<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/opini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 17:26:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Palestina Tanah Kita, Gaza Membutuhkan Kita!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/palestina-tanah-kita-gaza-membutuhkan-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/palestina-tanah-kita-gaza-membutuhkan-kita#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 02:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[freedom frotilla]]></category>
		<category><![CDATA[gaza]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[mavi marmara]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3401</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb Miris, sedih, kesal, geram, dan tentu saja marah setiap kali ada berita seputar kebiadaban Israel. Israel memang tak bisa dibiarkan. Mereka sudah menjajah dan merampok tanah Palestina. Aksi barbar yang dilakukan militer Israel terbaru adalah ketika mereka menembaki konvoi kapal dengan misi kemanusiaan untuk Gaza, Freedom Flotilla pada 31 Mei 2010 lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p>Miris, sedih, kesal, geram, dan tentu saja marah setiap kali ada  berita seputar kebiadaban Israel. Israel memang tak bisa dibiarkan.  Mereka sudah menjajah dan merampok tanah Palestina. Aksi barbar yang  dilakukan militer Israel terbaru adalah ketika mereka menembaki konvoi  kapal dengan misi kemanusiaan untuk Gaza, Freedom Flotilla pada 31 Mei  2010 lalu dan menewaskan 16 orang dan puluhan relawan terluka. Dalam  konvoi kapal itu ada sekitar 700 relawan dari 50 negara. 12 orang di  antaranya ada WNI. Beragam profesi pula. Intinya, membawa bantuan media  dan makanan untuk kaum muslimin di Gaza.</p>
<p>Bro, menyaksikan Palestina saat ini memang membikin sedih dan marah.  Tapi kita tak bisa berbuat banyak. Jangankan kita, para pemimpin dunia  Islam saja beraninya hanya mengutuk. Padahal, seharusnya mengirim ribuan pasukan untuk menghancurkan negeri  Yahudi itu.</p>
<p>Padahal dulu, ketika penggagas negara Israel, Theodore Hertzl meminta  tanah Palestina di tahun 1897, dia mendapatkan jawaban yang tegas dari  Khalifah Abdul Hamid II,  “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik  ummatku.” Konon saking murkanya, sang khalifah juga meludahi wajah  Hertzl. Merasa tidak mungkin mendapatkan Palestina, Hertzl kemudian  melakukan kerja sama dengan Inggris untuk merampas tanah Palestina dan  melakukan persekongkolan untuk memecat Abdul Hamid II dari jabatan  Khalifah.</p>
<p>Palestina memang telah lama menjadi bagian tanah air kaum muslimin.  Bahkan Baitul Maqdis pernah menjadi kiblat pertama kita sebelum  dialihkan ke Ka’bah. Dan status Palestina sebagai milik umat Islam  semakin kokoh melalui perjanjian yang dibuat Amirul Mukminin Umar bin  Khaththab dengan orang-orang Kristen Palestina. Saat itu Khalifah Umar  membuat perjanjian yang terkenal dengan nama <em>Al Ihdat Al ‘Umariyyah</em> (perjanjian Umar), yang berbunyi, <em>“&#8230;atas nama Islam dan kaum  Muslim. Isinya antara lain, ‘Tidak boleh seorang Yahudi pun tinggal  bersama kaum muslimin di Baitul Maqdis.”</em> (<strong>Ibnu Jarir Ath Thabari,  <em>Tarikhul Umam wal Muluk</em>, </strong>pada judul<strong> “Iftitah Baitul  Maqdis”—</strong>Penaklukan Baitul Maqdis).<span id="more-3401"></span></p>
<p>Setelah Khilafah Islamiyyah (pemerintahan Islam) runtuh orang-orang  Yahudi seperti mendapat angin untuk kembali mendapatkan tanah Palestina.  Dengan dukungan Inggris, Amerika dan PBB mereka mendirikan negara  Israel Raya. Anda bisa simak bagaimana para pentolan Yahudi ‘bersuara’  untuk mengesahkan tindakan brutal mereka dalam merampok tanah Palestina.  <em>“Negeri ini berdiri semata-mata akibat janji Tuhan sendiri. Oleh  karena itu, meminta  pengakuan atas keabsahannya tentulah tindakan yang  menggelikan,”</em> teriak Golda Meir, PM wanita Israel pertama dengan  sewotnya. <em>“Negeri ini telah dijanjikan kepada kita dan karena itu  berhak sepenuhnya atas tanah itu,”</em> ujar Menachem Begin. Bro, beginilah orang yang berhasil menggiring Presiden Anwar Sadat ke meja  perundingan Camp David yang penuh tipu daya Amerika dan Israel untuk  membodohi rakyat Mesir dan kaum muslimin.</p>
<p>Satu suara dengan teman-temannya, Moshe Dayan, jenderal Israel yang  terkenal keji dan selalu bermata satu berkomentar tak kalah menyakitkan,  “Jika terdapat buku injili, serta bangsa injili, maka haruslah ada pula  negeri injili,” Dan ada satu lagi pernyataan yang bikin ‘gerah’ kita,  “Negeri ini merupakan rumah historis bangsa Yahudi,” demikian pernyataan  dalam memorandum organisasi Zionis tahun 1919.</p>
<p>Tapi benarkah alasan mereka itu? Bohong besar! Dr. Roger Geraudy,  seorang intelektual Nasrani asal Perancis yang kemudian masuk Islam,  berkomentar, “Ia sama sekali tidak mempunyai keabsahan, baik secara  historis, injili, maupun yuridis untuk berdiri di tempat yang ia  tegakkan sekarang ini,” tegasnya dalam buku yang ditulisnya, <em>The Case  of Israel a Study of Political Zionism</em>.</p>
<p>Jadi dengan demikian memang tanah Palestina itu adalah milik kita,  bukan milik “bangsa kera” itu. Setiap jengkal dari tanah milik kaum  muslimin tidak boleh dikuasi oleh orang-orang kafir. Nekat menjarahnya,  berarti urusannya darah. Kita tegas aja, Bro!</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/palestina-tanah-kita-gaza-membutuhkan-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kata &#8220;Allah&#8221; di Malaysia dan Indonesia (Siapa Pelanjut agama Ibrahim?) – (3)</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-3</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-3#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 17:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3306</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Dr. Adian Husaini Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama Tuhan dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus tahun lalu menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di wilayah Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak tahun 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata Allah dan sejumlah istilah Islam lain. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama Tuhan dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus tahun lalu menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di wilayah Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak tahun 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata Allah dan sejumlah istilah Islam lain. Selama itu sudah ada sejumlah tokoh Kristen yang protes tetapi tidak sampai membawa kasusnya ke pengadilan.  Kasus ini semakin merebak dan menyedot perhatian masyarakat internasional, setelah kaum Katolik membawa kasus ini ke Pengadilan.</p>
<p>Ketersinggungan dalam soal penggunaan istilah dan simbol-simbol agama bukan hal baru di kalangan umat beragama. Kaum Muslim di Malaysia memandang, kata Allah sudah menjadi bagian yang sah dari istilah dan simbol agama Islam. Saya pernah mendengar cerita dari seorang tokoh Hindu, bahwa kaum Hindu Bali pernah memprotes kaum Kristen yang mendirikan lembaga Pendidikan dengan menggunakan nama Om Swastiastu. Begitu juga kaum  Hindu berkeberatan dengan sebutan ”Sang Hyang Widhi Yesus”.<em></em></p>
<p>Bayangkan, bagaimana perasaan kaum Muslim, jika kaum Kristen di Indonesia dan Malaysia membangun gereja dengan nama ”Gereja At-Taqwa”, ”Gereja Muhammad”, ”Gereja Imam Syafii”, ”Gereja Hamba Allah” atau ”Gereja Nahdhatul-Ummah”?  Atau, bagaimana jika ada orang Kristen membangun Gereja dengan simbol ”Allah” dalam tulisan Arab di atas  atapnya?  Bukankah dalam Bibel berbahasa Arab saat ini juga digunakan kata Allah,  persis seperti dalam al-Quran? Meskipun secara juridis formal, masalah-masalah semacam ini belum diatur, tetapi ada masalah sensitivitas yang harus diperhatikan dalam hubungan antar umat beragama.<span id="more-3306"></span><br />
Berbeda dengan kaum Kristen yang sering mengakomodasi unsur-unsur budaya dan lokalitas dalam simbol dan ritual keagamaan, umat Islam memiliki tradisi penggunaan istilah yang ketat. Sulit dibayangkan, ada kaum Muslim di Indonesia atau di Malaysia akan mendirikan Masjid dengan nama ”Masjid Haleluya” atau ”Masjid Israel”.  Kita tidak dapat membayangkan &#8212; bahkan untuk orang Islam yang mengaku liberal atau Pluralis sekalipun – akan membangun masjid dengan nama ”Masjid Hamba Yahweh”.</p>
<p>Lepas dari persoalan sensitivitas penggunaan istilah-istilah dan simbol-simbol keagamaan, soal penggonaan kata ”Allah”, ada perbedaan menarik antara di Malaysia dan di Indonesia. Berbeda dengan di Malaysia, di Indonesia gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, justru muncul dari kalangan Kristen sendiri.  Kontroversi soal penggunaan kata ”Allah” belakangan semakin merebak ke permukaan menyusul merebaknya kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama Allah dan menggantinya dengan Yahweh.</p>
<p>Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM)  yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: &#8220;Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.&#8221;  Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000.  Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata &#8220;Allah&#8221; menjadi &#8220;Eloim&#8221;, kata &#8220;TUHAN&#8221; diganti menjadi &#8220;YAHWE&#8221;; kata &#8220;Yesus&#8221; diganti dengan &#8220;Yesua&#8221;, dan &#8220;Yesus Kristus&#8221; diubah menjadi &#8220;Yesua Hamasiah&#8221;. Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya &#8220;Jaringan   Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh&#8221; yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama &#8220;Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini&#8221;.  Kelompok ini menegaskan, &#8220;Akhirnya nama &#8220;Allah&#8221; tidak dapat dipertahankan lagi.&#8221;</p>
<p>Kelompok BYH mengedarkan brosur berjudul ”Siapakah Yang Bernama Allah Itu?” yang isinya mengecam penggunaan kata Allah dalam Kristen. Mereka menyebut penggunaan kata ”Allah” dalam Kristen sebagai satu bentuk penghujatan kepada Tuhan.  Kaum Kristen mereka seru dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkan penggunaan kata ”Allah”:</p>
<p>”Stop! Stop! Stu-u-op! Jangan diteruskan hujatan Anda. Kalau Anda semula tidak tahu, pasti akan diampuni, tetapi sekarang melalui pembacaan traktat pelayanan ini, Anda menjadi tahu. Maka jangan diterus-teruskan! &#8230; Maka, janganlah terlibat di dalam penghujatan Dia. (Hentikan hujatan Anda sekarang juga).” (dikutip dari buku Herlianto, Siapakah yang  Bernama Allah Itu?), hal. 4).</p>
<p>Gara-gara mencuatnya gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, di Indonesia, banyak diterbitkan buku yang membahas tentang kontroversi penggunaan ”nama Allah” dalam Kristen, seperti buku: I.J. Satyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3), dan Pdt. A.H. Parhusip, Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh, (2003); juga Herlianto, Gerakan Nama Suci, Nama Allah yang Dipermasalahkan, (Jakarta: BPK, 2009); Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003).</p>
<p>Karena merebaknya kontroversi tentang nama Tuhan tersebut, dan juga tentang boleh tidaknya penggunaan kata ”Allah” dalam Bibel edisi bahasa Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) &#8212; sebagai lembaga resmi penerjemah Bibel edisi bahasa Indonesia – membuat penjelasan:</p>
<p>”el, elohim, aloah adalah nama pencipta alam semesta dalam bahasa Ibrani, bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Dalam bahasa Arab, allah (bentuk ringkas dari al ilah) merupakan istilah yang seasal (cognate) dengan kata Ibrani el, elohim, aloah. Jauh sebelum kehadiran agama Islam, orang Arab yang beragama Kristen sudah menggunakan (baca: menyebut) allah ketika mereka berdoa kepada el, elohim, aloah. Bahkan tulisan-tulisan kristiani dalam bahasa Arab pada masa itu sudah menggunakan allah sebagai padan kata untuk el, elohim, aloah&#8230;. Dari dahulu sampai sekarang, orang Kristen di Mesir, Libanon, Iraq, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan berbagai negara di Afrika yang dipengaruhi oleh bahasa Arab, terus menggunakan (baca: menyebut) kata allah – jika ditulis biasanya menggunakan huruf kapital ”Allah” untuk menyebut Pencipta Alam Semesta dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, baik dalam ibadah maupun dalam tulisan-tulisan. Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, kata ”Allah” sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Cornelis Ruyl, 1692), begitu juga dalam Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius Klinkert, 1879 sampai saat ini.”</p>
<p>Penjelasan LAI, tertanggal 21 Januari 1999, ditandantangani oleh Sekretaris Umumnya, Supardan. Surat LAI ini dikutip dari buku Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh,  karya Pdt. A.H. Parhusip.  Sekte Pengagung Yahweh yang disebut di sini  memang membuat geram berbagai kalangan dalam Kristen, sampai-sampai Pdt. Parhusip menulis ungkapan yang sangat keras: ”Saya tahu kebusukan dan kejahatan Pengagung YAHWEH, yakni: Hanya untuk menghilangkan sebutan ”Allah” dari Alkitab, maka dibuatlah ’Kitab Suci’ yaitu Alkitab palsu yang di dalamnya sebutan ”Tuhan YAHWEH” (=Tuhan TUHAN) begitu mubazir. Bodoh! Untuk itulah saya serukan: Kalau mau bodoh, bodohlah; tetapi jangan terlalu bodohlah kawan!”</p>
<p>Meskipun LAI sudah mengeluarkan edaran resmi, para penggugat nama Allah dalam Kristen terus bermunculan. Mereka juga terus menerbitkan buku-buku, panflet, bahkan Bibel sendiri yang menggugat penggunaan kata  Allah untuk nama Tuhan mereka. Sebuah buku yang berjudul “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, karya Rev. Yakub Sulistyo, S.Th., M.A., (2009), menguraikan kekeliruan kaum Kristen di Indonesia yang menggunakan nama Allah untuk memanggil Tuhan mereka. Buku ini menulis imbauan kaum Kristen Indonesia untuk tidak lagi menggunakan kata Allah:</p>
<p>“Kamus Theologia Kristen sendiri sudah sangat jelas menulis bahwa: Allah itu berasal dari Arab yang artinya Keberadaan Tertinggi dalam agama Islam, jadi kalau Anda sebagai orang Kristen atau Katolik (Nasrani) yang baik, Anda seharusnya menghormati iman orang lain (umat Islam), dengan tidak mencampur-adukkan dengan iman Nasrani, sehingga menjadi Sinkretisme… Sebagai umat Nashrani, carilah KESELAMATAN sesuai kitab sucinya sendiri dengan tidak takut menghadapi institusi duniawi seperti Sinode, Pimpinan gereja yang tidak memahami Firman Tuhan, merk Gereja dan lain-lain. Jangan takut dipecat demi kebenaran hakiki. Tuhan Yahweh di dalam Nama Yeshua HaMashiakh memberkati Anda.”  (Yakub Sulistyo, “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, (2009), hal. 43. Buku ini tidak mencantumkan nama penerbit).</p>
<p>Bahkan, kaum Kristen penolak nama ”Allah” ini juga kemudian lagi-lagi menerbitkan Bibel versi mereka sendiri, yang membuang semua kata Allah di dalamnya. (Lihat: Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – Indonesian Literal Translation (ILT), terbitan Yayasan Lentera Bangsa, Jakarta, 2008).  Sebagai contoh, pada Matius 4: 10, versi Kitab Suci ILT, tertulis: “Kemudian YESUS berkata kepadanya, “Enyahlah hai Satan! Sebab telah tertulis: Engkau harus menyembah YAHWEH, Elohimmu, dan kepada-Nya sajalah engkau harus beribadah.”  Sedangkan dalam Alkitab versi LAI (2007) tertulis: “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”   Contoh lain, dalam Alkitab ILT Kitab Ulangan 10:17, tertulis: “Sebab YAHWEH, Elohimmu, Dialah Elohim atas segala ilah dan Tuhan atas segala tuan, Elohim yang besar yang perkasa dan yang ditakuti, yang tidak memandang muka, juga tidak menerima suap.”   Sedangkan dalam versi LAI (2007), ayat itu ditulis: “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap.”</p>
<p>Jika kaum Kristen di Indonesia merujuk kepada Bibel versi Arab, maka persoalan nama dan penyebutan Tuhan juga menjadi rumit sebab huruf Arab – sebagaimana huruf Ibrani tidak mengenal huruf kapital atau huruf kecil.   Sebagai contoh, sebuah Bibel versi Arab-Inggris terbitan International Bible Society (1999), menulis Kitab Ulangan 10:17 sebagai berikut: “Li-anna al-rabba ilahukum huwa ilahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi, al-ilahu al-‘adhiimu, al-jabbaaru al-mahiibu, al-ladziy laa yuhaabiy wajha ahadin, wa laa yastarsyiy.  (Dalam sebuah Bibel bahasa Arab terbitan London tahun 1866, ayat itu ditulis sebagai berikut: Min ajli anna al-rabba ilaahukum huwa ilaahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi ilaahun ‘adhiimun… ). Dalam teks bahasa Inggris (versi New International Version) ayat itu ditulis sebagai berikut: “For the LORD your God is God of gods and Lords of  lords, the great God, mighty and awesome, who shows no partiality.”</p>
<p>Menyimak perdebatan seputar penggunaan nama Allah dalam Kristen, tampaknya, nama ”Allah” memang merupakan nama Tuhan yang sudah digunakan oleh kaum-kaum sebelum Islam, di kawasan Arab. Karena misteri penyebutan nama Tuhan dalam Perjanjian Lama (YHWH) tidak terpecahkan, maka kaum Kristen di Arab – tampaknya &#8212; juga menyesuaikan diri dengan tradisi di situ dalam menyebut Tuhan, yaitu dengan menggunakan kata Allah. Tetapi, kaum Kristen tetap memberikan catatan, bahwa kata “Allah”  bukanlah sebuah nama diri, melainkan hanya sebutan untuk Tuhan di daerah Arab. Begitu juga dengan konsepnya, Allah adalah Tuhan Tritunggal.</p>
<p>Pandangan Kristen terhadap “Allah” semacam itu jelas berbeda dengan pandangan Islam terhadap Allah.  Sebab, dalam Islam, Allah adalah nama Tuhan, dan konsepnya pun bukan Tritunggal, tetapi  Allah yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Dalam pandangan Islam, sesuai wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, nama “Allah” inilah yang dipilih oleh Allah untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, melalui utusan-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Melalui Nabi Muhammad saw juga, dikabarkan bahwa Isa a.s. adalah seorang Nabi, dan bukan Tuhan atau anak Tuhan. Nabi Isa a.s. juga ditegaskan tidak mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia.</p>
<p>Jadi, meskipun nama ”Allah” sudah digunakan oleh kaum musyrik Arab sebelum kedatangan Islam, tetapi al-Quran tetap menggunakan nama ini. Hanya saja, nama Allah yang digunakan oleh al-Quran sudah dibersihkan konsepnya dari unsur-unsur syirik, seperti dipahami oleh kaum Kristen dan kaum musyrik Arab. Dengan kata lain, nama Allah itu sudah di-Islam-kan konsepnya. Nama bisa saja sama, tetapi konsepnya berbeda. Dan satu-satunya jalan untuk memahami kemurnian lafaz dan makna Allah tersebut, haruslah dilakukan melalui pemahaman terhadap wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi terakhir, yakni Muhammad saw. Karena itu, menurut pandangan Islam, bisa dipahami, untuk mengenal Allah secara murni (tauhid), maka tidak bisa tidak harus mengakui kenabian Muhammad saw. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah terakhir, yang bertugas menjelaskan siapa Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, dan cara untuk beribadah kepada-Nya.</p>
<p>Itu konsepsi Islam tentang nama Tuhan, yang memang berbeda dengan konsepsi Kristen tentang nama Tuhan.  Dalam pandangan Islam, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw kepada seluruh manusia, maka sebenarnya kaum Kristen mengakui dan mengimani kenabian Muhammad saw, sebagaimana dipesankan Nabi Isa a.s. (yang artinya):  ”Dan ingatlah ketika Isa ibn Maryam berkata, wahai anak keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, membenarkan apa yang telah ada pada kita, yaitu Taurat dan memberikan kabar gembira (akan datangnya) seorang Rasul yang bernama Ahmad.” (QS 61:6).</p>
<p>Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah Nabi, utusan Allah, sebagaimana para nabi sebelumnya. Karena itulah, ketika kaum Kristen mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan, maka Allah murka (QS 19:88-91). Sebaliknya, bagi kaum Kristen,  Yesus dipandang sebagai juru selamat, dan satu-satunya jalan keselamatan menuju Tuhan. Karena itu, semua manusia harus diusahakan untuk mengenal Yesus dan dibaptis.</p>
<p>Kaum Kristen juga memiliki pandangan yang berbeda dengan Islam tentang nama Tuhan. Sebagian mereka memandang, bahwa nama Tuhan diserahkan kepada budaya setempat. Maka, di Barat,  kaum Kristen memanggil God atau Lord, di Arab lain lagi, dan di Indonesia juga berbeda. Konsepsi ini yang digugat sejumlah kelompok Kristen lain, seperti ”Jaringan Gereja Pengagung Nama Yahweh”, yang menyatakan, bahwa nama Tuhan sudah disebutkan dalam Bibel, yaitu Yahweh.<br />
<strong><br />
Demi Misi Kristen</strong></p>
<p>Memang, pertanyaanya, mengapa kaum Kristen di wilayah Melayu-Indonesia menggunakan kata ”Allah”  untuk menyebut nama Tuhan mereka?  Padahal, Kristen yang datang ke Indonesia sesungguhnya berasal dari Barat, yang tidak mengenal kata Allah. Salah satu alasannya, seperti disebutkan oleh Samin Sitohang dalam bukunya, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekitar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, adalah “pertimbangan misiologis”. Jadi, karena penduduk di wilayah Melayu-Nusantara ini sudah terbiasa menyebut nama Tuhan dengan Allah, karena mayoritasnya Muslim, maka dipakailah kata Allah untuk menyebut Tuhan Kristen tersebut. Samin Sitohang menulis tentang hal ini:</p>
<p>“Jadi, jika Alkitab bahasa Indonesia menggunakan Allah untuk nama Sang Pencipta, itu berarti Roh Allah sedang menyiapkan umat-Nya yang berasal dari golongan lain untuk menerima Injil karena mereka tidak perlu harus membuang Allah untuk mendapatkan nama Sang Pencipta yang baru. Sebaliknya, jika Alkitab Indonesia memakai Elohim, nama ini akan sukar diterima. Memang secara teologis dan moral, nama itu tidak keberatan untuk dipakai. Tetapi dari sudut pandang misiologis, penggunaan nama itu akan menjadi sia-sia. Lebih jauh, jika Alkitab Indonesia menggunakan Elohim, maka dari sudut kesaksian Kristiani, nama itu akan merusak citra Injil. Sebab, semua orang sudah tahu bahwa nama Sang Pencipta bagi umat Kristen Indonesia adalah Allah, bahkan nama ini sudah dipakai umat Kristen di Arab zaman pra-Islam. Lalu jika berganti menjadi Elohim, orang luar akan berkata bahwa nama Allah umat Kristen tidak konsisten. Jika demikian halnya, bagaimana jadinya nilai Injil di mata orang asing, khususnya umat Islam? Mereka akan berkata, “Dahulu nama Allah kalian Allah, sekarang Elohim, dan besok siapa lagi? Bukankah hal ini akan menyesatkan pemikiran mereka dengan keyakinan bahwa ternyata tidak ada kepastian di dalam “agama” Kristen? Disamping itu, umat Kristen sendiri pun akan dan memang sudah banyak kebingungan atas sikap Kelompok Penggagas yang memaksakan penggunaan Elohim menggantikan Allah.” (Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, hal. 100-101).</p>
<p>Menurut Samin Sitohang, meskipun nama Allah digunakan oleh penganut agama yang berbeda, maka akan memiliki akibat yang berbeda. Jika kaum Kristen yang menggunakan nama Allah, maka roh Kristus sendiri yang datang, sesuai dengan 1 Korintus 8:5,6, tidak ada lagi allah selain Allah yang dikenal dalam Yesus Kristus. “Tetapi, jika orang bukan Kristen memanggil nama itu, tentu Ia tidak ada di situ, alias kosong. Jika demikian halnya, ketika orang bukan Kristen memanggil Allah, bukan mustahil justru roh antikristus akan datang menyusup, seolah-olah doa mereka dijawab oleh Sang Pencipta, padahal Ia tidak mendengar doa-doa mereka. Lalu bukan mustahil kesempatan itu dimanfaatkan oleh Iblis, karena Iblis pun  bisa berpura-pura baik untuk menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:13-15),” demikian tulis Samin Sitohang, seorang pendeta Gereja Metodis Injili dan dosen Institut Alkitab Tiranus.</p>
<p>Samin Sitohang juga berpendapat, bahwa “siapa pun nama yang diberikan oleh masyarakat budaya tertentu kepada Sang Pencipta, asalkan nama itu mencerminkan karakter-Nya sebagai Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Suci, dan Yang Mahabaik, dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Sang Pencipta untuk meraih segala suku bangsa agar percaya kepada-Nya.”</p>
<p>Konsep Kristen tentang nama Tuhan ini sangat berbeda dengan Islam, yang mensyaratkan, nama Tuhan haruslah berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan tradisi atau kesepakatan suatu masyarakat. Nama Tuhan dalam Islam adalah masalah penting dan mendasar. Dalam ajaran Islam, dikenal nama-nama Tuhan yang semuanya berasal dari wahyu, sehingga umat Islam seluruh dunia dan sepanjang zaman, memanggil nama Tuhan dengan ungkapan yang sama, sebagaimana diajarkan dalam al-Quran, seperti “Ya Allah”, “Ya-Rahman”, “Ya-Rahim”, “Ya Ghafur”, dan dengan nama-nama lain yang dikenal sebagai Asmaul Husna. Karena itu, nama Tuhan dalam Islam bukanlah hal yang spekulatif, tetapi merupakan satu kepastian berdasarkan wahyu.</p>
<p>Sebaliknya, nama YAHWEH yang diajukan oleh kelompok-kelompok Kristen penolak kata ”Allah”, juga tak kurang kontroversialnya. I.J. Satyabudi, seorang penulis Kristen,  mengritik keras sejumlah kelompok Kristen yang mengklaim bahwa nama Tuhan orang Kristen adalah Yahweh. Ia menulis: ”Orang-orang Yahudi di seluruh dunia tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan orang-orang Kristen mengklaim dirinya lebih mengetahui cara pengucapan nama YHWH dibandingkan umat Yahudi.” (hal. 92).</p>
<p>Jadi, bagaimana seharusnya kaum Kristen  memanggil Tuhan mereka. Jawabnya, seperti dikatakan Pendeta Parhusip:</p>
<p>”Lalu mungkin  ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis&#8230;! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi&#8230; Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”</p>
<p>Untuk kasus Malaysia, demi terciptanya kerukunan umat beragama, sebagai Muslim kita juga tentu boleh mengusulkan, agar kaum Kristen tidak lagi menggunakan kata ”Allah” untuk menyebut Tuhan mereka. Toh, memang tidak ada masalah bagi kaum Kristen untuk memanggil Tuhan dengan berbagai sebutan selain Allah. Jadi, mengapa harus bertahan dengan sebutan ”Allah”?  [<em>Depok, 23 Januari 2010/</em><a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=202&amp;Itemid=57" target="_blank"><strong>INSISTS</strong></a>]<em><strong><br />
</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kata &#8220;Allah&#8221; di Malaysia dan Indonesia (Siapa Pelanjut agama Ibrahim?) – (2)</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 17:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keimanan]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3303</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Dr. Adian Husaini Sebagaimana konsep Islamic worldview (pandangan-alam Islam) yang ditandai dengan karakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,  juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam  Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>Sebagaimana konsep <em>Islamic worldview</em> (pandangan-alam Islam) yang ditandai dengan karakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,  juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam  Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain. Konsep Tuhan dalam Islam tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur.</p>
<p>Bagi orang Barat modern, Tuhan tidak lagi dianggap penting kedudukannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan, sebagian filosof Barat menganggap ”kehadiran Tuhan” dapat mengganggu kebebasan mereka. Karen Armstrong, dalam bukunya, <em>History of God</em>,  mengutip pendapat Jean-Paul Sartre (1905-1980), yang menyatakan: <em>“…  even if God existed, it will still necessary to reject him, since the  idea of God negates our freedom.</em>”<em><br />
</em></p>
<p align="justify">Karena itulah, manusia modern merasa diri mereka bisa mengatur Tuhan dan berani mereka-reka Tuhan. Bukan Tuhan yang mengatur kehidupan mereka. Prof. Frans Magnis Suseno, tokoh Katolik, merangkum pandangan modernitas terhadap Tuhan:<span id="more-3303"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Modernitas sebagaimana menjadi kenyataan di Eropa sejak abad ke-17 mulai meragukan ketuhanan. Reformasi Protestan abad ke-16 sudah menolak banyak klaim Gereja. Dalam abad ke-17 <em>empirisisme</em> menuntut  agar  segala pengetahuan mendasarkan  diri pada <em>pengalaman inderawi</em>. Pada akhir abad ke-18 muncul filosof-filosof materialis pertama yang mengembalikan keanekaan bentuk kehidupan, termasuk manusia, pada materi dan menolak alam adi-duniawi. Dalam abad ke-19 dasar-dasar ateisme filosofis dirumuskan oleh Feurbach, Marx, Nietzsce, dan dari sudut psikologi, Freud. Pada saat yang sama ilmu-ilmu pengetahuan mencapai kemajuan demi kemajuan. Pengetahuan ilmiah dianggap harus menggantikan kepercayaan akan Tuhan. Akhirnya, di abad ke-20, filsafat untuk sebagian besar menyangkal kemungkinan mengetahui sesuatu tentang hal ketuhanan, sedangkan dalam masyarakat sendiri ketuhanan semakin tersingkir  oleh keasyikan budaya konsumistik. Sebagai akibat, manusia modern menjadi skeptis tentang ketuhanan kalau ia tidak menyangkalnya sama sekali. Maka apabila seseorang, atau sekelompok orang, tetap yakin akan adanya Tuhan, mereka mau tak mau harus menghadapi tantangan skeptisisme modernitas itu.&#8221; (Lihat, Frans Magnis Suseno,<em> Menalar  Tuhan</em>, (Yogyakarta: Kanisius, 2006)).</p></blockquote>
<p align="justify">
Sekedar perbandingan, dalam konsep agama Budha, misalnya, seorang Buddhis tidak menyebutkan nama Tuhannya. Dalam sebuah buku berjudul <em>Be Buddhist Be Happy</em>, misalnya, ditulis: &#8220;Seorang   umat Buddha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan   sebutan: &#8220;<em>Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam</em>&#8220;, yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa  di dalam agama Buddha adalah <em>Anatman</em> (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat   digambarkan dalam bentuk apa pun. (Lihat, Jo Priastana, <em>Be Buddhist   Be Happy</em>, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005)).</p>
<p>Dalam   sebuah buku berjudul Kumpulan Ceramah <em>Bhikkhu Uttamo Thera (Buku 5),   Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-Hari,</em> dijelaskan mengapa para dewa tidak mau turun dari sorga dan menemui manusia: ”Sang Buddha yang telah wafat hampir 3000 tahun lamanya itu sebenarnya baru sekejap saja untuk alam dewa. Hanya saja, diceritakan dalam Dhamma, alam manusia ini sungguh kotor dan busuk bagi para dewa. Para dewa tidak berminat mendekati manusia. Dari jarak jauh pun mereka sudah terganggu dengan bau manusia.” (hal. 21).</p>
<p>Agama Hindu juga mempunyai konsep Tuhan   sendiri. Alain Danielou, menulis dalam bukunya,<em> Gods of India: Hindu   Polytheism</em>, (New York: Inner Traditions International, 1985)<em>: &#8220;Hinduism, or rather the &#8220;eternal religion&#8221; (sanata dharma), as it calls irself, recognizes for each age and each country a new form of revelation and for each man, according to his stage of development, a different path of realization, a different of worship, a different morality, different rituals, different gods.&#8221;</em> (hal. x).</p>
<p>Dalam   sebuah buku berjudul<em> Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia</em> (Penerbit: Paramita, Surabaya), disebutkan bahwa:</p>
<div>
<blockquote><p>“Agama Hindu berkembang pertama kali di lembah sungai suci Sindhu di Bhratawarsa (India). Di lembah sungai suci Sindhu inilah para maharsi menerima wahyu Brahman, Sang Hyang Widhi Wasa, dan kemudian diabadikan dalam bentuk pustaka suci Weda. Weda adalah kitab suci agama Hindu yang mengandung pengetahuan suci maha sempurna kekal abadi, mengenai Brahman, Sang Hyang Widhi. Gerakan keagamaan Arya Samaj yang didirikan di India pada tahun 1875 oleh Swammi Dayananda Saraswati (a824-1884), mengemukakan tiga inti ajarannya tentang Weda, yaitu:  1. Weda adalah wahyu Tuhan. Hal ini terbukti dari persesuaiannya dengan alam semesta. 2. Weda adalah satu-satunya wahyu Tuhan, sebab tiada kitab lain yang sepadan dengan Weda. 3. Weda adalah sumber pokok bagi ilmu agama segala manusia.” (hal. 1).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">
Hindu juga memiliki konsep Tuhan yang khas, yang   berbeda dengan agama-agama lain. Misalnya, disebutkan dalam buku   berjudul <em>Hindu Agama terbesar di Dunia</em> (Medi Hindu, 2006, cetakan   ke-6),  adanya perbedaan konsep Tuhan Hindu dan Kristen:</p>
<div>
<blockquote><p>”Tradisi Jahudi/Kristen memandang Tuhan   sebagai Tuhan cemburu (”sebab Aku Tuan Tuhanmu adalah Tuhan yang cemburu   <em>”for I the Lord thay God am a jealous God</em>”, Keluaran/Exodus 20:5), dan pendendam dan ingin membalas dendam &#8230; Secara kontras, dalam tradisi Veda Tuhan dipandang sebagai <em>karuna-sindhu</em> (lautan   pengampunan dan kasih); <em>patita-pavana</em> (Sahabat yang berduka).”   (hal. 88-89).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">Jadi, masing-masing agama memang memiliki konsep Tuhan dan juga nama Tuhan sendiri-sendiri. Karena melihat fenomena agama-agama semacam itu, kaum Pluralis agama,  lalu dengan sederhana menyimpulkan, bahwa Tuhan memang punya banyak nama. Tuhan itu satu. Tetapi, cara memanggilnya tergantung persepsi dan tradisi masing-masing agama. Semuanya benar. Semua agama adalah jalan menuju kebenaran. Tokoh Pluralis John Hick dalam bukunya,<em> God Has Many Names</em>, mengatakan bahwa Tuhan adalah<em> The Eternal   One</em>.  Bagi Hick, <em>The Eternal One</em>, menjadi dasar bersama dari semua tradisi agama besar. Lebih lanjut Hick mengungkapkan, bahwa Tuhan boleh dikenali dengan identitas apa saja oleh semua penganut agama. Brahma dan Allah adalah Tuhan yang sama. Cuma dilihat dan diucap dengan cara berlainan antara Hindu dan Islam. Nama Tuhan boleh berbeda menurut bahasa-bahasa manusia.</p>
<p>Kaum Pluralis, seperti John Hick, melihat agama-agama dari sudut fenomena saja. Dalam memandang agama – termasuk konsep Tuhan masing-masing agama – Hick berdiri pada posisi netral agama. Ia tidak berdiri pasa posisi Islam, Kristen, Hindu, Yahudi, dan sebagainya. Ia berdiri pada posisi di luar semua agama. Posisi inilah yang kini dibangga-banggakan oleh kaum Pluralis. Padahal, posisi netral agama dalam melihat Tuhan, ini jelas mengabaikan ajaran eksklusif tiap agama tentang Tuhan.</p>
<p>Konsepsi Hick tentang Tuhan berpijak pada asumsi bahwa Tuhan tidak memberitahu manusia tentang diri-Nya melalui wahyu. Namun, ia mengandaikan bahwa manusia merumuskan sendiri pandangannya tentang Tuhan. Karena manusia mempunyai keterbatasan, juga keragaman pikiran, pandangan manusia pun tentang Tuhan juga beragam. Karena itulah, dia menganggap semua pikiran tentang Tuhan adalah relatif, karena merupakan produk akal. Maka, jalan apa pun untuk menuju Tuhan, adalah dianggap sah. Hick sering menggambarkan teorinya ini dengan menukil perkataan Jalaluddin Rumi, “<em>The lamps  are different,  but the Light is the same.</em>” (Walaupun lampu-lampunya  berbeda tapi  Cahayanya sama). Dalam Bhagavad Gita, Hick juga menemukan  kalimat<em> “Whatever path men choose is mine” </em>(Jalan apapun yang  dipilih  manusia adalah milik-Ku).</p>
<p align="justify">Tentu saja, kutipan Hick itu tidak tepat. Sebab, jalan yang dimaksud dalam Islam bukanlah bermakna “agama”. Begitu juga, kaum Hindu memaknai “jalan” dengan “yoga”, yakni jalan-jalan dalam agama Hindu.  Kaum Muslim jelas tidak dapat menerima posisi netral agama seperti itu dalam memahami Tuhan. Sebab, dalam pandangan Islam, konsep Tuhan dan nama Tuhan bukanlah merupakan hasil rekaan manusia. Tapi, konsep dan nama Tuhan dipahami berdasarkan wahyu, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz  &#8216;Allah&#8217; dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata &#8220;Allah&#8221; tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam al-Quran.</p>
<p>Karena adanya <em>sanad</em> – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Sepanjang sejarahnya, umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah dan nama-nama lain (<em>al-asmaul  husna</em>) yang juga disebutkan melalui wahyu. Dengan demikian, &#8220;nama Tuhan&#8221;, yakni &#8220;Allah&#8221; juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari <em>sanad mutawatir</em> yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan &#8216;spekulasi filosofis&#8217; untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Spekulasi tentang nama Tuhan,  misalnya,  dilakukan  oleh kaum Yahudi. Dalam konsep <em>Judaism </em>(agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah<em> Yahweh</em>.  <em>The  Concise Oxford Dictionary of World Religions</em> menjelaskan <em>&#8216;Yahweh&#8217;</em> sebagai <em>&#8220;The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.&#8221;</em> (Lihat, John   Bowker (ed), <em>The Concise Oxford Dictionary of World Religions,</em> (Oxford University Press, 2000). <em>Yahweh</em> memang Tuhan dugaan.   Harold Bloom dalam bukunya, <em>Jesus and Yahweh</em>, (New York: Berkley   Publishing Groups, 2005), hal. 127, menulis <em>“How the name was   pronaunced we never will know: Yahweh is merely surmise.”<br />
</em><br />
Berbeda dengan tradisi Yahudi, konsep dan nama Tuhan dalam Islam tidak bersifat spekulatif dan misterius. Nama Tuhan dalam Islam bersifat final dan universal. Sedangkan nama Tuhan dalam tradisi Yahudi dan Kristen bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi tertentu. Hingga kini, perdebatan soal nama Tuhan di kalangan Yahudi dan Kristen masih merupakan perdebatan yang berkelanjutan. Kaum Yahudi, hingga kini, masih belum menemukan dan berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Dalam konsep <em>Judaism </em>(agama Yahudi), nama Tuhan tidak  dapat diketahui  dengan pasti.</p>
<p>Jadi, ucapan “Yahweh” sebagaimana diucapkan sebagian kalangan Yahudi dan sebagian kalangan Kristen saat ini adalah sebuah bacaan yang bersifat dugaan terhadap empat huruf mati YHWH.  Empat huruf konsonan itu bisa dibaca dengan berbagai bacaan. Tetapi, diduga, dulunya nenek moyang kaum Yahudi membacanya Yahweh. Tentu saja, kondisi seperti ini berbeda dengan umat Islam sedunia, yang dengan pasti mengucapkan empat huruf mati, “ALLH” dengan bacaan Allah. Tidak mungkin empat huruf mati ALLH itu dibaca <em>Alilahu</em> atau <em>Alaluhu</em>, dan sebagainya. Huruf ALLH pasti dibaca umat Islam seluruh dunia sepanjang zaman dengan bacaan Allah, sebab bacaan seperti itulah yang diajarkan Rasulullah  saw kepada para sahabat, sampai turun-temurun, dari generasi ke generasi umat Islam, hingga saat ini. Umat Islam tidak salah dan tidak berselisih paham dalam membaca empat huruf mati tersebut. Hingga kini, para penghafal al-Quran masih banyak yang memiliki sanad (rangkaian transmisi) sampai Rasululllah saw.  Inilah bedanya, soal nama Tuhan, antara Islam dengan Yahudi dan Kristen.</p>
<p>Harold  Bloom, dalam buku  terkenalnya, <em>Jesus and Yahweh</em> (New York: Riverhead Books, 2005), menulis, bahwa YHWH adalah nama Tuhan Israel yang tidak pernah bisa diketahui bagaimana mengucapkannya:<em> “The four-letter YHWH is God’s proper name in the Hebrew Bible, where it appears some six thousand times. How the name was pronounced we never will know.” </em> Dalam  bukunya, <em>The History of Allah</em>, (Yogyakarta: Andi, 205), tokoh Kristen Ortodoks Syria, Bambang Noorsena menulis bab berjudul “Bolehkah Nama YHWH (TUHAN) diterjemahkan dalam Bahasa-bahasa Lain?”. Ia menulis:</p>
<div>
<blockquote><p>“Sejak  Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis  oleh para rasul Kristus, tetragram  (keempat huruf suci YHWH, <em>Yahwe</em>)  diterjemahkan ke dalam bahasa  Yunani, <em>Kyrios</em> (TUHAN). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan para Rasul-Nya yang biasanya melafalkan Yahwe dengan Adonai (TUHAN) atau ha Shem (Nama segala nama).”</p>
<p>I.J. Satyabudi, seorang penulis  Kristen, dalam  bukunya,<em> Kontroversi nama Allah</em>, (Pamulang: Wacana  Press, 2004),  menulis:</p>
<p>”Tetragrammaton YHWH hanyalah terdiri dari empat konsonan (huruf mati) saja. Tidak ada seorang Yahudi dan Kristen-pun di dunia saat ini yang sanggup meyakinkan orang lain mengenai bagaimana pelafalan yang benar dari Tetragrammaton.” (hal. 94).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">
<strong>Nama Tuhan: bukan prinsip</strong></p>
<p>Karena tidak memiliki “tradisi sanad”  dan adanya problem otentisitas dan pembacaan Kitab Sucinya, maka kaum Yahudi tidak bisa memastikan bagaimana cara melafazkan nama Tuhannya yang semuanya tertulis dalam empat huruf mati &#8216;YHWH&#8217;. Juga, karena dilarang mengucapkan nama Tuhan sembarangan, maka akhirnya mereka menyatakan, bahwa<em> “God’s name is   never articulated” </em>(nama Tuhan tidak pernah diucapkan).  Tradisi Yahudi ini kemudian diikuti oleh kaum Kristen, karena mereka mewarisi Kitab Yahudi (Perjanjian Lama).  Tradisi seperti ini jelas sangat berbeda dengan Islam. Sebab, dalam Islam, nama Tuhan adalah sebuah kepastian berdasarkan wahyu, yang sifatnya final dan universal.</p>
<p>Setelah   membahas secara mendalam problematika nama Tuhan dalam Yahudi,  Kristen,  dan Islam, I.J. Satyabudi, dalam bukunya, <em>Kontroversi Nama  Allah</em>,  menyimpulkan:</p>
<div>
<blockquote><p>”Oleh sebab itu, saya susah sekali untuk mengerti bahwa Dia Yang Penuh Misteri ini membutuhkan sebuah Nama layaknya kita manusia membutuhkan sebuah nama! Saya juga susah sekali untuk dapat mengerti bahwa nama Tuhan Yahudi adalah YHWH, dan nama Tuhan Kristen adalah Yesus, dan nama Tuhan Islam adalah Allah. Saya sepenuhnya percaya bahwa YHWH adalah Nama Diri Ilahi suku bangsa Israel, tetapi saya tidak percaya bahwa YHWH adalah memang nama Diri Ilahi dari Pribadi Dia Yang Mahatinggi itu. Saya harus memastikan bahwa Nama YHWH adalah bukan Nama Diri Dia Yang Mahatinggi,  tetapi hanyalah sebuah refleksi dari Musa saja terhadap makna dan arti dari EHYEH ASYER AHYEH. Begitu juga, nama Yesus bukanlah Nama Diri dari Pribadi Dia Yang Mahatinggi, tetapi Nama Yesus adalah Nama Kemanusiaan yang dikenalkan oleh Sang Logos yang menjadi Manusia.” (hal. 198).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">Kesimpulan I.J. Satyabudi ini tentu saja keluar dari visi seorang Kristen yang berangkat dari  problema internal agamanya. Jadi, sebenarnya, bagi kaum Kristen,  masalah nama Tuhan, bukanlah suatu hal yang mendasar. Kaum Kristen di mana pun menyebut nama Tuhannya dengan cara yang berbeda. Sebab, bagi sebagian besar mereka, nama Tuhan bukan secara tegas tercantum dalam Kitab mereka.  Mereka diperbolehkan menyebut Tuhan mereka dengan berbagai sebutan.  Dalam buku kecil yang berjudul <em>Waspadalah  terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh</em>,  Pdt. A.H. Parhusip,  menulis tentang masalah ini:</p>
<div>
<blockquote><p>”Lalu mungkin  ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis&#8230;! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi&#8230; Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”  (Lihat, Parhusip, <em>Waspadalah  terhadap Sekte Baru, Sekte  Pengagung Yahweh</em> (2003), hal. 40-41. Buku kecil Pdt. Parhusip ini tidak mencantumkan penerbit, tetapi hanya tahun dan alamat penulisnya di GSJA ”PEMENANG” jalan Tanah Lapang 19 Patane III – PORSEA 22384 Sumbagut.)</p></blockquote>
</div>
<p>Jadi, berbeda dengan Islam yang memandang nama Tuhan sebagai sesuatu yang prinsip, kaum Kristen tidak memandang nama Tuhan sebagai hal yang final. Karena itulah, jika kaum Kristen mempertahankan sebutan tertentu untuk Tuhan mereka – seperti sebutan ”Allah”, sebagaimana yang terjadi di Malaysia &#8212; sejatinya itu bukan untuk mempertahankan nama Allah. Sebab, bagi mereka, ”Allah” bukanlah nama Tuhan yang diakui oleh semua orang Kristen.  Sikap kaum Kristen di Malaysia yang tetap menolak mengganti nama Allah dengan yang lain, tentu dilakukan karena tujuan lain, terutama untuk tujuan misi Kristen. Sebab, andaikan kaum Krisren tidak menggunakan kata Allah bagi menyebut Tuhan mereka, itu pun tidak menjadi masalah bagi mereka, sebagaimana yang kini terjadi di berbagai beladan dunia lain.</p>
<p>Kontroversi yang hebat di kalangan Kristen dan motivasi penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen di wilayah Melayu-Indonesia  sebagai bagian dari strategi Misi Kristen dapat disimak pada paparan berikutnya.  (<em><strong>Bersambung</strong></em>). <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=201&amp;Itemid=54" target="_blank"><strong>[INSISTS]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kata &#8220;Allah&#8221; di Malaysia dan Indonesia (Siapa Pelanjut agama Ibrahim?) – (1)</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-1</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-1#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 03:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keimanan]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3301</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar: Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sekarang menyita banyak perhatian masyarakat internasional. Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun, sejumlah media massa menurunkan berita dan opini seputar masalah ini. Sejumlah pihak mengirimi saya beberapa berita dan opini melalui emel dan meminta tanggapan. Untuk sedikit menjernihkan masalah ini, berikut ini saya turunkan tulisan, yang – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;"><em>Pengantar: Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sekarang menyita banyak perhatian masyarakat internasional. Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun, sejumlah media massa menurunkan berita dan opini seputar masalah ini. Sejumlah pihak mengirimi saya beberapa berita dan opini melalui emel dan meminta tanggapan. Untuk sedikit menjernihkan masalah ini, berikut ini saya turunkan tulisan, yang – karena agak panjang – saya bagi menjadi tiga serial Catatan Akhir Pekan (CAP) ke-277, 278, dan 279). Sebagian data di sini sudah pernah kita sajikan dalam CAP-CAP sebelumnya. Untuk memudahkan pemahaman, data itu kita ungkapkan lagi, diramu dengan berbagai data baru yang penulis temukan. .</em><br />
</span><br />
Kasus “penggunaan kata Allah” di Malaysia rupanya masih belum berujung. Kasus yang sudah bermula tahun 2007 ini kembali memanas setelah Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 membenarkan penggunaan kata &#8221;Allah&#8221;, sebagai pengganti kata Tuhan, oleh surat kabar Katholik <em>Herald-The Catholic Weekly</em> terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia.</p>
<p>Alkisah, kaum Muslim di Malaysia, diwakili pemerintah Malaysia,  berkeberatan dengan keputusan tersebut dan mengajukan Banding ke peradilan yang lebih tinggi. Di Malaysia, masalah ini memang sangat menyita perhatian publik. Pada 1 April 2009 lalu, saya sempat menghadiri sebuah seminar tentang kontroversi penggunaan kata Allah bagi Majalah Katolik ini di Kuala Lumpur. Bagi kaum Muslim dan pemerintah Malaysia, pelarangan penggunaan nama Allah bagi kaum non-Muslim memang memiliki dasar hukum yang kuat. Sebab, di hampir seluruh negara bagian di Malaysia, memang ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim menggunakan sejumlah istilah khas dalam Islam, seperti Allah, Baitullah, Rasulullah, dan sebagainya.<span id="more-3301"></span></p>
<p>Di Malaysia, Islam adalah “agama resmi negara” (agama Persekutuan). Kaum non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum Muslim. Sebab, sesuai konstitusi Malaysia, salah satu tugas pemerintah adalah melindungi aqidah Islam.  Di Malaysia, istilah Melayu identik dengan Islam. (Sebaliknya, di Indonesia, banyak yang memahami istilah “Melayu” identik dengan “lagu dangdut”).  Kamus Dewan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1989, juga menegaskan keidentikan antara Islam dengan Melayu. Disebutkan, bahawa istilah “masuk Melayu” mempunyai dua erti, yaitu (1) mengikut cara hidup orang-orang Melayu dan (2) masuk Islam.  Menyadari pentingnya kedudukan akidah Islam untuk menjaga ketahanan masyarakat Malaysia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) – satu institusi Islam resmi di bawah pemerintah Melaysia &#8211;  menyatakan:<br />
&#8220;Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu dan terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-undang semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi Malaysia&#8221;.  (Lihat, http://www.islam.gov.my/e-rujukan/islammas.html).</p>
<p>Jadi, dalam soal kenegaraan, Malaysia memang beda dengan Indonesia. Meskipun jumlah umat Muslim hanya sekitar 60 persen, Malaysia dengan tegas menyatakan dirinya sebagai kelanjutan Kerajaan-kerajaan Melayu Islam, dan Islam ditempatkan dalam konstitusi negara sebagai agama negara (agama Persekutuan).  Dalam kaitan inilah,  pemerintah Malaysia melarang penggunaan kata &#8220;Allah&#8221; untuk penerbitan buku dan referensi kaum non-Muslim di negara itu. Malaysia juga pernah menyita belasan ribu kitab suci umat Kristen, Alkitab, yang diimpor dari Indonesia yang menggunakan kata &#8220;Allah.&#8221;</p>
<p>Majalah Katolik <em>Herald</em> edisi bahasa Inggris memang tidak menggunakan kata Allah. Tapi, kata Allah mereka gunakan untuk edisi bahasa Melayu. Karena itulah, kaum Muslim di Malaysia melihat, ini salah satu indikasi jelas, bahwa ada tujuan ”misi Kristen” dibalik penggunaan kata Allah tersebut.  Tapi, kaum Katolik di Malaysia berkeberatan dengan larangan pemerintah atas penggunaan kata &#8220;Allah&#8221; di media mereka. Gugatan kaum Katolik ini kemudian dikabulkan oleh pengadilan. Hanya saja, pada 4 Januari 2010, pemerintah Malaysia mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tinggi itu. Pemerintah juga meminta agar putusan pengadilan itu ditangguhkan, sampai muncul putusan atas banding itu.</p>
<p>Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia  ini telah menyita perhatian dunia internasional. Pelarangan penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun 1980-an.  Sejumlah media di Indonesia – baik cetak maupun elektronik – pun ikut menyiarkan berita di Malaysia tersebut. Apalagi, menyusul keputusan Pengadilan Tinggi, terjadilah penyerangan terhadap sejumlah Geraja di Malaysia. Ditengarai, serangan itu dilakukan akibat marahnya sebagian kaum Muslim atas keputusan tersebut.</p>
<p>Sikap umat Islam di Malaysia sendiri terbelah.  Jika pemerintah Malaysia – yang didominasi Partai UMNO &#8212; melarang penggunaan kata Allah oleh kaum Kristen, sikap sebaliknya ditunjukkan oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS). Partai yang sering dikategorikan sebagai ”partai Islam” ini justru  menyatakan tidak keberatan dengan penggunaan kata &#8220;Allah&#8221; sebagai alternatif kata Tuhan untuk kalangan non-Muslim. Menurut PAS, kata Allah bisa digunakan oleh para penganut agama keturunan Nabi Ibrahim &#8211; yang dikenal oleh umat Nasrani dan Yudaisme sebagai Abraham. Harian yang terbit di Malaysia, <em>The Star</em>, melaporkan adanya pertemuan Dewan Pimpinan PAS, pada 4 Januari 2010, yang menghasilkan keputusan tersebut. Presiden PAS, Hadi Awang, menyatakan, bahwa penggunaan kata Allah di luar non-Muslim ada syaratnya, yakni kata ”Allah” tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan yang bisa mengganggu kerukunan beragama di Malaysia.</p>
<p>Bagi saya yang beberapa tahun tinggal di Malaysia dan pernah cukup intens mengikuti pergumulan politik di Malaysia melalui media massa, sikap PAS itu bisa dipahami sangat kental nuansa politisnya. Konflik PAS dan UMNO seperti  sudah mendarah daging. Bagi kita, kaum Musim Indonesia,  tentu sangat heran, mengapa kedua partai yang sama-sama berbasis Melayu ini tidak bisa bersatu dalam pandangan dan sikapnya dalam hal-hal yang bersifat keagamaan, dan melupakan pandangan politis mereka. Namun, kita juga bisa memahami, jika melihat kondisi serupa yang terjadi pada sejumlah partai Islam di Indonesia.  Kadangkala, sebagai orang yang berada di luar partai, kita mengharapkan, agar partai-partai Islam itu dapat bersatu untuk sama-sama memperjuangkan aspirasi Islam. Tapi, itulah realitasnya; baik di Malaysia atau pun di Indonesia.</p>
<p>Pernyataan PAS yang menyatakan, bahwa agama Yahudi dan Kristen adalah pelanjut agama Ibrahim pun lebih bertendensi politis dan sosiologis.  Secara aqidah, menurut Islam, jelas Islam menolak klaim Yahudi dan Kristen bahwa mereka adalah pelanjut agama Ibrahim a.s.  Seorang Muslim, yang berpikir dalam perspektif Islamic worldview, akan sangat yakin, bahwa ’agama Ibrahim’ adalah agama Tauhid. Dan sebab itu, hanya Islamlah yang konsisten melanjutkan ajaran Tauhid Nabi Ibrahim.</p>
<p>Al-Quran menjelaskan: “<em>Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif</em>.” (QS 4:125).  “<em>Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik</em>.” (QS 3:67).</p>
<p>Meskipun Yudaisme adalah agama yang ber-Tuhan satu (monoteis),  tetapi kaum Muslim meyakini bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen). Menurut Al Quran, orang-orang Yahudi dan Nasrani telah mengubah-ubah kitab yang diturunkan Allah, menyembunyikan kebenaran, dan menulis kitab menurut keinginan dan hawa nafsu mereka sendiri.</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Sebagian dari orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya</em>.&#8221; (An Nisa: 46). &#8220;<em>Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman karena seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu mengubahnya sesudah mereka memahaminya,s edangkan mereka mengetahuinya</em>.&#8221; (al-Baqarah:75). &#8220;<em>Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: &#8220;Ini adalah dari Allah.&#8221;  (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat  tindakan mereka</em>. (al-Baqarah:79)</p></blockquote>
<p>Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme belum tentu sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, disertai unsur ikhlas dan  rela diatur  oleh Allah SWT. Maka, syahadat Islam berbunyi “<strong><em>Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah</em></strong>”. Syahadat Islam bukan berbunyi: “<strong><em>Tidak ada tuhan selain Tuhan</em></strong>”, juga bukan “<strong><em>Tidak ada tuhan selain Yahweh</em></strong>”. Karena itu, jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak bisa disebut ‘bertauhid’. Iblis pun tidak bisa dikatakan bertauhid, tetapi disebut kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia tahu bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan.</p>
<p>Dalam perspektif seorang Muslim yang memegang teguh Islamic worldview, memasukkan agama Yahudi sebagai pelanjut agama Ibrahim, adalah pernyataan yang sangat bermasalah. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan.<em> Oxford Concise Dictionary of World Religions</em> menulis: “<em>Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy</em>.”</p>
<p>Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi dan Kristen kehilangan jejak kenabian dan Tauhid. Dalam pandangan Islam, kaum Yahudi telah kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Ini juga ditulis oleh Th.C.Vriezen, dalam buku ”Agama Israel Kuno”  (Jakarta: BPK, 2001):</p>
<blockquote><p><em>“Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.” </em></p></blockquote>
<p>Jadi, dalam pandangan Islam, Yudaisme (agama Yahudi) bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. Tetapi, Yudaisme adalah agama yang menyeleweng dari agamanya dari Musa a.s. CM Pilkington, dalam Judaism, menulis: <em>“It was in the 1880’s that the term ‘Judaism’ became widely used and this bacause social and political emancipation then made it necessary for Jews to work out for non-Jews&#8230;”  Juga disebutkan, “Judaism is the religion of the Jewish people, upon whom its faith and obligations are binding. The relationship between God and the people of Israel is fundamental.”  Siapakah yang disebut Yahudi?  “According to Jewish Law, as codified in the Talmud and defined by rabbis from late antiquity to the present day, a Jew is a person who is born of a Jewish mother or has been converted to Judaism.”  Louis Jacobs, seorang teolog  Yahudi merumuskan: “A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism.” </em> (Pilkington, <em>Judaism</em>,  (London: Hodder Headline Ltd.,  2003)).</p>
<p>Bagi kaum Musim, maka persoalan paling serius dalam Yudaism adalah penolakan mereka terhadap kenabian Muhammad saw. Nabi Isa a.s. pernah mengajak kaumnya (bangsa Yahudi) agar mengimani kenabian Muhammad saw:</p>
<blockquote><p>“<em>Dan ingatlah ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab yang turun sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka, tatkala Rasul itu datang kepada mereka, dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata</em>.” (QS ash-Shaf:6).</p></blockquote>
<p>Berbeda dengan konsep Yahudi,  Islam sangat menekankan bahwa karunia Allah kepada bangsa Yahudi dikaitkan dengan ketaatan atas perjanjian mereka dengan Allah. Islam tidak mengakui sama sekali adanya konsep yang menyatakan Yahudi sebagai bangsa pilihan dan mendapat karunia sampai kapan pun, tanpa memandang, apakah mereka taat atau tidak kepada Allah. (QS 2:85).  Dalam sejumlah ayat Bible memang disebutkan Israel sebagai anak Tuhan “son of God”.  Kitab Keluaran 4:22-24 menyatakan: “<em>Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung. Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, Tuhan bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.</em>”</p>
<p>Tetapi, al-Quran menyebutkan, kaum Yahudi adalah bangsa yang sangat rasialis. Allah SWT berfirman (yang terjemahnya): “<em>Katakanlah: hai orang-orang Yahudi, jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu saja yang merupakan kekasih Allah, bukan manusia-manusia lainnya, maka harapkanlah kematian, jika kamu adalah orang-orang yang benar</em>.” (QS 62: 6).</p>
<p>Dengan klaim sebagai pelanjut keturunan Ibrahim yang sah itulah, kaum Yahudi menggunakan haknya untuk mengusir bangsa Palestina dari negeri mereka. Bahkan, sebagian kelompok, seperti pengikut Meir Kahane, memperbolehkan digunakannya tindak kekerasan untuk mengusir bangsa non-Yahudi dari Palestina. Salah seorang pengikut aliran ini, Yigal Amir, pernah membunuh Yitzak Rabin karena menegosiasikan Tanah yang dijanjikan Tuhan itu (<em>the promised land</em>) dengan bangsa non-Yahudi.</p>
<p>Sikap rasialis Yahudi yang mengklaim sebagai pewaris darah Ibrahim yang sah ini telah dikecam oleh dunia internasional. Resolusi Majelis Umum PBB, No 3379, 10-11- 1975 menyatakan: &#8220;Zionisme adalah sebentuk rasisme dan diskriminasi rasial.&#8221;  Konferensi Asia-Afrika Bandung, Indonesia, 1955, menyebut Zionisme sebagai: “<em>the last chapter in the book of old colonialism, and the one of the blackest and darkest chapter in human history</em>&#8220;.  Tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Dr. Roeslan Abdulgani juga mencatat: &#8220;Zionisme boleh dikatakan sebagai kolonialisme yang paling jahat dalam jaman modern sekarang ini. Ia berbau rasialisme.” Kritikan keras terhadap rasialis kaum Yahudi juga diberikan oleh cendekiawan terkenal Israel, Prof. Israel Shahak. Dalam bukunya, <em>Jewish History, Jewish Religion</em>, Shahak menulis: “<em>In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond</em>.”</p>
<p>Karena itulah, Islam mengecam keras klaim rasialis Yahudi. Kaum Muslim mengikatkan diri dengan Ibrahim a.s., hanya mendasarkan diri pada garis keimanan, bukan “garis darah”.  Maka, dalam perspektif keimanan Islam, hanya Islamlah agama yang menjadi pelanjut agama Ibrahim a.s. yang sah. Sebab, hanya Islam yang mengakui garis kenabian dari Ibrahim a.s. sampai kepada Nabi Muhammad saw.<br />
Karena itu,  dalam pandangan Islam, agama Yahudi (Yudaisme) saat ini bukanlah pelanjut yang absah dari agama Ibrahim a.s. Begitu juga dengan agama Kristen. Dalam pandangan Islam, agama Kristen  saat ini adalah agama yang menyimpang dari agama Nabi Isa a.s. Sebab, sama dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Sebagai agama wahyu (agama samawi) yang bersumberkan pada wahyu yang bersifat universal dan final, posisi Islam terhadap agama lain bersifat final dan tidak mengikuti dinamika sejarah. Setelah wahyu Allah SWT sempurna diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka Allah menegaskan, bahwa ”<em>Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu</em>.” (QS 5:3).</p>
<p>Ayat tersebut secara tegas menyebutkan, bahwa ”Islam” adalah agama yang diridhai oleh Allah. Dan kata ”Islam” dalam ayat ini adalah menunjuk kepada nama agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, secara tegas, nama agama ini diberi nama ”Islam” setelah sempurna diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw.  Para pengikut nabi-nabi sebelumnya diberi sebutan sebagai ”muslimun”, tetapi nama agama para nabi sebelumnya, tidak secara tegas diberi nama ”Islam”, sebagaimana agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Meskipun, semua agama yang dibawa oleh para nabi mengandung inti ajaran yang sama, yakni ajaran Tauhid.</p>
<p>Namun, agama-agama para nabi sebelumnya, saat ini sudah sulit dipastikan keotentikannya, karena kitab mereka sudah mengalami tahrif (perubahan-perubahan) dari pemeluknya. (QS 2:59, 75, 79).  Karena itulah, menurut Islam, harusnya pengikut para nabi sebelumnya, seperti kaum Yahudi dan Nasrani, juga mengimani Muhammad sebagai nabi Allah SWT. Rasulullah saw bersabda: “<em>Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka</em>.” (HR Muslim)<br />
<strong><br />
Karakter Islam</strong><br />
Karena Islam memelihara kontinuitas kenabian, maka dalam pandangan Islam, Islam  adalah satu-satunya agama yang memelihara kontinuitas wahyu. Karena itu, Islam bisa dikatakan sebagai satu-satunya agama wahyu, dan satu-satunya agama yang memiliki ritual yang universal, final, dan otentik. Ini disebabkan Islam memiliki teladan (model) yang final sepanjang zaman.  Sifat otentisitas dan universalitas Islam masih terpelihara hingga kini.  Meskipun zaman berganti, ritual dalam Islam tidak berubah. Shalatnya orang Islam di mana pun sama. Tidak pandang waktu dan tempat. (Tentang konsep Islam sebagai “<em>true submission</em>”, lihat disertasi Dr. Fatimah Bt. Abdillah di ISTAC, Kuala Lumpur,  yang berjudul A<em>n Analysis of the Concept of Islam as “True Submission” on the Basis of Al-Attas Approach,</em> 1998).</p>
<p>Sebagai agama wahyu, Islam memiliki berbagai karakter khas. Pertama, diantara agama-agama yang ada, Islam adalah agama yang namanya secara khusus disebutkan dalam Kitab Sucinya. Nama agama-agama selain Islam diberikan oleh para pengamat keagamaan atau oleh manusia, seperti agama Yahudi (Judaisme), agama Katolik (Katolikisme), agama Protestan (Protestantisme), agama Budha (Budhisme), agama Hindu (Hinduisme), agama Konghucu (Konfusianisme), dan sebagainya.  Sedangkan Islam tidaklah demikian. Nama Islam, sebagai nama sebuah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd saw,  sudah disebutkan ada dalam a-Quran:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam</em>.&#8221; (QS 3:19). &#8220;<em>Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan akan diterima dan di akhirat nanti akan termasuk orang-orang yang merugi</em>.&#8221; (QS 3:85).</p></blockquote>
<p>Tentang nama Islam sebagai nama agama, cendekiawan besar dari Malaysia Syed Muhammad Naquib al-Attas mencatat dalam bukunya, <em>Prolegomena to The Metaphysics of Islam: “There is only one genuine revealed religion, and its name is given as Islam, and the people who follow this religion are praised by God as the best among mankind… Islam,  then, is not merely a verbal noun signifying ‘submission’;  it is also the name of particular religion descriptive of true submission, as well as the definition of religion: submission to God.</em>”</p>
<p>Demikianlah posisi teologis Islam. Posisi ini tentu saja berbeda dengan posisi teologis Yahudi dan Kristen. Perbedaan ini harus diakui dan dihormati. Bagaimana pun, kaum Yahudi dan Kristen tidak menerima konsep kenabian Muhammad sebagai utusan Allah yang terakhir. Dengan kata lain, dalam pandangan Yahudi dan Kristen, Muhammad saw bukanlah seorang nabi, tetapi seorang pembohong. Dr. Abraham Geiger (m. 1871), salah satu tokoh Yahudi yang menjadi perintis studi al-Quran di Barat, menulis sebuah buku berjudu<em>l What did Muhammad Borrow from Judaism?</em> Pada posisinya sebagai Yahudi, ia menuduh Nabi Muhammad saw telah menjiplak Bibel dan tradisi ritual Yahudi. Geiger menulis: “<em>Muhammad like the rabbis prescribes the standing position for prayer</em>.”</p>
<p>Kaum Muslim dilarang memaksakan keimanan dan keyakinan mereka kepada kaum Yahudi dan Kristen serta pemeluk agama mana pun. Sebab, telah jelas mana yang benar dan mana yang salah. (QS 2:256). Karena itu, sejak awal kehadirannya, Islam sudah diperintahkan mengakui dan menghormati keyakinan agama lain. Tetapi pada saat yang sama, kaum Muslim juga diperintahkan, agar memproklamasikan dirinya sebagai Muslim: <em>Isyhaduu bi-anna Muslimun</em>.  (Saksikanlah bahwa kami adalah Muslim). Seorang anak yang Muslim tetap wajib menghormati kedua orang tuanya, meskipun mereka belum memeluk Islam. Rasulullah juga membangun hubungan baik dengan tetangganya yang Yahudi.</p>
<p>Jadi, menurut Islam, sangatlah tidak benar, jika problem politik dan sosial sampai mengubah konsep teologis kaum Muslim terhadap agama lain.  Berbeda dengan kaum Pluralis agama yang berjuang untuk menggerus keyakinan tiap agama – digantikan dengan konsep <em>global theology</em> – Islam memandang kerukunan umat beragama harus dibangun di atas dasar penghormatan kepada keyakinan masing-masing agama.  Karena ada perbedaan itulah, maka ada dialog dan diskusi. Karena ada perbedaan itulah ada dinamika hidup dan upaya membangun saling pengertian dan kerukunan. Bukan justru merusak keyakinan masing-masing agama untuk dibawa kepada satu agama baru bernama ”Pluralisme Agama”. <em>(Bersambung)</em>.<a href="http://adianhusaini.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=131:masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-1&amp;catid=34:cap&amp;Itemid=53" target="_blank"><strong>[adianhusaini.com]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Islam Progresif&#8221; dan Seks Bebas</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-progresif-dan-seks-bebas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-progresif-dan-seks-bebas#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 00:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam progresif]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[seks bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3281</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Adian Husaini Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Adian Husaini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. <span>Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, </span><span><em>Justisia</em></span><span>, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan wacana perlunya proses ”Desakralisasi al-Quran”.</span><span>Meskipun </span><span>sudah terbiasa membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang aneh-aneh, tetapi saya tetap terbelalak dan nyaris tak percaya, ada sebuah tulisan yang secara terbuka mendukung praktik seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaan. Tulisan Sumanto itu berjudul ”</span><span><strong>Agama, Seks, dan Moral</strong></span><span>”, yang dimuat dalam sebuah buku berjudul </span><span><em>Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif</em></span><span> (terbit pertama Oktober 2009). Kita perlu ”berterimakasih” kepada Sumanto yang secara jujur dan terbuka melontarkan ide liberal dan progresif, sehingga lebih mudah dipahami. Sebab, selama ini banyak yang mengemas ide ”Islam progresif” dan ”Islam liberal” dengan berbagai kemasan indah dan menawan, sehingga berhasil menyesatkan banyak orang. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Untuk lebih jelas menyimak </span><span>persepsi ”Islam Progresif” tentang seks bebas ini, ada baiknya kita kutip agak panjang artikel dari penulis yang dalam buku ini memperkenalkan dirinya sebagai kandidat doktor bidang antropologi politik dan agama di Boston University. Kutipan ini ada di halaman 182-184:<span id="more-3281"></span></span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">”<span>Apa yang diwartakan oleh agama (Islam, Kristen dan lainnya) hanyalah satu sisi saja dari sekian banyak persepsi tentang seks itu atau katakanlah </span><span><em>sex among others</em></span><span>. Bahkan jika kita kaji lebih jauh, ajaran Kristen atau Islam yang begitu ”konservatif” terhadap tafsir teks sebetulnya hanyalah reaksi saja atas peradaban Yunani (Hellenisme) yang memandang seks secara wajar dan natural. Kita tahu peradaban Yunani telah merasuk ke wilayah Eropa (lewat Romawi) dan juga Timur Tengah di Abad Pertengahan yang kemudian menimbulkan sejumlah ketegangan kebudayaan. Oleh karena itu tidak selayaknya jika persepsi agama ini kemudian dijadikan sebagai parameter untuk menilai, mengevaluasi dan bahkan menghakimi pandangan di luar agama tentang seks. </span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span>Apa yang kita saksikan dewasa ini adalah sebuah pemandangan keangkuhan oleh kaum beragama (dan lembaga agama) terhadap fenomena seksualitas yang vulgar</span><span> sebagai haram, maksiat, tidak bermoral dan seterusnya. Padahal moralitas atau halal-haram bukanlah sesuatu yang </span><span><em>given</em></span><span> dari Tuhan, melainkan hasil kesepakatan atau konsensus dari ”tangan-tangan gaib” (</span><span><em>invisible hand</em></span><span>, istilah Adam Smith) kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun otoritas agama. Teks-teks keagamaan dalam banyak hal juga merupakan hasil ”perselingkuhan” antara ulama/pendeta dengan pemimpin politik dalam rangka menciptakan stabilitas. </span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span>Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – seperti secara eksplisit tertuang dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. </span><span>Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktek ”seks bebas” atau praktek seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.</span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span>Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. </span>Paul Evdokimov dalam <em>The Struggle with God</em> telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik: <em>”Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…”</em></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Bahkan lebih jauh, ide tentang dosa sebetulnya adalah hal-hal yang terkait dengan sosial-kemanusiaan bukan ritual-ketuhanan. Dalam konteks ini maka hubungan seks baru dikatakan “berdosa” jika dilakukan dengan pemaksaan dan menyakiti (baik fisik atau non fisik) atas pasangan kita. Seks jenis inilah yang kemudian disebut “pemerkosaan”. Kata ini tidak hanya mengacu pada hubungan seks di luar rumah tangga tetapi juga di dalam rumah tangga itu sendiri. Seseorang (baik laki-laki maupun perempuan) dikatakan “memperkosa” (baik dalam rumah tangga yang sudah diikat oleh akad-nikah maupun bukan) jika ia ketika melakukan perbuatan seks ada pihak yang tertekan, tertindas (karena mungkin diintimidasi) sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman. Inilah tafsir pemerkosaan. Dalam konteks ini pula saya menolak sejumlah teks keislaman (apapun bentuknya) yang berisi kutukan dan laknat Tuhan kepada perempuan/istri jika tidak mau melayani birahi seks suami. Sungguh teks demikian bukan hanya bias gender tetapi sangat tidak demokratis, dan karena itu berlawanan dengan spirit keislaman dan nilai-nilai universal Islam.</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady, call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang dai atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka?</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Ada sebuah kisah dalam sejarah keislaman yang layak kita jadikan bahan renungan: ada seorang pelacur kawakan yang sudah letih mencari pengampunan kemudian menyusuri padang pasir yang tandus. Ia hanya berbekal sebotol air dan sepotong roti. Tapi di tengah perjalanan ia melihat seekor anjing yang sedang kelaparan dan kehausan. Karena perasaan iba pada anjing tadi, si pelacur kemudian memberikan air dan roti itu padanya. Berita ini sampai kepada Nabi Muhammad yang mulia. Dengan bijak beliau mengatakan bahwa si pelacur tadi kelak akan masuk surga!</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Kisah ini menunjukkan bahwa Islam lebih mementingkan rasa sosial-kemanusiaan ketimbang urusan perkelaminan…” (***)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Demikianlah gagasan “Islam-progresif” dalam soal kebebasan seksual yang diungkapkan Sumanto. Memang, sekarang, istilah “Islam progresif” sedang digandrungi kalangan Perguruan Tinggi Islam. <span>Pada </span><span>Juli 2009, di UIN Jakarta diadakan Konferensi </span><span><em>&#8216;Debating Progressive Islam: A Global Perspective&#8217;. </em></span><span> Tentu banyak tafsir dan penjelasan tentang makna “Islam Progresif”.  Salah satunya adalah versi Sumanto. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Islam progresif biasanya dimaksudkan sebagai “Islam yang maju”, sesuai dengan asal kata dalam bahasa Latin </span><span><em>“progredior”.</em></span><span> Sebagaimana banyak pemikir yang mengaku progresif, mereka menempatkan Islam sebagai “</span><span><em>evolving religion</em></span><span>”, yakni agama yang selalu berkembang mengikuti zaman. Dalam perspektif ini, Islam juga dipandang sebagai agama budaya. Karena itulah, tidak mengherankan, jika mereka memandang tidak ada satu ajaran Islam yang bersifat tetap. Semua harus tunduk dengan realitas zaman. Agama ditundukkan oleh akal. Salah satu yang banyak dijadikan dasar pijakan adalah aspek “kemaslahatan” dan sifat Islam sebagai “rahmatan lil-alamin”. Dengan alasan inilah, berbagai kemunkaran dan kejahatan bisa disahkan. Tentang keabsahan praktik homoseksual, misalnya, ditulis dalam buku ini:</span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">“<span>Agama, apalagi Islam, yang mengusung jargon “</span><span><em>rahmatan lil alamin</em></span><span>” &#8212; rahmat bagi sekalian alam ini harus memberi ruang kepada umat gay, lesbi, atau waria untuk diposisikan secara equal dengan lainnya. Tuhan, saya yakin tidak hanya milik laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga “mereka” yang terpinggirkan di lorong-lorong sepi kebudayaan.” (hal. 176). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> </span><span>Karena berpijak pada realiatas dan sejarah sebagai penentu kebenaran &#8212; juga syahwat atau hawa nafsu – maka teks-teks wahyu, sunnah Rasulullah saw, dan tafsir wahyu yang otoritatif dikesampingkan. Cara berpikir seperti ini juga sangat paradoks. Dengan berdalih sikap kritis kepada tafsir al-Quran dari para ulama yang otoritatif, banyak kaum yang mengaku liberal dan progresif pada akhirnya tidak mampu bersikap kritis sama sekali pada sejumlah ilmuwan Barat. Mereka sangat ta’dzim dalam mengutip pendapat-pendapat ilmuwan non-Muslim. Ketika menyimpulkan bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh yang penuh noda, dikutiplah pendapat Paul Evdokimov dengan penuh hormat dan ta’jub, bahwa si Evdokimov “telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik.” </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Kita sudah sering membuktikan, sikap sok kritis yang diusung oleh kaum yang menamakan diri liberal dan progresif ini biasanya hanya kritis terdapat pendapat </span><span>para ulama yang dianggapnya tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan Allah sudah mengingatkan dalam al-Quran bahwa, jika seorang manusia sudah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka akan tertutuplah hati, telinga dan matanya untuk menerima kebenaran. (QS 45:23). Orang bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan bisa merusak. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span>Karena itulah, untuk menjaga agar ilmu tidak merusak, para ulama selalu menekankan pentingnya masalah adab dalam urusan keilmuan. Dalam kitabnya yang berjudul </span><span><em>Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, </em></span><span>pendiri NU, Kyai Haji Hasyim Asy’ari mengutip pendapat Ibn al-Mubarak yang menyatakan: </span><span><em>“Nahnu iaa qalilin minal adabi ahwaja minnaa ilaa katsirin mina ’ilmi.” </em></span><span> (Kami lebih membutuhkan adab,  meskipun sedikit, daripada banyaknya ilmu pengetahuan). </span></p>
<p>Demikian pendapat KH Hasyim Asy’ari. Orang yang beradab tahu meletakkan dirinya sendiri di hadapan Allah, Rasulullah saw, para ulama pewaris Nabi, dan juga tahu bagaimana menempatkan ilmu. Karena itulah, al-Quran menekankan pentingnya ada klasifikasi sumber informasi diantara manusia. Jika sumber informasi berasal dari orang fasiq (orang jahat, seperti pelaku dosa besar), maka jangan dipercaya begitu saja ucapannya. Ada unsur akhlak yang harus dimasukkan dalam menilai kriteria sumber informasi yang patut dipercaya. (QS 49:6). Seorang yang tidak beradab (biadab) dalam keilmuan sudah tidak dapat lagi membedakan mana sumber ilmu yang shahih dan mana yang bathil.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Soal zina, misalnya. Sebagai Muslim, tentu kita yakin benar bahwa zina itu tindakan haram dan biadab. Keyakinan itu berdasarkan kepada penjelasan yang sangat tegas dalam ayat-ayat al-Quran, banyak hadits Rasulullah saw, pendapat para sahabat Nabi, dan para ulama Islam terkemuka. Dalam soal zina ini, kita lebih percaya kepada pendapat para ulama ketimbang pendapat Karl Marx, Paul Evdokimov, Bill Clinton, </span><span>atau Ernest Hemingway. Sebagai manusia beradab kita bisa membedakan, mana sumber informasi yang layak dipakai dan mana yang tidak. Sebab, Allah sendiri membedakan jenis-jenis manusia. Orang mukmin disebut “</span><span><em>khairul barriyyah</em></span><span>” (sebaik-baik makhluk) dan orang kafir disebut “</span><span><em>syarrul barriyyah</em></span><span>” (sejelek-jeleknya makhluk) (QS 98). Meskipun sering mengkampanyekan “kesetaraan semua pemeluk agama”, tetapi faktanya, kaum yang menamakan diri mereka sebagai pengikut “Islam liberal”, “Islam pluralis” atau “Islam progresif” juga tetap menggunakan identitas Islam. </span>Tidak ada yang mau menyebut dirinya “kafir-liberal” atau “kafir-progresif”.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Sebenarnya, jika kita menelaah pemikiran liberal, dukungan terhadap praktik seks bebas bukanlah hal yang aneh. Ini adalah akibat logis dari sebuah konsep dekonstruksi aqidah dan dekonstruksi kotab suci. Jika seorang sudah tidak percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad saw adalah utusannya, kemudian dia pun tidak percaya kepada otoritas ulama-ulama Islam yang mu’tabarah – seperti Imam al-Syafii – maka yang dia jadikan sebagai standar pengukur kebenaran adalah akalnya sendiri atau hawa nafsunya sendiri. Kita paham, masyarakat Barat saat ini tidak memandang praktik seks bebas sebagai suatu kejahatan. Homoseksual juga dipandang sebagai hal yang normal. Sebaliknya, bagi mereka, praktik poligami dikutuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Nilai-nilai masyarakat Barat yang sekular – tidak berpijak pada ajaran agama &#8212; inilah yang sejatinya dianut juga oleh kaum yang mengaku liberal atau progresif ini. Bagi mereka, seperti tergambar dalam pendapat Sumanto ini, urusan seks dipandang sekedar urusan syahwat biologis semata, sebagaimana layaknya praktik seksual para babi, kambing, monyet, ayam, dan sebagaimana. Seks dianggap seperti soal buang hajat besar atau kecil, kapan mereka mau, maka mereka akan salurkan begitu saja. Yang penting ada kerelaan; suka sama suka. Tapi, bagi kita yang Muslim, dan juga pemeluk agama lain, jelas soal seksual dipandang sebagai hal yang sakral. Karena itulah, agama-agama yang hidup di Indonesia, sangat menghormati lembaga perkawinan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Dalam pandangan Islam, jelas ada perbedaan nilai dan posisi antara penis dengan pipi, meskipun keduanya sama-sama daging. Bagi seorang Muslim, yang menjadikan “penis” dan “pipi” berbeda adalah nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. Sebelum zaman Islam, banyak suku bangsa yang masih memandang sama kedudukan daging wanita dengan daging kambing, sehingga mereka menjadikan ritual korban dengan menyembelih wanita dan kemudian meminum darahnya. <span>Seorang Muslim memandang penting perbedaan antara “daging manusia” dengan “daging ayam”. Daging ayam halal hukumnya untuk dimakan. Jenazah manusia harus dihormati. Jangankan dimakan dagingnya, jenazah manusia harus dihormati dan diperlakukan dengan baik. Jika kaum liberal melakukan dekonstruksi dalam aqidah dan nilai-nilai moral, maka akibatnya, pornografi atau seks bebas pun kemudian didukung. Sebab, dalam pikiran liberal, tidak ada aturan yang pasti, mana bagian tubuh yang boleh dibuka dan mana yang harus ditutup. Yang menjadi standar baik buruk adalah ”kepantasan umum”. Kalau memang bertelanjang atau beradegan porno sesuai dengan tuntutan skenario dan dilakukan ”pada tempatnya”, maka itu dianggap sebagai hal yang baik. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Kepastian akan kebenaran dan nilai itulah yang membedakan antara Muslim dengan kaum liberal. Orang Muslim yakin dengan kebenaran imannya, dan yakin ada kepastian dalam soal halal dan haram. Hukum tentang haramnya babi sudah jelas dan tetap haram sampai kiamat. Begitu juga dengan haramnya zina, dan haramnya perkawinan sesama jenis (homo dan lesbi). Tapi, dalam perspektif liberal dan progresif, seperti dipaparkan oleh buku ini, larangan agama terhadap perkawinan sesama jenis ini pun dianggapnya sudah tidak berlaku. Tentang perlunya legalisasi perkawinan sesama jenis, ditulis dalam buku ini:</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">”<span>Dan harap diingat, konsep perkawinan dalam suatu ikatan ”sakral” bukan melulu untuk mereproduksi keturunan melainkan juga untuk mewujudkan keluarga sakinah (ketenteraman/kebahagiaan). Maka, dalam bingkai untuk mewujudkan keluarga sakinah ini seorang gay atau lesbian harus menikahi sesama jenis. Justru melapetaka yang terjadi jika kaum gay-lesbian dipaksa kawin dengan lain jenis. Untuk mewujudkan gagasan perkawinan sejenis ini, maka paling tidak ada dua hal yang harus ditempuh: pembongkaran di tingkat wacana keagamaan, yakni teks-teks skriptural (dalam konteks Islam: teks tafsir dan fiqih khususnya) yang masih terkesan diskriminatif dan kemudian pembongkaran di tingkat struktur normatif masyarakat yang masih bias dalam memandang pola relasi antar-manusia.” (halaman 175). </span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span>Berulangkali kita menyerukan kepada kaum yang mengaku liberal, progresif dan sejenisnya, agar mengimbangi sikap kritis dengan adab. </span><span>Ada adab kepada al-Quran, adab kepada para Nabi, adab kepada ulama pewaris Nabi. Sayangnya, buku yang memuat pendapat yang merusak – seperti dukungan terhadap praktik seks bebas ini &#8212; justru dipuji-puji dan didukung oleh orang yang seharusnya justru bersikap kritis dan mendidik masyarakat dengan akhlak yang mulia. Di sampul buku bagian belakang, dicantumkan sejumlah pujian. Djohan Effendi, pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), menyebut buku ini: </span><span><em>“sangat inspiratif untuk melakukan refleksi atas perjalanan umat Islam selama ini. Pendapatan dan sikap kritis yang ia lakukan merupakan sumbangan yang sangat berarti untuk mendorong pemikiran progresif di kalangan generasi baru umat Islam yang menginginkan kemajuan bersama dengan orang dan umat lain.” </em></span></p>
<p><span>Di tengah upaya kita mendidik anak-anak kita dengan akhlak mulia dan menjauh</span><span>kan mereka dari praktik pergaulan bebas, kita tentu patut berduka dengan sikap sebagian kalangan yang mengusung jargon “Islam progresif” tetapi justru memberikan dukungan terhadap praktik seks bebas semacam ini. Bagi kita, ini suatu ujian iman. Kita tidak bertanggung jawab atas amal mereka. Mudah-mudahan, dengan bimbingan dan lindungan Allah SWT, kita selamat dalam meniti kehidupan dan mengakhiri hidup kita dengan </span><span><em>husnul khatimah</em></span><span>. Amin. (Solo, 22 Muharram 1431 H/8 Januari 2010). <a href="http://www.adianhusaini.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=127:islam-progresif-dan-seks-bebas-&amp;catid=34:cap&amp;Itemid=53" target="_blank"><strong>[adianhusaini.com]</strong></a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-progresif-dan-seks-bebas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Natal Bersama dan Misi Kristen&#8221;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/natal-bersama-dan-misi-kristen</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/natal-bersama-dan-misi-kristen#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 01:31:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[natal bersama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3274</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dr. Adian Husaini Pada 27 Desember 2009, saya sempat menonton acara Perayaan Natal Bersama melalui TVRI. Acara itu seperti sudah dianggap sebagai ritual tahunan kenegaraan. Biasanya pejabat tinggi banyak yang diundang. Malam itu, Presiden SBY juga datang. Ada juga Wapres Boediono, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. Menyimak rangkaian acaranya, Perayaan Natal Bersama itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>Pada 27 Desember 2009, saya sempat menonton acara Perayaan Natal Bersama melalui TVRI. Acara itu seperti sudah dianggap sebagai ritual tahunan kenegaraan. Biasanya pejabat tinggi banyak yang diundang. Malam itu, Presiden SBY juga datang. Ada juga Wapres Boediono, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. Menyimak rangkaian acaranya, Perayaan Natal Bersama itu jelas sebagai suatu bentuk Proklamasi agama Kristen dan realisasi konsep Misi Kristen di Indonesia.</p>
<p>Pesan utama yang ingin disampaikan  melalui acara tersebut sangat jelas bahwa  Jesus, Putra Tuhan, sang Juru Selamat sudah tiba untuk menebus dosa manusia. Berbagai lagu dan sendratari yang ditampilkan membawa pesan tersebut. Disamping lagu dan tari, ada pesan Natal dan juga Doa Syafaat dibawakan oleh pejabat KWI (Katolik) dan PGI (Protestan).</p>
<p>Menarik jika kita amati wajah Pak SBY dan pejabat muslim lainnya yang hadir acara itu. Kita juga mencoba menebak-nebak,  apa kira-kira perasaan Pak SBY dan orang Muslim di situ, ketika mendengar lagu-lagu dan seruan tentang kedatangan Jesus sebagai anak Allah dan Juru Selamat. Kita berprasangka baik, dan menduga-duga, hati Pak SBY yang Muslim itu pasti berkata: “Ini tidakbenar! Sebab, saya Muslim. Saya yakin benar, bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Saya yakin, Nabi Isa adalah utusan Allah, rasul Allah; bukan Tuhan atau anak Tuhan.”<span id="more-3274"></span></p>
<p>Pak SBY yang punya sebuah Majlis Zikir tentu sudah pernah mendengar ayat Al-Quran:<em> “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).”</em> (Terjemah QS as-Shaff: 6).</p>
<p>Ada juga ayat Al-Quran yang menyatakan: “<em>Dan mereka mengatakan, (Allah) Yang Maha Pemurah itu punya anak. Sungguh (kalian yang menyatakan bahwa Allah punya anak), telah melakukan tindakan yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah gara-gara ucapan itu dan bumi  terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah punya anak.” </em>(Terjemah QS Maryam: 88-91).</p>
<p>Sebagai Muslim, Pak SBY tentu paham benar ayat-ayat Al-Quran tersebut. Dalam Perayaan Natal Bersama itu, orang-orang Muslim “dipaksa” mendengar cerita-cerita tentang Jesus yang bertentangan dengan keimanan mereka. Kata beberapa orang, praktik-praktik pencampuran Perayaan Hari Raya Agama seperti itu perlu dilakukan demi tujuan mulia, yaitu untuk membina Kerukunan Umat Beragama.  Malah, ada yang berpendapat, agar MUI mencabut fatwa tentang Haram-nya seorang Muslim merayakan Natal Bersama. Sebagai Muslim, dan juga sebagai Presiden, Pak SBY ketika itu “harus” duduk mendengarkan semua cerita tentang Jesus, yang sudah pasti tidak diyakininya. Pada kondisi seperti itulah, Pak SBY juga terpaksa tidak menyatakan secara terbuka, bahwa dia mempunyai kepercayaan dan keimanan yang berbeda dengan kaum Nasrani.</p>
<p>Sebenarnya, jika kita berpikir jernih, praktik-praktik semacam ini seharusnya dihentikan. Membangun kerukunan umat beragama tidak perlu dilakukan dengan cara-cara yang dapat menyuburkan kemunafikan seperti itu. Rasulullah saw, para sahabat, dan para ulama Islam – yang sejati – tidak pernah mengajarkan tindakan seperti itu. Untuk membangun kerukunan umat beragama, banyak cara lain yang bisa dilakukan. Sebenarnya, jika kaum Nasrani merayakan hari raya mereka, di kalangan mereka sendiri, itu juga tidak ada masalah dan tidak perlu mengundang kontroversi.</p>
<p>Berita tentang ke-Tuhanan Jesus tentu tidak mudah ditelan begitu saja oleh kaum Muslim. Sebab, Islam memiliki kitab suci Al-Quran yang dengan sangat gamblang menjelaskan kesalahan kepercayaan kaum Kristen tersebut. Al-Quran menyatakan, bahwa berita tentang penyaliban Jesus (Nabi Isa) adalah bohong belaka. Penyaliban Jesus, dalam pandangan Islam, tidak memiliki dasar yang kuat. “<em>Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”</em> (Terjemah QS al-Kahfi: 4-5).</p>
<p>Ayat-ayat dalam kitab suci yang secara tegas membantah klaim-klaim kaum Kristen tentang ketuhanan Jesus seperti ini hanya dijumpai dalam Al-Quran. Ayat semacam itu tidak kita dijumpai pada Kitab Veda (Hindu), Tripitaka (Budha), atau Su Si (Konghucu). Karena itu, wajar, selama seorang mengaku dan meyakini keimanan Islam-nya, hatinya akan dengan tegas menolak semua pernyataan yang tidak benar tentang Nabi Isa. Kaum Ahlul Kitab yang hatinya  ikhlas dalam menerima kebenaran pasti akan mengakui kenabian Muhammad saw dan kebenaran Al-Quran (QS 3:199).</p>
<p>Keyakinan kaum Muslim tentang Nabi Isa seperti itu seharusnya dihormati oleh kaum Kristen. Sehingga, tidaklah etis jika “memaksa” seorang Muslim yang berpegang kepada iman Islam-nya untuk duduk mendengar cerita tentang Yesus dalam versi Kristen yang sama sekali berbeda versinya dengan cerita tentang Nabi Isa dalam versi Islam. Inilah sebenarnya hakekat saling hormat-menghormati antar pemeluk agama. Mereka bisa bekerjasama satu sama lain, dalam berbagai hal. Tetapi, bukan membiasakan diri bersikap “pura-pura” dalam soal keimanan. Sikap saling menghormati bisa ditumbuhkan dengan tetap berpegang kepada keimanan masing-masing.</p>
<p>Islam juga menghormati sikap pemimpin Katolik Paus Yohanes Paulus II, ketika menyatakan, bahwa Islam, bahwa Islam bukanlah agama penyelamatan:  “Islam is not a religion of redemption.” Paus juga menyatakan, dalam Islam tidak ada ruang bagi Salib dan Kebangkitah Yesus.  Yesus memang disebutkan, tetapi,  kata Paus, dia hanya sekedar seorang Nabi, yang menyiapkan kedatangan Nabi terakhir, yaitu Muhammad.  Karena itulah, Paus berkesimpulan: <em>“For this reason, not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity</em>.”   Jadi,menurut Paus, secara teologis dan antropologis, ada perbedaan yang mendasar antara Islam dan Kristen. (Lihat, John Cornwell,<em> The Pope in Winter: The Dark Face of John Paul II’s Papacy</em>, (London: Penguin Books Ltd., 2005).</p>
<p>Ada lagi yang sering tidak dipahami oleh pemeluk agama selain Islam atau bahkan kalangan Muslim sendiri. Yaitu, bahwasanya Islam adalah agama wahyu yang memiliki uswah hasanah (contoh teladan). Sebagai agama wahyu (agama langit), Islam mendasarkan keyakinan dan semua praktik ritualnya berdasarkan wahyu dan contoh dari Nabi Muhammad saw.  Karena itu, hanya orang Muslim yang kini memiliki bentuk ibadah yang satu. Orang Muslim membaca al-Fatihah yang sama dalam shalat; ruku’ dengan cara yang sana; sujud dengan cara yang sama, dan salam dengan cara yang sama pula. Semua itu ada contoh dari Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Bahkan, kaum Muslim berdebat tentang hal-hal yang “kecil” dalam ibadah shalat, seperti apakah dalam tahiyat, jari telunjuk digerakkan atau tidak. Sebab, memang ada riwayat yang berbeda dari Rasulullah saw tentang hal itu. Yang jelas, semua Muslim ingin mencontoh Sang Nabi sampai hal-hal yang “kecil” seperti itu diperdebatkan. Tapi, semua orang Muslim, saat melaksanakan tahiyat dalam shalat, pasti mengeluarkan jari telunjuk, bukan jari jempol atau jari kelingking.</p>
<p>Karena kuatnya berpegang pada keteladanan Nabi Muhammad saw dalam ibadah itulah, maka –misalnya &#8212; orang Islam tidak mudah untuk diajak mengganti salam Islam dengan salam lainnya. Karena salam resmi orang Islam, sesuai ajaran Nabi saw adalah:  Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.”  Ucapan salam seperti ini berdasarkan contoh dari Nabi Muhammad, bukan berasal dari budaya atau hasil Kongres umat Islam pada saat tertentu. Di mana pun, kapan pun,  umat Islam akan mengucapkan salam seperti itu. Apa pun suku dan bangsanya. Upaya untuk “pribumisasi” salam Islam dan menggantinya dengan “Selamat pagi” dan sejenisnya, telah gagal dilakukan. Dulu, semasa menjabat sebagai Menteri P&amp;K (1978-1982), Dr. Daoed Joesoef menolak mengucapkan salam Islam, dengan alasan, ia bukan hanya menterinya orang Islam.</p>
<p>Sekarang, cara berpikir Daoed Joesoef itu sudah out of date, sudah ketinggalan zaman.  Kini, Presiden SBY pun sangat fasih dalam mengucapkan salam. Bahkan, biasanya ia mendahului dengan ucapan basmalah. Sekarang sudah banyak tokoh non-Muslim yang dengan lancar mengucapkan salam Islam.  Saya pernah bertanya kepada seorang tokoh non-Muslim, apakah dia boleh mengucapkan salam Islam, seperti yang baru saja dia ucapkan. Dia menjawab: Boleh!</p>
<p>Kondisi seperti itu berbeda dengan umat Islam. Untuk urusan salam saja, Rasulullah saw memberikan contoh dan panduan yang sangat rinci. Bagaimana seharusnya seorang Muslim memberikan salam kepada sesama Muslim, bagaimana menjawab salam dari non-Muslim, dan sebagainya. Umat Islam secara ikhlas berusaha mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw tersebut. Sifat dan posisi ajaran Islam seperti ini seyogyanya dipahami. Termasuk dalam soal perayaan Hari Besar Agama. Panduan dalam soal ini juga sangat jelas. Karena itu, jika umat Islam menolak untuk mengikuti Perayaan Hari Besar agama lain, itu pun harusnya dipahami dan tidak dicap sebagai bentuk rasa permusuhan dengan agama lain. Pemahaman akan sifat dan karakter masing-masing agama itu perlu dipahami oleh masing-masing tokoh agama, agar tidak memaksakan pemahamannya kepada orang lain.</p>
<p>Budaya dan Misi</p>
<p>Aspek lain yang menonjol dalam Peraayaan Natal Bersama 27 Desember 2009 adalah upaya kaum Kristen untuk menampilkan citra adanya penyatuan Kristen dengan budaya Indonesia. Para penari mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Citra penyatuan Kristen dengan adat istiadat di Indonesia sudah lama diusahakan oleh para misionaris di Indonesia. Strategi budaya dijalankan agar misi Kristen lebih mudah diterima oleh rakyat Indonesia, dan agar citra Kristen sebagai agama penjajah dapat hilang di mata rakyat.</p>
<p>Penyebaran agama Kristen dengan strategi budaya Jawa pada dekade pertama abad XX, misalnya, terutama ditempuh oleh kalangan Yesuit dan juga misi Katolik pada umumnya. Misi Kristen ingin menggusur atau memisahkan citra penyatuan Islam dengan Jawa. Tokoh misionaris Katolik, misalnya, telah lama berusaha menggusur dominasi bahasa Melayu dan menggantinya dengan bahasa Jawa. Di sekolah Katolik di Muntilan, misalnya, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin.  Sebab, bahasa Melayu identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam.</p>
<p>J.D. Wolterbeek dalam bukunya,  Babad Zending di Pulau Jawa,  mengatakan: “<em>Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.</em>”</p>
<p>Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).</p>
<p>Kiprah Pater van Lith dalam gerakan misi di Jawa digambarkan oleh Fl. Hasto Rosariyanto, SJ dalam bukunya, Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009). Dalam buku ini diceritakan, bahwa dalam suatu Kongres bahasa Jawa, secara provokatif van Lith memperingatkan orang-orang Jawa untuk berbangga akan budaya mereka dan karena itu mereka harus menghapus bahasa Melayu dari sekolah. Van Lith lebih suka mempromosikan bahasa Belanda, karena dianggapnya sebagai bahasa kemajuan.</p>
<p>Upaya untuk menggusur bahasa Melayu dari kehidupan berbangsa di Indonesia, sebagaimana dipromosikan van Lith tidak berhasil dilakukan. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai suku bangsa justru mendeklarasikan: “Kami berbahasa satu,  bahasa Indonesia.”  Demi persatuan bangsa, para pemuda dari Jawa juga merelakan bahasa Jawa tidak dijadikan sebagai bahasa nasional Indonesia.</p>
<p>Van Lith, yang datang ke Indonesia pada 1896, menulis dalam sebuah suratnya:</p>
<blockquote><p>“Jika para misionaris ingin membawa orang non-Kristen kepada Kristus, mereka harus menemukan titik-awal bagi penginjilan. Di dalam agama merekalah terletak hati dari orang-orang ini. Kalau para misionaris mengabaikan ini, mereka juga akan kehilangan titik temu untuk menawarkan kabar gembira dalam hati mereka. Di Pulau Jawa, khususnya, di mana penduduk yang paling maju dari seluruh kepulauan ini tinggal, mempelajari Hinduisme, Budhisme, Islam, dan budaya Jawa adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. Agama-agama ini telah berkembang, tetapi agama asli tidak pernah tercabut dari hati orang-orang ini.”</p></blockquote>
<p>Dalam salah satu artikelnya yang ditemukan sesudah kematiannya, van Lith juga menyemangati teman-teman misionaris agar menempatkan diri sesama warga dengan orang Jawa:</p>
<blockquote><p>“Kalau kita, orang Belanda, ingin tetap tinggal di Jawa dan hidup dalam damai dan menikmati keindahan serta kekayaan pulau tercinta ini, maka ada satu tuntutan, yaitu bahwa kita harus selalu belajar  memperlakukan orang Jawa sebagai saudara kita. Di tengah-tengah orang Jawa, kita tidak bisa berlagak seperti penguasa, atau sebagai majikan, atau sebagai komandan, tetapi seharusnya sebagai sesama warga. Kita harus belajar menyesuaikan diri, belajar menguasai bahasa orang-orang ini dan adat kebiasaan mereka; hanya dengan berlaku demikian kita bisa menjalin persahabatan dengan mereka ini.”</p></blockquote>
<p>Demi pendekatan budaya, van Lith sampai bisa menerima orang Katolik Jawa melakukan sunat. Padahal, dalam suratnya, Paulus menyatakan: “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”. (Gal. 5,2).  Van Lith menerima sunat bagi orang Katolik Jawa, tetapi menolak tambahan doa Arab (Islam). Ia juga menentang sunat sebagai bentuk pertobatan menjadi Muslim.</p>
<p>Para misionaris, seperti van Lith, berkeinginan memisahkan orang Jawa dengan Islam. Sebab, orang Jawa memang sangat kokoh memegang identitasnya sebagai Muslim, meskipun mereka belum mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi Katolik, Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:</p>
<blockquote><p>“Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai  bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina,  karena tahu tak ada apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada sesuatu yang dapat dilakukan.”</p></blockquote>
<p>Demikianlah semangat misi Kristen untuk mengubah agama orang Jawa, dari Islam menjadi Kristen. Berbagai cara telah dan terus digunakan untuk menjalankan misi tersebut. Kaum Muslim memahami semangat kaum Kristen tersebut. Tapi, tentunya, tidak mudah bagi kaum Muslim untuk menerima begitu saja usaha kaum misionaris tersebut. Sebab, bagi orang Muslim, keimanan adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan mereka. [Depok, 14 Muharram 1431 H/1 Januari 2010/<a href="http://hidayatullah.com/kolom/adian-husaini/10286-2010-01-02-15-22-24.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/natal-bersama-dan-misi-kristen/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PSIKOLOGI dalam ISLAM</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/psikologi-dalam-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/psikologi-dalam-islam#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 17:32:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3204</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su’), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutma’innah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur. <span id="more-3204"></span></p>
<p>Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).</p>
<p>Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).</p>
<p>Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).</p>
<p>Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, “Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists,” Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).</p>
<p>Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam. <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=169&amp;Itemid=62" target="_blank"><strong>[insists]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/psikologi-dalam-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perayaan Tahun Baru Berbagai Bangsa dan Umat di Dunia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 11:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3263</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Umar Abdullah* Perayaan Tahun baru adalah suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Bangsa-bangsa atau umat yang mempunyai kalender tahunan biasanya mempunyai perayaan tahun baru. Tapi apakah semua umat merayakan tahun barunya? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, kami berusaha menelusuri kembali sejarah perayaan tahun baru berbagai bangsa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Umar Abdullah*</strong></p>
<p>Perayaan Tahun baru adalah suatu <a title="Budaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya">budaya</a> merayakan berakhirnya masa satu <a title="Tahun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun">tahun</a> dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Bangsa-bangsa atau umat yang mempunyai <a title="Kalender" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender">kalender</a> tahunan biasanya mempunyai perayaan tahun baru. Tapi apakah semua umat merayakan tahun barunya? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, kami berusaha menelusuri kembali sejarah perayaan tahun baru berbagai bangsa dan umat di dunia serta hukum merayakannya bagi kaum muslimin.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perayaan Tahun Baru Umat Yahudi</strong></p>
<p><a title="Agama Yahudi" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Agama_Yahudi">Agama</a> dan Umat <a title="Yahudi" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Yahudi">Yahudi</a> merayakan Tahun Baru mereka tidak pada hari ke-1 bulan ke-1 Kalender Ibrani (bulan Nisan), tetapi pada hari ke-1 bulan ke-7 <a title="Kalendar Ibrani (tidak wujud)" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Kalendar_Ibrani&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kalendar Ibrani</a> (bulan <a title="Tishrei (tidak wujud)" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Tishrei&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tishrei</a>). Umat Yahudi menyebut Perayaan Tahun Baru mereka dengan nama Rosh Hashanah, yang berarti “Kepala Tahun”.</p>
<p>Rosh Hashanah ini digunakan umat Yahudi untuk memperingati <a title="Penciptaan (teologi) (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penciptaan_%28teologi%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">penciptaan</a> dunia seperti yang ditulis dalam kitab mereka. Mereka merayakannya dengan cara <a title="Ibadat Yahudi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ibadat_Yahudi&amp;action=edit&amp;redlink=1">b</a>erdoa di <a title="Sinagoga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sinagoga">sinagog</a>, mendengar bunyi <em><a title="Shofar (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Shofar&amp;action=edit&amp;redlink=1">shofar</a></em> (tanduk). Menyediakan makanan pesta berupa roti <a title="Challah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Challah">challah</a> yang bundar dan apel yang dicelupkan ke dalam madu, juga kepala <a title="Ikan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan">ikan</a> dan buah <a title="Delima" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Delima">delima</a>. <a title="Buah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buah">Buah-buahan</a> baru disajikan pada malam kedua. Pada Perayaan Tahun Baru ini mereka beristirahat dari aktivitas kerja.<span id="more-3263"></span></p>
<p>Jika memakai <a title="Kalender Gregorian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorian">kalender Gregorian</a> (Kalender Masehi), Tahun Baru Yahudi ini dirayakan pada bulan September. Misalnya tahun 2008 M <a title="Rosh Hashanah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rosh_Hashanah">Rosh Hashanah</a> jatuh pada 29 September 2008. Tanggal itu ekivalen dengan tanggal 1 Tishrei 5769 AM (<em>Anno Mundi</em>). <a title="Anno Mundi" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anno_Mundi">Anno Mundi</a> adalah bahasa latin yang artinya “dalam hitungan tahun dunia”, disingkat <em>A.M.</em> karena orang Yahudi menganggap kalender mereka dimulai dari tanggal kelahiran <a title="Adam" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Adam">Adam</a>. Menurut perhitungan Kalender Ibrani, tanggal 1 bulan Tishrei tahun ke-1 AM adalah ekivalen dengan hari Senin, tanggal 7 Oktober tahun  <a title="3761 BCE" href="http://en.wikipedia.org/wiki/3761_BCE">3761 BCE</a> dalam Kalender Julian (Kalender Romawi Kuno).</p>
<p>Ketika Panglima Pompey dari Kekaisaran Romawi Kuno menguasai Yerusalem pada tahun 63 SM, orang-orang Yahudi mulai mengikuti Kalender Julian (Kalender Bangsa Romawi yang menjajahnya). Dan setelah berdiri negara Israel pada tahun 1948 M, mulai tahun 1950an M Kalender Ibrani menurun penggunaannya dalam kehidupan bangsa Yahudi sekuler. Mereka lebih menyukai Kalender <a title="Gregorian Calendar" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gregorian_Calendar">Gregorian</a> untuk kehidupan pribadi dan kehidupan publik mereka. Dan sejak tahun 1980an, bangsa Yahudi sekuler justru mengadopsi kebiasaan Perayaan Tahun Baru Gregorian (Tahun Baru Masehi) yang biasanya dikenal dengan sebutan ”Sylvester Night” dengan berpesta pada malam 31 Desember hingga 1 Januari.</p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Cina</strong></p>
<p>Bangsa Cina merayakan tahun baru mereka pada malam bulan baru pada <a title="Musim dingin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim_dingin">musim dingin</a> (antara akhir <a title="Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Januari">Januari</a> hingga awal <a title="Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Februari">Februari</a>) atau jika memakai kalender Gregorian tahun baru ini terletak antara 21 <a title="Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Januari">Januari</a> hingga 20 <a title="Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Februari">Februari</a>. Mereka menyebutnya dengan nama Imlek.</p>
<p>Perayaan ini dimulai di hari ke-1 bulan pertama (zh?ng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan <a title="Cap Go Meh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cap_Go_Meh">Cap Go Meh</a> di tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Ch?x? yang berarti “malam pergantian tahun”.</p>
<p>Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun secara umum berisi perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan <a title="Kembang api" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kembang_api">kembang api</a>. Lampion merah digantung selama perayaan Tahun Baru Imlek sebagai makna keberuntungan. Selama perayaan tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat: “G?ngx? f?c?i” yang artinya “selamat dan semoga banyak rejeki”.</p>
<p>Tahun Baru Imlek dirayakan oleh orang Tionghoa di Daratan Tiongkok, Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, Jepang (sebelum 1873), Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan tempat-tempat lain.</p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Persia</strong></p>
<p>Orang Persia menamakan perayaan tahun baru mereka dengan nama <em>Norouz</em>. Norouz adalah perayaan (hari pertama) <a title="Musim semi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim_semi">musim semi</a> dan awal <a title="Kalender Iran (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kalender_Iran&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kalender Persia</a>. Orang Persia punya Kalender Persia yang didasarkan dari <a title="Musim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim">musim</a> dan pergerakan matahari. Kata ”norouz” berasal dari <a title="Bahasa Avesta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Avesta">bahasa Avesta</a> yang berarti “hari baru”. Oleh bangsa Persia, hari ini dirayakan pada tanggal <a title="21 Maret" href="http://id.wikipedia.org/wiki/21_Maret">21 Maret</a> jika memakai Kalender Gregorian..</p>
<p>Sejak Kekaisaran Dinasti <a title="Parthian Empire" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Parthian_Empire">Arsacid</a>/ <a title="Parthian Empire" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Parthian_Empire">Parthian</a>, yang memerintah Iran pada 248 SM-224 M, Norouz dijadikan hari libur. Mereka merayakannya dengan mempersembahkan hadiah telur sebagai lambang produktivitas.</p>
<p>Perayaan ini dilakukan oleh orang-orang yang terpengaruh Zoroastirianisme yang tersebar di <a title="Iran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iran">Iran</a>, <a title="Iraq" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Iraq">Iraq</a>, <a title="Afganistan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afganistan">Afganistan</a>, <a title="Kazakhstan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kazakhstan">Kazakhstan</a>, <a title="Kyrgyzstan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kyrgyzstan">Kyrgyzstan</a>, <a title="Uzbekistan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Uzbekistan">Uzbekistan</a>, <a title="Kurdistan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kurdistan">Kurdistan</a>, <a title="Pakistan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pakistan">Pakistan</a>, <a title="Kashmir" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kashmir">Kashmir</a>, beberapa tempat di India, <a title="Syria" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Syria">Syria</a>, <a title="Kurdi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kurdi">Kurdi</a>, Turki, <a title="Armenia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Armenia">Armenia</a>, <a title="Caucasus" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Caucasus">Caucasus</a>, <a title="Crimea" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Crimea">Crimea</a>, <a title="Georgia (country)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Georgia_%28country%29">Georgia</a>, <a title="Azerbaijan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Azerbaijan">Azerbaijan</a>, <a title="Republic of Macedonia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Republic_of_Macedonia">Macedonia</a>, <a title="Bosnia and Herzegovina" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bosnia_and_Herzegovina">Bosnia</a>, <a title="Kosovo" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kosovo">Kosovo</a>, dan  <a title="Albania" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Albania">Albania</a>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Romawi KUNO</strong></p>
<p>Sejak Abad ke-7 SM bangsa romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali revisi. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.</p>
<p>Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian . Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, <img src="http://mediaislamnet.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 <a title="SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/SM">SM</a>, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (<a title="Juli" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Juli">Juli</a>). Sementara pengganti <a title="Julius Caesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Julius_Caesar">Julius Caesar</a>, yaitu <a title="Octavianus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Octavianus">Kaisar Augustus</a>, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “<a title="Agustus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agustus">Agustus</a>”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh <a title="Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa">Eropa</a> hingga tahun 1582 M ketika muncul <a title="Kalender Gregorian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorian">Kalender Gregorian</a>.</p>
<p>Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur dan semua Senat dapat berkumpul untuk memilih Konsul. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal <a title="1 Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Januari">1 Januari</a> 45 <a title="SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/SM">SM</a>.</p>
<p>Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Kristen</strong><strong> </strong></p>
<p>Sejak <a title="Konstantinus I" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konstantinus_I">Konstantinus</a> yang Agung menduduki tahta Kaisar Romawi tahun <a title="312" href="http://id.wikipedia.org/wiki/312">312</a> M, Kristen menjadi agama yang legal di Kekaisaran Romawi Kuno. Bahkan tanggal <a title="27 Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/27_Februari">27 Februari</a> <a title="380" href="http://id.wikipedia.org/wiki/380">380</a> M Kaisar <a title="Theodosius (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Theodosius&amp;action=edit&amp;redlink=1">Theodosius</a> mengeluarkan sebuah maklumat, <em>De Fide Catolica</em>, di Tesalonika, yang dipublikasikan di Konstantinopel, yang menyatakan bahwa Kristen sebagai <a title="Agama negara (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agama_negara&amp;action=edit&amp;redlink=1">agama</a> negara Kekaisaran Romawi Kuno. Di Abad-abab Pertengahan (<em>middle ages</em>), abad ke-5 hingga abad ke-15 M, Kristen memegang peranan dominan di Kekaisaran Romawi hingga ke negara-negara Eropa lainnya.</p>
<p>Berdasarkan keputusan Konsili Tours tahun 567 umat Kristen ikut merayakan Tahun Baru dan mereka mengadakan puasa khusus serta ekaristi. Kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, yakni hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru.</p>
<p>Umat Kristen menggunakan Kalender yang dinamakan Kalender Masehi. Mereka menggunakan penghitungan tahun dan bulan <a title="Kalender Julian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Julian">Kalender Julian</a>, namun menetapkan tahun kelahiran <a title="Yesus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yesus">Yesus</a> atau <a title="Isa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Isa">Isa</a> sebagai tahun permulaan (tahun <a title="1" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1">1</a> Masehi), walaupun sejarah menempatkan kelahiran Yesus pada waktu antara tahun 6 dan 4 SM.</p>
<p>Setelah meninggalkan Abad-abad Pertengahan, pada tahun 1582 M Kalender Julian diganti dengan Kalender Gregorian. Dinamakan Gregorian karena Dekrit rekomendasinya dikeluarkan oleh Paus Gregorius XIII. Dekrit ini  disahkan pada tanggal 24 Februari 1582 M. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 Kalender Julian, esoknya adalah tanggal 15 Oktober 1582 Kalender Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah Kalender Gregorian. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.</p>
<p>Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini. Baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti Kalender Julian sehingga perayaan <a title="Natal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Natal">Natal</a> dan <a title="Tahun Baru" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru">Tahun Baru</a> mereka berbeda dengan gereja Katolik Roma.</p>
<p>Pada tahun 1582 M Paus Gregorius XIII juga mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Hingga kini, Umat Kristen di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Islam</strong></p>
<p>Tidak seperti bangsa dan umat terdahulu, Islam tidak merayakan tahun baru. Rasulullah Muhammad saw bahkan melarang meniru (<em>tasyabbuh</em>) budaya bangsa dan umat sebelum datangnya Islam seperti Umat Yahudi, Bangsa Romawi, Bangsa Persia, dan Umat Nasrani yang merayakan Tahun Baru mereka. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p><em>Man tasyabbaHa bi qaumin faHuwa minHum.</em></p>
<p><em>Artinya: Siapa saja yang menyerupai suatu kaum/ bangsa maka dia termasuk salah seorang dari mereka.</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi</strong>)</p>
<p>Dan khusus tentang hari raya, Rasulullah saw membatasi hari raya umat Islam hanya pada Idul Adhha dan Idul Fithri, lain itu tidak. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p><em>Kullu ummatin iidan. Wa haadzihi iidunaa: iidul adhhaa dan iidul fithri</em></p>
<p><em>Artinya: Setiap ummat punya hari raya. Dan inilah hari raya kita: Idul Adhha dan Idul Fithri</em>.</p>
<p>Ketika Rasulullah saw masih hidup (570 – 632 M), Umat Islam menggunakan sistem penanggalan Arab pra-Islam. Sistem kalender ini berbasis campuran antara <a title="Bulan (satelit)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bulan_%28satelit%29">b</a>ulan (<em>qomariyah</em>) dan <a title="Matahari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Matahari">matahari</a> (<em>syamsiyah</em>).</p>
<p>Setelah Khilafah Islam berhasil menaklukkan Kekaisaran Persia untuk selamanya dan membebaskan Wilayah Syam dari Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 17 H atau ekivalen dengan 638 M, di masa pemerintahan Amirul Mu`minin ‘Umar bin Khaththab diresmikanlah penggunaan Kalender Hijriyah. Dinamakan Kalender Hijriyah karena ‘Umar menetapkan awal patokan penanggalan Islam ini adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun <a title="622" href="http://id.wikipedia.org/wiki/622">622</a> M. Hijrahnya Rasulullah saw tersebut adalah pertolongan Allah yang membuat perubahan besar pada perkembangan Islam. Sejak hijrah ke Madinah mulailah terbentuk Negara Islam dan Umat Islam.</p>
<p>Kalender Hijriyah dihitung dengan pergerakan bulan. Penentuan awal bulan (<em>new moon</em>) ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (<em>hilal</em>) setelah bulan baru (konjungsi atau <em>ijtima’</em>). Setahun terdiri dari 12 <a title="Bulan (waktu)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bulan_%28waktu%29">bulan</a>: <a title="Muharram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muharram">Muharram</a>, <a title="Safar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Safar">Safar</a>, <a title="Rabiul awal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rabiul_awal">Rabiul awal</a>, <a title="Rabiul akhir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rabiul_akhir">Rabiul akhir</a>, <a title="Jumadil awal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jumadil_awal">Jumadil awal</a>, <a title="Jumadil akhir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jumadil_akhir">Jumadil akhir</a>, <a title="Rajab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rajab">Rajab</a>, <a title="Sya'ban" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sya%27ban">Sya’ban</a>, <a title="Ramadhan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramadhan">Ramadhan</a>, <a title="Syawal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syawal">Syawal</a>, <a title="Dzulkaidah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dzulkaidah">Dzulkaidah</a>, dan <a title="Dzulhijjah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dzulhijjah">Dzulhijjah</a>. Satu minggu terdiri dari 7 hari: <em>al-Ahad, al-Itsnayn, ats-Tsalaatsa’</em> , <em>al-Arba’aa / ar-Raabi’</em>, <em>al-Kamsatun, al-Jumu’ah</em> (Jumat), dan <em>as-Sabat</em>. Ketika melakukan perjalanan ke Syam, Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab sempat membandingkan kalendar Hijriyah dengan kalendar-kalendar Persia dan Romawi. Umar berkesimpulan bahwa kalendar Hijriyah lebih baik.</p>
<p>Walaupun Kalender Hijriyah telah dipakai resmi di masa pemerintahan Amirul Mu`minin Umar bin Khaththab, namun para sahabat di masa itu tidak berpikir untuk merayakan 1 Muharram (awal tahun Hijriyah) sebagai Perayaan Tahun Baru Islam. Mereka berkonsentrasi penuh untuk mengokohkan penegakkan syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Mereka tidak pernah berpikir untuk mengadakan perayaan yang tidak disyariatkan oleh Islam dan tidak dilakukan oleh Rasululah saw. Yang demikian itu terus berlanjut pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dan sebagian besar masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Bahkan hingga masa negara Buwaihiyah, negara syi’ah yang memisahkan diri dari daulah Islamiyah Abbasiyah, negara syi’ah ini pun tidak pernah berpikir untuk menambah-nambah perayaan yang tidak diteladankan Rasulullah saw.</p>
<p>Karena memuliakan Islam bukan dengan cara membuat perayaan tahun baru hijriyah, tetapi dengan mengikuti sunnah nabi, berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, dan menjadikannya dasar hukum dan petunjuk untuk menjalani kehidupan.</p>
<p>Sayangnya, pada abad ke-4 H kaum Syiah kelompok al-‘Ubadiyyun dari sekte Ismailiyah yang lebih dikenal dengan kaum Fathimiyun membuat hari raya tahun baru hijriyah. Kelompok ini mendirikan negara di Mesir yang terpisah dari Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Mereka ingin meniru apa yang ada pada umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka. Maka benarlah sabda Rasulullah saw</p>
<p><em>Akan datang suatu masa dimana kalian akan mengikuti cara hidup bangsa-bangsa sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Sampai ketika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun ikut memasukinya. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”</em></p>
<p>Dalam hadits lain: Para sahabat bertanya, “<em>apakah mereka Romawi dan Pers?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”</em></p>
<p>Sejak saat itu <a title="Kalender Hijriyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah">Tahun baru Hijriyah</a> dalam <a title="Kalender Hijriyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah">kalender Hijriyah</a> dirayakan setiap tanggal <a title="Muharam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muharam">1 Muharam</a>. Termasuk umat Islam di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Sunni, juga ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Hijriyah yang direkayasa oleh kaum Syiah Ismailiyah yang telah murtad itu. Adapun pemerintah yang berkuasa di Indonesia lebih parah lagi, ikut merayakan Tahun Baru Masehi tanggal <a title="1 Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Januari">1 Januari</a> karena mengadopsi <a title="Kalender Gregorian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorian">kalender Gregorian</a>. Dan ternyata tidak hanya perayaan tahun baru yang ditiru dari bangsa dan umat selain Islam, tetapi juga dalam keyakinan, perilaku, budaya, sistem hukum dan pemerintahannya pun meniru bangsa dan umat selain Islam.</p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU KAUM SEKULER</strong></p>
<p>Mengikuti budaya Romawi dan Kristen, di Era Sekuler Negara-negara Barat merayakan Tahun Baru tanggal 1 Januari. Tahun 1752 Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan kalender Gregorian.</p>
<p>Di Inggris, Untuk merayakan Tahun Baru para suami memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.</p>
<p>Di Amerika serikat, Tahun Baru dijadikan sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Amerika. Perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember. Orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, dimana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. Esok harinya, tanggal 1 Januari, orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi yang berisi Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba-lomba futbol Amerika dilangsungkan di berbagai kota di Amerika.</p>
<p><em>Ya Allah semoga penyampaian sejarah ini bisa membuka mata dan hati kami semua. Amin. </em><a href="http://mediaislamnet.com/2009/12/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/" target="_blank">[mediaislamnet]</a><em><br />
</em></p>
<p>Sumber Bacaan:</p>
<ol>
<li>100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa. Michael H. Hart. Karisma Publishing Group</li>
<li>Umar bin Khaththab. Muhammad Husain Haekal. Litera Antar Nusa.</li>
<li>Engkaulah Rasul Panutan Kami. Abdurrahman al-Baghdadiy. Al-Azhar Press.</li>
<li><a href="http://www.wikipedia.org/">www.wikipedia.org</a></li>
<li>Situs Pusat Informasi Kedutaan Amerika</li>
<li>Kamus Sejarah Gereja. F.D. Wellem. BPK Gunung Mulia</li>
</ol>
<p>* Penulis Naskah VCD Sejarah Kapitalisme, The Satanic Ideology dan VCD Sejarah Daulah Khilafah Islamiyah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liberalisasi Syariat Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/liberalisasi-syariat-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/liberalisasi-syariat-islam#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 17:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisasi syariat islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3207</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kaum Muslim, syariat Islam sudah melekat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Syariat Islam memiliki karakter yang khas: bersifat final dan universal. Kaum Muslim, dengan latar belakang budaya apa pun, kapan pun, dan di mana pun melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji, menikah, menyelenggarakan jenazah, dan sebagainya dengan cara yang sama. Sebab, syariat Islam memang diturunkan Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kaum Muslim, syariat Islam sudah melekat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Syariat Islam memiliki karakter yang khas: bersifat final dan universal. Kaum Muslim, dengan latar belakang budaya apa pun, kapan pun, dan di mana pun melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji, menikah, menyelenggarakan jenazah, dan sebagainya dengan cara yang sama. Sebab, syariat Islam memang diturunkan Allah kepada Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw, untuk menjadi rahmat bagi seluruh manusia.</p>
<p>Tapi, belakangan, sebagian kalangan Muslim sendiri mulai menyoal  masalah syariat. Dengan bekal “keimanan” kepada paham-paham modern (Pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender, HAM, dan sebagainya) sejumlah hukum Islam yang dianggap ketinggalan zaman, diupayakan untuk dibuang atau diubah penafsirannya. Prof. Abdullah Ahmad an-Na’em, pemikir liberal asal Sudan yang pernah berkunjung ke Indonesia,  misalnya,  menyatakan, ada empat wilayah – yakni konstitusi modern, hukum kriminal, hukum internasional, dan HAM&#8211;  dimana syariat Islam  menyimpan sejumlah problem serius. <span id="more-3207"></span></p>
<p>Ada yang menganggap, hukum Islam tentang kaum non-Muslim tidak toleran, bahkan cenderung diskriminatif. Dalam buku Fiqih Lintas Agama (2004) dikatakan: “Banyak konsep fiqih menempatkan penganut agama lain lebih rendah ketimbang umat Islam, sehingga berimplikasi meng-exclude atau mendiskreditkan mereka.”   Sejumlah pihak juga menggugat hokum Islam tentang perempuan yang kata mereka kerap memposisikan kaum hawa ini menjadi subordinat bagi laki-laki. Ringkasnya, dalam kacamata mereka,  fiqh klasik tidak ramah perempuan, misigonik, dan bias jender. (Lihat misalnya Amina Wadud, Qur’an and Woman, Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspektif (New York: Oxford University Press)).</p>
<p>Karena itulah, kalangan ini kemudian menyerukan dilakukannya reformasi,  perombakan, atau dekonstruksi hukum-hukum Islam dan sekaligus melakukan sekularisasi. Jika tidak, tulis Abdullah Ahmed an-Na’em, “the population of Muslim countries would lose the most significant benefits of secularization.” (penduduk Negara-negara Islam akan kehilangan manfaat yang cukup signifikan dari sekularisasi). (Lihat, Abdullah Ahmad an-Na’im, Toward an Islamic Reformation (Syracuse, New York: Syracuse University Press, 1990).</p>
<p>Gagasan merombak Islam, dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai Barat modern inilah yang kemudian dikenal sebagai bentuk “Liberalisasi Islam”.  Syariat Islam menjadi salah satu sasaran utama proyek liberalisasi, disamping pembongkaran terhadap ajaran aqidah dan konsep-konsep dasar Islam tentang wahyu, kenabian, dan sebagainya.  Gugatan terhadap kesucian al-Quran, misalnya, sudah berulangkali disuarakan oleh kaum liberal. Bahkan, sebelum melubernya Lumpur Lapindo, kota Surabaya dihebohkan tindakan seorang dosen yang berulangkali menginjak-injak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri, hanya untuk membuktikan bahwa al-Quran – kata dia – tidak suci. Setelah ribut di media massa, si dosen dijatuhi hukuman skorsing oleh kampusnya.</p>
<p><strong>Mencari-cari<br />
</strong> Agar seolah-olah pendapatnya tentang perombakan syariat Islam bisa diterima kaum Muslim, ada yang berusaha “mencari-cari” dalil sejarah. Kata mereka, para sahabat Nabi saw pun pernah meninggalkan hukum Islam dan menggantinya dengan aturan yang dibuatnya sendiri.</p>
<p>Umar ibn Khattab r.a. adalah sahabat Nabi yang biasanya disebut-sebut telah berani merombak hokum Islam, dengan cara mendahulukan akalnya, ketimbang nash al-Quran. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai “Bapak Islam Liberal”.</p>
<p>Padahal, Umar bin Khattab jauh dari tuduhan liberal yang mereka alamatkan kepadanya. Tidak satu pun ijtihadnya yang dapat dikategorikan membelakangi teks-teks al-Qur’an. Umar tidak menerapkan hukum pencurian terhadap seorang pencuri pada tahun paceklik sesuai dengan surah al-Maidah ayat 38, bukan demi kemaslahatan semata. Lebih dari itu, Umar r.a. berbuat demikian, demi menjaga kesucian Islam dari dituduh bersifat zalim.</p>
<p>Bagaimana mungkin Umar r.a. melaksanakan hukuman tersebut sedangkan syarat-syarat yang menuntutnya untuk menerapkan hukuman tersebut tidak mencukupi?</p>
<p>Misalnya dari segi ukuran barang yang dicuri. Apakah ukuran barang yang dicuri oleh sang pencuri ketika itu sudah mencapai ukuran yang membolehkannya untuk dihukum dengan hukuman sedemikian? Kasus pencurian yang disebutkan terjadi di zaman Umar r.a. tersebut terjadi pada tahun paceklik. Sementara orang tersebut mencuri hanya untuk memenuhi kebutuhan perutnya yang ketika itu kelaparan. Dari keterangan ini jelas sekali bahwa syarat yang diperlukan untuk diterapkannya hukuman al-Quran tentang pencurian tidak terpenuhi. Jadi bukan karena Umar bin Khathab berpaling dari teks al-Quran, tetapi justru Umar ingin menerapkan teks al-Qur’an itu dengan seadilnya.</p>
<p>Masalah ini sudah banyak dikaji oleh para ulama dan cendekiawan. Sayangnya, masih saja berbagai kalangan mencari-cari dalil untuk merombak syariat Islam. Analog dengan hal semacam itu, misalnya, adalah kewajiban menjalankan shalat lima waktu. . Shalat jelas wajib hukumnya. Tapi shalat tidak wajib dilaksanakan sebelum masuk waktunya, karena ia adalah salah satu syarat wajibnya salat. Jika ada orang yang melaksanakan shalat sebelum tiba waktunya, maka orang tersebut dianggap telah melanggar nash al-Quran dan shalatnya pun tidak sah. Demikian jugalah halnya hukuman potong tangan bagi pencuri. Hukuman ini tidak bisa dilaksanakan sebelum seluruh syaratnya terpenuhi. Jadi Umar ibn Khattab sama sekali tidak melanggar ketentuan nash al-Qur’an.</p>
<p>Demikian juga halnya dengan ijtihad Umar r.a. menolak untuk menyerahkan zakah kepada salah satu keluarga yang selalu mendapat bagian pada masa Rasulullah. Keluarga ini ketika itu masuk dalam kategori muallafah qulubuhum. Penolakan Umar untuk menyerahkan zakat kepada kelompok ini bukan karena beliau berpaling dari nash al-Qur’an yang sharih. Seharusnya yang patut ditanyakan adalah apakah orang yang datang kepada Umar yang mengklaim pernah menerima zakat dari Rasulullah itu mempunyai status yang sama ketika mereka datang kepada Umar bin Khathab?  Dengan kata lain, apakah orang tersebut masih bisa dikategorikan sebagai kelompok muallaf qulubuhum pada masa pemerintahan Umar r.a. Dalam pandangan Umar, orang tersebut sudah keluar dari kategori ini. Makanya, dia tidak memberikan zakat kepada kelompok itu. (Untuk pembahasan lanjut tentang ijtihad-ijtihad ‘Umar ini bisa dibaca, ‘Abid bin Muhammad al-Sufyani, Al-Thabat wa al-Syumul fi al-Syari’ah al-Islamiyyah, 461ff; Yusuf al-Qaradawi, al-Siyasah al-Syar’iyyah, 176ff).</p>
<p>Gambaran agak terperinci semacam ini diperlukan, agar seseorang tidak mudah percaya, bahwa sahabat Nabi terkemuka telah mendahulukan pendapat akalnya sendiri, dengan mengesampingkan nash-nash al-Quran. Jika mau merombak hukum-hukum Islam, sepatutnya tidak mencari-cari dalil yang keliru, yang akhirnya justru menuduh sahabat Nabi telah melakukan sesuatu yang sangat tidak terpuji.  Padahal, ijtihad Umar telah disetujui oleh para sahabat Rasulullah yang bersikap sangat kritis terhadap berbagai penyimpangan ajaran Islam.</p>
<p>Banyak kalangan beralasan bahwa kemaslahatan akal harus didahulukan ketimbang kemaslahatan nash al-Quran. Jika memang ada maslahat, maka di situ ada hukum Islam. Logika semacam ini sebenarnya sangat lemah, sebab ketika bicara “maslahat” manusia juga sangat berbeda pendapatnya. Daging babi yang telah disterilkan bisa membawa maslahat. Ada yang berdalih, khamr boleh di saat udara dingin karena ada maslahat. Bahkan, sejumlah pendukung gerakan legalisasi perkawinan homoseks dan lesbian juga beralasan akan adanya maslahat bagi pelaku perkawinan sesama jenis itu. Salah satunya, kata mereka, untuk mengurangi jumlah penduduk bumi.</p>
<p><strong>Pembaruan<br />
</strong> Pembaruan atau apa yang sering disebut dengan tajdid (renewal) bukanlah hal baru dalam Islam; ia bahkan sudah menjadi built-in-system dalam pemikiran Islam. Rasullullah saw sendiri sudah mewanti-wanti hal itu. Sabda beliau: “Sesungguhnya Allah akan mengutus pada tiap pangkal abad seorang mujaddid yang akan memperbaharui agama-Nya”.  Meski demikian, tajdid hendaklah dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian agar tidak mengabaikan prinsip-prinsip dasar yang mejadi landasan Islam. Mereka harus jeli dan serius membedakan antara yang ushuli (principle/foundation) dan thawabit (unchangeable) dengan yang furu’ (cabang) dan mutaghayyirat (mutable). Karena kegagalan mengindentifikasi perbedaan ini dapat berakibat fatal bagi Islam dan ummat Islam itu sendiri. Disebabkan kegagalan itu bisa jadi apa yang seharusnya sebagai hal yang ushuliy dirubah menjadi furu’iy dan sebaliknya.</p>
<p>Realitas sosial patut diperhatikan. Dan para ulama Islam sejak dulu sadar betul tentang pentingnya unsur reallitas ini sampai-sampai para ulama    menetapkan ‘urf atau adat kebiasaan masyarakat setempat sebagai sandaran hukum, asalkan tidak kontradiktif dengan teks-teks al-Qur’an yang masuk dalam kategori qath’iy al-thubut wa al-dilalah. Ibn ‘Abidin pernah menegaskan: “‘Urf yang bertentangan dengan nass tidak bisa menjadi pertimbangan.” Dengan nada yang sama, Ibn Nujaym juga mengatakan: “‘Urf tidak bisa menjadi bahan pertimbangan pada persoalan yang ada ketetapan nassnya (al-mansus ‘alayh)”. (Dikutip dari ‘Umar Sulayman al-Ashqar, Nazariyyat fi Usul al-Fiqh (Beirut: Dar al-Nafa’is, 199),</p>
<p>Oleh sebab itu, hukum haramnya ghibah dan dusta, wajibnya salat, zakat, puasa, haramnya riba, hukum nikah dan talaq, hukum hudud dan qishas, rajam terhadap pezina, dan lain-lain yang oleh para ulama dikategorikan qat‘iy al-tsubut wa al-dalalah  tidak bisa berubah, meskipun waktu dan tempat berubah. Tidak sepantasnya seorang Muslim menjadikan Islam tunduk berlutut mengikuti selera zaman. Sebab, selera zaman begitu beragam dan sangat nisbi. Sebab, pada prinsipnya Islam diturunkan untuk kemaslahatan manusia. Hak untuk menentukan halal dan haram, wajib dan haram, berada di tangan Allah SWT. Tidak sepatutnya manusia berani merampas “hak Allah” tersebut, melakukan makar kepada Allah, atau  menempatkan dirinya sebagai tandingan Allah SWT.</p>
<p>Kaum Muslim yakin benar dengan kebenaran firman Allah SWT: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’:65). <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=174&amp;Itemid=61" target="_blank"><strong>[insists]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/liberalisasi-syariat-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjernihkan Ide &#8216;Kesatuan Agama&#8217;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjernihkan-ide-kesatuan-agama</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjernihkan-ide-kesatuan-agama#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 17:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kesatuan agama]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sinkritisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3201</guid>
		<description><![CDATA[Wacana pluralisme agama, yang secara sederhana menolak klaim kebenaran satu agama tertentu, biasanya dihubungkan dengan wacana kesatuan transendental agama-agama (KTAA/transcendent unity of religions) rumusan Fritchof Schuon. Wacana ini membayangkan adanya titik temu antar-agama pada level esoteris. Gagasan itu mulanya distematisasikan oleh Schuon kemudian diamini oleh para sarjana lintas agama, dan kini telah memberi nuansa baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">Wacana pluralisme agama, yang secara sederhana menolak klaim kebenaran satu agama tertentu, biasanya dihubungkan dengan wacana kesatuan transendental agama-agama (KTAA/transcendent unity of religions) rumusan Fritchof Schuon. Wacana ini membayangkan adanya titik temu antar-agama pada level esoteris. Gagasan itu mulanya distematisasikan oleh Schuon kemudian diamini oleh para sarjana lintas agama, dan kini telah memberi nuansa baru dalam dialog antar agama.</p>
<p align="left">Dalam paradigma ‘baru’ ini, masing-masing agama tidak dibolehkan mengklaim memiliki kebenaran secara mutlak karena masing-masing mempunyai metode, jalan, shariah, tarikat, bentuk untuk mencapai yang Absolut. Semua agama sama dalam esensinya dan berbeda hanya di dalam bentuknya. Esensinya sama karena semuanya didasarkan kepada sumber yang sama, Yang Absolut, dan bentuknya berbeda karena manifestasi ketika menanggapi yang Absolut.<span id="more-3201"></span></p>
<p align="left">Gagasan titik-temu antar agama merujuk kepada internal, batin, esoteris, yang berada di dalam domain transcendent, dan bukan di dalam bentuk, eksoteris (zahir). Sebagai hasilnya, semua agama memiliki kesahihan dan karenanya setiap agama memiliki metode sah untuk mencapai yang Absolut.<a title="_ftnref1" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftn1">[1]</a></p>
<p align="left">Jadi, menurut gagasan ini, setiap agama wahyu adalah the religion dan a religion. Kedua-duanya tidak boleh dipisah secara total. Kebenaran (Truth) itu terletak di luar bentuk-bentuk, sekalipun wahyu berasal dari Kebenaran yang termanifestasikan di dalam diversifikasi bentuk, yang terbatas dan berbeda.</p>
<p align="left">Pemaparan ringkas di atas menunjukkan kesatuan transcendental (transcendent unity) adalah istilah kunci dalam wacana titik-temu antar agama. Al-Attas, menolak secara kritis gagasan itu. Menurut al-Attas, makna sebenarnya dari ‘kesatuan’ itu sendiri tidaklah jelas. Apakah ‘kesatuan’ itu berarti ‘persamaan’? Jika begitu, maka jelas keliru, sebab konsep Tuhan dalam Islam jelas berbeda dengan agama-agama lain.<a title="_ftnref2" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftn2">[2]</a> Al-Quran menyebutkan: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam” (5:72). Selain itu, al-Quran juga menyebutkan: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” (5: 73). Selainitu juga, al-Quran ada menyebutkan: Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu putera Allah dan orang Nasrani berkata al-Masih itu putera Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Di’laknati Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?</p>
<p align="left">Jika yang di maksud dengan ‘kesatuan’ itu adalah adanya ‘ketidaksamaan’ dan ‘diversifikasi’ dalam level transcendent dan makna ‘kesatuan’ itu dimaksudkan sebagai keterkaitan antara bagian-bagian yang membentuk satu totalitas yang terpadu, maka posisi dan fungsi agama di situ adalah sebagai bagian (komponen) yang saling berkaitan dalam membentuk satu unity. Jika itu yang dimaksud dengan unity, maka dalam level eksoteris (zahir), dimana manusia memiliki keterbatasan &#8211; maka agama apa pun menjadi tidak sempurna, karena agama satu tidak dapat eksis dan menjalankan fungsinya tanpa agama lain.</p>
<p align="left">Ini jelas pendapat yang salah, karena risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw mampu eksis dan menjalankan fungsinya tanpa agama lain. Justru kehadiran Islam adalah untuk meluruskan dan menyempurnakan agama-agama para nabi sebelumnya yang telah berubah. Islam adalah sempurna (al-Maidah: 3). Rasullullah saw adalah nabi yang diutus Allah untuk seluruh manusia (al-Araf: 158). Jadi, Islam adalah agama yang universal, karenanya kebenaran yang ada di dalam al-Quran tidak terbatas untuk orang-orang Muslim saja.</p>
<p align="left">Jika yang dimaksud dengan ‘transendent’ itu adalah kondisi ontologis absolut, yang selalu tetap ada – maka pada tingkatan ini pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain.</p>
<p align="left">Dalam kondisi ontologis yang absolut seperti itu, agama-agama lain memahami Tuhan sebagai rabb bukan ilah. Iblis juga memahami Tuhan sebagai rabb, bukan sebagai ilah. Jadi, mengetahui Tuhan sebagai rabb tidak berarti mengetahui-Nya sebagai ilah. Banyak orang yang hanya memahami Tuhan sebagai rabb dalam level transcendent, sebagaimana kaum musyrik Arab dahulu. Akan tetapi memahami-Nya sebagai rabb akan salah, jika tidak diikuti dengan memahami-Nya sebagai ilah, yakni tidak menyekutukan-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui oleh Nya seperti yang ditunjukkan oleh para rasul yg telah di utus-Nya. Jika hanya mengakui-Nya namun mengingkari cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui-Nya, maka seseorang itu akan disebut kafir karena ia tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya. Iblis yang mempercayai Tuhan yang satu, mengakui-Nya sebagai pencipta alam semesta, masih juga di sebut kafir disebabkan pengikaran kepada perintah-Nya. Jadi, bentuk cara, jalan, sama pentingnya dengan mengakui-Nya.</p>
<p align="left">Jika yang dimaksud dengan transendent itu adalah merujuk kepada kondisi psikologis pada level pengalaman (experience) dan kesadaran yang menurut pengikut konsep KTAA bisa ‘melampaui’ tingkatan pengalaman keagamaan masyarakat umum, maka makna ‘kesatuan’ seperti itu tidak dapat disebut sebagai ‘agama’, tetapi hanya merupakan pengalaman keagamaan (religious experience). Maka, untuk apa agama diturunkan kepada masyarakat dan seluruh manusia, jika dikatakan, mereka tidak pernah bisa sampai dan bersatu pada level transcendent itu? Jika memang level esoteris hanya bisa di raih oleh elit tertentu, maka gagasan KTAA seharusnya menjadi gagasan kesatuan transcendental pengalaman keagamaan. Namun, ini jelas salah, karena fungsi agama Islam bukan saja untuk ummat Islam, bahkan untuk seluruh umat manusia.</p>
<p align="left">Jika kemudian yang di maksud dengan penganut KTAA dengan istilah ‘kesatuan’ itu adalah bukan bagian-bagian yang membentuk totalitas yang padu, tetapi merupakan ‘totalitas’ itu sendiri, maka ‘kesatuan’ itu bukan bermakna ‘kesamaan agama’.</p>
<p align="left">Tapi, mereka sudah bicara tentang konsep Tuhan itu pada level transcendent dimana masing–masing agama dianggap sah di dalam bentuknya yang terbatas dan menyampaikan kebenaran yg sama secara terbatas pula. Pendapat ini pun tidak benar, masing-masing agama memiliki konsep Tuhan yang ekslusif atau berbeda satu sama lain.</p>
<p align="left">Selain hal di atas, gagasan KTAA dikembangkan lebih jauh oleh sebagian kalangan dengan berargumentasi bahwa Islam adalah ketundukan atau penyerahan diri (submission).</p>
<p align="left">Surat Ali Imran 78 diterjemahkan sbb: “sesungguhnya agama di sisi Allah adalah islam” (sikap berserah diri kepada Allah). Surat Ali Imran 85 juga diterjemahkan sbb: “Barangsiapa mencari selain islam (sikap berserah diri kepada Allah) itu sebagai agama, maka sama sekali tidak akan diterima dari dia, dan di akhirat dia akan tergolong mereka yang merugi.”</p>
<p align="left">Jadi, Islam hanyalah salah satu bentuk dari berbagai bentuk ketundukan atau penyerahan diri (kepada Tuhan) yang lain. Implikasinya, agama – agama lain sebelum Rasulullah saw. juga islam karena islam adalah misi dari risalah semua nabi. Schuon, Nasr dan yang lain-lain kemudian berpendapat bahwa Islam bukan saja merujuk secara spesifik kepada wahyu al-Quran, tetapi secara umum merujuk kepada agama lain seperti Yahudi, Kristen, Hindu, Zoroastria dan Budha. Jadi, sekalipun Islam adalah agama yang benar, tetapi agama-agama lain juga benar.</p>
<p align="left">Dalam pandangan mereka, Allah telah mengutus para Rasul kepada berbagai kaum untuk menyebarkan sikap berserah diri kepada Tuhan. Ini dapat dijustifikasi dari berbagai ayat al-Quran: Surat al-Maidah (5:48) Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (shir’ah) dan jalan yang terang (minhaj). Surat Yunus (10:47); Tiap-tiap umat mempunyai Rasul. Lihat juga ayat-ayat lain seperti; al-Nahl (16: 36), al-Isra (17: 15), al-Qasas: (28: 59), Ibrahim (14: 4).</p>
<p align="left">Penafsiran fragmentatif kalangan KTAA bertujuan untuk menjustifikasi bahwa Islam bukan saja agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. saja, tetapi juga agama-agama yang sudah ada sebelumnya.</p>
<p align="left">Pendapat yang menerjemahkan Islam sebagai sikap berserah diri kepada Allah saja adalah tidak tepat karena Islam adalah nama agama. Islam membetulkan sikap berserah diri kepada Allah yang telah diselewengkan. Ia menolak pendapat bahwa Uzair dan Isa sebagai anak-anak Tuhan. Ia membetulkan bagaimana bersikap berserah diri kepada Allah. Ia juga membawa bentuk baru, yang tanpanya, keislaman seseorang akan di tolak. Justru, melalui bentuk tersebut, sikap berserah diri seseorang itu dapat di uji. Jadi, Islam bukan ‘religion of the heart’ saja. Ia menyatukan (tawhid) antara iman dan amal, hati dan perbuatan, esoteris dan eksoteris. Eksoteris sama pentingnya dengan esoteris. Ia adalah nama agama yang baru yang dibawa oleh Rasul terakhir. Penyimpangan – penyimpangan dari kebenaran ajaran terdahulu disebutkan dalam surat al-Baqarah 2: 42, 75-6, 146-47, 150, 159-60, Ali Imran 3: 78 dan al-A’raf 7: 157. Jadi, Islam datang untuk meluruskan penyimpangan yang telah terjadi dengan membawa bentuk baru yang sempurna.</p>
<p align="left">Sekalipun nabi Musa dan Isa alaihima al-salam mengajarkan sikap berserah diri kepada Allah, ini tidak berarti agama Yahudi dan Kristen yang sudah terinstitusikan adalah agama yang berserah diri kepada Allah. Jadi, tidak tepat jika memaknai ‘islam,’ dengan sikap berserah diri agama Yahudi dan Kristen atau agama –agama lain. Nabi Ibrahim as. di sebut al-Quran sebagai seorang yang berserah diri (muslim), tetapi dengan sikapnya yang berserah diri kepada Alllah dia tidak di sebut sebagai Yahudi atau Kristen. Surat Ali Imran 67 menyebutkan: Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri  (muslim) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.</p>
<p align="left">Selain itu, kata muslim yang mempunyai akar yang sam dengan islam yaitu s-l-m, tidak selalunya merujuk kepada penyerahan diri kepada Allah. Kata tersebut juga bisa digunakan untuk merujuk kepada penyerahan diri kepada manusia. Surat al-Naml ayat 31 menunjukkan: “Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. Begitu juga ayat 38 dalam surat yang sama menyebutkan: Dia (Sulaiman) berkata: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”</p>
<p align="left">Jadi, islam tidak tepat untuk diterjemahkan sebagai sikap berserah diri, karena kata tersebut bisa digunakan di dalam al-Quran untuk juga berserah diri kepada manusia.</p>
<p align="left">Jadi, sekalipun Islam berakar dari kata s-l-m, namun kata Islam sudah bukan lagi sekedar bersikap serah diri. Ia sudah menjadi nama tertentu. Ia sudah menjadi sikap pasrah diri yang benar, dengan mengikuti shariah yang ditetapkan Rasulullah saw. Selain itu, sebelum risalah Muhammad saw, agama –agama lain tidak di sebut muslim, tapi Yahudi dan Kristen. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Kristen tapi seorang Muslim yang lurus (hanifan musliman).</p>
<p align="left">Yahudi dan Kristen di sebut ahli kitab atau juga kafir karena menentang kebenaran yang di bawa Rasulullah saw. Menyebutkan mereka sebagai ahli kitab atau kafir menunjukkan ekslusifitas Islam. Jadi, jika inklusifitas Islam terdapat pada pengakuan kepada para rasul yang di utus sebelum Rasulullah saw, maka eklusifitas Islam terdapat pada pembetulan kepada risalah kenabian yang diselewengkan sekaligus disempurnakan dengan shariah yang harus diikuti, seperti mengakui syahadah, shalat, zakat, puasa dan mengakui keesaan Allah, para malaikat, rasul, kitab, hari akhirat dan ketentuan Tuhan. Jadi, Islam adalah ekslusif dan inklusif. Rasulullah saw. mengakui wujudnya misi para rasul sebelumnya, dan seandainya mereka hidup pada zaman Rasullullah saw., kata ibn Arabi, mereka juga akan mengikutinya.  Jadi, orang-orang Yahudi, Nasrani atau siapa saja perlu mengakui kebenaran yang dibawa Rasulullah saw. karena ini adalah bagian daripada sikap berserah diri kepada Allah. Sebaliknya, sikap yang menentang (kafir) terhadap ajaran Rasullullah saw. menunjukkan sikap tidak berserah diri kepada Allah. Orang Yahudi dan Kristen perlu mempercayai eksistensi Rasulullah saw karena nama Rasulullah saw sudahpun disebutkan dalam risalah kenabian terdahulu.</p>
<p align="left">Al-Quran menyebutkan: Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah: 62).</p>
<p align="left">Pendapat ini salah karena Islam adalah nama yang diberikan Allah swt. Ia bukan saja bentuk tetapi essensi itu sendiri. Mereka juga membagi konsep syahadah kepada dua level realitas: yaitu Absolut dan relatif. Shahadah pertama adalah absolut dan yang ke kedua adalah relatif. Muhammad saw. adalah Rasul (perantara, manifestasi, simbol) relatif terhadap Absolut. (Fritchof Schuon, Understanding Islam (Great Britain: George Allen &amp; Unwin 1963). Pembagian kepada dua level realitas ini di klaim dapat ditemukan dalam konsep wahdat al-wujud yang dipelopori oleh Ibn Arabi dan kemudian diformulasikan oleh pengikut-pengikutnya.</p>
<p align="left">Apakah betul Ibn Arabi meyakini gagasan KTAA sebagaimana yang di klaim oleh para pembela KTAA? William Chittick, seorang tokoh internasional tentang Ibn Arabi menegaskan bahwa Ibn Arabi membela gagasan KTAA. Chittick menyatakan bahwa dalam pandangan Ibn Arabi, kedatangan Islam tidak menghapuskan agama-agama wahyu sebelumnya. Agama-agama lain tetap sah ketika Islam muncul. Chittick kemudian menulis pendapat Ibn Arabi mengenai hal ini sbb:</p>
<p align="left">Semua agama wahyu (shara’i) adalah cahaya. Di antara agama-agama ini, agama wahyu Muhammad seperti cahaya matahari di antara cahaya-cahaya bintang-bintang. Ketika matahari muncul, cahaya-cahaya bintang-bintang tersembunyi, dan cahaya-cahaya mereka terserap di dalam cahaya matahari. Tersembunyinya mereka seperti terjadinya abrogasi agama-agama wahyu yang lain melalui agama wahyu Muhammad. Bagaimanapun juga, sebenarnya mereka ada, sebagaimana adanya cahaya bintang-bintang yang teraktualisasikan. Ini menerangkan mengapa kita diharuskan di dalam inklusifitas agama untuk beriman kepada kebenaran dari semua rasul dan semua agama wahyu. Abrogasi tidak membuat salah (batil)-itu adalah pendapat orang yang tidak tahu.<a title="_ftnref3" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftn3">[3]</a></p>
<p align="left">Terjemahan Chittick tidak tepat karena menerjemahkan halaman yang di kutip dari Futuhat secara fragmentatif. Terjemahan yang lebih komprehensif dari Futuhat sebagai berikut:</p>
<p align="left">Semua hukum agama (shara’i) adalah cahaya, dan di antara cahaya-cahaya ini, hukum Muhammad saw. seperti cahaya matahari di antara cahaya bintang-bintang; jika matahari tampak, cahaya-cahaya bintang tersembunyi dan cahaya-cahaya mereka terserap ke dalam cahaya matahari: tersembunyinya cahaya-cahaya mereka menyerupai hukum-hukum agama, yang telah terhapus (nusikha) oleh hukum-nya saw. sekalipun  mereka sebenarnya ada, sebagaimana adanya cahaya-cahaya bintang. Inilah sebabnya mengapa kita diharuskan oleh hukum universal kita untuk mengimani semua rasul dan mempercayai bahwa semua hukum mereka adalah benar, dan tidak menjadi salah disebabkan terhapus, itu adalah imajinasi orang yang tidak tahu. Jadi, semua jalan kembali untuk melihat jalan Rasulullah saw; jika para rasul hidup pada zamannya Muhammad saw, mereka akan mengikutinya sebagaimana hukum-hukum mereka telah mengikuti hukumnya  karena dia telah diberikan Logos yang Komprehensif (Jawami’ al-Kalim), dan diberikan (ayat al-Quran): “Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang tak terkalahkan” (Al-Fath 48:3), ‘yang tak terkalahkan’(al-Aziz juga berarti jarang, yang sangat dikasihi, yang berharga, yang tidak dapat di raih) adalah dia yang di cari tetapi tidak dapat di raih. Ketika risalah para rasul mencari untuk mencapainya, dia membuktikan mustahil bagi mereka untuk meraih karena dia [karena disukai di atas mereka karena] di utus untuk seluruh dunia (bi bi’thatihi al-‘ammah) dan di beri  Logos yang Komprehensif (Jawami’ al-Kalim), dan posisi tertinggi memiliki tempat yang terpuji (al-maqam al-mahmud) di akhirat, dan Allah telah menjadikan umatnya ummat terbaik yang pernah di bawa untuk manusia (Ali-Imran 3: 110). Ummat setiap rasul sepadan dengan maqam rasul mereka, jadi sadari ini. (Ibn Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah. Beirut: Dar al-Ihya al-Turath al-Arabiyy).</p>
<p align="left">Terjemahan yang lebih komprehensif di atas menunjukkan bahwa Chittick tidak memasukkan pernyataan ibn Arabi secara utuh, padahal Ibn Arabi sendiri mengatakan; “hukum-hukum mereka telah mengikuti hukumnya.” Ini menunjukkan bukan saja hukum-hukum para rasul sebelum Muhammad saw. terabrogasi, tetapi juga secara implisit bisa dikatakan bahwa hukum-hukum tersebut terkandung di dalam wahyu baru yang di bawa oleh Muhammad saw.</p>
<p align="left">Tulisan ringkas di atas menunjukkan bahwa titik temu dalam level esoteris yang dikembangkan oleh Rene Guenon, Schuon dkk tidak tepat. Mungkin setelah mempelajari universalitas ajaran Islam, mereka kemudian menganggap bahwa bukan hanya Islam tapi semua agama mempunyai ajaran yang ‘bersatu dalam level transendent’. Pemikiran ini tidak dapat di terima dalam pandangan Islam, namun mungkin boleh di terima oleh agama-agama lain. Islam adalah penyempurna agama-agama yang sudah ada sebelumnya.</p>
<p align="left">Justifikasi S. H. Nasr yang membela Schuon karena berbagai ayat al-Quran menunjukkan bahwa tiap –tiap umat mempunyai rasul, aturan dan jalan sebagaimana di dalam al-Maidah (5: 48), Yunus (10: 47), Al-Nahl (16: 36), al-Isra: (17:15), al-Qasas: (28:59), dan Ibrahim: (14:4) tidak tepat karena ayat-ayat di atas tidak menunjukkan bahwa setelah kedatangan Rasulullah saw. ajaran agama-agama sebelumnya masih berlaku lagi karena banyak ayat al-Quran yang lain menyebutkan bahwa terdapat distorsi (tahrif) dalam ajaran mereka, seperti: al-Baqarah 2: 42, 75-6, 146-47, 150, 159-60, 174, ali Imran 3: 78, dan al-‘Araf 7: 157.</p>
<p>Selain itu, terdapat perbedaan antara risalah para rasul sebelum Muhammad saw. dengan Rasulullah s.a.w karena beliau adalah penutup dan penyempurna dari risalah sebelumnya dan karenanya Islam itu diturunkan untuk seluruh manusia.<a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59" target="_blank"><strong>[insists] </strong></a></p>
<hr />
<p align="left"><a title="_ftn1" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftnref1">[1]</a> Fritchof Schuon, <em>The Transcendent Unity of Religions</em>, Wheaton: The Philosophical Publishing House, 1984, pertama kali diterbitkan tahun 1957).</p>
<p align="left"><a title="_ftn2" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftnref2">[2]</a> <em>Prolegomena to the Metaphysics of Islam</em> (1995)</p>
<p><a title="_ftn3" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftnref3">[3]</a> (William Chittick, <em>Imaginal Worlds: Ibn Arabi and the Problem of Religious Diversity.</em> New York: The State University of New York Press, 1994).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjernihkan-ide-kesatuan-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengetahui</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengetahui</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengetahui#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 17:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[al-ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[hamid fahmi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3199</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika al-Ghazzali melakukan perjalanan panjang. Dalam perjalanannya itu ia membawa serta seluruh buku bacaannya. Konon di tengah jalan tiba-tiba datang segerombolan orang merampok seluruh bawaan al-Ghazzali, termasuk buku-bukunya. Padahal ia belum membaca seluruh isi buku itu. Yang telah ia baca pun belum seluruhnya dihafal. Kejadian itu benar-benar telah menyadarkan al-Ghazzali, bahwa ilmu itu ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika al-Ghazzali melakukan perjalanan panjang. Dalam perjalanannya itu ia membawa serta seluruh buku bacaannya. Konon di tengah jalan tiba-tiba datang segerombolan orang merampok seluruh bawaan al-Ghazzali, termasuk buku-bukunya. Padahal ia belum membaca seluruh isi buku itu. Yang telah ia baca pun belum seluruhnya dihafal.</p>
<p>Kejadian itu benar-benar telah menyadarkan al-Ghazzali, bahwa ilmu itu ada di dalam dada dan bukan dalam tulisan (al-‘ilm fi-s-sudur la fi-s-sutur). Sejak kejadian itu al-Ghazzali bertekad untuk selalu mengingat apa yang telah ia baca. Yang menarik tentu bukan peristiwa perampokannya, tapi kesimpulan al-Ghazzali tentang letak ilmu. Benarkah mengetahui dan pengetahuan itu ada di dalam dada? Apa bedanya ilmu dari ma’rifah. <span id="more-3199"></span></p>
<p>Bicara ilmu adalah bicara obyeknya (realitas atau wujud) dan luas obyek ilmu adalah seluas realitas atau wujud. Maka dari itu realitas bagi Ghazzali dan juga para ulama adalah empiris dan non-empiris. Realitas empiris pun dibagi sekurangnya menjadi tiga : realitas individual, realitas pembicaraan, dan realitas pikiran. Yang pertama adalah wujud yang riel dan empiris, yang kedua adalah wujud dalam pembicaraan yang bersifat verbal dan indikatif, dan yang ketiga adalah wujud dalam pikiran yang bersifat kognitif dan formal. Diatas dari segala realitas tersebut diatas adalah Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak.</p>
<p>Lalu bagaimana proses mengetahuinya? Bagi al-Ghazzali untuk realitas empiris dimulai dari kajian terhadap hal-hal yang khusus yang dapat dipahami dan dikomunikasikan dengan bahasa. Ketika wujud individual difahami oleh akal kita, bentuk (surah) dari realitas individual tersebut tercetak dalam mata, lalu pada imaginasi kita dan kemudian menjadi wujud dalam pikiran kita. Ketika bentuk realitas atau wujud individual itu hadir dalam pikiran, ia menjadi ilmu, sebab obyek yang diketahui berhubungan dengan representasi dalam pikiran tersebut, persis seperti bayangan kita yang tercermin dalam kaca.</p>
<p>Jadi proses mengetahui mengharuskan adanya tiga hal yaitu: obyek ilmu pengetahuan, penerima dan proses kognisinya yang melibatkan penginderaan. Ketika realitas atau wujud empiris ada dalam pikiran ia tetap bernama realitas. Demikian pula keimanan yang tidak empiris di dalam dada itu dapat disebut realitas juga. Jika realitas empiris – melalui proses – dapat tercermin dalam pikiran, maka Realitas Mutlak atau Wujud Mutlak, yaitu Tuhan dapat pula tercermin dalam diri manusia.</p>
<p>Dengan jalan empiris saja manusia telah dapat mengetahui dirinya sendiri, alam semesta dan Tuhannya. Wujud Tuhan dapat diketahui secara indukif dari ciptaanNya. Ilmu-ilmu empiris itu tentang ciptaan Tuhan itu merupakan aspek-aspek yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan. Pada maqam yang tertinggi orang akan sampai pada pandangan bahwa realitas dan kebenaran itu hanya satu dan tidak plural. Artinya dalam akalnya hanya ada satu realitas atau wujud, yaitu Wujud Mutlak, Aktor (fa’il) dari segala wujud yang plural yang nisbi.</p>
<p>Jikapun tidak dengan jalan empiris Tuhan dapat diketahui dengan mata hati. Sebab dalam diri manusia telah terdapat naluri (fitrah) mengenal tuhan (ma’rifatullah). Naluri itu diciptakan oleh Tuhan sebelum manusia lahir melalui syahadah awal (mithaq). Syahadah inilah bekal manusia memperoleh ma’rifah. Nietzsche menuduh fitrah ini hanya pikiran dan khayalan. Dan khayalan itu, menurutnya, harus dibunuh agar orang dapat berfikir saintifik. God is dead artinya fitrah itu telah mati. Memang pengetahuan tentang ini bagi al-Ghazzali tidak dimiliki orang awam, termasuk Nietzsche. Pengetahuan tentang Tuhan dengan jalan non-empiris dicapai dengan mata hati yang penuh cinta.  Dalam Ihya ia menyatakan:”…metode terbaik untuk memperoleh kebenaran dan sekaligus kecintaan pada Allah adalah dengan metode deduktif dari ma’rifah tentang Allah kepada pengetahuan tentang realitas. Tapi ini adalah metode yang rumit dan tidak difahami orang awam” (Ihya’ hal. 2619, vol. IV).</p>
<p>Jadi ternyata tempat ‘ilm dan ma’rifah adalah sama, yaitu di dalam hati, di dada. Berarti tempat aktifitas zikir, fikir, ‘ilm, iman, amal, cinta dan akhlaq adalah sama. Jika semua aktifitas itu seimbang maka sampailah seseorang itu kederajat yaqin. Bangunan trilogi iman, ilmu amal adalah paradigm keilmuan Islam yang kuat. Karena itu ilmu dalam Islam berdimensi amal dan amal berdimensi ilmu, keduanya bersumber pada iman. Maka al-Ghazzali tegas “ilmu tanpa amal adalah gila dan amal tanpa ilmu adalah sombong”. Jadi, Muslim yang mengatakan “hatinya di Mekkah otaknya di Jerman atau di New York”, berarti imannya tanpa ilmu, ilmunya tanpa iman.  Hatinya berzikir tapi pikirannya &#8211; boleh jadi – sekuler-liberal. Wallahu a’lam. <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=185&amp;Itemid=54" target="_blank"><strong>[insists]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengetahui/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Ghazali di Mata M. Natsir</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/al-ghazali-di-mata-m-natsir</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/al-ghazali-di-mata-m-natsir#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 17:07:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[al-ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[m natsir]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3196</guid>
		<description><![CDATA[Mohammad Natsir (1908-1993) dikenal sebagai pejuang Islam Indonesia yang pada 2008 mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Natsir juga seorang pemikir dan pelopor pendidikan Islam. Tulisan-tulisannya yang dihimpun dalam buku Capita Selecta menunjukkan ketinggian keilmuan M. Natsir. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal setingkat AMS ( Algemene Middelbare School), setingkat SMA sekarang, tetapi Natsir memiliki kacintaan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mohammad Natsir (1908-1993) dikenal sebagai pejuang Islam Indonesia yang pada 2008 mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Natsir juga seorang pemikir dan pelopor pendidikan Islam. Tulisan-tulisannya yang dihimpun dalam buku Capita Selecta menunjukkan ketinggian keilmuan M. Natsir. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal setingkat AMS ( Algemene Middelbare School), setingkat SMA sekarang, tetapi Natsir memiliki kacintaan yang sangat tinggi dalam mencari ilmu.</p>
<p>Tumbuh dalam asuhan pendidikan keagamaan oleh A. Hassan, seorang tokoh modernis, Natsir mampu mengembangkan pemikirannya jauh melampui lingkungan pendidikan formalnya. Pada sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya. Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.<span id="more-3196"></span></p>
<p>Dalam artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwanilmuwan Barat. Kitab Maqashidul Falasifahnya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya. Natsir membantah bahwa David Hume lah sarjana pertama yang mengungkap teori kausalitas ( causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, ”jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah.”</p>
<p>Setelah mengupas sedikit teori kausalitas al-Ghazali, Natsir mengingatkan: ”Aneh! Hal ini rupanya tidak hendak diingat orang. Dan kalau kita ketahui bahwa seorang filosof Barat sebagai Immanuel Kant mengakui, bahwa David Hume-lah yang membukakan matanya, dapatlah kita mengira-ngirakan betapa besar kadarnya kekuatan ruhani Ghazali dibandingkan dengan filosof-filosof yang masyhur di Barat itu.”</p>
<p>Kemudian, secara khusus, Natsir memberi komentar terhadap pemikiran al-Ghazali: ”Kalau Imam Ghazali oleh karena ini tidak dinamakan seorang filosof-’aqli, maka itu tidak berarti bahwa akalnya kurang dipakai dibandingkan dengan filosof yang lain-lain. Tak kurang Al-Ghazali mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang tersebut di atas. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang pula menyusun ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan karangankarangan filosof yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman akalnya dan memakai akal itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada manusia. Tapi dalam pada itu ia tidak hendak lupa, bahwa akal ini pun dapat bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak dapat dilampaui. Apabila filosof yang lain masih terus juga menurunkan akal itu ke mana-mana, di bawa oleh akal itu sendiri, walaupun sudah bukan medan pekerjaannya lagi, serta menjadikan akal sebagai hakim yang menghabiskan dalam semua hal —, pada saat yang demikian itu Imam Ghazali tidak enggan berkata dengan khusyu’ ”wallahu a’lam!” – ”Allah yang lebih mengetahui!” dan kembali kepada Kitab (Al-Quran), Yang tak syak lagi menjadi petunjuk bagu mereka yang takwa.”</p>
<p>Melalui artikel yang pendek tersebut, Natsir menguraikan jasa-jasa besar al-Ghazali bagi umat Islam, disamping juga kontroversi terhadap pemikirannya dan apresiasi para ilmuwan Barat terhadapnya. Terhadap kontroversi terhadap pemikiran al-Ghazali, Natsir menulis, bahwa itu: ”&#8230; ialah suatu hal yang galib diterima oleh setiap orang yang berjalan di muka bumi merintis jalan baru, yang mendengarkan suara keyakinan yang teguh yang berbisik di dalam hati, dan tidak hendak turut-turut ke hilir ke udik, seperti pucuk aru dihembus angin.”</p>
<p>Penguasaan Natsir terhadap pemikiranpemikiran para pemikir Muslim klasik bisa dilihat dalam berbagai artikelnya dalam buku Capita Selecta yang mengupas sosok dan pemikiran Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Abu Nasr Al-Farabi, Ikhwan as-Shafa, juga kupasannya tentang aliran Mutazailah dan Ahli Sunnah. Meskipun sangat memahami seluk beluk peradaban Barat, melalui berbagai tulisannya yang mengupas keagungan sejarah peradaban dan pemikir Muslim, Natsir menyampaikan pesan yang jelas kepada kaum Muslim: Jangan merasa rendah diri melihat kehebatan peradaban Barat! <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=187&amp;Itemid=54" target="_blank"><strong>[insists]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/al-ghazali-di-mata-m-natsir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Ghazali, Perang Salib, dan Kebangkitan Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/al-ghazali-perang-salib-dan-kebangkitan-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/al-ghazali-perang-salib-dan-kebangkitan-islam#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 17:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[al-ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[perang salib]]></category>
		<category><![CDATA[yerusalem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3163</guid>
		<description><![CDATA[Dr Adian Husaini Perang Salib dimulai pada 1095. Pada 50 tahun pertama, Pasukan Salib  berhasil mendominasi peperangan. Kekuatan kaum Muslim porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib yang memasuki Jerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Di Masjid al-Aqsha terdapat genangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Dr Adian Husaini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perang Salib dimulai pada 1095. Pada 50 tahun pertama, Pasukan Salib  berhasil mendominasi peperangan. Kekuatan kaum Muslim porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib yang memasuki Jerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Di Masjid al-Aqsha terdapat genangan darah setinggi mata kaki, karena banyaknya kaum Muslimin yang dibantai. Fulcher of Chartress menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjir setinggi mata kaki: “If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.”</p>
<p>Seorang tentara Salib menulis dalam Gesta Francorum, bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum Muslim dan penduduk Jerusalem lainnya, dengan menyatakan, bahwa belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid  dan hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah mereka yang dibantai: “No one has ever seen or heard of such a slaughter of pagans, for they were burned on pyres like pyramid, and no one save God alone knows how many there were.” (David R. Blanks and Michael Frassetto (ed), Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe, (New York, St. Martin’s Press, 1999)).<span id="more-3163"></span></p>
<p>Begitu dahsyatnya pembantaian terhadap kaum Muslim ketika itu. Karena itulah, banyak yang kemudian mempertanyakan  sikap dan posisi al-Ghazali dalam Perang Salib dan juga konsepsinya tentang jihad, dalam makna qital (perang) melawan musuh yang jelas-jelas sudah menduduki negeri Muslim. Sebagai contoh, Robert Irwin, dalam artikelnya berjudul “Muslim responses to the Crusades” (1997), menyebutkan, bahwa meskipun al-Ghazali sempat berkunjung ke berbagai tempat suci Islam, termasuk Masjid al-Aqsha pada tahun 1096, tetapi ia tidak pernah menyebut tentang masalah pasukan Salib dalam berbagai tulisannya.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, sebagai seorang tokoh dalam mazhab Syafii, al-Ghazali memahami kewajiban jihad melawan kaum penjajah. Dalam pandangan ulama mazhab Syafi’i, jihad adalah fardhu kifayah, dengan perkecualian jika penjajah sudah memasuki wilayah kaum Muslim, maka status jihad menjadi fard al- ‘ain. Pakar Fiqih Islam, Wahba? al-Zuhayliy  mencatat: “Jihad adalah fardu kifayah. Maknanya, jihad diwajibkan kepada semua orang yang mampu dalam jihad. Tetapi, jika sebagian sudah menjalankannya, maka kewajiban itu gugur buat yang lain. Tetapi, jika musuh sudah memasuki negeri Muslim, maka jihad menjadi fardu ain, kewajiban untuk setiap individu Muslim.” (Wahbah al-Zuhayliy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, (Damascus: Dar al-Fikr, 1997).</p>
<p>Memang, beberapa cendekiawan ada yang kemudian mengkritik keras sikap al-Ghazali dalam soal Crusade. Dalam disertasi doktornya, Dr. Zaki Mubarak menyalahkan kecenderungan al-Ghazali terhadap sufisme sebagai sebab utama mengapa al-Ghazali tidak memainkan peran dalam jihad melawan pasukan Salib. Ia menulis: “Al-Ghazali telah tenggelam dalam khalwatnya, dan didominasi oleh wirid-wiridnya. Ia tidak memahami kewajibannya untuk menyerukan jihad.” Dalam bukunya, Abu Hamid al-Ghazali wa al-Tashawuf, ‘Abd al-Rahman Dimashqiyyah juga menyalahkan sufisme al-Ghazali.  Dr. Yusuf al-Qaradhawi menyebut bahwa posisi al-Ghazali dalam Perang Salib masih dipertanyakan (puzzling). Tentang posisi al-Ghazali, Qaradhawi menulis, bahwa “hanya Allah yang tahu fakta dan alasan Imam al-Ghazali.”  (Yusuf al-Qaradhawi, Al-Imam al-Ghazali Bayn Madihihi wa Naqidihi (Al-Mansurah: Dar al-Wafa’, 1988).</p>
<p><strong>Posisi al-Ghazali</strong><br />
Adalah menarik, bahwa dalam karya terbesarnya, I?ya’ ‘Ulum al-Din, al-Ghazali justru menekankan pentingnya jihad al-nafs. Walaupun tidak menempatkan satu bab khusus tentang jihad dalam Ihya’, al-Ghazali menekankan pentingnya jihad bagi kaum Muslim. Ia mengutip sejumlah ayat al-Quran yang menyebu tentang kewajiban jihad bagi kaum Muslim, seperti firman Allah SWT: “Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas  orang-orang yang duduk.” (QS al-Nisa:95).</p>
<p>Dalam bab al-Amr bi al-Ma‘ruf wa an-nahyu ‘an al-Munkar al-Ghazali menyebutkan sejumlah hadits atau atsar (perkataan sahabat Nabi) tentang jihad. Dalam bab ini, al-Ghazali juga menekankan, bahwa aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar, adalah yang menentukan hidup-matinya umat Islam. Dalam karya-karyanya yang lain, al-Ghazali telah banyak menjelaskan makna jihad dalam arti perang, seperti dalam al-Wajiz fi Fiqh Madzhab al-Imam as-Shafi‘iy.</p>
<p>Ini dapat disimpulkan bahwa sebagai pakar fiqh,  al-Ghazali sangat memahami kewajiban jihad, dan ia telah banyak menulis tentang  hal ini. Wahbah az-Zuhayliy menyebutkan, menurut ulama ash-Shafi‘iyyah, jihad adalah perang melawan kaum kafir untuk menolong Islam. (huwa qital al-kuffar li nushrah al-Islam. Mengutip hadith Rasulullah saw, “Jahid al-mushrikina bi amwalikum wa anfusikum wa alsinatikum”, al-Zuhayliy menyebutkan definisi jihad: “Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk memerangi kaum kafir dan berjuang melawan mereka dengan jiwa, harta, dan lisan mereka.</p>
<p>Posisi al-Ghazali dalam soal jihad melawan pasukan Salib menjadi jelas jika menelaah Kitab al-Jihad yang ditulis oleh Syekh Ali b. Thahir al-Sulami an-Nahwi (1039-1106), seorang imam bermazhab Shafi‘i dari Damaskus. Ia adalah seorang yang aktif menggalang jihad melawan pasukan Salib melalui pertemuan-pertemuan umum pada 1105 (498 H),  enam tahun setelah penaklukan Jerusalem oleh pasukan Salib. Adalah sangat mungkin al-Sulami berguru kepada al-Ghazali di Masjid Ummayad, sebab Ali al-Sulami adalah imam di Masjid tersebut  dan al-Ghazali juga sempat tinggal di tempat yang sama pada awal-awal periode Perang Salib.</p>
<p>Dalam Kitabnya itu, Ali al-Sulami mencatat, bahwa satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan wilayah-wilayah Muslim, adalah menyeru kaum Muslim kepada jihad.  Ada dua kondisi yang harus disiapkan sebelumnya. Pertama, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual”  kaum Muslim ketika itu.  Invasi pasukan Salib harus dilihat sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan agar kaum Muslim bersatu. Kekalahan Muslim, menurut al-Sulami, adalah sebagai hukuman Allah atas kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan di atas semua itu, adalah kealpaan menjalankan jihad. Tahap kedua, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan Salib menguasai negeri-negeri Islam. Dalam kitabnya, al-Sulami menyebutkan dengan jelas tentang situasi saat itu dan stretagi untuk mengalahkan pasukan Salib.</p>
<p>Konsep al-Sulami dalam melawan pasukan Salib berupa “reformasi moral”  dari al-Ghazali’s memainkan peran penting. Sebab, menurut al-Sulami, melakukan jihad melawan pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan jihad melawan hawa nafsu. Ia juga mengimbau agar pemimpin-pemimpin Muslim memimpin jalan ini. Dengan demikian, perjuangan melawan hawa nafsu, adalah prasyarat mutlak sebelum melakukan perang melawan pasukan Salib.</p>
<p>Dalam naskah Kitab al-Jihad  yang diringkas oleh Niall Christie,  al-Sulami mengutip ucapan Imam al-Syafii dan al-Ghazali tentang jihad. Diantaranya, al-Ghazali menyatakan, bahwa jihad adalah fardu kifayah. Jika satu kelompok yang berjuang melawan musuh sudah mencukupi, maka mereka dapat berjuang keras melawan musuh. Tetapi, jika kelompok itu lemah dan tidak memadai untuk menghadapi musuh dan menghapuskan kejahatannya, maka kewajiban jihad itu dibebankan kepada negeri terdekat, seperti Syria, misalnya. Jika musuh menyerang salah satu kota di Syria, dan penduduk di kota itu tidak mencukupi untuk menghadapinya, maka adalah kewajiban bagi seluruh kota di Syria untuk mengirimkan penduduknya untuk berperang melawan penjajah sampai jumlahnya memadai. (Dikutip dari “A Translation of Extracts from the Kitab al-Jihad of &#8216;Ali ibn Tahir Al-Sulami (d. 1106)” oleh Niall Christie. http://www.arts.cornell.edu/prh3/447/texts/Sulami.html.).</p>
<p><strong>Jihad bil-ilmi</strong><br />
Jadi, al-Ghazali bukan tidak peduli dengan Perang Salib. Tetapi, kondisi moral dan keilmuan umat Islam yang sangat parah menyebabkan, seruan jihad tidak banyak mendapatkan sambutan. Karena itulah, para ulama seperti al-Ghazali berusaha menyembuhkan penyakit umat secara mendasar. Caranya, dengan mengajarkan keilmuan yang benar. Ilmu yang benar akan mengantarkan pemiliknya kepada keyakinan, kecintaan pada ibadah, zuhud,  dan jihad. Ilmu yang rusak akan menghasilkan ilmuwan dan manusia yang rusak, yang  cinta dunia dan pasti enggan berjihad di jalan Allah. Itulah mengapa Kitab Ihya’ Ulumiddin diawali pembahasannya dengan bab tentang ilmu (Kitabul Ilmi).</p>
<p>Langkah al-Ghazali ini perlu direnungkan dengan serius. Ketika umat Islam mengalami krisis dalam berbagai bidang kehidupan, al-Ghazali melakukan upaya penyembuhan secara mendasar. Sebab, sumber dari segala sumber kebaikan dan kerusakan adalah “hati/aqal”. Rasulullah saw bersabda:          “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat mudghah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah al-qalb.” (HR Muslim).</p>
<p>Memperbaiki hati manusia haruslah dengan ilmu dan pendidikan yang benar. Karena itu, menyebarnya paham-paham yang merusak iman harus dihadapi dengan serius. Abu Harits al-Hasbi al-Atsari dalam kata pengantarnya untuk buku Ibnul Qayyim al-Jauziyah yang berjudul Al-Ilmu menjelaskan, bahwa Allah telah menurunkan “Kitab” dan “Besi”  sebagai sarana untuk tegaknya agama Allah. “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergukan besi) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”  (QS al-Hadid: 25).</p>
<p>Di masa hidupnya, al-Ghazali telah melakukan berbagai usaha yang sungguh-sungguh untuk mengajarkan ilmu yang benar. Lebih dari itu, al-Ghazali juga memberikan keteladanan hidup. Meskipun ia berilmu tinggi dan mendapatkan peluang  besar untuk hidup mewah dengan ilmunya, tetapi ia justru memilih tinggal di kampungnya, di Thus. Di sanalah al-Ghazali mendirikan satu pesantren, membina para santrinya dengan ilmu dan keteladanan hidup yang tinggi. Dari upaya para ulama seperti al-Ghazali inilah kemudian lahir satu generasi yang hebat, yaitu generasi Shalahuddin al-Ayyubi. Bukan hanya seorang Shalahuddin, tetapi satu generasi Shalahuddin, yang pada 1187 berhasil memimpin pembebasan Kota Suci Jerusalem dari cengekaraman Pasukan Salib. <a href="http://adianhusaini.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=122:al-ghazali-perang-salib-dan-kebangkitan-islam-&amp;catid=37:republika-online" target="_blank"><strong>[www.adianhusaini.com]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/al-ghazali-perang-salib-dan-kebangkitan-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Di Dunia Maya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dakwah-di-dunia-maya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dakwah-di-dunia-maya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 23:18:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dakwah-di-dunia-maya/</guid>
		<description><![CDATA[Internet nggak melulu berisi sampah dan keisengan. Ada ruang positif untuk masyarakat dunia. Selain ajang persahabatan, juga kesempatan dakwah terbuka lebar. Jaman sekarang adalah jaman informasi. Setelah manusia mengalami revolusi industri, kini kita sedang menjalankan revolusi informasi. Menurut seorang pakar komunikasi, Dissayanake, revolusi komunikasi adalah peledakan teknologi komunikasi dengan meningkatnya pemakaian satelit, mikro-prosesor, komputer, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Internet nggak melulu berisi sampah dan keisengan. Ada ruang positif untuk masyarakat dunia. Selain ajang persahabatan, juga kesempatan dakwah terbuka lebar.</em></strong></p>
<p>Jaman sekarang adalah jaman informasi. Setelah manusia mengalami revolusi industri, kini kita sedang menjalankan revolusi informasi. Menurut seorang pakar komunikasi, Dissayanake, revolusi komunikasi adalah peledakan teknologi komunikasi dengan meningkatnya pemakaian satelit, mikro-prosesor, komputer, dan pelayanan radio bertahap tinggi. Penggunaan barang-barang canggih itu ada di mana-mana.</p>
<p>Berkat kecanggihan teknologi pengiriman informasi jadi gampang nian. Dulu, berkirim kabar terbatas lewat tabuhan beduk, kepulan asap ala orang Indian, kurir surat ala Poni Express, sampai telegraf. Sekarang? Cukup memencet keyboard komputer atau ponsel, kita sudah bisa ber-say hello pada kawan di tempat terjauh sekali pun.<span id="more-586"></span></p>
<p>Salah satu fasilitas yang bikin pencarian informasi jadi gampang adalah internet, dunia maya atau cyberspace. Istilah cyberspace pertamakali dipopulerkan seorang novelis Amrik, William Gibson lewat novel fiksi-ilmiahnya pada tahun 1984, Neuromancer. Gibson bilang kalau cyberspace itu adalah sebuah tempat yang “tak terbayang kompleksnya”.</p>
<p>Dengan internet, komputermu di rumah atau di warnet bisa terhubung ke jutaan komputer lain di pojok dunia secara online. Berkat software browser, kamu juga bisa melacak jutaan informasi di dunia maya itu. Mau informasi yang bernilai pahala sampai yang dosa ada, komplit bak jamu gendong.</p>
<p><strong>Perang informasi<br />
</strong>“Knowledge is power!” kata orang. Berkat pengetahuan orang bisa bikin mesin industri, bisa mengeksplorasi perut bumi, menjelajah angkasa, dan bikin senjata. Sekarang, “Information is power!”. Yup, siapa yang memegang informasi, dia bakal menguasai dunia. Nggak main-main. Bukankah pikiran manusia tergantung informasi? Orang bisa benci pada Taliban, al-Qaeda, Osamah Bin Laden, Negara Islam, karena informasi yang mereka terima. Dunia bisa berdiri di belakang Amerika untuk menghajar Irak karena informasi yang disebarkan Paman Sam.</p>
<p>Medan perang informasi ini adalah media massa; cetak maupun elektronik. Apa yang kamu lihat dan kamu baca, seringkali nggak seperti adanya. Ada ‘kosmetik’ yang dipasang para redaktur media untuk bikin ‘cantik’ sebuah berita, atau justru bikin realita tambah ‘angker’. Sebagai contoh, AS pernah bikin cerita bohong soal pembebasan seorang tentara wanita (GI Jane) yang bernama Lindsay Jhonson dari pasukan Irak. Diceritakan kalau prajurit ini mengalami penyiksaan dan pelecehan seksual, dan untuk membebaskannya pasukan AS berjibaku, baku tembak dengan tentara Irak. Kenyataannya, Lindsay justru dirawat baik-baik oleh dokter-dokter Irak, dan diserahkan oleh mereka kepada pasukan AS. What a lie, Sam!</p>
<p>Internet juga menjadi medan tempur baru. Apalagi dengan jumlah pengunjungnya yang bisa mencapai jutaan orang, internet jadi sarana yang terbilang efektif untuk menebarkan perang opini. Di sini, beragam orang dan kelompok, menyebarkan macam-macam propaganda buat jutaan netter. Pornografi – mulai dari yang normal sampai abnormal &#8211;, gosip artis, sampai tips untuk bunuh diri juga ada. Bahkan sekte-sekte keagamaan seperti Gerbang Surga (Heaven’s Gate) juga buka warung di dunia maya. Belum lagi gosip-gosip yang ketauan juntrungannya sering beredar di sini. Itu sebabnya, dulu, orang menganggap internet adalah pelempar informasi sampah, saking banyaknya berita bohong yang bersliweran.</p>
<p><strong>Ajang Dakwah</strong><br />
But, nggak semua penghuni dunia maya itu buruk, bro! Alhamdulillah kini semakin banyak aje para aktivis dakwah yang memanfaatkan internet sebagai sarana dakwah. Sejumlah situs-situs Islam juga bertebaran dengan tampilan yang ciamik, keren gitu. Aneka informasi bisa kamu buka di beragam situs Islam. Ada situs Islam yang mengkhususkan diri membahas masalah-masalah politik, ada juga situs berita, konsultasi rumah tangga, dsb. Beberapa situs Islam juga tampil dalam bentuk portal.</p>
<p>Ajang dakwah via dunia maya ini tampil dalam beragam bahasa, tergantung latar belakang pengelolanya. Ada yang memakai bahasa Inggris, Arab, bahkan Urdu. Tapi buat kamu yang belum trampil cas-cis-cus berbahasa asing, jangan khawatir karena situs yang menampilkan bahasa Indonesia juga ada beberapa biji.</p>
<p>Dakwah via internet ini nggak cuma ada pada halaman berbentuk situs atau web, ada juga beberapa kelompok diskusi atau yang lazim disebut milis. Misalnya, milis Sobat Muda yang dipegang Mas O. Solihin and the gang bisa jadi ajang cuap-cuap plus dakwah buat para penghuninya. Ada juga yang serius macam ISNET yang dikelola beberapa ustadz asal Indonesia yang lagi kuliah di IISTAC Malaysia. Ini milis bisa jadi ajang untuk membedah kesesatan pemikiran orientalis yang juga sedang marak di tanah air.</p>
<p>Masih kurang? Ajang chatting jangan cuma dipakai hahahihi, pake juga dong untuk berdakwah. Lewat chatting yang interaktif dan spontan, kamu bisa memanfaatkannya untuk mempengaruhi pikiran orang supaya tunduk pada Islam.</p>
<p>Nah, jangan dulu berpikiran negatif tentang internet. Ia cuma alat, sama seperti tivi. Isinya tergantung pada kita sendiri. Di tengah pertempuran opini dan propaganda antara Islam dan kekufuran, kita bisa memanfaatkannya untuk ajang dakwah, membela dan meninggikan Islam. Buat kamu yang punya kemampuan mendesain web, kenapa nggak coba untuk bikin situs Islam yang oke. Itu amat bermanfaat sekaligus ajang berkreativitas. Syukur-syukur bisa jadi sarana cari duit (hehehe..).</p>
<p>Buat yang sekadar bisa chatting, ya manfaatin juga untuk dakwah. Seenggaknya kamu bisa bikin milis untuk ajang tukar pendapat dan makin paham tentang Islam. Oke, selamat berdakwah di dunia gaib, eh maya. <strong>[januar]</strong> | <em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dakwah-di-dunia-maya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempertanyakan Dana Kompensasi BBM</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mempertanyakan-dana-kompensasi-bbm</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mempertanyakan-dana-kompensasi-bbm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 01:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bbm]]></category>
		<category><![CDATA[kompensasi]]></category>
		<category><![CDATA[subsidi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mempertanyakan-dana-kompensasi-bbm/</guid>
		<description><![CDATA[Harga BBM sudah terlanjur naik, tapi janji dana kompensasi yang digembar-gemborkan pemerintah untuk rakyat miskin sampai sekarang tak jelas. Kenaikan BBM sudah tidak bisa ditawar lagi, perdebatan di gedung parlemen pun diakhiri dengan dukungan terhadap keputusan pemerintah. Sementara itu masyarakat semakin sulit hidupnya akibat kenaikan harga-harga kebutuhan. Dalam menanggulangi efek BBM, Pemerintah akan mengucurkan dana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Harga BBM sudah terlanjur naik, tapi janji dana kompensasi yang digembar-gemborkan pemerintah untuk rakyat miskin sampai sekarang tak jelas.</p>
<p>Kenaikan BBM sudah tidak bisa ditawar lagi, perdebatan di gedung parlemen pun diakhiri dengan dukungan terhadap keputusan pemerintah. Sementara itu masyarakat semakin sulit hidupnya akibat kenaikan harga-harga kebutuhan. Dalam menanggulangi efek BBM, Pemerintah akan mengucurkan dana sekitar Rp 17 triliun. Alokasi dana terbesar ditujukan untuk beasiswa masyarakat miskin (Rp 5,6 triliun). Sisanya untuk subsidi kesehatan, beras murah (raskin), infrastruktur desa, subsidi pembangunan rumah sehat sederhana (RSS), pelayanan sosial berupa peningkatan sarana prasarana panti di 31 provinsi, dana bergulir dan pelayanan kontrasepsi untuk KB.<span id="more-578"></span></p>
<p>Untuk mengawal ketepatan penyalurannya, pemerintah menyediakan anggaran untuk koordinasi program, perencanaan, sosialisasi, unit pengaduan dan pengawasan sebesar Rp135 miliar. Teknis dan mekanisme penetapan kelompok sasaran penerima dana PKPS BBM dan program penanggulangan kemiskinan harus tepat jumlah, tepat waktu, dan tepat sasaran. Sebagai pengawas, pemerintah provinsi merekrut tim monitoring yang bekerja sama dengan 30 perguruan tinggi. Selain itu juga disediakan Call Center BBM yang bisa dihubungi masyarakat jika ditemukan adanya penyelewengan. Tetapi program tersebut tidak selamanya. Menurut Alwi Shihab, &#8220;Pada dasarnya, PKPS BBM bersifat darurat dan sementara untuk mengurangi dampak yang dihadapi kelompok masyarakat miskin sebagai akibat kenaikan harga barang kebutuhan dasar&#8221;.</p>
<p><strong>Kemiskinan meningkat</strong><br />
Pernyataan mengejutkan dilontarkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati, bahwa bila program PKPS BBM berhasil, maka hal itu akan menurunkan tingkat kemiskinan dari 16,6% menjadi 13% target pemerintah 11,5% berdasar kajian LPEM UI. Tetapi dalam kenyataanya, kenaikan harga BBM yang diriringi oleh kenaikan harag-harga barang, tentu saja akan menyulitkan masyarakat miskin. Sebab belum tentu dalam kenyataanya perhitungan-perhitungan tersebut sesuai dengan kondisi di lapangan. Kenaikan harga-harga bisa melebihi kenaikan yang diperkirakan pemerintah dengan segala asumsinya.</p>
<p>Seandainya, rakyat miskin mendapatkan raskin atau dalam bentuk kompensasi yang lain, mereka tetap harus mengeluarkan uang lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup lainya. Sementara itu harga-harga semua kebutuhan hidup lain di luar raskin, kesehatan dan pendidikan, naik akibat kenaikan harga BBM. Tentunya hal tersebut menyulitkan masyarakatyang hidup di bawah garis kemiskinan. Sedangkan rakyat yang tidak tergolong miskin atau masyarakat yang hampir miskin akan semakin berat. Di samping harus membayar lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, golongan ini tidak mendapat dana kompensasi dari pemerintah. Akhirnya golongan masyarakat ini akan jatuh ke dalam kelopok masyarakat miskin.</p>
<p>Di sisi lain penyaluran dana kompansasi kepada masyarkat juga rawan korupsi, dan tidak tepat sasaran. Hal tersebut juga diakui oleh Sri Mulyani sendiri, misalnya kompensasi bidang kesehatan untuk lebih dari 36 juta rakyat miskin. Selama ini Pemerintah hanya mengacu pada data makro Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan sensus pemodelan (bukan sensus sebenarnya), sehingga tidak diketahui pasti secara jumlah dan  tempat tinggal orang miskin. Hal inilah yang menjadi rawan kebocoran  dana pada tingkat pelaksnaan.</p>
<p>Berdasarkan data yang diperoleh dari Tim Indonesia Bangkit, Hamonangan Ritonga salah seorang staff di BPS, membantah argumen dari tim LPEM UI. Perhitungan yang dilakukan Hamonagan menunjukkan bahwa, angka kemiskinan akibat kenaikan BBM naik sebesar 1,95% menjadi 18,61% (40,4juta jiwa) dari total penduduk Indonesia. Kenaikan tersebut termasuk perubahan status dari keluarga miskin menjadi miskin sebesar 1,87% (4,04 juta jiwa) sedangkan perubahan dari dari keluarga tidak miskin menjadi miskin sebesar 3,82% (8,37 juta jiwa). Jadi pernyataan juamlah penduduk miskin akan berkurang, jelas merupakan upaya pembodohan masyarakat dengan opini yang menyesatkan.</p>
<p><strong>Masalah pengelolaan minyak</strong><br />
Masalah kenaikan BBM, merupakan cerminan dari pengelolaan minyak dan sumber tambang lainya yang tidak jelas. Menurut Kniwk Kian Gie, sekitar 92 persen dari minyak mentah kita disedot oleh kontraktor asing (Exxon ,Caltex, Mobil Oil dsb), sisanya dilakukan oleh Pertamina. Hasilnya dibagi antara kontraktor asing dan Pemerintah dalam hal ini Pertamina. Kontrak bagi hasil terebut memberikan 85% untuk Pemerintah dan 15% untuk kontraktor asing.</p>
<p>Minyak mentah (crude oil) yang didapat dari bagi hasil tersebut, tidak semuaanya diolah menjadi BBM, tetapi sebagian dijual dalam bentuk minyak mentah ke luar negeri, antara lain ke Jepang, Korea, Singapura, China. Hal tersebut dilakukan karena minyak mentah Indonesia lebih bagus mutunya sehingga harganya lebih mahal. Sedangkan untuk memenuhi kekurangan bahan baku BBM berupa minyak mentah, pemerintah membeli dari luar negeri seperi Arab Saudi, Iran, Irak, Vietnam, Afrika dan China yang harganya lebih murah.</p>
<p>Minyak mentah yang masih tersisa, diolah oleh Unit Pengolahan (UP) milik Pertamina, yaitu UP I Pangkalan Berandan, UP II Dumai dan Sungai Pakning, UP III Plaju, UP IV Cilacap, UP V Balikpapan, UP VI Balongan, dan UP VII Kasim. Karena kebutuhan akan BBM semakin meningkat, sehingga pasokan dari UP yang ada tidak mencukupi. Menurut  Direktur Pengolahan Pertamina, Suroso Atmomartoyo yang dikutip Riau Pos Online Sabtu 12/03/05, mengatakan bahwa kilang minyak yang ada di Indonesia hanya mampu menghasilkan 1 juta bph produk BBM. Padahal, kebutuhan BBM nasional rata-rata mencapai 1,4 juta bph. Untuk memenuhi kekurangan tersebut pemerintah kemudian mengimpor BBM (hasil olahan minyak mentah) dari luar negeri yaitu Singapura yang nilainya sekitar 20 triliun lebih per tahun.</p>
<p><strong>Skenario kapitalis</strong><br />
Menyangkut pernyataan pemerintah yang dirugikan karena memberi subsidi, Kwik, seperti yang dilansir Kompas Cyber Media Minggu 20/03/05 mengungkapkan, Nota Kuangan RAPBN 2004 untuk APBN 2005. Dalam RAPBN 2005 asumsi harga minyak $ 24/barel, penerimaan minyak bumi Rp 31,86 triliun, gas alam Rp 15,27 triliun dan subsidi Pertamina Rp 21 triliun. Dengan demikian, surplus Rp 26 triliun lebih. Setelah dikurangi bagi hasil Rp 9,3 triliun, tersisa Rp 16 triliun lebih.</p>
<p>Kenyataan tersebut menguatkan adanya skenario kapitalis di belakang kebijakan pemerintah. Pencabutan subsidi dan juga privatisasi bukan karena APBN jebol, tetapi merupakan langkah mewujudkan libelarisasi pedagangan yang menjadi tata aturan perdagangan dunia saat ini. Segala macam bentuk subsidi dan monopoli harus dihapuskan, sebab bertentangan dengan ekonomi kapitalis. Pemerintah, tidak boleh ikut campur dalam urusan ekonomi. Kebebasan harus diberikan seluasnya kepada swasta yang ingi berusaha, termasuk swasta asing. Dicabutnya subsidi berarti menyerahkan distribusi pada pasar, seperti yang dianut sistem kapitalis.</p>
<p><strong>Islam ’memperlakukan’ migas<br />
</strong>Islam memandang bahwa migas dan kekayaan alam yang terkandung di dalam perut bumi adalah hak ummat. Pemerintah tidak boleh memberikan minyak tersebut baik dalam bentuk kontak karya, bagi hasil atau apapun kepada swasta. Oleh karenanya, ummat seharusnya mendapatkan 100% hasil pertambangan minyak tersebut. Seandainya kemudian minyak tersebut dijual hasilnya harus dikembalikan kepada kaum muslimin.</p>
<p>Disamping itu untuk memenuhi kebutuhan akan BBM yang diperlukan ummat, pemerintah melalui perusahaan negara (Pertamina) harus membangun tempat-tempat penyulingan minyak baru jika memang yang ada selam ini masih kurang. Fasilitas tersbut harus sepenuhnya dimiliki pemerintah, swasta tidak boleh ikut memiliki. Swasta masih dimungkinkan untuk membangun fasilitas penyulingan atau penambangan, dengan biaya diganti sepenuhnya dari pemerintah. Dengan demikian swasta tidak perlu ikut mengolah dan mendistribusikan minyak yang menjadi hak ummat. Satu hal lagi bahwa Pertamina harus bebas korupsi dan pratek inefisiensi dan menghamburkan harta yang menjadi hak umat. Wallahu’alam bishowab [<em>D. Saputra</em>] | <em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mempertanyakan-dana-kompensasi-bbm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penistaan al-Quran ala Doktor UIN Yogya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/penistaan-al-quran-ala-doktor-uin-yogya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/penistaan-al-quran-ala-doktor-uin-yogya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 17:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[orientalis]]></category>
		<category><![CDATA[penistaan al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[UIN Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3160</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dr Adian Husani Pada 5 November 2009, saya mendapat undangan untuk berbicara dalam sebuah seminar di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seminar bertema ”Islam dan Tantangan Pemikiran Global” itu diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pesantren Modern Gontor cabang Lombok. Seminar dibuka oleh Gubernur NTB, Tuan Guru Zainul Majdi.  Turut memberikan sambutan adalah pimpinan Pondok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh: Dr Adian Husani</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada 5 November 2009, saya mendapat undangan untuk berbicara dalam sebuah seminar di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seminar bertema ”<em>Islam dan Tantangan Pemikiran Global</em>” itu diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pesantren Modern Gontor cabang Lombok. Seminar dibuka oleh Gubernur NTB, Tuan Guru Zainul Majdi.  Turut memberikan sambutan adalah pimpinan Pondok Pesantren Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan Tuan Guru Sofwan Hakim, ketua Forum Kerjasama Pesantren se-NTB. Seminar dihadiri sekitar 300 pimpinan dan guru-guru pesantren se- NTB.  Tim pembicara dari INSISTS dipimpin oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tampaknya, bagi para ulama dan tokoh Islam di NTB, isu liberalisasi Islam sudah cukup akrab dengan mereka. Mereka mengakui, sejumlah masalah yang dibahas dalam seminar sudah terjadi juga di daerah mereka, meskipun dalam skala yang belum masif seperti di sejumlah kota di Pulau Jawa.  Salah satu masalah yang sudah mulai dilontarkan kaum liberal di NTB adalah soal ”Desakralisasi al-Quran.”  Ada seorang tokoh yang mengaku sempat berdiskusi dengan seorang mahasiswa IAIN Mataram, yang bertanya kepadanya: <em>”Apakah al-Quran itu benar-benar suci atau dianggap suci?” <span id="more-3160"></span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar pertanyaan itu saya menjawab dengan agak bercanda, ”Tanyakan pada si mahasiswa,  apakah dia benar-benar manusia atau dianggap manusia?”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam seminar di NTB, isu ”desakralisasi al-Quran” memang disinggung juga oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Gubernur NTB yang juga kandidat doktor ilmu Tafsir di Universitas al-Azhar Kairo, bahkan menguraikan cukup panjang sejarah serangan kaum orientalis terhadap Islam, termasuk terhadap al-Quran. Ia menunjukkan sejumlah contoh kesungguhan dan kesabaran para orientalis dalam menyerang Islam. ”Sehingga dalam pertarungan ini, siapa yang lebih sabar yang akan menang,” ujarnya seraya mengajak para peserta seminar untuk meningkatkan kesabaran dalam berjuang.</p>
<p style="text-align: justify;">Proyek ”desakralisasi al-Quran” memang termasuk  salah satu tema pokok dalam liberalisasi Islam. Mengikuti tradisi kajian al-Quran model orientalis, sejumlah pemikir liberal tampak berusaha keras meyakinkan kaum Muslim, bahwa al-Quran bukanlah sebuah kitab suci, tetapi kitab yang dianggap suci. Ada yang berusaha keras menulis artikel untuk membuat kaum Muslimin ragu-ragu terhadap kebenaran dan keotentikan al-Quran.  Dia mencoba meyakinkan, bahwa al-Quran adalah kitab biasa-biasa saja, yang juga mengandung kesalahan secara tata bahasa. Tentu saja, pekerjaan semacam ini akan sia-sia saja. Meskipun si penulis mendapatkan imbalan tertentu di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pikiran semacam ini tampaknya cukup luas merasuki pemikiran kalangan akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Islam saat ini. Tentu kita masih ingat, bagaimana seorang dosen IAIN Surabaya yang pada 5 Mei 2006, menerangkan posisi Al-Quran sebagai hasil budaya manusia. Dia katakan, <em>&#8220;Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput. Sebagai budaya, Al-Quran tidak sakral. Yang sakral adalah kalamullah secara substantif.” </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah jurnal yang diterbitkan di IAIN Semarang edisi 23 Th. XI/2003, menulis di sampul belakangnya: <em>”ADAKAH SEBUAH OBJEK KESUCIAN DAN KEBENARAN YANG BERLAKU UNIVERSAL? TIDAK ADA! SEKALI LAGI, TIDAK ADA! TUHAN SEKALIPUN!” </em>Di pengantar redaksinya juga ditegaskan: ”Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa kaum liberal giat dalam mengkampanyekan tema ”desakralisasi al-Quran”, bahwa al-Quran bukanlah kitab suci?  Ternyata, jika kita cermati, tujuan mereka adalah ingin memberikan legitimasi terhadap masuknya berbagai metode penafsiran al-Quran, di luar ilmu Tafsir al-Quran. Dengan meletakkan posisi al-Quran sebagai teks biasa, teks sastra, teks budaya, atau teks sejarah, yang sama dengan  teks-teks lain, maka dimungkinkan masuknya model pemahaman al-Quran yang baru, seperti hermeneutika.</p>
<p style="text-align: justify;">Di NTB itulah, saya lebih berkesempatan membaca sebuah buku berjudul <em>Arah Baru Studi Ulum al-Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya</em> karya seorang dosen STAIN di Jawa Timur, yang juga doktor lulusan UIN Yogyakarta. Sebut saja inisialnya ”AW”. Tesis master dosen ini juga sudah diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul <em>Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan</em>, yang juga menolak kesucian al-Quran. Buku <em>Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an</em>, semakin menegaskan, adanya kecenderungan dan gerakan penghancuran ulumul-Quran para ulama Islam, digantikan dengan teori-teori ilmu sosial para ilmuwan Barat.  AW  sangat getol dalam mempromosikan penggunaan hermeneutika untuk – katanya – memahami pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani. Seperti biasa, para pengguna hermeneutika biasanya melakukan proses desekralisasi teks al-Quran. Itu pula yang dilakukan dosen STAIN ini.  Simaklah pandangan penulis tentang al-Quran berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">”Dalam karya ini, saya membedakan antara wahyu, al-Qur’an, dan Mushaf Usmani. Ketiganya adalah tiga nama yang kendati mengacu pada satu substansi, tetapi kadar muatan ketiganya berbeda. Wahyu sebagai pesan otentiks Tuhan masih memuat keseluruhan pesan Tuhan; al-Qur’an sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab oral memuat kira-kira sekitar 50 persen pesan Tuhan; dan Mushaf Usmani sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab tulis hanya memuat kira-kira tiga puluh persen pesan Tuhan. Jika selama menjadi wahyu masih memuat keseluruhan pesan Tuhan, tidak demikian halnya ketika telah menjadi al-Quran dan Mushaf Usmani. Hal itu terjadi, bukan karena Tuhan tidak mampu menjamin keabadian pesan-Nya, melainkan karena keterbatasan Bahasa Arab yang dijadikan wadah pesan Tuhan yang tak terbatas itu.” (hal.vii).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saya sangat prihatin dan sekaligus kasihan membaca berbagai uraian dalam buku ini. Sebab, buku ini ditulis oleh seorang dosen agama dan doktor lulusan UIN Yogya. Selain disebarkan melalui tulisan, dosen ini tentu juga mengajarkan pemikirannya kepada para mahasiswanya. Banyak sekali kekacauan dan kerancuan pemikirannya, yang tentu saja memerlukan terapi yang sangat serius. Marilah kita lihat contoh-contoh kekacauan berpikir dosen yang dinyatakan lulus doktornya di UIN Yogya dengan predikat <em>cum laude</em> ini. Dia menulis sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">”Ketika pesan Tuhan diwadahkan ke dalam bahasa Arab itu, maka Muhammad sebagai agen tunggal Tuhan yang juga sebagai masyarakat Arab memilih lafaz dan makna tertentu yang mampu memuat dua pesan, yakni pesan Tuhan dan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Implikasinya, teori interpretasi yang hanya mengacu kepada fenomena kebahasaan semacam tafsir, hanya mampu menemukan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Sedang pesan Tuhan yang ada di dalamnya belum tersentuh sedikit pun. Oleh karena itu, diperlukan sebuah teori interpretasi lain yang dinilai mampu menemani tafsir, sehingga yang terungkap bukan hanya pesan pemilik bahasa,tetapi juga pesan Tuhan. Hermeneutika tampaknya bisa menjadi mitra tafsir guna mengungkap pesan Tuhan di balik Bahasa Arab sebagai fenomena budaya.” (hal.viii).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sekilas saja, kita bisa menilai, bahwa kata-kata si dosen STAIN itu sebenarnya <em>asbun</em> (asal bunyi).  Tuduhan bahwa Ilmu Tafsir selama ini tidak mampu menangkap pesan Allah dalam al-Quran adalah suatu bentuk pernyataan asal-asalan. Tentu kita tidak bisa menyimpulkan si dosen ini ”sakit jiwa”, sebab bisa meraih gelar doktor dari UIN Yogya dengan predikat <em>cum laude</em> dan bisa menulis banyak buku. Tetapi, yang jelas, selama 1400 tahun lebih, umat Islam di seluruh dunia telah memahami al-Quran dengan menggunakan Ilmu  Tafsir dan tidak menggunakan hermeneutika. Lalu, tiba-tiba di ”zaman edan” ini  muncul ”pemikir luar biasa hebat”  dari UIN Yogya yang dengan gagah berani menyimpulkan:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> ”teori interpretasi yang hanya mengacu kepada fenomena kebahasaan semacam tafsir, hanya mampu menemukan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Sedang pesan Tuhan yang ada di dalamnya belum tersentuh sedikit pun.” </em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Karena berlagak menjadi mujtahid besar itulah maka pengguna hermeneutika &#8212; seperti penulis buku ini &#8212; lalu bersikap sok hebat dan merendahkan martabat, keilmuan, dan keikhlasan Khalifah Usman bin Affan serta  para ulama Islam terkemuka. Tapi, ironisnya, pada saat yang sama, kaum liberal juga sangat hormat dan bertaklid buta begitu saja kepada Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Khaled Abou el-Fadl, Farid Essac, Paul Ricour, Fazlur Rahman, Hegel, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Simaklah sejumlah ungkapan AW tentang Mushaf Usmani berikut ini: <em>”Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa proses pembukuan al-Quran diwarnai campur tangan Utsman dalam posisinya sebagai khalifah, yang oleh Abu Zayd disebut sebagai ”dekrit” khalifah.” (hal. 169)&#8230; ”Maka tidak bisa disalahkan kiranya jika diasumsikan bahwa di balik keputusan khalifah Utsman tersebut mengandung adanya unsur ideologis, terutama ideologi pemilik bahasa yang dipilih menjadi bahasa Mushaf Usmani.” (hal. 170)&#8230;”Lebih-lebih, Khalifah Utsman telah menghilangkan dan menyensor bahkan memusnahkan korpus kitab-kitab individu, seperti milik Ibnu Mas’ud dan Siti Hafsah. </em><em>Ini jelas berimplikasi pada pemusatan pembacaan hanya pada Mushaf Usmani. Jika boleh memberi istilah, Mushaf Usmani ini telah menjadi ”penjara” bagi pesan rahasia Tuhan. Penjara yang dimaksud di sini adalah ideologi Quraisy yang melingkupinya, dan bahkan antara Quraisy dan al-Qur’an (Mushaf Usmani) merupakan dua anak kembar yang saling bersanding dan dua cabang yang berakar sama, yang dengannya mereka mencoba menancapkan hegemoninya.” (hal. 172).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em>Begitulah pandangan doktor UIN Yogya yang sangat merendahkan martabat Sayyidina Utsman bin Affan dan menistakan al-Quran. Sebenarnya, jika AW mau mengungkapkan berbagai penjelasan dalam kitab Ulumul Quran, maka dengan mudah ditemukan penjelasan seputar tindakan Khalifah Utsman r.a. yang sangat mulia dan luar biasa besar jasanya dalam kodifikasi Mushaf al-Quran. Tapi, dia lebih percaya kepada pendapat-pendapat orientalis yang memberikan berbagai tuduhan dan sangkaan terhadap Khalifah Utsman r.a., menantu Rasulullah saw, dan termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk sorga oleh Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Tindakan Sayyidina Utsman itu pun sudah mendapat pesertujuan dari semua sahabat, termasuk Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib. Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menentang tindakan Utsman r.a., karena memang kodifikasi al-Quran itu bukan dilakukan untuk kepentingan politik atau kesukuan. Karena itulah, sepanjang sejarah Islam, meskipun terjadi berbagai konflik politik, tidak pernah terpikir suatu rezim untuk membuat al-Quran baru. Betapa pun kerasnya konflik antara Ali dan Mu’awiyah, keduanya tetap menjadikan Mushaf Utsmani sebagai pedoman. Setelah Abbasiyah berkuasa, mereka juga tidak mengganti Mushaf Utsmani dengan Mushaf baru. Maka, tuduhan-tuduhan keji terhadap Sayyidina Utsman r.a. dan Mushaf Utsmani sebenarnya sangat tidak ilmiah dan hanya berlandaskan kebodohan dan kebencian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kajian terakhir yang menyudutkan Mushaf Usmani, misalnya datang dari seorang orientalis Kristen Jerman (berasal dari Lebanon) yang menggunakan nama samaran Christoph Luxenberg.  Sebagaimana para pendahulunya, Luxenberg juga menggugat al-Quran sebagai “wahyu” yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Ia mencoba menggugurkan keyakinan kaum Muslim bahwa al-Quran adalah “tanzil”, “suci”, bebas dari kesalahan, sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran (QS 15:9). Menurut Luxenberg &#8211;  dengan melakukan kajian semantic terhadap sejumlah kata dalam al-Quran Arab yang  diambil dari perbendaharaan bahasa Syriac &#8212; Al Qur&#8217;an yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) adalah salah salin (<em>mistranscribed</em>) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks asli Al Qur&#8217;an, simpulnya, lebih mirip bahasa Aramaic, ketimbang Arab. Dan naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah Usman bin Affan. Dengan kata lain, al-Quran yang dipegang oleh kaum Muslim saat ini, bukanlah wahyu Allah SWT, melainkan akal-akalan Utsman bin Affan r.a.</p>
<p style="text-align: justify;">Lunxenberg – seperti banyak orientalis lainnya – mempertanyakan motivasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi al-Quran. Ia menduga, teks al-Quran yang dimusnahkan Utsman bin Affan berbeda dengan teks Mushaf Utsmani yang sekarang ini.  Tuduhan semacam ini sama sekali tidak beralasan, sebab proses kodifikasi al-Quran di zaman Utsman bin Affan sangat terbuka kerjanya, dan al-Quran selalu diingat oleh ratusan, ribuan – bahkan kini jutaan kaum Muslimin. Setiap kekeliruan akan selalu dikoreksi oleh kaum Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi, para orientalis memang tidak pernah berhenti untuk menyerang al-Quran dengan berbagai cara. Ironisnya, cara-cara orientalis semacam ini sekarang dilakukan oleh beberapa akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Islam sendiri.  Bahkan, tuduhan-tuduhan tidak beradab terhadap Khalifah Utsman bin Affan <em>radhiyallahu anhu</em> seperti yang dilakukan doktor UIN Yogya itu juga kemudian dialamatkan kepada Imam al-Syafii <em>rahimahullah</em>. Dengan menjiplak begitu saja pendapat Nasr Hamid Abu Zayd, tanpa sikap kritis sedikit pun, AW menulis: <em>”Al-Quran versi bahasa Quraisy inilah yang diperjuangkan oleh Imam Syafi’i sebagai wahyu Tuhan yang layak dihormati hingga pada teks tulisannya, sebagai konsekuensi logis di mana dan dalam suku apa ia dilahirkan.” (hal. 170). </em></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu sangatlah tidak beradab memberikan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar kepada seorang ulama besar seperti Imam Syafii, yang begitu besar jasanya kepada umat Islam. Apalagi memberikan tuduhan dan prasangka negatif kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw.  Umat Islam sangat mencintai Nabi Muhammad saw, dan tentu, umat Islam juga sangat mencintai para sahabatnya dan juga pelanjut risalahnya, yaitu para ulama yang alim dan shalih. Adab seperti inilah yang seharusnya dijaga dalam dunia ilmiah di lingkungan Perguruan Tinggi Islam. Tindakan menghujat dan melecehkan al-Quran, sahabat, dan ulama, tidak patut dilakukan oleh seorang Muslim, meskipun dengan mengatasnamakan kebebasan ilmiah dan sikap kiritis.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em>Apalagi, faktanya, doktor UIN Yogya ini juga sama sekali tidak bersikap kritis ketika mengutip pendapat-pendapat para orientalis dan pemikir liberal. Ia menolak pemahaman bahwa lafaz dan makna al-Quran (Mushaf Utsmani) berasal dari Allah, sehingga bersifat sakral (suci), dan membacanya dalam bentuk tartil pun dinilai sebagai membaca wahyu Allah dan si pembaca mendapatkan pahala. Menurut sang doktor  UIN Yogya tersebut, yang sakral dari Mushaf Utsmani hanyalah maknanya, sementara lafaznya tidak sakral.  <em>”Namun demikian, lafadznya, sebagai wadah pesan Tuhan tetap harus dihormati. Karena itu, yang dianjurkan membaca di sini adalah dalam arti mengungkap pesan itu, bukan tartilnya. Karena pesan itu terdapat dalam bahasa yang profan, maka diperlukan alat apa saja yang secara metodologis absah digunakan dalam sebuah kajian ilmiah, termasuk hermeneutika.” (hal. 184).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Membaca pemikiran doktor <em>cum laude</em> dari UIN Yogya ini, tentu wajar  jika selama ini kita mempertanyakan, mengapa penggunaan hermeneutika dalam studi al-Quran terus digalakkan di Perguruan Tinggi Islam. Tampak jelas, bagaimana pemikiran sang doktor ini dalam menistakan al-Quran, para sahabat Nabi Muhammad saw, dan para ulama Islam yang sangat kredibel. Kita bisa melihat bagaimana tendensiusnya kajian yang mempromosikan hermeneutika sebagai metode alternatif  dalam penafsiran al-Quran. Kajian semacam ini jauh dari sikap ilmiah yang bermutu. Maka, adalah aneh, ketika seorang guru besar di UIN Yogya, Prof. Dr. Hamim Ilyas, membuat kriteria bahwa salah satu ciri kaum fundamentalis adalah menolak penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Quran.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa muncul kegilaan pada hermeneutika dan penistaan Ilmu Tafsir pada sebagian akademisi di Perguruan Tinggi Islam?  Kita menemukan jawabannya pada artikel Dr. Syamsuddin Arif di Harian <em>Republika </em>(30 September 2004), yang berjudul “<em>Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd</em>”:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Terus-terang saya tidak begitu tertarik oleh teori dan ide-idenya mengenai analisis wacana, kritik teks, apalagi hermeneutika. Sebabnya, saya melihat apa yang dia lontarkan kebanyakan &#8212; untuk tidak mengatakan seluruhnya &#8212; adalah gagasan-gagasan nyeleneh yang diimpor dari tradisi pemikiran dan pengalaman intelektual masyarakat Barat… Orang macam Abu Zayd ini cukup banyak. Ia jatuh ke dalam lubang rasionalisme yang digalinya sendiri. Ia seperti istri Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh si tukang sihir.” </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan memang faktanya, para pengguna hermeneutika dan pengecam Tafsir al-Quran, hingga kini tidak pernah mampu membuat satu Tafsir al-Quran pun. Sebab, tampaknya, ”maqam” mereka baru sampai pada tahap merusak dan hanya isapan jempol belaka, jika diangggap para hermeneut ini mampu menciptakan metode Tafsir al-Quran baru yang sanggup menandingi kehebatan Ilmu Tafsir, Ilmu Ushul Fiqih, dan sebagainya. Bahkan, tampak jelas, buku karya doktor UIN Yogya ini pun tidak menunjukkan contoh, bagaimana metode dan model Studi al-Quran yang baru dan hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita yakin, al-Quran ini Kalamullah. Al-Quran adalah milik Allah. Dan pasti, Allah yang menjaganya dari berbagai upaya untuk merusaknya. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang tahu diri!  Tidak patut burung emprit berlagak seperti burung elang.  <em>Wallahu a’lam.</em> (Malang, 7 November 2009).<em> <a href="http://www.adianhusaini.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=121:penistaan-al-quran-ala-doktor-uin-yogya&amp;catid=34:cap&amp;Itemid=53" target="_blank"><strong>[www.adianhusaini.com]</strong></a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/penistaan-al-quran-ala-doktor-uin-yogya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengkaji Ulang Perjuangan Intraparlemen</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengkaji-ulang-perjuangan-intraparlemen</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengkaji-ulang-perjuangan-intraparlemen#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 23:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[intraparlemen]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mengkaji-ulang-perjuangan-intraparlemen/</guid>
		<description><![CDATA[Semangat perubahan sudah digelorakan. Banyak jalan menuju kebangkitan Islam. Tak terkecuali yang menjajal masuk parlemen sistem kufur. Sayangnya, sampai sekarang masih perlu diuji efektivitasnya. Fajar kebangkitan ummat mulai menyingsing, perlahan bergulir mendekat. Kesadaran untuk hidup mulia menyentuh jiwa-jiwa generasi muda Islam. Angin kesadaran berhembus, menimbulkan gelombang kesadaran yang terus membesar. Kerinduan akan kehidupan Islam nampak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semangat perubahan sudah digelorakan. Banyak jalan menuju kebangkitan Islam. Tak terkecuali yang menjajal masuk parlemen sistem kufur. Sayangnya, sampai sekarang masih perlu diuji efektivitasnya.</p>
<p>Fajar kebangkitan ummat mulai menyingsing, perlahan bergulir mendekat. Kesadaran untuk hidup mulia menyentuh jiwa-jiwa generasi muda Islam. Angin kesadaran berhembus, menimbulkan gelombang kesadaran yang terus membesar. Kerinduan akan kehidupan Islam nampak di berbagai belahan dunia. Kesadaran akan Islamic Way of Life, mengantarkan kaum muslimin ke medan perjuangan politik. Sebab jalan hidup Islam tak mungkin terwujud tanpa kekautaan politik.</p>
<p>Dalam perjuangan meraih kekuasaan poltik, terdapat dua arus besar yang berbeda. Intra dan extraparlemen (sistemik dan non-sistemik). Jalan Intraperliement membolehkan keterlibatan secara langsung di dalam proses politik dan pengambilan keputusan, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Perubahan yang diinginkan terjadi secara perlahan  (perubahan gradual/evolutif). Jalan ini tentunya lebih aman dan lebih bisa diterima terutama oleh kelompok pro statusquo. Perubahan revolusioner dihindari, sebab lebih berbahaya dan banyak mendapat penentangan.<span id="more-644"></span></p>
<p><strong>Jebakan politik</strong><br />
Jika dikaji secara mendalam dan lebih kritis, garis perjuangan Intraparliement Cooperative tersebut justru membelokan dari kemenangan politik yang sejati. Memerosokan perjuangan ke dalam “Jebakan Politik”, terlibat dalam tarikan-tarikan politik, masuk ke dalam wilayah abu-abu. Di dalam sistem, sebuah partai harus mengikuti aturan main yang tak Islami, menghadapkan partai pada pilihan yang tak layak pilih. Ambil contoh PKS dan PBB. Keduanya termasuk partai yang berusaha memperjuangkan syariat Islam. Dukungannya terhadap SBY sebagai Presiden mendapat kompensasi kedudukan tertentu di pemerintahan. Tetapi kedudukan tersebut belumlah cukup untuk membuat perubahan yang berarti. Terlebih lagi, ketika pemerintahan SBY menaikan harga BBM, koalisinya justru yang menghambat keduanya untuk lebih banyak meperjuangkan ummat. Keberhasilan PKS menduduki kursi mayoritas di DPRD DKI, ternyata juga belum mampu mengadapi kekuatan sistem yang mengaturnya. Suara mayoritas menjadi tidak berarti ketika berbicara perubahan, lebih-lebih aturan Islam.</p>
<p>Di sisi lain, sumber daya partai terkuras untuk mendongkrak suara ketika pemilu. Akibatnya, partai terlalaikan dari tugasnya melakukan penyadaran politik umat. Padahal mewujudkan kesadaran politik umat, merupakan salah satu syarat perubahan. Kehadiran partai Islam di pemerintahan, bisa dijadikan sebagai pembenaran untuk melawan perubahan terhadap sstem yang berlaku, di samping melanggar aturan Allah karena menjalankan aturan selain Islam. Padalah Allah sudah memperingatkan dengan keras dalam QS al-Maidah [5] : 44, 45 dan 47.</p>
<p>Di lain pihak, perjuangan extraparliement  tidak mengalami jeratan-jeratan politik semacam itu. Lebih leluasa melakukan aktivitasnya, menyebarluaskan gagasannya, karena tidak terikat dengan aturan-aturan yang dibuat untuk menjaga dan mengokohkan sistem yang ingin diubah. Sumber daya yang dimiliki digunakan sepenuhnya untuk medidik ummat agar sadar politik Islam. Memang perubahan tidak bisa dilihat secara langsung, dalam bentuk perubahan peraturan, tetapi keberhasilan tersebut dicapai ketika perubahan secara fundamental terwujud. Untuk mewujudkanya diperlukan kesadaran politik umat dan tuntutanya untuk menerapkan Islam secara total. Karena semua aturan akan berubah ketika dasar dari system tersebut berubah.</p>
<p><strong>Dakwah Rasulullah</strong><br />
Rasululah saw. yang mulia telah memberikan contoh dalam mengubah masyarakat. Rasul memulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi, membentuk kader-kader dakwah yang tangguh. Membina akidah para sahabat agar mampu mengarungi medan dakwah. Dakwah berubah menjadi terang-terangan, setelah turun perintah dalam QS al-Hijr [15]: 94. Pada tahap ini Rasulullah menyerang kebiasaan, adat dan aturan yang berlaku di masyarakat secara terang-terangan, jelas dan tegas. Rasul mengecam pelaku penyembah berhala dalam QS al-Anbiya [21]: 98, pelaku riba dalam QS ar-Rum [30]: 39, pelaku kecurangan timbangan dalam QS al-Muthaffifin [83]: 1-3.</p>
<p>Rasulullah saw. melakukan perubahan pemikiran dengan menunjukkan keburukan sistem yang berlaku, bukan perbaikan. Rasul tidak kumudian menyediakan badan/lembaga yang bebas riba, ketika rasul menyerang keburukan riba. Rasul juga tidak menghukum atau menyarankan untuk menghukum seseorang yang melakukan kecurangan timbangan, ketika mengecam pelaku kecurangan.</p>
<p>Rasulullah pun tetap merendahkan sistem yang berlaku, agar masyarakat Arab paham, bahwa tatanan hidup yang dijalani adalah tatanan hidup yang salah, dan harus diganti dengan Islam. Rasul menolak ketika ditawari jabatan menjadi Raja di Mekah, padahal hal tersebut merupakan kesempatan yang langka. Rasul tidak mau berkompromi dalam hal kebenaran. Rasul juga menolak mentah-mentah untuk menjalankan Islam sebagian, di satu waktu menjalankan Islam di lain waktu menjalankan kekufuran (QS al-Kafiruun : 1-6).</p>
<p>Konsekuensi dari sikap Rasulullah adalah permusuhan dan perlawanan, bahkan terancam dibunuh. Akan tetapi Rasulullah tetap teguh pada pendirianya sampai Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin dengan tegaknya Negara Islam Madinah. Kemudian Rasulullah memberlakukan seluruh hukum Islam yang telah turun. Muhammad saw. merupakan revolusioner sejati, yang berhasil merubah masyarakat jahiliyah menjadi Islam. Rasul melakukan perubahan secara revolusioner (inqilabiyah) bukan evolusioner (ishlah). Rasul tidak tidak memperbaiki masyarakat Mekah atau Madinah tetapi Rasul mengubahnya secara fundamental, dengan menjadikan ideologi Islam sebagai dasarnya, sekaligus aturan di antara manusia, termasuk Yahudi, Nasrani dan kaum lain.</p>
<p><strong>Perubahan revolusioner</strong><br />
Islam telah lengkap dan sempurna dengan seluruh hukumnya. Hukum Islam yang diterapkan harus secara keseluruhan, bukan sebagian-sebagian. Hal ini bisa terwujud jika perubahannya secara fundamental atau revolusioner. Perubahan revolusioner hanya mungkin ditempuh dengan jalan extraperliement non cooperative. Jalan kompromi  melaui parlemen justru akan mengebiri dakwah, memasung perjuangan dalam kungkungan sistem yang  dibuat untuk mengkokohkan statusquo. Demokrasi yang digemborkan memberikan kebebasan, tetapi demokrasi tidak akan pernah berkompromi dengan pembunuh demokrasi, yaitu Islam. Fakta berbicara, kemenangan mutlak FIS digagalkan. Kemenagan Parati Refah akhirnya dijatuhkan militer atas restu pelopor demokrasi.</p>
<p>Fakta sejarah telah membuktikan, banyak perubahan terjadi karena kekuatan extraperliement (di luar sistem). Restorasi Meiji meruntuhkan kekuasaan Shogun Tokugawa. Revolusi Perancis meruntuhkan dinasti Bourbon. Revolusi Merah Bolsevick, mengulung kekuasan Tzar Russia. Komunis Russia, Jerman Timur, Nicolai Ceausescu di Romania, kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi juga keangkuhan orde baru di Indonesia jatuh oleh kekuatan ekstraparlemen. Kejadian terbaru, Askar Akayev di Kirgiztan jatuh oleh aksi massa, Zurab Zhavania (Georgia) dipaksa turun oleh “Revolusi Tulip”, Viktor Yakunovych (Ukraina) ditumbangkan “Revolusi Orange”</p>
<p>Tetapi jalan mana yang  ditempuh bukan semata-mata pertimbangan berhasil dan tidaknya, tetapi semata-mata karena syariat Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. Islam itu benar maka harus diperjuangkan dengan jalan yang benar. Sebagaimana Maha SuciNya Allah yang hanya menerima sesuatu yang suci. Menghidarkan dari yang dilarang adalah adalah sikap terbaik yang akan memudahkan Allah menurunkan pertolonganNya.</p>
<p>Rasa-rasanya amat pantas jika friman Allah Swt. di bawah ini dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita: “<em>Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu di dalam al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan kafir di dalam Jahanam</em>” (<strong>QS an-Nisa [4] : 140</strong>)</p>
<p>Dalam ayat lain: “Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan” (QS Huud [11] : 113)</p>
<p>Wallahu ‘alam bishowab [<em>Dj Saputra</em>]<br />
Bogor,  May 5th 2005,  10:00 PM</p>
<p style="text-align: right;"><em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengkaji-ulang-perjuangan-intraparlemen/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi Yang Salah Pake</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/teknologi-yang-salah-pake</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/teknologi-yang-salah-pake#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 00:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/teknologi-yang-salah-pake/</guid>
		<description><![CDATA[Ponsel berkamera emang asyik. Selain bisa buat ngobrol en ber-sms, juga bisa nyimpen momen asyik kita. Tapi kenapa jadi kebablasan? Apa sih fungsi ponsel? Pastinya untuk cuap-cuap dan kirim pesan singkat, dan untuk urusan kerjaan. But, kini ponsel juga menjadi ajang hiburan dan penyimpanan data-data pribadi. Selain ada games dan ringtone yang makin canggih dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ponsel berkamera emang asyik. Selain bisa buat ngobrol en ber-sms, juga bisa nyimpen momen asyik kita. Tapi kenapa jadi kebablasan?</p>
<p>Apa sih fungsi ponsel? Pastinya untuk cuap-cuap dan kirim pesan singkat, dan untuk urusan kerjaan. But, kini ponsel juga menjadi ajang hiburan dan penyimpanan data-data pribadi. Selain ada games dan ringtone yang makin canggih dan bening suaranya, ternyata ponsel juga bisa dipake untuk jepret-jepret, ngambil gambar.</p>
<p>Yup, kamu nggak aneh lagi kan liat sohib jeprat-jepret ngambil gambar. Entah lagi pengajian, hang out, atau iseng. Pokoknya, fasilitas kamera pada ponsel itu jadi nilai tambah buat ponsel. Tapi, dasar manusia, teknologi ponsel berkamera itu justru jadi ngundang kegiatan yang nggak-nggak.<span id="more-646"></span></p>
<p><strong>Paling laris</strong><br />
Awalnya adalah di bulan November 2000, Sharp, vendor asal Negeri Matahari Terbit memproduksi J-SH04 untuk J-Phone. Kelahiran J-SH04, yang kala itu hanya berbekal 110.000 piksel, menjadi langkah awal dari sejarah ponsel kamera.</p>
<p>Tidak hanya menyediakan handset, J-Phone juga merumuskan formula pengiriman gambar dari ponsel kamera ke ponsel lain atau ke komputer via Internet. Sha-mail, begitu mereka menamai layanan yang diperkenalkan pada Desember 2000. Pada Juni 2002, J-Phone berhasil memikat sekitar 5 juta pemakai ponsel kamera.</p>
<p>Sekarang, menurut sebuah penelitian pasar terbaru, ponsel yang dilengkapi kamera terjual lebih banyak dibanding kamera digital konvensional untuk pertama kali dalam semester pertama 2003 sekaligus menandai titik balik industri wireless untuk mengungguli booming pasar fotografi digital.</p>
<p>Penjualan ponsel kamera di seluruh dunia melonjak sampai 25 juta unit dalam enam bulan pertama tahun ini dibanding kamera digital konvensional yang hanya mencapai 20 juta dalam waktu yang sama.</p>
<p>Dalam posisi yang sama tahun 2002, para operator ponsel di seluruh dunia mengapalkan 4 juta ponsel kamera digital. Permintaan yang tinggi terutama berasal dari Jepang dan penjualan ponsel kamera di Eropa dan Amerika akan terus meningkat walaupun tidak sebesar angka di Jepang, demikian menurut analis pasar.</p>
<p>Nggak tanggung-tanggung, teknologi ponsel berkamera makin edan-edanan. Selain dilengkapi dengan zoom, resolusi gambarnya juga makin tajam. Sebut saja Samsung, belum lama pengrajin ponsel asal Korea Selatan ini kembali meluncurkan handphone terbaru fitur kamera internal 5 megapixel. Kepala Samsung Elektronik, Cho Byung-deok menyatakan, handphone dengan nama model SCH-S250 tersebut mampu menghasilkan kualitas gambar yang setara dengan hasil bidikan kamera digital 5 megapixel. Selain itu, SCH-S250 juga dilengkapi fitur MP3 player dan TV function. Memori internalnya berkapasitas 92 MB, sehingga mampu menyimpan 25 foto beresolusi 5 megapixel. Coba, dahsyat nggak tuh!</p>
<p>Dengan teknologi yang makin ciamik, kita bisa nyimpen momen-momen manis dalam ponsel kita. Mau dibuka? Gampang. Mau dikirim via MMS (Multimedia Message Service)? Eyyuuu!</p>
<p><strong>Salah guna</strong><br />
But, kita nggak bakal ngomongin teknologi ponsel berkamera. Kita mau ngebahas betapa manusia itu suka bikin malu sendiri. Teknologi itu kan sebenarnya ada untuk bikin hidup jadi lebih mudah dan manis. Tapi pikiran jail manusia malah bikin teknologi itu jadi menjijikkan.</p>
<p>Ketika ponsel udah bisa dipake nyimpen dan ngirim gambar, kita jadi heboh dengan bersliwerannya gambar-gambar porno. Mulai dari yang cuma animasi BW (black &amp; white) sampe yang udah foto beneran. Kala itu, gambar-gambar seronok itu bisa diunduh (download) di internet gratisan, atau dikirim via SMS.</p>
<p>Dasar jail, begitu muncul teknologi ponsel berkamera, eh, gambar-gambar begituan juga nyangkut ke memori ponsel. Baik itu dikirim temen, bahkan ada yang nekat ngambil gambar sendiri. Seorang kenalan nyimpen potongan adegan panas seorang artis lokal dengan bintang film cowok bule. Adegan yang kata beliau berdurasi hampir 2 menit itu emang udah lama dihebohkan, dan diambil dari potongan sebuah film laga made in Hollywood.</p>
<p>Ada juga yang mengabadikan hal-hal sebenarnya privasi di ponsel pribadi mereka. Entah penasaran atau gimana, mereka motret diri sendiri lagi (sorry) setengah bugil dan bahkan bugil. Meski memotret diri sendiri tidak haram, tapi coba pikirin kalo sampe itu gambar jatuh ke tangan orang lain. Tidaaaaak!</p>
<p>Barangkali yang paling nekat, adalah mereka yang mengabadikan kebejatan mereka dalam ponsel. Masih inget kan kasus beredarnya foto-foto mesum dari ponsel yang melibatkan sejumlah seleb Indonesia? Bayangin, belum jadi suami-istri udah berani berbuat begitu, eh diabadikan lagi! Astaghfirullah!</p>
<p>Kekurangajaran pengguna ponsel berkamera berlanjut sampai tindakan curi-curi momen. Ya, harap ati-ati kalo kamu di tempat umum, ada aja orang iseng yang ngambil gambar dirimu. Berkat ponsel berkamera, orang bisa jadi paparazzi amatiran. Pokoknya, waspadalah!</p>
<p><strong>Sebagai catatan</strong><br />
Ponsel+kamera emang kagak punya salah ape-ape. Ia kan cuma alat doang yang punya khasiat (qadar). Ia bisa bermanfaat; dipake nelepon ortu, SMS ke temen, bahkan buat dakwah. Tapi juga bisa membahayakan orang, seperti buat nyambit kepala atau ngegetok kepala adik kita. Semuanya berpulang kepada amal kita. Yang pasti, setiap muslim kan terikat hukum syara’, iya nggak? (koor: setujuuuu!).</p>
<p>Nah, buat kamu yang kebetulan kesampruk rejeki punya ponsel+kamera, jaga betul-betul manfaat kamera itu. Pake aje deh kamera itu untuk ngambil gambar yang ‘aman’. Misalnya, buat para akhwat, berfoto tanpa kerudung dan jilbab kan sah aja, tapi mbok ya ati-ati kalo harus disimpen di ponsel. Bukan apa-apa, ada kemungkinan temen cowok minjem, terus dia (perhaps) iseng atau nggak sengaja ngebuka folder fotomu, nah ketauan deh modalnya. Atau kalau takdir Allah bicara, terus ponsel kita dicopet gimana tuh?</p>
<p>Ada orang yang sedih ponselnya ilang bukan sekedar harganya mahal, atawa nomor-nomor pentingnya amblas, tapi juga karena ada gambar-gambar pribadi di situ. Amit-amit, jangan sampe deh, bro en sis!</p>
<p>Selain itu, jangan sampe deh ponsel itu dipake untuk nyimpen gambar-gambar atau adegan yang syuur. Kotorin pikiran en juga ngabisin memori ponsel kita, bro.</p>
<p>Last but not least, jangan coba-coba jadi paparazzi. Menguntit orang lalu dijepret, diambil gambarnya. Itu udah masuk kategori mata-mata (tajassus). Agama kita udah mengharamkan perbuatan itu. Karena ada sektor pribadi yang nggak boleh kita usik atawa kita ganggu. Kalaupun emang mau ngambil gambarnya, mbok ya bilang-bilang. Atau memang pada momen yang umum, lagi kumpul bareng, pengajian, demonstrasi atau jalan-jalan. Bukan menyengaja nguntit ala mata-mata. Inget bro en sis, di beberapa negara di Eropa penggunaan ponsel+kamera itu dibatasi oleh undang-undang. Kalo ada orang yang ngambil foto orang lain tanpa ijin, dan doi nggak suka, bisa diseret ke pengadilan dengan ancaman denda uang atau kurungan penjara. Nah, hukuman macam itu bisa juga diterapkan dalam pengadilan Islam untuk menjaga kehormatan sesama manusia.</p>
<p>So, semuanya berpulang pada kita. Teknologi itu diciptakan sebetulnya untuk kemudahan dan keindahan hidup kita. Jangan deh dirusak dengan pikiran jail dan kotor kita sendiri. Karena kalo sudah terjadi, yang bakal rugi kan kita sendiri.</p>
<p>Selain itu, emang kudu dikencengin budaya malu. Kalo punya rasa malu, orang nggak bakal deh mengabadikan hal-hal yang emang nggak pantes. Apalagi mengabadikan kemesuman sendiri. Please, deh!</p>
<p>Supaya lebih sip, emang kudu ada undang-undang yang ngatur masalah itu. Nah, kayaknya itu semua perlu hukum yang tegas dan adil. Apalagi kalo bukan syari’at Islam. Tanpa syari’at dan kehidupan Islam, hidup ini emang serba susah. Suer! [<em>januar, dari berbagai sumber</em>] | <em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/teknologi-yang-salah-pake/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Memahami Perjuangan Pangeran Diponegoro&#8221;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/memahami-perjuangan-pangeran-diponegoro</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/memahami-perjuangan-pangeran-diponegoro#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 17:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[diponegoro]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[perlawanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3142</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran sejarah yang benar harus dipaparkan dengan benar kepada anak didik kita sehingga mereka bisa mengambil hikmah meneladani pahlawan Islam. Baca CAP Adian ke-272 Oleh: Dr. Adian Husaini Pada jurnal Islamia-Republika, edisi 15 Oktober 2009, dimuat sebuah artikel menarik berjudul ”Diponegoro Pangeran Santri Penegak Syariat”. Artikel itu ditulis oleh Ir. Arif Wibowo,  mahasiswa Magister Pemikiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pelajaran sejarah yang benar harus dipaparkan dengan benar kepada anak didik kita sehingga mereka bisa mengambil hikmah meneladani pahlawan Islam. Baca CAP Adian ke-272</em></p>
<p>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p><strong><em></em></strong>Pada jurnal <em>Islamia-Republika</em>, edisi 15 Oktober 2009, dimuat sebuah artikel menarik berjudul ”Diponegoro Pangeran Santri Penegak Syariat”. Artikel itu ditulis oleh Ir. Arif Wibowo,  mahasiswa Magister Pemikiran Islam-Universitas Muhammadiyah Surakarta.  Artikel itu membuka kembali wacana penting dalam penulisan sejarah Islam di Indonesia bahwa Pangeran Diponegoro bukanlah pahlawan nasional yang berjuang melawan Belanda semata-mata karena urusan tanah atau tahta. Tapi, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan Islam, bangsawan Jawa yang mendalami serius agama Islam, dan kemudian melawan penjajah Belanda dengan semangat <em>jihad fi sabilillah</em>. Diponegoro adalah sosok pahlawan yang berani meninggalkan tahta dan kenikmatan duniawi demi mewujudkan sebuah cita-cita luhur, tegaknya Islam di Tanah Jawa.</p>
<p>Berikut ini kita sajikan secara utuh tulisan yang menarik tentang Diponegoro tersebut.<span id="more-3142"></span></p>
<p>Pangeran Diponegoro lahir pada 1785. Ia putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III (1811 – 1814). Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali Sanga dari Jawa Timur. Dalam bukunya, Dakwah Dinasti Mataram, Dalam Perang Dipnegoro, Kyai Mojo dan Perang Sabil Sentot Ali Basah, Heru Basuki menyebutkan, bahwa saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir. Heru Basuki mengutip cerita itu dari Louw, P.J.F – S Hage – M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89.</p>
<p>Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren. Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.</p>
<p>Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan Residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih <em>Sirat AlMustaqim</em> karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Penerbit Bulan Bintang Jakarta hal. 29).</p>
<p>Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah. Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda.  Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma. Dikutip dalam buku <em>Dakwah Dinasti Mataram:</em> “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa (Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).</p>
<p><strong>Perang besar </strong></p>
<p>Dalam bukunya, <em>Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19</em>, Kareel A. Steenbrink, mencatat, sebagian besar sejarawan menyepakati bahwa perang Diponegoro lebih bersifat perang anti-kolonial. Beberapa sebab itu antara lain: 1. Wilayah kraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, 2. Pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, 3. Kekurangadilan di masyarakat Jawa, 4. Aneka intrik di istana, 5. Praktek sewa perkebunan secara besar-besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, 6. Kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja, tetapi juga untuk kepentingan Belanda.</p>
<p>Namun menurut Louw, sebab-sebab sosial ekonomis tadi dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis, yaitu <em>jihad fi sabilillah</em>. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru Basuki: “Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”</p>
<p>Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock pada saat penangkapannya. “<em>Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” </em>(Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa).  (Lihat, P. Swantoro, <em>Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu</em>, (2002)).</p>
<p>Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya. Peter Carey dalam ceramahnya berjudul <em>Kaum Santri dan Perang Jawa</em> pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April 1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.</p>
<p>Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.</p>
<p>Paduan motivasi agama dan sosial ekonomi ini menyebabkan Perang Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial, bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda. Korban perang Diponegoro: orang Eropa 8.000 jiwa, orang pribumi yang di pihak Belanda 7.000 jiwa. Biaya perang 20 juta gulden. Total orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.</p>
<p>Data ini menunjukkan, dahsyatnya Perang Diponegoro dan besarnya dukungan rakyat terhadapnya. Oleh bangsa Indonesia, Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan sorban dan jubahnya, kemudian diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional, yang sangat besar jasanya bagi bangsa Indonesia.  Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “<em>Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.</em>”</p>
<p>Demikianlah artikel penting yang ditulis Saudara Arif Wibowo tentang Pangeran Diponegoro. Informasi tentang Diponegoro tersebut perlu diajarkan di sekolah-sekolah kita, khususnya sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam. Saya masih menemukan banyak sekolah Islam yang masih mengajarkan cerita tentang Diponegoro yang keliru dan tidak menggambarkan Diponegoro sebagai seorang pahlawan Islam. Seolah-olah Diponegoro berjuang melawan Belanda hanya karena urusan duniawi.</p>
<p>Kita berharap, pengelola lembaga pendidikan Islam, juga para orang tua bersedia meneliti buku-buku pelajaran anak-anaknya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam dan fakta yang sebenarnya.</p>
<p>Cobalah bertanya kepada anak-anak kita, apakah mereka memahami bahwa Islam masuk ke Indonesia adalah dibawa oleh para pedagang dari Gujarat India.   Padahal, teori buatan Snouck Hurgronje itu sudah lama dijawab oleh para ulama dan sejarawan Muslim.  Para pendakwah Islam di wilayah Nusantara ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para pendakwah yang datang dari negeri Arab yang serius mendakwahkan Islam; bukan sekedar pekerjaan sambilan dari pekerjaan utama, yaitu berdagang.</p>
<p>Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan lembaga-lembaga pendidikan, saya mengajak para pimpinan dan guru-gurunya, agar serius memperhatikan pelajaran sekolah anak-anaknya. Suatu ketika anak saya menyodori sebuah soal pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VI Sekolah Dasar dari suatu sekolah Islam terkenal.  Salah satu soalnya menceritakan bahwa ada seorang anak yang rumahnya jauh dari rumah. Setelah pulang sekolah ia harus membantu ibunya berjualan sampai Magrib. Usai shalat Magrib, dia masih harus mengaji, sehingga esoknya di sekolah dia kecapekan dan mengantuk.</p>
<p>Soal semacam ini seyogyanya tidak diberikan kepada anak didik, apalagi di sekolah Islam. Mestinya diajarkan bahwa meskipun anak tersebut rumahnya jauh, harus membantu orang tuanya berjualan, dan juga harus mengaji, tetapi si anak tetap dapat meraih prestasi dengan baik di sekolahnya. Faktanya, tidak sedikit anak-anak berprestasi di sekolahnya justru anak-anak yang suka belajar dan bekerja keras, meskipun berada dalam kondisi kehidupan yang tidak mudah.</p>
<p>Itulah pentingnya lembaga-lembaga pendidikan Islam melakukan perbaikan terhadap guru-guru dan kurikulum serta buku-buku pelajarannya. Kita berharap, dari sekolah-sekolah itulah akan lahir anak didik yang beradab. Yakni, anak didik yang mampu memandang dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai derajat yang ditentukan Allah SWT.</p>
<p>Seorang Pangeran Diponegoro harus diletakkan secara terhormat sebagai pahlawan pejuang agama Allah. Era reformasi dan keterbukaan harusnya mampu dimanfaatkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam untuk merevisi, dan kalau perlu merombak, buku-buku pelajaran yang selama ini diajarkan kepada anak didik mereka.</p>
<p>Pelajaran sejarah sangat penting diberikan dengan mengungkap fakta dan perspektif yang benar untuk membentuk persepsi dan sikap hidup. Ketekunan, keikhlasan, kezuhudan, dan semangat jihad Pangeran Diponegoro seharusnya dipaparkan dengan benar kepada anak didik sehingga mereka tergerak untuk mengambil hikmah dan meneladani sang pahlawan Islam tersebut. [<em>Jakarta</em><em>, 17 Oktober 2009/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9546:2009-10-21-12-53-09&amp;catid=3:adian-husaini&amp;Itemid=58" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></em>]</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan <a href="http://hidayatullah.com/href" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/memahami-perjuangan-pangeran-diponegoro/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terorisme Tanpa Amerika Serikat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/terorisme-tanpa-amerika-serikat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/terorisme-tanpa-amerika-serikat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 04:54:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[amerika serikat]]></category>
		<category><![CDATA[densus 88]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[noordin m top]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3093</guid>
		<description><![CDATA[Terorisme yang merebak secara global, berakar dari tindakan Amerika untuk menjatuhkan Uni Soviet. Anehnya, di mata pers kita terorisme tanpa negara superpower itu Oleh: Amran Nasution* Selama 17 jam kekuatan polisi dikerahkan menangkap gembong teroris nomor satu, Noordin Mohamad Top, yang dikabarkan bersembunyi di sebuah rumah desa di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Terorisme yang merebak secara global, berakar dari tindakan Amerika untuk menjatuhkan Uni Soviet. Anehnya, di mata pers kita terorisme tanpa negara superpower itu</em></p>
<p>Oleh: <strong>Amran Nasution</strong>*<br />
<em><strong><br />
</strong></em>Selama 17 jam kekuatan polisi dikerahkan menangkap gembong teroris nomor satu, Noordin Mohamad Top, yang dikabarkan bersembunyi di sebuah rumah desa di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, 7 Agustus lalu. Noordin yang asal Malaysia itu telah menjadi musuh negara nomor satu karena sebelumnya ia diberitakan merencanakan pembunuhan terhadap Presiden dengan meledakkan bom di rumah SBY di Cikeas.</p>
<p>Terkepung seperti itu, Noordin yang  selama ini dikabarkan amat licin dan lihai, kali ini tak mungkin lepas. Jangankan manusia, lalat pun tak mungkin lolos dari kepungan pasukan elite anti-teror Detasemen Khusus 88 Polri yang begitu ketat. Maka di layar televisi, pengepungan ini menjelma menjadi sebuah <em>reality show</em>.<span id="more-3093"></span></p>
<p>Acara ini tentu ditunggu-tunggu pemirsa. Semua yang diinginkan untuk menjadi <em>reality show</em> yang menarik tersedia. Ada ketegangan (<em>suspense</em>), ada drama, ada desingan peluru dar….der…..dor, ada tokohnya, yaitu Noordin Top, dan tentu ada pula darah.  Semua terjadi, agaknya, berkat kerja sama yang baik antara polisi dan televisi: polisi dapat publikasi gratis, televisi dapat berita untuk mendongkrak <em>rating </em>– dan kemudian banjir iklan. Klop. Karenanya kian lama pengepungan dilakukan, kian bagus. Iklan kian mengalir.</p>
<p>Maka wartawan tak perlu lagi kritis pada polisi.  Yang penting <em>rating</em> melonjak, iklan masuk, pemilik modal senang. Oleh sebab itu tak ada wartawan mempertanyakan, apakah benar orang di dalam rumah adalah Noordin M.Top?  Mengapa gembong teroris yang selama ini sudah terbukti lihai, <em>kok ngumpet</em> di rumah desa terpencil yang gampang dikepung? Bukankah dari pengalaman selama ini Noordin selalu bersembunyi di kawasan ramai sehingga mudah melarikan diri? Mengapa pula pengepungan begitu lama? Pendek kata tak ada pertanyaan kritis dari wartawan, padahal tugas utama wartawan adalah bertanya.</p>
<p>Belakangan ketahuan kalau pengepungan yang begitu spektakuler salah sasaran. Tak ada Noordin M.Top di dalam rumah. Yang dikepung pasukan elite dan wartawan selama 17 jam (kata polisi) adalah Ibrohim, petugas perangkai bunga Hotel J.W.Marriott, Mega Kuningan, Jakarta. Menurut polisi, Ibrohim terlibat dalam serangan bom bunuh diri di J.W. Marriott dan Ritz Carlton, dua hotel berbau Amerika. Wajar saja kalau ‘’dikeroyok’’ polisi seperti itu. Tubuh sang perangkai bunga remuk-redam oleh peluru dan lemparan bom.</p>
<p>Maka sempurnalah peristiwa ini sebagai hal yang memalukan, yang disaksikan jutaan pemirsa televisi. Ratusan polisi dan pasukan elite Anti-Teror dikerahkan dengan segala peralatan canggih selama 17 jam, hanya untuk menembak mati seorang perangkai bunga. Lalu bagaimana pertanggungjawaban profesional wartawan yang dengan yakin menyebarkan  berita kepada masyarakat seolah-olah yang dikepung itu adalah gembong teroris Noordin M.Top?</p>
<p>Celakanya lagi, setelah ternyata yang dikepung adalah Ibrohim, wartawan pun ramai-ramai mengkreasi Ibrohim seakan teroris hebat yang kalibernya tak kalah dari Noordin M.Top. Ada yang memberitakan Ibrohim disiapkan untuk menubrukkan truk bermuatan bom ke rumah kediaman Presiden SBY di Cikeas.</p>
<p><strong>Bermula dari Afghanistan</strong></p>
<p>Terus-terang Noordin M.Top pantas menjadi buron nomor satu bila dilihat dari rekam jejaknya selama ini. Tapi ketika disebutkan bahwa ia juga akan mengebom rumah Presiden SBY, untuk balas dendam atas dieksekusinya tiga pelaku bom Bali, mulai muncul tanda tanya kalau aksi-aksi terorisme yang terjadi agaknya akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis demi kekuasaan. Coba ingat pernyataan pers Presiden SBY sebelumnya bahwa terorisme ada hubungannya dengan Pemilihan Presiden (Pilpres), terorisme akan menggagalkan pelantikan presiden terpilih, kantor KPU akan diduduki, dan sebagainya, dan sebagainya. Ternyata tak satu pun informasi yang kata presiden berasal dari intelijen  itu, yang menjadi kenyataan.</p>
<p>Kalau saja berbagai teror di sini diamati sedikit seksama, akan jelas bahwa peristiwa yang terjadi selalu berkaitan dengan peristiwa global. Kaum teroris di sini selalu menjadikan kepentingan Amerika Serikat, Israel, dan negara Barat sekutunya sebagai target. Dan memang kasus terorisme di dunia ini selalu ada hubungannya dengan penjajahan Afghanistan dan Irak oleh Amerika Serikat dan NATO, atau penindasan Palestina oleh Israel.</p>
<p>Jadi seandainya benar Presiden SBY menjadi target teror, mungkin lebih masuk akal itu disebabkan kedekatannya dengan Amerika Serikat, atau mungkin karena pernyataan SBY sendiri yang pernah menyebut Amerika Serikat sebagai negerinya kedua. Jadi adalah amat naïf, mengulas habis terorisme di sini tanpa mengaitkannya dengan Amerika Serikat – seperti yang hari-hari ini dilakukan para wartawan di sini – terutama wartawan televisi.</p>
<p>Pers tampaknya seakan ingin mengamputasi hubungan terorisme di Indonesia dengan Amerika Serikat atau Israel.  Seolah-olah terorisme terjadi di Indonesia karena keinginan sekelompok orang di Indonesia yang ingin menjadikan Indonesia negara Islam. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa suburnya terorisme setelah terjadi serangan oleh Amerika Serikat ke Afghanistan, 2001, dan terutama ke Irak, 2003.</p>
<p>Profesor Mahmood Mamdani, Direktur Studi Afrika Columbia University, di dalam bukunya yang amat terkenal <em>Good Muslim, Bad Muslim</em> (Three Leaves Press, Doubleday, New York, 2005) mengungkap bagaimana peran Amerika Serikat dikaitkan dengan terorisme sekarang. Itu dimulai dari terpuruknya Amerika Serikat setelah kalah dalam perang Vietnam, pada 1975. Perang itu menyebabkan sekitar 50 ribu tentara Amerika Serikat terbunuh.</p>
<p>Kekalahan itu menyebabkan trauma. Kongres, misalnya, mengeluarkan keputusan yang menyebabkan pemerintah kesulitan melibatkan pasukan Amerika di luar negeri. Keterpurukan itu ditambah lagi berbagai peristiwa lain.</p>
<p>Pada 1979, meletus revolusi Islam di Iran dipimpin Ayatullah Khomenei, menggusur Shah Iran dari singgasana kekuasaan. Shah Iran selama ini adalah teman baik dan rela menyerahkan tambang minyaknya kepada Amerika Serikat. Dalam revolusi ini, bukan saja hubungan Amerika – Iran memburuk, tapi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran diduduki dan 50-an stafnya disandera oleh sejumlah mahasiswa Iran. Wibawa Amerika di mata internasional tambah terpuruk. Apalagi setelah operasi pasukan khusus yang dikirimkan Washington  guna membebaskan sandera gagal total dengan amat memalukan.</p>
<p>Lalu di tahun yang sama, Uni Soviet, musuh utama Amerika Serikat dalam Perang Dingin, menduduki Afghanistan. Amerika Serikat tak bisa berbuat apa-apa. Berbagai peristiwa itu menjadi penyebab Presiden Jimmy Carter dari Partai Demokrat dikalahkan calon Partai Republik, Ronald Reagan, dalam Pilpres waktu itu. Sebagai bekas bintang film Cowboy, Reagan dianggap lebih galak dan berani sehingga lebih tepat memimpin Amerika yang sedang terpuruk dibanding Carter yang mengutamakan perdamaian. Apalagi Reagan didampingi George H.W.Bush sebagai calon Wakil Presiden. Bush, ayah kandung George W. Bush, Presiden Amerika Serikat yang digantikan Barack Obama. Dia adalah bekas Direktur CIA.</p>
<p>Pilihan itu tampaknya tepat. Presiden Reagan pun melibatkan diri di Afghanistan dengan Wapres George H.W.Bush sebagai operatornya. Wartawan senior Craigh Unger dalam bukunya<em> House of Bush, House of Saud</em> (Scribner, 2004), mengungkapkan bahwa dalam perang antara pasukan Uni Soviet dengan pejuang Mujahidin di Afghanistan tahun 1980-an, Amerika membantu Mujahidin.</p>
<p>Ketika itu ditaksir sekitar 80.000 pasukan jihad dari berbagai pelosok dunia – termasuk dari Indonesia – datang ke Afghanistan untuk mengusir Uni Soviet. Di antara para pejuang itu terdapat Usamah Bin Ladin, putra konglomerat Arab Saudi, Muhammad Awad Bin Ladin, pendiri Saudi Binladin Group (SBG), perusahaan kontraktor paling terkemuka di Arab Saudi. Unger mengungkap di bukunya bahwa keluarga Wapres George H.W.Bush mengenal baik keluarga Bin Ladin, terutama dengan Salem Bin Ladin, anak tertua keluarga Bin Ladin yang menetap dan berbisnis di Houston, Texas.</p>
<p>Usamah bekerja sama dengan badan intelijen Amerika, CIA. Namanya cepat menjadi buah-bibir para pejuang, sebagai anak orang kaya-raya tapi bersedia berjihad melawan komunisme Uni Soviet.  Amerika dengan menggunakan para operator CIA, menurut buku itu, membantu para pejuang Mujahidin dana 3 milyar dollar.  Amerika pula yang mengirimkan rudal jinjing Stinger yang banyak digunakan Mujahidin merontokkan helikopter tempur Uni Soviet.</p>
<p><strong>Perang Pakai Perwakilan</strong></p>
<p>Presiden Reagan juga bekerja sama dengan Presiden Pakistan Zia Ulhaq. Bagi mereka berdua melawan Uni Soviet di Afghanistan adalah perang ideologi, yaitu melawan setan komunisme yang tak percaya Tuhan. Maka dari sekolah-sekolah agama dan pesantren di Pakistan, anak-anak muda direkrut untuk disiapkan menjadi tentara jihad melawan setan di Afghanistan. Anak-anak muda dari Indonesia, seperti Imam Samudera – sudah dieksekusi karena kasus Bom Bali – tertarik berjihad ke Afghanistan, dengan berlatih di kawasan Filipina Selatan. Dari sana Imam Samudera dan kawan-kawan diberangkatkan ke Afghanistan.</p>
<p>Kalau dibaca buku Craig Unger, <em>House of Bush, House of Saud</em>, maupun <em>Good Muslim, Bad Muslim</em> oleh Profesor Mahmood Mamdani, akan sangat jelas bahwa perang yang dilakukan Imam Samudra, atau Usamah Bin Ladin, untuk mengusir Uni Soviet dari Afghanistan, ternyata dimanfaatkan betul-betul oleh Presiden Reagan dan wakilnya, George H.W.Bush, untuk menghancurkan Uni Soviet sebagai musuh utama Amerika Serikat. ‘’Dalam perang ini, tak satu pun tentara Amerika yang gugur, meski perang ini sangat banyak memakan korban,’’ tulis Unger. ‘’Rakyat Amerika,’’ lanjutnya, ‘’tak mengenal Usamah Bin Ladin, kecuali segelintir yang mengikuti perang ini dengan serius. Mereka tahu bahwa Usamah dianggap hero oleh kalangan Islam militan.’’</p>
<p>Maka bagi Amerika Serikat, inilah yang disebut perang <em>by proxy</em>, perang dengan perwakilan, yang ternyata berhasil mengalahkan dan mengusir Uni Soviet dari Afghanistan. Kekalahan itu, menurut Patrick Buchanan, kolomnis dan intelektual konservatif yang pernah mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, menyebabkan Uni Soviet sebagai negara super-power akhirnya bubar dan terpecah-pecah. Buchanan berpendapat, banyak negara besar ambruk dimulai dengan kekalahan perang (Patrick J. Buchanan dalam <em>Day of Reckoning</em>, Thomas Dunne Books, 2008). Dengan bubarnya Uni Soviet, Amerika Serikat muncul sebagai super-power dunia satu-satunya.</p>
<p>Bila Buchanan benar, maka sesungguhnya keruntuhan Uni Soviet disebabkan kegigihan kaum Mujahidin, termasuk Usama Bin Ladin. Bukan karena kehebatan sistem kapitalisme Barat yang selama ini digembar-gemborkan berhasil mengalahkan sistem komunisme. Tapi yang memetik keuntungan adalah Amerika Serikat, walau tak seorang pun tentaranya turut bertempur di Afghanistan. Buat Amerika, apa yang terjadi di Afghanistan merupakan paradoks dari Perang Vietnam. Di Vietnam tentara Amerika terlibat langsung dengan korban yang tak sedikit, tapi perang itu tak bisa mereka menangkan.</p>
<p>Bagi kelompok Usamah Bin Ladin, kemenangan di Afghanistan, bukan saja menaikkan semangat dan kepercayaan diri, tapi memberi pengalaman penting tentang taktik dan strategi bertempur dengan bergerilya, kemahiran menggunakan senjata, membuat dan meledakkan bom, dan berbagai hal lain. Maka berbagai pembuatan bom untuk teror di Indonesia sekarang, misalnya, berasal dari pengalaman di Afghanistan.</p>
<p>Pola rekrutmen para pejuang jihad global ketika menghadapi Uni Soviet, kini menginspirasi para pejuang di Iraq atau Afghanistan yang berdatangan dari seluruh dunia. Bedanya: kini para pejuang global di Iraq atau Afghanistan adalah musuh – dan digelari teroris &#8211;, bukan teman Amerika Serikat seperti pejuang Afghanistan dulu. Walau mungkin saja orangnya masih sama.</p>
<p>Sebagai contoh, Gulbuddin Hekmatyar, salah satu pemimpin Mujahidin itu. Dulu dia dianggap Amerika sebagai pejuang kemerdekaan Afghanistan. Kini Gulbuddin dituduh  teroris, karena dia bergabung dengan Taliban melawan pasukan Amerika dan NATO. Begitu pula Usamah Bin Ladin. Dulu dia teman dekat CIA melawan pasukan Uni Soviet, karenanya dia pejuang. Kini dia adalah teroris nomor satu dunia yang paling diburu Amerika Serikat dan kawan-kawannya, karena dia musuh Amerika Serikat. Pemimpin puncak Al-Qaeda itu dianggap bertanggung-jawab merubuhkan Menara Kembar WTC New York. Kesimpulannya: teman Amerika Serikat adalah pejuang dan semua musuh Amerika Serikat adalah teroris, sekalipun mereka berjuang untuk memerdekakan negerinya, seperti yang sekarang terjadi di Iraq atau Afghanistan.</p>
<p>Tapi karena Amerika adalah <em>super-power</em>, maka dia adalah kebenaran. Semua tindakannya benar, semua lawannya salah. Membunuh, menyiksa tahanan, atau berdagang Narkoba adalah salah, kecuali itu dilakukan Amerika Serikat. Akibat serbuan pasukan Amerika ke Iraq, hampir 1 juta penduduk Irak terbunuh, tapi mantan Presiden Bush yang memerintahkan penyerbuan sampai sekarang tak pernah diadili.</p>
<p>Perang Vietnam 1964 – 1975, menyebabkan 4 juta penduduk Vietnam dan Indochina terbunuh. Jutaan lainnya luka-luka. Belum dihitung kerugian material dan moril. Amerika melakukan produksi dan perdagangan Narkoba di Laos dan sekitarnya dengan melibatkan badan intelijen CIA dan badan bantuan pemerintah Amerika Serikat, USAID. Mereka bekerjasama dengan raja-raja opium di daerah itu yang kemudian terkenal sebagai kawasan Segi Tiga Emas, produsen Narkoba terbesar di dunia pada masanya.</p>
<p>Amerika kemudian melakukan hal sama di Afghanistan, di tahun 1980-an. Melalui perdagangan Narkoba, CIA mempersenjatai dan membiayai pasukan Mujahidin di Afghanistan untuk melawan tentara pendudukan Uni Soviet (lihat Craig Unger dalam <em>House of Bush, House of Saud</em>, Scribner 2004). Sekarang Afghanistan merupakan penghasil opium terbesar dunia.</p>
<p>Kekejaman Amerika juga terjadi di berbagai negara Amerika Latin seperti Panama, Haiti, Guatemala, dan Cile. Tak aneh kalau selain di kawan Timur Tengah, Amerika paling dibenci di Amerika Latin.</p>
<p>Setelah terjadi serangan teror terhadap Menara Kembar WTC di New York dan Pentagon, 11 September 2001, Presiden Bush menuntut Pemerintah Afghanistan pimpinan Mullah Omar menyerahkan Usamah Bin Ladin yang katanya bersembunyi di Afghanistan. Mereka menuduh Mullah Omar melindungi Usamah, orang yang bertanggung jawab atas serangan teror itu.  Ketika Mullah Omar menolak, pesawat-pesawat tempur Amerika segera mengebom Afghanistan. Perang yang tak seimbang itu dimulai.</p>
<p>Sampai kini sudah 7 tahun operasi militer dilakukan Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya. Sekitar 50.000 pasukan dikerahkan, 33.000 di antaranya dari Amerika. Kini di bawah Presiden Obama, Amerika malah berusaha menambah lagi pasukannya.</p>
<p>Seth Jones analis dari Rand Corporation yang telah beberapa tahun membuat studi tentang Taliban, mengatakan wajar kemampuan Taliban meningkat setelah 7 tahun terlatih bertempur menghadapi pasukan Amerika Serikat dan NATO.</p>
<p>Menurut Jones, pimpinan puncak Taliban seperti Mullah Omar, Siraj Haqqani, dan Gulbuddin Hekmatyar, masih aktif dan belum berhasil ditangkap. Begitu pula Usamah Bin Ladin, pemimpin tertinggi Al-Qaeda, musuh nomor satu Amerika.</p>
<p>Profesor Bryan Glyn William, ahli sejarah Islam dari University of Massachusetts, Dartmouth, berpendapat sejak pertengahan 2007, Al-Qaeda di Iraq (AQI) melemah. Bersamaan dengan itu Al-Qaeda di Afghanistan menguat.</p>
<p>Menurut Profesor itu, sejak 2007 website jihad di seluruh dunia, dari Chechnya, Turki, sampai Timur Tengah, mulai memuat advertensi menyerukan <em>lions of Islam</em> (para singa Islam) di seluruh dunia untuk berjuang di Afghanistan. Baik juga bila seruan itu sampai ke Indonesia sehingga <em>lions of Islam </em>di sini berangkat dan berperang ke Afghanistan atau Irak, menghadapi langsung tentara Amerika dan sekutunya. Itu mungkin lebih baik daripada mengebom kepentingan dan bau Amerika di sini, tapi dampaknya sangat merugikan bangsa sendiri.</p>
<p>Yang ingin disimpulkan: akar semua terorisme sekarang ini adalah Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia dan banyak negara lain hanya korban. Jadi adalah aneh kalau kita mau membahas dan memberantas terorisme tanpa membicarakan – atau malah menyembunyikan &#8212; keterlibatan Amerika Serikat. Tapi itulah yang terjadi sekarang. [<strong>AS</strong>/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9131:2009-10-03-13-50-42&amp;catid=97:amran-nasution&amp;Itemid=84" target="_blank"><strong><em>www.hidayatullah.com</em></strong></a>]</p>
<p><em>Penulis adalah Direktur Institute For Policy Studies (IPS) dan kolumis www.hidayatullah.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/terorisme-tanpa-amerika-serikat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Gempa Sumatra</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/makna-gempa-sumatra</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/makna-gempa-sumatra#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 17:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[adian husaini]]></category>
		<category><![CDATA[gempa sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3083</guid>
		<description><![CDATA[Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita mampu melecut kita semua untuk sadar diri. CAP ke-270 Oleh: Dr. Adian Husaini Bumi Indonesia, negeri kita,  lagi-lagi dihantam gempa. Kali ini, 30 September 2009,  wilayah Sumatra Barat, khususnya kota Padang dan Pariaman menerima pukulan berat. Bumi digoncang keras dengan gempa berkekuatan 7,6 skala Richter. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita mampu melecut kita semua untuk sadar diri. CAP ke-270</em></strong><br />
<strong><br />
Oleh: Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>Bumi Indonesia, negeri kita,  lagi-lagi dihantam gempa. Kali ini, 30 September 2009,  wilayah Sumatra Barat, khususnya kota Padang dan Pariaman menerima pukulan berat. Bumi digoncang keras dengan gempa berkekuatan 7,6 skala Richter. Hampir semua gedung bertingkat di Kota Padang runtuh atau rusak berat. Ratusan orang tertimbun dalam reruntuhan gedung. Ratusan lainnya tertimbun tanah. Bahkan ada puluhan anak yang sedang belajar di satu gedung bimbingan belajar tertimbun reruntuhan bangunan.</p>
<p>Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa bumi Minang yang terkenal dengan semboyan ”Adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabullah”. Dan Mengapa ini terjadi?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.<span id="more-3083"></span></p>
<p>Seperti biasa, setiap terjadi gempa, para ilmuwan selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser atau pecahnya lempengan tertentu di bumi. Bagi orang sekular, gempa dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Tapi, sebaliknya, orang mukmin yakin benar bahwa gempa ini bukan sekedar peristiwa alam biasa. Hubungan kausalitas tidaklah bersifat pasti, tetapi tergantung kepada kehendak (Iradah) Allah. Api yang mestinya membakar tubuh Nabi Ibrahim, bisa kehilangan daya bakarnya, karena kehendak Allah. Biasanya, dalam berbagai bencana muncul berbagai ”keajaiban” yang di luar jangkauan manusia.</p>
<p>Allah SWT menjelaskan dalam al-Quran (yang artinya):</p>
<p>“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al-Hadid:22-24)</p>
<p>Sebuah ayat al-Quran juga menjelaskan terjadinya peristiwa semacam gempa bumi di masa lalu, (yang artinya): &#8220;Orang-orang sebelum mereka telah melakukan makar kepada Allah, maka Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari pondasi-pondasinya, dan Allah menjatuhkan atap-atap (bangunan) dari atas mereka, dan Allah menurunkan azab dari arah yang tidak mereka perkirakan.” (QS an-Nahl: 26).</p>
<p>Entah rahasia apa yang terkandung dalam Gempa Sumatra kali ini. Setiap musibah mengandung banyak makna. Akal kita terlalu terbatas untuk memahami hakekat segala sesuatu dalam kehidupan. Kita tidak mudah paham, mengapa dalam gempa kali ini, begitu banyak anak-anak yang tertimbun reruntuhan gedung. Anak-anak itu sedang belajar. Bukan sedang bermaksiat. Hikmah apa yang terkandung dalam peristiwa semacam ini? Tidak mudah memahami semua itu, sebagaimana juga Nabi Musa a.s. sangat sulit memahami berbagai tindakan Chaidir a.s.</p>
<p>Memang, suatu musibah bisa bermakna sebagai hukuman Allah bagi orang-orang yang berdosa. Musibah juga bisa bermakna ujian bagi orang-orang yang beriman. Musibah pun bermakna peringatan Allah bagi orang-orang yang selamat.  Kita yang selamat dari musibah, sejatinya sedang diberi peringatan oleh Allah, agar kita segera ingat kepada Allah, agar segera melakukan evaluasi dan segera melakukan perbaikan diri. Biasanya, manusia memang cenderung mendekat kepada Allah ketika berada dalam bahaya. Kita biasanya berdoa dengan tulus ikhlas ketika pesawat yang kita tumpangi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Ketika itu kita berjanji, berdoa dengan tulus, bahwa kalau kita selamat, maka kita akan berbuat baik di dunia. Tapi, ketika pesawat mendarat dengan selamat, maka biasanya manusia kembali melupakan Allah dan sibuk dengan urusan dunia. Sejumlah ayat al-Quran menggambarkan sifat manusia kebanyakan semacam itu:</p>
<p>”Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan; sehingga ketika kamu berada di dalam bahtera, lalu meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, maka datanglah angin badai; dan ketika gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka tengah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): ”Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”</p>
<p>Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus: 22-23).</p>
<p>Bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah, Insyaallah ini adalah ujian bagi mereka. Jika mereka sabar, maka pahala besarlah bagi mereka. Ujian adalah bagian dari kehidupan orang mukmin, baik ujian senang maupun ujian susah. Manusia selalu diuji imannya. Dengan ujian itulah, maka tampak, siapa yang imannya benar dan siapa yang imannya dusta.</p>
<p>”Apakah manusia menyangka b ahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ”Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut: 2-3).</p>
<p>Lihatlah di dunia ini! Ada orang-orang yang diuji oleh Allah dengan segala macam kekurangan. Ada yang diuji dengan kecacatan, kebodohan, dan kemiskinan. Ada yang diuji dengan harta melimpah, kecerdasan, dan kecantikan. Ada yang diuji dengan musibah demi musibah. Semua itu adalah ujian dari Allah.   Hidup di dunia ini adalah menempuh ujian demi ujian. Jika kita lulus, maka kita akan selamat di akhirat. Karena itu, apa pun hakekat dari musibah gempa Sumatra kali ini, maka mudah-mudahan ujian itu mampu mendorong saudara-saudara kita di sana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin aktif berdakwah memberantas segala bentuk kemunkaran yang mendatangkan kemurkaan Allah. Kita diingatkan, bahwa manusia mudah lupa. Sampai beberapa hari setelah musibah, biasanya masjid-masjid masih dipenuhi jamaah. Tapi, setahun berlalu, biasanya manusia sudah kembali melupakan Allah dan lebih sibuk pada urusan duniawi.</p>
<p>Bagi yang meninggal dalam musibah, kita doakan, semoga mereka diterima Allah dengan baik; amal-amalnya diterima, dan dosa-dosanya diampuni. Musibah tidak pandang bulu. Manusia yang baik dan buruk juga bisa terkena. Allah SWT sudah mengingatkan, “Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya.” (QS an-Anfal:25).</p>
<p>Kita yang selamat baiknya segera menyadari, bahwa di mana pun kita berada,  kematian akan selalu mengintai. Dalam surat an-Nahl:26, kita diingatkan, bahwa hukuman Allah ditimpakan kepada umat manusia, karena melakukan makar kepada Allah. Mereka berani menentang Allah secara terbuka, secara terang-terangan. Kita tidak perlu ikut-ikutan tindakan makar kepada Allah yang dilakukan sebagian orang. Misalnya, Allah jelas-jelas menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina. Tetapi yang kita saksikan, di negeri kita, ada orang nikah malah masuk penjara dan para pelaku zina tidak mendapatkan sanksi apa-apa. Bahkan, di negeri yang harusnya menjunjung tinggi paham Tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) ini, sejumlah media massa berani menghujat hukum-hukum Allah secara terbuka. Padahal, yang berhak menentukan halal dan haram adalah Allah. Adalah tindakan yang tidak beradab jika maanusia berani merampas hak Allah tersebut.</p>
<p>Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan berekspresi (freedom od expression) &#8212; dengan terang-terangan menantang aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!”  Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” ((Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!</p>
<p>Para ulama sering menyerukan agar tayangan-tayangan di TV yang merusak akhlak dihentikan. Banyak laki-laki yang berpakaian dan berperilaku seperti wanita. Padahal itu jelas-jelas dilaknat oleh Rasulullah saw. Tapi, peringatan Rasulullah saw yang disampaikan para ulama itu diabaikan, bahkan dilecehkan. Kaum wanita yang tercekoki paham kesetaraan gender didorong untuk semakin berani menentang suami, menolak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, dan menganggap wanita sama sederajat dengan laki-laki.  Bahkan, di zaman seperti sekarang ini, ada sejumlah dosen agama yang secara terang-terangan berani menghalalkan perkawinan sesama jenis. Manusia seperti ini bahkan dihormati, diangkat sebagai cendekiawan, disanjung-sanjung, diundang seminar ke sana kemari, diberi kesempatan menjadi dosen agama. Jika manusia telah durhaka secara terbuka kepada Allah, maka Sang Pencipta tentu mempunyai kebijakan sendiri. Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri&#8221;. (HR Thabrani dan Al Hakim).</p>
<p>Dalam soal homoseksual, Allah sudah memperingatkan:</p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: &#8220;Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang Amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu&#8221;. (QS al-Ankabut:28).</p>
<p>Rasulullah saw juga memperingatkan:</p>
<p>“Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Ahmad).</p>
<p>Pada setiap zaman, manusia selalu terbelah sikapnya dalam menyikapi kebenaran. Ada yang menjadi pendukung kebenaran dan ada pendukung kebatilan. Yang ironis, di era kebebasan sekarang ini, ada orang-orang yang sebenarnya tidak memahami persoalan dengan baik, ikut-ikutan bicara. Pada 29 September 2009 lalu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, di tengah malam, saya mendengarkan  pro-kontra masyarakat tentang rencana kedatangan seorang artis porno dari Jepang ke Indonesia. Si artis itu kabarnya akan main film di Indonesia. Yang ajaib, banyak sekali pendengar radio tersebut yang menyatakan dukungannya terhadap kedatangan artis porno tersebut. Kata mereka tidak ada alasan untuk melarangnya, karena dia bukaan teroris. Suara MUI yang keberatan dengan rencana kedatangan artis tersebut, menjadi bahan ejekan. Sungguh begitu sukses setan dalam menipu manusia, sehingga perbuatan-perbuatan bejat dipandang indah; sebaliknya perbuatan baik malah dipandang jahat.</p>
<p>”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.” (QS an-Nahl: 63).</p>
<p>Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita mampu melecut kita semua untuk sadar diri dan mengenali mana yang baik dan mana yang buruk. Allah SWT senantiasa membukakan pintu taubat-Nya untuk kita semua. Dunia ini hanyalah kehidupan yang penuh dengan tipuan dan ujian. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Banyak manusia meratapi bencana fisik, tapi mengabaikan bencana iman berupa meluasnya kekufuran.  Kita wajib menolong saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, semampu kita. Pada saat yang sama, kita berdoa, mudah-mudahan Allah masih mengasihani kita semua, menunda azab atau hukumannya, dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah dan memperbaiki diri. Amin. [Depok, 3 Oktober 2009/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9361:2009-10-03-13-39-08&amp;catid=3:adian-husaini&amp;Itemid=58" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
<p>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta FM dan situs www.hidayatullah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/makna-gempa-sumatra/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara &#8220;Miss Universe&#8221; dan &#8220;Sapi Perah&#8221;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/antara-miss-universe-dan-sapi-perah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/antara-miss-universe-dan-sapi-perah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 02:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[miss universe]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2693</guid>
		<description><![CDATA[Tak akan ada gadis sumbing terpilih menjadi ratu kecantikan,  meski IQ-nya tinggi. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-268 Oleh: Dr. Adian Husaini* Menjelang bulan suci Ramadhan 1430 Hijriah, media massa Indonesia banyak menyiarkan berita tentang prestasi yang diraih oleh Zivanna Letisha Siregar, anak Indonesia yang ikut dalam Kontes Ratu Kecantikan Sejagad (Miss Universe) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Tak akan ada gadis sumbing terpilih menjadi ratu kecantikan,  meski IQ-nya tinggi. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-268<br />
</em><br />
Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini*</strong><br />
<em><strong><br />
</strong></em>Menjelang bulan suci Ramadhan 1430 Hijriah, media massa Indonesia banyak menyiarkan berita tentang prestasi yang diraih oleh Zivanna Letisha Siregar, anak Indonesia yang ikut dalam Kontes Ratu Kecantikan Sejagad (<em>Miss Universe</em>) 2009.</p>
<p>Hasil jajak pendapat di missuniverse.com pada Kamis (20/8/2009) menunjukkan, Zizi – panggilan Zivanna – menduduki peringkat ketiga, satu prestasi yang belum pernah diraih oleh putri Indonesia sebelumnya. Prestasi itu diraih karena banyaknya orang Indonesia yang mendukungnya lewat polling. Media massa pun gegap gempita mendukungnya. Banyak yang  secara terbuka bangga dan berharap, Zizi akan menang dalam kontes <em>Miss Universe</em> tersebut.</p>
<p>Menariknya, hampir tidak tampak lagi suara yang mempersoalkan keikutsertaan wakil Indonesia tersebut di pentas pemilihan Ratu Sejagad. Nyaris tak terdengar suara MUI, Departemen Agama, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Seolah-olah kehadiran Zizi di pentas kecantikan internasional itu memang sudah direstui oleh bangsa Indonesia. Padahal, dalam kontes tersebut,  Zizi menampilkan pakaian bikini yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu mengundang kontroversi.<span id="more-2693"></span></p>
<p>Begitu kuatnya arus global informasi tersebut, sehingga mampu menyekat suara-suara yang berbeda. Semua seperti digiring untuk bungkam. Seolah-olah banyak yang sudah tahu akan resiko yang dihadapi jika berani mempersoalkan hal-hal seperti ini, maka akan dengan mudah dikecam sebagai manusia yang sok moralis, menghambat kebebasan berekspresi, kaum radikal, dan sebagainya.</p>
<p>Mungkin, sadar akan kekuatan besar seperti itulah, maka banyak yang memilih diam, atau enggan berkomentar. Semua seperti sadar bahwa sekarang adalah zaman kebebasan. Ini zaman liberal. Semua serba boleh. Maksiat atau tidak maksiat tidak peduli lagi. Yang penting seru! Yang penting enak ditonton! Yang penting menghibur! Yang penting menghasilkan uang! Persetan dengan semua nilai moral atau agama!</p>
<p>Padahal, diukur dari sudut pandang Islam, jelas keikutsertaan dalam kontes kecantikan seperti kontes <em>Miss Universe</em> adalah perbuatan haram. Itu jelas dosa! Itulah kemungkaran yang sangat nyata; mengumbar aurat di muka umum. Mungkin Zizi dan para pendukungnya berpikir bahwa tubuh yang dimilikinya adalah miliknya sendiri, dan dia merasa seratus persen berhak menggunakannya untuk tujuan apa saja sesuai kehendaknya. Tidak ada urusan dengan aturan Allah SWT. Mungkin, mereka juga berpikir, bahwa toh, tindakan itu tidak merugikan orang lain! Tidak mengganggu lain. Apa salahnya!</p>
<p>Salah satu media internet yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia dalam ajang Miss Universe 2009 itu adalah <a href="http://www.voa-islam.com/"><em>www.voa-islam.com</em></a>.     Situs ini secara tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban di mana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Saw? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban, di mana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”</p>
<p>Dalam suasana gegap gempitanya paham kebebasan dan – meminjam istilah Taufik Ismail &#8211;  ”Gerakan Syahwat Merdeka”  di Indonesia, memang suara-suara yang menyerukan agar manusia Indonesia menjadi manusia-manusia yang lebih adil dan beradab menjadi tenggelam.  Padahal, ada al-Quran sudah mengajak perempuan untuk menutup auratnya: &#8220;<em>Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya ke dadanya</em>&#8221; (QS An-Nur:31).</p>
<p>Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda: &#8220;<em>Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain,  dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.</em>&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Betapa pun, Zizi adalah Muslimah. Bahkan, konon, ia adalah lulusan sebuah SMU Islam di Jakarta. Yang harus dilakukan jika seorang Muslim/Muslimah ketika melakukan tindakan dosa adalah bertobat. Bukan malah bangga dengan tindakannya dan mengajak orang lain untuk mengikuti tindakan dosanya. Apakah Zizi, kedua orang tua, dan pendukungnya yang Muslim  tidak tahu bahwa tindakan mengumbar aurat seperti itu adalah tindakan dosa? Sebagai sesama Muslim, kita WAJIB mengimbau dan menasehatinya. Kita tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Masing-masing kita akan bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri di hadapan Allah.<br />
<strong><br />
Sapi perah</strong></p>
<p>Jika Zizi dan para pendukungnya enggan mendengar pendapat yang masih berbau agama, ada baiknya juga disimak pendapat Dr. Daoed Joesoef,  seorang cendekiawan yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai tokoh sekular. Daoed Joesoef pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&amp;K) selama satu periode (1977-1982).  Semasa hidupnya, Daoed Joesoef dikenal dengan pemikirannya yang sekular.</p>
<p>Pemikirannya yang sekular telah banyak mengundang kritik dari para tokoh Islam. Tetapi, ada satu sisi pemikirannya sejalan dengan tokoh-tokoh Islam di Indonesia, yaitu kritik-kritiknya yang keras dan tajam terhadap keberadaan kontes ratu-ratuan.  Daoed Joesoef adalah doktor lulusan Sorbonne Perancis (1972) dan Ketua Dewan Direktur CSIS (1972-1998). Ia juga pernah menjadi anggota pengurus organisasi ”Angkatan Seni Rupa Indonesia” di Medan (1946), dan Ketua cabang Yogyakarta untuk organisasi ”Seniman Indonesia Muda” (1946-1947).</p>
<p>Betapa sekularnya pemikiran Daoed Joesoef bisa disimak dari sikapnya yang tidak mau mengucapkan salam Islam saat menjabat Menteri P&amp;K. Dalam memoarnya yang terbit tahun 2006 berjudul ”<em>Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran</em>”, Daoed Joesoef  memberikan alasan: ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, dan lain-lain, bukan negara agama dan pasti bukan negara Islam.”</p>
<p>Tentu saja, jika diukur pada tataran sekarang, pandangan dan sikap Daoed Joesoef semacam itu tampak ganjil. Tetapi, tidak semua pendapat Daoed Joesoef perlu ditolak. Ada pendapatnya yang sangat menarik untuk disimak dan direnungkan. Sebagai cendekiawan, pandangannya terhadap berbagai jenis kontes ratu kecantikan, bisa dikatakan sangat tajam dan mendasar.</p>
<p>Saat menjadi Menteri P&amp;K pula, Daoed Joesoef menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan miss dan ratu kecantikan. Ketika itu memang sedang marak-maraknya promosi aneka ragam miss, ada Miss Kacamata Rayban, Miss Jengki, Miss Fiat, Miss Pantai, di samping pemilihan ratu ayu daerah, ratu ayu Indonesia, yang langsung dikaitkan dengan berbagai jenis keratuan internasional. Dan semuanya, tulis Daoed Joesoef, ”menyatakan demi manfaat dan kegunaan (pariwisata) serta keharuman nama dan martabat Indonesia.”</p>
<p>Apa kata Daoed Joesoef tentang semua jenis ratu-ratuan tersebut? <em>”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori  anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,</em>” tulis Daoed Joesoef.</p>
<p>Menurut mantan dosen FE-UI ini, wanita yang terjebak ke dalam kontes ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Lebih jauh, Daoed Joesoef menyampaikan kritik pedasnya: <em>”Pendek kata kalau di zaman dahulu para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan perempuan di forum internasional.”</em></p>
<p>Dari 900 halaman lebih memoarnya tersebut, Daoed Joesoef memberikan porsi cukup panjang (hal. 649-657) untuk menguraikan buruknya praktik-praktik ratu-ratuan bagi perempuan itu sendiri. Perempuan tentu boleh tampil cantik. Tapi, Daoed Joesoef mengingatkan tiga hal. <em>Pertama</em>, jangan ia diumbar, dibiarkan untuk dieksploitasi seenaknya oleh orang/pihak lain hingga membahayakan dirinya sendiri. <em>Kedua</em>, jangan memupuknya secara berlebihan, karena bagaimana pun kecantikan itu hanya setebal kulit. <em>Ketiga</em>, kecantikan yang dipupuk dan lalu dijadikan standar personalitas perempuan berpotensi menjadi liang kubur  perempuan yang bersangkutan.  Bila kecantikan itu redup, karena hanya setebal kulit, berarti perempuan itu tidak dapat lagi memenuhi standar yang telah dipatoknya sendiri. Orang lain, termasuk suaminya, akan membelakanginya, lalu berpaling ke perempuan cantik lain.</p>
<p>Semasa belajar di Paris, Daoed Joesoef mengaku pernah membaca sebuah kasus seorang guru matematika dipecat oleh Menteri Pendidikan Nasional Perancis, gara-gara guru tersebut mengikuti kontes ratu kecantikan daerah yang merupakan awal dari pemilihan ratu kecantikan nasional. Ketika itu tidak ada media yang membelanya, karena publik menganggap kegiatan seperti itu tidak pantas dilakukan seorang guru. Karena itu, menurutnya, jika ada pendidik yang membela kegiatan pemilihan ratu ayu, pantas sekali dipertanyakan bagaimana keadaan nuraninya.<br />
<em><br />
”Apa kata inteleknya tidak perlu dipersoalkan, karena sekarang ini keintelektualan bisa disewa per hari, per minggu, per bulan, per tahun, bahkan permanen, dengan honor yang lumayan. Artinya, even seorang intelek bisa saja melacurkan kemurnian inteleknya karena nurani sudah diredam oleh uang,”</em> tulis Daoed Joesoef.</p>
<p>Daoed Joesoef  menolak argumentasi bahwa kontes kecantikan juga menonjolkan sisi-sisi intelektual perempuan dan banyak pesertanya yang mahasiswi. Juga ia menolak alasan bahwa penggunaan pakaian renang dalam kontes semacam itu adalah hal yang biasa.  <em>”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang,”</em> tulis Daoed Joesoef lebih jauh.</p>
<p>Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: <em>”setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”<br />
</em><br />
Terhadap orang yang menyatakan bahwa yang dinilai dalam kontes kecantikan bukan hanya kecantikannya, tetapi juga otaknya, sikapnya, dan keberaniannya, Daoed Joesoef  menyatakan, bahwa semua itu hanya embel-embel  guna menutupi kriterium kecantikan yang tetap diunggulkan. <em>”Percayalah, tidak akan ada gadis sumbing yang akan terpilih menjadi ratu betapa pun tinggi IQ-nya, terpuji sikapnya atau keberaniannya yang mengagumkan,”</em> tulisnya.</p>
<p>Terhadap alasan kegunaan kontes ratu kecantikan untuk promosi wisata dan penarikan devisa, Daoed Joesoef menyebutnya sebagai <em>wishful thinking</em> belaka, untuk menarik simpati masyarakat dan dukungan pemerintah. Kalau keamanan terjamin, jaringan transpor bisa diandalkan, sistem komunikasi lancar, bisa <em>on time</em>, pelayanan hotel prima, maka keindahan alam Indonesia saja cukup bisa menarik wisatawan.</p>
<p>Lalu, apa jalan keluarnya? ”Stop all those nonsense! <em>Hentikan semua kegiatan pemilihan ratu kecantikan yang jelas mengeksploitasi perempuan dan pasti merendahkan martabatnya!” seru Daoed Joesoef. “Namun,”  lanjutnya, “kalau perempuan sendiri bergairah melakukan perbuatan yang tercela itu karena kepentingan materi sesaat tanpa mempedulikan masa depan anak-anak, ya mau bilang apa lagi!</em>”.</p>
<p>Meskipun kita tidak sependapat dengan banyak pemikiran sekular Daoed Joesoef, tetapi pandangannya tentang ratu-ratuan ini patut kita acungi jempol. Kini, di tengah-tengah semakin menguatnya hegemoni liberalisme nilai-nilai moral dan menghunjamnya paham materialisme, pendapat jernih Daoed Joesoef dalam soal peran dan kedudukan perempuan perlu diperhatikan, khususnya bagi pejabat dan pemuka masyarakat. Secara terbuka Daoed Joesoef mengimbau:</p>
<p>“Kalaupun gadis-gadis kita yang cantik jelita lagi terpelajar, cerdas dan terampil serta berbudi pekerti terpuji dan berani, masih berhasrat menyalurkan energinya yang menggebu-gebu ke kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, siapkanlah diri mereka agar menjadi IBU yang ideal, memenuhi perempuan yang sebenarnya dalam keluarga, perannya yang paling alami. Jadi bukan peran  sembarangan, karena mendidik makhluk ciptaan Tuhan yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya.  Jangan anggap bahwa mengasuh, membesarkan dan mendidik anak secara benar bukan suatu pekerjaan yang terhormat. Pekerjaan ini memang tidak menghasilkan uang, pasti tidak membuahkan popularitas, tentu tidak akan ditampilkan oleh media massa dengan penuh kemegahan, tetapi ia pasti mengandung suatu misi yang suci…”</p>
<p>Demikianlah, sebuah contoh pemikiran yang jernih tentang kedudukan dan martabat perempuan. Mudah-mudahan masih ada petinggi negara dan elite masyarakat yang mendukung pemikiran semacam ini, dan kemudian berani melakukan tindakan untuk menegakkan kebenaran, meskipun resikonya, dia bisa jadi tidak akan populer. [<strong>Depok, 20 Agustus 2009/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9055:antara-miss-universe-dan-sapi-perah&amp;catid=3:adian-husaini&amp;Itemid=58" target="_blank"><em>www.hidayatullah.com</em></a></strong>].<br />
<em><br />
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara  <strong>Radio dakta 107 FM</strong> dan <strong>www.hidayatullah.com</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/antara-miss-universe-dan-sapi-perah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pendidikan dan Manusia Beradab&#8221;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pendidikan-dan-manusia-beradab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pendidikan-dan-manusia-beradab#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 00:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2623</guid>
		<description><![CDATA[Dunia pendidikan Islam,  sudah saatnya mengkonsentrasikan diri membentuk manusia-manusia yang beradab. Tapi hanya bisa dilakukan jika mengajarkan ilmu yang benar. Baca CAP Adian ke-266 Oleh: Dr. Adian Husaini Jurnal Islamia-Republika (kerjasama INSISTS dan Harian Republika) edisi Kamis (9 Juli 2009), membahas secara panjang lebar tentang konsep pendidikan dan adab dalam ajaran Islam. Pembahasan ini mengangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><em>Dunia pendidikan Islam,  sudah saatnya mengkonsentrasikan diri membentuk manusia-manusia yang beradab. Tapi hanya bisa dilakukan jika mengajarkan ilmu yang benar. Baca CAP Adian ke-266</em></p>
<p>Oleh: Dr. Adian Husaini<em><strong><br />
</strong></em><br />
Jurnal Islamia-Republika (kerjasama INSISTS dan Harian Republika) edisi Kamis (9 Juli 2009), membahas secara panjang lebar tentang konsep pendidikan dan adab dalam ajaran Islam. Pembahasan ini mengangkat kembali salah ajaran yang sangat penting dalam Islam, yaitu masalah adab. Banyak ulama yang sudah membahas masalah adab. Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, misalnya, dalam kitabnya, ?dabul ?lim wal-Muta’allim, mengutip pendapat Imam al-Syafi’i yang menjelaskan begitu pentingnya kedudukan adab dalam Islam. Bahkan, Sang Imam menyatakan, beliau mengejar adab laksana seorang ibu yang mengejar anak satu-satunya yang hilang.</p>
<p>Lalu, Syaikh Hasyim Asy’ari mengutip pendapat sebagian ulama: ”at-Tawh?du y?jibul ?m?na, faman l? ?m?na lah?  l? tawh?da lah?;  wal-?m?nu y?jibu al-syar?’ata, faman l? syar?’ata lah?, l?  ?m?na lah? wa l? tawh?da lah?; wa al-syar?’atu y?jibu al-adaba, faman l?  ?daba lah?, l? syar?’ata lah? wa l? ?m?na lah? wa l? tawh?da lah?.” (Hasyim Asy’ari, ?dabul ?lim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H). hal. 11).<span id="more-2623"></span></p>
<p>Jadi, secara umum, menurut Kyai Hasyim Asy’ari,  Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab maka (pada hakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.</p>
<p>Jadi, betapa pentingnya kedudukan adab dalam ajaran Islam. Lalu, apa sebenarnya konsep adab?  Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.”  Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia karana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001).</p>
<p>Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Jika al-Quran menyebutkan, bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa (QS 49:13), maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih.</p>
<p>Dalam masyarakat yang beradab, seorang penghibur tidak akan lebih dihormati ketimbang pelajar yang memenangkan Olimpiade fisika. Seorang pelacur atau pezina ditempatkan pada tempatnya, yang seharusnya tidak lebih tinggi martabatnya dibandingkan muslimah-muslimah yang shalihah. Itulah adab kepada sesama manusia.</p>
<p>Adab juga terkait dengan ketauhidan, sebab adab kepada Allah mengharuskan seorang manusia tidak menserikatkan Allah dengan yang lain. Tindakan menyamakan al-Khalik dengan makhluk merupakan tindakan yang tidak beradab. Karena itulah, maka dalam al-Quran disebutkan, Allah murka karena Nabi Isa a.s. diangkat derajatnya dengan al-Khalik, padahal dia adalah makhluk. Tauhid adalah konsep dasar bagi pembangunan manusia beradab. Menurut pandangan Islam, masyarakat beradab haruslah meletakkan al-Khalik pada tempat-Nya sebagai al-Khalik, jangan disamakan dengan makhluk. Karena membawa agama Tauhid (bukan agama Kristen), maka Nabi Isa a.s. mengingatkan: ”Dan ingatlah ketika Isa ibn Maryam, wahai anak keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, membenarkan apa yang telah ada pada kita, yaitu Taurat dan memberikan kabar gembira (akan datangnya) seorang Rasul yang bernama Ahmad.” (QS 61:6).</p>
<p>Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah Nabi, utusan Allah, sebagaimana para nabi sebelumnya. Itulah tindakan yang beradab. Karena Nabi Isa a.s. memang manusia, dan harus kita tempatkan sebagai manusia, bukan sebagai ”sekutu” Allah atau ”setara” dengan Allah. Maka, ketika kaum Kristen mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan atau sama dengan derajat Tuhan, maka Allah murka. Dan kepada utusan-Nya yang terakhir, Muhammad saw, maka dijelaskanlah kemurkaan Allah tersebut sebagaimana disebutkan dalam al-Quran, (yang artinya): ”Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu (yang mengatakan seperti itu) telah melakukan suatu perkara yang sangat munkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS 19:88-91).</p>
<p>Itulah adab kepada Allah SWT. Nabi Muhammad saw adalah juga manusia. Tetapi, beliau berbeda dengan manusia lainnya, karena beliau adalah utusan Allah. Sesama manusia saja tidak diperlakukan sama. Seorang presiden dihormati, diberi pengawalan khusus, diberikan gaji yang lebih tinggi dari gaji guru ngaji, dan sering disanjung-sanjung, meskipun kadangkala keliru. Orang berebut untuk menjadi presiden  karena dianggap jika menjadi presiden akan menjadi orang terhormat atau memiliki kekuasaan besar sehingga  dapat melakukan perubahan.</p>
<p>Sebagai konsekuensi adab kepada Allah, maka adab kepada Rasul-Nya,  tentu saja adalah dengan cara menghormati, mencintai, dan menjadikan Sang Nabi saw sebagai suri tauladan kehidupan (uswah hasanah). Maka, benarlah pendapat ulama yang dikutip Kyai Hasyim Asy’ari, jika orang tidak mengakui dan menghormati syariat Nabi Muhammad saw, bagaimana mungkin dia bisa dikatakan mempunyai iman? Sikap yang melecehkan syariat Allah jelas merupakan sikap manusia yang tidak beradab. Maka, sangatlah tidak beradab, sebuah disertasi doktor dan berbagai buku tentang Pluralisme Agama yang menyatakan, bahwa untuk mendapatkan pahala dari Allah, tidaklah perlu mengakui kenabian Muhammad saw.</p>
<p>Setelah beradab kepada Nabi Muhammad saw, maka adab berikutnya adalah adab kepada ulama. Ulama adalah pewaris nabi. Maka, kewajiban kaum Muslim adalah mengenai, siapa ulama yang benar-benar menjalankan amanah risalah, dan siapa ulama ”palsu” atau ”ulama jahat (ulama su’). Ulama jahat harus dijauhi, sedangkan ulama yang baik harus dijadikan panutan dan dihormati sebagai ulama. Mereka tidak lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan para umara. Maka, sangatlah keliru jika seorang ulama merasa lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan penguasa. Adab adalah kemampuan dan kemauan untuk mengenali segala sesuatu sesuai dengan martabatnya. Ulama harusnya dihormati karena ilmunya dan ketakwaannya, bukan karena kepintaran bicara, kepandaian menghibur, dan banyaknya pengikut. Maka, manusia beradab dalam pandangan Islam adalah yang mampu mengenali siapa ulama pewaris nabi dan siapa ulama yang palsu sehingga dia bisa meletakkan ulama sejati pada tempatnya sebagai tempat rujukan.</p>
<p>Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani, Thailand Selatan, (1856-1908), dalam kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir Abdullah), berpesan agar seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Syekh Wan Ahmad  menyatakan: “Jadikan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis) perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Supaya mengambil guna engkau daripada segala adab dan hikmah.”</p>
<p>Karena itulah, sudah sepatutnya dunia pendidikan kita sangat menekankan proses ta’dib, sebuah proses pendidikan yang mengarahkan para siswanya menjadi orang-orang yang beradab. Sebab, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat, dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor Wan Daud, guru besar di Akademi Alam dan Tamadun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia:  ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga, dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”</p>
<p>Jadi, menurut  Prof. Wan Mohd. Nor,   jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Manusia dikatakan zalim, jika – misalnya – meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, dengan pemahaman seperti itu, seorang Muslim yang beradab pasti lebih mencintai dan mengidolakan Nabi Muhammad saw ketimbang manusia mana pun. Manusia Muslim yang beradab juga akan menghormati sahabat-sahabat nabi dan keluarganya. Begitu juga seorang muslim yang beradab akan lebih menghormati ulama pewaris nabi, ketimbang penguasa yang zalim.  Salah satu adab penting yang harus dimiliki seorang Muslim adalah adab terhadap ilmu. Seorang yang beradab, haruslah  mengenal derajat ilmu, mana ilmu yang wajib ‘ain (wajib dimiliki oleh setiap muslim) dan mana yang wajib kifayah (wajib dimiliki sebagian Muslim).</p>
<p>Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, orang yang mencari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”</p>
<p>Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu.  Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a.  yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.”  Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang  pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjidku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”</p>
<p>Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Lebih fatal lagi, jika manusia yang tidak beradab itu kemudian merasa tahu, padahal dia sebenarnya ia tidak tahu.</p>
<p>Itulah adab. Dunia pendidikan Islam, khususnya, sudah saatnya mengkonsentrasikan diri untuk membentuk manusia-manusia yang beradab. Itu hanya bisa dilakukan jika dunia pendidikan mengajarkan ilmu yang benar secara proporsional. Salah satu mata pelajaran penting  yang harus diajarkan dengan benar, adalah pelajaran sejarah. Dalam berbagai kesempatan tatap muka dengan para guru dan siswa di berbagai lembaga pendidikan Islam, saya masih menjumpai sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Islam yang belum memiliki buku sejarah tersendiri. Masih banyak siswa sekolah Islam yang memahami bahwa Pangeran Diponegoro berperang semata-mata hanya karena urusan tanah leluhurnya yang dirampas oleh Penjajah Kristen Belanda. Padahal, bukti-bukti sejarah menunjukkan, Pangeran Diponegoro berperang dengan tujuan menegakkan syariat Islam di Tanah Jawa.</p>
<p>Mengutip buku berjudul Gedenkschrift van den Orloog op Java, karya F.V.A. Ridder de Stuers, (Amsterdam: Johannes Müller, 1847), dalam disertasi doktornya di Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rifyal Ka’bah memaparkan penuturan seorang Letnan Kolonel Belanda pada masa Perang Diponegoro (1825-1830), yang menyatakan bahwa tujuan Perang Diponegoro adalah agar hukum Islam berlaku untuk orang Jawa.</p>
<p>Diceritakan dalam buku ini, Belanda mengirim delegasi ke pedalaman Salatiga untuk berunding dengan Pangeran Diponegoro dan para pembantunya. Delegasi yang membawa surat Gubernur Jenderal Hendrik Markus de Kock ini  diterima oleh Kyai Modjo, Ali Basa, dan lain-lain. Belanda meminta peperangan  segera dihentikan, agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi. Kyai Modjo menjawab bahwa perang tidak dapat dihentikan selama tuntutan mereka belum terpenuhi. Dalam perundingan itu, pihak Diponegoro juga menggunakan ungkapan “Laa mauta illaa bil-ajal” (Tidak ajal berpantang mati). Kyai Modjo juga menyebutkan QS an-Naml:27 yang merupakan ucapan Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis, (yang artinya): “Jangan kalian bersikap arogan terhadapku dan datanglah kepadaku dengan menyerahkan diri.”  Ketika ditanya, apa maksud ungkapan itu, Kyai Modjo menjawab: “Komt gij allen tot mijnen Vorst,  en gaat langs het pad der regtvaardigheit.” (Supaya kalian datang menemui Pangeranku dan berjalanlah melalui jalan keadilan). Kyai Modjo menegaskan, bahwa keinginan Diponegoro adalah agar hukum Islam seluruhnya berlaku untuk orang Jawa. Sedangkan persengketaan antara orang Jawa dan orang Eropa diputuskan berdasarkan hukum Islam dan persengketaan antara orang Eropa dengan orang Eropa, dengan persetujuan Sultan, diputuskan berdasarkan hukum Eropa.  (Lihat, Rifyal Ka’bah, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Universitas Yarsi Jakarta).</p>
<p>Maka, sebenarnya merupakan tindakan yang tidak beradab, memandang pejuang Islam, seperti Pangeran Diponegoro seolah-olah hanya berperang karena urusan tanah leluhurnya. Di buku sejarah SMA bahkan masih ada yang memaparkan bahwa Khalifah Utsman bin Affan adalah pemimpin yang lebih mementingkan keluarganya dibandingkan dengan negaranya. Pemaparan seperti ini sangat tidak sesuai dengan fakta sejarah dan sangat tidak beradab. Karena itulah, para penyelenggara pendidikan Islam harus benar-benar memeriksa materi pelajaran yang diajarkan kepada siswanya. Mereka tidak bisa bersikap tidak peduli dan membiarkan siswa-siswa mereka diajarkan berbagai materi pelajaran yang justru mengarahkan siswanya menjadi manusia-manusia yang tidak beradab. [Solo, 24 Juli 2009/<a href="http://www.hidayatullah.com">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pendidikan-dan-manusia-beradab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/anak-harus-paham-ada-agama-selain-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/anak-harus-paham-ada-agama-selain-islam#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 01:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2646</guid>
		<description><![CDATA[Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah</em></p>
<p><strong>Oleh: Mohammad Fauzil Adhim</strong></p>
<p><em><strong></strong></em>Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: &#8220;hari libur nasional&#8221;. Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!</p>
<p>Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.<span id="more-2646"></span></p>
<p>Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa &#8220;mencengangkan&#8221;. Ia berjumpa seorang non-Muslim, yang akhlaknya sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.</p>
<p>Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga akidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, justru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat anak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya, hingga ia dewasa. Na&#8217;udzubillahi min dzaalik.</p>
<p>Hanya Islam yang Allah Ridhai</p>
<p>Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya, sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan agama ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembuktian yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meyakini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pemeluk agama lain. Tentang ini, silakan baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini di majalah Suara Hidayatullah kita ini.</p>
<p>Dalam urusan akidah, ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta&#8217;ala: &#8220;&#8230; Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. &#8221; (Al-Maa&#8217;idah [5]: 3).</p>
<p>Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tapi hanya satu yang Allah Ta&#8217;ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama sehingga anak bisa memahami mengapa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai.</p>
<p>Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak secara perlahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.</p>
<p>Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat, sebagaimana tuntunan Rasulullah. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.</p>
<p>Berislam dengan Bangga</p>
<p>Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai Allah &#8216;Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal.</p>
<p>Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi Muslim di dada mereka. Sejak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang Muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim dengan penuh percaya diri, &#8220;Isyhadu bi anna muslimun.” Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!</p>
<p>Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai Muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah ada pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Saw dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum Muslimin di zaman ini.</p>
<p>Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala&#8217; wal bara&#8217; sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Bukan berarti arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala pada Surat Al-Maa&#8217;idah ayat 54. &#8220;&#8230; bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”</p>
<p>Berislam dengan Ihsan</p>
<p>Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang Mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk menyejukkan. Bukan untuk menyenangkan hati orang-orang kafir karena hati yang lemah dan diri yang tak berdaya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Bukankah Rasulullah berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah pekuburan? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam sejarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?</p>
<p>Dorongan untuk Berdakwah</p>
<p>Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat sebagai seorang Muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syariat. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama Muslim yang tidak melaksanakan sebagai syariat Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.</p>
<p>Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya Allah kebingungan itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri mereka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup. *Wallahu a&#8217;lam bish-shawab. [Sahid/<a href="http://hidayatullah.com/kolom/sekolah-revolusioner/8895-anak-harus-paham-ada-agama-selain-islam.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/anak-harus-paham-ada-agama-selain-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piagam Jakarta dan Sikap Kristen (2)</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen-2#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 06:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2621</guid>
		<description><![CDATA[Tak beralasan prasangka terus dilakukan terhadap ummat Islam hanya karena Piagam Jakarta.Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-265 Oleh: Dr. Adian Husaini* hidayatullah.com&#8211;Pada tanggal 9 Maret 1981, K.H. Saifuddin Zuhri, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah memegang posisi sebagai Menteri Agama RI, menulis sebuah makalah berjudul “Menghilangkan Prasangka terhadap Piagam Jakarta”. Di tengah situasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tak beralasan prasangka terus dilakukan terhadap ummat Islam hanya karena Piagam Jakarta.Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-265 </em></p>
<p>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong>*</p>
<p><img src="http://www.hidayatullah.com/images/stories/Adian1.jpg" border="0" alt="" width="210" height="154" align="right" /><em><strong>hidayatullah.com&#8211;</strong></em>Pada tanggal 9 Maret 1981, K.H. Saifuddin Zuhri, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah memegang posisi sebagai Menteri Agama RI, menulis sebuah makalah berjudul “Menghilangkan Prasangka terhadap Piagam Jakarta”. Di tengah situasi politik yang tidak begitu kondusif bagi aspirasi Islam ketika itu, Kyai Saifuddin menyampaikan tujuan penulisan makalahnya:</p>
<p>“Tujuan penulisan makalah ini hendak menghilangkan prasangka. Mungkin akan berhasil, tetapi juga mungkin tidak berhasil. Tetapi saya telah berusaha, telah berikhitiar. Jika tokh saya tidak menulisnya, prasangka akan tetap ada dan tidak digarap hilangnya. Membiarkan prasangka sama dengan menyetujui prasangka. Dan ini suatu sikap mental yang tidak baik bahkan berbahaya.”<span id="more-2621"></span></p>
<p>Pernyataan Kyai Saifuddin Zuhri itu masih relevan untuk direnungkan. Prasangka terhadap Piagam Jakarta masih dipelihara pada berbagai kalangan. Bukan hanya di kalangan non-Muslim, bahkan juga di sebagian kalangan Muslim sendiri. Bukan hanya salah paham, tetapi sengaja menyalahpahami dan mungkin juga menyalahpahamkan. Dalam makalahnya, Kyai Saifuddin Zuhri juga mengingatkan, bahwa dari prasangka kemudian muncul sikap curiga, dan seterusnya, yang kemudian berkembang menjadi tindakan memata-matai. “Jika memata-matai telah membudaya, di sekeliling kita akan bertebaran tukang-tukang cari kesalahan orang lain, kalau tidak diketemukan lalu dicari-cari dengan membuat skenario palsu. Ini akan melahirkan “dorna” dan “sengkuni” bergentayangan mencari mangsa. Maka, fitnah bakal merajalela,” tulis Kyai Saifuddin Zuhri.</p>
<p>Tampaknya, makalah Kyai Saifuddin ditulis menyusul banyaknya sikap curiga dan tuduhan terhadap umat Islam yang hendak memperjuangkan aspirasi politik Islam di masa Orde Baru, saat itu. Ditegaskan oleh Kyai Saifuddin,  bahwa cita-cita dalam berpolitik bagi umat Islam merupakan kebudayaan mereka. Lalu, Kyai Saifuddin menegaskan: “Apirasi Islam itu senantiasa tumbuh melandasi aspirasi nasional kita yang berkembang menjadi budaya nasional yang bercorak Islam dan berjiwa patriotik. Hanya saja, tiap-tiap dihadang oleh kekuatan yang hendak menghambat Islam, maka orang-orang Islam menjadi bangkit semangatnya untuk mempertahankan keyakinan mereka. Hal demikian itu adalah konsekuensi logis dan bukan radikalisme apalagi ekstrim.”</p>
<p>Tentang Piagam Jakarta dan Pancasila, Kyai kelahiran Banyumas 1 Oktober 1919 ini mengingatkan: “Tidak sedikit orang yang melupakan bahwa justru Piagam Jakartalah yang dengan tegas-tegas menyebut kelima sila dalam Pancasila mendahului pengesahan UUD 1945 itu sendiri.”  Piagam Jakarta 22 Juni 1945 hanya memiliki perbedaan tujuh kata dengan Pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan pada sidang PPKI, 18 Agustus 1945. Tujuh kata itu ialah: dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”  Sebenarnya, menurut Kyai yang juga penulis produktif ini, nilai tujuh  kata-kata itu bersifat konstitusional dan tidak seolah-olah menganakemaskan umat Islam. Umat Islam adalah golongan mayoritas. Mereka telah dijamin hak-haknya dalam melaksanakan tujuh  kata-kata tersebut oleh pasal 29 UUD 1945 ayat 1 dan 2. Lagi pula, Piagam Jakarta, setelah keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah barang yang sah di Indonesia. Kyai Saifuddin mengutip pidato Presiden</p>
<p>Soekarno saat memperingati Hari Lahir Piagam Jakarta, 22 Juni 1965:  “Perhatikan, di antaranya penandatangan daripada Jakarta Charter ini, ada satu yang beragama Kristen saudara-saudara, yaitu Mr. A.A. Maramis.  Itu menunjukkan bahwa sebagai tadi dikatakan Pak Roeslan Abdulgani, Jakarta Charter itu adalah untuk mempersatukan Rakyat Indonesia yang terutama sekali dari Sabang sampai Merauke, ya yang beragama Islam, yang beragama Kristen, yang beragama Budha, pendek kata seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dipersatukan!”</p>
<p>Jadi, tegas Kyai Saifuddin Zuhri, Piagam Jakarta tidak mengandung unsur prasangka untuk dicurigai. Tujuh kata-kata dalam hubungannya dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi para pemeluknya tidak menjadi hilang meskipun Piagam Jakarta tidak dimasukkan ke dalam UUD 1945. Melaksanakan syariat Islam bagi umat Muslimin dan muslimat tetap dijamin oleh pasal 29 UUD 1945. Bangsa Indonesia yang beragama Islam dapat melaksanakan Pancasila tanpa melepaskan syariat Islam. “Sebab itu,” tegasnya, “tidaklah beralasan prasangka terhadap ummat Islam dikarenakan oleh Piagam Jakarta, justru sejarah telah membuktikan betapa besar toleransi ummat Islam terhadap Negara dan Bangsa. Ummat Islam hanya mengharapkan semoga memperoleh respons toleransi dari pihak lain jikalau ummat Islam menggunakan hak-hak mereka melalui pasal 29 UUD (1945) di dalam melaksanakan syariat Islam secara komplit dan legal.”</p>
<p>Itulah harapan KH Saifuddin Zuhri, seperti ia tuangkan dalam salah satu makalahnya. Ia menegaskan, bahwa “Piagam Jakarta tidak mengandung unsur prasangka untuk dicurigai.”  Sebagai orang yang bergelut dalam perjuangan Islam di Indonesia, Kyai Saifuddin tampaknya merasakan betapa tidak mudahnya umat Islam meminta pengertian itu; meminta toleransi untuk melaksakan kewajiban sebagai Muslim di Indonesia. Berbagai tudingan dan kecurigaan bagai tiada berhenti, dan lagi-lagi, biasanya aspirasi umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, dihadang dengan tudingan “ekstrim:, “radikal”, dan sebagainya, serta hendak  mengembalikan Piagam Jakarta. (Makalah KH Saifuddin Zuhri tentang Piagam Jakarta ini dimuat dalam bukunya, Kaleidoskop Politik di Indonesia Jilid 3, (Jakarta: Gunung Agung, 1982).</p>
<p>Tahun 1981, saat KH Saifuddin Zuhri menulis makalahnya, adalah situasi dimana hubungan antara Islam dan pemerintah masih bersifat sangat antagonistik. Umat Islam ketika itu dihadapkan pada tekanan-tekanan untuk mensekulerkan agamanya. Salah satu yang sangat menjengkelkan umat Islam ketika itu adalah berbagai kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&amp;K) Dr. Daoed Joesoef (1978-1983), yang dinilai merugikan umat Islam.</p>
<p>Di Majalah Panji Masyarakat, edisi 315/1981, Hamka menulis kolom Dari Hati ke Hati dengan judul Pedoman Perpustakaan SLTA. Hamka mengkritik keras kebijakan Menteri P&amp;K Daoed Yusuf yang mencabut liburan puasa, sampai-sampai mencabut subsidi pemerintah kepada sekolah Muhammadiyah kalau masih meliburkan muridnya pada bulan puasa. Hamka juga mengkritik keras gagasan pengajaran ”Panca Agama” di sekolah-sekolah.   Hamka menengarai adanya usaha-usaha yang halus untuk memperkecil jumlah kaum Muslimin. Ia menyebutkan adanya larangan dari Ka-Kanwil P&amp;K Jawa Timur untuk menyebarkan buku yang memuat ayat Lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahuu kufuwan ahad.  (Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada yang serupa dengan Dia).</p>
<p>HAMKA menulis kritik yang sangat keras dalam kolomnya tersebut:</p>
<p>”Hal ini telah kita sanggah dan sanggahan pun telah kita sampaikan kepada Menteri P&amp;K. Namun sampai sekarang larangan peredaran buku itu masih berlaku. Alasannya ialah karena hal itu melanggar kerukunan hidup beragama! Tegasnya ialah ”demi kerukunan hidup beragama”, orang Islam mulai sekarang mulai dilarang menyatakan pokok keyakinan agamanya! Dan mulai sekarang – demi apalagi – hendaklah membaca buku Keristen banyak-banyak, mulai membuka tanahnya untuk mendirikan gereja! Sehingga dalam 25 tahun saja, di tanah Jawa orang Islam jadi minoritas, dan di Indonesia 50 tahun! Semua keadaan ini bukankah membuat panas hati kita, melainkan buat membikin kita lebih waspada dan bekerja dengan kepala dingin.”</p>
<p>Memang, dalam otobiografinya, Dia dan Aku (Jakarta: Kompas, 2006), Daoed Joesoef mengungkapkan kejengkelannya terhadap tokoh-tokoh Islam yang menentang masuknya Aliran Kepercayaan dalam GBHN. Ia juga menuduh sejumlah tokoh Islam ingin menjadikan negara Indonesia menjadi negara Islam, menggantikan negara Pancasila. Daoed memberikan komentar tentang sejumlah orang bersurban yang mendatanginya: ”Ketebalan surban itu kuanggap tidak lebih lebih dari upaya menutup-nutupi kepicikan pandangannya, menyembunyikan hasrat mereka menjadikan negara Indonesia sebuah Negara Agama, Negara Islam, bukan lagi Negara Kebangsaan, Negara Pancasila. Padahal, konsep Negara Islam tidak ada, baik di dalam Al Quran maupun dalam As Sunnah.”</p>
<p>Daoed Joesoef yang merupakan salah satu tokoh penting di CSIS (<em>Center for Strategic and International Studies</em>) juga memiliki pandangan agar Pendidikan Agama tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah. Namun, gagasan itu tidak dapat diterapkannya semasa menjabat Menteri P&amp;K. Ketika terjadi perdebatan dengan seorang anggota DPR tentang Aliran Kepercayaan dan pelajaran agama di sekolah, Daoed menyatakan:</p>
<p>”Kalau hal ini diserahkan kepada Menteri, jawabku, jelas dan pasti, yaitu yang harus dihapus itu justru pelajaran agama dari kurikulum dan sistem pembelajaran di semua sekolah negeri, lalu diganti dengan mata pelajaran matematika atau ilmu-ilmu kealaman. Kedua mata pelajaran tersebut memang perlu diperbanyak guna memenuhi tuntutan hidup di abad XXI mendatang. Adapun pengajaran agama seharusnya tidak dijadikan urusan pemerintah karena ia adalah urusan privat, hak prerogatif keluarga yang harus dihormati dan tugas-kewajiban komunitas agama yang bersangkutan itu sendiri. Negara sebaiknya tidak mencampuri soal-soal keyakinan religius.”</p>
<p>Konsep Negara Pancasila yang dipahami oleh Daoed Joesoef dan kawan-kawan memang sebuah konsep negara sekular. Ketika menjabat sebagai menteri P&amp;K, Daoed bahkan tidak mau mengucapkan salam secara Islam. Ketika dikritik, dia memberikan bantahannya: ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, dan lain-lain, bukan Negara Agama dan pasti bukan Negara Islam.”</p>
<p>Lebih jauh, Daoed Joesoef mengungkapkan bahwa ia menganut konsep laisitas (laicité), yaitu sikap tidak akan memakai agama untuk mendesakkan apalagi memaksakan, hukum dan/atau peraturan perundangan mengenai kehidupan manusia. Artinya, di Negara Republik Indonesia, boleh ada masjid, gereja, kuil, atau rumah/tempat ibadah apa pun sebutannya. Selanjutnya Daoed Joesoef menjelaskan konsepnya tentang negara laiq – yang sebenarnya identik dengan konsep negara sekular. Ia katakan: ” Sebab selama kita tidak bersedia menegakkan suatu garis pemisah antara politik dan agama, selama itu pula akan ada masalah dan pasti Pancasila akan dipersoalkan, dirongrong terus-menerus dengan alasan-alasan yang tidak nalariah, bernuansa emosional fanatik. Setahuku Republik Turki adalah negeri muslim pertama yang menjadi negara laiq, mengubah kerajaan Islam ortodoks menjadi negara nasional modern, yang memisahkan agama dari politik.”</p>
<p>Tentu saja, ide Daoed Joesoef  tentang negara Pancasila yang ideal seperti negara Turki modern di bawah Mustafa Kemal Ataturk adalah hal yang aneh. Ia bahkan menyesalkan, Presiden Soeharto tidak mengikuti jejak Kemal Attaturk. “Presiden Soeharto ternyata bukan reformis di bidang kehidupan beragama seperti Presiden Mustafa Kemal,” tulis Daoed Joesoef.  Jadi, idola Daoed Joesoef adalah Mustafa Kemal Ataturk. Ia kecewa karena Soeharto tidak bersedia mengikuti jejak Mustafa Kemal Ataturk.</p>
<p>Sebelum era Daoed Joesoef itu, umat Islam juga masih ingat, bagaimana kerasnya kaum Kristen di Indonesia ketika menolak RUU Ketentuan-ketentuan Pokok Perkawinan dan RUU tentang Peraturan Pernikahan Umat Islam, tahun 1969. Pada tanggal 1 Februari 1969, Fraksi Katolik di DPR  mengeluarkan pernyataan sikap bertajuk: “Undang-Undang Perkawinan Harus Tidak Bermotifkan Alasan-alasan Agama.”  Dalam pernyataan yang ditandatangani oleh Harry Tjan Silalahi (ketua) dan F.X. Sudiyono (sekretaris), ditegaskan: “Dengan masuknya RUU tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Perkawinan yang antara lain menentukan, bahwa Hukum Nasional Tunduk pada Hukum Agama, seperti tersebut dalam pasal 37 RUU tersebut, maka Fraksi Katolik berpendapat, bahwa RUU itu akan meninggalkan Kaidah pokok (grundnorm) tertib hukum kita, ialah Pancasila. Pun dengan maksudnya RUU tentang peraturan Pernikahan Umat Islam di DPRGR memungkinkan adanya dua sumber tertinggi bagi tertib hukum kita, yaitu Pembukaan UUD 1945 dan Wahyu Tuhan.”</p>
<p>Fraksi Katolik juga menyatakan, RUU tentang Perkawinan tersebut memang tidak sesuai dengan hakekat negara Pancasila. “Hal yang demikian berarti bahwa ada perubahan dasar negara. Negara tidak lagi berdasarkan Pancasila, tetapi berdasarkan Agama, hal mana cocok dengan prinsip yang terkandung dalam Piagam Jakarta.”</p>
<p>Jadi, begitulah sikap kaum Kristen di Indonesia tentang Piagam Jakarta. Entah mengapa, begitu kerasnya penolakan mereka terhadap hukum yang hanya mengatur umat Islam saja. Padahal, setelah UU Perkawinan No 1/1974 disahkan, yang menetapkan bahwa perkawinan yang sah adalah perkawinan berdasarkan agama, ternyata, Negara Kesatuan Republik Indonesia juga baik-baik saja. [Depok, 3 Juli 2009/<a href="http://hidayatullah.com/kolom/adian-husaini/8578-piagam-jakarta-dan-sikap-kristen-2.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]<br />
<em><br />
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara <strong>Radio Dakta 107 FM</strong> dan </em><strong><em>www.hidayatullah.com</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lokalisasi Judi, Pilihan Akal Sehat?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/lokalisasi-judi-pilihan-akal-sehat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/lokalisasi-judi-pilihan-akal-sehat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 23:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[judi]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2618</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, judi sudah seperti prostitusi. Banyak yang benci tapi nggak sedikit yang suka. Makanya sulit diberantas. Akhirnya muncul gagasan untuk dilokalisasi. Biar lebih tertib, dan ada tambahan biaya untuk pembangunan. Benarkah ini pilihan yang paling waras? Judi memang kejahatan yang menggemaskan. Ia mengundang kebencian karena kerap menjadi sebab permusuhan dan kemiskinan, tapi juga jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Kata orang, judi sudah seperti prostitusi. Banyak yang benci tapi nggak sedikit yang suka. Makanya sulit diberantas. Akhirnya muncul gagasan untuk dilokalisasi. Biar lebih tertib, dan ada tambahan biaya untuk pembangunan. Benarkah ini pilihan yang paling waras?</em></strong></p>
<p>Judi memang kejahatan yang menggemaskan. Ia mengundang kebencian karena kerap menjadi sebab permusuhan dan kemiskinan, tapi juga jadi harapan untuk sebagian orang. Ya, judi kerapkali mengundang permusuhan. Mereka yang kalah judi biasanya jadi <em>panasan</em>, selain juga penasaran. Udah taruhan banyak-banyak, eh amblas.</p>
<p>Tapi jangan salah, nggak sedikit orang yang menjadikannya sebagai harapan. Hari ini kalah barangkali besok menang besar. Inilah yang bikin orang jadi kecanduan. Karenanya tempat-tempat perjudian pun merajalela di mana-mana.</p>
<p>Salah satunya adalah Kalijodo, Jakarta Utara. Di sana, para penjudi bisa memuaskan diri dengan berbagai permainan non-stop sepanjang hari, dari pagi hari hingga ke pagi hari berikutnya. Memang, lokasi itu hanya untuk para penjudi kelas teri, seperti diakui seorang penjaga keamanan khusus di sana, &#8220;Biar kurang gede, tapi di sini pengunjungnya paling banyak.&#8221; Bayangkan, <em>saban</em> hari Kalijodo bisa dikunjungi seribu orang. Rata-rata etnis Tionghoa.<span id="more-2618"></span></p>
<p>Persyaratan untuk masuk ke Kalijodo tidak sulit, asal punya Rp 100 ribu bisa masuk dan bermain judi. Namun, dalam semalam ada yang bisa kehabisan modal sampai Rp 300 juta. Sabar, salah seorang keamanan di sana mengaku pernah memiliki modal lebih dari Rp 1 miliar, hasil dari &#8220;operasi nasabah&#8221;, yakni menodong penjudi yang kebetulan sedang menang besar. Tapi, namanya juga hasil judi, uang itu akhirnya juga ludes di meja judi. Bahkan, lantaran Sabar suka melakukan &#8220;operasi nasabah&#8221;, ia mesti bolak-balik mendekam di penjara, dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang sampai Nusakambangan.</p>
<p>Untuk mereka yang tergolong penjudi kelas kakap, Kalijodo sudah nggak level lagi. Mereka baru terpuaskan berjudi di kasino seperti di Mangga Dua, Jakarta. Mereka kerap disebut &#8220;Sembilan Naga&#8221; atau &#8220;Gajah Metro&#8221;. Artinya, orang-orang yang dianggap menguasai jagat perjudian, tidak saja di Jakarta, tapi juga bisa merembes hingga ke luar Jawa.</p>
<p>Pengunjungnya memang tidak sebanyak Kalijodo, paling 20 penjudi. Kalau sedang ramai, bisa seratus orang. Tapi, jangan ditanya omzetnya. Dalam semalam, di setiap tempat perjudian itu bisa berputar uang ratusan miliar rupiah. Untuk permainan rolet, misalnya, mereka umumnya memasang satu koin yang bernilai paling sedikit Rp 1 juta. Dalam satu putaran rolet, seorang penjudi biasa memasang koin di beberapa nomor yang dijagokannya. Jadi, buat yang punya modal di bawah Rp 10 juta, bersiaplah untuk pulang kandang dalam hitungan menit.</p>
<h2>Semua Terlibat</h2>
<p>Perbuatan mereka jelas ilegal. Menurut Undang-Undang (UU) No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, aktivitas yang oleh agama diharamkan itu memang terlarang. Tapi seperti yang bisa kamu baca dan mungkin lihat sendiri, perjudian seperti nggak bisa ditahan. Menurut Anton Medan, mereka bukannya sulit diberantas, tapi karena memang tak ada yang sungguh-sungguh mau memberantasnya. Sudah menjadi rahasia umum—meski sulit dibuktikan&#8211;kalau perjudian di Mangga Dua, Mangga Besar, dan beberapa hotel itu sesungguhnya dibekingi pejabat tinggi dari kalangan militer, kepolisian, dan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI. Praktis, duit pajak hiburan yang seharusnya masuk ke kas pemda, parkir ke kantong para beking itu.</p>
<p>Dari informasi berbagai pihak, uang haram yang beredar untuk sektor judi di Ibukota dapat mencapai Rp 5 trilliun sampai Rp 7 trilliun per tahun. Uang sebesar itu tidak sepeserpun masuk ke kas negara. Pada umumnya pengelola tempat-tempat perjudian ini memiliki ijin untuk tempat hiburan. Bukan isapan jempol kalau aparat kepolisian mulai dari pangkat balok sampai yang berpangkat bintang mendapat jatah dari pengusaha judi. Bahkan rumor yang berkembang di kalangan masyarakat, kekuatan pengusaha tersebut dapat mengatur posisi seorang pejabat di lingkungan kepolisian.<br />
Untuk mendapatkan ijin membuka perjudian sangatlah mudah. Paling tidak yang dihubungi pertama adalah Kapolda. &#8221;Kalau Kapolda setuju, yang lain akan mengikuti semuanya,&#8221; ujar Anton Medan ketika ditemui di Balai Ketrampilan Ex Narapidana, di Cibinong Bogor. Dalam negosiasi, papar Anton, biasanya ada tawar menawar antara bandar dan polda. Untuk pasaran sekarang, yang dia dengar, bandar harus mampu menyediakan anggaran sebesar Rp 500 hingga Rp 1 Milyar setiap bulan pada Polda. Uang sebesar itu dibayar dimuka sebagai ijin awal hingga seterusnya setiap bulan memberi sama.<br />
Kalau sudah berjalan, lanjut Anton, harus pula membayar upeti ke masing-masing pejabat setingkat di bawahnya. Besarnya sangatlah bervariasi. Oknum dari tingkat Polsek sampai Mabes Polri. Juga oknum TNI mulai tinkat Koramil sampai Kodam, banyak yang menerimanya. Kalau tidak dikasih upeti, digerebek.<br />
Kapolsek dan kanit resintel menerima jatah anatra Rp 10 juta hingga Rp 5 juta tiap pekan. Kapolres, Kasatserse dan Kapusdalops dapat Rp 20-50 juta. Kapolda, Rp 500 juta per bulan. Kaditserse, kadit ekonomi dan pusdalops masing-masing Rp 50 Juta per bulan. Perwira Mabes Polri antara Rp 500 juta hingga Rp 1 Milyar per bulan.<br />
Selain itu bandar harus pula memberi pejabat-pejabat di TNI mulai dari Kodim, Korem dan Kodam. Besarnya sekarang separoh lebih banyak dari polisi. Walaupun sebelumnya terkadang lebih banyak TNI. Sedang wartawan, besarnya antara Rp 10 juta hingga Rp 5 juta. &#8221;Ini tergantung negosiasi saja,&#8221; tegas Anton yang kini jadi da’i kondang itu.<br />
Selain harus menyediakan upeti, badar-bandar judi yang diijinkan buka juga harus mau memenuhi kebutuhan insidentalnya setiap saat. Dan ini malah terkadang nilainya sangat besar dari upetinya yang diterima setiap bulan. Kebutuhan itu diantaranya, menjamu tamu, urusan perempuan, beli tanah, membangun rumah, hingga anaknya yang mau kawin segala.<br />
Kabarnya yang menikmati uang perjudian bukan hanya itu saja, namun sampai pula ke jaksa, hakim, bahkan lembaga pemasyarakatan hingga anggota DPRD. Sedang untuk aparat pemda, setahu dia, belum pernah memberikan apapun. Keuntungan pemda paling hanya pajak hiburan karena biasanya arena seperti itu dikemas dalam permainan ketangkasan.<br />
Begitu pula organisasi kepemudaan. Para bandar biasanya tidak pernah menganggap mereka. Akan tetapi yang dianggap adalah para jawaranya. Kalaupun diberi paling-paling hanya atas dasar kemanusiaan dan hubungan kekerabatan yang besarnya tidak seberapa. Termasuk juga partai-partainya.</p>
<h2>Akal Bulus</h2>
<p>Menyadari bahwa uang dari hasil judi sangat besar, pemerintah memutar otak. Muncullah Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah (TSSB) dan Kupon Sumbangan Sosial Berhadiah (KSOB). TSSB atau KSOB, yang terakhir ini sebelumnya bernama Porkas, waktu itu, setiap tahun berhasil meraup duit masyarakat tak kurang dari Rp 1,6 triliun. Jumlah sebesar itu setara dengan lima persen jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagian dana itu oleh Departemen Sosial (Depsos) dipakai untuk pembangunan daerah kumuh, panti asuhan, sampai penanganan suku terasing di Irianjaya. Kupon judinya sendiri dikelola Yayasan Dana Bakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS). Ironinya, mereka yang gemar memasang judi ‘plat merah’ itu justru yang berasal dari kalangan miskin. Itu sama saja dengan orang miskin hidup dari subsidi orang miskin.</p>
<p>Era TSSB dan KSOB yang berakhir 1989 digantikan SDSB. Walau tidak sesukses pendahulunya, dana yang berhasil dikeduk dari SDSB sejumlah Rp 162,5 miliar pada 1993. Konon, turunnya perolehan ini karena makin maraknya judi buntut yang waktu itu populer disebut &#8220;kupon putih&#8221;. Kupon liar ini mendompleng peredaran SDSB. Selain itu, PT Arthadana Kriya, sebagai pelaksana undian, dituduh terlalu banyak mengambil keuntungan dari perolehan SDSB dibanding YDBKS.</p>
<p>Ketidakjelasan penyaluran dana hasil SDSB ini kemudian menimbulkan kritik berkepanjangan. Sebab, hanya sebagian kecil saja dari hasil yang diberikan kepada YDBKS itu yang jatuh ke masyarakat. Sebagian besar, raib entah ke mana. Belum lagi, ekses sosial yang ditimbulkan dari undian yang diputar setiap kamis malam itu. Akhirnya, setelah gelombang demonstrasi yang tinggi sejak 1993, SDSB ditutup pada 1995.</p>
<p>Setelah 1995, judi gelap kembali marak. Judi togel bercampur baur dengan komunitas pelacuran dan kejahatan masyarakat bawah. Sedang kasino dan mickey mouse menjadi tempat-tempat eksklusif yang tak terjamah. Dibekingi aparat kepolisian dan tentara, bisnis judi menjadi sulit diberantas.</p>
<h2>Lokalisasi Judi</h2>
<p>Menyadari keuntungan yang memikat dari perjudian, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pernah melegalkan bisnis haram tersebut pertengahan tahun 1967. Ia melokalisasi perjudian seperti di Petak Sembilan, Copacobana, Jakarta Theatre, dan Lotto Fair Hailai. Ketika itu, Ali Sadikin memakai UU No. 11 Tahun 1957 yang bersumber dari aturan hukum zaman Belanda tentang &#8220;hak pemberian ijin judi oleh residen&#8221;. Tujuannya, tak lain agar perjudian dilokalisasikan sekaligus menertibkan perjudian liar yang merebak dan tak terkendali.</p>
<p>Ternyata, taktik Ali Sadikin ada buahnya. Judi liar hampir bisa diatasi. Dan, dana pun deras mengalir ke kas pemda, bahkan sampai belasan miliar rupiah ketika itu. Menurut Bang Ali, uang hasil bisnis judi itu berjasa dalam pembangunan 2.400 gedung sekolah, lebih dari 1.200 kilometer jalan raya, berbagai pusat kesehatan, dan tempat ibadah yang didirikan pada masanya. Tapi, anugerah duit judi itu tidak berlangsung lama. Pada 1981, ketika Tjokropranolo menjadi Gubernur DKI Jakarta, lokalisasi perjudian ditiadakan.</p>
<p>Tak aneh, bila gagasan yang sama melintas di benak Gubernur DKI Jakarta sekarang, Sutiyoso. Gagasan ini merupakan alternatif untuk mengendalikan bisnis haram itu. Soalnya, &#8220;Secara obyektif saya melihat perjudian tetap ada di tengah-tengah masyarakat,&#8221; kata Sutiyoso. Untuk perwujudan lokalisasi itu, tampaknya seperangkat aturan main perlu segera dipikirkan. Nantinya, dalam aturan itu, menurut Ridwan Saidi, tokoh masyarakat Betawi, setidaknya hanya masyarakat tertentu saja, misalnya etnis Thionghoa, yang diperbolehkan masuk. &#8220;Atau, dibatasi untuk mereka yang berduit saja,&#8221; katanya. Hal senada juga diungkapkan oleh A.M. Fatwa. Menurutnya, bila merunut pengalaman Malaysia yang melokalisasi perjudian di Tanah Genting, lokalisasi judi bisa saja dipertimbangkan di Indonesia. &#8220;Soalnya, di sana orang Melayu tidak boleh masuk. Yang boleh hanya etnis Cina dan India, itu pun harus pakai ID Card,&#8221; katanya kepada Yadi Hendriana dari FORUM. Apalagi, A.M. Fatwa mengaku pernah pula diajak melihat lokalisasi perjudian di Afrika Selatan, Singapura, bahkan Makao. Di negara-negara itu, perjudian diatur secara ketat dan transparan.</p>
<p>Tentu saja usulan ini mengundang reaksi keras para tokoh dan sejumlah elemen Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta mengaku sangat prihatin atas maraknya perjudian di ibukota. Sekretaris MUI DKI Jakarta Mohammad Zainuddin mengaku sudah sering memperingatkan pihak terkait baik pemda maupun aparat kepolisian untuk segera menindak dan menghentikan para bendar judi. Namun nyaris tak mendapat perhatian yang memadai.<br />
Melanggengnya usaha perjudian di ibukota tentu saja membuat warga anti judi dibuat kesal. Warga masyarakat menuding, kondisi tersebut terjadi lantaran ada konspirasi antara oknum aparat dengan para bandar judi. Maka munculnya sejumlah aksi yang menentang praktik perjudian. Seperti dilakukan FBR, Gerakan Rakyat Ganyang Judi (Gergaji) serta demo dari kalangan mahasiswa.</p>
<p>Bagi kita, umat Muslim judi jelas haram. Allah Swt. telah berfirman:</p>
<p><em>“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya&#8221;. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: &#8220;Yang lebih dari keperluan.&#8221; Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”</em>(TQS. Al Baqarah [2]:219).</p>
<p>Imam Jalalain menafsirkan ‘manfaat’ dari judi adalah perolehan harta yang tak terhingga bila menang berjudi. Meski demikian ‘mudlarat’ yang ditimbulkan dari judi melebihi manfaatnya. Dalam ayat lain Allah menjelaskan bahaya yang ditimbulkan oleh judi, yakni permusuhan dan kebencian. Mereka yang kalah biasanya marah <em>en misuh-misuh</em> pada lawan mainnya. Akhirnya muncullan kebencian dan permusuhan. FirmanNya:</p>
<p><em>“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”</em>(TQS Al Maidah [5]:91).</p>
<p>Maka amat sesuai dengan fitrah manusia dan akal sehat bila kemudian Allah mengharamkan perjudian.</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”</em>(TQS. Al Maidah [5]:90).</p>
<p>Sama sekali tidak ada kompromi atau toleransi yang diberikan Islam terhadap perjudian. Syaikh Abdurahman Al Maliki menyebutkan bahwa sanksi bagi para penjudi – baik bandar ataupun petaruh &#8212; adalah jilid sebanyak 40 atau 80 kali. Hal ini diambil dari sunah Nabi saw. dan ijma shahabat. Nabi dan para sahabat pernah menjilid para penjudi sebanyak 40 atau  80 kali. Maka memberantas judi bukanlah sebuah khayalan, tapi kenyataan. Dan untuk itu diperlukan kerja serius dan keikhlasan serta ketakwaan para aparatur negara dan juga masyarakat.</p>
<p>Lagipula pada kenyataannya selain telah jelas diharamkan agama, perjudian juga menimbulkan banyak ekses negatif. Permusuhan dan kebencian yang berbuntut pada penganiayaan dan pembunuhan sangat mungkin terjadi. Kemudian pada perjudian yang dikelola pemerintah semisal SDSB dan PORKAS yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat, justru mengeruk harta dari kalangan dluafa. Artinya, sama saja pemerintah membuat orang miskin menjadi miskin dengan dalih untuk kesejahteraan orang miskin. Sangat ironi.</p>
<p>Andaipun perjudian dikelola dan ditujukan hanya pada orang kaya dengan aturan yang ketat dan transparan sekalipun, tetap saja tidak akan pernah memberikan kebaikan. Itu sama saja menghalalkan apa yang diharamkan Allah. <em>Lagian</em>, Apakah negara ini sudah sedemikian miskin sehingga harus menjadikan perjudian sebagai pemasukan kas daerah atau negara? Kenyataannya, Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang beraneka dan banyak. Hanya karena ketidakbecusan dalam mengelolanya, selain juga kerusakan mental para aparatnya akhirnya justru dinikmati oleh orang lain. Inilah akibat negara telah menjauhkan peran agama (Islam) dari urusan pemerintahan. Anehnya masih saja mereka belum sadar juga kalau sekulerisme yang mereka agungkan sebenarnya adalah pangkal dari keruwetan masalah yang kini terjadi.[<strong>januar, </strong><em>dari berbagai sumber</em>]l</p>
<p>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juni 2002]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/lokalisasi-judi-pilihan-akal-sehat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemimpin</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemimpin#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 23:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2577</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi Suatu ketika Zia ul Haq (alm.) Presiden Pakistan tahun 1977-1989, me ngumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan redaksi koran the Nation. &#8220;Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara&#8221; , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi</strong></p>
<p>Suatu ketika Zia ul Haq (alm.) Presiden Pakistan tahun 1977-1989, me ngumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan redaksi koran the Nation. &#8220;Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara&#8221; , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika Zia, dan lalu men jawab &#8220;Politisi&#8221;. Zia tersenyum mendengar jawaban itu lalu berka ta, &#8220;Ternyata wartawan sekelas anda masih berfikir sependek itu&#8221;. Orang mengira dia akan membanggakan dirinya. Tapi akhirnya ia membuka persepsinya, &#8220;Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual&#8221;. Demikian seterusnya dan Zia pun terus berwacana di seputar isu itu.<span id="more-2577"></span></p>
<p>Zia ul Haq berfikir induktif. Di negerinya inspirator kemerdekaan bukan politisi. Pakistan merdeka dari India berkat terutama inspirasi Mohammad Iqbal. Selain itu terdapat nama-nama seperti Abul Ala al-Maududi, Amir Ali, Sir Syed Ahmad Khan dsb. Semua itu adalah intelektual. India merdeka dari jajahan Inggris karena kekuatan inspiratif Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Nampaknya, dari kasus dikedua negeri itulah kesimpulan Zia tercetus.</p>
<p>Tapi kesimpulan Zia boleh jadi universal. Kita pasti setuju bahwa Indonesia dibangun diantaranya oleh HOS Cokroaminoto adalah guru inspiratif Soekarno dan pemimpin gerakan kebangsaan berdasarkan Islam. Dr.Wahidin Sudiro Husodo, Pencetus Gerakan Budi Utomo berwatak Jawa. Agus Salim digelari Soekarno ulamaintelek, aktor intelektual dari gerakan kemerdekaan Indonesia. KH. Ahmad Dahlan, KH.Hasyim Asy&#8217;ari, Ki Hajar Dewantoro, M. Natsir serta sejumlah Ulama dan intelektual lainnya. Mereka itu adalah intelektual yang politisi dan politisi yang intelek. Soekarno dan Hatta sendiri sebenarnya adalah intelektual. Mereka itulah the founding fathers negeri ini. Jika ini disepakati, maka Zia ul Haq adalah benar. Negeri kita juga tidak didirikan oleh para politisi, tapi para intelektual yang bervisi politik.</p>
<p>Gordon S Wood dalam buku The Pu blic Intellectual menganggap the founding fathers sebagai men of ideas and thought, leading intellelctual sekaligus political leaders. Tapi sejatinya mereka itu secara revolusioner bukan politisi an sich atau intelektual murni seperti dalam pengertian modern yang parsial. Mereka itu adalah intelektual yang tidak teralienasi dan pemimpin politik yang tidak terobsesi oleh pemilu. Mereka hidup dalam dunia ide dan realitas dunia politik tapi tidak utopis dan juga tidak pragmatis.</p>
<p>Bagi Leonard Peikoff, dalam The Ominous Parallels, The Founding Fa thers tidak hanya memiliki ide-ide revolusioner, tapi juga mampu menerjemah kannya ke dalam realitas sosio-politik. Ayn Rand dalam bukunya For the New Intellectual menjuluki mereka sebagai thinkers who were also men of action. Me nurut John Lock merekalah yang men dirikan negara sebagai institusi yang khas. Inilah yang dimaksud Zia ul Haq.</p>
<p>Begitu idealkah mereka? Benar, karena al-fadhlu lil mubtadi walau ahsana al-muqtadi. Pujian diberikan kepada pembuka jalan, meski sang penerus bisa lebih baik. Buktinya generasi sekarang melihat mereka bagaikan mitos, tapi historis. Mereka memuji tapi tidak bisa mengikuti. Petuah mereka digugu tapi in tegritas mereka tidak dapat ditiru. Gor don juga mengkiritik, kita terlalu ba nyak memuji tapi tidak banyak memahami. Memahami mengapa generasi za man revolusi bisa begitu, sedang generasi sekarang tidak. Mengapa idealisme dan politik tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan.</p>
<p>Samuel Eliot Morrison and Harold Laski, keduanya sejarawan Amerika, percaya bahwa dalam sejarah modern, tidak ada periode yang kaya dengan ideide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. Ini menurut Gordon S Wood disebabkan oleh kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini yang turun drastis. Ide telah dipisahkan dari kekuasaan. Dan itu semua adalah harga yang harus dibayar oleh sistem demokrasi, tulisnya.</p>
<p>Kalau Gordon beragama, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme. Agama &#8220;tidak mesti bisa&#8221; menjadi bekal berpolitik. Prinsip &#8220;Jangan bawa agama ke ranah politik&#8221; seperti sudah menjadi konvensi. &#8220;Berpolitik tidak bisa hitam putih&#8221; berarti berpolitik tidak harus ilmiah. Benar salah dalam dunia akademik tidak menjadi ukuran. Rumusannya bisa begini, &#8220;Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah&#8221;. Inilah sebabnya mengapa seorang profesor dan ulama tidak &#8220;mudah&#8221; mengikuti logika politik.</p>
<p>Singkatnya, tidak berarti penerus tidak bisa berfikir revolusioner. Dalam sejarah Islam para khalifah umumnya memiliki ghirah ilmiyyah. Umar ibn Abdul Aziz adalah khalifah penerus yang sangat revolusioner. Adh-Dhahabi menyebutnya ulama yang amilin, artinya juga alim yang amir. Ia mampu mengembangkan ekonomi dan ilmu pengetahuan sekaligus. Ia membangun politik dan juga peradaban. Rakyatnya tidak layak menerima zakat karena sejahtera lahir dan batin. Intelektualitasnya adalah dasar dari keadilannya. Ilmunya menjadi bekal amalnya. Itulah umara-ulama yang dapat menjadi cahaya (misykat) bagi umat manusia. Wallahu a&#8217;lam. <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=145&amp;Itemid=26" target="_blank"><strong>[INSIST]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemimpin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piagam Jakarta dan Sikap Kristen</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 17:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[piagam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2590</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin &#8220;anti-Pancasila&#8221;.? Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-264 Oleh: Dr. Adian Husaini Tanggal 22 Juni biasanya dikenang oleh umat Muslim Indonesia sebagai hari kelahiran Piagam Jakarta. Tetapi, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih tetap menjadikan Piagam Jakarta sebagai momok yang menakutkan. Padahal, Piagam Jakarta bukanlah barang haram di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin &#8220;anti-Pancasila&#8221;.? Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-264</em></p>
<p>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini<br />
</strong><br />
<img src="http://1.1.1.4/bmi/hidayatullah.com/images/stories/piagam_thumb.jpg" border="0" alt="" width="300" height="221" align="right" />Tanggal 22 Juni biasanya dikenang oleh umat Muslim Indonesia sebagai hari kelahiran Piagam Jakarta. Tetapi, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih tetap menjadikan Piagam Jakarta sebagai momok yang menakutkan. Padahal, Piagam Jakarta bukanlah barang haram di negara ini. Bahkan, dalam Dekritnya pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno dengan tegas mencantumkan, bahwa? &#8220;Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.&#8221;</p>
<p>Tapi, entah kenapa, kaum Kristen di Indonesia begitu alergi dan ketakutan dengan Piagam Jakarta. Sebagai contoh,? Tabloid Kristen REFORMATA edisi 103/Tahun VI/16-31 Maret? 2009 menurunkan laporan utama berjudul &#8220;RUU Halal dan Zakat: Piagam Jakarta Resmi Diberlakukan?&#8221;? Dalam pengantar redaksinya, tabloid Kristen yang terbit di Jakarta ini menulis bahwa dia mengemban tugas mulia untuk mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pluralis, sebagaimana diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa.<span id="more-2590"></span></p>
<p>&#8220;Hal ini perlu terus kita? ingatkan sebab akhir-akhir ini kelihatannya makin gencar saja upaya orang-orang yang ingin merongrong negara kita yang berfalsafah Pancasila, demi memaksakan diberlakukannya syariat agama tertentu dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana kita saksikan, sudah banyak produk perundang-undangan maupun peraturan daerah (perda) yang diberlakukan di berbagai tempat, sekalipun banyak rakyat yang menentangnya. Para pihak yang memaksakan kehendaknya ini, dengan dalih membawa aspirasi kelompok mayoritas, saat ini telah berpesta pora di atas kesedihan kelompok masyarakat lain, karena ambisi mereka, satu demi satu berhasil dipaksakan. Entah apa jadinya negara ini nanti, hanya Tuhan yang tahu,&#8221; demikian kutipan sikap Redaksi Tabloid Kristen tersebut.</p>
<p>Cornelius D. Ronowid<img src="http://1.1.1.3/bmi/4.bp.blogspot.com/_tWUFtFxgvng/Sb6W987gHnI/AAAAAAAAAnI/SoMqRsirY4Y/s200/cover-103-revisikecil.jpg" border="0" alt="" width="173" height="250" align="left" />jojo, Ketua Umum DPP PIKI (Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia), seperti dikutip tabloid Reformata menyatakan, bahwa Piagam Jakarta sekarang sudah dilaksanakan dalam realitas ke-Indonesian melalui Perda dan UU. &#8220;Sekarang tujuh kata yang telah dihapus itu, bukan hanya tertulis, tapi sungguh nyata sekarang,&#8221; tegasnya. Yang menggemaskan, demikian Cornelius, yang melakukan hal itu, bukan lagi para pejuang ekstrim kanan, tapi oknum-oknum di pemerintahan dan DPR. &#8220;Ini kecelakaan sejarah. Harusnya penyelenggara negara itu bertobat, dalam arti kembali ke Pancasila secara murni dan konsekuen,&#8221; kata Cornelius lagi. Bahkan, tegasnya, &#8220;Saya mengatakan bahwa mereka sekarang sedang berpesta di tengah puing-puing keruntuhan NKRI.&#8221;</p>
<p>Bagi umat Islam Indonesia, sikap antipati kaum Kristen terhadap syariat Islam tentulah bukan hal baru. Mereka &#8211; sebagaimana sebagian kaum sekular &#8211; berpendapat, bahwa penerapan syariat Islam di Indonesia bertentangan dengan Pancasila. Pada era 1970-1980-an, logika semacam ini sering kita jumpai. Para siswi yang berjilbab di sekolahnya, dikatakan anti Pancasila. Pegawai negeri yang tidak mau menghadiri perayaan Natal Bersama, juga bisa dicap anti Pancasila. Pejabat yang enggan menjawab tes mental, bahwa ia tidak setuju untuk menikahkan anaknya dengan orang yang berbeda, juga bisa dicap anti-Pancasila. Kini, di era reformasi, sebagian kalangan juga kembali menggunakan senjata Pancasila untuk membungkam aspirasi keagamaan kaum Muslim.</p>
<p>Rumusan Pancasila yang sekarang adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila tersebut adalah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan hasil dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang dengan tegas menyatakan: &#8220;Bahwa kami berkeyakinan? bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.&#8221;</p>
<p>Jadi, Dekrit Presiden Soekarno itulah yang menempatkan Piagam Jakarta sebagai bagian yang sah dan tak terpisahkan dari Konstitusi Negara NKRI, UUD 1945. Dekrit itulah yang kembali memberlakukan Pancasila yang sekarang. Prof. Kasman Singodimedjo, yang terlibat dalam lobi-lobi tanggal 18 Agustus 1945 di PPKI, menyatakan, bahwa Dekrit 5 Juli 1959 bersifat &#8220;einmalig&#8221;, artinya berlaku untuk selama-lamanya (tidak dapat dicabut). &#8220;Maka, Piagam Jakarta sejak tanggal 5 Juli 1959 menjadi sehidup semati dengan Undang-undang Dasar 1945 itu, bahkan merupakan jiwa yang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 tersebut,&#8221; tulis Kasman dalam bukunya, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).</p>
<p>Karena itu, adalah sangat aneh jika masih saja ada pihak-pihak tertentu di Indonesia yang alergi dengan Piagam Jakarta. Dr. Roeslan Abdulgani, tokoh utama PNI, selaku Wakil Ketua DPA dan Ketua Pembina Jiwa Revolusi, menulis: &#8220;Tegas-tegas di dalam Dekrit ini ditempatkan secara wajar dan secara histories-jujur posisi dan fungsi Jakarta Charter tersebut dalam hubungannya dengan UUD Proklamasi dan Revolusi kita yakni: Jakarta Charter sebagai menjiwai UUD &#8217;45 dan Jakarta Charter sebagai merupakan rangkaian? kesatuan dengan UUD &#8217;45.&#8221; (Dikutip dari Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta: GIP, 1997), hal. 130).</p>
<p>Dalam pidatonya pada hari peringatan Piagam Jakarta tanggal 29 Juni 1968 di Gedung Pola Jakarta, KHM Dahlan, tokoh NU, yang juga Menteri Agama ketika itu mengatakan: &#8220;Bahwa di atas segala-galanya, memang syariat Islam di Indonesia telah berabad-abad dilaksanakan secra konsekuen oleh rakyat Indonesia, sehingga ia bukan hanya sumber hukum, malahan ia telah menjadi kenyataan, di dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari yang telah menjadi adat yang mendarah daging. Hanya pemerintah kolonial Belandalah yang tidak mau menformilkan segala hukum yang berlaku di kalangan rakyat kita itu, walaupun ia telah menjadi ikatan-ikatan hukum dalam kehidupan mereka sehari-hari.&#8221; (Ibid, hal. 135).</p>
<p>Meskipun Piagam Jakarta adalah bagian yang sah dan tidak terpisahkan dari UUD 1945, tetapi dalam sejarah perjalanan bangsa, senantiasa ada usaha keras untuk menutup-nutupi hal ini. Di zaman Orde Lama, sebelum G-30S/PKI, kalangan komunis sangat aktif dalam upaya memanipulasi kedudukan Piagam Jakarta. Ajip Rosidi, sastrawan terkenal menulis dalam buku, Beberapa Masalah Umat Islam Indonesia (1970): &#8220;Pada zaman pra-Gestapu, PKI beserta antek-anteknyalah yang paling takut kalau mendengar perkataan Piagam Jakarta&#8230; Tetapi agaknya ketakutan akan Piagam Jakarta, terutama ke-7 patah kata itu bukan hanya monopoli PKI dan antek-anteknya saja. Sekarang pun setelah? PKI beserta antek-anteknya dinyatakan bubar, masih ada kita dengar tanggapan yang aneh terhadapnya.&#8221; (Ibid, hal. 138).</p>
<p>Jadi, sikap alergi terhadap Piagam Jakarta jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Negara RI, UUD 1945. Meskipun secara verbal &#8220;tujuh kata&#8221; (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) telah terhapus dari naskah Pembukaan UUD 1945, tetapi kedudukan Piagam Jakarta sangatlah jelas, sebagaimana ditegaskan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah itu, Piagam Jakarta juga merupakan sumber hukum yang hidup. Sejumlah peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan setelah tahun 1959 merujuk atau menjadikan Piagam Jakarta sebagai konsideran.</p>
<p>Sebagai contoh, penjelasan atas Penpres 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, dibuka dengan ungkapan: &#8220;Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan Undang-undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia ia telah menyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.&#8221;</p>
<p>Dalam Peraturan Presiden No 11 tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), juga dicantumkan pertimbangan pertama: &#8220;bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut&#8230;&#8221;.</p>
<p>Sebuah buku yang cukup komprehensif tentang Piagam Jakarta ditulis oleh sejarawan Ridwan Saidi, berjudul Status Piagam Jakarta: Tinjauan Hukum dan Sejarah (Jakarta: Mahmilub, 2007). Ridwan menulis, bahwa hukum Islam adalah hukum yang hidup di tengah masyarakat Muslim. Tanpa UUD atau tanpa negara pun, umat Islam akan menjalankan syariat Islam. Karena itu, Piagam Jakarta, sebenarnya mengakui hak orang Islam untuk menjalankan syariatnya. Dan itu telah diatur dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dituangkan dalam Keppres No. 150/tahun 1959 sebagaimana ditempatkan dalam Lembaran Negara No. 75/tahun 1959.</p>
<p>Hukum Islam telah diterapkan di bumi Indonesia ini selama ratusan tahun, jauh sebelum kauh penjajah Kristen datang ke negeri ini. Selama beratus-ratus tahun pula, penjajah Kristen Belanda berusaha menggusur hukum Islam dari bumi Indonesia. C. van Vollenhoven dan Christian Snouck Hurgronje, misalnya, tercatat sebagai sarjana Belanda yang sangat gigih dalam menggusur hukum Islam.? Tapi, usaha mereka tidak berhasil sepenuhnya. Hukum Islam akhirnya tetap diakui sebagai bagian dari sistem hukum di wilayah Hindia Belanda. Melalui RegeeringsReglement, disingkat RR, biasa diterjemahkan sebagai Atoeran Pemerintahan Hindia Belanda (APH), pasal 173 ditentukan bahwa: &#8220;Tiap-tiap orang boleh mengakui hukum dan aturan agamanya dengan semerdeka-merdekanya, asal pergaulan umum (<em>maatschappij</em>) dan anggotanya diperlindungi dari pelanggaran undang-undang umum tentang hukum hukuman (<em>strafstrecht</em>).&#8221; (<strong>Ridwan Saidi</strong>, Status Piagam Jakarta hal. 96).</p>
<p>Jadi, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga,? Belanda akhirnya tidak berhasil sepenuhnya menggusur syariat Islam dari bumi Indonesia. Ridwan menulis: &#8220;Sampai dengan berakhirnya masa VOC tahun 1799, VOC terus berkutat untuk melakukan unifikasi hukum dengan sedapat mungkin menyingkirkan hukum Islam, tetapi sampai munculnya Pemerintah Hindia Belanda usaha itu sia-sia belaka.&#8221;? (Ibid, hal. 94).</p>
<p>Kegagalan penjajah Kristen Belanda untuk menggusur syariat Islam, harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kaum Kristen di Indonesia. Mereka harusnya menyadari bahwa kedudukan syariat Islam bagi kaum Muslim sangat berbeda dengan kedudukan hukum Taurat bagi Kristen. Dengan mengikuti ajaran Paulus, kaum Kristen memang kemudian berlepas diri dari hukum Taurat dengan berbagai pertimbangan.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? (Mitra Pustaka, 2008), Pendeta Herlianto menguraikan bagaimana kedudukan hukum Taurat bagi kaum Kristen saat ini. Dalam konsep Kristen, menurut Herlianto, keselamatan dan kebenaran bukanlah tergantung dari melakukan perbuatan hukum-hukum Taurat, melainkan karena Iman dan Kasih Karunia dengan menjalankan hukum Kasih.? Jadi, hukum Kasih itulah yang kemudian dipegang kaum Kristen. Hukum sunat (khitan), misalnya, meskipun jelas-jelas disyariatkan dalam Taurat, tetapi tidak lagi diwajibkan bagi kaum Kristen. &#8216;Sunat&#8217; yang dimaksud, bukan lagi syariat sunat sebagaimana dipahami umat-umat para Nabi sebelumnya, tetapi ditafsirkan sebagai &#8220;sunat rohani&#8221;. (<strong>Rm. 2:29</strong>). (<strong>Herlianto</strong>, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? Hal. 16-17).</p>
<p>Babi, misalnya, juga secara tegas diharamkan dalam Kitab <strong>Imamat, 11:7-8</strong>. Tetapi, teks Bibel versi Indonesia tentang babi itu sendiri memang sangat beragam, meskipun diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dalam Alkitab versi LAI, tahun 1968 ditulis: &#8220;<em>dan lagi babi, karena sungguh pun kukunya terbelah dua, ia itu? bersiratan kukunya, tetapi dia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Djanganlah kamu makan daripada dagingnya dan djangan pula kamu mendjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu.&#8221;</em> (Dalam Alkitab versi LAI tahun 2007, kata babi berubah menjadi babi hutan: <em>&#8220;Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.&#8221;</em>). Pada tahun yang sama, 2007, LAI juga menerbitkan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini, yang menulis ayat tersebut: &#8220;Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.&#8221;</p>
<p>Jika dibaca secara literal, maka jelaslah, harusnya babi memang diharamkan. Tetapi, kaum Kristen mempunyai cara tersendiri dalam memahami kitabnya. Menurut Herlianto, Rasul Paulus telah memberikan pengertian hukum Taurat dengan jelas: &#8220;<em>Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru dan bukan dalam keadaan lama menurut hukum-hukum Taurat.&#8221; (<strong>Rm. 7:6</strong>). </em>(Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil?? Hal. 20)<em>.</em></p>
<p>Pandangan kaum Kristen terhadap hukum Taurat tentu saja sangat berbeda dengan pandangan dan sikap umat Islam? terhadap syariat Islam. Sampai kiamat, umat Islam tetap menyatakan, bahwa babi adalah haram. Teks al-Quran yang mengharamkan babi juga tidak pernah berubah sepanjang zaman, sampai kiamat. Hingga kini, tidak ada satu pun umat Islam yang menolak syariat khitan, dan menggantikannya dengan &#8220;khitan ruhani&#8221;. Sebab, umat Islam bukan hanya menerima ajaran, tetapi juga mempunyai contoh dalam pelaksanaan syariat, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena sifatnya yang final dan universal, maka syariat Islam berlaku sepanjang zaman dan untuk semua umat manusia. Apa pun latar belakang budayanya, umat Islam pasti mengharamkan babi dan mewajibkan shalat lima waktu. Apalagi, dalam pandangan Islam, syariat Islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia; mulai tata cara mandi sampai mengatur perekonomian.</p>
<p>Pandangan dan sikap umat Islam terhadap syariat Islam semacam ini harusnya dipahami dan dihormati oleh kaum Kristen. Sangat disayangkan, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih saja melihat syariat Islam dalam perspektif yang sama dengan penjajah Kristen Belanda, dahulu. Padahal. sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin yang melaksanakan ajaran Islam sebagai &#8220;anti-Pancasila&#8221;, &#8220;anti-NKRI&#8221;, dan sebagainya. [Depok, 16 Juni 2009/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/adian-husaini/9682?task=view" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara <strong>Radio Dakta</strong> dan <strong>www.hidayatullah.com</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Engkau Bersujud Kepada-Nya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/agar-engkau-bersujud-kepada-nya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/agar-engkau-bersujud-kepada-nya#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 21:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2575</guid>
		<description><![CDATA[Aku namakan dirimu Muhammad Husain As-Sajjad, karena aku ingin engkau kelak akan banyak bersujud kepada-Nya Oleh Mohammad Fauzil Adhim * Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir di saat orang-orang sedang bersujud ke hadirat Allah &#8216;Azza wa Jalla. Engkau lahir di saat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku namakan dirimu Muhammad Husain As-Sajjad, karena aku ingin engkau kelak akan banyak bersujud kepada-Nya </em></strong></p>
<p>Oleh <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong> *</p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/FauzilFoto.jpg" border="0" alt="" width="95" height="129" align="left" />Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir di saat orang-orang sedang bersujud ke hadirat Allah &#8216;Azza wa Jalla. Engkau lahir di saat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika manusia sedang mengagungkan asma Allah, engkau lahir di dunia ini. Nyaris tanpa pertolongan. Tetapi pertolongan siapakah yang lebih baik daripada pertolongan Allah? Sesungguhnya, sebaik-baik penolong adalah Allah. Maka kelak, ingat-ingatlah bahwa hanya kepada-Nya engkau menyembah dan meminta pertolongan.</p>
<p>Hayatilah setiap kali engkau membaca &#8220;IyyaKa na&#8217;budu wa iyyaKa nasta&#8217;in. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.&#8221;<span id="more-2575"></span></p>
<p>Nak&#8230;</p>
<p>Ada lagi yang membuatku memberimu nama As-Sajjad. Engkau lahir di hari pertama bulan Ramadhan. Ketika itu ibumu baru saja selesai sahur, ketika ia merasakan tanda-tanda kelahiranmu, Nak. Engkau lahir di bulan yang paling penuh barakah; bulan yang di dalamnya terdapat satu malam dengan kemuliaan yang melebihi seribu bulan. Di bulan itulah, Nak Al-Qur&#8217;an diturunkan. Dan di bulan itu pula engkau dilahirkan.</p>
<p>Sungguh, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Maka ketika kelak engkau mulai bisa memikirkan untuk apa engkau diciptakan, perhatikanlah langkahmu dan renungilah mengapa Allah takdirkan engkau lahir di bulan yang suci; di bulan yang manusia dan para malaikat mengagungkannya; sementara syaithan dibelenggu oleh Allah &#8216;Azza wa Jalla. Di bulan itu, manusia belajar menahan diri -tak sekedar menahan lapar dan dahaga-agar mereka meraih derajat takwa.</p>
<p>Maka, aku sungguh berharap ini menjadi pelajaran bagimu untuk belajar menahan diri, bukan karena ingin mendapat penilaian manusia, tetapi agar meraih kecintaan Tuhanmu.</p>
<p>Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari Allah Yang Maha Menciptakan, hanya demi meraih kecintaan dari makhluk-makhluk-Nya. Sesungguhnya selain Allah adalah fana. Betapa banyak orang yang mengikrarkan cintanya dan tak lama sesudah itu ia mengingkari ikrarnya sendiri. Betapa banyak orang yang mengaku mencintai saudaranya dengan tulus, padahal yang mereka cintai hanyalah parasnya. Cinta itu awalnya meluap-luap, dan setelah dimakan usia, tak tahu lagi kemana cinta harus dicari. Jika engkau mencari cinta mereka, mungkin mereka akan mengelu-elukanmu ketika ada yang bisa didapatkan darimu. Tetapi sesudah itu, tak ada sedikit pun jaminan bahwa mereka tidak akan meninggalkanmu.</p>
<p>Sungguh, telah banyak berlalu ummat-ummat sebelum kamu. Maka berjalanlah di muka bumi, dan lihat kesudahan orang-orang terdahulu. Telah banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras untuk memperoleh tepuk tangan dan decak kagum manusia, tetapi sesudah masa bertukar dan zaman berganti mereka tak lagi dikenali. Dan sesudah itu, sebagian di antara mereka terpuruk oleh kesedihannya sendiri, dan sebagian lainnya tersadar sehingga segera berlari kepada Allah.</p>
<p>Alangkah fana, Anakku. Alangkah fana&#8230;. Maka apakah engkau akan sibuk mengejarnya?</p>
<p>Sementara apabila engkau meraih kecintaan Tuhanmu, Anakku, Ia akan memaklumkan kecintaan-Nya kepada para malaikat. Lalu para malaikat itu akan memaklumkan kecintaan itu kepada hati manusia, sehingga mereka berbondong datang kepadamu sekalipun engkau bersembunyi di balik goa. Mereka datang kepadamu dengan penuh kecintaan, dan kecintaan itu datang dari Tuhanmu. Mereka akan siap melindungimu dan membantumu, kapan saja. Tetapi jangan engkau keliru menyangka, sehingga menganggap mereka sebagai penolongmu.</p>
<p>Tidak.</p>
<p>Sekali-kali tidak. Sesungguhnya tidaklah mereka menjadi penolongmu melainkan karena Allah semata.</p>
<p>Anakku&#8230;</p>
<p>Kunamakan engkau Muhammad Husain As-Sajjad agar? engkau bersujud kepada-Nya. Sujudkan badanmu agar engkau termasuk golongan orang-orang ahli &#8216;ibadah. Sujudkanlah hatimu agar engkau menjadi seorang mukmin; seorang yang mengimani-Nya dengan lurus. Sujudkanlah pikiranmu agar engkau termasuk golongan ulil-albab.</p>
<p>Sujudkanlah jiwamu agar engkau menjadi seorang yang mencapai derajat ihsan, karena engkau senantiasa berada pada situasi seakan-akan engkau melihat Tuhanmu. Dan apabila engkau tidak melihat Tuhanmu, engkau yakin dengan sepenuh hati bahwa Ia mengawasimu.</p>
<p>Sujudkan pula harta dan duniamu, agar tidak pernah menguasai hatimu. Sesungguhnya harta itu letaknya dalam genggamanmu. Bukan pada hatimu. Apabila harta itu engkau letakkan di tanganmu, maka engkau akan ringan hati membelanjakan di jalan-Nya. Tetapi apabila harta itu engkau simpan dalam hatimu, maka sedikit saja yang berkurang, akan dapat menggelisahkan dirimu sehingga dengan itu justru harta yang sedang mendekat kepadamu, akan berlari sejauh-jauhnya.</p>
<p>Husain Anakku&#8230;.</p>
<p>Sesungguhnya harta yang akan menjadi milikmu kelak di Yaumil-Qiyamah adalah yang engkau belanjakan di jalan yang benar. Setiap keping yang engkau jadikan shadaqah, ia akan tetap menjadi milikmu sampai Hari Kiamat. Setiap keping yang engkau bayarkan sebagai zakat, ia akan menjadi pembelamu di hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah semata.</p>
<p>Setiap keping yang engkau belanjakan untuk keluargamu, untuk anak-anak yatim, untuk jihad fii sabilillah, untuk amar makruf nahy munkar, untuk mengongkosi perjalananmu melakukan kebaikan, maka ia tetap menjadi milikmu dan senantiasa berlipat kebaikannya hingga engkau berjumpa di Hari Akhir kelak. Ia akan mengantarmu ke surga atas perkenan-Nya. Insya-Allah.</p>
<p>Tetapi, Nak&#8230;</p>
<p>Karena sekeping uang pula manusia bisa terhalang dari Tuhannya. Tidaklah disebut pendusta agama orang yang pendek-pendek do&#8217;anya dan ringkas shalatnya. Tidak.</p>
<p>Tetapi tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mengajurkan memberi makan orang miskin. Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya&#8217; dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Begitu peringatan Tuhanmu dalam surat Al-Maa&#8217;uun. Kelak engkau bisa membacanya dalam Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Hanya Do&#8217;a Yang Kupinta Apa yang kuharapkan dengan pesan-pesan ini, Anakku?</p>
<p>Aku sayangi dirimu sejak engkau belum dilahirkan; Aku tunggui persalinan ibumu hingga terdengar tangismu; Aku bersihkan darah yang mengiringi kelahiranmu dengan tanganku sendiri; Aku temani masa-masa bayimu dengan membacakan do&#8217;a di telingamu; Aku ciumi dirimu sebagaimana Rasulullah saw. mengajarkan; Dan aku nanti engkau beranjak besar, lalu kutulis pesan ini, tidak lain hanyalah berharap engkau kelak menjadi orang shalih yang memberi bobot kepada bumi ini dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Betapa pun bapak dan ibumu hanya dua orang yang lemah imannya, lemah ilmunya dan lemah jiwanya. Tidak ada kekuatan kecuali semata-mata dari-Nya.</p>
<p>Besarnya pengharapan inilah yang menjadi kekuatan? bapak ibumu dalam mengasuh dan membesarkanmu. Kalau kemudian kelak engkau menjadi anak yang shalih -dan bapak ibumu senantiasa berharap dengan penuh kesungguhan-maka tidak ada yang lebih berharga untuk diharapkan darimu melebihi do&#8217;a-do&#8217;a yang engkau panjatkan dengan tulus kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla bagi kedua orangtuamu ini. Harapan inilah yang membuat bapak ibumu bersedia mengorbankan apa saja, termasuk kesehatan, asalkan kelak engkau termasuk di antara waladun shalihun yad&#8217;ulah. Anak shalih yang mendo&#8217;akan.</p>
<p>Inilah yang senantiasa merisaukan orangtuamu, Anakku, bagaimana mengantarkan engkau menjadi waladun shalihun yad&#8217;ulah. Jika engkau termasuk anak yang shalih, maka setiap perbuatanmu dapat menjadi kebaikan bagi orangtuamu. Dan jika engkau mendo&#8217;akan bapak ibumu, maka Allah akan bukakan pintu-pintu kebaikan.</p>
<p>Kebaikan itu akan terus mengalir apabila engkau mendo&#8217;akan, sekalipun bapak ibumu telah berselimut kain kafan.</p>
<p>Tetapi sekedar mendo&#8217;akan, Anakku&#8230; tanpa ada keshalihan yang mengiringi do&#8217;a-do&#8217;a itu, rasanya akan sia-sia. Sebab, seperti yang engkau baca, anak-anak yang bisa menambah catatan kebaikan bagi kedua orangtuanya sesudah kematian menjemputnya adalah anak-anak shalih yang mendo&#8217;akan. Ini berarti engkau harus menjadi manusia shalih ketika mendo&#8217;akan.</p>
<p>Tanpa keshalihan, do&#8217;a itu akan melayang begitu saja. ?Apalagi do&#8217;a itu bukan engkau sendiri yang mengucapkan. Dan betapa banyak kulihat, di kala seorang anak Adam meninggal dunia, para tetangga mendo&#8217;akan si mati, sementara anak-anaknya mengaminkan pun tidak. Mereka menyibukkan diri dengan makanan yang akan dihidangkan.</p>
<p>Sungguh, sesuatu yang absurd. Lebih-lebih di antara para pendo&#8217;a itu terkadang ada yang menjadi ahli maksiat. Wallahu a&#8217;lam bishawab. [<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/sekolah-revolusioner/8679-agar-engkau-bersujud-kepada-nya" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis majalah Hidayatullah</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/agar-engkau-bersujud-kepada-nya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Percaya Diri Anak</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 22:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2573</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis?caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha?dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi </em></strong></p>
<p>Oleh: <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/FauzilFoto_thumb.jpg" border="0" alt="" width="64" height="80" align="left" />Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis?caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha?dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut&#8230; entah berapa kali mereka meng?alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.</p>
<p>Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka?rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya.<span id="more-2573"></span></p>
<p>Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa?tir salah mengucapkannya -karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat. Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber?sahabat dan penuh semangat.</p>
<p><em>Astaghfirullahal &#8216;azhim&#8230;.</em> Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang me?nulis risalah ini.</p>
<p>Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, &#8220;Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje?niusan mereka dalam enam bulan pertama.&#8221;</p>
<p>Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias dan senantiasa belajar. Di usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar -meminjam istilah Glenn Doman- &#8220;tanpa usaha&#8221;. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.</p>
<p>Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah. Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam Syafi&#8217;i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur&#8217;an di usia tujuh tahun. Begitu pula yang dila?kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih. Tetapi bukan kita.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-&#8217;azhim</em>. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?</p>
<p>Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya mela?hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahir?kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan karena mereka me?miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang yang lebih tua dari anaknya.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-&#8217;azhim</em>. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan memba?guskan pendidikan anak-anak kita.</p>
<p>Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang men?jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memu?liakan syari&#8217;at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita te?riakkan, &#8220;Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.&#8221;</p>
<p>Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, &#8220;Nah&#8230;, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?&#8221;</p>
<p>Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingat?kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka -meskipun tampaknya kita lebih sering mencela-dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?</p>
<p>Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah &#8216;<em>Azza wa Jalla</em> sudah berfirman, &#8220;<em>Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan</em>.&#8221; (QS. Al-A&#8217;raaf: 31).</p>
<p>Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup un?tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman-temannya. Padahal mereka dila?hirkan untuk zaman yang bukan kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be?sar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, &#8220;Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.&#8221; Perintah-perintah di masa awal kena?bian Rasulullah tercinta, <em>Muhammad shallaLlahu &#8216;alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji Wada&#8217; adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.? Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?&#8221;</em></p>
<p>Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang berpijak di atas aqidah yang lurus.</p>
<p>Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasIhat Nabi swa ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.</p>
<p>Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi orang?tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manu?sia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.</p>
<p>Anak-anak kitakah yang akan seperti itu? [<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/sekolah-revolusioner/9316-menumbuhkan-percaya-diri-anak" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas Utama Presiden Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tugas-utama-presiden-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tugas-utama-presiden-kita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 07:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2540</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Dr. Adian Husaini Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, &#8220;Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?&#8221; Laki-laki itu menjawab, &#8220;Tidak, demi Allah!&#8221; Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.&#8221; Penasaran dengan jawaban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh<strong>: Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/Adian_baru.jpg" border="0" alt="" width="80" height="112" align="left" />Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, &#8220;Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?&#8221; Laki-laki itu menjawab, &#8220;Tidak, demi Allah!&#8221; Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.&#8221; Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, &#8220;Siapa nama kamu?&#8221; Dijawab si laki-laki, &#8220;Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.&#8221; Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.</p>
<p>Sebelum terjadi perang Qadisiah, Panglima Perang Sa&#8217;ad bin Abi Waqash mengirimkan utusan bernama Rabi&#8217; bin Amir untuk menemui Jenderal Rustum, panglima Perang Persia.? Rabi&#8217; masuk ke tenda Rustum yang bergelimang kemewahan dengan tetap memegang tombak dan menuntun kudanya.? Ketika Rustum bertanya, &#8220;Apa tujuan kalian?&#8221; dengan tegas Rabi&#8217; menjawab, &#8220;Allah telah mengutus kami untuk membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan Allah semata, dan membebaskan manusia dari kesempitan menuju kelapangan hidup di dunia, dan dari penindasan berbagai agama yang sesat menuju agama Islam yang menuh keadilan.&#8221;<span id="more-2540"></span></p>
<p>Kita ingat sebuah cerita terkenal, ketika Ja&#8217;fay bin Abdul Muthalib dan kawan-kawan sedang berada di Habsyah, sejumlah pemuka Quraish juga mengejar mereka. Raja Najasyi diprovokasi untuk mengusir kaum Muslim itu. Kepada Najasyi dan para pendeta Kristen, Amr bin Ash dan Amarah menyatakan, bahwa orang-orang Islam tidak akan mau bersujud kepada Raja. Ketika kaum Muslim dipanggil menghadap Raja, mereka diperintahkan, &#8220;Bersujudlah kalian kepada Raja!&#8221;.? Dengan tegas Ja&#8217;far menjawab, &#8220;Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah semata.&#8221;</p>
<p>Sejumlah cerita tentang kezuhudan dan kegigihan generasi-generasi awal Islam itu diungkap oleh Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dalam bukunya, <em>&#8220;Maa Dzaa Khasiral &#8216;Aalam bi-inkhithaathil Muslimin</em>. (Terjemah versi Indonesia oleh M. Ruslan Shiddieq, <em>Islam Membangun Peradaban Dunia</em>, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1988). Melalui bukunya, Ali an-Nadwi memang ingin menggugah kaum Muslim, bahwa kebangkitan dan kemenangan kaum Muslim hanya akan bisa diraih jika umat Islam memiliki keimanan yang kokoh, dan tidak goyah dengan berbagai godaan dunia.</p>
<p>Dalam risalahnya yang terkenal, <em>Limaadza Taakkharal Muslimun wa-Limaadza Taqaddama Ghairuhum, </em> Syekh Amir Syakib Arsalan juga mengungkap sejumlah perbandingan, mengapa kaum Muslimin bisa dikalahkan oleh bangsa-bangsa Barat di berbagai lini kehidupan. Salah satu sikap yang menonjol adalah rendahnya sikap rela berkorban kaum Muslim dalam perjuangan. Sebagai contoh, ia mengungkapkan kesetiaan bangsa Inggris terhadap barang-barang produksinya dan toko-tokonya sendiri, walaupun harganya lebih mahal. &#8220;Aku pernah mendengar bahwa bangsa Inggris yang ada di daerah jajahannya, mereka tidak suka membeli barang-barang yang diperlukan terutama barang-barang yang berharga, melainkan mereka mesti membeli (pesan) dari negara mereka sendiri&#8230;&#8221;.</p>
<p>Lebih jauh tentang sebab-sebab kemunduran umat Islam di awal abad ke-20, diuraikan dengan sangat tajam oleh Amir Syakib Arsalan dalam risalah yang ditulisnya menjawab pertanyaan Syekh Muhammad Basyuni Imran,? Imam Kerajaan Sambas, dengan perantaraan Muhammad Rasyid Ridha. Moenawwar Chalil menerjemahkan buku ini tahun 1954 dengan judul <em>Mengapa Kaum Muslim Mundur</em>. (Jakarta: Bulan Bintang, 1954).</p>
<p>Hilangnya semangat berkorban &#8211; jiwa, raga, harta, dan sebagainya &#8211; di tengah umat Islam bersamaan dengan munculnya sikap cinta dunia (<em>hubbud-duny</em>a). ?Sikap ini muncul karena ilmu yang salah,? yang melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kehidupan akhirat. Kapan saja sikap ini muncul, maka umat Islam tidak akan pernah mengenyam kejayaan. Rasulullah saw sudah mengingatkan, umat Islam akan menjadi sampah (buih), ketika sudah terjangkit penyakit &#8220;al-wahnu&#8221; (hubbud-dunya dan takut mati) dalam diri mereka. Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah saw juga menyebutkan, jika umat Islam sudah mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam.</p>
<p>Di tengah hiruk pikuk pemilihan presiden RI? 2009-2014 saat ini, kaum Muslim Indonesia seyogyanya tidak boleh kehilangan arah perjuangan. Jika hendak berkaca pada perjuangan Rasulullah saw, maka sejatinya, yang dibangun oleh Rasulullah saw, bukanlah sekedar sebuah negara di Madinah. Tetapi, yang dibangun oleh Rasulullah saw adalah sebuah bangunan peradaban yang sangat tinggi, yakni bangunan peradaban Islam. Bangunan ini ditopang oleh satu komunitas yang memiliki ciri-ciri yang khas, diantaranya ialah sikap &#8220;haus ilmu&#8221; dan &#8220;semangat berkorban&#8221; yang sangat tinggi demi sebuah cita-cita.</p>
<p>Mengapa Madinah bukan sekedar sebuah kekuasaan?? Kekuasaan bisa diraih jika suatu kelompok memiliki kekuatan untuk berkuasa. Siapa pun yang memiliki angkatan perang terkuat, maka akan bisa dengan mudah meraih kekuasaan. Bangsa Mongol bisa menaklukkan Baghdad pada 1215, meskipun tingkat peradaban mereka jauh di bawah umat Islam. Pasukan Salib mampu merebut Jerusalem pada 1099 karena kemampuan dan semangat berperang mereka jauh lebih tinggi dibanding kemampuan kaum Muslim ketika itu. Tetapi, karena tingkat peradaban mereka rendah, maka mereka akhirnya justru banyak terpengaruh oleh peradaban Islam.</p>
<p>Rasulullah saw tidak menyiapkan para jagoan untuk mendirikan sebuah bangunan negara Madinah. Tetapi, yang disiapkan oleh Rasulullah saw adalah manusia-manusia yang beradab, yang memiliki keyakinan dan keimanan yang sangat kuat dan haus ilmu pengetahuan. Karena itulah, Rasulullah dan para sahabat sesudah beliau, tidak kesulitan kader-kader pemimpin umat untuk ditempatkan di berbagai wilayah yang dikuasai umat Islam ketika itu.</p>
<p>Manusia-manusia Muslim yang unggul dan beradab itulah yang harus disiapkan kaum Muslim untuk terjun ke berbagai lapangan kehidupan: pendidikan, ekonomi, sosial, militer, juga politik. Ketika banyak yang mengeluhkan kualitas para politisi Muslim, harusnya kita berkaca pada diri sendiri, apakah selama ini ada lembaga-lembaga pendidikan Islam yang secara serius menyiapkan kader-kader umat yang unggul. Silakan diteliti, apakah ada satu Perguruan Tinggi Islam yang bisa diharapkan untuk menyiapkan kader umat semacam itu? Jika belum ada, harusnya umat Islam berkewajiban untuk menyiapkannya.</p>
<p>Umat Islam kini hidup di bawah suatu hegemoni peradaban Barat yang meterialistis yang memuja empat hal: kekayaan, kekuasaan, kecantikan dan kepopuleran. Tugas lembaga pendidikan Islam adalah mencetak kader-kader umat yang siap terjun ke tengah masyarakat sebagai mujahid dalam berbagai lapangan kehidupan. Dan tentunya, kader-kader umat itu haruslah terbebas dari penyakit cinta dunia dan takut mati. Sebab, penyakit inilah yang sangat merusak umat. ?Jika penyakit ini menggejala di tengah masyarakat, maka hancurlah bangsa itu.</p>
<p>Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir menulis sebuah artikel berjudul <strong>&#8220;Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.&#8221;</strong> Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan.</p>
<p><em>&#8220;Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara? yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau&#8230; Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpal&#8230; Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!&#8221; (</em>M. Natsir, <em>Capita Selecta 2</em>, (Jakarta: PT Abadi, 2008, cet. Ke-2)).</p>
<p>Peringatan Moh. Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa Indonesia. Bahwa, baru beberapa tahun saja kemerdekaan berlalu, banyak orang Indonesia sudah kehilangan orientasi, egois, serba pamrih, dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Mereka berpikir, bahwa perjuangan sudah selesai, dan seolah-olah tujuan bangsa sudah tercapai. Sudah merdeka. Cukup!. Maka, tiap tahun rakyat dihibur dengan pesta-pesta 17 Agustusan. Kini, bukan saat untuk berjuang, tetapi saatnya untuk menikmati hasil perjuangan.????????? Karena itulah, kata Natsir, jika bangsa ini tidak mau tenggelam dihantam gelombang tantangan zaman, maka bangsa ini tidak boleh berhenti &#8220;mendayung&#8221;.</p>
<p><em>&#8220;Saudara baru berada di tengah arus, tetapi sudah berasa sampai di tepi pantai. Dan lantaran itu tangan saudara berhenti berkejauh, arus yang deras akan membawa saudara hanyut kembali, walaupun saudara menggerutu dan mencari kesalahan di luar saudara. Arus akan membawa saudara hanyut, kepada suatu tempat yang tidak saudara ingini&#8230; Untuk ini perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencucurkan keringat. Untuk ini saudara harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara, yang masih terbengkelai&#8230; Perjuangan ini hanya dapat dilakukan dengan enthousiasme yang berkobar-kobar dan dengan keberanian meniadakan diri serta kemampuan untuk merintiskan jalan dengan cara yang berencana.&#8221; (Ibid). </em></p>
<p>Dan apakah penyakit yang paling berbahaya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia saat ini? Kepada Amien Rais dan kawan-kawan yang mewawancarainya pada 1986-1987, dengan tegas M. Natsir menyatakan: &#8220;Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.&#8221; Juga, kata Natsir:</p>
<p>&#8220;Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang &#8220;baru&#8221;, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi,? gejala yang &#8220;baru&#8221; ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.&#8221;?? (A. Watik Pratiknya (ed.), <em>Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, </em>(Jakarta-Yogya: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Laboratorium Dakwah, 1989).</p>
<p>Kita sebenarnya berharap, para politisi Muslim lebih mengedepankan isu &#8220;iman&#8221; daripada urusan perut. Ekonomi tentu saja penting. Tetapi, aqidah lebih penting. Sebab, misi utama kenabian adalah meluruskan aqidah. Mudah-mudahan, presiden yang terpilih nanti, juga menaruh perhatian soal aqidah. Bukan hanya urusan &#8220;perut&#8221;. Sebab, &#8220;perut&#8221; tidak akan pernah puas. Jika seseorang kehilangan orientasi akhirat dan terjangkit penyakit cinta dunia, maka setelah perutnya kenyang, dia akan mengejar &#8220;kepuasan&#8221; lain.</p>
<p>Bukankah dalam lagu Indonesia Raya disebutkan<em>, &#8220;Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!&#8221;</em> Jadi, jiwa dulu yang harus dibangun. Jiwa yang sehat bagi seorang Muslim adalah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan tidak terjangkit penyakit <em>hubbud-dunya.</em> Itulah tugas utama pemimpin Indonesia masa depan. Mudah-mudahan, ke depan, kita akan mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin yang mampu mewarisi? amanah perjuangan para Nabi. Pemimpin seperti itu harus disiapkan, dan bukan hanya ditunggu-tunggu. ?[depok, <a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/adian-husaini/9546-tugas-utama-presiden-kita" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan <a href="http://www.hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tugas-utama-presiden-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Multikulturalisme atau Tauhid?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/multikulturalisme-atau-tauhid</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/multikulturalisme-atau-tauhid#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 07:16:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2537</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah naskah pidato pengukuhan seorang guru besar bidang Sosiologi Agama di sebuah Universitas di Jawa Timur. Judul pidatonya adalah &#8220;Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial&#8220;.? Karena pidato itu berisi gagasan-gagasan mendasar tentang rencana pengembangan studi agama-agama di Perguruan Tinggi Islam, maka wajib untuk dicermati. Apalagi, sang professor secara terbuka menyatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah naskah pidato pengukuhan seorang guru besar bidang Sosiologi Agama di sebuah Universitas di Jawa Timur. Judul pidatonya adalah &#8220;<em>Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial</em>&#8220;.? Karena pidato itu berisi gagasan-gagasan mendasar tentang rencana pengembangan studi agama-agama di Perguruan Tinggi Islam, maka wajib untuk dicermati. Apalagi, sang professor secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).</p>
<p>Gagasan penting yang diusung oleh sang Profesor tersebut rencana pengembangan studi agama berbasis paham multikulturalisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama. Ia menulis tentang masalah ini:<span id="more-2537"></span></p>
<p>&#8220;Gagasan Nurcholish Madjid tentang titik temu agama-agama atau gagasan kesatuan transcendental agama-agama (<em>the transcendent unity of religions</em>) Frithjop Schuon, semakin memberikan afirmasi baik secara teologis maupun filosofis tentang pentingnya pengembangan studi agama berbasis multikulturalisme. Penggunaan konsep multikulturalisme dalam studi agama, dengan demikian, tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Multikulturalisme bahkan dapat menempati posisi sebagai kerangka berpikir, atau epistemologi, untuk memahami serta mendiseminasikan gagasan titik temu di antara pelbagai agama. Bila dalam hubungan antarumat beragama lebih ditekankan paham kesatuan &#8211; meskipun tetap menyadari adanya perbedaan pada level eksoterik &#8211; maka konflik dan aksi kekerasan bias dikurangi, bahkan dikikis. Studi agama berbasis multikulturalisme dengan demikian dapat menumbuhkembangkan budaya nirkekerasan, yakni suatu nilai pengetahuan, perasaan, dan sikap yang mengakui dan menghargai perbedaan, serta kesediaan bekerjasama atas dasar kesatuan transcendental.&#8221; (hal. 47).</p>
<p>Pada bagian lain, sang profesor menulis, bahwa modal saintifik untuk mengembangkan studi agama berbasis multikulturalisme telah tersedia. Yakni, sejak dua dasawarsa terakhir, dalam dunia intelektualisme Islam di Indonesia muncul mazhab pemikiran (<em>school of thought</em>) yang disebut dengan Islam Liberal.&#8221; (hal. 17).? Ia pun? mengusulkan, agar &#8220;Studi agama di Perguruan Tinggi Muhammadiyah perlu mempertimbangkan multikulturalisme dan modal sosial. Inti dari studi agama adalah mengembangkan pemahaman terhadap pelbagai dimensi yang terdapat dalam agama.&#8221; (hal. 29). Katanya lagi, &#8220;Studi agama berbasis multikulturalisme, dengan demikian, dapat diartikan sebagai suatu usaha mengembangkan mengembangkan? pemahaman agama yang menghargai perbedaan dan kesediaan bekerjasama atas dasar persamaan kemanusiaan.&#8221; (hal. 45).</p>
<p>Membaca naskah pidato sang guru besar ini, pada satu sisi saya bersyukur, bahwa di kalangan Perguruan Tinggi Islam telah muncul lagi guru besar bidang sosiologi agama yang kreatif, cerdas, dan pintar menulis.? Potensi-potensi umat Islam seperti ini perlu dipelihara dan dikembangkan lebih jauh. Harapan sang profesor untuk terciptanya suatu kehidupan masyarakat yang damai dan jauh dari konflik antar-umat beragama, tentu harus kita sambut baik. Tetapi, sebagai sesama Muslim, kita juga diwajibkan untuk bersikap kritis dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Jika kita mengkritik gagasan sang guru besar tersebut, tentu kita juga berharap agar sang profesor menyadari bahwa gagasannya tidak sepenuhnya benar. Bahkan, dari sudut pandang pemikiran Islam gagasan pengembangan faham liberal dan studi agama berbasis multikulturalisme, sangat bertentangan dengan ajaran Tauhid.</p>
<p>Sebagai Muslim, kita tentu ingin menjadi Muslim sampai mati. Kita tentu juga tidak menginginkan, Islam kita pakai hanya saat-saat tertentu saja. Ketika akan masuk pesantren, kita ambil Islam. Pada saat bertemu dengan berbagai kalangan agama lain, lalu kita katakan, bahwa kita tidak melihat agama-agama lain dari sudut pandang Islam, tetapi dari sudut pandang yang netral agama. Sikap seperti ini adalah produk pemikiran sekular.</p>
<p>Kita tentu juga ingin, bahwa kita mati dalam keadaan Muslim. Maka, keislaman kita seyogyanya, juga kita bawa ke mana pun kita berada. Ketika kita SD, kita menjadi Muslim dan berpikir sebagai seorang Muslim. Begitu kita seyovgyanya, ketika kita lulus sarjana, apalagi menjadi guru besar, maka kita pun ingin agar kita tetap Muslim: hidup secara Islami, berperilaku sebagai seorang Muslim, dan berpikir sebagai Muslim. Itu, menurut saya,? logika yang sederhana dan benar.</p>
<p>Maka, bukankah sudah seharusnya, ketika kita ingin mengembangkan suatu sistem teori atau pendidikan, maka kita pun kemudian mendasarkan kepada Islam. Menurut pikiran saya, sebagai seorang muslim, sebaiknya studi apa pun yang kita kembangkan &#8211; apakah studi kedokteran, studi ekonomi, studi politik, dan sebagainya &#8211; seyogyanya tetap berdasarkan kepada aqidah Islam atau Tauhid.</p>
<p>Apalagi untuk pengembangan suatu &#8220;Studi Agama&#8221;!?? Mengapa kita harus malu untuk menyatakan, bahwa di Perguruan Tinggi kita &#8212; yang juga menyatakan identitas Islam &#8211; dikembangkan studi agama berbasis Tauhid?? Mengapa kita harus berbangga menyatakan, bahwa kita mengembangkan Studi Agama berbasis multikulturalisme?? Apa salahnya jika kita mengembangkan studi agama-agama berbasis Islam atau berbasis aqidah Islam. Apakah kita takut dicap eksklusif, berpikiran sempit, subjektif, dan sebagainya? Jika benar kita takut, maka memang ada problem mental. Bukan sekedar problem intelektual. Jika bukan karena takut, tentu ada kekeliruan berpikir yang perlu diluruskan.</p>
<p>Menurut hemat saya, di seluruh lembaga pendidikan Islam, baik di lingkungan Muhammadiyah, NU, Persis, Dewan Da&#8217;wah Islamiyah Indonesia,?? atau yang lainnya -studi agama yang dikembangkan haruslah studi agama yang berbasis Tauhid, yakni berbasis kepada prinsip Tauhid,? &#8220;<em>La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah</em>&#8220;.? Sebab, orang-orang yang aktif di lembaga-lembaga Islam itu sudah mengaku Muslim dengan mengikrarkan syahadat.</p>
<p>Prinsip Tauhid jelas tidak bertentangan dengan konsep kerukunan umat beragama.?? Dengan perspektif Tauhid maka, manusia diajak untuk menerima Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad saw sebagai satu-satunya perantara menuju Allah. Sebab, tanpa keimanan dan kerelaan untuk menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai &#8220;<em>uswah hasanah</em>&#8221; dalam ibadah dan kehidupan,? manusia pasti gagal untuk mengenal Allah dengan benar dan tidak dapat beribadah dengan benar. Ini adalah prinsip Tauhid yang dipegang teguh oleh kaum Muslim sepanjang sejarah.</p>
<p>Maka, prinsip Tauhid ini jelas bertolak belakang secara diametral dengan konsep Kesatuan Transendensi Agama-agama (KTAA) yang memberikan keabsahan pada semua bentuk ibadah kepada Allah. Konsep KTAA seperti dipromosikan oleh sang profesor tersebut jelas memberikan legitimasi terhadap bentuk penyembahan terhadap Tuhan apa pun selain Allah. Marilah kita renungkan, dari posisi kita sebagai Muslim, apakah konsep KTAA semacam itu sesuai dengan aqidah Islam?? Soal kerukunan umat beragama, umat Islam tidak perlu mengadopsi konsep-konsep dari luar Islam. Sejarah menunjukkan, bagaimana Rasulullah saw dan para Khulafaurasyidin telah menunjukkan keteladanan yang tinggi dalam menciptakan kerukunan umat beragama, dengan tetap meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang diterima Allah.</p>
<p>Konsep KTAA yang dijadikan panutan oleh sang profesor Sosiologi Agama tersebut jelas sangatlah bermasalah. Ia menulis: &#8220;Dengan temuan ini, Mohammad Sabri selanjutnya merekomendasikan agar studi agama-agama di masa depan lebih diorientasikan pada upaya-upaya mencari titik temu, dari pada memperdebatkan perbedaan.&#8221; (hal. 15).</p>
<p>Jurnal ISLAMIA Harian <em>Republika-INSISTS</em> (14/5/2009) membahas secara panjang lebar kekeliruan gagasan KTAA tersebut.?? Teori KTAA yang dipromosikan Rene Guenon, Fritjop Schuon, Houston Smith, Nurcholish Madjid, dan sebagainya, adalah teori yang sangat lemah, dan bertentangan dengan prinsip Tauhid. Sebab, KTAA memberikan legitimasi pada berbagai praktik kemusyrikan.?? Kritik yang mendasar terhadap teori ini lihat buku <em>Prolegomena to the Metaphysic of Islam</em> karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.? Adanya &#8220;kesatuan transenden&#8221; pada agama-agama adalah sebuah khayalan.</p>
<p>Menurut hemat saya, sebagai seorang Muslim, seorang ilmuwan Muslim seharusnya senantiasa melihat sesuatu dalam sudut pandang Islam (<em>Islamic worldview</em>), termasuk ketika melihat agama-agama lain. Ini berbeda dengan ilmuwan sekular yang melihat agama-agama pada posisi netral agama, yang tidak bersandar pada pandangan satu agama tertentu. Dalam pandangan Islam, keimanan kepada Nabi Muhammad saw memegang posisi sentral bagi bangunan keimanan dan pemikiran seorang Muslim. Tanpa keimanan kepada Nabi Muhammad saw, tidak mungkin seorang mengenal Allah dengan benar, dan tidak mungkin tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah yang benar.? Artinya, syariat yang benar adalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Jadi untuk menuju Allah, maka jalan yang benar adalah mengikuti syariat Nabi Muhammad saw.? Itulah keyakinan Islam.</p>
<p>Sangat keliru jika seorang Muslim menyatakan, bahwa semua agama &#8211; apapun cara ibadahnya &#8211; adalah sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Padahal, syahadat orang Muslim sudah menegaskan, bahwa &#8220;Tidak ada Tuhan selain Allah&#8221;. Ini artinya, seorang Muslim harus menyembah satu-satunya Tuhan, yaitu Allah, bukan <em>Yahweh</em>, bukan Lata, bukan Uzza, bukan Setan, dan bukan Tuyul. Jika ada agama yang memiliki ritual penyembahan Tuyul atau menyembah Tuhan dengan cara telanjang sambil berjalan mengelilingi kampus, maka ibadah seperti itu pasti batil, karena tidak sesuai dengan syariat Nabi Muhammad saw.? Seorang ilmuwan Muslim mestinya merenungkan, ketika dia melihat agama-agama selain Islam, di mana dia berdiri? Apakah berdiri di atas dasar agamanya atau dia berdiri di atas titik yang netral agama?</p>
<p>Sebenarnya, sudah sangat banyak kritik terhadap gagasan KTAA. Tetapi, sang profesor sepertinya tidak mau tahu. Bahkan, dia menulis: &#8220;Upaya mencari titik temu antar pelbagai kelompok agama secara lebih mendasar dikembangkan oleh seorang tokoh mistikus kontemporer Frithjop Schuon (1984). Gagasan Frithjop Schuon dikatakan lebih mendasar karena menjadikan dimensi transendental agam-agama. Bagi Frithjop Schuon, di balik perbedaan pada masing-masing agama, tetap ada peluang dipertemukan mengingat kesamaan pada dimensi transendentalnya. Semua agama, apapun bentuk eksoteriknya (tata cara beribadah, tempat ibadah, ungkapan-ungkapan bahasa agama, dan perbedaan bersifat simbolik lainnya), kata Frithjop Schuon, berjumpa pada ranah transendental, yaitu Tuhan. Inilah dimensi esoterik agama, sekaligus jantung semua agama (the heart of religion).&#8221; (hal. 46).</p>
<p>Cobalah kita renungkan pemikiran sang professor yang begitu menggebu-gebu mengadopsi gagasan KTAA, untuk mencari-cari titik temu agama-agama? Gagasan itu sebenarnya adalah murni khayalan dan sebuah ungkapan yang asbun (asal bunyi). Ketika sang professor menyatakan, &#8220;semua agama&#8221; cobalah kita tanya pada dia,? benarkah dia sudah meneliti &#8220;semua agama&#8221; yang ada?? Bukankah di dunia ini ada ribuan agama?? Agama apa saja yang sudah ditelitinya?? Jadi, ucapan &#8220;semua agama&#8221; begini atau begitu adalah sebuah ungkapan&#8221;asbun&#8221;, meskipun keluar dari mulut seorang profesor.</p>
<p>Teori KTAA juga sangat na?f dan absurd, karena tidak mempersoalkan aspek eksoterik (tata cara beribadah, tempat ibadah, ungkapan-ungkapan bahasa agama, dan perbedaan bersifat simbolik lainnya) dan lebih mementingkan aspek esoterik. Untuk melihat kebatilan teori semacam itu, maka kita tidak perlu menjadi seorang professor. Sebab, kebatilannya sangat jelas. Dalam Islam, aspek syariat (eksoterik) sangat penting. Bentuk ibadah adalah hal yang sangat mendasar dalam Islam. Islam tidak memisahkan aspek eksoterik dan aspek esoteric.? Islam secara tegas menolak bentuk ibadah yang sah, selain yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Justru salah satu misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw adalah untuk memberi petunjuk kepada manusia tentang bagaimana cara beribadah yang benar.? Beliau diutus untuk semua manusia, sebagai uswah hasanah. Misi Nabi Muhammad saw bukan hanya ditujukan untuk orang Islam saja. Jadi, dalam Islam, aspek eksoterik dan esoteric adalah sama-sama penting. Menurut Islam, untuk menggapai esoterik yang benar, maka seseorang juga harus menjalankan tata cara ibadah yang benar, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Inilah perspektif Tauhid dalam melihat agama-agama. Jika prinsip Tauhid ini hendak digusur dari pengajaran Studi Agama di Perguruan Tinggi Islam &#8211; dan digantikan dengan perspektif multikulturalisme dan KTAA seperti gagasan sang profesor tersebut &#8212; maka pada hekikatnya, itu sama saja dengan pembubaran Islam itu sendiri.? Mungkin sang profesor tidak sadar akan kekeliruan dan dampak dari gagasannya. Mungkin juga dia sadar dan sengaja mempromosikan gagasan tersebut, karena menganggapnya sebagai hal yang baik dan benar.</p>
<p>Kita berharap, mudah-mudahan, Perguruan Tinggi Islam tidak tergoda oleh gagasan sang Profesor dari Jawa Timur tersebut, yang ingin menggusur prinsip Tauhid dalam studi agama dan menggantikannya dengan prinsip multikulturalisme. [Depok, 25 Mei 2009/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/adian-husaini/9428-multikulturalisme-atau-tauhid" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan <a href="http://hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/multikulturalisme-atau-tauhid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karet KB versus AIDS</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/karet-kb-versus-aids</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/karet-kb-versus-aids#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 21:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[Nasim selalu memiliki senyum di wajahnya. Baik saat ia sedang menggunting rambut dengan gunting maupun saat ngobrol. Kedua hal itu merupakan kegiatan rutinnya sehari-hari. Karena, ia adalah seorang tukang cukur di Sangam Vihar, pemukiman non-resmi terbesar di Delhi selatan. Tetapi baru-baru ini kebiasaannya ngobrol membawanya ke arah lain. Hari-hari terakhir ini topik obrolannya hampir tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasim selalu memiliki senyum di wajahnya. Baik saat ia sedang menggunting rambut dengan gunting maupun saat ngobrol. Kedua hal itu merupakan kegiatan rutinnya sehari-hari. Karena, ia adalah seorang tukang cukur di Sangam Vihar, pemukiman non-resmi terbesar di Delhi selatan. Tetapi baru-baru ini kebiasaannya ngobrol membawanya ke arah lain. Hari-hari terakhir ini topik obrolannya hampir tidak pernah tentang istri-istri orang atau topik nakal lain. Tetapi, lebih kepada segala hal tentang AIDS dan bagaimana penyakit mematikan itu tersebar. Ia juga membagikan kondom gratis kepada pelanggannya.</p>
<p>Nasim adalah salah satu dari sepuluh tukang cukur yang bekerja sebagai relawan untuk <em>Community Aid and Sponsorship Program</em> (CASP) yang bekerja atas dana hibah dari USAID melalui Centre for Development and Population Activities. &#8220;Awalnya saya tidak tahu banyak tentang AIDS, cara penularannya dan pencegahannya. Namun orang-orang CASP mendekati saya dan mengajarkan tentang semua ini, saya pikir merupakan ide baik menyebarkan kabar tersebut di daerah ini,&#8221; katanya.<span id="more-2495"></span></p>
<p>&#8220;Banyak orang datang pada saya setiap hari seolah-olah tidak seorang pun yang bercukur di rumah. Jadi, saya mendapatkan peluang baik untuk berbicara kepada mereka tentang AIDS. Dan sesudah meyakinkan mereka bahwa seks aman satu-satunya cara menghindari AIDS, saya memberikan beberapa bungkus kondom,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>Kondom</strong><strong>, Ampuhkah?</strong></p>
<p>Banyak orang di dunia ini yang yakin betul bahwa penularan virus HIV bisa ditangkal dengan penggunaan kondom. Berbagai kampanye dan juga argumentasi dikemukakan kepada khalayak agar mau menggunakan kondom sebagai &#8216;senjata pamungkas&#8217; melawan virus ganas itu. Misalkan, <em>Buletin HIV/AIDS Prevention Training </em>dari CDC, edisi Februari 1993 menuliskan kalo kondom lateks berguna sebagai pelindung mekanis yang bersifat terus-menerus sehingga memberi perlindungan sempurna terhadap berbagai jenis bakteri, virus dan kuman lainnya. Selain mencegah infeksi secara langsung, penggunaan kondom secara meluas juga mempunyai dampak tak langsung secara substansial terhadap penyebaran HIV, yakni dengan mencegah PMS lainnya yang merupakan sebagian faktor yang meningkatkan risiko penularan HIV.</p>
<p>Buletin itu juga menuliskan kalo kondom yang terbuat dari kulit anak kambing memang sulit untuk menahan laju perjalanan aneka bakteri dan virus penyakit kelamin. Karenanya kondom yang terbuat dari bahan itu tidak direkomendasikan untuk dipakai sebagai pencegah penyakit menular seksual (PMS).</p>
<p>Meski kemampuan kondom lateks bertindak sebagai pelindung mekanis yang efektif terhadap HIV dan sperma pada uji coba laboratorium itu memberikan harapan yang</p>
<p>cerah, namun penelitian klinis secara khusus menunjukkan angka kegagalan berkisar dari 2% sampai 15% yaitu pada saat kondom digunakan hanya sebagai cara utuk mencegah</p>
<p>kehamilan. Artinya, masih ada peluang gagal. Kalau gagal? <em>Wes ewes ewes bablas viruse.</em></p>
<p>Angka kegagalan untuk mencegah kehamilan diperkirakan menurun menjadi 2% bila kondom digunakan dengan benar. Sejumlah penelitian juga dilakukan terhadap orang yang aktif secara seksual dan menunjukkan bahwa kondom lateks yang digunakan dengan benar memberi tingkat perlindungan yang sangat tinggi terhadap berbagai PMS, termasuk infeksi</p>
<p>HIV.</p>
<p>Tingkat perlindungan dari penggunaan kondom lateks yang benar terhadap penularan HIV terbukti nyata pada penelitian terhadap pasangan yang salah satu anggotanya terinfeksi HIV sedangkan yang lainnya tidak (disebut juga dengan: &#8220;pasangan yang bertolak-belakang/<em>discordant couples</em>&#8220;).</p>
<p>Penelitian itu menyatakan risiko mendapat infeksi HIV berkurang 70-100% pada pasangan yang dilaporkan menggunakan kondom secara konsisten. Pentingnya menggunakan kondom secara konsisten dan benar ditekankan oleh sebuah penelitian dari 563 &#8216;pasangan yang bertolak-belakang&#8217; di Eropa. Di antara 44 pasangan yang tidak konsisten dalam menggunakan kondom, 6 orang pasangan yang sehat dilaporkan menjadi terinfeksi.</p>
<p>Sebaliknya, pada 24 pasangan yang menggunakan kondom secara konsisten, tak satu pun dari pasangan yang sehat kemudian menjadi terinfeksi.</p>
<p>Begitu yakinnya, sampai-sampai buletin berani merekomendasikan bahwa kondom lateks bisa memberikan perlindungan hingga 98% &#8211; 99% terhadap kehamilan dan sebagian besar PMS, termasuk infeksi HIV, tapi sekali lagi ini hanya bila kondom digunakan dengan benar dan konsisten!</p>
<p><strong>Jangan Percaya Dulu</strong><br />
Para pelaku seks bebas sebaiknya jangan percaya dulu dengan promosi kehandalan kondom. Pasalnya, banyak kalangan yang percaya hal sebaliknya. Berikut ini sejumlah keterangan pakar yang dirangkum oleh Prof. Dr. Dadang Hawari:</p>
<ol>
<li>Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.</li>
<li>Sementara J Mann (1995) dari <em>Harvard AIDS Institute</em> yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom hanya 70 persen.</li>
<li>Penelitian yang dilakukan oleh Lytle (1992) dari <em>Division of Life Sciences</em>, Rockville, Maryland, USA, membuktikan bahwa penetrasi kondom oleh partikel sekecil virus HIV/AIDS dapat terdeteksi.</li>
<li>Penelitian yang dilakukan oleh Carey (1992) dari <em>Division of Pshysical Sciences</em>, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang diperiksa (yang beredar dipasaran) ternyata 29 dari padanya terdapat kebocoran, atau dengan kata lain tingkat kebocoran kondom mencapai 30 persen.</li>
<li>Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar.</li>
<li>Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron.</li>
<li>Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.</li>
<li>Laporan dari majalah <em>Customer Reports</em> (1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan elektron mikroskop dapat dilihat pori-pori kondom yang 10 kali lebih besar dari virus HIV.</li>
<li>M Potts (1995), Presiden Family Health International, salah seorang pencipta kondom, mengakui, &#8221;Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.</li>
<li>V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.</li>
<li>Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai &#8221;sama saja dengan mengundang kematian&#8221;. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Rep. 12/11/95).</li>
<li>Di Indonesia pada tahun 1996 yang lalu kondom yang diimpor dari Hongkong ditarik dari peredaran karena 50 persen bocor.</li>
<li>Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof Dr Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS.</li>
</ol>
<p><strong>Cegah <em>Freesex</em></strong></p>
<p>Nggak ada cara lain untuk mencegah penularan virus HIV selain dengan mencegah freesex. Sebut saja negeri Gajah Putih Thailand yang memang terkenal dengan wisata seks-nya ternyata sukses besar mengurangi kasus infeksi virus HIV dan PMS sejak 1991 hingga 1995. Seperti dituturkan, Dr. David D. Celentano dari <strong>Johns</strong><strong> Hopkins University</strong><strong> </strong>di   Baltimore, Maryland bahwa Program 100 % Kondomisasi itu juga dibarengi dengan kampanye pengurangan frekwensi berhubungan seks dengan pekerja seks. Thailand bisa menurunkan kasus infeksi virus HIV hingga lima kali lipat dan 10 kali lipat untuk Penyakit Menular Seksual.</p>
<p>Artinya kalau alat kontrasepsi itu dipakai sementara frekwensi maksiat konstan, infeksi penularan virus HIV tetap saja tinggi. So, kunci pencegahan AIDS mau nggak mau adalah dengan tidak melakukan seks bebas apalagi menyimpang.</p>
<p><strong>Kenapa Ngotot?</strong></p>
<p>Kalau sudah jelas penggunaan kondom tetap mengundang bahaya, lalu kenapa orang masih terus mengkampanyekannya? Jawabannya adalah karena mereka menolak gagasan pengekangan kebebasan pergaulan. Bagi mereka, mengajak orang untuk tidak gaul bebas sama artinya menginjak-injak doktrin kebebasan dan hak asasi manusia. En itu sama dengan menentang demokrasi. Ajaran tertinggi dalam masyarakat sekuler.</p>
<p>Dalam demokrasi kebebasan kepribadian adalah bagian yang esensial. Termasuk perilaku gaul bebas. Sebuah penelitian pada para pelajar SMU di Los Angeles pada tahun 1998 yang dilakukan <strong>The Alan Guttmacher Institute in</strong><strong> </strong><strong>Family Planning Perspectives</strong> terhadap 1.945 pelajar memperlihatkan bahwa 55 % pelajar cowok dan 45,5 % pelajar wanita menyatakan telah melakukan hubungan seksual.</p>
<p>Maraknya kampanye penggunaan kondom juga berdampak pada peningkatan hubungan terkutuk itu. Hal ini diungkap oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba dan seorang pediatri di University  of California. Setelah kampanye kondomisasi aktivitas seks bebas di kalangan pelajar cowok meningkat dari 37 % menjadi 50 %, dan di pelajar wanita dari 27 % menjadi 32 % (USA Today, 14 April 1998).</p>
<p>Dengan cara pikir yang kapitalistik, dimana segala yang bermanfaat bisa dan boleh dikerjakan, termasuk gaul bebaz, maka pemerintah dan juga LSM-nya lebih senang menebar kondom gratis ketimbang memberantas pergaulan bebas en prostitusi. Itu lebih manusiawi, pikir mereka. Bukankah pelacur pun sekarang dikategorikan sebagai pekerja? Pekerja Seks Komersil (PKS)?</p>
<p>Kalau begitu solusinya maka sampai kapanpun infeksi virus HIV dan PMS nggak bakalan bisa dicegah. Soal himbauan pemakaian kondom juga cuma bakal sebatas slogan. Abis, kalau orang udah dikuasai setan jangankan sempat pakai alat kontrasepsi, imannya aja udah copot apalagi alat kontrasepsinya.</p>
<p>Nah, kalau mau selamat dunia dan akhirat kagak ada jalan Bang kecuali mengganti landasan berpikir umat dengan Islam. Selanjutnya terapkan aja hukum Islam. Jilid dan rajam para pezina, dorong para pemuda untuk segera menikah, dan negara (Islam) harus meningkatkan kemakmuran rakyat agar tidak ada orang berprofesi sebagai PSK.</p>
<p>Sekarang sih tinggal berpulang kepada kaum muslimin sendiri. Mau nggak diatur oleh Islam dan selamat, atau mau terus-terusan mencegah bencana kemanusiaan ini dengan cara tambal sulam? Mestinya sih mengambil jalan yang sudah pasti selamat, Islam. [<strong>januar</strong>, dari berbagai sumber].</p>
<p><strong>Boks &#8212;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Survey Perilaku Seks Ala Durex</strong></p>
<p>Perusahaan kondom terkemuka di dunia Durex juga pernah melakukan survey soal perilaku seks dan penggunaan kondom di 28 negara di Asia dan Eropa. Survey yang diberi nama <strong>Global survey into sexual attitudes and behaviour </strong>atau Global Survey 2001. Dari survey itu didapat sejumlah info yang &#8216;aneh&#8217;.</p>
<ol type="1">
<li>Negara yang remajanya      paling cepat kehilangan &#8216;virginitas&#8217;-nya adalah AS. Rata-rata remaja di AS      sudah having sex pada umur 16 tahun. Di bawah AS ada Jerman, Prancis,      Inggris dan Selandia Baru.</li>
<li>Kondom ternyata      paling populer di Jepang, disusul Yunani dan Spanyol. Sementara itu Israel      adalah negara yang penduduknya paling anti mempergunakan alat kontrasepsi.      Empat puluh persen orang Israel      menolaknya. Hmm, ketahuan deh siasat busuknya! Pengen paling banyak      sendiri jumlah umatnya.</li>
<li>Menurut hasil      survey itu juga didapat data bahwa manusia di dunia biasanya melakukan      hubungan intim 97 kali dalam setahun. Hampir 10 persen menyatakan      melakukannya sekali dalam seminggu. Hanya 4 persen yang mengaku      melakukannya setiap hari.</li>
<li>Warga AS paling      getol melakukan hubungan seksual yakni 147 kali dalam setahun, disusul      warga Yunani (117), lalu Afrika Selatan dan Kroasia (116).</li>
<li>Prancis dan      Hungaria adalah negara yang warganya kurang peduli dengan infeksi virus      HIV. Sedangkan Turki adalah negara yang paling tinggi kesadarannya akan      bahaya penularan virus ini.</li>
</ol>
<p>Nah, ternyata dunia ini penuh dengan orang-orang yang cinta dengan kebebasan perilaku. Meski itu akan menyeret mereka ke dalam jurang kehancuran peradaban. Kasihan manusia. [<strong>januar</strong>].</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Wawasan", Majalah PERMATA edisi Desember 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/karet-kb-versus-aids/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Perayaan Natal?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-perayaan-natal</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-perayaan-natal#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 20:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2488</guid>
		<description><![CDATA[Udah basi kalo dibilangin tanggal 25 Desember adalah Hari Natal. Tapi tahu nggak, kalo perayaan tersebut menyimpan banyak kontroversi, bahkan digugat oleh sebagian kalangan nasrani sendiri? Ada apa dengan Natal? Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Udah basi kalo dibilangin tanggal 25 Desember adalah Hari Natal. Tapi tahu nggak, kalo perayaan tersebut menyimpan banyak kontroversi, bahkan digugat oleh sebagian kalangan nasrani sendiri? Ada apa dengan Natal?</em></strong></p>
<p>Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata <em>Cristes maesse,</em> frase dalam Bahasa Inggris yang berarti<em> Mass of Christ</em> (Misa Kristus). Kadang-kadang kata <em>Christmas</em> disingkat menjadi <em>Xmas.</em> Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen terdahulu. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Nggak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, banyak yang pergi ke gereja untuk mengikuti perayaan keagamaan khusus. Selama masa Natal, mereka bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun <em>holly, mistletoe</em>, dan pohon Natal.<span id="more-2488"></span></p>
<p><strong>Sejarah Natal</strong></p>
<p>Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada.</p>
<p>Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan yang dilakukan oleh umat di luar Nasrani pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah.</p>
<p>Dalam <em>Catholic Encyclopedia</em>, edisi 1911, dengan judul <em>&#8220;Christmas&#8221;</em>, ditemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut: <em>&#8220;Christmas was not among the earliest festivals of Church&#8230;the first evidence of the feast is from Egypt, Pagan customs centering around the January calends garvitated to christmas.&#8221; </em>(&#8220;Natal bukanlah upacara gereja yang pertama&#8230;melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran Yesus.&#8221;)</p>
<p><em>Encyclopedia Americana</em> terbitan tahun 1944 juga menyatakan, <em>&#8220;Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut&#8230;&#8221;(&#8220;Perjamuan Suci&#8221; yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) &#8220;&#8230;Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Romawi yang merayakan hari &#8220;Kelahiran Dewa Matahari.&#8221; Sebab tidak seorangpun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.&#8221;</em></p>
<p>Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Di tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan di tahun 1500-an .</p>
<p>Gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya &#8216;kafir&#8217; karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan nggak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula.</p>
<p>Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.</p>
<p><strong>Misteri tanggal 25 Desember</strong></p>
<p>Herbert W. Arsmtrong (1892-1986), seorang Pastur di <em>Worldwide Church of God, </em>Amerika Serikat, menyatakan dalam bukunya, <em>The Plain Truth about Christmas</em>, bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember.</p>
<p>Abu Deedat Syihabuddin M.H, seorang kristolog dalam wawancaranya dengan majalah Sabili mengatakan, &#8220;Isa Almasih bukan lahir tanggal 25 Desember. Di kalangan Kristen sendiri ada perbedaan, ada yang tidak mau merayakan Natal pada 25 Desember seperti Advent dan Yehova. Mereka menganggap Yesus lahir tanggal 1 Oktober. 25 Desember itu, upacara penyembahan Dewa Matahari.&#8221;</p>
<p>Seperti yang kita tahu bahwa bulan Desember biasanya adalah musim dingin. Salju hampir merata turun di Eropa dan sebagian wilayah yang memang punya empat musim. Tentunya ini <em>tulalit</em> banget dengan kejadianya yang sering diceritakan tentang kelahiran Yesus Kritus yang mereka yakini. Bahwa, Yesus itu saat lahir suasana tempat kelahirannya banyak gembala yang menjaga ternaknya. Tentu aneh bin ajaib kalo banyak ternak dilepas di padang gembalaan pada musim dingin.</p>
<p>Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus, <em>&#8220;Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikan Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: &#8220;Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu juru selamat, yaitu Kristus, di kota Daud&#8221;</em></p>
<p>Jadi menurut Herbert W. Armstrong, nggak mungkin banget kalo para penggembala ternak itu ada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil.</p>
<p>Herbert menegaskan pula dalam bukunya bahwa Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kitab Kidung Agung 2 dan Ezra 10: 9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin para gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.</p>
<p>Adam Clarke mengatakan, <em>&#8220;Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila&#8230;hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. (Adam Clarke Commentary, Vol. 5, page 370, New   York)</em></p>
<p>Tuh kan, para cendekiawan Nasrani sendiri malah meragukan, tepatnya tidak yakin bahwa tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus. Tapi, seperti dalam sejarahnya, tetep aja sebagian besar umat Nasrani menganggap bahwa tanggal 25 Desember adalah hari kelahirran Yesus. <em>Tulalit</em> memang.</p>
<p><strong>Asal mula pohon Natal</strong></p>
<p>Para cendekiawan Nasrani juga ada yang mengkritisi tentang pohon Natal. Herbert W. Armstrong salah satunya. Masih dalam bukunya yang &#8216;kontroversial&#8217; itu (<em>The Plain Truth about Christmas</em>), ia menyatakan bahwa di antara penganut agama Pagan (penyembah berhala) kuno, pohon itu disebut &#8220;Mistleto&#8221; yang dipakai pada saat perayan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan.</p>
<p><em>Encyclopedia Americana </em>menjelaskan, <em>&#8220;The Holly, the mistletoe, the Yule log&#8230;are relics of pre-Christian times.&#8221;</em> (Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe, dan batang pohon Yule&#8230;yanga dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.&#8221;</p>
<p>Sedangkan dalam buku <em>Answers to Questions</em> yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa, hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen.&#8221;</p>
<p><strong>Siapa Sinterklas?</strong></p>
<p>Konon kabarnya, Sinterklas or Santa Claus yang diyakini oleh kaum Nasrani adalah sosok yang doyan membagi-bagikan hadiah di malam Natal. Mirip-mirip cerita fiksi memang. Anehnya sebagian besar kaum Nasrani mempercayainya. Tapi, siapakah Sinterklas sebenarnya?</p>
<p>Sinterklas ini adalah &#8216;ciptaan&#8217; seorang pastur yang bernama Santo Nicolas yang hidup pada abad keempat masehi. Hal ini dijelaskan oleh <em>Encyclopedia Britannica</em>, volume 19, halaman 648-649, edisi ke sebelas sebagai berikut: <em>&#8220;St. Nicolas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember&#8230;Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin&#8230;untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya terkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Sikap bagi kaum muslimin</strong></p>
<p>Sobat pembaca, begitulah kontoversi tentang Natal. Emang sih, mau begini, mau begitu bagi kita nggak penting-penting amat. Biarlah urusan umat Nasrani sendiri. Tapi, karena di tengah-tengah kita dihembuskan ide tentang toleransi beragama, yang kemudian menyeret sebagian besar umat Islam untuk ikut-ikutan merayakan bersama mereka sebagai bentuk penghormatan, maka ini yang jadi masalah. Intinya, kita ingin menjelaskan bahwa, ikut terlibat dalam merayakan hari keagamaan umat atau kaum lain-selain Islam, adalah haram dalam pandangan Islam.</p>
<p>Sabda Rasulullah saw.: <em>&#8220;</em><em>Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?&#8221; </em><strong>(HR. Bukhari Muslim)</strong></p>
<p>Hati-hati sobat. Jangan sampe kamu latah merayakan upacara keagamaan tersebut. Bahkan, dengan banyaknya kejanggalan di perayaan Natal tersebut semakin menunjukkan kelemahan agama tersebut. <em>Yes</em>, cuma Islam satu-satunya jalan hidup! <strong>[sholihin]</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>BOX:</p>
<h2>Fatwa MUI tentang Natal Bersama</h2>
<p>Banyak kaum muslimin yang belum tahu kalo acara Natal Bersama itu haram. Acapkali, dengan alasan toleransi, akhirnya sebagian umat Islam ada yang mengikuti acara tersebut. Bagaimana hukumnya? Berikut Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI tahun 1981.</p>
<p><strong>KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA </strong></p>
<p><strong>TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA</strong></p>
<p><strong>Memperhatikan: </strong></p>
<ol type="1">
<li>Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini      disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat      Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.</li>
<li>Karena salah pengertian tersebut ada sebagian      orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal      dan bahkan duduk dalam kepanitiaan Natal.</li>
<li>Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen      adalah merupakan Ibadah.</li>
</ol>
<p><strong>Menimbang: </strong></p>
<ol type="1">
<li>Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang      jelas tentang Perayaan Natal Bersama.</li>
<li>Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan      Aqidah dan Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Ummat Islam harus berusaha untuk menambah      Iman dan Taqwanya kepada Allah Swt.</li>
<li>Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam      Kerukunan Antar ummat Beragama di Indonesia.</li>
</ol>
<p>Meneliti kembali: Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:</p>
<p>A.???? Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas: al-Quran surat al-Hujarat ayat 13; surat Lukman ayat 15; surat Mumtahanah ayat 8 *).</p>
<p>B.???? Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan al-Quran surat al-Kafirun ayat 1-6; surat al-Baqarah ayat 42.*)</p>
<ol type="1">
<li>
<ol type="A">
<li>Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian       dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada       para Nabi yang lain, berdasarkan: al-Quran surat       Maryam ayat 30-32; surat al-Maidah ayat       75; surat       al-Baqarah ayat 285.*)</li>
<li>Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan       itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu       anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan al-Quran surat       al-Maidah ayat 72-73; surat at-Taubah ayat 30.*)</li>
<li>Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan       menanyakan kepada Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya,       agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab       Tidak. Hal itu berdasarkan atas al-Quran surat al-Maidah ayat 116-118.*)</li>
<li>Islam mengajarkan bahwa Allah Swt. itu hanya       satu, berdasarkan atas al-Quran surat       al-Ikhlas ayat 1-4.*)</li>
<li>Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk       menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt       serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan,       berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin Basyir (yang artinya): <em>Sesungguhnya       apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah       jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti       halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat       itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah       Agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat       maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang       yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin       sekali binatang itu makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap       raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa       yang diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).</em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:</p>
<ol type="1">
<li>
<ol type="1">
<li>Perayaan natal di Indonesia meskipun       tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu       tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.</li>
<li>Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam       hukumnya haram.</li>
<li>Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada       syubhat dan larangan Allah Swt. dianjurkan untuk tidak mengikuti       kegiatan-kegiatan natal.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981 M.</p>
<p>KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA</p>
<p>Ketua ???????????????????????????????????? Sekretaris</p>
<p>(K.H.M. Syukri Ghozali), ?????? (Drs. H. Mas&#8217;udi)</p>
<p>*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar al-Quraan yang disebutkan tadi ditulis lengkap dalam bahasa Arab dan terjemahannya, bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Wawasan", Majalah PERMATA, edisi Desember 2002-Januari 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-perayaan-natal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Tantangan Dakwah Umat Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tiga-tantangan-dakwah-umat-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tiga-tantangan-dakwah-umat-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 09:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2498</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum maraknya paham liberal, cendekiawan Muslim Mohammad Natsir telah menyampaikan 3 tantangan dakwah. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-260 Oleh: Adian Husaini hidayatullah.com&#8211;Harian Republika (20/4/2009) menurunkan berita berjudul &#8220;Tiga Tantangan Dakwah Umat Islam&#8221;. Berita itu mengutip bagian orasi ilmiah yang saya sampaikan di Aula Masjid al-Furqan &#8211; Dewan Da&#8217;wah Islamiyah Indonesia pada 18 April [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sebelum maraknya paham liberal, cendekiawan Muslim Mohammad Natsir telah menyampaikan 3 tantangan dakwah. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-260</em></strong></p>
<p>Oleh: <strong>Adian Husaini</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/Adian_baru.jpg" border="0" alt="" width="80" height="112" align="left" /></p>
<p>hidayatullah.com&#8211;Harian Republika (20/4/2009) menurunkan berita berjudul &#8220;Tiga Tantangan Dakwah Umat Islam&#8221;. Berita itu mengutip bagian orasi ilmiah yang saya sampaikan di Aula Masjid al-Furqan &#8211; Dewan Da&#8217;wah Islamiyah Indonesia pada 18 April 2009. Tiga tantangan dakwah eksternal itu saya ambil dari rumusan Mohammad Natsir yang disampaikan kepada sejumlah cendekiawan Muslim pada tahun 1986-1987.</p>
<p>Ketika itu, sejumlah cendekiawan &#8211; seperti Dr. M. Amien Rais, Dr. Kuntowijoyo, Dr. Yahya Muhaimin, Dr. A. Watik Pratiknya, dan Endang S. Anshari &#8212; melakukan wawancara intensif dengan Dr. Mohammad Natsir. Mereka menggali pemikiran Natsir dengan sangat intensif. Berulangkali wawancara dilakukan. Sayang, hasil rekaman wawancara itu kemudian tidak terselamatkan. Dokumen yang tersisa hanya sebuah buku setebal 143 halaman, berjudul Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak (1989).<span id="more-2498"></span></p>
<p>Tentu saja, buku ini menjadi sangat penting, karena merekam pemikiran dan pesan-pesan perjuangan Dr. Mohammad Natsir kepada generasi pelanjutnya. Natsir memang dikenal sebagai? seorang pejuang dan pemikir Islam, yang pada 7 November 2008 diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah RI.</p>
<p>Kiprah M. Natsir dalam perjuangan Islam dikenal secara luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga? di dunia Islam. Meskipun buku Percakapan Antar Generasi itu mengemukakan gagasan-gagasan singkat, tetapi banyak pemikiran penting yang bisa dipetik dari seorang M. Natsir, yang ketika itu sampai pada tahap-tahap kematangan pemikirannya, setelah berkiprah dalam dunia dakwah lebih dari 60 tahun.</p>
<p>Dalam buku Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, M. Natsir menyebutkan, ada tiga tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam Indonesia, yaitu (1) Pemurtadan, (2) Gerakan sekularisasi, dan (3) gerakan nativisasi.? Sepanjang hidupnya, Natsir sangat peduli dengan ketiga tantangan dakwah tersebut.</p>
<p>Untuk menanggulangi Kristenisasi, Natsir aktif menggerakkan kader-kader Muslim untuk membendung arus Kristenisasi. Ia pun aktif menulis buku-buku seputar Kristenisasi. Meskipun berteman dengan sejumlah tokoh Kristen, Natsir tidak rela umat Islam menjadi sasaran gerakan pemurtadan melalui Kristenisasi. Berikut ini, sebuah contoh imbauan M. Natsir kepada kaum Kristen di Indonesia:</p>
<p>&#8220;Hanya satu saja permintaan kami: Isyhaduu bi anna muslimuun. Saksikanlah dan akuilah bahwa kami ini adalah Muslimin. Yakni orang-orang yang sudah memeluk agama Islam. Orang-orang yang sudah mempunyai identitas-identitas Islam. Jangan identitas kami saudara-saudara ganggu, jangan kita ganggu-mengganggu dalam soal agama ini. Agar agama-agama jangan jadi pokok sengketa yang sesungguhnya tidak semestinya begitu. Marilah saling hormat menghormati identitas kita masing-masing, agar kita tetap bertempat dan bersahabat baik dalam lingkungan &#8220;Iyalullah&#8221; keluarga Tuhan yang satu itu.</p>
<p>Kami ummat Islam tidak apriori menganggap musuh terhadap orang-orang yang bukan Islam. Tetapi tegas pula Allah SWT melarang kami bersahabat dengan orang-orang yang mengganggu agama kami, agama Islam. Malah kami akan dianggap zalim bila berbuat demikian (almumtahinah). Dengan sepenuh hati kami harapkan supaya saudara-saudara tidaklah hendaknya mempunyai hasrat sebagaimana idam-idaman sementara golongan orang-orang Nashara yang disinyalir dalam Al Quran yang tidak senang sudah, bila belum dapat mengkristenkan orang-orang yang sedang beragama Islam. Mudah-mudahan jangan demikian, sebab kalau demikian maka akan putuslah tali persahabatan, akan putus pula tali suka dan duka yang sudah terjalin antara kita semua.</p>
<p>Jangan-jangan nanti jalan kita akan bersimpang dua dengan segala akibat yang menyedihkan. Baiklah kita berpahit-pahit, kadang-kadang antara saudara dengan saudara ada baiknya kita berbicara dengan berpahit-pahit, yakni yang demikian tidaklah dapat kami lihatkan saja sambil berpangku tangan.</p>
<p><strong>Sebab, kalaulah ada sesuatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini.&#8221; </strong>(Seperti dikutip oleh Prof. Umar Hubeis dalam mukaddimah buku Dialog Islam dan Kristen, yang ditulis oleh Bey Arifin, 1983:28-29).</p>
<p>Jadi, kata M. Natsir:? &#8220;<strong>harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami&#8221;. </strong>Ungkapan itu<strong> </strong>mengindikasikan keseriusan seorang Muslim yang peduli dengan aqidah umat. Bagi seorang Muslim, mempertahankan keimanan adalah hal terpenting. Tugas berikutnya adalah melaksanakan aktivitas amar ma&#8217;ruf? nahi munkar, yakni memperjuangkan tegaknya kebenaran dan mencegah serta melawan kemunkaran, yang sering diistilahkan oleh M. Natsir sebagai aktivitas &#8220;binaa&#8217;an wa difaa&#8217;an.&#8221;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tantangan kedua</strong> yang disebutkan M. Natsir adalah sekularisasi. Dalam pesannya kepada generasi Amien Rais dan kawan-kawan tersebut, M. Natsir menyatakan bahwa selain timbul secara &#8220;alamiah&#8221; akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekularisasi juga dilakukan secara aktif oleh sejumlah kalangan. Menurutnya, sekularisasi otomatis akan berdampak pada pendangkalan aqidah. Tentang hal ini,<strong> </strong>M.<strong> </strong>Natsir menyatakan:<strong> </strong></p>
<p><strong> &#8220;</strong>Namun demikian, proses sekularisasi yang terjadi seperti &#8220;alamiah&#8221; sejalan dengan perkembangan zaman di atas, rupanya dihidup-hidupkan oleh sekelompok orang. Saya sebut &#8220;dihidup-hidupkan&#8221; karena memang kita mengetahui ada usaha aktif untuk terjadinya proses sekularisasi ini. Di tahun tujuh-puluhan kita ingat adanya &#8220;gerakan sekularisasi&#8221; dalam rangka apa yang mereka sebut &#8220;pembaharuan&#8221; Islam. Demikian pula yang terjadi akhir-akhir ini, ada &#8220;reaktualisasi&#8221;, ada &#8220;kontekstualisasi&#8221;, dan sebagainya. Jadi memang ada usaha aktif.</p>
<p>Proses sekularisasi ini amat nyata terutama dalam sistem pendidikan kita. Pelajaran atau pemahaman agama diberikan bukan saja dalam content yang terbatas, tetapi diberikannya pelajaran lain yang isinya mengaburkan atau bahkan bertentangan dengan tujuan mendidik manusia religius. Proses sekularisasi juga menggunakan jalur publikasi dan media massa. Baik dalam bentuk buku-buku maupun tulisan. Dalam kaitan ini saya mengajak pada para intelektual muslim khususnya untuk memikirkan bagaimana menghadapi arus sekularisasi ini, baik yang terjadi secara alamiah maupun yang disengaja.&#8221;</p>
<p>Ketika itu, M. Natsir sangat prihatin dengan gerakan pembaruan Islam dan sekularisasi yang digerakkan oleh Nurcholish Madjid. Pada 3 Januari 1970, Nurcholish Madjid, yang ketika itu menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), secara resmi menggulirkan perlunya dilakukan sekularisasi Islam dan juga proses Liberalisasi. Dalam makalahnya yang berjudul: &#8220;Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat&#8221;, Nurcholish Madjid menyatakan:? &#8220;&#8230;pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Nostalgia, atau orientasi dan kerinduan pada masa lampau yang berlebihan, harus diganti dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu diperlukan suatu proses <strong>liberalisasi</strong>. Proses itu dikenakan terhadap &#8220;ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Islam&#8221; yang ada sekarang ini&#8230;&#8221; Untuk itu, menurut Nurcholish, ada tiga proses yang harus dilakukan dan saling kait-mengait: (1) sekularisasi, (2) kebebasan intelektual, dan (3) &#8216;Gagasan mengenai kemajuan&#8217; dan &#8216;Sikap Terbuka&#8217;.</p>
<p>Sebagai orang tua yang mengaku sangat berharap pada Nurcholish Madjid, Natsir akhirnya kecewa dengan gagasan dan gerakan sekularisasi tersebut. Pada 1 Juni 1972, dilakukan pertemuan tokoh-tokoh di kediaman M. Natsir.? Semula, pertemuan itu bukan untuk membahas fenomena gagasan Pembaharuan, tetapi akhirnya hal itu menjadi pembahasan pokok ketika Natsir mengungkapkan masalah tersebut. Meskipun mengaku sudah menganggap Nurcholish Madjid seperti &#8220;anak sendiri&#8221;, tetapi Natsir mengaku risau dengan hasrat gagasan Pembaharuan yang ingin &#8220;menjauhkan diri dari &#8220;cita-cita akidah dan umat Islam.&#8221;? (Lihat, Muhammad Kamal Hassan, Modernisasi Indonesia: Respon Cendekiawan Muslim (Ciputat: Lingkaran Studi Indonesia, 1987),</p>
<p>Natsir sendiri memandang bahwa modernisasi dalam Islam harus diartikan sebagai &#8220;kembali kepada yang pokok atau keaslian&#8221;, bukan &#8220;menyimpang dari yang telah ada, tanpa melihat baik dan buruknya&#8221;. Sedangkan pengertian &#8220;Tajdid&#8221;, Natsir mengutip dari tokoh Muhammadiyah KH Faqih Usman, yaitu &#8220;mengintrodusir kembali apa yang dulu pernah ada tetapi ditinggalkan.&#8221; Yaitu, &#8220;membersihkan kembali Islam dari apa yang telah ditutupi oleh &#8220;noda-noda&#8221;.&#8221; (Lihat, Percakapan antar-Generasi,? hal.? 25-26).</p>
<p>Karena memandang sekularisasi dan sekularisme sebagai ancaman yang serius bagi umat Islam, maka M. Natsir mencurahkan segenap tenaganya untuk menghadapi paham seperti ini. Bahkan, pada hampir sebagian besar masa hidupnya, Natsir telah melibatkan diri secara aktif dalam upaya menanggulangi dan melawan gerakan sekularisasi. Sebelum masa kemerdekaan, bersama gurunya, A. Hassan, Natsir sudah terlibat polemik dengan Soekarno.</p>
<p>Setelah merdeka, Natsir terus berjuang menawarkan Islam sebagai solusi bagi bangsa Indonesia dan menjelaskan bahaya sekularisme. ?Pada Sidang? Konstituante pada 13 November 1957, Natsir menyampaikan pidato yang bersejarah tentang Islam dan sekularisme. Ketika itulah, Natsir mengupas tuntas kelemahan sekularisme, yang dia katakan sebagai paham tanpa agama, atau la diiniyah.</p>
<p>Sekularisme, kata Natsir, adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya di dalam batas keduniaan. &#8220;Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengatahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka,&#8221; ujar Natsir.</p>
<p>Natsir dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI. Kata Natsir, &#8220;Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, &#8220;Di mana sumber perikemanusiaan itu?&#8221;</p>
<p>Jika ditelaah, pidato Natsir itu sangat mendasar sifatnya. Natsir sudah mengkritik paham &#8220;kemanusiaan&#8221; yang dijadikan pilihan bagi kaum sekular yang menafikan peran Tuhan sebagai sumber kemanusiaan. Padahal, paham kemanusiaan inilah yang kini dijadikan banyak orang untuk melandasi konsep-konsep HAM. Demi &#8220;kemanusiaan&#8221;, kaum sekular memandang baik perkawinan sesama jenis dan perkawinan lintas agama.? Juga demi kemanusiaan, kaum sekular memandang perzinahan sebagai hal yang baik, selama dilakukan suka sama suka. Begitu juga, dengan alasan? &#8220;kemanusiaan&#8221; dan &#8220;nilai kesenian&#8221;,? kaum sekular mendukung hak untuk &#8220;bertelanjang&#8221; dengan alasan &#8220;kebebasan berekspresi&#8221;.</p>
<p>Karena itulah, Natsir mempersoalkan, &#8220;di mana sumber kemanusiaan&#8221;?? Islam menegaskan, bahwa sumber nilai kemanusiaan adalah wahyu, bukan perasaan manusia atau budaya manusia. Karena wahyu, maka ia bersifat universal, abadi, dan pasti. Seorang Muslim, misalnya, pasti mengasihi sesama makhluk, karena berdasarkan pada keimanannya. Tetapi, Nabi Ibrahim a.s. terpaksa harus berpisah dengan ayahnya karena urusan keimanan. Sejumlah muslimah di Mekkah memilih untuk meninggalkan suami mereka karena urusan iman. Aspek &#8220;iman&#8221; inilah yang luput dari pemikiran kaum sekular. Kaum feminis sekular yang menolak konsep &#8220;pengabdian pada suami&#8221; bagi wanita, menafikan aspek iman. Padahal, banyak muslimah merasakan kebahagiaan dalam hidupnya karena yakin, bahwa mentaati perintah suami adalah satu bentuk ibadah.</p>
<p>Karena itulah, Natsir mengajak bangsa Indonesia untuk secara serius meninggalkan pandangan hidup sekular.? Karena perhatiannya yang begitu serius terhadap masalah sekularisme ini, Natsir memang tidak sejalan dengan gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid. Natsir juga mendukung usaha Prof. HM Rasjidi yang menerbitkan dua buku berisi kritik terhadap pemikiran Nurcholish Madjid. Tahun 1972, Rasjidi menulis buku Sekularisme dalam Persoalan Lagi: Suatu Koreksi atas Tulisan Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: Jajasan Bangkit). Setahun kemudian, Rasjidi kembali menulis buku berjudul? Suatu Koreksi Lagi bagi Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: DDII, 1973).? Sebagai seorang senior yang berpengalaman belajar pada para orientalis di Barat dan juga mengajar di McGill University, Prof. Rasjidi seperti tidak tahan lagi melihat kekeliruan pemikiran Nurcholish Madjid. Dalam kritik-kritiknya, Rasjidi juga mengupas upaya Nurcholish Madjid yang &#8216;arbitrair&#8217; (semena-mena) dalam menggunakan istilah tertentu.</p>
<p>Tantangan ketiga yang disebut M. Natsir adalah &#8220;nativisasi&#8221;.? Upaya ini dilakukan baik secara sistematis atau tidak, untuk menafikan peran Islam dalam pembentukan kebudayaan Indonesia. Islam dianggap sebagai barang asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Upaya nativisasi ini telah kita bahas dalam CAP 259, sebagaimana dilakukan oleh orientalis Belanda, seperti Snouck Hurgronje. <a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/adian-husaini/9329-tiga-tantangan-dakwah-umat-islam" target="_blank"><strong>[www.hidayatullah.com]</strong></a></p>
<p>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara? Radio Dakta 107 FM dan <a href="http://www.hidayatullah.com/">www.hidayatullah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tiga-tantangan-dakwah-umat-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaifa Haluka Ya Iraq?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kaifa-haluka-ya-iraq-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kaifa-haluka-ya-iraq-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 08:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2491</guid>
		<description><![CDATA[Saddam Husain boleh jatuh, tapi operasi militer pasukan koalisi di Irak belumlah berhenti. Serangkaian aksi kekerasan pasukan koalisi terus dilakukan. Rakyat Irak pun melawan. Seperti sudah diduga kalau serangan pasukan koalisi ke Irak ternyata berdiri di atas kepalsuan. Di hadapan para wakil rakyat negeri mereka, Presiden AS George Bush Jr. dan Perdana Menteri Tony Blair [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Saddam Husain boleh jatuh, tapi operasi militer pasukan koalisi di Irak belumlah berhenti. Serangkaian aksi kekerasan pasukan koalisi terus dilakukan. Rakyat Irak pun melawan.</em></strong></p>
<p>Seperti sudah diduga kalau serangan pasukan koalisi ke Irak ternyata berdiri di atas kepalsuan. Di hadapan para wakil rakyat negeri mereka, Presiden AS George Bush Jr. dan Perdana Menteri Tony Blair tidak bisa membuktikan tudingan mereka bahwa rezim Irak layak diserang. Pasukan koalisi melakukan serangan brutal terhadap si alit Irak berbekal data-data palsu.</p>
<p>Richard Myers, komandan AS mengatakan bahwa pencarian yang dilakukan pasukannya hingga detik ini tidak menghasilkan apapun. Bahkan para pakar dan intelejen menduga kemungkinan pencarian ini bisa memakan waktu bertahun-tahun.<span id="more-2491"></span></p>
<p>Disebutkan pula bahwa pimpinan pusat pasukan AS di awal peperangan telah mempersiapkan dokumen yang disebut-sebut valid, tentang 19 titik yang diduga digunakan Saddam untuk menyimpan senjata berbahaya itu. Tapi setelah 17 titik diperiksa, tak ada senjata apapun yang ditemukan di lokasi tersebut.</p>
<p>Selain itu, ada juga dokumen intelejen AS yang mencakup 68 lokasi tempat penyembunyian senjata pemusnah massal. Namun hingga kini, setelah diperiksa 45 lokasi, tak ada satupun lokasi yang ditemukan di sana senjata pemusnah massal.</p>
<p>Bukan hanya Myers yang kebingungan dengan pencarian lokasi senjata pemusnah massal Irak, Hans Bliks akhirnya angkat tangan dan menyatakan pihaknya tidak berhasil menemukan jejak apapun soal adanya senjata pemusnah massal di wilayah Irak. Bliks sebagai ketua Tim Pemeriksa Senjata PBB yang ditugaskan di Irak menguraikan laporannya di depan DK PBB, bahwa tim pemeriksa senjata sama sekali tidak memperoleh bukti bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Ia hanya mengatakan pihaknya meninggalkan banyak pertanyaan tentang program kimia dan biologi Irak yang hingga kini belum ditemukan jawabannya.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk meneliti sejumlah informasi penting yang diajukan oleh mantan pemerintah Irak. Termasuk daftar nama-nama para pakar dan ilmuwan Irak yang menangani penghancuran laboratorium antraks paska perang teluk tahun 1991. Tim Inspeksi Senjata PBB itu mengaku tidak diizinkan untuk melakukan wawancara dengan mereka.</p>
<p>Bliks juga menerangkan rincian upaya yang telah dilakukan timnya untuk mencari senjata ilegal di Irak. Ia menjelaskan selama penelitian di Irak tidak ada jejak yang menunjukkan adanya senjata pemusnah massal, bahkan tidak ada petunjuk adanya bahan-bahan penting untuk senjata tersebut. Ia mengakui memang pihaknya telah menemukan sejumlah kecil kepala senjata kimia yang kosong, dan tampaknya itu sudah digunakan sebelum tahun 1990. Kepala senjata kimia itu kini sudah dihancurkan. Ia juga menjelaskan penemuan 70 rudal Al Shamoud yang mampu ditembakkan dengan radius 150 km.</p>
<p>Gedung Putih akhirnya mengakui tuduhan bahwa dokumen yang menyebutkan Irak mencoba membeli uranium dari Niger, sebuah negara di Afrika, didasarkan pada dokumen palsu. Terbongkarnya kepalsuan ini jelas menuai kecaman keras. Anggota senior Demokrat di Komisi Intelijen Senat, John D Rockefeller, mengatakan dia tidak heran Gedung Putih terpaksa mengakui tuduhan uranium itu palsu. &#8220;Seluruh dunia tahu itu merupakan penipuan,&#8221; katanya, sambil menambahkan komisinya harus memastikan bagaimana laporan itu bisa masuk ke dalam pidato kenegaraan.<br />
Anggota Kongres, Dick Gephardt &#8211;yang berusaha menjadi calon Demokrat untuk pemilihan presiden 2004&#8211; juga meminta penyelidikan yang lebih luas. &#8220;Penyimpangan faktual Presiden Bush dalam pidato kenegaraannya tidak bisa hanya dianggap sebagai kegagalan intelijen,&#8221; katanya.<br />
Selain Bush Jr., pemimpin lain yang menuai kecaman keras dari dalam negeri adalah PM Inggris Tony Blair dan PM Australia John Howard. Baik parlemen maupun rakyat Inggris dan Australia merasa tertipu dengan retorika politik para pemimpin mereka.</p>
<p><strong>Pembantaian dan Rengekan</strong></p>
<p>Selama perang Irak II berlangsung, tidak kurang 7000 rakyat Irak &#8211; kebanyakan sipil &#8212; menjadi korban. Adalah serangan membabi buta pasukan koalisi yang telah mengantarkan kematian massal warga Irak. Selama 13 peperangan misalkan, AS mengklaim telah memuntahkan 8.000 rudal dan bom. Sepanjang 72 jam pertama saja serangan ke Irak telah jatuh korban sebanyak 1000 jiwa.</p>
<p>Persis seperti perang Vietnam, serangan brutal pasukan koalisi juga banyak merenggut nyawa warga tak berdosa, tak terkecuali anak-anak. Salim, seorang bocah berusia 14 tahun misalkan ditembak dari jarak dekat oleh pasukan Inggris. Sementara itu dalam sebuah serangan <em>Reporter Reuters</em> pernah mencatat paling tidak sembilan anak kecil meninggal. Dari liputan televisi yang tidak diedit, dari Rumah Sakit Babylon, terlihat seonggok mayat kecil seorang bayi, yang dibalut selimut seperti boneka, siap untuk dimakamkan. Disamping bayi itu terbaring tubuh seorang anak lelaki yang diperkirakan berusia 10 tahun, yang juga telah meninggal.</p>
<p>Sementara itu sejumlah media justru menyebutkan korban pembantaian tentara AS jauh lebih besar lagi. Bukti-bukti yang menunjukkan besarnya jumlah warga sipil yang tewas setelah agresi pasukan Koalisi AS-Inggris terus didata. Total korban warga sipil yang tewas itu bisa mencapai angka 10000 orang. Sementara perbandingan antara korban warga sipil yang tewas dengan pasukan Koalisi yang tewas adalah 1 banding 66.</p>
<p>Jumlah korban sipil yang demikian banyak ini, menurut sejumlah sumber adalah akibat pasukan AS menggunakan bom curah secara membabi buta. Dr. Robin Brigety, salah seorang peneliti di <em>Human Right Watch</em> mengatakan, &#8220;Kami bersama rekan-rekan telah menemukan sejumlah bukti di Baghdad bahwa pasukan AS menggunakan bom curah atau bom cluster di sejumlah lokasi yang padat penduduk sipil secara massif.&#8221;</p>
<p>Meski perang Irak telah menjadi <em>holocaust</em> bagi kaum muslimin Irak, tapi hal serupa juga dialami pasukan koalisi. Para prajurit sekutu yang rata-rata berusia muda mengalami <em>shock</em> dan ketakutan luar biasa menghadapi perang gerilya kaum muslimin Irak. BBC melaporkan bahwa pasukan Amerika di Irak semakin gelisah, dan ingin sekali pulang.Seorang serdadu yang menghadang konvoi hari Rabu bahkan menangis, dan temannya mengorek-ngorek tanah dengan senapan mesinnya. &#8220;Kami membutuhkan perlindungan tambahan. Kami sudah mengalami cukup banyak. Kami telah tinggal di Irak cukup lama,&#8221; ujar seorang serdadu yang ikut dalam konvoi tersebut.</p>
<p>Saat diwawancarai jaringan televisi Amerika, ABC, seorang serdadu lain Amerika di Irak menyatakan kesedihannya. &#8220;Andai menteri pertahanan Donald Rumsfeld ada di sini, saya akan meminta dia mengundurkan diri,&#8221; ujar seorang anggota Divisi Infantri III, yang berpangkalan di kota Falluja, barat Baghad. &#8220;Saya tidak tahu mengapa kami masih di Irak,&#8221; tambah serdadu lain.</p>
<p>Berita kematian dua putra Saddam, Uday dan Qusay, justru menambah gencar serangan gelap pejuang muslim Irak pada pasukan koalisi. Hingga akhir bulan Juli lalu tercatat 153 prajurit AS tewas dalam sejumlah serangan.</p>
<p>Ketika perang masih berkecamuk diberitakan juga bahwa sekitar 2500 prajurit AS telah melakukan desersi &#8211; melarikan diri dari pertempuran -. Beberapa penduduk Iraq memberitahu agen berita Arab, bahwa sejumlah pasukan AS membeli <em>al-Dashdasha</em> (pakaian longgar Arab-Iraq) guna membantu mereka melarikan diri dan keluar dari Iraq. Kebanyakan dari mereka keluar dari wilayah Bagdad untuk kemudian memasuki wilayah Kuwait dan Turki.<br />
Seorang penjual baju, Saeed al-Aidany, mengatakan, &#8220;Kami terkejut juga karena banyak pasukan AS membeli <em>al-Dashdasha</em> dan kami baru tahu mereka menggunakannya untuk lari ke negara Teluk lain.&#8221; Menurut Aidany, pasukan AS itu juga dilihat membeli pakaian Kurdis untuk masuk ke Turki dari utara Iraq.? Untuk bisa keluar dari Irak mereka harus membayar sebesar 450 USD untuk tiap orang kepada warga Irak. Seorang warga yang pernah ikut membantu para desertir itu kabur bercerita, &#8220;Perunding mereka memberitahu saya bahwa dua pasukan AS itu tidak mau dibunuh di Iraq tanpa sebab apapun.&#8221;<br />
Tingginya tingkat kematian prajurit AS juga memberikan tekanan di dalam negeri terhadap pemerintahan Bush Jr. Kemarahan warga AS semakin meluap ketika pemerintah memutuskan untuk menundakepulangan pasukan Amerika, khususnya mereka yang berdinas di Divisi Infantri Ketiga yang membantu merebut Baghdad. Kepulangan mereka telah ditangguhkan empat kali. Jenderal Abizaid mengatakan, mereka akan pulang bulan September, namun menambahkan, kepulangan mereka masih bergantung pada kesiapan pasukan pengganti.</p>
<p><strong>Khatimah</strong></p>
<p>Apa yang menimpa kaum muslimin Irak semestinya bisa menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kaum muslimin. Tanpa solidaritas dunia Islam &#8211; ukhuwah Islamiyyah &#8211; selamanya penderitaan bagi umat umat Islam. Invasi pasukan imperialis kufur ke negeri &#8216;seribu satu malam&#8217; tidak akan terjadi seandainya kaum muslimin masih memiliki ukhuwah Islamiyyah yang kokoh. Hanya saja, ikatan ukhuwah itu tidak akan terwujud secara nyata tanpa terwujudnya daulah khilafah. Yup, tanpa kepemimpinan yang satu bagaimana kaum muslimin bisa bersatu? Bukankah Irak menderita karena sikap para pemimpin dunia Islam yang mendua? Antara kepentingan politik pribadi dengan ukhuwah Islamiyyah. Padahal Nabi saw. Bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, sebagian menguatkan bagian yang lainnya.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p>Kabar menggembirakan yang datang dari ranah Irak adalah mulai bersatunya kaum muslimin di sana. Mereka &#8211; sunni dan syi&#8217;ah &#8211; bersepakat untuk mengusir pasukan asing dari tanah Irak. Semoga, ini adalah benih dari persatuan yang hakiki, yaitu terbangunnya khilafah Islamiyyah. Insya Allah, bila khilafah Islamiyyah terwujud, nantinya tidak sekedar mempersatukan umat, tapi juga menyingkirkan berbagai penghalang dan ancaman terhadap Islam dan kaum muslimin. Amin [<strong>januar</strong>, dari berbagai sumber].</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Wawasan", Majalah PERMATA, edisi September 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kaifa-haluka-ya-iraq-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisruh Peta Jalan Damai: Menanti &#8216;Sekuel&#8217; Irak di Palestina</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kisruh-peta-jalan-damai-menanti-sekuel-irak-di-palestina</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kisruh-peta-jalan-damai-menanti-sekuel-irak-di-palestina#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 08:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2493</guid>
		<description><![CDATA[Peta Jalan Damai yang digagas AS hangus sudah. Israel terus memburu pejuang muslim di Palestina. Hamas dan Jihad Islam balas menyerang. Pro dan kontra pun merembet ke tubuh Pemerintah Otoritas Palestina. Benarkah AS menyiapkan skenario Irak untuk Palestina? Chaos. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi politik di Palestina pasca skenario Peta Jalan Perdamaian. Usulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Peta Jalan Damai yang digagas AS hangus sudah. Israel terus memburu pejuang muslim di Palestina. Hamas dan Jihad Islam balas menyerang. Pro dan kontra pun merembet ke tubuh Pemerintah Otoritas Palestina. Benarkah AS menyiapkan skenario Irak untuk Palestina?</em></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><em>Chaos</em>. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi politik di Palestina pasca skenario Peta Jalan Perdamaian. Usulan yang dilontarkan AS pada bulan Mei 2003 gagal total mewujudkan ambisi AS untuk mendamaikan Israel dan Palestina. Adalah nafsu imperialisme Israel yang bertentangan dengan tujuan peta jalan yang bermaksud menyelesaikan secara keseluruhan dan universal konflik Israel &#8211; Palestina hingga 2005.</p>
<p>Dalam keputusan tersebut juga ditetapkan dengan jelas batas-batas negara Palestina dan Israel. Israel diberi 54% dari wilayah Palestina seperti yang diketahui. Sementara Peta Jalan menjadikan tema Palestina sebagai sebagai sesuatu yang masih bisa dirundingkan. Ditambah lagi tema pengungsian, Yerusalem dan wilayah-wilayah lain yang diduduki.<span id="more-2493"></span></p>
<p>Sementara itu Sharon sama sekali tidak ingin melepaskan diri dari Palestina, kecuali hanya memberikan 22% dari wilayah Palestina. Itupun dengan syarat pemerintah Palestina tidak menuntut kembalinya pengungsi ke wilayah yang dikuasai Israel berdasarkan keputusan Amerika no (194, 11/12/1948). Keputusan yang berkaitan dengan pembagian wilayah, hak kembali warga Palestina tersebut dikukuhkan kembali hingga hari ini. Karena itu, Sharon bersikukuh untuk tidak menarik diri dari wilayah jajahan manapun, baik di Tepi Barat, Jalur Gaza, atau dataran tinggi Golan.</p>
<p>Pembangkangan Sharon ditandai dengan tetap berjalannya aksi teror Israel. Militer Israel menyerang pimpinan Hamas Abdel Azis justru ketika kelompok perjuangan Islam Hamas, Jihad Islam dan faksi-faksi Palestina lainnya mengumumkan gencatan senjata pada akhir Juni lalu.</p>
<p>Pada tanggal 14 Agustus militer Israel membunuh salah satu pimpinan lokal Jihad Islam, Mohammad Sedar. Pembunuhan itu dibalas dengan serangan bom syahid pejuang muslim terhadap sebuah bus di daerah Mea Shearim, Jerusalem, pada tanggal 20 Agustus. Sebanyak 20 orang meninggal, 130 orang luka-luka &#8211;50 di antaranya luka parah&#8211; dan 13 orang lainnya berada dalam keadaan kritis.</p>
<p>Puncaknya pada tanggal 21 Agustus lalu salah satu tokoh utama Hamas Ismail Abu Shanab dan dua orang pengawalnya tewas dihajar lima roket udara milik militer Israel di Gaza. Israel berkilah kebijakan tersebut murni usaha pembelaan diri warga Israel. &#8221;Ini benar-benar sebuah upaya pembelaan diri kami dimana kami melakukan hal itu kepada mereka yang telah menyerang kami,&#8221; tegas Avi Pazner, Jubir Pemerintah Israel.</p>
<p>Kematian Ismail Abu Shanab menyulut kemarahan faksi-faksi pejuang muslim di Palestina. Hasilnya Hamas dan Jihad Islam menyatakan bahwa <em>chase fire</em> berakhir setelah 7 minggu berjalan. Himbauan Presiden Palestina Arafat ditanggapi dingin oleh para pejuang muslim.</p>
<p><em>&#8220;Hamas menolak imbauan (Arafat) untuk memulai kembali gencatan senjata karena pihak Zionis Israel telah merusak gencatan senjata tersebut dengan pembunuhan-pembunuhan yang mereka lakukan terhadap wanita, anak-anak dan para pemimpin politik Palestina,&#8221;</em> kata pemimpin politik Hamas Abdelaziz Rantissi kepada AFP. <em>&#8220;Kami tidak dapat berbicara tentang gencatan senjata sementara agresi terhadap rakyat Palestian terus dilakukan,&#8221;</em> katanya.</p>
<p><strong>Berangus &amp; Intervensi</strong></p>
<p>Sebenarnya <em>road map</em> perdamaian adalah siasat kotor AS untuk mengukuhkan kekuasaannya di Palestina dan kawasan Timur tengah. Salah satu <em>hidden agenda</em> dibalik peta perdamaian itu adalah memberangus faktor penghambat &#8216;perdamaian&#8217; di Palestina yakni gerakan-gerakan perlawanan Islam seperti Hamas dan Jihad Islam.</p>
<p>Langkah AS dimulai dengan merestui pengangkatan Mahmoud Abbas atau Abu Mazen sebagai Perdana Menteri Palestina. AS berharap Abu Mazen cukup berani untuk mematikan langkah Hamas dan faksi-faksi &#8216;militan&#8217; lainnya.</p>
<p>Awalnya Abu Mazen cukup bergigi. Ia mengecam keras aksi-aksi balasan yang dilancarkan Hamas dan Jihad Islam terhadap militer Israel, dan menyebutnya &#8216;tidak bermanfaat&#8217; bagi bangsa Palestina. Bahkan pemerintahan Otorita Palestina (OP) memutuskan seluruh kontaknya dengan dua gerakan perlawanan Palestina terkemuka, Hamas dan Jihad Islami setelah peristiwa peledakan bom syahid tersebut. Seorang petinggi OP menyatakan bahwa PM Mahmud Abbas (Abu Mazen) akan mengambil tindakan terhadap dua gerakan resistensi Palestina itu yang dianggap paling bertanggung jawab dalam aksi bom syahid kemarin sore.</p>
<p>Sikap Abu Mazan didukung oleh Menteri urusan Perdana Menteri, Yasir Abdurabbu. &#8220;Apapun alasannya suatu operasi tidak dapat dibenarkan. Apabila itu sebagai respon terhadap kriminalitas Israel di masa lalu maka kita tidak menginginkan masuk dalam suasana chaos yang hanya dimanfaatkan Israel,&#8221; katanya kepada stasiun televisi Al Jazeera. Ia juga menyalahkan JI sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam operasi mematikan itu yang diklaimnya hanya memecahbelah kesatuan bangsa Palestina.</p>
<p>Namun sikap ini berseberangan dengan Arafat yang meski masih mengharapkan peta perdamaian berjalan mulus tapi mengecam keras Israel. Dalam wawancara tanpa kamera oleh saluran CNN Selasa (2/9) dari markasnya di Ramallah menegaskan bahwa &#8220;Peta Jalan&#8221; damai telah mati oleh karena agresi militer Israel dalam beberapa pekan terakhir.&#8221; Ia juga menggarisbawahi bahwa Washington tidak berbuat banyak untuk menyelamatkan cetak biru perdamaian di Timur Tengah.</p>
<p>Pernyataan Arafat itu buru-buru diluruskan oleh seorang petinggi pemerintahan Otoritas Palestina. Di hari Rabu (3/9), seorang penasehat senior Arafat mengkonfirmasi komitmen Palestina pada Peta Jalan yang diusung empat pihak di atas. Menurut Nabi Abu Rudeina kepada <em>Agence France Presse</em> (AFP) mengatakan, &#8220;Palestina akan terus menghormati Peta Jalan, dan ia masih eksis.&#8221; Dengan demikian <em>road map</em> ini juga berpeluang memancing perang saudara di tengah-tengah bangsa Palestina.</p>
<p>Namun Mahmoud Abbas yang tidak tahan dengan tekanan dari dalam dan luar Palestina justru memilih mundur dari jabatannya. Dalam perbincangannya dengan jaringan televisi Al Akhbar (6/9), Abu Mazan menegaskan pihaknya mengundurkan diri untuk menghindari pertentangan, yang pada gilirannya menimbulkan perang saudara. Sebelumnya, Abu Mazan telah beberapa kali mengancam akan mengundurkan diri jika Presiden Arafat tidak memberikan kekuasaan yang lebih luas terhadapnya.</p>
<p>Skenario lain untuk berkuasa di Palestina juga terwujud dari rencana AS dan Israel untuk mendongkel Presiden Palestina Arafat yang mereka anggap telah gagal menghentikan perjuangan kelompok Islam. Ini terbaca dari pernyataan Jurubicara Gedung Putih Claire Buchan di Washington, Rabu (27/8) yang meremehkan imbauan Arafat kepada kelompok-kelompok garis keras Palestina untuk melakukan gencatan senjata, dan mengatakan yang diperlukan adalah melenyapkan organisasi-organisasi itu dan Arafat adalah &#8220;bagian dari persoalan itu&#8221;. Buchan menegaskan tuntutan AS agar Arafat menyerahkan pasukan keamanan kepada PM Mahmud Abbas.</p>
<p>Keuntungan lain bagi AS dari kisruhnya Peta Jalan Damai adalah kian mulusnya peluang untuk terlibat secara militer ke kawasan tersebut. Bila ini terjadi maka akan terulanglah skenario Aghanistan atau Irak. Hal ini tercetus dari seruan Presiden AS George Bush kepada dunia internasional untuk menyatakan tegas bahwa Hamas adalah organisasi teroris. &#8220;Saya serukan pada seluruh negara yang mendukung perdamaian di Timur Tengah untuk menganggap bahwa Hamas adalah organisasi teroris. Dan semua negara harus melakukan tindakan yang sesuai untuk memutus hubungan apapun dengan organisasi teroris itu,&#8221; demikian ujar Bush. Ia mengatakan telah membekukan simpanan dana dari 6 petinggi Hamas dan 5 organisasi yang sebagian bermarkas di Eropa, lantaran dituding sebagai pendukung aksi teroris.</p>
<p>Sejumlah senator AS juga mengemukakan dukungannya agar tentara AS melakukan intervensi dalam konflik Timur Tengah, antara Palestina dan Israel. Richard Loger, kepala Komisi Urusan Luar Negeri di Senat AS menjelaskan bahwa pemerintah Washington hendaknya mulai mempelajari kemungkinan mengirim pasukannya dan pasukan sekutunya ke Timur tengah untuk menstabilkan keadaan. &#8220;Saya yakin ini merupakan langkah yang mendesak,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia menambahkan bahwa Amerika dan para sekutunya dalam tubuh NATO harus segera campur tangan dalam konflik di Timur Tengah untuk menghabisi aksi aksi terorisme. &#8220;Kaum teroris di sana sudah merusak kesempatan damai,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Sementara itu Dyan F, anggota Partai Demokrat yang dalam forum Senat AS juga menyuarakan hal yang sama, bahwa keterlibatan militer tentara AS di Timur Tengah merupakan langkah mendesak. Ia mengatakan bahwa orang Palestina lebih dari membutuhkan sekedar penyebaran pasukan pemantau perdamaian dari PBB atau AS. Menurutnya, pasukan pemantau perdamaian PBB tidak mencukupi di sana, melainkan harus dengan pasukan militer yang mampu mematahkan kekuatan teroris.</p>
<p>Bila sudah begini, masih bebalkah kaum muslimin untuk percaya pada skenario damai yang ditawarkan Israel dan AS? Mungkin lebih tepat apa yang diucapkan Nafiz Azzam, petinggi JI dalam pernyataannya kepada Al Jazeera : &#8220;Kami kira Israel yang membahayakan setiap kepentingan Palestina dan mempermainkan nasib serta masa depannya. Tidak masuk akal bila hanya rakyat Palestina diharap menahan diri sementara tanah negeri mereka terus dijajah dan dinodai.&#8221;</p>
<p>Nah, dengan demikian hanya ada satu kata dan sikap untuk Israel dan AS: Jihad! Allahu Akbar! <strong>[Iwan Januar, dari berbagai sumber]</strong></p>
<p>Boks &#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Tiga Abu Untuk Palestina</strong></p>
<p>Ada tiga &#8216;Abu&#8217; yang berpengaruh di Palestina. Satu orang masih berkuasa, yang satu telah turun tahta, dan satu lagi diduga kuat akan naik tahta. Mereka adalah Arafat (Abu Ammar), Mahmoud Abbas (Abu Mazan) dan Qorei (Abu Ala). Abu Ammar adalah presiden Palestina, Abu Mazan mantan PM-nya, dan Abu  Ala sampai tulisan ini dibuat masih calon kuat PM atas dukungan AS dan Israel.</p>
<p>Bahwa AS dan Israel telah menampakkan kedongkolannya pada Arafat kian terbaca jelas. Padahal sebelumnya Arafat adalah &#8220;anak manis&#8221; bagi AS. Tapi kini Presiden AS George W. Bush telah menghentikan kontak dengan Arafat lebih dari satu tahun lalu, dan menyatakan ia gagal. Bahkan Jubir Gedung Putih, Paul Buchan mengatakan: &#8220;Arafat tetap menunjukkan dirinya sebagai bagian dari masalah,&#8221; kata Buchan. &#8220;Ia bukan bagian dari solusi.&#8221; Kini bersama Israel, AS merencakan untuk mengasingkan Arafat. Habis manis sepah dibuanglah Arafat.</p>
<p>Karena itu AS dan Israel berharap Abu Mazen akan bisa merebut pengaruh Arafat di tubuh bangsa dan Pemerintahan Otoritas Palestina. Bagi dunia internasional Mahmoud Abbas bukanlah orang baru. Ialah yang mewakili PLO pada perundingan damai di Oslo, Norwegia 13 September 1993 sementara pihak Israel diwakili Shimon Peres.</p>
<p>Naiknya Abu Mazen tidak lepas dari restu AS dan Israel yang mereka anggap &#8220;anti terorisme&#8221;. Condoleezza Rice, penasihat keamanan AS pernah mengundangnya bersama Ariel Sharon pada 29 Juni untuk membahas rencana memberangus &#8216;terorisme&#8217; di Palestina. Apa lacur, Abu Mazen tidak tahan menanggung beban konflik politik. Apalagi Arafat masih memegang kekuasaan dan militer secara penuh. Belum genap setahun Abu Mazan pun mengundurkan diri.</p>
<p>Tapi AS masih punya harapan yakni pada Qorei atau Abu Ala. Pria berusia 65 tahun ini mendapat dukungan dari AS dan Israel untuk menjadi Perdana Menteri Palestina menggantikan posisi Abu Mazen. Sikapnya yang anti &#8220;teroris&#8221; adalah garansi bagi AS dan Israel bila ia terpilih kelak.</p>
<p>Dukungan AS itu disampaikan Menteri Luar Negeri, Colin Powell. Ia berharap, perdana menteri yang baru akan diberi &#8221;wewenang politik atas pasukan keamanan dan aset keuangan yang diperlukan&#8221;. Powell mengatakan, ia akan memantau kekuasaan yang diberikan pada Qorei oleh pemimpin Palestina, Yasser Arafat. Kekuasaan tersebut, ujarnya yang dikutip BBC, adalah &#8221;untuk menangani teror yang menghambat kemajuan kita.&#8221; Sementara suara optimistis juga disampaikan Israel.<br />
Sejumlah pembantu Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, juga mengatakan bahwa Qorei dapat menjadi rekanan jika ia menjalankan seluruh kebijakan Palestina berdasarkan <em>road map</em>. Qorei memang berupaya mendapatkan jaminan dukungan dari AS, Israel, termasuk Uni Eropa (UE). Dukungan ini tampaknya bakal diraih Qorei dari UE. Pada Selasa, seorang juru bicara UE memuji Qorei sebagai &#8221;seorang pria yang percaya akan perdamaian dengan Israel dan telah bekerja keras untuk itu&#8221;.</p>
<p>Bila itu yang terjadi, maka tiga orang Abu yang ada di Palestina adalah musibah beruntun bagi perjuangan melawan imperialis Israel.[<strong>Januar</strong>, dari berbagai sumber]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Wawasan", Majalah PERMATA edisi Oktober 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kisruh-peta-jalan-damai-menanti-sekuel-irak-di-palestina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Mencari Pahlawan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hati-hati-mencari-pahlawan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hati-hati-mencari-pahlawan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 22:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2441</guid>
		<description><![CDATA[Orang suka ngegampangin ngasih gelar pahlawan. Padahal, untuk jadi pahlawan nggak cukup cuma berjasa untuk orang lain, tapi misi perjuangannya sesuai nggak dengan perintah Allah. Kalau nggak, ya jangan disebut pahlawan. Ada fenomena baru di Rusia. Di negeri Beruang Merah itu remaja putrinya sedang demam pelatihan tenis. Tingginya ghirah main tenis ini ternyata diilhami oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Orang suka ngegampangin ngasih gelar pahlawan. Padahal, untuk jadi pahlawan nggak cukup cuma berjasa untuk orang lain, tapi misi perjuangannya sesuai nggak dengan perintah Allah. Kalau nggak, ya jangan disebut pahlawan.</em></strong></p>
<p>Ada fenomena baru di Rusia. Di negeri Beruang Merah itu remaja putrinya sedang demam pelatihan tenis. Tingginya <em>ghirah</em> main tenis ini ternyata diilhami oleh kesuksesan bintang tenis putri Maria Sharaprova. &#8220;Aku ingin menjadi pemain tenis terkenal dan punya banyak uang seperti dia,&#8221; aku seorang remaja cewek mengidolakan Maria Sharaprova. Yup, seperti kamu bisa liat, Maria Sharaprova memang jadi diva dunia tenis. Selain sukses sebagai pemain tenis, doski juga ngetop karena fotogenik. <em>Geulis</em>, kata orang Bandung alias cakep (bandingin ama Venus bersaudara). Setiap pertandingannya dibanjiri cowok yang ngefans sama Maria. Nggak heran kalau Maria Sharaprova juga ngetop sebagai model. Lebih sukses ketimbang pendahulunya, Anna Kournikova.</p>
<p>Di Argentina malah lebih edun lagi. Para pecinta bola dan fans mantan bintang Argentina, Diego Armando Maradona, bikin agama baru dan sang bintang sebagai tuhannya. Para pemuja Maradona -yang ingin disebut &#8220;Diegorian Brothers&#8221; itu- menamakan tempat beribadah mereka &#8220;Gereja Maradonian&#8221;. &#8220;Alkitab&#8221; yang mereka gunakan adalah otobiografi Maradona.<br />
Tak lupa, mereka menyebut setiap orang yang membantu Maradona sampai ke puncak karirnya sebagai &#8220;nabi&#8221;, atau mungkin dapat disamakan dengan 12 murid Yesus. Udah begitu ritual sembahyangnya adalah pada hari Rabu, dan ucapan pujian mereka bukan lagi <em>haleluya</em>, tapi D-i-e-e-e-e-g-o.<span id="more-2441"></span></p>
<p>Natalnya? Sori, bukan tanggal 25 Desember tapi 30 Oktober sesuai tanggal kelahiran sang bintang. ?&#8221;Siapa saja yang tidak percaya bahwa Tuhannya Sepakbola lahir pada tanggal 30 Oktober, adalah seorang pembohong,&#8221; ujar Hern&#225;n Amez, &#8220;penemu agama&#8221; ini pada harian <em>Diario Ol?</em>. Hmm, inikah pahlawan dan &#8216;tuhan&#8217;?</p>
<p><strong>Siapa Sih Pahlawan?</strong></p>
<p>Kalau mau ditilik, ternyata setiap bangsa punya pahlawan, tokoh pujaan. Para pahlawan itu punya jasa yang besar buat bangsa mereka sendiri. Orang Eropa punya <em>Alexander The Great</em> atau Iskandar Zulkarnain, orang Amerika Serikat punya Jenderal Douglas McArthur, orang Jepang punya Miyamoto Musashi, dan orang Jawa punya Gajah Mada, Hayam Wuruk, sampai Jaka Sembung.</p>
<p>Tapi apa setiap pujaan layak disebut pahlawan?</p>
<p>Itu yang rasanya perlu dikaji. Menurut <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, <strong>pahlawan</strong> adalah orang yg menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yg gagah berani. Sedangkan menurut <em>Webster New Word Dictionary</em> pahlawan (Inggris: <em>hero</em>) adalah legenda seseorang yang memiliki kekuatan dan keberanian luar biasa, kiriman dewa-dewa dan datang dari kalangan mereka, terkadang memiliki dikaruniai setengah-dewa dan dipuja setelah ia mati.</p>
<p>So, pahlawan itu adalah orang yang punya andil besar dalam menegakkan kebenaran dan kepentingan orang banyak. Dari pengertian ini tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Tjut Nyak Dhien, dsb., pantas digelari pahlawan. Jasa mereka dalam menegakkan kebenaran, memperjuangkan kemerdekaan negeri ini nggak ada yang menyangsikan.</p>
<p>Sayang, seperti diungkap dalam Bidik I, makna pahlawan itu udah mengalami penurunan makna. Hari gini gampang aja orang kasih cap pahlawan buat seseorang. Nggak pandang apa jasanya, dan apa yang dibelanya, langsung aja dicap pahlawan. Pokoknya kalau bisa mengharumkan nama bangsa, maka dapat gelar pahlawan. Para TKW misalnya, diberi gelar &#8220;pahlawan devisa&#8221;.</p>
<p>Yang lebih konyol lagi nggak sedikit orang yang memuja seleb terus menyebutnya sebagai pahlawan. Ya ampun, kira-kira aja dong! Sama seperti sebutan pejuang. Ada tayangan di televisi &#8211; kamu-kamu udah pada apal kali &#8211;, orang yang mau &#8216;nembak&#8217; incerannya dikasih sebutan pejuang. Kesannya heroik banget. Padahal mah cuma mau bilang <em>I love u</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Be Careful, Please!</strong></p>
<p>Buat kita, pahlawan itu jelas penting. Sebabnya manusia itu adalah mahluk yang butuh tokoh pujaan. Adanya orang yang dianggap &#8216;wah&#8217; alias lebih hebat, adalah sebagai tumpuan harapan dan cara mengidentifikasi diri. Misalnya, karena kesengsem sama Maria Sharaprova, maka banyak remaja putri yang pengen mengikuti jejaknya. Pelawak Indonesia banyak yang terpengaruh ama Tessy Srimulat lantas mengikutinya jadi bencong-bencongan, seperti Ivan Gunawan dan Aming <em>Extravaganza</em>. Hii!</p>
<p>Maka, apa pantas sembarang orang jadi pahlawan? Jasa apa juga yang bisa bikin seseorang pantas jadi pahlawan? Sobat SODA, itu kudu diteliti dengan baik. Kalau nggak, nanti sembarang orang bisa jadi pahlawan seperti si Britney Spears atau mungkin Tessy Srimulat itu. Keciaaan, deh!</p>
<p>So, kudu disepakati dulu dan jernih memandang persoalan; siapa layak digelari pahlawan. Orang yang suka berbuat jahat bin maksiat, udah pasti masuk kotak. Nggak pantes jadi pahlawan. Jangankan menggelarinya pahlawan, dihormat aja nggak boleh, bro. Nabi saw. bersabda, <em>&#8220;Jangan kamu menyebut orang munafiq itu sayyid (tuan), kalau memang benar ia majikan maka berarti kamu telah memurkakan Tuhanmu.&#8221;</em>(hr. Abu Daud).</p>
<p>So, tokoh-tokoh jahat macam D.N. Aidit, Muso, Hitler, Mussolini, Karl Marx, Al Capone, Edi Tansil, dsb. udah pasti nggak masuk kualifikasi. Apalagi orang yang jelas-jelas menghina agama (Islam), bilang semua agama sama, tuhan semua agama sama, kok dibilang pahlawan? Hmm, kayaknya nggak deh ya.</p>
<p>Bagaimana kalangan seleb dari dunia entertainment? Coba deh kamu itung sendiri, apa jasa-jasa mereka begitu besarnya sampai pantas digelari pahlawan? Apa seleb macam Maradona pantas jadi pahlawan apalagi tuhan?</p>
<p>Ternyata sebutan pahlawan itu tergantung sudut pandang orang yang melihatnya. Dalam Islam, pahlawan itu pantas disandang ?oleh mereka yang banyak berjasa bagi banyak orang. Apalagi kalau mereka menegakkan kalimatullah, menyingkirkan yang batil dan mungkar.</p>
<p>Sebaliknya, mereka yang jelas-jelas bikin susah banyak orang, menghina agama, gelarnya adalah pecundang. Nggak peduli sebanyak apapun pujian yang diberikan orang kepadanya. Kalau berbuat maksiat, ya tetep aja maksiat, nggak layak dijadikan sebagai pahlawan. Meskipun banyak orang yang memuja mereka.</p>
<p>Karena itu untuk menjadi pahlawan sebenarnya nggak perlu pengesahan dari manusia, tapi Allah saja yang punya hak untuk menetapkan diri seseorang sebagai pahlawan di sisiNya. Soalnya, manusia suka salah paham; yang jelek disebut bagus, yang bagus disebut jelek. Itu sudah sering terjadi dalam sejarah kehidupan manusia.</p>
<p>Jadi, kalo mo lihat siapa pahlawan, lihat saja kiprahnya, sesuai tidak dengan perintah Allah dan Nabi-Nya. Kalau tidak, jangan sebut mereka pahlawan. Setuju? <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Desember 2005]</em><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hati-hati-mencari-pahlawan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hero Itu Perlu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hero-itu-perlu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hero-itu-perlu#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 12:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2438</guid>
		<description><![CDATA[Jujur aja, punya hero kadang bikin kita pede. Ada panutan yang bisa dijadiin rujukan. Sejauh mana kita harus merasa perlu punya hero? &#8220;Waktu kecil, saya punya hero bernama Spiderman. Abisnya, tuh hero sakti dan baik hati,&#8221; aku Donni pada SoDa saat nongkrong di sebuah pusat pertokoan di Jakarta. Ternyata kawan kita ini menyukai salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Jujur aja, punya hero kadang bikin kita pede. Ada panutan yang bisa dijadiin rujukan. Sejauh mana kita harus merasa perlu punya hero? </em></strong></p>
<p>&#8220;Waktu kecil, saya punya hero bernama <em>Spiderman</em>. Abisnya, tuh hero sakti dan baik hati,&#8221; aku Donni pada SoDa saat nongkrong di sebuah pusat pertokoan di Jakarta.</p>
<p>Ternyata kawan kita ini menyukai salah satu tokoh komik &#8216;lulusan&#8217; Marvel. Sama seperti kita waktu kecil. Bukan hanya <em>Spiderman</em>, tapi juga ada banyak di antara kita punya hero seperti Batman, Fantastic Four, Gundala, Flash Gordon, termasuk jawara silat lokal macam Jaka Sembung, Jaka Gledek, Joko Tingkir. Why?</p>
<p>&#8220;Kalo kita punya hero, kita jadi bisa ngikutin teladannya. Jadi rujukan kita. Panutan kita,&#8221; Donni ngasih alasan.</p>
<p>Memang sih, seorang panutan akan membuat kita merasa tenang dan merasa punya rujukan. Bahkan kita akan memposisikan diri sebagai bagian dari hero tersebut. Kelihatannya sih wajar en sah-sah aja. Karena siapa pun pasti merasa terinspirasi dari sesamanya. Manusia satu sama lain saling memberi inspirasi.<span id="more-2438"></span></p>
<p>Ahmad Dhani yang komandan Dewa 19, konon kabarnya punya idola Bung Karno. Itu sebabnya, dalam beberapa penampilan doi sering menggunakan atribut yang mencirikan sosok Bung Karno (jas dan peci khasnya). Dengan begitu, kayaknya Dhani Dewa kepengen banget &#8216;disejajarkan&#8217; dengan Bung Karno. Atau paling nggak, ngikutin semangatnya dari tokoh hero pujaannya itu.</p>
<p>Teman kita juga ada yang ngefans banget sama hero bernama lengkap Soekarno ini, &#8220;Karena dia presiden sekaligus negarawan yang dekat dengan rakyat,&#8221; papar Andri, siswa SMA Karya Pembangunan Bandung.</p>
<p>Andri juga menekankan bahwa punya hero itu perlu. Untuk apa? &#8220;Untuk jadi panutan dalam hidup kita,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Hal senada soal hero dikatakan Edi, mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, &#8220;Bisa mencontohnya, kemudian memberikan yang terbaik bagi seluruh umat manusia.&#8221;</p>
<p>Jadi panutan? Bisa jadi. Karena jujur aja kita sendiri sering bingung. Dalam hidup ini selalu belajar untuk menjadi lebih baik. Belajar dari orang yang kita anggap lebih baik kayaknya lebih efektif. Kita bisa meniru apa yang dilakukannya. Pendek kata, memang tuh hero jadi panutan en rujukan kita dalam menjalani hidup ini.</p>
<p>Itu sebabnya, kayaknya bener deh pendapat teman kita yang satu ini, &#8220;Punya hero perlu, tapi jangan yang imajiner. Kita tidak butuh pahlawan yang hanya sekadar untuk dikagumi. Tapi, kita butuh sosok-sosok nyata yang kiprahnya bisa diteladani. Yaitu pahlawan yang dapat memproduksi pahlawan-pahlawan baru dari remaja-remaja tersebut,&#8221; jelas Titok, mahasiswa UGM Yogyakarta dengan panjang lebar.</p>
<p><strong>Meneladani sang hero</strong></p>
<p>Seharusnya memang demikian. Seorang hero bisa memberikan semangat kepada &#8216;pengikutnya&#8217;. Kita pasti tahu bagaimana kuatnya kharisma Tjut Nyak Dien ketika berjuang menggelorakan semangat rakyat Aceh untuk berjuang melawan Belanda yang waktu itu sebagai penjajah. Semangatnya mampu menyebar di dada para pejuang Aceh.</p>
<p>Kalo sekarang mungkin yang jadi hero adalah orang yang bisa memberikan inspirasi dalam hidup kita. Untuk lebih percaya diri, untuk lebih bisa tenang menjalani hidup karena merasa ada orang yang mampu dijadikan rujukan dalam berbuat dan bertindak. Karena jujur aja nih, kita sering ingin banget dapetin &#8216;pembenaran&#8217; dan dukungan atas apa yang kita lakukan. Salah satunya dengan kita mengikuti gaya hero yang kita teladani.</p>
<p>Sekalian bisa bilang ke orang-orang, bahwa apa yang kita lakuin memang ada teladannya. Dan itu adalah hero kita. Sehingga orang lain bisa ngeh dengan apa yang kita lakuin dan menganggap wajar karena ngikutin idola kita yang udah teruji keteladanannya di mata banyak orang.</p>
<p>Dan yang terpenting agar kita bisa meneladani sang hero, maka hero yang kita pilih adalah yang benar dan bagus. Yang tentunya lebih baik dari kita. Bisa dipercaya, bisa dijadikan rujukan dalam kebaikan. Terlebih, seorang hero tuh harus mampu memberi inspirasi yang baik buat kita. Itu sebabnya, menurut Fendy, salah seorang mahasiswa di Surabaya ngasih penjelasan soal tipe hero yang diinginkannya, &#8220;Tipe hero yang superhero, pokoknya yang bisa <em>rejuvenation of mind</em> (meremajakan kembali pemikiran -red).&#8221;</p>
<p>Hmm.. jika tipe hero yang diinginkan seperti, tentu bukan yang ecek-ecek dong ya. Kelasnya lain. Berarti tuh hero kudu menjadi inspirator ulung bagi setiap calon pengikutnya. Inspirator dalam melakukan kebenaran dan kebaikan tentunya.</p>
<p><strong>Hero juga manusia</strong></p>
<p>Seringkali kita membutuhkan dan menganggap bahwa hero tuh kudu kuat, sakti, baik hati, nggak pernah salah, dan nggak pernah mengecewakan. Tapi inget lho, hero juga manusia, yang bisa berbuat salah sekaligus mengecewakan kita. Tentu, jika kita memilih hero yang asal bungkus aja sesuai kriteria rasa suka kita. Bukan menyeluruh penilaiannya. Nggak objektif, tapi kita cenderung subjektif.</p>
<p>Kayak gimana sih sosok hero yang bisa dijadiin teladan en panutan kita?</p>
<p>&#8220;Intinya sih yang baik-baik. Tapi yang paling penting merakyat. Mo ganteng, pinter atau apapun selama tidak merakyat ya percuma,&#8221; Andri ngasih pendapat.</p>
<p>Tapi, ngomong-ngomong, siapa sih hero kamu saat ini Ndri?</p>
<p>&#8220;Saya memilih SBY. Soalnya kebijakan dia menaikan harga BBM itu merupakan keputusan yang baik. Dia menyelamatkan bangsa dari kebangkrutan di masa depan. Daripada diambil terus ama penyelundup karena harga di kita terlalu murah,&#8221; ujar Andri semangat. (Nah lho. Kalo gitu definisi merakyat menurutmu apa dong, Andri?)</p>
<p>Oke lah, tiap orang memang punya selera masing-masing buat nyari hero. Tapi mbok ya pilih-pilih en pilah-pilah gitu lho (untuk soal ini, silakan liat deh di Bidik 2, oke?).</p>
<p>Deden, yang masih tercatat sebagai siswa sebuah SMA di Bandung ngasih komentar soal hero yang ternyata nggak selamanya baik, &#8220;Pasti kecewa. Tapi semua itu relatif. Tergantung kesalahannya. Kalau parah ya cari panutan baru,&#8221; ujar Deden ringan aja.</p>
<p>Mungkin itu juga yang menyebabkan tiap orang bisa punya hero lebih dari satu atau berganti hero. Mungkin saja yang tadinya dianggap bajingan, tapi suatu saat jadi superhero. Sebaliknya, sosok yang tadinya dipuja bak mahluk setengah dewa kayak di lagunya Bang Iwan Fals, eh bisa jadi esok atau lusa ketika berbuat salah dan jahat, langsung turun derajat, bahkan berganti peran menjadi sosok yang paling dibenci di dunia. Mudah saja bukan?</p>
<p>Jadi, nggak perlulah kemudian kita meyakin-yakinkan diri bahwa hero juga manusia, nggak lepas dari salah dan dosa. Lalu kita menganggap wajar aja. Ah, kalo pernyataannya kayak gitu <em>mah</em>, namanya mengampuni diri sendiri atas pilihan yang salah.</p>
<p>Itu sebabnya, meski punya hero itu perlu, tapi kudu jaga diri dari godaan menjadikan sosok biasa untuk disulap jadi hero, apalagi superhero. Mereka yang jadi hero memang manusia. Itu sebabnya kudu memilih sosok hero yang paling sedikit kesalahannya. Atau paling nggak memang manusia pilihan sebagaimana Rasulullah saw. Insya Allah bisa lebih membimbing kita dijalan yang benar. Oke? <strong>[solihin: liputan daerah: gilang, rizki, sigit]</strong></p>
<p>BOX:</p>
<p><strong>Islam sumber keberanian dan motivasi</strong></p>
<p>Benar. Islam sejak lama sudah menjadi magnet kuat bagi manusia yang cinta kebenaran. Sosok Muhammad saw. pasti salah satu daya tariknya. Para sahabat menjadikan beliau guru, sahabat, sekaligus hero dalam kehidupannya.</p>
<p>Uniknya, karena Islam adalah sumber keberanian dan motivasi dalam hidup, maka banyak dari pengikut Muhammad saw. yang tadinya &#8216;manusia biasa&#8217; menjadi &#8216;luar biasa&#8217;. Mereka menjadi hero di antara para hero dan tentunya layak dan pantas kita jadikan hero dalam kehidupan kita.</p>
<p>Khalid bin Walid, mantan panglima perang kafir Quraisy ketika memukul mundul pasukan kaum muslimin di Perang Uhud, terpesona dengan Islam dan mengubah dirinya dari hero jahat menjadi hero baik di jalan kebenaran.</p>
<p>Sosok Usamah bin Zaid yang masih muda usia melambung namanya setelah menjadi panglima perang pada usia 18 tahun. Salman al-Farisi yang semula penyembah api, lalu masuk Islam dan menjadi sosok hero buat kita yang bisa diandalkan. Masih banyak. Masih ribuan sosok hero yang berhasil &#8216;diproduksi&#8217; Islam sebagai ideologi yang bisa menyegarkan kembali pemikiran umat manusia selama ini.</p>
<p>Yup, kita bisa meneladani hero-hero yang lahir dari rahim Islam. Bahkan, jika kita meneladani mereka, terus kita &#8216;menjerumuskan&#8217; diri kepada Islam dengan sepenuh hati, suatu saat, cepat atau lambat, insya Allah pasti kita jadi hero pula. Menjadi teladan buat anak-cucu kita. Teladan dalam dakwah dan perjuangan menegakkan Islam. Inilah sosok hero yang sebenarnya. <em>Are you ready?</em> <strong>[solihin]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda edisi Desember 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hero-itu-perlu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran Syari&#8217;ah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pacaran-syariah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pacaran-syariah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 11:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2433</guid>
		<description><![CDATA[Seabrek alasan dapat dikemukakan ketika dua sejoli memastikan dirinya untuk pacaran. Ada yang beralasan bahwa mereka pacaran untuk mengisi waktu kosong. Logikanya, daripada waktu terbuang sia-sia khan lebih baik kalau dimanfaatkan untuk hal-hal yang &#8216;positif&#8217;. Tanpa aktivitas pacaran, remaja ABG akan cenderung bengong saja atau paling banter ngelamun, akibatnya sang waktu akan meninggalkannya di landasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seabrek alasan dapat dikemukakan ketika dua sejoli memastikan dirinya untuk pacaran. Ada yang beralasan bahwa mereka pacaran untuk mengisi waktu kosong. Logikanya, daripada waktu terbuang sia-sia <em>khan</em> lebih baik kalau dimanfaatkan untuk hal-hal yang &#8216;positif&#8217;. Tanpa aktivitas pacaran, remaja ABG akan cenderung bengong saja atau paling banter <em>ngelamun</em>, akibatnya sang waktu akan meninggalkannya di landasan pacu. Jadi pacaran itu solusi bukan problem.</p>
<p align="left">Mereka yang mengantongi alasan begini akan meningkatkan kinerjanya dalam berpacaran setiap ada waktu luang. Sementara <em>syaithan</em> bergoyang <em>dombret</em> sambil berdendang <em>cucok rowo</em> untuk <em>ngipasin</em> mereka agar terlena. Umumnya syaithan berhasil, buktinya remaja yang berpacaran cenderung mengisi penuh semua waktu luangnya untuk pacaran. Kalau waktu luang ternyata tidak ada maka mereka bisa menciptakan waktu luang.<span id="more-2433"></span></p>
<p align="left">Caranya, kurangi jatah waktu belajar, jatah waktu bersih-bersih <em>bantuin</em> ortu di rumah, jatah waktu berorganisasi, jatah waktu beribadah, jatah waktu tidur, jatah waktu mandi dan tambah jatah waktu pacaran. Akhirnya, pacaran bukan lagi sekadar ngisi waktu luang tapi justru membakar sekian banyak jatah waktu. <em>Syaithan</em> memang pakar <em>banget</em> bikin jurang tampak seperti singgasana.</p>
<p align="left">Ada juga yang beralasan bahwa pacaran itu dapat memberikan spirit untuk berprestasi. Karena dengan pacaran sang pasangan akan selalu memberikan dorongan ataupun nasihat maupun petuah. Petuah sang pacar biasanya langsung ditaati sehingga lebih efektif daripada petuah ortu atau para ustadz. Kalau sang pacar memberikan kritikan kontan saja kepalanya jadi membengkak dengan bibir tersenyum, bangga karena itu berarti sebuah perhatian. Karenanya pacaran dapat dipandang sebagai sarana untuk menjadikan remaja berjiwa dewasa, penuh perhatian dan bisa menimbulkan perasaan saling mengasihi dan saling membantu.</p>
<p align="left">Alasan begini kelihatannya cukup dewasa. Tapi sebentar dulu. Rasa perhatian dan saling membantu itu umumnya hanya antar mereka berdua sebagai sejoli yang sedang kasmaran. Mereka hanya memperhatikan sang pacar, cuek pada yang lain. Punya duit ingat dia, punya makanan ingat dia, punya waktu sepi ingat dia, waduh syair <em>ndangdut</em>.</p>
<p align="left">Jadi, pacaran itu akhirnya dapat <em>ngedongkrak</em> rasa egoisme, karena yang ada di otak hanya si dia. Lebih <em>ngeri </em>lagi kalau di otaknya itu ternyata ada sel bermerk <em>ngeres</em>. Pacaran juga bisa bikin orang otoriter, yang didengar cuma nasihat dan petuah dari mulut sang pacar, karena di mulutnya ada madu dan di matanya ada pelangi, mirip sinetronlah. Lihat saja, kalau ortu atau ustadz yang menasihati pasti bibirnya langsung <em>monyong</em> dengan 1001 sinis. Dunia seakan hanya milik mereka berdua, lautan dan kapalnya juga milik mereka berdua, dan akhirnya tenggelam, <em>wah</em> yang ini ingat film <em>Titanic</em>.</p>
<p align="left">Bahkan ada remaja yang mohon kepada Tuan Sufi agar membolehkan pacaran, istilahnya pacaran <em>syari&#8217;ah</em>. Misalnya yang ikhwan pakai koko putih bersih dan akhwatnya pakai jilbab, dan sekali-kali melafadzkan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari. Tapi aktivitas sayang-sayangan dan berdua-duaan jangan dicabut. Kata Tuan Sufi, itu <em>mah</em> mengakali dan menunggangi kata &#8220;<em>syari&#8217;ah</em>&#8221; yang mulia. Meski pakai koko dan sorban serta minyak za&#8217;faran, pacaran itu tetap haram karena Rasullah saw. melarang dua sejoli yang bukan mahramnya derdua-duaan di tempat tertentu (<em>khlawah</em>). Yang ketiga dari mereka adalah syaithan dan syaithan selalu mendorongnya agar bermaksiat. <em>Naudzubillahi min dzalik</em>. [<strong>Sadik</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Februari 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pacaran-syariah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

