Ini Kapitalisme, Mas!
EDITORIAL/Juni/2008
Berharap pendidikan murah dan gratis dalam kapitalisme? Ada. Sekolah itu berada di bawah kolong jembatan layang, di tengah pemukiman kumuh, dengan fasilitas seadanya. Sekolah Kartini di Jakarta, contohnya. Meski mengklaim pendidikannya tak kalah dengan sekolah “normal”, tapi tetap saja keberadaan sekolah tersebut adalah bagian dari potret buruk produk kapitalisme. Hmm.. ternyata sekolah pun sudah menjadi barang dagangan. Fasilitas berbanding lurus dengan harga. Meski dalam urusan kualitas masih bisa diperdebatkan. Sebab, tak sedikit mereka yang berkualitas baik justru lahir dari sekolah biasa saja. Ini kapitalisme Mas, urusan sekolah pun dibatasi distribusi aksesnya dengan harga. Yang miskin? Sudah beruntung mendapat pendidikan meski di sekolah yang fasilitasnya beda tipis dengan kandang sapi. (more…)
Orang Miskin Dilarang Pintar
FRESH!/Juni/2008
“Mau pintar kok mahal. Tanya kenapa?”? Iklan produk rokok yang pernah populer itu memang cukup menggelitik. Ya, di negeri berpenduduk 240 juta jiwa ini, pendidikan adalah barang mewah. Kendati pemerintah mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar
(wajardikdas) sembilan tahun, nyatanya rakyat tak diberi kesempatan mengenyam bangku sekolah.
Setidaknya, bagi rakyat miskin yang untuk memikirkan isi perut pun pusing tujuh keliling. Apalagi mikirin sekolah. Walhasil, hak anak-anak di negeri ini pun terenggut. Lihatlah, betapa banyak anak-anak tak bisa sekolah atau drop out karena keadaan ekonomi orangtuanya yang morat-marit. Wajah polos anak-anak yang haus ilmu itu, terganti wajah sendu karena turut memikirkan perutnya sendiri. (more…)
Sekolah Ningrat
INSPIRASI/Juni/2008
Di akhir masa kejayaannya, pemerintah kolonial Belanda akhirnya membuka sekolah bagi kaum inlandeer. Namanya Sekolah Rakyat (SR). Tentu bukan karena Belanda berbaik hati ingin mencerdaskan kaum pribumi, tapi ini taktik baru penjajahan; merangkul hati kaum pribumi agar tak lagi mempersoalkan penjajahan.
Tentu sekolah ini tak sama seperti sekolah umum saat ini. Amat sangat terbatas. Lagipula, tidak sembarang orang boleh melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Hanya kaum ningrat yang diijinkan. Di mana kaum ningrat umumnya punya hubungan spesial dengan penjajah Belanda.
Belanda sadar, bahwa pendidikan bisa menjadi alat perjuangan yang berbahaya bagi rakyat jajahan. Memberikan kecerdasan bagi kaum jajahan sama artinya memberikan mesiu perlawanan kepada mereka. Bahkan kecerdasan jauh lebih berbahaya ketimbang mesiu, senapan dan meriam. Maka pendidikan harus dikebiri. (more…)
Senandung Ceking [2]
CERITA/Juni/2008
By: Nafiisah FB
Desa Makmur senja hari itu kembali berduka. Anak semata wayang Kang Soro meninggal dunia. Busung lapar kembali memakan korban. Buncit, anak Kang Soro itu adalah korban ke 113 dari jumlah anak-anak Desa Makmur yang tersensus sebanyak 120 orang.
Warga berkumpul untuk menyertai perjalanan jenazah Buncit menuju pemakaman sederhana dengan membawa peralatan seadanya. Buncit dikebumikan tanpa nisan.
Pak Money, Sang Kepala Desa, sebelumnya memberitahukan hanya bisa membantu memberikan kain kafan. Dia bahkan mengantarkannya sendiri kepada Kang Soro dengan mengendarai mobil kencananya yang mewah. Namun, Kang Soro tidak kuasa membendung amarah.
“Bawa saja lagi kain kafan itu! Bawa saja belas kasihan Tuan yang pura-pura! Bawa saja mobil kencana Tuan yang seharusnya bisa menyelamatkan anak saya dan 112 anak lainnya dari kematian!” Kang Soro mendorong-dorong Pak Money dalam gelegak emosi. (more…)
