gaulislam.com


Putus

Posted in Cerpen,Pernik by Farah Zuhra on the June 20th, 2009

Oleh Arif

“Kita harus berhenti. Harus berani berpisah. Aku sudah menjelaskan padamu semuanya. Tidak ada bedanya kalau sekarang harus memberikan penjelasan lagi,” kataku padanya di suatu sore. Waktu serasa lambat berputar. Aku dengannya di sebuah kafe.

“Tapi aku menyayangi kamu.”

“Aku tahu. Aku juga menyayangi kamu. Karena itu aku menawarkan padamu, kita mengkaji Islam bersama-sama.”

“Kalau aku ngaji, apa kamu masih tetap menginginkan kita berpisah?”

“Ya.”

“Sudah tidak ada artinya cinta buatmu?”

“Cinta saja tidak cukup untuk apa yang menjadi keinginanku saat ini. Harusnya kita memang mendasarkan hidup kita dengan cinta. Cinta pada Allah, Rasulullah, pada Islam. Aku sudah mengatakannya padamu sebelum aku berjilbab. Dan aku tidak akan menariknya kembali. Kita jalan sendiri-sendiri mulai sekarang,” aku berusaha menguatkan hati. Meskipun aku merasa lumer di hadapannya. Begitu lemahnya, hingga merasakan pandanganku kabur oleh air mata. Tapi aku tidak akan menangis. Tidak boleh menangis. (more…)

Kereta Terakhir dari Jakarta

Posted in Cerpen,Pernik by Hafsa Mutazz on the June 13th, 2009

O. Solihin

Ogi mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik arloji di tangannya. Sapuan angin malam mulai terasa dingin di kulit Ogi. Pandangan matanya dilemparkan ke dalam stasiun. Sudah agak lengang. Jam sudah menunjukkan pukul 21 tepat. Sepuluh menit kemudian muncul sesosok makhluk berlari-lari kecil menuju sta?siun Kota. Wajahnya lumayan cute dengan rambut yang agak ikal. Ia terus berlari dan memasuki stasiun.

“Assalamu’alaikum!” suara yang sangat akrab di telinga Ogi terdengar dari belakang.

“Eh, wa’alaikum salam!” jawab Ogi sambil membalikkan tubuh.

“Kelelep di mana, Mil?” Ogi setengah kesal.

“Tenang, sobat. Tadi aku ada perlu dulu. Dikirain sebentar, eh ternyata lama juga. Afwan, deh, afwan,” Jamil ngasih alasan.

“Ayolah, beli karcis dulu. Jangan-jangan kita dapat kereta yang terakhir, lagi,” kata Ogi sambil ngeloyor menuju loket.

“Oke bos!” balas Jamil. (more…)

Comments Off

Mawar Telah Bertangkai

Posted in Cerpen,Pernik by Amira Mehnaaz on the May 30th, 2009

By: Imatuzzahra

Dari jauh terdengar merdu. Asma Allah mengalun sendu. Sejuk. Indah terasa dapat menginjakkan kakiku di kota ini. Ya, kota sedingin salju yang telah kutinggali enam bulan yang lalu.

Malam mulai merayap. Tapi aku bingung harus menginap di mana. Mataku nanar melihat angkot bersiliweran. Wartel. Ya itulah mungkin solusi.

Kupencet-pencet tombol pesawat itu. Nyambung.

Tut….tut….tut….

“Assalamua’alaikum”, sapaku pada seorang wanita di seberang sana.

“Wa’alaikum salam, nyari siapa Mbak?”, tanya wanita itu.

“Nawang Sari-nya ada?”, jawabku dengan balik bertanya.

“Oh…Mbak Nawang udah pindah”, jawabnya pendek.

Deg. Aku menginap di mana. Kosanku di M. Panjaitan sudah buyar 3 bulan yang lalu. Gusar. Akhirnya kuberanikan diri untuk  mengorek informasi.

“Pindah kemana Mbak?”, tanyaku gugup. (more…)

Ramalan Bintang

Posted in Cerpen,Pernik by Hafsa Mutazz on the May 16th, 2009

Oleh: Denny Prabowo

“Percaya sama ramalan bintang?? Uh, gak banget, deh!”

Dini memang paling tidak percaya dengan yang namanya ramal meramal. Apalagi ramalan bintang. Dia suka keki kalau melihat kedua sohibnya baca majalah, pasti rubrik zodiak yang pertama kali mereka baca. Mending kalau hanya sekedar iseng-iseng saja… nggak jarang, mereka bener-benar terpengaruh dengan isi ramalan di majalah yang dibacanya.

Ami, sobat Dini yang sebangku dengannya pernah nangis-nangis hanya gara-gara membaca isi ramalan di salah satu majalah remaja yang mengatakan, ‘Kekasihmu punya affair dengan wanita lain’. Lain lagi dengan Margi, sahabat Dini yang duduk di belakang bangku Dini dan Ami itu pernah membatalkan janjinya hanya karena tak berani keluar pas tanggal 13. “Menurut ramalan di majalah, hari ini merupakan hari sial aku, Din! Aku gak berani pergi ke mana-mana. Takut terjadi apa-apa.” Uh, nyebelin banget kan?

“Bintang kamu capricornus kan, Din?” tanya Margi di bangkunya, 15 menit sebelum bel masuk berbunyi. (more…)

jempol kakiku…

Posted in Cerpen,Pernik by Hasna Hawwa on the May 9th, 2009

[cerpen tanpa dialog]

Oleh: -Ra

Titik hitam di sela kuku jempol kakiku…Aku selalu membencinya, muak melihatnya, dan sebel tiap kali ia selalu muncul kembali, tak aneh jika membersihkan titik hitam itu kuanggap salah satu hal utama yang harus aku lakukan. Biar kecil tapi bikin bete. Aku tak pernah membayangkan, bagaimana jadinya ketika aku memperagakan sepatu atau sandal keluaran terbaru disainer terkenal, lalu ada seseorang atau mungkin beberapa orang yang akan melihatnya. Annelies, Seorang model kondang, ternyata kuku jempol kakinya hitam, bernoda, kotor, dan tentu saja jorok. Bisa turun pasaranku. Bahkan karena kaki saja aku pernah mendapatkan kontrak sebesar tiga puluh lima juta sebulan hanya untuk dipajang sebagai iklan produk sandal wanita sebuah rumah fashion kelas dunia. Jadi, kurasa tidak salah kalau aku begitu memperhatikan keindahan dan kebersihan kuku kakiku yang tak mungkin kubiarkan kaku-kaku karena panas hingga menjadi pecah-pecah, kering, bau dan mengelupas. Amit-amit… (more…)

Bunga-bunga Dakwah

Posted in Cerpen,Pernik by Leila Amra on the May 2nd, 2009

By: O. Solihin

“Para pejuang kebenaran adalah orang yang paling pintar memaknai arti cinta. Mereka orang yang paling romantis. Rindu dan cintanya amat kuat menggebu. Demi cinta dan rindunya kepada kebenaran, ia rela menempuh cobaan. Telapak tangannya selalu basah oleh keringat, bahkan darah. Tapi tak pernah mengeluh dan terus berjuang. Pikirannya senantiasa dipenuhi cita-cita mewujudkan tersampaikannya kebenaran. Meski untuk itu, ia berani untuk dicemooh, dihinan, bahkan rela mati. Sungguh hebat para pejuang kebenaran dalam mengaplikasikan cintanya. Begitu seharusnya cara mencintai. Mereka, adalah bunga-bunga dakwah yang harum semerbak,” papar Arya mengakhiri taushiyah-nya pagi itu di masjid sekolah.

Anak-anak rohis tertunduk. Menghela nafas dan saling berpandangan. Malah ada yang matanya mulai berkaca-kaca. Terharu. Ogi juga sangat terkesan dengan ungkapan Arya, kakak kelasnya yang juga ketua rohis di SMU Jingga itu. Meski dari gaya bahasanya nggak terlalu bombastis dan bernilai sastra, tapi isinya mampu melelehkan hatinya.

“Mil, kamu tahu kan gimana kondisi terakhir dakwah di sekolah kita?” Ogi menatap wajah Jamil dengan amat lekat. Jamil hanya mengangkat bahu. Tak berkata apa-apa seolah Ogi pasti tahu apa yang ada dalam pikirannya. Sudah seminggu masalah dakwah di sekolahnya mulai menyita perhatiannya, tenaganya, dan juga waktunya. Anak-anak rohis SMU Jingga sedang menghadapi sebuah tantangan yang mungkin saja akan menggerus semangat mereka secara perlahan tapi pasti. Padahal, semangat itu mulai tumbuh. Semangat untuk mencintai kebenaran Islam. (more…)

Sang Pecinta dan Memori 14 Februari

Posted in Cerpen,Pernik by Farah Zuhra on the February 17th, 2009

By: Fauzan Muttaqien

14 Februari 2000

Gue dapet hadiah diary dari do’i gue yang nomor tiga. Ajaib juga tu anak, cowok kok dikasih diary. Namun gue terima aja sebagai tanda setia dari gue. Tapi eh, kenalin dulu, nama gue Valentino di Caprio. Aslinya sih cuma Valentino doang. Itu karena gue lahir di malam jum’at kliwon, lho apa hubungannya? Yang jelas ortu gue katanya punya harapan supaya gue nantinya tumbuh menjadi ‘Sang Pencinta’, duilee. Seiring perjalanan waktu, tampang gue jadi mirip-mirip Leonardo di Caprio, itu lho yang biasa ngebawain acara Asli Apa Palsu di SCTV. Dengan tampang sekeren itu gue udah berhasil menggaet 4 cewek plus 1 yang masih dalam proses, padahal gue baru duduk di kelas 3 SLTP. Sebuah prestasi yang lumayan, walaupun masih belum setaraf prestasi bokap gue.

14 Februari itu seperti biasa gue ngerayain valentine bersama geng gue, acaranya asyik punya, gue bawa salah satu gacoan gue. Ini pertama kali gue ngerasain berciuman dengan do’i. Gile… sedap en asyik berat cing! (more…)

CIFI Girl’s

Posted in Cerpen by Farah Zuhra on the November 7th, 2008

By: Aulia Rahman

Cahaya matahari siang datang menggoda kota Bogor. Huh! …panas banget deh hari ini. Tapi ternyata ada yang lebih panas lagi, yaitu hatinya Fifi. Kepalanya juga muter-muter kayak komedi puter. Pusiiiiiing.. (lho kok kayak Mbak Peggy Melati yah?)

Dari hasil investigasi, didapat bahwa pusingnya kepala Fifi yang mencapai 180 Rad disebabkan oleh sohib kentalnya yang lebih kental daripada susu kental manis, yang bernama Cici. Beteee…banget apalagi kalo yang disebelin itu sohib deket.

Jadilah kamar kosan Fifi yang mungil semungil orangnya dijadiin ajang kompensasi Fifi. Dari mulai teriakan suara heavy metal-nya “GNR” yang mendendangkan lagu Sweet Child of Mind. Eit..ini Guns and Roses lho, bukannya Goyang Ngebor Remix. Terus meja tulisnya berantakkan abis. Kalo ini sih lagi nggak BT juga emang udah berantakkan. Belum lagi bantalnya yang ditinju-tinju sebagai pengganti sasak tinju. Dan puncaknya, Fifi nangis. Heboh banget yah? (more…)

Misteri Puisi Cinta Itu…

Posted in Cerpen by Amira Mehnaaz on the November 4th, 2008

By: O. Solihin

“Memalukan!” Ogi geram saat Jamil menyampaikan kabar bahwa ada anak rohis yang pacaran.

“Mil, kamu nggak lagi bikin gosip murahan seperti ini kan?” Ogi masih kurang yakin.

“Gi, pantang bagiku asal ngomong kalo nggak ada bukti.” Jamil menatap lekat wajah sahabatnya itu.

Ogi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan kemudian berjalan menuju jendela kamarnya. Ditatapnya langit biru yang dihiasi awan putih sore itu. Pikirannya jauh mengembara. Menjangkau semua kenangan yang pernah bersamanya. Masalah ini, pernah juga mengendap dalam hidupnya.

“Sori Gi, kamu ingin bukti?” Jamil membuyarkan lamunan Ogi.

“Mil, ini masalah serius yang harus segera ditangani. Jika nggak, bakalan heboh seluruh seluruh sekolah dan pasti mencap anak rohis tuh bermasalah. Walau yang melakukan cuma Helmi,” Ogi khawatir banget.

“Oke, kalo gitu apa yang harus kita lakukan?” tanya Jamil.

“Aku pengen bukti dulu.” Ogi masih dengan napas yang tak teratur.

“Tenang Gi. Kamu kok kayak dikejar anjing aja. Cool Gi, Cool!” Jamil berusaha ngimbangi ketegangan Ogi sambil mengeluarkan secarik kertas berlipat dari saku bajunya.

“Apa ini?” Ogi penasaran.

“Buka dan baca saja,” pinta Jamil.

“Hmm… dari mana bisa tahu kalo ini tulisan Helmi? Ini kan print-out komputer?” Ogi setengah nggak percaya.

“Ini puisi ya Mil?” Ogi siap-siap baca tapi masih aja nanya Jamil. (more…)

Lembayung Hati

Posted in Cerpen by Farah Zuhra on the October 31st, 2008

By: Ria Fariana

Sore itu di pelataran parkir SMU Cita terlihat cukup ramai. Beberapa siswi terlihat bermandi peluh. Tapi tetap wajah mereka terlihat riang dan sesekali canda tawa terdengar. Latihan cheerleaders untuk persiapan Hari Kartini yang masih dua minggu lagi sudah mulai dipersiapkan dengan serius. Gelar sebagai tim cheerleaders terbaik jangan sampai ternoda (cie…ternoda, emangnya baju). Sebagai remaja generasi muda harapan bangsa mereka juga tak mau ketinggalan dengan anak TK yang memperingati Hari Kartini dengan mengadakan pawai jalan keliling kota memakai baju-baju adat.

“Nilam, jangan lupa. Persiapan kostum harus sudah siap seminggu sebelum hari H,” Tika, sang ketua tim mengingatkan Nilam. Yang diajak bicara cuma mengacungkan jempol kanan (yang pasti sih jempol tangan dan bukan kaki lho) sebagai tanda oke. Satu per satu para gadis itu meninggalkan lapangan parkir yang mulai lengang. Ada yang dijemput motor bahkan tak jarang yang memakai mobil. Mayoritas yang bersekolah di SMU Cita memang kalangan menengah ke atas. (more…)

 
« Previous PageNext Page »

  rank blog indonesia