Nek Karim
By: Jazimah al-Muhyi
“Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!”
Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.
“Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?”
“Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara….”
“Bunda…Bunda…jangan biarkan ini terjadi….Bunda….kita harus bertindak.”
“Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.”
Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.
Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk rumah sakit milik sebuah yayasan nasrani.
Kupandangi dengan sedih tubuh kurus Nek Karim dengan berbagai selang yang melilit. Mata Nek Karim yang mengatup, tak sedetik pun terbuka. Syukurlah, dengan begitu, Nek Karim tak perlu menatap salib yang tergantung tepat di depan ranjang, yang akan segera tertangkap penglihatan, andaikan mata tua itu terbuka. Hatiku menjerit. Nek Karim muslim, mengapa harus berada di ruangan ini? Mengapa benda itu harus tetap tergantung di hadapannya? (more…)
Noda Tak Kunjung Hilang
Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali.
Kehidupanku yang penuh dengan noda dimulai sejak aku masih SD. Diawali faktor keluarga serta lingkungan sekitarku yang kondusif dengan rokok, miras, dan drugs. Pada saat itulah aku memasuki lubang hitam perjalanan hidupku. SMP aku bertemu dengan teman-teman yang suka hura-hura dan nongkrong di mall. Setiap hari aktifitas kami hanya untuk senang-senang tanpa memikirkan halal dan haram apalagi dosa. Aku mulai bolos sekolah, berbohong, membuat tato, melawan orangtua dan guruku. Akibatnya aku tidak naik kelas. Melihat kondisiku yang berantakan, orangtua menarik aku keluar dari pergaulan di mall. Beberapa saat aku mengalami masa tenang. Kemudian aku kembali ke kehidupan liar dan berteman dengan pemakai ganja. Uang yang diberikan orangtua pun aku habiskan untuk membeli ganja dan minuman. Bahkan aku sampai mencuri ketika tidak punya uang untuk membeli ganja. Naik ke kelas 3 SMP, aku menjadi siswa yang arogan dan disegani. Sampai-sampai aku lulus sekolah tanpa memiliki teman. (more…)
Kritik Itu Tanda Peduli
Oleh Kang Hari Moekti
Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan siap dimuntahkan. Bagi kamu yang masih segan kepada sang pengkritik, biasanya cukup dinikmati dalam hati, tapi dengan segudang rasa kesal yang berkecamuk. Dan, bagi kamu yang kurang bisa memendam perasaan, biasanya langsung menumpahkan kekesalan itu dalam bentuk sumpah serapah dan makian.
Kalo kamu lagi enak-enak pacaran sama teman sekelasmu, tiba-tiba ada yang menegurmu, rasanya dongkol banget kan? Terus kamu jadi naik darah. Pengen rasanya ngamuk atau menyumpal mulut bawel teman kamu itu. Reaksi spontan mempertahankan diri adalah ciri khas orang yang sedang diserang. Meski kamu melakukan kesalahan, tapi rasanya nggak rela kalo dikritik begitu. Rasanya kok orang mau-maunya turut campur urusan orang lain. Padahal, urus saja diri sendiri. (more…)
Satu Hari Bersama Kimong
By: Iwan Januar
Buat banyak orang punya keponakan itu menyenangkan. Tapi barangkali juga nggak, buat sebagian yang lain. Hm, itu yang tahu kamu sendiri jawabannya. Tergantung kesiapan diri kamu dan juga…si keponakan sendiri; cute, imut atau amit-amit.
Itu yang bakal dialami Eri. Weekend yang rencananya diisi belanja buku baru jadi gagal gara-gara ia disuruh maminya ngejagain Kimong, anak tantenya. Ceritanya Paman Tono dan istrinya naik haji. Selama mereka berhaji, anak mereka si Kimong dititipkan ke nenek Eri. Cuma, khusus minggu ini, Mami Eri kebagian ngejagain Kimong. En, karena Mami dan Abi ada undangan pernikahan teman pengajian maka tugas itu jatuh ke tangan Eri. So, Eri pun manyun. Kalau saja nggak inget ini adalah amanah, lagian ngejaga keponakan sendiri, Eri milih lari sejauh-jauhnya. Eh, nggak ding takut kejauhan nanti keabisan ongkos repot deh.
Kimong sebenarnya lucu. Mukanya yang innocent alias kagak punya dosa bikin gemes siapa aja yang ngeliat. Apalagi Kimong udah pinter ngomong walau umurnya baru lima tahun. Cuma, buat Eri apa enaknya ngejagain anak kecil. Gimana kalo ngompol en ??, siapa yang nyebokin? Bersihin kandang burung jalak punya abi aja Eri jijay, apalagi nyebokin anak orang. Hueks! (more…)
Menjadi Daiyah, Kudu Lagi!
Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?
Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan married ama Pak Haji). Sekarang, kondisinya udah beda 180 derajat. Meski kaum berumur masih ada yang aktif berdakwah, tapi jumlahnya bisa dihitung, cukup dengan jari tangan plus jari kaki kamu. Sebaliknya, kini remaja-remaja seusia kamu Non yang lebih mendominasi aktivitas yang katanya bau surga itu.
Dalam menerjuni kancah dakwah, mereka punya motto “Hidup Mulia atau Mati Syahid”. Ada juga yang punya motto “Lebih baik Berdakwah daripada Didakwahi”. (Maksudnya, lebih baik memberitahu dulu daripada diomeli, kali ye). Yang lain punya motto “Bunga Dakwah“, artinya buku ngaji dan dakwah. Tentu saja mereka jauh dari aktivitas hura-hura, pesta dan cinta kayak generasi dugem. (more…)
Menumbuhkan Percaya Diri Anak
Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita?
Oleh Mohammad Fauzil Adhim*
Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, niscaya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut menghadapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali mengalami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.
Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah karena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya. (more…)
Surat Terakhir dari Ancone
By: Ria Fariana
Dear Friend,
Bagaimana kabarmu beserta keluarga, keponakan-keponakanmu yang lucu, dan teman-temanmu dalam Islam? Aku harap mereka semua baik-baik saja. Dan bagaimana pula dengan ujian akhirmu? Sebagaimana yang kau tulis di suratmu yang lalu tentang perasaan sedihmu akan meninggalkan masa-masa di Senior High yang penuh keakraban terutama dengan siswa-siswa baru yang mulai berkenalan dengan cahaya baru Islam yang kau bilang namanya hidayah. Aku ingat ketika kulontarkan kata-kata kebencian ketika aku mengetahui agamamu, dengan sabar kamu berusaha meluruskan persepsiku.
Ah….forget it friend. Aku malu bila mengingat apa yang sudah kutulis padamu. Padahal tahun pertama persahabatan kita begitu manis. Aku masih ingat ketika membuka e-mail pertama darimu di sebuah box surat dalam dunia maya. Kau ceritakan siapa dirimu, hobimu, dan dari mana kamu tahu e-mail addressku. Aku begitu terkesan dengan cerita-ceritamu tentang negeri dengan hawa tropis di sana, Indonesia. Kau ceritakan pula tentang kota tempat tinggalmu Surabaya, yang akan menjadi kota metropolitan kedua setelah ibu kota Jakarta. Kedatangan e-mailmu seakan-akan kiriman Tuhan dari langit karena begitu tepat momentnya, tatkala aku begitu butuh seorang teman untuk berbagi cerita. (more…)
Cowok Kok Girlish?
Tampang macho tapi dandanan feminin, malah centil. Bukan bencong, tapi ngakunya pejantan tangguh. Itulah cowok-cowok girlish. Sekedar mode, atau ada yang lain?
Tampang sih macho, tapi dandanan? Ya ampun girlish abis! Bajunya junkies, celana gombrang, ada juga yang nekat piercing anting di kuping. Belum lagi asesoris cewek macam ikat rambut. Kadang dipake buat ngiket rambut yang gondrong, atau dijadiin gelang di tangan. Kalau perlu rambut juga ditoning atau diwarnain. Pokoknya, girlish total!
Apa sih girlish?
Menurut Webster New Word Dictionary “girlish” itu adalah: of, like, or suitable to a girl or girlhood. Artinya, cowok yang berpenampilan ala cewek. Gaya macam gini nggak cuma didominasi para bencong alias abal-abal. Cowok-cowok yang normal juga suka berdandan girlish. Vokalis Slank, Kaka, misalkan dulu sering pake baju junkies, ketat, transparan macam cewek-cewek. Setali tiga uang ama Kaka adalah vokalis grup asal Bandung /rif. Kalau kamu simak penampilannya di layar kaca terkadang suka ditambah make up yang agak medok, termasuk lipstick. Gaya make up medok itu juga diperagakan oleh grup asal Inggris Duran Duran yang ngetop tahun 80-an. Sebelumnya ada penyanyi yang udah bangkotan, David Bowie tampil dengan gaya glam rock. Genit persis cewek-cewek. (more…)
Saat Menegangkan sebagai Orang tua
Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat syaraf kita menegang karena anak membangkang. Ada sebagian orangtua yang menangis karena merasa anaknya tak mengerti kemauan orangtua. Padahal sudah banyak diingatkan, dimarahi, bahkan dihukum.
Lonjakan tekanan emosi ini akan lebih menegangkan lagi ketika ada tamu datang ke rumah kita, sedang berbelanja di toko, atau saat melakukan perjalanan jauh bersama anak. Semenjak usia dua tahun, anak sepertinya tahu bahwa dalam situasi-situasi seperti itu kendali orangtua melemah. Ibu tak akan mengeluarkan teriakan yang menakutkan, bapak tidak mungkin berdiri mengacungkan tangan untuk memukul, seheboh apapun tingkah anak. Mereka tahu, orangtua kerap kali tak berdaya menghadapi tingkah anak–setidaknya selama tamu masih berada di rumah. (more…)
Dari Reruntuhan
By: Haekal Siregar
John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.
“Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?” canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.
“Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?” John masih bercanda.
“Entahlah,” jawab Michael pelan.
“Kamu masuk angin?” Jhon dengan mimik serius. Michael menggeleng kaku.
“Jhon, cerita penderitaan dan kehancuran di sini dalam waktu singkat akan memenuhi semua media cetak dunia. Kau yakin kita tidak mendapat berita basi?” John tercenung. Tidak ada stasiun televisi yang akan mau membayar mahal untuk cerita yang akan dimiliki semua orang. Kalau rencana liburan ke Hawaii masih mau dilanjutkan, mereka harus mencari sisi lain. Terlalu sayang pengorbanan mengarungi perairan yang baru terkena tsunami, bila hanya memperoleh sedikit imbalan. (more…)
« Previous Page — Next Page »
