Peduli Dakwah, Kenapa Tidak?
gaulislam edisi 153/tahun ke-3 (18 Syawal 1431 H/ 27 September 2010)
Sori bin maaf Bro en Sis, pas mau liburan kemarin nggak bilang-bilang dulu. Nggak ngasih pengumuman di edisi cetak. But, bagi kamu yang stay tune terus di edisi online-nya, gaulislam tetap terbit tanpa henti setiap pekannya. Lagian nggak ada alasan untuk nggak terbit tiap pekan. Sebabnya, gaulislam udah punya website, terus editor dan para penulisnya juga pada punya website, blog dan akun di facebook, jadi publikasi tulisannya bisa langsung deh di website, blog, dan akun facebook mereka. Belum lagi gaulislam punya kerjasama dengan banyak pihak, khususnya para pengelola website, jadi bisa naro naskah di manapun. Adapun edisi cetak, ini untuk memberikan kesempatan bagi kamu yang nggak bisa akses internet. Supaya bisa ngikutin juga manfaat yang ditebar gaulislam. Insya Allah.
Bro en Sis, akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan banyaknya informasi yang bikin umat Islam merasa terpojok. Abisnya, gimana dong, kasus di Ciketing, Bekasi, malah umat Islam di situ yang dituduh tidak toleran kepada umat agama lain, sampe-sampe ada lho mereka yang ngaku muslim malah merasa minder dan bela-belain agama lain. Padahal, mereka bukan orang yang tinggal di sana dan hanya tahu dari media massa. Jadinya gimana? Ya, jadinya ngawur,, ngasih judgement nggak pas. Tuduh sana tuduh sini. Seharusnya kan, lakukan investigasi, media massa juga wajib beritakan secara berimbang. Bagi kita yang ingin mendapatkan keputusan akurat, bawalah kasus itu ke pengadilan atau pihak berwenang sejenisnya untuk mengurus masalah itu. Setelah tahu duduk perkaranya, bolehlah kita menilai. Siapa yang salah, siapa yang benar, siapa yang berbohong, siapa yang jujur. Gitu lho. (more…)
Rahasia Pohon Pinus
By: Widuri
Andrian membuka kaca mata hitamnya. Dari kaca spion dilihatnya rambutnya yang sedikit acak-acakan. Dengan jari tangannya yang putih dan kokoh karena rajin fitness dan angkat barbell, dirapihkannya anak rambut di depan matanya. Sambil tangan kirinya tetap memegang helm arai hitamnya. Dia tidak turun dari motor, dia nampak menunggu seseorang di depan sebuah gedung ruko bertingkat lima. Dilihatnya jam tangan di pergelangan tangan kanannya, tak lama ia bergumam pelan.
“Masih lama.”
Dia mengeluarkan handphone Blackberry dari saku celananya. Mulai asik ber-facebook ria. Dilihatnya setiap status dari teman-temannya, tidak ada yang menarik untuk dikomentari. Gumamnya lagi. Kemudian ia masuk ke profil seorang gadis berjilbab lebar, sahabatnya waktu di kampus dulu. Sahabat yang sama-sama bergabung di Rohis juga.
Dilihatnya sebuah status yang terakhir di update-nya. Sekitar dua minggu yang lalu. Pelan-pelan dibacanya setiap Komen yang ada di bawahnya. Taklama jari tangannya berhenti pada sederet status yang bertuliskan curhatan hati gadis itu.
“Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Tuhanku. Ketika segala doa Istikhorohku kupanjatkan, aku harus kecewa ketika bayangan yang hadir semakin jelas, bukan bayanganmu.”
Dibawahnya terdapat 15 komen yang menanyakan maksud dari kata-katanya, tapi tidak ada satupun jawaban darinya yang menjelaskan maksud tulisannya.
Dasar gunung es, batin Andrian. Dia tersenyum sedikit. Gunung es adalah panggilan Andrian untuk gadis itu. Seperti tampilan gunung es, ia seolah dingin dan teguh, sementara jauh di dalam jiwanya, ia adalah wanita yang rapuh. (more…)
Untuk apa sih menulis?
Assalaamu’alaikum wr wb
Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. Setiap orang bisa saja berbeda cara pandang dalam menentukan motivasi dan tujuan menulisnya. Maka, setiap kali saya mengajar kelas menulis atau mengisi workshop menulis maupun yang lebih spesifik seperti jurnalistik, yang pertama kali saya sampaikan kepada peserta adalah: “Apa sih motivasi Anda menulis?” Selain saya ingin mengukur minat yang mereka inginkan, juga agar saya bisa urun rembug memberikan sedikit sharing agar niat dan tujuan menulis tidak sia-sia atau tidak hanya mandeg pada tataran yang sangat sederhana atau bahkan ‘sampah’.
Nah, jawaban saya untuk pertanyaan sesuai judul artikel ini adalah: menulis ditujukan untuk BERBAGI. Memberi manfaat kepada pembaca agar mereka bisa merasakan nikmatnya pengetahuan. Berbagi itu indah. Apa sajalah, pasti kita senang juga ketika memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ada sebuah pesan yang menarik, “Jika ilmu yang Anda pelajari dari saya dapat berguna untuk diri Anda, maka tolong berbagilah kepada orang lain agar orang lain pun dapat memetik manfaat dari ilmu tersebut,” demikian pesan Milton Erickson pada murid terbaiknya, Stephen Gilligan, PhD. Siapa Milton Erickson dan siapa pula Stephen Gilligan? Bagi Anda yang peminat atau praktisi hynotherapy atau juga Neuro-Linguistic Programming, pastinya mengenal guru dan murid di bidang tersebut. Ini sekadar contoh saja.
Dalam Islam, kita sudah diberikan tuntunan. Dakwah salah satunya. Dakwah itu adalah bentuk kepedulian. Menyampaikan informasi dan pengetahuan itu terasa indah dan menyenangkan. Menulis, adalah salah satu cara untuk mendukung terlaksananya dakwah. Andai saja tak ada orang yang mau berdakwah, mungkin akan banyak manusia di bumi ini yang tersesat di jalan kehidupan. Jika tak ada guru yang mengajarkan banyak ilmu, mungkin tak akan banyak orang-orang cerdas dan terpelajar di dunia ini. Mungkin saja jika orang tua kita tidak mendidik kita tentang kepribadian dan etika, akan banyak hadir di dunia ini anak-anak yang tak beradab. Indahnya berbagi. (more…)
Menulis melancarkan berbicara
Assalaamu’alaikum wr wb
Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!
Ya, jika Anda termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah, jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan bisa jadi deras.
Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai. Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih, tak sampai tulisan kesepeluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi. Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair. Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.
Intinya: menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun lisan. Tetaplah menulis!
Salam,
O. Solihin
Berawal dari Membaca
Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Kamu punya hobi membaca? Berbahagialah. Karena syarat menjadi penulis salah satunya adalah banyak membaca. Dengan membaca, kita jadi tahu segalanya. Hal yang sebelumnya menjadi misteri, setelah membaca, kita jadi ngeh. Membaca akan membuka wawasan kita tentang segala hal. Menyenangkan sekali memang. Waktu SD saja, senang betul bisa membaca buku-buku pelajaran, buku cerita, komik, bahkan ‘nekat’ membaca koran. Dengan semakin banyak membaca, semakin besar rasa ingin tahu kita. Nggak mengherankan jika kemudian kita selalu ketagihan untuk membaca. Jadi, silakan baca buku apa saja, selama kamu sanggup untuk membacanya. Selama matamu masih melek (kalo tidur kan nggak bisa baca…he..he..he..) (more…)
Win Mempertaruhkan Jilbab Meski Terus Ditekan
Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab
Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.
Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat ini dicampakkan begitu saja oleh pihak rumah sakit dengan dalih yang dicari-cari. Padahal selama empat tahun bekerja di rumah sakit swasta tersebut, ia mengaku tak pernah melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan.
Awalnya, Wine memang bersikap seperti karyawati RS Mitra pada lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa RS Mitra Keluarga manapun memang memberlakukan larangan berjilbab bagi karyawatinya. Bila ada di antara mereka karyawati yang berjilbab maka mau tidak mau mereka harus melepas jilbab setibanya di rumah sakit. (more…)
Kusir dan Keledai
Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka
You are what you eat
You are what you drink
You are what you think
(Kamu adalah apa yang kamu makan
Kamu adalah apa yang kamu minum
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)
Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan diri, kitalah yang punya peranan. Apa yang kita makan dan minum secara alami atawa sunnatullah, pastinya punya efek buat badan kita. Orang yang terbiasa makan manis dan berlemak, badannya pasti gemuk dan rawan terkena penyakit gula. Mereka yang makan dengan teratur dan gizi yang cukup pastinya berpeluang besar untuk hidup lebih sehat. (more…)
Akhir Petualanganku
Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya.
Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. Aku hanya tahu, suatu hari di rumah ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku perhatikan beberapa bulan terakhir itu orangtuaku memang sering bertengkar. Setelah itu, ayahku tak pernah pulang lagi ke rumah. Dengar-dengar dari tetangga, katanya ayahku menikah lagi. Aku masih tak mengerti. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan besar dan rumit bagi otakku.
Waktu terus berjalan, usiaku pun bertambah. Aku menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah ketika kakak laki-lakiku yang pertama pindah ke kota lain karena harus studi di sana. Aku masih punya satu kakak perempuan dan tiga adik perempuan. Sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah, seharusnya aku lebih dewasa. Lebih mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi ayah sudah jarang datang ke rumah lagi meski masih memberi nafkah buat kami. Seringnya bahkan uang buat kami dititipkan lewat kawan ayah. Dan itu membuat aku dan saudara-saudaraku terbiasa hidup tanpa kehadiran ayah dan curahan kasih-sayangnya. Ayah tak lagi menemani kami di rumah dengan cerita dan canda. Padahal jujur saja, kehadiran ayah sangat kami rindukan. (more…)
Blast From The Past for Wiwid
By: Iwan Januar
Punya masa lalu yang kelam bin suram itu nggak enak. Takut ada yang ngungkit-ngungkit, atau keungkit sendiri (dongkrak kalee!). Soalnya itu kan aib bo! Siapa yang jamin nggak bakal terungkap.
Itu juga yang dialamin sama Wiwid. Anak rohis urusan logistik cewek bin akhwat ini punya aib di masa lalu – tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, cukup saya aja yang tahu –. Tepatnya itu terjadi waktu ia masih – you know – jadi seleb. Yup betul, kamu jangan tertipu dengan penampilan Wiwid saat ini. Don’t judge the girl by her jilbab. Siapa nyangka dibalik jilbabnya yang anggun ia mantan vokalis band indies cewek. Bareng temen-temen SMPnya mereka bikin band aliran hitam, eh grindcore dengan nama Kasih Ibu. Lumayanlah, sering dipanggil manggung terutama kalau pas acara sunatan massal atau kenaikan kelas di TK-TK seantero Jakarta Utara. Pamor mereka cuma kalah ama grup tahlil sewaan di acara 40 hari atau 100 hari orang meninggal. Iyalah, mana ada di acara kematian nanggap band, apalagi yang beraliran grindcore.
Tapi aib itu juga belum cukup, bo. Namanya selebritis sekali-kali kesandung juga ama yang namanya jatuh cinta. Wiwid juga ngalamin. Sebagai akhwat yang memiliki naluri mencintai lawan jenis atawa gharizah nau (ciee keluar nih kitabnya) ia juga pernah ngalamin. Ceritanya ketika manggung, ada cowok yang perhatian banget ngeliat penampilan Wiwid yang heboh. Cowok itu keren abis, perpaduan tampang Ari Sihasale dengan Taufik Savalas dan mesin giling (hi…hi…hi…). (more…)
Pencuri Terburuk
Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis ‘pencurian’, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.
Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, seperti jam tangan, ponsel atau motor. Sulit rasanya untuk percaya dan menerima kenyataan kalau barang-barang itu sudah raib. Ludes disikat maling. Tapi, biasanya luka itu akan segera hilang karena memang kita sadar barang-barang itu sudah tidak ada di depan mata dan lenyap dari genggaman tangan kita.
Nah, berbohong berarti mengelabui orang lain, memanipulasi sesuatu, membuat orang lain percaya pada sesuatu yang tidak ada. Itu bisa terjadi untuk waktu sehari, dua hari atau malah seumur hidup. Orang yang dibohongi nggak sadar kalau ia telah kehilangan sesuatu, yakni kepercayaannya. Bila seorang pembohong mendapatkan kepercayaan dari orang yang berhasil dikelabuinya, maka si pembohong bukan saja mendapat simpati, tapi juga harta, kehormatan, dan apa saja yang ia inginkan. Inilah pencurian yang paling menyakitkan dan menyebalkan. (more…)
Next Page »
