<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Edisi 03/Feb 2008</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/media-network/tabloid-jejak/tabloid-jejak-edisi-03feb-2008/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Globalisasi Cinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 10:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Feb/2008
Dunia saat ini dipenuhi dengan globalisme, informasi, hiburan, dan komersialisme. Kritikus Lorraine Gam?man dan Marga?ret Marshment, keduanya pe?nyunting buku &#8220;The Female Ga?ze: Women as Viewers of Popu?lar Culture (1998)&#8221;, berse?pakat bah?wa bu?daya popu?ler adalah sebu?ah medan pergu?latan ketika me?ngemukakan bah?wa tidaklah cu?kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu?daya populer se?bagai alat kapi?talisme dan pat?riarki yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Feb/2008</strong></p>
<p>Dunia saat ini dipenuhi dengan globalisme, informasi, hiburan, dan komersialisme. Kritikus Lorraine Gam?man dan Marga?ret Marshment, keduanya pe?nyunting buku <em>&#8220;The Female Ga?ze: Women as Viewers of Popu?lar Culture (1998)&#8221;</em>, berse?pakat bah?wa bu?daya popu?ler adalah sebu?ah medan pergu?latan ketika me?ngemukakan bah?wa tidaklah cu?kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu?daya populer se?bagai alat kapi?talisme dan pat?riarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugat?nya ideologi dominan.</p>
<p>Sebenarnya ukuran populer bagi budaya populer itu sendiri juga bersifat kualitatif dan serba relatif. Ukurannya tak ada yang baku. Tapi yang jelas, <em>pop culture</em> faktanya adalah budaya dan gaya hidup yang banyak disukai orang. Alasan disukai? Bisa saja disukai karena memang dibutuhkan, juga disukai setelah mendapat &#8220;komporan&#8221; dari pihak lain sehingga jadi terpaksa menyukai. Saat ini sebagai besar dari kita tunduk pada <em>logic of capital</em>, logika proses produksi, di mana hal yang dangkal dan cepat ditangkap itulah yang cepat laku. Itu sebabnya, Valentine&#8217;s Day (VD) menjadi sarana penyebaran globalisasi produk gaya hidup dan bisnis berlabel cinta yang sangat efektif.<span id="more-916"></span></p>
<p>Dan, hampir bisa dipastikan bahwa perempuan (khususnya remaja putri) adalah pasar potensial dalam proses produksi jenis budaya populer mana pun. Maka, jangan terlalu heran jika produk VD ditujukan dengan sangat jelas kepada pasar perempuan ketimbang pasar lelaki: coklat, boneka, lipstik, bedak, perona pipi bernuansa warna tertentu, gaun pink, tas kecil pink, bando, jepit rambut pink, aneka rupa sepatu dan sandal bernuansa pink, dll.</p>
<p>Nah, perpindahan rupiah dari pembeli ke penjual produk-produk Valentine&#8217;s diprediksi bakal mengalahkan transaksi pembelian minyak tanah dan sembako. Ini ironi, di tengah kemiskinan yang kian menjadi-jadi karena harga-harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik, tapi atas nama hajatan cinta sejagat bernama VD, produknya harus (bahkan seperti wajib) untuk dibeli kemudian dirayakan meski tak pernah tahu asal-usul VD tersebut. Menyedihkan!</p>
<p>Kita wajib mewaspadai, bila perlu mencurigai, bahwa globalisasi cinta atas nama pesta VD ini adalah sebuah rekayasa dari ideologi liberal sekularisme-kapitalisme, yang selain memasarkan gaya hidup hedonis-permisif (pemuja kebebasan materi dan jasadi, serta bebas nilai), juga menjual produk yang keuntungannya jelas <em>fulus</em> alias duit. Jika kita termasuk golongan yang terbius dengan kampanye globalisasi cinta ala VD, berarti ada dua kerugian yang kita dapatkan: ternodainya gaya hidup kita dengan gaya hidup khas Barat yang liberal, dan menguapnya duit yang kita punya, bahkan sangat boleh jadi, <em>segitu-gitunya</em> yang memang kita punya.<strong>[rahadi]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/globalisasi-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Adakah Cinta?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 06:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[INSPIRASI/Feb/2008
&#160;
Majalah Reader&#8217;s Diggest edisi Indonesia pada tahun lalu pernah menurunkan hasil survey perilaku berbagai bangsa di dunia. Salah satu hasilnya, Indonesia adalah bangsa dengan tingkat kesopanan tergolong rendah. Anda boleh protes, tapi marilah bercermin dengan jujur. Betapa bangsa ini telah mengalami pelunturan norma-norma yang luhur. Simaklah televisi berapa kali sehari ditayangkan berita kriminalitas? Simak juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INSPIRASI/Feb/2008</strong></p>
<p dir="ltr">&nbsp;</p>
<p dir="ltr">Majalah <em>Reader&#8217;s Diggest</em> edisi Indonesia pada tahun lalu pernah menurunkan hasil survey perilaku berbagai bangsa di dunia. Salah satu hasilnya, Indonesia adalah bangsa dengan tingkat kesopanan tergolong rendah. Anda boleh protes, tapi marilah bercermin dengan jujur. Betapa bangsa ini telah mengalami pelunturan norma-norma yang luhur. Simaklah televisi berapa kali sehari ditayangkan berita kriminalitas? Simak juga kualitas kriminalitasnya, kian hari kian kejam. Kita pun jarang bertemu orang yang murah senyum. Di kota-kota besar, dengan tingkat kesibukan dan tekanan hidup yang tinggi, orang lalu lalang begitu saja nyaris tanpa ekspresi keramahan. Bahkan, kata &#8216;maaf&#8217; pun jadi amat mahal diberikan ketika terjadi kesalahan.</p>
<p dir="ltr">Jangan tanya pula sikap pemerintah ketika mengurusi rakyatnya. Penggusuran adalah kebijakan mereka. Tanpa mau tahu di mana mereka akan tinggal dan bagaimana mereka hidup. Yang penting bagi mereka adalah ketertiban dan kelancaran.<span id="more-915"></span></p>
<p dir="ltr">Masyarakat memang butuh aturan, bahkan Allah pun memberikan syariatNya bagi umat muslim. Tapi semua harus dijalankan dengan penuh cinta dan kasih sayang, selain tentu landasannya iman. Bahkan dalam sanksi <em>qishash</em> sekalipun, Nabi saw. masih memberikan kesempatan pengampunan tanpa pemberian sanksi apapun.</p>
<p dir="ltr">Hidup akan terasa berat jika kasih sayang tercerabut dari lubuk hati. Jika pemimpin tak punya cinta, ia akan bengis pada rakyatnya. Jika suami tak punya lagi rasa cinta ia akan menelantarkan keluarganya, jika istri tak punya rasa cinta ia tak mau melayani suami dan mengurus anak-anaknya. Dan jika para dai tak punya rasa cinta ia hanya akan pandai ber-retorika tapi miskin budi. Ia hanya mau didengarkan tanpa mau mendengarkan. Kita berlindung kepada Allah dari terhapusnya cinta dalam nurani kita, sehingga kita hidup bak robot cerdas tapi tanpa ekspresi dan emosi.</p>
<p dir="ltr">?&#8221;Apakah seseorang bisa menghindar dari cinta?&#8221; tanya orang-orang pada Abu Naufal. &#8220;Bisa!&#8221; jawabnya. &#8220;Yaitu orang yang hatinya keras dan bodoh, yang tidak memiliki keutamaan dan pemahaman.&#8221;</p>
<p dir="ltr">??????????? Ali bin Abdah berkata, &#8220;Tak mungkin seseorang bisa menghindar dari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras atau tidak mempunyai gairah.&#8221; Kitakah itu gerangan? <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masih-adakah-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ranting</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ranting</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ranting#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 00:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ranting/</guid>
		<description><![CDATA[CERITA/Feb/2008?
Oleh: Nafisah FB
Angin malam yang berhembus semilir membuat mata Sarji sebentar menutup. Sedetik kemudian matanya membuka lalu menutup lagi. Dia terkantuk lalu terlelap? sekejap. Pensilnya menyusul terhempas dari tangannya.
Seorang wanita berusia sekitar 30-an menghampiri pintu kamar Sarji yang terbuka. Lastri, wanita itu, menatap Sarji yang telah terlelap itu dengan senyum.
&#8220;Sarji sudah tid &#8230;.&#8221; Suara seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERITA/Feb/2008?</strong></p>
<p>Oleh: Nafisah FB</p>
<p>Angin malam yang berhembus semilir membuat mata Sarji sebentar menutup. Sedetik kemudian matanya membuka lalu menutup lagi. Dia terkantuk lalu terlelap? sekejap. Pensilnya menyusul terhempas dari tangannya.</p>
<p>Seorang wanita berusia sekitar 30-an menghampiri pintu kamar Sarji yang terbuka. Lastri, wanita itu, menatap Sarji yang telah terlelap itu dengan senyum.</p>
<p>&#8220;Sarji sudah tid &#8230;.&#8221; Suara seorang pria hendak bertanya.</p>
<p>&#8220;Sssst.&#8221;</p>
<p>Lastri menempelkan telunjuk tangan kanannya ke bibirnya. Seorang pria yang baru saja tiba tadi berhenti bersuara.</p>
<p>&#8220;Dia sudah tidur.&#8221; Lastri memberitahu.<span id="more-914"></span></p>
<p>Pria itu menoleh ke arah Sarji. Anak berusia enam tahun itu menangkupkan kepalanya di atas meja belajarnya. Bukan meja belajar yang sesungguhnya, hanya beberapa balok kayu dan papan yang disusun dan dipaku seadanya.</p>
<p>&#8220;Kang Firman pindahin Sarji ke atas tempat tidur. Biar aku yang tutup jendelanya.&#8221;</p>
<p>Lastri menuju jendela kayu, sedangkan Firman, pria yang dia sebut ?Kang&#8217; itu itu beranjak dari ambang pintu menuju tubuh mungil Sarji. Dia mengangkat Sarji ke atas pembaringan.</p>
<p>Sarji telah berada di atas tempat tidur. Nyaman &#8230; tanpa beban. Firman dan Lastri memandangi wajahnya sebentar.</p>
<p>&#8220;Si Tole sepertinya cape&#8217; banget ya, Kang. Kasihan.&#8221; Lastri mengelus pipi <em>tembem</em> Sarji.</p>
<p>&#8220;Kalau gitu besok dia nggak usah dulu bantu cari kayu bakar,&#8221; ucap Firman menenangkan.</p>
<p>Dia tersenyum kepada Lastri. Begitupun Lastri kepada Firman. Mereka beranjak dari sana setelah dipastikan Sarji nyaman dalam tidurnya.</p>
<p align="center">oooOooo</p>
<p>??????????? &#8220;Nanti pulang sekolah kita main ya, Ji?&#8221;</p>
<p>Sarji menoleh ke bocah kurus di sampingnya. Dia menggelengkan kepala.</p>
<p>&#8220;Aku ndak bisa, Tung&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh, kenapa?&#8221; tanya Untung, bocah kurus itu.</p>
<p>&#8220;Aku harus bantu Bapak. <em>Aku arep nggolek kayu ning alas</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau gitu aku bantu!&#8221;</p>
<p>Sarji mengangguk, tersenyum. &#8220;Boleh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Yes!&#8221; seru Untung dengan lagak <em>wong londo. </em>Tangannya yang mengepal dihentakkan.</p>
<p>Untung <em>nyengir </em>lebar memperlihatkan ruang di deretan giginya bagian depan? yang kosong. Giginya kemarin tanggal dua. Sarji hanya tertawa melihat lagaknya.</p>
<p>Dua bocah SD kelas satu itu terus berjalan beriringan di sepanjang pematang sawah. Pagi itu mereka menuju sekolah yang jaraknya tiga kilometer dari rumah mereka. &#8220;Hanya tiga kilometer,&#8221; itu yang selalu Sarji katakan kalau ada temannya yang orang kota menyampaikan belas kasihan.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Sarji melangkah tergesa menuju kamarnya. Tasnya diletakkan segera di atas meja. Lastri melangkah, menyusul menuju kamarnya.</p>
<p>&#8220;Mak! Sarji cari kayu bakar dulu!&#8221;</p>
<p>Sarji berteriak dari dalam kamar. Dia sedang mengganti kemeja seragam sekolahnya dengan kaos lusuh, seragam dinasnya.</p>
<p>&#8220;Kamu ndak usah cari kayu bakar hari ini, <em>Le</em>,&#8221;ucap Lastri setibanya dia di pintu kamar Sarji.</p>
<p>Sarji menolehkan kepala kepada emaknya. Keningnya mengerut.</p>
<p>&#8220;Memang kenapa, Mak?&#8221; tanya Sarji sambil menghampiri Lastri.</p>
<p>&#8220;Bapakmu bilang hari ini kamu cuti,&#8221; jawab Lastri tersenyum sambil menggandeng tangan Sarji menuju meja makan.</p>
<p>&#8220;Cuti? Cuti <em>iku opo</em>, sih, Mak? Ooh, kaya&#8217; Lek Gino waktu itu datang ke sini ya, Mak? Dia bilang liburan karena dapat cuti. Berarti cuti itu libur. Iya, Mak?&#8221; cerocos Sarji sambil terus mengikuti langkah Lastri menuju? meja makan.</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; jawab Lastri singkat.</p>
<p>&#8220;Lho, kalau gitu siapa yang cari kayu bakarnya?&#8221; tanya Sarji sambil duduk menghadap meja makan.</p>
<p>Lastri memberikan piring kepada Sarji. Sarji segera menyenduk nasi dari tempatnya. Setelah itu dua potong tempe dan kuah sayur sop diambilnya untuk menemani nasi.</p>
<p>&#8220;Bapakmu yang cari. Habis dari sawah, langsung cari kayu bakar,&#8221; ucap Lastri sambil menyiapkan rantang untuk makan siang bapaknya Sarji.</p>
<p>Sarji berhenti memindahkan nasi ke mulutnya. Lastri menoleh. Dia melihat wajah murung putranya.</p>
<p>&#8220;<em>Ene opo, Le?</em> Kok, berhenti makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kasihan Bapak, Mak,&#8221; lirih suara Sarji.</p>
<p>Lastri tersenyum. Tangan meraih kepala Sarji dan mengusap lembut rambut ikalnya. Rambut ikal milik Firman.</p>
<p>&#8220;Bapakmu laki-laki. Dia kuat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sarji juga laki-laki, Mak! Sarji kuat!&#8221; pekik Sarji <em>cempreng </em>sambil bangkit dari duduknya. Matanya tajam menatap Lastri.</p>
<p>Lastri terkejut. Sarji tidakmenunggu emaknya kembali berbicara. Dia segera meraih rantang dan berlari keluar rumah.</p>
<p>&#8220;Eh, Le! Tole! Sarji!&#8221; panggil Lastri lantang.</p>
<p>&#8220;Sarji ke sawah, Mak!&#8221; jawab Sarji di kejauhan, tidak kalah lantang.</p>
<p>Lastri hanya menghela nafas panjang. Ada syukur yang dia panjatkan untuk putranya yang berbakti. Namun, rasa nelangsa yang mendalam tidak bisa dia abaikan.</p>
<p>&#8220;Ya, Allah, Gusti. Sampai kapan anakku ikut berjuang seperti ini. Belum saatnya buat dia, ya Allah. Belum saatnya. Dia masih terlalu kecil.&#8221;</p>
<p>Cairan bening itu sedetik kemudian meluncur dari dua mata Lastri. Dia menyekanya walaupun dia tahu itu tidak akan membuatnya? sirna. <strong>[bersambung]</strong></p>
<p>Glosary:</p>
<p>Nggolek  : Mencari</p>
<p>Alas ?????? : Hutan</p>
<p>Tole ?????? : Sebutan untuk anak laki-laki di Jawa Timur/Tengah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ranting/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haramkah Makan Tape Singkong?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 20:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 03/Feb 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong/</guid>
		<description><![CDATA[VOICORNER/Feb/2008
Diasuh oleh Ustadzah Ir. Lathifah Musa
Assalaamu&#8217;alaikum wr wb.Ustadzah, saya guru sekolah swasta di Nganjuk. Saya mau tanya, apa hukumnya tape ketela/singkong. Ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan boleh sebab belum mengandung alkohol? 
Guru di Nganjuk, Jawa Timur
Allah Swt. mengharamkan memanfaatkan dan memakan benda yang haram dan najis. Mengenai khamr, Allah Swt. berfirman: &#8220;Hai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>VOICORNER/Feb/2008</strong></p>
<p>Diasuh oleh Ustadzah Ir. Lathifah Musa</p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb.</em><em>Ustadzah, saya guru sekolah swasta di Nganjuk. Saya mau tanya, apa hukumnya tape ketela/singkong. Ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan boleh sebab belum mengandung alkohol? </em></p>
<p><em>Guru di Nganjuk, Jawa Timur</em><span id="more-913"></span></p>
<p>Allah Swt. mengharamkan memanfaatkan dan memakan benda yang haram dan najis. Mengenai khamr, Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras/ khamr, judi, berhala, mengundi nasib adalah perbuatan yang keji dan merupakan aktivitas syaithan: sebab itu jauhilah, mudah-mudahan kamu mendapat kemenangan.&#8221;</em> <strong>(TQS al-Ma&#8217;idah [5]: 90)</strong></p>
<p>Dalam sebuah hadits,<em>&#8220;Bahwasanya Rasulullah Saw. telah mendera orang yang meminum khamr dengan dua pelepah tamar, empat puluh kali.&#8221;</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Berbagai hadits juga ada yang menjelaskan keharaman khamr, mulai dari yang terlibat dalam proses produksi, memperdagangkan, menyajikannya sampai meminumnya. Diharamkannya khamr, adalah karena dzatnya. <em>Hurrimatil khamru li&#8217;ainihi</em>.</p>
<p>Zat yang dimaksud adalah alkohol (etanol) yang bersifat memabukkan dan merusak akal. Khamr bisa berbahan dasar anggur, aren, kurma, bit, apel, singkong, beras ketan dll. Pada setiap daerah, dikenal bermacam-macam produk khamr seperti wine, rhum, cognac, brandy, wisky, sake dan di Indonesia dikenal nama tuak. Jenis minuman seperti ini masyhur digunakan untuk mabuk-mabukan.</p>
<p>Dengan demikian khamr dicirikan dari: (1) hasil proses fermentasi (2) dapat memabukkan dan merusak kesadaran (3) jenis dzatnya: etanol yang memiliki sifat-sifat dasar tertentu seperti bening, beraroma kuat, dll. Bila tidak meliputi ketiganya, maka tidak terkategori khamr. Misalnya, kandungan alkohol dalam buah yang sangat masak, seperti nangka, durian, kelengkeng dll.Terkadang orang bisa mabuk kalau memakannya terlalu banyak. Namun karena kandungan alkoholnya masih bersifat alami, tidak terpisahkan dari senyawa lain dalam buah tersebut, maka tidak tergolong khamr.</p>
<p>Mengenai tape singkong (orang Sunda menyebutnya &#8220;peuyeum&#8221;), masih jauh dari proses fermentasi sempurna yang menghasilkan khamr, bila belum berair. Sedangkan air tape ketan, harus diperhatikan lebih teliti karena jenis ini menurut ahli khamr internasional (dalam konferensi standar mutu mereka) bisa menghasilkan minuman berkadar alkohol tinggi. Sekalipun air tape yang baru dibuat boleh saja diminum, namun kita harus meneladani Rasulullah saw. dalam menyikapi jenis minuman seperti ?ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Abbas ra, berkata: <em>Rasulullah saw. pernah dibuatkan anggur (perasan anggur) oleh seseorang pada awal malam (waktu senja), lalu beliau minum besok paginya, kemudian malam harinya, kemudian besok paginya lagi hingga ashar. Sesudah itu bila masih ada sisanya disuruh beliau tumpahkan oleh khadamnya (maksudnya dibuang).&#8221; </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Demikian penjelasan singkat atas pertanyaan Anda, semoga bisa membantu dan memberikan wawasan tambahan bagi Anda. Terima kasih. <em>Wallahu&#8217;alam</em>[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/haramkah-makan-tape-singkong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
