<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/pernik/keluarga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menumbuhkan Percaya Diri Anak</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 17:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3224</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita? 
Oleh Mohammad Fauzil Adhim*
Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita? </em></strong></p>
<p>Oleh <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong>*</p>
<p>Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali meng­alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.</p>
<p>Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka­rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya.<span id="more-3224"></span></p>
<p>Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa­tir salah mengucapkannya –karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat. Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber­sahabat, dan penuh semangat.</p>
<p>Astaghfirullahal ‘azhim… Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang me­nulis risalah ini.</p>
<p>Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje­niusan mereka dalam enam bulan pertama.”</p>
<p>Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias, dan senantiasa belajar. Di usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar –meminjam istilah Glenn Doman— “tanpa usaha”. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.</p>
<p>Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah. Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam Syafi’i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Begitu pula yang dila­kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih. Tetapi bukan kita.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-‘azhim</em>. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?</p>
<p>Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya mela­hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahir­kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan karena mereka me­miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang yang lebih tua dari anaknya.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-‘azhim</em>. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan memba­guskan pendidikan anak-anak kita.</p>
<p>Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang men­jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memu­liakan syari’at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita te­riakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.”</p>
<p>Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, “Nah…, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?”</p>
<p>Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingat­kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka –meskipun tampaknya kita lebih sering mencela—dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?</p>
<p>Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berfirman,<em> “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” </em>(QS. Al-A’raaf: 31).</p>
<p>Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup un­tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman-temannya. Padahal mereka dila­hirkan untuk zaman yang bukan kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be­sar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, <em>“Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.”</em> Perintah-perintah di masa awal kena­bian Rasulullah tercinta, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji Wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:</p>
<p><em> “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.  Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”</em></p>
<p>Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang berpijak di atas aqidah yang lurus.</p>
<p>Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasihat Nabi saw ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.</p>
<p>Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi orang­tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manu­sia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.</p>
<p>Anak-anak kitakah yang akan seperti itu?  [<strong>sahid/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9771:menumbuhkan-percaya-diri-anak&amp;catid=99:m-fauzil-adhim-&amp;Itemid=75" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></strong>]</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis di Majalah Suara Hidayatullah </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Menegangkan sebagai Orang tua</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/saat-menegangkan-sebagai-orang-tua</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/saat-menegangkan-sebagai-orang-tua#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 18:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3222</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat syaraf kita menegang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?</em></strong></p>
<p><strong>Oleh: Mohammad Fauzil Adhim</strong><br />
<em><strong><br />
</strong></em><em><strong></strong></em>Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat syaraf kita menegang karena anak membangkang. Ada sebagian orangtua yang menangis karena merasa anaknya tak mengerti kemauan orangtua. Padahal sudah banyak diingatkan, dimarahi, bahkan dihukum.</p>
<p>Lonjakan tekanan emosi ini akan lebih menegangkan lagi ketika ada tamu datang ke rumah kita, sedang berbelanja di toko, atau saat melakukan perjalanan jauh bersama anak. Semenjak usia dua tahun, anak sepertinya tahu bahwa dalam situasi-situasi seperti itu kendali orangtua melemah. Ibu tak akan mengeluarkan teriakan yang menakutkan, bapak tidak mungkin berdiri mengacungkan tangan untuk memukul, seheboh apapun tingkah anak. Mereka tahu, orangtua kerap kali tak berdaya menghadapi tingkah anak–setidaknya selama tamu masih berada di rumah.<span id="more-3222"></span></p>
<p>Memasuki usia dua tahun, anak memang berubah. Para ahli menggambarkan usia ini–sampai sekitar empat atau lima tahun—sebagai <em>the terrible twos</em> (dua tahun yang mengerikan). Anak-anak semula begitu menyenangkan, mudah diatur, membuat kita bahagia karena tingkahnya yang lucu menggemaskan, begitu memasuki usia dua tahun berubah menjadi ketegangan, mulai menunjukkan keakuan, tak jarang menampakkan “perlawanan” dan mulai ingin mengatur lingkungan. Usia dua tahun adalah usia paling lucu sekaligus membuat kita sulit tertawa. Ia ingin diperhatikan dan terutama dilibatkan. Itulah sebabnya anak bertingkah heboh.</p>
<p>Setidaknya ada dua hal yang membuat anak seperti itu.<em> Pertama</em>, anak ingin mendapat perhatian dan penerimaan dari orang lain, misalnya tamu. Tingkahnya akan lebih heboh lagi bila ia merasa di-<em>persona-non-grata</em>-kan (tidak disenangi) atau merasa tidak dianggap manusia. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik, berlari keluar untuk menyambut tamu, berinisiatif menanyakan nama dan alamat, tetapi tamu yang datang menampakkan sikap tidak membutuhkan anak kecil itu.</p>
<p><em>Kedua</em>, anak merasa kehilangan perhatian dari orangtua saat tamu datang. Sebelum usia dua tahun, orangtua selalu melibatkannya, menceritakan tentang kelucuannya, menunjukkan kehebatan sekaligus mengajaknya berdialog di depan tamu. Tetapi begitu memasuki usia dua tahun, atau beberapa bulan sebelum itu, kita mulai “mengabaikan dia”. Atas sebab itu, anak bertingkah menghebohkan untuk merebut perhatian. Tentu saja ini harus dibedakan dengan perilaku anak yang memang gesit dan meriah gerak maupun suaranya, tak peduli ada tamu atau tidak. Hanya saja, saat ada tamu kita lebih sensitif mendengar teriakan mereka yang mengagetkan.</p>
<p>Sepanjang saya perhatikan, anak-anak cenderung lebih tenang apabila mereka merasa tamu datang tidak hanya membutuhkan orangtua mereka. Anak-anak itu menampakkan perilaku yang lebih kooperatif bila mereka ikut disapa–satu atau dua menit—sebelum berbicara dengan orangtua.</p>
<p>Sikap orangtua terhadap anak juga turut berpengaruh. Kalau anak-anak disuruh masuk seketika, begitu ada tamu datang, kerapkali yang terjadi adalah ketegangan yang melelahkan. Saat-saat menemui tamu penuh pergolakan untuk menahan diri dan gusar dengan teriakan anak. Sebaliknya, ketika kita memiliki sedikit waktu untuk berbicara baik-baik dengan mereka, memberi pengertian dengan menceritakan siapa tamu yang datang dan apa keperluannya, anak cenderung lebih bisa menempatkan diri.</p>
<p>Jarang-seringnya tamu datang juga mempengaruhi dahsyat-tidaknya perilaku anak. Anak-anak yang di rumahnya sering kedatangan tamu, akan lebih tenang dibanding mereka yang jarang menerima tamu. Begitu ada yang datang, bagai musim kemarau disiram hujan, anak-anak itu segera berteriak lantang, bertingkah dengan selepas-lepasnya dan sibuk mencari perhatian. Tingkah anak yang memusingkan itu akan lebih menegangkan lagi jika tamu datang di saat anak sedang mempunyai permintaan dan tidak dituruti oleh orangtua. Kesempatan yang sangat bagus untuk memaksa orangtua.</p>
<p>Khusus berkait dengan rengekan anak saat tamu datang, ada yang perlu kita perhatikan. Tak jarang orangtua menyerah hanya demi “menjaga nama baik”, padahal dampaknya sangat buruk. Kadang orangtua menolak membelikan es krim dengan alasan tidak punya uang. Ketika anak merengek atau menangis, orangtua bersikeras tidak mau membelikan. Tetapi begitu rengekan dilakukan di hadapan tamu, segera keluar uang “pembungkam mulut”. Anak memang seketika terdiam, tetapi pada saat yang sama mencatat setidaknya mencatat empat pelajaran penting yang berbahaya.</p>
<p><em>Pertama</em>, anak belajar berbohong dengan contoh nyata dari orangtua. Bukankah tadi orangtua mengatakan tidak punya uang? Dan bukankah orangtua ternyata dapat memberinya uang saat tamu datang? Padahal tamu datang tidak membawakan uang untuk orangtua.</p>
<p><em>Kedua</em>, anak belajar memaksa dengan menggunakan tangis dan kekerasan. Ketika ia meminta baik-baik, orangtua tidak menuruti. Tetapi begitu ia berteriak keras, menangis, bila perlu mengamuk, orangtua segera menuruti. Pengalaman yang sangat berkesan sehingga layak menjadi “pegangan” dalam menghadapi orangtua.</p>
<p><em>Ketiga</em>, anak belajar mempermalukan orangtua dan kelak orang lain–<em>na’udzubillahi min dzalik</em>—demi memperoleh apa yang diinginkan. Belajar dari pengalaman di depan tamu, anak menemukan pelajaran bahwa yang membuat orangtua bersegera menuruti adalah rasa malu. Orangtua tidak ingin kehilangan muka di hadapan tamu.<br />
<em><br />
Keempat</em>, anak belajar tidak mempercayai orangtua. Orangtuanya mengatakan tidak punya uang, tetapi ternyata mampu memberi uang saat tamu datang. Berarti orangtua telah berbohong, tidak berbicara dengan qaulan sadida (perkataan yang benar) sebagaimana diwasiatkan oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla </em>dalam Al-Quran. Cara menampik keinginan anak tidak dilakukan dengan alasan yang benar, alasan yang mendidik anak, tetapi dengan alasan yang diada-adakan. Tidak punya uang memang alasan yang paling mudah kita cari, terutama bagi para orangtua yang malas berpikir jernih.</p>
<p>Agar ingatan kita lebih segar dan bekasnya di hati lebih kuat, mari kita simak kembali wasiat Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p><em>“Dan hendaklah orang-orang pada takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan qaulan sadidan (perkataan yang benar).”</em> [An-Nisaa’: 9]</p>
<p>Masya Allah! Begitu kecil kelihatannya, namun begitu besar akibat yang ditimbulkan oleh kata-kata yang salah. Berawal dari hilangnya kesabaran dan keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan segera (<em>isti’jal</em>), kita dapat menuai akibat yang sangat panjang. Hanya karena kita tak tahan mendengar tangisan, kita bisa menuai airmata tak habis-habisnya. Hanya karena malu di depan tamu atau pengunjung supermarket yang sebenarnya tidak saling kenal, kita bisa menanggung malu yang lebih besar. N<em>a’udzubillahi min dzalik, tsumma na’udzubillahi min dzalik</em>. Semoga Allah Yang Membolak-balikkan Hati, membaguskan akhlak anak-anak kita, memelihara iman mereka, dan meneguhkan kepercayaan mereka kepada kita selaku orangtua. Allahumma amin.</p>
<p>Bicara tentang kata, teringatlah saya kepada Bob Greene, yang pernah menulis artikel rangkuman dari bukunya berjudul <em>He was a Midwestern Boy on His Own</em>. Dalam artikel yang berjudul <em>What Words Can D</em>o (Apa yang Bisa Dilakukan oleh Kata-kata), Bob Greene menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kata. Kata Greene, “Terkadang, bahkan sesuatu yang paling sederhana pun membawa akibat yang selama-lamanya.”</p>
<p>Agaknya, ada yang perlu kita benahi kembali dalam hati kita, jiwa, ilmu pengetahuan, serta sikap kita. Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?</p>
<p>Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membaguskan kita, keluarga, orangtua, dan keturunan kita seluruhnya. Semoga Allah Ta’ala ampunkan yang salah dan tinggikan apa yang benar dari langkah-langkah kita mempersiapkan anak-anak menjadi penolong agama-Nya. <em>Allahumma amin</em>. [<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9433:saat-menegangkan-sebagai-orangtua&amp;catid=99:m-fauzil-adhim-&amp;Itemid=75" target="_blank"><strong><em>www.hidayatullah.com</em></strong></a>]<br />
<em><br />
Penulis adalah kolumnis Majalah Hidayatullah dan penulis masalah islami parenting</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/saat-menegangkan-sebagai-orang-tua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Kita dan Zaman</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/anak-kita-dan-zaman</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/anak-kita-dan-zaman#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 17:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1985</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Wah sudah besar, ya anakmu?&#8221; apa yang kita rasakan ketika mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga ketika disapa demikian. Anakku sudah besar, pikir kita.
Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, &#8220;anakku sudah besar&#8221; Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Wah sudah besar, ya anakmu?&#8221;</em> apa yang kita rasakan ketika mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga ketika disapa demikian. <em>Anakku sudah besar</em>, pikir kita.</p>
<p>Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, <em>&#8220;anakku sudah besar&#8221; </em>Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang usianya? Tahukah kau peristiwa apa saja yang telah terjadi sepanjang usianya? Ketika ia tertawa bahagia, mendapatkan momen yang membungakan perasaannya, hadirkah engkau di sana, turut tertawa bahagia bersamanya? Dan ketika ia meneteskan air mata duka karena kecewa dan hatinya luka, apakah engkau ada di sisinya? Engkau jadikan dadamu sebagai tumpahan air matanya? Dan engkau usap rambutnya yang halus agar ia tahu bahwa ia tak menangis sendirian, bahwa engkau ada bersamanya? Berempati merasakan duka dengannya. Seberapa sering itu kau lakukan?<span id="more-1985"></span></p>
<p>Tahukah engkau dengan siapa saja ia bermain? Apa yang ia mainkan? Ataukah kau hanya berkutat dengan duniamu sendiri dan merasa anakmu akan baik-baik saja?</p>
<p>Dan tahu-tahu, anakmu sudah bertambah besar, bertambah usianya, dan kau tak akan bisa lagi mendampinginya.</p>
<p>Anak kita adalah anak zaman. Ia tumbuh seiring pertumbuhan zaman, dan usianya mengikuti zaman. Tapi kita, orang tua, semestinya menjadi <em>guide</em> baginya mengikuti zaman. Kita harus bisa menjadi rembulan yang bersinar terang bagi anak-anak kita di zaman yang serba gulita. Ketika anak-anak kita menatap ke angkasa mereka merasa akan baik-baik saja, karena ayah bundanya selalu bersama mereka. Kalaupun tak bisa senantiasa bersama, tapi cahayanya, ajarannya, ada dekat dengan mereka.</p>
<p>Tapi sadarkah bahwa orang tua sering ?merampas&#8217; kebersamaan itu? Kesibukan kita mencari nafkah, aktualisasi diri kita, jadi alasan untuk membuang kesempatan emas kita untuk bersama mereka. Lalu kita percayakan anak-anak kita pada orang lain, pengasuh, playgroup, sekolah-sekolah unggulan, dan teman-teman mereka. Maaf, ini bukan saja pemikiran para eksekutif dan kaum karir, tapi tak sedikit pasangan suami-istri pegiat dakwah yang berpikiran demikian.</p>
<p>Sebagian orang tua malah percaya bahwa jika orang tua terus mendampingi anak maka akan melemahkan mental anak. Lebih baik jika diasuh oleh orang lain dan dibiarkan main sesuka mereka.</p>
<p>Masya Allah, lupakah mereka dengan pesan Nabi saw. <em>&#8220;Al waladu lil firasy &#8211; anak adalah milik orang tua.&#8221;</em> Dan bukankah orang tua yang menentukan keyahudian, kenasranian dan kemajusian anak-anak mereka?</p>
<p>Dan, tahu-tahu anakmu sudah besar. Kau sudah tak bisa lagi mendampingi mereka, mereka pun berpaling darimu. Apakah kau akan bangga atau malu? <strong>[januar]</strong></p>
<p><strong>[diambil dari Tabloid KELUARGA, edisi 01, 2008]<br />
</strong></p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/anak-kita-dan-zaman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Engkaulah Tulang Punggung</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/engkaulah-tulang-punggung</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/engkaulah-tulang-punggung#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 00:18:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1983</guid>
		<description><![CDATA[ 
Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah bercerita, &#8220;Aku dan Fatimah, putri Rasulullah saw. Pernah menderita kelaparan berhari-hari. Demi Allah, saat itu tak ada sebiji kurma kering pun pada kami.
Lalu Fatimah berkata kepadaku, &#8220;Pergilah mencari makanan!&#8221;
Maka aku bangkit mengenakan jubahku yang terbuat dari bulu domba untuk menahan rasa dingin yang menyengat. Kemudian aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah bercerita, &#8220;Aku dan Fatimah, putri Rasulullah saw. Pernah menderita kelaparan berhari-hari. Demi Allah, saat itu tak ada sebiji kurma kering pun pada kami.</p>
<p>Lalu Fatimah berkata kepadaku, &#8220;Pergilah mencari makanan!&#8221;</p>
<p>Maka aku bangkit mengenakan jubahku yang terbuat dari bulu domba untuk menahan rasa dingin yang menyengat. Kemudian aku memohon kepada Allah dan memohon ampunanNya agar Dia memberiku rizki.</p>
<p>Tiba-tiba, aku teringat dengan seorang Yahudi pedagang yang memiliki kebun di Khaibar. Maka aku bergegas pergi menemuinya. Ternyata ia sedang memutar kincir airnya di sawah.<span id="more-1983"></span></p>
<p>Ali ra. lalu mengatakan, lalu aku bekerja padanya, yaitu menguras air sumur, dengan upah satu kurma setiap embernya.</p>
<p>Setelah aku menguras sumur itu hingga beberapa ember, ia memanggilku dan memberiku upah persis dengan jumlah hitungan ember air yang telah aku kuras, tanpa tambahan dan pengurangan sedikit pun.</p>
<p>Ali ra. mengisahkan, lalu aku pergi menemui Rasulullah saw. untuk memberitahukan pada Beliau apa yang baru aku lakukan. Beliau saw. tersenyum setelah mendengar ceritaku. Kemudian beliau mengundangku makan dan makan beberapa butir kurma.</p>
<p>Setelah itu aku menemui istriku, putrinya, Fatimah ra. maka sungguh Allah telah memberkahi kurma itu hingga mencukupi kami beberapa waktu cukup lama.</p>
<p>Sidang pembaca budiman, kisah Khalifah keempat Rasulullah saw. adalah cerminan tanggung jawab seorang suami sebagai tulang punggung keluarga. Ketika menyadari keluarganya tak memiliki makanan, Ali pun bergegas mencari nafkah, menembus dinginnya cuaca. Pekerjaannya pun amat sederhana &#8211; bahkan kasar &#8211; menguras sumur milik seorang Yahudi dengan upah beberapa butir kurma belaka.</p>
<p>Padahal bisa saja, Ali meminta bantuan kepada kaum muslimin. Toh ia menantu Rasulullah saw., dan kerabat dekat Beliau. Tapi perbuatan Ali mengajarkan kita bahwa seorang muslim harus memiliki sifat iffah, menjaga kehormatan diri. Malu menjadi benalu.</p>
<p>Kita, para suami sering dimanjakan dengan status sosial; yang sarjana dengan kesarjanaannya, yang aristokrat dengan kearistokratan-nya, yang pegiat dakwah dengan dakwahnya. Hingga enggan bekerja mencari nafkah halal karena gengsi. Tak sedikit pengemban dakwah yang menggantungkan hidupnya dari bayaran dakwah. Ia tak tahu &#8211; atau pura-pura tak tahu &#8211; bahwa umat bersusah payah mengumpulkan dana untuk mengadakan pengajian.</p>
<p>Padahal Ali bin Abi Thalib jauh melebihi keuletan, keberanian, dan kecerdasan juru dakwah manapun saat ini. Tapi tak pernah ia meminta-minta sesuatu di jalan Allah. Yang beliau pahami, bahwa seorang suami harus bekerja mencari nafkah agar kebutuhan keluarganya tercukupi. Ali tahu, bahwa ia adalah seorang tulang punggung keluarga, selain seorang pejuang Islam. Bagaimana dengan kita, wahai para suami? <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Tabloid KELUARGA, edisi 01, 2008]</em><strong><br />
</strong></p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/engkaulah-tulang-punggung/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
