gaulislam.com


Karena Tuhan Tak Butuh Kita

Posted in Cerpen, Pernik by Hasna Hawwa on the September 8th, 2008

By: Jazimah Al-Muhyi

“Mengapa orang harus beragama?”

“Mengapa?”

“Mengapa balik bertanya?”

“Pertanyaanmu lucu.”

Seorang laki-laki berperawakan sedang, berambut cepak, berkulit putih, duduk di bangku semen di bawah pohon. Lawan bicaranya, yang punya ciri fisik hampir sama, hanya sedikit lebih kurus, berdiri memunggungi. Tangan kirinya memegang ranting kering, sementara tangan kanannya perlahan mematah-matahkan ranting itu sedikit demi sedikit.

“Semua agama mengajarkan pada kebaikan. Lalu, untuk apa memilih agama? Meyakini hal-hal yang aneh. Memaksa diri melakukan ritual peribadatan yang melelahkan, bahkan seringkali tidak efisien.” (more…)

Catatan Kecil Majnun

Posted in Cerpen, Pernik by Ahmad Jibraan on the August 8th, 2008

by: Herman Hidayat

“Ha…ha…haaa……Wheeeeeeek…Majnun gila…Majnun gila”

Terlihat sekelompok pemuda yang lagi asyik nangkring di trotoar tertawa penuh ejekan. Ternyata sosok yang mereka soraki adalah seorang laki-laki kurus, celana panjang di angkat sekitar mata kaki, tak terurus dengan baju ala kadarnya Yang kutahu, memang sosok laki-laki itu sering lewat di jalanan kampungku, dan orang-orang menyebutnya Majnun alias Orgil.

“Wheeeeeeek…Majnun gila…Majnun sableng”, kembali Ja-im, pemuda rambut merah gondrong ala F4 mengolok dengan ekspresi moka (monyet Kalimantan). Membuatku terpaku di seberang jalan……

“Majnun…gila? Eh, sebenarnya yang gila siapa? Kalo si? Majnun, emang jelas-jelas agak nggak waras, tapi kenapa Ja-im ikut-ikutan konslet begitu” pikirku. (more…)

Ketika Ogi Ronda

Posted in Cerpen, Pernik by Amira Mehnaaz on the August 5th, 2008

By: O. Solihin

Akhir-akhir ini di komplek perumahan dan juga di sekitar perumahan tempat tinggal Ogi sudah banyak maling yang nyusup. Sepeda motor yang diparkir di depan rumah aja, langsung diembat sang maling. Rumah kosong di siang hari pun nggak lepas dari sasaran maling. Disatroni, dan langsung digasak seluruh harta benda berharga yang ada. Itu sebabnya, satpam yang berjumlah lima orang pun dalam komplek itu, nggak cukup untuk mengamankan warganya. Hingga keluarlah surat perintah dari Pak RW setempat untuk mengadakan jaga malam. Semua warga yang masih seger-buger, apalagi yang jago ilmu kanuragan, diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam mengamankan lingkungan sekitar.

“Gi, sudahlah, mama mengijinkan kok kalo kamu ikutan ngeronda malam ini. Besok kan libur sekolah,” kata mamanya malam itu.

“Tapi Ma, Ogi males kalo harus bergabung dengan bapak-bapak dan pemuda yang biasa ngeronda itu,” Ogi ngasih alasan.

“Memangnya kenapa?”

“Jaga malam sih iya. Tapi main kartunya juga kuat,” Ogi mencibir.

“Kamu tahu dari mana?” (more…)

SMS Dini Hari

Posted in Cerpen, Pernik by Farah Zuhra on the August 3rd, 2008

by: Azimah Rahayu

Tit…tit…tit…tiiit! Tit…tit…tit…tiiit!

Bunyi apa tuch? Telingaku samar menangkap bunyi bertit-tit. Weker? Rasanya tadi tidak kunyalakan alarmnya.

Tit…tit…tit…tiiit! Tit…tit…tit…tiiit!

Kok, bunyinya? makin keras?

HP! Hhh, siapa mengirim SMS malam-malam begini?

Selintas pikiran membangunkan kesadaranku. Aku tergeragap bangun. Dengan mata memicing ke jam di dinding, tanganku menggapai ke atas bantal. Pukul 00.30. Tak kutemukan HP itu.

Tit…tit…tit…tiiit! Tit…tit…tit…tiiit! (more…)

Cita-Cita Ayah, Cita-Citaku…

Posted in Cerpen, Pernik by Amira Mehnaaz on the July 17th, 2008

By: R.E.Winarti

“Tetapi satu cita-cita ayah yang belum tercapai, yaitu melihat anak bungsu ayah berhasil seperti yang lainnya…”

Kata-kata itu terus-menerus terngiang di telingaku

Juni’ 93

Ah … ini hari pertamaku menjadi siswi SMU. Baju putih abu plus kerudung putih ini sudah ku pakai sejak pukul lima pagi tadi. Memang semuanya sudah berubah, bukan hanya warnanya yang berubah, tetapi ukurannyapun berubah menjadi lebih panjang dari biasanya. Ya Allah… mudah-mudahan ini menjadi langkah awal untuk lebih mengenal-Mu.

Pukul 07.30 Waktu dan Hari Yang sama

” Assalamu’alaikum, kenalkan nama saya Francis Sonata Jaya, atau biasa dipanggil Fran’s. Saya berasal dari SLTP …”" (more…)

Rembulan Separuh di Langit Palestina

Posted in Cerpen, Pernik by Leila Amra on the July 15th, 2008

By: Nurul Maulidah

7 Muharam 1420 H

Angin dingin Menusuk tulang. Membekukan Gaza dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa keheningan. Mengencerkan ceceran darah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul, dari bangunan yang telah menjadi puing.

Kupandangi lagi ukhti di hadapanku. Wajah cantiknya menyembul dari balik jendela yang setengah rusak. Ia tampak lusuh. Wajahnya berdebu dan jilbabnya kumal, compang-camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah itu tetap keras tak berubah. Cantik. Secantik rembulan. Dingin. Sedingin tiupan angin malam ini. Hatinya tersayat. Sepucuk senjata ada dalam genggamannya. Setetes air bergulir di pipinya.

“Menangislah ukhti,” kataku dengan suara galau. (more…)

GRUNGE

Posted in Cerpen, Pernik by Amira Mehnaaz on the July 12th, 2008

By: Iwan Januar

Suara musik berdentum dari dalam kamar. Avril Lavigne sedang tarik vokal dari CD player merk Sony. Sebelumnya SUM 41 keluar dengan hingar bingar. Mungkin sekarang lagi istirahat minum kopi susu (warteeeg kali). Sementara itu sang pemilik kamar, seorang anak laki-laki kurus, yang sedang duduk didepan salon lumayan gede asyik berhead banging mengikuti hentakan Sk8er Boy-nya si cewek bengal asal Kanada. Padahal tahu sendirikan leher dijamin sakit kalau habis head banging. Eh, tahu kan head banging? Itu tuh gerakan muter-muterin kepala. Wah itu kamar mirip konser alternatif nation ala MTV. Bayangin, dari pagi buta sampai jam sembilan siang gak brenti-brenti. Mending lagunya variasi. Ya kalau diijinin Inul Daratista boleh dong lewat sebentar. Tapi karena ini anak grunge mania maka yang diputer only temen-temennya Avril Lavigne. Paling lumayan kalem ya anak-anak Bandung macam Koil dan Pas.

Orang lain yang serumah cuma bisa geleng-geleng kepala (bukannya ikut head banging lho!), tapi geleng-geleng kepala kesal, kheki, dongkol dan bosen. Mana tahan denger musik begitu seharian. Apalagi disetel dengan volume menyaingi geledek. Kepala mau pecah. Mami, ibu itu anak, sudah mencak-mencak. But, mana kedenger sama anaknya. Bahkan tereakan “Yur!” tukang sayur kalah frekuensi dan amplitudonya. Padahal tereakan beliau nggak kalah kencang lho dibanding sama gonggongan anjing kalau buntutnya diinjek. Dampaknya bisa ditebak, Inah sang PR alias pembantu rumah tangga nggak denger dan nggak jadi belanja. Wah, kacau balau jadinya kehidupan rumah itu hari ini. (more…)

Opera SMU

Posted in Cerpen, Pernik by Ahmad Jibraan on the July 10th, 2008

By: Ria Fariana


Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, kata banyak orang sih. Minimal itu pula yang dikatakan guru PPL di sekolahku. Tahu guru PPL kan? Itu lho, sekelompok mahasiswa yang kuliah di keguruan dan mengajar beberapa bulan di sekolah tertentu untuk praktik. Aku sih bodo amat, aku merasa jati diriku udah mantap di jalur ini bareng teman segangku, club PUNK (baca pang). Memang sih kami belum ‘kaffah’ jadi punker beneran. Tapi paling tidak dari segi gaya kami harus menunjukkan jati diri sebagai penganut aliran punk, dan sekaligus counter bagi aliran underground.

Rambut diberi jelli sehingga tegak menyerupai landak, baju kedombrongan dan gaya cuek menjadi ciri khas aliran punk di sekolah ini. Kelompok punk dari sekolah lain lebih berani dengan mencat rambutnya dan menindik kuping atau hidungnya. Kami tidak bisa seperti itu karena ancamannya dikeluarkan dengan tidak hormat dari sekolah. (more…)

Lebaran di Kampung Koko

Posted in Cerpen, Pernik by Leila Amra on the July 7th, 2008

By: O. Solihin

Ogi menunggu anteng di sebuah halte. Di depannya ada tas punggung yang penuh muatan pakaian dan seabrek makanan kecil. Ia mengamati setiap angkot yang berhenti di halte itu. Kali aja orang yang ditunggu datang.? Yup, Ogi lagi menunggu Koko dan Jamil. Ceritanya, Ogi mau nyobain gimana sih rasanya lebaran di kampungnya Koko. Menurut pengakuan Koko, ia tinggal di sebuah desa di kawasan Bogor. Pokoknya Bogor ke dalam lagi deh. Makanya Ogi pernah ngeledekin Koko dengan sebutan DKNY, alias Dari Kampung Nih Yee.

Nah, Ogi yang tahun ini nggak mudik ke kampung ortunya memilih berlebaran di kampungnya Koko. Supaya lebih seru, Ogi ngajak Jamil. Maklum, Jamil kan orangnya suka heboh kalo udah gabung sama Ogi. Apalagi ini acara liburan. Ditanggung antimanyun kalo gaul sama Jamil. (more…)

Kabut Kian Menipis

Posted in Cerpen, Pernik by Leila Amra on the July 6th, 2008

By: Widya Hartanti

Aisyah bergegas mengenakan kerudungnya kembali. Wajahnya masih basah dengan air wudhu yang baru diambilnya untuk shalat Isya. Gerak langkahnya yang cekatan menimbulkan suara yang berderak-derak di rumah panggungnya. Ia memakai mukena dan memenuhi seruan bilal dari masjid yang terletak beberapa ratus meter dari rumahnya. Fauzan menghampiri ibunya yang masih asyik memarut singkong untuk dijadikan keripik pedas sebagai dagangan besok pagi. Laki-Laki yang berusia sebelas tahun itu memakai kain sarung dan peci, di tangannya ada al-Quran, siap pergi mengaji.

“Fauzan pergi ya, Bu” pamitnya sambil mengamit dan menciurn tangan kedua orang tuanya.

“Hati-hati, Zan” pesan ibunya.? “Kak Ais mana, tidak pergi sama-sama?”

“Lama, Bu” sahutnya.

Terdengar gerakan Langkah cepat dari sisi kanan rumah.

“Eit.. Zan, tunggu sebentar!? Kak Ais sudah selesai nih” seru Aisyah dari dalam mencoba untuk menahan adiknya. Gadis itu segera berpamitan pada ayah dan ibunya. (more…)

 
Page 1 of 3123»

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia     rank blog indonesia   Religion Blogs - Blog Top Sites