillahi min dzalik. Jadi, belajar adalah kuncinya. Baca en ikuti kajian Islam yang marak selama bulan Ramadhan ini. Ayo, kamu bisa!</p>
<p>Ketiga, kondusifkan suasana. Suasana Ramadhan mampu memberikan warna tersendiri dalam hidup kita. Warna yang tentunya sedap dipandang mata. Di bulan ini, rasanya kita jadi getol baca al-Quran, jadi giat sholat wajib dan sunnah, juga sregep ikut kajian Islam tanpa disuruh-suruh lagi. Kita melakukannya dengan penuh semangat dan insya Allah ikhlas.</p>
<p>Nah, supaya ketika Ramadhan berlalu tapi kegiatan seperti ini bisa bertahan, buatlah suasana yang juga mirip dengan Ramadhan. Minimal di keluarga kita dulu. Kita kondisikan misalnya dengan melaksanakan shaum 6 hari di bulan syawal. Seterusnya, seluruh anggota, bila perlu teman-teman di sekolah membiasakan diri untuk melakukan ibadah puasa sunnah senin-kamis. Dengan harapan, puasa tersebut bisa menahan kita dari keinginan ngelakuin perbuatan maksiat. Baca al-Quran setiap hari, insya Allah bisa menghidupkan kembali â€?ruhâ€™ Ramadhan. Jadi, bukan puasa biasa, apalagi sia-sia. Betul ndak, sobat?</p>
<p>Oke deh, selamat berpuasa, perdalam Islam, dan mari berjuang untuk menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Tetap semangat! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 312/Tahun ke-7/25 September 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bukan-puasa-biasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amerika; Maling Teriak Maling</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/amerika-maling-teriak-maling</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/amerika-maling-teriak-maling#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 06:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/amerika-maling-teriak-maling/</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 11 September mengingatkan kita pada peristiwa hancurnya menara kembar gedung WTC tahun 2001 lalu. Tragedi yang memakan korban tewas ribuan jiwa itu bikin negara Paman Sam shock. Bayangin aja, negara yang katanya punya sistem pengamanan ketat dengan segala kecanggihan teknologi, ternyata â€?kecolonganâ€™ juga. Atau mungkin pelakunya itu kongkalingkong ama orang dalem, makanya bisa kecolongan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 11 September mengingatkan kita pada peristiwa hancurnya menara kembar gedung WTC tahun 2001 lalu. Tragedi yang memakan korban tewas ribuan jiwa itu bikin negara Paman Sam shock. Bayangin aja, negara yang katanya punya sistem pengamanan ketat dengan segala kecanggihan teknologi, ternyata â€?kecolonganâ€™ juga. Atau mungkin pelakunya itu kongkalingkong ama orang dalem, makanya bisa kecolongan karena tahu sama tahu. Hihihi.. bisa jadi kan?<span id="more-315"></span></p>
<p>Pascatragedi WTC, Bush Jr dan konco-konconya sibuk kasak-kusuk ke setiap negara untuk nyari kambing hitam. Seluruh dunia kudu bersikap simpati bin empati terhadap aksi terorisme yang menimpa AS. Nggak boleh ada yang diam, bengong, atau pura-pura nggak tahu. Makanya negara kampiun demokrasi ini langsung ngegelar kampanye â€?The war against terorismâ€™. Setiap negara yang didatangi utusan Om Bush Jr dipaksa untuk memilih, â€?with terorist or with us (AS)?!â€™</p>
<p><strong>Inikah perang melawan teroris?<br />
</strong>Pemerintah Bush ngotot banget pengen memberantas terorisme. Apalagi pihak gedung Putih pun berani mengucurkan dana hingga US$40 miliar untuk mendukung kampanye ini. Persiapan aksi militer pun digelar, 50.000 pasukan cadangan disiapkan, 10.000 pasukan penjaga nasional dikerahkan, semua pasukan AS di berbagai negara disiagakan. AS siap mengadakan aksi balas dendam (Republika, 16/9/2001). Eng&#8230;ing&#8230;eng&#8230;!!!</p>
<p>Tapi udah lima tahun perang melawan terorisme dikampanyekan, apa hasilnya? Nggak jelas, kecuali sikap Amerika yang kian arogan, tidak beradab, tidak berperikemanusiaan, dan sok preman!</p>
<p>Lihat saja invasi militer AS ke negeri Muslim Afghanistan pada 7 Oktober 2001 silam. Negeri termiskin di dunia (bukan negerinya Hamdan ATT lho..) ini diyakini sebagai tempat bermukim Osama dan markasnya al-Qaidah yang dituduh sebagai teroris. Afghanistan pun porak poranda. Rumah sakit, lembaga pendidikan atau tempat ibadah rata dengan tanah. Lebih dari 7,5 juta jiwa penduduknya hidup sengsara dan menjadi korban kebrutalan pasukan AS. Padahal hingga kini, nggak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Osama dan al-Qaidah sebagai pelaku tragedi WTC. Inikah perang melawan terorisme?</p>
<p>Arogansi Amrik juga ditunjukkan saat menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal yang dianggap mengancam perdamaian dunia. Tidak hanya menghancurkan sarana umum, invasi AS ke Irak juga menelan korban sipil mencapai puluhan ribu orang (melebihi korban tragedi WTC). Padahal menurut mantan menteri keuangan sekaligus anggota tim keamanan nasional AS, Paul Oâ€™Neill, tidak pernah ada bukti kepemilikan senjata pemusnah massal di Irak. (BBC Online, 12/01/04). Inikah perang melawan terorisme?</p>
<p>Lucunya, AS justru bungkam en pura-pura buta terhadap aksi-aksi keji teroris Israel di Palestina atau saat Israel menyerang Libanon pada 12 Juli 2006 lalu. Bahkan menurut Yedeot Aharonot (koran Yahudi) selama ini, AS memberikan bantuan untuk kepentingan militer Israel sebesar dua milyar dolar setiap tahunnya secara cuma-cuma. (Hidayatullah.com, 04/06/06). Inikah perang melawan teroris?</p>
<p><strong>Sebenernya, siapa yang teroris?</strong><br />
Sobat, gara-gara kampanye melawan teroris Afghanistan hancur berantakan. Irak pun porak poranda. Dunia pun bertanya, siapa yang diperangi AS? Dan siapa yang dimaksud teroris? Ternyata Amrik layak ditunjuk hidung.</p>
<p>Kalo teroris adalah pihak yang bikin dunia nggak aman, maka Amerikalah sang teroris. Hasil survei Pew Research Center menunjukkan, masyarakat negara Eropa dan negara Muslim menganggap kebijakan AS dalam perang Irak sebagai ancaman bagi perdamaian dunia dan stabilitas global, dibandingkan nuklir Iran. Survei tahunan yang dilakukan lembaga riset AS sejak 31 Maret-14 Mei lalu itu melibatkan 17.000 responden dari 15 negara, termasuk AS sendiri (Hidayatullah.com, 15/06/06).</p>
<p>Kalo negara yang mendukung terorisme termasuk teroris, maka Amerikalah sang teroris. Seperti yang dikutip Kantor Berita AFP, analisis tulisan wartawan AS, Seymour Hersh menyebutkan bahwa Israel telah membuat rencana untuk menyerang Hizbullah dan membicarakannya dengan para pejabat pemerintah Bush jauh sebelum penculikan 12 Juli itu (Hidayatullah.com, 12/08/06).</p>
<p>Kalo tindakan teroris dianggap melanggar hak asasi manusia, maka Amerikalah sang teroris. Dalam laporan yang ditulis Amnesti Internasional, lembaga HAM independen yang bermarkas di London itu menuding AS dan sekutu utamanya, Inggris, telah melakukan pelanggaran terhadap kemanusiaan dalam perang pemberantasan terorisme global. Mereka juga mengecam pemerintah AS atas keputusan sepihak mereka, menahan ribuan tersangka terorisme tanpa proses pengadilan di Irak, Afghanistan, dan juga penjara kontroversial Teluk Guantanamo di Kuba, pasca serangan 9/11 (Hidayatullah.com, 24/05/06)</p>
<p>Kalo masyarakat dunia mengecam aksi terorisme yang menelan korban warga sipil dalam jumlah besar, maka Amerikalah sang teroris. Pada 9 September 2004, AP (Kantor Berita Asociated Press) melaporkan, bahwa jumlah penduduk Irak yang mati diperkirakan antara 10.000-30.000 orang, sejak invasi AS ke Irak tahun 2003 lalu.</p>
<p>Kalo aksi kekerasan dengan mengangkat senjata dihalalkan teroris untuk meraih tujuannya, maka Amerikalah sang teroris. Invasi militer AS ke Afghanistan atau Irak hanya sebagian kecil dari aksi balas dendam yang tanpa bukti. Pada Februari 1998, Medeleine Albright, menlu AS saat itu, membela aksi pengeboman terhadap Irak dengan mengatakan â€œJika kita menggunakan kekuatan senjata, itu karena kita adalah Amerika. Kita adalah bangsa yang terkalahkan. Kita berdiri tegak dan gagah terhadap musuh-musuh kita.â€?</p>
<p>Kalo kepemilikan senjata nuklir dikhawatirkan melahirkan terorisme dunia, maka Amerikalah sang teroris. Nggak cuma memiliki, AS telah menggunakannya saat menghancurkan Hirsoshima dan Nagasaki tahun 1945. Bahkan hingga saat ini, AS aktif mengembangkan senjata pemusnah massal untuk melengkapi artileri perangnya.<br />
Sobat, sekarang makin keliatan dong siapa sebenernya yang teroris? Udah deh Om Bush Jr, ngaku aja!</p>
<p><strong>Fitnah tanda tak mampu</strong><br />
Sebelum tragedi WTC, AS udah berulang kali dengan getolnya menebar fitnah terhadap kaum Muslim sebagai dalang di balik aksi teror yang menimpa AS.</p>
<p>Pada bulan April 1995, gedung Federal di Oklahoma runtuh terkena serangan Bom. Tudingan atas tragedi yang menelan korban jiwa 168 orang tewas, langsung dilayangkan pada umat Islam sebagai pelakunya. Padahal kemudian terbukti kalo dalangnya adalah Timothy McVeigh yang aktif dalam gerakan Patriot Kristen. Dan lucunya, setelah ketahuan McVeigh pelakunya, status pengeboman gedung federal itu berubah dari tindakan terorisme menjadi kriminal biasa.</p>
<p>Pada 7 Agustus 1998, Kedubes AS di Nairobi dan Dar es Salam, Afrika, dibom. Menewaskan 12 warga dan 212 orang Kenya dan Tanzania. Pemerintah AS langsung menuding Osama bin Laden sebagai dalangnya. Sebagai pembalasan, pada 20 Agustus 1998 AS menembakkan lebih dari 80 rudal ke pabrik obat di Khartoum, Sudan, dan kamp Mujahidin di Afghanistan. Eh, ternyata pabrik obat dan kamp Mujahidin itu nggak ada sangkut pautnya dengan pengeboman kedubes AS. Malu atuh!</p>
<p>Kini, tragedi hancurnya gedung kembar WTC kembali ditudingkan pada Osama sebagai biang keladinya. Padahal baru-baru ini, pihak FBI, sebagaimana dilansir Washington Post, 28 Agustus, nama Usamah tak lagi masuk dalam daftar â€œTen Most Wanted Listâ€? (daftar orang paling dicari). Pihak FBI sendiri mengakui, tidak ada tuduhan resmi kepada Usama menunjukkan bahwa keterlibatan al-Qaidah dalam serangan di WTC (Hidayatullah.com, 01/09/06). Tuh kan!</p>
<p>Kenapa AS doyan menebar fitnah terhadap Islam dan kaum Muslimin?<br />
Pertama, AS tak mampu membendung kekuatan pemikiran Islam ideologis. Kehadiran kelompok-kelompok dakwah yang menyuarakan Islam sebagai aturan hidup so pasti bikin AS gerah. Pasalnya, kekuatan pemikiran itu bisa menyadarkan kaum Muslimin dari penjajahan budaya dan ide Barat yang sekuler bin rusak di tengah mereka dan berusaha memperjuangkan tegaknya kembali pemerintahan Islam yang akan melindungi mereka. Otomatis kondisi ini bisa mengancam posisi AS sebagai penguasa dunia. Makanya, isu terorisme dihembuskan agar masyarakat menjauhi kelompok-kelompok dakwah Islam ideologis.</p>
<p>Kedua, rasa takut AS yang udah sampe taraf paranoid. AS mungkin nyadar kalo selama ini tingkah polahnya yang sok-sok-an jadi polisi dunia bikin musuhnya tambah banyak. Makanya AS selalu ngerasa hidup dalam ancaman serangan balas dendam musuh-musuhnya melalui aksi teror. Untuk itu dia pake kebijakan â€?pre empative strikeâ€™ dalam isu terorisme. Daripada diserang, lebih baik menyerang duluan. Perkara alasan dan bukti kuat untuk menyerang, itu urusan belakangan. Nggak heran kalo AS gencar meminta PBB untuk menghentikan pengembangan nuklir di Iran. Takut dipake buat nyerang AS. Hehehe.. ngerasa nih ye?</p>
<p><strong>Kita bener, nggak usah minder!<br />
</strong>Gencarnya opini media massa Barat yang menyudutkan Islam sebagai agama teroris sedikit banyak berpengaruh terhadap umat Islam. Ada yang rendah diri sampe malu untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim/muslimah. Ada juga yang alergi kalo diajak ngaji politik atau ngomongin pemasalahan yang menimpa dunia Islam. Apalagi kalo udah nyentil arogansi AS atau sikap diam pemerintah. Ih ngeri deh eike!</p>
<p>Sobat, jangan sampe kita merasa jadi tertuduh akibat isu terorisme. Kita udah buktiin bareng-bareng, kalo isu terorisme cuma akal bulus AS untuk menguasai dunia. Amerika tuh seperti â€œMaling Teriak Malingâ€?. Berkoar ke sana-sini agar semua orang ikut mengejar kambing hitam yang diteriaki maling oleh Amerika. Padahal, dirinyalah yang sebenarnya maling sejati. Makanya kita harus lebih jeli melihat setiap persoalan. Biar nggak terjebak ama isu-isu sesat yang diteriakkin si raja maling.</p>
<p>Nggak ada alasan buat kita untuk minder cuma karena fitnah dari musuh-musuh Islam. Sehebat apapun mereka bikin rekayasa, kebenaran Islam akan membuka kedok mereka.?  Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?????±?????¯???ˆ?†?? ?£???†?’ ?????·?’?????¦???ˆ?§ ?†???ˆ?±?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¨???£?????’?ˆ???§?‡???‡???…?’ ?ˆ???????£?’?¨???‰ ?§?„?„?‘???‡?? ?¥???„?§?‘?? ?£???†?’ ?????????…?‘?? ?†???ˆ?±???‡?? ?ˆ???„???ˆ?’ ?ƒ???±???‡?? ?§?„?’?ƒ???§?????±???ˆ?†??<br />
â€œMereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.â€? (QS at-Taubah [9]: 32)</p>
<p>Selain itu, kita juga kudu tetep percaya diri dengan keislaman kita. Karena Allah menjamin kebenaran agama yang kita anut. Kita kudu berani menunjukkan identitas kita. Berani ikut mengkaji Islam sebagai ideologi meski banyak temen-temen kita yang masih alergi kalo diajak ngaji. Berani menyuarakan kebenaran Islam dan membongkar fitnah keji musuh-musuh Islam. Kini, saatnya kita bangkit untuk membela dan memperjuangkan Islam. Nggak pake entar. Karena, siapa lagi yang bakalan membela Islam kecuali kita sendiri sebagai pemeluknya. Maju terus. Biar AS si raja maling dan teroris sejati itu keok. Yuk! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 311/Tahun ke-7/18 September 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/amerika-maling-teriak-maling/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Putus Pacaran</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/setelah-putus-pacaran</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/setelah-putus-pacaran#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 06:04:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/setelah-putus-pacaran/</guid>
		<description><![CDATA[Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masaâ€™ nggak boleh ikutan baca? Hehe&#8230; tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel STUDIA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masaâ€™ nggak boleh ikutan baca? Hehe&#8230; tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel STUDIA edisi kali ini. Asyik kan?<span id="more-314"></span></p>
<p>Masa pacaran, siapa sih yang nggak panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sih, saya yakin kamu udah pada insaf kalo pacaran tuh cuma ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syariat. Kalo masih belum yakin juga, kamu bisa baca-baca lagi file STUDIA yang lalu-lalu biar ingatanmu fresh lagi.</p>
<p>Nah, udah ingat lagi kan? Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insaf. Kamu yang tak mau lagi mempunyai ikatan nggak sah. Kamu yang udah nyadar dan nggak pingin mengulangi lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu.</p>
<p>Tiba-tiba aja nggak sengaja ketemu di angkot. Atau di tempat les bahasa Inggris. Atau bisa juga karena kamu yang lagi beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duh&#8230; gimana menyikapi rasa ini?</p>
<p>Padahal kamu tahu bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana dong?</p>
<p><strong>Ketika si dia hadir kembali</strong><br />
Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah di hatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehem&#8230;</p>
<p>Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, nggak terlihat. Karena nggak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas. Catet ye!</p>
<p>Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib dan yang nyata? Ya, meski tak ada satu pun teman yang memergoki, tapi kamu pantas malu dong sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski nggak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh&#8230; sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.</p>
<p>Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu nggak mau jadi teman syaitan, maka kamu pun nggak mau lagi pacaran. So, sebetulnya kamu itu udah paham kok bagaimana menyikapi pacaran. Cuma yang kamu agak nggak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.</p>
<p>Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktivis pacaran, biasanya rentan banget untuk diajak balik oleh sang mantan. Memang sih nggak semua, cuma jaga-jaga aja kalo ternyata kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!</p>
<p><strong>Hati-hati musang berbulu domba<br />
</strong>Jangan terjebak dengan bujuk rayu dunia. Entah sang mantan ngajak balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dengan bingkai Islam. Mulutnya manisnya ngajak taâ€™aruf tapi aktivitasnya nggak beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga dong), mau aja ia nginap berhari-hari di rumah si ikhwan tanpa hajat alias keperluan syarâ€™i yang jelas, misalnya.</p>
<p>Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh tuh nginap di rumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat rekerasi. Duh duh&#8230; di mana pemahaman kamu tentang hukum syaraâ€™ selama ini? Or jangan-jangan kamu bolos ya waktu pembahasan topik pergaulan dalam Islam? Atau.. memang nggak paham?</p>
<p>Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So, biar kamu nggak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri dan pergaulan. Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu bila akan salah langkah.</p>
<p>Kalo sudah sampe pada tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu sulit dihapus dari hati?</p>
<p>Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari kekurangdekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balik hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan banyak melamun.</p>
<p>Kedua, ganti â€?kacamataâ€™ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang terlihat begitu perfect di matamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.</p>
<p>Jadi bisa aja kamu begitu dengan berdarah-darah saat memutuskannya. Hehehe..biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya masih sayang sama dia dan nggak ingin pisah darinya. Tapi kesadaranmu terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktivitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.</p>
<p>Ketiga, bisa jadi kamu ternyata nggak begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.</p>
<p>Itu artinya, kamu belum benar-benar putus dan mengikhlaskan dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang dan ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ini malah asyik berlumur maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.</p>
<p>Iman adakalanya bertambah dan berkurang. Ketika imanmu sedang tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah dan ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang dan ingin kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat kepada aturan Islam, iman berkurang tentu jika kita maksiat kepada Allah dan RasulNya. Pilih mana ayo? Orang cerdas, pilih taat syariatNya dong ya. Betul ndak?</p>
<p><strong>Yakinlah pada takdirNya</strong><br />
Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syariatNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu nggak bisa dong mengaku-aku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So. ati-ati deh.</p>
<p>Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan untuk menerima khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan tidak mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang kualitas nih ikhwan. Sumpah!</p>
<p>Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia mendongak dan jatuh pingsan. Apakah suaminya bewajah seperti beast hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri di lubuk hatinya. Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan sang kekasih dengan dirinya lagi.</p>
<p>Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang dan menikahiku. Waduh, kalo gitu caranya, kamu taat syariat tapi dengan pamrih tuh. Namanya nggak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal nggak bakal diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.</p>
<p>Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih akhwat cakep banget dan di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan baik dan benar, pacar-pacarnya selalu cakep dan kaya. Setelah ngaji, ia pun memPHK pacarnya dan tak mau lagi berhubungan dengan mereka.</p>
<p>Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya.</p>
<p>Kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik dan harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka insya Allah akan barokah dunia akhirat. Dan yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan kualitas dirimu ke depan.</p>
<p><strong>â€œAku baik-baik sajaâ€?<br />
</strong>Yakinkan dirimu dengan prinsip: â€œAku akan baik-baik sajaâ€? (meski tanpa si doi). Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kenangan itu hadir kalo kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu nggak mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. Tapi, itu bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan menanggalkan masa lalu yang?  berlumur dosa akibat menjadi aktivis pacaran.</p>
<p>Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzam-kan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap dan kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah berjilbab dan anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga, jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.</p>
<p>Pancangkan tekad kuat bahwa kamu nggak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin pacaran. Kamu nggak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal sejatinya adalah maksiat. Dan supaya nggak terjatuh ke lubang yang sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pingin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.</p>
<p>Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya (coba deh kamu buka al-Quran surat an-Nuur ayat 26). Kamu nggak usah resah dan gelisah masalah jodoh. Toh kita hidup bukan cuma ngurusi masalah satu ini kan? Selama kamu maksimal beikhtiyar dengan jalan yang baik dan benar, jodoh yang datang nanti juga nggak jauh dari kualitasmu. Yakin aja.[ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 310/Tahun ke-7/11 September 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/setelah-putus-pacaran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkerudung Kok Seksi?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berkerudung-kok-seksi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berkerudung-kok-seksi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 05:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berkerudung-kok-seksi/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak remaja muslimah mulai nyadar soal busana. Tapi sayangnya, kesadaran itu belum cukup sempurna. Pengen tampil islami, tapi tetep nggak kehilangan trendi. Hasilnya? Berkerdung tapi tetep modis dan seksi. Wah?
Alhamdulillah, sekarang udah banyak anak putri yang mulai berkerudung bahkan banyak pula yang udah lengkap dengan jilbabnya. Nah, maraknya anak putri yang mengenakan busana muslimah ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak remaja muslimah mulai nyadar soal busana. Tapi sayangnya, kesadaran itu belum cukup sempurna. Pengen tampil islami, tapi tetep nggak kehilangan trendi. Hasilnya? Berkerdung tapi tetep modis dan seksi. Wah?<span id="more-313"></span></p>
<p>Alhamdulillah, sekarang udah banyak anak putri yang mulai berkerudung bahkan banyak pula yang udah lengkap dengan jilbabnya. Nah, maraknya anak putri yang mengenakan busana muslimah ini patut dibanggakan. Emang sih, mereka yang mengenakan simbol busana muslimah ini ada yang karena kesadarannya memahami hukum Islam, tapi nggak sedikit pula yang cuma ikut-ikutan tren doang. Maka, dalam pelaksanaannya pun pastinya berbeda dong. Maksudnya dilihat dari niat dan amalnya.</p>
<p>Mereka yang bener-bener paham bahwa itu kewajiban dari Allah, memakainya pun bakalan sempurna. Tapi yang cuma ikut-ikutan tren doang, pake kerudung doang. Udah gitu, â€?cepakâ€™ pula. Maksudnya, modis. Kerudungnya ketat banget membalut kepala. Terus, ujung-ujung kain penutup kepala itu yang seharusnya menutupi bagian dada malah ditarik ke atas dan dilipat ke bagian belakang leher lalu diikat. Kesannya memang jadi lucu. Itulah yang disebut sebagai kudung gaul. Trendi banget, karena banyak artis ibu kota yang melakukannya.</p>
<p>Bagi mereka yang merasa kudu tampil modis dan trendi, tren ini jadi semacam bentuk penyaluran dari seleranya. Maksudnya pengen mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang â€?inâ€™ saat ini. Akibatnya, dalam masalah kerudung aja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri. Ati-ati sobat! Oke?</p>
<p>Eh, mendingan kita tanya aja yuk sama temen-teman kamu soal busana muslimah ini. Lusi, bukan nama sebenarnya (soalnya doi pengen disamarkan sih), mengaku pake kerudung gaul. Doi nulis di kolom chat YM (Yahoo! Messenger), waktu STUDIA ngajak chat (oya, kalo pengen chat ama STUDIA, bisa di-add nihâ€”Yahoo! ID STUDIA: redaksistudia), â€œAku memang pake kerudung, tapi aku nggak ingin tampil kusam apalagi kumuh. Jadi aku modis deh. Pake kerudung yang rada gaya aja,â€? tulisnya.</p>
<p>â€œMenurutku busana muslimah itu ya harus lengkap dipakainya. Ada kerudung, ada jilbab. Itu beda lho. Alhamdulillah aku udah berkerudung dan berjilbab,â€? Maya, anak Jakarta dan juga aktivis rohis yang masih duduk di bangku SMA kelas dua ini ngasih penjelasan ke STUDIA via YM.</p>
<p>Dina, pelajar SMP kelas 3 di sebuah sekolah di Bogor ini mengaku mengenakan busana muslimah seperlunya aja. â€œAku emang tahu dari kakak pembina pengajian di remaja masjid tempat aku berorganisasi. Tapi, rasa-rasanya kalo pake jilbab ribet ya? Belum lagi kalo ujan. Wuih, pasti basah semua tuh ujung kain jilbabnya. Jadi, aku kadang pake kadang nggak. Gimana aku suka dan pas butuhnya aja,â€? Dina panjang lebar.</p>
<p>Nah, selain Lusi, Maya, dan Dina, ada juga Mira. Cewek yang mengaku asal Bandung ini, seenggaknya itu yang dia tulis pas chat bareng STUDIA. Ketika Mira ditanya, â€œApakah kamu baru pake kerudung atau udah lengkap berjilbab?â€?</p>
<p>Doi ngasih jawaban begini, â€œGue belum ngerti soal itu. Soalnya guru ngaji gue aja bilang kalo kita mengenakan penutup kepala, itu namanya jilbab. Tapi, menurutku nggak masalah sih, yang penting nutup aurat. Tapi jujur aja, gue belum sampe sih kalo pake-pake jubah gitu. Ribet!â€? papar Mira kayaknya sambil nunjukkin rasa nggak sukanya. Eh, bener nggak nih Mir? Hehehe.. jangan ngambek ya kalo ternyata tuduhan ini benar. Gubrak!</p>
<p>Ya, begitulah, ternyata masih â€?beredarâ€™ juga teman remaja yang belum paham soal busana muslimah. Paling nggak beberapa teman yang kena todong STUDIA soal ini. Kasihan juga ya? Apa kurang pembinaan dari para ustadz, atau sengaja pengen trendi aja?</p>
<p><strong>Pilih syarâ€™i atau trendi?<br />
</strong>Ngetren sih boleh aja Non, tapi kudu tahu aturan main. Khususnya karena kita muslim, aturannya Islam dong. Nggak sembarangan lho. Sebab, menurut para ahli psikologi saja, busana juga bisa menyampaikan pesan. Bener lho. Misalkan kamu yang anak laki memakai peci, dan karena umumnya pake peci itu adalah orang Islam, maka secara tidak langsung kamu udah woro-woro ke orang lain, tanpa kudu ngomong, bahwa kamu seorang muslim. Betul itu. Nggak percaya? Buktikan saja, Bro!</p>
<p>But, kayakya ada yang mo lewat dulu nih, namanya Lusi, doi nulis di YM, â€œGimana ya, kalo disuruh milih taat aturan agama atau ngikuti tren, kayaknya aku kok masih seneng ikut tren ya. Kerudung gaul buatku bisa bebas. Lihat aja Gita KDI, meski pake kerudung tapi bisa gaya. Beda banget kan kalo yang pake jubah gitu. Nggak bisa bebas beraktivitas. Nggak bisa ikutan ajang KDI atau Indonesian Idol, misalnya. Hehehe&#8230;,â€? Lusi setengah ngeledekin.</p>
<p>â€œAku ini manusia biasa. Apa yang bisa aku lakuin tanpa kehendak Allah Swt.? Kalo Dia udah ngasih aturan, termasuk dalam berbusana buat wanita muslimah, insya Allah aku ridha mengikuti aturanNya, daripada milih trendi yang mungkin hanya diridhoi oleh manusia saja. Itu pun manusia yang lemah iman,â€? Maya blak-blakan. Waduh, boljug nih Maya.</p>
<p>Sobat muda muslim, banyak juga lho remaja muslimah yang mengamalkan busana muslimah tapi pengen praktis dan pengen trendi aja. Artinya, nggak mau terlalu ribet dengan aturan yang digariskan agama kita. Kalo ngelihat faktanya, banyak juga sebetulnya pelaku kudung gaul yang ngerasa bahwa apa yang dipakainya tuh belum sempurna.</p>
<p>Oya, sebenarnya temen-temen remaja muslimah yang udah berbusana muslimah sesuai syariat risih nggak sih kalo ngelihat temennya yang masih berkerudung gaul?</p>
<p>â€œJujur aku nggak suka. Aku sering nasihati temen-temenku. Ada yang nyadar, tapi ada juga yang bandel. Itu urusan mereka. Yang penting aku udah ngasih tahu kalo itu belum sempurna berbusana sesuai syariat,â€? imbuh Maya.</p>
<p><strong>Terus, kira-kira apa ya alasan mereka pake kerudung gaul gitu?<br />
</strong>Nah, ini pendapat cowok nih. Nggak apa-apa deh. Kasihan doi udah mo nimbrung chat di YM ama STUDIA sih. Rama namanya, anak Yogya. Udah kuliah. Ngakunya sih mahasiswa di salah satu di perguruan tinggi negeri di sana. Rama nulis, â€œMelihat akhwat yang berbusana muslimah dengan benar, yakni udah berkerudung dan berjilbab, rasanya kok sejuk banget di hati ya (ehm..ehm..). Enak dipandang mata. Tapi, aku terus terang risih dan merasa kasihan sama akhwat yang maksain tampil pake kerudung gaul gitu. Sok modis. Sebel. Menurutku, anak cewek yang berbusana gaul gitu kayaknya ngikutin seleb deh. Kan seleb wanita banyak yang gitu. Iya kan?â€? papar Rama sembari ingin dapet persetujuan. Duile, kamu semangat banget nulisnya. Panjang euy.</p>
<p>Waduh, kalo banyak cewek begitu, berarti bisa ngerusak imej dong ya? Iya, soalnya jilbab kan busana yang bisa nunjukkin identitas juga lho. Menurut Kefgen dan Touchie-Specht, busana itu mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku, dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, atau golongan lain. Dalam hal ini, kamu suka nemuin kan ada orang yang suka tampil beda dengan busana atau aksesoris lainnya. Sekelompok remaja puteri ada yang berani malu untuk memakai busana tang-top kalo keluar rumah.</p>
<p>Jadi, busana emang pembeda. Kalo al-Quran adalah pembeda dari yang haq dan yang bathil, maka busana bisa membedakan siapa orang yang memakainya itu: tahu aturan, atau pelanggar aturan yang ada? Dan busana, termasuk salah satu yang berperan dalam membedakan identitas seseorang.</p>
<p>Terus, busana juga bisa mengendalikan perilaku, lho. Bener. Saat kamu memakai kerudung, maka perilaku kamu nggak bakalan â€œse-okemâ€? ketika kamu berjins-ria. Ini fakta umum. Apalagi bagi yang udah sempurna berbusana muslimah, yakni lengkap memakai kerudung dan jilbabnya, nggak bakalan berani berperilaku yang norak, okem, senewen, atau malah urakan dan doyan maksiat. Ih, amit-amit deh, meskipun tampang imut-imut.</p>
<p>Lalu, busana juga ternyata bisa berfungsi emosional. Remaja puteri yang memakai kerudung, lengkap dengan jilbabnya, akan merasa bangga ketika memakai busana ini. Kenapa? Karena ada nilai lain yang memenuhi ruang hatinya. Minimal merasa bangga bisa mengenakannya, terlebih bila ngumpul bareng mereka yang mengenakan busana yang sama.</p>
<p>Jadi, busana muslimah, jilbab, adalah juga simbol identitas. Simbol pembeda antara yang benar dan salah. Memakai busana muslimah sekaligus merupakan simbol mental baja pemakainya. Gimana nggak, dalam kondisi masyarakat yang rusak binti amburadul ini masih ada orang yang berani tampil dan bangga dengan jilbab. Sebab, di kota-kota besar dan di desa-desa wanita-wanita udah merasa betah berbusana modern yang anti-menutup aurat. Kalo pun mau pake busana muslimah, itu pun lebih suka yang trendi ketimbang yang syarâ€™i. Bahaya banget. Sumpah!</p>
<p><strong>Gerakan sadar syariat</strong><br />
Sobat muda muslim, nggak cuma digalakkan gerakan disiplin nasional. Tapi juga kudu ada gerakan sadar syariat. Bukan apa-apa, kini saatnya remaja pun ngeh aturan agama. Jangan bertindak semaunya en sesukanya. Udah nggak jaman deh. Suer!</p>
<p>Nah, apa yang bisa kita lakukan untuk teman-temen yang masih belum sadar syariat? â€œKarena aku orangnya agak-agak cerewet, jadi aku tegur langsung sama temen yang pake busana muslimahnya belum sempurna. Cuma, emang kalo aku nggak terlalu kenal sama dia, akhirnya aku ngasih tulisan aja tentang jilbab atau tulisan lainnya. Salah satunya dari STUDIA. Eh STUD, kamu jangan geer ya! Hehehe..,â€? Maya ngasih komen. Yee.. siapa yang geer? Kamu jangan geer ya dengan nuduh kita jadi geer. Hehehe.. jangan sewot ya. Just kidding kok.</p>
<p>â€œSori ye, buat para cewek yang masih pake busana muslimahnya belum sempurna, jangan setengah-setengah deh kalo melaksanakan ajaran Islam. Nggak baik dan emang nggak benar,â€? Rama ngasih wejangan. Ciee.. Rama keren juga nih. Sip lah.</p>
<p>Oke deh, buat teman remaja puteri jangan setengah-setengah kalo mau melaksanakan ajaran Islam, khususnya dalam masalah busana muslimah ini. Insya Allah kita yakin sama kamu, bahwa kamu bisa membedakan mana yang salah dan mana yang bener, mana terpuji dan mana tercela. Sebab, kalo dikasih tahu tentang kesalahan biasanya ngaku. Jujur gitu lho. Tapi, biasanya rada susah kalo kudu mengubah kebiasaan.</p>
<p>â€?Mitosâ€™ bahwa teori lebih gampang ketimbang praktik jadi bener-bener ada. Bagi sebagian orang memang begitu kendalanya. Nah, kalo itu masalahnya, berarti kamu butuh untuk mengubah kebiasaan kamu. Caranya, kamu kudu berani tampil beda. Dalam kebaikan tentu ya? Nggak usah malu. Buang jauh-jauh rasa malu. Juga, coba gabung en gaul dengan teman-teman yang udah sempurna mengenakan busana muslimahnya. Biar mantep. Apalagi kalo sampe ikutan ngaji. Insya Allah, dijamin ajeg deh pemahaman kita.</p>
<p>Soalnya nih, bedanya orang yang ikut pembinaan, yakni belajar dan mengkaji Islam dengan orang yang nggak dibina tuh jauh banget. Kalo ikut pembinaan, insya Allah akan merasa terus terawasi. Sehingga kita akan senantiasa berusaha untuk bersama-sama taat kepada syariat Allah Swt. Insya Allah. Tentu, dalam berbusana pun nantinya nggak bakalan ada yang berani ngeledekkin lagi: â€œBerkerudung kok seksi?â€? Tul nggak, galz?</p>
<p>Oya, kalo udah belajar dan udah mau berubah, insya Allah bisa lebih baik kok. Asal sabar, insya Allah kamu mampu untuk melepaskan kudung gaulmu, dan mengenakan busana muslimah sesuai syariat; jilbab dan kerudungnya. Eh, ampir lupa, pengertian jilbab itu adalah semacam baju kurung (jubah) yang longgar alias nggak ketat, terus tebal, tidak transparan, dan panjang sampe menutupi mata kaki. Kalo keluar rumah jelas anak cewek yang udah baligh wajib mengenakannya lengkap dengan kerudung. Gitu deh singkatnya.</p>
<p>Dan jangan lupa, senantiasa punya semangat untuk mengkaji Islam. Insya Allah, bersama Islam kita raih kemenangan. Yakinlah sobat! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 309/Tahun ke-7/4 September 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berkerudung-kok-seksi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Kita Bersyukur!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-bersyukur</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-bersyukur#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 05:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/yuk-kita-bersyukur/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dan hanya bagi Allah semata. Allah Swt. adalah Dzat yang satu-satunya kita sembah dan kita mintai pertolongan. Nggak ada yang lain. Sebab, Dia telah memberikan segalanya bagi kita dan kehidupan kita. Kayaknya nggak pantes banget kalo sampe kita tidak bersyukur kepadaNya. Minimal banget adalah dengan mengucap â€œalhamdulillahâ€? atas segala nikmat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dan hanya bagi Allah semata. Allah Swt. adalah Dzat yang satu-satunya kita sembah dan kita mintai pertolongan. Nggak ada yang lain. Sebab, Dia telah memberikan segalanya bagi kita dan kehidupan kita. Kayaknya nggak pantes banget kalo sampe kita tidak bersyukur kepadaNya. Minimal banget adalah dengan mengucap â€œalhamdulillahâ€? atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita. Tul nggak sih?<span id="more-312"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, bersyukur kepada Allah Swt. adalah sebagai bentuk â€œserah diriâ€? kita kepadaNya. Kita bisa hidup, sehat jasmani, bisa makan dan minum, bisa mengenyam pendidikan, dan bisa mendapatkan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Termasuk, kita wajib bersyukur karena kita menjadi Muslim. Suer, menjadi Muslim itu kebanggaan tersendiri dan tentu saja anugerah terindah yang kita miliki. Nggak bisa ditukar dengan duit sebesar apa pun. Itu sebabnya, kita wajib bersyukur.</p>
<p>Ya, jangan sampe kita bisa mengucap alhamdulillah hanya saat dapetin makanan dan minuman yang enak atau bentuk materi lainnya. Dan kita merasa inilah yang harus kita syukuri. Itu benar. Tapi, kalo menganggap bahwa kenikmatan hanya sebatas makanan dan minuman aja, kayaknya perlu di-upgrade deh pemahamannya. Karena Allah Swt. nggak cuma ngasih itu, tapi udah ngasih kita pendengaran, penglihatan, dan juga akal. Justru inilah pemberian yang termasuk berharga banget buat kita. Tentu, wajib kita bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut. Kalo nggak? Waduh, jangan sampe deh Allah Swt. murka kepada kita.</p>
<p>Seorang sahabat Nabi saw. bernama Ab?» Dard?¢ ra pernah mengatakan, â€œBarangsiapa yang tidak melihat (merasakan) nikmat yang Allah berikan kepadanya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka sesungguhnya ilmu (maâ€™rifat-nya) sangat dangkal dan azab pun telah menantinyaâ€? (Abu Hayy?¢n al-Andalusi, al-Bahr al-Muh?®th f?® al-Tafs?®r, jilid 6, hlm. 441. Maktabah Tij?¢riyyah Musthafa al-B?¢z)</p>
<p>Dalam al-Quran Allah azza wa jalla menyampaikan firmanNya:</p>
<p>?‚???„?’ ?‡???ˆ?? ?§?„?‘???°???? ?£???†?’?´???£???ƒ???…?’ ?ˆ???¬???¹???„?? ?„???ƒ???…?? ?§?„?³?‘???…?’?¹?? ?ˆ???§?„?£?’???¨?’?µ???§?±?? ?ˆ???§?„?£?’?????’?¦???¯???©?? ?‚???„?????„?§?‹ ?…???§ ?????´?’?ƒ???±???ˆ?†??<br />
â€œKatakanlah: â€œDia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)â€?. Tetapi amat sedikit kamu bersyukur.â€? (QS al-Mulk [67]: 23)</p>
<p>Wah, wah, Allah seolah-olah â€?nyindirâ€™ ama kita-kita nih kalo sampe kita nggak bersyukur kepadaNya. Tapi kalo dipikir-pikir emang bener juga sih. Manusia di seluruh dunia ini, kayaknya sedikit juga yang benar-benar bersyukur (lha, buktinya Allah Swt. menyatakan dalam firmanNya begitu). Silakan kamu tengok kanan-kiri, depan-belakang. Teman kita, tetangga kita, atau bahkan kita sendiri malah nggak bersyukur dengan nikmat ini. Duh, malu deh.</p>
<p>Kalo emang benar-benar bersyukur sih, kita harusnya bisa memanfaatkannya untuk kebaikan seraya memuji Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Swt. Memuji tentu bukan sekadar mengucap â€œalhamdulillahâ€?, tapi juga terwujud dalam perilaku dan gaya hidup kita yang hanya mau diatur oleh Allah Swt.</p>
<p>Diatur? Yup, karena kita udah berjanji dalam sholat wajib lima waktu sehari. Paling nggak kan dalam sholat baca surat al-Fatihah sebanyak 17 kali sehari. Ada pengakuan jujur dari kita bahwa hanya Allah sajalah, tiada yang lain yang disembah dan dimintai pertolongan: â€œIyyaaka naâ€™budu wa iyyaaka nastaâ€™iinâ€?.</p>
<p>Dalam ilmu balaghah, untuk menggambarkan makna â€œmembatasiâ€? atau pengkhususan dikenal dengan istilah â€œTaqdiimu maa ahaqqohu at-taâ€™khiiruâ€? (mendahulukan yang seharusnya diakhirkan). Seperti dalam kalimat â€œIyyaka naâ€™buduâ€? (hanya Engkaulah yang kami sembah). Berarti ini menutup kemungkinan bagi yang lain yang akan kita sembah. Akan berbeda jika ditulis: â€œNaâ€™budu iyyakaâ€? (kami menyembahMu). Secara ilmu nahwu boleh juga ditulis seperti itu. Tapi rasa bahasanya lain, dan pernyataan itu masih ada kemungkinan untuk menyembah yang lain selain Allah.</p>
<p>Itu sebabnya, dalam hidup ini hanya kepada Allah sajalah kita menyerahkan segala urusan. Bukan kepada yang lain. Itu artinya pula, bahwa hanya kepada Allah sajalah kita menghaturkan pujian sebagai rasa syukur atas karuniaNya kepada kita selama ini.</p>
<p><strong>Bersyukurkah kita?<br />
</strong>Waduh, nggak berani deh tunjuk jari kalo diajukan pertanyaan seperti ini. Tapi, sejujurnya emang kepengen banget menjadi orang yang bersyukur. Bahkan ingin tetap menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah Swt.</p>
<p>Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang tokoh ulama terkemuka, menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdz?®b Mad?¢rij al-s?¢lik?®n oleh Abdul Munâ€?im alâ€?Izz?®, hlm. 348)</p>
<p>So, kita bisa ngukur diri kita dengan penjelasan dari Ustadz Ibnu Qayyim ini. Lisan kita apakah selalu mengucap pujian dan pengakuan kepada Allah Swt. Sang Pemberi nikmat kepada kita? Apakah lisan kita terbiasa mengucapkan alhamdulillah? Atau malah nggak pernah sama sekali? Termasuk mengakui Allah Swt. sebagai Pencipta sekaligus yang memberi nikmat kepada kita? Pertanyaan ini cuma kita sendiri yang bisa jawab. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur.</p>
<p>Terus, dalam hati kita, apakah udah kita wujudkan dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta kepada Allah Swt. Bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang wajib disembah kecuali Allah Swt. Itu sebabnya, tumbuh rasa cinta yang paling kuat dan besar hanya kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya:</p>
<p>?ˆ???…???†?? ?§?„?†?‘???§?³?? ?…???†?’ ???????‘???®???°?? ?…???†?’ ?¯???ˆ?†?? ?§?„?„?‘???‡?? ?£???†?’?¯???§?¯?‹?§ ?????­???¨?‘???ˆ?†???‡???…?’ ?ƒ???­???¨?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?£???´???¯?‘?? ?­???¨?‘?‹?§ ?„???„?‘???‡??<br />
â€œDan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat (besar) cintanya kepada Allah.â€? (QS al-Baqarah [2]: 165)</p>
<p>Lalu, membekaskah rasa syukur kita kepada Allah dengan penampakkan anggota tubuh kita dalam bentuk patuh dan taat kepadaNya? Mari kita mengukur diri kita. Seberapa pantas kita bersyukur yang terwujud pada patuh dan taat kepada Allah Swt. Kita bisa bertanya, apakah selama ini, kita sudah patuh dan mentaati perintahNya? Sholat, puasa wajib Ramadhan, dan zakat pernah kita lakukan dengan sungguh-sungguh karena ketaatan dan kepatuhan kita kepadaNya?</p>
<p>Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mematuhi perintahNya? Kewajiban menutup aurat misalnya, udah ditetapkan Allah Swt. dan Rasulnya. Bagi anak cewek yang udah baligh, nggak boleh keluar rumah menampakkan auratnya. Jadi, harus ditutup tubuhnya dengan busana muslimah, yakni jilbab dan kerudung.</p>
<p>Anak cowok yang udah baligh juga sama, meski batasan auratnya nggak seketat anak cewek, anak cowok kalo keluar rumah daerah pusar ame lutut kudu tertutup. Karena itu auratnya. Kayaknya udah pada paham deh soal ini. Yang perlu diingatkan lagi tuh pengamalannya. Sebab, ngamalinnya emang yang rada-rada males, gitu. Pantesan Allah Swt. menyindir manusia karena ternyata sangat sedikit yang bersyukur kepadaNya.</p>
<p>Imam Ibn Qayyim dalam kitab yang sama lebih lanjut menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur.</p>
<p>Lima pilar pokok itu adalah: Pertama, kepatuhan orang yang bersyukur kepada Pemberi nikmat. Kedua, mencintaiNya. Ketiga, mengakui nikmat dariNya. Keempat, memujiNya atas nikmatNya. Dan yang kelima, tidak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang tidak Dia sukai.</p>
<p>Sobat muda muslim, ini penting banget kita ketahui. Biar kita bisa bersyukur kepada Allah Swt. dan dengan cara yang benar. Khusus penjelasan terakhir dari pilar pokok bersyukur, yakni nggak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang nggak Dia sukai. Jelas banget. Lha kalo ortu kita aja ngasih duit ke kita, terus duit itu kita gunakan buat hura-hura dan bahkan maksiat, pasti ortu kita marah besar. Nah, apalagi Allah Swt.? Tul nggak sih?</p>
<p>Seperti kemarin-kemarin ada syukuran atas kemerdekaan negeri ini. Acara â€œTujuhbelasanâ€??  dirayakan dengan meriah di berbagai tempat. Sebagian besar dari kita suka-cita. Tapi, begitukah cara bersyukur? Atau pertanyaan yang seharusnya: â€œBenarkah sudah merdeka jika ketaatan, kepatuhan, dan penyerahan diri ditujukan bukan kepada Allah Swt? Benarkah kita harus merasa bergembira dan bersyukur sementara aturan Sang Pemberi nikmat malah dicampakkan? Lalu setia diatur oleh sistem Kapitalisme-sekularisme dengan instrumen politiknya bernama demokrasi?â€? Ah, betapa akan murka Allah Swt. kepada kita. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Terusirnya penjajah dari negeri kita memang anugerah. Tapi, kalo kemudian pemberian itu malah diisi dengan cara menjadikan hukum selain Allah sebagai pengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, ya tentunya belum dikatakan bersyukur. Karena udah mengkhianati Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Swt., ketika kita nggak mau diatur oleh syariatNya. Nggak adil en nggak pantes mengkhianati Allah Swt. Tolong catet ye.</p>
<p><strong>Bersyukur dan ridha dengan aturanNya<br />
</strong>Yuk, kita bersyukur. Baik dalam lisan, hati, dan perbuatan kita. Harus kita wujudkan tuh jika benar-benar mengakui dan mencintai Allah Swt. yang udah ngasih begitu banyak nikmat kepada kita sebagai manusia. Bukan cuma karena kita Muslim. Sebab, al-Quran sebenarnya adalah kabar gembira dan peringatan bagi manusia secara umum. Manusia yang sadar dan beriman tentu beda banget dengan yang nggak sadar dan nggak beriman. Tul nggak sih? So, jangan sampe menunggu Allah murka kepada kita gara-gara kita nggak bersyukur dengan benar kepadaNya.</p>
<p>Sobat muda muslim, pembuktian kalo kita bersyukur itu adalah tunduk dan patuh kepada aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. Itu sebabnya, jangan coba-coba malapraktik dengan cara kita sendiri untuk ngatur kehidupan manusia. Pedoman hidup kita cukup al-Quran saja. Bukan aturan yang lain. Allah menjelaskan dalam firmanNya:</p>
<p>?¥???†?‘?? ?‡???°???§ ?§?„?’?‚???±?’?????§?†?? ?????‡?’?¯???? ?„???„?‘???????? ?‡?????? ?£???‚?’?ˆ???…?? ?ˆ???????¨???´?‘???±?? ?§?„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?§?„?‘???°?????†?? ?????¹?’?…???„???ˆ?†?? ?§?„?µ?‘???§?„???­???§???? ?£???†?‘?? ?„???‡???…?’ ?£???¬?’?±?‹?§ ?ƒ???¨?????±?‹?§<br />
â€œSesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,â€? (QS al-Israaâ€™ [17]: 9)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah Swt. menyampaikan (artinya): â€œKitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,â€? (QS al-Baqarah [2]: 2)</p>
<p>Jadi, Allah Swt. memang meminta kita mentaati petunjukNya. Tapi kalo kita bandel, malah memilih petunjuk selain aturan Allah untuk jalan hidup kita, berarti kita belum bersyukur dan justru malah mengkhianatiNya.</p>
<p>Allah Swt. mengingatkan kita dengan firmanNya (yang artinya): â€œDan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, (dengan) kesesatan yang nyata.â€? (QS al-Ahzab [33]: 36)</p>
<p>Oke deh sobat, semoga kita menjadi hamba yang bersyukur dan taat kepadaNya. Amin. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 308/Tahun ke-7/28 Agustus 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-bersyukur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalo Merdeka Jangan Setengah-setengah!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalo-merdeka-jangan-setengah-setengah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalo-merdeka-jangan-setengah-setengah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 05:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kalo-merdeka-jangan-setengah-setengah/</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, usia negeri ini menginjak 61 tahun sejak deklarasi kemerdekaan dibacakan 17 Agustus 1945 silam. Kalo kita buka kembali lembaran sejarah negeri ini, keliatan banget gimana gigihnya usaha para pejuang bangsa untuk meraih pengakuan sebagai bangsa merdeka. Slogan â€?Merdeka atau Mati!â€™ yang digaungkan para pejuang saat itu menjadi harga mati yang tak bisa ditawar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini, usia negeri ini menginjak 61 tahun sejak deklarasi kemerdekaan dibacakan 17 Agustus 1945 silam. Kalo kita buka kembali lembaran sejarah negeri ini, keliatan banget gimana gigihnya usaha para pejuang bangsa untuk meraih pengakuan sebagai bangsa merdeka. Slogan â€?Merdeka atau Mati!â€™ yang digaungkan para pejuang saat itu menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Kalo ada yang berani nawar? Bakal berabe urusannya. Nah lho!<span id="more-311"></span></p>
<p>Yup, karena bangsa ini cukup sengsara bin menderita hidup dalam penjajahan. Dipaksa kerja rodi van romusa dengan makan seadanya. Kehormatan dan harga diri kita diinjak-injak. Hak hidup kita dirampas. Kekayaan alam negeri kita dikuras. Boro-boro mikirin pendidikan atau kesehatan yang memadai, bisa bertahan hidup aja udah untung banget tuh. Pokoknya nestapa banget deh. Nggak heran kalo setiap bangsa yang terjajah bakal mati-matian memperjuangkan kemerdekaannya. Pasti itu!</p>
<p>Kini, nggak ada lagi bangsa kompeni yang memaksa kita kerja rodi. Nggak ada lagi diskriminasi terhadap hak-hak kita oleh kaum penjajah. Negeri ini udah merdeka coy! Makanya sebagai wujud rasa syukur, perayaan hari kemerdekaan alias tujuh belasan selalu meriah di setiap tempat di nusantara. Dari pelosok desa hingga sudut ibu kota. Baik di dunia nyata apalagi dalam dunia layar kaca. Tradisi yang udah mendarah daging ini tetep jadi prioritas meski musibah yang mendera negeri datang silih berganti. Tapi, yakin nih udah merdeka beneran?</p>
<p><strong>Negeri ini pasca kemerdekaan</strong><br />
Sobat, tentu kita semua akur kalo nenek moyangnya Ruud van Nistelrooy (wong londo) udah lama angkat kaki dari nusantara. Begitu juga dengan kakek buyutnya Hidethosi Nakata. Itu berarti, nggak boleh ada yang menyangsikan kalo negeri kita udah merdeka dari penjajahan fisik. Kalo udah merdeka, pastinya kondisi yang jauh lebih baik dari masa penjajahan layak kita rasakan. Sesuai dengan cita-cita kemerdekaan: kesejahteraan, kesempatan kerja, pendidikan untuk semua, pelayanan kesehatan yang memadai, hingga rasa aman udah saatnya kita nikmati. Sayangnya, yang kita temui justru sebaliknya. Semoga kamu semua ngeh juga.</p>
<p>Saat ini, jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat sekitar 35,1 juta jiwa, atau sekitar 16,1 persen dari total penduduk. Dari total 35, 1 juta jiwa tersebut tercatat 45 persen adalah kaum perempuan, anak-anak, balita, lanjut usia yang sangat membutuhkan berbagai pelayanan. (Gatra.com, 03/5/06)</p>
<p>Lapangan kerja begitu langka. Menurut data Sakernas BPS, jumlah penganggur terbuka tahun 2005 sebanyak 10.854.254 orang. Jika ditambah dengan jumlah setengah pengangguran (bekerja kurang dari 35 jam seminggu), berdasarkan data BPS maka jumlahnya sudah mencapai 40,1 juta orang atau sekitar 37 persen dari 106,9 juta angkatan kerja yang ada. Jumlah pengangguran yang terus bertambah jadi masalah yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun. (<a href="http://www.nakertrans.go.id/">www.nakertrans.go.id</a>, 19/06/06)</p>
<p>Pendidikan yang udah jadi hak seluruh rakyat hanya bisa dinikmati oleh kaum berduit. Biaya pendidikan kian melangit. Privatisasi pendidikan berujung pada komersialisasi pendidikan. Menurut data Balitbang Diknas, tahun 2003, murid SD dan Ibtidaiyah negeri dan swasta berjumlah 25.918.898 orang dan murid SMP dan MTS negeri dan swasta berjumlah 7.864.002. Jadi jumlahnya adalah 33.782.900 orang. Dari jumlah itu yang putus sekolah dan berhenti sekolah SD ada 56,2 %, dan hanya tamat SMP 16,65 %. Jadi jumlah putus sekolah 62,67%.?  (Pikiran Rakyat, 24/03/06).</p>
<p>Layanan kesehatan, terutama untuk rakyat miskin semakin mahal. Lantaran harga obat dan peralatan medis naik, terpaksa puskesmas pun kudu ikut naekin tarif berobat. Di Yogya, Pemerintah Kota Yogyakarta menaikkan tarif pelayanan puskesmas sebesar 830 persen dari Rp 600 menjadi Rp 5 ribu. Sementara di Tangerang, DPRD Kabupaten Tanggerang menetapkan tarif puskesmas naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000 untuk sekali berobat. Kondisi ini turut mempersulit akses kesehatan bagi masyarakat yang hidupnya pas-pasan. Nggak heran kalo kasus busung lapar yang menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) sudah mencapai angka 8% atau sekitar 1,67 juta jiwa anak. (Kompas, 28/05/06)</p>
<p>Tidak tegasnya hukum negara dan lemahnya pengawasan keamanan dari aparat, ngasih kesempatan pada kaum gerombolan si berat untuk meningkatkan kualitas kejahatan dan kuantitas anggotanya. Tahun 2005, kejahatan yang terjadi sekitar 209.673 kasus, sedangkan tahun sebelumnya 196.931 kasus. (<a href="http://www.tempointeraktif.com/">www.tempointeraktif.com</a>).</p>
<p>Sobat, inilah beberapa sketsa kehidupan negeri kita pasca kemerdekaan. Masih aja ada tabir yang membatasi rakyat untuk hidup layak dan nyaman. Apa ini yang menjadi cita-cita kemerdekaan para pejuang pendahulu kita?</p>
<p><strong>Penjajahan gaya baru</strong><br />
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, merdeka dimaknai sebagai bebas/dari penghambaan, penjajahan dsb; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat; tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu; dan leluasa. Berkaitan dengan penjajahan, merdeka berarti lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya, baik penjajahan fisik maupun penjajahan dalam bentuk ekonomi, sosial , politik, dan budaya.</p>
<p>Secara fisik, bangsa ini emang udah merdeka. Tapi dalam pengurusan ekonomi, sosial, politik, dan budaya, ternyata masih ada tangan-tangan asing yang ikut ngurusin. Bikin ribet aja tuh!</p>
<p>Secara ekonomi, kondisi negeri kita masih dilanda krisis. Lihat saja, secara keseluruhan bangsa Indonesia saat ini memiliki utang sekitar Rp 1.300 triliun. Untuk itu, setiap manusia Indonesia rata-rata memikul utang dalam dan luar negeri sebesar Rp 6.5 juta per kepala. (Republika, 17/04/06). Waduh!</p>
<p>Demi melunasi utang, rakyat jadi korban. Subsidi terhadap BBM dihapus, sehingga harga BBM dan barang kebutuhan pokok pada naik. Subsidi terhadap pendidikan juga dikurangi, sehingga biaya pendidikan mahal. Produk asing bebas masuk, sehingga produk dalam negeri dan home industry tersisihkan. Demi memancing investor asing, pemerintah membebaskan perusahaan swasta dari kewajiban pelayanan sosial terhadap kesejahteraan buruh. Makin sengsara dah!</p>
<p>Udah gitu, banyak kekayaan alam kita yang dilalap abis oleh pihak asing. Ada Freeport yang menguras emas dan tembaga di Papua, Newmont Minahasa Raya yang menguasai tambang emas di Sulawesi Utara, atau Exxon Mobil Oil yang kebagian jatah ngelola Minyak Bumi di Blok Cepu, Jateng. Padahal kalo dikelola sendiri, kekayaan itu bisa membantu meningkatkan ekonomi negara. Bener lho!</p>
<p>Secara sosial dan budaya, gaya hidup sekular Barat kian bebas menyapa masyarakat Indonesia. Kebebasan dalam berperilaku, berpendapat, kepemilikan, atau beragama menjadi tren yang tak tersentuh hukum negara. Sampai-sampai pemerintah pun tak berkutik untuk mencegah beredarnya majalah Playboy yang menjadi simbol pornografi dunia. Akibatnya, masyarakat jadi egois bin individualis. Lebih mementingkan diri sendiri daripada pusing mikirin fenomena gaul bebas yang makin beringas atau pemakaian narkoba yang makin merajalela.</p>
<p>Secara militer, Indonesia masih di bawah tekanan pemerintah AS. Gara-gara diembargo, menurut KSAU Marsekal Hanafie Asnan, pesawat, baik tempur maupun angkut, terpaksa di-grounded ataupun â€?kanibalâ€™ akibat tidak adanya pasokan suku cadang (Republika, 25/9/2001). Kini, meski embargo udah dicabut, nggak otomatis negeri ini terbebas dari tekanan AS. Yang ada, tawaran kerjasama dan bantuan militer dari AS yang diterima pemerintah malah bikin persenjataan dan masa depan militer kita kian tergantung ama Paman Sam.</p>
<p>Secara politik, pembuatan undang-undang tidak lepas dari kepentingan asing. Seperti yang diakui oleh USAID (United States Agency for International Development) yang terlibat dalam penyusunan UU Migas. â€œThe ADB and USAID worked together on drafting a new oil and gas law in 2000 (ADB â€“Asian Development Bank- dan USAID telah bekerja bersama dan merancang undang-undang minyak dan gas yang baru pada tahun 2000.â€?) (<a href="http://www.usaid.gov/pubs/cbj2002/ane/id/497-009.htm">www.usaid.gov/pubs/cbj2002/ane/id/497-009.htm</a>)</p>
<p>Nah sobat, jujur aja nih. Kayaknya ekonomi, sosial, budaya, dan politik negeri kita masih belon merdeka sepenuhnya. Penjajahan gaya baru lewat pinjaman utang telah menjerat negara kita. Pemaksaan budaya Barat lewat media massa pun tak bisa dielakkan. Parahnya, akibat banyaknya pihak asing yang memanen kekayaan alam, kita jadi kuli di negeri sendiri. Tragis!</p>
<p><strong>Meraih kemerdekaan hakiki<br />
</strong>Di dalam al-Quran, istilah merdeka (al hurr, at-tahrir) senantiasa terkait dengan pembebasan budak dari cengkaraman majikannya, Kemerdekaan hakiki adalah lepasnya manusia dari menjadikan sesama manusia sebagai tuhan, lalu hanya berkhitmat dan tunduk kepada Allah Swt. dengan menegakkan hukum-hukumnya.</p>
<p>Sebagai negara merdeka, idealnya nggak cuman bebas dari penjajahan fisik. Soalnya bangsa-bangsa penjajah udah pake taktik baru untuk menindas negara-negara lain yang lebih lemah. Bilangnya mo ngasih pinjem uang, padahal mau nguras kekayaan alam. Ngomongnya ngasih bantuan militer, ujung-ujungnya embargo persenjataan. Rencananya cuma kunjungan kenegaraan, realitasnya intervensi kebijakan pemerintah. Dasar mental penjajah!</p>
<p>Saatnya kita raih kemerdekaan hakiki. Kemerdekaan yang nggak cuma terbebas dari penjajahan fisik, tapi juga bebas dari tekanan negara-negara penjajah; bebas dari jeratan utang luar negeri; bebas dari mental inlander alias terjajah yang selalu â€œbermanis mukaâ€? di hadapan musuh-musuh negara demi menyenangkan mereka; bebas mengelola sumber daya alam yang berlimpah untuk kepentingan dalam negeri; dan terbebas dari hawa nafsu untuk mengatur rakyat dengan aturan buatan manusia. Pokoknya Jempol, eh Bebas deh! (ups! Bukan iklan kartu GSM lho! Hehehe&#8230;)</p>
<p>Dan yang paling penting, kemerdekaan hakiki nggak akan pernah kita raih kalo kita membebaskan diri dari penghambaan kepada Allah Swt. Karena itulah bentuk sebaik-baiknya penghambaan. Bukan kepada manusia atau negara lain. Kalo pemerintah tetep bermesraan dengan sistem demokrasi sekular yang menjadi jalan masuknya penjajahan gaya baru untuk ngatur rakyatnya, cuma kemerdekaan semu yang bakal kita dapatkan. Hal tu sudah terbukti dan bahkan kita rasakan selama ini. Kehidupan kita diatur oleh sistem kufur bernama demokrasi dan sekularisme. Firman Allah swt:</p>
<p>?ˆ???…???†?’ ?£???¹?’?±???¶?? ?¹???†?’ ?°???ƒ?’?±???? ?????¥???†?‘?? ?„???‡?? ?…???¹?????´???©?‹ ?¶???†?’?ƒ?‹?§ ?ˆ???†???­?’?´???±???‡?? ?????ˆ?’?…?? ?§?„?’?‚???????§?…???©?? ?£???¹?’?…???‰<br />
Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan butaâ€?. (QS. Thah?¢ [20]: 124)</p>
<p>Karena itu, hanya dengan aturan Islam cita-cita kemerdekaan yang kita semua idam-idamkan bisa terwujud. Jadi, mari kita tegakkan Islam sebagai ideologi negara untuk menyelamatkan seluruh umat manusia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. So, kalo merdeka, jangan setengah-setengah! Apalagi negeri ini sejatinya memang belum merdeka, Bro! Sekali lagi: Belum merdeka! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 307/Tahun ke-7/21 Agustus 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalo-merdeka-jangan-setengah-setengah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WANTED: Cewek Cerdas!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/wanted-cewek-cerdas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/wanted-cewek-cerdas#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 05:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/wanted-cewek-cerdas/</guid>
		<description><![CDATA[Cewek cerdas, kayaknya saat ini lagi laris manis bak kacang goreng. Ungkapan-ungkapan yang terlontar dan sering terdengar â€?udah keren, cakep, cerdas lagiâ€™. Dan berbagai ungkapan sejenis. Bahkan dalam ajang yang notabene umbar aurat semisal pemilihan model dan Miss Universe yang sudah berlalu, kategori brain juga dimasukkan sebagai faktor kemenangan. Biar keren gitu loh kelihatannya. Meski [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cewek cerdas, kayaknya saat ini lagi laris manis bak kacang goreng. Ungkapan-ungkapan yang terlontar dan sering terdengar â€?udah keren, cakep, cerdas lagiâ€™. Dan berbagai ungkapan sejenis. Bahkan dalam ajang yang notabene umbar aurat semisal pemilihan model dan Miss Universe yang sudah berlalu, kategori brain juga dimasukkan sebagai faktor kemenangan. Biar keren gitu loh kelihatannya. Meski pada faktanya juga kecerdasan mereka pada nggak bisa dipertanggungwajabkan. Inget kasus Nadine Chandrawinata kan?<span id="more-310"></span></p>
<p>Eh, tapi kenapa juga yang sering cerdas dalam nilai akademis, apalagi lomba-lomba sains dan teknologi, seringnya didominasi para cowok? Apa bener sih cewek itu memang makhluk lemot dan hanya punya fisik sebagai andalan? Hmm&#8230; untuk menjawab hal beginian emang nggak mudah sih. Yuk kita bahas satu per satu, yuk.</p>
<p><strong>Cewek cerdas, ada nggak sih?<br />
</strong>Baru-baru ini banyak banget diselenggarakan ajang olimpiade sains tingkat nasional dan internasional. Tapi kalo kita amati, sepertinya nama-nama yang muncul mayoritas dari makhluk berjenis cowok. Andhika Putra, Ali Sucipto, Purnawirman, Michael Andrian dan Ario Prabowo. Kemana nih para cewek-ceweknya? Apa iya mitos tentang cewek tuh makhluk kelas dua jadi terbukti hanya gara-gara cowok selalu lebih unggul dari cewek?</p>
<p>Sebetulnya juga nggak gitu-gitu banget kok. Ada juga cewek cerdas seperti Aulia Tirtamarina dan Thina Ardhiana Mewakili ITS ke Pontianak. Mau ngapain? Masaâ€™ mau transmigrasi. Ya nggaklah. Mereka inilah yang akan mengikuti Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa Tingkat Nasional di Pontianak. Lalu masih banyak nama-nama cewek lainnya yang berada pada deretan perwakilan lomba karya ilmiah semisal Dewi Chasanah dan Linda Puspitasari. Di antara mereka ada juga para muslimah dan berjilbab lagi. Pasti bangga dong.</p>
<p>Kaum Hawa juga punya Ibu Ratna Megawangi (itu lho, istrinya Menkominfo Sofyan Djalil) yang mengantongi gelar doktor dan post doktoral. Lalu ada juga ibu Dr. Ing. Gina Puspita, DEA yang lulusan Ecole National Superieure de Iâ€™Euronatique et de; â€?Espace (ENSAE) Toulouse France. Wanita kelahiran Bogor 8 September 1963 ini pernah menjadi Kepala Departemen Structure Optimization Divisi Riset &amp; Development IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara). Oya, Ibu Gina pernah juga â€?menggegerkanâ€™ dunia kampus dengan kecerdasannya dan memakai cadar ketika mengajar mahasiswa di ITB.</p>
<p>Bahkan saking nggak umumnya cewek cerdas, di Universitas Stanford, California ada seorang profesor yang ganti jenis kelamin dari perempuan menjadi laki-laki. Nama aslinya Barbara Barres diganti menjadi Ben Barres. Sedari lahir hingga gede, ia memang seorang perempuan tulen. Tapi pengalaman hidup dan diskriminasi membuatnya merasa tak nyaman menjadi perempuan. Apalagi dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata.</p>
<p>Ketika masih kuliah, kelasnya dipenuhi makhluk yang berjenis kelamin laki-laki daripada perempuan. Ketika ada soal matematika sulit, ia adalah satu-satunya perempuan yang bisa mengerjakan soal itu. Apa tanggapan sang dosen? Si dosen malah mengejek dengan mengatakan soal sulit itu pastilah dikerjakan pacar si mahasiswi.</p>
<p>Lalu di kota Wellington, ada hakim di sana yang sehari-harinya memakai pakaian cewek padahal ia adalah laki-laki tulen. Ia bukan banci, wadam ataupun waria. Ia adalah seorang suami dan bapak dari beberapa anaknya. Bahkan sikapnya ini didukung oleh istri dan anggota keluarga yang lain. Usut punya usut ternyata bapak hakim ini memprotes sistem peradilan Wellington yang tak memberi kesempatan pada kaum perempuan untuk berprestasi utamanya di bidang peradilan.</p>
<p>See, sebetulnya bukannya nggak ada perempuan cerdas itu. Tapi ada sesuatu dan lain hal yang menghalangi perempuan untuk menjadi cerdas. Nah, apakah sesuatu itu?</p>
<p><strong>Kenapa cewek cerdas langka?<br />
</strong>Wah&#8230; pertanyaan apa pula ini? Pernah nggak sih pertanyaan seperti ini terbersit di benakmu? Kenapa jarang banget kita mendapati cewek cerdas di tengah masyarakat? Umumnya yang muncul selalu laki-laki. Sistem hidup yang mendiskriminasikan perempuan, jawabnya. Lihatlah sistem hidup yang ada saat ini dengan falsafah sekuler plus kapitalis yang katanya membela kesetaraan gender. Lihat pula negara yang mengaku kampium demokrasi alias si congkak Amerika.</p>
<p>Apa yang dilakukan oleh sistem dan negara ini? Ternyata mereka sangat meminggirkan perempuan dengan segenap potensinya. Kamu tahu mengapa ada isu kesetaraan gender? Karena memang pada dasarnya gender perempuan tak pernah benar-benar diakui dan dihormati dalam sistem Kapitalisme-sekularisme itu.</p>
<p>Coba bandingkan dengan Islam yang sudah sejak awal konsepnya laki-laki dan perempuan diperlakukan sama di depan hukum syariat. Bila laki-laki ada kewajiban sholat, puasa, zakat hingga menunaikan ibadah haji, maka perempuan mempunyai kewajiban yang sama pula. Bila laki-laki wajib untuk menuntut ilmu, berdakwah dan berjihad, maka perempuan mempunyai hak yang sama pula.</p>
<p>Karena syariat Islam berasal dari yang menciptakan manusia, Ia pula yang tahu ukurannya. Sehingga Ia pula yang berhak membuat hukumNya. Meski laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban sama, tapi nggak semuanya dipukul rata agar sama semua.</p>
<p>Contoh sederhana adalah jatah untuk kamu dan temanmu. Kamu yang biasanya makan cukup sepiring diberi jatah dua piring hanya gara-gara kepingin sama porsinya dengan temanmu yang olahragawan, misalnya. Atau temanmu yang biasanya jatah makan dua piring cuma diberi satu piring karena biar sama dengan dirimu. Apakah ini bisa dibilang adil?</p>
<p>Sama juga dengan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Adil adalah ketika porsi masing-masing diberikan secara tepat guna. Perempuan cerdas itu tidak diukur dari seberapa tinggi nilai IP-nya. Tapi perempuan cerdas adalah perempuan yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan dalam hidupnya dengan satu tolok ukur tertentu yang bertanggung jawab.</p>
<p>Apakah itu? Hukum syaraâ€™. Karena seperti kata Om Daniel Goleman bahwa kecerdasan otak saja tidak akan membawa seseorang kepada kesuksesan. Harus ada cerdas secara emosi. Bahkan akhir-akhir ini muncul istilah kecerdasan secara spiritual. Kenapa harus dibagi-bagi seperti itu? Kenapa tidak kita pilih saja kecerdasan yang memberi paket all in dalam satu kemasan?</p>
<p>Tapi, cerdas seperti apa sih yang emang top banget? Soalnya kalo cuma cerdas sebatas nilai kimia, matematika dan fisika hampir sempurna, itu mah udah biasa. Yang nggak biasa adalah yang cerdas tapi sesuai syariat. Emang ada? Makanya terus baca aja tulisan ini yee. Jangan bengong aja. Hehehe&#8230;</p>
<p><strong>Cerdas sesuai syariat<br />
</strong>Cerdas sesuai syariat adalah seseorang yang dengan kecerdasannya akan semakin menambah keimanannya pada Allah Swt. Bukan sebaliknya. Banyak juga kok pemuda-pemudi muslim yang karena kecerdasannya sampe dikirim ke luar negeri. Di sana mereka menuntut ilmu dan diharapkan sekembalinya ke Indonesia menjadi sarjana yang bisa mengaplikasikan ilmunya. Lebih luas lagi, mereka diharapkan memberi kontribusi bagi kemjuan umat ini. Tapi apa yang terjadi?</p>
<p>Dengan bertambahnya ilmu dan gelar yang dimilikinya, bukannya semakin menambah baik iman dan amalnya,eh mereka malah menjadi antek-antek Barat untuk menghancurkan Islam dari dalam. Ketika berangkat ke negeri Barat, mereka adalah seseorang yang meyakini bahwa Allah adalah al-Khaliq dan al-Mudabbir, pencipta dan pengatur.</p>
<p>Keimanan dan keyakinannya tentang betapa lemahnya manusia tanpa aturan dariNya begitu membubung. Sehingga dia rindu dunia ini diatur dengan aturan dari Yang Maha Pengatur. Tapi, apa yang terjadi ketika ia ada di negeri Barat dan bersentuhan dengan ide-ide Barat? Makmur dan sejahteranya negeri-negeri Barat telah menyilaukannya. Karena silau, ia malu dengan kondisi negerinya dan mayoritas umat Islam yang dianggapnya masih terbelakang dan bodoh.</p>
<p>Sehingga ide-ide rusak semacam demokrasi, kesetaraan gender dan feminisme, hingga ke tataran gaya hidup dengan pola permisif dan hedonis dianutnya. Ia menganggap bahwa ide-ide itulah yang telah membuat dunia Barat maju. Sehingga bila kaum Muslimin ingin maju, maka ide-ide itulah yang seharusnya diambil. Waduh. Parah tenan iki.</p>
<p>Bila cerdas seperti ini yang dimaksudkan, sungguh ini adalah cerdas yang sangat tidak mencerdaskan. Bahkan cerdas yang kampungan. Cerdas yangmerusak alias destruktif. Karena ternyata cerdasnya cuma dalam tataran angka di atas kertas yang bernama IP, tapi secara nyata ia merusak pemahaman dan akidah umat dengan ide-ide kufurnya.</p>
<p>Padahal cerdas yang sesuangguhnya adalah cerdas yang sesuai syariat. Cerdas ketika ilmu yang didapatnya semakin manambah kecintaan ia pada Allah dan berjuang menegakkan kalimatNya. Cerdas ketika beasiswa yang didapat digunakannya dengan sebaik-sebaiknya kemakmuran umat.</p>
<p>Beasiswa? Jangan salah. Istilah ini pun sebetulnya masih rancu. Bagaimana mungkin disebut beasiswa ketika uang yang diterimanya untuk membiayai kuliah adalah uang yang didapat para sponsor semisal bank dunia dari merampok harta kaum Muslimin. Jadi, sudah sewajarnyalah kalo harta itu memang kembali lagi pada yang empunya.</p>
<p>Back to cerdas. Kecerdasan dalam Islam melingkupi semuanya. Ketika kita melihat alam semesta dan berfikir tentang penciptaannya, pastilah akan muncul sebuah stimulus dalam serat otak kita untuk mencari jawabannya secara ilmiah. Tidak berhenti sampai di situ saja. Pengamatan terhadap alam semesta dan alam sekitar membuat kita semakin yakin akan keberadaan dan kemahabesaran Allah, sang pencipta sekaligus pengaturnya. Imanâ€”bagi sebagian kalangan dimasukkan kepada kecerdasan spiritualâ€”kita akan semakin cerdas.</p>
<p>Iman bukan hanya sekadar diyakini tapi juga ada amal nyata dalam kehidupan sehai-hari. Karena sudah dibekali kecerdasan spiritual yang oke, maka dalam bermuamalah dan berhubungan dengan orang-orang juga pasti terlahir sikap dan perilaku yang cerdas. Inilah yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan ini berlaku untuk semua, baik laki-laki dan perempuan yang beriman.</p>
<p>Hanya saja karena mereka ini memang berjenis kelamin yang berbeda, maka porsi yang diberikan Allah juga berbeda. Kecerdasan yang dimiliki kaum perempuan lebih maksimal digunakan dalam ranah rumah tangga. Karena itulah ia dibekali kemampuan alami untuk melahirkan, menyusui dan sebagai pendidik utama anak-anak usia dini. Bukan karena bias gender dan diskriminasi semua ini diatur, tapi demi saling melengkapi dan untuk kesejahteraan bersama.</p>
<p>Dengan karakter laki-laki yang umumnya seperti kita tahu gagah dan perkasa, bayangkan bila ia yang diberi kemampuan untuk melahirkan dan menyusui bayi mungil yang masih lemah dan lembut itu. Maha Besar Allah Yang Maha Tahu bahwa tugas ini memang spesialisasinya perempuan yang difitrahkan dengan sifat-sifat kelembutan dan keibuan.</p>
<p>Seperti inilah seharusnya cewek itu, cerdas yang multifungsi. Ya cerdas otaknya, cerdas emosionalnya dan yang pasti cerdas juga spiritualnya. Jangan sampe terjadi sebaliknya. Apalagi salah kaprah. Apa gunanya cerdas secara IQ tapi lupa pada yang memberi kecerdasan itu sendiri? Apa gunanya punya gelar berderet tapi ternyata kufur nikmat?</p>
<p>Ah, ternyata itu semua memang tak ada gunanya bila kecerdasan yang ada ternyata tak mampu untuk mengenal Rabbnya. Jadi, kamu jangan mau jadi cerdas yang bablas alias nggak tahu diri. Cerdas itu kudu taat syariat. So, cewek cerdas? Kudu lagi! Apakah ada di antara kamu? Semoga semuanya cerdas.[ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 306/Tahun ke-7/14 Agustus 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/wanted-cewek-cerdas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadikan Islam yang Mengancam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jadikan-islam-yang-mengancam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jadikan-islam-yang-mengancam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 05:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jadikan-islam-yang-mengancam/</guid>
		<description><![CDATA[Agresi Israel ke Libanon harus dihentikan. Israel leluasa menggerakkan mesin perangnya karena nggak ada yang ia takuti. Apalagi didukung penuh Amerika Serikat. Meski negeri kecil, tetapi Israel berani menyerang negara tetangganya. Yup, negeri Yahudi ini bukan cuma menebarkan ancaman, tapi sudah melakukan aksi nyata yang membahayakan.
Sobat, apa kita cukup diam aja dengan aksi brutal Israel? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agresi Israel ke Libanon harus dihentikan. Israel leluasa menggerakkan mesin perangnya karena nggak ada yang ia takuti. Apalagi didukung penuh Amerika Serikat. Meski negeri kecil, tetapi Israel berani menyerang negara tetangganya. Yup, negeri Yahudi ini bukan cuma menebarkan ancaman, tapi sudah melakukan aksi nyata yang membahayakan.<span id="more-309"></span></p>
<p>Sobat, apa kita cukup diam aja dengan aksi brutal Israel? Apa kita cuma jadi penonton sambil memberi ucapan: â€œsabar ya saudara-saudaraku di Libanon dan Palestinaâ€?? Waduh, enak banget tuh Israel, nggak ada yang ngelawan. Apalagi para pemimpin negeri Arab memilih diam ketimbang menolong saudaranya dari kebiadaban Israel. Kalo masih kayak gini, Israel merasa bahwa negeri-negeri Islam dan kaum Muslimin bukan lagi ancaman bagi keganasannya. So, buat kaum Muslimin, hentikan diam kita! Ayo berjuang bersama membela Islam dan kaum Muslimin. Kalo memang cinta, mari tunjukkan cinta kita kepada Islam dan kaum Muslimin. Karena cinta itu menggerakkan dan memantapkan komitmen kita untuk mencintai apa yang kita cintai.</p>
<p>Amerika merasa harus arogan, karena musuh-musuhnya memilih diam. Padahal, sejak awal Islam dipandang oleh Amerika sebagai musuh dan ancaman. Tetapi ketika mereka melihat kaum Muslimin diam, bahkan sikap para pemimpin kaum Muslimin terbelah saat menyikapi aksi-aksi Amerika dan sekutunya, Amerika jadi belagu dan nggak merasa Islam yang diemban para pemimpin negeri Islam sebagai ancaman lagi. Yup, sebab sebagian besar dari kita cengoâ€™ aja kayak orang bingung. Jadinya Amerika dan sekutunya leluasa menghajar kita.</p>
<p>Sobat muda muslim, tanda-tanda kalo Islam tuh bukan lagi ancaman adalah pernyataan yang membahayakan Islam itu sendiri. Salah satu contohnya adalah bahwa Islam tak perlu diterapkan sebagai dasar negara. Ini jelas menguntungkan para pembenci Islam. Mereka bisa sorak-sorak bergembira menyambut pernyataan kayak gitu.</p>
<p>Padahal sejak dulu Rasulullah saw. sudah menggariskan bahwa Islam itu harus diterapkan sebagai ideologi negara. Syariat Islam itu harus mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Itu sebabnya, Rasulullah saw. mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah. Hasilnya? Kafir Quraisy dan musuh-musuh Islam lainnya merasa ketar-ketir dengan Islam yang diemban oleh Rasulullah saw. Persia dan Romawi pun merasa terancam eksistensinya.</p>
<p>Semangat juang seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh kaum Muslimin. Yes, kudu menjadikan Islam sebagai ancaman bagi kekufuran dan arogansi para penentang Islam. Dengan semangat juang seperti ini pula, harga diri kaum Muslimin terangkat. Kaum Muslimin lebih merasa percaya diri membela Islam. Sebab, pada saat yang sama, musuh-musuh Islam dengan antusias ingin menghancurkan Islam. Sebagian dari mereka, yakni Amerika dan Israel sudah mempraktikkan ancaman mereka. Kalo kita diam aja (apalagi banyak penguasa Muslim yang nggak berani melawan Amerika padahal mereka mampu), berarti secara nggak langsung kita udah ngasih jalan bagi musuh-musuh Islam untuk ngancurin Islam dan kaum Muslimin.</p>
<p>Sobat, mari kita jadikan Islam yang mengancam eksistensi ideologi dan pendukung Kapitalisme-Sekularisme, juga Sosialisme-Komunisme. Islam, sebagai ideologi punya kemampuan untuk itu. Buktikan saja.</p>
<p><strong>Islam bukan sekadar ritual<br />
</strong>Bro, ketika Islam hanya sekadar dipahami sebagai ibadah ritual belaka, paling nggak ada beberapa akibat or dampak yang bisa dirasakan faktanya:</p>
<p>Pertama, hilang kekuatannya. Yup, Islam jadi hilang kekuatannya. Karena apa? Karena kita hanya memahami Islam sebagai ibadah ritual belaka. Cuma ngurusin soal akhirat. Maka, dalam kurikulum di sekolah aja, perasaan dari dulu pelajaran agama cuma 2 jam pelajaran dalam seminggu. Jadi wajar aja kalo materi yang dibahas juga hanya seputar akidah, fikih (itupun sebatas sholat, puasa, zakat, haji, dan paling banter munakahat alias pernikahan), ditambah pelajaran sedikit tentang ilmu waris dam ngurus jenazah. Padahal, Islam tuh luas banget bahasannya. Nggak sekadar ngomongin surga-neraka aja. Dunia juga diperhatikan, Bro.</p>
<p>Guys, udah kebayang kan gimana jadinya kalo Islam cuma kita pahami sebagai ritual belaka. Kita anggap Islam cuma identik dengan masjid dan mushola aja. Jangan sampe deh orang memahami kaum Muslimin adalah baju koko, peci, jilbab, kerudung, dan sarung aja. Sehingga aneh kalo ada kaum Muslimin yang kerja di kantoran umum dan pandai ngomongin Islam. Itu nggak aneh bin ajaib. Justru yang aneh adalah ketika kaum Muslimin memahami bahwa Islam hanya boleh dibicarakan di masjid dan oleh mereka yang santri. Aduh, jangan sampe punya pikiran begitu terus.</p>
<p>Islam tuh kuat, jika dipahami sebagai ideologi. Islam tuh keren kalo kita menerapkannya sebagai akidah akliyah juga. Musuh-musuh Islam bakalan seneng kalo kita cuma mikirin akhirat mulu, karena merasa nggak bakalan ada yang ngusik kehidupan rusak mereka. Justru kalo Islam dipahami sebagai ideologi, musuh-musuh Islam bakalan mikir seribu kali (atau malah nggak berani?) untuk melawan Islam. Tapi, kalo kitanya cuma betah ngendon di masjid, sarungan mulu, dan menghindarkan diri dari politik (akidah siyasiyah), maka musuh-musuh Islam senang banget. Dan inilah kekalahan kita, karena Islam jadi hilang kekuatannya.</p>
<p>Kedua, turun derajat. Bukan ngeledekin atawa ngetawain. Memang kalo kita memahami Islam sebagai ibadah ritual aja, itu udah menurunkan level kita ke derajat yang rendah. Lihat aja, sekarang yang maksiat banyak banget. Mengapa kaum Muslimin banyak yang maksiat? Karena mereka barangkali (dan sangat boleh jadi) memahami bahwa Islam nggak punya aturan yang tegas untuk masalah dunia. Apalagi mereka ngelihat dalam sistem sekarang (Kapitalisme-Sekularisme) justru diberikan kebebasan orang berbuat apa saja asalkan nggak ngerugikan orang lain. Tapi, kalo pun ngerugiin orang lain, hukumannya nggak tegas, bisa dibeli dengan uang.</p>
<p>Akhirnya, para pencuri ayam tetep jalan, yang korupsi juga anteng aja. Abisnya, kalo pun ketahuan, hukum bisa dibeli dengan uang. Andai saja kebetulan tetep dihukum, hukumannya nggak sebanding banget dengan kejahatannya. Membunuh misalnya, cuma diganjar hukuman penjara (jumlah tahunnya tergantung model pembunuhannya). Itu sih nggak bikin kapok, apalagi meski dipenjara tetap bisa makan dan minum dengan gratis dan mungkin melihat televisi dan â€?nyari ilmuâ€™ tambahan dari tayangan Brutal, Sergap, Buser, TKP, SIDIK dsb. Jadi jelas banget, ini menurunkan manusia (termasuk di dalamnya kaum muslimin) ke level yang rendah banget. Ancur bin amburadul!</p>
<p>Nah, berawal dari menganggap bahwa Islam cuma ngatur urusan akhirat dan sekadar ibadah ritual aja, ditambah dengan memahami bahwa Islam nggak bisa ngatur kehidupan dunia, maka mudah bagi manusia yang lemah iman untuk berbuat sesukanya dalam hidup ini. Padahal, ia sudah diberi akal untuk memahami kehidupan ini. Sudah dibimbing pula dengan al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Seharusnya sih lebih beradab. Lebih tinggi derajatnya.</p>
<p>Ketiga, kaum muslimin menjadi tak berdaya. Rasulullah saw. bersabda: â€œAkan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar merekaâ€?. Salah seorang shahabat bertanya: â€œApakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?â€? Rasulullah menjawab: â€œTidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian â€?wahnâ€™â€?. Seorang sahabat Rasulullah bertanya: â€œYa Rasulullah, apa yang dimaksud dengan â€?wahnâ€™ itu?â€? Dijawab oleh Rasulullah saw.: â€œCinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati.â€? (at-Tarikh al-Kabir, Imam Bukhari)</p>
<p>Sekarang udah terbukti, jumlah kaum Muslimin ini sebenarnya banyak di seluruh dunia. But,?  kita terpecah belah dan bahkan takut untuk berjuang. Sebagian dari kita cukup hanya merasa bahwa Islam menyejukkan bagi pribadi masing-masing. Bersamaan dengan itu, kaum Muslimin ogah berjuang membela dan menyebarkan Islam karena?  takut kematian. Padahal, kaum Muslimin wajib memahami Islam sebagai agama yang harus disebarkan kepada seluruh umat manusia. Dan seharusnya tergerak pula untuk berusaha memperjuangkan Islam sampai titik darah yang penghabisan.</p>
<p>Itu sebabnya, kalo dipahami bahwa Islam bukan hanya akidah ruhiyah, tapi sekaligus akidah siyasiyah, maka akan ada semangat dan keinginan untuk menyebarkan lagi akidah Islam ini ke seluruh penjuru dunia. Karena sudah memahami bahwa satu-satunya agama yang mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan adalah Islam. Tentu karena Islam mengatur kehidupan dunia dan juga akhirat dalam satu paket.</p>
<p>Tapi, kalo hanya merasa bahwa Islam tuh akidah ruhiyah saja, jadinya kaum Muslimin merasa terpisah dari kehidupan dunia. Akibatnya, untuk urusan akhirat diserahkan aja deh ke ustadz, kalo untuk berdoa bagiannya ulama aja. Jadi, bagi-bagi tugas gitu. Urusan akhirat ulama, dan urusan dunia ya pejabat negara dan masyarakat. Udah deh, makin lemah dan nggak berdaya aja umat ini. Kehilangan tajinya. Ngampleh alias ngejoprak aja kerjaannya. Punya potensi yang besar, tapi nggak digunakan dengan baik dan kalo pun digunakan tapi keliru. Islam ini hebat sebagai sebuah ideologi, tapi cuma dipahami sebatas akidah ruhiyah aja. Kalo gitu, apa bedanya dengan sekularisme. Tul nggak?</p>
<p><strong>Pahami Islam sebagai ideologi</strong><br />
Sobat, jangan lagi kita menganggap bahwa Islam cuma ngurus soal akhirat aja. Islam lihai juga lho ngurus dunia. Tapi dengan catatan, yakni kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memahami Islam sebagai ideologi. Oke?</p>
<p>Sekadar menekankan aja nih, bahwa nggak ada keraguan kalo akidah Islam tuh menjelaskan bahwa sebelum ada kehidupan dunia ini ada Allah Sang Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan; bahwa Allah Pencipta manusia telah menurunkan aturan-aturanNya ke dunia ini untuk mengatur kehidupan manusia; dan bahwa manusia akan menuju alam akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga atau nerakaâ€”begantung pada terikat-tidaknya dirinya dengan aturan-aturanNya. Itulah realitas akidah Islam yang harus diyakini oleh setiap Muslim.</p>
<p>Karena itu, agama Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menaati Allah Swt. di rumah, di pasar, di mal, di kendaraan, di kantor, di sekolah, di masjid, di ruang pertemuan, di mess, di hotel, dan di setiap tempat. Demikian juga ketika makan, minum, berpakaian, berakhlak, beribadah, dan berbagai muamalah.</p>
<p>Sobat muda muslim, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: â€œKarena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.â€? (Dalam kitabnya, al-Iqtishad fil Iâ€™tiqad hlm. 199)</p>
<p>Dengan kenyataan seperti ini, tentunya kita berharap banget nih kaum Muslimin (khususnya remaja) segera nyadar. Kita ini hebat, tapi karena kita kebanyakan nggak memahami Islam sebagai ideologi, cuma tahu Islam tuh ngurus ibadah ritual belaka, maka akibatnya kita jadi lemah, tak berdaya, hilang kekuatannya, dan tumbuh subur kemaksiatan dalam kehidupan kita. Kondisi ini bikin musuh-musuh Islam seneng ati karena Islam nggak bikin mereka merasa terancam.</p>
<p>Nah mulai sekarang, kuatkan pemahaman Islam sebagai ideologi. Biar lebih mantep mengenal dan meyakini Islam. Setuju kan? [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 305/Tahun ke-7/7 Agustus 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jadikan-islam-yang-mengancam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Kita Lawan Israel!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-lawan-israel</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-lawan-israel#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 05:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/yuk-kita-lawan-israel/</guid>
		<description><![CDATA[Israel, negeri penjajah Palestina itu, kayaknya udah nyiapin segalanya sebelum penyerangan ke Libanon pada 12 Juli 2006 lalu. Sampe tulisan ini dibuat, 25 Juli 2006, korban perang itu telah mengoleksi angka hampir 400 orang yang tewas (dan catat: kebanyakan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak). 
Tujuan Israel menyerbu Libanon, sebenarnya buat menumpas kelompok Hizbullah pimpinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Israel, negeri penjajah Palestina itu, kayaknya udah nyiapin segalanya sebelum penyerangan ke Libanon pada 12 Juli 2006 lalu. Sampe tulisan ini dibuat, 25 Juli 2006, korban perang itu telah mengoleksi angka hampir 400 orang yang tewas (dan catat: kebanyakan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak). <span id="more-308"></span></p>
<p>Tujuan Israel menyerbu Libanon, sebenarnya buat menumpas kelompok Hizbullah pimpinan Syekh Hassan Nasrallah yang bercokol di Libanon. Emang sih, Hizbullah ini kerap bikin repot Israel, terutama sejak kelompok ini berdiri pasca serangan Israel ke Libanon pada Juni 1982 silam. Tapi, apa pantas Israel menghujani Libanon dengan bom dan rudal-rudalnya cuma buat nangkepin anggota Hizbullah yang udah menculik dua serdadu Israel? Kok kayaknya nggak abis pikir deh kalo alasannya cuma itu. Israel kan punya Mossad, juga punya Sayeret Matkal, dinas rahasia Israel yang konon terlatih itu. Bikin aja operasi intelijen buat membebaskan dua serdadunya yang diculik. Tul nggak seh?</p>
<p>Sobat, tentu alasan itu kayaknya cuma kedok aja. Karena tujuan utamanya adalah membungkam dan membekukan kegiatan militer Hizbullah. Selain itu, Israel juga berupaya membangun opini di mata masyarakat Libanon (bahkan mungkin dunia), bahwa kalo mereka berani membiarkan Hizbullah terus bercokol di sana, kesengsaraanlah yang bakalan didapat bagi warga Beirut.</p>
<p>Buktinya, Israel kini sudah menggelar operasi militer di darat. Mereka menjebol perbatasan Libanon dan merangsek ke dalam kota. Sebelumnya cuma berani lewat udara atau melontarkan rudal-rudal yang menghanguskan sebagian kota Beirut dan membunuh ratusan penghuninya.</p>
<p>Israel di bawah kepemimpinan Ehud Olmert memang kacau banget. Sama seperti pendahulunya yang kini tak berdaya dihajar penyakit, Ariel Sharon. Mereka memang keras sikapnya terhadap Palestina dan Libanon.</p>
<p>So, kalo diperhatiin dengan seksama, Israel tuh sebenarnya ketakutan banget dengan kekuatan Hamas dan Hizbullah. Maka, dengan dalih membebaskan seorang tentara Israel yang diculik sekelompok anak muda yang tergabung dalam Izzuddin al-Qasam&#8211;sayap militernya Hamas&#8211;mereka membombardir kawasan Gaza. Begitu pula dengan Hizbullah, Israel ngeri betul gimana merepotkannya Hizbullah yang memang memiliki senjata dan terlatih, apalagi udah masuk parlemen Libanon. Artinya mereka direstui pemerintah setempat.</p>
<p>Prediksinya, Israel kelihatannya akan terus menggempur Libanon. Jika ini yang dilakukan, maka bukan tak mungkin akan menyeret Suriah, negara tetangga Libanon, yang juga sering merepotkan Israel. â€œJika Israel menginvasi masuk ke Libanon, mereka bisa mencapai daerah yang berjarak 20 kilometer dari Damaskus,â€? kata Menteri Informasi Suriah Moshen Bilal kepada harian berbahasa Spanyol, ABC.</p>
<p>â€œApa yang bakal kami lakukan? Berdiam diri dengan senjata di tangan? Jelas tidak. Suriah bakal masuk dalam konflik ini,â€? Bilal menegaskan.</p>
<p>Kalo Suriah terlibat, maka sudah bisa dipastikan Iran&#8211;sebagai â€œkawan dekatâ€?&#8211;Suriah akan ikutan melibatkan diri. Sementara di pihak Israel, Amerika pasti nggak bakalan cengoâ€™ aja kayak orang keder. Minimal bakalan ngasih support Israel dengan peralatan militer canggihnya. Jika ini yang terjadi, seru abis!</p>
<p>Tapi kalo dipikir-pikir, Israel tuh memang wajib dikasih pelajaran dan ditindak dengan tegas. Jangan dibiarin memelihara rasa belagunya karena ada dukungan dari Amrik. Seharusnya bukan cuma Hamas dan Hizbullah yang susah-payah menahan gempuran dan berusaha mempertahankan diri dari serangan Israel, tapi negeri-negeri seperti Suriah, Libanon, Iran, bahkan Kuwait, Arab Saudi, dan Turki serta Mesir seharusnya bisa membantu. Biar Israel tahu diri kalo keberadaannya di Timur Tengah sebenarnya bermasalah.</p>
<p>But, mimpi nggak sih kalo kita ngarepin semua pemimpin Timur Tengah bergabung dan bersatu padu untuk ngancurin Israel? Kalo kondisi pemimpinnya kayak sekarang: pengecut, penakut, dan bermental inlanderâ€”kita pikir, memang mimpi kalo bisa ngalahin Israel. Jadi, ayo pada bangun! Jangan bengong aja. Lagian masaâ€™ sih kita tega diem aja ketika ada tetangga yang dihajar orang sampe babak belur? Padahal kita punya kekuatan untuk melawan si penghajar dan membantu korban. Ayo sadar diri!</p>
<p><strong>Antara Yahudi dan Zionisme</strong><br />
Yahudi tuh sebenarnya terbagi dua kategori: sebagai etnis dan sebagai agama. Sebagai etnis, orang Yahudi nggak mesti beragama Yahudi. Ada juga yang beragama Islam. Sementara Yahudi sebagai agama, adalah seperti apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam al-Quran, misalnya selalu memerangi kaum Muslimin.</p>
<p>Sementara zionisme adalah sebuah gerakan politik yang digagas Theodor Herzl. Ia telah menyusun doktrinnya sejak 1882 di Wina dan memberinya bentuk yang sistemik pada 1896 di dalam bukunya mengenai â€œNegara Yahudiâ€? (Der Judenstaat), dan mulai menerapkannya secara konkret dalam Kongres Zionis sedunia yang pertama di Bazel, Swiss pada 1897. Nah, ini sama bahayanya karena mereka bergerak di bidang politik dengan bertujuan mendirikan negara, dan ternyata memang berhasil. Ya, Israel itulah buktinya. Negara yang berdiri tahun 1948 setelah menjajah dan merampok negara Palestina.</p>
<p>Rasulullah saw., di awal masa pemerintahannya di Madinah, udah bikin perjanjian dengan kaum Yahudi di sana. Namun, Yahudi bani Nazhir, bani Qainuqa, dan bani Quraizhah membatalkan perjanjian tersebut. Nggak cuma itu, mereka bahkan menggalang kekuatan dengan kaum Quraisy dan Ghathfan untuk menyerang Nabi saw. dan kaum Muslimin. Perilaku Yahudi yang kayak gitu, membuat Rasulullah saw. marah lalu memerangi dan mengusir mereka seluruhnya dari Madinah.</p>
<p>Nah, perilaku Yahudi yang kini tergabung dalam zionisme Israel adalah sama aja dengan perilaku Yahudi di jaman dulu yang pernah bersekongkol untuk memerangi Nabi saw. dan kaum Muslimin. Allah menjelaskan dalam firmanNya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS al-Baqarah [2]: 120)</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah Swt. memberikan gambaran tentang Yahudi:</p>
<p>?£???„???…?’ ?????±?? ?¥???„???‰ ?§?„?‘???°?????†?? ?£???ˆ?????ˆ?§ ?†???µ?????¨?‹?§ ?…???†?? ?§?„?’?ƒ???????§?¨?? ?????´?’?????±???ˆ?†?? ?§?„?¶?‘???„?§???„???©?? ?ˆ???????±?????¯???ˆ?†?? ?£???†?’ ?????¶???„?‘???ˆ?§ ?§?„?³?‘???¨?????„??<br />
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka menghendaki kamu tersesat dari jalan (yang benar). (QS an-Nisaâ€™ [4]: 44)</p>
<p>So, ati-ati dah dengan mereka. Jangan sampe mereka membuat kita berpaling dari Islam atau bahkan membuat kita membela mereka. Ih, amit-amit deh.</p>
<p><strong>Israel nggak perlu ditakuti</strong><br />
Kalo ukurannya kekuatan militer, sebenarnya Israel tuh kalah jauh sama negeri-negeri Islam yang ada di kawasan tersebut. Dengan satu negara Suriah aja berimbang kok, kalo nggak mau disebut kalah. Misalnya, kekuatan pasukan darat, laut, dan udara. Israel punya 576.300 tentara (termasuk 408 ribu cadangan). Suriah memiliki 661.600 tentara (termasuk 354.500 cadangan).</p>
<p>Persenjataan? Bisa dibilang berimbang juga kok. Kapal perang Israel 18 biji (termasuk 3 kapal selam). Sementara Suriah 14 biji. Pesawat tempur (Israel 402, Suriah 632). Mungkin, jika Suriah jadi ikutan maka Israel bakalan dapat lawan seimbang ketimbang menggempur Hizbullah. Apalagi kalo seluruh kawasan Timur Tengah bersatu padu melawan Israel. Berdasarkan catatan Encarta Reference Libary Premium 2005 aja, kalo keempat negeri Muslim yang berdekatan wilayahnya dengan Israel seperti Turki, Mesir, Yordania dan Iran bergabung, maka jumlah tentara mereka sekitar 1,6 juta personel), hmmâ€¦ bakalan jadi perkedel tuh negara zionis Israel! (atau minimal jadi tempe penyet!). So, nggak perlu takut kan melawan Israel? Seharusnya sih begitu. Tul nggak?</p>
<p>Sobat muda muslim, wilayah Israel tuh kecil. Itu pun hasil penjarahan dari Palestina. Seandainya seluruh kawasan Timur Tengah menghujani Israel dengan batu pun bakalan ketutup tuh wilayah kecil mereka dengan batu. Israel tuh menang gertak doang karena merasa ada dukungan dari Amrik sebagai sahabat sejatinya. Ditambah pula dengan kepengecutan sebagian besar penguasa negeri-negeri Timur Tengah, hasilnya Israel jadi belagu. Petantang-petenteng kayak preman kampung.</p>
<p>So, jangan merasa kecil di hadapan Israel. Apa kita diem aja melihat aksi mereka membantai kaum Muslimin di Palestina? Apa kita bengong terus menyaksikan Beirut terbakar? Memang, di Libanon itu nggak semuanya Muslim, tapi Israel jelas-jelas menyerang milisi Hizbullah dengan cara ngancurin kota dan tentu aja itu berakibat sebagian besar warga sipil Libanon ikutan jadi korban.</p>
<p>Bagi kita kaum Muslimin, nggak ada alasan untuk takut ngadepin Israel. Apalagi kaum Muslimin adalah umat yang mulia. Allah Swt. berfirman:</p>
<p>?ƒ???†?’?????…?’ ?®?????’?±?? ?£???…?‘???©?? ?£???®?’?±???¬?????’ ?„???„?†?‘???§?³?? ?????£?’?…???±???ˆ?†?? ?¨???§?„?’?…???¹?’?±???ˆ???? ?ˆ???????†?’?‡???ˆ?’?†?? ?¹???†?? ?§?„?’?…???†?’?ƒ???±?? ?ˆ???????¤?’?…???†???ˆ?†?? ?¨???§?„?„?‡??<br />
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maâ€?ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imran [3]: 110)</p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah Swt. menegaskan dua perkara: Pertama, umat Mumammad saw., adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Artinya, kaum Muslim sejatinya menjadi umat terbaik dibandingkan dengan umat-umat lain di seluruh dunia. Sebab, kata frasa linn?¢s menunjukkan makna bagi seluruh manusia tanpa kecuali. Tolong dicatet ye.</p>
<p>Umat terbaik tentu bukanlah umat yang dijajah; yang pemimpinnya diciduk bahkan dibunuh, rakyatnya dibantai, kekayaannya dirampas, ekonominya dikuasai, perjanjiannya dikhianati, dan mereka dijadikan bulan-bulanan oleh umat lain. Apakah kita rela membiarkan saudara kita di Palestina dan Libanon dibantai Israel? Nggak rela banget deh.</p>
<p>Kedua, karakter sejati kaum Muslim adalah selalu melakukan amar makruf nahi mungkar; tidak hanya terhadap individu atau penguasa, tetapi juga terhadap negara-negara yang ada, terutama negara-negara besar yang merampas kekayaan mereka, yang membantai rakyat mereka, dan lain-lain. Jadi, ayo para penguasa negeri-negeri Muslim, kalian kudu berani melawan Israel dan Amerika. Jangan takut!</p>
<p>Sobat, untuk melawan Israel ama Amrik emang dibutuhkan kesatuan. Ngelawan Israel nggak cukup dilakukan Hamas dan Hizbullah, tapi seluruh umat Islam. Itu sebabnya, umat Islam perlu dan wajib memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar dan kuat, yang mampu menghentikan kejahatan negara besar macam Amerika. Tanpa kekuatan demikian, umat Islam cuma bisa bengong dan bingung sambil menyaksikan kejahatan musuh-musuhnya tanpa berani melawan. Hmm.. jangankan melawan Amrik, wong ngelawan Israel yang kecil aja kayaknya takut banget, gitu lho. Aduh, benar-benar mengenaskan!</p>
<p>Nah, sebagai catatan bahwa kedua karakter yang diberikan sebagai ciri umat Islam tersebut baru akan diraih dengan maksimal ketika umat Islam menerapkan syariat Islam dan menyatu sebagai satu tubuh di bawah kesatuan Khilafah Islamiyah. Jadi, tentu saja kita terus kampanyekan agar syariat Islam ini bukan sebagai spirit aja, tapi formal alias diterapkan sebagai ideologi negara.</p>
<p>Oya, khusus untuk kasus ini, nggak ada salahnya juga buat kita kalo mau ngasih pelajaran bagi Israel saat ini. So, yuk kita lawan Israel. Perangi sekarang juga. Berani kan? Allahu Akbar![solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 304/Tahun ke-7/31 Juli 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yuk-kita-lawan-israel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Menempuh â€˜Hidup Baruâ€™</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/selamat-menempuh-hidup-baru</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/selamat-menempuh-hidup-baru#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 05:03:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/selamat-menempuh-hidup-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Lingkungan baru, temen-temen baru, atau guru-guru baru. Kondisi ini yang sering ambil bagian dalam balada para siswa baru saat menginjakkan kakinya di sekolah baru. (Hmmâ€¦jadi nostalgia deh. Inget waktu masih muda). Yup, memasuki lingkungan baru di sekolah emang punya daya tarik tersendiri. Ada yang bikin bahagia, tapi nggak sedikit juga yang bikin manyun. Ih sebel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lingkungan baru, temen-temen baru, atau guru-guru baru. Kondisi ini yang sering ambil bagian dalam balada para siswa baru saat menginjakkan kakinya di sekolah baru. (Hmmâ€¦jadi nostalgia deh. Inget waktu masih muda). Yup, memasuki lingkungan baru di sekolah emang punya daya tarik tersendiri. Ada yang bikin bahagia, tapi nggak sedikit juga yang bikin manyun. Ih sebel deh!<span id="more-307"></span></p>
<p>Yang bikin bahagia, apalagi kalo bukan petualangan menaklukkan lingkungan baru. Berusaha mencairkan kekakuan antara kita dengan orang-orang â€?anehâ€™ yang baru dilihat. Atau saat kita mulai mengkoleksi â€?benda-bendaâ€™ yang bikin kita tetep semangat untuk berangkat sekolah. Mulai dari temen deket, tempat ngeceng, jajanan favorit, guru favorit, lawan jenis favorit, kakak kelas favorit, sampe penjaga pintu gerbang favorit (biar bisa diizinin masuk kalo kesiangan). Seru kan?</p>
<p>Yang bikin manyun, biasanya kita dianggap junior alias anak bawang yang udah dikutuk kudu ngikutin segala bentuk aturan tak tertulis dari para senior. Hiks..hiks..hiks.. Terutama pas hari pertama jalanin masa-masa orientasi atau perkenalan. Bukannya karpet merah atau sambutan meriah yang kita dapet, malah seabrek tugas untuk membawa barang-barang aneh bin ajaib keesokan harinya. Bayangin aja, udah mah rambut di multi-kepang (kepang banyak) pake tali rapia, tas dari keresek item, kaos kaki bola, masih kudu bawa telor seperempat matang atau guling yang isinya benang. Kalo nggak cerdas, alamat kena hukuman tuh. Ampun dah!</p>
<p>Santai aja sobat, suka dan duka di sekolah baru, emang udah biasa. Yang nggak boleh dianggap biasa, saat kita bikin masalah atau malah jadi biang masalah di lingkungan baru. Kita bakal dianggap songong ama kakak kelas, dicemberutin temen seangkatan, dan yang lebih parah berurusan dengan pihak sekolah. Berat tuh tanggung jawabnya. Makanya mumpung masih jadi siswa baru, dari awal kita bikin kesan yang baik untuk semua. Biar pendidikan kita lancar dan yang penting nggak bikin ortu kecebong eh kecewa. Yuk?</p>
<p><strong>Saatnya mencari bekal</strong><br />
Sobat, kisah petualangan kita selaku siswa baru di sekolah baru pastinya diawali saat masa orientasi yang unforgetable. Yup, sejak saat itu pelan-pelan tapi pasti, tanpa kita sadari otomatis kita ngumpulin â€?bekalâ€™ buat jalanin hari-hari berikutnya. Emang, bekal apa sih yang doyan dikumpulin siswa baru?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, teman. Keberadaan seorang teman udah jadi kebutuhan primer buat kita dalam bergaul. Apalagi saat memasuki sekolah baru. Berburu teman pantes diagendakan di awal-awal sekolah. Selain bisa berbagi rasa, kecewa, atau bahagia, adanya teman juga bikin kita nggak sendiri dalam lingkungan yang belum dikenal. Meski penting punya teman, bukan berarti kita dapetinnya asal. Bukan berarti pula kita sampe perlu ngadain audisi untuk nyari teman. Ribet amat. Yang penting, kita punya temen selevel sahabat yang saling bantu baik materil maupun spirituil. Kayak Audi dan Nindi gitu deh. Ehm..</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tempat tinggal (buat yang nge-kost). Untuk pelajar atau mahasiswa yang dateng jauh-jauh dari luar kota, nyari tempat tinggal sementara buat nge-kost nggak bisa disepelein. Selain untuk menghemat ongkos, jadi anak kost punya keuntungan bisa belajar bareng dan lebih bersosialisasi dengan teman sebaya atau masyarakat luas. Nggak heran kalo di lingkungan kampus, aneka macam kost sudah tersedia. Dari yang murah meriah hingga yang mewah dengan fasilitas serba wah. Sesuaikan aja dengan kocek ortu.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, kakak kelas. Sebagai senior, kakak kelas yang udah duluan makan asam garam (nggak ada kerjaan ya pake makanin asem ama garem segala) di sekolah pasti punya segudang pengalaman berharga. Pengalaman suka-duka mereka bisa bantu kita lebih siap menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Syukur-syukur nggak cuman pengalaman yang mereka wariskan, tapi juga buku pelajaran yang masih bisa dipake. Lumayan dari pada beli. Seperti kata tukang loak, biar bekas yang penting berkualitas. Makanya, punya kenalan kakak kelas itu penting. Tinggal pandai-pandai kitanya aja nempatin diri di hadapan senior. Nggak pake SKSD (sok kenal sok deket) atau cuek bebek. Yang wajar-wajar aja lah. Ekoy, eh, okey?</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kegiatan. Setiap sekolah pasti punya kegiatan ekstra kurikuler sebagai media penyaluran bakat seni, olahraga, intelektual, atau agama bagi para siswanya. Nggak ada salahnya kalo kita ambil salah satu. Siapa tahu bisa menggali bakat kita yang terpendam. Plusnya lagi, para penghuni eks. skul biasanya nggak bikin gap meski beda generasi dan latar belakang. Temen beda kelas, kakak kelas, alumni, sampe guru semuanya berbaur. Itu artinya kita bakal punya lebih banyak temen dan kenalan. Asyik dong?</p>
<p><strong>Ngumpulin bekal yang asyik</strong><br />
Sobat, daftar perbekalan yang kita kumpulin untuk ngadepin situasi kondisi di lingkungan sekolah baru selalu punya dua kencenderungan. Baik dan buruk. Tergantung bekal seperti apa yang kita pilih. Itu sebabnya, kita kudu hati-hati bin selektif dalam memilihnya. Bukannya pilih kasih, cuma jaga-jaga aja. Kalo salah pilih, bukannya membantu malah menjerumuskan kita. Berabe banget kan?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, teman. Untuk urusan temen, Rasulullah saw. mengingatkan kita dalam sabdanya: â€œorang itu mengikuti agama teman dekatnya, karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekatâ€? (HR. Tirmidzi)</p>
<p>Teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik buat kita. Dalam belajar, bergaul, atau menghadapi masalah. Sehingga kita merasa nyaman bersamanya tanpa khawatir melupakan kewajiban belajar atau beribadah pada Allah Swt. Itu berarti teman yang baik nggak sungkan untuk saling menasihati dan mengingatkan di saat khilaf. Figur teman yang baik model gini lahir dari ketaatannya pada Allah dan RasulNya. So, carilah teman yang bisa ngajak kita untuk taat, bukan bermaksiat. Kalo soal penampilan, itu mah selera masing-masing. Silahkan aja pilih yang borju, gaul, sporty, tawadhu, funky, atau nyantri, yang penting takwa. Yuk!</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tempat tinggal. Selain teman, lingkungan sekitar juga punya pengaruh yang kuat dalam membentuk watak dan karakter kita. Abu Musa meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: â€œperumpamaan tentang teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk adalah ibarat penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Maka dari penjual minyak wangi kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium keharumannya, sedangkan dari tukang pandai besi kalian bisa terjilat api yang membakar pakaian atau kalian akan terkena asapnya. (HR Bukhari)</p>
<p>Saran kita carilah tempat tinggal/kost-an yang nyaman untuk belajar;?  kondusif dalam membentuk kebiasaan baik (good habit) kita sehari-hari; mengajarkan kita untuk mandiri dan disiplin; mendorong diri kita untuk lebih dekat dengan Allah Swt. Seperti bangun tidur on time untuk shalat shubuh, berolahraga, menjaga kebersihan kost-an, ada waktu untuk mencairkan sikap ego bin individualis antar penghuni, dan yang terpenting ada kegiatan keagamaan yang membantu kita mengenal Islam lebih dalam. Hmm&#8230;indahnya&#8230;.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, kakak kelas. Menjaga hubungan baik dengan kakak kelas bukan semata-mata jadi kambing congek yang melulu dengerin pengalamannya, pengen jadi ahli waris buku pelajarannya atau malah nyari â€?bekingâ€™ (pelindung) lho. Walaupun ada oknum kakak kelas yang jutek, sok kuasa, atau gila hormat, kita tetep menghormatinya sebagai senior yang udah duluan menghuni sekolah. Jadi hubungan baik dengan mereka lantaran kita satu keluarga besar dalam sekolah yang sama.</p>
<p>Di sisi lain, kita boleh aja deket (bukan pacaran lho) dengan kakak kelas sejenis (cowok-cowok atau cewek-cewek). Karena secara pribadi mereka bisa kita jadikan panutan. Untuk urusan ini, baiknya kita dekat dengan senior yang punya track record bagus. Baik dari sisi prestasi akademis maupun perilaku. Agar bisa ngasih pengaruh yang baik juga buat kita.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kegiatan. Untuk yang satu ini, kita sarankan carilah komunitas pengajian sebagai kegiatan utama. Bukan apa-apa, karena kegiatan ini yang paling besar manfaatnya buat kebaikan kita di dunia dan akhirat. Di tempat ini, kita bisa bersama-sama belajar mengenal Islam lebih dalam. Sama-sama membangun benteng akidah yang akan menjaga diri kita dari pengaruh buruk lingkungan. Dan yang terpenting, kita termotivasi untuk melatih diri agar menjadi orang yang bermanfaat untuk keluarga, lingkungan, dan umat. Siip kan?</p>
<p><strong>Kenalilah diri kita</strong><br />
Sobat, status junior bukanlah aib yang kudu dibenci. Apalagi sampe punya niat untuk balas dendam kalo udah jadi senior. Idih, nggak lah yauw!</p>
<p>Makanya nggak usah pake minder atau ngerasa rendah diri cuma lantaran status kita junior. Justru kita kudu bersyukur. Soalnya, sebagai pendatang baru yang belum banyak tahu biasanya punya rasa ingin tahu yang gede. Rasa penasaran ini bisa jadi modal buat kita untuk menimba ilmu. PDOD alias percaya diri over dosis tanya sana-sini-situ ama guru, kakak kelas, satpam, tukang bersih-bersih sekolah, atau para penjual di kantin. Ujung-ujungnya kita punya kenalan banyak dan punya banyak info tentang lingkungan baru kita. Asyik kan? Yuuk!</p>
<p>Dan yang kita nggak boleh lupa, suatu saat kita akan dapat giliran menggantikan orangtua yang udah waktunya turun tahta. Itu berarti keberadaan kita sekarang akan melanjutkan kehidupan di masa depan. Untuk diri kita, lingkungan, masyarakat, maupun umat. Tolong dicatat ye.</p>
<p>Itu sebabnya, mumpung kita masih muda, galilah ilmu di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Hiasilah hari-hari kita dengan mengulang pelajaran sekolah, membaca buku/bacaan yang bermanfaat, atau nonton berita untuk mengetahui kondisi saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Bergeraklah. Jangan biarkan diri kita seperti air yang menggenang yang akan berbau busuk dan menjadi sarang penyakit. Jadilah air yang mengalir yang akan memberikan manfaat pada setiap jalan yang dilaluinya.</p>
<p>Kembangkanlah potensi yang kita miliki untuk kebaikan, kemaslahatan orang lain, dan dakwah Islam. Jangan biarkan kita tergoda untuk mencicipi jalan pintas meraih popularitas melalui ajang pencarian bakat seperti yang kini marak tayang di televisi. Jauhkanlah bayangan bahwa semua kesuksesan akan mendatangkan keuntungan materiil yang melimpah di atas piring emas. Yang ada, justru kemenangan terburuk akan kita peroleh jika selalu dan hanya mengukur kesuksesan dengan keuntungan duniawi. Berlombalah mendapatkan kemenangan terbaik ketika ridha Allah selalu menyertai setiap perilaku kita.? </p>
<p>Terakhir, mari kita sama-sama menjadi pengemban dakwah Islam yang handal. Generasi muda yang rindu surgaNya. Sebagaimana tercermin pada sosok pemuda pahlawan Islam seperti Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol atau Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel (Istambul). Nah, kalo nggak sekarang, kapan lagi, coba? Selamat menempuh â€?hidup baruâ€™! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 303/Tahun ke-7/24 Juli 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/selamat-menempuh-hidup-baru/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Miss Universe Versi Asli</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/miss-universe-versi-asli</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/miss-universe-versi-asli#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 04:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/miss-universe-versi-asli/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah gelaran World Cup 2006 di Jerman, perhatian penduduk dunia mulai beralih ke pesta tingkat dunia lainnya yaitu kontes Miss Universe 2006 di Amerika Serikat. Sebanyak 85 perempuan dunia wakil dari negaranya masing-masing berkumpul untuk sebuah gelar kecantikan. Masing-masing peserta akan unjuk kebolehan dalam 3 B yaitu Brain, Beauty and Behaviour. Tapi dengar-dengar ada satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah gelaran World Cup 2006 di Jerman, perhatian penduduk dunia mulai beralih ke pesta tingkat dunia lainnya yaitu kontes Miss Universe 2006 di Amerika Serikat. Sebanyak 85 perempuan dunia wakil dari negaranya masing-masing berkumpul untuk sebuah gelar kecantikan. Masing-masing peserta akan unjuk kebolehan dalam 3 B yaitu Brain, Beauty and Behaviour. Tapi dengar-dengar ada satu B lagi yang ditambahkan yaitu Brave. <span id="more-306"></span></p>
<p>Jelas aja semua kontestan pada kepingin bisa menyabet gelar bergengsi sebagai Miss Universe. Selain ketenaran yang bakal diperoleh, materi berlimpah yang akan mengucur seiring kemenangan, juga pasti tak terelakkan. Apalagi beberapa media nasional di masing-masing negara memberi porsi yang cukup lumayan untuk mengeksposnya, tak terkecuali di negeri si Komo ini. Jadilah, ia santapan masyarakat kita selama dua minggu sejak karantina hingga malam Grand final.</p>
<p>Tapi kenapa sih, bahasan ini selalu saja disuguhkan STUDIA setiap tahunnya? Ini tak lain dan tak bukan karena kami peduli dan khawatir terhadap perkembangan remaja putri di Indonesia. Cewek seusia kamu banyak yang mengidolakan untuk jadi kaya mendadak melalui kontes sejenis tanpa mengindahkan ada apa sebetulnya di balik semua gemerlap penyelenggaraan Miss Universe. Yuk kita preteli satu demi satu biar kita waspada terhadap kontes beginian.</p>
<p><strong>Di balik 4 B<br />
</strong>Brain, Beauty, and Behaviour yang sekarang ditambah dengan Brave, sebetulnya?  adalah slogan pemanis untuk eksploitasi perempuan. Kalo memang Brain yang dijadikan tolok ukur, seharusnya pelajar-pelajar putri berprestasi dalam bidang Olimpiade Fisika atau Matematika tingkat dunia lebih pantas menyandang gelar Miss Universe daripada mereka yang tampil lenggak-lenggok di atas catwalk itu. Tapi apa faktanya? Ternyata tubuh ramping dengan tinggi badan tertentu lebih menjadi persyaratan utama. Padahal banyak juga di antara para kontestan itu yang ternyata nggak bisa bahasa Inggris. Padahal itu bahasa komunikasi Internasional saat ini.</p>
<p>Beauty is in the eye of the beholder. Kecantikan itu tergantung siapa yang melihat. Standard cantik antara satu orang dengan yang lain tidak selalu sama. Bagi orang negro, cewek hitam manis adalah cantik. Bagi orang bule, cewek berambut kayak rambut jagung alias blonde disebut cantik. Bagi ortumu, kamu adalah cewek tarcantik di seluruh dunia. Bagi ayahmu, ibumu adalah perempuan teranggun yang pernah ditemuinya. Begitu juga dengan cewek tetangga sebelah yang menurut ibunya, ia pasti cakep banget.</p>
<p>Peribahasa di atas sangat nggak konsisten kalo dikaitkan dengan ajang miss-miss-an ini. Belum lagi bahwa beauty alias kecantikan adalah sesuatu yang sudah given dari sononya alias takdir. Kamu nggak bisa memilih untuk dilahirkan mempunyai hidung mancung, mata indah bak bola ping pong, dagu belah yang seksi, dan tubuh ramping laksana papan penggilesan. Beauty dari segi ini betul-betul ajang diskriminasi untuk perempuan-perempuan yang tidak sesuai kriteria di atas. Kalo pun ada yang berkilah inner beauty, ah&#8230;itu kan cuma lip service aja. Toh ketika disuruh menjelaskan maknanya sering banget jaka sembung alias nggak nyambung.</p>
<p>Behaviour. Perilaku seseorang dinilai selama 2 minggu masa karantina saja. Keramahan, sikapnya terhadap sesama teman kontestan lain, kelembutan dll. Padahal perilaku adalah sebuah pola sikap yang muncul dari kepribadian seseorang yang didapat dari sebuah kebiasaan yang ditanamkan secara terus menerus. Ia tidak cuma berupa cara duduk bagaimana meletakkan kaki, bagaimana posisi tangan dan bahu. Bila ini yang dinilai maka sungguh naif sekali.</p>
<p>Dalam kontes kecantikan ini, perilaku seseorang ditentukan hanya dalam waktu 2 minggu. Padahal bagi seseorang yang pintar acting, bukan hal sulit baginya untuk menampilkan perilaku seanggun putri salju dalam rentang waktu sesingkat itu. Mengenai gimana perilakunya di luar setelah mahkota impian diraih, itu urusan belakangan. Toh, persyaratan akan larangan berpose vulgar (bugil) bagi para kontestan, juga hanya tinggal peraturan. Mungkin dalam benak mereka sama seperti yang ada dalam mayoritas benak aparat di Indonesia, peraturan ada untuk dilanggar (watau&#8230;gawat juga ternyata).</p>
<p>Brave adalah sebuah tambahan yang pernah dicetuskan oleh Artika Sari Devi ketika pengirimannya ke ajang kontes ini menuai banyak kecaman. Menurutnya menjadi wakil Miss Universe dari Indonesia membutuhkan keberanian akibat kontroversinya yang masih mewarnai di tanah air. Sorotan paling tajam adalah adanya persyaratan wajib mengenakan baju renang baik one piece atau two pieces alias bikini.</p>
<p>Biasanya para duta pamer aurat ini berkilah dengan memakai yang jenis one piece dengan alasan lebih sopan daripada yang bikini. Brave ini dibutuhkan bukan karena urat malunya sudah putus dengan pamer aurat di depan umum, tapi lebih kepada berani karena melawan suara-suara yang kontra. Bahkan tak jarang bagi kontestan yang kebetulan Muslim, mereka menyebut kejadian seperti ini sebagai ujian dari Allah. Walah?</p>
<p>Miss Universe yang sedang berlangsung saat ini adalah palsu. Karena ia menampilkan sosok yang tidak mewakili perempuan secara sebenarnya. Sebaliknya, Miss Universe yang saat ini diperebutkan gelarnya adalah sarana eksploitasi perempuan berkedok 4 B semu. Brain, beauty, behaviour dan brave cuma alat untuk menutupi pemilihan dengan kriteria sesungguhnya yaitu beauty yang bermakna fisik. Mulai ujung rambut hingga ujung kaki, semua diukur dengan kalkulasi pelecehan terhadap harga diri perempuan. Seberapa bagus leher perempuan hingga seberapa jenjang kaki perempuan bahkan sampai ke ukuran (maaf) bra dan celana dalam, semuanya dinilai, diukur dan menjadi konsumsi juri dan publik. Sehingga bukan hal aneh bila salah satu syarat wajib yang harus diikuti adalah tampil dengan memakai baju renang baik one piece atau two pieces alias bikini yang cuma digunakan untuk menutupi daerah vital perempuan.</p>
<p><strong>Miss Universe sebenarnya</strong><br />
Bila kriteria Miss Universe seperti yang diuraikan di atas, duh&#8230;.sempit banget kan? Padahal seharusnya gelar Miss Universe itu patut diberikan kepada mereka yang benar-benar pantas untuk menyandang gelar Universe. Seorang perempuan yang cerdas dan dari segi wawasan memang bener-bener mendunia. Ia seorang perempuan yang kepeduliannya terhadap masyarakat bukan sekadar basa-basi agar memenangkan gelar dalam sebuah kontes. Tapi ia benar-benar melakukan tindakan nyata bergerak di tengah masyarakat untuk sebuah kebangkitan hakiki. Ia mampu berpikir untuk menganalisa permasalahan dengan tajam dengan analisa akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Penggodokan kepribadiannya tak perlu mengambil kursus yang memakan dana banyak demi sebuah behaviour semu. Cukuplah ia digodok dengan matang minimal seminggu sekali untuk diasah pola pikir dan pola sikapnya agar selaras dan unik. Seorang perempuan yang anggun secara behaviour dan cerdas secara nyata dari segi brain akan muncul dari kursus kepribadian ini. Dari segi Beauty, semua cewek all around the world boleh mengikuti kontesnya. Nggak perlu ada pembatasan tinggi badan minimal, berat badan ideal, bentuk tubuh seksi atau apa pun yang memang tak ada kaitannya dengan gelar selevel Universe.</p>
<p>Lalu tentang Brave, jangan ditanya lagi deh. Gimana nggak kalo setiap aktivitas yang dilakukannya emang dilakoni dengan penuh risiko. Kalo wakil dari Indonesia yang melenggang ke perhelatan Miss Universe butuh brave karena harus siap menghadapi hujatan dan kritikan dari pihak yang tidak setuju, perempuan Universe versi ini lain. Ia harus siap berkorban bukan hanya mental dan perasaan aja, tapi sudah pada tataran raga dan nyawa.</p>
<p>Itu sebabnya, dengan brain yang ia miliki, ia mampu membongkar makar keji para perusak dunia sebenarnyaâ€”dalam hal ini Amerika dan sekutunya. Ia berani bergerak di tengah-tengah masyarakat dalam upaya penyadaran akan bahaya besar yang mengancam. Termasuk bahaya besar dalam pelaksanaan kontes kecantikan bertajuk â€œMissâ€? apa pun itu.<br />
? <br />
<strong>Jadi Miss Universe sesungguhnya</strong>? <br />
Ketika kriteria penilaian Miss Universe palsu harus melewati sesi wawancara, baju renang dan gaun malam, maka Miss Universe asli punya standar beda. Sesi wawancara tetap diadakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kandidat terhadap suatu masalah, sudut pandang serta solusi yang mampu ditawarkannya untuk membuat dunia ini lebih baik. Sesi baju renang yang jelas-jelas melecehkan kaum perempuan karena setiap detil anggota tubuhnya yang berupa aurat diukur dan dinikmati harus dihilangkan. Yang ada tinggal sesi gaya berbusana seorang perempuan yang telah ditetapkan aturannya oleh Allah Swt., sehingga akan menyelamatkan harkat dan martabat kemanusiaannya.</p>
<p>Pakaian yang mengangkat derajat perempuan adalah pakaiannya orang modern dan bukan pakaian kuno jaman Flinstone yang cuma one piece or two piece alias bikini. Bukan yang itu. Tapi pakaian modern adalah busana yang dibalut rasa malu karena landasan keimanan. Pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Yang boleh melihat selain kedua bagian itu cuma orang-orang yang berhak melihatnya semisal suami dan para mahram. Keindahan tubuhnya yang merupakan kodrat seorang perempuan begitu dilindunginya, bukan untuk diobral. Pada sesi berpakaian ini dinilai kekonsistenan perempuan dalam memakainya. Apakah sekadar untuk ikut-ikutan mode ataukah karena ketakwaan? Ada Sang Juri, jika boleh dikatakan demikian, yakni Allah Swt. yang akan menilainya dengan oyektif dan adil. Tak akan ada satu pihak pun yang merasa dirugikan.</p>
<p>Sesi berikutnya adalah penilaian dalam partisipasi dan kiprahnya untuk menjadikan lingkungan sekelilingnya menjadi lebih baik. Apakah ia sosok perempuan yang aktif menggerakkan masyarakatnya ataukah ia cuma perempuan yang aktif bersolek dan sok sibuk melakukan aktivitas sosial demi sorotan kamera. Perempuan yang masih memelihara rasa malu sebagai bagian dari peradaban. Perempuan yang tangguh dan tegar tanpa kehilangan sisi keperempuanannya. Tapi uniknya, ia tidak mengeksploitasi sisi keperempuanannya dalam hal fisik alias pamer aurat.</p>
<p>Ia bisa menjadi perempuan sebagai anak yang berbakti pada orangtua, perempuan sebagai istri yang baik bagi suaminya, perempuan sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan perempuan sebagai anggota masyarakat untuk menjadi agent of change ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Miss Universe yang ini kualitasnya boleh dan sangat bisa dipertanggungjawabkan di hadapan seluruh penduduk bumi. Bahkan aura kepribadiannya mampu mengguncangkan langit. Inner beauty-nya benar-benar nyata, bukan sekadar slogan. Ia benar-benar mewakili perempuan secara universal karena ia tak mewakili daerah mana pun atas nama nation/bangsa.</p>
<p>Ia mampu berdiri tegak meski tanpa sorotan kamera dunia. Karena yang ia butuhkan adalah sorotan kamera untuk diputar ulang di saat hari perhitungan kelak. Jadi, tak ada kepura-puraan dalam dirinya. Tak ada senyum palsu hanya agar mendapat applaus pengunjung. Lenggak-lenggoknya bukan di atas catwalk, tapi di antara becek dan terjalnya jalan menuju majelis ilmu dan berusaha menyebarkan serta mengamalkannya di tengah masyarakat.</p>
<p>Kalo Miss Universe versi ini (boleh dibilang yang asli deh), tak ada lagi persyaratan tinggi dan berat badan jadi ukuran. Semua perempuan di dunia ini punya hak untuk menjadi kontestan. Dan saya yakin 1000% bahwa dengan adanya perempuan unik semacam ini, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih baik dari hari ini. A better place to live.</p>
<p>Hmm&#8230; ini tentu agar tak rancu dengan kontes hedonis ala Miss Universe palsu, kita sebut aja kontes ini dengan pemilihan Akhwat Universe yang jurinya adalah Sang Maha Juri alias pemilik langit dan bumi yang keadilanNya tak diragukan lagi. Hadiahnya sangat menggiurkan lagi, kemuliaan di dunia dan derajat tinggi di akhirat. So, kalo kontes beginian yang diperebutkan, mau dong ikutan. Yuuukkkk&#8230;.![ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 302/Tahun ke-7/17 Juli 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/miss-universe-versi-asli/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasionalisme Sepak Bola</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nasionalisme-sepak-bola</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nasionalisme-sepak-bola#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 04:57:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/nasionalisme-sepak-bola/</guid>
		<description><![CDATA[Adios Brasil! Inggris Menangis! Argentina Terkapar! Mimpi Ukraina tak berlanjut! Mereka dikalahkan lawan-lawannya pada duel seru di lapangan hijau di babak perempat final dalam ajang sepak bola sejagat bernama World Cup 2006 di Jerman.
Magico Quartet Brasil: Ronaldinho, Kaka, Ronaldo dan Adriano bertekuk lutut di hadapan pasukan â€œAyam Jantanâ€? yang dimotori dua gelandang hebat Perancis, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adios Brasil! Inggris Menangis! Argentina Terkapar! Mimpi Ukraina tak berlanjut! Mereka dikalahkan lawan-lawannya pada duel seru di lapangan hijau di babak perempat final dalam ajang sepak bola sejagat bernama World Cup 2006 di Jerman.</p>
<p>Magico Quartet Brasil: Ronaldinho, Kaka, Ronaldo dan Adriano bertekuk lutut di hadapan pasukan â€œAyam Jantanâ€? yang dimotori dua gelandang hebat Perancis, yang kebetulan keduanya muslim: Zinedine Yazid Zidane dan Frank Ribery. Bahkan, Ribery yang dijuluki â€œsi mobil balapâ€? dengan sebutan Ferraribery oleh suporter klub Galatasaray Turki tempatnya bermain, mengatakan bahwa, â€œIslam memberi saya kekuatan di atas lapangan,â€? ujar pemuda kelahiran 7 April 1983 yang menikahi gadis muslimah al-Jazair ini. Brasil pun pergi meninggalkan Jerman dengan cemoohan dan cacian dari para penggemarnya yang kecewa.<span id="more-305"></span></p>
<p>Inggris lebih parah, dua kali ketemu Portugal dua kali gagal. Pertama di Euro 2004 dan kini di World Cup 2006. â€?Kutukanâ€™ adu penalti itu membuat Inggris tak pernah menang lawan Portugal di dua ajang hajatan sepak bola bergengsi itu. Inggris menangis. Sementara pendukung fanatiknya melampiaskan kekecewaan atas kekalahan timnya dengan aksi brutal. Polisi menahan sedikitnya 180 hooligan di Gelsenkirchen, Jerman sesaat setelah tim kesayangannya dijegal Portugal. Mereka juga ngamuk di Kepulauan Jersey, London, yang dihuni lebih dari 5.000 warga keturunan Portugal. Yeee.. kalah kok ngamuk!</p>
<p>Roberto Ayala dan Esteban Cambiasso mungkin akan menjadi â€?kambing hitamâ€™ kekalahan Argentina gara-gara tendangan penaltinya dalam tos-tosan (adu tendangan penalti) digagalkan kiper Jerman, Jens Lehmann. Argentina terkapar digilas pasukan Der Panzer. Jerman pesta, Argentina berduka. Kalo Jose Pekerman, pelatih tim â€œTangoâ€? Argentina cukup mengerti lagu dangdut di sini, kayaknya langsung deh bilang ke Juergen Klinsmann, pelatih â€œTim Panserâ€? Jerman sambil nyanyi lagu: â€œPestamu Dukakuâ€?. Eit, tapi Juergen Klinsmann pun mungkin akan balas nyanyiin lagu: Donâ€™t Cry for Me Argentinaâ€¦</p>
<p>Ukraina sebagai tim underdog alias nggak diunggulkan nggak terlalu dicela para pendukungnya meski dicukur Italia 3-0 lewat gol Gianluca Zambrotta dan dua gol hasil sumbangan Luca Toni. Para â€?mutanâ€™ Chernobyl ini pulang dengan tenang sambil menikmati mimpi yang nyaris jadi kenyataan. Sayang, mimpinya direnggut pasukan elang Azzurri yang ganas. Sementara Italia akan bertarung saling bunuh dengan Jerman.</p>
<p>Sesaat setelah kemenangan itu, media Italia pun langsung sesumbar. â€œJerman, kami akan mengalahkan kamu!â€? tulis Harian Italia, Corriere dello Sport. Ini merupakan balasan atas artikel yang ditulis berita mingguan Der Spiegel, yang menyebut pemain Italia â€œParasitâ€? dan â€œAnak Mamiâ€?. Corriere menulis lebih lanjut, â€œMereka berkata kami akan mengeluarkan uang untuk menang. Azzurri akan menutup mulut mereka, mengalahkan mereka, di rumah mereka sendiri. Kami akan melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Tunggu saja!â€?</p>
<p>Dan&#8230; ternyata di lapangan hijau pasukan Azzurri Italia berhasil menghentikan Der Panzer Jerman secara dramatis di babak semi final Piala Dunia 2006 dengan skor 2-0. Jerman pun berurai air mata. Italia suka-cita.</p>
<p><strong>Membangkitkan nasionalisme</strong><br />
Prestasi Ueber Alles yang mengkilap di Piala Dunia ini&#8211;meski cuma sampe di semi final&#8211;telah berhasil membangkitkan kembali semangat patriotisme dan nasionalisme banyak rakyat Jerman yang selama ini nggak pede dengan kejermanannnya. Mereka malu dengan sejarah kelam Nazi pimpinan Adolf Hitler yang rasis.</p>
<p>Tapi kini, setelah Jerman cukup perkasa di ajang sepak bola sejagat itu, mulai merambat rasa percaya diri rakyat Jerman. Bundesflagge alias bendera hitam-merah-emas yang selama ini jarang disentuh, kini marak dikibarkan di pelosok kawasan Bavaria itu.</p>
<p>Seorang kolumnis ternama bernama Franz Josef Wagner, 63 tahun, mengakui hal tersebut. Dia menulis di harian Berliner Zeitung setelah menyaksikan kegairahan masyarakat Jerman mengibarkan bendera Schwarz-Rot-Gold (Hitam-Merah-Emas) untuk mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia. Bendera nasional ditemui di segala sudut kota dan desa, di kaca spion mobil, di atas atap rumah, juga di dekat kanal-kanal air yang tersebar di hampir semua daerah.</p>
<p>Para suporter Jerman juga mulai rajin dan bangga menyanyikan kalimat pertama dari lagu kebangsaan Jerman, Das Deutschlandlied: Deutschland, Deutschland ueber allesâ€¦! (Jerman, Jerman di atas semuaâ€¦!) dengan semangat patriotik di setiap pertandingan tim kesayangannya tersebut.</p>
<p>Bahkan Kanselir Jerman, Angela Merkelâ€”yang tumbuh dalam tradisi Jerman Timurâ€”menyebut hal ini sebagai nasionalisme dan patriotisme Jerman yang baru. Tak ada hubungannya dengan Ueber Alles dalam doktrin Hitler, yang hanya mengakui keunggulan ras Arya mereka.</p>
<p>Ketika empat negara yang masuk semifinal semuanya dari benua Eropa, maka ada saja orang yang kemudian menghubungkan bahwa Eropa lebih baik ketimbang tim dari benua Amerika, Asia, dan Afrika. Apalagi Asia, hampir semua wakilnya gugur di babak awal: Iran, Korea Selatan, dan Arab Saudi. Hanya Australia (yang mulai 2005 lalu resmi disetujui FIFA untuk masuk AFC, federasi sepak bola kawasan Asia) yang berhasil menembus babak kedua, sebelumnya akhirnya dihempaskan Italia lewat kemenangan kontroversialnya.</p>
<p>Afrika? Negeri ini hanya menyisakan pasukan â€œBintang Hitamâ€? Ghana di babak kedua sebelum akhirnya harus mengakui keperkasaan Brasil. Ghana angkat koper dari Jerman setelah digunduli Brasil 3 gol tanpa balas. Empat negara Afrika sudah KO di babak pertama: Tunisia, Togo, Angola, dan Pantai Gading.</p>
<p>Sobat, dengan kondisi seperti ini, meski diakui bahwa sepak bola tuh sekadar olahraga, bahkan diakui bisa mempersatukan beragam bangsa yang berbeda warna kulit, bahasa, dan budayaâ€”tapi ternyata pada parktiknya tetap saja kerepotan menahan laju nasionalisme yang digerakkan para pendukung tim kesayangan masing-masing. Itu sebabnya, meski FIFA sudah mengantisipasi dengan mengeluarkan semboyan â€œLetâ€™s Kick Racism Out of Football!â€?, tapi tak kuat juga menahan gelombang nasionalisme (termasuk kesukuan, ras dan etnis) yang sangat boleh jadi akan membawa-bawa sikap rasis dari para pendukung tim sepak bola negara yang berlaga di ajang tersebut.<br />
Yup, sepak bola yang seharusnya bisa dinikmati sebagai tontonan dan hiburan malah menjadi petaka dan bikin ribet. Awalnya saling ejek, tapi lama-lama malah jadi adu fisik.</p>
<p>Masih inget Tragedi Heysel di Belgia saat berlangsung final Liga Champions yang mempertemukan Juventus (klub asal Italia) dan Liverpool (klub jawara Inggris)? Yes, tragedi berdarah yang menewaskan 39 orang ituâ€”kebanyakan pendudukung Juventusâ€”dikenang sebagai sejarah buruk sepak bola. Sejak saat itu, Liverpool dihukum beberapa tahun untuk tidak bermain di ajang Eropa dan FIFA harus selalu mewaspadai para hooliganâ€”boneknya Inggrisâ€”jika kesebelasan sepak bola Inggris atau klub-klub dari Inggris bertanding di negara lain. Bikin rese aja!</p>
<p>Lain hooligan, lain pula para suporter Real Madrid. Suporter klub asal Spanyol ini terkenal rasis. Sambil menemani klub kebanggaannya bermain di stadion Santiago Bernabeu, mereka bernyanyi dengan irama lagu kebangsaan Spanyol, tapi syair diplesetkan: â€œFuera, Fuera, maricones, negros, basque, catalanâ€? (pergi, pergi: waria, negro, basque, dan catalan!)</p>
<p>Memang, tanpa suporter, sepak bola kering bin garing. Karena merekalah yang akan rela menyemangati pemain tim sepak bola kesayangannya dari tribun penonton, berteriak histeris jika timnya unggul, mengibar-kibarkan bendera negara kesayangannya, sudi berpeluh keringat dan memoles tubuh dengan cat warna bendera negara masing-masing. Mereka juga yang telah membeli tiket jutaan rupiah dan meludeskan duitnya untuk membeli segala macam merchandise tim kesayangan mereka mulai dari kaos, slayer, bendera, ikat kepala dan sejenisnya. Tapi, ribet juga kalo bikin rese.</p>
<p>Sobat, kayaknya nggak usah jauh-jauh, kerusuhan sepak bola di negeri kita juga sering terjadi. Final Liga Indonesia tahun 1998 mungkin masih ingat di benak para bonek atau masyarakat Jakarta. Waktu itu, ribuan bonekâ€”suporternya Persebayaâ€”nekat turun ke jalanan di ibu kota begitu tim Bajul Ijo berhasil menerkam Maung Bandung Persib Bandung. Parahnya, aksi yang mungkin seharusnya â€œsyukuranâ€? itu malah jadi anarkis.</p>
<p>Mereka menjarah toko dan puluhan mobil dibakar. Aparat keamanan pun kerepotan mengawal mereka sampe Stasiun Senen, Jakarta. Tapi, keberingasan para bonek yang cuma modal nekat datang ke Jakarta itu berlanjut di atas kereta yang membawa mereka ke Surabaya. Kawasan pinggir rel yang membentang sepanjang jalur Jakarta-Cirebon dihujani batu!</p>
<p><strong>Singkirkan nasionalisme!</strong><br />
Sobat, nasionalisme merupakan ikatan antar manusia yang didasarkan pada ikatan kekeluargaan, klan, dan kesukuan. Nasionalisme ini muncul di tengah-tengah manusia tatkala pemikiran mendasar yang mereka emban adalah kehendak untuk dapat mendominasi. (Ahmed, A. dan Abid, K. The Roots of Nationalism in The Muslim World,?  hlm. 6.)</p>
<p>So, bagi mereka yang menghayati realitas, ikatan nasionalisme ini sebenarnya bukan membentuk persatuan antar manusia, tetapi justru melahirkan superioritas suatu bangsa atas bangsa lain. Coba deh tengok, dalam sepak bola aja udah ketahuan banget nunjukkin keunggulan bangsa atau etnis tertentu. Dibanding sebagai alat pemersatu, ternyata lebih banyak jadi alat pemecah belah.</p>
<p>Buktinya, para penganut ideologi ultra-kanan di Jerman sangat membenci kulit berwarna di Tim Panser. â€œSebuah tim nasional haruslah sebuah tim nasional,â€? kata juru bicara Partai Nasional, Klaus Beier. â€œAsamoah mungkin seorang pemain yang bagus dan memegang paspor Jerman. Tapi dia tak akan pernah menjadi orang Jerman,â€? imbuhnya.</p>
<p>Sekadar tahu aja, di Tim Panser ada Gerald Asamoah dan David Odonkor yang keturunan Ghana dan berkulit gelap. Bahkan ada Lukas Podolski dan Miroslav Klose yang asli Polandia, negeri pembenci Hitler karena diinvasi oleh pemimpin Nazi tersebut. Lagian para pengagung ras di Jerman lupa, kalo salah satu wanita tercantik di negerinya, Heidi Klum, ternyata sang model ini menikah dengan penyanyi Inggris berkulit hitam, Seal. Tapi, itulah nasionalisme. Membingungkan, menyesatkan dan membuat perpecahan.</p>
<p>Eh, kebayang nggak sih kalo seandainya tim sepak bola Iran berhadapan dengan kesebelasan Indonesia di partai final Piala Dunia, akankah terjadi â€?perangâ€™ antar sesama kaum muslimin? Jawabannya, tergantung sejauh mana nasionalisme menancap kuat dalam pikiran dan perasaan kaum muslimin. Kalo perang, berarti kita telah teracuni nasionalisme yang memang merusak itu. Ati-ati deh.</p>
<p>Sobat, Islam ngelarang banget kita bersikap taâ€™ashub. Bangga dan fanatik ama kelompok. Fanatisme kelompok seperti kesukuan dan nasionalisme terbukti memecah belah manusia, dan mempersempit pergaulan. Selain itu, fanatikme kelompok bikin kita ngerasa jadi beda dengan orang lain. Kita ngerasa jadi orang yang lebih â€?tinggiâ€™ dibandingin mereka yang ada di luar kelompok kita. Wajar aja, agama kita nutup rapat buat fanatik kelompok ini. Sabda Nabi saw.: â€œBukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.â€? (HR Abu Daud)</p>
<p>Oke deh, tendang jauh-jauh nasionalisme dari hidup kita. Karena kita hanya terikat dengan akidah Islam dan Allah Taâ€™ala hanya akan memuliakan kita karena ketakwaan kita kepadaNya. Hanya Islam yang akan bisa mempersatukan manusia. Allah Swt. pun nggak mengistimewakan dan memuliakan manusia berdasarkan bangsa dan etnisnya. Allah Swt. juga nggak memuliakan manusia dari warna kulitnya. Kick out nationalism! [solihin, berbagai sumber]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA Edisi 301/Tahun ke-7/10 Juli 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nasionalisme-sepak-bola/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan &#8216;made in&#8217; Kapitalisme</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pendidikan-made-in-kapitalisme</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pendidikan-made-in-kapitalisme#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 04:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pendidikan-made-in-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Ujian Akhir Nasional sudah digelar. Hasilnya pun sudah bisa dilihat. Ada tawa bahagia dari peserta (tentu bagi yang lulus dong. Kalo yang nggak lulus tertawa bahagia itu namanya abnormal). But, ada juga yang merasa kecewa, sedih dan nggak nyangka kalo sampe nggak lulus UAN. Malah lebih parah lagi ada yang udah diterima di perguruan tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ujian Akhir Nasional sudah digelar. Hasilnya pun sudah bisa dilihat. Ada tawa bahagia dari peserta (tentu bagi yang lulus dong. Kalo yang nggak lulus tertawa bahagia itu namanya abnormal). But, ada juga yang merasa kecewa, sedih dan nggak nyangka kalo sampe nggak lulus UAN. Malah lebih parah lagi ada yang udah diterima di perguruan tinggi negeri melalui sistem PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), eh, UAN-nya dinyatakan nggak lulus. Gimana tuh? Bingung kan?<span id="more-304"></span></p>
<p>Ada dari teman kita di sebuah sekolah kejuruan teknik di Bekasi yang nggak terima hasil UAN-nya jeblok lalu nekat ampir menggosongkan sekolahnya sendiri. Meski aksinya nggak sampe bener-bener ngebakar sekolahnya seperti yang dibombastiskan beritanya di media massaâ€”karena faktanya cuma komputer, printer, dan sejumlah arsip di sebuah ruangan sekolah yang ludes dilalap apiâ€”tapi jelas kalo itu adalah reaksi yang negatif banget. Bahkan ada juga teman kita yang gelap pikirannya, hingga nekat mau bunuh diri. Aduh, kasihan banget ya?</p>
<p>Ya, berat memang beban mereka, apalagi yang nggak lulus hanya karena nilai satu mata pelajarannya jeblok. Seperti teman kita, Bayu Taruna, yang malah udah keterima di Universitas Brawijaya, Malang, tapi di sekolahnya, SMAN 71 Duren Sawit Jakarta Timur, Bayu dinyatakan nggak lulus UAN, karena nilai pelajaran Matematika yang berhasil diraih Bayu hanya 4,0. Meski nilai Bahasa Inggrisnya 9,2 dan Bahasa Indonesia 8,2, Bayu tetap dinyatakan nggak lulus. Duh, gimana nggak kecewa tuh?</p>
<p>Sobat muda muslim, kita juga empati sama kamu semua yang kebetulan gagal UAN-nya. Memang kecewa dan sedih, apalagi kalo selama sekolah kita tuh udah nunjukkin prestasi kita yang hebat dibanding teman-teman lain, eh, pas UAN nilai kita jeblok.</p>
<p>Mungkin wajar juga kalo kamu yang merasa kecewa kemudian unjuk rasa ngedatangin Depdiknas atau malah DPR untuk minta dukungan agar diluluskan, atau seenggaknya minta UAN diulang secepatnya, ketimbang harus nungguin setahun lagi. Sebagai reaksi sesaat, itu masih bisa dimaklumi. Karena rasa marah, kecewa, kesal dan sedih bercampur jadi satu. Nggak nyangka kalo sampe nggak lulus.</p>
<p>Memang sih kalo dilihat sekilas nggak bisa dibilang adil. Gimana nggak, ternyata UAN menjadi satu-satunya syarat kelulusan siswa. Nggak ada penilaian lain untuk menentukan kelulusan. Artinya, hasil UAN jadi mutlak dan nggak bisa diganggu-gugat oleh siapa pun. Sampe-sampe Mendiknas Bambang Soedibyo dengan tegas bilang kalo UAN nggak bakalan bisa diulang, bahkan beliau berkomentar, â€œMuridnya juga harus introspeksi. Apakah murid tersebut belajar untuk ujian nasional atau tidak. Kalau dia lulus PMDK, tapi dia tidak lulus ujian nasional, perguruan tingginya yang harus introspeksi. Apakah penilaiannya sudah benar? Kok dia bisa diterima, padahal dia tidak lulus ujian nasional. Sudah diterima di Unibraw tapi nilai matematikanya 4,â€? kata Soedibyo (metrotvnews.com, 20/06/2006)</p>
<p>Senada dan seirama dengan Mendiknas Bambang Soedibyo, Wapres Jusuf Kalla juga menolak usulan kalo UAN harus diulang. Menurutnya, â€œUjian ulang tidak adil bagi siswa yang telah bekerja kerasâ€? (metrotvnews.com, 23/06/2006)</p>
<p>Sobat, tulisan di buletin kesayangan kamu ini sekadar memberikan wacana bahwa inilah potret dunia pendidikan kita saat ini. Inilah kualitas pendidikan â€?made inâ€™ Kapitalisme. Eit, tentu kita punya alasan dong ketika berani nuduh Kapitalisme sebagai biangnya dari kasus ini. Bukti yang udah ketahuan banget adalah produk kehidupan kita saat ini. Bukan cuma gaya hidup sehari-hari yang rusak, tapi kurikulum pendidikan yang jauh dari ajaran Islam. Sumpah deh!</p>
<p><strong>Kurikulum yang sekularistik</strong><br />
Bro, nggak heran dong kalo Kapitalisme mengadopsi sekularistik. Wong sekularisme adalah akidahnya Kapitalisme kok. Sebuah sistem pasti akan melahirkan produk sesuai dengan asas yang menjadi landasan ideologinya. So, nggak usah heran kalo kurikulum pendidikan saat ini yang merupakan bagian dari produk sistem pun akhirnya sesuai kepentingan sistem itu sendiri. Jadinya? Ya ikut-ikutan sekuler dong!</p>
<p>Nah, kenapa bisa disebut sekuler? Perlu kita ingetin lagi nih bahwa sekuler itu adalah memisahkan antara agama dan kehidupan. Artinya aturan agama nggak boleh dan bahkan terlarang untuk ikutan ngatur kehidupan dunia. Udah ada jatahnya masing-masing. Nggak boleh saling ikut campur dan saling intervensi. Buktinya, kita bisa nemuin ada orang yang memiliki nama islami, tapi kelakuannya jauh dari ajaran Islam. Berasal dari keluarga Muslim, tapi kehidupannya bertentangan dan bahkan menentang Islam. Ini buah sekularisme, Bro.</p>
<p>Oya, jangan kaget, sekularisme juga ikut menghancurkan pemeluk agama selain Islam, lho. Nggak percaya? Hmm&#8230; di negeri-negeri Barat, kini pemeluk agama Nasrani kian nggak taat pada ajarannya karena digerus sekularisme. Di Amsterdam, sebagai misal, 200 tahun lalu, 99 persen penduduknya beragama Kristen. Sekarang, hanya tersisa sekitar 10 persen saja yang dibaptis dan ke gereja. Sebagian besar mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. Waduh!</p>
<p>Di Prancis, yang 95 persen penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13 persennya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Pada 1987, di Jerman, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya mengatakan, bahwa â€œagama sudah tidak diperlukan lagi.â€?</p>
<p>Di Finlandia, yang 97 persen Kristen, hanya 3 persen saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90 persen Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3 persen saja yang rutin ke gereja tiap minggu. (Adian Husaini dalam tulisannya di Republika, 27 Juli 2004)</p>
<p>Nah, di negeri kita juga sama. Mungkin kalo di KTP sih pas di kolom agama tercantum Islam. Tapi, berapa persen sih yang taat menjalankan agamanya? Seenggaknya kalo pelaksanaan shalat aja yang jadi ukurannya, berapa persen sih yang rajin shalat? Memang sih harus ada survey. Tapi yang pasti, kalo ngelihat gelagatnya, masyarakat kita juga udah sekuler, lho. Lihat aja produknya saat ini. Siapa sih yang jadi â€?bintang utamaâ€™ acara Buser, Sergap, Patroli, TKP dan sejenisnya?</p>
<p>Yap, mereka yang jadi bintang utama itu tangannya diborgol dan mengenakan baju bertuliskan â€œtahananâ€?. Banyak di antara mereka yang namanya tuh islami, jelas orang Islam. Tapi, ya kelakuannya udah jauh dari ajaran Islam. Eh, saya nulis gini bukan sok suci lho, tapi sekadar renungan aja ternyata banyak dari kita yang udah jadi sekuler. Benar-benar tragedi, Brur!</p>
<p>Itu sebabnya, jangan heran juga kalo kurikulum pendidikan nasional pun muatannya sekuler, mengejar aspek materi alias materislitik belaka. Alat ukur kesuksesan hanya dinilai dari keberhasilan secara materi. Tengok deh, sekolah bukan semata tempat mencari ilmu, tapi sudah disulap untuk ditargetkan mencari pekerjaan bahkan lebih parah lagi sekadar tempat sosialisasi dan menerapkan gaya hidup seperti yang kerap ditampilkan di banyak tayangan sinetron remaja saat ini. Menyedihkan banget.</p>
<p>Kurikulum pendidikan yang sekularistik itu juga nyata banget dari adanya pembagian sekolah umum dan sekolah agama. Pemisahan ini jelas merupakan bagian dari upaya sekularisme di bidang ilmu pengetahuan. Sebab, yang hebat tuh kalo menghasilkan pelajar yang handal di bidang keterampilan ilmu-ilmu umum, tapi juga beriman dan bertakwa. Ini baru hebat. Sebagai contoh, salah seorang imam mazhab yang terkenal, yakni Imam Abu Hanifah, selain master di bidang ilmu fikih dan tsaqafah Islam, tapi beliau juga pakar di bidang ilmu kimia. Wuih, keren banget kan?</p>
<p>Karena udah dibiasakan dipisah-pisahkan aturan agama dan aturan negara, maka akibatnya dalam kehidupan sehari-hari pun nampak jelas perilaku sekuler itu. Ngakunya muslimah, tapi keluar rumah nggak pake kerudung dan jilbab. Ngakunya muslim, tapi makan dan minum yang haram. Ah, menyedihkan banget deh. Itu baru soal pakaian dan minuman lho, belum pelaksanaan syariat yang lainnya. Jadi, kita tuh sering â€?malpraktekâ€™ dalam berIslam alias melaksanakan ajaran Islam nggak sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. dan RasulNya.</p>
<p><strong>Kenakalan negara dan masyarakat<br />
</strong>Jangan selalu menyalahkan remaja dan menyebutnya: kenakalan remaja. Why? Sebab remaja lebih tepat sebagai korban. Karena yang lebih bertanggung jawab adalah masyarakat dan negaranya. Negara dan masyarakat telah berbuat nakal karena telah terbukti menerapkan aturan yang menyesatkan dan membuat sengsara kebanyakan orang. Yap, negara dan masyarakat menerapkan Kapitalisme-Sekularisme. Ini sebetulnya biang keroknya.</p>
<p>Mau bukti? Kalo memang benar negara dan masyarakat ingin memajukan pendidikan di negeri ini, maka sudah seharusnya memberikan dukungan bagi pendidikan anak-anak bangsanya. Nggak kayak sekarang, bangunan sekolahnya aja banyak yang nggak layak untuk ditempati. Bahkan gaji guru yang mengabdi di desa-desa jauh lebih kecil kalo nggak mau dikatakan tekor sehingga harus membagi perhatian mendidik dengan mencari nafkah tambahan biar dapur tetep ngebul.</p>
<p>Sobat, dari dua faktor ini aja, udah bisa ditebak gimana bisa menghasilkan kualitas pelajar yang oke dan handal. Tempat belajar nggak nyaman, dan gurunya setengah hati mendidiknya. Belum lagi soal kurikulum, ditambah lagi dengan biaya yang mahal (artinya nggak semua orang bisa menyekolahkan anaknya), udah gitu masih ada juga beban biaya untuk beli buku pelajaran yang tiap semester berganti dan lain sebagainya. Orangtua kita yang nggak mampu pasti ngebul tuh ubun-ubunnya mikirin soal ini.</p>
<p>Belum lagi kalo bicara soal gaya hidup. Sudahlah di sekolah nggak mendapatkan pelajaran yang memadai, di lingkungan sekitar justru pelajar dibombardir dengan suguhan yang menjauhkan dari tradisi yang berkaitan dengan keilmuan. Tengok deh acara televisi macam KDI, AFI, Indonesian Idol, API, ABG, dan sejenisnya. Marak dan gemerlapan menyedot perhatian dan menciptakan mimpi untuk menjadi bintang tenar dan tajir dalam sekejap.</p>
<p>Bersamaan dengan itu tradisi keilmuan nyaris nggak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Mereka yang berjaya di bidang iptek seringkali dianggap biasa, ketimbang remaja yang menang kontes KDI atau AFI. Menyedihkan banget. Wajar dong, kalo banyak juga yang kemudian malas belajar karena udah dikondisikan dengan tren gaya hidup serba instan, fermisif, bahkan hedonis.</p>
<p>Sobat, tentu saja kondisi akibat kenakalan negara dan masyarakat ini udah merugikan semuanya, bukan cuma kita-kita yang jadi korban. Tapi semua mendapatkan akibatnya. Bayangin deh, kalo banyak anak yang nggak berilmu, kira-kira 10 tahun ke depan kayak apa bangsa ini? Kalo banyak dari kita lebih memilih gaya hidup glamour ketimbang tradisi keilmuan dan keimanan, mau jadi apa kita 10 tahun ke depan?</p>
<p>So, negara memang harus bertanggung jawab soal ini. Masyarakat juga (sekolah, pengusaha media massa, para ulama, dan tokoh masyarakat lainnya) harus peduli dan cinta sama generasi muda. Jangan korbankan masa depan generasi ini dengan model pendidikan (termasuk tentunya kehidupan secara umum dan luas) yang sekuler.</p>
<p>Sobat, insya Allah kejadian model begini hanya bisa diselesaikan dengan Islam. Karena Islam memang solusi bagi segala problem kehidupan di dunia. Percayalah. Asal, satu syaratnya: Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Kalo nggak? Mimpi kali ye!</p>
<p>Khusus dalam bidang pendidikan nih, menurut Islam, sekolah diposisikan sebagai sarana pertama untuk mengenalkan Allah Swt., akidah Islam, dan sistem hukum Islam, serta mendidik siswa agar paham dan mengerti praktik sistem hukum Islam. Sebab, Islam bukan sekadar ajaran ritual, melainkan sistem hidup yang bersifat ideologis dan politis. Setelah itu, barulah sekolah ditempatkan sebagai wahana untuk menuntut ilmu, sains, dan teknologi untuk memperoleh manfaat dari hasil-hasil temuan dan produk akal manusia berupa industri dan sains.</p>
<p>Dengan demikian, tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan tentu saja pandai menghiasi kehidupannya dengan amal shaleh. Lha, kalo sekarang? Duh, Kapitalisme udah menggerus kepribadian kita: akhlak yang rusak, termasuk kualitas penguasaan ilmu pengetahuannya yang kurang bagus. Jadi, kalo masih banyak pelajar yang nggak lulus UAN, tentu kesalahan bukan cuma pada pelajar tersebut, tapi ideologi yang mengatur kehidupan ini yang wajib disalahkan. Itu sebabnya, mending â€œtalak tigaâ€? aja terhadap Kapitalisme, dan ganti dengan Islam. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 300/Tahun ke-7/3 Juli 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pendidikan-made-in-kapitalisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kick Racism Out of The World!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kick-racism-out-of-the-world</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kick-racism-out-of-the-world#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 04:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kick-racism-out-of-the-world/</guid>
		<description><![CDATA[Bukan salah bunda mengandung, lahir ke dunia dengan rambut keriting, idung pesek, atau kulit hitam legam. Namun di abad 16 dulu, ciri-ciri fisik yang umumnya dimiliki para penghuni benua Afrika ini, bisa jadi petaka lho. Soalnya era ini mengawali masa perbudakan terhadap etnis Afrika.
Budak-budak didatangkan dari Afrika menuju Eropa atau Amerika. Para pedagang budak menyebarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan salah bunda mengandung, lahir ke dunia dengan rambut keriting, idung pesek, atau kulit hitam legam. Namun di abad 16 dulu, ciri-ciri fisik yang umumnya dimiliki para penghuni benua Afrika ini, bisa jadi petaka lho. Soalnya era ini mengawali masa perbudakan terhadap etnis Afrika.<span id="more-303"></span></p>
<p>Budak-budak didatangkan dari Afrika menuju Eropa atau Amerika. Para pedagang budak menyebarkan paham bahwa masyarakat kulit hitam (ras Afrika) adalah ras yang terkuat namun inferior (rendah), sehingga cocok untuk mengerjakan pekerjaan kasar dan harus tunduk pada perintah. Diperkirakan 11,8 juta rakyat Afrika diperdagangkan selama masa Perdagangan Budak Atlantik. (Sekitarkita.com)</p>
<p>Kini, era perbudakan tinggal sejarah. Peradaban manusia yang semakin maju dan modern udah ngebuka mata semua pihak untuk menghargai dan menghormati bangsa lain. Nggak jamannya paham rasisme alias ngerendahin bangsa lain cuma lantaran beda ciri-ciri fisik, agama, atau ras nongol di sekitar kita. Sayangnya, di zaman serba digital ini masih aja ada yang melestarikan rasisme (Emangnya makhluk langka pake kudu dilestarikan segala).</p>
<p>Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. Jumlah yang sama dari 1576 responden dengan berbagai background itu juga menyatakan kalau warna kulit membuat mereka diperlakukan secara diskriminatif di tempat kerja. Jumlah lebih besar lagi, yaitu 61%, bahkan menyatakan mereka mendapat pelecehan rasial saat berada di bangku sekolah (Jawa Pos.com, 25/11/04) . Payah deh ih!</p>
<p><strong>Rasisme tetep lestari</strong><br />
Parahnya, pelecehan rasial di masyarakat Barat tumbuh subur di kalangan para penggila sepak bola. Banyak kasus rasialisme menimpa pemain asing (terutama dari Afrika) yang merumput di liga-liga Eropa: Italia, Spanyol, Inggris dll.</p>
<p>Kasus pelecehan rasial yang paling terkenal terjadi antara Peter Schmeichel (Manchester United) dan Ian Wright (Arsenal), di Old Trafford, November 1996. Atau antara pemain Lazio asal Yugoslavia, Sinisa Mihajlovic dengan pemain Arsenal asal Prancis, Patrick Vieira. Dalam pertandingan Liga Champion, Oktober 2000, Mihajlovic terbukti memaki Vieira dengan kata-kata, â€œMonyet hitam!â€?. Ia terkena larangan ikut dalam dua pertandingan. (Kompas, 30/01/04)</p>
<p>Kondisi itu yang kini juga dialami Marc Andre Zoro. Penyerang klub Messina asal Afrika ini, menjadi sasaran sikap rasialis pendukung Inter Milan, Minggu (02/04/06). Atau Samuel Etoâ€™o. Striker asal Kamerun yang bermain di Barcelona ini?  mengalami penghinaan rasial dari pendukung Racing Santander selama pertandingan Liga Spanyol, Minggu (9/4/06). â€œPada menit ke-34 sekelompok pendukung menirukan suara monyet saat Etoâ€™o menyentuh bola,â€? kata wasit Antonio Rubinos Perez dalam laporan pertandingannya. (Media Indonesia Online, 10/04/06).</p>
<p>Sobat, olahraga konon kabarnya bisa menyatukan perbedaan bahasa, bangsa, agama, dan warna kulit. Nyatanya, itu cuma teori. Buktinya, rasisme tetep lestari. Kalo gini ceritanya, mungkinkah semboyan World Cup Germany 2006, â€?Its Time To Make A Friendsâ€™ terwujud? Hmm&#8230; mene ke tehe!</p>
<p><strong>Sepak bola dan rasisme</strong><br />
Nggak jelas dari kapan isu rasisme mulai mengotori dunia sepak bola. Ada yang meyakini kalo isu rasisme mulai terdengar dalam dunia sepakbola sejak Arthur Wharton, pemain kulit hitam profesional pertama, meneken kontrak bersama klub Inggris, Darlington, pada 1889. Sejak saat itu, setiap kali Wharton belaga di kandang lawan, pertandingan nyaris tak pernah sepi dari lontaran-lontaran berbau rasial. (Republika, 27/11/04)</p>
<p>Parahnya, tindakan rasialis dalam sepak bola juga merembet pada perbedaan yang sifatnya politis. Bahkan pada Piala Dunia 1934 di Italia, nyata benar Mussolini mempertontonkan superioritas fasisme atau Hitler (yang merefresentasikan Jerman dengan NAZI-nya). Sepakbola dipolitisir.? </p>
<p>Di tahun 1993/1994, sponsor Liga Primer Inggris, Carling, mengadakan survey terhadap para fans liga primer. Hasilnya sungguh mengejutkan; hanya satu persen para penggemar yang mendeskripsikan dirinya tak bermasalah dengan pemain berkulit hitam. Ini menggambarkan masih kuatnya rasisme di kalangan para penggemar sepak bola tradisional.</p>
<p>Tetep lestarinya rasisme lebih karena rendahnya cara berpikir masyarakat. Terutama individu pelakunya. Rendahnya cara berpikir ini boleh jadi terpancing oleh panasnya iklim kompetisi sepak bola yang?  menjamur di negeri-negeri Eropa. Dengan gaya hidup sekuler-kapitalis, dukungan penuh dari penggemar terhadap tim favoritnya bisa berujung pada tindakan rasisme, bentrokan antar fans, hingga kerusuhan di luar stadion.</p>
<p>Tak heran jika di Eropa, rasisme merupakan masalah besar bagi sepak bola, sama besarnya dengan masalah hooliganisme. Ya, karena kompetisi sepak bola lah yang membidani lahirnya masalah ini. So, selama hajatan sepak bola masih digelar setiap tahunnya dan selama gaya hidup kapitalis sekuler masih dipake, selama itu pula benih-benih rasisme siap tumbuh dan berkembang untuk mencari korban. Ih syereem deh!</p>
<p><strong>Lets kick racism out of football!<br />
</strong>Inilah kampanye perang terhadap tindakan rasialis yang tengah diusung FIFA selaku federasi sepakbola tingkat dunia. Berdasarkan peraturan FIFA yang diluncurkan bulan Maret 2006 lalu untuk meredam rasisme, klub akan mendapat pengurangan tiga angka untuk serangan rasis pertama, enam angka untuk serangan kedua dan bisa juga pertandingan akan dipindahkan ke tempat lain jika serangan rasis itu terus berulang. Atau bisa juga berupa denda dalam bentuk uang. Ketat juga nih aturan.</p>
<p>Tentu saja peraturan dari FIFA ini secara otomatis diamini oleh UEFA selaku badan Sepakbola Eropa atau Konfederasi Amerika Selatan (CSF). Termasuk federasi sepakbola di masing-masing negara Eropa. Seperti Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) yang telah memberikan sanksi denda 9.000 euro (11.000 dolar AS) kepada Real Zaragoza terkait perlakuan rasisme pada strikter el-Barca, Etoâ€™o. (Media Indonesia Online, 12/04/06)</p>
<p>Atau, FIGC (Federasi Sepak Bola Italia) yang juga ngasih â€?hadiahâ€™ pada tim Lazio berupa denda sebesar 8 ribu euro (sekitar Rp 88 juta). Pasalnya, beberapa suporter Lazio meneriakkan revolusi ala tokoh fasis Italia, Benito Mussolini, dengan membawa bendera bergambar simbol pegerakan Neo Nazi Italia, swastika saat menjamu Livorno di Stadion Armando Picchi. (Eramuslim, 15/12/05). Padahal justru para pendukung Livorno menentang fasis. Ini sih emang nyari ribut!</p>
<p>Juga KNVB (asosiasi sepak bola Belanda)?  yang menghukum Den Haag dengan sanksi menggelar pertandingan tanpa penonton di dua partai home mereka berikutnya. Ini buntut dari teriakan bernada pelecehan rasial yang dilakukan para suporter Den Haag kepada para pemain PSV yang berkulit hitam. (JawaPos.com, 25/11/04)</p>
<p>Bahkan sebuah pengadilan Inggris menjatuhkan denda 1.000 pound (1.880 dolar AS) dan larangan lima tahun menyaksikan pertandingan sepakbola secara langsung di lapangan pada seorang suporter Jason Perryman (22), yang menghina dengan teriakan monyet pada striker Birmingham City, Dwight Yorke. (Suara Merdeka, 26/11/04).</p>
<p>Hmm&#8230;..sejauh ini FIFA emang udah mati-matian perang lawan rasisme ini. Sayangnya masih belon maksimal tuh. Karena rasisme lahir dari perasaan superior. Dan aturan FIFA cuma bisa menghimbau untuk tidak bersikap rasis, tapi tak mampu menjinakkan perasaan superior yang selalu hadir dalam setiap event olahraga sepak bola. So, bisa jadi gaung kampanye anti rasis yang digembor-gemborkan FIFA nggak pernah nyampe garis finish. Lantaran FIFA juga yang memperpanjang arena lintasannya setiap tahun dalam penyelenggaraan liga-liga Eropa. Sama aja boâ€™ong!</p>
<p><strong>Meski berbeda, tetep sederajat</strong><br />
Islam sebagai ajaran yang benar dan mulia udah jauh-jauh hari ngasih kartu merah untuk perilaku rasisme. Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa Abu Dzar dan Bilal al-Habasyi saling bercaci-maki sampai memuncak kemarahannya. Kemudian Abu Dzar berkata kepada Bilal: Hai anaknya perempuan hitam! Mendengar ucapan itu, Bilal mengadu kepada Nabi. Maka kata Nabi kepada Abu Dzar: â€œHai Abu Dzar, apakah kau caci dia sebab ibunya? Kalau begitu sungguh kamu seorang yang masih diliputi perasaan jahiliah.â€? (HR Bukhari)</p>
<p>Kemudian Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan diratakan pipinya dengan debu serta meminta Bilal menginjak kepalanya sebagai balasan atas kesombongannya tadi.</p>
<p>Islam membenci sikap superior seperti yang dimiliki para pelaku rasis di Eropa. Mentang-mentang nenek moyang mereka pernah memperbudak nenek moyang ras afrika. Ngakunya manusia beradab, tapi masih aja mewarisi perilaku biadab.</p>
<p>Rasulullah pernah bersabda: â€œSesungguhnya nasab-nasabmu ini bukan menjadi sebab kamu boleh mencaci kepada seseorang; kamu semua adalah anak-cucu Adam &#8230; Tidak ada seorangpun yang melebihi orang lain, melainkan karena agama dan taqwanya &#8230;â€? (HR Ahmad)? </p>
<p>Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda: â€œHendaklah orang-orang yang menyombongkan ayah-ayahnya yang sudah mati itu mau berhenti. Mereka yang demikian itu hanyalah bara neraka. Atau mereka itu lebih rendah di hadapan Allah daripada kumbang yang mengguling-gulingkan tahi dengan hidungnya; Allah telah menghapuskan kesombongan jahiliah dan kecongkakannya lantaran ayah. &#8230;.â€? (HR Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi dengan sanad hasan)</p>
<p>Yup, dalam Islam, ketinggian derajat hanya dinilai dari ketakwaannya. Bukan warna kulit atau bahasa dan bangsanya. Itu artinya, perilaku takwa bisa diakses oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja selama ngikutin aturan hidup Islam.</p>
<p>Karena itu, Islam memberikan kehormatan kepada Bilal bin Rabah meski berkulit hitam legam untuk mengumandangkan adzan pertama di Madinah. Begitu juga pada Ubadah bin Shamit, seorang negro berperawakan tinggi besar dengan kulit hitam legam, yang menjadi utusan kaum Muslimin saat menghadap penguasa Romawi di wilayah Mesir.</p>
<p>Mukaukis, pembesar Mesir, menolak Ubadah bin Shamit, tetapi anggota perutusan yang lain berkata: â€œTokoh hitam ini adalah pemuka kami, termulia di lingkungan kami, pemimpin perutusan ini, ditunjuk dan diangkat oleh panglima kami. Kami menghargai ilmunya dan buah pikirannya. Apa yang dikatakannya adalah pendirian kami semua.â€?</p>
<p>Nah sobat, lestarinya sikap rasisme di masyarakat Eropa yang jelas-jelas bergaya hidup kapitalis-sekuler, lantaran mereka nggak punya resep jitu untuk ngeberesin masalah rasisme seperti yang dimiliki Islam.</p>
<p>Islam nggak cuma nge-kick rasisme keluar dari lapangan hijau. Lebih jauh lagi, Islam bakal memberikan sanksi larangan bermain selama-lamanya bagi rasisme di arena sepak bola atau dalam kehidupan manusia. Bahkan Islam akan mendegradasi rasisme ke dunia hewan yang tak berakal. Rasain tuh!</p>
<p>Dengan tegaknya Khilafah Islam yang menerapkan syariat di bumi Allah, kita akan?  kampanyekan, â€?Lets Kick Racism Out Of The World! Setuju kan? Siip lah! [Hafidz: Tulisan ini dipersembahkan juga untuk seorang teman di Kendari yang sempat bertanya tentang rasisme. Terima kasih]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 299/Tahun ke-7/26 Juni 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kick-racism-out-of-the-world/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cewek Gibol? So What Gitu, Loh!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cewek-gibol-so-what-gitu-loh</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cewek-gibol-so-what-gitu-loh#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 04:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/cewek-gibol-so-what-gitu-loh/</guid>
		<description><![CDATA[Bukannya latah karena ada pagelaran spektakuler World Cup 2006 di Jerman, Studia jadi ikut-ikutan ngebahas tentang sepak bola. Cuma emang baru kali ini tentang cewek gibol dibahas dan diulas oleh cewek sendiri. Biasanya kan ditulis oleh para cowok, dan mereka cuma sebagai pengamat aja karena mereka sendiri nggak pernah jadi cewek kan? Jadi baca terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukannya latah karena ada pagelaran spektakuler World Cup 2006 di Jerman, Studia jadi ikut-ikutan ngebahas tentang sepak bola. Cuma emang baru kali ini tentang cewek gibol dibahas dan diulas oleh cewek sendiri. Biasanya kan ditulis oleh para cowok, dan mereka cuma sebagai pengamat aja karena mereka sendiri nggak pernah jadi cewek kan? Jadi baca terus deh, pasti asyik karena cewek gibol ditulis oleh cewek sendiri. BIar mantep dan berasa banget emopsinya. Nggak percaya? Baca aja terus. Bukan nyuruh lho, tapi meminta. Hehehe&#8230;<span id="more-302"></span></p>
<p>Asli, penggemar berat olahraga sepak bola sekarang ini bukan dominasi kaum adam aja. Cewek juga sudah banyak banget yang pada suka. Bahkan seakan ada peraturan tak tertulis kalo paham ngobrolin tentang sepak bola, gengsi para cewek terutama ABG bakal naik. Why? Itu karena kalo diajak ngomong sama cowok-cowok sebayanya tentang sepak bola jadi nyambung. Pembicaraan pun jadi asyik dan bikin temenan juga tambah sip.</p>
<p>Fenomena ini bukan cuma ada di World Cup 2006, sejak World Cup 1994, 1998 dan 2002 juga sudah banyak cewek yang demen nonton sepakbola. Soalnya ini pengalaman penulis sendiri (hehehe..). Masalahnya, bagaimana bisa cewek hobi nonton bola yang notabene kesukaan para cowok itu? Hmm&#8230; banyak banget faktornya, simak paparan di bawah ini ye.</p>
<p><strong>Alasan cewek suka bola</strong><br />
Banyak banget alasan cewek suka nonton bola. Salah satu jawaban yang masuk akal dan klise adalah karena pemainnya cakep-cakep (deuu&#8230;). Jawaban jujur ini berasal dari pengakuan banyak teman yang pernah saya tanya tentang hobinya nonton bola. Saking demennya mereka bisa sampai hapal formasi asli di negaranya masing-masing sebelum berangkat ke World Cup. Misalnya Andrea Pirlo yang memperkuat Italia berasal dari klub AC Milan, David Trezeguet yang membela Perancis berasal dari klub Juventus, Ronaldinho yang mengawal Brasil adalah pemain keren klub Barcelona. Nggak berhenti di situ, musim pertandingan juga bakal diikuti meski hingga larut malam.</p>
<p>Selain karena tampang keren, ada juga yang suka nonton bola karena ketularan sodara. Kayak saya dulu suka banget nonton bola karena bapak, kakek, dan kedua sodara laki-laki pada gibol juga. Padahal awalnya sebel banget sama olahraga satu ini. Gimana nggak kalo bola satu direbutin sama segitu banyak orang. Kayak kurang kerjaan aja.</p>
<p>Terus yang paling bikin keki, bola sudah ada dekat dengan tiang gawang, eh&#8230;tiba-tiba ada pemain lain nyelonong dan menendang tuh bola sehingga nggak jadi gol. Grmffff&#8230;bikin sebel banget pokoknya. Tapi karena rumah nggak pernah sepi dari tontonan serupa, lama-lama jadi bisa ngerti dan ikutan suka. Begitu ceritanya. Dan ini diamini oleh beberapa teman yang punya history serupa dengan saya. Witing trisno jalaran ora ono sing liyo. Awal suka karena nggak ada channel lain yang bisa ditonton karena tivi sudah dijajah sama kaum adam di rumah.</p>
<p>Hobi bola ini masih terbatas nonton tivi aja sambil ditemani cemilan kacang goreng yang asyik. Maksudnya yang asyik cemilannya, bukan nontonnya. Tapi ada juga beberapa cewek yang hobi nonton bola sampai datang ke stadionnya loh. Kayak yang dialami sama teman saya yang sebut saja namanya Santi. Awalnya saya nggak percaya banget doi mau bela-belain datang ke stadion Gelora 10 November di Tambaksari (nama stadion bola di Surabaya) untuk mendukung Persebaya. Soalnya meski suka bola, banyak cewek anti nonton sepak bola negeri sendiri. Selain pemainnya nggak bisa dikecengin, juga males banget nonton permainan yang kurang profesional. Nggak seru. Selain juga suporter boneknya alias bondi nekat yang bikin ngeri.</p>
<p>Tapi temen cewek satu ini beda. Doi selalu bela-belain datang ke stadion untuk nonton langsung. Pokoknya doi nggak pernah ketinggalan satu pertandingan pun. Usut punya usut ternyata doi lagi pacaran sama kiper Persebaya saat itu. Huu&#8230;coba kalo nggak ada yang dikecengin, pasti mending tidur di rumah deh (heuheuheu&#8230;)</p>
<p>Tapi nggak semua cewek bertipe kayak Santi. Ada juga yang seneng bola karena dasarnya emang suka nonton aja. Sebut aja cewek yang satu ini, Eli. Gibol doi patut diacungi jempol. Bukan aja suka nonton bola, tapi cewek satu ini bisa menyebutkan dengan detil pemain-pemain sebuah tim yang berlaga plus latar belakang dan semua yang berkaitan dengan permainan si kulitt bundar.</p>
<p>Doi bahkan bela-belain selalu mengikuti berita tentang dunia sepak bola dengan membeli secara rutin tabloid-tabloid bola. Tidak itu saja, majalah tentang sepak bola yang covernya sering memajang salah satu sosok cakep dari tim Italia, Inggris atau pun Perancis, selalu dibelinya. Padahal harga tuh majalah setara dengan dua minggu uang saku saya! Tapi asyiknya, si Eli ini gibolnya termasuk tipe yang cool alias nggak ganjen sebagaimana gibol cewek lain yang cuma buat sok-sokan. Dan yang asyik lagi, doi bukan tipe cewek pelit kalo majalah bola miliknya saya pinjam. Gedubrak!</p>
<p><strong>Emang kenapa kalo cewek gibol?<br />
</strong>Alasan kenapa cewek jadi gibol udah dibahas di atas. Terus, emang kenapa kalo cewek jadi gibol? Sebetulnya nggak kenapa-napa sih. Toh, aktivitas nonton bola via tivi emang mubah kok. Selama yang hukumnya mubah ini nggak mengalahkan yang hukumnya sunah apalagi wajib, semisal membantu ortu, belajar, sholat dan ngaji. Kalo gara-gara gibol jadi kesiangan sholat subuh dan malas disuruh ortu untuk beli garam di warung sebelah misalnya, ini yang berabe. Bukan hanya nonton bola, kegiatan apa pun itu kalo memalingkan kamu dari sesuatu yang sunah dan wajib maka bisa berakibat dosa.</p>
<p>Jadi, meskipun kamu kesengsem berat sama wajah cute-nya David Beckham plus tendangan bebasnya yang oke punya, jangan sampe lupa daratan. Seberapa serunya pertandingan bola yang sedang berlangsung, tetap kudu ingat melakukan kewajiban. Toh biar pun kamu tergila-gila sama para pemain cakep itu, mereka juga nggak bakal memberi kamu perhatian lebih. Jadi, kagum secara wajar boleh aja asal jangan sampe kelewatan.</p>
<p>Banyak banget tuh cewek terutama ABG (ibu-ibu ada nggak yah?) yang ngefans sama pemain sepak bola dari Italia dan Inggris sampe kebawa mimpi. Gimana nggak mimpi kalo ternyata dinding kamar penuh wajah-wajah cute mereka. Padahal kalo dipiki-piki, mereka kan nggak kenal sama kamu. Terus ngapain juga kamu harus hapal segala sesuatu tentang mereka? Kecuali sebatas agar nggak kuper ketika teman-teman ngobrolin tentang mereka sih itâ€™s okay. Tapi apa perlu sih sampe ada poster mereka mejeng di dalam kamar? Sodara bukan, tetangga juga nggak, boro-boro jadi suami, Naudzbillah. Kecuali kalo doi mau insaf dan ganti profesi dari pemain bola jadi pengemban ideologi Islam, itu baru bisa dipertimbangkan. Kalo nggak, cuma menuh-menuhin tembok aja. Tul nggak seh?<br />
? <br />
<strong>Cewek gibol kudu cerdas</strong><br />
Apa maksudnya neh? Meski kamu termasuk cewek yang gila bola tapi kamu kudu cerdas. Soalnya banyak banget cewek-cewek di luar sana yang nggak cerdas sama sekali dan cuma menjadi sebatas cewek gibol yang STD alias Standard. Kamu jangan mau jadi yang tipe ini. Siapa pun kamu adanya dengan hobi apa pun, kamu kudu jadi cewek yang beda.</p>
<p>Trus, gimana caranya jadi cewek gibol yang beda?<br />
<strong>Pertama</strong>, kamu kudu kritis. Pernah nggak kamu berpikir ada apa di balik ajang spektakuler yang digelar tiap empat tahunan itu? Mengapa gaungnya bisa mendunia sedahsyat itu? Apa sih tujuan sebenarnya dari momen seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lain yang menunjukkan kamu sebagai cewek gibol yang beda.</p>
<p>Permainan semacam World Cup ini sengaja dibuat untuk memalingkan penduduk dunia dari permasalahan kehidupan yang sebenarnya. Contoh kecil saja; penduduk Argentina yang tertimpa krisis ekonomi berkepanjangan dan berimbas pada pegangguran, kemiskinan yang parah, kelaparan dll merasa sedikit â€?terobatiâ€™ ketika menyaksikan tim nasional mereka berlaga di ajang bergengsi ini. Mereka jadi â€?lupaâ€™ pada perutnya yang keroncongan. Tapi apakah mereka akan kenyang dengan suguhan tim nasionalnya berlaga? Tentu nggak banget deh. Betul ndak?</p>
<p>Imbas yang lain adalah bagi kehidupan kaum muslimin. Lihatlah betapa seringnya tim-tim dari negeri berpenduduk mayoritas Islam menjadi pecundang di ajang World Cup. Masih ingat nggak di pagelaran empat tahun lalu ketika Arab Saudi dicukur Jerman dengan skor 8-0? Secara tidak langsung hal ini mempengaruhi psikologis penduduk dunia khususnya umat Islam. Mereka menjadi inferior alias minder mempunyai tim yang nggak bisa dibanggakan. Hingga ada sebuah joke yang sempat terdengar â€?jangan-jangan bolanya dilumuri minyak babi biar pemain-pemain Arab nggak ada yang mau nendangâ€™. Ironis sekali!</p>
<p><strong>Kedua</strong>, kamu kudu nyadar. Sadar bahwa semua permainan ini adalah skenario global untuk melalaikan kaum Muslimin dari penindasan Kapitalisme-Sekularisme. Sport hanya salah satu dari agenda besar Barat yang terdiri dari 3 S untuk membuat pemuda muslim lalai dari kewajibannya. â€œSâ€? yang lain adalah Song and Sex. Untuk tema ini lain kali aja insya Allah kita bahas.</p>
<p>Sepak bola juga hanya salah satu dari sekian banyak cabang olahraga yang merupakan sasaran empuk untuk menguras duit dan energi kaum Muslimin. Bayangkan berapa banyak waktu dan dana yang terkuras untuk membiayai sepak bola. PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) tempo hari mendapat kucuran dana sekitar 1 milyar dari pemerintah dalam hal ini departemen yang membawahi olahraga. Itu aja pihak PSSI masih merasa kurang. Bandingkan dengan perputaran uang dalam ajang segede World Cup. Nggak kehitung lagi dah!</p>
<p>Belum lagi transfer gaya hidup para pemain sepak bola itu yang cenderung hedonis. Yang namanya idola, bukan nggak mungkin gaya hidup mereka akan ditiru para fans-nya. Itu masih dari segi pemainnya. Kalo kita mau sedikit lebih jeli, media pun juga menyoroti gaya para pendukung tiap kesebelasan itu. Baik cewek atau pun yang cowok semua berdandan serba kebablasan. Muka dan rambut dicat bendera ala nasionalisme masing-masing negara, pakaiannya pun serba terbuka kalo nggak dibilang telanjang. Inilah celah bagus untuk merusak generasi muda, terus-menerus disuguhkan menjadi sebuah tontonan dan hiburan.</p>
<p>Ternyata urusan World Cup bisa panjang bahasannya. Itu kalo kamu mau berpikir sedikit kritis. Ini juga sebagai upaya menyadarkan teman-teman kamu yang mungkin gibolnya udah nggak ketulungan lagi. Gibol secara wajar sih boleh aja, asal itu tadi, kewajiban belajar Islam nggak boleh terlantar gara-gara World Cup. Pokoknya, selesaikan dulu semua urusan yang penting dan urgen kemudian nonton World Cup kalo waktu bener-bener sudah longgar. Toh, ini semua hanya permainan kan? Kata Rasulullah saw., permainan itu bisa melalaikan, lho.</p>
<p>Jadi meskipun kamu cewek gibol jangan mau jadi tipe yang biasa-biasa aja. Tapi gibol yang bisa menganalisis dengan cerdas ada apa di balik setiap peristiwa yang terjadi dan berkembang. Sehingga, gibol kamu punya tetap punya bobot untuk turut andil dalam penyadaran umat, sekecil apa pun itu. Cewek gibol yang syarâ€™i? So what gitu loh! Tetap semangat! [ria]</p>
<p>(<strong>STUDIA Edisi &#8211; 298/Tahun ke-7/19 Juni 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cewek-gibol-so-what-gitu-loh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jerman Vs Yogya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jerman-vs-yogya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jerman-vs-yogya#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 04:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jerman-vs-yogya/</guid>
		<description><![CDATA[Ini bukan sedang berandai-andai mempertemukan timnas sepak bola Jerman dengan tim sepak bola PSIM Yogyakarta atau PSS Sleman. Bukan pula sedang bermimpi untuk saling berhadapan klub asal Jerman, Bayern Muenchen melawan Persiba Bantul. Nggak banget. Karena menurut feeling saya sih, Arab Saudi yang udah keren aja digunduli 8 gol tanpa balas di Piala Dunia 2002 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan sedang berandai-andai mempertemukan timnas sepak bola Jerman dengan tim sepak bola PSIM Yogyakarta atau PSS Sleman. Bukan pula sedang bermimpi untuk saling berhadapan klub asal Jerman, Bayern Muenchen melawan Persiba Bantul. Nggak banget. Karena menurut feeling saya sih, Arab Saudi yang udah keren aja digunduli 8 gol tanpa balas di Piala Dunia 2002 oleh Michael Ballack dan kawan-kawan. Pikir-pikir, apalagi kalo kesebelasan PSIM Yogyakarta, PSS Sleman dan kesebelasan Persiba Bantul? Bukan tak mungkin kalo terjadi hujan gol ke gawang PSIM Yogyakarta, PSS Sleman atau Persiba Bantul. <span id="more-301"></span></p>
<p>Bukan pesimis dan ngerendahin, tapi emang prestasi kita jauh banget dibanding Jerman (PSS Sleman aja terancan degradasi ke Divisi I menemani Persiba Bantul). Lagian kebangetan kalo ngebandingan Bayern Muenchen ama PSIM, PSS dan Persiba. Hehehe. Oya, bahkan PSIM dan PSS udah ngajuin pengunduran diri dari Divisi Utama Liga Djarum, sementara Persiba juga akan ngundurin diri dari Divisi I Grup III Liga Indonesia dengan alasan seluruh fasilitas hancur dan pemainnya trauma gara-gara gempa. Maklumlah, klub-klub ini didanai dari APBD (Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah) dari pemda masing-masing. PSIM Yogyakarta aja tahun ini dapat jatah Rp 8,9 miliar (duit segitu sih setara dengan gajinya Andriy Shevcenko sebulan di Chelsea musim depan).</p>
<p>Sobat muda muslim, dengan judul tulisan â€œJerman Vs Yogyaâ€? ini sekadar ingin merenung aja, bahwa perhatian kita, perhatian rakyat negeri ini, dan perhatian warga dunia akan lebih fokus ke Jerman ketimbang fokus ke Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Gemerlap pesta Piala Dunia akan mampu â€?menyihirâ€™ kita untuk memalingkan perhatian dari mengurus atau merhatiin korban gempa. Saat ini aja penanganan terhadap korban gempa?  masih jauh dari memuaskan, apalagi kalo udah digelar hajatan Piala Dunia pada 9 Juni ampe 9 Juli 2006 nanti, sebulan penuh, kayaknya makin terlantar aja deh. Kasihan banget ya?</p>
<p>Memang sih, nggak bakalan mungkin semua perhatian kita tumpahkan kepada saudara-saudara yang menjadi korban gempa. Kita semua adalah manusia, yang sudah punya tugas dan kewajiban sendiri. Pemerintah pusat dan daerah juga punya tugas lain selain ngurus korban gempa, negara lain juga sama harus memikirkan negerinya sendiri. Itu sebabnya, nggak bisa ngelarang juga bagi siapa pun untuk meminta orang lain lebih fokus ngurusin satu masalah. Karena memang masing-masing udah punya kegiatan tersendiri.</p>
<p>Hanya saja, kita sangat prihatin banget dengan cara penanganan yang dilakukan pemerintah negeri ini. Bukan ngejelek-jelekkin, tapi emang nggak memuaskan. Sejak Sabtu pagi, 27 Mei 2006, gempa melanda Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah, terutama Klaten, sampai sekarang masih aja ada korban gempa yang nggak keurus. Bahkan, gempa yang terjadi pada dua pekan menjelang digelarnya Piala Dunia di Jerman itu, kini mulai kehilangan daya tarik masyarakat, kalah dengan gemerlap pesta Piala Dunia.</p>
<p>Padahal, gempa berkekuatan 5,9 pada skala Richter (menurut catatan Badan Geologi Departemen ESDM angkanya 6,2 pada skala Richter) telah memakan lebih dari 6.000 korban jiwa dan merusakkan hampir 100 ribu bangunan.Cukup besar memang. Karena kekuatan ini konon kabarnya setara dengan ledakan 56 ribu ton bom atau setara dengan bom atom yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima, Jepang pada 1945.</p>
<p><strong>Buruknya kita<br />
</strong>Ungkapan sebuah iklan rokok yang cukup menyindir rumitnya birokrasi di negeri ini seharusnya menjadi renungan. Kayaknya banyak juga deh di antara kita yang tahu bunyi ungkapan itu. Yup, â€œJika masih bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah. Tanyaken apa?â€?</p>
<p>Udah jadi rahasia umum kalo ngurus KTP aja bisa berhari-hari, malah saya sendiri mengalaminya. Sehari-dua hari masih saya tanya. Seminggu saya tanya lagi, belum kelar. Sebulan, juga belum kelar. Akhirnya saya biarkan hanya karena ingin tahu apakah benar selama ini anekdot dari temen-temen kalo ngurus KTP aja bisa lama. Ternyata setelah dua tahun pun belum kelar juga. Mungkin arsipnya udah hilang. Ah, untung uangnya nggak besar yang saya keluarkan, jadi nggak terlalu rugi. Atauâ€¦ jangan-jangan karena nggak besar itulah akhirnya nggak kelar-kelar KTP-nya? Heheheâ€¦</p>
<p>Nah, budaya birokratis ini pun ternyata menimpa korban gempa, lho. Di Yogya, ada oknum petugas posko bantuan yang memberikan syarat bagi korban gempa yang hendak ngambil jatah bantuan kudu nunjukkin KTP-nya. Walah, keburu kelaparan dong. Karena birokrasinya harus berbelit. Jangan-jangan nanti kudu ngurus KTP dulu? Lama lagi dong? Aduh, nggak kebayang gimana ribetnya.</p>
<p>Belum lagi soal meratanya bantuan. Meski bantuan terus mengalir dari berbagai pihak, termasuk dari luar negeri, tapi masih banyak rakyat yang mengaku tak menerima bantuan. Bahkan seorang teman di Yogyakarta yang kebetulan menjadi bagian dari korban gempa, menuturkan bahwa di tempat tinggalnya saja, bantuan yang datang nggak sebanding dengan jumlah korban gempa. Akibatnya, ketua RT setempat rela nombokkin dari kas RT untuk membeli beras senilai Rp 2 juta. Ah, di mana bantuan itu? Terasa begitu lambat datangnya.</p>
<p>Sudah hampir?  dua minggu setelah gempa, ketika artikel ini ditulis, pemerintah masih kebingungan ngurus korban gempa. Hari pertama bengong dan terkaget-kaget. Hari kedua, sibuk koordinasi. Hari ketiga, kewalahan nerima bantuan. Hari keempat, baru kirim-kirim bantuan. Hari kelima banyak warga yang nggak tersentuh bantuan. Hari keenam mulai ribut saling menyalahkan. Ah, jangan-jangan nanti malah lupa karena sibuk nonton Piala Dunia yang kayaknya nggak mungkin banget untuk dibatalin gara-gara gempa di negeri ini. Menyedihkan sekali.</p>
<p>Lebih lucu dan parah lagi adalah masih juga ada pihak-pihak atas nama penjaga situs bersejarah malah mikirin gimana caranya ngerenovasi Candi Prambanan yang rusak dihajar gempa. Kalo sampe kejadian kayak gitu, sementara nasib manusia masih terlantar, kasihan banget nasib makluk hidup bernama manusia yang kalah bersaing untuk mendapatkan perhatian dengan benda mati bernama candi. Aneh tapi nyata!</p>
<p>Entah, mungkin ketika pertandingan perdana Piala Dunia 2006 digelar pada 9 Juni 2006 ini di Stadion Allianz-Arena, Munich, yang mempertemukan tuan rumah Jerman dan Kosta Rika, nasib saudara kita di Yogyakarta dan sekitarnya justru sedang sibuk mencari makanan, tempat berteduh untuk tidur, dan sambil khawatir diguncang gempa susulan.</p>
<p>Bukan mustahil pula ketika Miroslav Klose berhasil menyarangkan bola ke gawang Kosta Rika, bukan hanya stadion Allianz-Arena yang bergemuruh sorak-sorai menyambut kemenangan, tapi seluruh jutaan pendukung Jerman di dunia akan berteriak senang dan mungkin menangis haru. Pada saat bersamaan, ada jerit dan tangis warga korban gempa di Yogyakarta dan sekitarnya yang menahan lapar dan diliputi kecemasan. Bukan mustahil kan?</p>
<p>Ketika pertandingan demi pertandingan digelar, mungkin saja warga korban gempa juga bisa menikmati hiburan dari para bintang sepak bola dunia yang berlaga di Piala Dunia. Tapi, apakah urusan perut bisa kenyang hanya dengan melihat aksi Ronaldinho menggocek bola dan memasukkannya ke gawang lawan? Bagaimana dengan kita di sini? Jangan-jangan, setiap malam malah begadang nonton sepak bola dan lupa sama saudaranya, meski dengan hanya mengirimkan doa di shalat malam.</p>
<p>Sobat muda muslim, dalam sepak bola sering terjadi psywar alias perang urat syaraf untuk meruntuhkan mental tim lawan. Perang itu bisa berupa menjelekkan tim lain biar orang mendukung timnya. Sementara ketika gempa di Yogya dan sekitarnya, perang urat syaraf kerap dilakukan oleh para oknum politisi yang memanfaatkan kondisi ini untuk menjelekkan lawan politiknya. Ah, menyedihkan sekali.</p>
<p>Sobat, bukan pula maksud kita nuduh yang nggak bener, bukan juga meragukan niat baik masyarakat kita untuk nyumbang korban gempa dengan menggelar posko-posko di pinggir jalan. Tapi, maaf, ternyata ada juga yang tega mengais rejeki di atas penderitaan korban gempa. Itu sebabnya, stasiun Metro TV aja mengumumkan bahwa mereka tidak pernah membuka posko di sembarang tempat. Itu dilakukan untuk menghindari pencatutan nama lembaganya dalam menghimpun dana.</p>
<p>Memang sulit melacak aliran dana dari banyaknya posko yang bertebaran di jalanan, apakah nyampe ke korban, atau malah menjadi ladang nyari usahanya? Wallahuâ€™alam. Semoga saja, korban gempa bukan menjadi komoditas unggulan untuk nyari usaha dari beberapa oknum masyarakat atas nama mereka. Kasihan. Kalo pun kita nggak bisa menolong mereka dengan harta dan tenaga, ya minimal dengan doa. Jangan malah mengeksploitasi penderitaan mereka demi keuntungan pribadi. Oke?</p>
<p><strong>Antara Jerman dan Yogya</strong><br />
Pernah tahu berapa harga tiket nonton pertandingan langsung di Piala Dunia nanti? Harga tiket paling mahal dalam acara pembukaan adalah 300 euro atau sekitar Rp 3,57 juta (kategori 1) dan yang paling murah (kategori 4) tiketnya berbandrol 65 euro atau sekitar Rp 773 ribu. Harga tiket itu kian meroket pada babak final. Paling mahal dibandrol 600 euro (Rp 7,14 juta) dan paling murah Rp 1,42 juta. Coba sekarang kalkulasikan sendiri, harga-harga tiket itu dikalikan jumlah penonton yang biasanya mencapai puluhan ribu orang di satu stadion, lalu kalikan 64 pertandingan selama sebulan penuh. Ckckck&#8230;</p>
<p>Sekarang kita nengok ke Yogya dan Klaten, berapa jumlah dana untuk korban gempa yang berhasil dikumpulkan? Mungkin termasuk besar dan seharusnya bisa segera menyelesaikan problem korban gempa jika tidak belibet birokrasinya. Bantuan yang udah kelihatan gede-gede (setidaknya yang tecatat di media massa), kayaknya cukup bisa membantu deh. Entah itu bentuknya hibah alias cuma-cuma atau dalam bentuk pinjaman lunak.</p>
<p>Menurut Koran Tempo edisi 31 Mei 2006, beberapa negara yang ikut menyumbang untuk Indonesia (di buletin kesayangan kamu ini hanya ditulis sepuluh dari 29 negara yang disebutkan di Koran Tempo), di antaranya: Jepang (Rp 93, 84 miliar); Inggris (Rp 68 miliar); Arab Saudi (Rp 46 miliar); Uni Emirat Arab (Rp 36,8 miliar plus 39 tenaga medis); Kuwait (Rp 36,8 miliar); Amerika Serikat (Rp 23 miliar dan 100 tenaga medis); Italia (Rp 23 miliar); Australia (Rp 21,16 miliar); Korea Selatan (Rp 18,4 miliar plus 19 tenaga medis dan obat-obatan); Cina (Rp 18,4 miliar). Bayangin deh, dari 10 negara aja yang nyumbang, paling nggak dananya udah terkumpul Rp 385,4 miliar. Belum lagi dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah plus dari bantuan banyak pihak dan lembaga di negeri ini. Pastinya udah terkumpul dalam jumlah besar kan?</p>
<p>Mungkin dana ini, jika disalurkan dengan benar langsung kepada korban gempa, bisa lebih bermanfaat dan cepat mengakhiri penderitaan saudara kita di sana. Meski tentunya masih kurang kalo harus membangun puluhan ribu rumah dan bangunan lainnya yang poranda akibat gempa. Tapi seenggaknya kalo urusan makan, pakaian, dan tempat yang rada mendingan buat tidur (karena ada warga yang harus berdesakan di kandang kambing) aja sih insya Allah cukup. Lagian dananya juga insya Allah akan terus mengalir. Entah, nanti kalo hajatan sebulan penuh Piala Dunia digelar. Mungkin, aliran dana akan lebih banyak disetor ke para bandar judi untuk taruhan nebak skor akhir pertandingan. Bukan tak mungkin kan?</p>
<p>Jerman sebagai shahibul bayt World Cup 2006, akan terus mendapat sorotan dunia. Dan Yogyakarta, Bantul, Sleman, dan sekitarnya yang poranda digoyang gempa lambat-lambat laun akan dilupakan. Jeritan histeris menyaksikan pertandingan sepak bola akan beradu kuat dengan jeritan histeris yang minta pertolongan dan kelaparan. Jangan-jangan, mungkin akan banyak nyanyian, tangisan, jeritan, dan haru di Jerman sana ketimbang di Yogyakarta. Wallahuâ€™alam. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 297/Tahun ke-7/12 Juni 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jerman-vs-yogya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>â€˜Mandi Duitâ€™ dari Sepak Bola</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mandi-duit-dari-sepak-bola</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mandi-duit-dari-sepak-bola#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 04:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mandi-duit-dari-sepak-bola/</guid>
		<description><![CDATA[Piala Dunia 2006 di Jerman kalo nggak ada halangan bakalan digelar mulai bulan Juni ini, tepatnya tanggal 9 Juni ampe 9 Juli 2006. Sebulan penuh untuk menggelar hajatan sepak bola sejagat ini. 32 negara yang berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia ini akan berjibaku dan saling mengalahkan untuk menjadi â€œSang Pemenangâ€?. Para bolamania pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Piala Dunia 2006 di Jerman kalo nggak ada halangan bakalan digelar mulai bulan Juni ini, tepatnya tanggal 9 Juni ampe 9 Juli 2006. Sebulan penuh untuk menggelar hajatan sepak bola sejagat ini. 32 negara yang berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia ini akan berjibaku dan saling mengalahkan untuk menjadi â€œSang Pemenangâ€?. Para bolamania pun udah nebak-nebak siapa calon juara di ajang ini. Meski udah melibatkan puluhan negara tapi hanya 7 negara yang pernah menjadi juara selama 17 kali ajang ini digelar. Brasil (5 kali juara), Italia (3 kali juara), Jerman (3 kali juara), Argentina (2 kali juara) Uruguay (2 kali juara), Inggris dan Perancis masing-masing 1 kali juara.<span id="more-300"></span></p>
<p>Oya, yang sudah pasti dari setiap hajatan akbar sepak bola ini adalah duit yang mengalir deras dari sponsor dan penonton untuk perhelatan akbar ini. Belum lagi bagi tuan rumah Jerman yang bakalan menerima duit jutaan dolar dari hak siar televisi dari seluruh dunia, dari para sponsor, dari tiket penonton, juga dari penjualan berbagai merchandise yang berkaitan dengan World Cup.</p>
<p>Tapi sebagai tuan rumah, Jerman harus menggelontorkan duit terlebih dahulu untuk berbagai fasilitas, terutama stadion dan jalan untuk ajang tersebut. Dan Piala Dunia 2006 di Jerman akan menjadi pesta sepak bola termahal dan paling bergengsi abad ini. Dana Rp 17 triliun digelontorkan pemerintah Jerman untuk merenovasi 12 stadion. Jumlah itu belum termasuk dana pembangunan infrastruktur jalan dan bahkan stasiun kereta api di Berlin, yang semuanya menelan hampir Rp 53 triliun.</p>
<p>Ajang ini juga bakalan menjadi bisnis yang menggiurkan bagi para pengusaha di seluruh dunia. Terutama bisnis judi (baik judi konvensional maupun judi online) untuk nebak skor akhir setiap pertandingan sepak bola yang digelar sebanyak 64 pertandingan itu (48 pertandingan di babak penyisihan, 8 pertandingan di babak per delapan final, 4 pertandingan di perempat final, 2 pertandingan di semifinal, 1 pertandingan untuk memperebutkan tempat juara ketiga dan 1 pertandingan di partai puncak alias final untuk menentukan sang jawara bola sejagat).</p>
<p>Sepak bola memang sudah menjadi industri dan bisnis yang menggiurkan, terutama di Eropa. Wajar jika para pemain profesional di liga-liga Eropa pun â€?mandi duitâ€™ dari hasil keterampilannya mengolah si kulit bundar. Sebut saja Frank Lampard, midfilder Chelsea dalam sepekan digaji Rp 1,7 miliar. Michael Ballack yang baru saja ditransfer dari Bayern Muenchen ke Chelsea bakal nerima gaji Rp 2 miliar per pekan. Oya, Zinedine Yazid Zidane, ketika dibeli Los Galacticos Real Madrid dari Juventus pada 2001 mencapai nilai transfer tertinggi di dunia, bahkan bertahan sampai saat ini, yakni Rp 750 miliar!</p>
<p>David Beckham adalah pemain paling dikenal di dunia sampai saat ini. Beckham bukan hanya terkenal karena kepiawaiannya ngasih assist atau mengeksekusi tendangan bebas ketika beraksi di lapangan (catatan: tendangan bebas doi berkekuatan 110 km/jam, itu menurut ilmu beckhamologyâ€”pengembangan dari ilmu fisikaâ€”yang menjadi matakuliah di University of Bristol, Inggris), tapi ia juga memang fashionable. Produk iklan kosmetik pria dan olahraga yang ingin memakainya sebagai bintang iklan, harus antri.</p>
<p>Berapa penghasilan David Beckham dari sepak bola? Beckham adalah ikon sepakbola. Real Madrid menjadikannya sebagai tambang uang. Supaya nggak kehilangan Beckham, klub Spanyol itu berani merogoh kocek dalam-dalam. Kabarnya Real Madrid berani menyiapkan 40 juta poundsterling (lebih dari Rp 700 miliar) untuk mengikat Beckham, yang kontraknya akan berakhir Juli 2007.</p>
<p>Hmm.. gede juga ya? Berapa sih gaji Beckham per pekan di Real Madrid? Doi berbandrol 100 ribu poundsterling atau sekitar Rp 1,85 miliar. So, jangan heran kalo gaya hidupnya juga mewah. Di garasi Beckham terjejer mobil mewah seperti Porsche 911 Turbo, Aston Martin DB 7 Coupe, Jaguar XKR, BMW 450i Saloon, Mercedes Benz CLK 320, Lincoln Navigator, Ferrari 360, Modena Spyder, GMC Yukon 4&#215;4, Bentley, Range Rover V8 Vogue, dan Mercedes Benz S 500.</p>
<p>Beckham memang magnet. Begitu datang ke Madrid, sponsorship berani masang logonya di kaos klub. Itu artinya mereka berani membayar. Sebut saja Siemens, Adidas dan Pepsi. Madrid juga mengalami peningkatan pendapatan dari karcis, hak siar televisi, dan hasil tur ke Asia. Sepanjang tahun lalu, Madrid pun menjadi klub pengumpul keuntungan terbanyak, menggeser posisi Manchester United yang sebelumnya selalu jadi nomor satu.</p>
<p>Bolamania juga pasti kenal siapa penyerang tim nasonal Inggris dan Manchester United yang masih muda belia. Ya, jawabannya adalah Wayne Rooney. Begitu cintanya Rooney kepada kekasihnya, Coleen McLoughlin, doi ngasih kado ulang tahun berupa sebuah mobil Porsche seharga 67 ribu poundsterling (sekitar Rp 1,2 miliar).</p>
<p>Ronaldinho, yang kini menggeser posisi David Beckham (yang selama tiga tahun terakhir jadi atlit terkaya) hartanya lumayan bejibun. Pemain terbaik dunia 2005 versi FIFA tersebut memperoleh total pendapatan sejumlah 23 juta euro (US$ 28,5 juta alias sekitar Rp 265 miliar) tahun ini, hampir tiga kali lipat banyaknya dari yang dia dapat pada 2005.</p>
<p>Juara EPL (English Premier League) selama dua musim (2004/2005 dan 2005/2006), Chelsea, menghambur-hamburkan duitnya untuk memanjakan para pemainnya. Klub milik raja minyak asal Rusia, Roman Abramovich ini tercatat sebagai klub yang menggaji pemainnya tertinggi di dunia. Menurut konsultan keuangan Deloitte dan Touche, klub juara Liga Primer itu mengeluarkan 115 juta pound atau sekitar Rp 2 triliun untuk gaji pemainnya pada musim 2003/2004 saja.</p>
<p>So, jangan heran dong kalo akhirnya gaya hidup pemainnya juga gila-gilaan dalam mengeluarkan duit. Menurut survei majalah pria terlaris di Inggris, Nuts, para pemain Chelsea paling banyak menghabiskan uang untuk membeli mobil. John Terry dan kawan-kawan rata-rata menghabiskan US$ 247.924 (Rp 2,3 miliar) untuk memenuhi garasi rumahnya. BMW X5 adalah mobil mewah yang menjadi mobil pilihan John Terry. Sementara Frank Lampard memilih Aston Martin.</p>
<p>Ini baru beberapa pemain lho, belum lagi pemain lainnya (yang nggak terlalu terkenal, tapi asalkan ia bermain di klub-klub elit Eropa, yang rata-rata bergaji paling nggak ratusan juta rupiah per pekan). Sepak bola memang bisnis yang menggiurkan. Nggak salah-salah amat kalo Thomas Dooley, seorang atlit Jerman mengatakan, â€œMenurutku, sepak bola di negeri kami adalah sebuah bisnis. Klub sepak bola adalah bisnis besar.â€?</p>
<p><strong>Bikin hedonis</strong><br />
Banyak uang, ditambah gaya hidupnya liar dan jelas nggak punya keimanan, membuat mereka jadi hedonis. Sebut saja bintang Chelsea, John Terry, doi benar-benar keranjingan judi pacuan kuda. Dia bahkan sampai merogoh kocek pribadi menyewa helikopter untuk membawa teman-teman klubnya datang ke Festival Cheltenham. Frank Lampard, Joe Cole, Glen Johnson, Robert Huth, Arjen Robben, Asier Del Horno, Damien Duff, Carlo Cudicini, dan Nuno Maniche menyaksikan pacuan kuda itu. Tapi yang membuat mereka asyik adalah taruhan. Para pemain yang rata-rata bergaji 90 ribu poundsterling seminggu itu total kalah 500 ribu poundsterling, bahkan ada satu taruhan bernilai 100 ribu pound sterling. Walah?</p>
<p>Rooney dan Owen baru-baru ini diketahui ternyata gila judi. Dari hobinya itu Rooney bahkan sempat dibelit utang 700 ribu poundsterling (Rp 13 miliar) kepada bandar taruhan milik Stephen Smith, Goldchip, yang ia kenal melalui Owen.</p>
<p>Tony Cascarino, mantan striker Chelsea, membeberkan bahwa judi telah mewabah di ajang Liga Primer. Dan kasus menang judinya seorang bintang Inggris senilai 220 ribu poundsterling, dalam laga yang dimenangkan Bolton Wanderers atas West Ham United dengan skor 4-1 pada 11 Maret 2006 lalu, bisa menjadi fakta bahwa judi emang udah biasa dilakukan para pemain EPL. â€?â€œSaya terkejut ketika mendengar nilai hadiah judinya yang mencapai 200 ribu poundsterling. Pada zaman saya, nilai tersebut setara dengan nilai transfer atau gaji pemain selama satu tahun,â€? kata Cascarino yang pernah memperkuat Irlandia pada Piala Dunia 1990 dan 1994.</p>
<p>Selain judi, seks bebas juga kerap melanda para pemain tajir tersebut. Baik dengan pacarnya maupun dengan pelacur. Adrian Mutu, Gianluca Paglica dan Christian Vieri adalah contoh pemain yang dicap sebagai playboy. Tahun 2000 lalu, sejumlah koran di Spanyol beberapa kali memberitakan ulah sejumlah pemain Barcelona asal Belanda yang suka pesta seks dengan memanggil pelacur kelas atas. Namun ketika hal ini dikonfirmasikan pada pihak manajemen Barcelona, mereka nggak ngejawabnya.</p>
<p>Bukan cuma para pemain Barca yang ngelakuin perilaku bejat itu, beberapa pemain kesebelasan AS Roma juga pernah digunjingkan melakukan pesta seks dengan memakai pelacur kelas atas yang dipanggil via internet. Meski memang sampai saat ini publik belum tahu siapa saja pemain AS Roma (klub Italia) yang suka melakukan kebiasaan nggak bermoral itu.</p>
<p>Tingkah anak-anak Liverpool lain lagi, saat memenangkan pertandingan di hari Boxing Day, yang diadakan sehari selepas natal tahun 1998. Demi merayakan kemenangan ini, mereka bela-belain merayakan keberhasilannya dengan berpesta streptease (tentu penarinya wanita). Waduh! (dan kayaknya kelakuan model gini bukan cuma dilakukan anak-anak Liverpool dong)</p>
<p><strong>Menciptakan mimpi</strong><br />
Siapa sih yang nggak ingin kaya? Semua orang pasti ingin banyak uang dan mungkin saja ketenaran. Nah, sepak bola, ternyata sudah menciptakan mimpi. Di Pantai Gading, para orangtua lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di SSB alias Sekolah Sepak Bola ketimbang di pendidikan formal. Harapannya cuma satu: pengen dapat duit dengan cara cepat dan cuma ngandelin keahlian bermain bola. Udah banyak contohnya. Didier Drogba, Kolo Toure dan Yaya Toure adalah para pemain Pantai Gading yang sukses. Ada juga yang berasal dari Togo, yakni Emmanuel Sheyi Adebayor, yang kini memperkuat Arsenal. Mereka kaya raya. Belum lagi Michael Essien yang asal Ghana itu, kini boleh merasakan mandi duit bersama Chelsea.</p>
<p>Rata-rata pemain Brasil juga adalah dari kalangan keluarga miskin. Sebut saja Ronaldo, Rivaldo, dan juga Ronaldinho. Sekarang, terutama Ronaldinho bahkan menjadi pemain sepak bola terkaya sejagat saat ini. Konsultan BBDO Jerman, sebuah studi tentang nilai komersial pemain, memperkirakan nilai komersial Ronaldinho sebesar 47 juta euro (56,4 juta dolar AS), diikuti Beckham 44,9 juta euro dan Rooney 43,7 juta euro. Dua pemain Barcelona lainnya, striker asal Kamerun Samuel Etoâ€™o dan pemain muda asal Argentina Lionel Messi, melengkapi lima tempat teratas, nilai komersial kedua pemain itu melebihi 30 juta euro. Cerita sukses seperti itulah yang kemudian menciptakan mimpi untuk jadi pemain sepak bola profesional tingkat dunia. Eh, ngomong-ngomong, Bambang Pamungkas ama Ellie Aiboy juga lagi â€?mandi ringgitâ€™ tuh bersama klub FC Selangor, Malaysia. Ketimbang main di liga Indonesia yang bayarannya jauh lebih kecil.</p>
<p>Sobat muda muslim, sepak bola, dalam industri kapitalisme, menjadi komoditas yang menggiurkan untuk dijadikan lahan bisnis, juga menciptakan budaya hedonistik di kalangan selebritas lapangan hijaunya. Dan, amat pantas jika sepak bola memang menciptakan mimpi indah untuk diraih siapa pun yang terobsesi dengan hal itu. [solihin, dari berbagai sumber]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 296/Tahun ke-7/5 Juni 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mandi-duit-dari-sepak-bola/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemilihan Putri Muslimah, Haruskah?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemilihan-putri-muslimah-haruskah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemilihan-putri-muslimah-haruskah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pemilihan-putri-muslimah-haruskah/</guid>
		<description><![CDATA[Menjamurnya festival pencarian idola dan pemilihan model banyak menarik perhatian dan minat remaja putri. Mulai dari pemilihan gadis sampul majalah remaja, foto model iklan produk kecantikan, hingga festival daerah macam Abang-None atau Mojang-Jajaka. Tak hanya di atas panggung, kemasan program kontes â€?ratu-ratuâ€™-an juga santer merambah layar kaca. Seperti pemilihan putri Indonesia atau Miss Indonesia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjamurnya festival pencarian idola dan pemilihan model banyak menarik perhatian dan minat remaja putri. Mulai dari pemilihan gadis sampul majalah remaja, foto model iklan produk kecantikan, hingga festival daerah macam Abang-None atau Mojang-Jajaka. Tak hanya di atas panggung, kemasan program kontes â€?ratu-ratuâ€™-an juga santer merambah layar kaca. Seperti pemilihan putri Indonesia atau Miss Indonesia yang jadi hajatan resmi tahunan negeri ini. <span id="more-297"></span></p>
<p>Udah bisa dipastiin kalo kaum hawa yang daftar acara kontes â€?ratu-ratuâ€™-an di atas pasti bejibun. Soalnya para gadis belia suka rajin daftar sana-sini-sono biar bisa ngikut pemilihan model dan bintang layar kaca. Siapa tahu kepilih. Apalagi, para biro iklan dan agen-agen model paling getol nyari calon bintang di kegiatan yang menampilkan gadis-gadis cantik ini. Atau malah mereka yang sengaja mensponsori untuk menjaring bintang-bintang muda yang berbakat dan tentu saja menjual. Bisa jadi kan? Ya, bisa-bisa aja!</p>
<p>Meski 3 B alias Brain (kepintaran), Beauty (kecantikan) dan Behavior (perilaku) yang selalu dijadikan standar untuk memilih sang pemenang, tetep aja ukuran kecantikan selalu jadi prioritas. Lantaran kontes pemilihan wanita-wanita cantik ini tak bisa dilepaskan dari bisnis entertaintment, showbiz, dan commercial yang tentu saja menomorsatukan penampilan fisik dibanding yang lain.</p>
<p>Walhasil, para peserta kontes bakal dituntut untuk tampil all out kalo pengen dinobatkan sebagai pemenang. Berani berlenggak-lenggok memamerkan parasnya yang cantik, bodinya yang aduhai, serta busana seksinya untuk memikat para dewan juri, pencari bakat dari biro iklan, atau agen-agen model. Yang dihargai dari seorang wanita hanya penampilan fisik yang mampu menggoda lawan jenisnya. Idih, rendah banget. Kasihan deh!</p>
<p><strong>â€?3Bâ€™ plus Belief&#8230;<br />
</strong>Awalnya, keprihatinan terhadap banyaknya acara pemilihan idola atau kontes putri-putrian yang tidak islami yang dirasakan oleh Mark Sungkar dan Ratih Sanggarwati. Kemudian, lahirlah gagasan untuk menggelar kontes Pemilihan Putri Muslimah Indonesia (PPMI). Ajang ini bakal dikemas sebagai sebuah kontes untuk memilih sosok wanita Muslim yang merepresentasikan karakter Muslimah sejati. (Republika, 28/04/06).</p>
<p>Kayak gimana sih sosok muslimah yang dikehendaki? Ketua PPMI, Mark Sungkar, memastikan dewan juri akan lebih memfokuskan penilaian terhadap pola pikirnya, akhlaknya, dan juga kehidupan rohaninya. Salah satu panitia, Ratih Sanggarwati, juga menegaskan â€œPenilaian fisik memang ada, tapi bukan yang utama.â€?.</p>
<p>Untuk itu, syarat yang diajukan panitia terhadap calon-calon kandidat lumayan ketat. Para peserta wajib berjilbab (atau berkerudung yang dimaksud panitia? Soalnya kerudung itu bukan jilbab, beda lho!) dalam keseharian. Nggak cuma saat kontes berlangsung, secara akademis berprestasi, shaleh, memiliki akhlak yang baik, dan peduli lingkungan. Dengan begitu, diharapkan ajang ini mampu melahirkan ikon Muslimah sejati yang nantinya bisa menjadi daiyah atau mubalighah untuk memperkenalkan kehidupan Islam bagi generasinya. Hmm&#8230;boleh juga tuh. But, bener nggak nih tujuannya?</p>
<p>Menanggapi rencana pemilihan Puteri Muslimah Indonesia, Ketua PP Aisyiyah, Siti Chamamah, menyatakan, para pesertanya haruslah sosok yang memiliki keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dan yang terpenting, penilaian fisik tidak dijadikan patokan utama.</p>
<p>Sementara itu menurut salah satu Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama, Gefarina Djohan, â€œPanitia harus membuat standar penilaian yang sangat jelas dan berbeda dari ajang sejenis untuk membuat masyarakat paham bahwa ajang ini memang berbeda. Jangan sampai kriterianya sama namun hanya dibedakan oleh peserta yang memakai jilbab saja, karena kalau seperti ini yang tidak ada bedanyaâ€?.</p>
<p>Ia mengingatkan, jangan sampai ajang ini hanya menjadi ajang untuk fashion show dan sejenisnya. Selama pemilihan itu masih berkutat pada persoalan busana dan fisik, â€œMenurut saya acara ini tidak perlu digelar, kalaupun digelar, ganti saja judulnya jadi Pemilihan Puteri Berbusana Muslimah,â€? ujar Gefa. Moga-moga panita nggak lupa atau pura-pura lupa ya ama pesan ini.</p>
<p><strong>Serupa tapi tak sama<br />
</strong>Sobat muda muslim, sebelum PPMI, ajang serupa yang islami juga telah beberapa kali digelar. Meski kemasan acara dan target pesertanya berbeda, tapi latar belakang kelahirannya setali tiga uang. Sama-sama berangkat dari keprihatinan terhadap program talent remaja yang tidak islami. Sehingga menghadirkan program alternatif bagi generasi muda Islam untuk menggali potensinya. Gitchu!</p>
<p>Bagi remaja putra, pernah ada FNI alias Festival Nasyid Indonesia yang dilaunching 23 Juni 2004 silam. Atau Nasyid Tausyiah dan Qiraah (NTQ) yang digelar tanggal 7 Oktober hingga 4 November 2004. Sempet ada juga, ajang Dakwah TPI yang digelar Juni 2005 lalu. Sementara buat yang putri, Lembaga Pendidikan Ratih Sang (LPRS) pernah menggelar Pemilihan Top Model Muslimah Indonesia pada September 2005.</p>
<p>Sayangnya, sampe sekarang gaung acara-acara islami di atas kian menghilang ditelan acara sejenis yang tidak islami. Syiarnya cuma kedengeran saat pagelaran aja. Selepas itu, jejaknya seolah hilang terbawa angin. Padahal, â€?ongkosâ€™ tenaga, waktu, pikiran, dan materi yang dikeluarin untuk acara-acara Islami ini nggak sedikit lho. Untuk menggelar FNI aja, ongkos produksinya dari mulai penginapan peserta festival (di Raffles Hill, yang pernah dipake peserta AFI 1-3), hingga ditayangkan di layar kaca, kata Manajer Nondrama Indosiar, Jufipriyanto, sekitar Rp 1 Miliar. (Koran Tempo, 17 Oktober 2004). Weleh&#8230;.weleh&#8230;!</p>
<p>Dari yang udah-udah, acara model gini akhirnya hanya sebatas ekstravaganza aja. Sedikit sekali manfaatnya untuk kebangkitan umat. Yang sampe ke masyarakat nggak jauh dari simbol-simbol Islami yang identik dengan kerudung, jilbab, nasyid, atau pesan moral dari para dai. Terus, gimana dengan PPMI?</p>
<p><strong>Awas terjebak tabarruj<br />
</strong>Seperti halnya Ibu Gefarina Djohan, kita juga jadi khawatir dengan PPMI yang bakal digelar ini. Jangan-jangan malah nggak ada bedanya dengan Pemilihan Putri Indonesia dsb. Cuma jadi ajang fashion show ala Muslimah dengan busananya yang menutup aurat. Padahal acara fashion show kan udah jelas-jelas mengandung unsur tabarruj yang dibenci Allah dan RasulNya. Belon tahu tabarruj?</p>
<p>Gini, asal â€?Tabarrujâ€™ di ambil dari kata al-buruj yang berarti bangunan benteng, istana, atau menara yang menjulang tinggi. Wanita yang bertabarruj berarti dia menampakkan tinggi-tinggi kecantikannya, sebagaimana benteng atau istana atau menara yang menjulang tinggi-tinggi. (Tabarruj, Niâ€™mah Rasyid Ridha)</p>
<p>Dengan kata lain, tabarruj adalah menampakkan keelokan tubuh dan kecantikan wajah berikut pesonanya. Atau seperti kata Imam al-Bukhari, â€?Tabarruj adalah perbuatan wanita yang memamerkan segala kecantikan miliknyaâ€?.</p>
<p>Dalam ajang PPMI atau sejenisnya, para peserta bisa terjebak dalam perlombaan bertabarruj-ria. Seislami apa pun syarat yang diajukan bagi peserta kontes, ujungnya mereka kudu berlenggak-lenggok di atas â€?kucing berjalanâ€™ alias cat walk memamerkan busana Muslimah dan tentu saja kecantikan wajahnya untuk memperebutkan perhatian dewan juri layaknya peragawati.</p>
<p>Kondisi ini diperparah oleh dunia fashion yang telah memodifikasi busana muslimah dengan aneka hiasannya menjadi alat untuk mempercantik diri yang menjadi daya tarik bagi kaum laki-laki. Udah nggak terlalu mikirin apa modelnya sempurna sesuai syariat atau nggak, yang penting tren, unik, cantik, dan beda. Nggak masalah sih kalo busana muslimah itu dipake dihadapan suami atau mahramnya, lha ini sengaja dipamerkan di ruang publik. Berabe Sis! Sumpah!</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œâ€?Wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya bagai punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan keharumannya, meskipun harum surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.â€? (HR Muslim)</p>
<p><strong>Muslimah sejati; cerdas dan bertakwa<br />
</strong>Sobat, sebagai seorang Muslim kita seneng banget ngeliat kian semaraknya acara-acara islami yang mengisi media massa. Seperti FNI, NTQ, Dakwah TPI, Top Model Muslimah, atau Pemilihan Putri Muslimah Indonesia. Begitu juga dengan popularitas simbol-simbol islami di tengah masyarakat. Busana muslimah yang menutup aurat tidak lagi asing. Senandung nasyid islami dengan mudah ditemui. Bahkan tayangan-tayangan islami kian mendominasi. Inikah tanda-tandanya kebangkitan Islam?</p>
<p>Kalo kita bandingkan dengan negara-negara Timur Tengah, ternyata di sana syiar dan simbol Islam udah jadi makanan sehari-hari. Tapi kenyataannya, tak ada satu negara pun yang mampu bangkit memimpin dunia. Malah sebaliknya banyak yang jadi bulan-bulanan negara penjajah Amerika, Inggris, atau Israel. Jadi yang benar, kebangkitan Islam nggak cuma dilihat dari syiar dan simbolnya aja. Karena yang terpenting itu pelaksanaan syariatnya yang dibingkai dalam Khilafah Islamiyah. Itu yang diajarkan Rasulullah saw. dan para sahabat kepada kita. Bener lho!</p>
<p>Karena itu, kalo kita pengen memberdayakan potensi yang dimiliki kaum Muslimah untuk kebangkitan ummat, nggak seharusnya terjebak dengan pagelaran kontes kecantikan. Kalo emang bener yang mo jadi prioritas penilaian bukan beauty, kenapa juga kudu pake acara fashion show. Lebih baik diadakan berbagai pengkajian-pengkajian Islam khusus Muslimah biar pada cerdas dan bertakwa. Misalnya, memberdayakan Majlis Taklim, diinstruksikan untuk diadakan pengkajian Islam seminggu sekali. Tujuannya, agar bangunan akidah para Muslimah lebih kokoh membentengi jiwanya. Meski ini keliatannya nggak populer, tapi kudu dijalanin biar muslimah pada cerdas. Bukan malah membius mereka dengan ajang seperti itu. Khawatir malah jadi nggak mendidik.</p>
<p>Terakhir, kita maaf banget kalo dianggap cerewet ngasih komentar sekaligus masukan untuk ajang kontes-kontesan ini. Asli lho, kita nggak punya maksud menyalahkan satu pihak. Karena kita juga nyadar kalo kondisi ini lahir akibat dari serangan budaya Barat yang bikin lingkungan kita kian steril dari aturan Islam dan minimnya pengetahuan kita tentang ajaran Islam. Tapi sekadar nyadar terus diem aja, tentu bukan sikap Muslim yang baik. Kita menyampaikan â€?uneg-unegâ€™ ini sebagai bagian dari dakwah Islam. Kita nggak pengen para Muslimah terjebak dalam gaya hidup yang dibalut mitos kecantikan sebagai standar dalam menilai martabat seorang wanita. Jahiliyah banget itu mah.</p>
<p>So, mari sama-sama gelorakan pengajian untuk semua. Dalam forum pengajian itulah kaum Muslimah akan semakin memahami kemuliaannya sebagai hamba Allah. Sehingga nggak perlu pake kontes-kontesan untuk mensosialisasikan busana muslimah atau menjaring muslimah sejati. Karena itu semua adalah konsekuensi dari keimanan kita terhadap Allah dan RasulNya. Kalo imannya udah manteb, maka insya Allah nggak cuma penampilannya aja yang syarâ€™i, tetapi cara berpikir dan berperilakunya pun secara alami akan ikut nyarâ€™i. Ini baru muslimah sejati. Betul? Itu sebabnya, gelorakan pengajian. Yuk! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 295/Tahun ke-7/29 Mei 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemilihan-putri-muslimah-haruskah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebangkitan or Kebangkrutan?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kebangkitan-or-kebangkrutan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kebangkitan-or-kebangkrutan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:46:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kebangkitan-or-kebangkrutan/</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 20 Mei setiap tahun diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Di setiap instansi pemerintahan dan sekolah-sekolah negeri biasanya diadakan upacara bendera. Meski nggak bisa dipungkiri kamu-kamu biasanya pada berebut memilih barisan paling belakang supaya bisa ngobrol sendiri kalo udah pada bete sama ritual ala nasionalisme itu. Iya apa iya? Ehm&#8230;
Kalo kamu jeli, kebangkitan nasional yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 20 Mei setiap tahun diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Di setiap instansi pemerintahan dan sekolah-sekolah negeri biasanya diadakan upacara bendera. Meski nggak bisa dipungkiri kamu-kamu biasanya pada berebut memilih barisan paling belakang supaya bisa ngobrol sendiri kalo udah pada bete sama ritual ala nasionalisme itu. Iya apa iya? Ehm&#8230;<span id="more-296"></span></p>
<p>Kalo kamu jeli, kebangkitan nasional yang dibangga-banggakan tiap tahun itu semuanya cuma kamuflase. Nggak ada buktinya. Bahkan fakta yang ada menunjukkan sebaliknya. Jangankan bangkit, bisa bertahan hidup aja sudah lumayan bagus. Wah, kesannya kayak kritis banget yah? Emang iya kok. Mau buktinya?</p>
<p><strong>Bangkit atau bangkrut?<br />
</strong>Sebuah negeri yang bangkit seharusnya udah maju dari dulu. Bukan malah terpuruk kayak sekarang ini. Kebetulan bulan Mei juga ada peringatan hari pendidikan yang jatuh tanggal 2 tiap tahunnya. Ternyata masih banyak hal mengenaskan tentang nasib pendidikan negeri ini. Seorang bapak guru bernama Pak Mahmud disiarkan sebuah stasiun TV yang cuma mendapat gaji Rp 400 rb untuk menghidupi anak dan istrinya. Padahal itu di ibu kota Jakarta yang bea hidup begitu tinggi. Jadilah beliau â€?nyambiâ€™ jadi pemulung agar dapur tetap mengepul.</p>
<p>Belum lagi sekolah-sekolah yang pada roboh. Mengutip puisi Prof. Winarno Surahman yang membuat emosi Wapres Jusuf Kalla, sekolah di negeri ini kayak kandang ayam (ato kandang ayam yang mirip sekolah ya?). Lalu ada juga tempat belajar beratap terpanjang di dunia alias di bawah jalan tol. Karena harga pendidikan formal semakin mahal saja dari hari ke hari sehingga tak terjangkau rakyat kecil. Gimana nggak kalo subsidi pendidikan dari tahun ke tahun semakin dikurangi. Kalo nggak salah cuma 9% dari APBN pendidikan yang diamanatkan sebesar 20%. Bandingkan dengan prosentase hutang luar negeri sebanyak 30% dari APBN. Bangsa ini telah terperangkap dalam hutang!</p>
<p>Bukan hanya di bidang pendidikan saja keterpurukan negeri ini. Tapi juga di berbagai aspek kehidupan kondisi negeri ini masih berada pada taraf mengenaskan. Coba amati di bidang ekonomi. Harga BBM yang melambung tinggi mengakibatkan kian terpuruknya perekonomian negeri ini. Harga-harga membubung tinggi. Beras dan minyak tanah tak terbeli. Bahkan di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi subur makmur ditanami apa pun tumbuh subur, ternyata busung lapar menjadi sebuah tren. Meski kata para pejabat yang malu daerahnya ketahuan ada busung lapar, berusaha mengganti istilahnya dengan salah pola makan. Huh&#8230; jangankan mengatur pola makan, sedangkan apa yang dimakan aja nggak ada.</p>
<p>Belum lagi soal kesehatan. Tempo hari koran-koran ramai memberitakan tentang anak pemulung yang mati karena sakit dan tak mampu beli obat. Sudah gitu bapaknya tak mampu membeli tanah untuk mengubur anaknya. Bayangkan, untuk rumah masa depan seluas 1 x 2 meter aja harus beli. Ini satu contoh, masih banyak yang lainnya.</p>
<p>Kemiskinan ini mengakibatkan mata rantai yang pelik. Kriminalitas meningkat tajam. Demi sekaleng susu untuk bayinya seorang ibu terpaksa mencuri dari etalase supermarket. Ia pun langsung digiring ke satpam, dan dipermalukan di depan umum. Bandingkan dengan apa yang dilakukan terhadap koruptor negeri ini yang makan duit triliunan rupiah. Mereka bisa lenggang kangkung dengan enaknya melewati perbatasan untuk lari ke luar negeri.</p>
<p>Hukum bisa dinego, jaksa dan hakim bisa disuap. Berapa lama hukuman tergantung berapa dana yang disiapkan. Ini hanya sebagian kecil saja potret buram bangsa yang bangga dengan peringatan hari kebangkitan ini.</p>
<p><strong>Kebangkitan semu<br />
</strong>Amrik boleh aja bisa bikin pesawat supersonik yang kecepatannya menyamai kecepatan suara misalnya. Amrik dan negara maju lainnya juga sudah sampai ke bulan. Mereka mampu membuat berbagai macam teknologi untuk memudahkan kehidupan manusia. Karena katanya, majunya teknologi adalah ukuran bagi kebangkitan suatu bangsa. Belum lagi perekonomian yang tinggi pertumbuhannya membuat silau negeri-negeri dunia ketiga.</p>
<p>Tapi coba kamu lebih jeli sedikit. Nggak usah banyak, cukup sedikit aja. Apa harga dari kebangkitan semu dengan simbol bernama teknologi dan tumbuhnya ekonomi itu? Masyarakat menjadi workcoholic alias gila kerja yang kemudian diikuti dengan depresi dan stres berat. Karena tekanan yang cukup berat ini mereka lari ke bar dan pub untuk mencari hiburan. Mereka akrab dengan minuman alkohol untuk menghilangkan kepenatan. Ini saja? Belum. Tahan nafas yah&#8230;</p>
<p>Di bar dan pub selalu ada wanita penghibur alias pelacur untuk memberi kepuasan sesaat. Rumah tangga? Jangan ditanya. Silahkan kalian survey sendiri berapa pernikahan hancur karena asas sekuler dan kapitalis yang diterapkan negara kemudian mendarah daging dalam masyarakatnya. Ketika keluarga hancur, bagaimana nasib anak-anaknya? Brokenhome. Mereka menjadi anak yang kurang kasih sayang dan tumbuh menjadi anak-anak nakal.</p>
<p>Kamu-kamu tahu Tom Cruise kan? Yang menurut versi salah satu majalah di Amerika adalah cowok terganteng di dunia. Doi adalah korban dari brokenhome dan masa kecilnya sering dilaluinya dengan pukulan demi pukulan dari ayahnya. Gimana jadinya dia ketika besar? Gonta-ganti cewek dan terakhir menghamili Katie Holmes di luar nikah.</p>
<p>Kembali ke anak sebagai korban. Di negeri sekuler sono, bunuh diri menjadi tren tersendiri bagi anak-anak karena hal sepele. Diolok teman, pulang langsung bunuh diri. Bahkan di negeri ini kita masih belum lupa tragedi anak SD yang mencoba bunuh diri karena tak mampu membayar uang iuran sebesar 2500 rupiah. Lihatlah betapa rentan kondisi psikologis mereka yang seumuran adik-adik kita ini. Ini karena mereka miskin.</p>
<p>Eh, ngomongin soal kemiskinan, kesenjangan antara kaya dan miskin lebar dan dalam banget tuh. Meski di Barat pengangguran diberi tunjangan (ini yang sering bikin iri masyarakat kita), sebetulnya yang miskin tetap aja miskin. Uang tunjangan itu tak sanggup untuk menanggung beban hidup yang sangat mahal di negeri yang mengagungkan materi.</p>
<p>Belum lagi kalo ngomongin kriminalitas yang angkanya semakin tinggi. Perkosaan, pembunuhan, bahkan pelecehan terhadap agama tertentu dalam hal ini Islam. Mereka yang katanya mengagungkan HAM ternyata adalah pelanggar paling depan. Lihat saja serangan Amerika terhadap Irak dan pelarangan jilbab di sekolah dan institusi resmi lainnya. So, bagi mereka yang silau dengan peradaban Barat yang katanya sudah bangkit, kudu berpikir ulang kalo masih punya akal sehat dengan data-data di atas. Halaman ini nggak bakal cukup untuk membuka kebobrokan sistem yang berasas sekuler ini. Sumpah!</p>
<p><strong>Bandingkan dengan yang ini&#8230;<br />
</strong>Gaji guru TK dihargai sebesar 15 dinar yang kalo dikurs-kan senilai 15 juta rupiah. Pendidikan gratis bagi semua warga negaranya mulai level apa pun. Jadi gak harus nunggu kucuran BOS yang cuma untuk SD dan SMP aja. Udah gitu, perpustakaan terbuka untuk semua orang, bukan hanya akademisi aja. Ada pemandian dan kolam renang serta disediakan kantin gratis bagi yang rajin ke perpustakaan untuk menimba ilmu. Yang namanya murid-murid cerdas jangan ditanya lagi. Selevel Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Taimiyah, al-Khawarizmy, dll mudah bermunculan.</p>
<p>Ibnu al-Baitar yang ahli pengobatan dari Spanyol, Ibnu Hayyan Jabir yang ahli kimia modern dan telah menulis 100 buku lebih, Abu Kamil Shujaâ€™ yang ahli aljabar Islam tertua. Beliau ini juga yang telah menemukan perhitungan akar kuadrat dan persamaannya pada abad 13.</p>
<p>Hmm&#8230;selama ini kita mengira ini ditemukan oleh Barat kan? Beliau ini juga menulis kitab al-Faihrits yaitu katalog buku tentang matematika dan astrologi. Pada abad 10 bangsa-bangsa Eropa menterjemahkan karya ini dalam bahasanya masing-masing. Lalu ada juga Abu Wafaâ€™ yang mengembangkan trigonometri (ukur sudut). Beliau juga penemu rumus penting dalam ilmu segitiga. Sin (a+b) = (sin a cos b + sin b cos a) : R yang semula dikira ditemukan oleh Copernicus. Bahkan Paus Silvester II merasa bangga mengakui dirinya menjadi murid orang-orang Islam di Cordoba. Keren banget kan?</p>
<p>Di bidang perekonomian lebih asyik lagi. BBM, listrik, tambang bumi, dan kekayaan alam lain nggak boleh tuh dimiliki individu atau perusahaan asing. Itu semua menjadi milik umum dan dikelola negara untuk digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Nggak ada ceritanya harga BBM naik melulu dan mencekik leher kayak sekarang ini. Wong kita memang kaya minyak kok, ngapain bayar mahal? Nggak ada riba diberlakukan, yang ada adalah bagi hasil sesuai hukum yang berlaku dalam hal ini yaitu hukum syaraâ€™.</p>
<p>Di bidang sosial, kehidupan masyarakat cenderung tenang dan damai karena pancaran ketakwaan di tiap individu mulai level rakyat jelata hingga pejabat negara terlihat jelas. Nggak ada yang kelaparan karena sistem distribusi yang merata dan sifat amanah pada individu pejabat serta hukum yang tegas diberlakukan. Gizi buruk dan busung lapar? No way. Nggak bakal ada yang sekarat karena tak mampu bayar obat. Tak ada juga penggusuran sewenang-wenang tanpa ridho pemilik tanah. Yahudi yang rumahnya digusur untuk membangun mesjid bisa memperoleh haknya lagi tanpa harus menangis-nangis kepada petugas tramtibmas.</p>
<p>Huah&#8230;masih banyak lagi deh kalo mau diceritakan semua di sini. Intinya kalo kebangkitan itu ukurannya adalah IPTEK, nggak ada apa-apanya dah peradaban Kapitalisme itu. Coba, mana ada pemimpin di negeri sekuler yang mau memikul gandum di pundaknya sendiri tatkal tahu ada rakyatnya yang kelaparan? Yang ada malah saling lempar tanggung jawab.</p>
<p>Nah, gimana nih supaya abad cemerlang dengan ideologi yang benar itu bisa bangkit lagi?</p>
<p><strong>Ayo bangkit!<br />
</strong>Bangkit itu berpindah atau berubahnya sebuah umat, bangsa, atau individu dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik. Begitu kata Ustadz Hafidz Shalih dalam buku karangannya an-Nahdhoh yang diterjemahkan menjadi Falsafah Kebangkitan.</p>
<p>Kita bisa bangkit kalo kita tahu apa aja yang menyebabkan kebangkitan bisa tercapai. Ternyata bukan penguasaan IPTEK atau banyaknya sekolah-sekolah didirikan. Tapi meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat akan dirinya sendiri, manusia dan alam sekitar. Kalo ia paham bahwa ternyata ketiga hal tersebut adalah fana, maka ia akan paham bahwa ada yang Mahakekal.</p>
<p>Setelah memahami ini, maka ia harus memahami bahwa Yang Mahakekal tadi bukan cuma bisa menciptakan, tapi Ia juga sudah menciptakan seperangkat aturan untuk diterapkan. Karena sifatNya yang Maha, maka Ia tahu yang terbaik buat kita. Nggak bakal ada ajang uji coba sistem diterapkan pada kita. Emangnya kita ini kelinci percobaan? Dicoba sistem kapitalis ternyata gagal, ganti sosialis. Sosialis gagal ganti Kapitalis. Huh&#8230;bodoh banget tuh yang suka melakukan kayak gitu. Ingat ini bukan ajang coba-coba (hehe, AFI banget neh;p)</p>
<p>So, negeri ini nggak bakal bangkit selama menjadikan sistem sekulerisme-kapitalisme sebagai acuan. Yakin 100%. Karena cuma dengan Islam sebagai ideologi dan sistem yang benar negeri ini dan negeri-negeri lain di dunia ini bisa mencapai kebangkitan hakiki. Kebangkitan yang tanpa meninggalkan persoalan baru. Memecahkan masalah tanpa menciptakan masalah baru. Dan, ide kebangkitan ini cuma omong kosong bila kamu sebagai tongkat estafet kepemimpinan masih bengong kayak sapi ompong.</p>
<p>Yuk ngaji yuk! Ngaji Islam sebagai the way of life, yang melingkupi seluruh aspek kehidupan tanpa kecuali. Jadikan negeri ini bangkit yang sebenarnya, bukan malah bangkrut yang sebenarnya. Kamu mau kan? So pasti dong ah. Siipp! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 294/Tahun ke-7/22 Mei 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kebangkitan-or-kebangkrutan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Robohnya Sekolah Kami</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/robohnya-sekolah-kami</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/robohnya-sekolah-kami#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/robohnya-sekolah-kami/</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 2 Mei dikenal para pelajar sebagai Hari Upacara Nasional, eh Hari Pendidikan Nasional. Setiap tahun diperingati sebagai penghormatan terhadap jasa besar pahlawan pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Sayangnya, pendidikan di negeri kita tak kunjung membaik. Jangankan kualitasnya, sarananya saja seringkali nggak memenuhi kelayakan untuk dipakai sebagai tempat belajar. Ini salah satu potret buram pendidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 2 Mei dikenal para pelajar sebagai Hari Upacara Nasional, eh Hari Pendidikan Nasional. Setiap tahun diperingati sebagai penghormatan terhadap jasa besar pahlawan pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Sayangnya, pendidikan di negeri kita tak kunjung membaik. Jangankan kualitasnya, sarananya saja seringkali nggak memenuhi kelayakan untuk dipakai sebagai tempat belajar. Ini salah satu potret buram pendidikan Indonesia.<span id="more-295"></span></p>
<p>Potret inilah yang coba dihadirkan dalam cerita sinetron dai cilik (Sidacil) yang sempat ditayangkan di stasiun Lativi, dengan judul, â€?Sekolah Kita Mau Robohâ€?. Kecintaan Zagar dan temen-temen sekelasnya terhadap sekolahnya yang hampir rubuh, tak menyurutkan usaha mereka agar bisa tetap belajar. Bayangin aja, pernah Zagar dkk belajar di luar kelas; pake kacamata biar nggak kelilipan debu; atau pake helm demi melindungi kepala dari jatuhan langit-langit kelas.?  Tapi semuanya itu cuma bertahan sementara. Yup, mereka mau nggak mau kudu terima kenyataan kalo gedung sekolah mereka emang udah nggak layak dipake belajar. Hiksâ€¦hiksâ€¦hiksâ€¦</p>
<p>Kondisi ini pas sekali dengan penggalan puisi yang ditulis dan dibacakan oleh seorang abdi pendidikan, Prof. Winarno Surachmad, saat peringatan Hari Guru Nasional dan Hari Aksara Internasional di Solo, Jawa Tengah (27/11/05), â€œ&#8230;&#8230;Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam? Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kedaluwarsa? Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?&#8230;â€?.</p>
<p><strong>Nggak cuma ada dalam cerita</strong><br />
Cerita bangunan sekolah yang rusak berat seperti dalam Sidacil di atas, bukan cuma omong kosong. Kenyataannya, puluhan ribu gedung sekolah di negeri kita udah rusak parah. Baik di kota-kota besar hingga desa terpencil yang jauh dari pusat kota. Ibaratnya, kalo ada semut yang iseng jingkrak-jingkrak di atas sekolah itu, maka dalam hitungan detik, bakal rata dengan tanah. Hihihiâ€¦.emangnya kartun.</p>
<p>Di Jakarta Timur, 127 gedung sekolah rusak berat. Di Kota Bekasi sedikitnya terdapat 80 gedung SD Negeri yang kondisinya sudah ringkih atau lapuk. Di Sumatra Utara, jumlahnya mencapai angka 37.879 gedung sekolah. Di Jambi, tepatnya di kabupaten Muara Jambai, dari 223 SD yang ada, 76 di antaranya rusak berat. Di Kalsel terdapat 12.238 ruang kelas yang rusak, sebanyak 5.036 ruang kelas dalam kondisi rusak berat dan sebagian sudah tidak dapat dipergunakan.</p>
<p>Sementara di planet Pajajaran alias Jawa Barat, sebanyak 97.210 ruang kelas dari sekolah-sekolah yang ada rusak. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) tahun 2005, sebanyak 47.066 ruang kelas rusak berat dan sisanya rusak ringan. Seluruh ruang kelas sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Jabar berjumlah 191.704 dengan kerusakan berupa dinding berlubang, lantai terkelupas, dan atap bocor. Akibatnya, tidak hanya kegiatan belajar-mengajar di sekolah tersebut terganggu, tetapi keselamatan guru dan murid juga terancam (Kompas, 20/04/06). Ngeri banget kan?</p>
<p><strong>Gimana bisa konsen belajar?<br />
</strong>Sobat muda muslim, kebayang nggak sih suasana belajar kalo atap ruang kelas kita nyaris roboh dimakan usia? Kalo kejatuhan cicak sih masih mending cuma kaget doang. Nah ini, kalo kejatuhan langit-langit kelas yang udah rapuh, alamat pindah kelas ke rumah sakit tuh. Yang ada, kita malah paranoid dengan bahaya yang mengancam keselamatan jiwa. Gimana bisa konsen belajar?</p>
<p>Ini yang pernah terjadi pada sepuluh siswa kelas dua Madrasah Tsanawiyah al-Huda di Kampung Pamegetan, Parung Ponteng, Tasikmalaya, Jabar. Mereka luka-luka menyusul ambruknya atap bangunan saat para murid belajar bahasa Indonesia. Mereka dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Tasikmalaya. Empat di antaranya menderita luka cukup parah di kepala. (Liputan6.com, 02/04/06).</p>
<p>Di Kecamatan Cibiuk, Garut, Jawa Barat, sekitar 149 murid Sekolah Dasar Negeri Lingkung Pasir 01, terpaksa diungsikan ke SDN Lingkung Pasir 03 menyusul rusaknya bangunan sekolah. Akibatnya, para siswa belajar dengan berdesak-desakan. Bayangin aja, satu kelas kini menampung 65 orang. Padahal, idealnya satu kelas hanya menampung 20 siswa. Ironisnya, bangunan SDN Lingkung Pasir 03 yang menampung 309 siswa dari dua sekolah ini juga dalam kondisi memprihatinkan. Gimana bisa konsen belajar?</p>
<p>Selain bangunan sekolah yang sudah rapuh, permasalahan minimnya sarana penunjang belajar siswa ikut ambil bagian dalam potret buram pendidikan di negeri kita. Sekitar 20 persen atau setara denga 195 dari total 975 Sekolah Dasar di Kabupaten Tangerang tidak mempunyai meja dan kursi. Akibatnya, para siswa belajar me-ngampar alias lesehan. Sementara ratusan siswa SDN Garung, Kecamatan Kibin, Serang, Banten, belajar sambil berdesakan dan berdiri. Sebab, kursi dan meja yang tersedia hanya cukup untuk separuh siswa yang berjumlah 258 orang. Murid yang belajar sambil berdiri sering sakit pinggang, kaki, dan kepala. Selain itu, mereka juga kesulitan berkonsentrasi karena ruangan pengap serta bising. Tuh kan, gimana bisa konsen belajar?</p>
<p><strong>Minim anggarannya atau cacat sistemnya?<br />
</strong>Sobat muda muslim, bukan satu-dua kali para kepsek yang gedung sekolahnya udah mau ambruk, atapnya rapuh, dinding kelasnya berlubang, list kaca jendelanya dimakan rayap, atau kekurangan meja dan kursi untuk belajar, mengadukan permasalahannya ke pemerintah pusat terkait. Dengan penuh kesabaran, para pahlawan tanpa tanda jasa itu menggantungkan masa depan pendidikan anak-anak didiknya di tangan pemerintah. Tapi apa jawaban pemerintah?</p>
<p>Beragam. Dari sekadar janji hingga realisasi. Tapi dari semua jawaban itu, hasilnya cuma satu, potret pendidikan di negeri kita masih tetap buram. Setiap tahun jumlah bangunan sekolah yang terancam ambruk dimakan usia kian bertambah. Tanyaken apa?</p>
<p>Kalo pemerintah di desak, keluar deh jawaban klasik, anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pendidikan minim. Lihat saja, di Jawa Barat, yang terdapat 35.190 sekolah rusak ringan dan 37.621 sekolah rusak berat dibutuhkan dana Rp 1,1 triliun hanya untuk perbaikan ruang kelas. Tidak termasuk kelengkapan sarana/prasarana penunjang pendidikan. Padahal, dana yang dikucurkan untuk dunia pendidikan hanya 12% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau sekitar Rp 485 miliar (Pikiran Rakyat, 02/12/05). Minim banget kan?</p>
<p>Pemerintah sendiri melalui Mendiknas Bambang Sudibyo mengungkapkan, pemerintah pusat hanya menyediakan dana Rp 4,1 triliun untuk perbaikan sekolah yang rusak di seluruh Indonesia. (Pikiran Rakyat, 21/04/06). Kecil sekali Pak? Untuk beresin ruang kelas yang di Jawa Barat aja udah abis seperempatnya. Ya, karena pemerintah pusat cuma bisa ngasih setengahnya dari total dana yang dibutuhkan. Itu artinya, setengahnya lagi bakal ditanggung oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Nah lho, gimana urusannya tuh?</p>
<p>Kalo itung-itungannya kayak gini, alamat bakal rakyat lagi yang kena getahnya nanggung perbaikan gedung sekolah. Otomatis biaya pendidikan makin membengkak. Nasib&#8230;nasib. Udah mah sekolah kayak kandang ayam, buku pelajarannya kadaluarsa, bangku dan kursi tinggal rongsokan, tenaga pengajar seadanya, eh masih kudu betulin sendiri kandang eh, sekolah tercinta. Rupanya anggaran pendidikan dari negara ibarat sepotong roti yang kudu dinikmati oleh puluhan mulut yang ternganga lebar menahan lapar. Jangankan kenyang, bisa nyicipin aja udah untung banget tuh!</p>
<p>Pada akhirnya, kita wajib nyadar kalo minimnya anggaran pendidikan diakibatkan negara kita terjebak dalam kehidupan sekular dan cengkeraman kapitalis penjajah. Setiap tahunnya cekikan utang luar negeri telah merampok APBN yang pas-pasan. Swastanisasi terhadap kekayaan alam di Papua atau Blok Cepu bikin kantong negara cekak secekak-cekaknya.</p>
<p>Inilah realitas buruk yang kita hadapi dalam kehidupan Sekularisme-Kapitalisme. Sayangnya, sistem kehidupan Sekulerisme-Kapitalisme ini masih aja dipertahankan. Padahal mah, kalo udah ketauan cacat, langsung aja pecat. Bukannya makin terpikat. Betul ndak?</p>
<p><strong>Pendidikan dalam Pemerintahan Islam</strong><br />
Perhatian negara terhadap sektor pendidikan adalah harga mati dalam pemerintahan Islam. Sebab Rasulullah saw. telah bersabda: â€œmenuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimahâ€? (HR Ibnu Adi dan Baihaqi)</p>
<p>Makanya negara pun wajib menyediakan fasilitas yang diperlukan agar pelaksanaan pendidikan rakyat bisa berjalan sempurna. Nggak boleh ada tawar menawar lagi untuk menjaga kenyamanan belajar di sekolah, kelengkapan sarana dan prasarana penunjang pendidikan, kesejahteraan bagi para tenaga pengajar, hingga pendidikan bebas biaya. Sebagaimana kaedah syara menegaskan: â€œTidak sempurnanya suatu kewajiban karena tidak adanya sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib (pula)â€?</p>
<p>Dengan landasan inilah, Khalifah al-Muntashir pernah mendirikan Madrasah al-Mustansiriah pada abad ke 12 sebagai satu-satunya sekolah Islam yang terbesar di masa itu di kota Bagdad, dan khusus ditujukan bagi pendidikan yang bebas biaya. Di sekolah ini, setiap siswa menerima bea siswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas).</p>
<p>Di samping itu setiap hari kehidupan para siswa di jamin. Makanannya berupa roti dan daging tanpa dipungut biaya sepeser pun. Terdapat pula perpustakaan yang lengkap yang dipenuhi kitab-kitab tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Tak ketinggalan di dalamnya disediakan kertas dan tinta gratis untuk dimanfaatkan para peneliti dan penyalin naskah. Dalam sekolah itu pun disediakan pula sarana pemandian-pemandian dan rumah sakit dengan dokter-dokter yang siap merawat kesehatan pelajar.</p>
<p>Soal kesejahteraan guru, Syekh Najmuddin al-Khubusyani adalah salah seorang yang diangkat Sultan Salahuddin untuk mengajar di sekolah as-Shalahiyah. Sultan memberinya 40 dinar setiap bulan sebagai gaji mengajar dan 10 dinar sebagai gaji mengawasi wakaf-wakaf sekolah, juga 60 ritl Mesir roti setiap hari dan dua kantong besar air setiap hari. Wuih, keren banget ya?</p>
<p>Sobat muda muslim, itulah contoh model pendidikan dalam kekhilafahan Islam. Mungkin kedengarannya kayak di negeri dongeng ya? Hmm.. itu karena kita udah terbiasa menyaksikan kerusakan seperti sekarang ini. Oya, bukan pula sebagai romantisme sejarah dengan menyampaikan contoh tadi, tapi ini sekadar ngasih gambaran, bahwa beginilah cara Islam mensejahterakan rakyatnya. Insya Allah, Islam bisa memberikan yang terbaik buat umat manusia.</p>
<p>Untuk masalah pendidikan, Islam sangat memuliakan orang yang mau menuntut ilmu dan yang mengajarkan ilmu. Jasa besar mereka layak dihargai negara dengan jaminan kehidupan dunianya. Sehingga dari sinilah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam seperti al-Khawarizmi, Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Sina, atau Imam empat Madzhab yang memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Bahkan berkahnya dirasakan juga oleh kalangan nonMuslim. Oke nggak seh?</p>
<p>Kini, saatnya kita menyadari kalo pemerintahan yang sekuler dan gaya hidup kapitalislah yang telah merenggut masa depan pendidikan tunas-tunas bangsa. Kagak pake dilama-lamain, nih sistem Sekularisme-Kapitalisme kudu segera dibuang dan menggantinya dengan Islam. Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Insya Allah, potret buram pendidikan di negeri kita dan negeri lainnya berangsur-angsur membaik sebagaimana masa kejayaan Islam dulu. So, potret buram? Wassalam aja deh! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 293/Tahun ke-7/15 Mei 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/robohnya-sekolah-kami/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WANTED: Ikhwan Idaman!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/wanted-ikhwan-idaman</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/wanted-ikhwan-idaman#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:41:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/wanted-ikhwan-idaman/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa sih yang nggak ngarepin kebaikan? Kita yakin banget bahwa setiap orang pengen dapetin kebaikan. Ia berdoa dan berusaha untuk mendapatkan kebaikan tersebut.
BTW, nggak ada salahnya juga kalo ngarepin kebaikan dalam urusan pendamping hidup. Namanya juga pendamping hidup, berarti harapannya, selama kita hidup ya si dia menjadi pendamping kita. Begitu pun sebaliknya.
Sobat muda muslim, kalo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa sih yang nggak ngarepin kebaikan? Kita yakin banget bahwa setiap orang pengen dapetin kebaikan. Ia berdoa dan berusaha untuk mendapatkan kebaikan tersebut.</p>
<p>BTW, nggak ada salahnya juga kalo ngarepin kebaikan dalam urusan pendamping hidup. Namanya juga pendamping hidup, berarti harapannya, selama kita hidup ya si dia menjadi pendamping kita. Begitu pun sebaliknya.<span id="more-294"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, kalo pekan kemarin kita bahas dari sisi ikhwan yang punya hajat, sekarang kita pengen menelusuri harapan dan impian para akhwat tentang ikhwan. Maksudnya biar adil (satu sama), gitu lho.</p>
<p>Oya, buat kamu yang masih SMA (apalagi SMP), tolong jangan merasa kalo bahasan kita kali ini tuh dewasa banget. Jangan ya. Soalnya, kalo kamu udah baligh kan disebut dewasa juga. Itu sebabnya, insya Allah masih cocok. Cuma mungkin perlu dengan catatan tambahan, bahwa kalo sampe mikirin nikah sementara masih berseragam putih-biru dan putih-abu, jangan dulu deh. Oke? Jadiin aja tulisan ini sebagai info penting buat ke depannya.</p>
<p>Yup, pembelajaran seperti ini insya Allah penting banget. Sebab, kita juga ngeri dengan perkembangan temen-teman yang kayaknya udah â€œsiaga satuâ€? dalam kasus pergaulan bebas (termasuk seks bebas di dalamnya). Bahaya banget gitu lho. Jadi intinya, daripada anak-anak SMP or SMA dijejali dengan gaya hidup permisif dan hedonis, yang akhirnya membuat mereka salah asuh dan salah arah, mendingan kita kenalkan model pergaulan dalam Islam, khususnya dalam membentuk prinsip mencari pendamping hidup. Bukan mencari teman kencan saat pacaran. Tul nggak?</p>
<p>Sobat muda muslim, setiap perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara pandang kita terhadap perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita tentang hidup. Kalo kita memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu sampai titik tertentu mati (dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan kita pun bakalan ngikutin apa yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita bisa bebas berbuat apa saja sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa hidup cuma di dunia. Kehidupan setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya, kita jadi nggak kenal ada istilah pahala dan dosa.</p>
<p>Sebaliknya, bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah Swt. yang menciptakan kita semua, terus hidup di dunia juga adalah untuk ibadah kepadaNya, dan setelah kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan amalan yang kita lakukan di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan, insya Allah balasannya pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih banyak atau selama hidup kita maksiat, jelas dosa dan kita ditempatkan di akhirat di tempat yang buruk, yakni neraka. Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Nah, dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka ketika berbuat apapun kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang kehidupan yang benar itu. Termasuk ketika mencari pendamping hidup kita. Nggak sembarangan lho. Nggak asal seneng ngeliatnya aja. Nggak asal bisa dipamerin (emangnya piala?). Nggak asal cuma banyak harta. Intinya sih, kita bakalan berpikir gimana seharusnya menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan tersebut.</p>
<p>Ini penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya â€œsebagaimana adanya kehidupanâ€?, ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu dianggap berhak melakukan apa saja, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina, minum khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran dsb). Karena merasa mereka berhak ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar.</p>
<p>Sementara yang berpikirnya â€œsebagaimana seharusnyaâ€?, maka ia akan nyocokkin dengan aturan yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini harus sesuai aturan yang benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar.<br />
BTW, kayak gimana sih ikhwan yang dicari, diharepin, dan diinginkan akhwat?</p>
<p><strong>Keimanannya dong yaâ€¦<br />
</strong>Sebagai seorang muslim, tentunya setiap perbuatan kita wajib menyesuaikannya dengan aturan Islam. Nggak boleh sesukanya. Nah, termasuk dalam hal memilih calon pendamping hidup, baik ikhwan maupun akhwat. Tapi di edisi pekan ini kita pengen tahu pendapat para akhwat soal ikhwan idamannya.</p>
<p>Sebut saja Mawar, ia punya kriteria ikhwan idaman, â€œYang saleh, baik, cakep, pengertian, ngerti agama,â€? paparnya via e-mail yang pertanyaan udah disebar STUDIA via beberapa mailing list.</p>
<p>â€œKalo aku sih pengennya tuh ikhwan taat beribadah alias sholeh, hormat sama ortu, sopan, baik hati, pinter. Tapi yang jelas yang pertama agamanya harus OK dan punya semangat berjuang di jalan Allah dengan istiqomah,â€? tulis Ninink dalam e-mailnya.</p>
<p>Mila, bukan nama sebenarnya ikutan ngasih komen, â€œTipe ikhwan yang disukai, biasa, standar akhwat: Baik agamanya, baik akhlaknya, baik sama?  keluargaku, mengerti aku (egois banget ya? Hehe..), lebih pinter dari aku (tapi?  bukan pinter ngeboong ya), punya inner (enak dipandang juga boleh), udah punya?  penghasilan en mapan (kalo ini request-an ibuku&#8230; hehehe),â€? Mila ngejembrengin via e-mailnya.</p>
<p>Hmm.. para ikhwan, kedengarannya sederhana ya? Pengen ngarepin tipe ikhwan yang sholeh. Nah, masalahnya, amal sholeh tuh kan selalu digandeng dengan keimanan. Sebab, nggak mungkin ada amal sholeh tanpa keimanan. Nggak mungkin pula ada orang yang sholeh tapi nggak beriman. Tul nggak?</p>
<p><strong>Cakep? Boljug deh&#8230;<br />
</strong>Ehm&#8230; akhwat juga manusia lho. Maka wajar dong kalo kepengen â€?gandengannyaâ€™ (truk kaleee..) tuh sedap dipandang mata. Meski nggak semua ngelihat tampang, tapi ada juga yang ngarepin nilai plusnya. Artinya, imannya oke tapi ganteng juga dong. Boleh-boleh aja sih.</p>
<p>â€œJujur aja kalo ngeliat ikhwan yang cakep mupeng alias muka pengen juga kali ya, apa lagi kalo dia rajin beribadah. Tapi kayaknya hanya suka sebatas penglihatan aja kali. Syukur-syukur sih bisa berjodoh ama dia he..he..he..â€? tulis Ira di surat elektroniknya.</p>
<p>Sebut saja akhwat berinisial â€œsgâ€?, doi nulis begini dalam e-mail yang dikirim ke STUDIA, â€œTergantung sih, saya bukan tipe orang yang gampang suka ama cowok cakep. Sebab, saya suka cowok yang punya kekhasan cara pandang (ideologis gituuuh), rambutnya gondrong, celananya rombeng, berani berbicara, seneng baca buku (kecuali komik), terbuka/bijak (dalam arti, saat menemukan sesuatu yang benar mau menerima dan beralih dari cara pandang sebelumnya), wawasannya luas, tegas, PeDe, bertanggungjawab, cerdas booo, jidatnya nggak item, celana nggak nyongklang.â€? Waduh, nih sih diborong semua dong? Hehehe.. nggak apa-apa tiap orang kan berbeda selera.</p>
<p>Silakan aja kalo mo nyari yang ganteng or cakep. Sah-sah aja. But, pastikan dong yang Arjuna-mu itu taat beribadah dan sholeh. Tul nggak? Kalo cuma cakep doang sih rugi. Tapi kalo ada yang keimanannya oke, ilmu agamanya oke, dan cakep pula, boleh juga diincer. Asal ada syaratnya, dia juga suka sama kamu. Gubrak! (iya dong, masaâ€™ sih kita harus bertepuk sebelah tanganâ€”Pupus dong jadinya)</p>
<p><strong>Perilakunya menyenangkan<br />
</strong>Umumnya sih, ikhwan yang udah oke keimanannya, insya Allah oke juga kepribadiannya. Sebab, setiap apa yang dilakukan itu pastinya ngikutin cara pandang kehidupannya. Artinya, apa yang diilakukannya sesuai yang dipahami. Tapi, kadang praktek beda ama teori.</p>
<p>Nah, gimana nih dengan ikhwan yang jaim? Atau gimana pula menurutmu kalo ada ikhwan yang caper bin ganjen ama akhwat?</p>
<p>â€œAku nggak suka kalo ngeliat ikhwan yang jaim. Kayaknya dia tipe orang yang nggak pede untuk menunjukkan jati dirinya (cieee). Apalagi kalo ngeliat ikhwan yang caper dan ganjen ama akhwat, aku nggak suka banget. Karena biasanya ikhwan yang kayak gitu orangnya reseâ€¦ kan nggak semua akhwat suka diganjenin (99,99 % nggak suka),â€? tulis Ira ke STUDIA.</p>
<p>But, karena menurut Ira 99,99 persen akhwat nggak suka, ternyata masih ada tuh dari 0,01 persen akhwat yang suka tipe ikhwan yang jaim. Sebut aja Yanti, menurutnya, â€œSuka, sebab kita-kita jadi tengsin kalau mau jailin ikhwan jaim. Tapi kalo ganjen dan caper nggak sukaaaaa&#8230;. ikhwan kok nggak inisiatif cari kerjaan selain caper-in akhwatâ€? paparnya.</p>
<p>â€œKeimanan so pasti dong ya kudu jadi pilihan utama. But, perilakunya juga harus mencerminkan keimanannya. Jadi aku nggak suka sama ikhwan yang ganjen, yang suka caper sama akhwat, yang sombong, yang nggak mau akur sama ikhwan lainnya, yang ngomongnya nggak sopan. Meskipun dia ilmu agamanya bagus dan rajin berdakwah,â€œ jelas Arini.</p>
<p>Waaah&#8230; harap hati-hati buat para ikhwan. Jangan sampe para akhwat udah nggak sreg duluan sama kita pas ngelihat tampilan kita kayak gitu. Memang sih, ikhwan juga manusia (yeee.. nggak mau kalah sama akhwat yang juga manusia). Karena manusia, maka nggak bisa lepas dari kelemahan dan keterbatasan. Memang sih, tapi kan bisa dipermak jadi oke. Soalnya yang namanya afektif (perasaan or emosional) itu bisa dilatih dengan pembiasaan.</p>
<p><strong>Jika si dia melamarmu&#8230;<br />
</strong>Maaf, maaf, jangan keburu kepikiran pembahasan ini khusus dewasa. Ya, mungkin ini lebih baik, daripada ditulis: â€œjika si dia memacarimu&#8230;â€?. Tul nggak? Justru kita harus membiasakan pemahaman bahwa hubungan akrab pranikah (baca: pacaranâ€”gaul bebas-apalagi seks bebas) itu salah. Sementara hubungan yang sah untuk saling mencurahkan kasih-sayang dan perhatian antara ikhwan-akhwat, tentunya lewat pernikahan. Ini yang harus terus dikampanyekan. Itu sebabnya saya lebih memilih diksi alias pilihan kata, â€œmelamarmuâ€?. Setuju kan? Awas kalo nggak setuju (idih, ngancem!)</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo suatu saat kamu udah siap nikah, terus ada ikhwan yang mo ngelamar kamu, apa yang bakalan kamu lakukan?</p>
<p>â€œEhm&#8230; siapa pun ikhwan yang dateng. Aku nggak bisa langsung memutuskan. Sholat istikharah adalah solusinya. Tapi urusan fisik en materi, kayaknya nggak zamannya lagi dipermasalahkan (yang harus dilobi tuh ortu, coz siapa sih ortu yang rela anaknya hidup miskin. Kedengeran matre sih, tapi sebenernya ortu bersikap kayak gitu, aku yakin alasan mendasarnya bukan karena matre, mereka cuma pengen anaknya hidup bahagia. Ciee.. sok bijaksana gini nih).â€? Mila menulis barisan kata-kata ini via e-mailnya ke STUDIA. Bener nih?</p>
<p>Eh, kalo ada ikhwan yang gagah, keren, pinter, tsaqafah Islamnya juga tinggi, anak orang kaya, rajin berdakwah, sholeh, keimanannya mantep (wuih, ada nggak sih se-perfect ini di dunia nyata?), terus kamu ngarepin jadi pendamping hidupnya nggak?</p>
<p>â€œOh&#8230; so pasti gitu looh! Eh, tapi ikhwan yang seperti itu langka ditemukan,â€? Tika ngasih jawaban.<br />
â€œIngin banget, tapi semua keputusan akhir kan Allah yang nentuin, kita mungkin cuma bisa usaha,â€? Ninink menjawab dengan bijak.</p>
<p>Tapi, gimana kalo setelah sekian lama menanti ikhwan idaman hati, eh, yang dateng tuh ikhwannya dengan kriteria: wajah pas-pasan, miskin, ilmu agamanya biasa aja, hanya rajin sholat dan dakwah. Gimana tuh?</p>
<p>â€œItâ€™s ok. Iâ€™ll receive. Yang jelas dia orang yang terbuka, bijak, dewasa, dan merdeka. Kekayaan baginya adalah pemikiran yang diejawantahkan dalam kehidupan dan perjuangan. Dan atas dasar itu pula, mencuatlah kesadaran dalam dirinya utk menunaikan kewajiban-kewajiban yang dipanggulnya. Cukup itu, tidak lebih.â€? papar akhwat yang punya inisial â€œsgâ€? dalam e-mailnya ke STUDIA.</p>
<p>Sobat muda muslim, kayaknya kalo ditampung semua pendapatnya bisa panjang urusannya neh. Tapi yang jelas, kita bisa punya kesimpulan bahwa umumnya para akhwat mencari ikhwan idaman yang imannya mantep, sholeh, pengertian, perhatian, dan punya jiwa pengemban dakwah. Wuih, sederhana dan sangat wajar. Semoga ini menjadi pegangan dan ukuran kita semua. Karena, yang namanya keimanan (akidah) tuh kriteria number one euy dalam prioritas pilihan kita untuk mencari pendamping hidup. Nggak bisa ditawar lagi.</p>
<p>Oke, tulisan ini sekadar melengkapi aja dari tulisan di edisi pekan kemarin yang udah dibahas panjang-lebar (lengkap dengan dalil-dalilnya sebagai panduan bagi ikhwan dan akhwat). Artinya nih, tulisan di edisi ini sekadar penekanan aja dengan lebih banyak mengeksplor pendapat para akhwat. Mengungkap fakta aja dan sedikit ngasih penjelasan tambahan. Semoga bermanfaat dan jadi bahan renungan kita. Makasih. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 292/Tahun ke-7/8 Mei 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/wanted-ikhwan-idaman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalo Ikhwan Nyari â€˜Gebetanâ€™</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalo-ikhwan-nyari-gebetan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalo-ikhwan-nyari-gebetan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:36:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kalo-ikhwan-nyari-gebetan/</guid>
		<description><![CDATA[Ikhwan nyari gebetan? Gak salah nih? Eit, jangan suâ€™udzon dulu ya. Meski panggilan ikhwan identik dengan cowok pengajian, mereka juga kan manusia. Sama seperti cowok laen. Punya rasa punya hati dan nggak punya antivirus merah jambu. Itu artinya, ikhwan juga bisa kepeleset jatuh hati ama pesona lawan jenisnya. Terutama pada kalangan cewek pengajian yang biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ikhwan nyari gebetan? Gak salah nih? Eit, jangan suâ€™udzon dulu ya. Meski panggilan ikhwan identik dengan cowok pengajian, mereka juga kan manusia. Sama seperti cowok laen. Punya rasa punya hati dan nggak punya antivirus merah jambu. Itu artinya, ikhwan juga bisa kepeleset jatuh hati ama pesona lawan jenisnya. Terutama pada kalangan cewek pengajian yang biasa dijuluki akhwat. Soalnya mereka kan beraktivitas pada dunia yang sama. Dunia dakwah gitu, lho. Wajar dongs!<span id="more-293"></span></p>
<p>Bedanya ama cowok laen, cowok pengajian mungkin lebih punya pertimbangan mateng untuk jatuh cintrong. Ciiee, sori bukan narsis lho. So, nyari gebetan di sini bukan berarti nyari gandengan yang bisa diajak kencan atau jalan berduaan. Tapi untuk diajak serius melabuhkan cintanya di jalan yang halal. Loving you, Merit yuk? Enak..enak..enak..!</p>
<p>Nah, kali ini kita mo ngorek informasi dari temen-temen ikhwan seputar komentar tentang Liga Champions, eh tentang akhwat idaman mereka. Informasi berharga nih. Penasaran? Yuk!</p>
<p><strong>Akhwat idaman di mata ikhwan</strong><br />
Ngobrolin soal akhwat nggak bisa lepas dari sikap, karakter, dan aktivitas dakwahnya yang dengan mudah tercium oleh ikhwan. Ada yang lincah kayak bola bekel, ada yang rame mirip Nirina Zubir, ada yang aktif banget sampe nggak terlalu mikirin penampilan yang seadanya, dan lain sebagainya. Pokoknya mah bervariasi banget deh. Tapi, seperti apa sih akhwat yang disukai ikhwan?</p>
<p>Seorang teman dari negeri jiran, Hadi, via FS (Friendster)-nya ngasih komentar: â€œ..perempuan yang aku suka adalah sejuk mata memandang dek terlihat keluhuran akhlaknya menjadi sumber ketenangan jiwa bila hati bergeloraâ€?.? </p>
<p>Kalo menurut â€?penkhianatyangtelahmusnah (pytm)â€™ dalam YM(Yahoo Messenger)-nya, â€œyang jelas ngaji. Masalah pendiem, kalem, jaim, rame itu mah selera. Rame asyik dibawa ngobrol. Kalem asik kayak punya bidadari yang bisa diapain. Hahahaâ€¦â€?</p>
<p>Lain lagi pendapat Zubair, mahasiswa ITB (Kimia) 2002, akhwat yang disukainya adalah yangâ€¦.â€?Pandai berkomunikasi dalam bentuk verbal, sehingga dengan modal dasar ini mudah-mudahan setiap masalah yang ada mampu dikomunikasikan dan diselesaikan dengan kepala dingin, bahkan jadi modal yg sangat cukup untuk dakwahâ€?.<br />
Gimana dengan akhwat yang agak agre. Maksute, akhwat yang punya inisiatif berjuang setengah hidup nyari info tentang ikhwan idamannya. Walau diam-diam, tapi aktif tanya sana-sini-situ. Mungkin udah ngebet kali ye ama ikhwan incarannya en takut keburu dicantol ama yang laen. Heheheâ€¦.</p>
<p>â€?pytmâ€™ dan â€?javanehese2000â€™ bilang saat chatting, akhwat agre bukan tipe yang disukainya. Lantaran khawatir timbul fitnah bin gosip yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka lebih suka yang kalem. Akhwat banget, gitu lho. Rada pendiem en bisa jaim di tempat umum. Mungkin tipe-tipe akhwat yang nunggu diajuin proposal ama ikhwan gitu deh. Kayak mo tujuh belasan pake ngajuin proposal? Hihihiâ€¦</p>
<p>Tapi bagi Zubair, akhwat agre adalah tipe kesukaannya. â€œâ€¦karena kalo orangnya terlalu pendiem, kita nggak tau secara persis keadaan dia kayak gimana, kalo agresif alias ekspresif kan enak tuh, kalo ada masalah ketahuan jadi mungkin kita bisa bantu tolong.â€? Dengan kata lain, doi nggak gitu nyetel ama akhwat yang kalem, â€œ&#8230; soalnya kalo yang kalem susah ditebak isi hatinyaâ€?.</p>
<p>Oh ya, untuk tipe agresif meski nggak umum di kalangan akhwat, bukan berarti â€?celaâ€™ lho. Karena Siti Khadijah pun termasuk yang â€?agresifâ€™ hingga berani menawarkan diri kepada Muhammad bin Abdullah setelah terpikat oleh sifat dan karakter beliau.</p>
<p>Oke deh sobat, itu segelintir komentar temen-temen ikhwan tentang tipe akhwat yang disukainya. Yang pasti, mau yang agre ataupun kalem, semuanya sama baiknya selama sholehah. Tinggal pandai-pandainya kita aja mensikapinya. Dan yang nggak kalah pentingnya, akhwat yang bersangkutan suka juga ama kita. Biar nggak bertepuk sebelah tangan. Huehehe&#8230;</p>
<p><strong>FBI= Female Bidikan Ikhwan</strong><br />
Sobat, dari komentar ikhwan-ikhwan yang kena todong STUDIA pas ditanya soal akhwat idaman, mereka nangkepnya lagi ditanya soal sosok yang bakal jadi istrinya. Geer banget kan? Tapi wajar aja sih kalo kegeeran, itu kan gejala normal seorang jomblo. Padahal untuk calon istri, mungkin lebih khusus lagi kriterianya. Kayak gimana sih?</p>
<p>Menurut Anas, â€œTipe yang Anas suka..tipe yang memang benar-benar pantas jadi istri. Simpel kan? Dia harus bisa jadi benteng pertama dari sisi apapun bagi anak-anaknya..karena (mungkin) tugas suami adalah mencari nafkah (cenderung keluar)..â€?</p>
<p>Kalo pendapat Zubair, â€œ&#8230;Sopan, cukup ekspresif, pandai komunikasi, wajah lumayan cantik, kulitnya putih kalo bisa enn sabar. Bahkan kalo ada sih yang ilmu keislamannya baik + akhlaknya baik, jadi bisa ngingetin kita kalo salah&#8230;â€?</p>
<p>Namun kini, kondisi yang meminta kehadiran wanita di dunia kerja tak bisa dihindari. Ada aja akhwat yang sudah kerja di kantoran, menjadi buruh pabrik, atau pengen kerja meski udah merit. Gimana dengan akhwat model gini?</p>
<p>Kalo buat pytm, â€œ..pengennyah sih punya istri tuh di rumah ajah. Meski bisa dongkrak ekonomi dalam negeri, tapi tetep ajah amanah di rumah lebih gede. Boleh kerja tapi di sekitar rumah. Ga boleh jauh. Trus yang ringan. Jadi guru TK ato apalah&#8230;â€?</p>
<p>Sobat, sosok FBI alias female bidikan ikhwan sepertinya nggak harus punya kelebihan secara fisik, status sosial, suku, status pendidikan, atau dandanan. But, nggak berarti cuek banget, hanya saja bukan prioritas. Itu aja kok. Nggak lebih.</p>
<p><strong>Syakhsiyahmu yang kumau</strong><br />
Bagi bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan jenis yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman. Apa pasal?</p>
<p>Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat kita itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya.</p>
<p>Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan. Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk menjadi istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat dekat yang mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung musibah. Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan dalam bersikap pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet tuh!</p>
<p>Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits: â€œTiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.â€? (M. Fauzhil Adhim, â€?Kupinang Engkau dengan Hamdallahâ€™)</p>
<p>Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun rumah tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita ngelarang kamu pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake standar ideal: cantik, kaya, sholihah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria itu nggak ada, cukup asal mau ama kita, sholihah, kaya dan cantik. Yeee&#8230;itu mah sama aja atuh!</p>
<p>Ups! Maksute relakanlah predikat sholehah dari seorang wanita yang menerima cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada diri seorang wanita sholehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!). Yes!</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: â€œJanganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu karena agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak taat beragama).â€? (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)</p>
<p><strong>Jangan egois donk!<br />
</strong>Allah swt berfirman:</p>
<p>?§?„?’?®???¨?????«???§???? ?„???„?’?®???¨?????«?????†?? ?ˆ???§?„?’?®???¨?????«???ˆ?†?? ?„???„?’?®???¨?????«???§???? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???§???? ?„???„?·?‘?????‘???¨?????†?? ?ˆ???§?„?·?‘?????‘???¨???ˆ?†?? ?„???„?·?‘?????‘???¨???§????<br />
â€œWanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ..â€? (QS an-N?»r [24]: 26)</p>
<p>Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah r.a. menjadi istri Nabi saw. Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti kalo pengen dapetin akhwat yang sholehah, kita juga kudu sholeh dong. Jangan cuma mikirin keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang baik tapi kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan tipe-tipe primus alias pria mushola yang sholeh. Tul nggak sih?</p>
<p>Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan. Termasuk dalam memilih istri. Nggak asal nunjuk. Trus, di mana kita bisa dapetin syakhsiyah Islamiyah?</p>
<p>Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih dalam dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita. Ini yang bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan yang rutin dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan.</p>
<p>Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah (bukan cuma pengen dapet calon istri solihah.. ehm..), syaksiyah Islam akan mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan?</p>
<p>So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari generasi anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita dan menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat barisan perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang berhak dapetin pasangan hidup yang sholeh/sholehah. Mau dong? Yuuuk! [hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 291/Tahun ke-7/1 Mei 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalo-ikhwan-nyari-gebetan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini; Nelangsa or Sukacita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kartini-nelangsa-or-sukacita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kartini-nelangsa-or-sukacita#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 09:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kartini-nelangsa-or-sukacita/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan April. Bulan dimana kalo dulu banyak perempuan jadi hobi pake kebaya (sekarang kayaknya udah nggak jaman deh). Tapi mungkin masih ada sebagian kecil seperti anak-anak TK yang berpawai sepanjang jalan dengan dandanan menor hingga para ekspatriat or bule yang lagi kerja di Indonesia, semua menyulap diri dengan kebaya dan pakaian daerah lainnya. Bulan emansipasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan April. Bulan dimana kalo dulu banyak perempuan jadi hobi pake kebaya (sekarang kayaknya udah nggak jaman deh). Tapi mungkin masih ada sebagian kecil seperti anak-anak TK yang berpawai sepanjang jalan dengan dandanan menor hingga para ekspatriat or bule yang lagi kerja di Indonesia, semua menyulap diri dengan kebaya dan pakaian daerah lainnya. Bulan emansipasi wanita, katanya. Karena ada Ibu kita Kartini lahir sebagai pelopor perjuangan kaum perempuan untuk melepaskan belenggu dari adat istiadat yang merendahkan. Beliau dielu-elukan sebagai pemerdeka kaumnya. Hari lahirnya yang diperingati setiap tahun dengan acara berpakaian Jawa ala beliau dahulu, seakan-akan dengan bertingkah sedemikian rupa sudah berarti menghargai jasa-jasanya. Merdeka seperti apa sih yang diinginkan Kartini? Bener nggak seh?<span id="more-292"></span></p>
<p>Merdeka. Bebas. Lepas. Kosakata ajaib yang jadi idaman banyak orang di dunia. Tidak terlebih kaum perempuan Indonesia. Dengan tameng kebebasan inilah akhirnya para perempuan ini menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Mereka yang dulu merasa terjajah dengan dominasi kaum cowok ini, ingin bebas dan lepas. Kebanyakan dari mereka tak lagi mau diatur-atur baik oleh kakak laki-laki, ayah, apalagi suami. Mereka berusaha memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri, katanya.</p>
<p>Maka bermunculanlah di ruang publik/umum perempuan-perempuan yang mengatasnamakan kebebasan dan emansipasi. Tidak lagi profesi sebagai guru, perawat, insinyur, profesor hingga astronot yang dirambah tapi juga profesi sebagai artis sinetron, bintang film, foto model, peragawati, hingga pelacur. Yang terakhir ini terjadi pemanipulasian makna istilah sehingga kedudukannya disetarakan dengan pekerja yang lain semacam kantoran dan buruh. Sebutan yang dulu memakai istilah tuna susila sekarang diubah dan disamarkan menjadi PSK alias Pekerja Seks Komersial.</p>
<p>Semua meneriakkan satu kata: emansipasi! Lalu, apa benar perjuangan Kartini dimaknai hanya sebatas perempuan bisa mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam semua bidang?</p>
<p><strong>Kartini, cita-citamu dulu<br />
</strong>Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, ibu kita yang satu ini menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki. Tak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.</p>
<p>Dan ilmu yang diperoleh melalui pendidikan ini bukanlah sebagai sarana untuk sekadar menang-menangan dengan laki-laki. Tapi lebih sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.</p>
<p>Kartini memang sempat kagum dengan kemajuan yang dicapai oleh wanita Barat. Karena kebetulan saat itu yang menjadi teman koresponden beliau adalah wanita-wanita dari negeri Belanda. Tapi jangan lupa lho, ada perubahan pemikiran pada diri Kartini setelahnya ketika ia mengatakan dalam tulisannya â€œâ€¦ Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradapan?â€?. Artinya bahwa budaya Barat bukanlah menjadi parameter keberhasilan dalam membentuk sebuah peradapan baru yang bermutu.â€? Bravo Ibu Kartini!</p>
<p><strong>Kartini, lihatlah sekarang!<br />
</strong>Sungguh, Ibu kita Kartini pasti akan menangis dengan teramat nelangsa apabila beliau tahu apa yang dilakukan wanita-wanita sekarang dengan mendompleng nama besar perjuangannya. Lihatlah wanita-wanita yang terserak di jalan-jalan dengan dandanan menor dan baju mini atas nama emansipasi. Mereka berada di hampir semua lini kehidupan dan meninggalkan kewajiban serta fitrahnya sebagai wanita.</p>
<p>Para wanita itu enggan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya. Karena hamil hanya merusak bentuk tubuh indah mereka. Belum lagi kewajiban memberikan ASI selama 2 tahun telah tergantikan dengan susu-susu kaleng. Bayi-bayi pun menjadi produk anak sapi karena susu yang mereka minum pun berasal dari hewan ini.</p>
<p>Fungsi ibu sebagai pendidik utama juga telah tergantikan dengan keberadaan baby sitter di rumah. Anak tumbuh besar dengan didampingi oleh orang lain dan miskin dekapan ibunya. Kehidupan dan karier di luar rumah jauh lebih menggiurkan daripada berkutat dengan anak di rumah.? </p>
<p>Sedangkan mereka, para muslimah yang memilih setia menjadi ibu rumah tangga lebih banyak dicibir karena dianggap tidak produktif. Makna produktif di sini adalah segala sesuatu yang dapat menghasilkan uang dan dapat dinilai secara materi. Maka, mendidik anak agar menjadi generasi sholeh dan shlehah tidak termasuk ke dalam kategori ini.</p>
<p>Tidak berhenti di sini. Muslimah pun mulai dicekoki dengan aturan-aturan yang sengaja dipaksakan sebagai cikal bakal perusak rumah tangga muslim. KDRT. Kekerasan dalam rumah tangga. Sekilas, undang-undang ini seakan-akan membela kepentingan wanita. Para muslimah pun berbondong-bondong mendukungnya. Mereka merasa terselamatkan harga diri kewanitaannya. Gerakan pembangkangan terhadap suami mulai dirintis. Dan itu berarti menyediakan celah bagi pihak luar untuk mencampuri rumah tangga muslim.</p>
<p><em>Kartini, seperti inikah cita-citamu dulu? Tidak bukan?<br />
</em>? <br />
<strong>Mengapa terjadi?<br />
</strong>Silau. Fatamorgana. Bagaikan melihat air di gurun tandus padahal ternyata cuma pantulan sinar matahari yang ada. Itulah kondisi wanita Indonesia kita yang mayoritas adalah muslimah juga. Mereka mengagungkan budaya Barat dan kehilangan jati dirinya. Dianggapnya dengan keluar dari rumah dan berebut karir dengan para pria akan membuat tinggi derajatnya. Uang dan jabatan adalah sesuatu yang dinilai lebih demi sebuah harga diri.</p>
<p>Inilah gambaran wanita kita, muslimah Indonesia dan hampir semua negeri Muslim yang terjajah secara ideologi. Lingkungan pun turut membenarkan kondisi penjajahan ini atas nama kemajuan dan modern. Gimana nggak, bila seorang muslimah yang setelah kuliah bertahun-tahun di bangku universitas memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, maka tetangga kanan-kiri pasti akan mencibir. Kuliah tahunan cuma tinggal di rumah? Mending nggak usah kuliah dan nggak perlu menghambur-hamburkan uang.</p>
<p>Pada saat yang sama, lahan kerja untuk para laki-laki sebagai suami dan pencari nafkah utama keluarga juga semakin sempit saja. Wanita-wanita berpakaian mini dan seksi lebih diprioritaskan oleh banyak perusahaan untuk menempati posisi-posisi stratregis demi meningkatkan penjualan. Ngomong-ngomong, ini yang dijual produk apa tubuh wanita? Apakah ini pula yang diperjuangkan oleh kaum feminis yang lantang meneriakkan persamaan hak?</p>
<p>Bekerja bagi masyarakat saat ini berarti sesuatu yang menghasilkan uang. Materi. Karena aroma yang kita hirup setiap hari adalah Kapitalisme. Ketika semua diukur dengan kebendaan dan serba materi. Pola hidup seperti ini sengaja dikondisikan untuk menarik para wanita keluar dari rumahnya sebagai institusi terkecil bangunan masyarakat. Apabila batu-bata ini rapuh maka akan mudah sekali untuk merubuhkan dan melemahkan yang lainnya.</p>
<p><strong>Trus, gimana dong?<br />
</strong>Nah, sekarang kamu udah tahu kan cita-cita Ibu Kartini saat beliau masih hidup dibandingkan dengan fakta yang kita lihat sehari-hari. Dan juga ada apa sih sebetulnya di balik ide emansipasi wanita itu. Ternyata dengan ide ini, bukannya membawa perbaikan nasib pada kaum wanita, tapi malah semakin terpuruknya ke lembah yang bernama eksploitasi.</p>
<p>Wah&#8230;cewek nggak boleh keluar rumah dong? Bukan begitu, Non. Cewek sama cowok punya hak dan kewajiban yang seimbang dalam Islam. Dalam hal menuntut ilmu, keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Rasulullah saw. bersabda: â€œMenuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.â€? (HR Ibnu Adi dan Baihaqi dari Abbas ra, ath-Thabrani dan al-Khatib dari al-Husain bin Ali)</p>
<p>Juga dalam sabda beliau yang lain: â€œBarangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya menuju surga.â€? (HR Muslim dan Tirmizi dari Abu Hurairah ra)</p>
<p>Bahkan dalam Islam, cewek kudu pintar. Sebut saja nama Aisyah yang menjadi perawi hadits hingga ribuan jumlahnya. Beliau juga seorang yang ahli dalam pengobatan. Lalu Khadijah, seorang pengusaha sukses yang tetap menjaga harga dirinya sebagai muslimah.</p>
<p>Intinya, nggak ada larangan bagi cewek untuk keluar rumah dan berkarir selama tidak melalaikan kewajibannya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Dan yang harus diperhatikan juga adalah jenis pekerjaan apa yang dilakoni wanita. Bila memang persamaan hak itu yang dituntut, maka kecerdasan dan keterampilan itulah yang harus lebih diperhitungkan. Bukan sebaliknya. Kemolekan tubuh dan wajah sebagai barang dagangan.</p>
<p>Lagipula, dalam Islam hukum bekerja bagi wanita adalah mubah. Bukan sunah apalagi wajib (kalo penghasilan suami belum cukup untuk mengepulkan asap dapur, sebagai istri boleh aja bantuin suami nyari nafkah dengan bekerja) . Coba bayangkan apa yang dialami wanita. Udah fitrahnya memperoleh haid setiap bulan yang bikin lemes, belum lagi hamil, melahirkan dan menyusui, itu kan udah cukup berat tuh. Apalagi bila ditambah dengan kewajiban mencari nafkah, misalnya. Maka, Maha Benar Allah yang emang super tahu tentang kapasitas manusia khususnya yang berjenis wanita.</p>
<p>Bekerja jadi kewajiban kaum adam karena sesuai fitrahnya yang memang secara fisik lebih kuat tekstur tubuhnya dari kaum hawa. Dan kewajiban ini nggak main-main, pertanggungjawabannya langsung kepada Allah. Itu sebabnya, keimanan jadi memegang peran penting dalam hal ini. So, cari deh suami yang punya iman agar tahu bagaimana menghargai wanita dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak. Juga yang paham syariat agar tahu bagaimana mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya dengan bekerja keras secara halal.</p>
<p>Jadi, kalo dengan Islam rumah tangga Muslim bisa harmonis antara peran wanita dan laki-laki, antara hak dan kewajiban di tengah masyarakat, maka nggak perlu emansipasi lagi deh untuk mencapainya. Bikin para pejuang feminis yang mengatasnamakan emansipasi gigit jari karena usahanya memporak-porandakan pemikiran dan prilaku muslimah nggak berhasil. Itâ€™s up to you girls, kamu mau bikin ibu kita Kartini merasa nelangsa or suka cita menyaksikan bagaimana perjuangannya diteruskan oleh kaumnya. Muslimah cerdas, pasti pilih Islam. Setuju? Yuukkk! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 290/Tahun ke-7/24 April 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kartini-nelangsa-or-sukacita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Narkoba di Tengah Artis Idola</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/narkoba-di-tengah-artis-idola</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/narkoba-di-tengah-artis-idola#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 09:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/narkoba-di-tengah-artis-idola/</guid>
		<description><![CDATA[Aktor kawakan Roy Marten, yang pernah membintangi film â€?Roda-roda Gilaâ€™ ini memang tengah apes. Polisi memergokinya ketika pria kelahiran 1 Maret 1952 bernama asli Wicaksono Abdul Salam ini tengah nyabu (istilah beken jika tengah menikmati shabu-shabu). Selain tertangkap telah menikmati narkotika jenis psikotropika itu, polisi juga menemukan barang bukti berupa 2 gram shabu-shabu di lokasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aktor kawakan Roy Marten, yang pernah membintangi film â€?Roda-roda Gilaâ€™ ini memang tengah apes. Polisi memergokinya ketika pria kelahiran 1 Maret 1952 bernama asli Wicaksono Abdul Salam ini tengah nyabu (istilah beken jika tengah menikmati shabu-shabu). Selain tertangkap telah menikmati narkotika jenis psikotropika itu, polisi juga menemukan barang bukti berupa 2 gram shabu-shabu di lokasi kejadian. Roy Marten ditangkap Kamis (2/2) di daerah Ulujami, Jakarta Selatan. (<a href="http://waspada.co.id/">http://waspada.co.id</a>, 03/02/06)<span id="more-291"></span></p>
<p>Kasus selebriti yang pake narkoba emang bukan yang pertama terjadi di negeri kita. Sebelum Roy Marten, sejumlah seleb pemakai narkoba yang ketangkep aparat terus kudu nginep di LP terekam rapi oleh media massa. Ada komedian Sudarmaji alias Doyok, Polo yang udah dua kali masuk bui, Ibrahim Azhari alias Ibra Azhari (adik kandung Ayu Azhari) atau Derri â€?4 sekawanâ€™. Di kalangan seleb cewek ada Zarima sang â€?ratuâ€™ ekstasi dan Ria Irawan yang terbukti menjadi pengedar sekaligus pemakai Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Di luar negeri, seleb yang doyan pake narkoba juga bejibun. Mulai dari para personel The Beatles atau Guns N Roses sampe yang tewas lantaran over dosis seperti dialami oleh Brian Jones dari Rolling Stone atau gitarist legendaris, Jimmy Hendrix dan pentolan Nirvana, Curt Cobain. Bahkan putri Ozzy Osborena mengatakan â€œSaya ingin semua orang tahu bahwa jika kalian pikir wanita-wanita pirang (selebritis) itu bukan pecandu narkoba, percayalah, mereka pecandu. Karena saya pernah memakai narkoba bersama mereka,â€? aku Kelly blak-blakan seperti detikhot lansir dari Contact Music, Kamis (11/8/2005). Tuh kan!</p>
<p><strong>Kenapa seleb pake narkoba?</strong><br />
Secara mental ternyata nggak sedikit selebriti yang belon siap dengan popularitasnya kemudian pake narkoba sebagai pelariannya. Terutama kesiapannya dalam menghadapi beban-beban psikologi yang menjadi konsekuensi profesinya. Di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, toleransi antar teman. Berdasarkan penuturan selebriti yang udah sembuh dari kecanduan narkoba kebanyakan mengaku dirinya dulu mengonsumsi barang haram itu lantaran bujukan teman. Banyak di antara mereka yang terang-terangan menolak menggunakan bubuk atau pil setan itu, karena sadar benar akan akibatnya. Tetapi mereka yang â€?hard to say noâ€™ dengan bujukan teman, akhirnya terperangkap dalam fatamorgana (Suara Merdeka, 03/08/05).? </p>
<p><strong>Kedua</strong>, untuk menggenjot kreativitas demi memenuhi permintaan fans. â€œ&#8230;ketika baru memakai, kami merasa menjadi sangat hebat karena dalam sehari bisa menciptakan puluhan lagu. Kami merasa sangat luar biasa berkat narkoba. Tanpa kami sadari, hidup kami sedikit demi sedikit dihancurkan oleh barang haram itu,â€? ungkap Bimbim â€?Slankâ€™. (idem)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, kurang pede menghadapi tuntutan fans. â€œSemula aku pakai biar lebih pede aja ketika nyanyi di atas panggung. Kebayang nggak sih, nyanyi di depan ribuan orang yang mengelu-elukan kita. Kadang tiba-tiba kita merasa menjadi sangat takut dan kecil. Ketika memakai narkoba, aku menjadi lebih santai dan nggak peduli dengan jumlah penonton yang membludak. Penampilanku menjadi lebih baik di atas panggung. Tapi hidupku hancur,â€? kenang Ari Lasso mantan vokalis Dewa 19. (idem)</p>
<p>Sobat, secara umum sepertinya beban psikologi terberat yang dihadapi setiap selebriti adalah perasaan takut kehilangan ketenaran yang menjadi sumber penghasilannya. Sehingga mereka merasa harus selalu tampil sempurna di hadapan para pemujanya. Kondisi ini yang dikeluhkan Candil â€?Seuriusâ€™ dalam penggalan lirik â€?rocker juga manusiaâ€™: â€?&#8230;Mungkin orang menyangka ku tak pernah terluka/Tegar bagaikan karang, tabu cucurkan air mata/Kadang kurasa lelah harus tampil sempurna&#8230;â€™</p>
<p>Padahal, seleb juga manusia. Punya rasa punya hati alias punya keterbatasan. Nggak ada yang sempurna. Kalo nggak bisa terima keadaan ini, bisa berabe urusannya. Belum lagi â€?secuilâ€™ iman yang masih nempel di hati juga jarang dirawat. Apalagi di-update. Walhasil, mudah termakan oleh mitos narkoba sebagai ramuan mujarab untuk meningkatkan percaya diri dan menghadirkan kemampuan yang tersembunyi. Kenyataannya, cuma fatamorgana. Ngerasa jadi hebat padahal mah lagi sekarat. Kacian deh situ!</p>
<p><strong>Bagian dari gaya hidup seleb<br />
</strong>Sobat, sepertinya penderitaan menjadi budak narkoba yang dituturkan Bimbim dan Kaka Slank, atau Ari Lasso gak ngefek ama seleb yang laen. Ada aja yang nekat tetep make. Kita jadi mikir, mungkinkah narkoba sudah menjadi bagian dari gaya hidup dunia selebriti? Hmm&#8230; ada baiknya kita liat dulu. Yuk?</p>
<p>Kalo kita amati, ternyata proses terjadinya penggunaan narkoba itu sederhana banget. Asalkan ada peluang alias kesempatan, ada yang nyediain, dan ada duit, narkoba dengan mudah merajalela. Parahnya, tiga faktor ini semuanya akrab dalam kehidupan seleb. Masaâ€™ sih?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, adanya peluang dan kesempatan. Sudah umum diketahui kalo kehidupan seleb deket dengan kegiatan pesta pora semisal clubbing atau dugem. Padahal tempat itu jadi lahan subur bagi para bandar buat mencari mangsa baru. Dengan penawaran masa promosi dan MLM alias Marketing Lewat Mulut, pengunjung yang penasaran bisa mencobanya secara gratis. Apalagi situasi pesta yang hingar-bingar bin hura-hura bikin orang gampang terlena untuk pake narkoba. Udah deh, kalo nggak kuat iman, bisa-bisa dapet door prize yang bertuliskan: â€œSelamat anda memenangkan paket â€œPUTAUW HOLIDAYâ€?. Anda akan terbang dengan â€œINEX AIRLINESâ€? menembus awan â€œSABU-SABUâ€? menuju â€œLONG ISLANDâ€? dan bermalam di â€œPOLDA!â€? huehehe&#8230;</p>
<p><strong>Kedua</strong>, ada yang nyediain. Saat ini, jaringan pengedaran narkoba udah ada di mana-mana. Nggak harus ke dikotek atau club malam, kalo udah kejerat, info keberadaan â€?BDâ€™ alias bandar gampang dicari. Bisa janjian di sekolah, stasiun, terminal bis, mal, pasar, atau tempat-tempat umum lainnya. Malah sang bandar bisa sampe ngejar-ngejar pemakai yang insyaf biar tetep jadi pelanggannya.</p>
<p>Seperti penuturan bintang sinetron Novia Ardhana yang telah insyaf dan kini aktif di LSM Granat alias Gerakan Anti Madat. â€œ&#8230;mereka pasti akan melakukan segala cara agar kita kembali dan menggunakan narkoba lagi. Saya sempat merasa ketakutan setiap kali teman-teman dulu yang sama-sama menggunakan narkoba mencari ke rumah. Tapi akhirnya mereka jera dan saya benar-benar terbebas dari narkoba,â€? ujar ibu satu anak itu. (Suara Merdeka, 03/08/05)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, ada duit. Banyaknya uang dan materi yang dimiliki selebriti dengan mudah memancingnya mencicipi gaya hidup hedonis. Kehidupan yang memuja kenikmatan jasadi ini sangat akrab dengan narkoba. Lantaran narkoba pada waktu pertama penggunaannya, akan membuat pemakainya sangat euphor, senang dan bahagia sekali. Meski kelanjutannya timbul ketagihan, kecanduan atau adiksi. Tapi apa peduli mereka ketika hawa nafsu dan duit udah bicara, mereka tetep ngotot mengejar kenikmatan sesaat sebelum akhirnya kualat dan sekarat. Waduh!</p>
<p>Nah sobat, keliatan kan kalo gaya hidup seleb yang cenderung bebas dekat sekali dengan narkoba. Meski nggak semua seleb pake narkoba, namun kehidupan sekuler yang mereka geluti bisa menjadi bom waktu yang dengan mudah akan menghanyutkannya dalam dunia maksiat demi merengkuh kenikmatan sesaat yang bikin sekarat. Gaswat!</p>
<p>Yang lebih gawat lagi, media sering kali nggak nyadar kalo keakraban seleb dan narkoba yang mendominasi pemberitaan media sama saja dengan mensosialisasikan citra narkoba dan gaya hidup modern. Padahal selebriti adalah orang yang paling banyak diidolakan. Bagi penggemarnya, idola nggak cukup sebatas sosok yang dikagumi aja. Biar lebih afdol dan trendi, perlu sampe nyontek dandanannya, cara berbicara, sampe gaya hidupnya. Begitukah?</p>
<p>Kalo infomasi yang disajikan kepada pemirsaâ€”terutama remajaâ€”nggak seimbang dengan dampak buruk narkoba dan ketegasan hukuman dari pemerintah terhadap pemakai maupun pengedar narkoba, malah bisa bikin penasaran. Berabe banget kan?</p>
<p><strong>Say no to Capitalism-Secularism</strong><br />
Sobat muda muslim, bahaya narkoba emang udah jadi masalah kita bersama. Nggak cuma bagi kalangan selebritis. Kalo kita cuek, lambat laun kita juga yang bakal ngerasain akibatnya. Nggak cuma si bandar atau pemakainya aja. Kalo kita peduli, selain pahala dari Allah Swt., kita juga bakal dapet bekal tambahan buat mewaspadai dan menghindari jebakan-jebakan yang bisa menjerumuskan kita dan orang-orang yang kita sayangi.</p>
<p>Salah satu cara untuk membatasi penggunaan nakoba adalah memutus mata rantai peredarannya dengan menghancurkan pabriknya terus disegel alias ditutup. Kalo perlu, peralatannya dihancurin biar nggak dicontek atau dipake lagi ama orang laen. Dalam hal ini, negara paling bisa diandelin. Tapi dengan catatan, nggak boleh tanggung-tanggung ngeberantasnya. Jangan kayak yang udah-udah, yang digerebek cuma sampe para pelaku dan bandar kelas teri jengki. Sementara bandar-bandar kelas kakapnya yang dapet perlindungan oknum aparat enak aja lenggak-lenggok menjajakan barang dagangannya.</p>
<p>Nah, biar negara bisa diandelin kita wajib nyadar kalo benih-benih kehancuran masyarakat kita masih mungkin terjadi selama aturan Islam dijauhkan dari kehidupan. Sengsaranya hidup di bawah naungan sekulerisme dengan mudah mendorong orang untuk pake narkoba sebagai pelarian. Keuntungan dari bisnis narkoba yang menggiurkan bikin air liur para peracik, bandar, pengedar, sampe kurir tak mau berhenti menetes. Meski udah sering keluar masuk bui. Euleuh-euleuh teu kapok-kapok nya?</p>
<p>Ya, kalo mau pada kapok harusnya pemerintah jangan tetep ngotot pake aturan sekulerisme-kapitalisme dong. Buang jauh-jauh tuh aturan hidup buatan manusia yang belumuran hawa nafsu itu ke dalam recycle bin alias tempat sampah. Bakar, abunya dikumpulin, terus buang deh ke laut. Sebagai gantinya, pake aturan Islam yang udah pasti mujarab untuk ngatasin setiap persoalan hidup kita.</p>
<p>Khusus untuk kasus narkoba, sistem sanksi dalam Islam mengelompokkannya dalam perbuatan-perbuatan yang membahayakan akal. Sebagai hukumannya, di antaranya, : â€œSetiap orang yang menjual, membeli, meracik, mengedarkan, atau menyimpan nakotika, maka ia akan dikenakan sanksi jilid (cambuk) dan dipenjara selama 5 tahun, ditambah dengan denda yang nilainya ringanâ€? (Sistem Sanksi dalam Islam, Hlm 294)</p>
<p>Penerapan syariat Islam oleh negara juga akan meminimalisasi dorongan orang untuk pake narkoba sebagai pelarian dari persoalan hidupnya yang tengah dihadapi. Lantaran individu masyarakat nggak sendiri ngadepin setiap masalah hidupnya, negara punya tanggung jawab besar untuk membantunya sampe masalahnya kelar.</p>
<p>Itu sebabnya, masuk akal dong kalo kita sama-sama mengkampanyekan penerapan syariat Islam sebagai undang-undang negara. Biar masalah nakoba maupun masalah laen yang diakibatkan negara salah urus rakyatnya tak lagi membuat hidup kita sengsara. So, nggak cuma say no to drugs, tapi juga say no to capitalism-secularism. Oke? [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 289/Tahun ke-7/17 April 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/narkoba-di-tengah-artis-idola/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rasulullah saw. Teladan Kami</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/rasulullah-saw-teladan-kami</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/rasulullah-saw-teladan-kami#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 09:10:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/rasulullah-saw-teladan-kami/</guid>
		<description><![CDATA[Sobat muda muslim, nyaris tiap tahun kita ngadain acara Maulid Nabi. Meski sebagian ulama berbeda pendapat tentang melaksanakan â€?hajatanâ€™ ini, tapi kayaknya masyarakat lebih memilih show must be go on. Nah, terlepas dari kontroversi itu, yang jadi pertanyaan kita nih: sudahkah Rasulullah saw. kita jadikan teladan dalam kehidupan kita? Jangan-jangan, kita cuma ngaku-ngaku aja sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sobat muda muslim, nyaris tiap tahun kita ngadain acara Maulid Nabi. Meski sebagian ulama berbeda pendapat tentang melaksanakan â€?hajatanâ€™ ini, tapi kayaknya masyarakat lebih memilih show must be go on. Nah, terlepas dari kontroversi itu, yang jadi pertanyaan kita nih: sudahkah Rasulullah saw. kita jadikan teladan dalam kehidupan kita? Jangan-jangan, kita cuma ngaku-ngaku aja sebagai umatnya beliau. Karena apa? Karena dalam kehidupan, kita sangat jauh banget dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw. Jadi, kalo kita dalam kehidupan sehari-hari ngelakuin perbuatan sesuka kita tanpa didasarkan kepada Islam, itu artinya sama aja cuma ngaku-ngaku doang percaya sama Allah dan RasulNya. Iya kan?<span id="more-290"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, bukan maksud menggurui atau menghakimi kamu semua. Nggak. Nggak ada maksud ke sana. Cuma, kalo kita mau jujur, pasti kita akan mengakui bahwa dalam kehidupan sehari-hari aja kita kayaknya masih nggak nyetel banget deh ama yang diajarkan Rasulullah saw. Nggak semua perbuatan sih, tapi cukup banyak aja. Seperti dalam sopan-santun, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menghargai ortu dsb. Bahkan seringnya kita lebih gunain hawa nafsu doang ketimbang syariat. Prinsip kita-kita: â€œGaul dulu dah, syariat belakangan!â€? Waduh. Jujur aja, banyak di antara kita yang rajin sholatnya, tapi hot juga kalo udah pacaran. Iya kan? Terus terang nih, nggak sedikit dari kita-kita yang pandai baca al-Quran, tapi tetap aja kalo pake busana yang menutup aurat tuh kalo ke mesjid doang. Begitu keluar dari masjid, udah deh pamer aurat lagi. Sedih banget euy.</p>
<p>Kalo kita nggak matching alias kagak nyambung bin tulalit dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw. itu sama artinya bahwa kita udah nggak nyetel juga dengan apa yang diajarkan Allah Swt. Itu sebabnya, kalo kita percaya kepada Rasulullah saw., seharusnya kita juga percaya kepada Allah Swt.</p>
<p>Nah, supaya kita bisa meneladani Rasulullah saw., tentunya kita kudu mengetahui dulu dong tentang kehidupan Rasulullah saw. dan juga bagaimana pendapat-pendapat para ulama yang telah tersebar dalam ribuan bahkan jutaan kitab yang menjelaskan tentang Islam secara lengkap. Islam yang udah diturunkan Allah Swt. dan disebarkan oleh Rasulullah saw. So, kalo udah belajar, insya Allah kita bisa tahu sikap apa yang seharusnya kita lakukan untuk senantiasa meneladani Rasulullah saw.</p>
<p><strong>Meneladani kepribadiannya</strong><br />
Sobat, pernahkah kita berlaku lemah-lembut dan santun saat bertutur kata dengan sahabat-sahabat kita? Baik dengan yang usianya di atas maupun di bawah kita? Jika sudah dan memang biasa melakukannya, alhamdulillah. Pertahankan dan terus kembangkan. Karena Rasulullah saw. pun termasuk yang berhati lembut dan santun.</p>
<p>Imam ath-Tahbrani dalam Tarikh-nya menuliskan tentang kepribadian Rasulullah saw.: â€œSelama beliau tetap sebagai Rasulullah, maka tidak boleh tidak, beliau harus menjadi orang yang paling lembut dan berlapang dada di antara manusia, paling halus budi pekertinya, paling baik akhlaknya dan paling indah pergaulannya. Rasulullah saw. menahan amarah, memaafkan, dan memohonkan ampunan atas orang-orang yang tergelincir. Beliau saw. mengalahkan hak-hak dirinya selama bukan hak Allah. Beliau saw. memaafkan orang yang mendzaliminya, mengusirnya dari tanah airnya, menyakitinya, mencai makinya dan bahkan yang memeranginya; karenanya beliau berkata kepada mereka pada hari Penaklukan Mekkah, â€œPergilah kalian, karena kalian adalah orang-orang bebas.â€? (ath-Thabrani dalam Tarikh-nya 2/161)</p>
<p>Sobat, untuk membiasakan sikap lemah lembut, kita mulai belajar dari sekarang bagaimana menghormati teman-teman kita. Berkata yang baik dan sopan adalah sikap terpuji. Rasulullah saw. bersabda: â€œSesungguhnya Allah adalah Mahalembut, maka ia mencintai kelembutan, dan Dia memberikan kelembutan apa yang tidak Ia berikan kepada sifat kasarâ€? (HR Bukhari-Muslim dari Aisyah ra)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika orang-orang Yahudi masuk menemui beliau dengan mengatakan, â€œKebinasaan semoga menimpamuâ€?. Maka Aisyah ra yang?  mengetahui hal itu menjawab, â€œSemoga kebinasaan dan laknat untuk kalian.â€? (Mendengar itu) Nabi saw. bersabda: â€œWahai Aisyah, apa itu? Sesungguhnya Allah tidak menyukai ucapan jorok dan keji; tapi bila kamu ingin menjawab ucapan mereka, katakan, â€œWaâ€™alaikum (dan atas kamu)â€? (HR Bukhari-Muslim dari Aisyah ra)</p>
<p>Hmm.. apa yang dilakukan Rasulullah saw. dalam hadis di atas sungguh sangat cantik. Tidak langsung menyerang tapi hanya membalikkan. Yang intinya sebenarnya menyerang juga. Tapi supaya tidak menimbulkan kesan perlawanan frontal, akhirnya Rasulullah saw. mengatakan demikian.</p>
<p>Dalam hidup bertetangga Rasulullah saw. menasihati kita sebagai umatnya bahwa kita harus saling menghormati dengan tetangga kita. Meski pada kenyataannya kita-kita berantem mulu ama tetangga, atau ada yang malah doyan nyari musuh. Nggak suka kalo tetangga tuh dapet kebahagiaan. Walah?</p>
<p>Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang hak tetangga, dia berkata: â€œTolonglah ia ketika minta tolong kepadamu. Berilah ia pinjaman ketika meminjam. Kunjungilah dia ketika sakit. Ucapkan selamat bila memperoleh kebaikan (misal: rizki, anak, kepulihan). Sampaikan takziah (duka cita) bila mendapat musibah (kematian), antarkan jenazahnya bila meninggal. Jangan kamu tinggikan bangunanmu sehingga menghalagi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya dan janganlah kamu sakiti tetanggamu dengan bau masakanmu kecuali engkau berikan sebagian kepadanya (misal: kuah/sop daging). Jika engkau membeli buah-buahan berikanlah sebagian. Jika engkau tidak (mau) memberinya, masukkan buah-buahan itu ke dalam rumahmu secara sumbunyi-sumbunyi. Janganlah anakmu keluar membawa buah yang membuat anaknya kecewa.â€? (HR Thabrani. Lihat: At Targhib wat Tarhib, jilid 3 hlm. 357)</p>
<p>Hmm.. kalo kita sama teman di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal kita akur dan menjalin kebersamaan dan saling menolong, kayaknya asyik banget. Kita jadi nggak punya musuh. Sekaligus berarti kita insya Allah udah meneladani Rasulullah saw. dalam hal kepribadiannya yang agung dan berakhlak mulia.</p>
<p>Sobat, masih banyak kemuliaan pribadi Rasulullah saw. Kayaknya nggak mungkin ditulis semua di sini. Nggak cukup jumlah halaman yang disediakan buletin ini. Ini sekadar contoh aja dari sekian banyak keagungan akhlak Rasulullah saw. So, dengan belajar lebih banyak tentang Islam, insya Allah kita bakalan lebih banyak tahu lagi tentang Islam dan tentunya tentang sosok Rasulullah saw. yang menjadi teladan kita.</p>
<p><strong>Meneladani perjuangannya</strong><br />
Sobat, kayaknya nggak seru dong kalo mencontoh teladan Nabi kita hanya dari sisi pribadinya, sebab sisi lainnya dalam kehidupan beliau juga layak kita jadikan teladan. Salah satunya adalah dalam perjuangan membela kebenaran Islam ini.</p>
<p>Rasulullah saw. adalah orang yang sungguh paling romantis dalam membela kebenaran Islam. Jujur saja, jika membaca kisah perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya dalam menyampaikan dakwah Islam selalu memberikan keyakinan kepada kita, bahwa cinta memang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Kalo bukan karena cinta akan kebenaran Islam ini, mana mungkin Rasulullah dan para sahabat rela berkorban? Kita bisa menyaksikan film â€œar-Risalahâ€? besutan sutradara kondang, Musthafa Akkad. Kebetulan visualisasinya sangat bagus ketika menggambarkan bagaimana perih dan pedihnya perjuangan membela kebenaran yang diperagakan para sahabat Rasulullah saw. Tapi, mereka rela merasakan perih dan pedihnya dalam waktu lama.</p>
<p>Perjuangan selama 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah, bukan perkara gampang. Rasulullah saw. dan para sahabat harus berjibaku mempertahankan kebenaran Islam ini. Mencintainya dengan sepenuh hati. Tak ingin melepaskannya. Mereka, adalah contoh para pecinta kebenaran yang paling romantis di dunia. Rela sakit, demi cinta. Menderita demi dakwah. Subhanallah.</p>
<p>Sobat, kita bisa meneladani Rasulullah saw. dalam membela kebenaran Islam ini. Kita bisa mencontoh dari kisah perjuangannya. Jadi mulai sekarang kita harus tumbuhkan cinta kepada kebenaran Islam. Cinta, pengorbanan, dan perjuangan kita dalam mencintai kebenaran Islam ini pasti berbalas alias bersambut. Nggak usah khawatir. Karena apa? Karena kebenaran Islam itu sudah dijamin langsung oleh Allah Swt. mencintai Islam, membelanya, dan juga memperjuangkannya sama dengan mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Mencintai Allah Taâ€™ala dan Rasulullah saw. sama artinya dengan mencintai kebenaran. Dan, yakinlah bahwa cinta kita akan berbalas, yakni dengan mendapatkan garansi berupa pahala atas kesetiaan dan kesediaan kita berkorban dan berjuang dalam membela kebenaran Islam ini. Allah Swt. berfirman: â€œHai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.â€? (QS Muhammad [47]: 7)</p>
<p>Jadi, berbahagialah kalo kita jadi pejuang kebenaran Islam. Karena cinta kita pasti berbalas alias bersambut. Allah yang akan langsung menyambut cinta kita. Cinta kita kepada kebenaran, sekaligus tanda cinta kita kepada Allah Swt. Itu sebabnya, jangan khawatir dan jangan merasa cinta kita kepada kebenaran ini akan sia-sia. Insya Allah jika kita ikhlas melakukannya, Allah pasti juga mencintai kita dan akan menepati janjiNya. So, kita kudu yakin dan jangan pernah merasa khawatir. Oke?</p>
<p>Para pejuang kebenaran yang paling romantis akan mencintai Islam dan ajarannya ini dengan sepenuh hati. Ia nggak akan takut cintanya tak berbalas, atau tak perlu khawatir akan disia-siakan. Maka, jangan kaget jika para pejuang kebenaran adalah mereka yang akan rela mengorbankan waktunya, tenaganya, pikirannya, perasaannya, dan bahkan nyawanya untuk kekasih hatinya, yakni Allah Swt., RasulNya, dan juga ajaran Islam ini. Ia akan berbuat apa saja untuk menyenangkan Allah, RasulNya, dan juga memuliakan ajaran Islam ini.</p>
<p>Ya, sungguh hebat pengorbanannya, sungguh indah sisi romantisnya. Para pejuang kebenaran akan terus mengobarkan semangat dan membanjirkan keringat serta bekerja cerdas dan ikhlas demi sebuah harapan tegaknya kebenaran. Semangatnya dibakar api cinta, cinta akan kebenaran. Cinta yang pasti berbalas. Itu sebabnya, meski merasakan sakit dalam perjuangannya, namun ia akan tetap berusaha tersenyum dan melupakan rasa sakit itu, karena cintanya lebih besar kepada kebenaran Islam ini.</p>
<p>Sobat, ini sekadar satu contoh tentang sisi perjuangan Rasulullah saw. Masih banyak sisi perjuangan beliau lainnya yang bisa diteladani, tapi tentu nggak bisa ditampilin semua di sini. So, biar lebih tahu, ngaji aja deh.</p>
<p><strong>Kita memang butuh teladan</strong><br />
Allah Swt. berfirman:â€œSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat dan karunia) Allah dan (kedatangan) hari akhir (kiamat) dan dia banyak berdzikir (menyebut/mengingat) Allah.â€? (QS al-Ahzab [33]: 21)? </p>
<p>Oya, dari ayat ini jelas banget bahwa meneladani Rasul itu terkait dengan adanya harapan kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Juga terkait dengan dzikir (teringat) kepada Allah secara terus menerus tanpa terputus.</p>
<p>Nah, nggak adanya peneladanan menjadi bukti tidak adanya pengharapan rahmat kepada Allah dan tidak adanya iman kepada hari kemudian dan itu menurut ijmaâ€™ sehabat berarti kufur. Hal itu juga menjadi bukti ditinggalkannya dzikir kepada Allah Swt. sehingga jarang sekali teringat pada Allah, dan yang demikian itu nggak boleh ngendon dalam diri seorang Muslim jika bermakna lupa kepada Allah Swt. dan berpaling kepada syahwat dan hawa nafsu. Jangan sampe deh!</p>
<p>Oke deh, kita emang butuh teladan. Tentu teladan yang benar dan baik. Nah, Rasulullah saw. adalah teladan yang benar dan baik. Wallahuâ€™alam. [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 288/Tahun ke-7/10 April 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/rasulullah-saw-teladan-kami/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Porno, Kuno!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/budaya-porno-kuno</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/budaya-porno-kuno#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 09:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/budaya-porno-kuno/</guid>
		<description><![CDATA[Pornografi dan pornoaksi udah lama bikin gara-gara di negeri kita. Peredarannya yang liar tak terkendali baik di dunia nyata, layar kaca, apalagi di dunia maya bikin resah masyarakat.
Buktinya, meski menuai banyak protes, majalah Playboy versi Indonesia tetep ngotot bakal nongol bulan April 2006 ini. Di layar kaca, menurut sebuah penelitian yang dilakukan tim Puslitbang Kemasyarakatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pornografi dan pornoaksi udah lama bikin gara-gara di negeri kita. Peredarannya yang liar tak terkendali baik di dunia nyata, layar kaca, apalagi di dunia maya bikin resah masyarakat.</p>
<p>Buktinya, meski menuai banyak protes, majalah Playboy versi Indonesia tetep ngotot bakal nongol bulan April 2006 ini. Di layar kaca, menurut sebuah penelitian yang dilakukan tim Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, dari beragamnya program acara yang ditayangkan, hampir separo nyaris berpotensi menampilkan visualisasi yang berbau pornografi (jawapos.com, 25/01/06). Di dunia maya, cyberporn berceceran nggak karuan. Kata Direktur Manajer Aneka CL- Jejak Kaki Internet Protection, William B Kurniawan, hingga saat ini lebih dari 1.100 situs lokal terlarang ditemukan di dunia maya (Media Indonesia Online, 27/01/06)<span id="more-289"></span></p>
<p>Tuh kan sobat, gimana bisa hidup tenang kalo media porno mengepung kita dengan rapat dari delapan penjuru mata angin. Rada mending pemerintah negeri ini mau bersusah payah ngegodok Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Tapi kok gak mateng-mateng ya tuh RUU? Ya gimana mo mateng kalo masih ada pro-kontra dan nggak serius dari dulu. Hehehe&#8230;</p>
<p>Bener lho. Selain karena adanya pro-kontra, juga emang nggak serius. Bahkan harus tarik-ulur dan akhirnya banyak pasal yang kompromistis (khas sekularisme-lah).</p>
<p><strong>Pro-kontra RUU APP<br />
</strong>Saat ini masyarakat Indonesia terbagi pada dua kubu terkait rencana pengesahan RUU-APP oleh pemerintah. Satu kubu menolak mentah-mentah dan kubu lainnya mendukung mateng-mateng.</p>
<p>Sedikitnya 13 LSM yang mengusung hak perempuan tegas-tegas menolak RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi disahkan jadi UU (23/2/2006).?  Di Yogyakarta, himpunan elemen mahasiswa bersama sejumlah aktivis perempuan membubuhkan tanda tangan sebagai penolakan atas RUU APP (Detik.com, 08/03/06). Nggak ketinggalan para selebritis seperti Dian Sastro yang bergabung dalam Aliansi Mawar Putih, mengajak rekan-rekan profesinya untuk ikut membuat petisi penolakan RUU APP. (Fajar Online, 10/03/06).</p>
<p>Yang mendukung, jumlahnya jauh lebih banyak. Seperti yang tergabung dalam aksi solidaritas yang digelar MUI, berbagai elemen masyarakat dan organisasi Islam pada ahad (26/03/06) lalu. Bahkan menurut ketua pansus RUU-APP, Balkan Kaplale, dari 167 lembaga masyarakat yang menemui pansus, 144 menyatakan setuju dan 23 menolak. Itu artinya, yang menolak keliatan banyak karena dibesarkan oleh pemberitaan media massa. Padahal mah, dikit tuh!</p>
<p>Selain yang pro dan kontra, ternyata ada kubu ketiga yang belon kesebut dan malu memperkenalkan diri. Mereka adalah pihak yang ragu bin nggak berani nentuin sikap. Suara hatinya sih mungkin ngedukung abis usaha pemerintah negeri ini untuk memerangi pornografi dan pornoaksi. Tapi kalo nggak boleh pake pakaian seksi atau nggak boleh bermesraan ama bokin di tempat umum,?  gimana yaa?</p>
<p><strong>Ada apa dengan penolakan RUU-APP?<br />
</strong>Yup, kita wajib tahu alasan yang dipake para penolak RUU APP. Biar kita bisa menilai apakah alasan mereka itu masuk akal atau cuma akal-akalan. Yuk!</p>
<p><strong>Pertama</strong>, RUU APP dianggap bias gender karena wanita yang selalu disalahkan sebagai biang keladi penghancur moral masyarakat. Padahal nggak ada tuh dalam draf RUU kata-kata wanita atau perempuan. Yang dicantumkan, â€?setiap orangâ€™. Mereka aja kalee yang kegeeran lantaran suka pake busana yang mini dan berperilaku sensual. Makanya busana tuh digunakan sesuai fungsinya untuk menutup aurat, bukan malah mengumbar aurat di depan umum. Kena deh!</p>
<p><strong>Kedua</strong>, mengancam pariwisata terutama di Pulau Dewata. Waduh, ini alasan apa kejujuran. Kita malah sedih denger pernyatan ini. Berarti selama ini daya tarik wisata kita dengan panorama alam yang indah cuma dijadiin tempat bule-bule nggak pake baju berjemur di pantai. Atau pake baju irit bahan berkeliaran di tempat-tempat umum. Udah gitu mo dipertahankan cuma karena alasan ekonomi dan devisa. Nggak mikir apa budaya Barat sekuler yang dibawa para turis asing itu justru bakal ngancurin budaya negeri ini? Teganyaâ€¦teganyaâ€¦!</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, RUU APP dikhawatirkan bakal menghilangkan budaya tradisional kebanggaan bangsa seperti pakaian koteka di Papua, kemben di Jawa, atau kostum penari adat di Bali. Pemikiran yang aneh. Masaâ€™ kita rela ngebiarin mereka tetep ngelakonin kehidupan jahiliyah dengan mengumbar aurat. Padahal kita sendiri bakal ogah bin malu van tengsin kalo kudu hidup kayak mereka. Ya, karena kita tahu itu udah bukan jamannya lagi. Apalagi setelah Islam datang dengan aturannya yang memuliakan manusia dalam kehidupan. Emangnya mo balik ke jaman Flinstone?</p>
<p><strong>Keempat</strong>, memasung kreasi seni. Kasian banget ya para seniman kalo karya mereka dianggap eksis cuma karena bisa bikin yang sensual dan cenderung vulgar. Seolah-olah kreasi para seniman mati kutu kalo nggak mengeksplorasi daya tarik seksual dan memposisikan wanita sebagai objek. Kalo memang ngerasa seniman tulen yang punya cita rasa dan apresiasi seni yang luhur dan mulia, tentu nggak perlu risau dengan RUU APP ini. Justru seneng lantaran nama baiknya tidak tercoreng oleh oknum seniman yang cuma punya modal otak mesum. Iya nggak seh?</p>
<p><strong>Kelima</strong>, isi RUU APP yang mengatur cara berpakaian dan ekspresi cinta dianggap ikut campur ruang privat rakyatnya. Padahal aturan itu mencakup perilaku sensual yang dibawa ke tempat umum. Makanya ada kata-kata â€?dipertontonkanâ€™, â€?disebarluaskanâ€™, atau â€?disiarkanâ€™. Jadi kalo di luar rumah pake baju seksi bin full pressed body atau kissing di tempat umum dianggap privasi dan nggak mau diatur, mending jadi peliharaan manusia aja. Lantaran RUU APP ini nggak akan diberlakukan bagi ayam, bebek, burung, kucing atau kambing dan sejenisnya. Dijamin aman deh!</p>
<p>Sobat, ternyata alasan penolakan terhadap RUU APP ini kebanyakan karena mereka ngotot kalo aturan pornografi nggak boleh masuk dalam area seni, budaya, pariwisata, kebebasan berekspresi, atau ruang privasi. Lha, kalo pengertian pornografi cuma setengah-setengah atau malah nunggu semua pihak sepakat, alamat nggak akan pernah kelar pengesahan RUU APP. Sama aja pengen tetep melestarikan budaya porno yang gencar menyerang kita. Piye iki?</p>
<p><strong>Pake definisi yang pasti!<br />
</strong>Dalam Islam, pengertian porno itu berarti menampilkan auratnya baik cewek maupun cowok di tempat umum. Makanya Islam punya batasan yang tegas bin jelas tentang aurat. Kalo batasan aurat cowok mah udah hapal kalee. Yup, antara pusar dan lutut. Sementara aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Itu berarti lehernya&#8211;meski jenjang&#8211;tetep aurat. Begitu juga dengan rambut walau indah, hitam,?  panjang, dan no ketombe tetep aurat yang kudu ditutupi kalo keluar rumah. Nggak boleh keliatan sehelai pun.</p>
<p>Nabi saw. pernah berkata kepada Asmaâ€? binti Abu Bakar: â€œWahai Asmaâ€? sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.â€? (HR Abu Dawud)</p>
<p>Dalam sudut pandang Kapitalisme-Sekularisme, pengertian pornografi jadi kabur alias nggak jelas. Seperti yang diutarakan oleh Dr. Janet E. Steele, pengajar di Universitas George Washington. Ia mengatakan: Tidaklah mungkin menarik garis (tegas) dengan mengatakan apa yang disebut pornografi dan yang bukan pornografi, sehingga bahkan tidak ada gunanya mencoba membuat batasan (yang tegas). Nah lho, gimana tuh?</p>
<p>Di kepala kaum kapitalis-sekuler, pornografi udah jadi komoditi bisnis. Pekerja seni, budayawan, fotografer, perancang busana, artis, dan selebriti ngerasa bebas ngartiin pornografi untuk membenarkan apa yang mereka perbuat. Makanya sebagian mereka menolak keras pengesahan RUU APP yang dianggapnya bakal mengancam kehidupan mereka. Emangnya wabah flu burung?</p>
<p>Buat kita selaku remaja muslim, tentu cuma kacamata Islam yang wajib dipake untuk menilai pornografi. Biar jelas, tegas, dan pastinya dapet ridho Allah. Bukan ngikutin hawa nafsu. Betul?</p>
<p>Oya, dalam pandangan Islam, aturan menutup aurat itu selain ketika keluar rumah, juga ketika di dalam rumah tapi ada orang asing (bukan mahram) saat mereka bertamu atau berkunjung. Eh, suami-istri boleh kok ciuman, tapi di dalam rumah dong. Kalo di luar rumah? Wah, nggak etis aja, gitu lho. Malu atuh diliat sama orang. Entar orang lain tergoda deh.</p>
<p><strong>Ada yang sama pentingnyaâ€¦<br />
</strong>Sobat, kalo kita telusuri jejak hadirnya pornografi dan pornoaksi di negeri kita, nggak akan terlepas dari pola hidup sekuler Barat yang menjajah kita. Pola hidup yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan ini turut membidani lahirnya orang-orang matre bin individualis. Rela menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan pribadi. Walhasil, tiap orang bebas mo ngapain aja sepanjang nggak ganggu orang laen secara kriminal.</p>
<p>Orang-orang model gini yang gampang ngiler ngeliat keuntungan yang dijanjikan bisnis birahi yang makin diminati. Mereka terjun menekuni usaha yang menjual â€?aset-aset berhargaâ€™ yang dimiliki setiap wanita or lelaki. Biar nggak disumpahin orang lantaran jadi biang kehancuran moral masyarakat, mereka berlindung di balik kreasi seni, kebebasan berekspresi, tren fashion, hingga tuntutan skenario. Basi deh!</p>
<p>Kondisi seluruh kehidupan saat ini seharusnya menjadi perhatian kita juga selain pro-kontra RUU APP. Sebab, masalah kriminalitas, korupsi, kemiskinan, ketidakadilan pelaksanaan hukum dll sama pentingnya dengan masalah pornografi untuk segera diselesaikan. Jangan dibiarin tambah parah. Lantaran pola hidup ini yang jadi biang kehancuran setiap sisi kehidupan kita. Nggak cuma dalam masalah pornografi. Kalo tetep dibiarkan, boleh jadi meski RUU APP berhasil disahkan, masalah pornografi tetep ada. Bukan apa-apa, karena pola hidup yang diciptakan Kapitalisme-Sekularisme inilah yang ikut membina kader-kader pelaku bisnis media porno, pekerja seni pembangkit birahi, sampe wanita-wanita yang rela di foto telanjang untuk majalah Plaboy edisi Indonesia dengan bayaran $US 200! Walah!</p>
<p>Sehingga cara yang pas untuk beresin setiap masalah yang ada di negeri kita, termasuk kasus pornografi dan pornoaksi adalah dengan membabat abis aturan hidup Kapitalisme-Sekularisme beserta anak-cucunya. Nggak cuma menggolkan RUU APP, tapi yang penting adalah penerapan seluruh aturan Islam oleh negara. Caranya? Ganti sistem Kapitalisme dengan Islam sebagai ideologi negara. Itu baru Te O Pe Be Ge Te.</p>
<p><strong>Budaya porno itu kuno</strong><br />
Sobat, dalam pelajaran sejarah atau film kartun Flinstone kita diperkenalkan kehidupan manusia primitif. Yang paling keliatan banget dalam peradaban primitif itu adalah cara berbusana mereka. Yup, bahannya irit banget sehingga nggak semua bagian tubuhnya tertutupi. Yang penting badannya nggak kedinginan?  atau kepanasan. Dalam berbuat pun mereka cenderung bebas tanpa aturan, karena sekadar memenuhi kebutuhan hidup aja.</p>
<p>Kondisi kayak gini akan senantiasa menyapa kita kalo kehidupan Sekulerisme-Kapitalisme masih dipelihara. Padahal Islam udah hadir di tengah-tengah kita dengan membawa aturan hidup yang memuliakan manusia dalam berpakaian maupun perbuatan. Makanya aneh, setelah Islam datang kok mau-maunya kembali ke jaman kuno dengan ngotot mempertahankan budaya porno. Itu namanya nggak beradab.</p>
<p>Itu sebabnya, kita sekarang kudu gencar menyuarakan penerapan syariat Islam oleh negara yang bisa menjaga kehidupan kita beradab dan mulia. Kalo nggak kita, siapa lagi yang mau peduli. Padahal entar kita-kita juga yang kena batunya. Karena itu, saatnya untuk belajar Islam dan terjun bersama dalam barisan dakwah untuk mengkampanyekan penerapan syariat Islam oleh negara.</p>
<p>Sekarang pilih mana: kembali ke jaman kuno, yakni jaman purba yang bebas berbuat tanpa aturan, atau kembali kepada Islam? Orang cerdas pasti pilih syariat Islam. Oke? [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 287/Tahun ke-7/3 April 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/budaya-porno-kuno/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kreativitas Kok Bablas?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kreativitas-kok-bablas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kreativitas-kok-bablas#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 09:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/kreativitas-kok-bablas/</guid>
		<description><![CDATA[Pulang sekolah pada nongkrong di mal, jalan-jalan sekadar menghabiskan waktu luang, kebut-kebutan di jalan kalo kebetulan nggak ada satuan keamanan, terjerumus narkoba bagi yang kelebihan duit (kalo yang duitnya cekak juga nodong terus sakaw deh). Bagi yang kantongnya pas-pasan, cukup nongkrong di warung dekat sekolah sambil menghisap rokok saling bergantian bisa jadi alternatif. Itu bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pulang sekolah pada nongkrong di mal, jalan-jalan sekadar menghabiskan waktu luang, kebut-kebutan di jalan kalo kebetulan nggak ada satuan keamanan, terjerumus narkoba bagi yang kelebihan duit (kalo yang duitnya cekak juga nodong terus sakaw deh). Bagi yang kantongnya pas-pasan, cukup nongkrong di warung dekat sekolah sambil menghisap rokok saling bergantian bisa jadi alternatif. Itu bagi anak cowok, lho.</p>
<p>Bagi remaja putri, ngomongin gosip artis plus langganan majalah dan tabloid demi mengikuti tren mode terbaru adalah satu hal yang bisa aja jadi â€?kewajibanâ€™. Sekolah pun cuma jadi ajang mejeng dan menggaet lawan jenis daripada merupakan suatu tempat untuk menimba ilmu dan memperoleh kepintaran.<span id="more-288"></span></p>
<p>Itu adalah sekilas fenomena remaja di Indonesia. Gambaran secara umum kalo remaja tuh cenderung suka hidup santai aja dan nggak kreatif. Lihat aja motto yang sering nampang di kaos or stiker di mobil dan motor â€?muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surgaâ€™. Wacks! Moga aja kamu yang lagi baca STUDIA ini bukan termasuk ke dalam ilustrasi di atas. Kalo pun iya, cepet nyadar gih. Mumpung masih ada waktu dan kesempatan.</p>
<p>Emang sih, nggak semua remaja bermalas-malasan kayak gitu. Masih banyak juga para remaja itu yang mempunyai kreativitas tinggi dalam mengisi waktu luangnya. Bukan melulu prestasi sekolah aja, tapi prestasi di luar sekolah pun digaetnya.</p>
<p><strong>Kreativitas yang nakal</strong><br />
Kalo menurut kamus Wikipedia Indonesia, kita bisa mendefinisikan kreativitas sebagai inovasi, khususnya dalam seni dan sastra. Banyak yang memuji secara prinsip, banyak yang mengejek sebenarnya, kreativitas dipergunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang luar dengan imajinasi. Beberapa sikap ambivalen sampai kreativitas mungkin menghalangi pemahaman proses kreatif, menyejajarkannya dengan menelan obat-obatan untuk menghasilkan vision, atau dengan sederhana melihat kreativitas sebagai tingkah laku yang eksentrik. (Silakan klik deh: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kreatifitas">http://id.wikipedia.org/wiki/Kreatifitas</a>)</p>
<p>Secara sederhana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta; daya cipta. Kata sifatnya adalah kreatif, yakni memiliki daya cipta.</p>
<p>Hmm&#8230;dari definisi di atas, kayaknya kreativitas lebih merujuk ke sastrawan dan seniman deh (meski sebenarnya bisa juga di bidang iptek, seperti menciptakan teknologi yang ramah lingkungan dan lain sebagainya), yaitu hal-hal yang ada hubungannya dengan imajinasi sebagai cikal bakal seni dan sastra. Dalam bidang ini, tarik ulur definisi seni dan sastra jadi klaim beberapa kalangan.</p>
<p>Seni dan sastra adalah kreativitas yang ada unsur keindahannya. Bagi orang yang tak bertanggungjawab dan di benaknya melulu dipenuhi ide jaman purba yaitu hobi ketelanjangan, maka kreativitasnya juga tak jauh-jauh dari aliran realis ala kucing. Kok bisa? Ya iyalah, mana ada sih kucing pake baju dan menutup aurat? Sehingga ketika ada Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP), merekalah pihak yang paling kebakaran jenggot dan merasa dirugikan.</p>
<p>Tengok saja nama Joni Kennedi Soaloon yang malah sengaja menggelar pameran lukisan ketelanjangan di Galeri Seni di House of Sampoerna. Katanya mumpung belum disahkan tuh RUU APP. Kalo pun nantinya jadi gol sebagai UU dan mengebiri ekspresinya, doi bakal minta suaka ke Singapura untuk melindungi kreativitasnya ini. (Jawa Pos, 17 Maret 2006)</p>
<p>Lalu tengok juga kreativitas grup musik Jamrud dengan hits-hitsnya yang mayoritas menggambarkan pola hidup ala kucing. Sebut saja judul Senandung Raja Singa, Bay Watch, Le Boy, Telat 3 Bulan dan yang paling terkenal adalah Surti Tejo. Lalu ada grup baru yang sedang naik daun (ulat kali pake naik daun hehe..) bernama Samsons dengan hit andalannya Naluri Lelaki. Waduh, nggak tega deh kalo kita kudu nulis dengan kata-kata kesal pas ngelihat kreativitas model gini, seperti: â€œgelo abis!â€? (lho, ini kok malah ditulis? Hehe.. sori)</p>
<p>Nggak ketinggalan Mbak Melly Guslow yang emang lihai bener kalo bikin lirik lagu romantis. Pasti selalu laris dan jadi idola para remaja. Tapi ternyata kamu kudu hati-hati dengan lirik lagu terbarunya yang berjudul Kekasih Terakhir. Simak aja nih kutipannya: â€œMencintaimu hati hampa kini terisi/ Di dekatmu hatiku tenang/ Hanya kau pelipur laraku/ Mencium engkau bisa juga tenangkan jiwa/ Seluruh yang ada di engkau/ Bagiku ini karunia.â€?</p>
<p>Wah&#8230; hapal juga yah (heuheu&#8230;). Nggak kok, ini juga hasil dari browsing di internet. Ceritanya pas nggak sengaja muter radio, eh ada suara Mbak Melly yang kalo bikin lagu pasti syaik punya. Romantis abis gitu loh! Tapi untuk yang satu ini, agak-agak gimana gitu waktu udah ke reff-nya. Wasyah&#8230;nih lagu apa buat pasangan suami-istri ya? Tapi sebetulnya lirik-lirik lagu ini adalah menggambarkan kondisi bergaul remaja kita yang udah nggak kenal kata tabu, apalagi dosa. Ciloko tenan!</p>
<p>Di balik itu semua, ada fenomena cukup menggembirakan dari kreativitas remaja kita. Hadirnya sastrawan dan seniman yang dengan karya mencerahkan bisa menjadi angin segar di tengah tercemarnya bidang ini. Booming-nya fiksi islami dengan tema dan kemasan yang beraneka ragam tapi tetap syarâ€™i sudah memenuhi rak-rak toko buku beberapa tahun terakhir ini.</p>
<p>Kemudian lagu-lagu bertema Islam yang dulu mungkin terdengar kuno, saat ini diaransemen ulang dan dinyanyikan grup band GIGI, misalnya. Judul-judul lagu seperti Keagungan Tuhan, Ketika Tangan dan Kaki Bicara, Dengan Menyebut Nama Allah, Raihlah Kemenangan, Perdamaian, dan lain-lain, semakin akrab di telinga kita-kita.</p>
<p>Tapi jangan salah. Booming-nya fiksi islami ini ternyata dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk membuat karya islami tapi hanya sebagai kedok. Gimana nggak kalo sang tokoh digambarkan berjilbab tapi ternyata isi cerita nggak beda dengan koran-koran kuning penuh berisi kata-kata vulgar dan adegan tak senonoh. So, kamu-kamu juga kudu waspada kalau mau membeli suatu karya. Pastikan penerbit dan penulisnya emang yang bener-bener berkomitmen menghasilkan karya islami yang berkualitas.</p>
<p><strong>Mengapa terjadi?</strong><br />
Kejadian-kejadian di atas bukan hal asing lagi bagi masyarakat dan negara yang menerapkan sistem sekuler alias dipisahkannya agama dari kehidupan. Apalagi dilindungi sebuah sistem bernama demokrasi, lengkaplah alasan orang-orang itu untuk menjadikan kreativitas sebagai dalih. Lha wong, kebebasan berekspresi memang anak kandung dari demokrasi yang menjadikan suara terbanyak adalah kebenaran.</p>
<p>Masih ingat kan kasus Dewa 19 dengan logo di album Laskar Cinta? Logo itu pula yang dijadikan alas bagi pertunjukkan panggung grup band ini. Kita pikir, bukannya Dewa nggak tahu kalo tuh logo adalah simbol kaligrafi untuk asma Allah. Eh, malah mereka jejingkrakkan di atasnya. Masalah pun selesai hanya dengan meminta maaf. Padahal, itu adalah sebuah penghinaan yang nggak bisa dibilang enteng kepada umat Islam, Non.</p>
<p>Intinya, selama agama dipinggirkan hanya untuk mengurusi jenazah dan nikah aja, maka selama itu pula kreativitas yang berkembang di masyarakat akan menjadi bablas. Tak ada rambu-rambu yang jelas mana yang boleh dan nggak. Batasan halal-haram jadi sesuatu yang menggelikan buat para sekuleris itu. Kamu akan menemukan banyak sekali kejadian yang niatnya kreativitas tapi malah bablas alias keterlaluan.</p>
<p>Emang sih, jadi Muslim tuh harus kreatif dan inovatif. Nggak boleh bermalas-malasan (apalagi malas beneran?) dan cuma berpangku tangan. Tanpa kreativitas, dunia ini akan terasa monoton dan sepi. Nggak bakal ada variasi dan penemuan untuk karya-karya baru. Hidup akan jalan di tempat saja dan nggak berkembang. Tak ada dinamika yang membikin hidup makin hidup (hehehe.. losta masta banget nih!)</p>
<p>Cuma untuk kreatif, apa iya sih harus menghalalkan segala cara kayak gitu? Apa iya sih berprinsip: â€œYang penting penggemar suka, habis perkaraâ€?? Dan umumnya alasan utama mereka, â€œYang penting nggak merugikan orang lainâ€?. Waduh, jelas nggak bisa gitu aja dong.<br />
? <br />
<strong>Semua ada aturannya</strong><br />
Yang namanya manusia hidup itu kudu ada rambu-rambunya. Ada aturan mainnya. Kalo nggak gitu, pasti bakal tabrak sana-sini kalo masing-masing pingin jalan semau gue atas nama kebebasan. Nggak ada ceritanya manusia mempunyai kebebasan mutlak. Mereka yang mengagungkan demokrasi untuk dalih kebebasan berekspresi, sebetulnya adalah budak dari demokrasi itu sendiri. Lebih parahnya lagi mereka adalah budak hawa nafsu. Yang namanya hawa nafsu itu nggak pernah ada puasnya. Terpenuhi satu keinginan, pasti pingin yang lain lagi. Begitu terus nggak ada habisnya, kecuali mulutnya udah disumpal tanah alias udah jadi mayat dan dikubur.</p>
<p>Tuh kan, yang namanya manusia ngatur hawa nafsunya sendiri aja nggak becus. Apalagi mau ngatur manusia yang lain pake aturan yang berasal dari otak manusia yang serba terbatas ini? Jelas aja aturan yang dihasilkan bukannya malah bener tapi malah kacau. UU ataupun RUU apa pun itu bentuknya, selama landasan yang dipakai bukan dari Yang Maha Memahami Manusia, pasti aturan yang dihasilkan juga bakal kacau. Tarik ulur definisi porno misalnya, kalau diserahkan pada akal manusia, masing-masing pasti punya pendapat yang beda-beda sesuai kepentingannya.</p>
<p>Bahkan kalo kamu tanyakan pada yang hobi pamer aurat semacam Cut Tari, doi bilang kalo yang kudu dibersihkan tuh otak ngeres mereka yang memandang, bukan malah membatasi gaya berpakaian yang dipandang. Itu namanya menyengsarakan perempuan. Belum lagi pendapat Isabel Jahya yang terjerat kasus pornografi bersama Anjasmara. Doi keukeuh berpendapat apa yang dilakukannya tak salah. Bahkan sampe minta dukungan Gus Dur segala (wah, itu sih ibarat mo disunat tapi datangnya bukan ke dukun sunat, melainkan ke dukun beranak. Kagak nyambung man!)</p>
<p>Kalo kamu emang ngaku Muslim, mau berkreativitas model apa pun, jangan lupa aturannya. Kudu baik dan bener. Baik, karena dilakukan ikhlas karena Allah. Benar tuh sesuai dengan tuntunan syariat yang udah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Ibaratnya berjalan, kamu kudu bawa peta or informasi lainnya kalo nggak mau tersesat. Dalam kehidupan ini berlaku hal yang sama pula. Kamu kudu bawa peta syariat agar selamat dunia-akhirat.</p>
<p>Nggak ada ceritanya kebebasan berekspresi dan berkreativitas tanpa mengindahkan syariat. Alasan klasik sih atas nama seni. Idih&#8230; ini mau pake cara cabul dan primitif aja pake dibungkus seni? Parah ya?</p>
<p>Waduh, kayaknya jadi remaja malas, salah. Mau berkreativitas, entar khawatir salah juga. Eits&#8230;jangan bingung. Makanya jadi remaja jangan kupeng (kurang pengetahuan) dan kuin (kurang informasi). Banyak banget informasi yang bisa kamu dapatkan sebagai panduan agar tak salah langkah. Ada banyak buku buat remaja yang dikhususkan untuk mendampingi kamu. Daripada uang saku buat jajan doang kan mending dibelikan buku-buku bermanfaat itu. Ada Jangan Jadi Bebek, Andai Kamu Tahu (sekuel Jangan Jadi Bebek), Surga Juga Buat Remaja, Lho&#8230;, Be Positive be Happy, Jangan Nodai Cinta, Loving You Merit Yuk! dll.</p>
<p>Mau browsing di internet juga banyak site bagus. Beberapa di antaranya yang bisa dicoba (sekadar contoh): <a href="http://dudung.net/">http://dudung.net</a>, <a href="http://sobatmuda.multiply.com/">http://sobatmuda.multiply.com</a>, dll. Mau gabung ke mailing list untuk diskusi dan tukar informasi keislaman juga ada seperti milis Studia dan Sobat Muda. Kalo kamu termasuk yang gaptek (gagap teknologi) jangan malas untuk menghubungi rohis sekolah atau remas alias remaja masjid daerah tempat tinggalmu. Dari sumber-sumber itu kamu bisa dapetin informasi tentang batasan syariat untuk kreativitas dan juga hal-hal berguna lainnya.</p>
<p>Mulai saat ini kamu bisa buktikan kalo untuk kreatif tak mesti harus berhubungan dengan obat-obatan dan tingkah laku yang eksentrik. Jadi kreatif pun bisa juga tetap dengan koridor syariat dan karyanya pun mencerahkan untuk umat. Bukan malah sebaliknya. So, be creative yang syarâ€™i! [ria]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 286/Tahun ke-7/27 Maret 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kreativitas-kok-bablas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG Cuma Bisa Hura-hura?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/abg-cuma-bisa-hura-hura</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/abg-cuma-bisa-hura-hura#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 09:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/abg-cuma-bisa-hura-hura/</guid>
		<description><![CDATA[Huaâ€¦haâ€¦haâ€¦ha!â€? tawa lepas itu sering terdengar di malam minggu, malam senin, sampe malam selasa. Terutama pada jam-jam sibuk orang mencetin tombol remote tv nyari channel hiburan malam. Ya, sekitar jam 7 maleman ke atas gitu deh. Terkadang diselingi tawa nggak lepas, senyum dikulum, hingga cekikikan khas kuntilanak. Iihâ€¦syereem! Asalnya dari para penikmat hiburan komedi televisi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Huaâ€¦haâ€¦haâ€¦ha!â€? tawa lepas itu sering terdengar di malam minggu, malam senin, sampe malam selasa. Terutama pada jam-jam sibuk orang mencetin tombol remote tv nyari channel hiburan malam. Ya, sekitar jam 7 maleman ke atas gitu deh. Terkadang diselingi tawa nggak lepas, senyum dikulum, hingga cekikikan khas kuntilanak. Iihâ€¦syereem! Asalnya dari para penikmat hiburan komedi televisi. Mereka adalah komunitas baru yang behasil diciptakan oleh trans TV, extravaganzaholic. Sapa tuh?<span id="more-287"></span></p>
<p>Extravaganzaholic adalah sejenis makhluk hidup yang doyan ketawa akibat ketagihan hiburan khas Extravaganza. Sejak kehadirannya, variety show yang menghadirkan komedi rasa baru ini kian populer di kalangan pemirsa tipi. Semua terhibur dengan tingkah polah dan percakapan para penghuni dunia extravaganza ini yang pada ngocol. Ada â€?Tato Rameâ€™ Sudiro, Ronald â€?Si Raja Tehâ€™, Indra Birowo, Tieke, Virnie, Sogi, Mike, dan nggak boleh ketinggalan kuncen planet ini, Aming/Amingwati yang sering kedapetan â€?bias genderâ€™ saat berakting. Hihihiâ€¦</p>
<p>Kini, kesuksesan ekstravaganza coba ditularkan produsennya pada generasi penerusnya yang masih belia. Yup, planet Extravaganza mulai dihuni oleh bintang-bintang muda yang tergabung dalam gank ekstravaganzabg. Mereka adalah Nia Ramadani, Laudya Cintya Bella, Cecep Reza, Tities Saputra, Bobby Muscar, Rafi Ahmad, Frans Indonesianus, Asha Shara dan Dhawiya Zaida.</p>
<p>Wajah-wajah baru di dunia hiburan ini mencoba ngikutin jejak kakek-nenek moyangnya (Aming dkk). Dengan menghadirkan bintang tamu dan band-band idola remaja, extravaganzabg pengen dapet tempat di hati remaja en remaji. Sukseskah mereka? Tonton aja ndiri! (lho, kok malah nyaranin nih? Hehehe..)</p>
<p><strong>Kreativitas juga punya batas</strong><br />
Banyak yang heran dengan kesuksesan hiburan khas Extravaganza. Lantaran pemainnya bukan para pelawak murni atau mantan personel group lawak. Tapi para aktor dan entertainer asli yang nggak ada bakat keturunan ngelawak apalagi dikutuk jadi makhluk pengocok perut. Menurut M. Ikhsan, Pimpinan Kreatif Extravaganza, â€œKami mencoba memahami kultur industri televisi. Mela?­kukan lompatan, mewujudkan berbagai inovasi, belajar memahami psikologi penonton dan menang?­kap momen,â€? (Pikiran Rakyat, 24/07/06)</p>
<p>Bener sobat, kamu yang termasuk extravaganzaholic boleh acungi keempat jempol kamu (sambil duduk biar nggak jatoh) dengan kreativitas hiburan yang disajikan T-â€?enggakâ€™ (dalam bahasa jawa, ora=enggak hehehe&#8230; maaf ye Mas Tora) Sudiro cs. Sketsa komedi yang menyajikan delapan sitkom dalam setiap episodenya ini emang mujarab untuk ngobatin kejenuhan kita menghadapi permasalahan hidup. Lawakannya merakyat abis. Tema-tema keseharian dikemas dalam bodoran segar yang mengandalkan percakapan yang ngocol. Bukan cuma improvisasi pemain atau lawakan fisik yang kurang santun (meski dikit-dikit ada sih). Udah nggak zamannya, Bro!</p>
<p>Sayangnya, seperti kebanyakan tayangan entertaint, Extravaganza juga nggak bisa lepas dari unsur bebas nilai. Celotehan dan adegan yang sering diperagakan para pemainnya nggak sedikit yang nyerempet-nyerempet porno dan cenderung vulgar. Kondisi ini diperparah dengan kostum seksi yang terbuka, mini, dan full pressed body yang sering dipake para pemain wanitanya. Hasilnya, nggak cuma memancing tawa penonton tapi juga imajinasi mereka. Pik-tor tuh!</p>
<p>Sementara dalam extravaganzabg, meski skenario dan adegan yang vulgarnya diperketat, kehidupan remaja yang kental dengan tawa, canda, dan hura-hura tetep mendominasi dalam setiap episodenya. Kondisi ini kian melengkapi hiburan-hiburan lain yang banyak menggiring remaja untuk menikmati hidup dengan fun. Meski tertawa bikin kita bahagia dan baik untuk kesehatan, tapi kalo hidup cuma diisi dengan ketawa bisa jontor dan tebel tuh bibir! Hehehe&#8230;..</p>
<p>Nah sobat, kreativitas pekerja seni dalam menghibur kita emang itu yang kita tunggu. Tapi nggak harus pake ngelanggar etika dan sopan santun dong. Apalagi sampe bebas nilai. Tetep, pemirsa juga berhak dapetin hiburan dan informasi yang mendidik. Sehingga media bisa menjadi sahabat kita. Betul?</p>
<p><strong>Remaja wajib melek media</strong><br />
Dirut Trans TV, Ishadi SK, mengingatkan kita untuk selalu menempatkan televisi (broadcast) dalam dua posisi, yaitu sebagai â€œindustri budayaâ€? dan sebagai â€œinstitusi bisnisâ€?. Dalam melangkah di dua posisi itu, akan selalu terjadi pertarungan antara dua kepentingan, yaitu antara idealisme dengan realita bisnis. (Pikiran Rakyat, 21/09/05)</p>
<p>Kita boleh aja berharap informasi dan hiburan yang kita lahap tiap hari di depan televisi bikin kita-kita pada pinter dan bermoral. Tapi kayaknya, harapan itu ibarat pungguk merindukan bulan kalo kita ngeliat acara-acara tivi sekarang. Seperti yang dituturkan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Dian Wardiana Sjuchro, di televisi banyak kekerasan, seks, jurnalisme menyimpang, takhayul, dan mistik. Malah menurut psikolog Afra Hafny Noer, materi seksual lebih banyak diekspos daripada (unsur) pendidikannya (Pikiran Rakyat, 21/09/05)</p>
<p>Parahnya, â€?ideologi ratingâ€™ yang dijadikan acuan pengelola tv sering menendang idealisme mereka untuk mencerdaskan pemirsa. Mereka jadi sibuk nyari dan bikin acara yang ber-rating tinggi dan menyerap iklan banyak meski mengorbankan tanggung jawab moralnya kepada masyarakat. Weleh-weleh, kalo kita nggak kritis bisa jadi musuh dalam selimut kehadiran kotak ajaib alias televisi di rumah kita. Iya kan?</p>
<p>Tengok aja, tayangan yang umumnya disajikan bagi remaja isinya cuma ngupas persoalan percintaan yang cenderung mengarah pada seks bebas, keputusasaan karena ditinggal pacar, transaksi cinta demi meraih materi, melawan orangtua yang katanya â€œdemi cintaâ€?, hingga aborsi sebagai jalan keluar akibat kehamilan yang tidak dikehendaki. Kemudian, persoalan pergaulan tidak luput dari narkoba, dugem, bergaya hidup mewah, serta persoalan fashion yang identik dengan tren pakaian-pakaian mini, ketat, aksesori-aksesori nan mahal, ponsel canggih, hingga make up berlebihan. Yang penting trendy.</p>
<p>Yup, semuanya disajikan dengan vulgar nggak pake sensor. Akibatnya informasi model gini bisa jadi inspirasi bagi penonton remaja yang masih menganut gaya hidup copy-paste, nyontek abis seperti yang ada di televisi. Makanya kita kudu ngeh dengan hiburan-hiburan yang disajikan media elektronik ini. Nggak semua yang kita denger itu bener dan nggak semua yang kita lihat itu bermanfaat. Catet tuh!</p>
<p><strong>Remaja, sukanya hura-hura?<br />
</strong>Kita berharap, tentu bukan anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan di atas. Namun, kita kudu berani akui kalo informasi dunia remaja yang hadir ke permukaan via media massa justru banyak yang mengarah ke sana. Kita jadi bertanya: â€œKenapa sih nggak ada tayangan yang menggambarkan sosok remaja yang kreatif di jalur yang benar, serius dalam belajar, gigih mencari ilmu, dsb yang baik-baik?â€? Kenapa yang dihadirkan tuh yang kesannya hura-hura? Padahal, nggak semua remaja gitu deh. Apakah ini ingin menggiring opini bahwa remaja harus hura-hura, nyantai dan kesannya miskin idealisme?</p>
<p>Penelitian di Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya, dan Ujungpandang oleh Gatra yang bekerja sama dengan Laboratorium Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, turut menjawab pertanyaan di atas. Hasil survei memperlihatkan, remaja Indonesia cenderung bersikap apolitis dan apatis terhadap keadaan. Mereka lebih banyak memanfaatkan waktu untuk berhura-hura ketimbang melakukan kegiatan positif. Lebih dari itu, mereka bersikap permisif terhadap perilaku kebebasan seks.</p>
<p>Data lain menunjukkan, bahwa banyak teman remaja yang nggak terlalu tertarik untuk memanfaatkan waktu dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif, seperti belajar atau membaca buku. Hampir 31% (246 orang) memilih mejeng di mal atau pertokoan, berhura-hura, menenggak minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, dan mementingkan kepuasan indrawi (hedonisme). (Gatra, 3/01/98). Waduh, pegimane urusannya?</p>
<p>Emang nggak bisa dipukul rata hasil penelitian di atas untuk ngegambarin potret remaja secara umum. Cuma masalahnya acara televisi yang disajikan bagi remaja sekarang ini malah makin menguatkan hasil survei di atas. Dalam sinetron remaja, ceritanya seputar cinta, cemburu, kasmaran, seks bebas, yang dikemas dalam gaya hidup glamour.</p>
<p>Status sih boleh siswa berseragam sekolah, tapi perilakunya mencoreng nama baik kaum terpelajar. Yang ditonjolin cuma dandanan modis dengan segala aksesoris, hobi nge-dugem, atau mejeng di mal. Sementara kegiatan belajar-mengajar, diskusi pelajaran sekolah, kreativitas dalam mempraktekkan ilmu, semangat dalam belajar, rela berkorban dan saling menolong, atau potret remaja idealis? Aha, kayaknya nggak ada dalam kamus tayangan-tayangan remaja populer saat ini. Kasian deh ih!</p>
<p><strong>Menjadi generasi cerdas islami<br />
</strong>Sobat, indah banget ya kalo idealisme para pengelola tv itu nggak abis digerogotin â€?ideologi ratingâ€™. Tentu program televisi yang menghibur dan penuh manfaat dengan mudah kita nikmati. Kerinduan kita akan hadirnya cerita remaja berkualitas semodel ACI atau Rumah Masa Depan di jaman baheula akan segera terobati. Perbaikan potret buram para pelajar dengan menghadirkan sosok-sosok siswa berprestasi yang pantang menyerah melawan keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan bisa jadi teladan. Atau sebuah kompetisi intelektual yang dikemas dengan gaya populer untuk menghasilkan pelajar berprestasi tentu menjadi nilai positif dari media untuk kita.</p>
<p>Selain itu, pembinaan untuk membentuk karakter dan pengenalan jati diri remaja juga nggak boleh ketinggalan. Pihak media punya peranan besar dalam hal ini jika mau sedikit peduli dengan memberikan informasi yang seimbang terhadap rusaknya budaya populer yang lahir dari gaya hidup sekuler masyarakat Barat. Agar pemirsa juga cerdas dan sekaligus islami. Baik pola pikir, maupun pola sikap.</p>
<p>Kalo kita cuma ngisi hidup kita dengan hura-hura dijamin bakal sengsara dunia-akhirat. Sebab hidup kita kan nggak jalan di tempat. Nggak selamanya kita jadi remaja. Jika saatnya tiba dan Allah mengizinkan, kita bakal jadi orangtua, berkeluarga, dan punya tanggungjawab yang harus kita pikul. Kebayang dong kalo kondisi itu lalai kita siapkan dari sekarang selagi punya kesempatan dan kekuatan di usia muda, masa depan kita bisa amburadul&#8230;dul&#8230;dul!</p>
<p>Dan yang paling penting, kontrak hidup kita nggak selamanya diperpanjang. Malaikat Izrail atas perintah Allah bisa ngecengin kita kapan aja dan di mana saja. Karena itu, marilah kita menjadi generasi cerdas dan islami seperti yang disabdakan Rasulullah saw: â€œOrang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah.</p>
<p>Predikat generasi cerdas dan islami ini bisa kita raih kalo kita nggak keberatan untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam, memahaminya, dan menjadikannya sebagai aturan hidup kita. Daripada banyak hura-hura mendingan banyakin nyari pahala. Jadi, ngaji yuk?! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 285/Tahun ke-7/20 Maret 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/abg-cuma-bisa-hura-hura/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spanyol, Mutiara Islam yang Hilang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/spanyol-mutiara-islam-yang-hilang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/spanyol-mutiara-islam-yang-hilang#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 08:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/spanyol-mutiara-islam-yang-hilang/</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan 92 H, atau bertepatan dengan tahun 711 M, Thariq bin Ziyad dan pasukannya merapat di pantai Spanyol, dengan membawa misi untuk menyebarkan dakwah Islam. Sayang, Raja Roderick dan pasukannya menolak, dan bahkan mengobarkan peperangan. Peperangan itu sebenarnya bermula dari pertikaian antara sesama Kristen Spanyol. Raja Roderick yang berkuasa saat itu, memaksakan keyakinan Trinitas Kristen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan 92 H, atau bertepatan dengan tahun 711 M, Thariq bin Ziyad dan pasukannya merapat di pantai Spanyol, dengan membawa misi untuk menyebarkan dakwah Islam. Sayang, Raja Roderick dan pasukannya menolak, dan bahkan mengobarkan peperangan. Peperangan itu sebenarnya bermula dari pertikaian antara sesama Kristen Spanyol. Raja Roderick yang berkuasa saat itu, memaksakan keyakinan Trinitas Kristen yang dianutnya kepada umat Nasrani Aria.<span id="more-286"></span></p>
<p>Berbeda dengan para pendukung Roderick yang meyakini Nabi Isa sebagai Yesus, yaitu Allah Bapak, Anak Tuhan, dan Ruh Kudus, kaum Nasrani Aria meyakini Nabi Isa semata sebagai utusan Allah. Pemaksaan keyakinan Trinitas oleh Raja Roderick ini menimbulkan penindasan di kalangan Nasrani Aria. Lantas, pimpinan mereka meminta bantuan kepada Pasukan Thariq bin Ziyad yang memang sudah merapat di Spanyol dalam misi dakwah dari khalifah.</p>
<p>Panglima Thariq menerima permintaan pemimpin Nasrani Aria. Itu sebabnya, dalam sebuah pidatonya sesaat sebelum melakukan pertempuran dengan pasukan Raja Roderick, Thariq bin Ziyad memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa seluruh awak pasukannya dari Afrika, kecuali beberapa pasukan kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada khalifah.</p>
<p>Pidato â€?kontroversialâ€™ itu karuan aja membuat pasukannya keheranan. Namun beliau mengatakan, â€œDi belakang kita ada lautan luas, di hadapan kita pasukan musuh. Jadi, kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan; menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid)â€?.</p>
<p>Peristiwa di tahun 711 M itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol. Pasukan Thariq sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki di Spanyol. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik. Tharif sukses. Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah al-Walid dari Bani Umayah.</p>
<p>Thariq mencatat sukses. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah. Setelah itu ia maju untuk merebut kota-kota seperti Cordova, Granada dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa Ibnu Nushair.</p>
<p>Thariq kembali sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian dikenal dengan sebutan Gibraltar. Musa bahkan ikut menyeberang untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan itu.</p>
<p>Pada 755 Masehi, Abdurrahman tiba di Spanyol. Abdurrahman ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan menjadi penguasa di Andalusia dengan gelar Amir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan â€œuntuk mencari kematianâ€? (martyrdom). Namun penguasa Bani Umayah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan tersebut.</p>
<p>Sekadar kamu tahu, bahwa peperangan dalam Islam adalah untuk menghidupkan manusia bukan untuk memusnahkan. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai wilayah tidak bertujuan menjajahnya. Berbeda dengan ideologi Kapitalisme yang memang tujuan mereka berperang adalah untuk menguasai wilayah dan menjajahnya (baca: menguras seluruh potensi wilayah itu untuk kepentingan bangsanya).</p>
<p>Sejarawan Barat beraliran konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya Sejarah Islam di Spanyol, mencoba meluruskan persepsi keliru para orientalis Barat yang menilai umat Islam sebagai yang suka berperang. Menurutnya, â€œMereka (para orientalis) umumnya mengalami mispersepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah seorang muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan pedang. Padahal, bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam.â€? Hmm.. perlu dicatet tuh.</p>
<p>Itulah yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah masuknya Islam ke Spanyol. Islam, tak hanya masuk dengan damai, namun dengan cepat menyebar dan membangun peradaban tinggi hingga Spanyol mencapai puncak kejayaannya. Kota-kota terkemuka Spanyol seperti Andalusia dan Cordova, menjadi center of excellent peradaban dunia. Keren nggak?</p>
<p><strong>Berkembangnya iptek<br />
</strong>Montgomery menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam nggak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.</p>
<p>Nggak mengherankan tentunya jika para ulama terkemuka seperti Ibnu Rusyd (1126-1198) misalnya, yang terkenal di Barat dengan nama Averous, diakui pula sebagai ilmuwan yang handal di bidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter, dan ahli fikih Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata. Bukunya dalam bidang fikih adalah Bidayatul Mujtahid.</p>
<p>Spanyol juga punya az-Zahrawi yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan teknik pembedahan manusia. Az-Zahrawi yang lahir dekat Cordova pada 936 Masehi, dikenal pula sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahnya itu dijadikan referensi dasar bedah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk di Barat, menjadikannya acuan.</p>
<p>Kontribusi ilmuwan Islam di bidang astronomi nggak kalah seru. Adalah az-Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolobe. Yaitu suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu, transportasi pelayaran berkembang pesat selepas penemuan astrolobe.</p>
<p>Jadi jelas, ilmu pengetahuan, bukanlah bagian yang terpisahkan dari syariat Islam dan etika moral. Menurut Montgomery, nggak ada yang dapat melukiskan relasi antara ilmu pengetahuan, etika, dan agama daripada kata-kata filosofis Ibnu Rusyd: â€œFilsafat, tak berarti apa-apa jika tak bisa menghubungkan ilmu pengetahuan, agama dan etika dalam suatu relasi harmonis.â€?</p>
<p>Ibnu Rusyd pernah mengatakan, bahwa ilmu pengetahuan dibangun di atas fakta-fakta dan logika hingga sampe kepada suatu penjelasan rasional. Etika, merefleksikan manfaat setiap riset ilmiah, sehingga harus bisa memberi nilai tambah bagi kehidupan. Sedangkan firman Allah, yakni al-Quran, menjadi satu-satunya pembimbing kita untuk sampai pada tujuan hakiki dari hidup ini.</p>
<p>Itu sebabnya barangkali, W.E. Hocking berkomentar, â€œOleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan abad ke tigabelas, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.â€? (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461)</p>
<p>Menurut Montgomery, cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi â€?dinamoâ€™nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam.</p>
<p><strong>Benteng terakhir itu bernama Granada</strong><br />
Sayangnya, masa pencerahan bagi seluruh dunia ini kemudian dikotori oleh para pemimpin Eropa yang bersepakat meninggalkan agama dalam segala aspek kehidupan dan mengembangkan dengan apa yang kemudian dikenal sebagai sekularisme. Akibatnya, keagungan peradaban Islam yang dibangun di Spanyol, berakhir dengan tragis. Yaitu saat penguasa kafir Eropa menghancurkan semua karya pemikiran para ilmuwan muslim. Tak hanya karya-karyanya yang dimusnahkan, para ilmuwannya pun disingkirkan.</p>
<p>Ibnu Massarah diasingkan, Ibnu Hazm diusir dari tempat tinggalnya di Majorca. Kitab-kitab karya Imam al-Ghazaly dibakar, ribuan buku dan naskah koleksi perpustakaan umum al-Ahkam II dihanyutkan ke sungai, Ibnu Tufayl dan Ibnu Rusyd disingkirkan. Nasib yang sama, dialami juga oleh Ibnu Arabi.</p>
<p>Kebijakan â€?bumi hangusâ€™ itu menyebabkan sulit merekontruksi perjalanan sejarah Islam di Eropa. Namun demikian, keberadaan Granada, Cordova, Sevilla, dan Andalusia sebagai bukti keagungan peradaban Islam di Spanyol tak bisa dipungkiri. Meski akhirnya sirna juga dihancurkan Pasukan Salib Eropa.</p>
<p>Oya, petaka Perang Salib juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan paling berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya yang dihancurkan mereka. Salah seorang sejarawan menaksir, buku-buku yang dimusnahkan tentara Salib Eropa di Tripoli sebanyak tiga juta buah.</p>
<p>Pendudukan Spanyol atas Andalusia juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan besar yang diceritakan sejarah dengan mencengangkan. Semua buku dibakar oleh pemeluk-pemeluk agama yang fanatik. Bahkan buku-buku yang dibakar dalam sehari di lapangan Granada menurut taksiran sebagian sejarawan berjumlah satu juta buku. (Dr. Mustafa as-Sibaâ€™i, Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm. 187)</p>
<p>Granada tinggal kenangan, sejak berkecamuknya Perang Salib. Tepat pada 2 Januari 1492, Sultan Islam di Granada, Abu Abdullah, untuk terakhir kalinya terlihat di Istana al-Hamra. Granada jatuh ke tangan kaum kafir Eropa. Semua merasa kehilangan (apalagi kalo kita mengenal Spanyol sebatas klub sepakbola Real Madrid atau Barcelona. Menyedihkan!).</p>
<p>Sekadar tahu aja bahwa Granada, kota yang terletak di selatan kota Madrid, ibukota Spanyol sekarang, adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam yang agung dan tergolong dalam kawasan lainnya yang tak kalah menarik dan bersejarah setelah Andalusia, Cordova, Balansiah, Bahrit, Ichiliah, Tolaitalah dan yang lainnya. Granada juga masyhur sebagai kiblat yang menjadi tumpuan harapan para pelajar yang datang dari segenap kawasan yang berada di sekitar Granada, baik kaum muslimin maupun nonMuslim. Pusat pengkajian yang masyhur di Granada adalah al-Yusufiah dan an-Nashriyyah.</p>
<p>Di sini, juga telah melahirkan banyak ilmuwan muslim yang terkenal. Di antaranya Abu al-Qasim al-Majrithi sebagai pencetus kebangkitan ilmu astronomi Andalusia pada tahun 398 Hijriah atau sekitar tahun 1008 Masehi. Beliau telah memberikan dasar bagi salah satu pusat pengkajian ilmu matematika yang masyhur. Selain beliau, Granada juga masih memiliki sejumlah ilmuwan dan ulama terkenal, di antaranya adalah al-Imam as-Syatibi, Lisanuddin al-Khatib, as-Sarqasti, Ibnu Zamrak, Muhammad Ibnu ar-Riqah, Abu Yahya Ibnu Ridwan, Abu Abdullah al-Fahham, Ibnu as-Sarah, Yahya Ibnu al-Huzail at-Tajiibi, as-Shaqurmi dan Ibnu Zuhri. Di kalangan perempuan tercatat nama-nama seperti Hafsah binti al-Haj, Hamdunah binti Ziad dan saudaranya, Zainab.</p>
<p>Amat wajar dong kalo ilmuwan sekelas Emmanuel Deutch berkomentar, â€œSemua ini memberi kesempatan bagi kami (bangsa Barat) untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, sewajarnyalah jika kami selalu mencucurkan airmata manakala kami teringat saat-saat terakhir jatuhnya Granada.â€? (M. Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm. 100)</p>
<p>Granada adalah benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia (Spanyol) yang jatuh ke tangan bangsa Eropa yang kafir. Semoga Islam kembali memimpin dunia. Mencerahkan dan menjadi â€œrahmatan lil â€?alaminâ€?. Yup, Islam yang memberikan masa depan dunia dengan lebih cerah. Jadi, yuk berjuang untuk membela Islam dan menegakkannya dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Tunggu apalagi sobat? Ayo, berjuang sekarang juga! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 284/Tahun ke-7/13 Maret 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/spanyol-mutiara-islam-yang-hilang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Maret, 82 Tahun Lalu&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/3-maret-82-tahun-lalu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/3-maret-82-tahun-lalu#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 08:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/3-maret-82-tahun-lalu/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian kita, tanggal 3 Maret mungkin nggak ada bedanya ama tanggal-tanggal yang laen. Nggak lebih istimewa dari tanggal 1 Januari atau 14 Pebruari yang yang dinanti jutaan penduduk bumi untuk berpesta-pora. Padahal 82 tahun lalu, tanggal 3 Maret merupakan detik-detik sakaratul maut kaum Muslim sedunia saat akan kehilangan pengayom, pelindung, penjaga, dan pelayan mereka.
Yup, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sebagian kita, tanggal 3 Maret mungkin nggak ada bedanya ama tanggal-tanggal yang laen. Nggak lebih istimewa dari tanggal 1 Januari atau 14 Pebruari yang yang dinanti jutaan penduduk bumi untuk berpesta-pora. Padahal 82 tahun lalu, tanggal 3 Maret merupakan detik-detik sakaratul maut kaum Muslim sedunia saat akan kehilangan pengayom, pelindung, penjaga, dan pelayan mereka.<span id="more-285"></span></p>
<p>Yup, di tanggal itu pemersatu kaum Muslimin di seluruh dunia berhasil dihapuskan dari muka bumi oleh seorang Mustafa Kemal at-Turk yang didukung penuh oleh Inggris. Akibatnya cukup fatal. Kaum Muslim nggak punya pemimpin yang satu sehingga dengan mudah terzhalimi dan terpecah belah dalam sekat-sekat nasionalisme.</p>
<p>Padahal dulu, di bawah payung Kekhilafahan, Islam mampu menjamin keamanan dunia, menyatukan umat manusia, menciptakan kemajuan ekonomi, menjamin kesehatan masyarakat, melahirkan para ilmuwan legendaris, dan menebar rahmat ke seluruh alam selama hampir 14 abad. Yang jadi pertanyaan, kenapa eh kenapa.. khilafah bisa kalah?</p>
<p><strong>Runtuhnya kekhilafahan Islam terakhir</strong><br />
Pada perang Dunia I (1914 M), Inggris berhasil menduduki Istambul, Turki. Seorang agen Inggris keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika, Mustafa Kemal Pasha, ditugaskan untuk menjalankan agenda Inggris di Turki sebagaimana tercantum dalam â€œpernyataan Curzonâ€?, yaitu: penghapusan Khilafah secara total, pengusiran khalifah sampai keluar batas-batas negara, penyitaan kekayaan khalifah, dan pernyataan sekularisasi negara. Pernyatan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi Turki untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris.</p>
<p>Untungnya mayoritas anggota Majelis Nasional Turki yang berpusat di Ankara dengan tegas menentang apa yang tercantum dalam pernyataan Curzon. Sialnya, konco-konco Kemal berhasil menghasut anggota Majelis yang tengah merumuskan pemerintahan baru sehingga berujung permintaan bantuan kepada Mustafa Kemal untuk membentuk pemerintahan baru.?  Dalam kesempatan ini, Kemal me-launching rencananya untuk merubah pemerintahan Turki menjadi negara republik sekuler. Para anggota Majelis Nasional yang tidak setuju dengan rencananya diancam akan dibunuh dan dihukum gantung.</p>
<p>Akhirnya Majelis Raya Nasional menggelar sidang pada tanggal 01 Maret 1924 selama tiga hari untuk mensikapi adanya dualisme pemerintahan di Ankara dan Istambul. Terjadi perdebatan alot dan sengit karena Mustafa Kemal sebagai pimpinan majelis terang-terangan hendak menghapus kekhilafahan Islam yang dipimpin Khalifah Abdul Majid II di Istambul.</p>
<p>Dan tepat pada pagi hari tanggal 03 Maret 1924, Majelis Nasional mengumumkan telah menyetujui penghapusan khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Malamnya, Khalifah Abdul Majid II diusir dari rumah kediamannya atas perintah Mustafa Kemal. Khalifah dipaksa masuk mobil dan dibawa melintasi perbatasan negara menuju Swiss. Kemudian diturunkan dengan dibekali satu kopor berisi beberapa potong pakaian dan sejumlah uang.</p>
<p>Dengan demikian, Mustafa Kemal telah berhasil memenuhi persyaratan Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Turki. Di Gedung Parlemen Inggris, Curzon menyatakan, â€œ&#8230;Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan Islam&#8230;â€?</p>
<p>Setelah berhasil menduduki singgasana kekuasaan Turki, Musthafa Kemal makin arogan. Ia melarang penggunaan peci dan sorban yang digantinya dengan topi ala Barat. Ia melarang penulisan dengan huruf Arab dan memerintahkan penulisan dengan huruf latin. Ia melarang kaum wanita mengenakan busana muslimah. Malah memerintahkan untuk mengumbar aurat dan bergaul bebas dengan lawan jenis. Ia membubarkan sekolah-sekolah agama dan menghapuskan pelajaran agama di sekolah. Bahkan ia mewajibkan para muazin mengumandangkan Azan dalam bahasa Turki.</p>
<p>Lucunya, banyak kaum Muslim yang tertipu dengan sosok yang satu ini. Dalam pelajaran Sejarah yang diajarkan di sekolah, julukan tokoh Pembaharu Turki yang bergelar Ataturk (Bapak Turki) membawanya sejajar dengan para pahlawan mulia pejuang kemerdekaan. Padahal jelas banget dia yang memusuhi dan menghancurkan kekhilafahan Islam serta memaksa umat Islam hidup dengan aturan sekuler Barat. Makanya kita kudu hati-hati dengan manipulasi sejarah. Betul?</p>
<p><strong>Khilafah Islamiyah, kudu ada!<br />
</strong>Sobat, saat ini setiap hari mata dan kuping kita diempanin berita-berita seputar keadaan kaum Muslimin di seluruh dunia. Baik di Timur tengah, Eropa, Asia, Afrika, Australia, hingga dalam negeri sendiri. Dari sekian banyak berita yang mampir di telinga kita, sedikit banget kabar baik yang kita terima kalo nggak dibilang nol. Yup, hampir di seluruh dunia keadaan kaum Muslimin terpuruk sampe level mengenaskan.</p>
<p>Di Timur tengah, kemenangan HAMAS dalam pemilu tak menghentikan agresor Israel dalam menumpahkan darah sodara-sodara kita di Palestina. Seperti yang terjadi pada ahad (26/2) kemaren ketika?  militer zionis memaksa muslimah melepas jilbab dan menembak 2 Muslim Palestina yang berusaha menolong muslimah itu (Eramuslim, 27/02/06).</p>
<p>Di Eropa, ajaran Islam dan kaum Muslimin menjadi bulan-bulanan ekspresi kebencian musuh-musuh Islam. Seperti yang pernah terjadi di Perancis saat pemerintahan Jacques Chirac melarang muslimah menggunakan jilbab di tempat-tempat umum. Atau pemuatan kartun yang melecehkan Nabi Muhammad saw oleh surat kabar Denmark Jylland Posten yang memicu kemarahan kaum Muslim sedunia.</p>
<p>Di kawasan Asia, pemerintahan Karimov tak henti-hentinya membekap suara-suara lantang dari para pejuang Islam Uzbekistan yang membongkar kezhaliman pemerintahannya. Hingga terjadi tragedi dalam aksi damai di Andijan (13/05/05) yang memakan korban tewas sekitar 500 warga muslim dan 2000 lainnya terluka akibat penembakan brutal aparat keamanan Karimov terhadap pengunjuk rasa.</p>
<p>Di Afrika, dengan status minoritas yang disandang kaum Muslim, diskriminasi kerap menghampiri mereka. Seperti yang terjadi di Afrika selatan dalam kasus pemecatan seorang Muslimah dari tempatnya bekerja karena mengenakan jilbab. (Eramuslim, 26/07/05).</p>
<p>Di Australia, diskriminasi terhadap kaum Muslim menjadi bagian dari perilaku pemerintahan John Howward. Menteri Keuangan Negara Australia, Petter Costello menyatakan, warga Muslim yang tidak menghormati hukum dan anti sekularisme, dipersilahkan untuk meninggalkan Australia. (Eramuslim, 25/08/05).</p>
<p>Di dalam negeri, kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat berhamburan. Ada kenaikan BBM sampe dua kali di tahun 2005 yang otomatis diikuti dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik, Telepon, hingga harga-harga kebutuhan pokok. Sampe kehadiran nenek moyang media porno, Majalah Playboy yang pengen buka cabang di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.</p>
<p>Permasalahan yang menimpa umat Islam sedunia seperti yang dipaparkan di atas, berawal ketika kaum Muslim kehilangan institusi Khilafah Islamiyah yang menyelamatkan kehidupan umat manusia. Kini saatnya kita ngeh kalo keberadaan Khilafah Islamiyah penting banget nggak cuma bagi umat Islam, tapi untuk seluruh dunia. Catet tuh!</p>
<p><strong>Aturan Islam antidiskriminasi<br />
</strong>Geliat kaum Muslim yang merindukan kehadiran Khilafah boleh jadi merupakan sebuah mimpi buruk yang menghantui musuh-musuh Islam. Pasalnya, mereka parno (baca: paranoid) banget dengan aturan Islam yang dianggapnya hanya menguntungkan kaum Muslim dan mengancam kehidupan warga non Muslim. Padahal,?  sejarah justru menghadirkan fakta yang sebaliknya.</p>
<p>Orang-orang non-Muslim yang hidup dalam Daulah Islamiyah alias kafir dzimmi, punya hak yang sama dengan kaum Muslim. Harta dan darah mereka terjaga sama seperti kaum Muslim. Rasulullah saw. bersabda: â€œSiapa saja yang membunuh kafir muâ€™ahad (yang mengadakan perjanjian dengan Daulah Islamiyah, red.), dia tidak akan mencium wangi surga, padahal sesungguhnya wangi surga itu sudah bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.â€? (HR al-Bukhari).</p>
<p>Nggak ada dalam kamusnya orang non-Muslim dipaksa untuk masuk Islam. Apalagi sampe memberangus tempat ibadah mereka. Nggak ada tuh. Yang ada justru Islam melindungi mereka selama mereka akur-akur aja hidup berdampingan dengan kaum Muslim. Kafir dzimmi selain wanita, anak kecil, orang miskin, lemah, dan membutuhkan sedekah, hanya diwajibkan sekadar membayar jizyah saja. Mereka tidak dipungut biaya-biaya lain, kecuali jika hal itu merupakan syarat yang disebut dalam perjanjian. (an-Nabhani, asy-Syakshiyyah al-Isl?¢miyyah, II/237).</p>
<p>Pada waktu Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah, beliau mendapatkan seorang musyrik tua yang mengemis karena kemiskinannya. Beliau lalu berkata, â€œCelakalah kita. Kita telah menarik jizyah darinya sewaktu muda. Lalu apakah kita akan menelantarkannya ketika tua?â€? Umar lalu memerintahkan bawahannya agar memberikan santunan dari Baitul Mal secara teratur kepada orang tersebut dan membebaskannya dari membayar jizyah.</p>
<p><strong>Islam is the only solution<br />
</strong>Sobat, sejak keruntuhan Khilafah dan dijauhkannya aturan Islam dalam kehidupan, otomatis aturan Kapitalisme-Sekulerisme yang dibawa penjajah Barat serta merta mengambil alih. Liberalisasi ekonomi yang diusung IMF telah menjajah negeri-negeri Muslim. Sistem pemerintahan Demokrasi hanya melahirkan kebijakan-kebijakan yang memusuhi rakyat. Dan gaya hidup Barat yang bebas cuma bikin puyeng masyarakat aja dengan makin lestarinya masalah-masalah sosial dan dekadensi moral di tengah mereka.</p>
<p>Akhirnya, hidup dalam aturan Kapitalisme emang bikin bete. Kemiskinan yang melahirkan dorongan orang berbuat nekat kian merakyat. Kriminalitas dijadikan jalan pintas untuk meraih materi. Pendidikan hanya menjadi klub elit bagi yang berduit. Layanan kesehatan berjalan mulus bin lancar bagi yang berkantong tebal. Belum lagi ongkos untuk bisa tetep hidup layak yang kian meninggi. Masaâ€™ mau hidup kaya gini terus?</p>
<p>Tentu nggak dong. Makanya kita wajib nyadar kalo aturan hidup selain Islam nggak akan pernah bikin tentram. Mau kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, atau komunisme, semuanya cuma bikin rakyat tambah melarat.?  Firman Allah Swt.:â€œDan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.â€? (QS Thahaa [20]: 124)</p>
<p>Itu sebabnya, cuma satu pilihan untuk memperbaiki kehidupan kita, back to Islamic Ideology. Yup, saatnya kita memperjuangkan kembali tegaknya pemerintahan Islam yang akan beresin semua permasalahan hidup kita dan umat manusia di seluruh dunia dengan aturan Islam yang mulia. Mari kita sama-sama ambil bagian dalam barisan perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah â€?ala minhajin nubuwah. Bukan karena fanatisme golongan atau kelompok dakwah. Tapi semata-mata untuk memuliakan dan menjaga ajaran Allah Swt. Saatnya Khilafah memimpin dunia dan mengalahkan dominasi seluruh ideologi kufur yang ada di dunia ini. Yuuuk?! [Hafidz]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 283/Tahun ke-7/6 Maret 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/3-maret-82-tahun-lalu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Bilang Cinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-bilang-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-bilang-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 08:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jangan-bilang-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Ya, jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai. Jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai. Jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu. Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. â€?Kalimah saktiâ€™ itu harus tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka seharusnya kita akan berani berkorban, berani membela, berani bertanggung jawab terhadap apa yang kita cintai.<span id="more-284"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?</p>
<p><strong>Jangan bilang cinta kepada Allah, jikaâ€¦<br />
</strong>Jika kita masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: â€œAku cinta kepada Allah Swt.â€?, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.</p>
<p>Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat. Ke sekolah nggak pake kerudung dan pakaian jilbab (pakaian terusanâ€”buat anak SMA sebenarnya bisa disambung pakaian atas putih dan bawah abu-abu). Sebaliknya, malah pake rok. Meski rok itu menutupi lutut, tapi kan nggak disebut pakaian muslimah. Padahal, Allah memerintahkan lho untuk mengenakan busana muslimah buat wanita, sebagaimana dalam firmanNya: â€œHai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: â€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh merekaâ€?.. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.â€?(QS al-Ahzab [33]: 59)</p>
<p>Yup, kita coba ngasih penjelasan. Begini sobat, jilbab bermakna milh?¢fah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kis?¢â€™) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muh?®th dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sird?¢b (terowongan) atau sinm?¢r (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.</p>
<p>Nah, kalo mau pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahh?¢h, al-Jawh?¢r?® menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milh?¢fah) yang sering disebut mul?¢â€™ah (baju kurung).</p>
<p>Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah pergi keluar rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan mahromâ€”tentu laki-laki). Sebab memang tujuannya juga adalah untuk menutup auratnya. Oya, untuk bisa disebut mengenakan busana muslimah, maka seorang muslimah harus mengenakan jilbab lengkap dengan kerudungnya. Begitu deh, secara singkatnya.</p>
<p>Bagi anak laki juga sama. Kalo keluar rumah atau kalo di dalam rumah tapi ada wanita bukan mahrom nggak boleh tuh dipamerin dengkulmu dan udelmu. Karena aurat laki-laki tuh dari pusar sampe lutut. Wah, kayaknya udah pada paham deh. Soalnya nih pernah kita pelajari waktu SD dulu. Tul nggak? Ini sekadar ngingetin aja, gitu lho.</p>
<p>Oya, itu baru kita bahas kewajiban menutup aurat, sementara kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kita banyak banget. Sebut saja tentang sholat, puasa, zakat, pengaturan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, hukum, sampe pemerintahan. Itu baru pokok-pokoknya, belum cabangnya dari situ. Wah, kalo ditulis bisa ngabisin jatah halaman di buletin ini. But, intinya nih, jangan bilang cinta kepada Allah kalo kita doyan menolak kewajiban yang diperintahkanNya, malah berani mengamalkan apa yang diharamkanNya.</p>
<p><strong>Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw&#8230;.<br />
</strong>Jika kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: â€œ&#8230;kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).â€? (QS an-Najm [53]: 2-4)</p>
<p>Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: â€œBarangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.â€? (HR Ahmad)</p>
<p>Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw.</p>
<p>Seperti kasus pelcehan terhadap Rasulullah saw. yang dilakukan media-media Eropa dalam bentuk kartun yang salah satunya menggambarkan bahwa Muhammad saw. sumber inspirasi kekerasan. Gambarnya adalah sosok lelaki dengan tampang garang dan sorbannya berbentuk bom. Ditulisin di situ dengan jelas dalam bahasa Arab kalimat Muhammad saw. Waduh, kaum Muslimin marah dengan protes baik secara lisan maupun tulisan justru wajar. Karena cintanya kepada Rasulullah saw. Yang parah tuh kalo kita diem aja, terus pura-pura bijak dengan mengatakan bahwa kartun itu sebagai bentuk evaluasi buat umat Islam. Nggak marah apalagi protes. Aneh banget kan? Macam mana pula tuh orang? Ngakunya sih Muslim. Tokoh intelektual pula di di negeri ini. Sadar Pak!</p>
<p>Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw. jika hanya mengambil sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian besar ajarannya yang lain. Kalo kita cinta kepada Rasulullah saw. berarti harus mengambil seluruh yang dibawanya. Bukan dipilih-pilih sesuai kehendak hawa nafsu kita. Karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagaimana firmanNya:â€œApa yang datang (diajarkan) Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.â€? (QS al-Haysr [59]: 7)</p>
<p>Oke, boleh bilang cinta kepada Rasulullah saw., asalkan kita berani pula untuk menaati segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Bohong besar banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama Rasulullah saw. tapi nggak pernah melaksanakan tuntunan ajarannya. Betul ndak?</p>
<p><strong>Jangan bilang cinta sama ortu&#8230;<br />
</strong>Jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu?</p>
<p>Buktikan kecintaan kita kepada ortu kita adalah dengan berbakti kepadanya. Menghormati mereka, menghargai mereka, menolong mereka, dan membuat mereka bahagia dengan adanya kita. Keberadaan kita yang udah dilahirkan ini bukan menjadi beban mereka. Kasihan ibu kita, sejak mengandung kita, melahirkan kita, merawat dan membesarkan kita, ia tak pernah mengeluh. Ayah kita juga sama. Mencari nafkah dengan semangat untuk keluarganya.</p>
<p>Cinta mereka sepenuh hati buat kita. Sudah terbukti kok. Karena sampe sekarang aja, meski kita bandel, ibu dan ayah kita tetap mendoakan agar kita mendapat petunjuk sambil terus membimbing kita (meski kadang menurut kita terlihat seperti orang yang cerewet). Tuh, gimana nggak penuh cinta. Jadi, kitanya sendiri nih yang kudu membuktikan bahwa kita cinta kepada ibu dan ayah kita dengan cara berbakti kepadanya. Itu sebabnya, jangan bilang cinta kalo kita tak menghargainya, tak berbakti kepada mereka. Oke?</p>
<p><strong>Jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin&#8230;<br />
</strong>Jika kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum Muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? Bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama Muslim tapi dengan sesama kaum Muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah. Kalo gitu caranya, jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin. Sadar ye akhi wa ukhti&#8230;</p>
<p><strong>Jangan bilang cinta kepada diri sendiri&#8230;<br />
</strong>Jika kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).</p>
<p>Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.</p>
<p>Itu sebabnya, ada larangan bunuh diri, larangan mengkonsumsi narkoba, larangan mentato badan, larangan mempertontonkan aurat di muka umum dll. Iya kan?</p>
<p>Oke deh, moga renungan sederhana ini bisa ngingetin kita untuk mengevaluasi kehidupan kita: Apa benar kita udah cinta banget sama Allah, RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan cinta kepada diri kita sendiri jika kita masih berperilaku yang justru menggambarkan bentuk pengkhianatan terhadap cinta yang kita ikrarkan?</p>
<p>Semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Allah Swt., RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan diri kita sendiri. Nah, itu harus dibuktikan dalam pikiran dan perbuatan sesuai tuntunan ajaran Islam. Oke? Semangat! [solihin]</p>
<p>(<strong>Buletin STUDIA &#8211; Edisi 282/Tahun ke-7/27 Februari 2006</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-bilang-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
