<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Diary</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/pernik/diary/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 17:26:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Win Mempertaruhkan Jilbab Meski Terus Ditekan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 17:33:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3277</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya. Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong><em>Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab</em></strong></p>
<p><em><strong></strong></em>Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.</p>
<p>Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat ini dicampakkan begitu saja oleh pihak rumah sakit dengan dalih yang dicari-cari. Padahal selama empat tahun bekerja di rumah sakit swasta tersebut, ia mengaku tak pernah melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan.</p>
<p>Awalnya, Wine memang bersikap seperti karyawati RS Mitra pada lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa RS Mitra Keluarga manapun memang memberlakukan larangan berjilbab bagi karyawatinya. Bila ada di antara mereka karyawati yang berjilbab maka mau tidak mau mereka harus melepas jilbab setibanya di rumah sakit.<span id="more-3277"></span></p>
<p>Wine pun melakukan hal sama ketika ia berjilbab di tahun 2005. Selama tiga tahun ia bongkar pasang jilbab; berangkat memakai jilbab, tiba di RS buka jilbab, lalu pulang kembali mengenakan jilbab. Selama tiga tahun, meski resah kerap menghantui batinnya, ia masih bertahan dengan cara tersebut dengan pembenaran bahwa pekerjaan yang dilakukannya pun adalah bentuk ibadah.</p>
<p>Namun, petunjuk Allah mulai menerangi hati gadis kelahiran Jakarta, 27 November 1982 ini manakala pertengahan bulan April 2008 ia melakukan umrah. Dalam perjalanan umrah yang dipimpin oleh Ustadz Abu Jibril tersebut ia dinasehati oleh istri sang ustadz. Ia menanyakan kepada Wine mengapa masih bertahan dengan pekerjaan yang jelas-jelas menghalanginya menjalankan syariat Islam.</p>
<p>“Ketika itu istri Ustadz bertanya kepada saya, bagaimana bila ajal datang menjemput, sementara saya sedang dalam keadaan tidak berjilbab,” kenang Wine kepada hidayatullah.</p>
<p>Pertanyaan itulah yang menghantam kesadarannya dan membuat batinnya tak mampu lagi berkompromi dengan cara berjilbab yang telah dilakukannya selama tiga tahun belakangan.</p>
<p><strong>Tekanan Manajemen</strong></p>
<p>Berbekal kesadarannya itulah, Wine bertekad untuk mengenakan jilbab ketika kembali masuk kerja pada tanggal 21 April 2008. Ia mengaku tak ada seorang teman pun yang sempat ia ajak untuk mengikuti langkahnya. Semua yang dilakukannya benar-benar bertolak dari kesadaran dan spontanitas. Saat itu, ia masuk pukul 8 pagi. Ia keluar dari loker tempat berganti pakaian karyawan, menggunakan jilbab dan manset, lengkap dengan seragam kerja harian yang diwajibkan perusahaan. Jilbab yang dikenakannya ketika itu pun berwarna hitam, senada dengan rambut agar tak terlalu menarik perhatian.</p>
<p>Seketika seluruh mata tertuju kepadanya. Semua orang memandangnya dengan keheranan dan pihak rumah sakit kontan “gerah” melihat ulah Wine. Wine pun segera ditegur oleh Koordinator Rehabilitasi Medik, bagian dimana Wine menunaikan tugasnya selama ini. Ibu Suparmi, sang Koordinator, mengecam tindakan Wine dan menegaskan larangan bagi karyawati untuk berjilbab saat menjalankan tugas.</p>
<p>Wine tak bergeming dan sikap Wine membuat Manajer HRD RS Mitra Bekasi Barat, drg. Elisabeth Setyodewi, MM turun tangan. Wine segera dihadapkan pada tuntutan untuk segera mengajukan pengunduran diri bila tetap bertahan menggunakan jilbab di RS. Pihak RS tidak ingin melakukan pemecatan karena menurut pihak rumah sakit semua karyawan yang ingin melakukan pemutusan hubungan kerja pun membuat surat pengunduran diri. Belakangan, oleh Tim Pembela Muslim, hal ini diduga sebagai upaya manajemen RS berkelit dari kewajiban membayar pesangon bagi karyawan yang di-PHK.</p>
<p>Didesak dan ditekan sedemikian rupa oleh pihak manajemen, Wine akhirnya bersedia membuat surat pengunduran diri dengan alasan tidak boleh menggunakan jilbab. Namun, alasan itupun tidak disetujui oleh pihak manajemen karena terkesan ekstrim. Ia disarankan untuk membuat surat pengunduran diri tanpa alasan. Tentu saja Wine menolak membuat surat tersebut karena memang alasannya mengundurkan diri karena larangan berjilbab. Namun, pihak manajemen tetap pada sikapnya. Akhirnya tanpa ada keputusan apapun, Wine meninggalkan RS pukul 9.15 pagi setelah dipaksa menyerahkan kartu pegawai, kartu HMO (Kartu Berobat), dan kunci loker.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, ia ditelepon oleh pihak RS untuk datang mengurus masalah administrasi. Pada tanggal 25 April 2008, Wine pun datang menjawab panggilan tersebut dan meminta surat pemecatan dengan alasan larangan menggunakan jilbab. Permintaan tersebut dijawab dengan ancaman blacklist dari Setyodewi, supaya tidak ada satu rumah sakit pun di Jakarta dan sekitarnya yang akan menerima Wine bekerja. Pertemuan ini lagi-lagi tidak membuahkan hasil.</p>
<p>Waktu berlanjut hingga sepekan. Yang datang kepada Wine justru surat Panggilan I dan II yang isinya meminta Wine untuk kembali bekerja tetapi tetap dilarang menggunakan jilbab. Sebagai seorang muslimah sejati, tentu saja ia menolak panggilan tersebut. Hingga akhirnya datanglah surat panggilan III yang menyatakan pemecatan karena Wine telah mangkir dari pekerjaannya.</p>
<p><strong>Proses Hukum</strong></p>
<p>Melihat tidak adanya niat baik dari pihak RS, Wine pun menempuh jalur hukum dengan mengajukan permasalahan ini ke Tim Pembela Muslim (TPM). Selama proses hukum berjalan pun nampak pihak RS tidak sedikitpun berusaha mencapai kesepakatan yang terbaik. Bahkan pihak pengacara RS yang menghubungi Wine pun terkesan menakut-nakuti serta meminta Wine untuk mundur saja dari kasus ini. Namun, dara lulusan Akademi Fisioterapi UKI (Universitas Kristen Indonesia) ini tak ciut nyali.</p>
<p>Ia tetap maju berjuang, membela haknya dan hak kaum muslimah lainnya untuk mengenakan jilbab. Walau menurut pengakuannya, tak seorang pun dari teman-teman sekerjanya yang berani memberikan kesaksian untuk proses hukum, meski mereka juga jilbaber yang mengalami nasib yang sama.</p>
<p>“Awalnya mereka menyatakan dukungannya tetapi ternyata mereka kemudian memilih diam,” ujar Wine menyesalkan.</p>
<p>Perundingan demi perundingan hukum dilalui Wine, mulai perundingan  Bipartit yang dilakukan antara pihak kuasa hukum RS Mitra Keluarga Bekasi dengan TPM hingga perundingan Tripartit yang melibatkan Dinas Tenaga Kerja Bekasi. Perundingan tingkat Tripartit ini terpaksa ditempuh karena dalam tempo 30 hari tidak tercapai titik temu antara TPM dengan kuasa hukum RS. Masalah ini pun telah sampai di tangan DPRD Bekasi.</p>
<p>Selama proses hukum berjalan, ada tawaran dari pihak RS pada Wine untuk kembali bekerja. Namun, posisi yang ditawarkan justru semakin menambah kekecewaan Wine. Ia ditawarkan untuk bekerja di salah satu perusahaaan yang masih satu grup dengan RS Mitra Keluarga, yaitu  PT Estetika Interpresindo yang menyediakan kebutuhan rumah sakit dengan posisi di bagian administrasi. Ini jelas melecehkan profesionalisme Wine yang selama empat tahun menjadi tenaga fisioterapi. Meski ia dijamin boleh mengenakan jilbab tetapi Wine bersikeras menolak tawaran tersebut karena ia tahu, hal itu tidak berlaku pada karyawati lainnya.</p>
<p><strong>Dapat Dukungan</strong></p>
<p>Di tengah beban masalah dan tekanan itulah Wine terkadang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang panjang. Ia merasa jalan yang harus ditapakinya begitu terjal dan masalahnya tak kunjung selesai. Di saat itulah ia merasakan kekuatan yang begitu dahsyat datang dari Allah SWT dan keluarga hingga ia tetap berdiri menantang tekanan dan cibiran yang datang dari berbagai pihak. Yang tak masuk diakal, cibiran justru datang dari kaum Muslim sendiri.</p>
<p>“Yang paling menyakitkan adalah cibiran yang datang dari sesama Muslim,” ungkapnya.</p>
<p>Namun ia tak ingin bernasib sama seperti seorang temannya yang memilih keluar dari RS karena berjilbab tanpa memperjuangkan haknya. Wine bertekad untuk terus berjuang melawan kezaliman itu.</p>
<p>Jalan panjang yang ditempuh Wine dengan kesabaran dan keberanian memang tak akan disia-siakan oleh Allah SWT. Dukungan dari berbagai pihak, terutama dari Ormas Islam seperti FPI dan Forum Peduli Jilbab, datang membanjiri. Bahkan Forum Peduli Jilbab menggelar unjuk rasa di depan RS Mitra Keluarga Bekasi dengan kekuatan 500 orang. Menyusul kemudian pernyataan Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad yang akan memeriksa kembali izin usaha perusahaan di Kota Bekasi yang diketahui melarang karyawati atau pekerjanya menggunakan jilbab. Mochtar mengaku tidak segan mencabut izin usaha, apabila perusahaan membuat peraturan diskriminatif terhadap pekerjanya.</p>
<p>Izin bagi karyawati menggunakan jilbab di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat kemudian keluar pasca Idul Fitri 1429, lalu menyusul akan diberlakukan di seluruh RS Mitra Keluarga di tempat lain mulai Januari 2009. Hak-hak Wine berupa gaji yang tidak dibayar selama tujuh bulan dan pesangon pun telah dilunasi pihak RS.</p>
<p>Untuk mencegah kasus-kasus diskriminasi terhadap keyakinan beragama seperti ini, Win berharap kaum Muslim cepat tanggap dan kompak.</p>
<p>“Masih banyak umat yang belum paham jilbab yang memenuhi syariat. Ini menyebabkan pandangan umat terhadap kasus ini sangat beragam,” katanya kepada www.hidayatullah.com. Herannya, di negeri di mana kaum Muslim mayoritas. Diskriminasi seperti ini terus berlanjut. [<em><strong>syafaat/Sahid/</strong></em><a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/10121-2009-12-14-22-07-38.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhir Petualanganku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 18:12:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2420</guid>
		<description><![CDATA[Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. </em></strong></p>
<p>Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. Aku hanya tahu, suatu hari di rumah ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku perhatikan beberapa bulan terakhir itu orangtuaku memang sering bertengkar. Setelah itu, ayahku tak pernah pulang lagi ke rumah. Dengar-dengar dari tetangga, katanya ayahku menikah lagi. Aku masih tak mengerti. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan besar dan rumit bagi otakku.</p>
<p>Waktu terus berjalan, usiaku pun bertambah. Aku menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah ketika kakak laki-lakiku yang pertama pindah ke kota lain karena harus studi di sana. Aku masih punya satu kakak perempuan dan tiga adik perempuan. Sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah, seharusnya aku lebih dewasa. Lebih mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi ayah sudah jarang datang ke rumah lagi meski masih memberi nafkah buat kami. Seringnya bahkan uang buat kami dititipkan lewat kawan ayah. Dan itu membuat aku dan saudara-saudaraku terbiasa hidup tanpa kehadiran ayah dan curahan kasih-sayangnya. Ayah tak lagi menemani kami di rumah dengan cerita dan canda. Padahal jujur saja, kehadiran ayah sangat kami rindukan.<span id="more-2420"></span></p>
<p><strong>Aku membenci ayah</strong></p>
<p>Setelah aku SMP dan pergaulanku mulai luas, aku sering iri dengan kawan-kawanku yang keluarganya utuh dan harmonis. Aku sering menangis dalam hati setiap pembagian rapot hanya ibu yang hadir. Aku sakit hati. Apalagi ayah sepertinya melupakan aku dan saudaraku. Berbagai macam cerita dan omongan dari tetangga, kerabat, teman, dan aku saksikan sendiri kelakuan ayah, mulai tumbuh dalam perasaanku untuk membenci ayah.</p>
<p>Bahkan sejak ayah jarang memberi nafkah, dan ibu harus banting tulang untuk menyekolahkan keenam anaknya, aku kian menggunungkan perasaan benciku pada ayahku sendiri. Waktu terus berjalan sementara aku tak menemukan tempat yang baik untuk muara emosiku. Akhirnya aku menemukan hidupku di jalanan. Ya, di saat aku masih labil itulah, aku bergaul dengan teman-teman berandalanku.</p>
<p>Aku tak bisa mengendalikan diri. Kebencianku kepada ayah akhirnya menjadi justifikasi atas semua perbuatanku. Aku mencari perhatian dari ayah. Sebenarnya bukan untuk mencari perhatian sih, karena dalam hati kecilku tersimpan rencana jahat, bahwa aku harus membuat perhitungan dengan ayahku. Aku berharap, dengan aksi ini ayah dibuat pusing.</p>
<p><strong>Ikut kakak lelakiku</strong></p>
<p>Aku benar-benar berada di luar kendali. Hubunganku dengan kawan-kawan di jalanan terus intensif. Rumah aku jadikan tempat transit saja. Malam hari lebih banyak aku habiskan di luar bersama kawan-kawanku. Tentu saja membuat ibu kecewa. Aku juga tak paham mengapa aku bisa terlalu jauh berubah seperti itu. Waktu itu aku akan masuk SMA, untuk biaya pendaftaran saja ibuku tak punya. Tapi demi masa depan anak, ibu rela meminjam uang ke famili dan tetangga karena mengandalkan hasil penjualan pakaian yang dikreditkan harus menunggu lebih lama.</p>
<p>Anehnya aku waktu itu, meski telah masuk SMA negeri, tapi karena beda kecamatan dan harus kos, aku mulai rewel. Aku bilang kejauhan dan nggak betah. Padahal, sejatinya aku tak bisa bergaul dengan kawan-kawanku yang berandalan itu. Yang menurutku mampu menjadi muara emosiku. Akhirnya, aku dipindah ke sekolah yang dekat dengan rumah.</p>
<p>Tapi, itu tak berlangsung lama. Ibu merasa khawatir dengan pergaulan yang aku jalani, akhirnya dengan sangat terpaksa setelah dibujuk ibu dan paman, aku memutuskan untuk ikut dengan kakakku di kota lain, yang kebetulan waktu itu sudah lulus sekolah dan bekerja.</p>
<p>Ibu dan keluarga berharap aku lebih bisa tenang karena dijaga kakakku yang lelaki. Aku memang menaruh hormat kepadanya, meski menyebalkan juga dengan banyaknya aturan ini dan itu. Terutama soal agama. Mungkin ini pula yang membuat ibu yakin bahwa aku akan aman tinggal bersama kakak lelakiku.</p>
<p>Di kota bersama kakakku, aku justru menemukan dunia baru. Aku banyak bergaul dengan anak-anak kota. Kakakku memang menyekolahkan aku di sebuah sekolah negeri. Dengan harapan pergaulannya terjaga. Tapi dalam perjalanannya, aku justru telah mengkhianati kepercayaan kakakku. Uang SPP yang diberikan tiap bulan justru aku habiskan di meja bilyard bersama rekan-rekanku. Prestasi di sekolahku hancur. Kakakku tentu saja kecewa. Tapi ia tak banyak bicara, hanya sesekali saja menasihatiku. Justru itu yang membuat aku malu. Untuk meredam kelakuanku aku sengaja dititipkan di teman kerjanya. Di sini memang aku jadi lebih bebas, tapi keuangan terbatas. Mungkin kakakku berharap aku mulai mikir. Tapi tidak. Aku semakin kacau.</p>
<p><strong>Petualangan baru</strong></p>
<p>Petualanganku di kota bersama kakak berakhir setelah aku lulus SMA dengan predikat yang tak memuaskan. Aku pamitan dan akhirnya aku pergi ke kota lain ikut bersama pamanku. Aku jalani hidup di bengkel, jadi tukang cuci mobil, dan apa saja yang aku bisa lakukan. Sedih juga. Tapi itulah yang harus aku lakukan. Mau tidak mau. Anehnya, di sini pun aku seperti ditakdirkan untuk bertemu dengan berandalan. Aku pun larut lagi dalam dosa dan maksiat.</p>
<p>Kondisi ini membuat kakakku kecewa, ibu kecewa, juga adik-adikku menaruh ketidakpercayaan kepadaku. Sekitar lima tahun sejak lulus SMA aku jalani kehidupan liar. Bahkan semakin liar karena lepas dari pengawasan ibuku. Jika kakakku jarang marah dan hanya sesekali ngasih nasihat, tidak dengan pamanku yang memang polisi. Aku sering dimarahi. Tapi aku tahu diri, bahwa aku memang salah. Akhirnya aku pindah dan kos, meski akhirnya balik lagi karena pergaulanku tambah parah.</p>
<p>Setelah sekian lama bertualang, aku lelah. Cukup lelah. Sampai ibuku merasa perlu memaksaku untuk segera berkeluarga saja. Karena ibu menganggap itu jalan terbaik untuk meredam gejolak jiwa liarku. Itu sebabnya, ketika aku mendapatkan seorang gadis, ibu buru-buru memintaku menikah. Awalnya aku tidak menurut, hingga ibu jatuh sakit parah dan dirawat di RS, tapi kemudian aku sadar dan mau menikah.</p>
<p>Kini aku sudah menikah. Semoga ibu dan saudaraku mau memaafkan kesalahanku selama ini. Aku sering merenung dan aku berusaha untuk lebih baik dalam hidup. Karena, sebentar lagi aku akan punya anak, sangat malu jika bapaknya tetap seorang berandalan. Semoga kuat melangkah di jalan yang baru kupilih ini. <strong>[seperti dituturkan seorang ikhwan kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noda Tak Kunjung Hilang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 17:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[noda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2203</guid>
		<description><![CDATA[Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali. Kehidupanku yang penuh dengan noda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali.</em></strong></p>
<p>Kehidupanku yang penuh dengan noda dimulai sejak aku masih SD. Diawali faktor keluarga serta lingkungan sekitarku yang kondusif dengan rokok, miras, dan <em>drugs</em>. Pada saat itulah aku memasuki lubang hitam perjalanan hidupku. SMP aku bertemu dengan teman-teman yang suka hura-hura dan nongkrong di mall. Setiap hari aktifitas kami hanya untuk senang-senang tanpa memikirkan halal dan haram apalagi dosa. Aku mulai bolos sekolah, berbohong, membuat tato, melawan orangtua dan guruku. Akibatnya aku tidak naik kelas. Melihat kondisiku yang berantakan, orangtua menarik aku keluar dari pergaulan di mall. Beberapa saat aku mengalami masa tenang. Kemudian aku kembali ke kehidupan liar dan berteman dengan pemakai ganja. Uang yang diberikan orangtua pun aku habiskan untuk membeli ganja dan minuman. Bahkan aku sampai mencuri ketika tidak punya uang untuk membeli ganja. Naik ke kelas 3 SMP, aku menjadi siswa yang arogan dan disegani. Sampai-sampai aku lulus sekolah tanpa memiliki teman.<span id="more-2203"></span></p>
<p><strong>Mengenal &#8216;Obat&#8217;</strong><strong></strong></p>
<p>SMA, kehidupan gelapku semakin menghitam. Aku bertemu teman yang sejalan dengan hidupku. Dilingkungan rumahnya ada bandar ganja. Jika SMP aku sulit mendapatkan ganja, maka di SMA dengan mudah aku dapatkan karena mengenal sang bandar. Karena keimananku yang tipis, waktuku kuhabiskan bersama teman-teman sekolahku hanya untuk mengganja dan mengganja. Pada saat jam pelajaran, di rumah, atau dimanapun termasuk diskotik.</p>
<p>Kelas dua aku mulai mengenal putaw, heroin, ampetamin, ectasy, LSD, dan mulai menggunakannya. Karena ketagihan akan &#8216;kenikmatan&#8217; barang setan, aku membutuhkan uang untuk membeli barang-barang tersebut. Aku pun akhirnya ikut jual barang guna mendapatkan uang untuk aku belikan barang yang akan aku pakai. Suatu saat, orangtuaku mengetahui bahwa aku adalah pemakai, aku dibawa berobat jalan pada sebuah rehabilitasi. Beberapakali aku berobat, namun tak kunjung sembuh dan sembunyi-sembunyi aku menggunakan <em>drugs</em>. Apa mau dikata, pihak sekolah akhirnya mengetahui keadaanku. Akhirnya pihak sekolah mengeluarkan aku bersama beberapa temanku yang juga pemakai. Lalu, orangtuaku membawa aku ke sebuah pasantren untuk di obati.</p>
<p><strong>Mencoba Bunuh Diri</strong><strong></strong></p>
<p>Di pasantren aku hanya bertahan 2 bulan. Mungkin karena pengaruh obat-obatan otakku terasa gila. Pada akhir tahun 1999 aku melakukan percobaan bunuh diri. Konyolnya keinginanku untuk mati hanya karena terobsesi ingin bertemu Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang mati karena over dosis. Aku melakukannya di kamarku dengan menyayat kedua pergelangan tanganku menggunakan silet. Kucoba berkali-kali namun ajal tak kunjung menjemput. Orangtuaku mengetahui perbuatanku dan aku dibawa ke rumah sakit untuk di obati. Setelah itu aku mendapat perawatan di Rumah Sakit Jiwa Jakarta, tapi bukan karena aku gila. Waktu itu aku ditempatkan pada bagian yang menangani pecandu dan mengalami gangguan psikologi. Bukan kesembuhan yang aku dapatkan, malah keinginan untuk bertemu dengan Cobain semakin kuat. Akhirnya saat ruang dokter sepi, aku masuk ke dalam dan menemukan sebuah silet. Pada malam harinya aku pergi ke kamar mandi. Di situ aku bertekad harus mati malam ini. Walau darah sudah mengucur deras dari kedua lenganku, namun kematian tak kunjung menyapa diriku. Karena kelelahan, aku kembali ke kamar dan lukaku aku tutupi dengan sebuah kain. Kuceritakan perbuatan bejatku kepada teman sekamarku. Ia panik dan memanggil perawat yang sedang jaga pada malam itu. Akhirnya pergelanganku di jahit, dan keesokannya aku di pindahkan ke rehabilitasi di sawangan. Baru dua bulan aku sudah tidak tahan dan melakukan aksi mogok makan untuk bisa keluar dari rehab tersebut. Selanjutnya aku hanya mengikuti rehab jalan.</p>
<p>Karena masih gelisah dengan kondisi hidup yang berantakan, aku mencoba kembali bunuh diri dengan menyuntik putaw di lengan. Pada saat over dosis (OD), orangtuaku tahu dan membawaku ke rumah sakit. Aku di bawa kembali ke rehab, dan masuk sekolah asrama khusus untuk pecandu. Karena masih gelisah, aku minta obat tidur ke dokter dan kukumpulkan hingga 30 butir. Pada suatu malam aku mulai berfikir apakah benar aku ingin mati. Ternyata aku lebih memilih ingin meneruskan hidup ini secara berani. Akhirnya pil tidur aku buang.</p>
<p><strong>Noda Itu Kembali</strong><strong></strong></p>
<p>Pada tahun 2000 aku kembali ke rehab selama enam bulan. Di sana aku diajari berbagai macam keahlian untuk bekerja. Setelah itu, dengan izin orangtua pada bulan oktober 2000 aku pergi ke Belanda dengan tujuan domisili dan cari kerja. Tetapi dari pihak sana tidak memberi ijin. Sebulan aku di Belanda, kemudian pulang ke Jakarta dan memulai kembali menggunakan ganja dan alkohol. Karena sedih melihat ibuku yang sakit hati lagi melihat kondisiku, aku berusaha untuk berhenti total. Kupikir sudah cukup pengalaman buruk itu dan aku harus berubah. Akhirnya aku mulai sholat kembali yang selama ini terlalaikan, dan aku mulai belajar baca Qur&#8217;an serta berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Namun, pada tahun 2001 aku kembali menggunakan putaw karena teringat &#8216;kenikmatannya&#8217;. Pada saat itu ibuku mengetahui dan aku di bawa kembali ke rehab.</p>
<p>Karena belum menemukan sebuah arti hidup, kondisiku makin strees. Ayahku berinisiatif mengajak liburan ke sebuah hotel di Bandung. Di sana sekali lagi aku melakukan kemaksiatan yang sungguh sangat aku sesali. Penyesalan datang menyerangku dengan sedemikian hebatnya. Hingga aku hanya bisa meringkuk seperti bayi, menyesali jalan hidupku yang malang. Hingga aku benar-benar bertobat.</p>
<p><strong>Hidayah Datang</strong><strong></strong></p>
<p>Kemudian bagaikan panas setahun tersiram hujan sehari, beban depresi yang selama ini menghantui diangkat oleh Allah dan digantikan dengan senyuman tulus di bibir yang menandakan bahwa aku telah kembali. Akhirnya aku pindah ke Bogor, dan aku shalat kembali berjamaah di sebuah mushola dekat rumah. Di situlah rupanya hidayah datang. Aku mulai mengenal arti hidup dan Islam secara kaffah dari anak kampus yang sering kumpul di mushola dekat rumahku itu. Mereka membantu aku menemukan jalan hidup yang pasti bagi seorang muslim. Aku mulai tau, ternyata kondisi yang terjadi pada diriku dan mungkin teman-temanku yang terjebak arus kebebasan tidak lepas dari penerapan sistem yang ada. Dan pada detik itu aku menekadkan diri untuk totalitas hidup secara Islami, berdakwah, dan menata hidup aku kembali. Tentunya dalam rangka mencari ridho Allah. <strong>[Seperti diceritakan Muhammad Yusuf Isa kepada eftur]<br />
</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Oktober 2003]</em><br />
<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Musim, Kita Bisa Berubah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 19:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2529</guid>
		<description><![CDATA[Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu. Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu.</em></strong></p>
<p>Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi mahasiswa barunya, dan itu program wajib bagi mahasiswa baru, sehingga aku dan orangtuaku tidak usah pusing-pusing mencari tempat kos.</p>
<p>Aku masih ingat pertama kali masuk asrama. Setelah menyelesaikan administrasi, ditemani orangtuaku, aku mencari nomor kamar yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun itu. Aku ditempatkan di kamar nomor 193 lorong 5. Kabarnya aku akan ditempatkan bareng dengan dua teman baruku, Lia dan Lena namanya. Sambil berjalan menuju kamar aku bertanya-tanya dalam hati, &#8220;Wajah teman sekamarku seperti apa? Baik nggak sih? Agamanya apa?&#8221; Pokoknya berbagai pertanyaan yang hadir di otakku yang buat aku jadi pusing sendiri.<span id="more-2529"></span></p>
<p>Di depan pintu kamar, kudengar ada suara orang. Sepertinya sudah ada yang mendahuluiku. Siapa ya? Apakah itu teman sekamarku? Aku kemudian mengucapkan salam dan masuk ke dalam kamar. Agak canggung aku memperkenalkan diri. Oh ternyata dia adalah teman sekamarku namanya Lena, dia nggak sendirian, tapi diantar sama ibu dan pamannya.</p>
<p>Alhamdulillah dia berkerudung, berarti menandakan agamanya Islam. Syukurlah, batinku. Setelah beberapa jam ngobrol, kita jadi semakin dekat. Tapi sayangnya, dia nggak bisa bermalam di asrama. Yah, ga apa-apa, toh aku sudah berjanji akan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Terpaksa malam itu aku harus tidur sendiri.</p>
<p>Beberapa minggu berlalu, akhirnya lengkap sudah penghuni kamar 193 dengan namanya yang triple L (Lesi, Lia dan Lena). Alhamdulillah, semuanya beragama Islam, walaupun Lia tidak pake kerudung. Kami pun semakin akrab dan aku pun mulai mengenal karakter mereka. Lia yang anaknya agak gaul, cuek dengan penampilan dan pakaian jeans serta T-shirt agak ketatnya kalo keluar dan suka musik kerasnya <em>Linkin Park</em>. Lena yang cenderung tertutup, agak manja dan senang dandan. Sedangkan aku, dengan latar belakang pemahaman Islam yang sedikit baru bisa menunaikan kewajiban seorang muslimah yaitu berjilbab dan berkerudung.</p>
<p>Aneh memang jika dibayangkan ketiga orang yang punya &#8216;keunikan&#8217; masing-masing bisa disatukan dalam satu kamar. Tetapi kita tidak mempersoalkan masalah itu. Walau pun ada beberapa hal yang kami tidak sependapat, apalagi kalo berbicara masalah syariat Islam. Kupikir memang agak susah, apalagi selama ini mereka belum pernah mendengar seperti itu. Kebetulan aku sudah mulai mengkaji Islam lewat mbak yang berasal dari daerah yang sama denganku. Kupikir ini tantangan bagiku, dakwah ke orang yang terdekat denganku, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dulu.</p>
<p><strong>Hampir melupakan teman</strong></p>
<p>Beberapa bulan berlalu, tak terasa sudah hampir setengah tahun. Aku yang semakin asyik dengan kegiatanku sendiri, semakin jarang bersama-sama dengan kedua orang temanku itu. Aku jadi agak jauh, dan itu membuat mereka malah tidak bisa menerima ide yang kubawa, karena selama ini aku memang jarang ngobrol panjang lebar dengan mereka.</p>
<p>Kuakui, itu kesalahan besar. Aku jadi nggak maksimal. Aku merasa bersalah tidak mampu mengajak mereka untuk merasakan apa yang kurasakan saat ini, karena ketika kuajak untuk ikut kegiatan keislaman mereka selalu menolak. Akhirnya, kupikir tidak ada gunanya lagi mengajak mereka atau menyampaikan tentang Islam ke mereka. Toh, nggak ada hasilnya. Aku sudah putus asa, nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku berharap Lena yang pake kerudung bisa kuajak mengkaji Islam, ternyata gagal. Berharap pada Lia yang karakternya &#8220;kayak gitu&#8221;, aku rasa tidak mungkin! Sejak saat itu, aku tak pernah lagi menceritakan tentang khilafah atau wajibnya seorang perempuan menutup aurat dengan jilbab dan kerudung.</p>
<p>Ada sesuatu yang terjadi dengan teman sekamarku Lena. Akhir-akhir ini dia mulai jarang masuk kuliah, katanya sih ada urusan keluarga. Tapi kok keluarganya nelpon ke ponselku menanyakannya. Sebab kata orang tuanya, ponselnya nggak bisa dihubungi. Aku jadi bertambah bingung, ke mana anak itu. Konsentrasi belajarku jadi agak terganggu dengan masalah ini. ketika Lena datang, Aku mencoba menanyakan masalahnya, tapi karena sifatnya yang tertutup, aku gagal. Aku hanya sempat menasihati dia, bahwa kita harus sungguh-sungguh kuliah, karena ini adalah amanah orangtua kita. Tak banyak orang yang bisa kuliah, kita termasuk orang yang beruntung. Sedih hatiku, ketika akhirnya Lena harus keluar dari IPB. Malam itu ia datang bersama pamannya, membawa semua barangnya. Tak satupun yang tersisa, Aku dan Lia ikut membantu dengan hati yang sedikit kecewa. Namun, lama kelamaan kami sudah mulai melupakan kejadian itu seiring banyaknya tugas-tugas kuliah.</p>
<p><strong>Hidayah buat Lia</strong></p>
<p>Ketika kami dapat kuliah PAI (Pengantar Agama Islam), ada yang namanya mentoring. Ketika mentoring, semua mahasiswi muslimah harus pake kerudung. Lia yang memang nggak biasa pake kerudung menggerutu, sebab dia tuh kalo pake kerudung lama banget dan susah rapinya. Katanya padaku gerah dan kalau makan susah buka mulutnya. Aku hanya tersenyum saat itu dan bilang padanya memang gitu kalau baru pertama, tapi kalau udah biasa nggak kok.</p>
<p>Saat keluar dari asrama pun tiba. Lia yang jurusan kimia itu harus pindah ke kampus IPB yang ada di Baranangsiang, di pusat kota. Cukup jauh dari tempat kos dan kuliahku. Akhirnya kami tidak pernah ketemu, SMS pun jarang.</p>
<p>Sampai suatu ketika aku terkejut mendapat sebuah pesan singkat. Oh, ternyata SMS dari Lia. Aku senang sekali katanya mau datang ke kosku. Lama kutunggu akhirnya datang juga, aku benar-benar kaget dan tak bisa berkata apa-apa ketika melihat Lia dengan kerudung lebar dan baju potongannya. Nyaris sempurna lirihku dalam hati. Lia sudah berubah! Walaupun kutahu ia berbeda kelompok dakwah denganku, tapi kuyakin tujuan perjuangan kita sama.</p>
<p>Lebih mengagetkanku ketika dia minta ditemenin untuk nyari kaset nasyid. Padahal dulu&#8230; Ah, Lia aku bangga padamu. Seperti halnya musim, kamu bisa berubah. Tentu, berubah menjadi lebih baik. Kau mampu menjemput hidayah itu. Semoga perubahan ini tidak sesaat. Aku jadi ingat sahabat Nabi, Umar bin Khaththab, yang dengan cahaya Islam membuat ia menjadi sosok pembela Rasul yang ditakuti kaum kafir. Aku jadi semakin yakin, bahwa Islam adalah fitrah. Dengan hidayah Allah, penjahat sekalipun bisa berubah menjadi baik. Semoga engkau tetap istiqamah ukhti. <strong>[seperti yang dituturkan Lesi kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Agustus 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alkohol Pernah Menemani Hidupku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 19:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2526</guid>
		<description><![CDATA[Aku termasuk orang yang sulit untuk melepaskan diri dari teman sepermainanku yang terbilang berandalan. Hingga akhirnya aku kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam waktu cukup lama. Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kampung kecil di Sumatera yang jauh dari keramaian. Kondisi ini tidak membuat aku membatasi cita-citaku, aku ingin menjadi seorang? pembesar layaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku termasuk orang yang sulit untuk melepaskan diri dari teman sepermainanku yang terbilang berandalan. Hingga akhirnya aku kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam waktu cukup lama. </em></strong></p>
<p>Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kampung kecil di Sumatera yang jauh dari keramaian. Kondisi ini tidak membuat aku membatasi cita-citaku, aku ingin menjadi seorang? pembesar layaknya Pak Bupati yang dielu-elukan orang banyak ketika berkunjung ke kampungku. Di kampung aku menempuh pendidikanku sampai tingkat SLTP yang aku selesaikan pada tahun 1990. Ketika akan melanjutkan ke SLTA aku meminta kepada orangtuaku agar aku disekolahkan di kota karena menurutku kualitas pendidikannya akan jauh lebih baik daripada yang ada di kampungku.</p>
<p>Keinginanku ternyata terkabul, oleh orangtuaku aku dititipkan di rumah kakakku yang kebetulan memang sudah lama merantau ke pulau Jawa, tepatnya kota Bogor. Sekolah di Bogor tidak membuat aku merasa rendah diri karena aku berasal dari kampung, bahkan aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan teman-teman sekolahku. Aku memang tergolong orang yang suka bergaul. Tapi petaka itu justru dimulai dari sini.<span id="more-2526"></span></p>
<p><strong>Awal perkenalanku dengan alkohol</strong></p>
<p>Panasnya pergaulan teman-temanku memaksa aku mengenal alkohol dan obat-obatan terlarang walaupun bukan termasuk kelas atas. Pernah ketika liburan semester, aku dan gengku yang berjumlah lima orang nginap di rumah salah satu temanku di kota Jonggol yang kebetulan lagi kosong karena keluarganya pergi berlibur ke Bali. Perjalanan dari Bogor ke Jonggol memakan waktu lebih kurang satu jam dengan bis.</p>
<p>Di sana hampir tiap malam kami pesta alkohol dan obat-obatan. Waktu malam terakhir sebelum pulang ke Bogor, salah satu temanku mengusulkan untuk melengkapi pesta kami dengan wanita. &#8220;Biar pestanya lebih panas&#8221; katanya. Usul ini langsung disetujui oleh yang lain, dan dua orang temanku keluar untuk mencarinya. Singkat cerita wanita nakal atau dalam bahasa remaja saat itu disebut <em>pecun</em> sudah ada di tengah-tengah kami. Dia mengaku namanya Sisi.</p>
<p>Sebenarnya kami masih malu-malu berhadapan dengan wanita,? ini adalah pengalaman pertama bagi kami. Namun ada salah satu temanku sebut saja namanya Otong yang bersikap agak agresif? sama Sisi, entah karena nafsu melihat kecantikan Sisi atau karena pengaruh alkohol dan obat. Namun Sisi menolak setaip kali Otong mendekatinya, hingga akhirnya terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak kami duga. Otong menjambak rambut dan memukul wajah Sisi sampai hidungnya berdarah.</p>
<p>Pesta yang kami harapkan akan lebih &#8220;panas&#8221; karena ada Sisi ternyata berubah menjadi panas benaran. Suasana menjadi sangat kacau apalagi Sisi mengancam akan melaporkan perbuatan Otong ke polisi. Tapi setelah terjadi proses negosiasi akhirnya situasi bisa terkendali. Sisi minta konpensasi dan kami harus patungan untuk membayar Sisi sebesar Rp 50.000. Pengalaman menegangkan sekaligus menakutkan yang kalau diingat sekarang membuat kalimat <em>astaghfirullah</em> meluncur deras dari mulutku.</p>
<p>Perjalanan hidupku di Bogor yang selalu ditemani alkohol dan obat-obatan tidak berhenti karena pengalaman buruk di Jonggol bahkan menjadi lebih dahsyat. Dalam hati seringkali aku ingin meninggalkan semua aktivitas ini, tapi teramat sulit bagiku apalagi ikatan dengan teman-temanku sesama pemabuk begitu kuat ditambah sikap kakakku yang tidak terlalu <em>care,</em> bagi kakakku yang penting prestasi belajarku baik. Anehnya alkohol dan obat-obatan tidak begitu mempengaruhi prestasi belajarku, nilai rata-rata raportku tiap semester tidak pernah di bawah angka enam walaupun juga peringkatnya tidak masuk dalam sepuluh besar. Tapi itu sudah cukup membuat kakakku kehilangan perhatian terhadap diriku.</p>
<p><strong>Kujemput hidayah di Kalimantan</strong></p>
<p>Ketika aku selesai SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, aku berpikir ini adalah kesempatan bagiku untuk meninggalkan dunia yang selama ini telah menghantui hidupku. Kuputuskan untuk memilih perguruan tinggi yang jauh dari Bogor, aku memilih UGM dan Untan sebagai pilihan ke dua. Ternyata aku diterima di Untan, sebuah perguruan tinggi negeri yang berada di pulau Kalimantan. Terima kasih Tuhan Kau jauhkan aku dari teman-temanku di Bogor.</p>
<p>Kupikir kalau aku sudah menjahui teman-temanku, aku akan bisa menjauhi alkohol dan obat-obatan. Ternyata tidak, aku kembali masuk? dalam lingkungan yang bersahabat dengan alkohol dan obat. Hal ini terjadi karena teman-teman satu kost kebanyakan berasal dari pulau Jawa. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Malang, pokoknya? semua penghuni kost bukan penduduk asli Kalimantan.</p>
<p>Tahun pertama aku masih menikmati hidupku, namun menginjak tahun kedua kuliah keinginan untuk berhenti datang lagi. Sampai akhirnya ketika suatu hari dalam keadaan mabuk aku terpeleset di kamar mandi dan masuk ke dalam bak penampung air. Aku tidak tahu apakah aku sudah mati atau belum, yang ada dalam pengelihatanku adalah ibuku yang sedang berdiri di depan pintu rumah kami di kampung sambil menggapai-gapaikan tangannya, seolah ibuku ingin berteriak kepadaku tapi aku tidak mendengar suara apa-apa, aku hanya bisa melihat linangan air mata ibuku.? Ketika tersadar aku sudah ada dalam kamarku. Kata temanku, aku pingsan. Entah berapa lama aku terendam dalam bak, tidak ada yang tahu. Yang jelas kalau teman-temanku terlambat mengetahui, barangkali aku sudah tidak melihat matahari lagi.</p>
<p>Peristiwa kamar mandi itu ternyata menjadi titik balik hidupku. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari tempat kost baru yang lebih &#8220;bersih&#8221;. Trauma yang kualami membuat aku sangat berhati-hati untuk memasuki lingkungan yang baru, sampai akhirnya aku menemukan tempat kost yang aku cari, sebuah rumah kost yang pemiliknya adalah seorang ustadz. Dari sinilah aku kemudian mengenal Islam, secara rutin tiap hari sabtu kami mengkaji Islam. Syukur alhamdulillah ya Allah Kau selamatkan aku untuk kesekian kalinya, semoga tidak Kau balik lagi hatiku untuk condong kepada hal-hal yang Kau benci. Amiiin <strong>[seperti yang disampaikan seorang ikhwan kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi April 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Semua&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 19:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang, aku terlalu muda untuk menjadi &#8216;orangtua&#8217;. Tapi, ada juga orang yang bilang kalau aku anak muda seperti &#8216;orangtua&#8217;. Orang juga bilang kalau aku seorang pemimpi berat, tidak realistis dan mengada-ada. Tapi aku pikir, andai Thomas Alfa Edisson tak berpikir untuk menerangi dunia, tentu sampai sekarang kita tidak akan bertemu dengan lampu. Aku lahir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Orang bilang, aku terlalu muda untuk menjadi &#8216;orangtua&#8217;. Tapi, ada juga orang yang bilang kalau aku anak muda seperti &#8216;orangtua&#8217;. Orang juga bilang kalau aku seorang pemimpi berat, tidak realistis dan mengada-ada. Tapi aku pikir, andai Thomas Alfa Edisson tak berpikir untuk menerangi dunia, tentu sampai sekarang kita tidak akan bertemu dengan lampu.</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Aku lahir dari keluarga yang keras. Orangtuaku tidak hanya menerapkan disiplin yang ketat, tapi berbagai sanksi yang tergolong kasar dan sadis. Maka terkadang aku jadi berpikir, jadilah aku seperti ini sekarang. Terkadang kasar, angkuh dan arogan.</p>
<p>Perkenalanku dengan Islam memang belum lama, paling baru lima tahun ini. Namun jauh sebelumnya, berbagai pemikiran yang tergolong berat bagi anak-anak seumuranku sudah kental di kepala. Sosialisme-Komunisme, Anarkisme, sampai Kapitalisme dan Zionisme. Maka tak aral lagi, saat SMP dengan sadar aku sudah memproklamirkan diri sebagai seorang <em>atheis</em>.<span id="more-2525"></span></p>
<p>Keputusan inilah yang dikemudian hari sering membuat aku dan orangtua terutama bapakku terlibat dalam adu mulut, bahkan pertengkaran fisik. Sesuatu yang mungkin nggak pernah terbayangkan oleh teman sekalian. Saat itu, yang terpikir olehku memang seperti membenturkan batu dengan batu, api dengan api. Maka sering kali bapakku &#8216;menantangku&#8217; untuk pergi dari rumah.</p>
<p>Tapi itu nggak pernah jadi. Prestasiku di sekolah dan di masyarakat selalu bisa mengurungkan niat mereka. Saat SD, NEM dan nilai akhirku terbesar se-Kabupaten. Saat SMP, aku lulus dengan predikat lulusan terbaik se-kecamatan dan urutan 2 se-Kabupaten. Belum lagi masyarakat di RWku menggelari &#8220;Pak Sekretaris&#8221; karena menjadi sekretaris RW yang sering jadi wakil RW untuk rapat di Kelurahan. Ya, itulah aku. Bagus di luar, tapi bobrok di dalam.</p>
<p><strong>Anarki tulen</strong></p>
<p>Pemikiran-pemikiran bejad yang bercokol di kepala memang sangat mempengaruhiku. Apalagi ide kontroversialnya Bakunin. Saat SMA aku sering kena skorsing dari sekolah karena menentang kebijakan sekolah ditambah lagi dengan cara-cara dan propaganda-propaganda yang mengesalkan mereka. Bahkan, beberapa kali aku terlibat pertengkaran mulut dengan Kepala Sekolah, wakilnya di urusan kesiswaan, guru PPKN dan Agama. Termasuk juga sekali menghajar guru Sosiologi. Ya Tuhan, bejad sekali aku. Sebuah aksiku yang mungkin masih dikenang warga SMAku adalah saat aku menggembok gerbang sekolah, menyiramkannya dengan darah anjing di sekelilingnya dan memprovokasi para siswa untuk berdemo menolak kenaikan SPP.</p>
<p>Itu baru sebagian. Yang terjadi di sekolah, juga terjadi di masyarakatku. Seperti biasa, di masyarakatku juga ada 3 golongan. Orang-orang alim, awam dan tentu saja, orang-orang bejad. Saat itu aku sangat dekat dengan mereka semua. Tapi sedikit, aku lebih dekat dengan orang-orang bejad terutama yang sebaya. Dari sekadar nongkrong-nongkrong, begadang sambil nyanyi-nyanyi di pinggir jalan, sampai ikut berjudi, meminum minuman keras dan pakai narkoba. Itu semua benar-benar kemauanku dan tanpa ajakan apalagi paksaan dari orang lain. Itu semua juga bukan sekadar membebek pada tren, tapi benar-benar berakar dari akalku yang rusak parah.</p>
<p>Saat SMA, aku dua kali masuk penjara. Sekali karena mabok dan terjaring operasi petugas, dan sekali lagi karena karena terlibat tawuran dengan sebuah STM di Cianjur. Padahal Cianjur itu jauhnya bukan main. Tapi tetap saja, aku masih bisa eksis di sekolah karena prestasiku yang terpengaruh dengan segala kebejadanku.</p>
<p><strong>Bertemu dengan Islam dan berjuang untuk Kaffah</strong></p>
<p>Saat liburan kenaikan kelas 3 SMA, aku berkesempatan mengikuti sebuah <em>holiday camp</em>. di sebuah universitas di Jerman atas sponsor perusahaan tempatku bekerja. 5 orang yang besertaku dari Indonesia. Tampang mereka pun imut-imut dan &#8216;alim-alim&#8217;. 180 derajat berbeda denganku. Aku tambah menertawakan mereka. Saat aku belajar dengan serius, sibuk berkeliling perpustakaan dan silau dengan kelengkapannya, serta mengunjungi tempat-tempat <em>cool</em> kaya&#8217; museum Karl Marx, Karl May dll, mereka cuma belajar, main-main, mencoba kebruntungan menggaet cewek bule. Aku jadi berpikir, <em>&#8220;apa mereka datang ke sini cuma untuk main? Bodoh banget!&#8221;</em></p>
<p>Perbedaan itulah yang agaknya menarik perhatian seorang peserta <em>camp</em>. lokal. Ternyata dia seorang muslim, lho. Jujur, walaupun aku saat itu sangat tidak setuju dengan isi batok kepalanya, aku sangat mengaguminya, <em>&#8220;Dia memiliki sebuah bangunan pemikiran yang tak pernah kubayangkan. Bangunan konkrit sebuah ideologi Islam.&#8221;</em> Namanya Sayful. Di satu sesi hari libur, dia menantangku untuk ikut ke sebuah auditorium masjid di belahan Utara Jerman. Aku menerima tantangannya. Dan s<em>ubhanallah</em>, sebuah auditorium yang penuh dengan &#8216;pemuda-pemuda berjenggot&#8217; dan &#8216;pemudi-pemudi yang di mumi&#8217;. Setelah acara itu selesai, aku diperkenalkan dengan beberapa orang. Aku ingat, &#8216;Ammar Zalloum salah satunya.</p>
<p>Hampir 4 jam aku berdiskusi dengan orang-orang itu. Soal Islam, pemikiran-pemikiran, dan kehidupan. Fair aku mengatakan, <em>&#8220;Ini adalah sesuatu yang baru, tapi lama. Ini sesuatu komprehensif, tapi logis! Aku akan mempelajarinya.&#8221;</em></p>
<p>Tiga minggu pun berlalu. Aku kembali ke negeri ini dengan beberapa hadiah buku dari mereka. Aku mempelajari buku itu perlahan-lahan. Tapi lama-lama aku boring juga. Aku pun kembali ke masa laluku. Berjuang dengan ide dan cara lama. Hingga aku lulus SMA, aku terus seperti dulu. Bejad, bejad, dan bejad.</p>
<p>Mei tahun 2000, aku melihat sebuah flyer. Ada sesuatu yang menarik dari flyer itu yang membuat aku ingat pada perkataan temanku di Jerman sana. <em>&#8220;aku juga punya teman di Indonesia. Mereka orang-orang Islam yang memegang bendera hitam dan putih bertuliskan syhadat. Hanya syahadat.&#8221; </em>Saat itu aku berniat untuk hadir di acara yang ditunjukkan pada flyer tersebut. Tapi saat itu bulan Mei, bung! Bulan ujian. Aku tak jadi berangkat.</p>
<p>Sebuah pukulan keras menrpaku. Aku tidak lulus UMPTN! Padahal sebelumnya aku sudah menolak undangan SPMB dari sebuah universitas negeri. Beberapa saat aku <em>down</em>. Tapi itu nggak lama. Akhirnya aku berpikir untuk ikut kursus 1 tahun sambil menunggu UMPTN tahun depan. Di tempat kursus itulah aku bertemu lagi dengan bendera hitam-putih bersyahadat. Aku pun mencari orang yang bisa membawaku pada &#8216;bendera&#8217; itu dan akhirnya usahaku berhasil. Lewat beberapa kali kesempatan diskusi akhirnya aku pun memutuskan untuk intensif belajar Islam. Dari nol besar! Karena saat itu aku nggak kenal huruf hijaiyah. Aktifitas ini pun berlanjut terus hingga beberapa waktu yang lalu, kemudian terputus, dan sekarang baru mau mulai lagi.</p>
<p>Saat aku intensif belajar Islam, aku pikir hidupku akan berubah total. Tapi salah besar. Ujian hidup pun silih berganti datang dan menggoyang komitmenku. Ditambah lagi dengan goyahnya hubungan di antara teman-teman pengajian, dan organisasi yang kuikuti. Emosiku memuncak, semua orang kucerca habis-habisan. Tak peduli itu teman, guru ngajiku, atau orangtua sendiri. Aku sangat panik dan benar kehilangan kontrol. Apalagi ditambah dengan rasa kesendirian tanpa teman. Aku langsung jadi manusia bangkrut.</p>
<p>Ujian itu terus saja terjadi seolah tak ada akhir. Namun dalam sebuah perenungan aku menemukan bahwa semuanya kembali padaku. Allah tengah mengujiku dan mengingatkanku atas kesalahan dan dosa-dosaku dulu. Aku pun beristighfar seraya memohon ampun padaNya. Setelah itu, aku pun mulai mendekati teman-teman, guru-guruku dan semua orang yang kukenal untuk meminta maaf. Ternyata mereka semua orang baik. Mereka tidak hanya memaafkanku, tapi men<em>support</em>ku dengan berbagai cara. Kini, masalah yang kuhadapi memang belum selesai. Tapi aku tak mau seperti dulu, aku tak mau kehilangan apa yang telah? kuraih. Sesuatu yang benar tanpa ada yang benar selainnya. Ujian ini pun membesarkan hatiku. Masih banyak orang yang lebih menderita dariku. Kini ku ingin bangkit. Meskipun aku sedang sulit, aku tak akan membiarkan orang lain tenggelam kesulitannya seorang diri. Dan andaikan satu hari aku bangkit, aku tak akan sendirian dengan anggur di tangan. <em>Life and death together coz we&#8217;re one body&#8230; with Islam coz Islam is the only solution&#8230;</em></p>
<p>Kini, terima kasih semua&#8230; <strong>[seperti dituturkan seorang ikhwan pada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Maret 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenanganku Tentang Jilbab</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kenanganku-tentang-jilbab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kenanganku-tentang-jilbab#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 18:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2522</guid>
		<description><![CDATA[Aku pernah sangat benci kepada para akhwat? yang sok alim, sok suci dan mengenakan jilbab. Tapi, lambat laun aku malah rindu untuk mengenakannya. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana untuk becerita. Yang pasti aku akan berbagi kisah menemukan jalanku yang sekarang. Aku lulus SMU tahun 2002 dan kulanjutkan ke D-1 komputer (di bawah naungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku pernah sangat benci kepada para akhwat? yang sok alim, sok suci dan mengenakan jilbab. Tapi, lambat laun aku malah rindu untuk mengenakannya.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Aku tidak tahu harus memulainya dari mana untuk becerita. Yang pasti aku akan berbagi kisah menemukan jalanku yang sekarang. Aku lulus SMU tahun 2002 dan kulanjutkan ke D-1 komputer (di bawah naungan Fak. MIPA salah satu kampus negeri) karena SPMB nggak lulus. Di kos baru (sekitar 40 orang) aku kenalan ama temen-teman baru. Temen-teman kosku termasuk anak-anak yang suka <em>have fun.</em> Jadi nggak berapa lama aku sedikit demi sedikit ketularan pula. Satu semester aku habiskan dengan senang-senang dan punya banyak temen cowok. Maklum, waktu itu aku orang yang gampang akrab ama siapa saja. Meski begitu studi tetap jalan dan IP-ku lumayan tinggi.<span id="more-2522"></span></p>
<p><strong>Jadi provokator anti-ngaji</strong></p>
<p>Di saat itulah aku nggak sengaja ketemu akhwat, sebut aja Mbak Afi, yang kebetulan udah aku kenal sepintas pas berkunjung ke kontrakan temen SMU-ku, sebut saja namanya Nani. Dia ama-sama MaBa (mahasiswa baru). Mulanya Nani bilang kalo di kontrakannya dia tertekan karena &#8216;dipaksa&#8217; ikut kajian sama mbak-mbak jilbaber. Demi mendengar itu aku datang ingin tahu gimana kontrakan para jilbaber, kok berani kayak gitu. Aku sarankan untuk tidak nurut kalo diajak ngaji en pesan untuk nggak mudah percayai mereka.</p>
<p>Begitu pula pas Nani en sesama MaBa di sana disuruh pake jilbab. Kubilang nggak usah nurut karena saat itu bagiku pake jilbab itu aneh, adanya cuma di Arab sana. Ngapain ikut-ikutan. Lagian nggak &#8216;mbois&#8217;, kayak ibu hamil. Seketika temen-temen di sana mengamini ucapanku. Sejak itu aku sering ke sana demi mendukung mereka supaya nggak terpengaruh. Puncaknya pas ada pesantren? yang diadain LDK kampusku. Nani dan teman-temannya yang &#8216;dipaksa&#8217; ikut melapor ke aku. Akhirnya kusarankan untuk kabur beberapa hari dan salah seorang kuajak nginep di kos salah satu temen di universitas lain. Aku &#8216;menyelamatkan&#8217; teman-teman dari ajakan mbak-mbak itu.</p>
<p><strong>Titik balik</strong></p>
<p>Akhir semester pertama aku kesandung masalah perasaan. Entah karena aku yang gede rasa atau apa, rasa itu tumbuh bermula dari pertemanan. Walhasil pas dia tiba-tiba menghilang dan nggak mau komunikasi, keadaan ini yang bikin aku <em>down</em> beberapa bulan. Nggak ada semangat karena aku nggak ngerti kenapa dia pergi.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian aku ketemu Mbak Afi lagi di wartel. Iseng kusapa dan godain. Dari sanalah aku diajak main ke kosnya. Di sana pula aku diajak diskusi seputar remaja, mengenai naluri dan kebutuhan jasmani dan gimana pemenuhannya. Salah satunya naluri suka lawan jenis seperti kasus yang menimpaku.</p>
<p>Sejak itu aku mulai terpengaruh pemikirannya terutama masalah politik, sampe dipinjami beberapa majalah yang khusus bahas politik Islam. Bahasan seputar keadaan umat Islam di negara lain yang sedang dianiaya, kewajiban dakwah, dan penegakan hukum-hukum Islam lainnya sempat bikin pusing. Aku musti nagapain? Semakin kubaca makin aku geram karena ternyata umat Islam menghadapi masalah besar. Dunia yang kukira sempit ternyata luas dan aku tampak kecil. Pusing itu aku bawa pulang sambil bawa beberapa majalah itu. Kali aja aku bisa <em>fresh</em>. Mbak Afi nggak tahu kalo aku pusing.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian muncul keinginan untuk ngaji ama Mbak Afi. Aku ingin tahu lebih jauh tentang Islam. Anehnya aku jadi getol cari kajian di kampus. Aku selalu lihat papan pengumuman tiap kali kuliah. Jelas nggak ada karena pada UAS trus libur. Nani en <em>friends</em> yang dulunya sempat kucegah ikut kajian, jadi heran dengan perubahanku. Biarin aja, &#8220;Emang gue pikirin?&#8221;</p>
<p><strong>Awalnya jilbab kubenci, tapi akhirnya kucintai</strong></p>
<p>Aku aku sering ikutan kajiannya mbak-mbak dan kenal banyak akhwat. Tapi pas materi jilbab, jujur, aku belum terima. Aku tetap pake jins, kemeja panjang kecil, plus kudung gaul. PD aja, pikirku waktu itu. Bagiku, aku akan pake kalo udah bener-bener mantep. Bukan karena nyenengin hatinya mbak-mbak itu. Tapi kajian tetep jalan terus.</p>
<p>Suatu ketika, aku ingin coba pake rok yang dulu sempat ingin kupake kuliah tapi tersimpan rapi di lemari. Kukeluarkan dan kucoba pake kuliah. Awalnya grogi juga. Apalagi pas ketemu mbak kosku di jalan ngeledekin begini, &#8220;Hei, preman kok pake rok?&#8221;. Langsung aja aku ngibrit, malu diliatin orang. Maklum di kosan aku dijuluki preman karena tomboy dan suka bikin ribut. Sejak itu anak di kosku heran lihat aku bisa pake rok meski pas jalan masih kelihatan gaya cowoknya. Sampe-sampe ada yang ngajari aku jalan ala cewek.</p>
<p>Kelar D-1, aku ikutan SPMB. Kali ini aku dah kepincut ama akhwat di sana dan ide yang mereka bawa. Akhirnya kuputuskan memilih kampus yang sama saat aku kuliah D-1. Aku pindah kos ama gengku dari kos lama. Kos baru yang kutempati ternyata tempat ujian kami semua. Mbak kos baru orangnya sekuler dan dikatator abis, doyan dugem, pacaran, en tiap hari rajin muter <em>house music</em> plus jejeritan. Kadang suka marah kalo nggak sesuai keinginannya. Kita anak baru diem aja, sungkan soalnya mereka lebih tua. Aku mulai rajin ikut halaqoh. Aku juga gabung ama LDF (Lembaga Dakwah Fakultas). Makin banyak yang kutahu, makin renggang pula aku ama gengku karena sudah beda pemikiran. Mereka lebih nyaman dengan kebebasannya daripada &#8216;terkekang&#8217; aturan Islam.</p>
<p>Di penghujung tahun saat wisuda temenku yang lain universitas, aku datang demi memberikan ucapan selamat atas wisudanya. Sebelumnya aku sudah cerita tentang aktivitasku dan rencanaku mengenakan jilbab (sampe saat itu aku masih belum pake jilbab, cuma rencana). Tapi dia menentang habis karena jilbab mengekang kebebasan wanita.</p>
<p>Kupikir akan dapat dukungan, tapi nggak. Di wisudanya itu, saat pertama bertemu muka yang dia tanyakan adalah jilbabku. &#8220;Mana, katanya pake?!&#8221; Deg, nggak nyangka jika itu jadi awal percakapan kami, apalagi di depan umum. Aku belum sempat ucapkan selamat, tapi dia sudah menyodokku dengan pertanyaan itu. Bagai disambar petir di siang bolong, aku kaget gelagapan kayak orang ?nggak pake baju sambil melongo.</p>
<p>Setelah sadar kualihkan pembicaraan, memberikan ucapan selamat. Aku terpukul dan malu. Setelah itu, tanpa basa-basi aku ijin pulang dengan perasaan terheran-heran. Malamnya aku renungkan kejadian itu dan kupikir itu mungkin teguran Allah agar aku segera pake jilbab. Sejak itu kubulatkan tekad untuk mengenakan busana muslimah lengkap (jilbab dan kerudungnya) dengan dukungan teman terdekatku yang menemani dari awal sampe hari ini untuk tetap lurus di jalanNya dan hijrah ke kos lain. Sayangnya, kontrakan Nani dkk bubar karena kontrak abis dan mereka tetep &#8216;jahiliyah&#8217;. <em>Astaghfirullahal&#8217;adzim.</em> <strong>[Seperti yang ditulis Larahati di Kota M untuk SoDa]</strong></p>
<p><em>[Pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Februari 2006]<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kenanganku-tentang-jilbab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepercik Embun Hidayah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sepercik-embun-hidayah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sepercik-embun-hidayah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 22:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2417</guid>
		<description><![CDATA[Rasa penasaran dan kecewaku terhadap ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim. Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih menjadi muslim Dulu aku adalah seorang penganut Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini. Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Rasa penasaran dan kecewaku terhadap ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim. Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih menjadi muslim </em></strong></p>
<p>Dulu aku adalah seorang penganut Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini. Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang biasa kulihat dan itu aku coba untuk memandang agamaku sendiri dari sisi yang agak berbeda dari yang lain, atau mungkin lebih tepatnya dari sisi yang tak pernah kulihat sebelumnya.</p>
<p>Keluargaku adalah sebuah keluarga yang sangat menekankan kondisi atau lingkungan yang sangat beragama, terutama ibu. Agama yang kuanut juga sebenarnya bukan karena aku memilih, namun karena aku dari kecil sudah diarahkan untuk mengenal satu agama saja. Yaitu Kristen Katolik.<span id="more-2417"></span></p>
<p>Karena itu aku pada tahap sekolah dasar aku ditempatkan pada sekolah Nasrani. Sampai aku lulus SD aku selalu dicekoki dan hanya biasa menerima pelajaran tentang Kristen Katolik saja. Enam tahun aku harus terbiasa menelan dan terus menerus mengenyam materi yang belum sempat aku bertanya dan belum sempat aku pahami. Selama itu pula aku hanya bisa menjadi seorang yang hanya biasa mendengar dan menghapal tentang apa yang diberi oleh pengajar, dan? aku tidak diperkenankan untuk bertanya tentang agamaku sendiri.</p>
<p>Menurut pengajar sekolahku , bahwa tak ada agama yang lebih baik dari agamaku itu. Aku hanya mulai berfikir: &#8220;Apakah benar bahwa tak ada agama yang lebih baik dari ini! Sedangkan aku bertanya tentang agamku sendiri saja tidak boleh?&#8221;</p>
<p><strong>Terjawab rasa penasaranku</strong></p>
<p>Ketika aku lulus SD, aku didaftarkan ibuku ditempat yang sama untuk melanjutkan ke jenjang lanjutan tingkat prertamaku. Aku hanya bisa diam dan menurut, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati: &#8220;Apakah aku harus menjadi pendengar setia selama tiga tahun lagi?&#8221;</p>
<p>Tapi mungkin alam berkehendak lain, aku tidak diterima. Entah harus bersikap bagaimana, ibuku sangat sedih, tapi yang pasti hatiku sangat senang dan gembira. Aku akhirnya didaftarkan di salah satu sekolah umum dan kali ini aku diterima. Tapi aku agak bingung bagaimana aku harus bersikap, karena selama ini aku hanya berkomunikasi dengan teman yang beragama sama denganku. Tapi yang pasti aku bahagia karena aku tidak lagi menjadi pendengar yang tak bisa untuk bertanya.</p>
<p>Ada satu hal yang menurutku sangat ganjil. Mereka teman-temanku yang berbeda agama denganku, terutama yang muslim sama sekali bersikap di luar dugaanku. Sikap mereka sama sekali berbeda dengan apa yang dikatakan oleh pengajar di sekolah dasarku dulu. Mereka tidak bersikap apatis dan sangat menerimaku apa adanya dan seringkali mengajakku dalam berbagai kegiatan. Terutama pada saat pelajaran Agama Islam, memang pertama tama aku keluar dan bermain di lapangan, namun lama kelamaan aku bosan dan akhirnya mengikuti pelajaran itu. Dan lagi-lagi satu hal yang sangat mengejutkan, mereka mengatakan agama mereka, agama Islam &#8220;Rahmatan</p>
<p>lil &#8216;alamin. Ramat bagi seluruh alam&#8221;</p>
<p>Semula aku bingung dengan makna kata itu namun lama kelamaan aku mengerti, kerena teman-temanku yang muslim tidak pernah membuat keributan dan lebih sering ceria ataupun bersenda gurau saja dan itu membuat suasana menjadi ceria. Dan yang paling membuatku salut dengan agama yang mereka anut adalah &#8220;Bagimu agamamu dan bagiku agamaku&#8230;&#8221; dan itulah satu satunya hal yang belum pernah kudengar dari agamaku. Ini merupakan suatu bukti bahwa mereka tak pernah memaksa orang lain untuk masuk agama mereka dan mereka sangat menghargai agama lain. Dan sayangnya agamaku tidak demikian.</p>
<p><strong>Menjadi muslim</strong></p>
<p>Waktu terus bergulir dan seiring dengan itu keinginanku untuk masuk agama Islam semakin kuat, apalagi ayahku kini seorang muslim. Tapi aku belum berani, karena masih menghormati dan memandang ibuku. Dan itu adalah salah satunya penghalangku untuk masuk dalam agama Islam secara kaffah.</p>
<p>Baru pada saat aku kelas 1 SMA aku berani dan bertekad untuk masuk Islam. Kenapa?</p>
<p>Karena aku memandang diriku sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Aku masuk Islam dengan dibantu bimbingan guru pengajar agama Islam.</p>
<p>Selang beberapa waktu ibuku mengetahui keIslamanku, dan aku memandang itu adalah sesuatu hal yang wajar karena aku sudah dewasa. Tapi rupanya tidak bagi ibuku. Ibuku datang ke sekolah dan memarahi kepala sekolahku dan menuduh guru agamaku sudah menghasutku untuk</p>
<p>masuk dalam Islam. Aku disuruh untuk kembali murtad.</p>
<p>Aku merasa masalah ini terlalu berat dan sangat kompleks. Aku menangis. Tapi aku sadar bahwa aku berada di lingkungan yang sangat Islami dan teman-teman yang mau mengerti aku. Kini akhirnya aku tetap berada dalam keIslamanku, aku mulai belajar mengkaji Islam lebih dalam, ternyata Islam tidak hanya sholat, puasa, ngaji, zakat, dan haji. Tapi Islam adalah <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em>, Islam mengatur semua kehidupan aspek manusia, mulai dari sistem pergaulan, perekonomian, pendidikan, budaya, politik, negara, hingga hal yang tak pernah ada dalam</p>
<p>agamaku yang dulu.</p>
<p>Teman-teman doakan aku agar tetap dalam jalanNya, kuatkan semangat kalian terhadap Islam, terus berjuang hingga hidup mulia di bawah naungan Islam atau mati sebagai syuhada yang mempertahankan agamaNya. Dan aku tak akan melepas Dien suci ini walau apapun yang terjadi nanti karena ini adalah hidayah Allah terbesar bagiku.</p>
<p>Detik jam terus berganti seiring dengan berputarnya sang mentari, tetesan embun pagi seolah sejukkan hatiku dari hitam dan kelamnya duniaku.</p>
<p>&#8220;Ahh&#8230;&#8230;&#8221; aku mendesah panjang. Dan kini aku coba untuk berani menatap di sekelilingku dan mencoba mengerti mengapa aku ada di sini, untuk apa aku disini, dan akan kemana aku pergi. Kini aku bersyukur memandang sekelilingku, teman yang tak terhitung, lingkungan yang juga menatapku dan menganggapku ada di dunia ini, serta sebuah Dien yang kini tertancap kukuh di sanubariku.</p>
<p style="text-align: left;">Walaupun kutahu itu belum lama dan mungkin hanya sebatas tunas, tapi bukankah sebesar besarnya pohon dia akan melalui masa di mana ia menjadi tunas. Allah, akhirnya aku bisa menyebut namaMu <strong>[seperti yang ditulis Hamed al-Rasyid untuk SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Oktober 2005]</em><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sepercik-embun-hidayah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Aku, Ayah, dan Masa Laluku&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/antara-aku-ayah-dan-masa-laluku-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/antara-aku-ayah-dan-masa-laluku-2#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 00:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2414</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kecil, aku nggak pernah merasa dekat dengan orangtua, terutama ayahku. Aku nggak pernah tahu kesibukan beliau apa saja selain tentunya menjadi seorang perwira menengah di Angkatan Darat. Aku lebih sering bergaul dengan anak-anak sebayaku di luar rumah ketimbang membetahkan diri untuk diam di dalam rumah. Saat aku duduk di bangku SD, tepatnya di kelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sejak kecil, aku nggak pernah merasa dekat dengan orangtua, terutama ayahku. Aku nggak pernah tahu kesibukan beliau apa saja selain tentunya menjadi seorang perwira menengah di Angkatan Darat. Aku lebih sering bergaul dengan anak-anak sebayaku di luar rumah ketimbang membetahkan diri untuk diam di dalam rumah.</em></strong></p>
<p>Saat aku duduk di bangku SD, tepatnya di kelas 4 sebuah SD di bilangan Jakarta Pusat, orangtuaku mendadak sering bertengkar. Aku nggak paham. Pikirku saat itu, &#8220;Ah, kebiasaan orang dewasa&#8221;. Pertengkaran itu terus berlanjut, bahkan membesar. Hingga aku kelas 6 SD, aku nggak peduli. Sampai di satu? saat, setelah aku dan ayah jalan-jalan ke Taman Puring (satu kawasan belanja di Jakarta Selatan-red.), ayah mengajakku mampir ke sebuah rumah yang ?aku nggak tahu pemiliknya. Setelah kami masuk, barulah aku tahu siapa pemiliknya. Ayah memperkenalkannya sebagai Tante Mira. Masa bodoh aku saat itu.</p>
<p>Waktu terus berlalu, sementara kecekcokan antara kedua orangtuaku tak ada habisnya. Sedikit-sedikit, aku mulai ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. setelah mengorek informasi dari ibu, kakak-kakak, dan keluarga lainnya, aku baru tahu kalau ayah punya istri simpanan. Ya, Tante Mira! Tak bisa lagi terlukiskan kegeramanku saat itu. Ingin rasanya mendatangi rumah si Tante centil itu dan menghajarnya habis-habisan. Tapi sayang, waktu yang berlalu telah menenggelamkan ingatan itu, jauh ke dasar otakku.<span id="more-2414"></span></p>
<p>Aku cuma ingat, saat aku main-main dengan kawan SMP (saat itu aku kelas 3 SMP), aku melihat ayah, seorang wanita dan seorang anak perempuan kecil sedang makan di sebuah restoran <em>fastfood</em> di Kelapa Gading. Aku tahan dalam-dalam amarah itu, hingga saat kami berkumpul di rumah, tak terbayang lagi apa yang terjadi saat itu. Kudatangi ayah dengan nada tinggi, menanyakan siapa wanita yang kulihat bersamanya tadi siang, juga anak perempuan kecilnya. Ayah mengelak. Bahkan ayah menciumku dengan sendalnya. Mulai saat itulah aku makin jauh dengan rumah. Hari-hari kuhabiskan di jalanan daerah Pocol-Pasar Senen-Tanah Tinggi, Jakarta Pusat bersama kawan-kawan jalananku.</p>
<p>Hingga saat itu, aku hanya berpikir kalau ayahku itu hobi selingkuh. Tapi ternyata anggapanku salah. Saat aku duduk di kursi SMA, ibu membocorkan rahasia kalau ayah memang hobi mengkoleksi wanita. Bahkan kata ibu, ibu sendiri nggak tahu persis berapa jumlah resmi istri-istrinya, dan berapa jumlah &#8220;selir&#8221;nya. Aku nggak begitu percaya hingga aku kroscek ke beberapa orang lainnya, barulah aku percaya. Bahkan kalau aku hitung, &#8220;istri-istri&#8221; ayahku sekitar 9 orang.</p>
<p><strong>Besar di jalan</strong></p>
<p>Sejak kecil, perangaiku memang keras. Itulah yang menjadi bekalku untuk hidup di jalan. Sebenarnya aku nggak <em>all out </em>jadi anak jalanan sampai aku lulus kuliah. Aku masih butuh uang. Jadi, aku masih baik-baikan sama ortu. Sebenarnya aku sekolah pun hanya formalitas saja. Aku sering bolos, mabuk di kelas, berkelahi dengan sesama siswa bakan dengan guru. Termasuk kejahatan-kejahatan cetek yang &#8220;biasa&#8221; dikerjakan anak sekolah sekarang. Dan jujur saja, aku lebih suka menyogok guru-guruku untuk naik kelas ketimbang harus belajar. <em>But</em> <em>after school</em>, aku hampir nggak pernah pulang ke rumah! Hidup di jalan, menikmati gelap, redup, dan cerahnya dunia dan larut di dalamnya.</p>
<p>Hidup di jalan pun nggak membuat aku jadi lebih baik. Jalanan justru membawaku beberapa kali menginap di tahanan polisi. Bahkan dua kali masuk ke LP Cipinang dengan berbagai macam kasus yang berbeda. Dari mulai narkoba, premanisme, hingga pembunuhan.</p>
<p>Waktu aku pertama kali dijebloskan ke penjara Cipinang, ayah masih mau menolongku. Satu kali bahkan ia merelakan kesempatannya untuk naik pangkat demi mengeluarkanku. Tapi sayang, untung tak bisa didapat, malang tak bisa dicegah. Aku kembali ke jalan, dan &#8220;berpakaian&#8221; seperti sebelumnya. Saat itulah orangtuaku mulai acuh denganku. Dan aku pun sama dengan orangtuaku, aku mulai membenci mereka, terutama ayah. Bahkan satu perkataan ayah yang paling membuatku kesal saat itu, <em>&#8220;Gue udah ngelahirin lo, gue juga udah masukin lo sekolah ama pengajian biar lo pinter, sekarang gue tinggal nunggu kapan lo nikah dan kapan lo mati. Kalo lo masuk penjara lagi, itu sih masa bodo!&#8221;</em> kesal rasanya saat itu, bahkan hampir saja kutebas leher ayah dengan sebilah clurit. Untung saja ada ibu yang melerai.</p>
<p>Sampai akhirnya aku mendekam dua tahun 8 bulan di Cipinang akibat membunuh seorang preman, ayah nggak pernah menjengukku. Inilah salahsatunya yang membuatku akhirnya nggak peduli pada ayah. Selepas dari LP pun aku nggak langsung menginjakkan kaki ke rumah. Aku ke jalan, terus di jalan, bahkan cari makan di jalan. Kerja apa saja. Dari ngamen, tukang parkir, sampai pernah juga jadi kuli harian percetakan.</p>
<p><strong>Menyingkir dari Jakarta</strong></p>
<p>Dua tahun selepas dari LP, aku mulai bosan tinggal di Ibukota. Aku pun pindah ke sebuah daerah di pinggiran Jakarta (masuk wilayah Kabupaten Bogor, sih). Aku di sana bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi pabrik. Biasa, jadi kuli lagi! Tapi aku cuek saja. Nggak peduli kalau aku seorang sarjana teknik sipil. Di tempat baru ini, hobi burukku kayak mabuk, judi, tetap nggak hilang. Hingga satu ketika, aku kehabisan uang. Kondisiku pun super parah. Sakaw abis, ketagihan judi, pokoknya <em>ancur, deh</em>!</p>
<p>Saat itu aku kepikir nyari uang (lagi-lagi) dengan cara yang tidak baik. Aku berniat merampok sebuah toko milik pak haji, tetangga dan bapak kosku sendiri. Pikiranku sudah sangat kacau waktu itu. Dengan nekat, aku pun melancarkan aksiku bertiga bareng kawan-kawan <em>error</em>-ku. Saat itulah Allah menolongku. Saat aksiku berlangsung, kami kepergok polisi dan nggak bisa kabur. Sekali lagi, aku masuk tahanan polisi. Tapi Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Saat itu, Pak haji, yang jadi korban, nggak mau memperluas masalah. Dia mengerti keadaanku waktu itu, dan memilih menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan.</p>
<p>Peristiwa itu, dan kebaikan hati Pak haji telah membukakan hatiku dan jadi titik tolak perubahan dalam hidupku. Aku pun mulai bertekad untuk tidak mengulangi segala kebejatanku dan aku pun tak akan sudi jika anak-anakku kelak meniru kelakuan bejat bapak dan kakeknya. Pak haji bukan cuma memafkanku. Setelah kejadian itu, beliau justru mempercayakan sebuah usahanya untuk kukelola, dan memberikan tempat tinggal gratis buatku.</p>
<p>Sobat, masa laluku biarlah berlalu. Kini, aku hanya ingin memperbaiki hidupku dengan Islam yang k?ffah dan menjadi muslim yang sebenarnya. Aku sekarang mulai lagi berkenalan dengan Islam dengan mengaji. Kuharap, cukup aku saja yang merasakan kelamnya masa lalu itu. <strong>[seperti yang diceritakan supri pada munir]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Juni 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/antara-aku-ayah-dan-masa-laluku-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemiskinan Selalu Membelitku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kemiskinan-selalu-membelitku-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kemiskinan-selalu-membelitku-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 23:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2411</guid>
		<description><![CDATA[Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua kakakku perempuan dan adikku laki-laki. Hidup dengan kondisi miskin dan serba kekurangan memang bukan pilihan hidup yang enak bagi kami sekeluarga. Tapi, itulah kondisi yang kami hadapi dari dulu. Kemiskinan selalu dekat dengan kami, apalagi setelah bapak yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, meninggalkan kami untuk selama-lamanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku anak ketiga dari empat bersaudara. </em><em>Kedua kakakku perempuan dan adikku laki-laki. Hidup dengan kondisi miskin dan serba kekurangan memang bukan pilihan hidup yang enak bagi kami sekeluarga. Tapi, itulah kondisi yang kami hadapi dari dulu. </em></strong></p>
<p>Kemiskinan selalu dekat dengan kami, apalagi setelah bapak yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Bapak terserang <em>stroke</em> sampai akhirnya meninggal dengan tanggungan hutang cukup besar bagi kami. Itu wajar, mengingat biaya perawatan bapak ditanggung dari hutang? juga kebutuhan sehari-hari kami selama bapak sakit.</p>
<p>Setelah bapak pergi, cobaan seolah-olah datang silih berganti. Jangankan hutang untuk biaya perawatan bapak yang sampai kini belum terbayar (walau hampir 5 tahun berlalu), untuk bisa makan sehari-haripun rasanya menjadi barang mewah bagi kami. Hari ini makan, besok&#8230; entahlah dari mana kami bisa mendapatkannya.<span id="more-2411"></span></p>
<p>Meninggalnya bapak membuat kami harus memutar otak. Berpikir keras guna bertahan hidup, melanjutkan sisa umur yang ditakdirkan Allah untuk kami sekeluarga. Ibu yang selama ini menjadi ibu rumah tangga akhirnya harus bekerja mencari nafkah dengan mencuci baju tetangga dibantu kakak keduaku dengan honor tak seberapa, sedangkan kakak pertamaku yang menjadi sandaran utama nafkah keluarga berusaha dengan mengajar TPA dan menawarkan jasa les privat.</p>
<p><strong>Ancaman dari adik</strong></p>
<p>Sebenarnya sudah banyak upaya yang kami tempuh, berjuang menghadapi kerasnya hidup ini.? Berjualan sayuran segar pernah menjadi pilihan kami sebagai upaya datangnya rejeki Allah. Namun akhirnya tidak kami lanjutkan karena risiko terlalu besar, sayuran cepat layu sehingga tidak laku jual.? Sempat juga berjualan jajanan anak-anak mengingat banyak anak kecil di sekitar rumah. Permen, snack, mainan anak-anak menjadi bagian dagangan kami. Kembali usaha ini gagal, jajanan lebih banyak dimakan adikku daripada terjual. Bukan untung yang kami dapat, tapi buntung. Tawaran modal dari teman baik untuk membuka usaha juga pernah kami dapatkan. Namun modal ini pun akhirnya nggak bisa dipakai untuk usaha karena terpakai untuk isi perut, mencukupi kebutuhan sehari-hari.</p>
<p>Kondisi fisik rumah juga nggak bisa dibilang layak huni. Mungkin lebih tepat disebut gubuk yang kami huni sebagian berdindingkan batu bata, sebagian lagi anyaman bambu. Di dalam rumah kami juga tidak sepenuhnya merasa terlindungi, tikus dengan mudah keluar masuk dari dinding rumah yang sudah berlubang. Hujan turun, kilat menyambar lebih mengkhawatirkan kami sekeluarga. Mengungsi ke tetangga sebelah menjadi pilihan kami, karena khawatir rumah roboh.</p>
<p>Adik laki-lakiku yang seharusnya bisa menjadi tulang punggung keluarga juga tidak bisa diharapkan, bahkan menjadi ancaman bagi kami. Sewaktu kecil adikku pernah mengalami kejang hebat dan ternyata ada efeknya sampai sekarang walau sudah berumur 18 tahun. Aku nggak tahu apa yang terjadi. Kata seorang temen, ada bagian syaraf adikku yang kurang berfungsi dengan baik. Yang jelas dia agak berbeda dengan teman-teman seusianya. Saudaraku lebih suka bermain dengan anak berusia 5 tahun dibanding dengan sebayanya.</p>
<p>Kalau punya keinginan harus dituruti. Kalau tidak&#8230;jadi ancaman bagi kami sekeluarga. Memukul, mengancam, gedor-gedor pintu, membanting apa saja perabotan di rumah, dan sederet aksi lainnya yang akhirnya membuat kami harus memenuhi keinginannya dan nggak bisa ditunda-tunda lagi. Nggak ada yang bisa menghentikan ulahnya, termasuk ibuku, karena kami berempat semuanya perempuan. Terus terang, kami merasa jauh lebih aman ketika adikku lagi main di luar rumah daripada berada di rumah.</p>
<p>Sebagai keluarga miskin kami merasa terkucil dari lingkungan masyarakat maupun keluarga besar. Aku pikir&#8230; mungkin ini efek hidup di zaman kapitalis. Ada uang kami disayang, nggak ada uang kami dibuang. Kami merasa hidup terpisah dari hingar bingarnya kehidupan kota. Terseok-seok, tertatih-tatih menghadapi hidup yang berat diantara sekumpulan manusia yang bisa tersenyum sambil menikmati berbagai makanan ala resto, jjs ke mall dan kenikmatan hidup lainnya. Keluarga besar juga tidak bisa kami harapkan bantuannya. Mereka seolah buta, tuli, terhadap penderitaan kami.? Nggak ada uluran tangan yang bisa kami harapkan dari keluarga besar.? Bahkan mereka selalu berusaha menekan kami agar segera melunasi hutang-hutang untuk biaya berobat? almarhum bapak. Sempat terpikir olehku <em>&#8220;</em><em>Seandainya aku meninggal dalam kecelakaan, mengkin aku bisa membantu meringankan beban keluarga dari uang jasa raharja&#8221; </em>Yah&#8230; itu pikiran konyol digaris batas kesabaranku menghadapi hidup yang berat.<em> </em></p>
<p><strong>Aku sakit</strong></p>
<p>Penderitaan ini terasa tiada akhir. Sakit yang kualami seakan melengkapi beban penderitaan yang harus kami tanggung sendiri. Aku lupa sejak kapan rasa sakit ini singgah didiriku. Kata dokter, aku sakit kelenjar getah bening dan entah apa lagi yang aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas aku sering merasa pusing berat. Obat-obatan yang biasa dijual di warung tak sanggup mengusir? rasa pusing ini<em>.</em></p>
<p>Aku nggak tahu lagi bagaimana harus mengobatinya. Untuk berobat terlalu muluk bagiku. Jangankan berobat, mencukupi kebutuhan makan saja bagaikan<em> &#8220;</em>puasa senin kamis&#8221;. Aku nggak tahu, penyakit apa yang bercokol dalam tubuhku ini. Aku ngerasa nggak bisa bekerja karena sering capek. Badanku cepat lelah, lemas, terasa mau pingsan.</p>
<p>Tapi, aku masih bersyukur punya keluarga yang baik. Karena sakitku ini, untuk pekerjaan di rumah diselesaikan kakak dan ibuku. Aku tidak perlu mencuci baju, setrika dan masak, semua sudah dikerjakan kakak dan ibu. Merekalah yang membuatku masih bisa bertahan, tertatih-tatih menghadapi hidup yang berat.</p>
<p>Lantunan doa tiada pernah pupus kami sekeluarga panjatkan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Ya Allah kami bersyukur, walaupun kami miskin tapi kami tidak miskin iman. Itu sumber kekuatan kami. Alhamdulillah, kami sekeluarga termasuk pengemban dakwah Islam. Mengaji, mendakwahkan Islam kepada masyarakat adalah pekerjaan berat namun terpuji. Tapi kami yakin, kalau kami menolong agama Allah, Allah lah yang akan menolong dan melindungi kami.</p>
<p>Semoga kami bisa bertahan dengan menjadikan dalwah Islam sebagai bagian dari kehidupan kami. Semoga Engkau jadikan kami orang-orang mulia yang selalu mengagungkan asma-Mu, selalu taat kepada perintah-Mu dan jauh dari keputusasaan. <strong>[seperti yang dituturkan Rifa kepada <em>Sobat Muda</em>]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Mei 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kemiskinan-selalu-membelitku-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyaris Kugadaikan Akidahku&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nyaris-kugadaikan-akidahku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nyaris-kugadaikan-akidahku#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 22:33:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2407</guid>
		<description><![CDATA[Aku dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Jangankan sholat, kecintaanku kepada Rasulullah saja, tak pernah terlintas. Sejak TK hingga SMP, aku belajar di sekolah non Islam. Alasan orangtuaku, karena sekolah ini paling bagus model pendidikannya. Memang cukup bagus, tapi ternyata kami yang muslim pun diwajibkan mengikuti program agama mereka. Anak-anak muslim seusiaku mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong><em>Aku dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Jangankan sholat, kecintaanku kepada Rasulullah saja, tak pernah terlintas. Sejak TK hingga SMP, aku belajar di sekolah non Islam. Alasan orangtuaku, karena sekolah ini paling bagus model pendidikannya. Memang cukup bagus, tapi ternyata kami yang muslim pun diwajibkan mengikuti program agama mereka.</em></strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Anak-anak muslim seusiaku mungkin sudah mengenal nama-nama Nabi, nama-nama Sahabat Rasul, sholat itu wajib, <em>amar ma&#8217;ruf nahi munkar</em> kudu dilaksanakan. Tapi tidak denganku, untuk mengenal angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab saja aku tidak tahu.</p>
<p dir="ltr">Aku lebih terbiasa dengan doa-doa yang mereka pakai ketika memulai pelajaran dan pulang sekolah. Aku juga lebih terbiasa dengan lagu-lagu kerohanian yang diajarkan guru agama Kristen. Penjiwaanku terhadap lagu-lagu kerohanian mereka, lebih kental dibandingkan penjiwaanku ketika membaca al-Quran. Itupun baru kupelajari setelah kedua orang tuaku menyediakan pengajar dari luar.<span id="more-2407"></span></p>
<p dir="ltr">Di antara keluargaku hanya aku yang bisa untuk men<em>tadaruss</em>i al-Quran. Ayah, Ibu, dan kelima saudara kandungku tidak bisa diharapkan. Terlebih lagi dalam urusan sholat dan puasa. Akupun termasuk orang yang lalai dalam menjalankan sholat. Kalau ada sesuatu yang kuinginkan baru aku sholat. Tetapi setelah keinginanku sudah tercapai aku kembali enggan untuk melaksanakannya.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Wajib ke gereja</strong></p>
<p dir="ltr">Kami juga harus mengikuti aturan sekolah. Tak peduli agama mereka apa. Mereka diwajibkan mempraktekkan ajaran agama Nasrani. Misalnya saja, ketika para murid sedang menghadapi ujian EBTA, Pra EBTA dan EBTANAS, saat itu juga para murid diwajibkan berdoa. Pelaksanaannya harus dilakukan bersama-sama ke gereja. Harapannya tentu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.</p>
<p dir="ltr">Sanksi bagi yang tidak melaksanakan harus berlari mengelilingi lapangan bola <em>volley</em> sebanyak 10 kali. Bagiku sih nggak masalah untuk lari sebanyak itu karena semua orang tahu kalau aku bisa untuk melakukannya. Jangankan di dalam sekolah, di luar sekolah pun aku pernah mengalahkan semua teman seangkatanku, yang tentunya jarak di luar sekolah lebih panjang dibanding di dalam sekolah. Tapi yang tak kumengerti mengapa akhirnya aku ikut juga untuk berdoa bersama ke gereja.</p>
<p dir="ltr">Kulangkahkan kakiku ke jalan lorong menuju gereja, sementara itu perasaanku tidak menentu seperti ada yang ingin mengatakan sesuatu kepadaku tentang kehadiranku di gereja. Entahlah aku merasa bimbang untuk mengambil sikap. Sesampainnya di depan pintu gereja, aku mengamati gerak-gerik setiap orang yang masuk ke gereja. Gerakan tangan itu tidaklah aneh bagiku, gerakan tangan membentuk tanda salib. Dimulai dari sentuhan ke dahi kemudian ke dada, dilanjutkan kepundak kiri dan berakhir ke pundak kanan. Itu dilakukan setelah tangan mereka dicelupkan kedalam air suci yang sudah disediakan di sebelah kanan pintu gereja.</p>
<p dir="ltr">Di dalam sana sudah tersedia kursi dan meja yang memanjang tapi kursi itu bukan untuk diduduki tapi dipergunakan untuk menyanggah lutut. Meja itu dipakai utnuk meletakkan tangan yang kemudian dikepalkan. Kepala menunduk, kemudian dilanjutkkan dengan gerakan tangan membentuk salib lagi. Gerah, risih yang kurasakan saat itu. Di sini tempat ibadah mereka bukan tempatku, gumamku. Ya Allah bagaimana nasib teman-temanku yang seagama denganku?</p>
<p dir="ltr">Aku tak pernah berpikir apakah akidahku akan terkikis atau tidak. Mungkin ini semua dikarenakan aku tumbuh dalam lingkungan yang tak islami. Peringatan hari besar agama mereka selalu kurayakan bersama. Telur ayam yang sudah direbus juga turut menyertai maraknya hari paskah. Semua murid ambil bagian dalam menghiasi telur-telur itu.</p>
<p dir="ltr">Acara tukar kado antar lawan jenis juga ikut memeriahkan hari paskah. Begitu juga yang kulakukan setiap hari Natal tiba. Tanpa pernah tahu agamaku melarangnya atau sebaliknya. Itu pula yang kemudian membuatku hadir dalam program pembenahan diri yang diadakan sekolah. Acara <em>Ret Ret</em> namanya. Semacam acara sanlat dalam Islam.</p>
<p dir="ltr">Acaranya dijadwal hanya seminggu. Semua materi dikemas sesuai dengan misi mereka. Mulai dari isi materi, diskusi kelompok dan bentuk permainan. Tak ketinggalan doa-doa merekapun turut menyertai pula. Setiap kali aku berada di tempat ibadah mereka, mendengarkan suguhan ceramah atau mendengarkan lagu kerohanian mereka, hatiku selalu berontak, jiwaku gamang. Saat itu yang ada dalam benakku, aku adalah orang Islam kenapa aku harus berada di sini?</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Menjemput Hidayah</strong></p>
<p dir="ltr">Di kota hujan, pertama kukenal Islam yang sesungguhnya. Di Kota Bogor ini memberikan warna tersendiri bagi kehidupanku. Di sinilah? aku memulai segalanya saat aku sekolah di sebuah SMU. Tak pernah terlintas dalam benak, kalau akhirnya aku menjadi seorang muslimah sejati.</p>
<p dir="ltr">Awalnya aku ikut-ikutan mentoring yang diselenggarakan kakak kelas, daripada bengong dan nggak ada kerjaan, pikirku. Namun langkah yang kuambil ternyata membawakan hasil yang tidak pernah terpikir olehku. Sholat lima waktu tak pernah kutinggalkan, juga tadarus al-Quran. Dulu aku jarang melakukannya. Bahkan kerudung dan jilbab yang dulunya aku anggap sebagai pakaian karung yang merusak penampilan, sekarang menghiasi hari-hariku. Kini Belajar, ngaji dan dakwah mengisi kesibukanku. Kekosongan jiwaku terisi dengan kedamaian dan ketenangan.</p>
<p dir="ltr">Kepada saudara-saudaraku, terjerumus ke dalam jurang bukanlah keinginan setiap manusia. Begitu juga dengan aku dalam kisahku ini. Bagi saudara-saudaraku yang pernah mengalami perjalanan hidup sepertiku, cobalah untuk sadar dari sekarang. Berkat hidayah Allah yang lebih dulu menyapaku, aku berubah menjadi muslimah sejati. Berusahalah lebih keras agar hidayah Allah segera menghampirimu.</p>
<p dir="ltr">Kepada para orang tua yang menyayangi anak-anaknya, menyekolahkan anak bermodalkan disiplin yang tinggi dengan fasilitas sekolah yang memadai, tapi akidah terbengkalai, apakah itu rasa sayang orang tua terhadap anak-anaknya atau sebuah kehancuran yang diharapkan? <strong>[seperti yang diceritakan Afrasana kepada Solihin]</strong></p>
<p dir="ltr">
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nyaris-kugadaikan-akidahku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Negeri Kapitalis, Kutanggalkan Ideologi Sosialisku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/di-negeri-kapitalis-kutanggalkan-ideologi-sosialisku-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/di-negeri-kapitalis-kutanggalkan-ideologi-sosialisku-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 23:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2405</guid>
		<description><![CDATA[Aku tak pernah menyangkal, bahkan aku tak bisa mengelak dari kenyataan hidupku. Aku memang cucu seorang kumunis, tapi aku bukan sampah! Awal perkenalanku dengan ide Sosialisme dimulai ketika aku menerima ejekan dan hinaan orang pada keluargaku. Aku tak mengerti, mengapa mereka selalu mengejek? Apa yang salah dari kami? Memang kakekku eks anggota PKI, tapi apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku tak pernah menyangkal, bahkan aku tak bisa mengelak dari kenyataan hidupku. Aku memang cucu seorang kumunis, tapi aku bukan sampah!</em></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Awal perkenalanku dengan ide Sosialisme dimulai ketika aku menerima ejekan dan hinaan orang pada keluargaku. Aku tak mengerti, mengapa mereka selalu mengejek? Apa yang salah dari kami? Memang kakekku eks anggota PKI, tapi apa hubungannya dengan kami? Mengapa kami jadi warga negara kelas dua? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menggangguku.</p>
<p>Kebencian dan kenyataan pahit yang kami hadapi, membuatku mulai tegar. Aku penasaran, apa sih yang membuat orang-orang benci pada PKI? Meskipun kakekku masih di tempat pengasingannya di Nusakambangan, tapi nenek masih setia merawat barang-barang kakek, termasuk buku-bukunya. Buku-buku itulah yang mulai mendekatkanku pada Marx, Engels, hingga Rosa Luxemburg. Dari Che Guevara, Lenin, Trotsky, hingga Bakunin. Hmm.. aku mulai tahu, ternyata yang orang-orang benci itu adalah sesuatu yang luar biasa!<span id="more-2405"></span></p>
<p>Keakrabanku dengan buku-buku &#8216;warisan&#8217; itu semakin nyata, bahkan menggila. Hingga pada suatu hari ketika aku duduk di bangku SMP, guru PMP? memergokiku saat membaca <em>The History of the Russian Revolution vol. </em>3 karya Trotsky. Aku dan seorang kawan yang sekarang menjadi kru majalah ini pun pernah kena operasi. Berbeda dengan siswa-siswi yang lain yang terjaring operasi karena roknya yang kependekan, tidak pakai ikat pinggang, ketahuan bawa rokok di tasnya, dan lain-lain, aku dan temanku itu kena operasi karena di tasku ada sebuah artikel yang sengaja kami buat untuk mading, yang berjudul &#8220;Pancasila, Ideologi Plagiator!&#8221;.</p>
<p><strong>Pergi ke Inggris</strong></p>
<p>Pertengahan tahun 2000, ayahku yang mengabdi di World Bank &#8216;menyeretku&#8217; untuk melanjutkan sekolah di sebuah universitas di Inggris. Aku jelas menolak. Karena aku tahu, niat ayahku mengirimku ke negeri super-kapitalis tersebut adalah untuk memisahkanku dengan pemikiranku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ketergantunganku pada orang tua sulit untuk dihilangkan saat itu. Namun aku juga tak tahan melihat tetes demi tetes air mata yang mengalir di pipi ibuku saat aku dan ayah saling menghujat.</p>
<p>Awal September, akhirnya aku berangkat juga ke negerinya <em>Lady Di</em>. Satu bulan aku tinggal di sana, kebencianku pada Kapitalisme makin memuncak. Aku menyaksikan para pemuda yang dibina dalam kebersamaan di bawah naungan hedonisme, permisif dan serba boleh. Bahkan seorang wanita pelajar asal Indonesia, yang saat itu jadi pacarku pun ikut menikmati pesta kebobrokan itu. Rasa marah, kesal dan gelisah atas fakta yang kulihat memenuhi pikiranku. Berbagai buku kiri yang sempat kubawa, yang kini memenuhi setiap sudut kamar aku buka.</p>
<p>Hatiku milai gelisah. Aku harus mencari jawaban atas gundahku. Sambil ku buka buku-buku itu, aku berpikir&#8230;berpikir dan terus berpikir. Tapi sayang, buku-buku itu tak bisa menjawabnya. Demikian juga dengan orang-orang kiri <em>underground </em>di Inggris. Mereka cuma bungkam, dan geleng kepala. Sampai akhirnya, aku teringat sebuah kalimat yang meluncur dari bibir mantan <em>partner</em>ku di saat-saat akhir diskusi di Blok-M. <em>&#8220;Gue bakal tunggu, sampai kapan lo bakal bertahan dengan ego lo? Dan gue juga bakal tunggu, kapan lo bakal buka al-Quran?&#8221;</em></p>
<p><strong>Back to Islam</strong></p>
<p>Sepulang dari kampus, kulangkahkan kakiku menuju sebuah <em>Islamic Centre </em>di London. Bukan untuk sholat atau mengaji, karena aku nggak bisa. Kupinjam sebuah terjemah al-Quran. Setelah beberapa ayat kubaca, aku justru tambah bingung. Aku tak pernah menemui sebuah buku yang begitu sulit untuk dipahami, tapi dengan al-Quran, aku menyerah. Dalam keadaan terpojok dan aku harus menemukan jawaban, akhirnya kucoba mengontak mantan <em>partner</em>ku via SLI. Setelah kuutarakan masalahku, dia malah tertawa sambil berkata, <em>&#8220;bingung lo sama ama gue dulu!&#8221;</em> dia juga menyuruhku untuk menemui seorang ustadz yang bernama Dr. Imran Waheed di London yang dikemudian hari kuketahui bahwa dia adalah seorang juru bicara sebuah partai politik Islam internasional.</p>
<p>Kucoba untuk mencari orang itu. Tapi sayang, aku tidak tahu di mana harus mencarinya. Sampai akhirnya di Oktober 2003, aku membaca sebuah famplet sebuah konfrensi Islam yang bertema, <em>British or Muslim</em>, yang di situ tercantum nama Imran Waheed. Dan benar saja, saat aku menemuinya di acara tersebut, dia sangat ramah. Bahkan setelah aku mengutarakan maksudku, dia begitu fokus mendengarkannya dan memberiku kesempatan untuk berbicara dengannya lebih luas beberapa hari kemudian.</p>
<p><em>Subh?nallah</em>, kata itu meluncur spontan setelah aku berdiskusi dengan Imran waheed. Aku tak menyangka, Islam yang selama ini kupahami sebagai candu karena posisinya yang sama dengan agama lain, ternyata lebih hebat. Bahkan, di &#8216;tangan&#8217; Imran Waheed pula aku menyerah. Argumentasi yang aku bangun dan kuutarakan, semuanya mentah. Bahkan argumentasinya bukan argumentasi murahan ustadz-ustadz dan pemikir Islam di Indonesia yang pernah kutemui. Aku pusing. Kini, setelah argumentasiku terbantahkan, aku tinggal dihadapkan pada dua buah pilihan yang harus kupilih, mengakui Allah, <em>Muhammad as His messenger</em> dan Islam atau kafir, surga atau neraka, mati terhormat atau jadi keparat. Dan aku, bukanlah orang yang mentahbiskan kebenaran di atas pendapatku sendiri. Aku kini menyerah kalah di hadapan Islam dan argumentasi yang dibangun di atasnya, dan kini aku siap untuk berpaling pada Islam.</p>
<p>November 2003, aku menyatakan keislamanku dengan membuang jauh-jauh sifat kiriku. Dan kini, memohon pada Allah untuk menjagaku dan mengistiqomahkanku dijalan-Nya. Aku bertaubat pada-Mu ya Allah. Ya Allah, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat, begitu banyak kaum muslim di Inggris yang merengek dihadapan kapitalisme. Ya Allah, lewat televisi aku juga melihat pemandangan serupa di berbagai negeri termasuk di Indonesia. Ya Allah, sampai kapan umat Muhammad ini akan seperti ini? Bantu kami ya Allah untuk menegakkan kembali syariat-Mu, dan mengembalikan negara yang Engkau ridhai. Daulah Khilafah al-Islamiyyah. Tanpa-Mu, kami tak bisa apa-apa, dan tanpa-Mu, kami bukan siapa-siapa. Engkaulah yang Maha, Engkaulah Pemilik kekuatan. Sadarkan saudara-saudaraku ya Allah. Kuatkan kami ya Allah, untuk bangun, berdiri, dan istiqamah di Jalan-Mu.. <strong>[seperti yang diceritakan Richard Iskandar dalam e-mailnya pada Moenir]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi November 2004]<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/di-negeri-kapitalis-kutanggalkan-ideologi-sosialisku-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maafkan Aku Anakku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/maafkan-aku-anakku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/maafkan-aku-anakku#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 03:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2354</guid>
		<description><![CDATA[Anak adalah suatu anugerah yang diberikan Allah sebagai titipan yang harus kita jaga. Seandainya aku mengetahuinya dari dulu, mungkin kepergiannya tidak akan secepat ini. Tapi siapa yang tahu rahasia Allah, Dia telah mengaturnya. Semoga aku teribrahkan dari cobaan ini. Setiap ibu pasti mendambakan seorang anak. Menurutku hal ini sudah menjadi sunatullah yang diberikan kepada seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Anak adalah suatu anugerah yang diberikan Allah sebagai titipan yang harus kita jaga. Seandainya aku mengetahuinya dari dulu, mungkin kepergiannya tidak akan secepat ini. Tapi siapa yang tahu rahasia Allah, Dia telah mengaturnya. Semoga aku teribrahkan dari cobaan ini.</em></strong></p>
<p>Setiap ibu pasti mendambakan seorang anak. Menurutku hal ini sudah menjadi sunatullah yang diberikan kepada seorang wanita. Apa yang kuinginkan akhirnya terkabul juga. Setelah aku menikah, Allah menganugerahkan kami seorang anak perempuan yang lucu, mungil, dan imut. Aku sangat gembira sekali karena kehadirannya memang menjadi penantian kami siang dan malam. Kami memberi namanya Indah.</p>
<p>Seperti ibu yang lain, aku mulai merawat bayi kecilku. Setiap hari aku sibuk menyusui dan menggendongnya. Tingkahnya yang lucu menggoda anganku untuk berkhayal tentang masa depan si mungil.</p>
<p>Walaupun pendidikan agamaku kurang, tetapi aku menginginkan anakku kelak besar nanti menjadi anak yang baik dan soleh. Ya, memang sudah menjadi standarisasi keinginan setiap orang tua menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya.<span id="more-2354"></span></p>
<p>Haripun berlalu mengiringi tumbuhnya si mungil. Cobaan mulai datang menghujani rumah tangga yang kami bina. Pas saat krismon dan musim PHK, suamiku termasuk orang yang terkena imbasnya. Aku mulai mengeluh dan si kecil perlahan aku abaikan. Seringkali aku lampiaskan kekesalan kepada putri kecilku. Sehingga tangisnya sering terdengar, bahkan tidak sedikit diantara kerabatku yang merasa kasihan melihat Indah menangis.</p>
<p>Beberapa saudaraku memberanikan diri untuk menegurku agar tidak keras terhadap putriku. Walaupun sudah aku coba, tetapi perasaan kesal terhadap anakku tetap saja muncul. Aku akui memang waktu itu aku kosong dari ilmu mendidik anak yang pernah dicontohkan Rasulullah. Aku tau Islam hanya masalah shalat, zakat, puasa, selebihnya aku sama dengan yang lain, terpasung sekulerisme.</p>
<p><strong>Normal Kembali</strong></p>
<p>Setelah beberapa waktu seiring dengan terbiasanya hidup dalam kondisi yang masih krisis, aku coba untuk menenangkan diri. Aku mulai mendengarkan saran-saran keluarga-keluarga dekatku untuk bersikap tenang dan tabah menghadapi kenyataan hidup ini. Aku mulai belajar lebih banyak tentang ilmu-ilmu Islam walaupun kupikir itu masih sangat jauh bagiku untuk bisa mengatasi masalah hidupku. Suamiku mulai kerja kembali walaupun tidak sebagus yang dulu. Beberapa saat aku merasa hidupku normal kembali hingga anak keduaku lahir.</p>
<p><strong>Kesal Itu Kembali</strong></p>
<p>Setelah Indah punya adik, rasa sayang yang harusnya aku bagi dua entah kenapa lebih aku curahkan pada anakku yang kedua. Malas rasanya, aku untuk memperhatikan putri pertamaku.</p>
<p>Indah semakin besar. Umur 3 tahun ia sering menangis. Bukan karena jatuh atau karena diejek oleh temannya, tetapi karena aku suka memarahinya bahkan terkadang memukulnya. Kadang Indah terliindungi ketika ada suamiku. Teganya diriku, bahkan orang yang mengetahui sikapku menganggap aku punya kelainan jiwa. Tapi bagiku itu bukan masalah, yang penting aku bisa puas! <em>Naudzubillah.</em></p>
<p>Indah mulai masuk SD. Walaupun aku kesal, tapi keinginanku yang dulu sempat muncul di benakku untuk menjadikan dia anak yang soleh tetap ada. Maka, selain ke SD Indah kumasukkan juga ke TPA. Entah ada dorongan yang kuat dari dalam diriku untuk memasukkannya ke TPA.</p>
<p>Saat menginjak kelas 3 SD, anak ketigaku lahir. Kasih sayang yang kuberikan tidak beralih pada putra keduaku dan aku tambah untuk putra ketigaku. Tapi entah kenapa, untuk putri pertamaku, kasih sayang itu enggan muncul. Padahal harapan yang ingin aku capai ternyata perlahan Allah kabulkan. Walaupun masih kecil, tetapi pengetahuan agamanya sangat jauh di banding aku. Ia tumbuh menjadi gadis cantik dan pintar.</p>
<p><strong>Hari Kelabu</strong></p>
<p>Walaupun putriku hormat dan nurut kepada perintah orangtua, bahkan jika kuperintahkan apa saja, ia pasti melakukannya. Beberapa kali sempat aku mengerjainya. Aku menyuruhnya membeli suatu bumbu dapur ke warung. Biar masih kecil, Indah tidak mau lepas dari yang namanya kerudung. Maka setiap keluar rumah, ia pasti merapihkan diri dulu untuk menjaga auratnya, baru kemudian ia berangkat ke warung. Setelah tiba di rumah, ia melepaskan kerudungnya. Baru beberapa saat ia beristirahat, aku menyuruhya kembali ke warung untuk membeli bumbu dapur yang lain. Iapun berbenah kembali mengenakan kerudungnya. Hal itu aku lakukan beberapa kali, tetapi tidak sedikitpun nampak rasa kesal di raut wajahnya. Ia tetap sabar dan senang menuruti perintahku.Entah darimana sikap seperti itu ia dapatkan, tapi aku berfikir dan punya perasaan kalo semua itu ia dapatkan dari pendidikan di TPA-nya. Akupun mulai simpatik dan ingin mempelajari agama juga. selain karena aku ingin bisa hidup tenang, akupun ingin mencari solusi tentang jalan hidupku.</p>
<p>Perlahan aku mulai mempelajari Islam dan sedikit demi sedikit aku mulai tersentuh. Walaupun aku sudah mulai bisa bersikap bijak, tetapi dalam merawat dan membimbing anak aku akui masih jauh dari yang semestinya dilakukan.</p>
<p>Hingga suatu hari, saat Indah duduk di kelas 6 SD, ia jatuh sakit. Sempat beberapa kali ia muntah. Aku malah memarahinya, bahkan dalam kondisi dia yang sakit, aku malah menyuruhnya membersihkan bekas muntah dirinya. Mungkin karena takut, Indah &#8216;nggak mau cerita perihal sakitnya. Aku pun tidak sigap untuk segera membawanya ke rumah sakit. Kupikir hanya sakit yang biasa dialami semacam demam atau masuk angin.</p>
<p>Tiga hari kemudian, ketika aku sedang membuat kue, Indah ikut membantuku. Sebenarnya aku sudah melihat kondisinya sangat lemah setelah ia sakit tiga hari yang lalu. Mukanya pucat dan badannya dingin. Lalu aku tanya tentang sakitnya, Indah hanya tersenyum dan mengatakan &#8220;enggak koq, enggak apa-apa&#8221;. Aku agak tenang mendengarnya.</p>
<p>Namun, beberapa saat bagai kilat menyambar tanpa hujan, Indah terjatuh dari duduknya tanpa sebab. Aku panik dan segera memanggil suamiku. Lalu kami membawa Indah ke sebuah rumah sakit dan kami mendengar kabar Indah telah meninggalkan kami untuk selamanya. <em>Innalillahi&#8230;</em></p>
<p>Aku menyesal sekali, karena aku merasa telah banyak melakukan kesalahan terhadap dirinya. Kini aku merasakan bahwa sesuatu yang kita miliki akan kita ketahui setelah kita kehilangan. Sungguh, aku mendapat pelajaran yang berarti dari takdir Allah ini. Kini aku akan menjaga sisa titipannya dengan memberikan pendidikan yang terbaik buat kedua putraku, adik-adiknya Indah. Aku berharap, semoga besar nanti mereka menjadi anak yang sholeh. [Seperti yang diceritakan Ibu Lia kepada Eftur]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "kisahku", Majalah PERMATA, edisi Februari 2004</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/maafkan-aku-anakku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Narkoba Sahabatku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/narkoba-sahabatku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/narkoba-sahabatku#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 01:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2317</guid>
		<description><![CDATA[Waspadalah dengan pergaulan. Itulah nasihat yang aku abaikan. Karena itu pula aku menjadi seorang junkies. Bersahabat dengan narkoba Persahabatanku yang luas dengan berbagai kalangan, membawaku menerjuni kehidupan malam bertemankan minuman keras. Bahkan aku merasa hal itu sebagai rutinitas keseharianku. Semakin lama aku merasakan kesenangan hidup yang sungguh luar biasa. Hingga akhirnya pergaulanku semakin luas sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Waspadalah dengan pergaulan. Itulah nasihat yang aku abaikan. Karena itu pula aku menjadi seorang junkies. Bersahabat dengan narkoba</strong></em></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="left">Persahabatanku yang luas dengan berbagai kalangan, membawaku menerjuni kehidupan malam bertemankan minuman keras. Bahkan aku merasa hal itu sebagai rutinitas keseharianku. Semakin lama aku merasakan kesenangan hidup yang sungguh luar biasa. Hingga akhirnya pergaulanku semakin luas sampai akhirnya aku bertemu dengan teman-teman yang lain.</p>
<p dir="ltr" align="left">Pada suatu malam ada teman nongkrong yang datang dengan membawa beberapa pil yang berwarna pink yang aku sendiri belum pernah melihatnya. Dia menawarkannya untuku dan teman-teman. Dengan senang hati kami menerimanya termasuk aku. Sebenarnya muncul dalam diriku perasaan takut untuk mengkonsumsinya, akan tetapi karena dorongan teman-temanku hingga muncul perasaan &#8220;tak ada alasan untuk berkata tidak&#8221;.</p>
<p dir="ltr">Lima belas menit setelah memasukkan Pil tersebut barulah terasa reaksi hebat dalam diriku. Perasaan yang belum pernah aku rasakan selama ini. Aku seakan-akan masuk ke dalam kehidupan yang penuh gairah, semangat dan penuh keberanian. Hingga aku memiliki kesimpulan bahwa Lexotan lebih dasyat dan lebih menyenangkan daripada minuman keras. Setelah peristiwa itu aku perlahan meninggalkan aktivitas minum-minuman keras dan beralih mengkonsumsi pil pil sejenis lexotan dan ekstasi.<span id="more-2317"></span></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Makin lupa diri</strong></p>
<p dir="ltr">Pada suatu hari ketika hendak berangkat ke sekolah aku bertemu dengan teman yang bisa mabuk bareng. Ia memberiku 2 pil. Tanpa pikir panjang akupun langsung menenggaknya. Dan akhirnya bolos sekolah adalah pilihan terbaikku agar tidak dimarahi guru.</p>
<p dir="ltr">Malah ketika bolos itu aku jalan sesukanya bareng temanku itu. Sampai akhirnya muncul niat jahat ketika kami melihat seekor burung merpati. Eh, ketika dikejar, ia masuk pekarangan rumah seseorang.</p>
<p dir="ltr">Anehnya, muncul niat jahat lainnya, yakni ingin mencuri di rumah tersebut. Yang terpikir dalam benakku adalah bagaimana bisa mendapatkan uang hingga aku bisa memiliki pil pil ajaib tersebut. kami berhasil mengacak-acak isi rumah dan akhirnya aku mendapatkan sebuah dompet dengan berisikan uang di bawah kasur.</p>
<p dir="ltr">Setelah mendapatkan hasil kami keluar dengan tampang tanpa berdosa. Akan tetapi nasib sial menimpa kami hingga kami ketahuan telah mengacak-acak dan mencuri hingga akhirnya kami harus mendekam di sel yang sempit dan gelap di Polsek Kasihan. Di saat teman teman sibuk ujian di Sekolah, kami terkurung di ruangan tersebut. Setelah 4 hari akhirnya aku dan temanku di bebaskan dengan syarat tetap harus wajib apel di lapangan selama 3 bulan.</p>
<p dir="ltr">Ternyata kejadian itu bukannya menjadikan aku menjadi jera, tetapi justru menjadi semakin berani untuk berpetualang hingga akhirnya aku menemukan teman-teman pengguna Mariyuana (ganja).</p>
<p dir="ltr">Aku memberanikan diri untuk menghisap ganja karena dorongan dari teman teman. Pertama kali menghisap muncul perasaan bingung, tetapi karena terbiasa akhirnya aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya larut dalam lamunan-lamunan semu dibawah pengaruh ganja. Setiap ada hal yang baru, aku langsung praktikkan, hingga aku memberanikan diri untuk memakan Masrum (jamur Tletong-dari kotoran sapi)). Ketika otakku di kendalikan oleh jamur tletong itu adalah puncak ketakutan dalam hidupku.</p>
<p dir="ltr">Bagaimana tidak? Aku seperti hidup sendirian di dunia ini, dan ketika melihat orang yang lalu lalang pun yang aku lihat seperti melihat hantu. 5 Jam di bawah sadar karena mengkonsumsi masrum seakan akan terasa berhari-hari. Perasaan takut mulai menyergap. Bayang-bayang malaikat maut seakan datang menyapa. Siap mengantarkan aku kepada sang Rabb dengan penuh kebencian. Saking takutnya hingga muncul dalam benakku &#8220;Jangan cabut nyawaku Ya Allah&#8221;. Sebuah permintaan yang dulu tidak terbesit sedikitpun dalam hati. Sebuah permintaan yang tabu aku ucapkan ketika <em>fly</em>.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Hidayah itu datang</strong></p>
<p dir="ltr">Seiring perubahan waktu, ada semacam kerinduan terhadap sesuatu. Anehnya sesuatu itu aku sendiri tidak tahu wujudnya. Ada kerinduan yang mengalir seperti air yang mengisi relung-relung hatiku yang kosong. Bukan kerinduan kepada pil-pil setan. Tapi kerinduan kepada Tuhan!</p>
<p dir="ltr">Yaaa&#8230; aku rindu dengan Tuhanku, Allah penguasa sekalian alam. Mungkin Allah telah berkenan menyapaku dalam puncak kebosanan menghadapi kenyataan hidup yang bergelimang dosa. Akhirnya aku mulai memberanikan diri muncul di forum-forum pengajian yang ada di masjid. Walau banyak orang yang memandang sinis terhadapku. Bahkan kadang kala aku datang ke forum pengajian tersebut dalam keadaan mabuk, tidak menjadikan aku mundur untuk menyambut hidayah Allah.</p>
<p dir="ltr">Ketika Ramadhan tahun 1420 H aku mulai terbiasa dengan suasana Masjid yang sangat bertolak belakang dengan suasana yang biasa aku lalui tiap hari. Aku merasakan kehadiran teman teman yang baik dalam hidupku.</p>
<p dir="ltr">Sehabis sholat tarawih aku diajak ngobrol tentang hidup, hakikat hidup dan obrolan lain yang menjadikan aku semakin kokoh untuk terus meniti jalan kebenaran.Sedikit demi sedikit aku mulai meninggalkan aktivitas &#8220;nyimeng&#8221;, mabok, dan begadang di pinggir jalan. Kini aku mulai aktif mengikuti pengajian di masjid.</p>
<p dir="ltr">Syukur Alhamdulillah aku panjatkan, Allah berkenan memberi kesempatan kepada hambaNya untuk mengecap harumnya surga, yang tidak akan pernah tercium oleh orang-orang yang melakukan amalan seperti aku dulu.</p>
<p dir="ltr">Untuk mengisi waktu yang kosong, dan agar tidak terjerumus kembali kepada aktivitas-aktivitas maksiat, aku mulai bekerja di sebuah kerajianan bambu. Siang hari bekerja dan hampir setiap malamnya aku di masjid diskusi berbagai hal tentang kehidupan ini. Sampai akhirnya aku berpikir, untuk memantapkan keimanan, tidak cukup dengan kegiatan yang bersifat temporal saja. Harus ada kesinambungan.</p>
<p dir="ltr">Sejak itulah aku mulai serius dalam pembinaan. Aku bersyukur kepada Allah karena telah ditunjukkan jalan kebenaran. Dari tak kenal agama hingga ingin menjadi pembela agama. Bahkan demi mengikuti halaqah aku rela meninggalkan pekerjaanku yang kini mulai banyak menyita waktu hingga mengharuskan lembur.</p>
<p dir="ltr">Tetapi Allah Maha Adil, mungkin atas kesabaran dalam menghadapi ketentuanNya, aku di beri jalan hingga akhirnya aku dapat bekerja di sebuah rental komputer. Terakhir untuk teman-teman, doakan aku agar tetap istiqomah dalam ber-Islam. Janganlah pernah mencoba berpetualang seperti aku dulu. Narkoba akan merusakmu dan akan menjerumuskanmu ke dalam perbuatan yang hina. Cukuplah aku saja yang pernah merasakannya&#8230; <strong>[</strong><strong>seperti yang disampaikan </strong><strong>Heni kepada Sigit]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr">[pernah dimuat di rubrik "kisahku", majalah PERMATA edisi Maret 2004]<br />
<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/narkoba-sahabatku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Pemuas Nafsu Tante Girang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/aku-pemuas-nafsu-tante-girang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/aku-pemuas-nafsu-tante-girang#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 04:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan di Ibukota memang lengkap. Sarana pendidikan, olahraga, sampai hiburan, lengkap tersaji. Jika Moammar Emka, menulis dalam Jakarta Under Cover tentang kehidupan malam Jakarta beserta komunitas penghuninya yang menjijikkan, maka akulah salah satu anggota komunitas itu. Awal dari petualanganku di dunia gelap ibukota berawal saat aku meninggalkan kalimantan dan pindah ke Jakarta di pertengahan tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Kehidupan di Ibukota memang lengkap. Sarana pendidikan, olahraga, sampai hiburan, lengkap tersaji. Jika Moammar Emka, menulis dalam </em>Jakarta Under Cover<em> tentang kehidupan malam Jakarta beserta komunitas penghuninya yang menjijikkan, maka akulah salah satu anggota komunitas itu.</em></strong></p>
<p>Awal dari petualanganku di dunia gelap ibukota berawal saat aku meninggalkan kalimantan dan pindah ke Jakarta di pertengahan tahun 1995. Ayahku yang seorang pejabat teras pemerintah daerah kala itu mendukung niatku yang ingin menikmati pendidikan lebih layak di Jakarta. Biaya hidup dan pendidikanku, tempat tingal yang mewah, <em>Mercy A-Class</em>, semuanya dipenuhi oleh ayahku dengan harapan kelak aku akan menjadi putra daerah yang sukses.</p>
<p>Setelah tiba di Jawa, aku sengaja tidak mengikuti UMPTN untuk menghindari masuk Perguruan Tinggi Negeri. Keinginan untuk menikmati glamornya kehidupan remaja ibukota sepenuhnya, telah mendorongku untuk masuk ke sebuah universitas swasta ternama di Jakarta. Dan benar saja, dengan dukungan tampang dan harta yang lumayan, dalam waktu singkat aku bisa menikmati kehidupan glamor Jakarta. Wanita cantik dan seksi, tinggal aku pilih. Klub-klub malam, diskotik, pub, caf?-caf? elegan di Jakarta menjadi rumah singgahku menghabiskan malam. Jika di Jakarta ada 1000 tempat mesum yang elegan dan bukan ecek-ecek, maka aku tahu 999 nya.<span id="more-2308"></span></p>
<p><strong>Dunia gelapku</strong></p>
<p>Setelah lama berpetualang di dunia gelap, aku dan teman-teman tertantang untuk menikmati sisi lain dunia itu yang katanya bukan hanya nikmat, tapi juga membawa keuntungan yang lumayan. Pilihanku tidak lain adalah menjadi gigolo. Mungkin orang menganggap aktifitas yang aku lakukan itu untuk mengeruk materi. Benar juga, sih. Karena untuk praktek <em>short time</em> saja, aku membandrol diri minimal Rp. 250 ribu untuk sekali kencan. Tapi itu bukan alasan utamaku mengingat kucuran dana dari orangtuaku sudah sangat lebih dari cukup. Yaa, <em>have fun</em> dan cari pengalaman saja, pikirku saat itu.</p>
<p>Setiap malam, aku habiskan untuk melayani para tante girang. Bahkan, sempat salah seorang pelangganku rela menelpon di saat aku sedang kuliah hanya demi memuaskan nafsu bejatnya. Dari mereka pula aku mendengarkan berbagai macam kisah pilu yang mereka alami. Menikah di usia muda akibat salah pergaulan, menikah hanya karena godaan harta, bahkan ada juga yang sempat digagahi oleh ayah kandungnya sendiri. Di satu kesempatan, aku sempat melayani nafsu bejat seorang tante dan anak perempuannya dalam satu sesi kencan, <em>na&#8217;udzu billahi min dz?lik</em>.</p>
<p><strong>Azab itu datang </strong></p>
<p>Hampir satu tahun aku terlibat di dunia gigolo, aku sudah bisa membeli sebuah mobil, rumah mewah, dan banyak lagi. Namun itu semua harus dibayar mahal. Satu hari, aku mendapati tubuhku kejang-kejang, flu berat, dan badan ini seolah tak bernyawa lagi. Aku lemas, dan terkulai di atas tempat tidur.</p>
<p>Hampir dua bulan aku di atas tempat tidur, tidak ada kemajuan yang aku dapati. Atas saran seorang pembantuku, akhirnya aku dibawa ke rumah sakit. Pukulan terburuk dalam kehidupanku akhirnya datang. Aku mengidap HIV! Aku tak percaya!, Alat kontrasepsi yang selalu aku kenakan, dan sangat aku percaya dapat menahan serangan virus itu ternyata palsu. Muncul dalam benakku, aku ingin mengakhiri hidup ini.</p>
<p>Bayangan orangtua di kampung sana, masa depan yang aku impi-impikan, semuanya sirna sudah. Suatu malam, aku sempat ingin mengakhiri hidup dengan menyayat nadi pergelanganku. Tapi pembantuku keburu mengetahuinya. &#8220;Istighfar. Istighfarlah, baru kena penyakit begitu saja sudah ingin bunuh diri. Tenang Mas, tenang. Allah yang mengatur hidup-mati seseorang&#8221;, begitu katanya.</p>
<p>Sempat satu kali aku bersusah payah datang ke kampus. Namun, Semua teman dekat yang sangat aku percaya pergi menjauh dariku. Mereka mengejekku, &#8220;sampah, sampah, dan racun kehidupan&#8221;. Aku menangis, tak ada lagi orang yang mau mendekatiku. Aku mencari orang pintar yang mungkin dapat menyembuhkan penyakitku ini. Entahlah, sudah berapa banyak dukun yang aku temui. Tapi tetap saja, tidak ada kemajuan. Meskipun aku terus mencari solusi, tapi aku tetap tersudut. Aku pikir, tak lama lagi aku akan mati.</p>
<p><strong>Hidayah yang datang dua kali</strong></p>
<p>Berkat anjuran pembantuku, Pak Jamil, aku mulai mencoba memaksakan diri untuk sholat. Padahal, Al Fatihah saja aku sudah lupa. Pak Jamil mulai membimbingku, sedikit demi sedikit akhirnya aku bisa sholat. Bahkan akhirnya aku bisa menangisi diri ini yang sudah sangat jauh dari jalan-Nya.</p>
<p>Namun, aku mengenal Islam hanya baru sebatas ritual saja. Pandanganku terhadap dunia mistik, dukun, paranormal, dan kyai-kyai &#8216;pintar&#8217; tetap tidak bisa hilang. Aku masih mencari seorang ahli yang bisa menyembuhkanku. Tapi tetap saja aku belum puas.</p>
<p>Di sebuah masjid di kawasan Depok, aku sempat membaca sebuah pamflet acara yang diadakan masjid tersebut. <em>&#8220;ah.., kesempatan baik siapa tahu ustadz yang menjadi pembicara nanti bisa membantu&#8221;,</em> begitu pikirku.</p>
<p>Akupun menghadirinya. Acara demi acara aku ikuti, tapi nggak ada yang nyangkut di kepalaku. Tiada Islam tanpa syari&#8217;at, Islam solusi kehidupan, <em>&#8220;ah, apa pula itu? Kejauhan dan nggak nyambung dengan kebutuhanku..&#8221;</em> Tapi demi mencari solusi bagi penyakitku, aku terus mengikuti acara itu sampai selesai. Dan alhamdulillah, di akhir acara aku berani juga mendekati dan menceritakan maksudku. Ustadz itu bisa mengerti, namun karena saatnya tidak tepat, aku tidak bisa bicara banyak. Kami pun akhirnya membuat janji untuk bertemu di suatu tempat dan meneruskan obrolan yang belum selesai.</p>
<p>Dari hasil obrolanku dengan ustadz tersebut, memang tidak ada solusi yang <em>real</em> bagi penyakitku. Tapi ada satu yang berbeda, dan itu mendasar dan selalu memancingku untuk terus berdiskusi dengannya. <em>&#8220;Janganlah kamu dekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk..&#8221;</em> ayat al-Qur&#8217;an itu selalu aku ingat dengan baik. Zina memang perbuatan yang kejam dan jalan yang buruk. Aku telah membuktikannya.</p>
<p>Dan kini, aku sudah tidak memikirkan lagi sisa umur yang aku miliki. Keinginanku untuk menikah pun telah aku kubur dalam-dalam. Yang aku pikirkan kini adalah bagaimana sisa usia yang aku miliki, dapat aku manfaatkan sebaik-baiknya.? Terus mengkaji Islam dan berbaris dalam barisan pemuda yang terus berupaya agar Islam kembali menjadi ideologi dunia dan menyatukan negeri Islam dalam naungan Khilafah Islam serta terus menyebarkan Islam dengan dakwah dan jihad. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu. [<strong>seperti yang diceritakan Ekky kepada Munir</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat pad rubrik "kisahku", Majalah PERMATA, edisi Desember 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/aku-pemuas-nafsu-tante-girang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Pemuja Hawa Nafsu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/aku-pemuja-hawa-nafsu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/aku-pemuja-hawa-nafsu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 17:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2116</guid>
		<description><![CDATA[Masa sekolah dan kuliah aku habiskan dalam genangan hawa nafsu. Minuman keras dan seks bebas adalah tarikan nafasku. Sampai akhirnya keluguan seorang pelacur muda membuka kedua mataku yang buta. Buta dari hidayah Ilahi. Keluarga yang sakinah, mawadah warahmah, begitu penilaian orang atas keadaan keluargaku. Pamanku yang seorang pimpinan pondok pesantren di sebuah daerah di kotaku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Masa sekolah dan kuliah aku habiskan dalam genangan hawa nafsu. Minuman keras dan seks bebas adalah tarikan nafasku. Sampai akhirnya keluguan seorang pelacur muda membuka kedua mataku yang buta. Buta dari hidayah Ilahi.</em></strong></p>
<p>Keluarga yang sakinah, mawadah warahmah, begitu penilaian orang atas keadaan keluargaku. Pamanku yang seorang pimpinan pondok pesantren di sebuah daerah di kotaku, keluargaku yang kebanyakan ustadz, bukan halangan bagiku untuk meraih berbagai julukan seperti <em>&#8220;Anak Setan&#8221;</em> yang diberikan oleh guru-guru di SMU atau &#8220;Si Bogor Gila&#8221; sebuah julukan yang diberikan teman-teman kost ku waktu kuliah di Bandung, karena kebiasaanku menenggak minuman keras. Aku lebih akrab dengan botol-botol laknat daripada buku-buku pelajaran sekolah. Apalagi al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Bersama <em>gank</em>-ku disekolah, aku lebih dikenal &#8220;si pembuat ulah&#8221; yang membuat pusing guru-guru yang ada. Nggak aneh. Kalo selanjutnya setiap ada <em>trouble</em>, pasti aku bersama <em>gank</em>-ku menghuni daftar pertama <em>&#8220;most wanted&#8221;</em> pihak sekolah. Pernah suatu ketika, aku datang ke sekolah? terlambat dalam keadaan sempoyongan karena mabuk berat. Demi, melihat keadaanku datang dalam keadaan mabuk berat, guru? yang sedang mengajar di kelas pun menangis dan lari. Pernah juga, karena kebiasaanku memakai baju sekolah dikeluarkan, ada seorang guru perempuan yang memakai kerudung, menegurku untuk memasukan baju sekolah. Spontan, aku langsung membuka celana di depannya, lalu aku masukan bajuku. Guru itu langsung menangis, karena tindakan kurang ajarku. Sampai teman-teman pun menganggap aku ini sudah gila.<span id="more-2116"></span></p>
<p>Walaupun demikian. Aku orang yang cukup disegani oleh guru-guru, terutama bidang eksak juga teman-teman yang <em>top ranking</em> di sekolah. Karena dalam urusan pelajaran prestasiku tidak kalah dengan mereka. Bahkan tidak jarang juara kelasnya pun sering meminta <em>advis</em> kepadaku, tentang pelajaran yang mereka tidak kuasai. Aneh memang. Lebih aneh lagi, kalau aku lagi dalam keadaan mabuk. Otakku menjadi sekaliber Einstein. Sering aku mendapat nilai tertinggi di kelas kala aku mengerjakan ulangan dalam keadaan mabuk. Mungkin karena itulah, pihak sekolah jadi sulit untuk menentukan sikap yang tegas atas kenakalanku yang boleh dikatakan melebihi ambang batas.</p>
<p>Di SMU pula aku mengenal Drugs. Bahkan sampai menjadi &#8220;BD&#8221;, sebuah istilah buat orang yang menjadi penjual obat-obat terlarang. Ganasnya, dalam menjual aku tidak pandang bulu. Teman-teman perempuanku yang suka pake, aku suplai juga. Kadang kalo sudah kepepet, mereka berani membayarnya dengan imbalan mereka mau diajak melakukan perbuatan tidak senonoh di dalam WC sekolahan.</p>
<p>Di rumah perilakuku tidak berubah. Di keluarga, akulah si <em>trouble maker</em>. Semua anggota keluarga antipati terhadapku. Aku sering bersitegang dengan saudara-saudara yang ada dirumah. Bersama dengan teman di rumah, aku? sering melakukan tindakan kriminal. Salah satunya? membongkar? dan menguras isi sebuah toko sembako dua malam berturut-turut.</p>
<p><strong>Diasingkan ke Bandung</strong></p>
<p>Melihat kenakalanku yang sudah tidak bisa di tolerir lagi. Selepas SMU, orang tua &#8220;mengasingkan&#8221; aku ke Bandung, dengan harapan agar aku bisa berubah dan jauh dari teman ku yang <em>bergajulan</em>.? Tapi di sana bukan perubahan yang aku hasilkan, malah aku semakin larut dalam kemaksiatan dan pergaulan bebas. Hal itu dipermulus lagi dengan keadaan lingkungan dan mata kuliah yang kuambil di perhotelan dengan mengambil jurusan bidang studi <em>Bartending</em>. Sebuah mata kuliah yang sangat kusukai dan &#8216;berbanding&#8217; lurus dengan kebiasaanku menenggak minuman keras. Aku? bisa dengan leluasa mencicipi berbagai macam merek minuman keras tersebut. Malah, saking sudah &#8220;berkaratnya&#8221; aku dengan minuman keras, dalam bidang ini aku diberi &#8220;kelebihan&#8221; untuk bisa membedakan dengan mata tertutup, nama atau merek dan jenis, serta lamanya penyimpanan sebuah minuman, hanya dengan mencium dan sedikit mencicipi minuman yang di maksud.</p>
<p>Di Bandung, aku memilih tinggal di tempat kost, dengan enam orang teman laki-laki sekampusku ditambah tiga orang perempuan. Disini aku kian terjerumus dalam kemaksiatan. Aku yang biasanya ketika SMU cuma melakukan aktivitas mabuk, dengan perempuan pun cuma sebatas raba-raba, di Bandung lebih parah lagi. F<em>ree </em>sex bahkan <em>orgy</em> atau melakukan seks rame-rame, tidur bareng dengan teman sekost yang perempuan, merupakan hal yang sudah biasa di kalangan teman-teman sekost ku. Hal itu sering mereka lakukan. Bukan sekali dua kali. Kadang bagi teman-teman kost kalau sudah <em>kepepet</em>, tempat-tempat kumuh pun bisa jadi tempat menyalurkan hasratnya biologisnya, yang biasanya untuk melakukannya cukup di sebuah lapangan.</p>
<p>Ada seorang temanku malah yang nge<em>fans</em> dengan peribahasa tidak ada kayu, akar rotanpun jadi. Tidak ada perempuan, abal-abal (<em>wadam</em>) pun jadi.Tapi sebejatnya aku, untuk urusan seperti itu atau seks bebas dalam keadaan normal, aku tidak pernah mau melakukannya, karena masih merasa jijik. Entah jika dalam keadaan mabuk berat.</p>
<p>Setelah beres kuliah di Bandung, akupun kembali ke kota asalku. Aku sempat ngangur dan malah masuk tahanan polisi sebanyak dua kali karena kasus obat terlarang dan tawuran, sebelum akhirnya diterima bekerja di sebuah hotel di Jakarta. Karena sempat jadi tahanan polisi itu jugalah, aku mulai agak berubah. Sedikit demi sedikit aku mulai berhenti dari ketergantungan obat-obatan dan minuman keras.</p>
<p><strong>Pelajaran Dari Pelacur<em></em></strong></p>
<p>Di tempatku bekerja, kebanyakan tamu-tamu yang datang bukan utuk menginap, melainkan untuk memuaskan nafsu mereka dengan gadis-gadis yang masih muda. Sebelumnya aku <em>enjoy </em>dengan keadaan bejat itu, menjual kondom dan mencari perempuan pemuas nafsu menjadi pekerjaan sampinganku. Sampai akhirnya ketika aku akan menyediakan sarapan pagi untuk tamu langgananku di salah satu kamar dan menelepon untuk menanyakan menu yang dia inginkan, aku merasa ada keanehan. Karena setelah beberapa kali di telepon tidak ada yang mengangkat. Kalaupun ada yang mengangkat, tidak ada suara. Dan setelah kucek kamarnya aku? terkejut dengan penglihatan di depan mata. Sepasang gadis yang masih belia dengan muka yang lugu dan kampungan, kentara dari pakaian yang dikenakannya yang berasal dari daerah, menjadi pemuas nafsu binatang tamu langgananku. Mereka amat lugu bahkan mengangkat gagang telepon pun terbalik! Astaghfirullah!</p>
<p>Tanpa sadar aku ber<em>-istighfar</em>. Entah kenapa. Aku langsung muak dengan apa yang aku lihat, aku muak dengan apa yang selama ini aku perbuat.? Bahkan aku muak dengan tempatku bekerja. Kejadian itu begitu memukulku. Perasaan bersalah sedemikian hebatnya menyeruak. Saking besarnya perasaan bersalah, seharian aku kerja tidak ada yang beres. Aku terus merenung, bertanya, bagaimana kalau hal itu terjadi kepada saudaraku? Atau siapapun yang aku sayangi? Aku tidak bisa membayangkannya. Besoknya aku mencoba menanyakan hal itu kepada tamu langgananku seorang warga keturunan. Ternyata dia membelinya dari orang tua anak itu di daerah Tegal. Maka sejak peristiwa itu, aku meng-<em>itiqad</em> kan diri untuk mengubah jalan hidupku yang telah banyak menyimpang dari jalan-Nya.</p>
<p>Salah satu bentuk <em>realisasi </em>hijrahku yang pertama adalah, dengan meninggalkan tempat aku bekerja dan kebiasaan-kebiasaan jahiliyyahku. Kini aku aktif mengaji bersama sejumlah kawan. Aku bertekad jika ada seorang saja muslimah yang diganggu kehormatannya Insya Allah aku akan menjadi seorang khalifah Mu&#8217;thasyim yang menolongnya.<strong> [seperti yang diceritakan Maulana kepada Mursyid]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Agustus 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/aku-pemuja-hawa-nafsu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuhanyut dalam Cinta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kuhanyut-dalam-cinta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kuhanyut-dalam-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 03:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2111</guid>
		<description><![CDATA[Cinta yang bersemi dalam hatiku memang membuatku bahagia, tapi kebahagiaan semu. Selebihnya aku menderita karena cinta. Namun entah kenapa aku terus hanyut dalam nuansa biru itu. Sampai akhirnya aku menemukan kebenaran. Aku merupakan anak bungsu, dibesarkan dalam keluarga yang sedang-sedang saja. Tapi aku masih sempat bersyukur karena kehidupan keluargaku berjalan harmonis. Bapakku seorang imam masjid [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Cinta yang bersemi dalam hatiku memang membuatku bahagia, tapi kebahagiaan semu. Selebihnya aku menderita karena cinta. Namun entah kenapa aku terus hanyut dalam nuansa biru itu. Sampai akhirnya aku menemukan kebenaran.</em></strong></p>
<p>Aku merupakan anak bungsu, dibesarkan dalam keluarga yang sedang-sedang saja. Tapi aku masih sempat bersyukur karena kehidupan keluargaku berjalan harmonis. Bapakku seorang imam masjid di kampung tempat aku tinggal. Kakakku seorang pengajar madrasah di sini. Boleh dibilang keluargaku merupakan keluarga yang taat terhadap agama. Itulah mungkin kenapa dalam pergaulan, aku tidak &#8220;terlalu&#8221; terbawa arus. Cuma seperti kebanyakan keluarga yang mendidik anaknya dengan pendidikan agama &#8220;alakadarnya&#8221; yang hanya mengandalkan pendidikan agama untuk anaknya dari sekolah dan separo lagi dengan <em>ngambil</em> sana, <em>ngambil</em> sini. Maka aku pun bernasib seperti jutaan anak-anak muslim lainnya. Menjadi muslim yang tidak <em>kaffaah</em>. Yang hanya tahu sholat, zakat, puasa dan haji adalah kewajiban satu-satunya yang harus dijalankan oleh seorang muslim. Tidak terkecuali yang namanya urusan pacaran, yang seharusnya dijauhi dan dicampakan aku termasuk yang mengerjakannya.<span id="more-2111"></span></p>
<p>Petualangan cintaku bermula ketika SMP. Aku bertemu seorang akhwat satu kampung di sebuah telepon umum. Dia memintaku untuk menelepon seorang temannya yang cowok. Istilahnya dulu itu &#8220;minjam suara&#8221;. Dari situlah benih-benih cinta yang terlarang mulai disemaikan oleh iblis. Dan gayung pun bersambut. Dia mengajak berkenalan. Dari perkenalan itu, ditambah <em>gharizah na&#8217;u</em>-ku yang menuntut pemenuhan dan memang pergaulan nggak bener itu sedang jadi <em>trade mark</em> di kalangan teman-teman yang sekuler, aku pun memulai aktivitas pacaran.</p>
<p>Maka hari demi hari yang aku lalui tidak pernah luput dari aktivitas yang satu ini dengan berbagai &#8220;atributnya&#8221;. Mulai dari urusan menjemput sang kekasih, ngobrol, berkhalwat, makan bareng, main band, sampai apel jadi bagian kesibukan aku sehari-hari. Malah kadang kegiatan utama terabaikan, seperti sekolah salah satunya. Aku begitu menikmatinya. Kadang dalam pacaran, aku sempat menyerempet hal-hal yang tidak sepatutnya aku lakukan.</p>
<p>Enggak salah memang &#8216;orang salah&#8217; bilang jatuh cinta itu berjuta rasanya. Itu yang aku rasakan pada awalnya. Siang tidak terasa panas lagi rasanya karena ada dia yang meneduhkan. Malam tidak menjadi gelap karena ada purnama? yang menerangi di sisi sampai aku merasa takut untuk kehilangan dia. Hanya dialah hidupku. Ibaratnya kita akan selalu bersama, matipun bersama.</p>
<p>Semua begitu indahnya. Mataku terbutakan oleh kepalsuannya. Walaupun kadang pertengkaran menyertai,? mulai dari masalah yang sepele, sampai kelas berat (malah sempat mau putus) itu semua dapat diselesaikan dengan sendirinya. Temen-temen sekuler biasanya memberi semangat kalo lagi ada masalah. Mereka mengatakan bahwa hal itu biasa dalam dunia percintaan, sebagai bumbu katanya. Biar lebih &#8216;garing&#8217;.</p>
<p>Sampai? suatu hari Allah menegur atas kesombonganku. Hal yang kutakutkan terjadi. Gadis yang kucintai sakit. Kabar itu aku terima dari teman-teman. Aku tidak menjenguknya karena aku takut pada orang tuanya. Memang selama ini pacaran yang aku lakukan <em>back street</em>. Mengingat orang tuanya masih belum setuju anaknya pacaran dengan alasan masih kecil. Selama? pacar sakit, aku jadi sering gelisah, tiap hari hanya memikirkan dia. Melamun. Sekolah pun terbengkalai, malas. Dari rumah berangkat, padahal tiap hari cuma nongkrong di jalan, tempat kami biasa bertemu. Mengharap dia sembuh dan datang. Atau menunggu kabar dari teman tentangnya.</p>
<p>Sampai penantianku berakhir dengan sebuah berita. Pacarku harus dibawa ke rumah sakit dengan keadaan koma. Dan.. dua hari berselang. Ia dipanggil oleh Penciptanya. Hatiku luruh hancur berkeping-keping, kesedihan yang teramat sangat melanda, <em>shock</em>, terguncang, kecewa, menyalahkan atas kuasa-Nya, itulah yang aku alami setelah menerima kabar terakhir kekasihku itu. Cinta begitu membutakanku hanya untuk sekedar mengambil i&#8217;tibar dari kematiannya, sekedar memahami semua enggak ada yang abadi, semua bertanggung jawab atas dirinya masing-masing. Ketika jasadnya disemayamkan aku begitu bodoh menjenguk alam sana, bahwa akupun akan mengalami hal serupa. Perbuatanku akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah pencipta semesta alam.</p>
<p>Dua tahun lamanya aku dilanda stress. Hari-hari kulalui dalam kesendirian, keterpurukan dan dengan angan-angan kosong. Kilas balik ketika aku masih bersamanya, lebih sering menemani. Sekolah menjadi korban, akupun <em>drop out </em>di tengah jalan.</p>
<p>Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama. Sekali lagi, atas dukungan teman-teman yang mengatakan dunia tidak selebar daun kelor, akhirnya aku bangkit lagi. Rasa untuk menyukai lawan jenis muncul lagi. Didukung dengan wajah yang menurut kawan-kawanku tidak jelek bahkan <em>baby face</em> bukan hal yang sulit bagiku untuk mendapatkan pengganti. Karena itulah aku sering gonta-ganti pacar.</p>
<p>Sampai akhirnya Allah berkenan memberikan hidayah-Nya kepadaku, setelah bersinggungan dengan teman-teman pengajian. Waktu itu aku sedang apel di rumah kontrakan pacar baru di suatu malam. Kami hanya berdua dengannya. Rupanya ada teman-teman yang sudah &#8216;hijrah&#8217; kurang suka dengan perbuatan yang kami lakukan. Karena sampai tengah malam aku masih berada di sana.</p>
<p>Akhirnya temanku memberi teguran. Dia begitu marah. Saking marahnya, dia melempar pintu rumah kontrakan pacarku. Akupun keluar. Dan menanyakan maksud perbuatannya. Dia mengatakan, bahwa perbuatan seperti itu tidak pantas dan haram aku lakukan sebagai seorang muslim. Islam ada aturannya bergaul dengan lawan jenis. Apalagi aku, sebagai anak seorang imam masjid, ustadz, hal itu akan berdampak buruk dalam pandangan masyarakat. Teman-temanku mengatakan alasan dia berbuat seperti itu, yaitu semata-mata karena amar ma&#8217;ruf nahyi munkar katanya. Dan lebih karena perasaan sayangnya kepadaku, saudaranya sesama muslim. Dengan perasaan kesal, akhirnya aku pulang. Tetapi sesampainya di rumah, aku coba untuk memikirkan kembali perkataannya.</p>
<p>Alhamdulliah. Selang beberapa minggu, Allah membukakan mata hambanya yang selama ini buta oleh cinta buta. Dituntunnya aku untuk memahami tentang Islam, diberikannya aku kabar tentang indahnya surga tempat balasan bagi orang-orang bertaqwa, Indahnya hidup dalam naungan Islam. Dan hanya Allah-lah yang patut menjadi kekasih sejati kita. Hanya bagi Allah-lah Cinta kita berikan yang utama. Kini.. bersama teman-teman seperjuangan dalam menegakan Islam, aku sedang menanti perjumpaan dengan kekasih hati&#8230;. Allah Illahi Rabbi&#8230;&#8230;ya Allah Aku rindu&#8230;[<em>Seperti yang diceritakan Ibnu An-Nabhandi pada Mursyid</em>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juli 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kuhanyut-dalam-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjemput Hidayah Di Philadelphia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah-di-philadelphia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah-di-philadelphia#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 03:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2109</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari frustasi karena putus cinta, aku terjerumus ke dalam lingkaran kejahatan di negeri Paman Sam. Tak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa aku bisa menjadi bagian dari mereka. Dalam pergulatan batin ini, aku mencoba meniti jalan hidayah-Mu. Aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota santri. Keluargaku bukan tergolong mampu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Berawal dari frustasi karena putus cinta, aku terjerumus ke dalam lingkaran kejahatan di negeri Paman Sam. Tak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa aku bisa menjadi bagian dari mereka. Dalam pergulatan batin ini, aku mencoba meniti jalan hidayah-Mu. </em></strong></p>
<p>Aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota santri. Keluargaku bukan tergolong mampu, tapi bisa menyekolahkan aku dan kedua adikku. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Usia 4 tahun aku sudah masuk SD&#8211;karena ikut-ikutan teman&#8211;sehingga menjadi anak yang paling kecil di kelas. Tapi aku di sekolah selalu mendapat ranking pertama sampai SMA. Selain di sekolah, aku juga rajin mengaji di masjid dan di pondok pesantren.</p>
<p>Selepas SMA aku kuliah di Fakultas Sastra Inggris sebuah universitas di Jember. Hidup jauh dari orang tua dengan kiriman uang pas-pasan, mau tidak mau harus bisa aku jalani. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hanya bertahan setahun kuliah, aku harus berhenti karena orang tuaku tidak sanggup lagi membiayai kuliahku. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti lalu bekerja di Surabaya, sebagai pegawai pabrik elektronika yang cukup besar di sana. Tapi kemudian aku memutuskan untuk pindah kerja karena tidak cocok dengan lingkunganku, aku pindah ke Bali menjadi pegawai di sebuah biro wisata, berbekal kemampuan bahasa Inggris yang lumayan bagus.<span id="more-2109"></span></p>
<p align="left">Sebagaimana remaja lainnya, aku waktu itu juga mempunyai kawan wanita dari kampungku juga. Ia teman dekatku, mungkin bisa disebut pacar. Suatu saat ketika aku pulang dari Bali,? aku menemui kenyataan pahit. Teman dekatku memutuskan hubungan karena dijodohkan orang tuanya dengan seorang laki-laki yang lebih kaya dariku dan keluargaku. Aku sangat terpukul. Rasanya sudah tidak ada keinginan untuk berbuat apa-apa lagi. Hari-hari aku lalui hanya duduk merenungi nasibku yang rasanya selalu tidak beruntung. Akhirnya Ibuku menyuruh aku untuk ikut rombongan calon tenaga kerja ke Amerika. Aku berangkat dengan niat untuk menghilangkan kecewa dan sakit hati. Apalagi ketika itu, usiaku baru sekitar 18 tahun.</p>
<p><strong>Godaan Demi Godaan</strong></p>
<p>Aku tinggal di Boston bersama tetangga yang dititipi amanah oleh ibuku ketika berangkat. Jadi masih ada yang mengawasiku. Itu sebabnya, aku masih bisa menjalankan sholat dan puasa. Hingga setahun aku masih merasa ada keluarga di tempat jauh ini. Kemudian orang yang menjadi pengawasku ini pindah ke kota lain, karena ingin mendapat pekerjaan yang lebih bagus. Aku ditinggalkan dengan perasaan sedih, seolah aku kehilangan pegangan.</p>
<p>Teman-temanku pun berganti, bukan tetangga-tetangga kampungku lagi, tapi penduduk asli kota ini, dan beberapa orang dari Itali, Meksiko, Afrika, dan Jerman. Dunia malam pun kujamah. Hampir tiap malam aku diajak ke tempat-tempat hiburan yang hingar bingar dengan suara musik hip hop, rap dan rock. Diiringi pula dengan para penari wanita yang mengundang syahwat tiap lelaki. Akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai meninggalkan sholat. Berpindah ke dunia yang bertolak belakang dengan semua ajaran agamaku.</p>
<p>Casino pun tidak lepas dari jangkauanku. Akan tetapi, hingga saat ini, tak sekalipun aku berani bermain judi. Aku hanya sekadar menemani teman-temanku. Tidak tahu mengapa, biarpun aku akrab dengan dunia malam seperti itu, masih ada ketakukan dalam hatiku untuk masuk ke dunia judi dan wanita. Tiap kali aku melihat para penari pembangkit nafsu itu, selalu terbayang wajah ibu dan adik perempuanku. Selalu ada ketakutan yang muncul tiap kali para <em>streaper</em> dan wanita-wanita malam itu mendekatiku.</p>
<p>Perjalananku di Amerika ini akhirnya membawaku ke dunia yang sebelumnya hanya kulihat di film-film di tv; dunia mafia! Orang-orang dari Italia membawaku menjadi anggotanya, bahkan menjadi pengedar dan pemakai narkoba. Aku tidak lagi bekerja sebagai tenaga kasar di pabrik, karena dalam kelompok yang aku ikuti, hampir semua kebutuhanku terpenuhi. Dalam semalam aku bisa mendapatkan uang US$ 500!</p>
<p>Uang hasil pekerjaan hitam itu tidak aku kirimkan kepada keluargaku, karena aku menyadari bahwa itu uang haram. Aku tidak sampai hati memberikannya kepada mereka. Biar aku yang menjalaninya sendiri. Sehingga hampir dua tahun aku tidak pernah mengirimkan uang kepada mereka. Telpon hanya sesekali saja, sekadar menanyakan kabar keluarga. Ortuku masih menganggap aku seperti anaknya yang dulu manja, masih &#8220;anak mama&#8221;, masih rajin sholat dan mengaji. Aku pun tidak sanggup memberitahukan keadaanku yang sebenarnya kepada mereka. Mereka pun tidak menuntut aku untuk mengirimkan uang karena memang dulu tujuan aku diberangkatkan ke Amerika adalah untuk mengobati luka hatiku pada nasib.</p>
<p><strong>Meniti Jalan Hidayah</strong></p>
<p>Suatu ketika, setelah 3 tahun lebih aku berada di Amerika, dalam sebuah peristiwa aku berkenalan dengan seorang gadis, di tanah air lewat telepon. Dia teman satu kos dari teman SMA-ku. Entah mengapa, setiap kali aku menghadapi masalah, aku selalu ingin menelpon dan menceritakan semuanya kepadanya, padahal bertemu pun belum pernah.</p>
<p>Gadis itu selalu bisa memberikan kesejukan di hatiku dengan nasihat-nasihatnya. Bahkan pernah mengatakan aku bodoh karena sudah menyia-nyiakan hidupku hanya untuk sesuatu yang semu. Belum pernah sebelumnya ada orang yang berani mengatakan aku bodoh. Dia bisa memarahi aku. Dan aku tidak pernah marah karenanya. Pandanganku pada wanita ini berbeda sekali dengan ketika memandang yang lain. Hingga akhirnya, aku memberanikan diri untuk melamarnya lewat telepon. Tapi dia belum bisa menerimaku karena belum pernah melihatku dan aku tidak sesuai dengan kriteria calon suami yang dia harapkan. Aku cukup tahu diri untuk itu, karena dia adalah termasuk gadis yang alim, berjilbab dan mengaji. Sedangkan aku? Sungguh bertolak belakang.</p>
<p>Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku membutuhkan orang yang bisa? mengendalikan dan mengaturku. Aku minta tolong kepada teman-temanku satu apartemen untuk meyakinkan gadis itu bahwa aku sungguh-sungguh dan berniat untuk merubah diri. Ketika itu aku sedang dikejar-kejar oleh seorang gadis adik teman satu <em>gang</em> untuk dijadikan teman dekatnya. Biarpun kuakui gadis bule itu cantik sekali, tapi aku tidak tertarik. Aku lebih tertarik untuk mendekati gadis berjilbab yang belum pernah kulihat, hanya berdasar cerita temanku saja.</p>
<p>Akhirnya temanku bisa meyakinkan hati gadis tanah air itu untuk menerima aku, dengan alasan bahwa gadis itu ingin membawa aku kembali ke jalan yang benar. Dan itu berhasil, akhirnya aku putuskan untuk pindah ke Philadelphia untuk menghindari <em>gang</em>-ku dan sekaligus meninggalkan dunia hitam itu.</p>
<p>Aku sekarang belajar lagi untuk mengaji dan sholat lagi, menghadap Allah yang selama ini tidak pernah kusebut namanya. Perlahan aku melakukannya bukan lagi hanya untuk gadis itu, tapi demi hidupku sendiri, untuk dunia dan akhiratku. Aku bertobat ya Allah, terimalah tobatku&#8230;Ampunilah dosa-dosaku selama ini. Bimbing dan bantulah aku ya Allah, di tengah belantara yang kejam ini&#8230; Amin. [<em>seperti yang dituturkan Surya kepada Nisa</em>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juni 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah-di-philadelphia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demi Jilbab Aku Rela Drop Out</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/demi-jilbab-aku-rela-drop-out</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/demi-jilbab-aku-rela-drop-out#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 03:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2106</guid>
		<description><![CDATA[Tidak mudah menjadi muslimah yang istiqamah di zaman ini. Aku yang ingin berjilbab mendapat banyak hambatan dan tentangan. Tapi, apapun insyaAlllah akan kuhadapi walau harus drop out dari bangku sekolah. Berjilbab bukannya tanpa halangan, termasuk dari orang tua. Cukup sering aku ribut-ribut kecil dengan keluargaku soal jilbab ini. Dibilang sulit cari jodoh, sulit cari kerja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Tidak mudah menjadi muslimah yang istiqamah di zaman ini. Aku yang ingin berjilbab mendapat banyak hambatan dan tentangan. Tapi, apapun insyaAlllah akan kuhadapi walau harus </em>drop out<em> dari bangku sekolah.</em></strong></p>
<p>Berjilbab bukannya tanpa halangan, termasuk dari orang tua. Cukup sering aku ribut-ribut kecil dengan keluargaku soal jilbab ini. Dibilang sulit cari jodoh, sulit cari kerja, kayak ibu-ibu, kayak wanita hamil. Belum lagi kalau pergi ke warung, pasti aku harus berjilbab dulu, pake kaos kaki. Ini dikomentari <em>ribet</em>, tidak praktis, makan waktu. Tapi <em>alhamdulillah</em>, seiring perjalanan waktu, dan juga usaha gigih dari aku dan kakak-kakakku memahamkan soal kewajiban jilbab akhirnya mereka bisa menerima.</p>
<p>Begitu menginjak bangku SMU aku mengajak kawan-kawan di pengajian sekolah untuk berkerudung dan berjilbab. Untuk itu kami mengumpulkan uang untuk membeli bahan seragam jilbab. Ketika naik di kelas II akhirnya kami semua berjilbab. Caranya bahan seragam kemeja putih itu kami sambung dengan rok tapi tetap kami tutupi sehingga keliatan dari luar seperti tidak berjilbab.<span id="more-2106"></span></p>
<p>Semangatku dan teman-teman untuk berjilbab ini begitu kuat. Sampai-sampai di pelajaran olah raga kami ngotot berjilbab, nggak mau memakai pakaian olah raga dari sekolah. Awalnya guru olah raga melarang, teman-teman juga memandang aneh. &#8220;Olah raga kok pake jilbab,&#8221; pikir mereka. Karena lobi yang kami lakukan akhirnya guru olah raga mempersilakan kami untuk tetap berjilbab. Hanya saja pihak sekolah tetap tidak setuju dengan keinginan kami berjilbab. Sampai akhirnya diambil keputusan oleh pihak sekolah kalau kami tetap diizinkan berjilbab ketika berolah raga, tapi diberi nilai &#8216;sewajarnya&#8217;. Begitu pembagian rapor nilai 4 dan 5 mengisi mata pelajaran olahraga untukku dan kawan-kawan yang berjilbab.</p>
<p><strong>Cobaan Itu Datang</strong></p>
<p>Jilbab yang aku kenakan bersama kawan-kawan akhirnya menular pada adik-adik kelasku yang kami bina dalam pengajian sekolah. Mulanya hal ini tidak dipersoalkan oleh pihak sekolah. Tapi begitu aku naik kelas III masalah itu muncul. Awalnya guru-guru di sekolah menerapkan aturan soal kerapihan seragam sekolah. Kemeja seragam diwajibkan untuk dimasukkan ke dalam rok. Seorang kawan yang kelasnya sedang diinspeksi meminta ijin karena berjilbab. Kontan guru memarahinya. Ia pun dikeluarkan dari kelas. Kejadian itu akhirnya berlanjut ke seluruh kelas. Setiap siswi yang ketahuan berjilbab dikeluarkan.</p>
<p>Kami, siswi kelas III, dipanggil oleh kepala sekolah, diceramahi agar patuh pada aturan sekolah dalam pakaian seragam. Pihak sekolah pun membuat surat panggilan untuk orang tua siswi yang berjilbab. Dalam pertemuan dengan orang tua pihak sekolah tidak saja menceramahi orang tua soal aturan seragam sekolah, tapi juga memberi ultimatum kalau anak-anaknya tetap berjilbab maka mereka tidak diizinkan mengikuti ulangan. Pihak sekolah juga mengopinikan kalau di sekolah sedang berkembang pengajian sesat. Bahkan seorang guru mengatakan bahwa di sekolah ini kita tidak bisa memakai hukum Allah, tapi harus memakai aturan dari pemerintah. <em>Na&#8217;udzubillah</em>, padahal guru itu beragama Islam dan mengajarkan mata pelajaran agama Islam. Orang tua juga diminta untuk menyuruh anaknya melepas jilbab atau membuat surat pengunduran diri dari sekolah.</p>
<p>Hasilnya banyak ortu yang memarahi anak-anaknya. Ada kawan yang jilbabnya disobek, ada yang jilbabnya mau dibakar, ada yang hampir digampar, ada yang dilarang ngaji, bahkan ada orang tua yang sampai memohon-mohon pada anaknya agar mau melepas jilbabnya. Sedikit saja ortu yang mendukung anak-anaknya.</p>
<p>Kami tidak menyerah. Perjuangan mulai kami lakukan. Kami mengirimkan surat pembaca ke satu koran daerah. Tujuan kami tidak lain untuk mencari bantuan dan menjelaskan kepada masyarakat kalau berjilbab itu tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Tapi pihak sekolah semakin marah dengan hal itu. Kembali kami dipanggil oleh pihak sekolah, dilarang belajar dan dimarahi. Kami dituding keras kepala, untuk membuka jilbabnya saja tidak mau. Kami juga disebut-sebut sudah mencemarkan nama baik sekolah ke media massa.</p>
<p>Pihak sekolah juga terus-terusan menekan kami. Berkali-kali kami dikeluarkan dari kelas, atau kalaupun boleh mengikuti pelajaran kami dianggap alpa. Meski kami diperbolehkan mengikuti ulangan tapi kami sudah sulit berkonsentrasi karena berbagai tekanan dan intimidasi. Yang membuat hatiku sedih dan tersinggung adalah ketika EBTA praktik mata pelajaran agama dalam cara berwudlu, kami yang berjilbab disuruh membuka kerudung di depan teman-teman ikhwan dan akhwat dengan alasan agar berwudlunya sempurna. Meski kami dan sejumlah teman-teman ikhwan protes tapi tetap saja guru agama kami tidak bergeming. Karena menolak terus akhirnya kami diberi nilai di bawah enam. Karena tekanan dari ortu dan sekolah, beberapa kawan yang kemudian melepas jilbab dan memakai seragam terusan.</p>
<p>Cara sekolah dalam memaksa kami untuk membuka jilbab mulai diperhalus. Mereka mendatangkan sejumlah alumnus sekolah yang kini aktif di satu partai politik Islam nasional dengan tujuan membujuk kami untuk melepas jilbab, dan memakai seragam biasa tanpa disambung. &#8220;Soal pakaian jilbab itukan ikhtilaf, dilepas juga tidak berdosa, kok,&#8221; kata mereka. Terang saja aku marah dan mendebat mereka. Aku kecewa kok ada aktivis pengajian dan dari partai politik Islam yang berpikiran seperti itu. Tapi mereka seperti tidak malu terus saja membujuk kami untuk melepas jilbab. Mereka juga bergerilya ke rumah-rumah kawan-kawanku, membujuk mereka untuk melepas jilbab.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertolongan Itu Dekat</strong></p>
<p>Setiap malam aku berdoa kepada Allah agar Ia memberikan pertolongan kepada kami. Aku sendiri sudah siap seandainya tidak bisa mengikuti EBTANAS dan harus <em>drop out</em> dari bangku sekolah. Mama sudah menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepadaku. Kawan-kawanku juga banyak berdoa setiap malam, bahkan ada yang hampir setiap malam menangis.</p>
<p>Meski begitu kami tidak menyerah begitu saja. Setiap dikeluarkan dari kelas, kami bergerilya ke MUI dan Depag untuk mencari bantuan. <em>Alhamdulillah</em>, mereka cukup merespon. Bahkan ketua MUI sendiri datang ke sekolah dan menyaksikan langsung diskriminasi yang terjadi pada kami. Ia pun menegur pihak sekolah dengan keras.</p>
<p>Lama kelamaan simpati dari guru-guru juga berdatangan. Beberapa guru juga mempersilakan kami untuk tetap mengikuti pelajaran. Mereka yang semula segan untuk memprotes kebijakan sekolah mulai berani angkat suara. Akhirnya sekolah mengalah dan tidak lagi mempermasalahkan jilbab.</p>
<p>Akhirnya pihak sekolah menerima siswinya yang berjilbab, meski aku tahu itu dilakukan dengan segala keterpaksaan. Tapi setidaknya itu sudah jalan keluar teraman dalam keadaan sekarang ini. Aku berharap agar adik-adik kelasku dan juga muslimah manapun yang ingin berjilbab mendapat kemudahan dan ditolong oleh Allah SWT. Amin. [<em>seperti diceritakan Nurul pada</em> <strong>Januar</strong>].</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Mei 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/demi-jilbab-aku-rela-drop-out/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petarung Jalanan Jadi Anak Pengajian</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/petarung-jalanan-jadi-anak-pengajian</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/petarung-jalanan-jadi-anak-pengajian#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 03:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2104</guid>
		<description><![CDATA[Karena orang tua bercerai, aku pun lari ke jalanan. Miras dan narkoba menjadi pengisi hari-hariku. Lalu aku mempopulerkan diriku menjadi seorang petarung jalanan.Bahkan aku bercita-cita ingin mati dalam setiap pertarunganku. Suramnya kehidupanku itu terjadi ketika aku duduk di sekolah dasar. Kedua orangtuaku memutuskan bercerai. Ayah pergi ke Jakarta, sementara ibuku tinggal di Bogor sampai kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Karena orang tua bercerai, aku pun lari ke jalanan. Miras dan narkoba menjadi pengisi hari-hariku. Lalu aku mempopulerkan diriku menjadi seorang petarung jalanan.Bahkan aku bercita-cita ingin mati dalam setiap pertarunganku.</em></strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Suramnya kehidupanku itu terjadi ketika aku duduk di sekolah dasar. Kedua orangtuaku memutuskan bercerai. Ayah pergi ke Jakarta, sementara ibuku tinggal di Bogor sampai kemudian menikah dan hijrah ke kota Metropolitan. Sementara aku tinggal bersama nenek di Kota Hujan, Bogor. Sebagai anak kecil aku tidak mengerti apa-apa, termasuk karena alasan apa orang tuaku bercerai. Tapi yang pasti, aku mulai merasakan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuaku.</p>
<p dir="ltr">Sebagai pelarian, aku sering meninggalkan rumah nenekku dan jarang pulang. Aku lebih memilih untuk tidur di rumah teman-temanku. Pernah juga aku tinggal di rumah seorang musisi rock terkenal. Dari berbagai pergaulan &#8216;liar&#8217; seperti itulah beragam kehidupan jahiliyah mulai aku kenal.<span id="more-2104"></span></p>
<p dir="ltr">Lazimnya kehidupan jalanan, minuman keras dan obat-obat terlarang jadi langgananku. Toh, orang-orang di sekelilingku, tetanggaku, para ustadz, pengurus mesjid, tidak pernah ribut dengan kebengalanku. Apalagi mencoba untuk menasihatiku. Maka aku merasa semakin <em>enjoy</em> dengan kehidupan jalanan ini.</p>
<p dir="ltr">Jangan tanya masalah ibadah. Itu sudah lama aku tinggalkan. Shalat hanya kalau mau, bahkan malam takbiran pun aku tenggelam dalam berbotol-botol minuman keras bersama kawan-kawan &#8216;seperjuanganku&#8217;. Khusus untuk bulan puasa, aku tidak menenggak miras di siang hari tapi di malam hari, karena aku masih berpikir untuk menghormati bulan suci Ramadhan walau aku sendiri jarang puasa!</p>
<p dir="ltr">Ketika SMP aku memilih untuk <em>drop out</em>. Bukan karena kehabisan biaya, atau masalah nilai, tapi karena bagiku bersekolah sudah tidak menarik lagi. Ketika masih bersekolah pun aku lebih sering bolos. Aku lebih tertarik dengan kehidupan jalanan yang menurutku asyik dan penuh tantangan.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Jadi Petarung Jalanan</strong></p>
<p dir="ltr">Namaku dikenal di seantero kampung bukan cuma karena doyan miras dan nongkrong-nongkrong, tapi karena suka berkelahi. Aku merasa heroik, menjadi pahlawan kalau sudah bertarung. Tidak peduli menang atau kalah. Untuk urusan berkelahi aku punya seorang kawan yang kerap menjadi <em>partner</em> dalam berkelahi. Bersamanya aku menantang dan mencari gara-gara dengan siapa saja untuk kami ajak berkelahi. Salah satu arena untuk mencari lawan berkelahi adalah tempat biliar. Bukan untuk main bola sodok, tapi sengaja mencari-cari masalah dan bibit perkelahian.</p>
<p dir="ltr">Kebiasaan berkelahi itu sudah muncul sejak aku SD. Siapa saja aku ajak berkelahi, termasuk anak-anak &#8216;kolong&#8217; dan polisi pun pernah aku ajak berkelahi. Tidak ada rasa gentar sedikitpun. Beberapa orang yang kalah dalam perkelahian denganku harus masuk rumah sakit dan mendapat perawatan serius.</p>
<p dir="ltr">Suatu ketika, saat dalam keadaan mabuk, sekelompok orang menghajarku hingga aku terkapar. Sadar-sadar aku sudah berada di atas ranjang rumah sakit didampingi orang tuaku. Bukan luka memar yang membuatku sakit tapi kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang-orang yang kucintai. Dari sejumlah cerita kawan-kawanku aku tahu kalau para pengeroyokku adalah anak-anak &#8216;kolong&#8217; yang pernah berkelahi denganku. Rupanya mereka mendendam sehingga mencari-cari kesempatan untuk menghajarku. Beruntung aku tidak sampai mati saat itu.</p>
<p dir="ltr">Berbagai pengalaman pahit dari perkelahian jalanan tidak membuatku jera. Bahkan itu semua mendorongku untuk menekuni &#8216;hobi&#8217; ini secara serius. Akupun masuk sasana tinju. Di sana aku giat berlatih bahkan sempat ikut dalam sejumlah pertarungan eksebisi dengan petinju dari sasana lain. Untuk mengongkosi kegiatan baruku itu aku membayarnya dengan uang dari hasil kerja jadi tukang parkir.</p>
<p dir="ltr">Kala itu satu cita-cita yang aku miliki, aku ingin mati ketika berkelahi. Mungkin itu kedengarannya menggelikan buat orang lain tapi untukku itu terdengar sangat heroik. Saat itu aku sudah merasa bosan hidup, tidak tahu harus bagaimana, untuk apa dan akan kemana hidupku ini. Tapi aku tidak ingin mati konyol dengan cara bunuh diri, yang aku inginkan adalah mati dalam pertarungan.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Hidayah Itu Datang</strong></p>
<p dir="ltr">Dalam hidupku yang serba gelap itu ada seorang tetanggaku yang baru duduk di kelas III SMU yang tidak pernah bosan menasihatiku. Setiap ada waktu ia datang ke rumahku atau ke tempat mainku untuk memberikan nasihat-nasihat. Ia sering bercerita untuk apa hidup ini, akan kemana, dan harus bagaimana kita hidup.</p>
<p dir="ltr">Lama-lama aku menjadi tertarik bukan saja karena nasihatnya tapi juga karena kegigihannya. Di saat orang lain menjauhi diriku dan mencapku sebagai &#8216;biang kerok&#8217;, termasuk para ustadz di kampungku, masih ada orang yang mau memperhatikan diriku. Akhirnya aku juga menyempatkan waktu untuk datang ke rumahnya, ngobrol, curhat, dan bertanya masalah-masalah agama.</p>
<p dir="ltr">Yang paling mengesankan adalah ketika aku mendapat satu masalah yang menurutku termasuk ujian terberat dalam hidupku. Aku dihadapkan pada masalah antara terus mengaji atau kembali pada kehidupan jalananku, berkelahi bahkan membunuh orang. Alhamdulillah, tetanggaku itu membawaku berkunjung ke rumah gurunya. Di sana aku dinasihati untuk bersabar dan diberitahu bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan untuk masalah yang aku hadapi. Akhirnya hatiku luluh. Aku yang terbiasa dengan kehidupan keras, beradu otot dan kepalan tinju akhirnya menyerah pasrah pada tuntunan Ilahi. Aku pun mulai rutin mengikuti kajian-kajian Islam dan membina diri untuk menjadi seorang muslim yang baik.</p>
<p dir="ltr">Yang menguntungkan diriku adalah sikap dari teman-teman mainku dulu. Ketika tahu aku mulai berubah, rajin shalat dan ngaji, mereka satu persatu menjauhkan diri. Bahkan mereka seperti ikut menasihatiku untuk tidak kembali ke jalanan. Ada seorang wanita yang aku kenal dulu sering berbuat maksiat juga ikut memberikan dorongan untuk hidupku yang baru ini. &#8220;Kamu udah rajin ngaji sekarang, jangan balik lagi<em> kayak</em> dulu,&#8221; katanya memberi nasihat. Akhirnya aku pun semakin mantap untuk melangkah di jalan Islam.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Menemukan Jodoh</strong></p>
<p dir="ltr">Seiring bertambahnya usia muncul juga keinginan dalam diriku untuk menikah. Aku sering berdoa pada Allah agar diberikan jodoh yang salehah dan dijauhkan dari perbuatan zina. <em>Alhamdulillah</em>, Dia mempertemukanku dengan seorang muslimah yang solehah, sama-sama aktif di pengajian di kampungku. Dia lulusan perguruan tinggi sedangkan aku SMP pun tidak tamat. Namun <em>alhamdulillah</em> ternyata ia dan orangtuanya menerimaku dengan baik.</p>
<p dir="ltr">Jalan menuju pernikahan yang aku idam-idamkan tidaklah mulus. Beberapa orang dari keluarganya dan pihak luar tidak suka dengan diriku. Apalagi kemudian salah seorang sepupunya adalah orang yang pernah aku aniaya di masa jahiliyah dulu. Mereka bercerita pada calon istriku dan orang tuanya perihal kehidupanku dahulu. Ternyata calon istriku tetap pada pendiriannya, ia tidak bergeming untuk terus melangkah menuju pelaminan bersamaku, apapun masa laluku. &#8220;Yang saya lihat hanya keadaan calon suami saya sekarang ini, bukan keadaannya di masa lalu,&#8221; katanya mantap pada keluarganya.</p>
<p dir="ltr">Akhirnya pada tanggal 10 Januari 2001 kami menikah dengan penuh khidmat. Aku bersyukur pada Allah bahwa Ia terus membimbingku dan senantiasa memberiku kemudahan dalam kehidupanku yang baru ini. Semoga  Ia memberikan kami keturunan yang shaleh dan shalehah. [<em>seperti diceritakan Mu'adz pada Januar</em>].</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi April 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/petarung-jalanan-jadi-anak-pengajian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kakakku, Sahabatku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kakakku-sahabatku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kakakku-sahabatku#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 04:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2074</guid>
		<description><![CDATA[Kebaikan bisa datang dari mana saja. Dari seorang alim, atau mungkin orang yang terdekat dengan kita. Itulah yang aku rasakan dari kakakku tercinta. Aku adalah anak ke-2 dari dua bersaudara di keluargaku. Dan aku hanya mempunyai satu orang kakak laki-laki yang amat sangat aku dan keluargaku sayangi. Usia kami berselang 2 tahun. Karena perbedaan usia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Kebaikan bisa datang dari mana saja. Dari seorang alim, atau mungkin orang yang terdekat dengan kita. Itulah yang aku rasakan dari kakakku tercinta.</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Aku adalah anak ke-2 dari dua bersaudara di keluargaku. Dan aku hanya mempunyai satu orang kakak laki-laki yang amat sangat aku dan keluargaku sayangi. Usia kami berselang 2 tahun. Karena perbedaan usia yang tidak begitu jauh, hubungan di antara kami menjadi amat dekat.</p>
<p>Boleh di bilang kami keluarga yang amat harmonis. Kedua orang tua kami menyayangi kami berdua tanpa pernah membeda-bedakan. Semua sama. Begitupun hubunganku dengannya, amat sangat baik. Walau terkadang acapkali terjadi perselisihan, itu merupakan sesuatu yang wajar antara kakak dan adik. Kami sejak kecil selalu bermain bersama, dimarahi ortu bersama, senang bersama, susah bersama, semuanya selalu bersama. Dengannya, aku tidak pernah merasa ragu untuk curhat. Malah terkadang ia pun curhat kepadaku.<span id="more-2074"></span></p>
<p>Di sekolah kakakku termasuk salah seorang yang berprestasi, terutama dalam pelajaran bahasa Inggris. Aku sering kali meminta bantuannya dalam menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan bahasa Inggris. Dan ia pun tak segan-segan untuk membantuku.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tertarik pada Islam</strong><strong></strong></p>
<p>Kakakku merupakan pelopor di keluargaku yang tertarik pada kegiatan keislaman dan dakwah. Awalnya sih ia ikutan ngaji hanya iseng demi mengisi waktu luang, tapi ternyata malah ketagihan &amp; jadi aktivis lagi. Waktu itu kawan-kawannya yang mengajak untuk aktif di DKM sekolah. Lama kelamaan kegiatan ngaji jadi aktivitas rutin dan serius. Malah ia menyempatkan diri menjadi santri <em>kalong</em> &#8211; tidak menginap &#8211; di satu madrasah diniyah di kotaku.</p>
<p>Jiwa dan semangat dakwah kakakku muncul. Ia mulai membawa misi Islam ke tengah-tengah keluarga. Ia mengenalkan kalau agama Islam bukan sekadar ibadah tapi juga pandangan hidup yang sempurna. Dengan berani kakakku juga memberikan gambaran politik kaum muslimin saat ini. Walau selalu mendapat tentangan dari keluarga namun kakak pantang menyerah. Aku sendiri waktu itu salah satu orang yang paling keras menentangnya. Namun, dengan berbagai cara dia terus mengajakku untuk ikut menghadiri pengajian.</p>
<p>Seiring jalannya sang waktu akhirnya aku mulai tertarik pada Islam dan berazzam untuk menjadi <em>hamilud</em><em> </em><em>da&#8217;wah</em> yang istiqomah sampai akhir hayatku (<em>insya Allah</em>) seperti kakakku.</p>
<p>Memasuki masa kuliah, kiprah dakwah kakak di kampus semakin gencar. Dia tidak pernah mempedulikan apapun halangan dakwah walaupun ada sebagian teman yang menolak langkah perjuangannya. Walau seperti itu dia tetap konsisten dalam berdakwah dan dia sangat pintar bergaul hingga membuat sebagian teman yang lain menjadi simpatik terhadapnya. Hal ini diakui oleh salah seorang teman dekatnya, bahwa kakakku paling mudah mempengaruhi orang lain.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ujian Itu Datang</strong><strong></strong></p>
<p>Disaat sedang gencar berdakwah Allah Swt. memberikan ujian berupa sakit yang cukup aneh dan langka yaitu kanker di dadanya. Menurut dokter penyakitnya itu hanya biasa ditemukan pada wanita. Pada awalnya dia tidak merasakan apa-apa, hanya pegal-pegal yang biasa dia rasakan. Maklum, selain aktivis dakwah dia juga aktif dalam bela diri. Lama-kelamaan sekitar enam bulanan, sakit yang dianggap biasa itu mulai terasa. Akhirnya bapak mengajaknya ke dokter untuk di periksa. Ternyata dia harus di <em>rontgen</em> untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita kakak. Setelah satu minggu menunggu hasil <em>rontgen</em>, tak diduga ternyata? dokter di Bogor tidak tahu dan disarankan untuk membawanya ke rumah sakit pusat POLRI RS SOEKANTO di Jakarta. Ternyata penyakit itu adalah kanker dan dokter menyarankan agar segera dioperasi.</p>
<p>Akhirnya kakak harus di operasi dan di opname selama 3 hari di sana. Kabar terakhir yang diterima bahwa kanker itu sudah mencapai tingkat (<em>level</em>) tiga. Ini merupakan tingkatan yang sudah sangat parah untuk penderita kanker. Lalu dokter menyarankan untuk menjalankan proses <em>kemoterapi</em> di RS GATOT SUBROTO Jakarta. Dengan tabah dan pasrah kakak menjalaninya sebanyak 35 kali. Tapi hasilnya, tak ada perubahan bahkan penyakit kakak semakin parah.</p>
<p>Setelah di ketahui tidak ada perubahan, kami sekeluarga mencoba pengobatan alternatif, ya&#8230;hasilnya sama saja. Akhirnya setelah berikhtiar ke berbagai tempat namun tak kunjung ada hasil, kami sekeluarga hanya bisa pasrah pada Allah Swt. atas kesembuhannya.</p>
<p>Hari-hari yang di lalui kakak amat memprihatinkan. Dari mulai dapat berjalan hingga akhirnya hanya mampu duduk dan akhirnya semua aktivitasnya hanya dilakukan sambil berbaring, termasuk (maaf) buang air pun di tempat tidur. Alas tidur kakak pun dilapisi daun pisang. Hal ini kami lakukan karena kondisi kakak yang tidur terus menerus membuat pakaian dan sprei tidurnya melekat pada punggung.Tubuhnya pun hanya menjadi tulang berbalut kulit. Kurus kering tidak menyisakan kegagahan kakakku yang dahulu.</p>
<p>Satu-satunya hal yang menggembirakan hatiku dan kedua orang tua adalah kakak masih tekun menjalankan ibadah, meski dalam kondisi berbaring. Bahkan ia terkadang menyempatkan diri menelepon ustadznya untuk berkonsultasi masalah agama. Suatu ketika ia bertanya pada beliau, <em>&#8220;Ustadz apakah saya berdosa jika meninggal sementara Khilafah belum tegak?&#8221;</em> Dengan perasaan haru dan sedih guru kami itu membesarkan hati kakak dan tetap menyuruhnya bersabar. Bahkan yang membuat aku semakin terharu adalah kakak ingin selalu pergi mengaji walau dalam keadaan seperti itu.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, kawan-kawannya yang datang menjenguk selalu memberi semangat dan mengajaknya untuk tetap bersabar sambil beribadah kepada Allah. Kakakku cukup terhibur dengan kedatangan kawan-kawan pengajiannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Minta Maaf</strong><strong></strong></p>
<p>Setelah 6 bulan lamanya di tempat tidur dengan kondisi badan hanya tulang berbalut kulit, kakak akhirnya meninggalkan kami semua. Seperti ada firasat, satu minggu sebelum berpulang ke pangkuan-Nya kakak menelpon semua temannya dan minta maaf atas semua kesalahan yang dilakukannya. Akhirnya pada tanggal 28 Januari 2003 kakak meninggalkan kami untuk selamanya.</p>
<p>Kejadian ini sangat membuatku sedih. Karena sekarang aku hanya tinggal sendiri, dan terlalu banyak kenangan bersamanya. Kawan-kawan kakak pun mengaku sangat kehilangan kakakku. Di mata temannya ia adalah sosok yang enak di ajak bergaul, curhat dan segalanya. Bahkan kegiatan pengajian nyaris terhenti setelah kakakku pergi.</p>
<p>Kini aku terus berusaha menjaga amanat dari kakakku selama sakit, yakni agar aku terus mengaji dan menjaga orangtuaku.</p>
<p>Terakhir bagi teman-teman pembaca yang mengenalnya, kami sekeluarga memohon maaf apabila beliau semasa hidupnya berbuat salah. Dan apabila ada yang memiliki urusan utang piutang harap segera menghubungi pihak keluarga. Kami juga minta kepada seluruh pembaca untuk mendoakan agar kakak mendapatkan rahmat di sisi Allah Swt. Amin [<em>seperti diceritakan Wahyu pada Iwan</em>].</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi September 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kakakku-sahabatku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu, Aku Rindu&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ibu-aku-rindu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ibu-aku-rindu#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 23:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1959</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih ingat, waktu itu saat aku masih di kampung kelahiranku, aku pulang sekolah dengan wajah sedih karena abis dapat nilai 4. Sudah harap-harap cemas takut dimarahi, dan sekaligus berusaha menyembunyikan kertas ulangan itu. Tapi begitu masuk rumah, kulihat Ibu duduk di tikar pandan sedang beres-beres pakaian, dimasukkan dalam tas. Bapak duduk tak jauh dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih ingat, waktu itu saat aku masih di kampung kelahiranku, aku pulang sekolah dengan wajah sedih karena abis dapat nilai 4. Sudah harap-harap cemas takut dimarahi, dan sekaligus berusaha menyembunyikan kertas ulangan itu. Tapi begitu masuk rumah, kulihat Ibu duduk di tikar pandan sedang beres-beres pakaian, dimasukkan dalam tas. Bapak duduk tak jauh dari Ibu, sambil merokok memperhatikan Ibu. Melihat aku datang, Ibu sejenak berhenti membereskan pakaian.</p>
<p>Kemudian ibu menyuruhku ganti pakaian dan makan. Aku turuti perintah ibu. Ganti baju dan makan sayur tempe yang sudah biasa setiap hari kami santap. Telur dan daging ayam mungkin seminggu sekali saja hadir di meja makan kami. Itu pun jika ada lebihan dari uang gaji bapakku yang cuma buruh bangunan.<span id="more-1959"></span></p>
<p>Aku pikir tadinya aku akan diajak serta pergi, tapi ibu bilang dia akan ke Jakarta untuk nyari uang. Sementara aku dan bapak tinggal di rumah ini. Alasannya, jika semua pergi ke Jakarta, siapa yang menunggu rumah ini.</p>
<p>Bapak hanya diam saja, waktu itu aku hanya bisa menangis dan menangis. Yang aku tahu, aku akan ditinggal ibu pergi, dan aku tidak diajak serta. Seperti kebiasaan, kalo aku tidak diajak pergi, pasti aku nangis. Bapak berusaha mendiamkan aku dengan mengajakku naik sepeda untanya, ke pinggir sawah-sawah. Sampe ke kebun tebu, bapak mengambilkan sebatang tebu, lalu mengupasnya, dipotongi kecil-kecil, baru diberikan padaku. Aku senang dan bisa melupakan tangisku.</p>
<p>Besoknya ibu jadi pergi, aku masih menangis ketika ditinggalkan, kulihat Bapak juga menangis. Kami mengantar Ibu sampe di terminal bis, karena di sana ada teman Ibu yang juga akan pergi ke Jakarta. Hari itu aku melihat Ibu dan Bapak menangis bersama, menangis yang tidak seperti biasanya kulihat.</p>
<p>Hari-hari berikutnya, bapak kelihatan muram dan sedih. Kutunggu-tunggu, Ibu tidak datang juga. Tiap kali kutanyakan pada bapak, katanya besok, minggu depan atau bulan depan Ibu baru akan pulang. Banyak tetangga dan teman-temanku yang bilang, kalo ibuku pergi ke negeri Arab, jadi TKW.</p>
<p>Aku, ketika itu, tidak tahu apa itu TKW. Kata bapak, nanti kalo ibu pulang pasti akan bawa uang banyak. Dan kami tidak akan miskin lagi. Tiga bulan kemudian ada surat dari Ibuku, bukan main senangnya aku dan Bapak. Ibu bilang, sekarang berada di Arab Saudi, juragannya baik, dan sebentar lagi Ibu akan mengirim uang untuk kami. Ternyata Ibuku jadi pembantu, di negeri yang jauh itu. Benar saja, belum setahun ibuku pergi, ibu sudah mengirimkan uang. Aku tidak tahu berapa, tapi yang jelas waktu itu bapak membelikan aku seragam sekolah yang baru, katanya uang kiriman Ibu. Aku senang sekali.</p>
<p><strong>Bapak pun pergi</strong></p>
<p>Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa hidup tanpa kehadiran Ibu. Aku mulai belajar memasak dan membersihkan rumah. Waktu itu aku masih kelas 4 SD, tapi aku sudah bisa masak nasi dan sayur asem, dengan dibantu bapak. Tapi ibuku tidak pernah kirim kabar lagi. Jangankan uang, surat pun tidak pernah. Sedangkan bapak, masih tetap jadi buruh bangunan, kadang kerja kadang nganggur di rumah. Sampe kemudian setelah hampir dua tahun sejak kepergian Ibu, bapak memutuskan untuk mencari kerja di luar pulau, ke Sumatera. Sedangkan aku dititipkan di rumah bibiku, adiknya bapak.</p>
<p>Terpaksa aku pindah sekolah, meskipun desa bibiku tidak jauh dari rumahku yang dulu. Di rumah bibi, aku diterima dengan baik, dan aku juga terbiasa dengan pekerjaan rumah sehingga tidak kaku lagi untuk membantu pekerjaan di rumah bibi. Keluarga bibiku juga tidak beda jauh dengan keadaan keluarga kami. Sedangkan ibu, tidak lagi kudengar beritanya. Bahkan sering aku dengar omongan orang-orang, bahwa ibuku sudah menikah lagi dengan orang Arab dan tinggal menetap di sana. Ibuuuu&#8230;!</p>
<p>Bapak yang bekerja di Sumatera sering mengirimkan uang untuk biaya sekolah, sampai aku bisa melanjutkan ke SMP. Ketika kelas 2 SMP, aku mendapat berita buruk. Bapakku mendapat musibah di Sumatera, beliau terjatuh dari bangunan setinggi lima meter.Sehingga tulang belakangnya patah. Oleh pihak kontraktor, bapak dibawa ke rumah sakit, tapi tidak sembuh juga, bahkan akhirnya Bapak lumpuh total, kemudian dipulangkan ke Jawa, ke rumah bibiku lagi.</p>
<p>Sedih hatiku melihat keadaan bapak. Beliau hanya bisa tiduran, untuk mandi, dan ke kamar kecil, aku yang membantunya, kadang juga bibiku. Badannya semakin kurus. Kurang lebih setahun kemudian, bapak meninggal dunia. Rasanya hidupku benar-benar sudah hancur. Tapi dengan bantuan bibiku, aku bisa lulus SMP. Untuk melanjutkan ke SMU rasanya tidak mungkin, bagaimana pun aku tidak bisa merepotkan bibiku terus.</p>
<p><strong>Jadi pembantu </strong></p>
<p>Suatu hari aku putuskan untuk jadi TKW ke luar negeri. Entah mengapa aku bisa nekat, sedikit niat terselip, aku ingin mencari Ibu. Tapi rupanya, niat saja tidak cukup, aku gagal ikut tes, setelah masuk di penampungan TKW di Jakarta. Untuk kembali pulang ke kampung, rasanya tidak mungkin. Aku tidak ingin jadi beban bibiku lagi.</p>
<p>Akhirnya, aku putuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Lewat seorang kenalan di penampungan, akhirnya aku dimasukkan ke agen pembantu rumah tangga. Dan di sini aku diambil seorang dokter wanita, menjadi pembantu di rumahnya. Di sini, di rumah ini ada Ibu dokter, suaminya seorang dosen, anaknya yang pertama perempuan namanya Mbak Happy usianya sebaya dengan aku, dan yang kedua namanya Mas Rico masih SMP kelas 2.</p>
<p>Di rumah ini, aku cukup bahagia. Karena selain pekerjaannya nggak terlalu berat. Mereka baik padaku. Hampir setiap hari aku diajari ngaji. Alhamdulillah, aku sudah bisa baca Quran dan juga rajin sholat. Mbak Happy juga selalu ngingetin aku kalo kerudung yang kukenakan belum rapi.</p>
<p>Ya Allah, terima kasih, biarpun di sini aku hanya pembantu, tapi mereka sangat baik padaku. Mereka memberi kesempatan padaku untuk belajar ngaji dan mengajari aku sholat, yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari orang lain. Mengajariku mengadu padaMu. Lindungi dan kasihilah mereka&#8230;karena mereka pengganti Ibu bagiku.</p>
<p>Meski demikian, aku tak bisa melupakan ibu yang sampai sekarang belum tahu ada di mana ia. Aku kadang-kadang melamun. Memimpikan bertemu dengan ibu. Kalo aku inget rumah di kampung, rasanya masih membekas saat-saat akan berpisah dengan ibu. Rupanya, itulah terakhir kali aku bisa melihat wajah ibu. Aku masih berharap suatu saat bertemu dengannya. Sangat berharap&#8230;. Ibuu&#8230;aku rindu&#8230;! <strong>[seperti yang diceritakan Titik kepada Nisa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Mei 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ibu-aku-rindu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

