<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Pernik</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/pernik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Untuk apa sih menulis?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/untuk-apa-sih-menulis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/untuk-apa-sih-menulis#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 07:34:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3399</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p>Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. Setiap orang bisa saja berbeda cara pandang dalam menentukan motivasi dan tujuan menulisnya. Maka, setiap kali saya mengajar kelas menulis atau mengisi workshop menulis maupun yang lebih spesifik seperti jurnalistik, yang pertama kali saya sampaikan kepada peserta adalah: “Apa sih motivasi Anda menulis?” Selain saya ingin mengukur minat yang mereka inginkan, juga agar saya bisa urun rembug memberikan sedikit sharing agar niat dan tujuan menulis tidak sia-sia atau tidak hanya mandeg pada tataran yang sangat sederhana atau bahkan ‘sampah’.</p>
<p>Nah, jawaban saya untuk pertanyaan sesuai judul artikel ini adalah: menulis ditujukan untuk BERBAGI. Memberi manfaat kepada pembaca agar mereka bisa merasakan nikmatnya pengetahuan. Berbagi itu indah. Apa sajalah, pasti kita senang juga ketika memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ada sebuah pesan yang menarik, “Jika ilmu yang Anda pelajari dari saya dapat berguna untuk diri Anda, maka tolong berbagilah kepada orang lain agar orang lain pun dapat memetik manfaat dari ilmu tersebut,” demikian pesan Milton Erickson pada murid terbaiknya, Stephen Gilligan, PhD. Siapa Milton Erickson dan siapa pula Stephen Gilligan? Bagi Anda yang peminat atau praktisi hynotherapy atau juga Neuro-Linguistic Programming, pastinya mengenal guru dan murid di bidang tersebut. Ini sekadar contoh saja.</p>
<p>Dalam Islam, kita sudah diberikan tuntunan. Dakwah salah satunya. Dakwah itu adalah bentuk kepedulian. Menyampaikan informasi dan pengetahuan itu terasa indah dan menyenangkan. Menulis, adalah salah satu cara untuk mendukung terlaksananya dakwah. Andai saja tak ada orang yang mau berdakwah, mungkin akan banyak manusia di bumi ini yang tersesat di jalan kehidupan. Jika tak ada guru yang mengajarkan banyak ilmu, mungkin tak akan banyak orang-orang cerdas dan terpelajar di dunia ini. Mungkin saja jika orang tua kita tidak mendidik kita tentang kepribadian dan etika, akan banyak hadir di dunia ini anak-anak yang tak beradab. Indahnya berbagi.<span id="more-3399"></span></p>
<p>Menulis pun bagi kita semestinya diniatkan untuk berbagi. Ya, sekemampuan kita. Sebab, adakalanya untuk menjelaskan sesuatu kita butuh detil dan pemaparan fakta. Dan, itu tentunya harus dituliskan. Bukan dikatakan. Bahkan bila perlu dilukiskan dengan rangkaian kata yang indah untuk menjelaskan suatu definisi atau makna. Tulisan pun akan lebih awet dan bisa dipindah-pindah dengan mudah, dicetak dan disebar sebanyak mungkin melalui berbagai media penyampai pesan. Di era digital saat ini, tulisan bisa diproduksi dengan massal, bertebaran di internet, di surat kabar, di majalah dan ribuan buku. Jutaan para penulis lahir dari generasi ke generasi, berbilang tahun dan abad.  Subhanallah, hadis-hadis Rasulullah saw. sampai kepada kita. Kita bisa membacanya melalui riwayat yang disampaikan berabad-abad lamanya. Dibacakan, ditulis, dibacakan lagi, ditulis lagi. Begitu seterusnya. Kita, generasi mutaakhirin, tetap harus merasa bangga, karena ilmu banyak hadir. Karya Imam Bukhari masih bisa kita baca. Padahal, penulisnya sudah ratusan tahun lalu meninggalkan dunia ini. Menulis, memiliki kekuatan tersendiri untuk berbagi ilmu pengetahuan dan mendukung dakwah.</p>
<p>Saya insya Allah merasa yakin bahwa motivasi menulis para ulama adalah menggapai pahala. Para ulama terdahulu senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Swt. sebelum menulis karya-karya mereka. Dalam beberapa kisah bahkan para ulama itu menulis dalam keadaan bersuci. Banyak di antara mereka yang melakukan shalat sunnah terlebih dahulu untuk menuliskan ilmunya. Subhanallah, pantas saja ilmu mereka barokah. Pantas saja karya mereka bermanfaat dan mencerahkan pembacanya hingga kini. Kita wajib iri dengan karya-karya para ulama. Apa yang akan kita wariskan bagi kaum muslimin saat kita sudah tak ada dunia ini lagi? Apa yang akan kita titipkan untuk anak-cucu kita jika kita tak mencoba untuk meninggalkan sebuah saja karya tulis kita yang bisa dibaca dan menginspirasi banyak manusia untuk mengenal Islam? Siapa tahu, yang satu tulisan itu pahalanya terus mengalir sebagai bagian dari amal jariah kita untuk kemaslahatan umat. Apalagi, jika kita berhasil menuliskannya dalam sebuah buku, belasan, puluhan atau bahkan ratusan buku yang bermanfaat. Subhanallah, pasti bahagianya kita karena telah berbagi dengan sesama. Semoga kita bisa meneladani para ulama yang berkarya lewat tulisan.</p>
<p>Sahabat, satu hal yang mungkin perlu menjadi perhatian kita adalah soal NIAT. Jika kita menulis diniatkan untuk semata mencari popularitas dan decak kagum pembaca, tolong diluruskan niat itu. Jika kita menulis diniatkan untuk semata mencari harta, sepertinya perlu dipoles lagi keikhlasan kita. Yakinlah sahabat, ketenaran dan memiliki materi itu adalah efek samping saja dari kegiatan kita menulis. Allah Swt. sudah memberikan rejeki bagi makhlukNya sesuai keputusanNya, kok. Tak usah pusing. Karena kita hanya diminta untuk mencarinya, yang kadang itu pun datangnya bukan dari pekerjaan yang kita geluti. Dan, perlu dicetak tebal dalam ingatan kita bahwa rejeki tak selalu berarti materi. Kesehatan, ilmu, banyaknya teman, keluarga, waktu luang, bisa berdakwah, dan lain sebagianya yang bermanfaat bagi kita, adalah bagian dari rejeki juga. Insya Allah. Hal itu juga adalah nikmat yang bisa kita rasakan sebagai bagian dari rejeki.</p>
<p>Dengan demikian, “untuk apa kita menulis?” Ya, untuk beribadah, berdakwah, berjuang, dan berbagi dengan sesama. Bagi saya, menulis adalah perjuangan. Teruslah menulis jika ingin tetap berjuang. Tetap semangat dan jangan berhenti menulis. Teruslah menulis, meskipun profesi penulis tak segemerlap selebritis. Baik dari ketenaran, apalagi penghasilan. Kata seorang kawan yang sama-sama penulis sering berseloroh, “Kita-kita ini insya Allah kuat pendapatnya (termasuk dalam menulis), yang nggak kuat adalah pendapatannya”. Tetapi, tetaplah tegar di jalan dakwah.  Dan, tetaplah menulis menjadi bagian dari keterampilan yang harus kita miliki untuk membantu dakwah.</p>
<p>Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,</p>
<p>O. Solihin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/untuk-apa-sih-menulis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis melancarkan berbicara</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-melancarkan-berbicara</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-melancarkan-berbicara#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 16:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[berbicara]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3396</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa  melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin  yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek  samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang  merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p>Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa  melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin  yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek  samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang  merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping  dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah  menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin  saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi  kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia  menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!</p>
<p>Ya, jika Anda  termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu  terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis  terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda  akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau  setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal  memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah,  jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit  diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan  mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara  lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga  ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah  mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan  bisa jadi deras.</p>
<p>Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai  dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai.  Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya  insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada  tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan  kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih,  tak sampai tulisan kesepeluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan  ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk  mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi.  Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair.  Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan  setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang  yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita  ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur  tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.</p>
<p>Intinya:  menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi  juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua  mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi  setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa  menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun  lisan. Tetaplah menulis!</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-melancarkan-berbicara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berawal dari Membaca</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 17:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Kamu punya hobi membaca? Berbahagialah. Karena syarat menjadi penulis salah satunya adalah banyak membaca. Dengan membaca, kita jadi tahu segalanya. Hal yang sebelumnya menjadi misteri, setelah membaca, kita jadi ngeh. Membaca akan membuka wawasan kita tentang segala hal. Menyenangkan sekali memang. Waktu SD saja, senang betul bisa membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;margin-right:0.5em;" title="spk1b.gif" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/09/spk1b.thumbnail.gif" alt="spk1b.gif" align="left" />Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Kamu punya hobi membaca? Berbahagialah. Karena syarat menjadi penulis salah satunya adalah banyak membaca. Dengan membaca, kita jadi tahu segalanya. Hal yang sebelumnya menjadi misteri, setelah membaca, kita jadi ngeh. Membaca akan membuka wawasan kita tentang segala hal. Menyenangkan sekali memang. Waktu SD saja, senang betul bisa membaca buku-buku pelajaran, buku cerita, komik, bahkan ‘nekat&#8217; membaca koran. Dengan semakin banyak membaca, semakin besar rasa ingin tahu kita. Nggak mengherankan jika kemudian kita selalu ketagihan untuk membaca. Jadi, silakan baca buku apa saja, selama kamu sanggup untuk membacanya. Selama matamu masih melek (kalo tidur kan nggak bisa baca&#8230;he..he..he..) <span id="more-663"></span></p>
<p>Di Amerika, menurut Pak Ade Armando saat mengisi acara <em>Lunching</em> MRI Permata tahun 2002 lalu, ia menyebutkan bahwa hampir sejuta judul buku terbit tiap tahunnya. Itu menunjukkan bahwa minat baca di sana sangat besar. Di Jepang juga sama, seorang teman pernah memberi kabar, bahwa koran terbesar di sana, setiap hari bisa terbit dengan jumlah oplah 4 kali lebih besar dari jumlah penduduk Jepang itu sendiri. Apakah mereka mengkoleksi koran tersebut? Nggak tahu pasti. Tapi keberanian penerbit untuk mencetak sebesar itu, adalah sebuah prestasi sekaligus menaruh kepercayaan kepada masyarakat. Bahwa, masyarakat di sana memang ‘gila&#8217; baca.</p>
<p>Banyak orang besar rata-rata hobi membaca dan mengakui manfaat membaca bagi kemajuan karirnya. Sebut saja Theodore Roosevelt, ia bahkan sanggup membaca tiga buku dalam sehari selama di Gedung Putih. John F. Kennedy juga sama, bahkan ia disebutkan sanggup membaca 1000 kpm (kata per menit). Bisa dibayangkan, berarti dalam satu jam bisa membaca 60 ribu kata.</p>
<p>Dengan membaca, kita juga jadi tercerahkan. Apalagi sekarang sudah maju banget teknologi mesin cetak, hingga informasi bisa didapatkan dengan mudah sampe ke pelosok desa. Teknologi informasi yang juga ikut membidani lahirnya internet semakin membantu masyarakat mendapatkan informasi yang banyak. Inilah yang disebut sebagai ledakan informasi. Hasilnya, ambil contoh di desa, para petani yang rajin mendapatkan informasi, salah satunya dengan membaca, lebih maju dalam menggarap sawahnya. Ia tak lagi menarik bajak dengan menggunakan sapi atau kerbau. Sapi dan kerbau amat lamban. Ia beralih ke mesin traktor. Membaca, memang bermanfaat banget.</p>
<p>Banyak penulis besar, juga pasti berawal dari kebiasaannya membaca. JK Rowling, penulis novel terkenal, Harry Potter, nggak mungkin bisa mengekspresikan seluruh isi tulisannya jika tidak membaca sebelumnya, sehingga ia menjadi tahu kapan menumpahkan rasa marah dalam sebuah tulisannya, kapan menuliskan kekaguman, dan bagaimana caranya bisa menggiring pembacanya supaya bisa memahami tulisannya. Yakin itu. Ernest Hemingway bisa ngetop dengan novel-novelnya juga karena getol membaca. Mantan Presiden Sukarno, juga terkenal rajin membaca. Itu sebabnya, beliau bisa menuangkannya kembali dalam beberapa buku yang berhasil ditulisnya.</p>
<p>Kalo kamu nggak cukup buku untuk dibaca, silakan kunjungi perpustakaan. Atau paling banter datang ke toko buku. Meski kamu nggak beli satu buku pun, kamu bisa membaca buku baru yang dipajang tanpa segel. Silakan dibaca, siapa tahu ada informasi menarik yang bisa kamu dapatkan. Menyenangkan sekali bukan? Saya punya pengalaman menarik tapi sedikit memalukan. He..he..he.. nggak ding, bukan memalukan, tapi <em>nekatz</em>. Begini ceritanya, saya jalan-jalan ke toko buku. Ini memang sering juga saya lakukan untuk mencari informasi terbaru. Kalo ada uang di kantong, dan buku menarik itu bandrolnya nggak bikin kantong bolong, saya bisa beli langsung. Tapi waktu itu benar-benar kepepet.</p>
<p>Setelah mikir-mikir, sayang juga kalo kesempatan membaca buku itu hilang begitu saja. Akhirnya, dipicu oleh saking pengennya dapat informasi dari buku menarik itu, dan kebetulan buku yang dipajang itu tanpa segel, saya baca agak lama (tapi nggak sampe lecek sih). Nah, begitu ada data menarik, dan saya harus mendapatkannya, saya sempat bingung. Tapi kemudian dapat &#8216;ide nakal&#8217;. Saya ambil pulpen dan <em>blocknote</em> yang selalu nempel di saku baju saja. Setelah celingukan sebentar, saya langsung menyalin beberapa bagian penting dari buku menarik tersebut. Untung, sampe selesai nyalin penajaga tokonya nggak nyamperin saya. Ya, seandainya punya banya uang, atau semua buku itu murah harganya, kayaknya menarik juga untuk dikoleksi. Nggak sempat baca sekarang, kan masih bisa esok hari. Pokoknya banyak baca deh.</p>
<p>Terus terang saja, saya sendiri bisa menulis buku, setelah banyak membaca. Saya bahkan tidak bisa menuliskan satu kalimat pun saat belum ada informasi tentang apa yang akan saya tulis. Membaca adalah kemungkinan paling besar untuk mendapatkan informasi (selain mendengar tentunya). Membaca memang akan memperkaya wawasan. Manfaatnya besar banget lho. Jadi jika ingin jadi penulis, mulailah dengan membaca. Sebanyak mungkin, bacaan apapun (fiksi dan nofiksi). Selamat mencoba. <strong>[<a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Win Mempertaruhkan Jilbab Meski Terus Ditekan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 17:33:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3277</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab
Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.
Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong><em>Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab</em></strong></p>
<p><em><strong></strong></em>Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.</p>
<p>Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat ini dicampakkan begitu saja oleh pihak rumah sakit dengan dalih yang dicari-cari. Padahal selama empat tahun bekerja di rumah sakit swasta tersebut, ia mengaku tak pernah melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan.</p>
<p>Awalnya, Wine memang bersikap seperti karyawati RS Mitra pada lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa RS Mitra Keluarga manapun memang memberlakukan larangan berjilbab bagi karyawatinya. Bila ada di antara mereka karyawati yang berjilbab maka mau tidak mau mereka harus melepas jilbab setibanya di rumah sakit.<span id="more-3277"></span></p>
<p>Wine pun melakukan hal sama ketika ia berjilbab di tahun 2005. Selama tiga tahun ia bongkar pasang jilbab; berangkat memakai jilbab, tiba di RS buka jilbab, lalu pulang kembali mengenakan jilbab. Selama tiga tahun, meski resah kerap menghantui batinnya, ia masih bertahan dengan cara tersebut dengan pembenaran bahwa pekerjaan yang dilakukannya pun adalah bentuk ibadah.</p>
<p>Namun, petunjuk Allah mulai menerangi hati gadis kelahiran Jakarta, 27 November 1982 ini manakala pertengahan bulan April 2008 ia melakukan umrah. Dalam perjalanan umrah yang dipimpin oleh Ustadz Abu Jibril tersebut ia dinasehati oleh istri sang ustadz. Ia menanyakan kepada Wine mengapa masih bertahan dengan pekerjaan yang jelas-jelas menghalanginya menjalankan syariat Islam.</p>
<p>“Ketika itu istri Ustadz bertanya kepada saya, bagaimana bila ajal datang menjemput, sementara saya sedang dalam keadaan tidak berjilbab,” kenang Wine kepada hidayatullah.</p>
<p>Pertanyaan itulah yang menghantam kesadarannya dan membuat batinnya tak mampu lagi berkompromi dengan cara berjilbab yang telah dilakukannya selama tiga tahun belakangan.</p>
<p><strong>Tekanan Manajemen</strong></p>
<p>Berbekal kesadarannya itulah, Wine bertekad untuk mengenakan jilbab ketika kembali masuk kerja pada tanggal 21 April 2008. Ia mengaku tak ada seorang teman pun yang sempat ia ajak untuk mengikuti langkahnya. Semua yang dilakukannya benar-benar bertolak dari kesadaran dan spontanitas. Saat itu, ia masuk pukul 8 pagi. Ia keluar dari loker tempat berganti pakaian karyawan, menggunakan jilbab dan manset, lengkap dengan seragam kerja harian yang diwajibkan perusahaan. Jilbab yang dikenakannya ketika itu pun berwarna hitam, senada dengan rambut agar tak terlalu menarik perhatian.</p>
<p>Seketika seluruh mata tertuju kepadanya. Semua orang memandangnya dengan keheranan dan pihak rumah sakit kontan “gerah” melihat ulah Wine. Wine pun segera ditegur oleh Koordinator Rehabilitasi Medik, bagian dimana Wine menunaikan tugasnya selama ini. Ibu Suparmi, sang Koordinator, mengecam tindakan Wine dan menegaskan larangan bagi karyawati untuk berjilbab saat menjalankan tugas.</p>
<p>Wine tak bergeming dan sikap Wine membuat Manajer HRD RS Mitra Bekasi Barat, drg. Elisabeth Setyodewi, MM turun tangan. Wine segera dihadapkan pada tuntutan untuk segera mengajukan pengunduran diri bila tetap bertahan menggunakan jilbab di RS. Pihak RS tidak ingin melakukan pemecatan karena menurut pihak rumah sakit semua karyawan yang ingin melakukan pemutusan hubungan kerja pun membuat surat pengunduran diri. Belakangan, oleh Tim Pembela Muslim, hal ini diduga sebagai upaya manajemen RS berkelit dari kewajiban membayar pesangon bagi karyawan yang di-PHK.</p>
<p>Didesak dan ditekan sedemikian rupa oleh pihak manajemen, Wine akhirnya bersedia membuat surat pengunduran diri dengan alasan tidak boleh menggunakan jilbab. Namun, alasan itupun tidak disetujui oleh pihak manajemen karena terkesan ekstrim. Ia disarankan untuk membuat surat pengunduran diri tanpa alasan. Tentu saja Wine menolak membuat surat tersebut karena memang alasannya mengundurkan diri karena larangan berjilbab. Namun, pihak manajemen tetap pada sikapnya. Akhirnya tanpa ada keputusan apapun, Wine meninggalkan RS pukul 9.15 pagi setelah dipaksa menyerahkan kartu pegawai, kartu HMO (Kartu Berobat), dan kunci loker.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, ia ditelepon oleh pihak RS untuk datang mengurus masalah administrasi. Pada tanggal 25 April 2008, Wine pun datang menjawab panggilan tersebut dan meminta surat pemecatan dengan alasan larangan menggunakan jilbab. Permintaan tersebut dijawab dengan ancaman blacklist dari Setyodewi, supaya tidak ada satu rumah sakit pun di Jakarta dan sekitarnya yang akan menerima Wine bekerja. Pertemuan ini lagi-lagi tidak membuahkan hasil.</p>
<p>Waktu berlanjut hingga sepekan. Yang datang kepada Wine justru surat Panggilan I dan II yang isinya meminta Wine untuk kembali bekerja tetapi tetap dilarang menggunakan jilbab. Sebagai seorang muslimah sejati, tentu saja ia menolak panggilan tersebut. Hingga akhirnya datanglah surat panggilan III yang menyatakan pemecatan karena Wine telah mangkir dari pekerjaannya.</p>
<p><strong>Proses Hukum</strong></p>
<p>Melihat tidak adanya niat baik dari pihak RS, Wine pun menempuh jalur hukum dengan mengajukan permasalahan ini ke Tim Pembela Muslim (TPM). Selama proses hukum berjalan pun nampak pihak RS tidak sedikitpun berusaha mencapai kesepakatan yang terbaik. Bahkan pihak pengacara RS yang menghubungi Wine pun terkesan menakut-nakuti serta meminta Wine untuk mundur saja dari kasus ini. Namun, dara lulusan Akademi Fisioterapi UKI (Universitas Kristen Indonesia) ini tak ciut nyali.</p>
<p>Ia tetap maju berjuang, membela haknya dan hak kaum muslimah lainnya untuk mengenakan jilbab. Walau menurut pengakuannya, tak seorang pun dari teman-teman sekerjanya yang berani memberikan kesaksian untuk proses hukum, meski mereka juga jilbaber yang mengalami nasib yang sama.</p>
<p>“Awalnya mereka menyatakan dukungannya tetapi ternyata mereka kemudian memilih diam,” ujar Wine menyesalkan.</p>
<p>Perundingan demi perundingan hukum dilalui Wine, mulai perundingan  Bipartit yang dilakukan antara pihak kuasa hukum RS Mitra Keluarga Bekasi dengan TPM hingga perundingan Tripartit yang melibatkan Dinas Tenaga Kerja Bekasi. Perundingan tingkat Tripartit ini terpaksa ditempuh karena dalam tempo 30 hari tidak tercapai titik temu antara TPM dengan kuasa hukum RS. Masalah ini pun telah sampai di tangan DPRD Bekasi.</p>
<p>Selama proses hukum berjalan, ada tawaran dari pihak RS pada Wine untuk kembali bekerja. Namun, posisi yang ditawarkan justru semakin menambah kekecewaan Wine. Ia ditawarkan untuk bekerja di salah satu perusahaaan yang masih satu grup dengan RS Mitra Keluarga, yaitu  PT Estetika Interpresindo yang menyediakan kebutuhan rumah sakit dengan posisi di bagian administrasi. Ini jelas melecehkan profesionalisme Wine yang selama empat tahun menjadi tenaga fisioterapi. Meski ia dijamin boleh mengenakan jilbab tetapi Wine bersikeras menolak tawaran tersebut karena ia tahu, hal itu tidak berlaku pada karyawati lainnya.</p>
<p><strong>Dapat Dukungan</strong></p>
<p>Di tengah beban masalah dan tekanan itulah Wine terkadang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang panjang. Ia merasa jalan yang harus ditapakinya begitu terjal dan masalahnya tak kunjung selesai. Di saat itulah ia merasakan kekuatan yang begitu dahsyat datang dari Allah SWT dan keluarga hingga ia tetap berdiri menantang tekanan dan cibiran yang datang dari berbagai pihak. Yang tak masuk diakal, cibiran justru datang dari kaum Muslim sendiri.</p>
<p>“Yang paling menyakitkan adalah cibiran yang datang dari sesama Muslim,” ungkapnya.</p>
<p>Namun ia tak ingin bernasib sama seperti seorang temannya yang memilih keluar dari RS karena berjilbab tanpa memperjuangkan haknya. Wine bertekad untuk terus berjuang melawan kezaliman itu.</p>
<p>Jalan panjang yang ditempuh Wine dengan kesabaran dan keberanian memang tak akan disia-siakan oleh Allah SWT. Dukungan dari berbagai pihak, terutama dari Ormas Islam seperti FPI dan Forum Peduli Jilbab, datang membanjiri. Bahkan Forum Peduli Jilbab menggelar unjuk rasa di depan RS Mitra Keluarga Bekasi dengan kekuatan 500 orang. Menyusul kemudian pernyataan Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad yang akan memeriksa kembali izin usaha perusahaan di Kota Bekasi yang diketahui melarang karyawati atau pekerjanya menggunakan jilbab. Mochtar mengaku tidak segan mencabut izin usaha, apabila perusahaan membuat peraturan diskriminatif terhadap pekerjanya.</p>
<p>Izin bagi karyawati menggunakan jilbab di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat kemudian keluar pasca Idul Fitri 1429, lalu menyusul akan diberlakukan di seluruh RS Mitra Keluarga di tempat lain mulai Januari 2009. Hak-hak Wine berupa gaji yang tidak dibayar selama tujuh bulan dan pesangon pun telah dilunasi pihak RS.</p>
<p>Untuk mencegah kasus-kasus diskriminasi terhadap keyakinan beragama seperti ini, Win berharap kaum Muslim cepat tanggap dan kompak.</p>
<p>“Masih banyak umat yang belum paham jilbab yang memenuhi syariat. Ini menyebabkan pandangan umat terhadap kasus ini sangat beragam,” katanya kepada www.hidayatullah.com. Herannya, di negeri di mana kaum Muslim mayoritas. Diskriminasi seperti ini terus berlanjut. [<em><strong>syafaat/Sahid/</strong></em><a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/10121-2009-12-14-22-07-38.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kusir dan Keledai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 23:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[keledai]]></category>
		<category><![CDATA[kusir]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[pola hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2481</guid>
		<description><![CDATA[Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka
You are what you eat
You are what you drink
You are what you think
(Kamu adalah apa yang kamu makan
Kamu adalah apa yang kamu minum
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)
Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka</p>
<p><em>You are what you eat</em></p>
<p><em>You are what you drink</em></p>
<p><em>You are what you think</em></p>
<p><em>(Kamu adalah apa yang kamu makan</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu minum</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)</em></p>
<p>Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan diri, kitalah yang punya peranan. Apa yang kita makan dan minum secara alami atawa <em>sunnatullah</em>, pastinya punya efek buat badan kita. Orang yang terbiasa makan manis dan berlemak, badannya pasti gemuk dan rawan terkena penyakit gula. Mereka yang makan dengan teratur dan gizi yang cukup pastinya berpeluang besar untuk hidup lebih sehat.<span id="more-2481"></span></p>
<p>Percaya atau tidak yang mengendalikan badan kita adalah pikiran kita sendiri. Mau seperti apa badan kita, akal kita yang mengendalikannya. Nggak sedikit orang ngejalanin pola hidup kacau karena pikirannya memang nggak sehat. Contohnya teman-teman kita yang terjebak pada pergaulan nggak sehat, kebelit narkoba, dsb. Sebetulnya, mereka adalah orang-orang yang nggak mampu mengendalikan diri dari godaan lingkungan, teman-teman, dan hawa nafsu. Mereka lebih memilih hanyut dalam kebiasaan orang lain ketimbang berpikir panjang dan menimbang untung-rugi buat diri sendiri.</p>
<p>Untuk itulah Allah SWT. menciptakan buat kita akal, kemampuan berpikir, agar manusia bisa memilah dan memilih. Apa yang kita kerjakan memang sebaiknya dipikirkan dulu. Kita hidup nggak semata mengandalkan insting layaknya hewan. Tapi ada hal-hal yang harus direnungkan dengan serius, karena memang ada efek baliknya buat diri kita sendiri. Contohnya begadang itu asyik, tapi kalau tiap malam begadang nggak karuan, sementara kerjaan kita banyak kamu bisa tebak sendiri hasil akhirnya. Saat kita mau kerja badan malah ancur.</p>
<p>Tapi sobat, nggak cukup cuma ada akal, Allah juga menurunkan agama Islam ini buat pedoman hidup. Supaya kita tahu mana yang halal dan mana yang haram. Karena kenyataannya akal kita kemampuannya <em>cetek</em> banget. Nggak selamanya kita bisa milih yang baik dan buruk buat kita dari hasil pikiran kita sendiri. Banyak masalah yang kita perlu jawabannya dari orang lain, termasuk dari Zat Yang Menciptakan kita, Allah Rabbul &#8216;alamin. Dan kita juga harus yakin kalau sesuatu yang halal pastinya baik buat manusia, dan yang haram pastinya mudlarat/bahaya buat kita semua.</p>
<p>Sobat, ibarat pedati, tubuh kita adalah keledai sedangkan pikiran kita adalah kusirnya. Keledai berjalan selalu menuruti kehendak kusirnya. Kapan ia berbelok atau lurus, juga kapan ia berlari kencang atau berjalan lambat, semua terserah keinginan sang kusir. Jangan salahkan keledai kenapa ia salah berjalan, atau kenapa ia tidak mampu lagi berjalan. Kusirnyalah yang bertanggung jawab. Mungkin sang kusir lupa arah perjalanan, teledor dan mungkin ia tidak pernah memperlakukan keledainya dengan baik. Sang keledai tidak diberi makanan dan minuman yang baik, istirahat yang cukup, atau mungkin tidak pernah diberi perlakuan yang menyenangkan.</p>
<p>Maka seperti apakah perlakuan kita pada diri kita sendiri? Apakah badan kita selalu dicukupi dengan hal yang baik-baik, atau justru yang merusak. Juga, apakah badan kita selalu dihibur dengan hiburan yang baik atau justru dibiarkan selalu menderita dan kelelahan? Jauh-jauh hari Nabi kita Muhammad saw. mengingatkan akan pentingnya perawatan diri. Sabdanya</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya padamu ada kewajiban menunaikan hak atas tubuhmu&#8221;</em>(HR. Imam Bukhari).</p>
<p>Salah satu hak yang kita harus tunaikan adalah istirahat dan hiburan. Agama kita juga bukan agama yang mendewakan penyiksaan diri dengan dalih ibadah. Rasulullah saw. malah dikabarkan pernah marah pada sekelompok anak muda &#8216;ngotot&#8217; ingin beribadah. Salah satunya pengen puasa terus-terusan dan yang lainnya nggak pernah mau istirahat karena pengen ibadah sepanjang malam. Beliau marah bukan sekedar karena mereka mengada-ada, tapi juga karena mereka berarti melupakan hak buat badan mereka. &#8220;<em>Barangsiapa yang tidak menyukai sunahku maka bukan golonganku,&#8221;</em> nasihat beliau.</p>
<p>Jangan lupa, seperti halnya badan kita, hati dan pikiran pun membutuhkan hiburan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib <em>karamallahu wajhah</em> mengatakan, &#8220;Hiburlah hati waktu demi waktu, karena jika dipaksa ia menjadi buta.&#8221;</p>
<p>Ya, badan dan pikiran kitapun membutuhkan istirahat. Mengabaikan itu semua berarti melakukan kedzaliman pada diri kita.</p>
<p align="center">* * * * * *</p>
<p><em>Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat</em>. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Kekuatan tubuh justru ditentukan oleh kekuatan jiwa, oleh pikiran kita. Jiwa dan tubuh yang kuat lahir dari pikiran yang sehat. Misalnya selalu? berpikiran positif, optimistis, tidak mudah cemas apalagi pesimistis, selalu curiga, dsb. Dalam dunia kedokteran modern kini sudah ditemukan hubungan antara kesehatan fisik dengan kesehatan mental. Ternyata kesehatan mental memberikan pengaruh yang sangat besar pada kesehatan tubuh. Mereka yang selalu cemas biasanya rentan terkena berbagai penyakit, seperti gangguan jantung.</p>
<p>Pikiran yang sehat hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa dekat pada Allah dan membina diri dengan berbagai pemahaman agama. Coba kita lihat, agama kita, Islam, senantiasa mengajak pemeluknya untuk memiliki aneka pikiran positif: husnudzan, optimisme dan penuh harapan, serta pasrah dan ikhlas atas segala ketentuan Allah. Bukankah itu sebagian dari pikiran-pikiran yang baik?</p>
<p>Maka kendali diri itu adalah memperkaya akal dan hati kita dengan pemahaman agama. Ruang akal dan hati yang diisi dengan pemahaman agama akan membentuk karakter dan tubuh yang kuat. Kebiasaan makan, minum, cara berpakaian, dan perilaku kita amat erat dengan pola pikir kita. Hanya orang-orang yang kaya dengan pemahaman agama-lah yang akan mendapatkan kemuliaan dan kebaikan. Dari agama kita jadi tahu misalkan, bahwa minuman keras berpotensi merusak kesehatan jantung, ginjal dan syaraf manusia. Demikian pula narkoba. Sementara itu makan dan minum yang berlebihan juga membuat organ-organ pencernaan kita bekerja tidak normal sehingga dapat mengganggu kesehatannya.</p>
<p>Sesungguhnya kekuatan pikiran amatlah dahsyat. Sebuah penelitian di Brookhaven National Laboratory Uptown New York, menemukan jawaban mengapa orang gemuk makan lebih banyak. Yakni karena otak mereka, khususnya bagian yang mengatur rasa nikmat makanan pada mulut, lidah dan bibir, lebih aktif serta sensitif merasakan nikmatnya makan lebih dibanding orang yang kurus. Bisa disimpulkan bahwa pikiran berpengaruh luar biasa pada pola makan seseorang. Jadi, sebelum orang melakukan berbagai diet atau mengkonsumsi makanan non-kolesterol dan obat-obat pelangsing lainnya, mereka terlebih dahulu harus mengendalikan pikiran mereka soal makanan.</p>
<p>Di bulan puasa inilah kesempatan kita untuk melatih pikiran dan mengendalikan diri kita. Karena puasa seperti kata Rasulullah adalah perisai diri, puasa melatih kekuatan pikiran kita dari makan, minum bahkan berbagai akhlak yang tercela. Inilah saatnya sang kusir melatih keledainya agar dapat bekerja sebaik-baiknya. Agar perjalanan mereka berdua selamat sampai tujuan. Maka, sobat, kendalikan tubuh kita dengan pikiran kita. Jadikan badan kita sebagai sebaik-baiknya tunggangan, dan perlakukan ia dengan adil sesuai haknya.[januar]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi pekan kedua Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhir Petualanganku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 18:12:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2420</guid>
		<description><![CDATA[Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. 
Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. </em></strong></p>
<p>Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. Aku hanya tahu, suatu hari di rumah ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku perhatikan beberapa bulan terakhir itu orangtuaku memang sering bertengkar. Setelah itu, ayahku tak pernah pulang lagi ke rumah. Dengar-dengar dari tetangga, katanya ayahku menikah lagi. Aku masih tak mengerti. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan besar dan rumit bagi otakku.</p>
<p>Waktu terus berjalan, usiaku pun bertambah. Aku menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah ketika kakak laki-lakiku yang pertama pindah ke kota lain karena harus studi di sana. Aku masih punya satu kakak perempuan dan tiga adik perempuan. Sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah, seharusnya aku lebih dewasa. Lebih mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi ayah sudah jarang datang ke rumah lagi meski masih memberi nafkah buat kami. Seringnya bahkan uang buat kami dititipkan lewat kawan ayah. Dan itu membuat aku dan saudara-saudaraku terbiasa hidup tanpa kehadiran ayah dan curahan kasih-sayangnya. Ayah tak lagi menemani kami di rumah dengan cerita dan canda. Padahal jujur saja, kehadiran ayah sangat kami rindukan.<span id="more-2420"></span></p>
<p><strong>Aku membenci ayah</strong></p>
<p>Setelah aku SMP dan pergaulanku mulai luas, aku sering iri dengan kawan-kawanku yang keluarganya utuh dan harmonis. Aku sering menangis dalam hati setiap pembagian rapot hanya ibu yang hadir. Aku sakit hati. Apalagi ayah sepertinya melupakan aku dan saudaraku. Berbagai macam cerita dan omongan dari tetangga, kerabat, teman, dan aku saksikan sendiri kelakuan ayah, mulai tumbuh dalam perasaanku untuk membenci ayah.</p>
<p>Bahkan sejak ayah jarang memberi nafkah, dan ibu harus banting tulang untuk menyekolahkan keenam anaknya, aku kian menggunungkan perasaan benciku pada ayahku sendiri. Waktu terus berjalan sementara aku tak menemukan tempat yang baik untuk muara emosiku. Akhirnya aku menemukan hidupku di jalanan. Ya, di saat aku masih labil itulah, aku bergaul dengan teman-teman berandalanku.</p>
<p>Aku tak bisa mengendalikan diri. Kebencianku kepada ayah akhirnya menjadi justifikasi atas semua perbuatanku. Aku mencari perhatian dari ayah. Sebenarnya bukan untuk mencari perhatian sih, karena dalam hati kecilku tersimpan rencana jahat, bahwa aku harus membuat perhitungan dengan ayahku. Aku berharap, dengan aksi ini ayah dibuat pusing.</p>
<p><strong>Ikut kakak lelakiku</strong></p>
<p>Aku benar-benar berada di luar kendali. Hubunganku dengan kawan-kawan di jalanan terus intensif. Rumah aku jadikan tempat transit saja. Malam hari lebih banyak aku habiskan di luar bersama kawan-kawanku. Tentu saja membuat ibu kecewa. Aku juga tak paham mengapa aku bisa terlalu jauh berubah seperti itu. Waktu itu aku akan masuk SMA, untuk biaya pendaftaran saja ibuku tak punya. Tapi demi masa depan anak, ibu rela meminjam uang ke famili dan tetangga karena mengandalkan hasil penjualan pakaian yang dikreditkan harus menunggu lebih lama.</p>
<p>Anehnya aku waktu itu, meski telah masuk SMA negeri, tapi karena beda kecamatan dan harus kos, aku mulai rewel. Aku bilang kejauhan dan nggak betah. Padahal, sejatinya aku tak bisa bergaul dengan kawan-kawanku yang berandalan itu. Yang menurutku mampu menjadi muara emosiku. Akhirnya, aku dipindah ke sekolah yang dekat dengan rumah.</p>
<p>Tapi, itu tak berlangsung lama. Ibu merasa khawatir dengan pergaulan yang aku jalani, akhirnya dengan sangat terpaksa setelah dibujuk ibu dan paman, aku memutuskan untuk ikut dengan kakakku di kota lain, yang kebetulan waktu itu sudah lulus sekolah dan bekerja.</p>
<p>Ibu dan keluarga berharap aku lebih bisa tenang karena dijaga kakakku yang lelaki. Aku memang menaruh hormat kepadanya, meski menyebalkan juga dengan banyaknya aturan ini dan itu. Terutama soal agama. Mungkin ini pula yang membuat ibu yakin bahwa aku akan aman tinggal bersama kakak lelakiku.</p>
<p>Di kota bersama kakakku, aku justru menemukan dunia baru. Aku banyak bergaul dengan anak-anak kota. Kakakku memang menyekolahkan aku di sebuah sekolah negeri. Dengan harapan pergaulannya terjaga. Tapi dalam perjalanannya, aku justru telah mengkhianati kepercayaan kakakku. Uang SPP yang diberikan tiap bulan justru aku habiskan di meja bilyard bersama rekan-rekanku. Prestasi di sekolahku hancur. Kakakku tentu saja kecewa. Tapi ia tak banyak bicara, hanya sesekali saja menasihatiku. Justru itu yang membuat aku malu. Untuk meredam kelakuanku aku sengaja dititipkan di teman kerjanya. Di sini memang aku jadi lebih bebas, tapi keuangan terbatas. Mungkin kakakku berharap aku mulai mikir. Tapi tidak. Aku semakin kacau.</p>
<p><strong>Petualangan baru</strong></p>
<p>Petualanganku di kota bersama kakak berakhir setelah aku lulus SMA dengan predikat yang tak memuaskan. Aku pamitan dan akhirnya aku pergi ke kota lain ikut bersama pamanku. Aku jalani hidup di bengkel, jadi tukang cuci mobil, dan apa saja yang aku bisa lakukan. Sedih juga. Tapi itulah yang harus aku lakukan. Mau tidak mau. Anehnya, di sini pun aku seperti ditakdirkan untuk bertemu dengan berandalan. Aku pun larut lagi dalam dosa dan maksiat.</p>
<p>Kondisi ini membuat kakakku kecewa, ibu kecewa, juga adik-adikku menaruh ketidakpercayaan kepadaku. Sekitar lima tahun sejak lulus SMA aku jalani kehidupan liar. Bahkan semakin liar karena lepas dari pengawasan ibuku. Jika kakakku jarang marah dan hanya sesekali ngasih nasihat, tidak dengan pamanku yang memang polisi. Aku sering dimarahi. Tapi aku tahu diri, bahwa aku memang salah. Akhirnya aku pindah dan kos, meski akhirnya balik lagi karena pergaulanku tambah parah.</p>
<p>Setelah sekian lama bertualang, aku lelah. Cukup lelah. Sampai ibuku merasa perlu memaksaku untuk segera berkeluarga saja. Karena ibu menganggap itu jalan terbaik untuk meredam gejolak jiwa liarku. Itu sebabnya, ketika aku mendapatkan seorang gadis, ibu buru-buru memintaku menikah. Awalnya aku tidak menurut, hingga ibu jatuh sakit parah dan dirawat di RS, tapi kemudian aku sadar dan mau menikah.</p>
<p>Kini aku sudah menikah. Semoga ibu dan saudaraku mau memaafkan kesalahanku selama ini. Aku sering merenung dan aku berusaha untuk lebih baik dalam hidup. Karena, sebentar lagi aku akan punya anak, sangat malu jika bapaknya tetap seorang berandalan. Semoga kuat melangkah di jalan yang baru kupilih ini. <strong>[seperti dituturkan seorang ikhwan kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blast From The Past for Wiwid</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/blast-from-the-past-for-wiwid-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/blast-from-the-past-for-wiwid-2#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 17:40:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1497</guid>
		<description><![CDATA[  
By: Iwan Januar

Punya masa lalu yang kelam bin suram itu nggak enak. Takut ada yang ngungkit-ngungkit, atau keungkit sendiri (dongkrak kalee!). Soalnya itu kan aib bo! Siapa yang jamin nggak bakal terungkap.
Itu juga yang dialamin sama Wiwid. Anak rohis urusan logistik cewek bin akhwat ini punya aib di masa lalu &#8211; tapi kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml>< ![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce :style>< !  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> </mce><mce :style>< !   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>By: Iwan Januar<br />
</strong></p>
<p>Punya masa lalu yang kelam bin suram itu nggak enak. Takut ada yang ngungkit-ngungkit, atau keungkit sendiri (dongkrak kalee!). Soalnya itu kan aib bo! Siapa yang jamin nggak bakal terungkap.</p>
<p>Itu juga yang dialamin sama Wiwid. Anak rohis urusan logistik cewek bin akhwat ini punya aib di masa lalu &#8211; tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, cukup saya aja yang tahu &#8211;. Tepatnya itu terjadi waktu ia masih &#8211; <em>you know</em> &#8211; jadi seleb. Yup betul, kamu jangan tertipu dengan penampilan Wiwid saat ini. <em>Don&#8217;t judge the girl by her jilbab</em>. Siapa nyangka dibalik jilbabnya yang anggun ia mantan vokalis band indies cewek. Bareng temen-temen SMPnya mereka bikin band aliran hitam, eh <em>grindcore</em> dengan nama <em>Kasih Ibu</em>. Lumayanlah, sering dipanggil manggung terutama kalau pas acara sunatan massal atau kenaikan kelas di TK-TK seantero Jakarta Utara. Pamor mereka cuma kalah ama grup tahlil sewaan di acara 40 hari atau 100 hari orang meninggal. Iyalah, mana ada di acara kematian nanggap band, apalagi yang beraliran grindcore.</p>
<p>Tapi aib itu juga belum cukup, bo. Namanya selebritis sekali-kali kesandung juga ama yang namanya jatuh cinta. Wiwid juga ngalamin. Sebagai akhwat yang memiliki naluri mencintai lawan jenis atawa <em>gharizah nau</em> (ciee keluar nih kitabnya) ia juga pernah ngalamin. Ceritanya ketika manggung, ada cowok yang perhatian banget ngeliat penampilan Wiwid yang heboh. Cowok itu keren abis, perpaduan tampang Ari Sihasale dengan Taufik Savalas dan mesin giling (hi&#8230;hi&#8230;hi&#8230;).<span id="more-1497"></span></p>
<p>Wiwid yang lagi manggung terang aja makin pede. Yeah, <em>steal the show</em>-lah. Ia jadi makin napsu bawain lagu <em>Yamko Rambe Yamko</em>. Sampai lupa kalau ia pake sepatu hak tinggi. Karena terlalu hot jejingkrakan keseimbangannya ilang, ia pun meluncur jatuh. Terjun bebas ke arah penonton. Bukannya panik penonton malah makin histeris. Nyangka kalau itu bagian dari aksi panggung. Mereka nyangka Wiwid lagi meragain <em>moshing pit</em>, ngeluncur di atas kepala penonton. Terus aja mereka ngoper badan Wiwid sampai ke belakang. Paling akhir Wiwid di oper ke bak sampah. Blug! Ia pun terduduk di keranjang sampah bercampur dengan tumpukan sampah yang bau.</p>
<p>Begitu bangun cowok itulah yang menolongnya. &#8220;Sakit ya?&#8221; tanyanya. Wiwid ngegelengin kepala, &#8220;Nggak!&#8221;. Emang sih kagak sakit, tapi mokalnya itu, Mas! Belum sempat itu cowok tanya-tanya, Wiwid udah diamanin Pak Hansip yang jadi sekuriti. &#8220;Mas, mas kalo minta tanda tangan atau cap jempol nanti aja di kelurahan,&#8221; katanya galak. Cowok itu mendelik, emangnya mo bikin KTP. Walhasil perkenalan itu pun tertunda.</p>
<p>Tapi kalau udah ngebet jatuh cinta, pasti ada aja jalan keluar. <em>Love will find away</em> kata grup musik Tesla. Mereka berpapasan waktu Wiwid belanja di mall nyari barang diskonan.</p>
<p>&#8220;Hai, ketemu lagi&#8221; sapa cowok itu ramah. Wiwid jadi sumringah plus geer.</p>
<p>&#8220;Kamu yang nolongin saya ya,&#8221; kata Wiwid.</p>
<p>&#8220;Iya, kita belum sempet kenalan. Kenalin saya Iip, tinggal di Casablanca,&#8221; cowok itu langsung merepet. Wih keren juga nih tinggalnya di kawasan elit Casablanca, pikir Wiwid langsung.</p>
<p>&#8220;Jangan salah, Casablanca itu Kampung Sawah Belakang,&#8221; kata tuh cowok lagi sambil cengar-cengir. Wiwid ikutan nyengir. Aih, aih, udah keren bisa ngelucu lagi. Wiwid makin seneng aja punya kenalan cowok kayak begini.</p>
<p>&#8220;Oh iya, nama kamu siapa?&#8221; Aduh kenapa gue jadi terkesima gini sampai lupa nyebutin nama.</p>
<p>&#8220;Saya Wiwid, vokalis band Kasih Ibu,&#8221; kata Wiwid sambil te-pe, tebar pesona. Cowok itu langsung muji abis penampilan keren Wiwid waktu manggung. Ternyata ia udah sering ngikutin band-nya Wiwid setiap manggung. Mereka pun lalu tuker-tukeran nomor HP. Biar bisa ber-sms ria. Dengan senang hati Wiwid ngasih nomor HP sampai alamat rumahnya yang lengkap plus nama Pak RT dan ayam peliharaannya.</p>
<p>&#8220;Yuk, gue cabut ya. Mo jemput Mami yang lagi belanja di pasar belakang. Selamat ngeborong belanjaan,&#8221; Iip berpamitan sambil matanya ngelirik ke tangan Wiwid yang lagi pegang barang di keranjang diskon. Wiwid senyum sambil curiga kenapa orang-orang pada ngeliatin? Ya ampun Wiwid nggak nyadar kalo dari tadi ia ngobrol sambil pegang BH diskonan yang mau ia beli. Apalagi ia sempat ngibas-ngibasin tangan. Pantesan orang-orang pada ngeliatin. Gubrag!</p>
<p>Nggak lama mereka pun jadian. Ya, kayak yang lain aja, pacarannya pake jalan-jalan ke Dufan, nonton <em>Charlie&#8217;s Angel II: Full Throttle</em> atau pas lagi bokek nonton <em>Ketoprak Humor</em> di rumah Wiwid bareng bokapnya yang fans berat Basuki Srimulat.</p>
<p>Cuma begitu masuk SMA mereka pun bubaran. Iip harus ikut bokapnya yang pegawai negeri pindah ke Irian Jaya. Sementara itu Wiwid kan harus nerusin sekolah di Jakarta. Dua sejoli itu pun terpisahkan oleh jarak dan waktu. Wiwid sempat nangis, malah ia pun nggak makan dan minum selama sebulan&#8230;waktu puasa Ramadlan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Alhamdulillah waktu masuk SMU ia ketemu sama Adit yang tomboy tapi jilbaber. Juga temenan sama &#8230;. Singkat cerita ia jadi tersadar kalo selama ini ngejalanin hidup yang kurang sehat. Manggung pake rok mini, jejingkrakan di atas panggung, dan makin semangat kalo udah disorakin ama cowok-cowok yang asyik nonton. Ia nangis waktu tahajud karena ngerasa udah ngelakuin banyak dosa. Ia pengen tobat.</p>
<p>Tapi kemampuan Wiwid ternyata ada manfaatnya. Karena biasa nyetel peralatan band dan tahu banyak soal listrik ama katering, ia pun kebagian urusan logistik di rohis. Jadi seksi sibuk sekale di kegiatan pengajian. Citra Wiwid yang liar macam vokalis Evanescence yang kece pudar ditutup kerudung en jilbabnya yang rapi jali. Sekali-kali aja ia suka muter lagu <em>Bring Me To Life-</em>nya Evanescence. Itupun masih kalah sama puteran kasetnya <em>Ruhul Jadid</em> yang kenceng punya. Teman-temannya nggak ada yang tahu kalau ia punya masa lalu yang lumayan kelam.</p>
<p>Sampai suatu hari di kelasnya muncul seorang cowok yang pernah ia kenal. Pak Zainuddin MG, wali kelasnya nganter itu cowok. &#8220;Assalamu&#8217;alaykum anak-anak, hari ini ada kalian semua kedatangan seorang kawan baru dari tempat yang jauh. Tepatnya dari Irian Jaya. Coba, nak perkenalkan dirimu sendiri,&#8221; Pak Zainuddin ngasih prolog.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaykum teman-teman. Perkenalkan nama saya Syarifuddin, boleh juga dipanggil Iip&#8230;&#8221;</p>
<p>Sampai di situ Wiwid hampir pingsan. Perasaan dosa plus takut masa lalunya terbongkar, campur mirip pecel. Wiwid nggak berani menatap ke depan. Takut ketahuan. Sepanjang hari itu pikirannya jadi nggak konsen ama pelajaran. Kacau beliau lah pikirannya. Pas jam istirahat juga ogah ke kantin, terutama setelah nyadar kalo ia lupa bawa dompet. Ia juga menghindar ketemu ama Iip. Malah pas bubar sekolah ia nunggu paling akhir. Terus celingak celinguk ke luar kelas, baru kalo dirasa aman ia berani keluar kelas en ngibrit sekencang-kencangnya dari sekolahan. Mirip maling ayam diuber FBI.</p>
<p>Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jadi atlit lompat tinggi, eh jatuh juga. Wiwid ketangkep basah oleh Iip waktu mereka berpapasan di gang sekolah yang sempit. Iip mengenali juga dirinya.</p>
<p>&#8220;Lho kamu Wiwid, kan?&#8221; Iip curiga. Wiwid jadi grogi. Apalagi waktu Iip ngeliatin dengan gaya AS nginterogasi anak buah Usama bin Laden. Sepatu karetnya yang dipake berjalan jadi keseret-seret ngeluarin suara mendecit-decit ngeluarin mirip-mirip kentut.</p>
<p>&#8220;Dee baru ditanya begitu udah kentut segala,&#8221; ledek Amri temen sekelasnya. Teman-teman Iip cengengesan. Wiwid makin pengen pingsan. Nggak ngejawab, ia tetep jalan sambil nundukkin kepalanya. Duk! Ya ampun ia nabrak tiang. Bukannya nolongin, anak-anak cowok itu makin ngakak. Lumayan ada lawakan ala Srimulat pagi-pagi, pikir mereka. Wiwid sendiri ngibrit sambil ngusap-ngusap jidatnya yang lumayan nggak mulus alias benjol. Berderai air mata ia masuk ke kelas.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>&#8220;Gw jadi bingung, tolongin gue dong, Ri,&#8221; Wiwid lagi curhat ama sepupunya, Riri yang lagi kuliah di London via chatting.</p>
<p>&#8220;Wid, setiap orang kan punya masa lalu. Ada yang bagus, ada juga yang nggak. Ya, itu udah nggak bisa kita lepas karena emang udah terjadi. Kita nggak bisa apa-apa,&#8221; bales Riri.</p>
<p>&#8220;Terus gw kudu gmn, dong?&#8221; Belum ada jawaban dari Riri. Lama.</p>
<p>&#8220;Eh, kurang ajar ya, elu diminta tolong malah ngorok? L&#8221; Riri ngedumel.</p>
<p>&#8220;Afwan en sori, gw ngantuk berat. Abis ujian jadi krg tdr. J&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, trs gmn dong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gmn lg. Masa lalu yang jelek kan emang kesalahan kita. Jadiin pelajaran en banyak aja istighfar. Trs jangan prasangka buruk sama orang lain kalau mereka bakal ngungkit-ngungkit masa lalu kita. Iya nggak?&#8221;</p>
<p>Bener juga, pikir Wiwid. Kenapa gue jadi su&#8217;udzan ama Iip kalo dia bakal ngebongkar masa lalu gue. Belum tentu kan?</p>
<p>&#8220;Gmn, udeh puas? Kudu ya? Gw udah ngantuk nih. Besok kita sambung <em>in the same channel and in the same time</em>. Adios amigos parantos permios, assalamu&#8217;alaykum&#8221; tulis Riri.</p>
<p>&#8220;OK deh, thx berat. Sori udeh ganggu istirahat lu. Salam buat Wayne Rooney, jangan belagu mentang-mentang jadi pemain England termuda yang bikin gol di piala Eropa. Wa&#8217;alaykum salam.&#8221;</p>
<p>Klik. Komputer di kamarnya pun dimatiin. Baru deh Wiwid bisa bobok dengan tenang.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Pagi ini Wiwid udah bangun dengan seger. Ah, enaknya hidup tanpa beban pikiran. Nggak kaya beberapa hari yang lalu ia pusing berat. Hidup itu memang ada masa lalu, tapi kalau kita terus berkutat dengan masa lalu, sekelam apapun, bisa-bisa kita jadi orang yang nggak syukur nikmat dengan hari ini dan masa depan. Dangkal banget kayaknya kalo cuma mikirin masa lalu. Yang penting, semua udah lewat, udah jadi pelajaran berharga yang nggak bakal terulang lagi.</p>
<p>&#8220;Eh, tumben nih nasi gorengnya abis nggak kayak kemaren,&#8221; tanya Maminya heran. &#8220;Alhamdulillah, donk Mi sekarang napsu makan Wiwid udah baekan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho emangnya kemarin sempat nggak napsu makan? Kenapa?&#8221; Mami curiga.</p>
<p>&#8220;Biasa Mi, anak muda, ada aja urusan yang bikin pusing. Jalanan macet, tarif Metro Mini naek, pejabat pada korup, en selebritis kita kawin cerai mlulu. Gimana nggak kepikiran tuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Duile, kayak Andi Malarangeng aja ngomongnya. Emang mau jadi calon legislatif, Wid?&#8221; kata Maminya usil.</p>
<p>&#8220;Nggak ah, jadi anggota legislatif nanti dituduh morotin uang rakyat. Kalo Wiwid jadi anggota legislatif bakal sering mangkir atau tidur di ruang sidang. Soalnya kecapean ngurusin suami ama anak-anak di rumah,&#8221; timpal Wiwid sambil nyamperin Mami untuk cium tangan en ngucapin salam.</p>
<p>Ya, hari ini Wiwid masuk sekolah dengan perasaan tenang. Nggak takut deh ketemu ama Iip. Pokoknya Iip mau ngomong apa aja terserah, yang penting gue udah berubah. Bukan lagi Wiwid dulu yang metal, yang funky atawa yang suka pacaran.</p>
<p>Baru aja Wiwid nyimpen tas di bangku kesayangannya yang nomor 36 (ceile bangku kereta kali pake nomor), sesosok cowok mendekatinya. Eh, Iip.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaykum, Wid,&#8221; sapanya sopan. Nggak beda kayak dulu.</p>
<p>&#8220;Wa a&#8217;alaykum salam,&#8221; rada grogi juga tuh Wiwid ngejawabnya.</p>
<p>&#8220;Wid, nggak nyangka gue bakal ketemu lagi ama elo. Surprise buat gue,&#8221; Iip langsung bicara.</p>
<p>&#8220;Apalagi&#8230;elu udah pake jilbab kayak begini. Gue kaget banget lo,&#8221; Iip terus ngomong. Wiwid diem.</p>
<p>&#8220;Gue denger elo juga aktif di pengajian ya? Bener gue kagak nyangka, kalo elo bisa berubah. Ternyata waktu emang bisa bikin kita beda ya, Wid?&#8221; Wiwid nggak nanggepin. Still waiting.</p>
<p>&#8220;Tapi terus terang gue bangga. Gue mau ngucapin selamat ternyata elo bisa berubah jadi muslimah sejati. Gue juga pengen ngikutin jejak elo, kayak temen-temen yang laen. Ngaji, punya pemahaman Islam yang bener. Sekali lagi, selamet ya Wid,&#8221; gitu kata Iip.</p>
<p>Ih, suer Wiwid nggak nyangka ternyata Iip ngomong kayak begitu. Ia jadi terharu. Ternyata kejadiannya nggak seperti yang ia sangka. Ah, jahat betul ia berprasangka yang nggak-nggak sama Iip. Belum sempat Wiwid ngomong bel udah bunyi. Pelajaran bakal dimulai.</p>
<p>Sore itu Wiwid ngirim sms ke Iip bunyinya:</p>
<p><em>Ip, semua orang bisa berubah jadi baik. Elo juga bisa.</em></p>
<p><em>Asal kita mo usaha.</em></p>
<p><em>Temen-temen di rohis siap kok ngebantu. Kita tunggu ya?</em>l</p>
<p style="text-align: right;">[diambil dari Majalah PERMATA, edisi 17/Tahun VIII/Oktober 2003]</p>
<p></mce></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/blast-from-the-past-for-wiwid-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencuri Terburuk</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 18:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[buruk]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pencuri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.
Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.</p>
<p dir="ltr">Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, seperti jam tangan, ponsel atau motor. Sulit rasanya untuk percaya dan menerima kenyataan kalau barang-barang itu sudah raib. Ludes disikat maling. Tapi, biasanya luka itu akan segera hilang karena memang kita sadar barang-barang itu sudah tidak ada di depan mata dan lenyap dari genggaman tangan kita.</p>
<p dir="ltr">Nah, berbohong berarti mengelabui orang lain, memanipulasi sesuatu, membuat orang lain percaya pada sesuatu yang tidak ada. Itu bisa terjadi untuk waktu sehari, dua hari atau malah seumur hidup. Orang yang dibohongi nggak sadar kalau ia telah kehilangan sesuatu, yakni kepercayaannya. Bila seorang pembohong mendapatkan kepercayaan dari orang yang berhasil dikelabuinya, maka si pembohong bukan saja mendapat simpati, tapi juga harta, kehormatan, dan apa saja yang ia inginkan. Inilah pencurian yang paling menyakitkan dan menyebalkan.<span id="more-2486"></span></p>
<p dir="ltr">Katakanlah, ada seorang anak yang berbohong pada orang tuanya kalau ia ditunjuk oleh gurunya menjadi anggota tim basket sekolah untuk sebuah kompetisi, ortunya mungkin akan bangga. Berikutnya, saat sang anak minta dibelikan sepatu yang baru &#8211; untuk berlatih dan bertanding &#8211;. Ortu yang sudah kepalang bangga dan sayang pada sang anak pasti berusaha membelikannya. Begitupula ketika sang anak minta tambahan uang jajan dengan alasan pergi berlatih dan bertanding, lagi-lagi orang tua akan mengabulkan. Jadi, sudahlah sang anak &#8211; yang berbohong itu &#8211; mendapatkan kebanggaan dari orang tua, masih mendapatkan sepatu baru dan juga tambahan uang jajan. Maka, kamu bisa paham kan kenapa sampai ada ahli hikmah yang mengatakan bahwa berbohong jauh lebih buruk dari mencuri?</p>
<p dir="ltr">Dalam kehidupan, banyak alasan kenapa orang mau berbohong; untuk ketenaran, untuk kekayaan, atau untuk keselamatan dirinya. Beberapa tahun silam, ada duo rapper yang punya nama grup Milli Vanilli. Lagu-lagu mereka macam <em>Girl You Know It&#8217;s True</em> dan <em>Ma Baker</em> jadi jawara di sejumlah tangga lagu mancanegara. Album mereka laris dan diganjar sejumlah penghargaan. Ternyata, terbukti kemudian kalau mereka berdua bukanlah penyanyi sebenarnya. Mereka cuma <em>lipsync</em>. Ini contoh kebohongan untuk mendapatkan ketenaran dan juga kekayaan.</p>
<p dir="ltr">Ada kebohongan untuk menyelamatkan diri. Seorang pencuri kambing yang tertangkap basah sedang menuntun kambing curiannya bisa dengan mudah <em>ngeles</em>, menghindar dari tuduhan mencuri. <em>&#8220;Ini bukan pencurian. Saya hanya mungut tali, tahu-tahu ada kambing yang mengikuti dari belakang.&#8221;</em> Bahkan, pada zaman khalifah Umar bin Khaththab ra. seorang pencuri dengan berani berbohong atas nama Allah. <em>&#8220;Aku mencuri atas takdir Allah,&#8221;</em> katanya pada hakim. Akhirnya pengadilan menghukum pencuri itu dengan jilid dan potong tangan. Hukuman potong tangan untuk kasus pencuriannya yang mencapai batas ? dinar, dan sanksi jilid untuk kebohongan atas nama Allah.</p>
<p dir="ltr">Dan, ada juga kebohongan untuk alasan ideologis. Untuk menyesatkan orang. Darwin dan para pengikutnya bisa jadi contoh. Untuk membuat orang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, berbagai khayalan mereka buat dengan sebutan teori ilmiah. Teori <em>generatio spontaneae</em>, evolusi, dsb.</p>
<p dir="ltr">Untuk membuat orang sedunia percaya bahwa Islam dan kaum Muslimin adalah ancaman, orang-orang kafir melatih berbagai milisi bersenjata yang terdiri dari orang-orang Islam. Al Qaida, salah satunya. Itu mereka lakukan untuk memadamkan cahaya Islam yang mulia.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah, padahal Allah menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir membencinya.&#8221;</em>(Ash Shaf [61]:8).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">* * * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong adalah perbuatan yang akan mengotori lidah, pikiran dan jiwa kita. Bahkan kebohongan dapat merusak kehidupan manusia. Pantas, kalau berbohong diharamkan oleh agama. Sabda Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Sesungguhnya kejujuran itu memberikan petunjuk pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu memberikan petunjuk pada surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ia menjadi orang yang shiddiq. Sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan menunjukkan pada neraka, dan sesungguhnya seseorang berbuat dusta sampai ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Jangan main-main, berdusta juga satu tanda kemunafikan. Kata Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sama sekali tidak ada kebaikan dalam kebohongan. Allah dan Rasul mencelanya, sementara manusia membencinya.</p>
<p dir="ltr">Memang ada berbohong yang dibolehkan oleh agama. Ini, yang sering dibilang oleh kita sebagai kebohongan putih (<em>white lies</em>). Ada tiga perkara dimana seorang muslim halal berbohong pada keadaan tersebut. Kata Rasulullah saw.:</p>
<p dir="rtl">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tidak halal berdusta kecuali dalam tiga perkara; seorang suami yang berkata pada istrinya agar ia ridlo, dusta dalam peperangan, dan dusta untuk memperbaiki hubungan di antara manusia,&#8221;</em>(HR. Turmudzi).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong juga ibarat candu. Orang yang pernah melakukannya biasanya ketagihan untuk mengulanginya. Apalagi kalau kebohongan itu memberikan apa yang mereka inginkan. Pikir para pembohong, kalau dulu saya berhasil, kali ini juga pasti bisa.</p>
<p dir="ltr">Selain karena ketagihan, mereka yang pernah berbohong juga akan &#8216;dipaksa&#8217; melakukan kebohongan babak berikutnya. Sebuah nasihat mengatakan, <em>&#8220;Siapa yang pernah melakukan kebohongan, maka bersiaplah melakukan kebohongan berikutnya.&#8221;</em> Ya, seorang pembohong membutuhkan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang lama. Agar tidak dikuak kebenaran ceritanya, maka seorang pembohong mau tidak mau akan terus berbohong.</p>
<p dir="ltr">Maka berbohong juga menciptakan ketakutan. Coba kita pikir, pembohong mana yang senang terbongkar kebohongannya? Otomatis, seorang pembohong akan hidup dalam kecemasan dan jauh dari rasa nyaman. Setiap saat ketakutan kalau-kalau kebohongannya terbongkar. Ia sadar, bila itu terjadi, bisa-bisa seumur hidup orang tak percaya. <em>Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya</em>.</p>
<p dir="ltr">Terakhir, para pembohong semestinya sadar, secanggih apapun mereka membual, menyebarkan kepalsuan, sebenarnya mereka sedang menipu diri sendiri. Kenyataannya tetap saja mereka tidak bisa menipu Allah SWT. Dialah yang bakal membongkar segala kepalsuan. Cepat atau lambat.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8221; Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.&#8221;</em>(Al Baqarah [2]:9). <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi Februarui-Maret 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nek Karim</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nek-karim</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nek-karim#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 18:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[By: Jazimah al-Muhyi
&#8220;Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!&#8221;
Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.
&#8220;Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?&#8221;
&#8220;Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara&#8230;.&#8221;
&#8220;Bunda&#8230;Bunda&#8230;jangan biarkan ini terjadi&#8230;.Bunda&#8230;.kita harus bertindak.&#8221;
&#8220;Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.&#8221;
Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.
Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Jazimah al-Muhyi</strong></p>
<p>&#8220;Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!&#8221;</p>
<p>Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.</p>
<p>&#8220;Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bunda&#8230;Bunda&#8230;jangan biarkan ini terjadi&#8230;.Bunda&#8230;.kita harus bertindak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.&#8221;</p>
<p>Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.</p>
<p>Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk rumah sakit milik sebuah yayasan nasrani.</p>
<p>Kupandangi dengan sedih tubuh kurus Nek Karim dengan berbagai selang yang melilit. Mata Nek Karim yang mengatup, tak sedetik pun terbuka. Syukurlah, dengan begitu, Nek Karim tak perlu menatap salib yang tergantung tepat di depan ranjang, yang akan segera tertangkap penglihatan, andaikan mata tua itu terbuka. Hatiku menjerit. Nek Karim muslim, mengapa harus berada di ruangan ini? Mengapa benda itu harus tetap tergantung di hadapannya?<span id="more-1127"></span></p>
<p>Bunda membisikkan sesuatu yang menggetarkan hati. &#8220;Perasaan Bunda, Nek Karim tidak sakit biasa, Rika.&#8221;</p>
<p>Aku memandang Bunda dengan sorot mata penuh sejuta tanya.</p>
<p>&#8220;Bunda sering menemani akhir hidup orang-orang yang hendak menghadap Allah. Sepertinya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bunda memang tidak melanjutkan kalimatnya. Namun aku sudah sangat paham ke mana arah pembicaraan itu. Nek Karim tidak pernah mengeluh sakit. Pagi hari sebelum terkulai pingsan pun beliau masih sibuk memasak makanan kesukaan suaminya.</p>
<p>Nek Karim. Keluargaku tak ada hubungan darah dengannya. Namun pertalian iman memang fondasinya lebih kuat dibanding pertalian berdasarkan ikatan kekerabatan. Nek Karim adalah seorang muallaf. Sementara kelima putranya semua penganut Trinitas.</p>
<p>Belum genap sepuluh tahun Nek Karim bersama suaminya mengucapkan syahadat. Namun demikian, percepatan yang Nek Karim perlihatkan sungguh menakjubkan. Beliau seringkali bertindak lebih islami dibandingkan dengan orang yang memeluk Islam sejak kecil. <em>Ghiroh-</em>nya untuk berjuang di jalan Allah seringkali mendecakkan kagumku atas kuasa-Nya. <em>Subhanallah!</em> Untung saja, kelima putranya bukan termasuk nasrani yang taat, sehingga mereka tidak pernah mengusik keberagamaan orang tuanya. Lagi pula, hanya satu yang tetap tinggal sekampung dengan Nek Karim.</p>
<p>Sekarang Nek Karim sakit. Sakit yang tidak biasa. Sakit yang Bunda perkirakan hanya sebagai lantaran menghadapnya Nek Karim kepada Allah. Sakit yang sulit dideteksi, sehingga para dokter pun angkat tangan. Tapi mengapa, Nek Karim masih dipertahankan untuk dirawat di rumah sakit? Untuk apa? Berbagai praduga buruk pun lantas berseliweran di kepalaku. Cerita tentang orang meninggal yang diperebutkan cara perawatan jenazahnya karena keluarganya berbeda agama membuatku bergidik. Nek Karim muslim, apakah ada yang hendak memalingkannya dari kebenaran agama tauhid?</p>
<p>&#8220;Bunda, kenapa Nek Karim dibiarkan sendirian bersama pastur itu? Bagaimana jika nanti Nek Karim dikafirkan?&#8221; Aku nyaris terisak. Aku tak melepaskan mataku pada Pastur setengah tua yang sedang membelai-belai tubuh Nek Karim yang terbungkus selimut. Samar-samar, karena gorden jendelanya pun diturunkan. Ini tak boleh dibiarkan. Ini harus dihentikan! Aku tak rela Nek Karim dikembalikan kepada agamanya semula. Beberapa kali kusaksikan hal-hal yang mengkhawatirkan bagi iman Nek Karim di rumah sakit ini.</p>
<p>&#8220;Ustadz, kalau Nek Karim sampai berhasil dikafirkan menjelang ajalnya, kita turut bertanggung jawab.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak, sesama muslim itu bersaudara. Kita harus menyelamatkan Nek Karim!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayah kan pandai melobi, bergerak, dooong!!&#8221;</p>
<p>Aku terus bicara, pada Ayah, pada Pak Kadus, pada Pak RT, kepada kakak, dan pasti juga Bunda. Akidah Nek Karim harus diselamatkan!</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Sore itu. Sinar sang mentari sudah tidak menyengat, udara berangsur dingin. Aku menarik nafas lega ketika menyaksikan sebuah ambulans memasuki kampungku. Ambulans berisi Nek Karim, yang atas lobi beberapa pemuka kampung diperbolehkan pulang oleh dokter, dan anak-anaknya pun tak bisa berbuat banyak. Namun, bagaimanapun juga aku tahu, perjuangan ini belum berakhir. Kesadaran Nek Karim belum pulih. Seminggu di rumah sakit tidak berpengaruh apa-apa terhadap kondisinya, bahkan kulihat semakin lemah. Tentu saja, karena paramedis di rumah sakit itu memperlakukan Nek Karim sebagai pasien biasa, bukan sebagai orang yang bersiap-siap untuk menghadap Tuhan. Mungkin juga, Nek Karim justru tersiksa berada dalam perawatan orang-orang itu. Orang-orang yang mengajarkan apa-apa yang pasti diingkari oleh nurani Nek Karim. Lagu rohani yang diputar tiap pagi, lonceng kecil yang dibunyikan dua kali sehari&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Rika, sudah siap?&#8221;</p>
<p>Aku merapikan jilbabku dengan cepat. Kuambil Al Qur&#8217;an kecil dari meja belajarku. Kuikuti langkah Bunda yang sudah hampir mencapai pintu. Hari ini, aku dan Bunda bersama beberapa teman pengajian Bunda di majelis taklim hendak menengok Nek Karim, sekaligus membacakan surat At Taubah, surat Yasin, dan Ar Ra&#8217;du. Agar memudahkan jalan Nek Karim untuk menghadap Allah, ataupun menyembuhkan sakitnya, ataupun menguatkan iman Nek Karim dalam menghadapi musibah sakitnya.</p>
<p>&#8220;Puji Tuhan&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku tertegun di depan pintu. Langkah Bunda dan para Ibu juga seketika terhenti. Ada pendeta yang sedang mendo&#8217;akan Nek Karim. Hatiku bergejolak. Apa ini maksudnya?</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum.&#8221; Aku memberanikan diri. Salam itu kuucapkan pada Nek Karim, entah mengapa aku yakin beliau masih bisa mendengar. Salam itu juga pertanda kehadiranku. Aku ingin agar pendeta itu segera mengakhiri do&#8217;anya. Syukurlah, pendeta yang berambut tipis itu cukup tahu diri. Dia segera menurunkan salibnya dari badan Nek Karim, dan segera keluar dari ruangan.</p>
<p>Malam ini gelap gulita. Jika aku berada pada posisi anak Nek Karim, barangkali aku pun akan melakukan tindakan yang sama. Setiap orang yang beragama, pastilah dia meyakini akan kebenaran agama yang dipeluknya. Pastilah anak-anak Nek Karim menganggap bahwa Ibunya akan masuk neraka bila tetap berada dalam iman Islamnya. Hal tersebut tentu tak bisa disalahkan. Upaya mereka untuk mengembalikan Ibunya dalam iman yang ?benar&#8217;, kebenaran sejati menurut versi mereka, wajar-wajar saja.</p>
<p>Kupandangi sang purnama yang bersinar bulat. Namun aku sebagai muslim, sebagai orang yang yakin betul akan satu-satunya kebenaran, Islam sebagai jalan keselamatan tunggal, tentu tidak boleh tinggal diam. Bagaimanapun, perbuatan anak Nek Karim bisa dikategorikan tidak <em>fair</em>. Nek Karim sudah dalam kondisi tidak berdaya, bahkan mungkin sudah tidak dalam kesadaran penuh. Ini negara yang menjunjung hak asasi manusia, termasuk di dalamnya kebebasan beragama. Meskipun berstatus anak, tak ada hak sedikitpun dalam diri mereka untuk mengubah keyakinan Nek Karim.</p>
<p>&#8220;Rika mau menjaga Nek Karim malam ini, Bunda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau anak-anak Nek Karim tidak setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah mereka akan berani? Mereka juga kan menjadi Kristen hanya karena korban kristenisasi. Keluarga besar Nek Karim kan mayoritas muslim, Bunda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau begitu. Hati-hati membawa diri, jangan membuat masalah. Jangan bersikap keras!&#8221;</p>
<p>&#8220;Insya Allah Rika sudah paham, Bunda. Islam kan <em>rahmatan lil ?alamin</em>.&#8221;</p>
<p>Bunda tersenyum, lantas mengelus kepalaku lembut. Akupun berangkat ke rumah Nek Karim dengan perasaan lega.</p>
<p>Alhamdulillah, pada akhirnya usulku diperhatikan oleh orang-orang yang lebih dewasa dariku. Jangan sampai sedetik pun Nek Karim dibiarkan lengah dari pengawasan saudara seiman. Nek Karim sangat baik, aku berharap akhir hidupnya pun khusnul khatimah. Jadilah Bunda, Ayah, aku, Kak Wita, teman-teman Bunda dan Ayah, para tetangga, bergantian menjagai Nek Karim.</p>
<p>Malam ini sungguh senyap. Aku baru saja menyelesaikan surat At Taubahku. Kuletakkan mushaf di meja samping ranjang. Kucium pipi keriput Nek Karim. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak menetes. Kucium lagi pipinya, lalu tangannya. Tangan itu yang sering memberikanku makanan, membuatkan roti bolu kesukaanku. Tangan itu yang melambai-lambai setiap aku berjalan di depan rumahnya. Tangan itu pula yang mengelus pipiku, lalu bibirnya berkata&#8217; &#8220;Jadilah cucu Nenek yang sholihat. Do&#8217;akan terus kalau Nenek sudah meninggal. Nenek tidak bisa berharap dari anak-anak Nenek, juga dari cucu-cucu Nenek.&#8221;</p>
<p>Tak hanya tangannya, kaki Nek Karim pun kupeluk. Kaki itu yang melangkah ke masjid. Kaki itu yang meskipun tertatih, melangkah ke rumahku, ke rumah Bude Sri, ke tempat orang-orang yang disayanginya, untuk menghantarkan makanan, untuk bersilaturrahim. Kaki itu yang terlihat begitu ringan melangkah ke majelis ta&#8217;lim, mendatangi orang yang sedang punya hajat, orang yang dirundung duka atas kematian anggota keluarganya. Subhanallah, sepasang kaki yang insya Allah penuh barokah.</p>
<p>Siang itu panas menyengat. Aku berjalan dengan tergesa. Kulihat bendera putih melambai dari perempatan jalan menuju rumah Nek Karim. Apakah&#8230;.</p>
<p>Pertanyaan di hatiku terjawab, hanya setelah sepuluh menit aku menjejakkan lima belas langkah lebarku. Kulihat Bunda di depan rumah Nek Karim, juga beberapa orang yang sedang sibuk menggelar tikar, mengatur kursi-kursi, atau melakukan pekerjaan lain.</p>
<p>Aku mencium tangan Bunda, Bunda pun memelukku. Kutatap mata Bunda. &#8220;Bagaimana?&#8221; Aku bertanya dengan suara berbisik.</p>
<p>Bunda tersenyum? dengan sorot mata yang penuh cahaya. &#8220;<em>Insya Allah khusnul khotimah</em>, Rika.&#8221;</p>
<p>Aku menarik nafas dalam-dalam penuh kelegaan. &#8220;Bunda menunggui saat-saat terakhir Nenek?&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Alhamdulilah</em>.&#8221;</p>
<p>Dibimbing Bunda, aku menuju kamar di mana jenazah Nek Karim disemayamkan.</p>
<p>Tubuh itu terbujur kaku, tidak bergerak lagi. Aku masih ingin berlama-lama di ruangan ini. Sholat jenazah sudah selesai kutunaikan. Selanjutnya aku masih ingin berdo&#8217;a, berdzikir, dan membaca Al Qur&#8217;an. Aku tahu Nek Karim sudah tiada, aku sudah tidak bisa lagi mengajaknya bicara, aku tidak bisa lagi mendengar petuah-petuahnya, aku tidak bisa lagi menatap binar rindunya kepada Sang Pencipta, aku tidak bisa lagi merasai lembutnya sentuhan tangan penuh kasih itu. Namun kedamaian saat bersama Nek Karim masih terasa hangat di hatiku.</p>
<p>&#8220;Gantian ya, Mbak.&#8221;</p>
<p>Suara itu. Hatiku berdesir. Suara anak-anak Nek Karim. Kuberikan seulas senyum. Mungkin mereka juga hendak mendo&#8217;akan Ibunya, tentu saja dengan cara mereka.? Kulihat lagi pendeta berambut tipis itu, kali ini dia tidak membawa salibnya.</p>
<p>Aku berjalan keluar. Sesampai di pintu, aku menoleh lagi. Jenazah yang ditutupi kain jarik itu. Nek Karim&#8230;akhirnya engkau pergi menghadap-Nya. Satu pelajaran berharga telah kau tinggalkan untukku, Nek. Kau telah banyak berbuat, kau maksimalkan apapun yang kau punya, apapun yang kau bisa, untuk kemanfaatan umat. Sedang aku? Apa yang telah kupersiapkan untuk menyongsong saat yang sudah pasti akan tiba itu?</p>
<p>Nek Karim. Sosoknya kembali nyata di benakku. Air mataku kembali menetes.[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA edisi 09/Tahun VII/Desember 2002]<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nek-karim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noda Tak Kunjung Hilang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 17:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[noda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2203</guid>
		<description><![CDATA[Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali.
Kehidupanku yang penuh dengan noda dimulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali.</em></strong></p>
<p>Kehidupanku yang penuh dengan noda dimulai sejak aku masih SD. Diawali faktor keluarga serta lingkungan sekitarku yang kondusif dengan rokok, miras, dan <em>drugs</em>. Pada saat itulah aku memasuki lubang hitam perjalanan hidupku. SMP aku bertemu dengan teman-teman yang suka hura-hura dan nongkrong di mall. Setiap hari aktifitas kami hanya untuk senang-senang tanpa memikirkan halal dan haram apalagi dosa. Aku mulai bolos sekolah, berbohong, membuat tato, melawan orangtua dan guruku. Akibatnya aku tidak naik kelas. Melihat kondisiku yang berantakan, orangtua menarik aku keluar dari pergaulan di mall. Beberapa saat aku mengalami masa tenang. Kemudian aku kembali ke kehidupan liar dan berteman dengan pemakai ganja. Uang yang diberikan orangtua pun aku habiskan untuk membeli ganja dan minuman. Bahkan aku sampai mencuri ketika tidak punya uang untuk membeli ganja. Naik ke kelas 3 SMP, aku menjadi siswa yang arogan dan disegani. Sampai-sampai aku lulus sekolah tanpa memiliki teman.<span id="more-2203"></span></p>
<p><strong>Mengenal &#8216;Obat&#8217;</strong><strong></strong></p>
<p>SMA, kehidupan gelapku semakin menghitam. Aku bertemu teman yang sejalan dengan hidupku. Dilingkungan rumahnya ada bandar ganja. Jika SMP aku sulit mendapatkan ganja, maka di SMA dengan mudah aku dapatkan karena mengenal sang bandar. Karena keimananku yang tipis, waktuku kuhabiskan bersama teman-teman sekolahku hanya untuk mengganja dan mengganja. Pada saat jam pelajaran, di rumah, atau dimanapun termasuk diskotik.</p>
<p>Kelas dua aku mulai mengenal putaw, heroin, ampetamin, ectasy, LSD, dan mulai menggunakannya. Karena ketagihan akan &#8216;kenikmatan&#8217; barang setan, aku membutuhkan uang untuk membeli barang-barang tersebut. Aku pun akhirnya ikut jual barang guna mendapatkan uang untuk aku belikan barang yang akan aku pakai. Suatu saat, orangtuaku mengetahui bahwa aku adalah pemakai, aku dibawa berobat jalan pada sebuah rehabilitasi. Beberapakali aku berobat, namun tak kunjung sembuh dan sembunyi-sembunyi aku menggunakan <em>drugs</em>. Apa mau dikata, pihak sekolah akhirnya mengetahui keadaanku. Akhirnya pihak sekolah mengeluarkan aku bersama beberapa temanku yang juga pemakai. Lalu, orangtuaku membawa aku ke sebuah pasantren untuk di obati.</p>
<p><strong>Mencoba Bunuh Diri</strong><strong></strong></p>
<p>Di pasantren aku hanya bertahan 2 bulan. Mungkin karena pengaruh obat-obatan otakku terasa gila. Pada akhir tahun 1999 aku melakukan percobaan bunuh diri. Konyolnya keinginanku untuk mati hanya karena terobsesi ingin bertemu Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang mati karena over dosis. Aku melakukannya di kamarku dengan menyayat kedua pergelangan tanganku menggunakan silet. Kucoba berkali-kali namun ajal tak kunjung menjemput. Orangtuaku mengetahui perbuatanku dan aku dibawa ke rumah sakit untuk di obati. Setelah itu aku mendapat perawatan di Rumah Sakit Jiwa Jakarta, tapi bukan karena aku gila. Waktu itu aku ditempatkan pada bagian yang menangani pecandu dan mengalami gangguan psikologi. Bukan kesembuhan yang aku dapatkan, malah keinginan untuk bertemu dengan Cobain semakin kuat. Akhirnya saat ruang dokter sepi, aku masuk ke dalam dan menemukan sebuah silet. Pada malam harinya aku pergi ke kamar mandi. Di situ aku bertekad harus mati malam ini. Walau darah sudah mengucur deras dari kedua lenganku, namun kematian tak kunjung menyapa diriku. Karena kelelahan, aku kembali ke kamar dan lukaku aku tutupi dengan sebuah kain. Kuceritakan perbuatan bejatku kepada teman sekamarku. Ia panik dan memanggil perawat yang sedang jaga pada malam itu. Akhirnya pergelanganku di jahit, dan keesokannya aku di pindahkan ke rehabilitasi di sawangan. Baru dua bulan aku sudah tidak tahan dan melakukan aksi mogok makan untuk bisa keluar dari rehab tersebut. Selanjutnya aku hanya mengikuti rehab jalan.</p>
<p>Karena masih gelisah dengan kondisi hidup yang berantakan, aku mencoba kembali bunuh diri dengan menyuntik putaw di lengan. Pada saat over dosis (OD), orangtuaku tahu dan membawaku ke rumah sakit. Aku di bawa kembali ke rehab, dan masuk sekolah asrama khusus untuk pecandu. Karena masih gelisah, aku minta obat tidur ke dokter dan kukumpulkan hingga 30 butir. Pada suatu malam aku mulai berfikir apakah benar aku ingin mati. Ternyata aku lebih memilih ingin meneruskan hidup ini secara berani. Akhirnya pil tidur aku buang.</p>
<p><strong>Noda Itu Kembali</strong><strong></strong></p>
<p>Pada tahun 2000 aku kembali ke rehab selama enam bulan. Di sana aku diajari berbagai macam keahlian untuk bekerja. Setelah itu, dengan izin orangtua pada bulan oktober 2000 aku pergi ke Belanda dengan tujuan domisili dan cari kerja. Tetapi dari pihak sana tidak memberi ijin. Sebulan aku di Belanda, kemudian pulang ke Jakarta dan memulai kembali menggunakan ganja dan alkohol. Karena sedih melihat ibuku yang sakit hati lagi melihat kondisiku, aku berusaha untuk berhenti total. Kupikir sudah cukup pengalaman buruk itu dan aku harus berubah. Akhirnya aku mulai sholat kembali yang selama ini terlalaikan, dan aku mulai belajar baca Qur&#8217;an serta berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Namun, pada tahun 2001 aku kembali menggunakan putaw karena teringat &#8216;kenikmatannya&#8217;. Pada saat itu ibuku mengetahui dan aku di bawa kembali ke rehab.</p>
<p>Karena belum menemukan sebuah arti hidup, kondisiku makin strees. Ayahku berinisiatif mengajak liburan ke sebuah hotel di Bandung. Di sana sekali lagi aku melakukan kemaksiatan yang sungguh sangat aku sesali. Penyesalan datang menyerangku dengan sedemikian hebatnya. Hingga aku hanya bisa meringkuk seperti bayi, menyesali jalan hidupku yang malang. Hingga aku benar-benar bertobat.</p>
<p><strong>Hidayah Datang</strong><strong></strong></p>
<p>Kemudian bagaikan panas setahun tersiram hujan sehari, beban depresi yang selama ini menghantui diangkat oleh Allah dan digantikan dengan senyuman tulus di bibir yang menandakan bahwa aku telah kembali. Akhirnya aku pindah ke Bogor, dan aku shalat kembali berjamaah di sebuah mushola dekat rumah. Di situlah rupanya hidayah datang. Aku mulai mengenal arti hidup dan Islam secara kaffah dari anak kampus yang sering kumpul di mushola dekat rumahku itu. Mereka membantu aku menemukan jalan hidup yang pasti bagi seorang muslim. Aku mulai tau, ternyata kondisi yang terjadi pada diriku dan mungkin teman-temanku yang terjebak arus kebebasan tidak lepas dari penerapan sistem yang ada. Dan pada detik itu aku menekadkan diri untuk totalitas hidup secara Islami, berdakwah, dan menata hidup aku kembali. Tentunya dalam rangka mencari ridho Allah. <strong>[Seperti diceritakan Muhammad Yusuf Isa kepada eftur]<br />
</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Oktober 2003]</em><br />
<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Itu Tanda Peduli</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 21:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kritik]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2557</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Moekti
Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Moekti</strong></p>
<p>Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan siap dimuntahkan. Bagi kamu yang masih segan kepada sang pengkritik, biasanya cukup dinikmati dalam hati, tapi dengan segudang rasa kesal yang berkecamuk. Dan, bagi kamu yang kurang bisa memendam perasaan, biasanya langsung menumpahkan kekesalan itu dalam bentuk sumpah serapah dan makian.</p>
<p>Kalo kamu lagi enak-enak pacaran sama teman sekelasmu, tiba-tiba ada yang menegurmu, rasanya dongkol banget kan? Terus kamu jadi naik darah. Pengen rasanya ngamuk atau menyumpal mulut bawel teman kamu itu. Reaksi spontan mempertahankan diri adalah ciri khas orang yang sedang diserang. Meski kamu melakukan kesalahan, tapi rasanya nggak rela kalo dikritik begitu. Rasanya kok orang mau-maunya turut campur urusan orang lain. Padahal, urus saja diri sendiri.<span id="more-2557"></span></p>
<p>Sobat muda, kalo ngikutin hawa nafsu kita, memang dikritik itu menyakitkan dan bikin bete. Tapi inget lho, bahwa kritik itu justru bisa mendewasakan kita. Bukan apa-apa, kita kan hidup berdampingan dengan orang lain. Itu artinya, kita kudu rela untuk dilihat dan dinilai oleh orang lain. Penilaian itu bisa baik, bisa juga jelek. Bergantung bagaimana kita bersikap dalam lingkungan tempat kita tinggal. Itu sebabnya, menjadi wajar kalo ada yang kritik, karena biasanya akan mengevaluasi kita. Orang yang kebal kritik, nampaknya sulit untuk peduli dan menghargai orang lain.</p>
<p>Dakwah, bisa dibilang sebagai &#8216;kritik&#8217;. Ketika kita melakukan <em>amar ma&#8217;ruf</em>, alias menyuruh kepada kebaikan, ada saja orang yang sulit untuk diajak. Padahal, itu adalah salah satu bentuk kepedulian kita. Apalagi ketika kita melakukan <em>nahyi munkar</em> (melarang kemungkaran), rasanya makin sulit kita lakukan. Selain, harus mengalahkan rasa takut dalam diri kita karena khawatir yang akan dinasihati itu marah, juga kita kudu siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi, misalnya menghadapi ancaman mereka.</p>
<p>Ketika saya menyampaikan ceramah atau tabligh akbar, saya nggak segan untuk menyampaikan ajaran Islam sebagaimana adanya. Itu sebabnya, adakalanya orang kemudian menganggap saya &#8216;radikal&#8217;, tukang kritik pedas dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, itu bukan persoalan. Sebab, saya melakukan itu karena saya peduli dengan suadara-saudara muslim lainnya. Kalo saya diem saja ketika ada teman yang melakukan maksiat, itu tandanya saya tak peduli. Dan, kritik memang bisa dilakukan dengan halus, bisa juga dengan tegas (mungkin sebagian orang kemudian menganggapnya keras).</p>
<p>Jadi, pandanglah kritik itu sebagai bentuk kepedulian saudara kita kepada kita. Meski terasa pahit, tapi nikmati sebagai sebuah anugerah terindah yang kita miliki. Karena ternyata masih ada orang yang mau peduli dengan kita. Andaikan saja tidak ada orang yang mengomentari kita, maka kita tidak akan pernah bisa mengevaluasi diri. Jadi orang yang mengkritik adalah &#8216;polisi&#8217; bagi kita. Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Demi massa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.&#8221;</em> <strong>(TQS al-Ashr [103]: 1-3)</strong>[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi April 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Hari Bersama Kimong</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/satu-hari-bersama-kimong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/satu-hari-bersama-kimong#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 18:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1709</guid>
		<description><![CDATA[By: Iwan Januar
Buat banyak orang punya keponakan itu menyenangkan. Tapi barangkali juga nggak, buat sebagian yang lain. Hm, itu yang tahu kamu sendiri jawabannya. Tergantung kesiapan diri kamu dan juga&#8230;si keponakan sendiri; cute, imut atau amit-amit.
Itu yang bakal dialami Eri. Weekend yang rencananya diisi belanja buku baru jadi gagal gara-gara ia disuruh maminya ngejagain Kimong, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>By: Iwan Januar</strong></p>
<p>Buat banyak orang punya keponakan itu menyenangkan. Tapi barangkali juga nggak, buat sebagian yang lain. Hm, itu yang tahu kamu sendiri jawabannya. Tergantung kesiapan diri kamu dan juga&#8230;si keponakan sendiri; <em>cute</em>, imut atau amit-amit.</p>
<p>Itu yang bakal dialami Eri. <em>Weekend</em> yang rencananya diisi belanja buku baru jadi gagal gara-gara ia disuruh maminya ngejagain Kimong, anak tantenya. Ceritanya Paman Tono dan istrinya naik haji. Selama mereka berhaji, anak mereka si Kimong dititipkan ke nenek Eri. Cuma, khusus minggu ini, Mami Eri kebagian ngejagain Kimong. En, karena Mami dan Abi ada undangan pernikahan teman pengajian maka tugas itu jatuh ke tangan Eri. So, Eri pun manyun. Kalau saja nggak inget ini adalah amanah, lagian ngejaga keponakan sendiri, Eri milih lari sejauh-jauhnya. Eh, nggak ding takut kejauhan nanti keabisan ongkos repot deh.</p>
<p>Kimong sebenarnya lucu. Mukanya yang <em>innocent</em> alias kagak punya dosa bikin gemes siapa aja yang ngeliat. Apalagi Kimong udah pinter ngomong walau umurnya baru lima tahun. Cuma, buat Eri apa enaknya ngejagain anak kecil. Gimana kalo ngompol en ??, siapa yang nyebokin? Bersihin kandang burung jalak punya abi aja Eri jijay, apalagi nyebokin anak orang. Hueks!<span id="more-1709"></span></p>
<p>Belum lagi kelakuannya yang Eri kagak tahan. Suka malu-maluin. Pernah waktu jalan-jalan bareng keluarga ke pasar, Kimong minta dibeliin anak monyet. Mending monyet-monyetan, ini sih monyet betulan yang kebetulan lagi atraksi nge-dance ala Justin Timberlake di pentas topeng monyet. Terang aja Tante Vina, maminya, kesel. Biar udah diomongin kalau monyet itu nggak dijual, eh Kimong ngotot minta dibeliin. Cerita selanjutnya seperti bisa kamu tebak anak itu nangis sekenceng-kencengnya di pasar. Whuaaa&#8230;</p>
<p>Tante Vina, Mami, dan Eri yang lagi nenteng belanjaan terang aja jadi mokal abis. Berbagai bujukan dipake kagak mempan. Ditawari es krim coklat, permen, martabak, mie ayam, Kimong tetap setegar baja [superman kaleee!]. Untung aja nggak ditawarin kartu kredit, ril estat, atau ponsel.</p>
<p>&#8220;Udah Kimong, jangan nangis, daripada beli anak monyet mendingan maen PS ama Om Eri di rumah, ya?&#8221; Eri akhirnya turun tangan ngebujuk keponakannya itu.</p>
<p>Kimong menatap Eri sejenak, en&#8230;nangis lagi dengan amplitudo suara yang sama.</p>
<p>&#8220;Nggak mau, Kimong pengen anak monyet. Om Eri jelek, cakepan anak monyet. Om Eri nggak ada buntutnya, nggak kayak anak monyet,&#8221; kata Kimong asal. Eri jadi kecut. Sementara orang-orang yang merhatiin adegan tadi jadi mesem-mesem. Merasa iba sama Eri yang kalah menarik ama anak monyet.</p>
<p>Itu kenangan pahit yang diingat Eri sewaktu jalan bareng Kimong. Tapi apa boleh buat, pagi itu abi udah ngejemput Eri dari rumah nenek. Beberapa menit lagi anak itu bakal <em>landing</em> di rumah. Entah kekacauan macam apa yang bakal terjadi.</p>
<p>Suara Vespa abi udah terdengar di pintu gerbang. Itu berarti Kimong sudah datang. Bener aja, suara anak itu udah mendahului mukanya yang imut.</p>
<p>&#8220;Om Eriiii&#8230;assalamu ?alaykum!&#8221; teriaknya lantang. Eri yang lagi nyantap bubur ayam buru-buru keluar dari ruang tamu. Begitu keluar Kimong udah menyergapnya dari depan. Buk! Perut Eri kesundul kepala Kimong. Eri jadi mual.</p>
<p>&#8220;Om Eri sakit ya? Makanya kalau jalan liat-liat Om, kalau nggak nanti tabrakan,&#8221; kata Kimong. Sambil nyengir nahan sakit Eri ngangguk-nganguk. Huuh, ini anak! Belum apa-apa udah nyulut api kerusuhan.</p>
<p>&#8220;Kalau sakit makan aja dulu Om. Nah, itu ada bubur. Buat Kimong ya, Om?&#8221; celoteh Kimong sambil tau-tau udah mengangkat mangkok bubur ayam. Tanpa perasaan dosa langsung saja suap demi suap bubur ayam itu meluncur ke mulutnya. Tapi begitu suapan ketiga, aksi ini terhenti. Muka Kimong ngedadak jadi merah, mulutnya manyun dan&#8230;whuaaa!</p>
<p>Eri nyengir puas. Siapa suruh makan bubur punya orang, emang enak kepedesan! Sementara Kimong nangis, Eri megang perut nahan ketawa.</p>
<p>&#8220;Om Eri jahat! Om Eri jahat!&#8221; teriak Kimong. Abi dan Umi yang mau ke undangan berlarian ke ruang tamu.</p>
<p>&#8220;Kenapa, Mong?&#8221; tanya Mami panik sambil meluk Kimong.</p>
<p>&#8220;Buburnya dikasih sambel sama Om Eri,&#8221; Kimong ngomong sambil sesenggukan. Air matanya meleleh, antara nangis ama nahan pedes.</p>
<p>&#8220;Eri, kamu ini gimana sih? Jangan ngasih makanan pedes dong sama anak-anak. Kalau nanti sakit perut gimana?&#8221; Yee mami, kok jadi ngebelain Kimong. Gimana sih?</p>
<p>Setelah minum segelas susu baru deh tangis Kimong berhenti. Dengan wajah kesel ia menatap Eri. Yang ditatap cuma mesem-mesem sambil agak bete mikirin jatah bubur ayamnya yang berkurang.</p>
<p>Nggak berapa lama abi dan mami berangkat ke undangan. &#8220;Ati-ati di rumah, Ri. Jagain Kimong, jangan diusilin!&#8221; pesen Mami sebelum berangkat.</p>
<p>&#8220;Tenang aja, Mi. Kalau Kimong nangis, entar Eri kirim aja via sms ke Arab Saudi biar ketemu tante Vina,&#8221; jawab Eri. Maminya melotot. Eri menatap vespa yang membawa Abi dan Mami ke undangan. <em>Oh, I wish I can go there with them</em>. Eri membatin. Kebayang makanan undangan yang <em>yummi</em>. Tapi sekarang ia ada di rumah harus nemenin anak kecil. Moga-moga aja kagak rewel. Ya, Allah moga-moga aku selamat berada di rumah sampai ortuku pulang, doa Eri.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Hehehe&#8230;ternyata Kimong emang ujian dari Allah buat Eri. Beres nonton film kartun di tivi, ia udah kesel. Pengen jalan-jalan.</p>
<p>&#8220;Om Eri, Kimong pengen jalan-jalan,&#8221; Kimong udah merengek. Eri males-malesan menghampiri anak itu.</p>
<p>&#8220;Kita dengerin kaset Om Eri aja, ya?&#8221; bujuknya.</p>
<p>&#8220;Kaset apa Om? Lagu dangdut ya? Kimong seneng lagunya Uut Pematasari, <em>Putri Panggung</em>. Om Eri punya kan?&#8221;</p>
<p>Ya ampun, ini anak seleranya parah amat. Ini pasti korban tivi dan salah gaul.</p>
<p>&#8220;Om nggak punya lagu kayak begitu. Lagian itukan lagunya nggak bagus. Nggak baek buat anak-anak,&#8221; kata Eri.</p>
<p>&#8220;Nggak mau, pengen lagu itu!&#8221; Wah, mulai deh cengengnya kumat, Eri membatin.</p>
<p>&#8220;Dengerin aja dulu kaset Om Eri, Kimong entar suka deh.&#8221; Eri masukkin kaset <em>Neoshalawat</em> Snada ke tape componya. Kimong diem aja begitu dengerin nasyid koleksi Eri. Mukanya nunjukkin kalau ia nggak suka, tapi Eri cuek aja. Tapi, lama kelamaan Kimong nangis.</p>
<p>&#8220;Pengen ke Mama,&#8221; katanya disela-sela tangis. Eri mulai panik.</p>
<p>&#8220;Mamanya lagi naik haji, Kimong. Nanti juga pulang.&#8221; Sia-sia. Tangis Kimong makin kenceng. Ditawarin susu, snack, Kimong tetep nangis. Eri kebingungan. Gimana nih, <em>please somebody help me!</em> <em>Save me!</em> <em>Save Our Soul!</em> Ia muter otak nyari cara untuk nenangin ponakannya itu. Akhirnya ia nelepon Dado, sohibnya. Alhamdulillah, Dado sendiri yang ngangkat telepon.</p>
<p>&#8220;Do, gue mo konsultasi nih,&#8221; langsung aja Eri ngomong terus terang.</p>
<p>&#8220;Boleh, konsultasi apa? Asmara? Kesehatan? Keuangan? Asal jangan Feng Shui, itu haram,&#8221; jawab yang ditanya sekenanya.</p>
<p>&#8220;Gue serius, tau! Gimana sih cara bikin anak kecil berhenti nangis?&#8221; tanyanya dengan kesel.</p>
<p>&#8220;Oh, itu sih gampang. Lu ajak nyanyi, atau ajak ngeliat cicak. Biasanya ibu-ibu suka ngajak anaknya merhatiin cicak,&#8221; jawab Dado.</p>
<p>&#8220;Ah gua kagak bisa nyanyi. Kalo liat cicak sih boleh, tapi kenapa sih mesti cicak?&#8221; tanya Eri bingung.</p>
<p>&#8220;Iya dong, kalau disuruh liat gajah kan susah, kudu ke kebon binatang dulu. Mending liat cicak, di rumah kan banyak. He&#8230;he&#8230;&#8221; Idih, kok jadi tebak-tebakkan.</p>
<p>&#8220;Afwan gue becanda, Ri. Gimana kalau lu ajak jalan-jalan aja tuh anak?&#8221;</p>
<p>Jalan-jalan? Ok juga tuh. Sekalian beli buku , nih. Setelah ngucapin terima kasih dan salam. Konsultasi konyol ama Dado pun berakhir.</p>
<p>&#8220;Kimong, kita jalan-jalan, yuk?&#8221; bujuk Eri. Bener aja, begitu denger kata ?jalan-jalan&#8217; tangisnya mulai surut. <em>Yes, yes!</em></p>
<p>&#8220;Ke mana?&#8221; ia penasaran.</p>
<p>&#8220;Ke mall.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti beli es krim ya?&#8221; pinta Kimong.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi Kimong jangan nangis lagi ya?&#8221; Eri mengangguk. Kimong girang banget.</p>
<p>Nggak berapa lama keduanya udah berada di mikrolet. Sepanjang jalan Kimong nyanyi melulu. Lagu apa aja ia nyanyiin. Nggak peduli syairnya bener atau nggak.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kring kring</em></p>
<p><em>ada sepeda</em></p>
<p><em>di atas genteng</em></p>
<p>Tuh, kan lagunya ngelantur kemana-mana. Tapi ia cuek aja. Eri juga bangga, soalnya secara nggak langsung ia jadi perhatian para penumpang. Ibu-ibu, akhwat yang berjilbab, semuanya ngeliatin Kimong. Aih, om-nya jadi ge-er.</p>
<p>&#8220;Berapa tahun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pinter, ya, udah banyak hapalan lagunya,&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak ke berapa, Pak?&#8221; Wah kalau yang ini Eri jadi sebel. Masak tampang imut begini disangka udah beranak pinak. Kira-kira dong kalo nanya.</p>
<p>Hebatnya, Kimong udah bisa berdialog interaktif ama para penumpang. Ia ngejawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu semua. Ada yang bener ada juga yang ngawur. Ya, namanya juga anak-anak.</p>
<p>&#8220;Tante, kok tante make kerudung sih?&#8221; tanyanya pada seorang penumpang yang berjilbab.</p>
<p>&#8220;O, Tante orang Islam. Semua orang Islam wajib pake jilbab,&#8221; jawabnya. Kimong diem aja. Tau ngerti, tau nggak.<br />
&#8220;Kalau Tante yang ini kok nggak pake jilbab, bukan orang Islam ya?&#8221; tanyanya pada seorang cewek berkaos ketat. Yang ditanya merah mukanya. Hihihi&#8230;kena skak ama anak kecil, emang enak?</p>
<p>Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di mall. Kimong seneng banget. Apalagi waktu diajak naik eksalator [tahu kan? Tangga berjalan tapi nggak ada hubungannya ama berobat jalan]. Ia jingkrak-jingkrakkan. Eri geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan keponakannya itu. Ah, senengnya jadi anak kecil nggak tahu permasalahan dunia. Nggak kayak gue udah banyak pikiran [ceilee sok tua lu, Ri!]. Mikirin ujian, pengajian, mikirin temen-temen, kadang-kadang ia mumet. Sementara anak kecil yang ada cuma maen, jajan en bobok. Tiba-tiba Eri jadi bernostalgia, inget jaman waktu kecil, diajak jalan-jalan ama Mami dan Abi ke Ancol, ke Istiqlal, rasanya seneng banget.</p>
<p>&#8220;Kita ke mana, Om?&#8221; tanya Kimong.</p>
<p>&#8220;Ke toko buku. Kimong boleh maen di sana, tapi jangan jauh-jauh ya?&#8221; pesen Eri pada Kimong.</p>
<p>Begitu masuk ke tempat toko buku Kimong udah lari-larian. Eri ngikutin dari belakang sambil ngelirikin buku-buku terbaru. Ada novel-novel Islam yang ia belum punya, buku-buku dakwah juga banyak. Ia jadi ngiler inget duitnya yang terbatas. Paling banter ia cuma bisa beli satu buku. Mumpung kagak disegel, baca dulu ah, Eri kegirangan. Buru-buru ia comot satu novel anyar. Matanya mulai asyik menyimak baris demi baris novel itu. Seru banget nih! Bab demi bab mulai ia lahap dengan serius.</p>
<p>Nggak kerasa satu novel itu udah ampir abis ia baca. Ih, ampe lupa waktu. Eh, ia juga jadi inget sesuatu&#8230;Kimong! Astagfirullah, ke mana dia? Kok gue teledor banget, lupa ama keponakan!</p>
<p>Eri mulai panik. Kepalanya celingukan mencari-cari Kimong. Nggak ketemu. Ia mulai jalan menyusuri barisan rak-rak buku. Di tengah-tengah kerumunan anak-anak yang lagi asyik baca komik matanya jelalatan, mencari Kimong. Nihil. Ia muter lagi dengan harap-harap cemas. Tapi Kimong tetep nggak ada. Eri mulai keringet dingin. Aduh, gimana kalau Kimong sampai nggak ketemu, atau diculik? Ah, ia buang jauh-jauh bayangan itu.</p>
<p>Satu-satunya harapan adalah mendatangi tempat informasi. Dengan lemas Eri menyebutkan ciri-ciri Kimong pada petugas informasi untuk diumumkan. Nggak berapa lama petugas itu mengumumkan berita kehilangan anak. Eri duduk dengan pasrah di bangku petugas.</p>
<p>&#8220;Tenang aja, Mas. Insya Allah ketemu, kok. Ini minum dulu,&#8221; kata petugas itu ramah sambil memberikan segelas air mineral.</p>
<p>&#8220;Makasih, Pak,&#8221; jawab Eri sambil mengambil air itu.</p>
<p>Tiga kali pengumuman diudarakan tapi belum ada hasil. Udah jam satu. Berarti sejam lebih Kimong nggak ada kabar berita. Penyesalan mulai merayap dalam hati Eri.? &#8220;Ya Allah, kenapa gue teledor.&#8221;</p>
<p>Tapi tiba-tiba ia mendengar suaranya dipanggil. Masya Allah, itu kan suara Kimong.</p>
<p>&#8220;Om Eri!&#8221; teriak Kimong. Eri girang banget mendengar suara cempreng itu lagi. Alhamdulillah, Kimong selamat. Seorang ibu berkerudung dengan anak kecil mengantarkan Kimong ke pusat informasi.</p>
<p>&#8220;Adik kakaknya?&#8221; tanya ibu itu.</p>
<p>&#8220;Bukan, saya saudaranya, om-nya,&#8221; jawab Eri grogi.</p>
<p>Ibu itu bercerita kalau ia melihat Kimong sedang nangis di tempat mainan anak-anak. Kimong ingin naik <em>bom bom car</em>. Karena kasian ibu itu mengajak Kimong bermain di sana bareng cucunya. Ternyata mereka berdua main asyik banget, sejam lebih. Makanya pengumuman kehilangan Kimong yang berulang-ulang tidak tersimak. Baru setelah mereka mau pulang, Kimong nangis lagi karena pengen balik bareng Eri.</p>
<p>&#8220;Ati-ati ya, Nak. Jagain Kimong baik-baik,&#8221; ibu itu ngasih nasihat sebelum pergi meninggalkan Eri dan Kimong. Eri mengiyakan sambil berkali-kali ngucapin terima kasih pada mereka. Kimong juga ngucapin terima kasih sambil melambaikan tangan pada cucu ibu itu.</p>
<p>&#8220;Aduh Kimong, Om Eri kangen banget ama Kimong,&#8221; sambut Eri sambil memeluk Kimong erat-erat. Yang dipeluk diem aja.</p>
<p>&#8220;Om Eri sih nggak ikut maen mobil-mobilan, seru lho, Om&#8221; jawab Kimong tanpa perasaan bersalah atau takut.</p>
<p>&#8220;Oh, iya, maapin Om Eri, ya. Om Eri nggak ngejagain Kimong,&#8221; kata Eri masih sumringah. Girang bisa kembali ketemu ponakannya.</p>
<p>&#8220;Sekarang kita pulang, yuk! Nanti Om Eri beliin es krim yang enak,&#8221; ajak Eri. Kimong menatap Eri. Bola matanya berbinar menandakan senang. Ah, Kimong kamu emang keponakan yang lucu.l[]</p>
<p>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi 21/Feb 2004</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/satu-hari-bersama-kimong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Daiyah, Kudu Lagi!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 18:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2275</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?
Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan married [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?</em></strong></p>
<p>Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan <em>married</em> ama Pak Haji). Sekarang, kondisinya udah beda 180 derajat. Meski kaum berumur masih ada yang aktif berdakwah, tapi jumlahnya bisa dihitung, cukup dengan jari tangan plus jari kaki kamu. Sebaliknya, kini remaja-remaja seusia kamu Non yang lebih mendominasi aktivitas yang katanya bau surga itu.</p>
<p>Dalam menerjuni kancah dakwah, mereka punya motto &#8220;Hidup Mulia atau Mati Syahid&#8221;. Ada juga yang punya motto &#8220;Lebih baik Berdakwah daripada Didakwahi&#8221;. (Maksudnya, lebih baik memberitahu dulu daripada diomeli, <em>kali ye</em>). Yang lain punya motto &#8220;<em>Bunga Dakwah</em>&#8220;, artinya buku ngaji dan dakwah. Tentu saja mereka jauh dari aktivitas hura-hura, pesta dan cinta kayak generasi dugem.<span id="more-2275"></span></p>
<p>Trisna Rahmawati salah satunya. Siswi kelas 3 SMK Negeri 1 Bogor ini ikut terlibat DKM Asy-syifa di sekolahnya. Doi terlibat dakwah karena menyadari betul bahwa hal itu suatu kewajiban. Kesadarannya itu muncul setelah bersentuhan dengan ajaran Islam ketika waktu kelas 1. &#8221;Tadinya hanya ingin cari pengalaman organisasi aja, tapi setelah mengkaji Islam jadi tahu kalo dakwah itu wajib. Ya udah, jalanin,&#8221; ungkapnya. Selain dapat ilmu Islam, Marni senang karena bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan yang positif. Nggak mengganggu sekolah? &#8221;Enggak tuh, prestasi masih baik-baik aja,&#8221; akunya.</p>
<p>Hanya, kadang doi dihadapkan pada kendala waktu. Maklum, udah kelas 3, jadi lumayan sibuk. &#8221;Tapi melihat situasi di lingkungan, khususnya sekolah, kita pengin dong berubah menjadi Islami. Makanya nggak bisa tinggal diam,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Aktivitas ngaji dan dakwah juga dirasakan Anggita Indra Sari, mahasiswi semester 5 Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB). Doi yang baru sekitar dua tahun masuk Islam ini, sedang getol-getolnya? mempelajari Islam karena merasa belum tahu banyak. &#8221;Sejak itu saya tahu kalo dakwah itu wajib. Bahkan walaupun baru paham satu ayat, kita harus menyampaikan ke orang lain,&#8221; kisahnya kepada Permata. Selain itu, ketika melihat kemungkaran, adalah kewajiban kita untuk mengingatkan, imbuh gadis manis asal Jawa Tengah ini.</p>
<p>Mengalami kendala nggak saat berdakwah? &#8221;Wah, banyak sekali. Pernah? saya dianggap ikut aliran sesat. Termasuk di keluarga, saya masih dianggap nggak tahu apa-apa tentang Islam,&#8221; ujarnya. Karena itu, Anggi butuh dorongan kuat untuk meyakinkan orang yang didakwahinya. Selain Anggi ada juga Ninik Sulastri, alumnus Universitas Airlangga yang masih jomblo ini, sangat menikmati aktivitas dakwahnya. Aktivitasnya, mengisi pengajian, menjadi operator siaran radio program Islam, ikut seminar, de el el.</p>
<p>Dalam beraktivitas, banyak kendala doi temukan. Baik dari diri sendiri, masyarakat maupun lingkungan. Dari diri sendiri, misalnya kalo lagi terserang penyakit Betty La Fea, alias bete. Atau pas ketemu ama audiens yang &#8216;bandel&#8217; bin &#8216;istiqomah&#8217; dalam kemunkaran. &#8221;Pernah ngisi pengajian sampai berkali-kali, eh&#8230;orangnya kagak berubah-berubah,&#8221; keluhnya.? Ada lagi dari lingkungan, misalnya dihambat perangkat desa setempat ketika akan menyampaikan Islam. &#8221;Kita kan minta ijin mo ikut pengajian ibu-ibu, tapi tidak diijinkan, malah kelihatan dihambat, gitu,&#8221; curhatnya kepada Permata belum lama ini. (Dikira minta bayaran atau minta sumbangan kali, ya!)</p>
<p>Lalu, apa yang dicari dengan segudang aktivitas itu? Hampir semua akhwat di atas sepakat, mencari ridho Allah. &#8221;Yah, namanya juga menjalankan kewajiban. Tujuannya ya cuma satu, moga-moga dapet pahala,&#8221; begitu ujar Trisna. &#8221;Saya sih sama, mencoba merintis jalan menuju surga,&#8221; imbuh Ninik. Semoga terkabul deh!</p>
<p><strong>Dakwah, Mengapa Tidak?</strong></p>
<p>Ya, dakwah memang bukan monopoli kaumnya AA Gym saja. Kaum hawapun juga punya kewajiban yang sama, menyeru kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar. Allah berfirman yang artinya: <em>&#8220;Hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada Islam, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.&#8221; </em>(TQS Ali-Imran: 104). Seruan ini tidak <em>khususon </em>buat cowok, tapi juga buat cewek. Demikian pula QS An-Nahl: 125, QS Fushilat: 33, dll.</p>
<p>Dalil lain tentang wajibnya dakwah adalah Sabda Rasullullah yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah mencegahnya dengan tangan, dan jika tidak mampu maka dengan lesan, dan jika tidak mampu dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman.&#8221; </em>(HR Muslim).</p>
<p>Jadi jelas, dakwah adalah wajib. Tidak bisa ditawar lagi, jadi sunah atau mubah, misalkan. Sama halnya dengan kewajiban salat atau puasa di bulan Ramadhan, maka konsekuensinya jelas jika kamu tak melaksanakannya, yakni dosa. <em>Na&#8217;udzubillahi min dzalik</em>. Dan kewajiban ini nggak dibatasi umur, nunggu kalo udah tua atau udah hajah misalkan. Jadi kamu-kamu, asal udah baligh, udah kudu menjalankannya.</p>
<p>Bagaimana agar bisa menjadi daiyah? Kunci pertama adalah belajar Islam (ngaji). Eit, jangan antipati dulu. Wah, kalo ngaji ntar ini nggak boleh, itu dilarang, begitu mungkin pikir kamu. Padahal kalau tahu Islam, nggak berat kok ngejalanin perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Wong semua itu dibebankan Allah Swt sesuai dengan kemampuan kita kok.</p>
<p>Termasuk, ketika dalam melaksanakan aktivitas dakwah, kamu dihadang tantangan dan hambatan, Insya Allah pasti kamu mampu mengatasinya. Asal kamu tahu strateginya aja. Soalnya, meski nggak setebal tembok Cina, namun hambatan ini cukup menjadi kendala bagi keberhasilan dakwah. Hambatan itu bisa datang dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Dari diri sendiri, diantaranya adalah keyakinan terhadap Islam yang mungkin belum 100%, nggak pede, malas, takut resiko, atau kesibukan pribadi seperti karena masih sekolah, kuliah atau karena urusan keluarga.</p>
<p>Tantangan dari keluarga, bisa jadi masalah perijinan ketika akan keluar rumah, terjadinya bentrokan pemikiran dengan keluarga yang belum sepemahaman dengan kita, dan juga masalah uang saku. Maklum, bagaimana pun sebagai anak yang belum bisa mandiri, kita kan masih minta ongkos ortu pas kudu keluar rumah. Iya, kan? Nah, kalo lagi ada kegiatan nggak dikasih ijin plus ongkos, gimana bisa jalan? Sedangkan tantangan dari masyakat, bisa akibat adanya image negatif atas aktivitas kita, birokrasi yang bertele-tele, perijinan, dll.</p>
<p><strong>Ada Rambu-rambunya, Lho!</strong></p>
<p>Dalam menjalankan aktivitas dakwah, ada &#8216;rambu-rambu&#8217; khusus buat wanita. Ada hukum-hukum syara&#8217; tertentu yang kudu diperhatikan. <em>Pertama</em>, ketika wanita akan keluar rumah, dia musti dapet SIM (Surat Ijin Mengaji) dari ortu atau suaminya, bagi yang udah <em>married</em>. Rasulullah bersabda: <em>&#8220;..tidak boleh wanita keluar rumah kalau suaminya tidak suka.&#8221;</em> (Lihat Shahih Ibnu Hibban).</p>
<p>Ini bukan berarti menghambat aktivitas wanita lho, lebih karena untuk menjaga <em>iffah</em> (kesucian) wanita sendiri. Siapa tahu keluargamu pengin menjemput, kan biar nggak nyasar. Atau barangkali aja dompet kamu ketinggalan, kan bisa disusulin, he&#8230;he&#8230;he. Lagipula ada kewajiban mengurus anak (hadhanah) yang nggak bisa dialihkan pada suami, <em>babysitter</em> apalagi tetangga.</p>
<p><em>Kedua</em>, tidak tabaruj atau berdandan nyolok yang bisa menarik perhatian. Yang harus jadi magnet audiens itu pemahaman Islam kamu, bukan kamunya. So nggak usah <em>overact</em> dengan dandan kayak badut, atawa pakai wangi-wangian yang baunya bisa bikin <em>kelenger</em>. Allah berfirman: &#8220;Janganlah kalian bertabaruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.&#8221; Sekadar ingin tampil serasi, segar dan bersih sih, boleh. Pokoknya asal nggak bikin <em>enek</em>, tapi enak dipandang (emangnya permen Tamarin).</p>
<p><em>Ketiga</em>, wanita musti disertai mahram bila melakukan perjalanan dengan menempuh jarak safar (sehari semalam atau 24 jam). Rasullullah bersabda: &#8220;Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akherat, melakukan perjalanan satu hari satu malam kecuali bersamanya mahram.&#8221;</p>
<p>Tidak menutup kemungkinan kan, diantara kamu musti menghadiri acara penting di suatu kota nun jauh di mata. Misalnya ada koordinasi antar Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se-Indonesia yang mengharuskan kamu keluar wilayah tempat tinggal kamu. Kadang, bagi yang masih lajang, ini memang sulit. Apalagi kalau tinggal di perantauan tanpa mahram. Untuk itu bisa ditemani jamaah wanita lainnya, jangan ngajak temen ikhwan. Pokoknya jangan ampe pergi sendirian deh! Selain haram, juga bisa mengundang bahaya. Mending kalau &#8216;cuma&#8217; dicopet atau dirampok, kalo diculik atau diperkosa, kan berabe. (Eh, ini bukan nakut-nakuti, lho).</p>
<p><em>Keempat</em>, sebaiknya wanita mendakwahi atau mengkaji Islam dengan sesama jamaah wanita. Hal ini untuk lebih menjaga kesucian dan menghindari fitnah. Kalau ngisi pengajian ikhwan emang kenapa? Dalam proses belajar mengajar, wanita mengajar lelaki atau sebaliknya memang boleh hukumnya. Seperti yang pernah dilakukan Aisyah istri Rasulullah ketika mengajarkan hadits kepada para shahabat. Namun, itu berarti si wanita harus disertai mahram, atau audiens yang ikhwan tersebut tidak sendirian. Artinya, jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan saja), apalagi di tempat khusus. Ntar dikira kencan lagi.</p>
<p>Setelah kamu tahu hukum dakwah dan juga rambu-rambu yang kudu diperhatikan, bagaimana? Yang belum menjalankan aktivitas dakwah, <em>sami&#8217;na wa atho&#8217;na</em>, kan? Siap laksanakan! Ayolah, nggak usah takut! Hasilnya jelas kok, dapet pahala, jaminannya surga. Amiin!!! <strong>[asri]</strong></p>
<p>Boks &#8212;&#8211;</p>
<h2>Catatan Kecil Buat Da&#8217;iyyah</h2>
<p>Dakwah itu wajib. But jangan lupa ada pernak-pernik yang kudu kita bangun. Kalau nggak, bisa jadi program dakwah kita yang mulia itu berantakan. Nah ini ada beberapa catatan kecil buatmu;</p>
<ol type="1">
<li>Bangunlah      komunikasi dengan keluarga. Ada baiknya kamu ceritakan terus terang      aktivitas kamu, tentu dengan memilih situasi dan kondisi yang tepat. Nah,      misalkan kamu aktif di rohis, ungkapkan kegembiraanmu pada ortu bisa      terlibat di kegiatan tersebut. Kalau ortu melihat kamu senang dengan      aktivitasmu, ortu tidak akan berat melepas kepergianmu. Selain itu, kalo      kamu suatu saat pulang tak seperti biasanya karena rapat misalkan, ortu      tak komplain.</li>
<li>Jangan      lupa ada juga kewajiban dakwah pada ortu dan keluarga. Dengan begitu kamu      udah punya dukungan yang kuat di dalam keluarga. Enak kan?</li>
<li>Tunjukkan      bahwa dakwah nggak menghambat prestasi belajar. Jangan sampai nilaimu      jeblok lalu menjadikan dakwah sebagai kambing hitam. Karena itu, kamu      musti pintar bagi waktu antara belajar dan berdakwah.</li>
<li>Jangan      lupa minta izin setiap mau pergi, utamanya kalau pergi jauh en lama maka      harus minta izin jauh-jauh hari sebelum hari H tiba. Siapa tahu sebetulnya      ortu punya rencana lain, ngajak berkunjung ke sanak famili misalnya,      ngajak belanja atau butuh bantuan kamu buat kerjabakti bersih-bersih      rumah. Dengan bicara jauh-jauh hari, siapa tahu pula ortu malah ngasih      ijin plus; plus uang transport, uang jajan, uang makan, uang lelah, uang      capek, uang malu dll (He..he&#8230;he&#8230;). Atau, syukur-syukur malah dianterin ke      tempat aktivitasmu. Lumayan kan, ngirit ongkos sekalian mengenalkan ortu      pada lingkungan kamu. Kalau ortu tahu dengan siapa kamu bergaul, mungkin      ortu makin percaya sama kamu.</li>
<li>Bagi      kaum ibu atau istri muda (baik karena umurnya masih muda maupun karena      sebagai istri kedua, ketiga dan keempat) juga begitu, beritahu suami      sebelum hari H supaya tidak terjadi bentrokan kepentingan dengan suami.      Demikian pula agar pekerjaan rumah tidak terbengkalai. Apalagi kalau udah      punya <em>baby</em>. Inget, kewajiban mengurus anak kan ada pada ibu, bukan      suami, babysitter apalagi tetangga. Dengan begitu, siapa tahu suami      menawarkan diri untuk meng-<em>handle</em> sebagian pekerjaan rumah. Jadi,      kewajiban mengurus rumah maupun kewajiban dakwah sama-sama bisa berjalan      lancar. Gimana kalau suami suatu ketika nggak ngasih izin? Jangan nuduh      dulu suami anti dakwah, tapi mungkin ia punya pertimbangan lain yang perlu      bantuanmu, misalkan anak sakit, atau suaminya sakit, atau suami lagi      banyak kerjaan, jadi butuh bantuanmu untuk ngurus anak, rumah dan suami      (emang suami nggak perlu diurus?). Dan dalam hal ini kewajiban seorang      istri adalah taat pada suami. Catet itu! Pernahkan denger hadits seorang      wanita yang nggak keluar rumah atas perintah suaminya, padahal ia pengen      banget berbakti pada orang tuanya yang tengah sakit berat. Bahkan sampai      meninggal. Ternyata Allah malah memberikan ampunan pada ortunya karena      ketaatan sang anak pada suaminya.</li>
<li>Jaga      kesehatan. &#8220;Sesungguhnya pada tubuhmu ada hak atasmu,&#8221; kata Rasululullah      saw. mengingatkan kita supaya menyayangi tubuh kita. Jangan      mentang-mentang disibukkan bergudang-gudang kegiatan, jadi lupa makan,      minum, atau istirahat. Ingat lho, yang namanya <em>hajatul udhowiyah</em> (kebutuhan jasmani) seperti makan, minum, dll, wajib dipenuhi. Kalo nggak,      bisa menghantarkan pada kematian. Kamu nggak mau kan gara-gara kamu sakit      seluruh aktivitas jadi terhambat?</li>
</ol>
<p><em>So guest</em>, selamat menjelajahi dunia dakwah. Semoga pilihan untuk terjun ke medan mulia, mengemban misi para Nabi dan Rasul ini bukan sekadar nekad, tapi jadi jalan hidup. Amin!!![<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Oktober 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Percaya Diri Anak</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 17:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3224</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita? 
Oleh Mohammad Fauzil Adhim*
Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita? </em></strong></p>
<p>Oleh <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong>*</p>
<p>Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali meng­alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.</p>
<p>Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka­rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya.<span id="more-3224"></span></p>
<p>Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa­tir salah mengucapkannya –karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat. Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber­sahabat, dan penuh semangat.</p>
<p>Astaghfirullahal ‘azhim… Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang me­nulis risalah ini.</p>
<p>Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje­niusan mereka dalam enam bulan pertama.”</p>
<p>Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias, dan senantiasa belajar. Di usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar –meminjam istilah Glenn Doman— “tanpa usaha”. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.</p>
<p>Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah. Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam Syafi’i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Begitu pula yang dila­kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih. Tetapi bukan kita.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-‘azhim</em>. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?</p>
<p>Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya mela­hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahir­kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan karena mereka me­miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang yang lebih tua dari anaknya.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-‘azhim</em>. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan memba­guskan pendidikan anak-anak kita.</p>
<p>Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang men­jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memu­liakan syari’at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita te­riakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.”</p>
<p>Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, “Nah…, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?”</p>
<p>Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingat­kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka –meskipun tampaknya kita lebih sering mencela—dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?</p>
<p>Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berfirman,<em> “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” </em>(QS. Al-A’raaf: 31).</p>
<p>Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup un­tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman-temannya. Padahal mereka dila­hirkan untuk zaman yang bukan kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be­sar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, <em>“Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.”</em> Perintah-perintah di masa awal kena­bian Rasulullah tercinta, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji Wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:</p>
<p><em> “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.  Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”</em></p>
<p>Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang berpijak di atas aqidah yang lurus.</p>
<p>Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasihat Nabi saw ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.</p>
<p>Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi orang­tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manu­sia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.</p>
<p>Anak-anak kitakah yang akan seperti itu?  [<strong>sahid/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9771:menumbuhkan-percaya-diri-anak&amp;catid=99:m-fauzil-adhim-&amp;Itemid=75" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></strong>]</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis di Majalah Suara Hidayatullah </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Terakhir dari Ancone</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/surat-terakhir-dari-ancone</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/surat-terakhir-dari-ancone#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 17:33:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2182</guid>
		<description><![CDATA[By: Ria Fariana
Dear Friend,
Bagaimana kabarmu beserta keluarga, keponakan-keponakanmu yang lucu, dan teman-temanmu dalam Islam? Aku harap mereka semua baik-baik saja. Dan bagaimana pula dengan ujian akhirmu? Sebagaimana yang kau tulis di suratmu yang lalu tentang perasaan sedihmu akan meninggalkan masa-masa di Senior High yang penuh keakraban terutama dengan siswa-siswa baru yang mulai berkenalan dengan cahaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Ria Fariana</p>
<p><em>Dear Friend</em>,</p>
<p>Bagaimana kabarmu beserta keluarga, keponakan-keponakanmu yang lucu, dan teman-temanmu dalam Islam? Aku harap mereka semua baik-baik saja. Dan bagaimana pula dengan ujian akhirmu? Sebagaimana yang kau tulis di suratmu yang lalu tentang perasaan sedihmu akan meninggalkan masa-masa di <em>Senior High</em> yang penuh keakraban terutama dengan siswa-siswa baru yang mulai berkenalan dengan cahaya baru Islam yang kau bilang namanya hidayah. Aku ingat ketika kulontarkan kata-kata kebencian ketika aku mengetahui agamamu, dengan sabar kamu berusaha meluruskan persepsiku.</p>
<p>Ah&#8230;.<em>forget it friend</em>. Aku malu bila mengingat apa yang sudah kutulis padamu. Padahal tahun pertama persahabatan kita begitu manis. Aku masih ingat ketika membuka e-mail pertama darimu di sebuah box surat dalam dunia maya. Kau ceritakan siapa dirimu, hobimu, dan dari mana kamu tahu e-mail addressku. Aku begitu terkesan dengan cerita-ceritamu tentang negeri dengan hawa tropis di sana,  Indonesia. Kau ceritakan pula tentang kota tempat tinggalmu Surabaya, yang akan menjadi kota metropolitan kedua setelah ibu kota Jakarta. Kedatangan e-mailmu seakan-akan kiriman Tuhan dari langit karena begitu tepat momentnya, tatkala aku begitu butuh seorang teman untuk berbagi cerita.<span id="more-2182"></span></p>
<p>Ngomong-ngomong mengenai Tuhan, aku tidak begitu peduli dengan-Nya. Aku percaya bahwa Tuhan ada tapi tentang keterlibatan-Nya dalam urusan dunia, nanti dulu. Paham sekuler yang ditanamkan sejak dini itu begitu kuat di kepribadian kami, anak-anak Eropa. Biarlah Tuhan mengurusi persoalan di langit. Tentang urusan dunia, biarkan kami anak-anak Tuhan yang menanganinya. Ditambah lagi pelajaran agama tidak pernah ada di sekolah-sekolah umum, kecuali sekolah biara tentunya. Jadilah kami generasi yang begitu bangga pada kemampuan otak dan kreativitas. <em>Dad</em> pernah menyekolahkanku di sekolah biara dengan paket khusus liburan musim dingin beberapa tahun lalu. O ya, <em>Dad</em> berasal dari <em>England</em>, negerinya si cantik Lady Diana. Makanya aku memanggilnya lain dari anak Perancis umumnya. <em>Dad</em> begitu ingin aku mengikuti jejaknya, mengabdikan diri pada Tuhan dan menghindari urusan dunia yang tidak abadi, katanya. Tapi aku bukanlah Melville, abangku yang mengikuti jejak <em>Dad</em>. Melville yang memutuskan masuk biara setelah Nicole, pacarnya lari dengan laki-laki lain. Dad semakin bangga dengan anak laki-laki satu-satunya itu. Di tengah kekalutannya, dia memilih biara sebagai pelarian. Mungkin menurut <em>Dad</em> itu lebih baik daripada Mary, si bungsu yang saat ini tak ketahuan rimbanya setelah menggugurkan kandungan di usianya yang masih 15 tahun itu. Hanya akulah harapan Dad yang masih tegar dan suci, sesuci keperawanan Bunda Maria. Tapi <em>Dad</em> pun tahu bahwa aku tidak tega menjadikan biara sebagai pelarian dari semua masalah, terutama mereka yang patah hati. Kasihan Yesus yang menderita karena dosa manusia dan menjadikan biara dan gereja hanya sebagai tempat penampungan bagi mereka yang putus asa dan merasa hidupnya tak berarti lagi. Hampir semua yang menjadi pastor dan biarawati adalah mereka yang telah pernah melakukan seks di luar nikah. Bahkan yang membuatku kecewa tidak itu saja. Suatu malam aku memergoki seorang suster dan pastor melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya mereka lakukan. Aku tahu, sebetulnya aku tidak boleh mengetahui apa yang mereka lakukan. Tapi rasa ingin tahuku mengalahkan segalanya. Semalaman aku tidak bisa tidur dan harus kembali merenungi kata-kata dalam suratmu sebelumnya. Menikah adalah sesuatu yang alami pada manusia untuk mengendalikan diri dari perilaku-perilaku yang menyimpang. Kamu menyebutnya fitrah. Di lain pihak segolongan orang melakukan penyimpangan sehingga terlalu bebas atau <em>free sex</em>, sedangkan sebagian yang lain pura-pura sok suci dan berusaha lari ke biara-biara untuk menghindari sesuatu yang menurut mereka kotor dan menjijikkan. Tapi mereka munafik, toh mereka lakukan juga walaupun dengan sembunyi-sembunyi.</p>
<p>Banyak hal yang membuatku semakin bingung, ketika aku berusaha memperdalam agama ini. Tentang prinsip tiga dalam satu, penebusan dosa, ataupun yang lain. Kami di sini tidak diperbolehkan untuk bertanya atau menyangkal tapi hanya diajar untuk menerima tanpa bantahan. Karena pernah suatu kali aku mencoba menanyakan kedua hal di atas dan aku pun masih ingat bagaimana merahnya wajah pastor pengajar. Kemudian salah satu suster mendekatiku, memintaku keluar kelas dan memintaku beristirahat. Dianggapnya aku sakit dan sedang mengigau. Semakin kupikirkan ini semakin pening rasa kepalaku. Kuputuskan untuk tidak mengikuti bahasan selanjutnya tentang trik-trik untuk menjadi misionaris yang efektif. Aku tidak berminat lagi. Aku sudah cukup muak dengan itu semua. Menarik orang-orang awam, miskin dan bodoh dengan iming-iming uang dan makanan. Dan bukannya dengan argumentasi dan intelektualitas logis yang bisa dipertanggungjawabkan untuk mencari kebenaran. Satu hal lagi, tingkah lakuku semakin diawasi sejak kulontarkan pertanyaan tempo hari. Untunglah ada seorang biarawati yang baik dan memohon suster kepala untuk menyerahkan pengawasanku padanya. Suster Antoinette namanya. Dia begitu memahami tentang kebingunganku terhadap prinsip-prinsip <em>unlogical</em> yang kuterima. Bahkan dia mendorongku untuk mempelajari berbagai agama lain. Aku masih ingat salah satu kata-katanya, &#8220;Islam adalah salah satu agama besar di dunia dan identik dengan terorisme. Tapi bukan mustahil kebenaran ada di dalamnya.&#8221; Aku langsung teringat dirimu yang juga berpakaian rapat seperti Suster Antoinette.</p>
<p>Kota ini terlalu kecil bagiku untuk mendapatkan sepercik embun pada dahagaku, haus akan kebenaran. Minggu depan umurku genap delapan belas tahun, usia kebebasan yang bahkan orang tua pun tidak berhak melarang atau menyuruh apa pun pada anaknya. Lucu bila mengingat di negaramu sana umur tujuh belas tahun biasa dirayakan dengan meriah bagi mereka yang mengagungkan peradaban barat dengan anggapan mereka sudah dewasa. Di sini kedewasaan itu tidak diukur dengan pesta meriah tapi bukti seratus persen harus sudah lepas dari tanggung jawab orang tua. Benar-benar hidup mandiri. Aku harus ke Paris, suatu kota yang kata orang <em>the most romantic city in the world</em>. Yah, aku ke sana memang mau mencari cinta, tapi bukan cinta semu yang diobral sepanjang <em>Mouff</em> distrik, atau pun dari <em>Place de la Contrescarpe</em> dan sepanjang <em>the Rue Mouffetard</em>. Yang kucari adalah cinta hakiki, yang akan memberi kedamaian di hati. Yang akan menjawab semua pertanyaan besarku tentang dari mana aku berasal, untuk apa sebenarnya aku hidup di dunia ini, dan setelah semua ini berakhir, kemanakah aku kan pergi.</p>
<p>Paris di malam hari. Cukup indah dengan segala lampu kota menghias di tiap sudut jalan dibandingkan dengan kota kecil Ancone yang bernuansa pedesaan. Toko-toko berjajar, orang-orang berjas dan berdasi hanya untuk makan malam, diskotik, pub dan hotel penuh orang. Tapi bukan itu tujuanku kemari. Kulangkahkan kaki menuju museum kota tempat perpustakaan dan literatur tentang segala agama berada. Tidak banyak yang kudapatkan unutk memuaskan dahagaku tentang kebenaran dan konsep hidup yang benar. Kulangkahkan kaki menuju Cancale, pantai Brittani yang terkenal indah. Kebetulan di bulan September ini cuaca sangat cerah<em>, summer season</em>. Matahari lambat terbenam sehingga aku masih sempat menyaksikan sinar indahnya di hampir tengah malam ini. Kutarik nafas dalam dan tak henti memandang keindahannya. Pastilah ada Yang Mahaindah di balik itu semua. Seperti yang pernah kau kutipkan dari kitab sucimu Al Kur&#8217;an bahwa dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi mereka yang mau berpikir.</p>
<p>Hari mulai gelap dan aku tak ingin menghentikan kembaraku. Kubiarkan kaki melangkah sekehendak hati hingga tibalah aku di depan Masjid Hammam atau orangbiasa menyebutnya <em>Hammam of the Paris mosque</em>. Entah kenapa ada kerinduan menyeruak kala terdengar seruan dari dalam yang nantinya aku tahu bernama adzan. Sebuah panggilan merdu untuk beribadah yang bernama sholat. Di tengah ketertegunanku ada seorang muslimah berbaju rapat mengingatkanku akan suster Antoinette yang hanya terlihat muka dan telapak tangan. Dia menyapaku ramah dan mengajakku ke ruangan teduh yang merupakan sekretariat muslimah. Di situlah untuk pertama kalinya aku menangis setelah semua pertanyaan yang mengusikku terjawab dengan sangat memuaskan. Tentang dari mana aku berasal, untuk apa aku hidup di dunia ini, dan ke mana aku akan kembali setelah kematian menjemput. Aku merasa seperti terlahir kembali dan menemukan diriku yang sama sekali baru. Betapa ada Yang Maha Segalanya di balik manusia, alam dan kehidupan ini, ada Yang Maha menciptakan dan dia juga Maha pengatur. Karena? tidak ada yang Maha memahami manusia selain pencipta itu sendiri. Betapa naif bila kehidupan yang sedemikian rumit diserahkan ke akal manusia yang terbatas dengan konsep <em>trial and error</em>. Harus ada aturan pasti tentang semua hal itu. Dan konsep kebaikan akan ada pahala sedangkan kejahatan akan ada balasan tidak hanya setelah mati kelak tapi juga di dunia sebagai ganjaran untuk pemelihara hidup dan kehidupan. Benar-benar suatu konsep hidup yang <em>amazing</em>, luar biasa. Betapa sejak mula kita bangun tidur hingga semua aktifitas sehari-hari dilakukan hingga tidur lagi ada semua aturan yang begitu sempurna. Baru kali ini aku menemui suatu agama yang tidak hanya berdimensi spriritual <em>an sich</em>, tapi dimensi politik untuk mengurusi kehidupan semua lapisan masyarakat pun terbahas dengan sempurna dalam agama samawi terakhir ini, Al-Islam.</p>
<p>Akhirnya segala jerih payahku terbayar lunas. Tidak pernah aku sebahagia ini. Tapi di saat bersamaan ada terbersit khawatir di hati apabila <em>Dad</em> mengetahui tentang keislamanku. <em>Dad</em> orang yang keras, dia tidak segan-segan menghajar anaknya yang dianggap tidak patuh. Itu sebabnya Mary memilih lari dari rumah dengan perut buncit akibat pergaulan bebasnya. Ah, betapa rindunya aku dengan saudaraku itu. Ingin rasanya kubagi kebahagiaan ini dengan orang-orang terdekatku. Aku harus pulang.</p>
<p>Seperti yang pernah kutulis padamu, Dad orang yang keras. Tubuhku penuh bilur akibat siksaan dari kemarahannya setelah tahu tentang keislamanku. Aku tidak bisa menahan rasa hatiku untuk tidak memberitahunya. Walaupun sesungguhnya Tuhan, kita menyebutnya Allah membolehkan kita menyembunyikannya apabila situasi tidak memungkinkan. Tapi aku memilih jalan ini. Akan kutanggung semua konsekuensi dari keimananku. Karena di sinilah aku merasakan secara nyata lezatnya beriman dalam Islam.</p>
<p>Kutulis paragraph terakhir dari surat pertamaku ini untukmu, <em>my dearest friend</em>. Betapa tak henti kagumku dengan teknologi yang membikin dunia seperti sebuah desa informasi. Ketika internet bagai pisau bermata dua, maka aku telah menggunakan sisi baiknya. Sedikit banyak kamu telah membantuku menemukan muara dari kembara ruhaniku. Kamu yang hadir di belahan bumi sana dan tak pernah kugenggam erat genggam hangat persahabatanmu selain hanya sebuah <em>image</em> foto yang kita kirim satu sama lain, tapi hati kita nyata dalam balutan kasih Ilahi. Doakan aku, karena doa itulah kekuatan kita yang terpisah beribu-ribu mil jauhnya. Bukan <em>good bye</em> karena ini bukan perpisahan, tapi <em>I&#8217;ll see you soon </em>karena kita akan bertemu, Insya Allah. Bila tidak di dunia ini, biarlah di akhirat nanti. Salam sayangku selalu untukmu dan semua orang-orang yang kau kasihi dan juga muslim sedunia. Semoga Allah memberiku kekuatan dalam menjalani ini semua.</p>
<h3><em>Love for thee</em></h3>
<p align="right">Laura Rotchild.</p>
<p align="right"><em>Aka</em> Fathimah</p>
<p>PS: <em>Douce France, doux pays de mon enfance. Sweet France, sweet land of my childhood</em>. Aku terlahir di sini, dan biarlah kututup mataku di sini pula.</p>
<p align="center">* * * * *</p>
<p>Kubaca tiap kata dari surat pertama dan terakhir Laura dengan hati berkecamuk antara bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Selamat datang saudaraku, selamat datang dalam iman dan Islam. Aku tidak tahu apakah pantas aku mengucapkan <em>good bye</em> dan saatnyakah kulakukan sholat gaib untukmu? Aku begitu mengenal tulisanmu dan gaya bertuturmu. Terlihat di surat terakhirmu kalau kamu begitu kesakitan sehingga sering tulisanmu melewati garis, naik turun tidak beraturan. Dari gayamu bercerita pun aku tahu kamu menyimpan luka baik fisik atau pun psychologis yang dahsyat. Kamu selalu tidak ingin berbagi kesedihanmu dengan orang lain. Tapi tiga tahun berteman di dunia maya cukup bagiku untuk mengenali dirimu dan berusaha merasakan kepedihanmu. Walau mungkin itu tak sebanding dengan apa yang kamu rasakan sendiri. Kamu mungkin tidak sadar kalau di ujung lembaran suratmu ada warna merah kehitaman membeku sehingga membuatku yakin kalau kondisimu jauh lebih parah dari isi suratmu yang hanya menggambarkan bilur di tubuh.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Laila Putri mengambil air wudhu dan menunaikan sholat sunnah untuk mendoakan sahabatnya itu. Tak ingin meyakini dirinya untuk melakukan sholat ghaib tentang kondisi terakhir Laura yang memilih nama Fathimah sebagai nama hijrahnya. Sahabat yang terasa begitu dekat tapi jauh secara materi. Pertemanan yang terjalin lewat dunia maya sebatas e-mail akhirnya harus ditutup dengan sepucuk surat nyata berbilur lara dan darah. Allah selalu bersamamu ya&#8230;ukhti.</p>
<p><em>(Teruntuk teman dunia mayaku, kapankah kalian menemukan muara bahagia itu?)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/surat-terakhir-dari-ancone/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cowok Kok Girlish?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cowok-kok-girlish</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cowok-kok-girlish#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 17:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyBoy]]></category>
		<category><![CDATA[cowok]]></category>
		<category><![CDATA[girlish]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kemayu]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2048</guid>
		<description><![CDATA[Tampang macho tapi dandanan feminin, malah centil. Bukan bencong, tapi ngakunya pejantan tangguh. Itulah cowok-cowok girlish. Sekedar mode, atau ada yang lain?
Tampang sih macho, tapi dandanan? Ya ampun girlish abis! Bajunya junkies, celana gombrang, ada juga yang nekat piercing anting di kuping. Belum lagi asesoris cewek macam ikat rambut. Kadang dipake buat ngiket rambut yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Tampang macho tapi dandanan feminin, malah centil. Bukan bencong, tapi ngakunya pejantan tangguh. Itulah cowok-cowok girlish. Sekedar mode, atau ada yang lain?</em></strong></p>
<p>Tampang sih macho, tapi dandanan? Ya ampun <em>girlish</em> abis! Bajunya junkies, celana gombrang, ada juga yang nekat piercing anting di kuping. Belum lagi asesoris cewek macam ikat rambut. Kadang dipake buat ngiket rambut yang gondrong, atau dijadiin gelang di tangan. Kalau perlu rambut juga ditoning atau diwarnain. Pokoknya, <em>girlish</em> total!</p>
<p><strong>Apa sih <em>girlish?</em></strong></p>
<p align="left">Menurut <em>Webster New Word Dictionary</em> &#8220;girlish&#8221; itu adalah: <em>of, like, or suitable to a girl or girlhood</em>. Artinya, cowok yang berpenampilan ala cewek. Gaya macam gini nggak cuma didominasi para bencong alias <em>abal-abal</em>. Cowok-cowok yang normal juga suka berdandan girlish. Vokalis Slank, Kaka, misalkan dulu sering pake baju <em>junkies</em>, ketat, transparan macam cewek-cewek. Setali tiga uang ama Kaka adalah vokalis grup asal Bandung /rif. Kalau kamu simak penampilannya di layar kaca terkadang suka ditambah <em>make up</em> yang agak medok, termasuk lipstick. Gaya make up medok itu juga diperagakan oleh grup asal Inggris Duran Duran yang ngetop tahun 80-an. Sebelumnya ada penyanyi yang udah bangkotan, David Bowie tampil dengan gaya <em>glam rock</em>. Genit persis cewek-cewek.<span id="more-2048"></span></p>
<p align="left">Boyz, jaman sekarang emang nggak ada aturan yang ngelarang dandanan. Mau pake apa aja dan bergaya apa aja boleh. Itu kan hak asasi manusia. Tapi, pantes nggak sih cowok ber-girlish ria? Gimana juga cowok girlish di mata cewek?</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Ati-ati Bro!</strong></p>
<p align="left">&#8220;Geli!&#8221; kata Pratiwi, seorang cewek yang berhasil dihadang SODA. Cewek keling-manis yang bentar lagi diwisuda ini ngaku nggak suka ama cowok-cowok yang <em>girlish</em>. &#8220;Cowok itu bagusnya tampil rapi deh,&#8221; ia ngasih alasan. Di kampusnya sendiri ada beberapa teman kuliahnya yang tampil girlish. Lahir-batin sih mereka normal, alias nggak punya kecenderungan aneh. Cuma ya itu aja, suka berdandan girlish. Pratiwi ngaku jadi geli ngeliatnya.</p>
<p align="left">Tuh, boyz, simak deh pandangan cewek soal dandanan. Meski di negeri yang sekuler ini soal dandanan nggak jadi persoalan, tapi apa mau dipandang geli ama cewek-cewek? Niatnya mo tampil keren eh malah diketawain ama orang-orang. Kan nggak lucu.</p>
<p align="left">Tapi buat mereka yang udah ngerasa nyaman dengan dandanan centilnya pandangan orang lain ya kagak ngaruh. Kalau pikiran dan badan udah ngerasa enak dengan gaya girlish, jalan aja terus. <em>The show must go on</em>.</p>
<p align="left">Soal kecenderungan cowok tampil girlish juga dipengaruhi dunia mode. Hari gini, para perancang mode suka bikin macam-macam jenis baju. Ada baju yang memang dirancang khusus untuk cowok. Tampilannya jelas maskulin. Kaos, kemeja, celana panjang, ataupun jasnya memang khas untuk memperlihatkan sisi maskulin para cowok. Ada juga jenis pakaian yang <em>unisex</em>. Yakni pakaian yang emang dirancang untuk bisa dipakai oleh kaum pria ataupun wanita. Tapi yang bikin kita ber-istighfar adalah pakaian cewek tapi dipakai oleh para cowok. Inilah yang disebut girlish. Meski kata perancang busana itu sah-sah aja, tapi bener itu sah?</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong><em>Dress Code</em> Cowok Muslim</strong></p>
<p align="left">Bro, soal pakaian sebenarnya bukan cuma urusan kain nempel di badan. Berpakaian itu kudu memperhatikan soal etika dan estetika. Hukum dan keindahan. Paling pokok ya soal hukum, keindahan sih nomor sekian. Yup, agama kita udah ngajarin dengan detil banget soal berpakaian. Fungsi pokok pakaian adalah menutupi aurat. Buat para cowok, aurat itu ada di antara pusar sampai bagian lutut. Dengkul alias lutut sendiri bukan aurat, tapi yang ada di atas lututlah auratnya. Rasulullah saw. pernah bersabda, <em>&#8220;Janganlah menampakkan pahamu dan janganlah melihat paha orang yang masih hidup dan telah meninggal.&#8221;</em></p>
<p align="left">Imam Abu Daud dan Tirmidzi juga pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah menegur seorang sahabat yang tersingkap kainnya sehingga nampak pahanya. <em>&#8220;Apakah engkau tidak tahu bahwa paha adalah aurat?&#8221;</em></p>
<p>Selain menutup aurat, ternyata para cowok juga punya batasan lain dalam soal berpakaian, yakni dilarang memakai memakai sutra. <em>&#8220;Telah diharamkan memakai sutra dan emas bagi kaum pria dan dihalalkan bagi kaum wanita di antara mereka.&#8221;</em>(hr. Tirmidzi). Beliau juga menambahkan, <em>&#8220;Sesungguhnya (pria) yang memakai sutra adalah mereka yang tidak mendapat bagian di akhirat.&#8221;</em>(hr. Bukhari, Muslim). Lebih jauh lagi Nabi saw. bilang bahwa sutra dan emas adalah pakaian untuk kaum pria di surga. <em>So, be patient, Bro!</em> Sabar aja sampai kita masuk surga.</p>
<p>Sekali waktu pernah juga sih Rasulullah saw. ngasih izin kepada dua orang sahabat untuk memakai sutra. Yakni Zubair bin Awwam dan Abdurrahman bin Auf radliallahu anhuma, karena keduanya menderita gatal-gatal jika memakai pakaian dengan bahan biasa. Artinya, ini hanya berlaku dalam keadaan darurat, buat para cowok yang sakit kulit dan hanya bisa memakai sutra.</p>
<p>Soal <em>girlish</em> gimana? Ini juga dijelasin oleh Islam. Nabi saw. sudah bikin penjelasan kalau cowok dan cewek emang beda. So, jangan disama-samain. Bukan hanya soal mental dan biologisnya, tapi <em>display</em>-nya alias penampilan luarnya emang kudu beda. Cewek punya asesoris tersendiri yang kagak bisa dipinjem oleh mahluk cowok. Mulai dari anting, kalung, sampai pakaian. Untuk para cewek Allah sudah mewajibkan mereka memakai kerudung dan jilbab saat berada di tempat umum. Tapi selain kerudung dan jilbab, mereka boleh saja memakai celana panjang (khas cewek), rok, kaos dan kemeja di tempat-tempat khusus, atau di antara sesama cewek lagi.</p>
<p>So, cowok udah dibatasi nggak boleh memakai asesoris dan pakaian yang jadi &#8220;kebangsaan&#8221; para cewek. Dalam satu hadits disebutkan, <em>&#8220;Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang meniru perempuan dan perempuan yang meniru laki-laki.&#8221;</em>(hr. Bukhari).</p>
<p>Bro, kalau kamu cowok tampilin dong sejatinya seorang cowok. Gentle dan macho, tinggalin asesoris yang girlish, yang bikin cewek-cewek jadi geli. Ini cowok atau mahluk hermaphrodite? Berkelamin ganda? Udah gitu, nggak ada itungannya dalam Islam seorang cowok tampil girlish. Bersih dan fresh itu nggak mesti girlish. Cowok sejati juga bisa tampil begitu. Nggak percaya, buktiin aja sendiri. [<strong>januar</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi 14/Desember 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cowok-kok-girlish/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Menegangkan sebagai Orang tua</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/saat-menegangkan-sebagai-orang-tua</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/saat-menegangkan-sebagai-orang-tua#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 18:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3222</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat syaraf kita menegang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?</em></strong></p>
<p><strong>Oleh: Mohammad Fauzil Adhim</strong><br />
<em><strong><br />
</strong></em><em><strong></strong></em>Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat syaraf kita menegang karena anak membangkang. Ada sebagian orangtua yang menangis karena merasa anaknya tak mengerti kemauan orangtua. Padahal sudah banyak diingatkan, dimarahi, bahkan dihukum.</p>
<p>Lonjakan tekanan emosi ini akan lebih menegangkan lagi ketika ada tamu datang ke rumah kita, sedang berbelanja di toko, atau saat melakukan perjalanan jauh bersama anak. Semenjak usia dua tahun, anak sepertinya tahu bahwa dalam situasi-situasi seperti itu kendali orangtua melemah. Ibu tak akan mengeluarkan teriakan yang menakutkan, bapak tidak mungkin berdiri mengacungkan tangan untuk memukul, seheboh apapun tingkah anak. Mereka tahu, orangtua kerap kali tak berdaya menghadapi tingkah anak–setidaknya selama tamu masih berada di rumah.<span id="more-3222"></span></p>
<p>Memasuki usia dua tahun, anak memang berubah. Para ahli menggambarkan usia ini–sampai sekitar empat atau lima tahun—sebagai <em>the terrible twos</em> (dua tahun yang mengerikan). Anak-anak semula begitu menyenangkan, mudah diatur, membuat kita bahagia karena tingkahnya yang lucu menggemaskan, begitu memasuki usia dua tahun berubah menjadi ketegangan, mulai menunjukkan keakuan, tak jarang menampakkan “perlawanan” dan mulai ingin mengatur lingkungan. Usia dua tahun adalah usia paling lucu sekaligus membuat kita sulit tertawa. Ia ingin diperhatikan dan terutama dilibatkan. Itulah sebabnya anak bertingkah heboh.</p>
<p>Setidaknya ada dua hal yang membuat anak seperti itu.<em> Pertama</em>, anak ingin mendapat perhatian dan penerimaan dari orang lain, misalnya tamu. Tingkahnya akan lebih heboh lagi bila ia merasa di-<em>persona-non-grata</em>-kan (tidak disenangi) atau merasa tidak dianggap manusia. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik, berlari keluar untuk menyambut tamu, berinisiatif menanyakan nama dan alamat, tetapi tamu yang datang menampakkan sikap tidak membutuhkan anak kecil itu.</p>
<p><em>Kedua</em>, anak merasa kehilangan perhatian dari orangtua saat tamu datang. Sebelum usia dua tahun, orangtua selalu melibatkannya, menceritakan tentang kelucuannya, menunjukkan kehebatan sekaligus mengajaknya berdialog di depan tamu. Tetapi begitu memasuki usia dua tahun, atau beberapa bulan sebelum itu, kita mulai “mengabaikan dia”. Atas sebab itu, anak bertingkah menghebohkan untuk merebut perhatian. Tentu saja ini harus dibedakan dengan perilaku anak yang memang gesit dan meriah gerak maupun suaranya, tak peduli ada tamu atau tidak. Hanya saja, saat ada tamu kita lebih sensitif mendengar teriakan mereka yang mengagetkan.</p>
<p>Sepanjang saya perhatikan, anak-anak cenderung lebih tenang apabila mereka merasa tamu datang tidak hanya membutuhkan orangtua mereka. Anak-anak itu menampakkan perilaku yang lebih kooperatif bila mereka ikut disapa–satu atau dua menit—sebelum berbicara dengan orangtua.</p>
<p>Sikap orangtua terhadap anak juga turut berpengaruh. Kalau anak-anak disuruh masuk seketika, begitu ada tamu datang, kerapkali yang terjadi adalah ketegangan yang melelahkan. Saat-saat menemui tamu penuh pergolakan untuk menahan diri dan gusar dengan teriakan anak. Sebaliknya, ketika kita memiliki sedikit waktu untuk berbicara baik-baik dengan mereka, memberi pengertian dengan menceritakan siapa tamu yang datang dan apa keperluannya, anak cenderung lebih bisa menempatkan diri.</p>
<p>Jarang-seringnya tamu datang juga mempengaruhi dahsyat-tidaknya perilaku anak. Anak-anak yang di rumahnya sering kedatangan tamu, akan lebih tenang dibanding mereka yang jarang menerima tamu. Begitu ada yang datang, bagai musim kemarau disiram hujan, anak-anak itu segera berteriak lantang, bertingkah dengan selepas-lepasnya dan sibuk mencari perhatian. Tingkah anak yang memusingkan itu akan lebih menegangkan lagi jika tamu datang di saat anak sedang mempunyai permintaan dan tidak dituruti oleh orangtua. Kesempatan yang sangat bagus untuk memaksa orangtua.</p>
<p>Khusus berkait dengan rengekan anak saat tamu datang, ada yang perlu kita perhatikan. Tak jarang orangtua menyerah hanya demi “menjaga nama baik”, padahal dampaknya sangat buruk. Kadang orangtua menolak membelikan es krim dengan alasan tidak punya uang. Ketika anak merengek atau menangis, orangtua bersikeras tidak mau membelikan. Tetapi begitu rengekan dilakukan di hadapan tamu, segera keluar uang “pembungkam mulut”. Anak memang seketika terdiam, tetapi pada saat yang sama mencatat setidaknya mencatat empat pelajaran penting yang berbahaya.</p>
<p><em>Pertama</em>, anak belajar berbohong dengan contoh nyata dari orangtua. Bukankah tadi orangtua mengatakan tidak punya uang? Dan bukankah orangtua ternyata dapat memberinya uang saat tamu datang? Padahal tamu datang tidak membawakan uang untuk orangtua.</p>
<p><em>Kedua</em>, anak belajar memaksa dengan menggunakan tangis dan kekerasan. Ketika ia meminta baik-baik, orangtua tidak menuruti. Tetapi begitu ia berteriak keras, menangis, bila perlu mengamuk, orangtua segera menuruti. Pengalaman yang sangat berkesan sehingga layak menjadi “pegangan” dalam menghadapi orangtua.</p>
<p><em>Ketiga</em>, anak belajar mempermalukan orangtua dan kelak orang lain–<em>na’udzubillahi min dzalik</em>—demi memperoleh apa yang diinginkan. Belajar dari pengalaman di depan tamu, anak menemukan pelajaran bahwa yang membuat orangtua bersegera menuruti adalah rasa malu. Orangtua tidak ingin kehilangan muka di hadapan tamu.<br />
<em><br />
Keempat</em>, anak belajar tidak mempercayai orangtua. Orangtuanya mengatakan tidak punya uang, tetapi ternyata mampu memberi uang saat tamu datang. Berarti orangtua telah berbohong, tidak berbicara dengan qaulan sadida (perkataan yang benar) sebagaimana diwasiatkan oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla </em>dalam Al-Quran. Cara menampik keinginan anak tidak dilakukan dengan alasan yang benar, alasan yang mendidik anak, tetapi dengan alasan yang diada-adakan. Tidak punya uang memang alasan yang paling mudah kita cari, terutama bagi para orangtua yang malas berpikir jernih.</p>
<p>Agar ingatan kita lebih segar dan bekasnya di hati lebih kuat, mari kita simak kembali wasiat Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p><em>“Dan hendaklah orang-orang pada takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan qaulan sadidan (perkataan yang benar).”</em> [An-Nisaa’: 9]</p>
<p>Masya Allah! Begitu kecil kelihatannya, namun begitu besar akibat yang ditimbulkan oleh kata-kata yang salah. Berawal dari hilangnya kesabaran dan keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan segera (<em>isti’jal</em>), kita dapat menuai akibat yang sangat panjang. Hanya karena kita tak tahan mendengar tangisan, kita bisa menuai airmata tak habis-habisnya. Hanya karena malu di depan tamu atau pengunjung supermarket yang sebenarnya tidak saling kenal, kita bisa menanggung malu yang lebih besar. N<em>a’udzubillahi min dzalik, tsumma na’udzubillahi min dzalik</em>. Semoga Allah Yang Membolak-balikkan Hati, membaguskan akhlak anak-anak kita, memelihara iman mereka, dan meneguhkan kepercayaan mereka kepada kita selaku orangtua. Allahumma amin.</p>
<p>Bicara tentang kata, teringatlah saya kepada Bob Greene, yang pernah menulis artikel rangkuman dari bukunya berjudul <em>He was a Midwestern Boy on His Own</em>. Dalam artikel yang berjudul <em>What Words Can D</em>o (Apa yang Bisa Dilakukan oleh Kata-kata), Bob Greene menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kata. Kata Greene, “Terkadang, bahkan sesuatu yang paling sederhana pun membawa akibat yang selama-lamanya.”</p>
<p>Agaknya, ada yang perlu kita benahi kembali dalam hati kita, jiwa, ilmu pengetahuan, serta sikap kita. Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?</p>
<p>Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membaguskan kita, keluarga, orangtua, dan keturunan kita seluruhnya. Semoga Allah Ta’ala ampunkan yang salah dan tinggikan apa yang benar dari langkah-langkah kita mempersiapkan anak-anak menjadi penolong agama-Nya. <em>Allahumma amin</em>. [<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9433:saat-menegangkan-sebagai-orangtua&amp;catid=99:m-fauzil-adhim-&amp;Itemid=75" target="_blank"><strong><em>www.hidayatullah.com</em></strong></a>]<br />
<em><br />
Penulis adalah kolumnis Majalah Hidayatullah dan penulis masalah islami parenting</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/saat-menegangkan-sebagai-orang-tua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Reruntuhan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dari-reruntuhan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dari-reruntuhan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 19:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2452</guid>
		<description><![CDATA[By: Haekal Siregar
John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.
&#8220;Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?&#8221; canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.
&#8220;Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?&#8221; John masih bercanda.
&#8220;Entahlah,&#8221; jawab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Haekal Siregar</strong></p>
<p>John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.</p>
<p>&#8220;Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?&#8221; canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.</p>
<p>&#8220;Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?&#8221; John masih bercanda.</p>
<p>&#8220;Entahlah,&#8221; jawab Michael pelan.</p>
<p>&#8220;Kamu masuk angin?&#8221; Jhon dengan mimik serius. Michael menggeleng kaku.</p>
<p>&#8220;Jhon, cerita penderitaan dan kehancuran di sini dalam waktu singkat akan memenuhi semua media cetak dunia. Kau yakin kita tidak mendapat berita basi?&#8221; John tercenung. Tidak ada stasiun televisi yang akan mau membayar mahal untuk cerita yang akan dimiliki semua orang. Kalau rencana liburan ke Hawaii masih mau dilanjutkan, mereka harus mencari sisi lain. Terlalu sayang pengorbanan mengarungi perairan yang baru terkena tsunami, bila hanya memperoleh sedikit imbalan.<span id="more-2452"></span></p>
<p>&#8220;Apa usulmu?&#8221; John membayangkan malam gelap yang mereka lewati di atas perahu nelayan tempohari.</p>
<p>&#8220;Kau ingat aturan pertama jurnalis mendapatkan berita?&#8221; cetus Michael.</p>
<p>&#8220;Kita tidak boleh pasif menunggu berita!&#8221; Jhon asal, perutnya mulai berkeruyuk minta isi.</p>
<p>&#8220;Tepat sekali! Selain karena tsunami, apa yang membuat daerah ini terkenal?&#8221; Michael dengan semangat menohoknya.</p>
<p>&#8220;Tariannya?&#8221; Otak Jhon agak macet kalau sedang lapar.</p>
<p>&#8220;Kita buat saja liputan konser tarian daerah di wilayah bencana. Itu pasti akan menjadi berita yang sangat menarik!&#8221; Michael mendengus kesal. Ia paling tidak suka apabila idenya dibuat bercanda.</p>
<p>&#8220;Oke, serius! Apa kaitan GAM dengan tsunami?&#8221; Jhon semakin tak fokus, karena perutnya mulai menjerit.</p>
<p>&#8220;Ingatkan aku mengganti kameramenku setelah mencapai peradaban! Sepertinya otakmu jauh menurun sejak pertama kali datang ke tempat ini,&#8221; Michael memasang wajah kecewa. John memukul tangan Michael dengan keras, walaupun sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kita meliput suasana tegang GAM dengan TNI setelah bencana?&#8221; Pemandangan yang ia lihat lumayan mengurangi nafsu makannya. Mayat seorang ibu yang sedang memeluk anaknya, berusaha melindungi sampai saat terakhir. &#8220;Tepatnya, kita buat ketegangan GAM dengan TNI setelah bencana. Kita satu-satunya yang berhasil meliputnya, lengkap!&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke, tiga-dua kali ini. Kau hampir menyusul kepiawaianku, Nak,&#8221; John seketika tersenyum, duduk di sebuah bangku yang dihanyutkan banjir.</p>
<p>&#8220;Tiga-dua mimpimu! Aku jelas sudah lebih piawai daripada siapa pun, sejak dulu!&#8221; sentak Michael sombong.</p>
<p>&#8220;Yang di Irak, itu kan ideku!&#8221; mereka terus bertengkar sambil bercanda di atas sebuah rumah besar yang hampir roboh. Dan mayat-mayat tersangkut di jendela lantai bawahnya.</p>
<p>&#8220;Ngomong-ngomong, kita malam ini tidur di sini?&#8221; keluh John memandang enggan ke arah mayat-mayat.</p>
<p>&#8220;Yah, kamu sudah siapkan maskernya kan?&#8221;</p>
<p>John melongo sebentar. &#8220;Oh iya, masker! Di mana?&#8221; Kali ini Michael menonjok tangan John dengan sungguh-sungguh.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Irak, Somalia, Filipina, hanyalah sebagian kecil dari petualangan mereka. Dua nama yang mulai melegenda di kalangan jurnalis internasional. Bagaimana mereka merekayasa situasi, membuat konflik yang direkam dan jual dengan harga yang sangat tinggi. Tidak ada yang mengetahui nama asli John dan Michael. Mereka bekerja lebih mirip mafia daripada jurnalis. Koneksi dan jaringan yang luas di kalangan preman, pengedar obat bius, tentara berbagai negara, membuat mereka mudah mengatur rekayasa. Mulai dari demonstrasi mahasiswa dan para buruh yang berkembang menjadi kerusuhan, kebakaran pasar, hingga pemberontakan dan kudeta di suatu negara.</p>
<p>Kini mereka berdiri di depan sebuah benteng, lebih mirip perkampungan yang dikelilingi pagar bambu.</p>
<p>&#8220;Kau yakin ini tempatnya?&#8221; Michael ragu. Tas yang disandangnya mulai terasa berat.</p>
<p>&#8220;Kenapa? Memang mirip benteng!&#8221;</p>
<p>&#8220;Terlalu mirip, terlalu mencolok! Hebat sekali kalau belum pernah digerebek,&#8221; Michael sinis.</p>
<p>&#8220;Entahlah, tapi begitulah menurut si Rizki. Sekarang di mana lagi bajingan itu? Katanya ia mau menemui kita,&#8221; umpat John. Mereka menunggu hampir setengah jam. Seorang lelaki kerempeng, berwajah licin muncul bersama lelaki yang berpakaian mirip tentara dan berwajah berwibawa.</p>
<p>&#8220;Ini orang yang saya ceritakan, Teuku. Mereka bilang ingin meliput para pengungsi yang datang ke perkampungan ini.&#8221;</p>
<p>Lelaki berwibawa memandang John dan Michael secara seksama sebelum berkata tegas kepada temannya, &#8220;Kamu tidak bilang mereka orang asing! Bagaimana kalau mereka mata-mata?&#8221;</p>
<p>John mengulurkan tangan sambil menyerahkan kartu pers. &#8220;John dan Michael, kami memang wartawan. Kantor kami tertulis di kartu ini. Silakan hubungi mereka kalau Anda tidak percaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalian bisa berbahasa Indonesia! Kenapa kalian ngotot bicara bahasa Inggris kemarin?&#8221; tuntut lelaki berwajah licin bernama Rizki itu.</p>
<p>&#8220;Kami sempat tinggal di Bali hampir setengah tahun,&#8221; jawab Michael sambil teringat pengalaman pahit mereka, melacak jejak pemboman Bali.</p>
<p>&#8220;Mengenai kemarin, kamu sendiri yang pertama-tama sok jago bisa bahasa Inggris?&#8221; John tersenyum geli.</p>
<p>Lelaki berwibawa hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Ia meneliti kartu pers yang diberikan John, seakan berharap menemukan tanda-tanda pemalsuan.</p>
<p>&#8220;Baik, saya Sayed pimpinan di sini. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya harap Anda tidak mengambil gambar apapun di sini,&#8221; kata Sayed sambil berjalan terlebih dahulu memasuki perkampungan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>&#8220;Seharian menunggu apa hasilnya?!&#8221; teriak Michael. John hanya terdiam. Ia sama kecewanya dengan Michael. Sayed merasa memanfaatkan momentum bencana untuk menyerang pemerintah. Sangat tidak berperikemanusiaan. Mereka bahkan dipersilakan untuk meninggalkan perkampungan.</p>
<p>&#8220;Aku juga tidak mengerti dengan mereka. Jelas-jelas ini kesempatan yang sangat bagus. Daerah tanpa pemerintahan dengan akses militer asing yang terbuka, bodoh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Satu berita tercoret dari daftar. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita? akhirnya terpaksa meliput segala tetek-bengek penderitaan <em>after disaster</em>?&#8221; Michael memandang John menuntut jawaban.</p>
<p>&#8220;Tunggu, biarkan aku berpikir dulu,&#8221; gumam John menunduk, gayanya bila mencari ide. Michael menunggu sambil berharap. Ia sudah kehabisan akal mencari bahan liputan yang bisa dijual mahal.</p>
<p>&#8220;Ingat awal karir kita? Merekam film dokumenter kehidupan suku terasing di Papua,&#8221; cetus Jhon tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Ya, lantas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita bisa memakai taktik dulu. Membayar orang untuk menimbulkan masalah, memicu peperangan, kemudian mendokumentasikannya,&#8221; John tersenyum, merasa perjalanan mereka tidak sia-sia.</p>
<p>Wajah Michael berbinar mendengar usul John. Kini mereka tinggal menemukan sekelompok orang yang mau melakukan apapun untuk uang. Dan di daerah korban bencana? Itu adalah hal paling mudah untuk dilakukan!</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p align="center">
<p>&#8220;Ssst&#8230;? Siap John?&#8221; ?bisik Michael kepada John yang sedang duduk di atas sebuah pohon, agak jauh dari jalan raya. Jhon mengangguk sumringah.</p>
<p>Rencananya akan ada pencegatan bantuan pangan oleh sekelompok orang yang mengaku GAM. Tindakan itu pasti akan memicu reaksi dari pemerintah. Kelak akan banyak pertempuran yang dapat direkam. Bahkan si pengecut Sayed itupun tidak akan dapat menghentikan bergulirnya bola api!</p>
<p>Iring-iringan truk pengangkut barang mulai terlihat. Dikawal jeep berisikan beberapa anggota TNI. Michael memberi isyarat pada beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Tak berapa lama kemudian terdengar letusan ban. Jebakan yang mereka pasang pasti mengenai sasaran. Iring-iringan itu berhenti, terhalang mobil jeep TNI yang kini bergeming.</p>
<p>Orang-orang suruhan itu berlompatan dari balik pepohonan sambil menodongkan senjata. Beberapa orang terlihat langsung melompat ke dalam truk terdepan, menodongkan senjata tepat di leher pengemudi. Setelah beberapa patah kata yang menunjukkan &#8216;identitas&#8217; mereka sebagai anggota GAM, para &#8216;perampok&#8217; itu mengeluarkan semua pengemudi, membawa lari empat truk yang penuh dengan makanan dan pakaian.</p>
<p>&#8220;Militer tak mengira ada serangan di kawasan parah itu!&#8221; Jhon tergelak penuh kemenangan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Hampir tengah malam, mereka, kedua lelaki itu berjalan gontai, setengah mabuk, di tengah reruntuhan sebuah perkampungan dekat Meulaboh. John membawa kameranya. Walaupun hanya bisa dijual murah. &#8220;Tak bakal sakit mengumpulkan receh,&#8221; menurut pepatah John.</p>
<p>Mereka dikejutkan oleh suara isakan dari tengah reruntuhan. Tidak seperti orang Indonesia yang cenderung berpikir horor, mereka malah penasaran mencari arah suara aneh. John mulai mempersiapkan kameranya untuk men-<em>shoot</em> kejadian apapun.</p>
<p>&#8220;John, di sana!&#8221; bisik Michael sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil yang terisak di reruntuhan. Anak kecil itu menutup matanya dengan sebelah tangan yang berlumuran darah kering, ketika senter Michael mengarah padanya.</p>
<p>&#8220;Apa yang sedang ia tangisi?&#8221; John sambil mulai merekam, sementara Michael mengedarkan senter mencari penyebab tangis anak tersebut.</p>
<p>&#8220;Ada tangan menyembul keluar!&#8221; seru Michael menyorotkan senternya ke sebuah tangan. &#8220;Mungkin itu mayat ibunya, Jhon!&#8221;</p>
<p>Senyuman John mulai merekah. Kejadian apa yang lebih mengiris hati daripada pemandangan seorang anak menangisi mayat ibunya yang tertimpa reruntuhan di tengah malam? Kejadian tragis bernilai mahal!</p>
<p>John merekam pemandangan itu dari berbagai sudut. Saat itulah, tanpa John sadari, pandangan Michael mulai berkaca-kaca. Ia mendekati reruntuhan.</p>
<p>&#8220;Michael, mau apa kamu? Nanti saja kita panggil bantuan!&#8221;</p>
<p>Tanpa menggubrisnya Michael mulai mengangkat balok yang menimpa ibu si anak.</p>
<p>&#8220;Ugh, mayat ini pasti sudah membusuk lebih dari seminggu,&#8221; John mencium bau menyengat.</p>
<p>Masih tanpa berkata-kata, Michael mulai melakukan hal yang terlihat mustahil bagi John! ?Ia mengangkat mayat itu!</p>
<p>&#8220;He, apa yang kau lakukan? Nanti kamu terkena cairan busuk mayat!&#8221;</p>
<p>Michael tak menyahut, memanggul mayat itu diikuti si anak menuju posko bantuan. Meninggalkan John yang masih keheranan dengan kelakuannya.</p>
<p>Sebulan sejak kejadian malam itu, tangan kanan Michael diamputasi terkena infeksi berasal dari cairan busuk mayat yang digotongnya. Sebelumnya memang sudah ada luka menganga di bahu Michael. Pertolongan pertama yang diberikan di posko bantuan jelas sangat tidak memadai.</p>
<p>&#8220;Aku bahagia sudah melakukannya,&#8221; jawab Michael pendek.</p>
<p>Infeksi yang terus menjalar itu melemahkan paru-parunya, sehingga berbicara merupakan siksaan tersendiri baginya. Di luar tim medis internasional menunggu bersama sebuah helikopter. Mereka akan memindahkan Michael ke rumah sakit di Singapura. John masih tidak mengerti waktu tim medis mulai menggotong Michael ke helikopter. Ketika membereskan barang-barang Michael, John menemukan sebuah buku kecil.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>&#8220;Aku masih belum bisa mengerti jalan pikiranmu!&#8221; gerutu John di hadapan sebuah makam, sepulangnya dari Hawaii. Nama <em>Imam Ahmadi</em> tertera di sana, nama Michael setelah ia mengucap ikrar syahadat di tengah sakit yang menyerangnya.</p>
<p>John berdiri di tengah hujan. Di tangan kanannya ada catatan harian Michael. Catatan yang menceritakan renungan-renungan Michael akan semua tindakannya, tujuan hidupnya, dan penyesalannya. Catatan yang menceritakan gejolak batin Michael selama menjadi jurnalis yang menghalalkan segala cara untuk mendapat berita. Catatan yang membuat John termenung hebat.[]</p>
<p>&#8212;</p>
<p align="right"><strong>Tentang Penulis:</strong></p>
<p align="right">Haekal Siregar; lahir di Jakarta, 17 Nopember 1981. Mahasiswa Ilkom IPB ini putra sulung pasangan penulis H.E. Yasin Siregar dan Pipiet Senja. Haekal menulis buku dari sebuah memoar tentang pernikahan dininya; <em>Nikah Dini Kereeen! 1 </em>&amp;<em> 2 </em>(Zikrul Hakim).</p>
<p align="right">
<p align="right">[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dari-reruntuhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Sekolah Apa Kerja?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pilih-sekolah-apa-kerja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pilih-sekolah-apa-kerja#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 17:22:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Bagi anak puteri, kayaknya agak sulit memutuskan, apakah akan nerusin sekolah, atau mau langsung kerja. Belum lagi soal tuntutan ortu di antara dua pilihan tersebut. Makin tambah pusing aja ya?Lalu gimana solusinya? 
Pertanyaan itu mungkin sedang berkecamuk di benak kamu, khususnya yang baru nglepas seragam abu-abu putih. Maklum biar pun cewek, kita-kita tetap harus mikirin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bagi anak puteri, kayaknya agak sulit memutuskan, apakah akan nerusin sekolah, atau mau langsung kerja. Belum lagi soal tuntutan ortu di antara dua pilihan tersebut. Makin tambah pusing aja ya?Lalu gimana solusinya? </em></strong></p>
<p>Pertanyaan itu mungkin sedang berkecamuk di benak kamu, khususnya yang baru nglepas seragam abu-abu putih. Maklum biar pun cewek, kita-kita tetap harus mikirin masa depan. Apalagi di jaman sulit kayak gini. Enaknya nglanjutin ke sekolah lebih tinggi, Apa langsung kerja ya? Atau&#8230;malah <em>merit.</em></p>
<p>Menurut Dewi, pelajar yang baru lulus sebuah SMU negeri di Bogor ini, ngelanjuti ke PT hukumnya wajib (ceile, kayak sholat aja). Alasannya, untuk meraih masa depan lebih baik dan meraih cita-cita. &#8220;Biar dapet gelar sarjana sehingga gampang nyari kerjaan,&#8221; kilah gadis berkacamata minus ini. Menurutnya, bekal pendidikan itu sangat penting. Apalagi di era yang katanya globalisasi ini. &#8220;Biar kita cewek, sekolah musti setinggi-tingginya,&#8221; imbuh gadis yang mimpiin jadi dokter ini dengan semangat reformasi.<span id="more-2468"></span></p>
<p>Lain lagi komentar Mona, temen kamu yang baru naik kelas 3 SMU swasta di Bogor ini. &#8220;Gua sih sebenarnya males sekolah lagi. Abisnya, pusiing! Tapi berhubung ortu nuntut gua musti jadi sarjana, terpaksa mo sekolah juga,&#8221; begitu katanya. Gadis yang mengaku rangkingnya pas-pasan ini sebetulnya lebih suka kalau disuruh langsung kerja aja. Apalagi, papanya punya dua unit usaha rental komputer dan internet. &#8220;Pengennya sih bantuin di rental aja. Bisa sambil maen, <em>chatting,</em> <em>browsing</em>, gitu. Jadi kerjanya nyantai. Tapi gimana nanti deh, &#8221; imbuhnya sembari ngeloyor.</p>
<p>Lain lagi rencana Teti, juga lulusan SMU swasta. Doi pilih mau kerja aja. Soalnya dari sisi biaya, Teti ngaku nggak mungkin mampu menjangkau bangku kuliah. &#8220;Ayah kan cuma pensiunan guru SD, sementara saya punya adik 3 orang yang semuanya musti sekolah,&#8221; Teti bercerita. Karena tahu diri dengan kondisi ekonomi ortu, gadis berperawakan langsing ini pengen banget bekerja. Sekalian, bantu ekonomi keluarga. &#8220;Tapi mo kerja apa ya? Apa bekal ijasah saya laku? Saya cewek lagi,&#8221; ujarnya gamang. Teti emang pesimis, soalnya nyari kerja sekarang kan nggak gampang Tapi karena? tuntutan ekonomi, Teti nggak punya pilihan. Eh, tapi jangan nangis gitu dong Tet! Jadi ikut sedih nih!</p>
<p>Ehm, gimana kalau Teti <em>merit</em> aja? &#8220;Wah, boleh juga tuh usulnya,&#8221; cetusnya kembali sumringah. &#8220;Tapi, jangan ah! Belum siap. Lagian, saya kan nggak punya pacar,&#8221; ujarnya malu-malu. Emangnya kalau mo <em>merit</em> musti punya pacar, salah! Yang benar, ada calon suami, Tet!</p>
<p><strong>Tak semata kejar gelar</strong></p>
<p>Punya cita-cita mo jadi dokter, tukang insinyur, guru atau mungkin pengusaha, buat cewek, boleh-boleh aja. Asal kita nggak lupa kodrat kita sebagai wanita. Maksudnya jangan sampai kita bercita-cita jadi presiden seperti&#8230;tahu kan? Atau jadi peragawati laksana Arzeti, penyanyi bak Krisdayanti, or profesi lain yang diharamkan oleh Islam.</p>
<p>Nah, untuk meraih cita-cita itu, harus ditempuh banyak cara. Salah satunya, ya dengan sekolah itu. Kalau pengen jadi jadi dokter kayak Dewi misalnya, berarti harus sekolah di fakultas kedokteran. Tentu saja untuk itu dibutuhkan bekal macam-macam, seperti otak yang encer, minimal kayak Betty La Fea, keuangan yang memadai, dan fasilitas penunjang lainnya. Maklum nggak bisa sembarang orang bisa jadi dokter. Salah-salah bisa <em>malpraktek</em> tuh. Ih, ngeri banget.</p>
<p>Jadi, walaupun kita cewek, sekolah sampai setinggi-tingginya boleh-boleh aja. Apalagi dalam Islam, menuntut ilmu itu hukumnya wajib (<em>fardhu</em>). Ada <em>fardhu &#8216;ain</em>, yakni menuntut ilmu-ilmu Islam yang berkaitan dengan perbuatan kita sehari-hari. Ada pula yang hukumnya <em>fardhu kifayah</em>, yakni mempelajari ilmu-ilmu yang sifatnya umum. Misalnya belajar ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu gizi, dll. Nah, jika kamu sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan mempelajari ilmu-ilmu umum tersebut berarti kamu menjalankan <em>fardu kifayah</em>.</p>
<p>Tentu itu tidak cukup. <em>Fardhu &#8216;ain</em> untuk memuntut ilmu Islam jangan kamu tinggalkan. Kuliah bukan berarti menggugurkan kewajiban kamu buat belajar Islam. Apalagi, pelajaran agama Islam nggak bakal kamu dapetin dibangku kuliah, kecuali sedikit. Jadi, belajar bukan hanya di lembaga formal saja, tapi juga non-formal. Soalnya sistim pendidikan saat ini nggak memungkinkan kita untuk dapet belajar ilmu-ilmu Islam sebanyak-banyaknya. Sederhananya, jangan sampai gara-gara belajar ilmu umum, ilmu Islam kamu abaikan.</p>
<p>Selain hal itu bisa memenuhi tuntutan ortu untuk sekolah, juga bukan hal yang buruk. Hitung-hitung sebagai bentuk bakti kita sama ortu. Yah, kayak kasus si Mona itu. Yakinlah Insya Allah ortu itu menginginkan yang terbaik buat kita. Hanya saja, perlu dipertimbangkan dengan minat dan kemampuan kita. Jangan karena kita semata-semata memenuhi tuntutan ortu, lalu kita maksain milih bidang yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Yang penting ketika kita menjalankan itu semua harus tetap dilandasi keikhlasan dan dalam rangka mencari ridha Allah semata.</p>
<p>Ingat, sekolah bukan semata-mata untuk dapat gelar atau ijasah buat cari kerja. Sebab, gelar dan ijasah tak menjamin kita jadi mudah cari kerja. Banyak kok yang mengantungi gelar sampai <em>es tiga</em>, tapi susah dapat kerja. Sebaliknya, ada yang ijasahnya pas-pasan atau bahkan nggak berijasah, tapi rejekinya tetap lempeng. Jadi, niat sekolah itu dalam rangka kewajiban menuntut ilmu, bukan sebagai investasi buat nyari kehidupan yang lebih baik. Soalnya, rejeki itu di tangan Allah Swt.</p>
<p>Ilmu yang kita dapat di bangku sekolah, bakal bermanfaat untuk bekal hidup di masyarakat. Bentuknya tak melulu di lapangan pekerjaan, tapi juga di rumah dan lingkungan tempat tinggal. Misalnya, kelak ketika kamu <em>merit</em>, lalu jadi istri atau ibu. Makanya, buat yang pengen sekolah, akan lebih afdol bila kamu pilih studi yang mempelaajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kepentingan wanita. Misalnya soal kesehatan, gizi, pendidikan dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Bekerja bagi wanita</strong></p>
<p>Bagaimana dengan pilihan untuk bekerja atau dituntut bekerja oleh ortu? Jangan berkecil hati. Islam membolehkan wanita bekerja. Artinya, mubah (boleh) wanita mencari sumber penghasilan di berbagai bidang kecuali bidang tertentu seperti pemimipin negara atau profesi yang menanggalkan kodrat kewanitaan kita. Dalam hal ini tentunya Islam melarang. Misalnya jadi model (apalagi model VCD casting iklan sabun mandi, hi&#8230;!!!), jadi peragawati, pemain sinetron, pemandu sorak, dan lain-lain.</p>
<p>Ketika bekerja pun, wanita harus memperhatikan rambu-rambunya. Di antaranya, harus mendapat ijin wali atau suami, dan tetap melaksanakan kewajiban berjilbab, meski banyak perusahaan yang menolak karyawatinya yang berjilbab. Kemudian harus menghindari ber-<em>khalwat</em> (dua-duan dengan laki-laki yang bukan mahram), juga harus menghindari <em>ikhtilat</em> (campur baur antara laki dan perempuan). Tambahan lagi, kamu jangan sampai bekerja di sektor yang membahayakan kehormatan dan kesucian sebagai wanita. Misalnya bekerja di tempat hiburan, tempat biliar, dan lain sebagainya.</p>
<p>Yang jelas seorang wanita sebetulnya tak harus bekerja. Sebab, dia berhak mendapatkan nafkah dari ortunya sejak lahir sampai menikah. Ketika menikah itulah, nafkah wanita beralih menjadi tanggung jawab suaminya. Jadi, seharusnya kita-kita yang cewek nggak perlu pusing mikirin musti kerja. Solusinya&#8230;.nikah? Ehm, kalau emang udah ada yang mau (dan serius), trus kamu juga udah siap fisik dan mental, pilihan terakhir ini juga nggak buruk. Malah, tergolong ibadah. Tentu, untuk ini juga harus banyak pertimbangannya.</p>
<p>Lantas, kalau kondisi kepepet kayak Teti misalnya, bagaimana? Memilih berkarir, boleh-boleh aja kalau memang ada peluang kerja. Lagipula, Allah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang artinya: <em>&#8220;Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan&#8221;</em> <strong>(TQS An-Nis? [4]: 32)</strong></p>
<p>Yang perlu diingat, bekerja bagi wanita yang hukumnya mubah itu jangan sampai mengalahkan kewajiban yang lain, seperti menuntut ilmu Islam. Jangan sampai karena alasan bekerja trus nggak sempet ngaji. Toh kita masih bisa belajar tanpa meninggalkan kerja. So, pilih sekolah atau kerja, dua-duanya Insya Allah sama baiknya. Asal, jangan melupakan ngaji. Masih bingung? Mending ambil wudhu dan sholat <em>istikharah!</em> Minta kepada Allah, mana yang terbaik buat kita. <strong>[asri]</strong></p>
<p>box&#8212;</p>
<p align="center"><strong>Tips Memilih Sekolah</strong></p>
<p>Jika kamu pengen ngelanjutin studi ke jenjang yang lebih tinggi setelah SMU, ada banyak pilihan. Nggak cuma di PT negeri, tapi bisa juga ke lembaga-lembaga pendidikan non formal setingkat PT yang sekarang menjamur. Misalnya ke Lembaga pelatihan ketrampilan (LPK), program ektension, kursus, dan sejenisnya. Yang pasti kamu musti pandai-pandai memilih biar nggak salah. Bagaimana caranya? Beberapa kiat berikut mungkin bisa jadi panduan kamu.</p>
<p><strong>1. Cari informasi</strong></p>
<p>Himpun informasi sebanyak-banyaknya tentang sekolah. Misal namanya, lokasinya, status (akreditasi, terdaftar, disamakan, dan lainnya), program studi yang diselenggarakan , staf pengajar, kurikulum, biayanya, dan sebagainya. Kalo perlu sejarah berdirinya, alumnusnya, dan prospek setelah lulus dari sekolah tersebut. Ini akan sangat membantu kamu untuk memilih sekolah sesuai minat dan kemampuan kamu. Misalnya sebisa mungkin pilih sekolah yang akredetasinya minimal diakui, kurikulumnya bagus dan alumnusnya juga oke. Soal lokasi makin dekat dengan tempat tinggal juga makin baik. Biar hemat ongkos jalan.</p>
<p><strong>2. Kenali minat dan kemampuan kamu</strong></p>
<p>Kamu harus bisa mengidentifikasi, kira-kira kamu cocok di bidang apa. Misal, kalau cenderung suka teknologi kamu bisa ambil bidang informatika, atau komputasi. Atau lebih suka manajemen, akuntansi, masak-memasak, desain grafis, dan lain sebagainya. Emang sih, sebetulnya semua orang punya potensi sama untuk mengembangkan diri di bidang apapun. Tapi, biar profesional, kamu musti memfokuskan diri pada satu bidang keahlian tertentu. Dan, bidang apa yang kamu pilih, tentu kamu yang paling tahu soal kemampuanmu. Jangan maksain sekolah di bidang yang kamu nggak bisa, atau nggak suka. Dan, nggak ada salahnya kamu minta pertimbangan ortu, kakak, kakak kelas atau sodara kamu. Mereka kan lebih pengalaman, jadi gambaran soal profesi barang kali lebih detil.</p>
<p><strong>3. Sesuaikan dengan kondisi keuangan</strong></p>
<p>Memilih sekolah, juga jangan asal bonafit aja. Ukur juga kemampuan keuangan ortu kamu. Jangan sampe udah masuk sekolah, terus mandek gara-gara keuangan seret. Pilih sekolah yang terjangkau saja. Jangan karena menuruti gengsi, kamu maksain diri masuk sekolah mahal. Bisa-bisa stres sendiri karena tekanan batin, nggak bisa ngikutin gaya borju anak-anak sekolah itu. Tapi yang pasti, jangan pilih sekolah yang asal murah, tapi mutunya tidak terjamin. Pilih yang kira-kira seimbanglah, antara kualitas dan biaya. Biaya pendidikan ini juga harus kamu prediksikan betul dan disiapkan sebaik-baiknya. Kalo merasa tidak mampu tapi ngebet ingin sekolah, nggak ada salahnya kamu nyari beasiswa, ortu asuh, atau nyari sekolah yang ikatan dinas. Lumayan lho, selain dijamin kerja, biaya juga ditalangin.</p>
<p><strong>4. Jangan mudah tergiur promosi</strong></p>
<p>Biasanya, masin-masing sekolah atau lembaga pendidikan punya beragam strategi untuk menjaring murid. Misalnya jaminan kerja setelah lulus, jaminan beasiswa sekian persen, lulusannya selalu diserap lapangan kerja, berafiliasi dengan sekolah terkenal di luar negeri, lulus dengan cepat, dan lain-lain. Kamu musti teliti betul, benarkah slogan-slogan tersebut, apa hanya retorika semata. Jika sesuai fakta sih, nggak masalah. Tapi kalo sekadar slogan, hati-hati. Karena, pendidikan sekarang hampir semuanya komersil, alias mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Itu sebabnya, mereka berlomba-lomba promosi besar-besaran. Nah, selamat menjadi mahasiswa! <strong>[asri]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, edisi Juli 2002]</em><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pilih-sekolah-apa-kerja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cowok Sok Pahlawan?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cowok-sok-pahlawan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cowok-sok-pahlawan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 18:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyBoy]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[cowok]]></category>
		<category><![CDATA[gagah]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2035</guid>
		<description><![CDATA[Cewek emang seneng ama cowok yang baik hati dan siap menolong. Bener nggak sih itu tabiat cowok? Gimana juga kalau malah sok pahlawan?
Suatu hari, sepulang dari aksi unjuk rasa di Bunderan HI, serombongan akhwat mau pulang dengan naik kereta listrik (KRL). Eh, mungkin karena sedang meleng, seorang akhwat nyaris celaka. Doski nggak sadar kalau KRL [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Cewek emang seneng ama cowok yang baik hati dan siap menolong. Bener nggak sih itu tabiat cowok? Gimana juga kalau malah sok pahlawan?</em></strong></p>
<p>Suatu hari, sepulang dari aksi unjuk rasa di Bunderan HI, serombongan akhwat mau pulang dengan naik kereta listrik (KRL). Eh, mungkin karena sedang meleng, seorang akhwat nyaris celaka. Doski nggak sadar kalau KRL yang akan dinaikinya sudah akan berangkat, sementara sebelah kakinya masih ada di luar KRL. Beruntung, seorang ikhwan dengan sigap menarik tangan sang akhwat ke dalam KRL sehingga tidak nyungsep jatuh di pelataran stasiun, apalagi ke kolong KRL (hiii!). Merasa udah diselamatin jiwanya, sang akhwat berkali-kali ngucapin <em>syukron</em> en <em>jazakallah khairan</em> pada <em>&#8216;the hero&#8217;</em>, cowok tadi. Reaksi sang cowok? Nggak tahu, mesem-mesem kalee ya!<span id="more-2035"></span></p>
<p><strong>Cowok, berjiwa penolong?</strong></p>
<p>Ehm, adegan &#8216;tolong menolong&#8217; macam begitu jamak betul ada di mana-mana. Di film-film superhero kayak Spiderman en Batman, nggak keitung berapa kali kedua hero itu bikin penyelamatan. Apalagi kalau korbannya cewek, wah, kayaknya seru banget. Inget kan waktu <em>Spidey</em> nyelamatin Mary Jane (MJ) dari serangan Goblin di atas balkon?</p>
<p>Gara-gara &#8216;tugas&#8217; superhero-nya itu, Peter Parker alias &#8217;si muka jaring&#8217; Spiderman sempat depresi. Ia jadi nggak punya kehidupan pribadi. Ngerasa harus mengutamakan orang lain ketimbang kuliahnya, karirnya dan asmaranya ama MJ. <em>But</em>, kembali ia tersadarkan bahwa ia emang dikaruniai kekuatan untuk menolong orang lain. <em>&#8220;Great power has great responsibility,&#8221;</em> pesan Pamannya, Ben, yang meninggal di pangkuannya setelah di-dor pencoleng kelas teri.</p>
<p>Dari semua kejadian tolong menolong kayak begitu, cowok selalu dipandang sebagai pahlawan. Punya jiwa penolong yang gede. Apalagi kalau yang ditolongnya cewek, ghirah kepahlawannya jadi makin naik. Ini nggak cuma berlaku di dongeng klasik macam <em>Sleeping Beauty</em> atau <em>Snow White</em>, ada pangeran berkuda dengan zirah besi dan sebilah pedang, menyelamatkan putri nan cantik dari cengkraman penyihir jahat atau ular naga. Atau hanya ada di komik atau film macam Spiderman dan sejenisnya, tapi kejadian seperti itu emang riil. Pada Cowok melekat sosok pahlawan, juga sok pahlawan.</p>
<p>Coba deh amati sekitarmu. Di sekolah atau di kampus, kalau ada cowok yang ngeliat kamu (cewek) dalam kesulitan, misalnya susah markirin motor atau mobil, berat bawa bahan praktikum, atau kesusahan apa aja deh, selalu aja ada cowok yang siap menawarkan bantuan. Malah ada seorang cowok yang rela ngebiayain kuliah tunangannya sampai lulus. Ck, ck, ck.</p>
<p>Ini nggak cuma bantuan yang sifatnya fisik, tapi juga moril. Cowok itu hampir selalu siap jadi teman curhat. Itu sebabnya nggak sedikit cewek yang lebih senang berkawan ama cowok. Selain nggak terlalu ember, mahluk-mahluk maskulin ini kayaknya kok bisa ngemong dan melindungi.</p>
<p>Kok bisa begitu sih?</p>
<p><em>Bro &#8216;n&#8217; sis</em>, nggak bisa dibohongin kalo cowok dan cewek itu punya karakter yang beda banget. Nggak cuma fisiknya, tapi juga ternyata mentalitas dan cara berpikirnya. Menurut penelitian para pakar neurologi &#8211; ilmu yang menelaah otak manusia &#8211;, ada perbedaan otak pria dan wanita. Biologi para cowok didominasi hormon-hormon macam testosteron yang mendorong mereka jadi agresif, hasrat berburu kekuatan sosial, ambisi dan kemandirian. Cowok juga lebih banyak diisi hormon vasopressin yang bikin cowok jadi mementingkan teritorialitas, hierarki, kompetisi dan ketekunan. Cowok emang dikaruniai semangat untuk menunjukkan keberanian dan semangatnya, juga mengorbankan diri untuk kehormatan dan kekuasaan.</p>
<p><strong>Jaga niat, Bro!</strong></p>
<p>Bukan namanya Islam kalo nggak ngedorong umatnya cinta kebaikan, termasuk untuk menolong sesama. <em>&#8220;Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.&#8221;</em>(Al Maidah: 2). <em>So</em>, asas dari tolong menolong adalah kebaikan dan takwa, bukan yang lain. Abu Bakar ash-Shiddiq ra, misalkan, dikenal sebagai orang yang gemar menolong, khususnya untuk para wanita lansia (lanjut usia). Biasanya, setiap pagi sahabat Nabi saw. ini mendatangi rumah mereka untuk memerah susu kambing bagi mereka. Eh, kebiasaan ini nggak berhenti meski beliau sudah diangkat menjadi khalifah, kepala negara Islam. Seorang bocah kecil malah memanggilnya sebagai &#8216;tukang perah susu&#8217; padahal waktu itu beliau sudah jadi kepala negara daulah khilafah.</p>
<p>Seorang muslim &#8211; juga muslimah &#8211; kudu bermental sosial. Siap menolong sesama yang kesusahan. Nggak usah diminta, kalo emang ada orang yang sedang kena musibah ya segeralah memberi pertolongan. Nabi Muhammad saw. bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah mencukupi kebutuhannya, dan barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesulitan-kesulitan di Hari Kiamat.&#8221;</em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p><em>But</em>, semua kudu dilandasi niat yang tulus, nggak mengharapkan pamrih atau imbalan. Kata sebagian ulama, ciri pamrih itu adalah nggak peduli orang mau muji atau nyela tetap aja kita beramal soleh. Jadi, jangan karena yang lagi butuh bantuan seorang akhwat yang &#8216;macan&#8217; alias manis dan cantik, mendadak kita jadi pahlawan. Tapi kalo yang kena musibahnya nenek-nenek, kita cuek bebek. Duileh, tengil banget!</p>
<p>Bedanya berjiwa pahlawan dengan sok pahlawan, adalah ketulusan itu. Orang yang berjiwa pahlawan (artinya orang yang mencari pahala) berbuat emang nyari pahala. Tapi mereka yang sok pahlawan, berbuat baik karena ada udang di balik batu, alias mejret! Ia berbuat baik karena cari muka atau mengharapkan balasan dari orang yang ditolongnya.</p>
<p>So, ilangin deh prinsip berbuat ala kapitalis. Bahwa, setiap jasa baik itu ada harganya. Atau, sebagai investasi di masa mendatang. Maksudnya, kalau kita berbuat baik pada orang sekarang, kali-kali aja besok atau lusa kita butuh bantuannya. Itu mah namanya asas manfaat. Menolong orang &#8211; siapapun dia &#8211; nggak ada istilah rugi. Karena semua dicatat sebagai pahala di sisi Allah Swt. Rasulullah saw. pernah bercerita bahwa dulu ada orang yang ingin bersedekah, tapi ternyata berturut-turut sedekahnya jatuh kepada orang-orang jahat; seorang pelacur, pencuri dan orang kaya yang bakhil. Bukannya menyesal, ia malah bertasbih, memuji Allah Swt. Kemudian orang ini didatangi malaikat yang berkata, &#8220;Sedekahmu sudah diterima oleh orang yang engkau sedekahi. Adapun pelacur itu semoga dia berhenti dari perbuatan melacur; kepada si kaya, semoga ia menyadari dirinya dan mau bersedekah; si pencuri, semoga ia berhenti mencuri.&#8221;<strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Nah, mulai sekarang jangan ragu berjiwa pahlawan. Jadilah orang yang siap menolong sesama, pasti dijamin dapat surga. Amin![<strong>januar</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah SOBAT Muda, edisi 13/Oktober 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cowok-sok-pahlawan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Kita dan Zaman</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/anak-kita-dan-zaman</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/anak-kita-dan-zaman#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 17:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1985</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Wah sudah besar, ya anakmu?&#8221; apa yang kita rasakan ketika mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga ketika disapa demikian. Anakku sudah besar, pikir kita.
Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, &#8220;anakku sudah besar&#8221; Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Wah sudah besar, ya anakmu?&#8221;</em> apa yang kita rasakan ketika mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga ketika disapa demikian. <em>Anakku sudah besar</em>, pikir kita.</p>
<p>Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, <em>&#8220;anakku sudah besar&#8221; </em>Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang usianya? Tahukah kau peristiwa apa saja yang telah terjadi sepanjang usianya? Ketika ia tertawa bahagia, mendapatkan momen yang membungakan perasaannya, hadirkah engkau di sana, turut tertawa bahagia bersamanya? Dan ketika ia meneteskan air mata duka karena kecewa dan hatinya luka, apakah engkau ada di sisinya? Engkau jadikan dadamu sebagai tumpahan air matanya? Dan engkau usap rambutnya yang halus agar ia tahu bahwa ia tak menangis sendirian, bahwa engkau ada bersamanya? Berempati merasakan duka dengannya. Seberapa sering itu kau lakukan?<span id="more-1985"></span></p>
<p>Tahukah engkau dengan siapa saja ia bermain? Apa yang ia mainkan? Ataukah kau hanya berkutat dengan duniamu sendiri dan merasa anakmu akan baik-baik saja?</p>
<p>Dan tahu-tahu, anakmu sudah bertambah besar, bertambah usianya, dan kau tak akan bisa lagi mendampinginya.</p>
<p>Anak kita adalah anak zaman. Ia tumbuh seiring pertumbuhan zaman, dan usianya mengikuti zaman. Tapi kita, orang tua, semestinya menjadi <em>guide</em> baginya mengikuti zaman. Kita harus bisa menjadi rembulan yang bersinar terang bagi anak-anak kita di zaman yang serba gulita. Ketika anak-anak kita menatap ke angkasa mereka merasa akan baik-baik saja, karena ayah bundanya selalu bersama mereka. Kalaupun tak bisa senantiasa bersama, tapi cahayanya, ajarannya, ada dekat dengan mereka.</p>
<p>Tapi sadarkah bahwa orang tua sering ?merampas&#8217; kebersamaan itu? Kesibukan kita mencari nafkah, aktualisasi diri kita, jadi alasan untuk membuang kesempatan emas kita untuk bersama mereka. Lalu kita percayakan anak-anak kita pada orang lain, pengasuh, playgroup, sekolah-sekolah unggulan, dan teman-teman mereka. Maaf, ini bukan saja pemikiran para eksekutif dan kaum karir, tapi tak sedikit pasangan suami-istri pegiat dakwah yang berpikiran demikian.</p>
<p>Sebagian orang tua malah percaya bahwa jika orang tua terus mendampingi anak maka akan melemahkan mental anak. Lebih baik jika diasuh oleh orang lain dan dibiarkan main sesuka mereka.</p>
<p>Masya Allah, lupakah mereka dengan pesan Nabi saw. <em>&#8220;Al waladu lil firasy &#8211; anak adalah milik orang tua.&#8221;</em> Dan bukankah orang tua yang menentukan keyahudian, kenasranian dan kemajusian anak-anak mereka?</p>
<p>Dan, tahu-tahu anakmu sudah besar. Kau sudah tak bisa lagi mendampingi mereka, mereka pun berpaling darimu. Apakah kau akan bangga atau malu? <strong>[januar]</strong></p>
<p><strong>[diambil dari Tabloid KELUARGA, edisi 01, 2008]<br />
</strong></p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/anak-kita-dan-zaman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Martir Revolusi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/martir-revolusi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/martir-revolusi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 19:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[martir revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2583</guid>
		<description><![CDATA[Ria Fariana
Svetlana bangkit, dan membuka pintu yang sebelumnya sempat ada uluk salam dari orang di baliknya. Mereka berbincang sebentar dengan memakai pintu sebagai tabir kemudian laki-laki itu pergi. Svetlana masuk dan menemui empat perempuan yang berkerudung dan berjilbab duduk mengelilingi meja.
&#8220;Kalian harus segera pulang sekarang. Halaqah kali ini ditiadakan.&#8221; Dengan sigap Svetlana mengemasi kitab-kitab kajian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ria Fariana</strong></p>
<p>Svetlana bangkit, dan membuka pintu yang sebelumnya sempat ada <em>uluk salam</em> dari orang di baliknya. Mereka berbincang sebentar dengan memakai pintu sebagai tabir kemudian laki-laki itu pergi. Svetlana masuk dan menemui empat perempuan yang berkerudung dan berjilbab duduk mengelilingi meja.</p>
<p>&#8220;Kalian harus segera pulang sekarang. Halaqah kali ini ditiadakan.&#8221; Dengan sigap Svetlana mengemasi kitab-kitab kajian di meja. Bahkan ia tak sempat lagi untuk menutup forum kajian kali itu.</p>
<p>&#8220;Aparat Karimov mulai digerakkan untuk menggerebek kumpulan muslim atau pun muslimah yang mengkaji kitab kebangkitan,&#8221; Svetlana menjelaskan sambil tangannya terus bergerak merapikan meja.<span id="more-2583"></span></p>
<p>Empat perempuan yang berkedurung dan berjilbab itu dengan sigap juga ikut merapikan kitab dan segera mengambil mantel masing-masing yang tersampir di kursi.</p>
<p>&#8220;Pulang berpencar. Dua-dua, Anisah dengan Fatimah. Aida dengan Zainab. Hati-hati, Allah melindungi kalian dan kita semua yang berusaha mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah kaum muslimin.&#8221; Mereka pun berpisah setelah saling bersalaman dan berpelukan untuk mengeratkan ukhuwah.</p>
<p>Sepeninggal mereka, Svetlana masuk ke dapur dan membuka sebuah bilik kecil yang sekilas tak ada bedanya dengan tembok di sekelilingnya. Kitab-kitab untuk membangkitkan umat disimpannya dengan rapi di sana, setelah sebelumnya dibungkus dengan kertas-kertas lusuh bekas. Setelah ditutupnya dengan pelan, Svetlana masuk kamar dan mulai menyalakan komputer. <em>Dial up</em> internet dinyalakannya, beberapa e-mail ada yang masuk. Sambil menunggu <em>download</em> sampai selesai, Svetlana membaca beberapa e-mail yang sudah masuk ke <em>inbox</em>-nya.</p>
<p>Dua email dari temannya di London dan satu e-mail dari temannya di Indonesia. Menarik ketika email dari <em>cyber friend</em>-nya itu ada sepotong puisi dalam bahasa Indonesia. Svetlana sedikit bisa berbahasa melayu untuk jaga-jaga bila rezim di negerinya semakin represif dan ia tak aman lagi berbicara dalam bahasa Uzbek atau pun Inggris.</p>
<p>Di-<em>print</em>-nya puisi itu. Lalu dibacanya sekali lagi. Svetlana membayangkan akan membacakannya di depan umat bila kondisi memungkinkan nanti, tentunya setelah diterjemahkannya dalam <em>O&#8217;zbek tili*</em> agar bisa dipahami masyarakatnya. Puisi ini jauh lebih indah dan membangkitkan semangat revolusi damai daripada mayoritas Chaghatai* yang ada di Uzbekistan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Ini adalah minggu ketiga Svetlana meliburkan <em>halaqah</em>. Kondisi tidak memungkinkan bagi mereka untuk membawa kitab kebangkitan itu. Tapi syukurlah masih ada kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang lain demi menjaga komunikasi dan koordinasi. Dan tepat pada tanggal 13 Mei nanti, setelah sholat Jum&#8217;at akan diadakan <em>masirah</em> atau unjuk rasa besar menentang kezaliman rezim Karimov terhadap rakyat negeri ini.</p>
<p>Svetlana cukup sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai menghubungi para muslimah di rumah mereka satu demi satu karena ketatnya pengawasan terhadap adanya kerumunan, hingga membantu menyebarkan bendera al-Liwa dan ar-Roya. Bendera dengan dasar hitam dan putih bertuliskan kalimat syahadat inilah nanti yang akan mereka bawa, bukan biru putih hijau dengan bulan sabit dan 12 bintang. Bendera Uzbekistan yang menandakan nasionalisme.</p>
<p>&#8220;Svetlana, ada telpon dari kakakmu, Usmanov,&#8221; Aisyah, teman Svetlana yang kebetulan ada di rumahnya membantu menyiapkan perlengkapan <em>masirah</em>.</p>
<p>Diambilnya gagang telepon itu setelah sebelumnya mengucap terima kasih.</p>
<p>Hanya sesaat Svetlana berbicara dengan kakaknya yang juga merupakan koordinator lapangan bagi pelaksanaan <em>masirah</em>.</p>
<p>&#8220;Masiroh dipindah ke Andijan, tidak jadi di Tashkent,&#8221; Svetlana memberitahu Aisyah.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Entahlah, itu keputusan para ikhwan. Mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan apabila pelaksanaan ada di kota Taskent. Karimov akan mempunyai banyak alasan untuk membungkam kita dengan alasan demi keamanan ibu kota.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku pamit dulu. Perubahan ini harus segera kuberitahukan kepada yang lainnya.&#8221;</p>
<p>Mereka berpelukan sebelum berpisah.</p>
<p>&#8220;Hati-hati, ya ukhti. Jaga kerahasiaan, intel Karimov ada di mana-mana,&#8221; Svetlana mengingatkan Aisyah. Aisyah mengangguk terharu.</p>
<p>&#8220;Allah pasti akan memenangkan dakwah ini. Allahu Akbar. Assalamu&#8217;alaikum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikumsalam wr.wb.&#8221;</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Andijan, pagi hari 13 Mei 2005. Langit mendung memayungi sebagian wilayah Uzbekistan. Orang-orang beraktivitas seperti biasa. Yang pegawai kantor tetap berangkat kerja ke kantor, yang guru tetap mengajar, yang dokter tetap mengobati pasien, yang pedagang pun juga tetap berjualan.</p>
<p>Suasana mulai berubah menginjak siang. Ketika mayoritas dari laki-laki yang ada di Uzbek menghadiri sholat Jum&#8217;at yang didahului dengan khutbah. Seluruh masjid di Andijan dan kota-kota sekelilingnya berisi tema yang sama. Bahwa kekufuran dan kezaliman tak bisa dibiarkan merajalela. Betapa azab Allah akan menghampiri mereka yang tak mau menerapkan hukum Allah dalam segenap aspek kehidupannya. Sudah waktunya rakyat bangkit. Perubahan tak akan terjadi tanpa mereka punya semangat dan kemauan untuk berjuang ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Tak ada wajah kuyu dan mengantuk dalam mendengarkan khutbah Jum&#8217;at. Mereka semua teraliri semangat para Khatib yang berkhutbah bahwa Islam saja sebagai solusi. Dalam sujud mereka kali itu, Jum&#8217;at di siang mendung itu, mereka merasakan kekuatan mahadahsyat untuk bergerak. Wangi minyak kesturi, yang biasa hadir menyambut jasad para syuhada, dengan pelan dan lembut menyelinap dalam shaf-shaf sholat itu.</p>
<p>Usai munajat panjang para jamaah sholat, diumumkan akan ada <em>masirah</em> besar di Andijan. Diharapkan segenap masyarakat hadir dan mendukung tuntutan agar Karimov mundur dan mengakhiri rezim zalimnya. Tak diduga, sekitar 3000 lebih muslim berkumpul. Terlihat juga barisan muslimah yang ikut hadir dan mendukung <em>masirah </em>menuntut diakhirinya rezim tiran dan menawarkan syari&#8217;ah sebagai solusi.</p>
<p>&#8220;Ya ukhti, jaga barisan. Tetap di posisi masing-masing, intel Karimov mudah sekali menyusup bila kita tak hati-hati,&#8221; Svetlana sibuk mengatur barisan dan menjaganya agar tak ada pihak perusuh yang menyelinap. Tangannya sibuk menyebarkan ikat kepala putih dengan tulisan syahadat bertinta hitam. Lautan manusia terus berdatangan memberi dukungan pada aktivitas siang itu. Jarak yang mereka tempuh pendek karena memang yang lebih difokuskan adalah orasi membuka kedok bobrok Karimov. Masyarakat sudah memberi dukungan penuh untuk meminta Islam saja sebagai solusi.</p>
<p>Orasi dilakukan bergantian oleh para ikhwan. Hingga pembicara ketiga, Usmanov, kakak laki-laki Svetlana, seorang revolusioner Islam yang rindu syahid, maju. Setelah mengucap salam, tahmid dan sholawat, ia pun mulai berbicara.</p>
<p>&#8220;Revolusi adalah sebuah kepastian, saudaraku. Revolusi damai tanpa kekerasan. Umat sendiri yang menuntut rezim tiran Karimov untuk mundur. Tanpa Islam, Karimov dan antek-anteknya tak akan pernah mampu membawa umat ini pada kebangkitan. Hanya Islam saja yang mempunyai solusi atas semua masalah-masalah yang dihadapi negeri ini. Jangan bersedih saudaraku, kita mempunyai banyak saudara lain di belahan bumi sana, di jengkal mana pun ada tanah untuk berpijak di sanalah dakwah Islam digemakan. Saya tak akan berorasi kali ini, tapi akan membacakan sebuah puisi indah dari saudara kita di Indonesia, yang juga sedang mengupayakan kebangkitan hakiki.&#8221; Usmanov mengambil kertas dari sakunya dan mulai membacakan puisi yang sudah diterjemahkan adiknya dalam <em>O&#8217;zbek tili</em>.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tolong jangan salahkan aku tentang matahari</em></p>
<p><em>Bagaimana aku tahu engkau akan terbakar?</em></p>
<p><em>Dan tolong jangan salahkan aku tentang bulan</em></p>
<p><em>Bagaimana aku tahu bahwa kamu akan membusuk?</em></p>
<p><em>Aku tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama</em></p>
<p><em>Lain waktu, aku bangun sebuah adidaya</em></p>
<p><em>Aku yakin kita dapat berbincang panjang lebar</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tolong jangan salahkan aku tentang dunia</em></p>
<p><em>Bagaimana aku tahu semua ini akan memburuk?</em></p>
<p><em>Dan tentu aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama</em></p>
<p><em>Lain waktu aku bangun sebuah adidaya</em></p>
<p><em>Aku yakinkan kau berpartisipasi di dalamnya</em></p>
<p><em>&#8230;&#8230;</em></p>
<p>Usai membaca puisi itu, Usmanov melanjutkannya dengan pekikan pengobar semangat.</p>
<p>Ya saudaraku, kita akan bangun sebuah adidaya dengan Islam, Allahu akbar!</p>
<p>Dan pastikan kita berpartisipasi di dalamnya, Allahu Akbar!</p>
<p>Sungguh, tak ada kemuliaan tanpa Islam, Allahu akbar!</p>
<p>Sungguh, tak ada Islam tanpa syariah, Allahu akbar!</p>
<p>Sungguh, tak ada syariah tanpa Khilafah, Allahu akbar!</p>
<p>Salam kehancuran bagi kedigdayaan semu Kapitalisme, Allahu Akbar!</p>
<p>Pekik takbir Usmanov turut digemakan seluruh peserta <em>masirah</em> dengan semangat. Tiba-tiba dari seluruh penjuru mata angin tetetetetetetetetetetet&#8230;.suara tembakan beruntun menerjang peserta unjuk rasa siang hari itu. Dalam sekejap mata, darah di mana-mana. Tubuh-tubuh berjatuhan, tergeletak tak berdaya tanpa perlawanan sedikit pun. Barisan muslimah di belakang segera semburat berlarian menyelamatkan diri. Beberapa jatuh dan syahid di tempat, memperjuangkan Islam sebagai ideologi.</p>
<p>&#8220;Ayesha, lari ke sebelah sini, sist,&#8221;teriak Svetlana pada Ayesha yang sedang menggendong bayinya berumur 9 bulan.</p>
<p>&#8220;Aishah, Fatimah, Zahrah, Habibah, lari ke masjid!&#8221; Svetlana terus berusaha menyelamatkan para muslimah yang bingung arah dalam berlari. Suara tembakan semakin sering dan dekat.</p>
<p>Dalam langkah larinya, Svetlana teringat abangnya. Usmanov masih di podium kecil meneriakkan takbir ketika tembakan terdengar. Tanpa terasa ada air mata menggenangi pipinya. <em>Camcorder</em> mungil yang selalu ada di tasnya, dirabanya dan ia pun merubah arah larinya.</p>
<p>&#8220;Svetlana, berlindung sist. Jangan ke arah podium, di situ pusat tembakan terjadi,&#8221; brother Hasyim berteriak mengingatkanya. Svetlana hanya melambaikan tangannya dan bergegas menuju arah yang dilarang itu.</p>
<p>Svetlana, gadis lincah bernyali baja, berjalan dengan mengendap-endap. Ditahannya nafas dan juga sesak yang membuncah di dadanya. Bukan sesak karena tak ada udara, tapi sesak karena kemarahan yang menggelora. Tubuh-tubuh para mujahid dakwah itu bergelimpangan di tanah. Brother Alimov, Husain, Kaparov, dan banyak brother lain yang ia tahu sebagai teman-teman abangnya dalam berdakwah, syahid.</p>
<p>Tak pernah Svetlana melihat mayat sebanyak ini. <em>Masirah</em> di Andijan menjadi ladang pembantaian para pengemban dakwah yang berusaha mengembalikan kekhilafahan di muka bumi. Karimov laknatullah! Svetlana begitu geram hingga hampir-hampir ia tak mendengar suara lars sepatu militer berjalan ke arahnya. Allah bersamanya. Ia segera melompat dan bersembunyi di dalam bak sampah besar yang ada di dekatnya. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Dengan hati-hati, berusaha diintipnya lewat celah kecil di bak sampah. <em>&#8220;What the hell they&#8217;re doing?&#8221;</em> batin Svetlana geram. Tentara-tentara Uzbek itu meletakkan senapan di tangan para brothers.</p>
<p>Dengan sigap, dipasangnya <em>camcorder</em> untuk menangkap momen itu. Tak henti bibir dan batin Svetlana terus mengumandangkan asma Allah, ayat kursi dan doa mohon perlindungan dari <em>dajjal-dajjal</em> berbentuk manusia ini.</p>
<p>Beberapa kali diambilnya adegan para tentara yang berusaha memfitnah para brothers itu dengan kamera videonya. Di-<em>zoom</em>-nya sehingga tampak begitu jelas. Ya Allah, bantu aku menyampaikan kebenaran ini pada dunia. Svetlana terus berdoa. Dan Allah menjawab doanya.</p>
<p>EPILOG</p>
<p>Usmanov syahid bersama mayoritas muslim lainnya yang ada di lapangan Andijan. Kelompok Islam tertentu menjadi kambing hitam Karimov atas kebrutalannya. Ia menyebutnya sebagai kerusuhan yang disebabkan oleh para teroris. Dengan pongah, Karimov menunjukkan foto <em>brothers</em> yang syahid memegang senjata rekayasa yang diletakkan oleh tentara-tentara suruhannya dan menuduh mereka adalah para teroris.</p>
<p>Svetlana selamat. Dunia boleh tertipu oleh ulah Karimov. Tapi rekaman video kecil ini dan sejumlah foto yang diabadikannya akan menjadi saksi tak terbantah bahwa pernyataan Karimov palsu. Dengan mata nanar, Svetlana menatap foto Presiden negerinya itu dengan penuh kemarahan. Kemenangan Islam tak lama lagi, Karimov, batin Svetlana geram. Tunggu saat pembalasan dari semua kekejian yang telah kamu lakukan terhadap kaum muslimin.</p>
<p>Pada saat yang bersamaan, video dan rekaman amatiran dari <em>camcorder</em> Svetlana terus digandakan. Terus dan terus. Tanpa ada hak cipta kecuali kebenaran itu sendirilah yang bakal tercipta.</p>
<p>Sementara itu, bumi Andijan masih basah oleh darah. Belahan bumi yang lain masih terus menggelorakan semangat perubahan dan kebangkitan hakiki. Tiran terus menghantam, pengemban dakwah terus maju berjuang. Hingga saatnya nanti, Hidup mulia dengan syariah dan Khilafah atau berkalang tanah sebagai syuhada. ALLAHU AKBAR!</p>
<p align="right"><em>&#8212;-</em></p>
<p align="right"><em>Teiring cinta berbalut duka untuk Andijan, Uzbekistan. </em></p>
<p>Thanks to pytm untuk puisinya, dikutip dari Trilogy Tumbila di Kebon Hutang edisi &#8216;Kutinggalkan cintrong demi Revolusi&#8217;. Terus Bergerak!</p>
<p>*Chaghatai : bahasa Uzbek kuno, biasanya digunakan dalam puisi dan prosa.</p>
<p>*O&#8217;zbek tili : bahasa Turki yang dipakai oleh orang-orang di Uzbekistan</p>
<p>BOX:</p>
<p>Ria Fariana lahir di Surabaya 7 Oktober 1977. Alumnus UNESA Jurusan Bahasa Inggris. Novel yang telah diterbitkan &#8220;Siluet Senja&#8221; (duet dengan Hafidz) oleh Penerbit Gema Insani dan &#8220;Mutiara&#8221; yang diterbitkan DAR! Mizan. Ria aktif di Forum Lingkar Pena Jawa Timur dan kru redaksi Buletin Remaja STUDIA, Bogor.</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Agustus 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/martir-revolusi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyambung Tali Kasih</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 20:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[hari mukti]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2560</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Moekti
Menjadi bagian dari sebuah keluarga besar memang menyenangkan, tapi sekaligus bikin kita ketar-ketir. Kenapa? Karena hubungan di antara anggota keluarga akan semakin kompleks. Hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang bernama keluarga juga bisa menciptakan benih-benih konflik. Ini sangat wajar mengingat anggota keluarga yang banyak dan beragam pendapat. Namun, bukan berarti hal itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Moekti</strong></p>
<p>Menjadi bagian dari sebuah keluarga besar memang menyenangkan, tapi sekaligus bikin kita ketar-ketir. Kenapa? Karena hubungan di antara anggota keluarga akan semakin kompleks. Hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang bernama keluarga juga bisa menciptakan benih-benih konflik. Ini sangat wajar mengingat anggota keluarga yang banyak dan beragam pendapat. Namun, bukan berarti hal itu tak bisa dikendalikan. Pendapat dan keinginan boleh berbeda selama hal itu masih dalam batas kewajaran dan bisa dipertanggungjawabkan. Tapi hubungan kekeluargaan atau silaturahmi harus tetap terjalin.</p>
<p>Sangat boleh jadi, dalam kondisi tertentu, muncul konflik. Tapi yakinlah, munculnya konflik itu adalah hal yang amat wajar. Bahkan bisa semakin mendewasakan kita dalam bersikap. Kita diuji untuk menyelesaikan setiap konflik yang terjadi dengan bijak. Tidak membela salah satu, atau menjerumuskan yang lain. Karena tujuan kita adalah melanggengkan ikatan tali kasih di antara keluarga.<span id="more-2560"></span></p>
<p>Saya pernah mengalami masa-masa yang amat sulit dalam hubungan dengan keluarga. Dan saya kira semua keluarga pernah merasakan hal ini. Entah itu konflik antara anak dengan orangtua, kakak dengan adik, antara orangtua kita dengan paman, kakek, nenek, bahkan mungkin menantu dan mertua. Semua hubungan itu bisa menumbuhkan benih-benih konflik. Saya dengan saudara pernah tak harmonis. Itu terjadi karena perbedaan pendapat dan keinginan. Ini sangat berbahaya jika dikompori pihak ketiga. Untungnya, hubungan &#8216;panas&#8217; itu tak berlangsung lama, dan memang saya tidak menginginkan untuk terus terjadi. Sayangnya, dalam kondisi seperti itu kadang di antara kita rada segan jika harus lebih dahulu minta maaf. Akhirnya, masing-masing &#8216;bertahan&#8217; dalam pendapatnya. Apa nggak ada jalan untuk mencari titik temu?</p>
<p>Tapi yang saya lakukan, dalam kondisi seperti itu, adalah memulai untuk mendekati. Agak sulit jika masing-masing diam. Memulainya berat memang, tapi saya tetap mencobanya. Misalnya dengan sekadar menelepon atau kirim-kirim SMS. Jika masih belum cukup ada respon, saya coba mengirimi hadiah, bahkan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Yang terjadi saat itu, kebetulan anaknya sakit, jadi saya ada alasan untuk menengok. Ternyata, dengan pendekatan yang proaktif dari kita itu bisa menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan. Jadi intinya kita sendiri kudu ngambil inisiatif lebih dulu. Mungkin ini mempraktikkan teori jemput bola, bukan menunggu bola.</p>
<p>Hasilnya, alhamdulillah tali kasih antara keluarga yang tadinya hampir putus terjalin kembali. Ternyata memang, hubungan dengan keluarga itu seperti benci tapi rindu. Kadang kita benci dengan sikap seseorang atau sebagian saudara kita, tapi kita juga rindu jika tak pernah bicara, tak pernah bertemu. Itu pula yang pernah saya rasakan. Saat terjadi konflik, biasanya malas bicara dan malas bertemu. Tapi, setelah kita coba untuk menyambungkan tali kasih itu, kerinduan itu serta-merta memenuhi suasana hati masing-masing.</p>
<p>Sobat pembaca, tali silaturahmi di antara keluarga kita harus tetap terjalin. Allah menyukai orang-orang yang memperkokoh hubungan di antara keluarga. Jadi, tak ada alasan untuk konflik berkepanjangan tanpa akhir dengan keluarga. Apalagi kita sudah dibina dengan ajaran Islam yang memang mengatur masalah ini.[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Februari-Maret 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengarkanlah!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dengarkanlah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dengarkanlah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 21:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[dengarkanlah]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dengarkanlah/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai mahluk bertulang belakang (vertebrata), manusia juga dikaruniai telinga. Dan sebagai mahluk mamalia, telinga manusia tergolong jenis yang kompleks. Seperti yang pernah kita dapat dari pelajaran biologi, telinga kita terbagi atas; telinga luar, tengah, dan dalam. Pada telinga, Allah dengan kuasaNya menciptakan beragam komponen yang membuat kita bisa menangkap aneka suara. Daun telinga kita yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai mahluk bertulang belakang (vertebrata), manusia juga dikaruniai telinga. Dan sebagai mahluk mamalia, telinga manusia tergolong jenis yang kompleks. Seperti yang pernah kita dapat dari pelajaran biologi, telinga kita terbagi atas; telinga luar, tengah, dan dalam. Pada telinga, Allah dengan kuasaNya menciptakan beragam komponen yang membuat kita bisa menangkap aneka suara. Daun telinga kita yang terbuat dari tulang rawan membantu pengumpulan suara, kemudian getaran gendang telinga mengirimkan sinyal pada organ-organ yang lain untuk diantarkan kepada otak. Manusia, umumnya mampu menangkap 15 hingga 18,000 gelombang perdetiknya dan pada frekuensi 15 Hz to 20,000 Hz.</p>
<p>Fungsi telinga memang untuk mendengar, meski memang juga menambah keindahan kepala dan wajah kita. Bayangkan kalau telinga manusia selebar milik gajah atau sepanjang telinga kelinci, atau seperti telinga Mr. Spock dalam serial Startrek. Dengan bentuk yang seperti sekarang wajah kita terlihat proporsional, tanpa cacat dan cela.<span id="more-574"></span></p>
<p>Tapi, keindahan telinga tak ada artinya jika telinga tak berfungsi untuk mendengar, atau tak dipakai untuk mendengar. Yang pertama, adalah gangguan kesehatan dan itu adalah takdir Allah, tapi yang kedua lebih karena kita tak mau mendengar omongan orang lain. Kita tidak mau memakai telinga kita untuk menyimak perkataan orang lain tentang diri kita. Kalau pun mendengar, kita hanya pura-pura mendengar. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri, kata pepatah. Meski itu masih lebih baik ketimbang sama sekali tak mau mendengarkan.</p>
<p>Ada sebagian orang yang bilang, kalau mau maju jangan dengarkan omongan orang lain. Kata mereka, itu adalah tanda percaya diri. Nasihat itu perlu diluruskan. Yang benar adalah jangan dengarkan omongan yang salah, tapi dengarkan omongan yang baik. Jika kita sama sekali menutup diri dari mendengarkan omongan orang lain, bukan tidak mungkin kita sendiri bisa merugi. Lagipula, kadangkala omongan yang berhikmah dan penuh kebaikan itu datang dari mulut orang yang tak pernah kita sangka-sangka. Kata Nabi saw.: “<em>Ambillah hikmah yang kamu dengar dari siapa saja, sebab hikmah terkadang diucapkan bukan oleh orang yang bijak. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?</em>”(<strong>HR al Askari</strong>)</p>
<p>Pernahkah kita berpikir bahwa menjadi pendengar yang baik itu gampang-gampang susah? Mudahnya kita hanya tinggal duduk dan tidak usah berkata apa-apa, membiarkan orang lain berbicara. Susahnya, kita harus menjaga keikhlasan dan kesabaran dalam mendengarkan.</p>
<p>Sayang, kita seringkali berpikir bahwa mendengarkan itu adalah pekerjaan yang mudah. Simpel. Saking simpelnya, kita tidak tahu caranya menjadi pendengar yang baik. Dalam berbagai pelatihan motivasi diri atau kepemimpinan lebih sering diajarkan untuk menjadi pembicara yang baik atau pemimpin yang baik. Atau tips percaya diri dengan menjadi ‘kebal’ dari omongan orang lain. Belum ada materi dan pelatihan khusus untuk menjadi a good listener.</p>
<p>Padahal, apapun cita-cita yang kita kejar, semuanya diawali dari mendengar. Menjadi seorang pelajar yang baik harus mau mendengarkan omongan gurunya. Menjadi seorang pemimpin yang baik, juga harus mau mendengarkan orang lain. Jadi orang tua yang baik? Ya harus mau mendengarkan omongan orang lain, termasuk anak-anak mereka. Tidak salah kalau “Man ahsanal istima’, ta’ajjalal intifa &#8211;Siapa yang paling baik mendengarkan, dia akan cepat mendapatkan manfaat” kata sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Maka fungsikanlah telinga kita untuk mendengar dan menyimak perkataan yang baik, karena untuk itulah ia diciptakan. [<em>januar</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dengarkanlah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korupsi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/korupsi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/korupsi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 21:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/korupsi/</guid>
		<description><![CDATA[Ekonom dan politikus Dr Sjahrir pernah menyebutkan bahwa korupsi di negeri kita ini sama dengan penyakit kanker stadium empat. Berarti penyakit itu tidak mungkin lagi diobati atau disembuhkan. Si pasien tinggal menghitung hari sambil menanti keajaiban.
Sekarang gonjang-ganjing korupsi melanda KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai buntut dari penyuapan kepada petugas audit BPK dan pengadaan dana taktis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ekonom dan politikus Dr Sjahrir pernah menyebutkan bahwa korupsi di negeri kita ini sama dengan penyakit kanker stadium empat. Berarti penyakit itu tidak mungkin lagi diobati atau disembuhkan. Si pasien tinggal menghitung hari sambil menanti keajaiban.</p>
<p>Sekarang gonjang-ganjing korupsi melanda KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai buntut dari penyuapan kepada petugas audit BPK dan pengadaan dana taktis yang dipungut “secara sukarela” kepada para rekanan KPU. Dana taktis itu jumlahnya cukup besar, Rp 20 miliar dan penggunaannya diketahui semua anggota KPU.<span id="more-603"></span></p>
<p>Mengikuti episode cerita korupsi di tubuh KPU mirip dengan nonton film silat Mandarin yang tokohnya kian banyak dan ceritanya kian “njlimet” setelah berjalan sekian lama. Tapi, juga semakin asyik. Lain halnya dengan kasus korupsi, makin lama tak diselesaikan, malah makin pusing. Entah mungkin bulan Juni ketika majalah ini terbit kasusnya sudah berakhir. Tapi yang pasti, kasus korupsi di tubuh KPU kian menambah daftar panjang kasus sejenisnya yang juga tak kalah dahsyat dari segi jumlah uang yang ditilep. Sekaligus tak bisa terungkap dengan sempurna dan sedikit sekali menyeret pelakunya ke ruangan berjeruji besi. Memprihatinkan memang.</p>
<p>Korupsi seperti sudah menjadi budaya. Penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain ini sudah mendarah-daging dan berurat-akar di masyarakat kita. Jangankan di tubuh lembaga negara atau perusahaan besar yang bisa jadi jumlah uang yang dikorupsi juga tak tanggung-tanggung gedenya, di kalangan awam saja sudah terjadi secara rutin.</p>
<p>Seorang kenalan malah bercerita bahwa di sebuah instansi pemerintah di Bogor ada karyawan yang diminta membeli map tapi malah “main-main”. Maklum, karena mengajak beberapa pegawai lain untuk ramai-ramai belanja map ke Jakarta. Padahal, map jenis itu bisa dibeli di toko buku terdekat, dan jumlahnya juga cuma 10 eksemplar, bukan ribuan, gitu lho. Mungkin, selain ingin jalan-jalan (yang berarti itu mengkorupsi waktu bekerja), juga mengambil jatah uang makan jika ada tugas luar kota. Ini baru satu kasus, entah ribuan, atau bahkan jutaan kasus lain yang sudah biasa terjadi dan “dimaafkan” alias dianggap jamak.</p>
<p>Pak SBY saja belum mampu menunaikan janjinya sejak diangkat jadi presiden sejak delapan bulan lalu untuk memberantas korupsi yang sudah seperti wabah ini. Memang tak mudah jika cuma fokus kepada penangkapan para pelaku korupsinya saja. Sementara sistem yang memberi peluang (yakni kapitalisme) untuk terjadinya kasus korupsi malah dipelihara. Karena apa? Karena menurut sosiolog aliran strukturalis macam Durkheim, “Individu tak bisa diubah kecuali dengan mengubah sistem yang berlaku dalam lingkungan itu”.</p>
<p>Islam, sudah menawarkan sejak dulu tentang konsep kesejahteraan, keadilan, dan sanksi bagi pelaku kedzaliman. Sebagai sebuah ideologi, Islam tak hanya mengabarkan nikmatnya surga bagi mereka yang gemar mengumpulkan pahala dan kerasnya siksa neraka bagi pelaku kemaksiatan, tapi juga ada aturan riil yang dilakukan di dunia. Khilafah Islamiyah akan memberikan hukuman yang pantas bagi semua pelaku kemaksiatan (termasuk pejabat dan keluarga pejabat) sebagaimana sabda Rasulullah saw. : &#8220;Andaikan Fatimah, anak perempuan Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.&#8221; (HR an-Nasai nomor 4814 dalam kitab Qath&#8217;u as-Sariq)</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, masihkah kita berharap kepada kapitalisme untuk menyelesaikan masalah korupsi dan masalah lainnya? Sebaiknya berhenti berharap.[januar] | <em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/korupsi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Guru Penggoda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 21:30:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[godaan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[penggoda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah digoda cowok? Hmm…pasti kamu-kamu pada acung jempol. Emang, cowok tuh suka iseng banget godain cewek. Apalagi cowok-cowok tipis iman alias preman. Meski cuma disuitin, bikin gerah juga kan. Yang gawat, gimana kalo yang suka menggoda itu ternyata guru kita di sekolah?
Akhir-akhir ini nggak sedikit guru yang suka menggoda muridnya. Maaf banget buat bapak-bapak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah digoda cowok? Hmm…pasti kamu-kamu pada acung jempol. Emang, cowok tuh suka iseng banget godain cewek. Apalagi cowok-cowok tipis iman alias preman. Meski cuma disuitin, bikin gerah juga kan. Yang gawat, gimana kalo yang suka menggoda itu ternyata guru kita di sekolah?</p>
<p>Akhir-akhir ini nggak sedikit guru yang suka menggoda muridnya. Maaf banget buat bapak-bapak yang berprofesi guru, bukannya nuduh ya, ini fakta loh, bukan gosip. Udah banyak kasus murid yang mendapat perlakuan nggak senonoh oleh (oknum) guru. Ada yang hanya dikerlingin nakal, dirayu pake kata-kata gombal, atau bahkan ditowel-towel tubuhnya. Yang lebih syerem, ampe dicabuli. Iiih, amit-amit jabang bayi.<span id="more-647"></span></p>
<p>Contoh kasus yang dilakukan Suh (50), salah seorang oknum guru sebuah sekolah kejuruan di wilayah Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan. Dia mencabuli salah seorang anak didiknya hingga hamil 7 bulan. Bener-bener ibarat pepatah pagar makan tanaman deh.</p>
<p>Kejadian macam itu bisa terjadi karena sang murid nggak bisa nolak gurunya, figur yang selama ini kudu dihormati dan dipatuhi. Karena perasaan takut atau sungkan, murid nggak bisa berbuat banyak saat digodain. Kalaupun marah, nggak mungkin serta merta melabrak tuh guru iseng. Bisa-bisa kitanya yang dianggap kurang ajar. Lebih gawat lagi nilai-nilai sekolah pelajaran tuh guru bisa terancam. Repot. Lalu bagaimana dong?</p>
<p><strong>Sebatas muamalah</strong><br />
Hubungan antara guru dan murid hanya sebatas muamalah. Kamu menuntut ilmu dan gurumu sebagai pengajarnya. Titik. So, nggak usah coba-coba dikembangin hubungan-hubungan yang laen. Apalagi dia guru laki-laki, nggak sembarangan kita boleh berhubungan, seperti jadi sahabat, jadi tempat curhat, dll.</p>
<p>Emang sih, guru yang baik adalah guru yang perhatian ama muridnya. Biasanya tipe guru kayak gini gampang akrab ama muridnya, suka ngajak ngobrol atau becanda. Tapi inget, semua itu harus tetap dalam koridor sebagai seorang pendidik yang berusaha  menciptakan suasana belajar yang nyaman, menyenangkan dan menyelesaikan problem-problem yang bisa jadi dihadapi murid-muridnya.</p>
<p>Di sisi lain, adalah kewajiban murid buat menghargai, patuh dan mengormati sama gurunya. Tentu saja jika guru tersebut menunjukkan perilaku yang sopan, santun dan berwibawa. Pokoknya menunjukkan sosok guru yang emang pantes buat digugu dan ditiru gitu loh. Kita pun hanya boleh patuh kalo diperintahkan melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Jadi, sekalipun yang memerintahkan guru, kalo disuruh hal-hal yang bertentangan dengan Islam nggak boleh kita ikuti.</p>
<p>Nah, kalo tuh guru udah mulai melenceng dari tugasnya sebagai pengajar,  waspadai. Misalnya melakukan pendekatan pada murid tertentu. Kalo ada guru mencoba menggoda kamu, sebaiknya kamu membatasi diri untuk tidak melayaninya. Yup, semakin kamu layani godaannya, tuh guru bakal makin ketagihan godain kamu. Meski digodanya sebatas dengan kata-kata, jangan memberi respon positif. Misalnya jangan terkesan kamu senang digoda dengan senyum-senyum atau ketawa-ketiwi. Jangan pula merasa ge er kalo digodain, atau bahkan bangga. Ntar dikira kamu emang suka digodain.</p>
<p>Apalagi kalo udah menjurus ke aktivitas fisik, misal (maaf nih) ditowel-towel atau diraba-raba bagian tubuh kamu, udah deh alamat nggak bener tuh guru. Tunjukkan ketidaksukaanmu dengan santun (gimana caranya ya? Susah-susah gampang emang). Intinya sih jangan asal emosi. Takutnya gurumu tersinggung dan berbalik marah sama kamu. Kalo udah gitu, bisa jadi dia akan membenci kamu atau malah dendam. Lebih baik sebisa mungkin segera menghindar dari hadapan guru itu. Pamit aja dengan baik, misal ‘Maaf Pak, mau ke kelas dulu’ dan sebagainya.</p>
<p><strong>Tanda-tanda guru penggoda</strong><br />
Supaya kamu waspada terhadap perilaku guru kamu yang tipe penggoda, sebaiknya kamu tahu kriteria guru penggoda itu kayak apa sih? Bisa jadi guru ganjen itu suka tampil klimis, biar dianggap paling cute gitu. Dengan begitu murid-muridnya juga gampang dipincut..</p>
<p>Cara pandang guru penggoda juga beda. Pasti dia suka curi-curi pandang, merhatiin seluruh tingkah laku kamu. Lihat saat doi lagi ngajar, saat nyuruh kamu ngerjain tugas ke depan kelas atau di manapun ketika ada kamu dan bapak guru itu. Kalo doi suka-suka kepergok mandangin kamu, hm…emang bisa dipastikan tuh bapak guru ada maunya.</p>
<p>Guru penggoda juga sok akrab. Biasanya mancing kamu dengan candaan, pujian atau bahkan menggoda kamu dengan kata-kata rayuan. Setelah itu baru ngorek-ngorek masalah pribadimu, misalnya soal hobi, cita-cita, dah punya pacar apa belum (padahal kita kan bukan penganut pacaran), suka jalan-jalan nggak, dst.</p>
<p>Udah gitu dia pasti nyari-nyari kesempatan buat dua-duaan ama kamu. Alasannya bisa aja dengan memerintahkan mengerjakan tugas tertentu atau pengen nanyain sesuatu ama kamu. Bahaya, Non! Apapun alasannya jangan sekali-kali maen nurut aja. Ingat, pelecehan murid ama gurunya bisa aja terjadi. Kalo dah gitu, mending ajak temen, jangan sekali-kali mau ditemui guru sendirian, apalagi kalo di tempat yang udah sepi. Misal di kelas yang udah nggak ada murid lagi atau di ruang guru yang sudah sepi, dll.</p>
<p>Lagian, kalo berdua-duaan gitu, meski ama guru sendiri tetep aja jatuhnya khalwat. Padahal Islam kan tegas melarang laki-laki dan perempuan berdua-duaan. Ingat pesan Rasulullah Saw: ‘Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan perempuan yang tidak disertai mahramnya.’ Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda (yang maknanya): “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.”  Jadi, setuju kan kalo kita sebagai murid perempuan sebaiknya jaga jarak ama guru laki-laki? Kudu lagi![<em>kholidah</em>]</p>
<p>===box===</p>
<p>Kalau kamu termasuk murid perempuan yang sering diisengin guru laki-lakimu, ada tips-tips nih untuk menghindarinya:<img title="More..." src="http://www.gaulislam.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<ul>
<li><strong>Jaga pandangan</strong>. Jangan ampe sering-sering menatap gurumu waktu dia ngajar atau saat berinteraksi. Siapa tahu gurumu jadi ge er dan pengin balas menggoda kamu. Ingat firman Allah Swt: “<em>Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…</em>” (<strong>QS an-Nuur [24] : 31</strong>)</li>
<li><strong>Jaga dandanan dan tingkah kamu</strong>. Biasanya murid yang digoda adalah yang suka cari perhatian dengan berpakaian seksi, pakai wewangian, ganjen dan agresif. Makanya, tampillah dengan dandanan dan pakaian yang islami. Selain karena kewajiban dari Allah Swt., insya Allah juga bisa mengantisipasi dari godaan setan yang terkutuk…eh…termasuk godaan guru tentunya.</li>
<li><strong>Jaga jarak</strong>. Sebaik apapun guru itu, tetap jaga jarak aman. Sebab keakraban murid-guru bisa membuat guru penggoda leluasa melancarkan jurusnya. So, jika ada guru penggoda yang sok akrab, jangan serta-merta meladeni dengan mengajaknya berakrab-akrab ria. Sebab begitu merasa akrab, tuh guru bakalan nggak jaim-jaim buat melancarkan jurus godaannya.</li>
<li><strong>Jangan dibalas</strong>. Meski ‘cuma&#8217; dengan ucapan-ucapan dan tidak sampai menyentuh fisik, lebih baik kamu cuekkin aja. Soalnya kalo kamu nanggepin, bukannya kapok mereka malah akan semakin menjadi-jadi. Cowok penggoda itu bakal senang kalo godaan mereka ditanggapi atau dijawab. Entah kamu jawabnya dengan ketus, sinis, marah, mencaci-maki, semua itu nggak bikin cowok penggoda jera.</li>
<li><strong>Pasang tampang tegas</strong>. Umumnya cowok penggoda tuh akan segan menggoda mereka yang nggak nanggepin godaan-godaan mereka. Bisa jadi guru kamu juga gitu. Supaya dia nggak terus-terusan pasang godaan, jangan dibalas dengan godaan. Oke? Ntar juga ketahuan kok itu dari ekspresi wajah kamu, mana yang diam tegas bin cuek dengan kesan senang bin antusias. Guru penggoda pastinya jadi malaslah godain murid yang nggak respek sama godaannya. Iya kan?[<em>kholidah</em>] | <em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita yang selalu berharap</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kita-yang-selalu-berharap</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kita-yang-selalu-berharap#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 21:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2684</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Teman-teman, kita selalu berharap agar kita mendapat kebaikan. Tapi, pernahkah kita berbuat baik? Kita selalu berharap mendapat kebahagiaan. Tapi pernahkah kita membahagiakan orang lain? Kita juga nyaris selalu berharap mendapatkan perhatian, tapi pernahkah kita juga memperhatikan orang lain?
Mungkin dari ketiga pertanyaan ini ada jawaban yang beragam dari teman-teman. Jawaban &#8220;ya&#8221; yang beragam, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</p>
<p>Teman-teman, kita selalu berharap agar kita mendapat kebaikan. Tapi, pernahkah kita berbuat baik? Kita selalu berharap mendapat kebahagiaan. Tapi pernahkah kita membahagiakan orang lain? Kita juga nyaris selalu berharap mendapatkan perhatian, tapi pernahkah kita juga memperhatikan orang lain?</p>
<p>Mungkin dari ketiga pertanyaan ini ada jawaban yang beragam dari teman-teman. Jawaban &#8220;ya&#8221; yang beragam, dan begitupun jawaban &#8220;tidak&#8221; yang beragam.</p>
<p>Kita mulai dari jawaban &#8220;ya&#8221;. Ya, kita selalu berharap mendapat kebaikan, dan kita juga senantiasa berbuat baik. Syukurlah kalo memang demikian adanya. Ada lagi jawaban lainnya; selalu berharap tapi lemah berbuat. Kita senantiasa ingin mendapat kebaikan, tapi lemah dalam berbuat baik. Jadi, apa pantas kita selalu berharap mendapat kebaikan, sementara kita jarang berbuat baik? Mungkin juga ada yang lemah berharap, pun lemah berbuat. Ini agak menyedihkan, karena berharap mendapat kebaikan saja jarang, pun kurang dalam berbuat baik. Dari ketiga jenis jawaban itu yang tahu hanyalah yang bersangkutan dan Allah Swt. Ya, kita bisa interospeksi diri.<span id="more-2684"></span></p>
<p>Bagaimana dengan jawaban &#8220;tidak&#8221;? Ya, ini juga beragam. Ada yang tidak pernah berharap mendapat kebaikan, tapi selalu berbuat baik. Dirinya semata memberikan apa yang dimilikinya untuk kebaikan orang lain, meskipun ia sendiri tak terlalu berharap mendapat kebaikan. Ada juga yang tidak berharap mendapat kebaikan, karena dirinya tak pernah berbuat kebaikan. Ini mungkin karena merasa sama-sama tidak berharap. Jadi, impas saja. Tak berharap karena tak pernah berbuat. Mungkin juga ada jawaban lainnya, selalu berharap meskipun tidak pernah buat. Wow, ini namanya &#8220;pinter kodek&#8221; dalam istilah bahasa Sunda. Artinya ingin menang sendiri, ingin senang sendiri. Selalu berharap mendapat kebaikan, tapi tak pernah merasa untuk berbuat baik. Dari ketiga jawaban ini, tentu saja yang tahu pasti hanyalah yang bersangkutan dan Allah Swt.</p>
<p>Teman-teman, silakan Anda mencocokkan dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Tapi kita berharap semoga saja kita termasuk orang yang pandai bersyukur, pandai berbuat baik, pandai bersabar. Bukan semata pandai berharap tapi tak pernah berbuat.</p>
<p>Jika kita hubungkan dengan apa yang kita minta dan harapkan kepada Allah Swt. dengan apa yang kita perbuat untuk Allah Swt., rasanya kita pantas untuk merenung. Ya, saya jadi teringat al-Quran, ayat 186 dari surat al-Baqarah (yang artinya): &#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.&#8221;</p>
<p>Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi saw. yang bertanya: &#8220;Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeruNya?&#8221; Nabi saw. terdiam, hingga turunlah ayat ini (QS. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu.<br />
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu&#8217;awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya.)</p>
<p>Menurut riwayat lain, ayat ini (QS. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi saw.: &#8220;Dimanakah Tuhan kita?&#8221;<br />
(Diriwayatkan oleh &#8216;Abdurrazzaq dari Hasan, tetapi ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal.)</p>
<p>Menurut riwayat lain, ayat ini (QS. 2: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah saw.: &#8220;Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah Swt. telah berfirman &#8220;Ud&#8217;uni astajib lakum&#8221; yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (QS 40: ayat 60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: &#8220;Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?&#8221; Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (QS. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Asakir yang bersumber dari Ali.)</p>
<p>Menurut riwayat lain, setelah turun ayat &#8220;Waqala rabbukum ud&#8217;uni astajib lakum&#8221; yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (QS. 40: 60), para shahabat tidak mengetahui bilamana yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (QS. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari &#8216;Atha bin abi Rabah.)</p>
<p>Semoga kita yang senantiasa berharap agar Allah Swt. mengabulkan keinginan kita, dibarengi dengan taatnya kita kepada Allah Swt. dan sekaligus beriman kepadaNya. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa berharap mendapat kebaikan dari Allah Swt., tanpa sedikitpun kita taat dan tak beriman kepadaNya. Iya kan?</p>
<p>Ini sekadar renungan kecil di pagi hari yang cerah, dan kita masih bisa menikmati indahnya hidup di dunia milikNya. Semoga kita pandai bersyukur kepada Allah Swt. Wallahu&#8217;alam.</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">http://osolihin.com/kita-yang-selalu-berharap</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kita-yang-selalu-berharap/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trio Bebek Bikin Sunatan Massal</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/trio-bebek-bikin-sunatan-massal</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/trio-bebek-bikin-sunatan-massal#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 00:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[boim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2659</guid>
		<description><![CDATA[By: Boim Lebon
MASIH inget kan sama Trio Bebek: Andra, Gugun, dan Boy yang sekolah di SMU Mandiri?
Okay, kalo udah lupa, terpaksa dingetin dulu. Jadi Trio Bebek  ini adalah anak-anak kelas 2 SMU Mandiri yang dikenal sebagai  pengarang top dan super ngocol! Mereka bertiga paling hobi ngarang, nggak cuma di pelajaran bahasa Indonesia aja, kadang-kadang di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>By: Boim Lebon</strong></p>
<p><strong>MASIH </strong>inget kan sama<strong> </strong>Trio Bebek: Andra, Gugun, dan Boy yang sekolah di SMU Mandiri?</p>
<p>Okay, kalo udah lupa, terpaksa dingetin dulu. Jadi Trio Bebek  ini adalah anak-anak kelas 2 SMU Mandiri yang dikenal sebagai  pengarang top dan super ngocol! Mereka bertiga paling hobi ngarang, nggak cuma di pelajaran bahasa Indonesia aja, kadang-kadang di pelajaran matimatika juga pada ngarang, kalo bingung ama jawaban, ya udah ngarang-ngarang aja, gitu! Hehehe.</p>
<p>Selain itu mereka juga mengelola sebuah mading alias majalah dinding yang selalu aptudet tiap minggunya dengan  tulisan-tulisan yang informatif,   kritik konstruktif dan mampu mengundang ketawa cekakak, cekikik dan cekukuk!</p>
<p>Dan kenapa dikatakan sebagai ‘bebek’, karena  mereka cenderung ‘cerewet’ lewat tulisan-tulisan ngocol yang mereka buat dalam menyikapi sebuah situasi dan kondisi yang tidak kondusif. Bahasa kerennya sih kritis! Tapi anak-anak senang menyebutnya dengan  ‘bebek’ aja, gitu!</p>
<p>“Lagian  bebek  juga punya sifat yang baik!” tukas Andra.<span id="more-2659"></span></p>
<p>“Apaan?” tanya Gugun.</p>
<p>“Ya itu tadi, cerewet! Wek, wek, wek! Cerewet kan sama dengan vokal! Nah, vokal itu artinya kritis! Kritis itu artinya peduli!” papar Andra.</p>
<p>“Dan bebek juga enak buat dirujak!” sambung Boy.</p>
<p>“Rujak apa?” tanya Gugun.</p>
<p>“Rujak bebek! Hehehe!”</p>
<p>Ya, selama ini mereka selalu  menyalurkan aspirasi  lewat tulisan yang mereka tuangkan melalui majalah dinding tersebut!</p>
<p>“Tapi sekarang kita bikin kegiatan <em>off air</em>!” kata Andra mengajukan usulan.</p>
<p>“Maksudnya?” tanya Gugun.</p>
<p>“Aduh, kok lo nggak ngerti juga, sih?” Andra memandang ke Gugun yang punya badan tinggi jangkung dan jago bikin tulisan puitis.</p>
<p>“<em>Off air</em> itu maksudnya kegiatan konkrit yang bisa dilihat dan dirasakan secara langsung oleh audien!” terang Andra yang pinter bikin tulisan melankolis dan mendayu-dayu.</p>
<p>“Dan kegiatan itu berlangsung di atas air?” sambung Boy yang paling seneng bikin tulisan humor dan mencatat pengalaman-pengalaman lucu.</p>
<p>“Bukan, <em>off air</em> itu hanya istilah yang biasa digunakan oleh orang radio dan tv. Kalo kegitan siaran itu  <em>on air</em>, nah kegiatan outdoornya itu namanya <em>off air</em>. Begitu juga dengan majalah dinding yang kita miliki ini, kalo bikin tulisannya itu sama juga dengan kegiatan <em>on air</em>, tapi ketika kita bikin kegiatan di luar, namanya <em>off air</em>!”</p>
<p>“Oh, gitu,” ujar Boy. “Okay, terusnya mau bikin kegiatan apaan?”</p>
<p>“Tentu aja yang cocok dengan  misi dan visi majalah dinding kita!” timpal Gugun.</p>
<p>“Visi dan misi majalah dinding kita adalah menyebarkan informasi yang baik dan benar kepada banyak orang, jadi menurut saya kegiatan yang memiliki <em>chemistri</em> dengan  visi dan misi kita adalah … Gimana kalo sunatan masal?” ujar Andra tiba-tiba.</p>
<p>“Setuju!” teriak Boy.</p>
<p>“Lho,  kok langsung setuju aja bikin sunatan masal?” Gugun masih belum mecing dan  memandang heran ke aray Boy.</p>
<p>“Eh, majalah dinding ini dibaca oleh banyak orang kan? Artinya masal, kan? Nah, kita juga harus bikin kegiatan yang bisa diikutin  banyak orang, ya sunatan masssal gitu loooh!”</p>
<p>“Tapi plis deeeh!”</p>
<p>“Sumpeee lo?”</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>KINI</strong> di mading megah yang terpampang di  dinding sekolah, (ya ukurannya nggak tanggung-tanggung,  hampir seluruh dinding kepake buat majalah, dan  mereka beri nama ‘SUARA BEBEK YG PALING DALAM’)  ada sebuah pengumuman …</p>
<p>“Barang siapa yang mau disunat, maka kirimkan segera via surat dalam amplop tertutup ‘barang siapanya’ itu eh sory, maksudnya nama dan alamat si ‘barang siapanya’ itu ke alamat di bawah ini!”</p>
<p>“Ditunggu selambat-selambatnya <strong>30 hari</strong> setelah Anda membaca pengumuman ini, dan bagi sepuluh pendaftar pertama  akan mendapat tiket gratis nonton film <strong>30 hari</strong> mencari cinta!”</p>
<p>“Adapun yang dibolehkan mengikuti kegiatan sunatan massal ini adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Cowok</li>
<li>Belum pernah disunat!</li>
<li>Berani (disunat) karena benar!</li>
<li>Takut (disunat) karena salah!</li>
<li>Tidak memiliki biaya yang cukup untuk menyunat sendiri!</li>
<li>Siap tidak menjerit waktu disuntik!</li>
<li>Bersedia dan tidak malu-malu mengikuti audisi yang akan dilakukan oleh lima dokter ahli!</li>
<li>Bersedia mengikuti road show di lima kota setelah dan sebelum disunat!</li>
<li>Bersedia dikontrak selama satu tahun  untuk mengampenyakan pentingnya ‘disunat’ di kota-kota besar!</li>
</ol>
<p>10.  Tidak boleh melakukan perjanjian yang sama dengan pihak lain pada saat Anda sedang disunat di tempat kami!</p>
<p>11.  Bagi perserta yang diterima untuk mengikuti sunatan masal tapi berdomisili di luarkota, tidak boleh diwakili!</p>
<p>12.  Apabila ada yang tidak cocok dengan butir-butir perjanjian ini maka  akan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat di muka … Irfan Hakim!</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>BERITA</strong> tentang rencana sunatan masal  menjadi HL di majalah dinding, dan  setiap anak SMU Mandiri membicarakan itu, dan seperti biasa ada yang pro dan kontra. Tapi Trio Bebek nggak peduli, pokoknya meskipun dianggap kegiatan yang kurang <em>hightech-lah</em>, nggak <em>funky</em>, nggak berperikemanusiaan atau <em>whatever</em>-lah, pokoknya  kata mereka, <em>“The Sunat Must Go On!</em>”</p>
<p>Selain dijadikan <em>headline</em> mereka juga menurunkan topik sunatan masal di rubrik yang disukai pembaca, yaitu rubrik  <em>AMKM; Anda Meminta Kami Memble Aje!</em> Isinya pesan-pesan antar siswa.</p>
<p><strong>Dari : </strong>Bonar Sirait  kelas 2 Sos 1</p>
<p><strong>Buat: </strong>Anak-anak kelas 2 Sos 2<strong> </strong></p>
<p><strong>Ucapan: </strong>Hayo, ngaku siapa yang belon disunat? Daptar, daptaaar!  <strong> </strong></p>
<p>Tentu saja ada balasannnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dari</strong>: Anak-nak kelas 2 sos 2.</p>
<p><strong>Buat</strong>: Bonar Sirait di Sos 1</p>
<p><strong>Ucapan</strong>: Kita semua udah disunat lagi … tapi belum dapat hadiahnya, hayo mau ngasih hadiah ke kita ya?</p>
<p>Juga ada kiriman lain.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dari: </strong>Dino Saurus klas 1 3<strong></strong></p>
<p><strong>Buat: </strong>Anak-anak yang hobi Futsal!<strong> </strong></p>
<p><strong>Ucapan: </strong>Ati-ati ah, kalo lagi main futsal, apalagi yg jadi kiper, jangan sampe ntar ngedaptar jadi peserta sunatan masal lagi! Hehehe.<strong> </strong></p>
<p>Yang jelas anak-anak Trio Bebek berusaha mengampanyekan rencana mereka lewat medianya dan juga lewat beberapa relasi yang telah mereka bina selama ini, seperti Bang Dul tukang pangsit yang rela gerobaknya ditempeli ajakan menyukseskan sunatan masal itu!</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>MEREKA</strong> juga sudah  ijin ke kepsek, ke beberapa ketua  ekskul terutama Osis dan Rohis, yang ternyata semuanya  mendukung dan bahkan siap ikutan menjadi  panitia.</p>
<p>Makanya Trio Bebek langsung berinisiatif miting dadakan.</p>
<p>“Kita harus mempercepat kegiatan ini, yang semula akan diadakan minggu depan maka dirubah menjadi minggu besok,  respon dari teman-teman  luar biasa, maka miting ini pun saya buka!” tukas Andra yang kadang nggak sabaran itu. Padahal di situ cuma ada ketua osis dan dua anak rohis yang lagi iseng main-main ke kantor redaksi.</p>
<p>“Ya, saya setuju, terus terang ini kegiatan  bagus banget,” kata ketua Osis yang badannya kekar mirip Ade Ray, “karena sosial banget, dan gue banget getu loooh!”</p>
<p>“Maksudnya ?” tanya Gugun bingung.</p>
<p>“Ya, dulu gue juga ikutan sunatan masal tau!” kata si ketua OSIS  malu-malu.</p>
<p>“Pantesan lo jadi hoby ama apa-apa yang serba gratisan!” komentar Boy cuek.</p>
<p>“Kita juga mendukung dan siap membantu, tapi kita nggak tau harus membantu apa?” ujar Ema dan Rita yang dari rohis.</p>
<p>“Hm, jadi bagian pengumpulan aja, ya,  setelah disunat kan … nanti …” jelas Andra.</p>
<p>“Hiiii … nggak mau, mau …” Ema dan Rita langsung bergidik.</p>
<p>“Eh, bukan ngumpulin gituan! Iiih, kalian ini kok ya sampe sejauh itu?” tegas Andra. “Melainkan  ngumpulin hadiah yang akan diberikan kepada peserta sunatan masal.”</p>
<p>“Sponsornya apa aja, sih?” tanya ketua  Osis lagi.</p>
<p>“Banyak,” jawab Boy, “di antaranya  sarung cap gajah berbaring!”</p>
<p>“Eh, bukan gajah duduk?” jelas ketua Osis.</p>
<p>“Dari dulu duduk melulu, capek tau!” ucap Boy asal. “Sekali-kali berbaringlah gajahnya…”</p>
<p>“Terus berapa orang nih yang mau disunat?” tanya Ema lagi.</p>
<p>“Oh, ya jumlahnya belum ditulis, tuh? Syarat yang lainnya sih, udah!” ingat Andra. “Nanti pesertanya membludak lagi?”</p>
<p>“Jadi gimana?” tanya Gugun yang sejak kecil hobi nanya.</p>
<p>“Ya, sebaiknya dibatasin aja. Dokternya kan cuma satu,” jelas  ketua OSIS.</p>
<p>“Dokter siapa?” tanya Gugun lagi dan lagi.</p>
<p>“Namanya  Dokter Sudiyanto, biar nanti saya yang menghubungi. Dia rela nggak dibayar waktu menyunat, kok.”</p>
<p>“Wah, luar biasa baik sekali!” komentar  Boy salut. “Jarang dokter kayak gitu.”</p>
<p>“Karena  dia baru mau dibayar setelah acara sunatan selesai …” sambung ketua Osis lagi tanpa dosa.</p>
<p>“Yeee, sama aja bodong!” umpat Boy sebal.</p>
<p>“Jadi berapa orang nih yang harus kita undang?” tanya Gugun lagi.</p>
<p>“Ya, kalo gitu seratus orang, deh!” tukas Boy asal.</p>
<p>“Gila, untuk nyunat satu orang diperlukan waktu setengah jam, terus dikali seratus, bakalan selesai berapa jam? Ntar dokternya kecapekan, bisa salah sunat lagi!” tukas  Andra.</p>
<p>“Ya, udah sepuluh orang aja!” usul Rita.</p>
<p>“Ya, setuju! Karena ini kegiatan kali pertama di sekolah kita, jadi kita  tetapkan  sepuluh orang aja!” jelas ketua Osis seraya memutuskan.</p>
<p>“Okay rapat ditutup!” kata Andra mengakhiri rapat kilat itu.</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>MESKI</strong> tulisan tentang rencana kegiatan  sunatan masal  beberapa kali menjadi HL, dan banyak dapat dukungan, tapi anehnya menjelang hari H belum kelihatan yang mendaftar.</p>
<p>“Aneh? Kok belum ada yang ngedaftar, ya?” Andra bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Padahal tinggal sehari lagi?”</p>
<p>“Iya, kenapa ya?” tanya Gugun yang cuma bisa bertanya dan bertanya.</p>
<p>“Apa karena kita percepat?” Andra seperti menggugat keputusannya sendiri.</p>
<p>“Mungkin mereka nggak tau, kalo ikutan sunatan masal di sini bakalan dapat hadiah?” ujar Boy coba memberi jawaban.</p>
<p>“Ah, enggak juga, di mading kan udah dijelasin?” tukas Andra.</p>
<p>“Di mading?” tanya Gugun.</p>
<p>“Eh, iya kan selama ini pengumumannya cuma di mading?” Andra ikut bertanya.</p>
<p>“Dan gerobak  mi Bang Dul!” tukas Boy.</p>
<p>“Di kantin?” tanya Gugun.</p>
<p>“So, pengumumannya hanya di lingkungan sekolah aja,  wah jangan-jangan yang di luaran malah nggak tau,  jadi nggak ada yang ngedaftar!”</p>
<p>“Hm, bisa jadi. Atau bisa juga anak-anak di sekitar sekolah ini sudah disunat semua?”</p>
<p>“Iya, bisa jadi, kita kan belum survey!”</p>
<p>“Atau mereka malu ikutan sunatan masal?”</p>
<p>“Iya, bisa jadi, lingkungan sekolah kita kan lingkungan elit!”</p>
<p>“Astagfirullah, kenapa nggak terpikirkan sejak awal?” tukias Gugun. “Jadi gimana, dong?”</p>
<p>“Yach, terpaksa malam ini kita harus bergerilya mencari orang yang mau ikutan sunatan masal!”</p>
<p>“Tapi nyarinya ke mana?”  tanya Gugun lagi.</p>
<p>“Eh, kita kan bertiga wartawan majalah dinding, kita punya naluri jurnalis!” tukas Boy. “Cuek aja lagi!”</p>
<p>“Jadi jemput bola?”  tanya Gugun.</p>
<p>“Jemput bola?” sela Boy. “Jemput orang lagi!”</p>
<p>“Eh, itu istilah <em>honey!</em>” tukas Gugun sebal.</p>
<p>“Yeee, gitu aja dibahas!”</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>BESOK</strong> paginya Dokter Sudiyanto, yang ditemani  ketua  OSIS dan wakil anak rohis, Ema dan Rita, juga beberapa anak teater, anak pecinta alam,  PMR, serta Paskibra  sudah pada siap. Tapi belum kelihatan tanda-tanda acara bakal dimulai.  Yang mau disunat juga belum kelihatan batang idungnya, begitu juga dengan penggagas acara itu.</p>
<p>“Eh, mana anak-anak Trio Bebek? Kok belum kelihatan?” tanya ketua Osis bingung.</p>
<p>“Yang mau disunat juga belum ada, nih?” tanya Ema.</p>
<p>“Iya, nggak enak ama dokternya!” bisik seorang anak pecinta alam. “Dia udah stenbai dari tadi.”</p>
<p>“Udah, deh, biar dia nggak nganggur elo aja disunat lagi!” ujar anak teater bercanda.</p>
<p>“Enak aja luh!”</p>
<p>“Eh, tuh mereka!” teriak Ema dan Rita menunjuk ke  pintu gerbang.</p>
<p>“Ya, amplop ke mana aja sih?” sergah si ketua Osis.</p>
<p>Di belakang Trio Bebek ada sekitar sepuluh anak yang penampilannya dekil en de kumel!</p>
<p>“Abis ngejemput anak-anak yang mau ikut sunatan masal!” jawab Andra yang nampak lelah itu.</p>
<p>“Jemput di mana, kok kayaknya jauuuh banget?” tanya Ema.</p>
<p>“Mereka ini anak-anak jalanan yang suka ngamen,  jadinya ya kita  nemenin mereka ngamen dulu!” tukas Boy.</p>
<p>“Okay, deh, kita mulai aja!” tukas ketua Osis sambil mempersilakan pak  dokter masuk ke ruang aula yang sudah didesain menjadi tempat penyunatan masal. Kesepuluh anak itu juga ikut masuk.</p>
<p>Tapi tak berapa lama, dokternya  keluar lagi sambl geleng-geleng kepala.</p>
<p>“Eh, kenapa Dok?” tanya Andra khawatir.</p>
<p>“Ketinggalan gunting, ya?” tebak Boy.</p>
<p>“Atau pisaunya udah nggak tajem?” tebak Gugun.</p>
<p>“Bukan, bukan itu!” kata pak dokter seraya mengatur napasnya. “Kok, mereka itu, sudah pada disunat semua, sih?”</p>
<p>“Hah?” semua kaget.</p>
<p>Andra langsung masuk dan menanyai semua anak itu, “Eh, kalian gimana, sih?  Udah disunat tapi kok ya ikut-ikutan sunatan masal?”</p>
<p>“Lho, semalam kan kakak-kakak ngomongnya begini; ayo siapa yang mau ikutan  sunatan masal,  nanti dapat hadiah?  Ya, kita sih mau aja dikasih hadiah, tapi kan kakak enggak nanya apakah kami sudah disunat atau belum?  Hehehe, iya kan?”</p>
<p>Tiro Bebek geleng-geleng kepala. Pusing.</p>
<p>“Ya, amplop!” semuanya juga nggak tau harus berbuat apa.</p>
<p>“Jadi gimana, nih?” tanya Gugun.</p>
<p>“Aduh, jadi nggak enak ama pak dokter!” ujar Andra.</p>
<p>“Sudahlah, nggak apa-apa,” kata dokter berusaha bijaksana, “saya malah bersukur kalo anak-anak di sekitar sini sudah disunat semua dan mereka sudah bisa menyunat dengan biaya sendiri. Apalagi para anak jalanan ini, jadi kita nggak usah repot-repot lagi, kan?</p>
<p>“Nah, karena niat kalian ingin memberikan hadiah ya sebaiknya hadiah-hadiah itu   diberikan kepada mereka,  toh anak-anak jalanan itu juga orang  yang perlu dibantu  meskipun semuanya ternyata sudah disunat …. “</p>
<p>“Iya kan?”</p>
<p>Trio Bebek manggut-mangnut dan kemudian memberikan hadiah-hadiah itu ke para anak jalanan.</p>
<p>Dan setelah dokter pulang bersama anak-anak jalanan, yang lain langsung menatap Trio Bebek dengan tatapan menghujam!</p>
<p>“Eh, lain kali kalo mau bikin acara persiapannya kudu mateng, ya?”</p>
<p>Anak-anak Trio Bebek langsung duduk menggelesor di koridor sekolah sambil menangis bersama dengan birama empat per empat.</p>
<p>“Ihik, ihik, ihiiiks ….”</p>
<h2>SEKIAN</h2>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, ediai Juni 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/trio-bebek-bikin-sunatan-massal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Born 2 Be Jomblo</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/born-2-be-jomblo</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/born-2-be-jomblo#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 10:08:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[jomblo]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2656</guid>
		<description><![CDATA[By: Adzimattinur Siregar
Ini nggak mungkin kenyataan!
Kalo aja cowok di depan rumahku ini nggak menatapku terus menerus, aku pasti udah menampar mukaku sendiri untuk mengetesnya.
Ini pasti mimpi! Nggak mungkin seorang Lando si cowok motor yang bulan lalu dapetin penghargaan Coverboy Favorit dari majalah super beken, sekarang ada di depan pintu rumahku dengan bunga mawar merah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Adzimattinur Siregar</strong></p>
<p>Ini nggak mungkin kenyataan!</p>
<p>Kalo aja cowok di depan rumahku ini nggak menatapku terus menerus, aku pasti udah menampar mukaku sendiri untuk mengetesnya.</p>
<p>Ini pasti mimpi! Nggak mungkin seorang Lando si cowok motor yang bulan lalu dapetin penghargaan <em>Coverboy Favorit</em> dari majalah super beken, sekarang ada di depan pintu rumahku dengan bunga mawar merah di tangannya…  Yang jelas… aku nggak mau ini terjadi!</p>
<p>Bukan karena aku nggak suka (Alooow! Cewek cacat mental mana yang bisa nolak pesonanya Lando?) tapi karena…</p>
<p>“Siapa, Tet?” Ibuku tergopoh-gopoh dengan daster kumalnya dan muka berminyak baru bangun tidur.</p>
<p>Oh, no! no! Tuhan, bila kau mau membunuhku bukan begini caranyaaaa…</p>
<p>“Bu-bukan siapa-siapa, Ma!” kataku cepat-cepat sambil ngasih isyarat ke Lando untuk pergi.<span id="more-2656"></span></p>
<p><em>Coverboy</em> itu ngegeleng keras kepala. Sekarang aku percaya sama pepatah yang bilang, ketampanan seseorang bisa dituker sama kepinteran. Bisa jadi Lando seganteng ini karena udah bikin perjanjian sama setan dan menukarkan separuh otaknya.</p>
<p>“Pergi!” bisikku memohon. Percaya deh! Mengusir cowok paling keren seangkatan dari rumahmu bukan hal yang gampang!</p>
<p>Mata tajam dan alis tebal Lando hampir aja mempengaruhiku.</p>
<p>“Rhein? Kenapa?” mungkin cowok ini sekarang lagi bertanya-tanya kenapa bisa cewek sejelek aku menolak mawar darinya.</p>
<p>“Teeet!” bentakan Papaku membuatku mundur. Aku berbalik dan mendapati Papaku dengan sarung favoritnya yang bolong-bolong itu tengah berdiri tegak, nggak memakai kaosnya.</p>
<p>Mati gw… watchau, dunia, selamat tinggal!</p>
<p>“Siapa itu?” tanya Papa dengan suara Bataknya yang menggelegar.</p>
<p>Lando, dengan segenap rasa beraninya yang tinggal tersisa sedikit itu, maju selangkah dan tersenyum ke arah Papa.</p>
<p>“Pagi, Om!” permulaan yang salah. Papa benci dipanggil Om karena itu mengingatkannya sama usianya yang udah tua. “Saya Lando, temen Rhein. Coverboy.” Seakan-akan fakta punya tampang super keren itu, bisa ngerubah mata Papa yang mulai menyipit muak.</p>
<p>Pertengahan yang salah. Aku menghela napas, dan menahan sesak.</p>
<p>“Saya cuma mau nganterin mawar ini.” Lando dengan senyum dibuat-buat yang dibalas masam sama Papa dan Mama.</p>
<p>Aku menggeleng putus asa. Akhir yang saaaangat salah!</p>
<p>“Oh, jadi pengantar barang? Bagus, kamu bisa pulang sekarang.” Papa sambil ngebanting pintu depan idungnya.</p>
<p>Mau nggak mau mataku udah berkaca-kaca duluan waktu ngedenger bunyi motor ninja RR Lando menjauh.</p>
<p><em>See</em>?!</p>
<p>Udah cukup memalukan mendapati cowok keren mau bersusah payah ke rumahku yang ada di tengah kampung, mengetuk pintu rumahku yang bobrok, menemukan Papa cuma dengan sarung kucelnya… Sekarang, Papa pun mengusir cowok itu!</p>
<p>Ya, ampuuun!  Ups, belum cukup juga kayaknya neh?</p>
<p>Papaku menatapku garang. “Kamu harus fokus sama sekolah! Sekarang kan lagi ujian! Ngerti?”</p>
<p>Dunia ini gila atau apa?! Aku sudah kelas dua SMA, meeen! Teman-temanku biasa didatangin pacarnya tiap Sabtu… Sementara aku? Pacaran pun nggak pernah! Dan Lando itu kan bukan cowokku… Eee, tapi kan aku ini lebih fokus daripada siapapun! Yeah! Seakan juara satu di kelas unggulan aja nggak cukup!</p>
<p>“Udahlah, Tet! Cowok gampang dicari lagi!” Mamaku mengusap pipiku yang berurai airmata.</p>
<p>Cowok gampang dicari. Kata-kata itu nggak berlaku bagiku. Ya, ampun! Mama pikir aku secantik apa? Apa dia nggak bisa nerima kenyataan kalo anaknya cuma punya tampang pas-pasan? Ada satu cowok nyangkut aja udah <em>amazing</em> banget! Apalagi kali ini cowok KEREN!</p>
<p>Mama nggak ngerti. Tentu aja Mama nggak akan ngerti. Gimana rasanya jadi cewek berbadan bongsor di tengah para model di sekolahku. Gimana rasanya punya wajah bulat penuh lemak yang selalu ditempeli jerawat.</p>
<p>Aku mendesah putus asa. Mungkin memang tak ada lagi jodoh yang tersisa untukku.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Gimana sih rasanya cinta?</p>
<p>“Kayak ada di awang-awang… Hm…” itu kata David, cowok klub sastra kelas sebelah.</p>
<p>“Hitam. 500 cc. Empat tak.” Ini komentar Dix, cowok <em>gothic</em> yang terkenal sama bengkel motornya.</p>
<p>“Indah. Bagaikan oase di tengah padang pasir.”</p>
<p>Nah! Kalo ini katanya Edgar, cowok sok puitis yang sering tebar pesona ke kelas orang.</p>
<p>“Rasa sop kecoa.”</p>
<p>Ah, ini mah celetukannya Lucas yang kayaknya emang udah ngerasain berbagai macam makanan, dan konon punya resep rahasia biar tetep kurus meski makan mulu.</p>
<p>“Hm…. Ng…. Aaa… Hhhh… apa yak pertanyaannya?” Ezra yang suer banget lemotnya ngalahin Oneng itu, gayanya sambil miringin kepalanya.</p>
<p>“Eee, apa penting ya?” Zein yang dingin sedingin kutub utara, malahan balik nanya dan melengos, nerusin bengongnya yang tertunda.</p>
<p>Cowok-cowok dalam rubrik <em>Cute Boys on Talk</em> yang baru kuwawancarai ini, boleh ngaku kalo mereka ganteng… tapi mereka semua PAYAH karena udah mengungkapkan sesuatu yang salah!</p>
<p>Karena besoknya, seperti yang sudah diramalkan oleh majalah Times, Gadis, Aneka Cemerlang, eeh, yang terakhir ini udah mendiang ya? Pendeknya, berbagai media massa lainnya, Lando langsung nyuekin aku.</p>
<p><em>See?</em> Inilah cinta. Kau bisa berlari mengejarnya, tapi begitu terjatuh sekali… <em>bye-bye</em>!</p>
<p>Aku tertunduk lesu di seberang jalan sepulang sekolah. Lando baru aja lewat dengan cewek baru di boncengannya. Hampir aja aku mengejar motornya dan ngelakuin hal gila, jambak cewek itu, misalnya. Untung aku inget, kalo sekarang lagi nungguin sobatku.</p>
<p>“Hei, bengong aza, ah!” seru Shelly sambil ngegandeng tangan Ezra. Yeah… salah satu cowok beken di sekolah itu loh. Cowok lemot yang kalo dipikir-pikir bener-bener ngegemesin.</p>
<p>“Chelly Cay, emang kita gak jadi nonton DVD di rumah gw ya? Kok nyapa dia sih?” tanya Ezra cemberut.</p>
<p>Shelly mencubit pipi cowok itu sebelum menepuknya. Aduuuh! Lagi ujian semesteran gini masih aja pacaran! Lagian apa ka si lemot tadi, Chelly Cay? Fheeew, segitunya dicadel-cadelin?</p>
<p>“Gini, Zie… gw sama Ezra mau nonton di…”</p>
<p>“Okey. Gapapa. Gw bisa pulang sendiri,” potongku dengan senyum dipaksa. Dan terus tersenyum gitu sampe Shelly pergi.</p>
<p>Aku melototin Ezra kesel. Cowok lemot nyebelin! Gimana bisa cowok kayak gitu jadian sama Shelly yang berkawat gigi, berkulit hitam dan penuh jerawat?! Eeee, tapi meskipun gitu-gitu juga, Ezra sayang banget sama Shelly. Apapun yang ntu cewek mau, pasti dikasih. Dan selalu cemburu kalo ada cowok yang deket-deket Shelly.</p>
<p>Gimana ya rasanya dicemburuin? Aku pengen jadi Shelly. Pasti rasanya indah banget disayang sama orang sampe segitunya. Khayalku berhenti waktu aku sadar sesuatu yang aneh. Aku iri. Ya, ampun! Ini malu-maluin! Aku iri sama pasangan aneh itu? Gilaaa meeen!</p>
<p>Kurasa aku harus ke psikiater. Setelah menyia-nyiakan Lando, sekarang aku iri sama Shelly dan Ezra. Selanjutnya apa? Berubah cita-cita jadi Sailormoon? Rasa-rasanya aku harus pasrah deh dengan masalah nggak-akan-punya-cowok ini.</p>
<p>Sambil ngehela napas capek (aku bener-bener capek sama hubungan cewek-cowok!) aku menaiki angkot. Cuma beberapa meter sebenarnya, tapi lagi males jalan kaki dengan otak bete.</p>
<p>“Stooop, pinggiiir!” teriakku selang sesaat.</p>
<p>Waktu mau nyari uang di tas, tanganku menemukan sehelai kertas bertuliskan… <em>Maaf. Rasanya kita nggak akan bisa jadian deh. Bukan karena bokap-nyokap loe, tapi karena kita nggak klop aja. Lando.</em></p>
<p>Aku mendengus cuek. Meski otakku terus memikirkannya. Ah, ya! Tentu aja… betapa egoisnya aku menyalahkan Mama-Papa padahal cowok-cowok itu nggak mau karena masalahnya ada pada diriku sendiri.</p>
<p><em>Gw gak peduli!</em> Jeritku dalam hati walau mataku berlinang airmata. Aku mengeluarkan tanganku dari jendela dengan marah untuk membuang kertas itu jauh-jauh. Tapi…</p>
<p>JEDUG! BRAK!</p>
<p>Cekiiit! Tiiin, tiiin! Ups? Sebuah motor GP 500 tergeletak dengan pengendaranya. Karena aku! Tepatnya karena mo ngehindar tanganku yang ngulur cuek dari jendela angkot?</p>
<p>“Maaf! Maaf!” Aku loncat dari angkot, ngeburu korban gara-gara diriku. Aduh! Motornya keren banget! Aku teringat sama obrolan Ezra, motor kayak gini harganya bisa dua-tiga ratus juta. Aduh! Mati deh! Semoga motornya nggak rusak!</p>
<p>Tapi perhatianku ke motor GP itu langsung tersita begitu ngeliat tetesan darah dari sudut-sudut mulut cowok itu. Aw! Aku meringis begitu ngeliat lukanya. Berbaret! Aku ngelirik kerikil-kerikil tajam yang ada di bawahku… ya ampun! Pasti sakit banget!</p>
<p>“Panas. Pipi gw panas.” Gumam cowok itu tenang meskipun wajahnya sekarang udah belepotan darah. Buru-buru aku lari ke warung terdekat dan kembali lagi dengan air es.</p>
<p>Tanpa babibu dan pikir panjang, aku coba bantu dia buat bersihin lukanya. Perasaanku ngeri banget. Beberapa saat aku menunggu cacian keluar dari mulut cowok itu. Hmm, pasti sebelumnya tampangnya cakep banget. Lebih cakep dari Lando bahkan siapapun deh. Tapi itu dulu. Sebelum ketemu aku.</p>
<p>Aku cuma bisa berdoa semoga luka itu nggak berbekas.</p>
<p>“Dingin.” Komentar cowok itu lama. “Nama loe siapa?” cowok itu mengamati seragam batik sekolahku.</p>
<p>“Azzie. Maaf ya, maaf!” ulangku gugup sekali.</p>
<p>“Biasa aja kenapa sih? Lagian ini salah gw juga kok. Nggak pake helm. Azzie… hm… kelas berapa?” pertanyaannya bikin aku deg-degan.</p>
<p>Prasangka demi prasangka mulai bermunculan. Ah, masa sih cakep-cakep gini mau ngaduin gw ke sekolah? Tapi… bisa aja! Dia kan cakep, pasti dia ngerasa dirugiin sama luka ini!</p>
<p>“Se-sepuluh enam,” desisku kaku.</p>
<p>Cowok itu ketawa dan langsung berhenti sedetik kemudian. Kayaknya dia kesakitan! Aku buru-buru menghampirinya, kepingin mencermati kondisinya dari jarak lebih dekat. Tapi… uuups! Aku tersandung kaki sendiri, maka tak pelak lagi seember air es tumpah tepat di kepala cowok itu.</p>
<p>“Maaf! Maaf! Maaf!” kataku berulang-ulang. Tapi cowok itu cuma memamerkan gingsulnya dan senyuman super manis itu muncul.</p>
<p>“Cewek unik.” Gumamnya sambil mengusap mataku yang masih sembab pake saputangan. “Kenapa nangis?”</p>
<p>“Gw bener-bener heran sama orang yang bikin loe nangis… cewek itu kan diciptakan dari tulang rusuk cowok. Bukan dari tulang kaki sebagai bawahan atau pembantu. Bukan juga dari kepala, sebagai atasan kaum cowok. Tapi dari tulang rusuk. Dekat dengan lengan untuk dilindungi. Dekat dengan hati untuk dicintai…”</p>
<p>Kata-katanya indah. Membuatku hampir simpati… kalo aja aku nggak inget pergi les.</p>
<p>“Ah! Gw mau les dulu! Maaf ya? Dah!” aku melambaikan tangan sambil menjauh.</p>
<p>“Nama gw Ksatria.”</p>
<p>“Ha? So wooot gitu loooh?” Tapi cowok itu cuma nyengir sekilas, ngasih liat gigi depannya yang berjejer rapi.</p>
<p>“Biar loe bisa nyebut nama gw di mimpi.” Cowok gila!</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Ujian smester udah lewat… yang paling nyedihin, liburannya pun udah lewat. Segerombolan anak kelas sepuluh ngumpul di depan kelasku.</p>
<p>“Ada apa?” tanyaku ke arah Shelly yang bertampang kuyu.</p>
<p>Hehehe… tau gak, dia udah putus lho sama Ezra. Aku tau, kejam banget berbahagia di atas penderitaan orang. Tapi, asyik kan? Jomblo rame-rame!</p>
<p>“Loe sih, kemaren kesiangan sampe nggak dibolehin masuk… jadi nggak tau kan ada anak baru lagi di kelas kita.”</p>
<p>“Namanya siapa?” tanyaku penasaran.</p>
<p>“Dia nggak mau nyebutin nama. Tiap ditanya, selalu ngehindar. Kelas kita kan nggak ada perkenalannya. Mana kemaren cuma upacara doang, jadi kita nggak tau namanya di daftar absen…”</p>
<p>“Tuh, dia tau nama gw!” Sosok tinggi mendadak muncul di depan hidungku, langsung menuding ke arahku.</p>
<p>Aneh, mendadak juga semua orang, termasuk Shelly pamit mundur dari hadapanku. Cuma ada dia. Oh, <em>my God</em>! Apa mungkin dia ke sini untuk balas dendam? Apa dia sejahat itu? Tapi di komik-komik kan sering muncul yang kayak gitu!</p>
<p>“Maaf! Maaf! Maaf!” seruku menyesal waktu Ksatria mendekat.</p>
<p>Mau meninjuku? Menyilet-nyilet mukaku? Aduuuh, jangan dong! Nggak disilet pun tampangku udah nggak laku…</p>
<p>“Ngucapin sesuatu tuh sekali aja! Bakal lebih terasa <em>feeling</em>-nya.”</p>
<p>Dia seperti mo ngebisikkin sesuatu di telingaku. Watchaaau, ini gilaaa meeen! Mendingan buru-buru cabut. Aku gak nyesel ngehindarin cowok seganteng apapun. Sekarang aku sudah nyadar, jomblo sejak lahir sampai waktunya tiba, gak masalaaah!</p>
<p>Aku yakin seyakin-yakinnya, Allah itu Maha Kasih. Dia tentu sudah merencanakan segalanya yang terbaik buatku.[]</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Adzimattinur Siregar; lahir di Jakarta, 10 Februari 1990, penulis lima buku; </em><em>Cover Boy Lemot; Cool…Man!; Amerika… Siapa Takut?; (Zikrul Hakim); </em><em>Meski Pialaku Terbang (Gema Insani Press); dan </em><em>Loving U (Cakrawala). Siswa kelas 1 SMAN 3 Depok, putri Pipiet Senja dan aktif juga di FLP (Forum Lingkar Pena).</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Juli 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/born-2-be-jomblo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Miskin</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/orang-miskin</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/orang-miskin#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 10:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2654</guid>
		<description><![CDATA[By: Imraatul Aziizah
Jujur saja aku paling tidak suka kalau ada orang yang nanya, “Berapa sebulan?” Apalagi ditambah celetukan, “Eh Nis, kamu sih enak bisa beli semua yang kamu suka. Kirimanmu kan gede, beda dengan kita-kita yang kiriman sebulan cuma cukup untuk makan dan sewa kamar doang.”
Dulu di tempat kos lama aku sering banget beradu mulut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Imraatul Aziizah</strong></p>
<p>Jujur saja aku paling tidak suka kalau ada orang yang nanya, “Berapa sebulan?” Apalagi ditambah celetukan, “Eh Nis, kamu sih enak bisa beli semua yang kamu suka. Kirimanmu kan gede, beda dengan kita-kita yang kiriman sebulan cuma cukup untuk makan dan sewa kamar doang.”</p>
<p>Dulu di tempat kos lama aku sering banget beradu mulut dengan teman-temanku gara-gara masalah <em>fulus</em> dan beasiswa dari ortu ini. Yang sering menjadi bahan pembicaraan teman-temanku yaitu penghuni baru, adalah koleksi bukuku tiap bulan paling tidak ada satu. But cuek aka. Aku kan membelanjakan hartaku bukan dalam rangka bermaksiyat kepada Allah.</p>
<p>Kadang aku heran dengan mereka. Katanya uangnya hanya cukup untuk makan dan sewa kamar, tapi setiap bulan mereka pasti pake baju baru atau kerudung baru. Padahal aku saja baru beli baju baru setelah dua semester (ngiri nih ceritanya).<span id="more-2654"></span></p>
<p>Di kos baru ini aku lebih bahagia, pasalnya teman-temanku nggak ada yang mempermasalahkan beasiswaku. <em>So</em>, aku nyantai aja beli buku sebanyak yang aku suka.</p>
<p>Dengan berjalannya waktu aku sadar kalo ternyata teman sekamarku tak seberuntung diriku. Untuk biaya kuliah dia memenag masih mengandalkan kiriman orang tuanya plus beasiswa yang dia dapatkan dari universitas. Untung saja SPP di kampusku tergolong paling murah di jajaran universitas yang ada di Pulau Jawa ini. Namun untuk kebutuhan sehari-hari dia harus kerja memeras otak dan keringat.</p>
<p>Sebagai seorang muslim aku tidak boleh membiarkan saudaraku kelaparan sementara aku tidur dalam kondisi kenyang dan tidak khawatir terhadap apa yang akan kumakan besok. Kuputuskan saja untuk berbagi makanan dengannya. Kukatakan kepadanya kalau uang untuk jatah makannya ditabung saja untuk biaya tugas akhir kuliah yang tidak sedikit itu.</p>
<p>Mulanya sih dia menolak dengan alasan “ Malu”, tapi aku tetap memaksanya untuk menerima bantuanku. Karena aku tahu sebenarnya dia sangat membutuhkannya. Temanku ini agak sedikit tertutup, mulanya dia menolak untuk bercerita tentang keadaan keluarganya dan juga rumahnya. Namun suatu saat ketika kami membicarakan orang-orang yang tak seberuntung diriku, dia muali sedikit demi sedikit membuka diri untuk menceritakan <em>about her family</em>.</p>
<p>Menurut pengakuannya, semula dia adalah putri seorang camat yang merangkap sebagai kepala sekolah di sebuah SMA yang terkemuka di kotanya. Keadaanya tak jauh berbeda dengan diriku, bahkan boleh kukatakan lebih baik dari keadaan keluargaku sekarang, hingga suatu saat keluarganya diuji. Ayahnya difitnah melakukan korupsi di kecamatan yang dipimpinnya.</p>
<p>Efeknya jabatan kepala sekolah pun terancam punah. Puncaknya yaitu ketika sebagian besar warga yang telah terprovokasi mengadak demonstrasi menuntut pengunduran diri bapak camat itu. Akhirnya dari pada fitnah itu berlanjut, ayah Nana pun mengundurkan diri dari jabatannya sebagai camat sekaligus sebagai kepala sekolah meski banyak murid-murid yang tidak setuju. Dan kini ayahnya bekerja sebagai buruh tani untuk menghidupi ibunya, dirinya dan ketiga adiknya.</p>
<p>“Nis, aku harus kerja dan juga harus segera lulus agar beban ayahku berkurang satu.”</p>
<p>Selama ini kisah-kisah mengharukan itu hanya kulihat didalam senetron ataupun pada beberapa <em>reality show</em> yang ada ditelevisi. Tapi kini aku benar-benar melihatnya dan mendengarnya.</p>
<p>“Aku hanya bisa meminjamimu sedikit, untuk modal dagang. Kembangkan sendiri aja agar bisa menambah penghasilanmu.” Sebenarnya aku ingin membantunya sebanyak mungkin, tapi aku pun membutuhkannya untuk biaya praktikumku yang tidak sedikit.</p>
<p>“Na aku nggak bisa bayangin bagaimana kesusahanmu dengan keadaan yang menimpamu.” Nana hanya tersenyum tipis kepadaku.</p>
<p>“Nisa, kamu nggak akan pernah bisa membayangkan keadaanku karena kamu belum pernah mengalami situasi ini. Maksudku jika kamu belum pernah berada dalam situasi sepertiku. Apalagi mereka yang ada di birokrasi pemerintahan,” kulihat air matanya mengalir, seberkas kekecewaan tersembur dari pancaran matanya.</p>
<p>Jujur ya sebenarnya aku jengkel juga, maniez-maniez gini aku juga pernah berada dalam kondisi susah. Sampai-sampai untuk lauk makan malam kami terbiasa dengan sebuah telor dadar yang dibagi empat. <em>So</em>, masing-masing orang dapat seperempat. Tapi setiap hari kami masih bisa makan, soalnya untuk beras kami nikmati dari hasil panen sendiri. Meskipun demikian jangan salah kondisi kami adalah yang termiskin di antara anggota keluaga ayahku saat itu. Tapi memang sih nggak sebanding dengan apa yang dialami Nana sekeluarga.</p>
<p>Perutku sudah mulai berdemonstrasi, parahnya lagunya <em>Slank</em> yang dijadikan yel-yel.</p>
<p>“Tenang, setengah jam lagi penjual nasgor keliling pasti lewat,”  aku mencoba menghibur diri.</p>
<p>Duk-duk…duk-duk…duk-duk…</p>
<p>Yes! Akirnya lewat juga. Aku bergegas memakai jubah kebesaranku dan mengambil dompet untuk menyongsong sang nasi goreng. Tapi…. Keringatku mulai mengalir ketika tak kulihat dompet kesayanganku berada di tempat biasanya.</p>
<p>“Ya Allah, di mana kuletakkan dompetku?” Kucoba  mengingat kembali di mana aku meletakkanya. Perutku jadi tak lapar lagi.</p>
<p>“Na……tahu dompetku nggak?” Kuharap Nana tahu di mana kuletakkan dompetku.</p>
<p>“Bukankah tadi kau letakkan dompet itu di saku jaketmu ketika kita ke kota sore tadi?” Rini yang ada di ruang tamu nggak mau ketinggalan unjuk gigi.</p>
<p>“Trus di mana ya selanjutnya? Masa’ jatuh sih?” Teman-temanku serempak menggelengkan kepala. Tapi bisa jadi, sebenarnya tadi aku merasa ada sesuatu yang jatuh di tengah perjalanan. Tapi tak kuhiraukan.</p>
<p>Aku nggak tahu lagi bagaimana nasibku seandainya dompet itu benar-benar jatuh. Tiga lembar uang lima puluh ribuan, sebuah kartu ATM, SIM, plus STNK sepeda motorku, KTP, dan terakhir kartu mahasiswaku. Seluruh persendianku terasa tak bertenaga manakala kuingat hartaku yang ada di sana.</p>
<p>“Ya Allah, jika itu adalah rizkiku pasti dompet itu akan kembali padaku,” kucoba untuk meyakinkan diriku atas qadha Allah ini. Mati satu tumbuh seribu, permasalahannya saat ini aku tidak bisa mengambil uang jatahku untuk bulan ini. Lebih-lebih saat ini masih tanggal muda sekali. Yang pasti aku harus mengencangkan ikat pinggang agar bisa hidup sampai bulan depan.</p>
<p>Dengan hilangnya dompet ini aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya kekurangan. Jika hari ini aku bisa makan, nggak tahu besok makan apa. Belum lagi tugas kuliah. Pusing!!!</p>
<p>Biasanya waktu istirahat aku makan bareng teman-temanku di kantin, kali ini aku cukup dengan satu botol air minum yang kubawa dari rumah. Perih juga sih kalau melihat mereka bersuka cita dengan makanan mereka. Apalagi kalau mereka membeli beberapa makanan kecil untuk persediaan energi selama kuliah, aku hanya bisa menelen ludah saja. Kecuali jika ada gratisan, sungguh benar-benar kebahagiaan yang tak tertandingi.</p>
<p>“Na&#8230;&#8230;&#8230; ternyata seperti ini jadi orang miskin. Jika nggak kuat iman, bisa-bisa aku masuk acara <em>Buser</em> di televisi,” orang yang ada disampingku hanya tersenyum tipis.</p>
<p>“Makanya Nis, banyak orang  yang melakukan tindakan kriminal dengan motif ekonomi. Soalnya perbedaan antara si kaya dan si miskin <em>it’s so far away</em>. Siapa sih yang nggak ingin hidup cukup? Cukup makan, cukup tidur, cukup sandang, cukup tempat tinggal, cukup sehat, de el el. Semua juga mau. Jangankan kita, saudara-saudaraku para pengemis, pemulung, gelandangan, anak-anak terlantar, juga korban penggusuran seperti di Jakarta itu pengen hidup enak,” kata-kata Nana cukup pedas.</p>
<p>“Nis, rasa lapar yang kamu rasakan baru seminggu ini masih amat sebentar. Tahu nggak, para pengemis dan kawan-kawannya itu merasakan keadaan seperti kamu ini sudah bertahun-tahun tanpa tahu kapan berakhirnya. Kalo kamu sih masih ada orang tuamu yang bisa kamu andalkan untuk mengentasmu dari kemiskinan.” Waduh aku kena lagi.</p>
<p>“Mereka siapa yang menolong? Kapan mereka merasakan kesejahteraan hidup yang katanya di urus oleh negara itu?” Nana melemparkan buku yang ada di tangannya sebagai tanda dia sedang marah besar.</p>
<p>“Pemerintah brengsek! Kapitalis biadab!”</p>
<p>Dipungutnya kembali buku yang telah dilempar, kemudian diusapnya air mata yang sempat meleleh dari kedua pelupuk matanya.</p>
<p>Tapi benar juga apa yang dikatakan Nana, ini semua kan tanggung jawab negara. Coba ada kepala negara seperti Umar bin Khaththab, mana ada anak-anak yang habitatnya di lampu merah.</p>
<p>“Permasalahannya, mereka yang katanya wakil rakyat itu nggak pernah merasakan kelaparan yang sangat seperti nasib seperti mereka. Jadi wajar kalo mereka nggak perduli dengan nasib saudara-saudaramu tadi.” Mata Nana melotot seperti mau lepas landas dari kelopak matanya.</p>
<p>“Ehm saudaraku juga!”</p>
<p>“Barangkali saat ini kudoakan saja agar mereka yang punya saham bangkrut, atau uangnya jatuh berhamburan terus bisa ditemukan sama yang membutuhkan,” kataku asal.</p>
<p>“That’s not the soution.”</p>
<p>“So what?” Tanyaku bersemangat.</p>
<p>“Solusinya adalah bagaimana kita mengangkat pemimpin seperti Umar bin Khaththab dan menjalankan sistem yang tidak membiarkan adanya rakyat yang terlantar, begitu.” Jawab Nana mantap.</p>
<p>“Ya, cuma Daulah Khilafah Islamiyah yang bisa membawa kesejahteraan. Allahuakbar.” Sahutku bersemangat. “Tapi ngomong-ngomong aku lapar nih, sudah seharian nggak makan.” Nana tersenyum sambil membawa sepiring penuh nasi lengkap dengan sambal, dua iris mentimun, dan dua buah tempe goreng. Nggak nyangka lho aku bisa hidup sehemat ini.</p>
<p>Dan yang nggak kalah penting aku bisa merasakan betapa nikmatnya bisa makan meskipun seadanya, tanpa <em>beef stik</em>, <em>fried chiken</em>, atau apalah itu yang katanya enak.</p>
<p>“Ya Allah, terima kasih Engkau sudah membuat dompetku hilang. Seandainya tidak hilang mana tahu hamba rasnya menjadi orang miskin.” Tak terasa air mataku mengalir.</p>
<p>“Nis kamu nangis ya?” Tanya Nana kepadaku. Kutundukkan kepalaku, malu sih ketahuan nangis.</p>
<p>“Aih pantesan nasinya jadi asin.” Rasanya mukaku jadi seperti tomat kepencet.[]</p>
<p><em><strong>BOX:</strong></em></p>
<p><em>Imraatul Aziizah adalah nama pena dari Anita Sutrisnawati. Lahir di Banyuwangi 9 Desember 1984. Kini sedang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Negeri Malang Jurusan Biologi (Program Studi Kependidikan) semester VI.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Agustus 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/orang-miskin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membekali Remaja dengan Agama</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/membekali-remaja-dengan-agama</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/membekali-remaja-dengan-agama#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 08:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2570</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti

Agama adalah pegangan hidup kita. Jangan heran jika kita hidup tanpa bimbingan ajaran agama, hidup kita terasa sempit dan gersang. Itu sebabnya, saya selalu mendahulukan pendidikan agama untuk anak-anak dan keluarga saya. Bahkan harus sejak dini diajarkan kepada mereka. Menerapkan disiplin dan tanggung jawab, misalnya. Ketika anak saya masih kecil, yang bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Agama adalah pegangan hidup kita. Jangan heran jika kita hidup tanpa bimbingan ajaran agama, hidup kita terasa sempit dan gersang. Itu sebabnya, saya selalu mendahulukan pendidikan agama untuk anak-anak dan keluarga saya. Bahkan harus sejak dini diajarkan kepada mereka. Menerapkan disiplin dan tanggung jawab, misalnya. Ketika anak saya masih kecil, yang bisa saya lakukan adalah berusaha memberi teladan yang baik dalam berperilaku di hadapan dia.</p>
<p dir="ltr">Untuk membina kepribadiannya, jika pun ada perbedaan pendapat dalam banyak hal dengan istri saya, saya berusaha untuk menghindari &#8216;pertengakaran&#8217; di depan anak-anak. Sebab, ia akan merekam apa yang dilihatnya dari perilaku orangtuanya. Sedikit-banyaknya hal ini akan membekas dalam memorinya dan terbawa sampai besar. Dan tentunya itu akan mempengaruhi kehidupannya.<span id="more-2570"></span></p>
<p dir="ltr">Pendidikan agama pun tidak cukup hanya diberikan di rumah. Untuk itu saya mencarikan sekolah yang bisa menempa anak saya dengan ajaran Islam yang bagus. Itu sebabnya, saya usahakan ketika anak itu bersosialisasi dengan teman mainnya, harus dalam suasana yang islami pula. Ia terbiasa toleran dengan temannya, empati, saling mencintai dan pandai menghargai.</p>
<p dir="ltr">Kalau saya lihat saat ini, banyak keluarga muslim yang sepertinya lebih mementingkan mutu sekolah dalam hal akademiknya saja, tapi miskin dalam nilai dan ajaran Islam. Sehingga, tak jarang yang memasukkan anak-anaknya ke sekolah non-Islam. Padahal itu sangat berbahaya bagi kehidupan anak-anak dan remaja yang sedang membentuk jati dirinya. Sebab, banyak fakta bahwa sekolah non-Islam seringkali mengharuskan seluruh siswanya mengikuti tatacara ibadah mereka. Bukankah ini akan merusak kehidupannya?</p>
<p dir="ltr">Tidak bisa dipungkiri bahwa remaja memang membutuhkan bekal pendidikan agama yang memadai. Inilah yang harus diperhatikan oleh para orangtua. Janganlah hanya karena ingin mendapatkan prestasi bagus dalam nilai-nilai akademiknya, lalu mengabaikan pendidikan agama yang sebenarnya lebih wajib. Maraknya tawuran, seks bebas, terlibat narkoba, lebih disebabkan mereka tidak mengenal agama sebagai pandangan hidup yang harus dipahami, ditaati dan diamalkan.</p>
<p dir="ltr">Saat ini pelajaran agama memang diberikan, tapi tidak membekas bagi kehidupan para siswa. Boleh jadi karena disampaikan dengan normatif belaka. Coba, jika pendidikan agama disampaikan dengan tekanan bahwa ini harus dipelajari, dipahami, dan diamalkan, insya Allah para siswa akan merasa bahwa agama bukan semata-mata tempat untuk mencari ketenangan batin belaka. Tapi akan dipahami sebagai pandangan hidup yang wajib diperjuangkan.</p>
<p dir="ltr">Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal dalam membekali remaja dengan pendidikan agama, dibutuhkan peran negara yang serius. Tanpa peran negara, upaya pendidikan agama dan juga pendidikan yang lain masih jauh panggang dari api jika harus mengukur keberhasilannya. Artinya, dibutuhkan peran yang besar dari negara, selain tentunya peran masyarakat dan keluarga tetap menjadi tumpuan. Jadi, jangan abaikan pendidikan agama! []</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juli 2003]</em></p>
<p dir="ltr">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/membekali-remaja-dengan-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis itu GAMPANG, Tapi ADA CARANYA</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-itu-gampang-tapi-ada-caranya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-itu-gampang-tapi-ada-caranya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 02:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kursus]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2608</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Salam sukses buat semuanya&#8230;
Menulis itu gampang? Saya sendiri berani mengatakan gampang, bukan karena saya sudah bisa, tapi karena saya melihat banyak orang bisa menulis, berarti keterampilan ini bisa dipelajari. Menulis adalah keterampilan? Betul. Sama seperti naik sepeda atau mengendarai mobil. Makin sering dilatih, makin lihailah kita. Saya waktu kecil masih inget sering minjem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em><br />
Salam sukses buat semuanya&#8230;</p>
<p>Menulis itu gampang? Saya sendiri berani mengatakan gampang, bukan karena saya sudah bisa, tapi karena saya melihat banyak orang bisa menulis, berarti keterampilan ini bisa dipelajari. Menulis adalah keterampilan? Betul. Sama seperti naik sepeda atau mengendarai mobil. Makin sering dilatih, makin lihailah kita. Saya waktu kecil masih inget sering minjem sepeda adiknya nenek saya, sepeda ontel. Saya tertantang untuk bisa. Saya coba kayuh sekali, jatuh. Saya mencoba menyeimbangkan badan saat kaki sebelah kanan menginjak pedal sepeda dan kaki kiri masih menginjak tanah. Saja coba jalankan sepeda dengan kaki kanan menginjak pedal dan kaki kiri menginjak tanah. Terus seperti itu sambil mencoba menjalankan sepeda. Sesekali saya mencoba kaki kiri untuk ikut mengayuh pedal, tapi sepeda sempoyongan ke kiri. Gubrak! Saya jatuh. Tapi mencoba bangun lagi. Terus seperti itu. Saya lupa persisnya berapa hari berlatih naik sepeda, tapi seingat saya dua pekan setelah sering jatuh, saya mulai bisa menyeimbangkan badan dan mengayuh sepeda dengan dua kaki. Tapi saya masih “seureudeug” alias gerasak-gerusuk dan akhirnya, beberapa kali sukses masuk solokan ketika menghindari pejalan kaki. Hehehe.. <span id="more-2608"></span></p>
<p>Tapi, perjuangan dan motivasi saya untuk bisa naik sepeda akhirnya berbuah hasil. Tak sampai sebulan saya sudah bisa naik sepeda. Makin sering dilakukan, makin lihailah saya. Sampai-sampai berani untuk tak pegang stang sepeda. Cihuy! Akhirnya bisa juga naik sepeda!</p>
<p>Kembali kita bahas tentang menulis. Menulis itu bukan bakat. Menulis adalah keterampilan. Tak ada bukti-bukti khusus bahwa seseorang bisa menulis dilihat dari wajah, jari-jari tangan, atau keturunannya. Tidak sama sekali. Menulis itu dipelajari. Sementara cara belajar setiap orang pasti berbeda-beda. Tidak sama. Jika dikatakan bahwa dengan belajar orang menjadi bisa. Insya Allah memang akan bisa jika belajar. Tapi jika ditanya apakah semua orang yang belajar akan sama keahliannya, saya memilih menjawab tidak. Sebab, di sekolah sepakbola misalnya, orang belajar dengan pelatih yang sama, waktu belajarnya juga sama, di kelas yang sama. Buku panduan (jika ada) juga sama. Bayar biaya sekolah sepakbolanya pun sama. Tapi, kenapa ada yang menjadi bintang lapangan dengan keahlian yang di atas rata-rata pemain lain? Ini bukan bicara bakat, tapi latihan. Ronaldinho atau Cristiano Ronaldo, memiliki waktu khusus untuk menempa kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Berlatih lebih banyak dibanding pemain lainnya. Ini menjadi bukti bahwa keterampilan itu semakin diasah akan semakin bagus.</p>
<p>Menulis itu keterampilan, jadi butuh waktu khusus, butuh latihan khusus, butuh motivasi. Saya juga dulu tak bisa menulis. Bahkan sekadar menulis kata pertama untuk sebuah tulisan susahnya minta maaf (hehehe.. bosan pake kata “ampun”). Iya. Sering saya bermenit-menit memikirkan kata apa yag pertama kali harus ditulis. Ini ternyata sebuah kesalahan. Seharusnya langsung saja ditulis yang ada di benak kita saat itu. Sama seperti saya waktu belajar naik sepeda. Saya langsung nyoba. Tidak perlu berpikir lama menimbang-nimbang, saya harus mendorong dulu sepeda atau langsung menginjak pedal sepeda untuk mencoba menjalankan sepeda. Saya tidak peduli. Langsung coba. Nah, setelah tahu seperti itu, saya akhirnya menulis menjadi lebih cepat karena langsung menuliskan apa pun yang ada di pikiran kita.</p>
<p>Lha, bukankah akan berantakan nantinya? Benar sekali. Bisa dikatakan 90% pasti “acak-adut” tak karuan. Tapi, target saya waktu itu adalah bisa menuangkan gagasan melalui tulisan secepat mungkin. Saya terus melakukan seperti itu. Hingga akhirnya lancar menuangkan gagasan. Baru setelah merasa yakin bisa dengan mudah untuk memulai menulis, bagian berikutnya adalah membaca ulang naskah yang sudah ditulis. Jika ada yang kurang bagus, diperbaiki bahasanya, kalimatnya, isinya, pilihan katanya dan sistematikanya. Ini artinya, menulis bukanlah keterampilan instan. Tapi harus sering dilatih dengan serius. Latihannya apa? Tentu saja menulis. Selain juga membaca untuk menyiapkan “amunisinya” sebagai bahan tulisan. So, yang perlu diubah pertama kali adalah cara pandang dan motivasi. Ubah cara pandang kita selama ini bahwa menulis itu susah. Tolong ubah cara pandang tersebut. Kita harus berani katakan, bahwa menulis itu gampang, asal mau melatihnya. Menjadi penulis itu bukan impian, asalkan kita mampu mempertahankan dan meningkatkan motivasi yang kita miliki untuk berlatih dan belajar. Jadi, menulis itu memang gampang, tapi ada caranya.</p>
<p>Ok deh, sebelum mengakhiri tulisan singkat ini&#8211;yang mungkin terkesan sekadarnya saja&#8211;saya ingin menyampaikan informasi, bagi teman-teman yang ingin berbagi dan mencari ilmu tentang menulis, silakan klik saja: [<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span>ihin.com</a>]. Insya Allah banyak tips-tips seputar kepenulisan. Gratis.</p>
<p>Namun demikian, saya juga menyediakan tempat dan waktu khusus yang dikelola secara profesional dan berbayar bagi yang ingin serius belajar dan berkonsultasi seputar penulisan di Kursus Menulis Online. Informasi lengkapnya bisa dilihat pada LINK berikut ini:</p>
<blockquote><p>====<br />
Dibuka Kelas Baru. Kursus Menulis Online, Penulisan FIKSI.<br />
INFO lengkap, silakan klik LINK berikut ini:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/07/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-fiksi/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span><span>ihin.com/2009/07/kelas-bar</span><span>u-kursus-menulis-online-pe</span>nulisan-fiksi/</a></p>
<p>Dibuka Kelas Baru. Kursus Menulis Online, Penulisan NONFIKSI.<br />
INFO lengkap, silakan klik LINK berikut ini:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/07/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-nonfiksi/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span><span>ihin.com/2009/07/kelas-bar</span><span>u-kursus-menulis-online-pe</span>nulisan-nonfiksi/</a><br />
====</p></blockquote>
<p>Bagi teman-teman yang sudah mulai bisa menulis atau ingin mengasah kemampuan menulis, saya mengajak teman-teman untuk menjadi kontributor di website tersebut. Caranya mudah, jika Anda punya account Facebook, bisa langsung login di sana menggunakan email dan password Anda sendiri. Saya sudah “mencangkokkan” Facebook Connect di website Menulis Kreatif tersebut. Setelah login, secara otomatis Anda sudah menjadi kontributor di website komunitas Menulis Kreatif. Dan, ditunggu karya-karya Anda yang inspiratif, mencerahkan, bermanfaat dan memberi solusi untuk berbagi dengan siapa pun. Untuk lengkapnya, silakan baca terlebih dahulu FAQ-nya pada LINK di bawah ini:</p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/faq/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span>ihin.com/faq/</a></p>
<p>Ini saja dari saya. Terima kasih sudah sudi membaca pesan ini. Mohon maaf jika ada yang salah dan tak berkenan bagi teman-teman.</p>
<p>Salam sukses dan barokah,</p>
<p>O. Solihin<br />
[<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://osolihin.com/" target="_blank">http://osolihin.com</a> | <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://osolihin.wordpress.com/" target="_blank"><span>http://osolihin.wordpress.</span>com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-itu-gampang-tapi-ada-caranya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Turuti Nafsumu!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-turuti-nafsumu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-turuti-nafsumu#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 23:27:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2568</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti
Satu hal yang seringkali sulit untuk dikendalikan adalah hawa nafsu. Bila hawa nafsu sudah menguasai diri kita, jangan harap kita bisa begitu saja dengan mudah melepaskan diri dari cengkeramannya. Sangat boleh jadi butuh waktu lama untuk bisa menjinakan hawa nafsu. Tidaklah heran jika kemudian kita menjadi budak nafsu. Kita disetir oleh &#8220;makhluk&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p>Satu hal yang seringkali sulit untuk dikendalikan adalah hawa nafsu. Bila hawa nafsu sudah menguasai diri kita, jangan harap kita bisa begitu saja dengan mudah melepaskan diri dari cengkeramannya. Sangat boleh jadi butuh waktu lama untuk bisa menjinakan hawa nafsu. Tidaklah heran jika kemudian kita menjadi budak nafsu. Kita disetir oleh &#8220;makhluk&#8221; yang bernama hawa nafsu. Kita didikte oleh keinginan-keinginan yang muncul dari hati kita, bahkan sebenarnya hawa nafsu cenderung membutakan hati dan akal sehat kita.</p>
<p>Pengalaman saya waktu masih hidup sebagai selebritis. Orang lain yang melihat saya bsia jadi berdecak kagum. Itu sebabnya, di depan orang lain, saya harus tampil semaksimal mungkin demi <em>jaim</em>, alias jaga imej. Maklum saja, sebagai bintang idola, saya harus selalu terlihat lebih istimewa ketimbang penggemarnya. Bila perlu dan memungkinkan saya harus bisa memberikan ciri khas sebagai seorang bintang. Sebab, saya yakin, bila kemudian banyak penggemar yang meniru gaya hidup seperti saya, hati kecil saya merasa bangga dan puas. Itulah namanya idola.<span id="more-2568"></span></p>
<p>Meski terus terang saja, di balik semua itu adakalanya saya merasakan beban berat. Betul-betul berat. Boleh dikatakan, bahwa privasi saya terjajah. Saya terikat kontrak dengan prouduser anu, sudah janji manggung di daerah anu, sudah nanda-tangan untuk konser di tempat tertentu. Terus terang saya terjajah oleh hawa nafsu saya sendiri. Belum lagi merasa was-was bila terus dikejar-kejar penggemar. Ya, awalnya memang asyik jadi selebritis, tapi kian lama kian tersiksa. Senjata makan tuan namanya. Nggak berlebihan tentunya saya katakan demikian.</p>
<p>Betul, dengan menjadikan hawa nafsu sebagai &#8216;tuhan&#8217; kita. Berarti kita telah rela menghamba kepada hawa nafsu. Kita dijajah dan dikendalikan oleh hawa nafsu. Padahal seharusnya, kitalah yang mengendalikan hawa nafsu.</p>
<p>Setelah saya menyadari semua itu, ternyata ada perubahan yang sangat kentara dalam hidup saya. Utamanya bila membandingkan dengan kehidupan ketika menjadi selebriti yang dekat sekali dengan kemaksiatan. Sekarang, meski saya capek karena harus mengisi pengajian di daerah tertentu. Bahkan adakalanya dalam satu sehari harus mengisi di dua tempat yang perbedaan jaraknya cukup jauh. Jadwal saya padat sekali. Tapi alhamdulillah, saya lebih merasa lebih <em>enjoy</em> menikmati hidup. Karena ada nilai ibadahnya. Saya merasa bahagia, karena bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain dalam arti yang sesungguhnya. Rasa capek dan penat, bisa langsung hilang terobati dengan antusiasnya masyarakat yang ingin mendengarkan ceramah saya. Saya berusaha untuk bisa mengalahkan hawa nafsu dan hanya menghamba kepada Allah Swt. yang memang layak untuk disembah, dan kita harus rela menjadi hamba-Nya.</p>
<p>Sebab, bila kita masih merasa betah dengan maksiat, berarti kita masih dijajah oleh hawa nafsu. Jika kita lebih mementingkan untuk menyaksikan tayangan televisi ketimbang sholat, maka kita telah jadi budak nafsu. Jika kita masih getol pacaran, itu artinya kita didikte oleh hawa nafsu kita. Kenapa? Karena kita lebih mementingkan hawa nafsu ketimbang aturan Allah Swt.</p>
<p>Untuk itu, kita butuh solusi agar bisa melepaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu. Pertama adalah menyadari siapa diri kita. Kita harus mengenali diri kita dengan benar. Sebagai seorang muslim, maka belajar adalah cara yang lebih bijak untuk bisa menjadi pandai. Untuk itu, mulailah mengkaji Islam. Sebab, dengan mengkaji Islam, kita bisa tahu mana yang salah dan mana yang benar. Dengan mengkaji Islam pula, insya Allah akan mencerdaskan pemikiran kita, dan tentunya menajamkan kepekaan perasaan kita. Jadi, jangan turuti nafsumu! <em>Wallahu&#8217;alam bishowab</em>[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Agustus 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-turuti-nafsumu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyakit itu Bernama Sombong</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/penyakit-itu-bernama-sombong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/penyakit-itu-bernama-sombong#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 08:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2566</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti
Berada di puncak popularitas seringkali membuat orang lupa diri. Bahkan menganggap orang lain itu remeh. Nggak layak duduk selevel dengan dirinya yang sudah berada di awang-awang. Inilah awal tumbuhnya penyakit hati bernama sombong. Orang bijak mengatakan, bahwa perang yang tidak ada habisnya adalah perang melawan diri sendiri. Musuh yang paling sulit ditaklukkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p>Berada di puncak popularitas seringkali membuat orang lupa diri. Bahkan menganggap orang lain itu remeh. Nggak layak duduk selevel dengan dirinya yang sudah berada di awang-awang. Inilah awal tumbuhnya penyakit hati bernama sombong. Orang bijak mengatakan, bahwa perang yang tidak ada habisnya adalah perang melawan diri sendiri. Musuh yang paling sulit ditaklukkan adalah diri sendiri.</p>
<p>Saya punya pengalaman pribadi soal ini. Saat saya menjadi artis. Bayangkan, saya dulu merasa malu kalau naik mobil yang biasa-biasa aja. Untuk menutupi rasa malu dan tentunya untuk jaga gengsi di hadapan teman-teman sesama artis, termasuk di depan fans, saya terpaksa harus menyewa mobil mewah untuk <em>show</em>. Dalam hati saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya bukan artis murahan. Bahkan ingin menyampaikan pesan bahwa saya artis ngetop dan banyak duit.<span id="more-2566"></span></p>
<p>Itu berlangsung cukup lama. Dan saya tahu betul bahwa ternyata teman-teman sesama artis juga melakukan hal yang sama seperti saya. Sombong. Keinginan untuk pamer harta selalu saja muncul. Sekaligus menaikkan harga diri. Sebab, dengan tunggangan dan tampilan yang seperti itu, masyarakat akan menilai dan mengukur seberapa besar harga diri kita sebagai artis. Ujungnya, masyarakat akan menganggap kita sebagai orang yang layak dibayar dengan harga mahal. Duit lagi urusannya memang.</p>
<p>Saat itu saya merasa harus pol-polan. Bila perlu, biar tekor asal kesohor. Perbuatan saya yang seperti itu, sangat boleh jadi makin ngomporin artis lain untuk tampil lebih jor-joran juga. Sebab, saya merasakan sendiri, bahwa saya juga terbawa pergaulan artis lain. Foya-foya selepas <em>show </em>jadi tradisi. Teman-teman semua dipanggil dan mengadakan pesta. Uang jutaan rupiah hasil manggung seringkali ludes dalam sekejap. Dihamburkan bersama teman-teman dalam pesta kemenangan. Harapannya, mereka menilai saya artis hebat.</p>
<p>Setelah saya menyadari semua kekeliruan itu, saya tobat dan tidak mau melakukannya lagi. Sebab, jika saya berpikir lebih jernih lagi, ternyata yang saya lakukan justru sia-sia dan banyak maksiat. Saya terus merenungi perjalanan hidup saya. Ternyata, meski saya sudah berada di puncak karir, saya merasa tidak ada kebahagiaan di dunia artis. Banyak hal yang menyalahi hati nurani saya.</p>
<p>Memang benar, tanpa sadar banyak orang hidup dalam tekanan. Bukan karena beban terlalu berat; atau kekuatan tak memadai. Namun, karena tidak mau berterus terang. Hidup dalam kepura-puraan tak memberikan kenyamanan. Itu sebabnya, bersikaplah apa adanya. Bila kamu kesulitan, jangan tolak bantuan. Sikap terus terang membuka jalan bagi penerimaan orang lain. Jangan berpura-pura dalam hidup ini, apalagi jika harus sombong untuk menjaga gengsi kita.</p>
<p>Sobat muda, kesombongan memang membuat manusia menjadi anti kebenaran. Merasa dirinya yang paling sempurna dan paling jago. Dan memang, biasanya itu muncul saat kita berada di puncak keberhasilan kita. Misalnya, ketika kita ngetop dan lebih istimewa dalam segala hal; karir, kecerdasan, kekayaan, dan penampilan fisik. Sangat boleh jadi kita merasa sombong manakala orang lain tidak ada yang bisa menyamai apa yang kita miliki.</p>
<p>Firman Allah Swt.: <em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri&#8221;</em> <strong>(TQS an-Nisaa&#8217; [4]: 36)[]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi September 2002]</em><br />
<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/penyakit-itu-bernama-sombong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Melatih Tanggung Jawab</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/puasa-melatih-tanggung-jawab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/puasa-melatih-tanggung-jawab#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 22:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2564</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti
Sejak kecil saya memahami bahwa puasa itu adalah suatu perbuatan yang menguntungkan dan bisa menghapuskan dosa-dosa kita. Sehingga, sejak kecil saya memang sudah melakukan puasa. Kebiasaan itu terus terbawa sampai saya dewasa.
Pernah suatu kali pada tahun 1991, saat saya masih menjadi artis, ada tetangga di daerah Gudang Peluru Jakarta bertanya kepada saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p>Sejak kecil saya memahami bahwa puasa itu adalah suatu perbuatan yang menguntungkan dan bisa menghapuskan dosa-dosa kita. Sehingga, sejak kecil saya memang sudah melakukan puasa. Kebiasaan itu terus terbawa sampai saya dewasa.</p>
<p>Pernah suatu kali pada tahun 1991, saat saya masih menjadi artis, ada tetangga di daerah Gudang Peluru Jakarta bertanya kepada saya tentang makna puasa. Ya, saya jawab sebagaimana pemahaman saya selama ini. Tapi pernyataan tetangga saya berikutnya seperti membalikkan anggapan saya. Menurut beliau, tidak begitu. Sebab, jika di lain waktu kita kembali berbuat maksiat, kembali kepada kebiasaan lama kita, maka itu percuma saja.<span id="more-2564"></span></p>
<p>Saya kaget, dan terus mikir. Jika memang demikian, berarti selama ini puasa saya bisa dikatakan percuma. Sebab, ketika masih jadi artis, saya memanfaatkan sekali puasa ini sebagai sarana untuk penghapusan dosa. Maka, di bulan ramadhan saya sering nyumbang, shadaqah, bahkan tampil sebagai pengisi acara ramadhan. Tapi kemudian, di luar ramadhan, saya kembali manggung, nyanyi dan kumpul bersama teman-teman yang lain.</p>
<p>Setelah saya menyadari apa yang disampaikan tetangga saya itu, kemana-mana saya ngak lepas dari peci, beberapa bulan kemudian saya beranikan diri untuk menunaikan ibadah haji. Makin mantap saja keyakinan saya ingin berubah.</p>
<p>Sekarang, setelah saya menjadi seperti ini, dan juga punya keluarga, saya sangat senang menghadapi ramadhan ini. Sebab, bagi saya selain ramadhan ini bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, saya manfaatkan juga untuk mendakwahi keluarga. Itu sebabnya, di bulan ramadhan biasanya saya membatasi jadwal untuk tabligh. Saya lebih fokus ke keluarga. Karena di bulan ramadhan ini suasananya kondusif sekali. Jadi saya lebih leluasa dalam menyampaikan dakwah di keluarga. Kebetulan, meski tidak jadi teladan, tapi di keluarga saya jadi tempat bertanya segala hal tentang Islam.</p>
<p>Dan karena bulan puasa bagi saya adalah sebagai sarana dalam melatih tanggung jawab, maka saya juga mengajak anak saya untuk melakukan hal yang sama. Saya arahkan kepada pembentukan karakternya. Misalnya saja saya mencoba membiasakan anak saya untuk bangun pagi. Bahkan saya beri tanggung jawab supaya ia bisa bangun sendiri ketika akan sahur. Alhamduilillah, dengan diberi tanggung jawab seperti itu, ia mulai memahami pentingnya sebuah kepercayaan. Sholatnya saya kontrol juga. Sehingga suasana ramadhan itu terasa di setiap waktu. Dari mulai sahur sampai berbuka.</p>
<p>Malamnya saya membangkitkan semangat untuk beribadah, misalnya saya menjadi imam shalat tarawih di keluarga. Sebelumnya saya adakan dulu pengajian untuk mereka. Jadi memang ramadhan ini menjadi momen yang amat penting bagi saya. Selain untuk membentuk karakter bagi keluarga saya, juga memahamkan kesadaran tentang Islam. Dan karena ini sebagai latihan, maka diharapkan bisa dilakukan juga di lain waktu. Sebab, puasa adalah sarana untuk melatih diri supaya konsisten dan komit kepada Islam.</p>
<p>Nah, karena puasa adalah untuk melatih tanggung jawab kita dalam berbuat, maka saya juga menghimbau kepada kalangan artis supaya menjadikan puasa ini sebagai latihan, dan tentunya tidak berbuat maksiat di luar bulan ramadhan. Kalo itu dilakukan, sama saja dengan mengejek Allah. Padahal, kita harus mengharapkan ridho Allah. Saya juga pernah merasa berat sekali untuk meninggalkan maksiat. Ada saja godaannya untuk tetap kembali berbuat maksiat setelah ramadhan berlalu. Itu sebabnya saya dulu berdoa begini: &#8220;Ya Allah, kabulkan doaku agar aku mampu meninggalkan maksiat ini.&#8221; Alhamdulillah, dengan niat dan kesungguhan yang kuat, saya bisa berubah. []</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/puasa-melatih-tanggung-jawab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Itu Emas Perhiasan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 21:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2562</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti

Remaja itu adalah lukisan anak-anak di masa depan, dan orang tua itu adalah lukisan remaja di masa depan. Jangan harap akan lukisannya tentang remaja di masa depan bakalan bagus kalau sejak masa anak-anak jiwa mereka tidak pernah diolah dengan pembinaan keislaman. Meski memang ada segelintir remaja yang menjadi baik meski masa anak-anaknya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Remaja itu adalah lukisan anak-anak di masa depan, dan orang tua itu adalah lukisan remaja di masa depan. Jangan harap akan lukisannya tentang remaja di masa depan bakalan bagus kalau sejak masa anak-anak jiwa mereka tidak pernah diolah dengan pembinaan keislaman. Meski memang ada segelintir remaja yang menjadi baik meski masa anak-anaknya, tapi itu prosesnya amat sulit.</p>
<p dir="ltr">Karenanya saya melihat kalau pembinaan anak-anak itu jadi penting banget. Saya rasakan itu pada diri saya sendiri. Keluarga kami memang tidak Islami. Orang tua saya kurang memberikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berkeluarga. Mereka hanya mengajarkan norma-norma atau etika moral saja. Ya, kalau masalah sholat dan puasa memang masih mereka lakukan, cuma untuk mengajarkan secara detail dari bagian-bagian itu tidak pernah. Saya saja bisa sholat dan bisa ngaji karena ikut teman-teman ketika masih di komplek, di Cimahi. Kebetulan di sana ada seorang ustadz yang suka mengadakan pengajian. Pokoknya, saya bisa begini karena bisa sendiri. Pernah sewaktu bercerita tentang hal ini dalam satu ceramah, ibu saya &#8211; almarhumah &#8212; yang hadir di sana tersinggung, tapi untunglah saya bisa berbaikan lagi dengan beliau.<span id="more-2562"></span></p>
<p dir="ltr">Saya prihatin melihat banyak orang tua yang nggak serius mendidik anak-anak mereka dalam urusan agama. Dalam shalat misalnya, banyak lho orang tua yang nggak tegaan menyuruh anaknya shalat, seperti membangunkan untuk shalat shubuh dengan alasan tidak tega atau kasian anaknya masih ngantuk. Apalagi kalau harus sampai mukul anaknya gara-gara tidak shalat, jelas mana tega.</p>
<p dir="ltr">Maka saya berusaha untuk disiplin mendidik anak untuk urusan agama. Alhamdulillah saya masih tega membangunkan anak untuk shalat shubuh meski anak saya masih tidur pulas. Hasilnya sekarang ada. Kalau tiap shubuh dia yang sekarang membangunkan saya, <em>ngagabrug</em> (menjatuhkan diri -red) ke badan saya tiap subuh. <em>&#8220;Abi bangun shalat shubuh,&#8221; </em>katanya ke saya. Emang sih kaget dan badan saya sakit, tapi gitu-gitu saya senang. Atau setiap maghrib ia minta saya <em>monten</em>, menilai azannya. Padahal sih suaranya nggak bagus dan nggak ada iramanya, tapi lagi-lagi saya seneng liat ia azan, berarti ia sudah mulai paham shalat meskipun sedikit-sedikit.</p>
<p dir="ltr">Tantangan pendidikan buat anak saya lihat makin besar. Coba aja, setiap maghrib anak-anak kaum Muslimin disuguhin film, macam <em>Kapten Tsubasa</em>. Anak saya juga keranjingan nonton film itu. Belum lagi acara-acara lain yang kandungan pendidikan agama dan moralnya nggak ada. Repot jadi orang tua sekarang ini.</p>
<p dir="ltr">Saya melihat cara yang paling efektif untuk mendidik anak adalah dengan memberikan teladan yang baik pada mereka. Sedih rasanya melihat anak-anak yang orang tuanya tidak memberikan contoh baik di rumah, hanya bisa nyuruh-nyuruh pada anaknya. Orang tuanya nggak shalat tapi anaknya disuruh-suruh shalat, atau anaknya disuruh pake jilbab tapi ibunya ke mana-mana pake celana pendek, termasuk ketika nganter anaknya ke TPA. Padahal orang tua kan seharusnya jadi contoh, jadi <em>role model</em> yang baik buat anak-anaknya. Moga-moga banyak orang tua yang sadar akan hal itu.[]</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Musim, Kita Bisa Berubah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 19:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2529</guid>
		<description><![CDATA[Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu.
Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi mahasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu.</em></strong></p>
<p>Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi mahasiswa barunya, dan itu program wajib bagi mahasiswa baru, sehingga aku dan orangtuaku tidak usah pusing-pusing mencari tempat kos.</p>
<p>Aku masih ingat pertama kali masuk asrama. Setelah menyelesaikan administrasi, ditemani orangtuaku, aku mencari nomor kamar yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun itu. Aku ditempatkan di kamar nomor 193 lorong 5. Kabarnya aku akan ditempatkan bareng dengan dua teman baruku, Lia dan Lena namanya. Sambil berjalan menuju kamar aku bertanya-tanya dalam hati, &#8220;Wajah teman sekamarku seperti apa? Baik nggak sih? Agamanya apa?&#8221; Pokoknya berbagai pertanyaan yang hadir di otakku yang buat aku jadi pusing sendiri.<span id="more-2529"></span></p>
<p>Di depan pintu kamar, kudengar ada suara orang. Sepertinya sudah ada yang mendahuluiku. Siapa ya? Apakah itu teman sekamarku? Aku kemudian mengucapkan salam dan masuk ke dalam kamar. Agak canggung aku memperkenalkan diri. Oh ternyata dia adalah teman sekamarku namanya Lena, dia nggak sendirian, tapi diantar sama ibu dan pamannya.</p>
<p>Alhamdulillah dia berkerudung, berarti menandakan agamanya Islam. Syukurlah, batinku. Setelah beberapa jam ngobrol, kita jadi semakin dekat. Tapi sayangnya, dia nggak bisa bermalam di asrama. Yah, ga apa-apa, toh aku sudah berjanji akan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Terpaksa malam itu aku harus tidur sendiri.</p>
<p>Beberapa minggu berlalu, akhirnya lengkap sudah penghuni kamar 193 dengan namanya yang triple L (Lesi, Lia dan Lena). Alhamdulillah, semuanya beragama Islam, walaupun Lia tidak pake kerudung. Kami pun semakin akrab dan aku pun mulai mengenal karakter mereka. Lia yang anaknya agak gaul, cuek dengan penampilan dan pakaian jeans serta T-shirt agak ketatnya kalo keluar dan suka musik kerasnya <em>Linkin Park</em>. Lena yang cenderung tertutup, agak manja dan senang dandan. Sedangkan aku, dengan latar belakang pemahaman Islam yang sedikit baru bisa menunaikan kewajiban seorang muslimah yaitu berjilbab dan berkerudung.</p>
<p>Aneh memang jika dibayangkan ketiga orang yang punya &#8216;keunikan&#8217; masing-masing bisa disatukan dalam satu kamar. Tetapi kita tidak mempersoalkan masalah itu. Walau pun ada beberapa hal yang kami tidak sependapat, apalagi kalo berbicara masalah syariat Islam. Kupikir memang agak susah, apalagi selama ini mereka belum pernah mendengar seperti itu. Kebetulan aku sudah mulai mengkaji Islam lewat mbak yang berasal dari daerah yang sama denganku. Kupikir ini tantangan bagiku, dakwah ke orang yang terdekat denganku, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dulu.</p>
<p><strong>Hampir melupakan teman</strong></p>
<p>Beberapa bulan berlalu, tak terasa sudah hampir setengah tahun. Aku yang semakin asyik dengan kegiatanku sendiri, semakin jarang bersama-sama dengan kedua orang temanku itu. Aku jadi agak jauh, dan itu membuat mereka malah tidak bisa menerima ide yang kubawa, karena selama ini aku memang jarang ngobrol panjang lebar dengan mereka.</p>
<p>Kuakui, itu kesalahan besar. Aku jadi nggak maksimal. Aku merasa bersalah tidak mampu mengajak mereka untuk merasakan apa yang kurasakan saat ini, karena ketika kuajak untuk ikut kegiatan keislaman mereka selalu menolak. Akhirnya, kupikir tidak ada gunanya lagi mengajak mereka atau menyampaikan tentang Islam ke mereka. Toh, nggak ada hasilnya. Aku sudah putus asa, nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku berharap Lena yang pake kerudung bisa kuajak mengkaji Islam, ternyata gagal. Berharap pada Lia yang karakternya &#8220;kayak gitu&#8221;, aku rasa tidak mungkin! Sejak saat itu, aku tak pernah lagi menceritakan tentang khilafah atau wajibnya seorang perempuan menutup aurat dengan jilbab dan kerudung.</p>
<p>Ada sesuatu yang terjadi dengan teman sekamarku Lena. Akhir-akhir ini dia mulai jarang masuk kuliah, katanya sih ada urusan keluarga. Tapi kok keluarganya nelpon ke ponselku menanyakannya. Sebab kata orang tuanya, ponselnya nggak bisa dihubungi. Aku jadi bertambah bingung, ke mana anak itu. Konsentrasi belajarku jadi agak terganggu dengan masalah ini. ketika Lena datang, Aku mencoba menanyakan masalahnya, tapi karena sifatnya yang tertutup, aku gagal. Aku hanya sempat menasihati dia, bahwa kita harus sungguh-sungguh kuliah, karena ini adalah amanah orangtua kita. Tak banyak orang yang bisa kuliah, kita termasuk orang yang beruntung. Sedih hatiku, ketika akhirnya Lena harus keluar dari IPB. Malam itu ia datang bersama pamannya, membawa semua barangnya. Tak satupun yang tersisa, Aku dan Lia ikut membantu dengan hati yang sedikit kecewa. Namun, lama kelamaan kami sudah mulai melupakan kejadian itu seiring banyaknya tugas-tugas kuliah.</p>
<p><strong>Hidayah buat Lia</strong></p>
<p>Ketika kami dapat kuliah PAI (Pengantar Agama Islam), ada yang namanya mentoring. Ketika mentoring, semua mahasiswi muslimah harus pake kerudung. Lia yang memang nggak biasa pake kerudung menggerutu, sebab dia tuh kalo pake kerudung lama banget dan susah rapinya. Katanya padaku gerah dan kalau makan susah buka mulutnya. Aku hanya tersenyum saat itu dan bilang padanya memang gitu kalau baru pertama, tapi kalau udah biasa nggak kok.</p>
<p>Saat keluar dari asrama pun tiba. Lia yang jurusan kimia itu harus pindah ke kampus IPB yang ada di Baranangsiang, di pusat kota. Cukup jauh dari tempat kos dan kuliahku. Akhirnya kami tidak pernah ketemu, SMS pun jarang.</p>
<p>Sampai suatu ketika aku terkejut mendapat sebuah pesan singkat. Oh, ternyata SMS dari Lia. Aku senang sekali katanya mau datang ke kosku. Lama kutunggu akhirnya datang juga, aku benar-benar kaget dan tak bisa berkata apa-apa ketika melihat Lia dengan kerudung lebar dan baju potongannya. Nyaris sempurna lirihku dalam hati. Lia sudah berubah! Walaupun kutahu ia berbeda kelompok dakwah denganku, tapi kuyakin tujuan perjuangan kita sama.</p>
<p>Lebih mengagetkanku ketika dia minta ditemenin untuk nyari kaset nasyid. Padahal dulu&#8230; Ah, Lia aku bangga padamu. Seperti halnya musim, kamu bisa berubah. Tentu, berubah menjadi lebih baik. Kau mampu menjemput hidayah itu. Semoga perubahan ini tidak sesaat. Aku jadi ingat sahabat Nabi, Umar bin Khaththab, yang dengan cahaya Islam membuat ia menjadi sosok pembela Rasul yang ditakuti kaum kafir. Aku jadi semakin yakin, bahwa Islam adalah fitrah. Dengan hidayah Allah, penjahat sekalipun bisa berubah menjadi baik. Semoga engkau tetap istiqamah ukhti. <strong>[seperti yang dituturkan Lesi kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Agustus 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putus</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/putus</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/putus#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 00:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2581</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Arif



&#8220;Kita harus berhenti. Harus berani berpisah. Aku sudah menjelaskan padamu semuanya. Tidak ada bedanya kalau sekarang harus memberikan penjelasan lagi,&#8221; kataku padanya di suatu sore. Waktu serasa lambat berputar. Aku dengannya di sebuah kafe.
&#8220;Tapi aku menyayangi kamu.&#8221;
&#8220;Aku tahu. Aku juga menyayangi kamu. Karena itu aku menawarkan padamu, kita mengkaji Islam bersama-sama.&#8221;
&#8220;Kalau aku ngaji, apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Oleh Arif<br />
</strong>
</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">&#8220;Kita harus berhenti. Harus berani berpisah. Aku sudah menjelaskan padamu semuanya. Tidak ada bedanya kalau sekarang harus memberikan penjelasan lagi,&#8221; kataku padanya di suatu sore. Waktu serasa lambat berputar. Aku dengannya di sebuah kafe.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tapi aku menyayangi kamu.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku tahu. Aku juga menyayangi kamu. Karena itu aku menawarkan padamu, kita mengkaji Islam bersama-sama.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kalau aku ngaji, apa kamu masih tetap menginginkan kita berpisah?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Sudah tidak ada artinya cinta buatmu?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Cinta saja tidak cukup untuk apa yang menjadi keinginanku saat ini. Harusnya kita memang mendasarkan hidup kita dengan cinta. Cinta pada Allah, Rasulullah, pada Islam. Aku sudah mengatakannya padamu sebelum aku berjilbab. Dan aku tidak akan menariknya kembali. Kita jalan sendiri-sendiri mulai sekarang,&#8221; aku berusaha menguatkan hati. Meskipun aku merasa lumer di hadapannya. Begitu lemahnya, hingga merasakan pandanganku kabur oleh air mata. Tapi aku tidak akan menangis. Tidak boleh menangis.<span id="more-2581"></span></p>
<p dir="ltr">&#8220;Kenapa kamu membuat luka?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waktu akan menyembuhkan luka,&#8221; aku mencoba tegar.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waktu akan menyembuhkan luka, tapi kita tidak akan pernah lupa pada sakitnya. Aku tahu kamu menyayangi aku seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Aku tidak meminta banyak darimu. Aku bahkan tidak mempermasalahkan ngaji dan jilbabmu. Apa kamu tidak bisa menerima aku apa adanya? Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri?&#8221;</p>
<p dir="ltr">Dia masih menatapku. Suaranya bergetar.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apakah aku masih harus mengulanginya lagi? Bahwa apa yang kita lakukan selama ini salah? Bahwa tidak pernah ada kata pacaran dalam Islam? Bahwa kita adalah muslim dengan konsekuensi melaksanakan Islam secara keseluruhan? Kuakui aku memang sedang meruntuhkan apa yang pernah kita bangun selama ini. Aku tidak ingin memberimu harapan kosong.&#8221; Aku menjawab dengan memandang matanya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu tidak pernah memberi alasan kenapa menolak diajak ngaji.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Beri aku waktu.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jangan buat aku menunggu. Itu tidak akan mengubah apa pun. Ini kali terakhir kita bertemu.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tidak!&#8221; Dia berteriak keras. Beberapa pengunjung menoleh ke tempat kami duduk, terkejut mendengar teriakannya. Kafe ini memang tempat favorit kami sejak pacaran pertama kali. Lokasinya strategis. Di jantung kota. Areanya luas. Nyaman. Penuh rimbun dedaunan. Desain interiornya bernuansa Jawa kesukaanku.</p>
<p dir="ltr">Meskipun beberapa pengunjung mendengar teriakannya, aku yakin mereka tidak akan mengerti. Tepatnya, tidak akan peduli. Hidup dalam masyarakat kapitalis membuat setiap orang berpikir kepentingan diri sendiri. Kapitalisme memang ibu kandung individualisme.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku tidak mau,&#8221; katanya dengan suara tinggi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku tidak pernah berniat menyakitimu. Maafkan aku,&#8221; aku berjalan keluar. Meninggalkan dia dalam kebisuan.</p>
<p dir="ltr">Semula aku ragu harus memutuskan hubungan dengannya. Aku dan dia sudah pacaran hampir lima tahun. Sejak kami masih duduk di bangku SMP. Membuat kami saling terbuka dan mengenal sifat-sifat kami. Aku tahu aku mencintainya. Tapi kini, aku memahami ada yang aku cintai lebih darinya. Walau tak kunafikan, ada banyak kenangan tersendiri dalam hatiku. Bagaimana pun juga, sekarang aku harus berani dalam kesendirianku.</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">&#8220;Menurutmu bagaimana, Ran?&#8221; aku bertanya pada Rani, sahabatku sejak aku menyandang predikat mahasiswa. Aku memang meminta pertimbangannya ketika memutuskan dia.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu sanggup, kan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Insya Allah. Kenapa tidak? Kalau aku tidak memutuskannya sekarang, nanti atau besok akan sangat terlambat. Dan aku memang sudah sangat terlambat,&#8221; ucapku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu mengatakan semuanya?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya. Kita sudah membuat pilihan masing-masing. Sejujurnya aku tidak pernah menyangka bahwa aku yang akan memutuskannya. Cukup menyakitkan buat dia, juga untukku.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Rani memelukku. &#8220;Sabar ya, Va&#8230; Innallaha ma&#8217;as shobiriin&#8230; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Ingat, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik&#8230;&#8221;</p>
<p dir="ltr">Langit cerah saat aku mengantar Rani menemui dokter Aryanti. Meminta beliau berkenan menjadi salah satu pemateri Seminar bulan Juli mendatang.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Selain saya, siapa yang akan hadir sebagai narasumber?&#8221; Tanya dokter spesialis anak yang juga anggota sebuah lembaga perlindungan anak itu.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ada Ibu Handayani dari Yayasan Tumbuh Kembang Aqila, dan dokter Laily Rahmawati dari partai politik Islam Ideologi,&#8221; terang Rani.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Bisa diceritakan sedikit apa yang harus saya presentasikan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Secara garis besar sudah kami sertakan di dalam proposalnya, Dokter. Kami mengagendakan, Ibu Handayani memaparkan fakta permasalahan anak saat ini. Misalnya, berkaitan dengan anak jalanan, tindakan kriminalitas yang dilakukan anak, anak-anak yang dieksploitasi secara seksual, anak-anak yang jadi pengungsi, juga anak yang putus sekolah..&#8221; terang Rani lebih lanjut.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Untuk dokter Aryanti, karena dokter adalah aktivis sebuah lembaga perlindungan anak, kami harapkan bisa memberikan uraian singkat tentang upaya yang sudah dilaksanakan untuk menanggulanginya. Misalnya, dengan adanya Undang-undang Perlindungan Anak, hasil ratifikasi Konvensi Hak Anak, dan peraturan lainnya. Sementara dokter Laily nanti bisa memberikan penyelesaiannya dari sudut pandang syariat Islam,&#8221; imbuhnya lagi.</p>
<p dir="ltr">Dokter Aryanti masih memberikan beberapa pertanyaan lain yang semua dijawab lugas oleh Rani.</p>
<p dir="ltr">Ah, Rani. Diam-diam aku cemburu padanya. Di usia yang begitu belia, ia nampak begitu &#8216;basah&#8217; dengan Islam. Sudah ngaji sejak masih SMU, katanya. Jauh berbeda denganku dan Dion yang menghabiskan masa sekolah menengah di sekolah non-Islam.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Alhamdulillah, beliau bersedia,&#8221; kata Rani riang saat kami melintasi halaman parkir RS Saiful Anwar. &#8220;Mungkin besok-besok kita bisa meminta beliau ngaji bareng kita&#8230;&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku senyum-senyum ikut senang.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ada yang ingin kutanyakan, kalau kamu tidak keberatan,&#8221; aku mencoba membuka diskusi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Silakan.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kenapa mengangkat tema permasalahan anak?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Karena Islam memandang anak sebagai generasi muda yang punya peran vital terhadap kemajuan umat di masa yang akan datang.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku menyimak sambil mengawasi jalanan yang padat. Ini kondisi tidak ideal untuk berdiskusi. Dua semester mengenal Rani, hampir semua penjelasannya memerlukan perenungan untuk bisa kupahami.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Karena itu, Islam sangat concern untuk melindungi anak. Anak adalah amanah dari Allah untuk dijaga dan dipelihara oleh keluarga, masyarakat, dan negara agar tetap berada dalam kebenaran. Orangtua adalah penanggungjawab pertama atas anak. Tanggungjawab ini secara bertingkat juga dibebankan kepada masyarakat. Sementara negara dalam ajaran Islam, berkewajiban melindungi dan memfasilitasi seluruh potensi anak agar tetap berada di jalan yang benar.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kupikir untuk itulah ada Konvensi Hak Anak dan Undang-undang Perlindungan Anak.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu pasti tahu siapa yang meratifikasi dan membuat kebijakan tersebut.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Konvensi Hak Anak dicetuskan oleh PBB. Lalu diratifikasi oleh lembaga tinggi negara untuk menjadi undang-undang. Siapa yang membuat peraturan? Ya negara. Siapa lagi?&#8221; jawabku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Dan kita juga sama-sama tahu bagaimana <em>track-record</em> mereka dalam menyelesaikan permasalahan baik hukum dan undang-undang.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku membenarkan dalam hati.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Satu hal yang perlu kita perhatikan. Sejarah panjang permasalahan anak di dunia tidak jauh dari sistem atau ideologi yang dianut suatu masyarakat. Munculnya penindasan, penyiksaan, dan kekerasan lain terhadap anak adalah implikasi dari pemikiran dan pemahaman suatu masyarakat terhadap anak,&#8221; Rani melanjutkan.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Suburnya penindasan terhadap anak bisa dilihat setelah munculnya ideologi kapitalisme pasca <em>dark age</em> di Eropa. Sampai sekarang fenomena ini banyak terjadi di negara-negara pengusung kapitalisme. Misalnya di Amerika dan Perancis. Juga tidak ketinggalan di India, Pakistan, Indonesia, dan negara dunia ketiga lainnya&#8230;&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu salah satu pembicara, ya?&#8221; tanyaku. Sedikit mengagumi keluasan wawasannya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jangan menghina, dong. Ini kudapatkan dari membaca, kok. Mau dilanjutkan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Boleh,&#8221; jawabku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Karena itu muncul Konvensi Hak Anak. Tetapi, karena lahir dari aturan demokrasi kapitalistik, permasalahan baru terus saja bermunculan. Patah tumbuh, hilang berganti. Kita perlu solusi yang benar. Dan itu hanya ada pada sistem pemerintahan Islam.&#8221; Tutur Rani lagi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jadi Islam memiliki solusi untuk semua permasalahan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tepat.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa solusi Islam untuk orang yang sedang <em>broken-hearted</em>?&#8221; Aku memandang lurus ke depan.</p>
<p dir="ltr">Hening.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku serius,&#8221; Dia di kafe, suatu siang sepulang sekolah.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kenapa musti aku?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa itu perlu dijawab?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa ya&#8230; mungkin karena kamu tidak membosankan. Pertanyaannya susah diperkirakan.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku tertawa. Jawaban konyol, menurutku. &#8220;Lalu apa yang membuatmu yakin aku tidak akan menolak?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kalau kamu bertanya berapa dalam aku mencintaimu, sulit kujawab tanyamu itu. Karena cinta tidak dinilai dari kata-kata. Tapi dari perhatian dan perilaku kita.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Va&#8230;?&#8221; suara Rani yang agak nyaring mengembalikan aku ke masa sekarang.</p>
<p dir="ltr">Rani memandangku. Senyum simpul mengembang di bibirnya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Putus cinta memang menyakitkan. Tapi,&#8221; lanjutnya. &#8220;In the end it doesn&#8217;t even ?matter*&#8230;?&#8221;</p>
<p dir="ltr">Kali ini aku tergelak. ?&#8221;I&#8217;ve put my trust in you. Pushed as far as I can go.*&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;And for all this, there&#8217;s one thing you should know*. Islam juga memberikan solusi bagi mereka yang lagi patah hati.&#8221; Rani ikut tertawa.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kita bicarakan di dalam saja,&#8221; aku membelokkan mobil ke halaman sebuah restoran muslim di bilangan Kayutangan.</p>
<p dir="ltr">Saat masuk ke ruangan, Rani menyenggol lenganku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Lihat,&#8221; katanya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa?&#8221; tanyaku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Dion.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku mengikuti arah pandangnya. Di sudut ruangan kulihat Dion, bersama seorang gadis. Dianti, fakultas Sastra. Aku pernah ditugaskan meliput berita bersamanya. Keduanya nampak begitu dekat. Akrab. Dan berbahagia.</p>
<p dir="ltr">Tiba-tiba saja aku ingat. Juni ini genap lima tahun aku pacaran dengan Dion. Aku seperti meneguk ramuan jamu pahit yang akan menambah kekuatanku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Iva, kamu nggak apa-apa? Kita pindah ke resto lain saja, yuk,&#8221; ajak Rani. Mungkin dia berpikir aku akan pingsan di tempat kejadian perkara.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tidak perlu, Ran. Aku baik-baik saja,&#8221; ucapku tenang dan yakin. Begitu yakinnya sampai aku sendiri heran. &#8220;Kita makan di sini saja.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Senja. Kusongsong jingga di barat kota. Siluetnya memahat wajah Dion di sela mega. Hanya sekejap, lalu sirna. Berganti dengan bayangan Rani, Anisah, Prawesti, Mbak Tias, dan aktivis dakwah kampus lainnya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kita hidup hanya sekali. Sesudah itu mati,&#8221; ucap Mbak Tias suatu ketika. &#8220;Dan dalam hidup ini, kita harus tahu pasti untuk apa kita hidup.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Sayup kudengar lantunan adzan maghrib berkumandang. Dari jendela mobil yang kubiarkan terbuka, angin menerpa khimarku. Mengucapkan selamat petang.</p>
<p dir="ltr">Sumbersari, Mei 2004</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Note:</p>
<p dir="ltr"><em>* </em><em>In The End, Album Hybrid Theory, Linkin Park (katanya mo manggung di Jakarta bulan Juni&#8230;. wah keren hehehehe!]</em></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juni 2004] </em><br />
<em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/putus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alkohol Pernah Menemani Hidupku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 19:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2526</guid>
		<description><![CDATA[Aku termasuk orang yang sulit untuk melepaskan diri dari teman sepermainanku yang terbilang berandalan. Hingga akhirnya aku kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam waktu cukup lama. 
Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kampung kecil di Sumatera yang jauh dari keramaian. Kondisi ini tidak membuat aku membatasi cita-citaku, aku ingin menjadi seorang? pembesar layaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku termasuk orang yang sulit untuk melepaskan diri dari teman sepermainanku yang terbilang berandalan. Hingga akhirnya aku kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam waktu cukup lama. </em></strong></p>
<p>Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kampung kecil di Sumatera yang jauh dari keramaian. Kondisi ini tidak membuat aku membatasi cita-citaku, aku ingin menjadi seorang? pembesar layaknya Pak Bupati yang dielu-elukan orang banyak ketika berkunjung ke kampungku. Di kampung aku menempuh pendidikanku sampai tingkat SLTP yang aku selesaikan pada tahun 1990. Ketika akan melanjutkan ke SLTA aku meminta kepada orangtuaku agar aku disekolahkan di kota karena menurutku kualitas pendidikannya akan jauh lebih baik daripada yang ada di kampungku.</p>
<p>Keinginanku ternyata terkabul, oleh orangtuaku aku dititipkan di rumah kakakku yang kebetulan memang sudah lama merantau ke pulau Jawa, tepatnya kota Bogor. Sekolah di Bogor tidak membuat aku merasa rendah diri karena aku berasal dari kampung, bahkan aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan teman-teman sekolahku. Aku memang tergolong orang yang suka bergaul. Tapi petaka itu justru dimulai dari sini.<span id="more-2526"></span></p>
<p><strong>Awal perkenalanku dengan alkohol</strong></p>
<p>Panasnya pergaulan teman-temanku memaksa aku mengenal alkohol dan obat-obatan terlarang walaupun bukan termasuk kelas atas. Pernah ketika liburan semester, aku dan gengku yang berjumlah lima orang nginap di rumah salah satu temanku di kota Jonggol yang kebetulan lagi kosong karena keluarganya pergi berlibur ke Bali. Perjalanan dari Bogor ke Jonggol memakan waktu lebih kurang satu jam dengan bis.</p>
<p>Di sana hampir tiap malam kami pesta alkohol dan obat-obatan. Waktu malam terakhir sebelum pulang ke Bogor, salah satu temanku mengusulkan untuk melengkapi pesta kami dengan wanita. &#8220;Biar pestanya lebih panas&#8221; katanya. Usul ini langsung disetujui oleh yang lain, dan dua orang temanku keluar untuk mencarinya. Singkat cerita wanita nakal atau dalam bahasa remaja saat itu disebut <em>pecun</em> sudah ada di tengah-tengah kami. Dia mengaku namanya Sisi.</p>
<p>Sebenarnya kami masih malu-malu berhadapan dengan wanita,? ini adalah pengalaman pertama bagi kami. Namun ada salah satu temanku sebut saja namanya Otong yang bersikap agak agresif? sama Sisi, entah karena nafsu melihat kecantikan Sisi atau karena pengaruh alkohol dan obat. Namun Sisi menolak setaip kali Otong mendekatinya, hingga akhirnya terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak kami duga. Otong menjambak rambut dan memukul wajah Sisi sampai hidungnya berdarah.</p>
<p>Pesta yang kami harapkan akan lebih &#8220;panas&#8221; karena ada Sisi ternyata berubah menjadi panas benaran. Suasana menjadi sangat kacau apalagi Sisi mengancam akan melaporkan perbuatan Otong ke polisi. Tapi setelah terjadi proses negosiasi akhirnya situasi bisa terkendali. Sisi minta konpensasi dan kami harus patungan untuk membayar Sisi sebesar Rp 50.000. Pengalaman menegangkan sekaligus menakutkan yang kalau diingat sekarang membuat kalimat <em>astaghfirullah</em> meluncur deras dari mulutku.</p>
<p>Perjalanan hidupku di Bogor yang selalu ditemani alkohol dan obat-obatan tidak berhenti karena pengalaman buruk di Jonggol bahkan menjadi lebih dahsyat. Dalam hati seringkali aku ingin meninggalkan semua aktivitas ini, tapi teramat sulit bagiku apalagi ikatan dengan teman-temanku sesama pemabuk begitu kuat ditambah sikap kakakku yang tidak terlalu <em>care,</em> bagi kakakku yang penting prestasi belajarku baik. Anehnya alkohol dan obat-obatan tidak begitu mempengaruhi prestasi belajarku, nilai rata-rata raportku tiap semester tidak pernah di bawah angka enam walaupun juga peringkatnya tidak masuk dalam sepuluh besar. Tapi itu sudah cukup membuat kakakku kehilangan perhatian terhadap diriku.</p>
<p><strong>Kujemput hidayah di Kalimantan</strong></p>
<p>Ketika aku selesai SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, aku berpikir ini adalah kesempatan bagiku untuk meninggalkan dunia yang selama ini telah menghantui hidupku. Kuputuskan untuk memilih perguruan tinggi yang jauh dari Bogor, aku memilih UGM dan Untan sebagai pilihan ke dua. Ternyata aku diterima di Untan, sebuah perguruan tinggi negeri yang berada di pulau Kalimantan. Terima kasih Tuhan Kau jauhkan aku dari teman-temanku di Bogor.</p>
<p>Kupikir kalau aku sudah menjahui teman-temanku, aku akan bisa menjauhi alkohol dan obat-obatan. Ternyata tidak, aku kembali masuk? dalam lingkungan yang bersahabat dengan alkohol dan obat. Hal ini terjadi karena teman-teman satu kost kebanyakan berasal dari pulau Jawa. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Malang, pokoknya? semua penghuni kost bukan penduduk asli Kalimantan.</p>
<p>Tahun pertama aku masih menikmati hidupku, namun menginjak tahun kedua kuliah keinginan untuk berhenti datang lagi. Sampai akhirnya ketika suatu hari dalam keadaan mabuk aku terpeleset di kamar mandi dan masuk ke dalam bak penampung air. Aku tidak tahu apakah aku sudah mati atau belum, yang ada dalam pengelihatanku adalah ibuku yang sedang berdiri di depan pintu rumah kami di kampung sambil menggapai-gapaikan tangannya, seolah ibuku ingin berteriak kepadaku tapi aku tidak mendengar suara apa-apa, aku hanya bisa melihat linangan air mata ibuku.? Ketika tersadar aku sudah ada dalam kamarku. Kata temanku, aku pingsan. Entah berapa lama aku terendam dalam bak, tidak ada yang tahu. Yang jelas kalau teman-temanku terlambat mengetahui, barangkali aku sudah tidak melihat matahari lagi.</p>
<p>Peristiwa kamar mandi itu ternyata menjadi titik balik hidupku. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari tempat kost baru yang lebih &#8220;bersih&#8221;. Trauma yang kualami membuat aku sangat berhati-hati untuk memasuki lingkungan yang baru, sampai akhirnya aku menemukan tempat kost yang aku cari, sebuah rumah kost yang pemiliknya adalah seorang ustadz. Dari sinilah aku kemudian mengenal Islam, secara rutin tiap hari sabtu kami mengkaji Islam. Syukur alhamdulillah ya Allah Kau selamatkan aku untuk kesekian kalinya, semoga tidak Kau balik lagi hatiku untuk condong kepada hal-hal yang Kau benci. Amiiin <strong>[seperti yang disampaikan seorang ikhwan kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi April 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kereta Terakhir dari Jakarta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kereta-terakhir-dari-jakarta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kereta-terakhir-dari-jakarta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 02:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2579</guid>
		<description><![CDATA[O. Solihin
Ogi mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik arloji di tangannya. Sapuan angin malam mulai terasa dingin di kulit Ogi. Pandangan matanya dilemparkan ke dalam stasiun. Sudah agak lengang. Jam sudah menunjukkan pukul 21 tepat. Sepuluh menit kemudian muncul sesosok makhluk berlari-lari kecil menuju sta?siun Kota. Wajahnya lumayan cute dengan rambut yang agak ikal. Ia terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>O. Solihin</strong></p>
<p>Ogi mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik arloji di tangannya. Sapuan angin malam mulai terasa dingin di kulit Ogi. Pandangan matanya dilemparkan ke dalam stasiun. Sudah agak lengang. Jam sudah menunjukkan pukul 21 tepat. Sepuluh menit kemudian muncul sesosok makhluk berlari-lari kecil menuju sta?siun Kota. Wajahnya lumayan <em>cute</em> dengan rambut yang agak ikal. Ia terus berlari dan memasuki stasiun.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221; suara yang sangat akrab di telinga Ogi terdengar dari belakang.</p>
<p>&#8220;Eh, wa&#8217;alaikum salam!&#8221; jawab Ogi sambil membalikkan tubuh.</p>
<p>&#8220;Kelelep di mana, Mil?&#8221; Ogi setengah kesal.</p>
<p>&#8220;Tenang, sobat. Tadi aku ada perlu dulu. Dikirain sebentar, eh ternyata lama juga. Afwan, deh, afwan,&#8221; Jamil ngasih alasan.</p>
<p>&#8220;Ayolah, beli karcis dulu. Jangan-jangan kita dapat kereta yang terakhir, lagi,&#8221; kata Ogi sambil ngeloyor menuju loket.</p>
<p>&#8220;Oke bos!&#8221; balas Jamil.<span id="more-2579"></span></p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Dua makhluk &#8220;kembaran&#8221; itu sudah duduk nyantai di dalam gerbong ke delapan alias gerbong terakhir dari dua rangkaian KRL. Sekitar setengah sepuluh malam kereta itu baru meninggalkan stasiun. Benar dugaan Ogi, kereta yang ditumpanginya adalah kereta terakhir untuk hari itu. Udara semakin dingin ketika kereta yang mereka tumpangi mulai melaju perlahan.</p>
<p>Ogi menghempaskan pantatnya di bangku kereta malam itu. Bahkan ia bisa selonjoran kaki. Maklum, namanya juga kereta terakhir, pasti hanya memuat orang seadanya. Boleh dibilang kosong melompong. Tentu saja itu sangat kontras bila dibandingkan dengan kereta yang berangkat pagi dan sore hari. Orang-orang rela berjubelan di gerbong. Bercampur keringkat puluhan penumpang lain. Ya, namanya juga angkutan umum, udah gitu kelas ekonomi lagi.</p>
<p>&#8220;Mil, ngeri juga ya, malam-malam gini. Takut ada penodongan&#8221; Ogi kelihatan khawatir.</p>
<p>&#8220;Ya, tawakkal saja, Gi. Mudah-mudahan nggak ada masalah&#8221;</p>
<p>&#8220;Kira-kira nyampe jam berapa ke rumah Pak De kamu, Mil?&#8221;</p>
<p>&#8220;Insya Allah, paling telat tengah malam deh.&#8221; Jamil ngasih perkiraan.</p>
<p>Hampir sepuluh menit antara dua makhluk ini tak ada pembicaraan. Entah apa yang sedang dipikirkan dua pemuda ini. Masing-masing asyik dengan pikirann?ya. Sampai suatu saat ketika kereta berhenti di stasiun Cikini, beberapa penumpang yang tampaknya menunggu dari tadi segera berhamburan ke gerbong yang dihuni Ogi dan Jamil. Beberapa orang kemudian berjalan mencari tempat sesuai keinginannya. Bahkan sampai ke gerbong lain. Setelah lengang, ada seorang ibu yang wajahnya sudah kelihatan tua tampak gelisah. Pandangannya kosong. Ia menatap lampu yang gemerlap di pinggir kanan jalan lewat jende?la yang memang terbuka lebar.</p>
<p>Bukan tak memperhatikan tingkah perempuan tua itu, tapi Ogi hanya enggan untuk berkomentar. Ia tahu, perempuan tua itu sedang dilanda kebingungan. Dan tentu saja ia tidak ingin menambah beban orangtua itu.</p>
<p>Ketika Ogi melemparkan pandangannya ke arah perempuan tua itu, mendadak perempuan itu berbinar. Ogi kaget. Kemudian ia membenarkan letak kaki yang dari tadi selonjoran. Sejenak kemudian si ibu sudah berada di samping Ogi. Ogi makin kaget. Tapi perem?puan tua malah tersenyum. Sementara Jamil, matanya sudah hampir padam. Nyalanya redup (bohlam kali!).</p>
<p>&#8220;Nak!&#8221; si ibu tampak ragu.</p>
<p>&#8220;Euu. Ada apa Bu?&#8221; Ogi agak gugup.</p>
<p>&#8220;Sekolahnya kelas berapa?&#8221; perempuan tua itu bertanya dengan nada hati-hati.</p>
<p>&#8220;Kelas dua SMU, Bu!&#8221; jawab Ogi.</p>
<p>Si ibu tua itu kemudian mengeluarkan photo ukuran <em>postcard</em> dari dalam tas kecilnya. Sambil menyodorkan ke hadapan Ogi. Ogi nggak ngerti, tapi kemudian ia melihat foto itu. Sambil menunggu apa yang bakal diomongin si ibu, Ogi diam sambil memper?hatikan raut muka perempuan tua itu. Tampak bibir yang sudah agak keriput itu mulai bergetar hendak mengucapkan kata-kata. Ogi serius memperhatikan.</p>
<p>&#8220;Ini anak Ibu. Kayaknya dia seusia dengan kamu, Nak!&#8221; komentar si ibu.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;&#8221; Ogi hanya bisa mengangguk sambil memonyongkan kedua bibirnya. Sebelum Ogi bersuara perempuan tua itu kembali ngomong.</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;&#8221; ia tak melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Tapi apa, Bu?&#8221; Ogi berusaha memburunya.</p>
<p>&#8220;Ia sudah tiada. Ia sudah meninggalkan ibu untuk selamanya&#8230;&#8221; jawab perempuan tua itu diringi dengan sesenggukan.</p>
<p>&#8220;Bu. Tenang, Bu!&#8221; Ogi berusaha menenangkan si ibu yang terlihat tak kuasa menahan emosinya. Ia begitu larut dalam kesedihan. Sementara kereta tetap melaju, meski tidak terlalu kencang. Ogi bingung beberapa saat. Udara semakin dingin memukul-mukul badan Ogi, hingga membuatnya harus? merapatkan jaket tebalnya. Sementara Jamil malah sudah pulas dengan sukses.</p>
<p>&#8220;Oh, iya, Bu. Pakai jaket saya,&#8221; Ogi menawarkan jasa setelah agak lama diam.</p>
<p>&#8220;Nggak usah, pakai saja!&#8221; perempuan itu beru?saha menolaknya.</p>
<p>&#8220;Anak ibu meninggal karena sakit?&#8221; Ogi coba menebak.</p>
<p>Yang ditanya hanya menggelengkan kepala dengan lemah.</p>
<p>&#8220;Kecelakaan?&#8221; Ogi kembali menebak.</p>
<p>Perempuan itu hanya menggangguk pelan, dan diiringi dengan butiran bening yang serta merta keluar dari kedua matanya. Ia tak kuasa membendung kese?dihan itu. Hingga ditumpahkannya di hadapan Ogi. Ogi makin tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya anak ibu kecelakaan di mana?&#8221; Ogi kembali membuka omongan.</p>
<p>&#8220;Kata orang-orang ia mati dikeroyok saat tawuran di KRL&#8230;&#8221; jawab perempuan tua itu dengan nada pilu.</p>
<p>&#8220;Jadi anak ibu ikut tawuran?&#8221; Ogi mencoba meyakinkan tebakannya.</p>
<p>&#8220;Korban tawuran, karena ibu tahu si Dadi ini anak yang baik,&#8221; wanita setengah baya itu berkomentar sambil menyebut nama anaknya.</p>
<p>Ogi diam. Ia kemudian membangunkan Jamil, namun yang dibangunkan malah tambah pulas. Malah sekarang disertai suara aneh mirip orang digorok. Ogi kesal juga.</p>
<p>&#8220;Ia anak baik, Nak!&#8221; si ibu mencoba meyakinkan Ogi.</p>
<p>Ogi hanya bisa diam sambil memandang iba ke wajah si ibu. Dipandangnya lekat-lekat.</p>
<p>&#8220;Kenapa dia harus pergi secepat itu?&#8221; perem?puan itu seolah protes.</p>
<p>&#8220;Bu, baik atau tidak baik. Kalau memang Allah sudah memutuskan, kita nggak bisa berbuat banyak,&#8221; Ogi menghibur.</p>
<p>&#8220;Ibu sangat mencintainya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita harus menyadari, tak selamanya yang kita cintai harus kita miliki selamanya..&#8221; Ogi kembali bicara, meski dengan perasaan tak menentu.</p>
<p>Si ibu terdiam, matanya telah basah dan kelihat?an sembab oleh air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. Kereta sudah sampai di stasiun Pasar Minggu. Dan gerbong? mulai lengang karena banyak penumpangnya yang turun di stasiun itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Dalam hati Ogi berpikir, kenapa kereta begitu lambat, padahal ini adalah kereta terakhir.</p>
<p>Jamil tetap terbuai dalam mimpinya. Sementara si ibu diam dan selembar foto itu masih dalam genggamannya. Ia melemparkan pandangan matanya ke luar jendela. Tampak gundukan mega hitam meng?angkasa di langit sebelah barat. Begitu hitam. Sesekali terlihat bintang yang bertaburan. Udara makin membuat beku. Ia asyik dengan pikirannya sendiri. Lama juga ia begitu. Ogi tak berani mengusiknya.</p>
<p>&#8220;Ibu mau turun di mana?&#8221; Ogi mencoba membu?yarkan lamunan perempuan tua itu.</p>
<p>&#8220;Ohh..&#8221; si ibu tampak gelagapan.</p>
<p>&#8220;Maaf, Bu. Ibu mau turun di mana?&#8221; Ogi mengulang pertanyaan.</p>
<p>&#8220;Bojonggede!&#8221; ucapnya pelan dan kembali mematung.</p>
<p>Ogi terdiam. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel menimbulkan bunyi yang tak enak di dengar. Makin malam. Mereka terus berdiam menikmati pikirannya masing-masing. Sesekali Ogi melemparkan pandangannya ke luar jendela. Sementara perempuan tua itu tetap diam membisu. Pandangan matanya tampak kosong, sekosong harapannya saat ini. Ia begitu merasa kehilangan anak lelaki yang sangat dicintainya. Seolah-olah ia merasa telah kehilangan harapan dan mimpi. Hidup baginya seakan bukan pilihan yang baik. Jamil masih asyik dengan mimpi indahnya.</p>
<p>Angin malam yang menerjang wajah Ogi membuat Ogi hampir semaput. Matanya sudah membentuk cekungan. Ogi hampir <em>telap</em> menyusul Jamil. Si ibu tetap diam membisu. Ogi akhirnya jenuh juga.</p>
<p>Tiba-tiba Ogi merasa mendengar suara jeritan wanita di gerbong ke tujuh. Ogi penasaran. Ada apa di gerbong tujuh. Rasa penasaran itu berhasil mendorongnya untuk melangkahkan kaki. Namun sebelum melangkah. Ogi berusaha membangun?kan Jamil.</p>
<p>&#8220;Mil, bangun, Mil!&#8221; Ogi setengah teriak.</p>
<p>&#8220;Ada apa sih, udah nyampe, bukan?&#8221; Jamil tampak gelagapan dan mengucek-ngucek matanya.</p>
<p>&#8220;Belum, baru nyampe Pondok Cina!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya udah, masih lama ini..&#8221; Jamil bersiap untuk tidur lagi.</p>
<p>&#8220;Eh, Mil. Kamu jangan tidur lagi, dong!&#8221; Ogi memaksa.</p>
<p>&#8220;Emangnya kenapa. Kamu takut?&#8221; Jamil malah ngaco.</p>
<p>&#8220;Sepertinya ada tantangan di gerbong tujuh!&#8221; Ogi ngasih tahu.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; Jamil medelik.</p>
<p>Lagi asyik ngobrol begitu terdengar suara benda tumpul dipukulkan ke dinding kereta dengan keras. Ogi kaget, begitu juga dengan Jamil.</p>
<p>&#8220;Bu. Ibu diam di sini, ya?&#8221; Ogi menenangkan si ibu yang mulai was-was.</p>
<p>Ogi segera lari memburu ke gerbong tujuh. Namun baru saja nyampe di lorong rangkaian, ia balik lagi sambil pucat wajahnya.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Gi?&#8221; Jamil nanya.</p>
<p>&#8220;Gawat. Gawat. Ada penodongan!&#8221; Ogi gugup.</p>
<p>&#8220;Terus gimana, dong?&#8221;</p>
<p>Ogi diam sejenak memutar otaknya.</p>
<p>&#8220;Mil. Kita harus cari akal. Mereka ada tiga orang. Membawa senjata semua,&#8221; Ogi ngasih tahu.</p>
<p>&#8220;Nah, kamu pancing supaya mereka buyar perhatian?nya,&#8221; Ogi mulai menyusun rencananya.</p>
<p>&#8220;Pancing, gimana?&#8221; Jamil masih belum ngerti.</p>
<p>&#8220;Kamu sekarang lari sambil teriak pura-pura takut dikejar aku,&#8221;</p>
<p>Jamil ngangguk-ngangguk sambil mengencangkan tali sepatu dan merapikan jaket kulitnya. Sementara si ibu dari tadi sudah mojok di ujung gerbong. Ia tampak ketakutan sekali. Kereta masih tetap melaju, saat ini hampir memasuki stasiun Depok.</p>
<p>Di gerbong tujuh terdengar kembali jeritan suara perempuan. Tak berpikir panjang lagi keduanya saling berkejaran.</p>
<p>&#8220;Toloooong&#8230;toloooongg!&#8221; Jamil teriak kenceng banget. Untung nggak disertai batuk-batuk karena Jamil memang mampu menjerit hingga tiga oktav.? Di belakangnya Ogi mengejar sambil mengepalkan tangan menirukan orang yang hendak mukul. Efektif. Sebagai?mana teori sensasi, penodong mengalihkan perhatian?nya dan tertuju kepada Jamil yang teriak-teriak. Begitu lewat di depan orang yang sedang melakukan aksi penodongan itu. Ogi secepat kilat merebut pemukul besi yang kebetulan pemiliknya sedang lengah. Kontan saja doi kaget. Tapi buru-buru Ogi memukulkan besi itu tepat di lengan salah satu penodong yang lagi memegang pisau daging. Karuan saja roboh. Dan pisau itu terlem?par sejauh tiga meter.</p>
<p>&#8220;Mil! Ambil pisaunya dan lempar ke luar!&#8221; Ogi teriak sambil berusaha menyerang pemilik pemukul besi yang masih bengong mendapat serangan tiba-tiba itu.</p>
<p>Jamil gesit. Lalu mengambil pisau daging itu dan melemparkannya ke luar pintu kereta yang memang selalu terbuka. Namun keberhasilan Jamil hanya sesaat karena sejurus kemudian penodong yang membawa pisau belati menyerangnya. Tapi Jamil cepat meng?hindar dan berusaha untuk lari. Si penodong terus merangsek dengan serangan-serangan mematikan. Jamil kerepotan. Sementara Ogi juga sedang sibuk baku hantam dengan penodong yang satu lagi.</p>
<p>Tak ada orang yang mau menolong Ogi dan Jamil. Mereka berdua baku hantam tanpa ada yang berusaha menolongnya. Mungkin karena takut, soalnya di gerbong tujuh itu hanya ada dua orang lelaki. Itu pun sudah tua. Jamil dan Ogi teriak minta bantuan. Namun sial. Tak ada satu pun yang datang membantu.</p>
<p>Duel satu lawan satu itu makin sengit. Meski Jamil dan Ogi cuma bisa sedikit ilmu bela diri, namun karena terdesak oleh kebutuhan, akhirnya mereka bisa juga mengimbangi kedua penjahat itu.</p>
<p>Begitu kereta berhenti di stasiun Citayam keduanya berusaha teriak meminta bantuan. Namun malang, karena sudah malam di stasiun lengang. Apalagi di gerbong ke tujuh, ketika berhenti tidak pas berhadapan dengan bangunan stasiun. Hanya sebentar kereta berhenti dan melanjutkan perjalanannya. Ogi dan Jamil berusaha terus melawan kedua penodong.</p>
<p>&#8220;Aduh!&#8221; Jamil teriak kencang sambil memegang dadanya yang kena tinju.</p>
<p>Ogi menengok sebentar. Namun sial, satu pukulan telak mendarat di pelipis kirinya. Jamil dan Ogi sempoyongan. Tapi mereka berusaha untuk melanjut?kan pertarungan.</p>
<p>&#8220;Mil, lari!&#8221; Ogi ngasih komando.</p>
<p>Secepat kilat Jamil lari menuju gerbong enam lalu teriak-teriak meminta bantuan. Di situ ada sekelompok anak muda sedang menikmati lengkingan gitar Kirk Hammett dan dentuman drum Lars Ulrich dari kelompok Metallica. Lagu &#8230;<em>And Justice for All</em> yang dibesut Metallica pun menenggelamkan teriakan Jamil yang berulang kali minta bantuan.</p>
<p>Sementara Ogi sekarang harus berhadapan dengan dua orang sekaligus. Ia gugup. Tangannya memegang erat pemukul besi. Meski tadi sempat limbung juga akibat tonjokan di pelipis kirinya.</p>
<p>Kini Ogi dikepung. Ia kemudian merapat ke pintu. Kereta masih melaju. Dan bantuan rasanya lambat sekali datangnya. Ogi hampir putus asa.</p>
<p>&#8220;Laahaula walaa quwwata illa billah!&#8221; Ogi membatin.</p>
<p>Tiba-tiba seorang penodong menyerang sambil mengepalkan tinjunya. Ogi cepat menghindar, dan si lelaki gondrong itu kini berada tepat di hadapannya. Kontan saja Ogi mengayunkan besi itu tepat di kepala si penodong. Terdengar jeritan memilukan dan akhirnya lelaki naas itu roboh.</p>
<p>&#8220;Ayo maju! Kalau mau mengikuti nasib temanmu!&#8221; Ogi nantang.</p>
<p>&#8220;Bangsat!&#8221; kata lelaki kerempeng namun penuh tato itu sambil menyerangnya. Ogi lagi-lagi sigap menghindar. Dan malang benar nasib penodong itu. Karena tak perhitungan, akhirnya ia meluncur deras menuju pintu dan jatuh entah bagaimana nasibnya. Ogi kaget. Ia juga tak nyangka bila akhirnya orang tersebut harus menebus dosanya dengan terjun dari kereta yang tengah melaju kencang.</p>
<p>Ogi duduk lemas. Ia lemparkan pemukul besi itu ke hadapan tubuh penodong yang tampaknya pingsan karena pukulan besi di kepalanya. Ogi tak menyadari, bahwa si penodong yang dikiranya pingsan mulai menggeliat bangun dan tiba-tiba Ogi merasakan tenguknya seperti patah dihantam benda tumpul.</p>
<p>&#8220;Ahhhhh!&#8221; Ogi menjerit sambil memegang tenguknya.</p>
<p>&#8220;Hey, Bangun! Gi, bangun, Gi!&#8221; Jamil membangunkan Ogi sambil memegang tenguknya.</p>
<p>Tapi Ogi tetap teriak. Bahkan sekarang disertai dengan teriakan minta tolong.</p>
<p>&#8220;Gi! Bangun, Gi! Sadar, Gi!&#8221; Jamil teriak sambil mengguncang-guncang tubuh Ogi.</p>
<p>Ogi membuka kelopak matanya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.</p>
<p>&#8220;Makanya kalo mau tidur baca doa dulu. Biar mimpinya nggak buruk,&#8221; Jamil nasihatin.</p>
<p>Ogi tersenyum kecut. Ia malu.</p>
<p>&#8220;Tuh, si ibu mau pulang!&#8221; kata Jamil sambil nunjuk ke arah perempuan tua di samping Ogi. Tak ada kata-kata ketika si ibu itu meninggalkan Ogi. Hanya lambaian tangan tanda perpisahan.</p>
<p>Ogi tak puas, Ia melihat ke luar gerbong. Tampak si ibu masih melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada Ogi. Ogi membalasnya dengan perasaan iba. Entah siapa perempuan itu. Ogi belum sempat mengenalnya lebih jauh. Namun pertemuan itu sangat berkesan di hatinya. Dan kereta itu kembali melanjut?kan perjalanannya ke Bogor.</p>
<p>&#8220;Mimpi yang menegangkan!&#8221; Ogi membatin. Angin malam mengiringi kereta terakhir dari Jakarta itu. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel kembali terdengar. Bunyinya sangat berisik. Awan hitam tampak masih mengangkasa menyertai perjalan Ogi dan Jamil[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Juni 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kereta-terakhir-dari-jakarta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
