<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Edisi 02/Jan 2008</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/tabloid-jejak/tabloid-jejak-edisi-02jan-2008/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Salahnya Demokrasi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/salahnya-demokrasi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/salahnya-demokrasi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 01:11:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 02/Jan 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/salahnya-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Jan/2008
Pertanyaan yang harus dijawab oleh mereka yang masih pro-demokrasi adalah; apakah demokrasi memberikan kebebasan? Kebebasan seperti apa yang didefinisikan oleh demokrasi? Apakah kebebasan itu mutlak atau relatif? Pada kondisi apa kebebasan boleh mutlak dan pada kondisi apa kebebasan menjadi relatif? Apakah demokrasi memiliki kejelasan konsep dan tanpa bisa dimultitafsirkan oleh para penggagas dan pejuang demokrasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Jan/2008</strong></p>
<p>Pertanyaan yang harus dijawab oleh mereka yang masih pro-demokrasi adalah; apakah demokrasi memberikan kebebasan? Kebebasan seperti apa yang didefinisikan oleh demokrasi? Apakah kebebasan itu mutlak atau relatif? Pada kondisi apa kebebasan boleh mutlak dan pada kondisi apa kebebasan menjadi relatif? Apakah demokrasi memiliki kejelasan konsep dan tanpa bisa dimultitafsirkan oleh para penggagas dan pejuang demokrasi itu sendiri?</p>
<p>Sebenarnya masih banyak pertanyaan lainnya yang mendekam dengan sangat gelisah di benak. Tapi, rasa-rasanya cukup pertanyaan di atas yang wajib dijawab dengan gamblang.<span id="more-912"></span></p>
<p>Bagaimana menurut para aktivis pro-demokrasi? Tak bisa menjawab? Mari, kita lihat fakta. Fakta bahwa demokrasi menjanjikan kebebasan, itu benar. Dalam konsep demokrasi orang bebas berbuat apa saja jika hal itu menjadi kesukaannya, pilihannya&#8211;termasuk merampas kebebasan orang lain. Meski selalu diwanti-wanti agar tidak melanggar hak orang lain dengan aturan klise bak peringatan larangan merokok yang tertera di iklan dan kemasan pembungkus rokok. Faktanya, tindak kriminal yang melanggar hak orang lain tumbuh subur mencapai puncaknya dalam sistem demokrasi.</p>
<p>Meski digembar-gemborkan bahwa kebebasan adalah segalanya, tetap saja sejatinya tak mungkin bebas sama sekali. Itulah yang dialami demokrasi. Sistem ini berada dalam dilema akut dan bertentangan dengan keinginan pejuang dan pembelanya sendiri. Hasilnya, kebebasan menjadi relatif alias tidak mutlak dan maknanya sarat dengan kepentingan si pelaksana dan pengambil kebijakan. Contoh, Amerika selalu mencekokkan demokrasi kepada negara mana pun. Namun bersamaan dengan itu, penguasa negeri Uncle Sam ini melakukan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan negara lain dengan melakukan invasi militer, seperti ke Irak dan Afghanistan. Akibat lanjutnya, demokrasi menjadi multitafsir bagi siapa pun termasuk pejuangnya sendiri. Demokrasi kian jelas terlihat bobroknya dengan ketidakjelasan konsepnya.</p>
<p>Indonesia, negeri yang menerapkan demokrasi sejak kelahirannya memberikan banyak kebebasan, termasuk memberi celah kebebasan untuk memisahkan diri dari negeri ini. Bukti sudah nyata. Atas nama demokrasi Papua ingin merdeka, Maluku minta pisah, dan Aceh kembali gelisah minta ?cerai&#8217; dari negeri ini. Ya, inilah salahnya demokrasi. Jalan sesat yang dipilih pemimpin negeri ini. Itu sebabnya, kini saatnya menjadikan Islam sebagai ideologi negara untuk mengeliminasi demokrasi. <strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/salahnya-demokrasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Otda dan Ancaman Persatuan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/otda-dan-ancaman-persatuan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/otda-dan-ancaman-persatuan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 17:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 02/Jan 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/otda-dan-ancaman-persatuan/</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/Jan/2008
Ancaman perpecahan sedang mengintai bangsa ini. Berbagai daerah berlomba memekarkan diri, seiring dengan era otonomi daerah. Mulai wilayah setingkat provinsi, kabupaten, kota hingga desa. Tak heran bila negeri ini semakin terkerat-kerat, bahkan berkeping-keping ibarat sobekan kertas. ?Sungguh kasihan pembuat peta, setiap saat harus mengganti cetakannya karena batas-batas wilayah cepat sekali berubah. Para pelajar pun terpaksa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FRESH!/Jan/2008</strong><br />
Ancaman perpecahan sedang mengintai bangsa ini. Berbagai daerah berlomba memekarkan diri, seiring dengan era otonomi daerah. Mulai wilayah setingkat provinsi, kabupaten, kota hingga desa. Tak heran bila negeri ini semakin terkerat-kerat, bahkan berkeping-keping ibarat sobekan kertas. ?Sungguh kasihan pembuat peta, setiap saat harus mengganti cetakannya karena batas-batas wilayah cepat sekali berubah. Para pelajar pun terpaksa harus mengup-grade terus hapalan geografinya. Penulis sejarah pun dituntut merevisi terus buku-bukunya.</p>
<p>Upaya pemekaran wilayah itu senantiasa mengatasnamakan rakyat. Demi pemerataan. Demi kesejahteraan. Demi keadilan. Maka, dengan tameng otonomi daerah atau otonomi khusus, sejengkal demi sejengkal tanah negeri ini berdiri, bangkit menuntut kemandirian. Sayang, kemandirian yang diidamkan cenderung kebablasan. Akibatnya, Papua di ambang kemerdekaan, Aceh terus bergejolak dan Maluku minta merdeka. Sungguh berbahaya. Otonomi daerah ibarat menggali lubang kuburan bagi sejengkal demi sejengkal bagian wilayah nusantara.<span id="more-911"></span></p>
<p>Apakah Timor-Timur yang &#8220;merdeka&#8221; menjadi Timor Leste tak cukup jadi pelajaran? Sebuah<br />
kemerdekaan semu. Alih-alih rakyatnya sejahtera, menentukan nasib sendiri pun tak mampu. Mantan si bungsu itu malah jadi &#8220;jajahan&#8221; sekaligus &#8220;jarahan&#8221; negara-negara asing. Begitulah, otonomi tak ubahnya sebuah fatamorgana.</p>
<p>Kesejahteraan, keadilan dan kesatuan bangsa bukanlah ditentukan luas-sempitnya wilayah, atau kaya-miskinnya daerah itu. Melainkan sistem seperti apa yang diterapkan yang mampu mendistribusikan kekayaan dengan adil. Otonomi daerah yang masih saudara kandung dengan<br />
sistem federalisme, tak lain derivat dari sistem kapitalisme sekular. Sistem ini terbukti tak mampu<br />
menjadi landasan bagi terwujudnya kesejahteraan dan keadilan seluruh masyarakat. Sistem tersebut harus segera diganti dengan sistem berbasis ideologi yang shahih, yang mampu mensejahteraan umat manusia seluruhnya, lahir dan batin. Itulah ideologi Islam.</p>
<p>Ironisnya, ketika wacana penerapan Islam menguat, justru Islam difitnah sebagai ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Aneh dan tidak logis. Sebaliknya, mereka yang mengaku paling nasionalis, justru nyaring membela mati-matian berbagai upaya yang mengancam perpecahan bangsa. Atas nama budaya, katanya. Tari Cukulele yang mengibarkan bendera RMS dipandang sebelah mata. Pengibaran bendera OPM juga bagai angin lalu. Lantas, apakah perang suku dimana antarwarga saling bunuh di Papua atau Carok berdarah di Madura yang juga merupakan budaya asli masyarakat layak dipertahankan sebagai ikon pemersatu bangsa? Sungguh naif. <strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/otda-dan-ancaman-persatuan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapkah Anda Menjadi Pahlawan?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/siapkah-anda-menjadi-pahlawan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/siapkah-anda-menjadi-pahlawan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 09:04:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 02/Jan 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/siapkah-anda-menjadi-pahlawan/</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/Jan/2008
Hari Pahlawan, 10 November, memang telah lewat. Tapi ada sisi penting yang amat baik untuk kita renungi. Ingatkah Anda siapa Bung Tomo? Rasanya sedikit saja orang yang tidak mengenal namanya. Meski hanya lewat buku-buku sejarah, terbayang betapa heroiknya pria ini. Konon lewat corong RRI di Surabaya ia membakar semangat perjuangan arek-arek Suroboyo dengan pekikan takbirnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/Jan/2008</strong></p>
<p dir="ltr">Hari Pahlawan, 10 November, memang telah lewat. Tapi ada sisi penting yang amat baik untuk kita renungi. Ingatkah Anda siapa Bung Tomo? Rasanya sedikit saja orang yang tidak mengenal namanya. Meski hanya lewat buku-buku sejarah, terbayang betapa heroiknya pria ini. Konon lewat corong RRI di Surabaya ia membakar semangat perjuangan <em>arek-arek Suroboyo</em> dengan pekikan takbirnya. Hampir tak ada orang yang menyangsikan kepahlawanannya.</p>
<p dir="ltr">Tapi, Bung Tomo tak pernah masuk dalam daftar pahlawan nasional. Seorang menteri di jaman Orba berkomentar bahwa ia &#8216;hanya&#8217; pahlawan lokal, bukan nasional.<span id="more-910"></span></p>
<p dir="ltr">Tapi nampaknya ada alasan lain tentang penolakan itu. Bung Tomo yang kemudian melejit di pentas politik nasional, bahkan sempat menjabat sebagai menteri, kerap mengkritik kebijakan pemerintah. Bahkan Bung Karno sempat marah padanya. Sikap kritisnya itu pula yang mengantarkannya ke dalam penjara di tahun 1978-1979.</p>
<p dir="ltr">Sebagai orang yang pernah berjasa pada bangsanya, dan menjadi pejabat penting, Bung Tomo tidak menikmati kekayaan yang berlimpah. Ia pun berpesan pada keluarganya seandainya wafat jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. &#8220;Di sana banyak koruptor dan pahlawan kesiangan,&#8221; katanya. Ketika wafat ia memang dimakamkan di pemakaman umum.</p>
<p dir="ltr">Sidang pembaca yang budiman, menjadi pahlawan tidaklah mudah. Kita hanya sering membayangkan sanjungan dan pujian, serta limpahan hadiah. Padahal meniti jalan sebagai seorang pahlawan amatlah berat. Seorang pahlawan harus meneteskan keringat bahkan darah melawan kezhaliman, mengorbankan banyak enerji untuk menegakkan hak-hak umat dan kebenaran.</p>
<p dir="ltr">Dalam tugasnya menegakkan kebenaran, kadang ia harus berhadapan dengan atasannya, sahabatnya bahkan kerabatnya sendiri. Dan meski untuk itu ia mungkin harus difitnah, dikucilkan, atau mungkin teraniaya.</p>
<p dir="ltr">Seorang pahlawan juga tak mengharap pamrih apapun dari orang lain. Yang ia ingat, hanya dari Allah sajalah balasan terbaik yang ia harapkan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>&#8220;Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).&#8221; </em><strong>(QS Yunus [10]: 72)</strong></p>
<p dir="ltr">Maka, siapkah Anda menjadi pahlawan? <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/siapkah-anda-menjadi-pahlawan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balada Upik Abu dan Betty La Fea [2]</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/balada-upik-abu-dan-betty-la-fea-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/balada-upik-abu-dan-betty-la-fea-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 06:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 02/Jan 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/balada-upik-abu-dan-betty-la-fea-2/</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/Jan/2008
By: Nafiisah FB
Upik Abu menatap langit-langit dan berucap,&#8221;Walaupun kita juga pintar.&#8221;
&#8220;Tapi, ga cantik.&#8221; Betty La Fea menghela nafas panjang.
&#8220;Walaupun kita juga punya kemampuan, keahlian,&#8221; ucap Upik Abu dalam suara yang mulai sendu.
&#8220;Tapi kita enggak CAN-TIK,&#8221; kata Betty La Fea menambah sendu.
&#8220;Padahal kita juga &#8230;.&#8221;
&#8220;Iya !? Tapi, kita enggak cantiiiiik!!!!!&#8221;
Upik Abu meloncat dari posisi duduknya. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/Jan/2008</strong><br />
By: <strong>Nafiisah FB</strong></p>
<p>Upik Abu menatap langit-langit dan berucap,&#8221;Walaupun kita juga pintar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, ga cantik.&#8221; Betty La Fea menghela nafas panjang.</p>
<p>&#8220;Walaupun kita juga punya kemampuan, keahlian,&#8221; ucap Upik Abu dalam suara yang mulai sendu.</p>
<p>&#8220;Tapi kita enggak CAN-TIK,&#8221; kata Betty La Fea menambah sendu.</p>
<p>&#8220;Padahal kita juga &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya !? Tapi, kita enggak cantiiiiik!!!!!&#8221;</p>
<p>Upik Abu meloncat dari posisi duduknya. Dia mengusap-usap telinga kanannya yang <em>pengeng. </em>Sekarang dia berdiri menatap Betty La Fea yang tampak bernafas tersengal menata emosinya.<span id="more-909"></span></p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum! Pecel, Mbak!&#8221;</p>
<p>Suara di luar rumah menyela kemarahan Betty La Fea. Dia segera sadar perutnya keroncongan.</p>
<p>&#8220;Iya, Mbak! Tunggu!&#8221;</p>
<p>Betty La Fea mengecek uang di kantung celananya dan segera berjalan cepat menuju Mbak Pecel. Upik Abu mengikuti langkahnya.</p>
<p>Upik Abu terhenyak ketika beradu mata dengan Mbak Pecel. Dia lalu membisikkan sesuatu kepada Betty La Fea. &#8220;Lo mau tahu orang cantik yang sebenarnya? Dia ada di hadapan lo sekarang.&#8221;</p>
<p>Betty La Fea mengerutkan kening lalu perlahan menolehkan kepala ke arah Mbak Pecel yang sedang sibuk menata isi pecel. Dia memperhatikan Mbak Pecel dari atas sampai bawah, dari bawah lalu kembali ke atas.</p>
<p>Sosok sederhana dengan kerudung dan jilbab yang menambah kesahajaannya. Kulit sangat tipikal orang ras melayu cenderung gelap malah. Wajah jelas bukan saingan Tamara Blezinski atau Dessy Ratnasari.</p>
<p>&#8220;Mbak. Pecelnya satu lagi,&#8221; pesan Upik Abu.</p>
<p>Mbak Pecel mengangguk lembut sambil menyerahkan <em>pincuk</em> pecel kepada Betty La Fea. Betty La Fea menerima tanpa memutus urai tanya di pikirannya.</p>
<p>Wajahnya yang berminyak ditimpa sinar matahari jelas bukan kriteria Putri Sampo Paten yang baru ditontonnya. Tapi, kenapa Upik Abu percaya diri mengatakan Mbak Pecel itu contoh cantik yang sebenarnya?</p>
<p>&#8220;Mbak, jualan pecel sejak kapan? Kenapa jualan pecel? Enggak nyoba kerja yang lain?&#8221; tanya Upik Abu tanpa bermaksud iseng.</p>
<p>Mbak Pecel memperlihatkan senyum lembutnya. Dia menyerahkan pecel pesanan Upik Abu.</p>
<p>&#8220;Sejak lulus SMP, tiga tahun lalu. Jualan pecel begini karena yang saya bisa ya jualan seperti ini. Kasihan Emak kalau saya nganggur. Pengen juga sih kerja yang lain, tapi kan perlu modal. Harus bisa akuntansi, bahasa Inggris, atau komputer. Makanya, saya dikit-dikit nabung biar bisa kursus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikum salam. Eh, Nyak Haji!&#8221; jawab Betty La Fea.</p>
<p>&#8220;Iya, nih, Bet. Enyak dari tadi nyariin Marni. Tahunye die di sini!&#8221; info Nyak Haji sebelum dia beralih ke Mbak Pecel eh Marni.</p>
<p>&#8220;Mar, jangan lupa, ye. Habis ini elo ke mesjid. Enyak mau ngenalin elo ke anak-anak remaja mesjid!&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Nyak Haji.&#8221;</p>
<p>&#8220;Si Marni ini yang entar bakal gantiin Mbak Hanum, Bet. Mbak Hanum kan bakal pindah ke Palembang ikut suaminye ke sana. Nah, Si Marni dah yang ditunjuk ngegantiin buat ngebina remaja mesjid.? Kalau Betty enggak sibuk entar boleh juga ikut. Eh, Enyak pergi dulu ye. Babe ude nungguin ikan asin nih. Mar, elo sekalian aje ikut Enyak ke rume dulu. Enyak mau minta ajarin resep elo yang kemaren.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Nyak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, sebentar. Uang pecelnya!&#8221; cegah Betty sebelum Marni dan Nyak Haji beranjak pergi.</p>
<p>&#8220;Ude kagak usah. Entar Enyak yang bayarin. Sekali-kali ibu kost nraktir anak kost engak ape-ape kan? Assalamu&#8217;alaikum!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikum salam!&#8221; jawab Betty La Fea dan Upik Abu serempak. Mereka berdua menatapi langkah-langkah Marni yang tegak tanpa ragu dengan wadah pecel terbeban di bahu.</p>
<p>&#8220;Cantik yang sesungguhnya.&#8221; Upik Abu haru melihat pecel di tangan.</p>
<p>&#8220;Ternyata lebih indah.&#8221; Betty La Fea lirih membalas ucapan.</p>
<p>Kemudian mereka berdua perlahan tersenyum saling memandang. Sosok para Putri Sampo Paten perlahan menghilang, karena kini berganti dengan &#8230; rasa lapar J.? Betty La Fea dan Upik Abu segera kembali ke dalam untuk melahap pecel buatan Putri Cantik Sesungguhnya. <strong>[SELESAI]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/balada-upik-abu-dan-betty-la-fea-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demokratisasi dan Disintegrasi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/demokratisasi-dan-disintegrasi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/demokratisasi-dan-disintegrasi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 03:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 02/Jan 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/demokratisasi-dan-disintegrasi/</guid>
		<description><![CDATA[VOI CORNER/Jan/2008
Diasuh oleh Ustzh. Ir. Lathifah Musa
Rubrik ini mengangkat topik menarik yang ditanyakan oleh pendengar Voice of Islam. Kami hadirkan ke hadapan pembaca, semoga bermanfaat.
Assalaamu&#8217;alaikum
Melihat situasi dan kondisi? sekarang, nilai demokrasi sudah tidak relevan dengan nilai keislaman. Jadi penting kita membahas &#8221; nilai2 demokrasi dalam pandangan Islam.&#8221; 0852-981-xxxxx
Assalaamu&#8217;alaikum. Saya tinggal di daerah timur. Bagaimana sih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>VOI CORNER/Jan/2008</strong></p>
<p>Diasuh oleh Ustzh. Ir. Lathifah Musa</p>
<p><em>Rubrik ini mengangkat topik menarik yang ditanyakan oleh pendengar Voice of Islam. Kami hadirkan ke hadapan pembaca, semoga bermanfaat.</em></p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum</em></p>
<p>Melihat situasi dan kondisi? sekarang, nilai demokrasi sudah tidak relevan dengan nilai keislaman. Jadi penting kita membahas &#8221; nilai2 demokrasi dalam pandangan Islam.&#8221; 0852-981-xxxxx</p>
<p>Assalaamu&#8217;alaikum. Saya tinggal di daerah timur. Bagaimana sih kita menjaga keutuhan negeri ini dari perpecahan? 0852 -921-xxxxx<span id="more-908"></span></p>
<p>Demokrasi memang bisa dikatakan menjadi cara bagi ideologi liberal mana pun untuk eksis di kancah politik. Dalam sejarahnya, sekularisme -liberalisme di Eropa menggunakan demokrasi untuk menggulingkan sistem monarki dan menggantinya dengan republik.</p>
<p>Kaum sosialis dan komunis pun bisa menggunakan demokrasi untuk menjatuhkan rezim monarki. Namun ketika target? ini tidak tercapai, demokrasi bisa dicampakkan. Sebagai contoh Aljazair pernah mengalami? kemenangan FIS (Front Islamic Salvation) yang disambut sukacita oleh banyak kaum Muslim. Bisa dikatakan, inilah kemenangan pertama gerakan Islam di seluruh dunia melalui sistem demokrasi.</p>
<p>Namun karena <em>frame</em> demokrasi tidak menerima konsep agama mengatur kehidupan, maka kemenangan FIS dianggap mengancam sistem sekular. Negara-negara Barat justru mengecam kemenangan yang demokratis ini. Saat itu pihak negara-negara Barat mulai menganggap Demokrasi tidak lagi berguna. Akhirnya kemenangan FIS yang demokratis itu, dibatalkan melalui junta militer.</p>
<p>Istilah dan kosakata demokrasi telah menjadi pemikiran yang mengglobal. Bahkan meresap dalam jiwa dan lidah kaum muslimin. Meninggalkan demokrasi seolah-olah lebih dosa dari meninggalkan syariah Islam. Menjadi pejuang demokrasi lebih membanggakan daripada pejuang syariah yang terkesan? pinggiran dan tidak intelektual. Inilah kesuksesan Barat dalam mempopulerkan demokrasi.</p>
<p>Demokrasi sering dipakai hanya untuk menyebut kebersamaan, gotong royong atau didengarnya aspirasi rakyat. Padahal dalam demokrasi, musyawarah didasarkan kepada suara terbanyak. Sehingga ketika suara terbanyak menuntut, judi dilegalkan, konsekuensinya judi harus dilegalkan. Sementara musyawarah dalam Islam harus dikembalikan kepada kedaulatan syariat.? Allah Swt berfirman: <em>&#8220;Apa yang diberikan/diperintahkan Rasul kepadamu maka terimalah/laksanakanlah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.&#8221;</em> <strong>(TQS al-Hasyr [59]: 7)</strong></p>
<p>Namun yang harus diwaspadai adalah jargon demokratisasi menjadi modus yang diusung negara-negara Kapitalis untuk menancapkan hegemoninya di dunia Islam. Polanya dengan menanam konflik, agar perhatian dunia diarahkan ke wilayah tersebut. Rakyat setempat pun menuntut aspirasinya didengar. Diajukan pilihan daerah untuk melakukan referendum, sementara jauh-jauh hari Barat telah melakukan sosialisasi pemikiran melalui LSM-LSM. Wajar kalau jajak pendapat, putra putri daerah menuntut pengaturan diri sendiri. Timor-timur menjadi satu sejarah lepasnya wilayah Indonesia atas nama demokrasi.</p>
<p>Salah satu contoh adalah yang terjadi di Papua. DPR telah meluluskan UU Otonomi Khusus untuk Papua (No.21/2001) pada 23 Oktober 2001. Masyarakat internasional, termasuk Uni Eripa dan Forum negara-negara Pasific dengan cepat menyatakan dukungan mereka bagi otonomi khusus Papua dan bahwa Uni Eropa siap untuk memberikan dukungan keuangan dan teknis lain dalam pelaksanaan otonomi khusus ini. Selanjutnya dalam otonomi khusus untuk Papua, Papua menyatakan mengadakan Majelis Rakyat Papua (MRP).</p>
<p>Kelemahan pemerintah pusat Indonesia serta isu kesenjangan antar pusat dan daerah yang sangat tajam semakin mendorong suara-suara dalam MRP memisahkan diri. Nah di sini ada ancaman besar bagi Indonesia, bahwa peristwa pemisahan, bukan tidak mungkin akan terjadi lagi. Dan semuanya, atas nama demokrasi[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/demokratisasi-dan-disintegrasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
