<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Tabloid JEJAK</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/tabloid-jejak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ironi Pencegahan HIV/AIDS</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 18:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 01/Des 2007]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Des/2007
Akibat Intim Dengan Sejenis alias AIDS. Istilah itu dulu begitu populer dan menjadi horor bagi masyarakat dunia. Maklum, penyakit yang menggerogoti sistem imun tubuh itu pertama-tama ditemukan pada pelaku homoseksual. Penyakit mematikan itu belum ditemukan obatnya hingga kini. Tak heran, kampanye pencegahan HIV/AIDS terus digencarkan.
Apalagi, kini penularan HIV/AIDS tak sekadar akibat hubungan intim dengan sejenis, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Des/2007</strong><br />
Akibat Intim Dengan Sejenis alias AIDS. Istilah itu dulu begitu populer dan menjadi horor bagi masyarakat dunia. Maklum, penyakit yang menggerogoti sistem imun tubuh itu pertama-tama ditemukan pada pelaku homoseksual. Penyakit mematikan itu belum ditemukan obatnya hingga kini. Tak heran, kampanye pencegahan HIV/AIDS terus digencarkan.</p>
<p>Apalagi, kini penularan HIV/AIDS tak sekadar akibat hubungan intim dengan sejenis, melainkan sudah mendera &#8220;orang-orang tak berdosa&#8221;. Seperti istri/suami oleh pasangan sahnya atau bayi oleh ibunya. Makanya, salah satu isu kampanye pencegahan HIV/AIDS adalah penghapusan berbagai bentuk diskriminasi perlakuan terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Propaganda ini bertujuan untuk menghilangkan stigma negatif bahwa ODHA pasti para pelaku maksiat.<span id="more-907"></span></p>
<p>Atas dasar ini, maka para ODHA hendaknya diperlakukan sama sebagai manusia. Harus dirangkul, jangan dikucilkan dan masyarakat kudu berbaur dengan mereka. Bahkan, rumah sakit-rumah sakit yang kedatangan para pasien ODHA tak boleh lagi memisahkan ruang perawatannya dengan pasien penyakit umum lainnya.</p>
<p>Di sinilah ironinya. Maunya mencegah penularan HIV/AIDS, tapi malah membuka peluang terjadinya penularan HIV/AIDS secara cepat. Sudah jelas ini penyakit menular, kok malah disuruh berinteraksi dengan mereka. Sudah jelas ini penyakit mematikan, kok malah tidak dikarantina. Memang, berinteraksi ?dengan ODHA sekadar salaman bisa jadi tak sampai menularkan virus HIV. Sebab penularan<br />
HIV yang paling efektif adalah melalui hubungan seks atau jarum suntik yang terinveksi virus HIV. Tapi, apakah ada jaminan 100 persen aman bila pasien HIV/AIDS berbaur dengan pasien penyakit lain atau orang sehat?</p>
<p>Bandingkan dengan pasien flu burung yang diisolasi sedemikian rupa. Bahkan ketika sudah meninggal dunia, semua pengantar jenazahnya wajib memakai masker. Padahal, penularan antarmanusia belum terbukti, kecuali penularan dari ayam yang terinveksi virus H5N1 kepada manusia. Tapi, untuk kasus flu burung, mengapa tak disebut sebagai bentuk perlakuan diskriminasi? ?Mungkin juga benar, tak semua ODHA pelaku maksiat. Namun, toh mereka terinveksi virus HIV dari orang-orang yang dahulu juga pelaku maksiat. Seperti istri/suami dari pasangan yang mantan pecandu narkoba atau pasangan yang dulu suka gonta-ganti pasangan, dll.</p>
<p>Jadi, kalau ditelusuri, maka perilaku maksiat yang melanggar tatanan Allah Swt itulah yang menjadi sumber munculnya HIV/AIDS. Karena itu, tinggalkan kemaksiatan! Dan bagi ODHA, sudah selayaknya sebagai wabah mematikan, mereka dikarantina. Tentu tetap dengan diberikan hak-hak hidupnya secara layak. Demikianlah solusi Islam.<strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Great Mother For A Great Leader</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 10:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 01/Des 2007]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mother]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader/</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/Des/2007
Abdullah bin Zubair adalah sosok yang telah menjadi pahlawan dalam pembebasan Afrika, Andalusia, dan Konstantinopel dalam usianya yang belum menginjak 17 tahun. Satu kali Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah saw. pernah ditanya tentang Abdullah bin Zubair. Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ia adalah pembaca Kitabullah dan pengikut sunnah RasulNya, tekun beribadah kepadaNya dan shaum di siang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FRESH!/Des/2007</strong><br />
Abdullah bin Zubair adalah sosok yang telah menjadi pahlawan dalam pembebasan Afrika, Andalusia, dan Konstantinopel dalam usianya yang belum menginjak 17 tahun. Satu kali Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah saw. pernah ditanya tentang Abdullah bin Zubair. Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ia adalah pembaca Kitabullah dan pengikut sunnah RasulNya, tekun beribadah kepadaNya dan shaum di siang hari karena takut kepadaNya. Dialah putera dari seorang pembela Rasulullah, dan ibunya adalah Asma&#8217; puteri Abu Bakar ash-Shiddiq&#8230;&#8221;</p>
<p>Setelah Yazid bin Mua&#8217;wiyah bin Abu Sufyan meninggal dunia, Abdullah diangkat menjadi khalifah oleh sebagian besar negeri-negeri seperti Hijaz, Yaman, Irak, dan Khurasan. Abdullah bin Zubair menjabat sebagai khalifah selama sembilan tahun di Hijaj sampai kekuasaannya ditumbangkan oleh ?keserakahan&#8217; bani Umayyah.<span id="more-900"></span></p>
<p>Itulah Abdullah bin Zubair, salah seorang sahabat Rasulullah saw, salah seorang khalifah yang begitu cinta kepada rakyatnya, jujur, sederhana, teguh kepada al-Quran dan sunnah, dan tegas dalam menyirnakan kebatilan.</p>
<p>Sosok Abdullah bin Zubair yang agung dan mulia tidak lepas dari sosok Asma&#8217; binti Abu Bakar ash-Shiddiq, ibundanya. Dia termasuk dalam barisan wanita yang pertama masuk Islam. Perjuangannya dalam kancah pergolakan Islam di masa permulaan perkembangannya tidak diragukan lagi. Dialah yang senantiasa mengirim makanan untuk Rasulullah dan ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq ketika beliau bersembunyi selama tiga hari tiga malam di gua Tsur dari kejaran kaum musyrik Makkah yang ingin membunuh beliau.</p>
<p>Sosok-sosok pemimpin seperti Abdullah bin Zubair, atau Umar bin Abdul Aziz di era selanjutnya adalah sosok pemimpin dambaan. Keteguhan mereka kepada kitabullah dan sunnah Rasululllah saw., sikap mereka yang mendahulukan kepentingan rakyat dan bersahaja dalam kehidupan diri mereka sendiri, jujur, dan adil merupakan contoh abadi bagi umat yang hidup di masa setelahnya.</p>
<p>Di tengah carut-marut kehidupan, dalam ketidakadilan yang semakin menyebar, umat saat ini sangat merindukan hadirnya kembali pemimpin-pemimpin seperti itu. Adakah pemimpin-pemimpin itu saat ini, nanti?</p>
<p>Kisah Abdullah bin Zubair di atas menjadi salah satu pelajaran berharga dari sekian banyak kisah lainnya, bagaimana sosok wanita bernama ibunda menjadi sosok penting dalam mencetak seorang pemimpin.</p>
<p>Pemimpin dengan kualitas prima: teguh menegakkan hukum Allah, adil, jujur, amanah, rela berkorban, dan bersahaja, tidak bisa lahir secara instan. Ada proses panjang yang mesti dilalui. Ada usaha yang mesti ditempuh, dan itu semua dimulai dari seorang ibu.</p>
<p><strong>A great mother: siapa dia?</strong></p>
<p><em>A great mother</em> (ibu yang luar biasa) itu, pertama, ia wajib memiliki kepribadian Islam. Yaitu menjadikan akidah sebagai standar dalam berfikir dan berbuat. Akidah yang lurus adalah Islam. Islamlah yang senantiasa dijadikan ukuran halal atau haramnya sesuatu untuk dikerjakan atau ditinggalkan. Kedua, cerdas. Adalah seorang ibu yang memiliki tsaqafah Islam dan berpengetahuan yang luas, sehingga mampu menjadi tempat bertanya dan <em>curhat</em> yang komplit bagi anak-anaknya dan lingkungannya. Ketiga, peduli. Fitrahnya hidup manusia itu adalah saling memberi dan saling menerima. Manusia butuh terhadap manusia lainnya. Di situlah letak kepedulian, dan kepedulian yang sejati adalah bentuk kepedulian seorang muslim kepada nasib saudaranya yang lain, mulai dari lingkungan terkecil, hingga mereka yang di belahan dunia yang lain.</p>
<p><strong>How to be a great mother?</strong></p>
<p>Untuk menjadi ibu yang istimewa, ada beberapa yang secara teknis bisa dilakukan. Pertama, thalabul ?ilmi (belajar). Proses belajar dan menuntut ilmu tidak hanya sebatas di jalur formal, di sekolah, harus dilakukan sepanjang hayat dikandung badan, dan harus seimbang antara Islam dan pengetahuan.</p>
<p>Kedua, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki keinginan dan visi yang sama, supaya semangat terus bisa dipelihara.</p>
<p>Nah, menjadi sosok ibunda yang berkualitas tentu bukan pekerjaan mudah. Prosesnya pun tidak singkat. Seorang Asma&#8217; binti Abu Bakar, seorang Fathimah binti Muhammad, Ummu Ashim, dan para &#8220;ibunda peradaban&#8221; lainnya memulai proses itu ketika mereka masih berada di tengah orangtua mereka dan terus berlangsung setelah mereka menikah dan membesarkan sang buah hati. Jika mereka bisa, maka ibunda kini dan nanti pun bisa. Tentu, lahirnya sosok pemimpin agung nan mulia itu akhirnya akan hadir kembali memimpin dunia dengan syariahNya. <em>Wallahu a&#8217;lam bish showab.</em> <strong>[nafisah]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa di Balik KB?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 05:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 01/Des 2007]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb/</guid>
		<description><![CDATA[VOI CORNER/Des/2007
Diasuh oleh Ustzh. Ir. Lathifah Musa
Ada Apa di Balik KB? 
Rubrik ini mengangkat topik menarik yang ditanyakan oleh pendengar Voice of Islam. Kami hadirkan ke hadapan pembaca, semoga bermanfaat.
Ass. wr. wb. Saya ingin tanya bagaimana hukum KB dalam Islam. Apakah dibolehkan? Mengingat pemerintah kita sangat gencar dengan program KB. Alasannya supaya bisa membangun masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>VOI CORNER/Des/2007</strong></p>
<p><strong></strong><strong>Diasuh oleh Ustzh. Ir. Lathifah Musa</strong></p>
<p align="center"><strong>Ada Apa di Balik KB? </strong></p>
<p><strong><em>Rubrik ini mengangkat topik menarik yang ditanyakan oleh pendengar Voice of Islam. Kami hadirkan ke hadapan pembaca, semoga bermanfaat.</em></strong></p>
<p><em>Ass. wr. wb. Saya ingin tanya bagaimana hukum KB dalam Islam. Apakah dibolehkan? Mengingat pemerintah kita sangat gencar dengan program KB. Alasannya supaya bisa membangun masyarakat yang berkualitas. Kalo boleh apa alasannya dan kalau tidak apa alasannya. Terima kasih. </em><strong>(Mursyidah di Sabang NAD)</strong><span id="more-898"></span></p>
<p>Kalau dari sisi menunda kehamilan, atau membuat agar tidak terjadi kehamilan, hukumnya boleh saja. Hal ini berdasarkan Hadits Rasulullah yang membolehkan azl (senggama terputus). Azl adalah upaya menumpahkan cairan sperma di luar rahim istri agar tidak terjadi kehamilan. Banyak hadits-hadits shahih yang terkait dengan azl.? Salah satunya dari Jabir ra yang berkata: <em>&#8221; Sesungguhnya seorang laki-laki pernah menjumpai Rasulullah saw seraya berkata: ?Sebetulnya saya mempunyai seorang jariyah (budak wanita). Ia adalah pelayan kami sekaligus tukang menyiram kebun kurma kami. Saya sering menggaulinya, tetapi saya tidak suka? jika ia sampai hamil.&#8217; Mendengar itu Nabi saw kemudian bersabda, jika engkau mau, lakukanlah azl terhadapnya, karena sesungguhnya akan sampai juga pada wanita itu apa yang memang telah ditakdirkan Allah baginya</em>.&#8221; ?(<strong>HR Ahmad, Muslim dan Abi Dawud</strong>).</p>
<p>Berdasarkan kebolehan azl ini, dibolehkan cara-cara baru untuk menunda kelahiran, dalam batas yang tidak melanggar hukum syariat.</p>
<p>Mengenai alat kontrasepsi, jika sebatas mencegah pembuahan atau menghindari pertemuan sel telur dan sperma seperti, <strong>kondom</strong> dan <strong>IUD</strong> (spiral) ?maka boleh saja. Demikian pula <strong>KB suntik</strong>, <strong>pil</strong> dan <strong>susuk</strong> yang berfungsi mengatur kerja hormon, juga dibolehkan selama tidak membawa dampak buruk pada pengguna. Karena kadang ada yang alergi dengan alat kontrasepsi ini. Adapun penggunaan KB seperti? <strong>tubektomi</strong> atau <strong>vasektomi</strong> dipandang sebagai upaya menghentikan kehamilan secara permanen. Jadi sama dengan pengebirian. Ini yang tidak boleh dilakukan, karena bisa memutus keturunan.</p>
<p>Namun yang harus diwaspadai dari program KB ini adalah satu bukti yang terungkap melalui media massa yang ini berasal dari dokumen rahasia Pemerintah AS di bulan Mei 1991. Pemerintah AS dalam dokumen tersebut menyatakan kekhawatirannya terhadap pertambahan penduduk Dunia Ketiga yang dianggap sebagai ancaman bagi <strong>AS</strong>. Salah satu dokumen tersebut adalah instruksi Presiden AS No. 314 tertanggal 26 November 1985 yang ditujukan kepada beberapa lembaga khusus agar segera menekan negeri-negeri tertentu untuk mengurangi pertambahan penduduk. Di antara negeri-negeri tersebut adalah India, Mesir, Pakistan, Turki, Nigeria, Indonesia, Irak, dan Palestina. Seluruh negeri ini mayoritas berpenduduk muslim. Dokumen tersebut juga menjelaskan sarana-sarana apa yang dapat digunakan secara bergantian untuk merealisasikan tujuan di atas. Sarana bisa dimulai dengan&#8217;pembatasan kelahiran&#8217;, melalui program KB dengan memberikan keyakinan (baca: paksaan) terhadap program-program pembatasan kelahiran dan pemberlakuan kehidupan &#8217;seks bebas&#8217; yang tidak berisiko melahirkan keturunan. Akhirnya, bergulirlah proyek <strong>legalisasi aborsi</strong>, <strong>kondomisasi</strong>, <strong>kontrasepsi dini pada remaja putri</strong> dll.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Logika-Logika Kacau</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/logika-logika-kacau</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/logika-logika-kacau#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 00:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 11/Okt 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1571</guid>
		<description><![CDATA[  
INSPIRASI/Oktober/2008
Ketika brahim muda bertanya kepada ayahnya, Azar, mengapa kaumnya menyembah berhala sedangkan berhala adalah ciptaan ayahnya, dan mengapa tidak menyembah saja ayah, Azar yang tidak bisa menjawab menjadi sangat marah. &#8220;Mereka menjawab: &#8220;Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya&#8221;.(TQS al-Anbiya [21]: 53)
Ketika Ibrahim berdebat dengan Namrudz, raja otoriter yang musyrik, mengapa Namrudz tidak bertanya saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>INSPIRASI/Oktober/2008</strong></p>
<p>Ketika brahim muda bertanya kepada ayahnya, Azar, mengapa kaumnya menyembah berhala sedangkan berhala adalah ciptaan ayahnya, dan mengapa tidak menyembah saja ayah, Azar yang tidak bisa menjawab menjadi sangat marah. <em>&#8220;Mereka menjawab: &#8220;Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya&#8221;</em>.<strong>(TQS al-Anbiya [21]: 53)</strong></p>
<p>Ketika Ibrahim berdebat dengan Namrudz, raja otoriter yang musyrik, mengapa Namrudz tidak bertanya saja kepada berhala terbesar siapa yang menghancurkan berhala-berhala lain, Namrudz pun marah. <em>&#8220;Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara&#8221;. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: &#8220;Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)&#8221;</em>, <strong>(TQS al-Anbiya [21]: 63-64)</strong><span id="more-1571"></span></p>
<p>Pembaca budiman, masyarakat kita memang gemar mengembangkan cara berpikir yang kacau. Entah dengan alasan iseng atau mencari legitimasi atas perbuatan konyol yang mereka kerjakan. Ketika Ryan, seorang gay melakukan pembunuhan berantai yang menelan 12 jiwa, muncullah pembelaan terhadap pengikut kaum Sodom ini. Bahwa gay tidaklah identik dengan kekerasan sampai pernyataan bahwa gay bukanlah penyimpangan tapi <em>lifestyle</em>.</p>
<p>Ketika banyak elemen umat Islam menyerukan kewajiban menegakkan syariat Islam, muncul penentangan. Alasan trans-nasional, tak sesuai budaya bangsa, tak toleran pada pluralisme/kemajemukan, dsb. mengemuka.</p>
<p>Semua logika itu padahal absurd. Kacau. Jika gay dan lesbian harus diterima karena itu adalah lifestyle, apakah kemudian <em>sadomachocism</em>, kumpul kebo, konsumsi narkoba, kelak akan diterima juga, karena semuanya lifestyle. Bukankah banyak negara mengesahkan narkoba karena tuntutan masyarakat? Bisa jadi korupsi yang menurut Bung Hatta sudah menjadi budaya dan berurat berakar boleh jadi akan dilegalkan. Misalnya, korupsi boleh asal bagi-bagi atau di bawah sekian 1 miliar. Jika iya, maka siap-siaplah bangsa ini lebih menderita lagi.</p>
<p>Alasan penolakan syariat Islam dan Khilafah Islamiyah, dengan alasan itu ideologi trans-nasional juga mengada-ada. Islam memang bukan berasal dari negeri ini, tapi datang dari ?langit&#8217; (agama samawi). Dan bukan hanya Islam yang trans-nasional, tapi semua agama yang kini eksis di tanah air juga ?produk&#8217; impor; Hindu, Budha, Kristen, Kong Ho Cu. Yang asli hanyalah animisme dan dinamisme, seperti kejawen atau kesundaan. Jangan lupa, demokrasi juga berasal dari Yunani, yang asli adalah kerajaan dan kesultanan.</p>
<p>Lagipula, kalau memang menolak ajaran trans-nasional, bisa-bisa arah kiblat bukan lagi ke Kabah &#8211; karena berada di luar negeri &#8211; tapi ke tugu Monas atau ke Laut Selatan. Haji pun bukan ke Tanah Suci, tapi Tanah Lot atau Sangir Talaud.</p>
<p>Tapi begitulah, meski banyak logika dan hukum yang jelas, lebih banyak orang senang dengan logika yang tak logis. Inilah bangsa yang sudah kehilangan akal sehat dan mental yang bersih. Alih-alih mencari kebenaran, mereka lebih suka membuangnya. Kasihan, memang <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/logika-logika-kacau/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Militer Penjaga Syariat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/militer-penjaga-syariat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/militer-penjaga-syariat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 23:12:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 11/Okt 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1567</guid>
		<description><![CDATA[  
FRESH!/Oktober/2008

Posisi militer di negeri-negeri kaum muslimin saat ini adalah sebagai penjaga kekuatan kufur dan melestarikannya. Ibaratnya, militer di negeri-negeri Islam tak ubahnya sebagai ?anjing penjaga&#8217; demokrasi dan kapitalisme yang kini diterapkan di hampir seluruh negara. Meski jumlah pasukan di negeri-negeri muslim sangat besar dan banyak, tapi para tentara ini tidak sedang menjalankan tugas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>FRESH!/Oktober/2008<br />
</strong></p>
<p>Posisi militer di negeri-negeri kaum muslimin saat ini adalah sebagai penjaga kekuatan kufur dan melestarikannya. Ibaratnya, militer di negeri-negeri Islam tak ubahnya sebagai ?anjing penjaga&#8217; demokrasi dan kapitalisme yang kini diterapkan di hampir seluruh negara. Meski jumlah pasukan di negeri-negeri muslim sangat besar dan banyak, tapi para tentara ini tidak sedang menjalankan tugas mulianya sebagai penjaga syariat Islam. Tapi sebagai ?penghambat&#8217; tegaknya syariat Islam. Sungguh sebuah ironi.</p>
<p>Kepedihan kita kian dalam saat mengetahui bahwa para tentara di negeri-negeri Islam justru bermusuhan dengan kaum muslimin yang hendak memperjuangkan kembalinya Islam sebagai ideologi. Lihatlah, betapa beringasnya tentara-tentara Uzbekistan di bawah komando Islam Karimov sebagai pemimpin negeri itu dalam mengejar, mengusir, memenjarakan, dan bahkan membunuh banyak kaum muslimin yang berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah. Padahal, banyak dari tentara itu adalah muslim juga. Para tentara Turki juga tak beda sikap, demi menerapkan sekularisme warisan Mustafa Kamal, para tentara ini justru gemar dan aktif merazia para muslimah Turki yang kedapatan mengenakan busana muslimah di luar rumah. Perih. Bukan syariat Islam yang dijaga dan diperjuangkan, tapi justru kekufuran yang dibela habis-habisan. Musibah.<span id="more-1567"></span></p>
<p><strong>Peran militer di masa awal penyebaran Islam</strong></p>
<p>Untuk menjaga keberlangsungan syariat Islam, dan demi menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia, Rasulullah saw. melakukan ekspedisi militer untuk menyampaikan pesan kepada kekuatan-kekuatan di luar Islam saat itu bahwa Islam siap berhadapan secara fisik dengan para penghalang dakwah itu jika mereka melakukan perlawan terhadap dakwah Islam.</p>
<p>Adakalanya upaya ?show of force&#8217; justru diperlukan untuk membuat gentar musuh yang memang ?bandel&#8217; dan selalu nyari celah untuk menghancurkan Islam. Seperti kafir Quraisy, adalah ganjalan utama dalam upaya Rasulullah saw. untuk menyebarkan Islam ke luar Madinah. Maka, untuk menghancurkan halangan-halangan secara fisik inilah Rasulullah saw. mengirimkan beberapa ekspedisi militer untuk menggentarkan kekuatan musuh.</p>
<p>Ekspedisi militer pertama dikirim oleh Rasulullah saw. adalah di bawah pimpinan Ubadah bin al-Harits bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushai bersama-sama dengan 60 atau 80 orang pasukan kaum Muhajirin. Beliau saw. nggak menyertakan satu pun dari kaum Anshar. Ubadah bin al-Harits bersama pasukannya pergi keluar Madinah hingga tiba di mata air Hijaz di bawah Tsaniyatul Marah. Di sana pasukan Islam bertemu dengan pasukan kafir Quraisy pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal, tapi tak terjadi pertempuran.</p>
<p>Pada waktu yang hampir bersamaan Rasulullah saw. juga mengirim pasukan kaum Muslimin di bawah pimpinan Hamzah bin Abdul Muthalib ke tepi pantai laut Merah, di kawasan ini mereka bertemu dengan pasukan Quraisy pimpinan Abu Jahal. Tak terjadi peperangan. Menurut Dr Muhammad Rawwas al-Qal&#8217;ahji (<em>Qira&#8217;atun Siyasiyah li as-Sirati an-Nabawiyah, </em>hlm. 123), ekspedisi militer ke daerah pantai laut Merah oleh Rasulullah saw., adalah untuk mengganggu jalur perdagangan kaum Quraisy Makkah ke arah Syam, yang melalui jalur pantai laut Merah, sekaligus untuk memporak-porandakan barisan mereka. Dan, masih banyak lagi ekspedisi militer yang dilakukan sebagai upaya menggentarkan kekuatan musuh Islam, terutama kafir Quraisy.</p>
<p>Menghadapi kekuatan militer kafir Quraisy di Perang Badar, Rasulullah saw. dan kaum muslimin hanya mengerahkan kekuatan &#8220;seadanya&#8221;. Namun demi meninggikan kalimat Allah, demi tetap tegaknya syariat Islam, pertempuran yang secara kekuatan materi tidak seimbang itu tetap dilaksanakan. Menurut Ibnu Hisyam, perang ini merupakan kemenangan perdana yang menentukan posisi kekuatan kaum muslimin dalam menghadapi kekuatan kaum musyrikin. Pada pertempuran di bulan Ramadhan ini, 313 tentara kaum muslimin berhasil menghajar telak dan melibas 1000 pasukan kaum kafir Quraisy. Tragisnya, Abu Jahal bin Hisyam al-Makhzumi dan Abu Lahab al-al-Hasyimi, tewas mengenaskan.</p>
<p>Islam mengajarkan bahwa dakwah dan jihad adalah bagian dari metode untuk menyebarkan Islam. Jihad adalah jalan terakhir yang dilakukan Daulah Khilafah ketika penghalang-penghalang dakwah melakukan perlawanan secara fisik bahkan berupaya menghancurkan dakwah. Ini membuktikan bahwa dalam Islam, semua upaya penjagaan terhadap keberlangsungan syariat menjadi tanggung jawab yang utama dan besar. Bukan hanya dibutuhkan para pengemban dakwah yang handal, tapi juga melatih kaum muslimin untuk menjadi pejuang pembela kebenaran di garis depan sebagai anggota pasukan yang mumpuni dalam pertempuran sebagai bagian dari upaya menjaga dan menyebarkan syariat Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga masa kegemilangan Islam kembali kita raih dalam waktu yang tak lama lagi sehingga bisa mengobati kerinduan kita untuk menyaksikan gagah beraninya pasukan Islam membela kehormatan kaum muslimin dan menjadi penjaga tegaknya syariat Islam di muka bumi ini. <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/militer-penjaga-syariat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satukan Kekuatan!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/satukan-kekuatan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/satukan-kekuatan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 22:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 11/Okt 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1569</guid>
		<description><![CDATA[  
EDITORIAL/Oktober/2008
Berapa banyak tentara kaum muslimin di dunia? Anda pernah berpikir tentang jumlah kekuatan militer kaum muslimin? Untuk Indonesia saja, tahun 2002 tercatat ada 302.000 personel. Jika jumlah tentara di negeri-negeri kaum Muslimin di kawasan Timur Tengah digabung, maka jumlah itu akan melumat Israel yang menjajah Palestina. Jumlah tentara Israel hanya 167.200 (tahun 2002). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>EDITORIAL/Oktober/2008</strong></p>
<p>Berapa banyak tentara kaum muslimin di dunia? Anda pernah berpikir tentang jumlah kekuatan militer kaum muslimin? Untuk Indonesia saja, tahun 2002 tercatat ada 302.000 personel. Jika jumlah tentara di negeri-negeri kaum Muslimin di kawasan Timur Tengah digabung, maka jumlah itu akan melumat Israel yang menjajah Palestina. Jumlah tentara Israel hanya 167.200 (tahun 2002). Sementara pada tahun yang sama, jumlah gabungan tentara negeri-negeri Islam di kawasan yang ?melingkari&#8217; Israel adalah 2.525.450 personel (dengan rincian: Iran: 540.000; Iraq: 389.000; Kuwait: 15.500; Lebanon: 72.100; Yordania: 100.500; Mesir: 450.000, Saudi Arabia: 124.500; Turki: 514.850, Syiria: 319.000. Subhanallah, kekuatan militer yang sangat besar. Tapi tragisnya, para tentara itu tidak dikerahkan untuk menghancurkan kezaliman dan kebiadaban yang diperagakan Israel sejak 1948 silam hingga kini. Para pemimpin negeri-negeri Islam lebih memilih diam sambil ?menikmati&#8217; penderitaan rakyat Palestina. Pikiran dan perasaan mereka lebih mengikuti jejak setan untuk tunduk kepada tekanan Amerika dan sekutunya dalam melindungi Israel. Menyedihkan.<span id="more-1569"></span></p>
<p>Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu&#8217;tashim Billah. Kepala Negara Daulah Khilafah Islamiyah ini mengerahkan ratusan ribu tentaranya ke Amuria-perbatasan antara Suria dan Turki-?hanya&#8217; untuk membela kehormatan seorang muslimah yang dinodai oleh seorang pejabat kota tersebut (waktu itu masuk dalam wilayah kekaisaran Romawi). Kemudian menaklukan kota itu dan menjadi wilayah Islam. Al-Mu&#8217;tashim begitu peka saat mendengar jeritan muslimah di kota itu: <em>Wa Islama wa mu&#8217;tashima!, &#8220;Di mana Islam dan di mana Khalifah Mu&#8217;tashim?&#8221;. </em>Kita rindu penguasa muslim yang peduli dan berani mengumandangkan jihad fi sabilillah dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan membela kaum muslimin yang tertindas.</p>
<p>Jumlah kita besar, kekuatan militer kita dahsyat, seharusnya kaum muslimin menjadi umat yang kuat dan digdaya. Tapi, besarnya jumlah dan kekuatan militer tak akan ada artinya jika tak bersatu dalam komando pemimpin yang bisa menyatukan seluruh kekuatan Islam tersebut. Masih ada harapan untuk menyatukan kekuatan-kekuatan tersebut asal kaum muslimin mau berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah.</p>
<p>Itu sebabnya, kaum muslimin wajib mencampakkan nasionalisme. Sebab ide ini adalah racun mematikan dalam melemahkan kekuatan besar yang dimiliki kaum muslimin di seluruh dunia. Padahal secara akidah kita bersatu, shalat pun menyembah Tuhan yang sama, kitab suci yang sama, yakni al-Quran, tapi mengapa kita terpecah gara-gara batas negara? Ironi memang. <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/satukan-kekuatan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbok Mar [2]</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mbok-mar-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mbok-mar-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 18:09:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 11/Okt 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1565</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/Oktober/2008
By: Nafiisah FB
Pasar penuh sesak.? Mbok Mar terseok menjinjing keranjang hijaunya yang telah penuh dengan bahan untuk membuat penganan gorengan. Suara riuh-rendah orang-orang yang bertransaksi menambah kepenatan.
Di sebuah warung nasi uduk Mbok Mar berhenti. Keranjang hijau segera dilepaskan dari tangan.
&#8220;Mbok? Minum teh?&#8221;? Seorang wanita muda berkerudung menghampiri Mbok Mar.
&#8220;Iya, ?Nduk.&#8221;
&#8220;Mbak Ajeng, nasi uduknya. Komplit, ya,&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/Oktober/2008</strong></p>
<p align="left"><strong>By: Nafiisah FB</strong></p>
<p>Pasar penuh sesak.? Mbok Mar terseok menjinjing keranjang hijaunya yang telah penuh dengan bahan untuk membuat penganan gorengan. Suara riuh-rendah orang-orang yang bertransaksi menambah kepenatan.</p>
<p>Di sebuah warung nasi uduk Mbok Mar berhenti. Keranjang hijau segera dilepaskan dari tangan.</p>
<p>&#8220;Mbok? Minum teh?&#8221;? Seorang wanita muda berkerudung menghampiri Mbok Mar.</p>
<p>&#8220;Iya, ?Nduk<em>.</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbak Ajeng, nasi uduknya. Komplit, ya,&#8221; pesan seorang bapak yang baru datang. Dia langsung duduk di samping Mbok Mar.</p>
<p>&#8220;Oh, iya, Pak. Sebentar, ya,&#8221; jawab Ajeng, wanita muda berkerudung itu, ramah.</p>
<p>&#8220;Mas, nasi uduk komplit satu! Eh, iya. Sama teh manis buat Mbok Mar!&#8221; Ajeng meneruskan pesanan.</p>
<p>&#8220;Siap!&#8221; sahut seorang pria berjenggot tipis.<span id="more-1565"></span></p>
<p>Dia dengan sigap mengambil gelas dan menuangkan air teh dari teko.? Sejumput gula disendoknya ke dalam gelas.</p>
<p>&#8220;Gulanya jangan banyak-banyak, Met!&#8221; instruksi Mbok Mar sambil mengurut-urut kakinya.</p>
<p>&#8220;Mbok, monggo.&#8221;</p>
<p>Pria muda yang dipanggil ?Met&#8217; oleh Mbok Mar itu memberikan segelas teh kepada Ajeng. Ajeng meletakkan gelas teh manis di dekat Mbok Mar.</p>
<p>&#8220;De&#8217; ajak Mbok Mar masuk aja<em>. </em>Duduk sini, Mbok Mar,&#8221; ajak Met.</p>
<p>&#8220;Ndak usah, Met. Mbok di sini aja. Sudah! Kamu? layani orang-orang yang mau beli itu saja.? Kamu juga ?Nduk, Cah Ayu. Bantu suamimu sana!&#8221; Mbok Mar kembali memberi instruksi.</p>
<p>&#8220;Muka Mbok pucat.&#8221;? Senyum manis Ajeng perlahan memudar.</p>
<p>&#8220;<em>Wis</em><em> to </em>sana! Mbok cuma cape.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbok yakin enggak apa-apa?&#8221; tanya Ajeng was-was.</p>
<p>Mbok Mar mengangguk meyakinkan.</p>
<p>&#8220;Ya, sudah kalau begitu. Ajeng tinggal dulu sebentar, ya, Mbok.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, iya.&#8221;</p>
<p>Ajeng melangkah menuju balik lemari kaca tempat hidangan pagi itu berada, nasi uduk lengkap dengan lauk-pauknya. Met dan Ajeng segera sibuk melayani pembeli. Untuk sesaat Mbok Mar terlupakan.</p>
<p>Mbok Mar sendiri tidak keberatan, karena perhatiannya sebenarnya tidak lagi milik orang-orang di sekitar. Pikirannya hanya menuju satu tujuan. Sebuah gambar Ka&#8217;bah besar yang tergantung di sebuah kios poster yang terletak beberapa puluh meter di depan warung nasi uduk Ajeng.</p>
<p>Berbagai cuplikan adegan melintas di angannya. Orang-orang mengenakan pakaian ihram.?? Mereka yang tidak lelah bertawaf, berlari antara Shafa dan Marwa, melempar jumrah. Pekik ?Labaikallahumma labaik &#8230;&#8217; terasa menentramkan.</p>
<p>Mbok? Mar tersenyum tanpa sadar.? Dia benar-benar tenggelam dalam sebuah keindahan pengabdian.</p>
<p>&#8220;Mbok.&#8221;</p>
<p>Sebuah suara yang lembut perlahan memudarkan bayangan. Wajah Mbok Mar perlahan berubah masam. Kecewa karena ternyata itu hanya angan.</p>
<p>Mbok Mar menolehkan wajah kepada sebentuk wajah ayu milik Ajeng. Mbok Mar sedikit terhibur, karena yang ini bukan mimpi.</p>
<p>&#8220;Mbok,? Ajeng mau pulang. Mas Met yang nunggu warung. Ajeng antar sampai rumah, ya, Mbok? Sekalian mau main. Sudah lama Ajeng enggak ke rumah Mbok.&#8221;</p>
<p>Mbok Mar mengangguk pelan. Ajeng membawakan belanjaan Mbok Mar.</p>
<p>&#8220;Mas, aku antar Mbok Mar dulu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya. Hati-hati. Jaga Mbok!&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya. Assalamu&#8217;alaikum!&#8221; pamit Ajeng.</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikum salam,&#8221; jawab Met. Setelah itu Met segera kembali sibuk melayani permintaan nasi uduk.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>Mbok Mar berjalan perlahan keluar area pasar. Ajeng berusaha menjaga langkahnya agar tetap sejajar.</p>
<p>Mbok Mar melambaikan tangan kepada seorang tukang becak. Tukang becak itu setengah berlari menghampiri.</p>
<p>&#8220;Mbok Mar ude selesai belanjanye?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah. Kamu sedang tidak ditunggu orang kan, Eb?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, kagak. Aye sengaje nunggu Mbok. Barusan, sih, tadi nganterin orang. Ayo, Mbok.? Mbak Ajeng ikut juga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Bang.? Sudah lama enggak main ke rumah Mbok Mar. Malah Mbok Mar terus yang mampir ke warung.&#8221;</p>
<p>Ajeng menuntun Mbok Mar naik ke becak. Setelah keduanya duduk dan belanjaan telah terangkut, becak pun berangkat.</p>
<p>&#8220;Hati-hati, lho, Eb. Jangan ngebut kamu!&#8221; Mbok Mar mengingatkan.</p>
<p>&#8220;Iya, Bang Sueb. Pelan-pelan aja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tenang aje, Mbak. Aye jamin penumpang bakal jadi ketagihan naik becak ini.&#8221;</p>
<p>Ajeng mengangkat keningnya. Mbok Mar hanya tersenyum.</p>
<p>Sambil terus mengayuh, Sueb melanjutkan promosinya.</p>
<p>&#8220;Gimane enggak ketagihan? Tempat duduknye empuk. Bannye anti slip. Pul AC. Angin Cepoi-cepoi, gitu!&#8221;</p>
<p>Ajeng menahan tawanya.? Mbok mar masih tersenyum, kini dengan gelengan kepala.</p>
<p>&#8220;Terus &#8230;.&#8221;, lanjut Sueb.</p>
<p>Becak melewati beberapa pedagang VCD hasil modifikasi tangan-tangan kreatif di sepanjang trotoar.</p>
<p>&#8220;&#8230; Pul? musik. Tuh! Gimana kagak ketagihan naik becak Si Sueb! Iye, enggak, Mbok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi petugas tramtib kemarin lusa ngejar-ngejar kamu karena ketagihan naik becak kamu, Eb?!&#8221;? tanya Mbok Mar setengah berteriak.</p>
<p>Becak berjalan menuju sebuah perempatan. Lampu masih berwarna hijau di kejauhan.</p>
<p>&#8220;Ah, yang itu sih beda! Orang kata mau nyari tambahan pendapatan, malah ketiban sial!&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis Bang Sueb nekad, sih! Bawa penumpang ke luar area yang diijinin!&#8221; timpal Ajeng.</p>
<p>Becak mendekati perempatan. Lampu masih hijau.</p>
<p>&#8220;Namanye juga usaha,? Mbak!&#8221;</p>
<p>Becak terus melaju lurus hampir melewati perempatan. Namun, baru setengah jalan tiba-tiba sebuah sedan BMW dari arah kiri jalan melaju ke arah becak. Tidak kencang namun cukup membuat semua orang yang menyaksikan menahan nafas, tegang.</p>
<p>Ciii &#8230;.t !? Suara derit mobil direm membahana. Mobil akhirnya berhenti tepat di sisi ban becak. Semua menghela nafas lega. <strong>[Bersambung]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mbok-mar-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama, Islam, dan Terorisme</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/obama-islam-dan-terorisme</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/obama-islam-dan-terorisme#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 23:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1563</guid>
		<description><![CDATA[ 
EDITORIAL/September/2008

Sejak awal terjun dalam pertarungan merebut kursi nomor satu sebagai penguasa di negeri Paman Sam, Obama sudah di-setting untuk menang. Terbukti, di pemilihan awal pun, ia berhasil menyingkirkan pesaing beratnya yang sama-sama dari kubu Demokrat, Hillary Clinton. Kini, tinggal menghitung hari saja untuk bisa berduel dengan McCain, calon presiden dari kubu Republik, nanti di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>EDITORIAL/September/2008<br />
</strong></p>
<p>Sejak awal terjun dalam pertarungan merebut kursi nomor satu sebagai penguasa di negeri Paman Sam, Obama sudah di-<em>setting</em> untuk menang. Terbukti, di pemilihan awal pun, ia berhasil menyingkirkan pesaing beratnya yang sama-sama dari kubu Demokrat, Hillary Clinton. Kini, tinggal menghitung hari saja untuk bisa berduel dengan McCain, calon presiden dari kubu Republik, nanti di bulan November.</p>
<p>Lalu apa hubungan antara Obama, Islam dan Terorisme? Kaum Muslimin harus menyadari bahwa Obama akan menjadi calon presiden di negeri yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme secara total. Itu artinya, Obama tak mungkin bisa melepaskan diri dari kerangka berpikir dan kebijakan politik yang diemban Amerika Serikat selama ini. Itu logika sederhana. Sebabnya, Sekularisme-Kapitalisme tidak mungkin memberikan jalan kepada siapa pun yang di kemudian hari akan menghancurkan Sekularisme-Kapitalisme itu sendiri. Itu artinya, Obama dan orang-orang yang berada di belakangnya sebagai tim sukses pasti tetap menjadikan Islam dan terorisme sebagai bagian dari agenda politiknya.<span id="more-1563"></span></p>
<p>Meski Obama punya garis keturunan dari ayahnya yang muslim asal Kenya, tapi Obama menolak dihubung-hubungkan dengan Islam dan kaum Muslimin sebagai bagian dari mereka. Terorisme pun tetap menjadi agenda kebijakan politik pemerintah Amerika. Ini bisa dipahami karena Obama tidak sendirian mencalonkan diri. Tapi ada banyak kaki-tangan yang berusaha mendorong-bila tidak mau dikatakan menekan-agar Obama melakukan deal politik bila menang kelak. Terbukti, Obama menegaskan sikapnya untuk tetap memberikan &#8220;perlindungan&#8221; atau minimal &#8220;mengamini&#8221; keberadaan Israel di Palestina. Jelas, ini adalah upaya nyata sikap politik yang ditunjukkan Obama kepada dunia.</p>
<p>Bagi kita, kaum Muslimin, tak ada bedanya antara Obama dengan Bush Senior dan Bush Junior (dan seluruh presiden AS). Mereka sama-sama menjalankan politik kepentingannya sebagai negara adikuasa yang tak akan begitu saja tersentuh untuk membantu dunia bila tak ada &#8220;udang di balik batu&#8221;. Bahkan sebaliknya, pemerintah Amerika baik dari kubu Demokrat atau Republik tetap merasa menjadi <em>the globo cop</em>. Meski pada praktiknya, susah membedakan antara &#8220;pekerjaan&#8221; polisi atau penjahat. Sebab, pemerintah Amerika gemar menginvasi negara lain dengan alasan menegakkan HAM dan demokrasi jika kepentingannya diusik. Ironi.</p>
<p>Jadi, berharap banyak kepada Obama untuk melakukan perubahan politik ke arah yang lebih baik di Negeri Paman Sam adalah mimpi. Kecuali, jika Obama berani menegakkan Khilafah Islamiyah di sana. Tapi, apa mungkin? Bukan soal kemungkinan, tapi itu lebih tepat disebut khayalan! <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/obama-islam-dan-terorisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbok Mar</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mbok-mar</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mbok-mar#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 09:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1556</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/September/2008
By: Nafiisah FB

Malam telah menyambangi makhluk bumi yang sebagian telah terlelap dalam segala penat. Sebagian yang lain masih berjuang menaklukkan dingin untuk bisa tetap merasakan hidup.
Sunyi. Daerah padat penduduk itu tampak lengang. Hanya tampak beberapa rumah sederhana yang masih menyisakan cahaya. Rumah Mbok Mar salah satunya.
Di sudut ruang tamu yang merangkap kamar, jika ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">CERITA/September/2008</p>
<p align="left"><strong>By: Nafiisah FB</strong></p>
<p align="left">
<p align="left">Malam telah menyambangi makhluk bumi yang sebagian telah terlelap dalam segala penat. Sebagian yang lain masih berjuang menaklukkan dingin untuk bisa tetap merasakan hidup.</p>
<p>Sunyi. Daerah padat penduduk itu tampak lengang. Hanya tampak beberapa rumah sederhana yang masih menyisakan cahaya. Rumah Mbok Mar salah satunya.</p>
<p>Di sudut ruang tamu yang merangkap kamar, jika ada yang tidak enak hati untuk menyebutnya sebagai gudang, tampak wanita tua dengan uban yang telah merata di kepala duduk terpekur di dipannya. Dia? menjahit &#8230; menambal sebuah kain kusam. Dialah Mbok Mar.<span id="more-1556"></span></p>
<p>Malam yang semakin larut tidak membuat Mbok Mbar surut. Dua tangan keriputnya terus menelusurkan benang pada kain. Dua yang telah ditambal. Tinggal sehelai lagi yang terlihat agak baru, paling tidak jika dibandingkan dengan dua kain sebelumnya.</p>
<p>Sesekali ia memandang sebuah foto lusuh ukuran 3R yang ditempel seadanya di dinding bilik samping dipan. Sebuah foto Ka&#8217;bah dengan lautan manusia di sekelilingnya. Juragan Pintono yang memberikannya lima belas tahun yang lalu ketika Mbok Mar masih menjadi pembantu di rumah besar itu. Sesekali ia tampak menghela nafas, mengusir sebuah kegalauan.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p align="left">
<p align="left">&#8220;Mbok Mar, saya sama sekali nggak nyangka Mbok Mar bisa berbuat sejahat ini sama saya!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Tapi, bukan saya yang mengambilnya, Non. Sungguh!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Terus, siapa dong?! Yang biasa keluar-masuk kamar saya. Yang dipercaya pegang kunci duplikat rumah ini termasuk kamar ini, kan, Mbok Mar!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Non Intan, masa&#8217; Non tega menuduh Mbok seperti itu? Mbok kan sudah lama mengabdi kepada keluarga ini sejak Non Intan masih bayi. Mbok sudah menganggap Non Intan seperti cucu Mbok sendiri. Mbok sayang sama Non. Mbok tidak akan tega!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Jaman sekarang mana ada sih orang yang nggak ngiler ngeliat perhiasan emas berkilauan di depan matanya?!? Mbok kan bukan manusia suci. Udah deh Mbok! Mbok lebih baik ngaku aja. Mbok nggak akan dipecat. Paling gaji Mbok aja yang dikurangi.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Saya mau ngaku apa, Non? Saya tidak bersalah. Bukan saya yang mengambilnya.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Ah! Maling mana ada yang mau ngaku! Terserah Mbok! Jangan salahkan saya kalau nanti Papa mengeluarkan Mbok dari rumah ini!&#8221;</p>
<p align="left">Gadis muda yang dipanggil Intan itu berjalan keluar dengan amarah. Dia menarik pintu dari luar. Brak!</p>
<p align="left">Mbok Mar tergelagap. Jendela kayu yang terbanting angin membangunkannya dari sebuah ingatan masa lalu.</p>
<p align="left">&#8220;Astaghfirullah.&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar cepat menghampiri jendela dan menutupnya. Kain terakhir baru setengah jalan dijahit. Mbok Mar tidak menyelesaikannya. Dia merapikan kain-kain itu dan diletakkan di dalam sebuah lemari plastik yang telah berlubang sana-sini.</p>
<p align="left">Mbok Mar merebahkan badan. Ia pun terlelap dalam keheningan, dalam kegalauan.</p>
<p align="left">
<p align="center">oooOooo</p>
<p align="left">
<p align="left">Suara kokok ayam saling bersahutan. Suara adzan Subuh baru setengah jam lalu meredup dari pendengaran.</p>
<p align="left">Hari telah berganti. Suara-suara derap gerak anak manusia memperjuangkan nafasnya telah kembali.</p>
<p align="left">Tok! Tok!</p>
<p align="left">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum! Mbok Mar! Mbok!&#8221;</p>
<p align="left">Terdengar suara cempreng bocah laki-laki. Di dalam rumah Mbok Mar tampak masih menyelesaikan rakaat yang terakhir.</p>
<p align="left">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum! Mbok! Ini Surya!&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar turun perlahan dari dipan. Dia tanpa membuka mukena tergesa menuju pintu.</p>
<p align="left">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar membuka pintu. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahunan telah berdiri menantinya.</p>
<p align="left">&#8220;Wa&#8217;alaikum salam. Masuk, Sur.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Kok, lama banget sih Mbok?&#8221; protes Surya.</p>
<p align="left">&#8220;Maaf. Mbok telat bangun.&#8221;</p>
<p align="left">Mbok Mar membuka mukenanya. &#8220;Kamu sudah sholat, Le?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Udah, dong, Mbok. Surya bisa bawa gorengannya sekarang? Surya takut nanti mbak-mbak di konveksi keburu masuk.&#8221;</p>
<p>Mbok Mar membetulkan <em>jarik-</em>nya sambil melihat ke arah jam dinding tua dan langsung menuju dapur. Surya mengikuti.</p>
<p>&#8220;Ini. Cuma singkong. Nggak apa-apa, ya, Sur. Maafin, Mbok. Insya Allah besok Mbok nggak telat lagi dan jualanmu bisa lengkap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak apa-apa, Mbok.&#8221;</p>
<p>Surya mengangkat tampah dengan puluhan potong singkong goreng di atasnya.</p>
<p>&#8220;Surya berangkat, Mbok. Assalamu&#8217;alaikum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hati-hati. Wa&#8217;alaikum salam.&#8221;</p>
<p>Mbok Mar mengantar Surya sampai pintu. Mata sendunya mengikuti langkah-langkah Surya sampai hilang di belokan gang. Ada doa yang dilantunkan dalam hati.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>Matahari semakin tinggi. Mbok Mar bersiap meninggalkan rumah. Dia meraih keranjang plastik hijau yang tergantung di bilik dapur.</p>
<p>Tok! Tok!</p>
<p>Mbok Mar membuka pintu dapur. Aroma pagi khas kompleks perumahan BSD alias Bantaran Sungai Damai semakin terasa.</p>
<p>&#8220;Eh, Tin. Ada apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbok, mau ke pasar kan?? Entin boleh <em>henteu </em>nitip jengkol?&#8221;</p>
<p>Entin, ibu muda berkulit sawo matang dan berkacamata tebal itu bertanya penuh harap.</p>
<p>&#8220;Nitip jengkol?&#8221;? tanya Mbok Mar memperjelas.</p>
<p>&#8220;Iya. Abahnya anak-anak minta dimasakin semur jengkol. Kangen katanya.&#8221;</p>
<p>Entin menurunkan bak cuciannya dan meraih kantung dasternya. Dia mengeluarkan selembar uang lima ribuan.</p>
<p>&#8220;Entin <em>teh henteu </em>sempet ke pasar. Cucian dua minggu numpuk, Mbok!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbok Mar! Tumben siang baru nongol?!&#8221; teriak seorang ibu yang sedang memandikan anaknya di pemandian umum.</p>
<p>&#8220;Iya, Mama Defri. Bangunnya telat!&#8221; sahut Mbok Mar.</p>
<p>&#8220;<em>Atos, </em>Mbok. Itu aja.&#8221;? Entin mengembalikan perhatian Mbok Mar kepada dirinya.</p>
<p>&#8220;Udah? Bener nggak nitip yang lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak. <em>Nuhun </em>ya Mbok.&#8221;</p>
<p>Mbok Mar mengangguk pelan.</p>
<p>Entin meninggalkan Mbok Mar, turun menuju pemandian umum. Mbok Mar menutup pintu dapur dan pergi. <strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><em>Catatan:</em></p>
<p><em>Henteu: tidak (bahasa Sunda)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mbok-mar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haruskah Obama?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 08:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1550</guid>
		<description><![CDATA[  INSPIRASI/September/2008 
Pesona Obama untuk sebuah Amerika Serikat nampaknya terlalu kecil. Seperti magnet raksasa, sosok Obama mengundang perhatian banyak orang di planet ini. Termasuk dari negeri antah berantah yang bernama Indonesia.
Ketika melacak berbagai tulisan tentangnya, saya menemukan sebuah situs lokal yang mencantumkan opini anak bangsa yang memuja Obama. Berat. Obama Membara, membara Obama, tulisnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--><strong>INSPIRASI/September/2008 </strong></p>
<p>Pesona Obama untuk sebuah Amerika Serikat nampaknya terlalu kecil. Seperti magnet raksasa, sosok Obama mengundang perhatian banyak orang di planet ini. Termasuk dari negeri antah berantah yang bernama Indonesia.</p>
<p>Ketika melacak berbagai tulisan tentangnya, saya menemukan sebuah situs lokal yang mencantumkan opini anak bangsa yang memuja Obama. Berat. <em>Obama Membara, membara Obama</em>, tulisnya. Sang penulis dengan fasih menuliskan masa kecil Obama, kecerdasannya, dan titian karirnya hingga berkutat untuk menjadi orang terkuat di negara adidaya. Semua penuh dengan tinta kekaguman. Anak muda tadi tidak sendiri. Di sebuah harian nasional saya membaca bahwa di tanah air telah terbentuk semacam ?fans club&#8217; untuk Obama. Sama seperti anak muda tadi, para fans Obama ini berharap agar pujaannya itu menjadi the next president di negeri Paman Sam.<span id="more-1550"></span> Ada beberapa alasan mengapa orang Indonesia begitu memuja Obama; <em>pertama</em>, sentimen kebangsaan. Ya, Obama kecil pernah tinggal di Indonesia. Ia adalah A-Men (anak Menteng). Meski bukan warga negara Indonesia, tapi setidaknya ia pernah ?jadi&#8217; orang Indonesia. <em>Kedua</em>, ia orang kulit hitam pertama yang mencalonkan diri dalam kancah perhelatan presiden sebuah negara yang memuja warga kulit putih. <em>Ketiga</em>, ia orang muda. Banyak orang berharap Obama tampil seperti Kennedy yang muda, keren, cerdas, dan berani. Anak muda memang diidentikkan dengan segala gelora perubahan. Sampai-sampai dalam sebuah dialog di televisi swasta, sebuah underbouw parpol Islam juga terbawa euforia semangat anak muda-nya Obama.  <em></em></p>
<p><em>Keempat</em>, banyak orang berharap tampilnya Obama yang muda, kulit hitam, punya masa lalu dekat dengan Islam, dari Partai Demokrat, bisa membawa perubahan di Amerika Serikat agar tidak seagresif Partai Republik yang penuh angkara murka peperangan seperti yang ditampilkan &#8220;dua Bush&#8221;.</p>
<p>Tapi, sedemikian pentingkah Obama bagi dunia? Benarkah Obama bisa mengubah segalanya bagi kita, khususnya dunia Islam?  Pembaca, marilah kita berpikir jernih. Sedemikian inferiorkah kita sebagai muslim sampai-sampai menggantungkan sosok kepahlawanan pada orang lain. Bahkan orang yang masa depannya sudah bisa diramalkan? Apakah tak ada tokoh muda Islam yang demikian <em>inspiring</em> bagi kita?</p>
<p>Perjuangan Obama bukanlah perjuangan sendirian. Ia tak akan bisa lepas dari kredo-kredo demokrasi ala partainya. Ketika McCain dari Partai Republik tetap meneruskan kebijakan anti-homoseksual di militer, Obama berpendapat sebaliknya. Ia mendukung homoseksualitas. Semua orang di Amerika tahu, bahwa Partai Republik jauh lebih ?religius&#8217; dibandingkan Partai Demokrat. Orang Republik anti aborsi dan homoseksual, sedangkan Demokrat di kutub sebaliknya.</p>
<p>Bicara agresivitas militer, Republik maupun Demokrat bak pinang dibelah dua. Hanya beda gaya tempurnya belaka. Bukankah Vietnam pun &#8216;dibakar&#8217; pemerintah Demokrat?</p>
<p>Apakah kita sudah kehabisan figur muda yang heroik, inspiring, dan pastinya Islami? Apakah nama Natsir muda, Bung Tomo, Diponegoro, Hasanuddin, tidak cukup besar untuk menggugah semangat perjuangan kaum muda di tanah air?</p>
<p>Euforia Obama di kepala anak bangsa, mengutip analisa Ibnu Khaldun adalah gambaran bangsa yang kalah. Mereka yang kalah selalu mengekor para pemenang. Anehnya, kita selalu merasa senang menjadi orang yang kalah. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khilafah, We Miss You!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/khilafah-we-miss-you</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/khilafah-we-miss-you#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 00:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 09/Agts 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1508</guid>
		<description><![CDATA[ 
FRESH!/Agustus/2008
Tanggal 3 Maret 1924, umat Islam berduka. Seorang agen Yahudi bernama Musthafa Kamal Attaturk, kongkalikong dengan pemerintah Inggris, telah &#8220;membunuh&#8221; Khilafah Islam yang berpusat di Turki Utsmani. Benteng terakhir umat Islam itu pun runtuh berkeping-keping, terkubur dalam jeritan kesunyian.
Sejak itu, jejak sejarahnya pun berusaha terus dihapus. Niat busuk untuk mengaburkan bukti kejayaan Khilafah pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>FRESH!/Agustus/2008</strong></p>
<p>Tanggal 3 Maret 1924, umat Islam berduka. Seorang agen Yahudi bernama Musthafa Kamal Attaturk, kongkalikong dengan pemerintah Inggris, telah &#8220;membunuh&#8221; Khilafah Islam yang berpusat di Turki Utsmani. Benteng terakhir umat Islam itu pun runtuh berkeping-keping, terkubur dalam jeritan kesunyian.</p>
<p>Sejak itu, jejak sejarahnya pun berusaha terus dihapus. Niat busuk untuk mengaburkan bukti kejayaan Khilafah pun terus menerus didengungkan. Nada sumbang, skeptis dan apatis selalu terdengar seiring dengan bergemanya kembali tuntutan penegakan Khilafah.</p>
<p>Memang, banyak dari kalangan umat Islam yang tidak begitu kenal dengan Khilafah. Bahkan ada saja dari kalangan umat Islam sendiri yang justru memusuhi ide penegakkan Khilafah.<span id="more-1508"></span></p>
<p>Padahal, umat sudah muak dengan kebobrokan yang diderita dunia saat ini. Kemiskinan, krisis pangan, kebodohan, keterbelakangan, kemerosotan moral, dll, kian hari kian menjadi akibat diterapkannya sistem Kapitalisme-Sekularisme.</p>
<p>Nyawa umat Islam yang berjumlah 1,5 miliar lebih, begitu murah di hadapan ideologi setan itu. Umat Islam dibantai di Palestina, Irak, Afghanistan, Checnya, Bosnia,? dll oleh negara-negara yang mengaku pendekar hak asasi manusia.</p>
<p>Sampai kapan umat Islam bersabar? Siapa yang bisa menghentikan itu? Satu-satunya cara adalah dengan mempersatukan kembali umat Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Mengapa harus Khilafah?</p>
<p>Sistem kapitalistik yang menaungi masyarakat saat ini hanya mensejahterakan segelintir orang dan memiskinkan mayoritas umat. Padahal negeri-negeri Islam umumnya memiliki kekayaan alam yang luar biasa.</p>
<p>Dengan Khilafah, sistem ekonomi akan menjamin kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) setiap individu rakyat. Pendidikan, kesehatan, keamanan dan transportasi yang merupakan kebutuhan vital rakyat pun diperoleh dengan biaya murah bahkan bisa gratis. Sebab, kekayaan alam seperti emas, minyak, gas, hutan adalah milik umum yang hasilnya diberikan kepada rakyat.</p>
<p>Lebih dari itu, Khilafah adalah tuntutan akidah dan syariat Islam. Kaum muslim wajib menerapkan semua aturan Allah Swt. secara total. Dan itu hanya bisa diterapkan bila ada Khilafah Islamiyah. Rasulullah saw. sampai menyebut orang yang mati dalam keadaan di pundaknya tidak ada baiat kepada Khalifah, maka matinya seperti mati jahiliah.</p>
<p>Khilafah akan menjamin keamanan rakyat. Penguasa sekuler saat ini,? lebih menghambakan diri pada kepentingan penjajah. Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar atau Turki bahkan menyediakan lahan bagi pesawat dan pangkalan militer penjajah untuk lebih gampang membunuh saudara-saudaranya di Irak dan Afghanistan. Sementara Khilafah, akan menjaga nyawa rakyatnya. Jangankan nyawa manusia, Umar bin al-Khaththab sangat khawatir kalau di perjalanan ada unta yang terperosok karena jalan rusak.</p>
<p>Khalifah juga akan menjaga pertahanan serta keutuhan dan persatuan negeri-negeri Islam.? Ketiadaan Khalifah membuat kaum muslim bagaikan kehilangan penjaga rumah mereka. Akibatnya, orang-orang jahat dengan gampang masuk dan membuat kerusakan di negeri-negeri Islam. Ironisnya orang-orang jahat ini diundang oleh para penguasa muslim sendiri atas nama demokrasi, rekonstruksi, pembangunan, investasi, dan lain-lain. Padahal penjajah tersebut mempunyai satu tujuan, yakni mengeksploitasi negeri-negeri Islam. Khalifahlah yang akan kembali menyatukan umat Islam. Itu pernah terbukti, bukan utopi. Khilafah Islam berhasil menyatukan umat manusia dari berbagai ras, suku, bangsa, warna kulit dan latar belakang agama yang sebelumnya berbeda.? Semuanya lebur dengan prinsip ukhuwah Islamiyah.</p>
<p>Bagaimana dengan nonmuslim? Khalifah akan melindungi warga nonmuslim <em>ahlul dzimmah</em>.? Kebutuhan pokok mereka dijamin sebagai bagian dari hak mereka menjadi warga Daulah Islam. Bahkan dulu, pasukan tentara Salib terkejut karena komunitas Nasrani di negeri Daulah Khilafah malah membantu pasukan Islam memerangi pasukan Salib.</p>
<p>Terakhir, Khilafah akan menyebarluaskan Islam sebagi rahmatan lil alamin. Khilafah Islam juga sekaligus akan menghentikan perjuangan para penyebar nilai-nilai kapitalisme seperti sekulerisme, demokrasi, HAM, pluralisme dan pasar bebas yang terbukti telah menjadi bencana besar bagi umat manusia.</p>
<p>Demikian yang pernah terjadi sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam. Peradaban Islam telah memberikan sumbangan yang luar biasa bagi dunia, baik dari segi nilai-nilai ideologis yang mengatur hidup manusia maupun kemajuan material seperti sains dan teknologi. Dengan demikian, sangat masuk akal jika umat Islam kini begitu merindukan Khilafah. <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/khilafah-we-miss-you/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama, Pembela Sekulerisme Sejati</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati-2#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 01:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10/Sept 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1561</guid>
		<description><![CDATA[  
FRESH!/September/2008

Suksesi orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) segera terjadi. Salah satu kandidat kuat yang digadang-gadang akan membawa angin perubahan adalah Barack Obama. Khususnya bagi kaum muslim, Obama disinyalir lebih menjanjikan perdamaian dibanding pemimpin-pemimpin AS sebelumnya. Alasannya, Obama punya latar belakang kehidupan Islam, yakni saat menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Benarkah Obama adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>FRESH!/September/2008<br />
</strong></p>
<p>Suksesi orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) segera terjadi. Salah satu kandidat kuat yang digadang-gadang akan membawa angin perubahan adalah Barack Obama. Khususnya bagi kaum muslim, Obama disinyalir lebih menjanjikan perdamaian dibanding pemimpin-pemimpin AS sebelumnya. Alasannya, Obama punya latar belakang kehidupan Islam, yakni saat menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Benarkah Obama adalah harapan?</p>
<p>Sebagai negara nomor satu di dunia, AS akan istiqomah pada <em>fikrah</em> (pemikiran) dan <em>thariqah</em> (cara mewujudkan fikrah)-nya sebagai pengemban terdepan ideologi sekularisme-kapitalisme. Dan, pasca runtuhnya Uni Sovyet sebagai pengemban utama ideologi komunisme, maka musuh utama ideologi sekular adalah ideologi Islam. Jelas, ideologi sekular tidak akan pernah berbaik hati pada ideologi Islam. Sebab sudah menjadi sebuah sifat hakiki bahwa ideologi akan saling memangsa.<span id="more-1561"></span></p>
<p>Dengan demikian, siapapun pemimpin AS, bisa dipastikan tidak akan keluar dari upaya untuk mengatur dunia dengan ide-ide kebebasannya, sebagai konsekuensi dari pemisahan agama dari kehidupan. Seperti gagasan pasar bebas, demokrasi, HAM, hedonisme, permisivisme, seks bebas, dll.</p>
<p>Khittah AS tidak akan pernah berubah sebagai negeri penjajah. Yang membedakan antara pemimpin AS hanyalah <em>style</em> alias gaya kepemimpinannya saja. Di masa Bush senior, kebijakan AS cenderung represif, yang kemudian diteruskan oleh Bush junior. Kedua pemimpin itu cenderung menciptakan konflik-konflik dan memaksakan kehendaknya atas dunia melalui jalan kekerasan. Seperti men-<em>support</em> penuh serangan Israel terhadap Palestina dan Lebanon. Juga, menyerukan perang melawan terorisme (baca: Islam) dan memaksakan negara-negara di dunia mengadopsi kebijakan ini. Dan terakhir menjajah Irak.</p>
<p>Di masa Clinton, kebijakannya memang cenderung lunak. Clinton lebih memilih cara-cara kerjasama dengan negara-negara lain untuk mencapai tujuannya.</p>
<p>Namun, bagaimanapun gaya kepemimpinan mereka, semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama: mengeksiskan ideologi sekuler-kapitalis dan mengeliminasi ideologi Islam.</p>
<p>Jadi, mengharap Obama akan lebih pro-Islam, ibarat menggantang asap. Indikasi ke arah itu pun cukup kuat. Dalam berbagai kesempatan, Obama selalu berkelit jika dikait-kaitkan dengan Islam. Beredarnya foto masa kecil Obama yang mengenakan sarung, membuatnya kebakaran jenggot. Lalu tim sukses Obama berusaha &#8216;menyingkirkan&#8217; dua muslimah agar tak terkena jepretan kamera pada kampanyenya di Detroit, AS, Kamis (19/6/08), di mana Al Gore memberikan dukungan kepada Obama. Bahkan tim itu meminta muslimah itu untuk menanggalkan jilbabnya, jika ia ingin berada di tempat duduk spesial.</p>
<p>Obama juga terang-terangan bersekutu dengan Israel. Dalam berbagai kesempatan dia selalu menegaskan dukungannya pada Zionis. Jelaslah, tidak ada gunanya berharap banyak -bahkan sedikit&#8211; pada Obama.</p>
<p>Bahkan sebaliknya, umat Islam harus lebih khawatir bila Obama menang. Sebab, dia akan semakin represif untuk menunjukkan pada dunia, khususnya para konstituennya yang anti-Islam, bahwa dia benar-benar pembela sekulerisme sejati. Waspadalah! <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/obama-pembela-sekulerisme-sejati-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rendah Dirikah Kita?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/rendah-dirikah-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/rendah-dirikah-kita#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 21:07:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 09/Agts 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1505</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/Agustus/2008
Hari ini, hubungan antara kaum muslimin dengan masalah yang mereka hadapi ibarat orang yang kehilangan koin emas. Koin itu hilang di tempat gelap tapi ia mencarinya di tempat terang. Alasannya, ia tak mungkin bisa melihat koin itu di tempat gelap.
Pembaca budiman, andaikan kita merenung, semua permasalahan yang terbentang hari ini sebenarnya bersumber dari tercampakkannya Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/Agustus/2008</strong></p>
<p>Hari ini, hubungan antara kaum muslimin dengan masalah yang mereka hadapi ibarat orang yang kehilangan koin emas. Koin itu hilang di tempat gelap tapi ia mencarinya di tempat terang. Alasannya, ia tak mungkin bisa melihat koin itu di tempat gelap.</p>
<p>Pembaca budiman, andaikan kita merenung, semua permasalahan yang terbentang hari ini sebenarnya bersumber dari tercampakkannya Islam dari kehidupan. Saat umat mulai tidak mempercayai lagi <em>din</em>-nya sebagai ideologi, dan memuja ideologi lain, saat itulah masalah merebak. Ironinya, agama sendiri dianggap sebagai ?penyakit&#8217; sosial yang harus dilumpuhkan.<span id="more-1505"></span></p>
<p>Maka sewaktu masalah demi masalah berkecamuk, masih banyak orang yang enggan menjadikan Islam sebagai solusinya. Padahal, kembali pada Islam adalah satu-satunya obat mujarab untuk berbagai penyakit akut yang diderita umat. Sayang, seperti perumpamaan di atas, seringkali masalah yang kita hadapi, kita beri solusi yang tidak pas. Koin hilang di tempat lain, tapi dicari entah di mana. Seperti orang sakit gigi tapi berobat ke dokter jantung.</p>
<p>Mengapa kita enggan kembali pada syariat Islam? Pertama, karena kita sudah merasa begitu rendah diri untuk memakai baju Islam. Kedua, kita juga sudah dibutakan secara sistematis lewat perang pemikiran oleh Barat. Ketiga, ada elemen dari umat Islam yang juga mau berjibaku menghalangi langkah kita kembali pada kebenaran.</p>
<p>Namun demikian, persoalan pertama adalah persoalan yang harus segera ditangani dengan serius. Kita harus membangun kembali rasa percaya diri kita terhadap jati diri kita yang sesungguhnya. Bahwa Islam; akidah dan syariatnya adalah darah, jantung, nafas dan nyawa umat. Tanpanya, umat akan sekarat dan mati.</p>
<p>Butuh kekuatan iman untuk berani bersuara lantang menegakkan Islam. &#8220;Katakan kebenaran meskipun terasa pahit,&#8221; adalah pesan yang sering terdengar berulang-ulang. Maka bangunkan kepercayaan diri dan buang perasaan rendah diri. Islam adalah kebanggaan hidup kita. <em>&#8220;Dan kebanggaan itu adalah milik Allah, dan RasulNya dan orang-orang beriman&#8221;</em> itulah pesan wahyu Allah.</p>
<p>Rendah diri dan ketakutan adalah patogen perjuangan. Ia akan menggerogoti jiwa para pejuang dan membunuh kemenangan. Menyedihkan jika ada pendekar syariah yang ragu menghantam kebatilan demokrasi, kapitalisme dan komunisme. Ambigu saat menghadapi kebusukan liberalisme.</p>
<p>Memalukan jika ada pejuang syariah yang selalu mencari cara bermanis muka agar dirinya bisa diterima semua kalangan. Meski untuk itu ia tega menyembunyikan kuku-kuku tajam kebenaran, dan membiarkan harga dirinya terluka.</p>
<p>Ia mengecilkan suara perjuangannya agar dihormati orang lain. Lalu bermain kata-kata agar bisa mengkamuflase dirinya di habitat orang lain. Andaikan bisa, mungkin ia akan mengubah warna kulitnya bak bunglon agar bisa diterima kawan dan lawan. Semua dilakukan karena ia berpikir kemenangan semata strategi manusia, bukan atas rencana Allah.</p>
<p>Padahal, kemenangan itu datang dari Allah. Bukan dari akal pikiran dan otot kita. Sementara Allah hanya akan memberikan pertolongan dan kemenangan pada mereka yang mengerjakan dan menyampaikan kebenaran apa adanya dan niat yang tulus.</p>
<p>Jadi, jika hari ini, setelah sekian puluh tahun kita berjuang tapi pertolongan Allah belum jua datang, muhasabah pada diri sendiri adalah kewajiban. Tak ada kata terlambat untuk berintrospeksi diri, demi kemenangan dan ridloNya. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/rendah-dirikah-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beras Menangis</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/beras-menangis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/beras-menangis#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 09/Agts 2008]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/Agustus/2008
By: Aisyah Annaqiy
Liburan pada tahun 2002, tepat sebelum beranjak ke akhir masa SMA, aku pergi berlibur ke rumah saudaraku. Rumah bulik1-ku ini di salah satu kampung di Kandangan, Kediri. Udara khas desa lengkap dengan gelapnya malam ditemani lampu petromak menjadi temanku malam itu. Hingga keesokan harinya, kutemukan sesuatu yang berharga, Nek Karti dan berasnya.
Nenek itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/Agustus/2008</strong></p>
<p><strong>By: Aisyah Annaqiy</strong></p>
<p>Liburan pada tahun 2002, tepat sebelum beranjak ke akhir masa SMA, aku pergi berlibur ke rumah saudaraku. Rumah <em>bulik<sup>1</sup></em>-ku ini di salah satu kampung di Kandangan, Kediri. Udara khas desa lengkap dengan gelapnya malam ditemani lampu petromak menjadi temanku malam itu. Hingga keesokan harinya, kutemukan sesuatu yang berharga, Nek Karti dan berasnya.</p>
<p>Nenek itu terlihat tekun bekerja. Tak pasti apa yang dilakukannya. Jongkok dan menunduk di salah satu sudut sawah. Sesekali ia terlihat terdiam. Lalu, tak berapa lama ia bergeser tiga atau empat puluh sentimeter. Dan mengulang hal yang sama.</p>
<p>Tubuhnya yang kurus bersembunyi di balik kebaya usang yang dikenakannya. Rambutnya putih sempurna senada dengan kain batik sebagai bawahan. Kakinya tak beralas dan terlihat kekar keras menantang bumi.</p>
<p>&#8221; Nenek itu siapa?&#8221;<span id="more-1502"></span></p>
<p>&#8221; Nek Karti. Janda tua yang tinggal diseberang, itu.. di rumah itu.&#8221; Yanuar mengarahkan tangannya pada rumah <em>gedheg<sup>2</sup> </em>kecil dan reyot.</p>
<p>Sesaat kemudian aku mendengarkan Yanuar bercerita. Nenek itu hampir sepuluh tahun menjanda tanpa sanak keluarga. Ke empat anak lelakinya pergi hidup berumah tangga dan hanya terlihat sesekali saat lebaran atau Idul Adha. Rumahnya selalu terlihat hening, sepi seakan tak berpenghuni. Rumah itu terdengar hidup hanya setelah subuh, saat Nek Karti membaca surat cintaNya.</p>
<p>Kupandang dalam-dalam wajah sepupuku, mata kami beradu seakan sepakat melakukan sesuatu. Hampir bersamaan kami berdiri, lalu beranjak dari gubug tua ini menuju ke arahnya.</p>
<p>Baru beberapa detik aku berjalan, terasa panas matahari membakar kulit. Aku berjinjit, kakiku tak mampu menahan tanah kering dan panas. Sesaat peluh dan panas tubuhku membuyarkan konsentrasiku pada Nek Karti. Bagaimana mungkin udara panas dan tanah yang tak bersahabat serta matahari yang menyengat tetap membuatnya nyaman berlama-lama di sana?</p>
<p>Kuhampiri nenek tua itu dan aku memutar hingga aku berada di depannya.</p>
<p>Memunguti padi. Nek Karti ternyata sedang memunguti padi sisa panen kemarin. Memasukkan satu per satu bulir padi ke dalam keresek hitam dan kusam di sampingnya. Padi itu berserakan bercampur dengan debu tanah kering. Kulirik keresek itu, dan tak banyak beras yang dikumpulkannya meski hampir satu jam ia berjemur di bawah matahari.</p>
<p>&#8221; Nenek sedang apa?&#8221;</p>
<p>&#8221; <em>Berase nangis</em>&#8230;&#8221; Pandangannya tak berpindah barang sedikitpun dari tangannya yang keriput. Apa maksudnya menangis?</p>
<p>&#8221; <em>Berase kudune melu melbu nyang karung padha liyane, diadhol nyang pasar, dimasak nang omah. Gek ditinggal, berase nangis</em>.<sup>3</sup>&#8221;</p>
<p>&#8221; Nenek ngomong <em>nyang</em> beras?&#8221; terbata kubertanya.</p>
<p>&#8221; <em>Sekabehe ngerti aku arep nyenengke dheweke</em>.<sup>4</sup>&#8221;</p>
<p>Aku hanya tertegun. Melihat wajah tua di hadapanku tegar. Matanya tak sedikitpun menggambarkan kegusaran. Bibirnya tersenyum tipis dan ringan. Dia berkata bahwa beras ini sebenarnya berhak bahagia dengan masuk ke dalam karung?</p>
<p>Aku tertawa kecil. Nek Karti seperti sedang berkisah tentang dirinya yang sebenarnya juga berhak bahagia dengan perhatian dari keluarganya. Nek Karti pasti telah berupaya sekuat tenaga, membanting tulang demi putra-putranya.</p>
<p>Seperti halnya padi yang tumbuh perlahan diterpa hujan, berpayung mentari. Rela dipupuki berbulan-bulan berjuang bahkan demi manusia yang tak pernah dikenalnya.</p>
<p>Perhatiannya pada padi-padi ini mungkin sebuah pengharapan. Berharap putranya peduli dan memberikan hak kebahagiaan padanya. Berharap putranya mengingat segala peluh yang tertumpah saat meregang nyawa mengeluarkan mereka dari rahim hingga malam pongah saat menikahkan mereka.</p>
<p>Sungguh tak ada manusia yang ingin hidup sendiri tanpa satupun yang peduli.</p>
<p>Tiba-tiba aku teringat mama yang puluhan kilo meter dari kampung ini. Ku niatkan dalam hati, selamanya tak akan beranjak tanganku dari pelukan mama. Kebahagiaanku adalah kebahagiaannya. Kebahagiaannya adalah kebahagiaannku.</p>
<p>Ah, mungkin juga perhatiannya pada padi ini adalah pengharapannya pada keluarga terdekatnya. Tetangga yang hidup di sekitarnya. Yang kenyang makan setiap hari dengan sayur yang tercium setiap pagi dari dapur-dapur mereka.</p>
<p>Sebegitu burukkah ukhuwah kaum muslimin? Lupa dengan empat puluh orang yang di kanan dan di kiri yang menjadi tetangga mereka. Kewajiban membantu sesama seakan harga yang sangat mahal untuk dibayarkan, meski di kampung kecil ini.</p>
<p>Atau, Nek Karti jangan-jangan sedang menjerit memanggil penguasa negeri ini? Yang tak mempedulikan seorang tua renta yang hidup jauh dari kesibukannya mengurus negara. Tapi, bukankah mengurusi rakyatnya adalah urusan negara juga? Nek Karti kelaparan setiap hari tanpa ada yang mengurusi. Bila tetangga tak mampu, bukankah negara yang wajib menanggung hidupnya?</p>
<p>Beras-beras itu diabaikan hanya karena mereka telah bercampur dengan debu tanah. Mereka menangis karena tak dipedulikan. Serempak tangan kami berdua bersemangat memunguti beras-beras sisa itu, membantu nenek tua ini dalam pikiran kami masing-masing.</p>
<p>Dan aku masih tak mengerti, akankah kita menanamkan egoitas tinggi pada diri kita? Menantang Tuhan yang akan cuek pada kita saat tak ada naungan selain naunganNya[]</p>
<p align="right">
<p align="right"><em>-Seperti yang diceritakan penari balet pada penulis, terima kasih Da&#8230;-</em><em></em></p>
<p><em>Keterangan:</em></p>
<p><em><sup>1</sup></em><em>. tante</em></p>
<p><em><sup>2</sup></em><em>. rumah dari bilik bambu</em></p>
<p><em><sup>3</sup></em><em>. Padi-padi ini seharusnya juga ikut di masukkan ke dalam karung bersama yang lain untuk dijual ke pasar dan dimasak di rumah seseorang. Tapi, mereka di tinggalkan. Mereka menangis.</em></p>
<p><em><sup>4</sup></em><em>. Mereka tahu aku sedang berusaha membahagiakan mereka</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/beras-menangis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khilafah Sudah Dekat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/khilafah-sudah-dekat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/khilafah-sudah-dekat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 13:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 09/Agts 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1357</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Agustus/2008
Memori kelabu 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342 H) seharusnya diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Bahkan bagi para pejuang tegaknya kembali Khilafah Islamiyah, tragedi pembubaran institusi Khilafah di Turki Ustmani oleh Mustafa Kamal Pasha tak akan pernah bisa dilupakan. Bagaimana tidak, Mustafa Kamal dengan arogan berteriak lantang di hadapan Dewan Nasional pasca kemenangan pihak Sekutu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Agustus/2008</strong></p>
<p>Memori kelabu 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342 H) seharusnya diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Bahkan bagi para pejuang tegaknya kembali Khilafah Islamiyah, tragedi pembubaran institusi Khilafah di Turki Ustmani oleh Mustafa Kamal Pasha tak akan pernah bisa dilupakan. Bagaimana tidak, Mustafa Kamal dengan arogan berteriak lantang di hadapan Dewan Nasional pasca kemenangan pihak Sekutu (Inggris, Perancis, Italia) dalam menguasai beberapa bagian wilayah Turki, &#8220;Saya tidak percaya dengan Negara Islam, bahkan tidak percaya dengan bangsa Utsmaniyah. Kita masing-masing harus meyakini apa yang menjadi pendapat kita. Adapun pemerintah (di Ankara) harus mengikuti garis politik yang tetap, terencana, dan didasarkan pada fakta-fakta dengan satu tujuan saja, yaitu memelihara eksistensi dan kemerdekaan negeri Turki dalam suatu wilayah yang terbatas. Tidak boleh ada lagi perasaan atau emosi yang mempengaruhi politik kita. Buanglah mimpi-mimpi dan khayalan-khayalan itu. Sungguh, kita telah membayar mahal untuk masa lalu kita!&#8221;<span id="more-1357"></span></p>
<p>Sesumbar Mustafa Kamal untuk memerdekakan Turki dari Khilafah Islamiyah juga diamini oleh Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, &#8220;Persoalannya saat ini adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan Islam.&#8221;</p>
<p>Secara detil, pernyataan Curzon tertuang dalam empat poin &#8220;perjanjian antara Inggris dan Turki&#8221;: Pertama, Turki harus menghapuskan Khilafah Islamiyah serta mengusir khalifahnya dan menyita semua harta kekayaannya. Kedua, Turki harus berjanji menghalangi setiap gerakan yang membela kekhalifahan. Ketiga, Turki harus memutuskan hubungannya dengan dunia Islam. Keempat, Turki harus menerapkan hukum sipil sebagai pengganti hukum Daulah Islamiyah yang bersumberkan Islam.</p>
<p>Keempat persyaratan Inggris itu diterima oleh Mustafa Kamal, dan perjanjian tersebut ditandatangani pada 24 Juli 1923. 7 ? bulan sebelum Khilafah ia runtuhkan. Bisa dimaklumi, mengapa Mustafa Kamal mau menandatangani karena dia merupakan agen Inggris dan keturunan Yahudi Dunamah sari Salonika yang sangat membenci eksitensi Khilafah.</p>
<p>Memori kelabu itu akan menjadi cambuk yang selalu menyadarkan kita untuk melangkah berjuang bersama, berjuang dengan para pejuang penegak Khilafah yang saat ini bertebaran di seluruh penjuru dunia. Mari kita berikan seluruh potensi yang kita miliki demi dakwah untuk melanjutkan kehidupan yang islami dengan ditegakkannya institusi Khilafah Islamiyah. Sosialisme yang sebelumnya mencengkeram umat Islam telah tewas di negeri sendiri. Kapitalisme yang menjajah umat Islam dengan gaya barunya sudah menjadi bahan caci-maki. Itu artinya, era datangnya kembali Khilafah ?ala Minhaji Nubuwah tinggal tunggu waktu. Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;&#8230;Kemudian akan ada Khilafah yang berdasarkan Metode Kenabian.&#8221; </em><strong>(HR Ahmad)</strong>. Ya, Khilafah sudah dekat! Insya Allah. <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/khilafah-sudah-dekat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minyak Membawa Sengsara</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/minyak-membawa-sengsara</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/minyak-membawa-sengsara#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 01:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 08/Juli 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Juli/2008

Indonesia negeri yang cukup kaya dengan sumber daya alam. Salah satunya adalah minyak. Meski disebut-sebut hanya memiliki 4 persen dari total ?lumbung&#8217; minyak yang ada di dunia ini, namun mampu memberikan penghidupan yang layak bagi pengelolanya. Sayangnya, para pengelola itu justru tangan-tangan terampil milik perusahaan asing yang mengeksplorasi emas hitam ini. Sama seperti di Tembaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Juli/2008<br />
</strong></p>
<p>Indonesia negeri yang cukup kaya dengan sumber daya alam. Salah satunya adalah minyak. Meski disebut-sebut hanya memiliki 4 persen dari total ?lumbung&#8217; minyak yang ada di dunia ini, namun mampu memberikan penghidupan yang layak bagi pengelolanya. Sayangnya, para pengelola itu justru tangan-tangan terampil milik perusahaan asing yang mengeksplorasi emas hitam ini. Sama seperti di Tembaga Pura, ribuan ton emas dihasilkan dari sana setiap bulannya, namun yang kaya adalah seorang selebriti Amerika bernama McMoran pemilik perusahaan bernama Freeport McMoran.</p>
<p>Lalu siapa para pengelola minyak di negeri ini? Meski Indonesia memiliki perusahaan pertambangan minyak nasional yang akrab kita sebuat Pertamina, namun kenyataannya tak banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan tersebut, apalagi negara. Sungguh ironi memang. Ini bukan tanpa alasan, perusahaan-perusahaan asing yang wara-wiri di negeri ini sebagai juragan minyak menggerogoti jatah negara. Mereka memang memiliki teknologi dan sumber daya manusia yang handal-itu sebabnya menjadi mitra pemerintah dalam mengeksplorasi minyak mentah, tapi bukan berarti dibiarkan leluasa ?menjarah&#8217; harta kekayaan negeri ini semau mereka tanpa kendali sedikit pun.<span id="more-1143"></span></p>
<p>Aneh memang, meski memiliki minyak yang seharusnya membawa kemakmuran dan kesejahteraan, ternyata minyak malah membawa sengsara. Tingginya harga minyak dunia yang sempat menyentuh angka 124 US dolar per gentong (dalam bahasa perminyakan disebut barel), bukannya memberikan keuntungan bagi negeri ini sebagai salah satu produsen minyak, yang terjadi justru kebingungan yang berujung kerugian. Bingung? Rugi? Why?</p>
<p>Iya, karena Indonesia tak memiliki cukup kilang minyak untuk mengolah minyak mentah menjadi minyak &#8220;matang&#8221; dalam bentuk solar, premium, avtur, dan sejenisnya. Untuk mendapatkan premium dan solar, pemerintah terlebih dahulu harus mengekspor minyak mentah ke negara-negara yang memiliki industri pengolahan minyak karena di dalam negeri jumlahnya sedikit dan tentu tak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dalam waktu cepat. Kemudian pemerintah harus mengimpor kembali minyak yang sebelumnya sudah diekspor tersebut. Ongkos ekspor ternyata nggak sebanding dengan ongkos untuk impor. Parahnya lagi, saat ekspor dan impor minyak itulah berkeliaran para mafia minyak yang mengambil untung dari penjualan tersebut. Tak heran jika pengamat ekonomi Hendri Saparini berkomentar: &#8220;Ekspor dan impor itu ada mafianya, dan hal itu yang memberatkan APBN. Maka itu, reformasi tata niaga migas perlu dilakukan. Hal itu yang memberatkan APBN.&#8221;</p>
<p>Punya kekayaan tak selamanya bisa bahagia. Memiliki minyak melimpah, ternyata malah membawa sengsara. Beginilah cara kapitalisme mengatur kehidupan. Apa mau terus begini? <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/minyak-membawa-sengsara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari (Jangan) Berhemat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mari-jangan-berhemat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mari-jangan-berhemat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 00:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 08/Juli 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1142</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/Juli/2008

Ketika rumor kenaikan BBM mencapai kenyataan, seiring kenaikan harga minyak dunia, Presiden SBY (lagi-lagi) menyerukan pentingnya berhemat energi. Seruan ini klise yang berulang-ulang. Jauh sebelum rencana kenaikan harga BBM, publik sudah dihimbau untuk berhemat pemakaian listrik. Iklannya pun berulang-ulang ditayangkan di layar kaca.
Bukan saja klise, seruan penghematan juga kosong. Miskin dari aksi. Satu stasiun televisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/Juli/2008<br />
</strong></p>
<p>Ketika rumor kenaikan BBM mencapai kenyataan, seiring kenaikan harga minyak dunia, Presiden SBY (lagi-lagi) menyerukan pentingnya berhemat energi. Seruan ini klise yang berulang-ulang. Jauh sebelum rencana kenaikan harga BBM, publik sudah dihimbau untuk berhemat pemakaian listrik. Iklannya pun berulang-ulang ditayangkan di layar kaca.</p>
<p>Bukan saja klise, seruan penghematan juga kosong. Miskin dari aksi. Satu stasiun televisi menayangkan gambar kantor-kantor pemerintah yang lampunya terus benderang meski telah tutup, termasuk di hari libur. Di jalan kita sering melihat mobil pemerintah dan aparat keamanan bersliweran. Mobil-mobil itu BBM-nya pasti menggunakan uang pemerintah. Dan bukan rahasia lagi bahwa untuk keperluan pribadi pun sering mobil dinas menggunakan uang kantor. Itu berarti uang rakyat.<span id="more-1142"></span></p>
<p>Agar berhemat BBM, Pertamina membatasi pembelian BBM oleh pemilik kendaraan bermotor untuk kawasan Jabodetabek. Motor hanya boleh membeli BBM sebanyak Rp 15 ribu. Tapi, lagi-lagi sebuah ironi terjadi. Dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, belasan motor gede melaju kencang di jalan raya, bahkan melewati jalan tol yang sebenarnya terlarang bagi kendaraan roda dua. Rombongan motor mewah itu menempuh rute Jakarta-Surabaya untuk memperingati hari Kebangkitan Nasional. Mari kita hitung, berapa bensin yang dibutuhkan untuk satu motor yang rata-rata berkapasitas 1500 cc itu. Pastinya di atas motor bebek. Dan berapa ratus liter yang dibutuhkan untuk mengisi sekian belas tanki motor, dan untuk menempuh jarak Jakarta-Surabaya. Bukankah itu sebuah pemborosan?</p>
<p>Kembali untuk membuktikan klise dan kosongnya seruan penghematan. Tepat tanggal 20 Mei, untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional, sebuah pesta seremonial nan akbar diselenggarakan pemerintah. Acara hiburan yang meriah pun ditabuh. Berapa miliarkah biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk itu? Tidak lama lagi pemerintah pun akan membangun monumen pemuda yang biayanya diperkirakan mencapai Rp 3 miliar. Lalu apa artinya himbauan berhemat yang diserukan Presiden dalam pidatonya? Kosong!</p>
<p>Mengapa ketika seruan berhemat dan menyelamatkan APBN, selalu rakyat yang dikorbankan? Mengapa rakyat yang diseru untuk berhemat? Bukankah lebih terhormat jika para pemimpin yang terlebih dahulu mempraktikan gaya hidup hemat? Bahkan bagi si miskin, masih adakah lagi yang bisa dihemat?</p>
<p>Bukankah lebih adil jika penghematan dimulai dari kantor-kantor pemerintah, penggunaan anggaran pemerintah, dan pemotongan gaji-gaji para pejabat negara dan wakil-wakil rakyat? Sayang, pemerintah selalu mengorbankan rakyat terlebih dahulu. Karena itu jalan pintas yang paling mudah dan menguntungkan bagi mereka, sama seperti halnya dengan menjual aset-aset bangsa kepada pihak asing. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mari-jangan-berhemat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Krisis Energi vs Krisis Pangan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/krisis-energi-vs-krisis-pangan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/krisis-energi-vs-krisis-pangan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 23:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 08/Juli 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1106</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/Juli/2008
Diam-diam, saat ini sedang berkecamuk perang dahsyat antara energi dan pangan. Ibarat lingkaran setan tak berujung, krisis energi dan pangan? terus menghantui dunia. Bagaimana tidak, banyak orang pintar yang dengan kreatifnya mengatasi krisis energi dengan membuat sumber-sumber energi alternatif yang berbahan baku dari produk pangan. Seperti energi dari kedelai, ubi, singkong, gandum, dll.
Sumber pangan pokok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FRESH!/Juli/2008</strong></p>
<p><a href="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2008/07/hunger.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-1107" style="float: right;" title="hunger" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2008/07/hunger-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Diam-diam, saat ini sedang berkecamuk perang dahsyat antara energi dan pangan. Ibarat lingkaran setan tak berujung, krisis energi dan pangan? terus menghantui dunia. Bagaimana tidak, banyak orang pintar yang dengan kreatifnya mengatasi krisis energi dengan membuat sumber-sumber energi alternatif yang berbahan baku dari produk pangan. Seperti energi dari kedelai, ubi, singkong, gandum, dll.</p>
<p>Sumber pangan pokok manusia di seantero jagad itu dialihfungsikan menjadi sumber energi alternatif. Dampaknya, tentu saja rawan krisis pangan. Harga pangan melambung akibat kelangkaan.</p>
<p>Kedelai misalnya, tembus hingga Rp 7.500/kg dari Rp 3.450/kg. Maka jangan heran kalau bangsa ini justru bangga disebut &#8220;bangsa tempe&#8221; atau dijuluki &#8220;bermental tempe&#8221;. Karena, toh, tempe saat ini termasuk barang mewah.? Apalagi bahan bakunya pun impor dari negeri Paman Sam. Dan, usut punya usut, mahalnya harga kedelai terjadi akibat pengalihan minyak mentah dengan biofuel oleh AS.<span id="more-1106"></span></p>
<p>Di sisi lain, krisis energi memicu kelangkaan bahan bakar yang banyak dibutuhkan oleh industri pangan. Petani butuh solar untuk traktornya. Nelayan butuh bensin untuk melaut. Pabrik pengolahan makanan butuh &#8216;pelicin&#8217; agar mesinnya bekerja. Nah, kalau BBM kemudian langka dan mahal, maka produksi pangan pun terseok-seok hingga mengancam kelangsungan hidup umat manusia.</p>
<p>Organisasi Kerja Sama Ekonomi Pembangunan (OECD) dan Organisasi Pangan Dunia (FAO) memprediksikan, satu dasawarsa ke depan (2007-2016), bakal terjadi perubahan struktur dasar perdagangan komoditas pertanian secara permanen. Perubahan struktur ini akan mengimbas pada pergeseran pola konsumsi produk pertanian dunia.</p>
<p>Perubahan pola konsumsi produk serealia akibat terus meningkatnya permintaan kebutuhan bahan bakar alternatif dalam bentuk etanol dan biodiesel, mau tidak mau berpengaruh baik terhadap produksi maupun harga komoditas pertanian, seperti beras, jagung, gandum, dan kedelai.</p>
<p>Kondisi ini, tak dapat dilepaskan dari situasi perpolitikan dan perekonomian dunia, terutama AS. AS yang menyumbang sekitar 30 persen dari produk domestik bruto dunia harus diakui masih merupakan perekonomian terbesar, sekaligus juga pusat keuangan dunia. Dengan demikian, analogi &#8220;AS bersin, seluruh dunia ikut demam&#8221; masih berlaku.</p>
<p>AS berusaha &#8216;menyelamatkan&#8217; diri dari kebangkrutan, dengan merekayasa harga minyak dunia. Selama ini, AS menguasai minyak dari hulu sampai hilir. Mulai dari perdagangan, teknologi eksplorasi, produk derivat bahkan modal. Walhasil kenaikan harga minyak dunia mampu menggelembungkan anggaran belanja AS yang sedang sekarat.</p>
<p>Di sisi lain, dunia pun sedang gencar merekayasa program pengembangan bahan bakar nabati (BBN), yang bersumber dari bahan pangan. Brazil misalnya telah mengkonversi 50 persen tebunya untuk menghasilkan etanol. AS memproduksi besar-besaran etanol sekitar 23 persen dari produksi jagung. Eropa memperkirakan produksi etanol sebanyak 15 miliar liter pada 2016.</p>
<p>Tingginya kebutuhan jagung, gandum, minyak nabati, tebu dan kedelai, menyebabkan berlakunya hukum ekonomi bagi petani. Komoditas yang paling banyak memberikan keuntungan akan diserbu, sedangkan komunitas lain kurang diminati. Akibatnya terjadi tarik menarik antara <em>food for food or food for fuel. </em></p>
<p><em> </em>Lantas bagaimana seharusnya? Saatnya umat Islam mandiri, tanpa tergantung pada pihak asing. Apalagi pada negara kafir. Dalam penyediaan energi, negeri-negeri Islam sejatinya kaya akan sumber bahan bakar. Sayang, hampir semuanya dikuasai dan hanya menguntungkan pihak asing. Ini yang harus direbut oleh umat Islam, dikembalikan kepada khittahnya sebagai kepemilikan umum untuk kesejahteraan rakyat. Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Kaum muslimin itu berserikat dalam tiga perkara, dalam padang gembalaan, air dalam api (energi)&#8221;</em> <strong>(HR Abu Dawud)</strong></p>
<p>Dengan pengelolaan yang tepat dan adil, insya Allah tidak akan terjadi krisis energi. Sebab kita yakin, Allah Swt menciptakan alam berikut sumber dayanya, pasti cukup untuk seluruh umat manusia hingga kiamat kelak. Dengan begitu tidak perlu energi alternatif yang menggerogoti sumber pangan. Walhasil, krisis pangan pun dapat terhindarkan. Percayalah, tanpa Islam, sampai kapan pun krisis energi dan pangan akan terus menghantui. <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/krisis-energi-vs-krisis-pangan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senandung Ceking [3]</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking-3</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking-3#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 07:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 08/Juli 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1104</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/Juli/2008

By: Nafiisah FB
Kambing Hitam telah tiada. Pak Money kehilangan transaksinya. Empat persen keuntungan tambang emas tinggal impian.
Pak Money di depan mobil kencananya saat ini berhadapan dengan para warga. Amarahnya tampak jelas dari rona merah di wajahnya. Beberapa pengawalnya berjaga-jaga.
&#8220;Takutlah kepada Gusti Allah, Money! Kekayaanmu tidak akan membuat dirimu masuk Surga tanpa taubatmu!&#8221; teriak Kyai Kaji [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/Juli/2008<br />
</strong></p>
<p><strong>By: Nafiisah FB</strong></p>
<p><a href="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2008/07/anak_dan_burung_2.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-1105" style="float: right;" title="anak_dan_burung_2" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2008/07/anak_dan_burung_2-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Kambing Hitam telah tiada. Pak Money kehilangan transaksinya. Empat persen keuntungan tambang emas tinggal impian.</p>
<p>Pak Money di depan mobil kencananya saat ini berhadapan dengan para warga. Amarahnya tampak jelas dari rona merah di wajahnya. Beberapa pengawalnya berjaga-jaga.</p>
<p>&#8220;Takutlah kepada Gusti Allah, Money! Kekayaanmu tidak akan membuat dirimu masuk Surga tanpa taubatmu!&#8221; teriak Kyai Kaji yang berdiri gagah memimpin warga.</p>
<p>Pak Money semakin menggelegak.</p>
<p>&#8220;Wahai pengawal-pengawal Money! Kalian adalah manusia-manusia terbaik yang Allah turunkan untuk mengawal desa ini menuju kemakmuran, menuju keadilan! Apakah kalian rela untuk terus-menerus membela kezoliman! Padahal anak kalian, ibu kalian, bapak kalian, saudara-saudara kalian telah banyak yang menjadi korban! Padahal mereka semua rindu akan pembelaan kalian! Kalian yang terbaik di antara kami! Gusti Allah akan memberikan berkah bagi hidup kalian! Surga!&#8221; teriak Kyai Kaji dalam semangat yang semakin berkobar.<span id="more-1104"></span></p>
<p>Para pengawal Money saling pandang satu sama lain. Kata-kata Kyai Kaji memunculkan sinar bagi mereka. Sebuah terang ada di hadapan.</p>
<p>&#8220;Heh, kenapa kalian diam! Habisi mereka! Mereka cuma wong deso bodoh! Kyai Kaji itu cuma kasih mimpi ke kalian! Jangan percaya dia! Percaya saja sama aku! Money!&#8221; teriak Pak Money panik.</p>
<p>Pak Money menarik peti-peti uangnya dari dalam mobil kencana. Tertatih. Peti-peti itu terbuka. Uang bertumpuk di dalam. Emas beribu gram teronggok di dalam. Para pengawal menatapi peti-peti lalu perlahan mengalihkan pandangan menuju pemakaman di seberang.</p>
<p>Uang berdarah. Emas kematian. Mereka kembali memandangi Pak Money, lalu melangkah perlahan menuju barisan Kyai Kaji. Cahaya dari kata-kata Kyai Kaji semakin benderang. Mereka kini muak. Uang dan emas tidak lagi mereka hiraukan.</p>
<p>Pak Money panik dan semakin. Dia berteriak kepayahan dalam rasa kecutnya.</p>
<p>&#8220;Kalian bodoh! Goblok!&#8221; umpat Pak Money sambil melempar-lempar uang dan emas dari peti-peti.</p>
<p>Pak Money menangis! Emak tercenung melihat itu.</p>
<p>&#8220;Apakah itu Pak Money yang aku lihat Ya Allah? Dia menangis! Apakah doaku saatnya kini Engkau kabulkan?&#8221; batin Emak tidak berhenti bertanya.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>Kyai Kaji sedang memimpin rapat. Wajahnya yang semakin menampakkan kerut dan janggut panjang yang semakin memutih tidak membiaskan kharisma kepemimpinannya.</p>
<p>Sebagai pemimpin desa dialah pemegang kendali kini. Beberapa perwakilan warga berkumpul melingkarinya. Ruang utama di lantai satu mesjid megah itu ramai dengan argumentasi dengan sesekali diinterupsi oleh suara Kyai Kaji yang bijak mengingatkan.</p>
<p>&#8220;Untuk hal seperti ini kita butuh ahlinya. Kita tunggu sebentar beliau datang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, Kyai, kita sudah menunggu tiga puluh menit.&#8221; Seorang bapak menyatakan ketidaksetujuannya.</p>
<p>&#8220;Sabar. Dia sedang menuju ke sini. Dia baru saja memberitahu ojek yang ditumpangi terpeleset. Jadi, agak terlambat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221;</p>
<p>Sebuah suara berat terdengar membahana. Semua mata mengarah kepadanya. Sosok tinggi tegap itu sudah berada di ambang pintu.</p>
<p>&#8220;Masuk Money!&#8221; sila Kyai Kaji.</p>
<p>Pak Money masuk dan langsung duduk? bersila di hadapan warga.</p>
<p>&#8220;Baik! Karena ahlinya sudah tiba, baiknya kita lanjutkan segera diskusi kita. Silakan, Money.&#8221;</p>
<p>Pak Money tersenyum, mengangguk hormat kepada Kyai Kaji. Dia kemudia menebar pandangan kepada semua warga termasuk seorang pemuda tampan yang duduk di antara mereka.</p>
<p>&#8220;Saya ingin anak saya membantu menjelaskan, Kyai. Jadi, saya minta ijin dia duduk di depan bersama saya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh,ya. Silakan. King, ke sini kamu!&#8221; Lambai tangan Kyai Kaji.</p>
<p>Pemuda tampan itu mendekat. Dia tetap dipanggil Ceking walaupun tidak lagi kurus kering. Diskusi dilanjutkan.</p>
<p>Ceking melihat Pak Money menguraikan penjelasan dengan diringi senyuman kebanggaan dan syukur yang mendalam. Dia bersyukur dia tidak melihat lagi anak-anak kurus kering berperut buncit di Desa Makmur. Dia bersyukur bisa bahu-membahu mempersembahkan yang terbaik bersama bapak tirinya, Pak Money. Dan dia tetap menyenandungkan doa dalam batinnya. Doa untuk keberkahan bagi desa, dan doa agar dia dimatikan dalam keadaan taat kepada Allah, Rabb-nya. <strong>[SELESAI]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Kapitalisme, Mas!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ini-kapitalisme-mas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ini-kapitalisme-mas#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:02:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 07/Juni 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1034</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Juni/2008
Berharap pendidikan murah dan gratis dalam kapitalisme? Ada. Sekolah itu berada di bawah kolong jembatan layang, di tengah pemukiman kumuh, dengan fasilitas seadanya. Sekolah Kartini di Jakarta, contohnya. Meski mengklaim pendidikannya tak kalah dengan sekolah &#8220;normal&#8221;, tapi tetap saja keberadaan sekolah tersebut adalah bagian dari potret buruk produk kapitalisme. Hmm.. ternyata sekolah pun sudah menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Juni/2008</strong></p>
<p>Berharap pendidikan murah dan gratis dalam kapitalisme? Ada. Sekolah itu berada di bawah kolong jembatan layang, di tengah pemukiman kumuh, dengan fasilitas seadanya. Sekolah Kartini di Jakarta, contohnya. Meski mengklaim pendidikannya tak kalah dengan sekolah &#8220;normal&#8221;, tapi tetap saja keberadaan sekolah tersebut adalah bagian dari potret buruk produk kapitalisme. Hmm.. ternyata sekolah pun sudah menjadi barang dagangan. Fasilitas berbanding lurus dengan harga. Meski dalam urusan kualitas masih bisa diperdebatkan. Sebab, tak sedikit mereka yang berkualitas baik justru lahir dari sekolah biasa saja. Ini kapitalisme Mas, urusan sekolah pun dibatasi distribusi aksesnya dengan harga. Yang miskin? Sudah beruntung mendapat pendidikan meski di sekolah yang fasilitasnya beda tipis dengan kandang sapi.<span id="more-1034"></span></p>
<p>Masih percaya bahwa kapitalisme akan melahirkan manusia-manusia unggul? Mungkin saja. Lihatlah tak sedikit di negeri ini yang pintar secara akademik dan mendapatkan kesuksesan dan kemakmuran di bidangnya masing-masing. Tapi soal akidah, akhlak dan pelaksanaan syariat, banyak pelajar, mahasiswa, bahkan intelektual dan ilmuwan muslim yang sangat miskin. Digdaya di bidang akademik, tapi kedodoran di bidang akidah dan akhlak. Hasilnya, pendidikan bukannya melenyapkan kebodohan, tetapi malah membantu menciptakan kebodohan dan kemaksiatan. Mengapa bisa begitu? Ini kapitalisme, Mas! Akidah kapitalisme, yakni sekularisme memang menghendaki pendidikan yang steril dari nilai-nilai agama. Agama boleh ada dan diyakini oleh pemeluknya masing-masing, tapi dalam urusan kehidupan dunia, agama tak berhak turut campur termasuk dalam urusan bernegara.</p>
<p>Yakin bahwa kapitalisme akan mampu memberikan kesejahteraan? Bisa saja. Lihat para pemilik modal saat ini yang bisa aman dan sejahtera di bawah naungan kapitalisme. Anak-anak mereka bisa menikmati pendidikan dengan fasilitas yang mewah, bahkan mampu menyekolahkannya di luar negeri. Sementara anak-anak pemulung, anak petani, anak para pengangguran tak akan pernah mendapat tempat untuk menikmati pendidikan, bahkan sekadar memimpikannya. Sebab, uang dua puluh ribu rupiah hasil kerja keras orangtuanya sehari penuh harus dibagi untuk keperluan dapur. Celakanya, sering tak bisa membeli nasi, minyak tanah, apalagi lauknya karena harga-harga sembako mencekik leher yang sudah kurus kering tersebut. Jika pun ada di antara mereka yang bisa mengenyam pendidikan tinggi, jumlahnya sangat sedikit dan itupun karena kebetulan mendapatkan beasiswa. Menderita benar. Ya, inilah kapitalisme Mas! Tak semua orang bisa masuk sekolah berkualitas jika tak punya <em>fulus</em>.</p>
<p>Lalu, mengapa kita masih berharap, masih percaya, dan masih yakin bahwa kapitalisme akan menyelamatkan kehidupan manusia? Rasa-rasanya, sekarang juga kita harus sadar dan menyadari bahwa kita sedang berada dalam pusaran gelombang yang cepat atau lambat akan membawa kematian kepada kita tanpa bisa menikmat kebahagiaan sedikitpun. Sengsara sampai akhir hayat. Ya, inilah kapitalisme, Mas! <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ini-kapitalisme-mas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Miskin Dilarang Pintar</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/orang-miskin-dilarang-pintar</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/orang-miskin-dilarang-pintar#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 23:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 07/Juni 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/Juni/2008

&#8220;Mau pintar kok mahal. Tanya kenapa?&#8221;? Iklan produk rokok yang pernah populer itu memang cukup menggelitik. Ya, di negeri berpenduduk 240 juta jiwa ini, pendidikan adalah barang mewah. Kendati pemerintah mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar
(wajardikdas) sembilan tahun, nyatanya rakyat tak diberi kesempatan mengenyam bangku sekolah.
Setidaknya, bagi rakyat miskin yang untuk memikirkan isi perut pun pusing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FRESH!/Juni/2008<br />
</strong></p>
<p>&#8220;Mau pintar kok mahal. Tanya kenapa?&#8221;? Iklan produk rokok yang pernah populer itu memang cukup menggelitik. Ya, di negeri berpenduduk 240 juta jiwa ini, pendidikan adalah barang mewah. Kendati pemerintah mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar<br />
(wajardikdas) sembilan tahun, nyatanya rakyat tak diberi kesempatan mengenyam bangku sekolah.</p>
<p>Setidaknya, bagi rakyat miskin yang untuk memikirkan isi perut pun pusing tujuh keliling. Apalagi mikirin sekolah. Walhasil, hak anak-anak di negeri ini pun terenggut. Lihatlah, betapa banyak anak-anak tak bisa sekolah atau drop out karena keadaan ekonomi orangtuanya yang morat-marit. Wajah polos anak-anak yang haus ilmu itu, terganti wajah sendu karena turut memikirkan perutnya sendiri.<span id="more-1033"></span></p>
<p>Wajah yang semestinya cerah ceria dengan memuaskan gelegak keingintahuannya di sekolah, berganti dengan bermuram durja. Begitulah jika ilmu sudah terlanjur mahal. Untuk masuk ke sekolah dompet harus tebal. Memang ada, beberapa sekolah gratis di berbagai daerah tertentu. Seperti di Jembrana Bali, Kota Bogor, dll. Namun biasanya tak murni cuma-cuma. Pada praktiknya, ada saja beban yang harus ditanggung orang tua, dimana bagi si miskin cukup memusingkan. Seperti biaya seragam, buku-buku, ongkos transportasi, iuran OSIS, biaya ujian, dll.</p>
<p>Ironisnya, anak-anak orang kaya yang mendapat fasilitas pendidikan sangat baik, tak sedikit yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Ada pelajar di sekolah favorit nan mahal, prestasinya pas-pasan. Maklum, masuknya juga nggak pakai modal otak, yang penting ada duit. Biarpun nilai tak memenuhi kriteria, tapi karena bisa &#8220;beli bangku&#8221;, ya diterima dengan tangan terbuka. Mungkin pelajar model gini berpikir, untuk apa pintar, toh jaminan materi orangtua tak habis tujuh turunan. Untuk apa giat belajar, toh nilai bisa dibeli. Untuk apa takut, kalau kelulusan pun bisa dikatrol.</p>
<p>Maaf, tanpa bermaksud merendahkan peranan para guru, dengan tingkat kesejahteraan yang sangat rendah, ada saja oknum pendidik yang bisa dikendalikan oleh rupiah. Jangan heran jika mendengar berita, baru-baru ini 16 guru di Deli Serdang digelandang ke kantor polisi karena kepergok mengganti lembar jawaban siswanya. Kasus seperti itu tidaklah mengejutkan. Curang dalam UN seolah sudah menjadi tradisi. Biasanya semua cuek, dan ketidak-adilanpun dibiarkan. Mengapa para guru melakukan hal itu? Demi mempertahankan nama baik sekolah dan meningkatkan bargaining: ini loh, siswa-siswi kami berprestasi, bisa lulus 100 persen. Dengan demikian, ada alasan bagi sekolah tersebut untuk menaikkan sumbangan dana pembangunan pada tahun ajaran baru berikutnya. Betul-betul kapitalis.</p>
<p>Ya, buruknya sistem pendidikan ini tak lepas dari paradigma pendidikan sekuler yang telah mengakar kuat. Pendidikan yang dibangun atas azas materialistis. Menurut ideologi pemisah agama dari kehidupan ini, pendidikan sah-sah saja dikomersilkan. Bahkan sedikit demi sedikit pemerintah dibiarkan berlepas tangan. Skenario anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, nyatanya cuma dongeng. Pendidikan sekuler,<br />
sekadar melihat keberhasilan dari nilai-nilai. Maka apapun dilakukan demi nilai, tak peduli halal atau haram. Yah, apa boleh buat. Kalau sudah begini, pertanda &#8220;orang miskin dilarang pintar dan orang kaya tak perlu cerdas.&#8221; Tanya kenapa? <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/orang-miskin-dilarang-pintar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Ningrat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sekolah-ningrat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sekolah-ningrat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 11:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 07/Juni 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/Juni/2008
Di akhir masa kejayaannya, pemerintah kolonial Belanda akhirnya membuka sekolah bagi kaum inlandeer. Namanya Sekolah Rakyat (SR). Tentu bukan karena Belanda berbaik hati ingin mencerdaskan kaum pribumi, tapi ini taktik baru penjajahan; merangkul hati kaum pribumi agar tak lagi mempersoalkan penjajahan.
Tentu sekolah ini tak sama seperti sekolah umum saat ini. Amat sangat terbatas. Lagipula, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/Juni/2008</strong></p>
<p>Di akhir masa kejayaannya, pemerintah kolonial Belanda akhirnya membuka sekolah bagi kaum <em>inlandeer</em>. Namanya Sekolah Rakyat (SR). Tentu bukan karena Belanda berbaik hati ingin mencerdaskan kaum pribumi, tapi ini taktik baru penjajahan; merangkul hati kaum pribumi agar tak lagi mempersoalkan penjajahan.</p>
<p>Tentu sekolah ini tak sama seperti sekolah umum saat ini. Amat sangat terbatas. Lagipula, tidak sembarang orang boleh melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Hanya kaum ningrat yang diijinkan. Di mana kaum ningrat umumnya punya hubungan spesial dengan penjajah Belanda.</p>
<p>Belanda sadar, bahwa pendidikan bisa menjadi alat perjuangan yang berbahaya bagi rakyat jajahan. Memberikan kecerdasan bagi kaum jajahan sama artinya memberikan mesiu perlawanan kepada mereka. Bahkan kecerdasan jauh lebih berbahaya ketimbang mesiu, senapan dan meriam. Maka pendidikan harus dikebiri.<span id="more-1032"></span></p>
<p>Hanya para ningrat, para <em>meneer</em> <em>ireng</em>, yang boleh bersekolah. Karena loyalitas mereka telah teruji. Mereka tak akan memberontak, bahkan mendukung pendudukan Belanda. Mereka pula yang menindas perlawanan rakyat. Persis seperti yang diceritakan Douwes Dekker atau Multatuli dalam novelnya <em>Max Havelaar</em>.</p>
<p>Padahal, manusia harus pintar. Dan pendidikan adalah hak asasi manusia menurut dogma demokrasi, dan kewajiban menurut Islam. Tapi apa lacur, kapitalisme telah menjadikan bangku sekolah sebagai barang dagangan. Harus dibeli bahkan dengan harga yang tinggi pula. Kini, seperti kembali ke masa lampau, hanya kaum ningrat yang bisa bersekolah di tempat yang bagus, bermutu dan beranjak ke jenjang yang lebih tinggi. Jangan bermimpi anak seorang petani di Gunung Kidul, atau pedagang asongan di jalanan Jakarta bisa menyekolahkan anaknya di fakultas kedokteran negeri, apalagi swasta. Perlu puluhan bahkan mungkin ratusan juta rupiah untuk bisa menerobos ke sana.</p>
<p>Di mana ada kebutuhan, di situ diperlukan uang. Keluarga-keluarga muslim pun harus memilih; mau sekolah biasa-biasa saja maka masuklah ke sekolah negeri. Di mana satu kelas berjejalan 40-an anak, dengan pengajar tunggal, dan keadaan yang serba kedodoran.</p>
<p>Mau yang bermutu dan unggulan? Jangan khawatir, ada sekolah-sekolah Islam bagi keluarga-keluarga muslim yang menginginkan anaknya bisa mendapat pendidikan yang layak dan agamis. <em>&#8220;Kalau enam tahun rusak, maka bisa rusak pula masa depannya,&#8221;</em> tutur seorang kenalan beralasan menyekolahkan anaknya ke sebuah sekolah Islam. Tentu semua pakai uang. Banyak pula.</p>
<p>Jangan tanya apa alasan mendirikan sekolah dengan uang pangkal berjuta-juta. Ini adalah peluang usaha. Ketika kesadaran berislam muncul di tengah kerumunan kapitalisme, ini membuka sebuah harapan; harapan usaha. Maka dibangunlah sekolah-sekolah di mana tidak setiap anak muslim bisa duduk di bangkunya.</p>
<p>Suka atau tidak, sekolah-sekolah semacam itu memang bukan solusi di alam kapitalisme. Ia hanya semakin menyisakan persoalan yang mendalam. Persoalan bagi banyak orangtua yang tidak mampu merogoh koceknya dalam-dalam. Bahkan banyak guru-guru di sekolah-sekolah ningrat gaya baru itu juga berkecil hati. Tidak ada jaminan anak-anak mereka juga bisa belajar di sana. Ironi.</p>
<p>Kapitalisme memang lihai. Itulah sebabnya ia masih bertahan. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sekolah-ningrat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senandung Ceking [2]</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking-2#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 05:56:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 07/Juni 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1031</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/Juni/2008
By: Nafiisah FB
Desa Makmur senja hari itu kembali berduka. Anak semata wayang Kang Soro meninggal dunia. Busung lapar kembali memakan korban. Buncit, anak Kang Soro itu adalah korban ke 113 dari jumlah anak-anak Desa Makmur yang tersensus sebanyak 120 orang.
Warga berkumpul untuk menyertai perjalanan jenazah Buncit menuju pemakaman sederhana dengan membawa peralatan seadanya. Buncit dikebumikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/Juni/2008</strong></p>
<p>By: Nafiisah FB</p>
<p>Desa Makmur senja hari itu kembali berduka. Anak semata wayang Kang Soro meninggal dunia. Busung lapar kembali memakan korban. Buncit, anak Kang Soro itu adalah korban ke 113 dari jumlah anak-anak Desa Makmur yang tersensus sebanyak 120 orang.</p>
<p>Warga berkumpul untuk menyertai perjalanan jenazah Buncit menuju pemakaman sederhana dengan membawa peralatan seadanya. Buncit dikebumikan tanpa nisan.</p>
<p>Pak Money, Sang Kepala Desa, sebelumnya memberitahukan hanya bisa membantu memberikan kain kafan. Dia bahkan mengantarkannya sendiri kepada Kang Soro dengan mengendarai mobil kencananya yang mewah. Namun, Kang Soro tidak kuasa membendung amarah.</p>
<p>&#8220;Bawa saja lagi kain kafan itu! Bawa saja belas kasihan Tuan yang pura-pura! Bawa saja mobil kencana Tuan yang seharusnya bisa menyelamatkan anak saya dan 112 anak lainnya dari kematian!&#8221; Kang Soro mendorong-dorong Pak Money dalam gelegak emosi.<span id="more-1031"></span></p>
<p>Beberapa bapak segera menahan Kang Soro agar tidak bertambah kalap.</p>
<p>&#8220;Kang tahan, Kang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sabar, Kang!&#8221;</p>
<p>Para bapak itu berusaha menenangkan Kang Soro. Kang Soro tidak surut. Airmata sudah tidak ada. Tinggal teriakan kemarahan yang tersisa. Teriakan lemah.</p>
<p>&#8220;Bawa sajaaaa!&#8221;</p>
<p>Kang Soro melempar kain kafan ke wajah Pak Money. Pak Money tetap berdiri dengan tatapan dingin. Sedetik kemudian dia bergerak tanpa rasa kembali ke mobil kencananya.</p>
<p>Yu Soro sesegukan di bahu Emak. Emak pun menangis. Dia menangis untuk senja itu, untuk Buncit. Dia juga menangis untuk Ceking yang entah kapan namun tinggal menanti hari menyusul Buncit.</p>
<p>&#8220;Cit, kok kamu tidur aja?&#8221;</p>
<p>Ceking termangu menatap jasad Buncit. Saudaranya kembali hilang satu. Dia tidak mengerti kenapa harus dia, harus mereka. Dia mengusap-usap air mata, lalu menarik lendir dari hidungnya.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>&#8220;Pak Money perutnya juga buncit, Mak. Tapi, Pak Money selalu punya uang dan ndak pernah kelaparan. Dia pasti ndak bisa mati!&#8221;</p>
<p>Ceking mengobrolkan isi hati perihal kematian Buncit. Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, memang hanya dia dan Emak yang menempati kamar itu. Pa&#8217;e sudah lama meninggal tiga tahun lalu ketika kerja di ibukota sebagai kuli bangunan.</p>
<p>&#8220;Setiap manusia itu pasti mati, King. Gusti Allah yang menentukan kapan. Tapi, kita manusia yang menentukan bagaimana,&#8221; jelas Emak sambil merapikan jemuran yang rata-rata telah kusam dan usang.</p>
<p>&#8220;Ceking ndak ngerti, Mak.</p>
<p>Ceking masih berkerut kening sambil terus mengikat erat perutnya. Itu yang diminta Emak kalau waktu tidur akan tiba. Resep anti lapar, begitu Emak pernah katakan kepada Ceking.</p>
<p>&#8220;Gusti Allah saja yang tahu kapan manusia itu akan meninggal, karena Gusti Allah yang menciptakan manusia. Tapi, manusia yang harus berusaha dalam keadaan bagaimana dia menghadapi kematian. Apakah dalam keadaan taat kepada Gusti Allah atau menentang Gusti Allah.&#8221;</p>
<p>Emak menuntaskan pekerjaannya. Dia menjulurkan kaki, memijit-mijit bagian lutut.</p>
<p>&#8220;Kalo Ceking mati pas Ceking mengaji atau sholat di surau apa berarti Ceking mati dalam taat kepada Gusti Allah, Mak?&#8221;</p>
<p>Emak terhenyak. Pijitan tangan di atas kedua lututnya terhenti.</p>
<p>&#8220;Ceking enggak mau, Mak! Ceking mati pas Ceking berantem! Ceking tobat, Mak! Ceking ndak bakal ganggu Kambing Hitam Pak Money lagi!&#8221;</p>
<p>Ceking tersedu. Emak segera merangkul Ceking menahan gemuruh sedih dan gundahnya.</p>
<p>&#8220;Andai saja Pak Money mampu menangis seperti Ceking menangis saat ini, Ya Allah&#8230;.,&#8221; pinta batin Emak.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>Desa Makmur siang bolong seminggu berikutnya tiba-tiba gempar. Pak Money kehilangan Kambing Hitam miliknya. Ternyata penduduk Desa Makmur yang melakukannya. Mereka bahkan sudah menyembelih dan kini sedang mengulitinya.</p>
<p>&#8220;Biar Pak Money enggak bisa lagi bikin alasan pake&#8217; Kambing Hitam! Apa-apa Kambing Hitam!&#8221; teriak Pak Tepo berapi-api.</p>
<p>&#8220;Iyaaa!&#8221; akur yang lainnya.</p>
<p>Para penduduk memilih aksi nekad seperti itu karena Pak Money tidak mau menanggapi aspirasi warga. Pak Money ternyata diam-diam sudah bertransaksi dengan Mister Jos Wush yang penguasa negeri Liberty untuk menjual Desa Makmur kepada dirinya. Mister Wush berbisik-bisik tentang keberadaan tambang emas di Desa Makmur.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p><strong>Ruang Pribadi Pak Money, sehari sebelumnya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&#8220;I akan kasih you 4 persen bagian dari hasil tambang kalau you mau jual desa ini ke I. I janji you. You mau janji ke I?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ahai 4 persen! Lumayanlah! Emas gitu loh! Daripada enggak!&#8221; ujar Pak Money berbisik kepada Pak Sais yang saat itu menemani Pak Money.</p>
<p>&#8220;Tapi, bagaimana mana saya bilang ke warga Mister? Mereka pasti ndak mau pindah kalau saya bilang terus terang! Mereka pasti minta bagian juga! Wah,saya ndak mau! Masa&#8217; 4 persen harus dibagi-bagi lagi!&#8221;</p>
<p>Mister Wush tertawa sambil mengepulkan asap putih pekat dari cerutu mahalnya.</p>
<p>&#8220;You memang orang pintar! You berpikir sejauh itu! I suka you! Yes, yes &#8230; jangan mau untuk membagi 4 persen yang jadi hak you itu! Never!&#8221;</p>
<p>Puji-puji Mister Wush membuat dada Pak Money naik-turun. Hidungnya pun kembang-kempis. Dia bangga.</p>
<p>&#8220;Begini saja. I kasih saran sama you untuk bilang kalau desa ini sudah waktunya untuk dibangun. Kambing Hitam milik you saatnya punya teman kambing-kambing yang lain. Desa ini bisa kaya dengan beternak kambing!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, Mister. Untuk mendatangkan kambing-kambing yang lain dan memberikan gratis untuk warga pasti butuh modal,&#8221; respon Pak Money sambil menunduk malu-malu takut.</p>
<p>&#8220;Oh, yes. Betul you! Makanya, I minta transaksi ini bisa segera selesai. Supaya I bisa segera kasih tahu anak buah I untuk secepatnya menggali tambang. Kalo emas bisa ditambang dalam waktu cepat, uang juga akan segera cair. Empat persen untuk you dan kambing-kambing untuk warga you!&#8221; jelas Mister Wush sambil terkekeh.</p>
<p>Pak Money mengangguk-angguk tunduk. Pak Sais meliriknya dengan pandangan penuh kegeraman. <strong>[bersambung]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demokrasi Penghalang Kebangkitan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/demokrasi-penghalang-kebangkitan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/demokrasi-penghalang-kebangkitan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 12:05:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 06/Mei 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/demokrasi-penghalang-kebangkitan/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/MEI/2008
Bergulirnya era reformasi di negeri ini, mencuatkan harapan masyarakat untuk menuju kepada kebangkitan. Bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan. Bangkit dari kebodohan dan kesengsaraan.
Umat Islam pun mendambakan kehidupan yang lebih baik. Terutama dalam menjalankan syariat Islam yang selama Orde Lama dan Orde Baru terbelenggu.
Benih-benih kebangkitan itupun tampaknya mulai merekah. Ditandai dengan makin tingginya kesadaran umat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/MEI/2008</strong><br />
Bergulirnya era reformasi di negeri ini, mencuatkan harapan masyarakat untuk menuju kepada kebangkitan. Bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan. Bangkit dari kebodohan dan kesengsaraan.</p>
<p>Umat Islam pun mendambakan kehidupan yang lebih baik. Terutama dalam menjalankan syariat Islam yang selama Orde Lama dan Orde Baru terbelenggu.</p>
<p>Benih-benih kebangkitan itupun tampaknya mulai merekah. Ditandai dengan makin tingginya kesadaran umat untuk kembali ke jalan lurus yang mampu menghantarkan kepada kebangkitan hakiki, yakni ideologi Islam.<span id="more-933"></span></p>
<p>Masyarakat mulai melirik Islam sebagai solusi atas berbagai himpitan masalah yang terjadi akhir-akhir ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Mereka mulai sadar, betapa kapitalisme telah menindas sisi-sisi kemanusiaan mereka hingga kelaparan merajalela, gizi buruk mengancam generasi, minyak tanah menghilang, dst.</p>
<p>Namun, kebangkitan yang didambakan tak jua menyapa karena sistem sekular-kapitalisme masih setia bercokol di negeri ini. Kendati sudah jelas impotensinya dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, sistem ala Barat yang notabene buatan manusia itu masih juga dipertahankan. Bahkan anehnya, digadang-gadang menjadi resep jitu untuk memulihkan kondisi bangsa menuju lebih baik.</p>
<p>Demokrasi misalnya, masih dipuja-puja sebagai satu-satunya model pembangunan yang mampu membawa masyarakat pada kemajuan. Padahal kenyataannya, demokrasi justru penghambat kebangkitan. Sebaliknya, demokrasi membawa masyarakat pada kemunduran, kembali ke zaman jahiliyah.</p>
<p>Gara-gara demokrasi yang melegalkan kebebasan beragama misalnya, aliran sesat bertumbuhan bak jamur di musim hujan. Akidah umat yang lurus, poran-poranda oleh berbagai paham nyeleneh. Akibatnya, pola pikir umat merosot ke dalam jurang irasionalitas.</p>
<p>Gara-gara demokrasi pula yang menawarkan pemilihan pimpinan langsung, mulai ketua RW, kepala desa, bupati, walikota, gubernur hingga presiden, konflik horisontal antarwarga meluas. Umat yang satu terancam terpecah-belah karena beda partai, beda kandidat, dan bahkan beda isi amplop.</p>
<p>Gara-gara demokrasi yang mensahkan kebebasan bertingkah-laku, pornografi dan pornoaksi merebak hingga menjungkirbalikkan harkat dan martabat manusia lebih rendah dari binatang.</p>
<p>Jadi, masihkah berharap pada demokrasi sebagai resep jitu pembawa kebangkitan umat? Kalau iya, sampai kapanpun kita hanya mengejar fatamorgana. Karena itu, sudah saatnya melengserkan demokrasi dari percaturan politik, bahkan peradaban dunia. Karena demokrasi sesungguhnya tak layak disebut sebagai sebuah peradaban, kecuali peradaban jahiliyah. Mari kembali kepada Islam. <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/demokrasi-penghalang-kebangkitan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sengsara Bersama Demokrasi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sengsara-bersama-demokrasi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sengsara-bersama-demokrasi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 06:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 06/Mei 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sengsara-bersama-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/MEI/2008
Demokrasi konon kabarnya menjanjikan kebebasan, menjanjikan hidup lebih sejahtera, lebih beradab, lebih maju. Nyatanya, janji-janji itu hanya omong kosong belaka. Jika pun ada janji yang tertunaikan, adalah kebebasan tanpa batas. Pornografi kian marak, freesex ditumbuh-suburkan, kriminalitas meningkat tajam, prostitusi mendapat restu penguasa demi meraih pendapatan dari bisnis haram tersebut, makanan dan minuman haram gampang dicari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FRESH!/MEI/2008</strong><br />
Demokrasi konon kabarnya menjanjikan kebebasan, menjanjikan hidup lebih sejahtera, lebih beradab, lebih maju. Nyatanya, janji-janji itu hanya omong kosong belaka. Jika pun ada janji yang tertunaikan, adalah kebebasan tanpa batas. Pornografi kian marak, freesex ditumbuh-suburkan, kriminalitas meningkat tajam, prostitusi mendapat restu penguasa demi meraih pendapatan dari bisnis haram tersebut, makanan dan minuman haram gampang dicari dan dikonsumsi tanpa perlu malu dan takut dihukum asal ada izin dari pihak berwenang.</p>
<p>Demokrasi pun melanggengkan kemiskinan dan kian mengembangkannya karena kekayaan hanya berputar di segelintir konglomerat. Sudah begitu, korupsi menjadi-jadi. Rakyat yang katanya berkuasa dalam sistem demokrasi tak punya kekuatan sedikit pun untuk menghentikan berkeliarannya para penguasa dan koruptor lintah darat atas nama demokrasi. Rakyat hanya mampu menyaksikan pesta pora penguasa menyedot seluruh sumber daya di atas penderitaan dan kemiskinan yang melilit kuat, di depan mata seluruh rakyat yang menatap kosong dan perut dibalut kelaparan.<span id="more-932"></span></p>
<p>Kejadian yang mengerikan dan sangat tragis tentu masih membekas dalam ingatan kita. Di Sulawesi, seorang ibu yang tengah hamil 7 bulan tewas karena kelaparan. Pertanyaannya? Mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal keluarga tersebut tinggal bersama keluarga lain di sebuah komunitas warga. Apa peran RT, RW, desa, kelurahan sehingga tak bisa mengetahui persoalan tersebut dan melaporkannya ke atasan mereka? Kita seringkali baru sadar ketika masalah tersebut sudah terjadi. Masyarakat kita seringkali baru tersentuh ketika segalanya sudah terlambat. Menyedihkan.</p>
<p><strong>Pemilu melanggengkan demokrasi</strong></p>
<p>Apakah kita pantas menjadikan demokrasi sebagai pegangan hidup, pandangan hidup dan tujuan hidup? Rasa-rasanya jika kita mau arif, demokrasi seharusnya diletakkan di tong sampah peradaban karena sistem ini sudah cukup menjadi neraka. Pemilu yang dijadikan alat untuk menyeleksi calon pemimpin dan wakil rakyatpun telah gagal total. Meski pemilihan langsung sering digelar dari tingkat terendah sampai tertinggi dari jenjang pemerintahan, tapi tetap saja menyisakan penderitaan dan masalah kehidupan bagi rakyat banyak yang persoalannya terus menumpuk tak terselesaikan.</p>
<p>Ini sebuah kenyataan pahit yang seharusnya segera menyadarkan kita semua. Para calon pemimpin dan wakil rakyat hanya menjadikan rakyat sebagai pasar untuk mendulang suara dalam pildes, pilkada, pilgub, dan pilpres. Bahkan untuk itu, mereka melakukannya dengan cara terkutuk dan kecurangan di sana-sini demi sebuah raihan jabatan. Lagi pula seharusnya kita pun mafhum dan perlu mencurigai setiap calon pemimpin yang jor-joran menggelontorkan duitnya baik dalam pilkada, pligub, maupun pilpres karena pasti ada pamrihnya. Pamrih yang sudah jelas adalah jabatan dan harta. Lalu buat apa kita masih berharap kepada calon pemimpin seperti itu? Celakanya lagi, semuanya menempuh jalan yang sama dan sama sekali tak ada pilihan bagi kita kecuali tidak memilihnya.</p>
<p>Maka, jika kita masih berharap kepada demokrasi, masih percaya bahwa pemilu dalam sistem demokrasi dapat menjadi alat ampuh menyeleksi calon pemimpin kita, masih yakin bahwa dengan modal demokrasi dan pemilu kita bisa bangkit, itu artinya kita sama saja rela dijajah oleh utopia. Sama utopianya dengan demokrasi itu sendiri. Menyedihkan sekaligus tragedi dari sebuah rendahnya pemikiran.</p>
<p>Percayalah, bahwa pemilu dalam koridor demokrasi adalah upaya mempertahankan dan melanggengkan demokrasi itu sendiri. Percayalah, meski demokrasi disebut-sebut sistem paling ideal memberikan kebebasan, nyatanya tak pernah ada kebebasan bagi yang berpotensi mengancam demokrasi itu sendiri. Buktinya, calon independen yang tak didukung partai politik yang ada tetap dijegal. Apalagi jika partai Islam yang ngotot mengusung asas Islam dan syariat Islam untuk diterapkan, pemelihara demokrasi pasti dengan semangat menggagalkannya. Gara-gara aturan anomali dari demokrasi itu sendiri, maka banyak partai Islam yang dilematis. Bertahan menempuh jalur demokrasi untuk memperjuangkan Islam atau memutus ikatan dengan berjuang di luar pagar demokrasi. Sayangnya, lebih banyak partai Islam yang memilih bertahan meski idealisme digerus pragmatisme bahkan akhirnya masuk ke comberan yang dibuat demokrasi. Akibatnya sungguh mengenaskan ada banyak partai Islam yang mengusung pluralisme dan sekularisme. Musibah besar!</p>
<p>Jika ini terus terjadi, kebangkitan hakiki pasti tak akan pernah teraih. Kebangkitan umat Islam pasti akan terus dihadang oleh demokrasi. Maka, menjadikan demokrasi sebagai jalan keluar dari penderitaan selama ini sebenarnya sedang menelusuri setapak demi setapak jalan sesat yang menjebak dan menjerumuskan serta menjauhkan impian kebangkitan Islam itu sendiri. Dan, kita akan tetap sengsara bersama demokrasi. Jalan keluar yang benar adalah: kuburkan demokrasi di liang lahat peradaban, kampanyekan dan perjuangkan ideologi Islam. <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sengsara-bersama-demokrasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menegakkan Benang Basah Demokrasi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menegakkan-benang-basah-demokrasi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menegakkan-benang-basah-demokrasi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 01:02:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 06/Mei 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menegakkan-benang-basah-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/MEI/2008
Demokrasi, ide yang lama disakralkan umat manusia, kini berada dalam ancaman. Di Indonesia, banyak pengusung ide demokrasi gelisah. Serentetan cacat demokrasi menyeruak ke permukaan. Pemilihan kepala daerah langsung (Pilkadal) di sejumlah daerah ternyata bermasalah. Mulai money politics, manipulasi data pemilih, hingga konflik horizontal di tengah masyarakat akar rumput. Padahal, selain dimaksudkan sebagai pemilihan kepala daerah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/MEI/2008</strong><br />
Demokrasi, ide yang lama disakralkan umat manusia, kini berada dalam ancaman. Di Indonesia, banyak pengusung ide demokrasi gelisah. Serentetan cacat demokrasi menyeruak ke permukaan. Pemilihan kepala daerah langsung (Pilkadal) di sejumlah daerah ternyata bermasalah. Mulai money politics, manipulasi data pemilih, hingga konflik horizontal di tengah masyarakat akar rumput. Padahal, selain dimaksudkan sebagai pemilihan kepala daerah, pilkada juga dimaksudkan sebagai pesta demokrasi di tingkat bawah. Karena rusuhnya, sampai-sampai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyatakan bahwa pilkada itu mudlarat.</p>
<p>Sebenarnya bukan saja pilkada yang bermasalah. Pemilu di tingkat nasional pun selalu rawan hal yang serupa. ?Serangan fajar&#8217; hingga sikap saling curiga yang menimbulkan ketegangan nasional.<span id="more-931"></span></p>
<p>Hal lain yang kini dicemaskan oleh para pengusung demokrasi ialah persoalan kesejahteraan. Sejumlah kalangan menyerukan agar jangan mengaitkan demokrasi dengan kesejahteraan. Presiden SBY pun mengingatkan hal serupa kepada masyarakat. Kecemasan ini amat berdasar karena demokrasi yang telah lama dipraktikkan di tanah air &#8211; juga di dunia &#8211; alih-alih menciptakan kemakmuran bersama justru menggali jurang kemiskinan yang kian dalam. John Pilger, ekonom terkemuka, mengatakan bahwa ? ekonomi dunia dikendalikan hanya oleh 200 perusahaan raksasa. Aset perusahaan Ford sama dengan kekayaan Denmark.</p>
<p>Seruan agar jangan mengaitkan demokrasi dengan kesejahteraan sebenarnya adalah pengingkaran terhadap ajaran demokrasi sendiri. Dalam demokrasi secara <em>built-in</em> telah terkandung kebebasaan ekonomi. Berlaku prinsip <em>survival of the fittest</em>, siapa yang kuat dialah yang bertahan. Karena bukankah inti ajaran demokrasi adalah kebebasan?</p>
<p>Lihat saja bagaimana perusahaan-perusahaan raksasa multinasional seperti Levis, Calvin Klein, Reebok, Adidas, Nike dengan rakusnya berproduksi di atas upah rendah buruh-buruh di negara dunia ketiga. Perusahaan sepatu Nike dengan entengnya mengontrak pegolf dunia Tiger Wood untuk mempromosikan produk mereka dengan nilai kontrak yang setara dengan upah buruh perusahaan itu se-Indonesia.</p>
<p>Atau, saksikan juga bagaimana demokrasi yang telah berkelindan dengan kapitalisme ?membunuh&#8217; rakyat miskin secara perlahan. Seperti yang dialami sang ibu malang Daeng Mapaseng bersama anaknya dan janin 7 bulan yang dikandungnya, mati kelaparan. Dan ribuan lagi balita di Indonesia merasakan kepedihan gizi buruk. Sedangkan di sudut lain banyak orang tenggelam dalam kekayaan mereka. Termasuk Menkokesra RI yang baru saja dinobatkan sebagai orang terkaya di tanah air.</p>
<p>Maka, apalagi yang mau diharapkan dari demokrasi? Stabilitas politik tak kunjung terwujud, kesejahteraan masyarakat pun tak tercipta. Mengharapkan demokrasi menciptakan kemaslahatan sama saja menegakkan benang basah. Mustahil. Demokrasi sebenarnya menyimpan program <em>self-destruction</em> yang bisa meledak kapan saja. Termasuk ketika sedang merasa di puncak. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menegakkan-benang-basah-demokrasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senandung Ceking</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 19:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 06/Mei 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/senandung-ceking/</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/MEI/2008
By: Nafiisah FB
Ceking berjalan tegap. Wajahnya menampakkan amarah. Di belakangnya seekor kambing mengikuti setengah hati. Kambing kurus berwarna hitam legam itu berjalan pasrah ditarik paksa oleh Ceking.
Ceking berteriak,&#8221;Mak! Mak! Si Jenggot makan nasiku, Mak! Maaak!&#8221;
Emak tergopoh-gopoh berjalan keluar. &#8220;Ada apa, sih, King?! Teriak-teriak kaya&#8217; begitu?!&#8221;
Emak mendelik. Ceking menunduk. Emak melihat ke Kambing Hitam. Dia bertambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/MEI/2008</strong><br />
By: Nafiisah FB</p>
<p>Ceking berjalan tegap. Wajahnya menampakkan amarah. Di belakangnya seekor kambing mengikuti setengah hati. Kambing kurus berwarna hitam legam itu berjalan pasrah ditarik paksa oleh Ceking.</p>
<p>Ceking berteriak,&#8221;Mak! Mak! Si Jenggot makan nasiku, Mak! Maaak!&#8221;</p>
<p>Emak tergopoh-gopoh berjalan keluar. &#8220;Ada apa, sih, King?! Teriak-teriak kaya&#8217; begitu?!&#8221;</p>
<p>Emak mendelik. Ceking menunduk. Emak melihat ke Kambing Hitam. Dia bertambah mendelik. Kaget.<span id="more-930"></span></p>
<p>&#8220;Untuk apa kamu bawa-bawa kambingnya Pak Money?! Mau jadi maling kamu, King?!&#8221;</p>
<p>Ceking menggeleng kuat-kuat. Dia perlahan melepas tali pengikat kambing.</p>
<p>&#8220;Ndak, Mak,&#8221; lirih Ceking.</p>
<p>&#8220;Lalu?!&#8221; Suara Emak masih tinggi.</p>
<p>&#8220;Aku tadi mau ambil nasi jatah di rumah Pak Money, Mak. Aku lari secepat-cepatnya supaya ndak kehabisan. Tapi, pas aku sampai di rumah Pak Money aku cuma lihat bakul kosong, dan &#8230; &#8221;</p>
<p>Ceking memutar kepalanya perlahan ke arah Kambing Hitam. Perlahan nafasnya berubah memburu. Kedua tangannya mengepal, bergetar.</p>
<p>&#8220;Dan dia ada di sana. Dia yang makan nasi jatahku! Tega! Tega!&#8221;</p>
<p>Tangis Ceking pecah. Tangan mungilnya yang tinggal tulang berbalut kulit memukul-mukul tubuh Kambing Hitam yang gempal. Kambing Hitam mengembik keras lalu berlari menjauh. Panik.</p>
<p>Marah Emak mereda seketika. Dia merangkul Ceking meredakan tangisnya.</p>
<p>&#8220;Kambing ndak makan nasi, King,&#8221; ujar Emak sambil mengelus-elus rambut Ceking.</p>
<p>Ceking perlahan menengadahkan kepala, menatap Emak dalam tanya.</p>
<p>&#8220;Lalu siapa yang makan nasiku, Mak?&#8221; tanya Ceking setelah mengusap airmata dan menarik lendir yang sempat mengalir dari hidungnya.</p>
<p>Emak berusaha tersenyum. &#8220;Jatah nasi sudah ndak ada lagi.&#8221;</p>
<p>Emak menyusutkan air yang sempat menitik dari sudut matanya. Ceking memeluk pinggang Emak lebih ketat. &#8220;Tapi, Ceking lapar, Mak.&#8221;</p>
<p>&#8220;King! Bulek!&#8221; Sebuah suara tiba-tiba memanggil.</p>
<p>Ceking menoleh. Dilihatnya Buncit berjalan mendekat dari arah sungai, riang. Dia menunjukkan sebuah bakul.</p>
<p>Ceking perlahan tersenyum. Tanpa diketahuinya, air di sudut mata Emak kembali mengalir, kini lebih deras. Emak berusaha sekuat tenaga menghapusnya.</p>
<p>&#8220;Emakku tadi baru masak nasi ini,&#8221; info Buncit gembira.</p>
<p>Ceking berbinar melihat isi bakul yang telah diletakkan Buncit di dipan dekat pintu belakang.</p>
<p>&#8220;Wah, Bulek masih punya nasi! Enak, enak,enak,&#8221; cerocos Ceking sambil mengusap-usap perutnya.</p>
<p>&#8220;Kalian makan saja sekarang. Sebentar Emak ambilkan piring.&#8221;</p>
<p>Emak tidak lama kembali dengan dua piring di tangan. Ceking dan Buncit menerima dengan senang.</p>
<p>&#8220;Emak tinggal dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Emak ndak makan?&#8221; imbuh Ceking.</p>
<p>&#8220;Kalian saja dulu. Emak harus selesaikan anyaman. Sudah sana.&#8221;</p>
<p>Emak pergi lalu Ceking bersenandung.? &#8220;Aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat semasa aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi, dan imunisasi &#8230;&#8221;</p>
<p>Buncit? bergumam, &#8220;Itu nyanyian Surga. Indahnya &#8230;.&#8221;</p>
<p>Mereka berdua lalu tertawa sambil tetap semangat melahap nasi aking paling enak sedunia. Dan Emak &#8230; wanita kurus ringkih itu kembali hanya bisa berurai airmata, mengintip mereka dari balik dinding dapur. <strong>[bersambung]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/senandung-ceking/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Medan Baru Perang Ideologi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/medan-baru-perang-ideologi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/medan-baru-perang-ideologi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 05:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 05/Apr 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/medan-baru-perang-ideologi/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/APR/2008
Media massa kini menjadi medan baru perang antar ideologi. Peperangan dimulai dari game, film, buku, surat kabar, majalah, dan bahkan internet. Intinya, segala sarana yang terkategori media massa, menjadi senjata paling efektif melancarkan serangan. Tentu saja, yang dibidik bukan melukai fisik, tapi mengoyak iman dan akidah. Itu target utamanya.
Microsoft Ensemble Studios pernah meluncurkan game yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/APR/2008</strong><br />
Media massa kini menjadi medan baru perang antar ideologi. Peperangan dimulai dari game, film, buku, surat kabar, majalah, dan bahkan internet. Intinya, segala sarana yang terkategori media massa, menjadi senjata paling efektif melancarkan serangan. Tentu saja, yang dibidik bukan melukai fisik, tapi mengoyak iman dan akidah. Itu target utamanya.</p>
<p>Microsoft Ensemble Studios pernah meluncurkan game yang menggambarkan perang peradaban lewat trilogi <em>Age of Empire</em>. Sejarah peradaban manusia di jaman Messopotamia, Babilonia, sampe jamannya Shalahuddin al-Ayubi yang melakukan penaklukan Yerusalem, Joan of Arc yang biasa dipanggil Maid of Orleans dan lainnya dengan detil bibliografi yang lengkap.<span id="more-929"></span></p>
<p>Pernah memainkan game <em>Rise of Nations</em>? Belum? Peradaban yang bisa dimainkan di sini adalah kapitalisme, sosialisme, dan mungkin Islam diwakili Turki, meski tak nyata pemerintahan Islam. Simulasi dalam game ini seperti menjalin kerjasama perdagangan dengan negara lain, hubungan diplomatik, pencapaian teknologi, sampai ekspansi besar-besaran dengan mengerahkan kekuatan militer untuk menjajah negara lain.</p>
<p>Selain game, bertebaran pula buku-buku, majalah, zine, dan bahkan tulisan di internet yang nyata-nyata sebagai bentuk benturan peradaban. Islam selalu dihadapkan dengan Kapitalisme dan Sosialisme. Bahkan saat ini, pertarungan Islam dengan Kapitalisme-Sekularisme sedang panas-panasnya. Internet bahkan menjadi medan perang ideologi paling efektif untuk membidik kaum intelektual. Sudah banyak website yang menyerang Islam, meskipun berlabel Islam. Kita harus waspada.</p>
<p>Perang ideologi pun bisa kita jumpai lewat film. Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme juga getol mempropagandakan ideologinya lewat film. Di film <em>Die Hard 4.0</em> yang dibintangi Bruce Willis bahkan ada dialog yang secara implisit menyebut kaum muslimin sebagai teroris. Film &#8220;<em>True Lies</em>&#8221; (1994), menggambarkan seorang teroris berkebangsaan Arab yang membawa senjata nuklir. Film yang dibintangi aktor kekar Arnold Schwarzenegger sedang memerangi teroris Crimpson Jihad.</p>
<p>Islam juga tak tinggal diam. Film <em>ar-Risalah</em> alias <em>The Message</em> yang dibesut oleh sutradara Moustapha Akkad pada tahun 1976 telah menjadi film yang sangat bagus dan cukup detil dalam menyampaikan pesan Islam kepada seluruh dunia. Bahkan konon kabarnya di Jepang ketika film in diputar di bioskop-bioskop di sana, banyak orang Jepang yang masuk Islam.</p>
<p>Moustapha Akkad pernah mengatakan, &#8220;Film-film sejarah memiliki daya kreativitas yang sangat tinggi. Film-film modern hanya memiliki kelebihan di bidang dialog dan teknik pembuatannya, akan tetapi ia tidak memiliki kreativitas tersebut. Kita umat muslimin memiliki masa lalu yang indah, yang sangat berguna untuk kita jadikan sebagai pelajaran bagi masa depan kita. Kekhawatiran besar saya ialah terhadap jebakan-jebakan yang dipasang oleh musuh-musuh kita. Jebakan-jebakan ini mereka tebarkan melalui propaganda lewat media-media massa mereka. Menurutku media massa dapat dijadikan sebagai senjata yang jauh lebih mematikan daripada bom dan tank.&#8221; <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/medan-baru-perang-ideologi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perang Ideologi di Media Massa</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/perang-ideologi-di-media-massa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/perang-ideologi-di-media-massa#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 02:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 05/Apr 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/perang-ideologi-di-media-massa/</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/APR/2008
&#8220;Saya lebih takut pada media massa dibanding senjata&#8221; Demikian ungkap Napoleon Bonaparte ratusan tahun yang lalu. Memang, sejak dulu media masa memiliki peran penting dalam peta percaturan politik dunia, sehingga pengaruhnya melebihi kemampuan pedang dalam membunuh.
Media massa telah menjelma menjadi alat propaganda paling efektif. Media massa mampu menjadi lokomotif perubahan masyarakat. Terlebih saat ini, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FRESH!/APR/2008</strong><br />
&#8220;Saya lebih takut pada media massa dibanding senjata&#8221; Demikian ungkap Napoleon Bonaparte ratusan tahun yang lalu. Memang, sejak dulu media masa memiliki peran penting dalam peta percaturan politik dunia, sehingga pengaruhnya melebihi kemampuan pedang dalam membunuh.</p>
<p>Media massa telah menjelma menjadi alat propaganda paling efektif. Media massa mampu menjadi lokomotif perubahan masyarakat. Terlebih saat ini, dengan kemajuan teknologi, jaringan-jaringan pemberitaan dunia mengalami perkembangan sangat pesat. Masyarakat dari berbagai penjuru bumi dapat dengan mudah dipengaruhi arah opini yang di-blow-up media massa dengan sangat cepat.<span id="more-928"></span></p>
<p>Eksistensi ideologi kapitalisme-sekular saat ini, tak lepas dari keberhasilan para kapitalis dalam menggenggam media massa. Ya, para pemilik modal itulah aktor utama di balik berbagai propaganda pro-sekularisme. Tak ayal jika demokrasi, hak asasi manusia, seks bebas, gaya hidup hedonis dan berbagai budaya Barat dengan mudah merasuk ke berbagai penjuru dunia. Semua itu disokong penuh oleh media massa.</p>
<p>Iqbal Shadiqi, pemimpin redaksi majalah terbitan Inggris, Cressent International, mengatakan, &#8220;Media-media AS sangat bergantung kepada para investor dan orang-orang Zionis. Kedua kelompok inilah yang mengontrol pemerintah dan media AS.&#8221;</p>
<p>Saat ini mayoritas media massa internasional dikuasai oleh jaringan Zionis. Sejak awal terbentuknya Gerakan Zionisme Internasional, para aktivis gerakan ini telah memanfaatkan media massa untuk mempropagandakan pemikiran mereka kepada dunia. Dalam Protokol ke-12 Gerakan Zionisme, disebutkan, &#8220;Media massa dunia harus berada di bawah pengaruh kita.&#8221;</p>
<p>Theodore Hertzl, peletak dasar Gerakan Zionisme Internasional, dalam konferensi di Swiss tahun 1897 mengatakan, &#8220;Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia.&#8221;</p>
<p>Hertzl adalah wartawan internasional yang dengan pengalamannya berkecimpung di dunia jurnalistik tahu persis bagaimana melakukan lobi-lobi terhadap media massa. Hasilnya, kantor berita ternama seperti AFP, AP, dan Reuters, berada di bawah kontrol mereka.</p>
<p>Dari sinilah perang ideologi di media massa dimulai. Zionisme merancang berita-berita dan opini yang menampilkan citra bahwa mereka adalah gerakan legal dan lahir dari ketertindasan. Diciptakanlah opini bahwa penjajahan Isreal terhadap Palestina adalah sah.</p>
<p>Sebaliknya, diluncurkan opini dan berita yang kerap menyerang ideologi Islam. Label-label negatif dilekatkan pada komunitas Muslim, seperti fanatik, fundamentalis, radikal, teroris, dll. Para pejuang Palestina diposisikan sebagai teroris.</p>
<p>Setiap kejadian terorisme, tanpa menunggu penyelidikan terlebih dahulu, akan langsung diliput media massa dengan tendensi anti-Islam. Dalam atmosfer propaganda dunia yang teracuni oleh media-media pro-Zionis, opini dunia menjadi terarahkan pada satu topik: stigmatisasi buruk terhadap Islam.</p>
<p>Kasus paling gres adalah dimuatnya kembali kartun yang menghinakan Nabi Muhammad saw di 11 media massa dan televisi nasional di Denmark, serta tiga harian di Eropa, yakni Swedia, Belanda dan Spanyol.</p>
<p>Tindakan tersebut merupakan kesengajaan sebagai sinyal perang terhadap Islam. Betapa tidak, Nabi Muhammad sebagai pengusung ideologi Islam digambarkan sebagai lelaki bersorban yang menyembunyikan bom di baliknya. Islam digambarkan sebagai agama yang penuh kekerasan dan darah. Sayang, umat Islam seolah tak berdaya menghadapi penistaan ini. Para penguasa di negeri-negeri Muslim diam seribu bahasa.</p>
<p>Contoh lain ketika gagasan formalisasi syariah Islam bergema, segera serangan balik terhadap gagasan ini ditebar media massa. Terutama meminjam corong para &#8220;tokoh&#8221; atau &#8220;alim ulama.&#8221; Dihembuskan opini bahwa syariah Islam tidak wajib diterapkan, bahwa Khilafah adalah utopia, dan sejenisnya. Ideologi Islam yang terdiri dari akidah dan syariah pun mendapat serangan bertubi-tubi, yang ironisnya justru dilakukan oleh sebagian umat Islam sendiri. Lantas, sampai kapan Islam akan menjadi bulan-bulanan di media massa? <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/perang-ideologi-di-media-massa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat yang Tepat untuk Berbuat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/saat-yang-tepat-untuk-berbuat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/saat-yang-tepat-untuk-berbuat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 03:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 05/Apr 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/saat-yang-tepat-untuk-berbuat/</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/APR/2008
Saat yang tepat untuk berbuat adalah ketika kita tahu apa yang harus kita lakukan adalah yang paling benar atas dasar keimanan. Keimanan memang membutuhkan amal. Tapi, hanya amal shaleh yang akan diterima. Betapa banyak orang yang berbuat kebenaran, tapi kebenarannya tersebut hanya berdasar hawa nafsunya dan persepsinya tanpa hukum syara. Betapa sia-sianya perbuatan tersebut. Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/APR/2008</strong><br />
Saat yang tepat untuk berbuat adalah ketika kita tahu apa yang harus kita lakukan adalah yang paling benar atas dasar keimanan. Keimanan memang membutuhkan amal. Tapi, hanya amal shaleh yang akan diterima. Betapa banyak orang yang berbuat kebenaran, tapi kebenarannya tersebut hanya berdasar hawa nafsunya dan persepsinya tanpa hukum syara. Betapa sia-sianya perbuatan tersebut. Jika demikian, bukanlah saat yang tepat untuk berbuat. Sebab, setiap perbuatan akan dimintai pertanggungan jawabnya di akhirat kelak. Maka, berbuat benar saja menurut ukuran manusia belum cukup jika tak dilandasi keimanan kepada Allah Swt.<span id="more-927"></span></p>
<p>Saat yang tepat untuk berbuat adalah ketika perbuatan yang kita lakukan adalah atas dasar ilmu. Umar bin Khaththab pernah menyampaikan, &#8220;al-?ilmu qabla al&#8217;amal&#8221;&#8211;(ilmu dulu sebelum amal). Itu sebabnya, kita harus tahu dan bahkan paham terlebih dahulu sebelum berbuat. Jangan ikut-ikutan tanpa punya ilmu. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>&#8220;</em><em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.&#8221;</em> <strong>(QS al-Israa&#8217; [17]: 36)</strong></p>
<p>Dan, sebaik-baik ilmu adalah ilmu agama (Islam). Memperdalam ilmu keislaman akan menumbuhkan ketakwaan, sehingga kita bisa memikirkan dan menentukan mana perbuatan yang akan kita lakukan atau justru wajib kita tinggalkan. Imam Syafi&#8217;i rahimahullah menyampaikan, &#8220;Barangsiapa belajar al-Quran maka ia akan agung di pandangan manusia. Barangsiapa yang belajar hadis akan kuat hujjahnya. Barang siapa yang belajar nahwu maka dia akan dicari. Barang siapa yang belajar bahasa Arab akan lembut tabiatnya. Barang siapa yang belajar ilmu hitung akan banyak fikirannya. Barang siapa belajar fiqih akan tinggi kedudukannya. Barang siapa yang tidak mampu menahan dirinya maka tidak bermanfaat ilmunya dan inti dari itu semua adalah takwa.&#8221;</p>
<p>Terpenting, saat yang tepat untuk berbuat kebaikan, selain keimanan, ilmu, dan ketakwaan, tentunya sekarang saatnya. Saat kita masih diberikan waktu untuk hidup. Menunggu kapan lagi? Sementara kematian tak pernah mengabari kita dan akan datang tiba-tiba. <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/saat-yang-tepat-untuk-berbuat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ranting [3]</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ranting-3</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ranting-3#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 19:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 05/Apr 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ranting-3/</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/APR/2008Oleh: Nafisah FB
Sarji terkesiap. Untung menghentikan aksinya mendadak. Mereka perlahan melihat ke arah yang sama. Pak Mandor ternyata telah berdiri bertolak pinggang dengan telunjuk kirinya menuju mereka.
Sarji gemetar. Ikatan ranting ditangannya ikut bersuara. Untung menjatuhkan kapak kecilnya ke tanah dan segera meluncurkan tubuhnya dari atas pohon bumi.
&#8220;Lari!&#8221; teriak Untung. Tangannya meraih tangan Sarji.
Ikatan ranting terlepas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/APR/2008</strong>Oleh: Nafisah FB</p>
<p>Sarji terkesiap. Untung menghentikan aksinya mendadak. Mereka perlahan melihat ke arah yang sama. Pak Mandor ternyata telah berdiri bertolak pinggang dengan telunjuk kirinya menuju mereka.</p>
<p>Sarji gemetar. Ikatan ranting ditangannya ikut bersuara. Untung menjatuhkan kapak kecilnya ke tanah dan segera meluncurkan tubuhnya dari atas pohon bumi.</p>
<p>&#8220;Lari!&#8221; teriak Untung. Tangannya meraih tangan Sarji.</p>
<p>Ikatan ranting terlepas seiring ranting yang terhempas. Sarji tidak sengaja melakukan. Refleks. Tangannya yang satu tidak kuat memeluk ranting saat tangannya yang lain ditarik Untung. Kaki-kakinya berlari mengikuti jejak lari Untung.</p>
<p>&#8220;Tung! Kayu bakarku!&#8221; teriak Sarji panik.<span id="more-926"></span></p>
<p>Sarji menoleh ke arah ranting &#8230; ke arah Pak Mandor yang masih mengejar mereka.</p>
<p>&#8220;Hei! Pencuri kecil! Jangan lari kalian!&#8221; teriak Pak Mandor semakin garang.</p>
<p>Untung terus berlari. Sarji pun ikut mempercepat lajunya.</p>
<p>Duk! Kaki Untung terantuk batang pohon sisa penebangan yang rebah melintang. Tubuhnya terjerembab di atas tanah yang basah. Lututnya berdarah. Dia hanya meringis sebentar. Sarji menarik tangannya, memaksanya berdiri lagi. Mereka berlari lagi.</p>
<p>Mereka lari. Pak Mandor masih mengikuti.</p>
<p>Lari. Lari.</p>
<p>Mereka berusaha semakin cepat. Kaki-kaki mungil Sarji menerobos semak berduri. Cras!</p>
<p>Darah. Perih? Sarji tidak rasakan. Sarji tidak peduli. Dia hanya ingin dirinya dan Untung bisa terus berlari.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>??????????? &#8220;Lastri! Lastri!&#8221;</p>
<p>Lastri tergopoh-gopoh menghampiri suara Pakde Danu. Darahnya seketika dirasakannya berhenti. Tubuhnya dingin.</p>
<p>Di dalam gendongan Firman dilihatnya tubuh lemah Sarji. Kaos lusuh bocah itu basah oleh keringat. Wajahnya kumal oleh bersitan tanah. Kedua kakinya penuh dengan goresan darah.</p>
<p>&#8220;Ya, Allah, Le! Mas, kenapa Tole bisa begini?!&#8221; pekik Lastri tidak mampu lagi menahan diri. Bude Tarsih memegangi bahunya.</p>
<p>Firman tidak bersuara. Dia segera menuju dalam rumah, membawa Sarji ke kamarnya.</p>
<p>Kerumunan tetangga yang hendak masuk dicegah oleh Ngatno dan Pakde Danu.</p>
<p>&#8220;Sederek-sederek, saya mohon pengertiannya! Jangan masuk dulu! Biar Pak Mantri yang tangani!&#8221; teriak Ngatno.</p>
<p>Mereka gaduh.</p>
<p>&#8220;Hei, mana tadi Pak Mantri?!&#8221; Suara Pakde Danu terdengar di halaman depan.</p>
<p>Pak Mantri muncul. Dia dibantu Pakde Danu menyeruak kerumunan. Mereka lalu berjalan cepat ke dalam.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>??????????? Sarji telah diobati. Dia tertidur.</p>
<p>Pak Mantri segera pergi menuju rumah Untung yang hanya beberapa rumah jaraknya. Dia ingin mengecek kondisi Untung. Zainal, anaknya yang mahasiswa kedokteran sedang berada di sana memberikan pertolongan pertama.</p>
<p>Lastri perlahan duduk di sisi tempat tidur. Tangisnya belum reda.</p>
<p>&#8220;Le &#8230; iki Emak, Le &#8230;.&#8221; Hanya itu yang bisa dilirihkannya disela tangisnya.</p>
<p>Firman menghampiri Lastri. Dia berdiri di sisi Lastri, menggenggam bahu istrinya &#8230; menguatkannya.</p>
<p>Matanya nanar memandangi tubuh lemah Sarji.? Airmata dirasakan panas menghentak kelopak matanya.</p>
<p>Masih jelas di ingatannya obrolan antara Pakde Danu dan Ngatno siang tadi. Masih diingatnya hentakan tangan Ngatno di atas surat kabar itu. Masih terngiang di telinganya suara Pakde Danu yang membaca isi <em>headline</em> surat kabar itu.</p>
<p><em>&#8220;Mr. Adek Lin Ter Alis divonis bebas dari dakwaan illegal logging setelah hakim menilai semua berkas dan penjelasan para saksi tidak cukup menjadi bukti dakwaan.&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Sampah!&#8221;? Jerit batin Firman sekuat tenaga.</p>
<p>Mulutnya tetap terkatup. Air mata yang akhirnya menyuratkan kepedihan rasanya. Airmata yang dia yakin bukan hanya milik Lastri dan dirinya. Kepedihan yang dia yakin bukan hanya dirasakan Lastri dan dirinya. Pun mereka yang telah mengumpulkan ranting demi perut mereka. Pun mereka yang mengais rejeki halal demi keberkahan dalam kemiskinan mereka.</p>
<p>Di seberang renungan Firman, Sarji masih tertidur. Nyaman &#8230; tanpa beban. <strong>[Selesai]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ranting-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sesat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sesat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sesat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 05:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 04/Mar 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/sesat/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/MAR/2008
Anda pernah mengikuti program &#8220;mencari jejak&#8221; dalam rangkaian kegiatan pramuka waktu masih sekolah? Pernahkah tersesat jalan karena tidak mengikuti rute yang dibuat dan ditentukan oleh panitia? Atau mungkin tersesat karena petunjuk jalannya disesatkan oleh seseorang atau pihak lain? Jika pernah, bagaimana rasanya? Selain tujuan menjadi tak jelas karena rute yang ditempuh tak sesuai ketentuan, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/MAR/2008</strong><br />
Anda pernah mengikuti program &#8220;mencari jejak&#8221; dalam rangkaian kegiatan pramuka waktu masih sekolah? Pernahkah tersesat jalan karena tidak mengikuti rute yang dibuat dan ditentukan oleh panitia? Atau mungkin tersesat karena petunjuk jalannya disesatkan oleh seseorang atau pihak lain? Jika pernah, bagaimana rasanya? Selain tujuan menjadi tak jelas karena rute yang ditempuh tak sesuai ketentuan, kita juga kehilangan banyak waktu, tenaga, dan mulai dihinggapi rasa cemas dan pesimis: &#8220;Jangan-jangan, kita tak akan sampai di tempat tujuan akhir yang benar dan sebenarnya.&#8221;</p>
<p>Hidup kita di dunia pun sebenarnya pasti butuh petunjuk. Butuh pula standar petunjuk mana yang akan digunakan untuk menjalani kehidupan agar tak tersesat di dunia dan tentunya berharap selamat sampai pada tujuan akhir, yakni di akhirat kelak.<span id="more-925"></span></p>
<p>Kita, kaum muslimin sebenarnya sudah punya petunjuk yang pasti kebenarannya, yakni al-Quran. Bahkan para ulama menjabarkan, jika pun tidak ditemukan di al-Quran secara jelas, sebuah petunjuk bisa dicari di as-Sunnah. Jika al-Quran dan as-Sunnah tak ada indikasi untuk mengetahui petunjuk secara detil, kita masih bisa mencarinya pada Ijma Shahabat dan Qiyas. Itu artinya, kaum muslimin memiliki sumber hukum yang banyak untuk memandu kehidupannya agar tak tersesat.</p>
<p>Jamaah Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh fatwa MUI berdasarkan standar ajaran Islam, ternyata menimbulkan protes banyak kalangan, termasuk dalam hal ini adalah <em>Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan</em> (Bakorpakem) melalui rapatnya yang diselenggarakan di Kejaksaan Agung, Selasa, 15 Januari 2008 lalu memutuskan untuk tidak melarang kelompok Ahmadiyah.</p>
<p>Kelompok lain, terutama para pejuang HAM dari kalangan kaum muslimin yang liberal berkeras mengecam fatwa MUI yang menyatakan sesat terhadap banyaknya aliran sempalan dalam Islam, termasuk Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Alasannya, fatwa tersebut melanggar hak asasi manusia untuk kebebasan berpedapat, berkelompok, dan berkeyakinan sembari menggembar-gemborkan bahwa pemerintah atau siapa pun tak boleh mengurusi masalah keyakinan/agama karena hal itu merupakan urusan pribadi.</p>
<p>Inilah ironinya HAM dan demokrasi. Di satu sisi membiarkan kebebasan berpendapat, tetapi jika pendapat itu melawan dan mengancam HAM dan demokrasi, mereka akan memasungnya. Itu sebabnya, fatwa MUI dihujat, sementara aliran sesat semacam Jamaah Ahmadiyah malah dibela. Padahal sudah jelas kesesatannya menurut ajaran Islam. Siapa sebenarnya yang sesat dan tersesat? <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sesat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aliran Sesat dan Siasat Kaum Imperialis</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/aliran-sesat-dan-siasat-kaum-imperialis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/aliran-sesat-dan-siasat-kaum-imperialis#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 07:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 04/Mar 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/aliran-sesat-dan-siasat-kaum-imperialis/</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/MAR/2008
Ketika Mirza Ghulam Ahmad menyatakan diri sebagai utusan Allah setelah Rasulullah saw., dunia sudah terhentak. Pemikiran ini jelas kanker akidah yang membahayakan umat. Konsekuensi dari keyakinan ini adalah riddah, keluar dari Islam. Para ulama telah bersepakat ihwal status Rasulullah saw. sebagai pamungkas para nabi dan rasul. Nabi saw. bersabda:&#8221;Sesungguhnya akan ada di tengah-tengah umatku 30 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: bold">FRESH!/MAR/2008</span><br />
Ketika Mirza Ghulam Ahmad menyatakan diri sebagai utusan Allah setelah Rasulullah saw., dunia sudah terhentak. Pemikiran ini jelas kanker akidah yang membahayakan umat. Konsekuensi dari keyakinan ini adalah <em>riddah</em>, keluar dari Islam. Para ulama telah bersepakat ihwal status Rasulullah saw. sebagai pamungkas para nabi dan rasul. Nabi saw. bersabda:&#8221;Sesungguhnya akan ada di tengah-tengah umatku 30 orang pendusta, seluruhnya menyatakan bahwa mereka adalah nabi, padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi setelahku.&#8221;</p>
<p>Jemaat Ahmadiyah yang lahir di tengah-tengah perjuangan umat Islam India melawan imperialis Inggris jelas menambah masalah baru. Yang lebih menyentakkan lagi ialah keluarnya fatwa dari sang ?nabi&#8217; untuk tidak memerangi kolonialis Inggris, dan himbauan untuk bersahabat dengan mereka.<span id="more-924"></span></p>
<p>Terang saja banyak orang mengerenyutkan kening. Curiga bahwa kemunculan nabi plagiat ini adalah kombinasi antara megalomania &#8211; haus kekuasaan-, patogen akidah, dan misi intelijen kaum imperialis untuk memecah belah perjuangan umat Islam di India. Bagian terakhir ini makin dikuatkan dengan kenyataan bahwa jemaat Ahmadiyah membangun kekhilafahannya di ibu kota imperialis, London, Inggris. Menguatkan dugaan bahwa Inggris adalah bidan yang membantu kelahiran aliran sesat ini.</p>
<p>Kini, di dunia, terdapat ratusan mungkin ribuan aliran sesat serupa Ahmadiyah. Kemunculan mereka pastinya menambah runyam kondisi umat. Sudahlah tak memiliki kepemimpinan, ditambah lagi borok yang menggerogoti akidah umat.</p>
<p>Sebagian aliran itu muncul karena ?kenekatan&#8217; para pemimpinnya dalam menafsirkan ajaran agama secara bebas, tapi sebagian lagi kita patut curiga sebagai manuver politik keji terhadap umat. Selain menyesatkan, kemunculan kelompok-kelompok sempalan tersebut juga memecah belah dan secara otomatis melemahkan perjuangan umat Islam.</p>
<p>Banyak kalangan yang menganalisa bahwa kemunculan aliran-aliran sempalan merupakan bagian dari desain besar untuk merontokkan perjuangan umat. Dengan payung hukum demokrasi dan HAM, tak ada satupun institusi formal yang bisa melarang menjamurnya berbagai aliran sesat. Terbukti, Bakor PAKEM (Badan Koordinasi Pengawas Aliran dan Kepercayaan Masyarakat) pada? awal tahun ini menyatakan bahwa Ahmadiyah diperbolehkan tetap eksis dan berkembang. Sebelumnya, jemaat Kerajaan Tuhan pimpinan Lia Eden, juga berakhir dengan vonis bebas di pengadilan</p>
<p>Yang lebih mengejutkan lagi adalah pernyataan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel), Wisnu Soebroto, meminta agar fatwa MUI yang menyatakan bahwa Ahmadiyah ajaran sesat agar ditinjau kembali. Dalam laporan akhir tahun 2007 di Kejagung, Wisnu, meminta agar Forum Pakem berhati-hati dalam mengeluarkan larangan terhadap sebuah aliran (INTELIJEN, No. 24 Th IV/2008/17-30 Januari).</p>
<p>Bidikan dari misi aliran sesat ini, selain memecah belah umat, menjauhkan umat Islam dari? perjuangan penegakkan syari&#8217;at dan khilafah, juga untuk memberangus kelompok pro-syari&#8217;ah.</p>
<p>Skenarionya adalah dengan melakukan taktik pancing-jaring. Dengan pembiaran berkembangnya beragam aliran sesat, maka akan terjadi konflik horisontal antara umat Islam dengan para pendukung aliran sesat. Ditambah dengan provokasi dan kecerdikan para intel, maka dengan amat mudah akan muncul aksi kekerasan. Ini seperti memancing ular keluar dari sarangnya untuk kemudian digebug dengan mudah. <em>Ending</em>-nya bisa ditebak, kelompok pro-syariat bisa diberangus karena dianggap telah melanggar hukum, dengan melakukan anarkisme.</p>
<p>Juru bicara Ahmadiyah, Mubarik Ahmad, menegaskan bahwa pihaknya bersandar pada UUD ?45 dan konvensi internasional yang menjamin kebebasan beragama. Direktur Indonesian Conference, Religion and Peace (ICRP), Djohan Efendi berharap pemerintah tidak tinggal diam atas warga negaranya yang tidak bebas menjalankan keyakinannya.</p>
<p>Lebih jauh lagi, Gus Dur meminta kepada pemerintah agar membubarkan MUI. Alasannya, kekerasan yang menimpa jamaah Ahmadiyah disebabkan fatwa dari MUI. Sementara itu praktisi hukum, Adnan Buyung Nasution, menyayangkan sikap pemerintah yang dianggap lemah terhadap MUI.</p>
<p>Melihat peta politik ini, maka sepatutnya para pejuang syariah semakin waspada. Tidak mudah terpancing dengan provokasi musuh, apalagi jatuh pada tindakan anarkisme.</p>
<p>Perlu kehati-hatian dan langkah yang tepat. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah tetap melakukan pergolakan pemikiran yakni melawan kesesatan pemikiran lawan, serta membongkar kebusukan manuver-manuver politik musuh dan para pelakunya. Kemudian menyadarkan aparat hukum dan penguasa akan bahaya dan licinnya aliran-aliran sesat ini. Bahwa demokrasi dan HAM bukanlah obat dan harapan, melainkan senjata beracun yang mematikan umat Islam.</p>
<p>Terakhir, maraknya aliran sesat semestinya menyadarkan kita akan pentingnya memiliki kepemimpinan yang tunduk pada al-Quran dan as-Sunnah. Yang melindungi umat dari segala kejahatan, termasuk kejahatan akidah. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/aliran-sesat-dan-siasat-kaum-imperialis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Mana Datangnya HAM?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dari-mana-datangnya-ham</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dari-mana-datangnya-ham#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 00:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 04/Mar 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dari-mana-datangnya-ham/</guid>
		<description><![CDATA[VOI CORNER/MAR/2008
Diasuh oleh Ustadzah Ir. Lathifah Musa
Assalaamu&#8217;alaikum. Benarkah aliran sesat itu dibiarkan saja (tidak boleh diberantas) karena kita harus menghargai Hak Asasi Manusia ? 
?
Hamba Allah
0852 -533-xxxxx
?alaikumussalam wr wb
Pemikiran ?HAM yang lahir dari rahim ideologi Kapitalisme ini sarat dengan nilai-nilai liberal. Awalnya digagas oleh Aristoteles, berupa hak alamiyah yang ada pada manusia. Dikembangkan oleh para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>VOI CORNER/MAR/2008</strong></p>
<p><em><strong>Diasuh oleh Ustadzah Ir. Lathifah Musa</strong></em></p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum. </em><em>Benarkah aliran sesat itu dibiarkan saja (tidak boleh diberantas) karena kita harus menghargai Hak Asasi Manusia ? </em></p>
<p><strong>?</strong></p>
<p><strong>Hamba Allah</strong></p>
<p><em>0852 -533-xxxxx</em></p>
<p><em>?alaikumussalam wr wb</em></p>
<p>Pemikiran ?HAM yang lahir dari rahim ideologi Kapitalisme ini sarat dengan nilai-nilai liberal. Awalnya digagas oleh Aristoteles, berupa hak alamiyah yang ada pada manusia. Dikembangkan oleh para pemikir Eropa berpaham liberal seperti John Locke, Voltaire ?dan Rousseau. Rousseau misalnya mengemukakan teori-teori liberalnya seperti teori Kontrak Sosial. <span id="more-923"></span></p>
<p>Liberalisme akhirnya menjadi nilai politik yang paling utama di Eropa pada era pencerahan eropa (<em>enlightening ages</em>) sekitar pertengahan abad ke-18 dan memuncak dengan meletusnya Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Kebebasan bukan lagi sebagai alat, tetapi menjadi tujuan. Dalam teori kontrak sosial, Liberalisme ini meyakini bahwa individu-individu yang bebas merupakan pondasi masyarakat yang baik. Ini adalah pendapat John Locke dalam <em>Two Treatises on Government</em> yang berisi dua kebebasan: (1) kebebasan ekonomi, hak untuk memiliki dan menggunakan kepemilikan (2) Kebebasan intelektual, di dalamnya termasuk kebebasan berpendapat. Pemikiran John Locke inilah yang menjadi pelopor lahirnya konsep HAM.</p>
<p>Bagi Negara-negara Kapitalis, HAM ini menjadi alat untuk melebarkan ideologinya. Para Kapitalis pun menggunakannya sebagai jargon untuk menjajah dunia Islam.? Contoh, sejak menjadi negara adidaya satu-satunya, AS menjadikan HAM sebagai peraturan universal. Setiap negara, bahkan setiap individu harus mengambil HAM. Untuk mengokohkan posisi HAM sebagai peraturan internasional, maka HAM? menjadi salah satu basis strategi politik LN AS. Ini terjadi sejak tahun 1970-an, masa Presiden Jimmy Carter.</p>
<p>Departemen LN AS selalu mengeluarkan evaluasi tahunan mengenai komitmen negara-negara di dunia untuk menerapkan HAM. Evaluasi tersebut menilai sejauh mana negara-negara itu menjalankan HAM. Evaluasi inilah yang menjadi landasan sikap AS terhadap negara-negara yang dianggap tidak terikat dengan prinsip-prinsip HAM. Tapi daftar htam negara-negara yang buruk pelaksanaan HAMnya itu tidak pernah mencantumkan Israel. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan AS dalam perkara HAM ini punya standar ganda. Seenaknya sendiri. Standar HAM ini sangat diskriminatif. Negara yang justru paling banyak melanggar HAM, seperti Israel tidak otomatis diserang AS. Tetapi negara-negara yang sedikit melanggar HAM, malah bisa menjadi target operasi militer AS. Contohnya Haiti, Afghanistan dan Iraq. Indonesia juga pernah mendapat tudingan sebagai pelanggar HAM, dalam kasus Timor-Timur.</p>
<p>Atas nama HAM, saat ini yang terjadi adalah<strong> </strong>(1) Berkembangnya aliran-aliran sesat yang bertentangan dengan aqidah Islam. Dengan alasan mendapat perlindungan HAM. Sebagai contoh kasus ajaran sesat Lia Eden? dan Ahmadiyah (yang mengakui nabi akhir zaman yang lain selain Nabi Muhammad Saw). Kalangan liberal memperjuangkannya dengan alasan HAM. (2) Tidak bisa dibasminya pornografi dan pornoaksi di Indonesia, juga karena alasan HAM. (3) Seks Bebas merajalela dengan alasan HAM. Mulai dari seks bebasnya anak sekolah sampai anggota DPR, bahkan kaum homoseksual, maka itu hak asasi mereka. (4) HAM berujung kepada kerusakan, kemurtadan, generasi muda yang rusak, HIV-AIDS merajalela. (5) Karena standar HAM internasional dikuasai negara-negara kapitalis, maka sumber daya alam di Indonesia dikuasai oleh asing. (6) HAM menjadi modus untuk merusak Islam, praktik ribawi, perjudian, prostitusi, pornografi-pornoaksi merajalela. Sebaliknya, usulan penerapan syariat Islam dianggap melanggar HAM.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dari-mana-datangnya-ham/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Tidak Mandiri?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengapa-tidak-mandiri</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengapa-tidak-mandiri#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 13:40:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 04/Mar 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mengapa-tidak-mandiri/</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/MAR/2008
Belakangan ini ada sesuatu yang membuat rakyat negeri ini kian berduka. Bukan sekadar bencana alam yang terus berdatangan. Juga bukan ulah anggota dewan yang terus menuai tunjangan di tengah derita anak bangsa. Tapi langkanya tempe dan tahu. Kelangkaan dua makanan rumahan dan murah ini sempat menjadi headline seluruh media massa di tanah air. Banyak orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/MAR/2008</strong><br />
Belakangan ini ada sesuatu yang membuat rakyat negeri ini kian berduka. Bukan sekadar bencana alam yang terus berdatangan. Juga bukan ulah anggota dewan yang terus menuai tunjangan di tengah derita anak bangsa. Tapi langkanya tempe dan tahu. Kelangkaan dua makanan rumahan dan murah ini sempat menjadi <em>headline</em> seluruh media massa di tanah air. Banyak orang merasa kehilangan, termasuk saya dan mungkin Anda.</p>
<p>Membumbungnya harga kacang kedelai, bahan baku tahu dan tempe, membuat produsennya kelimpungan. Marjin keuntungan yang menipis membuat mereka bingung membuat pilihan; antara menaikkan harga atau mengecilkan ukuran. Selama beberapa pekan tahu dan tempe menjadi langka di pasar.<span id="more-922"></span></p>
<p>Semua orang resah; para pedagang dan konsumen resah. Yang lebih parah lagi hal ini membuat para pengusaha tahu dan tempe mati perlahan. Dan bukan hanya mereka, tapi juga para produsen makanan berbahan baku kacang kedele pun mengalaminya. Produsen tauco, pedagang gorengan, dan pengusaha warteg ikut merana.</p>
<p>Jangan lupa, jutaan kaum miskin di Indonesia yang proteinnya ditentukan oleh tahu dan tempe juga merana. Setelah makan daging tinggal impian, telur nyaris tak terjangkau, kini tahu dan tempe pun sulit diperoleh.</p>
<p>Dua makanan nan sederhana &#8211; bahkan sering dianggap ?kampungan&#8217; &#8211; ternyata punya banyak makna. Betapa pahitnya menjadi bangsa yang tak mandiri. Kita pun terhentak bahwa tahu dan tempe yang kita anggap murahan ternyata berbahan baku impor. Tidak kurang 60 % kacang kedelenya berasal dari Amerika Serikat. Demikian rapuh dan bodohnya kita sampai-sampai nasib tahu dan tempe saja ditentukan oleh negara adidaya. Maka jangan bicara nuklir atau artileri atau IT jika tahu dan tempe saja harus tunduk pada negara adidaya.</p>
<p>Kebodohan kita adalah membiarkan diri dicekoki terus oleh bangsa asing. Kita menjadi bangsa yang pemalas, tunduk pada hawa nafsu kekuasaan, berpikir pendek dan tak pernah merancang masa depan. Ketika pemerintah negeri ini membuka keran impor kacang kedele &#8211; yang harganya lebih murah &#8211;, penguasa tidak menolong para petani kedele. Mereka dibiarkan bertahan hidup sendirian melawan importir yang jaringan pasarnya sudah menggurita. Entah komoditi apa lagi yang menjadi hajat hidup rakyat yang dipasok oleh bangsa asing.</p>
<p>Semoga, ini adalah kali terakhir kita menjadi bangsa yang mengidap inferioritas akut dan pemalas. Akhirilah babak ini dengan membangun kemandirian. Dan kemandirian hanya bisa dibangun jika umat memiliki keyakinan hidup yang sehat dan kuat, yaitu akidah Islamiyah. <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengapa-tidak-mandiri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ranting [2]</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ranting-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ranting-2#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 07:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 04/Mar 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ranting-2/</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/MAR/2008
Oleh: Nafisah FB
&#8220;Wah, gimana ini, Pakde?! Masa&#8217; yang sudah jelas nebang pohon enggak pake&#8217; ijin bisa bebas?!&#8221;
Ngatno menghentakkan telapak tangan kanannya ke atas lembaran koran. Tangannya yang lain sedang memegang rantang plastik tempat makan siangnya.
&#8220;Bisa habis hutan kita! Nanti, yang disalahkan kita-kita, petani. Gitu?&#8221; Ngatno melanjutkan sambil tangannya menyuap nasi ke mulutnya.
Pakde Danu yang sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/MAR/2008</strong></p>
<p>Oleh: Nafisah FB</p>
<p>&#8220;Wah, gimana ini, Pakde?! Masa&#8217; yang sudah jelas nebang pohon enggak pake&#8217; ijin bisa bebas?!&#8221;</p>
<p>Ngatno menghentakkan telapak tangan kanannya ke atas lembaran koran. Tangannya yang lain sedang memegang rantang plastik tempat makan siangnya.</p>
<p>&#8220;Bisa habis hutan kita! Nanti, yang disalahkan kita-kita, petani. Gitu?&#8221; Ngatno melanjutkan sambil tangannya menyuap nasi ke mulutnya.</p>
<p>Pakde Danu yang sedang menghirup kopi menengok ke Ngatno. Firman baru saja akan membuka rantang yang baru diantar Sarji.</p>
<p>Pakde Danu mengambil surat kabar dari hadapan Ngatno. Dia membaca, &#8220;Mr. Adek Lin Ter Alis divonis bebas dari dakwaan illegal logging setelah hakim menilai semua berkas dan penjelasan para saksi tidak cukup menjadi bukti dakwaan.&#8221;<span id="more-921"></span></p>
<p>Setelah itu tidak ada suara. Pakde Danu terpekur. Dia terus menelusuri kata demi kata di surat kabar itu. Firman menoleh ke Pakde Danu. Air muka Pakde Danu perlahan berubah. Urat wajahnya menegang.</p>
<p>&#8220;Sampah!&#8221;</p>
<p>Pakde Danu tiba-tiba berteriak marah. Dia membanting koran ke atas <em>bale</em> dangau lalu beranjak meninggalkan dangau. Ngatno dan Firman hanya saling pandang.</p>
<p>&#8220;Pakde kenapa, Man?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ndak tahu, Mas,&#8221; jawab Firman.</p>
<p>Firman sebenarnya bukan sama sekali tidak bisa meraba alasan kemarahan Pakde Danu. Dia hanya ragu apakah memang itu yang menjadi alasannya.</p>
<p>Tiga tahun yang lalu Pakde Danu ditahan selama sebulan karena tertangkap &#8220;Satpam&#8221; hutan menebang sebuah batang pohon. Bukan yang besar. Hanya yang berukuran sedang. Bukan kayu yang mahal. Hanya batang kayu tanpa daun milik pohon yang kulitnya melayu. Pakde Danu ingin menjual potongannya untuk mengganjal perut cucu dan istrinya.</p>
<p>&#8220;Aku memang salah, Man. Aku mencuri milik negara. Aku rela ditahan.&#8221; Begitu Pakde Danu bilang waktu Firman dan Lastri menemani Bude Tarsih menjenguk Pakde Danu di penjara saat itu.</p>
<p>Firman menghela nafas panjang. Ingatan itu tidak akan bisa hilang.</p>
<p>&#8220;Apa mungkin ya itu yang bikin Pakde tadi marah?&#8221; batin Firman.</p>
<p>Firman tidak melanjutkan percakapan batinnya karena Ngatno memperhatikannya. Firman segera menuntaskan makan siang.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>??????????? &#8220;Eh, Ji! Itu ada batang kayu di situ! Kita ambil saja. Yuk!&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, Tung. Jangan!&#8221;</p>
<p>Sarji tergopoh mengejar Untung yang berlari menuju sebuah pohon. Kumpulan ranting yang diikat apa adanya yang dibawanya sedikit membuat jarak larinya terbatas.</p>
<p>&#8220;Tung! Ojo! Diseneni Pak Mandor mengko!&#8221;</p>
<p>&#8220;Alah! Wis to! Tenang aja. Cuma batang sebesar ini!&#8221; Untung memperlihatkan lengan tangannya yang kurus.</p>
<p>&#8220;Iya! Tapi, itu masih nempel di pohon. Dilarang!&#8221; cegah Sarji sekali lagi.</p>
<p>Untung mendengus kesal. Dia mendorong bahu Sarji dengan bahunya. Sarji selangkah terhuyung ke belakang. Sarji segera memeluk ikatan ranting miliknya.</p>
<p>Untung mengeluarkan kapak kecil dari tempatnya, sebuah kain yang dibelitkan. Dia memanjat pohon dengan gesit. Tidak sampai hitungan menit, tangannya telah menyentuh batang pohon incarannya. Dia segera mengayunkan kapak kecilnya, perlahan menebas kulit batang lalu ke kambium.</p>
<p>Sarji menoleh kiri-kanan, was-was kalau Pak Mandor datang. Dia memperhatikan Untung yang masih semangat.</p>
<p>&#8220;Lekas, Tung!&#8221; teriak Sarji. Kecemasan benar-benar nyata di wajahnya.</p>
<p>&#8220;Sedilut meneh! Sabar po&#8217; o!&#8221; respon Untung dari atas pohon.</p>
<p>&#8220;HEI!&#8221; Gelegar sebuah suara. <strong>[bersambung]</strong></p>
<p><strong>?</strong></p>
<p><em>Glossary</em></p>
<p><em>Ojo ???????? : Jangan</em></p>
<p><em>Diseneni?? : Dimarahi</em></p>
<p><em>Mengko??? : Nanti</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ranting-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Globalisasi Cinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 10:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Feb/2008
Dunia saat ini dipenuhi dengan globalisme, informasi, hiburan, dan komersialisme. Kritikus Lorraine Gam?man dan Marga?ret Marshment, keduanya pe?nyunting buku &#8220;The Female Ga?ze: Women as Viewers of Popu?lar Culture (1998)&#8221;, berse?pakat bah?wa bu?daya popu?ler adalah sebu?ah medan pergu?latan ketika me?ngemukakan bah?wa tidaklah cu?kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu?daya populer se?bagai alat kapi?talisme dan pat?riarki yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Feb/2008</strong></p>
<p>Dunia saat ini dipenuhi dengan globalisme, informasi, hiburan, dan komersialisme. Kritikus Lorraine Gam?man dan Marga?ret Marshment, keduanya pe?nyunting buku <em>&#8220;The Female Ga?ze: Women as Viewers of Popu?lar Culture (1998)&#8221;</em>, berse?pakat bah?wa bu?daya popu?ler adalah sebu?ah medan pergu?latan ketika me?ngemukakan bah?wa tidaklah cu?kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu?daya populer se?bagai alat kapi?talisme dan pat?riarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugat?nya ideologi dominan.</p>
<p>Sebenarnya ukuran populer bagi budaya populer itu sendiri juga bersifat kualitatif dan serba relatif. Ukurannya tak ada yang baku. Tapi yang jelas, <em>pop culture</em> faktanya adalah budaya dan gaya hidup yang banyak disukai orang. Alasan disukai? Bisa saja disukai karena memang dibutuhkan, juga disukai setelah mendapat &#8220;komporan&#8221; dari pihak lain sehingga jadi terpaksa menyukai. Saat ini sebagai besar dari kita tunduk pada <em>logic of capital</em>, logika proses produksi, di mana hal yang dangkal dan cepat ditangkap itulah yang cepat laku. Itu sebabnya, Valentine&#8217;s Day (VD) menjadi sarana penyebaran globalisasi produk gaya hidup dan bisnis berlabel cinta yang sangat efektif.<span id="more-916"></span></p>
<p>Dan, hampir bisa dipastikan bahwa perempuan (khususnya remaja putri) adalah pasar potensial dalam proses produksi jenis budaya populer mana pun. Maka, jangan terlalu heran jika produk VD ditujukan dengan sangat jelas kepada pasar perempuan ketimbang pasar lelaki: coklat, boneka, lipstik, bedak, perona pipi bernuansa warna tertentu, gaun pink, tas kecil pink, bando, jepit rambut pink, aneka rupa sepatu dan sandal bernuansa pink, dll.</p>
<p>Nah, perpindahan rupiah dari pembeli ke penjual produk-produk Valentine&#8217;s diprediksi bakal mengalahkan transaksi pembelian minyak tanah dan sembako. Ini ironi, di tengah kemiskinan yang kian menjadi-jadi karena harga-harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik, tapi atas nama hajatan cinta sejagat bernama VD, produknya harus (bahkan seperti wajib) untuk dibeli kemudian dirayakan meski tak pernah tahu asal-usul VD tersebut. Menyedihkan!</p>
<p>Kita wajib mewaspadai, bila perlu mencurigai, bahwa globalisasi cinta atas nama pesta VD ini adalah sebuah rekayasa dari ideologi liberal sekularisme-kapitalisme, yang selain memasarkan gaya hidup hedonis-permisif (pemuja kebebasan materi dan jasadi, serta bebas nilai), juga menjual produk yang keuntungannya jelas <em>fulus</em> alias duit. Jika kita termasuk golongan yang terbius dengan kampanye globalisasi cinta ala VD, berarti ada dua kerugian yang kita dapatkan: ternodainya gaya hidup kita dengan gaya hidup khas Barat yang liberal, dan menguapnya duit yang kita punya, bahkan sangat boleh jadi, <em>segitu-gitunya</em> yang memang kita punya.<strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Adakah Cinta?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 06:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/Feb/2008
&#160;
Majalah Reader&#8217;s Diggest edisi Indonesia pada tahun lalu pernah menurunkan hasil survey perilaku berbagai bangsa di dunia. Salah satu hasilnya, Indonesia adalah bangsa dengan tingkat kesopanan tergolong rendah. Anda boleh protes, tapi marilah bercermin dengan jujur. Betapa bangsa ini telah mengalami pelunturan norma-norma yang luhur. Simaklah televisi berapa kali sehari ditayangkan berita kriminalitas? Simak juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/Feb/2008</strong></p>
<p dir="ltr">&nbsp;</p>
<p dir="ltr">Majalah <em>Reader&#8217;s Diggest</em> edisi Indonesia pada tahun lalu pernah menurunkan hasil survey perilaku berbagai bangsa di dunia. Salah satu hasilnya, Indonesia adalah bangsa dengan tingkat kesopanan tergolong rendah. Anda boleh protes, tapi marilah bercermin dengan jujur. Betapa bangsa ini telah mengalami pelunturan norma-norma yang luhur. Simaklah televisi berapa kali sehari ditayangkan berita kriminalitas? Simak juga kualitas kriminalitasnya, kian hari kian kejam. Kita pun jarang bertemu orang yang murah senyum. Di kota-kota besar, dengan tingkat kesibukan dan tekanan hidup yang tinggi, orang lalu lalang begitu saja nyaris tanpa ekspresi keramahan. Bahkan, kata &#8216;maaf&#8217; pun jadi amat mahal diberikan ketika terjadi kesalahan.</p>
<p dir="ltr">Jangan tanya pula sikap pemerintah ketika mengurusi rakyatnya. Penggusuran adalah kebijakan mereka. Tanpa mau tahu di mana mereka akan tinggal dan bagaimana mereka hidup. Yang penting bagi mereka adalah ketertiban dan kelancaran.<span id="more-915"></span></p>
<p dir="ltr">Masyarakat memang butuh aturan, bahkan Allah pun memberikan syariatNya bagi umat muslim. Tapi semua harus dijalankan dengan penuh cinta dan kasih sayang, selain tentu landasannya iman. Bahkan dalam sanksi <em>qishash</em> sekalipun, Nabi saw. masih memberikan kesempatan pengampunan tanpa pemberian sanksi apapun.</p>
<p dir="ltr">Hidup akan terasa berat jika kasih sayang tercerabut dari lubuk hati. Jika pemimpin tak punya cinta, ia akan bengis pada rakyatnya. Jika suami tak punya lagi rasa cinta ia akan menelantarkan keluarganya, jika istri tak punya rasa cinta ia tak mau melayani suami dan mengurus anak-anaknya. Dan jika para dai tak punya rasa cinta ia hanya akan pandai ber-retorika tapi miskin budi. Ia hanya mau didengarkan tanpa mau mendengarkan. Kita berlindung kepada Allah dari terhapusnya cinta dalam nurani kita, sehingga kita hidup bak robot cerdas tapi tanpa ekspresi dan emosi.</p>
<p dir="ltr">?&#8221;Apakah seseorang bisa menghindar dari cinta?&#8221; tanya orang-orang pada Abu Naufal. &#8220;Bisa!&#8221; jawabnya. &#8220;Yaitu orang yang hatinya keras dan bodoh, yang tidak memiliki keutamaan dan pemahaman.&#8221;</p>
<p dir="ltr">??????????? Ali bin Abdah berkata, &#8220;Tak mungkin seseorang bisa menghindar dari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras atau tidak mempunyai gairah.&#8221; Kitakah itu gerangan? <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ranting</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ranting</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ranting#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 00:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ranting/</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/Feb/2008?
Oleh: Nafisah FB
Angin malam yang berhembus semilir membuat mata Sarji sebentar menutup. Sedetik kemudian matanya membuka lalu menutup lagi. Dia terkantuk lalu terlelap? sekejap. Pensilnya menyusul terhempas dari tangannya.
Seorang wanita berusia sekitar 30-an menghampiri pintu kamar Sarji yang terbuka. Lastri, wanita itu, menatap Sarji yang telah terlelap itu dengan senyum.
&#8220;Sarji sudah tid &#8230;.&#8221; Suara seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/Feb/2008?</strong></p>
<p>Oleh: Nafisah FB</p>
<p>Angin malam yang berhembus semilir membuat mata Sarji sebentar menutup. Sedetik kemudian matanya membuka lalu menutup lagi. Dia terkantuk lalu terlelap? sekejap. Pensilnya menyusul terhempas dari tangannya.</p>
<p>Seorang wanita berusia sekitar 30-an menghampiri pintu kamar Sarji yang terbuka. Lastri, wanita itu, menatap Sarji yang telah terlelap itu dengan senyum.</p>
<p>&#8220;Sarji sudah tid &#8230;.&#8221; Suara seorang pria hendak bertanya.</p>
<p>&#8220;Sssst.&#8221;</p>
<p>Lastri menempelkan telunjuk tangan kanannya ke bibirnya. Seorang pria yang baru saja tiba tadi berhenti bersuara.</p>
<p>&#8220;Dia sudah tidur.&#8221; Lastri memberitahu.<span id="more-914"></span></p>
<p>Pria itu menoleh ke arah Sarji. Anak berusia enam tahun itu menangkupkan kepalanya di atas meja belajarnya. Bukan meja belajar yang sesungguhnya, hanya beberapa balok kayu dan papan yang disusun dan dipaku seadanya.</p>
<p>&#8220;Kang Firman pindahin Sarji ke atas tempat tidur. Biar aku yang tutup jendelanya.&#8221;</p>
<p>Lastri menuju jendela kayu, sedangkan Firman, pria yang dia sebut ?Kang&#8217; itu itu beranjak dari ambang pintu menuju tubuh mungil Sarji. Dia mengangkat Sarji ke atas pembaringan.</p>
<p>Sarji telah berada di atas tempat tidur. Nyaman &#8230; tanpa beban. Firman dan Lastri memandangi wajahnya sebentar.</p>
<p>&#8220;Si Tole sepertinya cape&#8217; banget ya, Kang. Kasihan.&#8221; Lastri mengelus pipi <em>tembem</em> Sarji.</p>
<p>&#8220;Kalau gitu besok dia nggak usah dulu bantu cari kayu bakar,&#8221; ucap Firman menenangkan.</p>
<p>Dia tersenyum kepada Lastri. Begitupun Lastri kepada Firman. Mereka beranjak dari sana setelah dipastikan Sarji nyaman dalam tidurnya.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>??????????? &#8220;Nanti pulang sekolah kita main ya, Ji?&#8221;</p>
<p>Sarji menoleh ke bocah kurus di sampingnya. Dia menggelengkan kepala.</p>
<p>&#8220;Aku ndak bisa, Tung&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh, kenapa?&#8221; tanya Untung, bocah kurus itu.</p>
<p>&#8220;Aku harus bantu Bapak. <em>Aku arep nggolek kayu ning alas</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau gitu aku bantu!&#8221;</p>
<p>Sarji mengangguk, tersenyum. &#8220;Boleh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Yes!&#8221; seru Untung dengan lagak <em>wong londo. </em>Tangannya yang mengepal dihentakkan.</p>
<p>Untung <em>nyengir </em>lebar memperlihatkan ruang di deretan giginya bagian depan? yang kosong. Giginya kemarin tanggal dua. Sarji hanya tertawa melihat lagaknya.</p>
<p>Dua bocah SD kelas satu itu terus berjalan beriringan di sepanjang pematang sawah. Pagi itu mereka menuju sekolah yang jaraknya tiga kilometer dari rumah mereka. &#8220;Hanya tiga kilometer,&#8221; itu yang selalu Sarji katakan kalau ada temannya yang orang kota menyampaikan belas kasihan.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Sarji melangkah tergesa menuju kamarnya. Tasnya diletakkan segera di atas meja. Lastri melangkah, menyusul menuju kamarnya.</p>
<p>&#8220;Mak! Sarji cari kayu bakar dulu!&#8221;</p>
<p>Sarji berteriak dari dalam kamar. Dia sedang mengganti kemeja seragam sekolahnya dengan kaos lusuh, seragam dinasnya.</p>
<p>&#8220;Kamu ndak usah cari kayu bakar hari ini, <em>Le</em>,&#8221;ucap Lastri setibanya dia di pintu kamar Sarji.</p>
<p>Sarji menolehkan kepala kepada emaknya. Keningnya mengerut.</p>
<p>&#8220;Memang kenapa, Mak?&#8221; tanya Sarji sambil menghampiri Lastri.</p>
<p>&#8220;Bapakmu bilang hari ini kamu cuti,&#8221; jawab Lastri tersenyum sambil menggandeng tangan Sarji menuju meja makan.</p>
<p>&#8220;Cuti? Cuti <em>iku opo</em>, sih, Mak? Ooh, kaya&#8217; Lek Gino waktu itu datang ke sini ya, Mak? Dia bilang liburan karena dapat cuti. Berarti cuti itu libur. Iya, Mak?&#8221; cerocos Sarji sambil terus mengikuti langkah Lastri menuju? meja makan.</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; jawab Lastri singkat.</p>
<p>&#8220;Lho, kalau gitu siapa yang cari kayu bakarnya?&#8221; tanya Sarji sambil duduk menghadap meja makan.</p>
<p>Lastri memberikan piring kepada Sarji. Sarji segera menyenduk nasi dari tempatnya. Setelah itu dua potong tempe dan kuah sayur sop diambilnya untuk menemani nasi.</p>
<p>&#8220;Bapakmu yang cari. Habis dari sawah, langsung cari kayu bakar,&#8221; ucap Lastri sambil menyiapkan rantang untuk makan siang bapaknya Sarji.</p>
<p>Sarji berhenti memindahkan nasi ke mulutnya. Lastri menoleh. Dia melihat wajah murung putranya.</p>
<p>&#8220;<em>Ene opo, Le?</em> Kok, berhenti makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kasihan Bapak, Mak,&#8221; lirih suara Sarji.</p>
<p>Lastri tersenyum. Tangan meraih kepala Sarji dan mengusap lembut rambut ikalnya. Rambut ikal milik Firman.</p>
<p>&#8220;Bapakmu laki-laki. Dia kuat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sarji juga laki-laki, Mak! Sarji kuat!&#8221; pekik Sarji <em>cempreng </em>sambil bangkit dari duduknya. Matanya tajam menatap Lastri.</p>
<p>Lastri terkejut. Sarji tidakmenunggu emaknya kembali berbicara. Dia segera meraih rantang dan berlari keluar rumah.</p>
<p>&#8220;Eh, Le! Tole! Sarji!&#8221; panggil Lastri lantang.</p>
<p>&#8220;Sarji ke sawah, Mak!&#8221; jawab Sarji di kejauhan, tidak kalah lantang.</p>
<p>Lastri hanya menghela nafas panjang. Ada syukur yang dia panjatkan untuk putranya yang berbakti. Namun, rasa nelangsa yang mendalam tidak bisa dia abaikan.</p>
<p>&#8220;Ya, Allah, Gusti. Sampai kapan anakku ikut berjuang seperti ini. Belum saatnya buat dia, ya Allah. Belum saatnya. Dia masih terlalu kecil.&#8221;</p>
<p>Cairan bening itu sedetik kemudian meluncur dari dua mata Lastri. Dia menyekanya walaupun dia tahu itu tidak akan membuatnya? sirna. <strong>[bersambung]</strong></p>
<p>Glosary:</p>
<p>Nggolek  : Mencari</p>
<p>Alas ?????? : Hutan</p>
<p>Tole ?????? : Sebutan untuk anak laki-laki di Jawa Timur/Tengah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ranting/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haramkah Makan Tape Singkong?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 20:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong/</guid>
		<description><![CDATA[VOICORNER/Feb/2008
Diasuh oleh Ustadzah Ir. Lathifah Musa
Assalaamu&#8217;alaikum wr wb.Ustadzah, saya guru sekolah swasta di Nganjuk. Saya mau tanya, apa hukumnya tape ketela/singkong. Ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan boleh sebab belum mengandung alkohol? 
Guru di Nganjuk, Jawa Timur
Allah Swt. mengharamkan memanfaatkan dan memakan benda yang haram dan najis. Mengenai khamr, Allah Swt. berfirman: &#8220;Hai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>VOICORNER/Feb/2008</strong></p>
<p>Diasuh oleh Ustadzah Ir. Lathifah Musa</p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb.</em><em>Ustadzah, saya guru sekolah swasta di Nganjuk. Saya mau tanya, apa hukumnya tape ketela/singkong. Ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan boleh sebab belum mengandung alkohol? </em></p>
<p><em>Guru di Nganjuk, Jawa Timur</em><span id="more-913"></span></p>
<p>Allah Swt. mengharamkan memanfaatkan dan memakan benda yang haram dan najis. Mengenai khamr, Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras/ khamr, judi, berhala, mengundi nasib adalah perbuatan yang keji dan merupakan aktivitas syaithan: sebab itu jauhilah, mudah-mudahan kamu mendapat kemenangan.&#8221;</em> <strong>(TQS al-Ma&#8217;idah [5]: 90)</strong></p>
<p>Dalam sebuah hadits,<em>&#8220;Bahwasanya Rasulullah Saw. telah mendera orang yang meminum khamr dengan dua pelepah tamar, empat puluh kali.&#8221;</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Berbagai hadits juga ada yang menjelaskan keharaman khamr, mulai dari yang terlibat dalam proses produksi, memperdagangkan, menyajikannya sampai meminumnya. Diharamkannya khamr, adalah karena dzatnya. <em>Hurrimatil khamru li&#8217;ainihi</em>.</p>
<p>Zat yang dimaksud adalah alkohol (etanol) yang bersifat memabukkan dan merusak akal. Khamr bisa berbahan dasar anggur, aren, kurma, bit, apel, singkong, beras ketan dll. Pada setiap daerah, dikenal bermacam-macam produk khamr seperti wine, rhum, cognac, brandy, wisky, sake dan di Indonesia dikenal nama tuak. Jenis minuman seperti ini masyhur digunakan untuk mabuk-mabukan.</p>
<p>Dengan demikian khamr dicirikan dari: (1) hasil proses fermentasi (2) dapat memabukkan dan merusak kesadaran (3) jenis dzatnya: etanol yang memiliki sifat-sifat dasar tertentu seperti bening, beraroma kuat, dll. Bila tidak meliputi ketiganya, maka tidak terkategori khamr. Misalnya, kandungan alkohol dalam buah yang sangat masak, seperti nangka, durian, kelengkeng dll.Terkadang orang bisa mabuk kalau memakannya terlalu banyak. Namun karena kandungan alkoholnya masih bersifat alami, tidak terpisahkan dari senyawa lain dalam buah tersebut, maka tidak tergolong khamr.</p>
<p>Mengenai tape singkong (orang Sunda menyebutnya &#8220;peuyeum&#8221;), masih jauh dari proses fermentasi sempurna yang menghasilkan khamr, bila belum berair. Sedangkan air tape ketan, harus diperhatikan lebih teliti karena jenis ini menurut ahli khamr internasional (dalam konferensi standar mutu mereka) bisa menghasilkan minuman berkadar alkohol tinggi. Sekalipun air tape yang baru dibuat boleh saja diminum, namun kita harus meneladani Rasulullah saw. dalam menyikapi jenis minuman seperti ?ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Abbas ra, berkata: <em>Rasulullah saw. pernah dibuatkan anggur (perasan anggur) oleh seseorang pada awal malam (waktu senja), lalu beliau minum besok paginya, kemudian malam harinya, kemudian besok paginya lagi hingga ashar. Sesudah itu bila masih ada sisanya disuruh beliau tumpahkan oleh khadamnya (maksudnya dibuang).&#8221; </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Demikian penjelasan singkat atas pertanyaan Anda, semoga bisa membantu dan memberikan wawasan tambahan bagi Anda. Terima kasih. <em>Wallahu&#8217;alam</em>[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
