Blast From The Past for Wiwid
By: Iwan Januar
Punya masa lalu yang kelam bin suram itu nggak enak. Takut ada yang ngungkit-ngungkit, atau keungkit sendiri (dongkrak kalee!). Soalnya itu kan aib bo! Siapa yang jamin nggak bakal terungkap.
Itu juga yang dialamin sama Wiwid. Anak rohis urusan logistik cewek bin akhwat ini punya aib di masa lalu – tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, cukup saya aja yang tahu –. Tepatnya itu terjadi waktu ia masih – you know – jadi seleb. Yup betul, kamu jangan tertipu dengan penampilan Wiwid saat ini. Don’t judge the girl by her jilbab. Siapa nyangka dibalik jilbabnya yang anggun ia mantan vokalis band indies cewek. Bareng temen-temen SMPnya mereka bikin band aliran hitam, eh grindcore dengan nama Kasih Ibu. Lumayanlah, sering dipanggil manggung terutama kalau pas acara sunatan massal atau kenaikan kelas di TK-TK seantero Jakarta Utara. Pamor mereka cuma kalah ama grup tahlil sewaan di acara 40 hari atau 100 hari orang meninggal. Iyalah, mana ada di acara kematian nanggap band, apalagi yang beraliran grindcore.
Tapi aib itu juga belum cukup, bo. Namanya selebritis sekali-kali kesandung juga ama yang namanya jatuh cinta. Wiwid juga ngalamin. Sebagai akhwat yang memiliki naluri mencintai lawan jenis atawa gharizah nau (ciee keluar nih kitabnya) ia juga pernah ngalamin. Ceritanya ketika manggung, ada cowok yang perhatian banget ngeliat penampilan Wiwid yang heboh. Cowok itu keren abis, perpaduan tampang Ari Sihasale dengan Taufik Savalas dan mesin giling (hi…hi…hi…). (more…)
Nek Karim
By: Jazimah al-Muhyi
“Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!”
Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.
“Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?”
“Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara….”
“Bunda…Bunda…jangan biarkan ini terjadi….Bunda….kita harus bertindak.”
“Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.”
Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.
Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk rumah sakit milik sebuah yayasan nasrani.
Kupandangi dengan sedih tubuh kurus Nek Karim dengan berbagai selang yang melilit. Mata Nek Karim yang mengatup, tak sedetik pun terbuka. Syukurlah, dengan begitu, Nek Karim tak perlu menatap salib yang tergantung tepat di depan ranjang, yang akan segera tertangkap penglihatan, andaikan mata tua itu terbuka. Hatiku menjerit. Nek Karim muslim, mengapa harus berada di ruangan ini? Mengapa benda itu harus tetap tergantung di hadapannya? (more…)
Satu Hari Bersama Kimong
By: Iwan Januar
Buat banyak orang punya keponakan itu menyenangkan. Tapi barangkali juga nggak, buat sebagian yang lain. Hm, itu yang tahu kamu sendiri jawabannya. Tergantung kesiapan diri kamu dan juga…si keponakan sendiri; cute, imut atau amit-amit.
Itu yang bakal dialami Eri. Weekend yang rencananya diisi belanja buku baru jadi gagal gara-gara ia disuruh maminya ngejagain Kimong, anak tantenya. Ceritanya Paman Tono dan istrinya naik haji. Selama mereka berhaji, anak mereka si Kimong dititipkan ke nenek Eri. Cuma, khusus minggu ini, Mami Eri kebagian ngejagain Kimong. En, karena Mami dan Abi ada undangan pernikahan teman pengajian maka tugas itu jatuh ke tangan Eri. So, Eri pun manyun. Kalau saja nggak inget ini adalah amanah, lagian ngejaga keponakan sendiri, Eri milih lari sejauh-jauhnya. Eh, nggak ding takut kejauhan nanti keabisan ongkos repot deh.
Kimong sebenarnya lucu. Mukanya yang innocent alias kagak punya dosa bikin gemes siapa aja yang ngeliat. Apalagi Kimong udah pinter ngomong walau umurnya baru lima tahun. Cuma, buat Eri apa enaknya ngejagain anak kecil. Gimana kalo ngompol en ??, siapa yang nyebokin? Bersihin kandang burung jalak punya abi aja Eri jijay, apalagi nyebokin anak orang. Hueks! (more…)
Surat Terakhir dari Ancone
By: Ria Fariana
Dear Friend,
Bagaimana kabarmu beserta keluarga, keponakan-keponakanmu yang lucu, dan teman-temanmu dalam Islam? Aku harap mereka semua baik-baik saja. Dan bagaimana pula dengan ujian akhirmu? Sebagaimana yang kau tulis di suratmu yang lalu tentang perasaan sedihmu akan meninggalkan masa-masa di Senior High yang penuh keakraban terutama dengan siswa-siswa baru yang mulai berkenalan dengan cahaya baru Islam yang kau bilang namanya hidayah. Aku ingat ketika kulontarkan kata-kata kebencian ketika aku mengetahui agamamu, dengan sabar kamu berusaha meluruskan persepsiku.
Ah….forget it friend. Aku malu bila mengingat apa yang sudah kutulis padamu. Padahal tahun pertama persahabatan kita begitu manis. Aku masih ingat ketika membuka e-mail pertama darimu di sebuah box surat dalam dunia maya. Kau ceritakan siapa dirimu, hobimu, dan dari mana kamu tahu e-mail addressku. Aku begitu terkesan dengan cerita-ceritamu tentang negeri dengan hawa tropis di sana, Indonesia. Kau ceritakan pula tentang kota tempat tinggalmu Surabaya, yang akan menjadi kota metropolitan kedua setelah ibu kota Jakarta. Kedatangan e-mailmu seakan-akan kiriman Tuhan dari langit karena begitu tepat momentnya, tatkala aku begitu butuh seorang teman untuk berbagi cerita. (more…)
Dari Reruntuhan
By: Haekal Siregar
John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.
“Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?” canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.
“Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?” John masih bercanda.
“Entahlah,” jawab Michael pelan.
“Kamu masuk angin?” Jhon dengan mimik serius. Michael menggeleng kaku.
“Jhon, cerita penderitaan dan kehancuran di sini dalam waktu singkat akan memenuhi semua media cetak dunia. Kau yakin kita tidak mendapat berita basi?” John tercenung. Tidak ada stasiun televisi yang akan mau membayar mahal untuk cerita yang akan dimiliki semua orang. Kalau rencana liburan ke Hawaii masih mau dilanjutkan, mereka harus mencari sisi lain. Terlalu sayang pengorbanan mengarungi perairan yang baru terkena tsunami, bila hanya memperoleh sedikit imbalan. (more…)
Martir Revolusi
Ria Fariana
Svetlana bangkit, dan membuka pintu yang sebelumnya sempat ada uluk salam dari orang di baliknya. Mereka berbincang sebentar dengan memakai pintu sebagai tabir kemudian laki-laki itu pergi. Svetlana masuk dan menemui empat perempuan yang berkerudung dan berjilbab duduk mengelilingi meja.
“Kalian harus segera pulang sekarang. Halaqah kali ini ditiadakan.” Dengan sigap Svetlana mengemasi kitab-kitab kajian di meja. Bahkan ia tak sempat lagi untuk menutup forum kajian kali itu.
“Aparat Karimov mulai digerakkan untuk menggerebek kumpulan muslim atau pun muslimah yang mengkaji kitab kebangkitan,” Svetlana menjelaskan sambil tangannya terus bergerak merapikan meja. (more…)
Trio Bebek Bikin Sunatan Massal
By: Boim Lebon
MASIH inget kan sama Trio Bebek: Andra, Gugun, dan Boy yang sekolah di SMU Mandiri?
Okay, kalo udah lupa, terpaksa dingetin dulu. Jadi Trio Bebek ini adalah anak-anak kelas 2 SMU Mandiri yang dikenal sebagai pengarang top dan super ngocol! Mereka bertiga paling hobi ngarang, nggak cuma di pelajaran bahasa Indonesia aja, kadang-kadang di pelajaran matimatika juga pada ngarang, kalo bingung ama jawaban, ya udah ngarang-ngarang aja, gitu! Hehehe.
Selain itu mereka juga mengelola sebuah mading alias majalah dinding yang selalu aptudet tiap minggunya dengan tulisan-tulisan yang informatif, kritik konstruktif dan mampu mengundang ketawa cekakak, cekikik dan cekukuk!
Dan kenapa dikatakan sebagai ‘bebek’, karena mereka cenderung ‘cerewet’ lewat tulisan-tulisan ngocol yang mereka buat dalam menyikapi sebuah situasi dan kondisi yang tidak kondusif. Bahasa kerennya sih kritis! Tapi anak-anak senang menyebutnya dengan ‘bebek’ aja, gitu!
“Lagian bebek juga punya sifat yang baik!” tukas Andra. (more…)
Born 2 Be Jomblo
By: Adzimattinur Siregar
Ini nggak mungkin kenyataan!
Kalo aja cowok di depan rumahku ini nggak menatapku terus menerus, aku pasti udah menampar mukaku sendiri untuk mengetesnya.
Ini pasti mimpi! Nggak mungkin seorang Lando si cowok motor yang bulan lalu dapetin penghargaan Coverboy Favorit dari majalah super beken, sekarang ada di depan pintu rumahku dengan bunga mawar merah di tangannya… Yang jelas… aku nggak mau ini terjadi!
Bukan karena aku nggak suka (Alooow! Cewek cacat mental mana yang bisa nolak pesonanya Lando?) tapi karena…
“Siapa, Tet?” Ibuku tergopoh-gopoh dengan daster kumalnya dan muka berminyak baru bangun tidur.
Oh, no! no! Tuhan, bila kau mau membunuhku bukan begini caranyaaaa…
“Bu-bukan siapa-siapa, Ma!” kataku cepat-cepat sambil ngasih isyarat ke Lando untuk pergi. (more…)
Orang Miskin
By: Imraatul Aziizah
Jujur saja aku paling tidak suka kalau ada orang yang nanya, “Berapa sebulan?” Apalagi ditambah celetukan, “Eh Nis, kamu sih enak bisa beli semua yang kamu suka. Kirimanmu kan gede, beda dengan kita-kita yang kiriman sebulan cuma cukup untuk makan dan sewa kamar doang.”
Dulu di tempat kos lama aku sering banget beradu mulut dengan teman-temanku gara-gara masalah fulus dan beasiswa dari ortu ini. Yang sering menjadi bahan pembicaraan teman-temanku yaitu penghuni baru, adalah koleksi bukuku tiap bulan paling tidak ada satu. But cuek aka. Aku kan membelanjakan hartaku bukan dalam rangka bermaksiyat kepada Allah.
Kadang aku heran dengan mereka. Katanya uangnya hanya cukup untuk makan dan sewa kamar, tapi setiap bulan mereka pasti pake baju baru atau kerudung baru. Padahal aku saja baru beli baju baru setelah dua semester (ngiri nih ceritanya). (more…)
Putus
Oleh Arif
“Kita harus berhenti. Harus berani berpisah. Aku sudah menjelaskan padamu semuanya. Tidak ada bedanya kalau sekarang harus memberikan penjelasan lagi,” kataku padanya di suatu sore. Waktu serasa lambat berputar. Aku dengannya di sebuah kafe.
“Tapi aku menyayangi kamu.”
“Aku tahu. Aku juga menyayangi kamu. Karena itu aku menawarkan padamu, kita mengkaji Islam bersama-sama.”
“Kalau aku ngaji, apa kamu masih tetap menginginkan kita berpisah?”
“Ya.”
“Sudah tidak ada artinya cinta buatmu?”
“Cinta saja tidak cukup untuk apa yang menjadi keinginanku saat ini. Harusnya kita memang mendasarkan hidup kita dengan cinta. Cinta pada Allah, Rasulullah, pada Islam. Aku sudah mengatakannya padamu sebelum aku berjilbab. Dan aku tidak akan menariknya kembali. Kita jalan sendiri-sendiri mulai sekarang,” aku berusaha menguatkan hati. Meskipun aku merasa lumer di hadapannya. Begitu lemahnya, hingga merasakan pandanganku kabur oleh air mata. Tapi aku tidak akan menangis. Tidak boleh menangis. (more…)
