<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; OnlyGirl</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/pernik/onlygirl/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menjadi Daiyah, Kudu Lagi!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 18:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2275</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?
Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan married [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?</em></strong></p>
<p>Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan <em>married</em> ama Pak Haji). Sekarang, kondisinya udah beda 180 derajat. Meski kaum berumur masih ada yang aktif berdakwah, tapi jumlahnya bisa dihitung, cukup dengan jari tangan plus jari kaki kamu. Sebaliknya, kini remaja-remaja seusia kamu Non yang lebih mendominasi aktivitas yang katanya bau surga itu.</p>
<p>Dalam menerjuni kancah dakwah, mereka punya motto &#8220;Hidup Mulia atau Mati Syahid&#8221;. Ada juga yang punya motto &#8220;Lebih baik Berdakwah daripada Didakwahi&#8221;. (Maksudnya, lebih baik memberitahu dulu daripada diomeli, <em>kali ye</em>). Yang lain punya motto &#8220;<em>Bunga Dakwah</em>&#8220;, artinya buku ngaji dan dakwah. Tentu saja mereka jauh dari aktivitas hura-hura, pesta dan cinta kayak generasi dugem.<span id="more-2275"></span></p>
<p>Trisna Rahmawati salah satunya. Siswi kelas 3 SMK Negeri 1 Bogor ini ikut terlibat DKM Asy-syifa di sekolahnya. Doi terlibat dakwah karena menyadari betul bahwa hal itu suatu kewajiban. Kesadarannya itu muncul setelah bersentuhan dengan ajaran Islam ketika waktu kelas 1. &#8221;Tadinya hanya ingin cari pengalaman organisasi aja, tapi setelah mengkaji Islam jadi tahu kalo dakwah itu wajib. Ya udah, jalanin,&#8221; ungkapnya. Selain dapat ilmu Islam, Marni senang karena bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan yang positif. Nggak mengganggu sekolah? &#8221;Enggak tuh, prestasi masih baik-baik aja,&#8221; akunya.</p>
<p>Hanya, kadang doi dihadapkan pada kendala waktu. Maklum, udah kelas 3, jadi lumayan sibuk. &#8221;Tapi melihat situasi di lingkungan, khususnya sekolah, kita pengin dong berubah menjadi Islami. Makanya nggak bisa tinggal diam,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Aktivitas ngaji dan dakwah juga dirasakan Anggita Indra Sari, mahasiswi semester 5 Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB). Doi yang baru sekitar dua tahun masuk Islam ini, sedang getol-getolnya? mempelajari Islam karena merasa belum tahu banyak. &#8221;Sejak itu saya tahu kalo dakwah itu wajib. Bahkan walaupun baru paham satu ayat, kita harus menyampaikan ke orang lain,&#8221; kisahnya kepada Permata. Selain itu, ketika melihat kemungkaran, adalah kewajiban kita untuk mengingatkan, imbuh gadis manis asal Jawa Tengah ini.</p>
<p>Mengalami kendala nggak saat berdakwah? &#8221;Wah, banyak sekali. Pernah? saya dianggap ikut aliran sesat. Termasuk di keluarga, saya masih dianggap nggak tahu apa-apa tentang Islam,&#8221; ujarnya. Karena itu, Anggi butuh dorongan kuat untuk meyakinkan orang yang didakwahinya. Selain Anggi ada juga Ninik Sulastri, alumnus Universitas Airlangga yang masih jomblo ini, sangat menikmati aktivitas dakwahnya. Aktivitasnya, mengisi pengajian, menjadi operator siaran radio program Islam, ikut seminar, de el el.</p>
<p>Dalam beraktivitas, banyak kendala doi temukan. Baik dari diri sendiri, masyarakat maupun lingkungan. Dari diri sendiri, misalnya kalo lagi terserang penyakit Betty La Fea, alias bete. Atau pas ketemu ama audiens yang &#8216;bandel&#8217; bin &#8216;istiqomah&#8217; dalam kemunkaran. &#8221;Pernah ngisi pengajian sampai berkali-kali, eh&#8230;orangnya kagak berubah-berubah,&#8221; keluhnya.? Ada lagi dari lingkungan, misalnya dihambat perangkat desa setempat ketika akan menyampaikan Islam. &#8221;Kita kan minta ijin mo ikut pengajian ibu-ibu, tapi tidak diijinkan, malah kelihatan dihambat, gitu,&#8221; curhatnya kepada Permata belum lama ini. (Dikira minta bayaran atau minta sumbangan kali, ya!)</p>
<p>Lalu, apa yang dicari dengan segudang aktivitas itu? Hampir semua akhwat di atas sepakat, mencari ridho Allah. &#8221;Yah, namanya juga menjalankan kewajiban. Tujuannya ya cuma satu, moga-moga dapet pahala,&#8221; begitu ujar Trisna. &#8221;Saya sih sama, mencoba merintis jalan menuju surga,&#8221; imbuh Ninik. Semoga terkabul deh!</p>
<p><strong>Dakwah, Mengapa Tidak?</strong></p>
<p>Ya, dakwah memang bukan monopoli kaumnya AA Gym saja. Kaum hawapun juga punya kewajiban yang sama, menyeru kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar. Allah berfirman yang artinya: <em>&#8220;Hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada Islam, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.&#8221; </em>(TQS Ali-Imran: 104). Seruan ini tidak <em>khususon </em>buat cowok, tapi juga buat cewek. Demikian pula QS An-Nahl: 125, QS Fushilat: 33, dll.</p>
<p>Dalil lain tentang wajibnya dakwah adalah Sabda Rasullullah yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah mencegahnya dengan tangan, dan jika tidak mampu maka dengan lesan, dan jika tidak mampu dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman.&#8221; </em>(HR Muslim).</p>
<p>Jadi jelas, dakwah adalah wajib. Tidak bisa ditawar lagi, jadi sunah atau mubah, misalkan. Sama halnya dengan kewajiban salat atau puasa di bulan Ramadhan, maka konsekuensinya jelas jika kamu tak melaksanakannya, yakni dosa. <em>Na&#8217;udzubillahi min dzalik</em>. Dan kewajiban ini nggak dibatasi umur, nunggu kalo udah tua atau udah hajah misalkan. Jadi kamu-kamu, asal udah baligh, udah kudu menjalankannya.</p>
<p>Bagaimana agar bisa menjadi daiyah? Kunci pertama adalah belajar Islam (ngaji). Eit, jangan antipati dulu. Wah, kalo ngaji ntar ini nggak boleh, itu dilarang, begitu mungkin pikir kamu. Padahal kalau tahu Islam, nggak berat kok ngejalanin perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Wong semua itu dibebankan Allah Swt sesuai dengan kemampuan kita kok.</p>
<p>Termasuk, ketika dalam melaksanakan aktivitas dakwah, kamu dihadang tantangan dan hambatan, Insya Allah pasti kamu mampu mengatasinya. Asal kamu tahu strateginya aja. Soalnya, meski nggak setebal tembok Cina, namun hambatan ini cukup menjadi kendala bagi keberhasilan dakwah. Hambatan itu bisa datang dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Dari diri sendiri, diantaranya adalah keyakinan terhadap Islam yang mungkin belum 100%, nggak pede, malas, takut resiko, atau kesibukan pribadi seperti karena masih sekolah, kuliah atau karena urusan keluarga.</p>
<p>Tantangan dari keluarga, bisa jadi masalah perijinan ketika akan keluar rumah, terjadinya bentrokan pemikiran dengan keluarga yang belum sepemahaman dengan kita, dan juga masalah uang saku. Maklum, bagaimana pun sebagai anak yang belum bisa mandiri, kita kan masih minta ongkos ortu pas kudu keluar rumah. Iya, kan? Nah, kalo lagi ada kegiatan nggak dikasih ijin plus ongkos, gimana bisa jalan? Sedangkan tantangan dari masyakat, bisa akibat adanya image negatif atas aktivitas kita, birokrasi yang bertele-tele, perijinan, dll.</p>
<p><strong>Ada Rambu-rambunya, Lho!</strong></p>
<p>Dalam menjalankan aktivitas dakwah, ada &#8216;rambu-rambu&#8217; khusus buat wanita. Ada hukum-hukum syara&#8217; tertentu yang kudu diperhatikan. <em>Pertama</em>, ketika wanita akan keluar rumah, dia musti dapet SIM (Surat Ijin Mengaji) dari ortu atau suaminya, bagi yang udah <em>married</em>. Rasulullah bersabda: <em>&#8220;..tidak boleh wanita keluar rumah kalau suaminya tidak suka.&#8221;</em> (Lihat Shahih Ibnu Hibban).</p>
<p>Ini bukan berarti menghambat aktivitas wanita lho, lebih karena untuk menjaga <em>iffah</em> (kesucian) wanita sendiri. Siapa tahu keluargamu pengin menjemput, kan biar nggak nyasar. Atau barangkali aja dompet kamu ketinggalan, kan bisa disusulin, he&#8230;he&#8230;he. Lagipula ada kewajiban mengurus anak (hadhanah) yang nggak bisa dialihkan pada suami, <em>babysitter</em> apalagi tetangga.</p>
<p><em>Kedua</em>, tidak tabaruj atau berdandan nyolok yang bisa menarik perhatian. Yang harus jadi magnet audiens itu pemahaman Islam kamu, bukan kamunya. So nggak usah <em>overact</em> dengan dandan kayak badut, atawa pakai wangi-wangian yang baunya bisa bikin <em>kelenger</em>. Allah berfirman: &#8220;Janganlah kalian bertabaruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.&#8221; Sekadar ingin tampil serasi, segar dan bersih sih, boleh. Pokoknya asal nggak bikin <em>enek</em>, tapi enak dipandang (emangnya permen Tamarin).</p>
<p><em>Ketiga</em>, wanita musti disertai mahram bila melakukan perjalanan dengan menempuh jarak safar (sehari semalam atau 24 jam). Rasullullah bersabda: &#8220;Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akherat, melakukan perjalanan satu hari satu malam kecuali bersamanya mahram.&#8221;</p>
<p>Tidak menutup kemungkinan kan, diantara kamu musti menghadiri acara penting di suatu kota nun jauh di mata. Misalnya ada koordinasi antar Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se-Indonesia yang mengharuskan kamu keluar wilayah tempat tinggal kamu. Kadang, bagi yang masih lajang, ini memang sulit. Apalagi kalau tinggal di perantauan tanpa mahram. Untuk itu bisa ditemani jamaah wanita lainnya, jangan ngajak temen ikhwan. Pokoknya jangan ampe pergi sendirian deh! Selain haram, juga bisa mengundang bahaya. Mending kalau &#8216;cuma&#8217; dicopet atau dirampok, kalo diculik atau diperkosa, kan berabe. (Eh, ini bukan nakut-nakuti, lho).</p>
<p><em>Keempat</em>, sebaiknya wanita mendakwahi atau mengkaji Islam dengan sesama jamaah wanita. Hal ini untuk lebih menjaga kesucian dan menghindari fitnah. Kalau ngisi pengajian ikhwan emang kenapa? Dalam proses belajar mengajar, wanita mengajar lelaki atau sebaliknya memang boleh hukumnya. Seperti yang pernah dilakukan Aisyah istri Rasulullah ketika mengajarkan hadits kepada para shahabat. Namun, itu berarti si wanita harus disertai mahram, atau audiens yang ikhwan tersebut tidak sendirian. Artinya, jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan saja), apalagi di tempat khusus. Ntar dikira kencan lagi.</p>
<p>Setelah kamu tahu hukum dakwah dan juga rambu-rambu yang kudu diperhatikan, bagaimana? Yang belum menjalankan aktivitas dakwah, <em>sami&#8217;na wa atho&#8217;na</em>, kan? Siap laksanakan! Ayolah, nggak usah takut! Hasilnya jelas kok, dapet pahala, jaminannya surga. Amiin!!! <strong>[asri]</strong></p>
<p>Boks &#8212;&#8211;</p>
<h2>Catatan Kecil Buat Da&#8217;iyyah</h2>
<p>Dakwah itu wajib. But jangan lupa ada pernak-pernik yang kudu kita bangun. Kalau nggak, bisa jadi program dakwah kita yang mulia itu berantakan. Nah ini ada beberapa catatan kecil buatmu;</p>
<ol type="1">
<li>Bangunlah      komunikasi dengan keluarga. Ada baiknya kamu ceritakan terus terang      aktivitas kamu, tentu dengan memilih situasi dan kondisi yang tepat. Nah,      misalkan kamu aktif di rohis, ungkapkan kegembiraanmu pada ortu bisa      terlibat di kegiatan tersebut. Kalau ortu melihat kamu senang dengan      aktivitasmu, ortu tidak akan berat melepas kepergianmu. Selain itu, kalo      kamu suatu saat pulang tak seperti biasanya karena rapat misalkan, ortu      tak komplain.</li>
<li>Jangan      lupa ada juga kewajiban dakwah pada ortu dan keluarga. Dengan begitu kamu      udah punya dukungan yang kuat di dalam keluarga. Enak kan?</li>
<li>Tunjukkan      bahwa dakwah nggak menghambat prestasi belajar. Jangan sampai nilaimu      jeblok lalu menjadikan dakwah sebagai kambing hitam. Karena itu, kamu      musti pintar bagi waktu antara belajar dan berdakwah.</li>
<li>Jangan      lupa minta izin setiap mau pergi, utamanya kalau pergi jauh en lama maka      harus minta izin jauh-jauh hari sebelum hari H tiba. Siapa tahu sebetulnya      ortu punya rencana lain, ngajak berkunjung ke sanak famili misalnya,      ngajak belanja atau butuh bantuan kamu buat kerjabakti bersih-bersih      rumah. Dengan bicara jauh-jauh hari, siapa tahu pula ortu malah ngasih      ijin plus; plus uang transport, uang jajan, uang makan, uang lelah, uang      capek, uang malu dll (He..he&#8230;he&#8230;). Atau, syukur-syukur malah dianterin ke      tempat aktivitasmu. Lumayan kan, ngirit ongkos sekalian mengenalkan ortu      pada lingkungan kamu. Kalau ortu tahu dengan siapa kamu bergaul, mungkin      ortu makin percaya sama kamu.</li>
<li>Bagi      kaum ibu atau istri muda (baik karena umurnya masih muda maupun karena      sebagai istri kedua, ketiga dan keempat) juga begitu, beritahu suami      sebelum hari H supaya tidak terjadi bentrokan kepentingan dengan suami.      Demikian pula agar pekerjaan rumah tidak terbengkalai. Apalagi kalau udah      punya <em>baby</em>. Inget, kewajiban mengurus anak kan ada pada ibu, bukan      suami, babysitter apalagi tetangga. Dengan begitu, siapa tahu suami      menawarkan diri untuk meng-<em>handle</em> sebagian pekerjaan rumah. Jadi,      kewajiban mengurus rumah maupun kewajiban dakwah sama-sama bisa berjalan      lancar. Gimana kalau suami suatu ketika nggak ngasih izin? Jangan nuduh      dulu suami anti dakwah, tapi mungkin ia punya pertimbangan lain yang perlu      bantuanmu, misalkan anak sakit, atau suaminya sakit, atau suami lagi      banyak kerjaan, jadi butuh bantuanmu untuk ngurus anak, rumah dan suami      (emang suami nggak perlu diurus?). Dan dalam hal ini kewajiban seorang      istri adalah taat pada suami. Catet itu! Pernahkan denger hadits seorang      wanita yang nggak keluar rumah atas perintah suaminya, padahal ia pengen      banget berbakti pada orang tuanya yang tengah sakit berat. Bahkan sampai      meninggal. Ternyata Allah malah memberikan ampunan pada ortunya karena      ketaatan sang anak pada suaminya.</li>
<li>Jaga      kesehatan. &#8220;Sesungguhnya pada tubuhmu ada hak atasmu,&#8221; kata Rasululullah      saw. mengingatkan kita supaya menyayangi tubuh kita. Jangan      mentang-mentang disibukkan bergudang-gudang kegiatan, jadi lupa makan,      minum, atau istirahat. Ingat lho, yang namanya <em>hajatul udhowiyah</em> (kebutuhan jasmani) seperti makan, minum, dll, wajib dipenuhi. Kalo nggak,      bisa menghantarkan pada kematian. Kamu nggak mau kan gara-gara kamu sakit      seluruh aktivitas jadi terhambat?</li>
</ol>
<p><em>So guest</em>, selamat menjelajahi dunia dakwah. Semoga pilihan untuk terjun ke medan mulia, mengemban misi para Nabi dan Rasul ini bukan sekadar nekad, tapi jadi jalan hidup. Amin!!![<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Oktober 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Sekolah Apa Kerja?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pilih-sekolah-apa-kerja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pilih-sekolah-apa-kerja#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 17:22:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Bagi anak puteri, kayaknya agak sulit memutuskan, apakah akan nerusin sekolah, atau mau langsung kerja. Belum lagi soal tuntutan ortu di antara dua pilihan tersebut. Makin tambah pusing aja ya?Lalu gimana solusinya? 
Pertanyaan itu mungkin sedang berkecamuk di benak kamu, khususnya yang baru nglepas seragam abu-abu putih. Maklum biar pun cewek, kita-kita tetap harus mikirin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bagi anak puteri, kayaknya agak sulit memutuskan, apakah akan nerusin sekolah, atau mau langsung kerja. Belum lagi soal tuntutan ortu di antara dua pilihan tersebut. Makin tambah pusing aja ya?Lalu gimana solusinya? </em></strong></p>
<p>Pertanyaan itu mungkin sedang berkecamuk di benak kamu, khususnya yang baru nglepas seragam abu-abu putih. Maklum biar pun cewek, kita-kita tetap harus mikirin masa depan. Apalagi di jaman sulit kayak gini. Enaknya nglanjutin ke sekolah lebih tinggi, Apa langsung kerja ya? Atau&#8230;malah <em>merit.</em></p>
<p>Menurut Dewi, pelajar yang baru lulus sebuah SMU negeri di Bogor ini, ngelanjuti ke PT hukumnya wajib (ceile, kayak sholat aja). Alasannya, untuk meraih masa depan lebih baik dan meraih cita-cita. &#8220;Biar dapet gelar sarjana sehingga gampang nyari kerjaan,&#8221; kilah gadis berkacamata minus ini. Menurutnya, bekal pendidikan itu sangat penting. Apalagi di era yang katanya globalisasi ini. &#8220;Biar kita cewek, sekolah musti setinggi-tingginya,&#8221; imbuh gadis yang mimpiin jadi dokter ini dengan semangat reformasi.<span id="more-2468"></span></p>
<p>Lain lagi komentar Mona, temen kamu yang baru naik kelas 3 SMU swasta di Bogor ini. &#8220;Gua sih sebenarnya males sekolah lagi. Abisnya, pusiing! Tapi berhubung ortu nuntut gua musti jadi sarjana, terpaksa mo sekolah juga,&#8221; begitu katanya. Gadis yang mengaku rangkingnya pas-pasan ini sebetulnya lebih suka kalau disuruh langsung kerja aja. Apalagi, papanya punya dua unit usaha rental komputer dan internet. &#8220;Pengennya sih bantuin di rental aja. Bisa sambil maen, <em>chatting,</em> <em>browsing</em>, gitu. Jadi kerjanya nyantai. Tapi gimana nanti deh, &#8221; imbuhnya sembari ngeloyor.</p>
<p>Lain lagi rencana Teti, juga lulusan SMU swasta. Doi pilih mau kerja aja. Soalnya dari sisi biaya, Teti ngaku nggak mungkin mampu menjangkau bangku kuliah. &#8220;Ayah kan cuma pensiunan guru SD, sementara saya punya adik 3 orang yang semuanya musti sekolah,&#8221; Teti bercerita. Karena tahu diri dengan kondisi ekonomi ortu, gadis berperawakan langsing ini pengen banget bekerja. Sekalian, bantu ekonomi keluarga. &#8220;Tapi mo kerja apa ya? Apa bekal ijasah saya laku? Saya cewek lagi,&#8221; ujarnya gamang. Teti emang pesimis, soalnya nyari kerja sekarang kan nggak gampang Tapi karena? tuntutan ekonomi, Teti nggak punya pilihan. Eh, tapi jangan nangis gitu dong Tet! Jadi ikut sedih nih!</p>
<p>Ehm, gimana kalau Teti <em>merit</em> aja? &#8220;Wah, boleh juga tuh usulnya,&#8221; cetusnya kembali sumringah. &#8220;Tapi, jangan ah! Belum siap. Lagian, saya kan nggak punya pacar,&#8221; ujarnya malu-malu. Emangnya kalau mo <em>merit</em> musti punya pacar, salah! Yang benar, ada calon suami, Tet!</p>
<p><strong>Tak semata kejar gelar</strong></p>
<p>Punya cita-cita mo jadi dokter, tukang insinyur, guru atau mungkin pengusaha, buat cewek, boleh-boleh aja. Asal kita nggak lupa kodrat kita sebagai wanita. Maksudnya jangan sampai kita bercita-cita jadi presiden seperti&#8230;tahu kan? Atau jadi peragawati laksana Arzeti, penyanyi bak Krisdayanti, or profesi lain yang diharamkan oleh Islam.</p>
<p>Nah, untuk meraih cita-cita itu, harus ditempuh banyak cara. Salah satunya, ya dengan sekolah itu. Kalau pengen jadi jadi dokter kayak Dewi misalnya, berarti harus sekolah di fakultas kedokteran. Tentu saja untuk itu dibutuhkan bekal macam-macam, seperti otak yang encer, minimal kayak Betty La Fea, keuangan yang memadai, dan fasilitas penunjang lainnya. Maklum nggak bisa sembarang orang bisa jadi dokter. Salah-salah bisa <em>malpraktek</em> tuh. Ih, ngeri banget.</p>
<p>Jadi, walaupun kita cewek, sekolah sampai setinggi-tingginya boleh-boleh aja. Apalagi dalam Islam, menuntut ilmu itu hukumnya wajib (<em>fardhu</em>). Ada <em>fardhu &#8216;ain</em>, yakni menuntut ilmu-ilmu Islam yang berkaitan dengan perbuatan kita sehari-hari. Ada pula yang hukumnya <em>fardhu kifayah</em>, yakni mempelajari ilmu-ilmu yang sifatnya umum. Misalnya belajar ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu gizi, dll. Nah, jika kamu sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan mempelajari ilmu-ilmu umum tersebut berarti kamu menjalankan <em>fardu kifayah</em>.</p>
<p>Tentu itu tidak cukup. <em>Fardhu &#8216;ain</em> untuk memuntut ilmu Islam jangan kamu tinggalkan. Kuliah bukan berarti menggugurkan kewajiban kamu buat belajar Islam. Apalagi, pelajaran agama Islam nggak bakal kamu dapetin dibangku kuliah, kecuali sedikit. Jadi, belajar bukan hanya di lembaga formal saja, tapi juga non-formal. Soalnya sistim pendidikan saat ini nggak memungkinkan kita untuk dapet belajar ilmu-ilmu Islam sebanyak-banyaknya. Sederhananya, jangan sampai gara-gara belajar ilmu umum, ilmu Islam kamu abaikan.</p>
<p>Selain hal itu bisa memenuhi tuntutan ortu untuk sekolah, juga bukan hal yang buruk. Hitung-hitung sebagai bentuk bakti kita sama ortu. Yah, kayak kasus si Mona itu. Yakinlah Insya Allah ortu itu menginginkan yang terbaik buat kita. Hanya saja, perlu dipertimbangkan dengan minat dan kemampuan kita. Jangan karena kita semata-semata memenuhi tuntutan ortu, lalu kita maksain milih bidang yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Yang penting ketika kita menjalankan itu semua harus tetap dilandasi keikhlasan dan dalam rangka mencari ridha Allah semata.</p>
<p>Ingat, sekolah bukan semata-mata untuk dapat gelar atau ijasah buat cari kerja. Sebab, gelar dan ijasah tak menjamin kita jadi mudah cari kerja. Banyak kok yang mengantungi gelar sampai <em>es tiga</em>, tapi susah dapat kerja. Sebaliknya, ada yang ijasahnya pas-pasan atau bahkan nggak berijasah, tapi rejekinya tetap lempeng. Jadi, niat sekolah itu dalam rangka kewajiban menuntut ilmu, bukan sebagai investasi buat nyari kehidupan yang lebih baik. Soalnya, rejeki itu di tangan Allah Swt.</p>
<p>Ilmu yang kita dapat di bangku sekolah, bakal bermanfaat untuk bekal hidup di masyarakat. Bentuknya tak melulu di lapangan pekerjaan, tapi juga di rumah dan lingkungan tempat tinggal. Misalnya, kelak ketika kamu <em>merit</em>, lalu jadi istri atau ibu. Makanya, buat yang pengen sekolah, akan lebih afdol bila kamu pilih studi yang mempelaajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kepentingan wanita. Misalnya soal kesehatan, gizi, pendidikan dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Bekerja bagi wanita</strong></p>
<p>Bagaimana dengan pilihan untuk bekerja atau dituntut bekerja oleh ortu? Jangan berkecil hati. Islam membolehkan wanita bekerja. Artinya, mubah (boleh) wanita mencari sumber penghasilan di berbagai bidang kecuali bidang tertentu seperti pemimipin negara atau profesi yang menanggalkan kodrat kewanitaan kita. Dalam hal ini tentunya Islam melarang. Misalnya jadi model (apalagi model VCD casting iklan sabun mandi, hi&#8230;!!!), jadi peragawati, pemain sinetron, pemandu sorak, dan lain-lain.</p>
<p>Ketika bekerja pun, wanita harus memperhatikan rambu-rambunya. Di antaranya, harus mendapat ijin wali atau suami, dan tetap melaksanakan kewajiban berjilbab, meski banyak perusahaan yang menolak karyawatinya yang berjilbab. Kemudian harus menghindari ber-<em>khalwat</em> (dua-duan dengan laki-laki yang bukan mahram), juga harus menghindari <em>ikhtilat</em> (campur baur antara laki dan perempuan). Tambahan lagi, kamu jangan sampai bekerja di sektor yang membahayakan kehormatan dan kesucian sebagai wanita. Misalnya bekerja di tempat hiburan, tempat biliar, dan lain sebagainya.</p>
<p>Yang jelas seorang wanita sebetulnya tak harus bekerja. Sebab, dia berhak mendapatkan nafkah dari ortunya sejak lahir sampai menikah. Ketika menikah itulah, nafkah wanita beralih menjadi tanggung jawab suaminya. Jadi, seharusnya kita-kita yang cewek nggak perlu pusing mikirin musti kerja. Solusinya&#8230;.nikah? Ehm, kalau emang udah ada yang mau (dan serius), trus kamu juga udah siap fisik dan mental, pilihan terakhir ini juga nggak buruk. Malah, tergolong ibadah. Tentu, untuk ini juga harus banyak pertimbangannya.</p>
<p>Lantas, kalau kondisi kepepet kayak Teti misalnya, bagaimana? Memilih berkarir, boleh-boleh aja kalau memang ada peluang kerja. Lagipula, Allah berfirman dalam salah satu ayat-Nya yang artinya: <em>&#8220;Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan&#8221;</em> <strong>(TQS An-Nis? [4]: 32)</strong></p>
<p>Yang perlu diingat, bekerja bagi wanita yang hukumnya mubah itu jangan sampai mengalahkan kewajiban yang lain, seperti menuntut ilmu Islam. Jangan sampai karena alasan bekerja trus nggak sempet ngaji. Toh kita masih bisa belajar tanpa meninggalkan kerja. So, pilih sekolah atau kerja, dua-duanya Insya Allah sama baiknya. Asal, jangan melupakan ngaji. Masih bingung? Mending ambil wudhu dan sholat <em>istikharah!</em> Minta kepada Allah, mana yang terbaik buat kita. <strong>[asri]</strong></p>
<p>box&#8212;</p>
<p align="center"><strong>Tips Memilih Sekolah</strong></p>
<p>Jika kamu pengen ngelanjutin studi ke jenjang yang lebih tinggi setelah SMU, ada banyak pilihan. Nggak cuma di PT negeri, tapi bisa juga ke lembaga-lembaga pendidikan non formal setingkat PT yang sekarang menjamur. Misalnya ke Lembaga pelatihan ketrampilan (LPK), program ektension, kursus, dan sejenisnya. Yang pasti kamu musti pandai-pandai memilih biar nggak salah. Bagaimana caranya? Beberapa kiat berikut mungkin bisa jadi panduan kamu.</p>
<p><strong>1. Cari informasi</strong></p>
<p>Himpun informasi sebanyak-banyaknya tentang sekolah. Misal namanya, lokasinya, status (akreditasi, terdaftar, disamakan, dan lainnya), program studi yang diselenggarakan , staf pengajar, kurikulum, biayanya, dan sebagainya. Kalo perlu sejarah berdirinya, alumnusnya, dan prospek setelah lulus dari sekolah tersebut. Ini akan sangat membantu kamu untuk memilih sekolah sesuai minat dan kemampuan kamu. Misalnya sebisa mungkin pilih sekolah yang akredetasinya minimal diakui, kurikulumnya bagus dan alumnusnya juga oke. Soal lokasi makin dekat dengan tempat tinggal juga makin baik. Biar hemat ongkos jalan.</p>
<p><strong>2. Kenali minat dan kemampuan kamu</strong></p>
<p>Kamu harus bisa mengidentifikasi, kira-kira kamu cocok di bidang apa. Misal, kalau cenderung suka teknologi kamu bisa ambil bidang informatika, atau komputasi. Atau lebih suka manajemen, akuntansi, masak-memasak, desain grafis, dan lain sebagainya. Emang sih, sebetulnya semua orang punya potensi sama untuk mengembangkan diri di bidang apapun. Tapi, biar profesional, kamu musti memfokuskan diri pada satu bidang keahlian tertentu. Dan, bidang apa yang kamu pilih, tentu kamu yang paling tahu soal kemampuanmu. Jangan maksain sekolah di bidang yang kamu nggak bisa, atau nggak suka. Dan, nggak ada salahnya kamu minta pertimbangan ortu, kakak, kakak kelas atau sodara kamu. Mereka kan lebih pengalaman, jadi gambaran soal profesi barang kali lebih detil.</p>
<p><strong>3. Sesuaikan dengan kondisi keuangan</strong></p>
<p>Memilih sekolah, juga jangan asal bonafit aja. Ukur juga kemampuan keuangan ortu kamu. Jangan sampe udah masuk sekolah, terus mandek gara-gara keuangan seret. Pilih sekolah yang terjangkau saja. Jangan karena menuruti gengsi, kamu maksain diri masuk sekolah mahal. Bisa-bisa stres sendiri karena tekanan batin, nggak bisa ngikutin gaya borju anak-anak sekolah itu. Tapi yang pasti, jangan pilih sekolah yang asal murah, tapi mutunya tidak terjamin. Pilih yang kira-kira seimbanglah, antara kualitas dan biaya. Biaya pendidikan ini juga harus kamu prediksikan betul dan disiapkan sebaik-baiknya. Kalo merasa tidak mampu tapi ngebet ingin sekolah, nggak ada salahnya kamu nyari beasiswa, ortu asuh, atau nyari sekolah yang ikatan dinas. Lumayan lho, selain dijamin kerja, biaya juga ditalangin.</p>
<p><strong>4. Jangan mudah tergiur promosi</strong></p>
<p>Biasanya, masin-masing sekolah atau lembaga pendidikan punya beragam strategi untuk menjaring murid. Misalnya jaminan kerja setelah lulus, jaminan beasiswa sekian persen, lulusannya selalu diserap lapangan kerja, berafiliasi dengan sekolah terkenal di luar negeri, lulus dengan cepat, dan lain-lain. Kamu musti teliti betul, benarkah slogan-slogan tersebut, apa hanya retorika semata. Jika sesuai fakta sih, nggak masalah. Tapi kalo sekadar slogan, hati-hati. Karena, pendidikan sekarang hampir semuanya komersil, alias mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Itu sebabnya, mereka berlomba-lomba promosi besar-besaran. Nah, selamat menjadi mahasiswa! <strong>[asri]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, edisi Juli 2002]</em><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pilih-sekolah-apa-kerja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Guru Penggoda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 21:30:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[godaan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[penggoda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah digoda cowok? Hmm…pasti kamu-kamu pada acung jempol. Emang, cowok tuh suka iseng banget godain cewek. Apalagi cowok-cowok tipis iman alias preman. Meski cuma disuitin, bikin gerah juga kan. Yang gawat, gimana kalo yang suka menggoda itu ternyata guru kita di sekolah?
Akhir-akhir ini nggak sedikit guru yang suka menggoda muridnya. Maaf banget buat bapak-bapak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah digoda cowok? Hmm…pasti kamu-kamu pada acung jempol. Emang, cowok tuh suka iseng banget godain cewek. Apalagi cowok-cowok tipis iman alias preman. Meski cuma disuitin, bikin gerah juga kan. Yang gawat, gimana kalo yang suka menggoda itu ternyata guru kita di sekolah?</p>
<p>Akhir-akhir ini nggak sedikit guru yang suka menggoda muridnya. Maaf banget buat bapak-bapak yang berprofesi guru, bukannya nuduh ya, ini fakta loh, bukan gosip. Udah banyak kasus murid yang mendapat perlakuan nggak senonoh oleh (oknum) guru. Ada yang hanya dikerlingin nakal, dirayu pake kata-kata gombal, atau bahkan ditowel-towel tubuhnya. Yang lebih syerem, ampe dicabuli. Iiih, amit-amit jabang bayi.<span id="more-647"></span></p>
<p>Contoh kasus yang dilakukan Suh (50), salah seorang oknum guru sebuah sekolah kejuruan di wilayah Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan. Dia mencabuli salah seorang anak didiknya hingga hamil 7 bulan. Bener-bener ibarat pepatah pagar makan tanaman deh.</p>
<p>Kejadian macam itu bisa terjadi karena sang murid nggak bisa nolak gurunya, figur yang selama ini kudu dihormati dan dipatuhi. Karena perasaan takut atau sungkan, murid nggak bisa berbuat banyak saat digodain. Kalaupun marah, nggak mungkin serta merta melabrak tuh guru iseng. Bisa-bisa kitanya yang dianggap kurang ajar. Lebih gawat lagi nilai-nilai sekolah pelajaran tuh guru bisa terancam. Repot. Lalu bagaimana dong?</p>
<p><strong>Sebatas muamalah</strong><br />
Hubungan antara guru dan murid hanya sebatas muamalah. Kamu menuntut ilmu dan gurumu sebagai pengajarnya. Titik. So, nggak usah coba-coba dikembangin hubungan-hubungan yang laen. Apalagi dia guru laki-laki, nggak sembarangan kita boleh berhubungan, seperti jadi sahabat, jadi tempat curhat, dll.</p>
<p>Emang sih, guru yang baik adalah guru yang perhatian ama muridnya. Biasanya tipe guru kayak gini gampang akrab ama muridnya, suka ngajak ngobrol atau becanda. Tapi inget, semua itu harus tetap dalam koridor sebagai seorang pendidik yang berusaha  menciptakan suasana belajar yang nyaman, menyenangkan dan menyelesaikan problem-problem yang bisa jadi dihadapi murid-muridnya.</p>
<p>Di sisi lain, adalah kewajiban murid buat menghargai, patuh dan mengormati sama gurunya. Tentu saja jika guru tersebut menunjukkan perilaku yang sopan, santun dan berwibawa. Pokoknya menunjukkan sosok guru yang emang pantes buat digugu dan ditiru gitu loh. Kita pun hanya boleh patuh kalo diperintahkan melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Jadi, sekalipun yang memerintahkan guru, kalo disuruh hal-hal yang bertentangan dengan Islam nggak boleh kita ikuti.</p>
<p>Nah, kalo tuh guru udah mulai melenceng dari tugasnya sebagai pengajar,  waspadai. Misalnya melakukan pendekatan pada murid tertentu. Kalo ada guru mencoba menggoda kamu, sebaiknya kamu membatasi diri untuk tidak melayaninya. Yup, semakin kamu layani godaannya, tuh guru bakal makin ketagihan godain kamu. Meski digodanya sebatas dengan kata-kata, jangan memberi respon positif. Misalnya jangan terkesan kamu senang digoda dengan senyum-senyum atau ketawa-ketiwi. Jangan pula merasa ge er kalo digodain, atau bahkan bangga. Ntar dikira kamu emang suka digodain.</p>
<p>Apalagi kalo udah menjurus ke aktivitas fisik, misal (maaf nih) ditowel-towel atau diraba-raba bagian tubuh kamu, udah deh alamat nggak bener tuh guru. Tunjukkan ketidaksukaanmu dengan santun (gimana caranya ya? Susah-susah gampang emang). Intinya sih jangan asal emosi. Takutnya gurumu tersinggung dan berbalik marah sama kamu. Kalo udah gitu, bisa jadi dia akan membenci kamu atau malah dendam. Lebih baik sebisa mungkin segera menghindar dari hadapan guru itu. Pamit aja dengan baik, misal ‘Maaf Pak, mau ke kelas dulu’ dan sebagainya.</p>
<p><strong>Tanda-tanda guru penggoda</strong><br />
Supaya kamu waspada terhadap perilaku guru kamu yang tipe penggoda, sebaiknya kamu tahu kriteria guru penggoda itu kayak apa sih? Bisa jadi guru ganjen itu suka tampil klimis, biar dianggap paling cute gitu. Dengan begitu murid-muridnya juga gampang dipincut..</p>
<p>Cara pandang guru penggoda juga beda. Pasti dia suka curi-curi pandang, merhatiin seluruh tingkah laku kamu. Lihat saat doi lagi ngajar, saat nyuruh kamu ngerjain tugas ke depan kelas atau di manapun ketika ada kamu dan bapak guru itu. Kalo doi suka-suka kepergok mandangin kamu, hm…emang bisa dipastikan tuh bapak guru ada maunya.</p>
<p>Guru penggoda juga sok akrab. Biasanya mancing kamu dengan candaan, pujian atau bahkan menggoda kamu dengan kata-kata rayuan. Setelah itu baru ngorek-ngorek masalah pribadimu, misalnya soal hobi, cita-cita, dah punya pacar apa belum (padahal kita kan bukan penganut pacaran), suka jalan-jalan nggak, dst.</p>
<p>Udah gitu dia pasti nyari-nyari kesempatan buat dua-duaan ama kamu. Alasannya bisa aja dengan memerintahkan mengerjakan tugas tertentu atau pengen nanyain sesuatu ama kamu. Bahaya, Non! Apapun alasannya jangan sekali-kali maen nurut aja. Ingat, pelecehan murid ama gurunya bisa aja terjadi. Kalo dah gitu, mending ajak temen, jangan sekali-kali mau ditemui guru sendirian, apalagi kalo di tempat yang udah sepi. Misal di kelas yang udah nggak ada murid lagi atau di ruang guru yang sudah sepi, dll.</p>
<p>Lagian, kalo berdua-duaan gitu, meski ama guru sendiri tetep aja jatuhnya khalwat. Padahal Islam kan tegas melarang laki-laki dan perempuan berdua-duaan. Ingat pesan Rasulullah Saw: ‘Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan perempuan yang tidak disertai mahramnya.’ Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda (yang maknanya): “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.”  Jadi, setuju kan kalo kita sebagai murid perempuan sebaiknya jaga jarak ama guru laki-laki? Kudu lagi![<em>kholidah</em>]</p>
<p>===box===</p>
<p>Kalau kamu termasuk murid perempuan yang sering diisengin guru laki-lakimu, ada tips-tips nih untuk menghindarinya:<img title="More..." src="http://www.gaulislam.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<ul>
<li><strong>Jaga pandangan</strong>. Jangan ampe sering-sering menatap gurumu waktu dia ngajar atau saat berinteraksi. Siapa tahu gurumu jadi ge er dan pengin balas menggoda kamu. Ingat firman Allah Swt: “<em>Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…</em>” (<strong>QS an-Nuur [24] : 31</strong>)</li>
<li><strong>Jaga dandanan dan tingkah kamu</strong>. Biasanya murid yang digoda adalah yang suka cari perhatian dengan berpakaian seksi, pakai wewangian, ganjen dan agresif. Makanya, tampillah dengan dandanan dan pakaian yang islami. Selain karena kewajiban dari Allah Swt., insya Allah juga bisa mengantisipasi dari godaan setan yang terkutuk…eh…termasuk godaan guru tentunya.</li>
<li><strong>Jaga jarak</strong>. Sebaik apapun guru itu, tetap jaga jarak aman. Sebab keakraban murid-guru bisa membuat guru penggoda leluasa melancarkan jurusnya. So, jika ada guru penggoda yang sok akrab, jangan serta-merta meladeni dengan mengajaknya berakrab-akrab ria. Sebab begitu merasa akrab, tuh guru bakalan nggak jaim-jaim buat melancarkan jurus godaannya.</li>
<li><strong>Jangan dibalas</strong>. Meski ‘cuma&#8217; dengan ucapan-ucapan dan tidak sampai menyentuh fisik, lebih baik kamu cuekkin aja. Soalnya kalo kamu nanggepin, bukannya kapok mereka malah akan semakin menjadi-jadi. Cowok penggoda itu bakal senang kalo godaan mereka ditanggapi atau dijawab. Entah kamu jawabnya dengan ketus, sinis, marah, mencaci-maki, semua itu nggak bikin cowok penggoda jera.</li>
<li><strong>Pasang tampang tegas</strong>. Umumnya cowok penggoda tuh akan segan menggoda mereka yang nggak nanggepin godaan-godaan mereka. Bisa jadi guru kamu juga gitu. Supaya dia nggak terus-terusan pasang godaan, jangan dibalas dengan godaan. Oke? Ntar juga ketahuan kok itu dari ekspresi wajah kamu, mana yang diam tegas bin cuek dengan kesan senang bin antusias. Guru penggoda pastinya jadi malaslah godain murid yang nggak respek sama godaannya. Iya kan?[<em>kholidah</em>] | <em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menghadapi-guru-penggoda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Yuk!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/puasa-yuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/puasa-yuk#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 21:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?
&#8220;SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat ngejalanin, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,&#8221; begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?</strong></em></p>
<p>&#8220;SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat <em>ngejalanin</em>, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,&#8221; begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar menjalankan ibadah shaum. Ada banyak kegiatan yang Wati suka lakukan. &#8220;Yang paling terkesan kalo ada acara Pondok Ramadhan di sekolah. Wah, heboh habis! Jarang-jarang kan kita bisa makan rame-rame bareng guru dan temen-temen,&#8221; ceritanya gembira.</p>
<p>Lia juga sama, gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Cewek yang kuliah di salah satu STIE di Bogor ini mengaku banyak mengikuti kegiatan positif saat puasa di lingkungan tempat tinggalnya. &#8220;Kebetulan aktif di DKM Masjid dekat rumah. Masjid jadi rame kalo bulan Ramadhan gini. Tiap hari bisa buka shaum gratis, he..he..he&#8230;,&#8221; ujarnya sambil tertawa renyah.<span id="more-2476"></span></p>
<p>Selain itu, di kampusnya dia juga lumayan aktif di rohis. Biasanya, dia dan teman-teman segeng rohisnya juga ngadain buka puasa? bersama meski nggak tiap hari, sanlat Ramadhan, dll. &#8220;Kalau itu sih, udah tradisi,&#8221; katanya seperti model iklan Biskuit Roma di teve itu. Pernah nggak seh malas? &#8221;Yah, namanya orang puasa. Aku juga suka lemes, malas dan kadang mudah emosi. Tapi, kita kan musti bisa menahan diri, kalo nggak puasanya sia-sia dong!&#8221; katanya rada-rada ngeles. Padahal, emang ada benernya sih.</p>
<p><strong>Puasa vs Wanita</strong></p>
<p>Kewajiban berpuasa, diperintahkan Allah SWT bagi laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183 (kamu pasti hafal kan!) yang artinya &#8216;Hari orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kami, agar kamu bertaqwa.&#8217; Begitu pula Sabda Rasulullah: &#8216;Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu&#8217; (HR Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).</p>
<p>Seruan itu bersifat aam atawa umum baik bagi cowok maupun cewek. Artinya, nggak ada alasan buat ninggalin kewajiban itu. Kendati kamu cewek, kamu pasti kuat menjalankan puasa, sama dengan kaum Adam. Karena, Allah SWT Zat Yang Maha Mampu mengukur kemampuan kamu.</p>
<p>Memang, ada saatnya di mana kamu haram meneruskan puasa, yakni jika mendapatkan haid dan nifas (keluar darah sehabis melahirkan). Hanya saja, meski kamu bebas tugas puasa pada saat itu, kamu musti menggantinya (mengqadha&#8217;) di hari lain. Ceritanya, kamu tuh ngutang puasa sama Allah SWT yang musti kamu bayar segera di luar Bulan Ramadhan.</p>
<p>Selain itu, kalo kamu tiba-tiba jatuh sakit yang mengganggu fisik atau mental kamu, maka boleh membatalkan puasa. Syaratnya tetap, wajib mengganti di hari lain. Bagaimana dengan wanita yang hamil dan menyusui? Bila wanita hamil itu ada perasaan takut dengan berpuasa bisa membawa mudharat diri dan janin dalam kandungannya, maka dia boleh tidak puasa. Sebagai gantinya, wajib meng-qadha di hari lain. Sementara jika pertimbangannya karena khawatir akan keselamatan janinnya semata, maka harus meng-qadha di lain hari sekaligus membayar fidyah.</p>
<p><strong>Puasa dan Kesehatan</strong></p>
<p>Selain hukumnya memang wajib, sebetulnya apa sih manfaat puasa? Mungkin ada sudut hatimu yang usil bertanya begitu. Meskpun memang, harusnya nggak perlu kamu tanyakan kenapa musti puasa. Sebab itu kewajiban dari Allah SWT yang nggak perlu dipertanyakan latar belakangnya, tujuan, misi, visi dan manfaat kegiatan itu. (kayak proposal seminar aja). Tapi, wajar kalo kamu penasaran. Orang lapar kok dilarang makan, haus dilarang minum. Aneh, kan! Namun dari sisi medis, bisa dijelasin kok kira-kira manfaat puasa itu apa. Rasulullah sendiri bersabda: <em>Shuumuu nashimuu</em> yang artinya berpuasalah supaya kamu sehat.</p>
<p>Pada waktu melakukan puasa, terjadi perubahan metabolisme tubuh kita akibat penghentian total asupan energi, bahan pembangun serta air selama periode aktif di siang hari. Karena tidak ada asupan energi, tubuh menggunakan cadangan energi yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, sisa-sisa bahan makanan yang tidak diperlukan tubuh tidak menumpuk, melainkan langsung dibuang sehingga tubuh lebih sehat. Pada keadaan puasa ini, kerja lambung dan perangkat pencernaan lain juga berubah. Tentu saja kerjanya jadi lebih enteng, sehingga organ-organ pencernaan bisa sedikit santai dan fungsinya bisa berjalan dengan lebih baik.</p>
<p>Secara keseluruhan, perubahan metabolisme pada seseorang akan tampak secara objektif dan dirasakan dalam bentuk penurunan berat badan. Wajar jika ada yang menjalankan puasa bila ingin melakukan diet penurunan berat badan. Karena memang terbukti, puasa adalah cara yang aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.</p>
<p>Nah, selama puasa banyak perubahan yang terjadi. Pertama, perubahan kebiasaan waktu makan dan minum. Lebih kurang 14 jam mulai terbit fajar sampai terbenam matahari kita tidak makan dan minum. Makan dan minum hanya dilakukan malam dan menjelang pagi. Hal tersebut akan menimbulkan rasa lapar dan haus. Karena perubahan pola makan ini, akan terjadi pula perubahan pada pengosongan lambung. Lamanya pengosongan lambung tergantung isi lambung. Isi lambung yang cair lebih cepat kosong daripada yang padat. Makanan padat banyak yang mengandung karbohidrat akan meninggalkan lambung dalam 2-3 jam. Sedangkan bila banyak mengandung lemak akan lebih lama berada di dalam lambung. Bila kita berbuka atau sahur, kandungan makanan yang kita makan akan mempengaruhi waktu timbulnya rasa lapar.</p>
<p>Saat puasa juga terjadi perubahan pola tidur. Kita harus bangun dini hari untuk makan sahur. Bagi yang tidak biasa bangun shalat malam atau subuh di awal waktu, ini sangat berat. Namun akan segera diterima dan tubuh akan menyesuaikan diri.</p>
<p>Selain itu, juga terjadi perubahan emosi. Ingat, orang lapar biasanya gampang marah. Nah, disinilah diuji untuk mengendalikan amarah, takut, benci, sedih, dll. Pokoknya, semua yang termasuk keluarga stres musti dihindari agar puasanya sukses. Manifestasi fisik dari emosi disalurkan melalui sistem saraf somatik dan otonom. Orang yang marah misalkan, akan terlihat tegang, jantung berdebar keras, dan tekanan darah tinggi. Hal itu tergolong gangguan psikosomatik. Nah, dengan berlatih mengendalikan emosi dan bebas dari rasa berdosa, dapat membebaskan orang dari gangguan psikosomatis itu. So, kejiwaan kamu lebih sehat!</p>
<p>Boks ================</p>
<h3>Kiat Tampil Bugar di Bulan Ramadhan</h3>
<p>MALAS, lemes, nggak bergairah, bawaannya pengin tidur. Itu diantara yang kamu-kamu alami ketika menjalankan ibadah shaum. Akibatnya, kewajiban yang harusnya kelar, kadang jadi terbengkalai gara-gara nuruti nafsu malasmu. Padahal, banyak cara untuk menghindari rasa malas-masalan kamu itu, lho! Nih, ada beberapa kiat yang mudah-mudahan bisa bikin kamu tetep tampil seger buger di Bulan Ramadhan. Simak ya!</p>
<p><em>Pertama,</em> mengatur pola makan, sesuaikan dengan kondisi tubuh. Hal ini berarti kita harus memperbanyak makan pada waktu sahur dan buka, dengan tidak melupakan keterbatasan dan kapasitas perut kamu. Yang lebih diutamakan adalah peningkatan kualitas makanan, bukan hanya kuantitasnya. Misal, agar tidak merasa lemas, makanlah makanan yang mengandung energi tinggi dan mudah dicerna, terutama saat berbuka. Jenis makanan ini harus mengandung kadar gula tinggi, seperti kurma, buah-buahan, kolak, dll. Makanan yang lama dicerna menyebabkan lambung bekerja keras sehingga membuat kita ngantuk. Kasihan dong lambung kamu, abis istirahat dari pagi ampe sore, tiba-tiba suruh kerja rodi.</p>
<p>Jadi, sebaiknya jangan langsung makan besar saat buka shaum tiba. Karena, nasi yang banyak mengandung karbohidrat lama dicerna lambung. Ntar keburu ngantuk abis makan. Padahal kita kan butuh shalat Isya dan Tarawih. Jadi, begitu bedug maghrib terdengar, segera batalkan puasa, tetapi jangan makan berat. Setelah itu shalat Magrib, baru makan besar. Itupun jangan terlalu rakus karena bisa-bisa nggak kuat Tarawih. Makan sahurpun sebaiknya ditutup dengan makanan yang manis karena energi yang terkandung di dalamnya akan tersimpan di tubuh sehingga kita punya cadangan energi yang cukup untuk beraktivitas sehari-hari. Dengan begitu kita nggak lemes.</p>
<p><em>Kedua</em>, mengatur pola kegiatan. Aktivitas sehari-hari memang nggak boleh kendor meski sedang puasa, apalagi yang wajib-wajib. Misalnya ke sekolah, belajar, ngaji, membantu orangtua dan juga berdakwah. Tapi, waktunya harus diatur agar tidak seharian penuh semua aktivitas dilakukan. Jadi, tenaga jangan diforsir. Adapun aktivitas yang mubah, boleh-boleh saja tidak dilakukan atau dikurangi frekuensinya. Daripada nonton TV atau jalan-jalan ke mal misalnya, mending buat tidur untuk hemat energi. Lagian, tidurnya orang puasa kan berpahala. (Eit, ini bukan pelegalan untuk tidur melulu, ya!) Atau, mending buat baca buku yang nggak terlalu meres keringet.</p>
<p>Demikian pula olahraga, tetep bisa dilakukan. Tapi, kuantitasnya diturunin, sesuaikan dengan energi. Kalo biasanya kuat fitness berjam-jam misalnya, kurangi jadi cukup 30 menit aja. Sebaiknya olahraga dilakukan sore hari menjelang buka puasa. Sehingga, begitu energi kamu habis, gak pake nunggu lama bisa menggantinya karena waktu berbuka tiba. Perlu dicatat, kalo aktivitas sehari-hari kamu telah menuntut kegiatan yang mirip olahraga, misal banyak lari (kegiatan apa yang banyak lari, ya??), banyak jalan atau naik-turun tangga, itu cukup sebagai pengganti olahraga.</p>
<p><em>Ketiga</em>, mempersiapkan mental, hati dan pikiran kita. Dalam mensikapi bulan Ramadhan, dibutuhkan penataan dari sisi psikologi. Sertai aktivitas kamu dengan nilai ruhiyah, yakni kesadaran akan hubungan kamu dengan Allah SWT, bahwa puasa dalam rangka taqarub, mendekatkan diri pada-Nya. Jadi, bukan dengan motivasi lain, menurunkan berat badan misalkan. (Hitung-hitung sekalian diet). Sikap positif, ikhlas, sabar dan tenang dalam menjalankan ibadah Ramadhan akan berpengaruh pada aktivitas kita. Kita jadi nggak malas-malasan, bahkan malah bersemangat empat lima untuk menjalankannya. Bagaimana tidak, wong apapun yang kita lakukan, bila bernilai pahala maka akan mendapat ganjaran berlipat-lipat kok. Bunga rentenir aja kalah. So, buang rasa malas kamu! Bukankah Allah SWT berfirman: Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah dalam kebaikan! Tunggu apa lagi! Yuk? berlomba-lomba mengejar pahala buat bekal di Hari Akhir!![<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/puasa-yuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Kamu Naksir Cowok</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-naksir-cowok</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-naksir-cowok#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 00:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2473</guid>
		<description><![CDATA[Cewek naksir cowok? Wajar nggak sih? Trus, gimana pelampiasannya? Minta dipacarin? Eit&#8230;tunggu dulu. Jangan terburu nafsu, Non! Simak abis dulu yang satu ini, baru menentukan tindakan. Setuju?
Kalau cowok naksir cewek, trus ngajak pacaran, itu sih udah jamak bin umum banget. Soalnya kaum Adam emang dianggap berhak duluan menyatakan perasaannya. Cewek naksir cowok, sebetulnya juga udah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Cewek naksir cowok? Wajar nggak sih? Trus, gimana pelampiasannya? Minta dipacarin? Eit&#8230;tunggu dulu. Jangan terburu nafsu, Non! Simak abis dulu yang satu ini, baru menentukan tindakan. Setuju?</em></strong></p>
<p>Kalau cowok naksir cewek, trus ngajak pacaran, itu sih udah jamak bin umum banget. Soalnya kaum Adam emang dianggap berhak duluan menyatakan perasaannya. Cewek naksir cowok, sebetulnya juga udah relatif biasa. Apalagi di jaman pergaulan sekuler kayak sekarang. Tapi, kalau menyatakan perasaan duluan, sampai minta dipacarin, nah, itu masih jadi gontok-gontokan. Ada yang bilang itu sih amit-amit. Tapi, banyak juga kok yang setuju. Bingung? Kita tanya yuk pendapat kawan-kawan Permata.</p>
<p>Listia, gadis <em>sweet seventeen</em> ini mengatakan, sah-sah aja cewek naksir cowok, lalu menyatakan perasaannya duluan. &#8220;Sekarang kan jamannya udah beda. Udah emansipasi dong! Jadi nggak hanya cowok yang boleh ngomong cinta duluan, cewek juga boleh kok, asal kagak malu aja,&#8221; begitu Tia -sapaan beken di kalangan gengnya-beralasan. Meski tanpa menyertakan dalil, apalagi hasil survey seperti kuis <em>Family 100</em>, Tia meyakinkan bahwa banyak temen-temennya yang menganut &#8216;aliran&#8217; itu.? Termasuk kamu dong? &#8221;Lha, iyalah! Saya kan pelopornya boo&#8230;,&#8221; ujarnya bangga. (Pantesan gacoannya banyak banget. Di kelas punya pacar, tetangga juga ada, di pasar, di pinggir jalan, di emper toko, bahkan tukang siomay jadi korbannya).<span id="more-2473"></span></p>
<p>Desma, pelajar SMU di Bogor punya pandangan sedikit beda. Doi sih nggak memungkiri kalau cewek bisa jatuh hati duluan ama cowok. Namanya juga punya ati. Kalau ditekan, bisa makan hati dong! &#8220;Tapi kalau musti nyatain perasaan duluan, itu sih kurang manis. Gengsi dong! Kesannya jadi kitanya yang <em>agre</em> (padahal emang iya, kan?). Mending lewat perantara aja, misalnya bisa minta tolong temen deket cowok itu buat nyelidiki, gimana perasaan dia,&#8221; ulasnya panjang dan lebar.</p>
<p>Sambil membenarkan letak kacamata minusnya Desma menambahkan, kalau cewek menyatakan perasaannya duluan, takutnya nanti malu. &#8221;Iya kalau cowok yang ditaksir juga punya perasaan sama, kalau nggak kan <em>tengsin</em>. Namanya bertepuk sebelah tangan. <em>Kecian kan</em>&#8230;,&#8221;? cetusnya lagi.</p>
<p>Nah, bagaimana komentar Adela Susanti yang akrap dipanggil Dela, mahasiswa perguruan tinggi negeri di Bogor? Katanya, punya perasaan sama lawan jenis sih wajar. Suka, kagum, sampai naksir, lalu jatuh cinta, itu bukaaaan basa basi. Cuman, jangan lantas perasaan itu dieksploitasi dengan pacaran or minta dipacarin. Misalnya, mengutarakan kata hati pada si cowok, lalu ngajak jalan bareng. &#8221;Bukan begitu pelampiasan cinta,&#8221; kata Dela yang ngaku pernah mutusin pacar-pacarnya gara-gara nggak mau pacaran ini (wah, berapa banyak cowoknya?). Trus, gimana yang bener?</p>
<p><strong>Jangan Rela Dipacari</strong></p>
<p>Jatuh cinta, itu emang fitrah. Karena, berbarengan penciptaan manusia, kita diberi anugerah <em>gharizah nau&#8217;</em> (naluri melestarikan jenis) yang salah satu manifestasinya adalah tertarik ama lawan jenis. Manifestasi lainnya berupa rasa sayang pada ortu, rasa keibuan, kebapakan, dll. So, kalau kamu naksir cowok, itu wajar. Malah aneh kalau kamu naksir sesama jenis.</p>
<p>Nah, ketika tumbuh benih-benih &#8216;daun waru&#8217; di hatimu, kamu musti teliti. Apakah itu pertanda kamu udah siap menanggung konsekuensinya, yakni <em>married</em> atau belum. Sebab konsekuensi agar kamu bisa deketan ama cowok yang kamu cintai cuma satu, married. Nggak ada itu istilah pacaran. Kenapa? Karena pada faktanya, aktivitas dalam pacaran banyak yang melanggar aturan Islam.</p>
<p><em>Pertama</em>, dalam pacaran pasti ada aktivitas pandang memandang aurat, atau memandang disertai syahwat antar dua insan. Ini jelas melanggar aturan Allah Swt agar <em>gadhul bashar</em> (lihat QS An-Nur: 30). Kalau pacarannya pake jilbab dan ikhwannya pake koko lengkap plus pecinya, sambil nunduk lagi, gimana? Ah, itu sih akal-akalan kamu aja!</p>
<p><em>Kedua</em>, kalau kamu pacaran, berarti kamu bakal pergi berdua-duaan alias mojok. bin khalwat. Padahal itu kan melanggar syara&#8217;. Nabi bersabda: &#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat dengan wanita yang tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga diantara keduanya adalah setan&#8221; (HR Ahmad).</p>
<p><em>Ketiga</em>, kamu pasti ada pembicaraan yang di luar masalah muamalah alias masalah intim. Misalnya ngerumpiin soal perasaan masing-masing, soal hobi, soal keluarga, dll. Padahal, interaksi laki-perempuan dibatasi syara&#8217; hanya untuk masalah muamalah seperti masalah jual beli, pendidikan, pengurusan umat, dakwah, dll. Yah, kecuali kalau udah <em>khitbah</em>, boleh tuh ngomongin soal keluarga atau rencana pernikahan.</p>
<p><em>Keempat</em>, kadang (atau sering?) pacaran itu disertai aktivitas lebih berani seperti pegang-pegangan, raba-rabaan (copet kali!), <em>pijit-pijitan</em>, ciuman atau yang lebih gawat sampai berzina. Istilahnya pacaran itu acapkali melibatkan KNPI (Kissing, Necking, Petting, Intercourse &#8211; terjemahannya cari sendiri ya!). Padahal Islam mewanti-wanti agar tidak mendekati zina, apalagi sampai berzina.</p>
<p>Begitulah, naksir cowok bukan berarti melegalkan kamu buat mencari terobosan agar bisa jalan bareng ama cowok itu. Jadi, kalau tuh cowok ternyata juga naksir ama kamu, jangan malah seneng. Syair lagu Saden &#8216;Oh senangnya, waktu kau tembak aku, langsung kujawab, iya&#8230; kau jadi pacarku&#8217; itu salah. Harusnya&#8230; iya&#8230;kau jadi suamiku (<em>ceile</em>&#8230;), gitu!</p>
<p>Lantas, kalau kamu belum siap terikat dalam pernikahan, alihkan perasaanmu. Kendalikan <em>gharizah nau&#8217;</em> kamu. Camkan dalam kamus hidup kamu untuk tidak pacaran sebelum menikah. Bila syahwatmu muncul, misalnya tiba-tiba kamu naksir sama <em>someone special</em>, alihkan pada kegiatan lain yang lebih bernilai ibadah, silaturahim ke temen, ikut kegiatan yang positif atau baca bacaan Islami (kayak majalah kesayanganmu ini he..he..). Kamu bisa juga membentengi diri dengan shaum.</p>
<p>Oh, ya. Biar kaum Adam nggak gampang kepincut kamu, kamu juga musti hati-hati bila punya pesona. Jangan diobral ke sana ke mari (Itu sih namanya murahan, Non!). So, kalau kamu punya wajah manis kayak Katie Holmes, body aduhai bak Pamela Anderson, senyum menawan layaknya Jeniffer Lopez atau otak secerdik Betty La Fea, bersyukurlah. Tapi, cara mensyukurinya bukan dengan menjadikannya sebagai magnet untuk menarik lawan jenis kamu. Jadi, jangan sengaja menampakkan kelebihanmu itu. Misalnya dengan dandan menor (badut kali!), pakai baju ketat (kayak bacang), pakai parfum yang baunya bikin para cowok klepek-klepek, dll. Ingat kata pepatah, cinta itu datangnya dari mata turun ke hati.</p>
<p><strong>Kalau Cinta Jangan Marah</strong></p>
<p>Trus, kalau naksir cowok itu wajar, meski pelampiasannya bukan dengan pacaran, lalu gimana hukumnya kalau cewek menyatakan perasaan duluan? Dalam konteks meminta untuk dinikahi -bukan buat dipacarin- maka Islam membolehkannya. Jadi nggak usah <em>ngeper</em> meminta dikhitbah, kalau emang udah siap <em>married</em>. <em>Wong</em> <em>Ummul Mu&#8217;minin</em> Khadijah aja, nggak jatuh harga diri kok meminta Kanjeng Nabi Muhammad untuk menjadi suaminya.</p>
<p>Tapi, ini bukan masalah emansipasi, lho. <em>But</em>, dalam Islam memang dibolehkan wanita meminta seseorang untuk menikahinya atau mencarikan suami untuknya. Caranya, bisa minta tolong ama ortu kamu, atau melalui perantara orang deketnya cowok or ikhwan idamanmu itu. Hanya saja, jatuhnya khitbah tetap ada pada pihak kaum Adam. Maksudnya, kalau ada cowok yang nggak mau ama kamu, meski udah cinta berat, ya nggak bisa dipaksakan teken kontrak nikah. Jadi nggak usah pake pelet atau dukun segala.</p>
<p>Nah, kalau kamu dilanda cinta, naksir berat ama cowok, jangan marah kalau nggak bisa mengekspresikannya dengan pacaran. Kalau siap <em>married</em>, siapa takut. Tapi kalau belum siap married, yah jomblo aja lagi! Gimana? Yang masih nggandeng pacar, siap mutusin, kan? Nggak apa-apa kok, jangan menangis dong, Non!<strong>[asri]</strong></p>
<p>Boks &#8212;&#8212;-</p>
<h3>Jurus Hadapi Lawan Jenis</h3>
<p>1.????? Jaga tingkah laku kamu, jangan suka menarik perhatian. Misalnya, jangan suka jalan sendirian, apalagi jalannya lenggak-lenggok kayak bus oleng di hadapan sekumpulan kaum adam. Jangan obral senyum manis ke kanan-kiri (ntar dikira orgil), jangan bicara dengan suara merdu mendayu bak penyanyi dangdut yang membuat cowok berpikiran ngeres (lihat QS Al-Ahzab: 33). Jangan pula suka godain cowok. (idih, emangnya apaan). Biasanya, cowok jadi suka ama cewek <em>agre</em> yang mampu menaikkan aliran desir darah mereka. Ujung-ujungnya, mereka terpesona, naksir kamu, ngajak pacaran, dan seterusnya.</p>
<p>2.????? Bila ada yang menyatakan jatuh cintrong ama kamu, apalagi yang berani terus terang mau macarin kamu, langsung aja katakan nggak rela&#8230;nggak rela&#8230;!? Tegaskan, malah kalau perlu sertakan pula dalil-dalilnya (kalau nggak hapal boleh awa? contekan, kok), bahwa kamu bukan penganut aliran pacaran, termasuk pacaran Islami (emang ada?), apalagi <em>backstreet</em>. Kalau kamu mau, tantang aja si dia buat mengkhitbah or menikahi kamu. Itu sih kalau kamu emang udah siap lahir batin buat married. Kalau nggak, tinggalin aja. (Kasihan <em>deh loo</em>&#8230;)</p>
<p>3.????? Jangan pernah menyalakan lampu hijau. Maksudnya, tak usahlah ngasih harapan pada cowok-cowok yang ada hati sama kamu. Itu hanya akan membuat mereka tambah semangat empat lima buat ndeketin kamu. Bisa-bisa, pertahanan yang kamu buat capek-capek ambrol karena godaan &#8217;syetan&#8217; yang dahsyat.</p>
<p>4.????? Jangan mudah kepincut rayuan gombal atau pujian romantisme para cowok. Biarpun yang merayu itu nggak kalah <em>cute</em> dari Justin Timberlake, atau kata-katanya seromantis lagu-lagu Dewa, nggak usah tergiur. Nggak sedikit cowok tipe perayu yang hanya mau macarin kamu karena menginginkan kenikmatan sesaat dari tubuhmu. Jadi, jangan coba-coba beri kesempatan.</p>
<p>5.????? Jangan mudah kagum <em>and</em> simpati berlebihan ama cowok. Misalnya sama ketua kelasmu, bintang kelasmu -tentunya yang cowok&#8211;, atau jangan-jangan sama gurumu. Bahaya! Soalnya, dari kagum dan simpati itulah biasanya benih-benih asmara bisa muncul. So, jangan tiru gadis penakluk yang jatuh hati sama gurunya itu, ya!</p>
<p>6.????? Jangan tergoda teman-temanmu yang penganut aliran pacaran. Kalau kamu diledekin karena masih <em>jomblo</em>, sabar aja. Dakwahi aja teman-temanmu itu bahwa yang namanya pacaran itu kagak bener.? Kalau perlu, sampai mereka putus pacaran. Jadi, mereka yang harus ikut &#8216;aliran&#8217; kamu, bukan kamu yang terbawa arus pergaulan bebas mereka. Oke?[<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, edisi September 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-naksir-cowok/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambut &#8216;Tamu&#8217;, Jangan Cemas!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sambut-tamu-jangan-cemas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sambut-tamu-jangan-cemas#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 00:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2471</guid>
		<description><![CDATA[Menghadapi &#8220;tamu&#8221; bulanan adakalanya merepotkan. Nggak jarang bikin deg-degan dan stres. Utamanya yang baru pertama kali merasakan. Tapi jangan khawatir, itu bukan penyakit. Kamu perlu tahu juga bagaimana mengatasi &#8220;ulah&#8221; tamu yang satu ini.
ABG alias anak baru gede. Barangkali masa-masa yang cukup kamu nantikan. Istilah itu disandang kamu-kamu yang biasanya seusia akhir SD, SLTP atawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Menghadapi &#8220;tamu&#8221; bulanan adakalanya merepotkan. Nggak jarang bikin deg-degan dan stres. Utamanya yang baru pertama kali merasakan. Tapi jangan khawatir, itu bukan penyakit. Kamu perlu tahu juga bagaimana mengatasi &#8220;ulah&#8221; tamu yang satu ini.</em></p>
<p>ABG alias anak baru gede. Barangkali masa-masa yang cukup kamu nantikan. Istilah itu disandang kamu-kamu yang biasanya seusia akhir SD, SLTP atawa awal-awal SMU. Yang baru kelar SD, udah ngebayangin enaknya jadi anak SLTP, dan yang baru lulus SLTP, ngimpiin asyiknya pake seragam putih abu-abu. Bagaimana rasanya saat menyambut masa ABG yang biasanya ditandai dengan datangnya &#8216;tamu&#8217;?</p>
<p>Ini nih komentar temen-temen kamu. &#8220;Ngadepin masa ABG? Biasa aja sih, nggak ada yang aneh. Kayak air got depan rumahku aja, mengalir apa adanya,&#8221; kata Hani berfilosofi. Jebolan SLTP unggulan di Bogor ini mengaku merasa jadi ABG ketika masuk SLTP. Soalnya, waktu itu bertepatan dengan datangnya &#8216;tamu&#8217;, pertanda doi udah gede. &#8221;Nah, waktu aku pertama dapet tuh, takut dan cemas,&#8221; sambungnya. Misalnya, takut salah pake &#8216;pengaman&#8217;, takut bocor, tembus dan berkerut.<span id="more-2471"></span></p>
<p>Maklum, doi tak banyak bergaul sama orang dewasa, apalagi ngobrol bareng maminya yang juragan kain di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Jadi, pengetahuan Hani soal masa pubertas bisa dibilang minim. &#8220;Untungnya ada si embok yang ngasih pengertian,&#8221; aku anak semata wayang ini. Yang jelas, kini soal pergaulan dan selera pakaian atau pernak-pernik lainnya, terasa beda banget. Lebih pilih-pilih, nggak bisa cuek. Namanya juga lagi genit. Idih?</p>
<p>Dela Apritasari, siswi sebuah SLTP negeri di Bogor yang baru naik kelas II punya cerita lebih seru. Pas usianya genap 13 tahun, tepat saat ultahnya, doi kedatangan &#8216;tamu&#8217; pertama. Kontan hatinya berbunga-bunga, ada anggrek, mawar, melati, dll. Dela merasa sudah jadi anak gede. Padahal, baru akan gede. Apalagi, waktu ultahnya itu, hadir cowok temen sekelasnya yang jadi kecengan Dela (gawat, udah kenal cowok!). &#8221;Tapi deg-degan juga. Repot tahu nggak sih! Soalnya, kalau dapet &#8216;tamu&#8217;, badan pada pegel-pegel, sakitnya minta ampun,&#8221; keluh gadis yang tambah bongsor ini.</p>
<p>&#8221;Seneng dong, jadi ABG. Ortu makin percaya ama kite. Jadi, mo pergi kemane juga oke-oke aja lagi. Bisa ngeceng kemane aje. Boleh nenteng HP, uang jajan juga nambah. Bisa dandan gaul en trendi,&#8221; cetus Oda, sapaan okem Vioda Karin, gadis yang baru kelar SLTP ini. Dengan riang, Oda menuturkan gimana asyiknya jadi anak ABG. Mulai baju-bajunya yang pada diperbaharui-soalnya yang udah-udah kagak muat lagi-sampai pergaulannya yang rada-rada bebas.</p>
<p>&#8221;Cuman sebelnya, kalau pas lagi dapet, biasanya jerawat ikut-ikutan nongol. Ini yang bikin bete. Tapi gimana ya, itu kan kodrat. Termasuk melahirkan dan menyusui,&#8221; ujarnya belagak meniru gaya Wulan Guritno di sebuah iklan teve. Satu lagi yang bikin Oda was-was, takut gembrot. &#8221;Yah, bukan apa-apa. Ane nih sebetulnya tukang ngemil, tapi katanya kalau lagi puber, badan gampang melar. Kepaksa diet deh,&#8221; sungutnya.</p>
<p>Berbalik 180 derajat dengan Oda, Riana yang sebaya Oda, mengaku jadi lebih hati-hati bertingkah laku saat sudah masanya ABG. Saolnya, kata dia, ketika kita udah ABG, berarti seluruh perbuatan kita dicatat benar salahnya. Kalau bener dapet pahala, kalau salah dapet dosa. &#8221;Minimal sembahyang kudu rutin, nggak bisa molor-molor lagi. Trus, perubahan yang sangat kontras tuh, kita musti pakai busana muslimah,&#8221; kata gadis yang mengaku baru pakai kerudung tiga bulan setelah dapet haid ini. (Oooh, gitu!)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Musti siap mental</strong></p>
<p>Masa ABG adalah istilah lain bagi datangnya masa pubertas. Bagi wanita, masa puber ditandai dengan datangnya tamu bulanan alias haid atau menstruasi.? Menurut bahasa (<em>lughah</em>), haid berasal dari kata <em>haadha</em> yang berarti mengalir. Sedangkan menurut <em>istilah</em> atau syara&#8217;, haid berarti darah yang biasanya keluar dari rahim wanita pada waktu-waktu tertentu. Secara medis dijelaskan, haid adalah darah yang keluar dari vagina wanita yang disebabkan perubahan-perubahan pada hormon <em>endometrium</em>. Prosesnya, ovum yang matang, keluar dari tempatnya akibat kerusakan jaringan dan <em>antikoagulen</em> setelah ditangkap oleh <em>fimbria tuba follopii</em>. Ovum akan berjalan sampai uterus. Karena tidak dibuahi oleh sperma, maka akan meluruh dan jadilah darah haid.</p>
<p>Sebagian besar wanita mengalami <em>mens</em> pada usia 10 tahun hingga 16 tahun dan berhenti? pada usia di atas 50 atau 60 tahun. Memang, nggak ada waktu yang dapat dipastikan kapan <em>mens</em> itu terjadi, karena <em>mens</em> akan terjadi bila tubuhmu emang udah siap. Jadi tidak bisa ditawar. Sebagian wanita mengalami <em>mens</em> rutin setiap bulan. <em>But</em>, ada juga yang ngalami <em>mens</em> 2-3 bulan sekali. Itu tergantung dari kesehatan tubuh dan hormon masing-masing wanita. Yang jelas, penentuan masa lamanya haid ini penting, karena terkait dengan ibadah kamu.</p>
<p>Dalam menentukan lamanya masa haid ini, ulama-ulama berbeda pendapat. Imam Malik mengatakan, masa terpendek haid itu tidak terbatas dan masa terpanjangnya 15 hari. Sedangkan Imam Hanafi menyatakan, masa terpanjang haid adalah 10 hari, sedang masa terpendeknya 3 hari. Imam Syafi&#8217;i lain lagi. Menurutnya, masa terpendek haid sehari semalam dan terpanjang 15 hari 15 malam. Kebanyakan kaum Muslim mengambil pendapat ini. Di luar itu, bukan darah <em>mens</em> melainkan darah <em>istihadhah</em> atau darah penyakit.</p>
<p>Sementara itu, rata-rata jarak antara hari pertama <em>mens</em> hingga hari pertama <em>mens</em> bulan berikutnya adalah 28 hari. Namun sebagian wanita berbeda siklusnya. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Yang pasti, kalo siklusnya masih sekitar 21 dan 35 hari, bisa dibilang masih normal.</p>
<p>Untuk kamu-kamu yang baru mengalaminya, biasanya mens datangnya tidak teratur. Setelah mens yang pertama, maka mens berikutnya bisa terjadi 2-3 bulan lagi, hal itu jangan dicemaskan, karena tubuhmu membutuhkan waktu untuk menentukan siklus.</p>
<p>Mulai <em>mens</em> pertama, bakal ada banyak perubahan dalam tubuhmu, dimana kamu mulanya seorang gadis kecil akan menjadi wanita dewasa. Dan perubahan itu terjadi, karena peran hormon <em>estrogen</em> yang cuma ada pada perempuan itu. Perubahan yang terjadi meliputi bertambahnya tinggi badan, payudara mulai tumbuh, tubuh mulai berkembang (terutama pinggul), tumbuh rambut halus di ketiak, kaki dan sekitar pangkal paha, mulai keluar cairan bening dari organ khusus kamu dan kadang-kadang timbul jerawat.</p>
<p>Semua perubahan itu emang kadang nggak menyenangkan. Misalnya kalau jadi jerawatan atau tubuh melar tak terkendali sebesar pesumo Jepang, gimana nggak jutek. Begitupun ketika tubuh jadi pegel-pegel, pusing dan lemas. Bawaannya malah emosi mulu. Tapi hal ini normal dan memang harus dialami setiap gadis kecil. Jangan cemas bila tubuh kamu berkembang lebih cepat dari temen-temenmu, karena tak lama lagi mereka akan seperti kamu.</p>
<p>Yang penting, kamu kudu siap mental menghadapi perubahan kamu. Dan yang terpenting, menyiapkan bekal kamu jadi dewasa. Sebagai muslimah, kini kamu sudah tergolong <em>baligh</em> yang berarti sudah terbebani hukum dari Allah Swt. Seperti kata Riana di awal tulisan ini, kalau kamu berbuat jelek pada saat sudah puber, berarti musti siap menanggung resikonya, yakni mendapat dosa. Sebaliknya, kamu bisa menumpuk pahala dengan berbuat baik sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Begitu dapat <em>mens</em>, kamu sudah wajib menjalankan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, menunaikan ibadah haji, berbakti sama ortu, menuntut ilmu, mengenakan busana muslimah dan bahkan berdakwah. Kamu juga nggak lantas bebas bergaul, bebas berpacaran, bebas bertingkah laku, bebas ngomong dan bebas-bebas lainnya. Soalnya, kamu sudah wajib terikat pada hukum syara&#8217;, yakni hanya melaksanakan aktivitas yang memang diperintahkan Allah Swt. dan menjauhi yang dilarang-Nya.</p>
<p>Jadi, bukan karena dalam proses menuju kedewasaan kamu lantas boleh bertingkah sekehendak kamu. Ingat, seluruh perkataan, perbuatan dan hati kamu akan dimintai pertanggung jawaban (lihat TQS al -Isra: 17).</p>
<p>Trus, kalo sedang hari &#8220;H&#8221; dapet tamu bulanan, kamu dibebas-tugaskan dari beberapa urusan ibadah. Misalnya kamu nggak boleh shalat. Sabda Rasulullah saw.: <em>&#8220;Apabila datang haid, maka hendaklah engkau tinggalkan sembahyang&#8221; </em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p>Oya, kamu juga nggak boleh puasa wajib (tapi musti menggganti di hari lain, seperti penjelasan dalam QS al-Baqarah: 184). Selain itu, kamu juga dilarang baca al-Quran, jima&#8217; (hubungan badan suami-isteri), masuk masjid dan <em>thawaf</em> dalam ibadah haji. Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;Aisyah ra berkata &#8216;Ketika berada di Mekah, sedang saya haid dan saya tidak thawaf di Ka&#8217;bah, tidak pula sa&#8217;i antara Shafa dan Marwah&#8217;&#8221;</em> <strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p>Eit, jangan seneng dulu. Meski bebas tugas dari rutinitas di atas, tapi kewajiban semisal menuntut ilmu, berdakwah atau berbakti pada ortu tetep harus kamu jalanin. Begitupun dalam pergaulan, kamu musti tetap berbusana muslimah, tetep <em>gadhul bashar</em> (menundukkan pandangan), nggak ber-<em>khalwat</em> (apalagi pacaran), nggak melakukan <em>ikhtilat</em>, nggak tabaruj, dan sejenisnya.</p>
<p>So, buang jauh-jauh keinginan kamu buat tampil modis ala pakaian Barat, ngeceng ke sana ke mari nggak karuan atau berasyik masyuk pacaran. Semua itu hanya pantas dilakukan ABG-ABG yang? tipis imannya, atau malah kagak punya. Tentu kamu bukan termasuk di dalamnya, kan? <strong>[asri]</strong></p>
<p><strong>BOKS</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Sssttt&#8230;., Kamu Perlu Tahu</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>HAID </strong> atau menstruasi itu normal dan sehat. Umumnya terjadi setiap bulan pada hampir semua wanita yang sudah baligh. Karena itu tidak perlu ditakutkan. Kamu hanya musti kenal aja tanda-tandanya, terutama bagi kamu yang belum mengalaminya.</p>
<p><strong>Tanda-tanda datangnya mentruasi: </strong></p>
<p>1. Suhu badan meningkat (seperti meriang)</p>
<p>2. Payudara membengkak</p>
<p>3. Pinggang sakit</p>
<p>4. Pusing-pusing</p>
<p><strong>Sebagian wanita pada saat mentruasi tampak biasa-biasa saja, namun ada pula yang mengalami sakit antara lain: </strong></p>
<p>1. Nyeri atau kram dibagian bawah perut</p>
<p>2. Nyeri punggung dan betis</p>
<p>3. Nyeri di sepanjang paha bagian dalam.</p>
<p><strong>Nggak perlu pusing, kamu bisa mengatasinya dengan cara: </strong></p>
<p>1. Gosok perut dengan minyak kayu putih, dengan tekanan yang agak keras.</p>
<p>2. Berendam di air hangat</p>
<p>3. Mengompres perut dengan air hangat (masukan air hangat dalam botol).</p>
<p>4. Minum kaplet sakit haid (bisa dari Sari Ayu)</p>
<p>5. Melakukan Olah Raga ringan (senam).</p>
<p><strong>Tips agar nggak berkerut, nggak? Tembus: </strong></p>
<p>1.????? Menjelang mentruasi, jangan lupa siapkan pembalut dan pakaian dalam (<em>celdal</em>) dalam tas kamu. Jadi, kapanpun kamu dapet, kagak perlu acara panik. Sedia payung sebelum hujan, begitu.</p>
<p>2.????? Pilihlah pembalut dengan sayap pelindung. Ini akan menghilangkan kecemasan kamu karena peluang tembus dan berkerutnya berkurang. Nggak harus mahal, yang penting nyaman dan sesuai dengan kebutuhan kamu.</p>
<p>3.????? Gantilah pembalut setiap saat kamu merasa sudah tak nyaman lagi. Jangan nunggu sampai bocor atau tembus pada baju. Ini agar penampilannya nggak runyam, dan kamu tetap pede. Jadi, gantilah sesering mungkin.</p>
<p>4.????? Membuang pembalut hendaknya dibungkus dengan kertas koran/tissue pada tempat sampah/tong khusus. Jangan membuang di kloset karena dijamin kloset bakal mampet.</p>
<p>5.????? Kenakan baju yang berwarna gelap, agar kalau terpaksa tembus karena haidmua tergolong banjir, kamu masih tetap tertolong. Yah, minimal kagak malu-malu banget karena belepotan darah. Nah, aman, kan?</p>
<p><strong>Seputar pembalut wanita </strong></p>
<p>Pembalut wanita adalah semacam alat yang dipergunakan selama kamu mengalami masa mestruasi. Fungsinya adalah untuk menyerap cairan mentruasi agar pakaian dalammu tidak bernoda. Pembalut yang baik adalah memiliki perekat supaya tidak mudah bergeser. Pembalut tersedia dalam berbagai macam bentuk dan ukuran, karena setiap wanita mempunyai kebutuhan yang berbeda.</p>
<p>Macam-macam model pembalut, ada yang tipis, tebal, panjang dan bersayap. Pembalut yang tipis akan memberikan kenyamanan bagi kamu, karena semakin tipis, kamu akan merasa seperti tidak memakai pembalut. Kamu akan merasa lebih nyaman bergerak. Tak usah takut tembus, karena pembalut tipis sudah dirancang mampu menampung cairan menstruasi sama banyaknya dengan pembalut tebal. Tapi, bagi yang mensnya banyak, misalnya pas hari pertama, pakai yang tebal bakal lebih aman. Setidaknya, menghilangkan rasa was-was kamu akan takut bocor. Dan, dari semua pembalut itu, sebaiknya kamu pilih yang bersayap. Biar kamu bebas &#8216;terbang&#8217; sekehendak hatimu. Oke?</p>
<p>Nah sobat Permata yang ABG, setelah kamu tahu tentang seluk beluk menstruasi, insya Allah kamu nggak akan cemas lagi menghadapinya dan aktivitasmu tidak akan terganggu. So, hari-harimu akan tetap indah dan ceria. <strong>[asri]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, edisi Agustus 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sambut-tamu-jangan-cemas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Cewek yang Gila Bola</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yang-cewek-yang-gila-bola</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yang-cewek-yang-gila-bola#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 07:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2466</guid>
		<description><![CDATA[Boom, here to rock ya
Boom, never stop, no
Boom, raise up high
boom boom boom boom
heya heya yeah heya boom yeah yeah heya
Petikan lirik lagu itu pasti udah akrab di telinga kamu-kamu. Theme song-nya World Cup 2002 yang dilantunin Anastacia itu, hampir tiap hari membahana, khususnya di teve! Maklum, sekarang lagi pada demam sepakbola. Dan ngomong-ngomong soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Boom, here to rock ya</em></p>
<p><em>Boom, never stop, no</em></p>
<p><em>Boom, raise up high</em></p>
<p><em>boom boom boom boom</em></p>
<p><em>heya heya yeah heya boom yeah yeah heya</em></p>
<p>Petikan lirik lagu itu pasti udah akrab di telinga kamu-kamu. Theme song-nya World Cup 2002 yang dilantunin Anastacia itu, hampir tiap hari membahana, khususnya di teve! Maklum, sekarang lagi pada demam sepakbola. Dan ngomong-ngomong soal bola, diantara kamu-kamu pasti ada yang lagi gila bola (gibol), kan? Ayo ngaku!</p>
<p>CEWEK gandrung bola <em>emang</em> <em>udah</em> nggak asing lagi. Bahkan, bukan lagi sebatas sebagai penonton tapi juga pemain. Buktinya sekarang <em>udah</em> ada kesebelasan wanita dan juga pertandingan sepak bola wanita. <em>Emang</em>, <em>World Cup</em> khusus wanita <em>belon</em> ada <em>sich</em>. Tapi, bukan tidak mungkin <em>kalo</em> makin banyak penggemarnya <em>en</em> <em>nuntut</em> diadakan, pasti bakal digeber piala dunia wanita. Tapi, sebetulnya gimana sich hukumnya kalo cewek <em>demen</em> olah raga yang <em>ngandelin</em> kekuatan fisik dan ketrampilan kaki itu? Bagaimana pula komentar temen-temen kamu soal gibol?<span id="more-2466"></span></p>
<p><em>&#8220;Menurut gue sich, sah-sah aja. Soalnya kan sekarang jamanya emansipasi. Cewek demam bola itu biasa &#8220;</em> tutur Widi, sapaan karib Dwi Widianti, siswi sebuah SMU swasta di Bogor. Menurutnya, sepak bola sekarang <em>emang</em> bukan lagi monopoli kaumnya David Bechkam <em>aza</em>. Tapi, generasi Victoria Beckham juga bisa <em>mainin</em> bola. <em>Lu</em> juga <em>demen </em>bola juga Wid? <em>&#8220;Nggak gila-gila banget sich! Paling kalo even akbar macam World Cup gini aja gue bela-belain nonton bola. Kalo pertandingan dalam negeri sih, nggak nafsu!Apalagi main bola , ogah ah&#8230;..kayaknya capek,&#8221;</em> urai gadis lesung pipi ini.</p>
<p>Widi ngaku suka nonton bola karena terpengaruh kakak cowoknya yang <em>rada</em> maniak bola. &#8220;Padahal motif utama <em>sich</em>, cuma ngecengin pemain-pemainnya yang <em>kece-kece</em> itu,&#8221; imbuhnya sembari <em>nyebutin</em> beberapa bintang-bintang lapangan rumput <em>gacoannya</em>.</p>
<p>Lain lagi komentar Rizka, tamatan sekolah kejuruan tahun lalu yang sekarang masih <em>nganggur</em> ini. Menurutnya, cewek <em>demen</em> bola berarti nggak <em>pedhe</em> dengan kodratnya sebagai wanita. Soalnya, sepak bola nggak menunjukkan kefemininan. <em>&#8220;Bola terlalu maskulin. Mbokya pilih olah raga yang feminin, gitu lho! Misalnya senam, renang, kan lebih asyik. Atau bola voley, tenis, dan bulu tangkis juga okey,&#8221;</em> ungkapnya kepada Permata. Hanya saja, lanjutnya, supaya nggak kuper, cewek <em>kudu</em> tahu soal sepak bola.<em>&#8220;Yah minimal tahu sekarang lagi ada World Cup. Trus, tahu-tahu dikitlah nama-nama pemain top dunia, biar nggak kuper aja. Tapi nggak usah jadi &#8230;&#8230;..pemain bola,&#8221;</em> imbuhnya dengan nada seperti ucapan gadis kecil dalam sebuah iklan di teve.</p>
<p><em>&#8220;Kalo aku sih nggak doyan bola,&#8221;</em> timpal Sari. (Lha, emang bola bukan makanan kok, Sar!) <em>&#8220;Maksudku, mikirin bola tuh cuman buang-buang waktu aja. Apalagi kalo ikutan main bola, udah buang waktu, buang energi, buang keringat, bau donk&#8230;,&#8221;</em> celotehnya. <em>&#8220;Mending buat belajar,&#8221;</em> cetus cewek yang <em>bentar</em> lagi <em>mo nglepas</em> seragam abu-abu putihnya ini.(Iya, soalnya kamu <em>mo</em> UMPTN! Makanya nggak <em>demen</em> bola).</p>
<p><strong>Pengaruh Lingkungan</strong></p>
<p>Sepak bola atau olah raga apapun, rata-rata <em>emang</em> nggak pandang bulu, bisa disukai cowok maupun cewek. Tinju, angkat besi, atawa balap mobil yang tergolong olah raga keras pun sekarang, banyak digemari cewek. Jadi, kalo ada cewek-cewek gandrung bola itu biasa.</p>
<p>Dan dari komentar temen-temen kamu diatas, bisa <em>disimpulin</em> bahwa ada beberapa faktor kenapa cewek jadi gibol. <em>Pertama</em>, karena terpengaruh lingkungan. Tinggal di lingkungan keluarga yang <em>demen</em> bola misalnya, bisa menjadi sebab cewek menjadi jadi suka bola. Yah, seperti yang dialami temen kamu Widi itu.</p>
<p><em>Kedua</em>, biar nggak dianggap kuper. Bola emang bukan olah raga yang &#8216;mewah&#8217; kayak golf misalnya, tapi jadi gengsi kalo dalam pergaulan kita kuper masalah bola. <em>Tengsin</em> kan, kalo sampai gebyar piala dunia yang hanya digelar 4 tahun sekali itu kita nggak tahu menahu. Apalagi kalo temen-temen bergaul kita para <em>suporter</em> sepak bola, bisa-bisa kita dibilang kuper.</p>
<p><em>Ketiga</em>, sekadar iseng. Misalnya buat ngecengin bintang-bintang top sepak bola dunia. Maklum, bintang rumput yang sebagian besar punya tampang <em>cute</em>, pamornya bisa ngalahin selebriti dunia. Malah, kadang selebriti aja pada ngefans ama mereka. Dulu, Madonna aja <em>kesengsem</em> ama Roberto Bagio. Selain itu, juga buat sekadar ngisi waktu luang. Mungkin karena nggak ada kerjaan (hik..hik.., bukan nyinggung Rizka lho!), trus di teve adanya siaran bola melulu, ya udah, nonton bola. Apalagi, iklannya aja udah berbulan-bulan sebelum even itu digelar, udah <em>digembar-gemborin</em>. Bagaimana tidak terpengaruh.</p>
<p><strong>Gibol Bola Boleh, Tapi&#8230;</strong></p>
<p>Sepak bola atawa olahraga lainnya, termasuk jenis permainan atau <em>lahwun</em> dalam bahasa Arab, yang diperbolehkan Islam. Artinya, olah raga merupakan aktivitas yang mubah dilaksanakan sebagaimana Rasul bersabda</p>
<p><em>&#8220;Hendaklah kalian senantiasa berlatih memanah, karena ia merupakan sebaik-baiknya permainan,&#8221;</em> (HR Al-Bazzar &amp; Ath- Thabrani dari Saad).</p>
<p>Dari pengertian hadist di atas disimpulkan, memanah dan permainan/olahraga di bolehkan kecuali yang diharamkan, semisal judi. <em>Lahwun</em> yang diutamakan dalam Islam adalah yang membina kesehatan fisik dan mental Muslim untuk menjadi mujahid. Ya, misalnya memanah, berkuda, renang, lari, dll. Sebab, Allah mencintai hambanya yang sehat dan kuat, tidak loyo <em>end</em> sakit-sakitan. Tentu saja, asalkan permainan atau olahraga itu tidak sampai meninggalkan kewajiban. Demikian pula sepak bola, bisa dikategorikan olahraga yang dibolehkan, jika memang tujuannya untuk membina kesehatan. Lain halnya dengan fakta sekarang, dimana sepak bola sudah jadi profesi, lantas diorganisir sedemikian rupa. Sehingga, realitas menunjukkan, olah raga yang diorganisir itu telah melailaikan umat dari kewajiban-kewajibannya. Buktinya, orang yang udah <em>kadung</em> terjun jadi olahragawan akhirnya lupa melaksanakan kewajiban. Misalnya jadwal pertandingan yang nggak memperhitungkan waktu shalat. Penontonnya juga gitu, suka lupa waktu kalo lagi asyik nonton olagraga kegemarannya.</p>
<p>Khusus buat cewek, memilih profesi sebagai olahragawan, juga sangat riskan. Besar peluangnya kamu bakal ninggalin kewajiban. <em>Pertama</em>, kamu nggak bebas menggunakan busana muslimah, sementara busana muslimah itu wajib hukumnya. Masak iya, gara-gara aktivitas mubah (olahraga) kamu <em>ninggalin</em> kewajiban berjilbab dan berkerudung? Jangan sampai terjadi deh. Kita sebagai muslimah harus punya <em>awlawiyat</em> (skala prioritas). Yang wajib, musti didahuluin daripada yang mubah. Sementara olahragawati saat ini, bajunya makin lama makin minim, hingga menampakkan aurat.</p>
<p><em>Kedua</em>, kamu pasti terbentur aktivitas ikhtilat, yakni campur baurnya laki-laki dan perempuan tanpa <em>hajat syar&#8217;i</em> (kepentingan yang dibolehkan syara&#8217;). Lihat <em>aja</em> faktanya, antara pemain dan penonton laki-laki dan perempuan campur baur. Bahkan, bisa kena ikhtilat. Misalnya kamu punya pelatih cowok, lantas latihan berdua-duaan aja. Wah, udah pasti yang ketiganya setan.</p>
<p><em>Ketiga</em>, kamu nggak boleh menampakkan kecantikanmu (<em>tabaruj</em>). Padahal, faktanya bintang lapangan cewek sekarang, layaknya selebriti. Penampilan mereka disorot, cara dandan dan cara berpakaian, sontak jadi <em>trend setter</em> kaula muda. Padahal dalam salah satu hadits dikatakan</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Jika seorang wanita berjalan dan tercium baunya (lalu laki- laki berpaling padanya) maka ia seperti berzina&#8221;</em> Naudzubillahi min dzalik.</p>
<p><em>Kalo udah gitu</em> nggak usah <em>deh</em> punya cita-cita <em>pengen</em> jadi pemain bola. Masih banyak kok kewajiban yang <em>kudu</em> kamu jalanin. Misalnya menuntut ilmu,membantu ortu, berdakwah, dll. Mendingan waktumu kamu manfaatin buat hal-hal yang lebih berguna.</p>
<p><em>Trus gimana donk</em>, buat yang udah terlanjur gibol? Kalau sekadar nonton lewat teve sih, boleh aja. Tapi, ya itu tadi, jangan sampai lupa diri. Lupa shalat, enggan membantu ortu atau malas belajar misalnya. Dan lagi, lebih baik kamu <em>manfaatin</em> waktu buat aktivitas yang lebih bermanfaat. Bukankah Allah berfirman</p>
<p><em>&#8220;&#8230;maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.&#8221;</em> (TQS Al-Baqarah: 148)?[<strong>asri</strong>]</p>
<p>&#8212;&#8212;boks &#8212;&#8212;-</p>
<h4>Realita Dibalik Olahraga yang Diorganisir</h4>
<p>1.Olahraga yang diorganisir macam piala dunia atawa olimpiade, sengaja dirancang orang-orang kafir (Zionis) untuk melenakan umat Muslim. Ini bisa disimak dalam buku rencana- rencana Zionisme menguasai dunia atau <em>Protocols of Zion</em> poin ke 13 yang diterbitkan Prof. Sergyei Nilus di Rusia tahun 1902. Intinya &#8220;Zionisme merencanakan hendak mengundang masyarakat melalui surat-surat kabar waktu itu, untuk mengikuti berbagai lomba yang sudah diprogram. Diharapkan kesenangan baru yang diciptakan itu secara perlahan akan melenakan muslim dari konflik- konflik politik kaum muslimin dengan bangsa Yahudi.&#8221;</p>
<p>2. Olahraga yang diorganisir memang telah melenakan umat dari aktivitas yang lebih utama. Coba hitung, berapa jam lamanya seorang atlet &#8211;yang Muslim&#8211; latihan biar berprestasi? Trus, penontonnya juga. Berapa jam sehari harus menghabiskan waktu untuk mengikuti pertandingan? Berapa jam pula menyibukkan diri menyimak ulasan-ulasan pengamat olahraga, baik dari mediacetak maupun audovisual? Bandingkan dengan waktu yang dia habiskan untuk ibadah, belajar ilmu Islam, berdakwah atau bahkan jihad. Padahal olah raga hukumnya &#8216;hanya&#8217; mubah, yang boleh jadi tak berpahala, bahkan bisa menjerumuskan pada hal-hal haram.</p>
<p>3. Olahraga yang diorganisir menyedot dana yang tidak sedikit, diantaranya dari kalangan kaum Muslimin. Siapa yang diuntungkan dari hasil penjualan tiket masuk pertandingan? Tentu saja penyelenggara. Di sisi lain, kadang penyelenggara menghimpun dana dari hal- hal yang diharamkan. Dulu di Indonesia untuk menghimpun dana diciptakan Porkas, lalu SDSB, dan Damura, yang semuanya nota bene judi.</p>
<p>4. Tingginya prestasi olahraga suatu negara tidak otomatis menjadikan suatu negara menjadi makmur. Argentina misalnya, bisa dibilang <em>empunya</em> sepak bola dunia. Tapi kini kondisi ekonominya carut marut. Paling-paling yang makmur hanya atlet dan ofisialnya saja. Sebaliknya Kuwait atau Brunei Darusalam, yang prestasi olah raganya bisa dibilang nol, taraf perekonomianya jauh lebih mapan. Jadi, tak ada gunanya negara menggenjot prestasi olahraga, toh tak berpengaruh pada kesejahteraan rakyat.</p>
<p>5 Adanya pertandingan, menyuburkan perjudian. Lihat saja pasar-pasar taruhan sekarang lagi rame dengan digelarnya World Cup. Mulai yang omzetnya jutaan dolar, sampai taruhan-taruhan kecil yang nilainya mungkin hanya ribuan perak di warung-warung kopi. Baik di pasar taruhan profesional maupun sekadar iseng, toh namanya tetap perjudian yang haram hukumnya. &#8220;Sesungguhnya minum khamer, berjudi, berkorban untuk berhala&#8230;adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan.&#8221;(TQS Al-Maidah:90)</p>
<p>6. Klaim bahwa olahraga mampu menjadi pemersatu umat, sebagaimana pernah dikatakan mantan Presiden AS Bill Clinton dalam pembukaan World Cup 1994, &#8220;Sepak bola adalah bahasa universal untuk mempersatukan manusia&#8221;, adalah omong kosong. Sebaliknya, pertandingan olahraga malah menjadi sumber perpecahan. <em>Hooligans</em> (supertor) rela <em>berantem</em> demi membela tim kesayangannya. Olahraga juga sering menimbulkan fitnah. Misalnya wasit diteror gara-gara dianggap berat sebelah, atau malah pemainnya yang celaka. Ingat terbunuhnyan Andreas Escobar, pemain Colombia di Piala Dunia 1994 gara-gara gol bunuh dirinya? Lebih dari itu, pertandingan antar negara, bisa memicu semangat nasionalisme (kebangsaan) yang jelas-jelas bisa memecah belah umat. Nah, kita sebagai Muslim, tentu nggak mau dong dilenakan oleh permainan yang ternyata banyak membawa mudharat itu! Iya, kan?!![<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, Juni 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yang-cewek-yang-gila-bola/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Latah, Bawaan Kaum Akhwat?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/latah-bawaan-kaum-akhwat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/latah-bawaan-kaum-akhwat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 10:57:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2359</guid>
		<description><![CDATA[Lucu deh punya sohib Ade. Kalau digertak atawa dikagetin, doi ngikutin apa yang kita omongin. Kata orang Ade latah! Tapi benarkah penyakit kagetan itu konon banyak mendera kaum hawa? Apa pula hubungannya ama sakit jantung?
Latah adalah bentuk gangguan kejiwaan berupa meniru ucapan orang lain tanpa sempat berpikir atas ucapan yang ditirunya itu. Latah ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Lucu deh punya sohib Ade. Kalau digertak atawa dikagetin, doi ngikutin apa yang kita omongin. Kata orang Ade latah! Tapi benarkah penyakit kagetan itu konon banyak mendera kaum hawa? Apa pula hubungannya ama sakit jantung?</em></strong></p>
<p>Latah adalah bentuk gangguan kejiwaan berupa meniru ucapan orang lain tanpa sempat berpikir atas ucapan yang ditirunya itu. Latah ada yang ringan, sekadar meniru ucapan but ada yang berat, yakni meniru ucapan sekalighus melakukan perbuatan yang sesuai dengan isi ucapan orang lain itu. Misalnya ada orang yang latah berat kita kagetin sambil ngomong &#8216;copot sepatu!&#8217; maka doi spontan bakal ngomong &#8216;copot sepatu&#8217; sembari nyopot sepatu beneran. Coba deh bayangin kalau dia dikagetin sambil ngomong &#8216;nyebur sumur&#8217; trus nyebur sumur beneran, gaswat! Nah, gimana dong kalo punya sohib latah gitu?</p>
<p>&#8221;Kita-kita jadi suka godain Ade. Abis dia latah abis. Celetukannya lucu-lucu lagi, jadi bikin kita seneng. Rame aja ada dia, bikin kita ketawa mulu seh,&#8221; terang Dede (16), ABG Bogor yang sohiban ama Ade, si latah. Boro-boro membantu &#8216;menyembuhkan&#8217; latah Ade, Dede dan gengnya malah suka sengaja merangsang munculnya &#8216;penyakit&#8217; latah itu.</p>
<p>Lain lagi sama Wida (17), pelajar SMU Negeri di Bogor itu kurang sreg ama orang latah. Apalagi cewek yang suka latah dengan ngomong jorok. &#8221;Ada temen aku di sekolah yang spontan ngomong porno gitu kalo lagi kaget. Sebel juga seh,&#8221; katanya pada Permata. Misal ada temen yang kaget karena pensilnya jatuh, si latah itu langsung ngomong jorok (nggak usah disebut ya,&#8230;tahu sendiri kan?!!). &#8221;Dengernya jadi kesel. Udah diingetin katanya itu reflek, jadi nggak terkontrol,&#8221; keluh Wida. Bener nggak seh itu penyakit, kata Wida lagi balik nanya.<span id="more-2359"></span></p>
<p><strong>Penyakit vs Tren</strong></p>
<p>Latah bukan bawaan orok sejak lahir, lho! Umumnya timbul karena ada trauma psikologis yang dialami oleh orang tersebut. Trauma psikologis yang dialami seseorang bisa menjelma ke dalam berbagai bentuk seperti phobia, histeris, obsesif-kompulsif, latah, dan sebagainya. <em>But</em>, ada juga orang yang latah sekadar ikutan tren. Tujuannya cuma buat joke dan menambah wawasan pergaulan. Lihat aja para pelawak di teve, banyak yang sengaja latah biar aksi panggungnya jadi lucu. Mereka bahkan dengan sengaja mengasah kemampuan latahnya buat ngeruk duit. Makin latah makin laris.</p>
<p>Memang, orang yang tidak punya penyakit latah tidak akan otomatis jadi latah beneran kalaupun dia coba ikut-ikutan latah sekadar ngikutin tren. Sebab orang yang latah beneran datang dari dalam diri, sedangkan yang cuma ikut-ikutan latah sebenarnya hanya karena faktor kebiasaan/terkondisi.</p>
<p>BTW, bener nggak latah itu karena penyakit jantung? Nggak ada hubungan sama sekali. Artinya bukan karena ada gangguan jantung maka orang pasti jadi latah. Hanya memang, orang yang latah, pada waktu dia dikagetin maka terjadi peningkatan aliran adrenalin dalam darahnya. Adrenalin ini memacu detak jantung sehingga detak jantungnya semakin cepat. Kalau dia sampai kaget sekali selain detak jantung yang meningkat juga disertai otot tubuh yang mengejang dan mata yang melotot. Nah orang yang enggak latah pun kalau dikagetin dan dia kaget betul-betul bisa saja juga jadi kayak orang latah (meniru apa yang dikatakan orang lain yang ngagetin dia).</p>
<p><strong>Cewek Lebih Banyak </strong></p>
<p>Belum ada penelitian tentang perbandingan jumlah penderita latah antara cewek dan cowok. Tapi berdasarkan pengamatan sekilas apa yang terjadi di sekitar kita, latah lebih banyak dialami kaum hawa. Mungkin ini disebabkan karena secara emosional cewek lebih rentan terhadap stress dibandingkan cowok sehingga cewek juga lebih mudah mengalami trauma. Sebut aja kalangan seleb, mulai Viona Rosalia ampe Mpok Atik, pada demen latah.</p>
<p>Nggak ada bedanya seh, latahnya cewek dengan latahnya cowok. Mungkin bedanya hanya dari ucapan yang sering dikeluarkannya. Kalo cewek cenderung mengucapkan sesuatu yang berbau porno atau lucu, sedangkan cowok cenderung ngucapin yang kata-kata yang bersifat kasar seperti (maaf) &#8216;eh mampus&#8217; dsb.</p>
<p>Di masyarakat seringkali ada pandangan kalau cewek yang latah itu sah-sah aja alias normal. Tapi kalo cowok latah, enggak umum banget. Kesannya kalau cowok itu latah maka dia enggak macho, enggak jantan, orangnya lemah lembut, mudah nangis, dsb. Ini karena orang mengidentikkan orang yang latah sebagai orang yang enggak punya pendirian. Soalnya, kerjanya jadi tukang tiru-tiru orang doang.</p>
<p>Emang nggak dipungkiri, kalangan cowok yang latah ini kebanyakan para banci. Maksudnya, kelompok banci memang paling doyan latah. Tapi bukan berarti kalau dia bencong otomatis pasti latah, atau kalau cowok latah berarti dia bencong. Biasanya ini muncul karena sejak kecil mengalami tekanan batin dan sering menerima perlakuan yang menyakitkan hatinya atau menimbulkan trauma. Ketika latah itu muncul disertai dengan gaya seorang bencong justru menimbulkan kelucuan buat orang sekitarnya. Akibatnya latahnya bencong jadi ngetren di kalangan masyarakat. Untuk selanjutnya malah muncul latah-latah palsu yang sekadar buat ngegaya dan bergaul tadi. Parahnya, tren kata-kata yang dijadikan bahan latah juga kata-kata yang jorok. Payah banget, kan!</p>
<p><strong>Berpikir Sebelum Berkata</strong></p>
<p>Seorang latah mengucapkan kata-kata spontanitas, kayaknya enggak berpikir dulu. Bahkan ada yang bilang malah enggak sadar ngomong kayak gitu. Padahal kalau dipikir-pikir, setiap manusia yang normal, dikaruniai akal oleh Allah SWT. Gunanya ya buat berpikir. Dan setiap perbuatan manusia, selalu dilandasi oleh pemahaman dia alias pola pikirnya. So, rada aneh memang kalo ada orang yang berbuat tanpa berpikir. Mungkin dia berpikir, tapi kilat banget alias dangkal pola pikirnya.</p>
<p>Sebab pola pikir sendiri emang ada beberapa tingkatan, mulai berpikir dangkal (<em>tafkir suthiy</em>), berpikir mendalam (<em>tafkir amiq</em>) sampai berpikir cemerlang (<em>tafkir mustanir</em>). Pola pikir dangkal umumnya terjadi karena manusia sudah melakukannya sebagai sesuatu kebiasaan. Misal kalo kita laper, otomatis langsung? ngambil makanan trus dimakan. Seolah-olah aktivitas kita itu enggak dilandasi pola pikir karena udah kebiasaan, padahal sebetulnya berpikir tapi udah terpola alias kilat banget.</p>
<p>Nah, latah itu terjadi karena pola pikir saat itu sedang dangkal. Coba aja perhatiin, tiap orang (normal) pasti punya &#8216;kata-kata khusus&#8217; ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengagetkannya. Misal ibu-ibu yang ngelihat anak jatuh atau barang jatuh, ada yang spontan ngomong &#8216;Eh kodok&#8217;, &#8216;Eh copot&#8217;, atau ada yang bilang &#8216;Astaghfirullah&#8217;, dan sebagainya. So, itu karena kebiasaan.</p>
<p>Yang pasti, kalau latah itu emang muncul karena ada riwayat trauma psikologis, musti &#8216;disembuhkan&#8217; meskipun mungkin rada-rada susah. Caranya, bekali diri dengan pemahaman Islam sehingga pola pikirnya selalu Islami. Pola pikir Islami ini jelas bukan sekadar pola pikir yang dangkal, tapi kudu mendalam dan bahkan mustanir (cemerlang). Insya Allah dengan bekal pola pikir Islam yang menancap kuat, penyakit latah bisa dikikis.</p>
<p>Sementara kalo latahnya sekadar ikut-ikutan, bukan hanya bisa disembuhkan, malah bisa dicegah. Gaul seh gaul, tapi kalo udah nyerempet-nyerempet hal yang haram, kudu dihindari. Mengeluarkan kata-kata jorok jelas melanggar larangan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.&#8221; (HR </em>Bukhari).</p>
<p>Terlebih lagi Allah SWT mengingatkan kita agar selalu menyertai perkataan dan perbuatan kita dengan ilmu. Dalam firman-Nya yang artinya: <em>&#8216;Janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya perkataan, perbuatan dan hati kamu akan dimintai pertanggungjawaban.&#8217;</em> (QS Al-Isra:36)</p>
<p>So, berfikirlah dulu sebelum berkata-kata dan berbuat. Jangan asal jeplak dan juga jangan asal-asalan ikutan tren. Gunakan nikmat lidahmu untuk senantiasa berkata yang baik-baik, misal untuk berzikir mengagungkan asma Allah SWT. OK![<strong>asri</strong>]</p>
<p>==</p>
<p>Boks//</p>
<p><strong>Godain Temen Boleh, Tapi Pilih-pilih </strong></p>
<p>KATA sebagian aktivis latah, punya keunikan gitu bikin bete karena nurunin pede. <em>But</em> enggak semuanya. Ada juga kok yang latah tapi tetap gede rasa pedenya,? apalagi kalau latahnya cuma ringan dan kata-kata yang keluar masih enak didengar. Nah, pede bakal terganggu kalau latahnya sudah berat, yang enggak sekadar niruin ucapan tapi juga sampai latah melakukan tindakan seperti yang disebut di atas. Belum lagi kalau orang lain sering jadiin pengidap latah bahan tertawaan, otomatis bikin mereka enggak pede abis.</p>
<p>Makanya, biar latah engga membudaya, kamu-kamu jangan suka godain orang. Liat-liatlah kalau mau godain orang. Kalau memang enggak latah ya bolehlah sekali-kali untuk sekadar <em>joke</em>, tapi tetap dengan santun <em>and</em> jangan berlebihan. Rasulullah sendiri cuka becanda, tapi tentu saja mengandung ibrah (pelajaran). So, becanda boleh tapi jangan kelewatan. Apalagi kalo sampai membuat temen kamu jadi ngomong jorok-jorok karena latah itu.</p>
<p>Nah, kalo temen kamu pengodap latah, ya jangan digodain. Apalagi kalau maksudnya si latah biar ngikutin kata-kata yang lucu tapi sekaligus juga tindakan yang porno, seperti &#8220;Eh copot baju!&#8221;. Coba bayangin kalau yang latah itu cewek dan akhirnya dia copot baju beneran. Mau ikut nanggung dosanya? Wah, kalau yang maksudnya kayak gitu, itu seh udah pelecehan seksual namanya. Bikin orang lain kambuh penyakit latahnya emang sesuatu yang lucu,? tapi buat yang punya penyakit ini adalah suatu siksaan kalau dia sering digoda. Sebab, sebenarnya dia tidak mau dan tidak kuasa untuk tidak meniru kalau dikagetin/digertak orang lain. Coba bayangin kalau berkali-kali latah, terus menerus jantung berdetak kencang dan otot tubuh mengejang. Apalagi pada saat dia kesusahan orang-orang lain malah menertawakan dia. Tambah <em>down</em> dan stress dong dengan penyakitnya. Kasihan kan?</p>
<p>Kemudian, bagi kamu-kamu yang udah latah berat dan sampai menghambat timbulnya si pede, harus diminimalisir latahnya. Caranya, hindari godaan. Mintalah temen-temen memahami kalo kamu benci digodain. Sesekali marah bila digoda boleh juga, biar sang penggoda pada tahu diri. Sebab bagaimanapun, lingkungan pergaulan sangat membantu untuk mengusir si latah. Trus, cobalah selalu berkonsentrasi terhadap berbagai hal sehingga pola pikir terkontrol. Biasakan pula mengucapkan kata-kata yang bermakna baik bila sedang kaget, misalnya <em>Astaghfirullah</em>.</p>
<p>Malah kalau perlu, berkonsultasi pada orang yang kompeten seperti psikolog atau psikiater. Terapi untuk menghilangkan latah mungkin bisa membantu. Yang penting trauma penyebab kamu latah yang enggak kamu sadari itu yang harus dihilangkan dulu dan disadari kenapa sampai latah begitu. Kalau ini sudah dibongkar, maka kamu akan bisa mengontrol latah atau setidaknya secara bertahap mengurangi latah itu. Agar bisa sukses, keluarga plus lingkungan sekitar musti membantu. Mintalah mereka untuk tidak menggoda kamu terus. Percaya deh enggak akan sembuh kamu kalau digoda terus. Emang enak digodain terus? Diketawain terus? Pelawak kali!!![<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "akhwat", Majalah PERMATA, edisi September 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/latah-bawaan-kaum-akhwat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya Kerudung Demokratis</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gaya-kerudung-demokratis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gaya-kerudung-demokratis#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 23:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2341</guid>
		<description><![CDATA[Nggak sedikit muslimah yang ogah menutup aurat. Nggak sedikit juga yang malah &#8216;menjualnya&#8217;. Inikah produk demokrasi? 

Buat para akhwat yang idup di jaman Pentium IV ini, menutup bodi dengan jilbab dan kerudung memang dilema. Mereka kudu milih antara kewajiban menutup aurat dengan gaya. Satu sisi perintah agama, di sisi lain kayaknya kok nggak gaul ya?
Kewajiban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Nggak sedikit muslimah yang ogah menutup aurat. Nggak sedikit juga yang malah &#8216;menjualnya&#8217;. Inikah produk demokrasi? </em></strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Buat para akhwat yang idup di jaman Pentium IV ini, menutup bodi dengan jilbab dan kerudung memang dilema. Mereka kudu milih antara kewajiban menutup aurat dengan gaya. Satu sisi perintah agama, di sisi lain kayaknya kok nggak gaul ya?</p>
<p dir="ltr">Kewajiban udah jelas, seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka ama telapak tangan, pekik para ulama. So, rambut, telinga, leher, bodi plus awak, wajib diumpetin di balik khimar dan jilbab.</p>
<p dir="ltr">Sementara itu, pergaulan nuntut sebaliknya. Kudu trendi, ngegaya, dan ini&#8230;harus memamerkan &#8216;aset-aset&#8217; pribadi. Yang kulitnya mulus, sayang kalo diumpetin. Yang rambutnya indah terurai, kenapa juga kudu dibungkus kain kerudung, emangnya lemper.<span id="more-2341"></span></p>
<p dir="ltr">Belum lagi macam-macam pandangan en tuntutan orang laen buat cewek berkerudung plus berjilbab kayaknya gimana gitu. Kudu pinter baca Al Qur&#8217;an, kudu jauh dari acara ngegosip, kudu jaga jarak ama kendaraan di depan eh ama cowok dalam pergaulan, en segudang kudu-kudu laennya. Tuntutan kayak begitu terang aja bikin banyak cewek <em>jiper</em> alias ngeri untuk berkerudung dan berjilbab.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Nggak Wajib?</strong></p>
<p dir="ltr">Whuaaa&#8230;yang bener aja? Yup, itu setidaknya dilontarkan oleh sejumlah &#8216;cendekiawan&#8217; muslim kontemporer. Jaman Orde Baru masih berkuasa, ada seorang pejabat yang bersemangat menentang kewajiban berjilbab dengan bilang, &#8220;Anak dan istri saya saja tidak berjilbab.&#8221; Hmm, berani-beraninya.</p>
<p dir="ltr">Kalau sekarang jama&#8217;ah Jaringan Islam Liberal (JIL) paling getol menghujat kewajiban jilbab ini. Kata mereka, para ulama yang menafsirkan jilbab itu udah terpengaruh diskriminasi gender. Mereka mendiskriditkan kaum wanita. Pendapat mereka ini tentunya bersandarkan pada pendapat para orientalis, pemikir yang satu geng, dan juga kajian Islam secara sosiohistoris. Mereka juga keberatan seandainya jilbab itu dipaksakan atas setiap muslimah. Pokoknya, berjilbab itu harus karena kesadaran sendiri.</p>
<p dir="ltr">Ada beberapa alasan yang menurut mereka jilbab dan kerudung itu nggak wajib:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Pertama</strong>, mereka bilang kalau <em>jilbab itu budaya Arab, bukan budaya Islam</em>. Lagian, ajaran Islam itu kudu dicocokin ama kondisi budaya setempat. Istilahnya Islam lokal. Prinsip mereka, <em>&#8220;Tidak diingkari perubahan hukum (syara&#8217;) dengan perubahan zaman dan tempat&#8221;.</em></p>
<p dir="ltr">Ya, mirip-mirip burger racikan McDonald. Semua harus burger ala Amrik kan? Perlu ada rasa lokal. Maka dibikinlah McRendang, McSatay, McBangkok, malah ada juga burger tempe. Jadi ada juga &#8220;jilbab&#8221; ala Indonesia. Yang gimana tuh? Yang penting SOPAN, tidak menggoda pria, kata mereka. Seorang pemikir Islam malah menyebut jilbab itu lebih pada suruhan untuk sopan dan bersahaja (<em>modesty</em>) yang bisa dilakukan siapa saja.</p>
<p dir="ltr"><strong>Kedua</strong>, masih kata mereka, jilbab itu diwajibkan di jaman wanita belum dihargai. Buktinya, menurut mereka, surat Al Ahzab ayat 59 berbunyi, <em>&#8220;Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.&#8221;</em> Nah, karena kata mereka sekarang ini kaum wanita sudah banyak dihargai maka berjilbab bukan kewajiban lagi.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Teman-teman, pendapat-pendapat di atas jelas punya banyak kelemahan dan ketidakberesan. Emang bener kalau budaya Arab itu nggak selamanya identik dengan budaya Islam. Contohnya, naik unta itu nggak fardlu juga nggak sunnah, walaupun seumur hidup Rasulullah naik unta. <em>And so on</em> pakai terompah ala Ali Baba atau Aladdin juga nggak wajib. Buat kita, yang jadi bagian hukum syara&#8217; itu adalah apa yang diatur sama Allah di dalam dalil-dalil syara (Al Qur&#8217;an, As sunnah, Ijma shahabat dan qiyas). So, kalau dalam keempat sumber hukum Islam itu ada keterangannya, en jelas hukumnya, ya itu adalah bagian dari ajaran Islam. Bukan budaya bangsa mana-mana. Contohnya, bacaan shalat en azan itu emang harus pake bahasa Arab nggak bisa diganti ama bahasa lain, baik bahasa daerah masing-masing, apalagi coba-coba pake bahasa tubuh.</p>
<p dir="ltr">Walaupun jilbab dan kerudung itu sudah dipakai sebagian kaum wanita di Arab di jaman pra-Islam, tapi kita mengakuinya sebagai hukum syara&#8217; karena begitulah yang dikatakan Islam. Bukan cuma buat wanita Arab. Islam juga yang ngasih batasan-batasan en ketentuan berjilbab yang khas bagi para muslimah. Simak aja firman Allah, <em>&#8220;Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, dan anak-anakmu dan istri-istri orang beriman &#8230;&#8221;</em>(Al Ahzab: 59). Jadi, perintah berjilbab dan berkerudung itu adalah atas setiap muslimah, baik dia orang Arab ataupun bukan orang Arab.</p>
<p dir="ltr">Pernyataan bahwa jilbab itu wajib karena di zaman itu perempuan nggak dihargai, korslet. Kagak nyambung. Karena pada zaman kekhilafahan Islam, saat kaum wanita terlindungi dan merasa aman, tetap saja mereka wajib mengenakannya. Lagian, kalau pernyataannya seperti itu, gimana dengan zaman sekarang, dimana perempuan jauh lebih nggak dihargai ketimbang di zaman jahiliyah? Liat aja kekerasan pada wanita sekarang jauh lebih meningkat ketimbang jaman Rasulullah saw. dulu.</p>
<p dir="ltr">Terus, kalau dibilang pakaian cewek yang penting sopan (modesty), nah sopan versi mana dulu nih. Kalau menurut penganut &#8216;madzhab&#8217; Britney Spears atau Agnes Monica, ?celana melorot ke pinggang yang mereka pake itu pasti terkategori sopan. Ber-koteka, menurut suku asli Irian Jaya pastinya juga udah terbilang sopan. Nah, mau ikut sopan versi mana nih?</p>
<p dir="ltr">Dalam kehidupan manusia, seringkali diperlukan paksaan untuk berbuat baik. Ini nggak bisa ditolak. Bukankah manusia suka berbuat begitu pada sesamanya? Liat aja aturan 3 in 1 di Jakarta, itu kan paksaan juga? Atau bayar pajak juga paksaan, kan? Gelinya, para pengkritik jilbab ini nggak pernah kedengaran tuh mengkritik paksa-memaksa sesama manusia. Tapi Allah mereka kritik kalau maksa-maksa manusia. Jangan-jangan nanti bakal ada tanggapan, <em>kalau mau berhenti nyopet ya harus karena kesadaran sendiri jangan karena dipaksa</em>. ANCURRR!</p>
<p dir="ltr">Intinya sih, kita mau bilang, kalau ukuran baik dan buruk, terpuji dan tercela, diserahkan pada akal en hawa nafsu manusia, hasilnya seperti kata Opa Iwan Fals, ANCURRRR! Nah, daripada belaga pinter padahal ber-IQ jongkok, mendingan kita nurut aja deh pada yang dikatakan Allah.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Racun Demokrasi</strong></p>
<p dir="ltr">Usaha-usaha untuk ngancurin citra jilbab emang dahsyat bener. Udahlah secara pemikiran diancurin seperti cara-cara di atas, eh praktiknya juga diacak-acak. Seperti yang bisa kamu baca di Studia 1, nggak sedikit muslimah yang niatnya ingin menutup aurat, tapi sayang belum sempurna.</p>
<p dir="ltr">So, mata para cowok belum juga bebas dari pemandangan yang tidak boleh dipandang, gara-gara nggak sedikit muslimah yang belum total nutup aurat mereka. Keliatannya, mereka juga ingin berbusana muslimah tapi juga nggak mau keilangan kesempatan untuk <em>Te Pe</em> (Tebar Pesona). Jadilah mereka berkerudung tapi tetap <em>full press body</em>.</p>
<p dir="ltr">Ini semua, berawal dari diterimanya paham demokrasi dalam kehidupan kaum muslimin. Yup, seperti yang kamu tahu dalam demokrasi emang berdagang kebebasan. Manusia-manusia demokratis bebas berbuat apa saja, asalkan nggak mengganggu kebebasan orang lain.</p>
<p dir="ltr">Dalam demokrasi pula nggak ada prinsip benar dan salah yang absolut atawa mutlak. Semua serba relatif, nisbi. Ukurannya diserahkan pada keinginan pribadi dan suara mayoritas.</p>
<p dir="ltr">Nah, ada empat kebebasan yang diusung demokrasi: kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan dan kebebasan bertingkah laku. Gara-gara prinsip kebebasan berpendapat, muncullah pendapat jilbab itu nggak wajib karena itu budaya Arab.</p>
<p dir="ltr">Nah, dengan prinsip kebebasan bertingkah laku, kaum muslimah yang sudah terinfeksi paham demokrasi, ngerasa sah-sah saja tidak menutup aurat. Ini kan badan gue! Mo pake</p>
<p dir="ltr">Kata mereka. And so on, mau pake kerudung model apapun juga boleh.</p>
<p dir="ltr">Nah, aspirasi kebebasan para muslimah ini ditangkap oleh para pengusaha yang kapitalis. En mereka manfaatkan nafsu liar para muslimah itu untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Bak gayung bersambut, para muslimah yang kagak kuat iman, dan tergiur kepengen ngetop dengan cepat, ngantri di pintu para pengusaha kapitalis itu. Yang kulitnya mulus beruntung bisa jadi foto model produk kosmetik atau sabun kecantikan. Yang kulitnya mirip-mirip amplas juga bisa jadi foto model&#8230;salep kulit ama sabun cuci.</p>
<p dir="ltr">Meski begitu eksploitasi atau penjajahan terhadap wanita dengan cara seperti ini nggak pernah tuh digugat. Kalaupun pernah, tapi nggak seheboh para pemikir muslim kontemporer atau para feminisme menggugat jilbab dan poligami. Karena memang prinsip mereka adalah liberalisme, kebebasan. Selama &#8216;pelaku&#8217; dan &#8216;korban&#8217;nya merasa enjoy, ya itu sah-sah aja. Bukan eksploitasi tapi menjalankan profesi.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><strong>Solusi Total</strong></p>
<p dir="ltr">Maka penyebab muslimah belum sadar berbusana komplit, adalah demokrasi dan sekulerisme penyebabnya. Di alam ini, para muslimah diracuni lewat berbagai jalan agar melepaskan jilbab dan kerudungnya. Lewat sinetron <em>Montir-montir Cantik</em>, misalkan, para muslimah diajarkan supaya berani memamerkan bodi mereka di depan kaum cowok. Bahwa kecantikan dan keseksian tubuh adalah aset yang bisa dijual selain kemampuan jadi montir. He&#8230;he&#8230;he&#8230;film ini nggak pernah tuh bikin gerah kaum pembela wanita.</p>
<p dir="ltr">Sementara pemikiran mereka diancurin dengan ideologi sesat sekulerisme-liberalisme. Selain muncul pemahaman kalau berjilbab itu nggak wajib, juga dikesankan jilbab-kerudung itu menghambat aktivitas, en terkesan norak dan kampungan.</p>
<p dir="ltr">Agar para muslimah selamat, nggak ada jalan lain kecuali menghancurkan sekulerisme. Cuma, untuk itu para muslimah kudu menumbuhkan sendiri keyakinan akan kebenaran Islam. Bahwa apa yang dibawa oleh Islam itu benar tanpa ada keraguan. So, ngaji adalah satu-satunya jalan. Dengan serius dan penuh keikhlasan ngaji, insya Allah pikiran kita jadi bersih.</p>
<p dir="ltr">Dakwah adalah langkah selanjutnya setelah mengaji. Kampanye penegakan syari&#8217;ah juga harus dibarengi dengan kampanye busana muslimah. Perlu diserukan kepada para muslimah bahwa: JILBAB ADALAH KEWAJIBAN BUKAN PILIHAN.[<strong>januar</strong>]</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Boks/</p>
<p dir="ltr">Tips Memilih Pakaian yang Nyaman dan Aman</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Pakaian yang nyaman, maksudnya pakaian yang nggak bikin gerah, adem, nggak ngganggu buat beraktivitas, dan tentunya menambah pede. Aman, maksudnya nggak merusak kesehatan tubuh, misal kulit atawa rambut. Aman di sini juga berarti terhindar dari melanggar aturan syara&#8217;. Bisa juga berarti &#8216;aman&#8217; dari tangan-tangan jahil. Nah, untuk mendapatkan baju yang nyaman dan aman, ada beberapa hal yang kudu kamu perhatiin:</p>
<ol type="1">
<li dir="ltr">Bahan. Untuk pakaian rumah (tsiyab) kudu yang      bersifat menyerap keringat. Bahan kaus, batik atau katun adalah pilihan      tepat. Yup, kayak bahan buat baju tidur atawa daster gitu lho! Itu pas      banget kalo buat baju dalem karena adem dan tentunya membuat nyaman.      Sedangkan buat jilbab alias baju luar, bahan bisa lebih fariatif, tapi      tetep kudu membuat nyaman. Yang terpenting untuk jilbab ini jangan memilih      bahan yang terlalu tipis/transparan, sebab tentu saja tidak sesuai dengan      aturan Islam. Jilbab harus dari bahan yang tidak menampakkan kulit atau      pakaian dalam. Sebaliknya jangan pilih yang bahannya terlalu tebal,      seperti bahan celana/jeans/jaket. Bahan yang terlalu tebal, selain kurang      bagus penampilannya (kaku), juga bikin gerah. Bahan kerudung juga sama,      pilih yang adem agar kamu tidak kepanasan dan rambut tetap terjaga      kesehatannya. Jangan yang penting trendy tanpa mengindahkan fungsinya      sebagai penutup kepala.</li>
<li dir="ltr">Model. Untuk pakaian rumah, model memang boleh      macem-macem asalkan tidak memperlihatkan aurat. Namun sebaiknya hindari      model yang terlalu ribet karena kurang bagus bila sudah dipadukan dengan      jilbab. Misal model yang banyak renda-rendanya atau ploinya. Mendingan      yang simple aja biar nggak terlalu kelihatan seperti ada ganjalan saat di      atasnya dilapisi jilbab. Meski buat baju rumah sah-sah aja rada-radar      ketat, tapi sebaiknya hindari karena seperti udah diulas di atas, baju      ketat enggak bagus buat kesehatan kulit. Sedangkan untuk jilbab, pada      prinsipnya yang penting longgar dan mengulur dari atas sampai ke dasar.      Buat kamu yang badannya kurus, tambahan ploi akan membantu mempercantik      penampilanmu. Sedang buat yang agak tambun, modelnya simple aja, jangan      banyak ploi dan pernak-pernik semisal tali atau pita. Untuk model      kerudung, pilihlah yang mampu menutup rambut sampai ke dada secara      sempurna. Jangan asal ngejar trend aja, Non!</li>
<li dir="ltr">Corak. Pilih corak yang tidak terlalu ramai. Buat      yang kurus dan tinggi, pilih corak?      yang cenderung besar-besar, baik corak bunga-bunga maupun      kotak-kotak. Hindari corak garis-garis vertical karena akan membuat kesan      kamu seperti tiang listrik aja. Buat yang rada ndut, pilih corak      sedang-sedang saja, jangan terlalu kecil-kecil atau besar-besar. Corak      abstrak juga cocok. Hindari corak garis-garis horizontal karena akan      membuat kamu tampak makin lebar ke samping. Untuk kerudung, hindari corak      terlalu ramai, apalagi yang tidak senada dengan jilbab kamu. Ntar malah      tabrakan, nggak lucu.</li>
<li dir="ltr">Warna. Sekali-kali jangan memilih warna yang      menyolok yang bisa menarik perhatian. Misal warna hijau seperti rompinya      pak polisi atau merah seperti warna bendera Indonesia. Pokoknya hindari      warna-warna muda yang seperti permen gitu. Sebaiknya pilih warna pastel,      warna sejuk (biru/hijau tua) atau warna-warna lembut lainnya yang nggak      menyolok.</li>
<li dir="ltr">Harga. Belilah busana Muslimah sesuai anggaran.      Tak perlu memakai pakaian yang serba mahal, apalagi bila hanya untuk      riya&#8217;. Bahan yang bagus, corak yang oke dan model yang caem memang      biasanya kamu dapat dari bahan-bahan yang bukan murahan. Tapi kalo kamu      pinter belanja, dengan bahan yang nggak mahal kamu pun bisa tampil cantik.      Oke?(asri)</li>
</ol>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di rubrik "studia", Majalah PERMATA, edisi Maret 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gaya-kerudung-demokratis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gap ama Bokap, Karena Beda Jaman?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gap-ama-bokap-karena-beda-jaman-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gap-ama-bokap-karena-beda-jaman-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 03:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2301</guid>
		<description><![CDATA[Buat kita-kita, ngomongin ortu pasti nggak ada abisnya. Celakanya, kebanyakan masalah negatif yang digosipin. Ortu cerewetlah, ortu nggak gau-lahl, nggak ngertiin apa keinginan dan maksud kitalah, dll. Walhasil, tak sedikit timbul gap antara kita ama ortu, terutama anak cewek ama bokap. Hm, sebenarnya ada apa dengan ortu? Kita bahas bareng-bareng yuk&#8230; 


KALO cewek deket ama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Buat kita-kita, ngomongin ortu pasti nggak ada abisnya. Celakanya, kebanyakan masalah negatif yang digosipin. Ortu cerewetlah, ortu nggak gau-lahl, nggak ngertiin apa keinginan dan maksud kitalah, dll. Walhasil, tak sedikit timbul gap antara kita ama ortu, terutama anak cewek ama bokap. </em><em>Hm, sebenarnya ada apa dengan ortu? Kita bahas bareng-bareng yuk&#8230; </em></strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>KALO</strong> cewek deket ama ibu, itu seh wajar. Selain karena sama-sama wanita, intensitas interaksi anak dan ibu yang lebih tinggi membuat jalinan emosinya lebih kuat. Makanya, anak masih bisa nego kalo dimarahin ibu, misalkan. Soalnya lebih berani karena merasa lebih dekat. Tapi kalo ama ayah alias bokap, biasanya anak lebih takut. Mungkin karena wibawanya dan faktor ketidakdekatan tadi. Apalagi bagi anak cewek, suka ada <em>gap</em> ama bokapnya.</p>
<p>Seperti yang dialami Lala, pelajar SLTP swasta di Bogor ini mengaku nggak deket ama bokapnya. &#8221;Biasalah, bokap kan sibuk kerja. Jadi kalo ada masalah apa-apa, lapornya ya ke nyokap,&#8221; akunya.</p>
<p>Alasan lain, bokap Lala terkesan cuek dengan urusan pribadinya. &#8221;Paling kalo nanya sebatas formalitas aja. Soal sekolah doang,&#8221; cetusnya. Yang bikin kesel, udah nggak <em>care</em> ama urusannya, bokap tuh suka pelit urusan duit. Malah suka lupa dengan keperluan Lala. &#8221;Lala udah diijinin les Bahasa Inggris, tapi giliran minta duit buat bayaran malah lupa. Pernah juga janjiin mo jalan-jalan, malah rapat. Bete, kan,&#8221; katanya ketus.<span id="more-2301"></span></p>
<p>Dian, penghuni kampus rakyat IPB lain lagi. Bokapnya mah terkenal loyal soal urusan anaknya, termasuk urusan duit. Malah Dian mengakui kalau ayahnya itu baik banget. Empatinya juga tinggi. <em>But</em>, tetap aja Dian ngerasa nggak deket. &#8221;Soalnya itu bapak tiri,&#8221; akunya (oh, gitu). Dian emang sengaja menjaga jarak, meski ayah tirinya itu mencoba deket ama dia. So, mereka nggak pernah nyambung satu sama laen.</p>
<p>Tira, karyawan swasta yang bekerja di lembaga pendidikan ini juga punya cerita sama. Doi nggak suka tipe bokapnya yang suka maksa. &#8220;Pernah dulu dipaksa supaya kuliah di ekonomi, tapi aku kan lebih suka sastra, jadi ya berantem deh,&#8221; katanya. Sampai kini bokapnya suka mengungkit-ungkit masalah itu. Apalagi melihat hasil kerja Tira yang belum seberapa. &#8220;Penghasilanku emang pas-pasan, tapi yang penting bisa mandiri,&#8221; kata cewek berkacamata minus ini.</p>
<p><strong>Beda jaman bukan alasan</strong></p>
<p>Banyak yang memandang <em>gap</em> alias jarak antara anak dan ortu, spesial bokap, terjadi karena perbedaan jaman. Kita sama ortu berasal dari generasi yang berbeda. Mungkin pada waktu mereka jadi remaja kayak kita, belum ada komputer, belum ada internet, belum banyak tempat-tempat dugem and tempat nongkrong kayak sekarang ini. Pastinya mereka nggak bakalan ngerti dong tentang apa yang ada di tempat-tempat dugem atawa tempat nongkrong remaja. <em>Trus</em>, apa yang dulu mereka anggap tabu, sekarang malah udah biasa. Misal anak cewek pulang malam, dulu nggak lazim, sekarang dianggap udah biasa.</p>
<p>Selain itu, usia dan pengalaman hidup ortu menyebabkan mereka seolah orang yang paling tahu segalanya. Ada nasehat, ada larangan, harus ini, harus itu. Kebanyakan kita menolak semua yang dikasih tahu orangtua dengan alasan ketinggalan jaman. Jadinya, karena alasan beda jaman itu, terjadinya <em>gap</em> antara ortu dan anaknya dianggap lumrah. Fatalnya, ortu yang sering disalahkan karena dianggap nggak ngerti dunia remaja masa kini.</p>
<p>Tentu saja nggak semuanya bener, Non. <em>Gap</em> emang bisa saja terjadi. <em>But</em>, itu pasti muncul karena saling mempertahankan ego dan perbedaan standar dalam memandang segala sesuatu. Misal karena perbedaan norma dan pola pikir. Akibatnya, ada bokap yang kurang perhatian dan kasih sayang karena kesibukannya. Ada pula yang mendidik terlalu ketat atau sebaliknya, terlalu bebas tanpa adanya pengarahan yang jelas. Perbedaan pandangan hidup dan cita-cita antara anak dan ortu juga bisa bikin ngarai pemisah yang dalam.</p>
<p>Padahal, kalau antara ortu dan anak punya pola pikir yang sama dalam memandang hidup, perbedaan-perbedaan keduanya nggak bakal terjadi.</p>
<p>Apa pola pikir yang sama itu? Tentu saja pola pikir Islam. Sebab Islam memiliki standar yang jelas dalam memandang segala sesuatu. Standar itu adalah halal dan haram yang bersumber langsung dari Allah Swt, Sang Pencipta manusia. Apa yang dikatakan halal, berarti boleh dikerjakan dan yang haram wajib ditinggalkan. Standar seperti ini tak akan berubah karena perubahan jaman dan sama di belahan bumi manapun. <em>So</em>, nggak bakalan ada alasan karena beda jaman pandangan ortu dan anak jadi beda.</p>
<p>Coba bayangin, kalau bokap and nyokap kamu paham Islam, kamunya juga ngelotok soal hukum syara, pasti dah klop. Soal bergaul misalkan. Ortu kamu nggak bakal reseh saat kamu udah semester tujuh tapi masih jomblo alias STMJ. Kamunya juga bisa tenang-tenang ngelanjutin kuliah. Soalnya,? antara kamu dan ortu sama-sama punya pandangan bahwa pacaran itu haram. Selain itu, tentunya juga sama-sama ngeh bahwa jodoh itu di tangan Allah. Ortu juga nggak bakal ketar-ketir karena tahu anaknya nggak suka dugem. Soalnya kamu nggak merengek minta ijin ngedugem yang di jaman ortu kamu belon ada.</p>
<p>Soal selera musik juga gitu. Kalo ortu kamu paham Islam, mustinya ngajarin kamu buat mencintai lagu-lagu bernuansa religius dong. Kamunya juga gitu, karena paham musik itu bisa mengusung ideologi Barat yang sesat, jadi selektif ndengerin lagu-lagu. <em>So</em>, nggak bikin kesel ortu karena nyetel <em>heavy metal</em> yang bikin berisik itu. Emang seh, soal selera bisa beda-beda, tapi nggak menyentuh masalah prinsip sehingga peluang terjadinya konflik Insya Allah bakalan keciiiil.</p>
<p>Jadi, <em>gap</em> ortu dan anak bukan terjadi sekadar karena perubahan jaman. Jaman emang berubah, tapi toh kebutuhan hidup remaja dulu ama sekarang tetep sama. Bentuk dan modelnya aja yang beda. Lagian, seruan Allah bagi remaja dulu dan kini sama saja. Hanya masalah teknis aja yang mungkin beda.</p>
<p><strong>Menembus Gap </strong></p>
<p>Yang jelas, gap yang terjadi biasanya menyebabkan terganggunya atau bahkan putusnya komunikasi di antara kita sama ortu. Jika hal ini dibiarkan lama, akan menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik. Itu sebabnya, sebaiknya salah satu harus ada yang mau mengalah, dalam hal ini orangtua akan lebih berpotensi mengalah. Tapi apa salahnya jika kita mulai mengalah lebih dulu demi terjalinnya komunikasi yang baik dengan orangtua. Oya, ?sudah tentu akan tercipta hubungan berkeluarga yang baik, walaupun berbeda generasi. <em>So</em>, jangan buru-buru memberontak. Inget lho, kita masih sangat tergantung dengan orangtua, dan belum bisa mencapai kemandirian yang sempurna sebagai manusia.</p>
<p>Seandainya gap antara ortu dan kita terjadi semakin jauh. Akan mengakibatkan masalah-masalah baru dalam keluarga atau bahkan lingkungan bermasyarakat. Ketika gap antara ortu dan kita terjadi semakin menjauh, biasanya kita akan mencari lingkungan diluar keluarga untuk menggantikan orangtua dan keluarga.</p>
<p>Kalau sudah terjadi seperti itu maka ada dua kemungkinan, kita sebagai remaja menjadi seorang yang benar-benar baik atau menjadi seorang yang benar-benar tidak baik. Salah-salah kita bisa terjerumus kedalam dunia hitam pergaulan, seperti kecanduan &#8220;drugs&#8221;, prostitusi, dlsb. Jadi ada dua kemungkinan akibat adanya gap antara orangtua dan kita, bisa negatif dan bisa positif. Semuanya tergantung didikan orangtuanya dan kesadaran diri kita sebagai remaja. Dibantu juga oleh lingkungan dimana kita tinggal dan bergaul.</p>
<p>Ketika kita merasa adanya gap antara ortu, hendaknya kita mempunyai sikap yang jelas dan positif dalam menghadapi permasalahan. Kita harus bisa memahami orangtua jangan sampai terlalu memberontak terhadap orangtua. Kita harus belajar menerima apa yang orangtua katakan, walaupun sebetulnya ada penolakan dalam diri.</p>
<p>Kita coba menjelaskan apa yang ada di kepala kita dengan sabar kepada orangtua. Dan cobalah yakinkan orangtua bahwa norma dan pola pikir dari orangtua sudah tidak &#8216;update&#8217; lagi. Oya, harus segera di&#8217;update&#8217; tuh. Selain itu kita juga harus mempunyai norma dan pola pikir yang lebih baik dan lebih lengkap dari orangtua. Dan untuk itu kita sebagai remaja harus bisa mencari dan memilah norma dan pola pikir orangtua yang masih bisa diterima dan dilengkapi pola pikir dan norma yang benar berdasar syara&#8217;. <em>So</em>, jangan semata-mata menjadikan norma yang berlaku di masa kini sebagai rujukan. Itu bisa salah besar, Non!</p>
<p><em>So</em>, seandainya terlanjur terjadi gap dengan ortu, jangan malah mencari pelarian. Jangan mudah terpengaruh oleh keadaan. Jaga pergaulan jangan sampai terjerumus ke tempat yang &#8216;gelap&#8217;. Cari akar masalahnya dan selesaikan. Tentunya dengan landasan akdah Islam. Dijamin pasti bisa diselesaikan. <strong>[asri]</strong><br />
///</p>
<p align="center"><strong>Kenali Tipe-tipe Ortu</strong></p>
<p>Punya ortu dengan kekurangan dan kelebihan apapun, tetap harus kamu syukuri. Bagaimanapun merekalah yang berjasa melahirkan kita ke muka bumi ini. Tapi, coba deh kamu pilah-pilah, kira-kira ortu kamu tipe kayak apa. Dengan begitu, kamu bisa mensiasati cara menghadapi perilaku mereka, kalo nggak bisa merubahnya sama sekali. <em>So</em>, siapa tahu klasifikasi tipe-tipe ortu di bawah ini bisa membantu.</p>
<p><strong>1. Ortu Cerewet</strong></p>
<p>Biasanya seh tipe suka melakukan intervensi untuk segala urusan anaknya, meski kadang nggak memaksa. Cenderung perfeksionis. Kalau mengomentari segala sesuatu, meskipun hal yang sepele, nggak cukup satu kalimat. Butuh dua ampe tiga alinea. Apalagi kalau ngomentari kesalahan, wah&#8230;ditambah bumbu emosi, jadinya kalo diketik satu halaman folio full. Kecerewetannya itu nggak selalu negatif lho. Soalnya anak kadang perlu dicerewetin. Tapi yang pasti, untuk menghadapi ortu tipe gini, kamu kudu sabar. Jangan ikut-ikutan emosi saat hobi nyap-nyapnya dateng, bisa perang ntar. Jangan pula terlalu diambil ati saat ortu sedang marah-marah. Biasanya itu cuma di bibir aja, besok-besok bakal dilupain. Lagian, ortu begini juga gampang ngasih masukan, saran dan kritik yang kamu butuhkan. So, kamu kudu tetep bersyukur punya ortu model gini.</p>
<p><strong>2. Ortu Cuek</strong></p>
<p>Nah, ini tipe ortu yang kagak mau tahu urusan anaknya, kecuali kebutuhan material sehari-hari. Ortu gini tahunya cuma ngurusin kebutuhan makan, pakaian, peralatan sekolah atawa uang saku kamu. Urusan prestasi, kamu bergaul ama siapa, punya masalah apa, nggak mau pusing. Biasanya ortu model gini baru kebakaran jenggot pas anaknya udah &#8216;jatuh&#8217;, misal terjerumus dalam narkoba, MBA, nggak naik kelas, dll. Menghadapi ortu kayak gini, kamu musti agresif. Jalinlah komunikasi terus-menerus, jangan malah &#8216;melarikan diri&#8217; mencari sosok lain. Ceritakanlah, sekalipun hal-hal kecil yang kamu alami hari itu agar ortu kamu berempati. Mintalah pendapatnya atas segala hal agar ortu merasa kamu butuh mereka. So, jangan malah memanfaatkan kecuekan ortu untuk bebas lepas seperti anak ayam kehilangan induknya.</p>
<p><strong>3. Ortu Killer</strong></p>
<p>Ini ortu yang suka maksain kehendak dan juga suka intervensi segala urusan. Maunya anak nurutin segala keinginannya. Mereka banyak menuntut. Malah kadang pake ancaman segala. Misal &#8216;kalo kamu tetep pake jilbab, nggak bakal dikasih uang saku.&#8217; Ortu model gini cenderung overprotektif, serba nggak boleh. Walhasil, anak akan terkekang kreativitas dan pola pikirnya. Nah, biar kamu nggak ribut-ribut ama ortu model gini, cobalah selami dan pahami pola pikir mereka, keinginan mereka dan kalo memungkinkan, korek masa remaja mereka. Nggak sedikit ortu killer karena &#8216;balas dendam&#8217; masa lalunya. So, kalo suasana lagi mood, mintalah mereka cerita gimana masa remajanya. Nah, di situ kamu bisa balik cerita bagaimana dunia remajamu saat ini, harapan dan obsesi kamu. Siapa tahu mereka malah salut ama pendirian kamu dan? nggak maksain kehendaknya.</p>
<p><strong>4. Ortu Gaul</strong></p>
<p>Ini termasuk ortu yang ngerti banget kebutuhan remaja masa kini. Positifnya, ortu peduli ama kamu. Misal ikut menggenjot prestasi kamu dengan mengijinkan les tetek-bengek, nggak pelit soal duit, mudah diajak komunikasi, ramah ama temen-temen kamu, dll. Pokoknya kompromistis deh. Negatifnya, ortu model gini cenderung permisifisme alias serba boleh. Malah cenderung suka terbawa arus. Demi gaul, modern dan trend, suka nyaranin kamu dengan hal-hal masa kini. Padahal trend yang berkembang saat ini adalah budaya hedonisme Barat yang tentu saja bertentangan dengan Islam. So, nggak heran bila ortu suka risih ngeliat anaknya masih jomblo, nggak gaul, pakaian nggak ngetrend, dll. Nah, bila ortu kamu model gini, kamu musti bersyukur karena punya peluang besar untuk mendapatkan segala kebutuhan dan keinginan kamu. Cuman, kalo terkait dengan hal-hal yang berbeda dengan trend yang ada, kamu emang kudu sedikit kerja keras untuk mengarahkan pemahaman ortu agar sejalan dengan kamu. Misal soal pergaulan dan pakaian kamu yang tentunya kudu Islami, beda ama pemahaman ortu.</p>
<p><strong>5. Ortu Idaman</strong></p>
<p>Tentu saja nggak ada ortu sempurna di dunia ini yang bisa disebut ortu idaman. Tak heran bila seringkali, setiap anak kadang selalu menganggap ortunyalah yang terbaik, atau sebaliknya, paling buruk. But yang jelas, ortu yang baik tentunya yang bisa mengarahkan kamu menjadi pribadi yang kuat, menjadikan kamu anak sholeh dan sholehah, ngerti kebutuhan dan keinginan kamu, nggak memaksakan kehendak dan? bertanggungjawab. Ortu yang bisa jadi sahabat, tempat menumpahkan suka dan duka. <strong>[asri]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Desember 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gap-ama-bokap-karena-beda-jaman-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putus Sekolah, Tak Berarti Kiamat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/putus-sekolah-tak-berarti-kiamat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/putus-sekolah-tak-berarti-kiamat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 00:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2165</guid>
		<description><![CDATA[Di antara kamu-kamu, pasti banyak yang udah punya rencana macam-macam setelah lulus sekolah SMU. Melanjutkan ke perguruan tinggi, kerja atawa kursus. But, bagaimana kalo semua itu nggak bisa diraih? Nggak usah panik, dunia belum kiamat, Non!
BEBAS&#8230; euy! Begitu barangkali perasaan di dada-dada kamu setelah lolos dari lubang jarum UAN. Lulus SMU, serasa melenyapkan berbagai beban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Di antara kamu-kamu, pasti banyak yang udah punya rencana macam-macam setelah lulus sekolah SMU. Melanjutkan ke perguruan tinggi, kerja atawa kursus. But, bagaimana kalo semua itu nggak bisa diraih? Nggak usah panik, dunia belum kiamat, Non!</em></strong></p>
<p>BEBAS&#8230; euy! Begitu barangkali perasaan di dada-dada kamu setelah lolos dari lubang jarum UAN. Lulus SMU, serasa melenyapkan berbagai beban selama duduk di bangku sekolah itu. Nggak lagi dikungkung dengan seragam abu-abu putih, rutinitas belajar dan tetek bengek peraturan sekolah lainnya.</p>
<p>Emang sih, bagi yang mo ngelanjutin ke jenjang pendidikan lebih tinggi, kerjaan belon tuntas. Masih kudu berjuang mati-matian buat menembus PT. Maklum, jatah bangkunya terbatas banget sementara ratusan ribu calon mahasiswa berebut mendudukinya. So, tetep kudu belajar dan pasang strategi jitu biar tembus PT idaman kamu.<span id="more-2165"></span></p>
<p>Sementara buat yang punya rencana terjun ke dunia kerja, juga gak kalah puyeng. Maklum, di era krisis multidimensi gini, peluang kerjaan sangat-sangat minim. Jangankan lulusan SMU, sarjana aja banyak yang nganggur. Tul, nggak? Mangkanya, kalo mo kerja juga tetep dibutuhkan kerja keras agar bisa bersaing. But, kudu bersaing sehat ya. Jangan sampe main suap segala.OK?</p>
<p>Nah, sekarang masalahnya, kalo kamu-kamu nggak bisa meraih impianmu buat nerusin sekolah lagi, nggak dapet-dapet kerjaan, mo kursus juga nggak mampu, trus gimana? &#8221;Gimana ya, pokoknya mo cari informasi lowongan kerja sebanyak-banyaknya. Siapa tahu dapet kerjaan. Yang pasti, saya nggak mau nganggur, pengin kerja bantuin ortu,&#8221; cetus Rinah, jebolan SMK Negeri di Bogor ini kepada Permata.</p>
<p>Kalo emang nggak dapet-dapet kerja, doi sih psarah aja. &#8221;Masalah rezeki kan di tangan Allah,&#8221; ucapnya enteng. Lagian, kalaupun nggak diterima di dunia kerja, Rinah bukan berarti nganggur 100 persen. So, doi nggak terlalu stres. Soalnya ada aktivitas lain yang bisa dia lakukan. Malah, aktivitas yang satu ini juga cukup mengasyikkan dan butuh tantangan. Apa sih? &#8221;Meski nggak kerja atau sekolah, kita kan tetap bisa melakukan aktivitas semisal ngaji dan dakwah. Jadi nggak sampai bete,&#8221; paparnya.</p>
<p>Berbeda dengan Indri, alumnus? SMU yang juga punya rencana mo kerja, nggak punya gambaran sama sekali mo ngapain kalo nggak dapet kerjaan. &#8221;Mo kursus jelas nggak mungkin, nggak ada biaya. Jadi bingung,&#8221; curhatnya kepada Permata. Indri sadar, tanpa bekal keterampilan, emang nggak gampang nyari kerjaan. Lulus SMU bisanya apa sih, paling-paling kerja di pabrik, katanya. Bagaimana kalau bikin usaha sendiri? &#8221;Nggak kepikir ke sana, deh! Bikin usaha? sendiri kan nggak gampang. Mo usaha apa juga nggak kebayang. Lagian butuh modal, dari mana kita punya?&#8221; ungkapnya. Maka, doi cuma bisa ngebayangin gimana betenya tanpa aktivitas yang berarti setelah lulus sekolah. &#8221;Paling-paling bantuin ibu di rumah, main, gitu deh,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Mimpi Kali Ye&#8230;</strong></p>
<p>Di tengah-tengah kehidupan sekuler-kapitalis gini, mengharapkan kondisi ideal emang mustahil. Melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus SMU misalkan, pasti menjadi dambaan setiap anak didik. Termasuk kamu-kamu. Hanya saja, karena terbentur minimnya kesempatan, ketatnya persaingan, ketiadaan biaya dan faktor ekonomi lainnya, maka impian untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya itu sulit tercapai. Jadi ya kayak kata Dewi Hughes, mimpi kali ye!</p>
<p>Maklum, sekarang kalo mo sekolah musti punya doku gede. Perbandingan antara perguruan tinggi dengan calon mahasiswa yang tidak imbang, telah menghilangkan peluang banyak anak didik yang ingin mengenyam pendidikan lebih lanjut. Kondisi itu juga membuat lembaga pendidikan menjadi arogan, mematok standar tinggi bagi yang ingin masuk (dari sisi intelektual), sekaligus pasang tarif tinggi untuk &#8216;menjual&#8217; kursinya. So, uang jadi panglima. Hanya yang berduit saja yang bisa meneruskan sekolah.</p>
<p>Begitulah kalo negara lalai dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, termasuk pendidikan. Wajar jika diantara kamu-kamu banyak yang nggak berani mimpi melanjutkan kuliah. Mustinya, negara memberi kesempatan seluas-luasnya kepada rakyatnya untuk belajar serta menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang.</p>
<p>Kondisi dunia kerja juga nggak kalah kejamnya. Karena pemerintah menutup mata dengan kebutuhan pokok rakyatnya, pemerintah nggak sungguh-sungguh menciptakan lapangan pekerjaan. Uang lebih banyak berputar di sektor non-riil seperti di pasar modal atau bank. Akibatnya, sektor riil yang seharusnya mampu menciptakan banyak lapangan pekerjaan lumpuh. Dengan perbandingan yang tidak imbang antara lapangan pekerjaan dan pencari kerja, lagi-lagi uang jadi panglima. Main suap untuk dapat kerjaan menjadi hal biasa.</p>
<p>Terlebih lagi buat Muslimah, peluang kerja makin sempit dengan banyaknya aturan yang bersifat diskriminatif. Larangan berjilbab misalkan, membuat sebagian Muslimah tersingkir dari bursa kerja dengan sendirinya. Ini terlepas dari hukum bekerja bagi Muslimah yang emang nggak wajib alias mubah. So, wajar jika menembus dunia kerja juga bukan hal gampang.</p>
<p><strong>Tetep Wajib Menuntut Ilmu</strong></p>
<p>Melihat realitas di atas, mau nggak mau kamu musti putar otak, bagaimana agar tetap bisa melakukan aktivitas yang bermanfaat setelah lulus sekolah. Toh, the show must go on, kan? So, nggak usah terus-terusan dibuai mimpi buat meraih segala cita-cita yang sulit dicapai. Kamu hanya kudu meluruskan pandangan bahwa cita-cita tertinggi seorang Muslim adalah mencapai ridho Allah SWT. Bukan cuma selembar ijazah sarjana atawa segepok uang hasil kerja. Jadi, mendingan kejar cita-cita kamu yang hakiki ini. Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah mengejar ridha Allah SWT dengan? memperbanyak melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.</p>
<p>Kalo dulu kamu keburu-buru sewaktu sholat atawa membaca Alquran karena dikejar-kejar waktu buat ngerjain PR atau belajar buat ujian, sekarang waktunya untuk konsentrasi penuh dalam ibadah. Senyampang punya banyak waktu. Kalau dulu kamu malas-malasan puasa sunnah karena di sekolah ada pelajaran olahraga misalkan, sekaranglah saat untuk melakukannya.</p>
<p>Kemudian, kamu juga kudu merubah pandangan bahwa putus sekolah berarti bebas dari rutinitas belajar-mengajar. Itu pandangan keliru, Non! Menuntut ilmu tak melulu??? musti melalui lembaga formal macam sekolah. Camkan itu! So, jangan merasa bebas dari kewajiban menuntut ilmu hanya karena lulus SMU. &#8221;Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat,&#8221; begitu Sabda Rasulullah. Jadi, menuntut ilmu itu nggak ada habis-habisnya. Nggak cukup di bangku SMU aja. Kamu tetap bisa belajar meski nggak lolos ujian masuk PT.? Bahkan, wajib hukumnya bagi kamu-kamu buat belajar, khususnya mempelajari tsaqofah Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:? &#8221;Tholabul &#8216;ilmi farislatun &#8216;ala kuli Muslim&#8217;, menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim. Apalagi, saat di bangku sekolah kamu kan nggak mendapat pelajaran agama yang cukup akibat diterapkannya sistem sekulerisme. Makanya, sekaranglah saatnya memperdalam tsaqofah Islam.</p>
<p>Caranya, kamu bisa mengikuti forum-forum pengajian, misal di lingkungan tempat tinggal kamu atau yang diadakan alumni-alumni sekolah kamu. Malah kalau kamu bisa ngaji bareng temen-temen sesama &#8216;pengangguran&#8217; yang dulu mantan temen-temen semasa di SMU, pasti lebih asyik. Itung-itung reuni. Iya, nggak?</p>
<p>Terus, buat kamu yang nggak bisa menggapai impian buat bekerja, nggak usah berkecil hati. Toh sebagai wanita, kamu nggak punya kewajiban menafkahi. Emang nggak salah sih niatan buat ngebantuin ekonomi keluarga, tapi kalo kondisinya nggak memungkinkan, nggak usah dipaksain. Misalnya kalo kamu dapet kerjaan tapi menuntut untuk buka jilbab, jangan diterima. Kamu tahu kan, menjalankan yang mubah nggak boleh dengan melalaikan yang wajib. Karena berjilbab wajib sedangkan kerja mubah, kamu kudu prioritaskan jilbabmu. Yakinlah, rezeki itu nggak bakalan ke mana. Mendingan kamu fokuskan diri pada aktivitas lain yang bernilai ibadah, ngaji dan dakwah misalkan (atau mungkin menikah?). Yang pasti, yakin deh, Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat kamu. Selamat beraktivitas![<strong>asri</strong>]</p>
<p>&#8212;-box</p>
<p><strong>Banyak Jalan Menuju Roma</strong></p>
<p>TAK dipungkiri, di jaman kapitalisme-sekuler gini hidup emang penuh kesulitan. Di satu sisi biaya hidup makin mahal, di sisi lain pendapatan ortu minim. Nggak salah-salah banget kalau kebanyakan ortu akhirnya menuntut anaknya yang lulus sekolah untuk bekerja mencari nafkah. Bagi Muslimah, ini sering jadi beban tersendiri. Di satu sisi ingin menyenangkan ortu, di sisi lain terbentur aturan di dunia kerja yang nggak kondusif. Apalagi, sebagai Muslimah juga punya kewajiban? menuntut tsaqofah Islam dan berdakwah yang tentunya butuh waktu dan konsentrasi. Sementara, dia juga menyadari bahwa bekerja bukanlah pilihan yang wajib dilakukan. Jadi bagaimana, dong?</p>
<p><em>Pertama</em>, bila ada tuntutan ortu buat bekerja, kamu kudu pahamkan beliau-beliau ?bahwa bekerja bagi Muslimah itu bukanlah pilihan terbaik karena bukan wajib hukumnya. Emang Islam nggak melarang, asalkan tidak melupakan kewajiban yang lainnya, semisal membina diri agar berkepribadian Islam, menuntut ilmu, berjilbab, sholat, berdakwah, dll. Apalagi bagi yang udah merid, melalaikan kewajiban sebagai ibu, pengatur rumah tangga adalah dosa. Karena itu, jika sangat terpaksa bekerja, musti selektif mencari pekerjaan.</p>
<p>Lagipula, menghasilkan pendapatan tak harus bekerja di perusahaan atau lembaga yang mengikat dari segi waktu dan administrasi. Kamu bisa buka usaha kecil-kecilan sendiri. Misal jual perlengkapan muslimah di antara sesama temen-temen kamu. Emang sih butuh modal, tapi kalau dimulai dari seidkit Insya Allah bisa. Pilih saja distributor perlengkapan muslimah yang bisa konsinasi (nitip untuk kita jualin).</p>
<p>Atau, kamu bisa manfaatin hobi kamu. Bagi yang hobi masak, kamu bisa menjajal keahlianmu itu. Mulailah dari yang kecil, misal menitipkan kue-kue ke warung-warung, atau membuka warung sendiri jika memungkinkan. Kamu juga bisa menerima pesanan kue-kue untuk berbagai acara, misal buat acara pengajian, seminar, dll. Kamu bisa minta bantuan ibu buat membantu merealisasikan rencana kamu. Nggak usah gengsi.</p>
<p>Nah, buat kamu yang hobi tulis-menulis, salurkan dengan memulai membuat tulisan. Tulisan bisa macem-macem. Ada artikel, cerpen, puisi, dll. Cobalah mengirimkan hasil karyamu ke media-media massa. Pede aja, siapa tahu dimuat. Lumayan, bisa buat nambah uang saku. Emang, menembus media massa nggak gampang. Butuh strategi jitu biar sukses. Yang penting jangan putus asa dan belajarlah terur-menerus. Jangan sekali ditolak, trus nyerah nggak bikin tulisan lagi. Penulis besar pun selalu memulai dari nol. Kalau kamu udah mahir, nggak mustahil lho suatu saat kamu bisa nulis buku.</p>
<p>Lagipula, dengan menuliskan ide-ide kamu yang Islami, kamu berarti udah melakukan aktivitas dakwah juga. Ya, buat nyebarin opini Islam melawan opini Barat. Jadi, selain dapet honor, Insya Allah dapet pahala. Dengan catatan, itu kalau tulisan kamu dimuat he..he.. Yang pasti, nggak sedikit lho orang yang menggantungkan hidupnya dari keahlian menulis. Jadi penulis lepas atau penulis tetap di media massa alias wartawan, termasuk para pengisi rubrik di majalah kesayanganmu ini, he..he..he&#8230;[<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Juli 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/putus-sekolah-tak-berarti-kiamat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gap ama Bokap, Karena Beda Jaman?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gap-ama-bokap-karena-beda-jaman</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gap-ama-bokap-karena-beda-jaman#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 01:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2148</guid>
		<description><![CDATA[Buat kita-kita, ngomongin ortu pasti nggak ada abisnya. Celakanya, kebanyakan masalah negatif yang digosipin. Ortu cerewetlah, ortu nggak gau-lahl, nggak ngertiin apa keinginan dan maksud kitalah, dll. Walhasil, tak sedikit timbul gap antara kita ama ortu, terutama anak cewek ama bokap. Hm, sebenarnya ada apa dengan ortu? Kita bahas bareng-bareng yuk&#8230; 
KALO cewek deket ama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Buat kita-kita, ngomongin ortu pasti nggak ada abisnya. Celakanya, kebanyakan masalah negatif yang digosipin. Ortu cerewetlah, ortu nggak gau-lahl, nggak ngertiin apa keinginan dan maksud kitalah, dll. Walhasil, tak sedikit timbul gap antara kita ama ortu, terutama anak cewek ama bokap. </em><em>Hm, sebenarnya ada apa dengan ortu? Kita bahas bareng-bareng yuk&#8230; </em></strong></p>
<p><strong>KALO</strong> cewek deket ama ibu, itu seh wajar. Selain karena sama-sama wanita, intensitas interaksi anak dan ibu yang lebih tinggi membuat jalinan emosinya lebih kuat. Makanya, anak masih bisa nego kalo dimarahin ibu, misalkan. Soalnya lebih berani karena merasa lebih dekat. Tapi kalo ama ayah alias bokap, biasanya anak lebih takut. Mungkin karena wibawanya dan faktor ketidakdekatan tadi. Apalagi bagi anak cewek, suka ada <em>gap</em> ama bokapnya.</p>
<p>Seperti yang dialami Lala, pelajar SLTP swasta di Bogor ini mengaku nggak deket ama bokapnya. &#8221;Biasalah, bokap kan sibuk kerja. Jadi kalo ada masalah apa-apa, lapornya ya ke nyokap,&#8221; akunya.<span id="more-2148"></span></p>
<p>Alasan lain, bokap Lala terkesan cuek dengan urusan pribadinya. &#8221;Paling kalo nanya sebatas formalitas aja. Soal sekolah doang,&#8221; cetusnya. Yang bikin kesel, udah nggak <em>care</em> ama urusannya, bokap tuh suka pelit urusan duit. Malah suka lupa dengan keperluan Lala. &#8221;Lala udah diijinin les Bahasa Inggris, tapi giliran minta duit buat bayaran malah lupa. Pernah juga janjiin mo jalan-jalan, malah rapat. Bete, kan,&#8221; katanya ketus.</p>
<p>Dian, penghuni kampus rakyat IPB lain lagi. Bokapnya mah terkenal loyal soal urusan anaknya, termasuk urusan duit. Malah Dian mengakui kalau ayahnya itu baik banget. Empatinya juga tinggi. <em>But</em>, tetap aja Dian ngerasa nggak deket. &#8221;Soalnya itu bapak tiri,&#8221; akunya (oh, gitu). Dian emang sengaja menjaga jarak, meski ayah tirinya itu mencoba deket ama dia. So, mereka nggak pernah nyambung satu sama laen.</p>
<p>Tira, karyawan swasta yang bekerja di lembaga pendidikan ini juga punya cerita sama. Doi nggak suka tipe bokapnya yang suka maksa. &#8220;Pernah dulu dipaksa supaya kuliah di ekonomi, tapi aku kan lebih suka sastra, jadi ya berantem deh,&#8221; katanya. Sampai kini bokapnya suka mengungkit-ungkit masalah itu. Apalagi melihat hasil kerja Tira yang belum seberapa. &#8220;Penghasilanku emang pas-pasan, tapi yang penting bisa mandiri,&#8221; kata cewek berkacamata minus ini.</p>
<p><strong>Beda jaman bukan alasan</strong></p>
<p>Banyak yang memandang <em>gap</em> alias jarak antara anak dan ortu, spesial bokap, terjadi karena perbedaan jaman. Kita sama ortu berasal dari generasi yang berbeda. Mungkin pada waktu mereka jadi remaja kayak kita, belum ada komputer, belum ada internet, belum banyak tempat-tempat dugem and tempat nongkrong kayak sekarang ini. Pastinya mereka nggak bakalan ngerti dong tentang apa yang ada di tempat-tempat dugem atawa tempat nongkrong remaja. <em>Trus</em>, apa yang dulu mereka anggap tabu, sekarang malah udah biasa. Misal anak cewek pulang malam, dulu nggak lazim, sekarang dianggap udah biasa.</p>
<p>Selain itu, usia dan pengalaman hidup ortu menyebabkan mereka seolah orang yang paling tahu segalanya. Ada nasehat, ada larangan, harus ini, harus itu. Kebanyakan kita menolak semua yang dikasih tahu orangtua dengan alasan ketinggalan jaman. Jadinya, karena alasan beda jaman itu, terjadinya <em>gap</em> antara ortu dan anaknya dianggap lumrah. Fatalnya, ortu yang sering disalahkan karena dianggap nggak ngerti dunia remaja masa kini.</p>
<p>Tentu saja nggak semuanya bener, Non. <em>Gap</em> emang bisa saja terjadi. <em>But</em>, itu pasti muncul karena saling mempertahankan ego dan perbedaan standar dalam memandang segala sesuatu. Misal karena perbedaan norma dan pola pikir. Akibatnya, ada bokap yang kurang perhatian dan kasih sayang karena kesibukannya. Ada pula yang mendidik terlalu ketat atau sebaliknya, terlalu bebas tanpa adanya pengarahan yang jelas. Perbedaan pandangan hidup dan cita-cita antara anak dan ortu juga bisa bikin ngarai pemisah yang dalam.</p>
<p>Padahal, kalau antara ortu dan anak punya pola pikir yang sama dalam memandang hidup, perbedaan-perbedaan keduanya nggak bakal terjadi.</p>
<p>Apa pola pikir yang sama itu? Tentu saja pola pikir Islam. Sebab Islam memiliki standar yang jelas dalam memandang segala sesuatu. Standar itu adalah halal dan haram yang bersumber langsung dari Allah Swt, Sang Pencipta manusia. Apa yang dikatakan halal, berarti boleh dikerjakan dan yang haram wajib ditinggalkan. Standar seperti ini tak akan berubah karena perubahan jaman dan sama di belahan bumi manapun. <em>So</em>, nggak bakalan ada alasan karena beda jaman pandangan ortu dan anak jadi beda.</p>
<p>Coba bayangin, kalau bokap and nyokap kamu paham Islam, kamunya juga ngelotok soal hukum syara, pasti dah klop. Soal bergaul misalkan. Ortu kamu nggak bakal reseh saat kamu udah semester tujuh tapi masih jomblo alias STMJ. Kamunya juga bisa tenang-tenang ngelanjutin kuliah. Soalnya,? antara kamu dan ortu sama-sama punya pandangan bahwa pacaran itu haram. Selain itu, tentunya juga sama-sama ngeh bahwa jodoh itu di tangan Allah. Ortu juga nggak bakal ketar-ketir karena tahu anaknya nggak suka dugem. Soalnya kamu nggak merengek minta ijin ngedugem yang di jaman ortu kamu belon ada.</p>
<p>Soal selera musik juga gitu. Kalo ortu kamu paham Islam, mustinya ngajarin kamu buat mencintai lagu-lagu bernuansa religius dong. Kamunya juga gitu, karena paham musik itu bisa mengusung ideologi Barat yang sesat, jadi selektif ndengerin lagu-lagu. <em>So</em>, nggak bikin kesel ortu karena nyetel <em>heavy metal</em> yang bikin berisik itu. Emang seh, soal selera bisa beda-beda, tapi nggak menyentuh masalah prinsip sehingga peluang terjadinya konflik Insya Allah bakalan keciiiil.</p>
<p>Jadi, <em>gap</em> ortu dan anak bukan terjadi sekadar karena perubahan jaman. Jaman emang berubah, tapi toh kebutuhan hidup remaja dulu ama sekarang tetep sama. Bentuk dan modelnya aja yang beda. Lagian, seruan Allah bagi remaja dulu dan kini sama saja. Hanya masalah teknis aja yang mungkin beda.</p>
<p><strong>Menembus Gap </strong></p>
<p>Yang jelas, gap yang terjadi biasanya menyebabkan terganggunya atau bahkan putusnya komunikasi di antara kita sama ortu. Jika hal ini dibiarkan lama, akan menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik. Itu sebabnya, sebaiknya salah satu harus ada yang mau mengalah, dalam hal ini orangtua akan lebih berpotensi mengalah. Tapi apa salahnya jika kita mulai mengalah lebih dulu demi terjalinnya komunikasi yang baik dengan orangtua. Oya, ?sudah tentu akan tercipta hubungan berkeluarga yang baik, walaupun berbeda generasi. <em>So</em>, jangan buru-buru memberontak. Inget lho, kita masih sangat tergantung dengan orangtua, dan belum bisa mencapai kemandirian yang sempurna sebagai manusia.</p>
<p>Seandainya gap antara ortu dan kita terjadi semakin jauh. Akan mengakibatkan masalah-masalah baru dalam keluarga atau bahkan lingkungan bermasyarakat. Ketika gap antara ortu dan kita terjadi semakin menjauh, biasanya kita akan mencari lingkungan diluar keluarga untuk menggantikan orangtua dan keluarga.</p>
<p>Kalau sudah terjadi seperti itu maka ada dua kemungkinan, kita sebagai remaja menjadi seorang yang benar-benar baik atau menjadi seorang yang benar-benar tidak baik. Salah-salah kita bisa terjerumus kedalam dunia hitam pergaulan, seperti kecanduan &#8220;drugs&#8221;, prostitusi, dlsb. Jadi ada dua kemungkinan akibat adanya gap antara orangtua dan kita, bisa negatif dan bisa positif. Semuanya tergantung didikan orangtuanya dan kesadaran diri kita sebagai remaja. Dibantu juga oleh lingkungan dimana kita tinggal dan bergaul.</p>
<p>Ketika kita merasa adanya gap antara ortu, hendaknya kita mempunyai sikap yang jelas dan positif dalam menghadapi permasalahan. Kita harus bisa memahami orangtua jangan sampai terlalu memberontak terhadap orangtua. Kita harus belajar menerima apa yang orangtua katakan, walaupun sebetulnya ada penolakan dalam diri.</p>
<p>Kita coba menjelaskan apa yang ada di kepala kita dengan sabar kepada orangtua. Dan cobalah yakinkan orangtua bahwa norma dan pola pikir dari orangtua sudah tidak &#8216;update&#8217; lagi. Oya, harus segera di&#8217;update&#8217; tuh. Selain itu kita juga harus mempunyai norma dan pola pikir yang lebih baik dan lebih lengkap dari orangtua. Dan untuk itu kita sebagai remaja harus bisa mencari dan memilah norma dan pola pikir orangtua yang masih bisa diterima dan dilengkapi pola pikir dan norma yang benar berdasar syara&#8217;. <em>So</em>, jangan semata-mata menjadikan norma yang berlaku di masa kini sebagai rujukan. Itu bisa salah besar, Non!</p>
<p><em>So</em>, seandainya terlanjur terjadi gap dengan ortu, jangan malah mencari pelarian. Jangan mudah terpengaruh oleh keadaan. Jaga pergaulan jangan sampai terjerumus ke tempat yang &#8216;gelap&#8217;. Cari akar masalahnya dan selesaikan. Tentunya dengan landasan akdah Islam. Dijamin pasti bisa diselesaikan. <strong>[asri]</strong></p>
<p>===BOX</p>
<p align="center"><strong>Kenali Tipe-tipe Ortu</strong></p>
<p>Punya ortu dengan kekurangan dan kelebihan apapun, tetap harus kamu syukuri. Bagaimanapun merekalah yang berjasa melahirkan kita ke muka bumi ini. Tapi, coba deh kamu pilah-pilah, kira-kira ortu kamu tipe kayak apa. Dengan begitu, kamu bisa mensiasati cara menghadapi perilaku mereka, kalo nggak bisa merubahnya sama sekali. <em>So</em>, siapa tahu klasifikasi tipe-tipe ortu di bawah ini bisa membantu.</p>
<p><strong>1. Ortu Cerewet</strong></p>
<p>Biasanya seh tipe suka melakukan intervensi untuk segala urusan anaknya, meski kadang nggak memaksa. Cenderung perfeksionis. Kalau mengomentari segala sesuatu, meskipun hal yang sepele, nggak cukup satu kalimat. Butuh dua ampe tiga alinea. Apalagi kalau ngomentari kesalahan, wah&#8230;ditambah bumbu emosi, jadinya kalo diketik satu halaman folio full. Kecerewetannya itu nggak selalu negatif lho. Soalnya anak kadang perlu dicerewetin. Tapi yang pasti, untuk menghadapi ortu tipe gini, kamu kudu sabar. Jangan ikut-ikutan emosi saat hobi nyap-nyapnya dateng, bisa perang ntar. Jangan pula terlalu diambil ati saat ortu sedang marah-marah. Biasanya itu cuma di bibir aja, besok-besok bakal dilupain. Lagian, ortu begini juga gampang ngasih masukan, saran dan kritik yang kamu butuhkan. So, kamu kudu tetep bersyukur punya ortu model gini.</p>
<p><strong>2. Ortu Cuek</strong></p>
<p>Nah, ini tipe ortu yang kagak mau tahu urusan anaknya, kecuali kebutuhan material sehari-hari. Ortu gini tahunya cuma ngurusin kebutuhan makan, pakaian, peralatan sekolah atawa uang saku kamu. Urusan prestasi, kamu bergaul ama siapa, punya masalah apa, nggak mau pusing. Biasanya ortu model gini baru kebakaran jenggot pas anaknya udah &#8216;jatuh&#8217;, misal terjerumus dalam narkoba, MBA, nggak naik kelas, dll. Menghadapi ortu kayak gini, kamu musti agresif. Jalinlah komunikasi terus-menerus, jangan malah &#8216;melarikan diri&#8217; mencari sosok lain. Ceritakanlah, sekalipun hal-hal kecil yang kamu alami hari itu agar ortu kamu berempati. Mintalah pendapatnya atas segala hal agar ortu merasa kamu butuh mereka. So, jangan malah memanfaatkan kecuekan ortu untuk bebas lepas seperti anak ayam kehilangan induknya.</p>
<p><strong>3. Ortu Killer</strong></p>
<p>Ini ortu yang suka maksain kehendak dan juga suka intervensi segala urusan. Maunya anak nurutin segala keinginannya. Mereka banyak menuntut. Malah kadang pake ancaman segala. Misal &#8216;kalo kamu tetep pake jilbab, nggak bakal dikasih uang saku.&#8217; Ortu model gini cenderung overprotektif, serba nggak boleh. Walhasil, anak akan terkekang kreativitas dan pola pikirnya. Nah, biar kamu nggak ribut-ribut ama ortu model gini, cobalah selami dan pahami pola pikir mereka, keinginan mereka dan kalo memungkinkan, korek masa remaja mereka. Nggak sedikit ortu killer karena &#8216;balas dendam&#8217; masa lalunya. So, kalo suasana lagi mood, mintalah mereka cerita gimana masa remajanya. Nah, di situ kamu bisa balik cerita bagaimana dunia remajamu saat ini, harapan dan obsesi kamu. Siapa tahu mereka malah salut ama pendirian kamu dan? nggak maksain kehendaknya.</p>
<p><strong>4. Ortu Gaul</strong></p>
<p>Ini termasuk ortu yang ngerti banget kebutuhan remaja masa kini. Positifnya, ortu peduli ama kamu. Misal ikut menggenjot prestasi kamu dengan mengijinkan les tetek-bengek, nggak pelit soal duit, mudah diajak komunikasi, ramah ama temen-temen kamu, dll. Pokoknya kompromistis deh. Negatifnya, ortu model gini cenderung permisifisme alias serba boleh. Malah cenderung suka terbawa arus. Demi gaul, modern dan trend, suka nyaranin kamu dengan hal-hal masa kini. Padahal trend yang berkembang saat ini adalah budaya hedonisme Barat yang tentu saja bertentangan dengan Islam. So, nggak heran bila ortu suka risih ngeliat anaknya masih jomblo, nggak gaul, pakaian nggak ngetrend, dll. Nah, bila ortu kamu model gini, kamu musti bersyukur karena punya peluang besar untuk mendapatkan segala kebutuhan dan keinginan kamu. Cuman, kalo terkait dengan hal-hal yang berbeda dengan trend yang ada, kamu emang kudu sedikit kerja keras untuk mengarahkan pemahaman ortu agar sejalan dengan kamu. Misal soal pergaulan dan pakaian kamu yang tentunya kudu Islami, beda ama pemahaman ortu.</p>
<p><strong>5. Ortu Idaman</strong></p>
<p>Tentu saja nggak ada ortu sempurna di dunia ini yang bisa disebut ortu idaman. Tak heran bila seringkali, setiap anak kadang selalu menganggap ortunyalah yang terbaik, atau sebaliknya, paling buruk. But yang jelas, ortu yang baik tentunya yang bisa mengarahkan kamu menjadi pribadi yang kuat, menjadikan kamu anak sholeh dan sholehah, ngerti kebutuhan dan keinginan kamu, nggak memaksakan kehendak dan? bertanggungjawab. Ortu yang bisa jadi sahabat, tempat menumpahkan suka dan duka. <strong>[asri]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[source: Majalah PERMATA, edisi 19/Desember 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gap-ama-bokap-karena-beda-jaman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cewek Komersil, Apaan Tuh?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cewek-komersil-apaan-tuh-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cewek-komersil-apaan-tuh-2#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 04:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2071</guid>
		<description><![CDATA[Cewek cantik disukai cowok itu wajar dan sah-sah aja. Tapi sahkah kalau cewek memanfaakan kecantikannya untuk banyak nuntut, khususnya soal duit?
Cewek seperti itu disebut cewek komersil. Yakni cewek yang &#8216;licin&#8217; banget manfaatin kecantikannya untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Itu seperti yang digambarkan sebagai sosok Juwita. Kamu-kamu pasti tahu dong ama yang namanya Juwita. Itu? tuh lakon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Cewek cantik disukai cowok itu wajar dan sah-sah aja. Tapi sahkah kalau cewek memanfaakan kecantikannya untuk banyak nuntut, khususnya soal duit?</em></strong></p>
<p>Cewek seperti itu disebut cewek komersil. Yakni cewek yang &#8216;licin&#8217; banget manfaatin kecantikannya untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Itu seperti yang digambarkan sebagai sosok Juwita. Kamu-kamu pasti tahu dong ama yang namanya Juwita. Itu? tuh lakon cewek cantik, seksi dan pintar yang diperankan dengan manis oleh Asti Ananta di salah satu sinetron teve. Dengan kelebihannya itu, doi sukses mindahin isi kantong cowok-cowok kerenn ke dompetnya. Lihat aza, mulai uang jajan, biaya kuliah, pasang telpon rumah, beli HP ampe pengobatan ibunya, doi kagak perlu meres keringat. Cukup dengan menebar pesona kesana kemari, duit mengalir kekoceknya.<span id="more-2071"></span></p>
<p>Emang sih, cowok-cowok itu ngaku ngasih tanpa pamrih alias Juwita nggak perlu ngasih balesan apapun. Sampai jadi pacar, simpanan atau menyerahkan harga diri misalnya. Tapi, dalam hati siapa tahu. Yang jelas, cukup dengan bersilat lidah, mimik memelas dan wajah nelongso, Pram, Dedi atau Juned &#8211;cowok-cowok korbannya&#8211; rela merogoh koceknya sampe yang paling dalem sekalipun.</p>
<p>Dengan perilaku seperti itu, emang Juwita dianggap berjasa banget , bisa bantu ekonomi ibunya yang janda. Tapi, bener nggak sih perilaku kayak gitu? Masak iya, memanfaatkan kecantikannya buat ngedapetin doku?</p>
<h2>Pro-kontra cewek komersil</h2>
<p>&#8220;Menurut gue sih, sah-sah aja jadi cewek komersil. Itu namanya memanfaatkan potensi diri. Lumayan kan, nggak perlu banting tulang, peras keringan dan mutar otak, ada yang ngasih duit. Anggap aza itu hadiah, rezeki nomplok,&#8221; komentar Susan, ABG yang berhasil dijaring Permata.&#8221;Mungkin kalau gue cantik bakal kayak gitu juga,&#8221; imbuh cewek yang wajahnya emang pas-pasan ini (wah , dapat ilham tuh!).</p>
<p>Lain lagi komentar Nurul, pelajar sebuah SMU di Bogor. Menurutnya, jadi cewek komersil itu bisa menjatuhkan harga diri. Kesannya jadi cewek murahan dan gampangan, <em>gicu</em> lho! &#8220;Lagian bahaya kalau kena batunya. Cowok-cowok korban cewek komersil yang sebetulnya mengharapkan kecantikan tuh cewek, bisa ngamuk kalau keinginannya nggak terpenuhi. Kan gawat kalau mereka sampai nuntut balas budi, sampai diperkosa misalnya. Hiii&#8230;..jangan sampai deh! &#8221; ujarnya bergidik.</p>
<p>Lantas kenapa orang mau jadi cewek komersil? Masih menurut Nurul, motifnya bisa macam-macam. Misalnya karena terdesak problem ekonomi (yah, contohnya kayak Juwita itu), karena pengin tampil borju tapi kagak punya modal, atawa karena dendam ama cowok. Dendam? &#8220;Iya , karena pernah disakiti cowok misalnya, trus tuh cewek pengin nyakitin balik cowok-cowok manapun. Caranya, dengan seolah-olah ngasih harapan ke cowok, tapi sebetulnya cuma pengen meres aza,&#8221; urainya. Wah, jangan-jangan pengalaman pribadi nih!</p>
<p>&#8220;Kalau menurut saya sih, motifnya karena pengin senang-senang aza. <em>Fun-fun</em>-lah, mumpung masih muda dan cantik. Tahu kan, zaman sekarang kalau pengen gaul, musti cakep. Jadi butuh modal dong!&#8221; timpal Susan santai. Gimana menurut kamu?</p>
<h1><strong>Gaya hidup matre</strong></h1>
<p>Benar kata Nurul, salah satu pendorong munculnya generasi cewek komersil adalah merebaknya gaya hidup borju. Tanda-tandanya -ini kata Susan&#8211; hidup butuh banyak modal. Sekarang ini, segala sesuatu kudu pake doku. Nggak heran kalau? cewek-cewek yang tipis imannya, bakal ambil jalan pintas, menghalalkan segala cara. Juwita sih nggak seberapa , ada yang lebih parah. Misalnya ada yang berani nipu, maling atau ngejual diri (<em>na&#8217;udzubillah min dzalik</em>). Semua itu dilakoni demi UUD ( ujung-ujungnya duit). Soalnya hanya dengan duit, segala urusan bakal lempeng kaya jalan tol. Mo tampil borju, trendi dan gaya gampang. Mo punya banyak temen, mudah. Mo sekolah setinggi-tingginya sampe ke bulan kagak perlu repot. Pendek kata, ada duit, urusan lancar. Makanya kalau problem ekonomi keluarga bisa jadi pemicu munculnya cewek komersil, emang nggak kaget.</p>
<p>Selain itu, azas manfaat bisa juga jadi faktor penumbuh suburnya perilaku cewek komersil. Dengan memanfaatkan kecantikan dan kemolekannya seperti penuturan Susan, tuh cewek komersil dengan mudahnya bisa meraih segala impiannya. Tanpa rasa berdosa, cewek komersil dengan leluasa memanfaatkan kebaikan cowok kepadanya untuk memperoleh harta. Emang sih, nrima hadiah dalam ajaran Islam boleh-boleh saja, asal bukan hadiah sebagai pelicin suatu urusan. Tapi, kalau ada cowok begitu mudah ngasih barang berharga pada cewek cakep, masak iya nggak ada udang di balik tepung? ( itu sih rempeyek he&#8230;he? )</p>
<p>Suer, percaya deh! Sebenarnya cowok macam begitu juga mengharapkan balas jasa. Meski di depan mata bilang ikhlas, tapi dari lubuk hati yang paling dalam punya ambisi besar. Contoh kasus ya para gebetannya Juwita itu. Ujung-ujungnya, para cowok itu pengin naklukin hati sang putri alias mengharap cinta Juwita. Makanya sampe ada yang mau memperkosa doi. Nah, kalau udah gitu, tentu aja urusannya bisa berabe, bahaya !</p>
<p>Gaya hidup borju dan azas manfaat? itu sendiri, muncul dari ideologi kapitallis sekuler. Itu lho,ajaran barat yang misahin agama dari kehidupan. Menurut ajaran ini, halal haram bukan standar untuk berbuat, tapi azas manfaat. Artinya, selama suatu perbuatan dinilai bermanfaat oleh individu, maka akan dilaksanakan, sekalipun dalam pandangan Islam perbuatan tersebut terkatagori haram. Misalnya, kalau menjual diri bisa dapat duit, ya akan dilakukan (amit-amit).</p>
<p>Azas manfaat dalam ideologi ini diukur dengan materi dan kepuasan individu. Selama perbuatan mendatangkan materi atau memuaskan dirinya, dengan serta merta akan dilaksanakan. Makanya, kalau ngikuti gaya hidup kaplitalis ini, semuanya diukur dengan materi. Materi atau harta adalah segala-segalnya. Orang bisa dikatakan bahagia kalau punya banyak dan makin banyak materi.</p>
<h2>Jangan tertipu duniawi</h2>
<p>Tentu saja, gaya hidup matre berdasar azas manfaat itu nggak dibenarkan. <strong><em>Pertama</em></strong>, karena Islam mengajarkan halal-haram sebagai standar perbuatan kita. Artinya, sekalipun mengandung manfaat, jika perbuatan tersebut dilarang Allah, maka tidak boleh dilaksanakan. Mengumbar kecantikan emang mendatangkan materi, tapi Allah mengharamkannya karena Islam melarang tabaruj (menampakan kecantikan). Sebaliknya, Allah memerintahkan perempuan untuk menutup aurat? dan berpakaian dengan sempurna.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, dalam konsep pergaulan cowok-cewek, Islam punya rambu-rambu. Misalnya nggak boleh dua-duaan (<em>khalwat</em>), campur baur tanpa kepentingan yang di bolehkan? (<em>ikhtilat</em>) dan harus saling menundukkan pandangan (nggak boleh ngeliat aurat atau ngeliat dengan syahwat).</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, Islam mengajarkan pola hidup sederhana. Bukannya ngelarang kamu-kamu menikmati kesenangan dunia, tapi kebahagiaan dunia bukanlah diukur dari materi. Apalagi kalau diperoleh dengan cara-cara yang nggak disukai Allah. Kebahagiaan adalah ketika Allah ridho dengan perbuatan kita, yakni sesuai dengan perintah-Nya. Jadi, kamu kudu bisa ngimbangi dunia dan akhiratmu. Gaya borju dan matre hanya tipuan duniawi.</p>
<p>Nah kalau jadi cewek komersil, otomatis rambu-rambu itu musti dilanggar, kan! Kalau nggak, gimana bakal dilirik cowok? Jadi, nggak usah coba-coba jadi cewek komersil deh, ntar nyesel seumur hidup! [<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Mei 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cewek-komersil-apaan-tuh-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Cewek Pejuang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jadi-cewek-pejuang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jadi-cewek-pejuang#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 00:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2055</guid>
		<description><![CDATA[Kalo denger kata-kata berjuang, bukan berarti kembali ke zaman penjajahan Belanda tempo doeloe. Tapi zaman sekarang kita? juga masih kudu berjuang. Malah perjuangan sekarang lebih berat dibanding dulu. Loh, apa yang kudu diperjuangkan?
Hidup adalah perjuangan. Pasti kamu pernah denger istilah itu dong. Yup, bener banget. Nggak ada di dunia ini yang bisa kita raih dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><strong><em>Kalo denger kata-kata berjuang, bukan berarti kembali ke zaman penjajahan Belanda tempo doeloe. Tapi zaman sekarang kita? juga masih kudu berjuang. Malah perjuangan sekarang lebih berat dibanding dulu. Loh, apa yang kudu diperjuangkan?</em></strong></p>
<p>Hidup adalah perjuangan. Pasti kamu pernah denger istilah itu dong. Yup, bener banget. Nggak ada di dunia ini yang bisa kita raih dengan mudah. Kita perlu berjuang untuk meraih apa yang kita inginkan. Mau lulus sekolah misalnya, kudu berjuang mati-matian dengan giat belajar biar lulus ujian. Mau masuk perguruan tinggi, kudu berjuang menembus SPMB yang ketat banget persaingannya. Bahkan para artis top pun, kudu berjuang dari nol buat mendapatkan popularitas dan harta.</p>
<p>Makanya, biarpun kita cewek, tetep kudu berjuang. Apa yang kita kudu perjuangkan? Kemuliaan dan masa depan umat. Tahu kan, sekarang nih kondisi kehidupan nggak ideal banget gara-gara diterapkannya sistem kapitalis-sekuler yang misahin aturan agama dari aturan kehidupan. Akibatnya kaum cewek banyak dirugikan. Udah dihinakan, jadi korban pelecehan, bahkan hanya dijadikan komoditi. Kita kudu berjuang membebaskan diri dari belenggu kapitalis.<span id="more-2055"></span></p>
<p>Kita kudu berjuang gimana supaya kondisi masyarakat bisa ideal. Kalau sekarang sekolah mahal, gimana kita perjuangkan biar bisa murah. Kalau cewek susah nutup aurat, gimana kita perjuangkan supaya baju muslimah jadi baju wajib. Kalau sekarang minyak tanah pada ngilang, gimana kita berjuang supaya ibu-ibu nggak pusing tujuh keliling gara-gara urusan dapur terhambat. Yes, itulah perjuangan kita sekarang, yakni bagaimana supaya kehidupan menjadi islami. Wah, berat banget ya? Emang, nggak ada perjuangan yang enteng.</p>
<p>Makanya, biar kata cewek, kita kudu punya semangat juang. Dan mental pejuang ini kudu kita pupuk sejak sekarang. Yes, masa muda adalah masa yang pas banget buat berjuang. Entar pas udah tua, kan tinggal menikmati hasilnya gitu loh. Kalau masa muda cuma hura-hura dan baru berjuang di masa tua, rugi banget. Keburu nggak menikmati hasilnya. Iya kan?</p>
<p>Emang sih, yang namanya berjuang bukan berarti orientasi hasil. Maksudnya orang yang berjuang nggak melulu kudu merasakan hasilnya, tapi mungkin yang menikmati adalah para generasi penerus. Pahalanya gede loh. Para pahlawan kemerdakaan misalnya, mereka nggak menikmati jerih payahnya karena keburu jadi tulang-belulang. Tapi jasa mereka dinikmati manusia Indonesia secara turun temurun.</p>
<p>Jadi, kita juga kudu punya misi jauh ke depan. Apa yang kita perjuangkan saat ini adalah demi generasi penerus yang lebih baik. Jadi kalau sampai akhir hayat kita nggak menikmati hasilnya, jangan putus asa karena Allah Swt. insya Allah tetap mencatat usaha kita.</p>
<p>Nah, menjadi pejuang nggak musti teruji lewat medan perang. Kita bisa berjuang dalam ranah pemikiran. Misal dengan menyebarkan opini Islam buat menyerang opini batil. Yang pasti, perjuangan yang kita lakukan tetap kudu selaras ama karakter dan kodrat kita sebagai perempuan. Misal dengan mempertimbangkan kemampuan fisik, mental dan daya jelajah.</p>
<p>Cewek biasanya diidentikkan ama sifat lemah dan cengeng. Nggak salah-salah banget sih, cuma sebagai pejuang, mental kayak gitu musti diminamalisir. Gimana coba kalau baru mendakwahi orang dan orangnya nolak kita langsung mengkeret. Apalagi sampai nangis segala, tengsin dong. Makanya, kita kudu tegar dan bermental baja.</p>
<p>Sebagai pejuang kita juga kudu menunjukkan sikap sebagai pemimpin. Makanya, harus bisa menjadi panutan. Itu bisa kita tunjukkan dengan sikap sehari-hari dalam berinteraksi dengan temen-temen kita.</p>
<p><strong>Belajar dari <em>Sahabiyah</em></strong></p>
<p align="left">Kita bisa belajar mental pejuang para sahabiyah (sahabat nabi dari kalangan wanita) dulu. Yup, jangan salah, meski hidup di zaman onta, para wanita dulu juga para pejuang sejati loh. Malah mereka sampai maju ke medan perang segala. Emang, bukan berarti megang bedil atawa bom, tapi perannya di medan perang disesuaikan dengan kodratnya, yakni sebagai pendamping dan pendukung para mujahid.</p>
<p align="left">Mereka membantu menyediakan makanan dan merawat tentara yang luka-luka. Kalau istilah sekarang mungkin seksi logistik dan seksi kesehatan gitu deh. Jadi jangan mbayangin serem-seremnya aja, bahwa kalau ikut di medan perang berarti bakal jadi umpan berondongan peluru. Meski begitu, yang namanya berada di situasi perang risiko syahid tetap ada. Sstt&#8230;bukan nakut-nakutin loh. Cuma nyiapin mental.</p>
<p align="left">Di antara para sahabiyah yang ikut terjun ke medan perang adalah Ummu Athiyah. Ia berkata: <em>&#8220;Saya ikut medan perang untuk menyediakan makan prajurit yang bertempur. Mengawal kemah (tenda) dan perbekalan. Juga merawat orang-orang yang luka, menjaga orang-orang yang sakit.&#8221;</em></p>
<p>Diberitakan oleh Anas bahwasanya beliau melihat Aisyah dan Ummu Sulaim turut beserta Rasul dalam peperangan Uhud. Dengan gesitnya Aisyah bergerak kesana-kemari, menghantarkan kendi minuman kepada para pahlawan.</p>
<p align="left">Emang, adakalanya Rasul mencegah keikutsertaan wanita dengan alasan politis, supaya nggak dianggap musuh bahwa Muhammad kekurangan tentara hingga mengerahkan wanita. Tapi Nabi sama sekali nggak pernah melarang wanita ikut ke medan perang dengan alasan &#8216;wanita harus di dapur, di rumah saja.&#8217;</p>
<p>Karena itu ketika Ummu Sinaan ra? memohon ikut serta dalam perang Khaibar, Rasulullah Saw berkata: <em>&#8220;Pergilah dengan mendapat berkat dari Allah.&#8221;</em> Ternyata kehadiran Ummu Sinaan sangat membantu pasukan Rasulullah dalam menjaga minuman, perbekalan, mengobati orang sakit dan orang luka.</p>
<p>Begitulah, mental pejuang para wanita patut menjadi teladan. Apalagi di zaman milenium ini, jelas tantangan menjadi pejuang lebih berat. Oke deh, selamat berjuang! Merdeka!!! <strong>[kholidah]</strong></p>
<p>///Boks</p>
<h2>Modal Berjuang</h2>
<p>Hakikat perjuangan harus terus menerus dilakukan, mulai saat ini, detik ini juga. Makanya, butuh modal buat berjuang agar mampu melaksanakannya dengan konsisten. Apa aja tuh? Di antaranya:</p>
<ol type="1">
<li><strong>Keyakinan yang benar.</strong> Ya iyalah, kalau kita nggak yakin dengan apa      yang kita perjuangkan, gimana mau habis-habisan berjuang? Yang ada      pastilah keraguan dan berujung pada lemahnya perjuangan. Nah, keyakinan      ini juga bukan sembarang keyakinan, tapi kudu keyakinan yang dilandasi      kebenaran.</li>
<li><strong>Kekuatan ruhiah.</strong> Inilah kekuatan terbesar dalam perjuangan.      Kita musti berjuang dengan landasan perintah Allah Swt. Jadi berjuang      bukan semata-mata untuk eksistensi diri (biar disebut hero atawa dapet      penghargaan). Bukan pula karena motivasi materi (agar mendapatkan keuntungan).      Atau jangan pula sebagai ajang pelarian atau pengisi waktu karena nggak      ada aktivitas lain.</li>
<li><strong>Keikhlasan.</strong> Yes, kita kudu luruskan niat bahwa perjuangan yang kita lakukan      semata-mata demi mendapat ridho Allah Swt. Bukan semata-mata biar mendapat      pujian, biar ngetop apalagi biar dapat kecengan temen seperjuangan. Jangan      pula karena keterpaksaan, nggak enak hati sama temen seperjuangan.</li>
<li><strong>Kuat mental dan nggak cengeng.</strong> Banyak tantangan yang musti kita hadapi      dalam perjuangan. Kadang kita disepelekan karena usia kita yang masih      muda. Kita juga sering ngeper kalau berhadapan dengan orang yang kita      anggap lebih pinter. Atau kita sering dibilang rese ama temen-temen karena      sifat kritis kita terhadap pergaulan di lingkungan. Belum lagi kalau      menghadapi berbagai penolakan, seringkali bikin mental <em>down</em> dan      patah semangat. Nah, jangan sampai ini terjadi.</li>
<li>Doa. Kadang-kadang kita lupa meminta      pertolongan Allah Swt. saat mengalami tantangan dalam perjuangan. Misal      ketika mendakwahi temen ditolak mentah-mentah, serta merta ada perasaan      benci atau malah nyumpahin tuh orang. Padahal kan lebih baik kita doakan aja kepada      Allah Swt. supaya tuh orang dibukakan pintu hatinya. Kita dapat pahala,      dia juga berpeluang menerima dakwah kita. Adil kan?<strong> [kholidah]</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi 14/Desember 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jadi-cewek-pejuang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moeslimah Idol</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/moeslimah-idol</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/moeslimah-idol#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 01:08:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2038</guid>
		<description><![CDATA[Cantik, tubuh proporsional, pintar, gaul dan berperilaku baik. Itulah gambaran cewek ideal yang ada di benak setiap orang. Nggak heran kalo cewek yang memenuhi kriteria kayak gini sontak jadi idola di lingkungannya.
Nggak perlu jauh-jauh ikutan Indonesian Idol, AFI atau KDI, di sekitar kita tanpa kita sadari banyak loh idola-idola yang sering jadi buah bibir. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Cantik, tubuh proporsional, pintar, gaul dan berperilaku baik. Itulah gambaran cewek ideal yang ada di benak setiap orang. Nggak heran kalo cewek yang memenuhi kriteria kayak gini sontak jadi idola di lingkungannya.</em></strong></p>
<p>Nggak perlu jauh-jauh ikutan <em>Indonesian Idol</em>, <em>AFI</em> atau <em>KDI</em>, di sekitar kita tanpa kita sadari banyak loh idola-idola yang sering jadi buah bibir. Di sekolah atawa kampus misalnya, pasti ada aja satu-dua temen kita yang kelihatan paling menonjol dan jadi pusat perhatian. Jadilah doi jadi temen favorit yang disukai semua orang.</p>
<p>Bahkan bisa jadi di habitat dakwah kita, ada akhwat-akhwat tertentu yang karena kelebihannya jadi incaran para ikhwan, atau sebaliknya jadi teladan kalangan akhwat. Meski itu nggak diproklamirkan, toh fakta membuktikan akhwat macam gitu sering jadi pusat perhatian. Paling nggak, banyak ikhwan-ikhwan yang ngebet pengin mengkhitbahnya (ups).</p>
<p>Dulu saya punya temen kuliah nama bekennya Epot. Eit&#8230;jangan manyun, biar namanya nggak keren, tapi anaknya cakep. Udah bodi semampai, kulit mulus, otaknya juga encer. Cewek asli Tasikmalaya itu tutur bahasanya juga lemah lembut. Pembawaannya juga bersahaja, nggak banyak <em>cing-cong</em>. Jadilah doi banyak disegani cowok-cowok temennya. Mereka pada nggak berani ngegodain, malah pada ngeper.<span id="more-2038"></span></p>
<p>Temen satu lagi namanya Meme. Cantik juga, tubuhnya mungil dan imut. Yang paling menonjol dari dia adalah: modis abis. Kalo kuliah, mulai ujung rambutnya yang keriting ampe ujung kaki didandani dengan warna senada. Kalo ijo, ijoooo semua&#8230;mirip ulat berjalan he..he&#8230;</p>
<p>Belum lagi kalo ujan, pake payung berenda-renda kayak cinderela. Wuih, pokoknya nyolok abis. Udah gitu ngomongnya juga heboh. Tapi doi juga baek dan pintar. Sama siapa aja mau gaul dan semua orang suka padanya. Uniknya, doi emoh jadi idola. Buktinya, Meme yang emang hobi nyanyi itu malah nolak ditawarin rekaman, jalan menuju kursi idola. &#8221;Kalo mau jadi idola gampang, gue pernah ditawarin rekaman. Tapi buat apa jadi penyanyi, nggak lah yaw,&#8221; katanya.</p>
<p>Lain lagi ama akhwat yang satu ini. Sebut aja Anisa. Dari temen-temen seangkatannya, doi disebut-sebut sebagai <em>the favorite</em>. Soalnya, wajahnya paling manis dan nggak ngebosenin (kata temen-temennya). Dakwahnya? Tentu saja juga oke punya. &#8221;Ah&#8230;masak sih. Itu kan kata temen-temen aja, saya sih nggak merasa gitu,&#8221; elaknya saat ditanya gimana perasaannya jadi yang &#8220;ter&#8221; di kalangan akhwat. Emang sih, dia mengakui, kadang ada juga perasaan bangga atau geer. Walaupun begitu dirinya tentu nggak pernah punya rencana untuk jadi idola.</p>
<p><strong>Jaga diri</strong></p>
<p>Sebenernya yang mencap seseorang itu idola justru lingkungan tempat dia berinteraksi. Dirinya sendiri mungkin nggak nyadar kalo selama ini jadi <em>trend setter</em>. Meski begitu ada juga yang sadar betul kalo dirinya jadi pusat perhatian. Misalnya para jebolan <em>Indonesian Idol</em>, <em>AFI</em> atau <em>KDI</em> kali ya. Mereka sih emang bener-bener diorbitkan buat jadi idola. Jadi, mereka diekploitasi banget untuk mendatangkan keuntungan. Tebar pesona sana-sini agar diakui eksistentinya. Padahal, nggak usah tebar pesona kalo yang namanya orang punya &#8216;kelebihan&#8217; pasti akan kelihatan sendiri. Iya kan?</p>
<p>Makanya, buat kamu-kamu yang selama ini -merasa ataupun nggak-di posisi sebagai cewek idola di tengah-tengah habitatmu, kudu hati-hati membawa diri. Jangan sampai kelebihanmu sebagai cewek favorit malah menjerumuskan. Misal karena TP alias tebar pesona ke sana ke mari malah dianggap murahan. Hasilnya, paling-paling suka diusilin cowok.</p>
<p>Baiknya bersikap <em>tawadhu</em>, meski tetep bergaul ama siapa aja. Jangan sampai pilih-pilih temen yang selevel aja. Misal yang sama-sama cakep atau sama-sama pintar doang. Yang penting jangan sampai keseringan muncul virus geer. Maklum, ini penyakit yang biasa menyerang para idola. Geer alias gede rasa hanya bikin kecewa kalo ternyata apa yang diharapkan nggak tercapai. Apalagi kalo udah urusan ikhwan (suit..suit), bisa makan hati Non!</p>
<p><strong>Moeslimah idol</strong></p>
<p>Menjadi idola di tengah-tengah lingkungan kita tentu hal yang membanggakan. Tapi jangan sampai hal itu memunculkan perasaan sombong alias riya&#8217;. Sebaliknya, bagi kamu-kamu yang memiliki kemampuan biasa-biasa aja, jangan rendah diri nggak bisa jadi yang paling favorit. Toh, bisa jadi, seseorang diidolakan di hadapan manusia malah dihinakan di hadapan Allah. <em>Na&#8217;udzubillahi min dzalik</em>. Contohnya para &#8216;pahlawan&#8217; di Turki yang di dunia dipuja-puja (Mustafa Kemal, misalnya), diidolakan dan dikasih penghormatan habis-habisan. Padahal mereka itu justru pengkhianat agama Allah Swt.</p>
<p>Jadi, mending kamu memupuk diri untuk menjadi idola sejati, yaitu menjadi muslimah dambaan Allah Swt. Syaratnya gampang banget, Cuma satu kata: takwa. Nggak perlu syarat macam-macam. Nggak perlu cantik, tinggi badan 170 cm, pintar dan berbudi luhur (Hik..hik&#8230;itu kan syarat jadi Putri Indonesia ya). Juga nggak butuh fotokopi KTP, kartu keluarga atawa slip gaji (emang mo kredit motor?).</p>
<p>Yup, untuk menjadi akhwat yang disayangi Allah Swt. kita hanya dituntut untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Nggak hanya dari sisi kuantitas yang kudu banyak, tapi lebih penting lagi kualitas. Nah, kalo berhadapan dengan Allah neh sah-sah aja kalo kita tebar pesona alias cari perhatianNya. Caranya, ya itu tadi banyak-banyaklah beramal saleh.</p>
<p>Iya dong, Allah pasti akan <em>care </em>ama kita yang berusaha mendekatiNya. Allah Swt berfirman (dalam hadis qudsi) yang artinya: &#8220;Dan jika hamba-Ku mendekati dengan berjalan, Aku mendekatinya dengan berlari. Jika ia melangkah sedepa, Aku melangkah sehasta.&#8221; Oke deh, selamat menjadi muslimah idol!<strong> [kholidah] </strong></p>
<p>//BOX</p>
<p><strong>Akhwat idola tetap jaga kehormatan </strong></p>
<p>Siapa coba yang nggak bangga jadi akhwat idola. Udah shalehah, cantik, pintar dan supel. Dijamin pasti jadi incaran para ikhwan. Manusiawi emang. Para akhwat aja kalo liat ikhwan klimis juga membatin, bahkan jadi gunjingan. Iya apa iya? Nah, gimana kalo kamu termasuk akhwat idaman para ikhwan? Ada tips-tips yang kudu kamu perhatikan supaya nggak muncul penyakit hati:</p>
<p>v???? Jangan mudah geer. Yup, gede rasa bikin hati berbunga-bunga dan akhirnya hanya membayangkan yang indah-indah saja. Padahal realita nggak selamanya indah Non. Sadarlah, <em>it is the real world</em>. <em>So</em>, jangan baru dipuji aja udah melayang ke langit ke tujuh.</p>
<p>v???? Jaga pesona, jangan diobral. Yup, jangan mentang-mentang punya modal tampang keren, trus suka cari perhatian ke sana ke mari, padahal nggak ada urusan urgen. Apalagi kalo sering berkelebatan di hadapan para ikhwan. Malu dong. Lagian kasihan mereka Non, jangan bikin hati kebat-kebit. Sebab yang namanya ikhwan juga manusia, punya rasa, punya hati&#8230;</p>
<p>v???? Jangan sombong. Jangan mentang-mentang punya wajah di atas rata-rata para akhwat trus bersikap riya&#8217;. Yup, hilangkan penyakit hati yang satu ini karena bisa-bisa menggerus amal baik kita. Untuk itu jangan pernah pilih-pilih temen, entar dibilang somse.</p>
<p>v???? Jaga diri. Meski udah nutup aurat dengan sempurna, yang namanya wajah cantik tetep keliatan. Makanya tetep jaga diri jangan sampe jadi korban pelecehan. Tahu kan, cowok iseng nggak pandang bulu, biar udah berkerudung dan berjilbab tetep aja digodain. Nah, jaga diri jangan sampe jadi korban pelecehan.</p>
<p>v???? Jangan sok jual mahal. Biasanya akhwat yang jadi idola suka jual mahal. Apalagi kalo urusan ikhwan. Karena sadar jadi inceran, akhirnya jadi pilih-pilih banget. Kalo ada yang minat mengkhitbah (ehm..), sering nolak karena merasa masih ada ikhwan lain yang lebih cakep. Betul nggak? Jangan gitu-gitu bangetlah, entar bisa jadi <em>boomerang</em> loh. Saking pilih-pilihnya, salah-salah malah dapet yang biasa aja atau malah nggak kebagian (kue kalee&#8230;).<strong>[kholidah]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah SOBAT Muda, edisi 13/Oktober 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/moeslimah-idol/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bikin Geng, Ayo Aja!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bikin-geng-ayo-aja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bikin-geng-ayo-aja#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 00:03:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1991</guid>
		<description><![CDATA[Cewek bikin geng? Yang bener aja! Pstt&#8230;, jangan negatif thinking dulu dong. Bikin geng nggak melulu negatif loh, malah ada untungnya. Sebab yang ini bukan sembarangan geng. Geng apa dong?
Sebagai remaja, udah pasti kita punya banyak teman. Nah, di antara sekian puluh atau sekian ratus temen yang kita kenal, biasanya pasti ada empat sampai lima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Cewek bikin geng? Yang bener aja! Pstt&#8230;, jangan negatif thinking dulu dong. Bikin geng nggak melulu negatif loh, malah ada untungnya. Sebab yang ini bukan sembarangan geng. Geng apa dong?</em></strong></p>
<p>Sebagai remaja, udah pasti kita punya banyak teman. Nah, di antara sekian puluh atau sekian ratus temen yang kita kenal, biasanya pasti ada empat sampai lima temen yang paling akrab. Ya mungkin karena punya kesamaan sifat, karakter, misi, visi dan tujuan (proposal kale!). Pokoknya kalau ngapa-ngapain paling klop dan paling nyambunglah. Jadinya mereka runtang-runtung (runtang-runtung? Emangnya truk gandengan?) bersama, entah sekolah bareng, kuliah bareng, belajar bareng, jalan-jalan bareng atau menikmai hobi bersama dan seterusnya.</p>
<p>Sadar nggak sadar mereka udah membentuk suatu komunitas tertentu. Yah, istilah kerennya geng cewek gitu deh. Seperti pengalaman Ninik sewaktu masih AGB dulu. &#8220;Waktu SMP aku punya empat teman yang paling akrab. Walaupun kami nggak sekelas, tapi kami sering jalan bareng,&#8221; katanya kepada SoDa.<span id="more-1991"></span></p>
<p>Saking akrabnya satu geng, sampai-sampai mereka nyetak kaos segala. Tulisannya SANELA, singkatan dari nama-nama mereka satu geng: Sunarti, Asri, Ninik, Ely dan Lastri. &#8220;Sebenarnya istilah itu dimirip-miripin sama Isabela, lagunya Amy Search yang lagi ngetop-ngetopnya waktu itu. Nah, nyetak kaos itu cuma sebagai tanda keakraban aja,&#8221; imbuh Ninik.</p>
<p>Lalu ngapain aja satu geng? Nggak banyak kegiatan yang mereka lakukan. Maklum, masih AGB. &#8220;Rumah kami saling berjauhan. Paling-paling kami saling main saja, jadi kenal sama keluarganya dan lebih akrab. Nggak ada sih agenda kegiatan khusus gitu,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Hmm, nggak masalah seh bikin geng-gengan kayak gitu, asal dibarengi itikad baik untuk sama-sama ngembangin diri. Bukan sekadar menonjolkan keakuan atau malah eksklusivisme. Misalnya jadi merasa tinggi hati, merasa gengnya yang paling oke dan ogah bergaul sama teman-teman yang bukan satu geng. Wah, kalau motivasinya untuk bersombong-ria kayak gitu, itu udah nggak bener. Mending bubarin aja. Ya nggak?</p>
<p align="left">Apalagi kalau geng-gengan cuma buat gaya-gayaan dan aktivitasnya cuma hura-hura, nggak usah deh. Misal aktivitasnya cuma jalan-jalan bareng, nonton bareng atau dugem bareng. Wah, kalau geng kayak begini sih bukan komunitas yang kudu dikembangin. Malah bisa jadi itu <em>mah</em> geng maksiat yang kudu diberantas. Upss&#8230;sori, lagi kumat galaknya nih.</p>
<p><strong>Geng Islami</strong></p>
<p>Geng yang kudu ditumbuh-suburkan adalah geng-geng cewek yang bisa meningkatkan potensi? masing-masing anggota dalam komunitas tersebut. Bisa bikin hidup lebih hidup. Yup, teman yang baik adalah yang memberi motivasi pada temennya untuk berkembang. Makanya, kalau bikin geng ya harus yang bermanfaat buat memotivasi diri dan teman-teman satu geng.</p>
<p>Selain buat menjalin silaturahim yang disunahkan Rasul, sahabat juga bisa memberi inspirasi, motivasi, kerja sama, diskusi, dan masih banyak lagi. Jadi sekali lagi, kalo bikin geng, haruslah yang membawa efek positif, baik buat diri sendiri maupun masyarakat secara umum.</p>
<p>Tentu saja, sebagai muslimah, mustinya bikin geng yang islami. Maksudnya bukan sekadar untuk mengembangkan potensi diri sendiri, tapi juga berguna buat Islam dan umatnya gitu loh! Geng kayak gini nggak menonjolkan nama beken, yang penting kiprahnya. Jangan sampai pula labelnya aja yang islami, padahal aktivitasnya justru bertentangan dengan Islam. Berabe tuh! Malah bisa menjerumuskan.</p>
<p>Salah satu geng yang oke adalah bikin geng pengajian. Kenapa nggak? Melalui geng ini kalian bisa sama-sama menggali potensi diri dan menggembleng kepribadian dengan landasan Islam. <em>So</em>, jangan alergi ikut kegiatan kerohanian di sekolah atau di kampus. Dijamin nggak rugi deh, malah dapat untung dobel: dunia dan akhirat.</p>
<p>Iya dong, sebagai muslimah, biarpun masih remaja kudu tetep semangat cari ilmu Islam. Jangan gudem aja. Justru sejak remaja kudu membentengi diri dengan pemahaman Islam yang kuat biar nggak mudah terjerumus dalam maksiat (mantep coy). Setuju?</p>
<p>Terus, bagi kamu-kamu yang punya ?bakat terpendam&#8217;, gali dalem-dalem Non! Misal sama-sama hobi nulis, nah bikin aja komunitas menulis rame-rame. Nggak perlu bikin nama geng nulis segala sih, yang penting bisa bareng-bareng berkarya dan ngembangin kemampuan nulis kalian. Bisa aja kan nulis buku bareng, bikin kumpulan cerpen bareng, rame-rame ikut lomba karya tulis, saling tukar informasi soal dunia tulis-menulis dan sebagainya.</p>
<p>Tentunya, sebagai muslimah menulis pun kudu dibangun atas landasan Islam. Maksudnya kalau bikin cerpen atau novel yang islami, jangan yang malah menganjurkan maksiat seperti menganjurkan ciuman, berzina atau dugem. Kalau bikin artikel juga yang islami, jangan malah memojokkan Islam atau merugikan umat Islam. Kalau bikin buku nonfiksi, juga yang memberi pemahaman Islam, bukan malah merusak kaidah-kaidah Islam dan bikin kacau pola pikir umat. Menulis, bukan hanya buat ngembangin potensi terpendam kamu, bisa-bisa malah dapat doku loh. Asyik kan?</p>
<p>Atau yang punya bakat memasak, menjahit, mendesain baju, bikin pernak-pernik atau keterampilan tangan, ayo aja bikin komunitas untuk menghasilkan kreasi. Siapa tahu, kelak pas udah lulus sekolah atau kuliah bisa dikembangkan jadi usaha mandiri. Lumayan kan, nggak usah pusing nyari kerjaan, malah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.</p>
<p>Ingat, nggak sedikit loh para pengusaha sukses yang justru memulai usahanya dari sekadar hobi. Jadi, jangan remehkan hobi, siapa tahu bisa dikembangkan jadi profesi. Nah, biar hobi tersalurkan dengan terarah dan melejit, bikin komunitas bareng-bareng.</p>
<p align="left">Selain itu, bagi yang punya ?naluri&#8217; bisnis, bisa juga tuh ngembangin bisnis bersama. Biasanya bagi mereka yang duduk di bangku kuliah, nggak sedikit loh yang satu geng bikin usaha bersama sehingga bisa mandiri. Minimal buat biaya kos atau biaya kuliah nggak minta ortu lagi. Misal mendirikan bimbingan belajar, rental komputer, lembaga konsultan, taman pendidikan al-Quran (TPA), dll.</p>
<p>Tapi akhwat mana bisa? Waduh, jangan berkecil hati gitu dong, Non! Di mana ada tekad di situ ada jalan. Allah Swt. memberi potensi sama kok buat ikhwan dan akhwat untuk berkembang, pede aja lagi! Yang penting jangan gengsi! OK!<strong> [kholidah]</strong></p>
<p>//Boks</p>
<h3>Memelihara Kekompakan</h3>
<p>Sebagai sesama muslimah satu komunitas, pasti ada saja satu-dua hal yang bisa jadi kita berbeda pandangan. Nah, untuk menjaga kekompakan dan mengeliminir perbedaan, supaya komunitas yang kita bangun langgeng, ada beberapa tips yang kudu diperhatikan:</p>
<ol type="1">
<li><strong>Samakan persepsi</strong></li>
</ol>
<p>Usahakan untuk membangun kesamaan pemahaman, misi dan visi. Dengan begitu komunitas yang dibentuk jadi terarah. Kalau ada perbedaan pendapat, segera diskusikan dan selesaikan, jangan biarkan berlarut-larut.</p>
<ol type="1">
<li><strong>Saling percaya</strong></li>
</ol>
<p>Sebagai teman satu komunitas, pastinya adalah sahabat-sahabat karib yang paling dekat kan? Nah, jadikan mereka sebagai tempat curhat, <em>sharing</em> dan minta pendapat. Antara satu sama lain harus saling mempercayai amanah yang diberikan masing-masing. Saling percaya akan menumbuhkan kedekatan dan keakraban.</p>
<ol type="1">
<li><strong>Saling bekerjasama</strong></li>
</ol>
<p align="left">Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Yup, pepatah itu emang pas banget buat menjalin kekompakan. Jadi, masing-masing harus saling bekerja sama dan mendukung, jangan mementingkan diri sendiri dan jangan merasa dirinya yang paling penting. Masing-masing mungkin udah punya <em>job description</em>,? nah tinggal bagaimana bekerja sama agar bagian masing-masing bisa tertunaikan dengan baik.</p>
<p align="left">
<ol type="1">
<li><strong>Berbaik sangka</strong></li>
</ol>
<p>Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk senantiasa berhusnudzan dengan sesama muslim. Nah, apalagi dengan teman satu geng, harus selalu positif thinking. Jangan saling iri kalau ternyata kemampuan teman lebih dulu melejit misalnya. Insya Allah semua melakukan demi yang terbaik bagi komunitas.</p>
<p>Nah, gimana, udah siap maju bersama kan? Siiiplah!<strong> [kholidah]</strong></p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah SOBAT Muda, edisi Oktober 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bikin-geng-ayo-aja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3M: Muslimah Maniak Musik!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/3m-muslimah-maniak-musik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/3m-muslimah-maniak-musik#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 00:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1961</guid>
		<description><![CDATA[Tiada hari tanpa musik. Hm, mungkin itu motto yang tepat banget buat kamu-kamu yang maniak musik. Gimana nggak, dalam aktivitas sehari-hari musik selalu menemani. Belajar diiringi lagu, nonton TV chanelnya MTV, ngerumpi ngegosipin penyanyi, bepergian bawa walkman, dan bahkan di kamar mandi juga nyanyi sendiri. Wah, dunia serasa sepi tanpa musik. Bener nggak? 
Musik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Tiada hari tanpa musik. Hm, mungkin itu motto yang tepat banget buat kamu-kamu yang maniak musik. Gimana nggak, dalam aktivitas sehari-hari musik selalu menemani. Belajar diiringi lagu, nonton TV chanelnya MTV, ngerumpi ngegosipin penyanyi, bepergian bawa walkman, dan bahkan di kamar mandi juga nyanyi sendiri. Wah, dunia serasa sepi tanpa musik. Bener nggak? </em></strong></p>
<p>Musik yang katanya bahasa universal emang enak dinikmati. Mulai lagu dangdut, sampai klasik, semua musik asyik-asyik. Siapa aja, tua-muda, kecil-dewasa suka ama yang namanya musik. Termasuk kaum hawa. Malah golongan kita-kita ini jadi segmen utama pagi industri musik. Bagaimana enggak, kalo udah demen, biasanya cewek paling nggak tahan buat ngeluarin isi dompetnya untuk beli kaset, VCD atau MP3. Tul nggak?<span id="more-1961"></span></p>
<p>Coba aja tengok pengakuan Ratih. Dara jebolan SMU 1 Bogor ini punya segepok kaset, sekeranjang VCD and sekardus MP3. Dia menunjukkan dengan bangga koleksi yang dikumpulkannya sejak doi duduk di bangku SMP bareng kakak cowoknya yang kebetulan juga maniak musik. Maklum, uang sakunya cukup gede sekadar buat beli kaset yang rata-rata bandrolnya 20 ribuan perak.</p>
<p>Wajar jika doi punya idola yang nggak jauh-jauh dari kalangan penyanyi, seperti Reza dan Siti Nurhaliza.?&#8217;Itu untuk yang solo. Yang grup gua demen banget ama yang namanya Dewa untuk yang lokal dan Bon Jovi untuk impor. Soalnya lagu-lagunya romantis, dan musiknya keren abis,&#8221;? tutur Ratih bersemangat.</p>
<p>Bicara soal musik ama Ratih kagak ada abisnya. Semua lagu-lagu ngetop dia hapal. Mulai lagu <em>Separuh Nafas</em>-nya Dewa, <em>Menghitung Hari</em>-nya KD, bahkan ampe lagu <em>Cucakrowo</em>-nya Didi Kempot juga apal di luar kepala. Lagu Barat seperti <em>Hero</em>-nya Mariah Carey ampe <em>It&#8217;s My Life</em>-nya Bon Jovi juga ngelontok. Tapi pas? ditanya lagu <em>Neo Shalawat</em>-nya Snada atawa lagu <em>Demi Masa</em>-nya Raihan, doi kelimpungan. ?&#8217;Lagu jaman kapan itu?&#8221; katanya balik nanya.</p>
<p>Kegemarannya ndengerin musik itu tentu saja sedikit banyak berpengaruh pada Ratih. Paling nggak doi pernah berangan-angan alangkah enaknya jadi penyanyi. Udahlah ngetop, tajir pula. ?&#8217;Ah, itu cuman angan-angan. Niat jadi penyanyi sih nggak, nggak ada modal,&#8221; kata Ratih yang mengaku suaranya nggak bagus-bagus amat ini. Yang jelas, kalo ada konser-konser musik di kotanya, Ratih nggak bakal ketinggalan. ?&#8217;Soalnya perginya bareng kakak, jadi diijinin ama nyokap,&#8221; cetusnya.</p>
<p>Nggak beda jauh ama Ratih, Dona juga punya kegemaran sama. Musik nggak bisa lepas dari dirinya. Ke mana-mana doi bawa <em>walkman</em>. Meski begitu koleksi kasetnya nggak begitu banyak. Maklum, doi masih duduk di kelas 2 SLTP, nggak banyak doku buat beli. ?&#8217;Nggak masalah. Aku biasanya pinjem ke temen-temen. Mereka kebetulan juga pada doyan musik,&#8221; aku Dona.</p>
<p>Yang jelas, Dona demen semua lagu diva-diva top dunia macam Britney Spears, Christina Aquilera, Mandy Moore dan Norah Jones. Kalo dalam negeri paling suka lagu-lagunya Padi dan Project Pop yang unik-unik itu. Ditanya penyanyi favoritnya, Dona geleng kepala. ?&#8217;Kalo yang ngefans banget nggak ada seh. Pokoknya asal lagunya enak dan ngetop, aku suka,&#8221; paparnya. Makanya Dona nggak punya penyanyi atau grup musik khusus yang diidolakan. Dona juga jarang nonton konser langsung. ?&#8217;Bukan nggak pengin, cuman belum boleh sama ibu,&#8221; katanya. Nah, bagaimana dengan kamu, maniak musik juga?</p>
<p><strong>Hukum Musik</strong></p>
<p>Jaman sekarang aneka jenis musik dan lagu begitu bervariasi. Tentu saja tak semuanya ada di jaman Rasulullah dulu. Makanya banyak ulama yang pro-kontra soal hukum bermusik itu sendiri. Sebagian ulama salaf mengharamkan, berlandaskan pada riwayat ?Imran Hushain, bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Akan terjadi pada umatku, lemparan batu, perubahan bentuk, dan tenggelam ke dalam bumi.&#8221; Dikatakan: &#8220;Ya Rasulullah,? kapan itu terjadi?&#8221; Beliau menjawab : &#8220;Jika telah tampak alat-alat musik, banyaknya penyanyi wanita, dan diminumnya khamr-khamr&#8221; (Dikeluarkan oleh Tirmidzi, Ibnu Abiddunya, dan lain-lain, lihat Tahrim ?alath Tharb halaman 63-64).</p>
<p>Namun, sebagian lagi menghalalkan musik dan nyanyian. Diantaranya: Abdullah bin Ja&#8217;far, Abdullah bin Zubair, Al-Mughirah bin Syu&#8217;bah, Usamah bin Zaid, Umran bin Hushain, Muawiyah bin Abi Sufyan, Atha bin Abi Ribah, Abu Bakar Al-Khallal, Abu Bakar Abdul Aziz, Al-Gazali dan lain-lain. Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar menuliskan bahwa ulama Dzahiri dan jama&#8217;ah ahlu Sufi memberikan kemudahan pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola.</p>
<p>Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi&#8217;i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja&#8217;far menganggap menyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin Al Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya&#8217;bi.</p>
<p>Nyanyian yang dibolehkan seperti yang sering kita lakukan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Misal saat dalam perjalanan, ketika memikul beban berat, dan sebagainya, lalu menghibur diri dengan bernyanyi untuk menambah gairah dan semangat, menghilangkan kejenuhan, dan rasa sepi. Atau tidak menyanyi sendiri, tapi mendengarkan lagu dengan menyetel kaset, radio, VCD atau walkman. Yang jelas, kudu lihat-lihat syair lagunya, situasi saat diperdengarkan lagu, dan dampaknya.</p>
<p>Termasuk lagu yang dibolehkan adalah lagu yang dinyanyikan oleh ibu-ibu untuk menenangkan tangis dan rengekan buah hati mereka atau nyanyian gadis-gadis kecil dalam sendau gurau dan permainan mereka (Kaffur Ri&#8217;a&#8217; halaman 59-60, Kasyful Qina&#8217; halaman 47-49).</p>
<p>Jumhur ulama menghalalkan mendengar nyanyian, tetapi berubah menjadi haram jika disertai kemungkaran, seperti sambil minum khomr, berjudi, dll. Atau Jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah seperti memunculkan cinta birahi pada wanita atau sebaliknya dan menyebabkan lalai atau meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shala, dll.</p>
<p><strong>&#8216;Sihir&#8217; Musik</strong></p>
<p>Terlepas dari hukum musik dalam Islam, yang pasti pengaruh musik memang luar biasa dasyat. Musik bisa menghanyutkan siapa saja pendengarnya. Nggak heran kalo acara-acara musik digemari. Lihat aja saat Akademi Fantasia Indosiar (AFI) digeber tiap Sabtu malam. Ribuan orang berjejalan ingin menikmati langsung para akademia jagoannya. Juga jutaan pasang mata di tanah air, khusyu menyimak penampilan para pendatang baru di bidang tarik suara itu. Para akademia pun mampu mengaduk-aduk emosi penikmatnya, baik melalui syair maupun musiknya. Buktinya, penonton pada jejingkrakan dan menangis saat salah satu akademia dieliminasi di ujung acara.</p>
<p>Yup, salah satu dampak musik adalah mampu mempengaruhi emosi penyanyi maupun pendengarnya. Coba aja kamu dengerin sountrak sinetronnya Marshanda, <em>Kisah Sedih di Hari Minggu</em> atau <em>Menangis Semalam</em>-nya Audy, pasti kamunya ikutan sedih kan? Sebaliknya kalo dengerin lagu <em>Tu</em><em> Wa</em><em> Ga Pat</em>-nya Project Pop, kamu jadi senyam-senyum. Lain lagi kalo dengerin syair Betapa Kucinta Padamunya Siti Nurhaliza, serasa dimabuk kepayang. Apalagi kaum hawa, paling mudah tersentuh perasaannya dengan lagu-lagu.</p>
<p>Makanya, kalo kamu dengerin lagu-lagu kayak gitu, musti mampu mengontrol emosi. Jangan sampai hal itu mengganggu aktivitas kamu. Sebab bisa jadi, gara-gara terlalu menghayati lagu cengeng misalkan, kamunya jadi males ngapa-ngapain. Itu berarti musik yang kontraproduktif.</p>
<p>Bukan itu aja, musik juga mampu menyibukkan pendengarnya dengan khayalan. Kerjanya cuma berangan-angan sebagaimana syair dalam lagu atau terobsesi dengan penyanyinya. Kalo maniak musik udah ngefans berat ama penyanyi pujaannya, pasti ada keinginan buat sekadar ketemu dengan sang idola, dapet tandatangannya, berpelukan (kayak Teletubbies aja) dan berfoto bareng. Coba aja lihat, para peserta Mimpi Kali Ye, kebanyakan pengikutnya kaumnya Ibu Kita Kartini. Iya, kan?</p>
<p>Bahkan nggak sekadar ketemu, banyak juga yang nekad berkhayal buat jadi gacoan sang idola. Weleh! Pas banget seperti yang digambarkan Project Pop dalam bait-bait lagu <em>Pacarku Superstar</em> itu, lho!</p>
<p>Dan yang paling gawat lagi, musik bisa mempengaruhi gaya hidup penggemarnya. Inget waktu Mariah Carey belum lama ini konser di JCC Jakarta? Para penonton, termasuk selebriti lokal rame-rame berdandan ala Mariah Carey. Sebut saja Vena Melinda. Belum lagi waktu konser heboh F4 tahun lalu, sontak semua orang berdandan ala Jerry Yan dkk, mulai dandanan rambut ampe sepatu. Wuih! Ya, gaya berpakaian para seleb ngetop biasanya langsung jadi trend setter yang sontak menyulap penggemarnya seperti mereka. Nggak peduli mengumbar aurat, nggak sesuai adat ketimuran, apalagi aturan Islam, yang penting trendy. Amit-amit!</p>
<p>Itu baru dari cara berpakaian. Belum lagi masalah pergaulan. Kamu kenal duo cewek asal Rusia, Tatu? (syukurlah kalo nggak kenal). Bukan hanya lagu-lagunya yang? didemenin cewek-cewek di dunia, tapi gaya hidup mereka yang lesbian. Malah ke-lesbianan mereka berdua ini justru yang jadi ?daya jual&#8217;, pendongkrak ketenaran mereka.? Para penggemarnya sontak memuji keberanian mereka mengeksploitasi kelainan seksual mereka dan sebagian tentu menirunya. Astaghfirullah.</p>
<p>Makanya Non, hati-hati kalo mau dengerin musik. Suka seh sah-sah aja, tapi inget jangan kebablasan. Yah, sekadar buat menghibur diri seh oke, tapi kudu super selektif memilah-milah. Dan yang lebih penting, nggak harus ngikutin gaya hidup para penyanyi itu kan?<strong> [asri]</strong></p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Boks/</p>
<p align="center"><strong>Cara Syar&#8217;i Menikmati Musik</strong></p>
<p>Memang nggak semua musik punya dampak buruk bagi kamu-kamu. Sebab ada juga yang berkat musik, justru bisa membangkitkan semangat. Entah semangat belajar, semangat kerja, semangat? dakwah, atau semangat jihad. But, itu tergantung gimana kamu memilah-milah musik dan cara menikmatinya. Jangan semua musik dilahap, dikunyah dan langsung telan. Bolehlah dicicipi dulu, baru dipertimbangkan baik-buruknya buat kita. Gimana, setuju kan?</p>
<p>Nah, untuk memilih jenis musik yang oke, emang belum ada referensinya. Tapi ada beberapa catatan musik kayak apa yang kudu kamu pilih:</p>
<p>1. Jenis musiknya. Saat ini jenis musik banyak banget. Ada mulai klasik, pop, rock, R&amp;B,? jazz, dangdut, keroncong, seriosa, qasidah dan nasyid. Jenis musik tertentu sudah berasosiasi dengan aktivitas tertentu yang tentunya nggak pantas buat kalangan Muslimah. Misal dangdut yang identik dengan goyang, rock yang identik dengan jejingkrakan dan R&amp;B yang identik dengan disko-diskoan. Sedangkan jenis klasik cenderung menenangkan. Jadi, silakan pilih jenis musik yang kira-kira bisa mengendalikan kamu nggak melakukan aktivitas yang malu-maluin. Kan nggak lucu kalo kamu yang pake jilbab dengerin walkman di angkot, eh sambil berjogetan karena lagu yang kamu dengerin lagu Si Putrinya Uut Permatasari itu.</p>
<p>2. Syairnya. Ingat lagu <em>Asereje</em>-nya Last Kechup? Konon tuh syair berisi pujaan terhadap setan. Padahal masyarakat sedunia asyik menyanyikannya karena musiknya yang enak didengar. Makanya, kamu kudu mencermati bait-bait lagu itu. Jangan sampai isinya melanggar syara&#8217;, misalnya menyekutukan Allah, mengajak pacaran, berzina atau gaul bebas.? Meski musiknya oke, kalo syairnya begituan berarti nggak boleh dinikmati. Termasuk bila syairnya menyebut kata-kata keji, menggambarkan keindahan bentuk atau rupa wanita, menyebut sifat atau nama benda-benda yang memabukkan, dll. Sebaliknya, dianjurkan mendengarkan nyanyian yang mendorong semangat untuk giat beramal, menumbuhkan hasrat untuk memperoleh kebaikan, jihad, dakwah, dll. Jenis musik qasidah dan nasyid adalah jaminan bahwa syair-syairnya aman dan syar&#8217;i.</p>
<p>3. Penyanyinya. Kalo kamu dengerin kaset, mungkin nggak lihat langsung penyanyinya ya. Tapi kalo lihat langsung, kudu diperhatikan apakah penyanyinya menutup aurat atau nggak. Sebab memandang aurat itu haram. Yah, missal kamu diundang kondangan trus ada penyanyinya, jangan asal menikmati merdu suaranya dan enak musiknya, tapi perhatikan apakah penyanyinya menutup aurat atau engga.</p>
<p>4. Even-nya. Maksudnya, di mana dan dalam kondisi apa kamu dengerin musik. Kalo di even macam konser yang terjadi campur baur laki perempuan misalkan, meski lagu dan syairnya bagus ya nggak boleh. Misal (mohon maaf) konsernya Bang Haji Rhoma Irama yang membawakan lagu-lagu dahwah, tapi audiennya campur-baur laki-perempuan. Atau kamu nyanyi-nyanyi sendiri lagu-lagu nasyid, tapi di kamar mandi, itu makhruh hukumnya.</p>
<p>5. Dampaknya. Walaupun sesuatu itu mubah, namun bila diduga kuat mengakibatkan hal-hal yang diharamkan seperti melalaikan shalat, kekerasan, perzinaan, dll, maka musik itu menjadi terlarang pula. Jadi pertimbangan apakah nanti kamu akan tenggelam dalam syair-syair lagu saat mendengarkan atau menyanyikannya, atau enggak. Jangan sampai pilih lagu yang membuat kamu terlena, malas-malasan atau malah melanggar hukum syara&#8217;. Coba kamu simak syair <em>Cemburu</em>-nya Dewa, ?Ingin kubunuh pacarmu,&#8230;&#8217; kan gawat? kalo sampe ditiruin. Bisa-bisa terjadi pertumpahan darah. Hiii&#8230;.syerem!<strong> [asri]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Maret 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/3m-muslimah-maniak-musik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muslimah Tomboy? No Way!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/muslimah-tomboy-no-way</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/muslimah-tomboy-no-way#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 02:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1947</guid>
		<description><![CDATA[Dunia emang udah jungkir balik. Cewek bergaya cowok jadi jamak. Sebaliknya, yang cowok berpenampilan cewek juga dianggap lumrah. Emang turunan?
Kamu tahu Rohaye kan? Itu tuh, tokoh di sinetron Kecil-Kecil Jadi Manten. Dandanannya maskulin abis. Udahlah kepalanya plontos, hobinya maen sepakbola lagi. Kelakuannya lebih-lebih, cowok aja kalah. Malah cowok-cowok pada keder ama si tomboy yang diperankan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Dunia emang udah jungkir balik. Cewek bergaya cowok jadi jamak. Sebaliknya, yang cowok berpenampilan cewek juga dianggap lumrah. </em><em>Emang turunan?</em></strong></p>
<p>Kamu tahu Rohaye kan? Itu tuh, tokoh di sinetron <em>Kecil-Kecil Jadi Manten</em>. Dandanannya maskulin abis. Udahlah kepalanya plontos, hobinya maen sepakbola lagi. Kelakuannya lebih-lebih, cowok aja kalah. Malah cowok-cowok pada keder ama si tomboy yang diperankan Sukma Ayu itu.</p>
<p>Hm, gimana kalo kamu punya temen kayak gitu? Hety, seorang karyawan swasta, punya pengalaman punya sohib tomboy, yakni saat kelas 2 SMU. Karena harus duduk sebangku, mau gak mau Hety deket terus ama tuh anak. ?&#8217;Rambutnya cepak, ngomongnya ceplas-ceplos, beranian ama siapa aja,&#8221; kenangnya. Hety inget banget, dirinya sering diajak mangkal di tempat biliar, maen basket, maen gaple dan bahkan mancing.<span id="more-1947"></span></p>
<p>Alih-alih menasihati, doi malah kebawa-bawa gaya temennya itu. ?&#8217;Iya, saya jadi terpengaruh dengan pergaulannya. Soalnya kebetulan saya gak punya sohib lain. Jadilah ke mana-mana saya pakai jeans, rambut dipotong cepak dan gaulnya kebanyakan ama anak-anak cowok,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Kebiasaan dandan maskulin itu kebawa-bawa ampe kuliah dan baru berhenti ketika diterima kerja. ?&#8217;Kebetulan di tempat kerja kudu pake seragam, jadi mau gak mau pake roklah,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Dian punya cerita lebih seru lagi. Cewek berkerudung ini dulu mengaku tomboy abis. Gara-garanya, Dian satu-satunya di tengah empat kakaknya yang laki-laki. ?&#8217;Sejak kecil maennya bareng kakak, mainannya juga mainan laki kayak mobilan atau main layangan,&#8221; kisahnya.</p>
<p>Bahkan, karena Dian bungsu, baju-baju kakaknya yang rata-rata kaos dan celana diwariskan semua ke dia. Walhasil sehari-hari Dian lebih suka -dan kepaksa juga seh&#8211; pakai celana pendek ama kaos. ?&#8217;Lebih simple, bisa bebas bergerak,&#8221; alasannya. Sampai SMU Dian nggak berubah. Dia paling cuek soal penampilan.</p>
<p>Untungnya sewaktu kuliah nggak lagi. ?&#8217;Kebetulan di kampus ketemu kakak kelas sedaerah yang pada pake kudung semua, ya udah insyaf,&#8221; katanya. Dari kakak kelasnya itu dia mengenal Islam dan akhirnya sedikit demi sedikit bisa ninggalin gaya tomboynya. ?&#8217;Nggak sulit kok, asal kitanya emang sungguh-sungguh pengin berubah,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Krisis Identitas</strong></p>
<p>Kenapa seh kok anak perempuan demen tampil tomboy? Jawabannya mungkin macem-macem. Misal karena pengaruh lingkungan. Yup, macam temen kamu Dian itu tuh. Karena sodaranya kebanyakan laki-laki, akhirnya gaya hidupnya kebawa kebiasaan laki-laki. Terutama soal penampilan, cara berpakaian dan berperilaku. Cewek yang berdandan ala laki-laki, biasanya kelakuannya juga nggak jauh beda ama dandanannya. Misal suka nongkrong, main gitar, suka olahraga yang hanya pantes buat kaum adam semisal silat, bahkan mungkin sepakbola.</p>
<p>Atau, boleh jadi karena sekolahnya di STM (Sekolah Teknik Menengah, sekarang SMK). Di situ muridnya mayoritas cowok, sehingga bila cewek sekolah di situ akhirnya kebawa kebiasaan mereka. Yup, karena pergaulannya ama anak laki-laki mulu, jadinya tomboy deh.</p>
<p>Bisa juga karena pengaruh pergaulan. Ya, kayak Hety di atas. Gaulnya ama anak-anak tomboy plus anak cowok, ya udah gampang banget kebawa gaya mereka. Bayangkan, kalo temen-temennya -yang tomboy- pada JJS (jalan-jalan sore) pakai jeans, masak dia pake rok sendiri? Pasti nggak bakal pede. Akhirnya ditirulah gaya temennya itu. Termasuk dandanan dan berbagai asesoris yang biasanya dipakai mereka, seperti topi, tas ransel atau tas pinggang, sepatu ket/bot, dll. Pokoknya gak ada feminine-femininnya, yang tampak justru maskulin.</p>
<p>Yang pasti seh, mereka-mereka yang pengin tampil beda dari kaumnya kebanyakan itu karena ingin menunjukkan jati dirinya. Ingin memiliki ciri khas dan tentunya membuat percaya diri. Nggak heran kalo kebanyakan yang melakukannya juga kalangan ABG yang konon katanya sedang dalam proses pencarian identitas diri. Dalam rangka ingin diakui eksistensinya sebagai ?orang dewasa&#8217;, akhirnya bikin dandanan yang nyleneh dari kebiasaan. Ya itu tadi, tomboy.</p>
<p>Penginnya seh, dengan dandanan yang unik, beda dari keumuman, lantas mampu menarik perhatian. Selain itu, juga pengin terlihat menonjol di tengah-tengah komunitas. Nah, karena tampak beda dan seolah diperhatikan inilah yang membuat mereka merasa eksistensinya diakui. Yah, kayak sinetron Kecil-kecil Jadi Manten itu, digemari karena ada tokohnya yang tampil beda. Makanya kalo si Rohaye gak muncul, jadi gak seru. So, bagi para aktivisnya, cewek tampil tomboy terkesan eksklusif, gitu lho!.</p>
<p><strong>Beda Tabiat</strong></p>
<p>Sayangnya, jati diri yang ditampilkan kayak gitu nggak dicontohkan di dalam Islam. Yup, nggak ada istilahnya muslimah tampil tomboy. Ingat Non, tampil beda dari tabiatnya sebagai wanita itu justru abnormal dan menentang tabiat. Tabiat kan cuma dua, tabiat laki-laki dan tabiat perempuan. Masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri. Maka jika ada laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan bergaya seperti laki-laki, ini berarti suatu sikap yang tidak normal dan meluncur ke bawah.</p>
<p>Secara biologis misalkan, pria dan wanita emang diciptakan beda. Penampilan fisik wanita jelas banget beda ama pria (nggak usah digambarkan, udah ngeh kan?). Fungsi biologis wanita seperti tamu bulanan, hamil, melahirkan dan menyusui jelas nggak tergantikan oleh makhluk yang namanya pria (apalagi yang banci, he..he..).</p>
<p>Soal pembawaan juga beda. Pria cenderung lebih kuat fisiknya, gagah, lebih tegar, tidak mudah menangis (meski bukan berarti nggak cengeng) dan bersifat selalu ingin melindungi. Sebaliknya, wanita cenderung lemah-lembut, perasa, bahkan mungkin cengeng (hayo, siapa suka menangis?) dan ingin dilindungi. Fakta seperti ini nggak bisa kita pungkiri, meski nggak semuanya begitu.</p>
<p>So, udah selayaknya sebagai kaum hawa, kita musti tampil feminin. Maksudnya jangan gagah-gagahan kayak cowok gitulah. Bahkan sebagai muslimah, mustinya peluang buat tampil tomboy tertutup sama sekali jika semuanya menerapkan aturan Islam. Gimana nggak, Islam sudah punya aturan sendiri yang bila ditaati akan membedakan dengan tegas antara kaum adam dan kaum hawa.? Apa aja tuh?</p>
<p>Allah SWT sudah menurunkan seperangkat aturan mengenai tata cara berpakaian yang dapat membedakan laki dan perempuan. Jilbab dan kerudung adalah pakaian khas wanita yang bisa membedakannya dengan pria. Sayangnya, justru saat ini marak mode pakaian yang bisa dipake kedua makhluk beda jenis kelamin itu. Coba aja celana jeans, modelnya gak beda jauh. Bisa buat laki, bisa buat perempuan. Coba, kalau semua muslimah itu pakai kerudung dan jilbab, pasti nggak bakalan ada akhwat yang tomboy kan?</p>
<p>Yang pasti kita kudu inget, Rasulullah saw pernah? mengumumkan, bahwa perempuan dilarang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki dilarang memakai pakaian perempuan. Disamping itu beliau melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Termasuk diantaranya, ialah tentang bicaranya, geraknya, cara berjalannya, pakaiannya, dan sebagainya.</p>
<p>Rasulullah saw pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambut oleh malaikat, diantaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan. Dan yang kedua, yaitu perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai orang laki-laki (Hadis Riwayat Thabarani).</p>
<p>Nggak heran bila Rasulullah saw melarang laki-laki memakai pakaian yang dicelup dengan <em>?ashfar</em> (zat warna berwarna kuning yang biasa dipakai untuk mencelup pakaian-pakaian wanita di zaman itu). Ali r.a. Mengatakan: <em>&#8220;Rasulullah saw pernah melarang aku memakai cincin emas dan pakaian sutera dan pakaian yang dicelup dengan ?ashfar&#8221;</em> (Hadis Riwayat Thabarani) Ibnu Umar pun pernah meriwayatkan: <em>&#8220;Bahwa Rasulullah s.a.w. Pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup dengan ?ashfar, maka sabda Nabi: ?Ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu jangan kamu pakai dia.?&#8221;</em></p>
<p>Bukan hanya itu, Allah SWT juga melarang kita bertasyabuh, yakni meniru kebiasaan kaum kafir. Yup, kebiasaan pake baju yang buka aurat, model celana atau baju kayak pria, itu karena kita sering mengikuti gaya hidup Barat. Model-model baju kayak gitu kan umumnya diimpor dari negeri kafir sana. Coba kalau kita pede dengan identitas kita sebagai muslimah sejati, dijamin peluang tomboy bakal tertutup rapat pat..pat..pat!</p>
<p>So guys, yang namanya laki-laki dan perempuan emang beda. Jadi nggak usah dibikin sama, bikin runyam! <strong>[</strong><strong>asri</strong><strong>]</strong></p>
<p style="text-align: left;">&#8212;</p>
<p>Boks/</p>
<h2><strong>Tomboy = Lesbian?</strong></h2>
<p>Sebagian orang mungkin memandang biasa anak perempuan yang dandan kayak anak cowok. Sebatas rambut cepak, ke mana-mana pakai celana, tas ransel, topi atawa punya hobi maen bola. Apalagi di zaman keterbukaan (aurat) saat ini, laki dan perempuan bedanya tipiiiiis banget.</p>
<p>Tapi nggak sedikit juga yang sinis plus aneh dalam memandang penampilan aktivis tomboy ini. Kadang ada yang memandang mereka sebagai ?anak nggak bener.&#8217; Suka bolos sekolah, nilai jeblok, salah gaul, suka berantem, dan sebagainya.? Cap seperti itu sering menempel pada aktivis tomboy karena dalam keseharian mereka memang selalu bikin ?ulah&#8217; yang beda dari keumuman temen-temennya. Tujuannya ya biar jadi perhatian.</p>
<p>Yang lebih gaswat, aktivis tomboy sering diidentikkan sebagai pelaku lesbian. Wachs? Begini ceritanya. Seorang aktivis tomboy, ketika ia berpenampilan, bertingkah laku dan bertuturkata seperti laki-laki, akhirnya kesan yang muncul lebih kuat kelelakiannya. Apalagi jika dia memang punya bodi tegap kayak laki-laki (ada lho akhwat yang begitu).</p>
<p>Ditambah gaulnya kebanyakan dengan laki-laki, akhirnya tidak muncul sama sekali perasaan suka sama lawan jenis (gharizah nau&#8217;). Sebab, bertemu dan berinteraksi dengan kaum adam sudah biasa, jadi nggak menarik lagi. Akhirnya, yang disuka justru sesama jenis. Makanya nggak heran kalo aktivis lesbian itu sering digambarkan berdandan tomboy. Ini kenyataan Non, bener deh!</p>
<p>Sama banget ama laki-laki yang kebanyakan gaul ama perempuan (misal tukang salon, perancang mode, dll), akhirnya? kebawa lemah-lembut kayak perempuan dan nggak ada ketertarikan secara biologis pada mereka. Iya, kan?</p>
<p>Yang pasti, mustinya kita bersyukur udah diciptakan sebagai makhluk bernama perempuan, cantik, indah dan sempurna (masih untung nggak dijadiin monyet, he..he..). Caranya bersyukurnya gimana? Tentu dengan menyadari kodrat kita sebagai perempuan yang memiliki naluri keibuan, kelemahlembutan, berperasaan halus, lembut, dll. Kemudian, menjalankan aturan Allah SWT terkait dengan hakikat kita sebagai perempuan seperti memakai busana muslimah, tidak berdandan ala laki-laki,? membina diri dengan tsaqofah Islam, khususnya hukum-hukum terkait dengan masalah perempuan, dan juga belajar keterampilan sebagai bekal menjadi istri dan ibu kelak. Yup, daripada capek maen bola atau main layangan, mendingan kan belajar menjahit. Lebih asyik lagi belajar memasak. Kalau sukses kan enak, kenyang lagi he..he&#8230;</p>
<p>Well, kalo kamu termasuk aktivis tomboy, ya udah, ganti kulit deh! Atau kalo punya temen tomboy, segera ingatkan untuk kembali ke fitrahnya. Ok! <strong>[asri]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Juni 2004]</em><br />
<strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/muslimah-tomboy-no-way/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
