<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Feb 2010 12:13:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Facebook Addict</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/facebook-addict</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/facebook-addict#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 12:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[addict]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3316</guid>
		<description><![CDATA[O. Solihin
Gila kerja, meskipun hal itu berdampak kepada bertambahnya pendapatan, tetap saja ada yang dikorbankan. Salah satunya, waktu berharga bersama keluarga. Gila belajar, meskipun ada manfaatnya, namun tetap saja ada yang diabaikan. Salah satunya, kita menjadi pribadi yang hanya fokus kepada belajar, belajar, dan belajar. Padahal, ada waktu yang juga kita alokasikan untuk istirahat, berhubungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.com" target="_blank"><strong>O. Solihin</strong></a></p>
<p>Gila kerja, meskipun hal itu berdampak kepada bertambahnya pendapatan, tetap saja ada yang dikorbankan. Salah satunya, waktu berharga bersama keluarga. Gila belajar, meskipun ada manfaatnya, namun tetap saja ada yang diabaikan. Salah satunya, kita menjadi pribadi yang hanya fokus kepada belajar, belajar, dan belajar. Padahal, ada waktu yang juga kita alokasikan untuk istirahat, berhubungan dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Gila belanja? Wah, itu berdampak tidak baik bagi diri kita, meskipun ada manfaat bagi para penjual produk karena produknya pasti laku kalo di dunia ini banyak orang yang gila belanja.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal kecanduan, ternyata nggak cuma narkoba yang bisa bikin orang kecanduan. Seks bisa bikin orang kecanduan juga lho. Kalo itu dilakukan suami-istri sih nggak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika dilakukan bukan mahrom. Kita prihatin dengan seks bebas yang kian marak dilakukan remaja dan orang dewasa yang lemah iman tapi kuat nafsunya. Obat-obatan tertentu pun bisa bikin orang ketagihan untuk terus mengkonsumsi. Ada ketagihan yang lain nggak? Hehehe.. ada. Ya, salah satunya ketagihan untuk online. Sebelum ada situs jejaring sosial bernama Facebook, orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk chatting, untuk kumpul-kumpul di komunitas grup diskusi. Apalagi kalo udah berselancar nyari data. Bisa data yang bermanfaat, maupun data yang tidak bermanfaat. Situs porno pun jadi tempat mangkal netter yang ketagihan cerita dan gambar erotis. Belum lagi game online. Halah makin tekun deh tuh di depan komputer!<span id="more-3316"></span></p>
<p>Maniak-online juga bisa membahayakan lho, meskipun ada manfaatnya. Ya, kalo seharian online, apa nggak bosen tuh? Facebook-an seharian apa nggak pegel? Kalo sampe kamu ngerasa kehilangan Facebook sehari aja, itu tandanya kamu sudah kecanduan. Uring-uringan kayak orang kebakaran kumis (bagi yang punya kumis tentunya), kalo yang nggak punya kumis, ya ibarat orang kebekaran bulu keteknya. Hihihi.. atau bisa juga ibarat yang punya pantat bisulan (apa hubungannya?). Ada, yakni nggak mau diem dan merasa paling menderita. Duduk nggak bisa, jalan pegel. Ngarang deh!</p>
<p>Bro en Sis, kalo sampe tiap hari kamu merasa kudu online terus di Facebook,  waspadalah! Sebab, bisa jadi kamu mulai terkena gejala Facebook Addict alias kecanduan Facebook. Bawaannya liat hape pengennya langsung browsing dan yang terbayang di pikirannya logonya Facebook plus teman-teman dunia maya tempat ngumpul bareng secara virtual. Pengen tahu “status” terbaru teman-teman yang ada dalam list kita. Penasaran dengan apa yang dikerjakan mereka saat ini. Geregetan pengen nyapa, pengen cari informasi, pengen komentar, pengen ngasih “jempol” tanda suka dengan statusnya. Bener lho. Saya, pada awal-awal kenal Facebook, meski nggak sampe ‘gila’, tapi sering nongkrong di situs jejaring sosial. Cuma kalo saya tertantangnya pengen mengeksplorasi apa aja fitur dan fungsinya. Diulik (bukan diulek lho!) semua fitur yang ada. Satu per satu saya cobain dan praktikkan. Setelah merasa puas, barulah jarang buka-buka lagi. Toh, cuma “gitu-gitu” aja. Saya lebih memilih memfungsikan semaksimal mungkin fitur yang cocok untuk berbagi manfaat dengan teman lainnya. Kalo cuma update status mah hal yang gampang dan biasa. Hehehe.. bukan sok ya, tapi bagi saya nggak terlalu istimewa. Kecuali kalo update status isinya sensasional kayak yang pernah dilakukan Evan Brimob, baru dah tuh status jadi banyak dicari dan tentunya banyak dicaci-maki. Phew!</p>
<p>Yuk, kita kalkulasikan waktu yang kita korbankan untuk ngenet dan mangkal di Facebook dengan waktu kita di tempat lain yang lebih bermanfaat. Misalnya, dalam sehari kita nongkrong di Facebook minimal 5 jam, itu udah parah lho. Berarti dalam sebulan waktu yang habis untuk ‘bermesraan’ dengan situs jejaring sosial ini adalah (150 jam, yakni 30 hari dikali 5 jam). Silakan hitung sendiri jika dikonversi dengan duit yang kudu dikeluarkan untuk beli pulsa telepon. Juga yang terpenting, soal memanfaatkan waktunya itu lho. Waktu 5 jam itu kalo dibagi-bagi buat istirahat, belajar, dan bekerja bisa sangat berharga.</p>
<p>Oya, waktu yang dipake 5 jam sehari untuk Facebook-an itu, baik waktu 5 jam itu secara berturut-turut atau memanfaatkan waktu di sela-sela aktivitas lain, tetap aja ada waktu yang secara khusus dialokasikan untuk main-main di Facebook. Saya kok nggak merasa yakin kalo remaja yang mangkal di Facebook itu memanfaatkannya dengan kebaikan. Masih ragu gitu lho. Soalnya, yang saya tahu lebih banyak dipake sekadar “hiburan” dan “main-main” saja. Mungkin ada juga yang memanfaatkan untuk dakwah misalnya, tapi jumlahnya tak sebanyak yang dipake untuk main-main. Sori ya, bukan nuduh tapi emang ada faktanya.</p>
<p>So, waktu 5 jam sehari main Facebook aja udah kebanyakan, apalagi yang lebih dari 5 jam sehari online terus, bisa-bisa jadi manusia online deh. Itu namanya udah sampe taraf kecanduan lho. Ati-ati jangan sampe kamu terkena Facebook Addict. Pikirin lagi sebelum berbuat, dan yang pasti, kamu tinggal lebih banyak di dunia nyata. Bukan di dunia maya dan bukan cuma di Facebook. Ok? Dunia tak seluas “update status, news feed, atau note” di Facebook. Manfaatkan waktumu dengan cara yang benar dan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan bekal di akhirat kelak. Akur ya? Harus! (ciee… saya kok jadi ngatur-ngatur gini?). Ngatur-ngatur? Kalo untuk kebaikan, kenapa nggak? Yes![]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/facebook-addict/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jabir Ibnu Hayyan Peletak Dasar Kimia Modern</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 18:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu hayyan]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[jabir]]></category>
		<category><![CDATA[kimia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern/</guid>
		<description><![CDATA[Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak ki mia modern. Ahli kimia Mus lim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan pang gilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad se be lum ahli kimia Barat bernama John Dal ton (1766-1844)? mencetuskan teori mo lekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak ki mia modern. Ahli kimia Mus lim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan pang gilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad se be lum ahli kimia Barat bernama John Dal ton (1766-1844)? mencetuskan teori mo lekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M &#8211; 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan.?? Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang mencerahkan).<span id="more-950"></span></p>
<p>Tanpa kontribusinya, boleh jadi ilmu kimia tak berkembang pesat seperti saat ini. Ilmu pengetahuan modern sungguh telah berutang budi kepada Jabir yang dikenal sebagai seorang sufi itu. Jabir telah menorehkan sederet karyanya dalam 200 kitab. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya itu mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat prestisius.</p>
<p>Itulah sebabnya, ahli sejarah Barat, Philip K Hitti dalam History of the Arabs berujar, ?&#8217;Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab juga memberikan sumbangan yang begitu besar di bidang kimia.&#8217;? Penyataan Hitti itu merupakan sebuah pengakuan Barat terhadap pencapaian yang telah ditorehkan umat Islam di era keemasan.</p>
<p>Sejatinya, ilmuwan kebanggaan umat Islam itu bernama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan. Asal-usul kesukuan Jabir memang tak terungkap secara jelas. Satu versi menyebutkan, Jabir adalah seorang Arab. Namun, versi lain menyebutkan ahli kimia kesohor itu adalah orang Persia.? Kebanyakan literatur menulis bahwa Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.</p>
<p>Saat terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada era kekuasaan Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu kota pusat gerakan Syiah di Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang turut serta menggulingkan Dinasti Umayyah.</p>
<p>Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum mati. Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir kecil pun mulai mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari seorang ilmuwan bernama Harbi Al-Himyari.</p>
<p>Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk kembali ke Kufah. Di kota Syiah itulah, Jabir belajar dan merintis karier. Ketertarikannya pada bidang kimia, boleh jadi lantaran profesi sang ayah sebagai peracik obat. Jabir pun memutuskan untuk terjun di bidang kimia.</p>
<p>Jabir yang tumbuh besar di pusat peradaban Islam klasik itu menimba ilmu dari seorang imam termasyhur bernama Imam Ja&#8217;far Shadiq. Selain itu, ia juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid. Jabir memulai kariernya di bidang kedokteran setelah berguru pada Barmaki Vizier? pada masa kekhalifahan Abbasiyah berada dibawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid.</p>
<p>Sejak saat itulah, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Salah satu ciri khasnya, ia mendasari? eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif. Selain itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. ?&#8217;Saya pertama kali mengetahuinya? dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar<br />
mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam.&#8217;? Kalimat itu kerap dituliskan Jabir saat mengakhiri uraian suatu eksperimen yang telah dilakukannya.</p>
<p>Setelah sempat berkarier di Damas &#8211; kus, Jabir pun dikabarkan kembali ke Kufah. Dua abad pasca-berpulangnya Jabir, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona serta sebatang emas yang cukup berat.</p>
<p>Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. Berkat jasa Jabir-lah, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.</p>
<p>Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya mengapli kasi kan pengetahuan me? ngenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Ter nyata, Jabir jugalah yang kali pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.</p>
<p>Adalah Jabir pula yang pertama kali mencatat tentang? pemanasan anggur akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.</p>
<p>Selain itu, Jabir pun berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, peng uapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan<br />
kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya itu merupakan teknikteknik kimia modern.</p>
<p>Tak heran, bila sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli kimia Muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Tak cuma itu, buku-buku yang ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir tutup usia pada tahun 815 M di Kufah.? heri ruslan <a href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=331911&amp;kat_id=177" target="_blank">(Republika) </a></p>
<p>===</p>
<h3><span class="judul">Adikarya Sang Ilmuwan Besar</span></h3>
<p><span class="deskripsi">Dedikasi dan prestasi yang dicapai Jabir Ibnu Hayyan dalam bidang kimia terekam dengan baik lewat buku-buku yang ditulisnya. Tak kurang dari 200 buku berhasil ditulisnya.? Sebanyak 80 judul buku di antaranya mengupas hasil-hasil eksperimen kimia yang dilakukannya. Buku-buku itu sungguh amat berpengaruh hingga sekarang.</span><span class="deskripsi">Sebanyak 112 buku karya Jabir secara khusus ditulis untuk dipersembahkan kepada Barmakid?sang guru?yang juga pembantu atau wazir Khalifah Harun Ar- Rasyid. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Pada abad pertengahan, orang-orang Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir itu ke dalam bahasa Latin (Tabula Smaragdina).Buku-buku itu lalu menjadi rujukan pada ahli kimia di Eropa.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Selain itu, sebanyak 70 buku karya Jabir lainnya juga? dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan. Dari ke-70 kitab berpengaruh itu, salah satu yang terkenal adalah Kitab Al-Zuhra yang diterjemakan menjadi Book of Venus, serta Kitab Al-Ahjar yang dialihbahasakan menjadi Book of Stones.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Sebanyak 10 buku yang ditulis Jabir lainnya adalah kitab pembetulan yang berisi penjelasan mengenai ahli kimia Yunani seperti Pythagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles. Sisanya, kitab yang ditulis Jabir merupakan buku-buku keseimbangan. Dalam buku kelompok ini, Jabir melahirkan teori yang begitu terkenal, yakni ?teori keseimbangan alam.?</span></p>
<p><span class="deskripsi">Risalat-risalat karya Jabir yang secara khusus membedah ilmu kimia antara lain? Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab?een. Kitab penting itu juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad pertengahan. Kitab Al-Kimya menjadi sangat populer di Barat setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris oleh orang Inggris Robert of Chester pada 1144 M.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Al-Kimya versi alih bahasa berjudul ?The Book of Composition of Alchemy?. Sedangkan, Kitab Al-Sab?een diterjemahkan oleh Gerard of Cremona. Beberapa karya Jabir lainnya juga dialihbahasakan oleh Berthelot ke dalam bahasa Inggris antara lain; ?Book of Kingdom?, ?Book of the Balances?, serta ?Book of Eastern Mercur.?</span></p>
<p><span class="deskripsi">Buku karya Jabir lainnya juga mendapat perhatian dari ilmuwan Inggris bernama Richard Russel. Pada abad ke-17 M, Russel menerjemahkan buku yang ditulis Jabir ke dalam bahasa Ingris berjudul ?Sum of Perfection?.</span></p>
<p><span class="deskripsi">Dalam buku itu, Russel memperkenalkan Jabir dengan nama Geber?seorang pange? ran Arab terkenal yang juga seorang filsuf. ?Sum of Perfection? selama beberapa abad begitu populer dan berpengaruh. Buku itu telah mendorong terjadinya evolusi kimia modern. Begitu berpengaruhnya buku-buku karya Jabir di Eropa dan Barat umumnya telah dibuktikan dengan munculnya beberapa istilah teknis yang ditemukan dalam kamus kimia Barat dan menjadi kosa kata ilmia yang sebelumnya digunakan Jabir seperti istilah &#8220;alkali.&#8221; hri <a href="http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=331910&amp;kat_id=177&amp;kat_id1=&amp;kat_id2=" target="_blank">(Republika)</a></span></p>
<p><span class="deskripsi"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jabir-ibnu-hayyan-peletak-dasar-kimia-modern/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berawal dari Membaca</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 17:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Kamu punya hobi membaca? Berbahagialah. Karena syarat menjadi penulis salah satunya adalah banyak membaca. Dengan membaca, kita jadi tahu segalanya. Hal yang sebelumnya menjadi misteri, setelah membaca, kita jadi ngeh. Membaca akan membuka wawasan kita tentang segala hal. Menyenangkan sekali memang. Waktu SD saja, senang betul bisa membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;margin-right:0.5em;" title="spk1b.gif" src="http://www.gaulislam.com/wp-content/uploads/2007/09/spk1b.thumbnail.gif" alt="spk1b.gif" align="left" />Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Kamu punya hobi membaca? Berbahagialah. Karena syarat menjadi penulis salah satunya adalah banyak membaca. Dengan membaca, kita jadi tahu segalanya. Hal yang sebelumnya menjadi misteri, setelah membaca, kita jadi ngeh. Membaca akan membuka wawasan kita tentang segala hal. Menyenangkan sekali memang. Waktu SD saja, senang betul bisa membaca buku-buku pelajaran, buku cerita, komik, bahkan ‘nekat&#8217; membaca koran. Dengan semakin banyak membaca, semakin besar rasa ingin tahu kita. Nggak mengherankan jika kemudian kita selalu ketagihan untuk membaca. Jadi, silakan baca buku apa saja, selama kamu sanggup untuk membacanya. Selama matamu masih melek (kalo tidur kan nggak bisa baca&#8230;he..he..he..) <span id="more-663"></span></p>
<p>Di Amerika, menurut Pak Ade Armando saat mengisi acara <em>Lunching</em> MRI Permata tahun 2002 lalu, ia menyebutkan bahwa hampir sejuta judul buku terbit tiap tahunnya. Itu menunjukkan bahwa minat baca di sana sangat besar. Di Jepang juga sama, seorang teman pernah memberi kabar, bahwa koran terbesar di sana, setiap hari bisa terbit dengan jumlah oplah 4 kali lebih besar dari jumlah penduduk Jepang itu sendiri. Apakah mereka mengkoleksi koran tersebut? Nggak tahu pasti. Tapi keberanian penerbit untuk mencetak sebesar itu, adalah sebuah prestasi sekaligus menaruh kepercayaan kepada masyarakat. Bahwa, masyarakat di sana memang ‘gila&#8217; baca.</p>
<p>Banyak orang besar rata-rata hobi membaca dan mengakui manfaat membaca bagi kemajuan karirnya. Sebut saja Theodore Roosevelt, ia bahkan sanggup membaca tiga buku dalam sehari selama di Gedung Putih. John F. Kennedy juga sama, bahkan ia disebutkan sanggup membaca 1000 kpm (kata per menit). Bisa dibayangkan, berarti dalam satu jam bisa membaca 60 ribu kata.</p>
<p>Dengan membaca, kita juga jadi tercerahkan. Apalagi sekarang sudah maju banget teknologi mesin cetak, hingga informasi bisa didapatkan dengan mudah sampe ke pelosok desa. Teknologi informasi yang juga ikut membidani lahirnya internet semakin membantu masyarakat mendapatkan informasi yang banyak. Inilah yang disebut sebagai ledakan informasi. Hasilnya, ambil contoh di desa, para petani yang rajin mendapatkan informasi, salah satunya dengan membaca, lebih maju dalam menggarap sawahnya. Ia tak lagi menarik bajak dengan menggunakan sapi atau kerbau. Sapi dan kerbau amat lamban. Ia beralih ke mesin traktor. Membaca, memang bermanfaat banget.</p>
<p>Banyak penulis besar, juga pasti berawal dari kebiasaannya membaca. JK Rowling, penulis novel terkenal, Harry Potter, nggak mungkin bisa mengekspresikan seluruh isi tulisannya jika tidak membaca sebelumnya, sehingga ia menjadi tahu kapan menumpahkan rasa marah dalam sebuah tulisannya, kapan menuliskan kekaguman, dan bagaimana caranya bisa menggiring pembacanya supaya bisa memahami tulisannya. Yakin itu. Ernest Hemingway bisa ngetop dengan novel-novelnya juga karena getol membaca. Mantan Presiden Sukarno, juga terkenal rajin membaca. Itu sebabnya, beliau bisa menuangkannya kembali dalam beberapa buku yang berhasil ditulisnya.</p>
<p>Kalo kamu nggak cukup buku untuk dibaca, silakan kunjungi perpustakaan. Atau paling banter datang ke toko buku. Meski kamu nggak beli satu buku pun, kamu bisa membaca buku baru yang dipajang tanpa segel. Silakan dibaca, siapa tahu ada informasi menarik yang bisa kamu dapatkan. Menyenangkan sekali bukan? Saya punya pengalaman menarik tapi sedikit memalukan. He..he..he.. nggak ding, bukan memalukan, tapi <em>nekatz</em>. Begini ceritanya, saya jalan-jalan ke toko buku. Ini memang sering juga saya lakukan untuk mencari informasi terbaru. Kalo ada uang di kantong, dan buku menarik itu bandrolnya nggak bikin kantong bolong, saya bisa beli langsung. Tapi waktu itu benar-benar kepepet.</p>
<p>Setelah mikir-mikir, sayang juga kalo kesempatan membaca buku itu hilang begitu saja. Akhirnya, dipicu oleh saking pengennya dapat informasi dari buku menarik itu, dan kebetulan buku yang dipajang itu tanpa segel, saya baca agak lama (tapi nggak sampe lecek sih). Nah, begitu ada data menarik, dan saya harus mendapatkannya, saya sempat bingung. Tapi kemudian dapat &#8216;ide nakal&#8217;. Saya ambil pulpen dan <em>blocknote</em> yang selalu nempel di saku baju saja. Setelah celingukan sebentar, saya langsung menyalin beberapa bagian penting dari buku menarik tersebut. Untung, sampe selesai nyalin penajaga tokonya nggak nyamperin saya. Ya, seandainya punya banya uang, atau semua buku itu murah harganya, kayaknya menarik juga untuk dikoleksi. Nggak sempat baca sekarang, kan masih bisa esok hari. Pokoknya banyak baca deh.</p>
<p>Terus terang saja, saya sendiri bisa menulis buku, setelah banyak membaca. Saya bahkan tidak bisa menuliskan satu kalimat pun saat belum ada informasi tentang apa yang akan saya tulis. Membaca adalah kemungkinan paling besar untuk mendapatkan informasi (selain mendengar tentunya). Membaca memang akan memperkaya wawasan. Manfaatnya besar banget lho. Jadi jika ingin jadi penulis, mulailah dengan membaca. Sebanyak mungkin, bacaan apapun (fiksi dan nofiksi). Selamat mencoba. <strong>[<a href="http://osolihin.wordpress.com" target="_blank">O. Solihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/berawal-dari-membaca/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kata &#8220;Allah&#8221; di Malaysia dan Indonesia (Siapa Pelanjut agama Ibrahim?) – (3)</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-3</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-3#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 17:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3306</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Dr. Adian Husaini
Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama Tuhan dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus tahun lalu menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di wilayah Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak tahun 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata Allah dan sejumlah istilah Islam lain. Selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama Tuhan dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus tahun lalu menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di wilayah Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak tahun 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata Allah dan sejumlah istilah Islam lain. Selama itu sudah ada sejumlah tokoh Kristen yang protes tetapi tidak sampai membawa kasusnya ke pengadilan.  Kasus ini semakin merebak dan menyedot perhatian masyarakat internasional, setelah kaum Katolik membawa kasus ini ke Pengadilan.</p>
<p>Ketersinggungan dalam soal penggunaan istilah dan simbol-simbol agama bukan hal baru di kalangan umat beragama. Kaum Muslim di Malaysia memandang, kata Allah sudah menjadi bagian yang sah dari istilah dan simbol agama Islam. Saya pernah mendengar cerita dari seorang tokoh Hindu, bahwa kaum Hindu Bali pernah memprotes kaum Kristen yang mendirikan lembaga Pendidikan dengan menggunakan nama Om Swastiastu. Begitu juga kaum  Hindu berkeberatan dengan sebutan ”Sang Hyang Widhi Yesus”.<em></em></p>
<p>Bayangkan, bagaimana perasaan kaum Muslim, jika kaum Kristen di Indonesia dan Malaysia membangun gereja dengan nama ”Gereja At-Taqwa”, ”Gereja Muhammad”, ”Gereja Imam Syafii”, ”Gereja Hamba Allah” atau ”Gereja Nahdhatul-Ummah”?  Atau, bagaimana jika ada orang Kristen membangun Gereja dengan simbol ”Allah” dalam tulisan Arab di atas  atapnya?  Bukankah dalam Bibel berbahasa Arab saat ini juga digunakan kata Allah,  persis seperti dalam al-Quran? Meskipun secara juridis formal, masalah-masalah semacam ini belum diatur, tetapi ada masalah sensitivitas yang harus diperhatikan dalam hubungan antar umat beragama.<span id="more-3306"></span><br />
Berbeda dengan kaum Kristen yang sering mengakomodasi unsur-unsur budaya dan lokalitas dalam simbol dan ritual keagamaan, umat Islam memiliki tradisi penggunaan istilah yang ketat. Sulit dibayangkan, ada kaum Muslim di Indonesia atau di Malaysia akan mendirikan Masjid dengan nama ”Masjid Haleluya” atau ”Masjid Israel”.  Kita tidak dapat membayangkan &#8212; bahkan untuk orang Islam yang mengaku liberal atau Pluralis sekalipun – akan membangun masjid dengan nama ”Masjid Hamba Yahweh”.</p>
<p>Lepas dari persoalan sensitivitas penggunaan istilah-istilah dan simbol-simbol keagamaan, soal penggonaan kata ”Allah”, ada perbedaan menarik antara di Malaysia dan di Indonesia. Berbeda dengan di Malaysia, di Indonesia gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, justru muncul dari kalangan Kristen sendiri.  Kontroversi soal penggunaan kata ”Allah” belakangan semakin merebak ke permukaan menyusul merebaknya kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama Allah dan menggantinya dengan Yahweh.</p>
<p>Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM)  yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: &#8220;Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.&#8221;  Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000.  Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata &#8220;Allah&#8221; menjadi &#8220;Eloim&#8221;, kata &#8220;TUHAN&#8221; diganti menjadi &#8220;YAHWE&#8221;; kata &#8220;Yesus&#8221; diganti dengan &#8220;Yesua&#8221;, dan &#8220;Yesus Kristus&#8221; diubah menjadi &#8220;Yesua Hamasiah&#8221;. Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya &#8220;Jaringan   Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh&#8221; yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama &#8220;Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini&#8221;.  Kelompok ini menegaskan, &#8220;Akhirnya nama &#8220;Allah&#8221; tidak dapat dipertahankan lagi.&#8221;</p>
<p>Kelompok BYH mengedarkan brosur berjudul ”Siapakah Yang Bernama Allah Itu?” yang isinya mengecam penggunaan kata Allah dalam Kristen. Mereka menyebut penggunaan kata ”Allah” dalam Kristen sebagai satu bentuk penghujatan kepada Tuhan.  Kaum Kristen mereka seru dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkan penggunaan kata ”Allah”:</p>
<p>”Stop! Stop! Stu-u-op! Jangan diteruskan hujatan Anda. Kalau Anda semula tidak tahu, pasti akan diampuni, tetapi sekarang melalui pembacaan traktat pelayanan ini, Anda menjadi tahu. Maka jangan diterus-teruskan! &#8230; Maka, janganlah terlibat di dalam penghujatan Dia. (Hentikan hujatan Anda sekarang juga).” (dikutip dari buku Herlianto, Siapakah yang  Bernama Allah Itu?), hal. 4).</p>
<p>Gara-gara mencuatnya gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, di Indonesia, banyak diterbitkan buku yang membahas tentang kontroversi penggunaan ”nama Allah” dalam Kristen, seperti buku: I.J. Satyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3), dan Pdt. A.H. Parhusip, Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh, (2003); juga Herlianto, Gerakan Nama Suci, Nama Allah yang Dipermasalahkan, (Jakarta: BPK, 2009); Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003).</p>
<p>Karena merebaknya kontroversi tentang nama Tuhan tersebut, dan juga tentang boleh tidaknya penggunaan kata ”Allah” dalam Bibel edisi bahasa Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) &#8212; sebagai lembaga resmi penerjemah Bibel edisi bahasa Indonesia – membuat penjelasan:</p>
<p>”el, elohim, aloah adalah nama pencipta alam semesta dalam bahasa Ibrani, bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Dalam bahasa Arab, allah (bentuk ringkas dari al ilah) merupakan istilah yang seasal (cognate) dengan kata Ibrani el, elohim, aloah. Jauh sebelum kehadiran agama Islam, orang Arab yang beragama Kristen sudah menggunakan (baca: menyebut) allah ketika mereka berdoa kepada el, elohim, aloah. Bahkan tulisan-tulisan kristiani dalam bahasa Arab pada masa itu sudah menggunakan allah sebagai padan kata untuk el, elohim, aloah&#8230;. Dari dahulu sampai sekarang, orang Kristen di Mesir, Libanon, Iraq, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan berbagai negara di Afrika yang dipengaruhi oleh bahasa Arab, terus menggunakan (baca: menyebut) kata allah – jika ditulis biasanya menggunakan huruf kapital ”Allah” untuk menyebut Pencipta Alam Semesta dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, baik dalam ibadah maupun dalam tulisan-tulisan. Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, kata ”Allah” sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Cornelis Ruyl, 1692), begitu juga dalam Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius Klinkert, 1879 sampai saat ini.”</p>
<p>Penjelasan LAI, tertanggal 21 Januari 1999, ditandantangani oleh Sekretaris Umumnya, Supardan. Surat LAI ini dikutip dari buku Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh,  karya Pdt. A.H. Parhusip.  Sekte Pengagung Yahweh yang disebut di sini  memang membuat geram berbagai kalangan dalam Kristen, sampai-sampai Pdt. Parhusip menulis ungkapan yang sangat keras: ”Saya tahu kebusukan dan kejahatan Pengagung YAHWEH, yakni: Hanya untuk menghilangkan sebutan ”Allah” dari Alkitab, maka dibuatlah ’Kitab Suci’ yaitu Alkitab palsu yang di dalamnya sebutan ”Tuhan YAHWEH” (=Tuhan TUHAN) begitu mubazir. Bodoh! Untuk itulah saya serukan: Kalau mau bodoh, bodohlah; tetapi jangan terlalu bodohlah kawan!”</p>
<p>Meskipun LAI sudah mengeluarkan edaran resmi, para penggugat nama Allah dalam Kristen terus bermunculan. Mereka juga terus menerbitkan buku-buku, panflet, bahkan Bibel sendiri yang menggugat penggunaan kata  Allah untuk nama Tuhan mereka. Sebuah buku yang berjudul “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, karya Rev. Yakub Sulistyo, S.Th., M.A., (2009), menguraikan kekeliruan kaum Kristen di Indonesia yang menggunakan nama Allah untuk memanggil Tuhan mereka. Buku ini menulis imbauan kaum Kristen Indonesia untuk tidak lagi menggunakan kata Allah:</p>
<p>“Kamus Theologia Kristen sendiri sudah sangat jelas menulis bahwa: Allah itu berasal dari Arab yang artinya Keberadaan Tertinggi dalam agama Islam, jadi kalau Anda sebagai orang Kristen atau Katolik (Nasrani) yang baik, Anda seharusnya menghormati iman orang lain (umat Islam), dengan tidak mencampur-adukkan dengan iman Nasrani, sehingga menjadi Sinkretisme… Sebagai umat Nashrani, carilah KESELAMATAN sesuai kitab sucinya sendiri dengan tidak takut menghadapi institusi duniawi seperti Sinode, Pimpinan gereja yang tidak memahami Firman Tuhan, merk Gereja dan lain-lain. Jangan takut dipecat demi kebenaran hakiki. Tuhan Yahweh di dalam Nama Yeshua HaMashiakh memberkati Anda.”  (Yakub Sulistyo, “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, (2009), hal. 43. Buku ini tidak mencantumkan nama penerbit).</p>
<p>Bahkan, kaum Kristen penolak nama ”Allah” ini juga kemudian lagi-lagi menerbitkan Bibel versi mereka sendiri, yang membuang semua kata Allah di dalamnya. (Lihat: Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – Indonesian Literal Translation (ILT), terbitan Yayasan Lentera Bangsa, Jakarta, 2008).  Sebagai contoh, pada Matius 4: 10, versi Kitab Suci ILT, tertulis: “Kemudian YESUS berkata kepadanya, “Enyahlah hai Satan! Sebab telah tertulis: Engkau harus menyembah YAHWEH, Elohimmu, dan kepada-Nya sajalah engkau harus beribadah.”  Sedangkan dalam Alkitab versi LAI (2007) tertulis: “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”   Contoh lain, dalam Alkitab ILT Kitab Ulangan 10:17, tertulis: “Sebab YAHWEH, Elohimmu, Dialah Elohim atas segala ilah dan Tuhan atas segala tuan, Elohim yang besar yang perkasa dan yang ditakuti, yang tidak memandang muka, juga tidak menerima suap.”   Sedangkan dalam versi LAI (2007), ayat itu ditulis: “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap.”</p>
<p>Jika kaum Kristen di Indonesia merujuk kepada Bibel versi Arab, maka persoalan nama dan penyebutan Tuhan juga menjadi rumit sebab huruf Arab – sebagaimana huruf Ibrani tidak mengenal huruf kapital atau huruf kecil.   Sebagai contoh, sebuah Bibel versi Arab-Inggris terbitan International Bible Society (1999), menulis Kitab Ulangan 10:17 sebagai berikut: “Li-anna al-rabba ilahukum huwa ilahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi, al-ilahu al-‘adhiimu, al-jabbaaru al-mahiibu, al-ladziy laa yuhaabiy wajha ahadin, wa laa yastarsyiy.  (Dalam sebuah Bibel bahasa Arab terbitan London tahun 1866, ayat itu ditulis sebagai berikut: Min ajli anna al-rabba ilaahukum huwa ilaahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi ilaahun ‘adhiimun… ). Dalam teks bahasa Inggris (versi New International Version) ayat itu ditulis sebagai berikut: “For the LORD your God is God of gods and Lords of  lords, the great God, mighty and awesome, who shows no partiality.”</p>
<p>Menyimak perdebatan seputar penggunaan nama Allah dalam Kristen, tampaknya, nama ”Allah” memang merupakan nama Tuhan yang sudah digunakan oleh kaum-kaum sebelum Islam, di kawasan Arab. Karena misteri penyebutan nama Tuhan dalam Perjanjian Lama (YHWH) tidak terpecahkan, maka kaum Kristen di Arab – tampaknya &#8212; juga menyesuaikan diri dengan tradisi di situ dalam menyebut Tuhan, yaitu dengan menggunakan kata Allah. Tetapi, kaum Kristen tetap memberikan catatan, bahwa kata “Allah”  bukanlah sebuah nama diri, melainkan hanya sebutan untuk Tuhan di daerah Arab. Begitu juga dengan konsepnya, Allah adalah Tuhan Tritunggal.</p>
<p>Pandangan Kristen terhadap “Allah” semacam itu jelas berbeda dengan pandangan Islam terhadap Allah.  Sebab, dalam Islam, Allah adalah nama Tuhan, dan konsepnya pun bukan Tritunggal, tetapi  Allah yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Dalam pandangan Islam, sesuai wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, nama “Allah” inilah yang dipilih oleh Allah untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, melalui utusan-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Melalui Nabi Muhammad saw juga, dikabarkan bahwa Isa a.s. adalah seorang Nabi, dan bukan Tuhan atau anak Tuhan. Nabi Isa a.s. juga ditegaskan tidak mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia.</p>
<p>Jadi, meskipun nama ”Allah” sudah digunakan oleh kaum musyrik Arab sebelum kedatangan Islam, tetapi al-Quran tetap menggunakan nama ini. Hanya saja, nama Allah yang digunakan oleh al-Quran sudah dibersihkan konsepnya dari unsur-unsur syirik, seperti dipahami oleh kaum Kristen dan kaum musyrik Arab. Dengan kata lain, nama Allah itu sudah di-Islam-kan konsepnya. Nama bisa saja sama, tetapi konsepnya berbeda. Dan satu-satunya jalan untuk memahami kemurnian lafaz dan makna Allah tersebut, haruslah dilakukan melalui pemahaman terhadap wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi terakhir, yakni Muhammad saw. Karena itu, menurut pandangan Islam, bisa dipahami, untuk mengenal Allah secara murni (tauhid), maka tidak bisa tidak harus mengakui kenabian Muhammad saw. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah terakhir, yang bertugas menjelaskan siapa Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, dan cara untuk beribadah kepada-Nya.</p>
<p>Itu konsepsi Islam tentang nama Tuhan, yang memang berbeda dengan konsepsi Kristen tentang nama Tuhan.  Dalam pandangan Islam, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw kepada seluruh manusia, maka sebenarnya kaum Kristen mengakui dan mengimani kenabian Muhammad saw, sebagaimana dipesankan Nabi Isa a.s. (yang artinya):  ”Dan ingatlah ketika Isa ibn Maryam berkata, wahai anak keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, membenarkan apa yang telah ada pada kita, yaitu Taurat dan memberikan kabar gembira (akan datangnya) seorang Rasul yang bernama Ahmad.” (QS 61:6).</p>
<p>Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah Nabi, utusan Allah, sebagaimana para nabi sebelumnya. Karena itulah, ketika kaum Kristen mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan, maka Allah murka (QS 19:88-91). Sebaliknya, bagi kaum Kristen,  Yesus dipandang sebagai juru selamat, dan satu-satunya jalan keselamatan menuju Tuhan. Karena itu, semua manusia harus diusahakan untuk mengenal Yesus dan dibaptis.</p>
<p>Kaum Kristen juga memiliki pandangan yang berbeda dengan Islam tentang nama Tuhan. Sebagian mereka memandang, bahwa nama Tuhan diserahkan kepada budaya setempat. Maka, di Barat,  kaum Kristen memanggil God atau Lord, di Arab lain lagi, dan di Indonesia juga berbeda. Konsepsi ini yang digugat sejumlah kelompok Kristen lain, seperti ”Jaringan Gereja Pengagung Nama Yahweh”, yang menyatakan, bahwa nama Tuhan sudah disebutkan dalam Bibel, yaitu Yahweh.<br />
<strong><br />
Demi Misi Kristen</strong></p>
<p>Memang, pertanyaanya, mengapa kaum Kristen di wilayah Melayu-Indonesia menggunakan kata ”Allah”  untuk menyebut nama Tuhan mereka?  Padahal, Kristen yang datang ke Indonesia sesungguhnya berasal dari Barat, yang tidak mengenal kata Allah. Salah satu alasannya, seperti disebutkan oleh Samin Sitohang dalam bukunya, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekitar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, adalah “pertimbangan misiologis”. Jadi, karena penduduk di wilayah Melayu-Nusantara ini sudah terbiasa menyebut nama Tuhan dengan Allah, karena mayoritasnya Muslim, maka dipakailah kata Allah untuk menyebut Tuhan Kristen tersebut. Samin Sitohang menulis tentang hal ini:</p>
<p>“Jadi, jika Alkitab bahasa Indonesia menggunakan Allah untuk nama Sang Pencipta, itu berarti Roh Allah sedang menyiapkan umat-Nya yang berasal dari golongan lain untuk menerima Injil karena mereka tidak perlu harus membuang Allah untuk mendapatkan nama Sang Pencipta yang baru. Sebaliknya, jika Alkitab Indonesia memakai Elohim, nama ini akan sukar diterima. Memang secara teologis dan moral, nama itu tidak keberatan untuk dipakai. Tetapi dari sudut pandang misiologis, penggunaan nama itu akan menjadi sia-sia. Lebih jauh, jika Alkitab Indonesia menggunakan Elohim, maka dari sudut kesaksian Kristiani, nama itu akan merusak citra Injil. Sebab, semua orang sudah tahu bahwa nama Sang Pencipta bagi umat Kristen Indonesia adalah Allah, bahkan nama ini sudah dipakai umat Kristen di Arab zaman pra-Islam. Lalu jika berganti menjadi Elohim, orang luar akan berkata bahwa nama Allah umat Kristen tidak konsisten. Jika demikian halnya, bagaimana jadinya nilai Injil di mata orang asing, khususnya umat Islam? Mereka akan berkata, “Dahulu nama Allah kalian Allah, sekarang Elohim, dan besok siapa lagi? Bukankah hal ini akan menyesatkan pemikiran mereka dengan keyakinan bahwa ternyata tidak ada kepastian di dalam “agama” Kristen? Disamping itu, umat Kristen sendiri pun akan dan memang sudah banyak kebingungan atas sikap Kelompok Penggagas yang memaksakan penggunaan Elohim menggantikan Allah.” (Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, hal. 100-101).</p>
<p>Menurut Samin Sitohang, meskipun nama Allah digunakan oleh penganut agama yang berbeda, maka akan memiliki akibat yang berbeda. Jika kaum Kristen yang menggunakan nama Allah, maka roh Kristus sendiri yang datang, sesuai dengan 1 Korintus 8:5,6, tidak ada lagi allah selain Allah yang dikenal dalam Yesus Kristus. “Tetapi, jika orang bukan Kristen memanggil nama itu, tentu Ia tidak ada di situ, alias kosong. Jika demikian halnya, ketika orang bukan Kristen memanggil Allah, bukan mustahil justru roh antikristus akan datang menyusup, seolah-olah doa mereka dijawab oleh Sang Pencipta, padahal Ia tidak mendengar doa-doa mereka. Lalu bukan mustahil kesempatan itu dimanfaatkan oleh Iblis, karena Iblis pun  bisa berpura-pura baik untuk menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:13-15),” demikian tulis Samin Sitohang, seorang pendeta Gereja Metodis Injili dan dosen Institut Alkitab Tiranus.</p>
<p>Samin Sitohang juga berpendapat, bahwa “siapa pun nama yang diberikan oleh masyarakat budaya tertentu kepada Sang Pencipta, asalkan nama itu mencerminkan karakter-Nya sebagai Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Suci, dan Yang Mahabaik, dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Sang Pencipta untuk meraih segala suku bangsa agar percaya kepada-Nya.”</p>
<p>Konsep Kristen tentang nama Tuhan ini sangat berbeda dengan Islam, yang mensyaratkan, nama Tuhan haruslah berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan tradisi atau kesepakatan suatu masyarakat. Nama Tuhan dalam Islam adalah masalah penting dan mendasar. Dalam ajaran Islam, dikenal nama-nama Tuhan yang semuanya berasal dari wahyu, sehingga umat Islam seluruh dunia dan sepanjang zaman, memanggil nama Tuhan dengan ungkapan yang sama, sebagaimana diajarkan dalam al-Quran, seperti “Ya Allah”, “Ya-Rahman”, “Ya-Rahim”, “Ya Ghafur”, dan dengan nama-nama lain yang dikenal sebagai Asmaul Husna. Karena itu, nama Tuhan dalam Islam bukanlah hal yang spekulatif, tetapi merupakan satu kepastian berdasarkan wahyu.</p>
<p>Sebaliknya, nama YAHWEH yang diajukan oleh kelompok-kelompok Kristen penolak kata ”Allah”, juga tak kurang kontroversialnya. I.J. Satyabudi, seorang penulis Kristen,  mengritik keras sejumlah kelompok Kristen yang mengklaim bahwa nama Tuhan orang Kristen adalah Yahweh. Ia menulis: ”Orang-orang Yahudi di seluruh dunia tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan orang-orang Kristen mengklaim dirinya lebih mengetahui cara pengucapan nama YHWH dibandingkan umat Yahudi.” (hal. 92).</p>
<p>Jadi, bagaimana seharusnya kaum Kristen  memanggil Tuhan mereka. Jawabnya, seperti dikatakan Pendeta Parhusip:</p>
<p>”Lalu mungkin  ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis&#8230;! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi&#8230; Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”</p>
<p>Untuk kasus Malaysia, demi terciptanya kerukunan umat beragama, sebagai Muslim kita juga tentu boleh mengusulkan, agar kaum Kristen tidak lagi menggunakan kata ”Allah” untuk menyebut Tuhan mereka. Toh, memang tidak ada masalah bagi kaum Kristen untuk memanggil Tuhan dengan berbagai sebutan selain Allah. Jadi, mengapa harus bertahan dengan sebutan ”Allah”?  [<em>Depok, 23 Januari 2010/</em><a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=202&amp;Itemid=57" target="_blank"><strong>INSISTS</strong></a>]<em><strong><br />
</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kata &#8220;Allah&#8221; di Malaysia dan Indonesia (Siapa Pelanjut agama Ibrahim?) – (2)</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 17:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keimanan]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3303</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Dr. Adian Husaini
Sebagaimana konsep Islamic worldview (pandangan-alam Islam) yang ditandai dengan karakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,  juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam  Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>Sebagaimana konsep <em>Islamic worldview</em> (pandangan-alam Islam) yang ditandai dengan karakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,  juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam  Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain. Konsep Tuhan dalam Islam tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur.</p>
<p>Bagi orang Barat modern, Tuhan tidak lagi dianggap penting kedudukannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan, sebagian filosof Barat menganggap ”kehadiran Tuhan” dapat mengganggu kebebasan mereka. Karen Armstrong, dalam bukunya, <em>History of God</em>,  mengutip pendapat Jean-Paul Sartre (1905-1980), yang menyatakan: <em>“…  even if God existed, it will still necessary to reject him, since the  idea of God negates our freedom.</em>”<em><br />
</em></p>
<p align="justify">Karena itulah, manusia modern merasa diri mereka bisa mengatur Tuhan dan berani mereka-reka Tuhan. Bukan Tuhan yang mengatur kehidupan mereka. Prof. Frans Magnis Suseno, tokoh Katolik, merangkum pandangan modernitas terhadap Tuhan:<span id="more-3303"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Modernitas sebagaimana menjadi kenyataan di Eropa sejak abad ke-17 mulai meragukan ketuhanan. Reformasi Protestan abad ke-16 sudah menolak banyak klaim Gereja. Dalam abad ke-17 <em>empirisisme</em> menuntut  agar  segala pengetahuan mendasarkan  diri pada <em>pengalaman inderawi</em>. Pada akhir abad ke-18 muncul filosof-filosof materialis pertama yang mengembalikan keanekaan bentuk kehidupan, termasuk manusia, pada materi dan menolak alam adi-duniawi. Dalam abad ke-19 dasar-dasar ateisme filosofis dirumuskan oleh Feurbach, Marx, Nietzsce, dan dari sudut psikologi, Freud. Pada saat yang sama ilmu-ilmu pengetahuan mencapai kemajuan demi kemajuan. Pengetahuan ilmiah dianggap harus menggantikan kepercayaan akan Tuhan. Akhirnya, di abad ke-20, filsafat untuk sebagian besar menyangkal kemungkinan mengetahui sesuatu tentang hal ketuhanan, sedangkan dalam masyarakat sendiri ketuhanan semakin tersingkir  oleh keasyikan budaya konsumistik. Sebagai akibat, manusia modern menjadi skeptis tentang ketuhanan kalau ia tidak menyangkalnya sama sekali. Maka apabila seseorang, atau sekelompok orang, tetap yakin akan adanya Tuhan, mereka mau tak mau harus menghadapi tantangan skeptisisme modernitas itu.&#8221; (Lihat, Frans Magnis Suseno,<em> Menalar  Tuhan</em>, (Yogyakarta: Kanisius, 2006)).</p></blockquote>
<p align="justify">
Sekedar perbandingan, dalam konsep agama Budha, misalnya, seorang Buddhis tidak menyebutkan nama Tuhannya. Dalam sebuah buku berjudul <em>Be Buddhist Be Happy</em>, misalnya, ditulis: &#8220;Seorang   umat Buddha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan   sebutan: &#8220;<em>Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam</em>&#8220;, yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa  di dalam agama Buddha adalah <em>Anatman</em> (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat   digambarkan dalam bentuk apa pun. (Lihat, Jo Priastana, <em>Be Buddhist   Be Happy</em>, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005)).</p>
<p>Dalam   sebuah buku berjudul Kumpulan Ceramah <em>Bhikkhu Uttamo Thera (Buku 5),   Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-Hari,</em> dijelaskan mengapa para dewa tidak mau turun dari sorga dan menemui manusia: ”Sang Buddha yang telah wafat hampir 3000 tahun lamanya itu sebenarnya baru sekejap saja untuk alam dewa. Hanya saja, diceritakan dalam Dhamma, alam manusia ini sungguh kotor dan busuk bagi para dewa. Para dewa tidak berminat mendekati manusia. Dari jarak jauh pun mereka sudah terganggu dengan bau manusia.” (hal. 21).</p>
<p>Agama Hindu juga mempunyai konsep Tuhan   sendiri. Alain Danielou, menulis dalam bukunya,<em> Gods of India: Hindu   Polytheism</em>, (New York: Inner Traditions International, 1985)<em>: &#8220;Hinduism, or rather the &#8220;eternal religion&#8221; (sanata dharma), as it calls irself, recognizes for each age and each country a new form of revelation and for each man, according to his stage of development, a different path of realization, a different of worship, a different morality, different rituals, different gods.&#8221;</em> (hal. x).</p>
<p>Dalam   sebuah buku berjudul<em> Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia</em> (Penerbit: Paramita, Surabaya), disebutkan bahwa:</p>
<div>
<blockquote><p>“Agama Hindu berkembang pertama kali di lembah sungai suci Sindhu di Bhratawarsa (India). Di lembah sungai suci Sindhu inilah para maharsi menerima wahyu Brahman, Sang Hyang Widhi Wasa, dan kemudian diabadikan dalam bentuk pustaka suci Weda. Weda adalah kitab suci agama Hindu yang mengandung pengetahuan suci maha sempurna kekal abadi, mengenai Brahman, Sang Hyang Widhi. Gerakan keagamaan Arya Samaj yang didirikan di India pada tahun 1875 oleh Swammi Dayananda Saraswati (a824-1884), mengemukakan tiga inti ajarannya tentang Weda, yaitu:  1. Weda adalah wahyu Tuhan. Hal ini terbukti dari persesuaiannya dengan alam semesta. 2. Weda adalah satu-satunya wahyu Tuhan, sebab tiada kitab lain yang sepadan dengan Weda. 3. Weda adalah sumber pokok bagi ilmu agama segala manusia.” (hal. 1).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">
Hindu juga memiliki konsep Tuhan yang khas, yang   berbeda dengan agama-agama lain. Misalnya, disebutkan dalam buku   berjudul <em>Hindu Agama terbesar di Dunia</em> (Medi Hindu, 2006, cetakan   ke-6),  adanya perbedaan konsep Tuhan Hindu dan Kristen:</p>
<div>
<blockquote><p>”Tradisi Jahudi/Kristen memandang Tuhan   sebagai Tuhan cemburu (”sebab Aku Tuan Tuhanmu adalah Tuhan yang cemburu   <em>”for I the Lord thay God am a jealous God</em>”, Keluaran/Exodus 20:5), dan pendendam dan ingin membalas dendam &#8230; Secara kontras, dalam tradisi Veda Tuhan dipandang sebagai <em>karuna-sindhu</em> (lautan   pengampunan dan kasih); <em>patita-pavana</em> (Sahabat yang berduka).”   (hal. 88-89).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">Jadi, masing-masing agama memang memiliki konsep Tuhan dan juga nama Tuhan sendiri-sendiri. Karena melihat fenomena agama-agama semacam itu, kaum Pluralis agama,  lalu dengan sederhana menyimpulkan, bahwa Tuhan memang punya banyak nama. Tuhan itu satu. Tetapi, cara memanggilnya tergantung persepsi dan tradisi masing-masing agama. Semuanya benar. Semua agama adalah jalan menuju kebenaran. Tokoh Pluralis John Hick dalam bukunya,<em> God Has Many Names</em>, mengatakan bahwa Tuhan adalah<em> The Eternal   One</em>.  Bagi Hick, <em>The Eternal One</em>, menjadi dasar bersama dari semua tradisi agama besar. Lebih lanjut Hick mengungkapkan, bahwa Tuhan boleh dikenali dengan identitas apa saja oleh semua penganut agama. Brahma dan Allah adalah Tuhan yang sama. Cuma dilihat dan diucap dengan cara berlainan antara Hindu dan Islam. Nama Tuhan boleh berbeda menurut bahasa-bahasa manusia.</p>
<p>Kaum Pluralis, seperti John Hick, melihat agama-agama dari sudut fenomena saja. Dalam memandang agama – termasuk konsep Tuhan masing-masing agama – Hick berdiri pada posisi netral agama. Ia tidak berdiri pasa posisi Islam, Kristen, Hindu, Yahudi, dan sebagainya. Ia berdiri pada posisi di luar semua agama. Posisi inilah yang kini dibangga-banggakan oleh kaum Pluralis. Padahal, posisi netral agama dalam melihat Tuhan, ini jelas mengabaikan ajaran eksklusif tiap agama tentang Tuhan.</p>
<p>Konsepsi Hick tentang Tuhan berpijak pada asumsi bahwa Tuhan tidak memberitahu manusia tentang diri-Nya melalui wahyu. Namun, ia mengandaikan bahwa manusia merumuskan sendiri pandangannya tentang Tuhan. Karena manusia mempunyai keterbatasan, juga keragaman pikiran, pandangan manusia pun tentang Tuhan juga beragam. Karena itulah, dia menganggap semua pikiran tentang Tuhan adalah relatif, karena merupakan produk akal. Maka, jalan apa pun untuk menuju Tuhan, adalah dianggap sah. Hick sering menggambarkan teorinya ini dengan menukil perkataan Jalaluddin Rumi, “<em>The lamps  are different,  but the Light is the same.</em>” (Walaupun lampu-lampunya  berbeda tapi  Cahayanya sama). Dalam Bhagavad Gita, Hick juga menemukan  kalimat<em> “Whatever path men choose is mine” </em>(Jalan apapun yang  dipilih  manusia adalah milik-Ku).</p>
<p align="justify">Tentu saja, kutipan Hick itu tidak tepat. Sebab, jalan yang dimaksud dalam Islam bukanlah bermakna “agama”. Begitu juga, kaum Hindu memaknai “jalan” dengan “yoga”, yakni jalan-jalan dalam agama Hindu.  Kaum Muslim jelas tidak dapat menerima posisi netral agama seperti itu dalam memahami Tuhan. Sebab, dalam pandangan Islam, konsep Tuhan dan nama Tuhan bukanlah merupakan hasil rekaan manusia. Tapi, konsep dan nama Tuhan dipahami berdasarkan wahyu, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz  &#8216;Allah&#8217; dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata &#8220;Allah&#8221; tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam al-Quran.</p>
<p>Karena adanya <em>sanad</em> – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Sepanjang sejarahnya, umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah dan nama-nama lain (<em>al-asmaul  husna</em>) yang juga disebutkan melalui wahyu. Dengan demikian, &#8220;nama Tuhan&#8221;, yakni &#8220;Allah&#8221; juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari <em>sanad mutawatir</em> yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan &#8217;spekulasi filosofis&#8217; untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Spekulasi tentang nama Tuhan,  misalnya,  dilakukan  oleh kaum Yahudi. Dalam konsep <em>Judaism </em>(agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah<em> Yahweh</em>.  <em>The  Concise Oxford Dictionary of World Religions</em> menjelaskan <em>&#8216;Yahweh&#8217;</em> sebagai <em>&#8220;The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.&#8221;</em> (Lihat, John   Bowker (ed), <em>The Concise Oxford Dictionary of World Religions,</em> (Oxford University Press, 2000). <em>Yahweh</em> memang Tuhan dugaan.   Harold Bloom dalam bukunya, <em>Jesus and Yahweh</em>, (New York: Berkley   Publishing Groups, 2005), hal. 127, menulis <em>“How the name was   pronaunced we never will know: Yahweh is merely surmise.”<br />
</em><br />
Berbeda dengan tradisi Yahudi, konsep dan nama Tuhan dalam Islam tidak bersifat spekulatif dan misterius. Nama Tuhan dalam Islam bersifat final dan universal. Sedangkan nama Tuhan dalam tradisi Yahudi dan Kristen bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi tertentu. Hingga kini, perdebatan soal nama Tuhan di kalangan Yahudi dan Kristen masih merupakan perdebatan yang berkelanjutan. Kaum Yahudi, hingga kini, masih belum menemukan dan berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Dalam konsep <em>Judaism </em>(agama Yahudi), nama Tuhan tidak  dapat diketahui  dengan pasti.</p>
<p>Jadi, ucapan “Yahweh” sebagaimana diucapkan sebagian kalangan Yahudi dan sebagian kalangan Kristen saat ini adalah sebuah bacaan yang bersifat dugaan terhadap empat huruf mati YHWH.  Empat huruf konsonan itu bisa dibaca dengan berbagai bacaan. Tetapi, diduga, dulunya nenek moyang kaum Yahudi membacanya Yahweh. Tentu saja, kondisi seperti ini berbeda dengan umat Islam sedunia, yang dengan pasti mengucapkan empat huruf mati, “ALLH” dengan bacaan Allah. Tidak mungkin empat huruf mati ALLH itu dibaca <em>Alilahu</em> atau <em>Alaluhu</em>, dan sebagainya. Huruf ALLH pasti dibaca umat Islam seluruh dunia sepanjang zaman dengan bacaan Allah, sebab bacaan seperti itulah yang diajarkan Rasulullah  saw kepada para sahabat, sampai turun-temurun, dari generasi ke generasi umat Islam, hingga saat ini. Umat Islam tidak salah dan tidak berselisih paham dalam membaca empat huruf mati tersebut. Hingga kini, para penghafal al-Quran masih banyak yang memiliki sanad (rangkaian transmisi) sampai Rasululllah saw.  Inilah bedanya, soal nama Tuhan, antara Islam dengan Yahudi dan Kristen.</p>
<p>Harold  Bloom, dalam buku  terkenalnya, <em>Jesus and Yahweh</em> (New York: Riverhead Books, 2005), menulis, bahwa YHWH adalah nama Tuhan Israel yang tidak pernah bisa diketahui bagaimana mengucapkannya:<em> “The four-letter YHWH is God’s proper name in the Hebrew Bible, where it appears some six thousand times. How the name was pronounced we never will know.” </em> Dalam  bukunya, <em>The History of Allah</em>, (Yogyakarta: Andi, 205), tokoh Kristen Ortodoks Syria, Bambang Noorsena menulis bab berjudul “Bolehkah Nama YHWH (TUHAN) diterjemahkan dalam Bahasa-bahasa Lain?”. Ia menulis:</p>
<div>
<blockquote><p>“Sejak  Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis  oleh para rasul Kristus, tetragram  (keempat huruf suci YHWH, <em>Yahwe</em>)  diterjemahkan ke dalam bahasa  Yunani, <em>Kyrios</em> (TUHAN). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan para Rasul-Nya yang biasanya melafalkan Yahwe dengan Adonai (TUHAN) atau ha Shem (Nama segala nama).”</p>
<p>I.J. Satyabudi, seorang penulis  Kristen, dalam  bukunya,<em> Kontroversi nama Allah</em>, (Pamulang: Wacana  Press, 2004),  menulis:</p>
<p>”Tetragrammaton YHWH hanyalah terdiri dari empat konsonan (huruf mati) saja. Tidak ada seorang Yahudi dan Kristen-pun di dunia saat ini yang sanggup meyakinkan orang lain mengenai bagaimana pelafalan yang benar dari Tetragrammaton.” (hal. 94).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">
<strong>Nama Tuhan: bukan prinsip</strong></p>
<p>Karena tidak memiliki “tradisi sanad”  dan adanya problem otentisitas dan pembacaan Kitab Sucinya, maka kaum Yahudi tidak bisa memastikan bagaimana cara melafazkan nama Tuhannya yang semuanya tertulis dalam empat huruf mati &#8216;YHWH&#8217;. Juga, karena dilarang mengucapkan nama Tuhan sembarangan, maka akhirnya mereka menyatakan, bahwa<em> “God’s name is   never articulated” </em>(nama Tuhan tidak pernah diucapkan).  Tradisi Yahudi ini kemudian diikuti oleh kaum Kristen, karena mereka mewarisi Kitab Yahudi (Perjanjian Lama).  Tradisi seperti ini jelas sangat berbeda dengan Islam. Sebab, dalam Islam, nama Tuhan adalah sebuah kepastian berdasarkan wahyu, yang sifatnya final dan universal.</p>
<p>Setelah   membahas secara mendalam problematika nama Tuhan dalam Yahudi,  Kristen,  dan Islam, I.J. Satyabudi, dalam bukunya, <em>Kontroversi Nama  Allah</em>,  menyimpulkan:</p>
<div>
<blockquote><p>”Oleh sebab itu, saya susah sekali untuk mengerti bahwa Dia Yang Penuh Misteri ini membutuhkan sebuah Nama layaknya kita manusia membutuhkan sebuah nama! Saya juga susah sekali untuk dapat mengerti bahwa nama Tuhan Yahudi adalah YHWH, dan nama Tuhan Kristen adalah Yesus, dan nama Tuhan Islam adalah Allah. Saya sepenuhnya percaya bahwa YHWH adalah Nama Diri Ilahi suku bangsa Israel, tetapi saya tidak percaya bahwa YHWH adalah memang nama Diri Ilahi dari Pribadi Dia Yang Mahatinggi itu. Saya harus memastikan bahwa Nama YHWH adalah bukan Nama Diri Dia Yang Mahatinggi,  tetapi hanyalah sebuah refleksi dari Musa saja terhadap makna dan arti dari EHYEH ASYER AHYEH. Begitu juga, nama Yesus bukanlah Nama Diri dari Pribadi Dia Yang Mahatinggi, tetapi Nama Yesus adalah Nama Kemanusiaan yang dikenalkan oleh Sang Logos yang menjadi Manusia.” (hal. 198).</p></blockquote>
</div>
<p align="justify">Kesimpulan I.J. Satyabudi ini tentu saja keluar dari visi seorang Kristen yang berangkat dari  problema internal agamanya. Jadi, sebenarnya, bagi kaum Kristen,  masalah nama Tuhan, bukanlah suatu hal yang mendasar. Kaum Kristen di mana pun menyebut nama Tuhannya dengan cara yang berbeda. Sebab, bagi sebagian besar mereka, nama Tuhan bukan secara tegas tercantum dalam Kitab mereka.  Mereka diperbolehkan menyebut Tuhan mereka dengan berbagai sebutan.  Dalam buku kecil yang berjudul <em>Waspadalah  terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh</em>,  Pdt. A.H. Parhusip,  menulis tentang masalah ini:</p>
<div>
<blockquote><p>”Lalu mungkin  ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis&#8230;! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi&#8230; Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”  (Lihat, Parhusip, <em>Waspadalah  terhadap Sekte Baru, Sekte  Pengagung Yahweh</em> (2003), hal. 40-41. Buku kecil Pdt. Parhusip ini tidak mencantumkan penerbit, tetapi hanya tahun dan alamat penulisnya di GSJA ”PEMENANG” jalan Tanah Lapang 19 Patane III – PORSEA 22384 Sumbagut.)</p></blockquote>
</div>
<p>Jadi, berbeda dengan Islam yang memandang nama Tuhan sebagai sesuatu yang prinsip, kaum Kristen tidak memandang nama Tuhan sebagai hal yang final. Karena itulah, jika kaum Kristen mempertahankan sebutan tertentu untuk Tuhan mereka – seperti sebutan ”Allah”, sebagaimana yang terjadi di Malaysia &#8212; sejatinya itu bukan untuk mempertahankan nama Allah. Sebab, bagi mereka, ”Allah” bukanlah nama Tuhan yang diakui oleh semua orang Kristen.  Sikap kaum Kristen di Malaysia yang tetap menolak mengganti nama Allah dengan yang lain, tentu dilakukan karena tujuan lain, terutama untuk tujuan misi Kristen. Sebab, andaikan kaum Krisren tidak menggunakan kata Allah bagi menyebut Tuhan mereka, itu pun tidak menjadi masalah bagi mereka, sebagaimana yang kini terjadi di berbagai beladan dunia lain.</p>
<p>Kontroversi yang hebat di kalangan Kristen dan motivasi penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen di wilayah Melayu-Indonesia  sebagai bagian dari strategi Misi Kristen dapat disimak pada paparan berikutnya.  (<em><strong>Bersambung</strong></em>). <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=201&amp;Itemid=54" target="_blank"><strong>[INSISTS]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Kenal Maka Tak Benci</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tak-kenal-maka-tak-benci</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tak-kenal-maka-tak-benci#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 05:14:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Shaheed</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 119/tahun ke-3 (17 Safar 1431 H/1 Februari 2010)
 
Pepatah yang sering kita dengar adalah: “tak kenal maka tak sayang”. Ya, kalo kita nggak kenal sama seseorang, kita nggak akan sayang. Begitupun kalo kita nggak kenal sama Islam, maka kita nggak akan bisa sayang sama Islam. Apalagi sampe menjadi pembela dan pejuangnya. Iya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 119/tahun ke-3 (17 Safar 1431 H/1 Februari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pepatah yang sering kita dengar adalah: “tak kenal maka tak sayang”. Ya, kalo kita nggak kenal sama seseorang, kita nggak akan sayang. Begitupun kalo kita nggak kenal sama Islam, maka kita nggak akan bisa sayang sama Islam. Apalagi sampe menjadi pembela dan pejuangnya. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, selain pepatah yang udah bertahun-tahun kita hapal itu, kita juga perlu membudidayakan (idih, emangnya lele dumbo?), maksudnya mensosialisasikan pepatah: “tak kenal maka tak benci”. Sebenarnya nggak ada yang aneh dengan istilah ini. Sebab hanya lawan kata saja dari pepatah pertama. Ya, ini juga kudu kita pahami. Bahwa kita nggak bakalan benci sama seseorang kalo kita nggak kenal siapa dirinya. Kita nggak bakalan benci sama ide-ide yang bertentangan dengan Islam, kalo kita nggak mengenalnya. Iya nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">Coba, kamu pasti nggak bakalan ngerasa benci setengah idup sama Si Babeh sang penjagal itu. Sebelumnya apa pernah kamu tahu siapa doi? Nggak juga kan? Baru deh setelah media massa ramai menjadikan doi sebagai berita kita jadi tahu kesadisan doi. Kita benci banget karena doi tega-teganya membunuhi anak-anak jalanan dan bahkan mensodominya. Bejat bener tuh orang! (hehe..ini salah satu rangkaian kalimat yang spontan keluar dari mulut kita atau nengalir deras dalam tulisan kita). Kenapa bisa benci? Karena udah mengenalnya, atau minimal mengetahui perilakunya yang bejat itu. Iya kan?<span id="more-3309"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, ini artinya bahwa kita seharusnya mampu mengetahui dan mengenali segala sesuatu. Supaya kalo kita tahu dan kenal, maka kita akan bisa memutuskan pendapat kita. Bisa menilai dan memberikan kesimpulan. Bisa sayang, bisa benci. Bisa bahagia, bisa kecewa. Mungkin saja bersenang-senang, bisa juga bermuram-durja. Semua itu, setelah kita mengetahui dan mengenalnya. Itu sebabnya, kita harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Siapa yang perlu didukung dan siapa pula yang wajib dilawan. Cara pandang kita yang akan menentukan sikap dan perilaku kita. Dan, sebagai muslim kita harus menjadikan Islam sebagai tolok ukur dalam berbuat dan berpendapat. Setuju kan? Kudu!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kapitalisme-Sekularisme? Benci banget!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara singkat saya coba jelasin buat kamu nih. Biar kamu kenal dengan sistem kufur ini. Yup, kapitalisme adalah ideologi dan sistem yang lahir dari doktrin sekular yang diadopsi Eropa setelah runtuhnya kekuasaan gereja dalam arena politik. Kamu kayaknya pernah dengar deh semboyan pas revolusi Perancis: “Gantung kaisar terakhir, dengan usus pendeta terakhir”. Nah, itu sebagai protes dari rakyat Perancis waktu itu untuk mengakhiri kekuasaan gereja terhadap urusan pemerintahan. Jadi, nih Kapitalisme tuh ‘akidahnya’ adalah sekularisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Soalnya dulu kekuasaan gereja ikut andil banget dalam menentukan kehidupan bernegara. Menurut Victor Hugo (dalam <em>History of Free Thought</em>, hlm. 147, dalam kutipan di buku <em>PeradabanBarat dalam Kacamata Islam</em>, www.irib.ir), sejarah gereja yang sebenarnya bukan saja dapat dibaca lewat halaman-halaman buku, tetapi juga di celah-celah baris catatan resmi. Gereja telah menyebabkan Parnili dihukum cambuk sehingga hampir saja menemui ajalnya. Hal itu terjadi lantaran ia menyatakan bahwa bintang tidak jatuh dari jalan yang telah ditentukan. Pihak gereja melemparkan Campland ke dalam penjara sebanyak 27 kali karena dia mengklaim adanya kehidupan selain di bumi. Gereja menyiksa Harvey karena membuktikan bahwa darah beredar lewat urat dan saluran darah di dalam badan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, Hugo menambahkan bahwa gereja juga memenjarakan Galileo karena dia menyatakan bahwa bumi mengitari matahari, sebuah pernyataan ilmiah yang kontradiktif dengan teori yang terdapat dalam perjanjian lama dan baru. Gereja memenjarakan Christopher Columbus yang menemukan benua tanpa memberitahu Saint Paul. Gereja memvonis setiap penemuan hukum alam, evolusi dunia, ataupun benua yang sebelumnya tidak diramalkan oleh kitab suci, sebagai sebuah pelanggaran moral. Gereja menyingkirkan Pascal dan Montey karena dianggap tidak bermoral, dan Muller dengan tuduhan pencabulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Karuan aja, sikap model gini bikin panas masyarakat, khususnya para ilmuwan dan cendekiawan saat itu. Mereka menganggap bahwa kalangan gereja terlalu ngatur dan ngekang akal mereka. Setelah banyak protes di sana-sini dari rakyat, akhirnya dicari jalan tengah, yakni urusan pemerintahan diserahkan kepada kalangan negarawan, dan urusan agama diberi wewenang kepada pihak gerejawan untuk mengaturnya. Begitu cerita singkatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, konsep sekularisme ini berkembang, apalagi setelah diadopsinya HAM alias Hak Asasi Manusia. Nah, salah satu konsep fundamental  yang lahir dari sekularisme adalah adanya keharusan negara atau kelompok atau individu untuk melindungi hak manusia dalam kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan individu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari prinsip kebebasan kepemilikan muncul sistem ekonomi kapitalis. Demokrasi, atau konsep ‘kedaulatan rakyat’, adalah sistem politik yang juga lahir dari keyakinan sekular, tapi sebagai sistem politik demokrasi kurang menonjol dibandingkan sistem ekonomi kapitalis. Meskipun secara teoretis demokrasi memberikan kekuasaan legislasi kepada rakyat, tapi pada kenyataannya mereka yang memiliki kekayaan ekonomi adalah pihak yang secara riil memiliki kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, sistem ekonomi kapitalis boleh dikata bisa mengendalikan dan mengambil peran dalam pemerintah, dan pembuatan kebijakan di Barat hampir sepenuhnya didorong oleh faktor-faktor ekonomi. Dari pemikiran ekonomi kapitalis lahir konsep <em>benefit</em> dan<em> interest</em>, dan keharusan untuk memaksimalkan benefit dan interest individu dan masyarakat. Konsep ini menjadi <em>driving</em> <em>force</em> sistem politik dan kebijakan luar negeri negara-negara Barat. Terus nih, para kapitalis, yaitu mereka yang menguasai kapital dan kekayaan, adalah penguasa yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya aja nih, kalo ada pilkada alias pemilihan kepala daerah (termasuk pilpres tentunya), tuh yang berperan bukan cuma calon bupati atau gubernurnya aja. Tapi juga ada tim sukses. Nah, tim sukses inilah yang akan bekerja nyari dukungan, termasuk pencarian dana. Dananya dari siapa? Ya, dari para konglomerat yang punya modal. Ikhlas? Hmm.. dukungan tuh nggak ada yang gratis, man! Kalo nanti ‘jagonya’ kepilih jadi bupati atawa gubernur (atau yang lebih keren lagi, presiden), maka proyek-proyek di daerah itu, atau dalam skala nasional kalo yang dukung adalah presiden, bakalan jatuh ke tangan penyandang dana tersebut. Di Amerika juga sama. Bahkan ada konglomerat asal Indonesia yang punya bank di sini, ikut patungan untuk pemilihan presiden Bill Clinton beberapa tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, perlu diketahui bahwa demokrasi bukanlah monopoli sekularisme. Komunisme juga mengklaim dirinya demokratis dan mengklaim bahwa pemerintahan berasal dari rakyat.  Oleh karena itulah, ideologi ini lebih tepat disebut Kapitalisme, dengan sekularisme sebagai landasannya alias akidahnya. (Diadapatasi dari M. Ramdhan Adi, <em>Globalisasi</em>; <em>Skenario Mutakhir Kapitalisme</em>, al-Azhar Press, 2005)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Komunisme-Sosialisme? Halah, benci juga!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Walah, jadi nostalgia deh kalo ngomongin sosialisme dan komunisme. Soalnya apa? Soalnya secara institusi nih ideologi udah “wasalam”. Udah nggak diemban lagi oleh negara besar sekelas Uni Soviet atau USSR (Union of Soviet Socialist Republics) yang udah bubar pada tahun 1991. Banyak yang seneng dengan bubarnya Uni Soviet, terutama negara-negara pengemban kapitalisme. Oya, grup rock sekelas Scorpion juga ikutan bikin satu lagu manis berjudul <em>Wind of Change</em> sebagai bentuk ‘syukuran’ berakhirnya era sosialisme-komunisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini, sosialisme-komunisme praktis berakhir. Secara individu atau kelompok masih ada yang memperjuangkan. Negara kecil juga masih ada sih yang menerapkan, Vietnam salah satu contohnya. Nama resmi negaranya adalah <em>Socialist Republic of Vietnam</em>. Selain Vietnam, Korea Utara dan Cina adalah dua kekuatan negara Sosialisme yang masih dianggap sebagai ancaman bagi Amerika, meski Uni Soviet udah hancur.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, pada dasarnya sosialisme tuh muncul sebagai tandingan kapitalisme, lho. Sosialisme sebagai bentuk perlawanan kepada kapitalisme yang udah bikin sengsara kaum buruh di Eropa pada abad 19.</p>
<p style="text-align: justify;">Emang sih, pada satu sisi industrialisasi&#8211;dengan kapitalisasinya&#8211;telah mendorong dengan pesat laju produksi barang dan jasa. Akan tetapi industrialisasi juga bertanggung jawab terhadap kesenjangan dan krisis sosial yang merugikan kaum buruh. Upah kerja rendah, jam kerja panjang, eksploitasi tenaga anak dan wanita, serta pabrik yang kurang&#8211;bahkan tidak&#8211;memperhatikan keamanan kerja dan kesejahteraan kaum buruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Muncul kemudian Robert Owen<strong> </strong>(1771-1858) di Inggris, Saint Simon (1760-1825), dan Fourier (1772-1837) di Perancis berusaha memperbaiki kondisi buruk ini. Didorong rasa kemanusiaannya mereka memformulasikan teori-teori tentang sosialisme. Namun usaha mereka tidak dibarengi dengan tindakan nyata, maupun konsepsi nyata mengenai tujuan dan strategi dari perbaikan itu. Sehingga teori-teori mereka dianggap sebagai khayalan semata. Terutama oleh Marx dan Engels.  Muncul kemudian istilah Sosialisme Utopis.</p>
<p style="text-align: justify;">Karl Marx (1818-1883) dari Jerman, tampil ke depan.  Ia juga mengecam keadaan ekonomi dan sosial yang bobrok akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalistik. Untuk mengubah kondisi bobrok masyarakat tersebut, Karl Mark berpendapat bahwa masyarakat harus diubah dengan perubahan radikal (revolusioner) bukan dengan perubahan tambal sulam. (baca Robert A. Isaak, <em>International Political Economy (terj. Ekonomi Politik Internasional; pentj</em>. Muhadi Sugiono; ed.I, <em> </em>Juli 1995, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta)<em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Terus Marx menyusun teori-teori sosial bertumpu pada hukum-hukum ilmiah. Ia menamakan teori sosialnya dengan nama Sosialisme Ilmiah (Scientific Socialism), untuk membedakan pahamnya dengan Sosialisme Utopis. Dalam menyusun teori-teori sosialnya Marx banyak dipengaruhi oleh filsuf Jerman Hegel (1770-1831, terutama filsafat Hegel tentang dialektika. Kemudian ia dan Engels menerbitkan berbagai macam karangan, salah satunya yang paling masyhur adalah Manifesto Komunis dan Das Kapital.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, sosialisme-komunisme nggak bertahan lama lho. Cuma 70-an tahun diterapkan sebagai ideologi negara oleh Uni Soviet. Karl Marx sebagai konseptornya. Sementara Stalin, Lenin dan pemimpin berikutnya sampe bubar di tahun 1991 adalah sebagai pelaksana aturan hukumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan kehidupan Kapitalisme yang individualistis, Sosialisme memiliki prinsip kesetaraan. Dalam Kapitalisme, kalo pun berkelompok atau berserikat, tapi kepentingan pribadi lebih menonjol. Sementara dalam sosialisme nggk boleh ada ambisi pribadi untuk memiliki apa pun. Semuanya harus sama. Karena kepentingan pribadi bisa ngerusak kesatuan. Konsepnya sih gitu deh. Tapi kenyataannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, tapi kenyataannya nih, pemikiran itu cuma teori doang. Prakteknya nol besar. Buktinya, para petinggi partai komunis berebut harta dan kekuasaan. Bukan hanya itu, pejabatnya juga sering mengeksploitasi rakyat dan mengatasnamakan rakyat untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Itu sebabnya, jangan heran kalo muncul lelucon-lelucon satire (sindiran) oleh banyak rakyat Soviet. Kalo nggak percaya silakan baca buku <em>Mati Ketawa Cara Rusia</em>. Dijamin ngakak sendiri, tapi sekaligus bikin kita mikir. Ya, karena sosialisme-komunisme juga nggak ada bedanya ama kapitalisme kalo dilihat dari merusaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, kayaknya kamu perlu tahu deh bahwa ‘akidahnya’ Sosialisme adalah materialisme. Prinsip materialisme menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Nggak ada Tuhan, nggak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Jadi, materilah asal-usul segala sesuatu. Materi juga merupakan dasar eksistensi segala macam pikiran. Dari ide materialisme inilah dibangun dua ide pokok dalam Sosialisme yang mendasari seluruh bangunan ideologi Sosialisme, yakni <em>Dialektika Materialisme</em> dan <em>Historis Materialisme</em>. (Ghanim Abduh, <em>Kritik Terhadap Sosialisme-Marxisme</em>, Pustaka Al-Izzah, 2003)</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, atas dasar ide materialisme ini, dengan sendirinya agama nggak punya tempat dalam Sosialisme-Komunisme. Sebab agama berpangkal pada pengakuan atas eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh ide materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya nih, menurut Sosialisme hubungan negara-agama dapat diistilahkan sebagai hubungan yang negatif. Dalam arti Sosialisme telah menafikan alias secara mutlak eksistensi dan pengaruh agama dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Agama merupakan candu masyarakat yang harus dibuang dan dienyahkan. Begitu deh singkatnya. Oke? Kalo pengen lengkap sekarang udah banyak buku-buku yang bahas tentang sosialisme, baik pandangan pemikir Kapitalisme, Islam, maupun dari praktisi Sosialisme-Komunisme sendiri. Biar mantep, gitu lho.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Islam adalah ideologi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, jelas banget kalo Islam tuh adalah ideologi. Itu sebabnya, jangan lagi kita menganggap bahwa Islam cuma ngurus soal akhirat aja. Islam lihai juga lho ngurus dunia. Tapi dengan catatan, yakni kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memahami Islam sebagai ideologi. Oke?</p>
<p style="text-align: justify;">Sekadar menekankan aja nih, bahwa nggak ada keraguan kalo akidah Islam tuh menjelaskan bahwa sebelum ada kehidupan dunia ini ada Allah Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan; bahwa Allah Pencipta manusia telah menurunkan aturan-aturanNya ke dunia ini untuk mengatur kehidupan manusia; dan bahwa manusia akan menuju alam akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga atau neraka—begantung pada terikat-tidaknya dirinya dengan aturan-aturanNya. Itulah realitas akidah Islam yang harus diyakini oleh setiap Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, agama Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menaati Allah Swt. di rumah, di pasar, di mal, di kendaraan, di kantor, di sekolah, di masjid, di ruang pertemuan, di mess, di hotel, dan di setiap tempat. Demikian juga ketika makan, minum, berpakaian, berakhlak, beribadah, dan berbagai muamalah. Semuanya kudu ngikutin aturan Allah Swt. dan RasulNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: <em>“Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.” </em>(Dalam kitabnya, <em>al-Iqtishad fil I’tiqad</em> hlm. 199)</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, mulai sekarang, tanamkan pemahaman tentang Islam sebagai ideologi agar lebih mantep mengenal dan meyakini Islam. Supaya makin sayang sama Islam. Sebaliknya, kenali lebih dalam kapitalisme, sosialisme, komunisme, sekularisme, liberalisme, dan keyakinan serta semua ideologi rusak lainnya agar kita makin benci dan mencampakkan aturan-aturan kufur tersebut. Hanya Islam yang wajib tegak di muka bumi ini, bukan yang lain. Setuju kan? <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tak-kenal-maka-tak-benci/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kata &#8220;Allah&#8221; di Malaysia dan Indonesia (Siapa Pelanjut agama Ibrahim?) – (1)</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-1</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-1#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 03:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keimanan]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3301</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar: Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sekarang menyita banyak perhatian masyarakat internasional. Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun, sejumlah media massa menurunkan berita dan opini seputar masalah ini. Sejumlah pihak mengirimi saya beberapa berita dan opini melalui emel dan meminta tanggapan. Untuk sedikit menjernihkan masalah ini, berikut ini saya turunkan tulisan, yang – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;"><em>Pengantar: Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sekarang menyita banyak perhatian masyarakat internasional. Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun, sejumlah media massa menurunkan berita dan opini seputar masalah ini. Sejumlah pihak mengirimi saya beberapa berita dan opini melalui emel dan meminta tanggapan. Untuk sedikit menjernihkan masalah ini, berikut ini saya turunkan tulisan, yang – karena agak panjang – saya bagi menjadi tiga serial Catatan Akhir Pekan (CAP) ke-277, 278, dan 279). Sebagian data di sini sudah pernah kita sajikan dalam CAP-CAP sebelumnya. Untuk memudahkan pemahaman, data itu kita ungkapkan lagi, diramu dengan berbagai data baru yang penulis temukan. .</em><br />
</span><br />
Kasus “penggunaan kata Allah” di Malaysia rupanya masih belum berujung. Kasus yang sudah bermula tahun 2007 ini kembali memanas setelah Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 membenarkan penggunaan kata &#8221;Allah&#8221;, sebagai pengganti kata Tuhan, oleh surat kabar Katholik <em>Herald-The Catholic Weekly</em> terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia.</p>
<p>Alkisah, kaum Muslim di Malaysia, diwakili pemerintah Malaysia,  berkeberatan dengan keputusan tersebut dan mengajukan Banding ke peradilan yang lebih tinggi. Di Malaysia, masalah ini memang sangat menyita perhatian publik. Pada 1 April 2009 lalu, saya sempat menghadiri sebuah seminar tentang kontroversi penggunaan kata Allah bagi Majalah Katolik ini di Kuala Lumpur. Bagi kaum Muslim dan pemerintah Malaysia, pelarangan penggunaan nama Allah bagi kaum non-Muslim memang memiliki dasar hukum yang kuat. Sebab, di hampir seluruh negara bagian di Malaysia, memang ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim menggunakan sejumlah istilah khas dalam Islam, seperti Allah, Baitullah, Rasulullah, dan sebagainya.<span id="more-3301"></span></p>
<p>Di Malaysia, Islam adalah “agama resmi negara” (agama Persekutuan). Kaum non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum Muslim. Sebab, sesuai konstitusi Malaysia, salah satu tugas pemerintah adalah melindungi aqidah Islam.  Di Malaysia, istilah Melayu identik dengan Islam. (Sebaliknya, di Indonesia, banyak yang memahami istilah “Melayu” identik dengan “lagu dangdut”).  Kamus Dewan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1989, juga menegaskan keidentikan antara Islam dengan Melayu. Disebutkan, bahawa istilah “masuk Melayu” mempunyai dua erti, yaitu (1) mengikut cara hidup orang-orang Melayu dan (2) masuk Islam.  Menyadari pentingnya kedudukan akidah Islam untuk menjaga ketahanan masyarakat Malaysia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) – satu institusi Islam resmi di bawah pemerintah Melaysia &#8211;  menyatakan:<br />
&#8220;Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu dan terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-undang semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi Malaysia&#8221;.  (Lihat, http://www.islam.gov.my/e-rujukan/islammas.html).</p>
<p>Jadi, dalam soal kenegaraan, Malaysia memang beda dengan Indonesia. Meskipun jumlah umat Muslim hanya sekitar 60 persen, Malaysia dengan tegas menyatakan dirinya sebagai kelanjutan Kerajaan-kerajaan Melayu Islam, dan Islam ditempatkan dalam konstitusi negara sebagai agama negara (agama Persekutuan).  Dalam kaitan inilah,  pemerintah Malaysia melarang penggunaan kata &#8220;Allah&#8221; untuk penerbitan buku dan referensi kaum non-Muslim di negara itu. Malaysia juga pernah menyita belasan ribu kitab suci umat Kristen, Alkitab, yang diimpor dari Indonesia yang menggunakan kata &#8220;Allah.&#8221;</p>
<p>Majalah Katolik <em>Herald</em> edisi bahasa Inggris memang tidak menggunakan kata Allah. Tapi, kata Allah mereka gunakan untuk edisi bahasa Melayu. Karena itulah, kaum Muslim di Malaysia melihat, ini salah satu indikasi jelas, bahwa ada tujuan ”misi Kristen” dibalik penggunaan kata Allah tersebut.  Tapi, kaum Katolik di Malaysia berkeberatan dengan larangan pemerintah atas penggunaan kata &#8220;Allah&#8221; di media mereka. Gugatan kaum Katolik ini kemudian dikabulkan oleh pengadilan. Hanya saja, pada 4 Januari 2010, pemerintah Malaysia mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tinggi itu. Pemerintah juga meminta agar putusan pengadilan itu ditangguhkan, sampai muncul putusan atas banding itu.</p>
<p>Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia  ini telah menyita perhatian dunia internasional. Pelarangan penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun 1980-an.  Sejumlah media di Indonesia – baik cetak maupun elektronik – pun ikut menyiarkan berita di Malaysia tersebut. Apalagi, menyusul keputusan Pengadilan Tinggi, terjadilah penyerangan terhadap sejumlah Geraja di Malaysia. Ditengarai, serangan itu dilakukan akibat marahnya sebagian kaum Muslim atas keputusan tersebut.</p>
<p>Sikap umat Islam di Malaysia sendiri terbelah.  Jika pemerintah Malaysia – yang didominasi Partai UMNO &#8212; melarang penggunaan kata Allah oleh kaum Kristen, sikap sebaliknya ditunjukkan oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS). Partai yang sering dikategorikan sebagai ”partai Islam” ini justru  menyatakan tidak keberatan dengan penggunaan kata &#8220;Allah&#8221; sebagai alternatif kata Tuhan untuk kalangan non-Muslim. Menurut PAS, kata Allah bisa digunakan oleh para penganut agama keturunan Nabi Ibrahim &#8211; yang dikenal oleh umat Nasrani dan Yudaisme sebagai Abraham. Harian yang terbit di Malaysia, <em>The Star</em>, melaporkan adanya pertemuan Dewan Pimpinan PAS, pada 4 Januari 2010, yang menghasilkan keputusan tersebut. Presiden PAS, Hadi Awang, menyatakan, bahwa penggunaan kata Allah di luar non-Muslim ada syaratnya, yakni kata ”Allah” tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan yang bisa mengganggu kerukunan beragama di Malaysia.</p>
<p>Bagi saya yang beberapa tahun tinggal di Malaysia dan pernah cukup intens mengikuti pergumulan politik di Malaysia melalui media massa, sikap PAS itu bisa dipahami sangat kental nuansa politisnya. Konflik PAS dan UMNO seperti  sudah mendarah daging. Bagi kita, kaum Musim Indonesia,  tentu sangat heran, mengapa kedua partai yang sama-sama berbasis Melayu ini tidak bisa bersatu dalam pandangan dan sikapnya dalam hal-hal yang bersifat keagamaan, dan melupakan pandangan politis mereka. Namun, kita juga bisa memahami, jika melihat kondisi serupa yang terjadi pada sejumlah partai Islam di Indonesia.  Kadangkala, sebagai orang yang berada di luar partai, kita mengharapkan, agar partai-partai Islam itu dapat bersatu untuk sama-sama memperjuangkan aspirasi Islam. Tapi, itulah realitasnya; baik di Malaysia atau pun di Indonesia.</p>
<p>Pernyataan PAS yang menyatakan, bahwa agama Yahudi dan Kristen adalah pelanjut agama Ibrahim pun lebih bertendensi politis dan sosiologis.  Secara aqidah, menurut Islam, jelas Islam menolak klaim Yahudi dan Kristen bahwa mereka adalah pelanjut agama Ibrahim a.s.  Seorang Muslim, yang berpikir dalam perspektif Islamic worldview, akan sangat yakin, bahwa ’agama Ibrahim’ adalah agama Tauhid. Dan sebab itu, hanya Islamlah yang konsisten melanjutkan ajaran Tauhid Nabi Ibrahim.</p>
<p>Al-Quran menjelaskan: “<em>Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif</em>.” (QS 4:125).  “<em>Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik</em>.” (QS 3:67).</p>
<p>Meskipun Yudaisme adalah agama yang ber-Tuhan satu (monoteis),  tetapi kaum Muslim meyakini bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen). Menurut Al Quran, orang-orang Yahudi dan Nasrani telah mengubah-ubah kitab yang diturunkan Allah, menyembunyikan kebenaran, dan menulis kitab menurut keinginan dan hawa nafsu mereka sendiri.</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Sebagian dari orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya</em>.&#8221; (An Nisa: 46). &#8220;<em>Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman karena seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu mengubahnya sesudah mereka memahaminya,s edangkan mereka mengetahuinya</em>.&#8221; (al-Baqarah:75). &#8220;<em>Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: &#8220;Ini adalah dari Allah.&#8221;  (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat  tindakan mereka</em>. (al-Baqarah:79)</p></blockquote>
<p>Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme belum tentu sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, disertai unsur ikhlas dan  rela diatur  oleh Allah SWT. Maka, syahadat Islam berbunyi “<strong><em>Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah</em></strong>”. Syahadat Islam bukan berbunyi: “<strong><em>Tidak ada tuhan selain Tuhan</em></strong>”, juga bukan “<strong><em>Tidak ada tuhan selain Yahweh</em></strong>”. Karena itu, jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak bisa disebut ‘bertauhid’. Iblis pun tidak bisa dikatakan bertauhid, tetapi disebut kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia tahu bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan.</p>
<p>Dalam perspektif seorang Muslim yang memegang teguh Islamic worldview, memasukkan agama Yahudi sebagai pelanjut agama Ibrahim, adalah pernyataan yang sangat bermasalah. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan.<em> Oxford Concise Dictionary of World Religions</em> menulis: “<em>Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy</em>.”</p>
<p>Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi dan Kristen kehilangan jejak kenabian dan Tauhid. Dalam pandangan Islam, kaum Yahudi telah kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Ini juga ditulis oleh Th.C.Vriezen, dalam buku ”Agama Israel Kuno”  (Jakarta: BPK, 2001):</p>
<blockquote><p><em>“Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.” </em></p></blockquote>
<p>Jadi, dalam pandangan Islam, Yudaisme (agama Yahudi) bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. Tetapi, Yudaisme adalah agama yang menyeleweng dari agamanya dari Musa a.s. CM Pilkington, dalam Judaism, menulis: <em>“It was in the 1880’s that the term ‘Judaism’ became widely used and this bacause social and political emancipation then made it necessary for Jews to work out for non-Jews&#8230;”  Juga disebutkan, “Judaism is the religion of the Jewish people, upon whom its faith and obligations are binding. The relationship between God and the people of Israel is fundamental.”  Siapakah yang disebut Yahudi?  “According to Jewish Law, as codified in the Talmud and defined by rabbis from late antiquity to the present day, a Jew is a person who is born of a Jewish mother or has been converted to Judaism.”  Louis Jacobs, seorang teolog  Yahudi merumuskan: “A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism.” </em> (Pilkington, <em>Judaism</em>,  (London: Hodder Headline Ltd.,  2003)).</p>
<p>Bagi kaum Musim, maka persoalan paling serius dalam Yudaism adalah penolakan mereka terhadap kenabian Muhammad saw. Nabi Isa a.s. pernah mengajak kaumnya (bangsa Yahudi) agar mengimani kenabian Muhammad saw:</p>
<blockquote><p>“<em>Dan ingatlah ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab yang turun sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka, tatkala Rasul itu datang kepada mereka, dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata</em>.” (QS ash-Shaf:6).</p></blockquote>
<p>Berbeda dengan konsep Yahudi,  Islam sangat menekankan bahwa karunia Allah kepada bangsa Yahudi dikaitkan dengan ketaatan atas perjanjian mereka dengan Allah. Islam tidak mengakui sama sekali adanya konsep yang menyatakan Yahudi sebagai bangsa pilihan dan mendapat karunia sampai kapan pun, tanpa memandang, apakah mereka taat atau tidak kepada Allah. (QS 2:85).  Dalam sejumlah ayat Bible memang disebutkan Israel sebagai anak Tuhan “son of God”.  Kitab Keluaran 4:22-24 menyatakan: “<em>Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung. Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, Tuhan bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.</em>”</p>
<p>Tetapi, al-Quran menyebutkan, kaum Yahudi adalah bangsa yang sangat rasialis. Allah SWT berfirman (yang terjemahnya): “<em>Katakanlah: hai orang-orang Yahudi, jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu saja yang merupakan kekasih Allah, bukan manusia-manusia lainnya, maka harapkanlah kematian, jika kamu adalah orang-orang yang benar</em>.” (QS 62: 6).</p>
<p>Dengan klaim sebagai pelanjut keturunan Ibrahim yang sah itulah, kaum Yahudi menggunakan haknya untuk mengusir bangsa Palestina dari negeri mereka. Bahkan, sebagian kelompok, seperti pengikut Meir Kahane, memperbolehkan digunakannya tindak kekerasan untuk mengusir bangsa non-Yahudi dari Palestina. Salah seorang pengikut aliran ini, Yigal Amir, pernah membunuh Yitzak Rabin karena menegosiasikan Tanah yang dijanjikan Tuhan itu (<em>the promised land</em>) dengan bangsa non-Yahudi.</p>
<p>Sikap rasialis Yahudi yang mengklaim sebagai pewaris darah Ibrahim yang sah ini telah dikecam oleh dunia internasional. Resolusi Majelis Umum PBB, No 3379, 10-11- 1975 menyatakan: &#8220;Zionisme adalah sebentuk rasisme dan diskriminasi rasial.&#8221;  Konferensi Asia-Afrika Bandung, Indonesia, 1955, menyebut Zionisme sebagai: “<em>the last chapter in the book of old colonialism, and the one of the blackest and darkest chapter in human history</em>&#8220;.  Tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Dr. Roeslan Abdulgani juga mencatat: &#8220;Zionisme boleh dikatakan sebagai kolonialisme yang paling jahat dalam jaman modern sekarang ini. Ia berbau rasialisme.” Kritikan keras terhadap rasialis kaum Yahudi juga diberikan oleh cendekiawan terkenal Israel, Prof. Israel Shahak. Dalam bukunya, <em>Jewish History, Jewish Religion</em>, Shahak menulis: “<em>In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond</em>.”</p>
<p>Karena itulah, Islam mengecam keras klaim rasialis Yahudi. Kaum Muslim mengikatkan diri dengan Ibrahim a.s., hanya mendasarkan diri pada garis keimanan, bukan “garis darah”.  Maka, dalam perspektif keimanan Islam, hanya Islamlah agama yang menjadi pelanjut agama Ibrahim a.s. yang sah. Sebab, hanya Islam yang mengakui garis kenabian dari Ibrahim a.s. sampai kepada Nabi Muhammad saw.<br />
Karena itu,  dalam pandangan Islam, agama Yahudi (Yudaisme) saat ini bukanlah pelanjut yang absah dari agama Ibrahim a.s. Begitu juga dengan agama Kristen. Dalam pandangan Islam, agama Kristen  saat ini adalah agama yang menyimpang dari agama Nabi Isa a.s. Sebab, sama dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Sebagai agama wahyu (agama samawi) yang bersumberkan pada wahyu yang bersifat universal dan final, posisi Islam terhadap agama lain bersifat final dan tidak mengikuti dinamika sejarah. Setelah wahyu Allah SWT sempurna diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka Allah menegaskan, bahwa ”<em>Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu</em>.” (QS 5:3).</p>
<p>Ayat tersebut secara tegas menyebutkan, bahwa ”Islam” adalah agama yang diridhai oleh Allah. Dan kata ”Islam” dalam ayat ini adalah menunjuk kepada nama agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, secara tegas, nama agama ini diberi nama ”Islam” setelah sempurna diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw.  Para pengikut nabi-nabi sebelumnya diberi sebutan sebagai ”muslimun”, tetapi nama agama para nabi sebelumnya, tidak secara tegas diberi nama ”Islam”, sebagaimana agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Meskipun, semua agama yang dibawa oleh para nabi mengandung inti ajaran yang sama, yakni ajaran Tauhid.</p>
<p>Namun, agama-agama para nabi sebelumnya, saat ini sudah sulit dipastikan keotentikannya, karena kitab mereka sudah mengalami tahrif (perubahan-perubahan) dari pemeluknya. (QS 2:59, 75, 79).  Karena itulah, menurut Islam, harusnya pengikut para nabi sebelumnya, seperti kaum Yahudi dan Nasrani, juga mengimani Muhammad sebagai nabi Allah SWT. Rasulullah saw bersabda: “<em>Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka</em>.” (HR Muslim)<br />
<strong><br />
Karakter Islam</strong><br />
Karena Islam memelihara kontinuitas kenabian, maka dalam pandangan Islam, Islam  adalah satu-satunya agama yang memelihara kontinuitas wahyu. Karena itu, Islam bisa dikatakan sebagai satu-satunya agama wahyu, dan satu-satunya agama yang memiliki ritual yang universal, final, dan otentik. Ini disebabkan Islam memiliki teladan (model) yang final sepanjang zaman.  Sifat otentisitas dan universalitas Islam masih terpelihara hingga kini.  Meskipun zaman berganti, ritual dalam Islam tidak berubah. Shalatnya orang Islam di mana pun sama. Tidak pandang waktu dan tempat. (Tentang konsep Islam sebagai “<em>true submission</em>”, lihat disertasi Dr. Fatimah Bt. Abdillah di ISTAC, Kuala Lumpur,  yang berjudul A<em>n Analysis of the Concept of Islam as “True Submission” on the Basis of Al-Attas Approach,</em> 1998).</p>
<p>Sebagai agama wahyu, Islam memiliki berbagai karakter khas. Pertama, diantara agama-agama yang ada, Islam adalah agama yang namanya secara khusus disebutkan dalam Kitab Sucinya. Nama agama-agama selain Islam diberikan oleh para pengamat keagamaan atau oleh manusia, seperti agama Yahudi (Judaisme), agama Katolik (Katolikisme), agama Protestan (Protestantisme), agama Budha (Budhisme), agama Hindu (Hinduisme), agama Konghucu (Konfusianisme), dan sebagainya.  Sedangkan Islam tidaklah demikian. Nama Islam, sebagai nama sebuah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd saw,  sudah disebutkan ada dalam a-Quran:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam</em>.&#8221; (QS 3:19). &#8220;<em>Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan akan diterima dan di akhirat nanti akan termasuk orang-orang yang merugi</em>.&#8221; (QS 3:85).</p></blockquote>
<p>Tentang nama Islam sebagai nama agama, cendekiawan besar dari Malaysia Syed Muhammad Naquib al-Attas mencatat dalam bukunya, <em>Prolegomena to The Metaphysics of Islam: “There is only one genuine revealed religion, and its name is given as Islam, and the people who follow this religion are praised by God as the best among mankind… Islam,  then, is not merely a verbal noun signifying ‘submission’;  it is also the name of particular religion descriptive of true submission, as well as the definition of religion: submission to God.</em>”</p>
<p>Demikianlah posisi teologis Islam. Posisi ini tentu saja berbeda dengan posisi teologis Yahudi dan Kristen. Perbedaan ini harus diakui dan dihormati. Bagaimana pun, kaum Yahudi dan Kristen tidak menerima konsep kenabian Muhammad sebagai utusan Allah yang terakhir. Dengan kata lain, dalam pandangan Yahudi dan Kristen, Muhammad saw bukanlah seorang nabi, tetapi seorang pembohong. Dr. Abraham Geiger (m. 1871), salah satu tokoh Yahudi yang menjadi perintis studi al-Quran di Barat, menulis sebuah buku berjudu<em>l What did Muhammad Borrow from Judaism?</em> Pada posisinya sebagai Yahudi, ia menuduh Nabi Muhammad saw telah menjiplak Bibel dan tradisi ritual Yahudi. Geiger menulis: “<em>Muhammad like the rabbis prescribes the standing position for prayer</em>.”</p>
<p>Kaum Muslim dilarang memaksakan keimanan dan keyakinan mereka kepada kaum Yahudi dan Kristen serta pemeluk agama mana pun. Sebab, telah jelas mana yang benar dan mana yang salah. (QS 2:256). Karena itu, sejak awal kehadirannya, Islam sudah diperintahkan mengakui dan menghormati keyakinan agama lain. Tetapi pada saat yang sama, kaum Muslim juga diperintahkan, agar memproklamasikan dirinya sebagai Muslim: <em>Isyhaduu bi-anna Muslimun</em>.  (Saksikanlah bahwa kami adalah Muslim). Seorang anak yang Muslim tetap wajib menghormati kedua orang tuanya, meskipun mereka belum memeluk Islam. Rasulullah juga membangun hubungan baik dengan tetangganya yang Yahudi.</p>
<p>Jadi, menurut Islam, sangatlah tidak benar, jika problem politik dan sosial sampai mengubah konsep teologis kaum Muslim terhadap agama lain.  Berbeda dengan kaum Pluralis agama yang berjuang untuk menggerus keyakinan tiap agama – digantikan dengan konsep <em>global theology</em> – Islam memandang kerukunan umat beragama harus dibangun di atas dasar penghormatan kepada keyakinan masing-masing agama.  Karena ada perbedaan itulah, maka ada dialog dan diskusi. Karena ada perbedaan itulah ada dinamika hidup dan upaya membangun saling pengertian dan kerukunan. Bukan justru merusak keyakinan masing-masing agama untuk dibawa kepada satu agama baru bernama ”Pluralisme Agama”. <em>(Bersambung)</em>.<a href="http://adianhusaini.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=131:masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-1&amp;catid=34:cap&amp;Itemid=53" target="_blank"><strong>[adianhusaini.com]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-siapa-pelanjut-agama-ibrahim-%e2%80%93-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biar Miskin Asal Nyenengin</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/biar-miskin-asal-nyenengin</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/biar-miskin-asal-nyenengin#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 19:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3297</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 118/tahun ke-3 (10 Safar 1431 H/25 Januari 2010)
 
 


Arrrrrggggggh! Saya geram bukan kepalang tiap kali menyaksikan dengan mata-kepala sendiri potret memilukan di tiap sudut tempat yang saya lewati dengan ‘bebek’ saya. Pemandangan asli dari kondisi kehidupan mayoritas penduduk negeri ini yang jarang dijadikan setting cerita sinetron apa pun. Kontras banget dengan setting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 118/tahun ke-3 (10 Safar 1431 H/25 Januari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Arrrrrggggggh! Saya geram bukan kepalang tiap kali menyaksikan dengan mata-kepala sendiri potret memilukan di tiap sudut tempat yang saya lewati dengan ‘bebek’ saya. Pemandangan asli dari kondisi kehidupan mayoritas penduduk negeri ini yang jarang dijadikan <em>setting </em>cerita sinetron apa pun. Kontras banget dengan <em>setting</em> cerita di hampir semua sinetron atau film yang menyuguhkan kemewahan.</p>
<p>Coba telusuri tiap jalan di seantero kota kamu, Bro. Itu yang namanya gelandangan dan pengemis (gepeng) makin bejibun. Mereka duduk memelas menengadahkan tangan, mengelilingi mobil dan motor yang lagi antri lampu merah, bahkan berkeliling menyambangi tiap komplek perumahan, lengkap dengan ‘atribut’ compang-campingnya. Ngapain? Ya ngemis lah. Pernah ada guyonan, pas seorang ibu yang biasa ngemis di lampu merah tertangkap petugas tramtib, si ibu bilang: “ampun pak, saya memang ngemis di sini, tapi anak saya yang satu di UI, satu lagi di Trisakti.” “Kuliah?”, tanya petugas. “Bukan…., ngemis juga Pak!” Pletak! (nggak usah ketawa terus, karena ini guyonan yang bikin miris)<span id="more-3297"></span></p>
<p>Buat mereka yang nggak punya rumah alias tunawisma, mereka kudu rela bergeletakkan tidur di emper-emper toko tiap malam. Diwarnai juga dengan kisah-kisah getir para tukang, yang menjajakan barang dagangannya dengan harap-harap cemas sampai terkantuk-kantuk, yang menunggu para konsumen menggunakan jasanya, baik tenaga maupun keahlian. Sebagian dari mereka adalah orang tua di atas kepala lima atau enam yang seharusnya sudah mengenyam masa istirahat di rumah dengan fasilitas lengkap yang disediakan anak-cucu mereka. Tapi keadaan memaksa mereka untuk terus <em>survive </em>dengan cara masing-masing.</p>
<p>Tiap menyaksikan itu semua dada saya serasa sesak, pun nafas terasa tercekat, menahan pilu. Sering ada yang bilang: Ini hidup, Bung! Memang begini adanya. <em>Whats?</em> Betul ini hidup, tapi kehidupan yang sudah mulai bergeser menjadi rimba belantara akibat keserakahan sebagian besar manusianya. Catet!</p>
<p>Bro en Sis, menyelami masalah kemiskinan itu ibarat dihadapkan pada tugas menguraikan benang kusut. Kudu hati-hati dan bijaksana. Masalahnya, ada yang miskin itu karena memang alamiah, ada juga yang karena pengen dikasihani. Buat kasus yang kedua emang nyata terjadi di sekitar kita. Cuma karena pengen dapet jatah raskin alias beras buat orang miskin sama minyak tanah bersubsidi, warga kampung berebut daftar jadi orang miskin. Di tiap jendela rumah mereka ditempelin stiker “Keluarga Miskin (Gakin)”.</p>
<p>Jadi serba salah kadang memandangnya. Di satu sisi kita ngerasa apa yang mereka lakukan nggak seharusnya begitu, sampai banting harga diri. Tapi di sisi satunya lagi, kita nyadar emang ini seharusnya hak mereka sebagai warga negara yang dijamin seluruh kebutuhannya oleh pemerintah. Cuma pemerintahnya aja yang nggak nyadar. Iya kan?</p>
<p><strong>Susahnya jadi orang miskin</strong></p>
<p>Pernah baca sebuah penelitian nih, jumlah orang miskin di negeri kaya SDA Indonesia itu mencapai setengah lebih dari total penduduknya yang berjumlah 220 juta jiwa. Cuma, lagi-lagi, realitas pada tataran praktis di lapangan, semua fasilitas kehidupan yang disediakan pemerintah kok banyak yang nggak berpihak kepada golongan ini ya. Coba aja dipikirin. Meski kebijakan mendiknas melalui pimpinan daerah masing-masing menegaskan untuk membebaskan seluruh biaya pendidikan di sekolah negeri (baru SD-SMP), tapi tetep aja masih banyak ditemukan praktik-praktik pemungutan biaya seputar LKS, renang, ekstrakurikuler, bla bla bla.</p>
<p>Kasian kan buat orang tua yang penghasilannya kecil atau pas-pasan. Baru aja bisa bernapas lega ngedenger biaya sekolah digratiskan, eh dibikin megap-megap lagi dengan urusan tetek-bengek yang disebutin tadi. Apalagi yang nyekolahin anaknya di sekolah swasta. Buat yang nggak tahan dengan tekanan seperti ini, mau nggak mau anaknya dipaksa putus sekolah dan akhirnya berkeliaran di jalan sambil menenteng okulele: “permisi pak numpang ngamen.”</p>
<p>Belum lagi buat yang sakit. Udah jadi rahasia umum kalo berkaitan sama biaya pengobatan di RS, nggak ada pembedaan buat pasien. Bisa dihitung dengan jari rumah sakit yang melayani sesuai kondisi pasien. Rata-rata sih nggak ada keringanan biaya buat yang miskin. Pokoknya tetep kudu bayar mahal. Meskipun udah ditunjukkin kartu askeskin ke bagian administrasinya.</p>
<p>Ada juga kondisi yang lebih parah. Pasien jenis ini biasanya dinomorduakan alias didaftar-tunggukan setelah selesai melayani pasien yang siap bayar mahal. Sampai akhirnya banyak yang keburu meninggal sebelum sempat mendapat pengobatan apalagi perawatan. Masya Allah! Begitulah susahnya hidup di negeri ini. Mungkin ini semua memang harus terjadi sebagaimana yang diamanatkan UUD’45 Pasal 34 yang bunyinya: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Hiks, hiks, jadi sedih, masa’ orang miskin disamain kayak ayam, dipelihara. (jangan-jangan dipelihari untuk tetap ada? Semoga bukan ya!)</p>
<p>Sementara nun di Senayan sana, para wakil dari rakyat miskin yang hidupnya nggak kayak rakyatnya, hidupnya wah bermandikan harta dan kesenangan. Gajinya, fasilitasnya, yang selama ini udah dinikmatin, masih kurang juga ternyata buat mereka. Sekarang mereka minta renovasi rumah dinas, ngabisin duit negara yang nyata-nyata punya rakyat sampai milyaran rupiah. Para menteri juga nggak mau ketinggalan, mereka dikasih mobil dinas yang mewah. Istighfar lagi, yuk! <em>Astaghfirullah al-‘Azhim…</em></p>
<p><strong>Kok bisa miskin?</strong></p>
<p>Sobat muda, kamu mungkin bertanya, faktor apa aja seh yang bikin seseorang jadi miskin secara harta? Jawabannya (ngikutin Fitri Tropika di Missing Lyrics, hehe) ada beberapa sebab. Kalo kata saya seenggaknya ada tiga faktor. Pertama, faktor manusianya sendiri yang males-malesan; atau sering maksiat, jarang ibadah, nggak bersyukur, dan nggak rajin berdoa. Pantes aja rezekinya seret, kita sendiri yang bikin.</p>
<p>Selain itu, kemiskinan bisa diakibatkan oleh sistem kehidupan yang diterapkan bukan sistem Islam. Padahal Allah Swt. udah memperingatkan kita (yang artinya): <em>“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”</em> <strong>(QS Thaahaa [20]: 124)</strong></p>
<p>Jelas banget kan ayat ini. Kalo hidup kita jauh dari Allah Swr., pasti hidup kita susah. Apalagi lanjutan ayatnya, wuih serem. Makanya jangan berani-berani ngelanggar perintah Allah Swt. Kalo kemudian kamu temukan sosok manusia yang senantiasa maksiat, berbuat kejahatan—atau malah nggak beriman—tapi hidupnya bergelimang harta dan kemewahan, menurut para ulama itu cuma sebatas <em>istidraj. </em>Oya, istidraj adalah mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa, tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat dan dilupakan untuk minta ampunan, kemudian dibinasakan.</p>
<p>Tentang istidraj ini dijelaskan dalam firmanNya (yang artinya): <em>“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam, berputus asa.”</em> <strong>(QS al-An’aam [6]: 44)</strong></p>
<p>Rasullulah saw. bersabda: <em>“Apabila kamu melihat bahwa Allah Swt. memberikan nikmat kepada hambaNya yang selalu berbuat maksiat, ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah Swt.”</em> <strong>(HR at-Tabrani, Ahmad dan al-Baihaqi)</strong></p>
<p>Bro en Sis, faktor lainnya yang memunculkan kemiskinan adalah faktor bumi. Maksudnya kemiskinan yang dialami adalah akibat terjadinya fenomena alam di bumi. Bisa karena gempa, banjir, longsor, dan sebagainya, yang berpengaruh pada produksi alam dalam penyediaan makanan dan minuman bagi manusia. Sering kan kita dengar gagal panen padi di suatu daerah karena angin puting beliung yang menyebabkan warga di sekitarnya menderita kelaparan. Tapi kalo mau ditelusuri, semua bencana alam itu juga disebabkan sama tangan-tangan manusia yang nggak bertanggungjawab sehingga terjadilah kerusakan hingga menimbulkan kemiskinan. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”</em><strong> (QS ar-Ruum [30]: 41)</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni dalam kitab Shafwatu at-Tafasir, menafsirkan kalimat <em>bimaa kasabat aydinnaas </em>(disebabkan perbuatan tangan manusia) dalam ayat tersebut dengan <em>bi sababi ma’ashi an-naas wa dzunubihim </em>(disebabkan kemaksiatan dan dosa yang dilakukan oleh manusia). Maksudnya, tiap kali manusia melakukan maksiat dan dosa kepada Allah Swt., maka akan terjadi kerusakan di bumi. Salah satu kemaksiatan bahkan telah menjadi kemungkaran saat ini adalah nggak diterapkannya hukum-hukum Allah Swt., yakni syariat Islam. Itu sebabnya, kita butuh Khilafah yang bakal nerapin semua itu. Allahu Akbar!</p>
<p>Nah, faktor yang ketiga dari masalah kemiskinan ini adalah faktor kekuasaan Allah Swt. Kemiskinan seseorang memang bisa jadi sudah Allah tetapkan dalam waktu tertentu atau seumur hidupnya sebagai takdir. Kita nggak bisa menilai hal ini cuma dari logika manusia yang pasti nyimpulin kalo Allah nggak adil. Karena Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“&#8230; Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” </em><strong>(QS al-Baqarah [2]: 216)</strong></p>
<p>Pasti ada hikmah di balik kemiskinan yang Allah tetapkan itu. Orang yang beriman adalah orang yang menerima ujian dari Rabb-nya dengan penuh kesabaran. Dengan kesabaran yang diperbuatnya itulah kelak Allah akan menggantinya dengan surga. Tapi bukan berarti pasrah begitu aja dengan keadaan. Kudu tetep berusaha semaksimal mungkin, sembari dirangkai dengan aneka ibadah dan munajat kepada Allah Swt.</p>
<p><strong>Renungan</strong></p>
<p>Bro en Sis, kalau mau ditelusuri sejarah kehidupan Rasul saw. beserta para sahabat, ternyata kita bakal nemuin juga kesusahan hidup mereka. Diriwayatkan dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad, bahwa Rasul saw. ada kalanya beberapa malam bersama keluarganya kelaparan, nggak punya makanan buat disantap. Dalam kisah lain, beliau sering berpuasa atau mengganjal perutnya dengan batu kalo pas kebetulan nggak ada makanan di rumahnya. ‘Aisyah ra pernah bertutur bahwa: <em>“Tidak pernah keluarga Muhammad saw. merasa kenyang makan roti tepung sya’ir dua hari berturut-turut, sampai masa beliau meninggal tiba.” </em><strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Atau kisah yang diceritakan dalam hadis riwayat Bukhari bahwa Abu Hurairah ra sering pingsan di lokasi antara mimbar dan rumah ‘Aisyah sampai disangka gila. Padahal pingsannya itu hanya karena kelaparan. Kenapa Rasul kok seolah menerima keadaan itu? Kenapa nggak berdoa aja minta segala kebutuhan kepada Allah, bukankah doa Rasul mustajab? Semua ini beliau terima sebagai ujian yang harus dijalani dengan kesabaran.</p>
<p>Saat kita dilanda kekurangan materi alias finansial, inget juga firman Allah (yang artinya):  <em>“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Serta berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”</em> <strong>(QS Al-Baqarah [2]: 155)</strong></p>
<p>Ada keutamaan untuk orang-orang miskin yang tetap sabar, beribadah, dan berikhtiar sampai akhir hayatnya. Dalam sebuah hadis Rasul saw. bersabda: <em>“Hai orang-orang fakir, sukakah aku beritakan padamu kabar gembira? Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum mukmin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya kira-kira setengah hari, yaitu lima ratus tahun.” </em><strong>(HR Ibn Majah)</strong></p>
<p>Dalam hadis lain, <em>”Aku melihat ke surga, kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku melihat ke neraka, maka kebanyakan penghuninya adalah wanita.” </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Sobat muda, semoga kita semua meski dalam kondisi ekonomi yang carut-marut begini tetap istiqomah beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. semata. Karena pada dasarnya, walaupun secara materi (harta), misalnya, kita serba kekurangan, pada hakikatnya kita tetap kaya akan fisik yang sehat dan kuat; tetap kaya akan ilmu; tetap kaya akan iman; tetap kaya akan amal shalih, dan tentunya tetap kaya akan kemuliaan karena kita muslim.</p>
<p>Yang harus kita lakukan sekarang adalah tetap bersyukur kepada Allah Swt. Salah satu wujud syukur adalah beribadah secara totalitas. Jangan dilupakan juga buat senantiasa qana’ah (menerima pemberian dari Allah Swt.). Karena kata Rasul saw.: <em>”Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rizkinya cukup, serta merasa cukup dengan apa-apa pemberian Allah kepadanya.” </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Jangan berhenti berusaha dan berdoa. Karena tugas manusia hanya berusaha dan berdoa, Allah yang menentukan. Makna kebahagiaan yang sejati bukan sebanyak apa harta atau kekayaan kita. Tapi seluas apa hati kita dalam menerima setiap rizki dan mempergunakannya dalam ibadah. Lagi-lagi Rasulullah saw. mengingatkan, <em>”Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda. Tapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” </em><strong>(HR Muttafaq ’Alaih)</strong></p>
<p>Semoga kita bisa semakin mensyukuri segala nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepada kita. Allah Swt. Berfirman (yang artinya):<em>“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” </em><strong>(QS al-A’raaf [7]: 96) </strong></p>
<p>Yuk, tetap jaga diri dan jaga iman, biar miskin asal nyenengin Allah Swt. karena tetap beriman dan bersabar serta berusaha menjadi lebih baik disertai doa yang sungguh-sungguh. <em>Wallahu a’lamu bi ash-shawaab. </em>Salam <em>Mumtaz</em>! <strong>[anto apriyanto, <em>the spirit of soul</em></strong><strong> </strong><strong>I </strong><strong>segi3_lc@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/biar-miskin-asal-nyenengin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ironi Pencegahan HIV/AIDS</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 18:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 01/Des 2007]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids/</guid>
		<description><![CDATA[EDITORIAL/Des/2007
Akibat Intim Dengan Sejenis alias AIDS. Istilah itu dulu begitu populer dan menjadi horor bagi masyarakat dunia. Maklum, penyakit yang menggerogoti sistem imun tubuh itu pertama-tama ditemukan pada pelaku homoseksual. Penyakit mematikan itu belum ditemukan obatnya hingga kini. Tak heran, kampanye pencegahan HIV/AIDS terus digencarkan.
Apalagi, kini penularan HIV/AIDS tak sekadar akibat hubungan intim dengan sejenis, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDITORIAL/Des/2007</strong><br />
Akibat Intim Dengan Sejenis alias AIDS. Istilah itu dulu begitu populer dan menjadi horor bagi masyarakat dunia. Maklum, penyakit yang menggerogoti sistem imun tubuh itu pertama-tama ditemukan pada pelaku homoseksual. Penyakit mematikan itu belum ditemukan obatnya hingga kini. Tak heran, kampanye pencegahan HIV/AIDS terus digencarkan.</p>
<p>Apalagi, kini penularan HIV/AIDS tak sekadar akibat hubungan intim dengan sejenis, melainkan sudah mendera &#8220;orang-orang tak berdosa&#8221;. Seperti istri/suami oleh pasangan sahnya atau bayi oleh ibunya. Makanya, salah satu isu kampanye pencegahan HIV/AIDS adalah penghapusan berbagai bentuk diskriminasi perlakuan terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Propaganda ini bertujuan untuk menghilangkan stigma negatif bahwa ODHA pasti para pelaku maksiat.<span id="more-907"></span></p>
<p>Atas dasar ini, maka para ODHA hendaknya diperlakukan sama sebagai manusia. Harus dirangkul, jangan dikucilkan dan masyarakat kudu berbaur dengan mereka. Bahkan, rumah sakit-rumah sakit yang kedatangan para pasien ODHA tak boleh lagi memisahkan ruang perawatannya dengan pasien penyakit umum lainnya.</p>
<p>Di sinilah ironinya. Maunya mencegah penularan HIV/AIDS, tapi malah membuka peluang terjadinya penularan HIV/AIDS secara cepat. Sudah jelas ini penyakit menular, kok malah disuruh berinteraksi dengan mereka. Sudah jelas ini penyakit mematikan, kok malah tidak dikarantina. Memang, berinteraksi ?dengan ODHA sekadar salaman bisa jadi tak sampai menularkan virus HIV. Sebab penularan<br />
HIV yang paling efektif adalah melalui hubungan seks atau jarum suntik yang terinveksi virus HIV. Tapi, apakah ada jaminan 100 persen aman bila pasien HIV/AIDS berbaur dengan pasien penyakit lain atau orang sehat?</p>
<p>Bandingkan dengan pasien flu burung yang diisolasi sedemikian rupa. Bahkan ketika sudah meninggal dunia, semua pengantar jenazahnya wajib memakai masker. Padahal, penularan antarmanusia belum terbukti, kecuali penularan dari ayam yang terinveksi virus H5N1 kepada manusia. Tapi, untuk kasus flu burung, mengapa tak disebut sebagai bentuk perlakuan diskriminasi? ?Mungkin juga benar, tak semua ODHA pelaku maksiat. Namun, toh mereka terinveksi virus HIV dari orang-orang yang dahulu juga pelaku maksiat. Seperti istri/suami dari pasangan yang mantan pecandu narkoba atau pasangan yang dulu suka gonta-ganti pasangan, dll.</p>
<p>Jadi, kalau ditelusuri, maka perilaku maksiat yang melanggar tatanan Allah Swt itulah yang menjadi sumber munculnya HIV/AIDS. Karena itu, tinggalkan kemaksiatan! Dan bagi ODHA, sudah selayaknya sebagai wabah mematikan, mereka dikarantina. Tentu tetap dengan diberikan hak-hak hidupnya secara layak. Demikianlah solusi Islam.<strong>[asri]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ironi-pencegahan-hivaids/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjemput Hidayah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 20:05:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3294</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 117/tahun ke-3 (3 Safar 1431 H/18 Januari 2010)
 
Horee bertemu lagi dengan kamu semua. Alhamdulillah kita tetap bersama meski hanya dijembatani buletin kesayangan kamu ini. Kalo pekan kemarin gaulislam bahas tentang tobat, maka sekarang semacam lanjutannya: menjemput hidayah. Ya, mudah-mudahan bisa melengkapi pemahaman kamu sebelumnya dan kamu semua jadi tambah wawasan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 117/tahun ke-3 (3 Safar 1431 H/18 Januari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Horee bertemu lagi dengan kamu semua. Alhamdulillah kita tetap bersama meski hanya dijembatani buletin kesayangan kamu ini. Kalo pekan kemarin gaulislam bahas tentang tobat, maka sekarang semacam lanjutannya: menjemput hidayah. Ya, mudah-mudahan bisa melengkapi pemahaman kamu sebelumnya dan kamu semua jadi tambah wawasan tentang Islam. Sip deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, ada satu pepatah menarik yang pernah saya dapatkan ketika mengisi salah satu acara bedah buku saya. Pengisi acara yang lain menyampaikan sebuah kata-kata mutiara: “Orang yang terbiasa berada dalam kegelapan, cahaya terang sangat menyilaukan”. Saya catat dalam ingatan saya. Saya tulis agar tak lupa. Pesan ini sangat bermakna bagi saya. Betapa dulu yang pernah saya rasakan, memang berat meninggalkan kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan. Anggapan yang sudah bercokol di benak harus dipaksa berubah bukanlah hal yang mudah. Saya berempati dengan teman-teman yang masih belum mau meninggalkan kebiasaan yang buruk untuk berganti dengan kebiasaan yang baik. Memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa diubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, sebenarnya “kebiasaan” itu netral lho. Karakter “kebiasaan” itu sulit dimulai, dan sulit juga dihentikan. Beruntung bagi yang sudah melakukan “kebiasaan” baik, akan sulit baginya dipaksa untuk melakukan “kebiasaan” buruk. Tapi perlu kesadaran penuh bagi yang sering melakukan kebiasaan buruk, untuk dipaksa melakukan kebiasaan baik. Ia perlu banyak merenung dan menimbang-nimbang pikir dan rasa.<span id="more-3294"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada niat berubah, ada hidayah </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, orang yang selalu berbuat maksiat belum tentu maksiat selamanya. Asalkan dia ingin berubah menjadi baik, ada niat dan usaha untuk mewujudkannya, insya Allah ada jalan untuk menjemput hidayah. Ada kisah menarik yang perlu menjadi inspirasi bagi kita. Kamu tahu Syaikh Fudail bin Iyadh? Bagi yang pernah tahu, beliau adalah salah satu guru Imam asy-Syafii. Tahukah masa lalunya?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, inilah kisahnya: Fudhail bin Iyadh, semasa masih jahat, bermaksud mengganggu seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu bacaan al-Quran yang artinya: <em>“Belumlah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka).”</em> <strong>(QS al-Hadiid [57]: 16)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat tersebut menyentak sanubari Fudhail bin Iyadh, membuatnya terdiam di atas tembok. Tiba-tiba Bin Iyadh merasa persendiannya lumpuh. Lalu dengan tubuh gemetar dia mengiba, “Oh Tuhan, telah tiba waktuku. Telah tiba waktuku.” Dia pun turun dari tembok dan berjalan pulang dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kemalaman di jalan, Bin Iyadh istirahat di sebuah rumah kosong yang ditemuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan musafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo kita berangkat sekarang saja,” dari luar bilik Fudhail mendengar seorang dari mereka berkata demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lain menjawab, “Jangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar percakapan mereka itu, Fudhail menampakkan dirinya sambil berkata, “Akulah Fudhail. Tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.” <strong>(kisahnya dikutip dari Islamia, edisi April-Juni 2005)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, banyak teladan di masa lalu yang bertaubat dari maksiat yang dilakukannya. Tak sedikit sahabat Nabi Muhammad saw. yang awalnya adalah musuhnya dan musuh Islam. Tahu kan Umar bin Khaththab ra? Semasa jahiliyahnya, yakni ketika belum jadi muslim, Umar bin Khaththab adalah halangan bagi dakwah Islam. Selain beliau, yang jadi halangan dakwah saat itu adalah Umar bin Hisyam alias Abu Jahal. Sampai-sampai Rasulullah saw. berdoa memohon kepada Allah agar Islam bisa kokoh dengan salah satu dari dua orang bernama Umar ini. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzii dari Abdullah bin ‘Umar ra dan ath-Thabranii dari Abdullah bin Mas’uud dan Anas bin Malik <em>Radhyillaahu ‘Anhuma</em>, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda dalam doanya, “<em>Allahummaa,</em> kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin al-Khaththab atau dengan Abu Jahal (Umar bin Hisyam).”</p>
<p style="text-align: justify;">Mau tahu kisahnya? Begini riwayat singkatnya: Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Anas bin Malik ra. dan Abdullah bin Abbaas ra., bahwasanya di tengah perjalanan mencari mereka, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nahlam al-Adwii, atau seorang laki-laki dari Bani Zuhrah, atau seorang laki-laki dari Bani Makhzum, yang bertanya kepadanya, “Hendak ke mana engkau wahai Umar?” Lantas di jawab oleh Umar dengan geramnya, “Aku mencari Muhammad yang telah memecah belah persatuan kita, mengacau ketentraman Quraisy, dan mencela agama nenek-moyang. Aku ingin membunuhnya!”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tadi lalu bekata kepada Umar, “Demi Allah, kau sangat sombong wahai Umar. Apakah kiranya Bani Abdi-Manaf akan membiarkan kau berjalan di atas bumi setelah kau berhasil membunuh Muhammad? Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar kemudian menjawab, “Menurut pengamatanku, rupanya engkau telah keluar dan meninggalkan agama yang telah engkau peluk selama ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang itu lantas menjawab, “Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk. Adikmu Fathimah dan suaminya telah menjadi pengikut Muhammad. Lebih adil engkau habisi mereka terlebih dahulu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar kabar itu, maka dengan terburu-buru Umar berlalu dan begegas menuju rumah Fathimah binti al-Khaththab, adik perempuannya. Di rumah Fathimah saat itu ada suaminya yaitu Sa’id bin Zaid bin Nufail dan kawan mereka yaitu Khabbaab bin al-Arat ra. Mereka sedang mendengarkan ayat al-Quran yang dibacakan oleh Khabbab yaitu dari surah Thaahaa (20). Ketika Khabbaab mendengar suara kedatangan Umar, dia segera menyingkir ke bagian belakang ruangan, sedangkan Fathimah menyembunyikan <em>shahifah </em>(lembaran) berisi ayat al-Quran. Namun tatkala mendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?” tanya Umar ketika sudah masuk rumah. “Hanya sekadar obrolan di antara kami, “ jawab Fathimah dan suaminya. “Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama, “kata Umar lagi. Kemudian Sa’id bin Zaid bin Nufail yang merupakan adik ipar Umar itu berkata, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan memukul mukanya hingga jatuh tak berkutik lantas menginjak-injaknya keras-keras. Fathimah kemudian mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun Umar memukul Fathimah hingga bibirnya luka dan bercucuran darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi melihat keadaan adiknya, Umar akhirnya sadar dan timbul rasa iba dalam hatinya. Sementara Fathimah dengan berang berkata kepadanya, “Wahai Umar, benar kami telah memeluk Islam, beriman kepada Allah dan RasulNya. Sekarang kau boleh berbuat apa saja terhadap kami.” Kemudian Fathimah berkata lagi, “Wahai Umar, jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada <em>Ilaah </em>selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar mulai merasa putus asa, dan dia melihat darah yang meleleh dari bibir adiknya. Maka Umar merasa menyesal dan malu atas perbuatannya. Lalu ia berkata, “Serahkan lembar-lembar yang kalian baca itu kepadaku. Aku ingin membaca apa yang telah diajarkan Muhammad!” Tetapi Fathimah menjawab, “Engkau adalah orang yang najis. <em>Shahifah </em>ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!” Maka Umar segera mandi dan setelah itu memegang<em> shahifah</em> tadi dan mulai membaca isinya yaitu surat Thaahaa (20) dari awal dengan membaca, “<strong><em>Bismillaahir rahmaanir rahiim.</em></strong>” Lalu Umar berkata, “Nama-nama yang bagus dan suci.” Kemudian ia melanjutkan pembacaan dari ayat satu hingga berhenti pada firman Allah di ayat 14: <strong><em>Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa’ budni wa aqimish shalaata li dzikrii</em></strong>. Diterjemahkan, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membaca ayat tersebut, sanubarinya tersentuh dan Umar serta merta sadar bahwa yang telah dibacanya belum pernah terdengar olehnya. Maka tiba-tiba secara drastis suara dan sikapnya berubah. Umar lantas berkata, “Alangkah indah dan mulianya kata-kata ini! Tunjukkan padaku di mana Muhammad berada saat ini!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar perkataan Umar barusan, maka Khabbaab bin al-Arat muncul dari belakang rumah dan berkata, “Terimalah kabar gembira wahai Umar. Karena aku benar-benar berharap agar doa Rasulullah saw. pada malam Kamis itu jatuh kepada dirimu. Segeralah engkau menghadap beliau, wahai Umar!”</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, Umar bin Khaththab masuk Islam langsung di hadapan Rasulullah saw. Ketika itu, sesampainya Umar di kamar dan bertemu dengan Rasulullah saw., ia disambut oleh beliau dengan cara memegang baju dan pegangan pedangnya, lalu menariknya dengan tarikan yang keras seraya bersabda, “Apakah engkau tidak mau menghentikan tindakanmu wahai Umar, hingga Allah menurunkan kehinaan dan bencana seperti yang menimpa al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah. Inilah Umar bin al-Khaththab. Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin al-Khaththab.”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, aku datang untuk menyatakan iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta apa-apa yang datang dari Allah.” Umar berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilaah selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin al-Khaththab ra adalah seseorang yang memiliki watak tempramental dan sulit dihalang-halangi, sehingga dengan dirinya masuk ke dalam Islam sangat mengguncangkan orang-orang musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka. Sebaliknya, hal ini mendatangkan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang-orang muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Subhanallah. Tak ada yang mustahil. Siapa pun bisa menjadi baik. Ahli maksiat sekalipun bisa berubah jadi baik, bahkan jadi ulama. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa juga menyaksikan satu per satu kawan kita menjadi baik. Teman sepermainan kita yang lama tak jumpa, ketika bertemu sudah berubah penampilannya. Berubah pula akhlaknya. Dia menemukan kebenaran Islam di tempat lain. Bukan mustahil toh?</p>
<p style="text-align: justify;">Kita yang kini termasuk para pengemban dakwah, bisa jadi bukanlah orang yang baik-baik di masa lalu. Bisa jadi malah penghalang dakwah. Seorang kawan pernah bercerita, bahwa ketika dirinya sekolah di SMA, kepala sekolahnya sangat tidak setuju dengan siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab. Bahkan sempat bersitegang mempertahankan pendapatnya bahwa dirinya memimpin sekolah umum, bukan pesantren. Namun ketika dirinya dipindahkan tugas ke sekolah lain, ternyata ada kabar baik, bahwa kini dirinya sudah mengenakan kerudung. Sudah berbusana muslimah, dan malah baik kepada siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, ini menunjukkan bahwa tak selamanya manusia itu berada dalam maksiat. Tak selamanya terus berbuat dosa. Pasti ada saatnya untuk berbuat baik. Asalkan ada kemauan untuk mengubah, insya Allah akan mendapat hidayah dari Allah Swt. Memang, kalo ngikutin hawa nafsu, rasanya betapa berat meninggalkan maksiat. Namun demikian, bukan berarti harus menyerah, apalagi “kepalang basah”. Tidak. Kesadaran untuk berubah jauh lebih baik dan bisa mengalahkan hawa nafsu. Insya Allah. Percayalah!<strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Great Mother For A Great Leader</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 10:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 01/Des 2007]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mother]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader/</guid>
		<description><![CDATA[FRESH!/Des/2007
Abdullah bin Zubair adalah sosok yang telah menjadi pahlawan dalam pembebasan Afrika, Andalusia, dan Konstantinopel dalam usianya yang belum menginjak 17 tahun. Satu kali Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah saw. pernah ditanya tentang Abdullah bin Zubair. Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ia adalah pembaca Kitabullah dan pengikut sunnah RasulNya, tekun beribadah kepadaNya dan shaum di siang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FRESH!/Des/2007</strong><br />
Abdullah bin Zubair adalah sosok yang telah menjadi pahlawan dalam pembebasan Afrika, Andalusia, dan Konstantinopel dalam usianya yang belum menginjak 17 tahun. Satu kali Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah saw. pernah ditanya tentang Abdullah bin Zubair. Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ia adalah pembaca Kitabullah dan pengikut sunnah RasulNya, tekun beribadah kepadaNya dan shaum di siang hari karena takut kepadaNya. Dialah putera dari seorang pembela Rasulullah, dan ibunya adalah Asma&#8217; puteri Abu Bakar ash-Shiddiq&#8230;&#8221;</p>
<p>Setelah Yazid bin Mua&#8217;wiyah bin Abu Sufyan meninggal dunia, Abdullah diangkat menjadi khalifah oleh sebagian besar negeri-negeri seperti Hijaz, Yaman, Irak, dan Khurasan. Abdullah bin Zubair menjabat sebagai khalifah selama sembilan tahun di Hijaj sampai kekuasaannya ditumbangkan oleh ?keserakahan&#8217; bani Umayyah.<span id="more-900"></span></p>
<p>Itulah Abdullah bin Zubair, salah seorang sahabat Rasulullah saw, salah seorang khalifah yang begitu cinta kepada rakyatnya, jujur, sederhana, teguh kepada al-Quran dan sunnah, dan tegas dalam menyirnakan kebatilan.</p>
<p>Sosok Abdullah bin Zubair yang agung dan mulia tidak lepas dari sosok Asma&#8217; binti Abu Bakar ash-Shiddiq, ibundanya. Dia termasuk dalam barisan wanita yang pertama masuk Islam. Perjuangannya dalam kancah pergolakan Islam di masa permulaan perkembangannya tidak diragukan lagi. Dialah yang senantiasa mengirim makanan untuk Rasulullah dan ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq ketika beliau bersembunyi selama tiga hari tiga malam di gua Tsur dari kejaran kaum musyrik Makkah yang ingin membunuh beliau.</p>
<p>Sosok-sosok pemimpin seperti Abdullah bin Zubair, atau Umar bin Abdul Aziz di era selanjutnya adalah sosok pemimpin dambaan. Keteguhan mereka kepada kitabullah dan sunnah Rasululllah saw., sikap mereka yang mendahulukan kepentingan rakyat dan bersahaja dalam kehidupan diri mereka sendiri, jujur, dan adil merupakan contoh abadi bagi umat yang hidup di masa setelahnya.</p>
<p>Di tengah carut-marut kehidupan, dalam ketidakadilan yang semakin menyebar, umat saat ini sangat merindukan hadirnya kembali pemimpin-pemimpin seperti itu. Adakah pemimpin-pemimpin itu saat ini, nanti?</p>
<p>Kisah Abdullah bin Zubair di atas menjadi salah satu pelajaran berharga dari sekian banyak kisah lainnya, bagaimana sosok wanita bernama ibunda menjadi sosok penting dalam mencetak seorang pemimpin.</p>
<p>Pemimpin dengan kualitas prima: teguh menegakkan hukum Allah, adil, jujur, amanah, rela berkorban, dan bersahaja, tidak bisa lahir secara instan. Ada proses panjang yang mesti dilalui. Ada usaha yang mesti ditempuh, dan itu semua dimulai dari seorang ibu.</p>
<p><strong>A great mother: siapa dia?</strong></p>
<p><em>A great mother</em> (ibu yang luar biasa) itu, pertama, ia wajib memiliki kepribadian Islam. Yaitu menjadikan akidah sebagai standar dalam berfikir dan berbuat. Akidah yang lurus adalah Islam. Islamlah yang senantiasa dijadikan ukuran halal atau haramnya sesuatu untuk dikerjakan atau ditinggalkan. Kedua, cerdas. Adalah seorang ibu yang memiliki tsaqafah Islam dan berpengetahuan yang luas, sehingga mampu menjadi tempat bertanya dan <em>curhat</em> yang komplit bagi anak-anaknya dan lingkungannya. Ketiga, peduli. Fitrahnya hidup manusia itu adalah saling memberi dan saling menerima. Manusia butuh terhadap manusia lainnya. Di situlah letak kepedulian, dan kepedulian yang sejati adalah bentuk kepedulian seorang muslim kepada nasib saudaranya yang lain, mulai dari lingkungan terkecil, hingga mereka yang di belahan dunia yang lain.</p>
<p><strong>How to be a great mother?</strong></p>
<p>Untuk menjadi ibu yang istimewa, ada beberapa yang secara teknis bisa dilakukan. Pertama, thalabul ?ilmi (belajar). Proses belajar dan menuntut ilmu tidak hanya sebatas di jalur formal, di sekolah, harus dilakukan sepanjang hayat dikandung badan, dan harus seimbang antara Islam dan pengetahuan.</p>
<p>Kedua, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki keinginan dan visi yang sama, supaya semangat terus bisa dipelihara.</p>
<p>Nah, menjadi sosok ibunda yang berkualitas tentu bukan pekerjaan mudah. Prosesnya pun tidak singkat. Seorang Asma&#8217; binti Abu Bakar, seorang Fathimah binti Muhammad, Ummu Ashim, dan para &#8220;ibunda peradaban&#8221; lainnya memulai proses itu ketika mereka masih berada di tengah orangtua mereka dan terus berlangsung setelah mereka menikah dan membesarkan sang buah hati. Jika mereka bisa, maka ibunda kini dan nanti pun bisa. Tentu, lahirnya sosok pemimpin agung nan mulia itu akhirnya akan hadir kembali memimpin dunia dengan syariahNya. <em>Wallahu a&#8217;lam bish showab.</em> <strong>[nafisah]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/a-great-mother-for-a-great-leader/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa di Balik KB?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 05:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 01/Des 2007]]></category>
		<category><![CDATA[Tabloid JEJAK]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb/</guid>
		<description><![CDATA[VOI CORNER/Des/2007
Diasuh oleh Ustzh. Ir. Lathifah Musa
Ada Apa di Balik KB? 
Rubrik ini mengangkat topik menarik yang ditanyakan oleh pendengar Voice of Islam. Kami hadirkan ke hadapan pembaca, semoga bermanfaat.
Ass. wr. wb. Saya ingin tanya bagaimana hukum KB dalam Islam. Apakah dibolehkan? Mengingat pemerintah kita sangat gencar dengan program KB. Alasannya supaya bisa membangun masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>VOI CORNER/Des/2007</strong></p>
<p><strong></strong><strong>Diasuh oleh Ustzh. Ir. Lathifah Musa</strong></p>
<p align="center"><strong>Ada Apa di Balik KB? </strong></p>
<p><strong><em>Rubrik ini mengangkat topik menarik yang ditanyakan oleh pendengar Voice of Islam. Kami hadirkan ke hadapan pembaca, semoga bermanfaat.</em></strong></p>
<p><em>Ass. wr. wb. Saya ingin tanya bagaimana hukum KB dalam Islam. Apakah dibolehkan? Mengingat pemerintah kita sangat gencar dengan program KB. Alasannya supaya bisa membangun masyarakat yang berkualitas. Kalo boleh apa alasannya dan kalau tidak apa alasannya. Terima kasih. </em><strong>(Mursyidah di Sabang NAD)</strong><span id="more-898"></span></p>
<p>Kalau dari sisi menunda kehamilan, atau membuat agar tidak terjadi kehamilan, hukumnya boleh saja. Hal ini berdasarkan Hadits Rasulullah yang membolehkan azl (senggama terputus). Azl adalah upaya menumpahkan cairan sperma di luar rahim istri agar tidak terjadi kehamilan. Banyak hadits-hadits shahih yang terkait dengan azl.? Salah satunya dari Jabir ra yang berkata: <em>&#8221; Sesungguhnya seorang laki-laki pernah menjumpai Rasulullah saw seraya berkata: ?Sebetulnya saya mempunyai seorang jariyah (budak wanita). Ia adalah pelayan kami sekaligus tukang menyiram kebun kurma kami. Saya sering menggaulinya, tetapi saya tidak suka? jika ia sampai hamil.&#8217; Mendengar itu Nabi saw kemudian bersabda, jika engkau mau, lakukanlah azl terhadapnya, karena sesungguhnya akan sampai juga pada wanita itu apa yang memang telah ditakdirkan Allah baginya</em>.&#8221; ?(<strong>HR Ahmad, Muslim dan Abi Dawud</strong>).</p>
<p>Berdasarkan kebolehan azl ini, dibolehkan cara-cara baru untuk menunda kelahiran, dalam batas yang tidak melanggar hukum syariat.</p>
<p>Mengenai alat kontrasepsi, jika sebatas mencegah pembuahan atau menghindari pertemuan sel telur dan sperma seperti, <strong>kondom</strong> dan <strong>IUD</strong> (spiral) ?maka boleh saja. Demikian pula <strong>KB suntik</strong>, <strong>pil</strong> dan <strong>susuk</strong> yang berfungsi mengatur kerja hormon, juga dibolehkan selama tidak membawa dampak buruk pada pengguna. Karena kadang ada yang alergi dengan alat kontrasepsi ini. Adapun penggunaan KB seperti? <strong>tubektomi</strong> atau <strong>vasektomi</strong> dipandang sebagai upaya menghentikan kehamilan secara permanen. Jadi sama dengan pengebirian. Ini yang tidak boleh dilakukan, karena bisa memutus keturunan.</p>
<p>Namun yang harus diwaspadai dari program KB ini adalah satu bukti yang terungkap melalui media massa yang ini berasal dari dokumen rahasia Pemerintah AS di bulan Mei 1991. Pemerintah AS dalam dokumen tersebut menyatakan kekhawatirannya terhadap pertambahan penduduk Dunia Ketiga yang dianggap sebagai ancaman bagi <strong>AS</strong>. Salah satu dokumen tersebut adalah instruksi Presiden AS No. 314 tertanggal 26 November 1985 yang ditujukan kepada beberapa lembaga khusus agar segera menekan negeri-negeri tertentu untuk mengurangi pertambahan penduduk. Di antara negeri-negeri tersebut adalah India, Mesir, Pakistan, Turki, Nigeria, Indonesia, Irak, dan Palestina. Seluruh negeri ini mayoritas berpenduduk muslim. Dokumen tersebut juga menjelaskan sarana-sarana apa yang dapat digunakan secara bergantian untuk merealisasikan tujuan di atas. Sarana bisa dimulai dengan&#8217;pembatasan kelahiran&#8217;, melalui program KB dengan memberikan keyakinan (baca: paksaan) terhadap program-program pembatasan kelahiran dan pemberlakuan kehidupan &#8217;seks bebas&#8217; yang tidak berisiko melahirkan keturunan. Akhirnya, bergulirlah proyek <strong>legalisasi aborsi</strong>, <strong>kondomisasi</strong>, <strong>kontrasepsi dini pada remaja putri</strong> dll.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ada-apa-di-balik-kb/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tobat Sebelum Ajal Mendekat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tobat-sebelum-ajal-mendekat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tobat-sebelum-ajal-mendekat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 22:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[ajal]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[tobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3286</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 116/tahun ke-3 (25 Muharram 1431 H/11 Januari 2010)
 
 


Kematian nggak pernah diketahui datangnya. Setiap orang pasti mati. Tapi semua orang tak pernah tahu kapan kematian menjemputnya. Itu sebabnya, kita kudu siap-siap sebelum datang hari di mana kita harus sudah pergi meninggalkan segala nikmat dunia. Kalo kita perhatiin, ada yang sebelum mati sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 116/tahun ke-3 (25 Muharram 1431 H/11 Januari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Kematian nggak pernah diketahui datangnya. Setiap orang pasti mati. Tapi semua orang tak pernah tahu kapan kematian menjemputnya. Itu sebabnya, kita kudu siap-siap sebelum datang hari di mana kita harus sudah pergi meninggalkan segala nikmat dunia. Kalo kita perhatiin, ada yang sebelum mati sempat ninggalin pesan tertentu kepada keluarganya. Tapi banyak juga yang pergi ninggalin dunia tanpa pesan. Banyak orang juga yang insya Allah saat ajal mendekat ia masih bisa beramal shalih. Khusnul khatimah alias baik di akhir hidupnya. Namun nggak sedikit yang saat ajal mendekatinya dan benar-benar menjemputnya ia sedang berbuat maksiat. Su’ul khatimah alias buruk di akhir hayatnya <em>Naudzubillahi min dzalik.</em></p>
<p>Bro en Sis, ajal setiap orang udah ditetapkan waktunya. Udah dijatah sama Allah Swt. batas waktu ‘beredar’ setiap orang di dunia. Jangan lupa juga bahwa hidup kita dunia ini akan diuji, siapa yang terbaik amalnya. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Maha Suci Allah Yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”</em> <strong>(QS al-Mulk [67]: 1-2)<span id="more-3286"></span></strong><em> </em></p>
<p>Yup, ada ganjaran berupa pahala yang akan diberikan oleh Allah Swt untuk setiap ibadah yang kita lakukan. Begitu pula, Allah Swt. akan memberikan siksa bagi manusia manapun yang telah berbuat dosa dalam kehidupannya (atau bahkan selama hidupnya). Tentu itu adil dong ya. Mereka yang beriman dapat pahala, dan siapa saja yang berbuat maksiat diberikan siksa karena dosa-dosanya. <em>So</em>, emang nggak akan lepas dari pengawasan Allah Ta’ala. Waspadalah!</p>
<p>Terus, gimana kalo kita kadang berbuat maksiat? Ya, Allah Swt. udah ngasih jalan, yakni dengan cara bertobat alias minta ampunan. Setelah bertobat tentu harus ninggalin maksiat yang telah atau biasa dilakukannya sebagai wujud tobat yang sebenarnya-benarnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).”</em> <strong>[QS at-Tahriim [66]: 8]</strong></p>
<p><strong>Kita semua pernah berbuat dosa</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, siapa pun orangnya, pasti ia pernah melakukan dosa, kecuali Rasulullah saw. tentunya, karena memang beliau <em>ma’shum</em> (terbebas dari dosa dan kesalahan) dalam penyampaian risalah Allah ini. Itu sebabnya, saya waktu ngaji dulu, ustadz saya sering mengatakan bahwa, “Orang yang bertakwa bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tapi orang yang bertakwa adalah ketika berbuat dosa, kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada Allah Swt.”</p>
<p>Rupanya ungkapan ustadz saya itu melumerkan kengototan saya waktu itu, yang menilai bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Pernyataan ustadz saya ini juga semakin menumbuhkan keyakinan dalam diri saya bahwa meski kita tak boleh salah dalam hidup ini, bukan berarti kita akan lolos dari kesalahan. Karena yang terpenting adalah menyadari kesalahan tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi sambil mohon ampunan kepada Allah Swt.</p>
<p>Imam Ibnu Katsir menukil sabda Rasulullah saw.: <em>“Seorang hamba tidak dapat mencapai kedudukan muttaqin kecuali jika dia telah meninggalkan perkara-perkara mubah lantaran khawatir terjerumus ke dalam dosa”</em> <strong>(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)</strong></p>
<p>Boys and gals, menurut hadis ini, yang mubah saja bila perlu dihindari karena khawatir terjerumus dalam dosa, apalagi yang sudah jelas haram. Iya nggak sih? Oya, dalam keterangan lain, orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menjaga dan membentengi diri. Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa <em>muttaqin </em>adalah orang-orang yang berhati-hati dan menjauhi syirik serta taat kepada Allah. Sedangkan Imam Hasan Bashri mengatakan bahwa bertakwa berarti takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah Swt. dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah Swt.. Berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sedangkan Ibnu Mu’tazz melukiskan sikap yang mesti ditempuh seorang muslim agar mencapai derajat <em>muttaqin</em> dengan kata-kata sebagai berikut: <em>“Tinggalkan semua dosa kecil maupun besar. Itulah takwa. Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di tanah yang penuh duri, selalu waspada. Jangan meremehkan dosa kecil. Ingatlah, gunung yang besar pun tersusun dari batu-batu kecil”.</em></p>
<p>Nah, kebayang banget kan kalo semasa hidupnya ada orang yang selalu maksiat. Duh, gimana tuh dosanya. Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang ketika hidupnya selalu melecehkan kaum muslimin, menghina ajaran Islam, dan malah lebih memilih bersahabat dengan musuh-musuh Islam. Ih, dosanya pasti berlipat-lipat. Apalagi pas ajalnya datang nggak bertobat.<em> Naudzubillahi min dzalik.</em></p>
<p>Memang sih urusan dosa Allah Swt. yang akan menghisabnya. Tapi kan kita juga diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk menilai seseorang dalam berperilaku. Bahwa yang kita nilai itu adalah yang tampak dan sudah jelas dilakukan seseorang (<em>“nahnu nahkumu bidzdzawaahir”</em>, begitu kata Nabi saw.). Misalnya, ada orang yang ngomong bahwa demokrasi itu sistem yang lebih baik dari Islam (sambil dengan bangga menentang upaya perjuangan orang-orang yang ingin menegakkan Khilafah Islamiyyah), dia juga ngoceh bahwa pluralisme, sekularisme, dan liberalisme  lebih hebat ketimbang Islam, selain itu dia terang-terangan melecehkan kaum muslimin. Nah, untuk orang yang kayak gini tentu saja kita bisa menilai nih orang udah bermaksiat kepada Allah Swt. Tentu, berdosa dong ya.</p>
<p><strong>Minta ampunan Allah Swt. yuk!</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, ampunan Allah jauh lebih besar dari murkaNya. Lagi pula, memohon ampunan Allah (bertobat) sekaligus mencerminkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Karena orang yang bertakwa salah satu cirinya adalah segera mohon ampunan kepada Allah jika dia sudah menyadari kesalahannya. Jadi, nggak usah malu untuk bertobat en nggak usah merasa ribet. Jalani aja sambil terus belajar supaya nggak kecebur ke dalam jurang yang sama. Karena dengan belajar kita jadi tahu dan yakin bisa menjalani hidup ini dengan tenang. Cobalah.</p>
<p>Rasulullah saw. memberikan pujian buat kita-kita yang takwa dan taat pada ajaran Islam. Apalagi sebelumnya kita ahli maksiat. Betul nggak? Indah nian ungkapan Rasulullah saw. empat belas abad yang lampau: <em>“…ada kaum yang akan datang sesudah kalian (para sahabat r.a.). Mereka percaya kepada (sekadar) kitab yang dibendel, lalu percaya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Mereka lebih utama daripada kalian. Mereka lebih besar pahalanya daripada kalian.” </em><strong>(HR Ibnu Mardawih </strong>yang dikutip<strong> </strong>dalam penjelasan di <strong>Tafsir Ibnu Katsir</strong>)</p>
<p>Bro en Sis, hidup ini penuh dinamika. Penuh warna, penuh liku, penuh lubang dan mendaki (Iwan Fals banget neh!). Kata orang bijak, hidup adalah untuk mati. Bisa dipahami, karena akhir dari kehidupan adalah kematian. Nggak salah-salah amat kok. Tapi, kita juga wajib ngeh, untuk apa kita hidup. Untuk apa kita ada dunia ini. Dan, akan ke mana setelah bersuka-cita, termasuk berduka-derita di dunia ini?</p>
<p>Kehidupan ini pasti akan berakhir. Wak Haji Rhoma Irama juga tereak: “Pesta pasti berakhir” (kalo disebut nama ini, kamu jangan langsung menggoyangkan jempol tangan dan kaki ya, hehehe…). Hidup di dunia ibarat menempuh sebuah perjalanan panjang dan melelahkan. Banyak sekali cerita terukir di sini. Cerita suka, duka, derita, bahagia, sedih, gembira, kecewa, optimisme, putus asa, peduli, kasih-sayang, cinta, dan seabrek pernak-pernik dan kerlap-kerlip kehidupan dunia yang melengkapinya.</p>
<p>Bro, perjalanan panjang di dunia ini pasti akan berakhir. Ada terminal akhir yang merupakan tempat kita berlabuh. Allah Swt. udah menyediakan dua tempat; surga dan neraka. Surga untuk para pengumpul pahala, sementara neraka adalah kelas ‘eksklusif’ para pendosa.</p>
<p>Nah, mumpung kita masih bisa bernapas, mumpung kita masih bisa tertawa, selagi kita masih punya kesempatan banyak, di saat kita masih muda usia, sebelum air mata penyesalan mengalir deras dari kedua mata kita, ada waktu untuk kita perbaiki diri. Jangan putus asa juga buat para pendosa. Yakinlah, selama hayat masih di kandung badan, kalian punya kesempatan yang sama untuk menuai pahala. Bertobat dari berbuat maksiat, itu keputusan tepat. Setelah itu mari belajar agama. Pahami, cermati, dan amalkan dalam kehidupan.</p>
<p>Sobat muda muslim, ‘qod qola’ Alvin Toffler, “Perubahan tak sekadar penting untuk kehidupan. Perubahan adalah hidup itu sendiri.” Paling nggak, kita berubah menjadi baik dari buruk adalah sebuah perubahan yang menentukan hidup kita sendiri.</p>
<p>Islam juga mengajarkan agar kita senantiasa berbuat baik. Jika kebetulan berbuat maksiat, bertobatlah segera. Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri ra. katanya: Nabi saw. bersabda: <em>“Seorang lelaki dari kalangan umat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, lalu dia mencari seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia terus berjumpa pendeta tersebut kemudian berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, adakah taubatku masih diterima? Pendeta tersebut menjawab: Tidak. Mendengar jawaban itu, dia lalu membunuh pendeta tersebut dan genaplah seratus orang manusia yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang ulama, dia terus berjumpa ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh seratus orang manusia. Adakah taubatku masih diterima? Ulama tersebut menjawab: Ya! Siapakah yang bisa menghalangi kamu dari bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Kamu beribadahlah kepada Allah Swt. bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang sangat hina. Lelaki tersebut berjalan menuju ke tempat yang dimaksud. Ketika berada di pertengahan jalan tiba-tiba dia mati, menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselish pendapat mengenai orang tersebut. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Swt. Namun Malaikat Azab juga berkata: Dia tidak pernah melakukan kebaikan. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan menyerupai manusia dan mencoba menengahi mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara dua tempat. Mana yang lebih (jaraknya menuju negeri yang dituju), itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut tempat meninggalnya lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat” </em><strong>(HR Bukhari dalam Kitab Kisah Para Nabi, hadis no. 3211)</strong></p>
<p>Oke deh, bertobat lebih hebat ketimbang tetap berbuat maksiat. Kamu bisa kok. Yakin deh.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apa yang harus kita lakukan?</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, menyesal.<strong> </strong>Tanpa penyesalan, rasanya sulit untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat. Penyelasan ini kudu benar-benar tumbuh dalam diri kamu. Minta maaf pula kepada orang yang kamu “kerjain”. Janji nggak bakal ngulangi lagi. <span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, niat<strong> </strong>sungguh-sungguh<strong>. </strong>Kuatkan tekad kita untuk menghentikan kebiasaan maksiat. Ada pahala pula di balik niat yang sungguh-sungguh itu. <span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>, cari lingkungan yang mendukung.<strong> </strong>Ini penting banget sobat. Sebab, kalo kamu belum bisa mengubah lingkungan, jangan-jangan kamu yang terwarnai. Kalo lingkungannya baik sih oke aja. Tapi kalo rusak? Bisa gawat kan? Jadi, gaul deh ama teman-teman yang udah baik-baik untuk membiasakan kehidupan kamu yang baru.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>, tumbuhkan semangat untuk mengkaji Islam. Sobat, dengan mengkaji Islam, selain menambah wawasan, juga akan membuat kita tetap stabil dengan “kehidupan baru” kita. Maksiat? Sudah lupa tuh! <span style="text-decoration: underline;">Kelima</span>, senantiasa berdoa. Jangan lupa berdoa kepada Allah, mohon dibimbing dan diarahkan, serta dikuatkan tekad kita untuk meninggalkan maksiat. <em>“Dan Tuhanmu berfirman: &#8220;Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan permohonanmu itu.”</em> <strong>(QS al-Mukmin [40]: 60)</strong></p>
<p>Yuk, mumpung masih ada waktu, kita mohon ampunan kepada Allah Swt. Bertobat dengan sebenar-benarnya bertobat. Tak mengulangi kemaksiatan yang telah dilakukan dan sebaliknya kita berlomba memperbanyak amal shalih. Semangat! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tobat-sebelum-ajal-mendekat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Islam Progresif&#8221; dan Seks Bebas</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-progresif-dan-seks-bebas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-progresif-dan-seks-bebas#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 00:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam progresif]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[seks bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3281</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Adian Husaini
Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Adian Husaini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. <span>Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, </span><span><em>Justisia</em></span><span>, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan wacana perlunya proses ”Desakralisasi al-Quran”.</span><span>Meskipun </span><span>sudah terbiasa membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang aneh-aneh, tetapi saya tetap terbelalak dan nyaris tak percaya, ada sebuah tulisan yang secara terbuka mendukung praktik seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaan. Tulisan Sumanto itu berjudul ”</span><span><strong>Agama, Seks, dan Moral</strong></span><span>”, yang dimuat dalam sebuah buku berjudul </span><span><em>Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif</em></span><span> (terbit pertama Oktober 2009). Kita perlu ”berterimakasih” kepada Sumanto yang secara jujur dan terbuka melontarkan ide liberal dan progresif, sehingga lebih mudah dipahami. Sebab, selama ini banyak yang mengemas ide ”Islam progresif” dan ”Islam liberal” dengan berbagai kemasan indah dan menawan, sehingga berhasil menyesatkan banyak orang. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Untuk lebih jelas menyimak </span><span>persepsi ”Islam Progresif” tentang seks bebas ini, ada baiknya kita kutip agak panjang artikel dari penulis yang dalam buku ini memperkenalkan dirinya sebagai kandidat doktor bidang antropologi politik dan agama di Boston University. Kutipan ini ada di halaman 182-184:<span id="more-3281"></span></span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">”<span>Apa yang diwartakan oleh agama (Islam, Kristen dan lainnya) hanyalah satu sisi saja dari sekian banyak persepsi tentang seks itu atau katakanlah </span><span><em>sex among others</em></span><span>. Bahkan jika kita kaji lebih jauh, ajaran Kristen atau Islam yang begitu ”konservatif” terhadap tafsir teks sebetulnya hanyalah reaksi saja atas peradaban Yunani (Hellenisme) yang memandang seks secara wajar dan natural. Kita tahu peradaban Yunani telah merasuk ke wilayah Eropa (lewat Romawi) dan juga Timur Tengah di Abad Pertengahan yang kemudian menimbulkan sejumlah ketegangan kebudayaan. Oleh karena itu tidak selayaknya jika persepsi agama ini kemudian dijadikan sebagai parameter untuk menilai, mengevaluasi dan bahkan menghakimi pandangan di luar agama tentang seks. </span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span>Apa yang kita saksikan dewasa ini adalah sebuah pemandangan keangkuhan oleh kaum beragama (dan lembaga agama) terhadap fenomena seksualitas yang vulgar</span><span> sebagai haram, maksiat, tidak bermoral dan seterusnya. Padahal moralitas atau halal-haram bukanlah sesuatu yang </span><span><em>given</em></span><span> dari Tuhan, melainkan hasil kesepakatan atau konsensus dari ”tangan-tangan gaib” (</span><span><em>invisible hand</em></span><span>, istilah Adam Smith) kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun otoritas agama. Teks-teks keagamaan dalam banyak hal juga merupakan hasil ”perselingkuhan” antara ulama/pendeta dengan pemimpin politik dalam rangka menciptakan stabilitas. </span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span>Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – seperti secara eksplisit tertuang dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. </span><span>Maka, jika masalah keyakinan saja Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan mengutuk sebuah praktek ”seks bebas” atau praktek seks yang tidak mengikuti aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas agama itu.</span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span>Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. </span>Paul Evdokimov dalam <em>The Struggle with God</em> telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik: <em>”Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…”</em></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Bahkan lebih jauh, ide tentang dosa sebetulnya adalah hal-hal yang terkait dengan sosial-kemanusiaan bukan ritual-ketuhanan. Dalam konteks ini maka hubungan seks baru dikatakan “berdosa” jika dilakukan dengan pemaksaan dan menyakiti (baik fisik atau non fisik) atas pasangan kita. Seks jenis inilah yang kemudian disebut “pemerkosaan”. Kata ini tidak hanya mengacu pada hubungan seks di luar rumah tangga tetapi juga di dalam rumah tangga itu sendiri. Seseorang (baik laki-laki maupun perempuan) dikatakan “memperkosa” (baik dalam rumah tangga yang sudah diikat oleh akad-nikah maupun bukan) jika ia ketika melakukan perbuatan seks ada pihak yang tertekan, tertindas (karena mungkin diintimidasi) sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman. Inilah tafsir pemerkosaan. Dalam konteks ini pula saya menolak sejumlah teks keislaman (apapun bentuknya) yang berisi kutukan dan laknat Tuhan kepada perempuan/istri jika tidak mau melayani birahi seks suami. Sungguh teks demikian bukan hanya bias gender tetapi sangat tidak demokratis, dan karena itu berlawanan dengan spirit keislaman dan nilai-nilai universal Islam.</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady, call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang dai atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka?</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Ada sebuah kisah dalam sejarah keislaman yang layak kita jadikan bahan renungan: ada seorang pelacur kawakan yang sudah letih mencari pengampunan kemudian menyusuri padang pasir yang tandus. Ia hanya berbekal sebotol air dan sepotong roti. Tapi di tengah perjalanan ia melihat seekor anjing yang sedang kelaparan dan kehausan. Karena perasaan iba pada anjing tadi, si pelacur kemudian memberikan air dan roti itu padanya. Berita ini sampai kepada Nabi Muhammad yang mulia. Dengan bijak beliau mengatakan bahwa si pelacur tadi kelak akan masuk surga!</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Kisah ini menunjukkan bahwa Islam lebih mementingkan rasa sosial-kemanusiaan ketimbang urusan perkelaminan…” (***)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Demikianlah gagasan “Islam-progresif” dalam soal kebebasan seksual yang diungkapkan Sumanto. Memang, sekarang, istilah “Islam progresif” sedang digandrungi kalangan Perguruan Tinggi Islam. <span>Pada </span><span>Juli 2009, di UIN Jakarta diadakan Konferensi </span><span><em>&#8216;Debating Progressive Islam: A Global Perspective&#8217;. </em></span><span> Tentu banyak tafsir dan penjelasan tentang makna “Islam Progresif”.  Salah satunya adalah versi Sumanto. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Islam progresif biasanya dimaksudkan sebagai “Islam yang maju”, sesuai dengan asal kata dalam bahasa Latin </span><span><em>“progredior”.</em></span><span> Sebagaimana banyak pemikir yang mengaku progresif, mereka menempatkan Islam sebagai “</span><span><em>evolving religion</em></span><span>”, yakni agama yang selalu berkembang mengikuti zaman. Dalam perspektif ini, Islam juga dipandang sebagai agama budaya. Karena itulah, tidak mengherankan, jika mereka memandang tidak ada satu ajaran Islam yang bersifat tetap. Semua harus tunduk dengan realitas zaman. Agama ditundukkan oleh akal. Salah satu yang banyak dijadikan dasar pijakan adalah aspek “kemaslahatan” dan sifat Islam sebagai “rahmatan lil-alamin”. Dengan alasan inilah, berbagai kemunkaran dan kejahatan bisa disahkan. Tentang keabsahan praktik homoseksual, misalnya, ditulis dalam buku ini:</span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">“<span>Agama, apalagi Islam, yang mengusung jargon “</span><span><em>rahmatan lil alamin</em></span><span>” &#8212; rahmat bagi sekalian alam ini harus memberi ruang kepada umat gay, lesbi, atau waria untuk diposisikan secara equal dengan lainnya. Tuhan, saya yakin tidak hanya milik laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga “mereka” yang terpinggirkan di lorong-lorong sepi kebudayaan.” (hal. 176). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> </span><span>Karena berpijak pada realiatas dan sejarah sebagai penentu kebenaran &#8212; juga syahwat atau hawa nafsu – maka teks-teks wahyu, sunnah Rasulullah saw, dan tafsir wahyu yang otoritatif dikesampingkan. Cara berpikir seperti ini juga sangat paradoks. Dengan berdalih sikap kritis kepada tafsir al-Quran dari para ulama yang otoritatif, banyak kaum yang mengaku liberal dan progresif pada akhirnya tidak mampu bersikap kritis sama sekali pada sejumlah ilmuwan Barat. Mereka sangat ta’dzim dalam mengutip pendapat-pendapat ilmuwan non-Muslim. Ketika menyimpulkan bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh yang penuh noda, dikutiplah pendapat Paul Evdokimov dengan penuh hormat dan ta’jub, bahwa si Evdokimov “telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik.” </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Kita sudah sering membuktikan, sikap sok kritis yang diusung oleh kaum yang menamakan diri liberal dan progresif ini biasanya hanya kritis terdapat pendapat </span><span>para ulama yang dianggapnya tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan Allah sudah mengingatkan dalam al-Quran bahwa, jika seorang manusia sudah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka akan tertutuplah hati, telinga dan matanya untuk menerima kebenaran. (QS 45:23). Orang bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan bisa merusak. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span>Karena itulah, untuk menjaga agar ilmu tidak merusak, para ulama selalu menekankan pentingnya masalah adab dalam urusan keilmuan. Dalam kitabnya yang berjudul </span><span><em>Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, </em></span><span>pendiri NU, Kyai Haji Hasyim Asy’ari mengutip pendapat Ibn al-Mubarak yang menyatakan: </span><span><em>“Nahnu iaa qalilin minal adabi ahwaja minnaa ilaa katsirin mina ’ilmi.” </em></span><span> (Kami lebih membutuhkan adab,  meskipun sedikit, daripada banyaknya ilmu pengetahuan). </span></p>
<p>Demikian pendapat KH Hasyim Asy’ari. Orang yang beradab tahu meletakkan dirinya sendiri di hadapan Allah, Rasulullah saw, para ulama pewaris Nabi, dan juga tahu bagaimana menempatkan ilmu. Karena itulah, al-Quran menekankan pentingnya ada klasifikasi sumber informasi diantara manusia. Jika sumber informasi berasal dari orang fasiq (orang jahat, seperti pelaku dosa besar), maka jangan dipercaya begitu saja ucapannya. Ada unsur akhlak yang harus dimasukkan dalam menilai kriteria sumber informasi yang patut dipercaya. (QS 49:6). Seorang yang tidak beradab (biadab) dalam keilmuan sudah tidak dapat lagi membedakan mana sumber ilmu yang shahih dan mana yang bathil.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"><span> Soal zina, misalnya. Sebagai Muslim, tentu kita yakin benar bahwa zina itu tindakan haram dan biadab. Keyakinan itu berdasarkan kepada penjelasan yang sangat tegas dalam ayat-ayat al-Quran, banyak hadits Rasulullah saw, pendapat para sahabat Nabi, dan para ulama Islam terkemuka. Dalam soal zina ini, kita lebih percaya kepada pendapat para ulama ketimbang pendapat Karl Marx, Paul Evdokimov, Bill Clinton, </span><span>atau Ernest Hemingway. Sebagai manusia beradab kita bisa membedakan, mana sumber informasi yang layak dipakai dan mana yang tidak. Sebab, Allah sendiri membedakan jenis-jenis manusia. Orang mukmin disebut “</span><span><em>khairul barriyyah</em></span><span>” (sebaik-baik makhluk) dan orang kafir disebut “</span><span><em>syarrul barriyyah</em></span><span>” (sejelek-jeleknya makhluk) (QS 98). Meskipun sering mengkampanyekan “kesetaraan semua pemeluk agama”, tetapi faktanya, kaum yang menamakan diri mereka sebagai pengikut “Islam liberal”, “Islam pluralis” atau “Islam progresif” juga tetap menggunakan identitas Islam. </span>Tidak ada yang mau menyebut dirinya “kafir-liberal” atau “kafir-progresif”.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Sebenarnya, jika kita menelaah pemikiran liberal, dukungan terhadap praktik seks bebas bukanlah hal yang aneh. Ini adalah akibat logis dari sebuah konsep dekonstruksi aqidah dan dekonstruksi kotab suci. Jika seorang sudah tidak percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad saw adalah utusannya, kemudian dia pun tidak percaya kepada otoritas ulama-ulama Islam yang mu’tabarah – seperti Imam al-Syafii – maka yang dia jadikan sebagai standar pengukur kebenaran adalah akalnya sendiri atau hawa nafsunya sendiri. Kita paham, masyarakat Barat saat ini tidak memandang praktik seks bebas sebagai suatu kejahatan. Homoseksual juga dipandang sebagai hal yang normal. Sebaliknya, bagi mereka, praktik poligami dikutuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Nilai-nilai masyarakat Barat yang sekular – tidak berpijak pada ajaran agama &#8212; inilah yang sejatinya dianut juga oleh kaum yang mengaku liberal atau progresif ini. Bagi mereka, seperti tergambar dalam pendapat Sumanto ini, urusan seks dipandang sekedar urusan syahwat biologis semata, sebagaimana layaknya praktik seksual para babi, kambing, monyet, ayam, dan sebagaimana. Seks dianggap seperti soal buang hajat besar atau kecil, kapan mereka mau, maka mereka akan salurkan begitu saja. Yang penting ada kerelaan; suka sama suka. Tapi, bagi kita yang Muslim, dan juga pemeluk agama lain, jelas soal seksual dipandang sebagai hal yang sakral. Karena itulah, agama-agama yang hidup di Indonesia, sangat menghormati lembaga perkawinan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Dalam pandangan Islam, jelas ada perbedaan nilai dan posisi antara penis dengan pipi, meskipun keduanya sama-sama daging. Bagi seorang Muslim, yang menjadikan “penis” dan “pipi” berbeda adalah nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. Sebelum zaman Islam, banyak suku bangsa yang masih memandang sama kedudukan daging wanita dengan daging kambing, sehingga mereka menjadikan ritual korban dengan menyembelih wanita dan kemudian meminum darahnya. <span>Seorang Muslim memandang penting perbedaan antara “daging manusia” dengan “daging ayam”. Daging ayam halal hukumnya untuk dimakan. Jenazah manusia harus dihormati. Jangankan dimakan dagingnya, jenazah manusia harus dihormati dan diperlakukan dengan baik. Jika kaum liberal melakukan dekonstruksi dalam aqidah dan nilai-nilai moral, maka akibatnya, pornografi atau seks bebas pun kemudian didukung. Sebab, dalam pikiran liberal, tidak ada aturan yang pasti, mana bagian tubuh yang boleh dibuka dan mana yang harus ditutup. Yang menjadi standar baik buruk adalah ”kepantasan umum”. Kalau memang bertelanjang atau beradegan porno sesuai dengan tuntutan skenario dan dilakukan ”pada tempatnya”, maka itu dianggap sebagai hal yang baik. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">Kepastian akan kebenaran dan nilai itulah yang membedakan antara Muslim dengan kaum liberal. Orang Muslim yakin dengan kebenaran imannya, dan yakin ada kepastian dalam soal halal dan haram. Hukum tentang haramnya babi sudah jelas dan tetap haram sampai kiamat. Begitu juga dengan haramnya zina, dan haramnya perkawinan sesama jenis (homo dan lesbi). Tapi, dalam perspektif liberal dan progresif, seperti dipaparkan oleh buku ini, larangan agama terhadap perkawinan sesama jenis ini pun dianggapnya sudah tidak berlaku. Tentang perlunya legalisasi perkawinan sesama jenis, ditulis dalam buku ini:</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">”<span>Dan harap diingat, konsep perkawinan dalam suatu ikatan ”sakral” bukan melulu untuk mereproduksi keturunan melainkan juga untuk mewujudkan keluarga sakinah (ketenteraman/kebahagiaan). Maka, dalam bingkai untuk mewujudkan keluarga sakinah ini seorang gay atau lesbian harus menikahi sesama jenis. Justru melapetaka yang terjadi jika kaum gay-lesbian dipaksa kawin dengan lain jenis. Untuk mewujudkan gagasan perkawinan sejenis ini, maka paling tidak ada dua hal yang harus ditempuh: pembongkaran di tingkat wacana keagamaan, yakni teks-teks skriptural (dalam konteks Islam: teks tafsir dan fiqih khususnya) yang masih terkesan diskriminatif dan kemudian pembongkaran di tingkat struktur normatif masyarakat yang masih bias dalam memandang pola relasi antar-manusia.” (halaman 175). </span></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span>Berulangkali kita menyerukan kepada kaum yang mengaku liberal, progresif dan sejenisnya, agar mengimbangi sikap kritis dengan adab. </span><span>Ada adab kepada al-Quran, adab kepada para Nabi, adab kepada ulama pewaris Nabi. Sayangnya, buku yang memuat pendapat yang merusak – seperti dukungan terhadap praktik seks bebas ini &#8212; justru dipuji-puji dan didukung oleh orang yang seharusnya justru bersikap kritis dan mendidik masyarakat dengan akhlak yang mulia. Di sampul buku bagian belakang, dicantumkan sejumlah pujian. Djohan Effendi, pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), menyebut buku ini: </span><span><em>“sangat inspiratif untuk melakukan refleksi atas perjalanan umat Islam selama ini. Pendapatan dan sikap kritis yang ia lakukan merupakan sumbangan yang sangat berarti untuk mendorong pemikiran progresif di kalangan generasi baru umat Islam yang menginginkan kemajuan bersama dengan orang dan umat lain.” </em></span></p>
<p><span>Di tengah upaya kita mendidik anak-anak kita dengan akhlak mulia dan menjauh</span><span>kan mereka dari praktik pergaulan bebas, kita tentu patut berduka dengan sikap sebagian kalangan yang mengusung jargon “Islam progresif” tetapi justru memberikan dukungan terhadap praktik seks bebas semacam ini. Bagi kita, ini suatu ujian iman. Kita tidak bertanggung jawab atas amal mereka. Mudah-mudahan, dengan bimbingan dan lindungan Allah SWT, kita selamat dalam meniti kehidupan dan mengakhiri hidup kita dengan </span><span><em>husnul khatimah</em></span><span>. Amin. (Solo, 22 Muharram 1431 H/8 Januari 2010). <a href="http://www.adianhusaini.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=127:islam-progresif-dan-seks-bebas-&amp;catid=34:cap&amp;Itemid=53" target="_blank"><strong>[adianhusaini.com]</strong></a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-progresif-dan-seks-bebas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Win Mempertaruhkan Jilbab Meski Terus Ditekan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 17:33:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3277</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab
Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.
Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><strong><em>Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab</em></strong></p>
<p><em><strong></strong></em>Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.</p>
<p>Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat ini dicampakkan begitu saja oleh pihak rumah sakit dengan dalih yang dicari-cari. Padahal selama empat tahun bekerja di rumah sakit swasta tersebut, ia mengaku tak pernah melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan.</p>
<p>Awalnya, Wine memang bersikap seperti karyawati RS Mitra pada lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa RS Mitra Keluarga manapun memang memberlakukan larangan berjilbab bagi karyawatinya. Bila ada di antara mereka karyawati yang berjilbab maka mau tidak mau mereka harus melepas jilbab setibanya di rumah sakit.<span id="more-3277"></span></p>
<p>Wine pun melakukan hal sama ketika ia berjilbab di tahun 2005. Selama tiga tahun ia bongkar pasang jilbab; berangkat memakai jilbab, tiba di RS buka jilbab, lalu pulang kembali mengenakan jilbab. Selama tiga tahun, meski resah kerap menghantui batinnya, ia masih bertahan dengan cara tersebut dengan pembenaran bahwa pekerjaan yang dilakukannya pun adalah bentuk ibadah.</p>
<p>Namun, petunjuk Allah mulai menerangi hati gadis kelahiran Jakarta, 27 November 1982 ini manakala pertengahan bulan April 2008 ia melakukan umrah. Dalam perjalanan umrah yang dipimpin oleh Ustadz Abu Jibril tersebut ia dinasehati oleh istri sang ustadz. Ia menanyakan kepada Wine mengapa masih bertahan dengan pekerjaan yang jelas-jelas menghalanginya menjalankan syariat Islam.</p>
<p>“Ketika itu istri Ustadz bertanya kepada saya, bagaimana bila ajal datang menjemput, sementara saya sedang dalam keadaan tidak berjilbab,” kenang Wine kepada hidayatullah.</p>
<p>Pertanyaan itulah yang menghantam kesadarannya dan membuat batinnya tak mampu lagi berkompromi dengan cara berjilbab yang telah dilakukannya selama tiga tahun belakangan.</p>
<p><strong>Tekanan Manajemen</strong></p>
<p>Berbekal kesadarannya itulah, Wine bertekad untuk mengenakan jilbab ketika kembali masuk kerja pada tanggal 21 April 2008. Ia mengaku tak ada seorang teman pun yang sempat ia ajak untuk mengikuti langkahnya. Semua yang dilakukannya benar-benar bertolak dari kesadaran dan spontanitas. Saat itu, ia masuk pukul 8 pagi. Ia keluar dari loker tempat berganti pakaian karyawan, menggunakan jilbab dan manset, lengkap dengan seragam kerja harian yang diwajibkan perusahaan. Jilbab yang dikenakannya ketika itu pun berwarna hitam, senada dengan rambut agar tak terlalu menarik perhatian.</p>
<p>Seketika seluruh mata tertuju kepadanya. Semua orang memandangnya dengan keheranan dan pihak rumah sakit kontan “gerah” melihat ulah Wine. Wine pun segera ditegur oleh Koordinator Rehabilitasi Medik, bagian dimana Wine menunaikan tugasnya selama ini. Ibu Suparmi, sang Koordinator, mengecam tindakan Wine dan menegaskan larangan bagi karyawati untuk berjilbab saat menjalankan tugas.</p>
<p>Wine tak bergeming dan sikap Wine membuat Manajer HRD RS Mitra Bekasi Barat, drg. Elisabeth Setyodewi, MM turun tangan. Wine segera dihadapkan pada tuntutan untuk segera mengajukan pengunduran diri bila tetap bertahan menggunakan jilbab di RS. Pihak RS tidak ingin melakukan pemecatan karena menurut pihak rumah sakit semua karyawan yang ingin melakukan pemutusan hubungan kerja pun membuat surat pengunduran diri. Belakangan, oleh Tim Pembela Muslim, hal ini diduga sebagai upaya manajemen RS berkelit dari kewajiban membayar pesangon bagi karyawan yang di-PHK.</p>
<p>Didesak dan ditekan sedemikian rupa oleh pihak manajemen, Wine akhirnya bersedia membuat surat pengunduran diri dengan alasan tidak boleh menggunakan jilbab. Namun, alasan itupun tidak disetujui oleh pihak manajemen karena terkesan ekstrim. Ia disarankan untuk membuat surat pengunduran diri tanpa alasan. Tentu saja Wine menolak membuat surat tersebut karena memang alasannya mengundurkan diri karena larangan berjilbab. Namun, pihak manajemen tetap pada sikapnya. Akhirnya tanpa ada keputusan apapun, Wine meninggalkan RS pukul 9.15 pagi setelah dipaksa menyerahkan kartu pegawai, kartu HMO (Kartu Berobat), dan kunci loker.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, ia ditelepon oleh pihak RS untuk datang mengurus masalah administrasi. Pada tanggal 25 April 2008, Wine pun datang menjawab panggilan tersebut dan meminta surat pemecatan dengan alasan larangan menggunakan jilbab. Permintaan tersebut dijawab dengan ancaman blacklist dari Setyodewi, supaya tidak ada satu rumah sakit pun di Jakarta dan sekitarnya yang akan menerima Wine bekerja. Pertemuan ini lagi-lagi tidak membuahkan hasil.</p>
<p>Waktu berlanjut hingga sepekan. Yang datang kepada Wine justru surat Panggilan I dan II yang isinya meminta Wine untuk kembali bekerja tetapi tetap dilarang menggunakan jilbab. Sebagai seorang muslimah sejati, tentu saja ia menolak panggilan tersebut. Hingga akhirnya datanglah surat panggilan III yang menyatakan pemecatan karena Wine telah mangkir dari pekerjaannya.</p>
<p><strong>Proses Hukum</strong></p>
<p>Melihat tidak adanya niat baik dari pihak RS, Wine pun menempuh jalur hukum dengan mengajukan permasalahan ini ke Tim Pembela Muslim (TPM). Selama proses hukum berjalan pun nampak pihak RS tidak sedikitpun berusaha mencapai kesepakatan yang terbaik. Bahkan pihak pengacara RS yang menghubungi Wine pun terkesan menakut-nakuti serta meminta Wine untuk mundur saja dari kasus ini. Namun, dara lulusan Akademi Fisioterapi UKI (Universitas Kristen Indonesia) ini tak ciut nyali.</p>
<p>Ia tetap maju berjuang, membela haknya dan hak kaum muslimah lainnya untuk mengenakan jilbab. Walau menurut pengakuannya, tak seorang pun dari teman-teman sekerjanya yang berani memberikan kesaksian untuk proses hukum, meski mereka juga jilbaber yang mengalami nasib yang sama.</p>
<p>“Awalnya mereka menyatakan dukungannya tetapi ternyata mereka kemudian memilih diam,” ujar Wine menyesalkan.</p>
<p>Perundingan demi perundingan hukum dilalui Wine, mulai perundingan  Bipartit yang dilakukan antara pihak kuasa hukum RS Mitra Keluarga Bekasi dengan TPM hingga perundingan Tripartit yang melibatkan Dinas Tenaga Kerja Bekasi. Perundingan tingkat Tripartit ini terpaksa ditempuh karena dalam tempo 30 hari tidak tercapai titik temu antara TPM dengan kuasa hukum RS. Masalah ini pun telah sampai di tangan DPRD Bekasi.</p>
<p>Selama proses hukum berjalan, ada tawaran dari pihak RS pada Wine untuk kembali bekerja. Namun, posisi yang ditawarkan justru semakin menambah kekecewaan Wine. Ia ditawarkan untuk bekerja di salah satu perusahaaan yang masih satu grup dengan RS Mitra Keluarga, yaitu  PT Estetika Interpresindo yang menyediakan kebutuhan rumah sakit dengan posisi di bagian administrasi. Ini jelas melecehkan profesionalisme Wine yang selama empat tahun menjadi tenaga fisioterapi. Meski ia dijamin boleh mengenakan jilbab tetapi Wine bersikeras menolak tawaran tersebut karena ia tahu, hal itu tidak berlaku pada karyawati lainnya.</p>
<p><strong>Dapat Dukungan</strong></p>
<p>Di tengah beban masalah dan tekanan itulah Wine terkadang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang panjang. Ia merasa jalan yang harus ditapakinya begitu terjal dan masalahnya tak kunjung selesai. Di saat itulah ia merasakan kekuatan yang begitu dahsyat datang dari Allah SWT dan keluarga hingga ia tetap berdiri menantang tekanan dan cibiran yang datang dari berbagai pihak. Yang tak masuk diakal, cibiran justru datang dari kaum Muslim sendiri.</p>
<p>“Yang paling menyakitkan adalah cibiran yang datang dari sesama Muslim,” ungkapnya.</p>
<p>Namun ia tak ingin bernasib sama seperti seorang temannya yang memilih keluar dari RS karena berjilbab tanpa memperjuangkan haknya. Wine bertekad untuk terus berjuang melawan kezaliman itu.</p>
<p>Jalan panjang yang ditempuh Wine dengan kesabaran dan keberanian memang tak akan disia-siakan oleh Allah SWT. Dukungan dari berbagai pihak, terutama dari Ormas Islam seperti FPI dan Forum Peduli Jilbab, datang membanjiri. Bahkan Forum Peduli Jilbab menggelar unjuk rasa di depan RS Mitra Keluarga Bekasi dengan kekuatan 500 orang. Menyusul kemudian pernyataan Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad yang akan memeriksa kembali izin usaha perusahaan di Kota Bekasi yang diketahui melarang karyawati atau pekerjanya menggunakan jilbab. Mochtar mengaku tidak segan mencabut izin usaha, apabila perusahaan membuat peraturan diskriminatif terhadap pekerjanya.</p>
<p>Izin bagi karyawati menggunakan jilbab di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat kemudian keluar pasca Idul Fitri 1429, lalu menyusul akan diberlakukan di seluruh RS Mitra Keluarga di tempat lain mulai Januari 2009. Hak-hak Wine berupa gaji yang tidak dibayar selama tujuh bulan dan pesangon pun telah dilunasi pihak RS.</p>
<p>Untuk mencegah kasus-kasus diskriminasi terhadap keyakinan beragama seperti ini, Win berharap kaum Muslim cepat tanggap dan kompak.</p>
<p>“Masih banyak umat yang belum paham jilbab yang memenuhi syariat. Ini menyebabkan pandangan umat terhadap kasus ini sangat beragam,” katanya kepada www.hidayatullah.com. Herannya, di negeri di mana kaum Muslim mayoritas. Diskriminasi seperti ini terus berlanjut. [<em><strong>syafaat/Sahid/</strong></em><a href="http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/10121-2009-12-14-22-07-38.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/win-mempertaruhkan-jilbab-meski-terus-ditekan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Natal Bersama dan Misi Kristen&#8221;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/natal-bersama-dan-misi-kristen</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/natal-bersama-dan-misi-kristen#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 01:31:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[natal bersama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3274</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dr. Adian Husaini
Pada 27 Desember 2009, saya sempat menonton acara Perayaan Natal Bersama melalui TVRI. Acara itu seperti sudah dianggap sebagai ritual tahunan kenegaraan. Biasanya pejabat tinggi banyak yang diundang. Malam itu, Presiden SBY juga datang. Ada juga Wapres Boediono, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. Menyimak rangkaian acaranya, Perayaan Natal Bersama itu jelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em>Oleh: <strong>Dr. Adian Husaini</strong></p>
<p>Pada 27 Desember 2009, saya sempat menonton acara Perayaan Natal Bersama melalui TVRI. Acara itu seperti sudah dianggap sebagai ritual tahunan kenegaraan. Biasanya pejabat tinggi banyak yang diundang. Malam itu, Presiden SBY juga datang. Ada juga Wapres Boediono, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. Menyimak rangkaian acaranya, Perayaan Natal Bersama itu jelas sebagai suatu bentuk Proklamasi agama Kristen dan realisasi konsep Misi Kristen di Indonesia.</p>
<p>Pesan utama yang ingin disampaikan  melalui acara tersebut sangat jelas bahwa  Jesus, Putra Tuhan, sang Juru Selamat sudah tiba untuk menebus dosa manusia. Berbagai lagu dan sendratari yang ditampilkan membawa pesan tersebut. Disamping lagu dan tari, ada pesan Natal dan juga Doa Syafaat dibawakan oleh pejabat KWI (Katolik) dan PGI (Protestan).</p>
<p>Menarik jika kita amati wajah Pak SBY dan pejabat muslim lainnya yang hadir acara itu. Kita juga mencoba menebak-nebak,  apa kira-kira perasaan Pak SBY dan orang Muslim di situ, ketika mendengar lagu-lagu dan seruan tentang kedatangan Jesus sebagai anak Allah dan Juru Selamat. Kita berprasangka baik, dan menduga-duga, hati Pak SBY yang Muslim itu pasti berkata: “Ini tidakbenar! Sebab, saya Muslim. Saya yakin benar, bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Saya yakin, Nabi Isa adalah utusan Allah, rasul Allah; bukan Tuhan atau anak Tuhan.”<span id="more-3274"></span></p>
<p>Pak SBY yang punya sebuah Majlis Zikir tentu sudah pernah mendengar ayat Al-Quran:<em> “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).”</em> (Terjemah QS as-Shaff: 6).</p>
<p>Ada juga ayat Al-Quran yang menyatakan: “<em>Dan mereka mengatakan, (Allah) Yang Maha Pemurah itu punya anak. Sungguh (kalian yang menyatakan bahwa Allah punya anak), telah melakukan tindakan yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah gara-gara ucapan itu dan bumi  terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah punya anak.” </em>(Terjemah QS Maryam: 88-91).</p>
<p>Sebagai Muslim, Pak SBY tentu paham benar ayat-ayat Al-Quran tersebut. Dalam Perayaan Natal Bersama itu, orang-orang Muslim “dipaksa” mendengar cerita-cerita tentang Jesus yang bertentangan dengan keimanan mereka. Kata beberapa orang, praktik-praktik pencampuran Perayaan Hari Raya Agama seperti itu perlu dilakukan demi tujuan mulia, yaitu untuk membina Kerukunan Umat Beragama.  Malah, ada yang berpendapat, agar MUI mencabut fatwa tentang Haram-nya seorang Muslim merayakan Natal Bersama. Sebagai Muslim, dan juga sebagai Presiden, Pak SBY ketika itu “harus” duduk mendengarkan semua cerita tentang Jesus, yang sudah pasti tidak diyakininya. Pada kondisi seperti itulah, Pak SBY juga terpaksa tidak menyatakan secara terbuka, bahwa dia mempunyai kepercayaan dan keimanan yang berbeda dengan kaum Nasrani.</p>
<p>Sebenarnya, jika kita berpikir jernih, praktik-praktik semacam ini seharusnya dihentikan. Membangun kerukunan umat beragama tidak perlu dilakukan dengan cara-cara yang dapat menyuburkan kemunafikan seperti itu. Rasulullah saw, para sahabat, dan para ulama Islam – yang sejati – tidak pernah mengajarkan tindakan seperti itu. Untuk membangun kerukunan umat beragama, banyak cara lain yang bisa dilakukan. Sebenarnya, jika kaum Nasrani merayakan hari raya mereka, di kalangan mereka sendiri, itu juga tidak ada masalah dan tidak perlu mengundang kontroversi.</p>
<p>Berita tentang ke-Tuhanan Jesus tentu tidak mudah ditelan begitu saja oleh kaum Muslim. Sebab, Islam memiliki kitab suci Al-Quran yang dengan sangat gamblang menjelaskan kesalahan kepercayaan kaum Kristen tersebut. Al-Quran menyatakan, bahwa berita tentang penyaliban Jesus (Nabi Isa) adalah bohong belaka. Penyaliban Jesus, dalam pandangan Islam, tidak memiliki dasar yang kuat. “<em>Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”</em> (Terjemah QS al-Kahfi: 4-5).</p>
<p>Ayat-ayat dalam kitab suci yang secara tegas membantah klaim-klaim kaum Kristen tentang ketuhanan Jesus seperti ini hanya dijumpai dalam Al-Quran. Ayat semacam itu tidak kita dijumpai pada Kitab Veda (Hindu), Tripitaka (Budha), atau Su Si (Konghucu). Karena itu, wajar, selama seorang mengaku dan meyakini keimanan Islam-nya, hatinya akan dengan tegas menolak semua pernyataan yang tidak benar tentang Nabi Isa. Kaum Ahlul Kitab yang hatinya  ikhlas dalam menerima kebenaran pasti akan mengakui kenabian Muhammad saw dan kebenaran Al-Quran (QS 3:199).</p>
<p>Keyakinan kaum Muslim tentang Nabi Isa seperti itu seharusnya dihormati oleh kaum Kristen. Sehingga, tidaklah etis jika “memaksa” seorang Muslim yang berpegang kepada iman Islam-nya untuk duduk mendengar cerita tentang Yesus dalam versi Kristen yang sama sekali berbeda versinya dengan cerita tentang Nabi Isa dalam versi Islam. Inilah sebenarnya hakekat saling hormat-menghormati antar pemeluk agama. Mereka bisa bekerjasama satu sama lain, dalam berbagai hal. Tetapi, bukan membiasakan diri bersikap “pura-pura” dalam soal keimanan. Sikap saling menghormati bisa ditumbuhkan dengan tetap berpegang kepada keimanan masing-masing.</p>
<p>Islam juga menghormati sikap pemimpin Katolik Paus Yohanes Paulus II, ketika menyatakan, bahwa Islam, bahwa Islam bukanlah agama penyelamatan:  “Islam is not a religion of redemption.” Paus juga menyatakan, dalam Islam tidak ada ruang bagi Salib dan Kebangkitah Yesus.  Yesus memang disebutkan, tetapi,  kata Paus, dia hanya sekedar seorang Nabi, yang menyiapkan kedatangan Nabi terakhir, yaitu Muhammad.  Karena itulah, Paus berkesimpulan: <em>“For this reason, not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity</em>.”   Jadi,menurut Paus, secara teologis dan antropologis, ada perbedaan yang mendasar antara Islam dan Kristen. (Lihat, John Cornwell,<em> The Pope in Winter: The Dark Face of John Paul II’s Papacy</em>, (London: Penguin Books Ltd., 2005).</p>
<p>Ada lagi yang sering tidak dipahami oleh pemeluk agama selain Islam atau bahkan kalangan Muslim sendiri. Yaitu, bahwasanya Islam adalah agama wahyu yang memiliki uswah hasanah (contoh teladan). Sebagai agama wahyu (agama langit), Islam mendasarkan keyakinan dan semua praktik ritualnya berdasarkan wahyu dan contoh dari Nabi Muhammad saw.  Karena itu, hanya orang Muslim yang kini memiliki bentuk ibadah yang satu. Orang Muslim membaca al-Fatihah yang sama dalam shalat; ruku’ dengan cara yang sana; sujud dengan cara yang sama, dan salam dengan cara yang sama pula. Semua itu ada contoh dari Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Bahkan, kaum Muslim berdebat tentang hal-hal yang “kecil” dalam ibadah shalat, seperti apakah dalam tahiyat, jari telunjuk digerakkan atau tidak. Sebab, memang ada riwayat yang berbeda dari Rasulullah saw tentang hal itu. Yang jelas, semua Muslim ingin mencontoh Sang Nabi sampai hal-hal yang “kecil” seperti itu diperdebatkan. Tapi, semua orang Muslim, saat melaksanakan tahiyat dalam shalat, pasti mengeluarkan jari telunjuk, bukan jari jempol atau jari kelingking.</p>
<p>Karena kuatnya berpegang pada keteladanan Nabi Muhammad saw dalam ibadah itulah, maka –misalnya &#8212; orang Islam tidak mudah untuk diajak mengganti salam Islam dengan salam lainnya. Karena salam resmi orang Islam, sesuai ajaran Nabi saw adalah:  Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.”  Ucapan salam seperti ini berdasarkan contoh dari Nabi Muhammad, bukan berasal dari budaya atau hasil Kongres umat Islam pada saat tertentu. Di mana pun, kapan pun,  umat Islam akan mengucapkan salam seperti itu. Apa pun suku dan bangsanya. Upaya untuk “pribumisasi” salam Islam dan menggantinya dengan “Selamat pagi” dan sejenisnya, telah gagal dilakukan. Dulu, semasa menjabat sebagai Menteri P&amp;K (1978-1982), Dr. Daoed Joesoef menolak mengucapkan salam Islam, dengan alasan, ia bukan hanya menterinya orang Islam.</p>
<p>Sekarang, cara berpikir Daoed Joesoef itu sudah out of date, sudah ketinggalan zaman.  Kini, Presiden SBY pun sangat fasih dalam mengucapkan salam. Bahkan, biasanya ia mendahului dengan ucapan basmalah. Sekarang sudah banyak tokoh non-Muslim yang dengan lancar mengucapkan salam Islam.  Saya pernah bertanya kepada seorang tokoh non-Muslim, apakah dia boleh mengucapkan salam Islam, seperti yang baru saja dia ucapkan. Dia menjawab: Boleh!</p>
<p>Kondisi seperti itu berbeda dengan umat Islam. Untuk urusan salam saja, Rasulullah saw memberikan contoh dan panduan yang sangat rinci. Bagaimana seharusnya seorang Muslim memberikan salam kepada sesama Muslim, bagaimana menjawab salam dari non-Muslim, dan sebagainya. Umat Islam secara ikhlas berusaha mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw tersebut. Sifat dan posisi ajaran Islam seperti ini seyogyanya dipahami. Termasuk dalam soal perayaan Hari Besar Agama. Panduan dalam soal ini juga sangat jelas. Karena itu, jika umat Islam menolak untuk mengikuti Perayaan Hari Besar agama lain, itu pun harusnya dipahami dan tidak dicap sebagai bentuk rasa permusuhan dengan agama lain. Pemahaman akan sifat dan karakter masing-masing agama itu perlu dipahami oleh masing-masing tokoh agama, agar tidak memaksakan pemahamannya kepada orang lain.</p>
<p>Budaya dan Misi</p>
<p>Aspek lain yang menonjol dalam Peraayaan Natal Bersama 27 Desember 2009 adalah upaya kaum Kristen untuk menampilkan citra adanya penyatuan Kristen dengan budaya Indonesia. Para penari mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Citra penyatuan Kristen dengan adat istiadat di Indonesia sudah lama diusahakan oleh para misionaris di Indonesia. Strategi budaya dijalankan agar misi Kristen lebih mudah diterima oleh rakyat Indonesia, dan agar citra Kristen sebagai agama penjajah dapat hilang di mata rakyat.</p>
<p>Penyebaran agama Kristen dengan strategi budaya Jawa pada dekade pertama abad XX, misalnya, terutama ditempuh oleh kalangan Yesuit dan juga misi Katolik pada umumnya. Misi Kristen ingin menggusur atau memisahkan citra penyatuan Islam dengan Jawa. Tokoh misionaris Katolik, misalnya, telah lama berusaha menggusur dominasi bahasa Melayu dan menggantinya dengan bahasa Jawa. Di sekolah Katolik di Muntilan, misalnya, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin.  Sebab, bahasa Melayu identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam.</p>
<p>J.D. Wolterbeek dalam bukunya,  Babad Zending di Pulau Jawa,  mengatakan: “<em>Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.</em>”</p>
<p>Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).</p>
<p>Kiprah Pater van Lith dalam gerakan misi di Jawa digambarkan oleh Fl. Hasto Rosariyanto, SJ dalam bukunya, Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009). Dalam buku ini diceritakan, bahwa dalam suatu Kongres bahasa Jawa, secara provokatif van Lith memperingatkan orang-orang Jawa untuk berbangga akan budaya mereka dan karena itu mereka harus menghapus bahasa Melayu dari sekolah. Van Lith lebih suka mempromosikan bahasa Belanda, karena dianggapnya sebagai bahasa kemajuan.</p>
<p>Upaya untuk menggusur bahasa Melayu dari kehidupan berbangsa di Indonesia, sebagaimana dipromosikan van Lith tidak berhasil dilakukan. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai suku bangsa justru mendeklarasikan: “Kami berbahasa satu,  bahasa Indonesia.”  Demi persatuan bangsa, para pemuda dari Jawa juga merelakan bahasa Jawa tidak dijadikan sebagai bahasa nasional Indonesia.</p>
<p>Van Lith, yang datang ke Indonesia pada 1896, menulis dalam sebuah suratnya:</p>
<blockquote><p>“Jika para misionaris ingin membawa orang non-Kristen kepada Kristus, mereka harus menemukan titik-awal bagi penginjilan. Di dalam agama merekalah terletak hati dari orang-orang ini. Kalau para misionaris mengabaikan ini, mereka juga akan kehilangan titik temu untuk menawarkan kabar gembira dalam hati mereka. Di Pulau Jawa, khususnya, di mana penduduk yang paling maju dari seluruh kepulauan ini tinggal, mempelajari Hinduisme, Budhisme, Islam, dan budaya Jawa adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. Agama-agama ini telah berkembang, tetapi agama asli tidak pernah tercabut dari hati orang-orang ini.”</p></blockquote>
<p>Dalam salah satu artikelnya yang ditemukan sesudah kematiannya, van Lith juga menyemangati teman-teman misionaris agar menempatkan diri sesama warga dengan orang Jawa:</p>
<blockquote><p>“Kalau kita, orang Belanda, ingin tetap tinggal di Jawa dan hidup dalam damai dan menikmati keindahan serta kekayaan pulau tercinta ini, maka ada satu tuntutan, yaitu bahwa kita harus selalu belajar  memperlakukan orang Jawa sebagai saudara kita. Di tengah-tengah orang Jawa, kita tidak bisa berlagak seperti penguasa, atau sebagai majikan, atau sebagai komandan, tetapi seharusnya sebagai sesama warga. Kita harus belajar menyesuaikan diri, belajar menguasai bahasa orang-orang ini dan adat kebiasaan mereka; hanya dengan berlaku demikian kita bisa menjalin persahabatan dengan mereka ini.”</p></blockquote>
<p>Demi pendekatan budaya, van Lith sampai bisa menerima orang Katolik Jawa melakukan sunat. Padahal, dalam suratnya, Paulus menyatakan: “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”. (Gal. 5,2).  Van Lith menerima sunat bagi orang Katolik Jawa, tetapi menolak tambahan doa Arab (Islam). Ia juga menentang sunat sebagai bentuk pertobatan menjadi Muslim.</p>
<p>Para misionaris, seperti van Lith, berkeinginan memisahkan orang Jawa dengan Islam. Sebab, orang Jawa memang sangat kokoh memegang identitasnya sebagai Muslim, meskipun mereka belum mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi Katolik, Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:</p>
<blockquote><p>“Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai  bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina,  karena tahu tak ada apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada sesuatu yang dapat dilakukan.”</p></blockquote>
<p>Demikianlah semangat misi Kristen untuk mengubah agama orang Jawa, dari Islam menjadi Kristen. Berbagai cara telah dan terus digunakan untuk menjalankan misi tersebut. Kaum Muslim memahami semangat kaum Kristen tersebut. Tapi, tentunya, tidak mudah bagi kaum Muslim untuk menerima begitu saja usaha kaum misionaris tersebut. Sebab, bagi orang Muslim, keimanan adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan mereka. [Depok, 14 Muharram 1431 H/1 Januari 2010/<a href="http://hidayatullah.com/kolom/adian-husaini/10286-2010-01-02-15-22-24.html" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/natal-bersama-dan-misi-kristen/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kusir dan Keledai</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 23:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[keledai]]></category>
		<category><![CDATA[kusir]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[pola hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2481</guid>
		<description><![CDATA[Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka
You are what you eat
You are what you drink
You are what you think
(Kamu adalah apa yang kamu makan
Kamu adalah apa yang kamu minum
Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)
Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Barat punya pepatah yang cukup bagus untuk kita renungkan. Kata mereka</p>
<p><em>You are what you eat</em></p>
<p><em>You are what you drink</em></p>
<p><em>You are what you think</em></p>
<p><em>(Kamu adalah apa yang kamu makan</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu minum</em></p>
<p><em>Kamu adalah apa yang kamu pikirkan)</em></p>
<p>Ya, sadar nggak sih kalau performa alias penampilan diri adalah kita sendiri yang menentukan. Mulai dari kesehatan diri, kitalah yang punya peranan. Apa yang kita makan dan minum secara alami atawa <em>sunnatullah</em>, pastinya punya efek buat badan kita. Orang yang terbiasa makan manis dan berlemak, badannya pasti gemuk dan rawan terkena penyakit gula. Mereka yang makan dengan teratur dan gizi yang cukup pastinya berpeluang besar untuk hidup lebih sehat.<span id="more-2481"></span></p>
<p>Percaya atau tidak yang mengendalikan badan kita adalah pikiran kita sendiri. Mau seperti apa badan kita, akal kita yang mengendalikannya. Nggak sedikit orang ngejalanin pola hidup kacau karena pikirannya memang nggak sehat. Contohnya teman-teman kita yang terjebak pada pergaulan nggak sehat, kebelit narkoba, dsb. Sebetulnya, mereka adalah orang-orang yang nggak mampu mengendalikan diri dari godaan lingkungan, teman-teman, dan hawa nafsu. Mereka lebih memilih hanyut dalam kebiasaan orang lain ketimbang berpikir panjang dan menimbang untung-rugi buat diri sendiri.</p>
<p>Untuk itulah Allah SWT. menciptakan buat kita akal, kemampuan berpikir, agar manusia bisa memilah dan memilih. Apa yang kita kerjakan memang sebaiknya dipikirkan dulu. Kita hidup nggak semata mengandalkan insting layaknya hewan. Tapi ada hal-hal yang harus direnungkan dengan serius, karena memang ada efek baliknya buat diri kita sendiri. Contohnya begadang itu asyik, tapi kalau tiap malam begadang nggak karuan, sementara kerjaan kita banyak kamu bisa tebak sendiri hasil akhirnya. Saat kita mau kerja badan malah ancur.</p>
<p>Tapi sobat, nggak cukup cuma ada akal, Allah juga menurunkan agama Islam ini buat pedoman hidup. Supaya kita tahu mana yang halal dan mana yang haram. Karena kenyataannya akal kita kemampuannya <em>cetek</em> banget. Nggak selamanya kita bisa milih yang baik dan buruk buat kita dari hasil pikiran kita sendiri. Banyak masalah yang kita perlu jawabannya dari orang lain, termasuk dari Zat Yang Menciptakan kita, Allah Rabbul &#8216;alamin. Dan kita juga harus yakin kalau sesuatu yang halal pastinya baik buat manusia, dan yang haram pastinya mudlarat/bahaya buat kita semua.</p>
<p>Sobat, ibarat pedati, tubuh kita adalah keledai sedangkan pikiran kita adalah kusirnya. Keledai berjalan selalu menuruti kehendak kusirnya. Kapan ia berbelok atau lurus, juga kapan ia berlari kencang atau berjalan lambat, semua terserah keinginan sang kusir. Jangan salahkan keledai kenapa ia salah berjalan, atau kenapa ia tidak mampu lagi berjalan. Kusirnyalah yang bertanggung jawab. Mungkin sang kusir lupa arah perjalanan, teledor dan mungkin ia tidak pernah memperlakukan keledainya dengan baik. Sang keledai tidak diberi makanan dan minuman yang baik, istirahat yang cukup, atau mungkin tidak pernah diberi perlakuan yang menyenangkan.</p>
<p>Maka seperti apakah perlakuan kita pada diri kita sendiri? Apakah badan kita selalu dicukupi dengan hal yang baik-baik, atau justru yang merusak. Juga, apakah badan kita selalu dihibur dengan hiburan yang baik atau justru dibiarkan selalu menderita dan kelelahan? Jauh-jauh hari Nabi kita Muhammad saw. mengingatkan akan pentingnya perawatan diri. Sabdanya</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya padamu ada kewajiban menunaikan hak atas tubuhmu&#8221;</em>(HR. Imam Bukhari).</p>
<p>Salah satu hak yang kita harus tunaikan adalah istirahat dan hiburan. Agama kita juga bukan agama yang mendewakan penyiksaan diri dengan dalih ibadah. Rasulullah saw. malah dikabarkan pernah marah pada sekelompok anak muda &#8216;ngotot&#8217; ingin beribadah. Salah satunya pengen puasa terus-terusan dan yang lainnya nggak pernah mau istirahat karena pengen ibadah sepanjang malam. Beliau marah bukan sekedar karena mereka mengada-ada, tapi juga karena mereka berarti melupakan hak buat badan mereka. &#8220;<em>Barangsiapa yang tidak menyukai sunahku maka bukan golonganku,&#8221;</em> nasihat beliau.</p>
<p>Jangan lupa, seperti halnya badan kita, hati dan pikiran pun membutuhkan hiburan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib <em>karamallahu wajhah</em> mengatakan, &#8220;Hiburlah hati waktu demi waktu, karena jika dipaksa ia menjadi buta.&#8221;</p>
<p>Ya, badan dan pikiran kitapun membutuhkan istirahat. Mengabaikan itu semua berarti melakukan kedzaliman pada diri kita.</p>
<p align="center">* * * * * *</p>
<p><em>Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat</em>. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Kekuatan tubuh justru ditentukan oleh kekuatan jiwa, oleh pikiran kita. Jiwa dan tubuh yang kuat lahir dari pikiran yang sehat. Misalnya selalu? berpikiran positif, optimistis, tidak mudah cemas apalagi pesimistis, selalu curiga, dsb. Dalam dunia kedokteran modern kini sudah ditemukan hubungan antara kesehatan fisik dengan kesehatan mental. Ternyata kesehatan mental memberikan pengaruh yang sangat besar pada kesehatan tubuh. Mereka yang selalu cemas biasanya rentan terkena berbagai penyakit, seperti gangguan jantung.</p>
<p>Pikiran yang sehat hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa dekat pada Allah dan membina diri dengan berbagai pemahaman agama. Coba kita lihat, agama kita, Islam, senantiasa mengajak pemeluknya untuk memiliki aneka pikiran positif: husnudzan, optimisme dan penuh harapan, serta pasrah dan ikhlas atas segala ketentuan Allah. Bukankah itu sebagian dari pikiran-pikiran yang baik?</p>
<p>Maka kendali diri itu adalah memperkaya akal dan hati kita dengan pemahaman agama. Ruang akal dan hati yang diisi dengan pemahaman agama akan membentuk karakter dan tubuh yang kuat. Kebiasaan makan, minum, cara berpakaian, dan perilaku kita amat erat dengan pola pikir kita. Hanya orang-orang yang kaya dengan pemahaman agama-lah yang akan mendapatkan kemuliaan dan kebaikan. Dari agama kita jadi tahu misalkan, bahwa minuman keras berpotensi merusak kesehatan jantung, ginjal dan syaraf manusia. Demikian pula narkoba. Sementara itu makan dan minum yang berlebihan juga membuat organ-organ pencernaan kita bekerja tidak normal sehingga dapat mengganggu kesehatannya.</p>
<p>Sesungguhnya kekuatan pikiran amatlah dahsyat. Sebuah penelitian di Brookhaven National Laboratory Uptown New York, menemukan jawaban mengapa orang gemuk makan lebih banyak. Yakni karena otak mereka, khususnya bagian yang mengatur rasa nikmat makanan pada mulut, lidah dan bibir, lebih aktif serta sensitif merasakan nikmatnya makan lebih dibanding orang yang kurus. Bisa disimpulkan bahwa pikiran berpengaruh luar biasa pada pola makan seseorang. Jadi, sebelum orang melakukan berbagai diet atau mengkonsumsi makanan non-kolesterol dan obat-obat pelangsing lainnya, mereka terlebih dahulu harus mengendalikan pikiran mereka soal makanan.</p>
<p>Di bulan puasa inilah kesempatan kita untuk melatih pikiran dan mengendalikan diri kita. Karena puasa seperti kata Rasulullah adalah perisai diri, puasa melatih kekuatan pikiran kita dari makan, minum bahkan berbagai akhlak yang tercela. Inilah saatnya sang kusir melatih keledainya agar dapat bekerja sebaik-baiknya. Agar perjalanan mereka berdua selamat sampai tujuan. Maka, sobat, kendalikan tubuh kita dengan pikiran kita. Jadikan badan kita sebagai sebaik-baiknya tunggangan, dan perlakukan ia dengan adil sesuai haknya.[januar]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi pekan kedua Nopember 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kusir-dan-keledai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaatkan Momen Awal Tahun!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/manfaatkan-momen-awal-tahun</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/manfaatkan-momen-awal-tahun#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 00:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3268</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 115/tahun ke-3 (18 Muharram 1431 H/4 Januari 2010)
 
Sebuah message singkat di HP dan email gue seminggu yang lalu mengingatkan kalo minggu ini sudah waktunya gue nulis lagi buat gaulislam. Pertama baca seneng sekaligus sedih. Seneng karena bisa ketemu lagi dengan para pembaca setia gaulislam. Namun sedih karena waktunya pas banget dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 115/tahun ke-3 (18 Muharram 1431 H/4 Januari 2010)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah <em>message</em> singkat di HP dan email gue seminggu yang lalu mengingatkan kalo minggu ini sudah waktunya gue nulis lagi buat gaulislam. Pertama baca seneng sekaligus sedih. Seneng karena bisa ketemu lagi dengan para pembaca setia gaulislam. Namun sedih karena waktunya pas banget dengan libur panjang. Karena dikejar deadline, jadi nggak bisa all out nih selama liburan. Eh emang liburan ini gue mau ngapain ya? Hmmm… setelah mikir 3 Jam 10 menit 3 detik, kok masih blank! Walah kok blank? Gue lupa bikin rencana liburan! Ohh noooo.</p>
<p style="text-align: justify;">Emang setiap akhir tahun selalu ditandai dengan musim liburan yang panjang. Waktu liburan yang cukup lama ini praktis bikin kita enjoy banget. Sehingga ujungnya kita malah lupa nggak ngapa-ngapain alias nggak <em>planning</em> libur panjang ini mau buat apa. Situasi yang sama juga ngga beda jauh bagi para pekerja. Karena stres dan beban kerja yang entah kenapa nggak ada habisnya, tiap kali ketemu ama yang namanya liburan, mereka seneng banget, persis kayak kodok ketemu aer, eh nyambung nggak sih? Bagi mereka yang penting tidak kerja dan bisa menikmati hari-hari nyantai tanpa tekanan kerjaan dan deadline.<span id="more-3268"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari awal bulan Desember kemaren, suasana sudah berubah dengan drastis. Semua target harus beres dalam waktu singkat. Alhasil, dari awal bulan, load sudah tinggi. Para pekerja ngejar taget kerjaan mereka, anak-anak sekolah juga ujian di bulan tersebut. Sehingga selesai ujian nyetel banget dengan jadwal libur panjang. Intinya semua kegiatan rutin dipaksakan untuk <em>match</em> dengan liburan. Dalam hal ini, liburan tidak bisa diganggu gugat, alias penting banget gitu loh. Selain itu pergantian tahun selalu diwarnai dengan perayaan yang katanye untuk memperingati pergantian waktu. Sepertinya perayaan tersebut untuk menghargai waktu yang telah berlalu, tapi kenyataannya apakah demikian?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, mumpung masih di bulan Muharram, yang juga bertepatan dengan bulan Januari di hitungan kalender masehi, kita coba bahas masalah ini dari sudut pandang Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Urgensi Waktu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di antara ciri seorang muslim adalah pribadi yang konsen pada waktu. Seorang muslim seharusnya tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya. Sebab, mengelola waktu merupakan kewajiban pribadi bagi seorang muslim. Islam menganggap perhatian terhadap pentingnya waktu adalah salah satu indikasi keimanan dan bukti ketakwaan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Alloh di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi orang-orang yang bertakwa.”</em> <strong>(QS Yunus [10]: 6)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pren, Islam menempatkan ibadah ritual dalam bagian waktu, seperti sholat 5 waktu yang mengepung seluruh hari, Ibadah haji, puasa, zakat dan ibadah lainnya. Bagi seorang muslim, menghargai waktu dan menjaga penggunaannya sudah merupakan menu harian, yang mungkin tanpa kita sadari sudah kita anggap sebagai sebuah kebiasaan. Karena kita tinggal di negara yang sebagian besar penduduknya muslim, penyesuaian aktivitas dengan jadwal ibadah kita, bukan lagi sesuatu yang aneh. Lain halnya kalo kita ada di negeri yang didominasi oleh masyarakat non muslim. Pernah suatu ketika gue di negeri orang, suatu pagi gue keluar hotel untuk berangkat ke kantor. Gue inget bener waktu itu pukul 7.30 pagi. Lha kok sepi bener jalan raya? Pada kemana nih orang-orang? Setelah clingak-clinguk nggak karuan, baru sadar kalo ternyata orang-orang di sini baru mulai beraktivitas, dan suasana di sono mirip banget dengan suasana kalo jam 6 pagi di Bogor.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, jangan dikira waktu diberikan begitu saja tanpa adanya pertanggung jawaban kelak di akhirat. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): <em>“Dua telapak kaki hamba tidak akan bergeser dari tempatnya pada hari kiamat nanti, sehingga ditanya tentang empat hal: tentang umurnya—dalam hal apa ia dihabiskan?; tentang masa mudanya—dalam hal apa ia dibinasakan; tentang hartanya—dari mana diperoleh dan dalam hal apa diinfakkan?; serta ilmunya—apa yang dia lakukan dengannya?”</em> <strong>(HR at-Turmudzi)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pentingnya waktu dalam Islam sehingga pemanfaatannya pun akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Walaupun kita memperolehnya gratis banget, tapi kita tetap tidak terlepas dari tanggung jawab sehingga kudu menggunakannya dengan baik. Dari semua hal dalam Islam, masalah waktu ternyata menduduki tempat yang sangat penting. Itu sebabnya, para ulamapun sangat menghargai waktu. Sebagai contoh adalah pendapat Ibnu Qoyyim dari kitab al-Fawaid: “Sikap menyia-nyiakan terbesar adalah menyia-nyiakan hati dan waktu. Menyia-nyiakan hati timbul dari mengutamakan dunia atas akhirat, sedang meyia-nyiakan waktu muncul dari panjang angan-angan. Seluruh kerusakan berhimpun pada sikap mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan, sebagaimana seluruh kebaikan berhimpun pada sikap mengikuti petunjuk Allah Swt. dan bersiap-siap untuk berjumpa Allah Ta’ala yang maha dimintai pertolongan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, anggaplah sebuah lempengan besi seharga 50 rupiah. Kalo besi tersebut dicetak dalam bentuk baut, harganya pun berubah menjadi lebih mahal, mungkin jadi 500 rupiah. Kalo dicetak dalam bentuk pisau, harganya bisa jadi ribuan rupiah. Lain lagi kalo dicetak menjadi arloji, harganya bisa menjadi ratusan ribu dan bahkan jutaan rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu ibarat lempengan besi. Sejauh mana upaya yang dicurahkan untuk mengelola, mengorganisir dan mengoptimalkan pemanfaatannya, maka sejauh itu pula harga yang dimilikinya. Selain itu kita juga kudu inget kalo waktu adalah modal paling unik yang kita punya, karena modal tersebut tidak mungkin diganti dan tidak mungkin disimpan dulu baru kita pake nanti. Dan kita juga tidak mungkin membeli waktu yang kita butuhkan. So, artinya waktu adalah sesuatu yang tetap, tidak bisa diganggu-gugat, <em>so take it or leave it</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Momen awal tahun dan cara pemanfaatannya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Karena kebetulan pas banget artikel ini dengan awal tahun 1431 hijriah dan bertepatan dengan tahun 2010, <em>so</em> mari kita gali lebih dalem bagaimana kita bisa memanfaatkan momen awal tahun untuk bisa mengoptimalkan pemanfaatan waktu kita setahun ke depan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, permasalahan utama dalam pemanfaatan waktu adalah banyaknya kegiatan atau keinginan yang pengen kita kerjakan namun terbatasnya waktu yang kita punya. <em>So</em>, langkah pertama kita harus menentukan target/prioritas tahunan kita. Prioritas adalah semua hal yang kita anggap penting untuk bisa terlaksana. Namun perlu diingat, prioritas di sini tidak boleh bertentangan dengan Islam. Itu sebabnya,  jangan deh merencanakan mau ngerampok, maling ato nyopet, mending cari prioritas lain yang lebih syari semacam, naik haji, qurban, atawa bisa sadaqah reguler.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, untuk membuat prioritas dapat dimulai dengan menuliskan semua hal yang ingin kamu capai/kerjakan dalam tahun ini. Setelah daftar selesai, kemudian buatlah prioritas mana yang lebih penting untuk dicapai terlebih dahulu. Langsung susun ulang daftar target tahunan kamu sesuai dengan skala prioritasnya. Bila daftar sudah selesai, coba <em>cross check</em> dengan orang lain mengenai daftar prioritas tahunanmu. Ini penting untuk memastikan kita telah menyusun prioritas dengan optimal. Oya, ini karena manusia cenderung menyusun prioritas sesuai dengan keinginannya/hal yang disukainya, bukan berdasar pada hal yang diperlukannya/dibutuhkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, bila target tahunan sudah dibuat, pikirkan kapan target tersebut mau dicapai dalam tahun ini. Misal pengen bisa zakat fitrah tahun ini, kudu dilihat di kalender kapan bulan ramadhan akan tiba tahun ini. Jangan sampai kelewat bulan ramadhan baru inget, itu namanya pengen doang tapi nggak serius. Nah, untuk memastikan kita tidak lupa, bisa dengan cara tandain tuh kalender di kamarmu, atau tempel target tahunanmu di dinding kamar plus masukin semua target kamu dan waktunya ke remainder HP kamu. HP jangan hanya dipake untuk <em>facebook</em>-an ama sms-an doang.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat, bila target tahunan sudah beres, saatnya untuk break down ke target bulanan. Sesuaikan dengan target tahunan kamu yang ingin dicapai. misal pengen bayarin zakat harta, kudu dihitung dari awal, berapa jumlah uang yang harus kita keluarkan untuk zakat tersebut. Kalo kudu nabung dulu, bisa direncanakan dari awal tahun, kapan kita mulai nabungnya. Dalam membuat target bulanan bisa juga kita tambahkan jadwal ibadah sunah tahunan.  Misalmnya, kapan kita harus puasa sunah dalam setahun. Kalo ramadhan kemaren bolong-bolong puasanya, bisa kita rencanakan kapan untuk meng-qodhonya sebelum datang ramadhan tahun ini, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelima, bila target bulanan sudah beres, masukkan ke dalam remainder kamu, bisa berupa kalender yang dicoret-coretin, diary, remainder HP kamu ato semua sistem yang biasa kamu pake untuk mengingatkan kamu, akan hal-hal yang penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Keenam, dengan metode yang sama, bisa kamu gunakan untuk menyusun target mingguan dan harian kamu. Cuma dari pengalaman gue, sebaiknya berhenti sampai target mingguan saja. Sebab, gue pernah bikin. Di awal gue bikin target gue sampai harian. Eh, yang terjadi alhamdullilah memang kepengenan gue banyak yang tercapai. Cuma kemudian kita jadi nggak manusia lagi, loh? Jadi setan? Nggak juga, cuma kita jadi cenderung selfish (mementingkan kepentingan kita sendiri). Kita jadi ngga flexsibel lagi, karena bagaimana pun juga, pasti akan muncul hal-hal yang sifatnya aksidental dan tidak bisa kita prediksi sebelumnya. Sebagai manusia kita harus bisa mengakomodasi perubahan mendadak ini, dan tetap mempertahankan kemampuan kita sebagai makhluk yang luwes dan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan realita di sekitar kita. <em>So</em>, tidak perlu kamu menyusun jadwal sampai detail sekali, karena harus tetap disediakan waktu untuk hal-hal yang tidak terduga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketujuh, pindahkan target yang belum tercapai dalam satu minggu ke minggu berikutnya dan jangan sampai target mingguan meleset lebih dari satu bulan. Demikian juga dengan target bulanan yang meleset, jangan sampai target tersebut meleset lebih dari 2 bulan. Selalu perhitungan waktu cadangan untuk hal-hal yang di luar perencanaan kita. Satu-satunya cara untuk memastikan target kita selalu <em>on schedule</em> adalah keseriusan kita sendiri untuk mengelola hidup kita. Kalo kita sendiri tidak serius mengelola hidup kita, terus siapa lagi?</p>
<p style="text-align: justify;">Kedelapan, untuk menjadikan target kita tetep realistis, secara reguler siapkan waktu untuk mengevaluasi target kita. Oya, kalo mau mengevaluasi target bulanan waktu yang paling baik adalah awal bulan. Demikian juga untuk evaluasi target mingguan, paling pas dilakukan diawal minggu. Dalam melakukan evaluasi. coba kenali kegiatan kamu yang sifatnya dinamis. Pergi ke sekolah dan les, adalah dua contoh kegiatan yang waktunya tetap alias nggak dinamis. Kegiatan semacam ke toko buku, ke pasar atau bahkan ngaji bisa dikategorikan kegiatan dinamis, karena tidak begitu pasti kapan selesainya, kita hanya bisa memperkirakan saja. Alokasikan waktu yang cukup untuk kegiatan yang sifatnya dinamis dan hindarkan dari berbagai hal yang bisa memalingkan kita dari kegiatan yang sifatnya dinamis tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesembilan, padukan aktivitas yang serupa dan kenalilah aktivitas yang dapat dilakukan secara beriringan. Hapus aktivitas tidak penting dari daftar targetmu. Delegasikan tugas yang memungkinkan untuk didelegasikan ke orang lain. Selalu bersiap untuk berinteraksi dengan hal-hal darurat, bila datang sebuah tugas darurat (di luar rencana) segera evaluasilah dan sesuaikan dengan targetmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesepuluh, setiap orang memerlukan waktu istirahat/waktu luang. Nah, karena hal ini merupakan kebutuhan, maka harus direncanakan juga. Rencanakan waktu istirahat/refreshing kamu dengan baik. Gunakan waktu luang kamu untuk dirimu sendiri, berinteraksi dengan teman, keluarga dan lingkunganmu. Coba atur dan seimbangkan kehidupan kamu antara ibadah, mengejar target kamu dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitarmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesebelas, nggak perlu menjadwal setiap detik waktu kamu, karena ini sudah termasuk dalam hal berlebih-lebihan, tetap jadikan jadwal kamu se-fleksibel mungkin, dan selalu siap terhadap hal-hal di luar rencana. Sehingga bila hal tersebut terjadi, kita bisa mengantisipasinya dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduabelas, semua ini membutuhkan keseriusan. Jadi jangan setengah-setengah kalo kamu mau mengeksekusi jadwal tahunan kamu, siapkan dengan matang rencana dan keperluan lainnya jauh-jauh hari, dan tetep semangat dalam meraih target-target tahunan kamu, jangan mudah menyerah. Ingat, keinginan memerlukan keseriusan, tanpa keseriusan percuma!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang muslim, mengatur waktu sama halnya dengan mengatur hidup kita. Ada bagian yang telah diatur dengan jelas oleh syariat dan ada bagian yang kita bebas mengaturnya. Tanpa perencanaan yang matang terhadap penggunaan waktu dalam hidup kita, akan menjadikan waktu yang kita lewati berlalu begitu saja, percuma tanpa makna dan manfaat, baik bagi dunia maupun akhirat kita. Rasullullah saw. bersabda (yang artinya): <em>“Penghuni surga tidak menyesali sesuatu, melebihi penyesalannya pada waktu yang dilampauinya tanpa mengingat Allah Azza wa Jalla”</em> <strong>(Ibnu Katsir, dalam al-Bidayah wa an-Nihayah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tuh Bro, orang yang sudah masuk surga saja menyesal, karena berlalunya waktu percuma tanpa tanpa ibadah, apalagi kita yang belum tentu masuk surga. Yuk, sudah seharusnya kita lebih berhati-hati dalam merencanakan waktu kita, dan selalu menempatkan waktu dalam posisi yang tinggi. Semoga artikel ini bermanfaat dan pastikan hanya Allah Swt. sajalah yang ada dalam setiap hal dan langkah kita. Sebab, segalanya kita lakukan demi meraih ridhoNya. Semangat! <strong>[aribowo | aribowo@gaulislam.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/manfaatkan-momen-awal-tahun/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhir Petualanganku</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 18:12:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2420</guid>
		<description><![CDATA[Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. 
Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sejak perceraian orangtuaku, aku tumbuh lebih banyak di luar rumah. Aku menikmati dunia dengan teman-temanku. Hidup ini terlalu sakit bagiku. Lukaku mungkin telah sembuh, tapi aku pasti tak akan lupa pada sakitnya. </em></strong></p>
<p>Aku masih kelas 3 SD ketika orangtuaku bercerai. Belum tahu apa pun tentang masalah orangtua. Jangankan itu, aku masih asyik bermain tanpa beban. Aku hanya tahu, suatu hari di rumah ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku perhatikan beberapa bulan terakhir itu orangtuaku memang sering bertengkar. Setelah itu, ayahku tak pernah pulang lagi ke rumah. Dengar-dengar dari tetangga, katanya ayahku menikah lagi. Aku masih tak mengerti. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti persoalan besar dan rumit bagi otakku.</p>
<p>Waktu terus berjalan, usiaku pun bertambah. Aku menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah ketika kakak laki-lakiku yang pertama pindah ke kota lain karena harus studi di sana. Aku masih punya satu kakak perempuan dan tiga adik perempuan. Sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah, seharusnya aku lebih dewasa. Lebih mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi ayah sudah jarang datang ke rumah lagi meski masih memberi nafkah buat kami. Seringnya bahkan uang buat kami dititipkan lewat kawan ayah. Dan itu membuat aku dan saudara-saudaraku terbiasa hidup tanpa kehadiran ayah dan curahan kasih-sayangnya. Ayah tak lagi menemani kami di rumah dengan cerita dan canda. Padahal jujur saja, kehadiran ayah sangat kami rindukan.<span id="more-2420"></span></p>
<p><strong>Aku membenci ayah</strong></p>
<p>Setelah aku SMP dan pergaulanku mulai luas, aku sering iri dengan kawan-kawanku yang keluarganya utuh dan harmonis. Aku sering menangis dalam hati setiap pembagian rapot hanya ibu yang hadir. Aku sakit hati. Apalagi ayah sepertinya melupakan aku dan saudaraku. Berbagai macam cerita dan omongan dari tetangga, kerabat, teman, dan aku saksikan sendiri kelakuan ayah, mulai tumbuh dalam perasaanku untuk membenci ayah.</p>
<p>Bahkan sejak ayah jarang memberi nafkah, dan ibu harus banting tulang untuk menyekolahkan keenam anaknya, aku kian menggunungkan perasaan benciku pada ayahku sendiri. Waktu terus berjalan sementara aku tak menemukan tempat yang baik untuk muara emosiku. Akhirnya aku menemukan hidupku di jalanan. Ya, di saat aku masih labil itulah, aku bergaul dengan teman-teman berandalanku.</p>
<p>Aku tak bisa mengendalikan diri. Kebencianku kepada ayah akhirnya menjadi justifikasi atas semua perbuatanku. Aku mencari perhatian dari ayah. Sebenarnya bukan untuk mencari perhatian sih, karena dalam hati kecilku tersimpan rencana jahat, bahwa aku harus membuat perhitungan dengan ayahku. Aku berharap, dengan aksi ini ayah dibuat pusing.</p>
<p><strong>Ikut kakak lelakiku</strong></p>
<p>Aku benar-benar berada di luar kendali. Hubunganku dengan kawan-kawan di jalanan terus intensif. Rumah aku jadikan tempat transit saja. Malam hari lebih banyak aku habiskan di luar bersama kawan-kawanku. Tentu saja membuat ibu kecewa. Aku juga tak paham mengapa aku bisa terlalu jauh berubah seperti itu. Waktu itu aku akan masuk SMA, untuk biaya pendaftaran saja ibuku tak punya. Tapi demi masa depan anak, ibu rela meminjam uang ke famili dan tetangga karena mengandalkan hasil penjualan pakaian yang dikreditkan harus menunggu lebih lama.</p>
<p>Anehnya aku waktu itu, meski telah masuk SMA negeri, tapi karena beda kecamatan dan harus kos, aku mulai rewel. Aku bilang kejauhan dan nggak betah. Padahal, sejatinya aku tak bisa bergaul dengan kawan-kawanku yang berandalan itu. Yang menurutku mampu menjadi muara emosiku. Akhirnya, aku dipindah ke sekolah yang dekat dengan rumah.</p>
<p>Tapi, itu tak berlangsung lama. Ibu merasa khawatir dengan pergaulan yang aku jalani, akhirnya dengan sangat terpaksa setelah dibujuk ibu dan paman, aku memutuskan untuk ikut dengan kakakku di kota lain, yang kebetulan waktu itu sudah lulus sekolah dan bekerja.</p>
<p>Ibu dan keluarga berharap aku lebih bisa tenang karena dijaga kakakku yang lelaki. Aku memang menaruh hormat kepadanya, meski menyebalkan juga dengan banyaknya aturan ini dan itu. Terutama soal agama. Mungkin ini pula yang membuat ibu yakin bahwa aku akan aman tinggal bersama kakak lelakiku.</p>
<p>Di kota bersama kakakku, aku justru menemukan dunia baru. Aku banyak bergaul dengan anak-anak kota. Kakakku memang menyekolahkan aku di sebuah sekolah negeri. Dengan harapan pergaulannya terjaga. Tapi dalam perjalanannya, aku justru telah mengkhianati kepercayaan kakakku. Uang SPP yang diberikan tiap bulan justru aku habiskan di meja bilyard bersama rekan-rekanku. Prestasi di sekolahku hancur. Kakakku tentu saja kecewa. Tapi ia tak banyak bicara, hanya sesekali saja menasihatiku. Justru itu yang membuat aku malu. Untuk meredam kelakuanku aku sengaja dititipkan di teman kerjanya. Di sini memang aku jadi lebih bebas, tapi keuangan terbatas. Mungkin kakakku berharap aku mulai mikir. Tapi tidak. Aku semakin kacau.</p>
<p><strong>Petualangan baru</strong></p>
<p>Petualanganku di kota bersama kakak berakhir setelah aku lulus SMA dengan predikat yang tak memuaskan. Aku pamitan dan akhirnya aku pergi ke kota lain ikut bersama pamanku. Aku jalani hidup di bengkel, jadi tukang cuci mobil, dan apa saja yang aku bisa lakukan. Sedih juga. Tapi itulah yang harus aku lakukan. Mau tidak mau. Anehnya, di sini pun aku seperti ditakdirkan untuk bertemu dengan berandalan. Aku pun larut lagi dalam dosa dan maksiat.</p>
<p>Kondisi ini membuat kakakku kecewa, ibu kecewa, juga adik-adikku menaruh ketidakpercayaan kepadaku. Sekitar lima tahun sejak lulus SMA aku jalani kehidupan liar. Bahkan semakin liar karena lepas dari pengawasan ibuku. Jika kakakku jarang marah dan hanya sesekali ngasih nasihat, tidak dengan pamanku yang memang polisi. Aku sering dimarahi. Tapi aku tahu diri, bahwa aku memang salah. Akhirnya aku pindah dan kos, meski akhirnya balik lagi karena pergaulanku tambah parah.</p>
<p>Setelah sekian lama bertualang, aku lelah. Cukup lelah. Sampai ibuku merasa perlu memaksaku untuk segera berkeluarga saja. Karena ibu menganggap itu jalan terbaik untuk meredam gejolak jiwa liarku. Itu sebabnya, ketika aku mendapatkan seorang gadis, ibu buru-buru memintaku menikah. Awalnya aku tidak menurut, hingga ibu jatuh sakit parah dan dirawat di RS, tapi kemudian aku sadar dan mau menikah.</p>
<p>Kini aku sudah menikah. Semoga ibu dan saudaraku mau memaafkan kesalahanku selama ini. Aku sering merenung dan aku berusaha untuk lebih baik dalam hidup. Karena, sebentar lagi aku akan punya anak, sangat malu jika bapaknya tetap seorang berandalan. Semoga kuat melangkah di jalan yang baru kupilih ini. <strong>[seperti dituturkan seorang ikhwan kepada SoDa]</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2006]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/akhir-petualanganku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 19:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[matematik]]></category>
		<category><![CDATA[sinus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.? Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.? Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.</p>
<p>Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M &#8211; 1036 M).? Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk <em>al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century,</em> mengungkapkan, bahwa? Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.</p>
<p>&#8220;Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,&#8221; ungkap Scheppler.? Ahli sejarah Matematika John Joseph O&#8217;Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur? terlahir di kawasan? Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam <em>The Regions of the World</em>, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.<span id="more-2502"></span></p>
<p>Keluarganya &#8220;Banu Iraq&#8221; menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. &#8220;Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,&#8221; tutur O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu&#8217;l-Wafa (940 M &#8211; 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni? Al-Biruni (973 M &#8211; 1048 M).</p>
<p>Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.</p>
<p>Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.</p>
<p>Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma&#8217;mun dan menjadi penasihat Abu&#8217;l Abbas Ma&#8217;mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.</p>
<p>Ali ibnu Ma&#8217;mun dan Abu&#8217;l Abbas Ma&#8217;mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu.? Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.</p>
<p>Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan.? Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.</p>
<p><strong>Kontribusi Sang Ilmuwan</strong></p>
<p>Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.</p>
<p>Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri.? Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi? Romawi bernama? Claudius Ptolemaeus (90 SM &#8211; 168 SM).</p>
<p>Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM &#8211; 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.</p>
<p>Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama? al-Biruni. &#8221; Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.?? Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,&#8221;? papar? ahli sejarah Matematika John Joseph O&#8217;Connor dan Edmund Frederick Robertson</p>
<p>Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya? dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.</p>
<p>Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam <em>The Spherics of Menelaus</em>.</p>
<p>Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang? mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas <em>spherical astronomy</em> (bentuk astronomi).</p>
<p>Abu Nasr juga mengembangkan <em>The Spherics of Menelaus</em> yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk <em>Almagest</em>.</p>
<p>&#8220;Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,&#8221; jelas O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:</p>
<p>a/sin A = b/sin B = c/sin C.</p>
<p>&#8220;Abu&#8217;l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,&#8221; ungkap O&#8217;Cornor dan Robertson.</p>
<p>O&#8217;Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M &#8211; 1000 M).</p>
<p>Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya <em>Biography in Dictionary of Scientific Biography</em> (New York 1970-1990). &#8220;Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,&#8221; katanya.</p>
<p>Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.</p>
<p><strong>Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr</strong></p>
<p>Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.<br />
Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.</p>
<p>Abu Nasr telah &#8216;melahirkan&#8217; seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. &#8220;Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,&#8221; cetus Sarton.</p>
<p>Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.</p>
<p>Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai &#8216;Bapak Indologi&#8217; &#8211; studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai &#8216;Bapak Geodesi&#8217;.</p>
<p>Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai &#8216;antropolog pertama&#8217; di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.</p>
<p>Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. hri/ des/she <a href="http://republika.co.id/berita/50088/Abu_Nasr_Mansur_Sang_Penemu_Hukum_Sinus" target="_blank"><strong>[REPUBLIKA]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PSIKOLOGI dalam ISLAM</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/psikologi-dalam-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/psikologi-dalam-islam#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 17:32:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3204</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su’), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutma’innah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur. <span id="more-3204"></span></p>
<p>Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).</p>
<p>Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).</p>
<p>Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).</p>
<p>Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, “Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists,” Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).</p>
<p>Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam. <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=169&amp;Itemid=62" target="_blank"><strong>[insists]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/psikologi-dalam-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perayaan Tahun Baru Berbagai Bangsa dan Umat di Dunia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 11:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3263</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Umar Abdullah*
Perayaan Tahun baru adalah suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Bangsa-bangsa atau umat yang mempunyai kalender tahunan biasanya mempunyai perayaan tahun baru. Tapi apakah semua umat merayakan tahun barunya? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, kami berusaha menelusuri kembali sejarah perayaan tahun baru berbagai bangsa dan umat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Umar Abdullah*</strong></p>
<p>Perayaan Tahun baru adalah suatu <a title="Budaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya">budaya</a> merayakan berakhirnya masa satu <a title="Tahun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun">tahun</a> dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Bangsa-bangsa atau umat yang mempunyai <a title="Kalender" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender">kalender</a> tahunan biasanya mempunyai perayaan tahun baru. Tapi apakah semua umat merayakan tahun barunya? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, kami berusaha menelusuri kembali sejarah perayaan tahun baru berbagai bangsa dan umat di dunia serta hukum merayakannya bagi kaum muslimin.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perayaan Tahun Baru Umat Yahudi</strong></p>
<p><a title="Agama Yahudi" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Agama_Yahudi">Agama</a> dan Umat <a title="Yahudi" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Yahudi">Yahudi</a> merayakan Tahun Baru mereka tidak pada hari ke-1 bulan ke-1 Kalender Ibrani (bulan Nisan), tetapi pada hari ke-1 bulan ke-7 <a title="Kalendar Ibrani (tidak wujud)" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Kalendar_Ibrani&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kalendar Ibrani</a> (bulan <a title="Tishrei (tidak wujud)" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Tishrei&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tishrei</a>). Umat Yahudi menyebut Perayaan Tahun Baru mereka dengan nama Rosh Hashanah, yang berarti “Kepala Tahun”.</p>
<p>Rosh Hashanah ini digunakan umat Yahudi untuk memperingati <a title="Penciptaan (teologi) (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penciptaan_%28teologi%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">penciptaan</a> dunia seperti yang ditulis dalam kitab mereka. Mereka merayakannya dengan cara <a title="Ibadat Yahudi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ibadat_Yahudi&amp;action=edit&amp;redlink=1">b</a>erdoa di <a title="Sinagoga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sinagoga">sinagog</a>, mendengar bunyi <em><a title="Shofar (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Shofar&amp;action=edit&amp;redlink=1">shofar</a></em> (tanduk). Menyediakan makanan pesta berupa roti <a title="Challah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Challah">challah</a> yang bundar dan apel yang dicelupkan ke dalam madu, juga kepala <a title="Ikan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan">ikan</a> dan buah <a title="Delima" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Delima">delima</a>. <a title="Buah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buah">Buah-buahan</a> baru disajikan pada malam kedua. Pada Perayaan Tahun Baru ini mereka beristirahat dari aktivitas kerja.<span id="more-3263"></span></p>
<p>Jika memakai <a title="Kalender Gregorian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorian">kalender Gregorian</a> (Kalender Masehi), Tahun Baru Yahudi ini dirayakan pada bulan September. Misalnya tahun 2008 M <a title="Rosh Hashanah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rosh_Hashanah">Rosh Hashanah</a> jatuh pada 29 September 2008. Tanggal itu ekivalen dengan tanggal 1 Tishrei 5769 AM (<em>Anno Mundi</em>). <a title="Anno Mundi" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anno_Mundi">Anno Mundi</a> adalah bahasa latin yang artinya “dalam hitungan tahun dunia”, disingkat <em>A.M.</em> karena orang Yahudi menganggap kalender mereka dimulai dari tanggal kelahiran <a title="Adam" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Adam">Adam</a>. Menurut perhitungan Kalender Ibrani, tanggal 1 bulan Tishrei tahun ke-1 AM adalah ekivalen dengan hari Senin, tanggal 7 Oktober tahun  <a title="3761 BCE" href="http://en.wikipedia.org/wiki/3761_BCE">3761 BCE</a> dalam Kalender Julian (Kalender Romawi Kuno).</p>
<p>Ketika Panglima Pompey dari Kekaisaran Romawi Kuno menguasai Yerusalem pada tahun 63 SM, orang-orang Yahudi mulai mengikuti Kalender Julian (Kalender Bangsa Romawi yang menjajahnya). Dan setelah berdiri negara Israel pada tahun 1948 M, mulai tahun 1950an M Kalender Ibrani menurun penggunaannya dalam kehidupan bangsa Yahudi sekuler. Mereka lebih menyukai Kalender <a title="Gregorian Calendar" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gregorian_Calendar">Gregorian</a> untuk kehidupan pribadi dan kehidupan publik mereka. Dan sejak tahun 1980an, bangsa Yahudi sekuler justru mengadopsi kebiasaan Perayaan Tahun Baru Gregorian (Tahun Baru Masehi) yang biasanya dikenal dengan sebutan ”Sylvester Night” dengan berpesta pada malam 31 Desember hingga 1 Januari.</p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Cina</strong></p>
<p>Bangsa Cina merayakan tahun baru mereka pada malam bulan baru pada <a title="Musim dingin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim_dingin">musim dingin</a> (antara akhir <a title="Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Januari">Januari</a> hingga awal <a title="Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Februari">Februari</a>) atau jika memakai kalender Gregorian tahun baru ini terletak antara 21 <a title="Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Januari">Januari</a> hingga 20 <a title="Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Februari">Februari</a>. Mereka menyebutnya dengan nama Imlek.</p>
<p>Perayaan ini dimulai di hari ke-1 bulan pertama (zh?ng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan <a title="Cap Go Meh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cap_Go_Meh">Cap Go Meh</a> di tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Ch?x? yang berarti “malam pergantian tahun”.</p>
<p>Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun secara umum berisi perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan <a title="Kembang api" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kembang_api">kembang api</a>. Lampion merah digantung selama perayaan Tahun Baru Imlek sebagai makna keberuntungan. Selama perayaan tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat: “G?ngx? f?c?i” yang artinya “selamat dan semoga banyak rejeki”.</p>
<p>Tahun Baru Imlek dirayakan oleh orang Tionghoa di Daratan Tiongkok, Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, Jepang (sebelum 1873), Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan tempat-tempat lain.</p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Persia</strong></p>
<p>Orang Persia menamakan perayaan tahun baru mereka dengan nama <em>Norouz</em>. Norouz adalah perayaan (hari pertama) <a title="Musim semi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim_semi">musim semi</a> dan awal <a title="Kalender Iran (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kalender_Iran&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kalender Persia</a>. Orang Persia punya Kalender Persia yang didasarkan dari <a title="Musim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim">musim</a> dan pergerakan matahari. Kata ”norouz” berasal dari <a title="Bahasa Avesta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Avesta">bahasa Avesta</a> yang berarti “hari baru”. Oleh bangsa Persia, hari ini dirayakan pada tanggal <a title="21 Maret" href="http://id.wikipedia.org/wiki/21_Maret">21 Maret</a> jika memakai Kalender Gregorian..</p>
<p>Sejak Kekaisaran Dinasti <a title="Parthian Empire" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Parthian_Empire">Arsacid</a>/ <a title="Parthian Empire" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Parthian_Empire">Parthian</a>, yang memerintah Iran pada 248 SM-224 M, Norouz dijadikan hari libur. Mereka merayakannya dengan mempersembahkan hadiah telur sebagai lambang produktivitas.</p>
<p>Perayaan ini dilakukan oleh orang-orang yang terpengaruh Zoroastirianisme yang tersebar di <a title="Iran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iran">Iran</a>, <a title="Iraq" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Iraq">Iraq</a>, <a title="Afganistan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afganistan">Afganistan</a>, <a title="Kazakhstan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kazakhstan">Kazakhstan</a>, <a title="Kyrgyzstan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kyrgyzstan">Kyrgyzstan</a>, <a title="Uzbekistan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Uzbekistan">Uzbekistan</a>, <a title="Kurdistan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kurdistan">Kurdistan</a>, <a title="Pakistan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pakistan">Pakistan</a>, <a title="Kashmir" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kashmir">Kashmir</a>, beberapa tempat di India, <a title="Syria" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Syria">Syria</a>, <a title="Kurdi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kurdi">Kurdi</a>, Turki, <a title="Armenia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Armenia">Armenia</a>, <a title="Caucasus" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Caucasus">Caucasus</a>, <a title="Crimea" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Crimea">Crimea</a>, <a title="Georgia (country)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Georgia_%28country%29">Georgia</a>, <a title="Azerbaijan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Azerbaijan">Azerbaijan</a>, <a title="Republic of Macedonia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Republic_of_Macedonia">Macedonia</a>, <a title="Bosnia and Herzegovina" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bosnia_and_Herzegovina">Bosnia</a>, <a title="Kosovo" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kosovo">Kosovo</a>, dan  <a title="Albania" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Albania">Albania</a>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Romawi KUNO</strong></p>
<p>Sejak Abad ke-7 SM bangsa romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali revisi. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.</p>
<p>Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian . Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, <img src="http://mediaislamnet.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 <a title="SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/SM">SM</a>, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (<a title="Juli" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Juli">Juli</a>). Sementara pengganti <a title="Julius Caesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Julius_Caesar">Julius Caesar</a>, yaitu <a title="Octavianus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Octavianus">Kaisar Augustus</a>, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “<a title="Agustus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agustus">Agustus</a>”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh <a title="Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa">Eropa</a> hingga tahun 1582 M ketika muncul <a title="Kalender Gregorian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorian">Kalender Gregorian</a>.</p>
<p>Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur dan semua Senat dapat berkumpul untuk memilih Konsul. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal <a title="1 Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Januari">1 Januari</a> 45 <a title="SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/SM">SM</a>.</p>
<p>Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Kristen</strong><strong> </strong></p>
<p>Sejak <a title="Konstantinus I" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konstantinus_I">Konstantinus</a> yang Agung menduduki tahta Kaisar Romawi tahun <a title="312" href="http://id.wikipedia.org/wiki/312">312</a> M, Kristen menjadi agama yang legal di Kekaisaran Romawi Kuno. Bahkan tanggal <a title="27 Februari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/27_Februari">27 Februari</a> <a title="380" href="http://id.wikipedia.org/wiki/380">380</a> M Kaisar <a title="Theodosius (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Theodosius&amp;action=edit&amp;redlink=1">Theodosius</a> mengeluarkan sebuah maklumat, <em>De Fide Catolica</em>, di Tesalonika, yang dipublikasikan di Konstantinopel, yang menyatakan bahwa Kristen sebagai <a title="Agama negara (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agama_negara&amp;action=edit&amp;redlink=1">agama</a> negara Kekaisaran Romawi Kuno. Di Abad-abab Pertengahan (<em>middle ages</em>), abad ke-5 hingga abad ke-15 M, Kristen memegang peranan dominan di Kekaisaran Romawi hingga ke negara-negara Eropa lainnya.</p>
<p>Berdasarkan keputusan Konsili Tours tahun 567 umat Kristen ikut merayakan Tahun Baru dan mereka mengadakan puasa khusus serta ekaristi. Kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, yakni hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru.</p>
<p>Umat Kristen menggunakan Kalender yang dinamakan Kalender Masehi. Mereka menggunakan penghitungan tahun dan bulan <a title="Kalender Julian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Julian">Kalender Julian</a>, namun menetapkan tahun kelahiran <a title="Yesus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yesus">Yesus</a> atau <a title="Isa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Isa">Isa</a> sebagai tahun permulaan (tahun <a title="1" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1">1</a> Masehi), walaupun sejarah menempatkan kelahiran Yesus pada waktu antara tahun 6 dan 4 SM.</p>
<p>Setelah meninggalkan Abad-abad Pertengahan, pada tahun 1582 M Kalender Julian diganti dengan Kalender Gregorian. Dinamakan Gregorian karena Dekrit rekomendasinya dikeluarkan oleh Paus Gregorius XIII. Dekrit ini  disahkan pada tanggal 24 Februari 1582 M. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 Kalender Julian, esoknya adalah tanggal 15 Oktober 1582 Kalender Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah Kalender Gregorian. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.</p>
<p>Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini. Baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti Kalender Julian sehingga perayaan <a title="Natal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Natal">Natal</a> dan <a title="Tahun Baru" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru">Tahun Baru</a> mereka berbeda dengan gereja Katolik Roma.</p>
<p>Pada tahun 1582 M Paus Gregorius XIII juga mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Hingga kini, Umat Kristen di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Islam</strong></p>
<p>Tidak seperti bangsa dan umat terdahulu, Islam tidak merayakan tahun baru. Rasulullah Muhammad saw bahkan melarang meniru (<em>tasyabbuh</em>) budaya bangsa dan umat sebelum datangnya Islam seperti Umat Yahudi, Bangsa Romawi, Bangsa Persia, dan Umat Nasrani yang merayakan Tahun Baru mereka. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p><em>Man tasyabbaHa bi qaumin faHuwa minHum.</em></p>
<p><em>Artinya: Siapa saja yang menyerupai suatu kaum/ bangsa maka dia termasuk salah seorang dari mereka.</em> (<strong>HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi</strong>)</p>
<p>Dan khusus tentang hari raya, Rasulullah saw membatasi hari raya umat Islam hanya pada Idul Adhha dan Idul Fithri, lain itu tidak. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p><em>Kullu ummatin iidan. Wa haadzihi iidunaa: iidul adhhaa dan iidul fithri</em></p>
<p><em>Artinya: Setiap ummat punya hari raya. Dan inilah hari raya kita: Idul Adhha dan Idul Fithri</em>.</p>
<p>Ketika Rasulullah saw masih hidup (570 – 632 M), Umat Islam menggunakan sistem penanggalan Arab pra-Islam. Sistem kalender ini berbasis campuran antara <a title="Bulan (satelit)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bulan_%28satelit%29">b</a>ulan (<em>qomariyah</em>) dan <a title="Matahari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Matahari">matahari</a> (<em>syamsiyah</em>).</p>
<p>Setelah Khilafah Islam berhasil menaklukkan Kekaisaran Persia untuk selamanya dan membebaskan Wilayah Syam dari Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 17 H atau ekivalen dengan 638 M, di masa pemerintahan Amirul Mu`minin ‘Umar bin Khaththab diresmikanlah penggunaan Kalender Hijriyah. Dinamakan Kalender Hijriyah karena ‘Umar menetapkan awal patokan penanggalan Islam ini adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun <a title="622" href="http://id.wikipedia.org/wiki/622">622</a> M. Hijrahnya Rasulullah saw tersebut adalah pertolongan Allah yang membuat perubahan besar pada perkembangan Islam. Sejak hijrah ke Madinah mulailah terbentuk Negara Islam dan Umat Islam.</p>
<p>Kalender Hijriyah dihitung dengan pergerakan bulan. Penentuan awal bulan (<em>new moon</em>) ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (<em>hilal</em>) setelah bulan baru (konjungsi atau <em>ijtima’</em>). Setahun terdiri dari 12 <a title="Bulan (waktu)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bulan_%28waktu%29">bulan</a>: <a title="Muharram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muharram">Muharram</a>, <a title="Safar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Safar">Safar</a>, <a title="Rabiul awal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rabiul_awal">Rabiul awal</a>, <a title="Rabiul akhir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rabiul_akhir">Rabiul akhir</a>, <a title="Jumadil awal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jumadil_awal">Jumadil awal</a>, <a title="Jumadil akhir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jumadil_akhir">Jumadil akhir</a>, <a title="Rajab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rajab">Rajab</a>, <a title="Sya'ban" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sya%27ban">Sya’ban</a>, <a title="Ramadhan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramadhan">Ramadhan</a>, <a title="Syawal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syawal">Syawal</a>, <a title="Dzulkaidah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dzulkaidah">Dzulkaidah</a>, dan <a title="Dzulhijjah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dzulhijjah">Dzulhijjah</a>. Satu minggu terdiri dari 7 hari: <em>al-Ahad, al-Itsnayn, ats-Tsalaatsa’</em> , <em>al-Arba’aa / ar-Raabi’</em>, <em>al-Kamsatun, al-Jumu’ah</em> (Jumat), dan <em>as-Sabat</em>. Ketika melakukan perjalanan ke Syam, Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab sempat membandingkan kalendar Hijriyah dengan kalendar-kalendar Persia dan Romawi. Umar berkesimpulan bahwa kalendar Hijriyah lebih baik.</p>
<p>Walaupun Kalender Hijriyah telah dipakai resmi di masa pemerintahan Amirul Mu`minin Umar bin Khaththab, namun para sahabat di masa itu tidak berpikir untuk merayakan 1 Muharram (awal tahun Hijriyah) sebagai Perayaan Tahun Baru Islam. Mereka berkonsentrasi penuh untuk mengokohkan penegakkan syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Mereka tidak pernah berpikir untuk mengadakan perayaan yang tidak disyariatkan oleh Islam dan tidak dilakukan oleh Rasululah saw. Yang demikian itu terus berlanjut pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dan sebagian besar masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Bahkan hingga masa negara Buwaihiyah, negara syi’ah yang memisahkan diri dari daulah Islamiyah Abbasiyah, negara syi’ah ini pun tidak pernah berpikir untuk menambah-nambah perayaan yang tidak diteladankan Rasulullah saw.</p>
<p>Karena memuliakan Islam bukan dengan cara membuat perayaan tahun baru hijriyah, tetapi dengan mengikuti sunnah nabi, berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, dan menjadikannya dasar hukum dan petunjuk untuk menjalani kehidupan.</p>
<p>Sayangnya, pada abad ke-4 H kaum Syiah kelompok al-‘Ubadiyyun dari sekte Ismailiyah yang lebih dikenal dengan kaum Fathimiyun membuat hari raya tahun baru hijriyah. Kelompok ini mendirikan negara di Mesir yang terpisah dari Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Mereka ingin meniru apa yang ada pada umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka. Maka benarlah sabda Rasulullah saw</p>
<p><em>Akan datang suatu masa dimana kalian akan mengikuti cara hidup bangsa-bangsa sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Sampai ketika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun ikut memasukinya. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”</em></p>
<p>Dalam hadits lain: Para sahabat bertanya, “<em>apakah mereka Romawi dan Pers?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”</em></p>
<p>Sejak saat itu <a title="Kalender Hijriyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah">Tahun baru Hijriyah</a> dalam <a title="Kalender Hijriyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah">kalender Hijriyah</a> dirayakan setiap tanggal <a title="Muharam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muharam">1 Muharam</a>. Termasuk umat Islam di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Sunni, juga ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Hijriyah yang direkayasa oleh kaum Syiah Ismailiyah yang telah murtad itu. Adapun pemerintah yang berkuasa di Indonesia lebih parah lagi, ikut merayakan Tahun Baru Masehi tanggal <a title="1 Januari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Januari">1 Januari</a> karena mengadopsi <a title="Kalender Gregorian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorian">kalender Gregorian</a>. Dan ternyata tidak hanya perayaan tahun baru yang ditiru dari bangsa dan umat selain Islam, tetapi juga dalam keyakinan, perilaku, budaya, sistem hukum dan pemerintahannya pun meniru bangsa dan umat selain Islam.</p>
<p><strong>PERAYAAN TAHUN BARU KAUM SEKULER</strong></p>
<p>Mengikuti budaya Romawi dan Kristen, di Era Sekuler Negara-negara Barat merayakan Tahun Baru tanggal 1 Januari. Tahun 1752 Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan kalender Gregorian.</p>
<p>Di Inggris, Untuk merayakan Tahun Baru para suami memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.</p>
<p>Di Amerika serikat, Tahun Baru dijadikan sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Amerika. Perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember. Orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, dimana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. Esok harinya, tanggal 1 Januari, orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi yang berisi Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba-lomba futbol Amerika dilangsungkan di berbagai kota di Amerika.</p>
<p><em>Ya Allah semoga penyampaian sejarah ini bisa membuka mata dan hati kami semua. Amin. </em><a href="http://mediaislamnet.com/2009/12/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/" target="_blank">[mediaislamnet]</a><em><br />
</em></p>
<p>Sumber Bacaan:</p>
<ol>
<li>100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa. Michael H. Hart. Karisma Publishing Group</li>
<li>Umar bin Khaththab. Muhammad Husain Haekal. Litera Antar Nusa.</li>
<li>Engkaulah Rasul Panutan Kami. Abdurrahman al-Baghdadiy. Al-Azhar Press.</li>
<li><a href="http://www.wikipedia.org/">www.wikipedia.org</a></li>
<li>Situs Pusat Informasi Kedutaan Amerika</li>
<li>Kamus Sejarah Gereja. F.D. Wellem. BPK Gunung Mulia</li>
</ol>
<p>* Penulis Naskah VCD Sejarah Kapitalisme, The Satanic Ideology dan VCD Sejarah Daulah Khilafah Islamiyah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blast From The Past for Wiwid</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/blast-from-the-past-for-wiwid-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/blast-from-the-past-for-wiwid-2#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 17:40:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1497</guid>
		<description><![CDATA[  
By: Iwan Januar

Punya masa lalu yang kelam bin suram itu nggak enak. Takut ada yang ngungkit-ngungkit, atau keungkit sendiri (dongkrak kalee!). Soalnya itu kan aib bo! Siapa yang jamin nggak bakal terungkap.
Itu juga yang dialamin sama Wiwid. Anak rohis urusan logistik cewek bin akhwat ini punya aib di masa lalu &#8211; tapi kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml>< ![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce :style>< !  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> </mce><mce :style>< !   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>By: Iwan Januar<br />
</strong></p>
<p>Punya masa lalu yang kelam bin suram itu nggak enak. Takut ada yang ngungkit-ngungkit, atau keungkit sendiri (dongkrak kalee!). Soalnya itu kan aib bo! Siapa yang jamin nggak bakal terungkap.</p>
<p>Itu juga yang dialamin sama Wiwid. Anak rohis urusan logistik cewek bin akhwat ini punya aib di masa lalu &#8211; tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, cukup saya aja yang tahu &#8211;. Tepatnya itu terjadi waktu ia masih &#8211; <em>you know</em> &#8211; jadi seleb. Yup betul, kamu jangan tertipu dengan penampilan Wiwid saat ini. <em>Don&#8217;t judge the girl by her jilbab</em>. Siapa nyangka dibalik jilbabnya yang anggun ia mantan vokalis band indies cewek. Bareng temen-temen SMPnya mereka bikin band aliran hitam, eh <em>grindcore</em> dengan nama <em>Kasih Ibu</em>. Lumayanlah, sering dipanggil manggung terutama kalau pas acara sunatan massal atau kenaikan kelas di TK-TK seantero Jakarta Utara. Pamor mereka cuma kalah ama grup tahlil sewaan di acara 40 hari atau 100 hari orang meninggal. Iyalah, mana ada di acara kematian nanggap band, apalagi yang beraliran grindcore.</p>
<p>Tapi aib itu juga belum cukup, bo. Namanya selebritis sekali-kali kesandung juga ama yang namanya jatuh cinta. Wiwid juga ngalamin. Sebagai akhwat yang memiliki naluri mencintai lawan jenis atawa <em>gharizah nau</em> (ciee keluar nih kitabnya) ia juga pernah ngalamin. Ceritanya ketika manggung, ada cowok yang perhatian banget ngeliat penampilan Wiwid yang heboh. Cowok itu keren abis, perpaduan tampang Ari Sihasale dengan Taufik Savalas dan mesin giling (hi&#8230;hi&#8230;hi&#8230;).<span id="more-1497"></span></p>
<p>Wiwid yang lagi manggung terang aja makin pede. Yeah, <em>steal the show</em>-lah. Ia jadi makin napsu bawain lagu <em>Yamko Rambe Yamko</em>. Sampai lupa kalau ia pake sepatu hak tinggi. Karena terlalu hot jejingkrakan keseimbangannya ilang, ia pun meluncur jatuh. Terjun bebas ke arah penonton. Bukannya panik penonton malah makin histeris. Nyangka kalau itu bagian dari aksi panggung. Mereka nyangka Wiwid lagi meragain <em>moshing pit</em>, ngeluncur di atas kepala penonton. Terus aja mereka ngoper badan Wiwid sampai ke belakang. Paling akhir Wiwid di oper ke bak sampah. Blug! Ia pun terduduk di keranjang sampah bercampur dengan tumpukan sampah yang bau.</p>
<p>Begitu bangun cowok itulah yang menolongnya. &#8220;Sakit ya?&#8221; tanyanya. Wiwid ngegelengin kepala, &#8220;Nggak!&#8221;. Emang sih kagak sakit, tapi mokalnya itu, Mas! Belum sempat itu cowok tanya-tanya, Wiwid udah diamanin Pak Hansip yang jadi sekuriti. &#8220;Mas, mas kalo minta tanda tangan atau cap jempol nanti aja di kelurahan,&#8221; katanya galak. Cowok itu mendelik, emangnya mo bikin KTP. Walhasil perkenalan itu pun tertunda.</p>
<p>Tapi kalau udah ngebet jatuh cinta, pasti ada aja jalan keluar. <em>Love will find away</em> kata grup musik Tesla. Mereka berpapasan waktu Wiwid belanja di mall nyari barang diskonan.</p>
<p>&#8220;Hai, ketemu lagi&#8221; sapa cowok itu ramah. Wiwid jadi sumringah plus geer.</p>
<p>&#8220;Kamu yang nolongin saya ya,&#8221; kata Wiwid.</p>
<p>&#8220;Iya, kita belum sempet kenalan. Kenalin saya Iip, tinggal di Casablanca,&#8221; cowok itu langsung merepet. Wih keren juga nih tinggalnya di kawasan elit Casablanca, pikir Wiwid langsung.</p>
<p>&#8220;Jangan salah, Casablanca itu Kampung Sawah Belakang,&#8221; kata tuh cowok lagi sambil cengar-cengir. Wiwid ikutan nyengir. Aih, aih, udah keren bisa ngelucu lagi. Wiwid makin seneng aja punya kenalan cowok kayak begini.</p>
<p>&#8220;Oh iya, nama kamu siapa?&#8221; Aduh kenapa gue jadi terkesima gini sampai lupa nyebutin nama.</p>
<p>&#8220;Saya Wiwid, vokalis band Kasih Ibu,&#8221; kata Wiwid sambil te-pe, tebar pesona. Cowok itu langsung muji abis penampilan keren Wiwid waktu manggung. Ternyata ia udah sering ngikutin band-nya Wiwid setiap manggung. Mereka pun lalu tuker-tukeran nomor HP. Biar bisa ber-sms ria. Dengan senang hati Wiwid ngasih nomor HP sampai alamat rumahnya yang lengkap plus nama Pak RT dan ayam peliharaannya.</p>
<p>&#8220;Yuk, gue cabut ya. Mo jemput Mami yang lagi belanja di pasar belakang. Selamat ngeborong belanjaan,&#8221; Iip berpamitan sambil matanya ngelirik ke tangan Wiwid yang lagi pegang barang di keranjang diskon. Wiwid senyum sambil curiga kenapa orang-orang pada ngeliatin? Ya ampun Wiwid nggak nyadar kalo dari tadi ia ngobrol sambil pegang BH diskonan yang mau ia beli. Apalagi ia sempat ngibas-ngibasin tangan. Pantesan orang-orang pada ngeliatin. Gubrag!</p>
<p>Nggak lama mereka pun jadian. Ya, kayak yang lain aja, pacarannya pake jalan-jalan ke Dufan, nonton <em>Charlie&#8217;s Angel II: Full Throttle</em> atau pas lagi bokek nonton <em>Ketoprak Humor</em> di rumah Wiwid bareng bokapnya yang fans berat Basuki Srimulat.</p>
<p>Cuma begitu masuk SMA mereka pun bubaran. Iip harus ikut bokapnya yang pegawai negeri pindah ke Irian Jaya. Sementara itu Wiwid kan harus nerusin sekolah di Jakarta. Dua sejoli itu pun terpisahkan oleh jarak dan waktu. Wiwid sempat nangis, malah ia pun nggak makan dan minum selama sebulan&#8230;waktu puasa Ramadlan.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Alhamdulillah waktu masuk SMU ia ketemu sama Adit yang tomboy tapi jilbaber. Juga temenan sama &#8230;. Singkat cerita ia jadi tersadar kalo selama ini ngejalanin hidup yang kurang sehat. Manggung pake rok mini, jejingkrakan di atas panggung, dan makin semangat kalo udah disorakin ama cowok-cowok yang asyik nonton. Ia nangis waktu tahajud karena ngerasa udah ngelakuin banyak dosa. Ia pengen tobat.</p>
<p>Tapi kemampuan Wiwid ternyata ada manfaatnya. Karena biasa nyetel peralatan band dan tahu banyak soal listrik ama katering, ia pun kebagian urusan logistik di rohis. Jadi seksi sibuk sekale di kegiatan pengajian. Citra Wiwid yang liar macam vokalis Evanescence yang kece pudar ditutup kerudung en jilbabnya yang rapi jali. Sekali-kali aja ia suka muter lagu <em>Bring Me To Life-</em>nya Evanescence. Itupun masih kalah sama puteran kasetnya <em>Ruhul Jadid</em> yang kenceng punya. Teman-temannya nggak ada yang tahu kalau ia punya masa lalu yang lumayan kelam.</p>
<p>Sampai suatu hari di kelasnya muncul seorang cowok yang pernah ia kenal. Pak Zainuddin MG, wali kelasnya nganter itu cowok. &#8220;Assalamu&#8217;alaykum anak-anak, hari ini ada kalian semua kedatangan seorang kawan baru dari tempat yang jauh. Tepatnya dari Irian Jaya. Coba, nak perkenalkan dirimu sendiri,&#8221; Pak Zainuddin ngasih prolog.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaykum teman-teman. Perkenalkan nama saya Syarifuddin, boleh juga dipanggil Iip&#8230;&#8221;</p>
<p>Sampai di situ Wiwid hampir pingsan. Perasaan dosa plus takut masa lalunya terbongkar, campur mirip pecel. Wiwid nggak berani menatap ke depan. Takut ketahuan. Sepanjang hari itu pikirannya jadi nggak konsen ama pelajaran. Kacau beliau lah pikirannya. Pas jam istirahat juga ogah ke kantin, terutama setelah nyadar kalo ia lupa bawa dompet. Ia juga menghindar ketemu ama Iip. Malah pas bubar sekolah ia nunggu paling akhir. Terus celingak celinguk ke luar kelas, baru kalo dirasa aman ia berani keluar kelas en ngibrit sekencang-kencangnya dari sekolahan. Mirip maling ayam diuber FBI.</p>
<p>Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jadi atlit lompat tinggi, eh jatuh juga. Wiwid ketangkep basah oleh Iip waktu mereka berpapasan di gang sekolah yang sempit. Iip mengenali juga dirinya.</p>
<p>&#8220;Lho kamu Wiwid, kan?&#8221; Iip curiga. Wiwid jadi grogi. Apalagi waktu Iip ngeliatin dengan gaya AS nginterogasi anak buah Usama bin Laden. Sepatu karetnya yang dipake berjalan jadi keseret-seret ngeluarin suara mendecit-decit ngeluarin mirip-mirip kentut.</p>
<p>&#8220;Dee baru ditanya begitu udah kentut segala,&#8221; ledek Amri temen sekelasnya. Teman-teman Iip cengengesan. Wiwid makin pengen pingsan. Nggak ngejawab, ia tetep jalan sambil nundukkin kepalanya. Duk! Ya ampun ia nabrak tiang. Bukannya nolongin, anak-anak cowok itu makin ngakak. Lumayan ada lawakan ala Srimulat pagi-pagi, pikir mereka. Wiwid sendiri ngibrit sambil ngusap-ngusap jidatnya yang lumayan nggak mulus alias benjol. Berderai air mata ia masuk ke kelas.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>&#8220;Gw jadi bingung, tolongin gue dong, Ri,&#8221; Wiwid lagi curhat ama sepupunya, Riri yang lagi kuliah di London via chatting.</p>
<p>&#8220;Wid, setiap orang kan punya masa lalu. Ada yang bagus, ada juga yang nggak. Ya, itu udah nggak bisa kita lepas karena emang udah terjadi. Kita nggak bisa apa-apa,&#8221; bales Riri.</p>
<p>&#8220;Terus gw kudu gmn, dong?&#8221; Belum ada jawaban dari Riri. Lama.</p>
<p>&#8220;Eh, kurang ajar ya, elu diminta tolong malah ngorok? L&#8221; Riri ngedumel.</p>
<p>&#8220;Afwan en sori, gw ngantuk berat. Abis ujian jadi krg tdr. J&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, trs gmn dong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gmn lg. Masa lalu yang jelek kan emang kesalahan kita. Jadiin pelajaran en banyak aja istighfar. Trs jangan prasangka buruk sama orang lain kalau mereka bakal ngungkit-ngungkit masa lalu kita. Iya nggak?&#8221;</p>
<p>Bener juga, pikir Wiwid. Kenapa gue jadi su&#8217;udzan ama Iip kalo dia bakal ngebongkar masa lalu gue. Belum tentu kan?</p>
<p>&#8220;Gmn, udeh puas? Kudu ya? Gw udah ngantuk nih. Besok kita sambung <em>in the same channel and in the same time</em>. Adios amigos parantos permios, assalamu&#8217;alaykum&#8221; tulis Riri.</p>
<p>&#8220;OK deh, thx berat. Sori udeh ganggu istirahat lu. Salam buat Wayne Rooney, jangan belagu mentang-mentang jadi pemain England termuda yang bikin gol di piala Eropa. Wa&#8217;alaykum salam.&#8221;</p>
<p>Klik. Komputer di kamarnya pun dimatiin. Baru deh Wiwid bisa bobok dengan tenang.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Pagi ini Wiwid udah bangun dengan seger. Ah, enaknya hidup tanpa beban pikiran. Nggak kaya beberapa hari yang lalu ia pusing berat. Hidup itu memang ada masa lalu, tapi kalau kita terus berkutat dengan masa lalu, sekelam apapun, bisa-bisa kita jadi orang yang nggak syukur nikmat dengan hari ini dan masa depan. Dangkal banget kayaknya kalo cuma mikirin masa lalu. Yang penting, semua udah lewat, udah jadi pelajaran berharga yang nggak bakal terulang lagi.</p>
<p>&#8220;Eh, tumben nih nasi gorengnya abis nggak kayak kemaren,&#8221; tanya Maminya heran. &#8220;Alhamdulillah, donk Mi sekarang napsu makan Wiwid udah baekan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho emangnya kemarin sempat nggak napsu makan? Kenapa?&#8221; Mami curiga.</p>
<p>&#8220;Biasa Mi, anak muda, ada aja urusan yang bikin pusing. Jalanan macet, tarif Metro Mini naek, pejabat pada korup, en selebritis kita kawin cerai mlulu. Gimana nggak kepikiran tuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Duile, kayak Andi Malarangeng aja ngomongnya. Emang mau jadi calon legislatif, Wid?&#8221; kata Maminya usil.</p>
<p>&#8220;Nggak ah, jadi anggota legislatif nanti dituduh morotin uang rakyat. Kalo Wiwid jadi anggota legislatif bakal sering mangkir atau tidur di ruang sidang. Soalnya kecapean ngurusin suami ama anak-anak di rumah,&#8221; timpal Wiwid sambil nyamperin Mami untuk cium tangan en ngucapin salam.</p>
<p>Ya, hari ini Wiwid masuk sekolah dengan perasaan tenang. Nggak takut deh ketemu ama Iip. Pokoknya Iip mau ngomong apa aja terserah, yang penting gue udah berubah. Bukan lagi Wiwid dulu yang metal, yang funky atawa yang suka pacaran.</p>
<p>Baru aja Wiwid nyimpen tas di bangku kesayangannya yang nomor 36 (ceile bangku kereta kali pake nomor), sesosok cowok mendekatinya. Eh, Iip.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaykum, Wid,&#8221; sapanya sopan. Nggak beda kayak dulu.</p>
<p>&#8220;Wa a&#8217;alaykum salam,&#8221; rada grogi juga tuh Wiwid ngejawabnya.</p>
<p>&#8220;Wid, nggak nyangka gue bakal ketemu lagi ama elo. Surprise buat gue,&#8221; Iip langsung bicara.</p>
<p>&#8220;Apalagi&#8230;elu udah pake jilbab kayak begini. Gue kaget banget lo,&#8221; Iip terus ngomong. Wiwid diem.</p>
<p>&#8220;Gue denger elo juga aktif di pengajian ya? Bener gue kagak nyangka, kalo elo bisa berubah. Ternyata waktu emang bisa bikin kita beda ya, Wid?&#8221; Wiwid nggak nanggepin. Still waiting.</p>
<p>&#8220;Tapi terus terang gue bangga. Gue mau ngucapin selamat ternyata elo bisa berubah jadi muslimah sejati. Gue juga pengen ngikutin jejak elo, kayak temen-temen yang laen. Ngaji, punya pemahaman Islam yang bener. Sekali lagi, selamet ya Wid,&#8221; gitu kata Iip.</p>
<p>Ih, suer Wiwid nggak nyangka ternyata Iip ngomong kayak begitu. Ia jadi terharu. Ternyata kejadiannya nggak seperti yang ia sangka. Ah, jahat betul ia berprasangka yang nggak-nggak sama Iip. Belum sempat Wiwid ngomong bel udah bunyi. Pelajaran bakal dimulai.</p>
<p>Sore itu Wiwid ngirim sms ke Iip bunyinya:</p>
<p><em>Ip, semua orang bisa berubah jadi baik. Elo juga bisa.</em></p>
<p><em>Asal kita mo usaha.</em></p>
<p><em>Temen-temen di rohis siap kok ngebantu. Kita tunggu ya?</em>l</p>
<p style="text-align: right;">[diambil dari Majalah PERMATA, edisi 17/Tahun VIII/Oktober 2003]</p>
<p></mce></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/blast-from-the-past-for-wiwid-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[ebook] Buletin Remaja gaulislam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ebook-buletin-remaja-gaulislam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ebook-buletin-remaja-gaulislam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 17:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta]]></category>
		<category><![CDATA[buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3258</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum wr wb
Bagi teman-teman yang ingin mengoleksi e-book Buletin Remaja gaulislam, khususnya Tahun ke-1 dan Tahun ke-2, yakni tahun 2007-2009 (ada 104 artikel), silakan langsung saja [unduh di sini]. Jika ada error, coba [unduh di sini]. Free alias gratis. Syaratnya mudah saja, silakan untuk dikoleksi baik pribadi maupun disebarkan lagi. Ya, boleh disebarluaskan, asalkan bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p><img class="alignleft" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2009/12/gaul.jpg?w=232&amp;h=300" alt="" width="232" height="299" />Bagi teman-teman yang ingin mengoleksi <strong>e-book</strong> <strong>Buletin Remaja gaulislam</strong>, khususnya Tahun ke-1 dan Tahun ke-2, yakni tahun 2007-2009 (ada 104 artikel), silakan langsung saja <a href="http://www.box.net/shared/a56225oqhs" target="_blank"><strong>[unduh di sini]</strong></a>. Jika ada <span style="color: #ff0000;">error</span>, coba <a href="http://www.box.net/shared/ntf6zsjhz3" target="_blank"><strong>[unduh di sini]</strong></a>. Free alias gratis. Syaratnya mudah saja, silakan untuk dikoleksi baik pribadi maupun disebarkan lagi. <span style="color: #ff0000;"><span style="text-decoration: underline;">Ya, boleh disebarluaskan, asalkan bukan untuk tujuan komersial</span></span>.</p>
<p>E-book ini persembahan dari Buletin Remaja gaulislam. Oya, kalo teman-teman merasa ebook ini berguna, dan mau ikut bekerjasama dalam dakwah untuk mencetak buletin gaulislam ini yang akan dibagikan gratis kepada siapapun (termasuk mendanai proyek pengembangan websitenya), redaksi gaulislam mengajak teman-teman semua dalam partisipasi dakwah yang <span style="text-decoration: underline;">sifatnya sukarela</span>, <strong>yakni jadi donatur dakwah</strong>. Informasi lengkapnya ada di ebo0k tersebut, bab &#8220;Pendahuluan&#8221;.</p>
<p>Saya atas nama kru redaksi buletin gaulislam mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Silakan manfaatkan ebook gaulislam ini untuk syiar Islam, khususnya di kalangan remaja.</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
<p>Editor gaulislam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ebook-buletin-remaja-gaulislam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencuri Terburuk</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 18:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[buruk]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pencuri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.
Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencuri itu buruk, tapi kata seorang ahli hikmah ada jenis pencurian yang lebih buruk lagi. Apa itu? Berbohong. Ya, tahukah kamu kalau berbohong itu termasuk jenis &#8216;pencurian&#8217;, mencuri akal. Malah, dibandingkan pencurian biasa, berbohong bisa lebih menyakitkan dan menyebalkan.</p>
<p dir="ltr">Memang, tidak ada orang yang senang bila kecurian. Apalagi bila barang yang dicuri adalah benda berharga kesayangan, seperti jam tangan, ponsel atau motor. Sulit rasanya untuk percaya dan menerima kenyataan kalau barang-barang itu sudah raib. Ludes disikat maling. Tapi, biasanya luka itu akan segera hilang karena memang kita sadar barang-barang itu sudah tidak ada di depan mata dan lenyap dari genggaman tangan kita.</p>
<p dir="ltr">Nah, berbohong berarti mengelabui orang lain, memanipulasi sesuatu, membuat orang lain percaya pada sesuatu yang tidak ada. Itu bisa terjadi untuk waktu sehari, dua hari atau malah seumur hidup. Orang yang dibohongi nggak sadar kalau ia telah kehilangan sesuatu, yakni kepercayaannya. Bila seorang pembohong mendapatkan kepercayaan dari orang yang berhasil dikelabuinya, maka si pembohong bukan saja mendapat simpati, tapi juga harta, kehormatan, dan apa saja yang ia inginkan. Inilah pencurian yang paling menyakitkan dan menyebalkan.<span id="more-2486"></span></p>
<p dir="ltr">Katakanlah, ada seorang anak yang berbohong pada orang tuanya kalau ia ditunjuk oleh gurunya menjadi anggota tim basket sekolah untuk sebuah kompetisi, ortunya mungkin akan bangga. Berikutnya, saat sang anak minta dibelikan sepatu yang baru &#8211; untuk berlatih dan bertanding &#8211;. Ortu yang sudah kepalang bangga dan sayang pada sang anak pasti berusaha membelikannya. Begitupula ketika sang anak minta tambahan uang jajan dengan alasan pergi berlatih dan bertanding, lagi-lagi orang tua akan mengabulkan. Jadi, sudahlah sang anak &#8211; yang berbohong itu &#8211; mendapatkan kebanggaan dari orang tua, masih mendapatkan sepatu baru dan juga tambahan uang jajan. Maka, kamu bisa paham kan kenapa sampai ada ahli hikmah yang mengatakan bahwa berbohong jauh lebih buruk dari mencuri?</p>
<p dir="ltr">Dalam kehidupan, banyak alasan kenapa orang mau berbohong; untuk ketenaran, untuk kekayaan, atau untuk keselamatan dirinya. Beberapa tahun silam, ada duo rapper yang punya nama grup Milli Vanilli. Lagu-lagu mereka macam <em>Girl You Know It&#8217;s True</em> dan <em>Ma Baker</em> jadi jawara di sejumlah tangga lagu mancanegara. Album mereka laris dan diganjar sejumlah penghargaan. Ternyata, terbukti kemudian kalau mereka berdua bukanlah penyanyi sebenarnya. Mereka cuma <em>lipsync</em>. Ini contoh kebohongan untuk mendapatkan ketenaran dan juga kekayaan.</p>
<p dir="ltr">Ada kebohongan untuk menyelamatkan diri. Seorang pencuri kambing yang tertangkap basah sedang menuntun kambing curiannya bisa dengan mudah <em>ngeles</em>, menghindar dari tuduhan mencuri. <em>&#8220;Ini bukan pencurian. Saya hanya mungut tali, tahu-tahu ada kambing yang mengikuti dari belakang.&#8221;</em> Bahkan, pada zaman khalifah Umar bin Khaththab ra. seorang pencuri dengan berani berbohong atas nama Allah. <em>&#8220;Aku mencuri atas takdir Allah,&#8221;</em> katanya pada hakim. Akhirnya pengadilan menghukum pencuri itu dengan jilid dan potong tangan. Hukuman potong tangan untuk kasus pencuriannya yang mencapai batas ? dinar, dan sanksi jilid untuk kebohongan atas nama Allah.</p>
<p dir="ltr">Dan, ada juga kebohongan untuk alasan ideologis. Untuk menyesatkan orang. Darwin dan para pengikutnya bisa jadi contoh. Untuk membuat orang percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, berbagai khayalan mereka buat dengan sebutan teori ilmiah. Teori <em>generatio spontaneae</em>, evolusi, dsb.</p>
<p dir="ltr">Untuk membuat orang sedunia percaya bahwa Islam dan kaum Muslimin adalah ancaman, orang-orang kafir melatih berbagai milisi bersenjata yang terdiri dari orang-orang Islam. Al Qaida, salah satunya. Itu mereka lakukan untuk memadamkan cahaya Islam yang mulia.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah, padahal Allah menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir membencinya.&#8221;</em>(Ash Shaf [61]:8).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr" align="center">* * * * * *</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong adalah perbuatan yang akan mengotori lidah, pikiran dan jiwa kita. Bahkan kebohongan dapat merusak kehidupan manusia. Pantas, kalau berbohong diharamkan oleh agama. Sabda Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Sesungguhnya kejujuran itu memberikan petunjuk pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu memberikan petunjuk pada surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ia menjadi orang yang shiddiq. Sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan menunjukkan pada neraka, dan sesungguhnya seseorang berbuat dusta sampai ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Jangan main-main, berdusta juga satu tanda kemunafikan. Kata Nabi saw.:</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat.&#8221;</em>(HR. Bukhari).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sama sekali tidak ada kebaikan dalam kebohongan. Allah dan Rasul mencelanya, sementara manusia membencinya.</p>
<p dir="ltr">Memang ada berbohong yang dibolehkan oleh agama. Ini, yang sering dibilang oleh kita sebagai kebohongan putih (<em>white lies</em>). Ada tiga perkara dimana seorang muslim halal berbohong pada keadaan tersebut. Kata Rasulullah saw.:</p>
<p dir="rtl">
<p dir="ltr"><em>&#8220;Tidak halal berdusta kecuali dalam tiga perkara; seorang suami yang berkata pada istrinya agar ia ridlo, dusta dalam peperangan, dan dusta untuk memperbaiki hubungan di antara manusia,&#8221;</em>(HR. Turmudzi).</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berbohong juga ibarat candu. Orang yang pernah melakukannya biasanya ketagihan untuk mengulanginya. Apalagi kalau kebohongan itu memberikan apa yang mereka inginkan. Pikir para pembohong, kalau dulu saya berhasil, kali ini juga pasti bisa.</p>
<p dir="ltr">Selain karena ketagihan, mereka yang pernah berbohong juga akan &#8216;dipaksa&#8217; melakukan kebohongan babak berikutnya. Sebuah nasihat mengatakan, <em>&#8220;Siapa yang pernah melakukan kebohongan, maka bersiaplah melakukan kebohongan berikutnya.&#8221;</em> Ya, seorang pembohong membutuhkan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang lama. Agar tidak dikuak kebenaran ceritanya, maka seorang pembohong mau tidak mau akan terus berbohong.</p>
<p dir="ltr">Maka berbohong juga menciptakan ketakutan. Coba kita pikir, pembohong mana yang senang terbongkar kebohongannya? Otomatis, seorang pembohong akan hidup dalam kecemasan dan jauh dari rasa nyaman. Setiap saat ketakutan kalau-kalau kebohongannya terbongkar. Ia sadar, bila itu terjadi, bisa-bisa seumur hidup orang tak percaya. <em>Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya</em>.</p>
<p dir="ltr">Terakhir, para pembohong semestinya sadar, secanggih apapun mereka membual, menyebarkan kepalsuan, sebenarnya mereka sedang menipu diri sendiri. Kenyataannya tetap saja mereka tidak bisa menipu Allah SWT. Dialah yang bakal membongkar segala kepalsuan. Cepat atau lambat.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em>&#8221; Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.&#8221;</em>(Al Baqarah [2]:9). <strong>[januar]</strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align: right;" dir="ltr"><em>[Pernah dimuat di rubrik "Takwin", Majalah PERMATA edisi Februarui-Maret 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pencuri-terburuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Infotainment, Selebriti, dan Pemirsa</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 12:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[infotainment]]></category>
		<category><![CDATA[selebriti]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3255</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 114/tahun ke-3 (11 Muharram 1431 H/28 Desember 2009)
 
 
Henry Fordf, Sr, dalam The Internasional Jew: The Wolrd Foremost Problem, berkomentar: “Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka.”
Kita sering menyaksikan berita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="http://osolihin.wordpress.com/files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 114/tahun ke-3 (11 Muharram 1431 H/28 Desember 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Henry Fordf, Sr, dalam The Internasional Jew: The Wolrd Foremost Problem, berkomentar: “Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kita sering menyaksikan berita seputar infotainment, misalnya: Luna Maya balik lagi ke Ariel, Nycta Gina lagi jengkel, Pasha Ungu aniaya istri, sampe si fulanah kejepit pintu, dan si fulan ketabrak becak dan lain-lain dan sebagainya. Wuah, kejepit pintu ama ketabrak becak aja bisa jadi berita? Nah, itu dia. Berhubung selebriti ini termasuk orbek, maka kejadian or peristiwa yang menurut kita nggak layak jadi berita, malah bisa diekspos dan jadi duit buat pengusaha media. Sama halnya kalo misalnya Presiden Amrik Barack Obama kepalanya ketiban papan penggilasan, itu bakal jadi berita besar. Apalagi diliput CNN, bisa geger seluruh dunia. Berita kecil apapun tentang mereka acapkali menjadi heboh. Dalam bahasa jurnalistik dikenal pameo: name makes news.<span id="more-3255"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Coba kamu perhatiin deh, berapa banyak majalah or tabloid yang memuat berita tentang para selebritis? Juga, amati ada berapa program acara televisi yang menayangkan seputar sisi kehidupan mereka. Ambil contoh tayangan infotainment yang pernah dan sedang tayang. Semuanya senantiasa hadir terdepan dalam menguliti kehidupan kaum seleb sampe ke yang remeh-temehnya, semua televisi punya prog­ram tersebut. Malah &#8216;gokilnya&#8217; beberapa acara tersebut diputer ulang menjelang shubuh. Beuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, sejak lama acara infotainment itu bikin bete. Sebenarnya kalo dikatakan para seleb butuh infotainment nggak juga sih. Buktinya mereka banyak juga yang nggak suka kalo diusik terus masalah pribadinya. Kasus terbaru Luna Maya yang ngungkapin kekesalannya kepada infotaiment di akun twitter miliknya dengan pernyataan yang cukup kasar bikin geger dunia hiburan, khususnya pihak pengusaha dan pekerja infotainment. Luna bukan yang pertama, dulu ada Parto yang sempat menembakkan pistol ke udara untuk mengusir kerumunan pekerja infotainment yang terus memberondongnya dengan pertanyaan seputar masalah pribadinya. Nicky Astria juga pernah marah-marah ketika pekerja infotainment terus menguntitnya untuk mencari tahu masalah perceraiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun anehnya, banyak juga lho masyarakat yang doyan nonton acara infotainment. Padahal, beritanya nggak menarik-menarik amat gitu lho. Ambil contoh, misalnya tentang seleb yang ulang tahun, koleksi sepatunya, atau bagaimana menikmati liburannya. Coba kalo kita yang begitu, nggak bakalan masuk berita. Tapi, karena mereka orbek, maka hal kecil tetap aja menarik di mata media. Juga di matamu. Jiahahah&#8230;!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Tontonan miskin manfaat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ngomongin soal informasi, berarti kita nggak lepas dari yang namanya komunikasi. Salah satunya adalah komunikasi massa. Maka bermunculanlah media komunikasi seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio, dan yang lainnya. Tujuannya jelas, yakni untuk menyampaikan informasi. Menurut Defleur dan Dennis dalam bukunya <em>Understanding Mass Communication</em> (1985), bahwa “komunikasi massa adalah suatu proses di mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus-menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara”. Catet ya!</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu, khusus masalah berita seputar selebritis, maka berita yang disampaikan adalah untuk memberikan gambaran bahwa beginilah dunia kaum seleb. Tapi sayangnya, nggak dibarengi dengan penilaian yang objektif dan memberikan bimbingan. Ya, berita itu dibiarkan meluncur dan pembaca atau penonton sendirilah yang kudu menyimpulkan. Wuah, bahaya besar nih namanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kita tahu sama tahu deh, bahwa berita kayak begituan itu hanya ngabisin secara sia-sia jatah energi kita untuk mikirin masalah lainnya. Tanpa maksud memvonis teman remaja, yang itu berarti kamu termasuk di dalamnya, saya mencoba memberikan fakta bahwa remaja sekarang kebanyakan lebih memilih menjalani kehidupan ini dengan nyantai. Ini memang disebabkan karena pengaruh lingkungan juga tuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Walhasil, dalam hidup ini kita jadi orang yang dimanja dengan model kehidupan yang “adem ayem”. Pagi-pagi, saat bangun tidur, ada teman remaja yang langsung menyalakan radio dan dengerin musik pagi, karena kebetulan doi termasuk remaja yang malas bangun shubuh. Padahal biasanya kalo shubuh acara radio maupun televisi berkaitan dengan persoalan agama. Ketika berangkat sekolah, teman-teman di sana udah ngerumpi tentang film, sinetron, selebritis, bintang NBA, juga pahlawan-pahlawan di EPL atau ISL, misalnya. Bacaan yang dipelototi bukan lagi pelajaran kimia, matematika, biologi, bahasa dan lainnya, tapi yang dibaca adalah majalah remaja yang mengupas abis tren, gaya, dan gosip selebriti lokal maupun mancanegara. Siang sampe sore hari, televisi sudah siap dengan acara infotainment dan itu mesti ada hubungannya dengan kaum selebriti.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Membius akal sehat</strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, kita benar-benar dikepung dari segala arah. Nyaris nggak bisa lepas dari suguhan beragam tayangan murahan dari semua stasiun televisi. Selain infotainment, marak juga sinetron yang nggak mendidik. Menyedihkan banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah pertarungan budaya yang memaksa kita jadi korbannya. Kita menerima dan menyukai karena banyak tersedia. Bukan karena kita butuh. Tayangan televisi banyak yang kental banget dengan budaya pop. Kamu tahu budaya pop? Kata orang pinter, budaya pop adalah budaya yang ringan, menye­nangkan, trendi, dan cepat ber­ganti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kritikus Lorraine Gam­man dan Marga­ret Marshment, keduanya pe­nyunting buku <em>&#8220;The Female Ga­ze: Women as Viewers of Popu­lar Culture (1998)&#8221;</em>, berse­pakat bah­wa bu­daya popu­ler adalah sebu­ah medan pergu­latan ketika me­ngemukakan bah­wa tidaklah cu­kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu­daya populer se­bagai alat kapi­talisme dan pat­riarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugat­nya ideologi dominan. Hmm.. waspadalah!</p>
<p style="text-align: justify;">Celakanya, dalam pertarungan tersebut, siapa pun bisa terlibat dalam lingkarannya. Termasuk tentunya remaja. Perang ideologi nggak bisa dihindarkan lagi sobat, alias kudu pasti terjadi benturan. Lucunya, acapkali kita, kalangan remaja, udah merasa <em>down</em> duluan dari pada harus bertarung melawan budaya terse­but. Halah, ini untuk tidak mengatakan kalo remaja biasanya pura-pura tidak tahu apa-apa, dan lebih memilih “terbawa” arus budaya yang lebih kuat. Parahnya lagi, seperti diakui banyak pengamat, bahwa budaya populer yang sekarang lagi ngetren bergerak amat cepat. Saking cepatnya, sampe tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan <em>logic of capital</em>, logika proses produksi, yakni hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Inilah yang sering dijuluki sebagai <em>instans culture</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu <em>track</em> lebih tinggi ini memang tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih dalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli. Nah, lho.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pengusaha televisi juga kayaknya doyan menyihir pemirsa. Demi mengeruk banyak uang, mereka rela meracuni anak bangsa. Kita benar-benar dibius dengan tayangan murahan seperti itu. Akibatnya, jangan kaget kalo ada pemirsa yang akhirnya bertindak nekat karena merasa benar dengan apa yang ditayangkan televisi. Inilah kalo dalam bahasa komunikasi ada sebuah efek yang namanya efek spiral kebisuan. Artinya kalo info itu salah sekalipun, tapi ditayangkan berulang-ulang bisa berubah jadi ‘benar’, lho.  Apalagi nggak ada tayangan tanding­an­nya. Udah deh, <em>wassalam</em> itu mah. Ckckck&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, pakar komunikasi seperti Mc.Luhan, yang juga penulis buku <em>Understanding Media: The Extensive of Man</em>, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut <em>“gatekeeping”</em> lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (<em>blood and breast</em>) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. Bener-bener membius akal sehat!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bikin malas</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, kalo kamu membaca tradisi kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, juga para ulama salaf, kayaknya kita kudu malu deh. Kenapa? Kehidupan mereka nyaris menyatu dengan persoalan-persoalan ilmu dan ketakwaan. Kamu pernah dengar nama Imam Syafi’i kan? Nah, salah satu imam madzhab ini layak dijadiin teladan dalam semangatnya mencari ilmu. Beliau punya semboyan begini: “Carilah ilmu sebagaimana halnya seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya”. Ehm, itu sebabnya, beliau menguasai berbagai macam bidang kehidupan. Beliau jadi seorang mujtahid, yakni orang yang bisa menggali dalil syara, kemudian berpendapat tentang suatu persoalan kehidupan. Manfaatnya pun terasa sama kita sampai saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi saat ini bagaimana? Walah, berita-berita seputar kehidupan selebritis malah mengalahkan berita yang lainnya. Di hampir semua stasiun televisi swasta, ada acara infotaiment. Di majalah remaja, tabloid remaja, berita soal seleb juga hadir dalam kemasan yang eksklusif. Duh, bener-bener kita digempur dari sana-sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka nggak usah heran kalo banyak teman remaja lebih hapal grup-grup musik dan lagu-lagunya ketimbang persoalan politik, ekonomi, sosial, hukum, apalagi pemerintahan. Ah, nggak tega kalo harus nyebut buta banget mah. Lho kok ini nyebut sih? (Bukan, ini nulis, kok) Huhuy!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Nyadar<em> ngapa</em>?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bukan saya merasa sok benar sendiri, apalagi sok suci. Tapi maksud saya adalah supaya kamu juga mulai berpikir lebih rasional, serius, dan dapat menghasilkan karya positif. Jadi otak kamu benar-benar produktif.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab, Allah Swt. telah membimbing kita untuk memberdayakan otak kita dengan hal-hal yang benar dan baik. Sebagai contoh, firmanNya (yang artinya): <em>Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. </em><strong>(QS al-‘Alaq [96]: 1-5)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan ayat ini mengajak kita untuk memaksimalkan peran otak untuk mendukung akal dalam berpikir. Jadi, mulai saat ini, bersikaplah bijak. Tontonan dan bacaan seputar kehidupan selebritis, mulai sekarang sedikit demi sedikit dikurangi, dan lebih banyak menyantap berita-berita yang erat hubungannya dengan masalah kehidupan kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke deh, sekarang saya mau tanya—khususnya kepada kamu yang doyan dan getol mengikuti liku kehidupan kalangan seleb, apa sih yang selama ini kamu dapatkan? Terus aplikasinya ke mana? Kerasa nggak manfaatnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Bandingkan bila kamu membaca tulisan atau menonton tayangan yang berguna; misal berita tentang korban perang, kabar tentang masa depan politik suatu negara, bagaimana sepak terjang Amrik dalam mengobok-ngobok dunia ketiga (baca: negeri-negeri Islam). Siapa tahu setelah membaca berita model begitu, kamu bisa marah, kamu bisa terharu, dan kamu pun bisa berbagi suka dan duka. Bukan tak mungkin bila kemudian dirimu tergerak untuk memikirkan dan menolong mereka. Hebat bukan? Dan itu jelas manfaatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Otak kita pun dilatih untuk berpikir serius alias tidak nyantai. Beda banget dengan menyantap berita soal selebritis, itu berita ringan dan miskin manfaat. Ya, kalo pun kudu baca, anggaplah buat selingan aja, bukan pokok. Tapi celakanya, sekarang kan nggak begitu. Banyak teman remaja yang justru menjadikan berita tentang selebriti sebagai menu utama dalam bacaan dan tontonannya. Walah, celaka dua belas ini mah!</p>
<p style="text-align: justify;">Boys and gals, kalo kita perhatiin, di balik gencarnya berita tentang selebritis ini, paling nggak kita melihat tiga bahaya besar yang mengancam. Pertama, menuntun pambaca dan penonton menuju kejumudan berpikir. Kedua, memalingkan pembaca dan penonton dari masalah yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Ketiga, menyuburkan tradisi <em>ghibah</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, memang kudu ada sikap tegas juga dari bapak-bapak pejabat kita di atas dalam bertindak. Kalo nggak, jajanan baru ini akan bikin generasi masa depan kita buram, jumud, malas, dan nggak produktif. Hih, syerem! <strong>[solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kareem-abdul-jabbar-lompatan-iman-raja-basket</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kareem-abdul-jabbar-lompatan-iman-raja-basket#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 17:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[basket]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[kareem abdul jabbar]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3226</guid>
		<description><![CDATA[
Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran umat manusia.

Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah satu pemain basket terbesar sepanjang masa. Shooting, Slam dunk, rebound, block , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang, lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain bertinggi badan 2,18 meter ini.
Dengan dukungan postur tubuhnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="detail_news_text">
<p style="text-align: right;"><strong>Islam adalah anugerah yang tinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran umat manusia.<br />
</strong></p>
<p>Sosok Kareem Abdul Jabbar diakui banyak pemain basket sebagai salah satu pemain basket terbesar sepanjang masa. <em>Shooting, Slam dunk, rebound, block</em> , maupun aksi lainnya, sangat memukau. Tak jarang, lawannya dibuat kesulitan untuk membendung agresivitas pemain bertinggi badan 2,18 meter ini.</p>
<p>Dengan dukungan postur tubuhnya yang sangat tinggi, Kareem Abdul Jabbar sering kali melakukan aksi yang brilian. Lompatannya sering mengundang kagum para penonton maupun tim lawan. Atas aksi dan kesuksesannya membawa klubnya meraih tangga juara, Kareem Abdul Jabbar pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik di kompetisi liga bola basket Amerika Serikat (NBA  <em>Most Valuable Player</em> ). Predikat itu diraihnya sebanyak enam kali.</p>
<p>Selama bermain di ajang NBA, ia berhasil membukukan rekor sebagai pencetak angka tertinggi sepanjang masa dengan 38.387 poin. Karenanya, ia mendapat julukan &#8216;Raja Bola Basket&#8217;. Dan berkat prestasinya ini, 19 kali ia terpilih untuk memperkuat tim NBA All-Star.<span id="more-3226"></span></p>
<p>Karier pria kelahiran New York City, 16 April 1947, di ajang bola basket Amerika dimulai ketika bermain untuk tim bola basket kampus, Universitas California, Los Angeles (UCLA). Aksi-aksinya di tim UCLA, mendapat perhatian serius para pelatih basket Amerika Serikat saat itu.</p>
<p>Dan tahun 1969, ia mendapat tawaran bermain di level kompetisi basket tertinggi di Amerika Serikat (NBA) dengan bergabung bersama klub Milwaukee Bucks. Di klub barunya ini, ia turut memberi andil besar dengan merebut juara NBA tahun 1970-1971.</p>
<p>Pada 1975, ia bergabung dengan tim basket asal Kota Los Angeles, LA Lakers. Di klub inilah karier Kareem makin melesat. Ia berhasil membawa La Lakers merebut sejumlah gelar juara untuk klubnya. Di samping itu, ia juga berhasil merebut gelar pribadi, yakni sebagai pemain terbaik NBA. Di klub ini, ia bermain sejak 1975-1989.</p>
<p><strong>Masuk Islam</strong><br />
Atas aksi-aksinya yang hebat itu, Kareem menjadi salah satu pemain andalan NBA All-Star dan Amerika Serikat dalam ajang Olimpiade. Ia juga menjadi pemain kebanggaan negeri Paman Sam tersebut. Tak hanya itu, ia juga merupakan pemain kebanggaan umat Islam di seluruh dunia.</p>
<p>Ya, pemain bernama lengkap Ferdinand Lewis Alcindor Junior (Jr) ini, adalah salah seorang atlet NBA pemeluk Islam. Ia mendeklarasikan diri sebagai seorang Muslim pada saat kariernya tengah menanjak.</p>
<p>Saat itu, seusai mempersembahkan gelar juara NBA untuk Milwaukee Bucks tahun 1971, dan pada saat yang sama merebut gelar pemain terbaik ( <em>Most Valuable Player</em> , MPV) dan &#8216;Rookie of the Year&#8217; (Pendatang baru terbaik) di Liga NBA, Kareem menyatakan diri memeluk Islam. Perpindahan kepercayaan dari Katolik menjadi Muslim ini, dirasakannya sebagai sebuah lompatan tertinggi selama hidupnya.</p>
<p>Ayahnya, Ferdinand Lewis Alcindor Sr, dan ibunya, Cora Lilian, adalah seorang pemeluk Katolik. Karenanya, sejak kecil ia mendapatkan pendidikan di sekolah Katolik. Oleh kedua orang tuanya, ia dimasukkan ke Saint Jude School. Ketika duduk di bangku SMA, ia berhasil membawa tim basket sekolahnya menjuarai New York City Catholic Championship.</p>
<p>Perkenalan Kareem dengan ajaran Islam terjadi lewat salah seorang temannya yang bernama Hamaas Abdul Khaalis. Ia mengenal Hamaas melalui ayahnya. Seperti halnya sang ayah yang seorang musisi jazz, Hamaas juga pernah mengeluti musik jazz. Dia adalah mantan drumer jazz. Dari Hamaas inilah, kemudian Kareem belajar banyak mengenai Islam. Ia juga sempat berkenalan dengan Muhammad Ali (Cassius Clay) yang sudah menjadi Muslim.</p>
<p><strong>Nama budak</strong><br />
Setelah banyak belajar Islam dari Hamaas, tekadnya untuk memeluk Islam pun semakin bulat. Atas ajakan Hamaas, ia kemudian mendatangi sebuah pusat kebudayaan Afrika di Harlem, di mana kaum Muslimin menempati lantai lima gedung itu. &#8221;Saya pergi ke sana dengan mengenakan jubah Afrika yang berwarna-warni,&#8221; terangnya.</p>
<p>Kepada seorang pemuda yang ditemuinya di pusat kebudayaan Afrika ini, ia mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang Muslim. Di hadapan mereka, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggilnya dengan Abdul Kareem.</p>
<p>Namun, Hamaas berkata, &#8221;Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.&#8221; Sejak saat itu, bertepatan dengan tanggal 1 Mei 1971 atau sehari setelah Milwaukee Bucks memenangi kejuaraan NBA, ia memutuskan untuk mengganti namanya dari Ferdinand Lewis Alcindor Jr menjadi Kareem Abdul-Jabbar. Keputusan untuk mengganti nama tersebut, menurut Kareem, juga didorong keinginan untuk menguatkan identitasnya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.</p>
<p>&#8221;Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi, Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip,&#8221; terangnya.</p>
<p>Sebagai anak satu-satunya, keputusan Kareem untuk memeluk Islam sempat membuat khawatir kedua orang tuanya. Namun, kekhawatiran tersebut berhasil ia tepis. &#8221;Mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.&#8221;</p>
<p>Baginya, Islam adalah anugerah dan hidayah Allah yang tertinggi dalam menunjukkan jalan kebenaran bagi umat manusia.</p>
<p><strong>Rajin Belajar</strong></p>
<p>Di sela-sela kesibukannya bermain basket, Kareem masih sempat meluangkan waktu untuk mendalami Islam. &#8221;Saya beralih ke sumber segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Alquran dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus. Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu 10 jam, tetapi saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Namun, diakui dia, cukup sulit baginya untuk bisa menunaikan kewajiban shalat lima kali setiap hari. Kesulitan untuk menjalankan shalat lima waktu ini, terutama dirasakan ketika ia sedang bermain. &#8221;Saya terlalu capai untuk bangun melakukan shalat Subuh. Saya harus bermain basket pada waktu Maghrib dan Isya. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan shalat Zuhur. Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu,&#8221; paparnya.</p>
<p>Begitu juga tatkala bulan Ramadhan tiba. Aktivitasnya yang cukup padat di lapangan, terkadang memaksanya untuk membatalkan puasa. Untuk membayar utang puasanya ini, Kareem selalu mengeluarkan fidyah.</p>
<p>&#8221;Karena saya tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, saya selalu memberi makan sebuah keluarga. Saya memberi sedekah. Saya memberi uang kepada rekan sesama Muslim dan mengatakan kepadanya untuk apa uang itu.&#8221; Pada 1973, Kareem mengunjungi Makkah, dan menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Pada 28 Juni 1989, setelah 20 tahun menjalani karier profesionalnya, Kareem memutuskan untuk berhenti dari ajang NBA. Sejak berhenti bermain, menurut Kareem, dirinya menjadi semakin baik dan dapat menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang Muslim.</p>
<p>&#8221;Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah rida atas apa yang telah saya lakukan,&#8221; tukasnya.</p>
<p><strong>Antara Akting, Menulis, dan Melatih</strong></p>
<p>Setelah pensiun bermain basket, berbagai tawaran datang kepadanya. Namun, bukan tawaran untuk melatih sebuah tim bola basket, melainkan tawaran untuk beradu akting di depan kamera. Dunia akting sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi seorang Kareem Abdul-Jabbar. Ketika masih memperkuat LA Lakers, ia pernah bermain di film  <em>Game of Death</em> yang dirilis tahun 1978. Di film laga ini, ia harus beradu akting dengan Bruce Lee. Tawaran untuk bermain kedua kalinya di film layar lebar datang di tahun 1980. Saat itu ia harus memerankan tokoh kopilot Roger Murdock dalam film komedi  <em>Airplane!</em> .</p>
<p>Penampilan Kareem di layar televisi dan film tidak berhenti sampai di situ. Ia tercatat pernah bermain di sejumlah serial televisi di Amerika Serikat. Di antaranya adalah serial komedi situasi  <em>Full House, Living Single, Amin, Everybody Loves Raymond, Martin, Different Strokes, The Fresh Prince of Bel-Air, Scrubs</em> , dan  <em>Emergency!</em> . Dia juga muncul di film televisi  <em>Stepen King&#8217;s The Stand</em> dan  <em>Slam Dunk Ernest</em> . Di serial  <em>Full House</em> , ia harus beradu akting dengan anaknya sendiri, Adam.</p>
<p>Pada 1994, Kareem juga menjajal peruntungannya di balik layar dengan menjadi  <em>co-producer</em> eksekutif dari film televisi  <em>The Vernon Johns Story</em> . Kemudian pada 2006, ia tampil dalam acara  <em>The Colbert Report</em> . Pada 2008 ia berperan sebagai seorang manajer panggung dalam  <em>Nazi Gold</em> .</p>
<p>Di luar dunia akting, ternyata ayah dari Habiba, Sultana, Kareem Jr, Amir, dan Adam ini memiliki bakat yang lain, yakni dalam bidang tulis menulis. Selain dikenal sebagai pemain basket dan bintang film, Kareem juga dikenal sebagai seorang penulis buku. Ia sudah menulis sedikitnya tujuh buku yang kesemuanya  <em>best seller</em> .</p>
<p>Buku-buku hasil karyanya, antara lain  <em>Giant Steps</em> yang ditulisnya bersama Peter Knobler (1987),  <em>Kareem</em> (1990),  <em>Selected from Giant Steps</em> (1999),  <em>Black Profiles in Courage: A Legacy of African-American Achievement</em> yang ditulisnya bersama Alan Steinberg (1996),  <em>A Season on the Reservation: My Sojourn with the White Mountain Apaches</em> yang ditulisnya bersama Stephen Singular (2000),  <em>Brothers in Arms: The Epic Story of the 761st Tank Battalion</em> dan  <em>WWII&#8217;s Forgotten Heroes</em> yang ditulisnya bersama Anthony Walton (2005), dan  <em>On the Shoulders of Giants: My Journey Through the Harlem Renaissance</em> yang ditulisnya bersama Raymond Obstfeld (2007).</p>
<p>Kendati demikian, olahraga basket tidak bisa dipisahkan dari diri Kareem. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa melatih salah satu klub NBA. Setelah memutuskan berhenti bermain, posisi tertinggi Kareem hanya sebagai asisten pelatih sejumlah klub NBA. Los Angeles Clippers dan Seattle SuperSonics menggunakan jasanya untuk melatih center muda Michael Olowokandi dan Jerome James.</p>
<p>Pada 2005, ia kembali ke Lakers sebagai asisten khusus pelatih kepala Phil Jackson. Tugasnya mengasah kemampuan center muda Lakers, Andrew Bynum. Ia dinilai berhasil dengan semakin meningkatnya performa Bynum. Musim lalu, Kareem berjasa mengantarkan Lakers juara NBA dengan kontribusi 14 poin dan delapan  <em>rebound</em> per  <em>game</em> .</p>
<p>Ia juga pernah menjadi pelatih kepala, tapi hanya di tim sekelas Oklahoma Storm. Tim ini bermain di United States Basketball League pada 2002, sebuah liga kelas bawah tempat para pemain mengasah kemampuan sebelum berkiprah di NBA atau liga-liga lain. dia/sya/taq <a href="http://republika.co.id/berita/88926/Kareem_Abdul_Jabbar_Lompatan_Iman_Raja_Basket" target="_blank"><strong>[republika]</strong></a></p>
<p><strong>Biodata :</strong></p>
<p>Nama Asli : Ferdinand Lewis Alcindor Jr<br />
Nama Muslim : Kareem Abdul Jabbar<br />
Masuk Islam : 1971<br />
Lahir : New York City, 16 April 1947<br />
Orang Tua : Ferdinand Lewis Alcindor Sr dan Cora Lilian<br />
Klub Pertama : Tim Basket UCLA</p>
<p>Klub Profesional :<br />
- Milwaukee Bucks (1969-1975)<br />
- LA Lakers (1975-1989)</p>
<p><strong>Penghargaan:</strong><br />
- Enam kali NBA MPV (1971-1972, 1974, 1976-1977, 1980)<br />
- 19 kali menjadi tim NBA All Star (1970-1977 dan 1979-1989).<br />
- Dua kali Finalis NBA MPV (1971, 1985)<br />
- 10 kali All-NBA Team (1971-1973, 1974, 1976-1977, 1980-1981, 1984, 1986).<br />
- Lima kali All-NBA Second Team (1970, 1978-1979, 1983, 1985).<br />
- Lima kali NBA All-Defensive First Team (1974-1975, 1979-1981)<br />
- Enam kali NBA All-Defensive Second Team (1970-1971, 1976-1978, 1984).<br />
- NBA Rookie of The Year (1970)<br />
- NBA All-Rookie Team (1970); dan banyak lagi<br />
<strong><br />
Prestasi :</strong><br />
- Juara NBA (1971) bersama Milwaukee Bucks<br />
- Juara NBA (1980, 1982, 1985, 1987, 1988) bersama LA Lakers</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kareem-abdul-jabbar-lompatan-iman-raja-basket/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Timbuktu, Kota Legenda Islam di Afrika Barat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/timbuktu-kota-legenda-islam-di-afrika-barat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/timbuktu-kota-legenda-islam-di-afrika-barat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 18:10:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[arsitek]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>
		<category><![CDATA[sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1081</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh tragis nasib Timbuktu. Kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di benua Afrika Barat itu, kini telah berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil. Situasi dan pemandangan &#8216;negeri di ujung dunia&#8217; itu, begitu kontras bila dibandingkan dengan Timbuktu 900 tahun lalu &#8211; ketika Islam mencapai kejayaannya di wilayah itu.
Sejarah mencatat, pada abad ke-12 M Timbuktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh tragis nasib Timbuktu. Kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di benua Afrika Barat itu, kini telah berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil. Situasi dan pemandangan &#8216;negeri di ujung dunia&#8217; itu, begitu kontras bila dibandingkan dengan Timbuktu 900 tahun lalu &#8211; ketika Islam mencapai kejayaannya di wilayah itu.</p>
<p>Sejarah mencatat, pada abad ke-12 M Timbuktu telah menjelma sebagai salah satu kota pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang termasyhur. Di era kejayaan Islam, Timbuktu juga sempat menjadi sentra perdagangan terkemuka di dunia. Rakyat Timbuktu pun hidup sejahtera dan makmur.<span id="more-1081"></span></p>
<p>Secara gemilang, sejarawan Abad XVI, Leo Africanus, menggambarkan kejayaan Timbuktu dalam buku yang ditulisnya. &#8221;Begitu banyak hakim, doktor dan ulama di sini (Timbuktu). Semua menerima gaji yang sangat memuaskan dari Raja Askia Muhammad &#8211; penguasa Negeri Songhay. Raja pun menaruh hormat pada rakyatnya yang giat belajar,&#8221; tutur Africanus.</p>
<p>Di era keemasan Islam, ilmu pengetahuan dan peradaban tumbuh sangat pesat di Timbuktu. Rakyat di wilayah itu begitu gemar membaca buku. Menurut Africanus, permintaan buku di Timbuktu sangat tinggi. Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Sehingga, perdagangan buku di kota itu menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibanding bisnis lainnya.</p>
<p>Lalu bagaimanakah peradaban Islam bisa berkembang pesat di negeri yang berada nun jauh di ujung dunia itu? <em>Tombouctou</em> &#8211; begitu orang Prancis menyebut Timbuktu &#8211; adalah sebuah kota di negara Mali, Afrika Barat. Kota multietis itu dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Secara geografis, Timbuktu terletak sekitar 15 kilometer dari Sungai Niger.</p>
<p>Kota Timbuktu didirikan suku Tuareg Imashagan pada abad ke-11 M. Alkisah, saat musim hujan, suku Tuareg menjelajahi padang rumput hingga ke Arawan untuk mengembalakan hewan peliharaan mereka. Ketika musim kering tiba, mereka mendatangi sungai Niger untuk mencari rumput. Ketika tinggal di sekitar sungai, suku Tuareg terserang sakit akibat gigitan nyamuk dan air yang menggenang.</p>
<p>Dengan kondisi yang kurang menguntungkan itu, mereka memutuskan untuk menetap beberapa mil dari sungai Niger dan mulai menggali sebuah sumur. Ketika musim penghujan datang, suku Turareg biasa meninggalkan barang-barang yang berat kepada seorang wanita tua bernama Tin Abutut &#8211; yang tinggal dekat sungai. Seiring waktu, nama Tin Abutut berubah menjadi Timbuktu.</p>
<p>Sejak abad ke-11 M, Timbuktu mulai menjadi pelabuhan penting &#8211; tempat beragam barang dari Afrika Barat dan Afrika Utara diperdagangkan. Pada era itu, garam merupakan produk yang amat bernilai. Di Timbuktu garam dijual atau ditukar dengan emas. Kemakmuran kota itu menarik perhatian para sarjana berkulit hitam, pedagang kulit hitam, dan saudagar Arab dari Afrika Utara.</p>
<p>Garam, buku, dan emas mejadi tiga komoditas unggulan yang begitu tinggi angka permintaannya pada era itu. Garam berasal dari wilayah Tegaza dan emas diproduksi dari tambang emas di Boure dan Banbuk. Sedangkan buku dicetak dan diproduksi para sarjana atau berkulit hitam dan ilmuwan dari Sanhaja. Proses pembangunan pertama kali berlangsung di Timbuktu pada awal abad ke-12 M. Para arsitek Afrika dari Djenne dan arsitek Muslim dari Afrika Utara mulai membangun kota itu. Pembangunan di Timbuktu berlangsung menandai berkembang pesatnya perdagangan dan ilmu pengetahuan. Saat itu, Raja Soso diserbu kerajaan Ghana. Sehingga, para ilmuwan dari Walata eksodus ke Timbuktu.</p>
<p>Timbuktu pun menjelma menjadi pusat pembelajaran Islam serta sentra perdagangan. Di abad ke-12 M, Timbuktu telah memiliki tiga universitas serta 180 sekolah Alquran. Ketiga universitas Islam yang sudah berdiri di wilayah itu antara lain; Sankore University, Jingaray Ber University, dan Sidi Yahya University. Inilah masa keemasan peradaban Islam di Afrika.</p>
<p>Guna memenuhi &#8216;dahaga&#8217; masyarakat Muslim Timbuktu akan beragam pengetahuan, buku yang dijual di kota itu banyak yang didatangkan dari negeri Islam lainnya. Selain itu, tak sedikit pula buku-buku yang diperjualbelikan adalah hasil karya para ilmuwan dan sarjana di Tumbuktu. Di kota itu juga sudah ada industri percetakan buku.</p>
<p>Perpustakaan universitas dan milik pribadi pun bermunculan dengan beragam koleksi buku yang ditulis para ilmuwan. Ilmuwan terkemuka Timbuktu, Ahmad Baba, pada masa itu sudah memiliki perpustakaan pribadi dengan jumlah koleksi buku mencapai 1.600 judul. Perpustakaan Ahmad Baba itu tercatat sebagai salah satu perpustakaan kecil yang ada di Timbuktu.</p>
<p>Pada tahun 1325 M, Timbuktu mulai dikuasai Kaisar Mali, Masa Mussa (1307 M &#8211; 1332 M). Raja Mali yang terkenal dengan sebutan Kan Kan Mussa itu begitu terkesan dengan warisan Islam di Timbuktu. Sepulang menunaikan haji di Makkah, Sultan Musa membawa seorang arsitek terkemuka asal Mesir bernama Abu Es Haq Es Saheli. Sang sultan menggaji arsitek itu dengan 200 kilogram emas untuk membangun Masjid Jingaray Ber &#8211; masjid untuk shalat Jumat.</p>
<p>Sultan Musa juga membangun istana kerajaannya atau <em>Madugu</em> di Timbuktu. Padamasa kekuasaannya, Musa juga membangun masjid di Djenne dan masjid agung di Gao (1324 M &#8211; 1325 M) &#8211; kini tinggal tersisa fondasinya saja. Kerajaan Mali mulai dikenal di seluruh dunia, ketika Sultan Musa menunaikan ibadah haji di tanah Suci, Makkah pada tahun 1325 M.</p>
<p>Sebagai penguasa yang besar, dia membawa 60 ribu pegawai dalam perjalanan menuju Makkah. Hebatnya, setiap pegawai membawa tiga kilogram emas. Itu berarti dia membawa 180 ribu kilogram emas. Saat Sultan Musa dan rombongannya singgah di Mesir, mata uang di Negeri Piramida itu langsung anjlok. Pesiar yang dilakukan sultan itu membuat Mali dan Timbuktu mulai masuk dalam peta pada abad ke-14 M.</p>
<p>Kesuksesan yang dicapai Timbuktu membuat seorang kerabat Sultan Musa, Abu Bakar II menjelajah samudera dengan menggunakan kapal. Abu Bakar dan tim ekspedisi maritim yang dipimpinnya meninggalkan Senegal untuk berlayar ke Lautan Atlantik. Pangeran Kerajaan Mali itu kemungkinan yang menemukan benua Amerika. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan bahasa, tradisi dan adat Mandika di Brasil.</p>
<p>Sayang, kejayaan Timbuktu terus meredup seiring bergantinya zaman. Kini Timbuktu hanyalah sebuah kota terpencil yang lemah. Bahkan nyaris terlupakan. Mungkinkah peradaban Islam bangkit kembali di negeri itu? heri ruslan <a href="http://republika.co.id/koran.asp?kat_id=177" target="_blank">(republika)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/timbuktu-kota-legenda-islam-di-afrika-barat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liberalisasi Syariat Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/liberalisasi-syariat-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/liberalisasi-syariat-islam#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 17:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisasi syariat islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3207</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kaum Muslim, syariat Islam sudah melekat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Syariat Islam memiliki karakter yang khas: bersifat final dan universal. Kaum Muslim, dengan latar belakang budaya apa pun, kapan pun, dan di mana pun melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji, menikah, menyelenggarakan jenazah, dan sebagainya dengan cara yang sama. Sebab, syariat Islam memang diturunkan Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kaum Muslim, syariat Islam sudah melekat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Syariat Islam memiliki karakter yang khas: bersifat final dan universal. Kaum Muslim, dengan latar belakang budaya apa pun, kapan pun, dan di mana pun melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji, menikah, menyelenggarakan jenazah, dan sebagainya dengan cara yang sama. Sebab, syariat Islam memang diturunkan Allah kepada Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw, untuk menjadi rahmat bagi seluruh manusia.</p>
<p>Tapi, belakangan, sebagian kalangan Muslim sendiri mulai menyoal  masalah syariat. Dengan bekal “keimanan” kepada paham-paham modern (Pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender, HAM, dan sebagainya) sejumlah hukum Islam yang dianggap ketinggalan zaman, diupayakan untuk dibuang atau diubah penafsirannya. Prof. Abdullah Ahmad an-Na’em, pemikir liberal asal Sudan yang pernah berkunjung ke Indonesia,  misalnya,  menyatakan, ada empat wilayah – yakni konstitusi modern, hukum kriminal, hukum internasional, dan HAM&#8211;  dimana syariat Islam  menyimpan sejumlah problem serius. <span id="more-3207"></span></p>
<p>Ada yang menganggap, hukum Islam tentang kaum non-Muslim tidak toleran, bahkan cenderung diskriminatif. Dalam buku Fiqih Lintas Agama (2004) dikatakan: “Banyak konsep fiqih menempatkan penganut agama lain lebih rendah ketimbang umat Islam, sehingga berimplikasi meng-exclude atau mendiskreditkan mereka.”   Sejumlah pihak juga menggugat hokum Islam tentang perempuan yang kata mereka kerap memposisikan kaum hawa ini menjadi subordinat bagi laki-laki. Ringkasnya, dalam kacamata mereka,  fiqh klasik tidak ramah perempuan, misigonik, dan bias jender. (Lihat misalnya Amina Wadud, Qur’an and Woman, Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspektif (New York: Oxford University Press)).</p>
<p>Karena itulah, kalangan ini kemudian menyerukan dilakukannya reformasi,  perombakan, atau dekonstruksi hukum-hukum Islam dan sekaligus melakukan sekularisasi. Jika tidak, tulis Abdullah Ahmed an-Na’em, “the population of Muslim countries would lose the most significant benefits of secularization.” (penduduk Negara-negara Islam akan kehilangan manfaat yang cukup signifikan dari sekularisasi). (Lihat, Abdullah Ahmad an-Na’im, Toward an Islamic Reformation (Syracuse, New York: Syracuse University Press, 1990).</p>
<p>Gagasan merombak Islam, dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai Barat modern inilah yang kemudian dikenal sebagai bentuk “Liberalisasi Islam”.  Syariat Islam menjadi salah satu sasaran utama proyek liberalisasi, disamping pembongkaran terhadap ajaran aqidah dan konsep-konsep dasar Islam tentang wahyu, kenabian, dan sebagainya.  Gugatan terhadap kesucian al-Quran, misalnya, sudah berulangkali disuarakan oleh kaum liberal. Bahkan, sebelum melubernya Lumpur Lapindo, kota Surabaya dihebohkan tindakan seorang dosen yang berulangkali menginjak-injak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri, hanya untuk membuktikan bahwa al-Quran – kata dia – tidak suci. Setelah ribut di media massa, si dosen dijatuhi hukuman skorsing oleh kampusnya.</p>
<p><strong>Mencari-cari<br />
</strong> Agar seolah-olah pendapatnya tentang perombakan syariat Islam bisa diterima kaum Muslim, ada yang berusaha “mencari-cari” dalil sejarah. Kata mereka, para sahabat Nabi saw pun pernah meninggalkan hukum Islam dan menggantinya dengan aturan yang dibuatnya sendiri.</p>
<p>Umar ibn Khattab r.a. adalah sahabat Nabi yang biasanya disebut-sebut telah berani merombak hokum Islam, dengan cara mendahulukan akalnya, ketimbang nash al-Quran. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai “Bapak Islam Liberal”.</p>
<p>Padahal, Umar bin Khattab jauh dari tuduhan liberal yang mereka alamatkan kepadanya. Tidak satu pun ijtihadnya yang dapat dikategorikan membelakangi teks-teks al-Qur’an. Umar tidak menerapkan hukum pencurian terhadap seorang pencuri pada tahun paceklik sesuai dengan surah al-Maidah ayat 38, bukan demi kemaslahatan semata. Lebih dari itu, Umar r.a. berbuat demikian, demi menjaga kesucian Islam dari dituduh bersifat zalim.</p>
<p>Bagaimana mungkin Umar r.a. melaksanakan hukuman tersebut sedangkan syarat-syarat yang menuntutnya untuk menerapkan hukuman tersebut tidak mencukupi?</p>
<p>Misalnya dari segi ukuran barang yang dicuri. Apakah ukuran barang yang dicuri oleh sang pencuri ketika itu sudah mencapai ukuran yang membolehkannya untuk dihukum dengan hukuman sedemikian? Kasus pencurian yang disebutkan terjadi di zaman Umar r.a. tersebut terjadi pada tahun paceklik. Sementara orang tersebut mencuri hanya untuk memenuhi kebutuhan perutnya yang ketika itu kelaparan. Dari keterangan ini jelas sekali bahwa syarat yang diperlukan untuk diterapkannya hukuman al-Quran tentang pencurian tidak terpenuhi. Jadi bukan karena Umar bin Khathab berpaling dari teks al-Quran, tetapi justru Umar ingin menerapkan teks al-Qur’an itu dengan seadilnya.</p>
<p>Masalah ini sudah banyak dikaji oleh para ulama dan cendekiawan. Sayangnya, masih saja berbagai kalangan mencari-cari dalil untuk merombak syariat Islam. Analog dengan hal semacam itu, misalnya, adalah kewajiban menjalankan shalat lima waktu. . Shalat jelas wajib hukumnya. Tapi shalat tidak wajib dilaksanakan sebelum masuk waktunya, karena ia adalah salah satu syarat wajibnya salat. Jika ada orang yang melaksanakan shalat sebelum tiba waktunya, maka orang tersebut dianggap telah melanggar nash al-Quran dan shalatnya pun tidak sah. Demikian jugalah halnya hukuman potong tangan bagi pencuri. Hukuman ini tidak bisa dilaksanakan sebelum seluruh syaratnya terpenuhi. Jadi Umar ibn Khattab sama sekali tidak melanggar ketentuan nash al-Qur’an.</p>
<p>Demikian juga halnya dengan ijtihad Umar r.a. menolak untuk menyerahkan zakah kepada salah satu keluarga yang selalu mendapat bagian pada masa Rasulullah. Keluarga ini ketika itu masuk dalam kategori muallafah qulubuhum. Penolakan Umar untuk menyerahkan zakat kepada kelompok ini bukan karena beliau berpaling dari nash al-Qur’an yang sharih. Seharusnya yang patut ditanyakan adalah apakah orang yang datang kepada Umar yang mengklaim pernah menerima zakat dari Rasulullah itu mempunyai status yang sama ketika mereka datang kepada Umar bin Khathab?  Dengan kata lain, apakah orang tersebut masih bisa dikategorikan sebagai kelompok muallaf qulubuhum pada masa pemerintahan Umar r.a. Dalam pandangan Umar, orang tersebut sudah keluar dari kategori ini. Makanya, dia tidak memberikan zakat kepada kelompok itu. (Untuk pembahasan lanjut tentang ijtihad-ijtihad ‘Umar ini bisa dibaca, ‘Abid bin Muhammad al-Sufyani, Al-Thabat wa al-Syumul fi al-Syari’ah al-Islamiyyah, 461ff; Yusuf al-Qaradawi, al-Siyasah al-Syar’iyyah, 176ff).</p>
<p>Gambaran agak terperinci semacam ini diperlukan, agar seseorang tidak mudah percaya, bahwa sahabat Nabi terkemuka telah mendahulukan pendapat akalnya sendiri, dengan mengesampingkan nash-nash al-Quran. Jika mau merombak hukum-hukum Islam, sepatutnya tidak mencari-cari dalil yang keliru, yang akhirnya justru menuduh sahabat Nabi telah melakukan sesuatu yang sangat tidak terpuji.  Padahal, ijtihad Umar telah disetujui oleh para sahabat Rasulullah yang bersikap sangat kritis terhadap berbagai penyimpangan ajaran Islam.</p>
<p>Banyak kalangan beralasan bahwa kemaslahatan akal harus didahulukan ketimbang kemaslahatan nash al-Quran. Jika memang ada maslahat, maka di situ ada hukum Islam. Logika semacam ini sebenarnya sangat lemah, sebab ketika bicara “maslahat” manusia juga sangat berbeda pendapatnya. Daging babi yang telah disterilkan bisa membawa maslahat. Ada yang berdalih, khamr boleh di saat udara dingin karena ada maslahat. Bahkan, sejumlah pendukung gerakan legalisasi perkawinan homoseks dan lesbian juga beralasan akan adanya maslahat bagi pelaku perkawinan sesama jenis itu. Salah satunya, kata mereka, untuk mengurangi jumlah penduduk bumi.</p>
<p><strong>Pembaruan<br />
</strong> Pembaruan atau apa yang sering disebut dengan tajdid (renewal) bukanlah hal baru dalam Islam; ia bahkan sudah menjadi built-in-system dalam pemikiran Islam. Rasullullah saw sendiri sudah mewanti-wanti hal itu. Sabda beliau: “Sesungguhnya Allah akan mengutus pada tiap pangkal abad seorang mujaddid yang akan memperbaharui agama-Nya”.  Meski demikian, tajdid hendaklah dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian agar tidak mengabaikan prinsip-prinsip dasar yang mejadi landasan Islam. Mereka harus jeli dan serius membedakan antara yang ushuli (principle/foundation) dan thawabit (unchangeable) dengan yang furu’ (cabang) dan mutaghayyirat (mutable). Karena kegagalan mengindentifikasi perbedaan ini dapat berakibat fatal bagi Islam dan ummat Islam itu sendiri. Disebabkan kegagalan itu bisa jadi apa yang seharusnya sebagai hal yang ushuliy dirubah menjadi furu’iy dan sebaliknya.</p>
<p>Realitas sosial patut diperhatikan. Dan para ulama Islam sejak dulu sadar betul tentang pentingnya unsur reallitas ini sampai-sampai para ulama    menetapkan ‘urf atau adat kebiasaan masyarakat setempat sebagai sandaran hukum, asalkan tidak kontradiktif dengan teks-teks al-Qur’an yang masuk dalam kategori qath’iy al-thubut wa al-dilalah. Ibn ‘Abidin pernah menegaskan: “‘Urf yang bertentangan dengan nass tidak bisa menjadi pertimbangan.” Dengan nada yang sama, Ibn Nujaym juga mengatakan: “‘Urf tidak bisa menjadi bahan pertimbangan pada persoalan yang ada ketetapan nassnya (al-mansus ‘alayh)”. (Dikutip dari ‘Umar Sulayman al-Ashqar, Nazariyyat fi Usul al-Fiqh (Beirut: Dar al-Nafa’is, 199),</p>
<p>Oleh sebab itu, hukum haramnya ghibah dan dusta, wajibnya salat, zakat, puasa, haramnya riba, hukum nikah dan talaq, hukum hudud dan qishas, rajam terhadap pezina, dan lain-lain yang oleh para ulama dikategorikan qat‘iy al-tsubut wa al-dalalah  tidak bisa berubah, meskipun waktu dan tempat berubah. Tidak sepantasnya seorang Muslim menjadikan Islam tunduk berlutut mengikuti selera zaman. Sebab, selera zaman begitu beragam dan sangat nisbi. Sebab, pada prinsipnya Islam diturunkan untuk kemaslahatan manusia. Hak untuk menentukan halal dan haram, wajib dan haram, berada di tangan Allah SWT. Tidak sepatutnya manusia berani merampas “hak Allah” tersebut, melakukan makar kepada Allah, atau  menempatkan dirinya sebagai tandingan Allah SWT.</p>
<p>Kaum Muslim yakin benar dengan kebenaran firman Allah SWT: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’:65). <a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=174&amp;Itemid=61" target="_blank"><strong>[insists]</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/liberalisasi-syariat-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nek Karim</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/nek-karim</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/nek-karim#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 18:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[By: Jazimah al-Muhyi
&#8220;Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!&#8221;
Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.
&#8220;Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?&#8221;
&#8220;Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara&#8230;.&#8221;
&#8220;Bunda&#8230;Bunda&#8230;jangan biarkan ini terjadi&#8230;.Bunda&#8230;.kita harus bertindak.&#8221;
&#8220;Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.&#8221;
Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.
Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By: Jazimah al-Muhyi</strong></p>
<p>&#8220;Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!&#8221;</p>
<p>Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.</p>
<p>&#8220;Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bunda&#8230;Bunda&#8230;jangan biarkan ini terjadi&#8230;.Bunda&#8230;.kita harus bertindak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.&#8221;</p>
<p>Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.</p>
<p>Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk rumah sakit milik sebuah yayasan nasrani.</p>
<p>Kupandangi dengan sedih tubuh kurus Nek Karim dengan berbagai selang yang melilit. Mata Nek Karim yang mengatup, tak sedetik pun terbuka. Syukurlah, dengan begitu, Nek Karim tak perlu menatap salib yang tergantung tepat di depan ranjang, yang akan segera tertangkap penglihatan, andaikan mata tua itu terbuka. Hatiku menjerit. Nek Karim muslim, mengapa harus berada di ruangan ini? Mengapa benda itu harus tetap tergantung di hadapannya?<span id="more-1127"></span></p>
<p>Bunda membisikkan sesuatu yang menggetarkan hati. &#8220;Perasaan Bunda, Nek Karim tidak sakit biasa, Rika.&#8221;</p>
<p>Aku memandang Bunda dengan sorot mata penuh sejuta tanya.</p>
<p>&#8220;Bunda sering menemani akhir hidup orang-orang yang hendak menghadap Allah. Sepertinya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bunda memang tidak melanjutkan kalimatnya. Namun aku sudah sangat paham ke mana arah pembicaraan itu. Nek Karim tidak pernah mengeluh sakit. Pagi hari sebelum terkulai pingsan pun beliau masih sibuk memasak makanan kesukaan suaminya.</p>
<p>Nek Karim. Keluargaku tak ada hubungan darah dengannya. Namun pertalian iman memang fondasinya lebih kuat dibanding pertalian berdasarkan ikatan kekerabatan. Nek Karim adalah seorang muallaf. Sementara kelima putranya semua penganut Trinitas.</p>
<p>Belum genap sepuluh tahun Nek Karim bersama suaminya mengucapkan syahadat. Namun demikian, percepatan yang Nek Karim perlihatkan sungguh menakjubkan. Beliau seringkali bertindak lebih islami dibandingkan dengan orang yang memeluk Islam sejak kecil. <em>Ghiroh-</em>nya untuk berjuang di jalan Allah seringkali mendecakkan kagumku atas kuasa-Nya. <em>Subhanallah!</em> Untung saja, kelima putranya bukan termasuk nasrani yang taat, sehingga mereka tidak pernah mengusik keberagamaan orang tuanya. Lagi pula, hanya satu yang tetap tinggal sekampung dengan Nek Karim.</p>
<p>Sekarang Nek Karim sakit. Sakit yang tidak biasa. Sakit yang Bunda perkirakan hanya sebagai lantaran menghadapnya Nek Karim kepada Allah. Sakit yang sulit dideteksi, sehingga para dokter pun angkat tangan. Tapi mengapa, Nek Karim masih dipertahankan untuk dirawat di rumah sakit? Untuk apa? Berbagai praduga buruk pun lantas berseliweran di kepalaku. Cerita tentang orang meninggal yang diperebutkan cara perawatan jenazahnya karena keluarganya berbeda agama membuatku bergidik. Nek Karim muslim, apakah ada yang hendak memalingkannya dari kebenaran agama tauhid?</p>
<p>&#8220;Bunda, kenapa Nek Karim dibiarkan sendirian bersama pastur itu? Bagaimana jika nanti Nek Karim dikafirkan?&#8221; Aku nyaris terisak. Aku tak melepaskan mataku pada Pastur setengah tua yang sedang membelai-belai tubuh Nek Karim yang terbungkus selimut. Samar-samar, karena gorden jendelanya pun diturunkan. Ini tak boleh dibiarkan. Ini harus dihentikan! Aku tak rela Nek Karim dikembalikan kepada agamanya semula. Beberapa kali kusaksikan hal-hal yang mengkhawatirkan bagi iman Nek Karim di rumah sakit ini.</p>
<p>&#8220;Ustadz, kalau Nek Karim sampai berhasil dikafirkan menjelang ajalnya, kita turut bertanggung jawab.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak, sesama muslim itu bersaudara. Kita harus menyelamatkan Nek Karim!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayah kan pandai melobi, bergerak, dooong!!&#8221;</p>
<p>Aku terus bicara, pada Ayah, pada Pak Kadus, pada Pak RT, kepada kakak, dan pasti juga Bunda. Akidah Nek Karim harus diselamatkan!</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Sore itu. Sinar sang mentari sudah tidak menyengat, udara berangsur dingin. Aku menarik nafas lega ketika menyaksikan sebuah ambulans memasuki kampungku. Ambulans berisi Nek Karim, yang atas lobi beberapa pemuka kampung diperbolehkan pulang oleh dokter, dan anak-anaknya pun tak bisa berbuat banyak. Namun, bagaimanapun juga aku tahu, perjuangan ini belum berakhir. Kesadaran Nek Karim belum pulih. Seminggu di rumah sakit tidak berpengaruh apa-apa terhadap kondisinya, bahkan kulihat semakin lemah. Tentu saja, karena paramedis di rumah sakit itu memperlakukan Nek Karim sebagai pasien biasa, bukan sebagai orang yang bersiap-siap untuk menghadap Tuhan. Mungkin juga, Nek Karim justru tersiksa berada dalam perawatan orang-orang itu. Orang-orang yang mengajarkan apa-apa yang pasti diingkari oleh nurani Nek Karim. Lagu rohani yang diputar tiap pagi, lonceng kecil yang dibunyikan dua kali sehari&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8220;Rika, sudah siap?&#8221;</p>
<p>Aku merapikan jilbabku dengan cepat. Kuambil Al Qur&#8217;an kecil dari meja belajarku. Kuikuti langkah Bunda yang sudah hampir mencapai pintu. Hari ini, aku dan Bunda bersama beberapa teman pengajian Bunda di majelis taklim hendak menengok Nek Karim, sekaligus membacakan surat At Taubah, surat Yasin, dan Ar Ra&#8217;du. Agar memudahkan jalan Nek Karim untuk menghadap Allah, ataupun menyembuhkan sakitnya, ataupun menguatkan iman Nek Karim dalam menghadapi musibah sakitnya.</p>
<p>&#8220;Puji Tuhan&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku tertegun di depan pintu. Langkah Bunda dan para Ibu juga seketika terhenti. Ada pendeta yang sedang mendo&#8217;akan Nek Karim. Hatiku bergejolak. Apa ini maksudnya?</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum.&#8221; Aku memberanikan diri. Salam itu kuucapkan pada Nek Karim, entah mengapa aku yakin beliau masih bisa mendengar. Salam itu juga pertanda kehadiranku. Aku ingin agar pendeta itu segera mengakhiri do&#8217;anya. Syukurlah, pendeta yang berambut tipis itu cukup tahu diri. Dia segera menurunkan salibnya dari badan Nek Karim, dan segera keluar dari ruangan.</p>
<p>Malam ini gelap gulita. Jika aku berada pada posisi anak Nek Karim, barangkali aku pun akan melakukan tindakan yang sama. Setiap orang yang beragama, pastilah dia meyakini akan kebenaran agama yang dipeluknya. Pastilah anak-anak Nek Karim menganggap bahwa Ibunya akan masuk neraka bila tetap berada dalam iman Islamnya. Hal tersebut tentu tak bisa disalahkan. Upaya mereka untuk mengembalikan Ibunya dalam iman yang ?benar&#8217;, kebenaran sejati menurut versi mereka, wajar-wajar saja.</p>
<p>Kupandangi sang purnama yang bersinar bulat. Namun aku sebagai muslim, sebagai orang yang yakin betul akan satu-satunya kebenaran, Islam sebagai jalan keselamatan tunggal, tentu tidak boleh tinggal diam. Bagaimanapun, perbuatan anak Nek Karim bisa dikategorikan tidak <em>fair</em>. Nek Karim sudah dalam kondisi tidak berdaya, bahkan mungkin sudah tidak dalam kesadaran penuh. Ini negara yang menjunjung hak asasi manusia, termasuk di dalamnya kebebasan beragama. Meskipun berstatus anak, tak ada hak sedikitpun dalam diri mereka untuk mengubah keyakinan Nek Karim.</p>
<p>&#8220;Rika mau menjaga Nek Karim malam ini, Bunda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau anak-anak Nek Karim tidak setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah mereka akan berani? Mereka juga kan menjadi Kristen hanya karena korban kristenisasi. Keluarga besar Nek Karim kan mayoritas muslim, Bunda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau begitu. Hati-hati membawa diri, jangan membuat masalah. Jangan bersikap keras!&#8221;</p>
<p>&#8220;Insya Allah Rika sudah paham, Bunda. Islam kan <em>rahmatan lil ?alamin</em>.&#8221;</p>
<p>Bunda tersenyum, lantas mengelus kepalaku lembut. Akupun berangkat ke rumah Nek Karim dengan perasaan lega.</p>
<p>Alhamdulillah, pada akhirnya usulku diperhatikan oleh orang-orang yang lebih dewasa dariku. Jangan sampai sedetik pun Nek Karim dibiarkan lengah dari pengawasan saudara seiman. Nek Karim sangat baik, aku berharap akhir hidupnya pun khusnul khatimah. Jadilah Bunda, Ayah, aku, Kak Wita, teman-teman Bunda dan Ayah, para tetangga, bergantian menjagai Nek Karim.</p>
<p>Malam ini sungguh senyap. Aku baru saja menyelesaikan surat At Taubahku. Kuletakkan mushaf di meja samping ranjang. Kucium pipi keriput Nek Karim. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak menetes. Kucium lagi pipinya, lalu tangannya. Tangan itu yang sering memberikanku makanan, membuatkan roti bolu kesukaanku. Tangan itu yang melambai-lambai setiap aku berjalan di depan rumahnya. Tangan itu pula yang mengelus pipiku, lalu bibirnya berkata&#8217; &#8220;Jadilah cucu Nenek yang sholihat. Do&#8217;akan terus kalau Nenek sudah meninggal. Nenek tidak bisa berharap dari anak-anak Nenek, juga dari cucu-cucu Nenek.&#8221;</p>
<p>Tak hanya tangannya, kaki Nek Karim pun kupeluk. Kaki itu yang melangkah ke masjid. Kaki itu yang meskipun tertatih, melangkah ke rumahku, ke rumah Bude Sri, ke tempat orang-orang yang disayanginya, untuk menghantarkan makanan, untuk bersilaturrahim. Kaki itu yang terlihat begitu ringan melangkah ke majelis ta&#8217;lim, mendatangi orang yang sedang punya hajat, orang yang dirundung duka atas kematian anggota keluarganya. Subhanallah, sepasang kaki yang insya Allah penuh barokah.</p>
<p>Siang itu panas menyengat. Aku berjalan dengan tergesa. Kulihat bendera putih melambai dari perempatan jalan menuju rumah Nek Karim. Apakah&#8230;.</p>
<p>Pertanyaan di hatiku terjawab, hanya setelah sepuluh menit aku menjejakkan lima belas langkah lebarku. Kulihat Bunda di depan rumah Nek Karim, juga beberapa orang yang sedang sibuk menggelar tikar, mengatur kursi-kursi, atau melakukan pekerjaan lain.</p>
<p>Aku mencium tangan Bunda, Bunda pun memelukku. Kutatap mata Bunda. &#8220;Bagaimana?&#8221; Aku bertanya dengan suara berbisik.</p>
<p>Bunda tersenyum? dengan sorot mata yang penuh cahaya. &#8220;<em>Insya Allah khusnul khotimah</em>, Rika.&#8221;</p>
<p>Aku menarik nafas dalam-dalam penuh kelegaan. &#8220;Bunda menunggui saat-saat terakhir Nenek?&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Alhamdulilah</em>.&#8221;</p>
<p>Dibimbing Bunda, aku menuju kamar di mana jenazah Nek Karim disemayamkan.</p>
<p>Tubuh itu terbujur kaku, tidak bergerak lagi. Aku masih ingin berlama-lama di ruangan ini. Sholat jenazah sudah selesai kutunaikan. Selanjutnya aku masih ingin berdo&#8217;a, berdzikir, dan membaca Al Qur&#8217;an. Aku tahu Nek Karim sudah tiada, aku sudah tidak bisa lagi mengajaknya bicara, aku tidak bisa lagi mendengar petuah-petuahnya, aku tidak bisa lagi menatap binar rindunya kepada Sang Pencipta, aku tidak bisa lagi merasai lembutnya sentuhan tangan penuh kasih itu. Namun kedamaian saat bersama Nek Karim masih terasa hangat di hatiku.</p>
<p>&#8220;Gantian ya, Mbak.&#8221;</p>
<p>Suara itu. Hatiku berdesir. Suara anak-anak Nek Karim. Kuberikan seulas senyum. Mungkin mereka juga hendak mendo&#8217;akan Ibunya, tentu saja dengan cara mereka.? Kulihat lagi pendeta berambut tipis itu, kali ini dia tidak membawa salibnya.</p>
<p>Aku berjalan keluar. Sesampai di pintu, aku menoleh lagi. Jenazah yang ditutupi kain jarik itu. Nek Karim&#8230;akhirnya engkau pergi menghadap-Nya. Satu pelajaran berharga telah kau tinggalkan untukku, Nek. Kau telah banyak berbuat, kau maksimalkan apapun yang kau punya, apapun yang kau bisa, untuk kemanfaatan umat. Sedang aku? Apa yang telah kupersiapkan untuk menyongsong saat yang sudah pasti akan tiba itu?</p>
<p>Nek Karim. Sosoknya kembali nyata di benakku. Air mataku kembali menetes.[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[diambil dari Majalah PERMATA edisi 09/Tahun VII/Desember 2002]<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/nek-karim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noda Tak Kunjung Hilang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 17:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[noda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2203</guid>
		<description><![CDATA[Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali.
Kehidupanku yang penuh dengan noda dimulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Jauh dari kehidupan yang telah diatur-Nya memang penuh dengan penderitaan. Berbagai hal yang dapat merusak diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam terasa nikmat untuk dilakukan. Namun setelah itu, penyesalan akan datang menghantui siapa saja yang telah terjebak jurang kesesatan. Jika bukan karena hidayah Allah, tentunya kita takkan pernah kembali.</em></strong></p>
<p>Kehidupanku yang penuh dengan noda dimulai sejak aku masih SD. Diawali faktor keluarga serta lingkungan sekitarku yang kondusif dengan rokok, miras, dan <em>drugs</em>. Pada saat itulah aku memasuki lubang hitam perjalanan hidupku. SMP aku bertemu dengan teman-teman yang suka hura-hura dan nongkrong di mall. Setiap hari aktifitas kami hanya untuk senang-senang tanpa memikirkan halal dan haram apalagi dosa. Aku mulai bolos sekolah, berbohong, membuat tato, melawan orangtua dan guruku. Akibatnya aku tidak naik kelas. Melihat kondisiku yang berantakan, orangtua menarik aku keluar dari pergaulan di mall. Beberapa saat aku mengalami masa tenang. Kemudian aku kembali ke kehidupan liar dan berteman dengan pemakai ganja. Uang yang diberikan orangtua pun aku habiskan untuk membeli ganja dan minuman. Bahkan aku sampai mencuri ketika tidak punya uang untuk membeli ganja. Naik ke kelas 3 SMP, aku menjadi siswa yang arogan dan disegani. Sampai-sampai aku lulus sekolah tanpa memiliki teman.<span id="more-2203"></span></p>
<p><strong>Mengenal &#8216;Obat&#8217;</strong><strong></strong></p>
<p>SMA, kehidupan gelapku semakin menghitam. Aku bertemu teman yang sejalan dengan hidupku. Dilingkungan rumahnya ada bandar ganja. Jika SMP aku sulit mendapatkan ganja, maka di SMA dengan mudah aku dapatkan karena mengenal sang bandar. Karena keimananku yang tipis, waktuku kuhabiskan bersama teman-teman sekolahku hanya untuk mengganja dan mengganja. Pada saat jam pelajaran, di rumah, atau dimanapun termasuk diskotik.</p>
<p>Kelas dua aku mulai mengenal putaw, heroin, ampetamin, ectasy, LSD, dan mulai menggunakannya. Karena ketagihan akan &#8216;kenikmatan&#8217; barang setan, aku membutuhkan uang untuk membeli barang-barang tersebut. Aku pun akhirnya ikut jual barang guna mendapatkan uang untuk aku belikan barang yang akan aku pakai. Suatu saat, orangtuaku mengetahui bahwa aku adalah pemakai, aku dibawa berobat jalan pada sebuah rehabilitasi. Beberapakali aku berobat, namun tak kunjung sembuh dan sembunyi-sembunyi aku menggunakan <em>drugs</em>. Apa mau dikata, pihak sekolah akhirnya mengetahui keadaanku. Akhirnya pihak sekolah mengeluarkan aku bersama beberapa temanku yang juga pemakai. Lalu, orangtuaku membawa aku ke sebuah pasantren untuk di obati.</p>
<p><strong>Mencoba Bunuh Diri</strong><strong></strong></p>
<p>Di pasantren aku hanya bertahan 2 bulan. Mungkin karena pengaruh obat-obatan otakku terasa gila. Pada akhir tahun 1999 aku melakukan percobaan bunuh diri. Konyolnya keinginanku untuk mati hanya karena terobsesi ingin bertemu Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang mati karena over dosis. Aku melakukannya di kamarku dengan menyayat kedua pergelangan tanganku menggunakan silet. Kucoba berkali-kali namun ajal tak kunjung menjemput. Orangtuaku mengetahui perbuatanku dan aku dibawa ke rumah sakit untuk di obati. Setelah itu aku mendapat perawatan di Rumah Sakit Jiwa Jakarta, tapi bukan karena aku gila. Waktu itu aku ditempatkan pada bagian yang menangani pecandu dan mengalami gangguan psikologi. Bukan kesembuhan yang aku dapatkan, malah keinginan untuk bertemu dengan Cobain semakin kuat. Akhirnya saat ruang dokter sepi, aku masuk ke dalam dan menemukan sebuah silet. Pada malam harinya aku pergi ke kamar mandi. Di situ aku bertekad harus mati malam ini. Walau darah sudah mengucur deras dari kedua lenganku, namun kematian tak kunjung menyapa diriku. Karena kelelahan, aku kembali ke kamar dan lukaku aku tutupi dengan sebuah kain. Kuceritakan perbuatan bejatku kepada teman sekamarku. Ia panik dan memanggil perawat yang sedang jaga pada malam itu. Akhirnya pergelanganku di jahit, dan keesokannya aku di pindahkan ke rehabilitasi di sawangan. Baru dua bulan aku sudah tidak tahan dan melakukan aksi mogok makan untuk bisa keluar dari rehab tersebut. Selanjutnya aku hanya mengikuti rehab jalan.</p>
<p>Karena masih gelisah dengan kondisi hidup yang berantakan, aku mencoba kembali bunuh diri dengan menyuntik putaw di lengan. Pada saat over dosis (OD), orangtuaku tahu dan membawaku ke rumah sakit. Aku di bawa kembali ke rehab, dan masuk sekolah asrama khusus untuk pecandu. Karena masih gelisah, aku minta obat tidur ke dokter dan kukumpulkan hingga 30 butir. Pada suatu malam aku mulai berfikir apakah benar aku ingin mati. Ternyata aku lebih memilih ingin meneruskan hidup ini secara berani. Akhirnya pil tidur aku buang.</p>
<p><strong>Noda Itu Kembali</strong><strong></strong></p>
<p>Pada tahun 2000 aku kembali ke rehab selama enam bulan. Di sana aku diajari berbagai macam keahlian untuk bekerja. Setelah itu, dengan izin orangtua pada bulan oktober 2000 aku pergi ke Belanda dengan tujuan domisili dan cari kerja. Tetapi dari pihak sana tidak memberi ijin. Sebulan aku di Belanda, kemudian pulang ke Jakarta dan memulai kembali menggunakan ganja dan alkohol. Karena sedih melihat ibuku yang sakit hati lagi melihat kondisiku, aku berusaha untuk berhenti total. Kupikir sudah cukup pengalaman buruk itu dan aku harus berubah. Akhirnya aku mulai sholat kembali yang selama ini terlalaikan, dan aku mulai belajar baca Qur&#8217;an serta berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Namun, pada tahun 2001 aku kembali menggunakan putaw karena teringat &#8216;kenikmatannya&#8217;. Pada saat itu ibuku mengetahui dan aku di bawa kembali ke rehab.</p>
<p>Karena belum menemukan sebuah arti hidup, kondisiku makin strees. Ayahku berinisiatif mengajak liburan ke sebuah hotel di Bandung. Di sana sekali lagi aku melakukan kemaksiatan yang sungguh sangat aku sesali. Penyesalan datang menyerangku dengan sedemikian hebatnya. Hingga aku hanya bisa meringkuk seperti bayi, menyesali jalan hidupku yang malang. Hingga aku benar-benar bertobat.</p>
<p><strong>Hidayah Datang</strong><strong></strong></p>
<p>Kemudian bagaikan panas setahun tersiram hujan sehari, beban depresi yang selama ini menghantui diangkat oleh Allah dan digantikan dengan senyuman tulus di bibir yang menandakan bahwa aku telah kembali. Akhirnya aku pindah ke Bogor, dan aku shalat kembali berjamaah di sebuah mushola dekat rumah. Di situlah rupanya hidayah datang. Aku mulai mengenal arti hidup dan Islam secara kaffah dari anak kampus yang sering kumpul di mushola dekat rumahku itu. Mereka membantu aku menemukan jalan hidup yang pasti bagi seorang muslim. Aku mulai tau, ternyata kondisi yang terjadi pada diriku dan mungkin teman-temanku yang terjebak arus kebebasan tidak lepas dari penerapan sistem yang ada. Dan pada detik itu aku menekadkan diri untuk totalitas hidup secara Islami, berdakwah, dan menata hidup aku kembali. Tentunya dalam rangka mencari ridho Allah. <strong>[Seperti diceritakan Muhammad Yusuf Isa kepada eftur]<br />
</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Oktober 2003]</em><br />
<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/noda-tak-kunjung-hilang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Itu Tanda Peduli</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 21:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personality]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kritik]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2557</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kang Hari Moekti
Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Kang Hari Moekti</strong></p>
<p>Memang nggak enak ya, kalo kita dikritik orang. Rasanya dunia begitu kejam bagi seorang yang sedang dikritik dan dipojokan. Bahkan kita seperti menjadi orang paling terhina di dunia ini. Itu sebabnya, nggak jarang kita menjadi benci setengah mati kepada orang yang telah berani mengusik kita. Dendam pun mengumpal dalam dada kita dan siap dimuntahkan. Bagi kamu yang masih segan kepada sang pengkritik, biasanya cukup dinikmati dalam hati, tapi dengan segudang rasa kesal yang berkecamuk. Dan, bagi kamu yang kurang bisa memendam perasaan, biasanya langsung menumpahkan kekesalan itu dalam bentuk sumpah serapah dan makian.</p>
<p>Kalo kamu lagi enak-enak pacaran sama teman sekelasmu, tiba-tiba ada yang menegurmu, rasanya dongkol banget kan? Terus kamu jadi naik darah. Pengen rasanya ngamuk atau menyumpal mulut bawel teman kamu itu. Reaksi spontan mempertahankan diri adalah ciri khas orang yang sedang diserang. Meski kamu melakukan kesalahan, tapi rasanya nggak rela kalo dikritik begitu. Rasanya kok orang mau-maunya turut campur urusan orang lain. Padahal, urus saja diri sendiri.<span id="more-2557"></span></p>
<p>Sobat muda, kalo ngikutin hawa nafsu kita, memang dikritik itu menyakitkan dan bikin bete. Tapi inget lho, bahwa kritik itu justru bisa mendewasakan kita. Bukan apa-apa, kita kan hidup berdampingan dengan orang lain. Itu artinya, kita kudu rela untuk dilihat dan dinilai oleh orang lain. Penilaian itu bisa baik, bisa juga jelek. Bergantung bagaimana kita bersikap dalam lingkungan tempat kita tinggal. Itu sebabnya, menjadi wajar kalo ada yang kritik, karena biasanya akan mengevaluasi kita. Orang yang kebal kritik, nampaknya sulit untuk peduli dan menghargai orang lain.</p>
<p>Dakwah, bisa dibilang sebagai &#8216;kritik&#8217;. Ketika kita melakukan <em>amar ma&#8217;ruf</em>, alias menyuruh kepada kebaikan, ada saja orang yang sulit untuk diajak. Padahal, itu adalah salah satu bentuk kepedulian kita. Apalagi ketika kita melakukan <em>nahyi munkar</em> (melarang kemungkaran), rasanya makin sulit kita lakukan. Selain, harus mengalahkan rasa takut dalam diri kita karena khawatir yang akan dinasihati itu marah, juga kita kudu siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi, misalnya menghadapi ancaman mereka.</p>
<p>Ketika saya menyampaikan ceramah atau tabligh akbar, saya nggak segan untuk menyampaikan ajaran Islam sebagaimana adanya. Itu sebabnya, adakalanya orang kemudian menganggap saya &#8216;radikal&#8217;, tukang kritik pedas dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, itu bukan persoalan. Sebab, saya melakukan itu karena saya peduli dengan suadara-saudara muslim lainnya. Kalo saya diem saja ketika ada teman yang melakukan maksiat, itu tandanya saya tak peduli. Dan, kritik memang bisa dilakukan dengan halus, bisa juga dengan tegas (mungkin sebagian orang kemudian menganggapnya keras).</p>
<p>Jadi, pandanglah kritik itu sebagai bentuk kepedulian saudara kita kepada kita. Meski terasa pahit, tapi nikmati sebagai sebuah anugerah terindah yang kita miliki. Karena ternyata masih ada orang yang mau peduli dengan kita. Andaikan saja tidak ada orang yang mengomentari kita, maka kita tidak akan pernah bisa mengevaluasi diri. Jadi orang yang mengkritik adalah &#8216;polisi&#8217; bagi kita. Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Demi massa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.&#8221;</em> <strong>(TQS al-Ashr [103]: 1-3)</strong>[]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi April 2003]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kritik-itu-tanda-peduli/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Bunda Keren</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjadi-bunda-keren</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjadi-bunda-keren#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 17:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[bunda]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[keren]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[sholehah]]></category>
		<category><![CDATA[smart]]></category>
		<category><![CDATA[syar'i]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3251</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 113/tahun ke-3 (4 Muharram 1431 H/21 Desember 2009)
 
 
Kebayang nggak sih kalo diri kita bakal jadi ibu? Jadi bundanya anak-anak? Wew.. married aja belum, masa’ udah mikir gimana jadi ibu sih? Kayaknya masih jaooooh banget. Uppss.. soal ‘masih blum married en masih jauh’ cukup simpen dalam ati dulu ye. Coz, ibarat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 113/tahun ke-3 (4 Muharram 1431 H/21 Desember 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kebayang nggak sih kalo diri kita bakal jadi ibu? Jadi bundanya anak-anak? Wew.. <em>married </em>aja belum, masa’ udah mikir gimana jadi ibu sih? Kayaknya masih jaooooh banget. Uppss.. soal ‘masih blum <em>married </em>en masih jauh’ cukup simpen dalam ati dulu ye. <em>Coz</em>, ibarat kata peribahasa, kudu dicatet nih tentang ‘sedia payung dan jas hujan sebelum hujan tiba’. Gimana pun juga, sebagai muslimah insya Allah kamu bakal menyandang status S3 (baca: estree alias istri, hehe—maksain nggak ya?), dan kemungkinan besar bakal menjadi seorang ibu. Nah, kalo sedari sekarang kamu nggak juga nyadar masalah menjadi istri en ibu, kayaknya bakal ada satu kata terlontar yaitu: ‘penyesalan’.  Gimana nggak nyesel?</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduh, tahu jadi istri tuh kayak gini (gini gimana ya ?), nyesel gue nggak belajar dari dulu-dulu”(..ciee). “Waduh, tahu begini jadi ibu, nyesel gue nggak <em>training </em>ama nyokap, padahal nyokap sering nyuruh gue masak tapi gue sering kabur!” Wah, nyesel, kan? Nyesel, kan? Nah, nyesel emang nggak di awal, pasti di akhir terus. Apalagi di jaman globalisasi, jadi bunda keren tuh sebenernya tantangan berat! Jadi bagi kamu yang suka tantangan, yuk jadi bunda! (lho kok? Iya, maksudnya mengenal apa aja sih konsekuensi jadi bunda, gitu lho)<span id="more-3251"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jadi bunda keren, siapa takut?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yup! Siapa takut bakal jadi bundanya anak-anak di jaman globalisasi sekarang ini? Siapa takut dengan segala bahaya yang ngancem terhadap anak-anak kita? Mulai dari serangan pemikiran ampe serangan akidah. Kita semua kudu siap secara <em>frontal</em> ngadepin ini semua! Jadi jangan tergoda deh ngedidik anak demi masa depan mereka tapi dengan hal-hal yang nggak penting-penting banget. Jiah..beneran ini! Lagian kok gue berapi-api kayak naga gini ya? <em>Cos</em>, gue udah tahu gimana rasanya ngedidik anak dengan lingkungan yang nggak ideal seperti sekarang. <em>So</em>, kudu siap mental!</p>
<p style="text-align: justify;">Sis, kamu tahu sendiri kan gimana kondisi sekarang?  Yup, anak-anak yang nggak tahu apa-apa malah diajarin hal-hal yang sebenarnya nggak sesuai dengan umur mereka. Contohnya aja nih, misal ngeliat anak yang balita udah punya banyak temen, termasuk temen yang lawan jenis. Eh, kita yang tua nih malah ngeledekin kalo mereka ‘pacaran’. Manalah ngerti anak kecil ama pacaran cuma karena mereka lagi asik <em>ta’awun</em> (kerja sama) sewaktu bermain. Kadung para ortu udah ngajarin kayak gitu. Jadinya melekatlah stempel ‘pacaran’ buat  anak-anak yang ada kecenderungan/akrab ama lawan jenisnya. Nggak heran akhirnya anak-anak sekarang jadi cepet dewasa.  Sebenarnya ya memang nggak dilarang untuk berteman dengan lawan jenis, tapi kan memang ada rambu-rambunya dalam Islam. Ini kudu disiapin sampe mereka berada di tahap akil balig.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi bahaya serangan melalui hiburan, mulai acara tivi, film, bahkan games. Bukan berarti anak kemudian nggak boleh nonton tivi, dilarang nonton film juga terlarang maen games. Nggak lah. Tapi berdasar tulisan ‘di pojok kiri atas’ di layar televisi pas acara tertentu itu tuh: Bimbingan Orang Tua alias <em>Parental Guide</em> bener-bener kudu dijaga. Jangan mentang-mentang dikasih tivi en games dan anak-anak jadi <em>anteng</em> alias diem, lalu alat-alat elektronik itu jadi <em>baby sitter</em> buat mereka. Waduh, bisa diliat, tanpa bimbingan ortu akhirnya anak-anak justru nonton film dan maen games yang nggak sesuai dengan umur mereka. Film dan games sendiri ada klasifikasi khusus tuh sebenernya. Ada label <em>PG (parental guide)</em>, <em>Teens </em>(remaja), <em>Adult</em> (dewasa) atau dengan label berdasarkan umur.  Misalnya  13 + (untuk remaja), 18 + (untuk dewasa), gitu. Maka, kalo jadi bunda nggak bisa sembarangan kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang aneh lagi nih di kalangan para bunda, berlomba-lomba nyekolahin anak di SD di usia yang dini.  Ampe ngibul tahun lahir buat ngurus akta kelahiran demi diterima di SD. Standarnya, kalo udah bisa membaca, berhitung en menulis di usia balita, udah keren banget! Padahal pada usia segitu sebenernya belum saatnya otak diforsir. Sebab, masa anak-anak adalah masa bermain. Dia belajar melalui hal-hal yang bikin dia <em>exciting</em>, menyenangkan, <em>fun</em>.  Jadi nggak selalu kudu duduk rapi di belakang meja.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut gue sih, anak yang pinter di masa balita, dia berani berteman dengan siapa aja, berlaku sopan alias berakhlakul karimah baik, kepada ortu, orang-orang dewasa lainnya juga kepada sesama temannya, dia bisa bercerita apapun kegiatan dia kepada orang-orang di sekitarnya.   Juga bisa dilatih mandiri, mulai makan nggak disuapin, mandi nggak dimandiin, pake baju-celana-kaos kaki-sepatu semuanya sendiri. Jangan lupa juga, anak kudu diajarin ketaatan beribadah sedini mungkin. Keren banget tuh kalo anak ampe negur en ngajakin ayah-bundanya untuk shalat.  (pengalaman euy ditegur ma anak sendiri, keasikan nonton film Korea yang menjelang maghrib itu .. hehehe, jadi maluuuw sayah…)</p>
<p style="text-align: justify;">Itu baru pas balita. Gimana kalo anak udah memasuki masa remaja alias ABG, sampe dia transisi menuju dewasa. Semakin deras bahaya yang mengancam tuh. Mulai dari seks bebas, pergaulan bebas, <em>drugs</em>, miras, sampe dengan gabungnya anak-anak ke komunitas mereka. Misalnya, bikin band, gank, bahkan sampai partai atau ormas tertentu. Para bunda kudu ngerti hal ini. <em>Maybe</em>, fenomena sekarang akan berbeda dengan masa depan.  Tapi selama kapitalisme dan sosialisme masih bercokol dalam benak para penganutnya dan bahkan masih eksis dalam kehidupan, maka kemungkinan besar korbannya adalah generasi berikutnya. Termasuk anak-anak kita di dalamnya. <em>Na’udzubillah min dzalik.</em> Jadi kudu siap dengan hal yang terburuk yang bakal dihadapi. Waspadalah!</p>
<p style="text-align: justify;">Kita nggak mau kan kalo anak-anak kita terlibat hal-hal yang nggak baik? Jadi kita kudu waspada dan bisa ngejelasin kepada mereka gimana seharusnya mereka menghadapi kehidupan ini. Apalagi mereka udah dewasa dan artinya udah harus ketemu ama jati diri mereka.  Jati diri sebagai hamba Allah Swt.. Anak-anal kudu ngeh tentang dirinya: dari mana awal kehidupan, gimana menjalani kehidupan dan kemana setelah kehidupan berakhir. Dan, tentunya mereka harus dibimbing untuk menemukan jawaban yang benar, yakni sesuai tuntunan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, jangan khawatir kalo kemudian anak-anak memilih komunitas atau gerakan yang memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam. Terus, mereka jadi sering sibuk dengan aktivitas mengkaji Islam dan dakwah. Justru kita sebagai ortu kudu memotivasi agar mereka giat berdakwah dan istiqomah bersama Islam. Tapi jangan lupa juga menegur kalo mereka mulai melenceng dari ajaran Islam. Misalnya, cuma bangga aja punya ilmu, tapi miskin aplikasi. Karena apa? Karena Islam itu teori sekaligus praktik, gitu lho. Jadi, nggak bisa diambil teorinya aja sebagai ilmu pengetahuan, bukan pengamalan. Ok?</p>
<p style="text-align: justify;">Gue kok heran ya, masa’ sih ada banyak bunda yang sampe hari ini malah malu kalo anak-anaknya nggak pacaran. Para ibu justru bangga kalo anak-anaknya pacaran (idih, aneh ya?). Mereka juga malah ngelarang anak ceweknya pake jilbab dengan alasan nggak modis, ngahalang-halangin anaknya mengkaji Islam dan berdakwah dengan alasan takut terlibat terorisme..Ampun deh! Jangan ampe jadi bundo yang durhako kepada anak. Emang Malin Kundang aja yang jadi anak durhaka?  Ckckckck.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi gimana? Ayo, siapa takut jadi bunda! Ini tantangan paling keren buat kamu, girls!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Learning and doing</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Belajar dan diamalkan. Itu inti pengajaran en pembelajaran dalam Islam. Itu sebabnya, ilmu yang dipelajari dan udah dipahami bener-bener hakikatnya untuk diamalkan dalam kehidupan. Oya, apa hubungannya nih dengan menjadi bunda keren ama ilmu. Ya eyalah ada.   Jangankan jadi bunda keren, jadi maling aja kudu ada ilmu… (jihahahah). <em>So</em>, untuk jadi bunda keren kudu disiapin mulai saat ini juga. Biar pun belum <em>married</em>. Sebab, suatu saat kamu akan menjadi ibu. Insya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita kudu belajar gimana kehidupan berumahtangga. Hal ini bisa didapetin dengan ikut training pra-nikah yang islami. Belajar gimana jadi ortu, bisa ikutan training parenting islami. Kudu bisa juga nyediain makanan en minuman yang halal dan thayib/sehat, maka ikut aja demo masak yang masakannya dijamin halal en sehat. Kalo kudu tahu ngobatin penyakit secara alami, bisa tuh ikutan training pengobatan dengan bahan-bahan herbal. Selain itu, jangan dikira jadi bunda tuh buta politik. Sebab, politik itu kan <em>riayah syu’unil ummah</em> alias ngurusin segala urusan rakyat.  So, dengan jadi seorang bunda yang melek politik, pastinya bakal memberikan kontribusi yang keren demi bangkit dan kembalinya peradaban Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">BTW, apa sih parameter or yang jadi ukuran seorang wanita menjadi bunda yang keren? Apakah si bunda bisa menghasilkan uang yang banyak? Atau, begitu anak-anaknya gede terus mereka pada jadi ‘orang’ (entah pejabat, seleb, alim ulama, artis)? Atau sukses dalam karir dan mampu mempertahankan kehidupan rumah tangga sampai akhir hayat? Jiah… gimana pun juga jangan terpancing dengan parameter buatan manusia. Mengapa? Karena bunda yang keren sebenernya adalah bunda yang mampu mencetak anak-anaknya supaya berkualitas tapi dengan metode perspektif Islam (ciee bahasanya euy!). Maksudnya, mendidik anak secara islami dan menjaga agar rumah tangga tetep islami, gitu loh. <em>So</em>, jangan sembarang juga yah entar kalo milih suami. Kalo partner  hidup kita juga nggak beres.. mau dibawa kemana tuh rumah tangga en anak-anak?</p>
<p style="text-align: justify;">Terus, emang anak-anak yang berkualitas kayak gimana sih? <em>Of course</em>, tentu yang kuat akidah Islamnya, terbentuk kepribadian Islam yang keren (baik pemikiran/<em>aqliyah</em> maupun kejiwaan/<em>nafsiyah</em> secara islami).  Kerennya kepribadian Islam sebenernya bertumpu pada kekuatan akidah Islam. Sebab, sumber dari perbuatan adalah pemikiran/pemahaman dengan landasan Iman. Jadi kalo iman nggak kuat, wajar perbuatan seseorang jadi <em>error</em>.  Bahkan terjadi<em> split personality</em>, karena yang diomong nggak sesuai ama yang dilakukan. Kacawww dweeeh…</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak mau kan anaknya jadi kacau? Nah, artinya sebagai calon bunda keren, kita harus berbenah dulu neh dalam masalah akidah. Jangan lupa, ilmu syariah juga kudu dipelajari. <em>Coz</em>, itu wajib banget buat solusi kehidupan.  Kalo nggak ngerti syariah, gimana mau ngedidik diri dan anak-anak untuk paham Islam? Ya, kan? Jadi? Ayo, para calon istri en calon bunda keren! Ngaji yuk ngaji! Nggak mengkaji Islam bakal nyesel seumur idup! Dan, perubahan itu nggak akan terjadi kalo kita semua cuma berleha-leha dalam kemalasan apalagi terbiasa jadi remaja yang manja. Interospeksi diri yuk!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3S: <em>Smart, </em>Syar’i<em> </em>dan Solehah<em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yup, <em>Smart, Syar’i</em> dan Solehah. Inget loh, jadi bunda keren yang smart nggak diukur dari sederet titel yang kita raih. Entah gelar sarjana, master, doktoral atau profesor! Bunda yang smart<em> </em>artinya dia tahu gimana ngurus dan mendidik anak-anak. Smart<em> </em>yang kayak gimana? Ilmu yang didapetin bunda selama sekolah atau pun kuliah kudu dipraktekkin dalam kehidupan, termasuk dalam hal ngedidik dan ngurus anak selain untuk publik. Mulai dari milih makanan yang layak konsumsi yaitu halal dan thoyib/sehat, milih permainan dan hiburan, milih sekolah, sampe ngatur keuangan keluarga yang ujung-ujungnya juga buat ngebiayain kehidupan anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, para bunda kudu nge-<em>upgrade </em>pengetahuannya setiap saat. Nggak asik dong saat anak minta ajarin pelajaran dari sekolah ternyata bunda nggak bisa bantu. Berhubung mata pelajaran yang sekarang diajarin ke anak-anak udah beda jauh ama yang dipelajari bunda waktu SD dulu.  Apalagi kalo bunda ampe gaptek ama internet or <em>games</em>. Penting loh buat bikin <em>firewall</em> or blokir situs-situs yang nggak baik untuk diakses ama anak-anak. Selain itu, jangan lupa, kalo bunda nggak punya ilmu Islam gimana mo ngedidik anaknya supaya pinter Islam?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo bunda nguasain pengetahuan tentang anak-anak dan berempati penuh, dijamin bunda bakal diterima sebagai sahabat mereka. Karena bisa ngasih <em>advice</em>, motivasi, bahkan larangan tanpa bikin mereka jengkel kalo ada hal-hal yang  membahayakan bagi mereka. Insya Allah anak bakal ce-es ama kita! Keren juga tuh kalo anak-anak juga diajak ke tempat-tempat kita rutin beraktivitas. Jadi dia bisa lihat dan ngerti apa aja yang dikerjakan oleh sang bunda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bunda keren yang <em>syar’i </em>dan solehah arrtinya bunda menjadikan Islam sebagai solusi kehidupan. Dia ngajarin anak-anaknya nggak sebatas ibadah mahdhoh dan akhlakul karimah doang. Tapi juga mentransfer ide-ide Islam kepada anak-anaknya. Plus jadi contoh bagi mereka. Kan aneh  nyuruh anak shalat, tapi bunda nggak shalat. Nyuruh anak belajar baca al-Quran, tapi bunda nggak bisa baca al-Quran.  Nyuruh anak berakhlakul karimah, tapi bunda suka berkata-kata kasar, jorok, berbohong bahkan sampe ngebentak-bentak di depan anak-anaknya. Nyuruh anaknya berjilbab, tapi bundanya malah seneng dandanan yang minimalis abis kalo ke luar rumah!Ckckck.. Wuaduh, kacau tenan itu! Apalagi anak-anak dibiarin mencerna ide-ide yang bertentangan dengan Islam. Mulai dari pluralism beragama, liberalisme, dll. Hingga akhirnya tanpa disadari mereka jadi ‘korban’ sekulerisme.  <em>Na’udzubillah min dzalik</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Akhirnya…</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan menyerah! Jangan takut! Berpikir positif deh kalo kita pasti bisa jadi bunda yang keren, <em>smart</em>, syar’i dan solehah. Dan semua itu kalo cuma sebatas mimpi en nggak berusaha diwujudkan ya nggak akan keliatan hasilnya. Jadi kudu dimulai dari sekarang. Jangan terjebak ama kegembiraan masa remaja yang semu. Kita kudu berpikir cemerlang yaitu berpikir tanpa diselipi nafsu, tapi harus berlandaskan keimanan kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuekin aja kalo ada yang bilang kita jadi berubah dan sok dewasa. Toh, kita pengen generasi berikutnya—yang di dalamnya bisa jadi adalah anak-anak kita, nggak terjebak dalam aturan kapitalisme yang berakidah sekuler dan sosialisme. Jadi, ya kitanya juga wajib dong berusaha jadi bunda keren yang berkualitas. Bukannya jadi bunda yang agendanya dipenuhi dengan aktivitas nggak penting, apalagi sampe melalaikan anak-anak dan rumah tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain kita berusaha membenahi diri kita sendiri, sebenernya pemerintah juga punya andil penting buat kita dan generasi berikutnya. Sampe sekarang tuh nggak ada sama sekali kurikulum khusus buat mencetak jadi bunda keren yang smart, syar’i dan solehah. Yang ada malah semacam training buat calon pasutri. Itu pun supaya demi menekan angka perceraian yang sekarang konon semakin meningkat tajam akibat kasus krisis ekonomi dan perselingkuhan (wuaduh!), juga demi menekan angka kelahiran. Telat banget ya? <em>So, don’t give up, Girls</em>! <em>Coz</em>, Islam dan syariahnya adalah solusinya! Inget tuh, pengen anak berkualitas? Bunda juga kudu berkualitas plus negara juga wajib berkualitas yaitu dengan nerapin Islam dab syariatnya secara <em>kaffah !</em> <strong>[anindita: coffee.prince70@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjadi-bunda-keren/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Pub Koktail ke Islam</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dari-pub-koktail-ke-islam</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dari-pub-koktail-ke-islam#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 17:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[mualaf]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3219</guid>
		<description><![CDATA[Seorang wanita ratu pesta dan narkoba akhirnya mendapatkan kebahagian sejati setelah memeluk Islam

Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan, yang dulu mengelola sebuah pub koktail di Camps Bay, sebuah kota pantai di  pinggiran Cape Town.
&#8220;Saya memiliki kebiasaan menggunakan narkoba yang sangat parah dan saya mengira menjalani gaya hidup kelas atas,&#8221; cerita Laura [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Seorang wanita ratu pesta dan narkoba akhirnya mendapatkan kebahagian sejati setelah memeluk Islam</em></strong><br />
<em><strong><br />
</strong></em>Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan, yang dulu mengelola sebuah pub koktail di Camps Bay, sebuah kota pantai di  pinggiran Cape Town.</p>
<p>&#8220;Saya memiliki kebiasaan menggunakan narkoba yang sangat parah dan saya mengira menjalani gaya hidup kelas atas,&#8221; cerita Laura kepada IslamOnline.</p>
<p>Dari luar ia kelihatannya gembira mengenakan pakaian rancangan desainer, menggunakan obat-obatan dan berpesta sepanjang waktu.</p>
<p>Tapi di dalam, Laura selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar, rasanya ada sesuatu yang membakar.</p>
<p>Meskipun ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat, ia berhenti percaya pada Tuhan, sebagai akibat dari gaya hidupnya yang tinggi dan kecanduan narkoba.<span id="more-3219"></span></p>
<p>&#8220;Saya mencapai satu titik dalam kehidupan, di mana saya tidak lagi mempercayai Tuhan.&#8221;</p>
<p>Kehidupan Laura seketika berubah setelah ia bertemu dengan seorang teman yang telah memeluk Islam.</p>
<p>&#8220;Setelah mendengarkan teman Muslim saya malam itu, saya banyak menangis dan berdoa.&#8221;</p>
<p>Laura mengatakan, setelah ia berdoa sekian lamanya, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya.</p>
<p>Secara tiba-tiba ia mampu mengatasi kecanduan narkoba yang telah dideritanya selama empat tahun. Dan Laura mulai membaca lebih banyak tentang Islam.</p>
<p>Pada saat itu, ia belum berpikir untuk menjadi seorang Muslim.</p>
<p>Namun, pada September 2007 sebelum bulan Ramadhan, Laura akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, saya masuk Islam melalui teman, dan hidup saya berubah sama sekali.&#8221;</p>
<p><strong>Lebih bahagia</strong></p>
<p>Setelah memeluk Islam, Laura berhenti bekerja di pub koktail.</p>
<p>&#8220;Setelah menjadi seorang Muslim, saya mengetahui lebih banyak tentang Islam dan memperhatikan tempat saya bekerja. Saya bahkan berhenti tanpa ada penawaran kerja lainnya,&#8221; cerita Laura yang kini memakai hijab.</p>
<p>&#8220;Tapi saya percaya pada Allah.&#8221;</p>
<p>Orangtua Laura, terutama ayah, telah bisa menerima agama yang dipilihnya dan sering bertanya tentang Islam.</p>
<p>&#8220;Sejak saya memeluk Islam dan berhenti dari pekerjaan manajerial di pub, saya pulang ke rumah lebih awal. Orangtua saya senang karenanya,&#8221; cerita Laura.</p>
<p>&#8220;Saya berharap satu hari mereka juga akan memeluk Islam.&#8221;</p>
<p>Sebulan kemudian, Laura mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Tapi ia mengatakan kepada bosnya, seorang Kristen fundamentalis, dirinya mau mengambil pekerjaan itu asalkan diberi waktu istirahat untuk shalat.</p>
<p><strong>Bosnya setuju</strong></p>
<p>&#8220;Jika Anda melakukan hal-hal baik untuk alasan yang tepat, Allah akan memberkatimu,&#8221; begitu keyakinan Laura, yang menjadi pembawa acara bincang-bincang di sebuah radio di Cape Town.</p>
<p>&#8220;Sekarang saya memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan alhamdulillah saya menjalani hidup yang lebih sehat, karena Islam.&#8221;[di/iol/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9884:dari-pub-koktail-ke-islam&amp;catid=74:cermin&amp;Itemid=85" target="_blank"><strong>www.hidayatullah.com</strong></a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dari-pub-koktail-ke-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Zarqali: Astronom Legendaris dari Andalusia</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/al-zarqali-astronom-legendaris-dari-andalusia</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/al-zarqali-astronom-legendaris-dari-andalusia#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 17:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2369</guid>
		<description><![CDATA[Arzachel.? Begitulah masyarakat Barat biasa menyebut al-Zarqali, seorang? astronom Muslim? legendaris dari? Andalusia.? Kontribusinya bagi pengembangan astronomi modern sungguh sangat besar. Ia tak hanya menciptakan peralatan astronomi berteknologi, namun juga sederet terori penting.
Tak heran jika kemudian, masyarakat astronomi modern mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan. Ia tercatat sebagai satu dari 24 ilmuwan Muslim yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 270px"><img src="http://1.1.1.1/bmi/republika.co.id/images/news/2009/04/20090407161908.jpg" alt="Al-Zarqali: Astronom Legendaris dari Andalusia" width="260" height="181" /><p class="wp-caption-text">MUSLIMHERITAGE.COM</p></div>
<p>Arzachel.? Begitulah masyarakat Barat biasa menyebut al-Zarqali, seorang? astronom Muslim? legendaris dari? Andalusia.? Kontribusinya bagi pengembangan astronomi modern sungguh sangat besar. Ia tak hanya menciptakan peralatan astronomi berteknologi, namun juga sederet terori penting.</p>
<p>Tak heran jika kemudian, masyarakat astronomi modern mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan. Ia tercatat sebagai satu dari 24 ilmuwan Muslim yang diakui dunia sains modern. Al-Zarqali merupakan salah satu ilmuwan yang lahir dari era kejayaan Islam di Spanyol Muslim alias Andalusia.</p>
<p>Sejatinya, ia bernama lengkap Abu Ishaq Ibrahim Ibnu Yahya al-Zarqali. Di dunia Islam, ia juga dikenal dengan nama? al-Zarqalluh atau al-Zarqallah. Dia terlahir di Toledo, Andalusia pada tahun 1029 M. Al-Zarqali tumbuh besar ketika kejayaam? peradaban Islam di Andalusia berada di tubir kehancuran.<span id="more-2369"></span></p>
<p>Saat itu, Andalusia diserang pasukan Kristen dari berbagai penjuru.? Pada akhir abad ke-11 M, pusat peradaban Islam di Eropa itu nyaris jatuh dikuasai pasukan Kristen. Untunglah, pasukan tentara Dinasti Murabbitun dari Maroko berhasil mematahkan serangan pasukan musuh.</p>
<p>Setelah kekuasaan Dinasti Murabbitun berakhir, peradaban Islam di Andalusia masih sempat bersinar selama dua abad hingga pertengahan abad ke-13 M. Jauh sebelum al-Zarqali menjelma menjadi seorang ilmuwan terpandang di Andalusia, peradaban Islam di wilayah itu telah memiliki sederet saintis fenomenal seperti: Ibnu Firnas (wafat 887), penemu presawat terbang; al-Zahrawi (936-1013 M), seorang dokter bedah; al-Dinawari? seorang ahli botani; serta al-Majriti (wafat 1007 M) yang juga seorang ilmuwan serbabisa.</p>
<p>Ilmu pengetahuan berkembang pesat di Andalusia, karena mendapat dukungan dari para penguasa.? Pada masa kekuasaan Khalifah al-Hakam II, Andalusia memiliki sekitar 70 perpustakaan umum. Tak hanya sains yang berkembang, kota-kota di Andalusia pun menjelma menjadi metropolitan terkemuka.</p>
<p>&#8221;Saat itu, Andalusia merupakan kota yang paling berperadaban di Eropa.&#8221; ujar T Burckhardt (1972) dalam bukunya <em>Moorish Culture in Spain</em>. Perkembangan ilmu astronomi di? era Kekhalifahan Umayyah Spanyol mencapai puncaknya pada abad ke-11 dan 12 M. Ibnu Haitham menjadi salah seorang astronom asal Andalusia yang pertama kali mengubah konfigurasi Ptolemeus.</p>
<p>Pada akhir abad ke-11 M, al-Zarqali alias Arzachel menjadi astronom kebanggaan peradaban Muslim di Andalusia. Ia menemukan bahwa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular. Selain itu, ada pula astronom lainnya seperti Ibnu Bajjah serta? Nur Ed-Din Al Betrugi alias Alpetragius yang mengusulkan model-model planet baru.<br />
Kehidupan al-Zarqali</p>
<p>Barron Carra de Vaux (1921) dalam? bukunya bertajuk <em>Les Penseurs de l&#8217;Islam</em> menyebut al-Zarqali dengan panggilan &#8216;al-Nekkach&#8217; &#8211; pemahat logam. Sebelum dikenal sebagai seorang astronom, al-Zarqali memulai karirnya sebagai seorang mekanik dan pembuat kerajinan dari logam. Kemahirannya sebagai seorang mekanik membuatnya dipercaya untuk menjadi pegawai Ibnu Said di Toledo.</p>
<p>Pada 1060 M, al-Zarqali membuat peralatan observatorium astronomi yang didedikasikan untuk Yahya Ibnu Abi Mansur. Awalnya, al-Zarqali memang menciptakan peralatan untuk para ilmuwan lain. Karya ciptanya yang luar biasa akhirnya mengundang? ketertarikan dari ilmuwan lain.</p>
<p>&#8221;Para ilmuwan lain akhirnya mengakui kehebatan intelektualitas al-Zarqali,&#8221; papar? Barron carra de Vaux. Al-Zarqali terbilang unik. Dia adalah seorang saintis Muslim legendaris yang tak pernah belajar secara formal. Bahkan, pada awalnya, al-Zarqali nyaris tak pernah membaca bahkan memegang buku sekalipun.</p>
<p>Kalangan ilmuwan yang kagum dengan karya-karya al-Zarqali kemudian mendorongnya untuk belajar. Mereka memberinya banyak buku. Al-Zarqali pun kemudian belajar secara otodidak. &#8221; Dua tahun kemudian, tepatnya? pada 1062 M, dia menjadi anggota kumpulan para ilmuwan di Andalusia,&#8221;? Juan Vernet dalam <em>Dictionary of Scientific Biography</em>.</p>
<p>Setelah mensejajarkan dirinya dengan para ilmuwan lainnya, al-Zarqali tak lagi menciptakan peralatan untuk saintis lain. Sang saintis mulai menciptakan penemuannya sendiri. Bahkan, al-Zarqali pun mengajarkan ilmu otoddak yang dikuasainya. Sejak saat itulah, dia dikenal sebagai ilmuwan terkemuka di Andalusia.</p>
<p>Salah satu penemuan al-Zarqali yang paling fenomenal adalah pembuatan jam di Toledo. Jam yang diciptakannya itu masih bisa digunakan hingga tahun 1135 M. Penemuannya itu menarik perhatian Raja Alphonso IV. Secara khusus Raja Alphonso mencari tahu bagaiama jam yang diciptakan al-Zarqali itu bekerja.</p>
<p><img class="alignright" style="border: 0pt none;" src="http://1.1.1.5/bmi/republika.co.id/images/news/new2009/Astronomi.jpg" border="0" alt="" width="180" height="221" />Selain berhasil menciptakan jam air yang sangat mengagumkan, al-Zarqali juga mampu membuat astrolab paling canggih dan akurat.? Atrolab yang ciptakannya tergolong paling bagus di antara astrolab lain yang dibuat sebelumnya serta pada masa itu. Astrolab itu bisa digunakan untuk beragam keperluan.</p>
<p>Astrolab ciptaannya bisa digunakan untuk mengamati siklus zodiak.? Selain itu juga bisa didesain secara khusus untuk mengukur garis lintang dan memproyeksikan letak ekuator. Teknologi astrolab yang dibuatnya juga bisa menentukan jam atau waktu.</p>
<p>Al-Zarqali begitu populer di dunia Barat. Selama berabad-abad, karyanya yang fenomenal, yakni Tabel Toledo? begitu dikagumi Masyarakat Kristen Barat. Hasil buha pikirnya itu begitu berpengaruh bagi masyarakat Barat.? Karyanya itu kemudian diterjemhakan ke dalam bahasa? Latin oleh Gerard of Cremona.? Karyanya al-Zarqali itu mampu bertahan selama lebih dari dua abad.</p>
<p>Pengaruh al-Zarqali yang begitu kuat itu membuat table-table astronomi lainnya di Eropa didasarkan pada hasil pengukuran al-Zarqali.? Tabel Marseilles yang didasarkan pada Tabel Toledan buatan al-Zarqali juga diadaptasi? ke meridian London, Paris dan? Pisa.</p>
<p>Raymond dari? Marseilles merupakan salah seorang yang pertama kali mengadaptasi tabel al-Zarqali di Eropa yakni kota? Marseilles. Leopold dari Austria, juga tercatat sebagai astronom Austria yang juga terpengaruh dengan pemikiran al-Zarqali. Tak cuma itu, Tablas Alfonsinas yang dibuat? Alfonso juga didasarkan pada hasil kerja al-Zarqali.</p>
<p>Al-Zarqali tutup usia pada tahun 1087 M. Meski begitu, buah pikir dan karya-karyanya telah memberi inspirasi bagi ilmuwan lain terutama di Eropa. Peradaban Islam masa kini sudah seharusnya menumbuhkan kembali semangat dan perjuangan hidup seorang al-Zarqali. N heri ruslan</p>
<p><strong><br />
Kontribusi Sang Astronom </strong></p>
<p>Selain berhasil menemukan fakta bahawa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular, al-Zarqali juga mampu mengoreksi data geografis yang dibuat Ptolemeus. Secara khusus, dia mengoreksi panjang Laut Mediterania. Al-Zarqali juga mampu menemukan sejumlah fakta penting terkait rahasia langit, seperti planet, bintang, bulan dan matahari.</p>
<p>Penemuan-penemuan yang diciptakannya ditulis dalam kitab berjudul &lt;I&gt;al-Safiha al-Zarqaliya&lt;I&gt; alias? Azafea. Dalam risalah itu tercatat sejumlah penemuannya seperti, astrolab universal, tabel 29 bintang serta yang lainnya. Al-Zarqali dikenal sebagai seorang ilmuwan yang mampu menggabungkan kemampuan teknik dengan teoritik.</p>
<p>Dalam catatannya, al-Zarqali mengungkapkan adanya observatorium juga dibangun peradaban Islam di Toledo serta Cordoba. Observatorium yang dibangun di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah Spanyol itu diyakini keduanya telah menggunakan peralatan astronomi yang tercanggih di zamannya.? Beberapa diantaranya merupakan ciptaan al-Zarqali.</p>
<p>Ia juga tercatat telah menemukan salah satu peralatan komputer analog di era kejayaan Islam. Arzachel, demikian orang Barat biasa menyebut Al-Zarqali, berhasil menemukan Equatorium alat penghitung bintang. Peralatan komputer analog lainnya yang dikembangkan A-Zarqali bernama Saphaea. Inilah astrolabe pertama universal latitude-independent. Astrolabe itu tak bergantung pada garis lintang pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia.? hri/<a href="http://republika.co.id/berita/42587/Al_Zarqali_Astronom_Legendaris_dari_Andalusia" target="_blank"><strong>republika</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/al-zarqali-astronom-legendaris-dari-andalusia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjernihkan Ide &#8216;Kesatuan Agama&#8217;</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjernihkan-ide-kesatuan-agama</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjernihkan-ide-kesatuan-agama#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 17:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kesatuan agama]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sinkritisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3201</guid>
		<description><![CDATA[Wacana pluralisme agama, yang secara sederhana menolak klaim kebenaran satu agama tertentu, biasanya dihubungkan dengan wacana kesatuan transendental agama-agama (KTAA/transcendent unity of religions) rumusan Fritchof Schuon. Wacana ini membayangkan adanya titik temu antar-agama pada level esoteris. Gagasan itu mulanya distematisasikan oleh Schuon kemudian diamini oleh para sarjana lintas agama, dan kini telah memberi nuansa baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">Wacana pluralisme agama, yang secara sederhana menolak klaim kebenaran satu agama tertentu, biasanya dihubungkan dengan wacana kesatuan transendental agama-agama (KTAA/transcendent unity of religions) rumusan Fritchof Schuon. Wacana ini membayangkan adanya titik temu antar-agama pada level esoteris. Gagasan itu mulanya distematisasikan oleh Schuon kemudian diamini oleh para sarjana lintas agama, dan kini telah memberi nuansa baru dalam dialog antar agama.</p>
<p align="left">Dalam paradigma ‘baru’ ini, masing-masing agama tidak dibolehkan mengklaim memiliki kebenaran secara mutlak karena masing-masing mempunyai metode, jalan, shariah, tarikat, bentuk untuk mencapai yang Absolut. Semua agama sama dalam esensinya dan berbeda hanya di dalam bentuknya. Esensinya sama karena semuanya didasarkan kepada sumber yang sama, Yang Absolut, dan bentuknya berbeda karena manifestasi ketika menanggapi yang Absolut.<span id="more-3201"></span></p>
<p align="left">Gagasan titik-temu antar agama merujuk kepada internal, batin, esoteris, yang berada di dalam domain transcendent, dan bukan di dalam bentuk, eksoteris (zahir). Sebagai hasilnya, semua agama memiliki kesahihan dan karenanya setiap agama memiliki metode sah untuk mencapai yang Absolut.<a title="_ftnref1" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftn1">[1]</a></p>
<p align="left">Jadi, menurut gagasan ini, setiap agama wahyu adalah the religion dan a religion. Kedua-duanya tidak boleh dipisah secara total. Kebenaran (Truth) itu terletak di luar bentuk-bentuk, sekalipun wahyu berasal dari Kebenaran yang termanifestasikan di dalam diversifikasi bentuk, yang terbatas dan berbeda.</p>
<p align="left">Pemaparan ringkas di atas menunjukkan kesatuan transcendental (transcendent unity) adalah istilah kunci dalam wacana titik-temu antar agama. Al-Attas, menolak secara kritis gagasan itu. Menurut al-Attas, makna sebenarnya dari ‘kesatuan’ itu sendiri tidaklah jelas. Apakah ‘kesatuan’ itu berarti ‘persamaan’? Jika begitu, maka jelas keliru, sebab konsep Tuhan dalam Islam jelas berbeda dengan agama-agama lain.<a title="_ftnref2" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftn2">[2]</a> Al-Quran menyebutkan: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam” (5:72). Selain itu, al-Quran juga menyebutkan: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” (5: 73). Selainitu juga, al-Quran ada menyebutkan: Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu putera Allah dan orang Nasrani berkata al-Masih itu putera Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Di’laknati Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?</p>
<p align="left">Jika yang di maksud dengan ‘kesatuan’ itu adalah adanya ‘ketidaksamaan’ dan ‘diversifikasi’ dalam level transcendent dan makna ‘kesatuan’ itu dimaksudkan sebagai keterkaitan antara bagian-bagian yang membentuk satu totalitas yang terpadu, maka posisi dan fungsi agama di situ adalah sebagai bagian (komponen) yang saling berkaitan dalam membentuk satu unity. Jika itu yang dimaksud dengan unity, maka dalam level eksoteris (zahir), dimana manusia memiliki keterbatasan &#8211; maka agama apa pun menjadi tidak sempurna, karena agama satu tidak dapat eksis dan menjalankan fungsinya tanpa agama lain.</p>
<p align="left">Ini jelas pendapat yang salah, karena risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw mampu eksis dan menjalankan fungsinya tanpa agama lain. Justru kehadiran Islam adalah untuk meluruskan dan menyempurnakan agama-agama para nabi sebelumnya yang telah berubah. Islam adalah sempurna (al-Maidah: 3). Rasullullah saw adalah nabi yang diutus Allah untuk seluruh manusia (al-Araf: 158). Jadi, Islam adalah agama yang universal, karenanya kebenaran yang ada di dalam al-Quran tidak terbatas untuk orang-orang Muslim saja.</p>
<p align="left">Jika yang dimaksud dengan ‘transendent’ itu adalah kondisi ontologis absolut, yang selalu tetap ada – maka pada tingkatan ini pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain.</p>
<p align="left">Dalam kondisi ontologis yang absolut seperti itu, agama-agama lain memahami Tuhan sebagai rabb bukan ilah. Iblis juga memahami Tuhan sebagai rabb, bukan sebagai ilah. Jadi, mengetahui Tuhan sebagai rabb tidak berarti mengetahui-Nya sebagai ilah. Banyak orang yang hanya memahami Tuhan sebagai rabb dalam level transcendent, sebagaimana kaum musyrik Arab dahulu. Akan tetapi memahami-Nya sebagai rabb akan salah, jika tidak diikuti dengan memahami-Nya sebagai ilah, yakni tidak menyekutukan-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui oleh Nya seperti yang ditunjukkan oleh para rasul yg telah di utus-Nya. Jika hanya mengakui-Nya namun mengingkari cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui-Nya, maka seseorang itu akan disebut kafir karena ia tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya. Iblis yang mempercayai Tuhan yang satu, mengakui-Nya sebagai pencipta alam semesta, masih juga di sebut kafir disebabkan pengikaran kepada perintah-Nya. Jadi, bentuk cara, jalan, sama pentingnya dengan mengakui-Nya.</p>
<p align="left">Jika yang dimaksud dengan transendent itu adalah merujuk kepada kondisi psikologis pada level pengalaman (experience) dan kesadaran yang menurut pengikut konsep KTAA bisa ‘melampaui’ tingkatan pengalaman keagamaan masyarakat umum, maka makna ‘kesatuan’ seperti itu tidak dapat disebut sebagai ‘agama’, tetapi hanya merupakan pengalaman keagamaan (religious experience). Maka, untuk apa agama diturunkan kepada masyarakat dan seluruh manusia, jika dikatakan, mereka tidak pernah bisa sampai dan bersatu pada level transcendent itu? Jika memang level esoteris hanya bisa di raih oleh elit tertentu, maka gagasan KTAA seharusnya menjadi gagasan kesatuan transcendental pengalaman keagamaan. Namun, ini jelas salah, karena fungsi agama Islam bukan saja untuk ummat Islam, bahkan untuk seluruh umat manusia.</p>
<p align="left">Jika kemudian yang di maksud dengan penganut KTAA dengan istilah ‘kesatuan’ itu adalah bukan bagian-bagian yang membentuk totalitas yang padu, tetapi merupakan ‘totalitas’ itu sendiri, maka ‘kesatuan’ itu bukan bermakna ‘kesamaan agama’.</p>
<p align="left">Tapi, mereka sudah bicara tentang konsep Tuhan itu pada level transcendent dimana masing–masing agama dianggap sah di dalam bentuknya yang terbatas dan menyampaikan kebenaran yg sama secara terbatas pula. Pendapat ini pun tidak benar, masing-masing agama memiliki konsep Tuhan yang ekslusif atau berbeda satu sama lain.</p>
<p align="left">Selain hal di atas, gagasan KTAA dikembangkan lebih jauh oleh sebagian kalangan dengan berargumentasi bahwa Islam adalah ketundukan atau penyerahan diri (submission).</p>
<p align="left">Surat Ali Imran 78 diterjemahkan sbb: “sesungguhnya agama di sisi Allah adalah islam” (sikap berserah diri kepada Allah). Surat Ali Imran 85 juga diterjemahkan sbb: “Barangsiapa mencari selain islam (sikap berserah diri kepada Allah) itu sebagai agama, maka sama sekali tidak akan diterima dari dia, dan di akhirat dia akan tergolong mereka yang merugi.”</p>
<p align="left">Jadi, Islam hanyalah salah satu bentuk dari berbagai bentuk ketundukan atau penyerahan diri (kepada Tuhan) yang lain. Implikasinya, agama – agama lain sebelum Rasulullah saw. juga islam karena islam adalah misi dari risalah semua nabi. Schuon, Nasr dan yang lain-lain kemudian berpendapat bahwa Islam bukan saja merujuk secara spesifik kepada wahyu al-Quran, tetapi secara umum merujuk kepada agama lain seperti Yahudi, Kristen, Hindu, Zoroastria dan Budha. Jadi, sekalipun Islam adalah agama yang benar, tetapi agama-agama lain juga benar.</p>
<p align="left">Dalam pandangan mereka, Allah telah mengutus para Rasul kepada berbagai kaum untuk menyebarkan sikap berserah diri kepada Tuhan. Ini dapat dijustifikasi dari berbagai ayat al-Quran: Surat al-Maidah (5:48) Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (shir’ah) dan jalan yang terang (minhaj). Surat Yunus (10:47); Tiap-tiap umat mempunyai Rasul. Lihat juga ayat-ayat lain seperti; al-Nahl (16: 36), al-Isra (17: 15), al-Qasas: (28: 59), Ibrahim (14: 4).</p>
<p align="left">Penafsiran fragmentatif kalangan KTAA bertujuan untuk menjustifikasi bahwa Islam bukan saja agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. saja, tetapi juga agama-agama yang sudah ada sebelumnya.</p>
<p align="left">Pendapat yang menerjemahkan Islam sebagai sikap berserah diri kepada Allah saja adalah tidak tepat karena Islam adalah nama agama. Islam membetulkan sikap berserah diri kepada Allah yang telah diselewengkan. Ia menolak pendapat bahwa Uzair dan Isa sebagai anak-anak Tuhan. Ia membetulkan bagaimana bersikap berserah diri kepada Allah. Ia juga membawa bentuk baru, yang tanpanya, keislaman seseorang akan di tolak. Justru, melalui bentuk tersebut, sikap berserah diri seseorang itu dapat di uji. Jadi, Islam bukan ‘religion of the heart’ saja. Ia menyatukan (tawhid) antara iman dan amal, hati dan perbuatan, esoteris dan eksoteris. Eksoteris sama pentingnya dengan esoteris. Ia adalah nama agama yang baru yang dibawa oleh Rasul terakhir. Penyimpangan – penyimpangan dari kebenaran ajaran terdahulu disebutkan dalam surat al-Baqarah 2: 42, 75-6, 146-47, 150, 159-60, Ali Imran 3: 78 dan al-A’raf 7: 157. Jadi, Islam datang untuk meluruskan penyimpangan yang telah terjadi dengan membawa bentuk baru yang sempurna.</p>
<p align="left">Sekalipun nabi Musa dan Isa alaihima al-salam mengajarkan sikap berserah diri kepada Allah, ini tidak berarti agama Yahudi dan Kristen yang sudah terinstitusikan adalah agama yang berserah diri kepada Allah. Jadi, tidak tepat jika memaknai ‘islam,’ dengan sikap berserah diri agama Yahudi dan Kristen atau agama –agama lain. Nabi Ibrahim as. di sebut al-Quran sebagai seorang yang berserah diri (muslim), tetapi dengan sikapnya yang berserah diri kepada Alllah dia tidak di sebut sebagai Yahudi atau Kristen. Surat Ali Imran 67 menyebutkan: Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri  (muslim) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.</p>
<p align="left">Selain itu, kata muslim yang mempunyai akar yang sam dengan islam yaitu s-l-m, tidak selalunya merujuk kepada penyerahan diri kepada Allah. Kata tersebut juga bisa digunakan untuk merujuk kepada penyerahan diri kepada manusia. Surat al-Naml ayat 31 menunjukkan: “Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. Begitu juga ayat 38 dalam surat yang sama menyebutkan: Dia (Sulaiman) berkata: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”</p>
<p align="left">Jadi, islam tidak tepat untuk diterjemahkan sebagai sikap berserah diri, karena kata tersebut bisa digunakan di dalam al-Quran untuk juga berserah diri kepada manusia.</p>
<p align="left">Jadi, sekalipun Islam berakar dari kata s-l-m, namun kata Islam sudah bukan lagi sekedar bersikap serah diri. Ia sudah menjadi nama tertentu. Ia sudah menjadi sikap pasrah diri yang benar, dengan mengikuti shariah yang ditetapkan Rasulullah saw. Selain itu, sebelum risalah Muhammad saw, agama –agama lain tidak di sebut muslim, tapi Yahudi dan Kristen. Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Kristen tapi seorang Muslim yang lurus (hanifan musliman).</p>
<p align="left">Yahudi dan Kristen di sebut ahli kitab atau juga kafir karena menentang kebenaran yang di bawa Rasulullah saw. Menyebutkan mereka sebagai ahli kitab atau kafir menunjukkan ekslusifitas Islam. Jadi, jika inklusifitas Islam terdapat pada pengakuan kepada para rasul yang di utus sebelum Rasulullah saw, maka eklusifitas Islam terdapat pada pembetulan kepada risalah kenabian yang diselewengkan sekaligus disempurnakan dengan shariah yang harus diikuti, seperti mengakui syahadah, shalat, zakat, puasa dan mengakui keesaan Allah, para malaikat, rasul, kitab, hari akhirat dan ketentuan Tuhan. Jadi, Islam adalah ekslusif dan inklusif. Rasulullah saw. mengakui wujudnya misi para rasul sebelumnya, dan seandainya mereka hidup pada zaman Rasullullah saw., kata ibn Arabi, mereka juga akan mengikutinya.  Jadi, orang-orang Yahudi, Nasrani atau siapa saja perlu mengakui kebenaran yang dibawa Rasulullah saw. karena ini adalah bagian daripada sikap berserah diri kepada Allah. Sebaliknya, sikap yang menentang (kafir) terhadap ajaran Rasullullah saw. menunjukkan sikap tidak berserah diri kepada Allah. Orang Yahudi dan Kristen perlu mempercayai eksistensi Rasulullah saw karena nama Rasulullah saw sudahpun disebutkan dalam risalah kenabian terdahulu.</p>
<p align="left">Al-Quran menyebutkan: Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah: 62).</p>
<p align="left">Pendapat ini salah karena Islam adalah nama yang diberikan Allah swt. Ia bukan saja bentuk tetapi essensi itu sendiri. Mereka juga membagi konsep syahadah kepada dua level realitas: yaitu Absolut dan relatif. Shahadah pertama adalah absolut dan yang ke kedua adalah relatif. Muhammad saw. adalah Rasul (perantara, manifestasi, simbol) relatif terhadap Absolut. (Fritchof Schuon, Understanding Islam (Great Britain: George Allen &amp; Unwin 1963). Pembagian kepada dua level realitas ini di klaim dapat ditemukan dalam konsep wahdat al-wujud yang dipelopori oleh Ibn Arabi dan kemudian diformulasikan oleh pengikut-pengikutnya.</p>
<p align="left">Apakah betul Ibn Arabi meyakini gagasan KTAA sebagaimana yang di klaim oleh para pembela KTAA? William Chittick, seorang tokoh internasional tentang Ibn Arabi menegaskan bahwa Ibn Arabi membela gagasan KTAA. Chittick menyatakan bahwa dalam pandangan Ibn Arabi, kedatangan Islam tidak menghapuskan agama-agama wahyu sebelumnya. Agama-agama lain tetap sah ketika Islam muncul. Chittick kemudian menulis pendapat Ibn Arabi mengenai hal ini sbb:</p>
<p align="left">Semua agama wahyu (shara’i) adalah cahaya. Di antara agama-agama ini, agama wahyu Muhammad seperti cahaya matahari di antara cahaya-cahaya bintang-bintang. Ketika matahari muncul, cahaya-cahaya bintang-bintang tersembunyi, dan cahaya-cahaya mereka terserap di dalam cahaya matahari. Tersembunyinya mereka seperti terjadinya abrogasi agama-agama wahyu yang lain melalui agama wahyu Muhammad. Bagaimanapun juga, sebenarnya mereka ada, sebagaimana adanya cahaya bintang-bintang yang teraktualisasikan. Ini menerangkan mengapa kita diharuskan di dalam inklusifitas agama untuk beriman kepada kebenaran dari semua rasul dan semua agama wahyu. Abrogasi tidak membuat salah (batil)-itu adalah pendapat orang yang tidak tahu.<a title="_ftnref3" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftn3">[3]</a></p>
<p align="left">Terjemahan Chittick tidak tepat karena menerjemahkan halaman yang di kutip dari Futuhat secara fragmentatif. Terjemahan yang lebih komprehensif dari Futuhat sebagai berikut:</p>
<p align="left">Semua hukum agama (shara’i) adalah cahaya, dan di antara cahaya-cahaya ini, hukum Muhammad saw. seperti cahaya matahari di antara cahaya bintang-bintang; jika matahari tampak, cahaya-cahaya bintang tersembunyi dan cahaya-cahaya mereka terserap ke dalam cahaya matahari: tersembunyinya cahaya-cahaya mereka menyerupai hukum-hukum agama, yang telah terhapus (nusikha) oleh hukum-nya saw. sekalipun  mereka sebenarnya ada, sebagaimana adanya cahaya-cahaya bintang. Inilah sebabnya mengapa kita diharuskan oleh hukum universal kita untuk mengimani semua rasul dan mempercayai bahwa semua hukum mereka adalah benar, dan tidak menjadi salah disebabkan terhapus, itu adalah imajinasi orang yang tidak tahu. Jadi, semua jalan kembali untuk melihat jalan Rasulullah saw; jika para rasul hidup pada zamannya Muhammad saw, mereka akan mengikutinya sebagaimana hukum-hukum mereka telah mengikuti hukumnya  karena dia telah diberikan Logos yang Komprehensif (Jawami’ al-Kalim), dan diberikan (ayat al-Quran): “Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang tak terkalahkan” (Al-Fath 48:3), ‘yang tak terkalahkan’(al-Aziz juga berarti jarang, yang sangat dikasihi, yang berharga, yang tidak dapat di raih) adalah dia yang di cari tetapi tidak dapat di raih. Ketika risalah para rasul mencari untuk mencapainya, dia membuktikan mustahil bagi mereka untuk meraih karena dia [karena disukai di atas mereka karena] di utus untuk seluruh dunia (bi bi’thatihi al-‘ammah) dan di beri  Logos yang Komprehensif (Jawami’ al-Kalim), dan posisi tertinggi memiliki tempat yang terpuji (al-maqam al-mahmud) di akhirat, dan Allah telah menjadikan umatnya ummat terbaik yang pernah di bawa untuk manusia (Ali-Imran 3: 110). Ummat setiap rasul sepadan dengan maqam rasul mereka, jadi sadari ini. (Ibn Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah. Beirut: Dar al-Ihya al-Turath al-Arabiyy).</p>
<p align="left">Terjemahan yang lebih komprehensif di atas menunjukkan bahwa Chittick tidak memasukkan pernyataan ibn Arabi secara utuh, padahal Ibn Arabi sendiri mengatakan; “hukum-hukum mereka telah mengikuti hukumnya.” Ini menunjukkan bukan saja hukum-hukum para rasul sebelum Muhammad saw. terabrogasi, tetapi juga secara implisit bisa dikatakan bahwa hukum-hukum tersebut terkandung di dalam wahyu baru yang di bawa oleh Muhammad saw.</p>
<p align="left">Tulisan ringkas di atas menunjukkan bahwa titik temu dalam level esoteris yang dikembangkan oleh Rene Guenon, Schuon dkk tidak tepat. Mungkin setelah mempelajari universalitas ajaran Islam, mereka kemudian menganggap bahwa bukan hanya Islam tapi semua agama mempunyai ajaran yang ‘bersatu dalam level transendent’. Pemikiran ini tidak dapat di terima dalam pandangan Islam, namun mungkin boleh di terima oleh agama-agama lain. Islam adalah penyempurna agama-agama yang sudah ada sebelumnya.</p>
<p align="left">Justifikasi S. H. Nasr yang membela Schuon karena berbagai ayat al-Quran menunjukkan bahwa tiap –tiap umat mempunyai rasul, aturan dan jalan sebagaimana di dalam al-Maidah (5: 48), Yunus (10: 47), Al-Nahl (16: 36), al-Isra: (17:15), al-Qasas: (28:59), dan Ibrahim: (14:4) tidak tepat karena ayat-ayat di atas tidak menunjukkan bahwa setelah kedatangan Rasulullah saw. ajaran agama-agama sebelumnya masih berlaku lagi karena banyak ayat al-Quran yang lain menyebutkan bahwa terdapat distorsi (tahrif) dalam ajaran mereka, seperti: al-Baqarah 2: 42, 75-6, 146-47, 150, 159-60, 174, ali Imran 3: 78, dan al-‘Araf 7: 157.</p>
<p>Selain itu, terdapat perbedaan antara risalah para rasul sebelum Muhammad saw. dengan Rasulullah s.a.w karena beliau adalah penutup dan penyempurna dari risalah sebelumnya dan karenanya Islam itu diturunkan untuk seluruh manusia.<a href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59" target="_blank"><strong>[insists] </strong></a></p>
<hr />
<p align="left"><a title="_ftn1" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftnref1">[1]</a> Fritchof Schuon, <em>The Transcendent Unity of Religions</em>, Wheaton: The Philosophical Publishing House, 1984, pertama kali diterbitkan tahun 1957).</p>
<p align="left"><a title="_ftn2" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftnref2">[2]</a> <em>Prolegomena to the Metaphysics of Islam</em> (1995)</p>
<p><a title="_ftn3" href="http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15&amp;Itemid=59#_ftnref3">[3]</a> (William Chittick, <em>Imaginal Worlds: Ibn Arabi and the Problem of Religious Diversity.</em> New York: The State University of New York Press, 1994).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjernihkan-ide-kesatuan-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Hari Bersama Kimong</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/satu-hari-bersama-kimong</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/satu-hari-bersama-kimong#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 18:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=1709</guid>
		<description><![CDATA[By: Iwan Januar
Buat banyak orang punya keponakan itu menyenangkan. Tapi barangkali juga nggak, buat sebagian yang lain. Hm, itu yang tahu kamu sendiri jawabannya. Tergantung kesiapan diri kamu dan juga&#8230;si keponakan sendiri; cute, imut atau amit-amit.
Itu yang bakal dialami Eri. Weekend yang rencananya diisi belanja buku baru jadi gagal gara-gara ia disuruh maminya ngejagain Kimong, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>By: Iwan Januar</strong></p>
<p>Buat banyak orang punya keponakan itu menyenangkan. Tapi barangkali juga nggak, buat sebagian yang lain. Hm, itu yang tahu kamu sendiri jawabannya. Tergantung kesiapan diri kamu dan juga&#8230;si keponakan sendiri; <em>cute</em>, imut atau amit-amit.</p>
<p>Itu yang bakal dialami Eri. <em>Weekend</em> yang rencananya diisi belanja buku baru jadi gagal gara-gara ia disuruh maminya ngejagain Kimong, anak tantenya. Ceritanya Paman Tono dan istrinya naik haji. Selama mereka berhaji, anak mereka si Kimong dititipkan ke nenek Eri. Cuma, khusus minggu ini, Mami Eri kebagian ngejagain Kimong. En, karena Mami dan Abi ada undangan pernikahan teman pengajian maka tugas itu jatuh ke tangan Eri. So, Eri pun manyun. Kalau saja nggak inget ini adalah amanah, lagian ngejaga keponakan sendiri, Eri milih lari sejauh-jauhnya. Eh, nggak ding takut kejauhan nanti keabisan ongkos repot deh.</p>
<p>Kimong sebenarnya lucu. Mukanya yang <em>innocent</em> alias kagak punya dosa bikin gemes siapa aja yang ngeliat. Apalagi Kimong udah pinter ngomong walau umurnya baru lima tahun. Cuma, buat Eri apa enaknya ngejagain anak kecil. Gimana kalo ngompol en ??, siapa yang nyebokin? Bersihin kandang burung jalak punya abi aja Eri jijay, apalagi nyebokin anak orang. Hueks!<span id="more-1709"></span></p>
<p>Belum lagi kelakuannya yang Eri kagak tahan. Suka malu-maluin. Pernah waktu jalan-jalan bareng keluarga ke pasar, Kimong minta dibeliin anak monyet. Mending monyet-monyetan, ini sih monyet betulan yang kebetulan lagi atraksi nge-dance ala Justin Timberlake di pentas topeng monyet. Terang aja Tante Vina, maminya, kesel. Biar udah diomongin kalau monyet itu nggak dijual, eh Kimong ngotot minta dibeliin. Cerita selanjutnya seperti bisa kamu tebak anak itu nangis sekenceng-kencengnya di pasar. Whuaaa&#8230;</p>
<p>Tante Vina, Mami, dan Eri yang lagi nenteng belanjaan terang aja jadi mokal abis. Berbagai bujukan dipake kagak mempan. Ditawari es krim coklat, permen, martabak, mie ayam, Kimong tetap setegar baja [superman kaleee!]. Untung aja nggak ditawarin kartu kredit, ril estat, atau ponsel.</p>
<p>&#8220;Udah Kimong, jangan nangis, daripada beli anak monyet mendingan maen PS ama Om Eri di rumah, ya?&#8221; Eri akhirnya turun tangan ngebujuk keponakannya itu.</p>
<p>Kimong menatap Eri sejenak, en&#8230;nangis lagi dengan amplitudo suara yang sama.</p>
<p>&#8220;Nggak mau, Kimong pengen anak monyet. Om Eri jelek, cakepan anak monyet. Om Eri nggak ada buntutnya, nggak kayak anak monyet,&#8221; kata Kimong asal. Eri jadi kecut. Sementara orang-orang yang merhatiin adegan tadi jadi mesem-mesem. Merasa iba sama Eri yang kalah menarik ama anak monyet.</p>
<p>Itu kenangan pahit yang diingat Eri sewaktu jalan bareng Kimong. Tapi apa boleh buat, pagi itu abi udah ngejemput Eri dari rumah nenek. Beberapa menit lagi anak itu bakal <em>landing</em> di rumah. Entah kekacauan macam apa yang bakal terjadi.</p>
<p>Suara Vespa abi udah terdengar di pintu gerbang. Itu berarti Kimong sudah datang. Bener aja, suara anak itu udah mendahului mukanya yang imut.</p>
<p>&#8220;Om Eriiii&#8230;assalamu ?alaykum!&#8221; teriaknya lantang. Eri yang lagi nyantap bubur ayam buru-buru keluar dari ruang tamu. Begitu keluar Kimong udah menyergapnya dari depan. Buk! Perut Eri kesundul kepala Kimong. Eri jadi mual.</p>
<p>&#8220;Om Eri sakit ya? Makanya kalau jalan liat-liat Om, kalau nggak nanti tabrakan,&#8221; kata Kimong. Sambil nyengir nahan sakit Eri ngangguk-nganguk. Huuh, ini anak! Belum apa-apa udah nyulut api kerusuhan.</p>
<p>&#8220;Kalau sakit makan aja dulu Om. Nah, itu ada bubur. Buat Kimong ya, Om?&#8221; celoteh Kimong sambil tau-tau udah mengangkat mangkok bubur ayam. Tanpa perasaan dosa langsung saja suap demi suap bubur ayam itu meluncur ke mulutnya. Tapi begitu suapan ketiga, aksi ini terhenti. Muka Kimong ngedadak jadi merah, mulutnya manyun dan&#8230;whuaaa!</p>
<p>Eri nyengir puas. Siapa suruh makan bubur punya orang, emang enak kepedesan! Sementara Kimong nangis, Eri megang perut nahan ketawa.</p>
<p>&#8220;Om Eri jahat! Om Eri jahat!&#8221; teriak Kimong. Abi dan Umi yang mau ke undangan berlarian ke ruang tamu.</p>
<p>&#8220;Kenapa, Mong?&#8221; tanya Mami panik sambil meluk Kimong.</p>
<p>&#8220;Buburnya dikasih sambel sama Om Eri,&#8221; Kimong ngomong sambil sesenggukan. Air matanya meleleh, antara nangis ama nahan pedes.</p>
<p>&#8220;Eri, kamu ini gimana sih? Jangan ngasih makanan pedes dong sama anak-anak. Kalau nanti sakit perut gimana?&#8221; Yee mami, kok jadi ngebelain Kimong. Gimana sih?</p>
<p>Setelah minum segelas susu baru deh tangis Kimong berhenti. Dengan wajah kesel ia menatap Eri. Yang ditatap cuma mesem-mesem sambil agak bete mikirin jatah bubur ayamnya yang berkurang.</p>
<p>Nggak berapa lama abi dan mami berangkat ke undangan. &#8220;Ati-ati di rumah, Ri. Jagain Kimong, jangan diusilin!&#8221; pesen Mami sebelum berangkat.</p>
<p>&#8220;Tenang aja, Mi. Kalau Kimong nangis, entar Eri kirim aja via sms ke Arab Saudi biar ketemu tante Vina,&#8221; jawab Eri. Maminya melotot. Eri menatap vespa yang membawa Abi dan Mami ke undangan. <em>Oh, I wish I can go there with them</em>. Eri membatin. Kebayang makanan undangan yang <em>yummi</em>. Tapi sekarang ia ada di rumah harus nemenin anak kecil. Moga-moga aja kagak rewel. Ya, Allah moga-moga aku selamat berada di rumah sampai ortuku pulang, doa Eri.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Hehehe&#8230;ternyata Kimong emang ujian dari Allah buat Eri. Beres nonton film kartun di tivi, ia udah kesel. Pengen jalan-jalan.</p>
<p>&#8220;Om Eri, Kimong pengen jalan-jalan,&#8221; Kimong udah merengek. Eri males-malesan menghampiri anak itu.</p>
<p>&#8220;Kita dengerin kaset Om Eri aja, ya?&#8221; bujuknya.</p>
<p>&#8220;Kaset apa Om? Lagu dangdut ya? Kimong seneng lagunya Uut Pematasari, <em>Putri Panggung</em>. Om Eri punya kan?&#8221;</p>
<p>Ya ampun, ini anak seleranya parah amat. Ini pasti korban tivi dan salah gaul.</p>
<p>&#8220;Om nggak punya lagu kayak begitu. Lagian itukan lagunya nggak bagus. Nggak baek buat anak-anak,&#8221; kata Eri.</p>
<p>&#8220;Nggak mau, pengen lagu itu!&#8221; Wah, mulai deh cengengnya kumat, Eri membatin.</p>
<p>&#8220;Dengerin aja dulu kaset Om Eri, Kimong entar suka deh.&#8221; Eri masukkin kaset <em>Neoshalawat</em> Snada ke tape componya. Kimong diem aja begitu dengerin nasyid koleksi Eri. Mukanya nunjukkin kalau ia nggak suka, tapi Eri cuek aja. Tapi, lama kelamaan Kimong nangis.</p>
<p>&#8220;Pengen ke Mama,&#8221; katanya disela-sela tangis. Eri mulai panik.</p>
<p>&#8220;Mamanya lagi naik haji, Kimong. Nanti juga pulang.&#8221; Sia-sia. Tangis Kimong makin kenceng. Ditawarin susu, snack, Kimong tetep nangis. Eri kebingungan. Gimana nih, <em>please somebody help me!</em> <em>Save me!</em> <em>Save Our Soul!</em> Ia muter otak nyari cara untuk nenangin ponakannya itu. Akhirnya ia nelepon Dado, sohibnya. Alhamdulillah, Dado sendiri yang ngangkat telepon.</p>
<p>&#8220;Do, gue mo konsultasi nih,&#8221; langsung aja Eri ngomong terus terang.</p>
<p>&#8220;Boleh, konsultasi apa? Asmara? Kesehatan? Keuangan? Asal jangan Feng Shui, itu haram,&#8221; jawab yang ditanya sekenanya.</p>
<p>&#8220;Gue serius, tau! Gimana sih cara bikin anak kecil berhenti nangis?&#8221; tanyanya dengan kesel.</p>
<p>&#8220;Oh, itu sih gampang. Lu ajak nyanyi, atau ajak ngeliat cicak. Biasanya ibu-ibu suka ngajak anaknya merhatiin cicak,&#8221; jawab Dado.</p>
<p>&#8220;Ah gua kagak bisa nyanyi. Kalo liat cicak sih boleh, tapi kenapa sih mesti cicak?&#8221; tanya Eri bingung.</p>
<p>&#8220;Iya dong, kalau disuruh liat gajah kan susah, kudu ke kebon binatang dulu. Mending liat cicak, di rumah kan banyak. He&#8230;he&#8230;&#8221; Idih, kok jadi tebak-tebakkan.</p>
<p>&#8220;Afwan gue becanda, Ri. Gimana kalau lu ajak jalan-jalan aja tuh anak?&#8221;</p>
<p>Jalan-jalan? Ok juga tuh. Sekalian beli buku , nih. Setelah ngucapin terima kasih dan salam. Konsultasi konyol ama Dado pun berakhir.</p>
<p>&#8220;Kimong, kita jalan-jalan, yuk?&#8221; bujuk Eri. Bener aja, begitu denger kata ?jalan-jalan&#8217; tangisnya mulai surut. <em>Yes, yes!</em></p>
<p>&#8220;Ke mana?&#8221; ia penasaran.</p>
<p>&#8220;Ke mall.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti beli es krim ya?&#8221; pinta Kimong.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi Kimong jangan nangis lagi ya?&#8221; Eri mengangguk. Kimong girang banget.</p>
<p>Nggak berapa lama keduanya udah berada di mikrolet. Sepanjang jalan Kimong nyanyi melulu. Lagu apa aja ia nyanyiin. Nggak peduli syairnya bener atau nggak.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kring kring</em></p>
<p><em>ada sepeda</em></p>
<p><em>di atas genteng</em></p>
<p>Tuh, kan lagunya ngelantur kemana-mana. Tapi ia cuek aja. Eri juga bangga, soalnya secara nggak langsung ia jadi perhatian para penumpang. Ibu-ibu, akhwat yang berjilbab, semuanya ngeliatin Kimong. Aih, om-nya jadi ge-er.</p>
<p>&#8220;Berapa tahun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pinter, ya, udah banyak hapalan lagunya,&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak ke berapa, Pak?&#8221; Wah kalau yang ini Eri jadi sebel. Masak tampang imut begini disangka udah beranak pinak. Kira-kira dong kalo nanya.</p>
<p>Hebatnya, Kimong udah bisa berdialog interaktif ama para penumpang. Ia ngejawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu semua. Ada yang bener ada juga yang ngawur. Ya, namanya juga anak-anak.</p>
<p>&#8220;Tante, kok tante make kerudung sih?&#8221; tanyanya pada seorang penumpang yang berjilbab.</p>
<p>&#8220;O, Tante orang Islam. Semua orang Islam wajib pake jilbab,&#8221; jawabnya. Kimong diem aja. Tau ngerti, tau nggak.<br />
&#8220;Kalau Tante yang ini kok nggak pake jilbab, bukan orang Islam ya?&#8221; tanyanya pada seorang cewek berkaos ketat. Yang ditanya merah mukanya. Hihihi&#8230;kena skak ama anak kecil, emang enak?</p>
<p>Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di mall. Kimong seneng banget. Apalagi waktu diajak naik eksalator [tahu kan? Tangga berjalan tapi nggak ada hubungannya ama berobat jalan]. Ia jingkrak-jingkrakkan. Eri geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan keponakannya itu. Ah, senengnya jadi anak kecil nggak tahu permasalahan dunia. Nggak kayak gue udah banyak pikiran [ceilee sok tua lu, Ri!]. Mikirin ujian, pengajian, mikirin temen-temen, kadang-kadang ia mumet. Sementara anak kecil yang ada cuma maen, jajan en bobok. Tiba-tiba Eri jadi bernostalgia, inget jaman waktu kecil, diajak jalan-jalan ama Mami dan Abi ke Ancol, ke Istiqlal, rasanya seneng banget.</p>
<p>&#8220;Kita ke mana, Om?&#8221; tanya Kimong.</p>
<p>&#8220;Ke toko buku. Kimong boleh maen di sana, tapi jangan jauh-jauh ya?&#8221; pesen Eri pada Kimong.</p>
<p>Begitu masuk ke tempat toko buku Kimong udah lari-larian. Eri ngikutin dari belakang sambil ngelirikin buku-buku terbaru. Ada novel-novel Islam yang ia belum punya, buku-buku dakwah juga banyak. Ia jadi ngiler inget duitnya yang terbatas. Paling banter ia cuma bisa beli satu buku. Mumpung kagak disegel, baca dulu ah, Eri kegirangan. Buru-buru ia comot satu novel anyar. Matanya mulai asyik menyimak baris demi baris novel itu. Seru banget nih! Bab demi bab mulai ia lahap dengan serius.</p>
<p>Nggak kerasa satu novel itu udah ampir abis ia baca. Ih, ampe lupa waktu. Eh, ia juga jadi inget sesuatu&#8230;Kimong! Astagfirullah, ke mana dia? Kok gue teledor banget, lupa ama keponakan!</p>
<p>Eri mulai panik. Kepalanya celingukan mencari-cari Kimong. Nggak ketemu. Ia mulai jalan menyusuri barisan rak-rak buku. Di tengah-tengah kerumunan anak-anak yang lagi asyik baca komik matanya jelalatan, mencari Kimong. Nihil. Ia muter lagi dengan harap-harap cemas. Tapi Kimong tetep nggak ada. Eri mulai keringet dingin. Aduh, gimana kalau Kimong sampai nggak ketemu, atau diculik? Ah, ia buang jauh-jauh bayangan itu.</p>
<p>Satu-satunya harapan adalah mendatangi tempat informasi. Dengan lemas Eri menyebutkan ciri-ciri Kimong pada petugas informasi untuk diumumkan. Nggak berapa lama petugas itu mengumumkan berita kehilangan anak. Eri duduk dengan pasrah di bangku petugas.</p>
<p>&#8220;Tenang aja, Mas. Insya Allah ketemu, kok. Ini minum dulu,&#8221; kata petugas itu ramah sambil memberikan segelas air mineral.</p>
<p>&#8220;Makasih, Pak,&#8221; jawab Eri sambil mengambil air itu.</p>
<p>Tiga kali pengumuman diudarakan tapi belum ada hasil. Udah jam satu. Berarti sejam lebih Kimong nggak ada kabar berita. Penyesalan mulai merayap dalam hati Eri.? &#8220;Ya Allah, kenapa gue teledor.&#8221;</p>
<p>Tapi tiba-tiba ia mendengar suaranya dipanggil. Masya Allah, itu kan suara Kimong.</p>
<p>&#8220;Om Eri!&#8221; teriak Kimong. Eri girang banget mendengar suara cempreng itu lagi. Alhamdulillah, Kimong selamat. Seorang ibu berkerudung dengan anak kecil mengantarkan Kimong ke pusat informasi.</p>
<p>&#8220;Adik kakaknya?&#8221; tanya ibu itu.</p>
<p>&#8220;Bukan, saya saudaranya, om-nya,&#8221; jawab Eri grogi.</p>
<p>Ibu itu bercerita kalau ia melihat Kimong sedang nangis di tempat mainan anak-anak. Kimong ingin naik <em>bom bom car</em>. Karena kasian ibu itu mengajak Kimong bermain di sana bareng cucunya. Ternyata mereka berdua main asyik banget, sejam lebih. Makanya pengumuman kehilangan Kimong yang berulang-ulang tidak tersimak. Baru setelah mereka mau pulang, Kimong nangis lagi karena pengen balik bareng Eri.</p>
<p>&#8220;Ati-ati ya, Nak. Jagain Kimong baik-baik,&#8221; ibu itu ngasih nasihat sebelum pergi meninggalkan Eri dan Kimong. Eri mengiyakan sambil berkali-kali ngucapin terima kasih pada mereka. Kimong juga ngucapin terima kasih sambil melambaikan tangan pada cucu ibu itu.</p>
<p>&#8220;Aduh Kimong, Om Eri kangen banget ama Kimong,&#8221; sambut Eri sambil memeluk Kimong erat-erat. Yang dipeluk diem aja.</p>
<p>&#8220;Om Eri sih nggak ikut maen mobil-mobilan, seru lho, Om&#8221; jawab Kimong tanpa perasaan bersalah atau takut.</p>
<p>&#8220;Oh, iya, maapin Om Eri, ya. Om Eri nggak ngejagain Kimong,&#8221; kata Eri masih sumringah. Girang bisa kembali ketemu ponakannya.</p>
<p>&#8220;Sekarang kita pulang, yuk! Nanti Om Eri beliin es krim yang enak,&#8221; ajak Eri. Kimong menatap Eri. Bola matanya berbinar menandakan senang. Ah, Kimong kamu emang keponakan yang lucu.l[]</p>
<p>[diambil dari Majalah PERMATA, edisi 21/Feb 2004</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/satu-hari-bersama-kimong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Daiyah, Kudu Lagi!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 18:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[OnlyGirl]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=2275</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?
Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan married [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Dakwah bukan cuma monopoli ikhwan, akhwat juga terjun ke kancah dakwah. Ngaji, ceramah, nulis opini Islam, seminar, diskusi ke-Islaman, cari dana buat kegiatan Islam, bahkan ikut aksi unjuk rasa segala. Kok bisa, ya?</em></strong></p>
<p>Biasanya yang suka ceramah itu ibu-ibu,? berembel-embel hajjah, atau dipanggil Ibu Haji (meski kadang nggak naik haji sendiri sih, cuman kebetulan <em>married</em> ama Pak Haji). Sekarang, kondisinya udah beda 180 derajat. Meski kaum berumur masih ada yang aktif berdakwah, tapi jumlahnya bisa dihitung, cukup dengan jari tangan plus jari kaki kamu. Sebaliknya, kini remaja-remaja seusia kamu Non yang lebih mendominasi aktivitas yang katanya bau surga itu.</p>
<p>Dalam menerjuni kancah dakwah, mereka punya motto &#8220;Hidup Mulia atau Mati Syahid&#8221;. Ada juga yang punya motto &#8220;Lebih baik Berdakwah daripada Didakwahi&#8221;. (Maksudnya, lebih baik memberitahu dulu daripada diomeli, <em>kali ye</em>). Yang lain punya motto &#8220;<em>Bunga Dakwah</em>&#8220;, artinya buku ngaji dan dakwah. Tentu saja mereka jauh dari aktivitas hura-hura, pesta dan cinta kayak generasi dugem.<span id="more-2275"></span></p>
<p>Trisna Rahmawati salah satunya. Siswi kelas 3 SMK Negeri 1 Bogor ini ikut terlibat DKM Asy-syifa di sekolahnya. Doi terlibat dakwah karena menyadari betul bahwa hal itu suatu kewajiban. Kesadarannya itu muncul setelah bersentuhan dengan ajaran Islam ketika waktu kelas 1. &#8221;Tadinya hanya ingin cari pengalaman organisasi aja, tapi setelah mengkaji Islam jadi tahu kalo dakwah itu wajib. Ya udah, jalanin,&#8221; ungkapnya. Selain dapat ilmu Islam, Marni senang karena bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan yang positif. Nggak mengganggu sekolah? &#8221;Enggak tuh, prestasi masih baik-baik aja,&#8221; akunya.</p>
<p>Hanya, kadang doi dihadapkan pada kendala waktu. Maklum, udah kelas 3, jadi lumayan sibuk. &#8221;Tapi melihat situasi di lingkungan, khususnya sekolah, kita pengin dong berubah menjadi Islami. Makanya nggak bisa tinggal diam,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Aktivitas ngaji dan dakwah juga dirasakan Anggita Indra Sari, mahasiswi semester 5 Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB). Doi yang baru sekitar dua tahun masuk Islam ini, sedang getol-getolnya? mempelajari Islam karena merasa belum tahu banyak. &#8221;Sejak itu saya tahu kalo dakwah itu wajib. Bahkan walaupun baru paham satu ayat, kita harus menyampaikan ke orang lain,&#8221; kisahnya kepada Permata. Selain itu, ketika melihat kemungkaran, adalah kewajiban kita untuk mengingatkan, imbuh gadis manis asal Jawa Tengah ini.</p>
<p>Mengalami kendala nggak saat berdakwah? &#8221;Wah, banyak sekali. Pernah? saya dianggap ikut aliran sesat. Termasuk di keluarga, saya masih dianggap nggak tahu apa-apa tentang Islam,&#8221; ujarnya. Karena itu, Anggi butuh dorongan kuat untuk meyakinkan orang yang didakwahinya. Selain Anggi ada juga Ninik Sulastri, alumnus Universitas Airlangga yang masih jomblo ini, sangat menikmati aktivitas dakwahnya. Aktivitasnya, mengisi pengajian, menjadi operator siaran radio program Islam, ikut seminar, de el el.</p>
<p>Dalam beraktivitas, banyak kendala doi temukan. Baik dari diri sendiri, masyarakat maupun lingkungan. Dari diri sendiri, misalnya kalo lagi terserang penyakit Betty La Fea, alias bete. Atau pas ketemu ama audiens yang &#8216;bandel&#8217; bin &#8216;istiqomah&#8217; dalam kemunkaran. &#8221;Pernah ngisi pengajian sampai berkali-kali, eh&#8230;orangnya kagak berubah-berubah,&#8221; keluhnya.? Ada lagi dari lingkungan, misalnya dihambat perangkat desa setempat ketika akan menyampaikan Islam. &#8221;Kita kan minta ijin mo ikut pengajian ibu-ibu, tapi tidak diijinkan, malah kelihatan dihambat, gitu,&#8221; curhatnya kepada Permata belum lama ini. (Dikira minta bayaran atau minta sumbangan kali, ya!)</p>
<p>Lalu, apa yang dicari dengan segudang aktivitas itu? Hampir semua akhwat di atas sepakat, mencari ridho Allah. &#8221;Yah, namanya juga menjalankan kewajiban. Tujuannya ya cuma satu, moga-moga dapet pahala,&#8221; begitu ujar Trisna. &#8221;Saya sih sama, mencoba merintis jalan menuju surga,&#8221; imbuh Ninik. Semoga terkabul deh!</p>
<p><strong>Dakwah, Mengapa Tidak?</strong></p>
<p>Ya, dakwah memang bukan monopoli kaumnya AA Gym saja. Kaum hawapun juga punya kewajiban yang sama, menyeru kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar. Allah berfirman yang artinya: <em>&#8220;Hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada Islam, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.&#8221; </em>(TQS Ali-Imran: 104). Seruan ini tidak <em>khususon </em>buat cowok, tapi juga buat cewek. Demikian pula QS An-Nahl: 125, QS Fushilat: 33, dll.</p>
<p>Dalil lain tentang wajibnya dakwah adalah Sabda Rasullullah yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah mencegahnya dengan tangan, dan jika tidak mampu maka dengan lesan, dan jika tidak mampu dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman.&#8221; </em>(HR Muslim).</p>
<p>Jadi jelas, dakwah adalah wajib. Tidak bisa ditawar lagi, jadi sunah atau mubah, misalkan. Sama halnya dengan kewajiban salat atau puasa di bulan Ramadhan, maka konsekuensinya jelas jika kamu tak melaksanakannya, yakni dosa. <em>Na&#8217;udzubillahi min dzalik</em>. Dan kewajiban ini nggak dibatasi umur, nunggu kalo udah tua atau udah hajah misalkan. Jadi kamu-kamu, asal udah baligh, udah kudu menjalankannya.</p>
<p>Bagaimana agar bisa menjadi daiyah? Kunci pertama adalah belajar Islam (ngaji). Eit, jangan antipati dulu. Wah, kalo ngaji ntar ini nggak boleh, itu dilarang, begitu mungkin pikir kamu. Padahal kalau tahu Islam, nggak berat kok ngejalanin perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Wong semua itu dibebankan Allah Swt sesuai dengan kemampuan kita kok.</p>
<p>Termasuk, ketika dalam melaksanakan aktivitas dakwah, kamu dihadang tantangan dan hambatan, Insya Allah pasti kamu mampu mengatasinya. Asal kamu tahu strateginya aja. Soalnya, meski nggak setebal tembok Cina, namun hambatan ini cukup menjadi kendala bagi keberhasilan dakwah. Hambatan itu bisa datang dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Dari diri sendiri, diantaranya adalah keyakinan terhadap Islam yang mungkin belum 100%, nggak pede, malas, takut resiko, atau kesibukan pribadi seperti karena masih sekolah, kuliah atau karena urusan keluarga.</p>
<p>Tantangan dari keluarga, bisa jadi masalah perijinan ketika akan keluar rumah, terjadinya bentrokan pemikiran dengan keluarga yang belum sepemahaman dengan kita, dan juga masalah uang saku. Maklum, bagaimana pun sebagai anak yang belum bisa mandiri, kita kan masih minta ongkos ortu pas kudu keluar rumah. Iya, kan? Nah, kalo lagi ada kegiatan nggak dikasih ijin plus ongkos, gimana bisa jalan? Sedangkan tantangan dari masyakat, bisa akibat adanya image negatif atas aktivitas kita, birokrasi yang bertele-tele, perijinan, dll.</p>
<p><strong>Ada Rambu-rambunya, Lho!</strong></p>
<p>Dalam menjalankan aktivitas dakwah, ada &#8216;rambu-rambu&#8217; khusus buat wanita. Ada hukum-hukum syara&#8217; tertentu yang kudu diperhatikan. <em>Pertama</em>, ketika wanita akan keluar rumah, dia musti dapet SIM (Surat Ijin Mengaji) dari ortu atau suaminya, bagi yang udah <em>married</em>. Rasulullah bersabda: <em>&#8220;..tidak boleh wanita keluar rumah kalau suaminya tidak suka.&#8221;</em> (Lihat Shahih Ibnu Hibban).</p>
<p>Ini bukan berarti menghambat aktivitas wanita lho, lebih karena untuk menjaga <em>iffah</em> (kesucian) wanita sendiri. Siapa tahu keluargamu pengin menjemput, kan biar nggak nyasar. Atau barangkali aja dompet kamu ketinggalan, kan bisa disusulin, he&#8230;he&#8230;he. Lagipula ada kewajiban mengurus anak (hadhanah) yang nggak bisa dialihkan pada suami, <em>babysitter</em> apalagi tetangga.</p>
<p><em>Kedua</em>, tidak tabaruj atau berdandan nyolok yang bisa menarik perhatian. Yang harus jadi magnet audiens itu pemahaman Islam kamu, bukan kamunya. So nggak usah <em>overact</em> dengan dandan kayak badut, atawa pakai wangi-wangian yang baunya bisa bikin <em>kelenger</em>. Allah berfirman: &#8220;Janganlah kalian bertabaruj seperti orang-orang jahiliyah dahulu.&#8221; Sekadar ingin tampil serasi, segar dan bersih sih, boleh. Pokoknya asal nggak bikin <em>enek</em>, tapi enak dipandang (emangnya permen Tamarin).</p>
<p><em>Ketiga</em>, wanita musti disertai mahram bila melakukan perjalanan dengan menempuh jarak safar (sehari semalam atau 24 jam). Rasullullah bersabda: &#8220;Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akherat, melakukan perjalanan satu hari satu malam kecuali bersamanya mahram.&#8221;</p>
<p>Tidak menutup kemungkinan kan, diantara kamu musti menghadiri acara penting di suatu kota nun jauh di mata. Misalnya ada koordinasi antar Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se-Indonesia yang mengharuskan kamu keluar wilayah tempat tinggal kamu. Kadang, bagi yang masih lajang, ini memang sulit. Apalagi kalau tinggal di perantauan tanpa mahram. Untuk itu bisa ditemani jamaah wanita lainnya, jangan ngajak temen ikhwan. Pokoknya jangan ampe pergi sendirian deh! Selain haram, juga bisa mengundang bahaya. Mending kalau &#8216;cuma&#8217; dicopet atau dirampok, kalo diculik atau diperkosa, kan berabe. (Eh, ini bukan nakut-nakuti, lho).</p>
<p><em>Keempat</em>, sebaiknya wanita mendakwahi atau mengkaji Islam dengan sesama jamaah wanita. Hal ini untuk lebih menjaga kesucian dan menghindari fitnah. Kalau ngisi pengajian ikhwan emang kenapa? Dalam proses belajar mengajar, wanita mengajar lelaki atau sebaliknya memang boleh hukumnya. Seperti yang pernah dilakukan Aisyah istri Rasulullah ketika mengajarkan hadits kepada para shahabat. Namun, itu berarti si wanita harus disertai mahram, atau audiens yang ikhwan tersebut tidak sendirian. Artinya, jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan saja), apalagi di tempat khusus. Ntar dikira kencan lagi.</p>
<p>Setelah kamu tahu hukum dakwah dan juga rambu-rambu yang kudu diperhatikan, bagaimana? Yang belum menjalankan aktivitas dakwah, <em>sami&#8217;na wa atho&#8217;na</em>, kan? Siap laksanakan! Ayolah, nggak usah takut! Hasilnya jelas kok, dapet pahala, jaminannya surga. Amiin!!! <strong>[asri]</strong></p>
<p>Boks &#8212;&#8211;</p>
<h2>Catatan Kecil Buat Da&#8217;iyyah</h2>
<p>Dakwah itu wajib. But jangan lupa ada pernak-pernik yang kudu kita bangun. Kalau nggak, bisa jadi program dakwah kita yang mulia itu berantakan. Nah ini ada beberapa catatan kecil buatmu;</p>
<ol type="1">
<li>Bangunlah      komunikasi dengan keluarga. Ada baiknya kamu ceritakan terus terang      aktivitas kamu, tentu dengan memilih situasi dan kondisi yang tepat. Nah,      misalkan kamu aktif di rohis, ungkapkan kegembiraanmu pada ortu bisa      terlibat di kegiatan tersebut. Kalau ortu melihat kamu senang dengan      aktivitasmu, ortu tidak akan berat melepas kepergianmu. Selain itu, kalo      kamu suatu saat pulang tak seperti biasanya karena rapat misalkan, ortu      tak komplain.</li>
<li>Jangan      lupa ada juga kewajiban dakwah pada ortu dan keluarga. Dengan begitu kamu      udah punya dukungan yang kuat di dalam keluarga. Enak kan?</li>
<li>Tunjukkan      bahwa dakwah nggak menghambat prestasi belajar. Jangan sampai nilaimu      jeblok lalu menjadikan dakwah sebagai kambing hitam. Karena itu, kamu      musti pintar bagi waktu antara belajar dan berdakwah.</li>
<li>Jangan      lupa minta izin setiap mau pergi, utamanya kalau pergi jauh en lama maka      harus minta izin jauh-jauh hari sebelum hari H tiba. Siapa tahu sebetulnya      ortu punya rencana lain, ngajak berkunjung ke sanak famili misalnya,      ngajak belanja atau butuh bantuan kamu buat kerjabakti bersih-bersih      rumah. Dengan bicara jauh-jauh hari, siapa tahu pula ortu malah ngasih      ijin plus; plus uang transport, uang jajan, uang makan, uang lelah, uang      capek, uang malu dll (He..he&#8230;he&#8230;). Atau, syukur-syukur malah dianterin ke      tempat aktivitasmu. Lumayan kan, ngirit ongkos sekalian mengenalkan ortu      pada lingkungan kamu. Kalau ortu tahu dengan siapa kamu bergaul, mungkin      ortu makin percaya sama kamu.</li>
<li>Bagi      kaum ibu atau istri muda (baik karena umurnya masih muda maupun karena      sebagai istri kedua, ketiga dan keempat) juga begitu, beritahu suami      sebelum hari H supaya tidak terjadi bentrokan kepentingan dengan suami.      Demikian pula agar pekerjaan rumah tidak terbengkalai. Apalagi kalau udah      punya <em>baby</em>. Inget, kewajiban mengurus anak kan ada pada ibu, bukan      suami, babysitter apalagi tetangga. Dengan begitu, siapa tahu suami      menawarkan diri untuk meng-<em>handle</em> sebagian pekerjaan rumah. Jadi,      kewajiban mengurus rumah maupun kewajiban dakwah sama-sama bisa berjalan      lancar. Gimana kalau suami suatu ketika nggak ngasih izin? Jangan nuduh      dulu suami anti dakwah, tapi mungkin ia punya pertimbangan lain yang perlu      bantuanmu, misalkan anak sakit, atau suaminya sakit, atau suami lagi      banyak kerjaan, jadi butuh bantuanmu untuk ngurus anak, rumah dan suami      (emang suami nggak perlu diurus?). Dan dalam hal ini kewajiban seorang      istri adalah taat pada suami. Catet itu! Pernahkan denger hadits seorang      wanita yang nggak keluar rumah atas perintah suaminya, padahal ia pengen      banget berbakti pada orang tuanya yang tengah sakit berat. Bahkan sampai      meninggal. Ternyata Allah malah memberikan ampunan pada ortunya karena      ketaatan sang anak pada suaminya.</li>
<li>Jaga      kesehatan. &#8220;Sesungguhnya pada tubuhmu ada hak atasmu,&#8221; kata Rasululullah      saw. mengingatkan kita supaya menyayangi tubuh kita. Jangan      mentang-mentang disibukkan bergudang-gudang kegiatan, jadi lupa makan,      minum, atau istirahat. Ingat lho, yang namanya <em>hajatul udhowiyah</em> (kebutuhan jasmani) seperti makan, minum, dll, wajib dipenuhi. Kalo nggak,      bisa menghantarkan pada kematian. Kamu nggak mau kan gara-gara kamu sakit      seluruh aktivitas jadi terhambat?</li>
</ol>
<p><em>So guest</em>, selamat menjelajahi dunia dakwah. Semoga pilihan untuk terjun ke medan mulia, mengemban misi para Nabi dan Rasul ini bukan sekadar nekad, tapi jadi jalan hidup. Amin!!![<strong>asri</strong>]</p>
<p style="text-align: right;"><em>[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Oktober 2002]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjadi-daiyah-kudu-lagi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Percaya Diri Anak</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 17:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3224</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita? 
Oleh Mohammad Fauzil Adhim*
Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Anak-anak di Inggris dan Mesir sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris atau Arab. Bagaimana di tempat kita? </em></strong></p>
<p>Oleh <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong>*</p>
<p>Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali meng­alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.</p>
<p>Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka­rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya.<span id="more-3224"></span></p>
<p>Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa­tir salah mengucapkannya –karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat. Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber­sahabat, dan penuh semangat.</p>
<p>Astaghfirullahal ‘azhim… Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang me­nulis risalah ini.</p>
<p>Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje­niusan mereka dalam enam bulan pertama.”</p>
<p>Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias, dan senantiasa belajar. Di usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar –meminjam istilah Glenn Doman— “tanpa usaha”. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.</p>
<p>Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah. Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam Syafi’i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Begitu pula yang dila­kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih. Tetapi bukan kita.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-‘azhim</em>. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?</p>
<p>Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya mela­hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahir­kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan karena mereka me­miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang yang lebih tua dari anaknya.</p>
<p><em>Astaghfirullahal-‘azhim</em>. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan memba­guskan pendidikan anak-anak kita.</p>
<p>Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang men­jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memu­liakan syari’at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita te­riakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.”</p>
<p>Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, “Nah…, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?”</p>
<p>Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingat­kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka –meskipun tampaknya kita lebih sering mencela—dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?</p>
<p>Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berfirman,<em> “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” </em>(QS. Al-A’raaf: 31).</p>
<p>Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup un­tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman-temannya. Padahal mereka dila­hirkan untuk zaman yang bukan kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be­sar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, <em>“Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.”</em> Perintah-perintah di masa awal kena­bian Rasulullah tercinta, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji Wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:</p>
<p><em> “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya.  Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”</em></p>
<p>Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang berpijak di atas aqidah yang lurus.</p>
<p>Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasihat Nabi saw ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.</p>
<p>Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi orang­tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manu­sia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.</p>
<p>Anak-anak kitakah yang akan seperti itu?  [<strong>sahid/<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9771:menumbuhkan-percaya-diri-anak&amp;catid=99:m-fauzil-adhim-&amp;Itemid=75" target="_blank">www.hidayatullah.com</a></strong>]</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis di Majalah Suara Hidayatullah </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menumbuhkan-percaya-diri-anak-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengukur Ikhlas Kita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mengukur-ikhlas-kita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mengukur-ikhlas-kita#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 18:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin GAUL Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun III/2009-2010]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mukhlis]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[riya']]></category>
		<category><![CDATA[ujub]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=3246</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 112/tahun ke-3 (27 Dzulhijjah 1430 H/14 Desember 2009)
 
 


Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="logo-gi-3" src="../files/2009/05/logo-gi-3.jpg?w=150" alt="logo-gi-3" width="150" height="36" />gaulislam<strong> </strong>edisi 112/tahun ke-3 (27 Dzulhijjah 1430 H/14 Desember 2009)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab ra, ia berkata, <em>“Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”</em> <strong>(HR Bukhari-Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap amal bergantung kepada niatnya. Yup, benar banget. Niatnya pun kudu ikhlas karena ingin mengharap keridhoan Allah Swt. semata. Hmm.. kudu ikhlas ya? Waduh, kayaknya kata itu buat kita jadi makin asing neh. Bukan kenapa-kenapa, susah juga nemuin orang yang mau ikhlas di jaman sekarang. Segalanya diukur dengan duit, dengan harta benda, ketenaran, cari muka dan sejenisnya. Iya, maksudnya kalo kita mau nolong orang kadang yang kepikiran: nih orang mau ngehargai gue nggak sih; orang ini kalo gue bantu mau balas jasa nggak ke gue; kalo gue menolong dia nama gue harum nggak sih; kalo gue nolong orang ini, kira-kira berapa gue dibayar; dan seabreg pikirin lainnya yang ujungnya itung-itungan deh.<span id="more-3246"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, secara teori udah banyak orang yang jelasin. Seperti kata teori pula, kayaknya gampang untuk bisa ikhlas. Tapi praktiknya, duh kita bisa rasakan sendiri gimana susahnya jaga hati dan jaga pikiran biar ikhlas kita nggak ternoda. Soalnya, ada aja celah yang bisa bikin kita melenceng dari niat awal dalam berbuat. Awalnya sih insya Allah bakalan ikhlas, eh nggak tahunya di tengah jalan ada yang godain kita supaya nggak ikhlas. Halah, gawat bener kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Sobat muda muslim, sekadar ngingetin memori kita, dalam Islam ikhlas ternyata mendapat perhatian khusus lho. Soalnya, ini erat kaitannya dengan amal perbuatan kita dan keimanan kita kepada Allah Swt. Jangan sampe deh kita beramal diniatkannya bukan karena perintah Allah Swt. atau bukan karena ingin mendapat ridho Allah Swt. Kalo sampe diniatkan dalam beramal karena ingin dipuji manusia gimana tuh? Duh, nggak tega deh saya nyebutinnya. Soalnya, tuh amal nggak bakalan ada bekasnya alias nggak mendapat ridho Allah Swt. Amal kita jadi sia-sia, Bro. Ih, nggak mau kan kita beramal tapi nggak dapat pahala? Amit-amit deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, ikhlas adalah melakukan amal, baik perkataan maupun perbuatan ditujukan untuk Allah Ta’ala semata. Allah Swt. dalam al-Quran menyuruh kita ikhlas, seperti dalam firmanNya (yang artinya): <em>“dan (aku telah diperintah): &#8220;Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.”</em> <strong>(QS Yunus [10] :105)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw, juga ngingetin kita melalui sabdanya (yang artinya), <em>“Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.”</em> <strong>(HR Abu Daud dan Nasa’i)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ali bin Abu Thalib r.a juga berkata, <em>“orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bro, sekadar tahu aja bahwa ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seseorang nggak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Firman Allah Swt (yang artinya): <em>Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”</em> <strong>(QS al-An’aam [6]: 162)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. juga berfirman dalam ayat lain (yang artinya), <em>“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”</em> <strong>(QS al-Bayyinah [98]: 5)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu nggak heran kalo Ibnu Qayyim al-Jauziyah ngasih perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau menulis, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, lawannya ikhlas itu adalah ujub dan riya’. Itulah sebabnya orang yang sekaliber Umar bin Abdul ‘Aziz r.a. pun sangat takut akan penyakit riya’. Ketika ia berceramah kemudian muncul rasa takut dan penyakit ujub, segera ia memotong ucapannya. Dan ketika menulis karya tulis dan takut ujub, maka segera merobeknya. Subhanallah!</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengomentari ayat kedua dari surat al-Mulk (<em>liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa</em>), bahwa maksud dari amal yang ihsan (paling baik) adalah amal yang akhlash (paling ikhlas) dan yang ashwab (paling benar). Ada dua syarat diterimanya amal ibadah manusia, ikhlas dan benar. Amal perbuatan, termasuk ibadah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata tetapi pelaksanaannya tidak sesuai dengan syariat Islam, maka amal tersebut tidak akan diterima Allah. Begitu juga sebaliknya, jika perbuatan dan ibadah dilakukan sesuai dengan syariat, tetapi yang melaksanakannya tidak semata-mata ikhlas karena Allah, maka amalnya tidak diterima.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Ikhlaskah kita?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ikhlaskah kita jika beramal tapi ngarepin imbalan materi? Ah, kamu pasti bisa menilai sendiri deh. Iyalah. Misalnya nih, kalo ortu kamu minta tolong sama kamu untuk belanja kebutuhan dapur ke warung dekat rumah, kemudian kamu minta imbalan ke ortu kamu, ati-ati lho. Itu bisa termasuk nggak ikhlas kamu berbuat. Sebaiknya lurus-lurus aja. Nggak ngerasa ada ruginya alias <em>nothing to lose</em>, gitu lho. Mau dapet materi apa nggak dari apa yang kita usahain, kita nggak peduli. Nolong aja. Apalagi itu sama ortu. Jangan sampe deh ketika ortu minta tolong, eh kita malah pake tarif segala: Jauh-dekat Rp 2000 (idih, emangnya naik angkot!).</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, kalo kebetulan kamu ditunjuk jadi ketua OSIS atau ketua Rohis, nggak usah ngarepin materi dari jabatan yang kamu sandang. Kalo kamu beranggapan bahwa dengan menjadi ketua OSIS kamu bakalan bisa dengan mudah narikin iuran dari siswa terus kamu bisa memperkaya diri, wah itu namanya bukan cuma nggak ikhlas tapi udah melakukan penyalahgunaan jabatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro, meski kita nggak ngarepin imbalan secara materi, tapi yakin deh bahwa apa yang kita lakukan pasti mendapat ganjaran kebaikan lain di sisi Allah Swt. Jadi, <em>nothing to worry about</em> alias nggak perlu cemas dengan jaminan kebaikan dalam bentuk lain yang Allah berikan sebagai ‘imbalan’ atas keikhlasan kita. Intinya sih, jangan ngarepin imbalan dari manusia, cukup ridho dari Allah Ta’ala aja yang kita harepin. Setuju kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku pernah berjalan bersama Rasulullah saw. Beliau mengenakan selendang dari Najran yang kasar pinggirnya. Tiba-tiba seorang badui berpapasan dengan beliau, lalu menarik selendang beliau dengan kuat. Ketika aku memandang ke sisi leher Rasulullah saw. ternyata pinggiran selendang telah membekas di sana, karena kuatnya tarikan. Orang itu kemudian berkata: Hai Muhammad, berikan aku sebagian dari harta Allah yang ada padamu. Rasulullah saw. berpaling kepadanya, lalu tertawa dan memberikan suatu pemberian kepadanya. <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Subhanallah, Rasulullah saw. malah memberikan harta (berinfak), padahal orang badui itu memintanya dengan kasar. Tapi itulah Rasulullah saw. sudah mengajarkan kepada umatnya bahwa beramal baik harus ikhlas dan tanpa pertimbangan untung-rugi lagi. Hebat kan, Bro?</p>
<p style="text-align: justify;">Oya, keikhlasan kita juga akan diuji saat kita merasa ingin dilihat oleh orang lain, lho. Kalo mikirin hawa nafsu sih, kadang kita kepikiran ya pengen dilihat oleh teman kita ketika kita berbuat sesuatu. Ketika masukkin duit ke keropak di masjid, kita bahkan kepengin banget diliatin ama temen di sebelah kita. Emang sih, duitnya kita tutupi dengan tangan satunya saat masukkin ke keropak yang diedarkan di masjid kalo ada acara di sana. Apalagi kalo sampe terbersit di pikiran dan hati kita akan adanya decak kagum dari teman yang ngeliat amal kita, “subhanallah ya, dia rajin shadaqahnya”. Duh, itu bisa menodai amalan kita, Bro. Emang nggak mudah berbuat ikhlas ya. Tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tampil jadi imam shalat, dan kebetulan bacaan al-Quran kita maknyus alias enak didengerin sama jamaah lain, jangan sampe deh kita punya pikiran ingin dianggap paling hebat. Apalagi kalo sampe diam-diam kita malah mengagumi diri sendiri, “orang lain nggak ada yang bisa kayak saya. Mereka pantas memilih saya jadi imam shalat”. Ah, ngeri deh. Ngeri kalo amalan kita bakalan nguap begitu aja. Insya Allah cara shalatnya sih bener asal ngikutin aturan yang udah ditetapkan dalam fiqih, tapi persoalan niat yang ada di pikiran dan hati bisa merusak amalan baik kita. Bener lho. Gara-gara nggak ikhlas, amal kita jadi sia-sia. Karena kita lebih ngarepin agar diliat oleh orang daripada ingin diliat sama Allah Swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Bro en Sis, emang sih kita bisa merasakan langsung kalo targetnya ingin diliat orang. Begitu suara kita mengalun manis dan <em>easy listening</em> saat mendendangkan nasyid terbaru dan kemudian para jamaah penonton konser nasyid tingkat RT yang kita ikutin itu bersorak gembira dan mengelu-elukan kita, pasti deh ada aja sedikit rasa jumawa en bangga diri (gue gitu, lho!). Awalnya sih boleh-boleh aja kita merasa ingin dihargai orang lain. Wajar kok. Tapi yang nggak wajar adalah kita merasa harus memposisikan diri selalu ingin dihargai dan dihormati. Kalo nggak dihargai ngambek dan kecewa. Nah, yang bisa merusak amal kita adalah karena niat yang udah tercemar “ingin selalu diliat orang”. Padahal, menjadi “dilihat orang” adalah efek samping, bukan tujuan kita dalam berbuat/beramal. Orang yang sering tampil dimuka umum wajar <em>atuh</em> kalo akhirnya dikenal. Tul nggak sih?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Muhasabah diri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” </em><strong>(QS al-Hasyr [59]: 18)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Khaththab ra berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab” (Ibnu Qudamah, <em>Minhajul Qashidin</em> (terj.), hlm. 478)</p>
<p style="text-align: justify;">Muhasabah di sini artinya senantiasa memeriksa diri kita sendiri. Sudah sejauh mana sih yang kita raih dalam beramal baik. Sudah banyak nggak pahala yang kita perbuat, atau jangan-jangan malah sebaliknya kedurhakaan yang mengisi penuh pundi-pundi amal yang bakalan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah?</p>
<p style="text-align: justify;">Yuk, kita bareng-bareng meningkatkan kualitas amalan kita dan memperbanyak amal shaleh. Senantiasa ikhlas, bersabar, dan bersyukur kepada Allah Swt. Nggak jamannya lagi mengingkari kelemahan kalo sejatinya kita emang lemah dan nggak mampu. Juga nggak perlu malu mengakui kesalahan jika memang kita salah. Jangan menyerang orang lain yang kita tuding sebagai biang kesalahan kita, tapi kita melakukan interospeksi diri. Sebab, kita hidup bersama orang lain. Dan kita memang saling membutuhkan satu sama lain. Kita juga pasti butuh kepedulian dari orang lain (termasuk kita sendiri harus peduli dengan orang lain). Itu sebabnya, kita harus ikhlas menerima teguran dan nasihat dari teman kita. Jangan merasa terhina jika dinasihati. Tapi sebaliknya, merasa diistimewakan karena selalu diingatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmati dunia ini dengan cara yang benar dan tuntunan yang sesuai ketetapan Allah Swt. dan RasulNya. Tak perlu khawatir, karena semua yang diberikan oleh Allah Swt. kepada kita adalah demi kebaikan kita. Tetaplah kita bersama Allah Swt. dan RasulNya. Jalani hidup dengan ikhlas, insya Allah nikmat, bahagia, tanpa perlu merasa was-was. Ikhlas menjadikan kita lebih terhormat di hadapan Allah Swt., juga menjadikan orang lain berusaha mencontoh pribadi kita yang baik. Semoga, kita semua bisa menjadi hamba-hamba Allah Swt. yang senantiasa ikhlas menghadapi berbagai kenyataan hidup sembari berdoa memohon ampun dan pertolongan kepada Allah Swt. Kita muhasabah diri: seberapa ikhlaskah kita? Hanya kita yang mampu menjawabnya. Interospeksi yuk! <strong>[solihin</strong><strong>: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mengukur-ikhlas-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
