<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Personality</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/pernik/personality/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kusir dan Keledai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 23:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[keledai]]></category>
		<category><![CDATA[kusir]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[pola hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2481</guid>
		<description><![CDATA[Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka
You are what you eat
You are what you drink
You are what you think
(Kamu adalah apa yang kamu makan
Kamu adalah apa yang kamu minum
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)
Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka</p>
<p><em>You are what you eat</em></p>
<p><em>You are what you drink</em></p>
<p><em>You are what you think</em></p>
<p><em>(Kamu adalah apa yang kamu makan</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu minum</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)</em></p>
<p>Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan diri, kitalah yang punya peranan. Apa yang kita makan dan minum secara alami atawa <em>sunnatullah</em>, pastinya punya efek buat badan kita. Orang yang terbiasa makan manis dan berlemak, badannya pasti gemuk dan rawan terkena penyakit gula. Mereka yang makan dengan teratur dan gizi yang cukup pastinya berpeluang besar untuk hidup lebih sehat.<span id="more-2481"></span></p>
<p>Percaya atau tidak yang mengendalikan badan kita adalah pikiran kita sendiri. Mau seperti apa badan kita, akal kita yang mengendalikannya. Nggak sedikit orang ngejalanin pola hidup kacau karena pikirannya memang nggak sehat. Contohnya teman-teman kita yang terjebak pada pergaulan nggak sehat, kebelit narkoba, dsb. Sebetulnya, mereka adalah orang-orang yang nggak mampu mengendalikan diri dari godaan lingkungan, teman-teman, dan hawa nafsu. Mereka lebih memilih hanyut dalam kebiasaan orang lain ketimbang berpikir panjang dan menimbang untung-rugi buat diri sendiri.</p>
<p>Untuk itulah Allah SWT. menciptakan buat kita akal, kemampuan berpikir, agar manusia bisa memilah dan memilih. Apa yang kita kerjakan memang sebaiknya dipikirkan dulu. Kita hidup nggak semata mengandalkan insting layaknya hewan. Tapi ada hal-hal yang harus direnungkan dengan serius, karena memang ada efek baliknya buat diri kita sendiri. Contohnya begadang itu asyik, tapi kalau tiap malam begadang nggak karuan, sementara kerjaan kita banyak kamu bisa tebak sendiri hasil akhirnya. Saat kita mau kerja badan malah ancur.</p>
<p>Tapi sobat, nggak cukup cuma ada akal, Allah juga menurunkan agama Islam ini buat pedoman hidup. Supaya kita tahu mana yang halal dan mana yang haram. Karena kenyataannya akal kita kemampuannya <em>cetek</em> banget. Nggak selamanya kita bisa milih yang baik dan buruk buat kita dari hasil pikiran kita sendiri. Banyak masalah yang kita perlu jawabannya dari orang lain, termasuk dari Zat Yang Menciptakan kita, Allah Rabbul &#8216;alamin. Dan kita juga harus yakin kalau sesuatu yang halal pastinya baik buat manusia, dan yang haram pastinya mudlarat/bahaya buat kita semua.</p>
<p>Sobat, ibarat pedati, tubuh kita adalah keledai sedangkan pikiran kita adalah kusirnya. Keledai berjalan selalu menuruti kehendak kusirnya. Kapan ia berbelok atau lurus, juga kapan ia berlari kencang atau berjalan lambat, semua terserah keinginan sang kusir. Jangan salahkan keledai kenapa ia salah berjalan, atau kenapa ia tidak mampu lagi berjalan. Kusirnyalah yang bertanggung jawab. Mungkin sang kusir lupa arah perjalanan, teledor dan mungkin ia tidak pernah memperlakukan keledainya dengan baik. Sang keledai tidak diberi makanan dan minuman yang baik, istirahat yang cukup, atau mungkin tidak pernah diberi perlakuan yang menyenangkan.</p>
<p>Maka seperti apakah perlakuan kita pada diri kita sendiri? Apakah badan kita selalu dicukupi dengan hal yang baik-baik, atau justru yang merusak. Juga, apakah badan kita selalu dihibur dengan hiburan yang baik atau justru dibiarkan selalu menderita dan kelelahan? Jauh-jauh hari Nabi kita Muhammad saw. mengingatkan akan pentingnya perawatan diri. Sabdanya</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya padamu ada kewajiban menunaikan hak atas tubuhmu&#8221;</em>(HR. Imam Bukhari).</p>
<p>Salah satu hak yang kita harus tunaikan adalah istirahat dan hiburan. Agama kita juga bukan agama yang mendewakan penyiksaan diri dengan dalih ibadah. Rasulullah saw. malah dikabarkan pernah marah pada sekelompok anak muda &#8216;ngotot&#8217; ingin beribadah. Salah satunya pengen puasa terus-terusan dan yang lainnya nggak pernah mau istirahat karena pengen ibadah sepanjang malam. Beliau marah bukan sekedar karena mereka mengada-ada, tapi juga karena mereka berarti melupakan hak buat badan mereka. &#8220;<em>Barangsiapa yang tidak menyukai sunahku maka bukan golonganku,&#8221;</em> nasihat beliau.</p>
<p>Jangan lupa, seperti halnya badan kita, hati dan pikiran pun membutuhkan hiburan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib <em>karamallahu wajhah</em> mengatakan, &#8220;Hiburlah hati waktu demi waktu, karena jika dipaksa ia menjadi buta.&#8221;</p>
<p>Ya, badan dan pikiran kitapun membutuhkan istirahat. Mengabaikan itu semua berarti melakukan kedzaliman pada diri kita.</p>
<p align="center">* * * * * *</p>
<p><em>Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat</em>. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Kekuatan tubuh justru ditentukan oleh kekuatan jiwa, oleh pikiran kita. Jiwa dan tubuh yang kuat lahir dari pikiran yang sehat. Misalnya selalu? berpikiran positif, optimistis, tidak mudah cemas apalagi pesimistis, selalu curiga, dsb. Dalam dunia kedokteran modern kini sudah ditemukan hubungan antara kesehatan fisik dengan kesehatan mental. Ternyata kesehatan mental memberikan pengaruh yang sangat besar pada kesehatan tubuh. Mereka yang selalu cemas biasanya rentan terkena berbagai penyakit, seperti gangguan jantung.</p>
<p>Pikiran yang sehat hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa dekat pada Allah dan membina diri dengan berbagai pemahaman agama. Coba kita lihat, agama kita, Islam, senantiasa mengajak pemeluknya untuk memiliki aneka pikiran positif: husnudzan, optimisme dan penuh harapan, serta pasrah dan ikhlas atas segala ketentuan Allah. Bukankah itu sebagian dari pikiran-pikiran yang baik?</p>
<p>Maka kendali diri itu adalah memperkaya akal dan hati kita dengan pemahaman agama. Ruang akal dan hati yang diisi dengan pemahaman agama akan membentuk karakter dan tubuh yang kuat. Kebiasaan makan, minum, cara berpakaian, dan perilaku kita amat erat dengan pola pikir kita. Hanya orang-orang yang kaya dengan pemahaman agama-lah yang akan mendapatkan kemuliaan dan kebaikan. Dari agama kita jadi tahu misalkan, bahwa minuman keras berpotensi merusak kesehatan jantung, ginjal dan syaraf manusia. Demikian pula narkoba. Sementara itu makan dan minum yang berlebihan juga membuat organ-organ pencernaan kita bekerja tidak normal sehingga dapat mengganggu kesehatannya.</p>
<p>Sesungguhnya kekuatan pikiran amatlah dahsyat. Sebuah penelitian di Brookhaven National Laboratory Uptown New York, menemukan jawaban mengapa orang gemuk makan lebih banyak. Yakni karena otak mereka, khususnya bagian yang mengatur rasa nikmat makanan pada mulut, lidah dan bibir, lebih aktif serta sensitif merasakan nikmatnya makan lebih dibanding orang yang kurus. Bisa disimpulkan bahwa pikiran berpengaruh luar biasa pada pola makan seseorang. Jadi, sebelum orang melakukan berbagai diet atau mengkonsumsi makanan non-kolesterol dan obat-obat pelangsing lainnya, mereka terlebih dahulu harus mengendalikan pikiran mereka soal makanan.</p>
<p>Di bulan puasa inilah kesempatan kita untuk melatih pikiran dan mengendalikan diri kita. Karena puasa seperti kata Rasulullah adalah perisai diri, puasa melatih kekuatan pikiran kita dari makan, minum bahkan berbagai akhlak yang tercela. Inilah saatnya sang kusir melatih keledainya agar dapat bekerja sebaik-baiknya. Agar perjalanan mereka berdua selamat sampai tujuan. Maka, sobat, kendalikan tubuh kita dengan pikiran kita. Jadikan badan kita sebagai sebaik-baiknya tunggangan, dan perlakukan ia dengan adil sesuai haknya.[januar]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi pekan kedua Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencuri Terburuk</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 18:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[buruk]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pencuri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.
Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.</p>
<p dir="ltr">Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, seperti jam tangan, ponsel atau motor. Sulit rasanya untuk percaya dan menerima kenyataan kalau barang-barang itu sudah raib. Ludes disikat maling. Tapi, biasanya luka itu akan segera hilang karena memang kita sadar barang-barang itu sudah tidak ada di depan mata dan lenyap dari genggaman tangan kita.</p>
<p dir="ltr">Nah, berbohong berarti mengelabui orang lain, memanipulasi sesuatu, membuat orang lain percaya pada sesuatu yang tidak ada. Itu bisa terjadi untuk waktu sehari, dua hari atau malah seumur hidup. Orang yang dibohongi nggak sadar kalau ia telah kehilangan sesuatu, yakni kepercayaannya. Bila seorang pembohong mendapatkan kepercayaan dari orang yang berhasil dikelabuinya, maka si pembohong bukan saja mendapat simpati, tapi juga harta, kehormatan, dan apa saja yang ia inginkan. Inilah pencurian yang paling menyakitkan dan menyebalkan.<span id="more-2486"></span></p>
<p dir="ltr">Katakanlah, ada seorang anak yang berbohong pada orang tuanya kalau ia ditunjuk oleh gurunya menjadi anggota tim basket sekolah untuk sebuah kompetisi, ortunya mungkin akan bangga. Berikutnya, saat sang anak minta dibelikan sepatu yang baru &#8211; untuk berlatih dan bertanding &#8211;. Ortu yang sudah kepalang bangga dan sayang pada sang anak pasti berusaha membelikannya. Begitupula ketika sang anak minta tambahan uang jajan dengan alasan pergi berlatih dan bertanding, lagi-lagi orang tua akan mengabulkan. Jadi, sudahlah sang anak &#8211; yang berbohong itu &#8211; mendapatkan kebanggaan dari orang tua, masih mendapatkan sepatu baru dan juga tambahan uang jajan. Maka, kamu bisa paham kan kenapa sampai ada ahli hikmah yang mengatakan bahwa berbohong jauh lebih buruk dari mencuri?</p>
<p dir="ltr">Dalam kehidupan, banyak alasan kenapa orang mau berbohong; untuk ketenaran, untuk kekayaan, atau untuk keselamatan dirinya. Beberapa tahun silam, ada duo rapper yang punya nama grup Milli Vanilli. Lagu-lagu mereka macam <em>Girl You Know It&#8217;s True</em> dan <em>Ma Baker</em> jadi jawara di sejumlah tangga lagu mancanegara. Album mereka laris dan diganjar sejumlah penghargaan. Ternyata, terbukti kemudian kalau mereka berdua bukanlah penyanyi sebenarnya. Mereka cuma <em>lipsync</em>. Ini contoh kebohongan untuk mendapatkan ketenaran dan juga kekayaan.</p>
<p dir="ltr">Ada kebohongan untuk menyelamatkan diri. Seorang pencuri kambing yang tertangkap basah sedang menuntun kambing curiannya bisa dengan mudah <em>ngeles</em>, menghindar dari tuduhan mencuri. <em>&#8220;Ini bukan pencurian. Saya hanya mungut tali, tahu-tahu ada kambing yang mengikuti dari belakang.&#8221;</em> Bahkan, pada zaman khalifah Umar bin Khaththab ra. seorang pencuri dengan berani berbohong atas nama Allah. <em>&#8220;Aku mencuri atas takdir Allah,&#8221;</em> katanya pada hakim. Akhirnya pengadilan menghukum pencuri itu dengan jilid dan potong tangan. Hukuman potong tangan untuk kasus pencuriannya yang mencapai batas ? dinar, dan sanksi jilid untuk kebohongan atas nama Allah.</p>
<p dir="ltr">Dan, ada juga kebohongan untuk alasan ideologis. Untuk menyesatkan orang. Darwin dan para pengikutnya bisa jadi contoh. Untuk membuat orang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, berbagai khayalan mereka buat dengan sebutan teori ilmiah. Teori <em>generatio spontaneae</em>, evolusi, dsb.</p>
<p dir="ltr">Untuk membuat orang sedunia percaya bahwa Islam dan kaum Muslimin adalah ancaman, orang-orang kafir melatih berbagai milisi bersenjata yang terdiri dari orang-orang Islam. Al Qaida, salah satunya. Itu mereka lakukan untuk memadamkan cahaya Islam yang mulia.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah, padahal Allah menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir membencinya.&#8221;</em>(Ash Shaf [61]:8).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">* * * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong adalah perbuatan yang akan mengotori lidah, pikiran dan jiwa kita. Bahkan kebohongan dapat merusak kehidupan manusia. Pantas, kalau berbohong diharamkan oleh agama. Sabda Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Sesungguhnya kejujuran itu memberikan petunjuk pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu memberikan petunjuk pada surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ia menjadi orang yang shiddiq. Sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan menunjukkan pada neraka, dan sesungguhnya seseorang berbuat dusta sampai ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Jangan main-main, berdusta juga satu tanda kemunafikan. Kata Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sama sekali tidak ada kebaikan dalam kebohongan. Allah dan Rasul mencelanya, sementara manusia membencinya.</p>
<p dir="ltr">Memang ada berbohong yang dibolehkan oleh agama. Ini, yang sering dibilang oleh kita sebagai kebohongan putih (<em>white lies</em>). Ada tiga perkara dimana seorang muslim halal berbohong pada keadaan tersebut. Kata Rasulullah saw.:</p>
<p dir="rtl">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tidak halal berdusta kecuali dalam tiga perkara; seorang suami yang berkata pada istrinya agar ia ridlo, dusta dalam peperangan, dan dusta untuk memperbaiki hubungan di antara manusia,&#8221;</em>(HR. Turmudzi).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong juga ibarat candu. Orang yang pernah melakukannya biasanya ketagihan untuk mengulanginya. Apalagi kalau kebohongan itu memberikan apa yang mereka inginkan. Pikir para pembohong, kalau dulu saya berhasil, kali ini juga pasti bisa.</p>
<p dir="ltr">Selain karena ketagihan, mereka yang pernah berbohong juga akan &#8216;dipaksa&#8217; melakukan kebohongan babak berikutnya. Sebuah nasihat mengatakan, <em>&#8220;Siapa yang pernah melakukan kebohongan, maka bersiaplah melakukan kebohongan berikutnya.&#8221;</em> Ya, seorang pembohong membutuhkan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang lama. Agar tidak dikuak kebenaran ceritanya, maka seorang pembohong mau tidak mau akan terus berbohong.</p>
<p dir="ltr">Maka berbohong juga menciptakan ketakutan. Coba kita pikir, pembohong mana yang senang terbongkar kebohongannya? Otomatis, seorang pembohong akan hidup dalam kecemasan dan jauh dari rasa nyaman. Setiap saat ketakutan kalau-kalau kebohongannya terbongkar. Ia sadar, bila itu terjadi, bisa-bisa seumur hidup orang tak percaya. <em>Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya</em>.</p>
<p dir="ltr">Terakhir, para pembohong semestinya sadar, secanggih apapun mereka membual, menyebarkan kepalsuan, sebenarnya mereka sedang menipu diri sendiri. Kenyataannya tetap saja mereka tidak bisa menipu Allah SWT. Dialah yang bakal membongkar segala kepalsuan. Cepat atau lambat.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8221; Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.&#8221;</em>(Al Baqarah [2]:9). <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi Februarui-Maret 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Itu Tanda Peduli</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 21:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kritik]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2557</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Moekti
Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Moekti</strong></p>
<p>Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan siap dimuntahkan. Bagi kamu yang masih segan kepada sang pengkritik, biasanya cukup dinikmati dalam hati, tapi dengan segudang rasa kesal yang berkecamuk. Dan, bagi kamu yang kurang bisa memendam perasaan, biasanya langsung menumpahkan kekesalan itu dalam bentuk sumpah serapah dan makian.</p>
<p>Kalo kamu lagi enak-enak pacaran sama teman sekelasmu, tiba-tiba ada yang menegurmu, rasanya dongkol banget kan? Terus kamu jadi naik darah. Pengen rasanya ngamuk atau menyumpal mulut bawel teman kamu itu. Reaksi spontan mempertahankan diri adalah ciri khas orang yang sedang diserang. Meski kamu melakukan kesalahan, tapi rasanya nggak rela kalo dikritik begitu. Rasanya kok orang mau-maunya turut campur urusan orang lain. Padahal, urus saja diri sendiri.<span id="more-2557"></span></p>
<p>Sobat muda, kalo ngikutin hawa nafsu kita, memang dikritik itu menyakitkan dan bikin bete. Tapi inget lho, bahwa kritik itu justru bisa mendewasakan kita. Bukan apa-apa, kita kan hidup berdampingan dengan orang lain. Itu artinya, kita kudu rela untuk dilihat dan dinilai oleh orang lain. Penilaian itu bisa baik, bisa juga jelek. Bergantung bagaimana kita bersikap dalam lingkungan tempat kita tinggal. Itu sebabnya, menjadi wajar kalo ada yang kritik, karena biasanya akan mengevaluasi kita. Orang yang kebal kritik, nampaknya sulit untuk peduli dan menghargai orang lain.</p>
<p>Dakwah, bisa dibilang sebagai &#8216;kritik&#8217;. Ketika kita melakukan <em>amar ma&#8217;ruf</em>, alias menyuruh kepada kebaikan, ada saja orang yang sulit untuk diajak. Padahal, itu adalah salah satu bentuk kepedulian kita. Apalagi ketika kita melakukan <em>nahyi munkar</em> (melarang kemungkaran), rasanya makin sulit kita lakukan. Selain, harus mengalahkan rasa takut dalam diri kita karena khawatir yang akan dinasihati itu marah, juga kita kudu siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi, misalnya menghadapi ancaman mereka.</p>
<p>Ketika saya menyampaikan ceramah atau tabligh akbar, saya nggak segan untuk menyampaikan ajaran Islam sebagaimana adanya. Itu sebabnya, adakalanya orang kemudian menganggap saya &#8216;radikal&#8217;, tukang kritik pedas dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, itu bukan persoalan. Sebab, saya melakukan itu karena saya peduli dengan suadara-saudara muslim lainnya. Kalo saya diem saja ketika ada teman yang melakukan maksiat, itu tandanya saya tak peduli. Dan, kritik memang bisa dilakukan dengan halus, bisa juga dengan tegas (mungkin sebagian orang kemudian menganggapnya keras).</p>
<p>Jadi, pandanglah kritik itu sebagai bentuk kepedulian saudara kita kepada kita. Meski terasa pahit, tapi nikmati sebagai sebuah anugerah terindah yang kita miliki. Karena ternyata masih ada orang yang mau peduli dengan kita. Andaikan saja tidak ada orang yang mengomentari kita, maka kita tidak akan pernah bisa mengevaluasi diri. Jadi orang yang mengkritik adalah &#8216;polisi&#8217; bagi kita. Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Demi massa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.&#8221;</em> <strong>(TQS al-Ashr [103]: 1-3)</strong>[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi April 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyambung Tali Kasih</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 20:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[hari mukti]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2560</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Moekti
Menjadi bagian dari sebuah keluarga besar memang menyenangkan, tapi sekaligus bikin kita ketar-ketir. Kenapa? Karena hubungan di antara anggota keluarga akan semakin kompleks. Hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang bernama keluarga juga bisa menciptakan benih-benih konflik. Ini sangat wajar mengingat anggota keluarga yang banyak dan beragam pendapat. Namun, bukan berarti hal itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Moekti</strong></p>
<p>Menjadi bagian dari sebuah keluarga besar memang menyenangkan, tapi sekaligus bikin kita ketar-ketir. Kenapa? Karena hubungan di antara anggota keluarga akan semakin kompleks. Hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang bernama keluarga juga bisa menciptakan benih-benih konflik. Ini sangat wajar mengingat anggota keluarga yang banyak dan beragam pendapat. Namun, bukan berarti hal itu tak bisa dikendalikan. Pendapat dan keinginan boleh berbeda selama hal itu masih dalam batas kewajaran dan bisa dipertanggungjawabkan. Tapi hubungan kekeluargaan atau silaturahmi harus tetap terjalin.</p>
<p>Sangat boleh jadi, dalam kondisi tertentu, muncul konflik. Tapi yakinlah, munculnya konflik itu adalah hal yang amat wajar. Bahkan bisa semakin mendewasakan kita dalam bersikap. Kita diuji untuk menyelesaikan setiap konflik yang terjadi dengan bijak. Tidak membela salah satu, atau menjerumuskan yang lain. Karena tujuan kita adalah melanggengkan ikatan tali kasih di antara keluarga.<span id="more-2560"></span></p>
<p>Saya pernah mengalami masa-masa yang amat sulit dalam hubungan dengan keluarga. Dan saya kira semua keluarga pernah merasakan hal ini. Entah itu konflik antara anak dengan orangtua, kakak dengan adik, antara orangtua kita dengan paman, kakek, nenek, bahkan mungkin menantu dan mertua. Semua hubungan itu bisa menumbuhkan benih-benih konflik. Saya dengan saudara pernah tak harmonis. Itu terjadi karena perbedaan pendapat dan keinginan. Ini sangat berbahaya jika dikompori pihak ketiga. Untungnya, hubungan &#8216;panas&#8217; itu tak berlangsung lama, dan memang saya tidak menginginkan untuk terus terjadi. Sayangnya, dalam kondisi seperti itu kadang di antara kita rada segan jika harus lebih dahulu minta maaf. Akhirnya, masing-masing &#8216;bertahan&#8217; dalam pendapatnya. Apa nggak ada jalan untuk mencari titik temu?</p>
<p>Tapi yang saya lakukan, dalam kondisi seperti itu, adalah memulai untuk mendekati. Agak sulit jika masing-masing diam. Memulainya berat memang, tapi saya tetap mencobanya. Misalnya dengan sekadar menelepon atau kirim-kirim SMS. Jika masih belum cukup ada respon, saya coba mengirimi hadiah, bahkan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Yang terjadi saat itu, kebetulan anaknya sakit, jadi saya ada alasan untuk menengok. Ternyata, dengan pendekatan yang proaktif dari kita itu bisa menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan. Jadi intinya kita sendiri kudu ngambil inisiatif lebih dulu. Mungkin ini mempraktikkan teori jemput bola, bukan menunggu bola.</p>
<p>Hasilnya, alhamdulillah tali kasih antara keluarga yang tadinya hampir putus terjalin kembali. Ternyata memang, hubungan dengan keluarga itu seperti benci tapi rindu. Kadang kita benci dengan sikap seseorang atau sebagian saudara kita, tapi kita juga rindu jika tak pernah bicara, tak pernah bertemu. Itu pula yang pernah saya rasakan. Saat terjadi konflik, biasanya malas bicara dan malas bertemu. Tapi, setelah kita coba untuk menyambungkan tali kasih itu, kerinduan itu serta-merta memenuhi suasana hati masing-masing.</p>
<p>Sobat pembaca, tali silaturahmi di antara keluarga kita harus tetap terjalin. Allah menyukai orang-orang yang memperkokoh hubungan di antara keluarga. Jadi, tak ada alasan untuk konflik berkepanjangan tanpa akhir dengan keluarga. Apalagi kita sudah dibina dengan ajaran Islam yang memang mengatur masalah ini.[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Februari-Maret 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengarkanlah!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dengarkanlah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dengarkanlah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 21:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[dengarkanlah]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/dengarkanlah/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai mahluk bertulang belakang (vertebrata), manusia juga dikaruniai telinga. Dan sebagai mahluk mamalia, telinga manusia tergolong jenis yang kompleks. Seperti yang pernah kita dapat dari pelajaran biologi, telinga kita terbagi atas; telinga luar, tengah, dan dalam. Pada telinga, Allah dengan kuasaNya menciptakan beragam komponen yang membuat kita bisa menangkap aneka suara. Daun telinga kita yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai mahluk bertulang belakang (vertebrata), manusia juga dikaruniai telinga. Dan sebagai mahluk mamalia, telinga manusia tergolong jenis yang kompleks. Seperti yang pernah kita dapat dari pelajaran biologi, telinga kita terbagi atas; telinga luar, tengah, dan dalam. Pada telinga, Allah dengan kuasaNya menciptakan beragam komponen yang membuat kita bisa menangkap aneka suara. Daun telinga kita yang terbuat dari tulang rawan membantu pengumpulan suara, kemudian getaran gendang telinga mengirimkan sinyal pada organ-organ yang lain untuk diantarkan kepada otak. Manusia, umumnya mampu menangkap 15 hingga 18,000 gelombang perdetiknya dan pada frekuensi 15 Hz to 20,000 Hz.</p>
<p>Fungsi telinga memang untuk mendengar, meski memang juga menambah keindahan kepala dan wajah kita. Bayangkan kalau telinga manusia selebar milik gajah atau sepanjang telinga kelinci, atau seperti telinga Mr. Spock dalam serial Startrek. Dengan bentuk yang seperti sekarang wajah kita terlihat proporsional, tanpa cacat dan cela.<span id="more-574"></span></p>
<p>Tapi, keindahan telinga tak ada artinya jika telinga tak berfungsi untuk mendengar, atau tak dipakai untuk mendengar. Yang pertama, adalah gangguan kesehatan dan itu adalah takdir Allah, tapi yang kedua lebih karena kita tak mau mendengar omongan orang lain. Kita tidak mau memakai telinga kita untuk menyimak perkataan orang lain tentang diri kita. Kalau pun mendengar, kita hanya pura-pura mendengar. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri, kata pepatah. Meski itu masih lebih baik ketimbang sama sekali tak mau mendengarkan.</p>
<p>Ada sebagian orang yang bilang, kalau mau maju jangan dengarkan omongan orang lain. Kata mereka, itu adalah tanda percaya diri. Nasihat itu perlu diluruskan. Yang benar adalah jangan dengarkan omongan yang salah, tapi dengarkan omongan yang baik. Jika kita sama sekali menutup diri dari mendengarkan omongan orang lain, bukan tidak mungkin kita sendiri bisa merugi. Lagipula, kadangkala omongan yang berhikmah dan penuh kebaikan itu datang dari mulut orang yang tak pernah kita sangka-sangka. Kata Nabi saw.: “<em>Ambillah hikmah yang kamu dengar dari siapa saja, sebab hikmah terkadang diucapkan bukan oleh orang yang bijak. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?</em>”(<strong>HR al Askari</strong>)</p>
<p>Pernahkah kita berpikir bahwa menjadi pendengar yang baik itu gampang-gampang susah? Mudahnya kita hanya tinggal duduk dan tidak usah berkata apa-apa, membiarkan orang lain berbicara. Susahnya, kita harus menjaga keikhlasan dan kesabaran dalam mendengarkan.</p>
<p>Sayang, kita seringkali berpikir bahwa mendengarkan itu adalah pekerjaan yang mudah. Simpel. Saking simpelnya, kita tidak tahu caranya menjadi pendengar yang baik. Dalam berbagai pelatihan motivasi diri atau kepemimpinan lebih sering diajarkan untuk menjadi pembicara yang baik atau pemimpin yang baik. Atau tips percaya diri dengan menjadi ‘kebal’ dari omongan orang lain. Belum ada materi dan pelatihan khusus untuk menjadi a good listener.</p>
<p>Padahal, apapun cita-cita yang kita kejar, semuanya diawali dari mendengar. Menjadi seorang pelajar yang baik harus mau mendengarkan omongan gurunya. Menjadi seorang pemimpin yang baik, juga harus mau mendengarkan orang lain. Jadi orang tua yang baik? Ya harus mau mendengarkan omongan orang lain, termasuk anak-anak mereka. Tidak salah kalau “Man ahsanal istima’, ta’ajjalal intifa &#8211;Siapa yang paling baik mendengarkan, dia akan cepat mendapatkan manfaat” kata sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Maka fungsikanlah telinga kita untuk mendengar dan menyimak perkataan yang baik, karena untuk itulah ia diciptakan. [<em>januar</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dengarkanlah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korupsi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/korupsi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/korupsi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 21:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/korupsi/</guid>
		<description><![CDATA[Ekonom dan politikus Dr Sjahrir pernah menyebutkan bahwa korupsi di negeri kita ini sama dengan penyakit kanker stadium empat. Berarti penyakit itu tidak mungkin lagi diobati atau disembuhkan. Si pasien tinggal menghitung hari sambil menanti keajaiban.
Sekarang gonjang-ganjing korupsi melanda KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai buntut dari penyuapan kepada petugas audit BPK dan pengadaan dana taktis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ekonom dan politikus Dr Sjahrir pernah menyebutkan bahwa korupsi di negeri kita ini sama dengan penyakit kanker stadium empat. Berarti penyakit itu tidak mungkin lagi diobati atau disembuhkan. Si pasien tinggal menghitung hari sambil menanti keajaiban.</p>
<p>Sekarang gonjang-ganjing korupsi melanda KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai buntut dari penyuapan kepada petugas audit BPK dan pengadaan dana taktis yang dipungut “secara sukarela” kepada para rekanan KPU. Dana taktis itu jumlahnya cukup besar, Rp 20 miliar dan penggunaannya diketahui semua anggota KPU.<span id="more-603"></span></p>
<p>Mengikuti episode cerita korupsi di tubuh KPU mirip dengan nonton film silat Mandarin yang tokohnya kian banyak dan ceritanya kian “njlimet” setelah berjalan sekian lama. Tapi, juga semakin asyik. Lain halnya dengan kasus korupsi, makin lama tak diselesaikan, malah makin pusing. Entah mungkin bulan Juni ketika majalah ini terbit kasusnya sudah berakhir. Tapi yang pasti, kasus korupsi di tubuh KPU kian menambah daftar panjang kasus sejenisnya yang juga tak kalah dahsyat dari segi jumlah uang yang ditilep. Sekaligus tak bisa terungkap dengan sempurna dan sedikit sekali menyeret pelakunya ke ruangan berjeruji besi. Memprihatinkan memang.</p>
<p>Korupsi seperti sudah menjadi budaya. Penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain ini sudah mendarah-daging dan berurat-akar di masyarakat kita. Jangankan di tubuh lembaga negara atau perusahaan besar yang bisa jadi jumlah uang yang dikorupsi juga tak tanggung-tanggung gedenya, di kalangan awam saja sudah terjadi secara rutin.</p>
<p>Seorang kenalan malah bercerita bahwa di sebuah instansi pemerintah di Bogor ada karyawan yang diminta membeli map tapi malah “main-main”. Maklum, karena mengajak beberapa pegawai lain untuk ramai-ramai belanja map ke Jakarta. Padahal, map jenis itu bisa dibeli di toko buku terdekat, dan jumlahnya juga cuma 10 eksemplar, bukan ribuan, gitu lho. Mungkin, selain ingin jalan-jalan (yang berarti itu mengkorupsi waktu bekerja), juga mengambil jatah uang makan jika ada tugas luar kota. Ini baru satu kasus, entah ribuan, atau bahkan jutaan kasus lain yang sudah biasa terjadi dan “dimaafkan” alias dianggap jamak.</p>
<p>Pak SBY saja belum mampu menunaikan janjinya sejak diangkat jadi presiden sejak delapan bulan lalu untuk memberantas korupsi yang sudah seperti wabah ini. Memang tak mudah jika cuma fokus kepada penangkapan para pelaku korupsinya saja. Sementara sistem yang memberi peluang (yakni kapitalisme) untuk terjadinya kasus korupsi malah dipelihara. Karena apa? Karena menurut sosiolog aliran strukturalis macam Durkheim, “Individu tak bisa diubah kecuali dengan mengubah sistem yang berlaku dalam lingkungan itu”.</p>
<p>Islam, sudah menawarkan sejak dulu tentang konsep kesejahteraan, keadilan, dan sanksi bagi pelaku kedzaliman. Sebagai sebuah ideologi, Islam tak hanya mengabarkan nikmatnya surga bagi mereka yang gemar mengumpulkan pahala dan kerasnya siksa neraka bagi pelaku kemaksiatan, tapi juga ada aturan riil yang dilakukan di dunia. Khilafah Islamiyah akan memberikan hukuman yang pantas bagi semua pelaku kemaksiatan (termasuk pejabat dan keluarga pejabat) sebagaimana sabda Rasulullah saw. : &#8220;Andaikan Fatimah, anak perempuan Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.&#8221; (HR an-Nasai nomor 4814 dalam kitab Qath&#8217;u as-Sariq)</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, masihkah kita berharap kepada kapitalisme untuk menyelesaikan masalah korupsi dan masalah lainnya? Sebaiknya berhenti berharap.[januar] | <em>pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/korupsi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita yang selalu berharap</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kita-yang-selalu-berharap</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kita-yang-selalu-berharap#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 21:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2684</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Teman-teman, kita selalu berharap agar kita mendapat kebaikan. Tapi, pernahkah kita berbuat baik? Kita selalu berharap mendapat kebahagiaan. Tapi pernahkah kita membahagiakan orang lain? Kita juga nyaris selalu berharap mendapatkan perhatian, tapi pernahkah kita juga memperhatikan orang lain?
Mungkin dari ketiga pertanyaan ini ada jawaban yang beragam dari teman-teman. Jawaban &#8220;ya&#8221; yang beragam, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</p>
<p>Teman-teman, kita selalu berharap agar kita mendapat kebaikan. Tapi, pernahkah kita berbuat baik? Kita selalu berharap mendapat kebahagiaan. Tapi pernahkah kita membahagiakan orang lain? Kita juga nyaris selalu berharap mendapatkan perhatian, tapi pernahkah kita juga memperhatikan orang lain?</p>
<p>Mungkin dari ketiga pertanyaan ini ada jawaban yang beragam dari teman-teman. Jawaban &#8220;ya&#8221; yang beragam, dan begitupun jawaban &#8220;tidak&#8221; yang beragam.</p>
<p>Kita mulai dari jawaban &#8220;ya&#8221;. Ya, kita selalu berharap mendapat kebaikan, dan kita juga senantiasa berbuat baik. Syukurlah kalo memang demikian adanya. Ada lagi jawaban lainnya; selalu berharap tapi lemah berbuat. Kita senantiasa ingin mendapat kebaikan, tapi lemah dalam berbuat baik. Jadi, apa pantas kita selalu berharap mendapat kebaikan, sementara kita jarang berbuat baik? Mungkin juga ada yang lemah berharap, pun lemah berbuat. Ini agak menyedihkan, karena berharap mendapat kebaikan saja jarang, pun kurang dalam berbuat baik. Dari ketiga jenis jawaban itu yang tahu hanyalah yang bersangkutan dan Allah Swt. Ya, kita bisa interospeksi diri.<span id="more-2684"></span></p>
<p>Bagaimana dengan jawaban &#8220;tidak&#8221;? Ya, ini juga beragam. Ada yang tidak pernah berharap mendapat kebaikan, tapi selalu berbuat baik. Dirinya semata memberikan apa yang dimilikinya untuk kebaikan orang lain, meskipun ia sendiri tak terlalu berharap mendapat kebaikan. Ada juga yang tidak berharap mendapat kebaikan, karena dirinya tak pernah berbuat kebaikan. Ini mungkin karena merasa sama-sama tidak berharap. Jadi, impas saja. Tak berharap karena tak pernah berbuat. Mungkin juga ada jawaban lainnya, selalu berharap meskipun tidak pernah buat. Wow, ini namanya &#8220;pinter kodek&#8221; dalam istilah bahasa Sunda. Artinya ingin menang sendiri, ingin senang sendiri. Selalu berharap mendapat kebaikan, tapi tak pernah merasa untuk berbuat baik. Dari ketiga jawaban ini, tentu saja yang tahu pasti hanyalah yang bersangkutan dan Allah Swt.</p>
<p>Teman-teman, silakan Anda mencocokkan dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Tapi kita berharap semoga saja kita termasuk orang yang pandai bersyukur, pandai berbuat baik, pandai bersabar. Bukan semata pandai berharap tapi tak pernah berbuat.</p>
<p>Jika kita hubungkan dengan apa yang kita minta dan harapkan kepada Allah Swt. dengan apa yang kita perbuat untuk Allah Swt., rasanya kita pantas untuk merenung. Ya, saya jadi teringat al-Quran, ayat 186 dari surat al-Baqarah (yang artinya): &#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.&#8221;</p>
<p>Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi saw. yang bertanya: &#8220;Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeruNya?&#8221; Nabi saw. terdiam, hingga turunlah ayat ini (QS. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu.<br />
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu&#8217;awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya.)</p>
<p>Menurut riwayat lain, ayat ini (QS. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi saw.: &#8220;Dimanakah Tuhan kita?&#8221;<br />
(Diriwayatkan oleh &#8216;Abdurrazzaq dari Hasan, tetapi ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal.)</p>
<p>Menurut riwayat lain, ayat ini (QS. 2: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah saw.: &#8220;Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah Swt. telah berfirman &#8220;Ud&#8217;uni astajib lakum&#8221; yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (QS 40: ayat 60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: &#8220;Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?&#8221; Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (QS. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Asakir yang bersumber dari Ali.)</p>
<p>Menurut riwayat lain, setelah turun ayat &#8220;Waqala rabbukum ud&#8217;uni astajib lakum&#8221; yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (QS. 40: 60), para shahabat tidak mengetahui bilamana yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (QS. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari &#8216;Atha bin abi Rabah.)</p>
<p>Semoga kita yang senantiasa berharap agar Allah Swt. mengabulkan keinginan kita, dibarengi dengan taatnya kita kepada Allah Swt. dan sekaligus beriman kepadaNya. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa berharap mendapat kebaikan dari Allah Swt., tanpa sedikitpun kita taat dan tak beriman kepadaNya. Iya kan?</p>
<p>Ini sekadar renungan kecil di pagi hari yang cerah, dan kita masih bisa menikmati indahnya hidup di dunia milikNya. Semoga kita pandai bersyukur kepada Allah Swt. Wallahu&#8217;alam.</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;">http://osolihin.com/kita-yang-selalu-berharap</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kita-yang-selalu-berharap/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membekali Remaja dengan Agama</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/membekali-remaja-dengan-agama</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/membekali-remaja-dengan-agama#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 08:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2570</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti

Agama adalah pegangan hidup kita. Jangan heran jika kita hidup tanpa bimbingan ajaran agama, hidup kita terasa sempit dan gersang. Itu sebabnya, saya selalu mendahulukan pendidikan agama untuk anak-anak dan keluarga saya. Bahkan harus sejak dini diajarkan kepada mereka. Menerapkan disiplin dan tanggung jawab, misalnya. Ketika anak saya masih kecil, yang bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Agama adalah pegangan hidup kita. Jangan heran jika kita hidup tanpa bimbingan ajaran agama, hidup kita terasa sempit dan gersang. Itu sebabnya, saya selalu mendahulukan pendidikan agama untuk anak-anak dan keluarga saya. Bahkan harus sejak dini diajarkan kepada mereka. Menerapkan disiplin dan tanggung jawab, misalnya. Ketika anak saya masih kecil, yang bisa saya lakukan adalah berusaha memberi teladan yang baik dalam berperilaku di hadapan dia.</p>
<p dir="ltr">Untuk membina kepribadiannya, jika pun ada perbedaan pendapat dalam banyak hal dengan istri saya, saya berusaha untuk menghindari &#8216;pertengakaran&#8217; di depan anak-anak. Sebab, ia akan merekam apa yang dilihatnya dari perilaku orangtuanya. Sedikit-banyaknya hal ini akan membekas dalam memorinya dan terbawa sampai besar. Dan tentunya itu akan mempengaruhi kehidupannya.<span id="more-2570"></span></p>
<p dir="ltr">Pendidikan agama pun tidak cukup hanya diberikan di rumah. Untuk itu saya mencarikan sekolah yang bisa menempa anak saya dengan ajaran Islam yang bagus. Itu sebabnya, saya usahakan ketika anak itu bersosialisasi dengan teman mainnya, harus dalam suasana yang islami pula. Ia terbiasa toleran dengan temannya, empati, saling mencintai dan pandai menghargai.</p>
<p dir="ltr">Kalau saya lihat saat ini, banyak keluarga muslim yang sepertinya lebih mementingkan mutu sekolah dalam hal akademiknya saja, tapi miskin dalam nilai dan ajaran Islam. Sehingga, tak jarang yang memasukkan anak-anaknya ke sekolah non-Islam. Padahal itu sangat berbahaya bagi kehidupan anak-anak dan remaja yang sedang membentuk jati dirinya. Sebab, banyak fakta bahwa sekolah non-Islam seringkali mengharuskan seluruh siswanya mengikuti tatacara ibadah mereka. Bukankah ini akan merusak kehidupannya?</p>
<p dir="ltr">Tidak bisa dipungkiri bahwa remaja memang membutuhkan bekal pendidikan agama yang memadai. Inilah yang harus diperhatikan oleh para orangtua. Janganlah hanya karena ingin mendapatkan prestasi bagus dalam nilai-nilai akademiknya, lalu mengabaikan pendidikan agama yang sebenarnya lebih wajib. Maraknya tawuran, seks bebas, terlibat narkoba, lebih disebabkan mereka tidak mengenal agama sebagai pandangan hidup yang harus dipahami, ditaati dan diamalkan.</p>
<p dir="ltr">Saat ini pelajaran agama memang diberikan, tapi tidak membekas bagi kehidupan para siswa. Boleh jadi karena disampaikan dengan normatif belaka. Coba, jika pendidikan agama disampaikan dengan tekanan bahwa ini harus dipelajari, dipahami, dan diamalkan, insya Allah para siswa akan merasa bahwa agama bukan semata-mata tempat untuk mencari ketenangan batin belaka. Tapi akan dipahami sebagai pandangan hidup yang wajib diperjuangkan.</p>
<p dir="ltr">Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal dalam membekali remaja dengan pendidikan agama, dibutuhkan peran negara yang serius. Tanpa peran negara, upaya pendidikan agama dan juga pendidikan yang lain masih jauh panggang dari api jika harus mengukur keberhasilannya. Artinya, dibutuhkan peran yang besar dari negara, selain tentunya peran masyarakat dan keluarga tetap menjadi tumpuan. Jadi, jangan abaikan pendidikan agama! []</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juli 2003]</em></p>
<p dir="ltr">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/membekali-remaja-dengan-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Turuti Nafsumu!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-turuti-nafsumu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-turuti-nafsumu#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 23:27:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2568</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti
Satu hal yang seringkali sulit untuk dikendalikan adalah hawa nafsu. Bila hawa nafsu sudah menguasai diri kita, jangan harap kita bisa begitu saja dengan mudah melepaskan diri dari cengkeramannya. Sangat boleh jadi butuh waktu lama untuk bisa menjinakan hawa nafsu. Tidaklah heran jika kemudian kita menjadi budak nafsu. Kita disetir oleh &#8220;makhluk&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p>Satu hal yang seringkali sulit untuk dikendalikan adalah hawa nafsu. Bila hawa nafsu sudah menguasai diri kita, jangan harap kita bisa begitu saja dengan mudah melepaskan diri dari cengkeramannya. Sangat boleh jadi butuh waktu lama untuk bisa menjinakan hawa nafsu. Tidaklah heran jika kemudian kita menjadi budak nafsu. Kita disetir oleh &#8220;makhluk&#8221; yang bernama hawa nafsu. Kita didikte oleh keinginan-keinginan yang muncul dari hati kita, bahkan sebenarnya hawa nafsu cenderung membutakan hati dan akal sehat kita.</p>
<p>Pengalaman saya waktu masih hidup sebagai selebritis. Orang lain yang melihat saya bsia jadi berdecak kagum. Itu sebabnya, di depan orang lain, saya harus tampil semaksimal mungkin demi <em>jaim</em>, alias jaga imej. Maklum saja, sebagai bintang idola, saya harus selalu terlihat lebih istimewa ketimbang penggemarnya. Bila perlu dan memungkinkan saya harus bisa memberikan ciri khas sebagai seorang bintang. Sebab, saya yakin, bila kemudian banyak penggemar yang meniru gaya hidup seperti saya, hati kecil saya merasa bangga dan puas. Itulah namanya idola.<span id="more-2568"></span></p>
<p>Meski terus terang saja, di balik semua itu adakalanya saya merasakan beban berat. Betul-betul berat. Boleh dikatakan, bahwa privasi saya terjajah. Saya terikat kontrak dengan prouduser anu, sudah janji manggung di daerah anu, sudah nanda-tangan untuk konser di tempat tertentu. Terus terang saya terjajah oleh hawa nafsu saya sendiri. Belum lagi merasa was-was bila terus dikejar-kejar penggemar. Ya, awalnya memang asyik jadi selebritis, tapi kian lama kian tersiksa. Senjata makan tuan namanya. Nggak berlebihan tentunya saya katakan demikian.</p>
<p>Betul, dengan menjadikan hawa nafsu sebagai &#8216;tuhan&#8217; kita. Berarti kita telah rela menghamba kepada hawa nafsu. Kita dijajah dan dikendalikan oleh hawa nafsu. Padahal seharusnya, kitalah yang mengendalikan hawa nafsu.</p>
<p>Setelah saya menyadari semua itu, ternyata ada perubahan yang sangat kentara dalam hidup saya. Utamanya bila membandingkan dengan kehidupan ketika menjadi selebriti yang dekat sekali dengan kemaksiatan. Sekarang, meski saya capek karena harus mengisi pengajian di daerah tertentu. Bahkan adakalanya dalam satu sehari harus mengisi di dua tempat yang perbedaan jaraknya cukup jauh. Jadwal saya padat sekali. Tapi alhamdulillah, saya lebih merasa lebih <em>enjoy</em> menikmati hidup. Karena ada nilai ibadahnya. Saya merasa bahagia, karena bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain dalam arti yang sesungguhnya. Rasa capek dan penat, bisa langsung hilang terobati dengan antusiasnya masyarakat yang ingin mendengarkan ceramah saya. Saya berusaha untuk bisa mengalahkan hawa nafsu dan hanya menghamba kepada Allah Swt. yang memang layak untuk disembah, dan kita harus rela menjadi hamba-Nya.</p>
<p>Sebab, bila kita masih merasa betah dengan maksiat, berarti kita masih dijajah oleh hawa nafsu. Jika kita lebih mementingkan untuk menyaksikan tayangan televisi ketimbang sholat, maka kita telah jadi budak nafsu. Jika kita masih getol pacaran, itu artinya kita didikte oleh hawa nafsu kita. Kenapa? Karena kita lebih mementingkan hawa nafsu ketimbang aturan Allah Swt.</p>
<p>Untuk itu, kita butuh solusi agar bisa melepaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu. Pertama adalah menyadari siapa diri kita. Kita harus mengenali diri kita dengan benar. Sebagai seorang muslim, maka belajar adalah cara yang lebih bijak untuk bisa menjadi pandai. Untuk itu, mulailah mengkaji Islam. Sebab, dengan mengkaji Islam, kita bisa tahu mana yang salah dan mana yang benar. Dengan mengkaji Islam pula, insya Allah akan mencerdaskan pemikiran kita, dan tentunya menajamkan kepekaan perasaan kita. Jadi, jangan turuti nafsumu! <em>Wallahu&#8217;alam bishowab</em>[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Agustus 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-turuti-nafsumu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyakit itu Bernama Sombong</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/penyakit-itu-bernama-sombong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/penyakit-itu-bernama-sombong#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 08:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2566</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti
Berada di puncak popularitas seringkali membuat orang lupa diri. Bahkan menganggap orang lain itu remeh. Nggak layak duduk selevel dengan dirinya yang sudah berada di awang-awang. Inilah awal tumbuhnya penyakit hati bernama sombong. Orang bijak mengatakan, bahwa perang yang tidak ada habisnya adalah perang melawan diri sendiri. Musuh yang paling sulit ditaklukkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p>Berada di puncak popularitas seringkali membuat orang lupa diri. Bahkan menganggap orang lain itu remeh. Nggak layak duduk selevel dengan dirinya yang sudah berada di awang-awang. Inilah awal tumbuhnya penyakit hati bernama sombong. Orang bijak mengatakan, bahwa perang yang tidak ada habisnya adalah perang melawan diri sendiri. Musuh yang paling sulit ditaklukkan adalah diri sendiri.</p>
<p>Saya punya pengalaman pribadi soal ini. Saat saya menjadi artis. Bayangkan, saya dulu merasa malu kalau naik mobil yang biasa-biasa aja. Untuk menutupi rasa malu dan tentunya untuk jaga gengsi di hadapan teman-teman sesama artis, termasuk di depan fans, saya terpaksa harus menyewa mobil mewah untuk <em>show</em>. Dalam hati saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya bukan artis murahan. Bahkan ingin menyampaikan pesan bahwa saya artis ngetop dan banyak duit.<span id="more-2566"></span></p>
<p>Itu berlangsung cukup lama. Dan saya tahu betul bahwa ternyata teman-teman sesama artis juga melakukan hal yang sama seperti saya. Sombong. Keinginan untuk pamer harta selalu saja muncul. Sekaligus menaikkan harga diri. Sebab, dengan tunggangan dan tampilan yang seperti itu, masyarakat akan menilai dan mengukur seberapa besar harga diri kita sebagai artis. Ujungnya, masyarakat akan menganggap kita sebagai orang yang layak dibayar dengan harga mahal. Duit lagi urusannya memang.</p>
<p>Saat itu saya merasa harus pol-polan. Bila perlu, biar tekor asal kesohor. Perbuatan saya yang seperti itu, sangat boleh jadi makin ngomporin artis lain untuk tampil lebih jor-joran juga. Sebab, saya merasakan sendiri, bahwa saya juga terbawa pergaulan artis lain. Foya-foya selepas <em>show </em>jadi tradisi. Teman-teman semua dipanggil dan mengadakan pesta. Uang jutaan rupiah hasil manggung seringkali ludes dalam sekejap. Dihamburkan bersama teman-teman dalam pesta kemenangan. Harapannya, mereka menilai saya artis hebat.</p>
<p>Setelah saya menyadari semua kekeliruan itu, saya tobat dan tidak mau melakukannya lagi. Sebab, jika saya berpikir lebih jernih lagi, ternyata yang saya lakukan justru sia-sia dan banyak maksiat. Saya terus merenungi perjalanan hidup saya. Ternyata, meski saya sudah berada di puncak karir, saya merasa tidak ada kebahagiaan di dunia artis. Banyak hal yang menyalahi hati nurani saya.</p>
<p>Memang benar, tanpa sadar banyak orang hidup dalam tekanan. Bukan karena beban terlalu berat; atau kekuatan tak memadai. Namun, karena tidak mau berterus terang. Hidup dalam kepura-puraan tak memberikan kenyamanan. Itu sebabnya, bersikaplah apa adanya. Bila kamu kesulitan, jangan tolak bantuan. Sikap terus terang membuka jalan bagi penerimaan orang lain. Jangan berpura-pura dalam hidup ini, apalagi jika harus sombong untuk menjaga gengsi kita.</p>
<p>Sobat muda, kesombongan memang membuat manusia menjadi anti kebenaran. Merasa dirinya yang paling sempurna dan paling jago. Dan memang, biasanya itu muncul saat kita berada di puncak keberhasilan kita. Misalnya, ketika kita ngetop dan lebih istimewa dalam segala hal; karir, kecerdasan, kekayaan, dan penampilan fisik. Sangat boleh jadi kita merasa sombong manakala orang lain tidak ada yang bisa menyamai apa yang kita miliki.</p>
<p>Firman Allah Swt.: <em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri&#8221;</em> <strong>(TQS an-Nisaa&#8217; [4]: 36)[]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi September 2002]</em><br />
<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/penyakit-itu-bernama-sombong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Melatih Tanggung Jawab</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/puasa-melatih-tanggung-jawab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/puasa-melatih-tanggung-jawab#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 22:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2564</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti
Sejak kecil saya memahami bahwa puasa itu adalah suatu perbuatan yang menguntungkan dan bisa menghapuskan dosa-dosa kita. Sehingga, sejak kecil saya memang sudah melakukan puasa. Kebiasaan itu terus terbawa sampai saya dewasa.
Pernah suatu kali pada tahun 1991, saat saya masih menjadi artis, ada tetangga di daerah Gudang Peluru Jakarta bertanya kepada saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p>Sejak kecil saya memahami bahwa puasa itu adalah suatu perbuatan yang menguntungkan dan bisa menghapuskan dosa-dosa kita. Sehingga, sejak kecil saya memang sudah melakukan puasa. Kebiasaan itu terus terbawa sampai saya dewasa.</p>
<p>Pernah suatu kali pada tahun 1991, saat saya masih menjadi artis, ada tetangga di daerah Gudang Peluru Jakarta bertanya kepada saya tentang makna puasa. Ya, saya jawab sebagaimana pemahaman saya selama ini. Tapi pernyataan tetangga saya berikutnya seperti membalikkan anggapan saya. Menurut beliau, tidak begitu. Sebab, jika di lain waktu kita kembali berbuat maksiat, kembali kepada kebiasaan lama kita, maka itu percuma saja.<span id="more-2564"></span></p>
<p>Saya kaget, dan terus mikir. Jika memang demikian, berarti selama ini puasa saya bisa dikatakan percuma. Sebab, ketika masih jadi artis, saya memanfaatkan sekali puasa ini sebagai sarana untuk penghapusan dosa. Maka, di bulan ramadhan saya sering nyumbang, shadaqah, bahkan tampil sebagai pengisi acara ramadhan. Tapi kemudian, di luar ramadhan, saya kembali manggung, nyanyi dan kumpul bersama teman-teman yang lain.</p>
<p>Setelah saya menyadari apa yang disampaikan tetangga saya itu, kemana-mana saya ngak lepas dari peci, beberapa bulan kemudian saya beranikan diri untuk menunaikan ibadah haji. Makin mantap saja keyakinan saya ingin berubah.</p>
<p>Sekarang, setelah saya menjadi seperti ini, dan juga punya keluarga, saya sangat senang menghadapi ramadhan ini. Sebab, bagi saya selain ramadhan ini bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, saya manfaatkan juga untuk mendakwahi keluarga. Itu sebabnya, di bulan ramadhan biasanya saya membatasi jadwal untuk tabligh. Saya lebih fokus ke keluarga. Karena di bulan ramadhan ini suasananya kondusif sekali. Jadi saya lebih leluasa dalam menyampaikan dakwah di keluarga. Kebetulan, meski tidak jadi teladan, tapi di keluarga saya jadi tempat bertanya segala hal tentang Islam.</p>
<p>Dan karena bulan puasa bagi saya adalah sebagai sarana dalam melatih tanggung jawab, maka saya juga mengajak anak saya untuk melakukan hal yang sama. Saya arahkan kepada pembentukan karakternya. Misalnya saja saya mencoba membiasakan anak saya untuk bangun pagi. Bahkan saya beri tanggung jawab supaya ia bisa bangun sendiri ketika akan sahur. Alhamduilillah, dengan diberi tanggung jawab seperti itu, ia mulai memahami pentingnya sebuah kepercayaan. Sholatnya saya kontrol juga. Sehingga suasana ramadhan itu terasa di setiap waktu. Dari mulai sahur sampai berbuka.</p>
<p>Malamnya saya membangkitkan semangat untuk beribadah, misalnya saya menjadi imam shalat tarawih di keluarga. Sebelumnya saya adakan dulu pengajian untuk mereka. Jadi memang ramadhan ini menjadi momen yang amat penting bagi saya. Selain untuk membentuk karakter bagi keluarga saya, juga memahamkan kesadaran tentang Islam. Dan karena ini sebagai latihan, maka diharapkan bisa dilakukan juga di lain waktu. Sebab, puasa adalah sarana untuk melatih diri supaya konsisten dan komit kepada Islam.</p>
<p>Nah, karena puasa adalah untuk melatih tanggung jawab kita dalam berbuat, maka saya juga menghimbau kepada kalangan artis supaya menjadikan puasa ini sebagai latihan, dan tentunya tidak berbuat maksiat di luar bulan ramadhan. Kalo itu dilakukan, sama saja dengan mengejek Allah. Padahal, kita harus mengharapkan ridho Allah. Saya juga pernah merasa berat sekali untuk meninggalkan maksiat. Ada saja godaannya untuk tetap kembali berbuat maksiat setelah ramadhan berlalu. Itu sebabnya saya dulu berdoa begini: &#8220;Ya Allah, kabulkan doaku agar aku mampu meninggalkan maksiat ini.&#8221; Alhamdulillah, dengan niat dan kesungguhan yang kuat, saya bisa berubah. []</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/puasa-melatih-tanggung-jawab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Itu Emas Perhiasan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 21:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2562</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti

Remaja itu adalah lukisan anak-anak di masa depan, dan orang tua itu adalah lukisan remaja di masa depan. Jangan harap akan lukisannya tentang remaja di masa depan bakalan bagus kalau sejak masa anak-anak jiwa mereka tidak pernah diolah dengan pembinaan keislaman. Meski memang ada segelintir remaja yang menjadi baik meski masa anak-anaknya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Remaja itu adalah lukisan anak-anak di masa depan, dan orang tua itu adalah lukisan remaja di masa depan. Jangan harap akan lukisannya tentang remaja di masa depan bakalan bagus kalau sejak masa anak-anak jiwa mereka tidak pernah diolah dengan pembinaan keislaman. Meski memang ada segelintir remaja yang menjadi baik meski masa anak-anaknya, tapi itu prosesnya amat sulit.</p>
<p dir="ltr">Karenanya saya melihat kalau pembinaan anak-anak itu jadi penting banget. Saya rasakan itu pada diri saya sendiri. Keluarga kami memang tidak Islami. Orang tua saya kurang memberikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berkeluarga. Mereka hanya mengajarkan norma-norma atau etika moral saja. Ya, kalau masalah sholat dan puasa memang masih mereka lakukan, cuma untuk mengajarkan secara detail dari bagian-bagian itu tidak pernah. Saya saja bisa sholat dan bisa ngaji karena ikut teman-teman ketika masih di komplek, di Cimahi. Kebetulan di sana ada seorang ustadz yang suka mengadakan pengajian. Pokoknya, saya bisa begini karena bisa sendiri. Pernah sewaktu bercerita tentang hal ini dalam satu ceramah, ibu saya &#8211; almarhumah &#8212; yang hadir di sana tersinggung, tapi untunglah saya bisa berbaikan lagi dengan beliau.<span id="more-2562"></span></p>
<p dir="ltr">Saya prihatin melihat banyak orang tua yang nggak serius mendidik anak-anak mereka dalam urusan agama. Dalam shalat misalnya, banyak lho orang tua yang nggak tegaan menyuruh anaknya shalat, seperti membangunkan untuk shalat shubuh dengan alasan tidak tega atau kasian anaknya masih ngantuk. Apalagi kalau harus sampai mukul anaknya gara-gara tidak shalat, jelas mana tega.</p>
<p dir="ltr">Maka saya berusaha untuk disiplin mendidik anak untuk urusan agama. Alhamdulillah saya masih tega membangunkan anak untuk shalat shubuh meski anak saya masih tidur pulas. Hasilnya sekarang ada. Kalau tiap shubuh dia yang sekarang membangunkan saya, <em>ngagabrug</em> (menjatuhkan diri -red) ke badan saya tiap subuh. <em>&#8220;Abi bangun shalat shubuh,&#8221; </em>katanya ke saya. Emang sih kaget dan badan saya sakit, tapi gitu-gitu saya senang. Atau setiap maghrib ia minta saya <em>monten</em>, menilai azannya. Padahal sih suaranya nggak bagus dan nggak ada iramanya, tapi lagi-lagi saya seneng liat ia azan, berarti ia sudah mulai paham shalat meskipun sedikit-sedikit.</p>
<p dir="ltr">Tantangan pendidikan buat anak saya lihat makin besar. Coba aja, setiap maghrib anak-anak kaum Muslimin disuguhin film, macam <em>Kapten Tsubasa</em>. Anak saya juga keranjingan nonton film itu. Belum lagi acara-acara lain yang kandungan pendidikan agama dan moralnya nggak ada. Repot jadi orang tua sekarang ini.</p>
<p dir="ltr">Saya melihat cara yang paling efektif untuk mendidik anak adalah dengan memberikan teladan yang baik pada mereka. Sedih rasanya melihat anak-anak yang orang tuanya tidak memberikan contoh baik di rumah, hanya bisa nyuruh-nyuruh pada anaknya. Orang tuanya nggak shalat tapi anaknya disuruh-suruh shalat, atau anaknya disuruh pake jilbab tapi ibunya ke mana-mana pake celana pendek, termasuk ketika nganter anaknya ke TPA. Padahal orang tua kan seharusnya jadi contoh, jadi <em>role model</em> yang baik buat anak-anaknya. Moga-moga banyak orang tua yang sadar akan hal itu.[]</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>R.I.P</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/rip</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/rip#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 07:55:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2483</guid>
		<description><![CDATA[Itu memang singkatan dari Rest In Peace &#8211; istirahat dalam damai &#8211;. Sebutan bagi mereka yang telah meninggal dalam khasanah Barat. Tapi sedamai-damainya mati, tidak ada orang yang ingin buru-buru mati. Apalagi para remaja, pastinya nggak bakalan mau mati muda. Masa remaja itu memang asyik punya, terlalu indah untuk dilewatkan dengan cepat. Chairil Anwar yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Itu memang singkatan dari <em>Rest In Peace</em> &#8211; istirahat dalam damai &#8211;. Sebutan bagi mereka yang telah meninggal dalam khasanah Barat. Tapi sedamai-damainya mati, tidak ada orang yang ingin buru-buru mati. Apalagi para remaja, pastinya nggak bakalan mau mati muda. Masa remaja itu memang asyik punya, terlalu indah untuk dilewatkan dengan cepat. Chairil Anwar yang penyair saja sampai mengatakan <em>&#8216;aku ingin hidup seribu tahun lagi&#8217;</em> dalam sajak <em>Aku</em>-nya, tapi beliau sendiri mati muda. Lalu ada lagu lama dari kelompok Alphaville, <em>Forever Young</em>, dan <em>Who Wants To Live Forever</em> dari Freddie Mercuri. Tapi lagu itu tetap saja tidak bisa memperpanjang umur Freddie yang akhirnya mati kesambar virus HIV.</p>
<p dir="ltr"><em>Man propose, but God dispose</em>. Manusia punya keinginan, tapi Tuhan yang menentukan. Siapa yang tahu kapan kematian akan datang merampas segala impian dan cita-cita kita?<span id="more-2483"></span></p>
<p dir="ltr">Maka kami tercekat, kaget, ketika seorang teman sekelas meninggal hanya beberapa hari menjelang acara pelulusan sekolah. Kita semua berkomentar, <em>&#8220;Kasihan ya, padahal sebentar lagi kita bakal lulus.&#8221;</em> Tapi, sekali lagi, siapa yang tahu kematian akan menjemput kita.</p>
<p dir="ltr">Teman, wajar kalau bulu kuduk kita merinding setiap membahas kematian. Terbayang, kita terkurung di dalam tanah yang lembab dan sempit, hanya mengenakan kain kafan dan sendiri dalam kegelapan. Belum lagi bayangan kalau kita bakal diminta bertanggung jawab untuk apa yang sudah kita perbuat. Mati itu mengerikan.</p>
<p dir="ltr">Tapi apa apa mau dikata, Allah sudah menakdirkan bahwa ada kematian adalah teman kehidupan. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. FirmanNya:</p>
<p dir="ltr"><em>&#8220;Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian,&#8221;</em>(TQS. Ali Imraan [3]:185)</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Kematian juga menjadi bukti kalau manusia itu adalah lemah. Kita cuma mahluk yang tunduk pada kekuasaan Allah. Kehidupan itu ada batasnya yaitu kematian. Stalin atau Lenin atau Karl Marx yang menolak adanya Tuhan akhirnya juga harus menghadap Tuhan, tidak kuasa menolak <em>sunatullah</em> bahwa yang hidup itu bakal mati.</p>
<p dir="ltr">Tapi kawan, takut pada kematian tidak pada tempatnya. Karena takut ataupun tidak, kematian pasti datang. Kata Imam Ali bin Abi Thalib, &#8220;Manusia hidup dikejar rizkinya, sebagaimana ia dikejar kematiannya.&#8221; Menolak kematian juga tidak ada artinya. Kemanapun kita akan lari, sekuat apapun kita berusaha, tidak ada yang sanggup melawan kematian. Sang pemisah kenikmatan hidup dengan manusia.</p>
<p dir="ltr"><em>&#8220;Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,&#8221;</em>(TQS. An Nisaa [4]:78).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">* * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Banyak orang pandai mengatakan bahwa yang harus kita takuti seharusnya bukanlah kematian itu sendiri, tapi dalam keadaan seperti apa kita mati, dan bagaimana caranya bertanggung jawab kepada Allah setelah kita mati. Ya, karena kita akan diminta bertanggung jawab atas semua kelakuan kita di dunia. Tangan, kaki, mata, lidah, telinga, dan berbagai anggota tubuh kita akan diminta pertanggungjawabannya oleh yang menciptakannya.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).&#8221;</em>(TQS. Al Baqarah [2]:281).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Maka luar biasa malu dan takutnya kita bila menghadap Allah pada saat teler minuman keras, ketika OD (overdosis), berduaan dengan pacar, sedang melawan orang tua, sedang meninggalkan shalat, ketika tidak berpuasa, ketika belum memakai jilbab menutup aurat, saat tawuran, atau ketika melakukan kelakuan-kelakuan maksiat lainnya. Ya Allah, apa yang akan Engkau lakukan pada kami kalau kami menghadapmu saat kami sedang melalaikan perintahmu dan melanggar laranganmu.</p>
<p dir="ltr">Pertanyaannya pernahkah hal-hal seperti itu terpikir oleh kita, apalagi saat kita masih remaja, ketika keinginan dan cita-cita sedang meluap-luapnya. Sepertinya jalan itu masih panjaaang. Akibatnya, kita sering mengabaikan perintah Allah dan melanggar larangan Allah. <em>&#8220;Ah, tobat dan ibadah nanti saja, kalau sudah kakek-kakek.&#8221; </em>Nggak main-main, filosofi yang menyesatkan itu mengisi banyak kepala orang, khususnya remaja. Buktinya, jamaah shalat dan pengajian hampir selalu dipenuhi oleh mereka yang sudah tua, kakek-kakek ataupun nenek-nenek. Jangankan kita yang masih muda, mereka yang sudah berumur 30 atau 40 tahunan saja masih merasa umurnya panjang. Suka lihat kan om-om atau tante-tante yang eksekutif muda &#8216;rajin&#8217; berjojing di diskotik, malah nggak sedikit juga di antara mereka yang coba-coba ngedrugs. Padahal umur mereka jauh lebih tua dibandingkan kita, yang berarti secara teoritis matematis mereka itu lebih dulu meninggal daripada kita. Tapi ya begitulah, masih saja mereka berpikiran hidup itu masih teramat panjang untuk dilewati.</p>
<p dir="ltr"><em>&#8220;Sebaik-baik pemuda adalah yang ibadahnya seperti orang tua,&#8221;</em> kata Rasulullah saw. Biasanya, semakin bertambah umur seseorang semakin rajin ia beribadah. Tidak lain karena ia mulai merasakan tanda-tanda akan datangnya kematian. Rambut yang mulai memutih menjadi uban, tulang yang mulai sering terasa linu, pandangan yang mulai kabur, telinga yang mulai berkurang daya tangkapnya, dan berbagai penyakit lain yang datang silih berganti. Orang tua jadi mulai berpikir serius soal kematian, maka ia pun jadi tekun beribadah.</p>
<p dir="ltr">Tapi ketika ada barisan pemuda yang tekun beribadah, shalat, membaca Al Qur&#8217;an, hadir di pengajian-pengajian dan berakhlak mulia, itu luar biasa. Pantaslah kalau Rasulullah saw. memuji mereka. Di saat banyak remaja hanyut dalam berbagai kenikmatan dunia yang menipu dan sebagian menyesatkan, mereka malah asyik masyuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">* * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Yakin saja, ajal itu bisa datang kapan saja, tidak pandang umur dan kekayaan. Bisa ketika kita sedang berkumpul dengan keluarga, ketika kita sedang tidur, ketika kita berjalan di pasar, naik kendaraan, ketika sedang shalat, baca Al Qur&#8217;an, hanya jangan sampai ketika kita sedang maksiat (<em>na&#8217;udzubillah</em>).</p>
<p dir="ltr">Lagipula, alangkah beruntungnya keluarga kita dan juga kita pribadi, seandainya saat kita meninggal banyak orang yang menangisi kita, mengingat kebaikan-kebaikan kita, dan bukan keburukan-keburukan yang kita perbuat.</p>
<p dir="ltr">Salah satu pelajaran yang bisa kita lakukan untuk selalu ingat akan kematian adalah mengantarkan saudara kita, teman kita, atau tetangga kita yang meninggal. Dengan begitu kita akan bisa menghayati dengan khusyu&#8217; makna kematian. Hari ini ia, mungkinkah esok atau lusa kita yang akan menemaninya di alam Barzakh?</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Hendaknya kalian berziarah kubur, karena sesungguhnya (berziarah) itu mengingatkan akan kematian,&#8221;</em>(HR. Imam Muslim)</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Masih mau bermain-main di dunia ini dan melupakan Allah, padahal ajal bisa datang kapan saja? Sebaiknya tidak lagi.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Orang yang cerdik adalah yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.&#8221;</em>(HR. Ibnu Majah).[januar]</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA, edisi Desember 2002-Januari 2003]</em></p>
<p dir="ltr">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/rip/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah itu Ada</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/allah-itu-ada</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/allah-itu-ada#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 07:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2479</guid>
		<description><![CDATA[Kata Karl Marx, bapak komunisme, sebenarnya tuhan tidak menciptakan manusia, tapi manusialah yang menciptakan tuhan. Ia adalah khayalan manusia, kata Karl Marx. Sebegitu hebatnya khayalan manusia, akhirnya manusia menjadi percaya bahwa tuhan itu ada. Demikian ringkasnya pendapat Marx tentang manusia dan tuhan.
Kalau demikian, dalam pikiran Karl Marx, tuhan itu tidak ada bedanya dengan Superman, Spiderman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata Karl Marx, bapak komunisme, sebenarnya tuhan tidak menciptakan manusia, tapi manusialah yang menciptakan tuhan. Ia adalah khayalan manusia, kata Karl Marx. Sebegitu hebatnya khayalan manusia, akhirnya manusia menjadi percaya bahwa tuhan itu ada. Demikian ringkasnya pendapat Marx tentang manusia dan tuhan.</p>
<p>Kalau demikian, dalam pikiran Karl Marx, tuhan itu tidak ada bedanya dengan Superman, Spiderman bahkan bisa jadi Dora Emon. Jagoan-jagoan dunia khayal yang sudah seolah-olah nyata. Buktinya ada kan orang yang begitu terkesannya sama si manusia Krypton sampai akhirnya menjadikannya sebagai idola (bayangkan, tokoh kartun jadi idola!). Sama juga dengan sejumlah remaja putri seumurmu yang memimpikan jadi pacarnya Dao Ming She, satu lakon di serial <em>Meteor Garden</em>. Padahal si <em>kasep</em> berambut <em>shaggy</em> ini kan fiktif. Cuma khayalan.<span id="more-2479"></span></p>
<p>Nggak usahlah kita membahas Marxisme yang <em>njlimet</em> itu sehingga membuat orang pusing (malah dengan kurang ajar Marx bilang kalau agama itu adalah candu), yang sebenarnya jauh dari kebenaran. Tapi yang memprihatinkan saya dan kita semua adalah di zaman milenium ini, nggak sedikit remaja yang makin tidak peduli apakah tuhan itu ada atau tidak. Malah ada juga yang dengan bangga bilang, <em>&#8220;I don&#8217;t believe in God. I am atheist.&#8221; Na&#8217;udzubillahi min dzalik</em>.</p>
<p>Memang benar Tuhan atau yang kita sebut Allah, adalah Zat yang nggak keliatan oleh mata kita, nggak terdengar gerakannya atau suaranya oleh telinga kita, dan tidak teraba ZatNya oleh kulit kita. <em>But</em>, karena tidak terindera, bukan berarti Ia itu tidak ada, apalagi kalau lantas kita bilang Ia adalah khayalan (Mahasuci Allah dari segala yang manusia sifatkan padaNya). Soalnya, untuk mengenal dan mengetahui sesuatu itu ada nggak selamanya kita harus mengindera secara langsung. Banyak bukti untuk itu.</p>
<p>Kawan, untuk mengetahui dan percaya bahwa gravitasi bumi itu ada nggak mesti kan kita melihat dan meraba &#8216;zat&#8217;nya? Cukup dengan melihat setiap benda jatuh ke bawah setiap orang pasti percaya kalau gaya tarik bumi itu ada. Begitu pula untuk percaya bahwa kita kena virus flu tidak mesti kita melihat bentuknya, cukuplah dengan merasakan badan kita demam, kepala pusing, hidung berlendir, dan kita mulai batuk-batuk.</p>
<p>Untuk percaya bahwa Sang Maha Pencipta itu ada, juga nggak mesti kita mengindera ZatNya. Karena Allah SWT. telah memberikan berbagai macam bukti bahwa Ia itu eksis, ada, yaitu lewat mahluk ciptaanNya. Kalau ada yang diciptakan (mahluk) pastinya ada yang menciptakannya (Al Khaliq). Sederhana, bukan?</p>
<p>Ya, perhatikanlah dengan seksama sekeliling kita, maka kita nggak bakalan bisa membantah kalau Allah itu ada. Apalagi seluruh benda yang ada di alam semesta ini &#8211; termasuk kita, manusia &#8211; memiliki kesempurnaan dan keteraturan yang luar biasa. Albert Einstein, fisikawan terkemuka sampai mengatakan, <em>&#8220;Tuhan tidak bermain-main dengan alam semesta.&#8221;</em> Dalam Al Qur&#8217;an Allah SWT. berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,&#8221;</em>(TQS. Al Ghasiyyah [88]:17).</p>
<p>Coba perhatikan, unta itu adalah hewan yang kuat berjalan bermil-mil. Unta memiliki kelasa atau punuk yang berisi air dan makanan, yang akan terkulai ke samping bila persediaan air dan makanan di dalamnya habis. Biasanya, sebelum perjalanan pemilik unta menyuruh hewan peliharaannya itu untuk meminum air sebanyak-banyaknya. Caranya, minuman tersebut dicampur garam sehingga begitu meminumnya akan terus merasa haus dan banyak minum. Volume air yang dapat diminum unta dapat mencapai 15 galon (kurang lebih 56 liter) air.</p>
<p>Unta mempunyai tiga perut; perut samping, perut kelenjar pencerna dan perut penyerap. Pada dinding-dinding perut pertama dan kedua merupakan kantung-kantung penyimpan air dan pencerna makanan. Bila si penunggang unta kehabisan bekal air, unta akan disembelih untuk diambil simpanan air di kantungnya tersebut. Sedang perut ketiga menyerap hasil pengolahan makanan yang dicerna kedua perut lainnya. <em>Subhanallah!</em></p>
<p>Allah SWT. juga berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?&#8221;</em>(TQS. Adz Dzariyat [51]:21).</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.&#8221;</em>(TQS. At Tiin [95]:4).</p>
<p>Lihatlah manusia. Kita adalah &#8216;mesin bologis&#8217; yang menakjubkan. Manusia itu hidup dengan jantung. Menurut ilmu kedokteran jantung manusia itu memompa darah 2.200 galon setiap harinya, berarti 8.030.000 galon dalam setahun. Padahal besarnya hanya segenggaman tangan dengan berat 225 dan 340 gram. Jantung kita juga berdenyut lebih dari 70 kali setiap menitnya atau 4200 kali perjam, 100.800 perhari dan 36.792.000 dalam setahun. Nah, apa ada pompa selain jantung yang dapat bekerja seberat itu dengan tanpa perawatan dan pergantian suku cadang? <em>Subhanallah</em>.</p>
<p>Menurut ilmu kimia, garam yang setiap hari kita makan entah itu dalam sayur asem, rujak atau bakso, memiliki rumus NaCl (Natrium Chlorida). Apakah kamu tahu bahwa garam yang aman untuk dikonsumsi itu sebenarnya terdiri dari dua unsur yang mematikan. Logam Natrium adalah basa kuat yang bisa merusak kayu, kertas dan tangan kita. Bila direaksikan dengan air ia akan mengikat ion <sup>-</sup>OH dari air menjadi NaOH (Natrium Hidroksida) yang merupakan basa kuat dan melepaskan gas H<sub>2</sub> (hidrogen) yang mudah terbakar. Sedangkan klorida di alam bebas itu ada yang berupa gas klorida Cl<sub>2 </sub>yang dijamin bikin ampuh mencabut nyawa bila sampai mengisi paru-paru mahluk hidup.</p>
<p>Tapi kawan, dengan sangat &#8216;ajaib&#8217; dua unsur yang mematikan itu bila bersenyawa malah jadi bahan penyedap makanan yang sering kamu bilang garam dapur. Sampai-sampai kamu bisa bilang, <em>makan tanpa garam, mana enak?</em></p>
<p>Nah, pertanyaannya, apakah mungkin terbentuk berbagai macam kenikmatan hidup ini dan keteraturan alam semesta &#8211; seperti struktur unta si penjelajah gurun, jantung manusia dan garam dapur yang nikmat &#8211; tanpa ada yang menciptakannya dan merekayasanya? Pastinya alam semesta tidak bisa bekerja secara otomatis, seperti halnya badan kita nggak akan bisa bekerja tanpa komando dari akal. Dan siapa yang mampu menggerakkan seluruh alam semesta ini kalau bukan &#8217;sesuatu&#8217; yang bernama Tuhan.</p>
<p>Jadi, Allah itu ada. Ia bukan kisah fiksi seperti <em>Superman</em> atau <em>X-Men</em>. Allah juga bukan mitos macam Hercules, Zeus atau dewa-dewa dari dunia pewayangan, apalagi kalau disejajarkan dengan Sun Go Kong kera sakti yang bisa mengacak-acak nirwana. Mahasuci Allah dari segala perkara yang mereka sifatkan padaNya.</p>
<p>Sobat, tidak susah mencari Allah, kekuasaanNya ada di mana-mana. Dengan sesuatu yang amat sederhana pun manusia yang sehat akalnya dan ikhlas hatinya dapat membuktikan kalau Allah itu ada. Untuk beriman padaNya tidak mesti menjadi seorang jenius seperti Einstein. Maka, tidak usah berpusing-pusing dengan ucapan Karl Marx yang nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya di dunia, apalagi di akhirat. Toh, tanpa perlu persetujuan gembong komunisme itu Allah sudah pasti ada, iya kan?[<strong>januar</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA, edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/allah-itu-ada/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fair Play</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/fair-play</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/fair-play#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 22:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2388</guid>
		<description><![CDATA[Gimana caranya untuk menang? Ada dua; main jujur atau curang. Megabintang sepakbola asal Argentina, Diego Armando Maradona ternyata memilih cara yang kedua. Ketika melawan Inggris di babak perempat final Piala Dunia 1986, si boncel ini mencetak gol dengan tangannya ke gawang tim Inggris. Sang kiper, Peter Shilton, dan kawan-kawannya mengajukan protes. Sayang, wasit tak melihat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gimana caranya untuk menang? Ada dua; main jujur atau curang. Megabintang sepakbola asal Argentina, Diego Armando Maradona ternyata memilih cara yang kedua. Ketika melawan Inggris di babak perempat final Piala Dunia 1986, si boncel ini mencetak gol dengan tangannya ke gawang tim Inggris. Sang kiper, Peter Shilton, dan kawan-kawannya mengajukan protes. Sayang, wasit tak melihat. Gol disahkan, dan Argentina pun melenggang ke babak final dengan skor 2-1. Gilanya, Maradona menyebut gol curangnya sebagai &#8216;tangan tuhan&#8217;.</p>
<p align="left">Apa yang dilakukan Maradona terus jadi bahan kontroversi. Sebagian orang mendukungnya. Malah tidak sedikit pemain bola yang ingin melakukan hal yang serupa. Yang penting kan bisa menang, prinsip mereka. Tidak aneh kalo dalam sepakbola sering terlihat pemain yang bermain tidak jujur. Nggak <em>fair play</em>. Kasar dan licik. Sebut saja teknik <em>diving</em> atau pura-pura jatuh di kotak penalti lawan agar mendapat hadiah tendangan penalti seperti yang kerap dilakukan Filipo Inzaghi, striker AC Milan.<span id="more-2388"></span></p>
<p align="left">Adakalanya bukan cuma pemainnya yang curang, pendukungnya juga ikut-ikutan. Contohnya di Indonesia. Banyak penonton yang nggak rela kalo tim kesayangannya kalah. Lalu mereka mengintimidasi lawan dan wasit. Mencaci maki bahkan melemparkan apa saja ke arah lawan dan wasit. Atau mengacaukan pertandingan dengan menyerbu ke lapangan. Penonton pun bisa tidak <em>fair play</em>.</p>
<p align="left">Tapi nggak semua pemain sepakbola seperti itu. Sebut saja pemain dari tim AS Roma De La Rossi yang memasukkan gol dengan tangan tapi kemudian ngaku dan akhirnya dianulir. Atau Paolo Di Canio sewaktu bermain di West Ham United, tak jadi nendang bola ke gawang lawan, karena doski ngeliat kiper lawan terjatuh dan cedera saat ia siap nendang bola. Di Canio lalu mendapat pujian sebagai pemain yang paling <em>fair play</em>.</p>
<p align="left">Teman-teman, memenangkan sebuah trofi, apalagi <em>cup of life</em> memang momen yang indah. Semua orang menyanjung dan hadiah pun menggelontor masuk ke kocek kita. Tapi apa artinya jika kemenangan diraih dengan cara yang tak jujur, tidak sehat? Kita menipu orang lain, menjatuhkannya dan mencuranginya? Tak ada kepuasan dalam hati meski kita menjadi juara.</p>
<p align="left">Kemenangan yang diraih tanpa <em>fair play</em> pun selalu mengundang masalah. Meski disanjung sebagai megabintang, tapi banyak kalangan membenci Maradona. Mereka menyebutnya tukang tipu. Maradona sendiri akhirnya memberikan pengakuan terbuka bahwa ia memang bermain curang mengalahkan Inggris.</p>
<p align="left">Dalam Islam kita pun diminta untuk jadi orang yang selalu setia dengan prinsip kejujuran. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. <em>&#8220;Al ghayatu laa tubariru al washitoh</em> &#8211; tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara,&#8221; kata ulama. Karena tujuan utama amal kita adalah menggapai ridlo Allah, bukan semata keberhasilan di dunia. Ridlo Allah tak akan bisa dicapai tanpa cara-cara yang benar, yang sesuai syari&#8217;at Islam.</p>
<p align="left">Lagipula, meski tak ada orang lain yang tahu kecurangan yang kita lakukan. Allah Mahatahu dan Maha Melihat. Tidak bakal ada yang terlewat sedikit pun dari perhitunganNya. Semua bakal ada balasannya. Oleh karena itu, buat apa menghalalkan segala cara. Jadi <em>fair play</em>-lah dalam segala perbuatan. <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Juni-Juli 2006]</em><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/fair-play/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersalah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bersalah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bersalah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 01:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2272</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua hal yang menurut kebanyakan orang termasuk hal yang tidak menyenangkan; pertama berbuat salah dan kedua mengaku salah. Keduanya terasa tidak enak di hati terutama karena berurusan dengan pihak di luar kita, yakni orang lain. Ambil contoh, pelajar yang NEM-nya yang tidak memuaskan pastinya menjadi tidak enak hati karena akan mendapat teguran dari guru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada dua hal yang menurut kebanyakan orang termasuk hal yang tidak menyenangkan; <em>pertama</em> berbuat salah dan <em>kedua</em> mengaku salah. Keduanya terasa tidak enak di hati terutama karena berurusan dengan pihak di luar kita, yakni orang lain. Ambil contoh, pelajar yang NEM-nya yang tidak memuaskan pastinya menjadi tidak enak hati karena akan mendapat teguran dari guru atau orang tua. Belum lagi orang tua menjadi curiga; jangan-jangan selama ini di sekolah tidak pernah serius belajar.</p>
<p dir="ltr">Menabrakkan motor pinjaman ke mobil orang lain, pastinya bukan perkara yang menyenangkan. Secara materi, sudahlah harus mempertanggungjawabkan kerusakan motor pinjaman pada teman kita, termasuk membawanya ke bengkel, juga harus memperbaiki mobil yang kita tabrak. Secara mental, kita merasa malu luar biasa pada teman yang sudah mempercayakan motor pada diri kita, dan pastinya pudar sudah kepercayaan teman pada kita. Bukan tidak mungkin bila suatu saat kita akan meminjam mobil miliknya, langsung ditolak mentah-mentah. Motor saja tabrakan, apalagi mobil, pikir kawan kita.<span id="more-2272"></span></p>
<p dir="ltr">Kawan, tidak ada yang menyenangkan bila kita berbuat salah. Kesalahan itu terkadang menjadikan batin tersika, malah terkadang memberikan penderitaan secara lahir. Dahulu di Jepang, bila seseorang merasa malu atau bersalah, ia akan mengambil tindakan <em>harakiri</em>, bunuh diri. Sampai sekarang tradisi itu dilestarikan sebagian orang di Jepang, terutama para pejabat publik.</p>
<p dir="ltr">Tapi haruskah rasa bersalah membuat kita tersiksa setiap saat? Malu bertemu orang lain &#8211; apalagi yang menjadi korban kesalahan kita &#8211;, putus asa, apalagi sampai tergeletak sakit? Jawabannya tentu tidak. <em>No body&#8217;s perfect!</em> Tidak ada manusia yang sempurna. Sadarilah bahwa diri kita adalah manusia biasa yang terbuat dari darah dan daging. Mahluk yang punya potensi untuk berbuat kesalahan, sebagaimana juga punya potensi untuk berbuat kebaikan. Sekuat apapun tenaga yang kita kerahkan untuk menghindarkan diri dari kesalahan, tetap saja akan ada kesalahan yang melekat. Disengaja ataupun tidak, diketahui atau tidak oleh diri kita, tetap saja kesalahan menguntit diri. Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;Setiap anak Adam berbuat salah, tetapi sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat.&#8221;</em></p>
<p dir="ltr">Taubat. Itulah yang diminta oleh Allah Swt. kepada siapa saja yang berbuat salah. Meskipun manusia adalah mahluk yang selalu berbuat salah, sebesar apapun, Allah tetap Zat yang Maha Pengampun, yang ampunanNya akan mengalahkan dosa-dosa manusia. Firman Allah Swt.: <em>&#8220;Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,&#8221;</em>(TQS. Asy Syuraa [42]:25).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Ingat juga, bukankah Allah Swt. mengajarkan kita satu doa yang dianjurkan untuk dibaca setiap saat;</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;&#8230;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma&#8217;aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.&#8221;</em>(TQS. Al Baqarah [2]:286).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Maka, <em>don&#8217;t sweat a small thing!</em> Jangan terlalu ambil pusing dengan masalah-masalah kecil. Berbuat salah itu manusiawi. Siapa sih yang tidak pernah berbuat salah. Belajarlah dari kesalahan yang pernah kita buat, jangan meratapinya hingga hanyut di dalamnya. Menghakimi diri seorang tidak ada manusia yang pernah berbuat salah sebesar itu selain kita.</p>
<p dir="ltr">Sobat, manusia yang baik, bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah, tapi adalah mereka belajar dari kesalahan. Setiap kita berbuat salah berpikirlah, kenapa saya berbuat salah, dan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Insya Allah akan banyak pelajaran berharga yang kita peroleh. Boleh percaya, boleh tidak <em>brownies</em> &#8211; kue coklat yang <em>yummi</em> rasanya &#8211; ternyata lahir dari kesalahan seorang koki. Hasilnya kue itu malah disuka banyak orang di seluruh dunia. Bila ulangan kimia mendapat lima, tidak artinya bila sekedar ditangisi, tapi pelajari kesalahan kita untuk tidak terulang pada masa mendatang.</p>
<p dir="ltr">Namun kawan, jangan pernah anggap kecil kesalahan apapun, walau sekedar berkata kasar pada seorang kawan, melihat aurat orang lain, atau mengabaikan janji. Seluruhnya adalah dosa di sisi Allah. Segeralah perbaiki. Tapi juga jangan cengeng ketika itu terjadi pada diri kita. Seolah tidak ada pintu taubat dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan menghukumi diri sendiri, biarlah Allah yang menentukan balasan atas kesalahan kita. Yang dapat kita lakukan adalah beristighfar, meminta ampun atas perbuatan salah yang kita lakukan. Dan Allah adalah Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">Nomor dua yang tidak menyenangkan untuk dikerjakan banyak orang adalah meminta maaf. Ada kesan yang &#8216;menyesatkan&#8217;, bahwa minta maaf itu berarti kita menjadi hina, rendah bak pengemis. Maka minta maaf jadi hal yang dihindari banyak orang yang tidak berjiwa besar.</p>
<p dir="ltr">Ada dua cara yang dikerjakan orang untuk menghindari minta maaf; mencari-cari alasan untuk menyalahkan orang lain, dan atau berdiam diri dengan harapan orang lain segera lupa. Ketika motor kita menabrak mobil, segera saja pasang wajah galak dan sebelum si pemilik mobil marah, maka kita <em>duluan</em> yang marah, &#8220;Bapak ini bagaimana sih, sudah tahu saya lagi belajar naik motor <em>nyimpen</em> mobilnya sembarangan!&#8221; Atau kalau perlu sebut pangkat Bapak kita di dinas kemiliteran atau kejaksaan, niscaya orang itu <em>ngeper</em>.</p>
<p dir="ltr">Begitupula supaya pemilik motor tidak marah, dan kita tidak perlu minta maaf padanya, maka segera kita dahului dengan ucapan, &#8220;Wah motornya tabrakan nih. Untung aja saya sempat menghindar jadi rusaknya nggak parah. Kamu juga salah sih, udah tahu saya belum trampil naik motor, kamu kasih pinjam juga. Sekarang kamu harus ikhlas, ini kan musibah yang tidak bisa dihindari!&#8221; Dalam ilmu kejiwaan yang seperti ini disebut <em>argumentum ad homentum</em>, mencari alasan untuk menyalahkan orang lain, sehingga dirinya terhindar dari kesalahan.</p>
<p dir="ltr">Masihkah kita layak disebut seorang mukmin sejati dengan sikap seperti demikian? Kawan, zaman sekarang ini bukan saja orang yang berani karena benar, tapi yang salah pun berani, bahkan lebih berani daripada mereka yang benar. Para pencopet yang tertangkap basah oleh korbannya, dengan gagah segera balik menuduh, &#8220;Jangan sembarangan nuduh saya copet! Kamu kali yang copet!&#8221; Karena kebanyakan korbannya adalah orang baik-baik dan tidak siap dengan perlakuan seperti itu, tidak sedikit yang jadi terdiam.</p>
<p dir="ltr">Ketika kita dipersalahkan, kita bukannya mengoreksi diri untuk kemudian meminta maaf, kita malah sibuk berapologi, mencari alasan untuk balas menyalahkan orang lain. Mari belajar untuk bersikap dewasa dengan menjadi gagah untuk mengakui kesalahan kita. Dengan mengaku salah dan meminta maaf belum tentu orang lain akan marah apalagi menghinakan kita, yang sudah pasti Allah memuliakan kita. Tapi dengan berapologi, justru akan menurunkan kewibawaan kita dan mengundang antipati. Menunjukkan bahwa kita tidak berjiwa besar.</p>
<p dir="ltr">Cara kedua untuk tidak meminta maaf adalah menganggap bahwa kita tidak pernah berbuat kesalahan. Biarkan saja, toh orang lain tidak tahu, pun seandainya mengetahui mereka juga akan segera lupa. Bacalah koran, tidak sedikit orang menjadi korban tabrak lari. Entah siapa yang menabraknya, mereka juga tidak peduli siapa yang mereka tabrak; tewas atau selamat. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Ini juga contoh perilaku orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka menyangka bahwa tidak akan ada yang tahu dan menuntut kesalahan yang mereka lakukan. Padahal Allah Maha Mengetahui.</p>
<p dir="ltr"><em>&#8220;Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.&#8221;</em>(TQS. Al An&#8217;am[6]:120).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Semoga kita terlindung dari perilaku demikian karena bukan bagian dari perilaku seorang mukmin sejati. <strong>[januar]</strong></p>
<p dir="ltr">
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Agustus 2002]</em></p>
<p dir="ltr">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bersalah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikhlas</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ikhlas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ikhlas#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 02:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2298</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Beramal itu kudu ikhlas!&#8221;
&#8220;Cuma amal yang ikhlas yang diterima orang!&#8221;
&#8220;Jangan pernah mengharap apa-apa dari orang lain!&#8221;
Hmm, betapa banyak kita diminta untuk menjadi orang yang ikhlas. Untuk urusan apapun. Waktu shalat kita diminta untuk ikhlas, tidak mengharapkan pujian dari orang lain. Misalkan ada seorang ustadz yang mengatakan janganlah membagus-baguskan shalat saat orang-orang memperhatikan shalat kita. Biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Beramal itu kudu ikhlas!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Cuma amal yang ikhlas yang diterima orang!&#8221;<br />
&#8220;Jangan pernah mengharap apa-apa dari orang lain!&#8221;</em></p>
<p>Hmm, betapa banyak kita diminta untuk menjadi orang yang ikhlas. Untuk urusan apapun. Waktu shalat kita diminta untuk ikhlas, tidak mengharapkan pujian dari orang lain. Misalkan ada seorang ustadz yang mengatakan janganlah membagus-baguskan shalat saat orang-orang memperhatikan shalat kita. Biasa shalat dengan bacaan surat-surat pendek, eh pas menjadi imam memanjangkan bacaan.</p>
<p>Waktu berpuasa lagi-lagi kita diminta ikhlas mengerjakannya. Jangan pernah minta-minta ke ortu untuk dibelikan baju lebaran, sarung baru, sendal or sepatu baru. Cuekkan saja keinginan-keinginan macam begitu. Yang mesti kita kejar cuma satu; pahala, lupakan yang lain!</p>
<p>Saat berbuat baik pada orang lain ikhlas juga harus jadi salah satu patokannya. Jangan pernah berharap-harap orang lain akan membalas budi kita di kemudian hari. Itu namanya pamrih. Tapi bagi kita sepatutnya mengingat-ingat jasa baik orang lain pada kita. Moga-moga kita bisa ngebalesnya kelak. Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Tapi nggak berlaku sebaliknya.<span id="more-2298"></span></p>
<p>Jangan juga berharap orang akan menyebut-nyebut kebaikan kita untuk kapanpun. Lho, memang ada orang yang seperti begitu? Selalu ada. Ini contohnya. Suatu ketika, dalam sejarah, pasukan kaum muslimin pimpinan Maslamah bin Abdul Malik tengah kebingungan menembus benteng musuh yang telah dikepung berhari-hari. Padahal pada benteng itu ada sebuah celah yang bisa dimasuki namun nggak ada satupun orang yang bisa melakukan hal itu. Sampai suatu saat seorang prajurit &#8212; yang tidak diketahui namanya &#8211; ternyata bisa melakukannya bahkan dengan aksinya itu akhirnya kaum muslimin memperoleh kemenangan! Jelas aja Maslamah bin Abdul Malik gembira dan ingin berjumpa dengan &#8217;sang penakluk&#8217; benteng nan gagah berani itu. &#8220;Aku minta agar prajurit &#8216;penyusup&#8217; ke benteng musuh datang menemuiku!&#8221; pintanya.</p>
<p>Namun tak ada seorang pun prajurit yang datang memenuhi permintaan Maslamah. Sampai datang seseorang memasuki kemahnya. &#8220;Aku akan memberitahu pada Anda siapa prajurit itu,&#8221; kata laki-laki itu. &#8220;Tapi orang itu mengajukan tiga syarat pada Anda; <em>pertama</em>, janganlah Anda menuliskan namanya dalam surat Anda kepada khalifah. <em>Kedua dan ketiga</em>, janganlah Anda memberinya hadiah dan bertanya dari kabilah mana ia berasal.&#8221; Setelah Maslamah menyanggupi permintaan itu barulah laki-laki itu berkata, &#8220;Saya adalah orang masuk ke dalam benteng tersebut.&#8221; Dan Maslamah pun tidak pernah tahu siapa nama prajurit tersebut.</p>
<p>Demikian kagumnya dengan keikhlasan prajurit tersebut, maka semenjak pertemuan itu dalam setiap akhir sholat Maslamah selalu berdoa; &#8220;Ya Allah jadikanlah aku bersama prajurit penakluk tersebut.&#8221; Tepuk tangan yang meriah untuk prajurit itu saudara-saudara!</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Tapi apa sih ciri-ciri ikhlas? Apa manusia sama sekali tidak pantas mengharap pujian dari orang lain? Kan wajar saja kita berharap orang lain menyebut-nyebut amal baik kita?</p>
<p>Sepertinya, supaya dapat jawaban yang terang dan jelas kita harus mendengarkan apa kata orang-orang alim. Di antaranya:</p>
<p>&#9632;???????? Ikhlas menurut ustadz Fawziy Sanqarth adalah senilainya perbuatan seorang muslim antara lahir dan batin. Contohnya, orang yang ibadahnya bagus karena memang ia punya niat yang lurus.</p>
<p>&#9632;???????? Imam Harits Al Muhasibiy menyebutkan orang ikhlas adalah yang tidak suka memperlihatkan amal kebaikannya pada orang lain walau itu cuma sebesar atom, dan ia tidak marah seandainya orang lain memperhatikan kekurangan dari amalnya.</p>
<p>&#9632;???????? Imam Abi Al Qasim Al Qusayriy mengatakan bahwa ikhlas adalah menjadikan ketaatan dan tujuan beramal semata-mata untuk Allah SWT., dan berharap dengan ketaatannya itu dapat mendekatkan diri kepada Allah dan bukan pada yang lain; dibuat-buat untuk manusia, mengharapkan pujian dari mereka, atau cinta akan pujian atau apa saja selain mendekatkan diri kepada Allah SWT.</p>
<p>Ikhlas juga punya ciri-ciri. Menurut Umar bin Abdul Aziz yang soleh itu, salah satu ciri ikhlas adalah siap tunduk pada kebenaran dan menerima nasihat dari manapun datangnya.</p>
<p>Kedengarannya sepele padahal puluhan &#8216;pele&#8217; alias berat. Salah satunya adalah karena kita suka pilih-pilih dalam urusan menerima nasihat dari orang lain. Kalau guru menegur prestasi belajar kita yang nggak OK, kita paling nyengir kuda. Tapi kalau yang menegur itu adik kelas, wah urusannya adalah tarik urat leher. <em>Lu siapa sih!</em> Kata kita.</p>
<p>Itulah tanda hati yang tidak ikhlas. Makin tinggi status sosial seseorang, biasanya makin susah jadi orang ikhlas. Kebayang kan kyai dinasihati santri, jenderal ditegur prajurit, direktur diingatkan karyawan, kepsek diceramahi murid, dll. Kalau itu bisa terjadi, maka itulah ciri-ciri keikhlasan yang melekat pada hati seseorang.<br />
Soal pujian, mendapatkannya tidak apa-apa. Itu bukan sebuah tanda tidak ikhlas. Dipuji boleh tapi mengharapkannya terlarang. Suatu ketika Rasulullah saw. ditanya oleh seseorang, &#8221; Bagaimanakah kalau seseorang beramal kebaikan karena Allah, tiba-tiba dipuji-puji orang?&#8221; Nabi saw. menjawab, &#8220;Itu sebagai pendahuluan kabar baik bagi seorang mukmin.&#8221;</p>
<p>Yang lucu bin norak adalah ada orang yang mengaku ikhlas dalam beramal, tapi mendadak gundah bin gusar ketika tidak ada satu pun orang yang memperhatikan amalnya. Sama halnya dengan orang yang beranggapan kalau pujian dari orang lain adalah sugesti dalam beramal. Wah, apa tidak cukup sugesti itu adalah pujian dan pahala dari Allah, Mas?</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Di atas udah kita tulis satu pepatah lama; ada ubi ada talas. Artinya ada ubi ada balas. Maksud pepatah ini adalah kalau ada seseorang yang berbuat baik pada orang lain, maka ia pantas mendapatkan balasan.</p>
<p>Hmm, apakah ini nggak bertabrakan dengan prinsip ikhlas? Bisa iya, bisa juga tidak. Kalau kita berbuat baik pada orang lain, maka jangan pernah berharap &#8211; apalagi ngemis-ngemis &#8212; ia bakal membalas jasa baik kita. <em>Sooner or later</em>. Lagi-lagi itu pamrih yang menodai keikhlasan amal kita. Biarlah cuma Allah yang kita minta ngebales semua amal baik kita.</p>
<p>Pedoman amal macam begini wajib kita camkan baik-baik. <em>Cos</em>, ada orang yang berpendapat kalau kita ingin disukai orang, <em>dibaik-baikin</em> oleh orang lain, jadilah orang baik untuk orang lain. Nah, ketika orang lain berbuat yang nggak baik padanya ia? pun ngebales dengan perbuatan yang sama. Kadang-kadang lebih.</p>
<p>Sebut saja Tono, ia sering diusilin temen-temennya. Nah, begitu ada kesempatan Tono membalas perlakuan semua temennya dengan pembalasan setimpal. Itu sih namanya dendam-dendaman.</p>
<p>Perilaku macam begitu nggak berlaku bagi Rasulullah saw. Selain dalam peperangan dan hukum pengadilan, beliau adalah orang yang amat pemaaf. Ketika tubuhnya berdarah-darah akibat sambitan batu penduduk Thaif, yang keluar dari lisannya hanyalah doa keselamatan untuk para pelemparnya. Moga-moga Allah SWT. berkenan melahirkan generasi yang soleh dari kota Thaif. Mana tahaan! <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Desember 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ikhlas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empati Itu Indah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/empati-itu-indah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/empati-itu-indah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 01:28:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2278</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana perasaanmu saat ada orang yang terguling dari sepeda, jatuh di tempat yang becek, eh masih ketiban sepedanya, tapi orang-orang di sekitarnya malah tertawa, bahkan ada yang nyukurin. Kalau itu adegan slapstick (lawakan fisik) macam film komedi Home Alone, Baby&#8217;s Days Out atau Warkop nggak apa-apa kalau kamu ikutan terpingkal. Tapi kalau itu kejadian nyata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana perasaanmu saat ada orang yang terguling dari sepeda, jatuh di tempat yang becek, eh masih ketiban sepedanya, tapi orang-orang di sekitarnya malah tertawa, bahkan ada yang <em>nyukurin</em>. Kalau itu adegan <em>slapstick</em> (lawakan fisik) macam film komedi <em>Home Alone</em>, <em>Baby&#8217;s Days Out</em> atau <em>Warkop</em> nggak apa-apa kalau kamu ikutan terpingkal. Tapi kalau itu kejadian nyata, sebaiknya kamu mikir-mikir dulu dengan sehat dan&#8230;jangan tertawa. Kalau kamu tetap tertawa maka bisa jadi kamu termasuk orang yang tidak mudah berempati pada orang lain.</p>
<p dir="ltr">Apa sih empati? Menurut Daniel Goleman yang menulis buku <em>Kecerdasan Emosional</em>, empati adalah kemampuan memahami dan turut merasakan perasaan orang lain. Apa ini penting? Ya, sangat penting. Dalam pergaulan kalau kita tidak bisa berempati pada orang lain, amat besar kemungkinan orang lain nggak bakal betah berkawan dengan kita. Bagaimana nggak? <em>Lha wong</em> saat mereka tertimpa musibah kita justru bahagia, dan saat mereka bahagia kita malah bersedih (karena iri hati). Manusia manapun, pastinya ingin berkawan dengan orang yang bisa diajak <em>happy</em> dan terutama sedih bersama-sama. Seperti kata peribahasa, <em>berat sama dipikul, ringan sama dijinjing</em>. Bukan <em>ringan saja dijinjing, kalo berat elu yang pikul sendirian dikejar sama anjing</em>. Seberapa pintar kita berempati pada orang lain, maka sejauh itulah kita bisa menjadi seorang kawan yang baik buat orang lain.<span id="more-2278"></span></p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">Pentingkah kita berempati pada orang lain? Ya adalah jawabannya. Empati itu adalah perwujudan kasih sayang sesama manusia. Imajinasikan seandainya di dunia tidak ada rasa empati, tidak akan ada persahabatan, kekerabatan, kasih sayang, cinta dan keadilan. Kita akan tumbuh menjadi orang yang kaku, <em>strict</em>, intoleran, bahkan bengis.</p>
<p dir="ltr">Saat orang lain menderita kita tertawa, ketika orang lain berbuat kesalahan maka tidak ada kata maaf baginya. Dan para pemimpin akan menjadi orang-orang bertangan besi yang gemar berkuasa tanpa peduli pada nasib rakyatnya. Bukankah kita benci pada seseorang yang tidak mau pusing dengan urusan orang lain? Terutama pada para pemimpin yang tidak <em>care</em> pada orang yang dipimpinnya.</p>
<p dir="ltr">Suatu ketika kawan saya berbuat kesalahan pada atasannya sewaktu bekerja. Tanpa pandang bulu atasannya memaki-maki kawan saya tersebut di tengah-tengah pasar, disaksikan banyak orang. Kamu bisa bayangkan betapa malu dan sakit hatinya kawan saya tersebut. Itulah contoh seorang pemimpin yang tidak punya empati pada orang yang dipimpinnya.</p>
<p dir="ltr">Pastinya berempati tidak saja baik untuk ukuran manusia, tapi juga dipandang baik oleh agama. Bahkan ini yang lebih utama. Yup, buat apa kita berbuat baik bila dipandang buruk oleh Yang Mahakuasa. Kita menanamkan sikap empati tidak lain sebagai bagian dari menghiasi diri dengan <em>akhlakul karimah</em>, menuruti perintah agama.</p>
<p dir="ltr">Rasulullah saw. adalah orang terkenal memiliki empati yang tinggi. Kalau beliau menjadi imam shalat, beliau memendekkan bacaannya saat mendengar tangisan anak kecil yang merengek pada ibunya, dan jika tahu di dalam jamaah shalat terdapat orang-orang tua. Beliau juga pernah menegur Mu&#8217;adz bin Jabal r.a. yang dikeluhkan banyak orang karena selalu membaca surat-surat panjang dalam setiap shalat berjama&#8217;ah. Ketika ia mendengar seorang wanita tua berkulit hitam yang biasa menyapu mesjid telah meninggal, beliau tertegun. &#8220;Kenapa kalian tidak memberitahukannya padaku?&#8221; kata beliau pada para sahabat. Beliaupun melakukan shalat ghaib dua rakaat untuk wanita itu. Bukankah ini indah?</p>
<p dir="ltr">Beliau saw. juga dikenal sebagai orang yang gemar memuliakan orang lain. Kala ada orang yang terlambat masuk ke dalam majlis beliau meminta agar para sahabat yang lain menggeser duduk mereka, memberi kesempatan bagi yang terlambat. Beberapa kali Nabi saw. tidak sungkan membuka sorbannya dan menjadikannya sebagai alas duduk para sahabat yang datang terlambat.</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">Empati itu wujudnya luas. Tidak iri pada kesuksesan orang lain juga bentuk empati kita pada seseorang. Manakala adikmu naik kelas dengan nilai memuaskan, lalu ortumu menghadiahinya sepatu <em>Nike</em> keluaran terbaru, turutlah merasa bahagia. Jangan malah jadi <em>juthek</em>. Kalau itu kamu lakukan maka di depan mata Allah kamu adalah orang yang mulia karena sangat berlapang dada, pandai bersyukur, dan tidak iri hati.</p>
<p dir="ltr">Ketika kamu melihat televisi, matamu menatap anak-anak Irak yang kurus kering, kelaparan akibat embargo biadab AS dan PBB, lalu hatimu trenyuh, <em>ghirah ukhuwah</em>-mu tersentuh, bersyukurlah karena berarti kamu memiliki empati.</p>
<p dir="ltr">Kalau orang-orang di Barat sana macam Daniel Goleman dan Patricia Patton baru mempelajari empati di abad ini, kaum muslimin sudah mengetahuinya hampir 14 abad yang lalu. Simak saja bunyi hadits ini: <em>&#8220;Hak muslim atas muslim ada; menjawab salam, mendoakan kepada orang yang bersin, menyahut undangan, menziarahi orang sakit dan mengiringi jenazah&#8221;</em></p>
<p dir="ltr">Sekarang mari kita bertanya pada diri kita sendiri; kapan terakhir kali kita menengok kawan kita yang sakit? Pernahkah kita mendoakan sesama kawan kita dalam kebaikan? Kapan terakhir kali kita menasihati kawan kita?</p>
<p dir="ltr">Lucunya, kita hampir selalu punya alasan untuk tidak melakukan kebaikan itu semua. Kita bisa bilang padanya, &#8220;Maaf waktu itu saya sedang sibuk, kamu harap maklum.&#8221; Or mungkin kita bisa bilang padanya saat ia sedih saat kita tidak mengunjunginya saat mengalami <em>bad days</em>, &#8220;masak sih ia tidak bisa memaklumi kegiatan saya.&#8221; Oh, benarkah tindakan kita? Nggak. Karena kita tidak tahu bagaimana keadaannya saat itu. Orang yang sedang mengalami <em>bad days</em> itu seringkali rapuh, akal bisa buntu, karenanya ia membutuhkan kita ada disisinya. Walau sekedar untuk menepuk bahunya atau mengucapkan kata, &#8220;sabarlah&#8221; padanya. Itu adalah udara segar untuk dadanya yang sesak.</p>
<p dir="ltr">Insya Allah tidak sulit berempati pada orang lain. Teknologi telah membantu kita untuk berbuat kebaikan pada orang lain. Ada surat, telepon, ponsel, sms, email bahkan kita bisa sisipkan aneka <em>emoticons</em> kita <em>to show how empathy we are</em> J</p>
<p dir="ltr">Hadits di atas seandainya kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, dijamin akan memperkokoh hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita; orang tua, saudara, kawan-kawan dan tetangga. Kita tidak akan pernah merasa sendiri karena akan selalu ada orang yang menemani kita di saat dirundung duka. Itulah sebabnya Islam terkenal ajarannya yang penuh dengan perdamaian dan keselamatan. Dalam satu ayat Al Qur&#8217;an Allah menyebut ciri-ciri kaum muslimin sebagai, <em>&#8220;kasih sayang pada sesama,&#8221;</em>(Al Fath [49]:29). Mau kan kita termasuk golongan itu?</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">Empati janganlah diartikan sebagai basa basi, tapi ia harus datang dari lubuk hati. Keikhlasan hati kitalah yang akan menentukan kualitas pahala kita di hadapan Allah SWT. Karenanya berempati bukanlah ditujukan untuk sekedar menyenangkan orang lain, atau agar kita dipandang baik oleh orang lain. Tidak untuk itu. Tapi kebaikan hati yang kita kerjakan &#8211; dalam hal ini empati &#8211; dimaksudkan sebagai amal saleh yang dianjurkan oleh agama. Ridlo Allah adalah tujuan kita dalam beramal. Jangan khawatir, setiap kebaikan yang kita kerjakan pastinya akan menuai kebaikan pula.</p>
<p dir="ltr">So, milikilah sikap empati sekarang juga. Beri <em>care</em> dan <em>attention</em> pada orang di sekitar kita, baik yang telah kita kenal ataupun yang belum, karena kebaikan akan membuat semua orang menjadi kawan. Kunjungilah kawanmu yang sakit, hiburlah ia. Bila tidak sempat kirimlah surat, sms, atau titipkan salam pada orang yang mengunjunginya.</p>
<p dir="ltr">Kalau kamu seorang pemimpin, anggaplah teman-teman yang kamu pimpin sebagai kawan, bukan anak buah apalagi jongos. Hormati mereka dan berikan mereka tugas menurut kemampuan mereka. Itulah empati seorang pemimpin pada orang yang mereka pimpin. <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuiat di Majalah PERMATA, edisi Mei 2003]</em></p>
<p dir="ltr">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/empati-itu-indah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ukhuwah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ukhuwah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ukhuwah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 01:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2270</guid>
		<description><![CDATA[Umat Muslim bersaudara. Itu adalah ajaran dan satu-satunya ikatan yang mulia yang pernah ada. Ikatan yang mengalahkan bermacam-macam ikatan yang ada di antara manusia sebelumnya. Ikatan kesukuan, nasionalisme, organisasi, dan berbagai ikatan priomordialis menemui akhir riwayatnya di tangan ukhuwah Islamiyyah.
Sebelum kedatangan Islam barangkali orang tidak pernah dapat membayangkan bagaimana caranya mempersatukan hati dan pikiran seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Umat Muslim bersaudara. Itu adalah ajaran dan satu-satunya ikatan yang mulia yang pernah ada. Ikatan yang mengalahkan bermacam-macam ikatan yang ada di antara manusia sebelumnya. Ikatan kesukuan, nasionalisme, organisasi, dan berbagai ikatan priomordialis menemui akhir riwayatnya di tangan ukhuwah Islamiyyah.</p>
<p>Sebelum kedatangan Islam barangkali orang tidak pernah dapat membayangkan bagaimana caranya mempersatukan hati dan pikiran seluruh umat manusia. Bagaimana bisa seorang yang berkulit hitam dapat bersaudara dengan yang berkulit putih, kuning atau merah? Begitupula bahasa mereka berbeda, asal suku bangsa mereka juga berbeda? Entah bagaimana cara mempertautkan seluruh hati mereka. Sebuah hal yang terlalu rumit bagi manusia yang memang kemampuan berpikirnya serba terbatas.</p>
<p>Kita pun melihat sejarah dunia itu hampir tenggelam dengan pertikaian yang disebabkan perbedaan-perbedaan yang sudah alamiah ini. Romawi menaklukkan separuh dunia untuk kemudian menciptakan kelas-kelas sosial menurut keturunan dan suku bangsa. Demikian pula Persia. Jazirah Arab, tempat kelahiran Islam, pun pernah tenggelam dalam hiruk pikuk konflik antar kabilah. Pada abad modern Perang Dunia meletus sebanyak dua kali lagi-lagi demi alasan nasionalisme; Jepang dengan Nippon-nya, Hitler dengan Nazi-nya, Mussolini dengan Fasisme-nya, dan sekutu dengan kebanggaan aliansi sekutunya.<span id="more-2270"></span></p>
<p>Padahal seluruh perbedaan-perbedaan itu ada yang bersifat alamiah. Ketika kita lahir ke alam dunia tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benak kita untuk misalkan; berkulit coklat, bermata sipit, berbahasa Melayu, dsb. Seluruhnya adalah alamiah. Karenanya menjadi tidak adil kalau kemudian dipermasalahkan. Bagaimana bisa seorang kulit putih merasa lebih mulia dari orang lain hanya karena warna kulitnya? Bukankah &#8216;kebetulan&#8217; saja ia terlahir dengan kulit putih. Ah, itulah lemahnya manusia, hampir selalu ego-nya mengalahkan akal sehatnya.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang mu&#8217;min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.&#8221;</em> (TQS. Al Hujurat:10)</p>
<p><em>&#8220;Tidak ada keutamaan antara orang Arab dibandingkan orang Ajam (non-Arab), dan antara orang Ajam dengan orang Arab. Juga tidak ada keutamaan antara orang berkulit putih dibandingkan dengan orang berkulit hitam, juga tidak ada keutamaan antara orang berkulit hitam dibandingkan dengan orang berkulit putih, kecuali dengan takwa.&#8221;(al hadits)</em></p>
<p>Dengan indah Allah Swt. meminta kita untuk tidak merasa lebih &#8216;tinggi&#8217; dibandingkan orang lain hanya karena perbedaan-perbedaan alamiah tersebut. Semata takwa yang membedakan seorang manusia dengan manusia yang lain. Dengan falsafah hidup kebersamaan dan kesetaraan itu, Islam telah memecahkan masalah ketidakharmonisan hubungan sesama manusia. Baik antar suku bangsa, antar individu, maupun antar jenis kelamin.</p>
<p><em>And then</em>, apakah kita siap menerima konsekuensi dari sebuah ukhuwah Islamiyyah? Siapkah kita untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan seluruh saudara-saudara kita? Siap jugakah kita untuk menerima segala macam perbedaan &#8212; baik fisik maupun pemikiran &#8211; dengan mereka yang berada di luar rumah kita, bahkan tanah air kita? Siap jugakah kita untuk tidak mendzalimi sesama muslim, tidak menyerahkannya pada musuh, dan untuk tidak membicarakan kejelekan mereka? Dan banyak lagi hak dan kewajiban sesama muslim yang harus kita kerjakan sebagai bukti cinta kita pada saudara seiman kita.</p>
<p>&#8220;Belum sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.&#8221;(al hadits)</p>
<p>Kawan, terlalu sering kata ukhuwah berkumandang di telinga kita dan keluar dari bibir kita,? padahal mungkin kita sendiri belum memahami tanggung jawab dari sebuah ukhuwah. Kalau Amin yang bukan orang kaya masih menyimpan iri hati dan kebencian pada Tono yang dilimpahi harta, maka ukhuwah tinggallah angan-angan. Demikian pula seandainya Tono yang kaya raya tidak pernah peduli apalagi mau membantu Amin yang kekurangan, ukhuwah berarti hanyalah slogan saja. Bukankah hal seperti demikian teramat sering terjadi di tengah-tengah kita; yang miskin iri hati dan benci pada yang kaya, sementara yang kaya tidak peduli pada penderitaan sesama muslim.</p>
<p>Bagi mereka yang setiap hari bergelut dengan dakwah dan syiar Islam, juga tidak ada salahnya merenung; sudahkah ukhuwah itu menjadi bagian dari kehidupan kita ataukah hanya sekedar rangkaian kalimat indah dalam ceramah dan tulisan kita. Atau jangan-jangan ukhuwah itu hanya berputar pada kelompok kita saja, tidak pada yang lain.</p>
<p>Dulu kita sering mendengar tokoh agama saling mencaci, menghujat dan menghina hanya karena persoalan <em>qunut</em>, jumlah rakaat shalat tarawih, dan berbagai macam masalah-masalah sepele lainnya. Perbedaan yang tidak pernah menyeret para ulama-ulama terdahulu masuk ke dalam keributan, apalagi permusuhan. Kini, ukhuwah juga sering terpecah dengan perbedaan kelompok pengajian, bendera partai, atau ustadz. Seorang kawan pernah bercerita dengan sedih bahwa ia dikucilkan oleh kawan-kawannya sesama aktivis pengajian hanya karena ia mengaji pada ustadz yang tidak sepaham dengan ustadz mereka. Seorang kawan lagi dengan kesal bercampur kecewa bercerita bahwa ia sering mendapat fitnah dari sesama aktivis muslim &#8211; yang kawan dekatnya &#8211; juga karena ia lebih cenderung pada partai Islam yang berbeda dengan kawan-kawannya.</p>
<p>Kawan, sadarkah kita bahwa menerima ukhuwah berarti juga harus menerima segala perbedaan? Bersatu bukan berarti harus seragam. Hanya dua hal yang harus sama akidah dan tujuan perjuangan kita; Islam dan ridlo Allah Swt. Selebihnya adalah perbedaan yang akan menambah indah kehidupan kita bersama. Bersaudara bukan berarti menolak perbedaan. Bukankah perbedaan itu sudah ada sejak generasi pertama agama ini. Lihatlah bagaimana para khulafaur rasyidin dengan lapang dada menerima perbedaan di antara mereka, tanpa ada rasa dendam, fitnah atau caci maki.</p>
<p>Mari kita rajut kembali ukhuwah itu dengan semangat keikhlasan dan tentu saja dorongan iman. Marilah kita membuka mata lebar-lebar dan mendengarkan dengan seksama agar kita terhindar dari segala perpecahan. Saudara-saudara kita bukanlah semata yang ada dalam kelompok kita. Mereka yang berada di luar sana; baik yang belum sadar untuk kembali ke jalan Allah ataupun yang tengah meniti ridlo Allah pada jalur yang berlainan adalah saudara dalam keimanan dan perjuangan.</p>
<p>Alangkah sempitnya hati kita, dan dangkalnya pikiran kita seandainya menganggap ukhuwah adalah sebuah keseragaman, dengan menafikan perbedaan. Ayo kita bersama rajut keindahan ukhuwah Islamiyyah yang sejati itu. <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juni 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ukhuwah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerja</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kerja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kerja#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 05:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2234</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya bersekolah dulu ada beberapa kawan? yang suka berdagang di kelas. Macam-macam. Mulai dari makanan, merchandise macam stiker sampai kerudung. Kegiatan macam itu jelas menyenangkan. Buat saya dan teman-teman, setidaknya membuat kita nggak usah cape-cape jajan ke kantin. Nilai plusnya juga ada, bikin teman senang berwirausaha dan menjalin solidaritas.
Memang, nasib kita tidak sama. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika saya bersekolah dulu ada beberapa kawan? yang suka berdagang di kelas. Macam-macam. Mulai dari makanan, <em>merchandise</em> macam stiker sampai kerudung. Kegiatan macam itu jelas menyenangkan. Buat saya dan teman-teman, setidaknya membuat kita nggak usah cape-cape jajan ke kantin. Nilai plusnya juga ada, bikin teman senang berwirausaha dan menjalin solidaritas.</p>
<p>Memang, nasib kita tidak sama. Ada remaja yang aman dan lancar bersekolah tanpa perlu ikut pusing memikirkan uang bayaran dan jatah beli buku atau bayar foto kopian dari guru. Karenanya berdagang adalah salah satu bentuk kegiatan teman-teman kita untuk menambah uang saku. Bisa jadi ada kawan-kawan yang mengandalkannya untuk membayar SPP. Sewaktu saya masih SD &#8211; sekolah saya terletak di pedalaman kota Udang &#8211;, kawan-kawan saya banyak masuk kelas bersepatu kulit alias <em>nyeker</em>. Kebanyakan kawan-kawan saya bekerja membantu orang tuanya bekerja di sawah. Maka setiap musim panen selalu saja ada kawan-kawan yang tidak masuk. Ada yang membantu panen atau menggembalakan kambing. Ada juga kawan saya yang setiap sore, usai pulang sekolah, menjadi penarik becak. Bayangkan, anak SD <em>narik</em> becak!<span id="more-2234"></span></p>
<p>Tapi jangan pernah bilang kalau remaja tidak pantas mencari uang. Pernyataan itu nggak benar sama sekali. Dalam agama kita, setiap orang yang telah akil baligh sudah memiliki kewajiban untuk bisa menafkahi dirinya sendiri. Ketentuan ini berlaku khusus bagi anak-anak cowok. Kita, kaum lelaki, memang tulang punggung keluarga. Kita sudah diposisikan oleh Allah SWT. sebagai penanggung jawab keluarga.</p>
<p>Tentu saja hal ini baru akan berlaku pada remaja yang sudah masuk usia akil baligh, bagi yang belum mereka masih jadi tanggungan orang tua masing-masing.</p>
<p><em>&#8220;Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma&#8217;ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.&#8221;</em>(Al Baqarah [2]:233).</p>
<p align="center">* * * * *</p>
<p>Tahukah kamu bahwa agama kita cinta pada orang-orang yang bekerja?</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah saw. berjabat tangan dengan Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;adz. Beliau saw. mendapati telapak tangan Sa&#8217;ad kasar. &#8220;Apa gerangan ini, wahai Sa&#8217;ad?&#8221; tanya Nabi saw.. Sa&#8217;ad menjawab bahwa tangannya kasar karena pekerjaannya. Spontan Rasulullah saw. mencium kedua telapak tangan Sa&#8217;ad sambil memujinya, &#8220;Ini adalah dua tangan yang dicintai Allah SWT.&#8221;</p>
<p>Nabi saw. pun pernah mengingatkan kita akan makanan terbaik yang bisa kita makan adalah yang berasal dari kerja keras kita sendiri.</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah seseorang di antara kalian makan makanan yang lebih baik daripada dari memakan makanan yang diperoleh dari kerja tangannya.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p>Dengan begitu, tidak ada istilah umat muslim bermalas-malasan walau untuk alasan beribadah. Mendekatkan diri kepada Allah bukan berarti dengan cara menenggelamkan diri dalam zikir dan doa sampai lupa daratan. Apalagi bila kemudian menengadahkan tangan, mengharapkan bantuan dari orang lain. Bagaimanapun juga memberi lebih baik dari pada meminta.</p>
<p><em>&#8220;Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p>Hmm, jangan pernah berpikir untuk hidup seperti benalu. Mengambil manfaat dari hasil kerja orang lain. Agama kita menjauhkan umatnya dari perilaku demikian. Suatu ketika Rasulullah saw. didatangi seorang laki-laki yang berkeluh kesah tentang kesulitan hidupnya, dan meminta uang. Rasulullah mendengarkan keluh kesah pria itu lalu memberinya uang dua dirham. Sewaktu memberikan uang tersebut Beliau berkata, &#8220;Ambillah satu dirham untuk makan keluargamu, dan satu dirham lagi untuk membeli kapak.&#8221;</p>
<p>Beberapa hari berlalu pria itu kembali mendatangi Rasulullah saw. untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan beliau. Kehidupannya kini menjadi lebih baik.</p>
<p>Meminta-minta? Sebaiknya jauhkan kebiasaan macam ini pada diri kita. Nabi saw. bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Jika sekiranya salah seorang di antara kamu berangkat pada waktu pagi untuk mencari kayu lalu dia memikulnya di atas belakangnya. Kemudian dia bersedekah dengannya dan tidak mengharapkan pemberian dari orang lain, maka itu adalah lebih baik baginya dari meminta-minta daripada orang lain.&#8221;</em></p>
<p align="center">* * * * *</p>
<p>Bekerja, selain bermakna ibadah, juga membuat kita mandiri. Tidak bergantung pada orang lain. Dalam bahasa lainnya kita nggak bakal menyusahkan orang lain. Sementara ada orang yang masih harus dibantu, ia justru sudah bisa mencukupi dirinya sendiri. Syukur-syukur ia bisa membantu orang lain. Karena itulah orang yang bekerja juga akan dihormati oleh orang lain.</p>
<p>Kalau kamu tahu, para pengusaha sukses di tanah air dan di dunia tidak membangun kerajaan bisnis mereka dalam semalam, tapi sejak dini. Almarhum H Mas Agung pendiri perusahaan Gunung Agung meniti perusahaannya sejak ia muda. Pelawak dan entertainer beken Eko Patrio sejak kecil sudah terbiasa berdagang sejak anak-anak. Konon ia biasa berdagang petasan di bulan puasa. Novelis muslimah terkenal Helvy Tiana Rossa sudah merintis karir menulisnya sejak remaja. Ia rajin mengirimkan karangan-karanganya ke sejumlah majalah anak-anak dan remaja.</p>
<p>Temukanlah kebanggaan diri saat kamu bisa memperoleh uang. Meski mungkin menurut orang tidak banyak tapi kamu akan merasakan kepuasan yang belum pernah ada. Ketika kamu membeli makan dari uang hasil jerih payahmu, apalagi saat kamu bisa memberikan sesuatu pada orang-orang yang kamu cintai; orang tua atau adik. Binar mata senang orang-orang itu akan semakin membuat kamu percaya bahwa bekerja itu adalah amal yang menyenangkan.</p>
<p>Bagi teman-teman remaja yang kebetulan harus bekerja membanting tulang &#8211; baik untuk membiayai uang sekolah sendiri, atau untuk membantu orang-orang yang kamu cintai &#8211;, banggalah dengan pekerjaanmu. Tak peduli kamu berdagang makanan kecil, menjajakan koran di jalanan, di kereta, atau menawarkan jasa sebagai pengajar, kuli bangunan, menjadi tukang ojek, menjadi supir angkot atau kenek, banggalah dengan pekerjaanmu, karena Allah mencintaimu, hamba-hambaNya yang bekerja.</p>
<p>Kamu yang belum bekerja, kembangkanlah kemampuanmu. Kita percaya Allah menciptakan manusia pasti dengan kelengkapan kemampuan untuk bekerja. [januar]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi September 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kerja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setahun Itu Cepat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/setahun-itu-cepat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/setahun-itu-cepat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 09:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2179</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari ulang tahun saya yang ke 30 tahun 2004 lalu, seorang teman kirim SMS. Bunyinya, &#8220;Hidup dimulai dari usia 30 tahun!&#8221; Kemudian saya membalasnya dengan menuliskan pesan (redaksi aslinya lupa), tapi kira-kira begini isinya, &#8220;Ya, ternyata setahun itu terasa begitu cepat. Jatah hidup saya jadi berkurang satu tahun.&#8221; Cepat sang teman membalas lagi: &#8220;Kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari ulang tahun saya yang ke 30 tahun 2004 lalu, seorang teman kirim SMS. Bunyinya, &#8220;Hidup dimulai dari usia 30 tahun!&#8221; Kemudian saya membalasnya dengan menuliskan pesan (redaksi aslinya lupa), tapi kira-kira begini isinya, &#8220;Ya, ternyata setahun itu terasa begitu cepat. Jatah hidup saya jadi berkurang satu tahun.&#8221; Cepat sang teman membalas lagi: &#8220;Kata Musashi, seribu tahun bagai kilatan cahaya&#8221;.</p>
<p>Kilatan cahaya? Cepat sekali bukan? Coba lihat ke langit ketika hari mulai gelap, bahkan rintik gerimis hujan mulai turun. Biasanya kadang-kadang ada kilat menyambar-nyambar ke bumi. Lihat kilatan cahayanya. Berapa detik ia &#8220;menyala&#8221;? Cepat! Bahkan super cepat. Lebih cepat dari gelombang suara.<span id="more-2179"></span></p>
<p>Hidup ini memang nggak terasa saat kita menjalaninya. Saya sering mengenang masa kecil. Kadang indah terasa, tapi sering juga sesal menyergap. Indah rasanya ketika saya bisa bersenda-gurau dengan teman main di sawah atau di sungai dekat bendungan. Main cipratan air. Lucu sekali kalo itu dilakukan sekarang.</p>
<p>Tapi saya sering juga menyesal, karena dulu saya termasuk murid SMP yang sempat tergoda untuk ikutan jadi &#8220;bandel&#8221;. Terutama, saya mulai rajin mabal alias &#8220;minggat&#8221; dari sekolah. Namanya minggat tentu nggak perlu ijin dong. Beruntung tidak berlangsung lama, karena ada teman yang mengingatkan dan sekaligus mengajak untuk kembali baik.</p>
<p>Cepat, memang cepat. Saya sering ketawa sendiri membayangkan 15 tahun lalu. Waktu itu saya masih sibuk mencari pekerjaan. Bertualang dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya. Saat itu saya merasa masih muda, merasa masih banyak waktu untuk mencoba dan terus menjajal. Jika sudah bosan di sebuah perusahaan biasanya saya akan pamitan. Saya pikir, gampang cari kerja dengan mengandalkan ijasah dari sekolah kejuruan tempat saya menimba ilmu.</p>
<p>Bahkan sejatinya bayangan 25-an tahun lalu pun saat masih anak-anak, sedikit tersisa kenangan itu. Kenangan ketika saya menjadi seorang anak SD yang suka jail. Terpaksa saya buka rahasia kebandelan saya. Kalo ada acara pramuka, saya pasti ikut. Sangat semangat. Kegiatan yang paling saya suka adalah &#8220;mencari jejak&#8221;. Kegiatan ini paling menyenangkan karena saya bisa ngerjain teman-teman saya. Saya memang bandel saudara-saudara!</p>
<p>Suatu saat, ketika mencari jejak saya sering berada di bagian belakang barisan. Tujuan utama waktu itu, saya akan memindahkan tanda panah yang biasanya dibuat sama panitia sepanjang rute yang akan dilalui para pencari jejak. Kalo ada jalan bercabang, saya biasanya akan mengalihkan tanda panah ke arah yang salah. Tentu saja, kelompok pencari jejak setelah gerombolan saya pasti kesasar!</p>
<p>Ternyata beberapa tahun kemudian saya kena batunya. Waktu itu acara hiking yang diadain sama pramuka waktu saya sekolah di Bogor. Kita semua satu grup sok tahu, sampe akhirnya baru kerasa kita ternyata kesasar karena salah mengikuti petunjuk yang dibuat panitia. Waduh!</p>
<p>Ingatan-ingatan masa lalu itu terasa baru kemarin. Saya kadang merasa masih inget bau keringat yang menempel di baju pramuka saya waktu SD. Ya, masih anak-anak, ternyata sekarang udah punya anak-anak. Cepat sekali berlalu.</p>
<p>Saya sering miris dengan amalan yang saya koleksi. Karena waktu begitu cepat, sementara amalan saya, yang bisa saya kalkulasi, itu pun dengan sangat kasar dan tanpa kalibrasi, masih sedikit yang baiknya. Bahkan jujur saja ada beberapa teman yang saya sendiri sudah lupa wajahnya, apalagi namanya yang belum saya mintakan maafnya karena saya sering ngerjain mereka waktu SD dan SMP. Semoga saja, beliau masih mau membukakan pintu maaf saya yang telah banyak berbuat salah.</p>
<p>Satu pelajaran dari catatan ringan yang saya buat ini, adalah jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Mumpung masih muda, kayaknya lebih baik kalo kita berlomba ngebanyakkin amalan baik kita. Selagi masih sehat, kita berpacu memburu amal shaleh. Ketika diberi kemudahan oleh Allah Ta&#8217;ala untuk bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain, lakukanlah segera sebelum segalanya terlambat.</p>
<p>Setahun itu memang cepat sobat. Rasa-rasanya SMS dari teman yang dikirim pada saat saya berusia 30 tahun masih tersimpan rapi di otak saya. Rasanya baru seminggu yang lalu. Eh, ternyata sekarang, tahun 2009 ini, sudah 35 tahun usia saya. Nggak terasa dan memang sangat cepat. Setahun itu sangat super cepat jika mengingat pernyataan Musashi: &#8220;Seribu tahun bagai kilatan cahaya&#8221;.</p>
<p>Bagaimana dengan teman-teman semua? Semoga saja catatan ringan nan sederhana ini bisa memberikan setitik inspirasi buat teman-teman untuk lebih memperbaiki dan mempersiapkan hidup ini. Saya yakin, kita masih punya kesempatan. Sambil menghitung hari yang terasa makin tersisa sedikit demi sedikit dari detik ke detik dari jatah yang ditentukan Allah Swt. bagi kehidupan kita di dunia ini.</p>
<p>Memang jika kita bicara umur, mana ada yang tahu (kecuali Allah Swt. tentunya) keberadaan kita di dunia itu berapa lama. Itu sebabnya yang terpenting adalah berlomba memperbanyak ihsanul amal alias amal yang baik, semampu kita. Karena, setahun itu cepat. Kita berpacu dengan waktu. Karena siapa tahu ajal lebih cepat datang kepada kita.</p>
<p>Setahun itu cepat. Semoga saja itu menjadikan kita lebih semangat untuk memikirkan masa depan kita. Masa depan di dunia dan juga masa depan di akhirat kelak. Jika kita gagal untuk memperbaiki prestasi saat ini, rasanya pantas untuk menyalahkan diri sendiri jika hasilnya sangat buruk yang kita dapatkan.</p>
<p>Mungkin pikir kita, &#8220;Kan bisa mengulang!&#8221; Ya, memang bisa mengulang, tapi tolong pikirkan bahwa waktu yang kita buang tak bakalan balik lagi. Saat kita ngulang di sekolah, teman kita mungkin sudah lulus dan sekolah di tingkat yang lebih tinggi. Saat kita mulai memperbaiki pekerjaan kita, rekan kerja sudah naik ke posisi lebih tinggi di tempat kita bekerja. Setahun, itu terlalu cepat, itu sebabnya sering membuat kita lengah. Tahu-tahu, kita tak berbuat apa-apa selama setahun itu. Sayang sekali bukan? <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank"><strong>[O. Solihin]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/setahun-itu-cepat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidur</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tidur</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tidur#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 01:29:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2170</guid>
		<description><![CDATA[Tidur sudah identik dengan kemalasan. Kalau orang bertanya, &#8220;Tadi siang lagi ngapain?&#8221; dan jawabannya tidur, wah mengesankan kalau kita itu malas.
Tapi tahukah kamu kalau tidur adalah salah satu kebutuhan jasmani kita? Bahkan kebutuhan yang penting? Sama pentingnya dengan makan dan minum?
Itulah yang sudah dikatakan para peneliti kesehatan. Mereka amat percaya kalau tidur itu penting banget. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidur sudah identik dengan kemalasan. Kalau orang bertanya, <em>&#8220;Tadi siang lagi ngapain?&#8221;</em> dan jawabannya tidur, wah mengesankan kalau kita itu malas.</p>
<p dir="ltr">Tapi tahukah kamu kalau tidur adalah salah satu kebutuhan jasmani kita? Bahkan kebutuhan yang penting? Sama pentingnya dengan makan dan minum?</p>
<p dir="ltr">Itulah yang sudah dikatakan para peneliti kesehatan. Mereka amat percaya kalau tidur itu penting banget. Kata mereka, bila tubuh manusia diforsir tanpa jeda relaksasi dan tidur yang cukup, maka tubuh manusia akan ambruk. Persis seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa istirahat dan perbaikan suku cadang. Kurangnya tidur yang cukup juga dapat berdampak secara psikologis atau kejiwaan. Biasanya, mereka yang kurang tidur akan mudah marah, sulit berkonsentrasi dan ragu-ragu mengambil keputusan.<span id="more-2170"></span></p>
<p dir="ltr"><strong> </strong>Penelitian soal tidur nggak main-main. Sejumlah penelitian mengenai dampak kurangnya tidur yang cukup membuktikan hal ini. Dr. Eve Van Cauter, salah seorang peneliti di Universitas Chicago telah menemukan beberapa dampak pada kesehatan tubuh yang berkaitan dengan hutang tidur. Menurut penelitian yang dia lakukan, dampak kondisi tersebut sangat berbahaya bagi tubuh. Misalnya, sekelompok laki-laki muda yang sehat setelah tidur hanya empat jam selama 6 hari berturut-turut, hasil tes kesehatan mereka cukup mengkhawatirkan. Kemampuan mereka untuk melakukan proses penyimpanan glukosa berkurang hingga 30 persen, karena kemampuan insulin yang mereka miliki sangat jauh berkurang. Selain itu kadar hormon stres (kortisol) meningkat, padahal hormon tersebut dapat mengakibatkan hipertensi dan gangguan kemampuan mengingat jika kadarnya tinggi dalam waktu lama.</p>
<p dir="ltr">
Hutang tidur juga dapat menurunkan kemampuan berfikir. Kolonel Gregory Belenky, salah seorang dokter militer amerika yang memperdalam masalah tidur, melakukan penelitian untuk mengetahui dampak kurang tidur pada tentara AS. Berdasarkan penelitian, diketahui terjadi penurunan fungsi otak secara keseluruhan. Dengan alat yang bisa menampilkan gambaran otak menggunakan teknologi canggih, ditemukan bahwa kerusakan yang lebih parah terjadi pada daerah yang bertanggung jawab terhadap perhatian, perencanaan yang rumit, proses mental yang kompleks, dan pada wilayah pengambilan keputusan.</p>
<p dir="ltr">
Bahaya hutang tidur juga diakui oleh dr. William Dement, salah seorang staf klinik gangguan tidur, Universitas Stanford. Dalam sebuah presentrasi di depan kongres AS, ia memaparkan bahwa kurang tidur dapat mengakibatkan bencana di negara tersebut. Menurut pengarang buku <em>The Power Of Sleep</em>, berdasarkan hasil investigasi didapatkan bahwa beberapa kecelakaan fatal disebabkan karena kurang tidur. Antara lain, tumpahnya minyak Exxon Valdez di Alaska pada tahun 1989 dan terjadinya potensi kebocoran pada pembangkit nuklir di pulau Three Mile pada tahun 1979. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena para petugas kesehatan dan masyarakat belum dapat mengenali dengan benar bahaya kurang tidur.</p>
<p dir="ltr">Kekurangan tidur juga dapat mengakibatkan kondisi yang mengkhawatirkan bagi kesehatan tubuh. Profesor Allan Hobson, salah seorang psikiater Fakultas Kedokteran Harvard mengatakan bahwa kurang tidur dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pemusatan perhatian. Kondisi tersebut bisa mengakibatkan seseorang menjadi resah, mudah marah, dan tidak dapat memusatkan perhatian. Menurutnya, norepineprin, suatu senyawa kimia yang dibutuhkan untuk memusatkan perhatian pada kondisi normal akan banyak disimpan pada saat orang bermimpi ketika tidur. Jika norepineprin ini kurang kadarnya salah satu sebabnya adalah kurang tidur</p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>ooOoo</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Soal tidur ini, agama kita sudah jauh-jauh hari mengingatkannya. Malah Allah SWT. memberi kabar buat kita bahwa Dia sudah menciptakan waktu khusus bagi manusia untuk beristirahat, yaitu malam hari. FirmanNya:</p>
<p dir="ltr"><em>&#8220;dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,&#8221;</em>(An Naba [78]:9-11).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berkaitan dengan ayat-ayat? ini Imam Ibnu Katsir menafsirkan tentang ayat 9 dari surat An Naba ini sebagai berikut: Berhenti dari bergerak untuk mengistirahatkan tubuh, karena sesungguhnya anggota tubuh banyak bergerak dalam bertebaran di siang hari dalam rangka mencari penghidupan. Maka jika malam telah tiba dan menenangkan, tenanglah pergerakan anggota tubuh maka beristirahatlah sehingga manusia lelap tertidur, yaitu istirahat bagi tubuh dan ruh secara bersamaan.</p>
<p dir="ltr">Mahasuci Allah yang sudah memberikan pengaturan waktu buat kita. Dia menciptakan waktu untuk beraktivitas, dan dia juga menciptakan waktu untuk beristirahat. Semua ada porsi, ada jatah yang harus kita kerjakan dengan tepat. Salah dalam mengatur porsinya kita sendiri yang rugi.</p>
<p dir="ltr">Misalnya, waktu malam hari yang harusnya dipakai untuk istirahat, eh malah dipake begadang. Masih untung kalau acara begadang itu untuk tujuan yang positif seperti ronda, mengerjakan tugas sekolah, belajar, atau pengajian. Seperti kata H. Rhoma Irama:</p>
<p dir="ltr"><em> </em></p>
<p dir="ltr"><em>Begadang jangan begadang</em></p>
<p dir="ltr"><em>Kalau tak ada artinya</em></p>
<p dir="ltr"><em>Begadang boleh saja</em></p>
<p dir="ltr"><em>Kalau ada artinya</em></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Giat beribadah yang dikerjakan para sahabat, juga oleh Rasulullah saw., bukan berarti mereka melupakan kebutuhan untuk istirahat termasuk tidur. Sewaktu mendengar tekad seorang pemuda yang ingin menghabiskan setiap malam untuk <em>qiyamul layl</em>, Nabi Muhammad saw. menegurnya. Kata beliau, <em>&#8220;Aku shalat (malam), tapi aku juga tidur.&#8221;</em> Begitupula saat keletihan membayang di wajah Abdullah bin Umar ra. &#8211; salah seorang sahabat yang rajin beribadah &#8211;, beliau saw. menasihatinya untuk beristirahat. <em>&#8220;Sesungguhnya pada matamu ada hak, pada badanmu juga ada hak,&#8221;</em> kata Rasulullah saw. pada putra Umar bin Khaththab itu.</p>
<p dir="ltr">Wah, kalau begitu jangan pernah menyepelekan soal tidur. Biar orang lain menuduh kita malas, tapi kalau mata udah nggak bisa diajak kompromi sebaiknya kita memang tidur. Karena kebutuhan jasmani memang penting banget. Salah pemenuhannya, apalagi nggak dipenuhi badan kita yang cuma satu-satunya bisa sakit.</p>
<p dir="ltr">Tapi itu juga bukan berarti kegiatan kita melulu melukin bantal. Seperti halnya makan, kebutuhan tidur itu bisa diatur. Bila makan itu harus dipenuhi saat kita lapar, dan berhenti menjelang kenyang, kebutuhan tidur juga begitu. Kalau badan masih segar bugar, ngapain juga tidur? Tidur juga nggak mesti lama-lama, asalkan nyenyak, sampai di situlah kebutuhan tidur kita.</p>
<p dir="ltr">Gimana, jelas kan? Aturlah segala kegiatan kita sebaik-baiknya jadi selesai tepat waktu, tidak bikin badan keletihan, en&#8230;selamat bobo! <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Maret 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tidur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Jelek, Harus Dipelajari</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/yang-jelek-harus-dipelajari</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/yang-jelek-harus-dipelajari#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 04:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2121</guid>
		<description><![CDATA[Haruskah belajar itu melulu tentang kebaikan seseorang?
Nggak juga. Terkadang kita perlu belajar dari keburukan orang lain. Jangan salah, banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana. Entah soal perilakunya atau pemikirannya. Di tengah-tengah kesalahan yang mereka kerjakan bertaburan aneka hikmah yang siap kita petik.
Memang, umumnya kita merasa lebih asyik belajar dari keberhasilan dan kebaikan orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Haruskah belajar itu melulu tentang kebaikan seseorang?</p>
<p dir="ltr">Nggak juga. Terkadang kita perlu belajar dari keburukan orang lain. Jangan salah, banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana. Entah soal perilakunya atau pemikirannya. Di tengah-tengah kesalahan yang mereka kerjakan bertaburan aneka hikmah yang siap kita petik.</p>
<p dir="ltr">Memang, umumnya kita merasa lebih asyik belajar dari keberhasilan dan kebaikan orang lain. Kegigihan dan cerita sukses orang-orang ternama, cinta dan kasih sayang pasangan yang berbahagia. Persis seperti kita sangat suka dengan cerita-cerita yang <em>happy ending</em>. Lebih menyenangkan. Saking menyenangkannya terkadang kita jadi tidak siap untuk menghadapi kegagalan, atau berbuat kesalahan. Padahal, mungkin saja dibalik keberhasilan seseorang ia juga pernah melakukan kesalahan.</p>
<p dir="ltr">Apa sih manfaat mempelajari keburukan dan kesalahan orang lain?<span id="more-2121"></span></p>
<p dir="ltr">Mempelajari keburukan orang lain bukan untuk menirunya. Itu pasti. Tapi sebagai pencegahan diri, supaya kita tidak terjebak pada kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. Kalau kita pernah membaca tragedi kebakaran akibat lalai mematikan kompor, kita bakal bersikap waspada saat meninggalkan rumah. Begitu pula kalau kita tahu ada teman kita yang dikeluarkan dari ruang ujian karena mencontek, kita pastinya semakin percaya bahwa mencontek itu <em>bad, bad behavior</em> (tentu bukannya malah mendorong kita jadi semakin hati-hati kalo mencontek!).</p>
<p dir="ltr">Ya, acapkali manusia baru mau belajar setelah ia melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan. Sebelumnya, berbagai nasihat yang datang tidak pernah digubris. Barulah ketika kegagalan datang, biasanya orang mau percaya. Seorang kawan pernah meremehkan nasihat anak buahnya di perusahaan. Namun saat kegagalan demi kegagalan terjadi ia pun tersadar kalau selama ini ia telah salah langkah. Sayang, semuanya terlambat perusahaannya gagal diselamatkan. Ia pun bangkrut.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">* * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Di Jepang, pernah terjadi sebuah tragedi yang tak pernah terlupakan. Bukan saja bagi rakyat Jepang, tapi juga bagi rakyat dunia.</p>
<p dir="ltr">Ceritanya, di sebuah teluk dengan kota kecil bernama Minamata beroperasilah sebuah perusahaan dengan nama Nippon Nitrogen Fertilizer, 1908, cikal bakal Chisso Co Ltd dengan produksi utama pupuk urea. Sama seperti industri lain yang berkembang saat itu, Chisso langsung membuang limbahnya ke alam, ke Teluk Minamata.</p>
<p dir="ltr">Tahun 1956 kecurigaan mulai muncul setelah direktur RS Chisso melaporkan ke Pusat Kesehatan Masyarakat Minamata atas masuknya gelombang pasien dengan gejala sama: kerusakan sistem saraf.</p>
<p dir="ltr">Sayang apa yang kemudian disebut penyakit minamata ini amat lambat penanganannya. Meski para peneliti dari Universitas Kumamoto, 1963, sudah menyebutkan penyebabnya adalah senyawa metil merkuri yang ditemukan pada kerang di teluk itu, dan pada lumpur limbah Chisso, tak ada tindakan berarti. Tak heran bila tahun 1965 gejala meluas pada penduduk di Prefektur Niigata, tetangga Minamata.</p>
<p dir="ltr">Singkat kata, berjatuhanlah korban akibat pembuangan sembarangan limbah beracun. Pada level yang ringan ditemukan orang-orang dengan mulut kebal sehingga tidak peka terhadap rasa dan suhu, hidung tidak peka bau, mudah lelah, dan sering sakit kepala.</p>
<p dir="ltr">Pada level berikutnya, mereka yang terserang sistem sarafnya, termasuk otak, tidak bisa mengendalikan gerakan-gerakan tangan dan kakinya, telinga berdenging sampai tuli, daya pandang mata menyempit, bicara susah, dan gerakan tubuh secara keseluruhan jadi sulit. Sebagian lagi pingsan, gila, atau mati dalam sebulan setelah serangan penyakit ini.</p>
<p dir="ltr">Yang mengerikan, banyak bayi-bayi yang dilahirkan dengan cacat bawaan. Rupanya ibu mereka saat mengandung banyak mengkonsumsi hasil laut Teluk Minamata sehingga janinnya ikut terpapar metil merkuri.</p>
<p dir="ltr">Akibat perbuatan tidak bertanggung jawab itu Chisso dituntut kompensasi. Perusahaan itu harus mengeluarkan biaya sekitar 18 juta yen untuk membiayai pengobatan, perawatan, dan berbagai upaya penyembuhan seperti mandi di sumber air panas, tusuk jarum, pijat, maupun konsultasi psikologi.</p>
<p dir="ltr">Chisso juga harus menyediakan dana abadi yang bunganya digunakan untuk membeli <em>pempers</em>, perawat yang membantu di rumah, biaya transportasi pulang pergi ke rumah sakit, dan biaya penguburan kalau korban meninggal.</p>
<p dir="ltr">Hingga tahun 1997, korban yang sudah mendapatkan sertifikat santunan dari Chisso mencapai 10.353 orang. Selain itu, 2,262 orang mendapat sertifikat dari pemerintah dan 1.240 telah meninggal. Suatu jumlah yang cukup besar, mengingat jumlah penduduk kawasan Minamata tak sampai 100.000 jiwa waktu itu.</p>
<p dir="ltr">Nah, setuju kan kalau kita bilang belajar dari kesalahan orang lain adalah sangat berarti?</p>
<p dir="ltr" align="center">
<p dir="ltr" align="center">* * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Itulah mengapa di dalam Al Qur&#8217;an, Allah SWT. selain menceritakan kepahlawanan para nabi dan rasul serta orang-orang beriman, Dia juga menuturkan kisah orang-orang dan kaum pembangkang. Kaum kafir, musyrik, munafik, orang-orang fasik dan dzalim. Sebut saja, nama-nama seperti Fir&#8217;aun dan Abu Lahab yang terang-terangan namanya Allah sebut dalam kitab suci kita. Allah juga menyebut nama kaum &#8216;Ad dan Tsamud sebagai kaum pembangkang. Semuanya bukan golongan selamat, tapi? yang mendapatkan azab Allah SWT.</p>
<p dir="ltr">Salah satunya bisa kita simak dalam surat An Nazi&#8217;at dalam Juz &#8216;Amma:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?</p>
<p dir="ltr">Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Pergilah kamu kepada Fir&#8217;aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas,</p>
<p dir="ltr">dan katakanlah (kepada Fir&#8217;aun): &#8216;Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)</p>
<p dir="ltr">Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?&#8217;&#8221;</p>
<p dir="ltr">Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu&#8217;jizat yang besar.</p>
<p dir="ltr">Tetapi Fir&#8217;aun mendustakan dan mendurhakai.</p>
<p dir="ltr">Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).</p>
<p dir="ltr">Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya.</p>
<p dir="ltr">(Seraya) berkata: &#8220;Akulah tuhanmu yang paling tinggi&#8221;.</p>
<p dir="ltr">Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.</p>
<p dir="ltr">Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).</p>
<p dir="ltr"><strong>(An Nazi&#8217;at [79]:15-26)</strong></p>
<p dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p dir="ltr"><strong> </strong>Dalam surat Al Baqarah Allah SWT. bercerita pada kita tentang perilaku dan kejelekan kaum munafik, dari ayat ayat 7 sampai 20 [bayangkan 14 ayat!]. Total menyebutkan bahwa pada bagian awal surat Al Baqarah Allah menurunkan 4 ayat tentang kaum mukmin, 2 ayat mengenai orang kafir, dan 13 ayat tentang orang munafik (<em>Shofwah Al-Bayan Li Ma&#8217;ani Al-Qur&#8217;an Al-Karim</em>). Tidak lain, tujuan Allah mengisahkan tiga golongan manusia itu adalah sebagai pelajaran bagi kita agar memilih yang terbaik dalam kehidupan [yakni menjadi orang beriman dan menjauhi sifat-sifat tercela].</p>
<p dir="ltr"><strong> </strong>Rasululullah saw. pun sering bercerita kepada para sahabat [juga pada kita] mengenai sifat-sifat tercela (<em>akhlaq al-madzmumah</em>). Lagi-lagi, tujuannya agar kaum muslimin bisa menjaga diri dari berbagai sifat-sifat tersebut.</p>
<p dir="ltr">Maka, saat teman kita bercerita ihwal kesedihan hatinya, soal kesalahannya, soal kelalaiannya, simaklah dengan baik. Bukan mustahil suatu saat kelak kita pun menghadapi masalah yang sama. Ya, siapa tahu? <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Februari 2004]</em></p>
<p dir="ltr">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/yang-jelek-harus-dipelajari/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Yang Bangkrut</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/orang-yang-bangkrut</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/orang-yang-bangkrut#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 03:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2053</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pengusaha dan pedagang pasti berharap usaha mereka untung. Dapat banyak laba dan jadi tajir. Sebaliknya, bangkrut adalah mimpi buruk. Bahasa Inggris-nya bangkrut adalah bankrupt. Itu sebutan untuk orang yang minjam uang &#8211; seperti pengusaha &#8212; kemudian nggak mampu membayarnya. Di jaman Romawi Kuno, ada sanksi yang berat buat orang bangkrut. Kalau sampai ada orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap pengusaha dan pedagang pasti berharap usaha mereka untung. Dapat banyak laba dan jadi tajir. Sebaliknya, bangkrut adalah mimpi buruk. Bahasa Inggris-nya bangkrut adalah <em>bankrupt</em>. Itu sebutan untuk orang yang minjam uang &#8211; seperti pengusaha &#8212; kemudian nggak mampu membayarnya. Di jaman Romawi Kuno, ada sanksi yang berat buat orang bangkrut. Kalau sampai ada orang yang bangkrut, maka si pemberi piutang &#8211; yang ngasih utangan &#8211; punya hak atas bagian tubuh si bangkrut, atau mereka boleh menjadikan orang itu plus keluarganya sebagai budak. Sementara itu di Inggris, berdasarkan keputusan Raja James I, kalau orang yang bangkrut tidak bisa ngasih alasan yang bisa diterima akal kenapa dia sampai bangkrut, orang itu bakal diikat di tiang dan dipermalukan di muka umum. Dan kalau ternyata terbukti kebangkrutan itu karena kecurangan, maka orang yang berhutang bisa dihukum mati.<span id="more-2053"></span></p>
<p>Di Indonesia? Hmm, kayaknya belum sampai begitu deh. Malah banyak konglomerat yang pake uang negara, terus usahanya bangkrut, aman-aman saja. Padahal sebagian terbukti karena praktik usaha mereka yang curang. Yang ada malah negara mengampuni mereka dengan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3). Malah waktu musim kebangkrutan perbankan nasional di akhir tahun 90-an, para pemiliknya gampang banget kabur ke luar negeri, sedangkan tagihan-tagihan para nasabahnya dibayarin sama Bank Indonesia.</p>
<p>Tapi, Rasulullah saw. ternyata memberi kita pengertian lain soal bangkrut. <em>&#8220;Tahukah kalian orang yang bangkrut (muflis)?&#8221;</em> tanya beliau pada para sahabat. <em>&#8220;Orang yang bangkrut adalah orang jatuh bangkrut dagangannya, hingga habis kekayaannya, baik uang maupun perkakasnya,&#8221;</em> jawab para sahabat. Nabi saw. bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat lengkap membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Tetapi ia mencaci maki pada si ini, menuduh si ini, dan makan harta si anu, dan menumpahkan darah si itu, dan memukul si ini, maka diberikanlah pada si ini bagian pahalanya dan si itu juga bagian kebaikannya. Dan apabila telah habis kebaikan sedang belum terbayar semua tuntutan orang-orang yang lain, maka diambilkan dari dosa-dosa orang yang pernah dianiayanya untuk ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan? ke dalam neraka.&#8221;</em>(hr. Muslim)</p>
<p>Tidak ada kebangkrutan yang lebih parah dari itu, kan? Ada orang yang sudah beramal begitu banyak tapi kemudian ludes dipakai membayar semua kezhalimannya atas orang lain. Sampai akhirnya ia sendiri dijebloskan ke dalam neraka. Perbuatan zhalim memang dibenci agama. Kezhaliman bisa membuat orang menjadi tertuduh atau terampas hak-haknya. Jangankan berbuat pada banyak orang, pada satu orang saja sudah dibenci oleh Allah. Maka kezhaliman pantas dibenci oleh umat manusia.</p>
<p>Kalau kezhaliman itu dilakukan seorang pemimpin pasti efeknya lebih dahsyat. Setiap keputusan yang zhalim dari seorang pemimpin pasti menciptakan kesengsaraan bagi orang banyak. Neraka dunia buat rakyatnya. Dan seperti kamu tahu, kenaikan harga BBM yang baru saja diputuskan para pemimpin bangsa ini juga oleh wakil rakyatnya, membuahkan kesengsaraan panjang buat banyak warga miskin &#8211; juga yang hampir miskin &#8211; di tanah air. Ibu-ibu mengular dalam antrian minyak tanah dengan harga yang mahal, harga-harga barang kebutuhan hidup semakin mencekik, sedangkan penghasilan bapak kita susah untuk dinaikkan. Hidup sejahtera nampaknya jadi impian yang semakin jauh untuk banyak orang. Sudah begitu masih ada orang yang mengatakan kalau keputusan berat ini harus diterima rakyat kecil sebagai pengorbanan. Masya Allah, hari gini minta orang miskin berkorban? Apalagi yang mau dikorbankan? Makan saja sudah susah.</p>
<p>Mungkin para pemimpin bangsa ini dan para wakil rakyat yang menyetujui kenaikkan harga BBM ini lupa pada hadits Nabi saw. <em>Wallahualam.</em><strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda edisi 14/Desember 2005]<br />
</em></p>
<p style="text-align: right;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/orang-yang-bangkrut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teman Sebagai Aset</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/teman-sebagai-aset</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/teman-sebagai-aset#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 00:52:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2051</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: M. Iwan Januar
Setiap lebaran kita mentradisikan silaturahmi dan halal bihalal. Kita datangi orang-orang yang kita kenal; saudara, tetangga, temen nongkrong, temen ngaji, temen sekolah, temen kuliah. Ceritanya sih maaf-maafan. Tapi rasanya lebih banyak ngambil cemilan teman ketimbang menjiwai acara maaf-maafan itu.
Dibalik acara maaf-maafan itu sebenarnya terkandung banyak hal yang positif. Yang sudah pasti saling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: M. Iwan Januar</p>
<p>Setiap lebaran kita mentradisikan silaturahmi dan halal bihalal. Kita datangi orang-orang yang kita kenal; saudara, tetangga, temen nongkrong, temen ngaji, temen sekolah, temen kuliah. Ceritanya sih maaf-maafan. Tapi rasanya lebih banyak ngambil cemilan teman ketimbang menjiwai acara maaf-maafan itu.</p>
<p>Dibalik acara maaf-maafan itu sebenarnya terkandung banyak hal yang positif. Yang sudah pasti saling meminta maaf dan memaafkan itu baik di mata Allah. Selain itu, dengan saling berkunjung dan meminta maaf, kita sebenarnya tengah meningkatkan cara kita berhubungan dengan orang lain. Kita berharap semoga pertemanan kita dengan orang lain semakin dalam dan kokoh.<span id="more-2051"></span></p>
<p>Sayang seringkali kita kurang menghargai arti pertemanan. Padahal, kamu tahu, dimanapun kita butuh teman. Dalam dunia bisnis kita sering mendengar istilah kolega dan relasi. Contohnya ada seorang kawan saya seorang teknisi komputer. Dia suka diminta membuat dan membetulkan komputer. Karena pertemanannya luas, maka dia mudah mendapatkan pelanggan. Tanpa promosi, cukup teman-temannya yang menjadi &#8216;agen iklan&#8217;nya. Selain itu, kawan saya ini juga punya hubungan dekat dengan pemilik toko komputer. Berkat pertemanannya itu ia sering mendapatkan keperluan kerjanya dengan harga yang jauh lebih murah.</p>
<p>Nah, kita bisa lihat kan satu sisi pentingnya berteman. Dan masih banyak lagi sisi-sisi positif dari sebuah pertemanan. Maka teman adalah aset. Bagian dari modal kehidupan kita. Mau sekolah, mau belajar, mau belanja, mau kerja, bahkan mau nikah aja kita bisa memanfaatkan teman. Banyak teman-teman saya yang menikah setelah dicomblangin temannya, menikah dengan saudara temannya, atau dengan teman dari temannya. Semakin banyak teman kita, semakin besar pula aset yang kita punya.</p>
<p>Tapi tentu saja sebuah aset perlu mendapat perawatan. Begitupula pertemanan kita pun harus dirawat sebaik-baiknya. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga pertemanan itu. Mulai dari saling berkunjung, kirim sms saat lebaran kemarin, sampai saling memberi.</p>
<p>Mengabaikan pertemanan, apalagi sampai merusaknya sama dengan menghancurkan aset kehidupan kita. Lucu saja, kita mengaku berteman pada seseorang tapi sama sekali tak pernah memberi perhatian padanya. Jangankan berkunjung, berkirim sms atau menelepon saja tak pernah. Apalagi saat teman kita dilanda kesusahan. Manusia itu lebih ingat pada orang-orang yang menolongnya di saat susah, ketimbang yang datang di saat gembira. Bila kita ingin menjadi teman sejati, banyaklah memberi perhatian terutama di saat susahnya.</p>
<p>Namun, dari semua kebaikan yang kita berikan pada teman-teman kita, landasannya harus keikhlasan. Bahwa pertemanan kita semata dilandasi keimanan, tak mengharapkan pamrih selain kasih sayang dari Allah Swt. Adapun kebaikan yang diberikan teman-teman kita itu adalah &#8216;bonus&#8217; dari pandainya kita menjaga hubungan kita dengan orang lain. Maka, sekarang saatnya kita bertanya pada diri sendiri; apa yang sudah kita lakukan untuk teman-teman kita? Kalau belum, mulailah dari sekarang. Tidak perlu yang besar, cukup perhatian dan kasih sayang.[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi 14/Desember 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/teman-sebagai-aset/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Dekatkah Kita?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/seberapa-dekatkah-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/seberapa-dekatkah-kita#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 23:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[Ibarat tali, hubungan kita dengan Allah tergantung seberapa panjang kita mengulurkannya dan seberapa kencang kita menariknya. Di saat seorang hamba menaatiNya, berarti ia tengah mengencangkan ikatan diri kita dengan Allah Swt. Berpayah-payahnya seorang hamba menegakkan qiyamul layl, menyungkurkan keningnya ke atas hamparan sajadah, memanjatkan doa penuh harapan dengan lirih, adalah bagian memperkuat ikatan dengan Rabbnya.
Demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibarat tali, hubungan kita dengan Allah tergantung seberapa panjang kita mengulurkannya dan seberapa kencang kita menariknya. Di saat seorang hamba menaatiNya, berarti ia tengah mengencangkan ikatan diri kita dengan Allah Swt. Berpayah-payahnya seorang hamba menegakkan <em>qiyamul layl</em>, menyungkurkan keningnya ke atas hamparan sajadah, memanjatkan doa penuh harapan dengan lirih, adalah bagian memperkuat ikatan dengan Rabbnya.</p>
<p>Demikian pula ketegarannya menjauhkan diri dari keharaman; perbuatan maupun barang, adalah bagian merawat kuatnya ikatan diri dengan Allah Azza wa Jalla. Ketika bersliweran tawaran uang haram, lirikan wanita yang bukan mahram, atau pemandangan aurat yang bertebaran di perkantoran, di pasar bahkan hingga di majlis taklim, tapi jika ia bertahan untuk tak menggubrisnya, maka semakin kokohlah hubungannya dengan Allah.<span id="more-1988"></span></p>
<p>Jauh dan dekatnya hubungan seorang hamba dengan Allah bukanlah Allah yang menentukan, tapi hamba itu sendiri yang mengaturnya. Ia yang bisa mengencangkannya, mengulurkannya, atau justru melepaskan ikatan tali tersebut [<em>inna lillahi wa inna ilayhi raji'un</em>].</p>
<p>Ironinya banyak insan yang berpikir bahwa Allah-lah yang ?berlepas diri&#8217; darinya. Mereka berpikir Allah telah meninggalkan mereka, tak lagi mengindahkan perasaan dan nasib mereka. Sebagian lagi menyangka bahwa Allah telah menzalimi diri mereka.</p>
<p>Kenyataannya, hamba itulah yang mengulurkan dan melemahkan ikatan diri mereka dengan Allah. Ketika ia abai terhadap peringatanNya, sebenarnya perlahan-lahan ikatan dirinya dengan Allah terulur dan melemah. Andaikan itu terus terjadi akan berujung pada terurainya hubungan diri dengan Zat yang Rahman dan Rahim.</p>
<p>Allah tak pernah menjauh dari kita, tapi kitalah yang meninggalkanNya. Dan ketika kita kembali mendekatiNya, Allah lebih mendekatkan lagi jaraknya dengan kita.</p>
<p>Dalam hadis qudsy Allah disampaikan:<em>&#8220;Allah Azza wa Jalla berfirman: Jika seorang hamba mendekat kepadaku sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta, jika ia ia mendekat kepadaKu sehasta maka aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu dengan melangkah Aku mendatanginya dengan berlari.&#8221; </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Jadi, pertanyaannya bukan seberapa jauh Allah dari kita, tapi sebesar apakah usaha kita untuk mendekatkan diri kepadaNya? <strong>[januar]</strong></p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Tabloid KELUARGA, edisi 01 2008]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/seberapa-dekatkah-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penawar Luka, Penyegar Ruangan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/penawar-luka-penyegar-ruangan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/penawar-luka-penyegar-ruangan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 02:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1971</guid>
		<description><![CDATA[Pekerjaan apa yang mudah dilakukan tapi terkadang sulit dilakukan? Salah satunya adalah tersenyum. Ini adalah pekerjaan yang mudah tapi sulit dilakukan (khususnya) pada saat kita sedang bete. Buat apa tersenyum kalau pikiran lagi juthek. Abis berantem sama adik, dimarahin nyokap, kena remedial, ban motor pecah, de el el. Ada segudang alasan buat kita untuk tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekerjaan apa yang mudah dilakukan tapi terkadang sulit dilakukan? Salah satunya adalah tersenyum. Ini adalah pekerjaan yang mudah tapi sulit dilakukan (khususnya) pada saat kita sedang <em>bete</em>. Buat apa tersenyum kalau pikiran lagi <em>juthek</em>. Abis berantem sama adik, dimarahin nyokap, kena remedial, ban motor pecah, de el el. Ada segudang alasan buat kita untuk tidak tersenyum dan <em>keep drowning</em> dalam kemurungan.</p>
<p>Tapi sadarkah kalau kita sering keliru bersikap saat bete dan juthek menghadang. Bukannya mencari dukungan positif, semisal pujian dan spirit lainnya, yang kita inginkan adalah menyendiri, mungkin menangis dan mencari ?zat adiktif&#8217; yang menambah segenap kejuthekan hati dan pikiran kita. <em>Yes</em>, kita mendadak menjadi sentimentil pada saat itu. <em>Foolish Game</em>-nya Jewel atau <em>Jauh</em>-nya Coklat dan segulungan lagu-lagu melankolis lainnya jadi langganan di masa-masa kesedihan. Hasilnya? Kita pun semakin <em>juthek</em>.<span id="more-1971"></span></p>
<p>Mengapa tidak mencoba untuk tetap tersenyum? Pikirkan sebentar dan lakukan. Tarik sedikit ke atas otot pada bibir dan pipi sebelah kiri maka sedikit demi sedikit kegembiraan akan datang. Lanjutkan lagi dengan bertemu orang-orang yang mendukung kita dan tetap sayang pada kita. Buat keceriaan pada diri kita dengan menjadi orang yang optimis, memaafkan diri sendiri, juga bisa menerima kekurangan orang lain.</p>
<p>Nenek dan kakek serta buyut kita sering bilang kalau marah dan sedih bikin orang cepat tua. Tidak salah-salah amat ?jampi-jampi&#8217; warisan nenek moyang itu diberikan pada kita. Secara medis-klinis kemudian terbukti bahwa mereka yang sering berpikir negatif, pesimistis, pemurung, pemarah lebih gampang terkena gangguan kesehatan dan lebih kelihatan tua dibandingkan orang-orang seumur mereka. Penyakit seperti jantung, darah tinggi, TBC, diabetes, hingga herpes lebih enteng masuk ke dalam tubuh orang yang disebut di atas. Nah masih mau <em>miara bete</em> dan <em>juthek?</em></p>
<p>Tapi kawan, bukan berarti bersedih adalah aib. Siapapun boleh menangis. Pun anak laki-laki &#8211; sementara banyak orang bilang <em>boys don&#8217;t cry</em> &#8211;. Karena kesedihan adalah tanda kalau kita masih punya rasa sayang dan rasa takut. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah saw. wafat, beliau meneteskan air mata. Seorang sahabat yang bernama Abdurrahman bin Auf dengan keheranan bertanya,&#8221;Apakah ini wahai Rasulullah?&#8221; Beliau saw. menjawab, &#8220;Duhai Ibnu Auf ini adalah kasih sayang.&#8221;</p>
<p>Hanya saja, dunia terlalu indah untuk sekedar diisi dengan tangis duka, kepedihan dan ketidakceriaan. Bukankah nikmat Allah itu banyak. Itu lebih pantas disambut dengan sukacita ketimbang kemurungan.</p>
<p>Keceriaan juga perlu dibagikan pada siapa saja, orang tua, saudara, guru, sahabat kita, dan siapa saja yang sempat kita temui. Jadi bukan <em>softdrink</em> saja yang perlu berbagi ceria dimana saja. Rasulullah saw. bersabda;</p>
<p><em>&#8220;Setiap perkara yang ma&#8217;ruf adalah sedekah dan sesungguhnya bagian dari perkara ma&#8217;ruf tersebut adalah engkau menjumpai saudaramu dengan wajah yang ceria,&#8221;</em>(HR. Imam Tirmidzi).</p>
<p>Di mata Allah perbuatan itu bagian dari perkara yang ma&#8217;ruf, bagi kemanusiaan, tersenyum dan keceriaan menularkan enerji kebahagiaan, optimisme, dan semangat.</p>
<p>Dalam dunia sekolah dan kampus, kita selalu berharap punya guru yang ?asyik&#8217; punya. Rasanya kita sepakat untuk mengatakan kalau tipe guru ?asyik&#8217; ia mestilah seorang guru yang semangat, <em>care</em> pada murid-muridnya, <em>always smile</em> atawa ceria dan nggak gampang ngambek. Kita pasti cinta dan betah berhadapan dengan guru seperti itu. Meski ia mengajar pelajaran ?berat&#8217; macam matematika, kimia atau fisika. Guru seperti di atas &#8211; s&#8217;moga semakin banyak jumlahnya &#8211; bakal menyegarkan ruangan kelas dengan semangat, optimisme, dan gairah belajar.</p>
<p>Nah, kalau kita cinta pada tipe orang seperti itu, mengapa tidak kita ciptakan pada diri kita sendiri? Bukankah berpahala kalau kita menularkan hal-hal yang baik pada orang lain? Setelah menebarkan salam lanjutkanlah dengan senyum dan keceriaan. Karena bukan kita saja yang ?terinfeksi&#8217; kebaikan itu, tapi juga orang lain.</p>
<p>Rasulullah saw. adalah orang yang sangat ramah pada siapa saja yang dijumpainya. Ia mengucapkan salam lebih dulu pada setiap orang. Pada orang yang lebih tua, sebaya bahkan pada anak-anak sekalipun Nabi saw. selalu berusaha lebih dulu mengakrabi mereka. Selain itu beliau saw. juga tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar pada orang lain dan keluarganya. Bahkan beliau tetap manis budi pada orang yang kasar sekalipun.</p>
<p>Imam Bukhari meriwayatkan bahwa<em> </em>Nabi s.a.w. pernah menerima seorang yang paling buruk dari sebuah keluarga. Tapi Nabi saw. tetap menyambutnya dengan kata-kata yang lemah lembut. Aisyah dengan heran berkata: <em>&#8220;Wahai Rasulullah! Mengapa Anda bercakap dan bersikap seramah itu.&#8221;</em> Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;Wahai Aisyah! Sesungguhnya orang yang kedudukannya paling buruk di sisi Allah pada Hari Kiamat kelak ialah orang yang di jauhi atau orang yang ditinggalkan oleh banyak orang karena mereka takut akan kejahatannya (orang yang buruk perkataan dan perbuatannya)&#8221;</em></p>
<p>Jangan lupa, senyum adalah bahasa universal yang mudah dan cepat dimengerti orang di mana saja. Bahkan bayi sekalipun bereaksi positif ketika melihat senyuman ibunya dan kegembiraan orang-orang di sekitarnya. Ia merasa tenang dan gembira bersama orang-orang yang murah senyum. Sebaliknya, seorang ibu yang terkena depresi sehingga ia menjadi pemarah juga menularkan kemurungannya pada bayinya.</p>
<p>Dimanapun kita berada &#8211; dan bertemu dengan siapapun &#8212; senyum adalah simbol persahabatan dan keakraban. Senyum adalah hal pertama yang diharapkan orang ketika ia bertemu dengan orang lain, apalagi yang baru dijumpainya.</p>
<p>Kata Titi DJ yang penyanyi itu senyum adalah bahasa kalbu. Apa yang tersurat di wajah menggambarkan isi hati dan segera dipahami orang lain. Seyum karena sayang, senyum karena bangga, senyum karena senang, maupun senyum sinis.</p>
<p>Senyum bukan sekedar gerakan otot, tapi juga spirit kehidupan. Kepada diri sendiri, senyum adalah usaha untuk menghilangkan kemurungan dan kesumpekan hidup. Apalagi seorang muslim senantiasa menyimpan tawakal di lubuk hati dan pikiran. Apapun yang terjadi seluruh hasilnya adalah keputusan Allah, baik ataupun buruk. Bukankah tugas kita adalah berikhtiar? Senyuman ikhlas pada teman-teman kita yang kesusahan adalah motivasi agar mereka tetap bersemangat. Lalu mengapa harus merasa sulit untuk tersenyum?</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kalian meremehkan satu perbuatan kebaikan meskipun sekedar menjumpai saudaramu dengan wajah ceria,&#8221;</em>(HR. Muslim). <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Oktober 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/penawar-luka-penyegar-ruangan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/harapan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/harapan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 00:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1956</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika kamu tersesat di hutan belantara. Bekal perjalanan habis, kompas tak punya, alat komunikasi pun tak ada, lalu benarkah sudah tidak ada sama sekali yang kamu punya untuk bertahan hidup? Tidak, kamu masih punya satu kekuatan besar untuk bertahan hidup: harapan.
Harapan atau dalam bahasa Arab ar raja&#8217;, jangan pernah kita remehkan. Meski ia tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Suatu ketika kamu tersesat di hutan belantara. Bekal perjalanan habis, kompas tak punya, alat komunikasi pun tak ada, lalu benarkah sudah tidak ada sama sekali yang kamu punya untuk bertahan hidup? Tidak, kamu masih punya satu kekuatan besar untuk bertahan hidup: harapan.</p>
<p dir="ltr">Harapan atau dalam bahasa Arab <em>ar raja&#8217;</em>, jangan pernah kita remehkan. Meski ia tidak nampak tapi sebetulnya ia adalah kekuatan yang amat besar. Dengan harapan, kita bisa melakukan apa yang kita mau. Kita juga mau menunggu sepanjang apapun itu jika masih ada harapan di hati. Banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan oleh sedikit orang karena adanya harapan.<span id="more-1956"></span></p>
<p dir="ltr">Dalam babak perempat final putaran pertama Liga Champion 2004, kesebelasan asal Spanyol Deportivo La Coruna kalah telak dari tim favorit juara asal Italia AC Milan. Gawang <em>Super Depor</em> &#8211; sebutan tim asal Spanyol itu &#8211; kebobolan empat kali. Sementara mereka hanya bisa memasukkan satu gol. Empat lawan satu. Para pemain Deportivo putus asa bisa lolos ke babak semifinal. Untuk bisa bertahan mereka harus bisa memasukkan minimal 3 gol tanpa balas. Peluangnya amat kecil karena yang dihadapi adalah raksasa Milan yang memiliki segudang pemain kelas dunia. Hanya Javier Irureta, sang pelatih, yang masih berharap timnya bisa lolos. &#8220;Saya belum mau melempar bendera? putih,&#8221; katanya.</p>
<p dir="ltr">Ajaib. Pada putaran kedua tim Spanyol itu bisa menggulung sang calon juara dengan empat gol tanpa balas. Deportivo pun lolos ke babak selanjutnya. Pada putaran kedua itu tidak hanya AC Milan yang terjungkal. Di pertandingan lain dua klub sepakbola favorit lainnya juga mengalami kekalahan dari tim non-unggulan, walau mereka sempat ada di atas angin pada putaran pertama.</p>
<p dir="ltr">Kemenangan Deportivo La Coruna bukan sekedar mereka unggul secara teknis, bermain sebagai tuan rumah pada putaran kedua. Tapi karena sang pelatih bisa memompa semangat bertanding para pemainnya. Javier Irureta menularkan harapan kemenangan pada anak-anak asuhannya. Ia memberikan kuncinya: harapan.</p>
<p dir="ltr">Kembali pada kisah tersesat di hutan. Walaupun kamu punya kemampuan teknis menjelajah hutan, lengkap dengan peralatannya, tetap tidak ada artinya bila kamu telah putus harapan. Kamu sudah tercekam rasa takut, bayangan kematian sudah masuk ke dalam otak, dan cemas kehilangan orang-orang yang kamu cintai sudah menusuk, maka kemampuan teknis menaklukkan alam jadi percuma.</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ah, harapan itu akan datang kalau kita memang punya kesempatan.&#8221; Begitulah biasanya orang-orang berbicara tentang harapan. Menurut kebanyakan orang, harapan itu akan ada kalau kita memang punya kesempatan. Misal, remaja yang di kelasnya cerdas, punya fasilitas belajar yang lengkap, akan mudah jadi juara kelas dibandingkan teman-temannya yang lain. Sama seperti dalam peperangan, biasanya pasukan yang persenjataannya komplit, jumlah personilnya lebih banyak, selalu punya kesempatan untuk menang lebih besar.</p>
<p dir="ltr">Eh, kenyataannya nggak begitu. Banyak remaja yang &#8216;biasa-biasa&#8217; aja tapi bisa berprestasi. Sementara banyak remaja yang punya peluang begitu besar untuk sukses malah &#8217;susah&#8217; berprestasi. Menurut para pakar psikologi atau terapis mental, faktor yang bisa membuat kita sedemikian kuat adalah karena punya harapan yang tinggi. Nah, di sini fasilitas yang komplit jadi nggak berarti kalau diri kita nggak pernah menaruh harapan untuk sukses.</p>
<p dir="ltr">Ada dua hal yang bikin pede dan harapan seseorang gede. Buat optimisme tambah besar; kekuatan fisik dan kekuatan moral. Dalam peperangan, para prajurit akan bertempur dengan semangat tinggi kalau merasa persenjataannya komplit, jumlah tentaranya banyak, dan dipimpin oleh komandan yang jago strategi.</p>
<p dir="ltr">Kalaupun fisik lemah, tapi moral berperang besar, lawan masih bisa digebug. Pujian dan sanjungan juga lumayan ampuh bikin nyali orang makin gede. Kata Bobby DePotter, pengarang buku <em>Quantum Learning</em>, anak-anak dan remaja yang sering dipuji oleh orang tuanya rata-rata punya prestasi belajar yang lebih oke dibandingkan mereka yang sering dicela.</p>
<p dir="ltr">Tapi kamu harus tahu bahwa ada satu lagi kekuatan yang berada di atas keduanya: kekuatan ruhiyah. Kok bisa? Ya, karena kekuatan ruhiyah akarnya adalah keimanan. Ia jauh lebih dalam menembus batin seseorang. Ia bisa membuat orang demikian bersemangat dalam berjuang/berusaha. Keimanan nggak akan goyah meski fisik seseorang lemah dan orang nggak mendukung usahanya. Kamu tahu kan, banyak para nabi dan rasul yang ditolak dakwahnya oleh kaumnya tapi mereka terus mengerjakannya. Nabi kita dan para sahabat pun mengalami hal yang sama. Mereka bukan saja menerima celaan, tapi juga penganiayaan. Rasulullah saw. pernah dilempar kotoran unta saat shalat di depan Ka&#8217;bah. Mereka yang coba-coba membaca Al Qur&#8217;an di muka umum akan digebug. Itulah yang dialami Abdullah bin Mas&#8217;ud dan Abu Bakar Ash Shiddiq &#8211; semoga Allah meridloi keduanya.</p>
<p dir="ltr">Sewaktu bersembunyi di gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah, Abu Bakar Ash Shiddiq pernah mengalami rasa takut yang hebat. Saat itu pasukan Quraisy memburu mereka berdua. Rasulullah saw. menenangkan hati sahabatnya itu dengan berkata, <em>&#8220;Janganlah engkau takut sesungguhnya Allah bersama kita.&#8221;</em>(At Taubah [9]:40), dan Abu Bakar pun menjadi tenang.</p>
<p dir="ltr">Remaja yang menaruh harapan pada Allah; meminta keselamatan, pertolongan, kemenangan, dan surgaNya, akan jauh lebih kuat daripada yang menaruh harapan pada selainNya. Karena, ia yakin kalau setiap langkah yang dikayuh, setiap tetes peluh yang jatuh, akan menuai kesuksesan. Andaipun tidak di dunia, ada kesuksesan lain yang akan diraih: pahala.</p>
<p dir="ltr">Maka para sahabat tidak bergeming di medan Badar saat melihat jumlah musuh 3 kali lipat lebih banyak. Mereka tetap menaruh harapan kemenangan pada Allah SWT. Begitupula saat perang Qadisiyyah melawan prajurit Persia, pasukan Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash r.a. tidak mundur sejengkal pun meski tahu musuh mereka 6 kali lebih banyak. Mereka tahu kalau kemenangan adalah hidup mulia dan kematian adalah cita-cita.</p>
<p dir="ltr"><em>&#8220;Dan tatkala orang-orang mu&#8217;min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: &#8216;Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita&#8217;. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.&#8221;</em>(Al Ahzab [33]:22)</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Supaya kita menjadi orang yang panjang pengharapan, optimisme menghadapi kehidupan, tanamkanlah pohon keimanan sedalam-dalamnya dalam lubuk hati kita. Pancangkan akarnya, rawat batangnya dan jaga rantingnya. Insya Allah kita akan menuai buahnya yang sedap lagi indah. Jika sudah demikian, tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk berjuang. Sekeras apapun medan pertempuran. Karena harapan kita pada Allah berada di atas segala-galanya. <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Mei 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/harapan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mau dan Mampu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mau-dan-mampu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mau-dan-mampu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 23:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1943</guid>
		<description><![CDATA[Apa bedanya orang gagal dan orang malas? Orang gagal adalah mereka yang belum mampu menyelesaikan sebuah pekerjaan, sementara orang malas adalah mereka yang tidak mau mengerjakan apa-apa.
Dibandingkan para pemalas, mereka yang gagal lebih layak dihargai. Meski sama-sama belum menghasilkan apapun, tapi mereka yang gagal sudah berusaha. Para pemalas? Mereka tidak pernah mengerjakan apapun!
Mengapa ada orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa bedanya orang gagal dan orang malas? Orang gagal adalah mereka yang belum mampu menyelesaikan sebuah pekerjaan, sementara orang malas adalah mereka yang tidak mau mengerjakan apa-apa.</p>
<p>Dibandingkan para pemalas, mereka yang gagal lebih layak dihargai. Meski sama-sama belum menghasilkan apapun, tapi mereka yang gagal sudah berusaha. Para pemalas? Mereka tidak pernah mengerjakan apapun!</p>
<p>Mengapa ada orang yang tidak mau mengerjakan apapun?</p>
<p>Apakah karena tidak mampu? Bukan</p>
<p>Apakah karena tidak sempat? Bukan</p>
<p>Tapi karena mereka memang tidak mau.<span id="more-1943"></span></p>
<p>Di dunia para pemalas, kemauan adalah barang mahal. Ketika mereka merasa diri mereka tidak mampu, biasanya sih mereka otomatis nggak mau mengerjakannya. PR terbengkalai, belajar pun lesu, berorganisasi, ngaji pun tidak mau. Cukup banyak orang-orang yang berpikiran kayak begini. Karena merasa nggak mampu mengetik menggunakan komputer, akhirnya mereka memilih untuk nggak mengerjakannya. Bahkan untuk mencobanya. Macam-macam alasan yang muncul di benak mereka; takut gagal, takut bikin malu, takut merusak, dll.</p>
<p>Saya jadi teringat sewaktu dulu belajar naik sepeda roda dua. Dibandingkan teman-teman yang lain, saya terbilang lambat bisa menguasainya. Sebabnya satu, saya ogah belajar naik sepeda roda dua. Alasannya sih, takut jatuh (he&#8230;he&#8230;he). Dan memang betul saya memang terjatuh. Saya pun kapok. Sampai suatu ketika tiba-tiba saya kepengen betul bisa naik sepeda roda dua, jalan-jalan dengan teman-teman berkeliling komplek perumahan. Maka saya pun nekat menaikinya dan&#8230;<em>alhamdulillah</em> sukses! Tentu saja, &#8216;adegan&#8217; jatuh, nabrak orang atau hampir tertabrak, mengisi hari-hari awal saya jalan-jalan dengan sepeda roda dua. Saya percaya kamu juga punya pengalaman yang hampir serupa. Mungkin naik motor, berenang, belajar komputer, beternak, atau apa saja.</p>
<p>Teman, di dunia ini ada dua jenis orang:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, mereka yang tidak mau mencoba apapun dan akhirnya mereka memang tidak bisa mengerjakan apapun.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, mereka yang tidak punya kemampuan, tapi punya kemauan. Mereka berusaha dan akhirnya berhasil.</p>
<p>Sobat percayalah, kemauan jauh lebih berharga ketimbang kemampuan. Karena, tidak ada orang yang mendadak pintar kecuali diawali dengan kemauan berusaha. Banyak orang yang awalnya tidak mampu namun menjadi seorang jawara, karena kuatnya kemauan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sebenarnya punya talenta bagus, kemampuan hebat, tapi tidak berdaya karena lemahnya kemauan.</p>
<p>Coba bacalah dengan pelan namun tegas tulisan-tulisan di bawah ini, khususnya yang dicetak tebal:</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> <strong>Tanpa kemauan</strong> kamu <strong>tidak akan pernah bisa</strong> naik sepeda</li>
<li> <strong>Tanpa kemauan</strong> kamu <strong>tidak akan pernah bisa</strong> menguasai pelajaran kimia</li>
<li> <strong>Tanpa kemauan</strong> kamu <strong>tidak akan pernah bisa</strong> berbahasa asing</li>
<li> <strong>Tanpa kemauan</strong> kamu <strong>tidak akan pernah bisa</strong> lulus sekolah</li>
<li> <strong>Tanpa kemauan</strong> kamu <strong>tidak akan pernah bisa</strong> membaca Al Qur&#8217;an</li>
<li> <strong>Tanpa kemauan</strong> kamu <strong>tidak akan pernah bisa</strong> berdakwa</li>
<li> (Coba kamu tambahkan sendiri dan renungkan)</li>
</ul>
<p>Seorang bijak pernah berkata:</p>
<p align="center"><em>&#8220;Siapa yang berusaha, ia akan mendapatkannya&#8221;</em></p>
<p>Sementara itu pepatah Inggris mengatakan: <em>&#8220;Where is the will, there is a way </em>[dimana ada kemauan, di sana ada jalan]&#8220;.</p>
<p>Percayalah, sebenarnya sejak lahir Allah SWT. sudah mengaruniakan pada kita kemauan kuat yang alamiah. Ia disebut <em>gharizatul baqa&#8217;</em>, naluri mempertahankan diri. Seorang bayi yang akan lahir meronta-ronta dalam rahim ibunya. Ia punya keinginan untuk keluar dan hidup, karena bila tidak keluar ia akan mati. Begitu kuatnya perjuangan sang bayi sampai membuat ibunya mengalami kontraksi yang hebat, dan &#8230; <em>subhanallah</em> persalinan pun berjalan sempurna. Berkat kemauan alamiahnya untuk bertahan hidup sang bayi bisa merasakan dunia luar, berkumpul bersama kedua orang tuanya.</p>
<p>Ketika sudah berada di luar, ia pun terus berusaha dengan kuat untuk bertahan hidup. Ia belajar menghisap ASI, mengunyah dan menelan makanan. Ia belajar merangkak, berjalan sampai akhirnya mampu berlari. Semuanya berawal dari kemauan alamiah untuk bertahan hidup.</p>
<p>Nah, jika bayi yang lemah saja punya keinginan yang kuat bagaimana dengan kita?</p>
<p>Allah sudah memberimu akal dan raga yang sempurna. Kamu lebih hebat dari seorang bayi. Maka, peluangmu untuk menjadi orang yang lebih baik juga lebih besar.</p>
<p>Tanpa kemauan yang kuat, pasukan Islam tidak akan mampu mengalahkan Persia yang 6 kali lebih banyak dalam Perang Qadisiyah. Tanpa kemauan yang kuat panglima Islam Thariq bin Ziyad tidak akan mampu menaklukkan Spanyol.</p>
<p>Maka, jangan tutup kebaikan dalam dirimu, talentamu dan masa depanmu dengan memadamkan kemauan. Kebaikan bukanlah milik para pemalas yang tidak mau berusaha. Bahkan, di antara mereka ada yang teramat malas sampai-sampai merasa malas meski hanya untuk memiliki sebuah kemauan. <em>Na&#8217;udzubillah</em>. <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Juni 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mau-dan-mampu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hormat dan Tidak Hormat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hormat-dan-tidak-hormat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hormat-dan-tidak-hormat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 02:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1933</guid>
		<description><![CDATA[Hormat dan menghormati adalah keinginan naluriah yang melekat pada diri manusia. Ia merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Tidak akan ada manusia yang merasa senang ketika orang lain merendahkannya, menghinanya dan menyepelekannya. Sebaliknya, ia akan berusaha sekuat tenaga agar orang lain menghormatinya dan menghargainya. Malah tidak sedikit orang yang rela mati demi membela harga diri dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hormat dan menghormati adalah keinginan naluriah yang melekat pada diri manusia. Ia merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Tidak akan ada manusia yang merasa senang ketika orang lain merendahkannya, menghinanya dan menyepelekannya. Sebaliknya, ia akan berusaha sekuat tenaga agar orang lain menghormatinya dan menghargainya. Malah tidak sedikit orang yang rela mati demi membela harga diri dan kehormatan.  Penghormatan diberikan kepada orang lain karena ada sesuatu yang ‘lebih&#8217; pada diri mereka. Bisa usia, status sosial, pendidikan, atau kedudukan. Hormat pada guru bisa karena status kedudukannya atau kewibawaannya. Sementara hormat pada Pak Lurah adalah karena kedudukannya. Hormat pada orang tua adalah karena rasa sayang sekaligus segan.<span id="more-1933"></span> Pada kehidupan masyarakat primitif, orang-orang terhormat bahkan para pemimpin mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan secara fisik. Biasanya jabatan kepemimpinan ditentukan melalui uji fisik bagi calonnya. Melawan mahluk buas, melalui pertarungan, atau menaklukkan keganasan alam, atau melalui peperangan. Ada kepercayaan bahwa mereka yang kuat fisiknya, pasti kuat jiwanya.  Sebenarnya ‘kelebihan&#8217; itu tidak mesti sesuatu yang terindera oleh kita, bisa berupa sesuatu yang <em>invisible</em> tapi terasakan, seperti karisma atau kewibawaan. Marilah kita melihat Rasulullah saw. Jauh sebelum ia diangkat sebagai utusan Allah, masyarakat Quraisy dan para pemimpinnya telah menghormati beliau. Gelar <em>Al-Amin</em> &#8211; yang terpercaya &#8211; diberikan kepada Muhammad muda, sebagai penghormatan atas kebijakan dan kecakapannya dalam berpikir dan bertindak, yang menyelamatkan masyarakat Quraisy dari perpecahan dan permusuhan.  Di antara kita, banyak yang tidak memiliki kelebihan status sosial tapi dihormati masyarakat. Pak Dullah dihormati tetangganya karena pemurah meski dia bukan orang kaya, Pak Somad dihargai masyarakat karena ramah dan penolong, dan Pak Husni dihormati orang karena rajin beribadah dan berdakwah.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Penghormatan dan penghargaan tidak akan datang bila kita tidak menghormati dan menghargai diri sendiri. Bagaimana orang akan menghargai kita bila kita tidak peduli pada diri sendiri? Penampilan dibiarkan kotor, pikiran kita tidak lepas dari rasa pesimis, keluh kesah, berpikir negatif tentang diri kita dan masa depan kita, lalu kita pun menjauh dari amal ibadah, dan tidak pernah mencintai ilmu. Mengharap orang lain menghormati kita padahal kita melecehkan diri sendiri sama dengan seorang kaya yang menjadi peminta-minta.  Tidak sedikit teman-teman remaja yang gelisah mencari pengakuan dan ingin dihormati, tapi mereka malah menempuh jalan yang menjatuhkan harga diri sendiri. Ida yang duduk di kelas dua SMU ingin agar teman-temannya menghargai dan mengenalnya. Lalu ia mulai dengan dandanan yang seronok untuk memperlihatkan bahwa ia cantik, ikut-ikutan mengidolakan kalangan artis dan pergi ke diskotik bersama teman-temannya agar ia dibilang gaul, dan berpacaran untuk menunjukkan kalau ia mampu punya pacar.  Lain lagi dengan Adi, ia merokok, minum sebotol bir, ikut tawuran, agar tidak dikucilkan teman-temannya dan disebut solider. Ia amat butuh penghargaan dari mereka.  Kawan, penghargaan hakiki adalah penghargaan yang dilandaskan keikhlasan hati dan kebenaran ilahi. Bukan cuma sekedar acungan jempol, tepukan tangan atau ucapan ‘hebat!&#8217;. Penghargaan yang datang dari orang-orang yang mengajak kita pada kesalahan adalah sama dengan tangisan pilu orang-orang yang menyayangi kita. Maka sebelum terlambat pikirkanlah siapa orang yang menghargai dan menghargai kita. Tidak ada kebanggaan mendapat penghormatan dan pengakuan dari mereka yang mencelakakan kita.  Penghormatan yang sejati tumbuh secara alami, bukan dari paksaan. Rasa hormat yang ditunaikan rakyat pada para diktator, adalah ketakutan bukan penghormatan. Penghormatan yang dituai para diktator hanya akan melahirkan dendam yang akan dilampiaskan saat ketakutan rakyatnya sirna. Mussolini di Italia, Najibullah di Afghanistan, Pinochet di Chili adalah bagian dari kehormatan yang berubah menjadi kehinaan. Kesemuanya dirutuki rakyatnya setelah tak berkuasa. <strong><em>Mereka yang memaksakan kehormatan dengan cara kekerasan hakikatnya adalah orang-orang yang tak terhormat</em></strong>.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Mempertahankan kehormatan adalah keharusan, tetapi gila hormat adalah sebuah ketidaklayakan. Tidak sedikit orang yang berubah menjadi <em>bossy</em> hanya setelah memperoleh jabatan. Sebagian orang berpendapat hal seperti itu adalah kewajaran. Bukankah saya sudah menjadi seorang pemimpin, maka saya berhak memerintah siapa saja menurut kehendak saya? Kawan, pernahkah <em>antum</em> mendengar kisah Abu Bakar Ash Shiddiq setelah ia menjadi khalifah. Hanya berselang beberapa hari menjadi khalifah, Abu Bakar mendatangi rumah janda-janda tua para syuhada yang sering ia bantu sebelum menjadi khalifah. Ketika ia mengetuk satu rumah, wanita tua pemilik rumah yang sedang berada di dalam menanyakan pada anak perempuannya siapa yang datang. Anak itu menjawab, &#8220;Pemerah susu domba kita, Bu.&#8221; Ibunya bergegas keluar dan dengan malu ia memarahi anaknya, &#8220;Hai?  bodoh, kenapa tidak kamu katakan ‘khalifah Rasulullah&#8217;!&#8221; Abu Bakar berkata, &#8220;Biarkan ia, sungguh ia telah memanggil saya dengan pekerjaan yang paling saya sukai pada Allah Swt.&#8221; Khalifah pertama ini pun langsung memerah susu domba keluarga tersebut, mengadon tepung, dan membuat roti bagi para janda-janda tua tersebut. Apakah diri kita merasa lebih mulia dari Abu Bakar Ash Shiddiq.  Nasihat lama mengatakan &#8220;Hormatilah orang lain jika dirimu ingin dihormati.&#8221; Secara manusiawi, manusia akan menghormati orang lain jika dirinya dihormati dan dihargai. Mereka yang menghormati orang lain menunjukkan bahwa dirinya memang layak dihormati. Kehormatan dibalas kehormatan, sementara kehinaan juga berbuah hal yang sama. Bagaimana kita dapat menghormati seseorang yang selalu melecehkan apalagi merendahkan derajat orang lain?  Meski demikian agama mengajarkan kita bahwa tulus ikhlas harus menyertai pemberian penghormatan pada orang lain. Bukan karena mengharapkan balasan setimpal. Baik materi atau non-materi. Sahabat nabi, Sa&#8217;ad bin Waqqash <em>radliyallahu ‘anhu</em> memberikan contoh mulia. Meski ibunya membenci dan menyakitinya karena memeluk Islam, ia tetap menyayangi dan menghormati wanita itu. Bahkan rasa hormat itu tidak hilang meski Ibundanya mengancam anaknya dengan mogok makan. &#8220;Duhai Bunda, meski dirimu memiliki seratus lembar nyawa dan lepas dari dirimu satu demi satu, aku tidak akan kembali pada agama kita,&#8221; jawab Sa&#8217;ad dengan santun dan lembut pada ibunya yang menolak makan berhari-hari. Kebencian dan kekerasan yang dibalas dengan rasa hormat dan cinta.  Penghormatan yang kita berikan pada orang lain juga harus berupa penghormatan yang tulus ikhlas, karena perintah Allah. Bukan karena mengharap balasan penghormatan dari orang lain. Rasa hormat yang diberikan tanpa keikhlasan adalah riya&#8217; di hadapan Allah, dan disebut menjilat di hadapan manusia. <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Juli 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hormat-dan-tidak-hormat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keras, Cerdas dan Ikhlas</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/keras-cerdas-dan-ikhlas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/keras-cerdas-dan-ikhlas#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 01:06:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1923</guid>
		<description><![CDATA[Apa kata guru en ortu kita saat ulangan kita jeblok atau karya tulis kita nggak menang di perlombaan? Pasti semua sepakat bilang &#8220;Work harder!&#8221; Kita kudu kerja lebih keras lagi. Yup, nggak ada cita-cita setinggi apapun bisa kita raih tanpa kerja keras. Nonsense. Setiap keinginan ataupun cita-cita sekecil apapun pasti butuh usaha. Dan itu kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Apa kata guru en ortu kita saat ulangan kita jeblok atau karya tulis kita nggak menang di perlombaan? Pasti semua sepakat bilang <em>&#8220;Work harder!&#8221;</em> Kita kudu kerja lebih keras lagi. Yup, nggak ada cita-cita setinggi apapun bisa kita raih tanpa kerja keras. <em>Nonsense</em>. Setiap keinginan ataupun cita-cita sekecil apapun pasti butuh usaha. Dan itu kita namakan bekerja. Nggak usah pengen jadi Einstein kesebelas, untuk dapat nilai cep? waktu ulangan fisika juga butuh kerja keras.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Nggak ada yang gratis di dunia ini,&#8221; kata para kapitalis. Barangkali kalimat itu terdengar terlalu kejam walau ada benernya. Ya sedikitlah. Seenggaknya untuk meraih sesuatu itu orang perlu bekerja dan bekerja. Jangan membiasakan diri jadi orang malas, menengadahkan tangan dan mengharap belas kasihan dari orang lain. Rasulullah saw. bersabda:<em>&#8220;Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,&#8221;</em> <strong>(HR Bukhari)</strong><span id="more-1923"></span></p>
<p dir="ltr">Kita juga boleh girang hati kalo senang bekerja keras, pasalnya Rasulullah saw. sangat cinta pada orang-orang yang giat bekerja. Suatu ketika beliau saw. berjabat tangan dengan Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;adz ra.. Beliau menyentuh permukaan tangan Sa&#8217;ad kasar dan bertanya sebabnya. Mu&#8217;adz menjawab kalau ia biasa bekerja keras menafkahi keluarganya. Rasulullah saw. kontan berujar, <em>&#8220;Ini dua tangan yang dicintai Allah SWT.&#8221;</em> Wow!</p>
<p dir="ltr">Orang-orang sukses di dunia ini umumnya adalah orang-orang yang &#8220;bandel&#8221;. Pantang menyerah dan giat berusaha. Salah satunya Honda, pendiri perusahaan raksasa otomotif dunia. Untuk mencapai tahta keberhasilannya itu Honda telah menempuh jalan panjang untuk mencapai hasil yang kita bisa lihat sekarang ini. Waktu sekolah Honda bukan anak yang menonjol, keluarganya juga miskin. Dalam usahanya mendirikan perusahaan, berkali-kali dia harus menelan pil pahit karena hancurnya pabriknya baik itu karena kebakaran maupun gempa bumi. Tapi dia tidak kenal menyerah dan berusaha terus bekerja tak kenal lelah hingga mencapai keberhasilan dari usahanya.</p>
<p dir="ltr">Rasulullah saw. dan para sahabat pun bekerja keras untuk menegakkan kalimat Allah di atas muka bumi ini. Berjuang tak kenal lelah dan pantang menyerah, walau terkadang bersimbah darah. Hingga akhirnya kemenangan pun teraih.</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">Kerja keras memang harus, tapi sekedar kerja keras saja tidak cukup. Kita juga dituntut untuk bekerja cerdas. Orang bilang setiap keputusan dan tenaga yang dicurahkan harus tepat guna dan berdaya guna, alias efektif dan efesien. Ambil contoh kasus, ketika menghadapi ujian matematika, maka nggak cukup sekedar menghafal rumus dan turunannya tapi kita juga harus melakukan latihan-latihan praktis dengan rumus-rumus itu. Sebabnya jelas, matematika pelajaran eksakta, bukan hafalan.</p>
<p dir="ltr">Rumus kuno menyebutkan siapa yang kuat itu yang menang. Kenyataannya seringkali yang kuat dilibat oleh yang &#8216;biasa-biasa&#8217; saja. Sebabnya satu; mereka yang kuat seringkali lupa menggunakan tenaganya dengan tepat.Terjadilah pemborosan sumber daya. Sementara yang kecil karena dijepit oleh keadaan mau nggak mau harus mutar otak untuk menggunakan tenaga? yang &#8216;ala kadarnya&#8217; itu dengan sebaik-baiknya.</p>
<p dir="ltr">Jepang adalah negara dengan luas lahan yang terbatas. <em>But</em> dengan keterbatasan lahan itu justru mendorong para petani dan ilmuwan pertanian di Jepang berpikir kreatif, efektif dan efesien. Hasil pertanian di sana pun jauh lebih unggul ketimbang Indonesia, misalkan? yang luas tanah pertaniannya sekian puluh kali luas lahan pertanian di Jepang.</p>
<p dir="ltr">Itu juga yang dialami nasib umat Islam yang hampir 1 miliar tapi nggak becus ngancurin penjajah Israel. Sebabnya jelas, kita amal kita kurang keras juga kurang cerdas. Bagaimana tidak cerdas bila peluru dihadapi dengan diplomasi. So, paduan kesungguhan dan kecerdasan adalah kekuatan yang menakjubkan.</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">Kesungguhan dan kecerdasan insya Allah akan mendatangkan kesuksesan, tapi apakah kesuksesan adalah jaminan akan datangnya kebahagiaan? Nggak juga. Karena nggak semua hal bisa terukur dengan materi dan pujian. Kalau kita hanya berkonsentrasi pada materi dan pujian bisa-bisa kita jadi manusia yang megalomania; haus materi dan pujian. Saat apa yang kita kerjakan nggak mendapatkan balasan materi, atau nggak ada <em>applaus</em> atau lemparan bunga, kita kecewa. Akhirnya kita malas untuk berbuat kebaikan bagi orang lain karena khawatir nggak mendapat balasan setimpal atau perhatian. Lebih parah lagi kita juga nggak mau berbuat kebaikan untuk diri kita sendiri karena merasa nggak ada pengaruhnya buat kehidupan kita. Ya, kita jadi serba berhitung mengharap balasan dari orang lain.</p>
<p dir="ltr">Kenyataannya nggak semua usaha manusia itu seketika mendapat balasan. Dan seandainya semua orang berpikiran begitu &#8211; senantiasa berharap balasan materi dan pujian &#8211; betapa susahnya hidup di dunia ini. Jangan lupa, manusia juga punya dua macam naluri yang pemenuhannya bukan materi, naluri itu adalah naluri beragama (<em>gharizah tadayyun</em>) dan naluri mempertahankan diri (<em>gharizah baqa&#8217;</em>). Kalau manusia melulu dipenuhi materi dan pujian, nuraninya bisa garing dan lama kelamaan mati. Karenanya kerja keras dan cerdas saja belum cukup juga, seorang muslim ketika beramal juga harus ikhlas. Menempatkan keridlaan Allah di atas segala-galanya. Dalam belajar, setelah belajar dengan keras dan cerdas, ia juga harus ikhlas. Bahwa belajar itu mengharapkan kebaikan, manfaat ilmu dan ganjaran pahala. Bukan nilai di atas kertas apalagi perhatian dari orang lain. Prestasi orang yang belajar untuk sekedar indeks prestasi hanya akan berhenti pada nilai itu, sementara orang yang ikhlas amalnya menjulang ke langit. Demikian pula amal-amal yang lainnya terasa manis saat ikhlas dijadikan sebagai tumpuan.</p>
<p dir="ltr">Maka jadikan keikhlasan sebagai salah satu kaidah amal perbuatan kita. Dengan begitu kita akan menjadi insan yang utama. Tidak hitung-hitungan, tidak mencari perhatian ataupun pujian. Cukuplah Allah SWT. yang memberikan pujian dan balasan bagi kita. <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[diambil dari Majalah PERMATA edisi Juli 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/keras-cerdas-dan-ikhlas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/doa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/doa#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 04:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1919</guid>
		<description><![CDATA[Mintalah kepada Allah, karena Allah senang jika diminta.&#8221; (HR Tirmidzi)
Beruntunglah siapa saja yang menjadi kaum muslimin, karena hanya mereka saja yang menyembah Tuhan yang sangat senang mendengarkan dan mengabulkan permintaan hamba-hambaNya. Tuhan kita bukanlah dewa yang tuli, yang tidak mendengarkan permintaan para penyembahnya. Atau penguasa jagad nan sombong, yang gemar menampik permohonan para pengikunya. Atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mintalah kepada Allah, karena Allah senang jika diminta.&#8221;</em> <strong>(HR Tirmidzi)</strong></p>
<p>Beruntunglah siapa saja yang menjadi kaum muslimin, karena hanya mereka saja yang menyembah Tuhan yang sangat senang mendengarkan dan mengabulkan permintaan hamba-hambaNya. Tuhan kita bukanlah dewa yang tuli, yang tidak mendengarkan permintaan para penyembahnya. Atau penguasa jagad nan sombong, yang gemar menampik permohonan para pengikunya. Atau zat haus darah yang menuntut tumbal atau pengorbanan untuk setiap permintaan. Bukan, Tuhan kita bukan sesembahan murahan seperti itu. Tuhan yang diagungkan oleh umat Islam adalah Tuhan yang Maha Pemurah. Demikian Pemurahnya sampai hewan melata pun Dia bagi rizkiNya.</p>
<p><em>&#8220;Tidak ada seekor hewan melata pun di atas muka bumi melainkan ditanggung oleh Allah rizkiNya.&#8221;</em>(Huud:6)</p>
<p>Maka, apa yang menghalangi kita untuk menengadahkan tangan dan berdoa kepadaNya. &#8220;Mintalah kepada Allah, karena Allah senang jika diminta.&#8221;<span id="more-1919"></span></p>
<p>Berdoa adalah permintaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Apa saja bisa diminta. Tentunya segala yang baik-baik. Panjang umur, keselamatan, harta yang barakah, ampunan dosa atau naik kelas. Lewat doa kita berbicara kepada Allah Swt. Mengadukan segala kelemahan dan ketidakberdayaan kita menghadapi hidup yang makin keras.</p>
<p>Kalau begitu doa adalah tanda mereka yang putus asa? Boleh-boleh saja Karl Marx berkomentar demikian. Toh, ia sendiri tidak bisa memungkiri kalau hidup manusia memang bergantung pada orang lain, alam semesta dan juga Tuhannya. Dengan tidak berdoa berarti kita mencoba mengelabui segala kelemahan diri. Berjalan dengan kepala terdongak padahal kaki kita terseret-seret. Allah pun murka kepada kita.</p>
<p><em>&#8220;Siapa yang tidak berdoa kepada Allah, Dia murka kepadanya.&#8221;</em>(HR. Tirmidzi)</p>
<p>Dengan berdoa berarti kita telah menunjukkan kerendahan hati di hadapan Allah Pemilik alam semesta ini. Hanya manusia yang rendah hati dan sadar diri bahwa ia mahluk lemah yang akan meminta bantuan dari Penciptanya. Orang-orang seperti itu akan mudah untuk mengangkat tinggi-tinggi tangan mereka ke hadirat Allah untuk berdoa dengan wajah penuh harap. Air mata mereka akan meleleh melewati kulit pipi dan jatuh ke tanah tanda pasrah terhadap keputusan Rabb mereka. Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. tatkala berdoa memohon kemenangan bagi pasukan Islam dalam perang Badar, Rasulullah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi hingga tampak ketiaknya yang putih dan terjatuhlah selendangnya. Abu Bakar Ash Shiddiq yang melihat cara doa sahabatnya menjadi demikian cemas, segera dipungut selendang beliau dan berkata, <em>&#8220;Hentikanlah ya Rasulullah Allah pasti mengabulkan permintaanmu.&#8221;</em></p>
<p>Para sahabat rasulullah saw. jika membaca Al Qur&#8217;an dan sampai pada ayat-ayat yang menceritakan azab neraka mereka segera berdoa dengan mencucurkan air mata karena takut akan kerasnya azab neraka. Dan jika sampai pada ayat-ayat yang mengabarkan nikmatnya surga mereka juga memanjatkan doa dengan penuh harap agar menjadi penghuninya.</p>
<p>Kenyataannya tidak banyak orang seperti itu. Kebanyakan dari kita menganggap kekuatan manusia tak terbatas dan tak ada yang tak mungkin, seperti kata Napoleon Bonaparte, panglima perang tersohor dari Prancis, <em>&#8220;Tak ada yang mudah tapi tak ada yang tak mungkin.&#8221;</em> Napoleon benar, tapi manusia juga semestinya menyadari diri mereka sebagai para dlu&#8217;afa, yang hidup dari belas kasihan Tuhannya. Salah-salah, kita akan muncul sebagai Qarun baru yang bergelimang keberhasilan dunia dan lupa kepada Tuhannya.</p>
<p>&#8220;Aku memperoleh harta benda ini berkat ilmu pengetahuanku sendiri. Tidakkkah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat yang sebelumnya orang-orang yang sangat kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan (harta)&#8221;(Al Qashash:78)</p>
<p>Dan Tuhan pun menenggelamkan Qarun ke dalam bumi bersama seluruh hartanya.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p><em>&#8220;Semoga kau tak tuli Tuhan,&#8221;</em> senandung Iwan Fals. Syair lawas itu semoga bukan tanda su&#8217;udzan kita kepada Allah. Jujur saja kebiasaan kita bersu&#8217;udzan pada orang sering terbawa dalam berdoa. Prasangka bahwa Allah menutup pintunya rapat-rapat dari permintaan kita, berburuk sangka bahwa Tuhan pilih kasih, tidak sayang pada kita dan lain sebagainya. Pikiran ini datang dari ketidaksabaran kita dalam menghadapi ujian dari Allah. Lazimnya amal sholeh, doa pun memerlukan ujian. Salah satunya adalah penantian tehadap isi doa kita. Padahal Allah sudah menyatakan Dia adalah Zat yang tidak mungkin menyalahi janjiNya. Dan itu semua lagi-lagi berpulang kepada keyakinan kita sendiri kepada Allah. FirmanNya dalam hadits qudsiy:</p>
<p><em>&#8220;Aku bergantung pada prasangka hambaKu padaKu.&#8221; </em></p>
<p>Dan, yang harus kita yakini adalah kenyataan bahwa Allah punya hak prerogatif dalam menjawab doa-doa kita. Akan tetapi tetap yakinlah kalau Dia pasti memberikan yang terbaik buat kita-kita.</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah seseorang berdoa bukan dengan yang mengandung dosa atau yang dapat memutuskan silaturahim, niscaya Allah akan membalasnya dengan tiga perkara; dikabulkan doanya, ditangguhkan hingga hari kiamat, atau dijaukan dari suatu musibah yang serupa,&#8221;</em>(HR. Ahmad.)</p>
<p>Maka, sama sekali tidak ada kerugian bagi kita melakukan doa. Allah memberikan tiga peluang bagi doa kita. Dengan begitu su&#8217;udzan yang melekat dalam dada kita semestinya terhapus. Andaikan kenyataan tidak seperti isi doa yang kita panjatkan, Allah pasti memberikan alternatif lain yang terbaik. Lagipula, doa adalah ibadah. Sekecil apapun permintaan yang kita panjatkan akan diganjar sebagai pahala di sisiNya. Maka apa ruginya kita berdoa?</p>
<p style="text-align: center;">ooOoo</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Siapa yang ingin doanya dikabulkan dalam waktu sempit, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapang.&#8221;</em></p>
<p>Ya, pernahkah terpikir oleh kita untuk memperbanyak doa di waktu lapang, saat uang kita banyak, saat badan kita sehat, dan saat kita sedang jaya-jayanya? Biasanya, kita baru memperbanyak doa di waktu dunia menjadi sempit, saat menjelang ujian, saat sakit parah, atau saat sedang bokek. Inilah penyakit ?kecil&#8217; akidah yang berurat berakar di dalam hati kita. Padahal, Allah lebih cinta kepada kita bila selalu kita banyak mengingat Allah pada saat lapang. Orang yang mengingat Allah di waktu lapang, umumnya akan ingat pula kepada Allah di waktu sempit. Sebagai ganjarannya, Allah pun akan memuluskan setiap permintaan kita di waktu sempit.</p>
<p>Maka jangan lupakan Allah, karena Dia adalah tempat meminta dan mengadu. Berdoa jauh lebih baik daripada berdiam diri dalam menghadap permasalahan hidup. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi, yakin saja bahwa kita tidak sendiri. Ada Allah Rabbul ?alamin yang menyertai kita. Lalu, mengapa kita harus merasa bosan untuk berdoa? <strong>[januar]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/doa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berandai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berandai-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berandai-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 10:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1911</guid>
		<description><![CDATA[Andai rasa itu ada
Biar kurasakan indahnya cinta 
dalam hati saja
(Warna)

Pekerjaan yang paling mudah dikerjakan adalah melamun. Berandai-andai. Dalam lamunan, kita bisa menjadi apa saja dan melakukan apa saja. Kita bisa berimajinasi menjadi Gatotkaca, superhero dari Indraprasta yang berotot kawat, bertulang besi (mungkin karena rajin minum susu berkalsium tinggi) lalu mengacak-acak Gedung Putih dan menggantung Bush [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Andai rasa itu ada</em></p>
<p dir="ltr"><em>Biar kurasakan indahnya cinta </em></p>
<p dir="ltr"><em>dalam hati saja</em></p>
<p dir="ltr">(Warna)</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Pekerjaan yang paling mudah dikerjakan adalah melamun. Berandai-andai. Dalam lamunan, kita bisa menjadi apa saja dan melakukan apa saja. Kita bisa berimajinasi menjadi Gatotkaca, superhero dari Indraprasta yang berotot kawat, bertulang besi (mungkin karena rajin minum susu berkalsium tinggi) lalu mengacak-acak Gedung Putih dan menggantung Bush Jr. di ujung Patung Liberty. Biar <em>nyahok</em> (baca: tahu), itulah bayaran menyakiti sesama kaum muslimin.<span id="more-1911"></span></p>
<p dir="ltr">Dalam pengandaian, kita bisa membalik masa lalu. <em>Make everything right what gone wrong</em>. Mungkin kita akan menuruti setiap perintah ibu dan ayah kita, tidak akan menyakiti hati mereka. Kita juga akan rajin mengerjakan PR sehingga tidak akan kena jewer atau kena setrap wali kelas. Atau kita nggak bakal mau kenalan dengan <em>video game</em> sehingga nggak akan <em>addicted</em> dengan &#8216;heroin&#8217; elektronik itu. Buat gadis-gadis yang pernah dihamili pacar-pacarnya mungkin akan berandai nggak akan mengerjakan perbuatan terkutuk itu dan menanggung efek depannya (<em>suer</em>, karena hamil memang melendung ke depan tidak ada yang ke samping). <em>Oh, we wish we can do that!</em></p>
<p dir="ltr">Tapi, mengandaikan sesuatu yang telah terjadi adalah kesia-siaan. Bahkan tak terpuji. Masa lalu sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya. Berandai-andai dengannya hanya memperpanjang penderitaan bahkan bisa menjadi trauma. Itulah sebabnya Nabi saw. meminta kita untuk tidak berandai-andai. Kata Beliau saw. <em>&#8220;Jika sesuatu telah menimpamu maka janganlah engkau sekali-kali berkata; &#8217;seandainya aku melakukan begini atau begitu maka hasilnya (pasti) begini&#8217;. </em><em>Akan tetapi katakanlah: &#8216;Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Dia kehendaki maka Dia lakukan&#8217;.&#8221;</em></p>
<p dir="ltr">Satu-satunya hal yang bisa kita kerjakan saat ini adalah menyimpan kenangan pahit dalam folder memori kita. Ia adalah pelajaran yang tak boleh terulang di masa depan. Bukankah keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali? Dan, karena manusia bukan keledai &#8211; bahkan bisa lebih bodoh dari keledai &#8211;, belajar dari kesalahan menjadi penting. <em>Muhammad the prophet says</em>, &#8220;Tanda-tanda celakanya seseorang ada empat; pertama, adalah melupakan dosa-dosa yang telah lalu padahal Allah tetap mengingatnya&#8230;&#8221;</p>
<p dir="ltr">Jadi, biarkanlah air matamu meleleh dengan mengingat itu semua. <em>That&#8217;s better</em>, ketimbang berandai-andai bisa mengulang masa lalu. Bila itu yang kita lakukan, maka itu adalah sebuah kontemplasi. Merenung dan memikirkan serta mencari pencerahan atas berbagai permasalahan kita.</p>
<p dir="ltr">Dan kontemplasi adalah perbuatan terpuji. Allah Swt. telah memerintahkan manusia untuk banyak berkontemplasi. Di antaranya untuk memikirkan kekuasaanNya, demi meneguhkan keimanannya.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergiliran siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal, yakni yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, kemudian berkata, &#8216;Duhai Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua sia-sia, Mahasuci Engkau dan selamatkanlah kami dari api neraka&#8217;.&#8221;(Ali Imraan: 190-191)<strong> [januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[diambil dari Majalah SOBAT MUDA, edisi September 2004]</em></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berandai-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
