Khilafah Sudah Dekat
EDITORIAL/Agustus/2008
Memori kelabu 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342 H) seharusnya diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Bahkan bagi para pejuang tegaknya kembali Khilafah Islamiyah, tragedi pembubaran institusi Khilafah di Turki Ustmani oleh Mustafa Kamal Pasha tak akan pernah bisa dilupakan. Bagaimana tidak, Mustafa Kamal dengan arogan berteriak lantang di hadapan Dewan Nasional pasca kemenangan pihak Sekutu (Inggris, Perancis, Italia) dalam menguasai beberapa bagian wilayah Turki, “Saya tidak percaya dengan Negara Islam, bahkan tidak percaya dengan bangsa Utsmaniyah. Kita masing-masing harus meyakini apa yang menjadi pendapat kita. Adapun pemerintah (di Ankara) harus mengikuti garis politik yang tetap, terencana, dan didasarkan pada fakta-fakta dengan satu tujuan saja, yaitu memelihara eksistensi dan kemerdekaan negeri Turki dalam suatu wilayah yang terbatas. Tidak boleh ada lagi perasaan atau emosi yang mempengaruhi politik kita. Buanglah mimpi-mimpi dan khayalan-khayalan itu. Sungguh, kita telah membayar mahal untuk masa lalu kita!” (more…)
Minyak Membawa Sengsara
EDITORIAL/Juli/2008
Indonesia negeri yang cukup kaya dengan sumber daya alam. Salah satunya adalah minyak. Meski disebut-sebut hanya memiliki 4 persen dari total ?lumbung’ minyak yang ada di dunia ini, namun mampu memberikan penghidupan yang layak bagi pengelolanya. Sayangnya, para pengelola itu justru tangan-tangan terampil milik perusahaan asing yang mengeksplorasi emas hitam ini. Sama seperti di Tembaga Pura, ribuan ton emas dihasilkan dari sana setiap bulannya, namun yang kaya adalah seorang selebriti Amerika bernama McMoran pemilik perusahaan bernama Freeport McMoran.
Lalu siapa para pengelola minyak di negeri ini? Meski Indonesia memiliki perusahaan pertambangan minyak nasional yang akrab kita sebuat Pertamina, namun kenyataannya tak banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan tersebut, apalagi negara. Sungguh ironi memang. Ini bukan tanpa alasan, perusahaan-perusahaan asing yang wara-wiri di negeri ini sebagai juragan minyak menggerogoti jatah negara. Mereka memang memiliki teknologi dan sumber daya manusia yang handal-itu sebabnya menjadi mitra pemerintah dalam mengeksplorasi minyak mentah, tapi bukan berarti dibiarkan leluasa ?menjarah’ harta kekayaan negeri ini semau mereka tanpa kendali sedikit pun. (more…)
Mari (Jangan) Berhemat
INSPIRASI/Juli/2008
Ketika rumor kenaikan BBM mencapai kenyataan, seiring kenaikan harga minyak dunia, Presiden SBY (lagi-lagi) menyerukan pentingnya berhemat energi. Seruan ini klise yang berulang-ulang. Jauh sebelum rencana kenaikan harga BBM, publik sudah dihimbau untuk berhemat pemakaian listrik. Iklannya pun berulang-ulang ditayangkan di layar kaca.
Bukan saja klise, seruan penghematan juga kosong. Miskin dari aksi. Satu stasiun televisi menayangkan gambar kantor-kantor pemerintah yang lampunya terus benderang meski telah tutup, termasuk di hari libur. Di jalan kita sering melihat mobil pemerintah dan aparat keamanan bersliweran. Mobil-mobil itu BBM-nya pasti menggunakan uang pemerintah. Dan bukan rahasia lagi bahwa untuk keperluan pribadi pun sering mobil dinas menggunakan uang kantor. Itu berarti uang rakyat. (more…)
Krisis Energi vs Krisis Pangan
FRESH!/Juli/2008
Diam-diam, saat ini sedang berkecamuk perang dahsyat antara energi dan pangan. Ibarat lingkaran setan tak berujung, krisis energi dan pangan? terus menghantui dunia. Bagaimana tidak, banyak orang pintar yang dengan kreatifnya mengatasi krisis energi dengan membuat sumber-sumber energi alternatif yang berbahan baku dari produk pangan. Seperti energi dari kedelai, ubi, singkong, gandum, dll.
Sumber pangan pokok manusia di seantero jagad itu dialihfungsikan menjadi sumber energi alternatif. Dampaknya, tentu saja rawan krisis pangan. Harga pangan melambung akibat kelangkaan.
Kedelai misalnya, tembus hingga Rp 7.500/kg dari Rp 3.450/kg. Maka jangan heran kalau bangsa ini justru bangga disebut “bangsa tempe” atau dijuluki “bermental tempe”. Karena, toh, tempe saat ini termasuk barang mewah.? Apalagi bahan bakunya pun impor dari negeri Paman Sam. Dan, usut punya usut, mahalnya harga kedelai terjadi akibat pengalihan minyak mentah dengan biofuel oleh AS. (more…)
Senandung Ceking [3]
CERITA/Juli/2008
By: Nafiisah FB
Kambing Hitam telah tiada. Pak Money kehilangan transaksinya. Empat persen keuntungan tambang emas tinggal impian.
Pak Money di depan mobil kencananya saat ini berhadapan dengan para warga. Amarahnya tampak jelas dari rona merah di wajahnya. Beberapa pengawalnya berjaga-jaga.
“Takutlah kepada Gusti Allah, Money! Kekayaanmu tidak akan membuat dirimu masuk Surga tanpa taubatmu!” teriak Kyai Kaji yang berdiri gagah memimpin warga.
Pak Money semakin menggelegak.
“Wahai pengawal-pengawal Money! Kalian adalah manusia-manusia terbaik yang Allah turunkan untuk mengawal desa ini menuju kemakmuran, menuju keadilan! Apakah kalian rela untuk terus-menerus membela kezoliman! Padahal anak kalian, ibu kalian, bapak kalian, saudara-saudara kalian telah banyak yang menjadi korban! Padahal mereka semua rindu akan pembelaan kalian! Kalian yang terbaik di antara kami! Gusti Allah akan memberikan berkah bagi hidup kalian! Surga!” teriak Kyai Kaji dalam semangat yang semakin berkobar. (more…)
Ini Kapitalisme, Mas!
EDITORIAL/Juni/2008
Berharap pendidikan murah dan gratis dalam kapitalisme? Ada. Sekolah itu berada di bawah kolong jembatan layang, di tengah pemukiman kumuh, dengan fasilitas seadanya. Sekolah Kartini di Jakarta, contohnya. Meski mengklaim pendidikannya tak kalah dengan sekolah “normal”, tapi tetap saja keberadaan sekolah tersebut adalah bagian dari potret buruk produk kapitalisme. Hmm.. ternyata sekolah pun sudah menjadi barang dagangan. Fasilitas berbanding lurus dengan harga. Meski dalam urusan kualitas masih bisa diperdebatkan. Sebab, tak sedikit mereka yang berkualitas baik justru lahir dari sekolah biasa saja. Ini kapitalisme Mas, urusan sekolah pun dibatasi distribusi aksesnya dengan harga. Yang miskin? Sudah beruntung mendapat pendidikan meski di sekolah yang fasilitasnya beda tipis dengan kandang sapi. (more…)
Orang Miskin Dilarang Pintar
FRESH!/Juni/2008
“Mau pintar kok mahal. Tanya kenapa?”? Iklan produk rokok yang pernah populer itu memang cukup menggelitik. Ya, di negeri berpenduduk 240 juta jiwa ini, pendidikan adalah barang mewah. Kendati pemerintah mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar
(wajardikdas) sembilan tahun, nyatanya rakyat tak diberi kesempatan mengenyam bangku sekolah.
Setidaknya, bagi rakyat miskin yang untuk memikirkan isi perut pun pusing tujuh keliling. Apalagi mikirin sekolah. Walhasil, hak anak-anak di negeri ini pun terenggut. Lihatlah, betapa banyak anak-anak tak bisa sekolah atau drop out karena keadaan ekonomi orangtuanya yang morat-marit. Wajah polos anak-anak yang haus ilmu itu, terganti wajah sendu karena turut memikirkan perutnya sendiri. (more…)
Sekolah Ningrat
INSPIRASI/Juni/2008
Di akhir masa kejayaannya, pemerintah kolonial Belanda akhirnya membuka sekolah bagi kaum inlandeer. Namanya Sekolah Rakyat (SR). Tentu bukan karena Belanda berbaik hati ingin mencerdaskan kaum pribumi, tapi ini taktik baru penjajahan; merangkul hati kaum pribumi agar tak lagi mempersoalkan penjajahan.
Tentu sekolah ini tak sama seperti sekolah umum saat ini. Amat sangat terbatas. Lagipula, tidak sembarang orang boleh melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Hanya kaum ningrat yang diijinkan. Di mana kaum ningrat umumnya punya hubungan spesial dengan penjajah Belanda.
Belanda sadar, bahwa pendidikan bisa menjadi alat perjuangan yang berbahaya bagi rakyat jajahan. Memberikan kecerdasan bagi kaum jajahan sama artinya memberikan mesiu perlawanan kepada mereka. Bahkan kecerdasan jauh lebih berbahaya ketimbang mesiu, senapan dan meriam. Maka pendidikan harus dikebiri. (more…)
Senandung Ceking [2]
CERITA/Juni/2008
By: Nafiisah FB
Desa Makmur senja hari itu kembali berduka. Anak semata wayang Kang Soro meninggal dunia. Busung lapar kembali memakan korban. Buncit, anak Kang Soro itu adalah korban ke 113 dari jumlah anak-anak Desa Makmur yang tersensus sebanyak 120 orang.
Warga berkumpul untuk menyertai perjalanan jenazah Buncit menuju pemakaman sederhana dengan membawa peralatan seadanya. Buncit dikebumikan tanpa nisan.
Pak Money, Sang Kepala Desa, sebelumnya memberitahukan hanya bisa membantu memberikan kain kafan. Dia bahkan mengantarkannya sendiri kepada Kang Soro dengan mengendarai mobil kencananya yang mewah. Namun, Kang Soro tidak kuasa membendung amarah.
“Bawa saja lagi kain kafan itu! Bawa saja belas kasihan Tuan yang pura-pura! Bawa saja mobil kencana Tuan yang seharusnya bisa menyelamatkan anak saya dan 112 anak lainnya dari kematian!” Kang Soro mendorong-dorong Pak Money dalam gelegak emosi. (more…)
Demokrasi Penghalang Kebangkitan
EDITORIAL/MEI/2008
Bergulirnya era reformasi di negeri ini, mencuatkan harapan masyarakat untuk menuju kepada kebangkitan. Bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan. Bangkit dari kebodohan dan kesengsaraan.
Umat Islam pun mendambakan kehidupan yang lebih baik. Terutama dalam menjalankan syariat Islam yang selama Orde Lama dan Orde Baru terbelenggu.
Benih-benih kebangkitan itupun tampaknya mulai merekah. Ditandai dengan makin tingginya kesadaran umat untuk kembali ke jalan lurus yang mampu menghantarkan kepada kebangkitan hakiki, yakni ideologi Islam. (more…)
