<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com &#187; Tips Menulis</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/category/pernik/tips-menulis/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Untuk apa sih menulis?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/untuk-apa-sih-menulis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/untuk-apa-sih-menulis#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 07:34:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3399</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p>Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. Setiap orang bisa saja berbeda cara pandang dalam menentukan motivasi dan tujuan menulisnya. Maka, setiap kali saya mengajar kelas menulis atau mengisi workshop menulis maupun yang lebih spesifik seperti jurnalistik, yang pertama kali saya sampaikan kepada peserta adalah: “Apa sih motivasi Anda menulis?” Selain saya ingin mengukur minat yang mereka inginkan, juga agar saya bisa urun rembug memberikan sedikit sharing agar niat dan tujuan menulis tidak sia-sia atau tidak hanya mandeg pada tataran yang sangat sederhana atau bahkan ‘sampah’.</p>
<p>Nah, jawaban saya untuk pertanyaan sesuai judul artikel ini adalah: menulis ditujukan untuk BERBAGI. Memberi manfaat kepada pembaca agar mereka bisa merasakan nikmatnya pengetahuan. Berbagi itu indah. Apa sajalah, pasti kita senang juga ketika memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ada sebuah pesan yang menarik, “Jika ilmu yang Anda pelajari dari saya dapat berguna untuk diri Anda, maka tolong berbagilah kepada orang lain agar orang lain pun dapat memetik manfaat dari ilmu tersebut,” demikian pesan Milton Erickson pada murid terbaiknya, Stephen Gilligan, PhD. Siapa Milton Erickson dan siapa pula Stephen Gilligan? Bagi Anda yang peminat atau praktisi hynotherapy atau juga Neuro-Linguistic Programming, pastinya mengenal guru dan murid di bidang tersebut. Ini sekadar contoh saja.</p>
<p>Dalam Islam, kita sudah diberikan tuntunan. Dakwah salah satunya. Dakwah itu adalah bentuk kepedulian. Menyampaikan informasi dan pengetahuan itu terasa indah dan menyenangkan. Menulis, adalah salah satu cara untuk mendukung terlaksananya dakwah. Andai saja tak ada orang yang mau berdakwah, mungkin akan banyak manusia di bumi ini yang tersesat di jalan kehidupan. Jika tak ada guru yang mengajarkan banyak ilmu, mungkin tak akan banyak orang-orang cerdas dan terpelajar di dunia ini. Mungkin saja jika orang tua kita tidak mendidik kita tentang kepribadian dan etika, akan banyak hadir di dunia ini anak-anak yang tak beradab. Indahnya berbagi.<span id="more-3399"></span></p>
<p>Menulis pun bagi kita semestinya diniatkan untuk berbagi. Ya, sekemampuan kita. Sebab, adakalanya untuk menjelaskan sesuatu kita butuh detil dan pemaparan fakta. Dan, itu tentunya harus dituliskan. Bukan dikatakan. Bahkan bila perlu dilukiskan dengan rangkaian kata yang indah untuk menjelaskan suatu definisi atau makna. Tulisan pun akan lebih awet dan bisa dipindah-pindah dengan mudah, dicetak dan disebar sebanyak mungkin melalui berbagai media penyampai pesan. Di era digital saat ini, tulisan bisa diproduksi dengan massal, bertebaran di internet, di surat kabar, di majalah dan ribuan buku. Jutaan para penulis lahir dari generasi ke generasi, berbilang tahun dan abad.  Subhanallah, hadis-hadis Rasulullah saw. sampai kepada kita. Kita bisa membacanya melalui riwayat yang disampaikan berabad-abad lamanya. Dibacakan, ditulis, dibacakan lagi, ditulis lagi. Begitu seterusnya. Kita, generasi mutaakhirin, tetap harus merasa bangga, karena ilmu banyak hadir. Karya Imam Bukhari masih bisa kita baca. Padahal, penulisnya sudah ratusan tahun lalu meninggalkan dunia ini. Menulis, memiliki kekuatan tersendiri untuk berbagi ilmu pengetahuan dan mendukung dakwah.</p>
<p>Saya insya Allah merasa yakin bahwa motivasi menulis para ulama adalah menggapai pahala. Para ulama terdahulu senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Swt. sebelum menulis karya-karya mereka. Dalam beberapa kisah bahkan para ulama itu menulis dalam keadaan bersuci. Banyak di antara mereka yang melakukan shalat sunnah terlebih dahulu untuk menuliskan ilmunya. Subhanallah, pantas saja ilmu mereka barokah. Pantas saja karya mereka bermanfaat dan mencerahkan pembacanya hingga kini. Kita wajib iri dengan karya-karya para ulama. Apa yang akan kita wariskan bagi kaum muslimin saat kita sudah tak ada dunia ini lagi? Apa yang akan kita titipkan untuk anak-cucu kita jika kita tak mencoba untuk meninggalkan sebuah saja karya tulis kita yang bisa dibaca dan menginspirasi banyak manusia untuk mengenal Islam? Siapa tahu, yang satu tulisan itu pahalanya terus mengalir sebagai bagian dari amal jariah kita untuk kemaslahatan umat. Apalagi, jika kita berhasil menuliskannya dalam sebuah buku, belasan, puluhan atau bahkan ratusan buku yang bermanfaat. Subhanallah, pasti bahagianya kita karena telah berbagi dengan sesama. Semoga kita bisa meneladani para ulama yang berkarya lewat tulisan.</p>
<p>Sahabat, satu hal yang mungkin perlu menjadi perhatian kita adalah soal NIAT. Jika kita menulis diniatkan untuk semata mencari popularitas dan decak kagum pembaca, tolong diluruskan niat itu. Jika kita menulis diniatkan untuk semata mencari harta, sepertinya perlu dipoles lagi keikhlasan kita. Yakinlah sahabat, ketenaran dan memiliki materi itu adalah efek samping saja dari kegiatan kita menulis. Allah Swt. sudah memberikan rejeki bagi makhlukNya sesuai keputusanNya, kok. Tak usah pusing. Karena kita hanya diminta untuk mencarinya, yang kadang itu pun datangnya bukan dari pekerjaan yang kita geluti. Dan, perlu dicetak tebal dalam ingatan kita bahwa rejeki tak selalu berarti materi. Kesehatan, ilmu, banyaknya teman, keluarga, waktu luang, bisa berdakwah, dan lain sebagianya yang bermanfaat bagi kita, adalah bagian dari rejeki juga. Insya Allah. Hal itu juga adalah nikmat yang bisa kita rasakan sebagai bagian dari rejeki.</p>
<p>Dengan demikian, “untuk apa kita menulis?” Ya, untuk beribadah, berdakwah, berjuang, dan berbagi dengan sesama. Bagi saya, menulis adalah perjuangan. Teruslah menulis jika ingin tetap berjuang. Tetap semangat dan jangan berhenti menulis. Teruslah menulis, meskipun profesi penulis tak segemerlap selebritis. Baik dari ketenaran, apalagi penghasilan. Kata seorang kawan yang sama-sama penulis sering berseloroh, “Kita-kita ini insya Allah kuat pendapatnya (termasuk dalam menulis), yang nggak kuat adalah pendapatannya”. Tetapi, tetaplah tegar di jalan dakwah.  Dan, tetaplah menulis menjadi bagian dari keterampilan yang harus kita miliki untuk membantu dakwah.</p>
<p>Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,</p>
<p>O. Solihin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/untuk-apa-sih-menulis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis melancarkan berbicara</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-melancarkan-berbicara</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-melancarkan-berbicara#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 16:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[berbicara]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3396</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa  melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin  yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek  samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang  merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p>Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa  melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin  yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek  samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang  merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping  dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah  menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin  saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi  kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia  menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!</p>
<p>Ya, jika Anda  termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu  terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis  terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda  akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau  setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal  memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah,  jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit  diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan  mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara  lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga  ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah  mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan  bisa jadi deras.</p>
<p>Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai  dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai.  Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya  insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada  tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan  kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih,  tak sampai tulisan kesepeluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan  ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk  mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi.  Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair.  Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan  setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang  yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita  ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur  tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.</p>
<p>Intinya:  menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi  juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua  mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi  setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa  menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun  lisan. Tetaplah menulis!</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-melancarkan-berbicara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berawal dari Membaca</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 17:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Kamu punya hobi membaca? Berbahagialah. Karena syarat menjadi penulis salah satunya adalah banyak membaca. Dengan membaca, kita jadi tahu segalanya. Hal yang sebelumnya menjadi misteri, setelah membaca, kita jadi ngeh. Membaca akan membuka wawasan kita tentang segala hal. Menyenangkan sekali memang. Waktu SD saja, senang betul bisa membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;margin-right:0.5em;" title="spk1b.gif" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/09/spk1b.thumbnail.gif" alt="spk1b.gif" align="left" />Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Kamu punya hobi membaca? Berbahagialah. Karena syarat menjadi penulis salah satunya adalah banyak membaca. Dengan membaca, kita jadi tahu segalanya. Hal yang sebelumnya menjadi misteri, setelah membaca, kita jadi ngeh. Membaca akan membuka wawasan kita tentang segala hal. Menyenangkan sekali memang. Waktu SD saja, senang betul bisa membaca buku-buku pelajaran, buku cerita, komik, bahkan ‘nekat&#8217; membaca koran. Dengan semakin banyak membaca, semakin besar rasa ingin tahu kita. Nggak mengherankan jika kemudian kita selalu ketagihan untuk membaca. Jadi, silakan baca buku apa saja, selama kamu sanggup untuk membacanya. Selama matamu masih melek (kalo tidur kan nggak bisa baca&#8230;he..he..he..) <span id="more-663"></span></p>
<p>Di Amerika, menurut Pak Ade Armando saat mengisi acara <em>Lunching</em> MRI Permata tahun 2002 lalu, ia menyebutkan bahwa hampir sejuta judul buku terbit tiap tahunnya. Itu menunjukkan bahwa minat baca di sana sangat besar. Di Jepang juga sama, seorang teman pernah memberi kabar, bahwa koran terbesar di sana, setiap hari bisa terbit dengan jumlah oplah 4 kali lebih besar dari jumlah penduduk Jepang itu sendiri. Apakah mereka mengkoleksi koran tersebut? Nggak tahu pasti. Tapi keberanian penerbit untuk mencetak sebesar itu, adalah sebuah prestasi sekaligus menaruh kepercayaan kepada masyarakat. Bahwa, masyarakat di sana memang ‘gila&#8217; baca.</p>
<p>Banyak orang besar rata-rata hobi membaca dan mengakui manfaat membaca bagi kemajuan karirnya. Sebut saja Theodore Roosevelt, ia bahkan sanggup membaca tiga buku dalam sehari selama di Gedung Putih. John F. Kennedy juga sama, bahkan ia disebutkan sanggup membaca 1000 kpm (kata per menit). Bisa dibayangkan, berarti dalam satu jam bisa membaca 60 ribu kata.</p>
<p>Dengan membaca, kita juga jadi tercerahkan. Apalagi sekarang sudah maju banget teknologi mesin cetak, hingga informasi bisa didapatkan dengan mudah sampe ke pelosok desa. Teknologi informasi yang juga ikut membidani lahirnya internet semakin membantu masyarakat mendapatkan informasi yang banyak. Inilah yang disebut sebagai ledakan informasi. Hasilnya, ambil contoh di desa, para petani yang rajin mendapatkan informasi, salah satunya dengan membaca, lebih maju dalam menggarap sawahnya. Ia tak lagi menarik bajak dengan menggunakan sapi atau kerbau. Sapi dan kerbau amat lamban. Ia beralih ke mesin traktor. Membaca, memang bermanfaat banget.</p>
<p>Banyak penulis besar, juga pasti berawal dari kebiasaannya membaca. JK Rowling, penulis novel terkenal, Harry Potter, nggak mungkin bisa mengekspresikan seluruh isi tulisannya jika tidak membaca sebelumnya, sehingga ia menjadi tahu kapan menumpahkan rasa marah dalam sebuah tulisannya, kapan menuliskan kekaguman, dan bagaimana caranya bisa menggiring pembacanya supaya bisa memahami tulisannya. Yakin itu. Ernest Hemingway bisa ngetop dengan novel-novelnya juga karena getol membaca. Mantan Presiden Sukarno, juga terkenal rajin membaca. Itu sebabnya, beliau bisa menuangkannya kembali dalam beberapa buku yang berhasil ditulisnya.</p>
<p>Kalo kamu nggak cukup buku untuk dibaca, silakan kunjungi perpustakaan. Atau paling banter datang ke toko buku. Meski kamu nggak beli satu buku pun, kamu bisa membaca buku baru yang dipajang tanpa segel. Silakan dibaca, siapa tahu ada informasi menarik yang bisa kamu dapatkan. Menyenangkan sekali bukan? Saya punya pengalaman menarik tapi sedikit memalukan. He..he..he.. nggak ding, bukan memalukan, tapi <em>nekatz</em>. Begini ceritanya, saya jalan-jalan ke toko buku. Ini memang sering juga saya lakukan untuk mencari informasi terbaru. Kalo ada uang di kantong, dan buku menarik itu bandrolnya nggak bikin kantong bolong, saya bisa beli langsung. Tapi waktu itu benar-benar kepepet.</p>
<p>Setelah mikir-mikir, sayang juga kalo kesempatan membaca buku itu hilang begitu saja. Akhirnya, dipicu oleh saking pengennya dapat informasi dari buku menarik itu, dan kebetulan buku yang dipajang itu tanpa segel, saya baca agak lama (tapi nggak sampe lecek sih). Nah, begitu ada data menarik, dan saya harus mendapatkannya, saya sempat bingung. Tapi kemudian dapat &#8216;ide nakal&#8217;. Saya ambil pulpen dan <em>blocknote</em> yang selalu nempel di saku baju saja. Setelah celingukan sebentar, saya langsung menyalin beberapa bagian penting dari buku menarik tersebut. Untung, sampe selesai nyalin penajaga tokonya nggak nyamperin saya. Ya, seandainya punya banya uang, atau semua buku itu murah harganya, kayaknya menarik juga untuk dikoleksi. Nggak sempat baca sekarang, kan masih bisa esok hari. Pokoknya banyak baca deh.</p>
<p>Terus terang saja, saya sendiri bisa menulis buku, setelah banyak membaca. Saya bahkan tidak bisa menuliskan satu kalimat pun saat belum ada informasi tentang apa yang akan saya tulis. Membaca adalah kemungkinan paling besar untuk mendapatkan informasi (selain mendengar tentunya). Membaca memang akan memperkaya wawasan. Manfaatnya besar banget lho. Jadi jika ingin jadi penulis, mulailah dengan membaca. Sebanyak mungkin, bacaan apapun (fiksi dan nofiksi). Selamat mencoba. <strong>[<a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis itu GAMPANG, Tapi ADA CARANYA</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-itu-gampang-tapi-ada-caranya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-itu-gampang-tapi-ada-caranya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 02:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kursus]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2608</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Salam sukses buat semuanya&#8230;
Menulis itu gampang? Saya sendiri berani mengatakan gampang, bukan karena saya sudah bisa, tapi karena saya melihat banyak orang bisa menulis, berarti keterampilan ini bisa dipelajari. Menulis adalah keterampilan? Betul. Sama seperti naik sepeda atau mengendarai mobil. Makin sering dilatih, makin lihailah kita. Saya waktu kecil masih inget sering minjem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em><br />
Salam sukses buat semuanya&#8230;</p>
<p>Menulis itu gampang? Saya sendiri berani mengatakan gampang, bukan karena saya sudah bisa, tapi karena saya melihat banyak orang bisa menulis, berarti keterampilan ini bisa dipelajari. Menulis adalah keterampilan? Betul. Sama seperti naik sepeda atau mengendarai mobil. Makin sering dilatih, makin lihailah kita. Saya waktu kecil masih inget sering minjem sepeda adiknya nenek saya, sepeda ontel. Saya tertantang untuk bisa. Saya coba kayuh sekali, jatuh. Saya mencoba menyeimbangkan badan saat kaki sebelah kanan menginjak pedal sepeda dan kaki kiri masih menginjak tanah. Saja coba jalankan sepeda dengan kaki kanan menginjak pedal dan kaki kiri menginjak tanah. Terus seperti itu sambil mencoba menjalankan sepeda. Sesekali saya mencoba kaki kiri untuk ikut mengayuh pedal, tapi sepeda sempoyongan ke kiri. Gubrak! Saya jatuh. Tapi mencoba bangun lagi. Terus seperti itu. Saya lupa persisnya berapa hari berlatih naik sepeda, tapi seingat saya dua pekan setelah sering jatuh, saya mulai bisa menyeimbangkan badan dan mengayuh sepeda dengan dua kaki. Tapi saya masih “seureudeug” alias gerasak-gerusuk dan akhirnya, beberapa kali sukses masuk solokan ketika menghindari pejalan kaki. Hehehe.. <span id="more-2608"></span></p>
<p>Tapi, perjuangan dan motivasi saya untuk bisa naik sepeda akhirnya berbuah hasil. Tak sampai sebulan saya sudah bisa naik sepeda. Makin sering dilakukan, makin lihailah saya. Sampai-sampai berani untuk tak pegang stang sepeda. Cihuy! Akhirnya bisa juga naik sepeda!</p>
<p>Kembali kita bahas tentang menulis. Menulis itu bukan bakat. Menulis adalah keterampilan. Tak ada bukti-bukti khusus bahwa seseorang bisa menulis dilihat dari wajah, jari-jari tangan, atau keturunannya. Tidak sama sekali. Menulis itu dipelajari. Sementara cara belajar setiap orang pasti berbeda-beda. Tidak sama. Jika dikatakan bahwa dengan belajar orang menjadi bisa. Insya Allah memang akan bisa jika belajar. Tapi jika ditanya apakah semua orang yang belajar akan sama keahliannya, saya memilih menjawab tidak. Sebab, di sekolah sepakbola misalnya, orang belajar dengan pelatih yang sama, waktu belajarnya juga sama, di kelas yang sama. Buku panduan (jika ada) juga sama. Bayar biaya sekolah sepakbolanya pun sama. Tapi, kenapa ada yang menjadi bintang lapangan dengan keahlian yang di atas rata-rata pemain lain? Ini bukan bicara bakat, tapi latihan. Ronaldinho atau Cristiano Ronaldo, memiliki waktu khusus untuk menempa kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Berlatih lebih banyak dibanding pemain lainnya. Ini menjadi bukti bahwa keterampilan itu semakin diasah akan semakin bagus.</p>
<p>Menulis itu keterampilan, jadi butuh waktu khusus, butuh latihan khusus, butuh motivasi. Saya juga dulu tak bisa menulis. Bahkan sekadar menulis kata pertama untuk sebuah tulisan susahnya minta maaf (hehehe.. bosan pake kata “ampun”). Iya. Sering saya bermenit-menit memikirkan kata apa yag pertama kali harus ditulis. Ini ternyata sebuah kesalahan. Seharusnya langsung saja ditulis yang ada di benak kita saat itu. Sama seperti saya waktu belajar naik sepeda. Saya langsung nyoba. Tidak perlu berpikir lama menimbang-nimbang, saya harus mendorong dulu sepeda atau langsung menginjak pedal sepeda untuk mencoba menjalankan sepeda. Saya tidak peduli. Langsung coba. Nah, setelah tahu seperti itu, saya akhirnya menulis menjadi lebih cepat karena langsung menuliskan apa pun yang ada di pikiran kita.</p>
<p>Lha, bukankah akan berantakan nantinya? Benar sekali. Bisa dikatakan 90% pasti “acak-adut” tak karuan. Tapi, target saya waktu itu adalah bisa menuangkan gagasan melalui tulisan secepat mungkin. Saya terus melakukan seperti itu. Hingga akhirnya lancar menuangkan gagasan. Baru setelah merasa yakin bisa dengan mudah untuk memulai menulis, bagian berikutnya adalah membaca ulang naskah yang sudah ditulis. Jika ada yang kurang bagus, diperbaiki bahasanya, kalimatnya, isinya, pilihan katanya dan sistematikanya. Ini artinya, menulis bukanlah keterampilan instan. Tapi harus sering dilatih dengan serius. Latihannya apa? Tentu saja menulis. Selain juga membaca untuk menyiapkan “amunisinya” sebagai bahan tulisan. So, yang perlu diubah pertama kali adalah cara pandang dan motivasi. Ubah cara pandang kita selama ini bahwa menulis itu susah. Tolong ubah cara pandang tersebut. Kita harus berani katakan, bahwa menulis itu gampang, asal mau melatihnya. Menjadi penulis itu bukan impian, asalkan kita mampu mempertahankan dan meningkatkan motivasi yang kita miliki untuk berlatih dan belajar. Jadi, menulis itu memang gampang, tapi ada caranya.</p>
<p>Ok deh, sebelum mengakhiri tulisan singkat ini&#8211;yang mungkin terkesan sekadarnya saja&#8211;saya ingin menyampaikan informasi, bagi teman-teman yang ingin berbagi dan mencari ilmu tentang menulis, silakan klik saja: [<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span>ihin.com</a>]. Insya Allah banyak tips-tips seputar kepenulisan. Gratis.</p>
<p>Namun demikian, saya juga menyediakan tempat dan waktu khusus yang dikelola secara profesional dan berbayar bagi yang ingin serius belajar dan berkonsultasi seputar penulisan di Kursus Menulis Online. Informasi lengkapnya bisa dilihat pada LINK berikut ini:</p>
<blockquote><p>====<br />
Dibuka Kelas Baru. Kursus Menulis Online, Penulisan FIKSI.<br />
INFO lengkap, silakan klik LINK berikut ini:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/07/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-fiksi/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span><span>ihin.com/2009/07/kelas-bar</span><span>u-kursus-menulis-online-pe</span>nulisan-fiksi/</a></p>
<p>Dibuka Kelas Baru. Kursus Menulis Online, Penulisan NONFIKSI.<br />
INFO lengkap, silakan klik LINK berikut ini:<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/2009/07/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-nonfiksi/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span><span>ihin.com/2009/07/kelas-bar</span><span>u-kursus-menulis-online-pe</span>nulisan-nonfiksi/</a><br />
====</p></blockquote>
<p>Bagi teman-teman yang sudah mulai bisa menulis atau ingin mengasah kemampuan menulis, saya mengajak teman-teman untuk menjadi kontributor di website tersebut. Caranya mudah, jika Anda punya account Facebook, bisa langsung login di sana menggunakan email dan password Anda sendiri. Saya sudah “mencangkokkan” Facebook Connect di website Menulis Kreatif tersebut. Setelah login, secara otomatis Anda sudah menjadi kontributor di website komunitas Menulis Kreatif. Dan, ditunggu karya-karya Anda yang inspiratif, mencerahkan, bermanfaat dan memberi solusi untuk berbagi dengan siapa pun. Untuk lengkapnya, silakan baca terlebih dahulu FAQ-nya pada LINK di bawah ini:</p>
<p><a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://menuliskreatif.osolihin.com/faq/" target="_blank"><span>http://menuliskreatif.osol</span>ihin.com/faq/</a></p>
<p>Ini saja dari saya. Terima kasih sudah sudi membaca pesan ini. Mohon maaf jika ada yang salah dan tak berkenan bagi teman-teman.</p>
<p>Salam sukses dan barokah,</p>
<p>O. Solihin<br />
[<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://osolihin.com/" target="_blank">http://osolihin.com</a> | <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;93a968f32681903b6ee7c9c509539774&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://osolihin.wordpress.com/" target="_blank"><span>http://osolihin.wordpress.</span>com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-itu-gampang-tapi-ada-caranya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Menulis dan Berbicara</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/antara-menulis-dan-berbicara</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/antara-menulis-dan-berbicara#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 11:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2188</guid>
		<description><![CDATA[Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga untuk mendengar kata yang diucapkan, dan lidah berusaha untuk mengikutinya dengan kata yang kita upayakan untuk dikeluarkan. Itu sebabnya, anak kecil yang sehat dan normal (matanya dapat melihat, telinganya dapat mendengar, dan lidahnya bisa digerakkan untuk berkata) maka umumnya akan dengan mudah mengikuti. Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi. Jadi, anak kecil yang ingin belajar bicara tak memerlukan belajar huruf-huruf terlebih dahulu, tak butuh juga dengan seabrek teori menulis, dan bagaimana merangkai kata yang baik. Ia, akan dengan spontan mengikuti setiap huruf yang diucapkan orang lain (entah ibunya, ayahnya, kakaknya, atau temannya dll). Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit. Mengalir apa adanya.</p>
<p>Nah, sementara menulis, ini memerlukan keterampilan tambahan. Bahkan motivasi tambahan pula. Karena apa? Karena menulis bukan bakat, karena menulis memang sangat berbeda dengan berbicara. Banyak orang bisa berbicara, bahkan fasih, meski ternyata ia buta huruf. Sementara orang yang bisa menulis, sangat mustahil bila ia penderita buta huruf. Mungkin ini pula yang membedakan kemampuan setiap orang dalam menulis. Intinya, nggak semua orang bisa menulis, meski berbicaranya sangat fasih dan bahkan retorikanya bagus. Oya, meski bicaranya tidak bagus, tapi minimal ia memang bisa bicara. Bisa berkomunikasi secara verbal (kata-kata) dengan orang lain. Iya nggak?<span id="more-2188"></span></p>
<p>Jadi menurut saya sih, orang yang bisa menulis adalah orang yang seharusnya merasa bahagia. Karena apa? Karena bisa melakukan keterampilan yang jarang dilakukan oleh orang yang sehat dan normal lainnya. Umumnya, semua orang yang sehat dan normal bisa berbicara, tapi tak semua dari mereka bisa menulis. Ini pun dikelompokkan jadi dua: pertama, orang yang tidak bisa menulis sama sekali alias buta huruf; dan kedua, orang yang tidak bisa menulis dalam pengertian menyampaikan pesan lewat tulisan. Dari dua kelompok itu, mereka sama-sama bisa berbicara, tapi nggak bisa menulis. Betul ndak?</p>
<p><strong>Ayo menulis!</strong></p>
<p>Alirkan ide-idemu untuk berkarya lewat tulisan. Rugi banget kalo sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat tulisan. Padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara. Kita emang bisa menyampaikan pesan lewat kata-kata (berbicara), tapi tak selamanya pesan bisa sampe dengan mudah. Jika kamu menelepon seseorang, ingin mengerahkan kemampuanmu untuk menyampaikan kehebatanmu dalam berbicara untuk mempengaruhi dia, sementara ponselnya pas kamu nelepon nggak diaktifkan, itu artinya ada hambatan. Apa yang ingin kamu sampaikan menemui jalan buntu. Minimal harus menunggu sampe ponsel temanmu diaktifkan.</p>
<p>Dan lagi nih, kamu tentunya nggak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siap untuk menelepon. Adakalanya, kamu justru berada dalam kondisi harus menyampaikan pesan lewat tulisan. Misalnya kamu sibuk, sementara untuk memberi tahu teman kamu dengan berbicara di telepon akan memakan waktu, apalagi kalo kamu seneng ngobrol. Maka, langkah efektif adalah dengan mengirim SMS ke ponselnya, atau mungkin kirim e-mail, atau bisa aja nulis memmo untuknya karena ketika kita sampe ke rumahnya dia nggak ada. Kita tempelin deh memmo berisi pesan tertulis kita. Tapi, itu pun masih dengan catatan: ia aktifkan ponselnya; buka e-mail, dan tak sedang keluar kota. Berarti ini soal kendala teknis. Terlepas dari itu, keterampilan menulis tetap harus dimiliki. Minimal sebagai keterampilan pelengkap untuk menyampaikan pesan bagi yang sudah terbiasa dan mahir retorikanya dalam berbicara. Setuju?</p>
<p>Sobat, nggak usah dibikin rumit ketika kita akan menulis. Saya juga termasuk yang bisa menulis bukan berawal dari teori. Saya menulis, kalo saya pengen nulis apa yang membuat saya lega ketika menuliskannya. Saya menulis surat buat teman dan orangtua saya, menulis puisi, menulis catatan harian, bahkan saya menulis cerpen meski ketika dibaca lagi seringnya nggak nyambung. Tapi, saya berkeras ingin bisa menulis. Waktu SMP, ketika seneng nulis, saya nggak punya mimpi jadi penulis. Saya hanya seneng aja setiap kali membaca buku sejak SD. Dalam pikiran saya, &#8220;Saya bisa membaca dan mudah untuk mengerti pesan yang disampaikan penulisnya, pasti si penulis itu adalah orang yang hebat dalam menyampaikan pesan secara tertulis.&#8221; Sejak saat itu saya secara sederhana ingin juga bisa menulis. Tapi tetep belum kepikiran ingin jadi penulis. Biasa aja gitu.</p>
<p>Hasilnya? Alhamdulillah, rupanya pembiasaan dalam menulis apa saja yang ingin saya tulis, sekaligus sebagai latihan &#8216;alamiah&#8217; untuk melancarkan jari tangan saya menulis (waktu itu saya belum punya mesin tik, apalagi komputer). Kebiasaan saya menulis bukan hanya melancarkan jari tangan saya menulis di kertas, tapi sekaligus melatih pilihan kata yang hendak saya tulis dan juga melancarkan sistematika dalam alur penulisan pesan yang saya inginkan. Inilah uniknya keterampilan menulis. Setidaknya menurut saya, lho.</p>
<p>Jadi, biasakan untuk melatih menulis. Terus dan terus. Nggak usah ada beban dulu. Pokoknya nulis. Jangan takut salah, nggak perlu khawatir tulisannya nggak enak dibaca, yang penting mencoba dan terus belajar. Salah-salah dikit sih kita bisa menghibur diri dengan nyontek semboyan di iklan pembersih pakaian, &#8220;Nggak ada noda, ya nggak belajar&#8221;. Menulis itu butuh ketekunan, jangan patah semangat jika baru nulis sekali dan jelek. Itu belum cukup, kalo kamu nggak terus melatih diri untuk menulis. Bukankah benteng Mesir tidak ditaklukkan dengan sekali peperangan? Bukankah ketika kita belajar menuliskan abjad dan angka saja nggak sekali langsung bisa? Ya, belajar menulis tidak instan, tapi harus ditekuni dan sabar, serta penuh semangat, plus motivasi kuat.</p>
<p>Oya, sebenarnya bicara juga membutuhkan keterampilan tambahan, meski awalnya &#8216;naluriah&#8217;, tapi tetap kudu dipelajari bagaimana santun dalam berbicara, berkata yang baik, dan apa yang harus dikatakan dengan tepat kepada siapa yang diajak bicara. Nah, untuk tingkat lanjutannya sih memang harus belajar juga. Sama seperti menulis. Tapi, langkah awalnya aja yang beda. <em>Start</em>-nya yang beda. Kalo berbicara, secara &#8216;naluriah&#8217; sejak kecil kita yang sehat dan normal langsung udah belajar dan bahkan bisa bicara, sementara menulis (menuliskan abjad dan angka), minimal rata-rata bisa nulis secara umum adalah ketika kita diajarin di sekolah (meski sebelum sekolah kita udah pada bisa bicara). Tul nggak?</p>
<p>Eh, waktu kecil juga kita udah bisa menulis abjad dan angka, tapi inget ya bahwa pengetahuan tersebut saja belum cukup untuk menyampaikan pesan lewat tulisan jika nggak belajar bagaimana cara merangkai kata yang baik. Nah, jadi beda kan? Ehm, jadi menulis emang keterampilan yang unik dan sekaligus menarik. Setidaknya ini menurut saya, lho.</p>
<p>Sobat, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin tekankan bahwa ada yang perlu diperhatikan dan diingat, bahwa jika kita nggak bisa menulis dengan baik, maka pesan itu pun sulit juga dimengerti oleh pembaca tulisan kita. Sebagai pemberi pesan (komunikator), tentunya kita harus sebaik mungkin dalam menyampaikan pesan agar mudah dipahami oleh komunikan alias si penerima pesan. Tentunya, untuk semua itu yang dibutuhkan bukan hanya kebiasaan kita menulis, tapi juga ilmu dan wawasan buat tambahan kita. Yup, agar pesan yang kita sampaikan juga dimengerti, bahkan dipahami dengan mudah oleh penerima pesan. <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank"><strong>[O. Solihin]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/antara-menulis-dan-berbicara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngomongin Motivasi dan Mood</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ngomongin-motivasi-dan-mood</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ngomongin-motivasi-dan-mood#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 02:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ngomongin-motivasi-dan-mood/</guid>
		<description><![CDATA[Kamu masih memiliki motivasi untuk menjadi penulis? Syukurlah. Itu artinya kamu masih punya modal. Masih semangat juga kan? Oke, itu sudah cukup sebagai trigger (pemicu) untuk merintis jalan menjadi penulis. Kerja keras yang gigih akan memunculkan keseriusan.
Banyak penulis beken dan handal saat ini yang berangkat dari bawah. Mereka dengan semangat tinggi akhirnya berhasil meraih prestasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/12/calvin-bad-mood.thumbnail.gif" alt="calvin-bad-mood.gif" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Kamu masih memiliki motivasi untuk menjadi penulis? Syukurlah. Itu artinya kamu masih punya modal. Masih semangat juga kan? Oke, itu sudah cukup sebagai <em>trigger</em> (pemicu) untuk merintis jalan menjadi penulis. Kerja keras yang gigih akan memunculkan keseriusan.</p>
<p>Banyak penulis beken dan handal saat ini yang berangkat dari bawah. Mereka dengan semangat tinggi akhirnya berhasil meraih prestasi yang bagus dalam menulis. Seperti JK Rowling, Rosihan Anwar, Emha Ainun Nadjib dll.<span id="more-774"></span></p>
<p>Saya punya pengalaman menarik soal ini. Memang sih, keseriusan saya kepada dunia tulis-menulis munculnya boleh dibilang telat banget. Gimana nggak, seumuran SMU baru muncul dan tumbuh berkembang. Telat memang, bila dibandingkan banyak penulis lainnya yang udah malang-melintang di dunia menulis sejak mereka di sekolah dasar. Waktu sekolah di SD, saya cuma seneng baca. Koran bekas bungkus makanan saja saya baca. Lumayan dapat wawasan sedikit. Kecintaan saya kepada dunia penulisan, itu pun dengan setitik cinta saja, baru tumbuh kelas 2 SMP. Lucunya, itu hanya sebatas puisi dan menulis surat saja. Gara-garanya saya sering dengerin lagu-lagunya Bang Ebiet G. Ade. Waktu itu, saya kepikiran enak kali ya bisa merangkai kata-kata indah dalam sebuah puisi.</p>
<p>Celakanya, itu tetep nggak saya geluti dengan penuh keseriusan. Maklum, motivasinya kan belum tumbuh. Inilah jadinya kalo nggak diasah. Waktu saya sekolah di SMAKBo, kebiasaan menulis surat dan menulis puisi kebawa juga ke Bogor. Di sini pula saya terlatih untuk membuat surat kepada ortu. Tujuan mulianya adalah meminta uang untuk biaya sekolah. Tentu, sebagai anak yang baik (cieeee&#8230;), saya tidak tembak langsung kepada sasaran, tapi saya tanya ini dan itu. Bahkan mungkin kesannya basa-basi banget. Tapi lama-kelamaan kebiasaan menulis surat itu menjadi hobi tersendiri. Sampai saat itu saya tetap belum memiliki motivasi utuk menjadi penulis. Nggak ada sedikit pun. <em>Nol potol</em> kata <em>wong Suroboyo mah</em>. J</p>
<p>Saya mulai sadar dengan keterampilan saya dalam merangkai kalimat adalah ketika mengerjakan tugas mata pelajaran PSPB di sekolah berupa karya tulis singkat. Kalo nggak salah waktu itu cukup 2 halaman kertas ukuran folio. Nah, mau nggak mau kan saya mengerjakan itu. Saya cuma modal semangat, apa saja yang ada dalam pikiran, saya tulis langsung di kertas itu. Rupanya mulai tumbuh kecintaan dan keseriusan saya dalam dunia penulisan. Puncaknya adalah motivasi seorang teman selepas acara pengajian. Menjelang tengah malam saya dan dia masih bangun. Terus tiba-tiba dia nyeletuk, &#8220;Kalo pengen bisa nulis, mulailah dengan menulis. Apa pun yang ada di benak kamu tuliskan saja. Kalo nanti hasilnya salah atau janggal, kan bisa diperbaiki.&#8221; Gebray! Serasa dapet cahaya terang bernderang. Sejak saat itu, saya kuatkan tekad bahwa saya harus bisa menjadi penulis.</p>
<p>Apa yang bisa saya lakukan waktu itu? Terus mempertahankan api semangat yang menyala dalam diri saya, bahwa saya harus bisa menjadi nulis dengan baik. Saya jadi menyediakan waktu khusus untuk baca buku-buku apa saja. Kunjungan ke toko buku jadi rutin. Waktu itu saya belum punya mesin tik, apalagi komputer. Saya cuma punya motivasi dan semangat. Itu saja. Itu sebabnya, kertas kosong selalu jadi sarana saya untuk menumpahkan segala perasaan saya menjadi sebuah tulisan. Kebetulan waktu kelas tiga SMAKBo seluruh siswa mendapatkan pelajaran komputer. Beda dengan ketika kelas dua yang cuma belajar DOS, saat itu muali belajar program pengolah kata, WS5. masih inget sampe sekarang. Tapi sayang tempay kursusnya udah bangkrut. Padahal lumayan untuk mengenang. Gimana nggak, di saat ada komputer nganggur saya langsung minta ijin untuk memakainya. Saat itulah kesempatan saya untuk menyalin tulisan dari coretan di kertas ke dalam komputer. Ngetiknya hebat lagi, &#8220;11 jari&#8221;! he..he..he.. iya, yang aktif cuma dua jari telunjuk aja. (backsound: kasihan deh gue..)</p>
<p>Sobat muda muslim, Sejak saat itu saya terus termotivasi dan merasa tertantang untuk bisa menulis dengan baik. Saya baca koran, majalah, dan tabloid. Saya pelajari bagaimana orang lain bisa menulis dengan bagus. Saya koleksi buku-buku menulis seadanya. Karena terus terang saya nggak belajar secara khusus dalam pendidikan formal tentang pelajaran menulis. Semua saya dapatkan dari pengalaman saja. Belajar sendiri. Dalam kegiatan sehari-hari saya sering mengoleksi beragam data, siapa tahu nanti terpakai. Artikel menarik di koran saya kliping. Kalo ada informasi amsi di televisi atau radio langsung saya catet. Kebetulan suka bawa-bawa catatan kecil dan pulpen. Diam-diam aja saya tulis. Saya kelompokan data tersebut berdasarkan jenisnya; politik, sosial, ekonomi, budaya, agama dsb.</p>
<p>Terus saya lakukan sampe lulus sekolah sekalipun. Sampe akhirnya saya menemukan sebuah jalan untuk mengembagkan harapan saya dalam menulis. Saya gabung dengan majalah Permata akhir tahun 1995. Sampe sekarang, alhamdulillah saya bisa menulis. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih sering, sedikit lebih mudah, dan masih banyak yang harus saya pelajari dan kembangkan lagi. Sobat, ini sekadar berbagi pengalaman. Tapi intinya, jika motivasimu sangat kuat dalam suatu bidang, katakanlah ingin bisa menulis, maka teruslah pelihara dengan makin banyak baca, bergaul dengan mereka yang bergelut di bidang itu, dan terus mengembangkan diri.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal mood, bagaimana cara menumbuhkan dan mempertahankannya? Emang sih, kadang kita suka <em>bete</em> <em>van</em> bosen. Ada saja masa-masa di mana kita jenuh banget. Males ngapa-ngapain. Apalagi disuruh nulis. Watau, ambruk deh. Saua punya tip, barangkali bisa dicoba sama kamu.</p>
<p>Kalo saya lagi bete, pasti hilang deh <em>mood</em> utuk nulis. Gimana mengembalikannya? Kalo udah mentok banget biasanya saya rileks dulu. Ngasuh anak, atau sekadar refreshing di depan komputer (baca: main gim). Itu sering saya lakukan. Tapi main gimnya jangan kebanyakan. Bisa berabe juga lho. Nah, kalo udah selesai main kan biasanay rileks. Saat itulah saya sering dapet ide untuk segera menulis. Sobat, supaya nggak kehilangan mood, saya biasanya kalo dapat ide langsung dicatat atau dituliskan di komputer. Dan perlu diketahui bahwa ide bisa muncul di mana saja. Itu sebabnya kita kudu siap menyambutnya.</p>
<p>Banyak baca, biasanya juga akan mempertahankan <em>mood</em> atau setidaknya ada saja bahan yang masuk ke otak, siapa tahu kan itu malah jadi bahan tulisan. Tul nggak? Maka, saya ngasih saran supaya <em>mood</em> tetap terjaga kamu kudu sering bergaul dengan teman-teman yang hobi menulis atau yang hobi baca. Itu akan membantu dalam mempertahankan mood. Saya sering merasakannya kok. Kat Pak Faudzil Adhim, jangan nunggu <em>mood</em> datang, tapi justru harus kita sendiri yang menciptakan <em>mood</em> tersebut. Bila demikian, <em>mood</em> emang jadi nggak pernah padam, karena memang kitalah yang mengaturnya.</p>
<p>Oke deh, tancapkan kuat-kuat motivasi dalam dirimu untuk bisa menulis, dan pertahankan <em>mood</em> agar pembaca tetep menyala dalam dirimu. Sebab, bila motivasi untuk bisa menulis atau menjadi penulis kurang, atau malah nggak ada, sebaiknya urungkan saja cita-citamu ujtuk jadi penulis. Teori yang saya paparkan sebanyak itu, nggak akan ada gunanya jika motivasimu untuk menulis payah banget. Yup, semuanya memang berangkat dari motivasi. Kalo motivasi udah kuat, ritangan or halangan sebesar apa pun insya Allah bisa diatasi. Ayo kamu bisa menjadi penulis! <em>Go.. menulis Go!</em> Dan tentunya: Tetep semangat! <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ngomongin-motivasi-dan-mood/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Subyektif dan Obyektif</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tentang-subyektif-dan-obyektif</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tentang-subyektif-dan-obyektif#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 02:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/tentang-subyektif-dan-obyektif/</guid>
		<description><![CDATA[Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/12/book.thumbnail.jpg" alt="book.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Mc.Luhan, penulis buku <em>Un</em><em>derstanding Media: The Extensive of Man</em>, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut <em>&#8220;gatekeeping&#8221;</em> lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang &#8220;darah dan dada&#8221; (<em>blood and breast</em>) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.<span id="more-771"></span>Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis&#8211;apalagi jurnalistik&#8211;seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu.</p>
<p>Saya sampaikan di sini, berdasarkan pengalaman juga tentunya, bahwa tidak pernah ada yang namanya media massa yang obyektif dalam pemberitaan. Sebab, jika memang ada, semua pesan yang ada seharusnya menjadi menu berita sebuah media. Nyatanya? Nggak begitu. Semua sudah disaring, sampai-sampai sekadar surat pembaca pun itu akan ditampilkan setelah diseleksi di sana-sini, mungkin ditambahi ini dan itu oleh redaksinya.</p>
<p>Nggak usah bingung. Itu wajar saja kok. Selama saya bekerja di penerbitan Islam, memang selalu harus ada keberpihakan kepada kepada sesuatu, dalam hal ini berpihak kepada kebenaran. Cenderung membela Islam. Kamu kudu tahu, mana mungkin kan kita yang menggembar-gemborkan kampanye antipacaran, tapi tiba-tiba memasukkan tulisan yang justru propaganda pacaran? Itu sebabnya, memang tidak ada media yang obyektif. Tidak satu pun di dunia ini. Semua berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah dibuatnya.</p>
<p>Oke, berangkat dari kenyataan ini, apa yang bisa kita lakukan ketika akan menulis? Di sinilah kamu kudu belajar juga tentang kesadaran politis. Unsur pendukung kesadaran politik itu adalah pandangannya mondial alias mengglobal, dari kelas RT sampe kelas dunia. Kedua, kudu dilakukan dengan <em>zawiyatun khashah</em> alias sudah pandang yang khas. Nah, itu artinya kamu kudu bertindak subjektif dan objektif. Kok bisa? Iya, itu artinya, setiap kamu menyeleksi berita atau akan membuat tulisan, pastikan kamu udah bertindak objektif sekaligus subjektif. Masih bingung?</p>
<p>Begini penjelasannya. Cara paling mudah untuk melakukan ini adalah saat kamu membaca, menyaring berita, mengumpulkan data dan fakta, pastikan itu objektif. Artinya, memang frakta dan data itu benar adanya. Bukan hasil karangan, tebakan, atau prasangka lainnya dari pikiranmu. Semua data itu kudu didapatkan dengan hasil seobjektif mungkin. Bahkan bila perlu dari sekian banyak sumber. Nah, kalo kebetulan ada perbedaan dalam penyajian fakta itu, pastikan kamu kroscek dengan mengandalkan subjektifitas kamu sebagai seorang muslim. Ya, sudut pandang Islam itu harus dipakai dalam bersikap. Jadi, standar untuk melakukan penilaian itu adalah sudut pandang Islam. Bukan yang lain. Di sinilah mengapa kita harus subjektif. Iya dong, <em>masak</em> kita mau percaya kepada kabar dari selain Islam? Tul nggak?</p>
<p>Bagaimana kalo berita dari kalangan Islam justru khawatirnya malah yang salah? Oke, kita bisa menilai suatu informasi atau data atau fakta itu salah atau benar adalah dari tingkat kenyataan di lapangan dengan membandingkan hasil investigasi dari orang lain untuk masalah yang sama itu. Sebab, meski mebela Islam, bukan berarti kita mengabaiokan aspek profesionalisme. Nggak lha yauw. Kita justru kudu bisa membangun keberpihakan kepada Islam itu dengan cara mengkoordinasikan antara fanatisme, militansi, dan juga profesionalisme. Artinya, kita nggak mudah terkecoh oleh kabar dari pihak-pihak yang menyudutkan Islam, tapi juga terhindar dari taklid buta terhadap informasi yang muncul. Jadi, kudu main cantik memang.</p>
<p>Tugas kita dalam menulis berita tentang Islam dan kaum muslimin, tentunya kita pastikan sumbernya dari kalangan kita sendiri. Boleh juga dari kalangan yang lain, asal benar-benar sudah terbukti kenyataannya. Sekali lagi, ini bukan menafikan peran media asing dalam memberikan informasi kepada kita, tapi kita sekadar bersikap waspada. Jangan sampe kita malah menjadi mesin penghancur bagi Islam itu sendiri.</p>
<p>Nah, inilah yang saya maksud mengapa kita harus pandai dalam menilai suatu informasi atau data. Salah-salah, malah bikin berabe di kemudian hari. Jadi, carilah data sesusai prosedur dalam pencarian data dan informasi sumber berita pada umumnya, tapi sudut pandang penilaian tetep dengan kerangka berpikir Islam. Objektif tapi sekaligus subjektif. Kita males tuh dikibulin terus dengan pemberitaan aneh bin ajaib media asing yang nggak suka dengan kebangkitan Islam.</p>
<p>Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika puluhan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga. Begitu, cing!</p>
<p>Contoh lain masalah ini adalah kejadian pada Perang Teluk II kemarin yang berlangsung tiga pekan, begitu banyak perang opini dilancarkan. Tujuannya jelas untuk melemahkan semangat musuhnya. Dan lucunya, Amrik nggak fair dalam masalah ini. Media-media yang dianggap bisa mengancam kepentingan pemerintahan Bush, harus diganyang. Lha, ini kan udah jelas merugikan kaum muslimin kan? Itu sebabnya, amat wajar jika kita menilai dan menulis sebuah berita atau tulisan dengan sudut pandang Islam. Bukan yang lain. <em>But</em>, tetep menjaga profesionalisme dalam mencari berita dengan mengedepankan keobyektifan terhadap masalah yang dibidik. Oke deh, paham kan?</p>
<p>Jadi, mulai sekarang menulislah dengan data selengkap-lengkapnya dan seakurat-akuratnya. Tapi ingat, hasil akhir dan arah berita or tulisan itu adalah dengan sudut pandang Islam. Kudu ada keberpihakan kepada Islam yang tinggi. Memang harusnya begitu kok. Oke deh, selamat mempraktikkan dan tetap semangat wahai para calon jurnalis muslim pembela Islam! <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tentang-subyektif-dan-obyektif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akurasi Data dan EYD? Perlu Dong!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/akurasi-data-dan-eyd-perlu-dong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/akurasi-data-dan-eyd-perlu-dong#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 03:26:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/akurasi-data-dan-eyd-perlu-dong/</guid>
		<description><![CDATA[Di tip sebelumnya (kalo nggak salah tip ke-4) saya udah menyinggung sedikit tentang pentingnya keakuratan sebuah data. Sebab, data yang bagus adalah penunjang yang oke dari sebuah argumentasi yang kita tuangkan dalam tulisan tersebut. Dalam menulis fiksi sekalipun adakalanya latar cerita harus sesuai dengan fakta. Jadi, jangan sampe ceritanya tentang California, tapi kulturnya Bandung. Itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/12/the-only-12-1-2-writing-rules-you-ll-ever-need.thumbnail.jpg" alt="the-only-12-1-2-writing-rules-you-ll-ever-need.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Di tip sebelumnya (kalo nggak salah tip ke-4) saya udah menyinggung sedikit tentang pentingnya keakuratan sebuah data. Sebab, data yang bagus adalah penunjang yang oke dari sebuah argumentasi yang kita tuangkan dalam tulisan tersebut. Dalam menulis fiksi sekalipun adakalanya latar cerita harus sesuai dengan fakta. Jadi, jangan sampe ceritanya tentang California, tapi kulturnya Bandung. Itu namanya tulalit euy. Nah, dalam tulisan nonfiksi, data boleh dibilang sangat penting. Itu sebabnya, akurasinya kudu benar.Kalo kamu udah baca tip ke-4 dari kumpulan tip ini, insya Allah udah kebayang gimana caranya dapetin data yang akurat. Minimal ada gambaran dikit deh. Tul nggak? Nah, di sini saya akan lebih fokus untuk menekankan tentang pentingnya akurasi data dan cara menggalinya. Harapannya, tentu agar tulisan yang kita buat lebih berbobot.<span id="more-764"></span></p>
<p>Seorang filsuf dan ahli bahasa Cina, Lin Yutang, pernah ngasih komentar, &#8220;Untuk menjadi seorang penulis, Anda harus memiliki rasa ingin tahu tentang apa saja di sekeliling Anda, merasakan secara lebih mendalam dan lebih memahami tentang berbagai hal dibanding orang lain.&#8221;</p>
<p>Itu artinya, tulisan yang kaya dengan data dan tingkat akurasi yang tinggi, akan memberikan nilai lebih. Pembaca pun bukan saja merasa yakin dengan informasi yang didapatnya dari tulisan kita, juga berani untuk menjadikan segala data yang kita tuangkan sebagai rujukan.</p>
<p>Sobat muda muslim, akurasi data juga merupakan cermin bagi kredibilitas penulisnya. Itu sebabnya, informasi yang penting adalah informasi yang akurat dan jelas. Penulis dan pembaca punya keperluan yang berbeda, namun bisa bekerjasama. Iya dong, penulis nggak ada artinya tanpa pembaca, dan pembaca masuk dalam sebuah cerita denagn harapan besar bisa memahami semuanya. Tapi memang, tanggung jawab yang terbesar itu terletak pada penulis. Jika penulis mengkhianati harapan pembaca dengan membuat sejumlah kesalahan atau kekurang-tepatan, itu artinya doi merusak kerjasama yang udah terbentuk.</p>
<p>Ketidak-akuratan biasanya disebabkan karena kecerobohan, kemalasan, penipuan atau ketidakpedulian penulis dalam menuliskan hasil pencarian datanya. Atau jika doi reporter, maka gagal dalam menuliskan hasil reportasenya. Itu sebabnya, pengecekan ulang sebelum kamu menulis, membaca kembali dengan hati-hati dan mengeceknya kembali setelah menulis adalah benteng terbaik terhadap ketidak-akuratan.</p>
<p>Oke deh, sekarang bagaimana cara menguji akurasi data itu? Berikut ini adalah point-point utama dalam mencermati sebuah fakta atau detil:</p>
<ol type="1">
<li>Jangan sekali-kali kamu menebak. Penulis harus memegang betul apa saja yang diektahui dan apa saja yang dimengerti. Jika kamu tidak benar-benar memahami, cek kembali hal itu atau tinggalkan sama sekali. Jangan pernah mengira-ngira. Kalo salah, idih, malu banget deh (backsound: kasihan deh gue..). J</li>
<li>Angka. Saya sarankan untuk mengecek paling ngak dua kali semua angka dan jumlah. Sebuah angka seringkali tak memiliki makna, kecuali diletakkan pada konteks yang mudah dipahami pembaca. Jumlah penderita AIDS misalnya, nggak akan berarti jika tidak disertakan angka tahun sebelumnya. Jadi bisa kelihatan naik apa turun jumlahnya. Betul?</li>
</ol>
<p>Oya, angka juga seringkali lebih bermakna jika disertai penjelasan yang menyentuh pembaca: Misalnya, ketika menuliskan jumlah anggaran pendidikan di Indonesia bisa kamu tulis juga anggaran pendidikan di negara lain. Jadi bisa membandingkan. Itu bisa menyentuh pembaca lho. Begitu pula kamu bisa menuliskan harga sebuah mobil mewah kelas Ferrari dengan membandingkan harga mobil Kijang yang dimiliki rata-rta pembaca. Wow, bikin menghentak kan? Dan itu bisa membuat pembaca tertarik. Selain mudah dicerna, juga pembaca sekaligus inget terus dengan informasi yang kamu berikan.</p>
<p>Ukuran-ukuran juga sebaiknya dikonversikan ke ukuran yang lazim dipakai pembaca (khususnya di negeri ini); tulis km bukan mil, tulis rupiah bukan dolar, tulis meter bukan kaki (foot), tulis kg bukan pound dsb. Paham kan? Oya, kalo kamu nggak menghitung sendiri, sebutkan dari mana angka itu dikutip, misalnya dari sumber atau dari data statistik.</p>
<ol start="3" type="1">
<li>Nama, Tempat, dan Tanggal. Rasanya gimana kalo namamu tiba-tiba ditulis salah oleh seorang penulis dan itu dimuat di media massa? Wuih, rasanya jengkel juga kan? Saya pernah mengalami lho. Waktu itu saya pernah diwawancari sebuah harian ibukota tentang buku yang saya buat dan sang wartawan mengajak ngobrol seputar teknik menulis. Hasilnya, ternyata di harian nasional itu nama saya ditulis Olih Solihin. Padahal nama depan saya kan Oleh. Bedanya Cuma &#8220;i&#8221; dan &#8220;e&#8221; memang, tapi itu udah mengubah nama.</li>
</ol>
<p>He..he..he&#8230; Saya pikir cuma satu, eh, ternyata setelah dibaca malah semua nama saya ditulis dengan salah. Kecewa ada juga sih, tapi apa boleh buat. Ya sudahlah, barkan saja deh. Bayangkan jika yang salah tulis adalah nama orang terkenal, mungkin yang menyalahkan bukan saja orang yang namanya salah ditulis sama sang wartawan, pembaca lain pun turut mempersoalkan, syukur-syukut nggak didemo. Jadi, hati-hati ya..</p>
<p>Kalo kamu ragu menuliskan nama tokoh terkenal itu, tanya sama yang bersangkutan nama yang benarnya. Kalo nggak sempat, tanya sama teman yang udah tahu, atau kalo itu tokohnya adalah tokoh dunia dan udah terkenal di masa lalu, kamu bisa ngecek di ensiklopedia.</p>
<p>Terus kalo kamu mau nulis tentang tanggal, lihat kalender dulu. Kalo mau nulis tentang tempat, ada baiknya kamu cek di peta. Jangan asal tulis. Kalo salah kan bisa diketawain sama semut he..he..he..</p>
<p>Ya, sebagai bekal, nggak ada salahnya kamu punya koleksi buku pintar misalnya, punya koleksi kamus berbagai bahasa dan berbagai bidang ilmu. Silakan juga koleksi ensiklopedia, kalender, peta kecil, boleh juga punya tabel konversi berbagai jenis ukuran.</p>
<ol start="4" type="1">
<li>Kutipan. Pastikan suatu kutipan benar-benar seperti yang dikatakan oleh sumber. Pastikan pula catatan yang kamu buat kamu berani mempertanggungjawabkannya sampe ke meja pengadilan. Kalo nggak bisa mempertanggung-jawabkan kutipan tersebut, sebaiknya jangan kamu buat kutipan tersebut.</li>
<li>Cerita Bohong. Sangat jarang penerbitan yang tidak memasukkan hal ini ke dalam beritanya. Keragu-raguan adalah perlindungan yang terbaik. Jika sebuah cerita atau kenyataan seolah-olah sangat aneh atau menakjubkan untuk dipercaya, jangan percaya hal itu sebelum ada pembuktiannya. Hati-hati, jangan sampe kamu menulis yang aneh-aneh, padahal itu cuma <em>hoax</em> alias omong kosong.</li>
<li>Kesalahan Teknis. Sobat muda muslim, perhatian kamu kudu istimewa banget kepada tulisan yang khusus seperti ilmu pengetahun, hukum, kedokteran, teknik, keuangan dan sejenisnya. Sediakan waktu untuk menelitinya, dan kemudian ceklah kembali informasi yang kamu peroleh melalui pakar yang dapat dipercaya pada bidang tersebut. Jadi, jangan tanya soal bangunan kepada seorang dokter. Harus benar menulis istilah di bidang-bidang khusus tersebut. Jangan sampe salah, oke?</li>
<li>Rekayasa. Sobat, jangan pernah merekayasa berita, atau memanipulasi isi, perubahan konteks, pembiasan, pemaparan yang salah, sindiran, kebencian, gosip, kavar angin dam melebih-lebihkan. Semua itu sangat tinggi ongkosnya, sementara hasilnya sangat rendah. Tapi, kalo memang faktanya benar dan semua orang juga tahu tentang hal itu, nggak ada alasan untuk tidak dituliskan. Tulis saja kalo memang faktanya begitu dan bisa dipertanggung-jawabkan. Siapa takut? Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk menyuarakan kebenaran. Itu sebabnya, tuliskan apa adanya jika memang fajtanya demikian. Oke?</li>
</ol>
<p>Nah, itu tentang akurasi data, satu hal yang perlu dipetimbangkan lagi adalah penulisan EYD, alias Ejaan Yang Disempurnakan. Hampir sama dengan data, EYD juga kudu ditulis sesuai kesepakatan bersama yang memang sudah dibuatkan aturannya. Hanya saja, dalam kondisi tertetu, kita kadang kudu ‘melanggar&#8217; EYD. Misalnya ketika kita menulis untuk sasaran remaja. Maklum, teman remaja agak sulit menerima sebuah tulisan dengan bahasa yang kaku banget. Maka, saya sendiri terus terang suka ‘melanggar&#8217; EYD tapi dalam batas yang masih wajar, artinya hanya pada penulisan istilah dan ungkapan yang gaul aja. Itu sebabanya, kadang saya tulis dengan cetak miring. Nah, itu pun fungsinya hanya sebatas sebagai ‘jembatan&#8217; agar pembaca remaja memahami maksud dari yang sedang ditulis. Dan alhamdulillah, telah saya buktikan keberhasilannya dengan membuat gaya bahasa seperti di Buletin Studia, Majalah Permata, dan juga dalam buku-buku untuk remaja yang saya tulis. Teman-teman remaja relatif lebih mudah memahami sebuah pembahasan (meski itu tema yang berat), karena disampaikan dengan gaya bahasa yang meremaja. Juga, coba tengok majalah dan tabloid untuk remaja pada umumnya, pasti deh media itu menggunakan bahasa yang gaul.</p>
<p>Nah, maksud saya kudu ‘taat&#8217; EYD adalah dalam masalah teknis selain kata-kata atau istilah bahasa. Misalnya tentang membedakan penulisan kata kerja dengan kata untuk menjelaskan keterangan tempat, tentang penulisan huruf kapital, penulisan gelar, aturan penulisan tanda baca berupa koma, titik, titik koma, dan yang lain sebagainya. Oke deh, ada baiknya kamu taati EYD sebagai berikut: (ini sekadar contoh praktis, lengkapnya bisa kamu baca sendiri di buku Pedoman EYD. Oke?)</p>
<p><tt><strong>Tentang pemakaian huruf besar</strong></tt>. <tt>Huruf besar (kapital) dipakai sebagai: (1) <u>huruf pertama pada awal kalimat</u>; Kamu tahu?, Silakan duduk! (2)</tt> <u>s</u><tt><u>ebagai huruf pertama dalam petikan langsung</u></tt><tt>; Mereka bertanya, Kapan kita berjihad? (3) <u>sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan istilah religius; </u></tt><u> </u><tt>Dialah Allah Yang Maha Pengampun (Yang Maha Pengampun = kata ganti Tuhan), agama yang diridhoi Allah adalah Islam, Allah akan menolong hamba-Nya (Nya sebagai kata ganti Tuhan). <u>Catatan</u>: untuk penulisan kata ganti Allah yang mengikuti kata Maha berupa kata dasar penulisannya dirangkai, kecuali pada Maha Esa (kata maha dan esa dipisah). Tapi untuk Mahaadil, Mahalembut, Mahakuasa, dll. (kata maha dan adil dirangkai). Untuk keterangan yang mengikuti kata Maha bukan berupa kata </tt><br />
<tt>dasar, maka penulisannya dipisah; Maha Pengasih, Maha penyayang, Maha Pengampun.</tt><br />
Penulisan huruf kapital juga untuk (4) <tt><u>sebagai huruf pertama dalam penulisan gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti dengan nama orang; </u></tt><tt> Khalifah Umar bin Khaththab, Imam Syafi'i. (5) <u>sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat;</u> Para pengunjuk rasa mendatangi rumah Presiden Megawati. Catatan: huruf kapital tidak dipakai untuk penulisan jabatan dan </tt> <tt>pangkat yang tidak diikuti dengan nama orang atau nama tempat; Tidak layak bagi seorang presiden...</tt> (6) <tt><u>sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang; </u></tt><tt>Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. (7) <u>sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa;</u> bahasa Arab, orang Jawa, dll. (8) <u>sebagai huruf pertama penulisan nama tahun, bulan, hari, hari raya.</u></tt>; <tt>bulan Agustus</tt>, <tt>hari Jumat, dll. Catatan: jika sebagai nama waktu, tidak dipakai huruf besar; berapa minggu?, berapa bulan? dll</tt>. (9) <tt><u>sebagai huruf pertama penulisan peristiwa sejarah;</u></tt><tt> Perang Badar, Perang Dunia, Bandung Lautan Api. Catatan: huruf kapital tidak muncul pada: Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia, dll.</tt></p>
<p><tt>Selanjutnya, penulisan huruf kapital pada (10) <u>sebagai huruf pertama penulisan nama geografi yang diikuti dengan unsur nama; </u>Indonesia termasuk kawasan Asia Tenggara, Mereka mendaki Gunung Gede, berlayar di Danau Toba dll.</tt> Catatan: <tt>huruf kapital tidak muncul pada penulisan istilah geografi yang tidak diikuti dengan unsur nama; Mereka sudah mengarungi sungai, lautan, dan samudera. Juga tidak muncul pada penulisan istilah geografi yang dipakai menjadi nama jenis; garam inggris, gula jawa, bawang bombay, dll. (11) <u>sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti "</u>dan"; Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Departemen Pertambangan dan Energi, dll. Catatan: huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi; menjadi sebuah republik, menurut undang-undang yang berlaku, dll. (12) <u>sebagai huruf awal semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada awal kalimat.;</u> Bacalah majalah Bahasa dan Sastra, Budi adalah agen majalah Permata, dll. (14) <u>huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan;</u> Dr. (doktor), S.E. (sarjana ekonomi), Prof. (Profesor), Tn. (tuan). dll.</tt> (<tt>15) <u>sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, dan sebagainya yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan:</u> Kapan Bapak pulang? tanya Ahmad; Surat Saudara sudah saya terima;</tt> <tt>Silakan duduk, Dik! kata Ucok, dll. Catatan: huruf kapital tidak muncul pada kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan dan penyapaan; kita harus menghormati bapak dan ibu kita; Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga, dll. (16) <u>sebagai huruf pertama kata ganti Anda:</u> Sudahkah Anda shalat?</tt></p>
<p><strong>Penulisan untuk tanda baca</strong>. Kamu perlu ngeh juga lho. Tanda baca itu di antaranya adalah:</p>
<p><strong><u>Penggunaan Tanda Koma (,).</u></strong><strong> </strong>(1) <u>dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian dan pembilangan</u>: Saya menjual kambing, sapi, dan kerbau. (2) <u>untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahuli dengan kata seperti &#8220;tetapi&#8221; atau &#8220;melainkan&#8221;</u>: Saya ingin ngaji, tetapi malas. (3) <u>untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya</u>: Karena sibuk, ia lupa akan janjinya. <u>Catatan</u>: tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya: Dia lupa akan janjinya karena sibuk. (4) <u>dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, termasuk di dalamnya oleh <em>karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu</em>, dan <em>akan tetapi</em></u>: Oleh karena itu, kita wajib berdakwah.</p>
<p>Tanda koma juga dipakai untuk, (5) <u>untuk memisahkan kata seperti <em>o, ya, wah, aduh, kasihan </em>dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat</u>: Wah, hebat sekali! (6) <u>untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat</u>: Kata paman, &#8220;Saya gembira sekali.&#8221; (7) <u>untuk memisahkan (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, (iv) dan nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan</u>: Surat ini harus dikirimkan kepada Dekan Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. (8) <u>dipakai untuk memisahkan nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakan dari singkatan nama diri, keluarga atau marga: </u>Ahmad Mahmud, S.E. (9) <u>untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi: </u>Ustadz saya, Pak Ali, pandai sekali. (10) <u>dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat, untuk menghindari terjadinya salah baca.:</u> Atas bantuan Fatimah, Sarah mengucapkan terima kasih. (11) <u>tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.:</u> &#8220;Kapan Anda berangkat?&#8221; tanya Budi.</p>
<p><strong>Penggunaan Tanda Titik (.), (&#8230;), (&#8230;.) dalam kalimat. </strong>(1) <u>dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan:</u> Aku seorang pengemban dakwah. (2) <u>dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu</u>: Pukul 10.45.45 (3) <u>dipakai Untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya, apabila angka tersebut menunjukkan jumlah: </u>Badai Tornado itu merenggut korban tewas 10.000 orang. <u>Catatan</u>: tetapi tidak dipakai jika angka tersebut tidak menunjukkan jumlah: saya lahir pada tahun 1974. (4) <u>tanda titik (.) tidak dipakai dalam penulisan kalimat judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, berita, tabel, dan sebagainya. Juga tidak dipakai di belakang penulisan alamat dan tanggal pada surat: </u>Jangan Jadi Bebek; Bogor, 15 Mei 2003 (5) <u>titik tiga (&#8230;): untuk jeda dalam kalimat</u>: &#8220;Aku ingin kamu&#8230; diam!&#8221;. <u>Catatan </u>: setelah titik tiga terdapat spasi. (6) <u>titik empat (&#8230;.) : untuk kalimat yang tidak selesai, titik keempat diasumsikan sebagai titik penutup:</u> &#8220;Jangan-jangan&#8230; .&#8221; Tono menerka.</p>
<p><strong>Pemakaian Tanda (;) dalam kalimat. </strong>Titik koma (;) dipakai kalau suara sudah lembut, seolah-olah yang diceritakan telah habis, tetapi kalimat itu belum selesai, maka dipakailah titik koma. Lama suara diperhentikan di belakang titik koma, antara lama berhenti pada titik dan koma. Di antaranya: (1) <u>dipakai untuk memisahkan bagian-bagian yang sejenis dan setara</u>: Malam makin larut; kamu belum selesai juga. (2) <u>dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung</u>: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik asyik dengan mainannya; saya sendiri sedang mengerjakan PR.</p>
<p><strong>Penggunaan tanda titik dua (:) dalam kalimat. </strong>(1) <u>dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian</u>: Yang kita perlukan sekarang adalah barang-barang berikut: kursi, meja, dan lemari. Catatan: tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari. (2) <u>dipakai sesudah kata ungkapan atau yang memerlukan pemerian</u>: Ketua: Mahmud; Tempat seminar: Ruang 34. (3) <u>dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan:</u> Ayah: &#8220;Bawa tas ayah, Nak!&#8221;</p>
<p><strong>Pemakaian tanda hubung (-) dan pemenggalan kata. </strong>(1) <u>untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh perhantian baris</u>: cara-cara; mi-salnya (sambungannya di baris berikutnya). (2) <u>untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan -an, singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap:</u><strong> </strong>se-Indonesia; usia 20-an, dsb.<strong> </strong>(4) <u>untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing</u>: di-<em>tackle</em>, di-<em>reply</em>, dsb.</p>
<p>Oya, kamu juga perlu waspada dengan penulisan unsur serapan seperti: <em>aerobe</em> ditulis aerob. <em>Autotrophe</em> ditulis Autotrof; <em>paragraph</em> ditulis paragraf. <em>Construction </em>ditulis konstruksi. <em>Saccharin</em> ditulis sakarin. <em>Effective</em> ditulis Efektif, dsb. Perhatikan pula penulisan Efektivitas, BUKAN Efektifitas. Produktivitas, BUKAN produktifitas. Selengkapnya, kamu bisa koleksi deh pedoman khusus tentang unsur serapan ini. Di buku Pedoman EYD juga ada, tapi ada baiknya terus meng-<em>update </em>wawasaanmu. Oke?</p>
<p>Penulisan kata kerja dan kata keterangan tempat. Untuk yang satu ini, padahal sering digunakan dalam kalimat, masih banyak yang suka ketuker-tuker. Penulisan &#8220;dipukul&#8221; itu disambung karena kata kerja. Jangan sampe kamu nulis &#8220;di pukul&#8221;. Itu keliru. Penulis &#8220;di&#8221; dipisah dengan kata pengikutnya adalah untuk menyatakan keterangan tempat: di Bandung.</p>
<p>Nah, ini sekadar contoh kecil aja. Dan biasanya inilah yang sering kamu jumpai dalam menulis. Oke deh, nggak ada kata terlambat untuk belajar. Ayo, kamu bisa! <a href="http://osolihin.wordpress.com">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/akurasi-data-dan-eyd-perlu-dong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Berita, Gimana Sih?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-berita-gimana-sih</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-berita-gimana-sih#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 03:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menulis-berita-gimana-sih/</guid>
		<description><![CDATA[Kamu mau jadi wartawan? Hmm&#8230; siap-siaplah melaporkan suatu peristiwa dalam sebuah tulisan. Nah, berita yang baik dan efektif adalah irit dalam gerak. Nggak bertele-tele. Juga tangkas dalam kejutan. Udah gitu, simple dan elok lagi. Itu sebabnya, kalo kamu baca tulisan-tulisan bernuansa berita enak banget dibacanya. Kita langsung nyambung dengan apa yang diinginkan si penulis berita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/12/newspaper.thumbnail.png" alt="newspaper.png" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Kamu mau jadi wartawan? Hmm&#8230; siap-siaplah melaporkan suatu peristiwa dalam sebuah tulisan. Nah, berita yang baik dan efektif adalah irit dalam gerak. Nggak bertele-tele. Juga tangkas dalam kejutan. Udah gitu, simple dan elok lagi. Itu sebabnya, kalo kamu baca tulisan-tulisan bernuansa berita enak banget dibacanya. Kita langsung nyambung dengan apa yang diinginkan si penulis berita. Cepat alurnya. Beda banget dengan tulisan fiksi yang, memang kelihatannya, kudu memainkan kata-kata dengan bertabur kiasan dan pilihan kata yang membuat pembacanya larut dalam nuansa sastra. <span id="more-761"></span></p>
<p>Oke deh, saya kasih tip sedikit tentang menulis berita. Ini saya buat sesuai dengan teori yang selama ini saya ketahui dan praktik yang memang telah saya lakukan. Sudah mantap pengen jadi wartawan? Bagus! Tapi jangan salah, kamu kudu punya ‘pegangan&#8217; supaya tulisan beritamu oke punya. Paling nggak kamu kudu mengetahui beberapa hal, di antaranya:</p>
<ol type="1">
<li>Informasi. Yup, informasi, bukan bahasa. Informasi adalah batu-bata penyusun berita yang yang efektif. Tanpa informasi, walah jangan harap kamu bisa menulis berita itu dengan baik. Jangankan nggak punya informasi, informasinya nggak lengkap saja bakalan kewalahan bikin beritanya. Pokoknya, ada yang ganjal saja, karena tulisan jadi kurang menggigit. &#8220;Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior,&#8221; kata Ernest Hemingway. Untuk bisa menulis prosa yang efektif, pertama kali kamu kudu mengumpulkan kepingan informasi serta detil konkret yang spesifik dan akurat. Oke, kalo mau jadi wartawan, biasakan getol nyari berita. Jangan tanggung-tanggung, gali terus informasi sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Oke? (tip khusus tentang ini, kamu bisa tengok lagi pada bab tentang &#8220;Jadi Peneliti Kecil-kecilan&#8221;).</li>
<li>Siginifikansi. Maksudnya, berita kudu memiliki informasi penting; yakni memberi dampak pada pembaca. Misalnya aja, penulisnya mengingatkan pembaca kepada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka. Contohnya? Menulis tentang kesehatan seperti tentang kasus SARS yang kian menggila belakangan ini, juga tentang kemakmuran dan kesadaran mereka akan nilai-nilai. Misalnya nilai ajaran agama. Sebagai wartawan, kamu kudu memberikan infromasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Nah, supaya oke, kamu kudu meletakkan informasi itu dalam sebuah sudut pandang yang berdimensi; mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Kalo kamu menulis berita tentang bahaya narkoba, maka bisa ditulis berita tentang korban narkoba di masa lalu, saat ini, dan bahaya yang mengancam jika masalah narkoba <em>nggak</em> selesai. Kira-kira begitu deh.</li>
<li>Fokus. Betul, kegagalan seorang penulis berita adalah ketika menyampaikan berita secara sporadis, alias semrawut. Nggak fokus. Berita yang sukses dan oke biasnya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. &#8220;Less is more,&#8221; kata Hemingway. Oke banget kan? Itu sebabnya, tulisan yang ringkas memberi kesan tangkas dan penuh vitalitas, tanpa kata yang tak perlu dalam kalimatnya dan tanpa kalimat yang tak perlu dalam paragrafnya.</li>
</ol>
<p>Tulisan yang ringkas nggak ubahnya sebuah lukisan yang tegas (tanpa garis yang tak perlu) atau mesin yang efektif (tanpa suku cadang yang nggak berfungsi). Semua tulisan itu layak <em>en</em> sayang banget kalo dilewatkan dalam membacanya. Jadi, luruskan apa saja yang berliku-liku. Gergaji deh apa yang terasa bergerigi. Berperanglah melawan kekaburan, sebab pernyataan yang abstrak adalah racun maut bagi seorang penulis. Hati-hati yo&#8230; Jadi, tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. &#8220;Don&#8217;t were about Man, write about a man,&#8221; kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amrik. Untuk membantu kamu memahami ini, silakan silakan baca kembali tentang bab &#8220;Hemat Kata&#8221;, dan &#8220;Kerangka Karangan&#8221;. Oke?</p>
<ol start="4" type="1">
<li>Konteks. Walah, apa pula ini maksudnya? Tenang sobat, kamu lagi belajar tentang konseo menulis berita yang oke. Begini. Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan ke mana mengalir, serta seberapa jauh dampaknya. Sobat muda muslim, tugas seorang penulis adalah membuat sesuatu informasi yang dikumpulkan dan dilaporkan menjadi jelas bagi pembaca. Ketidakmampuan menekankan kejelasan adalah kegagalan seorang penulis. Bagian-bagian yang rumit pecahlah dalam serpihan yang mudah dicerna. Gunakan contoh: seseorang untuk mewakili sebuah kelompok atau penduduk desa. Sebuah contoh seringkali menghadirkan suasana secara dramatis dan hidup. &#8220;Kematian 10000 ribu orang adalah statistik, tapi kematian satu orang adalah tragedi,&#8221; kata Josep Stalin.</li>
</ol>
<p>Jadi gambarkan sebuah topik melalui ungkapan yang mudah dipahami pembaca.</p>
<p>Misalnya kalo kamu akan menuliskan tentang strategi militer, bisa kamu gambarkan tentang pertandingan sepakbola. Rencana keuangan perusahaan dapat digambarkan melalui rencana anggaran OSIS, misalnya. Pokoknya sesederhana mungkin, yang tujuannya adalah untuk memudahkan pembaca memahami tulisan kita.</p>
<ol start="5" type="1">
<li>Wajah. Di dunia jurnalistik berkembang ‘pameo&#8217;, seorang fotografer tahu bahwa gambar yang tidak menyertakan unsur kehidupan (manusia dan binatang) hanya akan berakhir di keranjang sampah. Nah, begitu pula dengan tulisan. Jurnalisme itu menyajikan gagasan dan peristiwa; tren sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan, dinamika agama, dsb. Tulisan yang disajikan itu berupaya mengenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu. Inilah yang saya maksud tulisan jusrnalistik itu harus ‘berwajah&#8217;.</li>
</ol>
<p>Tulisan akan efektif banget jika kamu mampu ngambil jarak dan membiarkan</p>
<p>pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya, &#8220;Don&#8217;t say the old lady screamed-bring her on and let her scream,&#8221; kata Mark Twain, seorang jurnalis dan noveli pengarang <em>The Adventure of Tom Sawyer</em>.</p>
<p>Sobat muda muslim, yakinlah bahwa manusia itu suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Bahkan kalo nggak ada unsur manusia, misalnya kita berbicara tentang mesin, kita kadang-kadang kudu membuat personifikasi, alias perumpamaan. Ya, kalo kamu nyimak iklan di televisi belakangan ini tentang minyak pelumas, iklannya merasa kudu pake David Beckham. Ujungnya, &#8220;Kalo pengen lari secepet Beckham, pakailah&#8230;. (nama sebuah minya pelumas)&#8221; Ya, itulah manusia. Kamu kudu ngeh, oke?</p>
<ol start="6" type="1">
<li>Lokasi/Tempat. Sobat muda, pembaca menyukai banget &#8220;sense of place&#8221;. Kamu bisa membuat tulisan jadi lebih hidup jika menyusupkan &#8220;sense of place&#8221;. Bener lho. Misalnya aja kamu tulisan seperti apa lokasi tempat terjadinya pembunuhan, bagaimana suasana di balik panggung pertunjukkan, bisa juga kamu gambarkan tentang suasana jalannya pertandingan sepakbola yang menegangkan saat kedua klub itu bermain hidup-mati untuk mengejar gelar juara atau menghindari jurang degdradasi. Seru deh.</li>
</ol>
<p>Misalnya aja terjadi sebuah kecelakaan mobil yang masuk jurang. Kamu bisa</p>
<p>menuliskannya dengan detil, seperti berapa kedalaman jurang, di sana ada air atau Cuma batu-batu besar eksplor terus biar terkesan dramatis. Kamera televisi itu bisa menampilkan pemandangan yang sesungguhnya, dalam warna dan detil. Nah, penulis tentu agak kesulitan untuk menggambrkan itu. Maka, ia harus bekerja keras untuk bisa melukiskan tempat itu di pikiran pembaca. Karena, adakalanya tempat kejadian itu nggak pernah diketahui sebelumnya oleh beberapa pembaca. Intinya, kita berupaya untuk menyentuh indera pembaca. Membuat mereka melihat cerita dalam detil visual yang kuat&#8211;dan juga dalam konteks yang tepat&#8211;membuat mereka mendengar, meraba, merasakan, membaui, dan mengalaminya. Kamu pasti bisa membuatnya. Coba yaa..</p>
<ol start="7" type="1">
<li>Suara. Sobat, kita nggak boleh lupam, bahkan dalam abad komunikasi massa seperti sekarang, kegiatan membaca tetap saja bersifat pribadi; yakni seorang penulis bertutur kepada seorang pembaca. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada seorang pembacanya. Jadi, gunakan kalimat aktif. Bila perlu berbau percakapan.</li>
</ol>
<p>Media massa cetak yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yang memukau.</p>
<p>Bukan pendongeng yang gagap. Nah, kata kerja adalah mesin pendorong sebauh cerita. Itu sebabnya, gunakan kata kerja aktif ketimbang yang pasif. Penulis berita ‘wajib&#8217; merasa gagal saat menggunakan kata sifat, ketika tak bisa menemukan kata kerja yang benar atau kata benda yang benar. Ya, intinya, tulisan itu kudu enjoy untuk dibaca.</p>
<p>Penulis yang baik juga mampu menghadirkan warna suara yang konsisten ke selruuh cerita, tapi menganekaragmkan volume dan ritme untuk memberi suara tekanan pada makna (dengan memberikan variasi pada panjang-pendek alinea, kalimat dan kata). Oke deh, gampangnya kamu bisa membaca berita di koran-koran or majalah-majalah. Rasakan sendiri bedanya. Oke?</p>
<ol start="8" type="1">
<li>Anekdot dan Kutipan. Kamu perlu paham bahwa anekdot, sebuah kutipan, sebuah dialog pendek, atau sebuah deskripsi dapat mengubah irama di mana pembaca bisa terikat sepanjang cerita dan membuat tulisan itu lebih hidup. Untuk menggambarkan istilah ini, ibarat pertandingan sepakbola. Kalo ada <em>playmaker</em> yang handal dalam tim itu, ia pandai mengatur irama permainan, kapan menyerang, kapan bertahan, kapang juga menekan dengan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki, atau bisa juga menyusun serangan dari sayap. Pokoknya, membuat permainan enak ditonton.</li>
</ol>
<p>Anekdot adalah sebuah kepingan kisah singkat antara satu hingga lima alinea-</p>
<p>&#8220;cerita dalam cerita&#8221;. Anekdot umumnya menggunakan seluruh teknik dasar penulisan fiksi; narasi, karakterisasi, dialog, suasana. Semua itu dibuat dengan tujuan untuk mengajak pembaca melihat cerita dalam detil visual yang kuat. Kata orang-orang sih, anekdot sering dianggap sebagai ‘permata&#8217; dalam cerita.</p>
<p>Kutipan dalam tulisan berita memberikan otoritas. Siapa yang mengatakannya? Seberapa dekat keterlibatannya dengan suatu peristiwa dan masalah? Apakah kata-katanya patut didengar? Kutipan juga memberikan vitalitas karena membiarkan pembaca mendegar suara lain selain si penulis. Oya, kamu kudu hati-hati untuk tidak terlalu banyak mengutip atau terlalu sedikit mengutip. Ya, yang sedang-sedang saja. Iya dong, kalo kebanyakan mengutip, kapan kamu nulisnya? Atau terlalu sedikit, malah banak pendapat kamu nati di situ. Padahal, berita itu kan harus objektif. Katanya sih begitu. Meski fakta yang berkembang saat ini tentang berita jadi suka bias. Bahkan kesannya udah ditempeli dengan opini si penulis berita. Istilah kerennya, berita sekarang adalah &#8220;realitas tangan kedua&#8221;, alias udah disaring sesuai dengan keingian si penulis atau visi media tersebut.</p>
<p>Oke deh, ini sekadar sekilas tip. Menulis berita juga adalah komoditi dari menulis itu sendiri. Itu sebabnya, kamu bisa menggabungkan seluruh tip yang pernah kamu pelajari dan menggabungkannya dengan tip khusus menulis berita itu. Oke deh, udah sekarang udah siap kan jadi wartawan. Ya, minimal jadi wartawan cilik. He&#8230;he..he.. tetap semangat sobat!<a href="http://osolihin.wordpress.com">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-berita-gimana-sih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Resensi, Belajar Mengkritisi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-resensi-belajar-mengkritisi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-resensi-belajar-mengkritisi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 03:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menulis-resensi-belajar-mengkritisi/</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, jadi tukang kritik itu menyebalkan. Belum lagi kalo cuma &#8220;omdo&#8221;. Tahu kan yang saya maksud? He..he.. iya, maksudnya omong doang. Hmm&#8230; kalo itu yang dimaksud, memang menyebalkan ya? Sebab, kalo bisanya cuma menyalahkan tapi nggak bisa berargumentasi, cocok diberi gelar &#8220;omdo&#8221;. Kenneth Taylor pernah bilang bahwa seorang kritikus itu, seperti seseorang yang tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/12/bukusaft10.thumbnail.jpg" alt="bukusaft10.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Kata orang, jadi tukang kritik itu menyebalkan. Belum lagi <em>kalo</em> cuma &#8220;omdo&#8221;. Tahu <em>kan</em> yang saya maksud? He..he.. iya, maksudnya omong <em>doang</em>. Hmm&#8230; <em>kalo</em> itu yang dimaksud, memang menyebalkan ya? Sebab, <em>kalo</em> bisanya cuma menyalahkan tapi <em>nggak</em> bisa berargumentasi, cocok diberi gelar &#8220;omdo&#8221;. Kenneth Taylor pernah <em>bilang</em> bahwa seorang kritikus itu, seperti seseorang yang tahu jalan tapi tidak pandai mengemudikan mobil. Nah lho. Padahal, <em>nggak</em> selalu <em>kan</em> ya? Justru menjadi kritikus itu adalah untuk memberi point plus-minus kepada sesuatu berdasarkan pengamatan dan penilaian yang bisa dipertanggung-jawabkan. Betul? <span id="more-759"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, <em>kalo</em> ingin belajar melihat buku dengan objektif, dan kita ingin menjelaskan kepada orang lain tentang isi buku tersebut, cocok banget kalo kita belajar meresensi buku. Resensi? Apaan tuh?</p>
<p>Resensi itu asal katanya dari bahasa negerinya Ruud van Nistelrooy (dari kata <em>recensie</em>). Dalam bahasa Inggris, kamu bisa <em>dapetin</em> padanan katanya dengan istilah <em>review</em> (ini juga berasal dari bahasa Latin: revidere; <em>re</em> &#8220;kembali&#8221;, <em>videre</em> &#8220;melihat&#8221;). Dalam bahasa Indonesia, kita suka mengenal istilah <em>timbangan buku, tinjauan buku, pembicaraan buku, </em>belakangan muncul istilah populer: <em>bedah buku</em>. Sebenarnya meresensi <em>nggak</em> terbatas pada buku (baik fiksi dan nonfiksi) aja lho. Pementasan seni seperti film, sinetron, tari, drama, musik, atau kaset dan VCD juga bisa kita kupas abis isinya. <em>Nggak</em> hanya itu, resensi juga bisa dilakukan untuk pemeran seni macam seni lukis dan seni patung. <em>Oke deh</em>, itu cuma sekilas info soal asal mula kata resensi. Moga kamu makin <em>ngeh</em> dengan penjelasan ini.</p>
<p>Nah, sebagai salah satu komoditi dari menulis, meresensi adalah pekerjaan yang menyenangkan. <em>Suer</em>. <em>Kagak</em> bohong. Jika kamu berhasil meresensi sebuah buku bermutu. Maka, selain kamu bisa membaca dan menilai buku itu secara luar-dalam, kamu juga jadi dapat wawasan baru. Dan tentunya berkah baru. Berkah? Benar. Jika hasil resensi kita tentang suatu buku bagus dan dimuat di media massa, maka penerbit yang baik hati akan memberimu bingkisan. Mulai dari buku-buku baru, juga ada yang rela <em>ngasih</em> uang saku. <em>Walah, uenak tenaan rek!</em></p>
<p>Itu sebabnya, sebagai sebuah keterampilan, meresensi buku juga bisa kamu geluti. Mungkin ada yang belum bisa gimana caranya meresensi buku. Coba tunjuk jari bagi kamu yang belum bisa meresensi buku. Oke deh, biar ‘adil&#8217;, saya akan ngasih sedikit tip hasil gabungan antara teori dan praktik berdasarkan pengalaman saya. BTW, gini-gini juga saya sering <em>ngerensi</em> buku lho.. (pede abis bo!) J</p>
<p>Omong-omong, apa sih tujuan utama kita meresensi?</p>
<ol type="1">
<li>Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif (menyeluruh) tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah produk (buku, kaset, film, sinetron dan sejenisnya yang udah saya sebutkan di atas).</li>
<li>Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah produk.</li>
<li>Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah produk pantas mendapat sambutan masyarakat atau malah <em>sambitan</em>? J</li>
<li>Menjawab pertanyaan yang (mungkin) muncul jika seseorang melihat produk yang baru diluncurkan (diterbitkan), seperti: (selain buku, sesuaikan dengan kategorinya)
<ol type="a">
<li>Siapa pengarangnya? (kalo film/sinetron/drama; siapa sutradara dan para pemainnya? Untuk seni luksi; siapa pelukisnya?).</li>
<li>Mengapa ia menulis buku tersebut?</li>
<li>Apa pernyataannya?</li>
<li>Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?</li>
<li>Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang dihasilkan pengarang-pengarang lain?</li>
</ol>
</li>
<li>Untuk segolongan pembaca resensi yang:
<ol type="a">
<li>Membaca agar mendapatkan bimbingan dalam memilih-milih buku tersebut.</li>
<li>Setelah membaca resensi produk berminat untuk membaca atau mencocokkan seperti apa yang ditulis dalam resensi.</li>
<li>Tidak ada waktu untuk membaca buku kemudian mengandalkan resensi sebagai sumber informasi.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Nah, di sinilah kalo kita menulis sebuah resensi akan membantu teman-teman yang</p>
<p>Barangkali nggak punya waktu untuk memperhatikan buku, film, sinetron, dan sejenisnya jadi terbantu untuk mendapatkan sumber informasinya dari sebuah resensi. Asyik nggak bisa bantu orang?</p>
<p>Oya sebelum kamu ‘nekatz&#8217; meresensi sebuah produk, katakanlah buku, paling nggak kamu udah memahami dasar-dasar meresensinya. Mau tahu? Silakan catet di bawah ini:</p>
<ol type="1">
<li>Sebagai pereseni, kamu kudu memahami betul tujuan si pengarang buku tersebut. Untuk mengetahuinya, baca deh kata pengantar dari si penulis, biasanya di situ ada uraian singkat tentang latar belakang penulisan bukunya. Terus, kamu bisa lihat, bener nggak dengan apa yang ditulisnya itu dengan isi buku. Caranya? Kamu kudu menbaca seluruh bagian dari buku tersebut.</li>
<li>Sebagai peresnsi, kamu menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat.</li>
<li>Kamu juga dituntut untuk paham betul dengan latar belakang pembaca yang menjadi sasaranmu: selera, pendidikan, status sosial, dsb. Itu sebabnya, resensi pada setiap media massa nggak selalu sama gaya bahasanya. Jadi, jangan sampe ngirim naskah resensi kepada media dewasa, tapi malah menggunakan gaya bahasa remaja. Jadi tulalit kan nantinya?</li>
<li>Sebagai peresensi, kamu tentunya kudu paham dengan visi dan misi setiap media massa. Tujuannya, supaya kita tahu harus dikirim ke mana jika naskahnya adalah begini dan begitu. Jadi jangan sampe tulalit lagi ya? Bener. Soalnya kasihan banget kan, ngirim ke media massa yang anti Islam, eh, malah ngirimin resensi tentang buku Islam, itu namanya siap dicuekkin. Atau salah sasaran seperti meresensi buku tentang beternak lele dumbo tapi dikirim ke media massa khusus politik. Dikacangin deh. Emang enak? J</li>
</ol>
<p>Oke deh, kita ambil contoh buku untuk diresensi (untuk mersensi film, sinetron, seni lukis, kaset, VCD dan sejenisnya bisa menyesuaikan sendiri ya?). Yup, sekarang apa persiapan yang kudu disusun sebelum merensi <em>or</em> membedah buku? Langkah awal, jelas kamu kudu memilih dulu bukuyang kiranya pantas untuk diresensi. Kamu pilih buku yang kira-kira menarik untuk disampaikan informasi tentang isinya kepada khalayak. Langkah-langkah yang bisa kamu lakukan adalah sebagai berikut:</p>
<ol type="1">
<li>Mengenali atau menjajaki buku yang akan kamu resensi.
<ol type="a">
<li>Mulai dari tema buku yang diresensi, disertai deskripsi (penggambaran) isi buku.</li>
<li>Siap penerbit yang menerbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, tebal (jumlah bab dan halaman), fromat (ukurannya), hingga harga.</li>
<li>Siapa pengarangnya: nama, latar belakang pendidikan, reputasi dan prestasi, buku atau karya apa saja yang ditulis hingga mengapa ia sampe nulis buku itu. Jadi cerita singkat tentang pengarangnya.</li>
<li>Buku tersebut termasuk golongan buku yang mana: ekonomi, politik, hukum, agama, pendidikan, filsafat, sosiologi, psikologi dan sejenisnya.</li>
</ol>
</li>
<li>Membaca buku yang akan diresensi secara komfrehensif, cermat dan kunti (baca: tekun dan teliti). Pokoknya seditil-detilnya. Jangan sampe ada yang keliru. Malu dong kalo sampe keliru memberi komentar.</li>
<li>Menandai bagian buku yang akan dijadikan sebagai kutipan dalam resensimu. Biasanya point-point yang menarik dari buku tersebut.</li>
<li>Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan kamu resensi.</li>
<li>Menentukan sikap kamu sebagai perensi dengan menilai hal-hal berikut:
<ol type="a">
<li>Kerangka atau organisasi tulisan; bagaimana hubungan antar bagian, bagaimana sistematikanya, juga seperti apa dinamikanya.</li>
<li>Isi pernyataan: bagaimana bobot idenya, bagaimana analisnya, bagaimana penyajian datanya, dan bagaimana kreativitas pemikirannya.</li>
<li>Bahasa: bagaimana penerapan EYD-nya, bagaimana kalimat dan penggunaan katanya (terutama untuk buku ilmiah). Gaya bahasanya enak dibaca apa nggak, susah dipahami atau mudah dipahami.</li>
<li>Aspek teknis: bagaimana tata letak, bagaimana desain sampulnya, kerapian dan sejenisnya dari buku itu.</li>
</ol>
</li>
<li>Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar-dasar dan kriteria yang udah kita tentukan sebelumnya.</li>
</ol>
<p>Nah, untuk film dan sinetron dalam penilaianmu bisa dibidik; skenarionya, alur ceritanya enak apa nggak (misalnya melompat-lompat apa mengalir enak), bagaimana dengan dialog-doalog di ceritanya tersebut, bagaimana akting dari para pemainnya, tata suara, tata gambar, dan latarnya bagus apa nggak. Wah, pokoknya kamu ulik deh segala detil yang ada di film tersebut.</p>
<p>Biar hasil resensi kita menarik, buatlah judul yang oke punya. Tentang judul, sebetulnya bisa mengacu kepada tip sebelumnya. Yakni pastikan judulnya menarik. Jadi, saya nggak usah bahas secara detil lagi ya? Oke?</p>
<p>Sobat muda muslim, saya masih sedikit lagi tip singkat untuk meresensi buku. Biasanya, setiap penulis suka kesulitan dalam memulai pembukaan tulisannya. Benar? Nah, untuk meresensi buku, bisa dengan kata-kata pembukaan sebagai berikut:</p>
<p>1. Bercerita tentang pengarangnya. Kamu bisa nulis begini: <em>&#8220;Prof. Pulan bin Pulan sangat sangat akurat sekali menyajikan hasil penelitiannya. Ini sungguh sangat menggemparkan. Hasil kajiannya tentang atom ini mendapat sambutan dari berbagai kalangan&#8230;. dst &#8230;dst..&#8221;</em></p>
<p><em>2. </em>Cerita tentang kekhasan sang pengarang. Kamu boleh juag menuliskan seperti ini: <em>&#8220;Ciri khas Sdr. Ahmad dalam membuat buku adalah dengan judul-judul yang menghentak, bahkan terkesan sangat provokatif sekali. Buku-buku sebelumnya juga sudah sukses terjual dan masuk best seller&#8230; bla..bla..&#8221; </em></p>
<p><em>3. </em>Menulis tentang keunikan bukunya. Boleh-boleh saja kamu menulis, <em>&#8220;Sangat luar biasa, dengan ukuran buku saku yang ditulisnya ini, Mahmud berhasil menuangkan gagasannya yang besar dengan simple dan mudah dimengerti. Ia memanfaatkan keterbatasan ukuran buku saku itu dengan menuliskan seluruh pengalamannya dengan singkat dan padat, dan tetunya bermakna&#8230; dst..dst&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em>4. </em>Tentang tema buku. Untuk urusan ini, kamu boleh-boleh aja nulisnya begini, <em>&#8220;Tema cinta selalu menarik untuk dibicarakan dan dituliskan. Bahkan sejak lama film, novel, cerpen, dan juga lagu tentang cinta melenggang dengan manis berkisah tentang cinta. Mengasyikan&#8230;. dst..&#8221;</em></p>
<p><em>5. </em>Kelemahan buku. He..he.. nggak ada salahnya kamu langsung menuding dengan menuliskan, <em>&#8220;Jelek sekali buku ini. Bukan hanya judulnya yang tak menarik, isinya pun membuat kita kurang bergairah membacanya. Meski ada data menarik di sana-sini, tapi itu sudah usang!.. dst&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em>6. </em>Kesan terhadap buku. Silakan menulis seperti ini, <em>&#8220;Jangan anggap enteng hasil investigasi wartawan muda enerjik ini. Reportasenya tajam dengan gaya bertutur yang sangat enak dibaca&#8230; dst..dst..&#8221;</em></p>
<p><em>7. </em>Penerbit buku. Jangan ragu menuliskan seperti ini, <em>&#8220;Setelah menerbitkan buku kumpulan cerpennya yang menjadi best sellers ini, penerbit ABCD kembali meluncurkan novel terbarunya yang menghentak dari penulis mdua berbakatnya&#8230; bla&#8230;bla&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em>8. </em>Memulai dengan pertanyaan. Kamu boleh kok menulis, <em>&#8220;Kamu suka memasak? Nggak ada salahnya untuk belajar membuat menu menarik yang terangkum dalam buku saku tentang tip memasak ini.. dst&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Nah, setelah membuat pembukaan tulisan, kamu perlu membuat isi dan penutup resensi kan? Untuk ‘tubuh; resensi kamu bisa cerita tentang isi buku tersebut. Ambil kutipan seperlunya. Jangan terlalu banyak. Karena terlalu banyak, itu namanya memindahkan buku tersebut. Jadi, hati-hati. Dan ingat lho. Setiap media massa biasanya menyediakan ruangan yang sangat terbatas untuk sebuah kolom resensi. Cukup kamu cerita tentang kelebihan dan kekurangan buku tersebut. Gaya bahasanya, ejaanya, cara penulis tersebut menuturkan maksudnya dan lain sebagainya. Kemudian untuk mengakhir tulisan resensi, bisa kamu simpulkan dengan memberi ketegasan. Untuk siapa buku tersebut ‘wajib&#8217; dibaca, bagaimana sikapmu terhadap isi buku itu; mendukung atau menolak, sampe menyarankan untuk ini dan itu kepada pembaca.</p>
<p>Intinya sih, supaya pembaca bisa menimbang-nimbang apakah akan membeli buku itu, atau malah memilih memasukkan uangnya ke tabungan. Itu terserah pembaca, tapi kamu kudu pembuat keputusan sesuai dengan pengamatan dan penilaian kamu. Subjektif memang. Tapi nggak masalah dan jangan takut selama yang kamu sampaikan benar adanya. Nggak ngarang dan memang kenyataannya seperti itu.</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo saya membuat resensi biasanya berkaitan dengan kepentingan umat. Kebetulan aja sih gabung di sebuah majalah remja Islam, jadinya selalu membela Islam dong. Saya pernah meresensi kaset, film, sinetron, juga buku. Semua itu dinilai dengan sudut pandang Islam (penjelasan ini lihat tip: Tentang Subjektif dan Objektif).</p>
<p>Oke deh, siapkan energimu untuk menulis resensi. Kritis boleh, asal jangan &#8220;omdo&#8221;. Ayo kamu bisa menjadi perensi ulung. Menulis itu memang menyenangkan. Benar-benar menyenangkan. Sebagai bantuan, silakan baca tulisan resensi yang dibuat sama orang lain. Itu sangat membantu kamu untuk nyari inspirasi. Siap? Harus dong..! <a href="http://osolihin.wordpress.com">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-resensi-belajar-mengkritisi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menulis Biografi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mari-menulis-biografi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mari-menulis-biografi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2007 06:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/mari-menulis-biografi/</guid>
		<description><![CDATA[Menulis biografi seperti kita mencveritakan tentang riwayat hidup. Bisa diri sendiri (otobiografi), bisa juga kita menuliskan untuk orang lain. Jadi penulis biografi nggak sulit kok. Ini hanya semacam komoditi dari menulis, seperti halnya puisi, cerpen, novel, atau juga artikel. Semua itu hanya jenis komoditi yang bisa kita jual kepada pembaca. Meski hampir sama dalam teknik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/11/technical_writing-11.thumbnail.jpg" title="technical_writing-11.jpg" alt="technical_writing-11.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Menulis biografi seperti kita mencveritakan tentang riwayat hidup. Bisa diri sendiri (otobiografi), bisa juga kita menuliskan untuk orang lain. Jadi penulis biografi nggak sulit kok. Ini hanya semacam komoditi dari menulis, seperti halnya puisi, cerpen, novel, atau juga artikel. Semua itu hanya jenis komoditi yang bisa kita jual kepada pembaca. Meski hampir sama dalam teknik dasar penulisannya, saya akan memberikan tip khusus yang berkaitan dengan menulis biografi (termasuk di dalamnya otobiografi). <span id="more-746"></span>Karena biografi memuat semacam kisah hidup seseorang, maka tentunya bahan yang digunakan semuanya berasal dari ucapan, pikiran, dan tindakan orang tersebut. Boleh dibilang biografi ini memawakili siapa sosok yang ditulis tersebut. Kita bisa mengenal lebih dekat tokoh yang ditulis biografinya. Apalagi orang tersebut adalah <em>orbek</em> macam Ir. Soekarno, Mohammad Hatta dan kawan-kawannya. Tokoh Islam lainnya juga bisa kita buat seperti kisah hidup Abu Bakkar as-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Usma bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz dan seterusnya. Ada banyak. Mungkin puluhan ribu tokoh Islam yag bisa ditulis kembali biografinya.</p>
<p>Jaman sekarang juga boleh kalo mau bikin biografi. Nggak ada yang larang kok. Ramadhan KH, bapaknya Gilang Ramadhan yang <em>drumer</em> itu, adalah spesialis penulis biografi. Banyak orang beken di negeri ini yang mempercayakan otobiografinya ditulis oleh beliau. Sebab, tidak selamanya seseorang mampu menulis ulang sejarah hidupnya sendiri. Jadi, nggak ada pintu penghalang bagi para penulis biografi untuk meniti karir di jalur ini. Emang sih, paling enak adalah menulis sendiri tentang diri kita. Kalo belum terkenal, ya, siapa tahu jadi ngetop gara-gara otobiografinya banyak diminati pembaca. Siapa tahu kan?</p>
<p>Nah, sekarang saya akan ngasih beberapa tip yang bisa kamu lakukan untuk menulis sebuah biografi dan otobiografi. Pertama, kenalilah siapa kamu atau seseorang yang akan kamu tulis biografinya. Di sini bisa dieksplorasi tentang kehidupan kamu atau orang yang akan ditulis biografinya. Bentuk fisik, bisa kamu ceritakan juga. Apakah pendek, sedang, atau jangkung. Bentuk hidung, telinga, kaki, tangan, kepala, alis, warna rambut, kumis, jenggot, wajah, mulut, bibir, gigi, dada, warna kulit. <em>Wis, pokoke</em> semua yang ada di tubuhmu or orang yang akan kamu buatkan biogarfinya. Ini penting, untuk memberikan gambaran (kalo bisa seutuhnya) kepada pembaca.</p>
<p>Masalah emosional kamu atau orang yang akan kamu buatkan biografinya, menarik juga untuk diungkap. Kasih sayang, empati, rasa cinta, sentimentil, ceria, penuh pengertian, kepedulian, marah-sedih-gembira. Hubungan dengan teman-teman, keluarga, dan juga orang-orang terdekat lainnya. Ungkap sebanyak-banyaknya. Siapa tahu memang akan memperkaya tulisan biografi atau otobiografi.</p>
<p>Mengenali diri juga bisa dipreteli dari profesional (pekerjaan) kamu atau orang yang akan kamu tulis biografinya. Kehidupan kerja juga sangat membantu untuk menumbuhkan pembaca dalam mengenali kamu atau orang yang kamu buatkan biogarfinya. Jenis pekerjaannya, bagaimana dengan semangat, disiplin, dan dedikasinya, juga bisa diungkap apakah kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya itu mencintai pekerjaannya, atau bahkan membanggakan pekerjaannya. Nah, ini kesempatan buat kamu untuk melukiskan, menghadirkannya kembali, dan melestarikannya untuk masa depan. Siapa tahu jadi inspirasi orang lain untuk mengikutinya, atau sekadar menghargai pekerjaan yang kamu geluti dan cintai, serta kamu banggakan. Pokoknya, mengasyikan deh.</p>
<p>Oya, boleh juga tuh masalah filosofis kamu or orang yang kamu buatkan biografinya ditulis juga. Nah, karena biografi atau otobiografi itu ditulis saat yang bersangkutan udah punya umur, maka filosofis yang diangkatkan adalah yang pernah menjadi bagain dari hidupnya selama ini. Singkatnya, apa prinsip-prinsip dalam kehidupannya yang paling berharga dari kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya. Misalnya, tentang keyakinan, tentang cita-cita yang bisa menuntun menjalani kehidupan ini, juga tentang pelajaran apa yang bsia ditarik dari kehidupan yang pernah dialami. Hmm.. itu penting lho. Sebab, bisa dijadikan cermin bagi generasi setelahmu, dan juga keluarga dan teman dekat kamu. Memang nggak mudah, karena kita kudu jujur menuliskannya. Itu sebabnya, ini mirip buku harian, cuma udah dikembangkan aja. Jadi, silakan amalkan langkah pertama dalam membuat biografi atau otobiografi ini.</p>
<p>Langkah kedua, tentang asal-usul kamu, atau orang yang kamu tulis biografinya. Apakah ia terlahir dari keluarga yang harmonis atau malah berantakan, keluarga biasa, keluarga bangsawan atau ningrat, termasuk mungkin kelurga sederhana, rakyat jelata. Kalo mau nakal dikit; kamu bisa nulis bahwa mungkin juga terlahir dari keluarga penjahat dan sejenisnya.</p>
<p>Kemudian, apakah kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya itu lahir sebagai anak kandung, anak tiri, atau tidak keduanya; misalnya dapet nemu di tempat sampah. Itu semua harus bisa kamu jelaskan kepada pembaca. Sebab, boleh jadi pembaca akan mengambil semacam hikmah dari kisah hidup seperti itu. Menarik bukan? Ceritakan juga bagaimana ortu kamu atau ortu dari orang yang kamu buatkan biografinya. Sejarah keluarga itu perlu. Bahkan mungkin secara medis ada hubungannya nanti dengan penyakit turunan yang diderita. Siapa kakek kita, siapa nenek kita, bagaimana hubungannya dengan keluarga. Wah, pokoknya di sini kamu bisa eksplorasi sekuat-kuatnya dan sebanyak-banyaknya. Bila perlu sampe detil deh.</p>
<p>Langkah ketiga, di mana kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya dilahirkan. Ini akan memperkaya sumber data untuk menulis biografi. Tahun berapa, terus bagaimana kondisi tempat atau ada peristiwa apa saat kamu dilahirkan. Kayak Rasullullah kan dilahirkan tahun gajah, dan waktu itu ada serang pasukan Abrahah ke Ka&#8217;bah. Ya, model-model begitulah. Kayak di lagu Bang Iwan Fals, Galang Rambu Anarki, &#8220;Lahir awal Januari, menjelang pemilu, dan ditandai dengan BBM melambung tinggi&#8221;. Wah, untuk itu, kamu bisa menanyakan kepada ortu atau orang-orang terdekat tentang kondisi atau peristiwa saat kamu dilahirkan. Bisa jadi kan suatu saat ada orang menulis biografinya bahwa ia lahir di hutan saat ibunya menghindari kejaran perampok atau sedang mengungsi karena perang. Wah, banyak deh yang bisa ‘diutak-atik&#8217;. Pokoknya sedetil-detilnya; hari apa dilahirkan, tanggal berapa, pukul berapa, dibantu dukun beranak, bidan, atau dokter, atau malah nggak dibantu siapa pun. Oke deh, sebanyak mungkin bisa kamu gali dan ceritakan kembali pengalaman yang kamu miliki.</p>
<p>Langkah keempat, ceritakan tentang kehidupan masa kecilmu atau orang yang kamu buatkan biografinya. Wuih, lucu banget tuh. Apakah nakal, pendiam, lincah, ‘manusia dinamo&#8217; alias hiperaktif, baik hati sama teman, lucu, dsb. Bisa juga dituliskan, apakah bahagia atau malah sengsara di masa kanak-kanak. Kapan bisa bicara, kapan bisa jalan, kapan sekolah di taman kanak-kanak, usia berapa masuk SD, bagaimana teman-teman waktu kecil, siapa saja dia,  mainan apa yang paling disukai, nama kecilmu siapa, film kartun apa yang paling disukai, pelajaran apa yang menyenangkan, apakah bisa nyanyi, pinter nggak di sekolah, sekolahnya jauh nggak dari rumah, jalan kaki atau naik kendaraan; sepeda, sepeda motor, truk pasir, bis, atau malah dianter ayah pake mobil pribadi, dst. Kalo kamu lupa, bisa tanya sama ortu. Okeh?</p>
<p>Langkah kelima, tentang sekolahmu. Nah, ini penting juga lho. Masa-masa sekolah memang mengasyikan dan menyenangkan. Kamu bisa nulis atau tuliskan pengalaman orang yang kamu buatkan biografinya tentang pengalamannya mulai SD sampe SMP. Pengalaman saat pertama kali pergi ke sekolah, bertemu kawan-kawan, pertama kali berhadapan dengan guru, pertama kali belajar membaca, kisah-kisah unik di sekolah, sering distrap atau justru murid teladan. Suka bolos nggak, pernah kabur dari sekolah nggak, pernah minggat dari rumah nggak, bagaimana sikap ortu kamu saat kamu nakal, dsb. Ceritakan semuanya.</p>
<p>Terus eksplorasi juga sisi unik lainnya. Misalnya, anak-anak kan sering melihat realitas sesuai daya nalarnya. Kadang polos malah. Misalnya, kebingungan saat ibu guru menjelaskan; &#8220;Roma itu tidak dibangun dalam satu hari&#8221;. Tersu kita kepikiran dengan paman Romi. Berarti kalo dia dibangunkan nggak cukup sehari? Lucu dan polos, tapi itulah anak-anak. Kamu bisa mengeksplorasi banyak kisah waktu di masa itu. Seandanya saja kamu sejak dulu udah bikin buku harian, kayaknya bisa terekam dan amat berharga di masa depan. Bolehlah dari sekarang minta adik kita menuliskan seluruh pengalaman unik dan menariknya dalam sebuah buku harian. Siapa tahu nanti dia akan menuangkan seluruh kenangannya dalam biografi yang ditulisnya. Pelajaran yang amat berharga tentunya.</p>
<p>Keenam, bagaimana kehidupan menuju dewasa. Kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya bisa mengungkapkan sedetil-detilnya kehidupannya menuju dewasa. Pengalaman apa saja yang menarik, apakah pernah merokok, kalo anak cewek bagaimana kejadian saat mulai dewasa, apakah suka memakai lipstik punya ibu, mematut-matut diri di depan cermin dengan pakaian dan perlengkapan wanita lainnya yang dimiliki ibu. Terus, buku apa yang menjadi favorit untuk dibaca; novel, cerpen, puisi, agama, komik, atau malah buku berat? Tulislah sedetilnya.</p>
<p>Bolehlah ditulis juga tentang perubahan pola pikir setelah membaca buku-buku tertentu. Bagaimana nuansa keberagamaanmu, peristiwa apa yang menarik saat di sekolah atau di lingkungan sekitar, ada pengaruhnya nggak buat kehidupanmu, bagaimana dengan persahabatan, akademik, dsb. Siapa pula teman sejati kamu, siapa saja yang telah ikut mengantarkanmu menuju dewasa, siapa yang berpengaruh dalam perjalanan hidup dan karirmu. Semua bisa kamu ceritakan, kok. Kalem aja. Tul nggak?</p>
<p>Ketujuh, tentang cinta. Ini juga berarti menulis tentang kehidupan rahasia cinta kamu. Kapan jatuh cinta, dengan siapa, apakah salah-tingkah, atau justru <em>agre</em>, bagaimana dengan prestasi belajarl, bagaimana sikap ortu. Kapan berani menyatakan cinta, kapan khitbah, ceritakan juga tentang pernikahan, kapan, di mana, siapa nama pasangan kamu. Gimana rasanya? Pokoknya, cerita semua tentang cinta.</p>
<p>Kedelapan, ceritakan juga tentang anak-anak. He..he..he&#8230; kamu yang masih remaja mah, belum punya ya? Tapi nggak apa-apa, siapa tahu kamu ketiban rejeki diminta menulis biografi orang terkenal dan udah sepuh. Kamu bisa memakain tip ini. Tul nggak? (backsound: asyik ane dibelain, padahal mah lagi demen ngejomblo. Watau!)</p>
<p>Tentang anak-anak bisa diceritakan gimana rasanya menunggu kelahiran anak pertama. Tentang lucu, lincah, dan energiknya anak-anak. Sering atau pernah nganter anak ke dokter, gimana reaksi mereka, apa sakitnya, bagaimana pertumbuhannya. Pokoknya, ceritaain semua hal yang berkaitan dengan anak-anak kamu atau orang yang kamu buatkan biografinya.</p>
<p>Intinya, menulis biografi atau otobiografi, saya katakan sekali lagi, itu adalah keterampilan merangkai semua peristiwa kehidupan kita sedetil-detilnya dalam rangkaian kata dan kalimat yang menarik dan memancing pembaca untuk tetap melanjutkan bacaannya. Iya deh, menulis biografi seperti sedang menulis novel ukuran ‘raksasa&#8217;. Dan uniknya, itu adalah kisah sejati kita. Kisah nyata. Oke, pengen lebih lengkap tentang menulis biografi atau otobiografi, silakan pelototin langsung buku-buku tentang biografi atau otobiografi orbek yang udah beredar banyak di pasaran. Tujuannya, tentu sebagai perbandingan aja. Kita cermati, dan kita tulis dan kembangkan kisah kita hasil inspirasi dari buku tersebut dengan gaya bahasa kita sendiri. Yuk, kita coba tip ini. Siapa tahu nanti <em>ujug-ujug</em> ada yang meminta jasamu untuk menuliskan biografinya. Misalnya kepala sekolahmu. Asyik dan menyenangkan lho&#8230; <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mari-menulis-biografi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Fiksi, Mengasah Kepekaan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-fiksi-mengasah-kepekaan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-fiksi-mengasah-kepekaan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 06:52:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menulis-fiksi-mengasah-kepekaan/</guid>
		<description><![CDATA[Bang Arswendo Atmowiloto pernah bikin buku yang laris di tahun 80-an, judulnya cukup menghentak: &#8220;Mengarang Itu Gampang&#8221;. Bukan saja judulnya yang menarik, tetapi isinya juga mewakili sebagai modal untuk menjadi pengarang jempolan. Menulis fiksi memang asyik. Kita bisa menembus pagar imajinasi kita. Bahkan di sinilah kepekaan itu diasah dengan polesan pilihan kata yang oke punya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/11/writing450.thumbnail.jpg" title="writing450.jpg" alt="writing450.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Bang Arswendo Atmowiloto pernah bikin buku yang laris di tahun 80-an, judulnya cukup menghentak: &#8220;Mengarang Itu Gampang&#8221;. Bukan saja judulnya yang menarik, tetapi isinya juga mewakili sebagai modal untuk menjadi pengarang jempolan. Menulis fiksi memang asyik. Kita bisa menembus pagar imajinasi kita. Bahkan di sinilah kepekaan itu diasah dengan polesan pilihan kata yang oke punya. Orang sering bilang, bahwa menulis fiksi erat kaitannya dengan dunia sastra yang terkenal sering mengobral kata-kata indah. <span id="more-743"></span>Nggak ada salahnya sih kita membuat tulisan berjenis ini. Dalam kondisi tertentu justru ini diperlukan untuk membangkitkan kesadaran seseorang dalam tahap awal. Cerpen dan novel remaja bersetting islami sekarang sedang laris di pasaran. Hal itu, selain menunjukkan minat baca yang lumayan tinggi, juga mulai tumbuh kesadaran remaja (sebagai pembaca utama) akan Islam. Sebab, kita nggak menafikan bahwa banyak juga kalangan remaja tertentu yang justru tersentuh dengan Islam lewat sebuah cerpen atau novel islami. Itu sebabnya, perkembangan larisnya novel dan cerpen islami menjadi sebuah fenomena yang perlu dipertahankan dan terus dikembangkan. Tentu, ini untuk menunjang langkah syiar Islam bagi kalangan tertentu.</p>
<p>Sobat muda, menulis fiksi tidaklah sulit. Yakin saja, jika kamu punya minat besar untuk menjadi penulis fiksi, selalu ada jalan ke arah sana. Nah, sekarang saya mau ngasih sedikit tip buat kamu. Saya modifikasi dari berbagai sumber supaya kamu termotivasi untuk membuat tulisan berjenis ini. Apa saja sih persiapannya?</p>
<p>Nggak banyak dan nggak berat. Sebab, menulis fiksi kadang seperti menulis perjalanan hidup pribadi kita. Bahkan sangat boleh jadi hasil kreasi antara sedikit fakta dan khayalan kita. Selama itu sesuai dengan ajaran Islam yang kita pegang, sah-sah saja, kok.</p>
<p>Waktu SD dulu, kita pernah belajar mengarang kan? Nah, jadikan itu sebagai modal. Atau ada di antara kamu yang udah lupa pelajaran itu? Oke deh, kalo saya sendiri kebetulan masih ingat tentang tugas dari pak guru bahasa Indonesa untuk mengarang perjalanan saat liburan. Sayang banget, waktu itu saya nggak terlalu serius dalam mempelajarinya. Tapi bagi mereka yang kebetulan berminat di bidang itu, biasanya langsung nyetel. Contohnya La Rose. Kenal, atau minimal pernah dengar nama ini? Yup, penulis wanita yang mengaku sangat terkesan dengan novel <em>Ditelan Kenyataan</em> yang berhasil ditulisnya, ternyata sudah menyukai dunia tulis-menulis sejak umur 5 tahun. Banyak hal yang bisa ia tulis. Tentang kucing di rumah, burung yang selalu berkicau di pagi hari, gemericik air di belakang rumah, atau apa sajalah yang bisa diindera dan kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah tulisan. Asyik-asyik aja tuh.</p>
<p>La Rose dikenal sebagai salah satu penulis wanita yang cukup bagus dengan karya-karya novelnya. Banyak di Indonesia ini penulis fiksi terkenal, selain beliau bisa disebut di antaranya, Remy Silado, Arswendo Atmowiloto, Abdul Muis, Marga T., V. Lestari, Mira W, Ashadi Siregar, juga Piet Senja. Penulis <em>anyar</em> (bahkan banyak juga di antaranya yang masih muda belia) banyak bermunculan dan langsung ngetop. Siapa sih nyang nggak kenal nama Helvy Tiana Rosa? Beliau disebut-sebut sebagai penarik gerbong cerpen dan novel islami. Asma Nadia, sang adik, juga penulis untuk fiksi remaja yang cukup sukses, bahkan mendapat berbagai penghargaan. Afifah Afra Amatullah alias Mulati Yeni, juga termasuk dalam jajaran penulis fiksi top di tanah air. Dan masih banyak lagi yang lainnya.</p>
<p>Kamu masih inget dengan serial Lupus? Nah, Bang Hilman adalah maestro cerita fiksi dengan gaya ngepop. Unsur sastranya diminimalisir. Nyang penting nyambung ke pembaca. Bang Boim Lebon juga tercatat sebagai penulis fiksi yang ngepop, <em>Lupus Kecil </em>yang berhasil dibesutnya juga lumayan bikin seger yang baca. Unik dan menarik. Gola Gong termasuk penulis yang cukup produktif, serialnya di majalah Hai bertitel &#8220;Balada Si Roy&#8221; lumayan menarik untuk dibaca para remaja. Meski bersetting umum, belum islami. Kini, Gola Gong lumayan menghentak dengan tema-tema yang islami, di antaranya <em>Al Bahri</em> dan <em>Kepada-MU Aku Bersimpuh</em>. Wah, pokoknya kalo mau disebut masih banyak nama-nama lainnya. Sori juga buat mereka yang nggak saya tulis di sini. Pokoknya, salut deh buat teman-teman yang udah berhasil menuangkan gagasannya lewat sebuah cerita yang tidak saja enak dibaca, tapi juga sarat dengan pesan bernuansa Islam. Sekecil apa pun itu, tetep memberi nilai untuk syiar Islam.</p>
<p>Belum lagi cerpenis dan novelis mancanegara. Kamu bisa dapetin tuh nama-nama beken kayak John Grisham, Shidney Sheldon, Agatha Cristhie, Ernest Hemingway, James Clavell&#8217;s, dan ratusan nama beken lainnya. Terlepas dari ideologi yang diembannya, mereka telah pandai merangkai kata-kata menjadi kalimat yang mengalir bagai air untuk mengisi plot cerita yang telah dibuatnya. Banyak cerita manusia lahir dari cerpen dan novel ini. Nggak sedikit bahkan novel yang diangkat dari kisah nyata kehidupan manusia.</p>
<p>Sekarang ada sedikit tip untuk menulis fiksi. Bang Eka Budianta dalam bukunya &#8220;Menggebrak Dunia Mengarang&#8221;, ia menulis saran dari cerpenis Putu Arya Tirtawirya, bahwa resep untuk menulis cerpen yang baik adalah pintar bikin kejutan. Kalimat pertama yang kamu tulis kudu menghentak. Bang Eka juga menyarankan bahwa resep ‘mujarab&#8217; berupa langkah-langkah praktis. Mula-mula belajarlah membuat surat pembaca. Cari kasus yang aneh dan menarik. Kemudian berlatih menulis kisah sejati. Kalau sudah lancar, tambahkan di sana-sini imajinasi kamu. Dan kalo kamu cukup pintar, sarikan semuanya singkat-singkat. Maka jadilah puisi. Jadi cerpen adalah bentuk longgar dari puisi.</p>
<p>Bang Arswendo punya kita dalam menulis fiksi. Paling nggak itu bisa kamu dapatkan dalam bukunya, <em>Mengarang Itu Gampang</em>. Pertama, kamu kudu mengasah realitas imajinasi kamu. Maksudnya, ketika kamu menulis sebuah cerpen atau novel itu nggak lepas dari realitas kehidupan kamu sehari-hari, yang kamu lihat, kamu rasakan, kamu gumuli dan kamu ketahui. Semua itu bisa kamu tuangkan dalam sebuah cerita fiksi. Misalnya bagaimana tatapan mata orang yang sedang marah, bagaimana guratan wajah seseorang yang sedang dirundung malang, atau sebaliknya, ia sdang bahagia, perhatikan juga ekspresi seseorang ketika membela diri, boleh juga menyelami nasib abang becak, pedagang kecil yang selalu dikejar aparat tibum, dan lain sebagainya. Banyak kok. Dan itu bisa kamu rekam setiap hari. Intinya, realitas dalam karangan adalah hasil imajinasi kamu.</p>
<p>Kedua, bisa memanfaatkan ilham. Kadang-kadang, pas kita lagi bengong, suka muncul tuh ide tentang sesuatu. Kamu bisa aja kepikiran tentang nikmatnya jadi orang kaya, pas kamu lagi bengong di dalam bajaj. Jadi, karena ilham itu seringnya datang tiba-tiba, maka kamu kudu belajar untuk menyambutnya. Mesi setiap hari kamu pergi ke sekolah, belum tentu kamu bisa menangkap ilham yang datang. Ketika ada penjual es tua yang selalu mendorong gerobak dagangannya, muncul ide untuk menceritakan tentang kondisi hidupnya. Kalo udah dapet begitu, cepet-cepat datangi beliau. Supaya senang, belilah es barang segelas. Lalu SKSD sedikit, ngobrol ngalor-ngidul tentang kehidupannya, tentang keluaraganya dan tentang cita-citanya. Kalo udah dapet, kamu segera menuliskan ulang dalam cerpenmu pas nyampe di rumah. Mudah bukan? Coba aja ya.</p>
<p>Ketiga, bikin plot. Kamu tahu plot? Itu adalah jalan cerita atau alur cerita. Mutlak kamu buat dong, supaya ide kamu mengalir enak. Istilah sederhana dari plot adalah kerangka karangan. Itu pernah saya tulis di awal buku ini. Plot bisa lembut, bisa juga ledakan, atau malah gabungan dari lembut-ledakan. Plot keras (ledakan) adalah akhir cerita tanpa bisa diduga oleh pembaca. Tiba-tiba gitu lho. Tapi tetep logis. Hampir semua cerpen A. Chekov, pengarang Rusia itu, berakhir dengan plot ledakan. Boleh juga baca cerpen-cerpen Trisnoyuwono yang terkumpul dalam <em>Lelaki dan Mesiu</em>. <em>Surat dengan Sampul Putih</em> karya Arswendo juga penuh dengan plot ledakan. Oya, boleh promosi dikit, Serial Ogi yang saya tulis di majalah Permata juga rata-rata berakhir dengan ledakan, terutama episode <em>Putri Biru</em>, <em>Chatting, Yuk!</em>, <em>Ketika Ogi Ronda</em>, dan <em>Kembang Kertas di Taman Sekolah</em>. He..he.. sori, bukan maksud berbangga diri, tapi sekadar memberi contoh.</p>
<p>Bagaimana dengan plot lembut? Ini memang soal selera ya. Sebab, banyak juga pembaca yang kurang begitu menyukai plot ledakan, jadilah ada istilah lawannya, plot lembut, bahkan mungkin bisikan. Jadi si pengarang menuntun pembaca dengan alur cerita yang terasa mengalir dan kemungkinan sudah tahu jawabannya. Tapi biasanya sebagai penegasan aja dari ceritanya. Kalo gabungan antara keduanya, berarti cerita itu plotnya dua. Dalam perkembangannya, ada juga plot terbuka dan plot tertutup. Terbuka artinya, akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita, di samping masalah besar persoalan. Tertutup berarti akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita. Lebih dititikberatkan pada permasalahan dasar. Tapi kudu diingat <em>bro</em> (baca: brother), kamu kudu lihai juga mengakhiri plot. Cerita berkahir, plot berakhir. Atau berkahir beberapa saat setelah cerita berakhir. Kata Bang Arswendo, mengakhiri plot seperti menginjam rem. Sesaat sebelum berhenti atau mendadak secara bersamaan.</p>
<p>Keempat, penggambaran tokoh. Yang pernah baca <em>Lupus</em> kayaknya apal banget dengan karakter anak itu. Mulai gaya rambutnya yang <em>retro</em> punya (gondrong), suka makan permen karet, dan juga kocak. Selain tokoh Lupus, ada adiknya, Lulu. Digambarkan sebagai anak yang cerewet dan manja tapi katanya baik hati. Bagaimana dengan Boim dan Gusur? Kayaknya Lupus-mania pada ngeh deh. Nah, pengambaran yang oke terhadap tokoh yang kita buat (kalo bisa sedetil-detilnya; bentuk fisik, perilaku, kesukaannya, ekspresinya di setiap kondisi, dana lain sebagainya) akan menghidupkan cerita itu sendiri. Kamu bisa membuatnya dengan memperhatikan kehidupan di sekitarmu, atau baca karya-karya ngetop lainnya. Sebab, pembaca akan dibawa untuk menyelami semua tokoh yang karakternya udah kita gambarkan dengan baik.</p>
<p>Kelima, lokasi tempat. Lokasi di sini artinya ke arah situasi. Jadi, situasi tempat. Nah, kamu kudu juga memasukkan unsur tempat ini supaya pembaca bisa menjangkau fakta cerita yang kita buat. Baik lokasi desa atau lokasi kota metropolitian, kamu kudu bisa menggambarkannya dengan baik. Kalo bisa sedetil mungkin situasi dan suasana di kedua tempat itu. Boleh dibilang inilah yang oleh para penulis disebut juga sebagai latar cerita kita. Bisa memperkaya wawasan pembacanya. Apalagi tempat yang belum pernah dikunjungi oleh kebanyakan pembaca kita. Bisa menarik itu.</p>
<p>Keenam, menggarap tema. Ini termasuk bagian penting lho. sebab, cerpen atau novel yang kita buat temanya kurang menarik, atau malah nggak ada tema sentral sama sekali (apalagi jika nggak bertema sedikitpun he..he..). Itu mah sama dengan menyuruh pembaca untuk segera melempar tulisan kita. Uppss.. kejam amat ya?</p>
<p>Oke deh, sekarang mulailah menulis dengan panduan dari beberapa tip tadi. Nggak ada salahnya kamu juga terus mengeksplorasi segala yang kamu bisa ketahui. Bener-bener menyenangkan menulis itu. Pengalaman saya dalam menulis cerpen, biasanya tema yang saya angkat adalah dari peristiwa sehari-hari dalam kehidupan. Banyak hal yang menarik. Nggak perlu yang susah-susah. Msalnya aja bisa cerita tentang kejadian subuh di pesantren, santri yang pelupa, pak ustadz yang sedang gantuk saat ngajar para santri. Di sekolah juga banyak peristiwa yang bisa diangkat untuk cerita fiksi. Murid yang bandel, guru yang galak, kepsek yang baik hati dan sebagainya, lengkap dengan kreasi imajinasi yang kamu buat. Mudah kan? Cobalah&#8230;</p>
<p>Oke deh kalo kamu memang ngebet ingin jadi penulis fiksi, seringlah mengasah imajinasi kamu. Bahkan semua pengarang seperti ingin berlomba mencipta bahasa baru untuk memberikan kesegaran kepada pembacanya, selain tentunya mengasah kepekaan kita dalam mengolah kata-kata. Siapa mau jadi pengarang? Sekarang kamu bisa langsung angkat tangan, &#8220;Saya Pak..!&#8221; <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-fiksi-mengasah-kepekaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tulisan Ilmiah Populer, Kayak Gimana Sih?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tulisan-ilmiah-populer-kayak-gimana-sih</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tulisan-ilmiah-populer-kayak-gimana-sih#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 06:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/tulisan-ilmiah-populer-kayak-gimana-sih/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo kamu udah bisa membedakan dan membuat tulisan ilmiah dan populer, maka sekarang kamu belajar membuat tulisan ilmiah populer. Ini memang gabungan dua jenis tulisan yang bisa menjadi jembatan untuk memahamkan istilah-istilah ilmiah dengan gaya bahasa yang populer. Jadi, jika tulisan ilmiah hanya cocok untuk kalangan akademisi, dan tulisan populer untuk kalangan manapun, maka tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/11/grammar.thumbnail.jpg" title="grammar.jpg" alt="grammar.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Kalo kamu udah bisa membedakan dan membuat tulisan ilmiah dan populer, maka sekarang kamu belajar membuat tulisan ilmiah populer. Ini memang gabungan dua jenis tulisan yang bisa menjadi jembatan untuk memahamkan istilah-istilah ilmiah dengan gaya bahasa yang populer. Jadi, jika tulisan ilmiah hanya cocok untuk kalangan akademisi, dan tulisan populer untuk kalangan manapun, maka tulisan bergaya ilmiah populer cocok bagi kedua kalangan tersebut. <span id="more-741"></span>Itu sebabnya, membuat tulisan ilmiah yang disampaikan dengan gaya bahasa yang populer, memerlukan keterampilan khusus yang bisa kita pelajari. Selain menjadi jembatan bagi mereka yang awam untuk memahami masalah ilmiah, juga tulisan bergaya ilmiah populer membuat pembaca menikmati citarasa tersendiri dari sebuah bacaan. Bayangkan, betapa senangnya bisa mengetahui seluk-beluk senjata nuklir, cara kerja senjata biologi dalam membunuh manusia dengan bahasa yang mudah dicerna. Menyenangkan sekali bukan?</p>
<p>Sobat muda, untuk melihat contoh tulisan seperti ini, silakan baca majalah ilmiah populer atau rubrik iptek di koran dan majalah umum. Sebab, di dalamnya banyak dibahas teknologi yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan manusia. Dengan kata lain, disampaikan sebuah pembahasan tentang teknologi terapan. Itu akan mudah dipahami oleh hampir semua orang.</p>
<p>Meski demikian, saya akan ngasih tip khusus buat kamu untuk membuat tulisan iptek populer. Urusan data dan kerangka tulisan adalah mutlak diperlukan dalam setiap tulisan apapun, termasuk menulis iptek (ilmiah) populer ini. Nah, supaya berbau populer tema yang kamu bahas juga yang sifatnya dubutuhkan oleh siapa pun enak dibaca, tapi nggak kehilangan sifat ilmiahnya. Contohnya kalo kamu ngebahas tentang ban. Lebih spesifik lagi tentang ban mobil, ban motor, atau ban pesawat terbang. Itu berbeda jenis lho. Bisa dijelaskan masing-masing fungsi, cara penggunaan, model teknologi yang dipakai dan sejenisnya. Atau lebih khas dan rinci lagi, misalnya tentang ban yang gundul. Penyebab dan akibatnya. Menarik bukan?</p>
<p>Oke deh, dari penjelasan itu misalnya kita bisa rinci begini:</p>
<p>Ide umum        : tentang mobil</p>
<p>Ide khusus       : tentang ban</p>
<p>Topik               : ban yang gundul</p>
<p>Tema               : faktor-faktor penyebab ban gundul</p>
<p>Bahasan Tema : ban yang gundul bukan karena kualitas ban yang jelek atau ban itu selalu</p>
<p>dipakai di jalanan yang terbuat dari semen</p>
<p>Rincian Tema  : ban yang gundul di bagian tengah, ban yang gundul di bagian pinggir,</p>
<p>ban yang gundul di bagian tengah tapi tidak merata (bergelombang)</p>
<p>Ada nggak tentang bahasan lain? Banyak sobat. Misalnya kamu mau nulis tentang saraan komunikasi. Bisa kamu ceritakan mulai dari sejarah pengiriman surat pertama kali, misalnya dikirim langsung (kurir), lalu meningkat memanfaatkan jasa burung merpati, terus telegrap, telegram, sampe akhirnya sarana komunikasi modern seperti telepon, juga ponsel (termasuk fiturnya yang oke semacam SMS, EMS, dan MMS), termasuk e-mail tuh. Waduh, kebanyakan dong ceritanya? He..he.. kamu bisa ringkas <em>atuh</em>.</p>
<p>Oke deh, kalo kebanyakan kamu bisa fokuskan kepada pembahasan tentang ponsel, misalnya. Boleh juga tuh. Kamu bisa nyari data-data seputar teknologi ponsel ini sejak yang pertama kali ponsel dibuat sampe sekarang. Lengkap beserta fitur-fitur menarik en bikin gemes. Oke banget kan? Nah, soal data-data dan istilah yang nggak akrab di telinga orang awam, kudu kamu jelaskan artinya. Bahasa juga kudu kamu gunakan yang sesederhana mungkin agar bisa dimengerti pembaca utama kita. Kalo remaja, ya, pake bahasa remaja. Kalo dewasa, gunakan pilihan kata yang nyetel dengan kebanyakan pembaca. Insya Allah oke deh.</p>
<p>Mau nulis tentang teknologi senjata, termasuk senjata pemusnah massal juga boleh. Silakan aja. Nggak ada yang ngelarang kok. Sah dan nggak usah bingung. Untuk membahasnya, kamu kudu bisa meramu fakta, data, dan istilah-istilah ilmiah yang dirangkai dengan kalimat-kalimat populer yang enak dibaca. Misalnya, kamu pengen nulis tentang senjata biologis seperti biobom. Nah, seperti halnya ketika menulis tentang ban, kamu bisa urutkan dulu dalam sebuah kerangka karangan, apa yang akan kamu bahas tentang biobom itu. Boleh deh saya kasih bocoran.</p>
<p>Ide umum        : tentang senjata pemusnah massal</p>
<p>Ide khusus       : tentang senjata biologis</p>
<p>Topik               : biobom</p>
<p>Tema               : cara kerja biobom. Kedahsyatan dan akibatnya untuk manusia</p>
<p>Bahasan tema  : penemuan penting dalam sejarah persenjataan. Kebijakan-kebijakan</p>
<p>politis yang menyertainya dalam proses pengembangan senjata tersebut.</p>
<p>Rincian tema   : perang dan teror menjadi bagian tak terpisahkan dari penggunaan senjata</p>
<p>biologis ini. Di sini, kita bisa mengeksplorasi data dan fakta dengan</p>
<p>sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Lalu tulis deh dengan gaya bahasa yang enak dibaca. Sebagai contoh untuk tulisan ini, bolehlah dibaca sebuah artikel berjudul: Biobom; The Poor Man&#8217;s Atom Bomb. Artikel itu bisa kamu dapatkan di islamic digest, <em>Insani</em> edisi November 2002.</p>
<p>Jangan lupa, judulnya kudu menarik <em>euy</em>. Sebab, seperti yang udah secara khusus saya tulis, judul ibarat sebuah ‘wajah&#8217; tulisan. Kalo menarik dan memikat, membuat orang penasaran untuk membacanya. Judul yang memble, meski tulisan isinya oke punya, biasanya gagal memancing rasa penasaran pembaca untuk melihat isi tulisan kita. Jadi, hati-hati dengan judul ya. Tapi yang pasti, patokannya jangan ngikutin judul dalam karya ilmiah. Walaupun ada embel-embel ilmiahnya, tulisan iptek populer tetap harus mengacu kepada ‘kaidah&#8217; penulisan untuk konsumsi semua kalangan. Simpel, enak, dan tentunya menarik untuk dibaca.</p>
<p>Sobat muda, ini sekadar mengingatkan aja, bahwa untuk mendapatkan tuilisan iptek populer yang oke punya, harus getol mengumpulkan data. Bagusnya, memang nggak mesti hanya bidang yang kamu kuasai banget, boleh juga bidang iptek lainnya. Tentunya supaya nambah dong wawasan kita tenang iptek ini. Untuk mengumpulkan data or bahan, sekarang asyik juga lho. manfaatkan saja internet. Wow, itu udah bikin kita kaya dengan data. Jenis pembahasan apapun, insya Allah bisa kita dapatkan dengan jumlah yang lumayan banyak.</p>
<p>Meski demikian, kalo kamu kebetulan nemuin data menarik di koran, tabloid, dan majalah, sikat juga dong. Caranya, gunting artikel yang berkaitan dengan itu, tulis tanggal dan nama medianya. Tempelkan di kertas folio. Simpan di rak buku. Memang kegiatan ini agak kurang menyenangkan. Tapi, bisa dicoba deh, utamanya bagi kamu yang belum memiliki sarana dokumentasi untuk menyimpan file digital. Saya juga sering melakukan itu waktu belum punya komputer. Saya koleksi hampir semua jenis tulisan tentang iptek populer. Selain menarik untuk dibaca, saya simpan sebagai bahan bakar untuk menulis dalam kesempatan lain. Sebuah data, bagi penulis adalah salah satu energi yang akan menggerakkan kekuatan dan semangat untuk menulis. Tanpa data, penulis bukanlah apa-apa. Iya dong, apa yang mau ditulis kalo nggak punya data sedikit pun.</p>
<p>Oke deh, sekarang langsung saja kamu siapkan tenaga dan pikiran untuk segera menulis. Bahan-bahan udah siap, sekarang, <em>Go! Menulis Go!</em> <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tulisan-ilmiah-populer-kayak-gimana-sih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis gaya Populer? Apa Pula Itu?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-gaya-populer-apa-pula-itu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-gaya-populer-apa-pula-itu#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 06:47:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menulis-gaya-populer-apa-pula-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Kamu tahu istilah populer? Yup, populer artinya ngepop. Ngepop itu dikenal banyak orang. Mudah untuk diingat, karena keunikannya. Dan biasanya yang ngepop sangat mudah untuk dipahami karena sesuai dengan kondisi pengetahuan kebanyakan orang yang membacanya. Pendek kata, tulisan yang menggunakan gaya bahasa populer adalah tulisan yang mengedepankan data-data, istilah, dan bahasa yang biasa digunakan banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/11/picture_of_old_open_diction.thumbnail.gif" title="picture_of_old_open_diction.gif" alt="picture_of_old_open_diction.gif" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Kamu tahu istilah populer? Yup, populer artinya ngepop. Ngepop itu dikenal banyak orang. Mudah untuk diingat, karena keunikannya. Dan biasanya yang ngepop sangat mudah untuk dipahami karena sesuai dengan kondisi pengetahuan kebanyakan orang yang membacanya. Pendek kata, tulisan yang menggunakan gaya bahasa populer adalah tulisan yang mengedepankan data-data, istilah, dan bahasa yang biasa digunakan banyak orang pada umumnya. Siapapun orangnya, ketika membaca tulisan jenis ini, akan lebih mudah memahami maksud penulisannya. Artinya pula, dengan gaya bahasa tersebut, jangkauan pembacanya sangat luas, bahkan boleh dibilang nggak terbatas. Betul? Itu sebabnya, tulisan gaya bahasa populer lebih banyak peminatnya ketimbang tulisan ilmiah. <span id="more-738"></span>Sobat muda, kalo kamu pengen tahu jenis tulisan populer, silakan baca harian umum atau majalah umum. Di sana akan banyak kamu temukan jenis tulisan populer yang biasanya enak dibaca. Sebab, selain menggunakan pendekatan terhadap masalah yang sedang tren, juga menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami semua orang. Silakan baca tulisan di rubrik Opini pada harian umum dan majalah yang beredar di kotamu. Di situ bakal kamu temukan contoh-contoh tulisan populer yang sangat boleh jadi memberi inspirasi dalam tulisanmu.</p>
<p>Mungkin di antara kamu bertanya, gimana sih bikin tulisan yang ngepop, alias populer. Benar nggak? Iya deh, kita kasih bocorannya sekarang. Sebelumnya saya tekankan lagi bahwa setiap orang punya peluang untuk bisa menulis jenis tulisan apapun. Semua itu bergantung kepada pendalaman seseorang terhadap masalah yang dihadapinya. Juga kelihaian dalam menuangkan rangakain kata-kata tersebut dalam sebuah tulisan.</p>
<p>Ada beberapa hal yang diperlukan dalam menulis bergaya populer. Pertama, gunakan kosa kata dan istilah yang lazim dipakai oleh kebanyakan orang. Kedua, masalah yang dibahas dalam tulisanmu upayakan yang sedang menjadi pembicaraan hangat banyak orang. Atau, boleh juga masalah yang tidak mesti ngetren, tetapi masih diperlukan oleh banyak orang. Misalnya tentang maraknya tingkat kejahatan, jatuh-bangun partai politik Islam, menurunnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan dan sebagainya. Ketiga, gaya bahasa yang digunakan kudu mudah dipahami dan disesuaikan dengan sasaran pembacanya. Jadi, jika kita mau nulis ke sebuah harian umum nasional yang mayoritas pembacanya kalangan intelektual, maka gunakan bahasa populer yang cocok untuk kalangan tersebut. Begitu pun jika sasaran tulisan itu untuk remaja, gunakan gaya bahasa ‘kaumnya&#8217;.</p>
<p>Jadi, pastikan tulisan bergaya populer yang kita tulis itu enak dibaca oleh kelompok yang menjadi target sasaran kita. Jangan menganggap tingkat pemahaman kebanyakan pembaca kita sama dengan kita. Artinya, jangan sampe tulisan yang kita buat kagak nyambung dengan taraf berpikir calon pembaca utama kita. Ini yang kudu kamu hindari, sobat.</p>
<p>Tulisan bergaya populer ini bisa di-<em>mix</em> dengan ide-ide berat sekalipun. Tanpa harus membuat orang berkerut keningnya saat baca. Maka, biasanya para penulis untuk jenis tulisan populer ini lebih suka menggunakan pendekatan lewat feature (kamu buka lagi tip saya tetang tulisan <em>feature</em>). Itu akan semakin asyik punya. Membahas ‘misteri&#8217; Perang Teluk II bisa lebih enak dikaji dengan gaya tulisan populer. Ya, orang memang mudah nyetel dengan segala hal yang berbau pop. Maklum, yang ngepop adalah yang sedang menjadi pembicaraan. Kalo kita pandai memanfaatkan kondisi ini, maka tulisan bergaya populer itulah yang bakal dilalap abis sama pembaca kita. Jangan kaget kalo tulisan kamu bisa digemari pembaca.</p>
<p>Untuk membuat buku juga mudah dengan gaya populer ini. Terapkan tiga resep saya tadi, insya Allah bisa memberi jalan lempang bagi kamu dalam menulis jenis ini. Oya, kalo kamu ‘nekat&#8217; <em>van</em> berani untuk mengirimkan naskah jenis ini ke media cetak, pastikan kamu tahu siapa pembaca utama media tersebut. Kalo udah oke, mulailah menulis dengan gaya populer yang menggunakan pilihan kata dan istilah yang nyambung dengan mereka sebagai pembaca utama. Emang sih seleksi alam ya kayaknya? Itu sebabnya, maaf-maaf saja bagi mereka yang biasa membaca koran kuning (sebutan di Inggris untuk media berbau gosip), akan mental alias memantul sempurna ketika membaca media cetak yang agak serius dan dibaca kelas menengah ke atas dari segi intelektualitasnya, meskipun tema yang dibahas sama-sama yang sedang ngepop. Bisa kamu rasakan sendiri deh. Soalnya sudut pandang dan analisis serta kajian terhadap faktanya sedikit berbeda. Pilihan kata dan istilah yang digunakan juga sedikit berbeda. Boleh dicoba.</p>
<p>Sobat muda muslim, untuk judul juga jangan lupa memakai istilah yang enak dibaca. Bila perlu gaul dikit boleh deh. Oya, <em>nyang</em> gaul-gaul kayaknya cocoknya untuk remaja ya? Maklum, orang tua rata-rata nggak bisa nyetel dengan bahasa gaul. Jangan terlalu panjang. Usahakan maksimal empat kata. Misalnya, &#8220;Ada Uang di Balik Perang&#8221;, &#8220;Jatuh-Bangun Khilafah Islamiyah&#8221;, &#8220;Jakarta Makin Tak Aman&#8221;, &#8220;Turki Yang Terbelit&#8221;, &#8220;Sengsara Bersama IMF&#8221;, &#8220;PBB; Kendaraan Politik Amerika&#8221;. Untuk tulisan yang ditujukan buat remaja, kamu bisa menuliskan judul nyang enak dibaca en gaul tentunya, seperti: &#8220;Kalau Cinta Jangan Maksiat&#8221;, &#8220;Bila Kaum Jomblo Cari Jodoh&#8221;, &#8220;Yang Muda Yang Bercinta&#8221;, &#8220;Berteman Yes, Pacaran No!&#8221; dan lain sebagainya.</p>
<p>Oke deh, contoh untuk ini bisa kamu dapatkan di media cetak umum. Jangan di jurnal. Itu namanya nyari duit yang jatuh di tempat gelap, kamu nyarinya di tempat terang. <em>Welah dalah&#8230;</em> ya nggak akan ketemu <em>euy</em>. Saya sendiri waktu belajar pengen tahu jenis tulisan populer, saya sering baca aja di majalah, tabloid, dan koran. Utamanya di rubrik opini. Coba yo&#8230; <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-gaya-populer-apa-pula-itu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gimana Sih Menulis Ilmiah?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/gimana-sih-menulis-ilmiah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/gimana-sih-menulis-ilmiah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 17:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/gimana-sih-menulis-ilmiah/</guid>
		<description><![CDATA[Ilmiah? Hiii takuuut! Huss, sembarangan. Jangan dulu gugup dan ‘sutris&#8217; ya? Yup, kalo kamu sering merhatiin tulisan-tulisan di buku Kimia, Fisika, Biologi, Biokima, Teknik, dan sejenisnya yang bertabur data berupa angka-angka dan istilah yang bikin kening kita berkerut, itulah namanya tulisan bergaya ilmiah. Yang ngerti, tentu mereka yang udah biasa bergelut di bidangnya. Mahasiswa fakultas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/11/what_i_learned_from_group_writing_project.thumbnail.jpg" title="what_i_learned_from_group_writing_project.jpg" alt="what_i_learned_from_group_writing_project.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Ilmiah? Hiii takuuut! Huss, sembarangan. Jangan dulu gugup dan ‘sutris&#8217; ya? Yup, kalo kamu sering merhatiin tulisan-tulisan di buku Kimia, Fisika, Biologi, Biokima, Teknik, dan sejenisnya yang bertabur data berupa angka-angka dan istilah yang bikin kening kita berkerut, itulah namanya tulisan bergaya ilmiah. Yang ngerti, tentu mereka yang udah biasa bergelut di bidangnya. Mahasiswa fakultas kedokteran, tentu lebih banyak melahap bacaan yang berkaitan dengan istilah kedokteran, yang tentu saja sangat tidak diminati oleh mahasiswa yang doyan dengan ilmu-ilmu sosial. Nah, masalah isi yang membedakan jenis tulisan tersebut. <span id="more-737"></span>Berarti letak perbedaannya adalah dalam isi tulisan tersebut dong? Nggak salah. Itu salah satunya. Sebab, tulisan berjenis ilmiah lebih menekankan kepada pembahasan yang kaku dan cuma bisa dimengerti oleh kalangan tertentu saja. Kemudian soal gaya bahasa juga menjadi perhatian berikutnya. Coba, kamu pernah baca <em>text book</em> kan? Idih, selain bertabur data, gaya bahasa yang dipakai juga resmi banget. Lengkap dengan istilah yang sulit dimengerti dengan cepat oleh mereka yang belum akrab dengan bidang keilmuan tersebut.</p>
<p>Sobat muda, sebetulnya keterampilan menulis jenis ini sama teknik dasarnya dengan menulis lainnya. Perbedaan yang paling mendasar adalah data dan gaya bahasa yang digunakan. Benar. Kamu pernah belajar biologi di sekolah kan? Nah, waktu itu pernah juga diajarin tentang proses kegiatan ilmiah kan? Oke, itu artinya untuk membuat tulisan bergaya ilmiah ini kamu kudu ngikutin beberapa langkah pengumpulan dan penyusunan bahan tulisan. Di antaranya adalah: studi kepustakaan, perumusahn ide/permasalahan (bagian dari pengantar), perumusan hipotesis, dan perumusan hasil yang diharapkan dan analisis statistik.</p>
<p>Jangan bingung dulu sobat baca penejlasan tentang karya tulis ilmiah ini. Itu emang standar, alias aturan baku untuk nulis begituan. Emang sih, kita yang nggak nyetel banget dengan dunia seperti itu bakalan kewalahan. <em>But</em>, nggak ada salahnya dong kalo kamu mulai berkenalan sebagai tambahan wawasan. Tul nggak? Boleh jadi teori ini nyetel banget dengan teman-teman yang memang kudu menulis ilmiah. Jadi, buat teman-teman yang kuliah di S1, S2, dan S3, biasanya akan mengalami menulis model begini. Karena memang itu bagian dari tugas akademik mahasiswa yang menjalankan program-program pendidikan.</p>
<p>Oke, untuk studi kepustakaan, sebetulnya hampir sama dengan proses pengumpulan bahan tulisan untuk menulis jenis apapun. Cuma, untuk menulis ilmiah data yang diambilnya adalah data yang bertebaran dengan angka dan tabel-tabel. Nah, seperti biasa dalam standar penulisan, kamu kudu menentukan dulu topik apa yang bakal dijadiin sebagai bahan kajian. Misalnya kamu akan meneliti tentang pengaruh unsur-unsur radioaktif terhadap tubuh manusia. Nah, kalo kamu dateng ke perpustakaan modern yang berbasis komputer, kemudian kamu masukan kata kunci &#8220;radioaktif&#8221;, maka insya Allah bakalan dimunculkan ratusan atau mungkin ribuan data yang berkaitan dengan hal itu. Baik yang berasal dari tesis sebelumnya, buku-buku pendukung, juga termasuk jurnal ilmiah. Sekadar bocoran, nggak ada salahnya kalo kamu kunjungi ‘perpustakaan&#8217; dunia, yakni internet. Kamu bisa masuk ke situs www.google.com (karena situs pencari ini sampe sekarang masih terfavorit). Maklum, belum ada <em>search engine</em> secanggih ini. Wah, silakan nikmati pengalaman baru dalam menjelajah ‘perpustakaan&#8217; dunia ini. Pokoknya <em>amazing</em> <em>deh</em>. Di situ kamu cukup ketikkan kata kunci, google akan melacak seluruh situs yang memuat kata itu. Selamat bersenang-senang. J</p>
<p>Kalo udah bahan tulisannya kita dapatkan, mulailah merangkum inti tulisan atau bahasa kerennya, <em>anotated bibliography</em> dari tiap kepustakaan. Iya dong, kan nggak semua harus kita tulis plek dengan sumber tersebut. Sekadar bocoran, untuk mengerjakan ini ada baiknya kamu berkenalan dengan komputer, silakan gunakan software (piranti lunak) yang berhubungan dengan masalah ini, mudahnya kita sebut program ‘kertas indeks&#8217;. Nah, masukan deh semua ‘entry&#8217; yang diinginkan.</p>
<p>Kamu perlu memperhatikan dalam pembuatan anotasi kepustakaan yakni data-datanya kudu lengkap ditulis. Untuk buku, kamu tulis mulai dari nama pengarang, tahun terbit, judul tulisan/buku, nama penerbit, kota penerbit, edisi berapa. Bila ada kutipan, diambil dari halaman berapa. Untuk jurnal ilmiah bisa kamu masukkan data sebagai berikut; nama pengarang, tahun terbit, judul karangan, nama jurnal, nomor, volume, dan nomor halaman harus disebutkan secara lengkap dan benar.</p>
<p>Jangan salah <em>bro </em>(baca: brother-sobat), ketidaklengkapan anotasi kepustakaan bakalan bikin pusing kita di kemudian hari. Gimana nggak, seringkali mengakibatkan waktu terbuang sia-sia untuk mencari kembali kepustakaan asli saat kita memerlukan data halaman yang dikutip. Nah lho, berabe kan? Padahal, misalnya, buku itu kamu dapetin di perpus yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat tinggalmu, dan memuat ribuan buku. Kebayang kan, pas udah nyampe di perpus tersebut, kita nggak ngerti apa-apa karena datanya kurang lengkap. Gedubrak, langsung ngejoprak deh. Mungkin, kalo kamu nyarinya di internet, bisa langsung pergi ke warnet dan melacak ulang. Tapi tetep berabe kalo nggak lengkap (misalnya situs yang menampilkan data kamu lupa kamu catat. Itu sama artinya mencari jerami dalam tumpukan jarum, eh, kebalik ya?)</p>
<p>Oke deh, mungkin di antara kamu ada yang protes. Gimana bisa lengkap memasukkan data ke kertas indeks, padahal tempat tersebut terbatas. Baik. Tapi yang pasti data penting harus memuat: tujuan penelitian, jumlah bahan dan cara penelitian, hasil, penemuan penting, dan pendapat yang kita anggap penting untuk dikutip.</p>
<p>Dalam perumusan ide or permasalahan, biasanya kamu akan dilatih dalam mencermati sebuah fakta dan memberdayakan penalaran kamu untuk menjelaskannya. Sebab, di situ kamu dituntut untuk menggambarkan latar belakang sampe timbulnya masalah. Nah, perumusan permasalahan memuat alasan mengapa penelitian perlu dilakukan, dan biasanya dikemukakan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan.</p>
<p>Untuk perumusan hipotesis, kamu kudu mencari data-data dari penelitian terdahulu. Dan ini memungkinkan untuk berbeda-beda. Tapi jangan kaget, sangat boleh jadi ini akan melengkapi data untuk tulisanmu. Nah, ada rambu-rambu untuk merumuskan hipotesis. Di antaranya adalah bebas dari arti ganda, mengungkapkan antara dua variabel atau lebih, dan berimplikasi tes empirik. Nah, bingung kan? He..he..he.. jangan tegang dong. Sederhananya begini deh, tidak boleh berarti ganda artinya kamu tidak menemukan data yang bertolak-belakang. Jadi kudu sama. Searti. Maksud mengungkapkan dua variabel atau lebih itu adalah data-data pendukung yang menjelaskan tentang fakta yang kamu teliti. Misalnya kalo kamu menulis tentang pengaruh unsur-unsur radioaktif dalam tubuh manusia, kamu bisa mencari data-data yang menjelaskan tentang pengaruh tersebut. Dan itu bisa banyak bukan? Nah, cari deh soal itu. Mengenai perumusan hiptesis yang berimplikasi tes empirik itu artinya kamu kudu melihat hasil perbandingan dari semua ujicoba yang pernah dilakukan sebelumnya. Paham kan?</p>
<p>Tentang perumusan hasil, enaknya kamu buat dalam usulan/proposal penelitian. Ada gunanya lho, yakni untuk mempersiapkan, memperbaiki, menambah dan mengurangi variabel yang akan dikumpulkan selama penelitian. Nah, <em>nyang</em> paling oke, perumusan hasil itu kamu buat dalam bentuk tabel. Kata pepatah, sebuah tabel lebih berharga daripada seribu kata-kata. Tentunya tabelnya juga kudu mewakili dong. Kalo nggak? Wah, seperti melihat peta buta.</p>
<p><strong>Yang <em>kudu</em> diperhatikan</strong></p>
<p><em>            </em>Dalam pengantar, paling nggak kamu kudu menuliskan:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>sifat, skop (ruang-lingkup), dan tujuan      penelitian</li>
<li>tinjauan pustaka yang relevan dengan      permasalahan</li>
<li>cara penelitian</li>
<li>hasil utama penelitian (ditambahkan setelah      penelitian selesai) dan manfaat penelitian.</li>
</ol>
<p>Bahan dan cara, kamu kudu menyertakan:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>sampel, jumlah sampel, dan karakteristiknya      (misalnya: umur, jenis kelamin, dll)</li>
<li>keterbatasan pengambilan sampel (kalo ada      tentunya)</li>
<li>uraian prosedur detail penelitian (ini      bermanfaat supaya penelitian bisa diulang oleh peneliti lain).</li>
</ol>
<p>Dalam hasil, kamu harus menuliskan:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>karakteristik sampel</li>
<li>pemaparan hasil (harus menggunakan      variabel-variabel yang digunakan sebagai alat untuk menjawab permasalahan      penelitian).</li>
</ol>
<p>Pembahasan kamu kudu meliputi:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>tinjauan penemuan-penemuan penting penelitian</li>
<li>pertimbangan penemuan-penemuan dalam kaitannya      dengan penelitian terdahulu yang relevan</li>
<li>implikasi penemuan terhadap teori</li>
<li>pemeriksaan yang hati-hati terhadap hasil      yang tidak mendukung atau hanya sebagian yang mendukung hipotesis</li>
<li>keterbatasan-keterbatasan studi yang mungkin      berakibat pada kesimpulan dan generalisasi studi</li>
<li>rekomendasi untuk penelitian selanjutnya</li>
<li>implikasi studi untuk praktisi atau studi      terapan (opsional aja, nggak harus).</li>
</ol>
<p>Kesimpulanmu kudu memberi gambaran:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>menyatakan kembali tesis secara singkat</li>
<li>meringkas interpreatasi hasil dan membahasnya      dalam konteks teoritis yang lebih luas</li>
<li>pendek dan langsung ke sasaran</li>
<li>menjelaskan manfaat khusus dan umum hasil      studi</li>
<li>menuju ke kata-kata penutup (jadi jangan      sampe bikin kata-kata yang malah membuka kembali pembahasan..he..he..he..      bisa berabe tuh!).</li>
</ol>
<p>Dalam abstraksi (ikhtisar atau ringkasan) yang kudu ditulis adalah:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>problem penelitian</li>
<li>subjek penelitian</li>
<li>metode dan prosedur penelitian (kalo kamu menuliskan      dalam bahasa Inggris, dibuat dalam <em>past tense</em>)</li>
<li>hasil penelitian</li>
<li>kesimpulan dan implikasi studi (kalo kamu      menuliskannya dalam bahasa Inggris, pastikan dibuat dalam <em>Present tense</em>).      Tambahan, untuk desertasi panjangnya 150 kata. Oke?</li>
</ol>
<p>Judul tulisan kudu:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>memuat kata-kata kunci penting yang mewakili      isi tulisan (contoh: &#8220;Tuberkulosis pada masyarakat Indian kuno: Analisi      DNA&#8221;. Tapi judul juga jangan terlalu panjang; misalnya &#8220;Seks bebas di      kalangan anak-anak remaja di Jakarta dan      pengaruhnya terhadap konsentrasi siswa, mata pelajaran, kenaikan kelas, dan      kehidupan bergama&#8221;      Walah, itu mah bisa semeter lebih atuh. He..he..he. itu judul itu kamu      bisa diperpendek menjadi &#8220;Seks bebas di kalangan remaja Jakarta dan pengaruhnya terhadap prestasi      akademik dan kehidupan beragama&#8221;</li>
<li>lepas dari kata-kata berulang yang tidak      menyumbangkan makna isi penelitian</li>
<li>mengandung sebanyak-banyaknya 12-15 kata      kunci yang merupakan rangkuman ide utama.</li>
</ol>
<p>Dalam ucapan terima kasih, kamu bisa menuliskan:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>pihak-pihak yang membantu penelitian dalam      hal: penyediaan daftar pustaka, organisasi ide dan penulisan, penyediaan      bahan dan alat, dan proses penelitian itu sendiri (bisa individu,      institusi, atau organisasi). Juga, sebagai yang pertama dan utama, adalah      kepada Allah Swt. yang telah memberikan kemudahan kita dalam membuat      penelitian tersebut. Betul?</li>
<li>sumber dana penelitian: nama/jenis dana,      nomor (bila ada), dan tahun penerimaan dana.</li>
</ol>
<p>Aturan penulisan efektif pada tingkat kalimat:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>tunjukkan tindakan penting dengan kata kerja,      bukan kata benda</li>
<li>letakkan pelaku sebagai subjek dari kata      kerjanya</li>
<li>letakkan informasi yang lebih singkat sebelum      informasi yang panjang an kompleks</li>
<li>letakkan infromasi yang udah akrab dan      berulang pada awal kalimat</li>
<li>letakkan pula informasi baru dan tidak      terduga pada akhir kalimat</li>
<li>desain tali topik kalimat supaya membentuk      pandangan yang koheren (saling berhubungan) dan konsisten.</li>
</ol>
<p>Penulisan efktif dalam paragraf:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>buatlah semacam desain <em>issue</em> (pokok      persoalan) yang jelas pada bagian akhir di mana kamu memperkenalkan      tali-temali tema, istilah kerennya <em>thematic strings</em></li>
<li>rumuskan maksud-maksud kalimat (<em>point      sentence</em>) yang tepay untuk setiap unit tulisan (<em>discourse</em>)</li>
<li>biasakan untuk memperlihatkan maksud paragraf      (<em>paragraph point</em>) di bagian akhir pokok bahasan (pada awal      paragraf), dan jangan terlalu sering memaparkannya di bagian akhir diskusi      (di akir paragraf).</li>
</ol>
<p>Untuk daftar pustaka bisa kamu tuliskan (catatan: penulisan ditulis berurutan):</p>
<ol start="1" type="a">
<li><em>Sistem Harvard</em>: nama pengarang, tahun di dalam tanda      kurung, judul karangan, nama jurnal dan volume/nomor, sertakan nomor      halaman, (<em>plus</em>, nama penerbit dan kota di mana diterbitkan bila sumbernya      buku).</li>
<li><em>Sistem Vancouver</em>: nama pengarang, judul karangan, nam jurnal,      tahun tanpa tanda kurung, volume/nomor, dan nomor halaman jurnal, (<em>plus</em>,      nama penerbit dan kota      di mana diterbitkan bila sumbernya buku).</li>
<li><em>Sistem alfabetik</em>: nama pengarang, judul karangan, nama      jurnal, volume/nomor, dan nomor halaman jurnal, tahun tanpa tanda kurung,      (juga penerbit dan kota      di mana diterbitkan jika sumbernya buku).</li>
</ol>
<p>Tabel yang kamu buat harus:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>judul tabel harus ada</li>
<li>nomor tabel juga kudu ada dong</li>
<li>diletakkan segera setelah disebut dalam teks</li>
<li>harus disebut di dalam teks</li>
<li>format tabel yang satu dengan yang lain harus      konsisten</li>
<li>satuan harus disebutkan</li>
<li>singkatan harus diterangkan kepanjangannya      dalam catatan di bawah tabel</li>
<li>judul lajur dan baris harus mewakili variabel      yang diukur pada lajur dan baris</li>
<li>bilangan desimal dari atas ke bawah harus      konsisten (jika dua angka di belakang koma, semuanya sama).</li>
</ol>
<p>Untuk gambar/grafik, perlu diperhatikan hal-hal berikut:</p>
<ol start="1" type="a">
<li>nomor dan judul gambar harus ada</li>
<li>sumbu vertikal dan horisontal pada grafik      kudu diberi nama</li>
<li>satuan ukuran pada masing-masing sumbu harus      dicantumkan</li>
<li>keterangan gambar dibuat seringkas mungkin,      sedangkan penjelasan lengkap dijelaskan di dalam teks</li>
<li>diletakkan segera setelah disebut dalam teks</li>
<li>harus disebut dalam teks.</li>
</ol>
<p>Halo..halo&#8230; masih baca <em>neh</em>? He..he.. jangan langsung <em>ngejoprak</em> baca tip ini ya? Emang sih, bagi kamu yang <em>nggak</em> biasa dengan model tulisan begini, biasanya langsung keluar ‘asap&#8217; dari ubun-ubunmu. <em>Ngebul bo..!</em> <em>But</em>, jangan keburu <em>sutris</em>, suatu saat kamu yang menempuh jenjang akademik lebih tinggi akan kamu dapatkan juga. Tetap menyenangkan <em>kok</em> menulis karya ilmiah. Jadi, <em>nggak</em> ada salahnya kamu pelajari jenis tulisan ini. Meski tentu dalam tip singkat seperti yang saya tulis ini. Ini saya buat sebagai ‘pemancing&#8217; aja bagi para pemula agar mau menulis. Apa pun jenis tulisannnya. Nah, <em>kalo</em> <em>pengen</em> lebih jelas dalam masalah penulisan karya ilmiah ini, silakan baca buku yang khusus membahas tentang penulisan karya ilmiah secara lengkap. Oke? Silakan dicoba dan dipraktikkan. Tetap semangat! <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]  </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/gimana-sih-menulis-ilmiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Hasil Wawancara</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-hasil-wawancara</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-hasil-wawancara#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 20:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menulis-hasil-wawancara/</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya nggak terlalu beda jauh, antara menulis berita, feature, dengan hasil wawancara. Cuma, kayaknya yang membuat beda itu adalah bagaimana merangkum semua hasil ‘obrolan&#8217; kita dengan narasumber yang kita wawancarai. Untuk bisa menuliskan hasil wawancara dengan oke dan enak dibaca, ada beberapa tahapan yang kudu diperhatikan sebelum melakukan wawancara. Sebab, melakukan wawancara adalah satu bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/wawancara.thumbnail.jpg" title="wawancara.jpg" alt="wawancara.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Sebenarnya nggak terlalu beda jauh, antara menulis berita, feature, dengan hasil wawancara. Cuma, kayaknya yang membuat beda itu adalah bagaimana merangkum semua hasil ‘obrolan&#8217; kita dengan narasumber yang kita wawancarai. Untuk bisa menuliskan hasil wawancara dengan oke dan enak dibaca, ada beberapa tahapan yang kudu diperhatikan sebelum melakukan wawancara. Sebab, melakukan wawancara adalah satu bagian dalam proses penggalian bahan tulisan. Kita harus bisa mengeksplorasi seluruh kemampuan kita untuk menggali ide-ide yang tertanam dalam benak narasumber kita. Apalagi, jika narasumber yang kita wawancara termasuk tokoh penting dan udah ngetop di kalangan banyak orang. <span id="more-713"></span></p>
<p>Nah, ada beberapa persiapan awal sebelum wawancara yang bisa kamu lakukan. Pertama, menentukan topik. Jelas dong, jangan sampe kamu datang ke narasumber dengan ‘kepala kosong&#8217;. Ini bakalan menjadi blunder buat kamu yang nekat datang tanpa menentukan topik wawancara. Bukan hanya narasumber yang bakalan bingung, tapi kamu juga akhirya cuma bengong. Sama halnya dengan kalo kamu naik panggung untuk ngisi presentasi, tapi dengan ‘kepala kosong&#8217;. Hasilnya, mudah ditebak, kamu bingung! Tul nggak? Kata William Shakespeare, &#8220;Barangsiapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun dengan kehinaan,&#8221; Walah?</p>
<p>Sobat muda muslim, langkah kedua dalam persiapan melakukan wawancara adalah menyiapkan ‘pertanyaan jitu&#8217;, ada sebagian wartawan menyebutnya ‘pertanyaan peluru&#8217; (<em>loaded question</em>). Ini akan menentukan tingkat kemampuan si pewawancara. Bahkan sangat boleh jadi akan menghasilkan isi wawancara yang berbobot. Apalagi tokoh yang kita wawancarai memang terkenal dan berpengaruh. Tapi harap diingat dong, bahwa jangan sampe kita terpaku kepada rumusan pertanyaan yang udah kita buat. Itu bisa menjebak kita nantinya dalam kekakuan. Tapi, pastikan bahwa kamu dapat mengembangkan pertanyaan lain saat wawancara terjadi. Jadi bisa bersumber dari pertanyaan narasumber.</p>
<p>Nah, sekarang kita belajar menuliskan hasil wawancara. Untuk mendapatkan tulisan berupa wawancara yang baik, tentunya kita kudu mendapatkan sedetil-detilnya segala macam yang ‘melekat&#8217; pada narasumber. Setelah melakukan wawancara, biasanya ada kesempatan untuk rileks. Nah, di situlah kamu bisa tanya ‘ini-itu&#8217; dari narasumber; misalnya warna favoritnya, olahraga kesukaannya, makanan kesukaannya, tokoh idolanya, pendidikannya, keluarganya, aktivitasnya, pengalaman-pengalaman unik yang dialaminya, dsb. Dengan catatan, jika wawancara ini bersifat ‘eksklusif&#8217;, yakni cuma kamu, atau media tempat kamu kerja aja yang melakukan wawancara dengan narasumber tersebut. Kalo wawancara sambil lalu, maka untuk mendapatkan detil dari yang ‘melekat&#8217; pada dirinya, kamu bisa baca via sumber lain yang menceritakan narasumber tersebut. Jadi tenang aja, apalagi jika media massa tempat kamu kerja punya dokumentasi lengkap, maka akan mudah untuk berkreasi dalam menulis hasil wawancaramu.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita juga bisa ‘memodifikasi&#8217; tulisan wawancara. Tujuannya supaya pembaca enak untuk menyimaknya. Misalnya begini. Dalam kenyataan saat wawancara, kita mengajukan pertanyaan yang adakalanya panjang banget kan? Biasanya itu dilakukan untuk memperjelas maksud. Nah, dalam tulisan hasil wawancara, tidak perlu ditulis semua pertanyaan kita sesuai rekaman di kaset. Kamu bisa memotongnya dengan tanpa mengurangi maksud dari pertanyaan. Contoh: <em>&#8220;Bapak bisa jelaskan masalah yang menimpa anak muda sekarang, misalnya dalam masalah pergaulan?&#8221;</em> Ini yang kita ucapkan kepada narasumber. Tapi, dalam tulisan hasil wawancara, kita persingkat saja jadi begini, <em>&#8220;Bisa dijelaskan pergaulan remaja sekarang?&#8221;</em> Lebih hemat kan?</p>
<p>Bisa juga ‘modifikasi&#8217; itu kita lakukan dalam ‘membagi&#8217; jawaban narasumber ke dalam beberapa bagian ‘pertanyaan buatan&#8217; kita. Ini terjadi jika jawaban narasumber kelewat panjang. Nah, supaya pembaca nggak jenuh dengan panjangnya jawaban, maka kita buatkan ‘pertanyaan pembantu&#8217; untuk membagi jawaban tersebut. Tentu dengan tidak menghilangkan maksud dari jawaban narasumber dong. Sekali lagi, ini sekadar mengatasi kejenuhan pembaca.</p>
<p>Terus, yang bisa kita lakukan dalam menulis hasil wawancara adalah mengkreasikan data-data. Supaya tambah ciamik, maka dalam tulisan itu, kita selipkan profil narasumber. Misalnya, <em>&#8220;Bapak sembilan anak yang rajin membaca buku ini, terlihat masih segar di usia tuanya. Setiap hari, ia berkeliling komplek perumahan untuk sekadar berolaharga jalan kaki kesukaannya. Suami dari &#8230;.. (sebutkan nama istrinya) kelahiran Jakarta 50 tahun silam itu kini aktif sebagai pengurus Partai &#8230;. (sebutkan nama partai tempat ia bergabung dan jabatannya)&#8221;</em></p>
<p>Kamu bisa buat tulisan tambahan seperti itu sekitar 3 buah. Boleh juga dipadu dengan biodata singkatnya yang ditulis dalam sebuah kertas (minta saja bagian tataletak untuk men-scan kertas tersebut untuk diselipkan dalam lay-out rubrik wawancara tersebut). Pokoknya, buatlah semenarik mungkin hasil kreasimu. Tiap wartawan biasanya punya kreasi tersendiri. Selama itu memang menarik, kenapa tidak? Tul nggak?</p>
<p>Tulisan hasil wawancara akan lebih menarik jika kamu pandai mengolah kata, gabungkan dengan tip yang sudah saya sampaikan di awal; membuat judul, hemat kata, dan tentunya kaya dengan kosakata. Ditanggung antimanyun deh.</p>
<p>Oke, sekarang mulailah menyiapkan segalanya untuk wawancara. Sudah siap? Yup, sebelum lupa, yang penting lagi sebelum melakukan wawancara adalah mental. Selain kudu percaya diri, kamu juga ‘wajib&#8217; punya mental juara. Sebab, adakalanya narasumber itu ‘ngerjain&#8217; kita. Saya dan seorang teman pernah melakukan wawancara dengan Pak Amien Rais (waktu itu masih Ketua PP Muhammadiyah). Wuih, sampe empat kali bolak-balik Bogor-Jakarta. Jadi, nggak mesti sekali jadi. Maklumlah tokoh penting. Akhirnya dapet juga, meski dengan susah payah. Kejar terus sampe dapet! Ayo&#8230;kamu pasti bisa! <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-hasil-wawancara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Tulisan Feature</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/membuat-tulisan-feature</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/membuat-tulisan-feature#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2007 12:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/membuat-tulisan-feature/</guid>
		<description><![CDATA[Nah, setelah kamu tahu apa itu feature, sekarang kita masuk ke teknik membuat tulisan berjenis feature ini. Sebetulnya hampir sama dengan teknik menulis artikel lainnya, hanya saja dalma menulis feature kita dituntut untuk lebih ‘menyentuh&#8217; dan memberikan nuansa lain dari sekadar sebuah berita. Itu sebabnya, feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/writing450.thumbnail.jpg" title="writing450.jpg" alt="writing450.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Nah, setelah kamu tahu apa itu feature, sekarang kita masuk ke teknik membuat tulisan berjenis feature ini. Sebetulnya hampir sama dengan teknik menulis artikel lainnya, hanya saja dalma menulis feature kita dituntut untuk lebih ‘menyentuh&#8217; dan memberikan nuansa lain dari sekadar sebuah berita. Itu sebabnya, feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita. <span id="more-711"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan feature ini, adalah lead yang menarik (kita kan pernah belajar ya? Coba deh tengok lagi tip sebelumnya&#8230;). Nah, lead dalam feature inilah yang sepertinya penting, meski bukan pokok memang. Bahkan jangan lupa, selain lead, kamu juga kudu membuat tubuh dan endingnya dari tulisan tersebut. Sangat boleh jadi ‘ending&#8217; sebuah feature sama pentingnya dengan lead. Jadi kudu menarik dan menggoda pembaca. Misalnya memberikan kesimpulan atau mungkin ada ‘celetukan&#8217; atau sindiran yang menggoda pembaca. Di sinilah editor biasanya paling pusing untuk memotong tulisan jenis feature, nggak gampang lho. Sama sulitnya dengan ‘mengobrak-abrik&#8217; naskah cerpen. Kenapa? Karena semua bagian dalam feature itu penting. Itu saja.</p>
<p>Nah, harus diakui bahwa yang terpenting dalam pembuatan tulisan berjenis feature ini adalah lead. Kekuatannya ada di sana. Lead ibarat pembuka jalan. Jadi kudu benar-benar menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca untuk terus membaca. Sebab, gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa ogah meneruskan membaca. Nah, gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu sebabnya, penulis feature kudu pinter betul menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara memancing itu haruslah jitu. Memang sih, nggak ada teori yang baku tentang menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan. Saya modifikasi dari perkembangan yang saya lihat di berbagai media massa dan sedikit teori umum tentang itu. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead bisa disebutkan sebagai berikut:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lead Ringkasan:</strong></p>
<p>Lead ini hampir mirip dengan berita biasa, bedanya, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang. Misal: <em>Usia tua bukan halangan bagi Bu Maryam untuk tetap bertahan jualan gado-gado di kantin sekolah kita. Ia, dengan semangat tinggi bertekad menghidupi anaknya agar bisa sekolah seperti yang lain. </em>Dan seterusnya&#8230;. Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah penjual makanan bernama Bu Maryam yang sudah tua.</p>
<p><strong>Lead Bercerita:</strong></p>
<p>Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya. Misal: <em>Anak berseragam putih-abu itu menenteng balok kayu. Sorot matanya tajam bagai elang mengincar mangsanya. Sejurus kemudian ia memberi komando untuk menyerang lawannya dari sekolah lain. Tawuran pun tak bisa dihindari lagi. Warga sekitar kejadian, yang kebanyakan ibu-ibu ketakutan menyaksikan drama itu&#8230;</em> Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang maraknya tawuran pelajar yang selama ini selalu bikin resah.</p>
<p><strong>Lead Deskriptif:</strong></p>
<p>Lead ini menceritakan gambaran kepada pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Penulis yang hendak menulis profil seseorang, biasanya seneng banget bikin lead kayak begini. Misal: <em>Sesekali wanita tua itu mengelap keringatnya yang mengucur dengan ujung kebayanya, ia terus mengulek bumbu pecel. Sementara anak-anak sekolah sibuk berebutan membeli gorengan di kantin sekolah itu. Meski banyak anak yang suka curang dengan tidak membayar dagangannya, Bu Maryam tak pernah ambil pusing, &#8220;Mungkin dia tidak punya uang&#8221;, katanya suatu saat&#8230;..</em> dst&#8230;.Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Bu Maryam yang bak pelangi.</p>
<p><strong>Lead Pertanyaan: </strong></p>
<p>Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru. Misal: <em>Untuk apa mereka berjihad ke Irak? Memang ada yang sinis dengan dibukanya pendaftaran relawan untuk berjihad ke Irak, menyusul invasi AS dan sekutunya ke negeri seribu satu malam itu 20 Maret lalu. Bahkan pemerintah pun menanggapi dingin rencana tersebut bahkan ada yang pejabat yang mengatakan &#8220;konyol&#8221; terhadap rencana tersebut&#8230;</em>dst&#8230;.Pembaca kemudian disuguhi feature tentang rencana relawan yang akan berjihad ke Irak.</p>
<p><strong>Lead Nyentrik:</strong></p>
<p>Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya. Misal:</p>
<p><em>Hancurkan Amerika! </em></p>
<p><em>Tangkap Bush! </em></p>
<p><em>Bush Teroris!</em></p>
<p><em>Tegakkan Khilafah </em></p>
<p><em>Hancurkan demokrasi! </em></p>
<p><em>Teriakan itu bersahut-sahutan dari ribuan pendemo di depan Kedubes AS dalam unjuk rasa menentang invasi AS dan sekutunya ke Irak &#8230;.</em> dst&#8230;. Pembaca akan disuguhi feature tentang tuntutan para pengunjuk rasa tersebut.</p>
<p><strong>Lead Menuding: </strong></p>
<p>Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata &#8220;Anda&#8221; atau &#8220;Saudara&#8221; (bisa juga Kamu). Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan. Misal: <em>Kamu jangan bangga dulu punya HP oke. Meski kemana-mana nenteng ponsel yang fiturnya seabrek, boleh jadi kamu buta tentang teknologi telgam ini  </em> dst&#8230;.</p>
<p><strong>Lead Kutipan:</strong></p>
<p>Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise. Misal: <em>&#8220;Saya akan terus berjuang sampai titik darah yang penghabisan. Lebih baik mati daripada menanggung derita karena dijajah Israel,&#8221;  kata seorang pemuda Palestina dengan lantangnya saat membakar bendera Israel di Tepi Barat dalam sebuah demonstrasi yang digelar ratusan pejuang Palestina itu&#8230; </em>dan seterusnya. Pembaca kemudian digiring pada kisah perjuangan rakyat Palestina.</p>
<p><strong>Lead Gabungan:</strong></p>
<p>Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi. Misal: <em>&#8220;Saya tak pernah merasa gentar menghadapi serbuan AS dan sekutunya&#8221; kata Saddam Husein dalam pidato yang berapi-api itu. Ia tetap tersenyum cerah dan melambai-lambaikan tangannya di hadapan ribuan rakyat Irak di sela-sela pidatonya itu&#8230;. </em>Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan. Coba ya&#8230;</p>
<p>Nah, setelah kita membuat lead, jangan lupa membuat isinya, yakni yang disebut dengan &#8220;Batang Tubuh&#8221;. Lead yang menarik, tentu kudu didukung dengan batang tubuh yang oke juga. Tapi yang jelas fokus cerita jangan sampai menyimpang. Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek (lihat tip ke-8, &#8220;Hindari Kalimat Raksasa&#8221;). Terus deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil) mutlak untuk pemanis sebuah feature.</p>
<p>Kalau dalam berita, cukup ditulis begini: <em>Bu Maryam penjual makanan yang sabar di kantin sekolah kita</em>. Paling hanya dijelas kan sedikit soal Bu Maryam. Tapi dalam feature, kamu dituntut lebih banyak. Profil lengkap Bu Maryam diperlukan, agar orang bisa membayangkan. Tapi tak bisa dijejal kayak begini: <em>Bu Maryam, penjual makanan di kantin sekolah kita, yang sudah tua dan menjanda, umurnya 50 tahun, anaknya 6, rumahnya di Tanah Abang, tetap sabar.</em> Walah, itu mah kurang greget atuh. He..he..</p>
<p>Kamu kudu memecah data-data itu. Misalnya, alenia pertama cukup ditulis: <em>Bu Maryam, 50 tahun, penjual yang sabar.</em> Lalu jelaskan tentang contoh kesabarannya. <em>Bu Maryam yang sudah tua tak kenal lelah berjualan, untuk menghidupi keenam anaknya yang sebagian masih berusia remaja. </em>Di bagian lain bisa ditulis<em>: &#8220;Demi anak-anak, saya rela membanting tulang kerja keras&#8221; kata wanita yang ditinggal mati suaminya 10 tahun lalu dan kini tinggal di sebuah rumah di kawasan Tanah Abang.</em> Dan seterusnya.</p>
<p>Anekdot perlu juga untuk sebuah feature. Tapi jangan mengada-ada dan dibikin-bikin ya? Jadi nggak menarik nantinya. Kutipan ucapan juga penting, agar pembaca tidak jenuh dengan suatu reportase. Nah, detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul dan kapan tidak. Misalnya, <em>Bis itu masuk jurang dengan kedalaman 15 meter lebih 40 centi 8 melimeter&#8230;,</em> apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 15 meter.</p>
<p>Beda dengan yang ini: <em>Gol kemenangan Juventus dicetak Pavel Nedved pada menit ke 44,</em> ini penting. Sebab nggak bisa disebut sekitar menit ke 45. Kenapa? Karena menit 45 sudah setengah main. Dalam olahraga sepakbola, menit ke 41 beda jauh dengan menit ke 35. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak bedanya dengan 10.24 detik. Belum lagi ngitung waktu dalam arena balapan F1, seper sekian detik juga akan diperhitungkan. Tul nggak?</p>
<p><strong>            </strong>Oya, ‘kecanggihan&#8217; lead dan batang tubuh nggak bakalan sempurna kalo nggak ada ‘ending&#8217; (penutup). Kalo dalam berita malah tidak ada penutup. Untuk feature paling nggak ada empat jenis penutup. Pertama, penutup &#8220;Ringkasan&#8221;. Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead. Kedua, penutup &#8220;Penyengat&#8221;. Jadi, membuat pembaca kaget karena sama sekali tak diduga-duga. Misalnya, menulis feature tentang gembong pelaku curanmor yang berhasil ditangkap setelah melakukan perlawanan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas polisi sudah datang, dan sang penjahat itu pun sudah menghuni sel tahanan. Tapi, ending feature adalah: <em>Esok harinya, penjahat  itu telah kabur kembali.</em> He..he..he..</p>
<p>Ketiga, penutup &#8220;Klimak&#8221;. Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Keempat, penutup &#8220;Tanpa Penyelesaian&#8221;. Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan. Misalnya: <em>Entah sampai kapan perang AS-Irak ini akan berakhir.</em></p>
<p>Yup, ini sekilas aja tentang teknik penulisan feature. Kamu bisa mencari ide untuk bahan penulisan dari kehidupan sehari-hari, berita aktual, kehidupan seseorang, dan peristiwa lainnya. Sebab, yang terpenting ada <em>newspeg, </em>alias cantelan berita, karena feature bukan fiksi. Ia fakta yang ditulis dengan gaya mirip fiksi. Banyak hal yang bisa ditulis dengan gaya feature. Buat menambah wawasan dan mengasah keterampilanmu, seringlah membaca tulisan orang lain dengan gaya penulisan feature. Pelajari, dan buatlah dengan gaya bahasamu. Sip kan? Ditanggung antimanyun deh. Selamat mempraktikkan <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/membuat-tulisan-feature/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>‘Bermesraan&#8217; dengan Feature</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/%e2%80%98bermesraan-dengan-feature</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/%e2%80%98bermesraan-dengan-feature#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Oct 2007 12:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/%e2%80%98bermesraan-dengan-feature/</guid>
		<description><![CDATA[Harap jangan kaget dulu dengan judul tip berikut ini. Selain untuk menggairahkan semangat kamu dalam membaca tip ini, juga ingin menjelaskan bahwa jenis tulisan feature paling banyak disukai para wartawan. Bener lho. Itu sebabnya, kalo seorang wartawan diminta untuk memaparkan sebuah peristiwa dengan gaya penulisan feature biasanya paling sregep deh. Bukan apa-apa, sebab dalam tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/studentswriting.thumbnail.jpg" title="studentswriting.jpg" alt="studentswriting.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Harap jangan kaget dulu dengan judul tip berikut ini. Selain untuk menggairahkan semangat kamu dalam membaca tip ini, juga ingin menjelaskan bahwa jenis tulisan <em>feature</em> paling banyak disukai para wartawan. Bener lho. Itu sebabnya, kalo seorang wartawan diminta untuk memaparkan sebuah peristiwa dengan gaya penulisan <em>feature</em> biasanya paling <em>sregep</em> deh. Bukan apa-apa, sebab dalam tulisan jenis ini, wartawan dirangsang untuk mengeksplorasi sudut-sudut <em>human interest</em>-nya. Misalnya saja ketika memberitakan peristiwa kebakaran di Pasar Tanah Abang beberapa waktu yang lalu, kita tidak hanya bicara tentang peristiwa kebakarannya, tapi kita sisipkan juga berita tentang nasib seorang pedagang yang barang dagangannya ludes dilalap si jago merah. Itu akan lebih memberikan sentuhan tersendiri bagi si pembaca. Tentu, untuk membuatnya menarik, kudu ditulis dengan gaya penulisan <em>feature</em>. <span id="more-709"></span></p>
<p>BTW, dari tadi ngomongin feature, definisinya apa sih? He..he..he.. oke deh, sebenarnya rada sulit kalo kudu menjelaskan definisi mutlak tentang feature. Tapi, saya coba jelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan <em>feature</em> ini. Saya kutipkan pendapatnya Kang Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya &#8220;Jurnalistik Praktis&#8221;, dikatakan bahwa batasan pengertian (definisi) feature, para ahli jurnalistik belum ada kesepakatan. Masing-masing ahli memberikan rumusannya sendiri tentang feature. Jadi, tidak ada rumusan tunggal tentang pengertian feature. Yang jelas, feature adalah sebuah tulisan jurnalistik juga, namun tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W + 1 H dan bisa dibedakan dengan <em>news</em>, artikel (opini), kolom, dan analisis berita. &#8220;Kita punya kisah atas fakta-fakta telanjang,&#8221; kata William L Rivers, &#8220;dan itu kita sebutkan sebagai ‘berita&#8217;. Disamping berita kita jumpai lagi tajuk rencana, kolom, dan tinjauan, yang kita sebutkan ‘artikel&#8217; atau ‘<em>opinion pieces&#8217;.</em> Sisanya yang terdapat dalam lembaran surat kabar, itulah yang disebutkan karangan khas (feature).</p>
<p>Kang Asep Syamsul M. Romli menjelaskan pula bahwa dari sejumlah pengertian feature yang ada, dapat ditemukan beberapa ciri khas tulisan feature, antara lain:</p>
<ol start="1" type="1">
<li><em>Mengandung segi </em>human interest</li>
</ol>
<p>Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi-menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi <em>human interest</em> atau <em>human touch</em>-menyentuh rasa manusiawi. Karenanya, feature termasuk kategori <em>soft news</em> (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi. Berbeda dengan <em>hard news</em> (berita keras), yang isinya mengacu kepada dan pemahamannya lebih banyak menggunakan pemikiran.</p>
<ol start="2" type="1">
<li><em>Mengandung unsur sastra</em></li>
</ol>
<p>Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi. Karenanya, tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novel-bacaan ringan dan menyenangkan-namun tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature pada prinsipnya adalah seorang yang sedang bercerita.</p>
<p>Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Ia menjadi bagian dari pemenuhan fungsi menghibur (<em>entertainment</em>) sebuah surat kabar.<br />
<strong>Jenis-Jenis Feature</strong></p>
<p><strong>            </strong>Kamu kudu ngeh juga dong dengan jenis-jenis <em>feature</em>, di antaranya adalah:</p>
<ol start="1" type="a">
<li><em>Feature</em> berita yang lebih banyak mengandung unsur      berita, berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian      khalayak. Biasanya merupakan pengembangan dari sebuah <em>straight news</em>.      Misalnya, menulis berita tentang persiapan penyerangan AS ke Irak. Untuk      menulis berita tersebut yang kental unsur <em>feature</em>-nya, bisa cerita      tentang kondisi para serdadu AS yang dikirim ke kawasan Teluk, kekuatan      mesin-mesin perang AS dan Irak, atau bisa juga bercerita tentang keluarga      tentara yang ditinggalkan, bisa juga berkisah tentang rakyat Irak yang      menghadapi rencana serangan Amrik tersebut. Banyak hal yang bisa ditulis.</li>
<li><em>Feature</em> artikel yang lebih cenderung segi sastra.      Biasanya dikembangkan dari sebuah berita yang tidak aktual lagi atau      berkurang aktualitasnya. Misalnya, tulisan mengenai suatu keadaan atau      kejadian, seseorang, suatu hal, suatu pemikiran, tentang ilmu pengetahuan,      dan lain-lain yang dikemukakan sebagai laporan (informasi) yang dikemas      secara ringan dan menghibur. Misalnya, menulis tentang kondisi kaum      muslimin di berbagai belahan dunia. Sebagai contoh, bolehlah kamu baca jenis      tulisan feature tentang itu di buku &#8220;Denyut Islam di Eropa&#8221; yang      diterbitkan oleh Republika. Di situ memuat banyak tulisan jenis <em>feature</em>      (sebelumnya pernah dimuat di harian tersebut dalam rubrik <em>Dunia Islam</em>)      yang cukup bagus, karena dikemas dengan gaya jurnalistik yang memikat.      Buku-buku biografi juga lebih asyik ditulis dengan jenis <em>feature</em>      ini.</li>
</ol>
<p>Oke deh, sekarang kita bahas berdasarkan tipenya. Untuk persoalan ini, feature dapat dibedakan menjadi (ini saya ‘modifikasi&#8217; dari tulisannya Kang Asep Syamsul M. Romli):</p>
<ol start="1" type="a">
<li>Feature <em>human interest</em>      (langsung sentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan atau kebencian,      simpati, dan sebagainya). Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah      sakit, kehidupan seorang petugas kebersihan di jalanan, liku-liku      kehidupan seorang guru di daerah terpencil, suka-duka menjadi dai di      wilayah pedalaman, atau kisah seorang penjahat yang dapat menimbulkan      kejengkelan.</li>
<li>Feature <em>pribadi-pribadi menarik</em>      atau feature <em>biografi</em>. Misalnya, riwayat hidup seorang tokoh yang      meninggal, tentang seorang yang berprestasi, atau seseorang yang memiliki      keunikan sehingga bernilai berita tinggi. Itu sebabnya, kamu bisa      menuliskan tentang profil para pemimpin Islam di masa lalu, misalnya. Atau      kamu juga bisa cerita tentang kisahnya al-Khawarizmi, ilmuwan muslim yang      menemukan angka nol.</li>
<li>Feature <em>perjalanan</em>. Misalnya      kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negeri, atau ke      tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya      unsur subjektivitas menonjol, karena biasanya penulisnya yang terlibat      langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan &#8220;aku&#8221;, &#8220;saya&#8221;, atau      &#8220;kami&#8221; (sudut pandang-<em>point      of view</em>-orang pertama). Ambil      contoh tentang perjalanan menunaikan ibadah haji. Perjalanan ke tanah suci      itu bisa kamu tuangkan dalam sebuah tulisan bergaya feature yang menarik.      Itu sebabnya, disarankan untuk membawa buku catatan kecil untuk menuliskan      semua peristiwa yang dialami sebagai bahan penulisan. Pokoknya, sip deh.</li>
<li>Feature <em>sejarah</em>. Yaitu      tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya peristiwa Keruntuhan      Khilafah Islamiyah, sejarah tentang Istana al-Hamra dan benteng Granada.      ‘Melongok&#8217; kejayaan Islam di masa lalu. Sejarah tentang kekejaman tentara      Salib saat membantai kaum muslimin, sejarah pertama kali Islam masuk ke      Indonesia dan sebagainya. Banyak kok sejarah yang bisa kita tulis dengan      jenis feature ini. Pokoknya asyik deh.</li>
<li>Feature <em>petunjuk      praktis</em> (tips), atau mengajarkan keahlian-<em>how to do it</em>. Misalnya      tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah, seni mendidik anak,      panduan memilih perguruan tinggi, cara mengendarai bajaj, teknik beternak      bebek, seni melobi calon mertua (he..he..he..) dan sebagainya.</li>
</ol>
<p>Inilah feature, lengkap dengan ciri-ciri, jenis dan tipenya. Sehingga, dengan tip sederhana ini kamu udah bisa membedakan mana tulisan yang berupa ‘berita keras&#8217; dan mana yang merupakan ‘berita ringan&#8217; (feature). Sebagai tambahan wawasan tentang feature, silakan baca majalah (sekadar contoh) seperti <em>Intisari </em>dan islamic digest <em>Insani</em>, di sana memuat banyak tulisan berjenis feature yang menarik. Bagaimana teknik menulis <em>feature</em>? Insya Allah saya berikan dalam tip berikutnya. Sekarang, cukup bagi kamu untuk mengenalinya saja. Oke deh, pelajari dulu sampe <em>ngatri </em>(baca: ngerti) <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/%e2%80%98bermesraan-dengan-feature/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biasakan Membuat Lead ‘Menggoda&#8217;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/biasakan-membuat-lead-%e2%80%98menggoda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/biasakan-membuat-lead-%e2%80%98menggoda#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 12:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/biasakan-membuat-lead-%e2%80%98menggoda/</guid>
		<description><![CDATA[Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Kalo leadnya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan &#8220;wassalam&#8221; saja. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/technical_writing-1.thumbnail.jpg" title="technical_writing-1.jpg" alt="technical_writing-1.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Kalo leadnya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan &#8220;wassalam&#8221; saja. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan yang tak menarik itu. Jadi, perlu mendapat perhatian juga supaya tulisan yang kita buat mampu menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Yup, boleh dibilang selain judul, lead adalah jajanan yang ‘wajib&#8217; memikat hati pembaca. Itu sebabnya, lead menjadi begitu penting, meski tidak pokok tentunya. <span id="more-706"></span></p>
<p>Dalam dunia jurnalistik, kita bakal menemukan beberapa jenis lead. Berdasarkan pengalaman saya dalam menulis dan mengamati perkembangan media, ada empat jenis lead: lead berita langsung, lead pernyataan, lead peristiwa, dan lead untuk <em>feature</em> (berita ringan/berita kisah). Untuk <em>feature</em> insya Allah kita bahas secara khusus dalam tip berikutnya.</p>
<p>Nah, pastikan ketika membuat tulisan, kita bikin lead yang ‘menggoda&#8217; dari setiap jenis lead tersebut. Semua jenis lead yang kita gunakan harus bisa memikat pembaca untuk memilih meneruskan bacaannya. Di sinilah keterampilan kita membuat lead diuji benar.</p>
<p>Ada beberapa patokan yang bisa kamu pegang dalam menuliskan jenis-jenis lead tersebut. Untuk lead &#8220;berita langsung&#8221;, rambu-rambunya sebagai berikut: <u>Pertama</u>, kandungan informasi dalam teras berita untuk format berita langsung adalah informasi paling penting yang merupakan inti berita yang akan dijelaskan rinci dan lengkap dalam tubuh berita, di dalamnya terkandung unsur <em>what</em> (apa) dan <em>who </em>(siapa). Contohnya: &#8220;Presiden Megawati Soekarnoputri menegaskan, Indonesia menolak perang untuk alasan apa pun.&#8221; (<em>Kompas, 25 Februari 2003-Judul berita: Presiden Megawati Soekarno Putri: RI Tolak Perang</em>).</p>
<p><u>Kedua</u>, keterangan waktu (<em>when</em>) akan lebih mempunyai nilai bila dimasukkan dalam teras berita berformat berita langsung, yang didahului dengan unsur <em>who</em> dan <em>what</em>-nya (ini berlaku untuk berita yang sangat baru). Contohnya: &#8220;Irak makin bersahabat dengan PBB. Kemarin, sebuah sumber Irak, seperti dikutip AFP&#8230;&#8221; (<em>Koran Tempo, 1 Maret 2003-Judul berita: Irak Janji Musnahkan Al-Samoud Hari Ini</em>)</p>
<p><u>Ketiga</u>, teras berita harus ringkas, jelas, lugas. Ringkas, maksudnya memperhatikan ekonomi kata. Jelas, artinya tidak menggunakan kata yang bermakna ganda dan kalimat yang rancu. Lugas artinya langsung pada pokok persoalannya.</p>
<p>Untuk teras &#8220;berita pernyataan&#8221; juga memiliki rambu-rambu dalam pembuatan lead, di antaranya: <u>Pertama</u>, teras berita pernyataan, harus menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksud oleh pernyataan nara sumber yang terkandung dalam judul berita. Misalnya: &#8220;Pria ini mengatakan padaku bahwa yang ia inginkan adalah supaya aku menyatakan yang bertanggung jawab atas berbagai pemboman di Palestina adalah al-Qaida,&#8221; ujar seorang pria bertopeng yang bernama Ibrahim di Gaza, Palestina (<em>khilafah.com, 13 Desember 2002, Mossad Rekayasa Sel al-Qaida di Gaza</em>-terjemahan).</p>
<p><u>Kedua</u>, jika pernyataan itu lebih penting dan menarik ketimbang siapa yang mengucapkan pernyataan, subyek yang membuat pernyataan tidak perlu dicantumkan dalam teras berita. <u>Ketiga</u>, jika pernyataan dilemparkan oleh subyek yang tenar, sehingga bobot pernyataan menjadi penting dan menarik, identitas subyek yang memberikan pernyataan perlu dicantumkan dalam teras berita. <u>Keempat</u>, jika pernyataan seseorang hendak ditampilkan lewat kutipan langsung, yang ditampilkan dalam teras berita adalah kalimat narasumber yang dipandang paling ‘menggelitik&#8217; pembaca. Pengertian ‘menggelitik&#8217; disini, selain penting dan menarik, kalimat itu menggunakan kata atau ungkapan yang otentik, orisinil dan khas dari narasumber tersebut. <u>Kelima</u>, jika pernyataan berasal dari dua narasumber atau lebih, dicari paralelitas (persamaan) pernyataan setiap narasumber, agar dapat dijadikan teras berita. Jadi masalah yang tertuang di teras berita tunggal, sedang sudut pandang bisa sama atau berbeda.<br />
Terus, rambu-rambu yang bisa kamu pegang untuk lead &#8220;berita peristiwa&#8221; adalah sebagai berikut: <u>Pertama</u>, kudu memuat identitas subyek, apa tindakannya, terhadap apa atau siapa, dan akibat tindakan itu. Jika teras menjadi terlalu panjang, sebagian informasi itu (baik identitas orang, lokasi, benda) bisa ditempatkan di alinea berikutnya. Misalnya: &#8220;Perlakuan keji dan tidak manusiawi dipertontonkan pasukan Amerika terhadap 50 orang tawanan Taliban dan Mujahidin Arab setelah mereka dipindahkan dari Kandahar ke kapal induk AS yang berpangkalan di Guantanamo, Kuba. Mereka dirantai seluruh badannya, ditutup wajahnya dengan kain hitam serta disuntik dengan obat bius.&#8221; (<em>eramuslim.com, 16 Januari 2002-judul berita: AS Perlakukan Tawanan Guantanamo Secara Tidak Manusiawi</em>)</p>
<p><u>Kedua</u>, jika peristiwa itu adalah kejadian tak disengaja, teras berita memuat apa kejadian, di mana, kapan, apa atau siapa korban, serta akibat kejadian. Jika terlalu panjang sebagian informasi bisa disajikan dalam alinea selanjutnya. Misalnya, &#8220;Gempa bumi berkekuatan 6,8 pada skala Richter mengguncang kawasan terpencil di Provinsi Xinjiang, wilayah barat laut Cina, Senin (24/2). Bencana alam tersebut telah meruntuhkan ratusan gedung termasuk sejumlah sekolah.&#8221; (<em>Kompas, 25 Februari 2003-Judul berita: Gempa Guncang Cina, 258 Orang Tewas</em>).</p>
<p>Sobat muda muslim, untuk tiga jenis lead berita ini, bisa juga diaplikasikan ke dalam tulisan jenis artikel (baik yang argumentatif, pemaparan dan yang lainnya). Cuma, formatnya nggak ‘lurus&#8217; seperti berita. Modifikasi aja dengan kata-kata yang menarik dan lebih ‘berliku&#8217;. Tapi, harus dibedakan dengan jenis tulisan <em>feature</em>. Seperti sudah saya sampaikan di awal tulisan ini, untuk lead yang berkaitan dengan <em>feature</em> insya Allah akan saya bahas dalam tip membuat <em>feature</em>. Tapi yang pasti, dari semua jenis lead itu, buatlah lead yang menggoda pembaca. Sebagai latihan awal, rajinlah membaca berita-berita atau tulisan di semua media. Lalu kembangkan inovasi dalam membuat lead-lead tersebut, dengan gaya bahasa kamu sendiri. Terus terang, latihan awal ketika saya ingin membuat lead juga begitu kok. Untuk memperkaya wawasan, boleh juga kamu koleksi buku-buku panduan lainnya dalam menulis. Oke deh, sekarang segera praktikkan saja ya? Selamat mencoba.. <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/biasakan-membuat-lead-%e2%80%98menggoda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pastikan Membuat Sub-Judul</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pastikan-membuat-sub-judul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pastikan-membuat-sub-judul#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 23:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/pastikan-membuat-sub-judul/</guid>
		<description><![CDATA[Sub-judul amat menolong kita untuk menggolongkan dan membatasi pembahasan dalam sebuah tulisan jenis artikel dan berita. Pembaca pun dibuat mudah membaca alur tulisan yang kita rangkai. Sehingga mereka terus bertahan untuk mengikuti tulisan kita sampai habis. Mereka juga akan sangat terbantu memahami apa yang kita tulis. Itu sebabnya, sub-judul menjadi begitu penting dalam sebuah tulisan.
Sobat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/pwantir1.thumbnail.jpg" title="pwantir1.jpg" alt="pwantir1.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" />Sub-judul amat menolong kita untuk menggolongkan dan membatasi pembahasan dalam sebuah tulisan jenis artikel dan berita. Pembaca pun dibuat mudah membaca alur tulisan yang kita rangkai. Sehingga mereka terus bertahan untuk mengikuti tulisan kita sampai habis. Mereka juga akan sangat terbantu memahami apa yang kita tulis. Itu sebabnya, sub-judul menjadi begitu penting dalam sebuah tulisan.</p>
<p>Sobat muda muslim, keterampilan seperti ini perlu juga kamu miliki. Kamu akan lebih mudah membuatnya manakala sudah terbiasa membuat <em>outline</em> (lihat lagi di tips yang sebelumnya ya). Coba saja iseng-iseng bikin tulisan yang panjang tanpa ‘dihias&#8217; dengan subjudul. Duh, rasanya seperti kita disuruh menelusuri jalan tanpa ada tempat untuk istirahat. Tempat yang akan kita gunakan untuk melepas lelah. Setelah rileks, kita melanjutkan kembali perjalanan. Enak banget rasanya. <span id="more-704"></span></p>
<p>Subjudul dalam sebuah tulisan, juga berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan dalam membaca. Kita juga jadi ada nafas baru untuk menyegarkan kembali tulisan yang akan kita buat. Suer, pengalaman saya dalam menulis juga demikian. Saya pernah mencoba membuat tulisan tanpa subjudul. Hasilnya? Saya sendiri cepat capek dan mudah jenuh. Kenapa? Karena pembaca akan menganggap bahwa tulisan itu harus dibaca terus dengan konsentrasi penuh. Pembaca seolah diminta untuk mengingat bacaan yang telah lewat sekaligus ‘menerka&#8217; alur bacaan berikutnya. Bayangkan, jika tulisan yang kita buat panjang tanpa subjudul, pembaca akan kewalahan banget tentunya. Hmm&#8230; kita telah ‘berdosa&#8217; karena ‘menyiksa&#8217; pembaca dengan tulisan yang kita buat. He..he..he..</p>
<p>Jadi, berlatihlah untuk membagi alur dengan tanpa memenggal rangkaian dari inti tulisan kita. Itu sebabnya, membuat subjudul adalah solusi paling jitu untuk membagi alur. Maka, dalam setiap tulisan yang saya buat, saya selalu memastikan ada subjudul di dalamnya. Manfaatnya, selain menolong kita membagi alur pembahasan, juga memudahkan pembaca untuk menikmati kesimpulan dari isi tulisan yang dibacanya. Tanpa harus berkonsentrasi penuh menjaga ingatan tentang kata-kata yang sudah dibaca sebelumnya.</p>
<p>Oke deh, mulai sekarang pastikan kamu membuat subjudul dalam setiap tulisanmu. Semuanya akan baik-baik kok. Asal kamu sering berlatih. Sebagai langkah awal, lihat deh gimana orang lain membuat tulisan dengan menyertakan subjudul. Saya sendiri awalnya belajar dengan melihat bagaimana orang lain membuat tulisan yang enak dibaca. Dan salah satunya, mereka menyertakan subjudul dalam tulisan-tulisannya. Saya yakin, kamu juga akan bisa membuatnya. Lagi pula, ini kan sekadar pengembangan dari teknik membuat <em>outline</em>. Nah, segera deh praktikkan, jangan ditunda-tunda lagi. Kamu bisa kok! <a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">[O. Solihin]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pastikan-membuat-sub-judul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buatlah Judul Yang Menarik</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/buatlah-judul-yang-menarik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/buatlah-judul-yang-menarik#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 14:41:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/buatlah-judul-yang-menarik/</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca akan mudah tertarik untuk membaca sebuah tulisan, jika judulnya juga menarik. Anggap saja judul itu sebagai pancingan. Itu sebabnya, boleh dibilang membuat judul perlu ‘keterampilan&#8217; khusus. Tapi jangan kaget dulu, kita bisa belajar untuk membuatnya. Hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras dan kerja cerdas untuk terus berlatih. Yakin bisa deh.
Sebagai latihan awal, cobalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/writingchecklist1.thumbnail.GIF" alt="writingchecklist1.GIF" style="float: left; margin-right: 0.5em" title="writingchecklist1.GIF" />Pembaca akan mudah tertarik untuk membaca sebuah tulisan, jika judulnya juga menarik. Anggap saja judul itu sebagai pancingan. Itu sebabnya, boleh dibilang membuat judul perlu ‘keterampilan&#8217; khusus. Tapi jangan kaget dulu, kita bisa belajar untuk membuatnya. Hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras dan kerja cerdas untuk terus berlatih. Yakin bisa deh.</p>
<p dir="ltr">Sebagai latihan awal, cobalah kamu sering membaca tulisan orang lain. Kalo kamu mau, coba baca majalah-majalah ibu kota yang oke mengolah kata dalam membuat judul (misalnya TEMPO, GATRA, GAMMA, dan KONTAN). Perhatikan judul-judul tulisannya. Makin banyak kamu membaca judul tulisan-tulisan tersebut, kian terasah imajinasimu untuk membuat judul yang menarik hasil kreasimu. Terus terang saya juga banyak menggali ide untuk membuat judul dari majalah-majalah tersebut (selain banyak juga dari buku-buku dan majalah lainnya). <span id="more-693"></span></p>
<p dir="ltr">Untuk jenis tulisan yang ngepop, buatlah judul yang pendek. Paling nggak dua sampai empat kata. Jangan sampe panjang kayak rangkaian kereta api (ini mah cocoknya untuk buat skripsi). Sebab, jika judul yang kita buat panjang&#8211;padahal tulisan ngepop&#8211;membuat orang nggak menarik untuk membacanya. Mungkin akan dilewati aja tulisan kamu itu. Padahal, boleh jadi isinya sangat menarik. Rugi banget kan? Ide kamu jadi terhambat sampai ke pembaca gara-gara judulnya bikin bete. Jangan sampe deh.</p>
<p dir="ltr">Mungkin ini contoh-contoh judul yang menarik buat kamu koleksi. Siapa tahu jadi bahan inspirasi kamu dalam membuat judul: Berebut Kiblat Irama Tabla (gatra.com, 18 Februari 2003), Goyang &#8220;Ngebor&#8221; Inul Haram (gatra.com, 18 Februari 2003), Goyang Inul, Pasar, dan Pengadilan Budaya (Jawa Pos, 1 Februari 2003), Rahasia Cowok Dugem (Kawanku, No 3. 9-15 Juli 2001), Standard Hidup Generasi MTV (indocampus.com), Membangun Keabadian Intifadah (Gatra, 20 April 2002), Naik Sepur Super Cepat (Permata, edisi 10/Tahun VII, Februari 2003), Kawin Campur Itu Ngawur (Permata, ibidem), Kalau Cinta Jangan Maksiat (Studia, edisi 103/Tahun ke-3, 10 Juni 2002), Uday dan Qusay, Drama Telah Usai, Saatnya Dinar Berbinar, Rapor Merah HAM di AS (islamic diggets INSANI, edisi Mei 2003), Mainan Agresif dari Rahim Televisi (suaramerdeka.com, 27 April 2003), dan masih banyak lagi judul-judul menarik di majalah, koran, tabloid dan buku-buku lainnya. Silakan eksplorasi sendiri. Tapi untuk jenis tulisan berita, boleh jadi kudu ‘lurus&#8217; dan intinya langsung mengarah ke sasaran. Kadang, untuk berita bisa panjang judulnya. Tinggal diutak-atik deh sama kamu. Tapi intinya kudu tetep enak dibaca. Oke?</p>
<p dir="ltr">Judul yang menarik, tidak saja membuat orang penasaran untuk membaca tulisan kamu, tapi juga menunjukkan kelihaian kamu dalam mengolah kata-kata. Asyik banget bukan? Oke deh, mulai sekarang, goreskan penamu atau latih jemarimu dalam menekan tuts-tuts keyboard untuk menghasilkan judul yang menarik. Terus latih, jangan pernah merasa bosan. Saya sendiri, kadang mengubah judul sampe berkali-kali untuk mendapatkan daya tarik untuk tulisan saya. Sebab, judul ibarat tampilan luar yang mudah dilihat orang. Jadi, supaya calon pembaca penasaran, judul yang menarik adalah jaminannya. Coba ya&#8230; <strong>[<a target="_blank" href="http://osolihin.wordpress.com">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/buatlah-judul-yang-menarik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hemat Kata</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hemat-kata</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hemat-kata#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 20:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/hemat-kata/</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata urusan berhemat tak selalu dalam mengelola keuangan saja, dalam tulisan pun kita kudu berhemat. Utamanya jika kamu ingin menulis dengan gaya bahasa jurnalistik. Sebab tulisan kita akan selalu dibatasi oleh space yang udah dibuat tiap rubriknya. Media massa cetak, termasuk yang paling ‘kejam&#8217; dalam urusan hemat kata. Tulisan dalam media massa cetak dituntut untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/the-only-12-1-2-writing-rules-you-ll-ever-need.thumbnail.jpg" alt="the-only-12-1-2-writing-rules-you-ll-ever-need.jpg" style="float: left; margin-right: 0.5em" title="the-only-12-1-2-writing-rules-you-ll-ever-need.jpg" />Ternyata urusan berhemat tak selalu dalam mengelola keuangan saja, dalam tulisan pun kita kudu berhemat. Utamanya jika kamu ingin menulis dengan gaya bahasa jurnalistik. Sebab tulisan kita akan selalu dibatasi oleh space yang udah dibuat tiap rubriknya. Media massa cetak, termasuk yang paling ‘kejam&#8217; dalam urusan hemat kata. Tulisan dalam media massa cetak dituntut untuk pas dengan ruang yang telah ditentukan. Itu sebabnya, ukuran jumlah karakter menjadi pilihan jitu. Setiap penulis untuk media massa cetak, ‘wajib&#8217; menaati aturan baku tersebut. Jadi, hemat dalam menggunakan kata-kata pun menjadi ‘wajib&#8217;. Konsekuensinya, kita kudu menulis dengan hemat kata, alias jangan sekali-kali menggunakan kata yang memakan jumlah karakter banyak. Manfaatnya, bisa membuat tulisan jadi enak dibaca. Lebih ngepop. <span id="more-691"></span></p>
<p>Kita bisa menghemat kata kok. Dengan latihan terus kita jadi terbiasa. Misalnya kata &#8220;kemudian&#8221; diganti dengan &#8220;lalu&#8221;. Kata &#8220;kemudian&#8221; ada 8 karakter. Sementara kata &#8220;lalu&#8221; hanya 4 karakter. Jelas hemat bukan? Contoh lain? Banyak. Kata &#8220;terkejut&#8221; diganti dengan &#8220;kaget&#8221;, &#8220;kurang lebih&#8221; kita ganti dengan &#8220;sekitar&#8221;, jika kita kudu hindari kata &#8220;barangkali&#8221; dan pilih &#8220;mungkin&#8221;, &#8220;sekarang&#8221; tukar dengan &#8220;kini&#8221;, kata &#8220;semakin&#8221; ganti dengan &#8220;kian&#8221;. &#8220;Rupiah&#8221; jadi &#8220;Rp&#8221;. Masih banyak kosa kata lain. Silakan kamu eksplorasi sendiri. Tapi yang jelas intinya adalah hemat kata. Lihat jumlah karakternya ya.</p>
<p>Saat pertama kali bisa menulis, saya seringkali menggunakan kata-kata yang boros karakter. Bahkan lucunya beberapa kata yang sama artinya ditulis sekalian. Selain pengen gaya, juga supaya ada penegasan. Padahal setelah tahu, selain boros kata, juga nggak enak dibaca. Terlalu melebih-lebihkan. Maklum penulis pemula. Tapi alhamdulillah, makin lama makin terlatih. Makin banyak menemukan kosa kata yang hemat karakter. Kamu juga bisa mencobanya. Ingat lho, kudu sering digali potensimu. Tanpa latihan terus-menerus, jangan bermimpi bisa menulis dengan oke. Ayo, kamu bisa! (Catatan: mungkin hemat kata tak terlalu cocok untuk jenis tulisan selain jurnalistik) <strong>[<a target="_blank" href="http://osolihin.wordpress.com">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hemat-kata/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hindari ‘Kalimat Raksasa&#8217;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/hindari-%e2%80%98kalimat-raksasa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/hindari-%e2%80%98kalimat-raksasa#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 14:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/hindari-%e2%80%98kalimat-raksasa/</guid>
		<description><![CDATA[Keasyikan kita membaca bisa disebabkan salah satunya dari kalimat yang mudah dimengerti. Untuk bisa membuat orang cepet ngerti, kita harus memberikan trik khusus. Salah satunya adalah jangan pernah membuat ‘kalimat raksasa&#8217;. Bayangkan, kalo dalam satu paragraf ukuran sedang (sekitar lima baris tulisan dalam kertas ukuran kuarto) hanya terdiri dari satu kalimat, itu sama saja menyuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;margin-right:0.5em;" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/pwantir.thumbnail.jpg" alt="pwantir.jpg" title="pwantir.jpg" />Keasyikan kita membaca bisa disebabkan salah satunya dari kalimat yang mudah dimengerti. Untuk bisa membuat orang cepet ngerti, kita harus memberikan trik khusus. Salah satunya adalah jangan pernah membuat ‘kalimat raksasa&#8217;. Bayangkan, kalo dalam satu paragraf ukuran sedang (sekitar lima baris tulisan dalam kertas ukuran kuarto) hanya terdiri dari satu kalimat, itu sama saja menyuruh pembaca untuk <em>kolaps</em>. Walah, betapa ‘raksasanya&#8217; kalimat itu. Jangankan orang lain yang baca, kita sendiri mungkin akan capek melahapnya. Kalimat seperti itu dijamin bikin manyun yang baca. <span id="more-688"></span></p>
<p>Bagi penulis pemula, selalu muncul kesulitan menyampaikan maksud. Itu sebabnya, hampir semua keinginan ditulis dalam satu kalimat. Celakanya, jadi nggak bisa mengontrol panjang-pendeknya kalimat. Meskipun dalam kalimat tersebut ada tanda koma, tapi tetap sangat berbahaya. Pembaca akan menganggap bahwa itu harus dibaca dalam satu tarikan napas. Perhatikan kalimat di bawah ini:</p>
<p><em>&#8220;Ada anggapan bahwa Valentine&#8217;s Day adalah hari kasih sayang yang full of love dan diperingati remaja sedunia setiap tahunnya dengan penuh suka-cita yang menggelora dalam gejolak jiwa muda yang penuh warna.&#8221;</em></p>
<p>Kira-kira gimana bacanya? Capek bukan? Sekarang bandingan dengan contoh di bawah ini, setelah kalimat itu dipermak jadi lebih irit:</p>
<p><em>&#8220;Valentine&#8217;s Day sering dianggap sebagai hari kasih sayang. Pestanya dimeriahkan remaja di seluruh dunia. Mereka suka-cita dalam gejolak jiwa muda yang menggelora dan penuh warna.&#8221;</em></p>
<p>Lebih rileks kan bacanya? Jadi, pastikan bahwa setiap kalimat yang kita buat tidak bikin capek yang baca. Biasakan dari sekarang. Coba terus dalam latihan kamu. Jangan pernah merasa bosan. Kalo kebetulan kamu menemukan dalam tulisanmu ada ‘kalimat raksasa&#8217;. Pahami isinya, lalu buat kalimat sejenis dengan lebih irit kata. Buang kata-kata yang nggak perlu. Utamanya yang maknanya hampir sama. Lebih bagus jika dipecah lagi menjadi beberapa kalimat kecil. Kebiasaan penulis pemula adalah suka membuat kata-kata yang bombastis. Bombastis boleh-boleh saja. Tapi harus memperhatikan ruang untuk kalimat. Supaya tidak sesak dan melelahkan pembaca.</p>
<p>Oya, beberapa orang memang sering dijangkiti ‘penyakit&#8217; susah mengungkapkan sesuatu dengan lebih efisien. Itu adalah kebiasaan kurang baik. Itu sebabnya, kudu diubah dengan jenis kebiasaan baru yang lebih baik. Nah, latihan kamu bisa dicoba sebagaimana seseorang yang belajar untuk bicara lebih efisien. Gunakan kata-kata yang mudah dipahami. Sampaikan pesan dengan singkat. Gunakan kosa kata seperlunya. Sebab, belajar menghindari ‘kalimat raksasa&#8217; sama artinya dengan membiasakan membuat kalimat efektif. Dan itu akan membuat tulisanmu enak dibaca. Nggak bikin orang mengernyitkan dahi. Sebab, panjangnya kalimat, meski ada tanda ‘koma&#8217;, tetap akan dipahami oleh pembaca sebagai bacaan dalam satu tarikan napas.</p>
<p>Saya sendiri hampir selalu mengecek ulang kalimat yang saya buat. Jika dirasa panjang, saya potong seperlunya. Kadang membuang beberapa kata yang mengganggu alur kalimat. Intinya, kita harus paham dengan apa yang akan kita sampaikan. Pesan saya, kalo kamu ingin menyampaikan berita, pastikan dengan intonasi yang enak didengar. Nah, kalo kamu ingin menuliskan berita, maka kudu dengan kalimat yang enak dibaca. Salah satunya, dengan membuat kalimat pendek. Pokoknya, hindari membuat ‘kalimat raksasa&#8217;! Dijamin kagak bikin bete deh. Cobalah&#8230;<strong>[<a target="_blank" href="http://osolihin.wordpress.com">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/hindari-%e2%80%98kalimat-raksasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung Kosa Kata</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menabung-kosa-kata</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menabung-kosa-kata#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 05:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menabung-kosa-kata/</guid>
		<description><![CDATA[Kebiasaan menabung memang menguntungkan kita. Suer. Coba aja kalo tiap hari kita nabung uang seribu rupiah. Berapa jumlahnya dalam sebulan? Juga berapa banyak uang yang kita miliki selama setahun? Pokoknya untung banget deh.
Nah, ngomong-ngomong soal nabung-menabung, untuk menjadi penulis, bolehlah kita mencoba untuk menabung kosa kata. Mengumpulkan setiap hari lima saja. Maka dalam sebulan kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/tips-for-writing-articles.jpg" title="tips-for-writing-articles.jpg"><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/tips-for-writing-articles.thumbnail.jpg" title="tips-for-writing-articles.jpg" alt="tips-for-writing-articles.jpg" align="left" /></a>Kebiasaan menabung memang menguntungkan kita. Suer. Coba aja kalo tiap hari kita nabung uang seribu rupiah. Berapa jumlahnya dalam sebulan? Juga berapa banyak uang yang kita miliki selama setahun? Pokoknya untung banget deh.</p>
<p>Nah, ngomong-ngomong soal nabung-menabung, untuk menjadi penulis, bolehlah kita mencoba untuk menabung kosa kata. Mengumpulkan setiap hari lima saja. Maka dalam sebulan kita punya tabungan kosa kata sekitar 150 buah. Banyak bukan? Kosa kata itu cukup untuk memoles tulisan yang kita buat. Sebab, menulis adalah keterampilan mengolah data-data dalam suatu rangkaian kata. Ibarat kita mau membangun rumah, batu-bata sudah siap, semen dan pasir udah banyak, batu untuk pondasi udah menumpuk. Begitupun dengan kayu, bambu, cat, keramik dan genteng, sampe yang pernik-pernik seperti paku dan instalasi listrik semua udah lengkap. <span id="more-686"></span></p>
<p>Perlu keahlian khusus tentunya untuk merangkai semua itu jadi sebuah rumah. Menata batu untuk pondasi, memasang batu-bata dan merekatkannya dengan campuran semen, kapur, dan pasir. Memasang kayu-kayu untuk jendela dan pintu. Tembok yang sudah jadi, perlu dilapisi dempul sebelum akhirnya dicat dengan warna kesukaan kita. Menyusun genteng untuk menutupi atap rumah kita. Sampe rumah itu jadi dan enak dipandang mata. Mengasyikan tentunya.</p>
<p>Sobat muda, kalo kamu mau menulis, maka jika seluruh bahan tulisanmu udah siap, yang diperlukan adalah merangkainya menjadi sebuah tulisan. Untuk merangkai bahan-bahan itu, kosa katalah yang merupakan komponen utama untuk menjalinnya. Tanpa kosa kata yang banyak, tulisan kita hanya merupakan daftar bahan-bahan mentah saja. Jangankan orang lain yang baca, mungkin kamu sendiri males ngeliat tulisan yang kering dengan kosa kata.</p>
<p>Waktu saya SD, guru bahasa Indonesia suka ngasih pelajaran menulis. Biasanya, siswa diminta untuk menuliskan pengalamannya selama liburan, atau saat pergi ke kota. Wah, saat itu, pelajaran ini paling membingungkan. Soalnya apa dan seperti apa yang mau ditulis. Sangat boleh jadi kita heboh cerita ke teman-teman tentang pengalaman liburan ke kota, bahkan kamu bisa berbusa-busa cerita. Tapi, tunggu dulu, dalam bahasa tulisan belum tentu kamu gampang untuk menuliskannya. Kendala itu salah satunya adalah minimnya tabungan kosa kata yang dimiliki.</p>
<p>Kalo disuruh nulis pengalaman (saat belajar di SD), biasanya kosa kata yang muncul hampir selalu sama. Misalnya, perhatikan kalimat-kalimat dalam ‘kisah&#8217;  ini, saya bahkan pernah membuat yang sejenis waktu SD, &#8220;Liburan sekolah kemarin saya pergi ke kota. Bersama ayah, bersama adik, bersama kakak. Di sana saya jalan-jalan ke tempat wisata. Di sana banyak orang. Saya membeli es. Lalu membeli buah-buahan. Lalu pergi ke terminal. Kemudian pulang.&#8221; He..he..he.. tentu geli banget dengan kalimat seperti ini. Kenapa bisa terjadi? Karena kita kekurangan kosa kata.</p>
<p>Kalo melihat kalimat di atas, kata &#8220;bersama&#8221; sampe diulang tiga kali.  Kata &#8220;di sana&#8221;, dua kali diulang. Kata &#8220;lalu&#8221; diulang dua kali. Kata &#8220;kemudian&#8221; melengkapi di akhir cerita itu. Padahal, kalo kita bisa menabung kosa kata, bakalan banyak yang bisa kita gunakan untuk merangkai bahan-bahan tadi. Kosa kata, selain berguna untuk merangkai bahan-bahan, juga untuk memoles tulisan kita menjadi enak dibaca.</p>
<p>Coba deh, kumpulkan kosa kata sebanyak-banyaknya. Kalo kamu mau, boleh juga tuh memiliki <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>. Di situ, banyak memuat kata-kata yang barangkali sering kita gunakan, tapi ternyata banyak kata lain yang artinya sama. Misalnya, kata &#8220;semakin&#8221; sama artinya dengan &#8220;kian&#8221;. Lumayan kan jadi ada cadangan untuk memoles tulisan kita. Kata &#8220;lalu&#8221; sama artinya dengan kata &#8220;kemudian&#8221; dan &#8220;dus&#8221;. Kata &#8220;meski&#8221; sama dengan &#8220;walau&#8221;. Begitu juga kata <em>sangkil</em> (sama artinya dengan efisien), <em>mangkus</em> (berarti efektif), <em>renjana</em> (bersedih), <em>citra</em> (gambaran), dan masih banyak lagi kosa kata yang bisa kamu kumpulkan. Dari bahasa apa pun. Tentu sekali lagi, itu pun kalo kamu mau tulisanmu indah dan enak dibaca. He..he..he..</p>
<p>Nah, selain dari kamus, coba luangkan waktumu untuk membaca tulisan orang lain. Para penulis cerpen dan novel adalah mereka yang paling hobi ‘mengobral&#8217; kosa kata. Baca sepuasnya, dan ambil kosa kata yang kamu anggap baru. Simpan baik-baik. Bila perlu kamu punya buku kecil berisi catatan daftar kosa kata. Chairil Anwar, Shakespeare, Solzenitsyn, dianggap sangat berjasa karena membakukan dan memperkaya kosa kata pada bahasa masing-masing. Di masa mudanya, WS Rendra pun gemar menabung dan mengumpulkan kata-kata baru setiap hari. Meski demikian, kamu tetep kudu punya etika dong. Sebab, banyak kata ‘boleh&#8217; diucapkan, tapi tak boleh ditulis. Kalau kata-kata itu ditulis juga, pembaca bilang kita nggak sopan, jorok, kurang ajar, bahkan tak tahu adat. Jadi kamu kudu hati-hati membelanjakan kosa kata. Misalnya, kata-kata ‘sebagus&#8217; tahu kucing, babi, monyet, bahkan sapi pun kalo salah taruh bisa dicoret pak guru. Apalagi bila sampai menyakiti orang, pasti kena sensor tuh. Kata sastrawan Eka Budianta, &#8220;kebudayaan sensor adalah satu pagar bagi pengarang.&#8221; Jadi kudu ati-ati yo&#8230;</p>
<p>Saya sendiri ketika awal-awal menekuni keterampilan ini, merasakan sebuah beban yang sangat berat ketika harus bermain dengan kosa kata. Tentu karena saat itu saya memiliki cadangan kosa kata yang amat minim. Namun, setelah mencoba mengumpulkan kosa kata baru, saya mulai menemukan kenikmatan tersendiri dalam menulis. Saya mendapatkan semua itu selain dari kamus, juga hasil dari membaca tulisan orang lain; cerpen, novel, puisi, juga artikel. Banyak manfaatnya kok. Bener.</p>
<p>Oya, untuk menghidupkan tulisan (khususnya buat remaja), boleh juga dimasukkan ungkapan-ungkapan bahasa ‘obrolan&#8217; dan ekspresi tubuh menjadi bahasa tulisan seperti yang sering saya gunakan di buletin Studia, Permata, dan buku-buku yang saya tulis. Misalnya: Gubrag! Watau! Wasyah! Gedubrak! Huhuy! Wacks&#8230;? dsb.</p>
<p>Nah, kamu sendiri bagaimana? Tentu kudu siap juga ya? Yuk kita mulai, siapa takut? Praktikkan ya&#8230;<strong>[<a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">O. Solihin</a>]  </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menabung-kosa-kata/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Kerangka Tulisan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/membuat-kerangka-tulisan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/membuat-kerangka-tulisan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2007 14:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/membuat-kerangka-tulisan/</guid>
		<description><![CDATA[Perlu lho membuat kerangka tulisan. Dalam bahasa kerennya, kamu perlu bikin outline. Alasannya, kerangka tulisan berguna untuk membatasi apa yang kudu kita tulis. Ibarat Pak Tani yang akan menggarap sawah, ia kudu menentukan batas garapannya. Supaya nggak melebar kemana-mana, apalagi sampe ngambil jatah orang. Di sekolah, guru bahasa Indonesia yang paling ‘cerewet&#8217; supaya kita bikin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/writinginstructionpieces.jpg" title="writinginstructionpieces.jpg"><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/10/writinginstructionpieces.thumbnail.jpg" title="writinginstructionpieces.jpg" alt="writinginstructionpieces.jpg" align="left" /></a>Perlu lho membuat kerangka tulisan. Dalam bahasa kerennya, kamu perlu bikin <em>outline</em>. Alasannya, kerangka tulisan berguna untuk membatasi apa yang kudu kita tulis. Ibarat Pak Tani yang akan menggarap sawah, ia kudu menentukan batas garapannya. Supaya nggak melebar kemana-mana, apalagi sampe ngambil jatah orang. Di sekolah, guru bahasa Indonesia yang paling ‘cerewet&#8217; supaya kita bikin kerangka tulisan, saat akan membuat tulisan. Ada baiknya memang. Kita jadi terlatih. <span id="more-684"></span></p>
<p>Dengan membuat kerangka tulisan, kita akan mudah untuk menentukan maksud dan arah tulisan. Bahkan kita juga bisa berhemat dengan kata-kata, termasuk pandai memilih kosa kata yang pas untuk alur tulisan kita. Itu sebabnya, bagi kamu yang baru pertama kali belajar menulis, membuat kerangka tulisan menjadi semacam ‘kewajiban&#8217;. Maklumlah, orang baru kan perlu dituntun. Tul nggak?</p>
<p>Bagaimana cara membuat kerangka tulisan? Sobat, kerangka tulisan sama artinya dengan menentukan apa saja topik yang akan kita bahas. Jadi semacam tahapan pembahasan. Harapannya, orang yang baca jadi mudah paham dengan apa yang kita maksud dalam tulisan kita buat. Jelas alurnya. Misalnya, kalo kamu mau bikin tulisan tentang Valentine&#8217;s Day, maka bisa saja outline yang kamu susun seperti ini:</p>
<ol start="1" type="1">
<li>Arti Velentine&#8217;s Day</li>
<li>Asal-usul Valentine&#8217;s Day</li>
<li>Fakta saat ini</li>
<li>Siapa yang merayakan?</li>
<li>Pandangan Islam tentang perayaan      tersebut</li>
</ol>
<p>Wah, dengan model kerangka tulisan (outline) seperti ini kamu bisa mengembangkan jadi tulisan yang panjang. Mungkin kalo tujuannya untuk ditempel di mading, paling nggak kamu bisa menuliskannya sebanyak 2 atau 3 lembar kertas kuarto (dengan tulisan yang bisa dibaca dari jarak 1 meter). Kalo tujuannya untuk dimuat di buletin sekolah, bisa kamu kembangkan hingga 4 halaman kuarto (dengan huruf lebih kecil). Pokoknya, seru deh.</p>
<p>Bahkan sangat boleh jadi, tema yang sama akan bisa dibuat outline yang berbeda. Bergantung kepada sasaran yang hendak dituju. Jadi, kerangka tulisan memang sangat bergantung kepada tujuan dan maksud yang ingin kita sampaikan kepada pembaca. Dan itu memang memungkinkan. Silakan diutak-atik deh. Sebab, yang terpenting dalam kerangka tulisan adalah bagaimana kita bisa membatasi apa-apa yang akan kita sampaikan. Seperti halnya orang berbicara. Kalo kamu akan bicara tentang fenomena kriminalitas remaja, maka tentunya kamu harus membuat semacam kerangka dari apa saja yang akan dibicarakan. Tujuannya jelas, supaya ketika berbicara nggak melebar ke mana-mana. Paham kan?</p>
<p>Tulisan tentang apa saja bisa dibuatkan kerangka tulisannya. Kalo kamu hobi bercocok tanam, kamu bisa bikin kerangka tulisan sebanyak-banyak tentang tomat, sawo, jeruk, jagung, apel dan lain sebagainya. Banyak orang suka dengan hal-hal praktis. Itu sebabnya, kamu bisa bikin teknik menanam sawo, cara hemat menanam tomat dsb. Jadi, nggak ada alasan untuk malas membuat tulisan, termasuk membuat kerangka tulisannya.</p>
<p>Saya sendiri kalo mau menulis, kudu membuat kerangka tulisannya. Waktu awal-awal pengen bisa menulis, saya selalu menuliskan kerangka tulisan dalam sebuah kertas. Nah, karena menulis itu adalah keterampilan, biasanya kalo terus melakukan, akan terlatih juga. Maka, seterusnya kerangka tulisan biasanya cukup disimpan dalam otak. Nanti jalan sendiri. Ini pernah saya rasakan. Kata pepatah, &#8220;Bisa karena biasa&#8221; bener juga adanya.</p>
<p>Intinya, kerangka tulisan itu perlu dibuat, terutama bagi kamu yang ingin ‘selamat&#8217; dalam menulis. Supaya nggak melebar ke mana-mana. Kerangka tulisan ibarat kompas, yang akan menuntun kita kepada arah tulisan yang kita maksud. Bahkan kerangka tulisan bisa jadi ‘korektor&#8217;. Misalnya kita udah buat tulisan, tapi ternyata setelah kita baca hasilnya, tulisan tersebut malah melebar. Nah, itu akan membuat kita merapikan kembali tulisan yang udah dibuat. Biar oke kalo dibaca orang.</p>
<p>Sekarang, jangan bengong aja. Coba buat kerangka tulisan sebanyak-banyaknya. Kelak akan menolong kamu dalam menulis. Siapa tahu kan? Oke deh, jangan lupa dengan 5 tips sebelumnya dalam &#8220;Menulis Itu Menyenangkan&#8221;. Coba ya&#8230;<strong>[<a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/membuat-kerangka-tulisan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Topik</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/memilih-topik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/memilih-topik#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 01:13:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/memilih-topik/</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan yang kerap muncul dari benak kita saat hendak menulis, &#8220;Topik apa ya yang cocok?&#8221; Tolong, pertanyaan seperti itu jangan dijadikan beban. Anggap saja sebagai hal biasa. Apa yang enak dibahas dalam buku harian? Hmm&#8230; yang enak untuk dibahas adalah hal-hal umum yang berkesan dan menarik. Bisa menyedihkan, bisa pula yang menggembirakan. Seperti apa sih? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/09/writing3.thumbnail.gif" alt="writing3.gif" title="writing3.gif" style="float:left;margin-right:0.5em;"/>Pertanyaan yang kerap muncul dari benak kita saat hendak menulis, &#8220;Topik apa ya yang cocok?&#8221; Tolong, pertanyaan seperti itu jangan dijadikan beban. Anggap saja sebagai hal biasa. Apa yang enak dibahas dalam buku harian? Hmm&#8230; yang enak untuk dibahas adalah hal-hal umum yang berkesan dan menarik. Bisa menyedihkan, bisa pula yang menggembirakan. Seperti apa sih? Pengalaman pertama masuk sekolah, pengalaman berkenalan pertama kali dengan teman di sekolah, hari pertama masuk kerja, mendapat uang gaji pertama kali, bertemu sang kekasih hati, pengalaman saat melamar, pengalaman ketika menikah, dan lain sebagainya. Pokoknya, segala hal yang seru dan menarik. Semua itu bisa membuat kita betah menuliskannya berlembar-lembar. Asyik. Termasuk, yang enak dibicarakan adalah hal yang baru. Misalnya punya mobil baru, punya teman baru, punya rumah baru, dan segala hal yang baru-baru deh. Topik seperti itu ditanggung antimanyun. Pas banget untuk dituangkan di buku harian. <span id="more-671"></span></p>
<p>Kebiasaan untuk menuliskan sesuatu yang baru perlu dijaga. Bukan apa-apa, kalo kamu menulis buku harian, tapi masalah dan kata-kata serta kalimatnya sering diulang-ulang, nggak bakalan gereget lagi untuk dibaca. Bahkan sangat boleh jadi menulis buku harian nggak ada bedanya dengan mengerjakan PR menulis halus. Suer. Jadi gali terus, cari terus masalah baru. Supaya kamu kreatif. Siapa tahu nantinya memang kamu jadi wartawan. Wartawan kadang harus ‘nakal&#8217;. Misalnya, ketika mewawancarai narasumber, kudu berani menanyakan sesuatu yang barangkali ‘tabu&#8217; untuk ditanyakan. Seperti jika narasumbernya sebagai polisi, kita tanyakan, ‘apakah ada keterlibatan aparat dalam aksi kejahatan ini?&#8221; Tujuannya, ada bahan berita baru yang bisa ditulis. Biar nggak monoton. Siapa tahu Pak Polisi itu keceplosan ngomong dan mengeluarkan pernyataan ‘of the record&#8217;. Bisa jadi kan? Meskipun nantinya nggak ditulis di media kita, tapi kita punya peluru baru untuk mengutak-atik arah kasus itu.</p>
<p>Buat kamu yang mau nyari topik, nggak usah sulit-sulit mikirin yang jauh-jauh. Coba cari yang dekat dengan kita deh. Tanya teman kanan-kiri, nguping dari sana-sini. Atau bisa juga baca koran pagi ini, cari berita yang menarik. Setelah dapat, kamu bisa menulis ulang dengan sudut pandang kamu. Misalnya, judul berita yang kamu ambil adalah perilaku seks bebas remaja. Setelah baca berita itu, dari mulai fakta dan arahnya ke mana, kamu bisa bikin ulang dengan pengembangan yang kamu suka, dengan cara kamu sendiri. Anggap saja misalnya dirimu sebagai wartawan yang menyelidiki kasus itu. Kamu bisa ubah dengan versi baru tentang penyelidikan kasus seks bebas di kalangan remaja. Sebagai latihan aja kan? Mungkin kok. Coba deh!</p>
<p>Sobat muda, satu hal yang menarik dari dunia ini adalah karena banyak hal yang tak terduga. Itu sebabnya kita asyik menjalani hidup ini. Memanfaatkan kesempatan, mengatasi kesulitan, mencoba keluar dari tekanan dsb. Itu pula yang kemudian membuat sebagian orang rela menjadi pengarang. Ia bisa meangandai-andai suatu peristiwa dan menuliskannya dalam berbagai versi. Karena memang banyak kemungkinan yang bisa ditulis. Hal itu akan menjadi peluru yang banyak untuk menjadi seorang pengarang.</p>
<p>Tinggal sekarang, bagaimana cara menyajikan berbagai kemungkinan itu dalam surat yang akan kita kirim, dalam buku harian yang akan kita buat, dalam artikel yang akan kita tulis, dalam novel yang akan kita bikin, dalam cerpen yang akan kita rangkai jalinan kisahnya. Maka jangan kaget, dengan banyaknya kemungkinan orang suka membaca surat. Sebab, surat yang pasti-pasti itu nggak semangat lagi kita bacanya. Misalnya surat dinas berupa surat perintah kerja, kenaikan gaji, apalagi surat PHK. Novel dan cerpen yang masih ‘misteri&#8217; akan semangat untuk dibaca. Artikel yang ‘menyimpan&#8217; rasa penasaran akan selalu menarik perhatian. Yakin deh.</p>
<p>Untuk menulis artikel, cari saja topik yang ‘menggigit&#8217;. Itu terserah kamu sih. Misalnya kamu bikin tulisan dengan topik cinta. Kamu cari segala masalah yang berhubungan dengan cinta dan cepetan tulis aja. Resepnya, cari topik-topik yang mudah aja dan dekat dengan keseharian kita. Kalo mau ‘jauh-jauh&#8217; juga boleh, nanti kamu bisa memikirkannya jika teori dasar mencari dan memilih topik udah kamu kuasai.</p>
<p>Jadi topik untuk surat, buku harian, artikel, novel, cerpen, puisi bukan soal sulit. Apa saja bisa jadi topik yang menarik. Ada yang bilang bahwa kalo sejak masa kanak-kanak kita bisa membuat apa saja jadi mainan, maka setelah dewasa, katanya akan bisa membuat segalanya jadi karangan. Mobil, gunung, batu, sungai, laut, hewan, manusia, rumah, sekolah, kantor, pohon, anak kecil, kakek-nenek, rambut, kaki, tangan, alis, mata, hidung, pokoknya semua hal bisa menjadi topik yang menarik. Suer. Yang penting, kamu mau menuliskannya. Jangan sampe kamu ngomong, &#8220;isinya sudah tahu, judulnya sudah siap, bahan-bahannya sudah lengkap, arah tulisannya sudah dibuat, sekarang tinggal nulis aja.&#8221; Wah, itu justru bermasalah. Padahal, cepet aja langsung tulis.</p>
<p>Pengalaman saya, jika sudah mendapatkan topik yang menarik, segera langsung mencari data tentang segala hal yang berkaitan dengan topik tersebut. Setelah dapat, saya biasanya nggak melama-lamakan, takut <em>mood</em>-nya untuk menulis hilang. Langsung saja saya tulis. Sebisa mungkin, sebaik mungkin. Sebab, percuma aja kalo semua bahan udah dikumpulkan, tapi kamu masih diam aja. Sekarang, yang dibutuhkan adalah konsentrasimu untuk segera menulis. Jadi, tunggu apalagi, segera tulis. Selamat mencoba! <strong>[<a target="_blank" href="http://osolihin.wordpress.com">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/memilih-topik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Peneliti Kecil-kecilan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jadi-peneliti-kecil-kecilan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jadi-peneliti-kecil-kecilan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 01:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jadi-peneliti-kecil-kecilan/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk memulai menjadi penulis, bisa dicoba juga untuk mencintai kebiasaan meneliti. Jangan dibayangkan bahwa meneliti itu urusannya selalu berat. Nggak juga. Bahkan sebetulnya setiap hari bisa kita lakukan. Ketika menyimak berita di televisi, kamu bisa mengembangkannya. Misalnya ada berita tentang unjuk rasa mahasiswa di berbagai daerah menuntut penurunan harga-harga bahan pokok. Saat itu juga kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/09/mari-membaca.thumbnail.JPG" title="mari-membaca.JPG" alt="mari-membaca.JPG" style="float:left; margin-right: 0.5em;" />Untuk memulai menjadi penulis, bisa dicoba juga untuk mencintai kebiasaan meneliti. Jangan dibayangkan bahwa meneliti itu urusannya selalu berat. Nggak juga. Bahkan sebetulnya setiap hari bisa kita lakukan. Ketika menyimak berita di televisi, kamu bisa mengembangkannya. Misalnya ada berita tentang unjuk rasa mahasiswa di berbagai daerah menuntut penurunan harga-harga bahan pokok. Saat itu juga kamu langsung bertanya-tanya; mengapa mahasiswa menolak kenaikan harga-harga, apa untungnya bagi mereka, mengapa itu bisa terjadi, terus solusinya apa. Entah berapa pertanyaan lagi yang bisa muncul. Dan biasanya, pertanyaan seperti itu hanya bisa muncul ketika kita memiliki rasa ingin tahu yang banyak sekali. <span id="more-669"></span></p>
<p>Waktu kecil, biasanya anak-anak selalu bertanya. Kadang-kadang, menjawab pertanyaan mereka tak selalu mudah, lho. Ketika ia di bawa ke kebun binatang, semua nama jenis binatang ditanya kepada orangtuanya. Bahkan ada pertanyaan yang menggelitik, ‘kenapa beruangnya nggak bisa bicara?&#8217; Maklum, ia membandingkan dengan film kartun Winnie the pooh yang pernah ditontonnya. Nah, rasa ingin tahu seperti itu perlu dipelihara. Jadi jangan sampe kita ‘mati&#8217; dalam keadaan hidup, karena nggak peduli dengan kondisi yang ada. Seolah-olah kita bisa hidup tanpa informasi. Pada lingkungan seperti itu, kata Bang Eka Budianta, buku paling bagus sekalipun nggak akan ada gunanya. Nah lho.</p>
<p>Hobi meneliti, atau mungkin disederhanakan dengan istilah punya rasa penasaran, memang bisa dicoba sejak kecil. Menghitung jumlah pohon yang kita lalui dari rumah ke sekolah, menghitung jumlah perempatan jalan dalam perjalanan yang setiap hari kita lalui antara rumah dan tempat kerja, mengingat warna-warna cat dari pagar rumah teman kita, mengamati kebiasaan sehari-hari teman kita, termasuk makanan kesukaannya, warna favoritnya, hal yang tidak disukainya, bahkan bila perlu mencoba mengetahui jumlah pakaian yang dimilikinya tanpa harus membuka lemari pakaiannya; hanya dengan mengingat warnanya, dicatat dalam hati, dan dihitung diam-diam. Kalo dalam jangka waktu tertentu kamu sampe bisa dengan tepat mengetahui itu semua, kamu berpeluang besar jadi peneleti ulung, juga penulis hebat. Pelihara kebiasaanmu.</p>
<p>Sebab, menulis memang tidak saja mengasah keterampilan menggunakan kata-kata, tapi juga harus lihai dalam akurasi data. Supaya bobot tulisan kita jadi bermutu. Itu sebabnya, untuk menjadi penulis bagi mereka yang masih pemula, bisa dicoba resep ini. Mudah kok. Tentu asal kamu mau dan rajin mencobanya.</p>
<p>Bang Eka Budianta dalam bukunya <em>Menggebrak Dunia Mengarang</em>, menuliskan bahwa minat meneliti menentukan kedalaman dan luasnya jangkauan karangan kita. Ia memberi contoh, sebelum menulis <em>Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, </em>Y.B. Mangunwijaya mendalami masyarakat Maluku dan pola hidup maritim di sana. Begitu juga novel <em>Para Priyayi</em> Umar Kayam, yang ditulis dengan mengadakan berbagai penelitian dan dukungan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Saya pernah membaca dalam sebuah buku, bahwa Ernest Hemingway rela mengarungi lautan, berminggu-minggu hanya untuk mengetahui secara jelas kehidupan di tengah laut sebelum menulis sebuah novel berjudul <em>The Old Man on The Sea.</em></p>
<p>Saya sendiri merasakan pentingnya meneliti, ketika sekolah di SMAKBo (Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor). Di situ saya dan juga teman-teman harus selalu merasa tertantang untuk menemukan jawaban dari setiap bahan yang diujicobakan di laboratorium. Entah di lab. Mikrobiologi, lab. Kimia Industri, lab. Kimia Fisika, lab. Kimia Analisis (gravimetri dan titrimetri). Menganalisis bahan secara kualitatif dan kuantitatif memang membutuhkan ketelitian dan kejelian. Bahkan logika pun turut membantu memecahkan masalah tersebut. Berbagai faktor bisa mempengaruhi hasil; dari bahan baku, cara kita kerja, sampe alat yang digunakan. Nah, kondisi seperti itulah yang membuat saya merasa tertantang untuk mencari jawabannya. Mungkin karena terbiasa seperti itu, ‘irama&#8217; dan ‘rasa&#8217; tersebut secara tidak langsung ikut membantu saya dalam menulis. Menulis apapun.</p>
<p><em>            </em>Wah, tertarik jadi penulis? Untuk sementara resep meneliti ini bisa segera dicoba. Atau kamu bisa lakukan resep sebelumnya di tulisan saya ini. Coba secara intensif, dan terus kembangkan. Jangan pernah merasa bosan. Gagal itu biasa, tapi terus berusaha, itu yang luar biasa. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. <strong>[<a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jadi-peneliti-kecil-kecilan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Surat? Boleh Juga Tuh</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menulis-surat-boleh-juga-tuh</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menulis-surat-boleh-juga-tuh#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2007 01:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/menulis-surat-boleh-juga-tuh/</guid>
		<description><![CDATA[Menulis surat bukan perkara yang susah, tapi juga nggak begitu mudah. Bergantung kepada kebiasaan kita. Celakanya, memulai kebiasaan baru dan mengubah kebiasaan lama nggak gampang. Kadang malah sulitnya minta ampun. Saat kita terbiasa nyantai, ketika diminta untuk giat, juga perlu adaptasi. Nggak mudah. Begitu juga sebaliknya. Tapi, yakinlah bahwa kita bisa memulai kebiasaan baru. Tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/09/hand_writing.thumbnail.jpg" alt="hand_writing.jpg" title="hand_writing.jpg" style="float:left;margin-right:0.5em;" />Menulis surat bukan perkara yang susah, tapi juga nggak begitu mudah. Bergantung kepada kebiasaan kita. Celakanya, memulai kebiasaan baru dan mengubah kebiasaan lama nggak gampang. Kadang malah sulitnya minta ampun. Saat kita terbiasa nyantai, ketika diminta untuk giat, juga perlu adaptasi. Nggak mudah. Begitu juga sebaliknya. Tapi, yakinlah bahwa kita bisa memulai kebiasaan baru. Tentu yang baik dong. Coba ya&#8230;</p>
<p>Dengan menulis surat, kita belajar untuk mengungkapkan perasaan kita secara penuh lewat tulisan. Kita bisa menggunakan pilihan kata yang pas untuk pembaca. Pembaca itu bisa teman dekat, ayah, ibu, kakek, nenek, adik, kakak, atau malah orang yang asing sekalipun, alias yang belum pernah kita kenal. Surat, adalah cara yang cukup efektif untuk berkomunikasi. Lihai atau tidaknya kita berkomunikasi dengan orang lain, bisa dilihat dari apa yang disampaikan dalam surat itu. Bahasa, pilihan kata, dan bagaimana cara merangkai kata-kata itu menjadi tulisan. <span id="more-667"></span></p>
<p>Tapi, bagaimana cara menulis surat ya? Langsung saja. Nggak usah bingung-bingung. Apa yang ada dalam benak kamu segera tuliskan di kertas putih itu, atau buruan tekan tuts-tuts keyboard komputermu. Nggak ada yang sulit kok. Tapi gimana kalo jelek? Lha, kan namanya juga belajar. Salah-salah dikit, atau mungkin banyak nggak masalah. Bahkan kalo yang belajar langsung bisa, nanti nggak nikmat deh. Nggak seru. Nggak bisa cerita ke teman, gimana suka-dukanya bikin surat. Seperti dalam ungkapan sebuah iklan, &#8220;Nggak ada noda, ya nggak belajar&#8221;. Jadi, kegagalan adalah awal dari kehancuran, eh, kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan. He..he..he..</p>
<p>Menulis surat itu mengasyikan lho. Bener. Pengalaman saya waktu kecil seru juga kalo bikin surat. Nggak panjang-panjang. Cukup beberapa kalimat saja. Singkat banget. Waktu itu yang penting bisa menyampaikan pesan. Surat buat teman memang yang paling banyak waktu itu. Nah, pas udah jauh dari orangtua, karena harus melanjutkan sekolah di kota lain, surat yang paling sering saya tulis adalah untuk ortu dan adik, juga untuk teman dekat. Bisa ditebak surat untuk ortu, isi suratnya berkaitan dengan kondisi keuangan. Biasanya kalo udah menipis, pasti deh isi suratnya adalah minta dikirim wesel. Pernah juga minta ortu supaya datang ke kota tempat saya belajar, kalo saya kangen. Asyik lho. Dan, tentunya orang ngerti dengan apa yang kita maksud. Biar klop. Apalagi sekarang, jamannya lewat surat elektronik (e-mail), kiat bisa nulis surat ke banyak orang via mailing list. Mudah dan murah lagi.</p>
<p>Surat yang kita tulis, siapa tahu bisa membantu menyemangati teman kita yang baru patah hati. Siapa tahu juga surat kita bisa menyelamatkan ortu kita dari perceraian. Malah mungkin surat untuk calon pasangan hidup kita. Bener. Kalo kita mau khitbah tapi nggak kuasa diungkapkan langsung dengan kata-kata, atau malu kalo harus nitip lewat teman untuk menyampaikan perasaan hati kita kepada orang yang kita sukai, surat bisa menjadi pilihan paling aman. Saya pernah kok melakukan itu. Saya mengirim surat kepada orang yang sekarang menjadi istri saya. Seru juga lho.</p>
<p>Bang Eka Budianta dalam bukunya <em>Menggebrak Dunia Mengarang</em>, memberikan contoh orang-orang besar yang juga hobi menulis surat. H.B. Jassin misalnya, ia menulis ribuan surat untuk pengarang-pengarang Indonesia. Dengan surat ia membesarkan hati dan memberi semangat kepada penulis di negeri ini. Kumpulan suratnya bisa kamu beli di toko-toko buku terkemuka. H.B. Jassin adalah seorang di antara penulis surat terbaik selain Iwan Simatupang dengan surat-surat politiknya, dan Leila Budiman dengan surat-surat psikologisnya. Ia mengasuh ruang konsultasi pribadi di harian <em>KOMPAS </em>setiap hari minggu.</p>
<p>Surat-surat Roosevelt kepada istrinya, Nehru kepada putrinya, Indira, termasuk kumpulan surat terlaris di dunia. Atau surat-surat Mariam Jamilah kepada al-Maududi itu juga merupakan surat yang mampu memberikan nuansa tersendiri kepada pembaca lainnya. Mengapa mereka bisa? Karena mereka mencintai bahasa. Jadi, mulailah menulis surat. Gampang kok. Cobalah! <strong>[<a target="_blank" href="http://osolihin.wordpress.com">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menulis-surat-boleh-juga-tuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bikin deh Buku Harian</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bikin-deh-buku-harian</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bikin-deh-buku-harian#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2007 00:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/bikin-deh-buku-harian/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah banyak membaca, setelah banyak tahu segala hal, biasanya muncul rasa ingin menumpahkan seluruhnya lewat tulisan. &#8220;Bagaimana caranya? Saya kan belum menguasai teknis menulis?&#8221; Mungkin itu pertanyaan umum bagi teman-teman yang mau menulis tapi bingung gimana caranya. Pak Kuntowijoyo pernah ngasih bocoran, bahwa kalo pengen jadi penulis, mulailah menulis, menulis, dan menulis.
Itu artinya, ya tuliskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/09/bukusaft10.thumbnail.jpg" alt="bukusaft10.jpg" title="bukusaft10.jpg" style="float:left;margin-right:0.5em;" />Setelah banyak membaca, setelah banyak tahu segala hal, biasanya muncul rasa ingin menumpahkan seluruhnya lewat tulisan. &#8220;Bagaimana caranya? Saya kan belum menguasai teknis menulis?&#8221; Mungkin itu pertanyaan umum bagi teman-teman yang mau menulis tapi bingung gimana caranya. Pak Kuntowijoyo pernah ngasih bocoran, bahwa kalo pengen jadi penulis, mulailah menulis, menulis, dan menulis.</p>
<p>Itu artinya, ya tuliskan saja apa yang kamu mau. Tuangkan saja apa yang ada dalam benakmu. Jangan perhatikan dulu EYD dan segala macam aturan menulis. Bukankah ketika kita kecil langsung bisa bicara, padahal tidak mengetahui aturan yang baik. Bagaimana cara bicara yang baik dan sopan. Itu membuktikan jangan melihat dulu aturan yang ada dalam tataaturan teknik penulisan. Jadi, tulislah sesukamu. Tapi harap diingat, jangan asal jor-joran aja nulis. Kalo kamu udah bisa, EYD tentu diperhatikan dong. Utamanya dalam penulisan huruf kapital dan tanda baca. <span id="more-665"></span></p>
<p>Mungkin bisa dicoba dengan bikin buku harian. Di buku itu, kamu bisa menulis apapun tentang perasaan hatimu. Tumpahkan seluruhnya. Entah sedih, kecewa, senang, gembira, juga tentang cinta. Satu kalimat atau dua kalimat saja sehari. Nggak perlu banyak-banyak. Dalam setahun, jadi banyak juga kan?</p>
<p>Banyak gadis jadi kesohor karena buku-buku harian mereka. Misalnya Kartini dari Jepara, dan Anne Frank di Amsterdam. Buku harian kedua gadis itu membuka mata dunia, bahwa hidup terlalu berharga untuk lewat dalam pikiran. Buku harian, sanggup merekam secara jujur perasaan penulisnya. Dengan menulis buku harian, kita bisa melatih kepekaan dalam menggunakan pilihan kata yang bisa kita tuliskan.</p>
<p>Coba deh, untuk menjadi penulis, mungkin resep ini bisa dicoba bagi para pemula. Nggak susah kok. Cukup beli buku harian yang kecil saja. Lalu, tiap hari kamu rajin mengisinya. Terutama hal yang sangat berkesan dalam hidup kamu di hari itu. Tuliskan saja apa adanya. Jangan perhatikan dulu EYD. Suatu saat nanti, jika kita sudah terbiasa menulis, akan kita dapatkan sendiri gimana cara menulis yang baik dan benar.</p>
<p>Waktu SMP dulu, saya juga punya buku harian. Memang malu kalo dibaca orang. Karena kadang-kadang saya menulis tentang pengalaman saya. Yang baik, maupun yang buruk. Waktu itu, saya memang nggak setiap hari menulis di buku harian. Kadang-kadang saja. Utamanya kejadian yang amat berkesan. Tapi, suatu saat ketika membuka-buka kembali buku tersebut kenangan bisa kita rangkai lagi. Bahkan bukan mustahil untuk menuliskannya dalam sebuah cerpen yang lebih baik dari yang ditulis di buku harian. Benar. Bermanfaat sekali, lho.</p>
<p>Jadi, jangan malu-malu untuk punya buku harian. Memang anak puteri yang rajin menumpakan perasaannya di buku harian, tapi anak putera juga ada lho. Mungkin salah satunya saya (he..he..he.. nggak nyombong lho..). Tapi parahnya, sejak bisa nulis, saya jadi jarang nulis buku harian lain. Sekarang malah nggak punya. Pengen juga sih aktif lagi menulis di buku harian, siapa tahu 1 atau 2 tahun ke depan bisa bikin cerita. Bagus juga ya?</p>
<p>Soalnya, kata Bang Eka Budianta, seorang penulis terkenal itu, menyebutkan bahwa menulis buku harian, bukan berarti bunuh diri. Justru dengan menulis, kita membangun kepribadian, mengasah keterampilan menulis dan melatih kepekaan kepada kata-kata. Yuk kita coba. <strong>[<a target="_blank" href="http://osolihin.wordpress.com">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bikin-deh-buku-harian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
