<?xml version="1.0" encoding="windows-1256"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 23:39:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pemimpin</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pemimpin</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pemimpin#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 23:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2577</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi
Suatu ketika Zia ul Haq (alm.) Presiden Pakistan tahun 1977-1989, me ngumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan redaksi koran the Nation. &#8220;Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara&#8221; , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika Zia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi</strong></p>
<p>Suatu ketika Zia ul Haq (alm.) Presiden Pakistan tahun 1977-1989, me ngumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan redaksi koran the Nation. &#8220;Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara&#8221; , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika Zia, dan lalu men jawab &#8220;Politisi&#8221;. Zia tersenyum mendengar jawaban itu lalu berka ta, &#8220;Ternyata wartawan sekelas anda masih berfikir sependek itu&#8221;. Orang mengira dia akan membanggakan dirinya. Tapi akhirnya ia membuka persepsinya, &#8220;Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual&#8221;. Demikian seterusnya dan Zia pun terus berwacana di seputar isu itu.<span id="more-2577"></span></p>
<p>Zia ul Haq berfikir induktif. Di negerinya inspirator kemerdekaan bukan politisi. Pakistan merdeka dari India berkat terutama inspirasi Mohammad Iqbal. Selain itu terdapat nama-nama seperti Abul Ala al-Maududi, Amir Ali, Sir Syed Ahmad Khan dsb. Semua itu adalah intelektual. India merdeka dari jajahan Inggris karena kekuatan inspiratif Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Nampaknya, dari kasus dikedua negeri itulah kesimpulan Zia tercetus.</p>
<p>Tapi kesimpulan Zia boleh jadi universal. Kita pasti setuju bahwa Indonesia dibangun diantaranya oleh HOS Cokroaminoto adalah guru inspiratif Soekarno dan pemimpin gerakan kebangsaan berdasarkan Islam. Dr.Wahidin Sudiro Husodo, Pencetus Gerakan Budi Utomo berwatak Jawa. Agus Salim digelari Soekarno ulamaintelek, aktor intelektual dari gerakan kemerdekaan Indonesia. KH. Ahmad Dahlan, KH.Hasyim Asy&#8217;ari, Ki Hajar Dewantoro, M. Natsir serta sejumlah Ulama dan intelektual lainnya. Mereka itu adalah intelektual yang politisi dan politisi yang intelek. Soekarno dan Hatta sendiri sebenarnya adalah intelektual. Mereka itulah the founding fathers negeri ini. Jika ini disepakati, maka Zia ul Haq adalah benar. Negeri kita juga tidak didirikan oleh para politisi, tapi para intelektual yang bervisi politik.</p>
<p>Gordon S Wood dalam buku The Pu blic Intellectual menganggap the founding fathers sebagai men of ideas and thought, leading intellelctual sekaligus political leaders. Tapi sejatinya mereka itu secara revolusioner bukan politisi an sich atau intelektual murni seperti dalam pengertian modern yang parsial. Mereka itu adalah intelektual yang tidak teralienasi dan pemimpin politik yang tidak terobsesi oleh pemilu. Mereka hidup dalam dunia ide dan realitas dunia politik tapi tidak utopis dan juga tidak pragmatis.</p>
<p>Bagi Leonard Peikoff, dalam The Ominous Parallels, The Founding Fa thers tidak hanya memiliki ide-ide revolusioner, tapi juga mampu menerjemah kannya ke dalam realitas sosio-politik. Ayn Rand dalam bukunya For the New Intellectual menjuluki mereka sebagai thinkers who were also men of action. Me nurut John Lock merekalah yang men dirikan negara sebagai institusi yang khas. Inilah yang dimaksud Zia ul Haq.</p>
<p>Begitu idealkah mereka? Benar, karena al-fadhlu lil mubtadi walau ahsana al-muqtadi. Pujian diberikan kepada pembuka jalan, meski sang penerus bisa lebih baik. Buktinya generasi sekarang melihat mereka bagaikan mitos, tapi historis. Mereka memuji tapi tidak bisa mengikuti. Petuah mereka digugu tapi in tegritas mereka tidak dapat ditiru. Gor don juga mengkiritik, kita terlalu ba nyak memuji tapi tidak banyak memahami. Memahami mengapa generasi za man revolusi bisa begitu, sedang generasi sekarang tidak. Mengapa idealisme dan politik tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan.</p>
<p>Samuel Eliot Morrison and Harold Laski, keduanya sejarawan Amerika, percaya bahwa dalam sejarah modern, tidak ada periode yang kaya dengan ideide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. Ini menurut Gordon S Wood disebabkan oleh kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini yang turun drastis. Ide telah dipisahkan dari kekuasaan. Dan itu semua adalah harga yang harus dibayar oleh sistem demokrasi, tulisnya.</p>
<p>Kalau Gordon beragama, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme. Agama &#8220;tidak mesti bisa&#8221; menjadi bekal berpolitik. Prinsip &#8220;Jangan bawa agama ke ranah politik&#8221; seperti sudah menjadi konvensi. &#8220;Berpolitik tidak bisa hitam putih&#8221; berarti berpolitik tidak harus ilmiah. Benar salah dalam dunia akademik tidak menjadi ukuran. Rumusannya bisa begini, &#8220;Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah&#8221;. Inilah sebabnya mengapa seorang profesor dan ulama tidak &#8220;mudah&#8221; mengikuti logika politik.</p>
<p>Singkatnya, tidak berarti penerus tidak bisa berfikir revolusioner. Dalam sejarah Islam para khalifah umumnya memiliki ghirah ilmiyyah. Umar ibn Abdul Aziz adalah khalifah penerus yang sangat revolusioner. Adh-Dhahabi menyebutnya ulama yang amilin, artinya juga alim yang amir. Ia mampu mengembangkan ekonomi dan ilmu pengetahuan sekaligus. Ia membangun politik dan juga peradaban. Rakyatnya tidak layak menerima zakat karena sejahtera lahir dan batin. Intelektualitasnya adalah dasar dari keadilannya. Ilmunya menjadi bekal amalnya. Itulah umara-ulama yang dapat menjadi cahaya (misykat) bagi umat manusia. Wallahu a&#8217;lam. <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=145&amp;Itemid=26" target="_blank"><strong>[INSIST]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pemimpin/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Masjid Kudu Gaul!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-masjid-kudu-gaul</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-masjid-kudu-gaul#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 17:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<category><![CDATA[gaul]]></category>

		<category><![CDATA[masjid]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2592</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 088/tahun ke-2 (6 Rajab 1430 H/29 Juni 2009)

Wah nggak nyangka ini pertama kalinya gue mendapat tawaran untuk nulis di buletin gaulislam, deg-degan dan agak nervous nih maklum baru belajar. But, gue tetep kudu lakuin juga. Sebuah tantangan yang kudu gue taklukkin. Ciee.. &#8220;pede abis mode on!&#8221;
Oya, gue kali ini dapet jatah nulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam edisi 088/tahun ke-2 (6 Rajab 1430 H/29 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wah nggak nyangka ini pertama kalinya gue mendapat tawaran untuk nulis di buletin gaulislam, deg-degan dan agak nervous nih maklum baru belajar. But, gue tetep kudu lakuin juga. Sebuah tantangan yang kudu gue taklukkin. Ciee.. &#8220;pede abis mode on!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, gue kali ini dapet jatah nulis seputar remaja masjid. Hmm&#8230; pastinya gue bisa dong buat jelasin soal ini. Kamu tahu kan remaja masjid itu apa? Bukan remaja yang nongkrongin di masjid sambil jagain beduk lho. Yup, remaja masjid adalah sekelompok pemuda/pemudi yang melakukan aktivitas sosial dan ibadah di lingkungan masjid. Walaupun tidak menutup kemungkinan di suatu daerah ada juga anggota remaja masjid yang berumur 35 tahun atau lebih (nggak tahu deh, di tempat lain mungkin ada yang udah kakek-kakek hehehe..).<span id="more-2592"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin hal itu terjadi karena ngak adanya kaderisasi, padahal definisi remaja itu sendiri adalah masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun sedangkan kalo ditafsirkan dari bahasa inggris &#8220;teenager&#8221; yakni manusia usia 13-19 tahun. Wah kalo gitu umur gue udah kedaluarsa dong buat jadi remaja masjid! (mungkin gue tepatnya jadi engkong masjid kali ye!). Ah, nggak apa-apa deh, biarpun gitu gue tetep imut kok hehehe.. (narsis mode on). Sss.. jangan ribut ya.. maksudnya imut itu adalah item mutlak! Dan mutlak itu akronim dari &#8220;muda, tampan, dan berakhlak!&#8221; hahahaha.. (narsis lagi deh gue).</p>
<p style="text-align: justify;">BTW, sebagian dari kamu mungkin berpikir bahwa remaja masjid adalah suatu kumpulan orang-orang monoton, yang kerjanya duduk, dengerin ceramah, pulang, sikat gigi, cuci kaki, terus tidur. Padahal nggak gitu juga deh. Kita juga bisa bikin kegiatan organisasi remaja masjid ini menjadi lebih menarik lho. Nggak percaya? Silakan dijajal!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, bukankah menarik atau tidaknya setiap organisasi itu tergantung dari bagaimana keragaman aktivitas yang ada di dalamnya? So, menjadi remaja masjid itu bisa menarik, bisa nggak. Banyak kok alternatif yang membuat kegiatan remaja masjid menjadi menarik. Contohnya nih, selain kumpul-kumpul di masjid dan menimba ilmu agama kegiatan ini juga mengajarkan kita bagaimana berorganisasi, dan sarana untuk berbagi pengetahuan antar sesama aktivis. Misalnya aja ada temen kamu yang pinter nulis, pinter bikin web atau keterampilan khusus lainnya di sinilah kamu bisa manfaatin kegiatan kumpul-kumpul itu buat mempelajari keterampilannya. Nah, hal itu selain bermanfaat buat kamu, juga bisa memancing minat temen-temen kamu yang lain untuk bergabung sama kamu dan kawan-kawan. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kudu gaul!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Eits.. nanti dulu! Jangan mentang-mentang gue nulis bahwa jadi remaja masjid kudu gaul, terus kamu siap-siap deh menghiasi seluruh badan kamu pake tato apalagi tatonya itu tato batik, dengan dalih memperkenalkan seni membatik dari Indonesia ke luar negeri atau malah tato polkadot warna putih, entar malah disebut panu. Pengertian gaul disini ya harus secara syar&#8217;i en nggak boleh melanggar kaidah-kaidah keislaman. Inget, gaul itu nggak selalu identik dengan sesuatu yang negatif kok.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, gaul di sini artinya adalah berwawasan luas, supel, dan mengerti teknologi yang ada saat ini. Berwawasan luas, artinya kamu harus tahu bagaimana perkembangan dakwah islam dan problematika yang dialami umat islam saat ini, serta penyelesaiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, selain kudu gaul, kamu juga harus supel. Bener nih. Jangan sampe deh kamu yang ngakunya sebagai remaja masjid hanya mau ngobrol dan main antar sesama aktivis remaja masjid aja, terus kamu mengisolasi diri kamu dari orang-orang sekitar. Nggak lah. Seorang remaja masjid itu kudu mudah bergaul alias supel karena dengan menjadi supel kamu dapat lebih banyak bergaul dan mengajak teman-teman kamu yang lain untuk bergabung menjadi anggota remaja masjid. Kamu kudu inget bahwa dirimu bertanggung jawab untuk berdakwah di lingkunganmu dan dakwah adalah interaksi. <em>So</em>, kalo kamu menutup diri dari orang lain dan merasa cukup bergaul di situ-situ aja, kapan bisa dakwahnyam Brur?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, sebagai remaja masjid, setidaknya kamu juga kudu ngerti teknologi. Gimana juga,? setiap pemuda Islam baik itu remaja masjid atau bukan haruslah mengerti teknologi yang ada saat ini, misalnya mengetahui cara membuat website or blog, cara bikin e-mail, punya blog, kenal dengan situs jejaring sosial macam facebook dan friendster, dan sejeninsya lah. Tapi, kudu inget bahwa jangan mentang-mentang kamu udah bisa buat semua itu langsung deh kamu manfaatin buat kegiatan yang nggak produktif seperto cari pacar, amin gim atau sekadar obral obrol di situs jejaring sosial. Nggak lah. Gaul tentang teknologi yang tadi gue sebutin itu, adalah untuk mendukung aktivitas dakwah. Masih mending kalo buat cari duit sih nggak masalah. Ya,? yang terpenting sih kamu harus bisa manfaatin itu semua sebagai sarana dakwah dong! Ya, kayak buletin gaulislam ini deh (cieee.. pede abis mode on!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Semangat berdakwah dong&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan mentang-mentang kamu masih muda terus kamu kehilangan tanggung jawab untuk mengemban dakwah. Nggak lah. Kita kudu mengerti lho bahwa mendakwahkan Islam kepada setiap umat manusia adalah kewajiban yang dibebankan oleh Allah Swt. bagi kita semua (baik tua, muda, pria, dan wanita). Juga nih, jangan minder untuk mendakwahkan Islam. Misalnya, jangan sampe deh kamu selalu berpikir bahwa yang boleh dakwah itu harus pak ustadz dan pak kiyai aja. Nggak banget. Kamu tahu kan imam syafi&#8217;I, seorang ulama terkenal pembangun mazhab syafi&#8217;i beliau pada usia 18 tahun sudah mulai mengajar di Masjidil Haram dan berhasil membuat para jamaah haji menjadi terkagum-kagum dengan ilmunya. Jadi urusan umur itu bukan alasan yang tepat untuk nggak berdakwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, sebagai aktivis dakwah di lingkungan kamu sendiri khususnya di kalangan remaja lainnya paling nggak kamu tuh kudu RMS. Hah, nggak salah nulis singkatan nih? Apa tuh RMS? Yup, RMS tuh Religius Modern &#8216;N Smart. Swit Swiw.. gue gitu lho! Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Biar termasuk golongan remaja religius, paling nggak kita bisa percaya diri karena udah disebut dalam al-Quran sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): <em>&#8220;kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah </em><strong>( QS al-Imran [3]: 110)</strong>.<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sebagai seorang muslim, remaja masjid dan aktivis dakwah tentunya kamu kudu beriman dan bertakwa-baik dalam perkataan maupun perbuatan, jangan cuma jadi formalitas doang. Nggak seru dong kalo sampe aktif sebagai remaja masjid tapi hot juga maksiatnya. Ke masjid semangat, ke tempat dugem getol. Nggak deh! Kalo sampe kayak gitu sih bakal malu-maluin diri kamu sendiri. <em>So</em>, pastiin kamu adalah umat yang terbaik! Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, selain religius kamu paling nggak kudu gaul ngikutin jaman deh. Yup, modern. Sebagai seorang remaja kamu pasti nggak mau kan dibilang ketinggalan zaman, alias nggak modern? But,? kudu inget maksud modern di sini tuh bukan modern yang cuma ikut-ikutan aja-misalnya ada temen kamu yang bertingkah nggak sesuai dengan kaidah keislaman, terus kamu kasih tahu dia, eh dia malah bilang &#8220;ah dasar kamu nggak modern&#8221;. Parahnya kamu tergoda karena nggak tahan disebut nggak modern, hingga akhirnya kamu ngikutin dia deh. Wah itu sih bukannya modern tapi lebih ke arah plagiat atau jadi generasi pembebek untuk hal yang nggak bener. Ati-ati ye!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, seorang muslim itu harus modern karena kitab suci kita al-Quran adalah kitab yang sesuai sampai akhir zaman. Lengkap dari mulai aturan kenegaraan alias politik sampai dengan hukum waris dan semua hukumnya dapat memenuhi naluri manusia. Nggak kayak kitab-kitab sebelumnya, malah tentang kemodernan al-Quran ini juga diakui oleh konferensi Montreal sebagai sumber pokok dari sumber-sumber hukum internasional modern. Wuih, gimana nggak bangga tuh kita sebagai umat Islam? Pokoknya kamu harus yakin kalo kita bertindak sesuai dengan tuntunan al-Quran maka kita akan menjadi umat yang modern, dan beradab. Yakin itu. Insya Allah banget lah!</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, selain religius dan modern, remaja masjid kudu juga &#8220;smart&#8221; lho. Ya iyalah, kita tuh orang muslim dan kita dituntut untuk menjadi orang yang smart alias cerdas sesuai dengan hadits Rasulullah saw. Sabda Rasulullah saw.: <em>&#8220;Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.&#8221; </em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yup, menuntut ilmu dan belajar tuh diwajibkan lho dalam ajaran Islam, sehingga pada masa kekhalifahan generasi Islam telah menghasilkan banyak ilmuwan, baik dalam ilmu agama maupun dunia. Nah, karena begitu pentingnya pendidikan dalam Islam, ketika zaman kekhalifahan biaya pendidikan tuh gratis, nggak kayak sekarang ini ketika zaman telah dikendalikan oleh sistem kapitalis. Semua diukur dengan duit, dan dibatasi akses untuk dapetin pendidikan, juga dengan duit. Kacau kan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Remaja masjid mandiri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, dalam organisasi tuh pasti kan ada beberapa masalah. Mungkin kebanyakan kamu pernah juga ngerasain gimana sih kaum tua yang terkadang mengekang kita dalam setiap aktivitas termasuk turut campur dalam kegiatan remaja masjid ini. Misalnya aja ketika kamu bersama beberapa aktivis lain mengusulkan proposal jalan-jalan ke suatu daerah buat ngilangin kejenuhan yang ada sekaligus mempererat tali silaturahmi antar aktivis, tapi dengan entengnya &#8220;para tetua&#8221; itu bilang &#8220;Ah ngapain sih pake jalan-jalan mendingan buat inilah, itulah&#8221; mungkin kamu akan bete,? atau ketika kamu bikin buletin yang mau kamu tempelin di mading masjid eh malah ditutupin sama selebaran jumlah sumbangan masjid bulan itu (lebih nyeseknya tuh buletin yang kamu tempel belum berumur satu hari). Lebih betenya lagi orang yang nempelin bilang buletin kamu itu nggak penting, padahal kamu bikin buletin itu mati-matian.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa juga &#8216;pengekangan&#8217; itu ketika semua rencana acara yang kamu ajuin selalu ditolak sama DKM (bete mode on!). Kalo kasusnya seperti itu sebagai remaja kamu harus belajar dong untuk berdiplomasi dengan para sesepuh dan menjelaskan kepada mereka bahwa kegiatan kamu itu positif dan juga ada manfaatnya. Terus kamu harus bisa mastiin ke mereka bahwa kamu adalah remaja masjid yang mandiri. Juga, bisa aja ketika buletin kamu ditutup sama selebaran lain cobalah kamu cari alternatif lain dengan membuat mading pribadi khusus remaja. Jangan langsung <em>pundung</em> bin <em>mutung</em>, terus bubar jalan deh. Nggak lah ya. Jadi intinya, apapun yang terjadi kamu harus siap menghadapinya dan jangan terlalu bergantung pada DKM sepenuhnya-apalagi untuk urusan anggaran dana, cobalah kamu sekreatif mungkin dalam menjalankan organisasi kamu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, buatlah mereka bangga dan cobalah untuk tidak bergantung pada orang lain jadilah sebuah inspirasi buat orang lain. Hmm.. masih ragu untuk menjadi remaja masjid yang gaul? Nggak kan? Sip deh! <strong>[ikrar: ikrarestart@gmail.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-masjid-kudu-gaul/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Itu Emas Perhiasan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 21:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2562</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Mukti

Remaja itu adalah lukisan anak-anak di masa depan, dan orang tua itu adalah lukisan remaja di masa depan. Jangan harap akan lukisannya tentang remaja di masa depan bakalan bagus kalau sejak masa anak-anak jiwa mereka tidak pernah diolah dengan pembinaan keislaman. Meski memang ada segelintir remaja yang menjadi baik meski masa anak-anaknya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Mukti</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Remaja itu adalah lukisan anak-anak di masa depan, dan orang tua itu adalah lukisan remaja di masa depan. Jangan harap akan lukisannya tentang remaja di masa depan bakalan bagus kalau sejak masa anak-anak jiwa mereka tidak pernah diolah dengan pembinaan keislaman. Meski memang ada segelintir remaja yang menjadi baik meski masa anak-anaknya, tapi itu prosesnya amat sulit.</p>
<p dir="ltr">Karenanya saya melihat kalau pembinaan anak-anak itu jadi penting banget. Saya rasakan itu pada diri saya sendiri. Keluarga kami memang tidak Islami. Orang tua saya kurang memberikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berkeluarga. Mereka hanya mengajarkan norma-norma atau etika moral saja. Ya, kalau masalah sholat dan puasa memang masih mereka lakukan, cuma untuk mengajarkan secara detail dari bagian-bagian itu tidak pernah. Saya saja bisa sholat dan bisa ngaji karena ikut teman-teman ketika masih di komplek, di Cimahi. Kebetulan di sana ada seorang ustadz yang suka mengadakan pengajian. Pokoknya, saya bisa begini karena bisa sendiri. Pernah sewaktu bercerita tentang hal ini dalam satu ceramah, ibu saya - almarhumah &#8212; yang hadir di sana tersinggung, tapi untunglah saya bisa berbaikan lagi dengan beliau.<span id="more-2562"></span></p>
<p dir="ltr">Saya prihatin melihat banyak orang tua yang nggak serius mendidik anak-anak mereka dalam urusan agama. Dalam shalat misalnya, banyak lho orang tua yang nggak tegaan menyuruh anaknya shalat, seperti membangunkan untuk shalat shubuh dengan alasan tidak tega atau kasian anaknya masih ngantuk. Apalagi kalau harus sampai mukul anaknya gara-gara tidak shalat, jelas mana tega.</p>
<p dir="ltr">Maka saya berusaha untuk disiplin mendidik anak untuk urusan agama. Alhamdulillah saya masih tega membangunkan anak untuk shalat shubuh meski anak saya masih tidur pulas. Hasilnya sekarang ada. Kalau tiap shubuh dia yang sekarang membangunkan saya, <em>ngagabrug</em> (menjatuhkan diri -red) ke badan saya tiap subuh. <em>&#8220;Abi bangun shalat shubuh,&#8221; </em>katanya ke saya. Emang sih kaget dan badan saya sakit, tapi gitu-gitu saya senang. Atau setiap maghrib ia minta saya <em>monten</em>, menilai azannya. Padahal sih suaranya nggak bagus dan nggak ada iramanya, tapi lagi-lagi saya seneng liat ia azan, berarti ia sudah mulai paham shalat meskipun sedikit-sedikit.</p>
<p dir="ltr">Tantangan pendidikan buat anak saya lihat makin besar. Coba aja, setiap maghrib anak-anak kaum Muslimin disuguhin film, macam <em>Kapten Tsubasa</em>. Anak saya juga keranjingan nonton film itu. Belum lagi acara-acara lain yang kandungan pendidikan agama dan moralnya nggak ada. Repot jadi orang tua sekarang ini.</p>
<p dir="ltr">Saya melihat cara yang paling efektif untuk mendidik anak adalah dengan memberikan teladan yang baik pada mereka. Sedih rasanya melihat anak-anak yang orang tuanya tidak memberikan contoh baik di rumah, hanya bisa nyuruh-nyuruh pada anaknya. Orang tuanya nggak shalat tapi anaknya disuruh-suruh shalat, atau anaknya disuruh pake jilbab tapi ibunya ke mana-mana pake celana pendek, termasuk ketika nganter anaknya ke TPA. Padahal orang tua kan seharusnya jadi contoh, jadi <em>role model</em> yang baik buat anak-anaknya. Moga-moga banyak orang tua yang sadar akan hal itu.[]</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/anak-itu-emas-perhiasan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Martir Revolusi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/martir-revolusi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/martir-revolusi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 01:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2583</guid>
		<description><![CDATA[Ria Fariana
Svetlana bangkit, dan membuka pintu yang sebelumnya sempat ada uluk salam dari orang di baliknya. Mereka berbincang sebentar dengan memakai pintu sebagai tabir kemudian laki-laki itu pergi. Svetlana masuk dan menemui empat perempuan yang berkerudung dan berjilbab duduk mengelilingi meja.
&#8220;Kalian harus segera pulang sekarang. Halaqah kali ini ditiadakan.&#8221; Dengan sigap Svetlana mengemasi kitab-kitab kajian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ria Fariana</strong></p>
<p>Svetlana bangkit, dan membuka pintu yang sebelumnya sempat ada <em>uluk salam</em> dari orang di baliknya. Mereka berbincang sebentar dengan memakai pintu sebagai tabir kemudian laki-laki itu pergi. Svetlana masuk dan menemui empat perempuan yang berkerudung dan berjilbab duduk mengelilingi meja.</p>
<p>&#8220;Kalian harus segera pulang sekarang. Halaqah kali ini ditiadakan.&#8221; Dengan sigap Svetlana mengemasi kitab-kitab kajian di meja. Bahkan ia tak sempat lagi untuk menutup forum kajian kali itu.</p>
<p>&#8220;Aparat Karimov mulai digerakkan untuk menggerebek kumpulan muslim atau pun muslimah yang mengkaji kitab kebangkitan,&#8221; Svetlana menjelaskan sambil tangannya terus bergerak merapikan meja.<span id="more-2583"></span></p>
<p>Empat perempuan yang berkedurung dan berjilbab itu dengan sigap juga ikut merapikan kitab dan segera mengambil mantel masing-masing yang tersampir di kursi.</p>
<p>&#8220;Pulang berpencar. Dua-dua, Anisah dengan Fatimah. Aida dengan Zainab. Hati-hati, Allah melindungi kalian dan kita semua yang berusaha mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah kaum muslimin.&#8221; Mereka pun berpisah setelah saling bersalaman dan berpelukan untuk mengeratkan ukhuwah.</p>
<p>Sepeninggal mereka, Svetlana masuk ke dapur dan membuka sebuah bilik kecil yang sekilas tak ada bedanya dengan tembok di sekelilingnya. Kitab-kitab untuk membangkitkan umat disimpannya dengan rapi di sana, setelah sebelumnya dibungkus dengan kertas-kertas lusuh bekas. Setelah ditutupnya dengan pelan, Svetlana masuk kamar dan mulai menyalakan komputer. <em>Dial up</em> internet dinyalakannya, beberapa e-mail ada yang masuk. Sambil menunggu <em>download</em> sampai selesai, Svetlana membaca beberapa e-mail yang sudah masuk ke <em>inbox</em>-nya.</p>
<p>Dua email dari temannya di London dan satu e-mail dari temannya di Indonesia. Menarik ketika email dari <em>cyber friend</em>-nya itu ada sepotong puisi dalam bahasa Indonesia. Svetlana sedikit bisa berbahasa melayu untuk jaga-jaga bila rezim di negerinya semakin represif dan ia tak aman lagi berbicara dalam bahasa Uzbek atau pun Inggris.</p>
<p>Di-<em>print</em>-nya puisi itu. Lalu dibacanya sekali lagi. Svetlana membayangkan akan membacakannya di depan umat bila kondisi memungkinkan nanti, tentunya setelah diterjemahkannya dalam <em>O&#8217;zbek tili*</em> agar bisa dipahami masyarakatnya. Puisi ini jauh lebih indah dan membangkitkan semangat revolusi damai daripada mayoritas Chaghatai* yang ada di Uzbekistan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Ini adalah minggu ketiga Svetlana meliburkan <em>halaqah</em>. Kondisi tidak memungkinkan bagi mereka untuk membawa kitab kebangkitan itu. Tapi syukurlah masih ada kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang lain demi menjaga komunikasi dan koordinasi. Dan tepat pada tanggal 13 Mei nanti, setelah sholat Jum&#8217;at akan diadakan <em>masirah</em> atau unjuk rasa besar menentang kezaliman rezim Karimov terhadap rakyat negeri ini.</p>
<p>Svetlana cukup sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai menghubungi para muslimah di rumah mereka satu demi satu karena ketatnya pengawasan terhadap adanya kerumunan, hingga membantu menyebarkan bendera al-Liwa dan ar-Roya. Bendera dengan dasar hitam dan putih bertuliskan kalimat syahadat inilah nanti yang akan mereka bawa, bukan biru putih hijau dengan bulan sabit dan 12 bintang. Bendera Uzbekistan yang menandakan nasionalisme.</p>
<p>&#8220;Svetlana, ada telpon dari kakakmu, Usmanov,&#8221; Aisyah, teman Svetlana yang kebetulan ada di rumahnya membantu menyiapkan perlengkapan <em>masirah</em>.</p>
<p>Diambilnya gagang telepon itu setelah sebelumnya mengucap terima kasih.</p>
<p>Hanya sesaat Svetlana berbicara dengan kakaknya yang juga merupakan koordinator lapangan bagi pelaksanaan <em>masirah</em>.</p>
<p>&#8220;Masiroh dipindah ke Andijan, tidak jadi di Tashkent,&#8221; Svetlana memberitahu Aisyah.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Entahlah, itu keputusan para ikhwan. Mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan apabila pelaksanaan ada di kota Taskent. Karimov akan mempunyai banyak alasan untuk membungkam kita dengan alasan demi keamanan ibu kota.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku pamit dulu. Perubahan ini harus segera kuberitahukan kepada yang lainnya.&#8221;</p>
<p>Mereka berpelukan sebelum berpisah.</p>
<p>&#8220;Hati-hati, ya ukhti. Jaga kerahasiaan, intel Karimov ada di mana-mana,&#8221; Svetlana mengingatkan Aisyah. Aisyah mengangguk terharu.</p>
<p>&#8220;Allah pasti akan memenangkan dakwah ini. Allahu Akbar. Assalamu&#8217;alaikum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikumsalam wr.wb.&#8221;</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Andijan, pagi hari 13 Mei 2005. Langit mendung memayungi sebagian wilayah Uzbekistan. Orang-orang beraktivitas seperti biasa. Yang pegawai kantor tetap berangkat kerja ke kantor, yang guru tetap mengajar, yang dokter tetap mengobati pasien, yang pedagang pun juga tetap berjualan.</p>
<p>Suasana mulai berubah menginjak siang. Ketika mayoritas dari laki-laki yang ada di Uzbek menghadiri sholat Jum&#8217;at yang didahului dengan khutbah. Seluruh masjid di Andijan dan kota-kota sekelilingnya berisi tema yang sama. Bahwa kekufuran dan kezaliman tak bisa dibiarkan merajalela. Betapa azab Allah akan menghampiri mereka yang tak mau menerapkan hukum Allah dalam segenap aspek kehidupannya. Sudah waktunya rakyat bangkit. Perubahan tak akan terjadi tanpa mereka punya semangat dan kemauan untuk berjuang ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Tak ada wajah kuyu dan mengantuk dalam mendengarkan khutbah Jum&#8217;at. Mereka semua teraliri semangat para Khatib yang berkhutbah bahwa Islam saja sebagai solusi. Dalam sujud mereka kali itu, Jum&#8217;at di siang mendung itu, mereka merasakan kekuatan mahadahsyat untuk bergerak. Wangi minyak kesturi, yang biasa hadir menyambut jasad para syuhada, dengan pelan dan lembut menyelinap dalam shaf-shaf sholat itu.</p>
<p>Usai munajat panjang para jamaah sholat, diumumkan akan ada <em>masirah</em> besar di Andijan. Diharapkan segenap masyarakat hadir dan mendukung tuntutan agar Karimov mundur dan mengakhiri rezim zalimnya. Tak diduga, sekitar 3000 lebih muslim berkumpul. Terlihat juga barisan muslimah yang ikut hadir dan mendukung <em>masirah </em>menuntut diakhirinya rezim tiran dan menawarkan syari&#8217;ah sebagai solusi.</p>
<p>&#8220;Ya ukhti, jaga barisan. Tetap di posisi masing-masing, intel Karimov mudah sekali menyusup bila kita tak hati-hati,&#8221; Svetlana sibuk mengatur barisan dan menjaganya agar tak ada pihak perusuh yang menyelinap. Tangannya sibuk menyebarkan ikat kepala putih dengan tulisan syahadat bertinta hitam. Lautan manusia terus berdatangan memberi dukungan pada aktivitas siang itu. Jarak yang mereka tempuh pendek karena memang yang lebih difokuskan adalah orasi membuka kedok bobrok Karimov. Masyarakat sudah memberi dukungan penuh untuk meminta Islam saja sebagai solusi.</p>
<p>Orasi dilakukan bergantian oleh para ikhwan. Hingga pembicara ketiga, Usmanov, kakak laki-laki Svetlana, seorang revolusioner Islam yang rindu syahid, maju. Setelah mengucap salam, tahmid dan sholawat, ia pun mulai berbicara.</p>
<p>&#8220;Revolusi adalah sebuah kepastian, saudaraku. Revolusi damai tanpa kekerasan. Umat sendiri yang menuntut rezim tiran Karimov untuk mundur. Tanpa Islam, Karimov dan antek-anteknya tak akan pernah mampu membawa umat ini pada kebangkitan. Hanya Islam saja yang mempunyai solusi atas semua masalah-masalah yang dihadapi negeri ini. Jangan bersedih saudaraku, kita mempunyai banyak saudara lain di belahan bumi sana, di jengkal mana pun ada tanah untuk berpijak di sanalah dakwah Islam digemakan. Saya tak akan berorasi kali ini, tapi akan membacakan sebuah puisi indah dari saudara kita di Indonesia, yang juga sedang mengupayakan kebangkitan hakiki.&#8221; Usmanov mengambil kertas dari sakunya dan mulai membacakan puisi yang sudah diterjemahkan adiknya dalam <em>O&#8217;zbek tili</em>.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tolong jangan salahkan aku tentang matahari</em></p>
<p><em>Bagaimana aku tahu engkau akan terbakar?</em></p>
<p><em>Dan tolong jangan salahkan aku tentang bulan</em></p>
<p><em>Bagaimana aku tahu bahwa kamu akan membusuk?</em></p>
<p><em>Aku tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama</em></p>
<p><em>Lain waktu, aku bangun sebuah adidaya</em></p>
<p><em>Aku yakin kita dapat berbincang panjang lebar</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Tolong jangan salahkan aku tentang dunia</em></p>
<p><em>Bagaimana aku tahu semua ini akan memburuk?</em></p>
<p><em>Dan tentu aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama</em></p>
<p><em>Lain waktu aku bangun sebuah adidaya</em></p>
<p><em>Aku yakinkan kau berpartisipasi di dalamnya</em></p>
<p><em>&#8230;&#8230;</em></p>
<p>Usai membaca puisi itu, Usmanov melanjutkannya dengan pekikan pengobar semangat.</p>
<p>Ya saudaraku, kita akan bangun sebuah adidaya dengan Islam, Allahu akbar!</p>
<p>Dan pastikan kita berpartisipasi di dalamnya, Allahu Akbar!</p>
<p>Sungguh, tak ada kemuliaan tanpa Islam, Allahu akbar!</p>
<p>Sungguh, tak ada Islam tanpa syariah, Allahu akbar!</p>
<p>Sungguh, tak ada syariah tanpa Khilafah, Allahu akbar!</p>
<p>Salam kehancuran bagi kedigdayaan semu Kapitalisme, Allahu Akbar!</p>
<p>Pekik takbir Usmanov turut digemakan seluruh peserta <em>masirah</em> dengan semangat. Tiba-tiba dari seluruh penjuru mata angin tetetetetetetetetetetet&#8230;.suara tembakan beruntun menerjang peserta unjuk rasa siang hari itu. Dalam sekejap mata, darah di mana-mana. Tubuh-tubuh berjatuhan, tergeletak tak berdaya tanpa perlawanan sedikit pun. Barisan muslimah di belakang segera semburat berlarian menyelamatkan diri. Beberapa jatuh dan syahid di tempat, memperjuangkan Islam sebagai ideologi.</p>
<p>&#8220;Ayesha, lari ke sebelah sini, sist,&#8221;teriak Svetlana pada Ayesha yang sedang menggendong bayinya berumur 9 bulan.</p>
<p>&#8220;Aishah, Fatimah, Zahrah, Habibah, lari ke masjid!&#8221; Svetlana terus berusaha menyelamatkan para muslimah yang bingung arah dalam berlari. Suara tembakan semakin sering dan dekat.</p>
<p>Dalam langkah larinya, Svetlana teringat abangnya. Usmanov masih di podium kecil meneriakkan takbir ketika tembakan terdengar. Tanpa terasa ada air mata menggenangi pipinya. <em>Camcorder</em> mungil yang selalu ada di tasnya, dirabanya dan ia pun merubah arah larinya.</p>
<p>&#8220;Svetlana, berlindung sist. Jangan ke arah podium, di situ pusat tembakan terjadi,&#8221; brother Hasyim berteriak mengingatkanya. Svetlana hanya melambaikan tangannya dan bergegas menuju arah yang dilarang itu.</p>
<p>Svetlana, gadis lincah bernyali baja, berjalan dengan mengendap-endap. Ditahannya nafas dan juga sesak yang membuncah di dadanya. Bukan sesak karena tak ada udara, tapi sesak karena kemarahan yang menggelora. Tubuh-tubuh para mujahid dakwah itu bergelimpangan di tanah. Brother Alimov, Husain, Kaparov, dan banyak brother lain yang ia tahu sebagai teman-teman abangnya dalam berdakwah, syahid.</p>
<p>Tak pernah Svetlana melihat mayat sebanyak ini. <em>Masirah</em> di Andijan menjadi ladang pembantaian para pengemban dakwah yang berusaha mengembalikan kekhilafahan di muka bumi. Karimov laknatullah! Svetlana begitu geram hingga hampir-hampir ia tak mendengar suara lars sepatu militer berjalan ke arahnya. Allah bersamanya. Ia segera melompat dan bersembunyi di dalam bak sampah besar yang ada di dekatnya. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Dengan hati-hati, berusaha diintipnya lewat celah kecil di bak sampah. <em>&#8220;What the hell they&#8217;re doing?&#8221;</em> batin Svetlana geram. Tentara-tentara Uzbek itu meletakkan senapan di tangan para brothers.</p>
<p>Dengan sigap, dipasangnya <em>camcorder</em> untuk menangkap momen itu. Tak henti bibir dan batin Svetlana terus mengumandangkan asma Allah, ayat kursi dan doa mohon perlindungan dari <em>dajjal-dajjal</em> berbentuk manusia ini.</p>
<p>Beberapa kali diambilnya adegan para tentara yang berusaha memfitnah para brothers itu dengan kamera videonya. Di-<em>zoom</em>-nya sehingga tampak begitu jelas. Ya Allah, bantu aku menyampaikan kebenaran ini pada dunia. Svetlana terus berdoa. Dan Allah menjawab doanya.</p>
<p>EPILOG</p>
<p>Usmanov syahid bersama mayoritas muslim lainnya yang ada di lapangan Andijan. Kelompok Islam tertentu menjadi kambing hitam Karimov atas kebrutalannya. Ia menyebutnya sebagai kerusuhan yang disebabkan oleh para teroris. Dengan pongah, Karimov menunjukkan foto <em>brothers</em> yang syahid memegang senjata rekayasa yang diletakkan oleh tentara-tentara suruhannya dan menuduh mereka adalah para teroris.</p>
<p>Svetlana selamat. Dunia boleh tertipu oleh ulah Karimov. Tapi rekaman video kecil ini dan sejumlah foto yang diabadikannya akan menjadi saksi tak terbantah bahwa pernyataan Karimov palsu. Dengan mata nanar, Svetlana menatap foto Presiden negerinya itu dengan penuh kemarahan. Kemenangan Islam tak lama lagi, Karimov, batin Svetlana geram. Tunggu saat pembalasan dari semua kekejian yang telah kamu lakukan terhadap kaum muslimin.</p>
<p>Pada saat yang bersamaan, video dan rekaman amatiran dari <em>camcorder</em> Svetlana terus digandakan. Terus dan terus. Tanpa ada hak cipta kecuali kebenaran itu sendirilah yang bakal tercipta.</p>
<p>Sementara itu, bumi Andijan masih basah oleh darah. Belahan bumi yang lain masih terus menggelorakan semangat perubahan dan kebangkitan hakiki. Tiran terus menghantam, pengemban dakwah terus maju berjuang. Hingga saatnya nanti, Hidup mulia dengan syariah dan Khilafah atau berkalang tanah sebagai syuhada. ALLAHU AKBAR!</p>
<p align="right"><em>&#8212;-</em></p>
<p align="right"><em>Teiring cinta berbalut duka untuk Andijan, Uzbekistan. </em></p>
<p>Thanks to pytm untuk puisinya, dikutip dari Trilogy Tumbila di Kebon Hutang edisi &#8216;Kutinggalkan cintrong demi Revolusi&#8217;. Terus Bergerak!</p>
<p>*Chaghatai : bahasa Uzbek kuno, biasanya digunakan dalam puisi dan prosa.</p>
<p>*O&#8217;zbek tili : bahasa Turki yang dipakai oleh orang-orang di Uzbekistan</p>
<p>BOX:</p>
<p>Ria Fariana lahir di Surabaya 7 Oktober 1977. Alumnus UNESA Jurusan Bahasa Inggris. Novel yang telah diterbitkan &#8220;Siluet Senja&#8221; (duet dengan Hafidz) oleh Penerbit Gema Insani dan &#8220;Mutiara&#8221; yang diterbitkan DAR! Mizan. Ria aktif di Forum Lingkar Pena Jawa Timur dan kru redaksi Buletin Remaja STUDIA, Bogor.</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Agustus 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/martir-revolusi/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Piagam Jakarta dan Sikap Kristen</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 17:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<category><![CDATA[piagam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2590</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin &#8220;anti-Pancasila&#8221;.? Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-264
Oleh: Dr. Adian Husaini

Tanggal 22 Juni biasanya dikenang oleh umat Muslim Indonesia sebagai hari kelahiran Piagam Jakarta. Tetapi, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih tetap menjadikan Piagam Jakarta sebagai momok yang menakutkan. Padahal, Piagam Jakarta bukanlah barang haram di negara ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin &#8220;anti-Pancasila&#8221;.? Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-264</em></p>
<p>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini<br />
</strong><br />
<img src="http://1.1.1.4/bmi/hidayatullah.com/images/stories/piagam_thumb.jpg" border="0" alt="" width="300" height="221" align="right" />Tanggal 22 Juni biasanya dikenang oleh umat Muslim Indonesia sebagai hari kelahiran Piagam Jakarta. Tetapi, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih tetap menjadikan Piagam Jakarta sebagai momok yang menakutkan. Padahal, Piagam Jakarta bukanlah barang haram di negara ini. Bahkan, dalam Dekritnya pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno dengan tegas mencantumkan, bahwa? &#8220;Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.&#8221;</p>
<p>Tapi, entah kenapa, kaum Kristen di Indonesia begitu alergi dan ketakutan dengan Piagam Jakarta. Sebagai contoh,? Tabloid Kristen REFORMATA edisi 103/Tahun VI/16-31 Maret? 2009 menurunkan laporan utama berjudul &#8220;RUU Halal dan Zakat: Piagam Jakarta Resmi Diberlakukan?&#8221;? Dalam pengantar redaksinya, tabloid Kristen yang terbit di Jakarta ini menulis bahwa dia mengemban tugas mulia untuk mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pluralis, sebagaimana diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa.<span id="more-2590"></span></p>
<p>&#8220;Hal ini perlu terus kita? ingatkan sebab akhir-akhir ini kelihatannya makin gencar saja upaya orang-orang yang ingin merongrong negara kita yang berfalsafah Pancasila, demi memaksakan diberlakukannya syariat agama tertentu dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana kita saksikan, sudah banyak produk perundang-undangan maupun peraturan daerah (perda) yang diberlakukan di berbagai tempat, sekalipun banyak rakyat yang menentangnya. Para pihak yang memaksakan kehendaknya ini, dengan dalih membawa aspirasi kelompok mayoritas, saat ini telah berpesta pora di atas kesedihan kelompok masyarakat lain, karena ambisi mereka, satu demi satu berhasil dipaksakan. Entah apa jadinya negara ini nanti, hanya Tuhan yang tahu,&#8221; demikian kutipan sikap Redaksi Tabloid Kristen tersebut.</p>
<p>Cornelius D. Ronowid<img src="http://1.1.1.3/bmi/4.bp.blogspot.com/_tWUFtFxgvng/Sb6W987gHnI/AAAAAAAAAnI/SoMqRsirY4Y/s200/cover-103-revisikecil.jpg" border="0" alt="" width="173" height="250" align="left" />jojo, Ketua Umum DPP PIKI (Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia), seperti dikutip tabloid Reformata menyatakan, bahwa Piagam Jakarta sekarang sudah dilaksanakan dalam realitas ke-Indonesian melalui Perda dan UU. &#8220;Sekarang tujuh kata yang telah dihapus itu, bukan hanya tertulis, tapi sungguh nyata sekarang,&#8221; tegasnya. Yang menggemaskan, demikian Cornelius, yang melakukan hal itu, bukan lagi para pejuang ekstrim kanan, tapi oknum-oknum di pemerintahan dan DPR. &#8220;Ini kecelakaan sejarah. Harusnya penyelenggara negara itu bertobat, dalam arti kembali ke Pancasila secara murni dan konsekuen,&#8221; kata Cornelius lagi. Bahkan, tegasnya, &#8220;Saya mengatakan bahwa mereka sekarang sedang berpesta di tengah puing-puing keruntuhan NKRI.&#8221;</p>
<p>Bagi umat Islam Indonesia, sikap antipati kaum Kristen terhadap syariat Islam tentulah bukan hal baru. Mereka - sebagaimana sebagian kaum sekular - berpendapat, bahwa penerapan syariat Islam di Indonesia bertentangan dengan Pancasila. Pada era 1970-1980-an, logika semacam ini sering kita jumpai. Para siswi yang berjilbab di sekolahnya, dikatakan anti Pancasila. Pegawai negeri yang tidak mau menghadiri perayaan Natal Bersama, juga bisa dicap anti Pancasila. Pejabat yang enggan menjawab tes mental, bahwa ia tidak setuju untuk menikahkan anaknya dengan orang yang berbeda, juga bisa dicap anti-Pancasila. Kini, di era reformasi, sebagian kalangan juga kembali menggunakan senjata Pancasila untuk membungkam aspirasi keagamaan kaum Muslim.</p>
<p>Rumusan Pancasila yang sekarang adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila tersebut adalah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan hasil dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang dengan tegas menyatakan: &#8220;Bahwa kami berkeyakinan? bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.&#8221;</p>
<p>Jadi, Dekrit Presiden Soekarno itulah yang menempatkan Piagam Jakarta sebagai bagian yang sah dan tak terpisahkan dari Konstitusi Negara NKRI, UUD 1945. Dekrit itulah yang kembali memberlakukan Pancasila yang sekarang. Prof. Kasman Singodimedjo, yang terlibat dalam lobi-lobi tanggal 18 Agustus 1945 di PPKI, menyatakan, bahwa Dekrit 5 Juli 1959 bersifat &#8220;einmalig&#8221;, artinya berlaku untuk selama-lamanya (tidak dapat dicabut). &#8220;Maka, Piagam Jakarta sejak tanggal 5 Juli 1959 menjadi sehidup semati dengan Undang-undang Dasar 1945 itu, bahkan merupakan jiwa yang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 tersebut,&#8221; tulis Kasman dalam bukunya, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).</p>
<p>Karena itu, adalah sangat aneh jika masih saja ada pihak-pihak tertentu di Indonesia yang alergi dengan Piagam Jakarta. Dr. Roeslan Abdulgani, tokoh utama PNI, selaku Wakil Ketua DPA dan Ketua Pembina Jiwa Revolusi, menulis: &#8220;Tegas-tegas di dalam Dekrit ini ditempatkan secara wajar dan secara histories-jujur posisi dan fungsi Jakarta Charter tersebut dalam hubungannya dengan UUD Proklamasi dan Revolusi kita yakni: Jakarta Charter sebagai menjiwai UUD &#8216;45 dan Jakarta Charter sebagai merupakan rangkaian? kesatuan dengan UUD &#8216;45.&#8221; (Dikutip dari Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta: GIP, 1997), hal. 130).</p>
<p>Dalam pidatonya pada hari peringatan Piagam Jakarta tanggal 29 Juni 1968 di Gedung Pola Jakarta, KHM Dahlan, tokoh NU, yang juga Menteri Agama ketika itu mengatakan: &#8220;Bahwa di atas segala-galanya, memang syariat Islam di Indonesia telah berabad-abad dilaksanakan secra konsekuen oleh rakyat Indonesia, sehingga ia bukan hanya sumber hukum, malahan ia telah menjadi kenyataan, di dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari yang telah menjadi adat yang mendarah daging. Hanya pemerintah kolonial Belandalah yang tidak mau menformilkan segala hukum yang berlaku di kalangan rakyat kita itu, walaupun ia telah menjadi ikatan-ikatan hukum dalam kehidupan mereka sehari-hari.&#8221; (Ibid, hal. 135).</p>
<p>Meskipun Piagam Jakarta adalah bagian yang sah dan tidak terpisahkan dari UUD 1945, tetapi dalam sejarah perjalanan bangsa, senantiasa ada usaha keras untuk menutup-nutupi hal ini. Di zaman Orde Lama, sebelum G-30S/PKI, kalangan komunis sangat aktif dalam upaya memanipulasi kedudukan Piagam Jakarta. Ajip Rosidi, sastrawan terkenal menulis dalam buku, Beberapa Masalah Umat Islam Indonesia (1970): &#8220;Pada zaman pra-Gestapu, PKI beserta antek-anteknyalah yang paling takut kalau mendengar perkataan Piagam Jakarta&#8230; Tetapi agaknya ketakutan akan Piagam Jakarta, terutama ke-7 patah kata itu bukan hanya monopoli PKI dan antek-anteknya saja. Sekarang pun setelah? PKI beserta antek-anteknya dinyatakan bubar, masih ada kita dengar tanggapan yang aneh terhadapnya.&#8221; (Ibid, hal. 138).</p>
<p>Jadi, sikap alergi terhadap Piagam Jakarta jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Negara RI, UUD 1945. Meskipun secara verbal &#8220;tujuh kata&#8221; (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) telah terhapus dari naskah Pembukaan UUD 1945, tetapi kedudukan Piagam Jakarta sangatlah jelas, sebagaimana ditegaskan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah itu, Piagam Jakarta juga merupakan sumber hukum yang hidup. Sejumlah peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan setelah tahun 1959 merujuk atau menjadikan Piagam Jakarta sebagai konsideran.</p>
<p>Sebagai contoh, penjelasan atas Penpres 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, dibuka dengan ungkapan: &#8220;Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan Undang-undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia ia telah menyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.&#8221;</p>
<p>Dalam Peraturan Presiden No 11 tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), juga dicantumkan pertimbangan pertama: &#8220;bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut&#8230;&#8221;.</p>
<p>Sebuah buku yang cukup komprehensif tentang Piagam Jakarta ditulis oleh sejarawan Ridwan Saidi, berjudul Status Piagam Jakarta: Tinjauan Hukum dan Sejarah (Jakarta: Mahmilub, 2007). Ridwan menulis, bahwa hukum Islam adalah hukum yang hidup di tengah masyarakat Muslim. Tanpa UUD atau tanpa negara pun, umat Islam akan menjalankan syariat Islam. Karena itu, Piagam Jakarta, sebenarnya mengakui hak orang Islam untuk menjalankan syariatnya. Dan itu telah diatur dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dituangkan dalam Keppres No. 150/tahun 1959 sebagaimana ditempatkan dalam Lembaran Negara No. 75/tahun 1959.</p>
<p>Hukum Islam telah diterapkan di bumi Indonesia ini selama ratusan tahun, jauh sebelum kauh penjajah Kristen datang ke negeri ini. Selama beratus-ratus tahun pula, penjajah Kristen Belanda berusaha menggusur hukum Islam dari bumi Indonesia. C. van Vollenhoven dan Christian Snouck Hurgronje, misalnya, tercatat sebagai sarjana Belanda yang sangat gigih dalam menggusur hukum Islam.? Tapi, usaha mereka tidak berhasil sepenuhnya. Hukum Islam akhirnya tetap diakui sebagai bagian dari sistem hukum di wilayah Hindia Belanda. Melalui RegeeringsReglement, disingkat RR, biasa diterjemahkan sebagai Atoeran Pemerintahan Hindia Belanda (APH), pasal 173 ditentukan bahwa: &#8220;Tiap-tiap orang boleh mengakui hukum dan aturan agamanya dengan semerdeka-merdekanya, asal pergaulan umum (<em>maatschappij</em>) dan anggotanya diperlindungi dari pelanggaran undang-undang umum tentang hukum hukuman (<em>strafstrecht</em>).&#8221; (<strong>Ridwan Saidi</strong>, Status Piagam Jakarta hal. 96).</p>
<p>Jadi, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga,? Belanda akhirnya tidak berhasil sepenuhnya menggusur syariat Islam dari bumi Indonesia. Ridwan menulis: &#8220;Sampai dengan berakhirnya masa VOC tahun 1799, VOC terus berkutat untuk melakukan unifikasi hukum dengan sedapat mungkin menyingkirkan hukum Islam, tetapi sampai munculnya Pemerintah Hindia Belanda usaha itu sia-sia belaka.&#8221;? (Ibid, hal. 94).</p>
<p>Kegagalan penjajah Kristen Belanda untuk menggusur syariat Islam, harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kaum Kristen di Indonesia. Mereka harusnya menyadari bahwa kedudukan syariat Islam bagi kaum Muslim sangat berbeda dengan kedudukan hukum Taurat bagi Kristen. Dengan mengikuti ajaran Paulus, kaum Kristen memang kemudian berlepas diri dari hukum Taurat dengan berbagai pertimbangan.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? (Mitra Pustaka, 2008), Pendeta Herlianto menguraikan bagaimana kedudukan hukum Taurat bagi kaum Kristen saat ini. Dalam konsep Kristen, menurut Herlianto, keselamatan dan kebenaran bukanlah tergantung dari melakukan perbuatan hukum-hukum Taurat, melainkan karena Iman dan Kasih Karunia dengan menjalankan hukum Kasih.? Jadi, hukum Kasih itulah yang kemudian dipegang kaum Kristen. Hukum sunat (khitan), misalnya, meskipun jelas-jelas disyariatkan dalam Taurat, tetapi tidak lagi diwajibkan bagi kaum Kristen. &#8216;Sunat&#8217; yang dimaksud, bukan lagi syariat sunat sebagaimana dipahami umat-umat para Nabi sebelumnya, tetapi ditafsirkan sebagai &#8220;sunat rohani&#8221;. (<strong>Rm. 2:29</strong>). (<strong>Herlianto</strong>, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? Hal. 16-17).</p>
<p>Babi, misalnya, juga secara tegas diharamkan dalam Kitab <strong>Imamat, 11:7-8</strong>. Tetapi, teks Bibel versi Indonesia tentang babi itu sendiri memang sangat beragam, meskipun diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dalam Alkitab versi LAI, tahun 1968 ditulis: &#8220;<em>dan lagi babi, karena sungguh pun kukunya terbelah dua, ia itu? bersiratan kukunya, tetapi dia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Djanganlah kamu makan daripada dagingnya dan djangan pula kamu mendjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu.&#8221;</em> (Dalam Alkitab versi LAI tahun 2007, kata babi berubah menjadi babi hutan: <em>&#8220;Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.&#8221;</em>). Pada tahun yang sama, 2007, LAI juga menerbitkan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini, yang menulis ayat tersebut: &#8220;Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.&#8221;</p>
<p>Jika dibaca secara literal, maka jelaslah, harusnya babi memang diharamkan. Tetapi, kaum Kristen mempunyai cara tersendiri dalam memahami kitabnya. Menurut Herlianto, Rasul Paulus telah memberikan pengertian hukum Taurat dengan jelas: &#8220;<em>Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru dan bukan dalam keadaan lama menurut hukum-hukum Taurat.&#8221; (<strong>Rm. 7:6</strong>). </em>(Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil?? Hal. 20)<em>.</em></p>
<p>Pandangan kaum Kristen terhadap hukum Taurat tentu saja sangat berbeda dengan pandangan dan sikap umat Islam? terhadap syariat Islam. Sampai kiamat, umat Islam tetap menyatakan, bahwa babi adalah haram. Teks al-Quran yang mengharamkan babi juga tidak pernah berubah sepanjang zaman, sampai kiamat. Hingga kini, tidak ada satu pun umat Islam yang menolak syariat khitan, dan menggantikannya dengan &#8220;khitan ruhani&#8221;. Sebab, umat Islam bukan hanya menerima ajaran, tetapi juga mempunyai contoh dalam pelaksanaan syariat, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena sifatnya yang final dan universal, maka syariat Islam berlaku sepanjang zaman dan untuk semua umat manusia. Apa pun latar belakang budayanya, umat Islam pasti mengharamkan babi dan mewajibkan shalat lima waktu. Apalagi, dalam pandangan Islam, syariat Islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia; mulai tata cara mandi sampai mengatur perekonomian.</p>
<p>Pandangan dan sikap umat Islam terhadap syariat Islam semacam ini harusnya dipahami dan dihormati oleh kaum Kristen. Sangat disayangkan, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih saja melihat syariat Islam dalam perspektif yang sama dengan penjajah Kristen Belanda, dahulu. Padahal. sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin yang melaksanakan ajaran Islam sebagai &#8220;anti-Pancasila&#8221;, &#8220;anti-NKRI&#8221;, dan sebagainya. [Depok, 16 Juni 2009/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/adian-husaini/9682?task=view" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara <strong>Radio Dakta</strong> dan <strong>www.hidayatullah.com</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/piagam-jakarta-dan-sikap-kristen/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Bekal Merantau</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/agama-dan-bekal-merantau</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/agama-dan-bekal-merantau#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 22:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2549</guid>
		<description><![CDATA[Merantau belajar dapat di mana saja. Yang penting pengetahuan harus berbanding lurus dengan peningkatan keimanan 


Oleh: Y.Y. Alim
Terlebih dahulu penulis menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada anggota forum Halaqah Lentera Pagi di bawah asuhan Ustadz Syamsi Ali yang telah memberikan banyak masukan dan saran dalam mematangkan tulisan ini.
Tulisan ini sangat sesuai bagi individu muslim yang berhasrat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Merantau belajar dapat di mana saja. Yang penting pengetahuan harus berbanding lurus dengan peningkatan keimanan </em></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p>Oleh: <strong>Y.Y. Alim</strong></p>
<p>Terlebih dahulu penulis menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada anggota forum Halaqah Lentera Pagi di bawah asuhan Ustadz Syamsi Ali yang telah memberikan banyak masukan dan saran dalam mematangkan tulisan ini.</p>
<p>Tulisan ini sangat sesuai bagi individu muslim yang berhasrat merantau. Ada dua macam proses merantau, yaitu lahiriah dan batiniah. Perantauan lahiriah adalah perpindahan badan dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan hidup tertentu. Orang merantau dari desa ke kota untuk mencari tingkat penghidupan yang layak. Orang merantau ke Jepang untuk mengejar ilmu dan pekerjaan sehingga mampu untuk meningkatkan mutu hidup.<span id="more-2549"></span></p>
<p>Sedangkan perantauan batiniah adalah proses pembinaan internal yang meningkatkan kualitas kepribadian seseorang. Contohnya adalah proses transformasi dari seorang muslim karena faktor orang tua menjadi seorang muslim karena Allah ta&#8217;ala semata.</p>
<p>Saya lulus dari Fakultas Teknik Sipil Perencanaan-ITB dengan spesialisi Perencanaan Kota dan Wilayah. Dari almamater tersebut saya mendapat gelar Insinyur. Saya mengambil master dan doktor di Cornell University bidang <em>regional science</em>, sebuah ilmu kombinasi dari ilmu lingkungan, ilmu ekonomi, dan perencanaan.</p>
<p>Sudah lama saya berniat untuk berdakwah untuk bidang lingkungan hidup. Saat ini saya sedang mengembangkan proposal penelitian untuk masalah lingkungan hidup dan Islam. Harapan saya dengan dana yang ada, dapat membantu perbaikan kondisi lingkungan hidup di tanah air.</p>
<p>Sudah merupakan kelaziman kalau banyak yang menjalankan ibadah agama Islam justru hanya sebagai tradisi, suatu pelaksanaan ritual yang kering dan menjemukan. Tantangan ini terjadi terutama bagi yang terlahir sebagai muslim dan menikmati lantunan adzan ketika datang ke dunia fana ini, atau bagi yang menyatakan diri sebagai muslim untuk kepentingan pendataan kartu tanda penduduk, atau menjadi muslim karena dorongan eksternal lainnya. Sehingga walaupun angka statistik menyatakan bahwa penganut agama Islam di Indonesia lebih dari 80%, tetapi pola hidupnya justru sangat jauh dari ajaran Islam.</p>
<p>Acara perayaan seperti <em>mauludan, lebaran, sekaten</em>, dan seterusnya, lebih diutamakan tetapi pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari justru menjadi tidak relevan. Peningkatan kasus korupsi serta kasus kriminalitas lainnya justru meningkat ketika aktivitas kegiatan ibadah di masjid meningkat, atau ketika makin banyak orang berduyun-duyun aktif di mesjid.</p>
<p>Diperlukan kesadaran yang lebih kuat bagi tiap muslim untuk mencari makna yang lebih mendalam dari pengamalan ajaran Islam. Salah satu jalannya adalah kemauan untuk merantau.</p>
<p>Perantauan lahiriah dapat saja diiringi dengan perantauan batiniah. Contohnya adalah seseorang menjadi aktif mendalami ilmu agama ketika yang bersangkutan mendapat kesempatan belajar program master di Jepang. Seusai sekolah, tidak saja individu ini mengembangkan ilmu dunia, tetapi juga menjadi pembicara utama dalam ceramah-ceramah agama karena pengetahuan yang sangat mendalam tentang Islam.</p>
<p>Di negara multi etnis seperti Buthan, anak-anak SMP sudah diprogramkan untuk merantau tinggal di tempat lain sehingga mereka bisa belajar mengerti adat istiadat suku lain. Begitulah salah satu manfaat merantau, dorongan untuk belajar menjadi lebih tinggi. Inilah sikap utama yang harus dikembangkan oleh perantau, kemauan belajar.</p>
<p>Pada dasarnya bukan tempat di mana kita tinggal, yang penting bagaimana kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Manusialah yang menjadi sentral dari segala urusan di muka bumi ini. Karena begitulah maksud Allah SWT mengapa manusia diciptakan di muka bumi ini dan ditegaskan lebih jauh fungsi manusia di alam semesta ini.</p>
<p>Firman Allah dalam surat Al Anbiya 21 : 107, &#8220;<em>Tidak kami utus engkau (Muhammad) tetapi untuk menjadi berkah-rahmah-kasih sayang-ampunan untuk alam semesta (Rahmatan lil alamin untuk umat manusia, untuk jin, dan untuk segala bentuk kehidupan lainnya).&#8221;</em></p>
<p>Hendaknya pola pikir orang-orang beriman adalah memupuk keinginan untuk terus belajar yang berpengaruh pada bertambahnya tingkat kebijaksanaan, baik dalam bersikap dan berkata, sehingga sebagai pengikut Rasulullah SAW mampu mendukung misi beliau sebagai &#8220;rahmatan lil alamin&#8221;: Berkah bagi alam semesta.</p>
<p>Teringat akan sabda Baginda Rasulullah SAW bahwa kita wajib menuntut ilmu walaupun ke negeri China. Walaupun hadist ini dhaif, tetapi semangatnya perlu kita pelihara, yaitu semangat menuntut ilmu untuk kemajuan kita sendiri dan sudah tentu untuk kemajuan umat Islam di alam semesta ini. Sabda Baginda Rasulullah SAW sangat jelas dalam menuntut ilmu: &#8220;<em>Barang siapa meninggalkan rumah dalam rangka menuntut ilmu, dia berada di jalan Allah </em>(At Tirmidhi)<em>, dan menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi tiap muslim.&#8221;</em> (Ibn Majah dan Al-Bayhaqi).</p>
<p>Hal utama yang perlu dikaji lebih mendalam adalah ilmu yang mana? Karena pada masa Rasulullah hidup, China sudah menjadi pusat perkembangan berbagai ilmu, misalnya administrasi negara karena China? sudah memiliki sistem ujian pegawai negeri, ilmu pengobatan, ilmu perniagaan, ilmu peperangan, dan sumber segala paham kepercayaan/agama, seperti Budhisme, Konfusianisme, dan lainnya. Inilah tugas kita untuk menginterpretasikan semangat dari hadist ini, yaitu untuk belajar, belajar, dan terus belajar.</p>
<p>Dengan semangat ini, sirnalah segala kekhawatiran dan keraguan bahwa penguasa setempat yang tidak seiman akan menzalimi dan merusak akidah seorang muslim. Bahkan akan berkembang ide dan ikhtiar untuk bertahan secara fisik (<em>survive</em>) dan sekaligus menjaga dan meningkatkan keimanan kepada Allah.</p>
<p><strong>Tantangan di Rantau</strong></p>
<p>Amerika adalah tempat berkembang, bertumbuh, dan berselisih rasa toleransi. Khususnya Ithaca sebagai lokasi kampus dari Cornell University, sebuah universitas kelas dunia, dipandang sebagai kota yang cukup liberal dengan tingkat keragaman yang cukup tinggi.</p>
<p>Kebebasan individu selalu dijunjung tinggi sehingga ada saja ruang untuk tiap orang dengan urusan dan tingkah polah masing-masing. Mendiang Professor Kahin, misalnya, adalah orang pertama Amerika yang merekapitulasi sejarah revolusi perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Karyanya menjadi rujukan bagi pelajar yang menekuni sejarah maupun ilmu politik.</p>
<p>Sementara itu, Professor Anderson dengan keberaniannya mengungkapkan versi lain dari peristiwa G-30-S PKI sehingga menjadi orang yang terkena &#8220;persona non-grata&#8221; di Indonesia.</p>
<p>Ada lagi alumni Cornell asal Indonesia yang gencar mempromosikan hubungan sesama jenis - gay and lesbianisme -, atau juga alumni yang terkena hukuman pidana karena kasus korupsi, dan sebagainya. Pendek kata di Amerika kita bisa menjadi individu yang bermacam-macam, termasuk berusaha keras melaksanakan fungsinya sebagai muslim, cerminan atas janji diri sendiri kepada Sang Khalik untuk selalu menyembah-Nya tanpa rasa resah dan susah.</p>
<p>Secara demografis warga muslim di Ithaca juga sangat beragam. Jumlah terbanyak dari Mesir, sedangkan dari Indonesia bisa dihitung dengan jari. Begitu beragam umat muslim yang tinggal di Ithaca, bukan mustahil seseorang akan berjumpa dengan seorang muslim asal negara paska keruntuhan Uni Soviet, seperti Azerbaijan sebagai wilayah pertemuan ras Kaukasus dan Mongolia.</p>
<p>Para mahasiswa yang masih berusia belia banyak sekali yang aktif untuk lebih mendalami Islam dengan kriteria cukup sederhana, siapa yang berpengetahuan dialah yang akan menjadi tempat untuk belajar. Namun banyak yang lupa bahwa ilmu, iman, dan ikhsan adalah satu kesatuan utuh atau &#8220;<em>one package deal</em>&#8221; yang akan menjadikan segala amalan kita menunjukkan ciri khas amalan seorang muslim.</p>
<p>Jelas bahwa penguasaan ilmu tidak cukup. Banyak yang sudah tinggi ilmunya, merasa sudah beriman karena terus salat di Mesjid, sering memberi ceramah, atau mampu menjawab tiap pertanyaan umat, dan seterusnya, tetapi amalan perbuatannya belum tecermin dari sikap sehari-hari.</p>
<p>Seorang tokoh Islam dari Indonesia pernah datang ke Ithaca NY dan ketika diajak salat, karena sudah waktunya, menyahut ajakan tersebut dengan berkata, &#8220;gak perlu salat kok, sudah dijamin masuk surga.&#8221;</p>
<p>Padahal sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hanya Rasulullah SAW yang mendapat jaminan Allah masuk surga, namun banyak para sahabat kala itu menyaksikan sendiri bahwa Rasulullah justru tidak pernah berhenti beribadat dan mohon ampun kepada Allah SWT. Rasulullah sendiri bersabda, berbohong walaupun dalam bentuk kelakar adalah perbuatan yang harus dijauhi, karena mukmin harus jujur setiap saat.</p>
<p>Jelas bahwa kriteria memiliki ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Banyak yang menguasai bahasa Arab dan mengerti arti Al-Quran, namun kemampuan tersebut tidak menuntun kepada keimanan kepada Allah SWT karena memandang pengetahuan tentang Al-Quran adalah seperti ilmu pengetahuan lainnya.</p>
<p>Dengan kondisi seperti inilah, perlu kewaspadaan tinggi dalam menentukan seseorang untuk menjadi tempat menimba ilmu.</p>
<p><strong>Tafsir Al-Quran</strong></p>
<p>Sekitar tahun 2006, setiap selesai salat Jumat di tempat salat di Kampus Cornell University diumumkan adanya pelajaran tafsir Al-Quran di bawah bimbingan seorang Profesor bidang &#8220;<em>Near Eastern Study</em>&#8220;, Cornell University. Profesor ini adalah orang Amerika, kulit putih, dan bukan muslim.</p>
<p>Kehadiran profesor ini untuk mengajarkan tafsir Al-Quran ini untuk kalangan muslim di Cornell adalah atas rekomendasi dari seorang profesor muslim keturunan India yang juga mengajar di bidang <em>Near Eastern Study</em>.</p>
<p>Dengan semangat &#8220;<em>open doors, open mind, and open heart</em>&#8221; sebagai moto Cornell University, sudah tentu para mahasiswa muslim bersemangat mempromosikan profesor nonmuslim ini untuk mengajar tafsir Al-Quran. Di samping pengumuman melalui lisan langsung setelah salat Jumat, juga disebarkan pengumuman lewat <em>e-mail</em>.</p>
<p>Sudah tentu pengumuman ini menyebar terutama di kalangan muslim di Ithaca. Dan tampaknya banyak yang tertarik untuk bergabung, namun tidak ada yang menanyakan apa tendensi orang ini untuk mengajarkan tafsir Al-Quran. Penyebaran ilmu yang dapat dipertanggung-jawabkan seharusnya melalui para ahlinya, dan di negeri Amerika yang tertib ini semuanya memakai aturan, seperti adanya lisensi untuk praktek dokter ataupun pengacara.</p>
<p>Tetapi begitulah yang terjadi, karena kekaguman begitu besar yang diberikan kepada orang-orang Barat, banyak umat Islam yang justru belajar ilmu agama kepada kaum nonmuslim. Hal yang mengherankan adalah tak satu pun dari jamaah yang tergerak untuk menanyakan lebih lanjut soal program belajar ilmu tafsir Al-Quran ini.</p>
<p>Setelah dua bulan program tersebut berlangsung tanpa adanya pertanyaan seputar keabsahan pengajar dalam tafsir Al-Quran, penulis melakukan initiatif untuk menanyakan kepada penyelenggara kegiatan belajar tersebut. Pertanyaannya sederhana, &#8220;apa tujuan belajar tafsir dan apakah pengajar tafsir Al-Quran tersebut muslim.&#8221;</p>
<p>Seperti yang telah diduga, jawabannya bahwa pelajaran tafsir ini untuk lebih memahami isi Al-Quran sehingga kita lebih dekat kepada Allah SWT dan memang pengajarnya bukan muslim, tetapi mempunyai pengetahuan dan keahlian yang mendalam tentang Bahasa Arab.</p>
<p>Kemudian disampaikan logika sederhana, yaitu bagaimana seorang nonmuslim akan membantu seorang muslim untuk memahami Al-Quran, terutama dalam rangka meningkatkan ketauhidan, kalau sang pengajar tidak percaya adanya Allah, tidak percaya bahwa Al-Quran adalah kumpulan firman Allah agar kita hambanya beriman dan takwa kepada-Nya. Dan penulis juga menanyakan apakah majelis <em>syuro</em> (e-board) sudah ditanyakan pandangannya tentang hal ini.</p>
<p>Karena tidak mendapatkan tanggapan balik, kemudian penulis menanyakan hal ini kepada anggota majelis<em> syuro</em> yang penulis telah kenal baik. Penulis menyampaikan bahwa Al- Quran bukan sebagai buku bacaan biasa (seperti firman Allah dalam Al Baqarah ayat 2). ?Kemudian timbullah pemikiran dan diskusi, banyak yang baru sadar duduk masalahnya, karena banyak yang menduga bahwa pengajar tafsir Al-Quran tersebut dilakukan oleh orang muslim (profesor <em>near eastern study</em> yang muslim tersebut). Padahal tidak. Akhirnya diputuskan untuk menghapus program tersebut.</p>
<p>Memang begitu besar tantangan belajar dan merantau ini. Sebagai muslim maka pedomannya sudah jelas. Menurut tafsir dari Ibn Katsir, kebenaran hakiki hanya milik Allah dan untuk mencapai kebenaran hakiki tersebut seorang muslim harus memenuhi syarat muttaqin, seperti Firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 2, &#8220;<em>Al Qur&#8217;an (kitab) ini tidak ada keraguan padanya adalah petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Muttaqin)</em>.&#8221;</p>
<p><em>Muttaqun</em> (jamak) ini tidak sepandan dengan &#8220;God fearing people&#8221; atau orang-orang yang takut kepada Allah saja. Karena takut itu hanya satu unsur saja. Konsep yang holistik dari takwa adalah seorang muslim yang benar-benar menjunjung ajaran tauhid dengan landasan ketaatan, rasa cinta, tunduk, dan takut kepada Allah sehingga selalu melakukan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Kemudian bertekad untuk selalu berbuat baik dan mengumpulkan pahala karena Allah semata. Dengan demikian atribut ketakwaan ini harus melekat pada pribadi seorang muslim sebagai berikut:</p>
<p>1. Takut kepada Allah di mana rasa takwa ini menjadi basis dari rasa kebijaksanaan (wisdom).</p>
<p>2. Menahan atau menjaga lidah, tangan, dan hati dari segala perbuatan jahat.</p>
<p>3. Bertindak dengan menjunjung kebenaran (<em>righteousness</em>), tunduk dan berbakti kepada Allah, dan memelihara perilaku yang baik.</p>
<p>Perjalanan manusia (alam pikiran manusia) untuk mencapai kebenaran hakiki akan menemui banyak rintangan. Oleh karena itu ketakwaan di samping dapat dianggap sebagai ikhtiar manusia itu sendiri, tetapi juga hidayah dari Allah. Banyak sekali yang terantuk, bahkan terjerambab tanpa mampu bangkit kembali dalam mengarungi perjalanan menuju kebenaran hakiki.</p>
<p><em>The Wall Street Journal</em> tanggal 15 November 2008 melaporkan bahwa seorang Jerman bernama Sven Kalisch menjadi pemeluk Islam sejak usia 15 tahun. Melaksanakan ibadah dengan rajin dan menolak bersalaman tangan dengan wanita (bukan muhrim). Ketika menjadi pemeluk Islam, ditambahkan namanya menjadi Muhammad Sven Kalisch.</p>
<p>Dalam usia 38 tahun Kalisch adalah orang Jerman asli pertama yang menjadi Profesor studi Islam di Munster University Germany. Setahun lalu ketika berusia 42 tahun, dia menyatakan bahwa Muhammad S.A.W adalah tokoh fiktif dan dia juga menyatakan bahwa Allah tidak menulis firmannya sehingga tidak mengakui eksistensi Al-Quran.</p>
<p>Jelaslah bahwa faktor rasionalitas saja tidak bisa diandalkan dalam mencari kebenaran. Sudah menjadi kewajiban untuk lebih mengetahui lebih jauh lagi tentang kebenaran hakiki ini sebagai bekal belajar dan merantau.</p>
<p>Tolok ukurnya sangat sederhana, apabila makin tinggi ilmu yang didapat dan makin bertambah iman, serta membentuk karakter yang baik (ikhsan) maka perjalanan manusia tersebut berada di jalur yang benar.</p>
<p>Dalam hal ini K.H. Hasyim Muzadi telah memaparkan dengan gamblang tentang hal kebenaran ini di Mesjid Al Hikmah, New York, beberapa waktu lalu. Tokoh NU ini secara gamblang menjelaskan &#8220;<em>concept mapping</em>&#8221; ?mengenai ilmu, ibadah, dan pembentukan karakter.</p>
<p>Ilmu adalah unit informasi sebagai makanan otak. Kita jadi tahu apa yang sebelumnya kita tidak tahu, atau bisa apa dari sebelumnya kita tidak bisa. Peningkatan ilmu seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan ibadah dan pada akhirnya membentuk karakter manusia yang baik.</p>
<p>Merujuk pada firman Allah dalam surat Al Haqqah 48-52.? <em>&#8220;Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu pedoman mutlak bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan (nya). Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu kebenaran mutlak yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Maha Besar.&#8221;</em></p>
<p>Demikianlah dalam alam pikiran manusia, hal ini terbagi menjadi tiga tahap derajat kebenaran: <em>Ain-ul Yaqin</em>, <em>&#8216;Ilm-ul-Yaqin</em>, dan <em>Haqq-ul-Yaqin.</em></p>
<p>Mengetahui persyaratan untuk mencapai kebenaran dan memahami tingkat kebenaran dalam alam pikiran manusia tidaklah cukup sebagai bekal untuk belajar dan merantau. Perlu diketahui rintangan apakah yang akan membentur dan menghancurkan upaya manusia tersebut. Selalu ada saja upaya dari pihak yang tidak beriman kepada Allah untuk mengajak bergabung dengan mereka, seperti dalam firman Allah di Al Baqarah, <em>&#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.&#8221;</em> (QS: Al-Baqarah: 120).</p>
<p>Nyata benar gerakan kaum orientalis untuk mematahkan keimanan dan membingungkan kaum muslimin sehingga mereka menjadi golongan yang tidak mempercayai dan patuh kepada Allah SWT. Sementara itu kaum muslimin sendiri tidak berdisiplin, pemimpin pemerintahnya justru berlaku zalim, dan tokoh agamanya banyak menanamkan rasa kebencian sehingga tidak tampak misi Islam sebagai pembawa</p>
<p>rahmat bagi alam semesta.</p>
<p>Banyak sekali beredar teori konspirasi yang menunjukkan kerasnya usaha untuk mengajak ?tidak beriman kepada Allah dengan cara menyesatkan dan menjatuhkan umat muslim. Salah satu catatan sejarah Indonesia adalah usaha Snouck Hugronje yang pura-pura menjadi muslim.</p>
<p>Dari catatan sejarah Indonesia dapat kita pelajari bahwa Snouck Hugronje sendiri pergi ke Mekah dan dianggap muslim, sehingga menghancurkan perjuangan kemerdekaan orang Aceh. Orang Aceh pada masa itu sederhana saja pola pikirnya. Seseorang yang telah mengunjungi kota suci Mekah, sudah tentu untuk menunaikan ibadah haji. Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji sudah tentu muslim dan</p>
<p>sudah tentu dalam pengetahuan agamanya.</p>
<p>Banyak orang Aceh menduga bahwa Snouck Hughronje adalah seorang yang termasuk segolongan dengan mereka dan tinggi ilmu agamanya. Padahal tingginya tingkat ilmu tidak menjamin tingkat keimanan seseorang, apalagi ketahuidannya.</p>
<p>Isi kepala dan hati Snouck Hughronye antara lain adalah bagaimana mengalahkan orang Aceh yang sangat taat kepada Allah dan telah melemahkan kekuatan militer Belanda, serta menguras sumber daya ekonominya.</p>
<p>Kasus pengajaran ilmu tafsir Al-Quran di Ithaca New York adalah contoh lain kegigihan orang yang tidak percaya kepada Allah untuk membelokkan keimanan kaum muslimin. Sebagai contoh pengajar tersebut memberikan definisi &#8220;kafir&#8221; yang berbeda. Dikatakan bahwa orang kafir adalah orang yang belum mandi, belum mensucikan dirinya. Padahal firman Allah telah jelas mengenai definisi orang kafir (Al Baqarah : 6), <em>Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.&#8221;</em></p>
<p>Kafir atau <em>kuffar</em> (jamak), yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah, utusan, malaikat, kitab, dan hari kiamat. Dari catatan lain juga didapatkan bahwa Kafara, kufr, kafir adalah orang yang terus-menerus menolak Allah, sehingga walaupun petunjuk Allah diberikan secara terus-menerus dan kesabaran, tetapi tidak terbuka hati orang tersebut untuk menerima firman Allah.</p>
<p>Kalau dari segi Bahasa Arab sendiri kafara adalah orang yang menolak atau orang yang ingkar. Di sinilah kegigihan orang kafir bahwa kata-kata? dibalikkan penggunaannya oleh mereka. Contohnya di beberapa negara di benua Afrika, seperti Zimbwabwe (dulu Rodhesia), Sierra Leone, dan lainnya, kata keffa (berasal dari kafir) adalah panggilan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam. Panggilan yang menghinakan ini kerap digunakan karena sifat pembangkangan orang kulit hitam terhadap kulit putih.</p>
<p>Sudah jelas bahwa untuk mencapai kebenaran hakiki dari Allah SWT, sebaiknya belajar Al-Quran, terutama tafsirnya, dari orang-orang yang kadar keimanannya tidak diragukan. Karena betapa pun dalamnya ilmu seseorang, kalau tidak percaya kepada Allah, pengajaran itu justru akan menyesatkan. Oleh karena itu perlu secara cermat memilih kepada siapa kita belajar Al-Quran.</p>
<p>Begitu gigihnya orang-orang kafir itu menolak firman Allah sehingga bagaimanapun usaha dari seorang muslim, akan selalu dikembalikan kepada upaya untuk menyesatkan muslim. Oleh karena itu larangan Allah sangat jelas untuk tidak mengikuti mereka. Firman Allah dalam Al-Baqarah : 145, <em>&#8220;Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim.&#8221;</em></p>
<p>Perkembangan teknologi informasi serta kemudahan mobilitas antara negara memberikan peluang bagi tiap orang di dunia ini untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain. Dengan kualifikasi tahap kebenaran <em>ain-ul-yaqin</em> dan <em>ilm-ul-yaqin,</em> banyak kaum muslimin yang berdecak kagum atas kemajuan ilmu dan pembangunan fisik dari negara-negara maju.</p>
<p>Bayangkan saja selama sejarah penghargaan Nobel, muslimin/muslimah penerima hadiah tersebut bisa dihitung dengan jari, karena jumlahnya Cuma tujuh! Kenyataan ini membuat kekaguman berlebihan dari kaum muslimin terutama para tokoh pimpinannya kepada para ahli nonmuslim. Masyarakat muslimin silau akan gemerlap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang dikuasai para ahli nonmuslim. Sehingga banyak sekali para ahli nonmuslim ini justru menjadi rujukan bagi kaum muslimin untuk segala aspek kehidupan.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Merantau dapat saja terjadi dalam bentuk lahiriah saja atau bentuk batiniah (alam pikiran), dan atau kedua-keduanya, yaitu merantau secara fisik dan batin (perubahan pola pikir positif). Banyak sekali hikmah yang didapat dari merantau, paling tidak dalam bentuk alam pikiran. Merantau dari alam pikiran adalah sebagaimana para muslim keturunan, karena perkawinan, dan seterusnya, menuju kepada alam pikiran menjadi muslim karena Allah semata.</p>
<p>Al-Quran adalah pedoman hidup kita untuk mencapai <em>haqq-ul-yaqin.</em> Untuk itu kita perlu belajar Al-Quran dari orang-orang yang betul-betulberiman. Namun karena pertukaran ilmu serta perkembangan cabang-cabang ilmu tiap universitas, dapat saja Al-Quran menjadi subjek dari studi. Apabila Al-Quran sudah menjadi bagian dari kurikulum pelajaran dan diajarkan bukan oleh mukmin, kita harus mendudukan proses belajar itu sebagai studi literatur. Bukan untuk meningkatkan tauhid, walaupun hal itu sulit sekali.</p>
<p>Tempat tujuan belajar dan merantau dapat di mana saja, yang penting harus disadari bahwa peningkatan ilmu pengetahuan harus berbanding lurus dengan peningkatan keimanan dan perwujudan menjadi insan yang ikhsan. Allah maha benar dan maha mengetahui.</p>
<p><em>Ithaca, 11 Mei 2009. (<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9480-agama-dan-bekal-merantau-" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>). </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/agama-dan-bekal-merantau/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Musim, Kita Bisa Berubah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 19:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<category><![CDATA[jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2529</guid>
		<description><![CDATA[Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu.
Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi mahasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu.</em></strong></p>
<p>Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi mahasiswa barunya, dan itu program wajib bagi mahasiswa baru, sehingga aku dan orangtuaku tidak usah pusing-pusing mencari tempat kos.</p>
<p>Aku masih ingat pertama kali masuk asrama. Setelah menyelesaikan administrasi, ditemani orangtuaku, aku mencari nomor kamar yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun itu. Aku ditempatkan di kamar nomor 193 lorong 5. Kabarnya aku akan ditempatkan bareng dengan dua teman baruku, Lia dan Lena namanya. Sambil berjalan menuju kamar aku bertanya-tanya dalam hati, &#8220;Wajah teman sekamarku seperti apa? Baik nggak sih? Agamanya apa?&#8221; Pokoknya berbagai pertanyaan yang hadir di otakku yang buat aku jadi pusing sendiri.<span id="more-2529"></span></p>
<p>Di depan pintu kamar, kudengar ada suara orang. Sepertinya sudah ada yang mendahuluiku. Siapa ya? Apakah itu teman sekamarku? Aku kemudian mengucapkan salam dan masuk ke dalam kamar. Agak canggung aku memperkenalkan diri. Oh ternyata dia adalah teman sekamarku namanya Lena, dia nggak sendirian, tapi diantar sama ibu dan pamannya.</p>
<p>Alhamdulillah dia berkerudung, berarti menandakan agamanya Islam. Syukurlah, batinku. Setelah beberapa jam ngobrol, kita jadi semakin dekat. Tapi sayangnya, dia nggak bisa bermalam di asrama. Yah, ga apa-apa, toh aku sudah berjanji akan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Terpaksa malam itu aku harus tidur sendiri.</p>
<p>Beberapa minggu berlalu, akhirnya lengkap sudah penghuni kamar 193 dengan namanya yang triple L (Lesi, Lia dan Lena). Alhamdulillah, semuanya beragama Islam, walaupun Lia tidak pake kerudung. Kami pun semakin akrab dan aku pun mulai mengenal karakter mereka. Lia yang anaknya agak gaul, cuek dengan penampilan dan pakaian jeans serta T-shirt agak ketatnya kalo keluar dan suka musik kerasnya <em>Linkin Park</em>. Lena yang cenderung tertutup, agak manja dan senang dandan. Sedangkan aku, dengan latar belakang pemahaman Islam yang sedikit baru bisa menunaikan kewajiban seorang muslimah yaitu berjilbab dan berkerudung.</p>
<p>Aneh memang jika dibayangkan ketiga orang yang punya &#8216;keunikan&#8217; masing-masing bisa disatukan dalam satu kamar. Tetapi kita tidak mempersoalkan masalah itu. Walau pun ada beberapa hal yang kami tidak sependapat, apalagi kalo berbicara masalah syariat Islam. Kupikir memang agak susah, apalagi selama ini mereka belum pernah mendengar seperti itu. Kebetulan aku sudah mulai mengkaji Islam lewat mbak yang berasal dari daerah yang sama denganku. Kupikir ini tantangan bagiku, dakwah ke orang yang terdekat denganku, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dulu.</p>
<p><strong>Hampir melupakan teman</strong></p>
<p>Beberapa bulan berlalu, tak terasa sudah hampir setengah tahun. Aku yang semakin asyik dengan kegiatanku sendiri, semakin jarang bersama-sama dengan kedua orang temanku itu. Aku jadi agak jauh, dan itu membuat mereka malah tidak bisa menerima ide yang kubawa, karena selama ini aku memang jarang ngobrol panjang lebar dengan mereka.</p>
<p>Kuakui, itu kesalahan besar. Aku jadi nggak maksimal. Aku merasa bersalah tidak mampu mengajak mereka untuk merasakan apa yang kurasakan saat ini, karena ketika kuajak untuk ikut kegiatan keislaman mereka selalu menolak. Akhirnya, kupikir tidak ada gunanya lagi mengajak mereka atau menyampaikan tentang Islam ke mereka. Toh, nggak ada hasilnya. Aku sudah putus asa, nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku berharap Lena yang pake kerudung bisa kuajak mengkaji Islam, ternyata gagal. Berharap pada Lia yang karakternya &#8220;kayak gitu&#8221;, aku rasa tidak mungkin! Sejak saat itu, aku tak pernah lagi menceritakan tentang khilafah atau wajibnya seorang perempuan menutup aurat dengan jilbab dan kerudung.</p>
<p>Ada sesuatu yang terjadi dengan teman sekamarku Lena. Akhir-akhir ini dia mulai jarang masuk kuliah, katanya sih ada urusan keluarga. Tapi kok keluarganya nelpon ke ponselku menanyakannya. Sebab kata orang tuanya, ponselnya nggak bisa dihubungi. Aku jadi bertambah bingung, ke mana anak itu. Konsentrasi belajarku jadi agak terganggu dengan masalah ini. ketika Lena datang, Aku mencoba menanyakan masalahnya, tapi karena sifatnya yang tertutup, aku gagal. Aku hanya sempat menasihati dia, bahwa kita harus sungguh-sungguh kuliah, karena ini adalah amanah orangtua kita. Tak banyak orang yang bisa kuliah, kita termasuk orang yang beruntung. Sedih hatiku, ketika akhirnya Lena harus keluar dari IPB. Malam itu ia datang bersama pamannya, membawa semua barangnya. Tak satupun yang tersisa, Aku dan Lia ikut membantu dengan hati yang sedikit kecewa. Namun, lama kelamaan kami sudah mulai melupakan kejadian itu seiring banyaknya tugas-tugas kuliah.</p>
<p><strong>Hidayah buat Lia</strong></p>
<p>Ketika kami dapat kuliah PAI (Pengantar Agama Islam), ada yang namanya mentoring. Ketika mentoring, semua mahasiswi muslimah harus pake kerudung. Lia yang memang nggak biasa pake kerudung menggerutu, sebab dia tuh kalo pake kerudung lama banget dan susah rapinya. Katanya padaku gerah dan kalau makan susah buka mulutnya. Aku hanya tersenyum saat itu dan bilang padanya memang gitu kalau baru pertama, tapi kalau udah biasa nggak kok.</p>
<p>Saat keluar dari asrama pun tiba. Lia yang jurusan kimia itu harus pindah ke kampus IPB yang ada di Baranangsiang, di pusat kota. Cukup jauh dari tempat kos dan kuliahku. Akhirnya kami tidak pernah ketemu, SMS pun jarang.</p>
<p>Sampai suatu ketika aku terkejut mendapat sebuah pesan singkat. Oh, ternyata SMS dari Lia. Aku senang sekali katanya mau datang ke kosku. Lama kutunggu akhirnya datang juga, aku benar-benar kaget dan tak bisa berkata apa-apa ketika melihat Lia dengan kerudung lebar dan baju potongannya. Nyaris sempurna lirihku dalam hati. Lia sudah berubah! Walaupun kutahu ia berbeda kelompok dakwah denganku, tapi kuyakin tujuan perjuangan kita sama.</p>
<p>Lebih mengagetkanku ketika dia minta ditemenin untuk nyari kaset nasyid. Padahal dulu&#8230; Ah, Lia aku bangga padamu. Seperti halnya musim, kamu bisa berubah. Tentu, berubah menjadi lebih baik. Kau mampu menjemput hidayah itu. Semoga perubahan ini tidak sesaat. Aku jadi ingat sahabat Nabi, Umar bin Khaththab, yang dengan cahaya Islam membuat ia menjadi sosok pembela Rasul yang ditakuti kaum kafir. Aku jadi semakin yakin, bahwa Islam adalah fitrah. Dengan hidayah Allah, penjahat sekalipun bisa berubah menjadi baik. Semoga engkau tetap istiqamah ukhti. <strong>[seperti yang dituturkan Lesi kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Agustus 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/seperti-musim-kita-bisa-berubah/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Engkau Bersujud Kepada-Nya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/agar-engkau-bersujud-kepada-nya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/agar-engkau-bersujud-kepada-nya#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 21:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2575</guid>
		<description><![CDATA[Aku namakan dirimu Muhammad Husain As-Sajjad, karena aku ingin engkau kelak akan banyak bersujud kepada-Nya 
Oleh Mohammad Fauzil Adhim *
Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir di saat orang-orang sedang bersujud ke hadirat Allah &#8216;Azza wa Jalla. Engkau lahir di saat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika manusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku namakan dirimu Muhammad Husain As-Sajjad, karena aku ingin engkau kelak akan banyak bersujud kepada-Nya </em></strong></p>
<p>Oleh <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong> *</p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/FauzilFoto.jpg" border="0" alt="" width="95" height="129" align="left" />Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir di saat orang-orang sedang bersujud ke hadirat Allah &#8216;Azza wa Jalla. Engkau lahir di saat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika manusia sedang mengagungkan asma Allah, engkau lahir di dunia ini. Nyaris tanpa pertolongan. Tetapi pertolongan siapakah yang lebih baik daripada pertolongan Allah? Sesungguhnya, sebaik-baik penolong adalah Allah. Maka kelak, ingat-ingatlah bahwa hanya kepada-Nya engkau menyembah dan meminta pertolongan.</p>
<p>Hayatilah setiap kali engkau membaca &#8220;IyyaKa na&#8217;budu wa iyyaKa nasta&#8217;in. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.&#8221;<span id="more-2575"></span></p>
<p>Nak&#8230;</p>
<p>Ada lagi yang membuatku memberimu nama As-Sajjad. Engkau lahir di hari pertama bulan Ramadhan. Ketika itu ibumu baru saja selesai sahur, ketika ia merasakan tanda-tanda kelahiranmu, Nak. Engkau lahir di bulan yang paling penuh barakah; bulan yang di dalamnya terdapat satu malam dengan kemuliaan yang melebihi seribu bulan. Di bulan itulah, Nak Al-Qur&#8217;an diturunkan. Dan di bulan itu pula engkau dilahirkan.</p>
<p>Sungguh, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Maka ketika kelak engkau mulai bisa memikirkan untuk apa engkau diciptakan, perhatikanlah langkahmu dan renungilah mengapa Allah takdirkan engkau lahir di bulan yang suci; di bulan yang manusia dan para malaikat mengagungkannya; sementara syaithan dibelenggu oleh Allah &#8216;Azza wa Jalla. Di bulan itu, manusia belajar menahan diri -tak sekedar menahan lapar dan dahaga-agar mereka meraih derajat takwa.</p>
<p>Maka, aku sungguh berharap ini menjadi pelajaran bagimu untuk belajar menahan diri, bukan karena ingin mendapat penilaian manusia, tetapi agar meraih kecintaan Tuhanmu.</p>
<p>Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari Allah Yang Maha Menciptakan, hanya demi meraih kecintaan dari makhluk-makhluk-Nya. Sesungguhnya selain Allah adalah fana. Betapa banyak orang yang mengikrarkan cintanya dan tak lama sesudah itu ia mengingkari ikrarnya sendiri. Betapa banyak orang yang mengaku mencintai saudaranya dengan tulus, padahal yang mereka cintai hanyalah parasnya. Cinta itu awalnya meluap-luap, dan setelah dimakan usia, tak tahu lagi kemana cinta harus dicari. Jika engkau mencari cinta mereka, mungkin mereka akan mengelu-elukanmu ketika ada yang bisa didapatkan darimu. Tetapi sesudah itu, tak ada sedikit pun jaminan bahwa mereka tidak akan meninggalkanmu.</p>
<p>Sungguh, telah banyak berlalu ummat-ummat sebelum kamu. Maka berjalanlah di muka bumi, dan lihat kesudahan orang-orang terdahulu. Telah banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras untuk memperoleh tepuk tangan dan decak kagum manusia, tetapi sesudah masa bertukar dan zaman berganti mereka tak lagi dikenali. Dan sesudah itu, sebagian di antara mereka terpuruk oleh kesedihannya sendiri, dan sebagian lainnya tersadar sehingga segera berlari kepada Allah.</p>
<p>Alangkah fana, Anakku. Alangkah fana&#8230;. Maka apakah engkau akan sibuk mengejarnya?</p>
<p>Sementara apabila engkau meraih kecintaan Tuhanmu, Anakku, Ia akan memaklumkan kecintaan-Nya kepada para malaikat. Lalu para malaikat itu akan memaklumkan kecintaan itu kepada hati manusia, sehingga mereka berbondong datang kepadamu sekalipun engkau bersembunyi di balik goa. Mereka datang kepadamu dengan penuh kecintaan, dan kecintaan itu datang dari Tuhanmu. Mereka akan siap melindungimu dan membantumu, kapan saja. Tetapi jangan engkau keliru menyangka, sehingga menganggap mereka sebagai penolongmu.</p>
<p>Tidak.</p>
<p>Sekali-kali tidak. Sesungguhnya tidaklah mereka menjadi penolongmu melainkan karena Allah semata.</p>
<p>Anakku&#8230;</p>
<p>Kunamakan engkau Muhammad Husain As-Sajjad agar? engkau bersujud kepada-Nya. Sujudkan badanmu agar engkau termasuk golongan orang-orang ahli &#8216;ibadah. Sujudkanlah hatimu agar engkau menjadi seorang mukmin; seorang yang mengimani-Nya dengan lurus. Sujudkanlah pikiranmu agar engkau termasuk golongan ulil-albab.</p>
<p>Sujudkanlah jiwamu agar engkau menjadi seorang yang mencapai derajat ihsan, karena engkau senantiasa berada pada situasi seakan-akan engkau melihat Tuhanmu. Dan apabila engkau tidak melihat Tuhanmu, engkau yakin dengan sepenuh hati bahwa Ia mengawasimu.</p>
<p>Sujudkan pula harta dan duniamu, agar tidak pernah menguasai hatimu. Sesungguhnya harta itu letaknya dalam genggamanmu. Bukan pada hatimu. Apabila harta itu engkau letakkan di tanganmu, maka engkau akan ringan hati membelanjakan di jalan-Nya. Tetapi apabila harta itu engkau simpan dalam hatimu, maka sedikit saja yang berkurang, akan dapat menggelisahkan dirimu sehingga dengan itu justru harta yang sedang mendekat kepadamu, akan berlari sejauh-jauhnya.</p>
<p>Husain Anakku&#8230;.</p>
<p>Sesungguhnya harta yang akan menjadi milikmu kelak di Yaumil-Qiyamah adalah yang engkau belanjakan di jalan yang benar. Setiap keping yang engkau jadikan shadaqah, ia akan tetap menjadi milikmu sampai Hari Kiamat. Setiap keping yang engkau bayarkan sebagai zakat, ia akan menjadi pembelamu di hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah semata.</p>
<p>Setiap keping yang engkau belanjakan untuk keluargamu, untuk anak-anak yatim, untuk jihad fii sabilillah, untuk amar makruf nahy munkar, untuk mengongkosi perjalananmu melakukan kebaikan, maka ia tetap menjadi milikmu dan senantiasa berlipat kebaikannya hingga engkau berjumpa di Hari Akhir kelak. Ia akan mengantarmu ke surga atas perkenan-Nya. Insya-Allah.</p>
<p>Tetapi, Nak&#8230;</p>
<p>Karena sekeping uang pula manusia bisa terhalang dari Tuhannya. Tidaklah disebut pendusta agama orang yang pendek-pendek do&#8217;anya dan ringkas shalatnya. Tidak.</p>
<p>Tetapi tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mengajurkan memberi makan orang miskin. Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya&#8217; dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Begitu peringatan Tuhanmu dalam surat Al-Maa&#8217;uun. Kelak engkau bisa membacanya dalam Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Hanya Do&#8217;a Yang Kupinta Apa yang kuharapkan dengan pesan-pesan ini, Anakku?</p>
<p>Aku sayangi dirimu sejak engkau belum dilahirkan; Aku tunggui persalinan ibumu hingga terdengar tangismu; Aku bersihkan darah yang mengiringi kelahiranmu dengan tanganku sendiri; Aku temani masa-masa bayimu dengan membacakan do&#8217;a di telingamu; Aku ciumi dirimu sebagaimana Rasulullah saw. mengajarkan; Dan aku nanti engkau beranjak besar, lalu kutulis pesan ini, tidak lain hanyalah berharap engkau kelak menjadi orang shalih yang memberi bobot kepada bumi ini dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Betapa pun bapak dan ibumu hanya dua orang yang lemah imannya, lemah ilmunya dan lemah jiwanya. Tidak ada kekuatan kecuali semata-mata dari-Nya.</p>
<p>Besarnya pengharapan inilah yang menjadi kekuatan? bapak ibumu dalam mengasuh dan membesarkanmu. Kalau kemudian kelak engkau menjadi anak yang shalih -dan bapak ibumu senantiasa berharap dengan penuh kesungguhan-maka tidak ada yang lebih berharga untuk diharapkan darimu melebihi do&#8217;a-do&#8217;a yang engkau panjatkan dengan tulus kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla bagi kedua orangtuamu ini. Harapan inilah yang membuat bapak ibumu bersedia mengorbankan apa saja, termasuk kesehatan, asalkan kelak engkau termasuk di antara waladun shalihun yad&#8217;ulah. Anak shalih yang mendo&#8217;akan.</p>
<p>Inilah yang senantiasa merisaukan orangtuamu, Anakku, bagaimana mengantarkan engkau menjadi waladun shalihun yad&#8217;ulah. Jika engkau termasuk anak yang shalih, maka setiap perbuatanmu dapat menjadi kebaikan bagi orangtuamu. Dan jika engkau mendo&#8217;akan bapak ibumu, maka Allah akan bukakan pintu-pintu kebaikan.</p>
<p>Kebaikan itu akan terus mengalir apabila engkau mendo&#8217;akan, sekalipun bapak ibumu telah berselimut kain kafan.</p>
<p>Tetapi sekedar mendo&#8217;akan, Anakku&#8230; tanpa ada keshalihan yang mengiringi do&#8217;a-do&#8217;a itu, rasanya akan sia-sia. Sebab, seperti yang engkau baca, anak-anak yang bisa menambah catatan kebaikan bagi kedua orangtuanya sesudah kematian menjemputnya adalah anak-anak shalih yang mendo&#8217;akan. Ini berarti engkau harus menjadi manusia shalih ketika mendo&#8217;akan.</p>
<p>Tanpa keshalihan, do&#8217;a itu akan melayang begitu saja. ?Apalagi do&#8217;a itu bukan engkau sendiri yang mengucapkan. Dan betapa banyak kulihat, di kala seorang anak Adam meninggal dunia, para tetangga mendo&#8217;akan si mati, sementara anak-anaknya mengaminkan pun tidak. Mereka menyibukkan diri dengan makanan yang akan dihidangkan.</p>
<p>Sungguh, sesuatu yang absurd. Lebih-lebih di antara para pendo&#8217;a itu terkadang ada yang menjadi ahli maksiat. Wallahu a&#8217;lam bishawab. [<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/sekolah-revolusioner/8679-agar-engkau-bersujud-kepada-nya" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis majalah Hidayatullah</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/agar-engkau-bersujud-kepada-nya/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Pilihan Hidup Gue!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-pilihan-hidup-gue</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-pilihan-hidup-gue#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 17:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<category><![CDATA[gaul]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2587</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 087/tahun ke-2 (28 Jumadil Akhir 1430 H/22 Juni 2009)
Hari gini kalau ngomongin soal remaja gaul pasti nggak jauh dari sosok cewek-cowok yang fashionable alias mereka yang selalu update penampilan sesuai tren; rambut bonding atau ala harajuku, di-highlight warna-warni, baju harus minimal distro atau FO (factory outlet). Parfum dengan segala jenisnya juga nggak ketinggalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 087/tahun ke-2 (28 Jumadil Akhir 1430 H/22 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Hari gini kalau ngomongin soal remaja gaul pasti nggak jauh dari sosok cewek-cowok yang <em>fashionable</em> alias mereka yang selalu <em>update</em> penampilan sesuai tren; rambut <em>bonding</em> atau ala harajuku, di-<em>highlight</em> warna-warni, baju harus minimal distro atau FO (factory outlet). Parfum dengan segala jenisnya juga nggak ketinggalan dimasukkin ke dalam daftar belanja bulanan. Plus, supaya nggak dinilai mati gaya, handphone kudu yang 3,5G atau minimal yang GPRS <em>connected</em> supaya internet tetap online dan acara <em>chatting</em> jalan terus. Supaya nggak dianggap makhluk purbakala, info musik, film, olahraga, en <em>fashion</em> kudu jadi santapan harian.</p>
<p style="text-align: justify;">Eh, ada yang protes nih kayaknya. Gue nggak segitu-gitunya deh ya. Gaul emang kudu. Remaja gitu loh. Tapi, nggak harus juga kayak gitu. Belajar yang bener en jadi orang pinter itu yang harusnya jadi tujuan! Soal baju sih yang penting enak dipake dan nggak telanjang. HP jadul bekas lengseran bokap atau nyokap? Nggak apa-apa. Yang penting kan masih bisa buat nelpon dan sms-an. Iya, ada juga kok emang remaja yang rajin belajar, hemat, baik hati, en nggak sombong lagi. Swit..swiw&#8230;<span id="more-2587"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ditanya siapa remaja yang paling gaul, pasti deh pada berebut unjuk diri dengan ngeluarin semua bukti. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan dan rajin belajar, yakin deh banyak yang nggak mau ketinggalan. Kalau perlu nih, pada bawa rapor untuk diperlihatkan. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan plus gaul, wah ini sih pasti lebih banyak lagi yang mengaku tanpa terpaksa. Entah yang beneran sesuai realita? atau cuma ngaku-ngaku biar dianggap hebat. Tapi, kalau ditanya siapa remaja yang relijius? Hmm&#8230; kira-kira pada berebut tunjuk tangan juga nggak ya? Kayaknya nggak tuh. Kebanyakan pada mundur. Remaja relijus? Wuih! Berat, bro.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Agama gue emang Islam, tapi ya gitu deh</strong><br />
Udah jadi hal yang umum banget para remaja lebih familiar sama urusan penyanyi papan atas, band-band ngetop, aksesoris branded. Fakta yang jamak juga remaja lebih ngerasa cool kalo ngedugem daripada ngaji. <em>Hang out</em> bareng temen ke kafe atau nikmatin nomat jadi hal yang kudu ada dalam agenda <em>week end</em>. Padahal sebagian besar remaja tersebut adalah muslim.
</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So what</em> gitu loh? Agama kita emang Islam, tapi bukan berarti kita harus ketinggalan jaman kan? Kayak gitu tuh respon yang biasanya muncul kalau soal agama diungkit-ungkit ke mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ngomongin Islam dalam beraktivitas keseharian kayaknya yang gimana gitu. Kayak yang ogah banget. Udah deh nggak usah bawa-bawa agama kalo ngomongin soal <em>fashion</em>. Please deh nggak usah bawa-bawa Islam kalo ngomongin pacaran. Aduuuh, gue tuh cuma pengen cari hiburan, kenapa juga harus cari tahu dulu aturan Islam?</p>
<p style="text-align: justify;">Brotha, Sista, Islam diturunkan Allah Swt. melalui Muhammad Rasulullah saw. sebagai aturan yang komplit dalam hidup dan berkehidupan. Sebagai aturan yang komplit, Islam ngatur semua urusan hidup. Urusan makan, minum, sikap ke ortu, menuntut ilmu, bergaul, nonton, denger musik, soal lingkungan hidup, kebersihan, cara ngedapetin harta, gimana ngeluarin harta, gimana hidup sehat, sampe urusan pertahanan-keamanan negara sampe politik ada semuanya dalam Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan juga, Islam sebagai aturan hidup pastinya nggak pernah bakal ketinggalan jaman. Never ever! Hidup manusia pasti harus maju dan berkembang. Masa&#8217; iya kalo dulu jaman nenek moyang kirim berita pake jasa merpati, sekarang tetep begitu. Kan nggak. Hari gini, jaman facebook eksis gitu lho. Kalau dua ratus tahun yang lalu kemana-mana pake onta atau kuda, masa&#8217; iya hari gini masih naik begituan. Nggak lah, kan udah jaman motor matic, mobil matic, bis dengan bahan bakar gas nih!</p>
<p style="text-align: justify;">Islam paham banget manusia dengan akal yang dikasih Allah <em>Ta&#8217;ala</em> pasti bisa bikin banyak teknologi yang memudahkan, makanya Islam nggak pernah ngekang manusia untuk terus berinovasi. Tapi, Islam juga punya aturan yang jelas gimana kemajuan teknologi nggak bikin manusia lupa diri. Nggak kayak sekarang, atas nama pembangunan berapa juta hektar hutan yang dikorbankan. Atas nama meraih identitas sebagai manusia modern jadi tega ngorbanin manusia lainnya. Sebagian kecil hidup dalam gelimang harta, sebagian besar lainnya dibiarkan hidup terlunta-lunta. Itu fakta yang terjadi saat ini, dan fenomena kayak gitu sama sekali bukan fenomena kehidupan manusia modern. Mana ada manusia modern nggak punya hati ngeliat manusia kanan-kirinya mati? Islam bikin hidup sukses, maju, sekaligus mulia dunia en akhirat, Bro,Sis!</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap manusia yang lahir sejatinya adalah muslim. Ketika ruh ditiupkan saat kita berusia empat bulan dalam kandungan ibu-ibu kita, kita berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt. Ikrar yang nggak sembarang ikrar! Ikrar itu sumpah kita! Kalo kita udah bersumpah bahwa nggak ada Tuhan selain Allah Ta&#8217;ala, artinya nggak ada zat lain, nggak ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita sembah, kita turuti segala perintah dan larangan selain Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Kita juga sebagai muslim pastinya bersyahadah bahwa Muhammad utusan Allah Swt. Artinya, nggak ada manusia lain, satupun, di muka bumi ini, yang kita ikutin perkataannya, perbuatannya, dan diamnya, selain Muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi remaja yang relijius, berarti remaja yang berusaha semampu mungkin untuk ngejalanin apa yang Islam perintahkan dan ngejauhin apa yang Islam larang, berdasarkan kesadaran syahadah kita pastinya. Nah, kalo menjadi sosok relijius emang konsekuensi dari syahadah, kenapa juga kita jadi minder? Kan, itu emang seharusnya. Malah kita harus berusaha keras supaya bisa mencapai level relijius itu. Tapi, bukan berarti kita juga harus sok koar-koar relijius ya. Itu sih sombong. Orang sombong nggak sesuai dengan ajaran Islam. En, berarti menodai makna relijius yang sebenarnya.<br />
<strong> </strong><br />
<strong>Cuma untuk Islam </strong><br />
Islam yang jadi jalan hidup jangan sampai deh cuma dipake kalau pas waktu tertentu aja. Pas Ramadhan aja pada rame tadarusan. Atau pas pesantren kilat, baru deh pada? rame pake jilbab. Ngejalanin Islam emang kudu harian.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi&#8230; gue nggak mau dibilang radikalis, fundamentalis, atau bahkan teroris. Siapa yang bilang kalau seorang muslim ingin menjadi sebenar-benarnya muslim terus jadi teroris? Ngebela diri dan agama yang dilecehin seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Palestina dan Irak masa&#8217; dibilang teroris? Terus, kalau tentara Amerika dan Israel ngebantai saudara-saudara kita di sana kok nggak dibilang teroris gitu?</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, istilah fundamentalis en radikalis sering dikaitin sama kekerasan. Kamus bahasa Indonesia juga memasukkan kata kekerasan untuk dikaitkan dengan radikalis dan fundamentalis. Padahal nih kalo kita mau liat-liat di kamus English to English (karena kan kata radikalis dan fundamentalis dari bahasa Inggris, jadi afdolnya kita kudu liat kamus dari bahasa yang sama), fundamentalis berasal dari kata fundamental yang artinya aturan, prinsip dasar. Nah, fundamentalis berarti orang yang menerapkan aturan dan prinsip dasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana dengan radikal? Radikal artinya dasar, perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Orang yang radikal berarti orang yang melakukan perubahan yang mendasar dan menyeluruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, apa salahnya coba dengan kata fundametalis dan radikal? Sebagai muslim, emang udah jadi keharusan kan untuk menerapkan aturan atau prinsip dalam Islam. Sebagai muslim kita juga kudu ngelakuin perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap kehidupan saat ini yang sangat tidak adil dan jauh dari sejahtera, supaya bisa menjadi adil dan sejahtera.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo ada cap orang yang fundamentalis dan radikal itu suka melakukan kekerasan, itu sih <em>black campaign </em> alias propapaganda negatif. Karena orang yang melakukan perubahan dengan Islam, dia pastinya harus tunduk kepada aturan Islam. Dan, Islam mengajarkan bahwa perubahan itu dilakukan dengan dakwah tanpa kekerasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo musuh Allah Swt, musuh Islam, kasih label yang aneh-aneh ke kita itu supaya kita jadi ngeri sama Islam, terus jadi ngejauhin diri dari Islam. Kalo udah jauh dari Islam, kita jadi jauh sama tuntuntan hidup sebenarnya, kita jadi cupu, jadi lemah. Kita jadi gampang dipengaruhin sana-sini, &#8220;disuntik&#8221; pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan maunya penjajah. Kalo pemikiran kita, benar-salah menurut kita sama dengan benar-salah menurut penjajah, kita jadi gampang dijajah. Boro-boro berjuang ngusir penjajah, punya niat ngelawan aja nggak. Apa yang kayak gitu yang kita mau? Nggak lha yauw!</p>
<p style="text-align: justify;">Islam seharusnya bikin hidup kita beda! Remaja muslim bukan remaja pasaran. Kemana-mana dia pasti menampilkan pancaran yang khas, yang nggak biasa-biasa aja. Tegas dalam bersikap. Yang menurut Allah Swt. dan Rasul-Nya itu benar (haq) maka akan tetap menjadi kebenaran. Yang menurut Allah dan Rasul-Nya itu salah (bathil), maka selamanya salah. Bukan tipe manusia plin-plan. Bukan manusia yang sukanya ikut-ikutan. Di saat yang sama dia juga tulus dalam berkasih sayang terhadap sesama. Cerdas dalam mencari solusi kehidupan, juga gaul terhadap perkembangan jaman. Pemberi solusi, bukan penyumbang masalah. Pembela kebenaran, pejuang keadilan, bukan tipe penjilat apalagi pengkhianat. Duh, jauh deh ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuma Islam yang bisa bikin remaja begitu. Cuma Islam yang bisa bikin remaja jadi <em>powerful</em> untuk meraih cita-cita. Nggak gampang nyerah sama keadaan. Karena dia sadar kalo cita-cita yang dia perjuangkan adalah cita-cita yang membawa maslahat bagi umat di dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Islam wajib diperjuangkan!</strong><br />
Ketika seorang muslim sudah menjadikan Islam sebagai pilihan hidupnya, jadi hal yang wajar kalau dia mati-matian memperjuangkan. Seperti para pejuang Islam berikut ini:
</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu Mas&#8217;ud</strong>, seorang sahabat Rasulullah, membacakan al Quran di dekat Ka&#8217;bah di waktu dhuha di hadapan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul. Orang-orang Quraisy berdiri? menghampiri dia, lalu memukulinya. Tetapi Ibnu Mas&#8217;ud terus membaca al Quran sampai wajahnya babak-belur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Shafiyyah binti Abdul Muthalib</strong>, bibi Rasulullah saw, dialah wanita pertama yang membunuh kaum musyrikin. Di pertempuran Uhud, kala kaum muslimin tercerai-berai turun dari bukit tidak mendengar perintah Rasulullah, tinggallah Ali bin Abi Thalib, Umar bi Khatab, Zubair bin Awwam (putra Shafiyyah) , dan Abu Bakar ash-Shidiq. Salah satu gembong kaum kafir, Ubay bin Khalaf mendekat untuk membunuh Rasulullah dengan tombaknya. Namun, Rasulullah mampu merebut tombak itu dan menancapkannya ke tubuh Ubay. Di sisi yang berlainan, Shafiiyah tidak berkedip memperhatikan kondisi kaum muslimin yang mulai terdesak. Semangat juangnya membara dan semakin berkobar melihat pihak kaum muslimin terdesak. Bagai singa betina, dia segera meloncat ke punggung kuda dan menyambar pedang salah seorang muslimin yang sedang berlari. Bagaikan terbang Shafiyyah memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Pedang Shafiyyah berkelebat ke sana-sini mencari sasaran musuh. Tidak sia-sia karena banyak kaum kafir Quraisy yang tewas di tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ustadz Sayyid Quthb</strong> ketika ditanya oleh mahkamah tentang penguasa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah (al-Quran). Beliau menjawab, &#8220;Dia Kafir.&#8221; Maka sebagian muridnya bertanya, &#8220;Mengapa engkau berterus terang dalam masalah ini di hadapan mahkamah, padahal lehermu di antara para algojo?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ada dua sebab. <span style="text-decoration: underline;">Sebab yang pertama:</span> karena kami berbicara masalah akidah, maka tidak boleh tauriyah (diplomasi atau menyampaikan perkataan yang berbeda dengan isi hati). <span style="text-decoration: underline;">Sebab yang kedua:</span> Tidak boleh menyatakan kalimat kekafiran bagi seorang yang diikuti orang banyak. Para pemuda yang menjadi perintis dan teladan umat, maka tidak boleh baginya menyatakan kalimat kekafiran dan bersikap tauriyah dan tidak boleh baginya mengambil dasar ayat di atas. Ketika orang-orang dekatnya mengatakan pada beliau: &#8220;Wahai Sayyid! Seandainya engkau mau mengajukan grasi&#8221;. Beliau menjawab: &#8220;Sesungguhnya jari yang menyaksikan ketauhidan Allah di dalam sholat akan menolak menuliskan satu huruf pun yang mengakui hukum thoghut. Mengapa saya harus mengajukan grasi? Jika saya diadili dengan haq, maka saya akan ridho dengan al-haq, dan jika saya diadili dengan bathil, maka saya merasa lebih besar daripada mengajukan grasi yang bathil.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sedikit contoh para pejuang Islam yang dengan segenap jiwa dan raga membela Islam. Ya iya dong. Kalo Islam udah jadi pilihan hidup, tentunya harus kita bela habis-habisan. Kalo jaman sekarang, kita bisa bela Islam dengan menampilkan sosok muslim sejati di diri kita, dengan kriteria seperti yang udah dijabarin di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum ngerasa sreg ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup? Bisa jadi karena kita belum kenal Islam secara mendalam. Kalau belum kenal, gimana bisa jadi sayang sama Islam. Kalau nggak sayang, pasti deh nggak bakal ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, supaya bisa sayang, mulai sekarang kenal en gaul deh sering-sering sama Islam. Yang rutin jadwalnya (minimal pantengin terus deh buletin gaulislam: http://gaulislam.com). Usahanya juga harus pol. Insya Allah kita pasti bakal jatuh cinta sama Islam dan akhirnya rela ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup. Lagipula milih Islam nggak pernah ada ruginya, bikin kita selamat dunia-akhirat! Mau? Yes! <strong>[nafiisah fb: www.nafiisahfb.co.cc]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-pilihan-hidup-gue/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyambung Tali Kasih</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 20:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2560</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Moekti
Menjadi bagian dari sebuah keluarga besar memang menyenangkan, tapi sekaligus bikin kita ketar-ketir. Kenapa? Karena hubungan di antara anggota keluarga akan semakin kompleks. Hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang bernama keluarga juga bisa menciptakan benih-benih konflik. Ini sangat wajar mengingat anggota keluarga yang banyak dan beragam pendapat. Namun, bukan berarti hal itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Moekti</strong></p>
<p>Menjadi bagian dari sebuah keluarga besar memang menyenangkan, tapi sekaligus bikin kita ketar-ketir. Kenapa? Karena hubungan di antara anggota keluarga akan semakin kompleks. Hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang bernama keluarga juga bisa menciptakan benih-benih konflik. Ini sangat wajar mengingat anggota keluarga yang banyak dan beragam pendapat. Namun, bukan berarti hal itu tak bisa dikendalikan. Pendapat dan keinginan boleh berbeda selama hal itu masih dalam batas kewajaran dan bisa dipertanggungjawabkan. Tapi hubungan kekeluargaan atau silaturahmi harus tetap terjalin.</p>
<p>Sangat boleh jadi, dalam kondisi tertentu, muncul konflik. Tapi yakinlah, munculnya konflik itu adalah hal yang amat wajar. Bahkan bisa semakin mendewasakan kita dalam bersikap. Kita diuji untuk menyelesaikan setiap konflik yang terjadi dengan bijak. Tidak membela salah satu, atau menjerumuskan yang lain. Karena tujuan kita adalah melanggengkan ikatan tali kasih di antara keluarga.<span id="more-2560"></span></p>
<p>Saya pernah mengalami masa-masa yang amat sulit dalam hubungan dengan keluarga. Dan saya kira semua keluarga pernah merasakan hal ini. Entah itu konflik antara anak dengan orangtua, kakak dengan adik, antara orangtua kita dengan paman, kakek, nenek, bahkan mungkin menantu dan mertua. Semua hubungan itu bisa menumbuhkan benih-benih konflik. Saya dengan saudara pernah tak harmonis. Itu terjadi karena perbedaan pendapat dan keinginan. Ini sangat berbahaya jika dikompori pihak ketiga. Untungnya, hubungan &#8216;panas&#8217; itu tak berlangsung lama, dan memang saya tidak menginginkan untuk terus terjadi. Sayangnya, dalam kondisi seperti itu kadang di antara kita rada segan jika harus lebih dahulu minta maaf. Akhirnya, masing-masing &#8216;bertahan&#8217; dalam pendapatnya. Apa nggak ada jalan untuk mencari titik temu?</p>
<p>Tapi yang saya lakukan, dalam kondisi seperti itu, adalah memulai untuk mendekati. Agak sulit jika masing-masing diam. Memulainya berat memang, tapi saya tetap mencobanya. Misalnya dengan sekadar menelepon atau kirim-kirim SMS. Jika masih belum cukup ada respon, saya coba mengirimi hadiah, bahkan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Yang terjadi saat itu, kebetulan anaknya sakit, jadi saya ada alasan untuk menengok. Ternyata, dengan pendekatan yang proaktif dari kita itu bisa menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan. Jadi intinya kita sendiri kudu ngambil inisiatif lebih dulu. Mungkin ini mempraktikkan teori jemput bola, bukan menunggu bola.</p>
<p>Hasilnya, alhamdulillah tali kasih antara keluarga yang tadinya hampir putus terjalin kembali. Ternyata memang, hubungan dengan keluarga itu seperti benci tapi rindu. Kadang kita benci dengan sikap seseorang atau sebagian saudara kita, tapi kita juga rindu jika tak pernah bicara, tak pernah bertemu. Itu pula yang pernah saya rasakan. Saat terjadi konflik, biasanya malas bicara dan malas bertemu. Tapi, setelah kita coba untuk menyambungkan tali kasih itu, kerinduan itu serta-merta memenuhi suasana hati masing-masing.</p>
<p>Sobat pembaca, tali silaturahmi di antara keluarga kita harus tetap terjalin. Allah menyukai orang-orang yang memperkokoh hubungan di antara keluarga. Jadi, tak ada alasan untuk konflik berkepanjangan tanpa akhir dengan keluarga. Apalagi kita sudah dibina dengan ajaran Islam yang memang mengatur masalah ini.[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Februari-Maret 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menyambung-tali-kasih/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Putus</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/putus</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/putus#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 00:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2581</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Arif



&#8220;Kita harus berhenti. Harus berani berpisah. Aku sudah menjelaskan padamu semuanya. Tidak ada bedanya kalau sekarang harus memberikan penjelasan lagi,&#8221; kataku padanya di suatu sore. Waktu serasa lambat berputar. Aku dengannya di sebuah kafe.
&#8220;Tapi aku menyayangi kamu.&#8221;
&#8220;Aku tahu. Aku juga menyayangi kamu. Karena itu aku menawarkan padamu, kita mengkaji Islam bersama-sama.&#8221;
&#8220;Kalau aku ngaji, apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Oleh Arif<br />
</strong>
</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">&#8220;Kita harus berhenti. Harus berani berpisah. Aku sudah menjelaskan padamu semuanya. Tidak ada bedanya kalau sekarang harus memberikan penjelasan lagi,&#8221; kataku padanya di suatu sore. Waktu serasa lambat berputar. Aku dengannya di sebuah kafe.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tapi aku menyayangi kamu.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku tahu. Aku juga menyayangi kamu. Karena itu aku menawarkan padamu, kita mengkaji Islam bersama-sama.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kalau aku ngaji, apa kamu masih tetap menginginkan kita berpisah?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Sudah tidak ada artinya cinta buatmu?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Cinta saja tidak cukup untuk apa yang menjadi keinginanku saat ini. Harusnya kita memang mendasarkan hidup kita dengan cinta. Cinta pada Allah, Rasulullah, pada Islam. Aku sudah mengatakannya padamu sebelum aku berjilbab. Dan aku tidak akan menariknya kembali. Kita jalan sendiri-sendiri mulai sekarang,&#8221; aku berusaha menguatkan hati. Meskipun aku merasa lumer di hadapannya. Begitu lemahnya, hingga merasakan pandanganku kabur oleh air mata. Tapi aku tidak akan menangis. Tidak boleh menangis.<span id="more-2581"></span></p>
<p dir="ltr">&#8220;Kenapa kamu membuat luka?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waktu akan menyembuhkan luka,&#8221; aku mencoba tegar.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waktu akan menyembuhkan luka, tapi kita tidak akan pernah lupa pada sakitnya. Aku tahu kamu menyayangi aku seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Aku tidak meminta banyak darimu. Aku bahkan tidak mempermasalahkan ngaji dan jilbabmu. Apa kamu tidak bisa menerima aku apa adanya? Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri?&#8221;</p>
<p dir="ltr">Dia masih menatapku. Suaranya bergetar.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apakah aku masih harus mengulanginya lagi? Bahwa apa yang kita lakukan selama ini salah? Bahwa tidak pernah ada kata pacaran dalam Islam? Bahwa kita adalah muslim dengan konsekuensi melaksanakan Islam secara keseluruhan? Kuakui aku memang sedang meruntuhkan apa yang pernah kita bangun selama ini. Aku tidak ingin memberimu harapan kosong.&#8221; Aku menjawab dengan memandang matanya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu tidak pernah memberi alasan kenapa menolak diajak ngaji.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Beri aku waktu.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jangan buat aku menunggu. Itu tidak akan mengubah apa pun. Ini kali terakhir kita bertemu.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tidak!&#8221; Dia berteriak keras. Beberapa pengunjung menoleh ke tempat kami duduk, terkejut mendengar teriakannya. Kafe ini memang tempat favorit kami sejak pacaran pertama kali. Lokasinya strategis. Di jantung kota. Areanya luas. Nyaman. Penuh rimbun dedaunan. Desain interiornya bernuansa Jawa kesukaanku.</p>
<p dir="ltr">Meskipun beberapa pengunjung mendengar teriakannya, aku yakin mereka tidak akan mengerti. Tepatnya, tidak akan peduli. Hidup dalam masyarakat kapitalis membuat setiap orang berpikir kepentingan diri sendiri. Kapitalisme memang ibu kandung individualisme.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku tidak mau,&#8221; katanya dengan suara tinggi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku tidak pernah berniat menyakitimu. Maafkan aku,&#8221; aku berjalan keluar. Meninggalkan dia dalam kebisuan.</p>
<p dir="ltr">Semula aku ragu harus memutuskan hubungan dengannya. Aku dan dia sudah pacaran hampir lima tahun. Sejak kami masih duduk di bangku SMP. Membuat kami saling terbuka dan mengenal sifat-sifat kami. Aku tahu aku mencintainya. Tapi kini, aku memahami ada yang aku cintai lebih darinya. Walau tak kunafikan, ada banyak kenangan tersendiri dalam hatiku. Bagaimana pun juga, sekarang aku harus berani dalam kesendirianku.</p>
<p dir="ltr" align="center">ooOoo</p>
<p dir="ltr">&#8220;Menurutmu bagaimana, Ran?&#8221; aku bertanya pada Rani, sahabatku sejak aku menyandang predikat mahasiswa. Aku memang meminta pertimbangannya ketika memutuskan dia.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu sanggup, kan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Insya Allah. Kenapa tidak? Kalau aku tidak memutuskannya sekarang, nanti atau besok akan sangat terlambat. Dan aku memang sudah sangat terlambat,&#8221; ucapku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu mengatakan semuanya?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya. Kita sudah membuat pilihan masing-masing. Sejujurnya aku tidak pernah menyangka bahwa aku yang akan memutuskannya. Cukup menyakitkan buat dia, juga untukku.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Rani memelukku. &#8220;Sabar ya, Va&#8230; Innallaha ma&#8217;as shobiriin&#8230; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Ingat, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik&#8230;&#8221;</p>
<p dir="ltr">Langit cerah saat aku mengantar Rani menemui dokter Aryanti. Meminta beliau berkenan menjadi salah satu pemateri Seminar bulan Juli mendatang.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Selain saya, siapa yang akan hadir sebagai narasumber?&#8221; Tanya dokter spesialis anak yang juga anggota sebuah lembaga perlindungan anak itu.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ada Ibu Handayani dari Yayasan Tumbuh Kembang Aqila, dan dokter Laily Rahmawati dari partai politik Islam Ideologi,&#8221; terang Rani.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Bisa diceritakan sedikit apa yang harus saya presentasikan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Secara garis besar sudah kami sertakan di dalam proposalnya, Dokter. Kami mengagendakan, Ibu Handayani memaparkan fakta permasalahan anak saat ini. Misalnya, berkaitan dengan anak jalanan, tindakan kriminalitas yang dilakukan anak, anak-anak yang dieksploitasi secara seksual, anak-anak yang jadi pengungsi, juga anak yang putus sekolah..&#8221; terang Rani lebih lanjut.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Untuk dokter Aryanti, karena dokter adalah aktivis sebuah lembaga perlindungan anak, kami harapkan bisa memberikan uraian singkat tentang upaya yang sudah dilaksanakan untuk menanggulanginya. Misalnya, dengan adanya Undang-undang Perlindungan Anak, hasil ratifikasi Konvensi Hak Anak, dan peraturan lainnya. Sementara dokter Laily nanti bisa memberikan penyelesaiannya dari sudut pandang syariat Islam,&#8221; imbuhnya lagi.</p>
<p dir="ltr">Dokter Aryanti masih memberikan beberapa pertanyaan lain yang semua dijawab lugas oleh Rani.</p>
<p dir="ltr">Ah, Rani. Diam-diam aku cemburu padanya. Di usia yang begitu belia, ia nampak begitu &#8216;basah&#8217; dengan Islam. Sudah ngaji sejak masih SMU, katanya. Jauh berbeda denganku dan Dion yang menghabiskan masa sekolah menengah di sekolah non-Islam.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Alhamdulillah, beliau bersedia,&#8221; kata Rani riang saat kami melintasi halaman parkir RS Saiful Anwar. &#8220;Mungkin besok-besok kita bisa meminta beliau ngaji bareng kita&#8230;&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku senyum-senyum ikut senang.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ada yang ingin kutanyakan, kalau kamu tidak keberatan,&#8221; aku mencoba membuka diskusi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Silakan.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kenapa mengangkat tema permasalahan anak?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Karena Islam memandang anak sebagai generasi muda yang punya peran vital terhadap kemajuan umat di masa yang akan datang.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku menyimak sambil mengawasi jalanan yang padat. Ini kondisi tidak ideal untuk berdiskusi. Dua semester mengenal Rani, hampir semua penjelasannya memerlukan perenungan untuk bisa kupahami.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Karena itu, Islam sangat concern untuk melindungi anak. Anak adalah amanah dari Allah untuk dijaga dan dipelihara oleh keluarga, masyarakat, dan negara agar tetap berada dalam kebenaran. Orangtua adalah penanggungjawab pertama atas anak. Tanggungjawab ini secara bertingkat juga dibebankan kepada masyarakat. Sementara negara dalam ajaran Islam, berkewajiban melindungi dan memfasilitasi seluruh potensi anak agar tetap berada di jalan yang benar.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kupikir untuk itulah ada Konvensi Hak Anak dan Undang-undang Perlindungan Anak.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu pasti tahu siapa yang meratifikasi dan membuat kebijakan tersebut.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Konvensi Hak Anak dicetuskan oleh PBB. Lalu diratifikasi oleh lembaga tinggi negara untuk menjadi undang-undang. Siapa yang membuat peraturan? Ya negara. Siapa lagi?&#8221; jawabku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Dan kita juga sama-sama tahu bagaimana <em>track-record</em> mereka dalam menyelesaikan permasalahan baik hukum dan undang-undang.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku membenarkan dalam hati.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Satu hal yang perlu kita perhatikan. Sejarah panjang permasalahan anak di dunia tidak jauh dari sistem atau ideologi yang dianut suatu masyarakat. Munculnya penindasan, penyiksaan, dan kekerasan lain terhadap anak adalah implikasi dari pemikiran dan pemahaman suatu masyarakat terhadap anak,&#8221; Rani melanjutkan.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Suburnya penindasan terhadap anak bisa dilihat setelah munculnya ideologi kapitalisme pasca <em>dark age</em> di Eropa. Sampai sekarang fenomena ini banyak terjadi di negara-negara pengusung kapitalisme. Misalnya di Amerika dan Perancis. Juga tidak ketinggalan di India, Pakistan, Indonesia, dan negara dunia ketiga lainnya&#8230;&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu salah satu pembicara, ya?&#8221; tanyaku. Sedikit mengagumi keluasan wawasannya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jangan menghina, dong. Ini kudapatkan dari membaca, kok. Mau dilanjutkan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Boleh,&#8221; jawabku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Karena itu muncul Konvensi Hak Anak. Tetapi, karena lahir dari aturan demokrasi kapitalistik, permasalahan baru terus saja bermunculan. Patah tumbuh, hilang berganti. Kita perlu solusi yang benar. Dan itu hanya ada pada sistem pemerintahan Islam.&#8221; Tutur Rani lagi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Jadi Islam memiliki solusi untuk semua permasalahan?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tepat.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa solusi Islam untuk orang yang sedang <em>broken-hearted</em>?&#8221; Aku memandang lurus ke depan.</p>
<p dir="ltr">Hening.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Aku serius,&#8221; Dia di kafe, suatu siang sepulang sekolah.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kenapa musti aku?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa itu perlu dijawab?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa ya&#8230; mungkin karena kamu tidak membosankan. Pertanyaannya susah diperkirakan.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku tertawa. Jawaban konyol, menurutku. &#8220;Lalu apa yang membuatmu yakin aku tidak akan menolak?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kalau kamu bertanya berapa dalam aku mencintaimu, sulit kujawab tanyamu itu. Karena cinta tidak dinilai dari kata-kata. Tapi dari perhatian dan perilaku kita.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Va&#8230;?&#8221; suara Rani yang agak nyaring mengembalikan aku ke masa sekarang.</p>
<p dir="ltr">Rani memandangku. Senyum simpul mengembang di bibirnya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Putus cinta memang menyakitkan. Tapi,&#8221; lanjutnya. &#8220;In the end it doesn&#8217;t even ?matter*&#8230;?&#8221;</p>
<p dir="ltr">Kali ini aku tergelak. ?&#8221;I&#8217;ve put my trust in you. Pushed as far as I can go.*&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;And for all this, there&#8217;s one thing you should know*. Islam juga memberikan solusi bagi mereka yang lagi patah hati.&#8221; Rani ikut tertawa.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kita bicarakan di dalam saja,&#8221; aku membelokkan mobil ke halaman sebuah restoran muslim di bilangan Kayutangan.</p>
<p dir="ltr">Saat masuk ke ruangan, Rani menyenggol lenganku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Lihat,&#8221; katanya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Apa?&#8221; tanyaku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Dion.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Aku mengikuti arah pandangnya. Di sudut ruangan kulihat Dion, bersama seorang gadis. Dianti, fakultas Sastra. Aku pernah ditugaskan meliput berita bersamanya. Keduanya nampak begitu dekat. Akrab. Dan berbahagia.</p>
<p dir="ltr">Tiba-tiba saja aku ingat. Juni ini genap lima tahun aku pacaran dengan Dion. Aku seperti meneguk ramuan jamu pahit yang akan menambah kekuatanku.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Iva, kamu nggak apa-apa? Kita pindah ke resto lain saja, yuk,&#8221; ajak Rani. Mungkin dia berpikir aku akan pingsan di tempat kejadian perkara.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Tidak perlu, Ran. Aku baik-baik saja,&#8221; ucapku tenang dan yakin. Begitu yakinnya sampai aku sendiri heran. &#8220;Kita makan di sini saja.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Senja. Kusongsong jingga di barat kota. Siluetnya memahat wajah Dion di sela mega. Hanya sekejap, lalu sirna. Berganti dengan bayangan Rani, Anisah, Prawesti, Mbak Tias, dan aktivis dakwah kampus lainnya.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kita hidup hanya sekali. Sesudah itu mati,&#8221; ucap Mbak Tias suatu ketika. &#8220;Dan dalam hidup ini, kita harus tahu pasti untuk apa kita hidup.&#8221;</p>
<p dir="ltr">Sayup kudengar lantunan adzan maghrib berkumandang. Dari jendela mobil yang kubiarkan terbuka, angin menerpa khimarku. Mengucapkan selamat petang.</p>
<p dir="ltr">Sumbersari, Mei 2004</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Note:</p>
<p dir="ltr"><em>* </em><em>In The End, Album Hybrid Theory, Linkin Park (katanya mo manggung di Jakarta bulan Juni&#8230;. wah keren hehehehe!]</em></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juni 2004] </em><br />
<em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/putus/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Elizabeth Valencia Bersyahadah Melalui Telepon</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 22:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2547</guid>
		<description><![CDATA[Gadis kelahiran Tijuana, Meksiko ini memeluk Islam melalui telepon.? Sebelumnya, dia pernah tak punya semangat hidup 
Elizabeth Valencia adalah seorang gadis belia kelahiran Tijuana, Meksiko. Sebelum memeluk Islam dia merasa hidupnya seakan tak berharga. Karena tubuhnya yang gemuk dia sering diejek di sekolah. Dia makin stress dan tak punya semangat hidup. Begitulah, waktu terus berjalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Gadis kelahiran Tijuana, Meksiko ini memeluk Islam melalui telepon.? Sebelumnya, dia pernah tak punya semangat hidup </em></strong></p>
<p>Elizabeth Valencia adalah seorang gadis belia kelahiran Tijuana, Meksiko. Sebelum memeluk Islam dia merasa hidupnya seakan tak berharga. Karena tubuhnya yang gemuk dia sering diejek di sekolah. Dia makin stress dan tak punya semangat hidup. Begitulah, waktu terus berjalan hingga satu ketika di musim panas tahun 2000, Elizabeth bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam dan memberinya hadiah sebuah mushaf Al-Quran. Diapun mulai mengkajinya hingga akhirnya pada 13 Februari 2001 dia bersyahadah dan mengganti namanya menjadi Asma Alia. Bagaimana kisah ketertarikannya pada Islam? Berikut kisah lengkapnya seperti dituturkannya.<span id="more-2547"></span></p>
<p align="center"><strong>***</strong></p>
<p>&#8220;Aku muallaf sejak 13 February 2001. Alhamdulillah!&#8221; ujar Elizabeth Valencia? yang lahir di Tijuana, Baja California, Mexico pada 14 Juni 1986. Selepas masuk Islam di usia 14 tahun, dia berganti nama dengan Asma Alia.</p>
<p>&#8220;Saat ini akulah satu-satunya muslim di dalam keluarga. Tapi aku yakin satu saat akan bertambah lagi muallaf di rumahku, Insya Allah,&#8221; tukas dia yakin.? Bagaimana kisahnya hingga Asma memeluk Islam?</p>
<p>&#8220;Kisah keislamanku sebenarnya telah dimulai sejak aku masih kanak-kanak,&#8221; lanjut Asma seraya berharap kisahnya bisa membawa perubahan bagi orang lain yang saat ini mencari kebenaran dalam lembaran hidup mereka.</p>
<p><strong>Hidup tak bernilai</strong></p>
<p>&#8220;Sebelum memeluk Islam, aku merasa hidupku seakan tak bernilai. Aku melihat seakan tak ada lagi kehidupan bagiku, tak ada yang namanya masa depan. Ditambah lagi hubunganku dengan kedua orangtua yang tak harmonis,&#8221; aku Asma.</p>
<p>Di sekolah, Asma merasa disisihkan oleh rekan-rekannya. &#8220;Memang aku punya banyak teman, tapi jujur saja mereka serasa bak orang asing di mataku. Sehingga sulit sekali untuk akur dan saling berbagi,&#8221; imbuh dia.</p>
<p>&#8220;Adakalanya, orang-orang melihatku dengan pandangan aneh. Aku ibaratnya seperti orang buangan. Oya waktu masih bocah aku kelebihan berat badan alias. Bahkan makin gemuk persis orang dewasa padahal waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Sering aku pulang ke rumah dengan tangisan sebab teman-temanku kerab mengejekku dengan kata-kata yang menyakitkan. Inilah yang membuatku makin <em>down</em> dan tersisih,&#8221; kata dia lagi.</p>
<p>Hal itu membuat prestasinya di sekolah menurun, padahal dia termasuk siswa berperingkat bagus. &#8220;Waktu masih di kelas 6 aku tak pernah bolos sekolah. Aku cinta sekolah,&#8221; kata dia mengenang. Hingga satu ketika aku mencoba berteman dengan beberapa anak muda. Ya biasa lah, masuk masa puber, mulai suka dengan lawan jenis. Aku ingin akrab dengan mereka. Sayangnya, aku harus menelan kekecewaan. Tak ada seorangpun yang menyukaiku. Ketika itu, aku makin benci dengan diriku sendiri,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>&#8220;Satu hari, aku pasrah dengan keadaan dan tak mampu mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan hidupku. Aku ceritakan semua masalah yang membebaniku kepada setiap orang dalam rumahku, tentang bagaimana sikap orang-orang di sekolahku. Termasuk kepada kakek dan nenek, yang kutahu juga tidak begitu menyukaiku. Aku tumpahkan semua isi hatiku, tentang betapa tak bahagianya hidupku, betapa aku kesepian. Pokoknya semuanya.&#8221;</p>
<p>Sebagai penganut Katolik Asma lalu berupaya mencari solusi dengan banyak berdoa. &#8220;Aku berdoa untuk hidup yang lebih baik. Tapi tak ada yang berubah. Aku pasrah dan ingin bunuh diri. Keinginan ini muncul saat aku berumur 13 dan 14 tahun. Untung pikiranku masih jernih, bunuh diri bukan jalan terbaik menyelesaikan masalah. Tapi hidup makin hari serasa makin berat saja,&#8221; lanjut dia.</p>
<p>Asma sering cemburu dengan teman-temannya yang rata-rata sudah punya pacar. Dia sering berangan-angan punya wajah cantik. Lalu disukai banyak pria. Sering juga sang ibu menghibur Asma dengan menyebutkannya anak yang cantik. &#8220;Tapi aku tahu ibu berbohong. Ucapan itu cuma untuk menghiburku saja,&#8221; tukas Asma.</p>
<p>&#8220;Tapi, selepas memeluk Islam, dan ingat kejadian masa lalu, rasanya aku bukanlah orang yang buruk di dunia ini. Ya aku cuma gemuk saja. Tak lebih dari itu. Benar kata ibu wajahku cantik. Tapi entah kenapa aku merasa hidupku buruk. Untung Allah datang dan membimbingku ke jalan yang benar,&#8221; syukur Asma.</p>
<p><strong>Bertemu pemuda Islam</strong></p>
<p>Ceritanya, pas musim panas tahun 2000 silam, Asma bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam kepadanya. &#8220;Aku masih sangat ingat, hari Sabtu 4 Nopember dia menghadiahiku sebuah mushaf Al-Quran. Akupun mulai mengkajinya. Hanya dalam waktu 3,5 bulan, aku berhasil mempelajarinya secara tuntas!? Menakjubkan. Tahu tidak, inilah bacaan pertamaku yang mampu kutamatkan secara tuntas tanpa kehilangan satu katapun. Sebelumnya buku apapun yang kubaca tak ada yang tamat. Masya Allah!,&#8221; kata Asma gembira.</p>
<p>Pada 13 Februari 2001 Asma jatuh sakit dan dia terbaring lemah di atas pembaringannya di rumah. Dia merasa depresi berat. Layaknya orang baru putus cinta. &#8220;Batinku benar-benar tertekan. Aku punya pacar dan kami sudah sepakat nanti jika sudah sampai waktunya akan menikah. Dia pun tak menampik. Sayangnya, keluarga pacarku itu ternyata telah menyiapkan gadis lain di kampungnya,&#8221; cerita Asma kelu.</p>
<p>Di tengah kegalauan itu muncul ide dalam kepalanya. &#8220;Aku ingin bikin perubahan dalam hidup ini,&#8221; batin Asma. Kendati kondisi lemah, dia beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke Mesjid Hamzah, sebuah mesjid di Mira Mesa, selatan California. Sebelumnya Asma mengontak dua orang rekan muslimah untuk ketemu di sana.</p>
<p>&#8220;Aku ceritakan pada mereka bahwa aku telah mempelajari Islam dan butuh saran mereka. Kepada salah seorang dari muslimah itu, dia baru berusia 13 tahun, aku sebutkan bahwa aku mau masuk Islam tapi tidak tahu bagaimana caranya. Rekan muslimah itu menyebut sangat sederhana sekali. Pertama harus ada dua kalimah syahadah di dalam hati. Begitupun, kata dia, aku musti mendeklarasikan kalimah itu di hadapan muslim lain sebagai saksi keislamanku,&#8221; kisah Asma panjang lebar.</p>
<p><strong>Bersyahadah via telepon</strong></p>
<p>Mendengar penjelasan temannya tersebut Asma pun setuju dan tak mau menunggu lagi untuk segera mengucapkan dua kalimah syahadah. &#8220;Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Alhamdulillah! Aku bersyahadah melalui telepon. Disaksikan oleh rekan muslimah yang baru berusia 13 tahun itu, di seberang sana ada saksi lain yakni? ayah si muslimah tersebut dan seorang pembantunya. Merekalah saksi keislamannku,&#8221; kisahnya lagi.</p>
<p>Asma tampak berlinangan airmata. Dia merasakan tubuhnya ringan sekali. Mungkin itu yang disebut, dosa-dosa di masa silam bagi orang yang baru memeluk Islam dimaafkan alias dihapuskan.</p>
<p>&#8220;Segera setelah proses syahadah itu, aku pun menemui rekan-rekan lain yang selama ini mengajarkanku apa itu Islam. Mereka sangat gembira sekali. Setelah itu akupun pulang untuk mandi. Di kaca aku berujar &#8220;Aku sudah jadi muslim, aku sudah jadi muslim. Oh masya Allah, aku jadi muslim!&#8221;. Ya aku sangat gembira sekali,&#8221; ujar Asma.</p>
<p><strong>Ibunya syok</strong></p>
<p>Hari-hari berikutnya, Asma bertemu dengan banyak rekannya yang muslimah seraya memberitahukan keislamnnya. &#8220;Tapi aku belum berani menceritakan pada orangtuaku. Aku takut dan menduga bisa saja dibunuh, gara-gara masuk Islam. Aku minta saran seorang muslimah apa yang musti kulakukan. Kata dia memang sebaiknya tak usah diberitahukan dulu hingga nanti ada waktu yang tepat. Soalnya aku juga masih sangat kecil sekali, baru 14 tahun,&#8221; sebut Asma.</p>
<p>Asma akhirnya menceritakan perihal keislamannya kepada sang ibu. &#8220;Ibu sangat terkejut dan sempat syok. Namun di hari berikutnya keadaan membaik. Dia bisa menerima berita itu. Ibu juga menyarankan untuk memberitahu ayah. Tapi aku menolak sarannya. Aku masih butuh waktu. Dan ini semua adalah proses,&#8221; ceritanya lagi.</p>
<p>Hari-hari berikutnya Asma menghabiskan waktunya dengan belajar tatacara shalat. &#8220;Aku belajar sendiri melalui buku-buku hingga aku bisa hafal bacaan di dalam shalat. Subhanallah!,&#8221; syukur Asma. Asma juga kadangkala ke mesjid untuk berjumpa rekan-rekannya dan menanyakan hal-hal yang belum dikuasainya.</p>
<p><strong>Mulai pakai jilbab</strong></p>
<p>Waktu terus berjalan dan kadar keimanan Asma pun semakin meningkat. Hingga dia memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sesuatu yang awalnya sangat berat sekali bagi Asma. &#8220;Aku mulai pakai jilbab kala pergi keluar rumah. Aku mencoba untuk istiqamah,&#8221; ujar Asma.</p>
<p>Satu ketika tanpa disadarinya sang ayah melihat kelakuan Asma itu. Asma benar-benar takut kala tahu ayahnya mengamati dia. &#8220;Aku takut sekali. Aku takut bakal dimarahi. Dengan segenap kekuatan hati kusampaikan bahwa aku telah masuk Islam dan apa yang kulakukan ini adalah mengikuti perintah Allah. Ayah terpana sejenak. Lalu dia menyebut: &#8220;Tidak apa-apa anakku. Tapi sekarang sudah besar dan kamu sudah saatnya memilih. Nak, kamu anak ayah yang paling pintar,&#8221; kisah Asma perihal jilbab dan respon ayahnya.</p>
<p>Sejak itu Asma seolah mendapat kekuatan berlipat. Tepat tanggal 11 Juni 2001 diapun mulai mengenakan jilbab di sekolah.</p>
<p>&#8220;Hanya 3 hari sebelum ulang tahunku yang ke-15. Jadi ini merupakan hadiah ulang tahun terbesar dalam hidupku. Awaknya aku hendak mengenakannya pas di hari ultah. Tapi batinku mengatakan kenapa musti ditunda sesuatu yang bisa dilaksanakan sekarang. Masha&#8217;Allah!,&#8221; tukas Asma lagi.</p>
<p>Sejak itu pula Asma berhenti memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Misalnya pandangan aneh kala ada warga yang melihatnya berjilbab dan macam-macam hal lainnya. &#8220;Berat memang, tapi rasa percaya diriku benar-benar tumbuh. Aku suka dengan jalan hidupku ini. Terutama setelah berjilbab. Alhamdulillah!,&#8221; kata dia penuh percaya diri.</p>
<p>Tak hanya itu, Asma pun mulai berani berdakwah. &#8220;Aku mulai menceritakan apa itu Islam kepada ayah setelah sebelumnya hal yang sama juga kuceritakan pada ibu. Aku hanya berusaha, hidayah ada di tangan Allah. Tapi aku yakin satu ketika kedua orangku Insya Allah akan mengikutiku. Amiin,&#8221; harap Asma.</p>
<p>&#8220;Aku sangat bahagia sebab Allah SWT telah memberiku peluang untuk menjadi seorang muslim dan satu hari nanti, Insya Allah, semoga aku bisa mendapat seorang pendamping hidup yang saleh, menikah dan memiliki anak serta aku akan menjadi guru bagi mereka. Indah sekali rasanya. Aku sangat mensyukuri atas semua karunia ini. Semoga Allah memelihara hidayah ini dan berharap Allah juga segera memberi hidayah untuk kedua orangtuaku,&#8221; tutup Asma. [<strong>Zulkarnain Jalil</strong>/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9394-elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/elizabeth-valencia-bersyahadah-melalui-telepon/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alkohol Pernah Menemani Hidupku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 19:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2526</guid>
		<description><![CDATA[Aku termasuk orang yang sulit untuk melepaskan diri dari teman sepermainanku yang terbilang berandalan. Hingga akhirnya aku kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam waktu cukup lama. 
Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kampung kecil di Sumatera yang jauh dari keramaian. Kondisi ini tidak membuat aku membatasi cita-citaku, aku ingin menjadi seorang? pembesar layaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku termasuk orang yang sulit untuk melepaskan diri dari teman sepermainanku yang terbilang berandalan. Hingga akhirnya aku kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam waktu cukup lama. </em></strong></p>
<p>Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana di sebuah kampung kecil di Sumatera yang jauh dari keramaian. Kondisi ini tidak membuat aku membatasi cita-citaku, aku ingin menjadi seorang? pembesar layaknya Pak Bupati yang dielu-elukan orang banyak ketika berkunjung ke kampungku. Di kampung aku menempuh pendidikanku sampai tingkat SLTP yang aku selesaikan pada tahun 1990. Ketika akan melanjutkan ke SLTA aku meminta kepada orangtuaku agar aku disekolahkan di kota karena menurutku kualitas pendidikannya akan jauh lebih baik daripada yang ada di kampungku.</p>
<p>Keinginanku ternyata terkabul, oleh orangtuaku aku dititipkan di rumah kakakku yang kebetulan memang sudah lama merantau ke pulau Jawa, tepatnya kota Bogor. Sekolah di Bogor tidak membuat aku merasa rendah diri karena aku berasal dari kampung, bahkan aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan teman-teman sekolahku. Aku memang tergolong orang yang suka bergaul. Tapi petaka itu justru dimulai dari sini.<span id="more-2526"></span></p>
<p><strong>Awal perkenalanku dengan alkohol</strong></p>
<p>Panasnya pergaulan teman-temanku memaksa aku mengenal alkohol dan obat-obatan terlarang walaupun bukan termasuk kelas atas. Pernah ketika liburan semester, aku dan gengku yang berjumlah lima orang nginap di rumah salah satu temanku di kota Jonggol yang kebetulan lagi kosong karena keluarganya pergi berlibur ke Bali. Perjalanan dari Bogor ke Jonggol memakan waktu lebih kurang satu jam dengan bis.</p>
<p>Di sana hampir tiap malam kami pesta alkohol dan obat-obatan. Waktu malam terakhir sebelum pulang ke Bogor, salah satu temanku mengusulkan untuk melengkapi pesta kami dengan wanita. &#8220;Biar pestanya lebih panas&#8221; katanya. Usul ini langsung disetujui oleh yang lain, dan dua orang temanku keluar untuk mencarinya. Singkat cerita wanita nakal atau dalam bahasa remaja saat itu disebut <em>pecun</em> sudah ada di tengah-tengah kami. Dia mengaku namanya Sisi.</p>
<p>Sebenarnya kami masih malu-malu berhadapan dengan wanita,? ini adalah pengalaman pertama bagi kami. Namun ada salah satu temanku sebut saja namanya Otong yang bersikap agak agresif? sama Sisi, entah karena nafsu melihat kecantikan Sisi atau karena pengaruh alkohol dan obat. Namun Sisi menolak setaip kali Otong mendekatinya, hingga akhirnya terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak kami duga. Otong menjambak rambut dan memukul wajah Sisi sampai hidungnya berdarah.</p>
<p>Pesta yang kami harapkan akan lebih &#8220;panas&#8221; karena ada Sisi ternyata berubah menjadi panas benaran. Suasana menjadi sangat kacau apalagi Sisi mengancam akan melaporkan perbuatan Otong ke polisi. Tapi setelah terjadi proses negosiasi akhirnya situasi bisa terkendali. Sisi minta konpensasi dan kami harus patungan untuk membayar Sisi sebesar Rp 50.000. Pengalaman menegangkan sekaligus menakutkan yang kalau diingat sekarang membuat kalimat <em>astaghfirullah</em> meluncur deras dari mulutku.</p>
<p>Perjalanan hidupku di Bogor yang selalu ditemani alkohol dan obat-obatan tidak berhenti karena pengalaman buruk di Jonggol bahkan menjadi lebih dahsyat. Dalam hati seringkali aku ingin meninggalkan semua aktivitas ini, tapi teramat sulit bagiku apalagi ikatan dengan teman-temanku sesama pemabuk begitu kuat ditambah sikap kakakku yang tidak terlalu <em>care,</em> bagi kakakku yang penting prestasi belajarku baik. Anehnya alkohol dan obat-obatan tidak begitu mempengaruhi prestasi belajarku, nilai rata-rata raportku tiap semester tidak pernah di bawah angka enam walaupun juga peringkatnya tidak masuk dalam sepuluh besar. Tapi itu sudah cukup membuat kakakku kehilangan perhatian terhadap diriku.</p>
<p><strong>Kujemput hidayah di Kalimantan</strong></p>
<p>Ketika aku selesai SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, aku berpikir ini adalah kesempatan bagiku untuk meninggalkan dunia yang selama ini telah menghantui hidupku. Kuputuskan untuk memilih perguruan tinggi yang jauh dari Bogor, aku memilih UGM dan Untan sebagai pilihan ke dua. Ternyata aku diterima di Untan, sebuah perguruan tinggi negeri yang berada di pulau Kalimantan. Terima kasih Tuhan Kau jauhkan aku dari teman-temanku di Bogor.</p>
<p>Kupikir kalau aku sudah menjahui teman-temanku, aku akan bisa menjauhi alkohol dan obat-obatan. Ternyata tidak, aku kembali masuk? dalam lingkungan yang bersahabat dengan alkohol dan obat. Hal ini terjadi karena teman-teman satu kost kebanyakan berasal dari pulau Jawa. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Malang, pokoknya? semua penghuni kost bukan penduduk asli Kalimantan.</p>
<p>Tahun pertama aku masih menikmati hidupku, namun menginjak tahun kedua kuliah keinginan untuk berhenti datang lagi. Sampai akhirnya ketika suatu hari dalam keadaan mabuk aku terpeleset di kamar mandi dan masuk ke dalam bak penampung air. Aku tidak tahu apakah aku sudah mati atau belum, yang ada dalam pengelihatanku adalah ibuku yang sedang berdiri di depan pintu rumah kami di kampung sambil menggapai-gapaikan tangannya, seolah ibuku ingin berteriak kepadaku tapi aku tidak mendengar suara apa-apa, aku hanya bisa melihat linangan air mata ibuku.? Ketika tersadar aku sudah ada dalam kamarku. Kata temanku, aku pingsan. Entah berapa lama aku terendam dalam bak, tidak ada yang tahu. Yang jelas kalau teman-temanku terlambat mengetahui, barangkali aku sudah tidak melihat matahari lagi.</p>
<p>Peristiwa kamar mandi itu ternyata menjadi titik balik hidupku. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari tempat kost baru yang lebih &#8220;bersih&#8221;. Trauma yang kualami membuat aku sangat berhati-hati untuk memasuki lingkungan yang baru, sampai akhirnya aku menemukan tempat kost yang aku cari, sebuah rumah kost yang pemiliknya adalah seorang ustadz. Dari sinilah aku kemudian mengenal Islam, secara rutin tiap hari sabtu kami mengkaji Islam. Syukur alhamdulillah ya Allah Kau selamatkan aku untuk kesekian kalinya, semoga tidak Kau balik lagi hatiku untuk condong kepada hal-hal yang Kau benci. Amiiin <strong>[seperti yang disampaikan seorang ikhwan kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi April 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/alkohol-pernah-menemani-hidupku/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Percaya Diri Anak</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 22:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2573</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi 
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis?caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha?dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi </em></strong></p>
<p>Oleh: <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/FauzilFoto_thumb.jpg" border="0" alt="" width="64" height="80" align="left" />Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis?caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha?dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut&#8230; entah berapa kali mereka meng?alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.</p>
<p>Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka?rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya.<span id="more-2573"></span></p>
<p>Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa?tir salah mengucapkannya -karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat. Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber?sahabat dan penuh semangat.</p>
<p><em>Astaghfirullahal &#8216;azhim&#8230;.</em> Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang me?nulis risalah ini.</p>
<p>Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, &#8220;Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje?niusan mereka dalam enam bulan pertama.&#8221;</p>
<p>Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias dan senantiasa belajar. Di usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar -meminjam istilah Glenn Doman- &#8220;tanpa usaha&#8221;. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.</p>
<p>Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah. Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam Syafi&#8217;i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur&#8217;an di usia tujuh tahun. Begitu pula yang dila?kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih. Tetapi bukan kita.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-&#8217;azhim</em>. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?</p>
<p>Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya mela?hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahir?kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan karena mereka me?miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang yang lebih tua dari anaknya.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-&#8217;azhim</em>. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan memba?guskan pendidikan anak-anak kita.</p>
<p>Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang men?jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memu?liakan syari&#8217;at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita te?riakkan, &#8220;Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.&#8221;</p>
<p>Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, &#8220;Nah&#8230;, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?&#8221;</p>
<p>Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingat?kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka -meskipun tampaknya kita lebih sering mencela-dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?</p>
<p>Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah &#8216;<em>Azza wa Jalla</em> sudah berfirman, &#8220;<em>Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan</em>.&#8221; (QS. Al-A&#8217;raaf: 31).</p>
<p>Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup un?tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman-temannya. Padahal mereka dila?hirkan untuk zaman yang bukan kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be?sar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, &#8220;Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.&#8221; Perintah-perintah di masa awal kena?bian Rasulullah tercinta, <em>Muhammad shallaLlahu &#8216;alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji Wada&#8217; adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.? Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?&#8221;</em></p>
<p>Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang berpijak di atas aqidah yang lurus.</p>
<p>Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasIhat Nabi swa ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.</p>
<p>Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi orang?tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manu?sia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.</p>
<p>Anak-anak kitakah yang akan seperti itu? [<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/sekolah-revolusioner/9316-menumbuhkan-percaya-diri-anak" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses Tanpa Noda</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sukses-tanpa-noda</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sukses-tanpa-noda#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 00:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2585</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 086/tahun ke-2 (21 Jumadil Akhir 1430 H/15 Juni 2009)
Sukses tanpa noda? Heuheu&#8230; kayak iklan deterjen aja nih. Tapi pada pernah denger kata SUKSES kan? Yaeyalah, pasti! Selain denger pastinya juga pengen ngedapetin tuh sukses. Tapi ati-ati nih. Ati-ati banget dah! Jangan tersihir ama nih kata sukses. Loh? Sejak kapan sukses punya ilmu sihir? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 086/tahun ke-2 (21 Jumadil Akhir 1430 H/15 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Sukses tanpa noda? Heuheu&#8230; kayak iklan deterjen aja nih. Tapi pada pernah denger kata SUKSES kan? Yaeyalah, pasti! Selain denger pastinya juga pengen ngedapetin tuh sukses. Tapi ati-ati nih. Ati-ati banget dah! Jangan tersihir ama nih kata sukses. Loh? Sejak kapan sukses punya ilmu sihir? Heuheu&#8230; maksudnya sih, jangan sampe kejebak ama sukses semu. Gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Sukses di matamu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, saat dibuka pendaftaran jadi VJ,<em> casting</em> di suatu <em>production house</em> (PH), festival band indie, kontes nyanyi <em>idol</em>, <em>or</em> kontes <em>miss-miss&#8217;</em>an pasti lah orang-orang muda kayak kita gini yang jadi korban. Harapan kita sih pengennya selain cari pengalaman, terus juga bisa &#8217;sukses&#8217; pas ikutan berbagai ajang tersebut. Sukses dalam artian bisa terkenal, tajir, bisa bikin album musik sendiri, terus banyak produser PH yang ngontrak kita buat proyek <em>entertainment</em> mereka, bisa masuk tv, ujung-ujungnya jadi seleb. <em>So</em>, demi meraih sukses pokoknya jatuh bangun deh! Lintas kota, lintas propinsi dijalani (emang bus apa?). Demi meraih sukses! Waaahhh! Gitu yah?<span id="more-2585"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebutlah band D&#8217;Masiv, sang juara dari festival band indie yang diselenggarain oleh sebuah perusahaan rokok tenar di Indonesia. Kemenangan mereka ternyata berbuah kesuksesan. Udahlah dikejar-kejar <em>fans</em> (untung bukan ama <em>debt collector </em>tuh!), videoklip dan lagu-lagu mereka pun sukses di pasaran! Laris manis buat dijadiin nada sambung di seluruh operator ponsel di Indonesia bahkan juga buat <em>opening theme</em> sinetron lope-lope&#8217;an. Udahlah tenar, cakep, harta pun berlimpah. Sukses!</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi nggak semua sih mikir suksesnya dengan ikutan hal-hal yang terkait ama <em>entertainment</em> alias hiburan. Ada juga yang pengen sukses dalam prestasi akademik. Target nih, bisa masuk rangking lima besar nilai terbaik di kelas. Jadi bintang kelas gitu deh. Terus, misal ada kompetisi akademik pasti ikutan. Lomba karya tulis ilmiah? Ikut! Lomba cerdas-cermat? Dijabanin! Seleksi pertukaran pelajar antar negara? Ngak ketinggalan! Lomba pidato tiga bahasa Arab-Inggris-Indonesia? Kalo pun sampe 5 bahasa juga bakal ikut dah! Yok, ikut! Olimpiade sains? Nggak enak kalo nggak ikut! Tandingnya kan malah sampe lintas propinsi bahkan lintas negara tuh! Hmm, kalo pun tampang udah menawan (ehm ehm), prestasi akademik ampe kesohor, pastinya jadi sorotan nih. Dikagumin temen-temen, disayang para guru juga ortu, eh kesohor sampe kemana-mana lagi. Wesss, asoy dah! Kenal sama Muhammad Shahibul Maromi yang sekolahnya di SMAN 1 Pamekasan? Nah, dia tuh juara <strong>APho alias </strong><em>Asian Physics Olympiad</em> tahun 2009 en berhasil nyabet Perunggu. Keren kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, ternyata ada juga nih yang mikirnya sukses nggak harus dalam<em> entertainment</em> atau akademik. Jadi? Bagi yang nekunin hobi nulis, hobi nyablon, hobi dagang, hobi masak, hobi maen game, hobi desain pake<em> software </em>sampe hobi ngomong, ternyata malah merintis bisnis dari hobi mereka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenal nggak sama Jae Ho &#8216;Moon&#8217; Jang? Di umur 22 tahun, doi mendapat kontrak 3 tahun sebagai pemain game dari We Made FOX karena jago bermain game strategi Warcraft III. Nilainya mencapai 700 juta Won atau setara 473.037 dollar Amrik. <em>So</em>, tiap taonnya, Jae Ho <em>gamer</em> asal Korea ini mendapatkan penghasilan sekitar 1.65 Milyar atau 130 Juta Rupiah perbulan! (enak banget jadi tester game ya, udah mah main-main, eh dapat duit pula, gede lagi!)</p>
<p style="text-align: justify;">Trus bagi yang hobi makan kebab pasti tau kebab Baba&#8217;s Rafi kan? Nah, ternyata Mas Setiono tuh yang ngebangun usaha kebab ini di usia yang lumayan muda, 23 tahun bo! Dan kini, udah mencapai sekitar 65<em> outlet </em>di 10 kota di Indonesia. Ckckck&#8230; Sukses !</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo yang hobinya ngedesain en nyablon? Nah, berawal dari ide propaganda nih, berdirilah Bengkel Revolusi distro. Pegiatnya para pemuda yang <em>care</em> ama Islam dan bikin <em>merchandise </em>keren, mulai stiker, pin, gantungan kunci, kaos sampe jaket dengan gaya yang oke plus slogan yang asoy punya. Contohnya aja nih, ada stiker yang bertuliskan slogan &#8216;Demokrasi Pasti Mati&#8217;. Sederhana tapi maut, Bro en Sis! Nah, di blog www.bengkelrevolusi.multiply.com, kang Ipank Ureshii ngegelar dagangan <em>merchandise</em>nya dengan semangat revolusi sampai mati! Asooyy!</p>
<p style="text-align: justify;">Pada ngiler nih pengen sukses juga? Sama. Hehehe.? Tapi, sukses yang gimana dulu? Tentunya bukan sukses semu! Yup, lanjut!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sukses negatif vs sukses positif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Aduh, ngiler jadi sukses jangan ampe ngeces gitu dong. Malu ah! Mending sekarang kita <em>mapping</em> dulu supaya bisa fokus gimana ngeraih sukses yang positif. Nggak terjebak dalam sukses yang negatif. Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi nih, Bro, kalo dari tadi mikirnya sukses tuh adalah tenar en dapet duit banyak sebenernya kurang bener juga. Apalagi kalo buat ngeraih sukses mikirnya kudu sukses dengan cara yang instan.<em> Cos</em>, menurut pengalaman nih juga baca pengalaman orang-orang sukses, justru kesuksesan diraih melalui proses yang berat. Jatuh bangun gitu dah! Tapi walaupun jatuh bangun, ya sayang juga proses perjuangannya malah untuk memperjuangkan kesuksesan yang negatif.? Auwh.. keningmu mulai berkerut. Oke, oke.. jadi simpelnya gini : &#8220;Jangan cepet-cepet menyimpulkan kesuksesan itu cuma buat ngeraih ketenaran en materi berlimpah. Selain itu jalan menuju sukses juga biasanya nggak semudah yang dibayangkan.&#8221; Gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo sukses yang kamu idamkan cuma sebatas ngeraih sukses duniawi, itu <em>mah</em> cuma sukses jangka pendek bahkan sifatnya semu. Nggak sedikit orang-orang yang meraih kesuksesan semu malah akhirnya bunuh diri or ngelakuin hal-hal yang negatif. Contohnya aja Kurt Cobain, vokalis band Nirvana yang sempet saya idolakan semasa SMA dulu (wah ketauan deh betapa tuanya ane hehehehe&#8230;). Doi bunuh diri tuh, padahal karirnya sukses, albumnya pun laris. Terus Lucy Gordon, pemeran Jeniffer Dugan di Spiderman 3 malah ditemukan koit gantung diri di flatnya yang ada di Paris sono pada awal bulan Mei taon 2009. <em>So</em>, sayang banget kan kalo kesuksesan di dunia yang diraih ternyata cuma jadi debu di hadapan ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kalo nge-<em>review</em> ajaran-ajaran dari para motivator yang udah ane ikutin, dalam training tersebut ane diajarin gimana ngelola aset yang ada dalam diri kita bahkan menjadikan kekurangan sebagai kekuatan. Tapi itu semua tetep dilandasin dengan akidah Islam. Trus, ane juga diajarin gimana ngelola aktivitas supaya bisa meraih sukses jangka pendek dan jangka panjang yang semuanya mengacu kepada ridho Allah ta&#8217;ala. Makanya tuh ada slogan : <em>&#8220;be the best, not be asa&#8221;</em> (jadilah yang terbaik bukan biasa).</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang trainer muda bahkan doi adalah muallaf, usianya beda enamtaon lebih muda dari ane. Sudahlah lebih muda usia diri, usia masuk Islamnya pun masih dini banget dibanding ane yang sejak lahir udah dilahirin sebagai muslimah. Tapi doi udah sukses untuk memotivasi ane untuk menjadi orang yang istimewa dengan teknik memilah kelebihan dan kekurangan! Dari teknik pilah ini, akhirnya sampe sekarang ane tetep <em>keukeuh </em>termotivasi untuk membumikan Islam di kampus ane dengan segala kemampuan yang ane bisa (sukses jangka pendek) dan insya Allah Islam nggak cuma di kampus ane aja, tapi di mana pun ane berada demi ngelanjutin kembali kehidupan Islam<em> </em>(sukses jangka panjang). Pokoknya <em>ganbatte</em> dah! <em>Cos</em>, kalo sandaran kita adalah akidah Islam maka nggak cuma menjadi sukses tapi juga menjadi <em>insya Allah</em> mulia di hadapan Allah <em>azza wa jalla</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jangan heran kalo Islam dijadiin landasan hidup, jadi pemimpin en petunjuk bagi kita, insya Allah sukses positif bakal kita raih. Dan jangan heran juga kalo bakal terlahir pribadi-pribadi sukses yang orientasinya nggak cuma duniawi aja.? Siapa tuh para pribadi sukses itu? Penasaran? Baca lagi dah ampe ngiler! (huss&#8230; elo tidur miring sih!) Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><em>The Proposal of Death</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Wuih, <em>proposal of death</em>! Serem banget! Tapi bener loh, dari sekarang apa udah mulai nyusun proposal &#8216;kematian&#8217;.? <em>Cos</em>, hakikinya kan nih kehidupan duniawi cuma sementara, udah gitu apa yang udah kita lakuin di dunia bakal jadi bekal kita untuk di akhirat. Kalo selama hidup aja kita nggak ngeraih sukses positif, gimana entar di akhirat?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi justru karena proposal kematian ini lah terlahir pribadi-pribadi sukses, Guys! Tahu Thariq bin Ziyadh? Shalahuddin al Ayubi? Ali bin Abi Thalib? Sa&#8217;ad bin Waqash? Fathimah binti Muhammad? Asma binti Abu Bakar? Alhamdulillah, di usia muda, mereka udah &#8216;beres&#8217; dengan diri mereka bahkan mereka mampu menularkan kesuksesan mereka kepada umat. Mereka mampu mengelola dan membangun kepribadian mereka karena kekuatan akidah mereka yang keren! Makanya jangan heran, mereka sukses membangun kepercayaan umat dalam membangun kehidupan Islam, mereka juga sukses dalam keluarga baik sebagai anak, suami-istri dan ayah-ibu. Bahkan mereka sukses mengisi dan membangun peradaban Islam. Contohnya aja nih, Thariq bin Ziyad, pada usia 25 tahun mampu menaklukkan Spanyol. Perbandingan pasukannya? Spanyol di bawah raja Rhoderick total 100.000 sedangkan dibawah pimpinan Thariq total 12.000 pasukan. Ternyata 100.000 pasukan Spanyol pada tumbang tuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Kuncinya apa ya? Mau tahu? Kuncinya adalah: Kekuatan akidah dan <em>mardhatillah</em> alias meraih ridho Allah Swt. Makanya proposal kematian pun udah disusun dalam kehidupan mereka <em>cos </em>mereka sadar tujuan hidup selama ini adalah sebagai hamba Allah, taat kepara perintah Allah dan setelah kehidupan, mereka siap kembali kepada Allah. Siap mempertanggungjawabkan segala amal di dunia buat kehidupan di akhirat sono.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, kalo mau sukses dalam kehidupan, kudu <strong>ITR</strong> kepada Allah Swt. Apa tuh ITR? <strong>Inget</strong> untuk <strong>Taat </strong>kepada perintah Allah Ta&#8217;ala demi ngeraih <strong>Ridho</strong>-Nya. Jadi salah besar, kalo sukses itu selalu ditandai dengan terkenal, banyak duit dan penggemar. Parameter sukses sebenernya adalah berhasil nggak kita ngelakuin hal-hal yang diridhoi ama Allah. Gitu deh. Insya Allah bakal dilempengin deh jalan suksesnya baik dunia maupun akhirat. Dijamin! Kalo menurut kamu menemui kegagalan, itu belum tentu gagal. Itu cuma kesuksesan yang tertunda. Pembelajaran diri dalam hidup. <em>So</em>, jangan cepet putus asa! Yang penting bisa berhasil meraih ridho Allah. Sekali lagi,<em> ganbatte</em>! <strong>[anindita: coffee.prince70@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sukses-tanpa-noda/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Itu Tanda Peduli</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 21:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2557</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Moekti
Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Moekti</strong></p>
<p>Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan siap dimuntahkan. Bagi kamu yang masih segan kepada sang pengkritik, biasanya cukup dinikmati dalam hati, tapi dengan segudang rasa kesal yang berkecamuk. Dan, bagi kamu yang kurang bisa memendam perasaan, biasanya langsung menumpahkan kekesalan itu dalam bentuk sumpah serapah dan makian.</p>
<p>Kalo kamu lagi enak-enak pacaran sama teman sekelasmu, tiba-tiba ada yang menegurmu, rasanya dongkol banget kan? Terus kamu jadi naik darah. Pengen rasanya ngamuk atau menyumpal mulut bawel teman kamu itu. Reaksi spontan mempertahankan diri adalah ciri khas orang yang sedang diserang. Meski kamu melakukan kesalahan, tapi rasanya nggak rela kalo dikritik begitu. Rasanya kok orang mau-maunya turut campur urusan orang lain. Padahal, urus saja diri sendiri.<span id="more-2557"></span></p>
<p>Sobat muda, kalo ngikutin hawa nafsu kita, memang dikritik itu menyakitkan dan bikin bete. Tapi inget lho, bahwa kritik itu justru bisa mendewasakan kita. Bukan apa-apa, kita kan hidup berdampingan dengan orang lain. Itu artinya, kita kudu rela untuk dilihat dan dinilai oleh orang lain. Penilaian itu bisa baik, bisa juga jelek. Bergantung bagaimana kita bersikap dalam lingkungan tempat kita tinggal. Itu sebabnya, menjadi wajar kalo ada yang kritik, karena biasanya akan mengevaluasi kita. Orang yang kebal kritik, nampaknya sulit untuk peduli dan menghargai orang lain.</p>
<p>Dakwah, bisa dibilang sebagai &#8216;kritik&#8217;. Ketika kita melakukan <em>amar ma&#8217;ruf</em>, alias menyuruh kepada kebaikan, ada saja orang yang sulit untuk diajak. Padahal, itu adalah salah satu bentuk kepedulian kita. Apalagi ketika kita melakukan <em>nahyi munkar</em> (melarang kemungkaran), rasanya makin sulit kita lakukan. Selain, harus mengalahkan rasa takut dalam diri kita karena khawatir yang akan dinasihati itu marah, juga kita kudu siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi, misalnya menghadapi ancaman mereka.</p>
<p>Ketika saya menyampaikan ceramah atau tabligh akbar, saya nggak segan untuk menyampaikan ajaran Islam sebagaimana adanya. Itu sebabnya, adakalanya orang kemudian menganggap saya &#8216;radikal&#8217;, tukang kritik pedas dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, itu bukan persoalan. Sebab, saya melakukan itu karena saya peduli dengan suadara-saudara muslim lainnya. Kalo saya diem saja ketika ada teman yang melakukan maksiat, itu tandanya saya tak peduli. Dan, kritik memang bisa dilakukan dengan halus, bisa juga dengan tegas (mungkin sebagian orang kemudian menganggapnya keras).</p>
<p>Jadi, pandanglah kritik itu sebagai bentuk kepedulian saudara kita kepada kita. Meski terasa pahit, tapi nikmati sebagai sebuah anugerah terindah yang kita miliki. Karena ternyata masih ada orang yang mau peduli dengan kita. Andaikan saja tidak ada orang yang mengomentari kita, maka kita tidak akan pernah bisa mengevaluasi diri. Jadi orang yang mengkritik adalah &#8216;polisi&#8217; bagi kita. Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Demi massa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.&#8221;</em> <strong>(TQS al-Ashr [103]: 1-3)</strong>[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi April 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kereta Terakhir dari Jakarta</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kereta-terakhir-dari-jakarta</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kereta-terakhir-dari-jakarta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 02:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2579</guid>
		<description><![CDATA[O. Solihin
Ogi mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik arloji di tangannya. Sapuan angin malam mulai terasa dingin di kulit Ogi. Pandangan matanya dilemparkan ke dalam stasiun. Sudah agak lengang. Jam sudah menunjukkan pukul 21 tepat. Sepuluh menit kemudian muncul sesosok makhluk berlari-lari kecil menuju sta?siun Kota. Wajahnya lumayan cute dengan rambut yang agak ikal. Ia terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>O. Solihin</strong></p>
<p>Ogi mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik arloji di tangannya. Sapuan angin malam mulai terasa dingin di kulit Ogi. Pandangan matanya dilemparkan ke dalam stasiun. Sudah agak lengang. Jam sudah menunjukkan pukul 21 tepat. Sepuluh menit kemudian muncul sesosok makhluk berlari-lari kecil menuju sta?siun Kota. Wajahnya lumayan <em>cute</em> dengan rambut yang agak ikal. Ia terus berlari dan memasuki stasiun.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221; suara yang sangat akrab di telinga Ogi terdengar dari belakang.</p>
<p>&#8220;Eh, wa&#8217;alaikum salam!&#8221; jawab Ogi sambil membalikkan tubuh.</p>
<p>&#8220;Kelelep di mana, Mil?&#8221; Ogi setengah kesal.</p>
<p>&#8220;Tenang, sobat. Tadi aku ada perlu dulu. Dikirain sebentar, eh ternyata lama juga. Afwan, deh, afwan,&#8221; Jamil ngasih alasan.</p>
<p>&#8220;Ayolah, beli karcis dulu. Jangan-jangan kita dapat kereta yang terakhir, lagi,&#8221; kata Ogi sambil ngeloyor menuju loket.</p>
<p>&#8220;Oke bos!&#8221; balas Jamil.<span id="more-2579"></span></p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Dua makhluk &#8220;kembaran&#8221; itu sudah duduk nyantai di dalam gerbong ke delapan alias gerbong terakhir dari dua rangkaian KRL. Sekitar setengah sepuluh malam kereta itu baru meninggalkan stasiun. Benar dugaan Ogi, kereta yang ditumpanginya adalah kereta terakhir untuk hari itu. Udara semakin dingin ketika kereta yang mereka tumpangi mulai melaju perlahan.</p>
<p>Ogi menghempaskan pantatnya di bangku kereta malam itu. Bahkan ia bisa selonjoran kaki. Maklum, namanya juga kereta terakhir, pasti hanya memuat orang seadanya. Boleh dibilang kosong melompong. Tentu saja itu sangat kontras bila dibandingkan dengan kereta yang berangkat pagi dan sore hari. Orang-orang rela berjubelan di gerbong. Bercampur keringkat puluhan penumpang lain. Ya, namanya juga angkutan umum, udah gitu kelas ekonomi lagi.</p>
<p>&#8220;Mil, ngeri juga ya, malam-malam gini. Takut ada penodongan&#8221; Ogi kelihatan khawatir.</p>
<p>&#8220;Ya, tawakkal saja, Gi. Mudah-mudahan nggak ada masalah&#8221;</p>
<p>&#8220;Kira-kira nyampe jam berapa ke rumah Pak De kamu, Mil?&#8221;</p>
<p>&#8220;Insya Allah, paling telat tengah malam deh.&#8221; Jamil ngasih perkiraan.</p>
<p>Hampir sepuluh menit antara dua makhluk ini tak ada pembicaraan. Entah apa yang sedang dipikirkan dua pemuda ini. Masing-masing asyik dengan pikirann?ya. Sampai suatu saat ketika kereta berhenti di stasiun Cikini, beberapa penumpang yang tampaknya menunggu dari tadi segera berhamburan ke gerbong yang dihuni Ogi dan Jamil. Beberapa orang kemudian berjalan mencari tempat sesuai keinginannya. Bahkan sampai ke gerbong lain. Setelah lengang, ada seorang ibu yang wajahnya sudah kelihatan tua tampak gelisah. Pandangannya kosong. Ia menatap lampu yang gemerlap di pinggir kanan jalan lewat jende?la yang memang terbuka lebar.</p>
<p>Bukan tak memperhatikan tingkah perempuan tua itu, tapi Ogi hanya enggan untuk berkomentar. Ia tahu, perempuan tua itu sedang dilanda kebingungan. Dan tentu saja ia tidak ingin menambah beban orangtua itu.</p>
<p>Ketika Ogi melemparkan pandangannya ke arah perempuan tua itu, mendadak perempuan itu berbinar. Ogi kaget. Kemudian ia membenarkan letak kaki yang dari tadi selonjoran. Sejenak kemudian si ibu sudah berada di samping Ogi. Ogi makin kaget. Tapi perem?puan tua malah tersenyum. Sementara Jamil, matanya sudah hampir padam. Nyalanya redup (bohlam kali!).</p>
<p>&#8220;Nak!&#8221; si ibu tampak ragu.</p>
<p>&#8220;Euu. Ada apa Bu?&#8221; Ogi agak gugup.</p>
<p>&#8220;Sekolahnya kelas berapa?&#8221; perempuan tua itu bertanya dengan nada hati-hati.</p>
<p>&#8220;Kelas dua SMU, Bu!&#8221; jawab Ogi.</p>
<p>Si ibu tua itu kemudian mengeluarkan photo ukuran <em>postcard</em> dari dalam tas kecilnya. Sambil menyodorkan ke hadapan Ogi. Ogi nggak ngerti, tapi kemudian ia melihat foto itu. Sambil menunggu apa yang bakal diomongin si ibu, Ogi diam sambil memper?hatikan raut muka perempuan tua itu. Tampak bibir yang sudah agak keriput itu mulai bergetar hendak mengucapkan kata-kata. Ogi serius memperhatikan.</p>
<p>&#8220;Ini anak Ibu. Kayaknya dia seusia dengan kamu, Nak!&#8221; komentar si ibu.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;&#8221; Ogi hanya bisa mengangguk sambil memonyongkan kedua bibirnya. Sebelum Ogi bersuara perempuan tua itu kembali ngomong.</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;&#8221; ia tak melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Tapi apa, Bu?&#8221; Ogi berusaha memburunya.</p>
<p>&#8220;Ia sudah tiada. Ia sudah meninggalkan ibu untuk selamanya&#8230;&#8221; jawab perempuan tua itu diringi dengan sesenggukan.</p>
<p>&#8220;Bu. Tenang, Bu!&#8221; Ogi berusaha menenangkan si ibu yang terlihat tak kuasa menahan emosinya. Ia begitu larut dalam kesedihan. Sementara kereta tetap melaju, meski tidak terlalu kencang. Ogi bingung beberapa saat. Udara semakin dingin memukul-mukul badan Ogi, hingga membuatnya harus? merapatkan jaket tebalnya. Sementara Jamil malah sudah pulas dengan sukses.</p>
<p>&#8220;Oh, iya, Bu. Pakai jaket saya,&#8221; Ogi menawarkan jasa setelah agak lama diam.</p>
<p>&#8220;Nggak usah, pakai saja!&#8221; perempuan itu beru?saha menolaknya.</p>
<p>&#8220;Anak ibu meninggal karena sakit?&#8221; Ogi coba menebak.</p>
<p>Yang ditanya hanya menggelengkan kepala dengan lemah.</p>
<p>&#8220;Kecelakaan?&#8221; Ogi kembali menebak.</p>
<p>Perempuan itu hanya menggangguk pelan, dan diiringi dengan butiran bening yang serta merta keluar dari kedua matanya. Ia tak kuasa membendung kese?dihan itu. Hingga ditumpahkannya di hadapan Ogi. Ogi makin tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya anak ibu kecelakaan di mana?&#8221; Ogi kembali membuka omongan.</p>
<p>&#8220;Kata orang-orang ia mati dikeroyok saat tawuran di KRL&#8230;&#8221; jawab perempuan tua itu dengan nada pilu.</p>
<p>&#8220;Jadi anak ibu ikut tawuran?&#8221; Ogi mencoba meyakinkan tebakannya.</p>
<p>&#8220;Korban tawuran, karena ibu tahu si Dadi ini anak yang baik,&#8221; wanita setengah baya itu berkomentar sambil menyebut nama anaknya.</p>
<p>Ogi diam. Ia kemudian membangunkan Jamil, namun yang dibangunkan malah tambah pulas. Malah sekarang disertai suara aneh mirip orang digorok. Ogi kesal juga.</p>
<p>&#8220;Ia anak baik, Nak!&#8221; si ibu mencoba meyakinkan Ogi.</p>
<p>Ogi hanya bisa diam sambil memandang iba ke wajah si ibu. Dipandangnya lekat-lekat.</p>
<p>&#8220;Kenapa dia harus pergi secepat itu?&#8221; perem?puan itu seolah protes.</p>
<p>&#8220;Bu, baik atau tidak baik. Kalau memang Allah sudah memutuskan, kita nggak bisa berbuat banyak,&#8221; Ogi menghibur.</p>
<p>&#8220;Ibu sangat mencintainya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita harus menyadari, tak selamanya yang kita cintai harus kita miliki selamanya..&#8221; Ogi kembali bicara, meski dengan perasaan tak menentu.</p>
<p>Si ibu terdiam, matanya telah basah dan kelihat?an sembab oleh air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. Kereta sudah sampai di stasiun Pasar Minggu. Dan gerbong? mulai lengang karena banyak penumpangnya yang turun di stasiun itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Dalam hati Ogi berpikir, kenapa kereta begitu lambat, padahal ini adalah kereta terakhir.</p>
<p>Jamil tetap terbuai dalam mimpinya. Sementara si ibu diam dan selembar foto itu masih dalam genggamannya. Ia melemparkan pandangan matanya ke luar jendela. Tampak gundukan mega hitam meng?angkasa di langit sebelah barat. Begitu hitam. Sesekali terlihat bintang yang bertaburan. Udara makin membuat beku. Ia asyik dengan pikirannya sendiri. Lama juga ia begitu. Ogi tak berani mengusiknya.</p>
<p>&#8220;Ibu mau turun di mana?&#8221; Ogi mencoba membu?yarkan lamunan perempuan tua itu.</p>
<p>&#8220;Ohh..&#8221; si ibu tampak gelagapan.</p>
<p>&#8220;Maaf, Bu. Ibu mau turun di mana?&#8221; Ogi mengulang pertanyaan.</p>
<p>&#8220;Bojonggede!&#8221; ucapnya pelan dan kembali mematung.</p>
<p>Ogi terdiam. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel menimbulkan bunyi yang tak enak di dengar. Makin malam. Mereka terus berdiam menikmati pikirannya masing-masing. Sesekali Ogi melemparkan pandangannya ke luar jendela. Sementara perempuan tua itu tetap diam membisu. Pandangan matanya tampak kosong, sekosong harapannya saat ini. Ia begitu merasa kehilangan anak lelaki yang sangat dicintainya. Seolah-olah ia merasa telah kehilangan harapan dan mimpi. Hidup baginya seakan bukan pilihan yang baik. Jamil masih asyik dengan mimpi indahnya.</p>
<p>Angin malam yang menerjang wajah Ogi membuat Ogi hampir semaput. Matanya sudah membentuk cekungan. Ogi hampir <em>telap</em> menyusul Jamil. Si ibu tetap diam membisu. Ogi akhirnya jenuh juga.</p>
<p>Tiba-tiba Ogi merasa mendengar suara jeritan wanita di gerbong ke tujuh. Ogi penasaran. Ada apa di gerbong tujuh. Rasa penasaran itu berhasil mendorongnya untuk melangkahkan kaki. Namun sebelum melangkah. Ogi berusaha membangun?kan Jamil.</p>
<p>&#8220;Mil, bangun, Mil!&#8221; Ogi setengah teriak.</p>
<p>&#8220;Ada apa sih, udah nyampe, bukan?&#8221; Jamil tampak gelagapan dan mengucek-ngucek matanya.</p>
<p>&#8220;Belum, baru nyampe Pondok Cina!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya udah, masih lama ini..&#8221; Jamil bersiap untuk tidur lagi.</p>
<p>&#8220;Eh, Mil. Kamu jangan tidur lagi, dong!&#8221; Ogi memaksa.</p>
<p>&#8220;Emangnya kenapa. Kamu takut?&#8221; Jamil malah ngaco.</p>
<p>&#8220;Sepertinya ada tantangan di gerbong tujuh!&#8221; Ogi ngasih tahu.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; Jamil medelik.</p>
<p>Lagi asyik ngobrol begitu terdengar suara benda tumpul dipukulkan ke dinding kereta dengan keras. Ogi kaget, begitu juga dengan Jamil.</p>
<p>&#8220;Bu. Ibu diam di sini, ya?&#8221; Ogi menenangkan si ibu yang mulai was-was.</p>
<p>Ogi segera lari memburu ke gerbong tujuh. Namun baru saja nyampe di lorong rangkaian, ia balik lagi sambil pucat wajahnya.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Gi?&#8221; Jamil nanya.</p>
<p>&#8220;Gawat. Gawat. Ada penodongan!&#8221; Ogi gugup.</p>
<p>&#8220;Terus gimana, dong?&#8221;</p>
<p>Ogi diam sejenak memutar otaknya.</p>
<p>&#8220;Mil. Kita harus cari akal. Mereka ada tiga orang. Membawa senjata semua,&#8221; Ogi ngasih tahu.</p>
<p>&#8220;Nah, kamu pancing supaya mereka buyar perhatian?nya,&#8221; Ogi mulai menyusun rencananya.</p>
<p>&#8220;Pancing, gimana?&#8221; Jamil masih belum ngerti.</p>
<p>&#8220;Kamu sekarang lari sambil teriak pura-pura takut dikejar aku,&#8221;</p>
<p>Jamil ngangguk-ngangguk sambil mengencangkan tali sepatu dan merapikan jaket kulitnya. Sementara si ibu dari tadi sudah mojok di ujung gerbong. Ia tampak ketakutan sekali. Kereta masih tetap melaju, saat ini hampir memasuki stasiun Depok.</p>
<p>Di gerbong tujuh terdengar kembali jeritan suara perempuan. Tak berpikir panjang lagi keduanya saling berkejaran.</p>
<p>&#8220;Toloooong&#8230;toloooongg!&#8221; Jamil teriak kenceng banget. Untung nggak disertai batuk-batuk karena Jamil memang mampu menjerit hingga tiga oktav.? Di belakangnya Ogi mengejar sambil mengepalkan tangan menirukan orang yang hendak mukul. Efektif. Sebagai?mana teori sensasi, penodong mengalihkan perhatian?nya dan tertuju kepada Jamil yang teriak-teriak. Begitu lewat di depan orang yang sedang melakukan aksi penodongan itu. Ogi secepat kilat merebut pemukul besi yang kebetulan pemiliknya sedang lengah. Kontan saja doi kaget. Tapi buru-buru Ogi memukulkan besi itu tepat di lengan salah satu penodong yang lagi memegang pisau daging. Karuan saja roboh. Dan pisau itu terlem?par sejauh tiga meter.</p>
<p>&#8220;Mil! Ambil pisaunya dan lempar ke luar!&#8221; Ogi teriak sambil berusaha menyerang pemilik pemukul besi yang masih bengong mendapat serangan tiba-tiba itu.</p>
<p>Jamil gesit. Lalu mengambil pisau daging itu dan melemparkannya ke luar pintu kereta yang memang selalu terbuka. Namun keberhasilan Jamil hanya sesaat karena sejurus kemudian penodong yang membawa pisau belati menyerangnya. Tapi Jamil cepat meng?hindar dan berusaha untuk lari. Si penodong terus merangsek dengan serangan-serangan mematikan. Jamil kerepotan. Sementara Ogi juga sedang sibuk baku hantam dengan penodong yang satu lagi.</p>
<p>Tak ada orang yang mau menolong Ogi dan Jamil. Mereka berdua baku hantam tanpa ada yang berusaha menolongnya. Mungkin karena takut, soalnya di gerbong tujuh itu hanya ada dua orang lelaki. Itu pun sudah tua. Jamil dan Ogi teriak minta bantuan. Namun sial. Tak ada satu pun yang datang membantu.</p>
<p>Duel satu lawan satu itu makin sengit. Meski Jamil dan Ogi cuma bisa sedikit ilmu bela diri, namun karena terdesak oleh kebutuhan, akhirnya mereka bisa juga mengimbangi kedua penjahat itu.</p>
<p>Begitu kereta berhenti di stasiun Citayam keduanya berusaha teriak meminta bantuan. Namun malang, karena sudah malam di stasiun lengang. Apalagi di gerbong ke tujuh, ketika berhenti tidak pas berhadapan dengan bangunan stasiun. Hanya sebentar kereta berhenti dan melanjutkan perjalanannya. Ogi dan Jamil berusaha terus melawan kedua penodong.</p>
<p>&#8220;Aduh!&#8221; Jamil teriak kencang sambil memegang dadanya yang kena tinju.</p>
<p>Ogi menengok sebentar. Namun sial, satu pukulan telak mendarat di pelipis kirinya. Jamil dan Ogi sempoyongan. Tapi mereka berusaha untuk melanjut?kan pertarungan.</p>
<p>&#8220;Mil, lari!&#8221; Ogi ngasih komando.</p>
<p>Secepat kilat Jamil lari menuju gerbong enam lalu teriak-teriak meminta bantuan. Di situ ada sekelompok anak muda sedang menikmati lengkingan gitar Kirk Hammett dan dentuman drum Lars Ulrich dari kelompok Metallica. Lagu &#8230;<em>And Justice for All</em> yang dibesut Metallica pun menenggelamkan teriakan Jamil yang berulang kali minta bantuan.</p>
<p>Sementara Ogi sekarang harus berhadapan dengan dua orang sekaligus. Ia gugup. Tangannya memegang erat pemukul besi. Meski tadi sempat limbung juga akibat tonjokan di pelipis kirinya.</p>
<p>Kini Ogi dikepung. Ia kemudian merapat ke pintu. Kereta masih melaju. Dan bantuan rasanya lambat sekali datangnya. Ogi hampir putus asa.</p>
<p>&#8220;Laahaula walaa quwwata illa billah!&#8221; Ogi membatin.</p>
<p>Tiba-tiba seorang penodong menyerang sambil mengepalkan tinjunya. Ogi cepat menghindar, dan si lelaki gondrong itu kini berada tepat di hadapannya. Kontan saja Ogi mengayunkan besi itu tepat di kepala si penodong. Terdengar jeritan memilukan dan akhirnya lelaki naas itu roboh.</p>
<p>&#8220;Ayo maju! Kalau mau mengikuti nasib temanmu!&#8221; Ogi nantang.</p>
<p>&#8220;Bangsat!&#8221; kata lelaki kerempeng namun penuh tato itu sambil menyerangnya. Ogi lagi-lagi sigap menghindar. Dan malang benar nasib penodong itu. Karena tak perhitungan, akhirnya ia meluncur deras menuju pintu dan jatuh entah bagaimana nasibnya. Ogi kaget. Ia juga tak nyangka bila akhirnya orang tersebut harus menebus dosanya dengan terjun dari kereta yang tengah melaju kencang.</p>
<p>Ogi duduk lemas. Ia lemparkan pemukul besi itu ke hadapan tubuh penodong yang tampaknya pingsan karena pukulan besi di kepalanya. Ogi tak menyadari, bahwa si penodong yang dikiranya pingsan mulai menggeliat bangun dan tiba-tiba Ogi merasakan tenguknya seperti patah dihantam benda tumpul.</p>
<p>&#8220;Ahhhhh!&#8221; Ogi menjerit sambil memegang tenguknya.</p>
<p>&#8220;Hey, Bangun! Gi, bangun, Gi!&#8221; Jamil membangunkan Ogi sambil memegang tenguknya.</p>
<p>Tapi Ogi tetap teriak. Bahkan sekarang disertai dengan teriakan minta tolong.</p>
<p>&#8220;Gi! Bangun, Gi! Sadar, Gi!&#8221; Jamil teriak sambil mengguncang-guncang tubuh Ogi.</p>
<p>Ogi membuka kelopak matanya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.</p>
<p>&#8220;Makanya kalo mau tidur baca doa dulu. Biar mimpinya nggak buruk,&#8221; Jamil nasihatin.</p>
<p>Ogi tersenyum kecut. Ia malu.</p>
<p>&#8220;Tuh, si ibu mau pulang!&#8221; kata Jamil sambil nunjuk ke arah perempuan tua di samping Ogi. Tak ada kata-kata ketika si ibu itu meninggalkan Ogi. Hanya lambaian tangan tanda perpisahan.</p>
<p>Ogi tak puas, Ia melihat ke luar gerbong. Tampak si ibu masih melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada Ogi. Ogi membalasnya dengan perasaan iba. Entah siapa perempuan itu. Ogi belum sempat mengenalnya lebih jauh. Namun pertemuan itu sangat berkesan di hatinya. Dan kereta itu kembali melanjut?kan perjalanannya ke Bogor.</p>
<p>&#8220;Mimpi yang menegangkan!&#8221; Ogi membatin. Angin malam mengiringi kereta terakhir dari Jakarta itu. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel kembali terdengar. Bunyinya sangat berisik. Awan hitam tampak masih mengangkasa menyertai perjalan Ogi dan Jamil[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA edisi Juni 2004]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kereta-terakhir-dari-jakarta/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Pakai Kontrasepsi? Hmm&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-pakai-kontrasepsi-hmm</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-pakai-kontrasepsi-hmm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 08:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sex Folder]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2554</guid>
		<description><![CDATA[Kamu kenal kontrasepsi kan? Benar, kontrasepsi itu biasa dipakai ibu-ibu atau bapak-bapak para peserta keluarga berencana. Nah itu yang biasa kita temui. Tapi ternyata nih, sekarang para pengguna kontrasepsi ini adalah para remaja yang tentunya belum pada menikah. Aduuh, kok bisa sih? Yuk kita simak uraian berikut, biar kita jadi ngeh.

Kontrasepsi adalah usaha yang dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Kamu kenal kontrasepsi kan? Benar, kontrasepsi itu biasa dipakai ibu-ibu atau bapak-bapak para peserta keluarga berencana. Nah itu yang biasa kita temui. Tapi ternyata nih, sekarang para pengguna kontrasepsi ini adalah para remaja yang tentunya belum pada menikah. Aduuh, kok bisa sih? Yuk kita simak uraian berikut, biar kita jadi ngeh.</em></strong></p>
<p align="left">
<p align="left">Kontrasepsi adalah usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kehamilan. Tentu saja kontrasepsi itu ditujukan untuk para wanita yang sudah menikah. Urusan &#8220;perkontrasepsian&#8221; ini kalo di Indonesia diurusin oleh BKKBN alias Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Kenapa mesti ngurusin masalah seperti ini? Kata pemerintah nih ya, untuk mengatur jumlah kelahiran, supaya aman dan terkendali alias pengurusan anak dan masa depan anak terjamin.</p>
<p align="left">Jadi selama pasangan suami-istri itu belum atau tidak ingin punya anak, maka mereka menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan. Kalo sudah ada keinginan untuk punya momongan, maka alat kontrasepsi ini tidak digunakan lagi atau diberhentikan dari pekerjaannya (PHK nih ye).? Jadi, alat-alat kontrasepsi disediakan untuk pasangan suami-istri agar mereka mampu mengatur jumlah kelahiran anak yang mereka inginkan.<span id="more-2554"></span></p>
<p align="left">Adapun jenis alat kontrasepsi (alkon) ada bermacam-macam. Ada kontrasepsi tanpa alat, ada juga yang menggunakan alat, atau obat. Juga ada yang sifatnya permanen, yang dinamakan dengan sterilisasi atau kontrasepsi mantap alias kontap, namun ada juga yang sementara. Jangan salah lho bahwa alkon yang ada hanya untuk wanita saja, pria juga bisa pake.</p>
<p align="left">Apa saja sih yang termasuk alat atau obat kontrasepsi? Kita akan bahas beberapa saja ya.? Untuk para ibu, tersedia banyak pilihan, mulai dari pil, suntik baik suntik bulanan maupun tiga bulanan, susuk KB yang dipasang di bawah kulit, maupun IUD atau spiral. Sedangkan untuk para bapak tersedia kondom. Itu semua termasuk dalam kelompok alat dan obat kontrasepsi yang bersifat sementara atau temporer. Jadi kalo sudah ingin punya anak lagi, maka alat kontrasepsinya berhenti dipakai. Sedangkan kontap atau kontrasepsi mantap, maka teoritis, metode ini merupakan metode yang permanen, baik untuk para pria maupun para ibu, yang sudah tidak ingin punya anak lagi.</p>
<p align="left">Nah, jenis yang banyak peminatnya adalah yang menggunakan obat-obatan. Sebagaimana sudah disebutkan di atas, yang termasuk di dalamnya adalah pil, suntik, dan susuk. Isi dari ketiga jenis obat kontrasepsi ini adalah hormon. Itu sebabnya dinamakan juga dengan kontrasepsi hormonal. Hormon yang digunakan untuk kontrasepsi adalah estrogen dan progesteron. Dua hormon ini digunakan sebagai bahan kontrasepsi karena keduanya dapat mencegah terjadinya <em>ovulasi</em> (pembuahan), yang kemudian dapat mencegah terjadinya kehamilan. Sebagai kontrasepsi hormonal, kedua hormon tersebut digunakan secara sendiri-sendiri atau dikombinasi dalam dosis tertentu.? Jadi ada banyak sekali pilihannya. Jadi tahu deh kamu tentang perkontrasepsian, walaupun tidak mendetail. Tapi Insya Allah bermanfaat untukmu.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Jika remaja putri pake &#8220;alkon&#8221;</strong></p>
<p align="left">Meski alkon sejatinya buat pasangan suami-istri, tapi sekarang ini malah ditemukan para gadis, remaja putri yang belum menikah, yang menggunakan kontrasepsi ini, terutama kontrasepsi hormonal. Wah, kok bisa begitu ya. Kenapa?</p>
<p align="left">Ternyata mereka-mereka tidak ingin hamil! Eh, ngapain repot-repot minum pil dan suntik KB? Kalau belum menikah kan nggak bakalan hamil, jadi ngapain juga menjadi konsumen alat KB, alias jadi akseptor? Begitu mungkin pertanyaaan yang terlintas di benakmu. Rupanya remaja putri yang menjadi &#8216;akseptor&#8217; KB itu adalah mereka-mereka yang menjalani model kehidupan bebas yang dicontohkan oleh Barat. Biasanya mau hidup bersama tanpa nikah alias kumpul kebo, atau yang bergaul bebas, yang pacarannya kebablasan.</p>
<p align="left">Hmm&#8230; teman-teman itu belum nikah, tapi suka dan sering melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pria dan wanita yang sudah menikah. Kayaknya banyak teman remaja yang tahu, bahwa perbuatan seperti yang mereka lakukan itu bisa mengakibatkan terjadinya kehamilan. Nah, karena mereka tidak mau hamil, maka diminumlah pil KB itu untuk mencegah terjadinya kehamilan. Jadilah mereka itu remaja putri pemakai kontrasepsi. Begitu.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Mengancam kesehatan</strong></p>
<p align="left">Kontrasepsi hormonal, baik itu berupa pil maupun suntik, adalah termasuk dalam jenis obat.? Dan yang namanya obat, hanya boleh dipakai sesuai dengan aturannya dan peruntukannya.? Terlebih lagi, obat adalah racun dalam dosis yang tepat.? Jadi penggunaan obat tanpa aturan justru akan membahayakan tubuh manusia. Demikian juga halnya dengan pemakaian obat-obat KB secara sembarangan. Para wanita yang sudah menikah yang menjadi akseptor KB akan mengkonsumsi obat-obat KB secara benar dan tepat karena mereka mendapatkan informasi yang cukup oleh tenaga kesehatan yang berwenang. Kalangan ini selalu melakukan konsultasi dan pemeriksaan rutin kepada para tenaga kesehatan. Dengan demikian, efek samping yang mungkin timbul selalu dalam pengawasan.</p>
<p align="left">Berbeda halnya dengan para remaj putri yang &#8220;semau gue&#8221; mengkonsumsi obat-obat KB tersebut. Sangat besar kemungkinannya mereka tidak mendapat informasi yang tepat dan akurat serta lengkap tentang obat KB yang mereka konsumsi. Bahkan boleh jadi mereka mendapatkan obat itu pada tempat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p align="left">Kalian ingin tahu hal-hal yang bisa terjadi pada pemakaian obat KB? Simak baik-baik uraian berikut ini ya. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahan aktif obat KB adalah hormon estrogen dan atau progesteron. Nah, ada efek sampingannya bila orang mengkonsumsi obat KB, baik dalam bentuk pil ataupun suntik. Efek samping yang ringan yang sering ditemui adalah mual, sakit kepala, nyeri pada payudara, keputihan, juga adanya retensi cairan (berkurangnya pengeluaran cairan oleh tubuh) dan peningkatan berat badan.</p>
<p align="left">Selain itu pemakaian kontrasepsi hormonal ini juga bisa menaikkan tensi alias tekanan darahnya menjadi lebih tinggi. Jadi bagi penderita hipertensi (tekanan darah tinggi) tidak dianjurkan memakai kontrasepsi hormonal. Oleh karena itu para akseptor KB dimonitor terus berat badan dan tekanan darahnya.</p>
<p align="left">Selain itu, juga ditemukan bukti-bukti yang nyata bahwa mengkonsumsi hormon estrogen dalam waktu yang lama dan dosis tinggi dapat menyebakan pembesaran <em>mioma uteri</em>. <em>Mioma uteri</em> adalah salah satu jenis tumor jinak pada rahim. Sementara itu pemakaian hormon progesteron yang berlebihan dapat menyebabkan perdarahan yang tidak teratur, nafsu makan bertambah, jerawat bermunculan, rambut rontok dan bisa juga menimbulkan depresi. Efek samping yang lebih berat adalah terjadinya <em>trombo emboli</em> yang sangat berbahaya.</p>
<p align="left">Oya, perlu diketahui juga bahwa tidak semua orang dapat minum pil atau disuntik KB. Ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat pemakaian pil atau suntik justru membahayakan jiwa. Hal ini hanya bisa diketahui dengan pemeriksaan kesehatan secara teliti oleh petugas kesehatan yang berwenang, yang biasanya justru dihindari oleh para remaja putri yang nakal.</p>
<p align="left">Wah, ngeri juga ya. Kebayang kan, kalau asal minum saja, resiko besar mengancam kesehatan para pemakaianya.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Ingat dosa ya&#8230;</strong></p>
<p align="left">Kontrasepsi bagi para pasangan suami istri untuk mengatur jarak dan jumlah kelahiran, dibolehkan oleh Islam. Namun hal ini hanya berlaku untuk pasangan suami istri. Itu sebabnya, haram hukumnya jika &#8220;alkon&#8221; ini dipakai oleh para gadis dan jejaka yang melakukan seks bebas tapi takut terjadi kehamilan.</p>
<p align="left">Sobat muda sudah tahu, bahwa dari sudut kesehatan pemakaian obat KB secara tidak bertanggung jawab memiliki risiko yang bermacam-macam. Itu semua adalah resiko yang akan dihadapi di dunia. Tapi ada risiko yang jauh lebih besar, yang menunggu di akhirat kelak. Islam sebagai dien yang sempurna sudah memberikan aturan bagi kita agar kita mendapatkan kemaslahatan atau kebaikan.</p>
<p align="left">Islam sudah memiliki aturan tentang bagaimana pergaulan antar jenis. Pergaulan bebas, adalah satu hal yang diharamkan oleh Islam. Mendekati zina saja diharamkan, apalagi melakukannya. Pergaulan bebas, seks bebas atau apalah namanya adalah dosa besar. Hukuman perbuatan seperti itu yang dilakukan oleh para remaja putri dan jejaka adalah dicambuk seratus kali. Tentu yang melaksanakan hukuman itu adalah institusi yang memiliki wewenang, yaitu Daulah Islam. Kebayang dong konsekuensi yang harus ditanggung. Jadi mari tinggalkan perbuatan maksiat itu, tinggalkan ajakan setan. Kita jaga pergaulan kita sesuai dengan aturan Islam. Insya Allah akan membawa keberkahan dalam hidup kita.</p>
<p align="left">Oke deh sobat, jelas sudah bahaya pemakaian obat KB tanpa aturan. Jelas juga hukum gaul bebas dalam ajaran Islam. Kalau kita ingin mendapat ridla Allah, selamat dunia akhirat, mari kita kembali kepada aturan Islam yang diciptakan oleh Sang Pencipta manusia, yang Maha Tahu tentang keadaan manusia.<strong>[arum]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi April 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-pakai-kontrasepsi-hmm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sentuhan Islam Mampu Ubah Pola Hidup Napi</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 07:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2545</guid>
		<description><![CDATA[Hidup Garment benar-benar gelap. Ia menggelandang di jalanan sejak kecil. Obat bius dan minum-minuman keras meracuninya. Hidupnya kembali terang setelah mengenal Islam
Sebuah buku tergeletak di atas meja kerja Mustafa Garment. Buku itu berjudul &#8216;Changin Your Game Plan&#8216;. Bagi pria Amerika keturunan Afrika ini, buku ini sangat berguna, bahkan mengubah jalan hidupnya. Kehidupannya berubah setelah pria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Hidup Garment benar-benar gelap. Ia menggelandang di jalanan sejak kecil. Obat bius dan minum-minuman keras meracuninya. Hidupnya kembali terang setelah mengenal Islam</em></strong><br />
<strong><em></em></strong>Sebuah buku tergeletak di atas meja kerja Mustafa Garment. Buku itu berjudul &#8216;<em>Changin Your Game Plan</em>&#8216;. Bagi pria Amerika keturunan Afrika ini, buku ini sangat berguna, bahkan mengubah jalan hidupnya. Kehidupannya berubah setelah pria yang kenyang dengan berbagai aksi kriminal ini masuk Islam.</p>
<p>&#8220;Saya dapat membuktikan dengan mengubah rencana suatu permainan, mengubah cara pikir karena ini mirip dengan pengalaman saya,&#8221; ujar Garment, kini seorang koordinator forensik di <em>Brooklyn Mental Health Court.</em><span id="more-2545"></span></p>
<p>Pria berjenggot bersuara lembut ini kini telah berusia 64 tahun. Ia sangat berbeda dengan penampilannya dulu, sekitar 20 tahun lalu.</p>
<p>Bekerja di <em>Mental Health Court</em>, yang merupakan afiliasi Mahkamah Agung Negara Bagian New York, ia membantu para tahanan atau napi untuk mendapatkan terapi atas penyakit jiwa atau kecanduan obat bius.</p>
<p>Tak seorang pun dapat memberikan bantuan lebih baik dibandingkan Garment. Apalagi ia menghabiskan masa kecilnya dengan bergelandang di jalanan lantaran tak punya rumah, selain juga kecanduan obat bius dan minum minuman keras.</p>
<p>Pria yang dibesarkan di lingkungan kumuh, Harlem, memiliki masa kecil penuh penderitaan. &#8220;Saya ingat sering kelaparan. Tubuh saya lemah karena lapar,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Pengalaman pertama bersentuhan dengan alkohol dan obat bius, yang kemudian menjadi &#8216;gaya hidupnya&#8217; selama 30 tahun, adalah saat ia berusia 13 tahun. Ia merasa keberadaannya bisa diterima teman-temannya bila ikut-ikutan merokok mariyuana dan minum anggur.</p>
<p>Ia putus sekolah saat kelas satu SMA. Namun, ia sudah kecanduan kokain dan tak dapat dihilangkan. Sejak saat itulah, ia mulai mencuri dan bahkan menjual obat bius. Tak heran bila ia menjadi penjahat kambuhan dan keluar masuk penjara lebih dari 30 kali atas berbagai kasus kejahatan, mulai dari menjual obat bius hingga perampokan.</p>
<p>Di tengah masalah kecanduan obat bius dan keluar masuk penjara, ia mengenal Islam pada 1972 saat berusia 27 tahun. Ia pun masuk Islam dan menikahi seorang wanita muslim. Sayangnya gaya hidupnya tak berubah. Istrinya pun minta cerai.</p>
<p>Akhirnya pada 1998, setelah hampir 40 hidup di jalanan, bertahan hidup dengan makan di dapur umum dan mencuri, serta tetap kecanduan obat, ia memutuskan membuka lembaran baru.</p>
<p>Ia mulai mengikuti pertemuan Narcotics Anonymous dan mencari bantuan melalui <em>The Bridge</em>, sebuah organisasi yang membantu kaum tunawisma dan kecanduan obat. Saat itulah ia bertemu Amin, mentornya yang Muslim dan memandunya menjadi Muslim sejati melalui tahap penyembuhan.</p>
<p>Amin, mantan pecandu heroin dan pasien AIDS, memperkenalkannya dengan Millati Islami, sebuah program pemulihan obat secara Islam dengan mendekatkan diri pada Allah dan melaksanakan salat.</p>
<p>Lucille Jackson, yang dulu mengelola <em>The Bridge</em>, sangat terkesan dan memberinya pekerjaan di organisasi itu, sekalipun ia masih mengikuti terapi. Saat Jackson menjabat Direktur Proyek <em>Brooklyn Mental Health Court</em>, Garment juga direkrut sebagai koodinator forensik.</p>
<p>Tugas Garment adalah memberikan terapi buat napi yang mengalami gangguan jiwa, kecanduan, atau membantu mereka yang menganggur dan tak punya tempat tinggal. Ia juga kerap mengisahkan pengalaman pribadinya, terutama kepada para napi muda.</p>
<p>Kini Garment telah menjadi seorang ayah dan kakek yang bahagia. Ia bersyukur kepada Allah karena telah menemukan Islam dalam masa tersulit dalam hidupnya. Selain itu, ia juga berhasil menyelesaikan sekolah dan unggul dalam pelajaran bahasa Arab agar bisa memahami Al-Quran. Ia juga berencana kuliah jurusan Kajian Islam. [iol/htb/cha/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9270-sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sentuhan-islam-mampu-ubah-pola-hidup-napi/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Semua&#8230;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 19:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang, aku terlalu muda untuk menjadi &#8216;orangtua&#8217;. Tapi, ada juga orang yang bilang kalau aku anak muda seperti &#8216;orangtua&#8217;. Orang juga bilang kalau aku seorang pemimpi berat, tidak realistis dan mengada-ada. Tapi aku pikir, andai Thomas Alfa Edisson tak berpikir untuk menerangi dunia, tentu sampai sekarang kita tidak akan bertemu dengan lampu.
 
 
Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Orang bilang, aku terlalu muda untuk menjadi &#8216;orangtua&#8217;. Tapi, ada juga orang yang bilang kalau aku anak muda seperti &#8216;orangtua&#8217;. Orang juga bilang kalau aku seorang pemimpi berat, tidak realistis dan mengada-ada. Tapi aku pikir, andai Thomas Alfa Edisson tak berpikir untuk menerangi dunia, tentu sampai sekarang kita tidak akan bertemu dengan lampu.</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Aku lahir dari keluarga yang keras. Orangtuaku tidak hanya menerapkan disiplin yang ketat, tapi berbagai sanksi yang tergolong kasar dan sadis. Maka terkadang aku jadi berpikir, jadilah aku seperti ini sekarang. Terkadang kasar, angkuh dan arogan.</p>
<p>Perkenalanku dengan Islam memang belum lama, paling baru lima tahun ini. Namun jauh sebelumnya, berbagai pemikiran yang tergolong berat bagi anak-anak seumuranku sudah kental di kepala. Sosialisme-Komunisme, Anarkisme, sampai Kapitalisme dan Zionisme. Maka tak aral lagi, saat SMP dengan sadar aku sudah memproklamirkan diri sebagai seorang <em>atheis</em>.<span id="more-2525"></span></p>
<p>Keputusan inilah yang dikemudian hari sering membuat aku dan orangtua terutama bapakku terlibat dalam adu mulut, bahkan pertengkaran fisik. Sesuatu yang mungkin nggak pernah terbayangkan oleh teman sekalian. Saat itu, yang terpikir olehku memang seperti membenturkan batu dengan batu, api dengan api. Maka sering kali bapakku &#8216;menantangku&#8217; untuk pergi dari rumah.</p>
<p>Tapi itu nggak pernah jadi. Prestasiku di sekolah dan di masyarakat selalu bisa mengurungkan niat mereka. Saat SD, NEM dan nilai akhirku terbesar se-Kabupaten. Saat SMP, aku lulus dengan predikat lulusan terbaik se-kecamatan dan urutan 2 se-Kabupaten. Belum lagi masyarakat di RWku menggelari &#8220;Pak Sekretaris&#8221; karena menjadi sekretaris RW yang sering jadi wakil RW untuk rapat di Kelurahan. Ya, itulah aku. Bagus di luar, tapi bobrok di dalam.</p>
<p><strong>Anarki tulen</strong></p>
<p>Pemikiran-pemikiran bejad yang bercokol di kepala memang sangat mempengaruhiku. Apalagi ide kontroversialnya Bakunin. Saat SMA aku sering kena skorsing dari sekolah karena menentang kebijakan sekolah ditambah lagi dengan cara-cara dan propaganda-propaganda yang mengesalkan mereka. Bahkan, beberapa kali aku terlibat pertengkaran mulut dengan Kepala Sekolah, wakilnya di urusan kesiswaan, guru PPKN dan Agama. Termasuk juga sekali menghajar guru Sosiologi. Ya Tuhan, bejad sekali aku. Sebuah aksiku yang mungkin masih dikenang warga SMAku adalah saat aku menggembok gerbang sekolah, menyiramkannya dengan darah anjing di sekelilingnya dan memprovokasi para siswa untuk berdemo menolak kenaikan SPP.</p>
<p>Itu baru sebagian. Yang terjadi di sekolah, juga terjadi di masyarakatku. Seperti biasa, di masyarakatku juga ada 3 golongan. Orang-orang alim, awam dan tentu saja, orang-orang bejad. Saat itu aku sangat dekat dengan mereka semua. Tapi sedikit, aku lebih dekat dengan orang-orang bejad terutama yang sebaya. Dari sekadar nongkrong-nongkrong, begadang sambil nyanyi-nyanyi di pinggir jalan, sampai ikut berjudi, meminum minuman keras dan pakai narkoba. Itu semua benar-benar kemauanku dan tanpa ajakan apalagi paksaan dari orang lain. Itu semua juga bukan sekadar membebek pada tren, tapi benar-benar berakar dari akalku yang rusak parah.</p>
<p>Saat SMA, aku dua kali masuk penjara. Sekali karena mabok dan terjaring operasi petugas, dan sekali lagi karena karena terlibat tawuran dengan sebuah STM di Cianjur. Padahal Cianjur itu jauhnya bukan main. Tapi tetap saja, aku masih bisa eksis di sekolah karena prestasiku yang terpengaruh dengan segala kebejadanku.</p>
<p><strong>Bertemu dengan Islam dan berjuang untuk Kaffah</strong></p>
<p>Saat liburan kenaikan kelas 3 SMA, aku berkesempatan mengikuti sebuah <em>holiday camp</em>. di sebuah universitas di Jerman atas sponsor perusahaan tempatku bekerja. 5 orang yang besertaku dari Indonesia. Tampang mereka pun imut-imut dan &#8216;alim-alim&#8217;. 180 derajat berbeda denganku. Aku tambah menertawakan mereka. Saat aku belajar dengan serius, sibuk berkeliling perpustakaan dan silau dengan kelengkapannya, serta mengunjungi tempat-tempat <em>cool</em> kaya&#8217; museum Karl Marx, Karl May dll, mereka cuma belajar, main-main, mencoba kebruntungan menggaet cewek bule. Aku jadi berpikir, <em>&#8220;apa mereka datang ke sini cuma untuk main? Bodoh banget!&#8221;</em></p>
<p>Perbedaan itulah yang agaknya menarik perhatian seorang peserta <em>camp</em>. lokal. Ternyata dia seorang muslim, lho. Jujur, walaupun aku saat itu sangat tidak setuju dengan isi batok kepalanya, aku sangat mengaguminya, <em>&#8220;Dia memiliki sebuah bangunan pemikiran yang tak pernah kubayangkan. Bangunan konkrit sebuah ideologi Islam.&#8221;</em> Namanya Sayful. Di satu sesi hari libur, dia menantangku untuk ikut ke sebuah auditorium masjid di belahan Utara Jerman. Aku menerima tantangannya. Dan s<em>ubhanallah</em>, sebuah auditorium yang penuh dengan &#8216;pemuda-pemuda berjenggot&#8217; dan &#8216;pemudi-pemudi yang di mumi&#8217;. Setelah acara itu selesai, aku diperkenalkan dengan beberapa orang. Aku ingat, &#8216;Ammar Zalloum salah satunya.</p>
<p>Hampir 4 jam aku berdiskusi dengan orang-orang itu. Soal Islam, pemikiran-pemikiran, dan kehidupan. Fair aku mengatakan, <em>&#8220;Ini adalah sesuatu yang baru, tapi lama. Ini sesuatu komprehensif, tapi logis! Aku akan mempelajarinya.&#8221;</em></p>
<p>Tiga minggu pun berlalu. Aku kembali ke negeri ini dengan beberapa hadiah buku dari mereka. Aku mempelajari buku itu perlahan-lahan. Tapi lama-lama aku boring juga. Aku pun kembali ke masa laluku. Berjuang dengan ide dan cara lama. Hingga aku lulus SMA, aku terus seperti dulu. Bejad, bejad, dan bejad.</p>
<p>Mei tahun 2000, aku melihat sebuah flyer. Ada sesuatu yang menarik dari flyer itu yang membuat aku ingat pada perkataan temanku di Jerman sana. <em>&#8220;aku juga punya teman di Indonesia. Mereka orang-orang Islam yang memegang bendera hitam dan putih bertuliskan syhadat. Hanya syahadat.&#8221; </em>Saat itu aku berniat untuk hadir di acara yang ditunjukkan pada flyer tersebut. Tapi saat itu bulan Mei, bung! Bulan ujian. Aku tak jadi berangkat.</p>
<p>Sebuah pukulan keras menrpaku. Aku tidak lulus UMPTN! Padahal sebelumnya aku sudah menolak undangan SPMB dari sebuah universitas negeri. Beberapa saat aku <em>down</em>. Tapi itu nggak lama. Akhirnya aku berpikir untuk ikut kursus 1 tahun sambil menunggu UMPTN tahun depan. Di tempat kursus itulah aku bertemu lagi dengan bendera hitam-putih bersyahadat. Aku pun mencari orang yang bisa membawaku pada &#8216;bendera&#8217; itu dan akhirnya usahaku berhasil. Lewat beberapa kali kesempatan diskusi akhirnya aku pun memutuskan untuk intensif belajar Islam. Dari nol besar! Karena saat itu aku nggak kenal huruf hijaiyah. Aktifitas ini pun berlanjut terus hingga beberapa waktu yang lalu, kemudian terputus, dan sekarang baru mau mulai lagi.</p>
<p>Saat aku intensif belajar Islam, aku pikir hidupku akan berubah total. Tapi salah besar. Ujian hidup pun silih berganti datang dan menggoyang komitmenku. Ditambah lagi dengan goyahnya hubungan di antara teman-teman pengajian, dan organisasi yang kuikuti. Emosiku memuncak, semua orang kucerca habis-habisan. Tak peduli itu teman, guru ngajiku, atau orangtua sendiri. Aku sangat panik dan benar kehilangan kontrol. Apalagi ditambah dengan rasa kesendirian tanpa teman. Aku langsung jadi manusia bangkrut.</p>
<p>Ujian itu terus saja terjadi seolah tak ada akhir. Namun dalam sebuah perenungan aku menemukan bahwa semuanya kembali padaku. Allah tengah mengujiku dan mengingatkanku atas kesalahan dan dosa-dosaku dulu. Aku pun beristighfar seraya memohon ampun padaNya. Setelah itu, aku pun mulai mendekati teman-teman, guru-guruku dan semua orang yang kukenal untuk meminta maaf. Ternyata mereka semua orang baik. Mereka tidak hanya memaafkanku, tapi men<em>support</em>ku dengan berbagai cara. Kini, masalah yang kuhadapi memang belum selesai. Tapi aku tak mau seperti dulu, aku tak mau kehilangan apa yang telah? kuraih. Sesuatu yang benar tanpa ada yang benar selainnya. Ujian ini pun membesarkan hatiku. Masih banyak orang yang lebih menderita dariku. Kini ku ingin bangkit. Meskipun aku sedang sulit, aku tak akan membiarkan orang lain tenggelam kesulitannya seorang diri. Dan andaikan satu hari aku bangkit, aku tak akan sendirian dengan anggur di tangan. <em>Life and death together coz we&#8217;re one body&#8230; with Islam coz Islam is the only solution&#8230;</em></p>
<p>Kini, terima kasih semua&#8230; <strong>[seperti dituturkan seorang ikhwan pada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Maret 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/terima-kasih-semua/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas Utama Presiden Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tugas-utama-presiden-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tugas-utama-presiden-kita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 07:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2540</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Dr. Adian Husaini
Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, &#8220;Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?&#8221; Laki-laki itu menjawab, &#8220;Tidak, demi Allah!&#8221; Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.&#8221; Penasaran dengan jawaban itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh<strong>: Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/Adian_baru.jpg" border="0" alt="" width="80" height="112" align="left" />Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, &#8220;Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?&#8221; Laki-laki itu menjawab, &#8220;Tidak, demi Allah!&#8221; Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.&#8221; Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, &#8220;Siapa nama kamu?&#8221; Dijawab si laki-laki, &#8220;Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.&#8221; Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.</p>
<p>Sebelum terjadi perang Qadisiah, Panglima Perang Sa&#8217;ad bin Abi Waqash mengirimkan utusan bernama Rabi&#8217; bin Amir untuk menemui Jenderal Rustum, panglima Perang Persia.? Rabi&#8217; masuk ke tenda Rustum yang bergelimang kemewahan dengan tetap memegang tombak dan menuntun kudanya.? Ketika Rustum bertanya, &#8220;Apa tujuan kalian?&#8221; dengan tegas Rabi&#8217; menjawab, &#8220;Allah telah mengutus kami untuk membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan Allah semata, dan membebaskan manusia dari kesempitan menuju kelapangan hidup di dunia, dan dari penindasan berbagai agama yang sesat menuju agama Islam yang menuh keadilan.&#8221;<span id="more-2540"></span></p>
<p>Kita ingat sebuah cerita terkenal, ketika Ja&#8217;fay bin Abdul Muthalib dan kawan-kawan sedang berada di Habsyah, sejumlah pemuka Quraish juga mengejar mereka. Raja Najasyi diprovokasi untuk mengusir kaum Muslim itu. Kepada Najasyi dan para pendeta Kristen, Amr bin Ash dan Amarah menyatakan, bahwa orang-orang Islam tidak akan mau bersujud kepada Raja. Ketika kaum Muslim dipanggil menghadap Raja, mereka diperintahkan, &#8220;Bersujudlah kalian kepada Raja!&#8221;.? Dengan tegas Ja&#8217;far menjawab, &#8220;Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah semata.&#8221;</p>
<p>Sejumlah cerita tentang kezuhudan dan kegigihan generasi-generasi awal Islam itu diungkap oleh Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dalam bukunya, <em>&#8220;Maa Dzaa Khasiral &#8216;Aalam bi-inkhithaathil Muslimin</em>. (Terjemah versi Indonesia oleh M. Ruslan Shiddieq, <em>Islam Membangun Peradaban Dunia</em>, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1988). Melalui bukunya, Ali an-Nadwi memang ingin menggugah kaum Muslim, bahwa kebangkitan dan kemenangan kaum Muslim hanya akan bisa diraih jika umat Islam memiliki keimanan yang kokoh, dan tidak goyah dengan berbagai godaan dunia.</p>
<p>Dalam risalahnya yang terkenal, <em>Limaadza Taakkharal Muslimun wa-Limaadza Taqaddama Ghairuhum, </em> Syekh Amir Syakib Arsalan juga mengungkap sejumlah perbandingan, mengapa kaum Muslimin bisa dikalahkan oleh bangsa-bangsa Barat di berbagai lini kehidupan. Salah satu sikap yang menonjol adalah rendahnya sikap rela berkorban kaum Muslim dalam perjuangan. Sebagai contoh, ia mengungkapkan kesetiaan bangsa Inggris terhadap barang-barang produksinya dan toko-tokonya sendiri, walaupun harganya lebih mahal. &#8220;Aku pernah mendengar bahwa bangsa Inggris yang ada di daerah jajahannya, mereka tidak suka membeli barang-barang yang diperlukan terutama barang-barang yang berharga, melainkan mereka mesti membeli (pesan) dari negara mereka sendiri&#8230;&#8221;.</p>
<p>Lebih jauh tentang sebab-sebab kemunduran umat Islam di awal abad ke-20, diuraikan dengan sangat tajam oleh Amir Syakib Arsalan dalam risalah yang ditulisnya menjawab pertanyaan Syekh Muhammad Basyuni Imran,? Imam Kerajaan Sambas, dengan perantaraan Muhammad Rasyid Ridha. Moenawwar Chalil menerjemahkan buku ini tahun 1954 dengan judul <em>Mengapa Kaum Muslim Mundur</em>. (Jakarta: Bulan Bintang, 1954).</p>
<p>Hilangnya semangat berkorban - jiwa, raga, harta, dan sebagainya - di tengah umat Islam bersamaan dengan munculnya sikap cinta dunia (<em>hubbud-duny</em>a). ?Sikap ini muncul karena ilmu yang salah,? yang melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kehidupan akhirat. Kapan saja sikap ini muncul, maka umat Islam tidak akan pernah mengenyam kejayaan. Rasulullah saw sudah mengingatkan, umat Islam akan menjadi sampah (buih), ketika sudah terjangkit penyakit &#8220;al-wahnu&#8221; (hubbud-dunya dan takut mati) dalam diri mereka. Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah saw juga menyebutkan, jika umat Islam sudah mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam.</p>
<p>Di tengah hiruk pikuk pemilihan presiden RI? 2009-2014 saat ini, kaum Muslim Indonesia seyogyanya tidak boleh kehilangan arah perjuangan. Jika hendak berkaca pada perjuangan Rasulullah saw, maka sejatinya, yang dibangun oleh Rasulullah saw, bukanlah sekedar sebuah negara di Madinah. Tetapi, yang dibangun oleh Rasulullah saw adalah sebuah bangunan peradaban yang sangat tinggi, yakni bangunan peradaban Islam. Bangunan ini ditopang oleh satu komunitas yang memiliki ciri-ciri yang khas, diantaranya ialah sikap &#8220;haus ilmu&#8221; dan &#8220;semangat berkorban&#8221; yang sangat tinggi demi sebuah cita-cita.</p>
<p>Mengapa Madinah bukan sekedar sebuah kekuasaan?? Kekuasaan bisa diraih jika suatu kelompok memiliki kekuatan untuk berkuasa. Siapa pun yang memiliki angkatan perang terkuat, maka akan bisa dengan mudah meraih kekuasaan. Bangsa Mongol bisa menaklukkan Baghdad pada 1215, meskipun tingkat peradaban mereka jauh di bawah umat Islam. Pasukan Salib mampu merebut Jerusalem pada 1099 karena kemampuan dan semangat berperang mereka jauh lebih tinggi dibanding kemampuan kaum Muslim ketika itu. Tetapi, karena tingkat peradaban mereka rendah, maka mereka akhirnya justru banyak terpengaruh oleh peradaban Islam.</p>
<p>Rasulullah saw tidak menyiapkan para jagoan untuk mendirikan sebuah bangunan negara Madinah. Tetapi, yang disiapkan oleh Rasulullah saw adalah manusia-manusia yang beradab, yang memiliki keyakinan dan keimanan yang sangat kuat dan haus ilmu pengetahuan. Karena itulah, Rasulullah dan para sahabat sesudah beliau, tidak kesulitan kader-kader pemimpin umat untuk ditempatkan di berbagai wilayah yang dikuasai umat Islam ketika itu.</p>
<p>Manusia-manusia Muslim yang unggul dan beradab itulah yang harus disiapkan kaum Muslim untuk terjun ke berbagai lapangan kehidupan: pendidikan, ekonomi, sosial, militer, juga politik. Ketika banyak yang mengeluhkan kualitas para politisi Muslim, harusnya kita berkaca pada diri sendiri, apakah selama ini ada lembaga-lembaga pendidikan Islam yang secara serius menyiapkan kader-kader umat yang unggul. Silakan diteliti, apakah ada satu Perguruan Tinggi Islam yang bisa diharapkan untuk menyiapkan kader umat semacam itu? Jika belum ada, harusnya umat Islam berkewajiban untuk menyiapkannya.</p>
<p>Umat Islam kini hidup di bawah suatu hegemoni peradaban Barat yang meterialistis yang memuja empat hal: kekayaan, kekuasaan, kecantikan dan kepopuleran. Tugas lembaga pendidikan Islam adalah mencetak kader-kader umat yang siap terjun ke tengah masyarakat sebagai mujahid dalam berbagai lapangan kehidupan. Dan tentunya, kader-kader umat itu haruslah terbebas dari penyakit cinta dunia dan takut mati. Sebab, penyakit inilah yang sangat merusak umat. ?Jika penyakit ini menggejala di tengah masyarakat, maka hancurlah bangsa itu.</p>
<p>Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir menulis sebuah artikel berjudul <strong>&#8220;Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.&#8221;</strong> Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan.</p>
<p><em>&#8220;Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara? yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau&#8230; Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpal&#8230; Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!&#8221; (</em>M. Natsir, <em>Capita Selecta 2</em>, (Jakarta: PT Abadi, 2008, cet. Ke-2)).</p>
<p>Peringatan Moh. Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa Indonesia. Bahwa, baru beberapa tahun saja kemerdekaan berlalu, banyak orang Indonesia sudah kehilangan orientasi, egois, serba pamrih, dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Mereka berpikir, bahwa perjuangan sudah selesai, dan seolah-olah tujuan bangsa sudah tercapai. Sudah merdeka. Cukup!. Maka, tiap tahun rakyat dihibur dengan pesta-pesta 17 Agustusan. Kini, bukan saat untuk berjuang, tetapi saatnya untuk menikmati hasil perjuangan.????????? Karena itulah, kata Natsir, jika bangsa ini tidak mau tenggelam dihantam gelombang tantangan zaman, maka bangsa ini tidak boleh berhenti &#8220;mendayung&#8221;.</p>
<p><em>&#8220;Saudara baru berada di tengah arus, tetapi sudah berasa sampai di tepi pantai. Dan lantaran itu tangan saudara berhenti berkejauh, arus yang deras akan membawa saudara hanyut kembali, walaupun saudara menggerutu dan mencari kesalahan di luar saudara. Arus akan membawa saudara hanyut, kepada suatu tempat yang tidak saudara ingini&#8230; Untuk ini perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencucurkan keringat. Untuk ini saudara harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara, yang masih terbengkelai&#8230; Perjuangan ini hanya dapat dilakukan dengan enthousiasme yang berkobar-kobar dan dengan keberanian meniadakan diri serta kemampuan untuk merintiskan jalan dengan cara yang berencana.&#8221; (Ibid). </em></p>
<p>Dan apakah penyakit yang paling berbahaya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia saat ini? Kepada Amien Rais dan kawan-kawan yang mewawancarainya pada 1986-1987, dengan tegas M. Natsir menyatakan: &#8220;Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.&#8221; Juga, kata Natsir:</p>
<p>&#8220;Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang &#8220;baru&#8221;, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi,? gejala yang &#8220;baru&#8221; ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.&#8221;?? (A. Watik Pratiknya (ed.), <em>Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, </em>(Jakarta-Yogya: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Laboratorium Dakwah, 1989).</p>
<p>Kita sebenarnya berharap, para politisi Muslim lebih mengedepankan isu &#8220;iman&#8221; daripada urusan perut. Ekonomi tentu saja penting. Tetapi, aqidah lebih penting. Sebab, misi utama kenabian adalah meluruskan aqidah. Mudah-mudahan, presiden yang terpilih nanti, juga menaruh perhatian soal aqidah. Bukan hanya urusan &#8220;perut&#8221;. Sebab, &#8220;perut&#8221; tidak akan pernah puas. Jika seseorang kehilangan orientasi akhirat dan terjangkit penyakit cinta dunia, maka setelah perutnya kenyang, dia akan mengejar &#8220;kepuasan&#8221; lain.</p>
<p>Bukankah dalam lagu Indonesia Raya disebutkan<em>, &#8220;Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!&#8221;</em> Jadi, jiwa dulu yang harus dibangun. Jiwa yang sehat bagi seorang Muslim adalah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan tidak terjangkit penyakit <em>hubbud-dunya.</em> Itulah tugas utama pemimpin Indonesia masa depan. Mudah-mudahan, ke depan, kita akan mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin yang mampu mewarisi? amanah perjuangan para Nabi. Pemimpin seperti itu harus disiapkan, dan bukan hanya ditunggu-tunggu. ?[depok, <a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/adian-husaini/9546-tugas-utama-presiden-kita" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan <a href="http://www.hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tugas-utama-presiden-kita/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Politik, Jilbab, dan Remaja</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/politik-jilbab-dan-remaja</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/politik-jilbab-dan-remaja#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 19:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<category><![CDATA[jilbab]]></category>

		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2533</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 085/tahun ke-2 (14 Jumadil Akhir 1430 H/8 Juni 2009)

Banyak berita berseliweran di media massa. Dari mulai berita gosip selebriti, kriminalitas, perkembangan ekonomi, fenomena sosial, peristiwa budaya, sampe berita hukum dan politik. Semua menghiasai mata dan telinga kita. Media cetak, media elektronik, hingga internet. Malah media yang memanfaatkan jaringan internet nggak henti-hentinya alias nonstop [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 085/tahun ke-2 (14 Jumadil Akhir 1430 H/8 Juni 2009)</p>
<pre></pre>
<p style="text-align: justify;">Banyak berita berseliweran di media massa. Dari mulai berita gosip selebriti, kriminalitas, perkembangan ekonomi, fenomena sosial, peristiwa budaya, sampe berita hukum dan politik. Semua menghiasai mata dan telinga kita. Media cetak, media elektronik, hingga internet. Malah media yang memanfaatkan jaringan internet nggak henti-hentinya alias nonstop selama 24 jam sehari untuk menyampaikan informasi. Kita bisa memilih dan memilah informasi semampu dan sesuai keperluan kita. Nggak mungkin lah kalo sampe semua kita perhatiin. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu pasti tahu dong kasus Manohara Odelio Pinot yang kabur dari suaminya, sang pangeran Kerajaan   Kelantan, Malaysia? Tahu juga kan kasus Ibu Prita yang &#8216;berperang&#8217; melawan RS Omni Internasional, Tangerang? Ngeh juga kan seputar gosip artis terkini? Hmm. Tapi kita nggak bakalan bahas itu. Nah, yang sekarang kita bakalan bahas adalah yang ada hubungannya langsung dengan remaja, juga masalah pakaian (khususnya kerudung dan jilbab), yang kemudian ada yang menghubung-hubungkannya dengan masalah politik. Wow, berat amir nih temanya. Ah, nggak juga sih. Tergantung sudut pandang kamu kok. Kalo kamu nganggepnya berat, bakalan berat, tapi kalo kamu anggap masalah ini enteng, insya Allah akan enteng juga. Makanya, supaya nggak berat, pas baca buletin kesayangan kamu ini jangan sambil gendong traktor ya, dijamin nggak berat. Lho, apa hubungannya? Gejlig!<span id="more-2533"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, sesuai judul dalam tulisan di buletin gaulislam ini, &#8220;politik, jilbab, dan remaja&#8221;, maka saya ingin agar kamu bisa memahami masalah ini dengan benar sesuai sudut pandang Islam. Kenapa harus Islam? Ya, karena kaum muslimin hanya taat kepada Allah Swt. dan RasulNya, yang udah tercantum dalam ajaran Islam. Islam, sebagai akidah sekaligus syariat bagi kaum muslimin untuk mengatur kehidupan di dunia agar bisa membawa bekal yang benar dan baik bagi kehidupan di akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir-akhir ini, kamu juga pasti ngikutin berita seputar jilbab. Sebenarnya istilah jilbab yang sedang digembar-gemborkan media massa tuh keliru. Soalnya yang sedang dibicarakan adalah sebenarnya kerudung (bukan jilbab) yang dipakai &#8220;senjata&#8221; oleh capres/cawapres yang mendompleng isu ini demi naikkin popularitas dan simpati masyarakat supaya tertarik dengan masalah seperti ini dan akhirnya milih dia. Di satu sisi lagi, ada juga yang tidak mempersoalkan masalah kerudung (dan jilbab), karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah ekonomi atau masalah politik lainnya. Maklum, yang bersangkutan sedang dalam kondisi memilih pasangan capres/cawapress yang kebetulan para istrinya boro-boro pake jilbab, kerudung aja kagak. Selain itu, ada juga capres yang kebetulan wanita malah bikin pernyataan ngeles, ketika disinggung soal kerudung (dan jilbab) ini, yang bersangkutan bilang, &#8220;Islam ada di hati saya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Halah, ternyata masalah kerudung dan jilbab aja bisa dihubungkan dan diikat-kaitkan dengan masalah politik. Jadi ajang untuk saling serang. Ada yang memanfaatkan, ada yang menolak. Nah, gimana nih sikap remaja? Apa yang harus dinilai dan diperhatikan dalam masalah ini? Yuk, kita geber aja bareng agar masalah ini nggak bikin kamu tambah bodoh atau masa bodoh. Setuju kan?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Salah kaprah seputar politik </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalo kamu ngomongin politik pasti bawaannya males, sebel, dan muak kalo ngeliat para pelakunya. Gimana nggak, politik dalam sistem demokrasi saat ini memang dianggap sebagai jalan untuk meraih kekuasaan. Maka, apapun bisa dilakukan yang penting kekuasaan bisa diraih. Maklumlah, manusia kan memiliki <em>gharizah al-baqa&#8217;</em> alias naluri mempertahankan diri, yang salah satu penampakannya adalah <em>hubbuttamaluk</em> (keinginan untuk memiliki). Memiliki di sini bisa diartikan luas: harta, kekuasaan, jabatan, dan apa saja yang bisa mempertahankan eksistensinya sebagai manusia. Maka, tak heran jika manusia ingin berkuasa atas manusia lainya. <em>So</em>, kalo udah berkuasa apa aja bisa diraih. Nyari harta gampang, nyari orderan nggak sulit, makan enak, rumah megah, keluarga bahagia, kendaraan keren, duit full terus dan beragam fasilitas lainnya. Siapa yang nggak tergiur? Apalagi jabatan tersebut adalah sekelas presiden, wakil presiden, menteri dan pejabat tinggi negara lainnya. Pasti deh bikin asoy untuk dikejar dan diraih.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, karena politik udah kadung dianggap sebagai sarana meraih kekuasaan, maka saat ini capres dan cawapres beserta tim suksesnya masing-masing giat bekerja dan rajin bikin terobosan. Mencari berbagai isu yang bisa dijual untuk mendongkrak popularitas jagoannya. Jangankan cuma kerudung, hadis dan al-Quran aja jadi laku dijual di masa kampanye. Berharap akan banyak orang yang tertarik dengan capres/cawapres yang religius. Padahal, seperti yang udah-udah, karena niatnya nggak terbukti untuk kebaikan, tujuannya pun bukan untuk menerapkan syariat Islam, akhirnya mereka hanya sholeh sesaat aja. Begitu selesai masa kampanye ya lupa semua. Baik yang menang maupun kalah kembali ke habitat awal khas kehidupan sekularisme: hedonis, dan bahkan yang menang tetap menerapkan demokrasi dan kapitalisme. Padahal, sistem tersebut bertentangan dan bahkan menentang ajaran Islam. Aneh memang. Dan, yang lebih parah adalah rakyatnya yang mau aja dibodohi terus menerus. Kalo kata Kasino Warkop sih, &#8220;bodo dipelihara, kambing dipelihara bisa gemuk!&#8221; Hehehe..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selembar kain&#8221; bernama kerudung ini sekarang jadi ngetren: dipuja dan dicela. Satu kubu menjadikan senjata menarik simpati massa, kubu yang lain justru mencela, atau setidaknya meremehkan bahwa hal itu nggak ada hubungannya dengan masalah politil, ekonomi atau kemaslahatan bangsa lainnya. Well, keduanya justru jadi persoalan bagi kita, kaum muslimin. Sebab, gimana pun juga sebenarnya dalam pandangan Islam, masalah politik, masalah kerudung (dan jilbab), serta masalah lainnya seharusnya menjadi perhatian dan diatur dengan benar dan baik. Itu sebabnya, nggak perlulah ajaran syariat menjadi &#8220;senjata&#8221; untuk saling serang demi meraih kekuasaan. Apalagi nggak ngerti apa-apa tentang syariat itu sendiri. Cuma modal semangat dan niat yang kurang terpuji, ditambah salah juga dalam pemahaman dan pengamalannya. Lengkap sudah kekacauan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, kita jangan terkecoh untuk mendukung satu pihak dan menolak satu pihak lainnya dalam kasus ini, tapi yang perlu kita kaji dan cermati adalah, apakah mereka yang terlibat dalam pro-kontra tentang &#8220;selembar kain&#8221; itu sudah benar niat dan tujuannya berdasarkan aturan Islam atau belum. Kalo semuanya belum ada niat menerapkan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ngapain didukung? Iya nggak sih? Analoginya gini, apa yang bakal kamu lakukan kalo disodorin ke hadapanmu 3 gelas berisi racun, kamu memilih menolak semuanya atau mencari gelas yang jumlah racunnya sedikit? Kondisi saat ini pilihannya adalah racun semua. Maka, orang cerdas dan takwa, pastinya menolak semua gelas berisi racun. Tapi kalo yang mau coba &#8220;bunuh diri&#8221; dan menggadaikan akidahnya demi tujuan sempit dan mungkin saja hina, dia akan memilih racun, baik yang racunnya mematikan secara langsung atau mematikan perlahan-lahan. Ah, urusan politik dalam sistem demokrasi-kapitalisme memang payah dan parah. Sistem ini sudah cukup menjadi &#8216;neraka&#8217;!</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan Islam, politik didefinisikan sebagai pengaturan urusan umat manusia. Dalam kitab <em>Mafahim Siyasiyah</em> dijelaskan bahwa politik adalah <em>ri&#8217;ayatusy syu&#8217;unil ummah,</em> alias pengaturan urusan ummat. Adapaun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (<em>iqtishadi</em>), pidana (<em>uqubat</em>), sosial (<em>ijtima&#8217;i</em>), pendidikan (<em>tarbiyah</em>) dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengen bukti? Nah, Islam telah memberi?kan gambaran yang utuh dalam masalah ini, bahkan sejarah memperlihatkan selama lebih dari 14 abad, kaum muslimin hidup dengan menerapkan aturan Islam. Tidak pernah ada satu masa pun kaum muslimin hidup dengan aturan selain Islam. Catet nih, Bro! Terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuh?kan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemim?pin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui pengha?pusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam. Menyedihkan bukan? Ini tanggungjawab kita untuk menegak?kannya kembali, Bro!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Well</em>, kok bengong? Atau sedih? Soalnya memang itulah gambaran kita saat ini. Coba dari dulu memahami istilah politik seperti ini, pasti nggak bakalan bengong or bingung kayak sekarang. Tapi alhamdulillah, sekarang kamu mulai paham sedikit demi sedikit tentang politik dalam pandangan Islam. Hehehe, sedikit promosi nih, kalo kamu pengen lebih detil membaca dan memahami masalah Islam sebagai ideologi, yang tentu saja mencakup politik di dalamnya, kamu bisa baca buku saya berjudul <em>Yes! I am MUSLIM</em> (Gema Insani, 2007), dan <em>Muda Luar Biasa</em> (Gazzamedia, 2009), infonya klik: www.osolihin.com. Kalo belum punya bisa pinjem atau beli aja kedua buku tersebut ya. Hehehe&#8230; Insya Allah bisa lebih puas deh memahaminya, kalo di buletin ini dijembrengin detil pastinya jadi tambah banyak jumlah karakternya padahal jatah halamannya terbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jilbab sebagai identitas muslimah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muslimah taat syariat Islam, pasti akan mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah. Soalnya, jilbab dan kerudung adalah pakaian untuk menutupi aurat muslimah. <em>So</em>, kerudung dan jilbab bukan cuma untuk nunjukkin ke orang-orang bahwa dirinya sebagai muslimah, sementara dirinya justru melanggar syariat Islam lainnya. Pake kerudung dan jilbab tapi sekuler, pake kerudung dan jilbab tapi hedonis, pake kerudung dan jilbab tapi ikut mendukung feminisme, pake kerudung dan jilbab tapi membela mati-matian demokrasi. Itu sih namanya aneh yang punya bapak ajaib.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, sedikit nih perbedaan antara kerudung dan jilbab. Jilbab bermakna <em>mil<span style="text-decoration: underline;">h</span>?fah </em>(baju kurung atau semacam <em>abaya </em>yang longgar dan tidak tipis), kain (<em>kis?&#8217;</em>) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (<em>tsawb</em>) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus <em>al-Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>?th </em>dinya?takan demikian: <em>Jilbab itu laksana </em>sird?b <em>(tero?wongan) atau </em>sinm?r <em>(lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus <em>ash-Sha<span style="text-decoration: underline;">hh</span>?h, </em>al-Jawh?r? menyatakan: <em>Jilbab adalah kain panjang dan longgar </em>(mil<span style="text-decoration: underline;">h</span>?fah) <em>yang sering disebut </em>mul?&#8217;ah <em>(baju kurung).</em> Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab <em>plus</em> kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>&#8220;Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.&#8221; </em><strong>(QS al-Ahzab [33]: 59)</strong><em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, dengan penjelasan ini semoga kamu jadi tambah paham: apa itu jilbab, pebedaannya dengan kerudung, dan konsekuensinya ketika mengenakan jilbab. Itu sebabnya, kamu jadi tidak mudah tergoda dengan &#8220;pro-kontra&#8221; kerudung (dan jilbab) yang digunakan untuk kampanye politik dalam rangka meraih kekuasaan. Sebab, gimana pun juga kalo memang yang mau diterapkan sebagai aturan kehidupan adalah demokrasi dan kapitalisme, maka bertaburannya simbol-simbol agama dan poin-poin aturan syariat jadi tidak ada gunanya. Bahkan itu adalah bagian dari upaya menghina ajaran Islam itu sendiri. <em>Wallahu&#8217;alam.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, sebagai remaja muslim, kamu kudu ngeh masalah ini. Sekarang udah banyak orang yang ngerti Islam dengan benar dan mereka ikhlas memperjuangkan dan membela Islam. Mereka yang tidak berambisi meraih atau mengemis jabatan dalam sistem kufur sembari mereka melecehkan Islam. Coba deh, kamu bisa belajar dari mereka. Buletin gaulislam pun berusaha memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam buat kamu semua. Kami berusaha memberikan informasi yang benar seputar ajaran Islam. Jadi, kamu bisa <em>stay tune</em> terus di website gaulislam (www.gaulislam.com).</p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh, sebagai catatan terakhir, Islam udah ngasih aturan yang jelas. Sehingga kita seharusnya bisa menerima Islam sepenuh pikiran dan perasaan kita. Nggak ada lagi deh, demi alasan kekuasaan atau tren, syariat hanya dijadikan penarik simpati masyarakat untuk mendukung seseorang yang akan berkuasa. Nggak banget! Jangan sampe kita dibenci oleh Allah Swt. karena kita melanggar (bahkan senantiasa) membangkang perintahNya. <em>Naudzubilah min dzalik.</em> Yuk, kita mulai belajar Islam lebih dalam, lebih luas. Tetap semangat! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/politik-jilbab-dan-remaja/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Mengenal Islam Melalui Internet</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/saya-mengenal-islam-melalui-internet</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/saya-mengenal-islam-melalui-internet#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 07:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2543</guid>
		<description><![CDATA[Ia lahir dan besar dalam lingkungan Kristen. Tapi kemudian berganti-ganti agama. Pelariannya berakhir pada pelukan Islam
Benar kata orang, Islam benar-benar indah dan agama yang sangat mulia.
Walaupun selama ini cap buruk telah? diberikan kepada Islam dan umat Islam pada umumnya, namun buktinya ia berhasil mendapatkan pengikutnya dan berkembang selama hampir 15 abad. Islam, dalam beberapa kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Ia lahir dan besar dalam lingkungan Kristen. Tapi kemudian berganti-ganti agama. Pelariannya berakhir pada pelukan Islam</em></strong></p>
<p><strong></strong>Benar kata orang, Islam benar-benar indah dan agama yang sangat mulia.</p>
<p>Walaupun selama ini cap buruk telah? diberikan kepada Islam dan umat Islam pada umumnya, namun buktinya ia berhasil mendapatkan pengikutnya dan berkembang selama hampir 15 abad. Islam, dalam beberapa kata singkat, adalah hidupku. Dan? Allah adalah sebuah kekuatan dalam hidupku. Tanpa Allah, saya bukanlah apa-apa.</p>
<p>Ketika saya duduk untuk menulis pengantar ini, saya tidak bermaksud untuk mengirim seluruh kisah kembalinya saya dalam pelukan Islam.? Semakin saya berpikir tentang hal ini, semakin saya menyadari bahwa ini adalah tempat yang tepat untuk cerita.<span id="more-2543"></span></p>
<p>Aku dibaptis saat lahir saat masih kecil, saat pra-sekolah di Detroit, Michigan. Semenjak itu, gereja selalu menjadi bagian dari anak usia dini di Detroit, walaupun keluarga saya tidak pergi setiap minggu.? Tapi ketika orangtuaku? pindah ke North Carolina, mereka sudah mulai rajin? ke gereja.</p>
<p>Saya harus selalu pergi ke sekolah Katolik. Karenanya, dari kelas saya mengenal pertama kali kehidupan Yesus, Bunda Maria, para Rasul, Alkitab, dan Sakramen.? Saya pertama kali mendapat? &#8220;first holy communion&#8221; pada usia 7 tahun.</p>
<p>Pada September 1995, lokal sekelompok orang Katolik Ortodoks dari Libanon (Melkite Byzantine Catholic) mengadakan liturgi di gereja kami. Saya pergi dengan ibu saya, dan saya jatuh cinta. Hal? paling indah saya pernah melihat, saya dengar, dan saya rasakan.? Liturgi tradisional, yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris, Arab, dan Yunani. Dengan lilin, ikon, dan banyak kemenyan.</p>
<p>Ketika teman-teman saya baru belajar tentang gereja, mereka tidak pernah mencela saya, namun mereka tidak memahami mengapa saya menyukai Katolik Melkite Byzantine.? Beberapa orang menyatakan bahwa saya melakukan untuk mencari perhatian. Tapi bagi saya,? saya telah melakukan sesuatu yang sedikit lebih mengejutkan dan luar biasa!</p>
<p>Konflik Serius</p>
<p>Saya terus pergi ke gereja Melkite setiap hari minggu sampai pertengahan Maret tahun 1996.? Namun suatu hari, tepatnya 40 hari sebelum Paskah,? saya mempunyai pertengkaran serius pertama saya dengan agama Keristen. Sesungguhnya saya kurang yakin apa yang sedangb terjadi.? Tetapi tiba-tiba, saya berhenti percaya pada agama Kristen.</p>
<p>Untuk beberapa alasan, sesaat saya merasa? Judaisme adalah satu-satunya agama monotheistic yang paling baik yang? saya tahu. Dan akhirnya Aku pergi pada hari Sabat di sinagog Yahudi dengan teman orangtua saya.? Saya selalu tertarik budaya Yahudi, tapi saya tidak tahu banyak tentang agama Yahudi.</p>
<p>Saya mulai menghadiri layanan Sabat pada hari Minggu pagi.? Walaupun saya telah cukup baik diterima oleh orang-orang Yahudi di kota, saya juga banyak mendapat kritikan dari teman saya.? Sekali lagi, saya dituduh mencoba untuk mendapatkan perhatian, yang berusaha untuk menjadi berbeda.</p>
<p>Apapun perkataan orang,? saya perlahan mulai mengadopsi Judaisme dan Yahudi mengikuti praktek-praktek budaya dan agama mereka.? Saya juga mulai belajar untuk bahasa Ibrani tiap Sabat di hari Sabtu.</p>
<p>Pada saat saya mulai sekolah menengah pada tahun 1996, orang-orang memanggil saya &#8220;The kid who thinks he&#8217;s Yahudi.&#8221;[anak yang berpikir dia Yahudi]. Saya bahkan berencana? pindah ke Israel.? Tapi sedikit yang saya tahu, bahwa &#8220;kemesrahan&#8221; ku? dengan Yahudi supanya akan segera berakhir.</p>
<p>Suatu hari, saat Thanksgiving, saya sedang duduk di rumah menghadap Internet, untuk mencari satu dua situs yang menarik.? Mulailah saya mencari majalah melalui Internet. Terkejutlah saya ketika menangkap sebuah situs? Ibrahim Shafi&#8217;s Islam Page. Saya berhadapan dengan sebuah situs Islam.</p>
<p>Apa yang saya pahami tentang Islam? Tak banyak. Namun saya mempunyai teman di sekolah seorang Muslim, ibu saya bekerja dengan orang Muslim.? Namun, pengetahuan tentang Islam itu sangatlah terbatas.? Sebagian besar apa yang saya tahu berasal dari? buku. Yang membuat saya mengkerut ketika menyebut Islam perlakuan perempuan dengan sangat mulia.</p>
<p>Rupanya, saya mulai mempelajari Islam melalui web.? Saya segera &#8220;ngerumpi&#8221; di room chat di sebuah channel IRC (Internet Relay Chat) guna mencari teman Muslim sebanyak-banyaknya. Dari sanalah,? saya mulai syahadat dan menyatakan diri memeluik Islam.</p>
<p>Kehidupan saya merasa baik, tetapi saya tetap tidak merasa bahwa saya adalah bagian dari umat Islam. Persoalannya, karena saya tidak menyatakan syahadat di depan saksi.</p>
<p>Nah, kesempatan untuk menjadi seorang Muslim di hadapan umat Islam lainnya datang selama perjalanan ke Chicago. Saudara perempuan saya pergi ke Universitas Chicago dan saya menyadari bahwa ada? MSA (Muslim Student Association) di sana. Akhirnya, melalui MSA aku resmi menyatakan besaksi kepada Allah dan Rasul Allah memeluk Islam.</p>
<p>Sekarang, nama baruku berganti menjadi? Tariq Ali. Namun, kadang, sehari-hari tetap dipanggil Tommy.</p>
<p>Meski telah memekuk Islam, masih banyak orang masih meledekku akibat agama masa laluku. &#8220;Apa agama Anda minggu ini, Tommy?&#8221;. Dan biasanya, saya jelaskan,? &#8220;Saya telah Muslim.&#8221; Dan jika mereka tertarik dan bekepentingan, saya jelaskan lebih jauh agama saya yang sangat hebat ini. [cerita Tommy dimuat situs www.daily.pk/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/cermin/9184-saya-mengenal-islam-melalui-internet-" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/saya-mengenal-islam-melalui-internet/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kenalkan; Tifus Abdominalis!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kenalkan-tifus-abdominalis-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kenalkan-tifus-abdominalis-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 07:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[HealthFolder]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2552</guid>
		<description><![CDATA[Jangan biarkan ia berkembang. Jangan beri kesempatan untuk membuatmu meradang. Ada baiknya kita serius menghadapi bakteri ini sebelum segalanya terlambat.
Dini, gadis berusia 20 tahun yang banyak aktivitas, baik di kampus maupun rohis, tidak nampak batang hidungnya.? Dia sedang menderita demam beerkepanjangan, Sudah lebih dari seminggu Dini terbaring di kamarnya. Badannya pegel-pegel, panas, lesu, juga nyeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><strong><em>Jangan biarkan ia berkembang. </em><em>Jangan beri kesempatan untuk membuatmu meradang. Ada baiknya kita serius menghadapi bakteri ini sebelum segalanya terlambat.</em></strong></p>
<p align="left">Dini, gadis berusia 20 tahun yang banyak aktivitas, baik di kampus maupun rohis, tidak nampak batang hidungnya.? Dia sedang menderita demam beerkepanjangan, Sudah lebih dari seminggu Dini terbaring di kamarnya. Badannya pegel-pegel, panas, lesu, juga nyeri kepala.? Mulanya dia mengira hanya karena terlalu lelah saja. Tapi ketika kondisinya tidak membaik meskipun sudah 1 minggu ini berbaring saja, bahkan panasnya makin tinggi, dan badannya makin lemah, temannya memaksanya pergi ke dokter. Dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium, dokter menyimpulkan Dini terkena penyakit tipus.</p>
<p align="left">Apa sih tipus itu? Kok rasa-rasanya banyak sekali yang terkena tifus ini, bahkan rata-rata harus menginap dia rumah sakit. Apa ya penyebabnya? Apa mesti dirumah sakitkan? Yuk, sobat muda kita simak uraian dai bawah ini.<span id="more-2552"></span></p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Mengenal <em>Typhus Abdominalis</em></strong></p>
<p align="left"><em>Typphus Abdominalis</em> atau yang lebih dikenal dengan demam <em>tifoid</em> atau tifes dalam bahasa kita adalah suatu penyakit infeksi akut yang menyerang usus halus yang disebabkan oleh bakteri <em>Salmonella typhi</em>. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan orang tua, laki-laki maupun wanita.</p>
<p align="left">Terjadinya penyakit yang merupakan penyakit menular ini tidak memandang musim, baik musim kemarau maupun penghujan. Penularan penyakit ini melalui makanan yang tercemar. Nah, hati-hati bagi yang sering dimasakin oleh tukang warung makan. Kadang kebersihan makanan kurang terjamin. Makanya perlu selektif, tidak hanya soal menu, tapi juga <em>hygiene</em> dan sanitasi tempat makan.? <em>So</em>, harap waspada para anak kos! Tapi ini juga tiidak berarti masakan rumah pasti bebas kuman, lho.</p>
<p align="left">Penyakit demam tifoid ini mendunia, artinya terdapat di seluruh dunia. Tetapi lebih banyak di negara sedang berekembang di daerash tropis, seperti Indonesia. Penyakit tifus merupakan endemik di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular, yang mudah menyerang banyak orang, sehingga dapat menimbulkan wabah.</p>
<p align="left">Kapan kita curiga kalau kena tifes? Pasang mata baik-baik ya, supaya tidak keliru. Karena banyak orang mengira bahanya sakit biasa, dan dibiarkan tanpa pengobatan yang benar, tahu-tahu ternyata terkena penyakit tifus. Gejala klinis pada anak-anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Namun bisa juga hanya 4 hari, jika terinfeksinya melalui kuman yang ada di makanan.</p>
<p align="left">Selama masa inkubasi akan daitemukan gejala-gejala yang mungkin mirip dengan penyakit lain, seperti tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Gejala klinis yang ditemukan setelah masa inkubasi lewat adalah demam tinggi, biasanya malam lebih tinggi daripada siang, dan ini terjadi terus menerus, bisa sampai tiga mingguan.</p>
<p align="left">Kalau kalian panas tinggi sudah lebih dari 1 minnggu jangan anggap sepele, tuh. Segera ke dokter untuk kepastian penyakit. Biasanya sih dokter akan menyarankan untuk periksa laboratorium.? Selain panas tinggi, juga tercium bau mulut yang tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah. Juga ditemukan lidah ditutupi selaput putih kotor. Sering ditemukan perut kembung, dan konstipasi alias tidak buang air besar selama beberapa hari. Biasanya juga disertai gangguan kesadaran, bahkan penderita dapat kehilangan kesadaran bila penyakit ini tidak tertangani dengan baik.</p>
<p align="left">Gejala-gejala penyakit tersebut di atas sering dianggap sebagai gejala penyakit lain. Jika gejala-gejala tersebut ditemui, sering orang mengira bahwa dia tidak terserang penyakit tifus, namun penyakit-penyakit dengan demam lama seperti penyakit-penyakit influenza, malaria, TBC.</p>
<p align="left">Nah, penyakit tifus yang tidak tertangani dengan baik, atau diketahui dalam keadaan sudah parah dapat menimpulkan komplikasi atawa akibat ikutan yang cukup berbahaya, baik di usus maupun di organ selain usus. Misalnya terjadi perdarahan usus, atau bahkan usus bisa berlubang.? Sementara pada organ di luar usus dapat menimbulkan komplikasi pada sistem peredaran darah, gangguan paru, ginjal, hepar, dan jga sistem kesadaran.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Perawatan dan pengobatan</strong></p>
<p align="left">Penderita tifus perlu dirawat dirumah sakit untuk isolasi (supaya tidak menularkan pada yang lain), observasi dan pengobatan. Penderita harus tetirah alias baring tiotal minimal 7 hari bebas panas.? Wow, lama banget. Bosan atuh. Makanya usahain jangan ssampe berteman sama si tifus ini. Istirahat total ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus.</p>
<p align="left">Selama perawatan, penderita juga diberi obat-obatan untuk mengurangi gejala-gejala yang dialami penderita, seperti panas, sakit kepala, mual dsb. Selain itu juga mendapat obat yang akan membasmi kuman penyebab penyakit alias antibiotika. Kalau yang ini nih, wewenang dokter untuk ngresepinnya.</p>
<p align="left">Oya, yang juga diperlukan oleh penderita adalah pengaturan makanan. Untuk sementara, makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. Jadi bagi kamu yang lagi kena tifus jangan banyak makan sembarangan. Sayuran dengan serat kasar seperti daun singkong harus dihindari, termasuk juga temennya daun singkong, yaitu sambel terasi yang pedes. Jadi harus dijaga benar untuk memberi kesempatan kepada usus menjalani upaya penyembuhan.</p>
<p align="left">Kesembuhan penderita penyakit ini dipengaruhi berbagai hal, di antaranya adalah umur, keadaan umum, tingkat kekebalan penderita, jumlah dan daya infeksi kuman yang masuk tubuh, serta cepat dan tepatnya pengobatan.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Masalah penderita <em>carrier</em></strong></p>
<p align="left">Setiap orang yang terinfeksi kuman <em>salmonella</em>, akan meng ekskresikan kuman tersebut bersama dengan feses dan air seni selama beberapa waktu tertentu atau sekitar tiga bulan. Jika hal ini terjadi terus menerus setelah lebih tiga bulan maka yang bersangkutan dikatakan sebagai <em>carrier</em>.? Orang yang menjadi <em>carrier</em> ini merupakan sumber penularan penyakit tifus kepada orang lain.? Kuman tifus bisa tetap ada pada <em>carrier</em> tadi hingga lebih dari 1 tahun. Makanya, <em>carrier</em> kuman tifus tidak diperbolehkan untuk bekerja di industri makanan. Wah, bahaya dong. Makanya jangan anggap sepele, ya.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Pencegahan</strong></p>
<p align="left">Usaha pencegahan penyakit tifus ini dibagi dalam dua upaya, yaitu terhadap lingkungan hidup dan manusianya sendiri. Penyediaan sarana air minum yang memenuhi syarat, pembuatan jamban yang <em>hygienis</em>, pemberantasan lalat dan pengawasan terhadap rumah makan dan penjual makanan adalah beberapa hal yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.</p>
<p align="left">Sedangkan terhadap manusia dilakukan upaya imunisasi untuk memberikan kekebalan tubuh yang kuat, menemukan? dan mengawasi para <em>carrier</em> tifoid dan yang utama adalah pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Bila masyarakat memahami bahaya penyakit ini, maka masyarakat akan berusaha untuk menjaga dirinya dan lingkungannya agar selalau bersih dan sehat. Jika demikian halnya, kuman thyfus tidak akan menyerang.</p>
<p align="left">Oke, rasa-rasanya emang lebih baik mencegah daripada mengobati. <em>Please deh!</em> <strong>[arum]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Maret 2005]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kenalkan-tifus-abdominalis-2/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kenanganku Tentang Jilbab</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kenanganku-tentang-jilbab</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kenanganku-tentang-jilbab#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 18:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<category><![CDATA[jilbab]]></category>

		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2522</guid>
		<description><![CDATA[Aku pernah sangat benci kepada para akhwat? yang sok alim, sok suci dan mengenakan jilbab. Tapi, lambat laun aku malah rindu untuk mengenakannya.
 
 
Aku tidak tahu harus memulainya dari mana untuk becerita. Yang pasti aku akan berbagi kisah menemukan jalanku yang sekarang. Aku lulus SMU tahun 2002 dan kulanjutkan ke D-1 komputer (di bawah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Aku pernah sangat benci kepada para akhwat? yang sok alim, sok suci dan mengenakan jilbab. Tapi, lambat laun aku malah rindu untuk mengenakannya.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Aku tidak tahu harus memulainya dari mana untuk becerita. Yang pasti aku akan berbagi kisah menemukan jalanku yang sekarang. Aku lulus SMU tahun 2002 dan kulanjutkan ke D-1 komputer (di bawah naungan Fak. MIPA salah satu kampus negeri) karena SPMB nggak lulus. Di kos baru (sekitar 40 orang) aku kenalan ama temen-teman baru. Temen-teman kosku termasuk anak-anak yang suka <em>have fun.</em> Jadi nggak berapa lama aku sedikit demi sedikit ketularan pula. Satu semester aku habiskan dengan senang-senang dan punya banyak temen cowok. Maklum, waktu itu aku orang yang gampang akrab ama siapa saja. Meski begitu studi tetap jalan dan IP-ku lumayan tinggi.<span id="more-2522"></span></p>
<p><strong>Jadi provokator anti-ngaji</strong></p>
<p>Di saat itulah aku nggak sengaja ketemu akhwat, sebut aja Mbak Afi, yang kebetulan udah aku kenal sepintas pas berkunjung ke kontrakan temen SMU-ku, sebut saja namanya Nani. Dia ama-sama MaBa (mahasiswa baru). Mulanya Nani bilang kalo di kontrakannya dia tertekan karena &#8216;dipaksa&#8217; ikut kajian sama mbak-mbak jilbaber. Demi mendengar itu aku datang ingin tahu gimana kontrakan para jilbaber, kok berani kayak gitu. Aku sarankan untuk tidak nurut kalo diajak ngaji en pesan untuk nggak mudah percayai mereka.</p>
<p>Begitu pula pas Nani en sesama MaBa di sana disuruh pake jilbab. Kubilang nggak usah nurut karena saat itu bagiku pake jilbab itu aneh, adanya cuma di Arab sana. Ngapain ikut-ikutan. Lagian nggak &#8216;mbois&#8217;, kayak ibu hamil. Seketika temen-temen di sana mengamini ucapanku. Sejak itu aku sering ke sana demi mendukung mereka supaya nggak terpengaruh. Puncaknya pas ada pesantren? yang diadain LDK kampusku. Nani dan teman-temannya yang &#8216;dipaksa&#8217; ikut melapor ke aku. Akhirnya kusarankan untuk kabur beberapa hari dan salah seorang kuajak nginep di kos salah satu temen di universitas lain. Aku &#8216;menyelamatkan&#8217; teman-teman dari ajakan mbak-mbak itu.</p>
<p><strong>Titik balik</strong></p>
<p>Akhir semester pertama aku kesandung masalah perasaan. Entah karena aku yang gede rasa atau apa, rasa itu tumbuh bermula dari pertemanan. Walhasil pas dia tiba-tiba menghilang dan nggak mau komunikasi, keadaan ini yang bikin aku <em>down</em> beberapa bulan. Nggak ada semangat karena aku nggak ngerti kenapa dia pergi.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian aku ketemu Mbak Afi lagi di wartel. Iseng kusapa dan godain. Dari sanalah aku diajak main ke kosnya. Di sana pula aku diajak diskusi seputar remaja, mengenai naluri dan kebutuhan jasmani dan gimana pemenuhannya. Salah satunya naluri suka lawan jenis seperti kasus yang menimpaku.</p>
<p>Sejak itu aku mulai terpengaruh pemikirannya terutama masalah politik, sampe dipinjami beberapa majalah yang khusus bahas politik Islam. Bahasan seputar keadaan umat Islam di negara lain yang sedang dianiaya, kewajiban dakwah, dan penegakan hukum-hukum Islam lainnya sempat bikin pusing. Aku musti nagapain? Semakin kubaca makin aku geram karena ternyata umat Islam menghadapi masalah besar. Dunia yang kukira sempit ternyata luas dan aku tampak kecil. Pusing itu aku bawa pulang sambil bawa beberapa majalah itu. Kali aja aku bisa <em>fresh</em>. Mbak Afi nggak tahu kalo aku pusing.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian muncul keinginan untuk ngaji ama Mbak Afi. Aku ingin tahu lebih jauh tentang Islam. Anehnya aku jadi getol cari kajian di kampus. Aku selalu lihat papan pengumuman tiap kali kuliah. Jelas nggak ada karena pada UAS trus libur. Nani en <em>friends</em> yang dulunya sempat kucegah ikut kajian, jadi heran dengan perubahanku. Biarin aja, &#8220;Emang gue pikirin?&#8221;</p>
<p><strong>Awalnya jilbab kubenci, tapi akhirnya kucintai</strong></p>
<p>Aku aku sering ikutan kajiannya mbak-mbak dan kenal banyak akhwat. Tapi pas materi jilbab, jujur, aku belum terima. Aku tetap pake jins, kemeja panjang kecil, plus kudung gaul. PD aja, pikirku waktu itu. Bagiku, aku akan pake kalo udah bener-bener mantep. Bukan karena nyenengin hatinya mbak-mbak itu. Tapi kajian tetep jalan terus.</p>
<p>Suatu ketika, aku ingin coba pake rok yang dulu sempat ingin kupake kuliah tapi tersimpan rapi di lemari. Kukeluarkan dan kucoba pake kuliah. Awalnya grogi juga. Apalagi pas ketemu mbak kosku di jalan ngeledekin begini, &#8220;Hei, preman kok pake rok?&#8221;. Langsung aja aku ngibrit, malu diliatin orang. Maklum di kosan aku dijuluki preman karena tomboy dan suka bikin ribut. Sejak itu anak di kosku heran lihat aku bisa pake rok meski pas jalan masih kelihatan gaya cowoknya. Sampe-sampe ada yang ngajari aku jalan ala cewek.</p>
<p>Kelar D-1, aku ikutan SPMB. Kali ini aku dah kepincut ama akhwat di sana dan ide yang mereka bawa. Akhirnya kuputuskan memilih kampus yang sama saat aku kuliah D-1. Aku pindah kos ama gengku dari kos lama. Kos baru yang kutempati ternyata tempat ujian kami semua. Mbak kos baru orangnya sekuler dan dikatator abis, doyan dugem, pacaran, en tiap hari rajin muter <em>house music</em> plus jejeritan. Kadang suka marah kalo nggak sesuai keinginannya. Kita anak baru diem aja, sungkan soalnya mereka lebih tua. Aku mulai rajin ikut halaqoh. Aku juga gabung ama LDF (Lembaga Dakwah Fakultas). Makin banyak yang kutahu, makin renggang pula aku ama gengku karena sudah beda pemikiran. Mereka lebih nyaman dengan kebebasannya daripada &#8216;terkekang&#8217; aturan Islam.</p>
<p>Di penghujung tahun saat wisuda temenku yang lain universitas, aku datang demi memberikan ucapan selamat atas wisudanya. Sebelumnya aku sudah cerita tentang aktivitasku dan rencanaku mengenakan jilbab (sampe saat itu aku masih belum pake jilbab, cuma rencana). Tapi dia menentang habis karena jilbab mengekang kebebasan wanita.</p>
<p>Kupikir akan dapat dukungan, tapi nggak. Di wisudanya itu, saat pertama bertemu muka yang dia tanyakan adalah jilbabku. &#8220;Mana, katanya pake?!&#8221; Deg, nggak nyangka jika itu jadi awal percakapan kami, apalagi di depan umum. Aku belum sempat ucapkan selamat, tapi dia sudah menyodokku dengan pertanyaan itu. Bagai disambar petir di siang bolong, aku kaget gelagapan kayak orang ?nggak pake baju sambil melongo.</p>
<p>Setelah sadar kualihkan pembicaraan, memberikan ucapan selamat. Aku terpukul dan malu. Setelah itu, tanpa basa-basi aku ijin pulang dengan perasaan terheran-heran. Malamnya aku renungkan kejadian itu dan kupikir itu mungkin teguran Allah agar aku segera pake jilbab. Sejak itu kubulatkan tekad untuk mengenakan busana muslimah lengkap (jilbab dan kerudungnya) dengan dukungan teman terdekatku yang menemani dari awal sampe hari ini untuk tetap lurus di jalanNya dan hijrah ke kos lain. Sayangnya, kontrakan Nani dkk bubar karena kontrak abis dan mereka tetep &#8216;jahiliyah&#8217;. <em>Astaghfirullahal&#8217;adzim.</em> <strong>[Seperti yang ditulis Larahati di Kota M untuk SoDa]</strong></p>
<p><em>[Pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Februari 2006]<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kenanganku-tentang-jilbab/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Multikulturalisme atau Tauhid?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/multikulturalisme-atau-tauhid</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/multikulturalisme-atau-tauhid#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 07:16:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2537</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah naskah pidato pengukuhan seorang guru besar bidang Sosiologi Agama di sebuah Universitas di Jawa Timur. Judul pidatonya adalah &#8220;Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial&#8220;.? Karena pidato itu berisi gagasan-gagasan mendasar tentang rencana pengembangan studi agama-agama di Perguruan Tinggi Islam, maka wajib untuk dicermati. Apalagi, sang professor secara terbuka menyatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah naskah pidato pengukuhan seorang guru besar bidang Sosiologi Agama di sebuah Universitas di Jawa Timur. Judul pidatonya adalah &#8220;<em>Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial</em>&#8220;.? Karena pidato itu berisi gagasan-gagasan mendasar tentang rencana pengembangan studi agama-agama di Perguruan Tinggi Islam, maka wajib untuk dicermati. Apalagi, sang professor secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).</p>
<p>Gagasan penting yang diusung oleh sang Profesor tersebut rencana pengembangan studi agama berbasis paham multikulturalisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama. Ia menulis tentang masalah ini:<span id="more-2537"></span></p>
<p>&#8220;Gagasan Nurcholish Madjid tentang titik temu agama-agama atau gagasan kesatuan transcendental agama-agama (<em>the transcendent unity of religions</em>) Frithjop Schuon, semakin memberikan afirmasi baik secara teologis maupun filosofis tentang pentingnya pengembangan studi agama berbasis multikulturalisme. Penggunaan konsep multikulturalisme dalam studi agama, dengan demikian, tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Multikulturalisme bahkan dapat menempati posisi sebagai kerangka berpikir, atau epistemologi, untuk memahami serta mendiseminasikan gagasan titik temu di antara pelbagai agama. Bila dalam hubungan antarumat beragama lebih ditekankan paham kesatuan - meskipun tetap menyadari adanya perbedaan pada level eksoterik - maka konflik dan aksi kekerasan bias dikurangi, bahkan dikikis. Studi agama berbasis multikulturalisme dengan demikian dapat menumbuhkembangkan budaya nirkekerasan, yakni suatu nilai pengetahuan, perasaan, dan sikap yang mengakui dan menghargai perbedaan, serta kesediaan bekerjasama atas dasar kesatuan transcendental.&#8221; (hal. 47).</p>
<p>Pada bagian lain, sang profesor menulis, bahwa modal saintifik untuk mengembangkan studi agama berbasis multikulturalisme telah tersedia. Yakni, sejak dua dasawarsa terakhir, dalam dunia intelektualisme Islam di Indonesia muncul mazhab pemikiran (<em>school of thought</em>) yang disebut dengan Islam Liberal.&#8221; (hal. 17).? Ia pun? mengusulkan, agar &#8220;Studi agama di Perguruan Tinggi Muhammadiyah perlu mempertimbangkan multikulturalisme dan modal sosial. Inti dari studi agama adalah mengembangkan pemahaman terhadap pelbagai dimensi yang terdapat dalam agama.&#8221; (hal. 29). Katanya lagi, &#8220;Studi agama berbasis multikulturalisme, dengan demikian, dapat diartikan sebagai suatu usaha mengembangkan mengembangkan? pemahaman agama yang menghargai perbedaan dan kesediaan bekerjasama atas dasar persamaan kemanusiaan.&#8221; (hal. 45).</p>
<p>Membaca naskah pidato sang guru besar ini, pada satu sisi saya bersyukur, bahwa di kalangan Perguruan Tinggi Islam telah muncul lagi guru besar bidang sosiologi agama yang kreatif, cerdas, dan pintar menulis.? Potensi-potensi umat Islam seperti ini perlu dipelihara dan dikembangkan lebih jauh. Harapan sang profesor untuk terciptanya suatu kehidupan masyarakat yang damai dan jauh dari konflik antar-umat beragama, tentu harus kita sambut baik. Tetapi, sebagai sesama Muslim, kita juga diwajibkan untuk bersikap kritis dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Jika kita mengkritik gagasan sang guru besar tersebut, tentu kita juga berharap agar sang profesor menyadari bahwa gagasannya tidak sepenuhnya benar. Bahkan, dari sudut pandang pemikiran Islam gagasan pengembangan faham liberal dan studi agama berbasis multikulturalisme, sangat bertentangan dengan ajaran Tauhid.</p>
<p>Sebagai Muslim, kita tentu ingin menjadi Muslim sampai mati. Kita tentu juga tidak menginginkan, Islam kita pakai hanya saat-saat tertentu saja. Ketika akan masuk pesantren, kita ambil Islam. Pada saat bertemu dengan berbagai kalangan agama lain, lalu kita katakan, bahwa kita tidak melihat agama-agama lain dari sudut pandang Islam, tetapi dari sudut pandang yang netral agama. Sikap seperti ini adalah produk pemikiran sekular.</p>
<p>Kita tentu juga ingin, bahwa kita mati dalam keadaan Muslim. Maka, keislaman kita seyogyanya, juga kita bawa ke mana pun kita berada. Ketika kita SD, kita menjadi Muslim dan berpikir sebagai seorang Muslim. Begitu kita seyovgyanya, ketika kita lulus sarjana, apalagi menjadi guru besar, maka kita pun ingin agar kita tetap Muslim: hidup secara Islami, berperilaku sebagai seorang Muslim, dan berpikir sebagai Muslim. Itu, menurut saya,? logika yang sederhana dan benar.</p>
<p>Maka, bukankah sudah seharusnya, ketika kita ingin mengembangkan suatu sistem teori atau pendidikan, maka kita pun kemudian mendasarkan kepada Islam. Menurut pikiran saya, sebagai seorang muslim, sebaiknya studi apa pun yang kita kembangkan - apakah studi kedokteran, studi ekonomi, studi politik, dan sebagainya - seyogyanya tetap berdasarkan kepada aqidah Islam atau Tauhid.</p>
<p>Apalagi untuk pengembangan suatu &#8220;Studi Agama&#8221;!?? Mengapa kita harus malu untuk menyatakan, bahwa di Perguruan Tinggi kita &#8212; yang juga menyatakan identitas Islam - dikembangkan studi agama berbasis Tauhid?? Mengapa kita harus berbangga menyatakan, bahwa kita mengembangkan Studi Agama berbasis multikulturalisme?? Apa salahnya jika kita mengembangkan studi agama-agama berbasis Islam atau berbasis aqidah Islam. Apakah kita takut dicap eksklusif, berpikiran sempit, subjektif, dan sebagainya? Jika benar kita takut, maka memang ada problem mental. Bukan sekedar problem intelektual. Jika bukan karena takut, tentu ada kekeliruan berpikir yang perlu diluruskan.</p>
<p>Menurut hemat saya, di seluruh lembaga pendidikan Islam, baik di lingkungan Muhammadiyah, NU, Persis, Dewan Da&#8217;wah Islamiyah Indonesia,?? atau yang lainnya -studi agama yang dikembangkan haruslah studi agama yang berbasis Tauhid, yakni berbasis kepada prinsip Tauhid,? &#8220;<em>La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah</em>&#8220;.? Sebab, orang-orang yang aktif di lembaga-lembaga Islam itu sudah mengaku Muslim dengan mengikrarkan syahadat.</p>
<p>Prinsip Tauhid jelas tidak bertentangan dengan konsep kerukunan umat beragama.?? Dengan perspektif Tauhid maka, manusia diajak untuk menerima Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad saw sebagai satu-satunya perantara menuju Allah. Sebab, tanpa keimanan dan kerelaan untuk menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai &#8220;<em>uswah hasanah</em>&#8221; dalam ibadah dan kehidupan,? manusia pasti gagal untuk mengenal Allah dengan benar dan tidak dapat beribadah dengan benar. Ini adalah prinsip Tauhid yang dipegang teguh oleh kaum Muslim sepanjang sejarah.</p>
<p>Maka, prinsip Tauhid ini jelas bertolak belakang secara diametral dengan konsep Kesatuan Transendensi Agama-agama (KTAA) yang memberikan keabsahan pada semua bentuk ibadah kepada Allah. Konsep KTAA seperti dipromosikan oleh sang profesor tersebut jelas memberikan legitimasi terhadap bentuk penyembahan terhadap Tuhan apa pun selain Allah. Marilah kita renungkan, dari posisi kita sebagai Muslim, apakah konsep KTAA semacam itu sesuai dengan aqidah Islam?? Soal kerukunan umat beragama, umat Islam tidak perlu mengadopsi konsep-konsep dari luar Islam. Sejarah menunjukkan, bagaimana Rasulullah saw dan para Khulafaurasyidin telah menunjukkan keteladanan yang tinggi dalam menciptakan kerukunan umat beragama, dengan tetap meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang diterima Allah.</p>
<p>Konsep KTAA yang dijadikan panutan oleh sang profesor Sosiologi Agama tersebut jelas sangatlah bermasalah. Ia menulis: &#8220;Dengan temuan ini, Mohammad Sabri selanjutnya merekomendasikan agar studi agama-agama di masa depan lebih diorientasikan pada upaya-upaya mencari titik temu, dari pada memperdebatkan perbedaan.&#8221; (hal. 15).</p>
<p>Jurnal ISLAMIA Harian <em>Republika-INSISTS</em> (14/5/2009) membahas secara panjang lebar kekeliruan gagasan KTAA tersebut.?? Teori KTAA yang dipromosikan Rene Guenon, Fritjop Schuon, Houston Smith, Nurcholish Madjid, dan sebagainya, adalah teori yang sangat lemah, dan bertentangan dengan prinsip Tauhid. Sebab, KTAA memberikan legitimasi pada berbagai praktik kemusyrikan.?? Kritik yang mendasar terhadap teori ini lihat buku <em>Prolegomena to the Metaphysic of Islam</em> karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.? Adanya &#8220;kesatuan transenden&#8221; pada agama-agama adalah sebuah khayalan.</p>
<p>Menurut hemat saya, sebagai seorang Muslim, seorang ilmuwan Muslim seharusnya senantiasa melihat sesuatu dalam sudut pandang Islam (<em>Islamic worldview</em>), termasuk ketika melihat agama-agama lain. Ini berbeda dengan ilmuwan sekular yang melihat agama-agama pada posisi netral agama, yang tidak bersandar pada pandangan satu agama tertentu. Dalam pandangan Islam, keimanan kepada Nabi Muhammad saw memegang posisi sentral bagi bangunan keimanan dan pemikiran seorang Muslim. Tanpa keimanan kepada Nabi Muhammad saw, tidak mungkin seorang mengenal Allah dengan benar, dan tidak mungkin tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah yang benar.? Artinya, syariat yang benar adalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Jadi untuk menuju Allah, maka jalan yang benar adalah mengikuti syariat Nabi Muhammad saw.? Itulah keyakinan Islam.</p>
<p>Sangat keliru jika seorang Muslim menyatakan, bahwa semua agama - apapun cara ibadahnya - adalah sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Padahal, syahadat orang Muslim sudah menegaskan, bahwa &#8220;Tidak ada Tuhan selain Allah&#8221;. Ini artinya, seorang Muslim harus menyembah satu-satunya Tuhan, yaitu Allah, bukan <em>Yahweh</em>, bukan Lata, bukan Uzza, bukan Setan, dan bukan Tuyul. Jika ada agama yang memiliki ritual penyembahan Tuyul atau menyembah Tuhan dengan cara telanjang sambil berjalan mengelilingi kampus, maka ibadah seperti itu pasti batil, karena tidak sesuai dengan syariat Nabi Muhammad saw.? Seorang ilmuwan Muslim mestinya merenungkan, ketika dia melihat agama-agama selain Islam, di mana dia berdiri? Apakah berdiri di atas dasar agamanya atau dia berdiri di atas titik yang netral agama?</p>
<p>Sebenarnya, sudah sangat banyak kritik terhadap gagasan KTAA. Tetapi, sang profesor sepertinya tidak mau tahu. Bahkan, dia menulis: &#8220;Upaya mencari titik temu antar pelbagai kelompok agama secara lebih mendasar dikembangkan oleh seorang tokoh mistikus kontemporer Frithjop Schuon (1984). Gagasan Frithjop Schuon dikatakan lebih mendasar karena menjadikan dimensi transendental agam-agama. Bagi Frithjop Schuon, di balik perbedaan pada masing-masing agama, tetap ada peluang dipertemukan mengingat kesamaan pada dimensi transendentalnya. Semua agama, apapun bentuk eksoteriknya (tata cara beribadah, tempat ibadah, ungkapan-ungkapan bahasa agama, dan perbedaan bersifat simbolik lainnya), kata Frithjop Schuon, berjumpa pada ranah transendental, yaitu Tuhan. Inilah dimensi esoterik agama, sekaligus jantung semua agama (the heart of religion).&#8221; (hal. 46).</p>
<p>Cobalah kita renungkan pemikiran sang professor yang begitu menggebu-gebu mengadopsi gagasan KTAA, untuk mencari-cari titik temu agama-agama? Gagasan itu sebenarnya adalah murni khayalan dan sebuah ungkapan yang asbun (asal bunyi). Ketika sang professor menyatakan, &#8220;semua agama&#8221; cobalah kita tanya pada dia,? benarkah dia sudah meneliti &#8220;semua agama&#8221; yang ada?? Bukankah di dunia ini ada ribuan agama?? Agama apa saja yang sudah ditelitinya?? Jadi, ucapan &#8220;semua agama&#8221; begini atau begitu adalah sebuah ungkapan&#8221;asbun&#8221;, meskipun keluar dari mulut seorang profesor.</p>
<p>Teori KTAA juga sangat na?f dan absurd, karena tidak mempersoalkan aspek eksoterik (tata cara beribadah, tempat ibadah, ungkapan-ungkapan bahasa agama, dan perbedaan bersifat simbolik lainnya) dan lebih mementingkan aspek esoterik. Untuk melihat kebatilan teori semacam itu, maka kita tidak perlu menjadi seorang professor. Sebab, kebatilannya sangat jelas. Dalam Islam, aspek syariat (eksoterik) sangat penting. Bentuk ibadah adalah hal yang sangat mendasar dalam Islam. Islam tidak memisahkan aspek eksoterik dan aspek esoteric.? Islam secara tegas menolak bentuk ibadah yang sah, selain yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Justru salah satu misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw adalah untuk memberi petunjuk kepada manusia tentang bagaimana cara beribadah yang benar.? Beliau diutus untuk semua manusia, sebagai uswah hasanah. Misi Nabi Muhammad saw bukan hanya ditujukan untuk orang Islam saja. Jadi, dalam Islam, aspek eksoterik dan esoteric adalah sama-sama penting. Menurut Islam, untuk menggapai esoterik yang benar, maka seseorang juga harus menjalankan tata cara ibadah yang benar, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Inilah perspektif Tauhid dalam melihat agama-agama. Jika prinsip Tauhid ini hendak digusur dari pengajaran Studi Agama di Perguruan Tinggi Islam - dan digantikan dengan perspektif multikulturalisme dan KTAA seperti gagasan sang profesor tersebut &#8212; maka pada hekikatnya, itu sama saja dengan pembubaran Islam itu sendiri.? Mungkin sang profesor tidak sadar akan kekeliruan dan dampak dari gagasannya. Mungkin juga dia sadar dan sengaja mempromosikan gagasan tersebut, karena menganggapnya sebagai hal yang baik dan benar.</p>
<p>Kita berharap, mudah-mudahan, Perguruan Tinggi Islam tidak tergoda oleh gagasan sang Profesor dari Jawa Timur tersebut, yang ingin menggusur prinsip Tauhid dalam studi agama dan menggantikannya dengan prinsip multikulturalisme. [Depok, 25 Mei 2009/<a href="http://hidayatullah.com/index.php/kolom/adian-husaini/9428-multikulturalisme-atau-tauhid" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan <a href="http://hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/multikulturalisme-atau-tauhid/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Prom Night</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/prom-night</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/prom-night#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 05:23:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<category><![CDATA[dugem]]></category>

		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>

		<category><![CDATA[prom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2514</guid>
		<description><![CDATA[ edisi 084/tahun ke-2 (7 Jumadil Akhir 1430 H/1 Juni 2009)
Kayaknya nggak ada abisnya teman remaja bikin heboh. Sekarang ini, selain teman remaja lagi pada sibuk nyiapin untuk ujian masuk ke perguruan tinggi negeri atau nyari SMA favorit buat nerusin sekolah, ternyata nggak sedikit juga yang justru nyiapin pesta perpisahan. Istilah kerennya, Prom Night. Istilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> edisi 084/tahun ke-2 (7 Jumadil Akhir 1430 H/1 Juni 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Kayaknya nggak ada abisnya teman remaja bikin heboh. Sekarang ini, selain teman remaja lagi pada sibuk nyiapin untuk ujian masuk ke perguruan tinggi negeri atau nyari SMA favorit buat nerusin sekolah, ternyata nggak sedikit juga yang justru nyiapin pesta perpisahan. Istilah kerennya, <em>Prom Night</em>. Istilah <em>prom</em>, diambil dari kata <em>promenade</em> yang artinya pergi jalan-jalan dengan orang lain. Kalo <em>prom night</em>, jalan-jalannya berarti berdansa dengan orang lain (dan biasanya ya malam hari, gitu).Walah?<em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Prom night</em> ini lagi heboh-hebohnya diobrolin. Biasalah, menjelang akhir sekolah. Nggak di kantin, nggak di kelas, malah sampe di WC saat &#8216;download&#8217; sekalipun yang jadi bahan obrolan adalah seputar <em>prom night</em> (idih, sempet-sem?petnya! Hati-hati aja saat download &#8216;file&#8217;-nya <em>corrupt</em> karena terputus koneksinya.. hahaha&#8230;). Duh, apa nggak ada bahan obrolan lain? Misalnya, tentang rencana kalo udah lulus mau ngapain. Tapi ya, inilah fakta sebagian besar teman re?maja kita. Gaulnya yang nggak-nggak aja.<span id="more-2514"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, namanya juga pes?ta, apalagi pesta yang katanya cuma sekali seumur hidup, pastinya kudu tampil <em>all out</em> tuh. Dari mulai dandanan, <em>make up</em>, tunggangan, tongkrongan, sampe gacoan. Singkat kata, kudu berani tampil beda dan sedep dipandang mata. Itu sebabnya sebagian besar teman kamu ada yang udah siap-siap dari sekarang untuk ngada?in pesta perpisahan sekolah itu, yang tentunya bakalan tampil jor-joran pas acara prom night.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, karena merasa kudu tampil <em>all out</em>, maka soal dandanan pun kudu yang ciamik <em>en</em> menarik. Pakaian dengan model yang simpel dan minim detil yang seka?rang lagi ngetren, dijamin nggak bakalan luput dari daftar belanjaannya anak cewek. Maklum, <em>dress code</em> untuk acara prom night ini diwajibkan sama panitanya. Belum lagi kudu nyiapin aksesoris yang meriah tapi romantis. Sampe soal makanan, minuman, mo?del acara, dan tentunya soal jenis musik udah disiapin dan disusun anggarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Urusan jenis musik juga katanya kudu heboh dong. Nggak seru dong kalo <em>prom night</em> musiknya dang?dut, apalagi campursari. Yah, paling apes lagu yang dipilih adalah <em>Lupa-Lupa Ingat</em>-nya Kuburan Band, kali ye. Biasanya sih yang pada bikin acara prom night milihin lagunya adalah lagu-lagu yang asyik punya, tipe &#8220;world music&#8221; seperti? <em>Because of You</em> milik Kelly Clarkson, <em>Smack That</em>-nya Akon, atau <em>Kiss A Girl</em>-nya Keith Urban. Pokoknya yang seru-seru gitu deh, meskipun tuh lagu &#8216;rasa bule&#8217; dinyanyiin ama band sekolahan yang suaranya so pasti cempreng abis hehehe.. (sori, ini bukan muji vokalisnya grup band dadakan sekolahmu).</p>
<p style="text-align: justify;">Well, inilah pesta anak muda yang kata?nya sekalian &#8220;syukuran&#8221; kelulusan. Mereka me?rasa bahwa inilah saat yang tepat untuk mem?buat kenang-kenangan, dan bersenang-senang tentunya. Oya, karena <em>Prom Night</em> adalah acara spesial, maka kudu memakai dandanan yang spesial, tunggangan spesial, makanan dan mi?numan yang spesial juga, termasuk gebetan yang tentunya istimewa. Biar bisa dipamerin ke teman-teman yang datang di acara <em>glamour</em> itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and Gals, teman remaja yang punya rencana ngegelar hajatan itu, makin panas aja karena dikomporin dengan maraknya media massa remaja yang mendukung niat dan tekad mereka. Gimana pun juga dari mulai sekarang udah marak tuh ngasih info soal prom night yang ujungnya hura-hura dan hedonis dah. Ya, khas budaya kapitalis. Hambur-hambur duit (itu pun abis nodong dari ortu pula). Kalo pun ada yang nabung, malah udah sejak SD (buset, sekalain aja nabungnya sejak dalam kandungan ibu kali ya? hehehe.. ngarang deh!).</p>
<p style="text-align: justify;">Budaya kayak gini emang maraknya di kota-kota besar dan sepuluh tahun belakangan ini. Jaman Fir&#8217;aun ngisep cerutu kayaknya belum ada deh (owh, jauh banget tuh!). Tapi kalo udah jaman teknologi informasi kayak sekarang, di desa-desa juga udah ikutan juga meski tak semewah dan seheboh di kota besar. Belum survei sih, tapi kalo pesta perpisahan mah umumnya di tiap sekolah ngadain. Malah yang diminta sumbangan dana juga melibatkan kelas satu ama kelas dua di SMP atau SMA. Kelasnya tiganya sih udah pasti, wong mereka yang punya hajat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ajang gaul bebas</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bener. Nggak boong. Selain bikin nguap duit jutaan rupiah, <em>prom night</em> ini juga memberi peluang bagi pesertanya untuk bebas bergaul dengan lawan jenis. Apalagi memang acara ini udah punya tujuan khusus, yakni tampil menarik bareng gandengan. Rasanya nggak seru kalo kebetulan nggak bawa kecengan datang ke <em>prom night.</em> Tanpa gebetan nekad datang ke pesta seheboh itu? Wah, tentu bikin sebel dong. Tentu, ini berlaku bagi yang tujuan datang ke prom night? adalah emang pengen pamer gebetan. Malu dong, kalo datang sendirian entar doi request lagunya &#8220;Cari Jodoh&#8221;-nya Wali Band. Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, emang sih kalo menuruti hawa nafsu, kayaknya asyik banget tuh pergi ke pesta perpi?sahan bareng gandengan. Sekalian bisa nunjuk?kin ke teman-teman kalo dirinya cukup pantas untuk mendapatkan gebetan. Syukur-syukur yang jadi gacoan kamu itu orangnya <em>cool</em> en <em>cute</em> banget kayak gerombolannya Kuburan Band atau <em>The Changcuters</em> (lha, nggak salah nih?). Wuih, betapa bahagianya hati ini. Rasanya kaki kamu udah nggak nginjek tanah lagi. Terbang! <em>Zwiiiing&#8230;!</em> Saking senengnya tentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, kalo sekadar gaul bebas sih, tanpa ada acara semacam prom night juga udah biasa dilakuin banyak remaja saat ini. Sepertinya udah jadi kesepakatan umum di masyarakat kalo masa remaja adalah masa-masa indah menjalin hubungan cinta kasih dengan lawan jenisnya. Halah, itu mah racun maut buat ngejerumusin remaja yang gede hawa nafsu, tapi lemah iman. Jadi kayak ada semacam legitimasi untuk ngelakuin perbuatan tersebut. Iya nggak sih? Jangan sampe deh ya. Malu ah, apa kata Allah Swt.?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalo ngeliat gelagatnya sih, pesta <em>prom night</em> ini udah ketahuan bakalan jadi ajang bebas. Gimana pun juga, itu emang ngasih peluang, Bro. Apalagi yang datang ke acara tersebut emang udah niat banget. Klop deh: niat ketemu ama kesempatan. Kata Bang Napi yang ngetren jaman dulu itu, &#8220;Ingat, kejahatan itu bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah!&#8221; Hehehe.. So, kalo pengen aman sih, nggak usah niat dan nggak usah dateng ke tempat acara prom night, gitu lho.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ngedugem</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ugh, kalo liat mereka yang udah pasang kuda-kuda untuk menggelar pesta <em>prom night</em> itu, rasanya kita sedang berada di tengah-tengah kalangan berkantong tebel. Gimana nggak, dandanan, makanan, minuman, model acara, tunggangan, dan juga pagelaran musik dibikin super heboh. <em>Booking</em> gedung mewah, datengin artis terkenal, sampe nyewa MC top. Dan untuk semua keperluan itu, nggak mungkin cukup ngeluarin duit sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Amrik sono, asal budaya <em>prom night</em> ini, yang biasa ngadain adalah anak-anak <em>grade</em> 12 (setara dengan kelas 3 SMU). Maklum, mereka udah siap-siap cabut dari sekolahnya. Sebelum cabut, lebih seru dong kalo ngadain acara <em>prom night</em> itu. Mengutip laporan majalah <em>GADIS</em>, buat anak cewek Amrik, <em>prom night </em>adalah <em>a big deal</em>. Saking <em>big deal</em>-nya, mereka nekat membeli gaun yang harganya 500 dollar! (sekitar 5 jt perak bila 1 dollar setara dengan Rp 10.000) Hih, gila-gilaan deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak cukup dengan dandanan aja, anak cewek di negeri Paman Sam juga bela-belain nyari pasangan <em>prom</em> (<em>date</em>), yang bakal ngasih <em>corsage</em> (bunga plastik untuk dipakai di perge?langan tangan). Dan biasanya anak cowok rela nyewa tunggangan sekelas limousine untuk menjemput pasangannya. <em>Wacksss&#8230;.</em>itu kan mobil kelas <em>jetset</em>? Justru karena mereka pengen tampil dugem (dunia gemerlap), sobat!</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah acara <em>prom night</em> yang ditunggu-tunggu sebagian besar remaja, termasuk rema?ja di negeri yang kaya dengan utang luar negeri ini. Meski tentunya nggak seheboh bila diban?dingkan dengan acara <em>prom night</em> yang digelar oleh remaja Amrik. Tapi tetap, untuk ukuran kehidupan di musim paceklik ekonomi kayak sekarang, ngadain pesta begitu udah luar biasa (baca: kebangetan!).</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, benar-benar kebangetan kalo sampe ada pesta <em>prom night</em> yang glamor banget. Misalnya saja sampe bikin acaranya di luar pulau atau malah di luar negeri. Bali jadi tujuan, Singapura jadi inceran. Owh.. kayaknya itu udah &#8220;gila&#8221; banget dalam ngamburin duit. Ckckckc&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, terus terang kita prihatin sekaligus khawatir sama teman-teman kita yang begitu. Prihatin, karena ternyata mereka masih bisa tertawa dan menari di atas penderitaan sebagian besar rakyat negeri ini yang memang lagi nelangsa. Jadi menumbuhkan sikap cuek, alias nggak peduli sama orang lain. Dan jelas hal itu juga bikin kita-kita khawatir, sebab kondisi tersebut akan menciptakan gene?rasi aktivis dugem. Kalo udah maniak nge?dugem, rasanya harga diri juga bisa dijual, yang penting tampil keren. Wah, celaka dua belas!</p>
<p style="text-align: justify;">Masih mending yang emang ortunya tajir, bagaimana dengan yang <em>kismin</em> tapi gengsinya gede? Bisa-bisa jemuran orang juga diembat buat beli aksesoris pesta <em>prom night</em>. Ih, jangan sampe deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, jangan lagi berpikir soal gengsi di depan teman-teman. Mahluk yang bernama gengsi itu bila dituruti maunya, ibarat kanker ganas yang bercokol dalam tubuh yang terus menerus menggerogoti hidup kita. Nggak ada matinya! Begitulah gengsi, tidak pernah ada kata berhenti, kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagi pula, sebenarnya orang lain akan menghargai kepribadian kita pada tingkah laku dan cara berpikir, bukan pada penampilan. Memang sih lazimnya manusia, akan mengukur pribadi orang dari penampilan. <em>But</em>, percaya saja kalau kemudian orang akan terpesona pada cara bersikap dan cara berpikir kamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, apa pantas kita bermewah-mewah, sementara di kanan-kiri, bahkan mung?kin depan-belakang kita menjerit-jerit kelaparan. Apa iya kamu tega?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Setelah pesta berlalu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, lulus bukan berarti bebas merdeka dan nggak ada halangan lain. Apalagi bagi kamu yang masih duduk di bangku SMP, tentunya kudu mikirin di SMA mana kamu nerusin belajar. Bagi yang sudah lulus SMA, masih harus dipertegas, mau kuli (he..he..he.. sori, rada bikin merah kuping) atau mau kuliah? Jangan cuma heboh wara-wiri ikutan or ngadain <em>prom night</em>, sementara masa depan kamu masih burem alias kagak nyatra bin jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Lulus bukan berarti selesai pekerjaan kita. Nggak dong. Masih banyak tugas yang kudu kita kerjakan. Kamu yang lulus SMA, tentunya kudu mikirin jauh-jauh hari untuk masa depan kehidupan kamu. Kalo mau kerja, berarti dari sekarang udah nyiapin segala kebutuhan?nya. Daripada uang itu dibuang-buang di acara <em>prom night</em>, mendingan ditabung. Iya nggak? Bagi kamu yang mau nerusin studi, maka udah dari sekarang ancang-ancang. Mau di swasta atau ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri? Itu harus sudah dirancang dari sekarang. Tul nggak?</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and Gals, hidup ini bukan sekadar untuk main-main. Hidup adalah perju?angan, dan itu butuh pengorbanan dari kita. Apalagi untuk urusan masa depan kita. Jangan sampe berani mengorbankan masa depan, ha?nya untuk setitik kenikmatan semu saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmm&#8230; setelah pesta berakhir, kamu mau apa? Sayang banget kalo cuma jadi pelengkap penderitaan bagi negeri yang udah carut-marut ini. Mulai sekarang, berpikir jernih deh. Kita kan seorang muslim. Bisa kan ya? Sip! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/prom-night/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Yuk!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/puasa-yuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/puasa-yuk#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 21:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2476</guid>
		<description><![CDATA[Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?
&#8220;SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat ngejalanin, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,&#8221; begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?</strong></em></p>
<p>&#8220;SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat <em>ngejalanin</em>, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,&#8221; begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar menjalankan ibadah shaum. Ada banyak kegiatan yang Wati suka lakukan. &#8220;Yang paling terkesan kalo ada acara Pondok Ramadhan di sekolah. Wah, heboh habis! Jarang-jarang kan kita bisa makan rame-rame bareng guru dan temen-temen,&#8221; ceritanya gembira.</p>
<p>Lia juga sama, gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Cewek yang kuliah di salah satu STIE di Bogor ini mengaku banyak mengikuti kegiatan positif saat puasa di lingkungan tempat tinggalnya. &#8220;Kebetulan aktif di DKM Masjid dekat rumah. Masjid jadi rame kalo bulan Ramadhan gini. Tiap hari bisa buka shaum gratis, he..he..he&#8230;,&#8221; ujarnya sambil tertawa renyah.<span id="more-2476"></span></p>
<p>Selain itu, di kampusnya dia juga lumayan aktif di rohis. Biasanya, dia dan teman-teman segeng rohisnya juga ngadain buka puasa? bersama meski nggak tiap hari, sanlat Ramadhan, dll. &#8220;Kalau itu sih, udah tradisi,&#8221; katanya seperti model iklan Biskuit Roma di teve itu. Pernah nggak seh malas? &#8221;Yah, namanya orang puasa. Aku juga suka lemes, malas dan kadang mudah emosi. Tapi, kita kan musti bisa menahan diri, kalo nggak puasanya sia-sia dong!&#8221; katanya rada-rada ngeles. Padahal, emang ada benernya sih.</p>
<p><strong>Puasa vs Wanita</strong></p>
<p>Kewajiban berpuasa, diperintahkan Allah SWT bagi laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183 (kamu pasti hafal kan!) yang artinya &#8216;Hari orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kami, agar kamu bertaqwa.&#8217; Begitu pula Sabda Rasulullah: &#8216;Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu&#8217; (HR Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).</p>
<p>Seruan itu bersifat aam atawa umum baik bagi cowok maupun cewek. Artinya, nggak ada alasan buat ninggalin kewajiban itu. Kendati kamu cewek, kamu pasti kuat menjalankan puasa, sama dengan kaum Adam. Karena, Allah SWT Zat Yang Maha Mampu mengukur kemampuan kamu.</p>
<p>Memang, ada saatnya di mana kamu haram meneruskan puasa, yakni jika mendapatkan haid dan nifas (keluar darah sehabis melahirkan). Hanya saja, meski kamu bebas tugas puasa pada saat itu, kamu musti menggantinya (mengqadha&#8217;) di hari lain. Ceritanya, kamu tuh ngutang puasa sama Allah SWT yang musti kamu bayar segera di luar Bulan Ramadhan.</p>
<p>Selain itu, kalo kamu tiba-tiba jatuh sakit yang mengganggu fisik atau mental kamu, maka boleh membatalkan puasa. Syaratnya tetap, wajib mengganti di hari lain. Bagaimana dengan wanita yang hamil dan menyusui? Bila wanita hamil itu ada perasaan takut dengan berpuasa bisa membawa mudharat diri dan janin dalam kandungannya, maka dia boleh tidak puasa. Sebagai gantinya, wajib meng-qadha di hari lain. Sementara jika pertimbangannya karena khawatir akan keselamatan janinnya semata, maka harus meng-qadha di lain hari sekaligus membayar fidyah.</p>
<p><strong>Puasa dan Kesehatan</strong></p>
<p>Selain hukumnya memang wajib, sebetulnya apa sih manfaat puasa? Mungkin ada sudut hatimu yang usil bertanya begitu. Meskpun memang, harusnya nggak perlu kamu tanyakan kenapa musti puasa. Sebab itu kewajiban dari Allah SWT yang nggak perlu dipertanyakan latar belakangnya, tujuan, misi, visi dan manfaat kegiatan itu. (kayak proposal seminar aja). Tapi, wajar kalo kamu penasaran. Orang lapar kok dilarang makan, haus dilarang minum. Aneh, kan! Namun dari sisi medis, bisa dijelasin kok kira-kira manfaat puasa itu apa. Rasulullah sendiri bersabda: <em>Shuumuu nashimuu</em> yang artinya berpuasalah supaya kamu sehat.</p>
<p>Pada waktu melakukan puasa, terjadi perubahan metabolisme tubuh kita akibat penghentian total asupan energi, bahan pembangun serta air selama periode aktif di siang hari. Karena tidak ada asupan energi, tubuh menggunakan cadangan energi yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, sisa-sisa bahan makanan yang tidak diperlukan tubuh tidak menumpuk, melainkan langsung dibuang sehingga tubuh lebih sehat. Pada keadaan puasa ini, kerja lambung dan perangkat pencernaan lain juga berubah. Tentu saja kerjanya jadi lebih enteng, sehingga organ-organ pencernaan bisa sedikit santai dan fungsinya bisa berjalan dengan lebih baik.</p>
<p>Secara keseluruhan, perubahan metabolisme pada seseorang akan tampak secara objektif dan dirasakan dalam bentuk penurunan berat badan. Wajar jika ada yang menjalankan puasa bila ingin melakukan diet penurunan berat badan. Karena memang terbukti, puasa adalah cara yang aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.</p>
<p>Nah, selama puasa banyak perubahan yang terjadi. Pertama, perubahan kebiasaan waktu makan dan minum. Lebih kurang 14 jam mulai terbit fajar sampai terbenam matahari kita tidak makan dan minum. Makan dan minum hanya dilakukan malam dan menjelang pagi. Hal tersebut akan menimbulkan rasa lapar dan haus. Karena perubahan pola makan ini, akan terjadi pula perubahan pada pengosongan lambung. Lamanya pengosongan lambung tergantung isi lambung. Isi lambung yang cair lebih cepat kosong daripada yang padat. Makanan padat banyak yang mengandung karbohidrat akan meninggalkan lambung dalam 2-3 jam. Sedangkan bila banyak mengandung lemak akan lebih lama berada di dalam lambung. Bila kita berbuka atau sahur, kandungan makanan yang kita makan akan mempengaruhi waktu timbulnya rasa lapar.</p>
<p>Saat puasa juga terjadi perubahan pola tidur. Kita harus bangun dini hari untuk makan sahur. Bagi yang tidak biasa bangun shalat malam atau subuh di awal waktu, ini sangat berat. Namun akan segera diterima dan tubuh akan menyesuaikan diri.</p>
<p>Selain itu, juga terjadi perubahan emosi. Ingat, orang lapar biasanya gampang marah. Nah, disinilah diuji untuk mengendalikan amarah, takut, benci, sedih, dll. Pokoknya, semua yang termasuk keluarga stres musti dihindari agar puasanya sukses. Manifestasi fisik dari emosi disalurkan melalui sistem saraf somatik dan otonom. Orang yang marah misalkan, akan terlihat tegang, jantung berdebar keras, dan tekanan darah tinggi. Hal itu tergolong gangguan psikosomatik. Nah, dengan berlatih mengendalikan emosi dan bebas dari rasa berdosa, dapat membebaskan orang dari gangguan psikosomatis itu. So, kejiwaan kamu lebih sehat!</p>
<p>Boks ================</p>
<h3>Kiat Tampil Bugar di Bulan Ramadhan</h3>
<p>MALAS, lemes, nggak bergairah, bawaannya pengin tidur. Itu diantara yang kamu-kamu alami ketika menjalankan ibadah shaum. Akibatnya, kewajiban yang harusnya kelar, kadang jadi terbengkalai gara-gara nuruti nafsu malasmu. Padahal, banyak cara untuk menghindari rasa malas-masalan kamu itu, lho! Nih, ada beberapa kiat yang mudah-mudahan bisa bikin kamu tetep tampil seger buger di Bulan Ramadhan. Simak ya!</p>
<p><em>Pertama,</em> mengatur pola makan, sesuaikan dengan kondisi tubuh. Hal ini berarti kita harus memperbanyak makan pada waktu sahur dan buka, dengan tidak melupakan keterbatasan dan kapasitas perut kamu. Yang lebih diutamakan adalah peningkatan kualitas makanan, bukan hanya kuantitasnya. Misal, agar tidak merasa lemas, makanlah makanan yang mengandung energi tinggi dan mudah dicerna, terutama saat berbuka. Jenis makanan ini harus mengandung kadar gula tinggi, seperti kurma, buah-buahan, kolak, dll. Makanan yang lama dicerna menyebabkan lambung bekerja keras sehingga membuat kita ngantuk. Kasihan dong lambung kamu, abis istirahat dari pagi ampe sore, tiba-tiba suruh kerja rodi.</p>
<p>Jadi, sebaiknya jangan langsung makan besar saat buka shaum tiba. Karena, nasi yang banyak mengandung karbohidrat lama dicerna lambung. Ntar keburu ngantuk abis makan. Padahal kita kan butuh shalat Isya dan Tarawih. Jadi, begitu bedug maghrib terdengar, segera batalkan puasa, tetapi jangan makan berat. Setelah itu shalat Magrib, baru makan besar. Itupun jangan terlalu rakus karena bisa-bisa nggak kuat Tarawih. Makan sahurpun sebaiknya ditutup dengan makanan yang manis karena energi yang terkandung di dalamnya akan tersimpan di tubuh sehingga kita punya cadangan energi yang cukup untuk beraktivitas sehari-hari. Dengan begitu kita nggak lemes.</p>
<p><em>Kedua</em>, mengatur pola kegiatan. Aktivitas sehari-hari memang nggak boleh kendor meski sedang puasa, apalagi yang wajib-wajib. Misalnya ke sekolah, belajar, ngaji, membantu orangtua dan juga berdakwah. Tapi, waktunya harus diatur agar tidak seharian penuh semua aktivitas dilakukan. Jadi, tenaga jangan diforsir. Adapun aktivitas yang mubah, boleh-boleh saja tidak dilakukan atau dikurangi frekuensinya. Daripada nonton TV atau jalan-jalan ke mal misalnya, mending buat tidur untuk hemat energi. Lagian, tidurnya orang puasa kan berpahala. (Eit, ini bukan pelegalan untuk tidur melulu, ya!) Atau, mending buat baca buku yang nggak terlalu meres keringet.</p>
<p>Demikian pula olahraga, tetep bisa dilakukan. Tapi, kuantitasnya diturunin, sesuaikan dengan energi. Kalo biasanya kuat fitness berjam-jam misalnya, kurangi jadi cukup 30 menit aja. Sebaiknya olahraga dilakukan sore hari menjelang buka puasa. Sehingga, begitu energi kamu habis, gak pake nunggu lama bisa menggantinya karena waktu berbuka tiba. Perlu dicatat, kalo aktivitas sehari-hari kamu telah menuntut kegiatan yang mirip olahraga, misal banyak lari (kegiatan apa yang banyak lari, ya??), banyak jalan atau naik-turun tangga, itu cukup sebagai pengganti olahraga.</p>
<p><em>Ketiga</em>, mempersiapkan mental, hati dan pikiran kita. Dalam mensikapi bulan Ramadhan, dibutuhkan penataan dari sisi psikologi. Sertai aktivitas kamu dengan nilai ruhiyah, yakni kesadaran akan hubungan kamu dengan Allah SWT, bahwa puasa dalam rangka taqarub, mendekatkan diri pada-Nya. Jadi, bukan dengan motivasi lain, menurunkan berat badan misalkan. (Hitung-hitung sekalian diet). Sikap positif, ikhlas, sabar dan tenang dalam menjalankan ibadah Ramadhan akan berpengaruh pada aktivitas kita. Kita jadi nggak malas-malasan, bahkan malah bersemangat empat lima untuk menjalankannya. Bagaimana tidak, wong apapun yang kita lakukan, bila bernilai pahala maka akan mendapat ganjaran berlipat-lipat kok. Bunga rentenir aja kalah. So, buang rasa malas kamu! Bukankah Allah SWT berfirman: Fastabiqul khairat, berlomba-lombalah dalam kebaikan! Tunggu apa lagi! Yuk? berlomba-lomba mengejar pahala buat bekal di Hari Akhir!![<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, edisi Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/puasa-yuk/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mawar Telah Bertangkai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mawar-telah-bertangkai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mawar-telah-bertangkai#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 20:29:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2455</guid>
		<description><![CDATA[By: Imatuzzahra
 
 
Dari jauh terdengar merdu. Asma Allah mengalun sendu. Sejuk. Indah terasa dapat menginjakkan kakiku di kota ini. Ya, kota sedingin salju yang telah kutinggali enam bulan yang lalu.
Malam mulai merayap. Tapi aku bingung harus menginap di mana. Mataku nanar melihat angkot bersiliweran. Wartel. Ya itulah mungkin solusi.
Kupencet-pencet tombol pesawat itu. Nyambung.
Tut&#8230;.tut&#8230;.tut&#8230;.
&#8220;Assalamua&#8217;alaikum&#8221;, sapaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Imatuzzahra</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari jauh terdengar merdu. Asma Allah mengalun sendu. Sejuk. Indah terasa dapat menginjakkan kakiku di kota ini. Ya, kota sedingin salju yang telah kutinggali enam bulan yang lalu.</p>
<p>Malam mulai merayap. Tapi aku bingung harus menginap di mana. Mataku nanar melihat angkot bersiliweran. Wartel. Ya itulah mungkin solusi.</p>
<p>Kupencet-pencet tombol pesawat itu. Nyambung.</p>
<p>Tut&#8230;.tut&#8230;.tut&#8230;.</p>
<p>&#8220;Assalamua&#8217;alaikum&#8221;, sapaku pada seorang wanita di seberang sana.</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikum salam, nyari siapa Mbak?&#8221;, tanya wanita itu.</p>
<p>&#8220;Nawang Sari-nya ada?&#8221;, jawabku dengan balik bertanya.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;Mbak Nawang udah pindah&#8221;, jawabnya pendek.</p>
<p>Deg. Aku menginap di mana. Kosanku di M. Panjaitan sudah buyar 3 bulan yang lalu. Gusar. Akhirnya kuberanikan diri untuk  mengorek informasi.</p>
<p>&#8220;Pindah kemana Mbak?&#8221;, tanyaku gugup.<span id="more-2455"></span></p>
<p>&#8220;Nggak tahu ya, ini ada nomor teleponnya kalo mau&#8221;, tawarnya.</p>
<p>Pyar. Legalah hatiku. Harapan ada di depan mata, walau hanya numpang tidur saja.</p>
<p>&#8220;Berapa Mbak?&#8221;, tanyaku semangat.</p>
<p>&#8220;412913&#8243;, jawabnya  pendek.</p>
<p>&#8220;Makasih Mbak, wassalamu&#8217;alaikum&#8221;, kututup telepon.</p>
<p>Gamang kupencet nomor telepon itu. Aku tak siap bertemu dengan teman-teman lamaku dengan kegagalan ini. Tapi, seandainya akhwat boleh tidur di masjid. Ah, sebel.</p>
<p>412913. Tanganku menombol pesawat dan langsung tersambung.</p>
<p>&#8220;Nawang-nya ada ?&#8221;, tanyaku gugup.</p>
<p>&#8220;Ya, saya&#8221;, jawabnya pendek.</p>
<p>&#8220;Mbak, ini Laila&#8221;, kataku memberi tahu.</p>
<p>&#8220;Laila! Heh&#8230;dek, kamu di mana?&#8221;, tanyanya antusias.</p>
<p>&#8220;Jemput ane di gerbang FE, tak tunggu ya cerita ntar&#8221;, jawabku dan cepat kututup telepon.</p>
<p>Gerbang FE. Aku harus berjalan sekitar 10 menit lagi. Sepi. Fakultas Teknik begitu menyeramkan. Tapi sudahlah Allah bersamaku. Kukuatkan niat dan tekadku. Kakiku pun melangkah dengan tenangnya.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Lima belas menit tepat. Seorang akhwat berkerudung hitam dengan sepeda motornya menghampiriku.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum ukhti, gimana kabar anti?&#8221;, tanyanya dengan memelukku erat. Damai dalam rengkuhannya. Indahnya ukhuwah. Tak terasa air bening menghiasi kelopak mataku. Sejenak saling berpandangan menyemai kasih kerinduan. Dahi saling beradu. Tangan saling menepuk bahu. Berbahagia karena masih diberikan keistimewaan keistiqamahan yang sama.</p>
<p>&#8220;Mbak Nawang mana?&#8221;, tanyaku lugu pada seorang akhwat itu yang rupanya Mbak Diana.</p>
<p>&#8220;Mbak Nawang kan nggak bisa naik motor&#8221;, jawabnya sambil nyewel pipiku.</p>
<p>Oh iya ya, bego banget sih aku ini. Motor pun melaju dengan cepat. Dasar Mbak Diana mau menyaingiku. Sesampai di gang kecil di sebuah jalan Kumis Kucing, motor berbelok. Deg. Berhenti. Ramai rumah itu.</p>
<p>&#8220;Ada apa, dan siapa itu?&#8221;, tanyaku heran melihat ada dua sosok ikhwan di rumah itu tanpa ada selambu hijab.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;.afwan. dia Mas Yudi dan Mas Nur, kita kan baru pindahan. Di sini ada lima akhwat. Rumahnya banyak yang rusak jadi hijabnya belum dipasang. Kami minta bantuan mereka. Rencana mau dijadikan <em>base camp</em>&#8220;, cerita Mba Diana sebelum masuk rumah, seperti tau apa yang ada dalam pikiranku.</p>
<p>Aku hanya diam. Tenggorokan tercekat. Tak menyangka semua berkumpul di sini. Pengurus LSM itu. Ah, subahanallah, mereka tetap kompak seperti dulu. &#8220;Selamat berjuang saudaraku&#8221;, doaku dalam hati.</p>
<p>Tapi, aku malu. Permaiananku dengan ikhwan itu harus berhenti di sini. Ya 1-1 sekarang. Mereka akhirnya tahu sosokku yang sebenarnya. Walau selama ini mereka hanya mendengar suara penuturan materi jurnalistikku dari balik hijab. Yah toh akhirnya ketauan juga.</p>
<p>Ragu kumasuk rumah itu. Dua ikhwan menatapku dan akhirnya tunduk di atas makanannya. Kulari masuk kamar tanpa menggubris mereka. Lemas.</p>
<p>&#8220;Mbak gimana kabarnya?&#8221;, tanya Mas Yudi di ruang tengah. Aku terdiam. Aku ragu menjawabnya. Entah apa yang terjadi di luar sana. Aku cuek bebek. Yang jelas Mbak Diana dan Mbak Nawang menyuruhku untuk menemui mereka.</p>
<p>&#8220;Ini Laila Mas, yang selama  ini ditanyain terus tuh, kayak apa orangnya. Ya ini orangnya. Si bungsu yang dewasa, si kecil yang kelihatan tua.&#8221;, cerocos Mbak Nawang ngeledek diriku.</p>
<p>Aku tersipu. Sempat ge-er karena nggak tahunya aku dalam pikiran mereka. Tapi sudahlah. Astaghfirullah wa naudzubillah, bikin penyakit ati aja.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p align="center">
<p>Hari berganti. Kedatanganku membawa semangat baru. Dakwah mulai digencarkan untuk mewujudkan program LSM yang selama ini hanya sekadar konseptual.</p>
<p>&#8220;Ning, kapan ?&#8221;, Tanya mas Yudi tiba-tiba dengan panggilan khasnya untukku.</p>
<p>&#8220;Apa?!&#8221; aku balik bertanya.</p>
<p>Mas Yudi hanya tersenyum. Kubiarkan saja dia dengan kesibukannya. Tanganku semakin cekatan mengoperasikan komputer di depanku. Ya aku lagi membuat website untuk LSM-ku.</p>
<p>&#8220;Ning&#8230;.&#8221;, panggilnya pelan.</p>
<p>&#8220;Apa sih Bang, kalo nanya cepet nanya, kok bikin orang penasaran aja&#8221;, tanyaku sedikit ketus. Bukannya bantuin malah ganggu aja.</p>
<p>&#8220;Itu&#8230;.kapan nikahnya?&#8221;, tanyanya ragu.</p>
<p>Gubrags! Dari mana dia tahu aku lagi proses. Aku terdiam. Malu. Kubiarkan dia dengan pertanyannya. Adil. Biar dia juga penasaran juga. Dasar akhwat bandel.</p>
<p>Tanganku asyik dengan tombol-tombol keyboard di depanku.</p>
<p>Kulirik dia. Diapun tertunduk diam.</p>
<p>&#8220;Aku pulang dulu, assalamu&#8217;alaikum&#8221;, Mas Yudi nyelonong saja.</p>
<p>Upss! Marah. &#8220;Yah&#8230;wa&#8217;alaikum salam&#8221;, jawabku heran.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Satu  bulan sudah kumengerjakan website. Sempurna. Besok sudah siap <em>di-upload.</em></p>
<p>&#8220;Yes! Selesai! Bagus nggak?&#8221;, ceplosku pada Mbak Nawang dan Mbak Diana.</p>
<p>&#8220;Lihat dong. Sip sip sip&#8221;, puji Mbak Nawang.</p>
<p>Aku tesrenyum puas. Ada sesuatu yang berharga yang bisa kuberikan untuk LSM dan dawah ini.</p>
<p>&#8220;Laila&#8230;jadi pulang ?&#8221;, tanya Mbak Diana tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Emang kenapa?&#8221;, aku balik bertanya, heran.</p>
<p>&#8220;Bukan aku yang tanya, tapi Mas Yudi&#8221;, jawabnya agak ketus.</p>
<p>&#8220;Mas Yudi?!&#8221;, jawabku kaget.</p>
<p>&#8220;Ngapain dia tanya-tanya dan ngapain tanyanya ke anti, bukan ke ane, ih lucu, pertanyaannya pesen lagi. Jangan ngarang ya, dosa lo&#8230;bikin penyakin ati&#8221;, timpalku pada Mba Diana.</p>
<p>&#8220;Ih&#8230;emang benar dia yang nanya kok. Tadi suruh nanyain. Pagi-pagi udah telepon., emang anti pulang jam berapa?&#8221; lanjut Mbak Diana.</p>
<p>&#8220;Nggak tau, jam 1 kali&#8221;, jawabku santai, ya masih asyik dengan website-ku.</p>
<p>&#8220;Lai&#8230;..sebenarnya ada hubungan apasih di antara kalian?&#8221;, Tanya Mba Nawang tiba-tiba.</p>
<p>Deg. Hubungan? Hubungan apaan sih? Aku bingung apa maksud mereka.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;.kalian jangan suudzon dong, aku ama Mas Yudi nggak ada apa-apa. Lagian kalian tahu ane udah punya calon. Dan ingat, kalian lihat sendiri kan sikap aku ane ama Mas Yudi. Lawong setiap hari kalian menemaniku, liat ane dan Mas Yudi di depan mata&#8230;. Ih Dasar!&#8221;, jelasku agak kesal.</p>
<p>&#8220;Iya sih Lai, ane tahu itu. Tapi&#8230;.ya kayaknya ada yang ganjil dan gak beres&#8221;, protes Mbak Diana.</p>
<p>&#8220;Sudahlah Mbak, ane juga sudah ngasih lampu kuning kok ama dia, agar tak menyalahgunakan kepercayaan persaudaraan ini atas dia&#8221;, tandasku pada mereka.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Malam mulai merayap. Tubuhku terasa capek akibat terguncang di atas kereta.</p>
<p>&#8220;Mbak telepon&#8221;, suara keponakanku memanggil.</p>
<p>&#8220;Mas Yudi&#8221;, keponakanku memberi tahu.</p>
<p>Deg. Apalagi maunya. Inlok lagi. Jam sembilan. Wah malam-malam.</p>
<p>&#8220;&#8221;Assalamu&#8217;alaikum&#8221;, sapaku pada seseorang di seberang sana.</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikum salam. Ini Yudi, Ning!&#8221;, jawabnya memberi tahu.</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;apa Bang?&#8221; tanyaku dingin.</p>
<p>&#8220;Lagi ngapain?&#8221; dia balik  tanya.</p>
<p>&#8220;Mau tidur. Capek. Emang ada apa? Udah malam nih. Nggak etis. Kena jam malam lo ntar. Ta bilangkan ke atas tau rasa lo ya&#8221;, jawabku mengancam.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;.kalo boleh saranin kamu cepat nikah&#8221;, celetuknya tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Nikah? Emang kenapa?&#8221;, tanyaku heran.</p>
<p>&#8220;Ya. Sebelum timbul korban baru&#8221;, jawabnya  datar.</p>
<p>&#8220;Korban? Korban apaan? Emangnya kambing kurban yang harus dikorbankan. Sudahlah Bang, aku udah bilang aku berbuat seperti itu kepada semua orang. Tanyakan ama Mas Nur, sikapku ama dia sama seperti kepada Abang. Atau mungkin tanya pada ikhwan lain yang kenal aku. Insya Allah sama. Toh kalo masih ada perasaan itu, ya <em>wallahuallam</em>. Yang jelas aku selalu menjaga ukhuwahku dengan ikhwan agar tak ternodai dengan penyakit hati. Sudahlah sudah malam. Nggak baik tuh ikhwan nelepon akhwat malam-malam&#8221;, tuturku menjelaskan. Memberikan <em>warning</em>.</p>
<p>&#8220;Afwan ya&#8230;.&#8221;, pintanya pendek.</p>
<p>&#8220;Ya nggak ada yang perlu dimaafkan. Mungkin kita harus saling intropeksi diri ajalah. syukron atas sarannya. Wassalamu&#8217;alaikum,&#8221; telepon kututup.</p>
<p>Diam. Aku diam seribu bahasa di dekat telepon. Baru kumerasakan sebuah kebenaran dari perkataan Mbak Nawang dan Mbak Diana. Pilu. Untuk yang  kesekian kalinya aku seperti ini. Siapa lagi yang akan sakit hati. Kenapa prosesku harus tersendat seperti ini. Ya, keluarga ikhwan minta waktu dan aku harus menunggu. Sabar adalah ujianku.</p>
<p>Malam terus merayap. Akupun terbuai oleh mimpi di atas kasurku yang baru. Baru dibelikan oleh ibuku.</p>
<p>Tit&#8230;tit&#8230;Tit..tit..Tit&#8230;tit..suara ponsel membangunkan tidurku. Kulirik jam dinding. Jam tiga pagi. Pasti teman-teman memberi kode untuk <em>qiyamullail</em> nih. Kuberanjak dari tempat tidur. Kusiram wajahku dengan air suci. Segar. Syetan-syetan yang menempel di pelupuk mata pun berterbangan kepanasan.</p>
<p>Rukuk, sujud telah kutunaikan. Doa pengampunan kulantunkan. Sajadah panjang sebagai saksi. Aku benar-benar merasa menjadi hamba malam ini. Tiada daya dan kekuatan kecuali Engkau ya Rabbi. Hamba hanya manusia yang harus siap menerima ketetapan yang ada. Tapi, satu yang kuminta Ya Allah, kumpulkan aku bersama orang-orang yang bertakwa dan bersama RasulMu tercinta serta ampuni semua dosaku di dunia ini, Ya Allah.</p>
<p>Rembulan tersembul dari balik kaca atap  rumahku. Pendar kuning menghiasi mega nan merona. Indah.</p>
<p>Kuraih ponselku. Kubaca SMS yang tadi kubiarkan saja. &#8220;Nomor baru&#8221;, desisku.</p>
<p><em>[Di blik tirai mmbungkus, Ptih bersih rpawan mnawan, Detakan lngkah sunyi, similar pilar jilbab putih. Mmancar keimanan suci. Berkas ptih mmancar, mnmbah bersih kesucian diri, tertera wajahmenyinari, senyum simpul mewarnai, dg sejuta hrapan, walau lautan luas, gunung2 tinggi menghalangi, kuterpaku seribu bhasa. Mg bidadari tetap bersemi. Merekah menambat impian hati-abangmu.]</em></p>
<p>&#8220;Astaghfirullah&#8230;.sederet SMS panjang. Mas Yudi. Apa yang terjadi pada dirimu Bang. Kenapa kau tulis puisi ini. Selama ini kau tak pernah berukir kata seromantis ini. Kau yang kukenal adalah sosok ikhwan yang anti akan hal-hal seperti ini. Tapi&#8230;Sudahkah kau berubah dan aku tak tahu bagaimana dirimu saat ini. Tapi Bang aku tak akan ber-<em>suudzon</em> padamu. Moga kau baik-baik saja&#8221;, gumamku dalam hati sambil berdoa.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Di <em>base camp aku masih mengotak atik website-ku. Nanti sore akan di-upload</em>. Setelah beberapa jam Mas Yudi datang di <em>BaseCamp</em>. Sendirian. &#8220;Di mana Mbak Diana&#8221;, tanyaku dalam hati.</p>
<p>Aku hanya terdiam berlagak tak peduli atas kedatangannya. Ya, kalo memang nggak perlu kenapa harus ditanggepi.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8221;, sapanya sambil duduk di kursi tamu.</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikum salam&#8221;, jawabku pendek.</p>
<p>&#8220;Udah selesai Ning?&#8221;, tanyanya memastikan.</p>
<p>&#8220;Udah tinggal menyempurnakan aja. Ada sedikit yang masih salah. Ashar Insya Allah selesai&#8221;, jawabku pasti. Kami terdiam. Tak ada pembicaan selama beberapa menit. Ya di <em>base camp hanya ada kami berdua. </em></p>
<p>&#8220;Ning, aku boleh nanya sesuatu nggak?&#8221;, tanyanya pelan.</p>
<p>&#8220;Tanya aja kalo bisa jawab, ya aku jawab. Kalo tak bisa ya, afwan ane nggak bisa menjawabnya&#8221;, jawabku datar.</p>
<p>&#8220;Jujur ya&#8221;, dia memastikan. Aku mengangguk.</p>
<p>&#8220;Kalo boleh tahu prosesmu sampe di mana? Dan bagaimana statusmu sekarang?&#8221;, tanyanya tiba-tiba.</p>
<p>Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat. Pilu. Kenapa pertanyaan itu harus keluar. Ya..jujur aku selalu sedih bila ditanya tentang prosesku. Kuhanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Diam dan diam yang kulakukan. Aku tak kuasa untuk menjawabnya. Akupun tertunduk.</p>
<p>Mas Yudi juga terdiam. Ia menunggu jawabanku. Kucoba untuk menggerakkan jariku, menyempurnakan website-ku. Lemas. Tak ada daya untuk bekerja.</p>
<p>Kembali kutarik nafas dalam. Akhirnya kujawab pertanyaannya.</p>
<p>&#8220;Prosesku sampe pada <em>khitbah</em> dan sekarang masa <em>ta&#8217;aruf</em>. Status ane akhwat pinangan&#8221;, hanya itu yang kujawab. Pendek tapi sudah bisa mewakili semua pertanyaan yang dia lontarkan pada diriku.</p>
<p>&#8220;Jadi nggak ada ikhwan lain yang bisa mengkhitbahmu&#8221;, tanyanya melas.</p>
<p>Aku mendesah. Kutolehkan wajahku untuk memadang seseorang yang duduk agak jauh dariku. Dia hanya tertunduk dengan mainan kertas di tangannya. Ingin kupastikan kenapa ia bertanya seperti itu. Dia hanya tertunduk dan semakin dalam. Masih sempat kulihat dia menggigit bibirnya dan akhirnya kulemparkan pandanganku ke luar jendela.</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;aku tak boleh menerima lagi ikhwan lain karena aku telah mengatakan ya, <em>akad khitbah</em> telah diucapkan dan kami harus saling menjaga keutuhan proses ini&#8221;, jawabku menjelaskan.</p>
<p>&#8220;Tapi kenapa tidak cepat dilakukan?&#8217;, tanyanya memburu.</p>
<p>&#8220;Ya Abang sudah tahu ceritanya. Keluarga ikhwan minta waktu dan aku memang harus menunggu karena telah menjadi keputusanku. Ya, aku harus menanggung resiko ini Bang&#8221;, suaraku tercekat.</p>
<p>&#8220;Seandainya ada ikhwan yang mau mempercepat itu apakah calon suamimu akan mengizinkan?&#8221; tanyanya menyelidik.</p>
<p>Deg. Tak menyangka dia akan ngomong seperti itu.</p>
<p>&#8220;Bang, proses kami telah berjalan lama. Kuharap Abang tahu perasaan kami berdua. <em>So</em>, afwan semua sudah jelas. Ibarat bunga aku telah bertangkai. Dan tak ahsan bila aku memilih tangkai karena tangkai telah ditetapkan oleh Allah dan itulah yang terbaik untukku&#8221;, tuturku menegaskan.</p>
<p>&#8220;Ya sudahlah. Moga kau bahagia. Moga dimudahkan dan disegerakan proses pernikahanmu. Satu yang kuminta. Semoga aku tidak <em>futur</em> atas kejadian ini, doakan aku tetap istiqamah. Walaupun mawar telah bertangkai kau tetap saudara sejati dan adik yang terbaik dalam hidupku ini. Maafkan aku. Mungkin aku harus menenangkan diri dulu&#8221;.</p>
<p>Mentari sore meredup tertutup awan di atas sana. Gelap. Rupanya hujan akan turun seiring kegundahan. Seiring air bening ini. Moga ukhuwah tetap bersih suci. Mengiringi langkah dawah ini.[]</p>
<p align="right"><em>Untuk saudara seperjuanganku di Malang: Cepet nikah, ya Bang!</em></p>
<p align="right">&#8212;</p>
<p align="right">Imatuzzahra adalah nama pena dari Nur Karimah. Lahir di Blitar 24 Mei 1985.</p>
<p align="right">
<p align="right"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mawar-telah-bertangkai/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kamera Obscura yang Mengubah Dunia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 21:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2504</guid>
		<description><![CDATA[Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221;? The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.
Kamera? merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surat kabar terkemuka di Inggris, <em>The Independent</em> pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221;? <em>The Independent</em> menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.</p>
<p>Kamera? merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.<span id="more-2504"></span></p>
<p>Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M,? al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura.</p>
<p>Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.</p>
<p>Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai &#8221;ruang gelap&#8221;. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.</p>
<p>&#8220;Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),&#8221; ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul? <em>The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz&#8217;s perspective.</em></p>
<p>Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk? <em>Kitab al-Manazir</em> (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun? <em>Al-Bayt Al-Muzlim</em> atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau? kamar gelap.</p>
<p>Bradley Steffens dalam karyanya berjudul? <em>Ibn al-Haytham:First Scientist</em> mengungkapkan bahwa? <em>Kitab al-Manazir</em> merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. &#8220;Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,&#8221; papar Bradley.</p>
<p>Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).</p>
<p>Setelah itu,? penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 - 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).</p>
<p>Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada? 1665 M.? Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.</p>
<p>Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya - yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.</p>
<p>Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia? II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.</p>
<p>Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.? Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.</p>
<p><strong>Sejarah Sang Penemu Kamera Obscura</strong></p>
<p>Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni? <em>qamara</em> ?? Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Hatham. Bapak fisika modern itu?? terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah.</p>
<p>Sejak kecil al-Haitham ydikenal berotak encer. Ia? menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.</p>
<p>Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.</p>
<p>Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku.</p>
<p>Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen - begitu dunia Barat menyebutnya - juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.</p>
<p>Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika &#8216;Bapak Optik&#8217; dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.</p>
<p>Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.</p>
<p>Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.</p>
<p>Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul? <em>Light On Twilight Phenomena,</em> al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.</p>
<p>Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.</p>
<p>Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab? <em>al-Manazhir</em> , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.?? she/desy susilawati/heri ruslan <a href="http://republika.co.id/berita/48892/Kamera_Obscura_yang_Mengubah_Dunia" target="_blank"><strong>[REPUBLIKA]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Karet KB versus AIDS</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/karet-kb-versus-aids</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/karet-kb-versus-aids#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 21:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[Nasim selalu memiliki senyum di wajahnya. Baik saat ia sedang menggunting rambut dengan gunting maupun saat ngobrol. Kedua hal itu merupakan kegiatan rutinnya sehari-hari. Karena, ia adalah seorang tukang cukur di Sangam Vihar, pemukiman non-resmi terbesar di Delhi selatan. Tetapi baru-baru ini kebiasaannya ngobrol membawanya ke arah lain. Hari-hari terakhir ini topik obrolannya hampir tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasim selalu memiliki senyum di wajahnya. Baik saat ia sedang menggunting rambut dengan gunting maupun saat ngobrol. Kedua hal itu merupakan kegiatan rutinnya sehari-hari. Karena, ia adalah seorang tukang cukur di Sangam Vihar, pemukiman non-resmi terbesar di Delhi selatan. Tetapi baru-baru ini kebiasaannya ngobrol membawanya ke arah lain. Hari-hari terakhir ini topik obrolannya hampir tidak pernah tentang istri-istri orang atau topik nakal lain. Tetapi, lebih kepada segala hal tentang AIDS dan bagaimana penyakit mematikan itu tersebar. Ia juga membagikan kondom gratis kepada pelanggannya.</p>
<p>Nasim adalah salah satu dari sepuluh tukang cukur yang bekerja sebagai relawan untuk <em>Community Aid and Sponsorship Program</em> (CASP) yang bekerja atas dana hibah dari USAID melalui Centre for Development and Population Activities. &#8220;Awalnya saya tidak tahu banyak tentang AIDS, cara penularannya dan pencegahannya. Namun orang-orang CASP mendekati saya dan mengajarkan tentang semua ini, saya pikir merupakan ide baik menyebarkan kabar tersebut di daerah ini,&#8221; katanya.<span id="more-2495"></span></p>
<p>&#8220;Banyak orang datang pada saya setiap hari seolah-olah tidak seorang pun yang bercukur di rumah. Jadi, saya mendapatkan peluang baik untuk berbicara kepada mereka tentang AIDS. Dan sesudah meyakinkan mereka bahwa seks aman satu-satunya cara menghindari AIDS, saya memberikan beberapa bungkus kondom,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>Kondom</strong><strong>, Ampuhkah?</strong></p>
<p>Banyak orang di dunia ini yang yakin betul bahwa penularan virus HIV bisa ditangkal dengan penggunaan kondom. Berbagai kampanye dan juga argumentasi dikemukakan kepada khalayak agar mau menggunakan kondom sebagai &#8217;senjata pamungkas&#8217; melawan virus ganas itu. Misalkan, <em>Buletin HIV/AIDS Prevention Training </em>dari CDC, edisi Februari 1993 menuliskan kalo kondom lateks berguna sebagai pelindung mekanis yang bersifat terus-menerus sehingga memberi perlindungan sempurna terhadap berbagai jenis bakteri, virus dan kuman lainnya. Selain mencegah infeksi secara langsung, penggunaan kondom secara meluas juga mempunyai dampak tak langsung secara substansial terhadap penyebaran HIV, yakni dengan mencegah PMS lainnya yang merupakan sebagian faktor yang meningkatkan risiko penularan HIV.</p>
<p>Buletin itu juga menuliskan kalo kondom yang terbuat dari kulit anak kambing memang sulit untuk menahan laju perjalanan aneka bakteri dan virus penyakit kelamin. Karenanya kondom yang terbuat dari bahan itu tidak direkomendasikan untuk dipakai sebagai pencegah penyakit menular seksual (PMS).</p>
<p>Meski kemampuan kondom lateks bertindak sebagai pelindung mekanis yang efektif terhadap HIV dan sperma pada uji coba laboratorium itu memberikan harapan yang</p>
<p>cerah, namun penelitian klinis secara khusus menunjukkan angka kegagalan berkisar dari 2% sampai 15% yaitu pada saat kondom digunakan hanya sebagai cara utuk mencegah</p>
<p>kehamilan. Artinya, masih ada peluang gagal. Kalau gagal? <em>Wes ewes ewes bablas viruse.</em></p>
<p>Angka kegagalan untuk mencegah kehamilan diperkirakan menurun menjadi 2% bila kondom digunakan dengan benar. Sejumlah penelitian juga dilakukan terhadap orang yang aktif secara seksual dan menunjukkan bahwa kondom lateks yang digunakan dengan benar memberi tingkat perlindungan yang sangat tinggi terhadap berbagai PMS, termasuk infeksi</p>
<p>HIV.</p>
<p>Tingkat perlindungan dari penggunaan kondom lateks yang benar terhadap penularan HIV terbukti nyata pada penelitian terhadap pasangan yang salah satu anggotanya terinfeksi HIV sedangkan yang lainnya tidak (disebut juga dengan: &#8220;pasangan yang bertolak-belakang/<em>discordant couples</em>&#8220;).</p>
<p>Penelitian itu menyatakan risiko mendapat infeksi HIV berkurang 70-100% pada pasangan yang dilaporkan menggunakan kondom secara konsisten. Pentingnya menggunakan kondom secara konsisten dan benar ditekankan oleh sebuah penelitian dari 563 &#8216;pasangan yang bertolak-belakang&#8217; di Eropa. Di antara 44 pasangan yang tidak konsisten dalam menggunakan kondom, 6 orang pasangan yang sehat dilaporkan menjadi terinfeksi.</p>
<p>Sebaliknya, pada 24 pasangan yang menggunakan kondom secara konsisten, tak satu pun dari pasangan yang sehat kemudian menjadi terinfeksi.</p>
<p>Begitu yakinnya, sampai-sampai buletin berani merekomendasikan bahwa kondom lateks bisa memberikan perlindungan hingga 98% - 99% terhadap kehamilan dan sebagian besar PMS, termasuk infeksi HIV, tapi sekali lagi ini hanya bila kondom digunakan dengan benar dan konsisten!</p>
<p><strong>Jangan Percaya Dulu</strong><br />
Para pelaku seks bebas sebaiknya jangan percaya dulu dengan promosi kehandalan kondom. Pasalnya, banyak kalangan yang percaya hal sebaliknya. Berikut ini sejumlah keterangan pakar yang dirangkum oleh Prof. Dr. Dadang Hawari:</p>
<ol>
<li>Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.</li>
<li>Sementara J Mann (1995) dari <em>Harvard AIDS Institute</em> yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom hanya 70 persen.</li>
<li>Penelitian yang dilakukan oleh Lytle (1992) dari <em>Division of Life Sciences</em>, Rockville, Maryland, USA, membuktikan bahwa penetrasi kondom oleh partikel sekecil virus HIV/AIDS dapat terdeteksi.</li>
<li>Penelitian yang dilakukan oleh Carey (1992) dari <em>Division of Pshysical Sciences</em>, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang diperiksa (yang beredar dipasaran) ternyata 29 dari padanya terdapat kebocoran, atau dengan kata lain tingkat kebocoran kondom mencapai 30 persen.</li>
<li>Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar.</li>
<li>Disebutkan bahwa pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron.</li>
<li>Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.</li>
<li>Laporan dari majalah <em>Customer Reports</em> (1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan elektron mikroskop dapat dilihat pori-pori kondom yang 10 kali lebih besar dari virus HIV.</li>
<li>M Potts (1995), Presiden Family Health International, salah seorang pencipta kondom, mengakui, &#8221;Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya.</li>
<li>V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.</li>
<li>Pakar AIDS, R, Smith (1995), setelah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai &#8216;&#8217;sama saja dengan mengundang kematian&#8221;. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Rep. 12/11/95).</li>
<li>Di Indonesia pada tahun 1996 yang lalu kondom yang diimpor dari Hongkong ditarik dari peredaran karena 50 persen bocor.</li>
<li>Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof Dr Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS.</li>
</ol>
<p><strong>Cegah <em>Freesex</em></strong></p>
<p>Nggak ada cara lain untuk mencegah penularan virus HIV selain dengan mencegah freesex. Sebut saja negeri Gajah Putih Thailand yang memang terkenal dengan wisata seks-nya ternyata sukses besar mengurangi kasus infeksi virus HIV dan PMS sejak 1991 hingga 1995. Seperti dituturkan, Dr. David D. Celentano dari <strong>Johns</strong><strong> Hopkins University</strong><strong> </strong>di   Baltimore, Maryland bahwa Program 100 % Kondomisasi itu juga dibarengi dengan kampanye pengurangan frekwensi berhubungan seks dengan pekerja seks. Thailand bisa menurunkan kasus infeksi virus HIV hingga lima kali lipat dan 10 kali lipat untuk Penyakit Menular Seksual.</p>
<p>Artinya kalau alat kontrasepsi itu dipakai sementara frekwensi maksiat konstan, infeksi penularan virus HIV tetap saja tinggi. So, kunci pencegahan AIDS mau nggak mau adalah dengan tidak melakukan seks bebas apalagi menyimpang.</p>
<p><strong>Kenapa Ngotot?</strong></p>
<p>Kalau sudah jelas penggunaan kondom tetap mengundang bahaya, lalu kenapa orang masih terus mengkampanyekannya? Jawabannya adalah karena mereka menolak gagasan pengekangan kebebasan pergaulan. Bagi mereka, mengajak orang untuk tidak gaul bebas sama artinya menginjak-injak doktrin kebebasan dan hak asasi manusia. En itu sama dengan menentang demokrasi. Ajaran tertinggi dalam masyarakat sekuler.</p>
<p>Dalam demokrasi kebebasan kepribadian adalah bagian yang esensial. Termasuk perilaku gaul bebas. Sebuah penelitian pada para pelajar SMU di Los Angeles pada tahun 1998 yang dilakukan <strong>The Alan Guttmacher Institute in</strong><strong> </strong><strong>Family Planning Perspectives</strong> terhadap 1.945 pelajar memperlihatkan bahwa 55 % pelajar cowok dan 45,5 % pelajar wanita menyatakan telah melakukan hubungan seksual.</p>
<p>Maraknya kampanye penggunaan kondom juga berdampak pada peningkatan hubungan terkutuk itu. Hal ini diungkap oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba dan seorang pediatri di University  of California. Setelah kampanye kondomisasi aktivitas seks bebas di kalangan pelajar cowok meningkat dari 37 % menjadi 50 %, dan di pelajar wanita dari 27 % menjadi 32 % (USA Today, 14 April 1998).</p>
<p>Dengan cara pikir yang kapitalistik, dimana segala yang bermanfaat bisa dan boleh dikerjakan, termasuk gaul bebaz, maka pemerintah dan juga LSM-nya lebih senang menebar kondom gratis ketimbang memberantas pergaulan bebas en prostitusi. Itu lebih manusiawi, pikir mereka. Bukankah pelacur pun sekarang dikategorikan sebagai pekerja? Pekerja Seks Komersil (PKS)?</p>
<p>Kalau begitu solusinya maka sampai kapanpun infeksi virus HIV dan PMS nggak bakalan bisa dicegah. Soal himbauan pemakaian kondom juga cuma bakal sebatas slogan. Abis, kalau orang udah dikuasai setan jangankan sempat pakai alat kontrasepsi, imannya aja udah copot apalagi alat kontrasepsinya.</p>
<p>Nah, kalau mau selamat dunia dan akhirat kagak ada jalan Bang kecuali mengganti landasan berpikir umat dengan Islam. Selanjutnya terapkan aja hukum Islam. Jilid dan rajam para pezina, dorong para pemuda untuk segera menikah, dan negara (Islam) harus meningkatkan kemakmuran rakyat agar tidak ada orang berprofesi sebagai PSK.</p>
<p>Sekarang sih tinggal berpulang kepada kaum muslimin sendiri. Mau nggak diatur oleh Islam dan selamat, atau mau terus-terusan mencegah bencana kemanusiaan ini dengan cara tambal sulam? Mestinya sih mengambil jalan yang sudah pasti selamat, Islam. [<strong>januar</strong>, dari berbagai sumber].</p>
<p><strong>Boks &#8212;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Survey Perilaku Seks Ala Durex</strong></p>
<p>Perusahaan kondom terkemuka di dunia Durex juga pernah melakukan survey soal perilaku seks dan penggunaan kondom di 28 negara di Asia dan Eropa. Survey yang diberi nama <strong>Global survey into sexual attitudes and behaviour </strong>atau Global Survey 2001. Dari survey itu didapat sejumlah info yang &#8216;aneh&#8217;.</p>
<ol type="1">
<li>Negara yang remajanya      paling cepat kehilangan &#8216;virginitas&#8217;-nya adalah AS. Rata-rata remaja di AS      sudah having sex pada umur 16 tahun. Di bawah AS ada Jerman, Prancis,      Inggris dan Selandia Baru.</li>
<li>Kondom ternyata      paling populer di Jepang, disusul Yunani dan Spanyol. Sementara itu Israel      adalah negara yang penduduknya paling anti mempergunakan alat kontrasepsi.      Empat puluh persen orang Israel      menolaknya. Hmm, ketahuan deh siasat busuknya! Pengen paling banyak      sendiri jumlah umatnya.</li>
<li>Menurut hasil      survey itu juga didapat data bahwa manusia di dunia biasanya melakukan      hubungan intim 97 kali dalam setahun. Hampir 10 persen menyatakan      melakukannya sekali dalam seminggu. Hanya 4 persen yang mengaku      melakukannya setiap hari.</li>
<li>Warga AS paling      getol melakukan hubungan seksual yakni 147 kali dalam setahun, disusul      warga Yunani (117), lalu Afrika Selatan dan Kroasia (116).</li>
<li>Prancis dan      Hungaria adalah negara yang warganya kurang peduli dengan infeksi virus      HIV. Sedangkan Turki adalah negara yang paling tinggi kesadarannya akan      bahaya penularan virus ini.</li>
</ol>
<p>Nah, ternyata dunia ini penuh dengan orang-orang yang cinta dengan kebebasan perilaku. Meski itu akan menyeret mereka ke dalam jurang kehancuran peradaban. Kasihan manusia. [<strong>januar</strong>].</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Wawasan", Majalah PERMATA edisi Desember 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/karet-kb-versus-aids/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Akhir Petualanganku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 22:12:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2420</guid>
		<description><![CDATA[Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. 
Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. </em></strong></p>
<p>Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. Aku hanya tahu, suatu hari di rumah ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku perhatikan beberapa bulan terakhir itu orangtuaku memang sering bertengkar. Setelah itu, ayahku tak pernah pulang lagi ke rumah. Dengar-dengar dari tetangga, katanya ayahku menikah lagi. Aku masih tak mengerti. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan besar dan rumit bagi otakku.</p>
<p>Waktu terus berjalan, usiaku pun bertambah. Aku menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah ketika kakak laki-lakiku yang pertama pindah ke kota lain karena harus studi di sana. Aku masih punya satu kakak perempuan dan tiga adik perempuan. Sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah, seharusnya aku lebih dewasa. Lebih mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi ayah sudah jarang datang ke rumah lagi meski masih memberi nafkah buat kami. Seringnya bahkan uang buat kami dititipkan lewat kawan ayah. Dan itu membuat aku dan saudara-saudaraku terbiasa hidup tanpa kehadiran ayah dan curahan kasih-sayangnya. Ayah tak lagi menemani kami di rumah dengan cerita dan canda. Padahal jujur saja, kehadiran ayah sangat kami rindukan.<span id="more-2420"></span></p>
<p><strong>Aku membenci ayah</strong></p>
<p>Setelah aku SMP dan pergaulanku mulai luas, aku sering iri dengan kawan-kawanku yang keluarganya utuh dan harmonis. Aku sering menangis dalam hati setiap pembagian rapot hanya ibu yang hadir. Aku sakit hati. Apalagi ayah sepertinya melupakan aku dan saudaraku. Berbagai macam cerita dan omongan dari tetangga, kerabat, teman, dan aku saksikan sendiri kelakuan ayah, mulai tumbuh dalam perasaanku untuk membenci ayah.</p>
<p>Bahkan sejak ayah jarang memberi nafkah, dan ibu harus banting tulang untuk menyekolahkan keenam anaknya, aku kian menggunungkan perasaan benciku pada ayahku sendiri. Waktu terus berjalan sementara aku tak menemukan tempat yang baik untuk muara emosiku. Akhirnya aku menemukan hidupku di jalanan. Ya, di saat aku masih labil itulah, aku bergaul dengan teman-teman berandalanku.</p>
<p>Aku tak bisa mengendalikan diri. Kebencianku kepada ayah akhirnya menjadi justifikasi atas semua perbuatanku. Aku mencari perhatian dari ayah. Sebenarnya bukan untuk mencari perhatian sih, karena dalam hati kecilku tersimpan rencana jahat, bahwa aku harus membuat perhitungan dengan ayahku. Aku berharap, dengan aksi ini ayah dibuat pusing.</p>
<p><strong>Ikut kakak lelakiku</strong></p>
<p>Aku benar-benar berada di luar kendali. Hubunganku dengan kawan-kawan di jalanan terus intensif. Rumah aku jadikan tempat transit saja. Malam hari lebih banyak aku habiskan di luar bersama kawan-kawanku. Tentu saja membuat ibu kecewa. Aku juga tak paham mengapa aku bisa terlalu jauh berubah seperti itu. Waktu itu aku akan masuk SMA, untuk biaya pendaftaran saja ibuku tak punya. Tapi demi masa depan anak, ibu rela meminjam uang ke famili dan tetangga karena mengandalkan hasil penjualan pakaian yang dikreditkan harus menunggu lebih lama.</p>
<p>Anehnya aku waktu itu, meski telah masuk SMA negeri, tapi karena beda kecamatan dan harus kos, aku mulai rewel. Aku bilang kejauhan dan nggak betah. Padahal, sejatinya aku tak bisa bergaul dengan kawan-kawanku yang berandalan itu. Yang menurutku mampu menjadi muara emosiku. Akhirnya, aku dipindah ke sekolah yang dekat dengan rumah.</p>
<p>Tapi, itu tak berlangsung lama. Ibu merasa khawatir dengan pergaulan yang aku jalani, akhirnya dengan sangat terpaksa setelah dibujuk ibu dan paman, aku memutuskan untuk ikut dengan kakakku di kota lain, yang kebetulan waktu itu sudah lulus sekolah dan bekerja.</p>
<p>Ibu dan keluarga berharap aku lebih bisa tenang karena dijaga kakakku yang lelaki. Aku memang menaruh hormat kepadanya, meski menyebalkan juga dengan banyaknya aturan ini dan itu. Terutama soal agama. Mungkin ini pula yang membuat ibu yakin bahwa aku akan aman tinggal bersama kakak lelakiku.</p>
<p>Di kota bersama kakakku, aku justru menemukan dunia baru. Aku banyak bergaul dengan anak-anak kota. Kakakku memang menyekolahkan aku di sebuah sekolah negeri. Dengan harapan pergaulannya terjaga. Tapi dalam perjalanannya, aku justru telah mengkhianati kepercayaan kakakku. Uang SPP yang diberikan tiap bulan justru aku habiskan di meja bilyard bersama rekan-rekanku. Prestasi di sekolahku hancur. Kakakku tentu saja kecewa. Tapi ia tak banyak bicara, hanya sesekali saja menasihatiku. Justru itu yang membuat aku malu. Untuk meredam kelakuanku aku sengaja dititipkan di teman kerjanya. Di sini memang aku jadi lebih bebas, tapi keuangan terbatas. Mungkin kakakku berharap aku mulai mikir. Tapi tidak. Aku semakin kacau.</p>
<p><strong>Petualangan baru</strong></p>
<p>Petualanganku di kota bersama kakak berakhir setelah aku lulus SMA dengan predikat yang tak memuaskan. Aku pamitan dan akhirnya aku pergi ke kota lain ikut bersama pamanku. Aku jalani hidup di bengkel, jadi tukang cuci mobil, dan apa saja yang aku bisa lakukan. Sedih juga. Tapi itulah yang harus aku lakukan. Mau tidak mau. Anehnya, di sini pun aku seperti ditakdirkan untuk bertemu dengan berandalan. Aku pun larut lagi dalam dosa dan maksiat.</p>
<p>Kondisi ini membuat kakakku kecewa, ibu kecewa, juga adik-adikku menaruh ketidakpercayaan kepadaku. Sekitar lima tahun sejak lulus SMA aku jalani kehidupan liar. Bahkan semakin liar karena lepas dari pengawasan ibuku. Jika kakakku jarang marah dan hanya sesekali ngasih nasihat, tidak dengan pamanku yang memang polisi. Aku sering dimarahi. Tapi aku tahu diri, bahwa aku memang salah. Akhirnya aku pindah dan kos, meski akhirnya balik lagi karena pergaulanku tambah parah.</p>
<p>Setelah sekian lama bertualang, aku lelah. Cukup lelah. Sampai ibuku merasa perlu memaksaku untuk segera berkeluarga saja. Karena ibu menganggap itu jalan terbaik untuk meredam gejolak jiwa liarku. Itu sebabnya, ketika aku mendapatkan seorang gadis, ibu buru-buru memintaku menikah. Awalnya aku tidak menurut, hingga ibu jatuh sakit parah dan dirawat di RS, tapi kemudian aku sadar dan mau menikah.</p>
<p>Kini aku sudah menikah. Semoga ibu dan saudaraku mau memaafkan kesalahanku selama ini. Aku sering merenung dan aku berusaha untuk lebih baik dalam hidup. Karena, sebentar lagi aku akan punya anak, sangat malu jika bapaknya tetap seorang berandalan. Semoga kuat melangkah di jalan yang baru kupilih ini. <strong>[seperti dituturkan seorang ikhwan kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pencuri Terburuk</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 21:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.
Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.</p>
<p dir="ltr">Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, seperti jam tangan, ponsel atau motor. Sulit rasanya untuk percaya dan menerima kenyataan kalau barang-barang itu sudah raib. Ludes disikat maling. Tapi, biasanya luka itu akan segera hilang karena memang kita sadar barang-barang itu sudah tidak ada di depan mata dan lenyap dari genggaman tangan kita.</p>
<p dir="ltr">Nah, berbohong berarti mengelabui orang lain, memanipulasi sesuatu, membuat orang lain percaya pada sesuatu yang tidak ada. Itu bisa terjadi untuk waktu sehari, dua hari atau malah seumur hidup. Orang yang dibohongi nggak sadar kalau ia telah kehilangan sesuatu, yakni kepercayaannya. Bila seorang pembohong mendapatkan kepercayaan dari orang yang berhasil dikelabuinya, maka si pembohong bukan saja mendapat simpati, tapi juga harta, kehormatan, dan apa saja yang ia inginkan. Inilah pencurian yang paling menyakitkan dan menyebalkan.<span id="more-2486"></span></p>
<p dir="ltr">Katakanlah, ada seorang anak yang berbohong pada orang tuanya kalau ia ditunjuk oleh gurunya menjadi anggota tim basket sekolah untuk sebuah kompetisi, ortunya mungkin akan bangga. Berikutnya, saat sang anak minta dibelikan sepatu yang baru - untuk berlatih dan bertanding &#8211;. Ortu yang sudah kepalang bangga dan sayang pada sang anak pasti berusaha membelikannya. Begitupula ketika sang anak minta tambahan uang jajan dengan alasan pergi berlatih dan bertanding, lagi-lagi orang tua akan mengabulkan. Jadi, sudahlah sang anak - yang berbohong itu - mendapatkan kebanggaan dari orang tua, masih mendapatkan sepatu baru dan juga tambahan uang jajan. Maka, kamu bisa paham kan kenapa sampai ada ahli hikmah yang mengatakan bahwa berbohong jauh lebih buruk dari mencuri?</p>
<p dir="ltr">Dalam kehidupan, banyak alasan kenapa orang mau berbohong; untuk ketenaran, untuk kekayaan, atau untuk keselamatan dirinya. Beberapa tahun silam, ada duo rapper yang punya nama grup Milli Vanilli. Lagu-lagu mereka macam <em>Girl You Know It&#8217;s True</em> dan <em>Ma Baker</em> jadi jawara di sejumlah tangga lagu mancanegara. Album mereka laris dan diganjar sejumlah penghargaan. Ternyata, terbukti kemudian kalau mereka berdua bukanlah penyanyi sebenarnya. Mereka cuma <em>lipsync</em>. Ini contoh kebohongan untuk mendapatkan ketenaran dan juga kekayaan.</p>
<p dir="ltr">Ada kebohongan untuk menyelamatkan diri. Seorang pencuri kambing yang tertangkap basah sedang menuntun kambing curiannya bisa dengan mudah <em>ngeles</em>, menghindar dari tuduhan mencuri. <em>&#8220;Ini bukan pencurian. Saya hanya mungut tali, tahu-tahu ada kambing yang mengikuti dari belakang.&#8221;</em> Bahkan, pada zaman khalifah Umar bin Khaththab ra. seorang pencuri dengan berani berbohong atas nama Allah. <em>&#8220;Aku mencuri atas takdir Allah,&#8221;</em> katanya pada hakim. Akhirnya pengadilan menghukum pencuri itu dengan jilid dan potong tangan. Hukuman potong tangan untuk kasus pencuriannya yang mencapai batas ? dinar, dan sanksi jilid untuk kebohongan atas nama Allah.</p>
<p dir="ltr">Dan, ada juga kebohongan untuk alasan ideologis. Untuk menyesatkan orang. Darwin dan para pengikutnya bisa jadi contoh. Untuk membuat orang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, berbagai khayalan mereka buat dengan sebutan teori ilmiah. Teori <em>generatio spontaneae</em>, evolusi, dsb.</p>
<p dir="ltr">Untuk membuat orang sedunia percaya bahwa Islam dan kaum Muslimin adalah ancaman, orang-orang kafir melatih berbagai milisi bersenjata yang terdiri dari orang-orang Islam. Al Qaida, salah satunya. Itu mereka lakukan untuk memadamkan cahaya Islam yang mulia.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah, padahal Allah menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir membencinya.&#8221;</em>(Ash Shaf [61]:8).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">* * * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong adalah perbuatan yang akan mengotori lidah, pikiran dan jiwa kita. Bahkan kebohongan dapat merusak kehidupan manusia. Pantas, kalau berbohong diharamkan oleh agama. Sabda Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Sesungguhnya kejujuran itu memberikan petunjuk pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu memberikan petunjuk pada surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ia menjadi orang yang shiddiq. Sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan menunjukkan pada neraka, dan sesungguhnya seseorang berbuat dusta sampai ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Jangan main-main, berdusta juga satu tanda kemunafikan. Kata Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sama sekali tidak ada kebaikan dalam kebohongan. Allah dan Rasul mencelanya, sementara manusia membencinya.</p>
<p dir="ltr">Memang ada berbohong yang dibolehkan oleh agama. Ini, yang sering dibilang oleh kita sebagai kebohongan putih (<em>white lies</em>). Ada tiga perkara dimana seorang muslim halal berbohong pada keadaan tersebut. Kata Rasulullah saw.:</p>
<p dir="rtl">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tidak halal berdusta kecuali dalam tiga perkara; seorang suami yang berkata pada istrinya agar ia ridlo, dusta dalam peperangan, dan dusta untuk memperbaiki hubungan di antara manusia,&#8221;</em>(HR. Turmudzi).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong juga ibarat candu. Orang yang pernah melakukannya biasanya ketagihan untuk mengulanginya. Apalagi kalau kebohongan itu memberikan apa yang mereka inginkan. Pikir para pembohong, kalau dulu saya berhasil, kali ini juga pasti bisa.</p>
<p dir="ltr">Selain karena ketagihan, mereka yang pernah berbohong juga akan &#8216;dipaksa&#8217; melakukan kebohongan babak berikutnya. Sebuah nasihat mengatakan, <em>&#8220;Siapa yang pernah melakukan kebohongan, maka bersiaplah melakukan kebohongan berikutnya.&#8221;</em> Ya, seorang pembohong membutuhkan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang lama. Agar tidak dikuak kebenaran ceritanya, maka seorang pembohong mau tidak mau akan terus berbohong.</p>
<p dir="ltr">Maka berbohong juga menciptakan ketakutan. Coba kita pikir, pembohong mana yang senang terbongkar kebohongannya? Otomatis, seorang pembohong akan hidup dalam kecemasan dan jauh dari rasa nyaman. Setiap saat ketakutan kalau-kalau kebohongannya terbongkar. Ia sadar, bila itu terjadi, bisa-bisa seumur hidup orang tak percaya. <em>Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya</em>.</p>
<p dir="ltr">Terakhir, para pembohong semestinya sadar, secanggih apapun mereka membual, menyebarkan kepalsuan, sebenarnya mereka sedang menipu diri sendiri. Kenyataannya tetap saja mereka tidak bisa menipu Allah SWT. Dialah yang bakal membongkar segala kepalsuan. Cepat atau lambat.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8221; Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.&#8221;</em>(Al Baqarah [2]:9). <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi Februarui-Maret 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Homoseksual, Awas!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/homoseksual-awas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/homoseksual-awas#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 19:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun II/2008-2009]]></category>

		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>

		<category><![CDATA[homoseksual]]></category>

		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2510</guid>
		<description><![CDATA[  edisi 083/tahun ke-2 (30 Jumadil Awal 1430 H/25 Mei 2009)
Wah&#8230;.serem nian topik kita kali ini yaitu tentang homoseksual. Homo yang bakal kita bicarakan kali ini bukanlah homo pitecantropus, namun homo dalam bahasan ini adalah tentang kaum gay dan lesbian alias menyukai sesame jenis dalam hal seksualitas. Homo yang bukan sekadar banci, bencong, wadam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2594" title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> <strong> </strong>edisi 083/tahun ke-2 (30 Jumadil Awal 1430 H/25 Mei 2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Wah&#8230;.serem nian topik kita kali ini yaitu tentang homoseksual. Homo yang bakal kita bicarakan kali ini bukanlah <em>homo pitecantropus</em>, namun homo dalam bahasan ini adalah tentang kaum gay dan lesbian alias menyukai sesame jenis dalam hal seksualitas. Homo yang bukan sekadar banci, bencong, wadam atau cowok yang berperilaku kayak cewek. Tapi homo yang jadi obrolan kita kali ini adalah homo yang parah, yaitu hingga tataran kawin dengan sesama jenis. Di beberapa kalangan, mereka menolak dirinya disebut sebagai homo.? Sebutan gay dan lesbian terdengar lebih keren. Intinya <em>mah</em> saja aja, yaitu suka dengan sesama jenis.<span id="more-2510"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Homo, problem masyarakat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menyukai sesama jenis dalam hal ini adalah laki-laki mencintai laki-laki atau wanita mencinta wanita sangat tidak bisa dikatakan normal. Mencintai di sini bukan mencintai dalam arti persaudaraan, tapi mencintai secara birahi. Ada kelainan pastinya dalam jiwa orang yang mengidap &#8216;penyakit&#8217; ini. Masalahnya, orang yang sedang terjangkit tidak menyadari kalo ia sakit. Wah, gawat juga kalo gini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kalangan homo, salah satu pasangan ada yang berperan sok jadi wanita alias banci, wadam, atau wanita jadi-jadian. Tapi tak jarang juga kaum homo ini adalah lelaki tulen yang memang dia lebih menyukai sesama laki-laki sebagai penyaluran hasratnya. Siapa sih yang nggak tahu Mas Nunu alias si Keanu Reeves? Doi yang jelas-jelas tampangnya <em>macho</em> khas cowok banget plus tampan sampai bikin cewek tergila-gila, ternyata eh ternyata adalah seorang <em>hombreng</em> alias homoseks. Dia nggak tertarik dengan cewek lagi, tapi lebih memilih cowok untuk dijadikan pacar dan pelampiasan nafsu seksnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang sih, masyarakat Barat yang sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) berpotensi besar untuk mempunyai warga yang &#8217;sakit&#8217; ini. Nggak heran banget, karena pola hidup mereka yang bebas antara lawan jenis, bisa membikin jenuh juga. Aurat cewek diobral di mana-mana. Nggak ada sesuatu pun dalam diri si cewek yang dianggap <em>privacy</em>. Jadilah lama-lama para cowok merasa bosan juga melihat pemandangan yang itu-itu mulu. Keindahan tubuh perempuan jadi nggak bikin minat lagi. Jadilah naluri seksual itu dilampiaskan ke sesama jenis, hiiiii&#8230;<em>naudzhubillah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Indonesia yang memang terkenal latah suka ikut-ikutan, jelas banget gampang terkena penyakit ini. Karena coba-coba, dorongan ekonomi bahkan hingga pelecehan seksual ketika masih kecil menjadi sebagian faktor pendorong munculnya sikap homo. Yang paling parah adalah ketika problem masyarakat ini dilegalkan secara akademis dan memakai Islam sebagai kedok. Beberapa IAIN di Indonesia bahkan terang-terangan mendukung kaum homo dengan memutarbalikkan ayat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Homo, mulai berani unjuk diri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kaum homoseks di dunia umumnya dan Indonesia khususnya, sudah tidak malu-malu lagi mengakui bahwa dirinya adalah seorang homo. Hal ini wajar karena dengan berkembangnya teknologi semacam internet, membuat kaum homo di belahan bumi yang stau merasa senasib dengan kaum homo di belahan bumi lainnya. Mereka saling mendukung dan membela &#8216;kaum&#8217;nya dengan berbagai macam cara. Jadilah mereka mendirikan perkumpulan kaum homo yang tujuannya adalah memperjuangkan hak-hak kaumnya terutama dalam tataran hukum sehingga boleh kawin secara sah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum homo ini seolah-olah mendapat angin segar ketika kaumnya bukan hanya didominasi para selebritis yang jelas-jelas emang nggak bisa dipertanggungjawabkan gaya hidupnya. Kalangan intelektual pun sudah mulai dijangkiti penyakit homo ini. Dede Utomo sebagai bapak Homo Indonesia adalah seorang dosen salah satu universitas negeri ternama di Surabaya yang bergelar doktor. Professor di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, Musdah Mulia bahkan menganggap homoseks adalah sesuatu yang alami dan berasal dari Tuhan sehingga tidak ada alasan untuk menolak homoseks.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak berhenti di situ saja. Seorang jebolan universitas ternama di Jogjakarta yang lulus dengan predikat <em>cumlaude</em> juga adalah seorang homo terkenal. Tapi keterkenalan homo yang satu ini bukan karena universitasnya melainkan prinsip dan busana yang dikenakannya. Yupz&#8230;.dia mentahbiskan dirinya sebagai seorang muslimah taat yang berbusana jilbab dan kerudung menutup rapat seluruh tubuhnya. Dia pun menyebut dirinya sebagai akhwat sholihah (gubraks) yang sedang mencari ikhwan idaman. Uniknya, meskipun sudah mengumumkan dirinya dengan terang-terangan perpindahan orientasi seksualnya, homo yang satu ini masih takut untuk meninggalkan sholat Jumat yang memang notabene wajib bagi muslim laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Parahnya, kaum gay ini menuntut agar bisa kawin dan hidup berumah tangga selayaknya manusia normal lain. Di banyak negara seperti Belanda dan Amerika, pasangan gay ini bisa mendapat tempat dan menikah resmi di gereja. Bila kita tak waspada terhadap bahayanya gaya hidup gay ini, bukan tak mungkin ada antek-antek asing yang &#8216;pura-pura&#8217; menjadi intelektual muslim dan melegalkan aktivitas kaum gay ini. Salah satunya yang sudah bergelar profesor yang jelas-jelas merusak Islam dari dalam adalah Siti Musdah Mulia yang melegalkan homoseks.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Biang kerok munculnya homo</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sampailah kita pada bahasan untuk mencari biang kerok munculnya fenomena homo ini. Kalo dirunut ke belakang, hampir semua kasus menyimpang ini adalah akibat lingkungan. Lingkungan dalam hal ini bisa jadi keluarga yang tidak harmonis, ayah ibu selalu bertengkar, atau ayah yang selalu jadi pecundang dan kalah dengan sikap otoriter sang ibu, dan lain-lain. Atau bisa jadi dominasi saudara yang semuanya perempuan bahkan mungkin juga salah pergaulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari semua peluang kemungkinan itu, yang paling besar pengaruhnya adalah sebuah sistem yang mapan di masyarakat bernama kebebasan. Kebebasan bersikap adalah menjadi salah satu pilar dari sistem yang jelas terlihat kerusakannya yang bernama <em>democrazy</em> (baca: demokrasi). Sistem usang inilah yang menjadi dewa di mana-mana, disanjung dan dipuja. Sistem ini sengaja dijajakan oleh Amerika dan sekutunya sebagai sarana untuk memalingkan umat Islam dari keberadaan Allah sebagai al-Khalik sekaligus al-Mudabbir (pencipta dan pengatur).</p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah lindungan demokrasi, manusia jadi bebas mau berbuat apa saja. Bahkan tak jarang seseorang yang awal mulanya normal sebagai laki-laki yang mencintai wanita bahkan sudah mempunyai keturunan, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat nafsu dengan laki-laki saja. Dia pun memilih untuk cerai dari istrinya dan memutuskan menikah dengan sesama laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekulerisme adalah biang kerok selanjutnya yang berusaha memisahkan peran agama (Islam) dari kehidupan. Sekularisme inilah asas dari Kapitalisme yang sangat memuja materi sebagai tujuan hidup. Bahkan banyak motif dari seseorang yang semula normal menjadi homo, juga karena UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Ketika sedang menulis tema ini, ada seorang teman &#8217;share&#8217; tentang beberapa homo yang dikenalnya juga menjadikan uang sebagai motif utama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka ini terpesona oleh gemerlap kota metropolitan dan bertemu dengan kalangan berduit yang sudah bejat moralnya. Karena ketampanan dan body yang cenderung aduhai (ingat body Om Nunu alias Keanu Reeves), mereka pun ditaksir para Om-Om hidung belang. Mereka yang semula polos akhirnya rusak dan terjerumus gaya hidup kaum gay.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin persoalan ingat mati apalagi akhirat yang nggak kelihatan, sangat jauh dari pikiran mereka. Yang penting, hidup hanya untuk <em>having fun</em> aja dulu. Materi sebagai ujung tombak ideologi kapitalisme telah memainkan perannya di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Solusi donk&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang bisa diajak untuk sembuh bila ia tahu bahwa dirinya sedang sakit. Begitu juga dengan masyarakat, ia akan berbenah untuk mencari solusi ketika ada kesadaran bahwa <em>something wrong</em> sedang terjadi di antara mereka. Tidak ada masalah yang tak punya jalan keluar. Selalu ada solusi bagi mereka yang mau berupaya mencarinya terutama dalam sudut pandang Islam. Karena bagaimana pun, cuma Islam yang punya ketegasan sikap dalam masalah homoseks ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tak ingin Allah Swt. murka. Karena bila sampai Allah murka, maka sungguh tak akan ada yang selamat dari adzabNya meskipun ia adalah orang beriman. Karena yang namanya adzab itu nggak mungkin pilih-pilih datangnya. Ia akan menghantam siapa saja yang ada di antara kaum pendurhaka itu. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya dakwah yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya dakwah yang kayak gimana? Dakwah yang menyeru kepada sistem Islam dong ya. Karena masalah homoseks ini adalah buatan sistem bobrok bernama demokrasi yang sangat memuja kebebasan, maka solusinya juga harus dengan sistem baik dan benar bernama sistem Islam. Kalo mengharapkan penyelesaian dari sistem yang ada saat ini, udah deh nggak usah berharap terlalu banyak. Sedangkan koruptor yang trilyun-an, begitu juga otak pembunuhan profesional semacam Tomy bisa bebas lenggang kangkung, apalagi &#8216;cuma&#8217; seorang homoseks. Nggak bakal ada yang peduli.</p>
<p style="text-align: justify;">Hukum Indonesia tuh kan warisan dari penjajah Belanda, salah satunya adalah selama perbuatan seseorang tidak mengganggu orang lain, maka tak ada orang lain yang bisa menuntutnya. Biar kata dia mau telanjang, mau homo, mau zina, selama tidak ada pihak yang merasa dirugikan, nggak bakal ada pasal hukum yang bisa menjerat pelakunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beda dengan hukum Islam. Homo atau nama kerennya adalah <em>liwath</em> itu sudah pernah terjadi di zaman Nabi Luth. Saat itu Allah telah memberi peringatan agar mereka para pendosa itu segera bertaubat. Bukannya tobat, eh&#8230; malah mereka naksir malaikat yang menjelma menjadi manusia dan bertamu ke rumah Nabi Luth. Jelas saja Allah murka dengan manusia jenis ini. Adzab Allah berupa dibaliknya bumi yang atas menjadi di bawah dan yang bawah menjadi di atas, kemudian dijatuhkanNya batu dari tanah yang terbakar menghunjami kaum pendosa itu. <em>Naudhubillah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>&#8220;Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,&#8221;</em> <strong>(QS Huud [11]: 82)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Juga, Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>&#8220;dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik&#8221;</em> <strong>(QS al-Anbiyaa&#8217; [21]: 74)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Maksud perbuatan yang keji dalam catatan <em>di al-Quran dan Terjemahnya</em> yang diterbitkan Departemen Agama RI, adalah homoseksual dan menyamun serta mengerjakan perbuatan tersebut secara terang-terangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di masa Rasulullah dan para khalifah penggantinya, hukum bagi homoseks adalah bunuh. Ya, hukuman yang bakal dikenakan kepada kaum homo dan lesbian ini adalah dibunuh (jika tidak mau disadarkan). Imam Syafi&#8217;i menetapkan pelaku dan orang-orang yang &#8216;dikumpuli&#8217; (oleh homoseksual dan lesbian) wajib dihukum mati, sebagaimana keterangan dalam hadis, Rasulullah saw. bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktik homoseksual dan lesbian), maka ia harus menghukum mati; baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya.&#8221; </em><strong>(HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi)</strong>. (dalam <em>Zainuddin bin Abdul &#8216;Aziz Al Malibaary, Irsyaadu Al &#8216;ibaadi ilaa Sabili Al Risyaad. </em>Al Ma&#8217;aarif, Bandung, hlm. 110)</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya, karena saat ini tidak ada Negara Islam berwibawa yang berkompeten melaksanakannya, maka sungguh sayang sanksi ini tidak bisa diterapkan. Walhasil, semakin merajalela yang namanya kaum homoseksual ini. Bila pun ada negeri yang berusaha menerapkan hukum bunuh bagi kaum homoseks, Amerika dan sekutunya serta para aktivis homo akan serentak mengecam bahkan memberi sanksi. Obama saja yang dianggap sebagai pembawa perubahan, adalah presiden Amerika yang mendukung dan melindungi keberadaan dan hak-hak kaum homo. Halah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Finally&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, tak bisa tidak bahwa sedikit kontribusi yang bisa kita lakukan bagi perbaikan umat ini adalah dengan berdakwah. Karena sungguh, hukum Islam tidak bisa diterapkan secara parsial atau setengah-setengah saja. Sudah saatnya kita bergerak untuk menyadarkan umat tentang bahaya demokrasi. Karena sesungguhnya inilah biang kerok kerusakan yang banyak dipuja-puja masyarakat dunia. Homoseks hanya satu dari bejibun &#8216;dosa-dosa&#8217; demokrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam saja yang memberi solusi sempurna bagi setiap permasalahan kehidupan termasuk dalam hal homoseksual ini. Jangan beranggapan bahwa kamu aman-aman saja. Ingat adik-adikmu, ponakan, saudara-saudara yang lain juga. Bila tidak sekarang kita bergerak untuk melakukan perbuatan, jangan menyesal kemudian bila semua terlambat. Dalam sistem yang jauh dari Islam seperti saat ini, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali mengupayakan dengan maksimal agar Islam kembali diterapkan secara utuh dan sempurna. <em>So</em>, jangan bengong aja. Ayo, berdakwah!</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, buat kaum homoseksual, tulisan ini bukan memojokkan kalian, tapi kami mengajak dengan cinta agar kalian bisa balik ke &#8216;habitat&#8217; awal. Jangan mengampuni apa yang kalian lakukan bahwa homoseksual adalah takdir dan kalian mengklaim tak bsia menyembuhkannya. Insya Allah selalu ada jalan. Asal kalian mau berubah meyakini kebenaran Islam dan ajarannya, dan meyakini bahwa hanya Allah Swt. sajalah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan ditaati peraturanNya. Sip kan? Yuk, benahi akidahmu! Sekarang, udah banyak penolong di internet dengan menyebarkan informasi yang benar tentang Islam untuk menyadarkan para homoseksual. Al-Quran sudah jelas membahas masalah ini. Tinggal kalian yang harus menundukkan hawa nafsu kalian dan kemudian taat kepada Allah Swt. dan RasulNya dengan cara mengikuti aturanNya, yakni Islam. Siap kan? <strong>[ria: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/homoseksual-awas/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Kamu Naksir Cowok</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-naksir-cowok</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-naksir-cowok#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 00:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2473</guid>
		<description><![CDATA[Cewek naksir cowok? Wajar nggak sih? Trus, gimana pelampiasannya? Minta dipacarin? Eit&#8230;tunggu dulu. Jangan terburu nafsu, Non! Simak abis dulu yang satu ini, baru menentukan tindakan. Setuju?
Kalau cowok naksir cewek, trus ngajak pacaran, itu sih udah jamak bin umum banget. Soalnya kaum Adam emang dianggap berhak duluan menyatakan perasaannya. Cewek naksir cowok, sebetulnya juga udah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Cewek naksir cowok? Wajar nggak sih? Trus, gimana pelampiasannya? Minta dipacarin? Eit&#8230;tunggu dulu. Jangan terburu nafsu, Non! Simak abis dulu yang satu ini, baru menentukan tindakan. Setuju?</em></strong></p>
<p>Kalau cowok naksir cewek, trus ngajak pacaran, itu sih udah jamak bin umum banget. Soalnya kaum Adam emang dianggap berhak duluan menyatakan perasaannya. Cewek naksir cowok, sebetulnya juga udah relatif biasa. Apalagi di jaman pergaulan sekuler kayak sekarang. Tapi, kalau menyatakan perasaan duluan, sampai minta dipacarin, nah, itu masih jadi gontok-gontokan. Ada yang bilang itu sih amit-amit. Tapi, banyak juga kok yang setuju. Bingung? Kita tanya yuk pendapat kawan-kawan Permata.</p>
<p>Listia, gadis <em>sweet seventeen</em> ini mengatakan, sah-sah aja cewek naksir cowok, lalu menyatakan perasaannya duluan. &#8220;Sekarang kan jamannya udah beda. Udah emansipasi dong! Jadi nggak hanya cowok yang boleh ngomong cinta duluan, cewek juga boleh kok, asal kagak malu aja,&#8221; begitu Tia -sapaan beken di kalangan gengnya-beralasan. Meski tanpa menyertakan dalil, apalagi hasil survey seperti kuis <em>Family 100</em>, Tia meyakinkan bahwa banyak temen-temennya yang menganut &#8216;aliran&#8217; itu.? Termasuk kamu dong? &#8221;Lha, iyalah! Saya kan pelopornya boo&#8230;,&#8221; ujarnya bangga. (Pantesan gacoannya banyak banget. Di kelas punya pacar, tetangga juga ada, di pasar, di pinggir jalan, di emper toko, bahkan tukang siomay jadi korbannya).<span id="more-2473"></span></p>
<p>Desma, pelajar SMU di Bogor punya pandangan sedikit beda. Doi sih nggak memungkiri kalau cewek bisa jatuh hati duluan ama cowok. Namanya juga punya ati. Kalau ditekan, bisa makan hati dong! &#8220;Tapi kalau musti nyatain perasaan duluan, itu sih kurang manis. Gengsi dong! Kesannya jadi kitanya yang <em>agre</em> (padahal emang iya, kan?). Mending lewat perantara aja, misalnya bisa minta tolong temen deket cowok itu buat nyelidiki, gimana perasaan dia,&#8221; ulasnya panjang dan lebar.</p>
<p>Sambil membenarkan letak kacamata minusnya Desma menambahkan, kalau cewek menyatakan perasaannya duluan, takutnya nanti malu. &#8221;Iya kalau cowok yang ditaksir juga punya perasaan sama, kalau nggak kan <em>tengsin</em>. Namanya bertepuk sebelah tangan. <em>Kecian kan</em>&#8230;,&#8221;? cetusnya lagi.</p>
<p>Nah, bagaimana komentar Adela Susanti yang akrap dipanggil Dela, mahasiswa perguruan tinggi negeri di Bogor? Katanya, punya perasaan sama lawan jenis sih wajar. Suka, kagum, sampai naksir, lalu jatuh cinta, itu bukaaaan basa basi. Cuman, jangan lantas perasaan itu dieksploitasi dengan pacaran or minta dipacarin. Misalnya, mengutarakan kata hati pada si cowok, lalu ngajak jalan bareng. &#8221;Bukan begitu pelampiasan cinta,&#8221; kata Dela yang ngaku pernah mutusin pacar-pacarnya gara-gara nggak mau pacaran ini (wah, berapa banyak cowoknya?). Trus, gimana yang bener?</p>
<p><strong>Jangan Rela Dipacari</strong></p>
<p>Jatuh cinta, itu emang fitrah. Karena, berbarengan penciptaan manusia, kita diberi anugerah <em>gharizah nau&#8217;</em> (naluri melestarikan jenis) yang salah satu manifestasinya adalah tertarik ama lawan jenis. Manifestasi lainnya berupa rasa sayang pada ortu, rasa keibuan, kebapakan, dll. So, kalau kamu naksir cowok, itu wajar. Malah aneh kalau kamu naksir sesama jenis.</p>
<p>Nah, ketika tumbuh benih-benih &#8216;daun waru&#8217; di hatimu, kamu musti teliti. Apakah itu pertanda kamu udah siap menanggung konsekuensinya, yakni <em>married</em> atau belum. Sebab konsekuensi agar kamu bisa deketan ama cowok yang kamu cintai cuma satu, married. Nggak ada itu istilah pacaran. Kenapa? Karena pada faktanya, aktivitas dalam pacaran banyak yang melanggar aturan Islam.</p>
<p><em>Pertama</em>, dalam pacaran pasti ada aktivitas pandang memandang aurat, atau memandang disertai syahwat antar dua insan. Ini jelas melanggar aturan Allah Swt agar <em>gadhul bashar</em> (lihat QS An-Nur: 30). Kalau pacarannya pake jilbab dan ikhwannya pake koko lengkap plus pecinya, sambil nunduk lagi, gimana? Ah, itu sih akal-akalan kamu aja!</p>
<p><em>Kedua</em>, kalau kamu pacaran, berarti kamu bakal pergi berdua-duaan alias mojok. bin khalwat. Padahal itu kan melanggar syara&#8217;. Nabi bersabda: &#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat dengan wanita yang tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga diantara keduanya adalah setan&#8221; (HR Ahmad).</p>
<p><em>Ketiga</em>, kamu pasti ada pembicaraan yang di luar masalah muamalah alias masalah intim. Misalnya ngerumpiin soal perasaan masing-masing, soal hobi, soal keluarga, dll. Padahal, interaksi laki-perempuan dibatasi syara&#8217; hanya untuk masalah muamalah seperti masalah jual beli, pendidikan, pengurusan umat, dakwah, dll. Yah, kecuali kalau udah <em>khitbah</em>, boleh tuh ngomongin soal keluarga atau rencana pernikahan.</p>
<p><em>Keempat</em>, kadang (atau sering?) pacaran itu disertai aktivitas lebih berani seperti pegang-pegangan, raba-rabaan (copet kali!), <em>pijit-pijitan</em>, ciuman atau yang lebih gawat sampai berzina. Istilahnya pacaran itu acapkali melibatkan KNPI (Kissing, Necking, Petting, Intercourse - terjemahannya cari sendiri ya!). Padahal Islam mewanti-wanti agar tidak mendekati zina, apalagi sampai berzina.</p>
<p>Begitulah, naksir cowok bukan berarti melegalkan kamu buat mencari terobosan agar bisa jalan bareng ama cowok itu. Jadi, kalau tuh cowok ternyata juga naksir ama kamu, jangan malah seneng. Syair lagu Saden &#8216;Oh senangnya, waktu kau tembak aku, langsung kujawab, iya&#8230; kau jadi pacarku&#8217; itu salah. Harusnya&#8230; iya&#8230;kau jadi suamiku (<em>ceile</em>&#8230;), gitu!</p>
<p>Lantas, kalau kamu belum siap terikat dalam pernikahan, alihkan perasaanmu. Kendalikan <em>gharizah nau&#8217;</em> kamu. Camkan dalam kamus hidup kamu untuk tidak pacaran sebelum menikah. Bila syahwatmu muncul, misalnya tiba-tiba kamu naksir sama <em>someone special</em>, alihkan pada kegiatan lain yang lebih bernilai ibadah, silaturahim ke temen, ikut kegiatan yang positif atau baca bacaan Islami (kayak majalah kesayanganmu ini he..he..). Kamu bisa juga membentengi diri dengan shaum.</p>
<p>Oh, ya. Biar kaum Adam nggak gampang kepincut kamu, kamu juga musti hati-hati bila punya pesona. Jangan diobral ke sana ke mari (Itu sih namanya murahan, Non!). So, kalau kamu punya wajah manis kayak Katie Holmes, body aduhai bak Pamela Anderson, senyum menawan layaknya Jeniffer Lopez atau otak secerdik Betty La Fea, bersyukurlah. Tapi, cara mensyukurinya bukan dengan menjadikannya sebagai magnet untuk menarik lawan jenis kamu. Jadi, jangan sengaja menampakkan kelebihanmu itu. Misalnya dengan dandan menor (badut kali!), pakai baju ketat (kayak bacang), pakai parfum yang baunya bikin para cowok klepek-klepek, dll. Ingat kata pepatah, cinta itu datangnya dari mata turun ke hati.</p>
<p><strong>Kalau Cinta Jangan Marah</strong></p>
<p>Trus, kalau naksir cowok itu wajar, meski pelampiasannya bukan dengan pacaran, lalu gimana hukumnya kalau cewek menyatakan perasaan duluan? Dalam konteks meminta untuk dinikahi -bukan buat dipacarin- maka Islam membolehkannya. Jadi nggak usah <em>ngeper</em> meminta dikhitbah, kalau emang udah siap <em>married</em>. <em>Wong</em> <em>Ummul Mu&#8217;minin</em> Khadijah aja, nggak jatuh harga diri kok meminta Kanjeng Nabi Muhammad untuk menjadi suaminya.</p>
<p>Tapi, ini bukan masalah emansipasi, lho. <em>But</em>, dalam Islam memang dibolehkan wanita meminta seseorang untuk menikahinya atau mencarikan suami untuknya. Caranya, bisa minta tolong ama ortu kamu, atau melalui perantara orang deketnya cowok or ikhwan idamanmu itu. Hanya saja, jatuhnya khitbah tetap ada pada pihak kaum Adam. Maksudnya, kalau ada cowok yang nggak mau ama kamu, meski udah cinta berat, ya nggak bisa dipaksakan teken kontrak nikah. Jadi nggak usah pake pelet atau dukun segala.</p>
<p>Nah, kalau kamu dilanda cinta, naksir berat ama cowok, jangan marah kalau nggak bisa mengekspresikannya dengan pacaran. Kalau siap <em>married</em>, siapa takut. Tapi kalau belum siap married, yah jomblo aja lagi! Gimana? Yang masih nggandeng pacar, siap mutusin, kan? Nggak apa-apa kok, jangan menangis dong, Non!<strong>[asri]</strong></p>
<p>Boks &#8212;&#8212;-</p>
<h3>Jurus Hadapi Lawan Jenis</h3>
<p>1.????? Jaga tingkah laku kamu, jangan suka menarik perhatian. Misalnya, jangan suka jalan sendirian, apalagi jalannya lenggak-lenggok kayak bus oleng di hadapan sekumpulan kaum adam. Jangan obral senyum manis ke kanan-kiri (ntar dikira orgil), jangan bicara dengan suara merdu mendayu bak penyanyi dangdut yang membuat cowok berpikiran ngeres (lihat QS Al-Ahzab: 33). Jangan pula suka godain cowok. (idih, emangnya apaan). Biasanya, cowok jadi suka ama cewek <em>agre</em> yang mampu menaikkan aliran desir darah mereka. Ujung-ujungnya, mereka terpesona, naksir kamu, ngajak pacaran, dan seterusnya.</p>
<p>2.????? Bila ada yang menyatakan jatuh cintrong ama kamu, apalagi yang berani terus terang mau macarin kamu, langsung aja katakan nggak rela&#8230;nggak rela&#8230;!? Tegaskan, malah kalau perlu sertakan pula dalil-dalilnya (kalau nggak hapal boleh awa? contekan, kok), bahwa kamu bukan penganut aliran pacaran, termasuk pacaran Islami (emang ada?), apalagi <em>backstreet</em>. Kalau kamu mau, tantang aja si dia buat mengkhitbah or menikahi kamu. Itu sih kalau kamu emang udah siap lahir batin buat married. Kalau nggak, tinggalin aja. (Kasihan <em>deh loo</em>&#8230;)</p>
<p>3.????? Jangan pernah menyalakan lampu hijau. Maksudnya, tak usahlah ngasih harapan pada cowok-cowok yang ada hati sama kamu. Itu hanya akan membuat mereka tambah semangat empat lima buat ndeketin kamu. Bisa-bisa, pertahanan yang kamu buat capek-capek ambrol karena godaan &#8217;syetan&#8217; yang dahsyat.</p>
<p>4.????? Jangan mudah kepincut rayuan gombal atau pujian romantisme para cowok. Biarpun yang merayu itu nggak kalah <em>cute</em> dari Justin Timberlake, atau kata-katanya seromantis lagu-lagu Dewa, nggak usah tergiur. Nggak sedikit cowok tipe perayu yang hanya mau macarin kamu karena menginginkan kenikmatan sesaat dari tubuhmu. Jadi, jangan coba-coba beri kesempatan.</p>
<p>5.????? Jangan mudah kagum <em>and</em> simpati berlebihan ama cowok. Misalnya sama ketua kelasmu, bintang kelasmu -tentunya yang cowok&#8211;, atau jangan-jangan sama gurumu. Bahaya! Soalnya, dari kagum dan simpati itulah biasanya benih-benih asmara bisa muncul. So, jangan tiru gadis penakluk yang jatuh hati sama gurunya itu, ya!</p>
<p>6.????? Jangan tergoda teman-temanmu yang penganut aliran pacaran. Kalau kamu diledekin karena masih <em>jomblo</em>, sabar aja. Dakwahi aja teman-temanmu itu bahwa yang namanya pacaran itu kagak bener.? Kalau perlu, sampai mereka putus pacaran. Jadi, mereka yang harus ikut &#8216;aliran&#8217; kamu, bukan kamu yang terbawa arus pergaulan bebas mereka. Oke?[<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di rubrik "Banaat", Majalah PERMATA, edisi September 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalau-kamu-naksir-cowok/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Reruntuhan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dari-reruntuhan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dari-reruntuhan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 19:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2452</guid>
		<description><![CDATA[By: Haekal Siregar
John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.
&#8220;Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?&#8221; canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.
&#8220;Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?&#8221; John masih bercanda.
&#8220;Entahlah,&#8221; jawab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Haekal Siregar</strong></p>
<p>John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.</p>
<p>&#8220;Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?&#8221; canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.</p>
<p>&#8220;Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?&#8221; John masih bercanda.</p>
<p>&#8220;Entahlah,&#8221; jawab Michael pelan.</p>
<p>&#8220;Kamu masuk angin?&#8221; Jhon dengan mimik serius. Michael menggeleng kaku.</p>
<p>&#8220;Jhon, cerita penderitaan dan kehancuran di sini dalam waktu singkat akan memenuhi semua media cetak dunia. Kau yakin kita tidak mendapat berita basi?&#8221; John tercenung. Tidak ada stasiun televisi yang akan mau membayar mahal untuk cerita yang akan dimiliki semua orang. Kalau rencana liburan ke Hawaii masih mau dilanjutkan, mereka harus mencari sisi lain. Terlalu sayang pengorbanan mengarungi perairan yang baru terkena tsunami, bila hanya memperoleh sedikit imbalan.<span id="more-2452"></span></p>
<p>&#8220;Apa usulmu?&#8221; John membayangkan malam gelap yang mereka lewati di atas perahu nelayan tempohari.</p>
<p>&#8220;Kau ingat aturan pertama jurnalis mendapatkan berita?&#8221; cetus Michael.</p>
<p>&#8220;Kita tidak boleh pasif menunggu berita!&#8221; Jhon asal, perutnya mulai berkeruyuk minta isi.</p>
<p>&#8220;Tepat sekali! Selain karena tsunami, apa yang membuat daerah ini terkenal?&#8221; Michael dengan semangat menohoknya.</p>
<p>&#8220;Tariannya?&#8221; Otak Jhon agak macet kalau sedang lapar.</p>
<p>&#8220;Kita buat saja liputan konser tarian daerah di wilayah bencana. Itu pasti akan menjadi berita yang sangat menarik!&#8221; Michael mendengus kesal. Ia paling tidak suka apabila idenya dibuat bercanda.</p>
<p>&#8220;Oke, serius! Apa kaitan GAM dengan tsunami?&#8221; Jhon semakin tak fokus, karena perutnya mulai menjerit.</p>
<p>&#8220;Ingatkan aku mengganti kameramenku setelah mencapai peradaban! Sepertinya otakmu jauh menurun sejak pertama kali datang ke tempat ini,&#8221; Michael memasang wajah kecewa. John memukul tangan Michael dengan keras, walaupun sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kita meliput suasana tegang GAM dengan TNI setelah bencana?&#8221; Pemandangan yang ia lihat lumayan mengurangi nafsu makannya. Mayat seorang ibu yang sedang memeluk anaknya, berusaha melindungi sampai saat terakhir. &#8220;Tepatnya, kita buat ketegangan GAM dengan TNI setelah bencana. Kita satu-satunya yang berhasil meliputnya, lengkap!&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke, tiga-dua kali ini. Kau hampir menyusul kepiawaianku, Nak,&#8221; John seketika tersenyum, duduk di sebuah bangku yang dihanyutkan banjir.</p>
<p>&#8220;Tiga-dua mimpimu! Aku jelas sudah lebih piawai daripada siapa pun, sejak dulu!&#8221; sentak Michael sombong.</p>
<p>&#8220;Yang di Irak, itu kan ideku!&#8221; mereka terus bertengkar sambil bercanda di atas sebuah rumah besar yang hampir roboh. Dan mayat-mayat tersangkut di jendela lantai bawahnya.</p>
<p>&#8220;Ngomong-ngomong, kita malam ini tidur di sini?&#8221; keluh John memandang enggan ke arah mayat-mayat.</p>
<p>&#8220;Yah, kamu sudah siapkan maskernya kan?&#8221;</p>
<p>John melongo sebentar. &#8220;Oh iya, masker! Di mana?&#8221; Kali ini Michael menonjok tangan John dengan sungguh-sungguh.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Irak, Somalia, Filipina, hanyalah sebagian kecil dari petualangan mereka. Dua nama yang mulai melegenda di kalangan jurnalis internasional. Bagaimana mereka merekayasa situasi, membuat konflik yang direkam dan jual dengan harga yang sangat tinggi. Tidak ada yang mengetahui nama asli John dan Michael. Mereka bekerja lebih mirip mafia daripada jurnalis. Koneksi dan jaringan yang luas di kalangan preman, pengedar obat bius, tentara berbagai negara, membuat mereka mudah mengatur rekayasa. Mulai dari demonstrasi mahasiswa dan para buruh yang berkembang menjadi kerusuhan, kebakaran pasar, hingga pemberontakan dan kudeta di suatu negara.</p>
<p>Kini mereka berdiri di depan sebuah benteng, lebih mirip perkampungan yang dikelilingi pagar bambu.</p>
<p>&#8220;Kau yakin ini tempatnya?&#8221; Michael ragu. Tas yang disandangnya mulai terasa berat.</p>
<p>&#8220;Kenapa? Memang mirip benteng!&#8221;</p>
<p>&#8220;Terlalu mirip, terlalu mencolok! Hebat sekali kalau belum pernah digerebek,&#8221; Michael sinis.</p>
<p>&#8220;Entahlah, tapi begitulah menurut si Rizki. Sekarang di mana lagi bajingan itu? Katanya ia mau menemui kita,&#8221; umpat John. Mereka menunggu hampir setengah jam. Seorang lelaki kerempeng, berwajah licin muncul bersama lelaki yang berpakaian mirip tentara dan berwajah berwibawa.</p>
<p>&#8220;Ini orang yang saya ceritakan, Teuku. Mereka bilang ingin meliput para pengungsi yang datang ke perkampungan ini.&#8221;</p>
<p>Lelaki berwibawa memandang John dan Michael secara seksama sebelum berkata tegas kepada temannya, &#8220;Kamu tidak bilang mereka orang asing! Bagaimana kalau mereka mata-mata?&#8221;</p>
<p>John mengulurkan tangan sambil menyerahkan kartu pers. &#8220;John dan Michael, kami memang wartawan. Kantor kami tertulis di kartu ini. Silakan hubungi mereka kalau Anda tidak percaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalian bisa berbahasa Indonesia! Kenapa kalian ngotot bicara bahasa Inggris kemarin?&#8221; tuntut lelaki berwajah licin bernama Rizki itu.</p>
<p>&#8220;Kami sempat tinggal di Bali hampir setengah tahun,&#8221; jawab Michael sambil teringat pengalaman pahit mereka, melacak jejak pemboman Bali.</p>
<p>&#8220;Mengenai kemarin, kamu sendiri yang pertama-tama sok jago bisa bahasa Inggris?&#8221; John tersenyum geli.</p>
<p>Lelaki berwibawa hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Ia meneliti kartu pers yang diberikan John, seakan berharap menemukan tanda-tanda pemalsuan.</p>
<p>&#8220;Baik, saya Sayed pimpinan di sini. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya harap Anda tidak mengambil gambar apapun di sini,&#8221; kata Sayed sambil berjalan terlebih dahulu memasuki perkampungan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>&#8220;Seharian menunggu apa hasilnya?!&#8221; teriak Michael. John hanya terdiam. Ia sama kecewanya dengan Michael. Sayed merasa memanfaatkan momentum bencana untuk menyerang pemerintah. Sangat tidak berperikemanusiaan. Mereka bahkan dipersilakan untuk meninggalkan perkampungan.</p>
<p>&#8220;Aku juga tidak mengerti dengan mereka. Jelas-jelas ini kesempatan yang sangat bagus. Daerah tanpa pemerintahan dengan akses militer asing yang terbuka, bodoh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Satu berita tercoret dari daftar. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita? akhirnya terpaksa meliput segala tetek-bengek penderitaan <em>after disaster</em>?&#8221; Michael memandang John menuntut jawaban.</p>
<p>&#8220;Tunggu, biarkan aku berpikir dulu,&#8221; gumam John menunduk, gayanya bila mencari ide. Michael menunggu sambil berharap. Ia sudah kehabisan akal mencari bahan liputan yang bisa dijual mahal.</p>
<p>&#8220;Ingat awal karir kita? Merekam film dokumenter kehidupan suku terasing di Papua,&#8221; cetus Jhon tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Ya, lantas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita bisa memakai taktik dulu. Membayar orang untuk menimbulkan masalah, memicu peperangan, kemudian mendokumentasikannya,&#8221; John tersenyum, merasa perjalanan mereka tidak sia-sia.</p>
<p>Wajah Michael berbinar mendengar usul John. Kini mereka tinggal menemukan sekelompok orang yang mau melakukan apapun untuk uang. Dan di daerah korban bencana? Itu adalah hal paling mudah untuk dilakukan!</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p align="center">
<p>&#8220;Ssst&#8230;? Siap John?&#8221; ?bisik Michael kepada John yang sedang duduk di atas sebuah pohon, agak jauh dari jalan raya. Jhon mengangguk sumringah.</p>
<p>Rencananya akan ada pencegatan bantuan pangan oleh sekelompok orang yang mengaku GAM. Tindakan itu pasti akan memicu reaksi dari pemerintah. Kelak akan banyak pertempuran yang dapat direkam. Bahkan si pengecut Sayed itupun tidak akan dapat menghentikan bergulirnya bola api!</p>
<p>Iring-iringan truk pengangkut barang mulai terlihat. Dikawal jeep berisikan beberapa anggota TNI. Michael memberi isyarat pada beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Tak berapa lama kemudian terdengar letusan ban. Jebakan yang mereka pasang pasti mengenai sasaran. Iring-iringan itu berhenti, terhalang mobil jeep TNI yang kini bergeming.</p>
<p>Orang-orang suruhan itu berlompatan dari balik pepohonan sambil menodongkan senjata. Beberapa orang terlihat langsung melompat ke dalam truk terdepan, menodongkan senjata tepat di leher pengemudi. Setelah beberapa patah kata yang menunjukkan &#8216;identitas&#8217; mereka sebagai anggota GAM, para &#8216;perampok&#8217; itu mengeluarkan semua pengemudi, membawa lari empat truk yang penuh dengan makanan dan pakaian.</p>
<p>&#8220;Militer tak mengira ada serangan di kawasan parah itu!&#8221; Jhon tergelak penuh kemenangan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Hampir tengah malam, mereka, kedua lelaki itu berjalan gontai, setengah mabuk, di tengah reruntuhan sebuah perkampungan dekat Meulaboh. John membawa kameranya. Walaupun hanya bisa dijual murah. &#8220;Tak bakal sakit mengumpulkan receh,&#8221; menurut pepatah John.</p>
<p>Mereka dikejutkan oleh suara isakan dari tengah reruntuhan. Tidak seperti orang Indonesia yang cenderung berpikir horor, mereka malah penasaran mencari arah suara aneh. John mulai mempersiapkan kameranya untuk men-<em>shoot</em> kejadian apapun.</p>
<p>&#8220;John, di sana!&#8221; bisik Michael sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil yang terisak di reruntuhan. Anak kecil itu menutup matanya dengan sebelah tangan yang berlumuran darah kering, ketika senter Michael mengarah padanya.</p>
<p>&#8220;Apa yang sedang ia tangisi?&#8221; John sambil mulai merekam, sementara Michael mengedarkan senter mencari penyebab tangis anak tersebut.</p>
<p>&#8220;Ada tangan menyembul keluar!&#8221; seru Michael menyorotkan senternya ke sebuah tangan. &#8220;Mungkin itu mayat ibunya, Jhon!&#8221;</p>
<p>Senyuman John mulai merekah. Kejadian apa yang lebih mengiris hati daripada pemandangan seorang anak menangisi mayat ibunya yang tertimpa reruntuhan di tengah malam? Kejadian tragis bernilai mahal!</p>
<p>John merekam pemandangan itu dari berbagai sudut. Saat itulah, tanpa John sadari, pandangan Michael mulai berkaca-kaca. Ia mendekati reruntuhan.</p>
<p>&#8220;Michael, mau apa kamu? Nanti saja kita panggil bantuan!&#8221;</p>
<p>Tanpa menggubrisnya Michael mulai mengangkat balok yang menimpa ibu si anak.</p>
<p>&#8220;Ugh, mayat ini pasti sudah membusuk lebih dari seminggu,&#8221; John mencium bau menyengat.</p>
<p>Masih tanpa berkata-kata, Michael mulai melakukan hal yang terlihat mustahil bagi John! ?Ia mengangkat mayat itu!</p>
<p>&#8220;He, apa yang kau lakukan? Nanti kamu terkena cairan busuk mayat!&#8221;</p>
<p>Michael tak menyahut, memanggul mayat itu diikuti si anak menuju posko bantuan. Meninggalkan John yang masih keheranan dengan kelakuannya.</p>
<p>Sebulan sejak kejadian malam itu, tangan kanan Michael diamputasi terkena infeksi berasal dari cairan busuk mayat yang digotongnya. Sebelumnya memang sudah ada luka menganga di bahu Michael. Pertolongan pertama yang diberikan di posko bantuan jelas sangat tidak memadai.</p>
<p>&#8220;Aku bahagia sudah melakukannya,&#8221; jawab Michael pendek.</p>
<p>Infeksi yang terus menjalar itu melemahkan paru-parunya, sehingga berbicara merupakan siksaan tersendiri baginya. Di luar tim medis internasional menunggu bersama sebuah helikopter. Mereka akan memindahkan Michael ke rumah sakit di Singapura. John masih tidak mengerti waktu tim medis mulai menggotong Michael ke helikopter. Ketika membereskan barang-barang Michael, John menemukan sebuah buku kecil.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>&#8220;Aku masih belum bisa mengerti jalan pikiranmu!&#8221; gerutu John di hadapan sebuah makam, sepulangnya dari Hawaii. Nama <em>Imam Ahmadi</em> tertera di sana, nama Michael setelah ia mengucap ikrar syahadat di tengah sakit yang menyerangnya.</p>
<p>John berdiri di tengah hujan. Di tangan kanannya ada catatan harian Michael. Catatan yang menceritakan renungan-renungan Michael akan semua tindakannya, tujuan hidupnya, dan penyesalannya. Catatan yang menceritakan gejolak batin Michael selama menjadi jurnalis yang menghalalkan segala cara untuk mendapat berita. Catatan yang membuat John termenung hebat.[]</p>
<p>&#8212;</p>
<p align="right"><strong>Tentang Penulis:</strong></p>
<p align="right">Haekal Siregar; lahir di Jakarta, 17 Nopember 1981. Mahasiswa Ilkom IPB ini putra sulung pasangan penulis H.E. Yasin Siregar dan Pipiet Senja. Haekal menulis buku dari sebuah memoar tentang pernikahan dininya; <em>Nikah Dini Kereeen! 1 </em>&amp;<em> 2 </em>(Zikrul Hakim).</p>
<p align="right">
<p align="right">[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dari-reruntuhan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 23:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.? Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.? Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.</p>
<p>Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M).? Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk <em>al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century,</em> mengungkapkan, bahwa? Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.</p>
<p>&#8220;Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,&#8221; ungkap Scheppler.? Ahli sejarah Matematika John Joseph O&#8217;Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur? terlahir di kawasan? Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam <em>The Regions of the World</em>, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.<span id="more-2502"></span></p>
<p>Keluarganya &#8220;Banu Iraq&#8221; menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. &#8220;Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,&#8221; tutur O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu&#8217;l-Wafa (940 M - 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni? Al-Biruni (973 M - 1048 M).</p>
<p>Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.</p>
<p>Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.</p>
<p>Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma&#8217;mun dan menjadi penasihat Abu&#8217;l Abbas Ma&#8217;mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.</p>
<p>Ali ibnu Ma&#8217;mun dan Abu&#8217;l Abbas Ma&#8217;mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu.? Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.</p>
<p>Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan.? Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.</p>
<p><strong>Kontribusi Sang Ilmuwan</strong></p>
<p>Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.</p>
<p>Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri.? Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi? Romawi bernama? Claudius Ptolemaeus (90 SM - 168 SM).</p>
<p>Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM - 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.</p>
<p>Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama? al-Biruni. &#8221; Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.?? Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,&#8221;? papar? ahli sejarah Matematika John Joseph O&#8217;Connor dan Edmund Frederick Robertson</p>
<p>Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya? dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.</p>
<p>Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam <em>The Spherics of Menelaus</em>.</p>
<p>Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang? mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas <em>spherical astronomy</em> (bentuk astronomi).</p>
<p>Abu Nasr juga mengembangkan <em>The Spherics of Menelaus</em> yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk <em>Almagest</em>.</p>
<p>&#8220;Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,&#8221; jelas O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:</p>
<p>a/sin A = b/sin B = c/sin C.</p>
<p>&#8220;Abu&#8217;l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,&#8221; ungkap O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>O&#8217;Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M - 1000 M).</p>
<p>Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya <em>Biography in Dictionary of Scientific Biography</em> (New York 1970-1990). &#8220;Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,&#8221; katanya.</p>
<p>Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.</p>
<p><strong>Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr</strong></p>
<p>Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.<br />
Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.</p>
<p>Abu Nasr telah &#8216;melahirkan&#8217; seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. &#8220;Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,&#8221; cetus Sarton.</p>
<p>Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.</p>
<p>Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai &#8216;Bapak Indologi&#8217; - studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai &#8216;Bapak Geodesi&#8217;.</p>
<p>Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai &#8216;antropolog pertama&#8217; di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.</p>
<p>Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. hri/ des/she <a href="http://republika.co.id/berita/50088/Abu_Nasr_Mansur_Sang_Penemu_Hukum_Sinus" target="_blank"><strong>[REPUBLIKA]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Perayaan Natal?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-perayaan-natal</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-perayaan-natal#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 20:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2488</guid>
		<description><![CDATA[Udah basi kalo dibilangin tanggal 25 Desember adalah Hari Natal. Tapi tahu nggak, kalo perayaan tersebut menyimpan banyak kontroversi, bahkan digugat oleh sebagian kalangan nasrani sendiri? Ada apa dengan Natal?
Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Udah basi kalo dibilangin tanggal 25 Desember adalah Hari Natal. Tapi tahu nggak, kalo perayaan tersebut menyimpan banyak kontroversi, bahkan digugat oleh sebagian kalangan nasrani sendiri? Ada apa dengan Natal?</em></strong></p>
<p>Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata <em>Cristes maesse,</em> frase dalam Bahasa Inggris yang berarti<em> Mass of Christ</em> (Misa Kristus). Kadang-kadang kata <em>Christmas</em> disingkat menjadi <em>Xmas.</em> Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen terdahulu. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Nggak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, banyak yang pergi ke gereja untuk mengikuti perayaan keagamaan khusus. Selama masa Natal, mereka bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun <em>holly, mistletoe</em>, dan pohon Natal.<span id="more-2488"></span></p>
<p><strong>Sejarah Natal</strong></p>
<p>Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada.</p>
<p>Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan yang dilakukan oleh umat di luar Nasrani pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah.</p>
<p>Dalam <em>Catholic Encyclopedia</em>, edisi 1911, dengan judul <em>&#8220;Christmas&#8221;</em>, ditemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut: <em>&#8220;Christmas was not among the earliest festivals of Church&#8230;the first evidence of the feast is from Egypt, Pagan customs centering around the January calends garvitated to christmas.&#8221; </em>(&#8221;Natal bukanlah upacara gereja yang pertama&#8230;melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran Yesus.&#8221;)</p>
<p><em>Encyclopedia Americana</em> terbitan tahun 1944 juga menyatakan, <em>&#8220;Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut&#8230;&#8221;(&#8221;Perjamuan Suci&#8221; yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) &#8220;&#8230;Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Romawi yang merayakan hari &#8220;Kelahiran Dewa Matahari.&#8221; Sebab tidak seorangpun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.&#8221;</em></p>
<p>Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Di tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan di tahun 1500-an .</p>
<p>Gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya &#8216;kafir&#8217; karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan nggak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula.</p>
<p>Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.</p>
<p><strong>Misteri tanggal 25 Desember</strong></p>
<p>Herbert W. Arsmtrong (1892-1986), seorang Pastur di <em>Worldwide Church of God, </em>Amerika Serikat, menyatakan dalam bukunya, <em>The Plain Truth about Christmas</em>, bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember.</p>
<p>Abu Deedat Syihabuddin M.H, seorang kristolog dalam wawancaranya dengan majalah Sabili mengatakan, &#8220;Isa Almasih bukan lahir tanggal 25 Desember. Di kalangan Kristen sendiri ada perbedaan, ada yang tidak mau merayakan Natal pada 25 Desember seperti Advent dan Yehova. Mereka menganggap Yesus lahir tanggal 1 Oktober. 25 Desember itu, upacara penyembahan Dewa Matahari.&#8221;</p>
<p>Seperti yang kita tahu bahwa bulan Desember biasanya adalah musim dingin. Salju hampir merata turun di Eropa dan sebagian wilayah yang memang punya empat musim. Tentunya ini <em>tulalit</em> banget dengan kejadianya yang sering diceritakan tentang kelahiran Yesus Kritus yang mereka yakini. Bahwa, Yesus itu saat lahir suasana tempat kelahirannya banyak gembala yang menjaga ternaknya. Tentu aneh bin ajaib kalo banyak ternak dilepas di padang gembalaan pada musim dingin.</p>
<p>Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus, <em>&#8220;Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikan Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: &#8220;Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu juru selamat, yaitu Kristus, di kota Daud&#8221;</em></p>
<p>Jadi menurut Herbert W. Armstrong, nggak mungkin banget kalo para penggembala ternak itu ada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil.</p>
<p>Herbert menegaskan pula dalam bukunya bahwa Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kitab Kidung Agung 2 dan Ezra 10: 9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin para gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.</p>
<p>Adam Clarke mengatakan, <em>&#8220;Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila&#8230;hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. (Adam Clarke Commentary, Vol. 5, page 370, New   York)</em></p>
<p>Tuh kan, para cendekiawan Nasrani sendiri malah meragukan, tepatnya tidak yakin bahwa tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus. Tapi, seperti dalam sejarahnya, tetep aja sebagian besar umat Nasrani menganggap bahwa tanggal 25 Desember adalah hari kelahirran Yesus. <em>Tulalit</em> memang.</p>
<p><strong>Asal mula pohon Natal</strong></p>
<p>Para cendekiawan Nasrani juga ada yang mengkritisi tentang pohon Natal. Herbert W. Armstrong salah satunya. Masih dalam bukunya yang &#8216;kontroversial&#8217; itu (<em>The Plain Truth about Christmas</em>), ia menyatakan bahwa di antara penganut agama Pagan (penyembah berhala) kuno, pohon itu disebut &#8220;Mistleto&#8221; yang dipakai pada saat perayan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan.</p>
<p><em>Encyclopedia Americana </em>menjelaskan, <em>&#8220;The Holly, the mistletoe, the Yule log&#8230;are relics of pre-Christian times.&#8221;</em> (Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe, dan batang pohon Yule&#8230;yanga dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.&#8221;</p>
<p>Sedangkan dalam buku <em>Answers to Questions</em> yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa, hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen.&#8221;</p>
<p><strong>Siapa Sinterklas?</strong></p>
<p>Konon kabarnya, Sinterklas or Santa Claus yang diyakini oleh kaum Nasrani adalah sosok yang doyan membagi-bagikan hadiah di malam Natal. Mirip-mirip cerita fiksi memang. Anehnya sebagian besar kaum Nasrani mempercayainya. Tapi, siapakah Sinterklas sebenarnya?</p>
<p>Sinterklas ini adalah &#8216;ciptaan&#8217; seorang pastur yang bernama Santo Nicolas yang hidup pada abad keempat masehi. Hal ini dijelaskan oleh <em>Encyclopedia Britannica</em>, volume 19, halaman 648-649, edisi ke sebelas sebagai berikut: <em>&#8220;St. Nicolas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember&#8230;Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin&#8230;untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya terkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Sikap bagi kaum muslimin</strong></p>
<p>Sobat pembaca, begitulah kontoversi tentang Natal. Emang sih, mau begini, mau begitu bagi kita nggak penting-penting amat. Biarlah urusan umat Nasrani sendiri. Tapi, karena di tengah-tengah kita dihembuskan ide tentang toleransi beragama, yang kemudian menyeret sebagian besar umat Islam untuk ikut-ikutan merayakan bersama mereka sebagai bentuk penghormatan, maka ini yang jadi masalah. Intinya, kita ingin menjelaskan bahwa, ikut terlibat dalam merayakan hari keagamaan umat atau kaum lain-selain Islam, adalah haram dalam pandangan Islam.</p>
<p>Sabda Rasulullah saw.: <em>&#8220;</em><em>Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?&#8221; </em><strong>(HR. Bukhari Muslim)</strong></p>
<p>Hati-hati sobat. Jangan sampe kamu latah merayakan upacara keagamaan tersebut. Bahkan, dengan banyaknya kejanggalan di perayaan Natal tersebut semakin menunjukkan kelemahan agama tersebut. <em>Yes</em>, cuma Islam satu-satunya jalan hidup! <strong>[sholihin]</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>BOX:</p>
<h2>Fatwa MUI tentang Natal Bersama</h2>
<p>Banyak kaum muslimin yang belum tahu kalo acara Natal Bersama itu haram. Acapkali, dengan alasan toleransi, akhirnya sebagian umat Islam ada yang mengikuti acara tersebut. Bagaimana hukumnya? Berikut Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI tahun 1981.</p>
<p><strong>KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA </strong></p>
<p><strong>TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA</strong></p>
<p><strong>Memperhatikan: </strong></p>
<ol type="1">
<li>Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini      disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat      Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.</li>
<li>Karena salah pengertian tersebut ada sebagian      orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal      dan bahkan duduk dalam kepanitiaan Natal.</li>
<li>Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen      adalah merupakan Ibadah.</li>
</ol>
<p><strong>Menimbang: </strong></p>
<ol type="1">
<li>Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang      jelas tentang Perayaan Natal Bersama.</li>
<li>Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan      Aqidah dan Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Ummat Islam harus berusaha untuk menambah      Iman dan Taqwanya kepada Allah Swt.</li>
<li>Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam      Kerukunan Antar ummat Beragama di Indonesia.</li>
</ol>
<p>Meneliti kembali: Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:</p>
<p>A.???? Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas: al-Quran surat al-Hujarat ayat 13; surat Lukman ayat 15; surat Mumtahanah ayat 8 *).</p>
<p>B.???? Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan al-Quran surat al-Kafirun ayat 1-6; surat al-Baqarah ayat 42.*)</p>
<ol type="1">
<li>
<ol type="A">
<li>Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian       dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada       para Nabi yang lain, berdasarkan: al-Quran surat       Maryam ayat 30-32; surat al-Maidah ayat       75; surat       al-Baqarah ayat 285.*)</li>
<li>Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan       itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu       anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan al-Quran surat       al-Maidah ayat 72-73; surat at-Taubah ayat 30.*)</li>
<li>Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan       menanyakan kepada Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya,       agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab       Tidak. Hal itu berdasarkan atas al-Quran surat al-Maidah ayat 116-118.*)</li>
<li>Islam mengajarkan bahwa Allah Swt. itu hanya       satu, berdasarkan atas al-Quran surat       al-Ikhlas ayat 1-4.*)</li>
<li>Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk       menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt       serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan,       berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin Basyir (yang artinya): <em>Sesungguhnya       apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah       jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti       halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat       itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah       Agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat       maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang       yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin       sekali binatang itu makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap       raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa       yang diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).</em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:</p>
<ol type="1">
<li>
<ol type="1">
<li>Perayaan natal di Indonesia meskipun       tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu       tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.</li>
<li>Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam       hukumnya haram.</li>
<li>Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada       syubhat dan larangan Allah Swt. dianjurkan untuk tidak mengikuti       kegiatan-kegiatan natal.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981 M.</p>
<p>KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA</p>
<p>Ketua ???????????????????????????????????? Sekretaris</p>
<p>(K.H.M. Syukri Ghozali), ?????? (Drs. H. Mas&#8217;udi)</p>
<p>*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar al-Quraan yang disebutkan tadi ditulis lengkap dalam bahasa Arab dan terjemahannya, bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Wawasan", Majalah PERMATA, edisi Desember 2002-Januari 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-apa-dengan-perayaan-natal/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sepercik Embun Hidayah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sepercik-embun-hidayah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sepercik-embun-hidayah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 22:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2417</guid>
		<description><![CDATA[Rasa penasaran dan kecewaku terhadap ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim. Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih menjadi muslim 
Dulu aku adalah seorang penganut Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini. Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Rasa penasaran dan kecewaku terhadap ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim. Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih menjadi muslim </em></strong></p>
<p>Dulu aku adalah seorang penganut Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini. Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang biasa kulihat dan itu aku coba untuk memandang agamaku sendiri dari sisi yang agak berbeda dari yang lain, atau mungkin lebih tepatnya dari sisi yang tak pernah kulihat sebelumnya.</p>
<p>Keluargaku adalah sebuah keluarga yang sangat menekankan kondisi atau lingkungan yang sangat beragama, terutama ibu. Agama yang kuanut juga sebenarnya bukan karena aku memilih, namun karena aku dari kecil sudah diarahkan untuk mengenal satu agama saja. Yaitu Kristen Katolik.<span id="more-2417"></span></p>
<p>Karena itu aku pada tahap sekolah dasar aku ditempatkan pada sekolah Nasrani. Sampai aku lulus SD aku selalu dicekoki dan hanya biasa menerima pelajaran tentang Kristen Katolik saja. Enam tahun aku harus terbiasa menelan dan terus menerus mengenyam materi yang belum sempat aku bertanya dan belum sempat aku pahami. Selama itu pula aku hanya bisa menjadi seorang yang hanya biasa mendengar dan menghapal tentang apa yang diberi oleh pengajar, dan? aku tidak diperkenankan untuk bertanya tentang agamaku sendiri.</p>
<p>Menurut pengajar sekolahku , bahwa tak ada agama yang lebih baik dari agamaku itu. Aku hanya mulai berfikir: &#8220;Apakah benar bahwa tak ada agama yang lebih baik dari ini! Sedangkan aku bertanya tentang agamku sendiri saja tidak boleh?&#8221;</p>
<p><strong>Terjawab rasa penasaranku</strong></p>
<p>Ketika aku lulus SD, aku didaftarkan ibuku ditempat yang sama untuk melanjutkan ke jenjang lanjutan tingkat prertamaku. Aku hanya bisa diam dan menurut, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati: &#8220;Apakah aku harus menjadi pendengar setia selama tiga tahun lagi?&#8221;</p>
<p>Tapi mungkin alam berkehendak lain, aku tidak diterima. Entah harus bersikap bagaimana, ibuku sangat sedih, tapi yang pasti hatiku sangat senang dan gembira. Aku akhirnya didaftarkan di salah satu sekolah umum dan kali ini aku diterima. Tapi aku agak bingung bagaimana aku harus bersikap, karena selama ini aku hanya berkomunikasi dengan teman yang beragama sama denganku. Tapi yang pasti aku bahagia karena aku tidak lagi menjadi pendengar yang tak bisa untuk bertanya.</p>
<p>Ada satu hal yang menurutku sangat ganjil. Mereka teman-temanku yang berbeda agama denganku, terutama yang muslim sama sekali bersikap di luar dugaanku. Sikap mereka sama sekali berbeda dengan apa yang dikatakan oleh pengajar di sekolah dasarku dulu. Mereka tidak bersikap apatis dan sangat menerimaku apa adanya dan seringkali mengajakku dalam berbagai kegiatan. Terutama pada saat pelajaran Agama Islam, memang pertama tama aku keluar dan bermain di lapangan, namun lama kelamaan aku bosan dan akhirnya mengikuti pelajaran itu. Dan lagi-lagi satu hal yang sangat mengejutkan, mereka mengatakan agama mereka, agama Islam &#8220;Rahmatan</p>
<p>lil &#8216;alamin. Ramat bagi seluruh alam&#8221;</p>
<p>Semula aku bingung dengan makna kata itu namun lama kelamaan aku mengerti, kerena teman-temanku yang muslim tidak pernah membuat keributan dan lebih sering ceria ataupun bersenda gurau saja dan itu membuat suasana menjadi ceria. Dan yang paling membuatku salut dengan agama yang mereka anut adalah &#8220;Bagimu agamamu dan bagiku agamaku&#8230;&#8221; dan itulah satu satunya hal yang belum pernah kudengar dari agamaku. Ini merupakan suatu bukti bahwa mereka tak pernah memaksa orang lain untuk masuk agama mereka dan mereka sangat menghargai agama lain. Dan sayangnya agamaku tidak demikian.</p>
<p><strong>Menjadi muslim</strong></p>
<p>Waktu terus bergulir dan seiring dengan itu keinginanku untuk masuk agama Islam semakin kuat, apalagi ayahku kini seorang muslim. Tapi aku belum berani, karena masih menghormati dan memandang ibuku. Dan itu adalah salah satunya penghalangku untuk masuk dalam agama Islam secara kaffah.</p>
<p>Baru pada saat aku kelas 1 SMA aku berani dan bertekad untuk masuk Islam. Kenapa?</p>
<p>Karena aku memandang diriku sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Aku masuk Islam dengan dibantu bimbingan guru pengajar agama Islam.</p>
<p>Selang beberapa waktu ibuku mengetahui keIslamanku, dan aku memandang itu adalah sesuatu hal yang wajar karena aku sudah dewasa. Tapi rupanya tidak bagi ibuku. Ibuku datang ke sekolah dan memarahi kepala sekolahku dan menuduh guru agamaku sudah menghasutku untuk</p>
<p>masuk dalam Islam. Aku disuruh untuk kembali murtad.</p>
<p>Aku merasa masalah ini terlalu berat dan sangat kompleks. Aku menangis. Tapi aku sadar bahwa aku berada di lingkungan yang sangat Islami dan teman-teman yang mau mengerti aku. Kini akhirnya aku tetap berada dalam keIslamanku, aku mulai belajar mengkaji Islam lebih dalam, ternyata Islam tidak hanya sholat, puasa, ngaji, zakat, dan haji. Tapi Islam adalah <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em>, Islam mengatur semua kehidupan aspek manusia, mulai dari sistem pergaulan, perekonomian, pendidikan, budaya, politik, negara, hingga hal yang tak pernah ada dalam</p>
<p>agamaku yang dulu.</p>
<p>Teman-teman doakan aku agar tetap dalam jalanNya, kuatkan semangat kalian terhadap Islam, terus berjuang hingga hidup mulia di bawah naungan Islam atau mati sebagai syuhada yang mempertahankan agamaNya. Dan aku tak akan melepas Dien suci ini walau apapun yang terjadi nanti karena ini adalah hidayah Allah terbesar bagiku.</p>
<p>Detik jam terus berganti seiring dengan berputarnya sang mentari, tetesan embun pagi seolah sejukkan hatiku dari hitam dan kelamnya duniaku.</p>
<p>&#8220;Ahh&#8230;&#8230;&#8221; aku mendesah panjang. Dan kini aku coba untuk berani menatap di sekelilingku dan mencoba mengerti mengapa aku ada di sini, untuk apa aku disini, dan akan kemana aku pergi. Kini aku bersyukur memandang sekelilingku, teman yang tak terhitung, lingkungan yang juga menatapku dan menganggapku ada di dunia ini, serta sebuah Dien yang kini tertancap kukuh di sanubariku.</p>
<p style="text-align: left;">Walaupun kutahu itu belum lama dan mungkin hanya sebatas tunas, tapi bukankah sebesar besarnya pohon dia akan melalui masa di mana ia menjadi tunas. Allah, akhirnya aku bisa menyebut namaMu <strong>[seperti yang ditulis Hamed al-Rasyid untuk SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Oktober 2005]</em><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sepercik-embun-hidayah/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kusir dan Keledai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 23:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2481</guid>
		<description><![CDATA[Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka
You are what you eat
You are what you drink
You are what you think
(Kamu adalah apa yang kamu makan
Kamu adalah apa yang kamu minum
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)
Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka</p>
<p><em>You are what you eat</em></p>
<p><em>You are what you drink</em></p>
<p><em>You are what you think</em></p>
<p><em>(Kamu adalah apa yang kamu makan</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu minum</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)</em></p>
<p>Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan diri, kitalah yang punya peranan. Apa yang kita makan dan minum secara alami atawa <em>sunnatullah</em>, pastinya punya efek buat badan kita. Orang yang terbiasa makan manis dan berlemak, badannya pasti gemuk dan rawan terkena penyakit gula. Mereka yang makan dengan teratur dan gizi yang cukup pastinya berpeluang besar untuk hidup lebih sehat.<span id="more-2481"></span></p>
<p>Percaya atau tidak yang mengendalikan badan kita adalah pikiran kita sendiri. Mau seperti apa badan kita, akal kita yang mengendalikannya. Nggak sedikit orang ngejalanin pola hidup kacau karena pikirannya memang nggak sehat. Contohnya teman-teman kita yang terjebak pada pergaulan nggak sehat, kebelit narkoba, dsb. Sebetulnya, mereka adalah orang-orang yang nggak mampu mengendalikan diri dari godaan lingkungan, teman-teman, dan hawa nafsu. Mereka lebih memilih hanyut dalam kebiasaan orang lain ketimbang berpikir panjang dan menimbang untung-rugi buat diri sendiri.</p>
<p>Untuk itulah Allah SWT. menciptakan buat kita akal, kemampuan berpikir, agar manusia bisa memilah dan memilih. Apa yang kita kerjakan memang sebaiknya dipikirkan dulu. Kita hidup nggak semata mengandalkan insting layaknya hewan. Tapi ada hal-hal yang harus direnungkan dengan serius, karena memang ada efek baliknya buat diri kita sendiri. Contohnya begadang itu asyik, tapi kalau tiap malam begadang nggak karuan, sementara kerjaan kita banyak kamu bisa tebak sendiri hasil akhirnya. Saat kita mau kerja badan malah ancur.</p>
<p>Tapi sobat, nggak cukup cuma ada akal, Allah juga menurunkan agama Islam ini buat pedoman hidup. Supaya kita tahu mana yang halal dan mana yang haram. Karena kenyataannya akal kita kemampuannya <em>cetek</em> banget. Nggak selamanya kita bisa milih yang baik dan buruk buat kita dari hasil pikiran kita sendiri. Banyak masalah yang kita perlu jawabannya dari orang lain, termasuk dari Zat Yang Menciptakan kita, Allah Rabbul &#8216;alamin. Dan kita juga harus yakin kalau sesuatu yang halal pastinya baik buat manusia, dan yang haram pastinya mudlarat/bahaya buat kita semua.</p>
<p>Sobat, ibarat pedati, tubuh kita adalah keledai sedangkan pikiran kita adalah kusirnya. Keledai berjalan selalu menuruti kehendak kusirnya. Kapan ia berbelok atau lurus, juga kapan ia berlari kencang atau berjalan lambat, semua terserah keinginan sang kusir. Jangan salahkan keledai kenapa ia salah berjalan, atau kenapa ia tidak mampu lagi berjalan. Kusirnyalah yang bertanggung jawab. Mungkin sang kusir lupa arah perjalanan, teledor dan mungkin ia tidak pernah memperlakukan keledainya dengan baik. Sang keledai tidak diberi makanan dan minuman yang baik, istirahat yang cukup, atau mungkin tidak pernah diberi perlakuan yang menyenangkan.</p>
<p>Maka seperti apakah perlakuan kita pada diri kita sendiri? Apakah badan kita selalu dicukupi dengan hal yang baik-baik, atau justru yang merusak. Juga, apakah badan kita selalu dihibur dengan hiburan yang baik atau justru dibiarkan selalu menderita dan kelelahan? Jauh-jauh hari Nabi kita Muhammad saw. mengingatkan akan pentingnya perawatan diri. Sabdanya</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya padamu ada kewajiban menunaikan hak atas tubuhmu&#8221;</em>(HR. Imam Bukhari).</p>
<p>Salah satu hak yang kita harus tunaikan adalah istirahat dan hiburan. Agama kita juga bukan agama yang mendewakan penyiksaan diri dengan dalih ibadah. Rasulullah saw. malah dikabarkan pernah marah pada sekelompok anak muda &#8216;ngotot&#8217; ingin beribadah. Salah satunya pengen puasa terus-terusan dan yang lainnya nggak pernah mau istirahat karena pengen ibadah sepanjang malam. Beliau marah bukan sekedar karena mereka mengada-ada, tapi juga karena mereka berarti melupakan hak buat badan mereka. &#8220;<em>Barangsiapa yang tidak menyukai sunahku maka bukan golonganku,&#8221;</em> nasihat beliau.</p>
<p>Jangan lupa, seperti halnya badan kita, hati dan pikiran pun membutuhkan hiburan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib <em>karamallahu wajhah</em> mengatakan, &#8220;Hiburlah hati waktu demi waktu, karena jika dipaksa ia menjadi buta.&#8221;</p>
<p>Ya, badan dan pikiran kitapun membutuhkan istirahat. Mengabaikan itu semua berarti melakukan kedzaliman pada diri kita.</p>
<p align="center">* * * * * *</p>
<p><em>Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat</em>. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Kekuatan tubuh justru ditentukan oleh kekuatan jiwa, oleh pikiran kita. Jiwa dan tubuh yang kuat lahir dari pikiran yang sehat. Misalnya selalu? berpikiran positif, optimistis, tidak mudah cemas apalagi pesimistis, selalu curiga, dsb. Dalam dunia kedokteran modern kini sudah ditemukan hubungan antara kesehatan fisik dengan kesehatan mental. Ternyata kesehatan mental memberikan pengaruh yang sangat besar pada kesehatan tubuh. Mereka yang selalu cemas biasanya rentan terkena berbagai penyakit, seperti gangguan jantung.</p>
<p>Pikiran yang sehat hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa dekat pada Allah dan membina diri dengan berbagai pemahaman agama. Coba kita lihat, agama kita, Islam, senantiasa mengajak pemeluknya untuk memiliki aneka pikiran positif: husnudzan, optimisme dan penuh harapan, serta pasrah dan ikhlas atas segala ketentuan Allah. Bukankah itu sebagian dari pikiran-pikiran yang baik?</p>
<p>Maka kendali diri itu adalah memperkaya akal dan hati kita dengan pemahaman agama. Ruang akal dan hati yang diisi dengan pemahaman agama akan membentuk karakter dan tubuh yang kuat. Kebiasaan makan, minum, cara berpakaian, dan perilaku kita amat erat dengan pola pikir kita. Hanya orang-orang yang kaya dengan pemahaman agama-lah yang akan mendapatkan kemuliaan dan kebaikan. Dari agama kita jadi tahu misalkan, bahwa minuman keras berpotensi merusak kesehatan jantung, ginjal dan syaraf manusia. Demikian pula narkoba. Sementara itu makan dan minum yang berlebihan juga membuat organ-organ pencernaan kita bekerja tidak normal sehingga dapat mengganggu kesehatannya.</p>
<p>Sesungguhnya kekuatan pikiran amatlah dahsyat. Sebuah penelitian di Brookhaven National Laboratory Uptown New York, menemukan jawaban mengapa orang gemuk makan lebih banyak. Yakni karena otak mereka, khususnya bagian yang mengatur rasa nikmat makanan pada mulut, lidah dan bibir, lebih aktif serta sensitif merasakan nikmatnya makan lebih dibanding orang yang kurus. Bisa disimpulkan bahwa pikiran berpengaruh luar biasa pada pola makan seseorang. Jadi, sebelum orang melakukan berbagai diet atau mengkonsumsi makanan non-kolesterol dan obat-obat pelangsing lainnya, mereka terlebih dahulu harus mengendalikan pikiran mereka soal makanan.</p>
<p>Di bulan puasa inilah kesempatan kita untuk melatih pikiran dan mengendalikan diri kita. Karena puasa seperti kata Rasulullah adalah perisai diri, puasa melatih kekuatan pikiran kita dari makan, minum bahkan berbagai akhlak yang tercela. Inilah saatnya sang kusir melatih keledainya agar dapat bekerja sebaik-baiknya. Agar perjalanan mereka berdua selamat sampai tujuan. Maka, sobat, kendalikan tubuh kita dengan pikiran kita. Jadikan badan kita sebagai sebaik-baiknya tunggangan, dan perlakukan ia dengan adil sesuai haknya.[januar]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi pekan kedua Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
