<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Buletin Studia Tahun I</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 17:02:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Yang Muda Yang Doyan Pesta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yang-muda-yang-doyan-pesta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yang-muda-yang-doyan-pesta#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/yang-muda-yang-doyan-pesta/</guid>
		<description><![CDATA[Pesta bertitel &#8220;Light Up the Night&#8221; pasti kamu sudah mengenal istilah ini. Itu salah satu jenis &#8216;pesta&#8217; anak muda yang kerap &#8216;disponsori&#8217; oleh produsen rokok Pall Mall. Kamu tahu, acara itu sempat bikin heboh. Gimana nggak, masak promosi rokok &#8216;funky&#8217; itu berubah menjadi &#8216;kontes nyaris telanjang&#8217; dalam acaranya yang bertajuk &#8220;Light Up the Night&#8211;Pall Mall [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pesta bertitel &#8220;Light Up the Night&#8221; pasti kamu sudah mengenal istilah ini. Itu salah satu jenis &#8216;pesta&#8217; anak muda yang kerap &#8216;disponsori&#8217; oleh produsen rokok Pall Mall. Kamu tahu, acara itu sempat bikin heboh. Gimana nggak, masak promosi rokok &#8216;funky&#8217; itu berubah menjadi &#8216;kontes nyaris telanjang&#8217; dalam acaranya yang bertajuk &#8220;Light Up the Night&#8211;Pall Mall Top 40 the Party&#8221; yang digelar di beberapa kota besar; Bandung, Semarang, Solo, dan Yogyakarta. <span id="more-35"></span>Tercatat, ini adalah pesta anak muda paling gokil. Soalnya, acara ini juga termasuk yang yang banyak dikritik orang. Oke deh, kita nggak bakalan ngebahas secara vulgar bagaimana acara tersebut berlangsung, yang pasti kita ingin menyoroti, betapa teman-teman remaja doyan pesta dan hura-hura. Rela ngeluarin uang dari kocek yang nggak sedikit cuma untuk memuaskan nafsunya dalam gelegak histeria.</p>
<p>Sekarang, anak muda memang lagi doyan-doyannya pesta, Cing. Terutama memang pesta musik. Kayaknya, hampir tiap pekan mesti ada acara konser musik, baik di sekolah, kampus maupun hotel. Tentu saja, bagi teman-teman remaja yang jagoan pesta bakal akrab banget dengan grup-grup band lokal maupun mancanegara, sebut saja seperti Grashoper, Kolestrol, Naif, Milkshake, Candybar, Washtafel On Air, Papayakui, Bandempho, Susu Putih, PADI, Sheila on Seven, dr. PM, Cokelat, Base Jamp, ditambah Westlife, Boyzone, Bon Jovi, Save Ferris, dan Metallica. O, ya, kelima grup band mancanegara itu pernah bikin konser di sini lho. Hasilnya? Banyak remaja yang histeris dan lupa diri. Berbahaya, kawan!</p>
<p>Brur, kayaknya kamu kudu terus prihatin, nih. Kenapa? Soalnya masih banyak teman-teman yang begitu. Buktinya? Ya, itu tadi, konser musik kerap digelar dengan model yang nggak kalah megah. Baik di sekolah atau dalam promosi suatu produk yang ngebidik pasar remaja. Tercatat, Star Mildâ€”dengan semboyan Losta Masta-nya, A Mild, dan Pall Mall&#8211;yang terkenal dengan pesta Bubble Party dan Acid Rain-nya&#8211;kerap menjadi penyalur &#8216;naluri&#8217; pesta remaja yang makin membuncah.</p>
<p>Kamu tahu, pesta anak muda ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di mall, di lapangan terbuka, sampai di hotel bisa dengan mudah dinikmati. Pokoknya dari yang gratisan sampai yang harus keluar duit. Tapi anehnya teman-teman remaja kok mudah tergoda untuk larut dalam gemuruh pesta-pesta tersebut. Padahal, tak jarang harus merogoh kocek dalam-dalam. Maklum, bandrol yang tertera dalam KTM alias kartu tanda masuk untuk sebuah pertunjukan bisa setara dengan harga sepuluh mangkok bakso. Itu harga minimal, lho, soalnya bila kamu pengen tahu, konser Westlife saja yang berhasil digelar di Jakarta bulan Juni kemarin, harga tiketnya bisa mencapai angka lima puluh ribu perak. Wah, gawat juga. Namun lebih sedihnya, tak jarang temen-teman remaja yang maksain untuk jejingkrakan nonton konser tersebut meski uang di kantong nyaris ludes. Dengan alasan; yang penting hepi, yang penting bisa kumpul bareng teman satu genk, dan yang penting asyik. Sekali lagi, asyik! Wah, wah, wah, berabe juga, Brur!</p>
<p>Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang hilang dalam diri remaja. Apa? Rasa peduli. Ya, rasa itu yang hilang. Memang kita nggak habis pikir, di tengah ekonomi bangsa ini yang makin morat-marit kayak sekarang, kok masih ada sebagian teman remaja yang mampu ngeluarin duit hanya untuk pesta yang nggak ada gunanya. Saat sebagian teman kita nggak bisa bayar SPP, kok masih ada yang &#8216;hobi&#8217; menghamburkan uang cuma untuk nonton konser musik. Ketika ada teman yang harus bekerja keras mengeluarkan keringatâ€”bahkan darahâ€”hanya untuk bayar uang sekolah, kenapa sebagian teman remaja dengan mudah &#8216;melenyapkan&#8217; uang yang dimilikinya dengan hura-hura di tempat pesta? Membingungkan dan memang menyakitkan kenyataan ini. Ternyata masih banyak orang yang nggak menghargai apa yang dimilikinya, sementara orang lain begitu ingin memilikinya. Ah, kebalik-balik memang!? </p>
<p><strong>Boros? No Way!<br />
</strong>Bayangkan, jika kamu dalam sebulan nonton konser musik empat kali. Tiket sekali masuk 50 ribu perak, berarti dalam sebulan kamu harus menguras &#8216;celengan bagong&#8217; kamu sebanyak 200 ribu rupiah (ih, masak celengan bagong, hi..hi..hi..). Itu baru tiket. Belum jajanannya yang kerap bikin mata kita &#8216;melotot&#8217; bila lihat bandrol yang tertera. Tentu, jagoan pesta masak cemilannya cireng atawa combro, nggak kelas dong. Pasti yang berselera &#8216;bule&#8217;. Paling nggak yang berloga huruf &#8220;M&#8221; yang berwarna merah dan kuning, dan ada gambar badutnya. Ya, mana lagi, selain (di) McD, eh, sori ini bukan iklan, lho! Makanan begituan Brur, bisa bikin kantong kita bolong. Nggak percaya? Silakan coba. Sekarang kamu kalkulasikan, berapa biaya hidup kamu yang cuma untuk urusan pesta dan jajan? Bisa lebih besar dari gaji guru SD sebulan, kan? Nggak kebayang kan betapa borosnya kamu? Belum lagi bila uang yang kamu bobok dari tabungan dibelanjakan kepada hal yang haram? Wah, itu namanya rugi berat, Brur! (soal yang satu ini, kamu bisa buka kembali Studia edisi 027/Tahun I, oke?).</p>
<p>Memang ini fakta yang bisa kita lihat sekarang. Ternyata para pengelola acara-acara pesta itu nggak memperhitungkan akibat lanjut dari perkembangan anak-anak bangsa ini, Non. Bayangkan saja, berbagai sarana untuk menggelar acara pesta itu hanya akan menumbuhkan generasi lembek kayak es krim. Betul-betul kacau. Teman-teman remaja cuma diajarkan untuk hidup boros bin hura-hura, udah gitu nggak peka lagi terhadap lingkungan sekitar. Bisanya cuma pesta dan jajan mewah. Centilnya nggak ketulungan, tapi otaknya beku banget. Tingkahnya super pecicilan. waduh, kondisi tersebut akhirnya cuma menciptakan gaya hidup Beverly Hills; hura-hura, seks bebas, narkoba,?  jago pesta dan jajan. Ah, menyakitkan banget. Ampuuuun!</p>
<p>Kebayang nggak sih, gimana perasaan kamu, ketika perut kamu diisi penuh dengan jajanan yang harganya selangit, sementara teman atau tetangga kamu nggak bisa makanâ€”meski hanya jajanan biasa. Juga ketika kamu tiap minggu asyik pesta bersama teman satu genk, padahal dalam waktu yang bersamaan, teman atawa tetangga kamu yang lain nggak mampu membeli sepiring nasi. Dimana rasa peduli kamu, Brur? Jadi memang, hidup boros itu nggak baik, dan tentu nggak benar. No way! Catet itu, ya!</p>
<p><strong>Menumbuhkan Kepedulian</strong><br />
Hidup ini tak selamanya bisa memilih kawan, kadang kala kita harus menerima apa adanya, meski pedih sekali pun. Wah, kalo hidup bisa milih, tentu kita bakal enak dong. Bisa melakukan segala hal yang kita inginkan. Bakal menyingkirkan semua yang nggak kita kehendaki. Dan pengennya menerapkan semboyan &#8216;dagadu&#8217;; &#8220;muda hura-hura, tua kaya-raya, mati masuk surga.&#8221; Kalo seperti itu enak banget. Tapi sayang, hidup nggak selamanya bisa memilih. Itu harus kamu pahami betul, Brur. Bagi seorang muslim, kehidupan dunia?  itu bagai &#8216;penjara&#8217;. Serba nggak boleh. Tentu yang nggak boleh dilakukan adalah yang haram. Tapi, biasanya yang haram itu justru yang enak-enak. Makanya, kadang kita suka lupa, terlanjur enak, sih. Padahal yang kamu lakukan itu ternyata haram, Non! Ih, bikin malu. Udah gitu dosa lagi. Wah, kacau dong?</p>
<p>Oke, yang jadi masalah sekarang kan hilangnya rasa peduli dalam diri kamu. Lalu gimana cara menumbuhkannya? Kita memang harus peduli kawan. Ya, peduli terhadap keadaan di sekitar kita. Kalo kita mau peduli, masih banyak teman-teman dan saudara kita yang membutuhkan &#8216;kucuran&#8217; harta yang kita miliki. Tentu akan lebih berkah bila harta yang kita miliki diinfakkan ke jalan yang benar. Dan tentu akan mubadzir bila disalurkan hanya untuk kegiatan yang nggak ada gunanya, terlebih haram. Hidup itu seperti putaran roda, Brur. Kadang di atas kadang di bawah. Misalkan, bila kini kita kebetulan lagi tajir, bisa jadi esok pagi kita tekor bin bangkrut. Siapa tahu kan? Bila sekarang kita sehat, siapa tahu besok malah koit. Ini juga nggak heran dan nggak aneh.</p>
<p>Rasa peduli itu bisa tumbuh saat kita menyadari bahwa kita dengan teman yang lain adalah sama dan bersaudara. Apalagi kita disatukan dalam akidah Islam yang benar. Pasti rasa memiliki di antara kita lebih kuat. Kita nggak akan rela melihat teman menderita sementara kita hura-hura dan aktivis berat pesta. Nggak baik, dan memang nggak benar!</p>
<p>Perlu dicatat, hidup bukan cuma tumbuh, berkembang lalu mati. Bukan. Bukan cuma itu sayang, Hidup akan terasa lebih bermakna, bila kita mengetahui arti hidup itu sendiri. Ya, kamu perlu tahu, dari mana kita datang, mau ngapain di dunia, en mau ke mana setelah &#8216;pensiun&#8217; dari dunia ini. Itu pertanyaan yang harus kamu jawab dengan baik. Kalo seorang muslim, pasti akan menjawab segalanya dari Allah, untuk Allah dan akan kembali kepada Allah. Jelas, bila demikian, maka dalam hidup ini kamu nggak bakalan berbuat sesuka kamu. Tapi harus selalu menyandarkan perbuatan sesuai aturan Islam. Baik atau buruk menurut Islam. Pokoknya, standarnya halal atau haram menurut Islam.</p>
<p>Jadi tak usahlah kamu memanjakan dirimu dalam segala gemerlap pesta, sementara di sekitar kamu masih banyak teman yang menderita. Hidup kan bukan cuma untuk pesta dan hura-hura. Di mana rasa peduli kamu sebagai seorang muslim? Catet ya!</p>
<p><strong>Kikis Hura-hura!<br />
</strong>Anak-anak yang animal party memang kerap bikin kita-kita nggak habis pikir. Hura-hura seolah menjadi â€?ideologinyaâ€™. Makanya nggak heran di mana ada pesta di situ ada dirinya. Sepertinya nggak bisa lepas dari urusan pesta dan hura-hura.</p>
<p>Bagi teman-teman yang doyan pesta, sudah saatnya pensiun dari dunia penuh hura-huraâ€”yang juga sering diikuti dengan huru-hara. Ya, seringkali pesta berbuntut petaka. Rusuhnya konser Metallica di Lebak Bulus, awal tahun 1990 adalah bukti paling nyata dari sebuah pesta anak muda. Belum lagi konser-konser musik Iwan Fals yang kerap mengundang provokator untuk membikin rusuh. Walhasil, semua itu nggak ada gunanya. Sudahlah kantong bolong, celaka, lagi. Wah, suuial buanget, tok rek!</p>
<p>Brur, bila melihat gaya hidup Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang mulia, kita bakal malu. Suer, dalam soal kehidupan, Rasulullah termasuk orang yang paling sederhana. Bayangkan, sebagai nabi dan rasul, juga sebagai Khalifah (pemimpin negara), beliau cuma tidur di â€?kasurâ€™ dari jerami. Belum lagi kesederhanaan Umar bin Khaththab r.a. yang jauh berbeda dengan kita. Sebagai khalifah, Umar cuma memiliki dua stel baju. Sampai-sampai para sahabat yang lain mengusulkan untuk memberikan tunjangan kepada khalifah Umar. Namun usulan tersebut ditolak mentah-mentah, dengan alasan beliau ingin mengikuti kesederhanaan Rasulullah saw. Salman Al Farisi pun tercatat sebagai orang yang sederhana. Penggagas strategi membuat parit dalam perang Khandaq ini sampai meninggalnya cuma memiliki sebuah rumah yang ukurannya benar-benar pas-pasan. Maksudnya, tingginya pas dengan tinggi tubuhnya, begitu pun bila ia tidur, panjang â€?rumahnyaâ€™ hampir sama dengan panjang tubuhnya. Sikap hidup beliau itu lebih dikarenakan karena ia ingin tampil sederhana. Memang hebat!</p>
<p>Bagaimana dengan kita? Ya, kita juga bisa mencontoh mereka, kawan. Suer, mereka semua adalah teladan yang baik buat kita. Malah bila kita mau peduli dengan keadaan saudara kita, ada kisah yang juga menarik. Kamu tahu kan putri Rasullah yang menikah dengan Ali r.a.? Yes, Fatimah Az Zahra! Putri nabi ini, pernah memberikan kalung emas yang ia miliki kepada seorang pengemis yang kelaparan untuk dijual kembali dan uangnya bisa untuk makan pengemis tersebut. Padahal Non, Fatimah saat itu sedang berada dalam kesulitan juga. Coba sudahkah kita seperti itu? Kita upayakan yuk!</p>
<p>Jadi tinggalkan pesta, kikis hura-hura, dan jadikan gaya hidup sederhana sebagai â€?modelâ€™ hidup kita. Dan, masyarakat juga kudu memberikan perhatian bagi remaja. Paling nggak, ikut membina remaja dengan hal yang baik. Jangan malah menambah masalah!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 033/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yang-muda-yang-doyan-pesta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Kamu Digoda Cowokâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-digoda-cowok%e2%80%a6</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-digoda-cowok%e2%80%a6#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/kalau-kamu-digoda-cowok%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Digoda cowok? Ih, suka deh. Eh, amit-amit, ding! He..he..he.. itu sebagian ekspresi anak cewek saat ada yang menggodanya. Memang, anak cewek biasanya sering jadi sasaran godaan anak cowok. Beragam tanggapan dari anak cewek bisa muncul saat digoda anak cowok. Ada yang suka, suprise, heboh, salah tingkah, nyantai aja, tapi ada juga yang sewot. Tapi sebentar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Digoda cowok? Ih, suka deh. Eh, amit-amit, ding! He..he..he.. itu sebagian ekspresi anak cewek saat ada yang menggodanya. Memang, anak cewek biasanya sering jadi sasaran godaan anak cowok. Beragam tanggapan dari anak cewek bisa muncul saat digoda anak cowok. Ada yang suka, suprise, heboh, salah tingkah, nyantai aja, tapi ada juga yang sewot.<span id="more-34"></span></p>
<p>Tapi sebentar, nggak kecentilan nih, ngebahas tema ini? Nggak dong, lagi pula masalah beginian memang lagi hangat, Brur. Tentu seiring dengan membanjirnya budaya asing yang masuk ke negeri ini. Terutama lewat jalur film, wabil-khusus film remaja, macam Dawsonâ€™s Creek, misalnya. Di film itu, berjejal (contoh) rayuan dan godaan dalam rangka PDKT (tahu kan pdkt? Ya, pendekatan!), bahkan tak jarang dibumbui dengan adegan syur dan greng. Waduh, celakanya nggak sedikit adegan tersebut yang dicontek abis sama kamu-kamu. Ini berabe Brur. Suer, samber jemuran deh.</p>
<p>Melihat gelagatnya, naga-naganya sih kondisi ini terasa wajar-wajar saja bagi sebagian remaja. Kenapa? Paling nggak ada beberapa alasan. Pertama, anak ceweknya doyan digoda (ini kebanyakan, lho). Kedua, anak cowoknya merasa kecakepan sehingga mendongkrak rasa pede-nya untuk ngegodain kaum Hawa. Ketiga, masyarakat terlanjur menganggapnya sebagai perbuatan yang wajar. Wah, gokil semuanya dong??  Lha, iya, Bang!</p>
<p>Memang harus kita akui ada juga anak cewek yang doyan en betah kalau digodain anak cowok. Serasa jadi artis dadakan, kali. Malah nggak jarang anak cewek yang tambah â€?gokilâ€™ bila digodain. Brur, kondisi ini bisa kamu lihat sehari-hari. Baik di sekolah, di pasar, di mal, atawa di angkot sekalipun.</p>
<p>Ada juga anak cewek yang merasa dirinya diperhatiin sama anak cowok, malah bertingkah makin atraktif. Penampilan ke sekolah aja kayak mau ke tempat pesta. Alisnya dikerok, lalu dipermak supaya lebih gereget kayak artis-artis Hollywood atau artis lokal itu, lho. Gaya jalannya pun udah kayak peragawati saja. Suaranya dibuat â€?seseksiâ€™ mungkin, minimal kayak suaranya penyanyi R&amp;B, Reza. Coba anak cowok mana sih yang nggak matanya melotot terus bila ada anak cewek yang penampilannya kayak begitu? Ya, kalo bisa, pengennya tampil unik. Meski kadangkala, kenyataannya bukan unik, tapi malah bikin enek (hua..ha..ha..).</p>
<p>Yang bikin kesel lagi, kelakuan anak cewek yang model begitu secara tidak langsung mendapat dukungan. Ya, ternyata ada juga ortu yang bangga bila anaknya digodain orang. Mungkin pikirnya. â€œanak gue memang okeâ€?. Wah, kalo ada ortu kayak begini, kayaknya wajar bila banyak anak cewek yang makin parah dalam pergaulannya. Makin kacau dan gila-gilaan, karena merasa mendapat â€?restuâ€™ dari ortunya yang nggak ngerti itu. Kasihan memang.<br />
? <br />
<strong>Kesalahan Berpikir</strong><br />
Memang, nggak setiap anak cewek yang merasa bangga bila digodain anak cowok. Itu semua tergantung pemahamannya. Ya, kalo ada anak cewek yang doyan digoda anak cowok, berarti ada yang salah dalam cara berpikirnya. Begitupun dengan sikap remaja putri yang malah tambah heboh bila diisengin anak cowok, itu juga memang ada yang â€?konsletâ€™ dalam otaknya.</p>
<p>Bagi anak cewek yang salah tingkah, atau adem ayem saja bila digodain anak cowok, itu juga punya alasan sendiri. Bisa jadi anak yang begini, menganggap masalah itu tak perlu dipersoalkan, karena menambah ruwet aja bila mikirin kayak gituan. Itulah kenyataannya. Lalu bagaimana sikap yang benar?</p>
<p>Nah, itu pertanyaan bagus. Sebagai seorang muslim, pastikan bahwa standar perbuatan kita adalah aturan Islam. Apapun perbuatan yang akan kita lakukan, â€?konfirmasikanâ€™ dulu kepada Islam. Kalau menurut Islam boleh, ya tentu kamu juga boleh melakukannya. Tapi bila menurut Islam haram, pastikan kamu juga bisa mengerem keinginan kamu untuk melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, tolok ukur perbuatan kita halal dan haram menurut aturan Islam. Ingat, ya, aturan Islam, bukan yang lain.</p>
<p>Nah, masalah ini muncul karena masyarakat kita sudah rusak cara berpikirnya, kemudian â€?matiâ€™ juga perasaannya, ditambah tak adanya aturan yang mengatur dan memberikan sanksi bagi yang berbuat salah. Wis lah, rusak kabeh!</p>
<p>Misalnya saja, bila kamu kebetulan berdandan aneh-aneh (pakai bikini atau rok panjang, tapi belahannya sampai ke paha), tentu kondisi itu bakal menarik perhatian anak cowok untuk ngejailin. Dari mulai suitan, teriak-teriak nggak karuan, sampai ada yang nekat untuk towal-towel menjamah bagian tubuh kamu. Wah, gawat itu! Yang lebih gokil lagi bila ternyata kamu malah enjoy menikmati godaan itu, malah merasa menjadi pusat perhatian.</p>
<p>Jangankan yang model begitu, kalau anak cowoknya yang nekat dan tebal muka, kamu yang mengenakan jilbab pun nggak lepas juga dari godaan anak cowok. Tapi tentu jenis godaannya rada lain. Misalnya saja, kalo kebetulan kamu lagi lewat gang, sementara di situ berkerumun anak cowok yang suka iseng. Begitu kamu lewat di hadapan mereka, nggak jarang mereka godain kamu, â€œAssalamuâ€™alaikum..!, kemana bu Haji..?â€? sambil ketawa-ketawa. Nah, kalo yang begini berarti bukan salah kamu. Kamu sudah melaksanakan kewajiban memakai jilbab, tapi nggak luput juga dari godaan, berarti itu yang salah anak cowoknya.</p>
<p><strong>Agar Tak Digoda</strong><br />
Survei membuktikan bahwa kebanyakan dari teman remaja putri yang digoda or diisengin sama kaum Adam adalah karena penampilannya yang bikin ubun-ubun anak laki mendidih. Lalu beraksi secara agresif. Mulai dari cuma sekadar nyuitin atau sebatas ucapan, sampai ada yang berani towal-towel ke tubuh kamu atau menggerayangi bodi kamu. Waduh, itu namanya sudah keterlaluan banget. Benar-benar pelecehan seksual. Bukan tak mungkin tentunya bila kemudian terjadi perkosaan, ih, naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>Anak cewek yang dandanannya seronok tentu membuat anak cowok blingsatan, maksudnya blingsatan nggak tahan ingin â€?nyomotâ€™. Parah memang. Makanya nggak salah-salah amat bila kemudian ada iklan layanan masyarakat yang berbunyi, â€œBagaimana mungkin angka perkosaan akan menurun, bila rok Anda semakin tinggi?â€? Wajar toh, memang itulah kenyataannya.</p>
<p>Memang sih, kita nggak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada anak cewek, anak cowok juga memang bejat kok. Ya, dua-duanya memang harus bertanggung jawab. Setuju? Harus setuju!</p>
<p>Brur, Islam?  sudah memberikan aturan yang sempurna untuk menyelamatkan ummatnya. Islam bahkan teramat melindungi hak-hak kita sebagai seorang manusia. Aturan Islam itu bukan untuk mengekang kita, tapi justru mengendalikan kita supaya tetap berada dalam kondisi yang benar dan baik. Memang sih, kadangkala kita suka berburuk sangka sama aturan Islam. Tanpa terasa kita sering nuduh yang bukan-bukan sama aturan Islam. Kita sering menganggap bahwa Islam terlalu mengekang keinginan kita. Islam kita anggap sebagai penjara yang sering membatasi gerak kita. Wah, pandangan seperti itu sudah saatnya dimasukkin ke keranjang sampah. Bila kita masih menganggap Islam kejam dan nggak ngertiin keinginan kita, berarti kamu masih memanjakan hawa nafsu kamu.</p>
<p>Yang salah itu hawa nafsu kamu, sementara Islam selalu benar dan pasti akan selalu benar. Kenapa? Karena aturan Islam diâ€™produksiâ€™ langsung oleh Allah Swt., sehingga memang betul-betul jaminan mutu. Nggak bakalan bisa dikalahkan oleh aturan hidup lain, yang rata-rata memang buatan manusia. Kamu kudu nerima, baik itu suka maupun kamu benci. Firman Allah:</p>
<p>?ˆ???…???§ ?ƒ???§?†?? ?„???…???¤?’?…???†?? ?ˆ???„???§ ?…???¤?’?…???†???©?? ?¥???°???§ ?‚???¶???‰ ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?£???…?’?±?‹?§ ?£???†?’ ?????ƒ???ˆ?†?? ?„???‡???…?? ?§?„?’?®???????±???©?? ?…???†?’ ?£???…?’?±???‡???…?’ ?ˆ???…???†?’ ?????¹?’?µ?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?????‚???¯?’ ?¶???„?‘?? ?¶???„???§?„?‹?§ ?…???¨?????†?‹?§</p>
<p>â€œTidak patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila diputuskan suatu hukum oleh Allah dan Rasul-Nya, akan ada bagi mereka pilihan lain, karena barangsiapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.â€? (Al Ahzab: 36).</p>
<p>Nah, berkaitan dengan persoalan ini, kamu juga kudu mentaati aturan Islam tentang pergaulan dan juga tentang kewajiban menutup aurat. Masalah hubungan antara laki-laki dengan wanita juga diatur dalam Islam. Banyak ayat dan hadits yang mengatur masalah ini. Misalnya saja, firman Allah Swt.:</p>
<p>?ˆ???„???§ ?????‚?’?±???¨???ˆ?§ ?§?„?²?‘???†???§ ?¥???†?‘???‡?? ?ƒ???§?†?? ?????§?­???´???©?‹ ?ˆ???³???§???? ?³???¨?????„?‹?§</p>
<p>â€œDan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.â€? (Al Isra: 32).</p>
<p>Nah, ini adalah salah satu aturan untuk pergaulan cowok dan cewek dalam Islam. Perzinaan bisa saja terjadi karena berbagai sebab. Gaya gaul kamu dengan lawan jenis yang liar bin amburadul bisa merupakan pintu masuk paling cepat dan efektif kepada perzinahan. Larangannya memang jangan mendekati zina, bukan zinahnya, kan? Itu menunjukkan bahwa aktivitas awal dari sebuah pergaulan bebas bisa mendekatkan kepada perzinahan. Meski cuma jalan berdua sambil pegangan tangan dan meremas jari (harus lebih hati-hati, bila ternyata jari lawan jenis kamu jempol semua! Ih?). Aktivitas itu bisa berbuah perzinahan, bila dilakukan terus menerus dan ada kesempatan untuk melakukannya. Bahaya bin gawat.</p>
<p>Aktivitas menggoda memang bisa juga berbuah perzinahan. Bayangkan bila anak cewek yang digodanya malah suka, karena mungkin yang menggodanya mirip bintang Hollywood sekelas Tom Hanks atawa Tom Cruise, apalagi Tom and Jerry (Eh, yang terakhir ini tokoh film kartun, lho).</p>
<p>Dengan kata lain, supaya kamu nggak digoda, kamu harus memperhatikan tips di bawah ini. Pertama, kamu harus membekali otak kamu dengan pemikiran Islam yang kuat, dari mulai akidah sampai syariat, dari mulai syakhsiyah (kepribadian) sampai dakwah. Pokoke, semuanya Islam, nggak boleh yang lain. Karena semua tindak-tanduk kita dalam kehidupan ini selalu sesuai dengan pemahaman kita tentang perbuatan tersebut. Sebagai contoh, bagi anak cewek yang ngerti dan paham Islam, ketika ada cowok yang berani menggoda dirinya, maka ia akan sewot bin murka. Begitupun dengan anak cowok yang udah paham dengan ajaran Islam, ketika melihat anak cewek, akan malu dengan menjaga pandanganya. Jadi memang dua-duanya (anak cewek dan anak cowok) kudu diisi dengan aturan-aturan Islam. Berarti harus mempelajari Islam.</p>
<p>Tips yang kedua, kamu yang cewek harus berpakaian yang menutup aurat, supaya anak cowok yang super iseng nggak ada peluang untuk menggoda. Kalau kamu udah berjilbab, tapi anak cowoknya â€?nyelonongâ€™ terus,?  berarti yang perlu â€?digaresâ€™ adalah anak cowoknya. Maka kembali ke tips yang pertama, anak cowok kudu belajar Islam juga.</p>
<p>Ketiga, jangan memberi â€?harapanâ€™. Maksudnya, bila nggak mau digoda kamu harus tampil berwibawa. Jangan memancing anak cowok untuk keluar dari sarangnya dan siap â€?menerkamâ€™ kamu. Misalnya saja, gaya jalan kamu jangan ugal-egol nggak karu-karuan. Itu bisa memancing gairah anak cowok untuk menggoda. Hati-hati!</p>
<p>Jadi, kamu kudu ngerti dan paham juga tentang aturan Islam dalam bergaul dan menutup aurat. Lalu bagaimana bila kita sudah hati-hati tapi kondisi ini masih tetap ada, malah tambah senewen?</p>
<p><strong>Menyadarkan Masyarakat</strong><br />
Di awal kita sudah menyebutkan bahwa kondisi ini dipicu dengan sikap masyarakat yang sudah kehilangan cara berpikir Islamnya. Cara pandang masyarakat kita sudah mengikuti budaya Barat. Misalnya saja, untuk kasus pergaulan ini. Anak cewek ketika melihat anak cowok, semata-mata melihat kelelakiannya. Ganteng, kekar, kuat, macho dan sebagainya. Begitupun dengan anak cowok, ketika melihat anak cewek adalah semata-semata karena kewanitaanya. Misalnya saja, kecantikannya, kegenitannya, manjanya, bodinya yang aduhai, kakinya yang oke punya, lehernya yang jenjang dan sebagainya.?  Cuma itu yang diajarkan. Iya kan? Lihat saja iklan-iklan di tivi atau di media cetak, semuanya berhubungan dengan yang begituan. Seolah-olah hidup ini nggak bisa lepas dari unsur seks. Yang ada di otaknya selalu seks dan seks. Nggak ada yang lain. Parah banget dong? Ya, itu kenyataannya, Brur.</p>
<p>Maka untuk mengubah ideologi (pandangan hidup) masyarakat yang seperti itu, harus dilawan pula dengan ideologi yang benar. Dan kita udah sepakat, bahwa nggak ada ideologi yang mampu melindungi manusia dan mampu menyelesaikan berbagai problem manusia selain ideologi Islam. Yes, islam yang diterapkan sebagai akidah dan syariat.</p>
<p>Dengan demikian perubahan yang harus dilakukan meliputi semuanya. Individu, masyarakat, dan juga negara. Tiga pilar inilah yang bakal menjaga manusia dari berbuat salah. Termasuk dalam urusan ini. Masalah ini kan cuma efek dari penyaluran naluri mempertahankan jenis (gharizah an nauâ€™) yang salah. Maka harus ditumbuhkan pemahaman tentang persoalan ini dengan baik. Kalau anak ceweknya udah paham dengan aturan Islam, nggak mungkin dia nekat memakai pakaian yang bisa memancing kaum lelaki untuk menggoda. Begitupun dengan anak cowok yang udah paham ajaran Islam untuk masalah ini, nggak bakalan berani menggoda anak cewek, karena malu dan takut kepada Allah Swt.</p>
<p>Nah, lalu masyarakat juga kudu ikutan menjaga. Bila ada invidu yang salah, tegur. Dan sebaliknya, bila benar harus didukung. Terus negara juga kudu menertibkan tayangan televisi, film, dan majalah yang makin berani dengan â€?suguhanâ€™ yang merusak kepribadian remaja kita. Siiip..lah!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 032/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-digoda-cowok%e2%80%a6/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>â€œStripteaseâ€ Gaya Pall Mall</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9cstriptease%e2%80%9d-gaya-pall-mall</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9cstriptease%e2%80%9d-gaya-pall-mall#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:23:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/%e2%80%9cstriptease%e2%80%9d-gaya-pall-mall/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo kamu sering nonton tivi kayaknya sudah akrab banget dengan iklan rokok yang rada-rada lain dalam â€?penampilannyaâ€™. Yakni kental dengan unsur seks dan funky. Yes, itu adalah iklan rokok Pall Mall, Brur. Bila melihat gaya iklannya, nggak salah lagi, rokok ini membidik pasar remaja. Malah belakangan PT BAT, produsen rokok â€?funkyâ€™ ini bekerja sama dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo kamu sering nonton tivi kayaknya sudah akrab banget dengan iklan rokok yang rada-rada lain dalam â€?penampilannyaâ€™. Yakni kental dengan unsur seks dan funky. Yes, itu adalah iklan rokok Pall Mall, Brur. Bila melihat gaya iklannya, nggak salah lagi, rokok ini membidik pasar remaja. Malah belakangan PT BAT, produsen rokok â€?funkyâ€™ ini bekerja sama dengan event organizer-nya bikin heboh dengan menggelar â€œkontes nyaris telanjangâ€? dalam rangka promosi produk di beberapa kota besar di tanah air.?  Wah, wah, wah, gawat juga itu!<span id="more-33"></span></p>
<p>Slogan â€œLight Up the Nightâ€? dalam iklan rokok itu besar kemungkinan udah akrab juga di telinga kamu. Dan rupanya slogan itu dibuktikannya pula dalam acara promosinya yang pekat banget dengan nuansa seks dan funky, macam Bubble Party, dan Acid Rain. Nah, melihat sukses acara-acara tersebut, kayaknya Pall Mall seperti kecanduan bikin acara serupa. Maka nggak heran, seperti banyak diberitakan media massa, Pall Mall bikin acara super heboh, yakni Light Up the Nightâ€”Pall Mall Top 40 the Party!?  di Bandung, Solo, Semarang, dan Yogyakarta.? </p>
<p>Nah Brur, di setiap kota pola acaranya sama, yakni penontonâ€”yang kebanyakan ABG, bahkan ada yang masih bocah ingusanâ€”disuguhi tarian sejumlah gadis muda berpakaian minim. Bukan hanya itu, ternyata masih ada pula kontes adu berani dengan, maafâ€”pakaian minim dan goyang merangsang. Wah, geblek juga. Malah di Solo, acara yang terakhir ini dijuluki Dress You Up, namun?  yang terjadi justru sebaliknya, yaitu siapa yang paling berani mencopot penutup tubuh, dialah yang menang. Nah, pemenangnya diiming-imingi dengan hadiah uang 300 ribu perak. Karuan aja acara itu bagai tamparan bagi masyarakat yang baru â€?ngehâ€™ bahwa ada acara tersebut.</p>
<p>Waduh, gokil juga ya? Berarti memang masyarakat kita sudah parah dan kacau-balau, termasuk para produsen produk yang tak menghiraukan rambu-rambu periklanan dan promosi, apalagi aturan kehidupan yang berlaku. Contohnya ya, produsen rokok Pall Mall tersebut. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang sakit, Brur. Betul-betul parah dan liar nggak karu-karuan. Baik produsen dan juga konsumennya. Ya, siapa lagi konsumennya kalo bukan teman-teman remaja yang betah dengan acara tersebut.</p>
<p><strong>Pornografi Berserakan!<br />
</strong>Oke, acara promosi Pall Mall memang â€?fenomenalâ€™ dan terus terang berani malu. Tapi bila kita mau jujur dan lebih jeli, Pall Mall nggak sendirian dalam mem-â€?formatâ€™ gaya hidup masyarakat. Masih banyak acara atau iklan bernuansa seks yang nggak lolos sensor. Bukan hanya itu, bila kamu kebetulan rajin mengamati lukisan, itu juga nggak lepas dari unsur maafâ€”ketelanjangan. Sekadar tahu aja, lukisan Affandi (misalnya Telanjang tahun 1947 dan Telanjang dan Dua Kucing tahun 1952), apa itu nggak porno? Porno, Brur! Tapi anehnya kebanyakan orang menilai karya Affandi itu sebagai karya seni. Bagaimana dengan iklan, film dan nyanyian? Wuih, di â€?sektorâ€™ ini nuansa seks juga kental banget, Non. Udah nggak keitung jumlahnya iklan yang bikin piktor kita-kita. Malah ada juga iklan yang â€?maksainâ€™ untuk tampil porno, meski sebetulnya iklan tersebut tulalit alias kagak nyambung. Contohnya, ya iklan mobil yang â€?dihiasiâ€™ para wanita yang tampil seksi itu.</p>
<p>Film dan nyanyian juga merupakan kontributor yang getol menyajikan nuansa seksualitas. Bagi kamu yang doyan atau kebetulan nonton video klip lagu-lagu dangdut, wah betul-betul â€?grengâ€™. Belum lagi video klip lagu-lagu negeri seberang, bisa lebih berabe lagi tuh. Nah, bila kenyataannya memang demikian, kacau dong? Ya, memang begitu kok. Itu bila kita mau jeli, lho. Karena terus terang pornografi itu ada di mana-mana. â€œKetelanjanganâ€? itu ternyata berserakan, Non!</p>
<p>Tapi, anehnya masyarakat cenderung menutup mataâ€”atau memang nggak sadarâ€”terhadap tayangan yang diam-diam menyelinap ke dalam rumahnya sendiri. Malah yang lebih gokil, sebagian masyarakat masih sulit membedakan antara porno dan karya seni. Padahal, dalam Islam ada aturannya tersendiri. Ya, seharusnya kita juga jeli di setiap â€?sudutâ€™, Brur! Jangan cuma â€?gerahâ€™ saat masalah tersebut mencolok mata banget, seperti kasus di atas, dengan sangat berani malu Pall Mall menggelar acara yang bikin rusak akhlak. Bolehlah disebut striptease gaya Pall Mall.</p>
<p><strong>â€œTurunanâ€? Cabul<br />
</strong>Kalo sekarang marak pornografi, mungkin jangan terlalu heran, karena ternyata â€?nenek moyangâ€™ kita sudah sejak lama hidup dalam nuansa porno. Nggak percaya? Bila kamu menyaksikan potret tahun 1930-an di Bali, dalam foto itu tampak para gadis masih â€?pornoâ€™. Juga kita bisa â€?menyaksikanâ€™ relief-relief candi yang menggambarkan &#8220;pornografi.&#8221; Wah, memang super gawat. Jelas ini membuktikan bahwa saat itu aturan Islam belum menyentuh kehidupan masyarakat di negeri ini. Jadi ya, amburadul dan liar. Bukan cuma itu kawan, di Museum Pusat di Jakarta, di situ juga banyak dipamerkan patung-patung â€?primitifâ€™ etnik yang juga porno.</p>
<p>Semuanya terjadi karena risalah Islam yang mulia ini belum atau mungkin tidak menyentuh kehidupan masyarakat di jaman tersebut. Inilah bukti amburadulnya sistem selain sistem Islam, Non!</p>
<p>Belum lagi karya-karya sastra klasik Indonesia yang juga sarat dengan gambaran-gambaran erotik. Seperti Arjunawijaya, Arjuna Wiwaha, Bharatayudha, Sumanasantaka, Sutasoma, Subadra Wiwaha. Wah, konon kabarnya dalam cerita-cerita itu sarat dengan adegan-adegan erotik yang bikin â€?gerahâ€™. Maklum saja bahwa mereka itu para pujangga yang amat mahir membangun imaji lewat kata-kata, termasuk imaji erotik. Dasar bejat! Namun, karena gambaran-gambaran itu begitu kuat melukiskan suatu corak kebudayaan, maka buku tersebut tak pernah dilarang dengan alasan penyebaran pornografi. Benar-benar sudah kacau sejak dulu, dong? Yes, â€?nenek moyangâ€™ negerinya Wiro Sableng ini rupanya terbiasa hidup dalam kerusakan dengan mengeksploitasi kecabulan. Kalo begitu nggak heran bila â€?turunannyaâ€™ sekarang juga lebih cabul. Apakagi dengan â€?bantuanâ€™ perkembangan teknologi internet yang makin canggih, porno dan pronografi bisa diakses dengan mudah. Edan memang! Sori, rada kasar nih.</p>
<p><strong>Porno atawa Seni?<br />
</strong>Kamu masih inget nggak dengan kasusnya Sophia Latjuba? (Tapi jangan diplesetkan jadi Laa Jubah alias tidak berjubah, ya? He..he..he..)?  Yap, bintang sinetron Tali Kasih ini pernah nekat difoto â€?nyaris telanjangâ€™ di majalah Popular. Waktu itu masyarakat banyak yang protes, tapi nggak sedikit juga yang memburu majalah edisi â€?telanjangâ€™ tersebut. Yang menarik, ternyata ada yang melakukan pembelaan bahwa itu adalah karya seni. Wah, kayaknya orang yang memunculkan argumen ini nggak sadar bahwa jaman ini sudah modern. Iya nggak, coy? Karena karya seni pun harus sesuai dengan aturan. Nggak bebas nilai. Mana yang haram dan mana yang halal. Dan, standarnya harus Islam. Nggak boleh yang lain.</p>
<p>Sobat, kayaknya kita harus terus mengelus dada menyaksikan beragam kekacauan dan kemaksiatan ini. Khusus untuk masalah pornografi, kayaknya nggak bakalan kelar-kelar urusannya bila kita cuma diam membatu seperti patung. Sementara â€?saranaâ€™ yang ditunggangi pornografi begitu deras menghantam kita setiap saat. Lewat film, nyanyian, majalah, iklan, termasuk lukisan dan patung, dan seabrek hiburan panggung yang bikin ruwet dan membahayakan akhlak kita.</p>
<p>Terus Brur, yang bikin gondok dan perih, ternyata sebagian masyarakat masih ada yang menganggap bahwa bila sarana â€?penyebarâ€™ pornografi itu karya seni tidak termasuk ke dalam pornografi. Misalkan, seorang penyanyi dan pencipta lagu terkenal di negeri ini, yang kebetulan sedang naik daun malah sempat memaki-maki masyarakat kita ketika salah satu video klip-nya yang â€?nyerempetâ€™ itu diprotes habis-habisan. Siapa lagi kalo bukan pelantun lagu Jika, Melly Guslaw. Doi sempat uring-uringan dan menuduh masyarakat kita kuno dan nggak bisa hidup modern. Menurutnya, masyarakat kita harus meneladani penduduk Amerika yang selalu terbuka dan â€?beraniâ€™ hidup modern. Tambahanya lagi, doi menyebutnya sebagai karya seni, dan itu bukan porno. Wah, wah, wah, berabe juga tuh!</p>
<p><strong>Lalu Bagaimana?<br />
</strong>Yes, kita semua prihatin kok, dengan perkembangan terakhir ini. Masyarakat ini sekarang betul-betul sedang sakit dan bahkan penyakitnya parah banget, Brur. Suer, berarti memang harus ada penyelesaian. Harus dicari â€?obatâ€™ mujarab untuk bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Khusus untuk masalah porno dan pornografi Islam punya aturan yang oke punya. Tentu, karena Islam adalah ideologi, yang mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan.</p>
<p>Kasus â€œStripteaseâ€? gaya Pall Mall ini memang keterlaluan banget. Karena telah berani menjerumuskan remaja ke dalam gaya hidup yang bebas nilai. Bayangin aja, masak mereka disuruh mencopot baju dan menghisap rokok â€?funkyâ€™ itu. Keterlaluan kan? Maka wajar bila itu harus kita kritik habis-habisan.</p>
<p>Menyikapi urusan bagian dari pemenuhan gharizah an-nauâ€™ yang kacau ini, Rasulullah saw bersabda: â€œAnak Adam tidak dapat menghindar dari perbuatan (yang menghantarkannya kepada) zina, yang pasti akan menimpanya, yaitu zina mata adalah dengan melihat (aurat wanita), zina telinga adalah dengan mendengar (kata-kata porno, cinta asmara dari wanita/lelaki yang bukan suami/istri), zina lidah adalah dengan ucapan (menggoda wanita dengan rayuan dan kata-kata kotor dan porno), zina tangan adalah dengan tindakan kasar (memperkosa, menjawil bagian tertentu dari tubuh wanita), zina kaki adalah dengan berjalan (ke tempat maksiat, misalnya ke kompleks pelacuran). (Dalam hal ini), hatilah yang punya hajat dan cenderung (kepada perbuatan-perbuatan tersebut), dan farji (kelamin) yang menerima dan menolaknya.â€? (HR. Muslim dari Abu Hurairah).</p>
<p>Dalam pendangan Islam, berpartisipasi dalam pagelaran semacam itu hukumnya jelas haram. Baik bagi penyelenggara, pemain/ peserta, maupun penontonnya. Bagi pemain/ pesertanya jelas telah melanggar ketentuan Islam dalam urusan aurat. Coba cari Brur, ayat dan hadits mana yang membolehkan kita mengobral aurat? Sok, kalau ada! Justru kita akan banyak temukan adanya perintah untuk menutup aurat. Lihat Al-Quran surat An-Nuur ayat 31:</p>
<p>?ˆ???„???§ ?????¨?’?¯?????†?? ?²?????†???????‡???†?‘?? ?¥???„?‘???§ ?…???§ ?¸???‡???±?? ?…???†?’?‡???§</p>
<p>â€œâ€¦Janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali yang biasa tampak dari padanyaâ€¦â€?</p>
<p>Ayat ini dengan jelas melarang wanita untuk tidak menampakkan auratnya. Yang boleh terlihat hanyalah apa-apa yang biasa tambak. Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud adalah wajah dan telapak tangan.</p>
<p>Bagi yang melihatnya bagaimana? Setali tiga uang, Brur! Hadir dan nonton yang begituan jelas termasuk zina kaki dan mata, sebagaimana hadits Rasulullah Saw. di atas.</p>
<p>Sedangkan bagi penyelenggaranya, ia telah membuat sarana (wasilah) yang jelas-jelas untuk berbuat maksiat. Tentu jatuhnya haram juga!? </p>
<p>Brur, ini nggak bisa didiamkan. Kita sudah kapok, kalo kasus ini dipeti-eskan terus nggak bakalan kelar-kelar. Harus ada tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah ini. Nah, kejadian seperti kasusnya â€œStripteaseâ€? gaya Pall Mall ini adalah akibat rusaknya pemikiran, perasaan dan peraturan yang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Jelas dong, kalo pikirannya â€?warasâ€™ nggak bakalan melakukan kegiatan seperti itu. Juga porno dan pornografi nggak bakalan menjamur dan menjadi lahan bisnis seperti sekarang ini.</p>
<p>Untuk menumpas masalah porno dan pornografi sampai ke akar-akarnya diperlukan tiga hal; yakni takwa individu, kontrol masyarakat, dan penerapan aturan dan sanksi oleh penguasa (pemerintah). Takwa individu jelas amat dibutuhkan, karena orang yang bertakwa pasti akan malu untuk melakukan atau menyaksikan perbuatan maksiat. Karena berbuat maksiat adalah dosa. Pengawasan dari masyarakat juga kudu ampuh, soalnya ada saja individu yang nekat berbuat salah. Bila tidak ditegur, bisa berbahaya bagi jamaah yang lain. Ingat sabda Rasulullah Saw.: â€œApabila telah tampak perzinahan dan riba di suatu daerah, maka penduduk daerah itu telah menghalalkan diri mereka sendiri untuk mendapatkan adzab Allahâ€?</p>
<p>Jadi, masyarakat harus kompak dalam menilai suatu perbuatan. Jika salah, katakan salah, dan jika benar, tentu katakan benar. Mayarakat jangan cuek bebek aja deh. Nah, selanjutnya, negara harus berani dong untuk menerapkan aturan dan sanksi bagi yang melanggar. Tapi, yang terjadi sekarang sangat kacau, selain takwa individunya jebol, ditambah dengan kontrol masyarakat yang kendor, eh, negara juga adem ayem aja melihat kasus ini. Kalo gitu, tunggu aja deh kerusakannya (Ih, naudzubillahi min dzalik). Maka jangan kaget bin stres bila suatu saat nanti kasus seperti â€?tarian telanjangâ€™ gaya Pall Mall ini terulang kembali. Ah, amburadul memang!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 031/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/%e2%80%9cstriptease%e2%80%9d-gaya-pall-mall/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeritan Anak Palestina</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jeritan-anak-palestina</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jeritan-anak-palestina#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/jeritan-anak-palestina/</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan jika kamu punya segudang harapan, tapi tiba-tiba harapan itu buyar dan lenyap entah kemana. Atau kamu punya impian yang begitu indah, tapi kemudian tak pernah menjadi kenyataan. Menyakitkan bukan? Nah, realitas seperti inilah yang kini harus diterima anak-anak Palestina. Betapa pun getirnya kenyataan itu, toh akhirnya memang harus ditelan. Karena hidup memang tak selamanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan jika kamu punya segudang harapan, tapi tiba-tiba harapan itu buyar dan lenyap entah kemana. Atau kamu punya impian yang begitu indah, tapi kemudian tak pernah menjadi kenyataan. Menyakitkan bukan? Nah, realitas seperti inilah yang kini harus diterima anak-anak Palestina. Betapa pun getirnya kenyataan itu, toh akhirnya memang harus ditelan. Karena hidup memang tak selamanya bisa memilih.<span id="more-32"></span></p>
<p>Mohammad al-Durra, bocah Palestina berusia 12 tahun harus meregang nyawa ditembus peluru serdadu Yahudi Israel pada 30 September 2000 lalu saat terjadi bentrokan berdarah antara polisi Israel dan warga muslim Palestina di Netzarim, Jalur Gaza. Dan kalo kamu rajin baca berita, pasti bisa mendapatkan foto â€?ekslusifâ€™ yang diabadikan oleh dua wartawan Palestina yang bekerja untuk TV Perancis. Foto tersebut seolah â€?berbicaraâ€™ dan menjelaskan bagaimana biadabnya serdadu Israel ketika membantai Mohammad al-Durra yang berada dalam pelukan ayahnya.</p>
<p>Mohammad al-Durra dan puluhan remaja seusianya harus rela kehilangan masa depan. Berjuta impian yang sudah dirajut harus punah dalam sekejap. Beribu harapan sirna dalam hitungan detik. Ya, itu adalah kenyataan yang memang pahit dan getir. Brur, ini akan terus terjadi dan bakal terulang bila ummat Islam cuma diamâ€”atau paling banter cuma mengutukâ€”tapi tindakan nyata kita tak pernah ada. Jelas, itu akan membuat orang-orang Israel besar kepala, dan akan merasa enteng melenyapkan nyawa orang-orang Palestina. Republika melaporkan, sampai tanggal 3 Oktober saja sudah 57 orang tewas dan 1.000 lainya luka-luka. Kawan, itu saudara-saudara kita. Masihkah kita cuek alias nggak peduli dengan?  nasib saudara kita di sana?</p>
<p>Ya, Palestina kembali membara kawan, setelah Ariel Sharon (ketua Partai Likud, Israel) melakukan kunjungan kontroversialnya ke Masjid Al Aqsha di Yerusalem Timur, 28 September 2000. Karuan saja kunjungan tersebut diprotes warga Palestina karena dianggap penghinaan terhadap ummat Islam. Nah, sekarang kamu bakal diajak untuk mengasah kesadaran politik (waâ€™yu siyasi) sekaligus kepedulian kamu terhadap nasib saudara kita di kawasan Timur Tengah itu (tentang masalah politik, bisa kamu baca kembali Studia edisi 025/Tahun I).</p>
<p><strong>Keberanian Anak Palestina<br />
</strong>Sekitar 300 anak Palestina berusia antara lima hingga delapan tahun berkumpul di kantor Komite Palang Merah Internasional di Tyre, Lebanon Selatan. Mereka duduk di halaman itu sambil membawa sejumlah poster dan spanduk yang bernada marah. Bayangin Brur, mereka semuanya masih anak-anak, tapi pikirannya sudah â€?dewasaâ€™. Mereka tahu apa yang harus dilakukannya.</p>
<p>Dan mereka ternyata bukan cuma duduk-duduk doang Non, tapi juga â€?bersuaraâ€™ lewat spanduk yang mereka buat, seperti dikutip oleh Republika, 5 Oktober 2000 lalu. â€œKami semua adalah saudara syuhada Mohammad al-Durra.â€? Lalu dalam spanduk lain berbunyi, â€œIsrael telah membantai anak-anak Palestina.â€?</p>
<p>Brur, ternyata bukan cuma itu yang dilakukan anak-anak Palestina yang gagah berani ini. Para bocah yang berasal dari tiga tempat kamp pengungsi di Tyre itu bak orang dewasa saja. Mereka juga membawa sejumlah plakat yang bisa menggelorakan semangatnya.</p>
<p>â€œBerjuang dan angkat senjata, satu-satunya jalan untuk membebaskan tanah Palestina.â€? â€œPalestina bertanggungjawab terhadap semua yang ada pada kami,â€? bunyi lainnya.</p>
<p>Teman-teman remaja, dua hal yang bisa menganggap rintangan sebagai tantangan adalah semangat dan keberanian. Tentu keberanian yang berhasil dimunculkan dari akidah yang benar. Akidah Islam yang kuat dan bersih. Dan sekarang â€?kebetulanâ€™ banyak dimiliki anak-anak Palestina.</p>
<p>â€œSaya ingin membunuh orang Israel seperti mereka membunuh saudara kami Mohammad al-Durra,â€? kata Mohammad Natour, 14 tahun. Heroik memang. Terlepas dari sikap emosional anak-anak, tapi yang pasti itulah kenyataannya.</p>
<p>Belum lagi semangatnya Khaled Hamad, 11 tahun, yang membalur lumpur di wajahnya dan mengangkat bendera Palestina lalu mengatakan, â€œJika bisa menembak Israel, saya tidak ragu-ragu lagi.â€? Hebat. Lalu, Brur, masih ada anak yang mampu melihat dengan mata hati dan pikirannya, seperti Ihab al-Sadid, anak berumur 12 tahun ini sangat kesal dengan aksi brutalnya tentara Israel yang menembaki anak-anak Palestina, ia mengatakan, â€œMereka membunuh anak-anak. Sebab, mereka takut kalau nanti besar dan akan melawannya.â€? Tuh, anak seumuran SD saja sudah bisa berpikir jauh ke depan. Tentu pikiran seperti itu nggak muncul begitu saja, tapi ada proses. Siapa tahu, memang anak-anak itu dididik oleh orang tuanya untuk menjadi pejuang Islam yang gagah berani. Masih nggak percaya??  Coba kamu simak pernyataan Ridha Saleh, anak berumur 13 tahun, dengan mengenakan seragam militer, dan meminta wartawan foto untuk mengambil gambarnya. Ia mengatakan, â€œSaya juga ingin mati syahid, dan hanya ingin mati di sana.â€? Wah, wah, wah, benar-benar hebat. Kamu bisa seperti adik kita itu? Harus bisa!</p>
<p><strong>Palestina Tanah Kita<br />
</strong>Khalifah Abdul Hamid II berkomentar dengan tegas, tatkala Theodore Hertzl (penggagas gerakan Zionis) meminta tanah Palestina di tahun 1897,?  â€œTanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku.â€? Mendengar komentar seperti ini karuan saja Hertzl murka. Bahkan lantaran komentar ini pula, ia kemudian melakukan persekongkolan untuk memecat Abdul Hamid II dari jabatan Khalifah.</p>
<p>Tentang Palestina ini, sebetulnya sudah dilindungi pula dengan sebuah perjanjian di masa Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu Khalifah Umar membuat perjanjian yang terkenal dengan nama Al Ihdat Al â€?Umariyyah (perjanjian Umar), yang berbunyi, â€œ&#8230;atas nama Islam dan kaum Muslim. Isinya antara lain, â€?Tidak boleh seorang Yahudi pun tinggal bersama kaum muslimin di Baitul Maqdis.â€? (Ibnu Jarir Ath Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, pada judul â€œIftitah Baitul Maqdisâ€?â€”Penaklukan Baitul Maqdis).</p>
<p>Setelah Khilafah Islamiyyah (pemerintahan Islam) runtuh orang-orang Yahudi seperti menuntut balas. Maka dalam kondisi kaum muslim yang lemah mereka berusaha mencari dukungan Amerika dan PBB untuk mendirikan negara Israel Raya. Kamu bisa simak bagaimana para kekentong alias pentolan Yahudi â€?bersuaraâ€™ untuk mengesahkan tindakan brutal mereka dalam merampok tanah Palestina. â€œNegeri ini berdiri semata-mata akibat janji Tuhan sendiri. Oleh karena itu, meminta?  pengakuan atas keabsahannya tentulah tindakan yang menggelikan,â€? teriak Golda Meir, PM wanita Israel pertama dengan sewotnya. â€œNegeri ini telah dijanjikan kepada kita dan karena itu berhak sepenuhnya atas tanah itu,â€? ujar Menachem Begin. Brur, orang inilah yang berhasil menggiring Presiden Anwar Sadat ke meja perundingan Camp David yang direkayasa oleh Amerika dan Israel sendiri.</p>
<p>Seperti satu suara dengan teman-temannya, Moshe Dayan, jenderal Israel yang terkenal keji dan selalu menutup sebelah matanya berkomentar tak kalah menyakitkan, â€œJika terdapat buku injili, serta bangsa injili, maka haruslah ada pula negeri injili,â€? Dan ada satu lagi pernyataan yang bikin â€?gerahâ€™ kita, â€œNegeri ini merupakan rumah historis bangsa Yahudi,â€? demikian pernyataan dalam memorandum organisasi Zionis tahun 1919. Wah, keterluan sekali â€œbangsa keraâ€? itu, ya Brur? Yes, memang kurang ajar!</p>
<p>Tapi benarkah alasan mereka itu? Bohong besar Brur. Suer, kamu perlu tahu pernyataan yang dilontarkan oleh Dr. Roger Geraudy, seorang intelektual Nasrani asal Perancis yang kemudian masuk Islam, â€œIa sama sekali tidak mempunyai keabsahan, baik secara historis, injili, maupun yuridis untuk berdiri di tempat yang ia tegakkan sekarang ini,â€? tegasnya dalam buku yang ditulisnya, The Case of Israel a Study of Political Zionism.</p>
<p>Jadi dengan demikian memang tanah Palestina itu adalah milik kita, bukan milik â€œbangsa keraâ€? itu. Setiap jengkal dari tanah milik kaum muslimin tidak boleh dikuasi oleh orang-orang kafir. Nekat menjarahnya berarti urusannya darah. Kita tegas aja, Brur!</p>
<p>Maka solusinya adalah seperti yang dilontarkan oleh salah seorang bocah palestina di atas. Apa itu? â€œAngkat senjata dan basmi orang-orang Yahudi Israel terkutuk itu!â€? Memang hanya itu satu-satunya jalan, nggak ada jalan lain. Jangan memaksakan berdamai, toh perundingan damai cuma buang waktu saja.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Kita?<br />
</strong>Ya, itu masalahnya. Kita dan anak-anak Palestina memang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Antara kita dengan anak-anak Palestina terbentang lautan dan daratan yang luas sekali. Tapi, sebetulnya kita punya rasa, kita punya cinta, dan kita punya luka yang sama dengan mereka.</p>
<p>Sobat, mereka siap menggelorakan semangat jihad untuk mengusir serdadu Israel yang telah merampok tanah mereka. Kamu jangan cuek menyaksikan kejadian ini.</p>
<p>Coba, ketika anak-anak Palestina meregang nyawa ditembus peluru Israel, kira-kira kita sedang ngapain. Main basket? Atau tidur nyenyak? Atau malah sedang tawuran dengan teman sekolah lain? Ironi bukan?</p>
<p>Juga, ketika teman-teman kita menderita di pengungsian akibat diusir dari negeri mereka sendiri, kita sedang berbuat apa? Main gim? Pacaran? Nonton konser musik? Atau malah sedang asik melahap makanan â€?buleâ€™ di resto kelas wahid dengan harga selangit? Lalu dimana rasa peduli kita terhadap saudara sendiri?</p>
<p>Kawan, anak-anak Palestina sudah kenyang dengan segala penderitaan dan kekecewaan akibat ulah orang-orang Yahudi yang menggasak tanah mereka dan mengusirnya bak pesakitan. Sekali lagi itu adalah saudara kita. Saudara yang seharusnya â€?bersatuâ€™ dalam suka dan duka, dalam sedih dan gembira. Masihkah kita mengatakan, bahwa itu adalah orang lain? Tidak kawan, mereka adalah kita. Ya, kita. Bukan siapa-siapa dan bukan orang lain. Kaum muslim di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau di negeri sendiri; Ambon, Aceh dan yang lainnya, pokoknya seluruh kaum muslimin di penjuru dunia ini adalah saudara kita. Kita dipersatukan dan dipersaudarakan dengan Islam. Bukan dengan yang lain. Kalau pun sekarang kita nggak merasa bahwa itu saudara kita karena kita menganggap beda daerah, beda bahasa, dan beda negara. Itu adalah kesalahan besar. Ya, salah besar sobat! Ternyata ide nasionalisme telah membuat â€?dinding tebalâ€™ di antara kita. Sehingga kita nggak bisa â€?menengokâ€™ saudara kita yang tengah menderita.?  Kita menjadi orang super cuek alias nggak mau peduli dengan urusan saudara kita sendiri. Tolong, sikap seperti itu jangan dipelihara, itu berbahaya bin gawat. Sekali lagi, kita bersaudara, bahkan seharusnya merasa sakit bila saudara kita disakiti dan merasa senang bila saudara kita berhasil. Sudahkah kita memiliki rasa itu?</p>
<p>Hadits ke-13 dari kumpulan Hadits Arbaâ€™in karya Imam Nawawi tertulis, â€œDari Abu Hamzah (yaitu) Anas bin Malik r.a. pelayan Rasulullah saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: â€œTidaklah beriman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.â€? (HR. Bukhari-Muslim).</p>
<p>Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Nu&#8217;man bin Basyir r.a berkata: Rasulullah saw. bersabda: â€œPerumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badannya merasa kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakitâ€? (HR. Bukhari-Muslim)</p>
<p>Dua hadits tadi cukup memberikan â€?sentuhanâ€™ kepada kita, bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu tubuh. Kita bersaudara, sayang. Nggak mungkin dong, tangan kiri kita kejepit pintu, eh, tangan kanan malah â€?nyukurinâ€™. Kan aneh ya, nggak? Nah, begitu pun dengan saudara kita di Palestina, mereka lagi menderita, gokil dong kalo kita cuek bahkan nggak mau tahu banget. Itu namanya muslim â€?biadabâ€™. Jangan sampe deh nurani kita begitu bebal. Kita kan bukan batu. Kita manusia yang memiliki perasaan. Rasa cinta, rasa sayang, dan â€?berjutaâ€™ rasa lainnya. Sebaiknya memang kita merenungkan kembali firman Allah swt., sekaligus meneladani Rasul-Nya,</p>
<p>?…???­???…?‘???¯?Œ ?±???³???ˆ?„?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?…???¹???‡?? ?£???´???¯?‘???§???? ?¹???„???‰ ?§?„?’?ƒ?????‘???§?±?? ?±???­???…???§???? ?¨?????’?†???‡???…?’</p>
<p>â€œMuhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.â€? (QS: al-Fath: 29)</p>
<p>Kita harus peduli dengan nasib saudara kita di belahan bumi manapun termasuk Palestina. Bisa kan, Brur?</p>
<p>Tentu Brur, bila Khilafah Islamiyyah (pemerintah Islam) belum runtuh, kejadiannya bakal lain. Suer, kamu lihat sikap Khalifah Abdul Hamid II begitu tegas dan berani menghadapi â€?rengekanâ€™ Theodore Hertzl yang meminta tanah Palestina. Pernyataan Khalifah Abdul Hamid II sama saja dengan mengajak perang kepada kaum Yahudi, hebat bukan?</p>
<p>Jadi bagaimana sekarang? Memang solusi untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel adalah dengan mengangkat senjata. Berarti pemecahannya adalah dengan jihad. Kamu perlu tahu, bahwa jihad adalah fardhu â€?ain bagi penduduk yang berada di daerah konflik (Palestina dan sekitarnya), sedangkan bagi yang jauh seperti kita di sini, â€?jatuhnyaâ€™ adalah fardhu kifayah (tapi kita harus siaga, siapa tahu orang Yahudi kemudian melipat-gandakan kekuatannya). Jadi langkah praktisnya, kita bisa mengirimkan bantuan baik berupa uang ataupun senjata untuk mereka. Ya, paling minimal banget wujud peduli kita adalah dengan mendoakan mereka supaya tetap kuat melawan orang-orang Yahudi itu, Brur.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 030/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jeritan-anak-palestina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIDS, Seks, dan Remaja</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/aids-seks-dan-remaja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/aids-seks-dan-remaja#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/aids-seks-dan-remaja/</guid>
		<description><![CDATA[Tiga kata yang saling melengkapi. Kenapa? Karena masalah AIDS dan seks belakangan sangat akrab dengan kehidupan remaja. Bila kita bicara masalah?  remaja, nggak bisa dilepaskan dari persoalan kehidupan seks. Bahkan bila kita membicarakan seks lebih jauh, seperti seks bebas misalkan, kita juga nggak salah-salah amat bila menghubungkannya dengan AIDS. Yes, penyakit AIDS kerap muncul, tumbuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga kata yang saling melengkapi. Kenapa? Karena masalah AIDS dan seks belakangan sangat akrab dengan kehidupan remaja. Bila kita bicara masalah?  remaja, nggak bisa dilepaskan dari persoalan kehidupan seks. Bahkan bila kita membicarakan seks lebih jauh, seperti seks bebas misalkan, kita juga nggak salah-salah amat bila menghubungkannya dengan AIDS. Yes, penyakit AIDS kerap muncul, tumbuh dan berkembang lewat jalur ini. Karena memang penyebaran virus HIV (â€?biangâ€™ AIDS) ini paling efektif lewat kontak fisik (baca: hubungan kelamin). Nah, itulah kenapa tiga kata; AIDS, seks, dan remaja adalah satu kesatuan. Nggak berlebihan tentunya, kan?<span id="more-31"></span></p>
<p>Kamu perlu tahu, apa sih AIDS itu dan bagaimana asal mulanya. Para peneliti dari Northwestern University yakin bahwa pandemi alias wabah AIDS berawal dari Afrika bagian barat tengah sekitar tahun 1930, beberapa dasawarsa lebih awal ketimbang dugaan sebelumnya. Teori baru ini telah mencetuskan pengamatan sejarah pada peristiwa yang belum dikaitkan dengan penyebaran HIV, seperti pembangunan rel kereta api di Afrika di awal abad ke-20. Aneh? Terusin aja bacanya, deh!</p>
<p>Sebuah simulasi komputer yang rumit mengenai evolusi HIV telah memperkirakan bahwa 1930 adalah tahun awal. Ketika itu pemerintahan kolonial Prancis di Afrika bagian barat melakukan kerja paksa untuk membangun rel kereta api. Karena para pekerja paksa itu kekurangan makanan, diperkirakan mereka berburu binatang liar di hutan, kemudian tertular HIV dari hewan primata yang mereka makan.</p>
<p>Rel kereta api Kongo-Samudera juga ditempatkan dekat kasus HIV pertama, di kota Kinshasa. Peristiwa sejarah lainnya, pengembangan kebun binatang dan penangkapan simpanse yang menggigit, mungkin juga menjadi faktor dalam penyebaran HIV.( Chicago Tribune, 31 Januari 2000)</p>
<p>Dalam sumber lain, penyakit â€?kutukanâ€™ tersebut ini didiagnosa pertama kali pada tahun 1980. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah penyakit rontoknya kekebalan tubuh yang disebabkan HIV (Human Immuno Deficiency Virus), yakni virus HTLV-III (Human T-Cell Lymphotropic Virus-III, ditemukan tahun 1980), yang menyerang sel darah putih lymphocyte T-4. Setelah sel T-4 ini digempur HTLV-III, organisme racun (toxoplasma) berkembang, menyusup ke dalam tubuh lewat peredaran darah, lantas memproduksi bisul bernanah di otak, paru-paru, jantung, hati dan limpa. Selanjutnya, ini mengakibatkan matinya jaringan sel, kista dan berbagai kerusakan sel-sel otak. Berat ya bacanya? Sekali-kali memang kamu kudu rada mikir juga deh. Itu semua demi kebaikan kamu, biar kamu juga intelek dikit (he..he..he..). Sori, jangan dimasukin ke hardisk, eh salah, maksudnya hati!</p>
<p>Nah, dengan rontoknya sistem kekebalan tubuh, maka berbagai penyakit yang menyerbu tubuh penderita, pasti bakal susah untuk disembuhkan, Brur. Flu ringan sekalipun akan sulit sembuh bagi penderita AIDS. Yes, makin lama makin menggerogoti tubuh penderita dan tak mustahil berakhir dengan kematian. Wuah, ngeri, Brur!</p>
<p>Gimana nggak, bila ada yang menderita flu terus-terusan (nggak sembuh-sembuh) disertai munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh, badan makin kurus kering, lidah berjamur, gemeteran, diare terus-terusan, demam, berkeringat di waktu malam, kelelahan di sekujur tubuh, sulit menelan dan bicara, napas tersengal-sengal&#8230; wah, hati-hati, itu gejala AIDS. Tapi itu akan dialami setelah 5 sampai 10 tahun begitu positif terserang HIV. Jadi yang sekarang kelihatan sehat-sehat saja, belum tentu tidak terserang AIDS.</p>
<p>Bagaimana dengan jumlah penderitanya? Ah, ternyata ibarat fenomena gunung es, Brur. Kecil di permukaan, tapi besar di dalam. Sampai akhir 1996 saja, WHO memperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV mencapai 30 juta orang dan mereka yang meninggal akibat AIDS sebanyak 6,4 juta orang. WHO juga melaporkan, penderita AIDS paling banyak ditemukan di Amerika Serikat yaitu 581.429 orang, disusul Brasil 103.262 orang, Tanzania 82.174 orang, Thailand 59.782 orang, dan Perancis 45.395 orang.</p>
<p>Di Afrikaâ€”di mana diperkirakan 1.000 anak-anak terinfeksi HIV setiap hariâ€”tiga negara selain Tanzania dilaporkan memiliki penderita AIDS lebih dari 50.000 orang. Negara-negara itu ialah Kenya, Zimbabwe, dan Uganda, yang kemudian disusul Malawi dan Zambia dengan penderita AIDS tidak jauh berbeda. Wuah, benar-benar gawat, Non!</p>
<p>Di Asia tidak ada negara selain Thailand yang melaporkan jumlah kasus AIDS lebih dari sepuluh ribu. Negara dengan kasus AIDS mendekati Thailand ialah India sebanyak 3.000 kasus, Myanmar 1.822 dan Jepang 1.447 penderita.</p>
<p>Di Eropa, terutama di negerinya David Trezeguet (Perancis), tercatat jumlah penderita AIDS paling banyak yaitu 45.395 orang, melewati Spanyol 45.132 penderita. Kemudian disusul Italia 38.418 penderita, Jerman dengan 16.138 penderita dan Inggris sendiri mengoleksi 14.082 penderita. Tuh, di negara-negara yang membolehkan pergaulan bebas ternyata memang angkanya cukup besar.</p>
<p>Brasil juga menyimpan penderita AIDS paling banyak, 103.262 penderita, dibandingkan negara Amerika Latin lainnya seperti Meksiko 29.962 penderita dan Argentina 10.461 penderita. Kanada secara resmi melaporkan ada 14.836 penderita AIDS dan Australia melaporkan 7.033 kasus (Kompas, 7 Juli 1997)</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia? Hingga akhir Oktober 1998 jumlah penderita AIDS maupun pengidap HIV di wilayah Sumatera Utara saja telah mencapai 27 orang. Itu artinya Sumut menduduki urutan ke tujuh setelah DKI Jaya, Irian, Riau, Bali, Jawa Timur dan Sumatera Selatan. Di Indonesia sendiri hingga akhir Oktober 1998 lalu telah mencapai 776 orang, 555 di antara mengidap HIV, yang meninggal sudah 111 orang (Kompas, 1 Desember 1998). Dan nggak mustahil, jumlah itu akan terus membengkak bila tak segera diselesaikan dengan benar dan baik. Tak mustahil pula bila tahun 2000 ini jumlah penderita penyakit â€?kutukanâ€™ ini diperkirakan meningkat hingga sejuta orang. Siapa tahu, kan? Mengerikan!</p>
<p><strong>Jalur Penyebaran AIDS</strong><br />
Nah, yang ini patut kamu waspadai, kamu harus memantau terus lewat media apa saja virus HIV itu menyebar. Berdasarkan beberapa penelitian, AIDS paling efektif menyebar lewat hubungan seks. Baik antara laki-laki dengan wanita, maupun yang abnormal, yakni homoseksual dan lesbian. Dan celakanya, saat ini memang seks bebas sedang menjadi primadona remaja. Kebebasan bergaul telah menjadi pintu gerbang penyebaran AIDS. Dan korban AIDS dari kalangan pelaku seks bebas ini memang paling banyak, Brur. Mereka sangat rentan alias berisiko tinggi terkena penyakit â€?kutukanâ€™ ini. Termasuk pelaku seks menyimpang, yakni para homoseks dan lesbian (kamu bisa buka kembali Studia edisi 022/Tahun I yang khusus membahas tentang gay dan lesbian).</p>
<p>Wuih, di â€?jalurâ€™ ini, penyebaran AIDS juga cukup efektif, Non. Di beberapa penjara di Amerika, sering dibuat repot dengan ulah para napi yang melakukan hubungan seks abnormal ini. Bahkan fakta menunjukkan AIDS mudah menyebar di kalangan para napi yang homoseks. Ah, benar-benar penyakit â€?kutukanâ€™.</p>
<p>Bicara seks bebas, memang bukan monopoli anak sekarang aja. Sejak dulu, yang namanya seks bebas, baik yang dilegalisasi melalui â€?bisnisâ€™ pelacuran maupun liar sudah marak. Bersamaan dengan itu, muncul pula penyakit menular seksual (PMS), yang nggak kalah garang dari AIDSâ€”seperti sipilis, gonorhoe, vietnam roseâ€”dan bahkan para pelakunya orang-orang ngetop di jamannya. Seperti gerombolan Columbus, Julius Caesar dan Cleopatra VII, Raja Charles V, Charles VII, Raja Henry VIII, lalu Edward VI, Peter Agung, Katarina Agung, hingga Benito Mussolini, Napoleon Bonaparte, dan Adolf Hitler adalah tokoh-tokoh dunia yang terkenal sebagai penderita penyakit kotor sipilis dan gonorhoe. Itu dulu, kalo sekarang, bisa ditunjuk hidung rombongan â€?selebritisâ€™ Hollywood macam Brad Davis, Rock Hudson, Fredy Mercury, Tony Richardson, dan Ian Charleson. Brur, mereka koit karena dihantam AIDS. Tuh kan idola kamu ternyata bukan orang yang â€?bersihâ€™.</p>
<p>Nah, media penyebaran AIDS lain yang juga cukup ampuh adalah melalui transfusi darah. Di â€?sektorâ€™ ini, nggak musti orang yang berdosa, Brur, tapi bisa juga orang baik-baik kena getahnya. Jadi kamu kudu hati-hati, jangan-jangan darah yang dikucurkan ke tubuh kamu saat melakukan transfusi darah adalah darah yang sudah terinfeksi dengan virus HIV. Ih, naudzubillahi mindzalik, jangan sampai deh.</p>
<p>Perlu juga diwaspadai adalah penyebaran lewat alat-alat kedokteran yang nggak steril. Contoh kasusnya memang sudah ada, di Amerika pernah ditemukan seorang gadis kecil yang kena AIDS setelah berobat ke dokter gigi yang lesbi. Berarti peralatan dokter gigi yang lesbi itu nggak steril, karena kebetulan si dokter kena AIDS. Ih, mengerikan banget, ya?</p>
<p>Well, masih ada media yang cukup â€?saktiâ€™ untuk menularkan virus HIV ini, yakni lewat narkoba. Wuah, di jalur ini kasusnya cukup banyak juga, Non. Mau tahu? Nih buktinya. Dari studi yang dilakukannya, pakar AIDS Dr. Zubairi Djoerban mengajukan beberapa bukti keterkaitan narkoba dan HIV/AIDS. Dia mengemukakan dalam beberapa bulan terakhir, sampai dengan bulan Oktober 1999, pasien baru yang didiagnosis atau dirujuk kepadanyaâ€”selaku spesialis penyakit dalamâ€”biasanya 1-2 orang dalam satu bulan. Dia juga menambahkan bahwa dalam tiga minggu pertama bulan November 1999, menemukan sembilan kasus baru infeksi HIV/AIDS, dan tiga diantaranya pecandu narkoba. Hih, mengerikan banget. Lebih menyeramkan lagi adalah penelitian beliau melalui Yayasan Pelita Ilmu yang diketuainya tentang penelitian pendahuluan terhadap ABG di daerah Blok M, yang memperlihatkan adanya 7,5 % di antara mereka merupakan pecandu narkoba dan 12,3 % lainnya terlibat seks bebas(Media Indonesia, 30 Nopember 1999).<br />
? <br />
<strong>Kiat Islam Membabat AIDS</strong><br />
Sobat, bukti memang sudah banyak, bahwa media penyebaran AIDS paling efektif dan ampuh adalah melalui jalur seks bebas dan menyimpang. Maka untuk menyelesaikan AIDS ini harus melibatkan semua unsur. Dan bukan dengan terapi yang asal-asalan dan buang waktu serta uang. Misalnya dengan mempropagandakan pemakaian kondom. Itu nggak bakal menyelesaikan masalah, malah yang pasti menimbulkan masalah baru. Selain melanggengkan seks bebas, juga AIDS bakal makin merajalela. Nggak percaya? Jangan dicoba! Allah SWT berfirman:</p>
<p>?‚???„?’ ?„???„?’?…???¤?’?…???†?????†?? ?????????¶?‘???ˆ?§ ?…???†?’ ?£???¨?’?µ???§?±???‡???…?’ ?ˆ???????­?’?????¸???ˆ?§ ?????±???ˆ?¬???‡???…?’ ?°???„???ƒ?? ?£???²?’?ƒ???‰ ?„???‡???…?’ ?¥???†?‘?? ?§?„?„?‘???‡?? ?®???¨?????±?Œ ?¨???…???§ ?????µ?’?†???¹???ˆ?†??</p>
<p>&#8220;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.&#8221; (an-Nuur; 30).</p>
<p>Islam melarang berdua-duaan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam satu tempat tanpa kehadiran seorang mahram. Nabi SAW bersabda : &#8220;Ketika seorang laki-laki (pergi) berduaan dengan seorang wanita, maka setan menjadi orang ketiganya di sana.&#8221;?  Dalam Islam, campur baur bebas antara laki-laki dan wanita tanpa adanya keperluan dan kepentingan syarâ€™i adalah terlarang.?  Islam memandang seks bebas sebagai sebuah malapetaka besar.</p>
<p>?ˆ???„???§ ?????‚?’?±???¨???ˆ?§ ?§?„?’?????ˆ???§?­???´?? ?…???§ ?¸???‡???±?? ?…???†?’?‡???§ ?ˆ???…???§ ?¨???·???†??</p>
<p>&#8220;â€¦dan janganlah kamu datangi perbuatan keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyiâ€¦.&#8221; (al-Anâ€™am; 151).</p>
<p>Dan juga <img src='http://www.gaulislam.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' />  </p>
<p>?ˆ???„???§ ?????‚?’?±???¨???ˆ?§ ?§?„?²?‘???†???§ ?¥???†?‘???‡?? ?ƒ???§?†?? ?????§?­???´???©?‹ ?ˆ???³???§???? ?³???¨?????„?‹?§</p>
<p>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.&#8221; (al-israâ€™: 32).</p>
<p>Pelaku perbuatan dosa besar ini akan menghadapi siksaan yang mengerikan dari Allah. Allah berfirman <img src='http://www.gaulislam.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' />  </p>
<p>?ˆ???§?„?‘???°?????†?? ?„???§ ?????¯?’?¹???ˆ?†?? ?…???¹?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¥???„???‡?‹?§ ?????§?®???±?? ?ˆ???„???§ ?????‚?’?????„???ˆ?†?? ?§?„?†?‘?????’?³?? ?§?„?‘???????? ?­???±?‘???…?? ?§?„?„?‘???‡?? ?¥???„?‘???§ ?¨???§?„?’?­???‚?‘?? ?ˆ???„???§ ?????²?’?†???ˆ?†?? ?ˆ???…???†?’ ???????’?¹???„?’ ?°???„???ƒ?? ?????„?’?‚?? ?£???«???§?…?‹?§</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat (pembalasan) dosa (nya).&#8221; (QS al-Furqon: 68).? </p>
<p>Menurut Islam, siapa saja yang melakukan seks bebas akan diganjar sanksi hukum segera setelah persyaratan sanksi tersebut terpenuhi. Seperti pelaku perzinahan, mereka akan dirajam untuk yang sudah (pernah) berkeluarga, dan akan dijilid (cambuk) bagi yang masih lajang.</p>
<p>Dengan demikian, Daulah Khilafah (negara Islam) akan menertibkan, lebih tepatnya memberangus tanpa ampun segala bentuk pergaulan bebas, perzinahan, dan prostitusi. Kemudian menghukum kaum homoseks dan lesbi. Karena semua itu adalah â€?pintu gerbangâ€™ penyebaran AIDS secara efektif. Bagaimana dengan yang sudah kena AIDS seperti sekarang? Mereka harus dikarantina, Brur, jangan sampai menularkan â€?benihâ€™ virus HIV yang ada di tubuhnya ke orang lain.</p>
<p>Nah, kamu jangan coba-coba nekat bergaul bebas dengan lawan jenis, apalagi sampai kebablasan berzina, selain memang dosa, jangan-jangan kamu nanti menjadi penderita AIDS yang ke sekian. Ih, naudzubillahi min dzalik.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 029/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/aids-seks-dan-remaja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja â€œFunkyâ€</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-%e2%80%9cfunky%e2%80%9d</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-%e2%80%9cfunky%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/remaja-%e2%80%9cfunky%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Funky, adalah istilah â€?wajibâ€™ bagi remaja yang mengaku gila gaul. Bukan apa-apa, sebutan funky dan cool memang kerap terdengar akrab dalam bahasa pergaulan remaja. Seolah-olah bila remaja nggak ngomong funky atawa cool, bisa dicap sebagai remaja kuper bin norak. Tak heran pula bila kemudian banyak teman-teman remaja yang mencoba tampil funky hanya untuk disebut gaul. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Funky, adalah istilah â€?wajibâ€™ bagi remaja yang mengaku gila gaul. Bukan apa-apa, sebutan funky dan cool memang kerap terdengar akrab dalam bahasa pergaulan remaja. Seolah-olah bila remaja nggak ngomong funky atawa cool, bisa dicap sebagai remaja kuper bin norak.<span id="more-30"></span></p>
<p>Tak heran pula bila kemudian banyak teman-teman remaja yang mencoba tampil funky hanya untuk disebut gaul. Mulai soal dandanan sampai soal musik. Gaya rambut yang dicat warna-warni, atau yang dipermak seperti durian, atawa gaya rambut yang â€?disulapâ€™ seperti topi Romawi. Itu baru gaya rambut, belum lagi pakaian. Jaket hitam yang ketat, celana jins yang juga super sempit, bahkan celana cutbray yang bikin penampilan seksi akrab dalam gaya gaul remaja sekarang. Belum lagi aksesoris lainnya. Kuping ditindik, bahkan hidung pun ada yang nekat ditindik pula, hiasan rantai yang gede-gede juga ikut nimbrung.</p>
<p>Nggak hanya itu, tatto juga sering menghiasi tubuh anak funky. Bermacam-macam model tattonya, dari yang â€?lucuâ€™ sampai yang bikin â€?seremâ€™. Dari gambar pemandangan (idih, emangnya ada?) sampai gambar tengkorak, tapi tengkorak ikan (hi..hi..hi..). Itu sih bukan serem, tapi lucu, menggelikan lagi. Terlepas dari semua itu, gaya funky kerap bikin heboh, tapi sekaligus menyebalkan. Nah, gaya remaja model begini, kamu bisa temui di mal atawa tempat ngeceng yang memang dijejali remaja. Di sana, berbagai gaya funky bisa kamu lihat. Dari mulai yang modis sampai yang nggak enak dipandang mata. Tapi memang bukan soal enak dipandang atau tidak, yang jelas, gaya funky itu memang warisan budaya Barat yang berbahaya dan rusak. Kamu perlu tahu, bagaimana sejarah lahirnya budaya ini. Atau tepatnya latar belakang gaya hidup funky ini.</p>
<p><strong>Funky, Apaan Tuh?<br />
</strong>Dalam dunia gaya, banyak terjadi pembalikan makna. Kata funky yang sebenarnya berarti busuk, mengalami pergeseran makna menjadi makna seolah positif, yaitu semerbak mewangi (ciee&#8230;). Mendengar istilah fungky, selintas kita akan teringat salah satu jenis irama musik. Ya, seperti irama yang dibawakan James Brown atau kelompok Sly &amp; The Family Stone di tahun 1965 â€“ 1970-an. Kamu pasti nggak terlalu kenal, itu sih jaman bapak dan ibu kita remaja, kali ya?</p>
<p>Nah, menyimak sejarah berbagai gaya busana, dunia hiburan atau musik khususnya, memang mempunyai kaitan erat yang saling mempengaruhi, termasuk aspek-aspek ipoleksosbud yang melatarbelakanginya (taela, berat juga nih).?  Kita lihat misalnya â€?ideologiâ€™ anarchy yang dianut salah satu aliran gaya punk yang terkenal melalui sosok Johnny Rotten dari Sex Pistol. Kamu juga bisa lihat â€?ideologiâ€™ kaum gay melalui kelompok aliran gaya busana Glam dengan irama glam rock melalui sosok David Bowie dan Gary Gliter. Atau â€?ideologiâ€™ lingkungan dan perdamaian yang dipropagandakan kelompok Hippy melalui The Grateful Dead, CSN&amp;Y (Crosby, Stills, Nash, Young), Frank Zappa, dan Joan Baez dengan irama musik psychedelic maupun folk.</p>
<p>Well, itu fakta masa lalu, bagi generasi sekarang, mungkin lebih mengenal gaya rambut dreadlock (gimbal) yang dipopulerkan aliran gaya rastafarian melalui tokoh Bob Marley dengan irama reggae. Atau gaya B-boy dan Flygirls serta Gangsta melalui irama musik Rap (yang hubungannya dengan musik, supaya bisa â€?klopâ€™ kamu bisa baca juga Studia edisi 008/Tahun I).</p>
<p>Achmad Haldani D, staf pengajar Program Studi Kria Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung terhadap kasus tersebut, menyebutnya sebagai suatu kenyataan sejarah, gaya-gaya busana yang muncul di Barat amat kental dengan sisi perjuangan subkultur anak muda terhadap berbagai masalah yang penuh gejolak. Seks bebas, obat bius, ganja, rasisme, hujatan terhadap orangtua, memuja setan, tripping dan lain-lain, adalah bagian bentuk ekspresi â€?ideologiâ€™ yang terkadang bagi sekelompok orang sulit diterima akal sehat, sehingga banyak di antaranya dikritik, disisihkan, atau bahkan dikucilkan masyarakat.</p>
<p>â€?Ideologiâ€™ yang mereka anut pun amat beragam, dan sarat dengan cara pandang mereka terhadap suatu nilai dan harapan. Harapan yang bisa saja didorong atas ide masa lalu, masa kini, maupun masa mendatang. Untuk mengkomunikasikannya, setiap gerakan membutuhkan representasi, simbol, atau media visualisasi lain yang otentik dan khas, bahkan jika perlu ekstrim dan radikal (ciee.. serem juga ya?).?  Karena itu, nggak salah bila kita amat mengenal beberapa media dan bahasa simbol mereka seperti dalam gaya berpakaian, gaya berdandan (tatto, cat rambut, rias wajah, tindik, peniti, rantai, logo nazi, tengkorak dan lain-lain), juga gaya berbicara, gaya berjalan, gaya menari, peristilahan, sastra (sajak, novel, lirik lagu), gaya hidup, merek pakaian, merek motor dan sebagainya. Wah, ternyata banyak juga ragamnya, ya?</p>
<p>Nah, mereka inilah yang disebut oleh dunia fashion sebagai fenomena gaya jalanan (street style), Masih menurut Achmad Haldani D, funky merupakan kata sifat dari kata dasar funk yang berarti (bau) busuk atau stinky. Seperti halnya pemutar-balikan makna bad (baca: jelek, buruk atas sesuatu hal) menjadi cool (baca; keren atas sesuatu hal tadi) yang muncul di era gaya ini, istilah funk juga mengalami pergeseran makna (seolah bagi kalangan mereka) positif, yaitu semerbak wangi. Mengapa??  Di tengah suasana yang serba tidak menyenangkan (tertekan, miskin, muram, kumuh, yang berhubungan dengan makna harfiah funk) mereka justru mengekspresikannya dalam bentuk atau selera yang justru berlawanan, seperti memainkan, menari,dan mendengarkan musik yang berirama menyenangkan, gembira, beat yang tegas, serta erotik. Ditambah cara berpakaian yang juga menyenangkan seperti berkesan seksi dan gemerlap. Wuah, â€?syeremâ€™ juga ya?</p>
<p>Brur, ekspresi ini sungguh dinilai amat berlawanan dengan ekspresi kelompok menengah kulit putih yang di saat bersamaan (pada masa itu) justru sedang keranjingan gaya hidup Hippy yang cenderung anti-materialistis seperti terlihat dari gaya berpakaian dan berdandan mirip gembel atau pengembara miskin. Sekarang, gaya model begini, kamu bisa temukan juga dengan mudah di negeri ini.</p>
<p>Karena motif â€?ideologinyaâ€™ berbeda (ciee..), yaitu ingin keluar dari himpitan atau kesan kemiskinan perkampungan ghetto, kelompok funk ini jelas ingin tampil dan terlihat cool dengan bergaya serba gemerlap dan berkesan mahal.?  Jadi, di antara musisi jazz dan orang negro Amerika, istilah funk menjadi suatu yang bercitra positif dan kental dengan aroma kesenangan seksual. Secara lebih luas di antara tahun 1950 sampai 1970-an gaya funk berhubungan dengan kekuatan atau daya erotik dan gairah seksual. Sementara kata sifat funky diterapkan pada suatu yang berkaitan dengan black music hingga ke soul food.?  Sedangkan di bidang gaya berpakaian dan cara berdandan, penerapan istilah fungky merujuk pada suatu gaya yang lahir di awal tahun 1970-an yang disebut Pimp Look (pimp =germo/mucikari) yang muncul di sekitar perkampungan kumuh orang kulit hitam (ghetto) Amerika.</p>
<p>Gaya ini kira-kira serupa dengan gaya yang ditampilkan para germo dan pekerja jalanan lainnya dalam â€?memamerkanâ€™ angan-angan kesuksesan dan kemakmuran mereka.?  Para ahli juga mensinyalir adanya kaitan logis gaya funky dengan gaya Zooties di era 1940-an yang juga berawal dari kalangan yang secara materi serba kekurangan. Gaya funky dapat kita â€?kenangâ€™ antara lain peninggalan karakternya yang khas seperti gaya rambut AFRO (kribo), kacamata dragon fly (bulat dan besar), bahan kulit yang lembut dan tebal (suede), topi model pimpmobile atau voluminous hunting cap, celana cutbray dan sepatu dengan model hak tinggi (sekitar 12 cm). Weleh weleh tinggi amat, ya?</p>
<p>Gaya funky juga bisa ditemukan dalam film laga Shaft yang dibintangi Richard Roundtree di tahun 1971 (Pasti kamu belum lahir), malah muncul gaya funky yang dieksploitasi, yang diistilahkan dengan kata sindiran, blaxplotation. Wah, ternyata memang gaya funky itu kental dengan nuansa peradaban Barat, ya? Iya, dong, soalnya Islam nggak mengajarkan budaya model begitu.</p>
<p><strong>Islami Vs Funky</strong><br />
Oke sobat, setelah tahu latar belakang gaya funky, tentu saja sebagai seorang muslim kita wajib tahu pula pandangan Islam seputar masalah tersebut. Bukan apa-apa, seperti yang sering kita bahas, bahwa sebagai seorang muslim wajib terikat dengan aturan-aturan Islam. Nggak boleh sedikit pun perbuatan yang kita lakukan diluar aturan Islam. Termasuk dalam soal gaya hidup ini. Tingkah laku kita dalam berpakaian, bergaul, dan berbuat harus selalu disandarkan pada aturan Islam. Mutlak, lho. Nggak bisa ditawar-tawar lagi.</p>
<p>Seperti sekarang teman-teman remaja lagi keranjingan gaya funky, maka itu harus kita â€?tanyakanâ€™ kepada Islam, boleh apa nggak. Nggak sembarangan itu. Nah, berkaitan dengan gaya funky ini, Islam punya pandangan, Brur, bahwa budaya tersebut sangat bertentangan dengan aturan dan hukum-hukum Islam. Gimana nggak, gaya funky yang kerap diekspresikan lewat dandanan, tingkah laku, dan gaya hidup itu sama sekali tidak â€?bercitarasaâ€™ Islam. Semua selera Barat yang ditawarkan. Tentu itu bila dilihat dari lahirnya budaya bejat tersebut.</p>
<p>Dalam soal berpakaian, Islam sudah mengatur, bahwa pakaian yang dikenakan tersebut wajib menutup aurat. Firman Allah SWT:</p>
<p>?????§?¨???†???? ?????§?¯???…?? ?‚???¯?’ ?£???†?’?²???„?’?†???§ ?¹???„?????’?ƒ???…?’ ?„???¨???§?³?‹?§ ?????ˆ???§?±???? ?³???ˆ?’?¢?????ƒ???…?’ ?ˆ???±?????´?‹?§ ?ˆ???„???¨???§?³?? ?§?„???‘???‚?’?ˆ???‰</p>
<p>â€œHai anak Adam, Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian untuk menutup aurat kamu dan pakaian indah untuk perhiasan.â€? (al-Aâ€™raaf: 26).<br />
? <br />
Tapi bagaimana dengan anak funky? Wuih, rambutnya aja acak-adul begitu. Dicat warna-warni, dipermak seperti durian, atau malah yang lebih serem lagi rambutnya â€?disulapâ€™ seperti topi tentara Romawi, tahu kan? Yes, potongannya rada mirip rambut ala si BA di film The A Team, cuma kalo topi Romawi ada â€?duriâ€™nya. Lebih jelasnya, bila kamu pernah lihat film Gladiator, kayaknya bisa kebayang deh bagaimana â€?rupaâ€™ topi Romawi itu.</p>
<p>Belum lagi pakaiannya yang amburadul banget, malah dalam keadaan tertentu ditemukan pula gaya pakaian â€?kaumâ€™ funky yang sulit membedakan mana cowok dan mana cewek. Ih, gawat juga ya?</p>
<p>Bingung juga memang, kalo ada anak cowok yang mempermak wajahnya dengan kosmetik dan lebih mirip anak cewek, lalu aksesoris yang biasa dikenakan anak cewek seperti anting, eh, dipakai pula oleh anak cowok, udah gitu rambutnya panjang lagi, kan berabe, iya nggak? Salah-salah malah ketuker manggil. Padahal, Brur, gaya funky model begini bisa menjerumuskan kepada larangan menyerupai lawan jenis. Laki-laki terlarang berpenampilan menyerupai anak cewek, begitupun sebaliknya. Imam Bukhori meriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata: â€œRasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak perempuan dan perempuan yang berlagak laki-laki.â€? Kemudian Abu Dawud meriwayatkan, bahwa Abu Hurairah r.a. berkata: â€œRasulullah saw. melaknat laki-laki yang meniru (dengan) pakaian perempuan dan perempuan yang meniru (dengan) pakaian laki-laki.â€? (Riadhus Shalihin, Jilid I, hlm. 490).</p>
<p><strong>Harus Dicegah<br />
</strong>Yes, pilihan terbaik memang kita harus menjegal atau mencegah jangan sampai budaya funky itu mengakar dan menjasad dalam gaya hidup kita. Karena nggak mustahil lambat laun bakal â€?mempermakâ€™ kita menjadi berselara Barat dalam bertingkah laku. Kalo sampai kejadian, wuah, bahaya besar, Bung!</p>
<p>Celakanya, kondisi seperti ini memang diperburuk dengan cara pandang kita yang salah dalam menyikapi trend. Bahwa sesuatu yang dianggap baru, adalah sebuah trend yang harus kita dijelajahi. Kita menganggap bahwa kita harus mencobanya, bahkan bila perlu dan memungkinkan, kita akan menganggap trend tersebut wajib diamalkan. Itu cara pandang yang salah. Seharusnya, bila itu menyangkut urusan gaya hidup peradaban tertentu, kita harus hati-hati dan bijak dalam bersikap. Bahkan wajib menahan diri untuk tidak latah. Karena siapa tahu memang trend itu justru menjerumuskan kita kepada kesalahan dan dosa. Ya, kayak kasus funky itu.?  Bisa jadi 80 % pelakunya adalah remaja Islam. Apakah itu akan tetap kita biarkan? Tentu nggak dong sayang. Kita harus mencegahnya agar tidak menyebar dan meracuni pemikiran dan jiwa remaja. Karena tingkah laku, sangat berhubungan erat dengan pemahaman. Bila salah memahami, nggak mungkin tingkah lakunya benar. Catet, ya!</p>
<p>Yang lebih memprihatinkan, saat ini justru kebanyakan kita diam melihat kemunkaran yang ada. Lebih gokil lagi, sebagian dari teman-teman remaja malah larut dalam trend yang sesat dan merasa enjoy menikmatinya. Wah, benar-benar rusak dong kalo begitu.</p>
<p>Upaya pencegahannya tentu harus menyeluruh. Memang yang pertama kali harus disamakan adalah persepsi berpikirnya. Yang menyatakan bahwa trend tersebut memang rusak dan berbahaya. Bila ini sudah sepakat, maka akan mudah melangkah ke â€?pintuâ€™ penyelesaian berikutnya. Tapi bila masih nggak kompak dalam menilai trend tersebut, rasanya memang sulit untuk bisa dicegah.</p>
<p>Harus kompak, baik individu, masyarakat dan juga penguasa. Dalam sistem Islam, trend funky ini nggak bakalan menjamur seperti sekarang ini. Jangankan muncul dan berkembang, baru â€?tumbuhâ€™ pun segera akan dipangkas. Itulah â€?gayaâ€™ Islam dalam menumpas kemaksiatan. Pokoknya, nggak tangung-tanggung deh.?  Tentu sikap Islam seperti ini hanya akan kita dapatkan bila Islam diterapkan sebagai akidah dan syariat dalam sistem pemerintahan yang berlandaskan Islam. Bukan yang lain. Jadi, nggak kelas deh tampil funky</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 028/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-%e2%80%9cfunky%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lampu Merah Konsumtif</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/lampu-merah-konsumtif</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/lampu-merah-konsumtif#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:05:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/lampu-merah-konsumtif/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo kamu termasuk tipe orang yang doyan belanja atau doyan beli barang-barang yang sebetulnya kamu sendiri udah punya, tapi karena tergoda iklan, kamu ingin juga memiliki barang tersebut, nah itu namanya konsumtif, saudara-saudara. Coba aja bayangin, kamu udah punya kemeja keren merek terkenal, tapi begitu ada iklan sejenis, cuma beda merek, kamu masih bernafsu untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo kamu termasuk tipe orang yang doyan belanja atau doyan beli barang-barang yang sebetulnya kamu sendiri udah punya, tapi karena tergoda iklan, kamu ingin juga memiliki barang tersebut, nah itu namanya konsumtif, saudara-saudara. Coba aja bayangin, kamu udah punya kemeja keren merek terkenal, tapi begitu ada iklan sejenis, cuma beda merek, kamu masih bernafsu untuk memilikinya, meski bandrol baju itu menyentuh angka lima dijit. Weleh weleh, berabe, Bung! <span id="more-29"></span></p>
<p>Itu soal pakaian, belum lagi perkara makanan dan minuman, yang seringkali meng?¬goda kita untuk konsumtif. Apa bedanya sih, makan ayam goreng di warung biasa dengan resto yang tempatnya keren punya? Dari jenis ayam yang dimakan, sama saja ayam mati (iya, dong, masak ayam hidup). Tapi harganya bisa menguras kocek kamu. Berarti, itu cuma beli prestise, cuma beli gengsi doang. Siapa yang nggak kepalanya membengkak kalo ada temen?¬nya menyanjung hanya gara-gara makan di resto Amerika dan melahap makanan â€?buleâ€™. Tapi jangan dulu menjatuhkan vonis konsumtif kepada teman kamu yang bodinya berbobot alias berbodi botol atau yang gemuk, gitu, lho. Soalnya kalo nafsu makannya sesuai dengan bentuk tubuhnya, itu wajar.</p>
<p>Bila dibidik, remaja yang bergaya hidup konsumtif, nggak lepas dari persoalan gengsi. Jelas, gengsi lah yang telah membuat remaja rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan.? Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan. Yes, Food, Fashion, and Fun. 3F ini sudah akrab di ajang gaul remaja macam kamu. Berarti ada benarnya dong, â€?ramalanâ€™ John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam kitab Megatrends 2000. Dalam bukunya, dua â€?tukang ramalâ€™ modern itu menyebutkan bahwa di masa yang akan datang, â€?seleraâ€™ Barat akan mewar?¬nai gaya hidup penghuni dunia ketiga. Dan nggak berlebihan tentunya kalo sekarang terbukti.</p>
<p>Kalo diperhatikan, kini marak gaya hidup mewah di kalangan remaja. Istilah kerennya remaja sekarang sudah masuk dalam arena The Exhibit of Luxury alias gaya hidup yang serba mewah dan konsumtif. Remaja model begini, biasanya makanan yang disantapnya bukan lagi kelas â€?wartegâ€™, tapi makanan â€?buleâ€™ macam hamburger, hot dog, pizza, dan jenis junk food lainnya. Lalu musiknya adalah jenis musik techno, yang enerjik, pakaiannya keluaran Giani Versace, Rhemberger, dan sejenisnya.</p>
<p>Percaya nggak, kalo jajannya remaja sekarang sebenarnya bukan cuma urusan ngisi perut, tapi juga jaga gengsi. Bener, Brur!</p>
<p><strong>Beli Prestis!<br />
</strong>Setuju kalo dikatakan bahwa di balik naluri â€?jajanâ€™ remaja yang â€?menggilaâ€™ sebetulnya tersimpan keinginan untuk tampil keren, lalu mendapat sanjungan. Nah, kamu perlu tahu, itu adalah salah satu perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Iya, dong, orang yang ingin dianggap eksis dalam lingkungan gaulnya adalah bukti bahwa dia ingin diperhitungkan, bukan hanya dianggap bilangan doang.</p>
<p>Misalkan, ada remaja yang doyan mema?¬merkan kekayaannya, baik itu mobil, pakaian atau sekadar makanan. Itu tandanya doi ingin dipuji hebat dan super. Mungkin kita bakal geleng-geleng kepala kalo ada anak yang ke sekolah bawa BMW Z8, soalnya mobil BMW generasi teranyar keluaran negerinya Oliver Bierhoff itu dijual dengan harga 2 milyar perak. Wuah, bapaknya konglomerat dong?</p>
<p>Belum lagi soal gaya makan, mungkin teman-teman yang pundi-pundi duitnya udah luber dan punya â€?naluriâ€™ konsumtif, jangan kaget kalo terus nongkrong di resto kelas wahid, dengan menyantap junk food. Padahal, makanan itu miskin gizi. Kenapa tetap dimakan? Soalnya bukan makan makanannya. Itu nggak terlalu penting buat perut, tapi bisa menempatkan kita pada posisi â€?terhormatâ€™ (ciee..). Iya dong, siapa yang nggak merasa â€?besar kepalaâ€™ kalo disanjung?</p>
<p>Perkara pakaian juga kerap menggoda remaja untuk bergaya hidup konsumtif. Rasanya kurang pede dan merasa â€?kumuhâ€™ bila nggak pake pakaian keluaran rumah mode terkenal, atau pakaian hasil rancangan desainer kelas dunia. Remaja yang menyimpan â€?naluriâ€™ konsum?¬tif, pasti merasa bangga sekaligus pede bila di pakaiannya ada label merek terkenal. Orang yang lihat kan bisa saja berdecak kagum, karena pakaian itu pasti berbandrol lima dijit ke atas.</p>
<p>Yap, prestis memang masalah naluriah dan basyariyah (manusiawi), siapa pun orang?¬nya, dan dari kalangan manapun ia, keinginan untuk mendongkrak prestis selalu ada. Bahkan kalo sanggup, pengenya diiklankan saja, biar semua orang tahu dan mengakuinya. Apalagi masa remaja, boleh lah disebut masa â€?ranumâ€™, saat?  kita merasa seakan menemukan arti hidup. Kalo boleh dan sanggup, rasanya apa saja ingin kita lakukan. Tapi ingat, kamu sudah masuk akil baligh, berarti sudah harus mengetahui perbuatan baik dan buruk dalam hidup kamu. Karena seluruh perbuatan kamu bakal dicatat dan disimpan dalam â€?bukuâ€™ catatan kehidupan kamu, yang suatu saat bakal diberikan oleh Allah SWT di akhirat nanti. Kalo selama hidupmu kamu doyan melakukan perbuatan salah, bukan amal sholeh, maka jangan heran bila kamu nanti mendapati â€?nilai-nilaiâ€™ dalam â€?rapotâ€™ kamu merah semua. Tentu saja neraka lah tempat yang layak bagi orang-orang yang selalu beramal salah. Ih, naudzu billahi min dzalik.</p>
<p>Sebenarnya soal tumbuhnya rasa ingin mempunyai prestis bukan masalah. Kalo gitu yang menjadi masalahnya apa? Ini berkaitan dengan cara pemenuhan dan pemuasan naluri tersebut. Tentu di sini Allah SWT tidak mem?¬biarkan manusia untuk menentukannya sendiri standar-standar pemenuhan dan pemuasan tersebut. Kalo dibiarkan? Gawat bin bahaya, saudara-saudara!</p>
<p>Hal yang paling mudah dan paling kamu kenal adalah masalah seks. Naluri melestarikan keturunan ini biasanya diwujudkan dalam bentuk suka terhadap lawan jenis. Untuk urusan ini kamu nggak dibiarkan menentukan standar pemenuhan sesuai selera kamu. Tahu sendiri kan akibatnya bila dibiarkan liar? Yes, nanti kamu bisa â€?menclokâ€™ sesuka kamu. â€?Parkirâ€™ di mana kamu suka. Wuah, bisa berabe tuh!</p>
<p>Berarti memang harus ada standar pemenuhan yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia. Dengan demikian, hanya Allah lah yang berhak menentukan aturan-aturan tersebut. Dengan kata lain, berarti kamu harus tunduk pada aturan Allah, bukan yang lain.</p>
<p>Karena masalah prestis tadi berkaitan langsung dengan naluri mempertahankan diri, berarti, pemenuhannya pun harus menyesuai?¬kan dengan aturan yang dibuat oleh Allah SWT. Nggak bisa sembarangan. Firman Allah SWT: â€œSesungguhnya pemboros-pemboros (muba?¬dzirin) itu saudaranya syaithan.â€? (Al Isra: 27). Well, dengan demikian, pemenuhan prestis tentu bukan dengan membudayakan konsumtif, tapi dengan ilmu yang benar. Berarti kamu kudu melengkapi dirimu dengan tsaqofah Islamiyyah yang handal. Seperti apa? Begini Brur, Islam itu harus kamu pahami bukan cuma sekadar seputar sholat, puasa dan wirid doang, tapi Islam itu luas, mencakup urusan politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, pemerin?¬tahan dan sebagai?¬nya. Jangan salah sangka, bahwa orang yang udah getol sholat, rajin puasa kamu langsung â€?memvonisâ€™ doi udah hidup islami banget. Belum tentu, kalo ternyata pikiran dan jiwanya masih sekuler. Memang kalo dalam sholat doi kiblatnya ke kaâ€™bah, tapi dalam urusan kehidupan yang lain, kiblatnya ke Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Kan berabe, iya nggak? Nah, tentu yang kita inginkan adalah kamu itu ngerti Islam secara total. Akidah, ibadah, akhlaq, muâ€™amalah, dakwah, syariah. Allah SWT berfirman: â€œHai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.â€? (Al Baqarah: 208). Yes, kamu musti memahami islam sebagai akidah dan syariat. Catet, Brur!</p>
<p><strong>Gaya Hidup Mewah, Buat Apa?<br />
</strong>Terus terang, kita nggak suka dengan gaya hidup kamu yang cuma hura-hura doang. Baik soal makanan atau minuman, lalu soal pakaian, bahkan hiburan sekalipun. Brur, kamu harus tahu banyak soal kehidupan jangan cuma menganggap bahwa hidup itu cuma tumbuh, lalu berkembang dan mati. Hidup bukan cuma itu, sayang. Banyak sekali yang harus kamu tahu soal kehidupan dan dinamikanya. Jangan merasa bahwa kamu masih remaja, lalu menganggap sah-sah saja dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Kamu nggak peduli dengan apakah itu adalah perbuatan salah atau benar. Apakah itu menguntungkan atau merugikan kamu di masa depan. Seharusnya kan berpikir jauh ke depan bahwa setiap yang kita lakukan itu bakal ada hubungannya dengan masa yang akan datang. Iya, kan? Hari ini adalah bagian dari hari kemarin, dan hari esok sangat bergantung dengan â€?sepak terjangâ€™ kita hari ini.</p>
<p>Tapi celakanya, saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Coba saja, produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa â€?nyamanâ€™ dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.</p>
<p>Disisipkan pesan lewat iklan bahwa makanan bukan hanya sekadar ganjal perut, tapi bisa melambungkan prestis, begitu pun dengan pakaian, bukan sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh, tapi juga lebih mengarah kepada prestis.?  Untuk urusan makanan saja, kadang?¬kala kita lebih merasa di â€?atas anginâ€™ bila jajanan yang kita tenteng adalah makanan â€?buleâ€™. Atau merasa lebih hebat bila kita sanggup nongkrong di resto macam Mc?¬Donaldâ€™s. Bukan cuma nongkrong doang, tapi juga beli!</p>
<p>Ini bisa gawat, apalagi kalo sama sekali nggak peduli dengan halal atau haram makanan tersebut. Siapa tahu makanan tersebut mengandung barang yang haram dan najis. Iya, nggak, Non? Jadi buat apa dong gaya hidup kamu mewah dan konsumtif, kalo akhirnya harus bertolak belakang dengan aturan Allah SWT?</p>
<p><strong>Sekilas Tentang Israaf dan Tabdzir</strong><br />
Istilah mubadzir sudah melekat erat di lidah kamu. Saking melekatnya kamu nggak tahu arti sebenarnya. Misalkan, kalo ada makanan sisa&#8211;tapi bukan di tempat sampah&#8211;buru-buru kita â€?caplokâ€™ sambil ngomong, â€œsayang ah, mubadzirâ€?. Wah, kalo istilah tabdzir kamu pahami seperti itu berarti salah besar, Non!</p>
<p>Israaf secara bahasa (lughawi) berarti melampaui batas dan keseimbangan (berlebih?¬an). Sedangkan tabdzir adalah menghambur-hamburkan. Lalu kalo mubadzir? Secara bahasa artinya orang yang boros, atau pemboros. Jadi nggak tepat dong kalau pakai kata mubadzir untuk kasus seperti di atas. Catet ya!</p>
<p>Nah, boros atau israaf dan tabdzir dalam pandangan Islam bermakna al infaq fil haram wal maâ€™asiy (infaq/membelanjakan uang dalam hal yang haram dan maksiyat) (Diraasat fil fikril Islamiy, hlm. 57). Ini adalah makna syarâ€™i (makna hukum). Hal ini dijelaskan pula dalam kitab Hadayatsus Shiyam bahwa israaf dan tabdzir memiliki arti yang sama, yakni membelanjakan harta, baik sedikit maupun banyak untuk hal-hal yang dilarang Allah. Kata musrifin (pemboros) termuat dalam firman Allah Taâ€™ala: â€œTetapi setelah Kami hilangkan bahaya daripadanya, dia kembali menempuh jalan yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas (musrifin) itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.â€? (QS. Yunus: 12).</p>
<p>Kata musrifin juga dipakai untuk orang yang berpaling dari mengingat Allah. Bahkan ada pula kata musrifin dalam arti mufsidin (orang-orang yang membuat kerusakan). Allah Taâ€™ala berfirman: â€œMaka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas (musrifin); yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.â€? (QS. Asy Syuâ€™ara: 150-152).</p>
<p>Soal tabdzir ada dalam ayat 26-27 dari surat Al Isra. â€œDan janganlah kamu mengham?¬bur-hamburkan hartamu secara tabdzir (boros). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syaitan.â€?</p>
<p>Lalu bagaimana dengan sifat konsumtif itu sendiri? Tentu saja, Islam memang mengajarkan pola hidup sederhana alias tidak bermegah-megahan. Tak terasa memang, bila kita mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk membeli makanan yang mahal harganya, karena kita sekaligus beli prestis. Tapi rasanya berat banget bila kita mau â€?nyumbangâ€™ ke masjid. Alangkah lebih baiknya bila uang yang kamu miliki dibelikan kepada barang-barang yang lebih bermanfaat, seperti buku-buku keislaman atau makanan halal yang lebih murah harganya. Sisanya bisa kita sedekahkan ke masjid atau ke fakir miskin, iya nggak?</p>
<p>Pokoknya, jangan sampai deh, gara-gara kita konsumtif malah kemudian terjerumus ke dalam sifat israaf dan tabdzir tadi. Artinya bila makanan yang kamu telan ternyata haram, kan berabe, kamu malah melakukan perbuatan dosa. Apalagi pakaian yang kamu kenakan nggak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, udah gitu mahal lagi, rugi kan?</p>
<p>Jadi mulai sekarang, stop konsumtif! Hiduplah sederhana sesuai kebutuhan saja, karena kebutuhan itu berbeda dengan keinginan, tapi catet, bukan berarti nggak boleh kaya, silakan saja, toh para sahabat juga banyak yang kaya raya, tapi harus lewat jalan yang islami. Nah, begitu, sobat!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 27/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/lampu-merah-konsumtif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekerasan ala â€œSmackdownâ€</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kekerasan-ala-%e2%80%9csmackdown%e2%80%9d</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kekerasan-ala-%e2%80%9csmackdown%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/kekerasan-ala-%e2%80%9csmackdown%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Jangan?  kaget kalo belakangan ini anak-anak sibuk nongkrongin televisi hanya untuk menonton â€?duelâ€™ gaya bebas dalam acara yang dikemas apik, namanya Smackdown. Malah terakhir pertandingan penuh kekerasan ini ditayangkan pula siang hari meski dengan nama acara yang berbeda. Di mata anak-anak, jagoan-jagoan khayalannya yang berlaga tentu menciptakan rasa senang tersendiri. Lama-lama smackdown justru malah mengajari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan?  kaget kalo belakangan ini anak-anak sibuk nongkrongin televisi hanya untuk menonton â€?duelâ€™ gaya bebas dalam acara yang dikemas apik, namanya Smackdown. Malah terakhir pertandingan penuh kekerasan ini ditayangkan pula siang hari meski dengan nama acara yang berbeda. Di mata anak-anak, jagoan-jagoan khayalannya yang berlaga tentu menciptakan rasa senang tersendiri. Lama-lama smackdown justru malah mengajari yang nggak benar. Tul nggak? <span id="more-28"></span>Nggak percaya, kalo tiap minggu anak-anak dicekoki?  sajian tak â€?beradabâ€™ seperti itu bisa butek juga pikirannya. Salah-salah malah acara itu sebagai kursus gratis jadi tukang kepruk. Berabe kan? Makanya jangan heran kalo kamu nanti ketemu ada anak yang petantang-petenteng ngajak duel. Gayanya udah kayak bodyguard from Beijing aja, padahal sih, bodyguard from Bojong! (hua..ha&#8230;ha).</p>
<p>Parahnya lagi, sekarang malah ada arena tinju pelajar segala sebagai alternatif â€?pengem?¬bangan bakatâ€™ tawuran pelajar. Alasan mereka sederhana, daripada tawuran kan mendingan diberikan sarananya, supaya kreatif. Tentu yang begitu adalah alasan yang asal-asalan, Brur. Bukannya â€?dicuciâ€™ otaknya dengan pemikiran Islam yang benar, eh, malah menyalurkannya ke jalur yang membuat mereka betah berantem. Meski mungkin tujuannya diubah sedikit, yakni untuk nyari duit dan popularitas. Alternatif penyelesaian seperti itu bukan solusi tepat, jack. Malah nggak mustahil kalo itu justru membuat remaja kehilangan arah dan pegang?¬an. Lalu ambruk nggak karu-karuan.</p>
<p>Acara duel bebas ini memang punya perkumpulannya tersendiri, namanya WWF alias World Wrestling Federation. Kamu tahu sendiri kan, duel bebas itu bikin ngeri bagi kita yang nggak biasa menyaksikan kekerasan model begitu. Tapi bagi yang â€?senangâ€™ malah ketagihan nonton duel tersebut.</p>
<p>Bayangin aja, udah yang berantem bodinya gede-gede, malah ada yang rambutnya gimbal bin gondrong, badannya bertato, eh, berantemnya kayak nggak ada aturan banget. Tangan, kaki, kepala, dan badan semuanya dipake untuk menyerang dan mempertahankan diri. â€?Gokilnyaâ€™, pertandingan itu â€?memubahkanâ€™ pula pakai alat-alat berat. Lebih senewen lagi, duelnya bisa di luar ring. Bahkan teman-temannya boleh ikutan nimpukin. Geblek!</p>
<p>Itu memang hiburan, Brur, tapi nuansa keke?¬rasannya tetap kental, meski barangkali itu cuma sekadar â€?main-mainâ€™ alias trik doang. Tapi kan tetap pengaruhnya besar bagi pemirsa yang menyaksikan acara tersebut. Salah-salah malah bisa menapak-tilasi adegan tersebut.</p>
<p>Sebetulnya pola kekerasan yang â€?diajarkanâ€™ televisi sudah nggak terhitung jumlahnya, bisa lewat film kartun, lalu film dewasa yang kental dengan violence, dan seabrek tayangan lainnya yang menyisipkan kekerasan.</p>
<p>So, tayangan televisi memang sangat berpengaruh pada perkembagan penontonnya, apalagi usia penonton yang masih tergolong anak-anak dan remaja. Yang harus diakui bahwa mereka lebih mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang ada di televisi. Motifnya bisa beragam, mungkin ada yang cuma iseng alias mencoba-coba, ada juga yang lebih ke arah penyaluran untuk memenuhi pencarian jati dirinya. Malah tak mustahil bila ada yang betul-betul terobsesi menjadi seperti pelakunya dalam tayangan tersebut. Bila dibiarkan, wuah, bahaya besar, Bung!</p>
<p>Smackdown memang nggak sendirian mengajarakan kekerasan bagi penonton?¬nya, tapi mungkin cuma menambah daftar panjang sebagai â€?teladanâ€™ yang jelek bagi pemirsanya dalam soal mengajari kekerasan. Well, ini memang pengaruh yang jelek dari tayangan televisi. Mutlak pengaruh televisi? Nggak juga, televisi cuma satu dari sekian banyak sarana kekerasan yang ada. Video game juga kerap menjadi â€?teladanâ€™ yang â€?baikâ€™ dalam menularkan kekerasan. Masih ingat dengan â€?aksi brutalnyaâ€™ Eric Harris (18) dan Dylan Klebold (17), dua pelajar Columbine High School di Littleton Colorado, Amerika, yang menewaskan 11 rekannya dan seorang guru pada 20 April 1999? Dari keterangan temannya diperoleh, Dylan Klebold bisa berjam-jam main game yang tergolong penuh kekerasan seperti Doom, Quake, dan Redneck Rampage. Wuah, sadis, juga, ya?</p>
<p>Ihwal kasus Harris dan Klebold tadi, para peneliti berpendapat, video game menawarkan agresi lebih kuat pada anak-anak dibandingkan tontonan di TV, karena jauh lebih hidup dan bersifat interaktif. Bukan sekadar observasi seperti TV. Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis, pengajar di Fakultas Psikologi UI?  &#8220;Main game itu intens. Di sana ada target, entah menjatuhkan atau mematikan lawan. Jika (dilakukan) bertahun-tahun, tayangan itu bisa menjadi rangsangan untuk berbuat.&#8221;</p>
<p>Khusus untuk smackdown juga bisa lebih â€?hebatâ€™ akibatnya karena belakangan pertan?¬dingan ini bisa juga dimainkan lewat mesin fantasi. Nah, jadi menarik soal tinju pelajar, soalnya ini lebih hidup, karena memang asli. Tampaknya memang perlu dipertimbangkan akibatnya kalo membuat program acara tersebut.<br />
Ya, kekerasan memang ada di mana-mana. Di televisi, di video game, bahkan dalam kehidupan nyata. Yes, kekerasan memang telah mengepung kita. Ada apa sebenarnya?<br />
? <br />
<strong>Mengapa Tayangan Kekerasan Diekspos?<br />
</strong>Mengapa kekerasan menjadi menu pilihan yang ditayang?¬kan di TV? Tak bisa dipungkiri, persaing?¬an penyelenggara siaran di layar kaca dalam memperebutkan kue iklan yang makin terbatas sangatlah ketat, Brur. Demikian pula dengan pengiklanan suatu mata acara. Dengan durasi terbatas, kail yang dilemparkan ke pemirsa harus bisa menohok langsung ke benak. Jadi langsung kena ke sasaran. Pengiklan nggak mau dong masang iklannya di tayangan yang nggak disukai penonton. Itu sama saja menyimpan uang di pinggir sungai, alias nggak aman dan tentu saja bisa jeblok!</p>
<p>Coba, kalau rajin memperhatikan iklan cuplikan tayangan film, tentu unsur seks dan kekerasan itu besar porsinya, Non. Apalagi dalam film laga yang memang menjual seputar kekerasan. Ambil contoh sinetron seri Sapu Jagat. Kekerasan digunakan dalam berbagai cara dalam promosi sebagai pengait untuk menarik pemirsa agar menonton program itu.</p>
<p>Seorang psikolog sosial mengamati, jenis film-film laga kepahlawanan (hero) selalu mena?¬rik perhatian dan disenangi anak-anak, terma?¬suk balita, sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar kaca. Coba anak mana sih yang nggak betah nonton serial Saras, Pendekar Kebajikan. Diduga, selain menghibur, yang terutama bikin â€?kecanduanâ€™ ialah unsur thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang bakal terjadi kemudian. Tanpa itu, film cenderung datar dan membosankan. Nah, yang diekspos dalam acara smakcdown kan serupa, iya nggak? Banyak adegan yang menegangkan dan sulit terduga, itulah yang membuat teman-teman remaja juga adik-adiknya yang masih di TK sekalipun merasa betah nonton tayangan tersebut. Wuah, bahaya itu!</p>
<p>Kekerasan yang ditayangkan di TV tak hanya muncul dalam film kartun, film lepas, serial, dan sinetron. Adegan kekerasan juga tampak pada hampir semua berita, khususnya berita kriminal. TV swasta di Indonesia terkadang lebih â€?kejamâ€™ dalam menggambarkan korban kekerasan, misalnya dengan ceceran darah atau meng-close up korban. Ini juga yang menambah parah keadaan.</p>
<p>Kita jangan terkecoh dong, dengan hanya menyensor adegan seksual, misalnya ciuman. Adegan kekerasan; mulai tembakan, tamparan pipi, jerit dan teriakan, darah, gebuk-gebukan perlu juga disensor dan dikritisi. Berarti kalo gitu, semua adegan bisa berbahaya dong? Lha iya, Mas!</p>
<p>Sebuah survei pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 &#8211; 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mem?¬pengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.</p>
<p>Hasil penelitian Dr. Brandon Centerwall dari Universitas Washington memperkuat survei itu. Ia mencari hubungan statistik antara meningkatnya tingkat kejahatan yang berbentuk kekerasan dengan masuknya TV di tiga negara (Kanada, Amerika, dan Afrika Selatan). Fokus penelitian adalah orang kulit putih. Hasilnya, di Kanada dan Amerika tingkat pembunuhan di antara penduduk kulit putih naik hampir 100%. Dalam kurun waktu yang sama, kepemilikan TV meningkat dengan perbandingan yang sejajar. Di Afrika Selatan, siaran TV baru diizinkan tahun 1975. Penelitian Centerwall dari 1975 &#8211; 1983 menunjukkan, tingkat pembunuhan di antara kulit putih meningkat 130%. Padahal antara 1945 &#8211; 1974, tingkat pembunuhan justru menurun (Kompas, 20-3-1995).</p>
<p>Tapi anehya, pengusaha televisi seperti mengacuhkan data-data survei tersebut, mungkin di negerinya Wiro Sableng ini hasil survei tersebut nggak jauh berbeda. Gawat, kan? Ya, kelihatannya show must be go on, tuh!</p>
<p>Itulah kenapa tayangan kekerasan dieks?¬pos, mereka cuma ingin kebagian jatah kue iklan yang lebih besar. Sembari berlindung di balik alasan, bahwa masyarakat memang menyukai tayangan tersebut. Ini pekerjaan berat bagi kita, Bung. Bahwa kondisi ini memang sudah rusak. Individunya sudah â€?gawatâ€™, eh, masyara?¬katnya juga lebih senewen, udah gitu penguasa?¬nya juga cuek bebek aja tuh terhadap perkembangan warganya. Amburadul banget kalo begitu, ya?</p>
<p><strong>Cegah dan Tangkal</strong>? <br />
Tayangan televisi yang mengekspos kebrutalan dan kesadisan telah banyak ber?¬pengaruh bagi perkembangan penontonnya. Tentu saja kawan, ini nggak boleh dibiarkan begitu saja. Harus segera dihentikan. Bila tidak? Jangan heran bila akan lahir generasi preman di masa depan. Ih, nadzubillah min dzalik!</p>
<p>Tayangan duel bebas gaya smackdown semakin menambah daftar panjang tayangan bernuansa kekerasan. Nggak bisa ditutup-tutupi lagi bahwa tayangan tersebut memang sangat berpengaruh kepada penontonnya, gawatnya lagi sekarang anak-anak dan remaja bisa lebih leluasa mengekspresikan â€?naluriâ€™ kekerasannya lewat smackdown versi video game. Berabe kan, coy?</p>
<p>Kalo ternyata kemudian banyak anak-anak yang mengekspresikan lebih jauh, yakni dalam kehidupan nyata, itu juga nggak mustahil. Buktinya seperti kasus Eric Harris dan Dylan Klebold tadi yang nekat menembakkan senjata?¬nya ke teman dan gurunya. Kalo tak dicegah, mungkin tak terlalu aneh bila itu terjadi pula di sini. Siapa tahu?</p>
<p>Kalo ada yang sampe nekat membunuh gara-gara sudah nonton smackdown? Itu tetap jadi persoalan, bila anak itu udah masuk kategori akil baligh, maka akan dihukum. Islam, sebagai sebuah idiologi tentu saja memiliki jawaban atas problem-problem masyarakat termasuk masalah ini. Suatu ketika sorang Yahudi di masa Nabi saw. memukul seorang Jariyah (budak wanita) diantara dua batu hingga tewas. Ketika kabar ini sampai ke telinga Rasulullah saw, beliau segera mengadili Yahudi tersebut dan menghukumnya dengan perbuatan yang serupa. Riwayat ini menjadi bukti sejarah bahwa nyawa dalam Islam sangat dijunjung tinggi. Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda : â€œTidak halal darah seorang muslim kecuali tiga hal; Pezina muhsan, Seseorang atas seseorang (pembunuh), Orang murtad dan memisahkan diri dari jamaah (pemberontak)â€?</p>
<p>Nah, jadi kalau ada remaja yang tega menyerang temannya hingga tewas persis seperti dalam duel bebas gaya smackdown atau seperti tayangan film laga lainnya di televisi, maka dalam pandangan Islam remaja tersebut akan dikenakan hukuman Qishas. Ya, dibunuh lagi! Kejam? Tentu tidak! Sebab hukum Islam itu bersifat jawazir dan jawabir. Jawazir artinya hukum Islam bersifat preventif, mencegah terjadinya peluang-peluang kemaksiatan dan kejahatan. So, kamu perhatikan sendiri bahwa perbuatan jahat, apapun bentuknya, selalu diawali dengan adanya celah-celah. Dalam kasus tadi, peluang bisa muncul dari berbagai sisi. Bisa karena pengaruh bacaan, tontonan, atau sanksi yang dirasa terlalu ringan.</p>
<p>Kemudian hukum Islam juga bersifat jawabir. Artinya, hukum Islamâ€”kalau diterapkan di duniaâ€”bekal menghapus azab Allah di akhirat kelak. Sabda Nabi saw. : â€?Baâ€™iatlah aku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, (kemudian Rasulullah saw. membacakan seluruh ayat). Barang siapa diantara kalian menepati, maka Allah akan membalas (dengan pahala), dan barang siapa yang melakukan hal-hal itu, maka akan diberi hukuman (uqubat) sebagai kafarat (penebus) baginya, dan barang siapa melakukan hal-hal itu, kemudian Allah menutupinya, maka Allah akan mengampuninya jika menghendaki, dan mengazabnya jika Ia menghendakiâ€? (Al Hadits)</p>
<p>Nah, diakui atau tidak, hanya Islam agama yang mengurus masalah dari yang â€?sepeleâ€™, hingga yang berat. Dan memang hanya dalam Islam harga dan harkat manusia dijunjung tinggi. Nyawa diukur lagi dengan nyawa. Darah dengan darah. Harta dengan harta. Inilah keadilan yang sesungguhnya, Brur!</p>
<p>Firman Allah: â€œâ€¦Barang siapa membunuh manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan kerena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia membunuh manusia semuanyaâ€¦â€? (QS. Al Maaidah : 32)</p>
<p>Well, tayangan smackdown memang berbahaya, daripada kamu terus-terusan dicekoki dengan â€?teladanâ€™ yang rusak, lebih baik kamu pelajari Islam dengan baik. Yes, Islam sebagai sebuah ideologi. Uhuiii&#8230;</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 26/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kekerasan-ala-%e2%80%9csmackdown%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja â€˜Ngompolâ€™? Tak Masalahâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-%e2%80%98ngompol%e2%80%99-tak-masalah%e2%80%a6</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-%e2%80%98ngompol%e2%80%99-tak-masalah%e2%80%a6#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/remaja-%e2%80%98ngompol%e2%80%99-tak-masalah%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Yang begini baru berita. Kedengeran?¬nya memang menggeli?¬kan. Apalagi kalo kemudian kita berpikir lebih â€?nakalâ€™, misalnya menghubungkan dengan makan jengkol atau pete. Upsâ€¦ bau juga ya? Tapi jangan dulu nuduh yang macem-macem deh. Maksudnya tentu bukan itu. Ngom?¬pol di sini adalah kependekan dari ngo?¬mong politik. Begitu, coy! Andaikan diadakan survei di kalangan remaja yang menanyakan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang begini baru berita. Kedengeran?¬nya memang menggeli?¬kan. Apalagi kalo kemudian kita berpikir lebih â€?nakalâ€™, misalnya menghubungkan dengan makan jengkol atau pete. Upsâ€¦ bau juga ya? Tapi jangan dulu nuduh yang macem-macem deh. Maksudnya tentu bukan itu. Ngom?¬pol di sini adalah kependekan dari ngo?¬mong politik. Begitu, coy!<span id="more-27"></span></p>
<p>Andaikan diadakan survei di kalangan remaja yang menanyakan apa yang diketahui remaja tentang politik, mungkin beragam jawab?¬an bisa dilontarkannya. Kemungkinan besar porsinya lebih banyak yang aneh-aneh. Bisa jadi 40 persen responnya menjawab â€?sebelâ€™, 20 persen berkomentar â€?ngeriâ€™, 10 persen memilih jawaban â€?lucuâ€™ dan 30 persen berpendapat â€?tidak tahuâ€™. Wah, kalo hasil surveinya kayak begini bisa gawat.</p>
<p>Mungkin yang menjawab â€?sebelâ€™ adalah karena menganggap politik sebagai tipu daya untuk kepentingan diri dan kelompoknya, macam perang urat syaraf antara George Bush dan Al Gore dalam memperebutkan kursi kepresidenan AS saat ini. Atau nggak usah jauh-jauh, waktu ST MPR alias Sidang Tahunan MPR di negerinya Wiro Sableng ini, ketika akan ada perubahan kabinet, rame-rame para elit politik mencalon?¬kan jagonya, persis politik â€?dagang sapiâ€™. Tak mustahil saling sikut, saling serang demi posisi. Apalagi ketika pas diumumkan jagonya nggak ada, wah, sibuk nyari sasaran dari kesalahan lawan-lawannya. Well, memang itu namanya perjuangan memperebut?¬kan kekuasaan (The Struggle for Power) dengan menjatuhkan masing-masing lawannya. Weleh-weleh, yang untung nanti penguasanya, rakyat cuma jadikan tameng aja. Pokoknya habis manis sepah ditelen diam-diam. Penguasa tertawa rakyat meringis!</p>
<p>Yang menjawab â€?ngeriâ€™ bisa saja meng?¬ambil alasan bahwa politik itu identik dengan politik praktis, macam demonstrasi misalnya. Dari aksi duduk, jongkok, nungging, sampai konvoi. Nggak hanya itu, demonstrasi kerap di?¬iringi dengan pelemparan batu, dan sembako alias semangat bakar toko, lalu menjarah, dan seabrek kebrutalan dan kebringa?¬san massa lain?¬nya. Tak selesai sampai di situ, para aktivis?¬nya bakal nggak tenang menghirup udara bebas, mereka bisa dikejar, ditangkap, dan dimasukkan ke bui. Kalo yang dimaksud politik adalah model begini, bisa-bisa rasa ngerinya nggak hilang sampai tujuh turunan. Soalnya mendengarnya saja bisa takut serasa baca serial goosebumps! Bakal berdiri bulu kuduk (kecuali yang nggak punya bulu kuduk!). Dan bagi â€?anak buahnyaâ€™ Virgiawan Listanto alias Iwan Fals bicara politik bakal dihubungkan dengan lagu yang ngetop di tahun delapan puluhan, yang syairnya kayak begini, â€œSetan-setan politik yang datang men?¬cekik, walau di musim paceklik tetap mencekik, Apakah selamanya politik itu kejam. Apakah selamanya dia datang â€?tuk meng?¬hantamâ€¦â€? Wah, lama-lama orang bisa berpen?¬dapat miring tentang politik. Berabe kan? Pendapat model begini pantas untuk dimasukin ke keranjang sampah. Tul, nggak?</p>
<p>Nah, bagi beberapa remaja yang memilih jawaban â€?lucuâ€™, bisa disebabkan karena sering melihat para pelaku politik yang lucu-lucu dan menggelikan. Misalnya, banyak ngomong tapi beda dengan apa yang diperbuat. Atau memang malah nggak diperbuat. Yang model begini biasanya terdaftar sebagai anggota NATO alias No Action Talk Only. Atau malah â€?membualâ€™ kemana-mana dengan pernyataan yang sering kontradiktif. Kemarin bicara â€œAâ€?, eh, besoknya bicara â€œBâ€? untuk masalah yang sama. Kan bingung, ya nggak? Yang begini ini bisa jadi yang membuat sebagian remaja memilih jawaban lucu tentang politik. Ya, nggak Brur? Nah, nanti kamu akan memahami bahwa tindakan macam begini bukanlah jenis tindakan yang dimiliki oleh orang yang sadar dan ngerti politik. Catet itu!</p>
<p>Dan ini yang lebih gawat lagi, yakni bagi remaja yang milih jawaban â€?tidak tahuâ€™ alias tentang dunia politik, berarti doi memang keterlaluan banget deh. Geblek, kuper, dan memang sableng. Padahal seperti kata-kata dalam sebuah iklan rokok, â€œmenikmati kesen?¬dirian, bukan berarti tak peduli, kan?â€?. Sori, ini nggak termasuk iklan! Nah, jadi kamu jangan cuek, Brur! Secuek-cueknya orang, masak nggak kenal sedikitpun tentang politik. Wah, gawat itu. Tapi dipikir-pikir memang begitu kok. Nah, dilihat dari faktanya, bisa jadi remaja yang memilih jawaban tidak tahu karena doi lebih sibuk ngurus dandanan, perkembangan film dan musik atau seabrek gosip tentang artis lewat tayangan infotain?¬men macam Kabar-Kabari, Buletin Sinetron, Cek and Ricek, Kiss dan seje?¬nisnya ketimbang mikirin perkembangan masya?¬rakat dan bangsa ini. Itu namanya remaja paling keterlaluan sejagat.</p>
<p>Kalo yang terjadi begini, remaja selama?¬nya nggak bakalan ngerti soal politik. Memang ini semua ada sebabnya, ibarat ada asap pasti ada apinya. Nggak mungkin tiba-tiba keluar asap, kecuali Jin-nya si Jun yang keluar (hua..ha..ha..).</p>
<p>Berarti ini berkaitan dengan pendidikan. Coba, pernah nggak di antara kamu mendapat pendidikan politik? Yang ngacungin tangannya pasti sedikit, atau malah nggak ada. Bukan apa-apa, memang belum menyentuh remaja secara khusus selama ini. Merasa, nggak?<br />
? <br />
<strong>Pengertian Politik<br />
</strong>Sebelum kamu â€?terjunâ€™ ke dunia politik, harus tahu dulu apa itu politik. Makanya, di sinilah perlunya pendidikan. Pendidikan adalah segalanya. Orang bisa pinter, bisa ngerti dan bisa membuat segalanya lebih bermakna adalah karena pendidikan. Setiap pendidikan insya Allah akan mengantarkan kepada pencerahan ber?¬pikir. Kamu nggak bakalan kuper, oâ€™on, dan juga nggak bakalan ditipeng orang, atau malah diperalat oleh pihak yang nggak bertanggung jawab. Kamu bisa hebat dan canggih, tentu lewat pendidikan yang canggih pula, kalo pendidikannya aja meng?¬gunakan sistem yang nggak jelas, maka jangan harap kamu menjadi pinter dan cerdas.</p>
<p>Lalu apa arti politik dalam pandangan Islam? Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik adalah riâ€™ayatusy syuâ€™unil ummah, alias pengaturan urusan ummat. Adapaun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtimaâ€™i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain.</p>
<p>Pengen bukti? Nah, Islam telah memberi?¬kan gambaran yang utuh dalam masalah ini, bahkan sejarah memperlihatkan selama lebih dari 14 abad, kaum muslimin hidup dengan menerapkan aturan Islam. Tidak pernah ada satu masa pun kaum muslimin hidup dengan aturan selain Islam. Catet nih, Brur! Terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuh?¬kan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemim?¬pin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui pengha?¬pusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam. Menyedihkan bukan? Ini tanggungjawab kita untuk menegak?¬kannya kembali, Brur!</p>
<p>Well, kok bengong? Atau sedih? Soalnya memang itulah gambaran kita saat ini. Coba dari dulu memahami istilah politik seperti ini. Pasti nggak bakalan bengong or bingung kayak sekarang. Tapi, alhamdulillah, sekarang kamu mulai paham sedikit demi sedikit tentang politik dalam pandangan Islam. Ya, terus aja baca Studia (he..heâ€¦). Uweenaak tenaan!</p>
<p><strong>Perlunya Kesadaran Politik</strong><br />
Kamu juga pasti tahu bedanya orang yang sadar dengan yang nggak sadar, ya nggak? Nah, masalahnya apakah sekarang kamu ter?¬masuk orang yang sadar atau malah â€?gokilâ€™? Sori, rada kejam istilahnya. Urusan politik juga memang harus kita sadari, Brur, supaya â€?ngehâ€™ soal yang satu ini. Bahaya bin gawat bila kamu nggak sadar politik. Sehingga nggak mustahil kamu bakal cuek bebek aja ketika ada masalah berat di hadapanmu. Kamu diam membatu se?¬perti patung. Lugu bukan? Ya, maksudnya luar biasa guoblok!</p>
<p>Suatu ketika Khalifah Umar bin Khaththab berpidato di hadapan kaum muslimin. Usai berpidato seorang pemuda berdiri sambil mengacungkan pedang, lalu berteriak, â€œWahai Umar, apabila kami melihat engkau menyimpang, kami akan meluruskanmu dengan pedang ini.â€??  Wah, ada nggak sekarang remaja macam kita-kita ini yang begitu? Kayaknya sih, tak ada. Nggak percaya? Coba aja adain survei!</p>
<p>Umar yang mendengar pernyataan tadi kontan mengucapkan hamdalah. Ternyata masih ada manusia, tepatnya pemuda, yang berani mengungkapkan kebenaran.</p>
<p>Riwayat yang singkat ini bisa memberikan gambaran yang jelas kepada kita pekatnya suasana kehidupan berpolitik dalam Islam. Inilah aktivitas muhasabah lil hukam alias mengoreksi penguasa atau amar maâ€™ruf nahyi munkar, wajib dilakukan kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Pokoknya every where, every time, and everyone. Kamu bisa bayangkan sendiri, seorang khalifah, kepala negara Islam, dinasi?¬hati oleh anak kecil seusia kamu. Hebat bukan? Dengan begitu kehidupan akan senan?¬tiasa ber?¬jalan dengan normal dan ideal. Pahami itu, Brur!</p>
<p>Dalam Islam, memang ini kewajiban bagi ummatnya yang sudah akil baligh. Untuk melak?¬sanakan seluruh ajaran Islam. Termasuk itu tadi, amar maâ€™ruf nahyi munkar. Begitupun setiap muslim wajib untuk memiliki kesadaran politik. Sabda Rasulullah SAW: â€œBarang siapa yang bangun pagi hari dengan tidak memikirkan kepentingan kaum muslimin, maka mereka tidak termasuk golonganku.â€? Dalam riwayat lain, beliau juga mengingatkan kaum muslimin agar tidak lalai melaksanakan amar maâ€™ruf nahyi munkar. Sabdanya: â€œDemi jiwaku yang berada di tangan-Nya, kalaulah kalian tidak memerintah?¬kan yang maâ€™ruf dan mencegah yang munkar, maka hampir-hampir Allah memberikan adzab-Nya, kemudian kalian berdoa dan tidak dikabul?¬kan doanya.â€?</p>
<p>Begitu, Non! Pengen lebih jelas? Begini sobat, sewaktu kaum muslimin masih berada di Mekkah dan belum memiliki kekuasaan, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. bersama Rasulullah saw., membuat semacam â€?taruhanâ€™ untuk pe?¬perangan antara Romawi dan Persia yang berada jauh dari Mekkah. Padahal, saat itu siapapun yang memenangkan perang nggak bakal menguntungkan kaum muslimin yang tertindas di Mekkah. Nah, ini membuktikan bahwa Abu Bakar r.a memiliki kesadaran politik yang cukup tinggi. Tuh, kan, Islam memang mampu mencerahkan pemikiran manusia.</p>
<p>Kalo gitu, apa yang dimaksud dengan?  kesadaran politik? Well, itu pertanyaan bagus. Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamiy menyebutkan bahwa kesadaran politik (waâ€™yu siyasi) haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama, kesadaran itu haruslah bersifat universal atau mendunia (inter?¬nasional). Bukan kesadaran yang bersifat lokal semata. Contohnya? Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. tadi. Walau masih â€?ngendonâ€™ di Mekkah tapi pikirannya jauh melanglang buana. Padahal waktu itu belum ada televisi, radio, apalagi internet. Nah, kalo kamu yang sudah hidup di jaman yang serba digital tapi pikirannya masih lokal apalagi nggak punya pikiran model begitu, wah nggak kelas deh. Tengok dong saudara-saudara kita di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau saudara kita di Maluku, Aceh, dan berbagai belahan dunia lainnya. Kita harus tahu dan peduli dengan keadaan mereka. Apakah sekarang lagi mende?¬rita atau bahagia. Harus sampai ke situ, Brur! Itulah namanya mondial alias mendunia. Jangan cuma tahu perkembangan artis doang, nggak ada gunanya kayak begituan mah. Catet ya!</p>
<p>Nah, unsur yang kedua adalah kesadaran politik yang dimiliki remaja harus berdasarkan pada sudut pandang tertentu alias zawiyatun khosshoh. Dengan kata lain remaja Islam harus bertindak subyektif dan obyektif dalam menilai peristiwa politik yang terjadi. Lho, gimana sih, subyektif tapi sekaligus obyektif? Gini Brur, maksudnya, subyektif karena memang harus didasari pada sudut pandang Islam. Obyektif artinya kunti alias tekun dan teliti dalam â€?mem?¬bacaâ€™ peristiwa yang terjadi. Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika puluhan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga. Begitu, cing!</p>
<p><strong>Remaja Berpolitik</strong><br />
Nah, ini baru enak. Begini, supaya kamu bisa bicara politik dengan benar, ikuti tips ini. Pertama, politik harus kita pahami sebagai bagian ajaran Islam. Jadi seluruh kaum muslimin yang akil baligh wajib memahami hukum-hukum ini. Kamu yang remaja jelas sudah masuk kategori ini. Kedua, harus ditumbuhkan kesa?¬daran politik pada remaja macam kamu. Caranya? Seperti yang udah dijelasin di awal, pokoknya harus mengembangkan wawasan dan pastikan sudut pandang penilaian terhadap peristiwa politik yang berkembang harus Islam. Supaya kamu menjadi remaja kritis dan ber?¬tang?¬gung jawab.</p>
<p>Tapi layak nggak sih remaja berpolitik? Wow, sangat layak, Brur! Pengen bukti? Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun pernah â€?diceramahiâ€™ oleh seorang anak muda gara-gara dalam suatu kesempatan berdialog dengan rombongan kaum muslimin dari wilayah Hijaz, beliau mengabai?¬kannya dan lebih memberikan kesempatan kepada yang tua usianya. Menurut anak kecil itu kemuliaan seseorang tidak dilihat dari usianya, tapi dari kefasihan lidah dan kebersihan hati. Akhirnya Umar pun menerima nasihat remaja tadi. Jadi remaja â€?ngompolâ€™ nggak masalah, kan? Dan bukan hanya ngomong, tapi juga pelaku. Yap, perdalam Islam sebagai akidah dan syariat! Oke?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 25/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-%e2%80%98ngompol%e2%80%99-tak-masalah%e2%80%a6/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boleh â€œGaulâ€, Asalâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/boleh-%e2%80%9cgaul%e2%80%9d-asal%e2%80%a6</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/boleh-%e2%80%9cgaul%e2%80%9d-asal%e2%80%a6#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/boleh-%e2%80%9cgaul%e2%80%9d-asal%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Kini muncul istilah gaul dalam atmosfir kehidupan remaja. Bukan barang baru sebetulnya. Akrab malah. Ya, nggak man? Pokoke, ada istilah kaca mata gaul, anak gaul, pakaian gaul, bahasa gaul, malah ada juga ustadz gaul (kalo yang ini kira-kira apa yang membuatnya gaul, ya?). Pokoknya, serba gaul deh. Entah siapa yang memulai membikin istilah-istilah seperti itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kini muncul istilah gaul dalam atmosfir kehidupan remaja. Bukan barang baru sebetulnya. Akrab malah. Ya, nggak man? Pokoke, ada istilah kaca mata gaul, anak gaul, pakaian gaul, bahasa gaul, malah ada juga ustadz gaul (kalo yang ini kira-kira apa yang membuatnya gaul, ya?). Pokoknya, serba gaul deh. Entah siapa yang memulai membikin istilah-istilah seperti itu, yang jelas remaja macam kamu begitu enjoy dengan sebutan anak gaul alias anak yang nggak kuper bin norak. Tul, nggak?<span id="more-26"></span></p>
<p>Hanya ada dua sebutan dalam pergaulan remaja, yang out of date dan up to date alias kuno (norak) dan keren. Ukuran kuno dan keren seringkali menjadi standar pergaulan. Misalnya, istilah kaca mata gaul, ini untuk meng?¬gambar?¬kan tentang kaca mata yang melenceng dari fungsi aslinya, yakni bukan sebagai alat bantu baca atau pelindung mata saat mela?¬kukan pekerjaan di laboratorium untuk meredam ra?¬diasi sinar ultra violet. Tapi sudah berubah fungsi. Untuk apa lagi kalau bukan untuk ngeceng. Frame alias bingkainya berwarna ngejreng. Warna hitam, hijau, biru, merah, ungu kerap melengkapi aksesoris kaca mata gaul itu. Pokoknya heboh deh. Kira-kira bisa kamu lihat kaca mata yang dipakai oleh gerombolan dr. pm misalkan atau anak-anak Ska lainnya. Nah, itulah yang disebut gaul dan keren alias up to date dalam standar pergaulan remaja sekarang. Bisa jadi kini teman-teman kamu lagi ketagihan pake kaca mata Edgar Davids punya, keren kan? Tapi kalo Edgar Davids dibilang keren bisa ngamuk. Kok bisa? Iya dong, soalnya bukan untuk ngeceng tapi emang doi punya penyakit glaukoma mata. Jadinya, ya main bola pun harus pake kaca mata.</p>
<p>Begitu pun dengan sebutan anak gaul. Gambarannya anak ini enak diajak ngobrol, selalu nyambung dengan objek bahasan dan kesannya nggak norak, ngertiin keinginan kita. Itulah anak gaul. Misalnya, kalau lagi ngomongin soal musik, pasti gape. Siapa sih yang nggak kenal grup musik Metallica yang lagu teranyarnya ada dalam soundtrack film M:i-2 alias Mission Impossible 2? Nah anak gaul pasti tahu.</p>
<p>Atau kelompok vokal mana yang nyanyiin lagu Seperti Kekasihku. Tanpa ragu anak gaul akan menjawab PADI. Gerombolan Duta, Eross, Sakti, Adam, dan Anton dari SoS alias Sheila On 7 sudah akrab di otak anak gaul. Iya, kan? Soal bola juga kagak tulalit. Apalagi kemarin baru usai hajatan akbar Euro 2000, pasti masih pada inget siapa pencetak gol terbanyak. Siapa hayo? Yes, top scorer-nya adalah Patrick Kluivert sama Savo Milosevic. Terus siapa yang mainnya paling yahud, tim mana yang paling kompak, pelatih mana yang sukses membawa timnya jadi jawara sepak bola di daratan Eropa. Semuanya nggak luput dari perhatian anak gaul.</p>
<p>â€?Ngebusaâ€™ soal film? Weleh-weleh, ini juga gape. Film terbaru Tom Cruise hasil kerjasamanya dengan John Woo? Tahu juga, M: i-2 kan? Lalu bisa nyambung juga saat kita ngobrolin film Hide and Seek-nya Daryl Hannah yang adu akting dengan Jennifer Tilly atau Dinosaur-nya Walt Disney. Film The Patriot-nya Mel Gibson dan Gladiator-nya Russell Crowe pun nggak bakalan lolos dari pengamatannya. Pokoknya gaul abis.</p>
<p>Nah, gaul soal musik, bola, gape main PlayStation, ngomongin seputar otomotif dan ngobrolin film biasanya milik anak cowok. Kalau untuk anak cewek, paling-paling rumpian sepu?¬tar baju, sepatu, tas, koleksi boneka dan minyak wangi atau gerombolan orbek yang ganteng-ganteng macam Leonardo DiCaprio, Diego Serrano, Robbie Williams atau Alessan?¬dro Del Piero. Juga bakalan histeris kalo balad-baladnya Monique Powell, T-Bone, Evan Kilbourne dkk yang tergabung dalam Save Ferris manggung. Lagunya Spam lagi.</p>
<p>Brur, ada yang menganggap, rasanya gatel banget kalau belum memiliki sepatu bermerek oke. Kesannya gimana&#8230;.gitu, soalnya doi khawatir nggak disebut gaul. Bisa nggak pede juga bila belum â€?seragamâ€™ sama teman dalam soal baju. Biar corak dan modelnya rada-rada kacau, yang penting up to date. Malah nggak malu-malu untuk tampil apa adanya. Yang penting?  gaul. Bukan apa-apa, menurut teman kamu yang ingin disebut gaul ini, segala model yang lagi ngetren, nggak betah kalo nggak dicoba. Karena menurut mereka fungsi saja tak cukup. Harus dipadu dengan keindahan, model yang up to date, dan yang jelas?  gaul.</p>
<p>Agar bisa nge-gank dengan anak-anak yang doyan ngeceng, so pasti dandanan juga harus disesuaikan, yang cool, yang funky, pokok?¬nya heboh deh. Nah, hati-hati, kalo yang ini gaulnya nggak benar dalam pandangan Islam. Catet, ya! Soalnya, bisa gawat and berabe.</p>
<p><strong>â€œGaulâ€?, Bukan Berarti Bebas Berbuat<br />
</strong>Yap, memang begitu. Kalo kamu tahu soal perkembangan musik, sepakbola, film, mode, dan yang berhubungan dengan gaya hidup saat ini bukan berarti harus menjadi pelakunya dong. Sekadar tahu, memang nggak dilarang, kok. Malah seharusnya dijadikan sarana untuk mengetahui kerusakan dari budaya pop tersebut.</p>
<p>Cuma memang, bagi kamu yang masih polos kayak kaos oblong alias nggak punya ilmu untuk menangkal budaya tersebut, jangan coba-coba untuk mengetahui lebih jauh. Bisa berabe. Jangan-jangan kamu malah latah ikut-ikutan gaul yang nggak benar. Firman Allah SWT: â€œDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pen?¬dengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.â€? (QS: Al Israâ€™: 36).</p>
<p>Lebih dari itu, bisa berbahaya bila kamu sampai meninggalkan kewajiban men?¬dalami Islam, hanya gara-gara ingin disebut anak gaul. Sekali lagi, kalau cuma sekadar tahu, boleh-boleh saja. Tapi kalo sudah menjerumus?¬kan dirimu ke dalam arena â€?gaulâ€™ tersebut dan menjadi pelaku aktifnya, itu terlarang. Soalnya sebagai seorang muslim kita wajib terikat dengan aturan Islam.</p>
<p>Misalnya, tahu tentang perkembangan dandanan alias mode, bukan berarti kemudian kita latah untuk mencobanya. Padahal mode tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti swimsuit alias pakaian renang dan tang-top, bagi kamu yang puteri dilarang memakainya di tempat-tempat umum atau di hadapan yang bukan mahromnya.</p>
<p>Allah SWT. berfirman: â€œKatakanlah kepada wanita beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan meme?¬lihara ke?¬maluannya, dan janganlah mereka menampak?¬kan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah me?¬nampakkan perhiasannya&#8230;â€? (QS. An-Nur 31). Dalam lanjutan ayat tersebut, boleh menampakan â€?perhiasannyaâ€™ kepada mahromnya saja, seperti suami, ayah, adik kandungnya dan seterusnya.</p>
<p>Tapi bila mode itu yang berkembang adalah universal alias nggak berhubungan dengan peradaban tertentu, dan yang pasti mubah dalam pandangan Islam, seperti misalnya, corak atau warna dandanan yang lagi ngetren sekarang apa, kain apa yang lagi jadi favorit. Itu tak masalah kalau misalkan akan dikombinasikan ke jilbab. Jadi, tampil keren nggak ada yang ngelarang. Asal jangan melanggar rambu-rambu yang ditetapkan Islam. Tetap menjaga sopan santun, nggak norak dan tentu saja, wajib menutup aurat.</p>
<p>Artinya, bagi kamu yang ingin tampil â€?ngetrenâ€™ dengan jilbabnya, misal warnanya cerah, modelnya nggak ngebosenin, pokoknya matching banget. Jadi, selain menutup aurat, kita juga bisa bergaya, asal tetap menjaga kesopanan dan etika Islam. Tambahan untuk yang pake jilbab, pastikan bahwa jilbabnya memenuhi standar yang ditetapkan Islam. Harus tebal, longgar, dan kainnya harus menyentuh tanah. Perlu kamu ketahui, yang namanya memakai jilbab bukan cuma keru?¬dungan doang. Karena jilbab adalah (semacam) jubahâ€”baju luar. Kalo make, ya, kerudung plus jilbabnya, dong!</p>
<p>Di ling?¬kungan anak cowok lalu ada acara â€?wajibâ€™ gagah. Rasanya kurang afdhol kalau ter?¬nyata penampilannya bikin orang lain â€?keselekâ€™. Atau postur tubuhnya kurang meyakinkan bagi jamaah cewek. Bodi yang keren, selain wajah cool?  kayak Dâ€™ Artagnan di film The Man in the Iron Mask, sangat didambakan anak cowok.</p>
<p>Latihan angkat barbel atau nimba air di sumur bisa jadi acara â€?wajibâ€™ membesarkan bodi. Soal gaya macho anak cowok ini, bukan tanpa alasan. Perbedaan cara pandang antara anak cowok dengan cewek yang membuat hal itu muncul. Makanya, konon kabarnya standar anak cowok dalam melirik anak cewek, pertama kali yang dilihat adalah wajah dan bodinya alias penampilan luarnya. Baru setelah itu kelakuan?¬nya. Lain dengan anak cewek, ketika mereka harus memilih anak cowok, mereka lebih dulu melihat tanggungjawab, pengertian, perhatian, dan semisalnya.</p>
<p>Dan ngomong soal tampil macho ini, yang katanya bisa bikin pede dalam gaul, ternyata tetap saja terpaku kepada yang namanya mode. Mode-lah yang telah menciptakan tren. Mode-lah yang telah mengubah persepsi anak cowok dalam bergaul. Soalnya, jika anggapan keren dan beken atau anak gaul itu hanya dilihat dari bentuk luarnya saja, belum tentu mewakili. Kenapa? Karena manusia sering tertipu dengan tampilan luar. Sering menyangka emas, padahal tem?¬baga, atau sebaliknya, mengganggap tem?¬baga, ternyata malah emas.</p>
<p>Di jaman Rasulullah, para sahabat juga banyak yang keren, malah dalam beberapa riwayat, Ali bin Abi Thalib termasuk orang yang kuat dan perkasa, terbukti ketika dalam suatu peperangan, beliau menggunakan pedangnya yang terkenal, Zulfikarâ€”yang mempunyai mata pedang bercabang duaâ€”mampu membelah tubuh musuh. Ini luar biasa, dengan ukuran pedang yang gede banget dan tentu saja tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkat dan mengayunkan pedang sebesar itu bukan main hebatnya. Tapi Ali r.a. tetap kalem dan nggak punya cita-cita untuk show of force alias pamer kekuatan di hadapan para sahabat lainnya. Sayidina Ali tetap low profile.</p>
<p>Bagi jamaah cowok, tampil meyakinkan itu harus. Tapi jangan sampai merasa wajib untuk tampil macho supaya bisa disebut anak gaul. Membina tubuh agar tetap fit setiap hari boleh-boleh saja, malah dalam beberapa kasus bisa jadi harus, untuk menun?¬jang dakwah, misalnya. Nggak masalah. Hanya saja kita juga jangan melupakan amanat Rasulullah: â€œBukanlah orang yang kuat itu adalah yang menang dalam bergulat, tetapi adalah orang yang dapat menahan nafsunya tatkala dia marah,â€?</p>
<p>Jadi, macho or modis bukan ukuran kepribadian, Brur. Soalnya, percuma saja kalo performance kamu keren, gaul, macho, modis tapi ternyata kelakuan kamu nggak jauh dari para preman dan orang-orang rendahan lainnya. Yang tentu saja nggak punya kepribadian, apalagi kepribadian Islam. Karena orang yang dikatakan punya kepribadian adalah orang yang punya pola pikir dan pola sikap yang tinggi. Seseorang dikatakan punya kepribadian Islam, berarti dia punya pola pikir dan pola sikap yang Islami. Detilnya, ia selalu berpikir secara Islam ketika menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya. Dan dilengkapi dengan sikap jiwa yang tentu saja selalu disandarkan kepada ajaran Islam. Jadi, percuma saja kamu tampil macho or modis, tapi ternyata kelakuan kamu nggak beda sama Sylvester Stallone, yang punya bodi kekar dan keren, tetapi sekaligus pelaku aktif kumpul kebo.</p>
<p>Nah, sekali lagi, sekadar tahu saja agar bisa ngikutin perkembangan yang ada, nggak masalah. Tapi kalo sudah diaplikasikan dalam kehidupan itu ada aturannya tersendiri. Bila kemudian ternyata bertentangan dengan aturan Islam, maka terlarang bagi kita untuk melakukannya. Tapi bila hal itu bersifat universal, nggak masalah seperti yang telah dijelaskan tadi. Jadi?  gaul bukan berarti bebas berbuat. Gitu, Brur en Ses!</p>
<p><strong>Wajib â€œGaulâ€? dengan Islam</strong><br />
Jadi yang namanya anak gaul itu bukan berarti harus tampil all out dengan meniru tren-tren yang bebas kelewat batas. Lepas dari nilai-nilai Islam. Islam nggak pernah melarang umatnya untuk keren. Keren di sini maksudnya nggak â€?kumuhâ€™. Bahkan Islam menganjur?¬kan umatnya supaya tampil rapih dan meyakin?¬kan. Karena itu bagian dari adab bergaul dengan masyarakat. Dengan kata lain, kita nggak boleh tampil ala kadarnya. Perlu dicatat, ala kadarnya bukan berarti sederhana. Kalo sederhana sih, boleh. Karena Islam memang mengajar?¬kan.</p>
<p>Bila kamu gape bicara soal musik, film, bola, jangan sampe itu membuat kamu terobsesi untuk bisa tampil seperti para pelakunya. Malah kamu jangan cuma gaul dalam urusan-urusan tadi saja, tapi wajib â€œgaulâ€? juga soal hukum dan pemikiran Islam?  secara lebih luas. Caranya? Ya, ngaji dong, Non!</p>
<p>Tentu, harus dipahami bahwa dalam kondisi masyarakat yang amburadul seperti sekarang ini, kita harus selektif. Buat apa tampil â€œgaulâ€? kalo harus mengorbankan akidah, iya nggak? Mendingan perdalam Islam supaya bisa selamat dunia dan akhirat. Meski tentu saja Islam tak pernah â€?alergiâ€™ dengan yang namanya perkembangan jaman, tapi dengan catatan, hal itu sesuai dengan ajaran Islam. Jadi begitu, cing!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 024/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/boleh-%e2%80%9cgaul%e2%80%9d-asal%e2%80%a6/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untung-Rugi Jadi Model</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/untung-rugi-jadi-model</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/untung-rugi-jadi-model#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/untung-rugi-jadi-model/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ditanyakan bahwa jadi model itu enak, kayaknya jangan cepet-cepet menyimpulkan, soalnya itu belum tentu. Yang jelas, jadi model adalah pekerjaan yang tak banyak â€?memerlukanâ€™ kerja otak. Tapi uang bisa menggelontor saban hari dan tentu jumlahnya dalam hitungan juta atau lebih. Bagaimana tidak, Claudia Schieffer, Naomi Campbell, Cindy Crawford, Elle Macperson adalah jajaran top model [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau ditanyakan bahwa jadi model itu enak, kayaknya jangan cepet-cepet menyimpulkan, soalnya itu belum tentu. Yang jelas, jadi model adalah pekerjaan yang tak banyak â€?memerlukanâ€™ kerja otak. Tapi uang bisa menggelontor saban hari dan tentu jumlahnya dalam hitungan juta atau lebih. Bagaimana tidak, Claudia Schieffer, Naomi Campbell, Cindy Crawford, Elle Macperson adalah jajaran top model dunia dengan peng?¬hasilan ratusan juta. Belum lagi popularitas terangkat total, hanya dengan tampang wajah yang ciamik dan bodi yang aduhai. <span id="more-25"></span>Kalau lagi mujur, bisa-bisa ketiban rejeki nomplok jadi penyanyi atau artis dadakan. Paling tidak itu dibuktikan oleh Cornelia Agatha, mantan model yang makin pulen dengan profesi barunya sebagai pemeran Sarah di sinetron SDASâ€”malah sekarang masuk SDAS 5 lagi. Atau Teh Dessy Ratnasari yang baru saja â€?mem-PHKâ€™ suaminya, sebelum jadi artis sinetron dan penyanyi, doi adalah juara gadis sampul Femina.</p>
<p>Gemerlap dunia model yang menjanjikan, ternyata mampu menyihir dan menggelapkan pandangan mata remaja, yang memang lagi nyari jati diri. Tentu saja, segala celah yang bisa menghubungkannya dengan dunia model akan selalu dicari dan ditempuh (termasuk ikutan pemilihan gadis sampul, pemilihan Mojang-Jajaka Jawa Barat, kontes Abang-None Jakarta, â€?bertarungâ€™ menjadi Putri Indonesia, sampai nekad ikutan kontes Miss Universe). Namun, benarkah remaja sekarangâ€”khususnya remaja putriâ€”gandrung dengan dunia model? Sehingga mereka merasa perlu meniru penam?¬pilan Cindy Crawford, Claudia Schieffer, lssa?¬bella Rosselini dan model-model lainnya?</p>
<p><strong>Sifat Remaja</strong><br />
Siapa yang nggak kenal dengan model iklan dan bintang sinetron Syahrul Gunawan? Cowok bertampang oke pemeran Jun dalam sinetron Jin dan Jun ini, kerap digandrungi cewek-cewek. Ada yang betul-betul kagum, seneng, atau cuma iseng, dan tak sedikit yang ingin numpang beken. Wah, kece, ngetop, tajir lagi. Hingga tak jarang profesi beliau itu membuat sebagian remaja ingin menempuhnya juga.</p>
<p>And then, siapa yang nggak apal sama yang namanya Dessy Ratnasari, model iklan yang juga penyanyi dan pemain sinetron itu. Tahu nggak tentang Teh Dessy ini? Menurut survei tahun 1998 oleh salah satu tabloid ibukota, doi adalah model dan artis wanita paling kaya di Indonesia. Percaya atau tidak, nggak masalah. Yang jelas, dia telah menunjuk?¬kan kelasnya sebagai seorang model iklan, penyanyi dan bintang sinetron sukses. Ada yang menapak-tilasi langkah mojang Sukabumi ini? Banyak, Non!</p>
<p>Kenapa remaja bisa begitu latah? Menurut penelitian Dr. Seymour Fisher, psiko?¬log di salah satu universitas di Amrik sono, remaja ternyata paling sering mengalami krisis kepercayaan diri. Self Confidence-nya goyah bila mendapati dirinya berbedaâ€”meski masalah kecilâ€”dengan teman-teman sebayanya, dan akhirnya mengantarkannya menjadi remaja minder. Buktinya, ada adegan iklan obat anti jerawat yang menggambarkan betapa minder?¬nya si remaja yang wajahnya ditumbuhi benjolan-benjolan kecil tersebut. Padahal itu baru benjolan kecil, gimana kalau ditumbuhi tahi lalat di sekujur tubuhnya, ya? (hua..ha..ha..)</p>
<p>Nah, berawal dan rasa kurang percaya diri itu lalu remaja sering mengeksploitasi segala kemampuan yang dimilikinya untuk bisa tampil pede. Mata dihias biar tampil lebih oke, sampai senam untuk membentuk tubuh yang aduhai dilakoninya, atau nekad melakukan yang lebih gawat dari itu. Percaya nggak kalau dikatakan bahwa salah seorang model iklan terkenal di negeri ini pernah menempuh cara yang sangat tabu demi obsesinya jadi model. Tapi, jangan heran, kalo di negerinya Si Rambo, hal itu sudah biasa. Kalau ada peribahasa, tak ada gading yang tak retak, hampir bisa dipastikan, di barat tak ada selebritiâ€”termasuk modelâ€”-yang tak menempuh jalur serong.</p>
<p>Untuk bisa tampil pede. seorang remaja putri yang punya tampang bak Kate Winslet atau Winona Ryder, ditambah dengan doku yang full tank, plus lingkungan keluarga yang miskin nilai agama, tak mustahil akan menem?¬puh dunia glamour ini. Entah jadi peragawati, model iklan, foto model, atau bintang film. Kerja santai, cuma memanfaatkan salah satu atau lebih â€?asset nasionalnyaâ€™. Dalam waktu dekat, popularitas membumbung tinggi dan duit menggelontor lancar. Enak kan? Makanya salah seorang model kondang dunia, Issabella Rosselini pernah bilang, â€œJadi model itu adalah pekerjaan tanpa otak!â€? Tapi anehnya, kenapa tetap dilakukan. Enak? Bisa jadi.</p>
<p>Jangan aneh pula, urusan pamer alias ingin memperlihatkan apa yang dimilikinya memang sangat identik dengan wanita. Persis burung merak yang suka pamer bulu-bulu indahnya. Setidaknya seorang psikolog, C.G. Jung namanya, mengatakan bahwa wanita adalah manusia yang lebih dominan dalam aspek rasa dan intuisinya, makanya wanita akan mudah tersanjung bila dipuja, baik oleh kaumnya sendiri, terlebih kaum lelaki. Upss&#8230;, gitu, tokh?</p>
<p>Dan sifat remaja yang senantiasa meniru apa yang dianggapnya nyentrik dan baru, telah membuka kesempatan para pengusaha berotak kapitalis untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para remaja untuk masuk ke dalam dunia glamour yang penuh sensasi. Segala macam kebutuhan dan peluang ke arah sana senantiasa dibuka lebar dan dipermudah. Walhasil, remaja sekarang menjadi ahli mejeng dibanding ahli belajar atau pegiat dakwah. Menye?¬dihkan memang.</p>
<p><strong>Bukan Cita Rasa Islam</strong><br />
Hidup itu perlu standar saudara-saudara. Perlu ciri khas sehingga mudah dikenali. Nggak percaya, contohnya terasi. Tahu kan terasi? Anak cewek yang biasa â€œnyambel terasiâ€? pasti apal dong. Terasi saja punya ciri khas dan cita rasa tersendiri, sehingga orang mudah mengenalnya. Siapa yang nggak kenal warna dan rasa terasi?</p>
<p>Warnanya merah kehitaman, dan rasa?¬nya, aduh, bisa membuat lidah kita â€?bergetarâ€™ disertai â€?sodokanâ€™ maut mengenai ulu hati kita hingga membuat mual. Karena begitu, orang jadi mudah mengenal. Jadi, ini soal cita rasa.</p>
<p>Siapa yang nggak kenal Zinedine Zidane gelandang elegan milik â€œThe Old Ladyâ€? Juven?¬tus? Zidane terkenal dengan gocekan mautnya. Kayaknya tuh bola kalo udah di kakinya seperti ogah lepas, nempel terus. Itu ciri khas. Jadi, orang akan mudah mengenal sesuatu atau seseorang dan ciri khasnya. Makanya, kalau pecandu soccer disodorkan kepadanya dua blntang lapangan hijau, dan disuruh menunjuk?¬kan yang mana Filipo Inzaghi dan yang mana Patrick Kluivert, ia akan tahu. Nggak mungkin ketuker karena dia akan tahu ciri khas masing-masing, meski keduanya menempati posisi striker di klubnya masing-masing.</p>
<p>Begitu pun pada tingkah laku dalam kehidupan. Kita akan bisa menentukan dan bisa membedakan siapa pencopet dan siapa ustadz. So, kita nggak bakalan terima kalau ustadz dikatakan copet atau sebaliknya.</p>
<p>Apalagi menyangkut masalah perbuatan, ada kaidah fiqih, â€œal aslu fil afâ€™al, at taqayudu bi ahkami syarâ€™iâ€? (hukum) asal suatu perbuatan. adalah terikat dengan hukum syaraâ€™. Jadi, standar perbuatan itu adalah hukum syaraâ€™ (Al Qurâ€™an, hadits, ijmaâ€™ dan qiyas). Pendek kata, bila kita akan melakukan suatu perbuatan, kita harus tahu dulu apakah haram atau halal menurut aturan Islam. Dengan demikian, akan sangat celaka, bila standar perbuatan itu diserahkan kepada akal atau hati manusia. Bisa berabe. Bakal tambah runyam, karena pikiran dan pendapat manusia yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda, makanya tak salah-salah amat ada peribahasa, â€œrambut boleh sama hitam, tapi isi kepala bisa berbedaâ€?. Pengen bukti? Begini misalnya, tentang mengkonsumsi minuman keras, yang di Al Qurâ€™an sudah ada dalil keharamannya, tapi kalau itu diserahkan kepada manusia dalam penilaian?¬nya, bisa berbeda hukumnya. Bisa jadi ada yang nekat mengatakan boleh saja kalau sekadar untuk menghangatkan badan, atau boleh saja kalau cuma satu seloki (waduh, berabe juga nih!). Malah ada juga yang melarang, karena pertimbangan kesehatan. Wah, pokoknya seabrek pendapatâ€”beda-beda lagi. Dengan demikian standar yang pasti harus ada.</p>
<p>Kembali ke masalah jadi model atau jadi selebriti lain (model iklan, penyanyi, artis sinetron atau film dan sebagainya), kalau dinilai dengan patokan hati, repot. Bisa jadi malah menyalah-gunakan hadits â€œinnamal â€?amalu binniatiâ€? (sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung kepada niatnya). Contohnya, pernah ada artis kondang negeri ini ketika diwawan?¬carai oleh seorang kyai yang kebetulan jadi presenter di salah satu acara Paket Ramadhan yang disiarkan salah satu televisi swasta. Si artis mengatakan bahwa dirinya jadi artis tergantung niatnya. Kalau niatnya baik, apa mau dikata? Yang bikin perih dan gondok, si kyai itu tak berkomentar sedikitpun terhadap penyalah-gunaan hadits tersebut. Bahaya kan?</p>
<p>Soal profesi model, itu juga ada aturannya. Kita tahu bahwa jadi model iklan, peragawati atau bintang sinetron dan film, pasti sangat kental berhubungan dengan yang namanya â€?buka-bukaanâ€™. Dan jangan salah, buka-bukaan bukan berarti selalu tampil vulgar dengan mengenakan busana swimsuit, tang top atau sejenisnya, atau malah tanpa sehelai benang pun. Tidak selalu. Untuk perempuan, rambutnya saja adalah aurat, karena yang bukan aurat bagi perempuan hanya daerah wajah dan telapak tangan saja, selain itu wajib ditutup, dan terlarang untuk dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Kalau nekat membukanya, itu juga sudah masuk kategori porno, dan jelas berdosa.</p>
<p>Allah SWT. berfirman: â€œHai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan kepada perempuan-perem?¬puan mukmin: â€œHendaklah mereka meng?¬ulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demi?¬kian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah-lah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.â€? (QS. Al Ahzab: 59).</p>
<p>Dalam tafsir Ibnu Katsir ada sedikit penjelasan, bahwa mengulurkan jilbab (kerudung plus jubah yang panjang, longgar dan tebal) ke seluruh tubuh mereka, agar dengan berpakaian yang demikian dikenal-lah mereka sebagai perempuan-perempuan yang merdeka (bukan hamba sahaya dan bukan pelacur) dan juga agar bisa dibedakan dari perempuan?¬-perempuan jahiliyah, serta terhindar dari gangguan orang-orang yang berkeliaran di waktu malam mencari mangsanya di antara perempuan-perempuan yang hamba sahaya dan pelacur (Tarjamah tafsir Ibnu Katsir, jilid VI, hlm. 331).</p>
<p>Kita sudah mafhum (paham), bagaimana cara berpakaian para top model dunia memamerkan hasil rancangan Calvin Klein, DKNY, Yves atau Versace. Berjalan di atas catwalk dengan langkah yang dibuat seapik mungkin, berlenggak-lenggok memicu adrenalin ke ubun-ubun bagi lelaki yang melihatnya. Atau model iklan sebuah produk kosmetika juga harus rela (minimal) pamer punggung kayak Bella Saphira dalam â€?mendagangkanâ€™ sabun Lux dan sekaligus barangkali â€?menjualâ€™ kulit mulus punggungnya. Mau yang lebih nakal? Ya, yang banyak nampang di kalender â€?murahanâ€™ itu.</p>
<p>Memang, soal pamer tubuh itu bukan barang baru bagi â€?jamaahâ€™ model. Adalah hal biasa. Malah pernyataan nyeleneh Mbak Krisdayanti tentang pamer tubuh ini, dia berargumen. â€œMemberi pemandangan yang indah pada orang lain, itu ibadah. Bila kemudian diartikan macam-macam atau menimbulkan angan bagi yang melihat, jangan salahkan aku,â€? ujarnya asal-asalan seperti yang dikutip majalah Popular No. 114, Juli 97.</p>
<p>Nah, jangan sampe pikiran bervirus ini mendekam juga dalam benak remaja macam kamu. Soal larangan tabarujj alias tampil all out atau berlebihan. Yakni dengan memamerkan kecantikan dan perhiasan (aurat) di hadapan laki-laki yang bukan mahrom. Firman Allah: â€œâ€¦dan janganlah kamu berdandan seperti dandanan perempuan jahiliyah yang dahuluâ€¦â€? (QS: Al Ahzab: 33)? <br />
? <br />
Nah, pendek kata, jangan sampai nekat terjun bebas jadi model. Islam punya ciri khas dalam mengatur perbuatan manusia. Bila faktanya begitu, dunia model ternyata berten?¬tangan dengan gaya hidup dalam aturan Islam, dong. Kalau begitu, buat apa kita mengejar dunia yang penuh gemerlap, tapi ternyata membuat kita â€?sengsaraâ€™. Perlu berpikir beribu kali bila kita hendak memilih jalur ini. Tapi yang jelas, pilihannya hanya dua, benar dan salah.</p>
<p>Pupuskanlah harapan untuk menapak-tilasi Claudia Schieffer, Naomi Campbell, Okky Asokawati dan kawan?¬-kawannya, karena secara perhitungan untung-rugi ukuran dunia saja, mereka termasuk â€?tersiksaâ€™. Hidup bagai dalam sangkar emas. Bergelimang harta tapi nggak bebas, selalu diuber rasa cemas yang amat sangat. Dan yang pasti, kebahagiaan mereka adalah semu. Bagaimana tidak, mereka meman?¬dang bahwa kebahagiaan itu adalah terpenuhi?¬nya segala kebutuhan materi dan serba jasadi, sementara seorang muslim, makna kebahagia?¬annya adalah tercapainya ridho Allah SWT. Percuma saja banyak harta dan popularitas terangkat total, tapi Allah Taâ€™ala nggak ridho dengan kelakuan kita yang menyebalkan dan bertolak belakang dengan aturan-Nya.</p>
<p>Jadi benar, yang didapat mereka adalah semu, ibarat orang yang berada di siang hari di tengah padang pasir dengan rasa haus yang seakan menggorok leher, begitu melihat riak air dari kejauhan, ia segera memburunya. Tapi, ketika didekati, mendadak semuanya lenyap. Ya, hanya fatamorgana!</p>
<p>Pahamkan? Nah, kalo gitu buat apa jadi model? Rugi, kan? Kalaupun untung, tapi semuanya hanya fatamorgana, tul, nggak?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 023/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/untung-rugi-jadi-model/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gay &amp; Lesbian? No Way!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gay-lesbian-no-way</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gay-lesbian-no-way#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/gay-lesbian-no-way/</guid>
		<description><![CDATA[Apa pula ini? Sori, kawan, kita pake bahasa yang rada keren. Bukan sok modern, tapi biar telinga kamu juga lebih akrab dengan istilah yang bakal kita kupas habis ini. Kejadian ini adalah satu dari sekian banyak masalah yang berkembang di remaja. Budaya kaum Nabi Luth ini sekarang lagi dapat angin untuk berkembang menjadi sebuah trend. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa pula ini? Sori, kawan, kita pake bahasa yang rada keren. Bukan sok modern, tapi biar telinga kamu juga lebih akrab dengan istilah yang bakal kita kupas habis ini. Kejadian ini adalah satu dari sekian banyak masalah yang berkembang di remaja. Budaya kaum Nabi Luth ini sekarang lagi dapat angin untuk berkembang menjadi sebuah trend. Memang, di negerinya Ibu Pertiwi ini nggak terlalu ngepop, meski diakui beberapa kader gay dan lesbi mulai banyak tingkah. Kamu perlu tahu, budaya ini adalah budaya sesat, dan jelas bertentangan dengan ajaran Islam.<span id="more-24"></span></p>
<p>Adalah film Boys Don&#8217;t Cry garapan sutradara Kimberly Pierce yang mencoba memberikan gambaran bagaimana sebuah petualangan seorang gadis yang mengalami transeksual. Celakanya, film yang dibintangi oleh Hilary Swank yang berperan sebagai Brandon Teenaâ€”seorang remaja flamboyan yang terperangkap krisis kepribadianâ€”malah memberikan justifikasi terhadap para pengidap penyakit itu. Film drama psikologi produk Fox Searchlight Pictures ini sengaja mengeskpos kehidupan pengidap transeksual ini seolah-olah mereka pun berhak untuk hidup dan menikmati kehidupannya sebagaimana manusia yang lain. Parahnya, digambarkan pula bagaimana sikap masyarakat tempat tinggal Brandon Teena yang biasa mengucilkan dan tidak memberikan hak hidup bagi kaum pengidap penyakit itu. Dan menurut pembuatnya masyarakat seperti itu adalah masyarakat yang kejam.</p>
<p>Yang lebih &#8216;gila&#8217; adalah dalam film Total Eclipse yang dibintangi Leonardo DiCaprio, yang konon kabarnya hanya ada dalam kepingan VCD. Dalam film ini jelas sekali digambarkan tentang lika-liku hidup kaum homo. Tentu saja dengan tujuan &#8216;mulia&#8217;nya untuk melegalkan budaya kaum yang dilaknat oleh Allah itu. Bahkan dalam beberapa adegan film tersebut sengaja menampilkan bagaimana &#8216;prosesi&#8217; kaum homo melampiaskan hajatnya. Edan!</p>
<p>Ternyata sekarang kaum homo dan orang yang mendukung budaya bejat itu mulai banyak tingkah. Beberapa waktu lalu, di Amerika Serikat diharu-birukan dengan demo kaum Gay dan Lesbian menuntut pengakuan atas aktivitas yang mereka lakukan selama ini. Gelombang demo kaum homo dan lesbi di AS itu bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah sering, bahkan sudah sejak lama, termasuk dulu mereka pernah menuntut untuk dibuatkan gereja khusus untuk kaum homo. Parah, Bo..!</p>
<p>Kasus pengidap pedofilia alias senang bermain seks dengan anak-anak pun mulai marak di negeri ini. Di Depok bulan Juli lalu dihebohkan dengan kasus &#8216;pemboolan&#8217; terhadap 12 bocah lelaki yang masih duduk di bangku SD. Karuan saja, ini semakin menunjukan bukti bahwa kaum homo masih berkeliaran dan mengancam kehidupan.</p>
<p>Sodomi, begitu istilah ini biasa dialamatkan bagi kaum homo yang melakukan aktivitas seksnya. Kasus ini memang bukan barang baru, sejak?  jaman Nabi Luth kasus ini sudah ada, dan telah memicu murka Allah SWT untuk membumi-hanguskan penduduk Sodom, sebuah daerah di Yordania yang merupakan kaum Nabi Luth.</p>
<p>Bak virus yang menyebar dengan cepat, &#8216;budaya&#8217; itu kembali muncul di jaman yang sudah serba digital ini. Tak tanggung-tanggung, para selebriti Hollywood malah sudah pernah mempraktekkannya. Sebut saja Michael Jackson, George Michael, Elthon John, Mickey Rourke, Bob Geldof, Nono Extreme, Prince, David Bowie dan Kenny G (yang konon sempat &#8216;bergulat&#8217; dengan Michael Bolton).</p>
<p><strong>Homo &amp; Lesbian; Melanggar Fitrah!</strong><br />
Allah SWT telah menciptakan manusia itu dari dua jenis, yakni laki-laki dan wanita. Nggak ada jenis ketiga. Kamu juga perlu tahu bahwa dalam proses penciptaan itu manusia dilengkapi juga dengan potensi-potensi kehidupan. yang salah satunya adalah nafsu birahi. Yang lelaki senang kepada perempuan, begitupun sebaliknya. Jadi, kalau ada orang yang sama sekali nggak punya nafsu birahi, berarti masih diragukan keasliannya sebagai manusia (hi..hi..hi..).</p>
<p>Nah, potensi yang dimiliki oleh manusia itu sifatnya mutlak alias nggak bisa diubah lagi, karena itu adalah sunatullah. Ustadz Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamiy menyatakan bahwa dorongan seksual pada seseorang merupakan tanggapan dari faktor eksternal bila indera menangkap rangsangan berupa gambar, cerita porno dan penampilan yang menyentuh sayaraf seks. Makanya, bila nggak disalurkan bisa mengakibatkan kegelisahan jiwa. Jadi berdasarkan sunatullah ini, otomatis manusia yang berlainan jenis kemudian hidup sebagai makhluk heteroseksual, yakni saling tertarik sama lawan jenis, sehingga bila ada orang yang cuma bisa nempel dengan sesama jenis, jelas ini adalah kelainan yang sangat berbahaya. Bila dibiarkan hidup dan berkembang, alamat murka Allah tak mustahil terjadi seperti apa yang pernah dialami kaum Nabi Luth. Naudzu billahi min dzalik!</p>
<p>Dengan demikian, gay dan lesbian ini melanggar fitrah manusia. Gimana nggak, masak cowok senang sama cowok? Atau cewek senang sama cewek? Tak usah la yauw.</p>
<p>Celakanya, dalam kehidupan yang diatur dengan sistem kapitalisme ini populasi kaum homo dan lesbian malah tumbuh subur. Jangan kaget, di negeri yang konon katanya menjunjung tinggi budaya timur ini malah kebobolan juga. Di sini malah sudah terbit majalah khusus kaum homo, namanya GAN alias Gaya Nusantara. Lucunya, sebagai &#8216;koordinator&#8217; sekaligus &#8216;maskot&#8217; kaum homo (gay) di negerinya Si Komo ini adalah Dede Utomoâ€”doktor linguistik jebolan Cornell University yang kini menjadi dosen pascasarjana di Unair, Surabaya. Malah beliau ini termasuk anggota International Gay and Lesbian Human Right Commission pada ILGA (International Lesbian and Gay Association) (Permata, No. 12/IV/Desember 1996).</p>
<p><strong>Bisa Menular</strong><br />
Ih, ngeri amat! Kok bisa, sih? Bisa dong, namanya juga &#8216;penyakit&#8217; berbahaya. Seperti halnya kebaikan yang bisa menyebar, maka kemaksiatan pun bisa menular. Bahkan pada faktanya saat ini justru kemaksiatan yang cepat berkembang ketimbang kebaikan.</p>
<p>Orang yang bergaul secara abnormal ini akan mengulanginya terus dan terus. Gawat deh kalo udah &#8216;nyandu&#8217; begitu. Nggak peduli lagi, apakah itu membahayakan atau tidak, yang penting hepi. Kamu percaya nggak, bahwa sebagian besar orang yang homo atau lesbian karena dulunya pernah digauli oleh orang yang homo atau lesbian pula? Harus percaya!</p>
<p>Soalnya, ada bukti yang boleh dibilang sangat mewakili untuk dijadikan alasan. Sebut saja Andi (bukan nama sebenarnya) yang mengungkapkan masa lalunya kepada majalah Jakarta-Jakarta, edisi Agustus 1996. Kepada majalah tersebut Andi menuturkan bahwa suatu ketika ia pernah diajak kencan oleh seorang sopir yang bekerja pada teman bapaknya. Perkenalan itu dimulai ketika Andi main ke tempat teman bapaknya itu. Disitulah sang sopir yang berbadan kekar dan terkesan jantan alias macho memperkenalkan &#8216;sentuhan&#8217; awal dari teknik-teknik bersodomi. Celakanya, setelah kejadian itu Andi malah jadi nyandu bahkan doyan melakukan cara gaul yang abnormal itu. Naudzu billahi min dzalik!</p>
<p>Bukti lain bahwa &#8216;penyakit&#8217; ini bisa menular adalah pada jaman Nabi Luth. Orang-orang yang melakukan kemaksiatan itu awalnya bsia dihitung dengan jari, tapi kemudian secepat kilat membengkak menjadi satu kampung, jelas ini memang menular. Maka perlu ada tindakan khusus supaya tidak menjalar kemana-mana. Gawat!</p>
<p>Kamu mungkin heran bahwa ternyata orang-orang homo itu justru sebagian besar berpenampilan macho. Mantan chopet? Bukan dong sayang. Ya, jantanlah! Hal ini dikuatkan pula oleh dokter Boyke Dian Nugraha yang memang pakar dibidang seks ini. Menurutnya, 85 persen kaum homo itu berbadan kekar dan memang penampilannya macho. Tidak kemayu atau gagah gemulai. Cuma sayang, &#8216;pejantan&#8217; ini beraninya cuma lewat &#8216;belakang&#8217;!</p>
<p>Hati-hati, jangan sampai kamu ketularan dengan penyakit dan budaya bejat seperti ini. Seperti kata pepatah, kalau takut dilebur ombak, jangan berumah di tepi pantai. Kalau takut kesenggol dan nyemplung menjalani kehidupan seks yang nggak normal seperti itu, maka kamu nggak boleh dekat-dekat dengan para penyebar budaya kaum Sodom itu. Bahaya!</p>
<p>Tapi sayang seribu sayang, masyarakat sekarang begitu cuek. Bahkan nggak mau ambil pusing dengan persoalan yang sebetulnya sangat serius ini. Alih-alih berusaha membereskan masalah ini, malah secara tidak langsung membiarkan praktek maksiat itu tetap ada, dengan sikapnya yang tak peduli itu. Lebih parah lagi, saat ini kaum gay dan lesbi ini mulai banyak tingkah minta aktivitas dan keberadaan mereka itu diakui di masyarakat. Sekali lagi, bila ini dibiarkan, maka alamat kehancuran sebuah bangsa pun tak mustahil terjadi. Lalu bagaimana menyelesaikan kasus ini?</p>
<p><strong>Tiada Maaf Bagi Mereka!</strong><br />
Tentu saja pernyataan sedikit &#8216;kejam&#8217; ini bila kaum homo (gay) dan lesbi ini nggak segera bertobat atas perbuatannya yang tidak saja melanggar fitrahnya sebagai manusia, tapi sekaligus &#8216;menantang&#8217; Allah SWT. Ini harus segera diselesaikan dengan cepat dan tepat.</p>
<p>Sebagai seorang muslim, tentu saja segala tolok ukur perbuatan kita harus senantiasa berlandaskan ajaran Islam. Kita nggak boleh asal berbuat tanpa ada dasar yang jelas dan pasti. Itu bisa membahayakan diri kita dan juga orang lain.</p>
<p>Melihat faktanya, ternyata orang yang menjadi gay atau menjadi lesbi, bukan diakibatkan oleh faktor genetis alias keturunan. Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar FKUI berkomentar, &#8220;Sampai sekarang belum ada yang menyatakan karena faktor genetis, yang sudah jelas adalah faktor lingkungan.&#8221; (Permata, No. 12/IV/Desember 1996).</p>
<p>Sehingga, prosedur yang dipakai adalah bagaimana mengubah lingkungan yang telah meracuninya dengan lingkungan yang baru. Terbukti sekarang, bahwa populasi kaum homo dan lesbian di negeri ini semakin meningkat, adalah karena sistem kehidupan yang dipakai untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara malah memberikan kebebasan untuk berbuat seperti itu. Disinilah letak rusaknya sistem kapitalisme yang memang berakidah sekuler ini. Lingkungan dalam sistem kehidupan seperti inilah yang turut membidani lahirnya budaya kaum homo dan lesbi sekaligus melestarikannya.</p>
<p>Seharusnya, setiap kejahatan, apapun bentuknya, harus ada sanksinya. Bila tidak? Siap-siaplah untuk tumbuh subur dalam kehidupan kita. Makanya, kalau tradisi kaum homo dan lesbian yang merusak kehidupan ini dibiarkan, maka selamanya mereka akan tumbuh dan &#8216;berkembang biak&#8217; dengan baik.</p>
<p>Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengatur pelaksanaan kewajiban yang telah diikuti juga dengan sanksi atas tidak terlaksananya suatu kewajiban tersebut. Pendek kata, ada aturan yang mengikat, plus diberikan juga hukuman bagi yang melanggar. Ancaman hukumannya bukan hanya ditakut-takuti dengan azab di akhirat saja, Tapi memang ada bentuk hukuman yang diberlakukan oleh negara, dalam hal ini adalah Khilafah Islamiyah (pemerintahan Islam). Jadi tidak normatif belaka.</p>
<p>Apa bentuk hukuman yang bakal dikenakan kepada kaum homo dan lesbian ini? Terdapat beberapa pendapat ahli fiqih tentang sanksi (ganjaran) yang harus diberikan kepada pelaku homoseksual ini. Salah satu di antaranya dikemukakan oleh Zainuddin bin Abdul &#8216;Aziz Al Malibaary, yang mengatakan: Maka ada sekelompok fuqaha (ahli fiqih) yang menetapkan bahwa pelakunya wajib dihukum sebagaimana menjatuhkan hukuman perzinaan. Kalau pelakunya adalah orang yang pernah married, maka wajib dirajam. (Tahu kan dirajam? Itu, lho, bentuk siksaan yang pelaku kemaksiatan itu ditanam sebatas leher lalu dilempari dengan batu sampai mati). Kalau pelakunya masih lajang? Wajib didera alias dicambuk sebanyak seratus kali.</p>
<p>Dan pendapat ini pula yang menetapkan bahwa terhadap laki-laki yang digauli oleh homoseksual, diberikan sanksi dera 100 kali atau diasingkan selama setahun; baik laki-laki maupun perempuan, yang pernah kawin maupun yang belum pernah. Ada juga segolongan fuqaha yang berpendapat bahwa pelaku homoseksual itu harus dirajam, meskipun ia belum pernah kawin. Ini termasuk pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal, Pendapat lain, yakni Imam Syafi&#8217;i menetapkan pelaku dan orang-orang yang &#8216;dikumpuli&#8217; (oleh homoseksual dan lesbian) wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadits, &#8220;Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktek homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.&#8221; (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi). (Zainuddin bin Abdul &#8216;Aziz Al Malibaary, Irsyaadu Al &#8216;ibaadi ilaa Sabili Al Risyaad. Al Ma&#8217;aarif, Bandung, hlm. 110).</p>
<p>Adapun uslub (teknis) yang digunakan dalam eksekusinya tidak ditentukan oleh syara&#8217;. Para sahabat pun berbeda pendapat tentang masalah ini. Ali r.a. memilih merajam dan membakar pelaku homoseks, sedang Umar dan Usman r.a. berpendapat pelaku dibenturkan ke dinding sampai mati, dan menurut Ibnu Abbas dilempar dari gedung yang paling tinggi dalam keadaan terjungkir lalu diikuti (dihujani) dengan batu. Boleh jadi menurut ukuran hawa nafsu kita hal itu mengerikan. Tapi, tentu saja sebagai seorang muslim yang beriman, kita wajib mentaati segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Jadi hukuman yang bakal diterima para pelaku homoseksual dan lesbian adalah vonis mati. Terserah caranya, mau digantung atau dipenggal batang lehernya, boleh-boleh saja. Yang penting mati! Begitulah Islam sebagai sebuah ideologi mengatur kehidupan masyarakatnya. Tidak seperti sekarang, dalam sistem kapitalis yang malah membiarkan kemaksiatan tetap tumbuh subur!</p>
<p>Jadi, jangan anggap enteng!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 022/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gay-lesbian-no-way/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>77</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran Islamiâ€¦</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pacaran-islami%e2%80%a6</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pacaran-islami%e2%80%a6#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/pacaran-islami%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Edisi 021/Tahun I Bagi remaja, bila istilah itu disebut-sebut bisa membuat jantung berdetak lebih kencang. Siapa sih yang nggak semangat bila bercerita seputar aktivitas pacaran ini? Semua orang yang normal pasti seneng. Apalagi yang digambarkan dalam cerita film dan novel, baik yang happy ending maupun unhappy ending kisah-kasih itu. Tetap mengasyikan. Pokoknya aktivitas baku syahwat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Edisi 021/Tahun I</p>
<p>Bagi remaja, bila istilah itu disebut-sebut bisa membuat jantung berdetak lebih kencang. Siapa sih yang nggak semangat bila bercerita seputar aktivitas pacaran ini? Semua orang yang normal pasti seneng. Apalagi yang digambarkan dalam cerita film dan novel, baik yang happy ending maupun unhappy ending kisah-kasih itu. Tetap mengasyikan. Pokoknya aktivitas baku syahwat yang memang bukan barang baru di kalangan remaja itu terus diekspos dan dibuat seolah-olah legal.<span id="more-23"></span></p>
<p>Punya tampang sekeren personelnya &#8220;Westlife&#8221;? Dijamin bakal dikejar-kejar kaum Hawa. Baik yang mengejar ingin dikencani maupun yang ingin nagih utang (hua..ha..ha..). Coba aja bayangin, wanita mana sih yang nggak deg-degan kalo lihat tampangnya si Mark atawa Kian? Wuih, histeris, Brur! Maklum cowok ABG yang tergabung dalam kelompok Westlife ini cool banget. Jadi nggak heran kalo anak cewek merasa nyaman dapat gacoan model begitu.</p>
<p>Bicara soal rasa cinta memang diakui mampu membangkitkan semangat hidup. Suer, nggak bohong! Termasuk anak masjid, yang katanya &#8216;dicurigai&#8217; tak kenal cinta. Sama saja, anak masjid juga manusia, yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Pasti dong, mereka juga butuh cinta dan dicintai. Soalnya, perasaan seperti itu wajar dan alami. Malah aneh bila ada orang yang nggak kenal cinta, jangan-jangan bukan orang. Nah, biasanya bagi remaja yang sedang kasmaran, mereka mewujudkan cinta dan kasih sayangnya lewat aktivitas pacaran. Kayak gimana sih? Deuuh, pura-pura nggak tahu. Itu tuh, cowok dan cewek yang saling tertarik, lalu mengikat janji dan akhirnya ada yang sampai hidup bersama layaknya suami-isteri. Padahal dalam Islam ada aturan mainnya. Nggak sembarangan sesuka udelnya.</p>
<p>Tapi celakanya, pacaran telah begitu mendarah daging dalam kehidupan masyarakat sekarang. Dan ternyata yang paling banyak mempraktekkan &#8216;amalan&#8217; tersebut adalah remaja macam kamu. Dari mulai yang backstreet, karena takut ketahuan sama ortu, sampai yang berani tanpa tedeng aling-aling. Mulai cuma jalan berdua sambil pegangan tangan, sampai ada yang berani ke level berikutnya dan berikutnya. Berbahaya bukan?</p>
<p>Omong-omong soal pacaran, ternyata sekarang ada gosip baru tentang pacaran Islami. Ini kabar bener atau cuma upaya melegalkan aktivitas baku syhawat itu? Malah disinyalir, katanya banyak pula yang melakukannya adalah anak masjid. Artinya mereka itu pengen Islam, tapi pengen pacaran juga? Ah, ada-ada saja! Masak &#8216;segila&#8217; itukah kasusnya? Kalo ternyata benar, bagaimana dengan yang lain yang bukan &#8216;anak masjid&#8217;? Weleh-weleh berat juga ternyata, ya?</p>
<p><strong>Nggak Ada Pacaran Islami!</strong><br />
Memang betul, kalo dikatakan bahwa ada anak masjid yang meneladani tingkah James Van Der Beek dalam serial Dawson&#8217;s Creek tapi bukan berarti kemudian dikatakan ada pacaran islami. Itu nggak benar. Tetap saja, siapapun yang melakukan aktivitas maksiat, tetap saja berdosa. Jangan karena yang melakukan adalah anak masjid lalu ada istilah pacaran Islami. Nggak bisa, jangan-jangan nanti kalo anak masjid kebetulan lagi nongkrongin?  judi rolet, disebut judi islami? Wah gawat bin bahaya, Non!</p>
<p>Tapi mungkin bukan itu yang dimaksud. Kita yakin kok, kalo yang namanya pacaran secara &#8216;radikal&#8217;, pasti anak masjid nggak bakal melakukannya. Malu. Bisa jadi itu alasannya. Tapi masalahnya adalah bagaimana ketika mereka mengekspresikan rasa cintanya, karena beliau-beliau juga manusia seperti kita. Barangkali sebagian anak masjid menganggap boleh-boleh saja bila aktivitas pacaran itu tidak sebrutal pada umumnya. Boleh jadi itu dugaan dan anggapan. Disinilah perlunya pemahaman Islam yang benar dan tinggi. Jangan sampai aktivitas maksiat berubah menjadi halal hanya gara-gara pake embel-embel Islam. Nggak bisa dan memang nggak benar.</p>
<p>Tentu lucu bin menggelikan dong, bila suatu saat nanti teman-teman remaja yang berstatus anak masjid atau aktivis dakwah terkena &#8216;virus&#8217; cinta kemudian mengekspresikan cintanya lewat pacaran. Tapi inget, aktivitas itu nggak bisa disebut pacaran islami, karena memang nggak ada istilah itu. Jangan salah sangka, mentang-mentang pacarannya pake jilbab, baju koko dan berjenggot, lalu mojoknya di masjid, kita sebut aktivitas pacaran Islami. Wah salah besar, itu. Dan yang jelas dosa besar!</p>
<p>Suer, kita juga nggak pernah dengar istilah daging babi islami, hanya gara-gara disembelihnya dengan menyebut nama Allah, misalkan. Ya nggak? Begitulah, tak ada istilah pacaran islami, seperti halnya tak ada istilah daging babi islami. Catet itu, Brur!</p>
<p>Lalu bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur menganggap aktivitas baku sayhwatnya sebagai pacaran islami? Tentu saja itu dosa. Sekali lagi dosa! Iya dong, soalnya siapapun yang melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak masjid. Malu-maluin aja.</p>
<p>Jadi memang pacaran islami itu nggak ada. Tapi kenapa istilah itu bisa muncul? Boleh jadi karena teman-teman remaja yang punya semangat keislaman tapi miskin tsaqofah Islamnya. Modalnya cuma semangat doang. Karuan saja itu sangat berbahaya. Bukan apa-apa, mencintai Islam nggak cukup modal semangat yang menyala. Ilmunya juga kudu dipelajari. Kalo nggak kenal, tentu saja kita nggak bakal sayang sama Islam. Makanya harus mengenal Islam lebih jauh. Supaya bisa &#8216;menyayanginya&#8217;. Bahkan akan membelanya jika ada orang yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Remaja yang mencintai Islam tentu saja nggak bakal menodai Islam dengan aktivitas maksiatnya, seperti pacaran, misalkan. Itu nggak baik dan memang nggak bener. Kalo kamu dilanda cinta, kan nggak mesti diwujudkan dalam bentuk pacaran, iya, nggak?? <br />
? ? <br />
<strong>Bagaimana Mengendalikan Cinta?</strong><br />
Siapa bilang cinta tak bisa dikendalikan? Bisa, Brur! Malah kalo tahu aturan mainnya enjoy saja, tuh. Barangkali yang merasa sulit mengendalikan cinta karena memang terlalu memanjakan hawa nafsunya. Bener kan? Aduh, bila yang terjadi demikian, berarti memang rada-rada sulit untuk bisa mengendalikan. Ibarat kamu lagi sakit, tapi tak berusaha untuk menyembuhkannya. Pantangan malah diterjang, ya, gawat. Gimana mau sembuh?</p>
<p>Memang betul, bila hati tengah dilanda cinta, serasa dunia milik sendiri dan cuma ingin membaginya kepada seseorang yang selalu ada di hati. Kemana saja dan di mana saja selalu ingat si dia (tapi hati-hati, jangan sampai lihat &#8216;saudara-saudaranya&#8217; di kebun binatang jadi ingat si dia juga). Malah tak jarang yang akhirnya harus menderita karena cinta pula. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya yang berjudul &#8220;Raudhah Al Muhibbin wa Nuzhah Al Musytaqin&#8221; alias &#8220;Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu&#8221; mengutip sebuah kisah tentang &#8216;kuatnya&#8217; cinta yang mampu membuat pelakunya tetap mencintai meski kekasihnya sudah di alam kubur. Heboh juga, ya? Atau kisah kasih Romeo and Juliet karya William Shakespeare yang evergreen alias selalu fresh. Sampai-sampai ada parodinya, Rojali dan Juleha, film Indonesia yang dibuat tahun 70-an dan dibintangi Benyamin S., Nanu &#8220;Warkop&#8221;, dan Ida Royani. Bukan hanya itu, Chris Klein, Leelee Sobieski, dan Josh Hartnett ikut menghangatkan film remaja paling anyar, Here on Earth pun bikin remaja dibuai dengan percintaan. Itulah fakta bahwa cinta memang bikin hidup lebih hidup (sori, nggak bermaksud nyontek pameo Losta Masta!)</p>
<p>Dan perlu diketahui &#8216;virus&#8217; cinta bisa menimpa siapa saja, termasuk anak masjid atawa aktivis dakwah di sekolah/kampus. Iya, dong, soalnya mereka juga manusia. Bisa sedih, bisa gembira. Sangat mungkin untuk sakit hati, dan sekaligus bisa berbunga-bunga. Namun tentu saja kadar kesedihan dan kegembiraannya berbeda-beda satu sama lain. Nah, berkaitan dengan urusan cinta ini, anak masjid bukan berarti &#8216;ma&#8217;sum&#8217; dari melakukan aktivitas itu. Bisa saja mereka berbuat begitu. Tapi tentu saja, akan sangat hebat bila ketaatan kepada Islam mampu menenggelamkan hawa nafsunya dari berbuat maksiat.</p>
<p>Disinilah perlunya ilmu untuk mengendalikan cinta supaya nggak liar tak karuan. Kalo liar bisa gawat. Apalagi menimpa anak masjid atawa aktivis dakwah di sekolah. Malu dong, kalo sampe aktivis dakwah pacaran. Bukan hanya memalukan, tapi juga dosa.</p>
<p>Setiap orang boleh mencintai dan dicintai. Itu haknya, termasuk remaja seusia kamu. Tapi bukan berarti kemudian menghalalkan segala cara, seperti melakukan pacaran. Brur, aktivitas itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kamu kan seorang muslim, masak mau melakukan tradisi yang bukan berasal dari Islam. Suer, budaya pacaran itu tak dikenal dalam kamus ajaran Islam. Nggak ada itu. Catet, ya!</p>
<p>Yakin deh, cinta itu bisa dikendalikan. Yang nggak bisa itu adalah dimatikan. Ini memang urusan hati. Jadi sejauh mana hati kita bisa menahan hawa nafsu yang bergejolak dalam gairah jiwa muda kita. Kamu tetap harus tahu aturan main dalam Islam. Wajib kamu ketahui, bahwa Islam tak pernah mengekang umatnya. Kalaupun ada aturan yang menurut kamu mengekang aktivitas kamu. Kamu jangan salah paham. Itu adalah upaya Islam untuk menyelamatkan umatnya. Ya, itulah &#8216;risiko&#8217; kamu milih Islam, yang tentu saja itu adalah pilihan terbaik buat kamu.</p>
<p>Lalu bagaimana langkah riil dalam mengendalikan cinta? Begini sobat, hal yang paling mendasar sebagai seorang muslim kamu kudu beriman kepada Allah SWT. Dan keimanan kepada Allah itu bukan cuma mengimani keberadaan-Nya saja, yakni hubungan penciptaan (shilatul kholqi), tapi sekaligus harus ada hubungan ketaatan terhadap perintah-perintah Allah (shilatul awaamir). Nah, dengan kata lain, wajib taat terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah SWT:</p>
<p>?ˆ???…???§ ?ƒ???§?†?? ?„???…???¤?’?…???†?? ?ˆ???„???§ ?…???¤?’?…???†???©?? ?¥???°???§ ?‚???¶???‰ ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?£???…?’?±?‹?§ ?£???†?’ ?????ƒ???ˆ?†?? ?„???‡???…?? ?§?„?’?®???????±???©?? ?…???†?’ ?£???…?’?±???‡???…?’ ?ˆ???…???†?’ ?????¹?’?µ?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???±???³???ˆ?„???‡?? ?????‚???¯?’ ?¶???„?‘?? ?¶???„???§?„?‹?§ ?…???¨?????†?‹?§</p>
<p>â€œDan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu&#8217;min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu&#8217;min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.&#8221; (Al Ahzab: 36).</p>
<p>Ketaatan kamu itu akan menciptakan dinding yang tebal agar kamu tak tergoda untuk melihat atau melakukan aktivitas yang tak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Terus kamu juga kudu memahami bahwa perasaan cinta itu muncul jika ada rangsangan dari luar. Maka langkah bijak dan logis adalah menutup seluruh peluang yang bisa membuat kamu tergoda untuk melakukannya. Hindari aktivitas yang menjurus kepada pikiran-pikiran kamu tentang cinta yang liar sehingga kamu merasa gatal bila tak menempuh jalur pacaran untuk mengekspresikan cinta kamu. Sebaliknya kamu harus menyibukkan diri dalam aktivitas yang tidak bersentuhan dengan perasaan-perasaan cinta terhadap lawan jenis kamu. Olah raga atau full ngurus pengajian, insya Allah cara itu bisa mengusir keinginan kamu untuk melakukan pacaran.<br />
? ? ? ? <br />
<strong>Pilih mana; Nikah atau Zina?</strong><br />
Idih, ngeri bin serem! Pilih nikah dong! Aman dan dapat pahala. Iya, nggak? Tapi sebentar, kita kan masih sekolah, masak mau nekat nikah, sih? Ya, itu persoalannya.</p>
<p>Jadi begini sobat, tadi kita sudah sepakat bahwa tak ada istilah pacaran islami. Betul, kan? Terus kamu juga sudah tahu bagaimana mengendalikan cinta. Masalahnya sekarang tak ada jalan lain bila kamu tetap ngotot ingin menyalurkan &#8216;aspirasi&#8217; kamu kepada lawan jenis kecuali nikah. Nikah adalah sarana legal dan aman secara syar&#8217;i untuk menumpahkan kasih sayang kita seutuhnya kepada lawan jenis kita. Firman Allah SWT.:</p>
<p>?ˆ???…???†?’ ?????§?????§?????‡?? ?£???†?’ ?®???„???‚?? ?„???ƒ???…?’ ?…???†?’ ?£???†?’?????³???ƒ???…?’ ?£???²?’?ˆ???§?¬?‹?§ ?„???????³?’?ƒ???†???ˆ?§ ?¥???„?????’?‡???§ ?ˆ???¬???¹???„?? ?¨?????’?†???ƒ???…?’ ?…???ˆ???¯?‘???©?‹ ?ˆ???±???­?’?…???©?‹ ?¥???†?‘?? ?????? ?°???„???ƒ?? ?„???¢?????§???? ?„???‚???ˆ?’?…?? ?????????????ƒ?‘???±???ˆ?†??</p>
<p>&#8220;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.&#8221; (Ar Ruum: 21)</p>
<p>Bahkan Al Quran juga menyisipkan larangan untuk berbuat zina. Allah SWT berfirman:</p>
<p>?ˆ???„???§ ?????‚?’?±???¨???ˆ?§ ?§?„?²?‘???†???§ ?¥???†?‘???‡?? ?ƒ???§?†?? ?????§?­???´???©?‹ ?ˆ???³???§???? ?³???¨?????„?‹?§<br />
&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.&#8221; (Al Isra: 32).</p>
<p>Inilah Al Quran pedoman yang paripurna yang bakal menyelamatkan kita.</p>
<p>Nah, itu memang tuntunan Al Quran. Tapi lain lagi dengan tuntunan para selebriti yang telah menancapkan pengaruhnya lewat perilaku hidupnya. Selebriti mana sih yang bersih dari perbuatan ini? Masih ragu-ragu menunjuk selebriti mana yang alim. Bukan apa-apa, ketika ia memilih karir dan &#8216;pekerjaan&#8217; sebagai artis, sejak saat itulah ia mulai melangkah meninggalkan ajaran Islam yang suci. Terus terang, sudah menjadi rahasia umum kan bila mayoritas kehidupan kaum selebritis akrab dengan kemaksiatan.</p>
<p>Celakanya, remaja sekarang justeru mencontek abis gaya hidup artis pujaannya. Termasuk sebagian anak masjid, lho. Disinilah perlunya pemahaman Islam.</p>
<p>Kembali ke urusan cinta. Memang bila kamu tetap ngotot ingin berkasih-sayang dengan putri pujaan kamu. Atau untuk yang putri dengan &#8216;Arjuna&#8217; pilihannya. Ya, sudah, nikah saja. Habis perkara. Iya, nggak? Kalo ternyata masih mikir-mikir karena masih sekolah. Mendingan keinginan itu &#8216;dikubur&#8217; dulu untuk sementara. Kamu fokuskan dulu belajar. Tapi ingat, jangan coba-coba nekat untuk &#8216;mendekati&#8217; kekasihmu dengan cara pacaran.</p>
<p>Soalnya Non, pacaran itu adalah pintu gerbang menuju perzinaan. Makanya, kita wanti-wanti banget jangan sampai kamu ngotot melakukan aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Jadi sekali lagi, pacaran islami itu nggak ada dalam kamus ajaran Islam. Kalaupun boleh mengatakan, ada sih &#8216;pacaran islami&#8217;, yakni nikah dulu!</p>
<p>Begitu, Non!n</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 021/Tahun I</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pacaran-islami%e2%80%a6/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air Cucuran Atap</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/air-cucuran-atap</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/air-cucuran-atap#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/air-cucuran-atap/</guid>
		<description><![CDATA[Peribahasa ini lengkapnya adalah Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga. Ungkapan ini cocok untuk menggambarkan bahwa perilaku anak biasanya tergantung orangtuanya. â€œApel tak akan jatuh jauh dari pohonnyaâ€?, setidaknya peribahasa negerinya Patrick Kluivert ini bisa juga dipakai untuk mendukung peribahasa yang pertama. Pendek kata, secara tak langsung dan tak disadari, anak akan â€?mengekorâ€™ dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peribahasa ini lengkapnya adalah Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga. Ungkapan ini cocok untuk menggambarkan bahwa perilaku anak biasanya tergantung orangtuanya. â€œApel tak akan jatuh jauh dari pohonnyaâ€?, setidaknya peribahasa negerinya Patrick Kluivert ini bisa juga dipakai untuk mendukung peribahasa yang pertama. Pendek kata, secara tak langsung dan tak disadari, anak akan â€?mengekorâ€™ dengan sikap dan perilaku ortunya. <span id="more-22"></span>Bisa dimaklumi memang, mengingat ortu adalah teladan bagi anak-anaknya. Apapun yang dilakukan oleh ortu, besar kemungkinan anak akan menconteknya. Terlebih bila ortunya memang â€?mendoktrinâ€™ si anak agar tumbuh menjadi bagian dari cita-cita mereka. Celakanya, bila yang â€?diwariskanâ€™ ortunya adalah perilaku jahat dan doyan maksiat. Wajar dong, bila kamu nanti menemui ada anak yang bandelnya kelewatan. Bahkan bukan hanya bandel, tapi jadi berandalan. Menyedihkan bukan? Padahal seharusnya ortu memberikan citra yang baik dong buat anak-anaknya, iya nggak?</p>
<p>Omong-omong masalah ini, kamu suka nongkrongin sinetron Keluarga Cemara nggak? Tanpa maksud promosi, tapi cuma ingin mengambil â€?hikmahâ€™nya saja. Terutama dalam lagu yang menjadi soundtrack-nya sinteron yang dibintangi Adi Kurdi dan Novia Kolopaking ini. Keluarga ternyata memang merupakan hal yang terindah. Bahkan disebutkan dalam tembang itu, harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara adalah keluarga.</p>
<p>Tapi apa jadinya bila keluarga kemudian berubah menjadi â€?nerakaâ€™? Anak-anak yang lahir hanya dibiarkan tumbuh dan menikmati hidupnya tanpa diberikan bekal yang cukup untuk bisa bertahan dalam arena kehidupan yang makin ganas. Bahkan nyaris tanpa belas kasihan, terutama bila itu menyangkut masa depan perkembangan kepribadian mereka. Malah tak mustahil bila anak-anak yang mewarisi ajaran salah ortunyaâ€”baik yang disengaja maupun yang tanpa disadariâ€”akan menjadi semacam â€?nerakaâ€™ bagi ortunya sendiri. Gimana nggak, ortu bakal â€?kegerahanâ€™ sendiri melihat tingkah laku darah-dagingnya yang senewen dan menyebalkan. Betul, nggak, Brur? Jangan sampe deh kita mengalami kehidupan model begitu!</p>
<p>Dan tentu saja, tugas menyelamatkan anak-anak ini dalam skala yang lebih luas adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi masyarakat dan negara juga wajib berperan. Akhirnya memang, semua adalah â€?orangtuaâ€™ mereka. Yang harus membim?¬bing dan mengarahkannya menjadi generasi yang berkualitas, baik ilmu dan ketakwaannya. Karena terus terang kita nggak ingin melihat teman-teman remaja memiliki gaya hidup yang amburadul.</p>
<p>Kita sudah sering menyaksikan kehidupan sebagian besar remaja yang tergoda untuk mewarnai dirinya dengan gaya hidup Barat. Urusan seks bebas, narkoba, kriminalitas, dan seabreg model kehidupan Barat yang rusak lainnya. Memprihatinkan memang. Namun perlu diingat, rusaknya kepribadian mereka bukan tanpa sebab. Ibarat munculnya asap, pasti karena ada api. Untuk menelusuri siapa yang paling bertanggung jawab, mungkin tak salah-salah amat bila â€?tuduhanâ€™ itu dialamatkan kepada keluarga (orangtua). Dan tentu saja, peran orangtua dalam sebuah keluarga sangat berpengaruh bagi kehidupan anak-anaknya. Mengingat keluarga adalah â€?masyarakatâ€™ yang paling sederhana.? ? </p>
<p><strong>Tanggungjawab orangtua</strong><br />
Sebagai ortu yang baik dan bertanggung jawab, tentu nggak bakalan membiarkan anaknya tumbuh menjadi â€?sampahâ€™ masyarakat. Sebagai titipan dari Allah, anak adalah tanggungjawab orangtua untuk mengurusnya. Tidak saja diberikan â€?makananâ€™ jasmani, tapi juga â€?santapanâ€™ ruhaninya. Karena memang manusia bukan cuma materi belaka, tapi ia memiliki ruh (baca: idrakshilah billah; memiliki kesadaran akan hubungannya dengan Allah). Tanggungjawab orangtua bukan cuma memberikan pendidikan umum saja, tapi wajib menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan anak-anaknya. Sangat boleh jadi, keluarga yang menerapkan model begini akan menjadi â€?pesantrenâ€™ bagi anak-anaknya. Dan tak mustahil bila kemudian lahir generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tinggi. Pikiran dan jiwanya terisi penuh dengan nilai-nilai Islam.</p>
<p>Anak selain sebagai anugerah â€?terindahâ€™ yang diberikan Allah, juga anak sebagai â€?hiburanâ€™ yang enak dipandang mata dan perhiasan hidup di dunia. Bahkan Allah menyatakan bahwa anak adalah sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah, pelanjut, penerus, dan pewaris orangtua, tapi juga sekaligus ujian. Firman Allah Taâ€™ala,: â€œSesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.â€? (At Taghaabun: 15).</p>
<p>Dengan demikian, memang orangtua-lah yang paling bertanggung jawab dan paling berkewajiban mendidik anak-anaknya. Kenapa harus dididik? Anak ibarat selembar kertas putih polos, Non. Ia bisa diberikan coretan dan warna apa saja oleh orangtuanya. Kalo itu â€?goresanâ€™ yang benar dan â€?warnaâ€™ yang indah, maka anak akan tumbuh menjadi â€?hiburanâ€™ yang enak dipandang mata. Bahkan mampu mengangkat citra ortunya. Iya, nggak? Malah teman-teman remaja suka berkelakar kalo mampu berprestasi, siapa dulu dong bapaknya?</p>
<p>Sabda Rasulullah saw: â€œSetiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orangtuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.â€? (HR. Abu Dawud). Nah, maka wajar kalo ortu itu sangat bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya. Mereka harus merawat, membesarkan dan mendidik anaknya. Jangan cuma pengen enaknya tapi nggak mau anaknya. Iya, nggak Brur? Anak cuma dibiarkan tumbuh dan belajar dari kehidupannya saja tanpa dididik dengan menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Sementara orangtua dua-duanya sibuk bekerja untuk memenuhi pundi-pundi harta dan mengejar karir. Tentu ini nggak baik bukan? Mana tanggungjawabnya?</p>
<p>Allah swt berfirman: â€œDan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandai?¬nya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.â€? (An Nisaaâ€™ : 9). Berkaitan dengan tanggungjawab ini, Rasulullah juga bersabda: â€œSetiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dan seorang ayah bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya. Dan seorang ibu bertanggung jawab atas harta dan anak suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.â€? (HR. Bukhari Muslim).</p>
<p>Sangat boleh jadi, bila semua orangtua di dunia ini memperhatikan anak-anaknya dengan baik, mendidiknya dengan nilai-nilai Islam yang benar, kita nggak bakalan menyaksikan anak-anak yang tumbuh menjadi berandalan. Kasus pembajakan bus kota dan tawuran di Jakarta belakangan ini, merupakan â€?prestasiâ€™ jeblok anak-anak sekolah. Yang bertanggung jawab dalam masalah ini memang tak seratus persen orangtua di rumah, tapi juga masyarakat dan negara sebagai sebuah â€?keluargaâ€™ yang besar dan kompleks.</p>
<p><strong>Hak-hak Anak</strong><br />
Dalam pandangan Islam, anak-anak juga mempunyai hak yang bisa didapatkan dari ortunya. Selain mendapatkan hak untuk hidup dan mendapat nama yang baik, anak juga punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dan pendidikan. Ortu nggak boleh â€?merampasâ€™ hak hidup?  anak lewat aborsi misalkan, atau malah menelantarkan kehidupannya. Dan orangtua nggak boleh lepas tangan dalam urusan kasih sayang dan pendidikannya.</p>
<p>Kasih sayang adalah hak anak yang wajib diberikan orangtuanya. Celakanya, kondisi sekarang di mana orangtua dua-duanya tipe jarum super alias jarang di rumah dan suka pergi, anak hanya sedikitâ€”kalo nggak mau dikatakan nolâ€”dalam mendapatkan kucuran kasih sayang ortunya.</p>
<p>James Coleman, dalam Abnormal Psychology and Modern Life, menyebut kekurangan kasih sayang sebagai communicable disease (penyakit menular). Karena itu Islam sebagai agama yang membawa misi rahmatan lil â€?alamin mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. â€œOrang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,â€? kata Rasulullah saw. Bahkan Allah swt berfirman: â€œBertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.â€? (An Nisaaâ€™: 1).</p>
<p>Dalam sebuah riwayat, â€œSeorang perempuan miskin datang menemuiku,â€? kata Aisyah r.a., â€œIa membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda: â€œBarangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.â€? (H.R. Bukhari, Muslim, dan Turmudzi).<br />
? ? ? ? ? <br />
<strong>Ortu wajib mewariskan kebenaran</strong><br />
Kalo soal harta biasanya sudah jauh-jauh hari disiapkan orangtua agar masa depan anaknya nggak terkatung-katung dalam hidupnya. Tapi sangat jarang orangtua yang peduli terhadap akidah anak-anaknya. Padahal seharusnya orangtua memberikan perhatian yang lebih dalam urusan ini. Anak harus dididik sejak masih berada dalam rahim ibunya sampai ia masuk ke liang lahat. Dan tentu saja dengan pendidikan agama yang memadai. Sabda Rasulullah: â€œAgama itu nasihat. Kami bertanya: â€?Untuk siapa?â€™ Jawab Nabi: â€?Bagi Allah, dan kitab-Nya, dan rasul-Nya, dan pemimpin-pemimpin, serta kaum muslimin pada umumnya.â€? (HR. Muslim).</p>
<p>Tapi ironisnya, sekarang sebagian besar orangtua malah membiar?¬kan anaknya diwarisi dengan nilai-nilai yang sangat bertentangan dengan Islam. Menipisnya perhatian dan kasih sayang mereka seiring dengan mulai tergodanya anak-anak dengan didikan â€?orangtuaâ€™ baru mereka. Bisa dipahami, saat ortu pergi anak hanya diasuh oleh baby sitter dan menerima pendidikan dari televisi yang menggantikan peran orangtua dalam mendidik. Karuan saja si â€œKotak Ajaibâ€? ini mampu menjadi teman sekaligus guru bagi anak-anaknya. Benda ini pandai bercerita tapi sekaligus lihai menyihir. Tak heran bila kemudian anak tumbuh menjadi generasi warisan televisi, padahal tak semua informasi yang dikeluarkannya baik-baik. Malah lebih banyak merusak kepribadian penontonnya. Iya, nggak?</p>
<p>Coba aja kamu lihat sendiri, betapa banyak teman-teman remaja yang latah mengikuti trend yang diciptakan khusus untuk menghancurkan generasi muda via tv ini. Kasus pergaulan bebas, misalkan. Itu diilhami lewat tayangan film-film yang tak jauh dari perilaku itu. Serial Lupus Milenia, Beverly Hills, Dawsonâ€™s Creek, Melrose Place, dan Clueless setidaknya mewakili jenis film yang dimaksud.</p>
<p>Hebatnya kesaktian televisi yang mampu menyedot perhatian anak-anak sudah dibuktikan dalam penelitian di AS, Inggris dan Australia. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa di ketiga negara itu, waktu yang dihabiskan anak-anak sekolah untuk menonton acara televisi rata-rata 3 jam sehari atau 20-25 jam dalam seminggu. Itu hampir sama lamanya dengan kewajiban mereka dalam belajar. (Kompas, 19/4/95). Di kalangan anak prasekolah, lama anak menonton televisi lebih banyak lagi, 26,3 jam seminggu, di mana tiga jam diantaranya tayangan iklan. Waduh, heboh juga ya, Brur! Di negerinya Wiro Sableng ini bisa jadi polanya sama, atau mungkin malah lebih â€?gilaâ€™ lagi. Bisa-bisa seharian anak-anak nggak beranjak dari hadapan si â€œKotak Ajaibâ€? itu. Dan selama itu pula mereka â€?diceramahiâ€™ dengan materi yang sangat berbahaya bagi kehidupannya. Sangat mengerikan, bukan?? </p>
<p>Jadi sudah seharusnya para ortu menyadari posisinya, bahwa keberadaan dan tingkah lakunya itu bakal dicontek anaknya. Maka supaya tidak mewariskan kejahatan dan kesalahan bagi anak-anaknya, ortu harus pandai memberikan kasih sayang dan pendidikan yang benar. Pendidikan yang akan menyelamatkan anak-anaknya dari kerusakan akidah dan akhlaknya. Karena kerugian terbesar bagi sebuah keluarga adalah â€?menciptakanâ€™ anak-anak yang bermasalah dalam hidupnya. Mereka menjadi sampah masyarakat, hanya gara-gara tidak dididik dengan benar dan baik oleh orangtuanya sebagai sebuah â€?masyarakatâ€™ sederhana.</p>
<p>Semoga peribahasa Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga bisa menjadi peribahasa yang terindah dalam kehidupan, maka ortu harus mewariskan kebenaran kepada anak-anaknya.</p>
<p>Dalam sebuah hadits masyhur riwayat Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda: â€œApabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal: shadaqah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.â€?</p>
<p>Akhirnya kita memang mendambakan ortu yang mampu mendidik kita ke jalan yang benar. Karena mustahil mendapatkan warisan kebaikan dari ortu yang?  selalu memberikan gambaran buruk bagi kita. Apalagi bila gambaran buruk itu ditampakkan pula oleh masyarakat dan negara yang memang secara tak langsung menjadi â€?orangtuaâ€™ kita juga.</p>
<p>Gimana, Brur?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 20/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/air-cucuran-atap/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jilbab, Koko, dan Jenggot</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jilbab-koko-dan-jenggot</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jilbab-koko-dan-jenggot#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/jilbab-koko-dan-jenggot/</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang sejuk dalam atmosfir remaja saat ini. Paling tidak, atribut yang dikenakan remaja sekarang lebih â€?hijauâ€™. Bukan berarti ikutan program penghijauan, lho. Bener-bener sejuk dan enak dipandang mata. Yang laki tampil kalem dengan baju koko dan jenggot. Yang konon kabarnya adalah aksesoris â€?wajibâ€™ anak masjid. Meski untuk urusan jenggot, belakangan teman-teman remajaâ€”khususnya yang putriâ€” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang sejuk dalam atmosfir remaja saat ini. Paling tidak, atribut yang dikenakan remaja sekarang lebih â€?hijauâ€™. Bukan berarti ikutan program penghijauan, lho. Bener-bener sejuk dan enak dipandang mata. Yang laki tampil kalem dengan baju koko dan jenggot. Yang konon kabarnya adalah aksesoris â€?wajibâ€™ anak masjid. Meski untuk urusan jenggot, belakangan teman-teman remajaâ€”khususnya yang putriâ€” juga dibikin pusing tujuh keliling. Pasalnya, tidak semua yang berjenggot itu adalah â€?ikhwanâ€™. Malah banyak juga anak Ska dan funky yang â€?nyantolinâ€™ jenggotnya di dagu mereka. Malah pake acara dicat segala.<span id="more-21"></span></p>
<p>Dan yang putri saat ini sedang betah memakai jilbab. Mudah-mudahan selamanya. Sekarang remaja memang tengah gandrung dengan Islam. Tentu saja merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan.</p>
<p>Terus, Brur. Nggak hanya itu, ternyata teman-teman remaja juga mulai getol mengikuti dan ngadain kajian-kajian keislaman. Untuk melegalkan kegiatannya, mereka ramai-ramai mendirikan orga?¬nisasi remaja. Coba, udah nggak keitung jumlahnya organisasi remaja masjid.</p>
<p>Di Jakarta saja, remaja masjid yang udah berkibar dengan kegiatan-kegiatan keislamannya lumayan banyak. Ada RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa), Remaja Masjid Cut Mutia, Remaja Masjid Pondok Indah, malah ada juga aktivis Labmend alias Laboratorium Mental Dakwah, dan sebagainya. Tentu saja perkembangan seperti ini perlu terus dipantau dan diarahkan. Soalnya, bila nggak ada bimbingan, khawatir remaja malah cuma ikut-ikutan saja. Sayang kan? Maka, maraknya jilbab, baju koko, dan jenggot yang begitu kental di kalangan remaja seusia kamu harus disikapi dengan serius. Tentu setelah itu adalah diarahkan.</p>
<p>Pekatnya semangat keislaman di kalangan remaja ini diharapkan sebagai counterattack terhadap maraknya budaya pop remaja yang cenderung hura-hura dan bebas nilai. Pembinaan intensif yang mendalam dan jernih serta terarah menjadi keharusan, dan akan mampu menumbuhkan remaja Islam yang handal. Tidak saja mampu menjaga dirinya, tapi juga menularkan kebaikan itu kepada kawan-kawannya. Remaja model begini, bakal mampu menyelamatkan generasi muda dari bahaya kerusakan dalam kehidupannya.</p>
<p><strong>Harus Militan</strong><br />
Perlu diwaspadai, bahwa suasana ini bukan berarti tanpa batu sandungan. Maraknya â€?aksesorisâ€™ Islam yang dikenakan remaja bukan tanpa masalah. Persoalannya adalah, sejauh mana remaja gandrung dengan Islam. Apakah sebatas trend saja atau memang murni muncul dari kesadaran? Ini yang harus perhatikan. Bila itu terbukti cuma trend, tanpa didukung dengan kesadaran dan pasokan tsaqofah yang kuat, bisa berbahaya. Kenapa? Bukan tak mustahil bila kemudian geraknya seperti gaya dewa mabok alias acak-acakan (random move), lalu ambruk dan nggak bangkit lagi. Menyakitkan, bukan?</p>
<p>Jadi gimana, dong? Gini sobat, kita tentu gembira dengan prestasi sebagian dari kamu yang getol menyuarakan Islam. Itu sudah kemajuan tersendiri di tengah haru-birunya budaya Barat yang meracuni pemikiran dan gaya hidup remaja seusia kamu. Artinya, semangat kamu yang menyala-nyala untuk mendakwahkan Islam harus didukung dengan tsaqofah Islam yang tinggi. Dengan kata lain, jangan cuma semangat doang. Tapi harus ada â€?isiâ€™nya. Supaya nggak diledekin dengan peribahasa Tong kosong nyaring bunyinya.</p>
<p>Semangat kamu memakai jilbab, harus didukung pula dengan kajian Islam yang benar. Bukan apa-apa, ketika kamu mengenakan jilbab, pastikan bukan cuma ikut-ikutan atau karena latah mengikuti mode yang berkembang. Tapi harus dipahami sebagai sebuah kewajiban bagi seorang muslimah.</p>
<p>Inilah yang bakal melahirkan generasi Islam yang militan. Tahu kan militan? Ya, idealislah. Atau mungkin bisa juga disebut â€?garangâ€™. Pokoknya, kental banget nilai-nilai Islamnya. Bukan cuma aksesorisnya saja, tapi juga tsaqofah alias â€?isiâ€™nya. Supaya tahan goncangan, terutama bila harus berhadapan dengan kenyataan yang ditemui di lapangan. Tahan banting deh.</p>
<p>Jadi ketika kamu yang cewek berani membakar bikini dan enjoy dengan jilbab, pastikan bahwa nilai Islam itu juga mampu memenuhi pikiran dan perilaku. Soalnya, malu dong, kalo ternyata kamu berjilbab cuma untuk jual tampang doang. Apalagi Islam tak sampai menyentuh sikap dan perilaku kamu. Bahaya bin gawat. Bukan apa-apa, nanti bila kamu terjebak dalam pergaulan bebas, misalkan. Temen-teman kamu yang masih â€?umumâ€™ berkomentar menyakitkan. Tak mustahil bila mereka memukul rata alias mengeneralisir sikap kamu itu untuk semua yang pakai jilbab. Berabe kan? Maka, mulai sekarang isi juga tuh kepala kamu dengan tsaqofah Islam. Supaya pemikiran dan perilakunya juga Islami. Ini termasuk buat yang cowok juga. Bener, nggak?</p>
<p>Supaya bisa begitu gimana? Begini, harus dipahami bahwa Islam bukan cuma teori. Yang hanya bisa dijumpai dalam kitab-kitab atau ilmu ulama. Catet itu. Bener, Brur! Islam bukan cuma teori. Kalau ada yang ngotot mengatakan bahwa Islam itu hanya teori doang, salah besar. Berarti doi nggak paham dengan Islam itu sendiri. Padahal Rasulullah saw dan para sahabat sudah mempraktekkan masalah ini sehingga melahirkan satu umat yang mulai dan tangguh dalam wadah sistem masyarakat Islam di Madinah yang kemudian menjadi pusat dakwah Islam ke seluruh dunia.</p>
<p>Sobat, Islam itu agama yang sempurna yang tidak saja mengatur urusan akhirat, tapi juga menata kehidupan dunia. Islam nggak cuma ngurusi sholat dan puasa doang, tapi juga mengatur bagaimana menyelesaikan problem ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Dan memang Islam itu wajib direalisasikan dalam kehidupan. Bila ini yang ditempuh, tak mustahil akan muncul generasi yang mulia dan hebat. Firman Allah SWT: â€œKamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.â€? (Ali Imran: 110).</p>
<p>Sikap militan seperti itu tentu akan mudah membedakan mana yang biasa-biasa saja, mana yang sungguh-sungguh. Bahkan semudah membedakan mana warna hitam dan mana warna putih. Tentu saja karena sangat kontras. Bener nggak, Non?</p>
<p>Bayangkan, bila aktivis Islam cuma mengandalkan semangat, sementara ia mengabaikan tsaqofah Islam. Maksud mengabaikan di sini adalah tidak mempelajarinya. Itu sangat berbahaya. Mungkin mbahnya bahaya. Pokoknya bahaya banget deh. Ada contoh menarik, masalah seperti ini pernah dimuat Republika tanggal 8 Januari 1997. Dalam laporan tersebut, sejumlah anak muda yang melakukan Dakwah On the Street (DOS)â€”yang merupakan salah satu kegiatan dari Labmendâ€”menebarkan kartu ucapan â€?Selamat Datang Ramadhanâ€™ pada pe?¬ngendara mobil di Jakarta. Lucunya, remaja-remaja yang ikutan ternyata tidak dididik untuk memahami syariat yang sudah lumrah sekalipun. Mereka yang putri dengan enaknya hanya mengenakan celana jins dan T-Shirt model ketat. Heboh kan kalo ada â€?aktivisâ€™ dakwah model begitu? Kasihan memang!</p>
<p><strong>Cap Eksklusif</strong><br />
Sebutan ini kerap dialamatkan kepada para aktivis dakwah di sekolah. Kayaknya nggak rela kalo ada remaja yang tadinya bandel kemudian berani tampil beda menjadi aktivis masjid, sering dinilai eksklusif. Atau malah diisukan nggak mau gaullah, atau nggak mau gabung sama teman-teman yang bukan anak masjidlah. Bau sorgalah. Macam-macam sebutannya. Yang ujung-ujungnya ternyata mencap para aktivis dakwah di sekolah sebagai orang-orang khusus dan elit. Waduh, berabe juga. Malah tak jarang yang sebetulnya sinis dengan aktivitas anak-anak masjid.</p>
<p>Tapi ingat, teman-teman remaja yang terlanjur dicap eksklusif jangan keterusan geer. Justeru harus bisa merangkul mereka. Mau ngajak mereka dalam kegiatan yang kita buat. Siapa tahu lambat laun mereka bisa mencabut cap eksklusif kepada anak masjid. Karena memang kita nggak diajarkan oleh Rasulullah untuk merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Kita harus ngefloor. Tentu saja, itu kan lahan dakwah kita.</p>
<p>Yakin deh, bahwa sikap mereka mencap kita sebagai golongan eksklusif karena mungkin menganggap kalo kita itu udah beda â€?maqamâ€™-nya dengan mereka. Padahal kan tidak begitu. Mereka juga harus bisa seperti kita. Iya, nggak? Iya dong. Masak yang masuk surga cuma kita.</p>
<p><strong>Menuju Kebangkitan</strong><br />
Maraknya jilbab, koko, dan jenggot di kalangan remaja, bagi sebagian orang dinilai sebagai awal dari sebuah kebangkitan Islam. Bisa jadi benar pendapat itu. Hanya saja, jangan kemudian berpuas diri melihat perkembangan seperti itu. Bukan apa-apa, sobat, bila tak didukung dengan peningkatan pola pikir bisa berbahaya.</p>
<p>Kata â€?kebangkitanâ€™ dalam kosa kata bahasa Arab disebut An Nahdlah. Ustadz Hafizh Shalih dalam kitabnya An Nahdlah menyebutkan bahwa suatu bangsa/kaum/individu yang maju dan bangkit adalah mereka yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang tinggi (Al Fikru raqiy), sedangkan dalam kitab Hadits As Shiyam disebutkan bahwa An Nahdlah itu mengacu pada meningkatnya taraf berpikir. Disebutkan pula bahwa meningkatnya taraf ekonomi bukan indikasi kebangkitan. Buktinya? Kuwait dan Arab Saudi adalah negara kaya raya, tapi nggak mampu membawa negaranya atau Islam untuk bangkit dibanding Amerika atau negara-negara di Eropa. Mereka dikatakan negara maju, meski taraf ekonominya dibawah Saudi dan Kuwait.</p>
<p>Demikian juga keluhuran akhlak, bukan jaminan menuju kebangkitan. Dengan kata lain, tingginya akhlak bukan indikasi kebangkitan. Mau contoh lagi? Madinah, saudara-saudara. Negeri ini terbilang luhur akhlak dan budi pekertinya. Penduduknya â€?kalem-kalemâ€™ dan sopan. Tapi ternyata Madinah nggak mampu bangkit dan memang tidak disebut maju ketimbang Perancis dan Jerman. Semua orang sepakat bahwa Perancis dan Jerman termasuk maju, padahal moralnya amburadul. Benar, nggak?</p>
<p>Nah, bicara soal kebangkitan ini, kita harus tahu bahwa ada yang disebut dengan kebangkitan yang benar dan ada pula kebangkitan yang nggak benar. Walaupun sama judul?¬nya bangkit. Nahdlah As Shohihah (kebangkitan yang benar) adalah kebangkitan yang diletakkan atas asas ruhiyah, artinya kebangkitan yang dibangun dengan landasan pemikiran yang mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah SWT, sebagai pencipta dan penguasa alam semesta. Yakni dikaitkan dengan perintah dan larangan-Nya. Kebangkitan yang tidak ditegakkan atas asas ruhiyah, maka kebang?¬kitan itu adalah tidak shohih alias tidak benar. Buktinya berdirinya Uni Sovyet yang diawali dengan kebangkitan partai komunis pada revolusi Bolsyevik malah akhirnya jatuh ter?¬sungkur secara memalukan diawal tahun 90-an. Malah sebentar lagi kapitalisme Amerika dan negara-negara yang menjadi â€?budaknyaâ€™ akan menyusul ke â€?liang kuburâ€™. Benar nggak Brur?</p>
<p>Yap. Satu-satunya kebangkitan yang benar adalah kebangkitan yang dilandasi oleh fikroh Islamiyah (pemikiran Islam), karena kebangkitan itu sajalah yang merupakan peningkatan taraf berpikir yang ditegakkan atas asas ruhiyah. Bahkan Allah SWT telah menjamin tegaknya Islam ketimbang ideologi kufur (kapitalisme dan sosialisme). Firman-Nya: â€œDan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.â€? (At-Taubah: 40).</p>
<p><strong>Tips Menuju Kebangkitan</strong><br />
Berat nggak Non, bacanya? Nggak dong, ya! Sekali-kali boleh aja kajiannya berat begini, tapi yang pasti nggak bakal membuat kamu puyeng 100 kali keliling. Suer, ini semua demi kebaikan kamu.</p>
<p>Nah, ada tips untuk menuju kebangkitan. Kamu sudah tahu kan bahwa landasan kebangkitan Islam itu adalah aqidah Islam yang bertujuan untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan terwujudnya syariat Islam secara paripurna di seluruh dunia. Untuk mewujudkan itu semua perlu langkah riil. Apa itu? Pertama, hendaknya remaja muslim menyadari perjuangan dakwah dan memahami Islam sebagai sebuah ideologi (akidah dan syariat) yang akan mengatur seluruh aspek kehidupan. Kedua, remaja muslim kudu sadar akan tugasnya dalam dakwah untuk meninggikan kalimat Allah di seluruh pelosok dunia, bahwa tugas itu nggak mungkin dilakukan sendiri-sendiri tapi harus bersama-sama secara sistematis. Ketiga, remaja muslim mesti mantap dalam tsaqofah Islamiyah-nya. Kenapa? Agar mampu menangkal berbagai ide sesat yang jelas bertentangan dengan Islam.</p>
<p>Insya Allah, jika remaja Islam juga paham akan kebangkitan yang hakiki, maka Islam akan cepat bangkit dan akan tumbuh memenuhi seluruh pelosok dunia. Sabda Rasulullah saw.: â€œPerkara ini (Islam) akan merebak ke segenap penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumahpun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufurnan.â€? (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)</p>
<p>Mengemban dakwah adalah tanggung jawab bersama, termasuk remaja. Makanya, maraknya jilbab, koko dan jenggot sebagai perwujudan dari tumbuhnya kesadaran dalam diri remaja harus didukung dan diarahkan supaya bisa menopang dakwah Islam dan segera menuju kebangkitan Islam yang hakiki. Ingat ya, Brur! Maraknya jilbab, baju koko, dan jenggot jangan cuma ikut-ikutan trend dan sifatnya simbolik saja. Remaja macam kamupun wajib tahu kemana arah kebangkitan Islam ini. Harus itu!</p>
<p>Gimana, paham kan?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 19/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jilbab-koko-dan-jenggot/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raihan Vs Westlife</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/raihan-vs-westlife</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/raihan-vs-westlife#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:30:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/raihan-vs-westlife/</guid>
		<description><![CDATA[Heboh nasyid-mania di kalangan remaja muslim lumayan membawa aroma &#8216;kebangkitan&#8217; Islam yang tak bisa dibilang encer. Setidaknya wujud dukungan terhadap munculnya jenis musik yang mengusung warna Islam ini cukup kental. Sebetulnya, awal tahun 90-an merupakan prestasi tersendiri bagi kaum muslimin dalam mensyiarkan Islamnya. Bukan hanya diselipkan lewat pita kaset pesan-pesan Islam itu, tapi bertebaran juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Heboh nasyid-mania di kalangan remaja muslim lumayan membawa aroma &#8216;kebangkitan&#8217; Islam yang tak bisa dibilang encer. Setidaknya wujud dukungan terhadap munculnya jenis musik yang mengusung warna Islam ini cukup kental. Sebetulnya, awal tahun 90-an merupakan prestasi tersendiri bagi kaum muslimin dalam mensyiarkan Islamnya. <span id="more-20"></span>Bukan hanya diselipkan lewat pita kaset pesan-pesan Islam itu, tapi bertebaran juga di buku-buku terjemahan karya ulama-ulama Timur Tengah. Apalagi, maraknya jilbab, baju koko dan jenggot di kalangan remaja Islam makin mengukuhkan keyakinan bahwa Islam tengah menggeliat dari tidur panjanganya.</p>
<p>Khusus untuk syiar Islam lewat nyanyian (nasyid), dukungan yang ditunjukkan oleh remaja muslim sangat heboh. Terutama yang paling fenomenal adalah grup nasyid asal negerinya Amy &#8220;Search&#8221; ini. Terutama setelah &#8216;manggung&#8217; di beberapa kota besar di Indonesia awal tahun 2000 ini. Namanya makin berkibar dan tentu saja mendapat tempat di hati remaja muslim negerinya Si Komo ini. Berbeda dengan grup nasyid lain, Raihan mampu &#8216;membius&#8217; pendengarnya dengan alunan lagu yang &#8216;segar&#8217;, bahkan Raihan sering nangkring di ANTeve, terutama pas Ramadhan. Keren bukan?</p>
<p>Tapi kita nggak bakal keterusan bercerita soal Raihan dan segala macam yang identik dengan grup nasyid ini. Yang ingin kita sampaikan kepada teman-teman remaja adalah bagaimana menjelaskan tentang gandrungnya remaja terhadap musik islami. Dan ini biasanya sering dihubungkan dengan mengentalnya rasa cinta kepada Islam. Terlepas dari apakah setelah menikmati alunan lagu dari &#8216;band kepret&#8217; ini bisa menumbuhkan semangat mempelajari Islam atau tidak.</p>
<p>Mengentalnya rasa cinta kepada Islam yang ditunjukkan oleh sebagian remaja Islam lewat kegandrungannya terhadap nasyid ini, bukan tanpa persaingan. Sangat boleh jadi sebagian besar remaja Islam tengah terlena dan gandrung dengan jenis musik impor. Sebut saja, jenis musik pop yang sedang menjadi pujaan sebagian ABG Islam di jagat ini dibawa oleh grup musik yang mengemban gaya hidup Barat, Westlife. Dan sebetulnya Westlife bukan yang pertama, masih banyak para pendahulunya yang berhasil mengaduk-aduk perasaan dan membetot emosi remaja Islam lewat gebukan drum dan lengkingan gitar musik rock atau heavy metal; atau irama R&amp;B yang diusung Backstreet Boys. Ya, memang Westlife bukan yang pertama, tapi sekarang grup ini paling fenomenal dan sangat dikagumi. Nggak heran, kalo akhirnya para ABG negeri ini begitu antusias mengikuti &#8216;tabligh akbarnya&#8217; Westlife tanggal 15 Mei 2000 di Jakarta. Tercatat, sekitar 50 ABG putri yang nonton konser itu pingsan, dan ratusan lainnya larut dalam histeria. Tentu saja hal ini makin melambungkan pelantun Flying Without Wings ini. Heboh bukan?</p>
<p>Ini dua sisi yang berlainan. Satu sisi remaja Islam &#8216;mesra&#8217; dengan nasyid. Dan di sisi lainâ€”masih remaja Islamâ€”mereka tenggelam dalam &#8216;kehidupan Barat&#8217;-nya Westlife. Raihan dan Westlife saat ini memang punya tempat masing-masing di benak remaja Islam negeri ini. Dan fenomena ini semacam persaingan pengaruh antara para nasyid-mania dengan para &#8216;pemuja&#8217; kehidupan Barat.</p>
<p>Dan ini harus menjadi renungan bagi kita, bahwa sebetulnya di saat kita akan tumbuh subur dengan Islamâ€”meski cuma &#8216;bau&#8217;nya sajaâ€”harus berhadapan dengan kekuatan yang sengaja diciptakan untuk menghancurkan Islam. Celakanya, ternyata kita harus berhadapan dengan teman-teman sendiri yang otaknya sudah dipenuhi &#8216;file-file&#8217; budaya Barat yang tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Bagaimana, Brur?</p>
<p><strong>Islam versus Barat</strong><br />
Tak ada yang salah sebetulnya bila masalah itu hanya seputar ilmu pengetahuan dan teknologi. Antara Islam dengan Barat bisa berbagi &#8216;berkah&#8217; dalam kemajuan iptek. Teknologi informasi yang berhasil dikembangkan Barat sebetulnya adalah berkah bagi semua orang yang ada di bumi ini. Meski kadangkala &#8216;berkah&#8217; kemajuan itu berubah menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup. Namun, tetap Islam tak pernah bermusuhan dengan Barat dalam urusan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena tentu saja iptek sifatnya sangat universal. Jadi jangan mentang-mentang yang buat Boeing 747 adalah orang-orang kafir, lalu kita ogah menaiki montor mabur itu, dan kita tetap istiqomah menunggangi unta. Itu persepsi yang salah. Iya nggak, Brur? Sekali lagi, iptek itu sifatnya universal boleh dimiliki siapa saja, tak tergantung siapa pembuatnya.</p>
<p>Sebaliknya, kita sudah memasang kuda-kuda dan menantang Barat bila mereka berani menebarkan akidahnya kepada kaum muslimin. Kita akan hadapi dengan kekuatan penuh. Bila mereka mencoba merusak lewat serangan pemikiran. Kita akan lawan mereka lewat serangan pemikiran pula.</p>
<p>Harus diakui, bahwa?  perang pemikiran dan kebudayaanlah yang saat ini sedang dilancarkan Barat. Ide-ide kebebasan yang disisipkan lewat film, novel, dan nyanyian melalui fasilitas media massa cetak dan elektronik serta internet sudah tak bisa dibendung lagi penyebarannya. Parahnya, teman-teman remaja banyak yang kemudian tergoda dan bahkan menjadi kadernya untuk menularkan kepada teman yang lainnya. Menyakitkan bukan?</p>
<p>Pendek kata, Islam &#8216;bermusuhan&#8217; dengan Barat adalah dalam masalah akidah. Remaja Islam boleh berbangga dengan kemajuan teknologi informasi, remaja Islamâ€“pun boleh terkagum-kagum dan menikmati segala fasilitas yang memudahkan pekerjaan. Tapi sangat diharamkan bila remaja Islam bangga menjadi plagiator budaya Barat. Sangat &#8216;dikutuk&#8217; bila ada remaja Islam yang enjoy dengan kebebasan bergaulnya. Begitupun Islam tak rela &#8216;melihat&#8217; umatnya larut dalam gaya hidup yang hedonistik (mengejar kenikmatan jasmani semata), permisif (serba boleh), dan seabreg gaya hidup amburadul khas Barat lainnya.</p>
<p>Sebaliknya bila remaja Islam teguh-kukuh mempertahankan akidah dan gaya hidup Islamnya di tengah menjamurnya ide-ide yang ditawarkan Barat, adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Dan bukan hanya itu, tapi remaja Islam ini juga giat berdakwah menyebarkan Islam untuk melawan ide-ide dan gaya hidup Barat dengan tak kenal lelah. Hanya dengan remaja Islam yang seperti inilah Islam bakal berjaya kembali memimpin dunia. Bukan mustahil tentunya bila itu terwujud.</p>
<p>Dan beruntung saat ini remaja Islam mulai bangkit dan berusaha menciptakan peluang untuk kebangkitan Islam, meski perlu disadari pula bahwa di sisi lain masih banyak &#8216;pekerjaan rumah&#8217; yang harus diselesaikan. Remaja Islam masih harus berhadapan dengan teman sendiri yang otaknya telah dicuci dengan gaya hidup Barat yang mengemban ideologi Kapitalisme. Malah remaja Islam perlu ekstra kuat, bukan apa-apa, yang akan dihadapi ternyata bukan hanya Barat yang kapitalis, tapi juga sosialis yang mencoba mulai bangkit kembali.</p>
<p>Raihan boleh jadi adalah sebatas pemicu semangat dan sangat mungkin identik untuk mewakili makin mengentalnya rasa keislaman sebagian teman-teman remaja. Dan Westlife secara tak langsung adalah wakil dari &#8216;pengemban dakwah&#8217; yang mempropagandakan perlunya kehidupan Barat. Ini dari sudut musik. Yang ternyata harus diakui lewat jalur inilah secara tak sadar kita terbius untuk mempraktekkan gaya hidup mereka. Iya, nggak, Non?</p>
<p><strong>Jangan cuma nasyid!</strong><br />
Memang tak cukup mengambil kesimpulan bahwa Islam sekarang tengah bangkit hanya karena melihat maraknya musik islami lewat nasyid, misalkan. Atau &#8216;lautan jilbab&#8217; yang makin hari makin &#8216;pasang&#8217;. Pun tak bisa menilai kebangkitan Islam cuma karena melihat fenomena bahwa banyak remaja yang aktif di organisasi-organisasi keislaman. Bukan hanya itu, Brur! Tapi indikasi yang paling tepat menilai kebangkitan Islam adalah dari meningkatnya taraf berpikir. Tentu taraf berpikir islami agar kebangkitannya shahih. Iya, nggak?</p>
<p>Kita nggak ada maksud mengecilkan kecintaan kamu kepada Islam yang diwujudkan lewat kegandrunganmu terhadap nasyid. Itu sudah bagus. Tapi alangkah lebih bagus lagi bila kecintaan kamu kepada Islam diwujudkan pula dengan penajaman pemahaman kamu dengan ajaran Islam. Tentu saja karena mencintai Islam bukan cuma mengandalkan semangat belaka. Tapi harus didukung sepenuhnya dengan tsaqofah Islam yang handal.</p>
<p>Kita udah bangga juga kok dengan maraknya lagu-lagu nasyid. Bahkan sekarang bermunculan grup nasyid baru bagai jamur di musim hujan. Tak heran bila sekarang nasyid menjadi primadona hiburan remaja Islam.Kenal Haddad Alwi kan? Nah, pelantun shalawat lewat dua album bertitel Cinta Rasul 1 dan 2 ini mampu menunjukkan kelasnya. Dari dua album ini, Haddad Alwi dan Sulis berhasil menjual 2 juta keping kaset. Jumlah penjualan yang tak lazim bagi seniman di negeri ini, apalagi pendatang baru. Luar biasa bukan??  Kalo boleh mengatakan, bisa juga tuh bersaing dengan Jordan Knight, misalkan (he..he..he..).</p>
<p>Mungkin sekaranglah saatnya nasyid versus pop Barat. Berarti boleh juga mengatakan bahwa ini adalah perang terbuka antara peradaban Islam dengan peradaban Barat. Kenapa? Kamu juga sudah sadar bahwa lagu tak selamanya netral. Alias memiliki nilai tertentu. Dan tak jarang lagu-lagu yang dibawakan oleh musisi Barat sarat dengan pesan-pesan budaya mereka. Yang karuan saja tak cocok untuk gaya hidup seorang muslim. Bahkan bila nekat mempraktekkannya, bisa berbahaya dan tentu saja berdosa. Karena mempraktekkan gaya hidup Barat berarti meninggalkan Islam. Setuju, kawan? Harus!</p>
<p>Nah, sekaranglah kita harus mencoba berpikir &#8216;menembus batas&#8217;. Kita harus berpikir jauh ke depan dan melihat persoalan dengan bijaksana. Tentu semuanya adalah untuk kemajuan Islam dan kaum muslimin.<br />
? ? ? ? <br />
<strong>Islam bukan cuma nasyid<br />
</strong>Islam memang bukan cuma nasyid. Tapi Islam adalah agama yang sangat sempurna untuk mengatur kehidupan manusia. Dan tentu saja permasalahan manusia bukan cuma dibidang seni ini. Itu hanya bagian saja. Mungkin malah bagian kecil saja dari Islam. Meski tetap mendapat perhatian. Jangan takut, kawan. Kita nggak bakal memvonis sia-sai usaha kamu mensyiarkan Islam lewat nasyid. Nggak. Nggak bakalan, kok. Hanya saja kita ingin mengingatkan bahwa Islam itu bukan hanya seputar nasyid. Kalo kamu sekarang gandrung dengan nasyid, bagus itu. Siapa tahu memang akhirnya perasaan kamu selamat karena menerima ide-ide Islam terus ketimbang teman kamu yang alergi nasyid bahkan telinganya lebih betah mendengarkan tembang-tembang Westlife, Boyzone, Backstreet Boys, dan yang lainnya.</p>
<p>Firman Allah SWT: &#8220;Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.&#8221; (Al Baqarah: 208).</p>
<p>Kemudian di ayat lain,: &#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.&#8221; (Al Imran: 102).</p>
<p>Nah ini membuktikan bahwa seluruh aspek kehidupan itu diatur oleh Islam. Jadi Islam itu bukan hanya nasyid. Kamu boleh gandrung dengan nasyid sebagai bagian dari budaya Islam, tapi kamu jangan ngotot terus-terusan menggeluti nasyid tanpa mempelajari tsaqofah Islam yang akan menjadi bekal kamu dalam kehidupan ini. Karena bisa jadi malah kamu menghadapi kejenuhan dengan Islam yang cuma gitu-gitu aja. Padahal Islam adalah sebuah ideologi. Dengan kata lain Islam mampu memecahkan berbagai problem kehidupan, disamping memang pandai menata kehidupan dunia ini. Ideologi Islam ini lebih unggul ketimbang ideologi lain. Firman Allah swt.:&#8221;Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.&#8221; (Al Anfaal: 8).</p>
<p>Dan di ayat lain Allah swt &#8216;menyelipkan&#8217; celaan bila kita tidak tunduk pada Islam:&#8221;Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah.&#8221; (Ar Ruum: 43).</p>
<p>Kembali ke urusan nasyid. &#8216;Pertarungan&#8217; Raihan dengan Westlife ini harus disikapi lebih jauh, yakni bahwa kita harus berpikir bukan cuma bangga punya tandingan syair islami untuk menangkal tembang-tembang Westlife semata, tapi kudu jeli melihat persoalan. Remaja Islam yang lain nggak gampang berpaling melirik nasyid kalo telinganya sudah nyetel dengan tembang-tembang Westlife dan sejenisnya. Mereka akan bisa berpaling dari budaya Barat, bahkan berbalik membela Islam, bila pemikirannya kita sentuh terus menerus dengan kajian-kajian Islam yang jitu dan mendalam dan tidak membuat jumud.</p>
<p>Sayangnya, kita sering merasa cukup berpuas diri ketika melihat maraknya simbol-simbol Islam di tengah-tengah kita. Anehnya, kita merasa berat untuk mendalami Islam secara kaafah (menyeluruh). Jangan sampai gejala seperti ini terus dipelihara dalam diri kita. &#8216;Pertempuran&#8217; Raihan versus Westlife hanyalah fenomena. Pertempuran yang sesungguhnya adalah bagaimana upaya kita memerangi budaya Barat yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat kita. Baik, kita harus prihatin juga ketika ada teman remaja yang hobi dengerin Raihan tapi gaya hidupnya masih berkiblat ke Barat. Bukankah itu adalah kekalahan kita? Akhirnya memang kita harus memahami Islam sebagai sebuah ideologi!?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 18/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/raihan-vs-westlife/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Virus&#8217; Lupus Milenia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/virus-lupus-milenia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/virus-lupus-milenia#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 07:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/virus-lupus-milenia/</guid>
		<description><![CDATA[Bicara soal virus, beberapa waktu lalu orang-orang dibuat sibuk oleh virus komputer bernama I Love You. Virus yang disebarkan oleh hacker lewat internet ini?  memang sangat berbahaya. Menyebar melalui sistem e-mail yang ada di komputer. Begitu ada e-mail bertitel I Love You di inbox, kemudian bila kita membukanya, saat itulah virus &#8216;berkembang biak&#8217; menginfeksi file-file [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara soal virus, beberapa waktu lalu orang-orang dibuat sibuk oleh virus komputer bernama I Love You. Virus yang disebarkan oleh hacker lewat internet ini?  memang sangat berbahaya. Menyebar melalui sistem e-mail yang ada di komputer. Begitu ada e-mail bertitel I Love You di inbox, kemudian bila kita membukanya, saat itulah virus &#8216;berkembang biak&#8217; menginfeksi file-file yang ada di komputer yang kita miliki. <span id="more-19"></span>Minimal merusak beberapa file tertentu pada komputer yang terserang. Biasanya file yang dia rusak adalah yang berekstension JPEG dan VBS. Kerugian berupa materi pun sudah nggak terhitung besarnya. Saking gedenya, pemerintah Amerika memperkirakan kerugian senilai 10 miliar dolar lebih untuk seluruh dunia. Bahkan negerinya Uncle Sam ini pun kecolongan juga. Paling tidak, password CIA, FBI, Pentagon dan DPR AS berhasil dijebol dan file-filenya dirusak oleh virus yang disebar hacker dari Philipina ini. Benar-benar heboh!</p>
<p>Lalu apa hubungannya dengan &#8216;virus&#8217; Lupus Milenia? Apakah itu virus komputer baru? Bukan, sobat! Kamu tahu apa yang ditimbulkan oleh virus komputer, kan? Ya, kerusakan! Nah, begitu pula dengan virus ini. Tapi, virus ini nggak nyerang komputer kamu. Virus ini malah lebih berbahaya, bahkan mungkin sangat berbahaya. Kenapa? Soalnya, virus ini merusak otak kamu. Mengacak-ngacak seluruh memori yang ada dalam otak kamu tentang nilai-nilai Islam yang harus dipertahankan oleh seorang muslim. &#8216;File-file&#8217; di otak kamu tentang ajaran Islam pun berhasil dirusak. Malah dalam kondisi tertentu, &#8216;disk&#8217; atau &#8216;hardisk&#8217; di otakmu dibikin bad sector atau malah error! Bahaya kan?</p>
<p>&#8216;Virus&#8217; ini memang bukan yang pertama merusak pemikiran kamu dan semua remaja muslim di sini. Sebelumnya, bahkan sampai sekarang masih banyak &#8216;virus&#8217; yang telah dan akan merusak pikiran kamu. Sebut saja Dawson&#8217;s Creek, Baywatch, Melrose Place, misalkan. Atau &#8216;virus&#8217; lain yang mempengaruhi gaya hidup kamu dalam bergaul seperti Beverly Hills 90210 , Friends dan yang sejenisnya.</p>
<p>Anehnya virus Lupus Milenia ini makin digandrungi. Apalagi kedekatan tema yang disodorkan kepada remaja seusia kamu memang cocok dengan remaja Indonesia. Karena memang buatan negeri sendiri.</p>
<p>Apa yang dibawa oleh &#8216;virus&#8217; ini? Jangan kaget, soalnya bukan barang baru. Doi menawarkan gaya hidup remaja gaul yang berbahaya. Kok, bisa berbahaya? Iya, dong! Gimana nggak berbahaya, yang ditawarkan adalah gaya hidup pengusung free thinker alias pemikir bebas. Artinya, dalam sinetron Lupus Milenia yang dijual adalah gaya hidup yang bebas nilai. Kamu tahu kan bagaimana tingkah si funky Adi Darwis yang mengecat merah rambutnya? Masih belum afdhol, temannya Lupus yang pecicilan alias banyak tingkah ini sering membawa-bawa hiasan rante yang gede-gede. Plus, seabgreg?  gaya hidup lainnya yang menyebalkan. Tentu, bila ini sampai ditiru sama kamu bisa berabe. Lama-lama otak dan pikiran kamu dibikin error sama tingkahnya beliau ini. Itu baru tingkahnya Adi Darwis, belum lagi Fifi Alone, Poppy, Boim, Gusur, Lupus, Lulu dan penggembira lainnya yang larut dalam pergaulan bebas. Bebas dalam bergaul dengan lawan jenis, misalkan. Karena, pacaran itu kan salah satu wujud dari bebas gaul dengan lawan jenis. Tema itu yang kerap diangkat dalam cerita remaja di sinetron tersebut. Tentu ini adalah racun yang mempengaruhi gaya hidup kamu.</p>
<p>Meracuni Remaja<br />
Kamu mungkin nggak sadar kalo ternyata kelakuan tokoh idola kamu dalam sinetron itu adalah membawa petaka. Alur cerita yang dibuat sedikitpun tak memberikan solusi penyelesaian yang jitu dan pasti. Malah terkesan mengekspos gaya hidup anak muda yang penuh kebebasan. Bebas dalam segala hal.</p>
<p>Terus terang saja, sinetron ini banyak mengusung ide-ide rusak, hanya saja kadangkala kita nggak nyadar kalo itu rusak. Nah, tentu menilai rusak-tidaknya adalah menurut pandangan Islam. Kalo kata Islam rusak, berarti rusak. Kalau bagus, tentu saja bagus. Jadi, standar untuk menilainya adalah Islam. Coba, rata-rata teman kita yang nonton sinetron ini, nggak merasa kalo dirinya sedang didakwahiâ€”tepatnya dicekokiâ€”dengan ide-ide menyesatkan dalam urusan gaya hidup. Tahu-tahu teman-teman remaja yang mudah tergoda bisa langsung nyetel ddengan gaya hidup yang ditawarkan gerombolan artis dalam sinetron itu. Tanpa melihat lagi, apakah itu sesuai dengan kepribadian Islam atau malah bertentangan dengan Islam. Boleh dikata, asal telan aja, gitu, lho! Ini kan nggak benar. Iya, nggak, Mas?</p>
<p>Adi Darwis, salah satu tokoh yang sering hadir dalam sinetron ini tingkahnya nggak karu-karuan. Anehnya, pihak sekolah tempat si funky ini menuntut ilmu seperti nggak mempersoalkan kelakuan anak didiknya yang aneh. Dan yang pasti serial Lupus Milenia ini memang sarat dengan gaya hidup remaja perkotaan yang modern. Sepertinya mencoba menggambarkan realitas kehidupan remaja era milenium yang cenderung bebas, jadi namanya era milih-nyium (he..he..he..). Dan menjustifikasi keberadaan mereka yang berbudaya seperti itu. Jelas-jelas ini meracuni pemikiran remaja dalam urusan gaya hidup. Identitas Islam sama sekali tak diekspos dalam sinetron tersebut. Malah terkesan sengaja menyuguhkan budaya pop remaja yang bebas nilai tanpa penyelesaian. Tentu saja, dalam pandangan Islam ide yang dibawa dalam cerita tersebut sangat berbahaya, karena sangat jauh dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. Ini adalah racun yang disebar dengan cukup efektif.</p>
<p>Melahirkan Generasi Free Thinker<br />
Ada sebuah kisah menarik yang perlu mendapatkan perhatian kita semua. Di Singapura, negara kecil yang terbilang maju itu ternyata menyimpan cerita yang tak kalah seram. Di sana, ada sebuah komunitas alias perkumpulan anak muda yang menamakan dirinya dengan sebutan free thinker alias pemikir bebas. Kok bisa? Begini ceritanya, anak-anak muda di negara tetangganya Wiro Sableng ini kelakuannya aneh dan bikin kita nggak habis pikir. Contohnya? Remaja di sana sudah terbiasa hidup bersama dengan lawan jenisnya tanpa ikatan pernikahan alias kumpul kebo. Sementara masyarakat di sekitarnya nggak ambil pusing. Bahkan terkesan melegalkan aktivitas yang mengotori moral itu.</p>
<p>Parahnya, aktivitas mereka yang bebas itu bukan hanya dalam soal gaul dengan lawan jenis (seks) saja, tapi juga bebas dalam berbagai hal. Minuman keras, tindak kriminal, kasus narkoba juga akrab dengan kehidupan mereka. Meski menurut beberapa pengakuan dari kalangan mereka bahwa sebenarnya para orangtua hanya menganggap anaknya nakal apabila mereka terlibat dalam kasus obat bius dan tindak kriminal. Untuk urusan seks bebas orangtua mereka malah membiarkan. Tapi pada faktanya, anak-anak muda di negeri tersebut justru aktif juga terlibat dalam kasus yang disebutkan tadi selain seks bebas. Jelas, ini sangat berbahaya. Nah, belajar dari kasus itu, tentu akan sangat gawat bila kasus ini dibiarkan begitu saja. Bukan apa-apa, dengan perkembangan teknologi informasi tak mustahil bila komunitas free thinker ini menyebarkan &#8216;dakwah&#8217;nya kepada remaja di negara lain. Berabe kan, Brur?</p>
<p>Tapi celakanya, kita sudah kalah set. Mereka sudah mencuri start. Malah sekarang di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini justru sudah terinfeksi dengan &#8216;virus â€?free thinker ini. Bahkan siap berkembang biak.</p>
<p>Harus diakui bahwa kader free thinker saat ini sudah begitu banyak. Buktinya? Nggak usah ada acara menutup-nutupi juga kita sudah tahu. Seks bebas di kalangan remaja perkotaan di negeri ini sudah nggak terhitung jumlah kasusnya. Itu baru di perkotaan, belum lagi di pedesaan yang juga tak kalah seram.</p>
<p>Kasus lain yang masih seputar sepak terjang yang dihasilkan free thinker adalah maraknya kasus narkoba, dan mode dandanan yang makin hot dan tak terkendali. Semua itu adalah produk yang dihasilkan dari &#8216;ideologi&#8217; bebas nilai. Karuan saja akan sangat membahayakan masa depan sebuah bangsa. Kenapa? Karena remajanya justru banyak yang berlomba dalam kebebasan yang sebenarnya lambat laun akan menghancurkan diri mereka dan bangsa ini. Gimana mau memimpin bangsa ini, kalau remajanya rusak semua mentalnya, iya kan?</p>
<p>Sehingga, akan makin gawat bila kondisi yang sudah parah ini dibuat semakin semrawut dengan membiarkan tayangan-tayangan yang tidak mendidik seperti dalam serial Lupus Milenia.?  &#8216;Virus&#8217; Lupus Milenia hanyalah sebuah contoh kasus dari sekian banyak tayangan lain yang sejenis yang menawarkan racun kebebasan bagi remaja.</p>
<p>Mungkin pembaca ada yang bertanya, kenapa serial ini yang ditembak habis-habisan? Begini alasannya, justru di sinilah letak menariknya Lupus Milenia untuk dikritisi karena temanya dekat dengan remaja Indonesia dan memang produk lokal. Kalo tayangan dari negeri lain, bisa dimaklumi karena mereka ada misi lain, yakni menyebarkan budaya mereka. Tentu tujuan mereka itu nggak lepas dari sikap mereka yang membenci remaja Islam. Tapi kalo di sini kan justru mayoritas penduduknya muslim, namun kenapa malah membuat jalur untuk mengalirkan ide-ide bebas nilai lewat sinetron itu kepada remaja negeri sendiri, yang tentu saja harus diakui adalah remaja muslim. Iya, kan?</p>
<p>Jadi dengan adanya tayangan Lupus Milenia ini, yang harus kita akui sebagai pembawa virus free thinker maka remaja Islam akan terinfeksi pemikirannya dan tak mustahil kemudian melahirkan di masa yang akan datang generasi free thinker alias pemikir bebas. Apalagi, kondisinya akan semakin gawat karena tayangan sejenis masih juga bercokol di layar televisi untuk mengkader kita menjadi generasi free thinker. Tak mustahil pula bila kemudian generasi remaja muslim yang kental dengan Islamnya akan sirna. The lost generation!</p>
<p>Tak Ada Bebas Nilai Dalam Islam<br />
Well, Islam tidak akan membiarkan umatnya terpental ke jurang kemaksiatan. Sehingga untuk tujuan itu, Islam memiliki seperangkat aturan untuk menyelamatkan umatnya dari kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat. Bisa dipahami, sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, Islam memang memberikan bimbingan dan arahan bagi umatnya dalam menjalani kehidupan di dunia ini sebagai bekal kehidupan di akhirat yang kekal abadi.</p>
<p>Dalam seluruh aspek kehidupan, Islam memberikan tuntunan agar umatnya tak salah arah dalam bertindak. Sehingga nggak dikenal dalam Islam istilah bebas nilai dalam bertindak. Justru sebaliknya, umat Islam hanya melakukan apa yang dibolehkan dan diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dilarang bagi umatnya untuk bergaya hidup atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam.</p>
<p>Firman Allah SWT, &#8220;Tidak patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila diputuskan suatu hukum oleh Allah dan Rasul-Nya, akan ada bagi mereka pilihan lain, karena barangsiapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.&#8221; (Al Ahzab: 36)</p>
<p>Nah, tayangan Lupus Milenia yang cenderung jor-joran mengekspos kebebasan remaja dalam bertingkah laku hanya akan menggiring penontonnya kepada kehidupan yang permisif alias bebas nilai. Yang hanya akan melahirkan generasi-generasi amburadul dan cenderung susah diatur. Liar dan tak terkendali dalam aktivitas kehidupannya. Ini memang sangat berbahaya, Brur!</p>
<p>Sehingga wajar bila dalam Islam tak berlaku pola kehidupan bebas nilai. Yang ada justru sebaliknya umat ini harus seragam dalam pola pikir, harus kompak pula dalam perasaannya, dan tentu saja, harus dilindungi dengan hukum yang sama pula. Semua ini akan menjaga umat dari godaan untuk bebas berbuat. Sebagai remaja Islam, kamu juga harus tunduk dengan apa yang sudah diberikan aturannya oleh Allah dan Rasul-Nya. Pokoknya, jangan sekali-kali kita nekat bertingkah bebas nilai. Gawat, Non!</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.&#8221; (Thaha: 124)</p>
<p>Wuih, serem juga ya? Iya, dong! Makanya, kamu kudu gaul juga soal Islam ini. Biar nggak terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Disinilah letaknya Islam itu melindungi umatnya agar tetap berjalan dalam rel yang telah ditentukan. Bisa dibayangkan, bila Islam membebaskan umatnya berbuat sesuka hatinya dalam kehidupan ini. Amburadul, kan?</p>
<p>Jadi, sekarang hati-hati deh, jangan sampai kamu ikutan senewen gara-gara nyontek gaya hidup yang digambarkan dalam cerita Lupus Milenia itu. Gaya hidup yang jelas bertentangan dengan Islam.</p>
<p>Kita juga harus lebih waspada, soalnya itu baru satu &#8216;virus&#8217; yang bakal merusak pemikiran kita, masih banyak &#8216;virus&#8217; lain yang siap mengganti pemikiran Islam yang kita miliki dengan pemikiran sekuler yang memang bebas nilai. Gawat dan bahaya.</p>
<p>Beginilah hidup dalam alam kapitalisme, segalanya menggiring kita untuk berbuat dosa. Ternyata memang hanya Islam yang bakal menyelamatkan kita. Islam yang diterapkan sebagai akidah dan syariat. Suer, nggak bohong, Brur! ?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 17/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/virus-lupus-milenia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hitam Putih Dunia Artis</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hitam-putih-dunia-artis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hitam-putih-dunia-artis#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 04:18:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/hitam-putih-dunia-artis/</guid>
		<description><![CDATA[Pilih mana,?  jadi guru atau jadi artis? Yang berpikiran pendek bin cekak, pasti akan menjatuhkan pilihannya jadi artis. Alasannya cukup sederhana saja, artis uangnya banyak. Udah gitu ngetop lagi. Pokoknya menjanjikan segalanya deh. Kalo guru? Kayak yang nggak tahu aja, bokek, men! Memang, faktanya begitu kok, artis film, penyanyi atau model, honornya selangit dan tenar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pilih mana,?  jadi guru atau jadi artis? Yang berpikiran pendek bin cekak, pasti akan menjatuhkan pilihannya jadi artis. Alasannya cukup sederhana saja, artis uangnya banyak. Udah gitu ngetop lagi. Pokoknya menjanjikan segalanya deh. Kalo guru? Kayak yang nggak tahu aja, bokek, men!<span id="more-18"></span></p>
<p>Memang, faktanya begitu kok, artis film, penyanyi atau model, honornya selangit dan tenar kemana-mana. Ini sudah menjadi rahasia umum. Dan kebiasaannya mendapatkan uang dengan mudah mendorong kebanyakan artis memiliki gaya hidup glamour dan aneh-aneh. Dalam urusan gonta-ganti pasangan saja, itu sudah menjadi budaya tersendiri. Bahkan bisa jadi merupakan syarat &#8216;wajib&#8217; selebritis. Perselingkuhan dan kumpul kebo bukan barang baru?  di kalangan artis. Penggunaan narkoba juga akrab dengan dunia mereka. Bahkan, gosip dikalangan mereka pun menjadi komoditas alias bisa dijual. Coba, kasus perceraian Desy Ratnasari atau Iis Dahlia saja mampu menarik media untuk memberitakannya. Dan kita pun larut dalam lembaran-lembaran koran yang menulis kisah proses perceraiannya. Bagi pengelola media, jelas mendatangkan &#8216;berkah&#8217;, Desy dan Iis Dahlia pun kesohor. Hebat nian!</p>
<p>Kadang kala untuk bisa mendongkrak harga jualnya dalam main film, tak sedikit artis yang rela bertingkah aneh. Demi Moore rela tampil los polos tanpa busana dalam film Streptease. Elizabeth Berkley?  berani mengorbankan diri dengan cara &#8216;buka-bukaan&#8217; dalam film Showgirls?  hasil garapan sutradara bejat Paul Verhoeven beberapa tahun yang lalu. Memang aneh dan berani malu!</p>
<p>Celakanya lagi, artis-artis lokal pun kemudian latah mengikuti tingkah para selebritis dunia. Bukan barang aneh, bila trend kehidupan para penghuni jagat Holywood itu menjadi acuan selebritis lokal. Kelakuan Madonna yang sering gonta-ganti pasangan pun tak mustahil bila diikuti para selebritis negerinya Wiro Sableng ini. Mau tahu kelakuan Madonna? Si Material Girl ini pernah menikah dengan Sean Penn, kemudian cerai. Lalu Madonna kumpul kebo dengan Carlos Leon menghasilkan Lourdes yang telah berusia 3 tahun. Dan kini, belum juga melahirkan benih yang ditabur pasangan kumpul kebonya, Guy Ritchie, ia sudah akan berpisah. Ritchie sendiri adalah sutradara Inggris yang baru saja membuat box office dengan film Lock, Stock, and Two Smoking Barrels. Ah, memang gila juga Madonna itu!</p>
<p>Masih seputar gaya hidup yang tak karuan dan nggak terkontrol dari kaum seleb. Kamu kenal Leonardo Di Caprio, kan? Nah, cowok ganteng bertarif 15 juta dolar saat main dalam Titanic ini ternyata royal bin boros! Bayangin aja, doi pernah beli rumah di daerah Malibu untuk nyokapnya seharga 45 dolar Amrik. Selain untuk nyokapnya, bintang The Beach ini juga beli rumah untuk dirinya sendiri di Hollywood Hills seharga 3 juta dolar. Bahkan Leo nggak keberatan keluar uang banyak untuk mengoleksi karya-karya seni. Maklum bintang tajir ini termasuk 10 besar orang terkaya di dunia menurut majalah Forbes.</p>
<p>Itu adalah sebagian fakta tentang kehidupan artis. Anehnya, meski kehidupan artis nggak lepas dari potret buram kerusakan moral, malah banyak muncul artis baru. Nggak heran bila jagat Holywood dan negara-negara pengikutnya udah kebanjiran kaum seleb. Ibarat gula, dunia akting, musik dan model mampu menarik perhatian orang untuk mencicipi manisnya kehidupan dunia yang penuh gebyar itu. Nggak salah lagi, alasan remaja yang terjun ke dunia penuh sensasi itu karena tergiur oleh uang dan ketenaran. Soal kebobrokan moral yang terjadi nggak dilihat lagi. Ngaku aja deh! Iya, nggak?<br />
? <br />
<strong>Modal jadi artis</strong><br />
Punya penampilan menarik dan berani malu, sudah bisa menjadi artis film. Malah ada yang ngotot untuk tampil dalam film meski sebetulnya aktingnya nggak bagus-bagus amat. Yang begini biasanya cuma jual tampang dan kenekatan untuk tampil melanggar etika. Rela menjalani adegan bupati alias buka paha tinggi-tinggi, atau sekwilda (sekitar wilayah dada) sampai sepeda alias seputar perut dan dada. Ah, murah banget harga dirinya!</p>
<p>Yang jadi model pun nggak jauh beda. Cukup tampil seksi dan mau berpose memakai busana renang, sudah bisa dipajang di kalender. Tentu dengan bayaran yang menggiurkan. Demi Moore, yang pernah sukses membintangi film Ghost itu nekat berpose tanpa busana dalam sampul majalah Vanity Fair tahun 1991. Padahal foto hasil jepretan Annie Leibovitz ini diambil saat Demi hamil delapan bulan. Kontan saja mengundang kontroversi yang luar bisa di AS. Mau tahu komentar bintang GI Jane ini? &#8220;Saya kan sering mencopot pakaian hamil saya. Jadi, saya pikir mengapa tak sekalian di sampul Vanity Fair saja,&#8221; katanya dengan tenang. Ih, benar-benar berani malu!</p>
<p>Nggak semua artis memang begitu, tapi tetap saja standar yang dipake nggak jauh dari asas manfaat. Buktinya? Mereka yang menolak peran amburadul toh tetap nggak meninggalkan dunia seleb. Contohnya, yang rajin nolak peran adalah Natalie Portman. Doi pernah nolak peran sebagai Juliet dalam Romeo and Juliet, dengan alasan Leonardo Di Caprio yang berperan sebagai Romeo usianya ketuaan dibanding doi. Peran Wendy di film The Ice Storm pun ditolaknya. Dan yang jelas Natalie udah ngasih petunjuk bahwa dia nggak mau main film horor atau tipe film yang dibintangi Jennifer Love Hewitt. Saingan? Bisa jadi. Paling-paling itu alasan selektifnya. Nggak jauh!</p>
<p>Modal jadi artis itu memang nggak perlu sekolah khusus. Ya, itu tadi, cuma butuh tampang oke punya. Yang tampangnya PPD alias Pas-Pas Deh??  Bisa juga, paling-paling jadi model iklan kaos, tapi kaos lampu! Yang berbobot alias berbodi botol??  Bisa juga jadi iklan produk kecap, tapi jadi botol kecapnya! Sori, jangan dimasukin ke hardisk, ya! Eh, sori, maksudnya jangan dimasukin ke hati!</p>
<p><strong>Bahagiakah jadi artis?</strong><br />
Meski tajir, Brad Pitt yang telah malang melintang di dunia akting perfilman Hollywood mengaku risih bila ketemu orang. Doi bilang, &#8220;Terus terang, banyak hal yang sempat bikin gue jadi ragu-ragu dan mikir-mikir, nerusin karir akting atau stop dulu. Tapi yang sering bikin gue jengkel adalah kalau ada orang reseh dengan penampilan gue yang nggak seperti mereka harapkan. Juga kalau publik berisik banget pengen tahu kehidupan cinta gue. Bikin gue males ketemu orang&#8230;,&#8221; begitu katanya dalam kutipan dialog di majalah Gadis edisi 10 Maret 2000. Nggak bahagia? Tepatnya begitu, Mas!</p>
<p>Pernah dengar nama John Lennon? Nah, kawannya George Harisson dan Paul McCartney di The Beatles ini, ternyata meski hidup bertabur kemewahan tapi doi nggak lepas juga dari problem kehidupan. Makin hari kepopuleran John bersama The Beatles-nya makin menggila. Tapi tanda-tanda kehancurannya juga mulai muncul sejak Beatles terlibat obat bius. Dikabarkan, tiap manggung John ngedrugs dulu. Malah drugs?  juga yang bikin hubungannya dengan Cynthia renggang. Apalagi sejak ketemu Yoko Ono. Kehidupan John makin kacau. John pun cerai dengan Cynthia, istrinya. Terlebih, akhir kehidupannya pun tragis banget, saat itu, malam tanggal 5 Desember 1980, seorang penggemar John, Mark Champman, menem-baknya hingga mati. Ya, ternyata jadi artis nggak selalu bahagia, Coy!</p>
<p>Mungkin kita keburu menganggap bahwa jadi kaum seleb itu mengenakkan, karena yang kita lihat cuma uangnya, kekayaannya dan ketenarannya. Dielu-elukan saat konser atau mampu menciptakan histeria massa penonton-nya bila sedang manggung. Coba aja lihat, acara jumpa fans Gil yang bertempat di Dermaga Food Court, Pondok Indah Mal tanggal 13 Maret 2000 pun batal, gara-gara teman-teman remaja yang ngefans banget sama doi begitu membludak nggak sepadan dengan kapasitas resto yang terlalu mungil. Bahkan saat ada orang yang nyebarin postcard Gil, ratusan fans Gil yang kalap rebutan untuk mendapatkannya. Gilee.. men!</p>
<p>Tapi, lain di panggung, lain dalam kehidupan nyata. Banyak artis yang sebetulnya frustasi dengan kehidupan mereka. Gimana nggak, hidup jadi selebritis tak selalu bahagia. Kalaupun bahagia, pastilah itu kebahagiaan yang semu. Contohnya banyak. Kehidupan Marlyn Monroe begitu misterius hingga ajalnya. Tak banyak tahu soal aktris itu, yang pasti keterlibatannya dalam obat-obatan terlarang ikut mendorongnya ke liang kubur. Gosip seputar artis lokal pun cukup membuktikan bahwa sebetulnya dunia artis tak sepenuhnya menjanjikan kebahagiaan. Kalaupun toh bahagia, ternyata hanya kesenangan yang semu. Siapa sangka, kan, ternyata model iklan layanan masyarakat Suami Siaga, Iis Dahlia nggak bahagia dengan suaminya, Bahkan memilih cerai.</p>
<p>Malah si keling Michael Jackson pun begitu ketakutan bila ketemu fans-nya. Aneh, kan? Bukannya seneng, kok malah risih. Bukan apa-apa, artis juga ingin privasi alias kebebasan.</p>
<p><strong>Artis bukan dewa!<br />
</strong>Kehidupan artis yang lebih banyak rusaknya itu menunjukkan bahwa profesi itu berisiko dan banyak dosanya. Jadi buat apa menganggap mereka itu hebat yang kemudian membuat kita gelap mata, apalagi kalo kita sampe punya cita-cita jadi artis. Wuih, jangan deh! Mereka bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Yang jelas mereka itu adalah orang-orang yang hidup bebas nilai. Meski penampakkannya tiap artis berbeda-beda. Dari mulai yang kalem sampai yang liar. Tapi sekalem-kalemnya juga artis, yang hidup di dunia penuh bahaya dan berisiko besar untuk melakukan dosa. Tetap nggak benar!</p>
<p>Maka, nggak bosen-bosen nih kita ngasih saran agar kamu jangan mengikuti gaya hidup mereka, apalagi ikut menikmati kehidupan artis, bisa berabe! Memang sih, kehidupan artis itu hitam-putih. Tapi bila dilihat ternyata banyak sisi gelapnya.</p>
<p>Christina Aguilera yang bersaing dengan Britney Spears untuk &#8216;mendapatkan&#8217; Prince William, ternyata idola kamu ini adalah hobi minum?  sampai mabuk-mabukan. Terlepas dari kontroversi kebenaran cerita itu, yang jelas, kehidupan mereka itu nggak jauh dari risiko berbuat dosa. Kalau sampai kamu mengidolakan mereka atau malah kepengen jadi artis, hati-hati. Sebaiknya ubah lagi cita-cita murahan seperti itu. Nggak benar dan nggak baik!</p>
<p>Sebagian besar artis menganggap bahwa popularitas dan kharismanya, plus uang bisa menjadikan dirinya bak dewa. Hingga berprilaku aneh sekalipun, mereka anggap nggak bakalan ada yang protes. Ketika menyikapi soal tingkah artis yang rada-rada aneh itu, seorang konsultan perkawinan yang mukim di Los Angeles, Rhoda Markovitch berkomentar, &#8220;Mereka mulai berpikir bahwa popularitas dan kharismanya sebagai bintang memungkinkan mereka mendapatkan segala-galanya. Mereka betul-betul percaya bahwa mereka punya kekuatan sihir,&#8221; kata Rhoda seperti yang dikutip oleh Tabloid Citra, Juni 1997. Lalu bagaimana dengan kita?</p>
<p><strong>Berpikir kritis!<br />
</strong>Iya, itu yang bisa kita lakukan. Kehidupan kaum seleb yang penuh warna itu ternyata sebetulnya cuma menimbulkan masalah. Kehidupan yang kelihatannya penuh gemerlap itu ternyata menyimpan misteri. Bahkan sebetulnya kebahagiaan yang mereka dapatkan juga adalah berupa kebahagiaan semu. Tentu saja, meski mereka bertabur uang dan ketenaran, Tapi justru kehidupan seperti itulah yang turut andil mendorong mereka menjadi liar dan bebas nilai dalam berbuat. Dan dalam kehidupan pribadinya, tak jarang kebanyakan kaum seleb mengarunginya dengan kepahitan. Mereka nggak bahagia, Brur!</p>
<p>Oke, sekarang kita harus berpikir lebih mendalam dan jernih. Menghadapi kondisi seperti ini apa yang harus kita lakukan?</p>
<p>Baik, pertama, kita harus menganggap mereka biasa saja. Bukan nabi. Nggak boleh ucapan serta kelakuan bejat mereka kita contoh. Apalagi dalam kenyataannya mereka lebih banyak melakukan perbuatan yang berten-tangan dengan nilai-nilai Islam. Kedua, kita jangan tertipu dengan gemerlapnya kehidupan kaum seleb, hingga membuat kita gelap mata bahkan berusaha untuk bisa hidup seperti mereka. Berbahaya, kawan! Ketiga, Kita harus tahu, bahwa makna kebahagiaan adalah tercapainya ridho Allah, bukan banyaknya materi dan harta yang diperoleh semata. Keempat, kita harus sadar, bahwa dalam hidup ini kita senantiasa terikat dengan aturan-aturan Islam. Nggak sembarangan melakukan suatu perbuatan seenak udel kita. Harus tahu aturan mainnya. Baik yang tercantum dalam Al Quran maupun yang dijelaskan dalam hadits.</p>
<p>Allah swt berfirman: &#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.&#8221; (Al Isra&#8217;: 36).</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Barangsiapa melakukan amal perbuatan yang bukan atas perintah kami maka tertolak. (HR. Muslim). Nah, untuk urusan artis ini, Rasul nggak pernah menganjurkan untuk mencontoh perilaku mereka, apalagi memerintahkan untuk menekuni profesi tersebut. Dalam riwayat lain, Seorang sahabat bertanya, &#8220;Ya, Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?&#8221; Nabi menjawab, &#8220;Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.&#8221; Dia bertanya lagi, &#8220;Dan bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?&#8221; Nabi saw menjawab, &#8220;Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya.&#8221; (HR. Ath Thabrani dan Abu Na&#8217;im)</p>
<p>Harus disadari pula, bahwa maraknya dunia selebritis saat ini adalah karena masyarakat terbiasa dengan kehidupan bebas nilai. Kita sudah akrab dengan kehidupan masyarakat yang mengabaikan aspek-aspek keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dengan kata lain, kita sudah terpola dengan kehidupan yang semrawut tanpa terikat dengan nilai-nilai Islam.</p>
<p>Kondisi masyarakat seperti ini memang nggak bakalan mendatangkan kemaslahatan bagi kita. Bahkan sebaliknya meracuni kehidupan kita. Buktinya, kehidupan artis yang jelas-jelas rusak saja masih tetap ditolerir keberadaannya. Kalo gitu siapa sebenarnya yang lebih senewen?</p>
<p>Yuk, mumpung usia kita masih muda, kita berusaha untuk menjadi yang terbaik bersama Islam dan mencoba ngajak teman-teman yang terlanjur nyebur ke dunia artis yang memang parah itu. Dunia yang lebih banyak &#8216;hitam&#8217;-nya ketimbang &#8216;putih&#8217;nya. Kekayaan ada habisnya, dan ketenaran ada batasnya. Iya, nggak, Men?</p>
<p>Tentu saja, dalam sistem kehidupan Islam, negara nggak bakalan membiarkan praktek-praktek perusakan moral seperti dalam kehidupan dunia artis.</p>
<p>Kalau dalam sistem kehidupan kapitalisme? Ya, kamu bisa lihat sendiri sekarang hasilnya. Amburadul, kan?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia -Edisi 16/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hitam-putih-dunia-artis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Demo, Murid Melongo</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/guru-demo-murid-melongo</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/guru-demo-murid-melongo#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 03:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/guru-demo-murid-melongo/</guid>
		<description><![CDATA[Bolos lagi bolos lagi, gara-gara bu guru demo (coba nyanyiin kayak lagu Si Komo!). Ungkapan ini kayaknya pas banget bila kita mau merhatiin kondisi sekarang. Terus terang, bila guru-guru rajin demo, murid-murid bisa melongo (kecuali yang doyan bolos). Suer, nggak percaya? Silakan coba. Eit tunggu dulu! Tentu kita nggak mau dong, kalo sekolah bolos terus. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bolos lagi bolos lagi, gara-gara bu guru demo (coba nyanyiin kayak lagu Si Komo!). Ungkapan ini kayaknya pas banget bila kita mau merhatiin kondisi sekarang. Terus terang, bila guru-guru rajin demo, murid-murid bisa melongo (kecuali yang doyan bolos). Suer, nggak percaya? Silakan coba. Eit tunggu dulu! Tentu kita nggak mau dong, kalo sekolah bolos terus. Iya, nggak?<span id="more-17"></span></p>
<p>Nah, yang baca koran or nonton siaran berita di televisi pasti tahu soal ini. Ya, beberapa waktu yang lalu, tepatnya 17 April 2000, sekitar 50.000 guru asal Jawa Barat?  berkumpul di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta. Mereka datang menuntut agar pemerintah segera merealisasikan kenaikan gaji dan tunjangan yang dijanjikan sebesar 300%.</p>
<p>Para guru yang tergabung dalam PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) itu datang dari semua kabupaten dan kotamadya se-Jawa Barat. Mereka menggunakan sekitar 450 bus serta Metro Mini. Kendaraan-kendaraan tersebut diparkir mengepung Gedung DPR, bahkan sampai ke Parkir Timur Senayan. Tidak ketinggalan para guru mengenakan seragam kebanggaan PGRI, batik dengan warna dasar putih dan kembang-kembang hitam, serta ikat kepala hijau dengan tulisan `Guru Menggugat`. Wuih, heboh juga, ya?</p>
<p>Dipikir-pikir nggak salah-salah amat sih guru demo, tapi memang harus dipikirkan juga akibat lanjutnya. Kita nggak terlalu menyalahkan guru yang berdemo, tapi juga nggak mendukung. Lho, gimana sih maksudnya? Tenang dulu, maksudnya adalah, kita harus bijak juga menilai persoalan ini. Harus tahu masalah sebenarnya. Nggak sembarangan, lho!</p>
<p>Kalo melihat tuntutannya, bisa dipahami kalo para guru kepaksa melakukan itu. Abis, selama ini &#8216;pahlawan tanpa tanda jasa&#8217; itu selalu dipandang sebelah mataâ€”khususnya untuk urusan kesejahteraannya. Barangkali karena menyandang predikat pahlawan tanpa tanda jasa itulah sehingga sah-sah saja pihak-pihak tertentu menyunat gaji guru atau mengabaikan urusan kesejahteraannya.</p>
<p>Masalah ini tentu saja kalo dipikirkan lebih mendalam dan serius ternyata tidak berdiri sendiri alias berkaitan dengan kasus lain. Ada akar masalahnya. Nasib guru yang digambarkan dalam lagu Oemar Bakri-nya Iwan Fals adalah potret buram kehidupan guruâ€”khususnya di pedesaan. Sebuah profesi mulia dengan imbalan yang ala kadarnya. Tentu nggak sebanding dong. Bener nggak, Non?</p>
<p>Para guru yang berunjuk rasa mungkin menganggap hal itu sebagai cara terakhir untuk mengeluarkan segala uneg-uneg yang dipendam selama puluhan tahun. Namun, tentu saja bila ini terus berlangsung bisa gawat juga, Brur! Nggak heran bila?  nanti murid ikut terlantar.</p>
<p><strong>Jauh berbeda dengan artis dan atlit</strong><br />
Soal penghasilan guru yang pas-pasanâ€”bila nggak mau dikatakan tekorâ€”sudah menjadi rahasia umum. Malah ada juga sebagian besar guru di pedesaan yang honornya cuma untuk memenuhi kebutuhan hidup selama 1 minggu. Kasihan, ya? Menyedihkan memang.</p>
<p>Tentu saja, hal ini nggak berlaku bagi guru yang ngajar di sekolah swasta elit macam Pelita Harapan atau yang sejenis yang memang oke punya. Kita bicara gaji guru di sekolah negeri. Terus terang saja, gaji dan tunjangan pun belum bisa mengejar harga-harga bahan pokok yang kian melangit. Walhasil, guru cuma bisa pasrah menghadapi kenyataan ini. Hanya kesabaranâ€”mudah-mudahanâ€”yang tetap mem-berikan semangat para guru untuk bertahan menjalani profesi mulianya itu.</p>
<p>Melihat fakta umum soal penghasilan guru, ternyata sangat ironis dengan honor artis atau atlit. Jadi artis, adalah profesi yang tak terlalu mengandalkan otak, tapi uangnya melimpah. Teringat omongannya Issabella Rosselini, mantan model kondang dunia. Doi bilang, model itu adalah pekerjaan tanpa otak! Terang aja, cuma jual tampang dan bodi aduhai doang, kok. Itu saja. Sekali teken kontrak, katakanlah 20 juta rupiah, wuih, uang itu setara dengan tunjangan guru pegawai negeri golongan III-Aâ€”yang cuma 200 ribu perak ituâ€”selama 8 tahun. Bayangkan, jauh banget, kan? Malah dulu bom seks Indonesiaâ€”Ineke Koesherawatyâ€”bisa &#8216;berpanas-panas&#8217; dengan 250 juta perak. Ruarr.. biasa!</p>
<p>Dengan atlit? Ah, gaji dan tunjangan guru nggak ada apa-apanya bila dibanding honor atau pendapatan atlit. Mau yang lokal atau yang mancanegara, dua-duanya menggiurkan. Mau tahu berapa gaji bomber Juventus, Alessandro Del Piero selama setahun? 5,6 juta dolar, Cing! (setara dengan 44,8 miliar rupiah, jika dihitung dengan kurs Rp 8000,-). Itu masih rendah dibanding Christian Vieriâ€”striker Inter Milan ini digaji 6,5 juta dolar setahun. Gilee.. bener!</p>
<p>Maka, nggak salah-salah amat bila kemarin guru-guru unjuk gigi, eh, sori, unjuk rasa, sekaligus unjuk kekuatan menuntut perbaikan nasib. Walau bagaimanapun juga, guru adalah manusia, yang punya keinginan sama seperti halnya artis dan atlit dalam soal kesejahteraan. Wajar kan orang pengen kaya raya? Iya, nggak, Non?</p>
<p>Melihat kondisi kehidupan guru yang seret, yang identik dengan potret kesederhana-an, tepatnya kemiskinan. Tentu saja mengandal-kan penghasilan yang pas-pasan seperti itu bukan cara terbaik, Sehingga keadaan ini mendorong beberapa guru yang &#8216;kreatif&#8217; untuk melakukan akrobat dengan nyambi di sana-sini. Dari mulai yang boleh dibilang wajar sampai yang nggak wajar. Yang masih kuat iman, barangkali nyari sabetan lewat ngajar privat atau di tempat kursus, atau paling pahit?  nyambi jadi tukang ojek. Nggak masalah, selama itu halal dan di luar jam kantor.</p>
<p>Namun, bagi yang kendor iman dan punya prinsip yang penting bisa hidup, ini bisa berabe. Gawat bin bahaya. Jangan kaget bila kamu dapetin guru yang kepergok jadi BD alias bandar narkoba. Ih, memalukan!</p>
<p>Celakanya lagi, bagi generasi sekarang yang melihat penghasilan guru yang morat-marit begitu, mengurungkan niatnya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa itu. Konon kabarnya IKIP Jakarta saja kekurangan mahasiswa sehingga perlu mengubah diri menjadi universitas. Bahkan anak-anak kecil pun sekarang &#8216;dipaksa&#8217; bercita-cita menjadi artis setelah melihat keberhasilan Joshua dan Tasyaâ€”artis cilik yang kaya raya. Ah, semakin parah ternyata.</p>
<p><strong>Bukan cuma soal gaji dan tunjangan</strong><br />
Namun, ada satu hal yang terlupa atau mungkin dilupakan para guru ketika demo. Tuntutan perubahan kurikulum pendidikan nyaris tak terdengar. Semuanya hanya bicara soal urusan perut. Padahal bahaya yang siap mengancam masa depan bangsa adalah lahirnya generasi-generasi amburadul karena cuma ditempa dengan pengetahuan dalam kurikulum yang kering dengan nilai-nilai keimanan.</p>
<p>Tawuran, seks bebas, narkoba, free thinker, merupakan catatan &#8216;prestasi&#8217; tersendiri remaja sekarang. Lebih heboh dan lebih seram, Brur!</p>
<p>Persoalan-persoalan itu adalah sebagian produk sistem kapitalisme yang sekuler. Khususnya sistem pendidikannya yang diber-lakukan sekarang ini. Kamu merasa juga kan, kalo ternyata orientasi orang belajar sekarang ini adalah untuk nyari duit. Sekolah adalah sarana latihan untuk tujuan kerja, tok. Jarang sekali remaja atau ortu yang berpikir bahwa sekolah adalah salah satu cara dalam pemenuhan kewajiban menuntut ilmu. Karena belajar adalah ibadah. Selebihnya, bahwa dengan belajar kemudian bisa dapet pekerjaan itu adalah sebuah konsekuensi. Iya, nggak, Brur?</p>
<p>Kurikulum pendidikan dalam sistem kapitalisme yang cuma menonjolkan aspek duniawi saja dengan mengabaikan aspek ruhiyah terbukti telah menemui kegagalan. Seks bebas adalah salah satu produk dari sistem pendidikan yang cuma mengejar hasil. Pokoknya tahu dan pokoknya dapat nilai. Tak diperhatikan, apakah ada upaya untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah diajarkan atau tidak. Pendidikan agama pun hanya diberikan 2 jam pelajaran dalam satu minggu. Tentu saja nggak cukup. Celakanya, metode penyampaiannya pun terkesan hanya ala kadarnya. Yang penting sudah diberikan dan murid tahu. Tidak ada tuntutan untuk diamalkan. Misalnya, ketika belajar tentang bab aurat. Seharusnya setelah disampaikan definisi dan batasan-batasan tentang aurat, mestinya ditekankan pula bahwa itu bukan hanya teori, tapi dituntut untuk mempraktekkannya dalam kehidupan. Iya, nggak, Non? Sehingga nggak bakalan mendapatkan murid yang dandanannya menor bak penjaga swalayan. Hal ini pun bisa untuk mengerem laju pergaulan bebas.</p>
<p>Nah, jadi kurikulum pendidikan yang ada sekarangpun mestinya mendapat perhatian yang serius pula dari kalangan guru. Paling tidak, para guru bisa protes soal kurikulum pendidikan yang cenderung sekuler ini. Yakni memisahkan antara agama dengan kehidupan. Misalnya dalam pelajaran biologi, bila kita belajar tentang proses terjadinya kehidupan manusia, yang dijelaskan hanya sebatas peristiwa pembuahan sel telur oleh sel sperma. Lalu akan?  terbentuk embrio (janin), dan setelah sembilan bulan berada dalam rahim, lalu lahir ke dunia. Hanya itu tok. Tidak disampaikan peran Allah dalam proses tersebut. Sehingga yang terjadi memang pendidikan tersebut kering dengan nilai-nilai keimanan. Ini bisa celaka. Dengan demikian, kurikulum pendidikan ini pun harus diubah.</p>
<p><strong>Cara Islam menghargai guru</strong><br />
Memang tugas mendidik itu bukan cuma tanggungjawab guru semata. Peran orangtua pun sangat besar dalam menumbuhkan kepri-badian anak-anaknya. Bahkan karena persoalan ini saling berkaitan satu sama lain, maka dibutuhkan peran negara untuk mengaturnya. Nggak sembarangan, lho!</p>
<p>Maka dalam hal ini, negara berkewajiban membuat kurikulum pendidikan yang mampu menjadikan para pelajar yang tidak saja hebat dari sisi pengetahuan umumnya, tapi juga akidahnya. Untuk mencapai tujuan mulia itu, tentu saja negara membutuhkan &#8216;bantuan&#8217; guru. Maka, supaya guru bisa fokus ngasih perhatian ke murid-muridnya, harus diberikan jaminan dalam kehidupannya oleh negara. Logis, kan? Iya, dong!</p>
<p>Umar bin Khaththab r.a. ketika menjadi khalifah (pemimpin negara Islam), beliau memberikan gaji kepada guru yang mengajar anak-anak (setingkat TK) sebesar 15 dinar sebulan. 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas. Berarti sekitar 63,75 gram emas. Kalo dikonversi ke uang berarti sekitar Rp 4.781.250 (dihitung bila 1 gram emas senilai 75 ribu rupiah). Coba, ada nggak sekarang negara yang mampu menggaji guru anak-anak sebesar itu? Guru yang mengajar anak-anak Raja Thailand dalam film Anna and The King yang diperankan Jodie Foster pun mungkin nggak digaji sebesar itu. Makanya, di masa pemerintahan Islam nggak ada kasus guru berdemo minta kenaikan gaji dan tunjangan. Catet, itu!</p>
<p><strong>Soal kurikulum pendidikan</strong><br />
Ini juga adalah tugas negara dalam menyusunnya. Karena negara memang yang bakal bertanggung jawab terhadap seluruh urusan rakyatnya, termasuk dalam menerapkan sistem pendidikan ini.</p>
<p>Kamu perlu tahu juga definisi dari kurikulum pendidikan. Yakni suatu rangkaian mata pelajaran berikut penyampaiannya yang menjadi patokan penyampaian ilmu pengetahuan. Sedangkan tujuan pendidikan adalah suatu kondisi yang menjadi target penyampaian pengetahuan tersebut. Pusing? Gini deh singkatnya, kurikulum pendidikan adalah dasar dari pendidikan, sedangkan tujuan pendidikan merupakan sasaran yang dimaksud. Sekarang ngerti kan, siapa dulu dong bapaknya? (he..he..)</p>
<p>Nah, tujuan kurikulum dan pendidikan Islam adalah membekali akal, dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat, hal itu mengenai aqaid (cabang-cabang akidah), maupun hukum. Islam telah memberikan dorongan agar manusia menuntut ilmu dan membekalinya dengan pengetahuan. Firman Allah Ta&#8217;ala: &#8220;Katakanlah (hai Muhammad), apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dan orang-orang yang tidak berpengetahuan.&#8221; (Az Zumar: 9).</p>
<p>Jadi, memang pendidikan itu untuk mencerdaskan manusia. Dengan kata lain, orang yang nggak belajar, jelas nggak bakal dapat pengetahuan. Malah Allah SWT akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Firman-Nya, &#8220;Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.&#8221; (Al Mujadalah: 11).</p>
<p>Islam memang aturan hidup yang sempurna, unik dan khas. Nggak ada ideologi lain yang mengungguli keampuhan sistem Islam ini. Asal, Islam yang diterapkan tidak sepotong-sepotong. Tapi harus diterapkan sebagai akidah dan syariat. Benar, nggak, Brur?</p>
<p>Ibnu Sina, pakar kedokteran Islam itu, tidak saja canggih dalam urusan medis, tapi juga berakhlak mulia dan taat kepada Allah. Al Khawarizmi, &#8216;dedengkot&#8217; matematika yang menemukan angka nol ini pun termasuk seorang muslim yang memiliki kepribadian Islam yang tinggi. Belum lagi Jabbir Ibnu Al Hayan, yang bukan cuma ahli dalam urusan kimia, tapi juga seorang ulama.</p>
<p>Dan dorongan mempelajari Islam yang tinggi telah menjadikan kaum muslimin yang hidup di bawah naungan sistem Islam produktif menciptakan karya-karya mereka. Bahkan di masa Khalifah Harun Ar Rasyid, para penulis buku akan dihargai dengan emas yang beratnya sesuai dengan berat buku yang dibuatnya. Fantastis, bukan?</p>
<p>Seharusnya begitu, sobat. Tapi kan yang terjadi sekarang malah banyak orang yang semakin pinter malah makin keblinger. Semakin tekun mendalami iptek malah semakin melupakan Allah. Inilah &#8216;penyakit&#8217; matematika alias makin tekun makin tidak karuan. Bisa berabe, Cing!</p>
<p>Inilah rusaknya sistem pendidikan dalam ideologi kapitalisme yang memang sekuler. Alih-alih bisa membekali akal murid dengan pengetahuan yang sehat, yang terjadi justru peracunan dengan ide-ide rusak. Udah gitu, gurunya nggak dijamin urusan kehidupannya. Ini kan nggak jelas dan memang nggak benar.?  Weleh-weleh, berat juga, ya?</p>
<p>Jadi sekarang gimana? Iya, persoalan ini nggak berdiri sendiri, Jadi kalo mau mem-bereskan, harus total. Bila tak mau pelajar tawuran terus, dan nggak ingin seks bebas serta kasus narkoba akrab dengan remaja, maka negara harus mengubah sistem pen-didikannya dan memberikan kesejahteraan kepada guru supaya mereka betah ngajar. Soalnya, kalo demo terus, murid bisa melongo!</p>
<p>Tentu saja, kita nggak bakal menyaksikan kondisi ideal seperti itu kecuali dalam kehidupan Islam. Yakni, negara yang menerapkan aturan Islam dengan benar. Sampai kiamat pun nggak bakal bisa dilakukan oleh ideologi kapitalisme, apalagi komunisme yang cuma bertahan &#8216;hidup&#8217; seumur jagung. Suer, cuma ideologi Islam yang bisa berbuat seperti itu, Brur!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 15/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/guru-demo-murid-melongo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Bacaan Remaja</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengintip-bacaan-remaja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengintip-bacaan-remaja#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 03:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/mengintip-bacaan-remaja/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk?  urusan membaca ini, sebenar-nya pemerintah pernah kebakaran jenggot, karena ternyata rakyat negeri ini termasuk yang paling parah dalam kebiasaan membaca dibanding dengan negara-negara di dunia, bahkan negara tetangga sekalipun. Memprihatinkan?  memang. Kalau pun kabar terakhir masyarakat gemar membaca, termasuk remajanya. Ternyata kabar ini pun harus kembali membuat pemerintah dan juga sebagian masyarakat uring-uringan dibuatnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk?  urusan membaca ini, sebenar-nya pemerintah pernah kebakaran jenggot, karena ternyata rakyat negeri ini termasuk yang paling parah dalam kebiasaan membaca dibanding dengan negara-negara di dunia, bahkan negara tetangga sekalipun. Memprihatinkan?  memang. Kalau pun kabar terakhir masyarakat gemar membaca, termasuk remajanya. Ternyata kabar ini pun harus kembali membuat pemerintah dan juga sebagian masyarakat uring-uringan dibuatnya. Apa pasal? <span id="more-16"></span>Jangan deg-degan dulu. Masyarakat sekarang memang doyan membaca media, termasuk membaca media lherrr alias yang bertaburan esek-esek.</p>
<p>Bagaimana tidak, seiring dengan dibukanya kran kebebasan pers selama era reformasi, bagai jamur di musim hujan, berbagai tabloid dan koran, pun nggak ketinggalan majalah muncul dan berlomba menggaet pembaca demi mendongkrak oplah. Tentu saja, di satu sisi iklim tersebut menumbuhkan suasana kondusif untuk membudayakan kegemaran membaca dan mendidik masyarakat menjadi lebih pintar. Tapi celakanya, situasi ini bagai pisau bermata dua, di satu sisi jelas masyarakat jadi rajin membaca, dan sisi yang lainnya justru menikam akal sehat masyarakat pembacanya. Termasuk remaja macam kamu.</p>
<p>Weleh-weleh, getol sih bacanya. Tapi bacaannya itu lho, yang bikin deg-degan. Bila ini dibiarkan, tentu bakal timbul generasi piktor alias pikiran kotor.</p>
<p>Akhirnya, ternyata benar-benar bebas. Tak hanya media yang mendidik namun juga &#8220;mendidik&#8221; dengan caranya tersendiri. Saat ini, banyak media berbau pornografi yang berkibar bahkan menjadi bacaan paling gress. Tercatat beberapa media yang dicap sebagai media lherr seperti Liberty, Map, Pop, Popular, GG, X-Files dan sejenisnya. Belum lagi dari novel-novel kacangan yang so pasti bertabur kata-kata tak senonoh. Mungkin itu belum seberapa jika dibanding kecanggihan teknologi internet. Nah, bila kamu sudah ada yang gape di dunia cyber space itu, maka di jalur ini ternyata lebih menyeramkan. Wuih, gawat bener!</p>
<p>Untuk media-media yang mengekspos ketelanjangan wanita itu, tak tanggung-tanggung mereka bahkan mampu menyalip tiras media yang sudah ada sebelumnya. Tentu saja, karena yang diemban adalah kebebasan yang kelewat batas dalam menampilkan isi dari majalah atau tabloid tersebut.</p>
<p>Yang perlu dicermati juga adalah kaum wanita. Mereka menjadi mata dagangan yang mampu menambang uang dengan cepat. Maka-nya, menurut logika super bejat ini adalah wajar bila kemudian memanfaatkan potensi yang dimiliki kaum hawa ini untuk tujuan bisnis.</p>
<p>Di Jakarta, menurut beberapa laporan yang dilansir harian ibu kota, ternyata pembaca paling banyak adalah remaja. Nggak peduli, apakah remaja cowok atau cewek. Mereka semua menikmati media yang dipenuhi artikel dan gambar-gambar &#8216;panas&#8217; (bukan gambar kompor lagi nyala, lho!).</p>
<p>Ketika Sophia Latjuba dan majalah Popular &#8220;bekerja sama&#8221;, tiras majalah tersebut kontan melangit. Bahkan di beberapa tempat para loper merasa sangat senang. Karena tak perlu bersusah payah menjajakan, tokh majalah tersebut memang diburu orang. Ternyata menjual imaji ketelanjangan wanita mampu mendongkrak tiras majalah. Dan menjadi tambang uang yang menggiurkan.</p>
<p>Meski kemudian sebagian masyarakat protes, Sophia dan Popular mengeluarkan jurus pamungkas dengan berdalih, &#8220;Itu kan trik kamera.&#8221; Percaya? Tentu saja alasan tersebut adalah lagu lama yang jadi andalan selebriti untuk berkelit dari tuduhan bobrok! Ya nggak, Non?</p>
<p><strong>Tak Sekadar Bacaan</strong><br />
Memang bacaan yang berkembang saat ini tak sekadar bacaan yang nggak ada pengaruhnya. Terbukti dalam?  beberapa kasus bacaan tersebut mampu memicu masalah lain. Seperti sebuah surat pembaca dari salah seorang yang mengaku gay menanyakan bagaimana mendapatkan majalah Spartacus yang memang menjadi semacam wadah para gay untuk saling berkomunikasi, tanpa ragu-ragu pihak tabloid Map memberikan bocorannya, lengkap dengan alamat dan kover majalah tersebut (Map, Edisi?  Juni 1999). Ckckckâ€¦ bahaya itu!</p>
<p>Akibat lain â€”meski tidak selalu berhu-bungan langsungâ€” bahwa bacaan dan gambar ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan gaya hidup masyarakat industri, adalah menjamurnya remaja yang bercita-cita menjadi model â€”yang tentu saja menjual imaji ke-telanjangan wanita. Kemudian mereka menjadi terbiasa dengan obrolan seputar seks tanpa tedeng aling-aling. Ya, selain populer juga dapat uang banyak tanpa harus berpikir keras.</p>
<p>Tabloid dan majalah yang menjual imaji ketelanjangan, juga mampu mengalihkan per-hatian pembacanya, khususnya remaja dari media sejenis yang telah ada sejak dulu, seperti novel-novelnya Fredy S, misalkan. Padahal di novel-novel tersebut menurut pengakuan seorang teman yang pernah membacanya, bertaburan kata-kata jorok bin porno.</p>
<p>Kamu nggak nyangka kan, kalau sekarang banyak teman-teman remaja yang menikmati media semacam itu. Banyak, lho. Malah bisa jadi itu adalah teman dekat kamu. Tak menutup kemungkinan. Karena begitu mudah didapat. Harganya? Semangkuk bakso! Murah, Brur!</p>
<p>Jadi, bacaan dan gambar yang dimuat dalam majalah seperti itu mampu menciptakan gaya hidup tersendiri bagi pembacanya. Khususnya remaja, yang memang masih labil kepribadiannya, kalau tak mau disebut miskin idealisme. Malah tak mustahil, dalam tataran tertentu bacaan semacam itu mampu menjadi self confidence builder alias pembangun rasa kepercayaan diri. Nggak percaya? Jangan dicoba.</p>
<p>Malah Brur, kini tidak saja menjamur media yang menjadi corong revolusi seks seperti itu. Kalo dulu remaja sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan dan membaca majalah atau buku-buku begituan, sekarang malah nggak perlu dicari &#8216;nyamperin&#8217; sendiri. Selain jenis bacaan seks, kamu perlu juga tahu bahwa media yang mengusung ide-ide kebebasan lain telah banyak bermunculan. Penyebarluasan ajaran tukang sihir lewat media semacam Posmo atau Mistik dan sejenisnya harus diwaspadai. Tak mustahil akan menjadi wadah &#8216;curhat&#8217; para pencinta mistik dan perdukunan. Kalo ini dibiarkan, bisa bahaya. Tentu, mengingat bahwa itu sekadar bacaan. Benar nggak Boy?</p>
<p><strong>Perlu Pembenahan</strong><br />
Semua orang sepakat bahwa kebebasan pers yang tidak bertanggung jawab ini hanya akan menciptakan masyarakat pembaca kelas rendahan. Bahkan bukan tak mungkin bila kemudian kita menjadi The Dreamer Society alias masyarakat pemimpi. Persis sinetron-sinetron kita yang tak &#8216;membumi&#8217; alias melulu menampilkan kehidupan glamour yang &#8216;melangit&#8217;. Padahal masyarakat kita kan justru banyak yang kere.</p>
<p>Menghadapi era globalisasi kebodohan ini tentu saja kita tak bisa hanya diam berpangku tangan. Sebagai remaja muslim, kita harus mampu menyikapi masalah ini â€”dengan bijak tentunya. Artinya, kita juga selain kudu selektif dalam memilih dan memilah bacaan, juga harus turut serta menciptakan suasana yang kondusif untuk mewujudkan remaja yang bersih. Bersih lahir bathin!</p>
<p>Kata orang bijak, lebih baik menyalakan sebatang lilin ketimbang terus menerus mengutuki kegelapan. Artinya, kita tak bisa hanya cukup mengutuk media yang memang menjual imaji ketelanjangan wanita, tapi kita juga harus berusaha untuk menyelamatkan diri kita dan juga teman-teman remaja yang lain. Tentu saja dengan mencari solusi yang jitu untuk &#8220;mematikan&#8221; media yang seperti itu.</p>
<p>Sebagai remaja, kita barangkali merasa bahwa bacaan yang bertebaran saat ini tak menjamin pemikiran kita bersih dari &#8216;virus&#8217; berbahaya yang sengaja disebar pihak-pihak yang tak menyayangi remaja alias tak ber-tanggung jawab terhadap masa depan remaja. Bagaimana pun juga kita semua menyadari bahwa masa depan bangsa dan peradaban ini ada di tangan remaja.</p>
<p>Dengan perkembangan seperti ini, sepertinya remaja telah kehilangan bacaan yang menghibur dan mampu memberikan gambaran yang baik dalam aktivitas hidup kesehariannya. Tentu karena bacaan yang baik itu bukan hanya menghibur tetapi membawa muatan yang benar dan baik bagi pembacanya. Ironisnya, kini begitu sesak dengan media yang menjadikan seks, klenik dan ide-ide kebebasan sejenis sebagai komoditi. Dulu, barangkali remaja di tahun 80-an masih menemukan novel-novel yang &#8216;bersih&#8217; dari keliaran seks seperti sekarang. Sebut saja misalnya ada novel remaja yang mengisahkan tentang pembauran antara etnis Cina dengan pribumi seperti pada kisah Cinta Bersemi di Seberang Tembok karya Bagin. Atau novel serupa karya Wahyu Dewanto dalam kisah Senandung Puncak Gunung. Dan tak ketinggalan novel remaja karya Andy Wasis yang mengisahkan Hen Nio gadis Cina yang lebih senang dipanggil Heni dan sudah merasa 100 persen orang Indonesia dalam kisah Setangkai Anggrek Putih. Terus terang saja, bacaan tersebut jauh dari eksploitasi seks secara liar seperti yang ada di media lherr saat ini. Kalau pun ada nggak sebebas sekarang. Kalo sekaran selain mudah diakses juga lebih &#8216;berani&#8217;.</p>
<p>Dulu di masa Rasulullah saw dan para Khulafa Ar Rasyiddin?  menjalankan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yakni ketika Islam diterapkan sebagai sebuah ideologi. Masyarakat hanya disuguhi dengan?  nilai-nilai Islam yang banyak bertebaran dalam kitab-kitab fiqih, kitab-kitab tarikh dan lain sebagainya. Yang intinya membina kepribadian kaum muslimin. Tersedia banyak kitab untuk membina hati kita seperti Minhajul Abidin karya Imam Ghazali, Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah. Atau tulisan-tulisan dalam buku Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu (terjemahan) karya Ibnu Qayim Al Jauziah yang bisa menjaga kesucian cinta kita, Sampai kitab fiqih politik seperti karya monumental Imam Al Mawardhi, Al Ahkamus Shulthaniyah. Kan itu bagus untuk menambah wawasan, apalagi buku-buku tersebut sekarang bisa kita dapati dengan mudah berkat jasa para penerjemah untuk memudahkan kita mempelajari. Betul nggak, Brur?</p>
<p>Namun kenyataanya? Wow, kebanyakan dari kita teryata masih doyan memelototi gambar-gambar porno dan bacaan-bacaan menyimpang dari nilai-nilai Islam. Sekali lagi, bila dibiarkan, tak mustahil bila kemudian menyebar cepat bagai virus untuk merusak pemikiran remaja kita. Bahaya bin gawat, Non!</p>
<p>Terus terang saja, selain masih sedikit media yang membawa bendera Islam, juga banyak faktor lain yang berhasil memalingkan remaja dari suasana islami. Kondisi masyarakat yang liberal. Gimana nggak liberal, masyarakat kita saat ini bebas nilai. Nggak peduli lagi apakah perbuatan yang dilakukannya sesuai ajaran Islam apa nggak. Yang ada dalam pikirannya adalah bisa atau tidak untuk dilakukan.</p>
<p>Derajat takwa individunya minim, tak mustahil kalo mudah goyah. Dus, ditambah fungsi negara sebagai pelindung berubah menjadi pemangsa. Idih, syerem amat!</p>
<p>Iya, gimana nggak serem, kewajiban negara kan melindungi rakyat, dengan perlindungan total. Bukan hanya lahiriahnya saja, tapi sekaligus pikiran dan jiwanya. Sebab kalo cuma dijamin bentuk fisiknya doang, sementara pikiran dan jiwanya kosong dari nilai-nilai ruhani, maka tak heran bila kita mudah mendapati orang pandai tapi bermoral bejat. Berabe, kan?</p>
<p>Nah, pemerintah harusnya mampu menjadi pelindung rakyat dengan menciptakan rasa aman. Aturan dan sanksi diberlakukan dengan tegas tanpa pandang bulu. Nggak kayak sekarang, amburadul bin kusut, Brur! Tapi inilah kapitalisme, bukan Islam. Kalo dalam Islam nggak bakal begini jadinya.</p>
<p><strong>Sekarang Saatnya Media Islam!<br />
</strong>Sangat disayangkan, media Islam saat ini tak tampil sebagai media alternatif di tengah maraknya bacaan yang bikin remaja dan juga orangtua gerah. Ironisnya, justru remaja Islam yang kena getahnya. Bahkan sebenarnya bukan saja kena getahnya tapi telah menjadi pengikut setia &#8220;sabda-sabda&#8221; yang dihembuskan media begituan.</p>
<p>Tak tanggung-tanggung, media khusus bagi remaja pun saat ini tak luput dari aroma seks dan imaji ketelanjangan. Sebut saja Hai yang barangkali menjadi trend setter majalah remaja pria tercatat beberapa kali menampilkan imaji ketelanjangan via edisi khususnya yang bertitel peringkat cewek terseksi. Bisa ditebak, majalah itu mampu menjadi penyalur gejolak nafsu remaja yang liar.</p>
<p>Dengan demikian, sekali lagi, bahwa bacaan tak sekadar bacaan an sich. Tetap saja pada prakteknya itu menciptakan trend tersendiri bagi pembacanya. Tentu saja ini dibutuhkan sikap yang serius dari pemerintah untuk mengerem atau bahkan bisa jadi memberangus media semacam itu. Kalau hanya dihimbau atau diseru agar masyarakat bisa memilih dan memilah media, itu sulit. Karena individu dalam sebuah masyarakat adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Bila masyarakatnya rusak, tentu saja individu yang baik-baik akan terpengaruh dan tak mustahil bila kemudian ikut amburadul.</p>
<p>Jadi, penyelesaian itu harus betul-betul menyeluruh. Pertama, memang harus ditanam-kan ketakwaan individu sebagai benteng lapis awal. Sehingga indvidu secara swadaya bisa menjaga dirinya. Namun ini pun harus didukung dengan sikap kontrol dari masyarakat yang harus mewaspadai setiap bacaan yang bakal merusak moral remaja. Mereka harus memiliki perasaan yang sama bahwa itu adalah media yang merugikan. Semuanya sepakat menyata-kan kesalahan bila hal itu memang salah. Dan rame-rame membenarkan bila memang hal tersebut memang benar.</p>
<p>Kemudian yang terakhir sebagai pilar yang mau tidak mau harus kuat adalah adanya peraturan dan sanksi dari negara sebagai pelindung individu dan masyarakat. Negara harus tanggap terhadap berbagai problem masyarakat dan kemudian tegas menjatuhkan sanksi. Jangan takut!</p>
<p>Nah, media Islam bisa menjadi teman sekaligus guru yang bisa membina dan mengarahkan pembacanya kepada kebenaran dan kebaikan. Bukan impian sebenarnya, bila kita mau mulai untuk menyadarkan mereka secara konsisten dan penuh kesabaran dan keberanian dalam mengungkap berbagai ke-maksiatan. Apalagi saat ini, maksiat telah menjadi komoditi dan sifatnya global.</p>
<p>Islam, sebagai alternatif pemecah kehidupan bisa dibangun melalui penanaman awal via media yang nantinya bakal melahirkan masyarakat terdidik, khususnya remaja macam kamu. Tentu saja dengan harapan, agar tak terulang kejadian tragis serupa seperti saat ini.</p>
<p>Jadi, selain selektif memilih dan memilah bacaan, peran masyarakat dan negara juga sangat dibutuhkan. Begitu, Bruru!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 14/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengintip-bacaan-remaja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PlayStation Mania</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/playstation-mania</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/playstation-mania#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 03:44:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/playstation-mania/</guid>
		<description><![CDATA[Munculnya puluhan, bahkan ratusan rental mesin fantasi perlu mendapat perhatian serius. Gimana nggak, mesin fantasi yang bikin pemainnya terpesona bahkan terkesima dengan adegan-adegan dan gambar-gambar yang berhasil ditampilkannya mampu mencipta ekses baru. Setidaknya, bakal menciptakan suasana baru yang sangat berbahaya bagi perkembangan anak-anak. Nggak percaya? Hampir seratus persen yang antri nunggu giliran main di rental-rental [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Munculnya puluhan, bahkan ratusan rental mesin fantasi perlu mendapat perhatian serius. Gimana nggak, mesin fantasi yang bikin pemainnya terpesona bahkan terkesima dengan adegan-adegan dan gambar-gambar yang berhasil ditampilkannya mampu mencipta ekses baru. Setidaknya, bakal menciptakan suasana baru yang sangat berbahaya bagi perkembangan anak-anak. Nggak percaya? <span id="more-15"></span>Hampir seratus persen yang antri nunggu giliran main di rental-rental PlayStation adalah anak-anak SD dan SMP. Gawat, Brur!</p>
<p>Apalagi kualitas gambar yang berhasil diciptakan lewat PS-2 alias PlayStation sekuel 2 lebih dramatis. Mesin fantasi keluaran Sony ini nyaris sempurna. Tekken adalah game yang sama pada PS generasi terdahulu, hanya di PS-2 grafisnya lebih bagus. Anak-anak yang sudah terbiasa main game ini pasti hapal betul bagaimana para jagoan hayalan mereka bertarung. Sekadar tahu saja, di PS-2 ini semua tokoh Tekken bertarung memperebutkan julukan King of Iron Fist. Dari mulai Paul, pukulannya bisa lebih dahsyat dengan lebih banyak efek, begitu juga jagoan lainnya Ling Xiaoyu kelihatan lebih menggemaskan, pun tak ketinggalan Phoenix yang selalu bertampang siap tempur akan kelihatan lebih sangar. Dan Eddy yang memiliki tendangan maut Hwoarang yang bertubi-tubi itu tampil dengan kualitas gambar yang nyaris sempurna. Walhasil, anak-anak SD makin kesengsem untuk betah main mesin fantasi itu. Paling tidak menurut pengakuan Boby, anak kelas empat SD yang sering main game ini, di salah satu rental PS.</p>
<p>Itu baru satu judul dari sekian ratus game yang telah menjadi kontributor mesin fantasi Play Station ini. Sebut saja Street Fighter EX3, Dark Could, Oni Musha, Ridge Racer, The Bouncher, Kessen (game strategi, pemainnya harus bisa mengendalikan hampir 100 Samurai berkuda dalam sebuah pertempuran). Atau game lain seperti Munch&#8217;s Oddysee dan bisa juga menghayal menjadi bintang sepak bola lewat FIFA Soccer 2000 atau di PS-2 ada International Superstar Soccer yang bakal membuat pemainnya betah berlama-lama di depan monitor tv dengan tangan asyik memainkan tombol-tombol joystick.</p>
<p>Tentu, melihat para penyewa PlayStation ini kebanyakan remaja tak mustahil bila mereka tak terkontrol dalam membelanjakan uangnya. Tidak hanya itu, akibat lanjutnya adalah bikin malas dan tidak berpikir produktif bagi anak-anak. Kalo ini yang terjadi, maka tak heran bila kemudian muncul globalisasi malas. Walau menurut pengakuan sejumlah anak yang biasa mangkal di salah satu rental PlayStation?  sekitar jalur lalu-lintas Bogor-Dramaga, bahwa kerelaan mereka mengeluarkan uang 3000 perak untuk satu jam main adalah sebagai obat penghilang stres. Tentu saja alasan seperti ini?  tidak bisa dipertanggungjawabkan, mengingat meluncur dari mulut anak SD.</p>
<p>Nah, ini nggak bisa dibiarkan terus, tapi harus ada upaya serius untuk meredam laju pembodohan masal ini. Terus terang, kenapa kita setuju menggunakan kosa kata pembodohan masal adalah karena bisnis tersebut mengarah kepada pemandulan kreativitas anak. Sebenarnya bukan hanya anak-anak, tapi remaja dan bahkan orang dewasa pun betah main PS ini, itu menurut Agus, sang penjaga salah satu rental PS di Bogor. Waduh, berabe, nih!</p>
<p><strong>Tambang Uang</strong><br />
Siapa sih yang nggak tergiur dengan bisnis rental PS ini. &#8220;Bisnis ini cepat kembali modal. Dengan modal sekitar 5 juta rupiah, itu bisa kembali dalam jangka waktu empat bulan,&#8221; komentar Agus salah seorang penjaga rental di daerah Darmaga, Bogor. Wuih, heboh juga, ya?</p>
<p>Di rentalnya, Agus menyewakan sekitar 4 unit mesin fantasi PlayStation, setiap harinya bisa mengeruk untung bersih sekitar 50 ribu perak. Itu kalo hari biasa. Kalo hari libur meningkat sampai menyentuh angka minimal 80 ribu perak. Maka tak heran rental PS yang baru sekitar 2 minggu dikelola bareng teman-temannya ini mampu mengantongi pendapatan bersih 700 ribu rupiah. Tentu bukan angka yang sedikit.</p>
<p>Bila mau coba-coba dikalkulasikan, misalkan rata-rata pendapatan bersih sehari dari satu rental adalah Rp 50.000,-. Dalam sebulan berarti mampu mengeruk Rp 1.500.000,-. Dalam setahun bisa mengantongi Rp 18.000.0000,-. Wuih, benar-benar tambang uang.</p>
<p>Namun, tentu saja di balik prospek cerah bisnis penyewaan mesin fantasi ini, kita harus waspada dan jeli melihat akibat yang muncul kemudian. Nggak mustahil kan, teman-teman remaja atau adik-adik SMP dan SD menjadi generasi yang tidak produktif dan tidak kreatif. Bahkan tak mustahil bila kemudian menjadi generasi penghayal kelas berat.</p>
<p>Belakangan, kita bakal menghadapi bahaya yang cukup serius ketika gempuran budaya asing lewat mesin fantasi secara global ini makin marak dan merajalela. Soalnya, melihat kesuksesan Sony dengan PS dan PS-2 nya yang mampu menjual 72 juta unit sampai tahun ini, para produsen mesin fantasi lainnya bakal mengadakan perang terbuka. Sebut saja Nintendo 64, Dreamcast, dan pemain baru yang diperkirakan muncul awal 2001, X-Box dengan &#8216;isi perut&#8217; Prosesor Intel Pentium III, 600 MHz. Mesin fantasi ini hasil rekayasa teknologi informasi raksasa komputer Microsoft. Bill Gates sang bos Microsoft bahkan mulai mendekati beberapa pembuat software games terkemuka macam Konami, Capcom, Electronic Arts, dan Edios yang terus terang saja selama ini menjadi penopang utama Sony.</p>
<p>Bagaimana dengan kita bila perang terbuka mesin fantasi itu berlangsung? Kita dan anak-anak yang lain bakal menjadi pasar mereka. Dan, tentu saja, bukan hanya uang kita yang melayang &#8216;dirampas&#8217; mereka, tapi juga mereka berhasil menciptakan trend budaya baru lewat mesin fantasinya. Langkah berikutnya, kita dan remaja yang lain bakal menjadi proyek percontohan dari sebuah generasi yang gegar budaya. Mengerikan kawan!</p>
<p><strong>Perlu Kesadaran</strong><br />
Sebagai seorang muslim, tentu saja hidup ini bukan cuma untuk mencari hiburan semata. Kita harus bisa memilih dan memilah setiap perbuatan yang bakal kita lakukan. Jangan sampai kita melakukan aktivitas yang tak banyak manfaatnya. Apalagi kalo harus melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Bermain game lewat mesin fantasi memang tak sampai jatuh kepada perbuatan haram. Alias nggak berdosa main game melalui mesin fantasi itu. Hanya saja, bila hal itu dilakukan sampai melupakan aktivitas yang lain. Terlebih bila main game itu menyedot perhatian kita dari kewajiban. Bisa berabe!</p>
<p>Jangan sampai kita diganjar dosa oleh Allah SWT gara-gara asyik main PS sampai lupa sholat, misalkan. Atau kita betah berjam-jam sampai lupa sekolah. Wuih, keterlaluan banget! Makanya, perlu sebuah kesadaran dalam diri kita dalam menyikapi persoalan ini. Nggak bisa main-main.</p>
<p>Kesadaran seperti apa? Nah, ini baru pertanyaan. Begini sobat. Sebagai seorang remaja muslim kita dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik dalam hidup ini. Berperilaku sopan, menjaga kehormatan dan kesucuian diri. Ditambah tidak mencoba mencampakkan diri ke dalam kasus yang bisa merendahkan martabat kita sebagai manusia.<br />
Oke kita setuju kok, kalo dikatakan bahwa main PS itu mubah. Betul memang mubah. Alias nggak dosa. Cuma, kita memang harus sadar bahwa hidup ini bukan cuma untuk hura-hura semata. Hidup ini bukan hanya aktivitas menghirup udara segar lalu menghembuskannya kembali tanpa terikat dengan norma-norma. Termasuk dalam urusan ini, meski itu sah-sah saja, tapi tetap kita harus waspada. Karena tak mustahil bila sudah nyandu bisa lupa segalanya.</p>
<p>Memang, bukan hanya kita yang dituntut kesadaran tinggi, tapi semua orang. Dari mulai kita, orangtua kita, masyarakat (termasuk pengelola rental PS), dan negara harus bekerja sama untuk menciptakan kondisi yang baik. Jangan menciptakan situasi yang justru bikin nggak karu-karuan. Soalnya, kalo ini terjadi secara masal alias mengglobal, maka akibatnya juga lebih besar dan lebih gawat. Kita menjadi masyarakat malas dan tidak produktif! Ih, serem amat!</p>
<p><strong>Game Juga Nggak Bebas Nilai</strong><br />
Waduh, ini juga masalah, Brur. Soalnya, game yang dimainkan sama kita atau malah adik-adik kita bertaburan ajaran ideologi lain. Jelas, budaya yang diembannya juga bermuatan ideologi mereka. Malah celakanya, game-game di PS-2 saja misalkan, banyak yang diadaptasi dari film layar lebar. Sebut saja yang bakal dimasukkan ke dalam mesin fantasi PS-2 ini adalah film Star Wars Episode I, The World Is Not Enough, dan Austin Power. Waduh, bila ini jadi, bisa tambah runyam. Nggak salah, gaya hidup dalam cerita itu bisa lebih terasa pengaruhnya. Belum lagi tema dalam game-game yang ada sekarang, ada yang mengeksplorasi kekerasan seperti pada Tekken, Fighting Force 2, Mortal Kombat Trilogy dan Street Fighter EX3. Dijamin berdarah-darah!</p>
<p>Brur, boleh dibilang game sekarang malah bisa bercerita. Dan Kisahnya tidak cocok untuk konsumsi anak-anak. Tapi yang namanya anak-anak, yang penting main!</p>
<p>Kalo boleh mengutip salah satu game terbaru berjudul Syphon Filter 2. Kita bakal mendapati alur cerita yang mengarah kepada kekerasan. Sinopsisnya, berawal dari sejumlah laporan utama di koran-koran internasional yang menurunkan berita sejumlah kejadian buruk yang kelihatannya tidak berhubungan. Penduduk yang nggak bersalah ditembak di propinsi Heliongjiang, Cina. Sebuah misil nuklir dihancurkan sebelum diledakkan di Kazakhstan. Sejumlah data yang sangat rahasia bocor ke tangan sebuah grup Cina, yang mengakibatkan hubungan Cina-AS memanas. Terus dieksplorasi seputar itu yang belakangan ternyata ada proyek pembuatan senjata pamungkas berupa?  senjata biologis. Cerita cukup ruwet tapi ujung-ujungnya adalah perang senjata. Weleh-weleh, bisa bahaya dan berpengaruh terhadap kepribadian remaja dan anak-anak.</p>
<p><strong>Cegah dan Tangkal</strong><br />
Main game, baik lewat PS maupun komputer PC dikategorikan sebuah permainan atau lahwun dalam bahasa Arab. Kata lahwun diartikan dalam bahasa Indonesia dengan hiburan dan permainan. Al Quran dan Al Hadits telah menggunakan kata lahwun. Rasulullah saw bersabda: &#8220;Hendaklah kalian senantiasa berlatih memanah, karena ia sebaik-baik lahwun&#8221;. (HR. Al Bazzar dan Ath Thabarani dari Sa&#8217;ad) Arti lahwun di sini adalah permainan.</p>
<p>Dan arti yang mencakup seluruh makna lahwun di dalam Al Quran dan Al Hadits adalah: Menyibukan diri dalam mengerjakan sesuatu yang dilarang (haram/makruh) atau melakukan permainan yang mubah yang mengakibatkan seseorang menjauh dari aktivitas melakukan perkara yang wajib dan sunnah.</p>
<p>Dalam Islam, olah raga adalah termasuk lahwun yang diperbolehkan. Namun tidak sembarang olah raga yang dianjurkan oleh Islam, melainkan olah raga yang tujuannya membina setiap muslim untuk menjadi seorang mujahid, misalnya berkuda, panahan, menembak, lempar lembing, loncat galah, loncat tinggi, loncat jauh, renang, lari, gulat, dan silat. Imam Asy Syathibi menyatakan: &#8220;Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang.&#8221; Selanjutnya beliau menambahkan, &#8220;Namun demikian hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi&#8221;. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad shahih: Setiap permainan di dunia ini adalah bathil, kecuali tiga hal; memanah, menjinakan kuda, dan bermain dengan istri&#8230; Yang dimaksud bathil di sini, Brur, adalah sia-sia atau yang semisalnya, yang tidak berguna dan tidak menghasilkan buah yang dapat dipetik (Al Muwaafaqaat, Jilid I, hal 84).</p>
<p>Nah, selain yang dibolehkan, ada juga lahwun yang diharamkan, seperti judi. Atau lahwun yang sebenarnya mubah tapi karena mengarah kepada yang haram atau meninggalkan kewajiban, maka hukumnya haram. Sebagaimana dalam sebuah kaidah syara&#8217; yang berbunyi, &#8220;Setiap sesuatu yang menghantarkan kepada yang haram, maka hukumnya haram&#8221;.</p>
<p>Nah, lho! Makanya jangan sampai betah main PS lalu meningglkan kewajiban sholat dan kewajiban lainnya. Dosa, Brur!</p>
<p>Apalagi kalo permainan tersebut terorganisir (lahwun munadldlamun) bisa berabe. Karena tentu saja itu adalah salah satu upaya untuk menjauhkan kaum muslimin dengan Islam itu sendiri. Bayangin aja, kalo remajanya asyik main game baik di PS maupun lewat komputer PC secara terus menerus sampai tak terkontrol bisa ditebak karakter generasi yang bakal datang.?  Tentu saja itu nggak lepas dari upaya Barat dalam menghancurkan Islam. Nggak terasa memang, tapi lama-lama kita jadi generasi pemalas kelas wahid! Dan tak mustahil pula di masa yang akan datang bakal lahir generasi yang cuek terhadap Islam. Alih-alih terikat dengan aturan-aturan Islam, bisa jadi mereka malah nggak tahu sama sekali tentang Islam dan hukum-hukumnya. Aduh, ngeri deh, Brur!</p>
<p>Menurut Sayyid Quthub: &#8220;Kehidupan dunia hanyalah merupakan arena permainan dan hiburan belaka, bila di balik kehidupan itu tidak ada tujuan yang lebih mulia dan kekal atau bila kehidupan dunia ini menjadi tujuan dan tidak dikaitkan dengan peraturan hidup yang bersumber dari Allah swt&#8230;&#8221; (Fi Dzilaalil Quran, Jilid VII/472).</p>
<p>Jadi, bagi para game mania, selain perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa kita sebagai seorang muslim yang harus bergaya hidup islami, juga wajib disadari bahwa meski permainan dan hiburan tersebut hukumnya mubah alias boleh, namun jangan sampai lupa diri. Bahkan menjerumuskan diri ke dalam kemaksiatan karena meninggalkan kewajiban.</p>
<p>Menjamurnya bisnis penyewaan PlayStation ini perlu disikapi dengan serius. Karena kalo melihat faktanya di lapangan, mereka yang betah bermain tak semata karena stres tapi hobi, alasan stres hanyalah alasan klise. Sikap masyarakat pun perlu diperbaiki, jangan cuek bebek saja terhadap perkembangan yang menjurus kepada sikap malas dan tidak kreatif-produktif ini.</p>
<p>Keuntungan duniawi yang katanya &#8216;gede&#8217; itu jangan sampai mengorbankan masa depan kehidupan remaja. Nggak benar dan nggak baik!</p>
<p>Gimana?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 13/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/playstation-mania/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Wanita Tak Jadi Korban</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/agar-wanita-tak-jadi-korban</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/agar-wanita-tak-jadi-korban#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 03:38:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/agar-wanita-tak-jadi-korban/</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, wanita diciptakan untuk menyenangkan laki-laki. Benar demikian? Kalau dilihat faktanya, memang menunjukkan begitu. Di tempat-tempat hiburan, perempuan telah menjadi barang dagangan yang bisa menggairahkan bagi laki-laki. Tak ada tempat hiburan yang &#8216;menjual&#8217; laki-laki, kan? Malah Demosthenes pernah berkata, &#8220;Kita perlukan gundik untuk memuaskan kesenangan kita, dan istri untuk melahirkan keturunan kita.&#8221; Sejauh ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang, wanita diciptakan untuk menyenangkan laki-laki. Benar demikian? Kalau dilihat faktanya, memang menunjukkan begitu. Di tempat-tempat hiburan, perempuan telah menjadi barang dagangan yang bisa menggairahkan bagi laki-laki. Tak ada tempat hiburan yang &#8216;menjual&#8217; laki-laki, kan? Malah Demosthenes pernah berkata, &#8220;Kita perlukan gundik untuk memuaskan kesenangan kita, dan istri untuk melahirkan keturunan kita.&#8221;<span id="more-14"></span></p>
<p>Sejauh ini fakta telah menempatkan wanita pada posisi yang membuatnya terpuruk. Di jaman dulu, wanita ditempatkan pada posisi yang rendah. Boleh dikatakan, tak layak hidup. Seperti apa yang pernah dilakukan oleh para ayah di masa jahiliyah yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Masa itu terus berlanjut seiiring dengan makin berkembangnya ilmu dan teknologi, yang membuat penindasan itu bervariasi dalam model-model yang tak kalah sadis.</p>
<p>Coba deh, anak cewek pasti hapal bener dengan berbagai kasus pelecehan seksual, misalkan. Nah, pelecehan seksual, sampai sekarang masih hangat untuk dibicarakan, namun terus terang saja, tak ada penyelesaian yang benar dan baik. Wanita seolah tetap terpuruk dalam dunianya yang serba terbatas. Setelah itu, semua masalah ditumpahkan dan wanita jadi penyebab semua itu. Anak cewek menerima? Tentu saja sewot. Meski tanpa disadari mereka sendiri yang sebenarnya menciptakan kondisi itu dengan menyukai aturan yang berlaku di masyarakat sekarang ini. Ibaratnya, ia merasa jijik kalau harus masuk WC, namun karena butuh dan terbiasa, akhirnya dinikmati juga. Bener nggak, Non?</p>
<p><strong>Emansipasi; Racun Atau Madu?<br />
</strong>Sekarang ini kaum wanita makin sering bicara soal martabat dan persamaan derajat dengan laki-laki. Ide-ide feminisme pun berkembang dengan lancar dan tampak mendapat sambutan yang antusias dariâ€”tentuâ€”kalangan wanita. Mereka berpikir bahwa sudah saatnya untuk menyamakan peran dengan laki-laki. Meski akhirnya tanpa disadari narus mengorbankan harga dirinya. Memang, tak semua tuntutan persamaan itu salah, Non. Karena dalam beberapa hal boleh-boleh saja, seperti dalam masalah pendidikan, anak cewek boleh bersaing dengan laki-laki.</p>
<p>Sayangnya, emansipasi yang digembar-gemborkannya untuk mengangkat dan membebaskan wanita dari perbudakan malah menjerumuskannya pada perbudakan baru. Pada masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, wanita telah menjadi komoditas alias barang yang diperjual-belikan. Mereka dijadikan sumber tenaga kerja yang murah atau dieksploitasi untuk menjual barang. Barang jenis industri mutakhir seperti mode, kosmetik dan hiburan, hampir sepenuhnya memanfaatkan &#8216;jasa&#8217; wanita. Pendidikan dan media-massa menampilkan citra wanita yang penuh glamourâ€”sensual dan fisikal. Penuh sensasi, dan tentu nggak ketinggalan, bodi! Wuih, kasihan amat.</p>
<p>Pada masyarakat bebas kayak begini, wanita dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif, kecuali kepentingan industri. Tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Coba bayangin, betapa konyolnya, iklan mobil mewah rasanya belum lengkap kalau tak hadir disampingnya gadis berbodi aduhai. Permen rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual mengunyah permen. Dengan dibalut busana yang minim dan ketatâ€”dan di-shot kameraâ€”Diana Pungky memperlihatkan keampuhan jamu pelangsing tubuh, misalnya.</p>
<p>Akibat lanjutnya, pelecehan seksual manjadi trend tersendiri. Digandrungi sekaligus dikecam. Saling tunjuk hidung antara kaum cowok dan kaum cewek sudah biasa. Sama-sama tak mau disalahkan. Kaum pria protes ketika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual. Ramai-ramai para pria berdalih menirukan gaya sebuah iklan layanan masyarakat yang bunyinya, &#8220;Ba gaimana angka perkosaan akan semakin rendah kalau pakaian anda semakin tinggi?&#8221; Masalahnya beres? Tak cukup sampai di situ, ternyata kaum wanita juga menuduh para cowok karena tak mampu menahan nafsu. Tak ada yang mau kalah dan disalahkan. Jadi gimana dong?</p>
<p>Namun, disadari atau tidak, wanita telah menjerumuskan dirinya ke dalam kubangan yang penuh lumpur, ditambah dengan kondisi lingkungan masyarakat saat ini yang tak ramah bagi seorang wanita. Gimana nggak ramah, setiap hari kondisi masyarakat sepertinya memberikan justifikasi alias pembenaran terhadap apa yang dilakukan kaum Hawa saat ini. Kondisi masyarakat bahkan menuntut kaum wanita untuk berbuat seperti itu. Tentu sangat berbahaya menciptakan kondisi yang tak sehat buat kaum wanita. Walhasil, emansipasi ternyata memberikan racun ganas yang mematikan. Kasihan, ya?</p>
<p><strong>Sosok Wanita Ideal dalam Islam</strong><br />
&#8220;Rasulullah SAW membuat empat buah garis seraya berkata:&#8221;Tahukan kalian apakah ini?&#8217; Mereka berkata: &#8216;Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.&#8217; Nabi SAW. lalu bersabda: &#8220;Sesungguhnya wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad SAW,?  Maryam binti &#8216;Imron, dan Asiyah binti Mazahi.&#8217; (Mustadrak Al-Shahihain 2:497).</p>
<p>Kamu tahu Khadijah? Dialah istri nabi yang pertama dan wanita pertama yang beriman atas kenabian Muhammad SAW. Dia pula yang pertama mendapat gelar ummul mukminiin.</p>
<p>Lahir dari kalangan keluarga yang mulia, jujur dan pemimpin. Dibesarkan di kalangan keluarga mulia, terdidik dengan akhlak yang terpuji, bersifat teguh dan cerdik, sehingga kaumnya memanggil thohiroh karena sangat perhatian terhadap akhlak dan kesopanan yang mulia.</p>
<p>Wanita cerdas dan bisniswati yang sukses dalam menjalankan roda-roda usahanya dan sanggup membiayai hampir seluruh dakwah Rasulullah SAW. Beliaulah teladan &#8220;Khadijah-Khadijah kontemporer abad iniâ€”yang tengah menggapai angan-angan kosong emansipasi yang telah membuatnya meninggalkan segalanya.</p>
<p>Beliaulah satu-satunya usahawati yang terkemuka di jamannya. &#8216;Kerajaan&#8217; bisnisnya meliputi jazirah Arab. Namun tetap rendah hati dan berakhlak mulia, tetap menjaga kesuciannya dan tetap menjadi ibu bagi anak-anaknyaâ€”plus menghormati Rasulullah sebagai suami tercintanya meski usia suaminya lebih muda 15 tahun darinya. Namun Khadijah tetap patuh dan taat. Tidak seperti wanita-wanita kantemporer yang egonya tinggi dan cenderung lepas kendali bila sudah berada di papan atas. Bahkan tak segan untuk menjalin ikatan lahir bathin dengan mitra bisnisnya yang laki-laki. Atau malah kedudukannya dipakai untuk mendikte dengan melakukan pelecehan seksual terhadap anak buahnya. Seperti apa yang digambarkan dalam film Disclosure-nya Demi Moore yang meneror bawahannya yang diperankan Michael Douglas. ltu di film, tapi tak mustahil hal itu terjadi dalam dunia nyata. Gimana, Non, mungkin kan?</p>
<p>Tahu tentang sosok Asma binti Yazid? Beliau adalah seorang orator, singa podium dari kalangan wanita. Dia bukanlah Megawati atawa Ratna Sarumpaet, bukan pula Karlina Leksono atau Wardah Hafidz.</p>
<p>Prestasi dan prestisenya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bener, nggak bohong. Pun pengabdiannya pada Islam telah membuat dirinya disegani. Selain sebagai singa podium, ia juga adalah pejuang yang tabah, wanita terhormat, tergolong ahli pikir dan ahli agama. Bahkan beliau ini dipercaya untuk menjadi delegasi wanita dalam menyampaikan segala uneg-uneg atau permasalahan yang berhubungan dengan para wanita kepada Rasulullah SAW. dalam majelis syuro.</p>
<p>Suatu ketikaâ€”saat sidang Asma melontarkan pertanyaan yang membebani kaum wanita. &#8220;Ya Rasulullah. Aku rnewakili kaum wanita untuk menanyakan kepadamu tentang beberapa hal. Bukankah engkau diutus oleh Allah untuk rahmat bagi manusiaâ€”laki-laki dan wanita? Namun dalam beberapa masalah ternyata kami merasa dibedakan dengan laki-laki. Kami sama-sama beriman dan bertakwa, narnun kami juga merasa iri dengan perbuatan kaurn laki-laki yang seolah menempatkan mereka pada posisi yang baik untuk mendapatkan pahala yang besar. Mereka boleh berjihad, semantara kami hanya mengurus anak-anak dan menjahit pakaian mereka. Mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan pahala sholat jumat, sementara kaum wanita tak boleh. Bagaimana ini ya Rasulullah?&#8221;</p>
<p>Mendengar &#8216;protes&#8217; demikian Rasulullah SAW. kaget, meski protesnya tentu saja tak disertai gelar poster dan demo mogok makan. Ternyata, Non, yang diproteskan para muslimah itu bukan keinginan mendapatkan kalung 24 karat seberat 2 kilogram, atau persamaan hak untuk mendapatkan jabatan eksekutif dari jenjang karir papan atas. Yang mereka tanyakan justru persamaan dalam memperoleh pahala dan menjalankan syariat. Hebat, bener!</p>
<p>Kemudian yang mulai Rasulullah SAW. dengan bangga bertanya kepada peserta sidang yang lain: &#8220;Pernahkan kalian mendengar pertanyaan yang lebih baik selain soal-soal agama seperti wanita ini?. Ya Rasulullah, kami tidak menyangka dan berpikir wanita itu akan bertanya sedemikian jauh,&#8221;?  jawab hadirin kompak dan spontan.</p>
<p>&#8220;Wahai Asma&#8217; kau pahami dan sampaikan nanti pada kaummu. Kebaktianmu pada suami dan usaha mencari kerelaannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan suami kalian (kaurn pria),&#8221;?  jawab Rasulullah singkat, namun padat dan bermakna tinggi.</p>
<p>Jawaban tersebut karuan saja menggembirakan hati Asma dan segera ia berlari pulang dan menyampaikan berita itu kepada para wanita. Dan mereka pun menerima dengan senang hati. Tidak banyak bantahan dan tuntutan seperti halnya ibu-ibu PKK, atau srikandi-srikandi kontemporer yang ingin berperan ganda, sampai-sampai melalaikan yang wajib dan mengejar yang mubah bahkan makruh dan haram sekalipun. Bisa berabe, Non!</p>
<p>Dua tokoh inilah, yang setidaknya bisa dijadikan sosok ideal wanita muslimah. Kamu juga bisa Non, asal mau mengubah diri. Bener, semua orang juga bisa. Masak untuk maksiat aja bisa, kenapa untuk keridhoan Allah nggak mampu? Ayo, kamu bisa!</p>
<p><strong>Islam Memuliakan Wanita</strong><br />
Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuriaâ€”.terletak antara wilayah Irak dan Syamâ€”berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu&#8217;tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan saja sang pejabat, tapi kerajaan Romawi langsung?  digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwayatkan &#8216;kepala&#8217; pasukan berada di Amuriah sedangkan &#8216;ekornya&#8217; berakhir di Baghdadâ€”bahkan masih banyak tentara yng ingin berperang. Fantastic! Untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan. Itu wujud perhatian Khalifah (pemimpin kepada rakyatnya). Hebat ya perhatian Islam sama rakyatnya. Nggak seperti sekarang, kaum muslimin di Maluku digasak, malah sang pemimpin menutup mata. Gawat bin bahaya, pemimpin seperti itu mah.</p>
<p>Dalam Islam, kehormatan manusia baik laki-laki maupun wanita, dijunjung demikian tinggi. Haram hukumnya melanggar kehormatan orang lain. Termasuk tindak pelecehan seksual. Jangankan mencolek, atau bahkan memperkosa, melirik wanita yang bukan mahrom dengan syahwat pun haram hukumnya. Rasulullah pernah memalingkan muka Fudhail karena memandang wanitaâ€”yang saat itu menghadap Rasulullahâ€”dengan syahwat.</p>
<p>Namun amat disayangkan, bahwa wanita-wanita sekarang ini cenderung membiarkan dirinya hanyut dalam gelombang emansipasi yang amburadul. Hampir semua bagian ingin direngkuh demi persaingan harga diri dengan laki-laki. Tak peduli meski akhimya harus mengorbankan harga diri. Kamu, jangan begitu, ya Non!</p>
<p>Banyak wanita yang bekerja di sektor industri dengan tidak memperhatikan apakah jenis pekerjaannya sesuai atau tidak dengan kodratnya sebagai wanita. Apakah jenis pekerjaannya itu membahayakan dirinya atau tidak, menjaga kesuciannya atau tidak, mereka sudah tak peduli. Misalkan kerja di pabrik mengoperasikan mesin giling atau bekerja dipengeboran minyak. Sama celakanya menceburkan diri dengan bekerja di bar atau hotel yang bakal merendahkan martabat dan mengotori kesuciannya. Wah, bahaya, Non!</p>
<p>Tapi ironisnya, disaat kaum wanita negeri ni menggembar-gemborkan emansipasi di segala bidang, ternyata orang-orang di Barat sudah mulai meninggalkannya sedikit demi sedikit. Malah ada yang sampai mengkritik para wanita di negerinya yang rela bekerja hingga tak peduli akan kehormatan dirinya. Paling tidak, Anna Rued yang menulis dalam sebuah bukunyaâ€”Eastern Mail, ia menyebutkan bahwa &#8220;Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyakâ€”yang tidak saja menyatahi kodratâ€”tetapi bisa menghancurkan kehormatannya.&#8221;</p>
<p>Nah, dalam urusan wanita ini, lebih jauh Rasulullah telah mengajarkan kepada kita melalui sabdanya:&#8221;Sebaik-baik kalian adalah yang selalu berbuat baik terhadap istri-istri kalian.&#8221; (HR. Turmidzi).</p>
<p>Kemudian sabdanya yang lain adalah: &#8220;Takutlah kepada Allah dan hormatilah kaum, wanita.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Kata orang, sejarah yang buruk itu memang getir, tetapi banyak orang juga tak bisa belajar dari kegetiran sejarah. Apa maksudnya? Sebagai contoh, kaum wanita sekarang kini tengah dilanda kegetiran hidup, di semua sektor ternyata membuat dirinya tak aman. Semuanya menyisakan masalah bagi wanita dan menempatkannya sebagai korban. Nah, agar tak terus jadi korban lingkungan yang tak ramah ini, maka sudah saatnya para wanita sadar akan &#8216;sejarahnya&#8217; sekarang ini yang amburadul bin kusut. Tidak hanya sadar, tapi juga harus berusaha untuk lepas dari kegetiran hidup itu. Kalau mau bijaksana, tentu harus bercermin kepada Islam.</p>
<p>Kenapa Islam? Karena hanya Islam lah yang telah menempatkan para wanita pada posisi yang seharusnya dan sewajarnya. Islam akan melindungi kehormatan wanita, dan akan memberikan rasa aman, termasuk buat para gadis macam kamu. Hanya saja hal ini kembali kepada kaum wanita apakah mereka ingin menjadi baik atau tetap menjadi korban. Yang jelas Islam telah memberikan segalanya bagi wanita. Dan itu hanya bisa dicapai ketika Islam direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam sebagai sebuah ideologi alias Islam diterapkan sebagai aqidah dan syariat. Tidak seperti sekarang, Islam cuma etalase. Atau cuma simbol belaka, tidak dijadikan sebagai pengatur kehidupan.? </p>
<p>Jadi pilih mana, tetap jadi korban atau ikut Islam? Ya, pilih Islam, lupakan yang lain!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 12/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/agar-wanita-tak-jadi-korban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Muda Yang Bercinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yang-muda-yang-bercinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yang-muda-yang-bercinta#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 20:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/yang-muda-yang-bercinta/</guid>
		<description><![CDATA[Bicara soal cinta selalu menarik. Makanya nggak perlu heran, film-film seputar kisah cinta banyak penontonnya. Laku bak kacang goreng. Film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet pun begitu heboh. Sleepless In Seattle-nya Tom Hanks dan Meg Ryan begitu romantis untuk diceritakan. Pun tak ketinggalan kisah-kisah cinta film Iokal Iaris manis diserbu penonton. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara soal cinta selalu menarik. Makanya nggak perlu heran, film-film seputar kisah cinta banyak penontonnya. Laku bak kacang goreng. Film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet pun begitu heboh. Sleepless In Seattle-nya Tom Hanks dan Meg Ryan begitu romantis untuk diceritakan.<br />
<span id="more-13"></span></p>
<p>Pun tak ketinggalan kisah-kisah cinta film Iokal Iaris manis diserbu penonton. Sebut saja film Yang Muda Yang Bercinta karya sutradara beken Syumanjaya, yang dibintangi WS. Rendra waktu masih muda. Wuih, film itu jadi favorit ibu-ibu kamu saat remajanya. Meski konon kabarnya kontroversial, tapi film tahun 70-an itu tetap mendapat tempat anak muda di Iamannya. Bagaimanapun cinta memang berpengaruh besar dalam kehidupan.</p>
<p>Dan seperti nggak mau kalah dengan sukses para pendahulunya, film-film remaja saat ini sarat dengan tema cinta. Sebut Baja serial tivi seperti Dawson&#8217;s Creek, Beverly Hills 90210, atau film Iayar lebar teranyar keluaran 20th Century Fox garapan sutradara John Schultz, Drive Me Crazy. Tentu tema sentral tetap cinta. Film yang sepertinya khususan buat para remaja ini memang pinter bikin remaja kesengsem berat. Sepanjang nonton film ini, para remaja juga bakal larut dalam lagu-lagu keren&#8217; milik Steps, Backstreet Boys dan Britney Spears. Lagi-Iagi cinta memang bikin hidup Iebih berarti, katanya.</p>
<p>Tapi jangan salah, kamu nggak bisa seenak udel kamu berbuat dalam hidup ini. Sebagai seorang muslim, tentu selalu terikat dengan aturan main dalam Islam. Bagaimana pun juga kamu harus terikat hukum syara. Termasuk dalam urusan cinta ini. Nggak sembarangan, Iho. Lagi pula masa remaja bukan waktu untuk sah-sah saja berhura-hura dan bebas bertingkah laku. Bisa gawat!</p>
<p><strong>Jangan Mendewakan Cinta</strong><br/>Perlu diingat, meski cinta bisa bikin hidup asyik dan oke punya, bukan berarti cinta menjadi dewa. Segalanya hanya untuk cinta dan demi cinta. Nggak begitu, say. Walau bagaimanapun juga kamu tetap seorang muslim, yang dalam hidupnya harus selalu waspada, agar tak kecemplung ke dalam jurang maksiat.</p>
<p>Cinta harus dipahami sebagai sesuatu yang sakral. Sesuatu yang suci. Nggak bisa sembarangan. Karena cinta dan kasih sayang bukan cuma untuk dilampiaskan dalam gelimang kebebasan dan dosa. Nggak kawan. Nggak serendah itu. Setiap orang punya cinta. Kamu juga punya. Kita semua memiliki cinta. Tapi terus terang, cinta kan bukan cuma hubungan dua Iawan jenis Iaki dan perempuan. Bukan cuma sebagai hubungan sempit seperti itu, yang kemudian dijadikan pemuas nafsu liar kamu. Tapi cinta begitu Iuas. Karena ia merupakan perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Yang tentu diberikan oleh Allah SWT. Kita jadi khawatir sama kamu yang menilai cinta cuma sebagai hubungan antara cowok sama cewek. Soalnya, takutnya cinta maIah menjadi malapetaka. Banyak kasus gara-gara mendewakan cinta, malah akhirnya berantakan. lya, kan? Aborsi contohnya, adalah buah dan cinta terlarang. Jauh sebelum melakukan aborsi, pelakunya pasti aktif menjalin hubungan gelap atas nama cinta. Nggak perlu mengajukan alasan macem-macem untuk memperkuat penilaian kamu dalam mendewakan cinta. Cukup, mendewakan cinta itu berbahaya.</p>
<p><strong>Hati-hati Dengan Pesonamu</strong><br/>Punya tampang secute Jason Behr atau segagah James Van Der Beek dan seganteng David Beckham, jangan terlalu mengumbar pesona. Hati-hati, soalnya bagi kebanyakan kaum Hawa, tampang yang begitu bisa bikin jantung berdegup lebih kencang. Suer, tampang kamu yang seperti itu bisa bikin para cewek histeris. Tak mustahil bila kemudian mereka ingin memburu kamu dan menobatkan sebagai cowok idaman. Tentu sesuai dengan kriteria ideal para cewek itu. Makanya, rumusan lagu Backstreet Boys yang berjudul I Want it that way bisa jadi lagu kebangsaannya, meski dalam praktek nggak selalu indah. Bener nggak Non?</p>
<p>Emang yang punya pesona cuma kaum Adam? Ya, nggak dong sayang. Cewek juga bisa bikin laki-laki gemeteran. Coba, temen-temen cowok yang ngeliat cewek secantik Natalie Portman bisa bikin telap. Barangkali efek samping kopi yang bisa bikin jantung berdegup kencang pun masih kalah dengan pengaruh sorot macanya yang tajam milik aktris yang pernah main dalam The Prafesional, dan berperan sebagai Ratu Amidaia di Star Wars: Episode I-The Phantom Menace ini. Malah disebut-sebut Natalie Portman ini sebagai reinkarnasi dan Audrey Hepburn, aktris cantik yang beken banget di tahun 60-an. Bukan cuma Natalie, yang bisa bikin pusing tujuh keliling kaum cowok, tipe Katie Holmes pun bisa membuat suasana hati kaum Adam berbunga-bunga.</p>
<p>Jadi, kalo di sekolah kamu ada tipe cowok dan cewek yang bisa bikin kamu deg-degan seumur-umur, kamu harus menasihatinya agar jangan sembarangan mengobral pesona. Karena kata orang, dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta, dan mata turun ke hati. Jadi, pandangan mata adalah tahap awal. Bila tak dikendalikan dengan baik, bisa bikin berabe. Ujung-ujungnya bisa macem-macem. Cinta bisa membuat kamu gembira, senang, sedih, kecewa dan nyesel, termasuk rugi. Nggak percaya, yang bikin rugi itu adalah cinta terpadu alias terpaksa pakai duit. Lebih celaka lagi bila cinta kamu tak berbalas alias bertepuk sebelah tangan, bias-bisa terpadunya diplesetkan jadi terpaksa pekai dukun! Bisa gawat, Brur!</p>
<p>Nah, berarti sekarang harus hati-hati dengan pesona yang kamu miliki. Nggak boleh diobral kesana kemari. Bahaya!</p>
<p>Aduh, tapi gimana dong, kita kan ingin menikmati cinta juga. Kok sepertinya nggak boleh. Huss.. bukan nggak boleh, tapi harus dikendalikan. Jangan dibiarkan liar kagak karukaruan. Nggak baik, dan yang jelas nggak benar.</p>
<p><strong>Boleh Nggak Pacaran?</strong><br/>Ah, kamu memang pandai dalam urusan ngotot. Begini sayang. Sekali lagi, cinta bukan untuk direndahkan nilainya dengan aktivitas seperti itu. Betul kalo cinta nggak bisa dimatikan, kita juga sependapat dengan pernyataan itu. Tapi, bukan berarti kemudian dipropagandakan dengan gencar lewat aktivitas frontal seperti itu. Pacaran, bagaimana pun juga adalah salah satu aktivitas yang bisa mendorong kamu ke dalam dosa bin maksiat. Nggak percaya? Allah SWT berfirman:</p>
<p>&#8220;Janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan yang tercela dan ialan yang buruk &#8220;(OS: Al lsra: 32).</p>
<p>Meski tidak secara tentulis dalam ayat itu kata-kata pacaran, tapi maksudnya jangan mendekati zina adalah perbuatan seperti pacaran itu. Coba, kamu bisa Iihat, atau bagi kamu yang masih doyan gaul bebas seperti itu bisa merasakan bahwa aktivitas pacanan itu nggak seru bila cuma ngobrol lewat telepon atau bertatap wajah dari seberang pagar sekolah. Pasti ada acara tambahan yang lain. Misalnya, janjian nonton film di bioskop, atau main ke tempat rekreasi. Tentu saja nggak pake acara bawa-bawa saudara atawa teman, apalagi tetangga. Emangnya mau selametan? Cuma kamu bendua. Di situlah aktivitas itu bisa lebih mengarah kepada penzinahan.</p>
<p>Percaya saja deh kalo dikatakan bahwa pacaran bisa mendekati perzinahan. Betul, Non. Ngobrol dengan lawan jenis di tempat yang sepi apalagi gelap bisa bikin setan tergoda untuk jadi provokator. Bayangkan, setan aja tergoda. Kalo sang iblis sudah menjadi provokator, pasti ia mengetuk-ngetuk pintu hatimu agar berjalan semakin jauh. Selain mengetuk-ngetuk pintu hatimu, setan aktif memblokir otak kamu agar nggak bisa berpikir dengan akal sehat untuk melihat kebenaran. Walhasil, prosesi perzinahan pun tak mustahil bila terjadi.</p>
<p>&#8220;Tapi kan kite pacarannya nggak bakal sejauh itu.&#8221; Ah, itu cuma alasan klise. Ngaku deh. Itu kan alasan agar aktivitas kamu yang nyerempet-nyerempet bahaya bisa tetap legal. lya, kan?</p>
<p>Eh, tapi kan ada juga yang pakai jilbab pacaran. Hayo, gimana tuh, boleh nggak?&#8221; Aduh, gimana sih. Mau yang pake jilbab atau nggak bukan urusan pokok. Yang penting kalo dia berbuat menyalahi aturan Allah dan Rasul-Nya, jelas ia melakukan dosa. Yang pake jilbab juga berdosa kalo pacaran. Jadi, pacaran itu nggak boleh, kawan!</p>
<p><strong>Yang Benar Gimana?</strong><br/>Nan, ini baru pertanyaan. Kita seneng menjawabnya. Begini kawan. Karena celah-celah yang bisa menghantarkan kamu berbuat dosa itu salah satunya kanena akibat gaul bebas, maka peluang itulah yang harus ditutup. Paling tidak ketika kita berhubungan dengan lawan jenis. Itu ada etikanya alias ada batasannya. Nggak sembarangan, lho!</p>
<p>Cowok dan cewek boleh-boleh saja bengaul tapi tentu ada rambu-rambu yang harus ditaati bersama. Ada atunan yang harus diketahui barengan. Kapan boleh gaul kapan harus menjauh. Pada saat seperti apa boleh gaul dan kondisi sepenti apa yang pantang untuk barengan. Juga bagaimana upaya masing-masing dalam menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.</p>
<p>Nah, jadi memang Islam nggak melarang gaul. Justru Islam membolehkan gaul. Tapi ada aturan-aturan yang harus ditaati. Tentu saja aturan yang bakal menyelamatkan kamu. Pada dasarnya Islam menetapkan aturan bahwa Iaki dan perempuan itu terpisah kehidupannya, baik dalam kehidupan umum-di masyanakat, seperti di sekolah, jalan umum, bis, angkot, dan di pasar-maupun dalam kehidupan khusus-di tempat pribadi, seperti rumah atau tempat kost. Tapi Islam nggak kejam dengan membiarkan selamanya terpisah seperti itu. Ada saat-saat tertentu yang dibolehkan bagi cowok dan cewek untuk berkumpul dan berinteraksi. Malah dalam beberapa kondisi, pentemuan antara keduanya nggak mungkin dihindani.</p>
<p>Nah, lalu kapan dan dimana boleh bertemu dengan lawan jenis? Kamu boleh-boleh saja berkumpul dan berinteraksi dengan lawan jenis di tempat-tempat umum (tempat dimana seseorang tidak penlu minta ijin untuk masuk ke dalamnya, seperti masjid, sekolah dsb), dalam aktivitas yang dlbolehkan oleh syara. Di pasar misalnya, kamu boleh berkumpul dan berinteraksi dengan penjual lain. Tapi ingat, hanya sebatas urusan jual beli. Nggak boleh ada embel-embel lain yang keluar dan pakem jual beli. Misalkan, mentang-mentang yang jualan cabenya saperti Kate Winslet, yang cowok jadi betah ngobrol ngalor ngidul.</p>
<p>Kemudian tempat lain yang dibolehkan berkumpul dan berinteraksi adalah dalam belajar-mengajar, dalam urusan pengobatan dan bentuk muamalah lainnya. Tapi jangan salah, meski di tempat-tempat umum itu dibolehkan untuk berkumpul dan berintenaksi, mata kamu jangan jelalatan kayak lagi belanja. Tetap harus menjaga pandangan dan juga hal-hal yang bisa menjungkirkan kamu ke dalam jurang kemaksiatan.</p>
<p>Kalau untuk berkumpul di tempat khusus, seperti rumah pribadi, mobil pribadi, dan tempat-tempat pribadi lainnya, kamu nggak dibenarkan untuk berinteraksi dengan lawan jenis secara mutlak kecuali bila kamu disertai mahrom.</p>
<p>Misalnya, jika kamu cowok-terpaksa harus berkunjung ke rumah lawan jenismu karena ada urusan yang sangat penting (masalah dakwah, misalnya)&#8211;, pastikan bahwa temanmu disentai mahromnya, bisa bapaknya atau kakaknya, baik yang laki maupun wanita. Jangan nekat jadi slonong boy.</p>
<p>Nah. selanjutnya kita harus tahu apa yang semestinya diperhatikan ketika berinteraksi dengan Iawan jenis. Baik laki maupun wanita, bila keluar rumah harus menutup auratnya. Daerah aurat laki-laki adalah sebatas pusar sampai Iutut. Sedangkan wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Makanya untuk yang wanita, diwajibkan memakai pakaian sempurna yang terdiri dari jilab (pakaian luar] dan kerudung (khimar) sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al Ahzab ayat 59 dan An Nuur ayat 31. Dan jelas konsekuensinya haram bagi wanita yang nekat keluar rumah tanpa busana yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya. Bener, dosa Non!</p>
<p>Juga bagi para wanita ada Iarangan tersendiri dalam urusan ini, yakni jangan bertabaruj/ alias tampil all out atau berlebihan. Yakni dengan memamerkan kecantikan dan perhiasan di hadapan laki-laki yang bukan mahrom. Firman Allah: &#8216;..dan langanlah kamu bardandan seperti, dandanan perempuan (JahiIiyah) yang dahulu&#8230; (QS.AI Ahzab 33).</p>
<p>Survei membuktikan bahwa kebanyakan malapetaka pelecehan seksual itu berawal dari sikap tampil nekatnya para wanita sendini.</p>
<p>Wajar kan? Nah, makanya bagi kamu yang wanita harap hati-hati. Tak perlu seperti burung merak yang suka pamer bulu-bulu indahnya. Soalnya kamu kan bukan merak. Kamu manusia yang punya akal, jangan sampai dandanmu membuat klepek-klepek kaum Adam.</p>
<p>Khusus untuk urusan busana, yang wanita nggak usah ikut-ikutan gayanya Claudia Schieffer atau Naomi Campbel yang mahir berlenggak-lenggok di atas cat walk dengan body dibalut beberapa helai benang. Apalagi sampai tampil los polos kayak aksi nekatnya Kate Winslet dalam film Titanic dan Demi Moore dalam Streptease.</p>
<p>Langkah berikutnya,. Kamu harus menundukan pandangan ketika interaksi dengan lawan jenismu. Menundukkan pandangan bukan berarti harus terus konsentrasi ke jalan atau ke tanah kayak orang lagi nyari cacing yang lagi ngumpet. Tapi maksudnya adalah harus bisa menahan diri dari pandangan yang diharamkan. Yakni memandang aurat atau kepada selain aurat tapi dibarengi dengan syahwat. Pokoknya kalau kamu sudah bisa menundukkan pandangan alias ghadhul bashar ini, lnsya Allah kamu bisa saling menjaga kesucian dan kehormatan diri.</p>
<p>Kemudian ketika kamu berbicara dengan lawan jenis harus diperhatikan intonasi dan gaya bicaranya. Bagi wanita, jangan sekali-kali ketika berinteraksi dengan anak cowok menggunakan gaya bicara yang mendayu-dayu kayak penyanyi dangdut. Suaranya dibuat merdu merayu hingga menyisakan rasa penasaran yang amat sangat bagi kaum lelaki.</p>
<p>Firman Allah: &#8220;Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkani perkataan, nanti orang-orang yang dalam hatinya ragu ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang balk. &#8221; (QS. Al Ahzab 32).</p>
<p>Masalah yang harus diperhatikan juga adalah, jangan sekali-kali kamu berkhalwat atau berdua-duaan (mojok) dengan lawan jenis. Rasulullah SAW. bersabda: &#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhawat dengan seorang wanita sedangkan wanita itu tidak bersama mahromnya Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan. (HR. Ahmad).</p>
<p>Nah, meski kita main cinta-cintaan tapi harus tahu aturan mainnya dalam Islam. Walau bagaimana pun juga Islam harus jadi patokan dalam setiap aktivitas kita dalam kehidupan. Termasuk dalam urusan cinta ini. Tentu saja, agar kita nggak nyungsep dalam Iumpur maksiat. Ngeri, Non!</p>
<p>Jadi, cinta jangan dimatikan tapi harus dikendalikan. Syukur-syukur kalo kamu mampu untuk nikah. Nikah aja! Lebih aman. Paham kan?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 11/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yang-muda-yang-bercinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Dipuja dan Yang Terlupakan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yang-dipuja-dan-yang-terlupakan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yang-dipuja-dan-yang-terlupakan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 10:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/yang-dipuja-dan-yang-terlupakan/</guid>
		<description><![CDATA[Soal contek-mencontek sudah sangat akrab di dunia remaja. Dari mulai mencontek pelajaran pas ujian sampai mencontek perilaku orang yang dianggapnya nyentrik. Ya, termasuk dalam urusan siapa yang harus dituruti teladannya. Karena terus terang saja, itu didukung dengan sifat remaja yang mudah terpengaruh dan pribadinya yang labil. Lagi pula usia remaja adalah usia untuk mencari jati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Soal contek-mencontek sudah sangat akrab di dunia remaja. Dari mulai mencontek pelajaran pas ujian sampai mencontek perilaku orang yang dianggapnya nyentrik. Ya, termasuk dalam urusan siapa yang harus dituruti teladannya. Karena terus terang saja, itu didukung dengan sifat remaja yang mudah terpengaruh dan pribadinya yang labil. Lagi pula usia remaja adalah usia untuk mencari jati diri. Percaya atau tidak, yang pasti kejadian itu banyak menimpa remaja.<span id="more-12"></span></p>
<p>Menarik untuk dicermati, perkembangan yang terjadi di atmosfir remaja. Khususnya dalam soal siapa panutan yang harus diikuti. Memang, masalah ini sudah lama menjadi bahan pembicaraan dan perdebatan, namun tampaknya akan terus hadir selama tak ada penjelasan dan penyelesaian jitu yang bisa membuat remaja berpikir.</p>
<p>Dalam kosa kata remaja, soal idola ini bisa saja selebriti atau ilmuwan. Tapi ironisnya, ternyata remaja kita lebih banyak yang memilih manut terhadap para selebriti (bintang film, model, pemusik dll), baik lokal maupun interlokal (baca: mancanegara). So, kita akan memutar lagu lama tersebut, namun tidak bermaksud menambah masalah. Kita berusaha membahas persoalan tersebut dalam kaca mata Islam yang lebih bijaksana dan jelas. Agar tepat mana yang dipuja dan mana yang tanpa sadar kita telah melupakannya. Ada pepatah tua; Aja gumunan. Aja dhemen-nan. Mundhak kepencut, nuli kecingkrangan. Artinya, jangan mudah terpesona, dan mudah tergoda (ikut-ikutan), yang akhirnya jadi berantakan. Pokoknya, jangan cuma melihat gebyar bagian luarnya saja. Menyangka emas, padahal tembaga, atau malah menganggap tembaga padahal emas. Tak usah lha yauw!</p>
<p><strong>Gegar Budaya</strong><br />
Aneh memang, sering remaja kita merasa kaget duluan ketika harus berhadapan dengan sesuatu yang dianggap baru. Ibarat para pemain sebuah klub sepak bola yang belum pengalaman berhadapan dengan klub raksasa yang jam terbangnya sudah tinggi. Mereka tanpa sadar akan mengikuti irama permainan lawan.</p>
<p>Malah tak mustahil saking kagetnya mengikuti gaya hidup pujaannya ada teman remaja yang secara suka rela menukarnya dengan harga diri. Tak jarang, hanya karena ingin dianggap nyentrik, dan kebetulan gandrung dengan figur AJ Backstreet Boys, misalkan. Tahu kan AJ Backstreet Boys? Itu lho, personil BB yang memang rada nyentrik dengan anting di telinga kanan dan kalung salibnya plus jenggot juga cambang tipisnya. Nah, lalu segala hal yang berhubungan dengan artis tersebut diikutinya. Dari mulai aksesoris yang biasa dikenakannya sampai bagaimana ia berperilaku. Semuanya diikuti dengan telaten dan komplit. Bukan promosi jamu Komplit, lho!</p>
<p>Setiap perkembangan tentang figurnya itu ia akan senantiasa memantaunya. Saking ngefans berat sama tokoh pujaannya itu, sampai-sampai ia nggak terima dan nggak percaya kalau ternyata yang diidolakannya itu dihukum karena melakukan perbuatan yang melanggar aturan. Wah, bisa bahaya itu!</p>
<p>Gegar budaya sama saja dengan gegar otak. Kita sering menggunakan kosa kata gegar otak ini untuk mengungkapkan kondisi yang parah ketika seseorang rusak otaknya karena benturan benda keras di kepala, misalnya. Nah, untuk gegar budaya, hampir sama artinya, budaya yang diambil rusak. Kita terlalu mudah untuk mengambil budaya-budaya yang belum jelas beradab atau biadab. Yang akhirnya kita juga ikutan mentradisikan budaya yang sebenarnya bobrok itu.</p>
<p>Untuk kondisi yang sangat parah terhadap masalah ini adalah, ternyata kita merasa kaget dan larut dalam histeria yang telah menciptakan globalisasi emosi. Contoh mudah, teman-teman remaja sering merasa senang bila ketemu artis pujaanya. Cuma ketemu saja merasa bahagia yang amat sangat. Apalagi kalau sampai mendapatkan tanda tangan sang tokoh, bisa histeris itu. Atau bisa jadi Cuma salaman doang sama tokoh pujaan itu sudah betul-betul merasakan kebahagiaan yang tiada tara, jangan heran bila tangannya nggak dicuci seminggu. Ah, remaja memang mudah terpe-ngaruh. Dan ternyata mental mereka adalah&#8230;.</p>
<p><strong>Layak Jajah!<br />
</strong>Orang sering alergi bahkan trauma dengan kata itu. Kita sering mengutuk penjajahan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Setiap ada tindakan menjajah, kita merasa benci setengah hidup. Bahkan kita akan kesal banget dengan teman yang suka mendikte kelakuan kita. Tapi anehnya kita sendiri sering lupa dan nggak sadar bahwa kita juga ternyata sudah dijajah. Karena terus terang, kita sudah sepakat, bahwa penjajahan bukan hanya berarti operasi militer, tetapi juga bisa bersifat ekonomi, politik, pendidikan juga termasuk budaya.</p>
<p>Nah, harus disadari bahwa perlakukan kita terhadap tokoh-tokoh pujaan kita dengan porsi yang berlebih, bahkan sampai mengkultuskan, berarti memang benar kita layak jajah. Dan yang namanya penjajah, tentu saja ia ingin agar segala yang ada pada dirinya bisa terserap dan diikuti oleh jajahannya. Sebagai contoh saja, Indonesia akan mengikuti aturan-aturan dalam menyelesaikan problematika kehidupan masyarakatnya dengan hukum warisan Belanda sebagai penjajahnya.</p>
<p>Pakar sosial Islam, Ibn Khaldun memberikan pernyataan bahwa peradaban yang kalah itu senantiasa akan mengekor kepada peradaban yang menang. Segalanya. Nah, dalam tataran yang kecil, kita ini termasuk orang-orang kalah. Yang barangkali kita kalah bersaing dengan para selebiriti, ilmuwan dan lain sebagainya. Akhirnya tanpa disadari kita juga meniru dan mencontek habis gaya hidup mereka, yang ternyata lebih banyak yang buruknya ketimbang yang bagusnya. Lebih banyak madhorotnya ketimbang manfaatnya. Makanya Rasulullah SAW menge-cam kelakuan kaum atau orang yang seperti itu dengan bersabda: &#8220;Barang siapa yang menye-rupai suatu kaum (adat istiadat, aqidah, gaya hidup), maka dia termasuk golongan kaum tersebut.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Ahmad dari ibnu Umar)</p>
<p>Memang, dalam kadar tertentu, selama tidak mengkultuskan dan mencontek habis gaya hidup mereka, nggak jadi masalah. Ya, kalau cuma sebatas kagum dengan penampilan akting Leonardo Di Caprio dalam film Titanic dan The Man In The Iron Mask, misalkan. Atau kepincut berat dengan aktingnya Jason Behr yang berperan sebagai Chris Wolfe dalam Dawson&#8217;s Creek (meski doi nggak muncul tiap episode). Ada juga yang senang dengan si pemeran gadis pemalu di Dawson&#8217;s Creek, Katie &#8220;Joey&#8221; Holmes dari sisi aktingnya. Juga, ssst.. ada William Bradley Pitt alias Brad Pitt yang pernah main dalam film Interview With The Vampire dan terakhir Fight Club, untuk yang satu ini kamu berdecak kagum karena honor doi sekali main bisa menyentuh angka 20 juta dolar. Boleh-boleh saja kagum dan salut.</p>
<p>Tapi ingat, kalau sudah sampai pada tahap meneladani tinggkahnya, Apalagi sampai mencontek secara total gaya hidupnya yang nggak karuan dan memang bertentangan dengan Islam itu, bisa bahaya. Bener lho, gawat berat, itu!</p>
<p>Ya, kadang kala ada teman-teman remaja yang kagum sama kaum seleb setengah mati. Lalu mencoba bergaya seperti mereka. Bukankah itu mental layak jajah?</p>
<p><strong>Miskin Idealisme</strong><br />
Kalau ditanyakan kenapa remaja kita bermental layak jajah? Paling tidak, jawaban yang mendekati adalah karena mereka tidak punya idealisme yang jelas. Mudah terpengaruh teman. Apalagi kalau gaulnya nggak karu-karuan. Bisa berabe. Tak mustahil kalau akhirnya terjerumus ke dalam jurang kenistaan.</p>
<p>Kata pepatah, kalau takut dilebur ombak, jangan berumah di tepi pantai. Artinya, kalau takut terbawa arus pergaulan yang liar, maka jangan sekali-kali mendekati lingkungan yang amburadul. Bisa berabe. Seperti misalnya, para personil kelompok musik rock asal Amerika yang keburu bubar karena tak siap tenar, Guns &#8216;N Roses, hampir semuanya pecandu miras dan narkotik. Dari mulai Axl Rose, Izzy Stradlin, Slash, Matt Sorum, Duff semuanya para jagoan teler. Pokoknya, tiada hari tanpa barang haram tersebut. Ternyata, kita harus prihatin, soalnya gaya hidup para musisi rock yang amburadul itu telah dicontek dengan sukses oleh sebagian dari remaja kita yang miskin idealisme. Yang cuma pengen tampil gaya tapi bukan asli kepribadiannya. Menyedihkan memang.</p>
<p>Mereka ternyata memang polos sekaligus cuek alias tak mau tahu soal norma-norma dalam kehidupan. Terbukti, akhir-akhir ini marak pula remaja pria yang menindik kuping sebelah kiri atau kanan untuk kemudian menancapkan aksesoris mirip anting. Ada pula yang menindik hidungnya, lalu dipasangin ring. Bak kerbau pembajak sawah. Sekilas memang trendi. Tapi, apakah mereka tahu bahwa budaya itu lahir dari perkampungan kumuh di Amerika? Ya, di Bronx dan Brooklyn. Mau tahu? Di Amerika ada sebuah perkumpulan remaja atau pemuda yang mempunyai ciri-ciri khas agar mudah dikenali oleh kelompoknya.</p>
<p>Nah, untuk masalah anting yang dipakai oleh remaja pria, dalam sejarahnya untuk para gank pemuda yang ahlul boat alias pecandu narkotik, mereka biasa menindik kuping sebelah kiri dan menancapkan semacam anting-anting agar di antara mereka saling mengenal, juga untuk memudahkan para bandar obat bius itu menemui kliennya.</p>
<p>Bagi mereka yang ternyata pengikut kaum gay, untuk saling mengenali anggotanya dan teman senasibnya, mereka kemudian menindik kuping sebelah kanan dan melekatkan aksesoris sebangsa anting-anting. Keren? Nggak juga.<br />
Yakin saja, kalau rekan remaja kita yang telah menempuh jalur seperti itu lebih diakibatkan karena ketidak tahuan mereka dan tentu saja, kemalesan mereka menuntut ilmu. Apalagi ilmu agama. Kasihan!</p>
<p><strong>Bercermin Kepada Sahabat Nabi</strong><br />
Hampir bisa dipastikan, ketika ditanyakan kepada rekan remaja kita yang terlanjur memilih pola hidup amburadul seperti itu soal siapa sahabat nabi yang dikenalnya. Insya Allah ia akan kebingungan setengah hidup. Nggak nyombong, lho. Nggak percaya, coba aja sekarang tanyakan sama mereka. Mau dicoba? Silakan.</p>
<p>Al bin Abi Thalib, seorang shahabat Rasul sekaligus menantunya. Sejak muda sudah terlihat kedigdayaannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Ali begitu cerdas dan jenius. Sampai-sampai Rasul pernah mengatakan bahwa dirinya adalah gudang ilmu, dan Ali adalah kuncinya. Otomatis, siapa yang mau mengetahui tentang ilmu, secara tidak langsung harus berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Kemudian, siapa sih yang masih meragukan kesholehan Mushab bin Umair? Seorang pemuda bangsawan yang rela hidup menderita bersama Islam. Cerdas, kece, dan tentu saja taat menjalankan ajaran Islam. Siapa pula yang tak terkagum-kagum dengan keberanian Muadz bin Jabal dan seorang saudaranya yang dengan gagah menghabisi gembong kafir Quraisy, Abu Jahal? Dia masih remaja, kawan!</p>
<p>Jauh setelah generasi sahabat, Imam Asy Syafi&#8217;ii adalah salah satu contoh generasi tabiin yang terbilang sukses dan patut untuk diteladani semangat hidupnya. Betapa tidak, umur tujuh tahun sudah fasih dan hapal Al Qur&#8217;an dan di usia yang relatif muda, sekitar 17 tahun beliau sudah dipercaya untuk mengurus masalah umat dalam masalah pemberian fatwa. Dan kita tahu, beliau telah banyak memberikan rincian untuk memudahkan kita dalam melaksa-nakan hukum-hukum syara&#8217; yang tak diperinci dalam Al Qur&#8217;an dan hadits. Fantastis bukan?</p>
<p>Baiklah, kita sekarang bicara tentang kita sendiri. Kita juga bisa seperti mereka, asal mau. Dengan kemauan dan tekad yang kuat, siapa yang nyangka kalau akhirnya Honda, seorang bocah Jepang yang kelak bisa membangun kerajaan bisnis otomotif adalah si penakut. Ia begitu takut berenang. Tapi dengan segala kemampuannya ia berusaha untuk bisa berenang seperti kawan-kawannya, akhirnya ia bisa berenang dan tekad itu dilakukannya pula untuk membangun kerajaan bisnis otomotif &#8212; yang di Indonesia&#8211; salah satunya sering diiklankan Mandra. Jadi, bisa khan sebenarnya, asal mau saja. Apalagi, kita punya kelebihan sebagai seorang muslim. Usaha kita untuk mengubah diri itu akan dikonversi menjadi pahala. Dan itu adalah ibadah.</p>
<p><strong>Jangan Ikut-ikutan</strong><br />
Mengikuti trend yang benar, nggak bakalan ada yang melarang. Misalkan, sekarang ini, remaja sedang gandrung dengan acara-acara keislaman, baik di sekolah atau di perkumpulan remaja masjidnya. Kalau itu diikuti dengan ikhlas, insya Allah baik dan mendapat pahala. Tapi jangan harap selamat bila mengikuti trend yang menjerumuskan ke dalam mahligai dosa.</p>
<p>Ingat, perbuatan kita akan selalu dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa barangsiapa yang berbuat sesuatu tanpa mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya maka, perbuatan atau amal itu tertolak. Apalagi ini sudah mengarah kepada tasyabuh alias mengikuti perbuatan atau adat istiadat suatu kaum yang bukan berasal dari Islam. Sabda Rasulullah SAW.: &#8220;Barang siapa yang menyerupai suatu kaum (adat istiadat, aqidah, gaya hidup), maka dia termasuk golongan kaum tersebut.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Ahmad dari ibnu Umar).</p>
<p>Allah SWT. berfirman: &#8220;Katakanlah: &#8216;Hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. Sesudah itu, jika kamu berpaling, maka Allah tidak cinta kepada orang-orang yang kafir.&#8221; (Q.S. Al Imran: 32).</p>
<p>&#8220;Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah, dan menjauhi larangan-Nya, maka mereka itu ialah orang-orang yang mendapat kemenangan.&#8221;?  (Q.S. An-Nur: 52).</p>
<p>Jadi, jangan mudah tergoda oleh gemerlap-nya kehidupan kaum selebritis, jangan mudah terpesona oleh gaya hidup orang-orang yang tak pantas diidolakan. Dan, kita pun nggak boleh melupakan yang seharusnya dijadikan teladan. Jangan salah, dan jangan kebalik-balik, ya?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 10/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yang-dipuja-dan-yang-terlupakan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABORSI, Akibat Bebas Gaul</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/aborsi-akibat-bebas-gaul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/aborsi-akibat-bebas-gaul#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 09:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/aborsi-akibat-bebas-gaul/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat, 11 Februari 2000 lalu masyarakat Jakarta kembali geger. Bukan karena ada kerusuhan, atau karena ada demo. Mau tahu itu kejadian apa? Menurut pemberitaan di berbagai media massa, dr. Agung Waluyo mengaku selama sebelas bulan praktek, dirinya telah mengaborsi sekitar 200 janin bayi. Beliau &#8220;bernyanyi&#8221; setelah polisi menggerebek tempat prakteknya di Jalan Musik Raya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Jumat, 11 Februari 2000 lalu masyarakat Jakarta kembali geger. Bukan karena ada kerusuhan, atau karena ada demo. Mau tahu itu kejadian apa? Menurut pemberitaan di berbagai media massa, dr. Agung Waluyo mengaku selama sebelas bulan praktek, dirinya telah mengaborsi sekitar 200 janin bayi. <span id="more-11"></span>Beliau &#8220;bernyanyi&#8221; setelah polisi menggerebek tempat prakteknya di Jalan Musik Raya Blok B No. 30A, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bayangkan, 200 janin per sebelas bulan. Berarti rata-rata perbulan sekitar 18 bayi dirampas hak hidupnya. Itu baru satu kasus, belum lagi kasus yang lainnya. Dan, perlu diingat, itu yang tercatat. Yang tidak tercatat? Bisa lebih gede lagi jumlahnya.</p>
<p>Azrul Azwar, ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), seperti apa yang ditulisnya dalam kolom di Majalah Sabili mengungkapkan bahwa di Indonesia, dengan angka kehamilan sekitar 5 juta per tahun, diperkirakan sekitar 500.000 sampai 700.000 terjadi pengguguran kandungan alamiah setiap tahunnya.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan aborsi buatan? Pak Azrul kembali memberikan data yang membuat kita nggak habis pikir. Menurutnya, WHO memperkirakan sekitar 4,2 juta pengguguran kandungan buatan dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara. Perinciannya 1,3 juta di Vietnam dan Singapura, antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia, antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina, serta antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand, demikian tulisnya dalam kolom di Majalah Sabili No. 19, Maret 2000.</p>
<p>Lalu? Menteri Pemberdayaan Perempuan /Kepala BKKBN, Khofifah Indar Parawansa mengutip data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia menyatakan, dalam dua tahun terakhir diperkirakan jumlah wanita yang melakukan aborsi sebanyak dua juta orang, di antaranya 750.000 remaja belum menikah. Ih, ngeri ya? (Sabili, No. 19 Maret 2000).</p>
<p>Ini jelas masalah besar. Apalagi hampir setengahnya dari jumlah kasus aborsi karena kehamilan tak dikehendaki, akibat kebablasan gaul yang dilakukan oleh para remaja. Lalu siapa yang bisa ditunjuk hidung penyebab kasus aborsi ini? Remaja? Orang tua? Atau Penguasa? Mari kita kuliti satu persatu penyebabnya.</p>
<p><strong>Akibat Buah Terlarang</strong><br />
Sori, bukan untuk ngadain tandingan judul film jaman dulu. Tapi kenyataan memang demikian. So, remaja yang nekat menggugurkan kandungan itu karena doi nggak siap menerima hujatan ortu atau masyarakat sekitar akibat &#8216;permainan&#8217; terlarangnya. Kecil-kecil sudah berani gaul kelewat batas. Memang sih, saat lagi hot-hot-nya nggak sadar. Malah kerjasama ilegal antara ABG putri dengan ABG cowok bisa berulang kali dilakukan. Tapi begitu sang &#8220;istri&#8221; telat datang bulan, giliran sang &#8220;suami&#8221; kelabakan bagai kabakaran jenggot. Tak jarang &#8220;suami&#8221; biadab ini memprovokasi &#8220;istrinya&#8221; untuk mengaborsi janin yang bersemayam di rahimnya. Atau ide bejat itu tak sedikit yang muncul dari sang &#8220;ibu&#8221; yang kejam bin sadis itu. Klop. Keduanya memang cuma pengen enak, tapi nggak mau anak.</p>
<p>Mau bukti? Jangan salah, ini kejadian beneran, bukan dalam film atau dalam novel. Peristiwanya sih memang lama, tapi cukup sebagai contoh kebiadaban suami-istri ilegal ini. Republika menurunkan beritanya, bahwa sepasang remaja di Pakanbaru pada tanggal 28 September 1994 melakukan aborsi. Biadabnya, sang &#8220;suami&#8217; menolong melakukan aborsi &#8220;istrinya&#8221; dengan menekan perut &#8220;istrinya&#8221; itu hingga sang bayi keluar, dan tanpa memperhatikan keadaan, mereka membuang darah dagingnya sendiri ke Sungai Batang, Indragiri Hilir. Sadis! Padahal segalak-galaknya harimau saja, tidak mau memakan sepatu, eh, sori, maksudnya memakan anaknya sendiri!</p>
<p>Melihat kejadiannya, kasus ini memang muncul gara-gara kendornya iman para ABG, ditambah dengan longgarnya tata nilai yang mengikat masyarakat. Plus, hukum yang diberlakukan penguasa bagai macan ompong pemakan sayur. Walhasil, kita sekarang sedang menunggu keruntuhan sebuah peradaban. Mengerikan, Brur!</p>
<p>Memang, sudah menjadi pemandangan umum, bahwa gaul bebas ala Dawson&#8217;s Creek telah menjadi trend remaja macam kamu. Suer, kita bukan memojokan kamu, tapi kenyataannya memang demikian. Sebagian remaja memang doyan gaul bebas. Nggak percaya? Coba tengok ABG di kelas kamu misalkan. Jumlah yang pacaran lebih banyak ketimbang teman kamu yang berusaha untuk tidak mengukir dosa lewat gaul bebas itu. Iya, kan? Percaya saja deh. Atau, sori, jangan-jangan kamu termasuk yang masih doyan gaul bebas sama lawan jenis kamu? Hati-hati ya! Bisa berabe!</p>
<p>Brur, cinta itu bukan untuk dibiarkan liar tanpa kendali. Kamu jangan terpengaruh dengan teori Sigmund Freud ketika menyoal pemenuhan naluri seksual. Soalnya, menurut pakar psikoanalisa yang punya darah Yahudi ini, bahwa libido seksual itu harus disalurkan. Bila tidak? Sakit atau koit katanya asal-asalan.</p>
<p>Freud lupa (atau memang nggak tahu?), bahwa naluri itu rangsangannya dari luar. Bukan dari dalam seperti halnya kebutuhan jasmani. Buktinya? Nggak ada manusia yang sakit atau koit gara-gara nalurinya tak tersalurkan dengan baik. Paling-paling cuma gelisah, itupun nggak bakal berlangsung lama. Itu saja, nggak ada efek lain. Coba kalau perut kita udah &#8220;meronta-ronta&#8221;, tapi kita membiarkan dua hari saja nggak mengisinya dengan makanan, dijamin bakal sakit atau malah koit.?  Jadi, jangan sampe deh, kamu menjerumuskan diri ke dalam mahligai dosa.<br />
? <br />
<strong>Sebuah Kebingungan</strong><br />
Dalam keterpurukan dunia remaja sat ini, anehnya banyak orang tua yang cuek bebek saja terhadap perkembangan anak-anaknya. Hueran! Seolah-olah ortu mereka lepas tangan begitu saja. Yang seperti ini adalah tipe ortu yang kagak bertanggungjawab. &#8220;Yang saya tak habis pikir, banyak orang tua justru membiarkan kelakuan anak gadisnya yang tidak baik, misalnya duduk di luar rumah sampai larut malam; ngobrol dengan lawan jenis seenaknya, dan berpakaian setengah telanjang,&#8221; komentar Dra. Monti ST. Winata, psikolog dan petugas Bimbingan Penyuluhan di SMP dan SMU. Karena itulah lantas psikolog ini mewanti-wanti orang tua untuk tidak membiarkan anak-anaknya keluar malam hari. &#8220;Apapun alasannya, izin keluar rumah pada malam hari tentunya tidak bisa diberikan begitu saja,&#8221; katanya seperti yang dikutip Majalah Remaja Islam PERMATA edisi 23/November 1997. Nah lho!</p>
<p>Ah, bingung memang. Kayaknya orang tua jaman sekarang bikin bingung anak-anaknya. Melihat fakta yang diungkap psikolog tadi, rasanya memang para ortu sudah bingung menghadapi anak-anaknya. Ada yang cuek banget. Eh, sekali ada yang mau berbaik hati memperhatikan anaknya malah bisa stres juga. Soalnya, nggak semua anak bisa dengan mudah diatur. Malah Brur, sekarang ini banyak anak yang berani musuhan sama ortunya. Parah!</p>
<p>Memang sih, bila kita lihat kondisi remaja bisa bebas gaul seperti itu karena suasana kehidupan saat ini memang menjadi media yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya budaya tersebut. Malah, saat ini orang tua ada juga yang salah memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya.</p>
<p>Sebagai wujud sebuah kebingungan, kini tak sedikit orang tua dengan alasan sibuk karena termasuk tipe jarum super alias jarang di rumah suka pergi; lebih senang menitipkan anaknya di babby sitter. Udah gedean dikit disekolahin di sekolah yang mahal tapi miskin nilai-nilai agama. Ditambah lagi dengan kursus-kursus di sekolah kepribadian. Lebih celaka lagi, orang tua sekarang banyak yang bangga bila anaknya jadi artis cilik, yang tentu saja semakin memperparah kondisi masyarakat yang memang sudah amburadul bin kusut ini. Walhasil, saat ini, tak sedikit ortu yang mendidik anaknya supaya jadi sampah. Edan, memang!</p>
<p>Padahal, berawal dari keluarga lah pendidikan buat anak-anak itu. Wajar, bila sekarang banyak remaja amburadul karena memang ortunya, masyarakatnya dan negara nggak perhatian sama mereka. Kasihan!</p>
<p><strong>Gali Lobang Tutup Lobang</strong><br />
Sori, ini juga bukan untuk menantang Bang Rhoma Irama dalam mencipta lagu dangdut. Maklum bintang iklan Boska ini pernah meluncurkan lagu gali lobang tutup lobang. Ini hanya analogi alias perumpamaan untuk mencegah penyebarluasan kasus aborsi ini. Jadi, kita jangan terjebak dalam pola penyelesaian masalah yang muter saja nggak karu-karuan. Tentu saja niat baik kita agar &#8216;harimau&#8217; tak memakan anaknya. Ngerti kan?</p>
<p>Kalau melihat cara penyelesaian yang dilakukan banyak orang termasuk pemerintah untuk kasus aborsi saja, terkesan gali lobang tutup lobang. Maksudnya, kita menutup satu lobang, tapi sambil menggali lobang yang lain. Ya nggak kelar-kelar dong kasusnya. Bagai lingkaran setan. Muter di situ-situ saja dan bisa dikatakan jalan di tempat.</p>
<p>Buktinya? Pemerintah dan juga para pakar kebanyakan cuma berusaha menyele-saikan akibat sekundernya, bukan primer. Ibarat kalo ada atap rumah yang bocor, maka hanya diselesaikan masalah cabangnya, yaitu menaruh ember di tempat yang bocor ketika hujan turun, atau ngepel lantai yang becek. Sementara bagian atap yang bocor dibiarkan saja. Padahal, bila cara penyelesaiannya dengan mengganti gentengnya langsung, maka semuanya akan beres. Iya nggak, Brur?</p>
<p>Bila kasus aborsi tak ingin terus meroket angkanya, tentu harus ada penyelesaian total untuk kasus itu. Jangan sampai kejadiannya begini; satu pihak gembar-gembor kampanye anti aborsi, tapi di pihak lain, rame-rame memanjakan dan menjerat remaja dalam kehidupan yang penuh kebebasan. Tentu cita-cita menurunkan atau mengerem meningkatnya kasus aborsi hanya akan menjadi harapan yang hampa. Bener Brur! Nggak bohong, suer!</p>
<p>Acara televisi begitu berjibun dengan tayangan yang bikin &#8216;gerah&#8217;, Video klip lagu dangdut saja, saat ini makin berani pamer aurat dan adegan-adegan yang bikin dek-dekan jantung para lelaki. Belum lagi tayangan film yang bikin otak remaja teracuni dengan pesan sesatnya. Ditambah lagi, maraknya tabloid dan majalah yang memajang gambar sekwilda, alias sekitar wilayah dada; dan gambar bupati, alias buka paha tinggi-tinggi. Konyolnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah ternyata tidak menggugah kesadaran remaja untuk kritis dan inovatif. Alih-alih remaja bisa mengamalkan pelajaran yang didapat, tokh cuma mengendap pada saat jam pelajaran itu berlangsung. Selebihnya? Menguap dibakar tayangan televisi dan?  suasana kehidupan yang permisif alias bebas nilai.</p>
<p><strong>Cara Islam Melindungi Bayi</strong><br />
Kamu suka ngegodain anak bayi kan? Duh, lucunya bila dia tertawa. Suara tertawanya yang tertahan dan terputus-putus itu yang salah satunya bikin kita geregetan sama adik bayi. Iya, kan? Bentuk kakinya yang mungil dan menendang-nendang dengan kuat, Jari-jemari tangannya yang kuat menggenggam telunjuk kita. Wuih, senangnya mainin anak bayi. Maka, adalah sangat kejam bin biadab bila ada ortu yang tega membunuh anaknya sendiri. Sejak masih dalam kandungan lagi. Ah, harimau saja tidak seperti itu!</p>
<p>Firman Allah SWT: &#8220;Janganlah kalian bunuh anak kalian karena takut kelaparan. Kamilah yang memberikan rizki pada kalian dan mereka.&#8221; (QS. Al An&#8217;aam: 151)</p>
<p>Menurut Dr. Abdurrahman Al Baghdadi, meskipun sebab dalam ayat tersebut adalah &#8220;takut miskin&#8221; dan tidak mampu memberi nafkah, tetapi lafadznya bersifat umum, mencakup setiap jenis pembunuhan. Sama saja, apakah pembunuhan itu dilakukan terhadap bayi yang telah lahir maupun yang masih dalam kandungan; sama juga halnya apakah karena takut miskin ataukah takut terbuka aibnya (Emansipasi; Adakah Dalam Islam, hal. 124).</p>
<p>Nah, untuk melindungi nyawa manusiaâ€”termasuk janin, Islam telah memberikan aturan yang tegas. Pokoknya, bagi siapa saja yang nekat menghilangkan nyawa orang lain dengan cara membunuhnya, bakal diganjar hukuman qishas. Atau jika keluarga korban memaafkan pelaku, maka yang bersangkutan dikenakan diyat atau denda. Yakni sebesar 100 ekor unta betina yang 40 di antaranya sedang bunting. Bayangkan, bila harga satu ekor unta 5 juta perak, berarti ia harus merogoh koceknya kira-kira 500 juta rupiah. Firman Allah Ta&#8217;ala: &#8220;Telah diwajibkan atas kalian qishas dalam (kasus) pembunuhan.&#8221; (QS. Al Baqarah: 178).</p>
<p>Sedangkan untuk kasus pembunuhan janin, yakni aborsi, Abu Hurairah ra. meriwayatkan: &#8220;Rasulullah saw. memutuskan (hukuman) dalam perkara janin milik seseorang wanita dari bani Lihyan yang mati (janinnya) dengan membebaskan seorang budak laki-laki atau wanita.&#8221;</p>
<p>Persoalannya, bagaimana kalo nggak ada budak wanita dan laki-laki? Ibnu Abi &#8216;Asim meriwayatkan satu hadits bahwa Rasulullah saw. memerintahkan pengganti hamba sahaya (pria/wanita) dengan 10 ekor unta atau sama dengan 1/10 diyat orang sempurna.</p>
<p>Adapun untuk kasus pembunuhan anak kandung oleh bapak atau ibunya atau cucu oleh kakek, Syekh &#8216;Abdurrahman Al Malikiy dalam kitab Nidzamul &#8216;Uqubat menyatakan tidak dijatuhi qishas. Hukuman untuk kejahatan tersebut adalah berupa ta&#8217;zir. Yakni hukuman yang jenisnya diserahkan kepada kebijakan seorang qadhi alias hakim. Bisa dipenjarakan, atau malah dijatuhi hukuman mati. Hal ini berdasarkan satu hadits msyhur dari Sayyidina &#8216;Umar bin Khaththab?  dan Ibnu &#8216;Abbas ra. bahwa Rasulullah saw bersabda: &#8220;Tidak dibunuh (qishas) seorang ayah karena membunuh anaknya.&#8221;</p>
<p>Ini menyangkut hukuman para pembunuh bayi. Nah, kata pepatah, ada asap pasti ada api. Jadi, bayi-bayi yang diaborsi itu kan efek samping yang ke sekian dari hasil perzinahan. Jujur saja, ABG putri dan ABG cowok yang terlibat baku syahwat dan membunuh bayinya itu mereka melakukannya di luar ikatan pernikahan. Jadi, ya, berzina namanya.</p>
<p>Itu dosa besar, kawan! Dan tentu sanksinya juga berat. Allah SWT berfirman: &#8220;Pezina wanita dan pezina laki-laki, jilidlah keduanya 100 jilidan.&#8221; (QS: An Nuur: 2).</p>
<p>Hukuman ini berlaku untuk pelaku yang belum menikah (ghairu mukhsan), adapun bagi mereka yang mukhsan alias sudah atau pernah menikah maka dirajam sampai mati seperti pada kasus Al Ghamidiyah dan Maidz Al Islamiy. sabda Rasulullah saw: &#8220;Tidak halal darah seorang muslim kecuali atas tiga hal: pezina mukhsan lalu dia dirajamâ€¦.&#8221; (HR. Abu Daud dan Nasa&#8217;I).</p>
<p>Hayo, hati-hati lho. Bila melihat dalilnya, para pelaku aborsi bisa terjerat dua tindakan kejahatan; Pertama perzinaan, yang hukumannya dijilid (dicambuk) sebanyak 100 jilidan. Kedua, pembunuhan atau pembuangan bayi (kandung) yang hukumannya termasuk ta&#8217;zir.</p>
<p>Ah, ironi memang. di satu sisi, banyak orang mendambakan anak sebagai tumpuan harapan masa depannya. Tapi di sisi lain, begitu banyak orang yang membuang percuma atau membunuh anak-anaknya. Suer, nggak habis pikir. Ternyata masih ada juga orang yang tak menghargai apa yang dimilikinya, sementara orang lain begitu ingin memilikinya.</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 9/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/aborsi-akibat-bebas-gaul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Musik Mengusung Gaya Hidup</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ketika-musik-mengusung-gaya-hidup</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ketika-musik-mengusung-gaya-hidup#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 09:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/ketika-musik-mengusung-gaya-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Mendengarkan musik, sebagai alternatif hiburan memang menyenangkan. Apalagi bila tak keluar uang sepeser pun seperti ketika mendengarkan di radio atau memelototi si â€?kotak ajaibâ€™ televisi. Mengasyikan sekaligus sebagai obat penghilang mumet. Tapi perlu diingat pula, bahwa di balik nikmatnya musik, ternyata menyimpan ancaman yang bisa membahayakan kamu. Nggak percaya? Terusin aja baca tulisan ini. Mendengarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengarkan musik, sebagai alternatif hiburan memang menyenangkan. Apalagi bila tak keluar uang sepeser pun seperti ketika mendengarkan di radio atau memelototi si â€?kotak ajaibâ€™ televisi. Mengasyikan sekaligus sebagai obat penghilang mumet. Tapi perlu diingat pula, bahwa di balik nikmatnya musik, ternyata menyimpan ancaman yang bisa membahayakan kamu. Nggak percaya? Terusin aja baca tulisan ini.<span id="more-10"></span></p>
<p>Mendengarkan musik, ternyata berlaku pula dalam kamus remaja macam kamu. Bahkan dengan beragam warna musik. Dari mulai yang bisa bergoyang-goyang seperti musik dangdut sampai yang untuk head banging macam musik-musik heavy metal. Tentu saja, di sini musik tidak hanya sebagai alternatif hiburan penghilang mumet, tapi sekaligus pengusung gaya hidup. Tidak menutup mata, bahwa remaja ada yang mengkonsumsi musik bukan hanya sebagai hiburan an sich, tetapi bagaimana ia berusaha melibatkan emosinya bersama musik. Musik telah menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan tak heran bila kemudian punya jadwal tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Maka tak mustahil kalau akhirnya banyak remaja seusia kamu yang histeris tatkala penyanyi atau grup musik idolanya manggung. Malah sampai ada acara pingsan segala.</p>
<p>Dulu jaman kakak-kakak kamu masih SMA, ketika gerombolan Lars Ulrich bersama Metallica-nya â€?membakarâ€™ stadion Lebak Bulus Jakarta, banyak pula teman-teman remaja yang tersihir oleh lengkingan lead guitar-nya Kirk Hammett dan gebukan drum Lars Ulrich yang menghentak ketika mengiringi lagu â€¦And Justice for All, misalnya. Mudah ditebak, teman-teman remaja kemudian melibatkan emosinya bersama grup musik tersebut. Jejingkrakan, head banging, teriak-teriak meluapkan emosinya bersama hingar-bingarnya musik, lalu tenggelam dalam keributan.</p>
<p>Hal serupa pernah pula membuat Bon Jovi kegeeran saat manggung di Ancol. Seperti biasa, para penonton histeris dan larut dalam alunan musik pop rock-nya. Bahkan ada catatan tersendiri bagi para ABG putri, selain mereka rela mengeluarkan uang puluhan ribu, juga larut dalam histeria. Mereka teriak dan tak sedikit yang akhirnya pingsan. Gimana nggak, personel Bon Jovi ganteng-ganteng sih. Tapi hati-hati, biarin tampangnya roman, tapi hatinya preman. Dan, ketika lagu Itâ€™s Only Words didendangkan Ronan Keating dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Boyzone, kembali anak muda Jakarta yang mengikuti konser mereka tersihir dan tenggelam dalam histeria.</p>
<p>Bila begitu, musik ternyata bukan sekadar hiburan belaka, tapi sekaligus membawa pesan ideologi. Benar nggak, Brur?</p>
<p>Musik memang enak untuk didengar oleh siapa saja. Karena konon kabarnya musik adalah bahasa yang paling universal dan mampu beradaptasi dengan telinga orang dari belahan dunia mana saja, seperti halnya tertawa yang sama sekali tak memiliki logat daerah tertentu. Universal memang. Namun, apakah karena alasan universal, lalu musik menjadi bebas? Atau, apakah karena musik dapat menciptakan suasana menyenangkan, lalu sah-sah saja membuat musik apa saja? Dan Boyzone, Bon Jovi, Metallica, Backstreet Boys, The Moffatts adalah sebagian dari gerombolan â€?tukang sihirâ€™ yang mampu mentransfer musik dan gaya hidup mereka kepada remaja.</p>
<p>Kalau ada orang yang mengatakan bahwa selama hidupnya ia tak bisa lepas dari musik, mungkin terlalu berlebihan, atau mungkin juga adalah hal lumrah. Yang menganggap musik sebagai â€?teman hidupâ€™, bisa jadi ia tak bisa lepas dari musik. Musik senantiasa menjadi inspirasi dalam hidupnya. Ia menjadi begitu menggantungkan hidupnya kepada musik. Dan musik bagi dirinya telah menjadi candu.</p>
<p>Bila musik sudah menjadi candu, harus disikapi dengan bijaksana. Selama musik yang didengarnya tidak sampai memoles kejiwaannya dengan tidak memberikan warna yang identik dengan gaya hidup tertentu, itu tak jadi soal. Yang menjadi masalah besar adalah, ketika musik yang didengarnya adalah jenis musik yang amburadul dan menyihirnya untuk mengikuti gaya hidup para pemusik pujaannya. Jadi, mendengarkan boleh, asal tetap mengikuti aturan main dalam Islam.</p>
<p><strong>Musik Juga Nggak Bebas Nilai</strong><br />
Siapa bilang kalo musik nggak ada hubungannya dengan gaya hidup, sehingga kita terlanjur menganggapnya â€?makhlukâ€™ polos yang tidak akan berpengaruh banyak dalam kehidupan kita. Dan tidak semua jenis musik dijamin bakal menyelamatkan kamu. Kamu nggak nyangka kalo â€?ideologiâ€™ anarchy yang dianut salah satu aliran gaya punk yang terkenal melalui sosok Johnny Rotten dari Sex Pistol bakal jadi gaya hidup kawula muda macam kamu. Kalo kamu mau lihat gaya hidup anak muda sekarang, wuih kita nggak habis pikir kalo ternyata budaya fungky itu sudah menjadi gaya hidupnya. Rambut dipylox, celana belel, sering beler. Pokoknya amburadul!</p>
<p>Kamu juga bisa lihat â€?ideologiâ€™ kaum gay melalui kelompok aliran gaya busana Glam dengan irama glam rock melalui sosok David Bowie dan Gary Gliter.?  Atau gaya rastafarian melalui tokoh Bob Marley dengan irama reggae yang sekaligus mempopulerkan gaya rambut dreadlock (gimbal). Malah tak sedikit yang kemudian ikut-ikutan dengan?  gaya B-boy dan Flygirls serta Gangsta melalui irama musik Rap (Muda, no. 10/12 Juni 1999). Ya, mereka itu mampu menciptakan gaya hidup tersendiri bagi para pemujanya. Sekali lagi, ternyata musik memang bukan sekadar hiburan. Dan tentu saja, tidak bebas nilai.</p>
<p>Nah, kamu jadi tahu sekarang, bahwa musik tak selamanya sebagai kawan. Suatu saat mereka pun bisa menjadi lawan dan bahkan mampu membunuh kepribadian kamu. Kenapa ini jadi masalah?</p>
<p>Karena kita muslim. Lho memangnya kenapa? Rasulullah saw. mengajarkan kepada umatnya agar selalu menjadikan aturan-aturan Islam sebagai acuan hidupnya. Maka, kita nggak boleh melakukan apa saja tanpa merujuk kepada ajaran Islam. Nggak boleh bebas nilai. Umar bin Khaththab r.a. mengatakan bahwa Al-â€?Ilmu qoblal â€?amal (ilmu itu sebelum amal). Dengan demikian kita harus tahu terlebih dahulu apakah perbuatan yang akan dilakoni ini memiliki nilai terpuji atau tercela. Dan apakah perbuatan tersebut boleh dilakukan atau malah wajib ditinggalkan. Melakukan atau menghindari suatu perbuatan tentu harus berdasarkan dalil yang jelas, yakni dari Al Quran maupun hadits. Firman Allah SWT: â€œ..Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu?  maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.â€? (QS. Al Hasyr: 7)</p>
<p>Dan musik, sebagai sarana hiburan tak bebas nilai. Ia harus mengikuti aturan main yang dibuat Islam. Sehingga tak akan muncul jenis musik yang bikin sangar, jenis musik yang merusak aqidah dan jenis musik lainnya yang bisa bikin hati dan otak kita dipenuhi dengan pikiran-pikiran nakal dan porno.</p>
<p>Bagi kamu yang kenal grup musik The Beatles, pasti mengenal sosok John Lenon. Ingat ya John Lenon, bukan Otong Lenon! Nah, John Lenon pernah berkoar lewat lagu Imagineâ€”yang juga menjadi soundtrack film The Killing Fieldâ€”tentu sebelum tewas diâ€™dorâ€™ penggemarnya sendiri. Doi bilang begini,â€?No heaven, no hell, and no religion too..â€? atau dalam lagu lainnya, â€œI donâ€™t believe in Superman, I donâ€™t believe in The Beatles, and I donâ€™t believe in God, I just believe in John and Yoko.â€? Wah, gawat Brur!</p>
<p>Tak bisa disangkal pula, bahwa musik yang diiringi dengan lirik lagu porno bakal bikin pendengarnya gelisah. Kelompok musik Slank, dalam album pertamanya Suit Hey Hey ada lagu Cinta Ala Amerika yang syairnya kayak begini, â€œAku peluk, kamu peluk, aku cium, kamu ciumâ€¦â€? Itu sudah ngajarin untuk bebas bergaul dengan lawan jenis. Bahaya, Non!</p>
<p>Itu baru grup domestik, kalo nyimak grup mancanegara, weleh-weleh, bisa bikin repot. Dulu jaman kakak-kakak kamu SMP, ada grup yang punya nama 2 Live Crew yang ngetop berat dengan lagu We Want Some Pussy, padahal isi liriknya jijay banget. Atau George Michael yang ngehit dengan lagu I Want Your Sex, sampai kelompok accapela beken yang punya lagu I Wanna Sex You Up. Soal liriknya, sori berat nggak bisa dibeberin di sini. Bisa bikin â€?piktorâ€™ otak kamu.</p>
<p>Seperti nggak mau kalah, Kurt Cobain bersama gerombolannya di Nirvana pernah membuat lirik lagu dengan judul Rape Me (Perkosalah Aku). Wah, dari judulnya saja sudah bikin â€?ngeriâ€™ dan tentu saja porno.<br />
Baik, kalau memang tak bebas nilai, kenapa sekarang justru banyak yang seperti itu?</p>
<p><strong>Perlu Kontrol</strong><br />
Tentu saja, untuk mengerem laju jenis musik dan lirik lagu yang bakal bikin gerah dan merusak aqidah diperlukan pengontrolan yang ketat dan tegas. Kalo sekarang?  menjamur, tentu saja bukan berarti bahwa jenis musik yang amburadul itu menjadi sah-sah saja bahkan dijadikan the way of life. Dalam teori komunikasi massa, ada istilah efek penanaman, yakni informasi yang disampaikan terus menerus akan menjadi sesuatu yang dianggap wajar memang begitu adanya. Terus ditanamkan, ditumbuh-kembangkan tanpa memperhatikan nilai-nilai kehidupan yang mengatur individu dan masyarakat dalam sebuah peradaban. Meski informasi itu salah, tetapi karena ia disampaikan dengan gencar dan berulang-ulang, maka masya-rakat akan menganggapnya benar dan sah.</p>
<p>Saat ini nyaris tak ada kontrol yang berarti dari masyarakat dan negara. Maka tatkala ada individu masyarakat yang nyeleneh mereka tak menghiraukan sedikitpun. Tentu saja ini adalah awal dari kehancuran sebuah masyarakat. Kondisi saat ini memang rusak, tak ada kontrol dari masyarakat, longgar sanksi yang diberikan negara, ditambah lagi dengan ketakwaan individunya yang kembang-kempis atau kadarkum alias kadang sadar kadang kumatâ€”kalo nggak mau dikatakan nol!</p>
<p>Yang dibutuhkan saat ini adalah menanamkan nilai-nilai Islam yang tangguh kepada individu (khususnya remaja), kemudian penyamaan pemikiran dan perasaan di tengah-tengah masyarakat sebagai perangkat untuk melakukan kontrol. Karena terus terang saja, tanpa berangkat dari pemikiran dan perasaan yang sama tentang suatu perbuatan akan sulit melakukan pengontrolan dan pemberian sanksi yang tegas. Masyarakat harus sama-sama menilai tercela terhadap perbuatan maksiat dan harus sama-sama menjatuhkan vonis amburadul terhadap gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dan akan lebih afdhol, bila kemudian negara memberikan sanksi yang tegas, misalnya membreidel albumnya atau mencekal dan memperkarakan pemusik dan pencipta lagunya seperti yang pernah dialami lagu Takdir-nya Desy Ratnasari. Bila demikian, rasanya bakal tak muncul para pemusik yang berekspresi macam-macam. Nggak akan muncul jenis musik yang bikin Alice Cooper punya acara memakan kelelawar segala dalam menikmati jenis musik rock-nya. Dan tentu saja gerombolan yang dipimpin Ronan Keating yang tergabung dalam Boyzone kagak bakalan berani menyihir remaja dengan lirik-lirik lagunya yang, gimanaaaaâ€¦gitu.</p>
<p>Jadi, musik boleh-boleh saja didengarkan, asal kamu kudu selektif. Nggak boleh asal telan saja. Harus bijaksana. Kata orang bijak, kalau itu manis, jangan segera ditelan. Dan bila pahit, jangan cepat dimuntahkan. Dan pastikan selalu, bahwa Islam akan membawa kebahagiaan.</p>
<p><strong>Harus Diredam</strong><br />
Betul, kalo dikatakan bahwa musik tak selamanya bisa merusak. Ada yang baiknya, dan itu boleh-boleh saja. Setuju, kok. Tapi masalahnya justru sekarang banyak yang merusak kehidupan. Coba aja, lebih banyak mana, antara yang mendengarkan album Cinta Rasul-nya Haddad Alwi dengan lagu-lagunya Jordan Knight?</p>
<p>Yang merusak yang harus kita hindari dan kalo sanggup kita ubah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Malik Al Asyâ€™ari: â€œSesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum muslimin) akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para penggembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka kemudian berkata, â€?datanglah kepada kami esok hari.â€? Pada malam hari Allah membinasakan mereka dan meng-hempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.â€?</p>
<p>Nah, golongan yang diazab oleh Allah taâ€™ala adalah mereka yang menghalalkan perzinaan, minuman keras (khamr), sutera (untuk pria) dan memainkan alat-alat musik di luar aturan Islam. Misalkan memainkan lagu syair porno, pemujaan setan, menggugat Tuhan, termasuk lagu-lagu cinta, lho. Bisa juga acaranya dilakukan dengan campur baur pria dan wanita (kayak konser Boyzone, misalnkan).</p>
<p>Tentu, segala sesuatu dan sarana yang bisa menciptakan peluang untuk terjerumus ke jurang yang membahayakan kehidupan dan kepribadian kita, maka harus kita cegah dan hanguskan.</p>
<p>Makanya, jenis lagu-lagu yang rusak, memang pada kondisi saat ini sulit dibendung, bukan saja karena peredaran CD maupun pita kaset yang deras, atau makin maraknya tayangan televisi saja, tapi memang kebijakan penguasa yang bersangkutan dengan masalah itu sulit kita â€?tembusâ€™. Karena terus terang saja, hanya pemerintah lah yang bisa meredam itu semua. Cuma masalahnya, mau nggak pemerintah melakukannya? Itu yang jadi masalah sebenarnya. Sebab, selain menyetop peredaran musik-musik â€?kacanganâ€™ model begitu, pemerintah juga berkewajiban memberikan batasan-batasan nilai kepada para seniman dan kaum muslimin dalam berkreasi. Tentu dengan nilai-nilai Islam.</p>
<p>Kalau ditanya kenapa para musisi gemar bikin lagu-lagu dengan lirik-lirik kotor dan horor jawabannya karena memang sekarang ini masyarakat hidup dalam kebebasan nilai. Adapun sebagai langkah antisipasi dan pencegahan saat ini, paling jauh kita cuma bisa selektif dalam memilih-milih lagu. Itu tok, selain ikut berdakwah untuk menanamkan nilai-nilai Islam di masyarakat.</p>
<p>Dalam pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah), penguasa akan menertibkan segala sarana yang bisa merusak akidah Islam, yang akan menghancurkan tatanan sosial Islam, dan segala macam bentuk pengrusakan kepribadian kaum?  muslimin, maka hal tersebut tanpa ampun akan digasak. Makanya nanti jangan heran kalo hidup dalam naungan Islam terasa sejuk serta damai. Betul itu!<br />
Gimana?</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 08/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ketika-musik-mengusung-gaya-hidup/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari Pemuda Idaman!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dicari-pemuda-idaman</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dicari-pemuda-idaman#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 09:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/dicari-pemuda-idaman/</guid>
		<description><![CDATA[Idaman? â€œEmangnya Ramuan Madura?â€? Begitu kira-kira komentar kamu. Sori, bukan iklan. Atau ada yang mau komentar lain? Maksud kita sih, supaya bisa ngajak kamu ngobrol dan akhirnya kamu mikir. Ya, itung-itung berbagi pengalaman dan ilmu, lho. Jadi pemuda idaman itu nggak sulit, kok. Asal kamu mau sadar, mau belajar dan mau mikir tentang keberadaan kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Idaman? â€œEmangnya Ramuan Madura?â€? Begitu kira-kira komentar kamu. Sori, bukan iklan. Atau ada yang mau komentar lain? Maksud kita sih, supaya bisa ngajak kamu ngobrol dan akhirnya kamu mikir. Ya, itung-itung berbagi pengalaman dan ilmu, lho. Jadi pemuda idaman itu nggak sulit, kok. <span id="more-9"></span>Asal kamu mau sadar, mau belajar dan mau mikir tentang keberadaan kamu sendiri sebagai seorang manusia dan sebagai seorang muslim. Ingat ya Brur, kita memang harus menjadi panutan. Diidamkan oleh siapa sajaâ€”tentu tanpa maksud ingin dipuji atau dikagumi doang. Tapi maksudnya, bagaimana kita berusaha agar menjadi pelopor dalam kebaikan. Ingat ya, bukan nyari popularitas semata di mata manusia, tapi berusaha menjadi yang terbaik dalam pandangan Islam. Oke, setuju kan?</p>
<p>Kamu juga nggak boleh kalah dengan kakak-kakak kamuâ€”apalagi dengan remaja-remaja yang aqidahnya bertentangan dengan Islam. Soal prestasi maupun keberanian dalam membela yang benar. Ingat ya, membela yang benar, bukan membela yang bayar!</p>
<p>Idealnya, remaja macam kamu ini memang memiliki semangat yang top dalam urusan mencari ilmu, dalam belajar dan ketika membela Islam. Karena, terus terang saat ini kita prihatin banget deh dengan gaya kamu yang pecicilan alias banyak tingkah! Kamu ternyata lebih senang bila dicap remaja gaul. Celakanya, justeru gaul dalam masalah yang salah. Bukannya kamu berjuang membela Islam, eh, malah enak-enakan nyantai dengerin lagu Bruce Lee-nya Jun Fan Gung Foo yang mengusung genre musik SKA, misalnya. Atau lagu sejenis yang lagi ngetren dan digandrungi anak muda.</p>
<p>Brur, kita harus banyak introspeksi alias menilai diri sendiri. Kamu udah nggak bisa lagi dibilang anak-anak. Kamu tuh udah dewasa. Udah bisa mikir, mana yang baik dan mana yang jelek. Iya, kan? Makanya sekarang mau diajak ngobrol yang benar dan baik. Masak kamu cuma bisa bersedih ketika dapat nilai angka delapan â€?ngakakâ€™, misalnya. Atau bergembira saat menerima nilai yang bagus. Bukan cuma itu, kawan. Kamu juga kudu ngerti dan mengasah nuranimu supaya peka terhadap keadaan sesama kaum muslimin. Khususnya teman-teman kamu yang sama-sama masih remaja.</p>
<p>Coba, bandingkan jumlah teman kamu yang triping di diskotik dengan yang geleng-geleng kepala (baca: dzikir) di masjid? Kamu juga nggak bisa berbohong kan, ketika diajukan pertanyaan tentang jumlah remaja cewek yang memakai jilbab dengan yang mengumbar auratnya. Pasti kamu juga setuju sekaligus prihatin bahwa ternyata sejauh mata memandang banyak aurat teman remaja putri yang dipamerkan. Padahal kan bukan pasar malam, ya? Nah, catet itu.</p>
<p>Malah, Non! Kalo kita dengerin obrolan remaja sekarang ini, pasti nggak jauh dari artis dan film-film. Nggak tahu, apakah ia ingin seperti mereka atau sekadar untuk disebut gaul. Yang jelas, survei membuktikan bahwa banyak remaja yang kemudian tersihir oleh gemerlapnya dunia kaum seleb. Gimana nggak, karena yang jadi bahan obrolan nggak jauh dari gosip seputar artis. Soal siapa gacoan Brad Pitt kali ini, setelah sempat singgah di hati Gwyneth Paltrow, misalnya. Atau gosip-gosip lain seputar film terbarunya Arnold Schwarzenegger yang berkisah tentang kiamat, End of Days. Atau mungkin senang menelusuri bagaimana â€?sirahâ€™nya Jordan Knight pasca NKOTB bubar. Wah, pokoknya macem-macem deh. Celakanya, justru teman-teman remaja kita itu secara tak sadar meniru setiap gerak langkah artis pujaannya. Sekarang jadi ada pertanyaan, siapa sebenarnya yang jadi idaman? Kamu ataukah mereka?</p>
<p>Teman, masih banyak yang harus kita benahi. Sosok pemuda idaman itu nampaknya harus segera dimunculkan. Bukan apa-apa, kita juga udah jenuh dengan tingkah teman-teman remaja seusia kamu yang ogah belajar Islam. Boro-boro jadi idaman, malah bertumpuk jadi beban masyarakat. Sedih ya, Brur?</p>
<p>Tentu saja, kita nggak ingin menjadi generasi santai dan penuh hura-hura. Sejak dulu kita sudah diwarisi sebagai generasi pejuang. Bukan generasi yang akan menjadi beban masyarakat. Sejak dulu Islam mengajarkan tentang disiplin, kerja keras dan keberanian dalam menyampaikan kebenaran.</p>
<p><strong>Islam Sumber Keberanian</strong>? <br />
Hidup kalo nggak punya target dan tujuan rasanya kering. Benar-benar kering. Nggak percaya? Sekarang, coba kamu renungkan, buat apa hidup kalo kamu nggak tahu akan ke mana dan akan ngapain. Sulit bisa idealis bila kamu nggak punya tujuan dan target dalam hidup. Dua hal itulah yang sebenarnya akan mengendalikan kamu dalam kehidupan ini. Sebab, kalo nggak, bisa-bisa kamu ngelantur kemana-mana karena nggak punya pegangan. Dan tentu saja, sebagai seorang muslim tujuan dan target hidup kita adalah mencapai ridho Allah dengan beribadah kepada-Nya.</p>
<p>Sehingga wajar bila kemudian muncul generasi para sahabat yang mampu meng-aktualisasikan Islam dalam kehidupannya. Kamu kenal Abdullah Ibnu Umar? Nah, beliau ini patut kamu contoh dalam hidup kamu. Di usianya yang menginjak 13 tahun, sudah kebelet ingin ikut berjihad bersama Rasulullah saw. Beliau bersama Al Barraâ€™ ngotot ingin berperang bersama pasukan Rasulullah dalam perang Badar, namun oleh Rasulullah saw ditolak karena masih kecil. Tahun berikutnya pada perang Uhud, beliau tetap ditolak, hanya Al Barraâ€™ yang boleh ikut. Barulah keinginannya yang tak tertahankan itu terpenuhi pada saat perang Ahzab, Rasul memasukkannya ke dalam pasukan kaum muslimin yang akan memerangi kaum musyrikin (Shahih Bukhari jilid VII, hal. 226 dan 302). Semangat seperti inilah yang saat ini sulit ditemukan dalam diri pemuda Islam seusia kamu. Kalau pun ada itu hanya sedikit saja yang memilikinya. Jangankan untuk berjihad, dalam menuntut ilmu saja, kadangkala kamu sudah bosan dan tak bersemangat. Yang muncul justeru semangat dalam tawuran dan tindak kriminal lainnya. Nggak semuanya sih, tapi kebanyakan!</p>
<p>Ibnu Abbas r.a. berkata: â€œTidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 &#8211; 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang â€?alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja. Kemudian Ibnu Abbas r.a. membaca firman Allah swt. dalam surat Al Anbiya ayat 60: â€œMereka berkata: â€?Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (Tafsir Ibnu Katsir III, halaman 183).</p>
<p>Idealnya, seorang pemuda atau remaja kudu memiliki semangat yang hebat. Mengingat fisik kamu yang masih kuat. Dalam sejarah, usia para pemuda Islam yang pertama mendapatkan pembinaan di Daarul Arqaam rata-rata sekitar 20 tahunan. Yang paling muda adalah Ali bin Abi Thalib, waktu itu usianya masih 8 tahun hampir sama dengan Az-Zubair bin Al â€?Awwam. Kemudian dalam pembinaan Rasul itu masih ada Jaâ€™far bin Abi Thalib yang saat itu usianya 18 tahun, Usman bin â€?Affan, usia 20 tahun, Umar bin Khaththab sekitar 26 tahun dan Abu Bakar As Shidiq yang sudah berusia 37 tahun saat itu. Dan masih banyak lagi para sahabat yang semuanya masih relatif muda usia. Mereka bersemangat dalam mengikuti pembinaan Rasulullah saw. Aqidah Islam yang ditanamkan Rasul mampu mengubah pola pikir mereka tentang kehidupan.</p>
<p>Gimana, bisa dipahami? Sekarang kamu nggak bisa nyari-nyari alasan lagi untuk melegalkan tingkah kamu yang amburadul itu. Jangan merasa sah melakukan hura-hura sebagai seorang remaja. Nggak ada dalam kamus Islam bahwa seorang remaja itu hidupnya harus nyantai dan hura-hura. Malah kamu juga kudu maluâ€”ini sekadar contohâ€”Bill Gates, yang ketika itu berusia 14 tahun mampu memimpin kelompok komputer sekolahnya. Memang sih, Gates anak orang kaya di wilayah Pantai Barat Amerika. Tapi yang perlu dicontoh adalah semangatnya. Gates yang drop out dari Harvard University pada usia 19 tahun dan kemudian mulai mendirikan perusahaan software bernama Microsoft bersama Steave Allen temannya. Sekarang? Ia jadi juragan terkaya di dunia. Malah, lucunya program yang ia buat dulu pernah dijualnya kepada raksasa perusahaan komputer; IBM. Sekali lagi, ini sekadar contoh. Karena seharusnya kita lebih semangat lagi, soalnya apa pun yang kita lakukan di dunia adalah ibadah. Apa yang dilakukan Bill Gates hanyalah fatamorgana di hadapan Allah. Tentu saja, karena ia golongan orang-orang kafir.</p>
<p>Makanya wajar kalo para sahabat dulu begitu semangat membela Islam. Karena Islam telah menjasad dalam dirinya dengan kuat. Islam memang sumber keberanian. Sebagai contoh lagi, di Uzbekistan, wilayah bekas jajahan Uni Sovyet. Telah terjadi sebuah peristiwa berharga yang berhasil ditorehkan para pemuda muslim di sana. Mengutip berita di majalah Al Waieâ€”majalah berbahasa Arabâ€”di sana telah terjadi tindakan biadab yang dilakukan oleh Islam Abdulghanievic Karimov, sang diktator thagut Yahudi. Banyak para pengemban dakwah yang kebanyakan para pemuda dikejar, ditangkap, dipenjara, dan tak sedikit yang kemudian dibunuh. Penjaranya nggak tanggung-tanggung, Brur. Penjara itu berada di suatu pulau di tengah laut Aral. Cukup? Belum! Tempat itu disebut Barisah Kilmaz alias â€œmereka yang pergi ke sana tak akan kembaliâ€?. Pulau itu adalah tempat pembuangan sampah nuklir! Ngeper? Oh, Tidak! Para pemuda di sana malah tambah semangat dan yakin dengan jaminan surga dari Allah swt. Karena membela agama-Nya. Semangat membela?  Islam lah yang menenggelamkan rasa takut dan keraguan.</p>
<p>Dalam peristiwa lainâ€”masih di Uzbekistanâ€”ini juga perlu dijadikan pemicu kamu untuk berani dan peduli terhadap Islam. Seorang pemuda kecil, kira-kira seusia kamu-kamu lah yang mendapat vonis hukuman penjara gara-gara berdakwah menyebarkan Islam. Ia berdiri di pengadilan dan berkata dengan suara lantang kepada hakim, â€œDulu, Aku tersesat ke tempat-tempat orang mabuk, kalian tidak memenjarakan Aku. Sedangkan sekarang, ketika Aku mendapat petunjuk justru kalian memenjarakan Aku.â€?</p>
<p>Gimana, Brur? Cukup membuat kamu semangat? Syukurlah. Semangat pemuda-pemuda?  seperti itulah yang membuat Islam disegani. Yang telah membuat orang-orang di luar Islam kagum dengan mereka.</p>
<p><strong>Remaja Ideal</strong><br />
Ya, Islam memang sumber keberanian. Dan idealnya, pemuda Islam itu memang berperilaku demikian. Seorang pemikir dari Beirut, Musthafa Al Ghalayaini berkata: â€œAdalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.â€?</p>
<p>Kalo ternyata pemudanya banyak yang berperilaku aneh dan memalukan â€?korpâ€™ Islam? Nah, kalo begitu, kayaknya perlu mendengarkan komentar Musthafa Kamil, pemikir dari Mesir, katanya: â€œPemuda yang bodoh, beku (tidak punya ruh jihad) untuk memajukan bangsa, matinya itu lebih baik daripada hidupnya.â€?</p>
<p>Rasanya, komentar-komentar yang dilontarkan para pemikir Islam ini tak mengada-ngada. Benar, kawan. nggak bohong. Kalo semangat umatnya saja untuk memajukan Islam kendor, sulit rasanya bagi Islam untuk bisa eksis. Contohnya? Ya, kayak sekarang ini. Remaja-remaja seusia kamu malah banyak yang mencoreng kesucian Islam dengan kelakuan buruknya. Pergaulan bebas, kecanduan narkoba, hura-hura, dan seabrek tingkah yang jauh dari nilai-nilai Islam.</p>
<p>Baik, sobat. Itu sekadar letupan kecil supaya kamu bisa merenung. Bukan maksud menekan kamu sebagai remaja muslim. Justeru memberikan gambaran yang jelas bahwa remaja atau pemuda yang ideal (baca: idaman) adalah yang mampu menjadi pelopor dalam kemajuan bangsanya. Bukan pengekor, yang hanya menjadi sapi perah peradaban yang rusak.</p>
<p>Menyikapi peran pemuda, Imam Asy Syafii mengatakan bahwa: &#8220;Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).&#8221; Sabda Rasulullah saw: â€œApabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.â€? (HR. Bukhari). Sebagai pemuda, kita harus memiliki ilmu dan ketakwaan, dan yang pasti, mereka harus menjadi kebanggaan umat. Harus menjadi teladan yang diidamkan siapa saja. Tentu saja, teladan dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan. Kayaknya, kita mesti mencontoh Usamah bin Zaid yang masih muda belia, usianya 18 tahun saat diangkat menjadi Panglima Perang oleh Rasulullah saw untuk memimpin pasukan kaum muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang berada di bawah kekuasaan Romawi pada waktu itu. Menakjubkan, bukan?</p>
<p><strong>Trik Menjadi Pemuda Idaman</strong><br />
Ya, bukan hanya main gim, ternyata. Kalo main gim kadang-kadang suka ada cheat alias cara curang untuk bisa memenangkan tiap level. Kita nggak perlu menggunakan istilah cara curang, cukup trik saja. Apa sih, trik agar jadi pemuda (juga pemudi) idaman?</p>
<ol>
<li>Niatkan bahwa belajar Islam itu untuk ibadah.</li>
<li>Ilmu yang didapat diamalkan dalam kehidupan.</li>
<li>Islam yang dikaji jangan setengah-setengah.</li>
<li>Memiliki semangat untuk membela Islam.</li>
<li>Menyadari bahwa Islam wajib diperjuangkan.</li>
<li>Marah besar melihat adanya kemaksiatan.</li>
<li>Nggak betah hidup nyantai dan hura-hura.</li>
<li>Siap berkorban untuk Islam.</li>
<li>Kuat iman, kuat ilmu dan kuat takwanya.</li>
</ol>
<p>Itu sekilas trik agar jadi pemuda idaman. Kamu boleh nyari yang lainnya. Pokoknya, kamu melakukan semua itu untuk Islam dan kaum muslimin. Memang, daftar trik yang dibuat tadi nggak ada gunanya, bila kamu sendiri nggak mau mencoba dan segera bangkit dari kondisi kamu saat ini. Percayalah, segalanya berawal dari sebuah kesadaran yang tinggi untuk maju.</p>
<p>Dan tentu saja, untuk menghasilkan para remaja pilihan seperti itu dibutuhkan pembinaan yang benar dan baik kepada para remaja. Lingkungan keluarga wajib memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan kepribadian pemuda kita. Masyarakat dan negara pun perlu memberikan suasana kondusif bagi pembinaan pemuda. Memberikan pengawasan yang baik, bukan malah memberikan pengaruh buruk. Ilmu yang dibarengi dengan ketakwaan akan menjadikan kamu sebagai pemuda muslim memiliki peran yang besar dalam kemajuan bangsa dan peradaban. Dan tak mustahil, akan menjadi pemuda idaman bagi umat.</p>
<p>Era kebebasan yang kebablasan ini harus segera diakhiri. Semrawutnya peta kehidupan masyarakat kapitalis ini harus secepat mungkin diubah dengan model kehidupan Islam. Yakni Islam sebagai sebuah ideologi, yang nantinya bakal melindungi umatnya dengan penerapan aqidah dan syariatnya yang handal. Oke, siapa diantara kamu yang bisa menjadi pemuda idaman untuk memperjuangkan Islam?</p>
<p>Gimana, berani kan? Siapa takut? Yes, we are the champions my friendâ€™s</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Tahun I / Nomor 07</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dicari-pemuda-idaman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencegah Lahirnya &#8216;Generasi&#8217; Preman</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mencegah-lahirnya-generasi-preman</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mencegah-lahirnya-generasi-preman#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 09:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/mencegah-lahirnya-generasi-preman/</guid>
		<description><![CDATA[Perang hanya akan melahirkan ribuan pemakaman&#8221; petikan dialog dalam film Heaven on Earth yang dibintangi Tommy Lee Jones. Kisah yang mengekspos brutalnya perang Vietnam. Dan saat ini, kita sering menyaksikan perang yang lain yang nggak kalah brutal. Memang tak ada desingan peluru, juga tak ada dentuman bom. Namun &#8216;perang&#8217; ini tetap mengerikan. Perang itu bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perang hanya akan melahirkan ribuan pemakaman&#8221; petikan dialog dalam film Heaven on Earth yang dibintangi Tommy Lee Jones. Kisah yang mengekspos brutalnya perang Vietnam. Dan saat ini, kita sering menyaksikan perang yang lain yang nggak kalah brutal. <span id="more-8"></span>Memang tak ada desingan peluru, juga tak ada dentuman bom. Namun &#8216;perang&#8217; ini tetap mengerikan. Perang itu bernama Tawuran. Ya, tawuran pelajar yang masih menyimpan misteri. Gimana nggak misterius, terjadinya aja fluktuatif. Meski saat ini nggak begitu heboh beritanya, tapi siapa tahu &#8216;diamnya&#8217; itu adalah diamnya gunung berapi. Sekalinya meledak membawa petaka. Ngeri ya, Brur?</p>
<p>Well, temen-temen kita yang sok jagoan itu telah mengganti aksesoris sekolah dengan aksesoris gangster alias bandit. Kamu bisa lihat sendiri, pulpen berganti obeng, penggaris dipermak jadi clurit, ikat pinggang ditambah gerigi roda jadi sapu jagad. Wuih mengerikan!</p>
<p>Kawan, tiap bulan dua nyawa pelajar melayang. Ini memang itungan rata-rata. Angka ini berdasarkan jumlah korban tawuran antar pelajar di DKI Jakarta sejak Januari â€“ Juli 1999, yang dikeluarkan Pusat Pengendalian Gangguan Sosial (Pusdalgangsos) Pemda DKI. Menurut kepala Bidang?  Pengumpulan dan Pengelolaan Data (Kabid Pulahta) Pusdalgangsos DKI, Raya Siahaan, sebanyak 13 orang tewas, 105 menderita luka-luka, dan 117 ditangkap petugas, selama Januari â€“ Juli 1999 (Media Indonesia, 4 Agustus 1999)</p>
<p><strong>Bukan Lagi Kenakalan</strong><br />
Tawuran pelajar yang terjadi hingga saat ini, ibarat sebuah film action berseri. Kejadiannya berulang-ulang. Selesai satu episode, berlanjut episode berikutnya. Kesal dan jengkel memang. Tapi itulah barang kali &#8216;benih-benih generasi preman&#8217;<br />
Pakar pendidikan dan juga presenter acara Hikmah Fajar di RCTI Dr. Arief Rachman, menyebut empat penyebab utama pemicu tawuran. Pertama, berkarakter labil. Sikap pelajar tersebut cepat marah dan reaktif. Bahkan emosinya tidak seimbang dengan penggunaan nalarnya, dan imannya sangat rendah. Kedua, keluarga pelajar tersebut bermasalah. Boleh dibilang nggak cocok untuk perkembangan kepribadian anak. Seringkali orang tua menerapkan pola asuh yang represif alias melakukan penekanan terus menerus. Ketiga, ini menyangkut manajemen sekolah. Keempat, tayangan televisi yang cenderung menyajikan sadisme, vulgarisme, dan hedonisme. Jelas dampaknya tak mendorong penonton untuk menyelesaikan konflik (diringkas dari Media Indonesia, 11 Juli 1999)? <br />
Komentar Pak Arief yang juga kepala SMU Lab School ini tak berlebihan, karena memang faktanya begitu. Kalau melihat korbannya Brur, ada anggapan tawuran sekarang bukan lagi deliquency (kenakalan). Remaja berseragam yang melakukan tawuran semakin dekat dengan cap kriminal. Gimana nggak, badik, obeng atau batu jadi senjata pamungkas dalam menyelesaikan persoalan. Ih, ganas bener!</p>
<p>Tanggung jawab ortu di rumah untuk membina kepribadian anak memang sudah menjadi kewajibannya. Bukan cuma dipenuhi kebutuhan materinya, tetapi akliyah (pola berfikir) dan juga nafsiyah (pola sikap)-nya perlu dibina. Jangan sampai anak itu jadi liar. Kasih sayang ortu akan berdampak baik buat perkembangan mentalnya. Menanamkan nalai-nilai Islam akan sangat membantu perkembangan kepribadiannya.</p>
<p>Sekolah juga harus mampu menjadi kawah &#8216;Candradimuka&#8217; bagi pelajar. Jangan menerapkan pola pendidikan sekuler yang cuma berorientasi mengejar nilai.<br />
&#8220;Selama orde baru, pendidikan lebih banyak dititikberatkan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pendidikan moral dan agama kurang. Beban kurikulum terlalu berat, serta banyak di-&#8217;proyek&#8217;-kan untuk mencari keuntungan, sehingga setiap ganti kurikulum ganti buku pelajaran&#8221;, ujar Prof. Dadang Hawari, yang dikutip Media Indonesia, 2 Agustus 1999.</p>
<p><strong>Krisis Identitas</strong><br />
Punya pengalaman terjun di medan &#8216;pertem-puran&#8217; bisa jadi merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka yang hobi tawuran. Ibarat jagoan yang sedang berlaga menghadapi lawan, ia akan menjadi pusat perhatian banyak orang. Melalui penampilan itulah dia jadi dikenal, diperhatikan, dan diakui eksistensi dirinya.</p>
<p>Memang, keinginan untuk dikenal, diperhatikan, dan diakui oleh orang lain, merupakan sesuatu yang alami dalam diri manusia. Sebab dalam diri manusia terdapat apa yang disebut Naluri Mempertahankan Diri (Gharizah Al Baqa&#8217;). Naluri ini muncul dalam betuk keinginan seseorang untuk dikenal, diperhatikan, dan diakui eksistensinya; termasuk pula keinginan untuk berkuasa, memiliki harta, dan mempertahankan diri atau membela diri jika ada serangan/ancaman dari pihak lain.</p>
<p>Nah, kawan kita yang hobi tawuran, mereka juga seperti itu. Disaat mereka tidak mendapat perhatian oleh keluarga atau lingkungannya, dan disaat mereka tidak mampu menampilkan diri secara positif yang memungkinkan orang lain mengakui eksistensinya; maka mereka akan bertindak apa saja supaya orang lain memberi perhatian.?  Jadi, tawuran tak lain adalah sarana yang mereka pilih untuk menunjukkan eksistensi diri atau identitas dirinya di mata orang lain.</p>
<p>Dari sini nampak, bahwa kawan-kawan kita telah melakukan kesalahan dalam menyalurkan Naluri Mempertahankan Diri (Gharizah Al Baqa&#8217;) yang ada dalam dirinya. Mereka ingin diakui dan diperhatikan, tapi dengan cara yang negatif dan bahkan membahayakan jiwa orang lain. Nah, disinilah pentingnya peran orang tua dan sekolah untuk membina para remaja, sehingga mereka dapat menampilkan dirinya (identitas dirinya) di masyarakat melalui aktivitas yang positif.</p>
<p>Terkadang seseorang juga ingin diakui dan dikenal identitas dirinya, dengan cara mencontoh identitas orang lain. Ini boleh-boleh saja, tapi dilihat dulu siapa orang yang akan kita contoh identitasnya. Jangan sampai salah pilih!</p>
<p>Kebanyakan remaja kita memang suka ceroboh. Maksud hati sih, ingin ngikutin Kurt Cobain pentolan Grup Nirvana yang koit gara-gara over dosis boat, tapi apa daya malah disangka orang gila. Padahal suaminya Courtney Love itu juga emang slebor. Ih, amit-amit deh kalau sampai ngikutin gaya hidupnya!</p>
<p>Nah kelakuan teman kamu yang sembarangan nyari contoh untuk membina identitas dirinya bisa berbahaya. Bukan apa-apa, kamu nggak boleh menyontek identitas orang lain dengan gaya hidupnya secara membabi buta. Soalnya kamu bukan babi kan? Hiâ€¦hiâ€¦! Siapa tahu orang yang kamu jadikan teladan itu malah amburadul. Kamu adalah dirimu, bukan orang lain.</p>
<p>Sebagai seorang muslim kamu harus bangga, percaya diri dan nggak boleh minder. Sebagai seorang muslim, itulah identitas dirimu yang sesungguhnya. Rasulullah saw. bersabda : &#8220;Tidak ada orang yang lebih mulia di sisi Allah dari seorang mukmin&#8221; (HR. Ath Thabrani). Dan satu hal lagi yang perlu kamu ingat, bahwa Allah tidak melihat tinggi dan rendahnya manusia dari sisi dandanan, atau wajah alias tampang, hartanya, dan kuantitasnya. Akan tetapi yang diperhatikan Allah adalah hati kita, yaitu keimanan kita dan amal kita, yaitu amal shaleh yang lahir dari keimanan tersebut. Rasulullah saw. bersabda : &#8220;Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala tidak melihat kepada bentuk rupamu, tidak pula kepada jumlah kamu, dan tidak pula kepada harta kekayaanmu; Akan tetapi Dia melihat kepada hatimu dan amal perbuatanmu&#8221; (HR. Tabrani)<br />
Jadi nggak usah deh pengen jadi orang lain. Apalagi orang tersebut nggak ketahuan juntrungnya. Kamu tetap kamu, sebagai seorang muslim dan mukmin. Jangan tergoda ingin jadi orang lain.</p>
<p>Memang sih, krisis identitas dalam diri remaja nggak lepas dari perhatian ortu sama anak-anaknya. Kasihan donk kalau sampai ditelantarkan. Jangan cuma pengen enaknya, tapi nggak mau anaknya!</p>
<p>Betul, mendidik anak nggak mudah. Butuh kesabaran dan ketekunan. Namun harus diingat bahwa itu semua adalah tanggung jawab ortu dan akan menjadi amal shaleh yang akan menjauh-kannya dari api neraka. Rasulullah saw. bersabda : &#8220;Barang siapa mendapat ujian atau menderita karena mengurus anaknya-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka&#8221; (HR. Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)</p>
<p><strong>Cegah dan Tangkal</strong><br />
Kondisi masyarakat yang amburadul saat ini telah menjadi pemicu maraknya tawuran. Tayangan televisi yang mengekspos kebrutalan dan kesadisan telah banyak berpengaruh bagi perkembangan penontonnya. Sebagai contoh saja, film Taxi Driver yang dibintangi Jodie Foster pada tahun 1976, yang mengisahkan tentang sopir taxi yang gila, diduga kuat memicu John Hinckley menembak Presiden Ronald Reagen. Belum lagi film-film bertemakan kekerasan lainnya yang tak mustahil memicu remaja berfantasi yang aneh-aneh. Film-film tentang Gang misalnya, telah banyak mewarnai gaya hidup pelajar.<br />
Tentu saja kawan, ini nggak boleh dibiarkan begitu saja. Harus segera dihentikan. Bila tidak? Jangan heran bila akan lahir generasi preman di masa depan. Ih, nadzubillah min dzalik!</p>
<p>Bagaimana dengan pemberian hukuman? Nggak masalah! Toh remaja bukan lagi anak-anak, tapi sudah akil baligh, sehingga dalam pandangan Islam sudah terkena taklif syar&#8217;i, alias terkena pembe-banan hukum. Setiap perbuatan yang dilakukan akan dinilai, apakah berpahala atau berdosa. Nah, tawuran kan terkategori bahaya dan jelas-jelas aktivitas kriminal, sehingga harus dihukum.</p>
<p>Islam, sebagai sebuah idiologi tentu saja memiliki jawaban atas problem-problem masyarakat termasuk tawuran ini. Suatu ketika sorang Yahudi di masa nabi saw. memukul seorang Jariyah (budak wanita) diantara dua batu hingga tewas. Ketika kabar ini sampai ke telinga Rasulullah saw, beliau segera mengadili Yahudi tersebut dan menghukumnya dengan perbuatan yang serupa. Riwayat ini menjadi bukti sejarah bahwa nyawa dalam Islam sangat dijunjung tinggi. Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda : &#8220;Tidak halal darah seorang muslim kecuali tiga hal; Pezina muhsan, Seseorang atas seseorang (pembunuh), Orang murtad dan memisahkan diri dari jamaah (pemberontak)&#8221;<br />
Nah, jadi kalau ada pelajar yang tega membacok kepala atau menggorok leher pelajar lain hingga tewas dalam tawuran, maka dalam pandangan Islam pelajar tersebut akan dikenakan hukuman Qishas. Ya, dibunuh lagi! Kejam? Tentu tidak! Sebab hukum Islam itu bersifat jawazir dan jawabir. Jawazir artinya hukum Islam bersifat preventif, mencegah terjadinya peluang-peluang kemaksiatan dan kejahatan. So, kamu perhatikan sendiri bahwa perbuatan jahat, apapun bentuknya, selalu diawali dengan adanya celah-celah. Dalam kasus tawuran, peluang bisa muncul dari berbagai sisi. Bisa karena pengaruh bacaan, tontonan, atau sanksi yang dirasa terlalu ringan.</p>
<p>Tontonan sangat berpengaruh lho. Di Amrik sono, negerinya Power Ranger itu, dalam sebuah penelitian yang dilakuakan oleh Phychological Association, mengatakan bahwa anak-anak di AS sudah melihat 8 ribu kasus pembunuhan dan 100 ribu pelaku kekerasan di layar tivi. Dan di Chicago, meski ada larangan jual senjata genggam sejak tahun 1982, tetapi pistol kaliber seharga 20 dolar atau 200 dolar untuk pistol semi otomatis 9 mm dan berat 2,5 pon mudah dicari, bahkan lengkap dengan manual-nya alias petunjuk penggunaannya. Dan parahnya menurut salah seorang psikolog, James Garbarino, yang tegabung dalam panitia tersebut &#8220;setiap hari anak-anak di sana sudah mengetahui dan mengalami kekerasan di lingkungannya&#8221; (Permata, 5/V Mei 1996).</p>
<p>Kemudian hukum Islam juga bersifat jawabir. Artinya, hukum Islam?  &#8211;kalau diterapkan di duniaâ€”bekal menghapus azab Allah di akhirat kelak. Sabda Nabi saw. : &#8220;Ba&#8217;iatlah aku untuk tidak memper-sekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, (kemudian Rasulullah saw. membacakan seluruh ayat). Barang siapa diantara kalian menepati, maka Allah akan membalas (dengan pahala), dan barang siapa yang melakukan hal-hal itu, maka akan diberi hukuman (uqubat) sebagai kafarat (penebus) baginya, dan barang siapa melakukan hal-hal itu, kemudian Allah menutupinya, maka Allah akan mengampuninya jika menghendaki, dan mengazabnya jika Ia menghen-daki&#8221; (Al Hadits)<br />
Jadi, meski berat vonis hukuman yang dijatuh kan, Insya Allah pelaku tindak kejahatan akan terlepas dari azab Allah di akhirat kelak, yang jauh lebih dahsyat. Adil kan? Oh, jelas. Siapa dulu yang membuatnya, Allah!?  Allah-lah yang Mahatahu karakteristik manusia sebagai makhuk-Nya, sehing-ga wajar dong kalo Allah menurunkan aturan-Nya juga buat kita.</p>
<p>Nah, diakui atau tidak, hanya Islam agama yang mengurus masalah dari yang &#8216;sepele&#8217;, hingga yang berat. Dan memang hanya dalam Islam harga dan harkat manusia dijunjung tinggi. Nyawa diukur lagi dengan nyawa. Darah dengan darah. Harta dengan harta. Inilah keadilan yang sesungguhnya, Brur!</p>
<p>Sabda Rasulullah saw : &#8220;Jangan kamu saling dengki dan iri, dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi saw menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila mertendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya&#8221; (HR. Muslim)<br />
Dengan demikian model cegah dan tangkal gaya Islam memang jitu. Untuk mencegah lahirnya generasi preman ini adalah terlebih dahulu mengubah cara pandang (pola pikir) masyarakat dengan Islam. Bahwa setiap perbuatan tersebut harus disandarkan pada tuntunan dan tuntutan Islam. Dengan kata lain standar berbuatnya adalah halal dan haram menurut Allah dan Rasul-Nya. Nah, berkaitan dengan kasus tawuran ini, yang sudah mengarah pada tindak kriminal, yakni pembunuhan, jelas sangat dilarang Allah. Firman Allah : &#8220;â€¦Barang siapa membunuh manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan kerena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia membunuh manusia semuanyaâ€¦&#8221; (QS. Al Maaidah : 32)</p>
<p>Well, dari pada potensi kamu habis tersedot di arena tawuran, lebih baik kita produktifkan untuk mempelajari Islam. Islam yang dipahami sebagai aqidah dan syari&#8217;at alias Islam sebagai sebuah idiologi. Yes, Islam adalah jalan hidup kita, kawan!</p>
<p>(<strong>Buletin Studia &#8211; Edisi 06 /Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mencegah-lahirnya-generasi-preman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kupu-Kupu Malam; Profesi Baru Remaja Putri</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kupu-kupu-malam-profesi-baru-remaja-putri</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kupu-kupu-malam-profesi-baru-remaja-putri#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 11:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/buletin-studia/buletin-studia-tahun-pertama/kupu-kupu-malam-profesi-baru-remaja-putri/</guid>
		<description><![CDATA[Lagu It Must Have Been Love-nya Roxette yang merupakan soundtrack film Pretty Woman, jadi semacam lagu wajib bagi kaum venusian (pemuja kecantikan) saat menunggu klien-nya untuk kencan. Julia Roberts yang berperan sebagai pelacur kelas atas dalam film tersebut setidaknya mengilhami para kupu-kupu malam di negeri ini, bahwa menjalani hidup dalam gelapnya malam adalah sebuah legalitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagu It Must Have Been Love-nya Roxette yang merupakan soundtrack film Pretty Woman, jadi semacam lagu wajib bagi kaum venusian (pemuja kecantikan) saat menunggu klien-nya untuk kencan. Julia Roberts yang berperan sebagai pelacur kelas atas dalam film tersebut setidaknya mengilhami para kupu-kupu malam di negeri ini, bahwa menjalani hidup dalam gelapnya malam adalah sebuah legalitas atas kebebasan. Menjalani aktivitas tersebut adalah jalan pintas dari sebuah kebuntuan ketika berhadapan dengan kemiskinan. So, dengan alasan untuk menyambung hidup, tak sedikit remaja putri yang nyemplung abis dalam glamour kehidupan malam.<span id="more-7"></span></p>
<p>Di Bekasi saja, sebagai salah satu kota penyangga DKI Jakarta, banyak ditemukan remaja-remaja putri yang berprofesi sebagai wanita penghibur (dari pemandu lagu dalam musik kosong alias karaoke sampai pelacur), baik di Bar maupun hotel yang menyediakan fasilitas hiburan tersebut.</p>
<p>Tawaran kehidupan dunia ditambah faktor ingin mendapatkan uang dengan cara mudah, menje-rumuskan para remaja putri dalam dunia yang seakan menafikan moral dan keimanan. Seperti diungkapkan Susi yang malam itu mengenakan busana sackdress warna merah menyala dengan belahan samping hingga ke pangkal paha, sedangkan bagian atas agak rendah dan terbuka (Pikiran Rakyat, 15 Pebruari 2000).</p>
<p>Sudah parahkah pergaulan remaja putri kita? Setidaknya, kasus yang menimpa remaja putri bernama Susi tadi mewakili &#8216;Susi-Susi&#8217; yang lain. Mengerikan sekaligus menyedihkan!</p>
<p><strong>Berani Tampil Beda</strong>? <br />
Berbekal rokok putih, minyak wangi, alat rias?  serta dandanan seksi, yang bikin adrenalin kaum Adam naik ke ubun-ubun adalah &#8216;aksesoris&#8217; yang biasa dikenakan para kupu-kupu malam. So, memang sengaja tampil hot.</p>
<p>Malah, ada pengalaman yang bakal bikin kita nggak habis pikir. Dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun radio swasta di Jakarta beberapa bulan yang lalu, seorang narasumberâ€”yang kebetulan juga berprofesi wartawanâ€”dalam acara tersebut ia mengisahkan bahwa di Yogyakarta, ditemukan seorang ABG yang biasa mangkal di sekitar Malioboro sebagai kupu-kupu malam. Jangan salah, kalo siang gadis itu rajin juga sekolahnya, malah sholat dan puasa. Ironisnya, ketika diajukan pertanyaan kepadanya tentang sisi kehidupannya yang kontras itu, ia menjawab;&#8221;Kalo sholat dan puasa adalah perintah dalam agama saya, sedangkan jadi kupu-kupu malam adalah profesi saya!&#8221; Gilee beneeer!</p>
<p>Saudara-saudara, memang menyedihkan kenya-taan ini. Manusia pada dasarnya memang memiliki sisi gelap dan sisi terang dalam hidupnya. Tapi bukan berarti harus sevulgar yang dilakukan ABG putri yang biasa mangkal di kota gudeg itu. Ia menjalaninya sekaligus. Gelap dan terang.</p>
<p>Ini merupakan tamparan buat kita. Betapa rusaknya akhlak teman-teman kita. Memang berani tampil beda. Tapi beraninya dalam kesalahan. Henry Brooks Adams ketika berkomentar tentang moral, ia mengatakan, &#8220;Moralitas adalah kemewahan pribadi yang sangat mahal.&#8221;?  Tapi celakanya, saat ini justru moral adalah barang dagangan yang sangat murah. Buktinya? Ya, teman-teman ABG putri yang menjualnya dengan murah, bahkan mungkin gratis!</p>
<p>Usia muda tak membuat sebagian teman-teman ABG putri grogi untuk tampil beda sebagai kupu-kupu malam. Jangan kaget, ABG-ABG yang berkeliaran di kota Bekasi banyak yang masih bau kencur. Berapa umurnya? 16 tahun!</p>
<p>Nah, untuk mengelabui usia, Santiâ€”sebut saja begitu namanyaâ€”yang mengaku kegadisannya direnggut sang pacar tiga bulan silam, mengenakan sepatu dengan hak super tinggi sekitar 12 cm. Ia bersama belasan rekannya berada di tempat karaoke berupa ruko berlantai III, beberapa di antaranya baru berusia 17 tahun. Mereka terkadang menginap di sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas. Ruangan tersebut selain untuk menyimpan berbagai &#8220;perlengkapan kerja&#8221;, juga digunakan sebagai tempat ganti pakaian atau menunggu tamu yang akan membooking jasa mereka (Pikiran Rakyat, 15 Pebruari 2000).</p>
<p>Ini baru kasus di negerinya Wiro Sableng, belum lagi kalo kita mau capek sedikit nengok kehidupan di negeri gajah putih, Thailand. Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Chulalongkorn, Thailand pada April 1997 mengumumkan, praktek-praktek ilegal, termasuk pelacuran anak-anak makin berkembang di Asia, termasuk di Thailand. Di negara gajah ini jumlah pelacur anak-anak tercatat 800.000 anak. Wuih, syerem, brur!<br />
Ya, ini adalah masalah kita semua. Tentu saja masalah yang bukan hanya untuk dijadikan bahan berita semata. Atau cuma publikasi yang tak ada tindakan konkrit untuk mencegahnya. Kamu tentunya nggak bakalan nyangka bila ternyata perkembangan seputar kupu-kupu malam para ABG di negeri ini heboh juga. Mengerikan, ya?</p>
<p><strong>Alasan Klise</strong><br />
Parahnya, aktivitas liar para kupu-kupu malam itu sering berlindung di balik kedok kemiskinan. Artinya, mereka terjun ke dunia maksiat itu karena alasan ekonomi. Padahal pada banyak kasus ditemukan, bahwa kaum venusian (pemuja kecantikan) ini berasal dari kalangan berduit atau keluarga kaya. Alasan mereka just fun alias cuma untuk hiburan dan kesenangan semata. Asal bisa dibeliin baju baru, jalan-jalan atau sekadar makan di retoran. Celakanya, justru yang begini yang?  jumlahnya memang lebih banyak. Wah, berarti rusak banget ya, masyarakat ini?? </p>
<p>Pengen bukti? Di Bandung, umumnya para ABG yang jadi kupu-kupu malam ogah disebut pelacur. &#8220;Kan kita nggak dibayar dan kalaupun saya mau ngelakuin begituan, kan bukan karena bayarannya tetapi karena saya suka,&#8221; jelas Yuni yang mengungkapkan dirinya dan umumnya teman-teman nongkrongnya, berasal dari keluarga yang kurang harmonis (Media Indonesia dalam Menelusuri Pelacuran ABG di Sejumlah Kota (19), 23 Agustus 1999).</p>
<p>Masih dalam laporan yang diungkap Media Indonesia di atas. Nola, sebut saja begitu. Mojang Priangan ini memang tak memasang tarif untuk kencan, bahkan bisa gratis. &#8220;Yang penting mau nraktir di restoran yang kelasnya oke, terus mau beliin baju dan yang pasti punya mobil yang asyik buat jalan-jalan,&#8221; kata Nola yang ceplas-ceplos ini. Bagaimana brur, parah banget kan?</p>
<p>Jadi sebetulnya, bisa dikatakan sedikit yang menjalani profesi sebagai kupu-kupu malam karena kepepet untuk nyambung hidup. Meski tentu saja, sedikit atau banyak, tetap adalah persoalan yang harus segera dibereskan. Baik alasan itu klise atau memang murni karena kepepet, tetap ini adalah kondisi amburadul produk peradaban kapitalisme yang memang memuja kebebasan individu. Gawat, Non, bener-bener gawat!</p>
<p>Yang jadi persoalan sekarang, apakah ini akan dibiarkan saja sampai korban yang terjerumus ke dunia hitam ini membengkak jumlahnya? Sungguh suatu ironi di negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya timur harus tenggelam dalam kemaksiatan yang tentu saja merendahkan moral.</p>
<p><strong>Zina itu Haram</strong><br />
Jangan salah menilai, mentang-mentang yang melakukan pelacuran itu banyak, lalu kamu berfikir bahwa aktivitas tersebut adalah legal, baik secara moral maupun hukum. Tempat-tempat lokalisasi seperti Kramat Tunggak, Saritem, atau Dolly sudah kesohor sebagai tempat bisnis seks yang besar. Meski banyak yang melakukan pelacuran dan tempatnya mendapat restu dari Pemda, tapi bukan berarti itu legal menurut hukum syara&#8217;. Tahu kan hukum syara&#8217;? Bahasa sederhananya hukum Islam. Artinya dalam pandangan Islam jelas bahwa aktivitas tersebut sangat &#8220;dikutuk&#8221;. Allah berfirman : <em>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesung-guhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk&#8221;</em> (<strong><em>QS. Al Israa&#8217; : 32</em></strong>).?  Ungkapan dalam Al Quran bahwa zina adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk, merupakan peringatan dan penjelasan bahwa perbuatan tersebut adalah haram.</p>
<p>Brur, kita semua yakin bahwa kalau seluruh manusia ini taat kepada Allah dan tunduk kepada aturan yang dibuat-Nya, pasti segalanya aman. Nggak seperti sekarang, saat kita mendewakan ide kebebasan. HAM yang digembar-gemborkan Amerika, berhasil menipu dengan sukses kaum muslimin, tak terkecuali remaja muslim. HAM telah memberi jaminan atas individu untuk bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari mulai kebebasan beraqidah, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku, dan kebebasan kepemilikan.</p>
<p>Aktivitas yang dilakukan teman-teman ABG putri kita itu termasuk wujud dari pengaruh kebebasan bertingkah laku. Ini jelas akan sangat berbahaya, Non!?  Karena cepat atau lambat, kebebasan ini akan mengubur kita. Faktanya? Kamu bisa lihat sendiri kan, betapa banyak teman-teman cewek kita yang berprofesi jadi kupu-kupu malam. Nggak peduli apakah alasannya karena kebutuhan perut atau memang hanya untuk bersenang-senang. Toh, dua-duanya tetap berdosa.</p>
<p>Tentu saja, dalam menilai kasus yang terjadi, Islam nggak sembarangan menjatuhkan vonis. Juga ketika kasus tersebut sudah divonis berdosa, si pelaku tidak hanya ditakut-takuti dengan siksaan di akhirat yang amat pedih, tetapi juga dikenakan sanksi yang tegas oleh negara, sebagaimana firman Allah SWT : <em>&#8220;Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman&#8221;</em> (<em><strong>QS. An Nuur : 2</strong></em>). Nah, hukum cambuk merupakan sanksi bagi para pelaku perzinahan yang masih ABG (lajang).</p>
<p>Dengan penerapan sanksi tersebut bukan berarti Islam itu kejam, Non! Justru sebenarnya itulah jawaban dari problem masyarakat yang amburadul seperti sekarang ini. Of course, karena aturan tanpa sanksi, ibarat ular tanpa bisa.</p>
<p><strong>Islam is Solution</strong><br />
Sebagai way of life, Islam tentu memiliki segudang bahkan?  bisa jadi bergudang jawaban atas problematika masyarakat. Kasus pelacuran seperti aktivitas para kupu-kupu malam, jelas merupakan ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. Bahkan tak mustahil Allah akan menimpakan azab kepada kita. Rasulullah saw bersabda : &#8220;<em>Apabila telah nampak perzinahan dan riba di suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan diri mereka sendiri untuk mendapat-kan azab Allah</em>&#8221; (<em><strong>HR. Thabrani dan Al Hakim</strong></em>)</p>
<p>Sebetulnya, problem maraknya aktivitas para kupu-kupu malam itu berawal dari kesalahan dalam penyaluran dorongan seksual. Dorongan ini muncul dari naluri mempertahankan jenis (Gharizah An-Na&#8217;u)?  yang diciptakan Allah pada diri manusia, juga pada binatang. Naluri ini juga nampak dalam bentuk dorongan-dorongan yang lain, seperti suami mencintai istrinya, atau sebaliknya; orang tua mencintai anaknya atau sebaliknya.</p>
<p>Hanya saja, dorongan seksual ini tidak mutlak harus dipenuhi, karena tidak akan mengakibatkan kematian pada manusia. Contohnya? Para Rahib yang tidak menikah seumur hidupnya dia terbukti tidak mati. Iya kan? Berbeda halnya dengan kebutuhan jasmani, seperti makan atau minum. Pemenuhannya bersifat mutlak (harus). Jika manusia tidak makan atau minum dalam jangka waktu tertentu, maka ia akan mati. Nggak percaya, silahkan coba! Risiko ditanggung sendiri!</p>
<p>Selain itu, dorongan seksual ini muncul hanya jika ada rangsangan dari luar. Bisa karena melihat gambar porno, berkhayal, dll. So, jika tidak ada rangsangan dari luar, maka tidak akan bergejolak. Karena itulah Islam telah memberikan solusi sesuai dengan karakter naluri manusia, antara lain sbb :</p>
<ol>
<li>Mensunahkan Nikah<br />
Islam tidak melarang seseorang untuk menyalurkan hasrat seksualnya, asalkan dengan penyaluran yang benar. Untuk itulah pernikahan merupakan solusi yang diberikan Islam. Jika manusia tidak menyalurkannya dengan cara ini, maka tak ubahnya ia seperti binatang dan bahkan lebih rendah dari derajat binatang. Nadzubillah!</li>
<li>Wajib Menutup Aurat<br />
Untuk menjauhkan rangsangan sekaligus menja-ga martabat dan kehormatan, maka Islam telah mewajibkan laki-laki dan wanita untuk menutup aurat, yaitu dengan mengenakan pakaian yang sesuai aturan Islam.</li>
<li>Melarang Segala Aktivitas yang Merusak Akhlaq Masyarakat<br />
Semua bentuk aktivitas yang dapat merusak akhlaq masyarakat diharamkan dalam Islam. Saperti pembuatan film atau majalah porno, Iklan yang mengeksploitasi tubuh wanita, lokalisasi perzinahan, pergaulan bebas, dll.</li>
</ol>
<p>Sayangnya, Islam tidak ditegakkan saat ini, sehingga penyakit masyarakat yang berkaitan dengan masalah seksualitas ini sulit, dan bahkan takan dapat diatasi. Oleh karena itu Islam harus diterapkan secara utuh dari sisi aqidah dan syariat-nya. Jika tidak, masyarakat sendiri yang akan merasakan dampaknya.? ? </p>
<p>Namun demikian meski aturan Islam saat ini tidak diterapkan, bukan berarti segalanya menjadi boleh dan legal. Yang haram tetap saja haram, meskipun aturan yang ada menghalalkannya. Kalau saat ini para kupu-kupu malam alias bunga trotoar itu bisa leluasa beroperasi tanpa ada sanksi di dunia, maka jangan harap ia akan dapat lolos dari sanksi Allah di akhirat. Dan perlu diingat, bahwa sanksi di akhirat tentu jauh lebih berat dari sanksi di dunia. Rasulullah saw bersabda : <em>&#8220;Di dalam neraka Jahim nanti, kepada para penghuninya mendapat tuangan air mendidih, lalu air itu menembus perut dan menghantami setiap yang berada di dalamnya, hingga menembus kaki. Kemudian hancur dan kembali seperti semula&#8221;</em> (<strong><em>HR. Turmudzi</em></strong>)</p>
<p>Oleh karena itu, kepada para remaja putri khususnya dan juga yang putra, janganlah kalian terjerumus dan terperdaya oleh gaya hidup permisivisme (serba boleh). Bukankan kita makhluk yang paling mulia, yang diberi akal oleh Allah. Kita bukan binatang. Jadi semestinya manusia bisa diatur, karena memiliki akal.</p>
<p>Suatu ketika ada seorang pemuda yang keberatan atas adanya larangan zina. Dia lalu menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. &#8220;Bagaimana seandainya ibumu atau saudara perempuanmu dizinai orang lain, apakah engkau suka?&#8221; Tanya Rasulullah saw.?  &#8220;Tidak!&#8221; Jawab pemuda itu. &#8220;Begitu pula dengan orang lain&#8221;?  Sejak mendengar jawaban itu, pemuda tersebut berhenti berzina. Itulah sikap manusia yang mau berfikir dengan akalnya dan mau menjaga martabatnya sebagai makhluk yang mulia!!!<br />
(<strong>Buletin Studia &#8211; Tahun I Nomor 5</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kupu-kupu-malam-profesi-baru-remaja-putri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Playboy &#8211; Korban Salah Gaul</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/playboy-korban-salah-gaul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/playboy-korban-salah-gaul#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 10:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Playboy, apaan tuh? Eh. masa kamu belum tahu playboy, sih? Waduh, mesti hati-hati itu, jangan-jangan teman cowok kamu juga masuk tipe manusia cap kelinci ini? Atau malah kamu yang cowok termasuk dalam daftar sebutan itu? Ih, amit-amit deh, meskipun imut-imut! Lha, emangnya kenapa? Playboy itu saudara-saudara, adalah istilah buat para lelaki yang suka ngelaba and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Playboy, apaan tuh? Eh. masa kamu belum tahu playboy, sih? Waduh, mesti hati-hati itu, jangan-jangan teman cowok kamu juga masuk tipe manusia cap kelinci ini? Atau malah kamu yang cowok termasuk dalam daftar sebutan itu? Ih, amit-amit deh, meskipun imut-imut!<span id="more-6"></span></p>
<p>Lha, emangnya kenapa? Playboy itu saudara-saudara, adalah istilah buat para lelaki yang suka ngelaba and hobinya mengoleksi benyak wanita, untuk dijadikan pemuas nafsunya, thok. Boleh dibilang para aktivis playboy mi tak bisa netep di satu hati. Mesti pindah-pindah. Beda banget dengan yang digembar-gemborkan KLA Project,?  Tak bisa ke lain hati&#8230;&#8217; Jadi, ibarat kumbang lah, habis bunga yang satu layu dihisap madunya, dia bakal nyari bunga yang lain. Pokoknya, habis manis sepah dibuang!</p>
<p>Saal penampilan? Jelas dong, kalo yang punya tampang kartu mati atau klimis alias kliatan miskin, jarang yang berani macem-macem. Rata-rata, yang punya tampang Oke seperti yang dimiliki Brad Pitt, Leonardo Di Caprio, Sylvester Stalone, Antonio Banderas, atau Pierce &#8217;007&#8243; Brosnan dan macam-macam itulah yang banyak jadi playboy. Wajar dong, soalnya tampang mereka memang layak jual, sementara imannya ternyata blong. Jadinya, cooocok!</p>
<p>Nah, kamu sudah tahu kan sekarang? Pasti dong. Soalnya walau bagaimana pun juga kamu bukan tipe orang macam Forest Gump (he&#8230; he.. sori).</p>
<p>Tahu Don Juan dan Cassanova? Yes, beliau-beliau itu adalah pentolan para playboy kelas kakap. Malah gokilnya Don Juan punya semboyan, Aku lihat, aku dapat, aku sikat den&#8230; aku minggatl&#8221; Gilee beneeer.</p>
<p>Warren Beaty, pemeran Dick Tracy yang main bareng sama Madonna juga termasuk yang suka &#8216;ngerjain&#8221; wanita. Sebagaa contoh selebornya Beaty adalah, dia enak-enakan kencan bareng lawan mainnya (Madonna) saat syuting film itu, padahal istrinya juga ikutan nimbrung di film itu. Ck.ck..ck&#8230; sableng juga tuh &#8216;bocah.&#8217;</p>
<p><strong>Jadi Playboy, Kebanggaan Anak Cowok?<br />
</strong>Punya wajah kece dan bebas jerawat, ditambah postur tubuh yang menjanjikan, paling nggak, boleh dibilang kembarannya David Beckham atau David Ginola, atau juga sedikit mirip Jhonny Depp aktor keren yang namanya tendongkrak lewat film Don Juan De Marco di tahun 1995, hati-hati, jangan sampe membuat kamu gelap mata karena terlalu PD. Mentang-mentang punya pesona, lalu mengobralnya pada setiap wanita dan sok romantis, kelakuanmu itu bisa bikin berabe brurl Kamu bakalan dapat semburan sumpah serapah dari cewek-cewek yang kamu kerjain.</p>
<p>Tokoh James Bond, sejak filmnya yang pertama, Dr. No, sampai sekuelnya yang ke 19, The World is Not Enough, Bond selalu dikerubungi cewek-cewek cantik dan seksi. Tentu saja, tokoh rekaan Ian Fleming, seorang mantan perwira angkatan laut Inggris ini tak membiarkan begitu saja kesempatan emas yang terbuka di depan matanya. Mana ada sih kucing yang membiarkan ikan? Apalagi ikannya yang nyamperin. Walhasil, Bond juga ternyata &#8216;teladan&#8217; playboy never dies!</p>
<p>Gimana nggak, tokoh-tokoh James Bond itu ganteng dan keren, itu dibuktikan oleh Roger Moore, Sean Connery, Timothy Dalton (di masa mudanya saat memerankan agen rahasia lnggris, Mi-5 itu) atau Pierce Brosnan, sehingga membuat pare cewek kolaps, lalu tergila-gila dan selalu ingin dekat dengan dirinya. Nah, bagi kamu yang mirip-mirip mereka., harus hati-hati, jangan sampe kamu menapak tilasi mereka dalam soal mempermainkan wanita.</p>
<p>Lho, kan enak bisa dikerubungi wanita-wanita cantik? Iya, enak di kamu nggak enak di wanita! Coba saja kamu pikirkan, secara perasaan saja, seandainya kamu jadi wanita, bila kekasihmu sering gonta-ganti gacoan, misalnya saja, kemarin Si Meta, hari ini kamu, eh, besoknya Si Rina. Kamu sakit hati nggak, sementara segala milikmu telah direnggut habis â€”karena terlalu percaya dengan omongannya yang manis tapi beracunâ€” dan sang &#8216;Casanova&#8221; pergi entah kemana (tak mustahil, dia lagi enak-enakan kencan dengan yang lain). Nah lho, merana deh.</p>
<p>Lagi pula, alasan aneh bin ajaib yang sering dilontarkan para pelaku aktif ngelaba adalah nyari variasi, katanya. Urusan nyari gacoan dan gonta-ganti pasangan, rupanya telah menjadi trade mark anak cowok, meskipun anak cewek yang begitu juga nggak eedikit. Secara psikologi, memang itu sangat berpengaruh terhadap rasa PD-nya. Bukan apa-apa, semakin banyak cewek digaet, semakin laku di pasaran (ciee&#8230;). Persis minyak goreng saat krisis moneter, tanpa promosi pun ia akan dikejar den dicari. Celakanya, bagi sebagian cowok, jadi playboy memang dambaan hidupnya.</p>
<p>Hal ini jelas mendongkrak full harga diri cowok, celakanya justeru karena terlalu PD, akhirnya lupa daratan. Keenakan jadinya, dan yang tadinya cuma iseng, sekarang jadi nyandu. Namun ingat wahai para cowok, kalo aset &#8216;nasionalmu&#8217; sudah melempem, kamu akan segera dilupakan orang. Persis seperti Marlon Brando, yang memerankan Stanley Kowalski dalam film A Streetcar Named Desire (1951). Saat muda dipuja (tapi sekaligus dicaci) banyak wanita, dan ketika tuanya, ia dilupakan orang begitu saja.</p>
<p>Alasan lain yang sering dipakai oleh para aktivis ngelaba alias playboy adalah sebagai balas dendam, karena ia merasa ditipeng dan dikerjain habis-habisan sama pasangannya. Seperti yang dilakukan Sylvester &#8216;Copland&#8221; Stallone yang mendadak menjadi trengginas setelah diperas abis-abisan oleh mantan istrinya yang kemudian menjadi lesbian, Brigitte Nielsen, Sly kerap rnenyakiti hati wanita. Setiap pacarnya selalu dihamili untuk kemudian dicampakkan begitu saja. Bak kumbang, ia pindah dari satu bunga ke bunga yang lain, tentu setelah madunya dikuras habis.</p>
<p><strong>Agar Tak Jadi Playboy</strong><br />
Di masa Rasulullah, ada seorang pemuda yang penampilannya oke punya; wajahnya kece, anak bangsawan, jujur, cerdas, dan sholeh. Siapa dia? Mushab bin Umair. Ya, Mushab, yang telah membuat gadis-gadis Makkah selalu menantikan kehadirannya. Mushab memang idaman. Tapi, apakah Mushab memanfaatkan kelebihannya itu untuk mempermainkan wanita? No way! Boro-boro jadi playboy, punya semangatnya saja tidak. Malah Mushab tak mempedulikan mereka sedikitpun.</p>
<p>Beliau selalu menundukkan pandangannya, bukan berarti beliau nggak normal, tapi karena beliau lebih malu dan takut kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga beliau tak pernah mengobral pesonanya sembarangan. Ya, memang bertentangan banget sama kelakuannya bintang The Platoonâ€”Charlie Sheenâ€” ganteng tapi sekaligus predator wanita-wanita cantik!</p>
<p>Nah, kalo kamu memang punya tampang keren dan beken (bekas kenek? Bukan, brur! Ya, populer, gitulah), jangan merasa kamu berada di atas awang-awang, lalu memanfaatkan kegantengan face-mu dan seluruh penampilan tubuhmu untuk menjerat banyak wanita sebagai pemuas nafsumu. Atau memanfaatkan potensi tubuhmu untuk mendongkrak popularitas dan karirmu, seperti apa yang pernah dilakukan oleh Antonio Banderas yang tenar karena ketebelece Madonna. Ceritanya, pada tahun 1991, Madonna mengajaknya dan memberi referensi sebagai cowok paling seksi dalam film dokumenter yang kontroversial tentang dirinya, In Bed With Madonna. Setelah itu, nama Antonio melambung dan jadi buah bibir di jagat Hollywood. Lama-lama bocah Spanyol ini mulai bertingkah, itu dibuktikannya dengan memburu Melanie Griffith dan meninggalkan istrinya, Ana Leza. Dasar Playboy!</p>
<p>Lalu gimana dengan sang wanita? &#8220;Kasihan wanita!&#8221; begitu kira-kira orang menilai tentang wanita korban para playboy. Betul memang, para cowok seharusnya menjaga dan melindungi wanita, karena kelemahannya itu. Tapi jangan salah, menurut John Gray, Ph.D., seorang psikolog di Amerika, beliau mengatakan bahwa antara taki-laki dan wanita itu memang berbeda. Ibaratnya mereka datang dan planet yang berlainan. Laki-laki dari Mars dan wanita dan Venus. Laki-laki sifatnya agresif, sementara wanita cenderung nrimo. Barangkali karena sifat ini pula, para cowok (yang punya semangat ngelaba) cenderung mendikte dan mempermainkan wanita.</p>
<p>Dan dengan menyadari perbedaan itu, semestinya kaum cowok lebih arif dalam memperlakukan wanita. Meski menurut Erich Fromm, pengarang kitab Escape From Freedom yang ditulis dibawah bayang-bayang kekuasaan Hitler, memberikan pernyataan bahwa manusia itu makhluk sosial sehingga mau tidak mau ia akan membutuhkan teman untuk hidup, teman untuk bicara dan sebagainya. Namun, meski demikian, manusia tak bisa dibiarkan bebas menentukan aturan sendiri.</p>
<p>Ini barangkali bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi jamaah cowok. Dalam ajanan Islam itu ada aturannya, brur. Termasuk untuk urusan gaul. Jangan mentang-mentang demi gaul, lalu kita bebas melakukan apa saja terhadap lawan gaul kita. Lebih-lebih sampai ngelaba segala. Nggak baik. Selain merusak kerja sama antara laki dan wanita, juga telah merusak tatanan sosial. Catet, itu!</p>
<p>Jadi, agar kamu (khusus cowok) nggak terjerembab masuk ke dalam jamaah para playboy, maka wajib tahu aturan main dalam gaul dengsn lawan jenis, karena memang awalnya dari sini. Kemudian, lambat laun mulai mengertilah perasaan wanita. Meski secara psikologi wanita itu memang cenderung ingin memamerkan apa yang dimilikinya â€”persis seperti burung merak yang doyan memamerkan bulu indahnyaâ€” ditambah dengan sifatnya yang mudah tersentuh (dan disentuh tentunya), tapi para cowok jangan bereksperimen mempermainkan mereka. Kasihanl</p>
<p><strong>Kendalikan Nafsumu!</strong><br />
Aryton Senna, sang pembalap formula 1, karena ngotot nginjek pedal gas terus-terusan dan lupa nginjek rem (dan memang ajalnya sudah tiba), akhirnya tak kuasa mengendalikan mabilnya yang melaju dengan kecepatan 350 km/jam, lalu membentur dinding pembatas di sirkuit Imola, dan akhirnya tewas.</p>
<p>Barangkali, itulah gsmbaran orang yang tak kussa mengendalikan hawa nafsunya. Karena terlanjur memanjakan nafsu, skhirnya nafsu itu sendiri yang membinasakan dirinya.</p>
<p>Berarti hanus mematikan nafsu? Nggak sekejam itu, brur! Nafsu tak bisa dimatikan, tapi bukan benarti nggak bisa dikendalikan. Ya, sepanjang kita masih hidup, nafsu akan senantiasa hadir dalam diri kita, mengalir dalam energi kehidupan kita. Dan tentunya kita harus pandai menyalurkan kepada yang benar dan baik. ltulah namanya mengendalikan.</p>
<p>Kemudian bagi kamu-kamu yang terlanjur jadi &#8220;murid&#8221; Don Juan dan Casanova, jangan merasa aman-aman saja dengan kelakuan burukmu. Potensi dirimu ada batasnya, terus perbuatanmu juga akan dimintai pertanggungjawaban. Allah berfirman, <em>&#8220;â€¦Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai?  pertanggungjawaban&#8221;</em>. (<em><strong>OS. Al lsra&#8217;: 36</strong></em>).</p>
<p>Nah, bagi yang belum terjun (dan jangan caba-coba tenjun) jadi playboy, ada baiknya menyimak firman Allah, <em>&#8220;KatakanIah kepada orang Iaki-Iaki yang beriman supaya menundukkan sebagian pandangan mereka&#8221;</em>. (<strong><em>QS. An Nur:30</em></strong>).</p>
<p>Jadi, ini vonis buat para cowok agar jangan ngecengin anak cewek, apalagi sampai ngelaba segala.Lalu, mungkin ada yang bertanya, &#8220;Kenapa para playboy malah semakin banyak, padahal aturannya sudah ada?&#8221;<br />
lnilah salah satu produk ideologi kapitalisme yang telah membuat masyarakat kita berantakan. Salah satu yang didakwahkan para pengemban ideologi ini adalah paham permisivisme alias kebebassn yang kelewat batas. Terutama dalam hubungan antara laki-laki dan wanita. Makin permisive-nya kaum muslimin, maka semakin longgarlah nilai-nilai keislaman yang selama ini mengikatnya.</p>
<p>Justru ketika nilai-nilai ketakwaan individunya melorot, kemudian kontrol masyarakatnya melemah dan penerapan aturan dan sanksi oleh negara mandul, saat itu pula Iah kits dengsn mudah dihancurkan. Yin, buktinya sekarang mi.</p>
<p>Jadi, pendek kata, mulai saint in selain kamu kudu sadsr, kamu jugs wsjib mempelajani Islam sampai sempurna, agar kamu tak Iagi membiarkan nafsumu liar begitu asia. Makanya, jangan iseng, nanti malsh kecanduan, Iagi.<br />
Yakinlah, bshwa kits bisa mengubah din kits, hanya soal waktu dan kesadaran.</p>
<p>Bagaimana?<br />
(<strong>Buletin Studia &#8211; Tahun I Nomor 4</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/playboy-korban-salah-gaul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Tertipu Gemerlap Valentineâ€™s Day</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-tertipu-gemerlap-valentine%e2%80%99s-day</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-tertipu-gemerlap-valentine%e2%80%99s-day#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 10:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[â€œCrasss&#8230;â€? kepala St. Valentine dipancung oleh penguasa Roma. Inilah kisah tragis tentang seorang bishop di Terni, suatu tempat kira-kira 60 mil dari Roma. Kenapa ia dipancung? Konon kabarnya gara-gara ia memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Itu terjadi sekitar tahun 273 Masehi. Dalam perkembangannya, peristiwa tersebut lalu dikaitkan dengan acara Valentineâ€™s Day yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€œCrasss&#8230;â€? kepala St. Valentine dipancung oleh penguasa Roma. Inilah kisah tragis tentang seorang bishop di Terni, suatu tempat kira-kira 60 mil dari Roma. Kenapa ia dipancung? <span id="more-5"></span>Konon kabarnya gara-gara ia memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Itu terjadi sekitar tahun 273 Masehi. Dalam perkembangannya, peristiwa tersebut lalu dikaitkan dengan acara Valentineâ€™s Day yang ada sekarang, yakni acara hura-hura anak muda dengan pasangannya masing-masing.</p>
<p>Nah, acara Valentineâ€™s Day yang telah menjadi hajatan wajib bagi kamu itu, ternyata punya latar belakang peristiwa yang bukan berasal dari Islam. So, bahkan dalam versi lain, disebutkan bahwa pada awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Pebruari yang diberi nama Lupercalia. Peringatan ini adalah sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Acaranya? Laki dan perempuan berkumpul, lalu saling memilih pasangannya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnyaâ€”tukar kado. Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi, brur!</p>
<p>Lalu seiring dengan berjalannya waktu, pihak gerejaâ€”yang pada waktu itu agama Kristen mulai menyebar di Romawiâ€”memindahkan upacara penghormatan terhadap berhala itu menjadi tanggal 14 Pebruari. Dan dibelokkan tujuannya, bukan lagi menghormati berhala, tapi menghormati seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Nama acaranya pun bukan lagi Lupercalia, tapi Saint Valentineâ€™s Day.</p>
<p>Weleh-weleh, kamu yang ikut-ikutan dalam hajatan Valentineâ€™s Day itu ternyata merayakan peringatan yang bukan berasal dari Islam. Nggak tahu apa nggak mau tahu? Itu salah besar kawan! Makanya, benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab bahwa al ilmu qobla al amal, artinya bahwa ilmu itu mendahului perbuatan. Dengan demikian, sebelum kita tahu status hukum suatu perbuatan, nggak boleh melakukan perbuatan tersebut. Jangan neko-neko kalo belum tahu hukumnya. Jadi, segala sesuatunya harus jelas. Tidak boleh samar, dan harus tahu status hukum perbuatan yang bersangkutan. Ngerti kan? Iya, dong!</p>
<p>Baik, kita nggak akan memperpanjang masalah latar belakang Valentineâ€™s Day, karena semua orang tahu, bahwa acara tersebut bukan produk dari peradaban Islam. Dan memang Rasulullah saw tidak pernah menganjurkan apalagi mengajarkan acara seperti itu. Tapi yang akan kita soroti lebih dalam adalah bagaimana dampak dari acara Valentineâ€™s Day yang setiap tahun menjadi hajatan wajib anak muda macam kamu, yang merasa harus alias kudu merayakan acara tersebut. Meski harus merogoh kocek ortu kamu dalam-dalam.</p>
<p><strong>Cinta Atau Seks?<br />
</strong>Apa jawaban kamu ketika ditanya kenapa ikut dalam pesta Valentineâ€™s Day? Karena acara itu adalah perayaan kasih sayang? Bisa jadi sebagian besar jawabannya demikian. Namun perlu diingat bahwa sebenarnya bukan kasih sayang, tetapi lebih ke arah bagaimana mengumbar hawa nafsu, yakni seks. Orang-orang Barat, biasa mengucapkan kata-kata cinta dan kasih sayang dengan ucapan, make love.?  Nah, tentu saja itu artinya bermain cinta yang ujung-ujungnya intercourse alias bersetubuh. Wah, berabe itu!</p>
<p>Oke, sekarang kamu percaya saja kalau dikatakan bahwa sebenarnya model pergaulan anak-anak muda seusia kamu itu sudah liar. Gimana nggak liar, cowok dan cewek gaul bareng nggak kenal batas. Persis dengan apa yang diajarkan oleh James Van Der Beek dan kawan-kawannya dalam serial Dawsonâ€™s Creek yang setiap sepekan sekali ditayangkan di salah satu televisi swasta di negeri ini.</p>
<p>Atau gaya gaul model KNPI alias Kissing, Necking, Petting dan Intercourse, seperti pergaulan amburadul (seks dan kokain) yang sering digambarkan oleh Shannon Doherty, Tiffani â€œValerieâ€? Amber-Thiesen, Luke â€œDylan McKayâ€? Perry, Brian â€œDavidâ€? Austin dan Jason â€œBrandonâ€? Prestley dan kawan-kawannya dalam Beverly Hills 90210. Yang kalau menurut penilaian orang-orang, konon kabarnya lebih ekstrim ketimbang kisah cintanya Galih dan Ratna dalam Gita Cinta di SMA yang diperankan oleh Mas Rano Karno dan Mbak Jessy Gusman. Dalam kisah itu, baca surat cinta atau melihat atap rumah sang kekasih saja, rasanya.. gimanaaa gitu. Pokoknya beda banget dengan yang digambarkan oleh David dan Valerie dalam BH 90210. Meski tetap saja, gaya gaulnya Galih dan Ratna dalam Gita Cinta di SMA juga bertentang dengan ajaran Islam. Nah, yang kayak begitu aja bertentangan dengan Islam, apalagi gaya gaulnya remaja Barat. Rusak berat, Non!</p>
<p>Acara Velentineâ€™s Day yang diklaim sebagai hari kasih sayang ternyata hanya kedok semata. Buktinya, di balik gemerlap pesta Valentineâ€™s Day, yang katanya hari kasih sayang itu, ternyata tersimpan budaya yang sangat berbahaya bagi generasi muda macam kamu, yang boleh dikatakan masih bau kencur alias anak kemarin sore. Pesta yang dirayakan setiap tanggal 14 Pebruari itu ibarat bom waktu yang siap meledak. Kita telah tertipu dengan gemerlapnya hajatan Valentineâ€™s Day tersebut.</p>
<p>Makanya, benar kata pepatah, bahwa menyikapi persoalan itu harus bijaksana. Artinya, kita jangan mudah tergoda dengan sesuatu yang kelihatannya gemerlap. Disangka emas, eh, ternyata malah tembaga. Atau sebaliknya, disangka tembaga, ternyata malah emas. Inilah persoalannya, bahwa kita memang harus jeli memandang setiap persoalan. Termasuk masalah Valentineâ€™s Day ini. Supaya kamu nggak nyesel seumur-umur. Daripada nyesel seumur-umur kan mendingan senang seumur-umur, iya nggak?</p>
<p>And, kamu juga kudu sadar, bahwa banyaknya teman-teman kamuâ€”termasuk di seluruh duniaâ€”yang ikut merayakan Valentineâ€™s Day bukan berarti acara tersebut sah dan legal. Soalnya, sah atau legal acara tersebut bukan tergantung dari banyaknya orang melakukan perbuatan tersebut. Nggak juga tergantung dari selera kamu sebagai manusia yang memandang persoalan hanya dari sudut pandang baik atau buruk menurut ukuran perasaan dan pikiran kamu semata. Tapi seluruhnya disandarkan kepada ajaran-ajaran Islam. Islam sebagai patokan.</p>
<p>Ibarat kamu mau beli baju, normalnya, pasti standarnya adalah bodi kamu, bukan bajunya. Kalau bodi kamu kecil atau gede, maka nyari bajunya pasti yang seukuran dengan badan kamu itu. Bukannya badannya kamu yang dikecilin atau digedein agar pas dengan baju itu. Iya, nggak? Sekali lagi, aturan Islam yang dijadikan patokan berbuat kita, bukan yang lain.</p>
<p>Jadi, Valentineâ€™s Day sebetulnya bukan meng-agungkan cinta dan kasih sayang, tapi lebih ke arah mengumbar nafsu seks. Nafsu kamu dibiarkan bangkit dan liar tanpa kendali.</p>
<p><strong>Cinta Itu Dopping</strong><br />
Kamu pernah dengar lagu Koes Plusâ€”grup musik yang tenar tahun 60-an ituâ€”mendendangkan syair yang bunyinya begini, Ke Jakarta Aku kan kembali. Walaupun apa yang kan terjadi. Pasti yang senang dengan genre (jenis) musik ngak-ngik-ngok iniâ€”istilah Bung Karno duluâ€”akan hapal dengan lagu tersebut. Koes Plus berusaha menggambarkan kepada orang bahwa keinginan itu mengalahkan segalanya. Tentu saja karena ada harapan. Meski kadangkala akhirnya harus realistis. Namun tetap memiliki optimistis. Ya, rasa penasaran lah, intinya memang begitu. Karena ada keinginan tertentu yang tersembunyi. Kalau bahasa gaulnya sekarang ini adalah berbuat karena ada maunya. Sulit rasanya idealis, bila tak ada harapan yang dikejar. Iya, tokh?</p>
<p>Nah, termasuk dalam masalah cinta ini. Nggak mungkin dikejar, bila tak memiliki harapan yang didambakan. Mustahil itu. Terlepas dari benar atau salah. Yang pasti, memang kamu mengejar sesuatu yang memiliki daya tarik. Ya, cinta memang dopping. Bikin penasaran dan ampuh mem-bangkitkan kekuatan. Dan Valentineâ€™s Day hanyalah sebagai salah satu sarana untuk memuaskan keinginan kamu yang tak tertahankan. Valentineâ€™s Day hanyalah bungkus. Kemasan yang bisa bikin kamu tambah lengket dengan kekasihmu. Yang sebetulnya kamu lagi nyari semacam legalisasi dari nafsu liar kamu terhadap lawan jenismu.</p>
<p>Kalo cinta bukan dopping, nggak bakalan Hitler mati-matian mengejar Eva Braun. Atau kagak bakalan Julias Caesar memburu cinta Cleopatra. Juga nggak bakalan Barbara Yungâ€”pemeran A Yung dalam film Sia Tiauw Eng Hiongâ€”bunuh diri hanya gara-gara nggak kesampaian asmaranya. Karena cinta pula yang mendorong Candraswamiâ€”politikus Indiaâ€”punya skandal dengan Pamela Bordes yang saat itu menyandang gelar Miss Universe. Ya, sekali lagi, cinta itu memang dopping. Mungkin kamu pun merasakan hal yang sama. Meski nggak sampai dicatat dalam sejarah.</p>
<p>Ya, cinta memang sanggup membuat orang tergila-gila. Dalam kisah Midsummer Nightâ€™s Dream karya William Shakespeare yang diangkat ke layar lebar dan dibintangi Michelle Pfeiffer ada sebuah dialog yang mengatakan bahwa, cinta sanggup menyibukkan hidup manusia. Benarkah? Yang pasti memang cinta mampu membuat orang bergairah sekaligus lupa diri! Nah, makanya di sini perlu kendali yang bisa menjinakkan efek samping dari dopping tersebut. Bila tidak? Ya, akan liar. Cinta bukan lagi sesuatu yang sakral dan suci, tetapi sampah!</p>
<p><strong>Valentineâ€™s; topeng buruk model gaul remaja</strong><br />
Budaya ini memang menyimpan bara api yang siap disemburkan. Ibarat diamnya gunung berapi. Sangat berbahaya. Terutama bagi generasi muda macam kamu yang masih labil. Yang mudah kaget dan tergoda dengan setiap perubahan yang ada. Malah tak mustahil bila kemudian tanpa sadar latah mengikuti. Padahal budaya itu adalah budaya yang nggak benar alias bertentangan dengan way of life-nya Islam.</p>
<p>Terlebih Al Quran sangat â€?cerewetâ€™ menyikapi masalah ini. Allah swt berfirman: â€œ<em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, peng-lihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.</em>â€? (<em><strong>QS: Al Israâ€™: 36</strong></em>).</p>
<p>Apalagi budaya tersebut memang berasal dari way of life-nya aqidah lain, selain Islamâ€”dalam hal ini adalah budaya orang Barat yang beraqidah sekuler. Firman Allah swt: <em>â€œ&#8230;dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu (keterangan-keterangan), sesung-guhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orang-orang dholim.â€?</em> (<strong><em>QS: Al Baqarah: 145</em></strong>).</p>
<p>Maka, di sinilah wajib bagi kamu untuk gaul juga soal hukum-hukum Islam. Termasuk dalam hal ini adalah melakukan suatu perbuatan. Harus tahu hukumnya dulu, sebelum melakukan. Sebagaimana suatu kaidah syarâ€™iyah yang berbunyi: â€œAsal (pokok/dasar) perbuatan adalah terkait (terikat) dengan hukum-hukum Islam.â€??  Termasuk dalam â€œberkasih sayangâ€? versi Valentineâ€™s Day ini, wajib tahu hukumnya. Biar kamu nggak jeblok alias nggak nyesel seumur hidup kamu.</p>
<p>Valentineâ€™s Day yang mengusung kemasan â€?kasih sayangâ€™ memang telah berhasil memalingkan kamu dari kasih sayang yang suci dalam pandangan Islam. Kasih sayang yang dimuat Valentineâ€™s Day itu bernuansa kebebasan bergaul. Dan ini jelas sangat berbahaya. Karena konsekuensi dari masalah ini adalah halal atau haram alias pahala dan dosa. Kenapa? Soalnya berkaitan dengan pandangan hidup alias way of life aqidah tertentu.? </p>
<p>Valentineâ€™s Day sengaja digelar untuk mencuci pemikiran generasi muda Islam. Paling tidak ide kebebasan bertingkah laku alias hurriyatus syakhshiyyah telah menjadi tren bagi generasi muda macam kamu. Gaul bebas dengan lawan jenis bukan hal yang tabu lagi. Malah bisa jadi sebagai sebuah keharusan yang tak bisa ditolelir lagi. Kayaknya sudah seperti hidup atau mati urusannya. Berbahaya memang.</p>
<p>Kemasan Valentineâ€™s Day memang mampu menyihir siapa saja yang kendor imannya. Dalam sebuah teori komunikasi massa, ada istilah efek penanaman. Yakni efek yang bisa membuat orang meyakini tentang sesuatu yang sering dipublikasikanâ€”meski itu adalah salah. Contohnya Valentineâ€™s Day ini. Digembar-gemborkan dengan sangat gencar dan dengan kemasan menarik, dan terus menerus disuarakan yang pada gilirannya orang lalu bisa menarik kesimpulan bahwa itu benar dan dilegalkan. Padahal sebenarnya bobrok dalam pandangan Islam. Di sinilah perlunya kita melihat persoalan dengan pandangan yang jernih dan mendalam khas Islam. Nggak boleh yang lain.</p>
<p><strong>Budaya Sampah!<br />
</strong>Rasulullah saw, orang yang paling mulia dan kita teladani dengan tegas memperingatkan kita agar jangan mengikuti pola hidup (budaya) kaum/bangsa lain, sebagaimana sabdanya: â€œTidak akan terjadi kiamat sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta.â€? Diantara sahabat ada yang bertanya: â€œ(Ya Rasulullah) apakah yang dimaksud (di sini) seperti bangsa Persia dan Romawi?â€? Rasulullah saw menjawab: â€œSiapa lagi (kalau bukan mereka)â€? (HR. Bukhori, dari Abu Hurairah).</p>
<p>Sebagai seorang remaja muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu saja kita nggak layak mengikuti budaya yang tak jelas juntrungannya. Terlebih Valentineâ€™s Day ini adalah produk peradaban Barat yang sekulerâ€”yang memisahkan antara agama dengan kehidupan (politik).</p>
<p>Valentineâ€™s Day hanya sebuah sarana dari sekian banyak sarana peradaban Barat yang notabene terbilang maju. Bisa jadi Valentineâ€™s Day adalah sebagai alat penjajahan?  Barat. Paling tidak dari sisi budaya dan gaya hidup.</p>
<p>Ada baiknya kita merenungkan pernyata sosiolog muslim yang terkenal, yakni Ibnu Khaldun. Apa yang dikemukakannya? Kata beliau: â€œYang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.â€?</p>
<p>Ya, Valentineâ€™s Day telah memakan banyak korban, khususnya kamu yang masih remaja. Kamu tertipu di balik gemerlapnya. Valentineâ€™s Day telah menikam perasaan dan pikiran sehat kamu. Dan kamu menjadi liar dalam mewujudkan kasih sayang kamu. Hati-hati kawan, jangan sampai celaan Nabi kita dialamatkan kepada kita melalui sabdanya: â€œSiapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istiadatnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.â€? (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).<br />
Ih, naudzu billahi min dzalik! (<strong>Buletin Studia &#8211; Tahun I Nomor 3</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-tertipu-gemerlap-valentine%e2%80%99s-day/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musuh Itu Bernama Narkoba</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/musuh-itu-bernama-narkoba</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/musuh-itu-bernama-narkoba#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 10:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Genderang perang sudah ditabuh untuk melawan narkoba. Ini tidak main-main. Suer, kamu bakal menyaksikan perang â€?bubatâ€™ memburu musuh bersama; narkoba. Nggak tanggung-tanggung, orang nomor wahid di negeri ini pun telah menyetujui ancaman hukuman mati bagi para pengedar narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba). Ia menegaskan bahwa pemerintah akan mengeraskan sikap terhadap para pengedar narkoba, jika perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Genderang perang sudah ditabuh untuk melawan narkoba. Ini tidak main-main. Suer, kamu bakal menyaksikan perang â€?bubatâ€™ memburu musuh bersama; narkoba. Nggak tanggung-tanggung, orang nomor wahid di negeri ini pun telah menyetujui ancaman hukuman mati bagi para pengedar narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba). <span id="more-4"></span>Ia menegaskan bahwa pemerintah akan mengeraskan sikap terhadap para pengedar narkoba, jika perlu dengan hukuman mati (Media Indonesia, 7 Desember 1999).</p>
<p>Nah, lo, bikin sport jantung kan? Terutama bagi para pengedar dan bandar narkoba. Kelihatannya sih emang nggak main-main. Soalnya, narkoba sekarang sudah jadi musuh bersama. Hampir semua orang mengutuk barang laknat itu. Dan dengan tegas mencap haram. Walhasil, kita menyaksikan mereka membakar dan menghancurkan tempat-tempat yang diduga kuat sebagai tempat ngumpul para aktivis nge-fly alias para drugs-mania.</p>
<p>Sudah begitu parahkah penyakit rekan-rekan remaja kita? Wow, bukan hanya mereka, narkoba telah jadi santapan favorit di luar chiki bagi anak SD. Ah, mengerikan!</p>
<p><strong>Sekali Coba Binasa<br />
</strong>Tanpa maksud nakut-nakutin, tapi memang gawat banget urusannya kalo udah lengket sama narkoba. Makanya jangan coba-coba. Emangnya sulap? Ini bukan sulap bukan sihir. Tapi kejadian nyata. Narkoba mampu membikin kamu puyeng tujuh keliling, dan yang namanya ketagihan itu sudah pasti. Kamu bakal jadi pecandu. Tentu saja kamu bakal jadi orang yang bergantung terus dengan barang durjana itu. Nggak percaya? Putauw, sebagai anggota narkoba, itu bisa membuat kamu lengket dengannya. Saking lengketnya, kamu ogah berpisah dengan barang haram itu. Bahkan kamu seolah sudah menyatakan sumpah setia untuk mengikuti â€?kehendaknyaâ€™â€”bila perlu cap jempol darah (hi..hi..hi..). Sekalipun kamu harus tersiksa saat sakauw, tapi kamu tetap membutuhkannya, meski tangan merogoh kocek dalam-dalam. Hih, syerem!</p>
<p>Kamu tahu tentang AIDS kan? So, pasti kamu kan bukan PKI alias Pemuda Kurang Informasi. Nah, yang satu ini ternyata akrab dengan para pecandu narkoba. Nggak percaya? Nih buktinya. Dari studi yang dilakukannya, pakar AIDS Dr. Zubairi Djoerban mengajukan beberapa bukti keterkaitan narkoba dan HIV/AIDS. Dia mengemukakan dalam beberapa bulan terakhir, sampai dengan bulan Oktober 1999, pasien baru yang didiagnosis atau dirujuk kepadanyaâ€”selaku spesialis penyakit dalamâ€”biasanya 1-2 orang dalam satu bulan. Dia juga menambahkan bahwa dalam tiga minggu pertama bulan November 1999, menemukan sembilan kasus baru infeksi HIV/AIDS, dan tiga diantaranya pecandu narkoba Hih, mengerikan banget. Lebih menyeramkan lagi adalah penelitian beliau melalui Yayasan Pelita Ilmu yang diketuainya tentang penelitian pendahuluan terhadap ABG di daerah Blok M, yang memperlihatkan adanya 7,5 % di antara mereka merupakan pecandu narkoba dan 12,3 % lainnya terlibat seks bebas(Media Indonesia, 30 Nopember 1999).</p>
<p>Kita memang tak bisa menutup mata dan telinga terhadap kasus-kasus yang menimpa rekan-rekan remaja. Persaudaraan antara seks bebas dan narkoba telah menjadi gaya hidup baru di kalangan remaja perkotaanâ€”meski tak menutup kemungkinan itu terjadi pula di desa-desa. Kalo udah gitber alias giting berat (khusus pecandu ganja alias rasta mania), apa pun akan dilakukannya dengan memenuhi rasa â€?hausâ€™nya . Bila perlu. Itu tadi. Ngeseks euy!</p>
<p>Kamu kudu yakin bahwa tingkah rekan kita yang seperti itu sebenarnya bukan hanya bahaya buat dirinya sendiri, tapi juga bakal ngerembet ke orang lain. Soalnya, beda dengan ngajak orang pergi ke mesjid yang susahnya minta maaf. Tapi kalo ngajak ngedrugs, gampangnya bukan main, rasanya kaki ringan banget ngelangkahnya. Dengan iming-iming bisa bikin ngilangin stres atau ancaman kagak solider, teman kamu yang kendor imannya bakal sukarela jadi anggota pear group yang senantiasa kompak kalo lagi sakauw. Padahal ujung-ujungnya kalo ada yang sekarat saat sakauw berjamaah itu, bakal ditinggalin. Kagak bakalan diurus. Nggak peduli nyungsep di tempat jin buang anak apa nggak. Yang jelas, mereka sangat ketakutan bila ada anggota pear groupnya yang sekarat.</p>
<p>Makanya, berteman itu dengan orang yang mampu membina kita dalam kebaikan, bukan malah membinasakan kita. Kamu bakalan terus diburu rasa was-was dan takut bukan main bila ternyata lingkungan kamu malah menjebak kamu dalam suasana yang seperti itu. Makanya perlu ada penyelesaian yang jitu untuk kasus model begitu. Kata pepatah, Lebih baik menyalakan sebatang lilin ketimbang terus menerus mengutuki kegelapan. Jadi, harus dimulai dari sekarang, sekecil apa pun usaha kita.</p>
<p><strong>Stop Narkoba!<br />
</strong>Masalah narkoba ini memang sepertinya nggak bakal kelar-kelar, bila tak melibatkan semua komponen masyarakat dan negara. Suer, soalnya, yang terjadi sekarang ini ibarat orang memadamkan kebakaran, tapi membuat kebakaran baru. Sebagian semangat menjegal, eh, sebagian masyarakat lain malah nggak peduli, bahkan semakin meningkatkan operasinya. Ibarat pelacuran, yang getol melarang banyak, tapi tak sedikit pula yang membuka tempat-tempat pelacuran. Malah lucunya, pemerintah menyediakan tempat-tempat lokalisasi. Ya, bisa ditebak hasilnya, kagak beres-beres. Muter aja, kalo nggak mau disebut cuma jalan di tempat. Yang ada malah bikin stres. Kenapa? Soalnya, kita nggak bisa cuma merusak tempat-tempat yang diduga kuat sebagai sarang para pelaku sakauw. Juga bukan hanya menyediakan rumah sakit khusus dengan fasilitas mewah untuk menangani perawatan korban narkoba. Dan nggak hanya terus nangkepin pengguna dan pengedarnya tanpa ada tindakan berarti dan membekas dari pemerintah. Jadi, model penanganan yang harus dilakukan adalah bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa narkoba itu bukan hanya bahaya bagi kesehatan, tapi lebih dari itu bahwa narkoba adalah barang haram dan pelakunya jelas masuk dalam daftar aktivis yang melakukan perbuatan dosa. Tentu saja, perbuatan tersebut akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah swt. Danâ€”ini nggak boleh melengâ€”pemerintah harus mampu menunjukkan sebagai pengayom rakyat dengan menerapkan aturan dan sanksi yang tegas terhadap para pelaku maksiat.</p>
<p>Coba aja bayangin, kalo nggak ada tindakan tegas dari penguasa, para pengedar dengan leluasa masuk ke negeri ini dari berbagai negara. Tabloid AKSI vol. 4 No. 200 (30 Nopember â€“2 Desember 1999) menurunkan berita seputar narkoba. Beritanya? Ternyata peredaran narkoba di negerinya Si Komo ini melibatkan sindikat internasional. Kapolri Jenderal Roesmanhadi, yang dikutip AKSI, menyebutkan bahwa berbagai jenis kokain dan heroin masuk ke Indonesia melalui jalur udara, laut dan darat. Bubuk itu ada yang datang bersama penumpang (body wraping/swallowed) maupun disembunyikan dalam barang bawaan dan kiriman. Kapolri juga menyebutkan bahwa daerah asal heroin dari the golden triangle dan kokain berasal dari Kolombia, Peru dan Brazilia. Para penyelundup dari Guang Zhou (Cina) pun yang membawa sabu-sabu alias nethamphetaine bebas melenggang. Bahkan lebih menyedihkan lagiâ€”ini sudah menjadi rahasia umumâ€”banyak aparat yang lebih suka menjadi pengguna bahkan pengedar ketimbang meringkus para user dan pengedar narkoba. Kalo sudah begini, rasanya dunia begitu sempit kawan. Maka nggak ada jalan lain kecuali menstop laju narkoba.</p>
<p><strong>Barang Haram</strong><br />
Mungkin saja, teman-teman kamu yang terlibat narkoba ada yang nggak ngeh kalo ternyata barang tersebut adalah termasuk daftar barang haram dalam pandangan Islam. Bukan nuduh, kita sih, pede aja lagi. Soalnya, banyak juga temen-teman kamu yang ngakunya muslim, tapi terlibat dalam kasus ini. Jelas, bahwa beliau tidak ngerti dan nggak paham seputar barang tersebut. Soalnya, bisa jadi informasi seputar narkoba dalam pandangan Islam belum menyentuhnya. Kemudian yang paling parah adalah, lingkungan tempat kawan-kawan itu kita bergaul amburadul. Jadinya klop alias cooocok!</p>
<p>Jadi, perlu diberi penjelasan bahwa narkoba itu, apa pun jenisnya; dari mulai ganja alias cimeng, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu, putauw dan saudara-saudaranya itu adalah barang haram. Sabda Rasulullah saw: â€œSegala yang mengacaukan akal dan memabukkan adalah haramâ€? (HR. Imam Abu Daud).</p>
<p>Syeikh Ibnu Taimiyah sebagaimana yang dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqh as-Sunah, menyatakan bahwa hadits tersebut mencakup segala benda yang merusakkan akal tanpa membeda-bedakan jenis dan tanpa terikat cara pemakaiannya, baik dimakan, diminum, dihisap, disuntik dan sebagainya. Maka benda-benda yang merusak akal tersebut, termasuk putauw, ekstasi dan sejenisnya dari anggota narkoba, jelas terkategori haram. Dan sebagaimana pedoman Islam setiap padaku perbuatan haram akan diganjar dengan hukuman.</p>
<p>Bagaimana dengan para penjualnya? Adalah hal yang menggelikan bila sekarang ini hanya dikenakan sanksi bagi para pemakai tapi membiarkan penjualnya berkeliaran dengan bebas. Dalam hal ini terdapat kaidah umum dari para ulama yang berbunyi: â€œApa saja yang diharamkan, maka diharamkan pula dijualbelikannya??â€?. Kaidah ini berlandaskan kepada hadits Rasulullah saw dari Ibnu Abi Syuaibah: â€œJika Allah mengharamkan sesuatu, maka haram pula harganya (yang diperoleh dari benda tersebut).</p>
<p><strong>Terus Gimana?<br />
</strong>Ya, pertanyaan keren. Kamu harus gaul juga soal hukum-hukum Islam, bukan cuma gaul soal artis en film-film doang. Soalnya, mau nggak mau kita hidup itu kan untuk ibadah. Makanya, segala aktivitas kita itu harus sesuai dengan tuntunan dan tuntutan Allah swt dan Rasul-Nya. Nah, supaya semuanya bisa bernilai ibadah, maka gaul soal hukum-hukum Islam jadi wajib buat kamu. Soalnya, kalo udah tahu mana yang salah dan mana yang sholeh, udah ngeh mana perbuatan yang tercela dan mana perbuatan yang terpuji, kamu bisa mengendalikan diri. Bahkan siapa tahu kamu juga bakal bisa mengajak teman kamu untuk ngikuti dalam kegiatan keislaman yang kamu bikin.</p>
<p>Seperti kesepakatan semula, bahwa masalah ini nggak berdiri sendiri. Maka penyelesaiannya pun nggak bisa sepotong-sepotong, tapi harus total alias menyeluruh dan melibatkan semua sektor. Pertama, kamu kudu melindungi dirimu dengan baju takwa. Bukan hanya jilbab atawa baju koko. Tapi maksudnya dengan ketakwaan yang tulus kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Tahu kan takwa? Pendek kata, kamu wajib melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan tentu saja berbarengan dengan itu, kamu juga kudu menjauhi atau meninggalkan apa yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Yakinlah, bahwa Allah akan menyelamatkan kamu, jika kamu sendiri berusaha untuk menyelamatkan dirimu dari kebinasaan.</p>
<p>Kedua, kamu suka nonton bola? Nah, kalo suka, kamu pasti kesel dong, bila ada salah satu pemain dari klub favorit kamu bermain jelek, misalnya masukin ke gawang sendiri dengan sengaja. Wah gondoknya bukan main. Minimal kamu nyumpahin atau malah sampai ngutuk. Nah, sama saja, bila kamu melihat teman kamu berbuat salah, idealnya orang yang di sekitarnya juga mencap bahwa kelakuan teman kamu itu salah dan kemudian melakukan tindakan pencegahan atau memberikan teguran. Jadi, perlu adanya kontrol masyarakat yang ketat. Karena walau bagaimana pun juga individu itu bagian dari sebuah masyarakat. Bila masyarakatnya amburadul, tak mustahil individunya ikut-ikutan senewen. Soalnya, mau nggak mau pengaruhnya pasti adaâ€”sekecil apapun. Dan yang terakhir, perlu ada kekuatan dari orang nomor satuâ€”secara lebih luas penguasaâ€”di negeri ini untuk membuat menerapkan aturan dan sanksi yang tegas. Tentu bukan hanya NATO alias No Action Talk Only tapi membuat seperangkat aturan yang baku dan terperinci.</p>
<p>Kita yakin, bila tiga pilar penegakan hukum itu berfungsi, maka tak ada tempat bagi para user dan pengedar narkoba. Jangankan narkoba, kasus-kasus lainya yang menjurus kepada kemaksiatan bakal ogah muncul. Dan kalo pun nekat muncul, pasti bakal dibabat habis.</p>
<p>Kondisi seperti ini memang hanya akan terjadi jika ikatan kebersamaan antar individu itu kuat. Pemikiran kita seragam, perasaan kita kompak, dan tentu saja kita sepakat bahwa pemikiran dan perasaan yang seragam itu hanya bisa tumbuh dan berkembang dalam naungan negara yang menerapkan aturan yang sama pula. Dan kamu harus inget-inget, bahwa?  pemikiran, perasaan dan aturannya adalah Islam. Nah, kondisi seperti ini yang nantinya bakal melahirkan kebersamaan dalam gerak dan menentukan sikap. Kalo itu salah, maka kamu semua sepakat membenci bahkan mengutuknya. Dan tentu saja, jika benar, maka kamu semua dengan tulus mengatakan benar. Dengan demikian kamu bisa ngomong sekarang; narkoba adalah musuh bersama!<br />
Gimana? (<strong>Buletin Studia &#8211; Tahun I Nomor 2</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/musuh-itu-bernama-narkoba/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata, Remaja Kita Adalah Generasi Latah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ternyata-remaja-kita-adalah-generasi-latah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ternyata-remaja-kita-adalah-generasi-latah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 10:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu fikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Studia Tahun I]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaulislam.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[â€?Bondol! teriak cewek berusia sekitar 14 tahun. Yang diteriakinya adalah anak cowok berambut cepak, pengendara mobil Kijang ceper yang melintas di hadapannya. Rupanya, teriakan gadis baru lepas ingusan itu mampu menghentikan kendaraan tadi, karena padatnya IaIu Iintas di jalan Mahakam, Jakarta, pada suatu malam minggu awal September lalu. Dengan cekatan si cewek langsung menghampiri cowok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€?Bondol! teriak cewek berusia sekitar 14 tahun. Yang diteriakinya adalah anak cowok berambut cepak, pengendara mobil Kijang ceper yang melintas di hadapannya. Rupanya, teriakan gadis baru lepas ingusan itu mampu menghentikan kendaraan tadi, karena padatnya IaIu Iintas di jalan Mahakam, Jakarta, pada suatu malam minggu awal September lalu. <br /><span id="more-3"></span>Dengan cekatan si cewek langsung menghampiri cowok tadi. Sejurus kemudian, lewat kaca jendela mobil, mereka asyik mengobrol, yang kayaknya hanya dimengerti oleh mereka sendiri (MA TRA, edisi khusus, November 1996).</p>
<p>Kejadian ini bisa saja hanya kasus kecil yang berhasil direkam di satu sudut kota Jakarta. Masih banyak, dan tak mustahil kejadian yang sama juga dilakukan oleh para ABG di kota-kota besar Iainnya, tentu dengan berbagai variasi yang kadangkala tak terpikirkan sebelumnya oleh remaja di jaman dulu.</p>
<p>Remaja sekarang memang lebih mahir berduel dengan budaya global yang masuk dengan derasnya. Efek balik sudah tentu ada. Celakanya, justeru pengaruh jelek yang ternyata kita sadari lebih cepat terserap kaum remaja ketimbang yang baik. Yang buruk-buruk itu adalah termasuk pergaulan bebas yang nampaknya sangat dinikmati, perilaku seks bebas, aborsi yang angkanya cenderung meroket dari tahun ke tahun. Menggilanya pemakaian obat-obat tenlarang; dan ganja, nipam, sampai ekstasi dan putauw sudah kita rasakan pengaruhnya, remaja kita babak belur Tak bisa dipungkiri, remaja kita sekarang ini ternyata akrab dengan beberapa kasus di bawah ni.</p>
<p><strong>Seks Bebas</strong><br />
Rasanya bukan hal baru untuk ukuran sekarang. Maraknya seks pra-nikah di kalangan remaja, menurut seorang ahli karena informasi yang keliru tentang seks. Maka ada yang menyarankan agar pendidikan seks sudah waktunya diberikan di sekolah-sekolah. Soal seks bebas dan perilaku yang cenderung mengarah kepada seks amburadul justeru remaja wanita yang lebih banyak mempraktekkannya ketimbang remaja pria. Banyak diantara remaja wanita yang rela menjual harga dirinya dengan making love bersama para lelaki hidung belang.</p>
<p>Sialnya, kondisi mi diperparah dengan maraknya film-film, majalah, bahkan situs-situs di internet yang menawarkan â€œprogramâ€™ esek-esek. Tak ayal lagi, ini merupakan tamparan bagi kita.?  Malah, kondisi seperti itu membuat mereka mendapat angin karena merasa â€œdilegalkanâ€?. Betapa tidak, televisi tak henti-hentinya menayangkan film-film yang mengajarkan pergaulan sekaligus saks bebas.</p>
<p>Sebagai negara dunia ketiga, kita tak lepas dari pengarus negara maju seperti Amerika yang mahir dalam mengeluarkan berbagai produk yang menelikung konsumen dunia ketiga yang rata-rata latah akan modernisasi. Sebagai contoh andil mereka dalam mengkondisikan budaya pergaulan dan seks bebas adalah dalam industri pornografi yang makin berkibar.</p>
<p>Di Amerika, menurut majalah khusus video porno, Adult Video News, jumlah kaset video porno (hard core) yang disewa meningkat dari 75 juta pada 1965 menjadi 665 juta pada tahun 1996. Maka, pantas saja bisnis itu sangat menjanjikan bagi para pemuja kepuasan dan kebebasan. Budaya tarian semacam striptease segera dikenalkan kepada remaja di negeri ini. Meski untuk tarian â€œgilaâ€? ini kasusnya tak begitu marak, namun tetap memberikan fakta yang tak bisa begitu saja diabaikan. Bagi remaja yang rela menari seperti binatang itu tentu akan memperoleh honor yang lumayan dibanding kalau dia harus memainkan tarian yang lain. Di Amerika saja, pendapatan penari striptease bisa mengantongi uang 15 ribu dolar hingga 20 ribu dolar dalam seminggu (Republika, 9 Maret 1997, hal. 8).</p>
<p><strong>Kriminalitas dan Narkotika</strong><br />
Tawuran, yang belum lama mi beritanya sering menghiasi halaman koran dan majalah ibu kota tidak bisa diabaikan begitu saja. Kesalahan orang tua dalam memandang kasus ini adalah menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh remaja-remaja itu hanya sebatas kenakalan biasa. Padahal dalam beberapa kasus, sikap brutal mereka sudah mengarah kepada tindak kriminal yang membahayakan. Gimana nggak, mereka sudah tak segan lagi membawa senjata tajam, dan belati sampai celurit. Dan terbukti dalam beberapa kasus, senjata itu telah banyak memakan korban, tidak hanya luka parah, tapi juga sampai koit!</p>
<p>Lalu, kawan dekatnya kejahatan adalah minuman keras dan narkoba. Itu tak bisa dipungkiri. Entah mereka melihatnya di film-film atau belajar sendiri dari kehidupan di lingkungannya. Mesti yang namanya tindak kriminal hampir seluruhnya dilakukan oleh para pecandu miras dan narkotika. Parahnya, gejala ini bukan hanya hinggap di kalangan remaja kota, tapi sudah mewabah hingga remaja desa yang kampungan. Sudah pasti minuman keras kelas air tape mereka sudah mengenalnya dengan baik, bahkan minuman keras sekelas Martini Napoleon, Jeniffer pun sudah bukan barang aneh lagi &#8211;meski untuk yang disebutkan tiga terakhir itu&#8211; mereka bergotong-royong dalam membelinya.</p>
<p>Lagi-lagi kita akan dibuat tercengang, ketika anak-anak desa yang sudah tak mengenal lagi istilah menggembala itu berteler-ria dengan nipam, magadon, BK, atau malah ekstasi dan putauw? Apalagi dengan remaja kota? Lebih heboh lagi, Bung!</p>
<p><strong>Jago Pesta dan Hura-Hura</strong><br />
Dengan berlindung di balik istilah remaja gaul, seringkali mereka melakukan perbuatan yang justeru mebuatnya terjebak dalam suasana santai dan bergaya hidup glamour. Untuk urusan hiburan, mereka sangat bersemangat untuk mencobanya, meski akhirnya ketika datang jenis hiburan baru, mereka meninggalkan model hiburan lama. Untuk itu, tentu mereka harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah, bahkan mugkin jutaan rupiah, dan celakanya karena masih sekolah justeru kocek ortunya lah yang banyak terkuras.</p>
<p>Gampang saja menyimak tren remaja sekarang, beberapa waktu yang lalu mereka gandrung dengan skateboard yang tentu saja, harganya lebih mahal dibanding papan penggilesan. Masih belum habis dengan mode itu, datang lagi hiburan gaya baru dengan video game dan kelas SEGA, Nintendo sampai Playstasion. Yang tentunya dari soal biaya lebih mahal ketimbang mainan kita waktu kecil, mobil-mobilan dari kulit jeruk bali!</p>
<p>Pokoknya, segala hal yang berbau hiburan dan hura-hura sangat lengket dengan remaja. Nonton film di studio-21, jalan-jalan ke mal, mendandani mobil, ngeceng alias cuci mata, dan segala macam yang sifatnya huna-hura, sudah akrab dengan kehidupan mereka. Walhasil, remaja kita memang latah dan terjebak dalam dunia santai.</p>
<p><strong>Agar tak Jadi Generasi Latah</strong><br />
Ya, sejauh ini memang remaja itu hobi coba-coba, apa saja, dari mulai ngeseks, ngeboat,?  tindak kriminal dan lain sebagainya. Namun, apakah kita akan membiarkan mereka dan terus mentolerir segala aktivitas yang dilakukannya?</p>
<p>Orang yang suka coba-coba menandakan bahwa ia tidak memiliki kejelasan arah dalam menempuh kehidupannya di dunia. Ibarat orang yang berpergian tanpa tujuan, pasti akan kebingungan di jalan. Mereka jugs sama, manusia dan sudah masuk hitungan terkena beban hukum. Nah, kewajiban searang muslim yang sudah terbebani hukum itu adalah wajib terikat dengan aturan-aturan Islam dan menjalankannya dalam aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Makanya, keluarga sebagai pandasi utama keimanan mereka harus menciptakan suasana yang kondusif bagi perkembangan remaja.</p>
<p>Hidup di dunia ini tak ubahnya seperti menempuh suatu perjalanan. Seseorang harus tahu perjalanan hidupnya untuk mengetahui jati dirinya, yaitu dari mana ia, untuk apa hidup dui dunia, dan akan kemana setelah mati?<br />
Pertanyaan mendasar ini harus terjawab. Jika tidak manusia akan senantiasa berada dalam kebimbangan dan tak dapat melangkah dengan arah yang pasti dalam mengarungi kehidupannya. Akibatnya akan menjadi orang yang latah. Kemana lingkungan mempengaruhinya, kesitulah ia melangkah.</p>
<p>Siapa saja yang menggunakan akal sehat, akan menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang berasal dari Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Adanya keterbatasan dan kelemahan manusia merupakan bukti nyata bahwa ia membutuhkan adanya Sang Pencipta. Untuk mempertahankan hidup saja, manusia harus bergantung dengan makanan, minuman, oksigen, dll. Lalu bagaimana munkin.</p>
<p>Jadi, bila kita mengikuti dengan ikhlas gaya hidup peradaban tertentu yang jelas bertentangan dengan Islam, maka kita sudah termasuk ke dalam golongan mereka. Ih, rugi amat!</p>
<p>Makanya biar kita tak menjadi generasi latah, kits harus tahu dulu aturan main dalam Islam. Boleh saja kamu mengikuti tren dan barat, sssl tren itu cuma berkaitan dengan iptek dan jelas musti yang baik-baik Teknologi informasi yang membuat kits terkagum-kagum, sah-sah saja selama itu tidak kamu simpangkan. Nah, jadi harus tahu Ru. Kalau belum? Ngaji dulu, dong! (<strong>Studia &#8211; Edisi 1/Tahun 1</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ternyata-remaja-kita-adalah-generasi-latah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

