<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Edisi 10/Sept 2008</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/tabloid-jejak/edisi-10sept-2008/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Obama, Islam, dan Terorisme</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/obama-islam-dan-terorisme</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/obama-islam-dan-terorisme#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 23:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1563</guid>
		<description><![CDATA[ 
EDITORIAL/September/2008

Sejak awal terjun dalam pertarungan merebut kursi nomor satu sebagai penguasa di negeri Paman Sam, Obama sudah di-setting untuk menang. Terbukti, di pemilihan awal pun, ia berhasil menyingkirkan pesaing beratnya yang sama-sama dari kubu Demokrat, Hillary Clinton. Kini, tinggal menghitung hari saja untuk bisa berduel dengan McCain, calon presiden dari kubu Republik, nanti di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>EDITORIAL/September/2008<br />
</strong></p>
<p>Sejak awal terjun dalam pertarungan merebut kursi nomor satu sebagai penguasa di negeri Paman Sam, Obama sudah di-<em>setting</em> untuk menang. Terbukti, di pemilihan awal pun, ia berhasil menyingkirkan pesaing beratnya yang sama-sama dari kubu Demokrat, Hillary Clinton. Kini, tinggal menghitung hari saja untuk bisa berduel dengan McCain, calon presiden dari kubu Republik, nanti di bulan November.</p>
<p>Lalu apa hubungan antara Obama, Islam dan Terorisme? Kaum Muslimin harus menyadari bahwa Obama akan menjadi calon presiden di negeri yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme secara total. Itu artinya, Obama tak mungkin bisa melepaskan diri dari kerangka berpikir dan kebijakan politik yang diemban Amerika Serikat selama ini. Itu logika sederhana. Sebabnya, Sekularisme-Kapitalisme tidak mungkin memberikan jalan kepada siapa pun yang di kemudian hari akan menghancurkan Sekularisme-Kapitalisme itu sendiri. Itu artinya, Obama dan orang-orang yang berada di belakangnya sebagai tim sukses pasti tetap menjadikan Islam dan terorisme sebagai bagian dari agenda politiknya.<span id="more-1563"></span></p>
<p>Meski Obama punya garis keturunan dari ayahnya yang muslim asal Kenya, tapi Obama menolak dihubung-hubungkan dengan Islam dan kaum Muslimin sebagai bagian dari mereka. Terorisme pun tetap menjadi agenda kebijakan politik pemerintah Amerika. Ini bisa dipahami karena Obama tidak sendirian mencalonkan diri. Tapi ada banyak kaki-tangan yang berusaha mendorong-bila tidak mau dikatakan menekan-agar Obama melakukan deal politik bila menang kelak. Terbukti, Obama menegaskan sikapnya untuk tetap memberikan &#8220;perlindungan&#8221; atau minimal &#8220;mengamini&#8221; keberadaan Israel di Palestina. Jelas, ini adalah upaya nyata sikap politik yang ditunjukkan Obama kepada dunia.</p>
<p>Bagi kita, kaum Muslimin, tak ada bedanya antara Obama dengan Bush Senior dan Bush Junior (dan seluruh presiden AS). Mereka sama-sama menjalankan politik kepentingannya sebagai negara adikuasa yang tak akan begitu saja tersentuh untuk membantu dunia bila tak ada &#8220;udang di balik batu&#8221;. Bahkan sebaliknya, pemerintah Amerika baik dari kubu Demokrat atau Republik tetap merasa menjadi <em>the globo cop</em>. Meski pada praktiknya, susah membedakan antara &#8220;pekerjaan&#8221; polisi atau penjahat. Sebab, pemerintah Amerika gemar menginvasi negara lain dengan alasan menegakkan HAM dan demokrasi jika kepentingannya diusik. Ironi.</p>
<p>Jadi, berharap banyak kepada Obama untuk melakukan perubahan politik ke arah yang lebih baik di Negeri Paman Sam adalah mimpi. Kecuali, jika Obama berani menegakkan Khilafah Islamiyah di sana. Tapi, apa mungkin? Bukan soal kemungkinan, tapi itu lebih tepat disebut khayalan! <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/obama-islam-dan-terorisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbok Mar</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mbok-mar</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mbok-mar#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 09:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1556</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/September/2008
By: Nafiisah FB

Malam telah menyambangi makhluk bumi yang sebagian telah terlelap dalam segala penat. Sebagian yang lain masih berjuang menaklukkan dingin untuk bisa tetap merasakan hidup.
Sunyi. Daerah padat penduduk itu tampak lengang. Hanya tampak beberapa rumah sederhana yang masih menyisakan cahaya. Rumah Mbok Mar salah satunya.
Di sudut ruang tamu yang merangkap kamar, jika ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">CERITA/September/2008</p>
<p align="left"><strong>By: Nafiisah FB</strong></p>
<p align="left">
<p align="left">Malam telah menyambangi makhluk bumi yang sebagian telah terlelap dalam segala penat. Sebagian yang lain masih berjuang menaklukkan dingin untuk bisa tetap merasakan hidup.</p>
<p>Sunyi. Daerah padat penduduk itu tampak lengang. Hanya tampak beberapa rumah sederhana yang masih menyisakan cahaya. Rumah Mbok Mar salah satunya.</p>
<p>Di sudut ruang tamu yang merangkap kamar, jika ada yang tidak enak hati untuk menyebutnya sebagai gudang, tampak wanita tua dengan uban yang telah merata di kepala duduk terpekur di dipannya. Dia? menjahit &#8230; menambal sebuah kain kusam. Dialah Mbok Mar.<span id="more-1556"></span></p>
<p>Malam yang semakin larut tidak membuat Mbok Mbar surut. Dua tangan keriputnya terus menelusurkan benang pada kain. Dua yang telah ditambal. Tinggal sehelai lagi yang terlihat agak baru, paling tidak jika dibandingkan dengan dua kain sebelumnya.</p>
<p>Sesekali ia memandang sebuah foto lusuh ukuran 3R yang ditempel seadanya di dinding bilik samping dipan. Sebuah foto Ka&#8217;bah dengan lautan manusia di sekelilingnya. Juragan Pintono yang memberikannya lima belas tahun yang lalu ketika Mbok Mar masih menjadi pembantu di rumah besar itu. Sesekali ia tampak menghela nafas, mengusir sebuah kegalauan.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p align="left">
<p align="left">&#8220;Mbok Mar, saya sama sekali nggak nyangka Mbok Mar bisa berbuat sejahat ini sama saya!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Tapi, bukan saya yang mengambilnya, Non. Sungguh!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Terus, siapa dong?! Yang biasa keluar-masuk kamar saya. Yang dipercaya pegang kunci duplikat rumah ini termasuk kamar ini, kan, Mbok Mar!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Non Intan, masa&#8217; Non tega menuduh Mbok seperti itu? Mbok kan sudah lama mengabdi kepada keluarga ini sejak Non Intan masih bayi. Mbok sudah menganggap Non Intan seperti cucu Mbok sendiri. Mbok sayang sama Non. Mbok tidak akan tega!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Jaman sekarang mana ada sih orang yang nggak ngiler ngeliat perhiasan emas berkilauan di depan matanya?!? Mbok kan bukan manusia suci. Udah deh Mbok! Mbok lebih baik ngaku aja. Mbok nggak akan dipecat. Paling gaji Mbok aja yang dikurangi.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Saya mau ngaku apa, Non? Saya tidak bersalah. Bukan saya yang mengambilnya.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Ah! Maling mana ada yang mau ngaku! Terserah Mbok! Jangan salahkan saya kalau nanti Papa mengeluarkan Mbok dari rumah ini!&#8221;</p>
<p align="left">Gadis muda yang dipanggil Intan itu berjalan keluar dengan amarah. Dia menarik pintu dari luar. Brak!</p>
<p align="left">Mbok Mar tergelagap. Jendela kayu yang terbanting angin membangunkannya dari sebuah ingatan masa lalu.</p>
<p align="left">&#8220;Astaghfirullah.&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar cepat menghampiri jendela dan menutupnya. Kain terakhir baru setengah jalan dijahit. Mbok Mar tidak menyelesaikannya. Dia merapikan kain-kain itu dan diletakkan di dalam sebuah lemari plastik yang telah berlubang sana-sini.</p>
<p align="left">Mbok Mar merebahkan badan. Ia pun terlelap dalam keheningan, dalam kegalauan.</p>
<p align="left">
<p align="center">oooOooo</p>
<p align="left">
<p align="left">Suara kokok ayam saling bersahutan. Suara adzan Subuh baru setengah jam lalu meredup dari pendengaran.</p>
<p align="left">Hari telah berganti. Suara-suara derap gerak anak manusia memperjuangkan nafasnya telah kembali.</p>
<p align="left">Tok! Tok!</p>
<p align="left">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum! Mbok Mar! Mbok!&#8221;</p>
<p align="left">Terdengar suara cempreng bocah laki-laki. Di dalam rumah Mbok Mar tampak masih menyelesaikan rakaat yang terakhir.</p>
<p align="left">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum! Mbok! Ini Surya!&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar turun perlahan dari dipan. Dia tanpa membuka mukena tergesa menuju pintu.</p>
<p align="left">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar membuka pintu. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahunan telah berdiri menantinya.</p>
<p align="left">&#8220;Wa&#8217;alaikum salam. Masuk, Sur.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Kok, lama banget sih Mbok?&#8221; protes Surya.</p>
<p align="left">&#8220;Maaf. Mbok telat bangun.&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar membuka mukenanya. &#8220;Kamu sudah sholat, Le?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Udah, dong, Mbok. Surya bisa bawa gorengannya sekarang? Surya takut nanti mbak-mbak di konveksi keburu masuk.&#8221;</p>
<p>Mbok Mar membetulkan <em>jarik-</em>nya sambil melihat ke arah jam dinding tua dan langsung menuju dapur. Surya mengikuti.</p>
<p>&#8220;Ini. Cuma singkong. Nggak apa-apa, ya, Sur. Maafin, Mbok. Insya Allah besok Mbok nggak telat lagi dan jualanmu bisa lengkap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak apa-apa, Mbok.&#8221;</p>
<p>Surya mengangkat tampah dengan puluhan potong singkong goreng di atasnya.</p>
<p>&#8220;Surya berangkat, Mbok. Assalamu&#8217;alaikum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hati-hati. Wa&#8217;alaikum salam.&#8221;</p>
<p>Mbok Mar mengantar Surya sampai pintu. Mata sendunya mengikuti langkah-langkah Surya sampai hilang di belokan gang. Ada doa yang dilantunkan dalam hati.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>Matahari semakin tinggi. Mbok Mar bersiap meninggalkan rumah. Dia meraih keranjang plastik hijau yang tergantung di bilik dapur.</p>
<p>Tok! Tok!</p>
<p>Mbok Mar membuka pintu dapur. Aroma pagi khas kompleks perumahan BSD alias Bantaran Sungai Damai semakin terasa.</p>
<p>&#8220;Eh, Tin. Ada apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbok, mau ke pasar kan?? Entin boleh <em>henteu </em>nitip jengkol?&#8221;</p>
<p>Entin, ibu muda berkulit sawo matang dan berkacamata tebal itu bertanya penuh harap.</p>
<p>&#8220;Nitip jengkol?&#8221;? tanya Mbok Mar memperjelas.</p>
<p>&#8220;Iya. Abahnya anak-anak minta dimasakin semur jengkol. Kangen katanya.&#8221;</p>
<p>Entin menurunkan bak cuciannya dan meraih kantung dasternya. Dia mengeluarkan selembar uang lima ribuan.</p>
<p>&#8220;Entin <em>teh henteu </em>sempet ke pasar. Cucian dua minggu numpuk, Mbok!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbok Mar! Tumben siang baru nongol?!&#8221; teriak seorang ibu yang sedang memandikan anaknya di pemandian umum.</p>
<p>&#8220;Iya, Mama Defri. Bangunnya telat!&#8221; sahut Mbok Mar.</p>
<p>&#8220;<em>Atos, </em>Mbok. Itu aja.&#8221;? Entin mengembalikan perhatian Mbok Mar kepada dirinya.</p>
<p>&#8220;Udah? Bener nggak nitip yang lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak. <em>Nuhun </em>ya Mbok.&#8221;</p>
<p>Mbok Mar mengangguk pelan.</p>
<p>Entin meninggalkan Mbok Mar, turun menuju pemandian umum. Mbok Mar menutup pintu dapur dan pergi. <strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><em>Catatan:</em></p>
<p><em>Henteu: tidak (bahasa Sunda)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mbok-mar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haruskah Obama?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 08:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1550</guid>
		<description><![CDATA[  INSPIRASI/September/2008 
Pesona Obama untuk sebuah Amerika Serikat nampaknya terlalu kecil. Seperti magnet raksasa, sosok Obama mengundang perhatian banyak orang di planet ini. Termasuk dari negeri antah berantah yang bernama Indonesia.
Ketika melacak berbagai tulisan tentangnya, saya menemukan sebuah situs lokal yang mencantumkan opini anak bangsa yang memuja Obama. Berat. Obama Membara, membara Obama, tulisnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--><strong>INSPIRASI/September/2008 </strong></p>
<p>Pesona Obama untuk sebuah Amerika Serikat nampaknya terlalu kecil. Seperti magnet raksasa, sosok Obama mengundang perhatian banyak orang di planet ini. Termasuk dari negeri antah berantah yang bernama Indonesia.</p>
<p>Ketika melacak berbagai tulisan tentangnya, saya menemukan sebuah situs lokal yang mencantumkan opini anak bangsa yang memuja Obama. Berat. <em>Obama Membara, membara Obama</em>, tulisnya. Sang penulis dengan fasih menuliskan masa kecil Obama, kecerdasannya, dan titian karirnya hingga berkutat untuk menjadi orang terkuat di negara adidaya. Semua penuh dengan tinta kekaguman. Anak muda tadi tidak sendiri. Di sebuah harian nasional saya membaca bahwa di tanah air telah terbentuk semacam ?fans club&#8217; untuk Obama. Sama seperti anak muda tadi, para fans Obama ini berharap agar pujaannya itu menjadi the next president di negeri Paman Sam.<span id="more-1550"></span> Ada beberapa alasan mengapa orang Indonesia begitu memuja Obama; <em>pertama</em>, sentimen kebangsaan. Ya, Obama kecil pernah tinggal di Indonesia. Ia adalah A-Men (anak Menteng). Meski bukan warga negara Indonesia, tapi setidaknya ia pernah ?jadi&#8217; orang Indonesia. <em>Kedua</em>, ia orang kulit hitam pertama yang mencalonkan diri dalam kancah perhelatan presiden sebuah negara yang memuja warga kulit putih. <em>Ketiga</em>, ia orang muda. Banyak orang berharap Obama tampil seperti Kennedy yang muda, keren, cerdas, dan berani. Anak muda memang diidentikkan dengan segala gelora perubahan. Sampai-sampai dalam sebuah dialog di televisi swasta, sebuah underbouw parpol Islam juga terbawa euforia semangat anak muda-nya Obama.  <em></em></p>
<p><em>Keempat</em>, banyak orang berharap tampilnya Obama yang muda, kulit hitam, punya masa lalu dekat dengan Islam, dari Partai Demokrat, bisa membawa perubahan di Amerika Serikat agar tidak seagresif Partai Republik yang penuh angkara murka peperangan seperti yang ditampilkan &#8220;dua Bush&#8221;.</p>
<p>Tapi, sedemikian pentingkah Obama bagi dunia? Benarkah Obama bisa mengubah segalanya bagi kita, khususnya dunia Islam?  Pembaca, marilah kita berpikir jernih. Sedemikian inferiorkah kita sebagai muslim sampai-sampai menggantungkan sosok kepahlawanan pada orang lain. Bahkan orang yang masa depannya sudah bisa diramalkan? Apakah tak ada tokoh muda Islam yang demikian <em>inspiring</em> bagi kita?</p>
<p>Perjuangan Obama bukanlah perjuangan sendirian. Ia tak akan bisa lepas dari kredo-kredo demokrasi ala partainya. Ketika McCain dari Partai Republik tetap meneruskan kebijakan anti-homoseksual di militer, Obama berpendapat sebaliknya. Ia mendukung homoseksualitas. Semua orang di Amerika tahu, bahwa Partai Republik jauh lebih ?religius&#8217; dibandingkan Partai Demokrat. Orang Republik anti aborsi dan homoseksual, sedangkan Demokrat di kutub sebaliknya.</p>
<p>Bicara agresivitas militer, Republik maupun Demokrat bak pinang dibelah dua. Hanya beda gaya tempurnya belaka. Bukankah Vietnam pun &#8216;dibakar&#8217; pemerintah Demokrat?</p>
<p>Apakah kita sudah kehabisan figur muda yang heroik, inspiring, dan pastinya Islami? Apakah nama Natsir muda, Bung Tomo, Diponegoro, Hasanuddin, tidak cukup besar untuk menggugah semangat perjuangan kaum muda di tanah air?</p>
<p>Euforia Obama di kepala anak bangsa, mengutip analisa Ibnu Khaldun adalah gambaran bangsa yang kalah. Mereka yang kalah selalu mengekor para pemenang. Anehnya, kita selalu merasa senang menjadi orang yang kalah. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama, Pembela Sekulerisme Sejati</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati-2#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 01:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1561</guid>
		<description><![CDATA[  
FRESH!/September/2008

Suksesi orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) segera terjadi. Salah satu kandidat kuat yang digadang-gadang akan membawa angin perubahan adalah Barack Obama. Khususnya bagi kaum muslim, Obama disinyalir lebih menjanjikan perdamaian dibanding pemimpin-pemimpin AS sebelumnya. Alasannya, Obama punya latar belakang kehidupan Islam, yakni saat menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Benarkah Obama adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>FRESH!/September/2008<br />
</strong></p>
<p>Suksesi orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) segera terjadi. Salah satu kandidat kuat yang digadang-gadang akan membawa angin perubahan adalah Barack Obama. Khususnya bagi kaum muslim, Obama disinyalir lebih menjanjikan perdamaian dibanding pemimpin-pemimpin AS sebelumnya. Alasannya, Obama punya latar belakang kehidupan Islam, yakni saat menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Benarkah Obama adalah harapan?</p>
<p>Sebagai negara nomor satu di dunia, AS akan istiqomah pada <em>fikrah</em> (pemikiran) dan <em>thariqah</em> (cara mewujudkan fikrah)-nya sebagai pengemban terdepan ideologi sekularisme-kapitalisme. Dan, pasca runtuhnya Uni Sovyet sebagai pengemban utama ideologi komunisme, maka musuh utama ideologi sekular adalah ideologi Islam. Jelas, ideologi sekular tidak akan pernah berbaik hati pada ideologi Islam. Sebab sudah menjadi sebuah sifat hakiki bahwa ideologi akan saling memangsa.<span id="more-1561"></span></p>
<p>Dengan demikian, siapapun pemimpin AS, bisa dipastikan tidak akan keluar dari upaya untuk mengatur dunia dengan ide-ide kebebasannya, sebagai konsekuensi dari pemisahan agama dari kehidupan. Seperti gagasan pasar bebas, demokrasi, HAM, hedonisme, permisivisme, seks bebas, dll.</p>
<p>Khittah AS tidak akan pernah berubah sebagai negeri penjajah. Yang membedakan antara pemimpin AS hanyalah <em>style</em> alias gaya kepemimpinannya saja. Di masa Bush senior, kebijakan AS cenderung represif, yang kemudian diteruskan oleh Bush junior. Kedua pemimpin itu cenderung menciptakan konflik-konflik dan memaksakan kehendaknya atas dunia melalui jalan kekerasan. Seperti men-<em>support</em> penuh serangan Israel terhadap Palestina dan Lebanon. Juga, menyerukan perang melawan terorisme (baca: Islam) dan memaksakan negara-negara di dunia mengadopsi kebijakan ini. Dan terakhir menjajah Irak.</p>
<p>Di masa Clinton, kebijakannya memang cenderung lunak. Clinton lebih memilih cara-cara kerjasama dengan negara-negara lain untuk mencapai tujuannya.</p>
<p>Namun, bagaimanapun gaya kepemimpinan mereka, semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama: mengeksiskan ideologi sekuler-kapitalis dan mengeliminasi ideologi Islam.</p>
<p>Jadi, mengharap Obama akan lebih pro-Islam, ibarat menggantang asap. Indikasi ke arah itu pun cukup kuat. Dalam berbagai kesempatan, Obama selalu berkelit jika dikait-kaitkan dengan Islam. Beredarnya foto masa kecil Obama yang mengenakan sarung, membuatnya kebakaran jenggot. Lalu tim sukses Obama berusaha &#8216;menyingkirkan&#8217; dua muslimah agar tak terkena jepretan kamera pada kampanyenya di Detroit, AS, Kamis (19/6/08), di mana Al Gore memberikan dukungan kepada Obama. Bahkan tim itu meminta muslimah itu untuk menanggalkan jilbabnya, jika ia ingin berada di tempat duduk spesial.</p>
<p>Obama juga terang-terangan bersekutu dengan Israel. Dalam berbagai kesempatan dia selalu menegaskan dukungannya pada Zionis. Jelaslah, tidak ada gunanya berharap banyak -bahkan sedikit&#8211; pada Obama.</p>
<p>Bahkan sebaliknya, umat Islam harus lebih khawatir bila Obama menang. Sebab, dia akan semakin represif untuk menunjukkan pada dunia, khususnya para konstituennya yang anti-Islam, bahwa dia benar-benar pembela sekulerisme sejati. Waspadalah! <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
