Elpiji Naik!
Hari ini, Selasa 1 Juli 2009, disambut dengan kenaikan harga elpiji sebesar 17,6 persen. Setelah sebelumnya sempat menghilang di pengecer, tanpa alasan jelas, kini tabung gas berisi 12 kg yang sudah Rp 51.000, naik jadi Rp 60.000. Kalau dengan kenaikan angka rapor anak-anak hati para ibu akan berbunga-bunga, kenaikan elpiji? ini cuma? bisa bikin siapapun mengelus dada. Teganya..!
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Achmad Faisal ?mengatakan, kenaikan harga Elpiji kali ini belum memperhitungkan tingginya harga elpiji internasional, tapi baru untuk mengimbangi kenaikan harga transportasi dan biaya pengisian elpiji akibat kenaikan harga BBM. “Apa kalian tega, kuli-kuli yang mengangkut tabung elpiji upahnya tidak? naik?” katanya.
Wah ini bukan berarti kabar gembira bagi saudara-saudaraku para kuli, bahwa gaji kalian akan naik! Tidak. Seperti biasa, harus ada kambing hitam agar harga bisa naik. Sebab menurut Pertamina sendiri, seharusnya harga elpiji juga mengikuti kenaikan harga minyak di pasar internasional yang saat ini sudah menembus level 140 dollar AS per barrel. Jadi seharusnya harga ideal itu Rp 9.000 per kg, kalau sekedar dinaikkan dari Rp 4.250 menjadi Rp 5.000 per kg berarti itu belum apa-apa!
Yang lebih menyakitkan lagi, di tengah gilanya kenaikan harga minyak, Indonesia ternyata memiliki timbunan minyak hasil produksi (lifting) 14 juta barrel yang belum terjual. Pertamina berkelit lagi dengan mengatakan ini soal kesulitan mendapatkan tanker dan cuaca laut yang buruk.
Seperti biasa alasan-alasan bohong sudah biasa diadopsi? dalam dunia yang kapitalistik. Kepentingan rakyat kian tidak diperhatikan lagi. Barangkali posisi rakyat sudah lebih rendah dari mata kaki. Padahal Allah SWT menetapkan bahwa kepemilikan energi yang dihasilkan dari barang-barang kepemilikan umum, seperti tambang ?gas, ada pada rakyat. Rasulullah SAW bersabda: “Kaum muslimin bersama-sama memiliki tiga hal: air, padang penggembalaan dan api.” (HR Abu Dawud). Eksploitasi oleh pihak tertentu, bahkan negara sekalipun, yang tidak digunakan untuk kemaslahatan rakyat, maka jelas sebagai bentuk kezhaliman yang besar. (LATHIFAH MUSA)
































on July 1st, 2008 at 13:41
Katanya karena harga minyak mentah dunia yang melambung tinggi, pemerintah menaikkan harga BBM termasuk minyak tanah agar beban APBN tidak semakin berat. Trus katanya lagi, karena kenaikan harga minyak tanah, diharapkan masyarakat akan mengkonversi bahan bakar rumah tangga ke gas. Stok minyak tanah dibatasi di pasaran, gas juga ikut lenyap. Belum ada pengumuman kenaikan, harga gas udah duluan naik.
Kalo sekarang harga gas udah resmi naik, apa kita diharapkan mengkonversi lagi bahan bakar RT ke kayu bakar?? Cape dech!!!!
on August 27th, 2008 at 09:05
Bingung saya, lha negeri kita ini salah satu penghasil gas alam terbesar di dunia (menurut http://www.infoplease.com/ipa/A0872966.html, data 2006, Indonesia merupakan penghasil gas alam no 11 dunia, dengan Proved reserves sebesar 98 trillion cu ft), kok mengacu ke harga dunia, apa2 harga dunia, kayak kita importir saja. Dimana ruginya pertamina, dimana subsidi yang mereka klaim, kita punya sendiri gas di aceh, natuna, kaltim, sumsel, dll. Kita gak beli dengan harga internasional kok, kita kaya dengan gas. Lha kita aja ekspor LNG ke China, yang jadi skandal merugikan negara ratusan trilyun itu.
Kecuali karena kegoblokan penguasa, seluruh migas di negeri kita dikuasai orang asing, lalu kita beli migas dari tanah indonesia ini dari orang asing dengan harga dunia. Ini terjadi juga di batubara, PLTU Suralaya beli batubara kalimantan dari perusahaan asing dengan dollar, jadi pantas pln bilang rugi. lalu mereka rame2 bilang ada subsidi, seperti kata anggota dpr dari demokrat sutan batuginjal itu, tapi subsidi haram untuk rakyat, subsidi hanya untuk konglomerat, seperti blbi dll.Dibikinlah opini, orang kaya gak berhak dapat subsidi (yang disebut kaya yang tidak terima BLT).
Minyak tanah hilang, rakyat dipaksa ke lpg, setelah lpg jadi satu2nya bahan bakar, harga lpg dinaikkan dan hilang juga, jahanam sekali penguasa kapitalis ini, yang dipikir cuma keuntungan pengusaha, sementara utang konglomerat dibebankan ke rakyat.Keberpihakan pemerintah pada rakyat minim, segala policy yang keluar mesti menguntungkan pengusaha raksasa, dengan mengorbankan rakyat. Terkutuk penguasa dzalim ini.