<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaulislam.com</title>
	<atom:link href="http://www.gaulislam.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gaulislam.com</link>
	<description>Mari bergaul dengan Islam secara kaaffah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 17:01:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Kerlap-Kerlip Budaya Pop</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kerlap-kerlip-budaya-pop</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kerlap-kerlip-budaya-pop#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 17:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pop]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[food]]></category>
		<category><![CDATA[fun]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4666</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 291/tahun ke-6 (10 Rajab 1434 H/ 20 Mei 2013) Tak pernah ada satu definisi yang baku mengenai budaya populer. Banyak orang memahaminya sebagai budaya yang disukai banyak orang. Ukuran popularitas dalam hal ini bersifat kualitatif dan serba relatif. Bisa juga diartikan sebagai apa yang tidak masuk dalam hitungan budaya adiluhung, sehingga sifatnya pun ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/kerlap-kerlip-budaya-pop">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 291/tahun ke-6 (10 Rajab 1434 H/ 20 Mei 2013)<br />
<b></b>Tak pernah ada satu definisi yang baku mengenai budaya populer. Banyak orang memahaminya sebagai budaya yang disukai banyak orang. Ukuran popularitas dalam hal ini bersifat kualitatif dan serba relatif. Bisa juga diartikan sebagai apa yang tidak masuk dalam hitungan budaya adiluhung, sehingga sifatnya pun inferior. Ada pula yang mengaitkannya dengan budaya massa yang komersial dan membodohi orang banyak (meski banyak penelitian membuktikan bahwa fungsi pembodohan itu belum tentu berhasil, karena masyarakat bisa saja tidak selalu bisa dibodohi—contohnya mungkin kita-kita, duile pede banget!). Sebagian lagi bilang, budaya populer mencaplok mimpi-mimpi kita, mengemasnya, dan menjualnya kembali pada kita. Sehingga, budaya populer berkaitan erat dengan kapitalisme (keuntungan, <i>the capital accumulation</i>), mengandalkan perilaku konsumeristis, <i>created needs</i>, agresif, seks untuk mengikat konsumen, quasi pornografitik (Ehm, kamu bisa baca lengkap penjelasan ini sampe teler dalam tulisan Camelllie Paglia tentang <i>Sex, Art, and American Culture</i>)</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, namun demikian, kalo melihat gejalanya yang terjadi dalam kehidupan kita saat ini, rasa-rasanya nggak salah-salah amat kalo budya pop itu bisa diartikan sebagai <i>instant culture</i>. Jadi intinya budaya pop adalah budaya yang ringan, menyenangkan, trendi, dan cepat berganti. Nah, biasanya para remaja paling doyan kalo udah njiplak gaya hidup hasil imbas budaya pop. <i>Pokoke</i>, cepet banget nyetelnya <i>euy!</i> Itu sebabnya, saya jadi kepikiran terus sama kamu-kamu. Khawatir kalo kamu terjerumus main ikut-ikutan aja tanpa memandang halal dan haram dalam berbuat.</p>
<p>Menurut R. Valentina, Direktur <i>Institut Perempuan Bandung </i>(silakan baca tulisannya di pikiran-rakyat.com tahun 2002), dalam pertarungan tersebut, siapa saja bisa terlibat di dalamnya. Di situ pula ideologi dominan bisa digugat, kalau kita sadar dan mau. Namun sayangnya, kita sering merasa kalah bahkan tak mau bertarung. Kita lebih suka tak tahu apa-apa, pura-pura tak tahu, atau bahkan ikut terbawa arus. Budaya populer memang bergerak begitu cepat, sangat cepatnya, sampai-sampai tanpa sadar kita diminta dengan ikhlas (baca:dipaksa) tunduk dengan <i>logic of capital</i>, logika proses produksi di mana hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku (hubungannya dengan masyarakat modern sering dijuluki dengan <i>instant culture</i>, dunia yang berlari, Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu <i>track</i> lebih tinggi ini memang tidak memiliki kesempatan untuk renungan-renungan yang mendalam). Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli.<span id="more-4666"></span></p>
<p>Menjual dan membeli? Yup, bagi mereka yang punya modal, mereka berhak menjual apa saja. Baik barang maupun jasa. Barang yang bagus atau pun jelek, pun jasa yang bermanfaat atau pun yang membawa mudharat. Dengan kekuatan modalnya para pengusaha bisa memaksakan dalam menjual produknya. Dan kita? Kita adalah pembelinya. Baik membeli dalam arti mengeluarkan harta untuk mendapatkan barang dan jasa itu. Atau pun membeli yang bermakna melakukan apa yang diinginkan sang penjual. Jika penjual menawarkan gaya hidup, maka kita serta-merta membelinya dengan melakukan apa yang diajarkannya tersebut. Tanpa lagi melihat apakah itu menguntungkan atau merugikan. Yang penting dapat label “gaul”, “keren”, dan simbol modern lainnya yang sengaja disematkan sebagai imbalan atas “pembelian” kita terhadap produk budaya mereka.</p>
<p>Sobat muda muslim, produk budaya pop berupa barang dan jasa bisa kita lihat bagaimana maraknya makanan, pakaian, dan juga hiburan yang dikemas dengan sangat rapi dan manis. Ditawarkan kepada kita yang tak memiliki modal (cuma punya duit tapi nggak bijak memanfaatkannya) untuk membelinya. Supaya cepat laku, diberikanlah simbol-simbol bagi yang memanfaatkan produk barang dan jasa yang mereka tawarkan. Di sinilah posisi tawar (<i>bargaining position</i>) kebanyakan dari kita lemah. Sehingga mau saja membeli dan menerima tanpa berpikir lebih dalam atas apa yang ditawarkan penjual. Kita diminta berpikir singkat dengan diarahkan supaya membeli produk barang dan jasa yang mereka jual.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Senjata itu bernama media massa</b></p>
<p>Sobat muda muslim, kerlap-kerlip budaya pop sangat mudah disalurkan lewat media massa. Baik media elektronik maupun media cetak. Dan kita, seperti patuh saja mengikuti apa yang diajarkan media massa. Jadi nggak usah heran kalo kemudian budaya yang disebarkan di media massa ditiru secara massal.</p>
<p>Melihat betapa ampuhnya media massa untuk membentuk opini dengan menciptakan tren dan menjadikan pembaca atau pemirsanya sebagai korban tren, membuat para konglomerat industri media menjadikannya senjata. Jika ditelusuri lebih jauh dan detil, maka akan dapat disimpulkan bahwa musuh-musuh Islam menjadikan media massa sebagai senjata “perusak moral” secara massal.</p>
<p>Fuad bin Sayyid Abdurrahman ar-Rifa’i (dalam bukunya yang berjudul <i>Yahudi dalam Informasi dan Organisasi</i>) menuliskan bagaimana kaum Yahudi memperkuat pengaruhnya lewat dominasi kantor berita, media massa, perfilman, keuangan dan lembaga dunia. Kantor berita terbesar dunia, <i>Reuters</i>, dibangun keturunan Yahudi, Julius Reuters. Kantor berita besar lainnya, <i>Associated Press</i>, <i>International News Service</i> dan <i>United Press International</i>, juga dimiliki orang Yahudi. Bahkan, surat kabar yang tidak terlalu besar pun, seperti <i>The Sunday Times</i>, <i>The Chicago Sun Times </i>dan <i>The City Magazine</i>, tidak mereka lepaskan.</p>
<p>Selain media cetak, beberapa konglomerat Yahudi berhasil merambah dunia <i>broadcasting</i>. Di jalur ini ada <i>American Broadcasting Companies </i>(ABC), <i>Columbia Broadcasting System </i>(CBS), <i>National Broadcasting Company </i>(NBC), dan <i>Cable News Network</i> (CNN). Dunia hiburan yang masih ada hubungan dengan media massa juga nggak dilepaskan dari kontrol Yahudi. Jajaran pengusaha top bisnis hiburan di Hollywood tercatat sebagai bagian dari jaringan media Yahudi. Sebut saja Perusahaan film <i>Fox Company</i> milik William Fox, <i>Golden Company</i> (Samuel Golden), <i>Metro Company</i> (Lewis Mayer), <i>Warner &amp; Bross Company</i> (Harny Warner), serta <i>Paramount Company</i> milik Hod Dixon, merupakan perusahaan film yang punya pengaruh besar di bidangnya.</p>
<p>Sobat muda, jaringan mereka cukup kuat juga. Di bisnis penerbitan buku, tercatat ada tiga penerbit kaliber raksasa dan cukup berpengaruh; <i>Random House, Simon &amp; Schuster, </i>dan <i>Time Inc. Book Co. </i>Semuanya dimiliki pemodal Yahudi. Pimpinan eksekutif <i>Simon &amp; Schuster</i>, Richard Snyder dan ketuanya Jeremy Kaplan, keduanya orang Yahudi. Malah di luar penerbit yang tiga di atas, <i>Western Publishing</i> tercatat ada pada peringkat paling atas, yang menerbitkan buku-buku untuk anak-anak, dengan pangsa pasar yang dikuasainya 50 persen dari pangsa pasar buku untuk anak-anak yang ada di dunia. CEO <i>Western Publishing</i> adalah Richard Bernstein, seorang Yahudi.</p>
<p>Celakanya bagi kita, media massa di berbagai negara kerapkali mengambil media-media massa besar tersebut sebagai rujukan beritanya. Termasuk di negeri ini tentunya. Hasilnya, opini yang berkembang jadi seragam. Bener lho. Gimana nggak seragam, <i>wong </i>yang diambil dari sono kok. Ambil contoh, media cetak di negeri kita aja suka mencantumkah sumbernya, seperti dari Reuters, CNN, AP dan lain sebagainya.</p>
<p>Emang sih nggak semuanya media massa dikuasai Yahudi. Tapi gawatnya, justru yang besar dan berpengaruh yang dimiliki mereka. Jadi, mau nggak mau kudu nelan mentah-mentah informasi yang diberikan mereka. Dan inget lho, film-film yang ditayangkan di televisi or di layar lebar di seluruh dunia, juga nggak lepas dari muatan yang dipesan oleh kalangan Yahudi. Paling nggak, hal itu akan mempengaruhi penilaian kita dalam menerima informasi. Apalagi kemasannya begitu memikat.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, tak salah jika George Gerbner menyebutkan (dalam bukunya <i>Mass Media and Human Communication Theory</i>, tahun 1967), <i>“Mass Communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continous flow of messages in industrial societies”</i> (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri).</p>
<p>Dalam kondisi seperti ini, media memang menjadi corong untuk membangun dan membentuk opini. Gawatnya, jika opini tersebut sudah diseleksi (baca: diplintir) oleh pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan keinginannya. Hasilnya, media massa telah berubah menjadi ancaman yang sangat mengerikan.</p>
<p>Itu sebabnya sobat gaulislam, media massa memang senjata yang ampuh dalam menyebarkan opini. Kalo opininya baik, maka kebaikan insya Allah akan cepat menyebar. Tapi celakanya, jika opini yang digembar-gemborkan sesat dan menyesatkan, maka hasilnya pun sudah bisa dipastikan betapa dahsyatnya pengaruh opini tersebut. Jadi amat wajar jika banyak generasi kita yang tanpa sadar mengikuti apa yang diajarkan media massa. Mereka menelan mentah-mentah budaya pop meskipun mengundang bencana. Waspadalah!</p>
<p>Apa yang harus dilakukan sekarang?  Buruan nyadar, benahi diri, upgrade akidahmu dengan benar dan baik. Selain itu, luangkan waktu untuk belajar Islam, juga hindari teman yang jahat dan yang berakhlak buruk. Sebaliknya, kamu gabung dengan teman-teman yang shalih/shalihah, lalu rajin mengkaji Islam. Tentut saja, supaya kamu nggak tergoda kerlap-kerlip budaya pop yang umumnya memang menyesatkan itu. <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kerlap-kerlip-budaya-pop/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Miss World” Rendahkan Wanita</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/miss-world-rendahkan-wanita</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/miss-world-rendahkan-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 May 2013 17:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[kehormatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemuliaan]]></category>
		<category><![CDATA[miss universe]]></category>
		<category><![CDATA[miss world]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4661</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 290/tahun ke-6 (3 Rajab 1434 H/ 13 Mei 2013) Bulan September 2013 nanti, tepatnya tanggal 28, rencananya acara puncak kontes kecantikan sedunia, “Miss World” akan digelar di Jakarta. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah pagelaran ratu sejagat yang ke-63. Teknisnya, masa karantina akan diadakan di Bali dan penobatannya digelar di Jakarta. Meski ajang ini ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/miss-world-rendahkan-wanita">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 290/tahun ke-6 (3 Rajab 1434 H/ 13 Mei 2013)</p>
<p>Bulan September 2013 nanti, tepatnya tanggal 28, rencananya acara puncak kontes kecantikan sedunia, “Miss World” akan digelar di Jakarta. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah pagelaran ratu sejagat yang ke-63. Teknisnya, masa karantina akan diadakan di Bali dan penobatannya digelar di Jakarta. Meski ajang ini masih 4 bulan lagi dari sekarang, tetapi gelombang protes sudah digelar, termasuk di buletin kesayangan kamu ini. Lho, jadi gaulislam ikut-ikutan menolak ajang itu? Iya. Tepat ‘tuduhan’ kamu. Hehehe…</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kontes kecantikan udah banyak digelar. Mulai dari tingkat kota/kabupaten, tingkat provinsi, level nasional, hingga level dunia. Ajang seperti Abang/None di Jakarta, Mojang/Jajaka di Jawa Barat, dan di daerah lain ada kontes sejenis ini sudah sering digelar. Seharusnya kita bertanya dong: “untuk apa sih diadain kontes kecantikan?” atau pertanyaan: “Tubuh wanita itu memangnya harus dipamerin gitu ya?” dan pertanyaan-pertanyaan lain bisa kamu ajukan sebenarnya. Ini tandanya kamu kritis, Bro en Sis. Jangan cuek aja terhadap berbagai masalah yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Nah, ngomongin soal kontes kecantikan, sebenarnya itu bagian dari bisnis lho. Selain itu, nunjukkin fakta bahwa begitulah ideologi kapitalisme memperlakukan wanita. Seolah bisnis apapun harus ada penampilan wanita sebagai media promosinya, meskipun ada yang nggak nyambung sama sekali seperti iklan oli mobil. Wanita direndahkan martabatnya. Namun, anehnya banyak wanita yang nggak nyadar bahwa mreka sedang dilecehkan, bahkan ada yang menikmatinya dengan alasan untuk meraih fulus dan popularitas.<span id="more-4661"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Sejarah singkat kontes kecantikan</b></p>
<p>Sobat gaulislam, saya sarikan dari berbagai informasi yang bertebaran di internet ya, termasuk dari wikipedia. Nah, Miss World adalah kontes kecantikan tertua di dunia. Sejarahnya bermula dari tahun 1854 yaitu saat kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Pagelaran kontes kecantikan di dunia tidak serta-merta mati. Pada sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali. Kontes ini berawal dari festival/lomba yang bernama <i>Festival Bikini Contest</i>, kemudian berganti nama menjadi<i>Miss World</i>. Catet tuh!</p>
<p>Jadi, Miss World adalah kontes kecantikan termasyhur yang tertua di dunia. Namun beberapa tahun kemudian Eric Morley meninggal sehingga pagelaran tersebut diteruskan istrinya hingga muncul konsep 3B yakni <i>Brain</i> alias kecerdasan, <i>Beauty</i> yang tentu saja hubungannya dengan kecantikan, dan <i>Behavior</i> (kepribadian). Konsep 3B ini sebenarnya hanya untuk memoles kontes kecantikan agar diterima banyak kalangan, karena saat itu masih banyak pihak menolak kontes tersebut, bahkan hingga sekarang.</p>
<p>Pada tahun 1952 sebuah perusahaan pakaian dalam di Amerika mencoba untuk mencari cara mempromosikan produknya dengan menggelar <i>Miss Universe</i>. Tentu para peserta wajib berbusana bikini agar menarik minat pembeli pakaian dalam tersebut. Pada tahun 1996 Donald Trump membeli hak kontes tersebut untuk ditayangkan di sebuah televisi.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia? Negeri kita baru ikut-ikutan kontes kecantikan kelas dunia pada tahun 1982 dengan mengirimkan wakilnya, yakni Andi Botenri, secara diam-diam karena di dalam negeri kontes kecantikan semacam itu masih banyak pihak yang menolak. Tahun berikutnya, 1983, Titi DJ dikirim diam-diam untuk mewakili Indonesia dalam kontes Miss World di London Inggris.</p>
<p>Pengiriman diam-diam tersebut dilakukan karena sebelumnya Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan. Daoed Joesoef menilai kontes kecantikan hakikatnya adalah sebuah penipuan dan pelecehan terhadap perempuan.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, faktanya kontes kecantikan hanya untuk meraup keuntungan bisnis perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, atau salon kecantikan, yang bertujuan mengeksploitasi kecantikan perempuan sebagai <i>primitive instinct</i> dan nafsu dasar laki-laki, serta kebutuhan akan uang untuk hidup mewah.</p>
<p>Walaupun ada penolakan di dalam negeri, kontes kecantikan tetap digelar untuk pertama kali pada hari ulang tahun Jakarta ke 441 pada 22 Juni 1968 dengan peserta hanya 36 orang dan yang terpilih sebagai None Jakarta yaitu Riziani Malik. Indonesia baru memiliki kontes kecantikan secara nasional pada tahun 1992 yang digelar oleh Yayasan Puteri Indonesia dengan sponsor pabrikan kosmetik. Nah jadi benar, seperti dikatakan Menteri Daoed Joesoef, kontes kecantikan selalu berbanding lurus dengan bisnis.</p>
<p>Pada tahun 1992, kontes kecantikan nasional bertitel Puteri Indonesia diizinkan pemerintah karena konon kabarnya masih dianggap sopan. Namun sejak tahun 1997 kontes Puteri Indonesia dilarang Presiden Soeharto karena ajang pamer aurat itu disalahgunakan penyelenggara. Ini terjadi karena setahun sebelumnya, penyelenggara secara diam-diam malah menjadikan kontes tingkat nasional tersebut sebagai ‘batu loncatan’ untuk mengirim pemenangnya, yaitu Alya Rohali untuk mengikuti kontes Miss Universe 1996.</p>
<p>Suasana berubah justru ketika tahun 2000, di masa pemerintahan Gus Dur, kontes Puteri Indonesia kembali diizinkan, namun pemenangnya tidak dikirim ke kontes Miss Universe maupun Miss World. Kebijakan ini tetap dipertahankan sewaktu Megawati memimpin negara ini. Bagaimana dengan sekarang? Jika pemerintah nanti mengizinkan pagelaran Miss World di Indonesia, berarti makin parah dong ya karena udah membiarkan ajang yang merendahkan wanita itu tetap eksis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Islam memuliakan wanita</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, ngomongin soal siapa sih yang harus menghargai wanita, menurut saya, wanita itu sendiri dan laki-laki. Kepada para wanita, mohon untuk menghargai diri sendiri. Bagaimana mungkin orang lain (laki-laki akan menghargai wanita) jika wanitanya sendiri udah berani untuk kehilangan harga diri. Memang nggak semuanya, tapi kebanyakan. Kok bisa? Ya, gitu deh!</p>
<p>Lihat aja aksi para wanita di panggung  hiburan dan kontes kecantikan, termasuk Miss World. Mereka jadi etalase yang bisa dipandang dengan beragam tatapan dari kaum lelaki dan juga wanita lainnya. Kaum lelaki bisa memelototi sepuasnya gambar-gambar sensual para waita yang jadi model iklan. Kalangan wanita lain berdecak kagum ingin mengikuti jejaknya. Wah, bisa tambah runyam kan? Itu sebabnya, sebaiknya kaum wanita yang terjebak di sana sadar diri, bahwa apa yang dilakukannya bisa menambah masalah. Bukan saja bagi orang lain, tapi juga bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Nah, himbauan untuk para wanita tentunya adalah mengkampanyekan untuk sadar diri. Mulai sekarang juga kudu ninggalin anggapan yang menyebutkan bahwa cantik dan menarik itu jika memamerkan bagian-bagian tubuhnya kepada khalayak ramai kayak di ajang Miss World itu. Karena apa? Karena manusia yang mulia tidak dilihat dari cantik/ganteng dan berpenampilan menarik secara fisik. Tapi dari ketakwaannya. Firman Allah Swt.: <i>“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” </i><b>(QS al-Hujurat [49]: 13)</b></p>
<p>Lagipula dalam Islam kita diperintahkan untuk menutup aurat. Iya kan? Allah Swt berfirman, <i>“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </i><b>(QS al-Ahzab [33]: 59)</b></p>
<p>Jujur saja nih, bahwa kecantikan tak akan berarti apa-apa jika tidak berakhlak mulia dan berkpribadian islami. Hargailah wanita sebagaimana makhluk yang juga punya potensi lebih seperti kita laki-laki. Bisa cerdas, bisa bertakwa, dan bisa menjadi teman dalam kehidupan kita. Jangan saling memandang rendah dengan ukuran penampilan fisik. Oke?</p>
<p>Nah, yang paling penting dari semua itu, karena kondisi ini lebih disebabkan karena kerusakan sistem, maka untuk mengubah individu-individu yang bermasalah itu kita harus mengubah masyarakat ini. Satu-satunya kekuatan yang bakal bisa mengubah masyarakat adalah negara. Ya, cuma negara yang bisa lebih tegas dan paling mungkin untuk mengubah kondisi ini jadi lebih baik. Tapi, mungkinkah menggantungkan harapan kepada kapitalisme seperti sekarang ini untuk kehidupan lebih baik? Mimpi kali ye!</p>
<p>Oke deh, karena kerusakan ini akibat tidak diterapkannya Islam sebagai pengatur kehidupan, maka jalan untuk mengubahnya adalah dengan memperjuangkan tegaknya Islam sebagai ideologi negara di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Sehingga, para wanita akan dihargai dan dimuliakan. Selain itu, agar tumbuh kesadaran di tengah masyarakat bahwa tubuh wanita bukanlah etalase yang bisa dipandang sesukanya dan dinilai dengan uang dan ketenaran untuk memuaskan nafsu syahwat belaka.</p>
<p>Sobat gaulislam, saat ini panitia penyelenggara acara Miss World sedang bergerilya untuk dapetin dukungan dari masyarakat, khususnya kaum muslimin yang dinilai berpotensi menolak ajang tersebut digelar di Indonesia. Malah ada kabar bahwa sosialisasi ajang Miss World ini dilakukan hingga ke pesantren-pesantren. Waduh, itu sih namanya pelecehan dong! <i>So</i>, waspadalah jangan sampai kamu tertipu.</p>
<p>Apa yang harus kita lakukan saat ini? Tentu saja mengkampanyekan dan mendakwahkan bahwa kontes kecantikan dunia (termasuk yang level lainnya) hanyalah upaya kaum penjajah untuk menghancurkan akhlak kaum muslimin dengan berlindung di balik bisnis dan hiburan. Ayo, kita tolak bersama-sama. Nggak boleh lagi ada tempat di manapun yang menerima kontes kecantikan yang  justru merendahkan martabat wanita. Tolak! <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/miss-world-rendahkan-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Berbuah Petaka</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cinta-berbuah-petaka</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cinta-berbuah-petaka#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 May 2013 17:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mahabbah]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[naluri]]></category>
		<category><![CDATA[noda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sejati]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4658</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 289/tahun ke-6 (26 Jumadil Akhir 1434 H/ 6 Mei 2013) Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Well, rasa-rasanya kita udah sering banget ngomongin soal cinta. Berbusa-busa pula kita menikmati ceritanya sambil makan jagung rebus, plus selonjoran ditemani bandrek hangat buatan Mang Ohim (hehehe jadi kayak cerpen ya?). Berbagai solusi kita dapatkan, dari ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/cinta-berbuah-petaka">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 289/tahun ke-6 (26 Jumadil Akhir 1434 H/ 6 Mei 2013)</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Well, rasa-rasanya kita udah sering banget ngomongin soal cinta. Berbusa-busa pula kita menikmati ceritanya sambil makan jagung rebus, plus selonjoran ditemani bandrek hangat buatan Mang Ohim (hehehe jadi kayak cerpen ya?). Berbagai solusi kita dapatkan, dari yang asal-asalan hingga yang jitu bin mantap. Namun, urusan cinta dan derivatnya (turunannya) ternyata nggak selesai-selesai juga. Buletin kesayangan kamu ini, yang terbit tiap pekan, hampir tiap hari dapetin SMS yang isinya melulu soal cinta, pacaran, dan malah ada yang ngaku sempat berzina. Haduuuh…. jujur saja sedih Bro en Sis. Betapa pergaulan di antara kamu ada yang udah bablas abis. Tentu saja, mereka yang mengirim SMS bukan sekadar curhat atau pamer nomor handphone, tetapi juga minta ditraktir, eh, minta solusi atas problemnya.</p>
<p>Soal cinta. Ya, lagi-lagi soal cinta. Berawal dari rasa suka, lalu jatuh hati, kemudian jatuh cinta. Seterusnya? Nah, kalo seterusnya bisa beragam tuh. Ada yang kemudian akal sehatnya diinjek-injek hawa nafsu. Sehingga yang awalnya murni rasa cinta akhirnya berbalut nafsu buruk yang nggak bisa dibendung lagi karena keimanannya udah kendor. Buktinya, awalnya saling cinta, lama kelamaan malah baku-syahwat di jalan yang haram (baca: berzina). Ini sudah banyak kejadiannya lho. <i>Naudzubillah min dzalik!</i></p>
<p>Oya, selain yang kebablasan mengekspresikan cinta di jalan yang keliru seperti berzina, ada juga yang tetap menahannya dengan segala penderitaan (tapi nggak sampe kentut disertai koloid alias <i>busiat</i> alias kentut sambil mencret—iiih jorok!). Gimana nggak, rasa cinta itu adalah fitrah. Namun, ketika harus mengekspresikan cinta, ada aturan mainnya alias nggak sembarangan. Nah, di satu sisi rasa cinta yang dimilikinya ingin diekspresikan dengan lawan jenis, tapi dia nggak mau melanggar syariat kalo cara mengekspresikannya melalui pacaran, sementara kalo nikah ya merasa belum mampu. Akhirnya, dia tahan rasa cinta itu meskipun banyak temannya yang pacaran dan menggodanya untuk melakukan hal yang sama. Tetapi dia bergeming pada prinsipnya alias nggak ikut maksiat. Itu bagus dan keren meski harus menderita menahan godaan hawa nafsu. Namun jangan khawatir sobat, upaya kamu akan berbuah pahala dan kemuliaan karena taat kepada Allah Swt. dan RasulNya.<span id="more-4658"></span></p>
<p><b>Jangan lebay maknai cinta</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Yup, nggak usah lebay memaknai cinta, seolah cinta itu di atas segalanya dan menganggap bahwa tanpa cinta orang bisa mati berdiri. Lalu, demi mempertahankan cintanya kepada lawan jenis akhirnya melawan aturan Allah Swt dan RasulNya. Itu bukan saja lebay tapi kurang ajar.  Contohnya nih ya. Udah jelas yang namanya pacaran itu dilarang dalam Islam, eh, karena saking cintanya kepada pacarnya malah mengabaikan nasihat agama lalu menjadikan hawa nafsu buruknya sebagai panglima. Akibatnya, pacarannya makin hot, lalu lupa diri dan akhirnya berzina. Bahaya besar!</p>
<p>Selain itu, ketika cinta dijadikan berhala—yakni diagungkan dan dipuja-puja serta disembah—maka segala hal yang menurutnya melawan rasa cinta, kudu dilibas. Baginya, cinta ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral, nggak boleh dilawan, bahkan oleh aturan agama sekalipun. Contohnya, para pelaku dan pendukung LGBT alias Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Waduh, ini sih keterlaluan banget. Bukan saja kurang ajar, tetapi berani membangkang Allah Swt. dan RasulNya.</p>
<p>Pelaku dan pendukung LGBT merasa bahwa perilaku lesbian, gay, biseksual dan transgender adalah hal yang wajar karena berangkat dari rasa cinta. Meski cintanya terlarang menurut ajaran agama, tetapi mereka menganggap bahwa cinta sesama jenis adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Waduh, agama disingkirkan demi cinta yang udah didominasi hawa nafsu bejat. Waspadalah Bro en Sis, jangan sampe kamu ikut-ikutan bejat.</p>
<p>Hadeeuuhh… kalo kayak gitu dalam memaknai cinta, bisa berabe juga lho. Itu sebabnya, sekali lagi nih, kalo cinta (apalagi sudah berbalut hawa nafsu buruk) diposisikan di atas segalanya, ditambah jika kemudian menginjak-injak norma agama, itu namanya kurang ajar dan membangkang terhadap Allah Swt. dan RasulNya.</p>
<p><b>Cinta juga butuh aturan</b></p>
<p>Meskipun untuk jatuh cinta orang tidak perlu belajar, tapi kita harus belajar cara mencintai orang dengan sehat. Itulah sebabnya, cinta membutuhkan aturan. <i>Even love needs rules</i>. Cinta juga adalah sebentuk tanggung jawab. Ya, cinta adalah tanggung jawab. Ketika kita berani mencintai seseorang atau sesuatu, maka kita sudah harus mendampinginya dengan tanggung jawab.</p>
<p>Kecintaan seseorang kepada dirinya sendiri, akan memberikan rasa tanggung jawab bahwa ia harus menjaga dan merawat dirinya sendiri. Baik secara fisik maupun mental. Ketika kita mencintai harta yang kita miliki, maka kita akan punya tanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Begitu pun ketika kita mencintai seseorang; mencintai calon istri atau calon suami, mencintai anak kita, mencintai istri atau suami kita, mencintai orangtua, maka semua itu pasti melahirkan tanggung jawab. Kita akan merawatnya agar cinta yang kita taburkan bersih, suci, dan kita berkomitmen sebagai bentuk dari tanggung jawab bahwa kita berusaha untuk tak akan pernah mencederainya atau menodainya.</p>
<p>Oya sobat gaulislam, ada beda lho antara cinta dan seks. Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang ulama itu, ngasih penjelasan yang detil banget soal cinta. Kata beliau, cinta (dalam bahasa Arab <i>al-mahabbah</i>), pengertian dasarnya adalah bersih. Sebab bangsa Arab menggunakan istilah ini untuk menyebut gigi yang putih bersih. Ada juga yang bilang kalau kata al-mahabbah berasal dari akar kata al-habab, yakni air yang menguap karena hujan yang lebat. Sehingga al-mahabbah (cinta) itu bisa diartikan sebagai luapan perasaan saat dirundung kerinduan ingin bertemu kekasih. Catet deh tuh!</p>
<p>Ada juga yang mengartikan al-mahabbah sebagai tenang dan teduh, seperti onta yang duduk tenang dan tidak mau bangun lagi setelah menderum. Jadi, seakan-akan orang yang sedang jatuh cinta itu merasa tenang, mantap dan tidak terlintas sedikit pun untuk beralih pada yang lain. Pengertian lain tentang cinta (<i>al-mahabbah</i>) adalah “bara api yang membakar hati, karena keinginan untuk bersama dengan orang yang dicintai”.</p>
<p>Kamu perlu tahu lho, cinta (kepada lawan jenis) tumbuh pertama kali pada masa pubertas. Menurut para ahli perkembangan jiwa, usia remaja mengalami pubertas adalah pada usia 14-16 tahun. Masa ini disebut juga “masa remaja awal”, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi.</p>
<p>Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya ‘mimpi basah’ yang pertama.</p>
<p>Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orangtua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, selain itu, pendidikan seks yang beradab sangat dibutuhkan bagi remaja agar mereka tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas hingga melakukan seks pranikah. Ketidaktahuan dalam masalah seks juga bisa berakibat petaka fatal dalam menyikapi akibat-akibat setelah melakukan seks bebas. Kasus aborsi dan penyakit menular seksual misalnya, adalah satu contoh betapa remaja banyak yang awam dengan masalah ini. Padahal bahaya secara medis sangat mengancam dirinya, belum lagi jika kita bicara tentang dosa.</p>
<p>Itu artinya pula, kamu kudu belajar bagaimana menyikapi dan mengekspresikan cinta (termasuk pengetahuanmu tentang seks) menurut tuntunan syariat Islam. Maka untuk mendukung hal ini, para orang tua dan orang-orang di sekitarnya jangan memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar tentang seks berdasarkan keinginannya sendiri. Tetapi harus dipantau dan diarahkan oleh para orang tua dan sebisa mungkin memberikan jalur yang benar berkaitan dengan informasi seputar pendidikan seks yang benar dan baik menurut Islam.</p>
<p>Sobat gaulislam, harus dipahami pula bahwa cinta tak sama dengan seks. Ini untuk memberikan bimbingan bahwa, ketika merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis, bukan berarti harus dilampiaskan dengan melakukan hubungan seksual pranikah. Karena rasa cinta dengan mengekspresikan cinta adalah sesuatu yang berbeda. Rasa cinta adalah bagian dari penampakan naluri mempertahankan jenis, sementara mengekspresikan cinta adalah upaya pemenuhan dari naluri melestarikan jenis.</p>
<p><b>Jadilah remaja bertanggung jawab</b></p>
<p>Saat ini, paham hedonisme sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Dalam Kamus Inggris-Indonesia karangan John M. Echols &amp; Hassan Shadily, “hedonism” diartikan sebagai “Paham yang dianut orang-orang yang mencari kesenangan semata-mata”. Suatu <i>way of life</i> alias jalan hidup yang mengedepankan kesenangan itu, meliputi pola pikir dan perasaan, penampilan lahiriah dan perilaku.</p>
<p>Hedonisme yang muncul dalam masyarakat kita saat ini memang bukan hanya pemilikan dan pemakaian barang mewah tapi juga penyalahgunaan narkoba (narkotika dan zat berbahaya lainnya), cara bergaul, hubungan seks bebas, biseks dan homoseks seperti kecenderungan sebagian dari masyarakat kita yang mengaku modern ini.</p>
<p>Sobat gaulislam, mencari kesenangan tak dilarang, asalkan itu halal. Tapi jika haram, meski yang melakukan adalah diri kita sendiri, dan mungkin saja yang akan rusak adalah kesehatan kita sendiri, tapi bukan berarti hal itu boleh kita lakukan. Karena kita sendiri adalah milik Allah Swt. Dialah yang berhak atas tubuh kita sepenuhnya. Itu sebabnya, bunuh diri diharamkan, meminum miras dan mengkonsumsi narkoba diharamkan, berzina diharamkan, aborsi diharamkan. Padahal, kesemua itu adalah berkaitan dengan kita sendiri, tubuh kita sendiri. Tapi Allah Swt. melarang perbuatan yang seperti itu. Karena kita dinilai tidak amanah dalam menjaga dan merawat diri kita. Kita tak punya tanggung jawab jika berani menelantarkan diri kita sendiri.</p>
<p>Memberikan pemahaman kepada remaja agar mereka mengerti tentang tanggung jawab dalam kehidupannya adalah bagian dari tanggung jawab para orangtua (di rumah, di masyarakat dan juga negara) untuk menghasilkan generasi unggulan. Baik unggul secara kognitif (ilmu pengetahuan—umum dan agama), afektif (emosi/perasaan), psikomotorik (keterampilan), maupun perkembangan fisiknya yang sehat.</p>
<p>Oke deh Bro en Sis, sebagai muslim kita terikat dengan akidah dan syariat Islam. Nggak boleh asal berbuat, apalagi karena dorongan hawa nafsu buruk. <i>So</i>, jaga cintamu, jangan sampe berbuah petaka. Salurkan cintamu ketika suatu saat nanti emang sudah siap menikah. <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cinta-berbuah-petaka/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Peduli Politik</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-peduli-politik</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-peduli-politik#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Apr 2013 17:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sadar politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4653</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 288/tahun ke-6 (19 Jumadil Akhir 1434 H/ 29 April 2013) &#160; Jangan kaget kalo saya ngajak kamu semua ngomongin politik. Remaja punya hak dan juga kewajiban lho dengan urusan politik. Kalo kamu ogah diajak ngomongin politik, berarti sebenarnya bisa jadi kamu udah dipolitikin sama orang lain yang ngerti politik. Lho, kok bisa? Ya, ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/remaja-peduli-politik">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 288/tahun ke-6 (19 Jumadil Akhir 1434 H/ 29 April 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan kaget kalo saya ngajak kamu semua ngomongin politik. Remaja punya hak dan juga kewajiban lho dengan urusan politik. Kalo kamu ogah diajak ngomongin politik, berarti sebenarnya bisa jadi kamu udah dipolitikin sama orang lain yang ngerti politik. Lho, kok bisa? Ya, bisa dong, Sob. Alasannya apa? Hmm… kasih tahu nggak ya?</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kamu suka merhatiin peristiwa-peristiwa yang berkembang dan jadi berita di media massa nggak? Kalo nonton tivi nih, sebenarnya yang kamu tonton tuh acara apa sih? Sepak bola? Musik? Sinetron? Infoitainment? Atau berita? Atau nggak nonton tivi?</p>
<p>Hmm.. sebenarnya semua contoh acara itu bisa saja terkategori informasi dan berita lho, termasuk yang hiburan sekalipun bisa saja bernilai informasi yang dikemas lewat hiburan. Tetapi persoalannya, kita harus menelaah setiap fakta: mengapa konser musik bisa ada dan digemari, mengapa sinetron digandrungi, kok bisa sih sepak bola jadi bisnis dan hiburan, nggak cuma sebagai pertandingan olah raga, kenapa juga ada ustad yang gaya hidupnya mirip artis/seleb di dunia hiburan, apa sebab ajang pencarian bakat masih ada, alasannya apa BBM (Bahan Bakar Minyak) akan dinaikan, kenapa juga TDL (tarif dasar listrik) udah duluan naik awal April 2013 kemarin, untuk apa Pak SBY punya akun twitter, kok bisa sih ada pejabat yang korupsi padahal uang mereka kan udah banyak, dan sejuta tanya yang membutuhkan jawaban bisa kamu ajukan. Pernah nggak kepikiran kayak gitu?</p>
<p>Hmm.. kalo yang di benakmu cuma mikirin pacaran, sekolah, belajar, dugem, hura-hura, hangout, galau, update status di twitter dan facebook yang penuh dengan keluhan, dan problem sejenisnya, lalu nggak mau mikirin yang berat-berat macam ekonomi, politik, hukum, pemerintahan, dan menganggap semua itu bikin bete, berarti ada yang salah dengan dirimu. Jujur saja nih. Berarti kamu udah malas mikirin orang lain, karena kamu disibukkan dengan urusan kamu sendiri. Iya nggak sih?<span id="more-4653"></span></p>
<p>Sobat gaulislam, kamu perlu tahu dan memperhatikan dalam kehidupan ini. Persoalan kehidupan kita, sebenarnya bisa disederhanakan dengan pengelompokkan sebagai berikut: keperluan pribadi, keluarga, masyarakat, dan juga negara, lebih keren lagi, urusan seluruh dunia. Nah, tentu saja kemampuan manusia berbeda-beda dalam mengurusi kepentingannya masing-masing. Ada yang hanya bisa urus diri sendiri, tetapi ngurus keluarga berantakan. Ada yang nggak bisa ngurus diri sendiri, tetapi malah bisa ngurusin orang lain. Malah nggak sedikit yang ngeti problem negara tetapi nggak ngerti problem keluarganya sendiri. Lebih parah ada banyak juga yang nggak ngerti semuanya. Waduh, celaka tuh.</p>
<p>Yup, memang benar. Kita nggak bisa mengurusi semua hal dan dengan target berhasil. Nggak bisa begitu Bro en Sis. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita bisa peka dan peduli terhadap segala urusan dan memiliki standar penilian serta solusi yang khas. Meskipun pada akhirnya nggak berhasil menyelesaikan, tetapi setidaknya kita tahu letak masalah dan juga jawabannya.</p>
<p>Selain itu, tentu saja harus ada ahlinya untuk bisa menyelesaikan setiap problem yang ada. Itu sebabnya ada beragam profesi yang bisa kita lihat saat ini. Ada guru, penjahit, tukang cukur, pedagang, montir, programmer, web desainer, web developer, arsitek, analis kimia, dokter, perawat, guru olah raga, penulis, ahli hadits, ahli tafsir, ahli fikih, tukang tambal ban, sopir, masinis, pilot, nakhoda, ahli ekonomi, ahli biologi, ahli fisika, pakar matematika, fotografer, desainer grafis, dan masih banyak lagi. Kalo ditulis semua, cukup repot deh. Hehehe…</p>
<p>Nah, kalo melihat kondisi kayak gitu, sebenarnya kita paham bahwa tak mungkin ada orang yang bisa memiliki keahlian dalam jumlah banyak. Pastilah ada bidang yang sangat dikuasainya, setengah dikuasainya, atau sedikit dia tahu saja tapi nggak menguasai. Namun demikian, semua orang pada hakikatnya bisa belajar banyak hal sesuai yang diminatinya meskipun tak terlalu ahli, tapi minimal dia tahu.</p>
<p>BTW, lalu apa kaitannya dengan judul ini? Kok panjang lebar nggak karuan nulis udah lebih dari tiga ribu karakter tapi belum nyambung dengan apa yang ditulis dalam judul? Hehehe.. sabar Bro en Sis. Saya cuma ingin menjelaskan bahwa benar keahlian itu sesuai dengan bidang yang dikuasai seseorang, tetapi ada yang harus dimiliki oleh semua muslim&#8211;nggak peduli latar belakangnya, yakni pemahaman terhadap agamanya, khususnya akidah dan syariat. Apakah dia doktor, dokter, dosen, montir, sopir, office boy, satpam dan lainnya (termasuk anak sekolah), tapi dalam urusan akidah dia harus sama, nggak boleh beda. Itu artinya pula, untuk urusan cara pandang terhadap suatu masalah haruslah sama sesuai sudut pandang Islam. Termasuk dalam hal ini adalah masalah politik.</p>
<p>Preeet! Kamu jangan kaget dulu sobat. Politik di sini bukan berarti urusannya dengan partai politik, lalu kamu nyalonin jadi anggota DPR atau sejenisnya. Itu hanya bagian kecil dalam aktivitas politik di negara kapitalis seperti yang kamu saksikan sekarang. Nyebelin memang. Tetapi yang akan kita bahas ini adalah politik dalam definisi ajaran Islam lho. Mau tahu? Teruskan bacaan kamu sampe habis di buletin gaulislam, buletin kesayangan kita semua. Swit swiw!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Icip-icip politik</b></p>
<p>Sebelum kamu ‘terjun’ ke dunia politik, harus tahu dulu apa itu politik. Makanya, di sinilah perlunya pendidikan. Pendidikan adalah segalanya. Orang bisa pinter, bisa ngerti dan bisa membuat segalanya lebih bermakna adalah karena pendidikan. Setiap pendidikan insya Allah akan mengantarkan kepada pencerahan ber­pikir. Kamu nggak bakalan kuper, <i>o’on</i>, dan juga nggak bakalan ditipeng orang, atau malah diperalat oleh pihak yang nggak bertanggung jawab. Kamu bisa hebat dan canggih, tentu lewat pendidikan yang canggih pula, kalo pen­didikannya aja meng­gunakan sistem yang nggak jelas, maka jangan harap kamu menjadi pinter dan cerdas.</p>
<p>Lalu apa arti politik dalam pandangan Islam? Dalam kitab <i>Mafahim Siyasiyah</i> dijelaskan bahwa politik adalah <i>ri’ayatusy syu’unil ummah,</i> alias pengaturan urusan ummat. Adapaun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (<i>iqtishadi</i>), pidana (<i>uqubat</i>), sosial (<i>ijtima’i</i>), pendidikan (<i>tarbiyah</i>) dan lain-lain.</p>
<p>Pengen bukti? Nah, Islam telah memberi­kan gambaran yang utuh dalam masalah ini, bahkan sejarah memperlihatkan selama lebih dari 14 abad, kaum muslimin hidup dengan menerapkan aturan Islam. Tidak pernah ada satu masa pun kaum muslimin hidup dengan aturan selain Islam. Catet nih, Bro! Terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuh­kan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemim­pin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui pengha­pusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam. Menyedihkan bukan? Ini tanggungjawab kita untuk menegak­kannya kembali, Bro en Sis!</p>
<p><i>Well</i>, kok bengong? Atau sedih? Soalnya memang itulah gambaran kita saat ini. Coba dari dulu memahami istilah politik seperti ini. Pasti nggak bakalan bengong or bingung kayak sekarang. Tapi, alhamdulillah, sekarang kamu mulai paham sedikit demi sedikit tentang politik dalam pandangan Islam.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Nah, itu baru definisi politik lho. Sekarang saya jelaskan sedikit bahwa aktivitas politik itu memerlukan kesadaran politik. Waduh, apa pula itu? Nggak usah lebay. Ini penjelasannya. Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab <i>alFikru al-Islamiy</i> menyebutkan bahwa kesadaran politik (<i>wa’yu siyasi</i>) haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama, kesadaran itu haruslah bersifat universal atau mendunia (inter­nasional). Bukan kesadaran yang bersifat lokal semata. Tengok dong saudara-saudara kita di Palestina, Myanmar, Suriah, Afghanistan, Irak, atau saudara kita di Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya. Kita harus tahu dan peduli dengan keadaan mereka. Apakah sekarang lagi mende­rita atau bahagia. Harus sampai ke situ, Bro! Itulah namanya mondial alias mendunia.</p>
<p>Nah, unsur yang kedua adalah kesadaran politik yang dimiliki harus berdasarkan pada sudut pandang tertentu alias <i>zawiyatun khosshoh</i>. Dengan kata lain kita harus bertindak subyektif dan obyektif dalam menilai peristiwa politik yang terjadi. Lho, gimana sih, subyektif tapi sekaligus obyektif? Gini <i>guys</i>, maksudnya subyektif karena memang harus didasari pada sudut pandang Islam. Obyektif artinya <i>kunti</i> alias <i>tekun dan teliti</i> dalam ‘mem­baca’ peristiwa yang terjadi.</p>
<p>Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya dan kerap menutup-nutupi berita. Kasus terorisme misalnya. Bansus, eh Densus 88 kan nyerangnya Islam dan kaum muslimin. Ini sudah jadi rahasia umum. Sehingga setiap aksi terorisme pasti ada hubungannya dengan umat Islam. Kacau banget kan? Ya, kayak di film <i>Java Heat</i> yang baru tayang di bioskop 18 April lalu. Itu penulis skenarionya, sutradaranya dan mungkin juga produsernya kok bela-belain menjejalkan adegan aktivitas terorisme dalam alur cerita, ya jadinya sekadar tempelan aja tuh karena nggak ada hubungannya dengan setting cerita utama. Tetapi celakanya adalah efek dari pesan tersebut yang menyiratkan bahwa Islam mengajarkan terorisme. Padahal mah, yang kerap lakukan teror adalah musuh-musuh Islam.</p>
<p>Nggak percaya? Lihat saja bagaimana pemerintah Amerika Serikat menyerang Irak dan Afghanistan, membajak revolusi Mesir, dan kini mencoba ngerecoki para pejuang Suriah dalam melawan rezim Bashar Assad laknatullah itu. Waspadalah! Fakta-fakta ini harus kamu ketahui dan pahami agar tak termakan opini sesat media Barat yang umumnya benci Islam. Mungkin ada fakta yang benar yang mereka sampaikan, tetapi tetaplah kudu diverifikasi agar pasti kebenarannya. Nggak asal telen aja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Kebangkitan yang hakiki</b></p>
<p>Sobat gaulislam yang mulai peduli politik, untuk mewujudkan kebangkitan yang kita cita-citakan memang butuh keseriusan dari kita semua, kaum mus­limin. Meski kita masih remaja, bukan berarti nggak boleh serius. Justru seharusnya, masa remaja kita gunakan untuk mengasah supaya bisa mempertajam kemampuan berpikir kita. Lebih khusus lagi kemampuan untuk berpikir islami. Ada beberapa tahap yang bisa kita jadi­kan sebagai jalan untuk meniti kebangkitan yang hakiki. Menurut Ustadz Hafidz Shalih (dalam kitab <i>an-Nahdhah</i>, hlm. 132-155) ada beberapa tahap untuk menuju kebangkitan:</p>
<p>Pertama, setiap muslim kudu menyadari tugasnya sebagai pengemban dakwah. Allah Swt. berfirman: <i>“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.“</i> <b>(</b><b>QS an-Nahl [16]: 125</b><b>)</b></p>
<p>Kedua, setiap muslim harus memahami Islam sebagai sebuah mabda, alias ideologi. Dengan begitu, kita bisa menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita. Islam bukan hanya mengatur urusan sholat, zakat, puasa aja, tapi sekaligus mengurusi masalah ekonomi, politik, pendidikan, hukum, peradilan, pemerin­tahan, dsb.</p>
<p>Ketiga, kita kudu berjuang mene­gakkan Islam. Keempat, melakukan kontak pemikiran dengan masyarakat, nggak cuma diem doang. Sebarkan ide-ide Islam kepada mereka. Kalo ternyata timbul pro dan kontra, itu wajar. Rasulullah saw. saja pernah merasakannya. Tenang. Kita di jalur yang benar.</p>
<p>Kelima, harus jelas dalam berjuang. Artinya, kita kudu fokus dan membatasi mana yang pokok, dan mana yang cabang. Allah swt berfirman: <i>“Katakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik&#8221;. </i><b>(</b><b>QS Yusuf [12]: 108</b><b>)</b></p>
<p>Keenam, harus berani melakukan <i>shiraul fikriy</i> (pertarungan pemikiran) dengan berbagai ide sesat yang ada di masyarakat. Misalnya, sampaikan bahwa demo­krasi sesat, nasiona­lisme itu tercela, seku­larisme adalah bagian dari kekufuran, perdukunan itu syirik, dan sebagainya.</p>
<p>Ketujuh, selalu meng-<i>update</i> perkem­bangan yang terjadi di masyarakat lalu berikan solusinya dengan ajaran Islam. Kedelapan, kita harus bisa menunjukkan kelemahan dan kepal­suan sistem kufur yang tengah meng­atur kehidupan masyarakat kita saat ini. Su­paya mereka juga <i>ngeh</i>, bahwa selama ini ternyata hidup dalam lingkungan yang tidak islami. Itu sebabnya kita juga mengajak kaum muslimin untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, mau bangkit dan berjuang kan? Apalagi untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Pahalanya besar, lho. Jadi, buruan sadar, pelajari Islam, kerjasama dalam dakwah dengan saudara kita yang lainnya, dan ayo bangkit! <b>[</b><b>solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a></b><b>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-peduli-politik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentukan Cita-cita Muliamu!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/tentukan-cita-cita-muliamu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/tentukan-cita-cita-muliamu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2013 17:01:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[bbuletin]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[idealisme]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4646</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 287/tahun ke-6 (12 Jumadil Akhir 1434 H/ 22 April 2013)   Sering banget kita dengar pepatah atau pameo: “Kejarlah cita-citamu setinggi langit”. Yup, ini jadi inget quote yang sering ada di sampul buku atau di bagian paling bawah lembaran kertas buku tulis. Hehehe… baidewei tumben nih ngomongin cita-cita, apa karena sehubungan dalam rangka ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/tentukan-cita-cita-muliamu">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam<b> </b>edisi 287/tahun ke-6 (12 Jumadil Akhir 1434 H/ 22 April 2013)</p>
<p><b> </b></p>
<p>Sering banget kita dengar pepatah atau pameo: “Kejarlah cita-citamu setinggi langit”. Yup, ini jadi inget <i>quote</i> yang sering ada di sampul buku atau di bagian paling bawah lembaran kertas buku tulis. Hehehe… <i>baidewei </i>tumben nih ngomongin cita-cita, apa karena sehubungan dalam rangka UN alias Ujian Nasional.  <i>Coz</i>, UN adalah sebagian tahap menuju cita-cita. Eh, nggak juga sih sebenernya. Ok, sobat gaulislam sebenarnya saya cuma mau berbagi pengalaman en sedikit ngasih saran tentang cita-cita. Alasannya, justru ini menjadi bagian paling penting dalam hidup kamu bahkan menjadi tujuan hidup kamu.  Nah, kalo cita-cita udah lempeng alias lurus—apalagi mulia, maka seterjal dan sesulit apapun kita  bakal akan terus maju untuk meraihnya. Semangaat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Buang bingung dan hilang arah</b></p>
<p>Sejak usia dini, anak-anak diarahkan untuk mengenal berbagai profesi sebagai petunjuk cita-cita mereka. Cuma, ya gitu, kadang-kadang akhirnya justru cita-cita ‘klasik’ yang lagi dan lagi terbentuk dalam pemikiran mereka (contoh: dokter, artis, tentara, polisi, guru, dan seterusnya dan sejenisnya), kemudian sampai mereka usia remaja pun ketidakjelasan cita-cita (baca: antara potensi/kemampuan dan cita-cita yang ingin diraih nggak nyambung) akhirnya terjadi. Apalagi remaja yang jadi korban ‘idealisme’ ortu: si anak pengen A, ortu pengen B dan menjalani pendidikan akhirnya terpaksa, cita-cita pun nggak jelas pengen jadi apa (curcol, hehehe…). Kalo kata Si Jui di acara Stand Up Comedy Metro TV sih, ada yang sok-sokan kuliah di jurusan mesin, padahal hatinya tataboga. <i>So</i>, pas ngeliat baut, sekrup, obeng, kabel dan sejenisnya berserakan malah ditumis tuh (hahahaha…..).</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislasm, hal ini diperparah dengan orientasi yang <i>gaje</i> (nggak jelas) yang selalu dikondisikan kepada remaja. Seakan-akan remaja itu nggak boleh mikir yang berat-berat, terlarang untuk ngomongin yang serius dan malah diarahkan kalo kudu mikir yang <i>having fun</i>, gaul bebas, pacaran dan sejenisnya. Nah yang kayak gitu justru nggak membina remaja untuk berpikir dewasa, bahkan mudah terpengaruh hal yang buruk, nggak punya prinsip hidup dan mikir yang enteng-enteng aja. Buwahaya!<span id="more-4646"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Jangan jadi sampah!</b></p>
<p>Nah, biar nggak bingung dan hilang arah, <i>na’udzubillah min dzalik</i> jadi ‘sampah’, begitu selesai baca gaulislam edisi ini segera deh terapkan ya! Hmm… ini nih tipsnya ya, kamu baca pelan-pelan, resapi dan amalkan (praktekkan):</p>
<p>Pertama, cari potensi dan minat kamu yang paling dominan dalam diri kamu. Bisa dari hobi atau dari pelajaran yang kamu gemari. Contoh: hobi menulis. Bisa aja kan cita-citamu nantinya menjadi penulis? Penulis fiksi, nonfiksi, atau terjun menjadi jurnalis. Kalo ortumu meragukan, di situ tantangannya! Harus bisa membuktikan kepada mereka akan karya-karyamu. <i>You got it!</i></p>
<p>Kedua, hindari cita-cita yang <i>gaje </i>(nggak jelas). Menurut saya pribadi, cita-cita <i>gaje</i> itu kalo antara potensi dan cita-cita yang pengen diraih nggak nyambung. Pengen jadi pilot tapi potensi untuk jadi pilot ternyata nggak ada atau nggak muncul! Contoh, fobia pada ketinggian sangat tidak menguasai matematika dan fisika ditambah nggak bisa bahasa Inggris. Lengkap sudah penderitaanmu, kawan!</p>
<p>Ketiga, harus siap untuk perubahan cita-cita kalo tiba-tiba ada perubahan kondisi yang mendadak. Contoh: dana yang minimalis untuk melanjutkan pendidikan yang menunjang cita-cita walaupun ada kemungkinan bersaing dengan meraih beasiswa. Tetapi tetap harus ada cita-cita cadangan (istilahnya ada plan B-nya kalo plan A gagal total). Atau nih, perubahan situasi dan kondisi yang awalnya aman/kondusif ternyata menjadi tragis misal ada perang, kerusuhan atau bencana alam. Mungkin kamu akan terkesima kalo baca sedikit realita yang saya kutip dari situs arrahmah.com tentang cita-cita dan tujuan hidup pemuda Suriah:</p>
<p>Seorang mujahid muda Suriah, Samir Qutaini: ”Satu hal yang saya rindukan dari sekolah adalah bermain sepakbola dengan teman-teman saya. Saya adalah gelandang tengah, dan benar saja, saya mencetak gol. Impian saya adalah untuk bermain dengan (Lionel) Messi dan (Andres) Iniesta (para bintang Barcelona”).</p>
<p>Kisah Samir tidak seperti ribuan para remaja 17 tahun lainnya yang sebagian besar hidup bersenang-senang atau belum memiliki tujuan hidup. Ia berdagang ponsel demi membeli sebuah AK-47 untuk menjadi mujahid di jalan Allah. Dimana sebagian rakyat Suriah mengungsi ke negeri-negeri Islam lainnya akibat kekejaman rezim Assad, justru Samir, Mahmut dan teman-temannya memilih meninggalkan keluarga mereka dan bergabung bersama pasukan Free Syrian Army/FSA (cool, Man!). Kini pilihan mereka hanyalah hidup mulia atau mati syahid untuk membebaskan Suriah dari rezim kejam Bashar Assad yang telah membunuh puluhan ribu kaum Muslim yang menentang rezim tersebut dan kalaupun situasi telah pulih, ternyata mereka masih memiliki cita-cita untuk meneruskan pendidikan mereka yang tertunda. Subhanallah. Keren!</p>
<p>Keempat, belajarlah untuk berpikir dewasa – maksudnya selalu berpikir bahwa hidup ini ada tujuan, Bisa aja tuh jadikan orang-orang sukses di usia muda sebagai panutan.  Contohnya Mark Zuckenberg (terlepas dari ke’yahudi’annya), dalam usia 20 tahun ia sukses mendirikan dan mengembangkan Facebook sebagaimana yang kita rasakan bener manfaatnya dalam berkomunikasi di dunia maya (meski tentu ada juga mafsadat atau mudharatnya kalo kita nggak bisa ngendaliin diri).</p>
<p>Gimana kalo yang muslim? Hmm&#8230; ada si yang pernah eksis seperti Ibnu Sina, dokter muda Islam yang telah membuka praktek, dan menjadi dokter pribadi <i>khalifah</i> di usia 17 tahun. Usamah bin Zaid menjadi panglima perang yang memimpin ribuan pasukan pada usia 20 tahun. Muhammad al-Fatih, Sultan Turki penakluk imperium paling berkuasa Romawi Timur saat usia 23 tahun.</p>
<p>Kelima, selalu mendekatkan diri kepada Allah dan juga rajin mengkaji Islam.  Ayo, ngaji dan jauhi maksiat kepada Allah.</p>
<p>Bro en Sis, kalo lima poin di atas bener-bener dikerjakan dalam kehidupan kamu, insya Allah tujuan hidup kamu lebih terarah. Cita-cita yang kamu kejar bukan semata untuk kekayaan dan popularitas tapi justru lebih terjaga dalam aktivitas yang positif dan nggak melanggar syara’. Misalnya nih, kamu sebagai muslimah kebelet banget ikut kompetisi berhubung punya potensi bersuara emas, sedangkan suasana kompetisinya nggak kondusif –terbayang kan acara-acara kompetisi nyanyi tuh kayak gimana? Ya gitu deh, ikhtilat (alias campur-baur), bahkan yang ikut berkompetisi pun campur-aduk. Selain itu lagu-lagu yang dinyanyikan juga ternyata syairnya nggak syar’i alias nggak sesuai ajaran Islam. Belum lagi kamunya bakal terwarnai kehidupan yang nggak Islami. But, jangan juga berpikiran ngikutin Islam itu nyusahin. Nggak lah, friend. Justru ngikutin Islam itu malah nuntun kita ke jalan kemuliaan dan hidup pun lebih terarah. Jelas arahnya, menuju surga. Gitu!</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>So?</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, jangan sia-siakan masa remaja dengan hal-hal yang melalaikan dan malah menjauhkan diri kita dari Islam.   Rancang masa depanmu mulai sekarang. Tapi, jangan lupa untuk tetep dalam koridor Islam, baik itu cita-citamu begitu juga jalan menuju cita-citamu itu. <i>Coz</i>, tujuan hidup sebenarnya dari seorang muslim adalah meraih ridha Allah  demi meraih surga-Nya. Jadikan cita-cita kita agar berguna bagi umat, yang nantinya insya Allah akan menjadi jalan kebaikan bagi kita semua. Pengen dong umat Islam kembali bangkit dengan para pemudanya yang sungguh-sungguh menuntut ilmu demi tercapainya cita-cita mereka agar berguna bagi kebangkitan Islam dan umatnya. Allah Swt. berfirman: <i>“</i><i>Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan</i><i> </i><i>yang ada pada diri mereka sendiri.</i><i>”</i> <b>(QS ar-Ra’d [13]: 11)</b><b></b></p>
<p>Nah, lebih keren lagi kalo kamu memiliki idealisme. Nggak sekadar punya cita-cita. Bener lho. Kita kudu memiliki dan bahkan mempertahankan idealisme yang kita punya. Nggak boleh luntur dan pudar. Ibarat batu karang di laut. Sekeras apapun terjangan gelombang, batu karang tetap tegar menantang. Tak gentar menghadapi berbagai godaan. Emang, kalo kita mencoba inisiatif bikin pengajian, bersikap kritis terhadap kondisi lingkungan kita, selalu aja jadi sasaran empuk cemoohan. Baru aktif di mesjid aja udah banyak mulut-mulut usil. Baru sehari pakai kerudung—apalagi kalo sampe pake jilbab—ke sekolah, udah banyak yang ngerecokin. Dibilangan “sok alim lah”, disebut “bau surga lah”. Prinsipnya, banyak halangan menuju idealis.</p>
<p><i>But</i>, nggak usah bingung bin stres. Kondisi ini nggak akan berlangsung lama. Mereka bakal pegel sendiri. Kuat-kuatan aja. Apalagi kita ada di jalan yang bener. Idealisme yang kita miliki bukanlah kacangan atawa yang nggak bener. Kita kudu bangga punya idealisme Islam. Sebab kita berjuang untuk Islam. Dan inilah idealisme yang emang sulit dikalahkan. Firman Allah Swt.: <i>“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: &#8220;Tuhan kami ialah Allah&#8221; kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): &#8220;Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu&#8221;.</i> <b>(QS. Fushilat [41]: 30)</b></p>
<p>Well, meski demikian, idealisme nggak muncul secara otomatis dalam diri kita. Namun butuh proses. Butuh upaya untuk membentuknya. Itu sebabnya, diperlukan kekritisan dalam bersikap, mampu menangkap realitas kehidupan yang ada, menyikapinya dan memberikan solusi. <i>Ghirah</i> (semangat) Islam kita pun perlu ditumbuhkan. Selain itu, akrab dengan pemikiran-pemikiran Islam melalui berbagai kajian, dan mampu menerjemahkannya untuk menyelesaikan berbagai problem kehidupan. <i>So</i>, idealisme itu bukan impian, tapi sebuah kenyataan yang bisa diwujudkan. Artinya, kamu bakalan lebih keren lagi kalo tak sekadar punya cita-cita tetapi wajib punya idealisme Islam yang kuat sehingga cita-cita yang terwujud lebih mulia.</p>
<p>Yuk, kita bikin rancang kehidupan kita mulai sekarang juga. Tentukan segera cita-cita dan idealisme serta pastikan bahwa ridha dan surga Allah adalah tujuan hidup kita. Semangat! Allahu Akbar! <b>[anindita | e-mail: thefaith_78@yahoo.com]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/tentukan-cita-cita-muliamu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersiap Tempur di UN!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bersiap-tempur-di-un</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bersiap-tempur-di-un#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2013 23:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[UN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4642</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 286/tahun ke-6 (5 Jumadil Akhir 1434 H/ 15 April 2013) &#160; Hei! Hari ini ada pertempuran besar-besaran! Bukan pertempuran pistol air lho, bukan juga pertempuran gobag sodor, apalagi pertempuran kelereng. Bukan itu, tapi yang lebih mengerikan lagi! Duh, pertempuran apa ya? Ada yang tahu? Yap, benar sekali. Pertempuran itu adalah sosok dua huruf ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/bersiap-tempur-di-un">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 286/tahun ke-6 (5 Jumadil Akhir 1434 H/ 15 April 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hei! Hari ini ada pertempuran besar-besaran! Bukan pertempuran pistol air lho, bukan juga pertempuran gobag sodor, apalagi pertempuran kelereng. Bukan itu, tapi yang lebih mengerikan lagi! Duh, pertempuran apa ya? Ada yang tahu?</p>
<p>Yap, benar sekali. Pertempuran itu adalah sosok dua huruf gede yang menghantui pikiran remaja tiap hari, UN alias Ujian Nasional. Hehe&#8230; lebay amat sih. Tapi emang betul kok, banyak banget remaja mulai dari yang SD sampai SMA takuuut banget ama dua huruf yang barusan disebutin. Seberapa mengerikankah kedua huruf tersebut? Dan mengapa banyak banget hal-hal yang sebenarnya sangat tidak diperbolehkan yang terjadi selama datangnya hari UN ini? Dan mengapa? Nah, kita bahas yuk!</p>
<p>Ceritanya nih, tapi fakta loh ya, tanggal 15 April 2013 (hari ini), teman-teman kita yang duduk di bangku kelas tiga jenjang SMA akan menjadi sekelompok orang yang pertama kali berhadapan dengan UN. Tepatnya, tanggal 15 hingga 18 April 2013 (tetapi untuk 11 Provinsi yang berada di Wilayah Indonesia Tengah, UN untuk SMA/SMK/MA dan sederajat diundur, yakni mulai diadakan tanggal 18 April 2013, info lengkapnya silakan kunjungi website kemdiknas.go.id). Di UN tersebut para siswa harus menjawab materi pelajaran yang diujikan dengan benar agar nilai mereka nggak ambruk dan akhirnya bisa lulus. Kalau nilai mereka ambruk, maka bisa dipastikan mereka tidak akan lulus! Duh, kok jadi serem gini, ya?</p>
<p>Begitu juga dengan adik-adik kita di SD dan SMP. Untuk SMP, tanggal 22-25 April 2013 dan untuk SD dan sederajat, UN akan diadakan pada tanggal 6-8 Mei 2013. Bisa dipastikan, hari-hari tersebut merupakan hari-hari paling berat sepanjang sejarah bersekolah sobat semua. Kemudain, pertanyaan selanjutnya pun muncul. Sudah seberapa siapkah aku?</p>
<p>Hayo, bagaimana persiapan kalian? Apakah kalian udah yakin, kalian udah siap yang terbaik buat Ujian Nasional?<span id="more-4642"></span></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ternyata banyak juga lho, temen-temen kita yang kagak peduli sama sekali ama yang namanya ujian ini. Loh, kok bisa? Iya dong! Tahukah kalian, ternyata zaman sekarang ini nih, yang namanya anak remaja sekolah udah buanyaaaakkk banget yang menyimpang dari tujuan utama orang tua menyekolahkan mereka. Gimana nggak, menurut pihak survei gaulislam nih, (cieee&#8230;) ternyata banyak banget remaja yang berangkat ke sekolah, bukan dengan niat dan tujuan menuntut ilmu dan memperdalam pemahaman ilmu, melainkan sekadar tempat untuk bermain-main dan bersosialisasi semata! Kongkow-kongkow doang gitu lho!</p>
<p>Lebih memprihatinkan lagi nih ya, ternyata nggak sedikit remaja yang memiliki pikiran kayak gitu. Bahkan hampir semua! Setiap hari, saat keluar dari rumah untuk berangkat sekolah, mereka niatnya aja udah beda. Pingin ketemu temen lah, ketemu geng lah, atau bahkan ketemu pacar. Nah, kalau fakta keseharian dari kehidupan remaja kita di sekolah seperti ini, maka apakah mereka masih bisa dibilang peduli dengan persiapan mereka menghadapi ujian nasional?</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>Black track UN</b></p>
<p>Udah jadi rahasia umum, bahwa UN setiap tahunnya di Indonesia hampir pasti selalu terjadi kecurangan (meski mungkin ada juga di beberapa sekolah yang nggak, tapi siapa yang berani jamin?). Nggak sekadar murid-murid nakal yang nggak belajar yang saling contek-contekan. Ternyata, banyak banyak juga lho, pihak sekolah yang saking pinginnya murid-muridnya dapet nilai tinggi dan lulus semua, akhirnya berlaku curang dengan ngasih tahu jawaban atau minimal ngajarin murid-muridnya waktu UN berlangsung.</p>
<p>Belum cukup sampai situ. Bermunculanlah pihak-pihak yang berusaha memancing di air keruh, alias orang-orang yang memanfaatkan momen UN ini sebagai ajang berbisnis. Mereka menjual soal-soal dan kunci jawabannya dengan harga tinggi, dan tidak sedikit dari pihak sekolah dan siswa yang rela membeli soal-soal tersebut agar bisa sukses di UN nantinya. Huh, kesuksesan yang kotor itu namanya! Lebih parah lagi kalo ternyata soal dan jawaban itu bodong alias ngibul. Udah mah rugi keluar duit banyak, celaka juga karena jawaban soal salah semua.</p>
<p>Begitulah fakta memiriskan yang tiap tahun terjadi di negeri ini. Benar-benar memprihatinkan memang, mengingat nampaknya kecurangan besar semacam ini sudah dianggap wajar oleh masyarakat, dan seperti sudah menjadi rahasia umum yang memang biar sajalah terjadi. Padahal, Indonesia ini kan mayoritas berpenduduk muslim. Kalau udah gini, apakah masih pantas kita mengaku sebagai pelajar dan muslim yang baik dan berakhlak?</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>Hilangnya nilai pendidikan</b><b></b></p>
<p>Bro ensi Sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, kurikulum pendidikan yang sekarang bisa dibilang sungguh sangat terlalu dan ‘mekso’. Gimana nggak sih? Coba kalian buka tuh buku pelajaran SD adik kalian. Lihat deh, udah seberapa sadisnya pelajaran-pelajaran itu dijejalin ke kepala adek-adek kita. Bahkan yang duduk di jenjang SMP pun banyak yang udah nggak bisa lagi ngerjain soal SD, karena rasa-rasanya, makin lama kurikulum yang disodorkan terasa makin susah dan mencekik.</p>
<p>Pelajaran matematika contohnya. Kita tidak diajarkan untuk mengerti dan memahami cara dan teknik berhitung, namun kita hanya dijejali dan terus dijejali oleh rumus. Bahkan nih, dalam suatu soal, kalau jawabannya bener tapi caranya nggak sesuai sama rumus yang sama <i>plek </i>dengan buku teks, maka jawaban kita bisa disalahkan oleh guru. Tuh, kan, diskriminatif banget!</p>
<p>Kesalahan pun makin fatal, manakala belajar kini sudah tidak peduli dengan apakah seorang siswa dapat memahami sebuah ilmu dengan baik dan menguasainya, melainkan hanya demi mendapatkan beberapa biji angka yang disebut NILAI. Akhirnya, semua orang pun mulai lupa dengan tujuan utama mereka belajar, dan mereka hanya berlomba-lomba meraih nilai tertinggi, bahkan dengan cara yang paling dilarang sekalipun.</p>
<p>Padahal dalam Islam nih, menuntut ilmu itu nggak sekadar mengejar nilai! Menuntut ilmu itu adalah kewajiban untuk setiap muslim. Coba lihat deh bagaimana orang-orang terdahulu bersekolah. Mereka rela mengorbankan banyak hartanya hanya demi mendapatkan ilmu. Rela menempuh ribuan kilometer hanya untuk mendapatkan ilmu. Bandingin deh sama kita sekarang. Udah bisa sebaik mereka?</p>
<p>Ingat nggak kalian gimana pendidikan di masa khilafah dulu? Pendidikan menjadi salah satu tonggak terpenting dalam siklus kehidupan manusia. Pendidikan dijalankan dengan serius, nggak main-main apalagi main beneran (hehe&#8230;.). Pendidikan diatur dengan baik oleh negara. Nggak ada perkembangan ilmu yang tercegah, baik karena alasan sarana dan prasarana, apalagi sekadar masalah biaya. Semuanya diberi gratis oleh negara loh! Gretong, asli! Nggak kayak pendidikan sekarang yang biayanya makin selangit.</p>
<p>Puncak kejayaan Islam adalah saat keilmuan amat diperhatikan dan dihargai. Bahkan, pada zaman khilafah dulu, orang-orang Eropa pun belajar dari orang Islam. Keren nggak tuh? Jadi, ilmu yang telah berkembang pesat di Eropa kini, nggak lepas dari jasa besar dari kaum muslimin zaman khilafah, terutama, insan yang bergelut dalam dunia pendidikan, baik pelajar maupun yang diajar.</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, apakah kita mampu dan mau untuk meraih kejayaan itu lagi dan bangkit dari segala keterpurukan ini? Nah, jawabannya ada di diri kalian sendiri. Tetapi sebagai ajakan, mari mewujudkannya kembali.</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>S</b><b>edia senjata sebelum perang</b></p>
<p>Sobat muda muslim, sediakan amunisi ilmu kalian dengan baik, persiapkan juga mental kamu, jangan sampai entar kamu ngompol pas ujian (hehehe…). Dan yang terpenting, kamu kudu senantiasa berdoa kepada Allah Swt. agar selalu dimudahkan jalannya menghadapi UN ini, dan mintalah restu dari orang tua, karena ridho Allah ada pada ridho orang tua. Murka Allah pula ada pada murka orang tua.</p>
<p>Pesan dari gaulislam nih, jangan sekalipun kalian tergoda untuk berbuat curang saat UN nanti! Sebab, dengan berbuat curang, sama aja kalian udah mengkhianati diri kalian sendiri, mengkhianati orang tua, dan mengkhianati Allah Swt. yang Maha Melihat kalian. Karena, untuk apa 3 tahun kalian belajar capek-capek, kalau entar UN ternyata cuma selesai pakai ‘nyontek’? Apa guna keringat orang tua kalian yang udah diperas biar kalian bisa tetap sekolah selama ini? Apa guna juga Allah menjadikan kalian sebagai muslim, jika akhlak dan tindakan kalian jauh dari Islam?</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, hasil UN nggak akan punya arti apa-apa kalo kita nggak berbuat banyak bagi kehidupan kita untuk dunia dan akhirat. Emangnya entar kalo udah masuk kubur, kita bakalan ditanya nilai UN kita? Nggak kan?</p>
<p>Allah Ta’ala pun nggak peduli gimana entar hasil UN kalian, tapi Allah akan sangat menilai bagaimana usaha yang kalian lakuin. Allah akan selalu mencintai hamba-hambaNya yang mau berusaha dan memiliki keinginan yang kuat untuk selalu berusaha menjadi yang lebih baik, dan lebih baik lagi.</p>
<p>Tuntutlah ilmu dengan setulus hati dan niat yang lurus, yakni demi menapatkah ridha dari Allah Swt. Ilmu hanya bisa diraih dengan sabar dan serius. Maka dari itu, kalau kalian mempelajari sebuah ilmu dan ternyata nggak ‘nyantel’ juga, maka tiliklah lagi diri kalian, apa kalian itu udah serius dan sabar atau belum dalam meraih ilmu.</p>
<p>Mendapatkan ilmu yang bermanfaat itu jauh lebih oke ketimbang nilau UN selangit tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Nilai yang pas-pasan hasil jerih payah sendiri, tentunya akan jauh lebih berkah dan ilmunya lebih bermanfaat daripada yang dapat nilai sampai satu kosong kosong tapi ilmunya bolong-bolong. Kalian ingin menjadi yang seperti apa, keputusan ada di tangan kalian sendiri. Tapi gauilislam yakin, kalian udah pada dewasa semua kok. Udah nggak minum ASI lagi kan? Nah, tuh dah pada gede, hehehe&#8230; Kalian pasti udah tahu dong, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang berpahala dan mana yang berdosa. Tapi yang jelas, pilihlah yang terbaik untuk kehidupan kalian ke depannya, dan tentu saja masa depan kalian nanti di akharat!</p>
<p>Sambutlah Ujian Nasional kali ini dengan senyuman. Ujian bukan sesuatu yang mengerikan kok. <i>Well</i>, paling juga soalnya susah-susah. Hehehe&#8230; Tapi yakin aja deh, kalianlah yang akan memenangkan UN ini, bukan kalian yang justru dikalahkan oleh nafsu dari setan untuk mencontek, dan bukan pula dikalahkan oleh ketumpulan otak kalian gara-gara jarang belajar, jangan sampai deh ya!</p>
<p><i>Believe it: you can win this!</i> <b>[</b><b>Hawari</b><b> | Twitter <a href="http://twitter.com/hawari88" target="_blank">@hawari88</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bersiap-tempur-di-un/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curhat JOMBLO</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/curhat-jomblo</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/curhat-jomblo#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2013 17:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jomblo]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pacar]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4636</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 285/tahun ke-6 (27 Jumadil Awal 1434 H/ 8 April 2013) &#160; Kamu pernah baca buku saya yang judulnya Jomblo’s Diary belum? Belum? Waduh, sayang sekali ya. Padahal buku itu terbit tahun 2010 lalu (hehehe…). Tetapi jangan khawatir, sedikit bocorannya saya tuliskan untuk buletin gaulislam edisi ini. Jujur, saya sendiri merasa tergelitik dengan istilah ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/curhat-jomblo">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 285/tahun ke-6 (27 Jumadil Awal 1434 H/ 8 April 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kamu pernah baca buku saya yang judulnya <i>Jomblo’s Diary </i>belum? Belum? Waduh, sayang sekali ya. Padahal buku itu terbit tahun 2010 lalu (hehehe…). Tetapi jangan khawatir, sedikit bocorannya saya tuliskan untuk buletin gaulislam edisi ini. Jujur, saya sendiri merasa tergelitik dengan istilah jomblo. Abisnya, kata jomblo tuh sebenarnya untuk ‘perawan tua’. Eh, sekarang, anak umur 9 tahun aja berani bilang, “gue lagi jomblo!” Waduuuh… Selain itu, alasan menurunkan tulisan ini di buletin karena lebih dari 80 persen pengirim SMS curhat ke gaulislam adalah tentang problem dengan lawan jenis: pacaran, ngadepin mantan, juga kesepian karena belum laku (jomblo). Halah!</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, nggak usah lama-lama, berikut ini saya kutipkan seperlunya dari beberapa bagian artikel di buku saya tersebut. Kalo pengen lengkap ya beli aja bukunya. Ok? Hehehe.. sekalian numpang promo! Ini nih curhatan para jomblo, tetapi dengan kondisi ingin tetap selamat tanpa pacaran. Met nyimak aja deh nih:</p>
<p>“Gue ngerasa harus realistis. Meski kalo ngomongin soal “kepengen” sih, emang <i>it’s hard to understand</i> kondisi gue kayak sekarang tuh. Tapi akhirnya gue harus terima kenyataan bahwa memang gue jomblo. It’s ok. Gue mencoba untuk melatih hati dan pikiran untuk nerima kondisi seperti ini. Berubah dari sebuah pemahaman yang dulu emang sulit, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan. Gue mulai mencoba jujur kepada diri gue sendiri, gue harus terima banyak nasihat, gue juga udah belajar banyak dari temen-temen baru gue. Meski berat menurut ukuran hawa nafsu gue, tapi gue berusaha dan terus berupaya untuk mengubah pandangan gue yang lama dengan pencerahan baru yang gue dapetin. Gue nggak termasuk makhluk yang anti perubahan. Gue harus berubah jika itu yang terbaik menurut gue dan sesuai tuntunan ajaran agama gue. Setidaknya gue setuju dengan pendapat temen-temen baru gue yang udah ngajarin tentang banyak hal seputar jomblo dan juga agama. Gue setuju.</p>
<p>Diary, gue ngerasa harus realistis. Karena memang kenyataannya gue masih jomblo. Gue mungkin akan tetap ngejomblo daripada gue harus ngorbanin kehormatan gue, daripada gue harus ikut-ikutan ancur ngelakuin perbuatan yang dilarang agama. Gue nggak mau main api lagi kalo belum siap segalanya. Gue masih harus banyak belajar dan gue harus fokus untuk belajar. Usia gue masih belia dibanding mas-mas yang udah ngajarin gue tentang hal ini. Gue malu juga, mereka yang udah siap secara biologis dan kesempatan, masih memperhatikan banyak hal, termasuk yang utama ajaran agamanya. Mereka tetap ngejomblo selama belum ada kesempatan, niat, dan sarana yang mendukung untuk menikah. Ingat lho, “menikah”, bukan “pacaran”.<span id="more-4636"></span></p>
<p>Gue memang harus realistis. Gue terima kenyataan bahwa gue masih ngejomblo. Tapi bukan berarti gue sepi kegiatan. Gue masih keren meski tanpa cewek yang menjadi pacar gue. Status gue masih tetep mulia sebagai seorang manusia yang mencoba untuk bertakwa. Gue bukan sedang menghibur diri, tapi emang gue berusaha untuk berubah. Berubah dari kondisi di mana gue ngerasa dihantui dengan predikat jomblo, menjadi gue merasa <i>enjoy</i> dan terima kenyataan bahwa gue jomblo. Saat ini yang penting bagi gue adalah gue nyadar bahwa apa yang gue lakuin pasti bakalan dimintai pertangunganjawabnya di hadapan Allah Swt. Tuhan gue. Ah, ini memang soal cara pandang dan budaya aja bagi gue. Seperti yang pernah disampaikan sama temen-temen gue yang mahasiswa itu yag tempat kosnya dekat dengan rumah ortu gue.</p>
<p>Diary, dulu gue menilai jadi jomblo itu kutukan karena gue memandang bahwa menjadi pria sejati yang dewasa itu adalah diukur dari bagaimana kedekatan dan prestasi dia dengan lawan jenisnya. Gue dapetin doktrin dari temen-temen gue. Sekarang gue nyadar dan realistis bahwa ternyata ada banyak orang yang berbeda pendapat dalam satu masalah, termasuk memandang persoalan jomblo. Gue yakin dan sadar diri bahwa masih banyak orang yang ngejomblo bukan soal nggak laku di pasaran. Selain mereka menyakini soal jodoh yang dikasih dari Allah Swt., juga karena mereka tidak ingin mengkhianati ketaatannya kepada Dia yang memberi kehidupan kepada mereka. Mereka tidak mau berbuat maksiat hanya demi melepas status jomblo.</p>
<p>Gue tahu mereka hanya sedang bertahan untuk tetap mencintai Allah Swt. Gue tahu mereka hanya sedang bersabar atas ujian dan bersyukur atas semua yang diberikan Allah Swt kepada mereka. Mereka memilih jalan terjal penuh cemooh dan sindiran bahwa mereka nggak laku dan bujang lapuk atau perawan tua. Sesungguhnyalah, mereka adalah orang-orang yang menurut gue sangat unik dan langka di tengah bergeletakannya orang-orang yang memuja hedonisme dan permisifisme (duilee.. gue ngedadak jadi pinter kayak mas-mas mahasiswa ya? Hehehe.. ternyata diem-diem otak gue sebenarnya merekam semua yang gue lihat). Terima kasih ya Allah…</p>
<p>Gue memang harus mulai realistis, memahaminya dan menjadikan pilihan dengan kondisi gue yang lagi jomblo gini. Gue nggak akan merana. Gue akan bangun persepsi dalam pikiran gue sendiri bahwa jomblo itu bukan aib. Jomblo bisa jadi sengsara membawa nikmat. Sengsara? Nikmat? Iya, jadi jomblo bisa dipersepsi sebagai sebuah kesengsaraan karena kalo kita nggak tahan-tahan amat, bakalan stres. Kalo usia udah di atas kepala tiga, khususnya buat yang cewek, kalo ada pertanyaan: “kapan nikah?” Wuih.. gue empati.. dia mungkin sedih meski menutupi kesedihannya dengan senyumnya yang ditebar ke mereka yang bertanya. Kalo yang cowok mungkin nggak terlalu menjadi beban, meski ada juga yang kalo diledekin terus bisa ngebul ubun-ubun dan akhirnya stres juga. Hehehhe.. (ini bukan perasaan gue, gue cuma merasa diwakili aja sama temen gue hahahaha…).</p>
<p>Diary, gue harus, dan memang harus terima kenyataan. Bahwa gue sampai saat ini masih jomblo. Gue udah nggak peduli juga bila lima tahun ke depan gue masih ngejomblo. Gue cuma berpikir: gue harus fokus belajar; gue nggak mau kehormatan gue di hadapan Allah Swt. dinodai dengan kemaksiatan yang gue lakuin kalo sampe gue pacaran gara-gara ogah disebut jomblo; gue akan tetap menjomblo sampai suatu saat gue udah mampu dan gue udah dapetin kesempatan serta gue udah ketemu seseorang yang gue cintai dan (tentu dia mencintai dan sayang sama gue), baru deh mikir-mikir untuk nikah. Saat itu, status jomblo gue lepas tapi menuju status resmi: pernikahan. Hahaha.. kayaknya masih jauh deh. Tapi cita-cita boleh kan? Swit Swiiiw..</p>
<p>Bener banget. Gue juga pengen kayak orang-orang yang hidupnya bener, teratur, dan terarah. Gue sering denger omongan mama gue bahwa hidup ini kudu jadi orang baik-baik, berguna buat diri sendiri, kebanggaan keluarga, disenangi teman-teman, dan keberadaan gue sebagai manusia kudu bermanfaat bagi mereka sehingga mereka merasa kehilangan ketika gue nggak ada. Ah, gue memang kudu banyak belajar dalam hidup ini. Salah satunya, gue nggak mau melepas kejomboloan gue dengan cara yang maksiat. Gue harus sadar diri, bahwa apapun yang gue lakuin dalam hidup ini bakalan dimintai pertanggunganjawabnya oleh Allah Swt. Gue akan berusaha menjadi orang yang baik-baik dan gue pasti bisa. Doain gue ya.</p>
<p>Diary, tadi pagi gue ketemu temen-temen gue yang lama. Masih seperti biasa, mereka ngompori gue untuk <i>hunting</i> cewek lagi. Meski gue udah jelasin kalo gue udah punya pandangan berbeda ama mereka, tapi mereka maksa gue untuk ninggalin pandangan gue yang kata mereka tuh kagak gaul dan nggak bisa buktiin kejantanan. Gila! Memangnya kalo gue ngejomblo banci apa? Gue sebenarnya marah, tapi seperti biasa gue nggak berani untuk unjuk tinju. Gue berusaha sabar. Omongan mereka nggak gue dengerin. Ya, gue berusaha agar prinsip gue kali ini nggak tergerus omongan sesat temen-temen gue itu.</p>
<p>“Ngapain sih lo ngejomblo mulu? Apa nggak sayang tuh hidupmu dibuang sia-sia tanpa keindahan dan kebahagian dengan para cewek?” mereka nyindir gue sambil terbahak. Gue sakit hati, gue marah. Tapi gue tetap nggak bisa melawan mereka. Mungkin gue emang orangnya nggak tegaan (atau emang gue penakut?). Gue nggak peduli. Tapi itulah kenyataannya. Temen-temen gue nggak berubah. Mereka tetap seperti itu. Apalagi gue kayaknya nggak terlalu dianggap. Perubahan gue pun menurut mereka bukanlah hal yang istimewa. It’s ok. Bagi gue nggak masalah. Justru gue yang ngerasa kasihan kepada temen-temen gue yang makin terlalu jauh melangkah ninggalin yang sebenarnya perlu mereka pagang erat, yakni prinsip hidup dalam memegang kebenaran ajaran agama, Islam.</p>
<p>Oke lah, gue nggak terlalu mikirin temen-temen gue itu. Saat ini, gue lebih fokus gimana caranya supaya gue tetap tabah nerima kenyataan bahwa gue emang jomblo. Gue harus berusaha lebih keras agar bisa meyakinkan diri gue sendiri dengan apa yang gue ambil. Ini pilihan hidup gue untuk saat ini. Gue tetap akan menjadi jomblo sampai batas waktu yang belum gue tahu. Gue akan berusaha untuk tegar terima kenyataan. Semoga gue tabah. Nggak tergoda untuk ngelakuin hal-hal konyol yang pernah gue lakuin dulu, atau bahkan hal yang udah pasti dosa. Gue berusaha untuk tetap di <i>track</i> yang benar yang gue yakini.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Lalu, apa?</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, itulah sekilas dari buku saya yang berjudul “Jomblo’s Diary”. Ya, itu contoh beberapa curhat mereka yang jomblo tetapi ingin tetap bertahan dalam kebenaran Islam. Dengan kata lain, mereka sih nggak masalah deh ngejomblo juga, asalkan jangan pacaran, karena pacaran adalah maksiat dan tentu saja berdosa kalo dilakukan. Prinsip keren tuh! Kamu pasti bisa juga bersikap seperti itu kan?</p>
<p>Lalu apa dan bagaimana? Tetaplah menjomblo sampai waktumu udah siap menikah. Jangan pacaran, jangan dekati mereka yang pacaran. Sebaliknya, kuatkan imanmu, jaga akidahmu, mantapkan ilmumu, eratkan ikatanmu terhadap syariat Islam, dan lebih keren lagi selamatkan mereka yang masih jomblo dengan dakwahmu. Ajak mereka untuk tetap sabar, tawakal, belajar, dan tentu saja menjauhi aktvitas pacaran. Keren kan? <i>So</i>, pasti! <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/curhat-jomblo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Perempuan Berharga</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/menjadi-perempuan-berharga</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/menjadi-perempuan-berharga#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Mar 2013 17:01:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4633</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 284/tahun ke-6 (20 Jumadil Awal 1434 H/ 1 April 2013) &#160; &#160; Perempuan adalah tiang negara. Kalimat ini mungkin sudah tak asing lagi bagi kamu semua. Di tangan perempuan, baik buruknya suatu negara ditentukan. Laki-laki baik akan mudah menjadi buruk oleh goda rayu seorang perempuan. Tentu selalu ada pengecualian dong, khususnya bagi laki-laki ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/menjadi-perempuan-berharga">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam<b> </b>edisi 284/tahun ke-6 (20 Jumadil Awal 1434 H/ 1 April 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perempuan adalah tiang negara. Kalimat ini mungkin sudah tak asing lagi bagi kamu semua. Di tangan perempuan, baik buruknya suatu negara ditentukan. Laki-laki baik akan mudah menjadi buruk oleh goda rayu seorang perempuan. Tentu selalu ada pengecualian dong, khususnya bagi laki-laki yang salih maka bujuk rayu itu tak akan mempan. Tapi di sini kita berbicara tentang sesuatu secara umum. Contoh sederhana tentang kasus ini banyak di sekitar kita. Karena suatu negara itu miniaturnya ada pada institusi keluarga, maka yuk kita lihat cerminnya pada kejadian sehari-hari.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, di tangan ibu yang baik, seluruh keluarga bisa selamat dan menjadi contoh yang baik. Masih ingat kisah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun? Suaminya durhaka terhadap Allah, tapi Asiyah mampu bertahan menjadi sosok yang salihah. Bahkan, di tangan perempuan inilah sosok Nabi Musa selamat atas izin Allah tentunya. Padahal pada saat itu, hampir semua bayi berjenis kelamin laki-laki dibunuh semua atas perintah Firaun.</p>
<p>Sebaliknya, banyak kisah para pejabat yang korupsi (mayoritas mereka adalah bapak-bapak) tak bisa dilepaskan dari peran istrinya juga. Perempuan yang selalu silau dengan harta menyebabkan laki-laki berusaha memenuhinya. Seandainya si istri adalah sosok salihah, maka harta yang dibawa pulang suaminya, tak semata-mata ia terima dengan senang hati. Seharusnya ia waspada karena uang hasil korupsi berpotensi mencelakakan semuanya&#8211;di dunia, terlebih di akhirat kelak. <i>Naudzubillah.<span id="more-4633"></span></i></p>
<p>Nah, andai semua perempuan bersikap seperti ini, tentu tatanan masyarakat akan jauh lebih baik. Suami bekerja dengan tenang karena tidak terteror dengan permintaan istri yang iri dengan perhiasan tetangga. Anak pun tumbuh dengan baik karena dididik oleh sosok ibu teladan yang salihah. Indah, bukan? Sosok salihah seperti ini tak muncul secara sim salabim. Tapi ia hadir dengan pembinaan yang baik utamanya pemahaman keislaman yang baik pula. Sejak muda malah. Ya, seumuran kamu-kamu ini udah kudu cinta ilmu dan paham Islam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Yang muda yang hura-hura</b></p>
<p>Sobat muda muslim, sebagian remaja mungkin berpikir bahwa belum saatnya mereka memikirkan masa depan. Mereka masih asik dengan dunia mereka yang tak jauh dari pacaran, <i>window shopping</i> alias jalan-jalan ke mal, hura-hura, pesta sana-sini dan dugem. Bila diajak serius berpikir tentang masa depan, utamanya hidup berumah tangga dan calon ibu, mereka pasti pada enggan. Anehnya, pacaran demen tapi serius menikah ogah. Inilah gambaran rusaknya kehidupan remaja kita yang maunya hura-hura tanpa disertai tanggung jawab.</p>
<p>Bro en Sis, yang namanya pacaran, tak ada tanggung jawab menyertai. Bila terjadi perselisihan, mereka dengan enaknya bisa pulang ke rumah masing-masing atau putus dengan enteng. Toh, tak ada yang dirugikan. Begitu selalu yang menjadi dalih. Nah, kamu kaum cewek, jangan pernah mau diperlakukan seperti ini. Nilai dirimu itu jauh lebih berharga daripada dipacari dari satu cowok ke cowok yang lain. Bila memang benar mereka itu cowok sejati, minta mereka datang untuk meminangmu dan serius menikahimu. Bila menolak, itu artinya mereka hanya menjadikan kamu sebagai ‘tester’ saja. Ihh&#8230;<i>naudzubillah minddzalik!</i></p>
<p>Kamu boleh muda, tapi itu tak secara serta-merta menjadikan kamu berhak untuk berhura-hura dan menyia-nyiakan hidupmu. Masa mudamu yang cuma sekali ini (eh, masa anak-anak dan masa tua juga sekali ya? Hehehe), adalah momen untuk menempa diri menjadi sosok muslimah berkualitas. Di tanganmulah nasib bangsa ini berada. Warna bangsa ini sepuluh tahun kelak, tergantung kamu akan mewarnainya dengan apa. Masa’ iya, negeri yang sudah porak poranda karena tingginya tingkat korupsi dan campur tangan luar negeri ini akan kamu biarkan terus begini? Kalau kamu masih terkategori muslimah yang punya iman dan nurani, pasti akan ada langkah berarti yang harus segera dilakukan untuk memutus rantai kebobrokan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Menempa diri dengan Islam</b></p>
<p>Kebaikan itu hanya dengan Islam saja. Ini harus diyakini dengan sepenuh hati oleh para calon tonggak peradaban alias para muslimah. Sedari masih gadis, persiapan itu telah dilakukan. Bukan dengan berpacaran atau bertabaruj untuk menarik perhatian lawan jenis, melainkan dengan mengasah keimanan dan wawasan akan sosok istimewa ini.</p>
<p>Bila kamu berasal dari keluarga yang sudah terbasuh dengan Islam secara baik sejak kecil, maka bersyukurlah. Kamu hanya tinggal melanjutkan pembiasaan dari keluarga apa-apa yang baik itu. Tapi bila kamu mengenal Islam dengan baik baru di usia SMA atau bahkan kuliah, jangan berkecil hati. Tak pernah ada kata terlambat untuk perbaikan diri. Tekadkan dalam hatimu bahwa kamu ingin berubah dengan Islam saja sebagai tolok ukurnya.</p>
<p>Berubah untuk pertama kali itu tak mudah. Terapkan <i>tombo ati</i> yang ada lima perkaranya itu. Mulai dari membaca al-Quran plus maknanya. Akan jauh lebih baik bila kamu ‘berguru’ ke orang yang mumpuni dalam ilmu al-Quran. Ibarat baru belajar jalan, ada yang menuntun agar tidak tersesat. Lalu yang kedua adalah membiasakan salat malam atau tahajud. Berat memang kecuali bagi mereka yang benar-benar niat untuk mendekatkan diri pada Rabb-nya. Bila tak bisa setiap hari, mulailah dengan seminggu sekali, lalu dua kali seminggu. Begitu seterusnya hingga kamu konsisten untuk mendirikannya setiap malam.</p>
<p>Nah, yang ketiga adalah perbanyak zikir. Berzikir itu bukan hanya lisan tapi juga hati serta amalan. Maksudnya mulai dari mulut, hati dan perbuatan itu hanya hal-hal baik saja yang dilakukan. Keempat adalah, lakukan puasa sunah. Kalau puasa Ramadhan, sudah pasti dong ya. Kemudian yang terakhir serta yang penting adalah berkumpul dengan orang-orang yang salih. Mereka inilah yang akan mengingatkanmu bila kamu futur <i>(down)</i> atau lalai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Pahami hak dan kewajiban</b></p>
<p>Bro en Sis, pembaca setia gaulislam, jadi muslimah itu  harus cerdas. Ini harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Muslimah cerdas itu adalah muslimah yang mengetahui hak dan kewajiban dirinya baik di hadapan manusia (suami, orang tua, tetangga, saudara, dll) ataupun di hadapan Allah. Karena itu muslimah wajib untuk paham hukum syara’ (syariat Islam). Dengan memahami hukum syara’, itu artinya muslimah telah menapakkan langkah untuk menjadi tonggak peradaban.</p>
<p>Tempa dirimu dengan hal-hal yang sekarang ini mulai dilupakan oleh para muslimah. Belajar memasak dengan membantu mama, misalnya. Tak usah yang ribet, cukup yang sederhana sekadar bisa membuatmu mandiri. Mencuci baju, terutama ‘daleman’. Banyak loh di kalangan muslimah yang ternyata tak bisa dan tak terbiasa mencuci ‘dalemannya’ sendiri. Bila pun terpaksa melakukan sendiri, maka itu bisa dibilang kurang bersih. Ingat wahai muslimah, kebersihan itu sebagian dari iman. Lagipula ini juga penting karena berkaitan dengan najis tidaknya pakaian dalam itu ketika kamu pakai.</p>
<p>Kamu boleh, bahkan harus berprestasi di bidang keilmuan. Tapi alangkah jauh lebih indah bila kamu tidak melupakan fitrahmu yang nantinya sebagai pengatur rumah tangga. Pendidikan anak-anakmu kelak ada di tanganmu. Apakah mereka akan menjadi anak salih dan salihah atau sebaliknya. Kualitas dirimu saat ini akan menentukan kualitas anak keturunanmu kelak. Sadar yuk sadar, Non!</p>
<p>Banyak di antara muslimah yang mengharuskan dirinya bekerja setelah capek-capek sekolah tinggi. Padahal tujuan sekolah itu sendiri bukanlah supaya kamu mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Kembalikan niatmu bahwa bersekolah dan menuntut ilmu itu adalah perintah Allah dalam rangka mencari ridho-Nya. Karena sungguh, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan (silakan kamu baca al-Quran surat al-Mujaadilah ayat 11 ya!).</p>
<p>Allah telah memuliakan perempuan dengan tidak mewajibkannya menjadi pencari nafkah. Dengan kelembutannya, perempuan diberi amanah untuk mendidik anak-anak agar menjadi generasi Qurani. Di sinilah sebetulnya keberhasilan seorang perempuan itu dinilai. Bukan seberapa tinggi kedudukannya di kantor, bukan pula seberapa banyak gelar yang disandangnya. Namun sayang, banyak perempuan yang lupa. Gelombang emansipasi dan feminisme membuat muslimah lalai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Finally&#8230;</b></p>
<p>Sobat muslimah, kemuliaan perempuan itu adalah ketika ia mempersiapkan dirinya untuk mengemban amanah sebagai tonggak peradaban. Kita rindu sosok-sosok seperti Shalahudin al-Ayubi, Muhammad al-Fatih, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Imam Syafi’i dan banyak ulama dan ilmuwan lain. Mereka menjadi sosok yang mengguncang dunia bukan tanpa sebab. Di balik mereka ada sosok hebat bernama ibu. Tidak inginkah kita nantinya memunyai anak-anak sekaliber mereka? Keren bin hebat banget tuh!</p>
<p>Saya ingin, sangat ingin. Bagaimana denganmu? Karena itu yuk, kita benahi diri kita sedari dini. Buatlah diri kita pantas untuk menerima amanah anak sehebat itu. Karena sesungguhnya kualiatas anak merupakan cerminan dari kualitas orang tuanya, terutama ibunya. Bila al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel yang begitu tangguh, bukan tak mungkin pintu kota Roma ada di tangan anak-anak kita kelak, insya Allah. Rasulullah saw. sendiri yang menjanjikan bahwa kota Roma menanti untuk kita taklukkan. <i>Rasulullah saw. pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, ”Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel” </i><b>(HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)</b></p>
<p>Sungguh, bekal apalagi yang kita rindukan selepas nyawa pergi dari tubuh kecuali anak-anak yang salih dan ilmu yang bermanfaat? Ketika remaja lain sibuk berhura-hura dan berbuat dosa, yuk kita juga sibuk menghadiri majelis ilmu dan menabung pahala. Yakinlah, ketika mereka nanti menangis karena anak-anaknya sulit diatur, kita akan tersenyum karena memiliki anak yang penurut terutama pada aturan Allah. Insya Allah. Semoga tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita semua. Yuk, mari kita terus berbenah! <b>[ria fariana | riafariana@gmail.com]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/menjadi-perempuan-berharga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Keren, Remaja Taat Syariat</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-keren-remaja-taat-syariat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-keren-remaja-taat-syariat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Mar 2013 17:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keren]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>
		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4627</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 283/tahun ke-6 (13 Jumadil Awal 1434 H/ 25 Maret 2013)   Ngomongin soal keren-kerenan, siapa sih di dunia ini yang nggak kepengen dianggap keren? Setiap orang pasti punya keinginan ini. Apalagi ‘makhluk’ bernama remaja. Konon, darahnya masih panas. Masih mengalir deras. Kurang sreg rasanya jika hidupnya dibilang datar alias biasa-biasa saja. Apalagi jika ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/remaja-keren-remaja-taat-syariat">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 283/tahun ke-6 (13 Jumadil Awal 1434 H/ 25 Maret 2013)</p>
<p><b> </b></p>
<p>Ngomongin soal keren-kerenan, siapa sih di dunia ini yang nggak kepengen dianggap keren? Setiap orang pasti punya keinginan ini. Apalagi ‘makhluk’ bernama remaja. Konon, darahnya masih panas. Masih mengalir deras. Kurang <i>sreg </i>rasanya jika hidupnya dibilang datar alias biasa-biasa saja. Apalagi jika dibilang hidupnya monoton dan kaku. Biasanya langsung mencak-mencak.</p>
<p>Maka segala cara ditempuh untuk menjadi keren. Tanpa menghiraukan lagi apakah cara yang ditempuh itu bisa mengantarkannya menjadi orang yang benar-benar keren atau tidak. Misalnya, kawan-kawannya di sekolah mengajaknya untuk pacaran dengan berbagai alasan. Atau, kawan-kawannya bilang bahwa remaja yang tidak pernah mencicipi rasanya pacaran adalah salah satu jenis makhluk terkolot di dunia. Sebaliknya, dibilang bahwa mereka yang pacaran atau bahkan berkali-kali gonta-ganti pacar adalah makhluk terkeren di dunia. Malah, semakin banyak mantannya, semakin kerenlah ia. Entah itu keren karena bisa menaklukkan banyak hati, karena bisa ngajak jalan banyak cewek, kerena bisa pegang-pegang banyak cewek, atau bahkan keren karena bisa berzina. <i>Naudzubillah</i>.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, biasanya nih, kebanyakan remaja langsung termakan dengan alasan-alasan murahan seperti ini. Dengan alasan menjomblo itu lambang dari ketertinggalan dan rendahnya harga diri, akhirnya ia memutuskan untuk pacaran. Juga karena tergiur akan kenikmatan sesaat, ia pun menjerumuskan diri dalam lembah dosa ini.<span id="more-4627"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Banyak cara agar disebut keren</b></p>
<p>Sobat muda muslim, selain itu ada juga remaja yang menganggap dirinya keren dengan ramalan-ramalan masa depan. Percaya pada ramalan bintang semisal Aries, Libra, Scorpio, dan lain semacamnya. Bagaimana rejekinya minggu ini, bagaimana jodohnya, bagaimana kesehatannya, semuanya diramalkan di sana. Bahkan, ada beberapa remaja yang saking fanatiknya dengan hal-hal semacam ini, mereka pun menggunakan berbagai lambang bintangnya untuk keren-kerenan. Misalnya saja, ditempel di jidat, eh di kamar, dibuat gantungan kunci, nempelin di motor dan sebagainya.</p>
<p>Ada pula remaja yang demi menutupi kesalahan dan menjaga pamornya, seringkali melakukan kebohongan. Ia rela berbohong demi mendapat pujian dan sanjungan. Misalnya, berbohong telah melakukan sebuah kebajikan. Menolong orang. Padahal, apa yang dikatakan tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Bisa juga berbohong guna menutupi kesalahan-kesalahannya. Karena takut akan dipandang sebelah mata alias dianggap tidak keren ketika jujur mengungkapkan sebuah kesalahan, akhirnya ia berbohong. Taruhlah ia mengikuti ujian. Berhasil lulus dengan modal mencontek. Ketika ditanya, apa yang membuatnya berhasil menjalani ujian? Jangankan mengakui dan menyesali perbuatan menconteknya, ia malah berbohong, mengatakan bahwa ia lulus ujian karena belajar dengan keras.</p>
<p>Ada juga remaja yang merasa keren ketika dirinya menjadi jagoan. Menjadi tukang onar. Ia merasa lebih tinggi derajatnya ketika menghina dan merendahkan teman-temannya yang lain. Ngomongnya selalu saja menusuk. Melukai hati. Belum lagi tindak tanduknya yang selalu berpotensi merugikan dan membahayakan orang lain secara fisik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Jadi muslim sejati, baru keren!</b></p>
<p>Bro en sis rahimakumullah, fakta-fakta yang dipaparkan di atas tidak bisa kita pungkiri terjadi di sebagian besar remaja saat ini. Coba saja lihat di lingkungan sekolah misalnya. Berapa banyak teman kita yang pacaran. Atau setidaknya meskipun jomblo, masih juga mendukung pacaran. Itu sih namanya nggak pacaran karena emang belum dapat kesempatan. Halah!</p>
<p>Biasanya jumlahnya mayoritas. Plus lagi ada dukungan dari guru-gurunya untuk pacaran. Padahal kalau dilihat lebih jauh lagi, tidak ada kebaikan yang ada di dalam pacaran selain potensi kehancuran moral dan masa depan remaja itu sendiri. Jadi, jangankan menjadi keren, dengan melakukan pacaran, berarti kita secara sengaja ikut serta dalam barisan perusak itu.</p>
<p>Allah Swt., sebagai pencipta manusia yang tentunya juga paling tahu tabiatnya telah melarang aktivitas pacaran ini. Allah swt berfirman, yang artinya: <i>“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” </i><b>(QS al-Isra [17]: 32)</b><i></i></p>
<p>Memang, pacaran masih belum terkategori zina. Tapi perbuatan yang mendekati zina. Dimana zina sendiri adalah suatu kondisi bertemunya kelamin pria dengan wanita yang belum sah dalam ikatan perkawinan. Tapi, bukankah zina umumnya diawali dengan pacaran? Mungkinkah zina masih akan terjadi jika muda-mudi saling menjaga diri? Jadi jelas, pacaran adalah pintu zina dan Allah melarang mendekati zina.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan percaya pada ramalan bintang? Apakah ini perbuatan yang keren? Sama sekali nggak. Justru aktivitas mempercayai ramalan ini adalah dosa besar. Allah Swt. sangat murka terhadap manusia yang memercayai ramalan-ramalan termasuk ramalan bintang ini.</p>
<p>Ramalan bintang biasanya berisi prediksi—itu pun iseng-iseng bin ngasal—tentang rejeki, jodoh, kesehatan, dan berbagai hal lain yang akan terjadi selama rentang waktu tertentu di masa depan. Cobalah kita lihat misalnya majalah remaja. Biasanya di dalamnya disisipkan ramalan-ramalan berdasarkan bintang tertentu. Ada bintang Aries, Scorpio, Libra, dan seterusnya. Pembagian bintang biasanya berdasarkan tanggal lahir seseorang. Misalnya saja, orang yang lahir antara antara tanggal 20 Maret hingga 19 April akan mendapatkan Aries sebagai bintangnya.</p>
<p>Sebagai seorang muslim, tidak ada tempat bagi kita menggantungkan diri kecuali hanya pada Allah Swt. Hanya Allah yang mengetahui perkara ghaib manusia semisal rejeki, jodoh, dan masa depan. Allah swt berfirman, yang artinya: <i>“Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”</i> <b>(QS an-Naml [27]: 65)</b><i></i></p>
<p>Dengan memercayai ramalan, itu sama saja dengan menduakan Allah alias syirik. Sedangkan syirik adalah salah satu dosa besar. Allah Swt. berfirman, yang artinya: <i>“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” </i><b>(QS Luqman [31]: 13)</b><i></i></p>
<p>Lalu bagaimana dengan berbohong, apakah kelakuan ini bisa mengantarkan seseorang remaja menjadi keren? Jawabannya tidak sama sekali. Justru masalah akan datang seiring dengan kebohongan yang dilakukan. Semakin banyak seseorang berbohong maka akan semakin rumit masalah yang didapatkan di kemudian hari.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, kayaknya sebagian besar dari kamu nggak asing dengan kisah seorang pengembala yang suka berbohong. Suatu ketika dia menceritakan bahwa saat ini, domba-dombanya sedang terancam, hendak dimakan oleh kawanan serigala. Para penduduk pun mengambil langkah cepat. Mereka mengambil senjata dan bersama-sama mendatangi padang gembala. Namun, begitu tiba di sana, apa yang mereka temui? Tidak ada satu pun serigala di sana. Yang ada hanyalah sekumpulan domba yang sedang merumput.</p>
<p>Hari kedua, si pengembala. Ia pun melakukan kebohongan itu lagi. Pergi ke kampung itu lagi. Mengabari dan meminta pertolongan warga guna membantunya menghalau kawanan serigala yang mengancam domba-dombanya. Untuk kedua kalinya, tidak ada satu pun serigala yang ditemukan.</p>
<p>Sudah dua kali si pengembala berbohong. Itu sudah cukup bagi penduduk kampung untuk tidak lagi mempercayai si pengembala. Maka, ketika hari ketiga si pengembala domba datang ke kampung guna memberitahu bahwa ada kawanan serigala yang mengincar domba-dombanya, tidak ada lagi yang mau membantu. Mereka semua sudah terlanjur mencap si pengembala pembohong. Padahal di hari ke tiga itu, kawanan serigala benar-benar datang. Maka, habislah seluruh dombanya dimakan serigala.</p>
<p>Sobat muda, Rasulullah saw. bersabda, yang artinya: <i>“Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat.” </i><b>(HR Bukhari dan Muslim)</b><i></i></p>
<p>Rasulullah saw juga bersabda, yang artinya: <i>“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” </i><b>(HR Bukhari dan Muslim)</b><i></i></p>
<p>Sobat muda pecinta gaulislam, melanggar larangan-larangan Allah bukan hal yang sepele. Lagian, hal itu nggak bakalan membuat kita dipandang keren. Sebaliknya, ia akan mengundang kerusakan dan murka manusia dan juga Allah Ta’ala. Waspadalah!</p>
<p>Maka, yuk kita semua berusaha untuk menjadi remaja yang keren sebenar-benarnya keren. Keren karena melaksanakan syariat Allah dengan benar dan baik. Sehingga terpancarlah dari diri kita nur Ilahi, yang memancarkan rahmat bagi lingkungan sekitar.</p>
<p>Itu sebabnya, mari kita pelajari, pahami, amalkan dan dakwahkan dengan sungguh-sungguh senjata untuk menjadi keren ini, yaitu syariat Islam. Karena dengan syariat Islam, kita tidak hanya dipandang keren di mata manusia, tapi juga di mata Allah Swt. Mau? Pasti mau! <b>[Farid Ab | Twitter <a href="http://twitter.com/faridmedia" target="_blank">@faridmedia</a>]</b></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-keren-remaja-taat-syariat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Mengajarkan Etika, Lho!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/islam-mengajarkan-etika-lho</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/islam-mengajarkan-etika-lho#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 17:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[berani]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[kebersihan]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[menolong]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pemaaf]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4622</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 282/tahun ke-6 (6 Jumadil Awal 1434 H/ 18 Maret 2013) Eh, jangan salah lho, Islam juga terampil mengajarkan etika untuk hubungan sesama manusia. Mungkin bahasanya yang pas adalah akhlak. Tapi, etika juga masih pas kok, karena menurut kamus bahasa Indonesia, etika itu adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/islam-mengajarkan-etika-lho">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam<b> </b>edisi 282/tahun ke-6 (6 Jumadil Awal 1434 H/ 18 Maret 2013)</p>
<p>Eh, jangan salah lho, Islam juga terampil mengajarkan etika untuk hubungan sesama manusia. Mungkin bahasanya yang pas adalah akhlak. Tapi, etika juga masih pas kok, karena menurut kamus bahasa Indonesia, etika itu adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, apa sih definisi akhlak dalam pandangan Islam? Menurut Muhammad Husain Abdullah (dalam bukunya, <i>Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam</i>, hlm 100), disebutkan bahwa secara bahasa akhlaq berasal dari kata <i>al-khuluq</i> yang berarti kebiasaan (<i>as-sajiyah</i>) dan tabiat (<i>at-thab’u</i>). Sedangkan menurut istilah (makna syara’) akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat akhlak ini tampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitas—seperti ibadah, mu’amalah, dan lain sebagainya. Tentu, jika semua aktivitas itu ia lakukan secara benar sesuai tuntunan syariat. Nah, catet deh tuh!</p>
<p>Intinya nih, akhlak bukan semata sifat moral, tapi emang perintah dari Allah Swt. Itu sebabnya, ada penjelasan bahwa harus dilakukan dengan cara yang benar sesuai perintah Allah Swt. Dengan kata lain, jika ada orang yang jujur, sopan-santun, bertutur kata yang baik, tapi semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan perintah Allah Swt. maka nggak diterima amalannya. Contoh mudahnya, apa yang dilakukan oleh orang yang nggak beriman kepada Allah Swt., perbuatan mereka sia-sia dilihat dari segi amalannya.<span id="more-4622"></span></p>
<p>Sobat, bersikap lemah lembut kepada orang lain, bukan semata-mata sifat moral (etika), tapi emang perintah dari Allah Swt., dan kita harus melaksanakannya. Sebagaimana firmanNya (yang artinya): <i>“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”</i> <b>(QS Ali Imraan [3]: 159)</b></p>
<p>Nah, ini sekadar contoh kecil. Lalu contoh lainnya? Nih di antaranya yang bisa kamu simak:<b></b></p>
<p><b>Kejujuran</b></p>
<p>Dalam bahasa Arab dikenal istilah shidiq (<i>ash-sidqu</i>) artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (<i>al-kazib</i>). Seorang muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir-batin; Benar hati (<i>shidq al-qalb</i>), benar perkataan (<i>shidq al-hadiits</i>), dan benar perbuatan (<i>shidq al-‘amal</i>). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.<b> (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, hlm. 81)</b></p>
<p>Sobat muda, Islam udah ngajarin kejujuran ini, jadi bukan semata sifat moral (etika). Tapi emang udah ada perintahnya dari Allah Swt. Dalam perkataan, Rasulullah saw. udah ngasih penjelasan kepada kita lewat sabadanya (yang artinya): <i>“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila berkata dusta; bila berjanji ingkar; dan bila percaya, khianat” </i><b>(HR Muttafaqun ‘Alaihi)</b></p>
<p>Rasulullah saw. pernah ditanya oleh para sahabatnya, <i>“Apakah ada orang mukmin yang penakut? Nabi bersabda: “Ada”. Beliau ditanya lagi: “Apakah ada orang mukmin yang kikir?” Beliau bersabda: “Ada”. Kemudian ditanya lagi: “Apakah ada orang mukmin yang pembohong?” Beliau menjawab: “Tidak ada”. </i><b>(HR Malik)</b></p>
<p><b>Pemaaf</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam,  ngasih maaf dan meminta maaf seharusnya menjadi budaya yang baik di antara kita. Gondok sama orang boleh aja. Tapi bukan berarti harus terus-terusan dipelihara. Selain capek ati, juga kita jadi keras hati. Salah-salah malah jadi pendendam. Memang sakit banget kalo dihina sama seseorang. Kita bisa kecewa jika dikhianati, kita bisa muak jika dibohongi. Tapi, bukan berarti kita terus memendam perasaan itu apalagi berniat tak akan pernah memaafkannya sampe delapan turunan (pake tanjakannya juga nggak? Hahahaha…)</p>
<p>Sobat, Rasulullah saw. pernah menyampaikan sabdanya: <i>“Shadaqah tidak mengurangi sebagian dari harta, dan Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan, dan seseorang tidak bertawadhu’ karena Allah, melainkan Allah meninggikannya.”</i> <b>(dikutip dari Ibnu Qudamah, <i>Minhajul Qashidin</i>, hlm. 233)</b></p>
<p>Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, <i>“Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimimu.”</i> <b>(HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Baghawy)</b></p>
<p>Semoga kita gampang memaafkan orang yang telah menzhalimi kita sekalipun. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk sabar, lemah lembut, dan pemaaf. Itu sebabnya menjadi pendendam itu nggak baik. Nggak ada untungnya juga. Rasulullah saw. bersabda: <i>“Tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya bertemu tapi saling memalingkan mukanya. Dan yang paling baik di antara keduanya ialah yang memulai lebih dahulu mengucapkan salam” </i><b>(Muttafaqun ‘Alaihi)</b></p>
<p><b>Pemurah</b></p>
<p>Abdurrahman bin Auf mendengar Rasulullah saw. bersabda padanya suatu hari: <i>“Hai Ibnu Auf sesungguhnya engkau termasuk golongan orang kaya dan engkau akan memasuki surga dengan merangkak. Berilah pinjaman kepada Allah, niscaya Allah akan menolongmu membuat kedua kakimu berguna (sehingga engkau masuk surga dengan berlari kencang).”</i> <b>(HR Imam Ahmad)</b></p>
<p>Setelah mendengar sabda Rasul itu, suatu hari Abdurrahman bin Auf membeli tanah seharga 40.000 dinar (1 dinar setara dengan 4,25 gram emas murni) kemudian membagikan semuanya kepada keluarganya dari Bani Zahra, kepada isteri-isteri Rasulullah saw. (<i>ummahatul mukminin</i>), dan kaum muslimin yang fakir. Di suatu hari yang lain, dia menyediakan 500 ekor kuda untuk jihad fisabilillah dan di hari yang lain lagi, ia menyerahkan 1.500 ekor kuda. Dan pada saat meninggalnya, dia mewasiatkan 50.000 dinar dan mewasiatkan pula agar para pejuang Badar yang masih hidup masing-masing diberi 400 dinar, sampai-sampai Utsman bin Affan pun mengambil bagiannya meskipun dia kaya. Utsman berkata: “Sesungguhnya harta Abdurrahman halal dan suci, dan makan dari harta itu sehat dan barakah.”</p>
<p>Oya, sikap pemurah atau kedermawanan yang paling tinggi levelnya itu adalah mendahulukan kepentingan orang lain. Artinya, meski dia membutuhkan, tapi ketika ada orang lain yang jauh membutuhkan, maka ia akan mendahulukan orang tersebut ketimbang dirinya. Wuih, keren banget ya?<b></b></p>
<p>Sekadar kamu tahu nih, kisah tentang Ikrimah bin Abu Jahl, Suhail bin Amr dan al-Harits bin Hisyam serta beberapa orang lainnya dari Bani Al-Mughirah mati syahid pada waktu Perang Yarmuk. Ketika Ikrimah, Suhail, dan al-Harits dalam keadaan terluka, mereka diberi beberapa teguk air. Pertama air diberikan kepada Ikrimah, tapi karena ia melihat Suhail sedang memandangi dirinya, Ikrimah berkata, “Minumlah air ini lebih dulu!” Ketika air itu di tangan Suhail, dan Suhail melihat ke arah al-Harits yang sedang memandanginya, maka air itu ia sodorkan kepada al-Harits sambil berkata, “Minumlah air ini lebih dulu!”. Akhirnya, mereka semua wafat karena ingin mendahulukan saudaranya yang lain tanpa ada yang sempat meminum airnya. <b>(Ibnu Qudamah, <i>Minhajul Qashidin</i>, hlm. 261)</b></p>
<p><b>Tolong menolong</b></p>
<p>Prinsip tolong-menolong dalam Islam juga diajarkan, <i>But</i>, tolong menolongnya bukan dalam rangka mengokohkan kejahatan atau melindungi maksiat. Islam membolehkan tolong menolong dalam kebaikan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <i>“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” </i><b>(QS al-Maa’idah [5]: 2)</b></p>
<p>Hidup bertetangga dan bermasyarakat juga rasanya elok banget kalo dihiasi dengan sikap tolong-menolong ini. Itu sebabnya, biar saling menolongnya berada dalam kebaikan, Rasulullah saw. sampe mengatakan bahwa tetangga yang baik itu adalah bagian dari kebahagiaan hidup. Jadi, kalo dengan tetangga kudu saling tolong. Beliau bersabda (yang artinya): <i>“Di antara yang membuat bahagia seorang Muslim adalah tetangga yang baik, rumah yang lapang, dan kendaraan yang nyaman.” </i><b>(HR Hakim)</b></p>
<p><b>Kebersihan</b></p>
<p>Islam, mengajarkan juga tentang kebersihan, <i>boys and gals</i>. Kebersihan diri, pakaian, dan juga tempat tinggal. Risih juga sih ya kalo ngeliat ada orang yang pipis sembarangan. Coba deh jalan-jalan ke terminal. Cari tempat-tempat yang agak tersembunyi. Biasanya di belakang antrian bis-bis yang lagi nunggu giliran diberangkatkan itulah banyak yang pipis sembarangan. Padahal, udah ada WC umum, eh, tetep aja pada pipis di belakang bis, di dekat pohon. Jadinya bau kan?</p>
<p>Kayaknya nih, temen-temen kita yang masih sembarangan pipis kudu baca hadis ini. Abu Hurairah ra berkata: Rasululullah saw. bersabda: <i>“Awaslah kamu dari dua tempat-tempat kutukan orang. Ditanya: Apakah dua tempat yang dikutuk itu? Jawab Nabi saw.: “Orang yang buang air di jalan orang atau tempat berteduh (bernaung) mereka.”</i> <b>(HR Muslim)</b></p>
<p>Berkaitan dengan diri sendiri pun Islam mengajarkan untuk tampil bersih. Berkaitan dengan masalah gigi aja, Rasulullah saw, bersabda: <i>“Bersiwak (menggosok gigi) itu menyucikan mulut dan membuat ridha Allah Swt.” </i><b>(HR Ahmad, Tirmidzi, dan Imam Nasa’i)</b></p>
<p>Oke, ini beberapa contoh aja lho dari hebat dan istimewanya Islam. Intinya, Islam mengajarkan semua aspek kehidupan: akidah, akhlak, dakwah, fikih, muamalah, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial, politik, dan kenegaraan. Keren banget kan? Islam, gitu lho! <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/islam-mengajarkan-etika-lho/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>‘Kisah Asmara’ Guru dan Murid</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kisah-asmara-guru-dan-murid</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kisah-asmara-guru-dan-murid#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Mar 2013 17:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[asmara]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[cabul]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[terlarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4616</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 281/tahun ke-6 (29 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 11 Maret 2013)   Rasa-rasanya kamu pasti tahu deh dengan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru (yang juga wakasek) di salah satu sekolah negeri di Jakarta. Yup! Karena beritanya santer tersebar di berbagai media: cetak, elektronik, dan juga internet, maka akhirnya banyak yang tahu ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/kisah-asmara-guru-dan-murid">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam<b> </b>edisi 281/tahun ke-6 (29 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 11 Maret 2013)</p>
<p><b> </b></p>
<p>Rasa-rasanya kamu pasti tahu deh dengan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru (yang juga wakasek) di salah satu sekolah negeri di Jakarta. Yup! Karena beritanya santer tersebar di berbagai media: cetak, elektronik, dan juga internet, maka akhirnya banyak yang tahu dan beropini. Pro dan kontra pasti selalu ada. Meski demikian, tentu kita harus mencari akar masalahnya, dan menilai masalah ini dengan bijak. Memang itu aib ya. Tetapi jika kasusnya sudah disampaikan sendiri oleh siswi yang menjadi korban—atau sebenarnya dia pelaku juga karena sering pacaran?—secara langsung kepada media, akhirnya kasus tersebut menjadi ‘rahasia umum’. Nah, gaulislam pun pada akhirnya ingin juga mengomentari kasus ini.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, gaulislam nggak akan menceritakan ‘kisah asmara’ antara guru dan murid yang berujung pelecehan seksual, sebab sudah banyak diberitakan media massa. Buletin gaulislam ingin membahas satu persoalan terkait bebasnya pergaulan dan kondisi pemahaman akidah dan syariat kaum muslimin secara umum. Kasus ini hanya sekadar cantolan saja sebagai <i>entry point</i> penulisan artikel ini, lalu kita olah dan nilai serta berikan solusinya secara umum atas problem yang sebenarnya juga sudah ada sejak lama namun tak terekspos seperti kasus Siswi (bernama) MA dan Guru Y plus Guru T dalam berita yang selama ini santer.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Jangan bebas bergaul</b></p>
<p>Nah, ini akar masalah sebenarnya. Coba kalo siswi MA nggak curhat sama Guru Y, coba kalo siswi MA nggak gampang diajak jalan-jalan cowok, termasuk oleh gurunya yang bernama Guru T—yang juga dianggapnya sebagai sosok ayah, kejadian berujung pelecehan seksual nggak akan terjadi. Sebab, ada dinding pembatas yang tinggi dan kokoh bernama akidah Islam yang melahirkan syariat Islam tentang pengaturan hubungan antara laki-laki dan wanita dewasa.<i> </i>Inilah persoalan yang jarang diperhatikan. Bener Bro en Sis!<span id="more-4616"></span></p>
<p>Bukti bahwa pergaulan di sekolah saat ini yang begitu bebas tampaknya bisa dilihat dari perilaku para siswa. Coba saja jalan-jalan pada saat jam pulang sekolah, bisa siang bisa sore. Perhatikan perilaku anak sekolah. Ada lho yang jalan bareng antara pelajar putri dan pelajar putra. Baik yang SMP maupun SMA. Mungkin di antara mereka ada yang berpacaran. Sebagian dari mereka bukan sekadar jalan bareng, tapi ada yang sambil gandengan tangan, bahkan pernah ada remaja cewek yang ‘gelayutan’ di pohon, eh, di pundak cowoknya. Ada pula yang berboncengan di sepeda motor, dan yang ceweknya <i>nggelendotkan</i> wajahnya ke wajah cowoknya yang sambil nyetir. Astaghfirullah. Ini kan sudah sangat keterlaluan!</p>
<p>Bagaimana dengan gurunya? Ya, tentu ada guru yang baik dan terus berdakwah agar murid-muridnya kuat akidah dan taat syariat, termasuk dalam hal ini adalah bagaimana batasan pergaulan antara laki dan perempuan yang memang diatur oleh syariat Islam. Namun sedihnya nih, ada juga guru yang nggak ambil pusing, bahkan dia membolehkan pacaran di kalangan murid-muridnya. Saya pernah ngobrol dengan beberapa guru. Awalnya sih nemuin seorang guru kenalan saya, guru agama di sekolah tersebut. Sambil menyodorkan buletin gaulislam edisi “Cinta Tanpa Pacaran”, dua orang guru yang kebetulan ada di dekat sang guru kenalan saya, ujug-ujug ngasih komentar. Intinya, mereka nggak terlalu mempermasalahkan pacaran. Meski mereka memberikan catatan bahwa jangan terlalu bebas lah pacarannya, tetapi membolehkan pacaran adalah baru halaman pertama dari kisah yang akan terjalin di halaman-halaman berikutnya. Sangat mungkin di halaman ke sepuluh perzinaan terjadi. Iya kan? Maka, jangan main-main dengan kemaksiatan.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, seorang oknum guru yang membolehkan pacaran dalam kisah yang tadi saya tulis, sebenarnya dia sedang menjerumuskan siswanya lho. Bener, rasa-rasanya—maaf—kentut kucing lebih terdengar merdu ketimbang omongan sesat si oknum bapak guru ini. Saya makin yakin dengan fakta bahwa maraknya pacaran dan seks bebas, bukan semata salah orang tua di rumah yang lalai, anak dan remaja yang bandel, tetapi juga oknum guru di sekolah yang abai bahkan cenderung ngomporin siswa untuk melakukan maksiat. Selain itu ditambah pula dengan sikap masyarakat yang cuek dan pemerintah yang nggak menerapkan aturan dan sanksi yang benar dan tegas. Lengkap sudah penderitaan. Kasihan generasi yang akan datang jadi ikutan rusak.</p>
<p>Padahal, Islam udah mengatur hubungan antara laki dan wanita, cowok dengan cewek. Rasulullah saw. bersabda: <i>Laa yakhluwanna (tidak boleh berkhalwat) rajulun bi‘imra‘atin (seorang pria dengan seorang wanita) illaa (kecuali) wa ma’aHaa dzuu mahramin minHaa (bersama si wanita disertai mahram si wanita) fa‘inna  tsaalitsuHumaasy syaythaanu (karena sesungguhnya yang ketiga dari keduanya adalah setan)”<b> </b></i><b>(HR Muslim)</b></p>
<p>Nah, ini hadits shahih yang sering diabaikan oleh mereka yang udah kerasukan setan. Bener lho. Jangan anggap bahwa yang kerasukan setan cuma orang yang kesurupan lalu minta ini dan minta itu kepada orang di sekitarnya. Tetapi yang udah kerasukan setan bisa terjadi kepada mereka yang pikirannya maksiat melulu. Contohnya yang paling gampang ya pacaran. Itu sebabnya, sebenarnya orang yang melakukan pacaran, berduaan dengan pacarnya, apalagi ngelakuin seks bebas (karena belum nikah), mereka udah kerasukan setan. <i>Naudzubillah min dzalik. </i>Inilah salah satu buah dari kerusakan sistem sesat demokrasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Berteman boleh, pacaran jangan</b></p>
<p>Pacaran beda dengan berteman. Tentu beda pula istilah antara teman dengan pacar dong. Aktivitasnya pun beda banget. Ini harus dibedakan. Sebab, nggak sedikit teman remaja yang kemudian melakukan pacaran dengan kedok hanya teman biasa. Supaya nggak dicurigai. Walah? Padahal, berteman juga ada rambu-rambunya yang tetep kudu ditaati. Nggak sembarangan. Itu sebabnya berteman juga jangan kebablasan jadi pacaran.</p>
<p>Sobat gaulislam, ngomongin soal pacaran rasanya aktivitas ini udah mendarah-daging dan berurat-akar di kalangan remaja deh. Bahkan seperti halnya sholat, pacaran dianggap sebagai kewajiban yang kudu dilaksanakan. Waduh! Itu sebabnya, banyak teman remaja yang masih duduk di bangku SMP aja udah coba-coba menjalin hubungan ini. Bisa dengan teman, bisa juga kayak di sinetron SMP (<i>Senandung Masa Puber</i>) yang pernah tayang di sebuah televisi swasta jaman dulu (tahun 2003), siswa yang menjalin hubungan spesial sama gurunya. Wacks..? Sekadar tahu saja, dalam sinetron itu Dias (Raffi Ahmad) dikisahkan suka sama Ibu Diana (Elma Theana) guru bahasa Inggris di sekolahnya. Hubungan mereka pun jadi dekat. Bukan lagi hubungan antara guru dengan murid, tapi seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. *Wedew, jadi inget kasus Guru T dan Siswi MA dah!</p>
<p>Oya, pacaran juga seperti syarat wajib bagi anak remaja biar disebut udah gede. Anak yang berani pacaran, berarti udah gede. Celakanya, banyak para ortu yang menganggap wajar anaknya punya pacar. Alasannya, selama tidak macam-macam, biarkan saja. Duh, nih ortu pake ngasih lampu ijo segala. Asal banget!</p>
<p>Nah, karena aktivitas pacaran ini berbahaya, maka Islam sejak lama udah ngatur hubungan antara laki dan wanita. Bisa kamu simak deh firman Allah Swt tentang larangan mendekati zina. Di situ dengan jelas disebutkan oleh Allah Swt.:<i>”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”</i> <b>(TQS al-Israa [17] : 32)</b></p>
<p>Pacaran kan nggak sampe zina? Barangkali kamu protes begitu. Benar. Tapi bukankah perzinaan juga dimulai dari hal yang kecil? Kalo kamu sering bertemu dengan lawan jenis, sering jalan berdua, sering pegangan tangan, sering curhat, sering mojok, bisa gaswat juga lho. Nggak ada jaminan kan kalo kamu bisa tahan godaan. Banyak kasus terjadi karena berawal dari hubungan kelewat dekat ini.</p>
<p>Dengan demikian, pacaran adalah pintu menuju z-i-n-a. Sebab, nggak ada jaminan kalo kamu udah berdua-duaan bisa tahan nggak melakukan ‘begituan’. Jadi bias deh antara cinta dan nafsu. Setan emang paling hebat dalam urusan memprovokasi manusia untuk berbuat maksiat. Jadi kudu ati-ati.</p>
<p>Bro en Sis, jadi jelas bahwa aktivitas pacaran adalah maksiat dan jelas dosa. Mulai sekarang, dengan segala kerendahan hati, bagi yang masih pacaran, putuskan tuh pacar kamu—termasuk jangan gaul bebas dan pacaran dengan gurumu. Bagi yang belum, jangan coba-coba mendekati celah yang bisa bikin kamu tambah sregep untuk melakukan pacaran dan akhirnya kebablasan jadi zina. Hindari bacaan dan tontonan ‘begituan’ supaya nggak kepengen. Ati-ati ya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Takutlah kepada Allah Swt</b></p>
<p>Kasus Siswi MA dan Guru T adalah contoh dari sekian banyak kejadian ‘kisah asmara’ yang terlarang antara guru dan murid. Kenapa terlarang? Karena tidak dalam ikatan pernikahan. Kalo mereka menikah sih silakan aja, toh banyak guru dan murid yang saling suka dan akhirnya menikah. Bagus malah. Tapi kalo pacaran dan sampe berzina? <i>No! That’s DANGEROUS!</i> Lebih berbahaya dan dosa karena hal itu adalah maksiat kepada Allah.</p>
<p>Siswi (bernama) MA yang takut ancaman Guru (bernama) T soal nilai dan kelulusan jika menolak ajakan cabul bin maksiatnya, ini bukti kelemahan akidah juga. Kalo seandainya dia takut kepada Allah tentu nggak bakalan menggadaikan kehormatannya meski itu yang meminta gurunya sendiri. Waspadalah!</p>
<p>Sobat gaulislam, yuk kita ngaji dan belajar untuk kuatkan akidah karena insya Allah akan membentengi diri kita dari segala maksiat. Sebab, ketika akidah kuat, maka pelaksanaan terhadap syariat juga kuat. Setuju ya? Siap! <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kisah-asmara-guru-dan-murid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suriah Bersimbah Darah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/suriah-bersimbah-darah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/suriah-bersimbah-darah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Mar 2013 17:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hafsa Mutazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[daulah khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[suriah]]></category>
		<category><![CDATA[syiria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4612</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 280/tahun ke-6 (24 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 4 Maret 2013) &#160; Oopss.. judulnya serem juga nih. Apakah ini ada hubungannya dengan kekerasan? Hmm.. ada. Tapi dalam fakta dan butuh cara pandang yang benar dalam menilainya. Kamu kenal nggak Suriah itu apa? Sejenis makanan? No. Nama orang? Bukan. Hmm… ini nama negara, sobat! ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/suriah-bersimbah-darah">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam<b> </b>edisi 280/tahun ke-6 (24 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 4 Maret 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oopss.. judulnya serem juga nih. Apakah ini ada hubungannya dengan kekerasan? Hmm.. ada. Tapi dalam fakta dan butuh cara pandang yang benar dalam menilainya. Kamu kenal nggak Suriah itu apa? Sejenis makanan? No. Nama orang? Bukan. Hmm… ini nama negara, sobat! Nama lainnya adalah Syria. Salah satu negeri muslim yang kini tengah membara (sudah sejak 2 tahun belakangan ini). Ironinya, kekerasan di sana dilakukan oleh pemimpin negaranya, Bashar Asad dan para begundalnya dari Rusia, Cina dan juga kaum Syiah. Lho kok bisa? Bisa aja dong. Kan kalo ada remaja yang gabung di geng motor pun, kekerasan bisa dilakuan oleh bosnya. Jadi kalo ditanya soal kemungkinan, jawabannya memang mungkin saja. Sebab, banyak pemimpin yang jahat juga lho.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Saya nggak akan menyampaikan dengan detil kondisi terakhir atau terbaru di sana, juga nggak akan nulis panjang-lebar soal fakta dari awal konflik hingga sekarang. Nggak. Selain informasi yang bertebaran itu perlu disaring dan dinilai, juga karena sudah begitu banyak media massa yang menyebarkan informasi terkait peristiwa ini. Nah, saya menulis tentang Suriah atau Syria di buletin kesayangan kamu ini, adalah sebagai salah satu bentuk kepedulian dan perhatian kepada saudara-saudara seakidah di sana. Meski banyak sekali berita seputar Suriah—baik yang memang sesuai fakta, maupun yang sudah dimodifikasi alias diberi opini oleh media tersebut—namun jarang yang kemudian membahas inti persoalan dari konflik tersebut. Itu sebabnya, gaulislam hendak membahas yang agak luput dari perhatian kaum muslimin saat ini secara umum. Siap ya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Suriah itu negeri muslim</b></p>
<p>Yup! Suriah atau Syria itu negeri muslim. Sama seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, dan negeri Islam lainnya yang kini—sayangnya—sudah terpecah ke dalam lebih dari 50 negara kecil. Menyedihkan memang. Padahal, dulunya kaum muslimin bersatu tak hanya dalam ikatan akidah yang sama, tetapi negara yang sama dan satu, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Sejak masa kepemimpinan Rasulullah saw., yang kemudian dilanjutkan oleh para Khulafa ar-Rasyidin dan generasi berikutnya beratus tahun lamanya hingga terakhir di Turki Utsmani pada 1924. Kalo dihitung-hitung lebih dari 1000 tahun lho kaum muslimin bersatu dan menjadi negara terbesar baik dalam jumlah penduduk maupun luas wilayah. Sayangnya, berbagai penjajahan ke negeri-negeri muslim akhirnya membuat negeri muslim terpecah menjadi potongan-potongan puzzle kecil yang sulit disusun dan disatukan.<span id="more-4612"></span></p>
<p>Kalo kamu baca sejarah Islam, tentunya bakal nemuin kisah menarik seputar penaklukan wilayah Syam (Syira dan Palestina). Keren banget kisahnya Bro en Sis. Belum tahu? Waduh, sebaiknya kamu baca deh kisahnya di buku-buku tarikh (sejarah), atau setidaknya kalo kamu agak malas mungkin bisa nonton kembali film OMAR (Umar bin Khattab ra) yang waktu Ramadhan ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Meski mungkin hanya sekadar ilustrasi kecil dari perjalanan hidup Umar bin Khattab dari masa jahiliyah, saat masuk Islam hingga menjadi khalifah, namun cukup memberikan penjelasan yang kita butuhkan. Betapa hebatnya Islam yang melahirkan generasi terbaik umat manusia. Semoga kita, kaum muslimin generasi mutaakhirin ini bisa meneladani para pendahulu kita dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar dan baik.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, karena Suriah adalah salah satu negeri muslim, tentunya kita wajib peduli terhadap kondisi kaum muslimin di sana yang kini sedang menderita. Saya cukup sering mengamati perkembangan fakta dan opini seputar Suriah di media massa, termasuk di situs jejaring sosial macam facebook dan twitter. Pendek kata, saya sedih tapi juga geregetan karena nggak bisa nolong lebih jauh. Ya, sekadar nulis di buletin, berkoar-koar di jejaring sosial, dan sekadar mendoakan. Malu juga sebenarnya. Semoga saya bisa berbuat lebih di kemudian hari.</p>
<p>Yuk, sobat muda muslim kita berikan kepedulian dan perhatian juga buat saudara kita di Suriah yang kini ibarat sedang bersimbah darah. Rasa-rasanya setiap orang yang pernah menyaksikan video kekejaman Bashar Asad dan para begundalnya terhadap rakyat Suriah bakalan netesin air mata, sedih, kesal, marah, dan tangisan tertahan tanpa suara saking dalamnya sakit hati menyaksikan pemandangan mengerikan tersebut. <i>So</i>, tunjukkan kepedulian kita karena kita bersaudara. Saudara seakidah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Kaum muslimin bersaudara</b></p>
<p>Kita dan saudara kita, kaum muslimin di Suriah memang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Antara kita dengan kaum muslimin di Suriah terbentang lautan dan daratan yang luas sekali. Tapi, sebetulnya kita punya rasa, kita punya cinta, dan kita punya luka yang sama dengan mereka.</p>
<p>Sobat gaulislam, mereka siap menggelorakan semangat jihad untuk melawan pemimpin jahat macam Bashar Asad yang didukung penuh kekuatan asing—musuh-musuh Islam (termasuk dari Syi’ah, Iran). Kamu jangan cuek menyaksikan kejadian ini.</p>
<p>Coba, ketika anak-anak dan remaja Suriah meregang nyawa ditembus peluru tentara rezim Bashar Asad, kira-kira kita sedang ngapain. Main basket? Main futsal? Atau tidur nyenyak? Atau malah sedang tawuran dengan teman sekolah lain? Ironi bukan?</p>
<p>Bro en Sis, ketika teman-teman kita menderita di pengungsian akibat diusir dari negeri mereka sendiri, kita sedang berbuat apa? Main gim online? Pacaran? Nonton konser musik? Lagi berantem gara-gara beda klub sepak bola? Atau malah sedang asik melahap makanan ‘bule’ di resto kelas wahid dengan harga selangit? Lalu di mana rasa peduli kita terhadap saudara sendiri?</p>
<p>Kawan, anak-anak dan remaja Suriah sudah kenyang dengan segala penderitaan dan kekecewaan akibat kebiadaban pemimpinnya sendiri. Sekali lagi itu adalah saudara kita. Saudara yang seharusnya ‘bersatu’ dalam suka dan duka, dalam sedih dan gembira. Masihkah kita mengatakan, bahwa itu adalah orang lain? Tidak kawan, mereka adalah kita. Ya, kita. Bukan siapa-siapa dan bukan orang lain. Kaum muslim di Suriah, Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Irak, Kashmir, Malaysia, Thailand, Filipina, atau di negeri sendiri; Ambon, Aceh, Poso, dan yang lainnya, pokoknya seluruh kaum muslimin di penjuru dunia ini adalah saudara kita. Kita dipersatukan dan dipersaudarakan dengan Islam. Bukan dengan ajaran yang lain.</p>
<p><i>So</i>, kalau pun sekarang kita nggak merasa bahwa itu saudara kita karena kita menganggap beda daerah, beda bahasa, dan beda negara. Itu adalah kesalahan besar. Ya, salah besar sobat! Ternyata ide nasionalisme telah membuat ‘dinding tebal’ di antara kita. Sehingga kita nggak bisa ‘menengok’ saudara kita yang tengah menderita.  Kita menjadi orang super cuek alias nggak mau peduli dengan urusan saudara kita sendiri. Tolong, sikap seperti itu jangan dipelihara, itu berbahaya bin gawat. Sekali lagi, kita bersaudara, bahkan seharusnya merasa sakit bila saudara kita disakiti dan merasa senang bila saudara kita berhasil. Sudahkah kita memiliki rasa itu?</p>
<p>Hadits ke-13 dari kumpulan <i>Hadits Arba’in</i> karya Imam Nawawi tertulis, <i>“Dari Abu Hamzah (yaitu) Anas bin Malik ra. pelayan Rasulullah saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”</i> <b>(HR Bukhari-Muslim)</b></p>
<p>Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir r.a berkata: Rasulullah saw. bersabda: <i>“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badannya merasa kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit”</i> <b>(HR Bukhari-Muslim)</b></p>
<p>Dua hadits tadi cukup memberikan ‘sentuhan’ kepada kita, bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu tubuh. Kita bersaudara, sayang. Nggak mungkin dong, tangan kiri kita kejepit pintu, eh, tangan kanan malah ‘nyukurin’. Kan aneh ya, nggak? Nah, begitu pun dengan saudara kita di Suriah, mereka lagi menderita, gokil dong kalo kita cuek bahkan nggak mau tahu banget. Itu namanya muslim ‘biadab’. Jangan sampe deh nurani kita begitu bebal. Kita kan bukan batu. Kita manusia yang memiliki perasaan. Rasa cinta, rasa sayang, dan ‘berjuta’ rasa lainnya. Sebaiknya memang kita merenungkan kembali firman Allah swt., sekaligus meneladani RasulNya, <i>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”</i> <b>(QS al-Fath [48]: 29)</b></p>
<p>Nah, yang bisa kita lakukan sekarang adalah; <b>Pertama</b>, bisa kirim dana dan doa. <b>Kedua</b>, berusaha sekuat kemampuan kita untuk menjelaskan kepada saudara-saudara kita yang lain di sini, dari mulai teman dekat, tetangga, masyarakat, sampai aparat dan pejabat, bahwa masalah ini adalah masalah kita. Sebab, kalo lihat sekarang, temen-temen kita di sini juga nggak terlalu ngeh bahwa penderitaan saudara kita di Suriah itu merupakan penderitaan bagi dirinya juga. Buktinya masih banyak yang cuek bebek aja tuh. Malah perihnya, ada juga yang bilang, “Ngapain capek-capek ngurusi negara lain, emangnya mau dapat apa?” Nah, yang begini ini yang belum ngerti persoalan.</p>
<p>Itu sebabnya, kita di sini ngasih tahu mereka-mereka yang belum ngeh bahwa kaum muslimin di Suriah dan belahan bumi lainnya adalah saudara kita. Suka dan duka mereka adalah suka dan duka kita. Kalo udah sadar dan paham, maka kita ajak mempelajari Islam lebih jauh, supaya nantinya mereka juga ikutan semangat dalam memahami Islam. Tul nggak?</p>
<p>Jadi tunggu apalagi? Mulai sekarang, kita bina diri kita dengan tsaqafah (ilmu-ilmu) Islam. Isi pikiran kita dengan ajaran Islam. Maka cepetan bangun en ngaji, belajar, pahami dan amalkan, lalu berdakwah dan bisa berjuang bersama. Sobat gaulislam, kita harus peduli dengan nasib saudara kita di belahan bumi manapun termasuk yang saat ini cukup gawat seperti di Suriah (Syria). Bisa kan, Bro en Sis? Harus bisa! <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/suriah-bersimbah-darah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Bengong, Ayo Bergerak!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-bengong-ayo-bergerak</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-bengong-ayo-bergerak#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2013 17:01:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4608</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 279/tahun ke-6 (17 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 25 Februari 2013)   Akankah kita terus bengong ngadepin segala permasalahan hidup yang udah bikin kita sengsara? Akankah kamu malah cuek ngeliat kondisi sekitar yang carut-marut nggak karuan? Hentikan diam kita sobat! Buruan bangun dan sadarkan diri. Jangan sampe terlambat sadar setelah segalanya berakhir. Ayo, sekarang ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/jangan-bengong-ayo-bergerak">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 279/tahun ke-6 (17 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 25 Februari 2013)<br />
<b> </b></p>
<p>Akankah kita terus bengong ngadepin segala permasalahan hidup yang udah bikin kita sengsara? Akankah kamu malah cuek ngeliat kondisi sekitar yang carut-marut nggak karuan? Hentikan diam kita sobat! Buruan bangun dan sadarkan diri. Jangan sampe terlambat sadar setelah segalanya berakhir. Ayo, sekarang juga nyadar dan berbenah!</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kamu pernah nggak sakit or ngeliat orang yang sakit? Misalnya, menderita sakit yang berat. Biasanya, penampilan yang muncul selalu yang jelek-jelek dong. Badan kurus kering, rambut rontok, kulit borok-borok, napas udah senen-kemis, degub jantung aja lemah banget. *nih hiperbolis banget ya?</p>
<p>Nah, kondisi masyarakat kita sekarang juga nggak jauh beda dengan orang yang sedang sakit. Tanda-tandanya apa? Angka kejahatan terus membesar, perjudian, pelacuran, kemiskinan yang grafiknya kian meningkat, biaya pendidikan yang kian mahal, pejabat pemerintah yang doyan korupsi, ekonomi yang morat-marit, perpecahan di mana-mana, kerusuhan seperti udah nggak kenal lelah, hiburan bertabur maksiat kian marak (baik di tayangan tv maupun lingkungan kita sendiri), dan beragam kemaksiatan lainnya udah jadi label yang lengket dan kayaknya sulit banget untuk dihapus dari masyarakat kita.</p>
<p>Sumpah, siapa sudi sih hidup kayak begini? Andai semua orang tahu kalo masyarakatnya sedang sakit, kayaknya bakalan cepet berusaha untuk menyembuhkannya. Seperti halnya, kalo yang sakit tubuh kita sendiri. Biasanya, kita langsung trengginas berobat ke dokter. Sayangnya, sebagian besar masyarakat nggak ngeh dengan penyakit yang mendera kehidupan ini. Atau karena mereka menjadi bagian dari penyakit itu? Wah, sangat boleh jadi, dan itu artinya nggak bakalan merasakan kejanggalan tersebut, dong? Tepat sekali.</p>
<p>Akibatnya, sebagian ada yang berusaha untuk memberikan penyembuhan, eh, sebagian yang lain, yang emang pelaku kemaksiatannya malah kalap dan nolak mentah-mentah, bahkan pake ngancem segala. Kayak bujangan yang lagi seneng ngimpi ketemu puteri cantik dan dikipasin segala di taman yang indah, eh, kita malah ngebangunin dia. Udah untung nggak disepak juga. Padahal, kalo kita pikir-pikir, kesenangan tersebut cuma mimpi. Semu pula.<span id="more-4608"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, idealnya nih, karena sedang sakit berarti butuh dokter dong? Tepat sekali. Dan biasanya, kalo orang udah sadar dengan penyakitnya, maka ia akan berusaha untuk menyembuhkannya. Bahkan boleh jadi taat banget sama anjuran dokter. Misalnya aja dokter memberi resep agar obat ini diminum sehari tiga kali, obat yang itu diminum setelah makan siang, obat lain lagi diminum dua hari sekali. Selain itu, kudu getol menjaga kesehatan badan, misalnya dianjurkan untuk olahraga ringan di pagi hari. Ada makanan yang pantang untuk  dimakan, guna mempercepat proses penyembuhan. Bahkan bila sang dokter menganjurkan untuk ngecek kesehatan secara rutin tiap bulan pun akan dilakukan. Kenapa? Karena dia sayang sama badannya.</p>
<p>Nah, ini juga bisa diumpamakan kepada kehidupan masyarakat, lho. Bener. Jadi, kondisi masyarakat yang tengah sakit ini butuh dokter dan obat sebagaimana halnya kalo tubuh kita lagi nggak enak body. Tentu tujuannya supaya masyarakat ini bisa sembuh dari penyakit yang selama ini dideritanya. Itu sebabnya, kita kudu berusaha untuk sadar dan peduli masyarakat sekitar, lalu ikut membenahi mereka. Siap ya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Kita selamatkan kaum muslimin</b></p>
<p>Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, ini memang tugas kita untuk menyelamatkan mereka. Bukan sok tahu, bukan pula sok jagoan, apalagi sok suci. Nggak. Kita mencoba empati dengan keadaan teman-teman kita yang masih berada dalam kegelapan. Bukan apa-apa, kita bisa begini ‘hebat’, tahu ini dan tahu itu, juga dengan melalui proses yang amat panjang dalam hidup ini. Kita bisa merasakan bagaimana nikmatnya saat kita berhasil melaksanakan kewajiban. Nggak sedikit dari kita yang menjalani proses yang amat panjang pula dalam belajar, sehingga jadi tahu kalo kita melakukan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam adalah haram, dan jelas dosa. Seharusnya tertanam pula niat dan berupaya agar bisa menghindari aktivitas terlarang tersebut.</p>
<p>Nah, jadi jangan putus asa untuk bisa menjadi penerang orang-orang yang sedang berada dalam kegelapan. Kita coba dekati dan sadarkan mereka. Kita sampaikan kebenaran Islam dengan jelas dan tegas. Apalagi, kita sebagai seorang muslim dituntut untuk melakukan <i>amar ma’ruf dan nahyi munkar</i>. Itu kan dalam upaya menyelamatkan mereka. Tul nggak? Meski berat terasa dalam mendakwahkannya, namun tetap harus kita lakukan. Soalnya nih, kalo kita mendiamkan, alamat kita juga bakalan kena dampaknya. Bener, Bro en Sis!</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: <i>“Perumpamaan keadaan suatu kaum/masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” </i><b>(HR Bukhari)</b></p>
<p>Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda: <i>“Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab dari Allah.” </i><b>(HR Ath Thabrani, al-Hakim dari ibnu Abbas)</b></p>
<p>Sobat gaulislam, kita sering mengkritisi keadaan bukan berarti tanda benci, apalagi antipati, tapi menunjukkan sikap empati dan peduli. Tul nggak? Apalagi yang melakukan maksiatnya teman sendiri, atau tetangga sendiri, bahkan mungkin saudara sendiri. Jadi jangan dimusuhi, tapi kita dekati, kita sadarkan. Semoga menjadi jalan mereka mendapatkan hidayah Allah Swt melalui kita. Insya Allah.</p>
<p>Allah Swt. memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan <i>amar ma’ruf nahi munkar </i>dalam firmanNya: <i>“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” </i><b>(QS at-Taubah [9]: 71)</b></p>
<p>Tapi gimana kalo setelah kita menggunakan cara yang baik tapi mereka tetep ngeles dan bahkan galak? Ya, bersabar saja. Tugas kita kan menyampaikan. Tapi tetap jangan menyerah. Teruskan perjuangan kita, meski barangkali sekadar menuliskannya seperti dalam buletin kesayangan kamu ini. Rasulullah saw. bersabda:<i> “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; maka bila ia tidak mampu, maka dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”</i> <b>(HR Muslim)</b></p>
<p>Bro en Sis, untuk melakukan <i>amar ma’ruf nahi munkar</i> butuh waktu, tenaga, pikiran, dan juga ilmu. Itu memang konsekuensi. Tapi yang jelas prosesnya harus kita lakukan. Perkara hasil serahkan saja kepada Allah Swt. Meski demikian, bukan berarti kita nggak perlu hasil. Itu sebabnya, sambil <i>amar ma’ruf nahi munkar</i>, kita juga nyari trik-trik jitu buat mencapai hasil maksimal dari usaha dakwah kita. Iya kan?</p>
<p>Nah persoalannya bisa tambah runyam kalo kita ternyata cuek dan malah ogah melakukan <i>amar ma’ruf nahi munkar</i>. Walah, bahaya banget tuh. Meski kita ngaku-ngaku cinta sama Islam dan kaum Muslimin, tapi pelaksanaannya di lapangan malah ogah beramar ma’ruf nahi munkar, itu namanya tulalit. <i>So</i>, jangan bilang cinta sama kaum muslimin kalo ternyata dakwah aja nggak mau. Betul?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Ayo dakwah!</b></p>
<p>Ada beberapa tips sederhana agar kita senantiasa semangat membina diri dengan Islam demi kelancaran dakwah Islam nantinya:</p>
<p><b>Pertama</b>, pancangkan niat.<b> </b>Niat akan berpengaruh dalam membentuk tujuan kita selama berbuat. Niatkan untuk ibadah dan menggugurkan kewajiban.</p>
<p><b>Kedua</b>, ciptakan suasana yang menyenangkan.<b> </b>Cobalah kemas dengan baik supaya tercipta suasana yang menyenangkan dalam kajian Islam. Bisa materinya yang tidak berat, minta dihadirkan guru ngaji yang tidak <i>teks book</i> ketika mengajari kita dan teman-teman. Intinya, guru ngajinya gaul alias bisa nyetel dengan gaya remaja, tapi tetep syar’i dan juga mabda’i alias ideologis.</p>
<p><b>Ketiga</b>, jalani dengan rileks dan rutin.<b> </b>Rileks akan membuat kita tak banyak beban. Rutinitas akan membentuk kebiasaan kita. Awalnya, memang perlu sedikit paksaan. Niat kita akan membuktikannya.</p>
<p><b>Keempat</b>, bagi waktu antara ngaji  dan belajar sekolah<b>. </b>Jangan biarkan kesempatan mengkaji Islam sirna gara-gara hanya fokus urusan sekolah dan lainnya. Karena dua-duanya sama-sama wajib. Bahkan menuntut ilmu Islam <i>wajib ain</i> alias tak bisa diwakilkan kepada orang lain. Kita harus belajar untuk kepentingan kita sendiri agar tidak rugi di akhirat kelak.</p>
<p><b>Kelima</b>, tumbuhkan kebersamaan. Ikut kegiatan dakwah dan pengajian akan membentuk karakter kita. Tidak boleh individualis, tapi sebaliknya menumbuhkan kebersamaan. Satu lagi, kita boleh beda dengan teman lain, tapi jangan membedakan diri. Cobalah untuk lebih serius membangun kebersamaan ketimbang menyuburkan perbedaan. Catet ya!</p>
<p>Oke Bro en Sis, ayo bergerak untuk belajar dan berani berdakwah. Jangan bengong aja, apalagi tidur melulu. Stop maksiat, segera sadar dan ayo berbenah untuk kebangkitan Islam. <b>[solihin | Twitter: <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-bengong-ayo-bergerak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seleb + Narkoba = Nggak Aneh</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/seleb-narkoba-nggak-aneh</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/seleb-narkoba-nggak-aneh#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2013 17:01:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[hedonisme]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah islamiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>
		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4605</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 278/tahun ke-6 (8 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 18 Februari 2013) &#160; Seleb dan narkoba nggak aneh? Yup, biasanya udah teropini begitu sih, kalo dunia selebriti nggak jauh dari NAPZA alias Narkotika, Psikotropika dan zat Adiktif lainnya. Hal ini udah nggak aneh karena kehidupan selebriti yang biasanya bebas alias hedon dan identik dengan dugem plus ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/seleb-narkoba-nggak-aneh">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam<b> </b>edisi 278/tahun ke-6 (8 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 18 Februari 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seleb dan narkoba nggak aneh? Yup, biasanya udah teropini begitu sih, kalo dunia selebriti nggak jauh dari NAPZA alias Narkotika, Psikotropika dan zat Adiktif lainnya. Hal ini udah nggak aneh karena kehidupan selebriti yang biasanya bebas alias hedon dan identik dengan dugem plus hura-hura.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, buka-bukaan soal napza dan seleb udah bukan jadi rahasia lagi. Infotainment udah siap mempublikasikan seleb kesandung Napza ini. Jadi gimana mau jadi rahasia? Nggak cuma di Indonesia aja lho, justru mancanegara juga. Deretan seleb mancanegara yang kejerat napza—contohnya  aja—seperti Drew Barrymore, Lindsay Lohan, Britney Spears, Demi Moore sampe Angelina Jolie. Selain itu ada G-Dragon, Joo Ji Hon juga PSY keikut sebagaimana diberitakan di live.viva.co.id dan m.news.viva.co.id. Kalo di Indonesia pasti mudah kita ketahui ya siapa aja yang lagi apes ketahuan kesandung napza karena beritanya bakal segera tersiar di berbagai infotainmen, baik cetak maupun elektronik. Contohnya yang belum lama ini, Raffi Ahmad yang ditetapkan sebagai tersangka pengguna napza.</p>
<p>Kewajaran alias nggak perlu aneh dengan hubungan antara seleb dan narkoba atau napza ini sebenernya juga karena memang seleb adalah pasar potensial bagi bisnis narkoba. Why? Mereka punya duit banyak, Bro en Sis!</p>
<p>Menurut DR. Nugroho, M.Si, Sbm, yang dikutip dari situs: ekonomi.kompasiana.com mengenai potensialnya para seleb ini dalam bisnis napza adalah  di samping honor seleb yang selangit alias banyak duit sehingga mendorong untuk konsumtif juga ditambah jam kerja seleb yang <i>full time</i> dan penuh tekanan. Contohnya syuting <i>stripping </i>akhirnya membuat mereka sangat memerlukan doping yang praktis. Akhirnya ya ‘make’ lah para seleb. Make napza maksudnya. Selain itu ya memang karena <i>life style</i>-nya para seleb, yang ngerasa nggak keren kalo nggak make plus ngilangin stress. Nah jadi lengkaplah sudah arti ‘nggak aneh’ antara seleb dan narkoba/napza ini.<span id="more-4605"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Seleb make, kita ikut make?</b></p>
<p>Oh.. <i>please!</i> Itulah efek fatal kalo kita ngefans berat sama idola kita. Apapun yang mereka lakukan menjadi keren di mata kita.  Betul? Seharusnya jangan ampe gitu, justru kita kudu lebih banyak lagi memahami kenapa sampe seleb kejebak narkoba seperti yang udah saya jelasin sebelumnya, bukannya justru memaklumi dan lalu ikut-ikutan make. Jangan!</p>
<p>Sobat gaulislam, dalam kasus Raffi Ahmad, ada sejenis zat yang dinamakan cathinone atau katinona. Menurut info di Kompas.com, secara alami cathinone terkandung dalam khat (<i>Catha edulis Forsk</i>), tumbuhan semak yang banyak terdapat di Afrika Timur dan Tengah serta sebagian Jazirah Arabia. Daun khat sejak dulu dikonsumsi dengan cara dikunyah, dibuat jus, atau diseduh oleh penduduk di wilayah itu.</p>
<p>Adapun cathinone sintetis, sebagaimana disebut dalam situs <i>European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction</i> (EMCDDA), berbentuk serbuk kristal putih atau kecoklatan, kadang-kadang dikemas dalam kapsul. Zat itu juga ditemui dalam bentuk tablet sebagai pengganti pil ekstasi. Cara penggunaan biasanya dihirup, ditelan, atau disuntikkan setelah dicampur air. Di banyak negara, khat bukan barang terlarang meski penggunaannya dikontrol di beberapa negara Eropa. Adapun cathinone dimasukkan sebagai golongan I Konvensi PPB untuk Zat-zat Psikotropika Tahun 1971.</p>
<p>Cathinone yang juga terdapat dalam khat masuk golongan III, sedangkan cathinone sintetis, yakni amfepramone dan pyrovalerone masuk golongan IV konvensi itu. Cathinone yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai katinona tercantum dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pada daftar narkotika golongan I.</p>
<p>Laporan mengenai keracunan dan bahaya bagi kesehatan akibat penggunaan cathinone sintetis menyebabkan zat tersebut menjadi isu kesehatan masyarakat dan keamanan yang serius di Amerika Serikat. Dalam situs National Institute on Drug Abuse dilaporkan, efek cathinone mirip amfetamin dan kokain. Zat itu merangsang peningkatan kadar neuro-transmitter (zat pengantar impuls saraf) dopamin yang menimbulkan rasa gembira dan meningkatkan tenaga.</p>
<p>Efek lain adalah peningkatan kadar norepinefrin meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Namun, pengguna bisa mengalami halusinasi akibat peningkatan kadar serotonin. Akibat buruk lain adalah dehidrasi, kerusakan jaringan otot, dan gagal ginjal yang berujung pada kematian. Nah, itu hasil info yang ditelusuri dari situs sains.kompas.com. Begitu, sobat gaulislam, ternyata.</p>
<p><b>Gimana solusi dalam Islam?</b></p>
<p>Negara-negara lain yang nggak nerapin hukum Islam kafaah ternyata bisa dengan tegas menindak gembong en pengedar narkoba, dan mampu meminimalisir peredaran narkoba di negara mereka. Mereka tidak segan melakukan hukuman mati, seperti di Singapura, Cina juga Iran. Terus gimana dong untuk tindak hukum secara Islam? Sebab, kalo nggak secara Islam kan nggak afdol, karena menuntaskan problem individu dan rakyat kudu sesuai al-Quran dan as-Sunnah.</p>
<p>Yup, kalo pengen tuntasin masalah narkoba secara Islam kafaah kudu ada institusi negara Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Insya Allah bila syariat Islam tegak secara kaffah, peluang penyalahgunaan bakal tertutup. Islam mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Ketakwaan yang terwujud itu mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan narkoba.</p>
<p>Nah, alasan ekonomi untuk terlibat kejahatan narkoba nggak bakal muncul. Why? Sebab, pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat (papan, pangan dan sandang) dan kebutuhan dasar masyarakat (pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan) dijamin oleh Khilafah. Setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya sesuai kemampuan masing-masing.</p>
<p>Bro en Sis, ‘penggila’ gaulislam, sebenarnya nggak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya narkoba dalam berbagai jenisnya, baik itu ganja, opium, morfin, mariyuana, kokain, ecstasy, dan sebagainya. Sebagian ulama mengharamkan narkoba karena diqiyaskan dengan haramnya <i>khamr</i>, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan (<i>muskir</i>). Sebagian menyatakan haramnya narkoba bukan karena diqiyaskan dengan khamr, melainkan karena dua alasan; Pertama, ada nash yang mengharamkan narkoba, Kedua,<b> </b>karena menimbulkan bahaya (<i>dharar</i>) bagi manusia. <b>(Syaikh Wahbah Zuhaili, <i>al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu</i>, juz IV, hlm. 177)</b></p>
<p>Dari Ummu Salamah r.a , ia berkata: <i>“Rasulullah saw. melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)”</i> <b>(HR Abu Daud no. 3686)</b></p>
<p>Oya, yang dimaksud <i>mufattir</i>, adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (<i>istirkha‘</i>) dan malas (<i>tatsaqul</i>) pada tubuh manusia. <b>(Rawwas Qal’ahjie, <i>Mu’jam Lughah al-Fuqoha‘</i>, hlm. 342)</b></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a, Rasulullah saw. bersabda: “<i>tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.</i>” <b>(HR Ibnu Majah no. 2340)</b></p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: <i>“…Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka</i>.<i>”</i> <b>(HR Ibnu Majah, dengan sanad hasan)</b></p>
<p>Sebagai zat haram, siapa saja yang mengkonsumsi, mengedarkan dan memproduksi, berarti telah melakukan <i>jarîmah</i> (tindakan kriminal) yang termasuk sanksi <i>ta’zir</i>. Pelakunya layak dijatuhi sanksi dimana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.</p>
<p>Bagi pengguna narkoba yang <i>newbie</i> alias pemula, selain harus diobati/direhabilitasi oleh negara secara gratis, mungkin cukup dijatuhi sanksi ringan. Jika berulang-ulang (pecandu) sanksinya bisa lebih berat. Bagi  gembong &amp; pengedar  tentu tak layak dijatuhi sanksi hukum yang ringan atau diberi keringanan. Sebab selain melakukan kejahatan narkoba mereka juga membahayakan masyarakat. Pastinya lebih berat dan bisa jadi nerima hukuman mati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Langkah praktis hindari napza</b></p>
<p>Pastinya kudu mengkaji Islam secara intensif biar iman lebih kuat lagi. Rasulullah saw. bersabda: <i>”… jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan menjumpaiNya di hadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah…</i>.” <b>(HR at-Tirmidzi, </b>dan dia berkata hadits hasan shohih<b>)</b></p>
<p>Terus, lingkungan keluarga pun kondusif, sehingga keluarga menjadi tempat yang <i>cozy</i> alias menyenangkan bagi anggotanya, sehingga anak tidak mencari kenyamanan lain di luar rumah yang berpengaruh negatif. Anas bin Malik r.a menuturkan: <i>“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih sayang kepada anak-anak selain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam</i>” <b>(HR Muslim no. 2316)</b></p>
<p>Bro en Sis, selain itu juga kudu melatih diri untuk memanfaatkan waktu. Jangan terlena dengan kekosongan dan kesia-siaan. Sabda Rasulullah saw. “<i>Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah (untuk melakukannya), dan janganlah malas</i>” <b>(HR Muslim no. 2664)</b></p>
<p>Tips berikutnya, kamu kudu cari temen-temen yang bawa atmosfir keimanan dan kebaikan. Rasulullah saw. bersabda: <i>“Permisalan teman bergaul yang baik dan teman bergaul yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau tertarik membeli minyak wangi darinya. Minimal, engkau akan tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi akan membuat bajumu terbakar, atau minimal engkau akan mendapatkan bau yang tidak enak” </i><b>(HR Bukhari dan Muslim)</b></p>
<p><i>So</i>, nggak keren banget dah kalo sampe kamu pake narkoba/napza! Semoga Indonesia (dan seluruh negeri muslim di dunia) bisa segera bebas dari narkoba, di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Aamiin ya rabb! <b>[anindita; email: thefaith_78@yahoo.com]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/seleb-narkoba-nggak-aneh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bye-bye Valentine!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bye-bye-valentine</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bye-bye-valentine#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2013 17:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jahiliyah]]></category>
		<category><![CDATA[kufur]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[valentine's day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4599</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 277/tahun ke-6 (1 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 11 Februari 2013) &#160; Hei, tanggal 14 tinggal menunggu hari atau bahkan jam. Seluruh remaja di dunia lagi siap-siap ‘mau ngapain ya?’ di hari yang katanya penuh dengan kasih sayang. Kasih apa ya, ke yayang gue? Coklat? Kado? Kartu ucapan yang ada cupido unyu itu? Mawar? ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/bye-bye-valentine">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislam<b> </b>edisi 277/tahun ke-6 (1 Rabi’ul Akhir 1434 H/ 11 Februari 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hei, tanggal 14 tinggal menunggu hari atau bahkan jam. Seluruh remaja di dunia lagi siap-siap ‘mau ngapain ya?’ di hari yang katanya penuh dengan kasih sayang. Kasih apa ya, ke yayang gue? Coklat? Kado? Kartu ucapan yang ada cupido unyu itu? Mawar? Alat mandi? Kasur? TV? Mesin cuci? Ah, yang penting warnanya pink!</p>
<p>Ups, ada apa dengan tanggal 14? Wah… wah… kenapa pada ribut ngebahas mau pada ngapain tanggal 14 nanti? Ada yang spesial?</p>
<p>Ternyata ada hajatan besar-besaran sodara-sodara! Dan hajatan ini disebut dengan Valentine’s Day, hari cinta dan kasih sayang (katanya sih!). Asyik, kalau udah ngebahas yang namanya ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’ nih, kayaknya remaja-remaja pasti langsung pada melek plus membuka kuping lebar-lebar. Lalu, memangnya ada apa dengan hajatan yang namanya Valentine’s Day ini? Ramean mana sama hajatan di rumah Pak RT minggu lalu?</p>
<p>Nggak usah pura-pura deh, gaulislam tahu kalian para remaja pasti tahu apa itu Valentine’s Day. Valentine’s Day dimaknai dengan kasih sayang atau hari di mana pasangan kekasih, muda-mudi Barat, yang lagi jatuh cinta ngungkapin rasa kasih sayang mereka kepada pasangan masing-masing. Umumnya diekspresikan dengan saling tukar kado, cokelat, dan bunga mawar. Bahkan, yang paling populer, dengan bertukar kartu valentine berbentuk hati (love), yang dihiasi sebuah gambar “Copidu” (si bayi kecil bersayap dengan busur lengkap dan anak panah di tangan).</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, ternyata perayaannya nggak cukup sampai di situ. Perayaan aneh bin gajebo ini sering diperingati dengan minum-minum dan seks bebas. Bahkan hari pada tanggal 14 Februari ini sering dipakai buat momen pemberian ‘cinta’ cewek secara sempurna kepada cowoknya dengan menyerahkan keperawanannya! Waduh, ini emang udah nggak bener sama sekali!<span id="more-4599"></span></p>
<p>Herannya, perayaan aneh ini ternyata masih digemari dan bahkan terus dirayakan oleh remaja muslim di seluruh dunia! Tak terkecuali di Indonesia. Kita bisa lihat, setiap tahunnya di tanggal 14 Februari pasti para remaja pada sibuk ngoceh nggak ada habisnya tentang Valentine’s Day. Dan nggak pandang-pandang, para remaja yang merayakannya pun remaja hampir dari semua kalangan, dan yang dipandang memprihatinkan di sini adalah masih banyak sekali remaja yang merayakan hari Valentine ini di tanah air, yang tentunya mereka mayoritas muslim!</p>
<p>Hari Valentine di tanah air seolah sudah menjadi ‘hajatan’ perayaan cinta di antara mereka. Kondisinya pun tak kalah parah, yakni dirayakan dengan seks bebas. Pengungkapan cinta yang ‘lebih’. Ingin sesuatu yang berbeda setelah sekian tahun berpacaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Hari Valentine itu…</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Siapapun yang merayakan hari Valentine ini bisa kita sepakati bersama bahwa mereka adalah remaja bodoh. Sudah jelas sekali hari Valentine ini tidak ada dalam ajaran agama mana pun, terutama dalam ajaran Islam dimana ajarannya sangat melarang keras pelaksanaan amal-amal yang tidak berasal dari Allah Swt. dan Rasulullah saw..</p>
<p>“Tapi kan, ini hanya sebagai perayaan budaya? Nggak papa dong kita rayakan!” di antara kamu ada yang nyela kayak gitu.</p>
<p>Hei, budaya mana dulu, Bro! Itu budaya Barat, dan kalau kamu ngajak ngomongin budaya, bahkan hari Valentine sama sekali nggak cocok sama budaya dan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kesopanan dan kehormatan orang lain. Kena deh, lo!</p>
<p>Tapi, kenapa masih banyak remaja yang masih merayakan hari Valentine ini ya? Nah, ini dia yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kita, remaja muslim yang tidak ingin merayakannya. Namun faktanya banyak sekali teman-teman kita yang masih merayakannya. Banyak remaja yang menggandrungi perayaan gajebo ini. Alasannya pun banyak. Ada yang ingin dibilang gaul, ada yang bilang kalau Valentine itu keren dan harus dirayain, bahkan ada yang cuma sekadar ikut-ikutan!</p>
<p>Hal ini sungguh sangat miris mengingat bahwa hukum merayakan Valentine’s Day menurut Islam adalah haram. Ken Swiger dalam artikelnya “<i>Should Biblical Christians Observe It?</i>” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang artinya, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.</p>
<p>Disadari atau nggak, ketika kita meminta orang jadi “to be my Valentine”, berarti sama aja kita meminta orang jadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “<i>the hunter</i>” dewa matahari.</p>
<p>Weleh-weleh… jelas banget ini momen perusakan akidah gede-gedean, Men! Nggak bisa disepelekan sebagai masalah yang sekecil semut di ujung laut, karena masalah ini lebih gede dari gajah (yang udah nginjek idung!).</p>
<p>Sobat muda muslim, Valentine’s Day memiliki perbedaan bentuk perayaan di setiap masanya. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadiin bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana aja seperti pesta, kencan, tukeran mesin cuci, eh maksudnya hadiah, hingga penghalalan praktek zina secara legal! Bisa disimpulkan deh kalau semangat merayakan hari Valentine itu tidak lebih dari semangat berzina. Parahnya lagi, semua itu dilakuin dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih. Hoeeekk!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>There is no love in Valentine!</b></p>
<p>Dalam Islam nggak ada Valentine, karena istilah asing itu sendiri merupakan impor dari agama atau kepercayaan lain yang kebetulan juga ngimpor dari kebudayaan gajebo. Sejarah dan esensinya aja kagak sejalan sama pemikiran dan akidah Islam. Lalu ngapain juga kita rayakan, apalagi pertahankan?</p>
<p>Menurut mereka yang semangat merayakan Valentine’s Day nih, ada semacam kepercayaan kalau melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan sampai hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya sih, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa. Capek deeeh!</p>
<p>Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang Barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan <i>make love</i> yang artinya bercinta, seharusnya sekadar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna <i>make love</i> atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin, kalo belum nikah ya seks bebas alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.</p>
<p>Allah Swt. befirman (yang artinya): <i>“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”</i> <b>(QS al-Israa’ [17]: 32)</b></p>
<p>Cinta itu nggak harus selalu dimanifes-tasikan dengan seks. Buktinya kalau PSK-PSK itu, apa mereka melacur dengan alasan cinta? Nggak kan? *mereka demi duit, demi memenuhi nafsu hedonismenya.</p>
<p>Jangan samakan cinta dengan seks bro, nggak perlu disamakan dan dihubung-hubungin. Logikanya sederhana aja. Kalau kita punya orangtua yang sangat kita cintai, tetangga yang baik hati, hewan peliharaan yang unyu-unyu, gadget yang super canggih, sahabat-sahabat yang gokil nggak ketulungan, paman bibi yang perhatian dan baik hati, dan kita mencintai mereka semua, apakah kita juga harus berhubungan seks dengan mereka?</p>
<p>Herannya lagi nih, hari Valentine’ Day (a.k.a hari cinta dan kasih sayang) itu kan dirayakan tiap tahun hampir di seluruh negara di dunia, namun mengapa masih ada negara yang masih tertindas oleh penjajahan dari negara lain? Mana itu yang namanya ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’? *Bohong besar!</p>
<p>Dan kesimpulannya, yang disebut ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’ dalam hari Valentine itu hanyalah omong kosong belaka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Islam dan cinta</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita berteriak bersama: “Say No to Valentine’s Day!” melihat betapa banyak sekali kejelekan yang didapat ketimbang manfaatnya yang hampir tidak ada dari Valentine’s Day.</p>
<p>Sobat gaulislam, kata siapa dalam Islam nggak ada yang namanya cinta dan kasih sayang? Islam sendiri adalah agama kasih sayang dan menjunjung cinta terhadap sesama. Dalam Islam, cinta sangat dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, dan suci. Islam sama sekali nggak phobi sama yang namanya cinta.Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian, Islam nggak menjadikan cinta jadi komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Bye-bye Valentine</b></p>
<p>Sebagai generasi muda muslim, kita nggak cuma dituntut untuk melek teknologi dan ilmu pengetahuan, namun juga dituntut agar bisa memfiltrasi ajaran-ajaran dan pemikiran yang bukan berasal dari Islam. Bagi kalian, generasi muda muslim yang membaca tulisan ini dan dengan tegas telah menyatakan bye-bye Valentine, maka selamat! Kalian sudah memenangkan salah satu dari ribuan serangan budaya dan akidah terhadap generasi Islam.</p>
<p>Jangan rayakan Valentine’s Day, dan ayo rame-rame kampanyekan gerakan anti Valentine di mana pun kamu berada!</p>
<p>Sebagai generasi muda muslim, kita harus berusaha sekuat tenaga kita untuk mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan kita di masyarakat, dalam muamalah sehari-hari (dan lebih keren sampe level bernegara). Agar ruh ajaran Islam nggak terkontaminasi oleh budaya-budaya asing yang terbukti hanya menimbulkan keresahan dalam masyarakat muslim.</p>
<p>Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk meninggikan kalimat Allah di medan perjuangan yang makin hari makin kompleks ini. Sesuai dengan background kita masing-masing. Tetap menjadi mukmin sejati, tetap istiqomah bersama kebenaran Islam. Semangat! <b>[Hawari | Twitter: <a href="http://twitter.com/hawari88" target="_blank">@hawari88</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bye-bye-valentine/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selebriti dan Para Groupies-nya</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/selebriti-dan-para-groupies-nya</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/selebriti-dan-para-groupies-nya#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2013 17:01:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sholihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[artis]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[groupies]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[musisi]]></category>
		<category><![CDATA[penggemar plus]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[selebriti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4592</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 276/tahun ke-6 (23 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 4 Februari 2013)   Berburu tandatangan atau foto bareng seleb pujaannya adalah biasa. Atau mungkin malah sudah basi. Bagi para penggemar plus (groupies), mereka akan menguntit kemana pun sang bintang pergi. Bahkan, ada yang nekat menawarkan seks. Waduh! Bukan penggemar berat namanya kalo nggak ngeh ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/selebriti-dan-para-groupies-nya">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam edisi 276/tahun ke-6 (23 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 4 Februari 2013)</p>
<p><b> </b></p>
<p>Berburu tandatangan atau foto bareng seleb pujaannya adalah biasa. Atau mungkin malah sudah basi. Bagi para penggemar plus (groupies), mereka akan menguntit kemana pun sang bintang pergi. Bahkan, ada yang nekat menawarkan seks. Waduh!</p>
<p>Bukan penggemar berat namanya kalo nggak ngeh dengan idolanya. Seorang teman yang ketemu di dunia maya dan sempat kopdar (kopi darat di sebuah kota) sampe hapal lagu-lagu Bang Rhoma Irama, sang komandan Soneta itu. Karena pengetahuannya yang luas tentang Rhoma dan segala macam yang identik dengan sang Raja Dangdut ini, temen-temen di komunitas diskusi dunia maya sempat menggelari beliau sebagai Pangeran Dangdut! Ya, lebih dari sekadar ABRI (Anak Buah Rhoma Irama). *Harap dipersori kalo ada yang nggak suka dengan singkatan ini diplesetkan.</p>
<p>Tapi ini mungkin masih biasa. Belum <i>ruaar biasa</i>. Kamu kenal Once Mekel kan? Mantan vokalis Dewa 19 yang menggantikan posisi Ari Lasso ini (sebelum akhirnya band tersebut dibubarkan pada awal 2011 lalu) dipuja bak Dewa! Sampe-sampe bulu kaki doi saja dikoleksi pengemar beratnya. Bayangin bulu kaki! Kita malah jadi kepikiran gimana dapetinnya (apa kayak di film <i>Samson Betawi</i> yang dibintangi Benyamin Sueb? Yang bulu keteknya dicabutin musuhnya pas Samson tidur pules untuk merontokkan kekuatannya). Ah, nggak kepikiran dah. Tapi yang jelas itu diakui seorang <i>Baladewa</i> (komunitas penggemar Dewa) dari kalangan cewek pada waktu tersebut.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, selain Once, kamu pasti kenal dong Ahmad Dhani? Nah, saking ngefansnya sama mantan pentolan atau ‘ruhnya’ Dewa 19 ini, ada penggemarnya yang bela-belain rajin melahap karya-karya Kahlil Gibran. Lho kok? Iya, karena Ahmad Dhani adalah pecinta Gibran. Buktinya ada lagu yang judulnya ngambil dari puisi karya sastrawan asal Libanon ini yang berjudul “Sayap-sayap Patah”.<span id="more-4592"></span></p>
<p>‘Kegilaan’ penggemar kepada idolanya (khususnya di kalangan para musisi) udah nggak sebatas meminta tandatangan, foto bareng, mencubit, menjambak, mencium, menjawil-jawil (ada yang ngajak <i>smackdown</i> atau gulat bebas nggak ya?), tapi sudah mengarah kepada “ancaman”. Yana Julio salah satu korbannya. Selain kenyang dengan cubitan dan ciuman dari penggemarnya, angota kelompok Elfa’s Singer, yang meroket sebagai penyanyi solo ini sempat mendapat “ancaman” dari seorang penggemarnya yang mengajak menikah. Tentu penggemar cewek dong. Si penggila Yana itu menulis surat dengan nada penuh “ancaman”. “Pokoknya, saya nanti akan ke Jakarta, kita akan ketemuan di sini (di suatu tempat). Kita ngomongin perkawinan. Pembiayaan pernikahan, undangan, dan lain sebagainya akan saya tanggung,” Tentunya Bang Yana Julio dibuat repot ngeladeni “calon pengantin misteriusnya” itu. Bahkan Ariel, mantan vokalisnya Peterpan (kini di NOAH, red) pun konon dikabarkan mendadak menikah dengan Sarah Amelia, sang pemujanya. <i>(Koran Tempo, 13 Feb 2005)</i></p>
<p>Di luar negeri juga sama. Kamu pasti tahu Madonna dong ya? (Kecuali kalo kamu yang lahir generasi sekarang dan nggak kebagian virus aksinya Madonna).  Ya, Diva pop dan mantan pemeran tokoh Evita Peron ini, bagi Marcus Sessions bukan sekadar bintang pop, tapi menganggapnya sebagai dewi, sekaligus obsesi. Tempat pemujaan senilai US 85 ribu dollar pun (salah satunya patung lilin madonna) dia bangun di rumahnya di London Selatan, Inggris. Marcus Sessions pernah menyamar sebagai pengantar bunga, juga fotografer, demi menguntit Madonna dari panggung ke panggung. Tujuannya satu, mendekati Madonna secara langsung. Kalo bisa menyentuhnya. Watau!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Berani menawarkan seks</b></p>
<p>Dulu, waktu saya dan kawan-kawan mengelola Majalah <i>SOBAT Muda (SoDa)</i>, di tahun 2005, sempat melakukan investigasi di kalangan remaja soal idola mereka. Nah, ini hasilnya (Edisi 07 Tahun I/April 2005).</p>
<p>“Idolaku <i>Radiohead</i>,” jawab Sandi, siswa sebuah SMU negeri di Bandung. Sebagai bukti kecintaannya kepada idolanya itu, Sandi bela-belain beli segala sesuatu yang berhubungan dengan <i>Radiohead</i>. “Semua kaset, CD ama poster-posternya aku beli. Trus belajar bawain lagu-lagu <i>Radiohead</i>. Band aku juga bawain <i>Radiohead</i>. Pokoknya semua albumnya kumplit,”akunya. Hmm&#8230; sampe segitunya ya.</p>
<p>Irfan, teman satu sekolah dengan Sandi juga punya idola. “Luna Maya idola saya!” jawabnya. Ketika ditanya apa buktinya kalo doi pengagum Luna, Irfan bilang, “Suka nonton sinetronnya. Gak pernah terlewat. Cari-cari foto dia di internet. Trus bawa fotonya kemana-mana”.</p>
<p>Kamu punya obsesi nggak dengan idola kamu? “Cium dia terus minta alamat ama foto bareng. Ya sukur-sukur kalo mau ML. Hehehehe&#8230;” ungkap Irfan jujur ketika <i>SoDa</i> ngasih pertanyaan: “apa yang bakal kamu lakuin sama idola kamu, kalo seandainya doi mampir ke rumahmu?” Wah, wah, gawat <i>tenan iki!</i></p>
<p>Hmm&#8230; kalo gitu wajar banget kalo Gene Simmons dipuja para penggemarnya. Vokalis dan basis Kiss itu—grup hard rock yang personelnya gemar berpupur tebal—dalam otobiografinya, <i>Kiss and Make Up</i>, bercerita bahwa ia telah meniduri ribuan wanita. Tentu semuanya <i>groupies</i>, yang merelakan tubuhnya untuk sang idola.</p>
<p>Bongky Ismail Marcel, pembetot bas dari BIP, punya pengalaman dengan kegilaan penggemarnya. Ketika masih bergabung dengan grup musik Slank, kisah Bongky, dia pernah diculik lima penggemar. Semuanya wanita. Dia dibawa ke sebuah pesta gadis-gadis itu. “Penculikan” itu bisa terjadi lantaran kelima gadis tadi mengaku sebagai panitia sebuah acara tempat Slank akan tampil. Bongky tidak mau bercerita terbuka tentang apa yang selanjutnya terjadi setelah “penculikan” itu diketahuinya. Yang jelas, katanya, seperti orang-orang sibuk mengadakan rapat di luar kota, semuanya bisa terjadi&#8230; (<i>Koran Tempo, 13 Februari 2005)</i></p>
<p>Ehm, mungkin inilah yang disebut David Allyn, penulis buku <i>Make Love Not War</i>, sebagai kontrak batin untuk memburu kesenangan. Demi sang idola, mereka dengan senang melakukan apa saja. Ckckck…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Cara seleb mengikat fans</b></p>
<p>Apalah artinya bintang kalo tak punya dukungan dari penggemarnya. Bahkan sejatinya, yang menjadikannya bintang (selebriti) adalah salah satunya peran dari fans. Itu sebabnya, banyak cara dari para bintang untuk lengket dengan para penggemarnya.</p>
<p>Dulu, sebelum bubar, Dewa 19 misalnya, untuk berkomunikasi dengan para <i>Baladewa</i>-nya mereka menyediakan layananan SMS dengan nomor khusus dan bahkan bersedia <i>chatting</i> dengan para penggemarnya. Urusan <i>merchandise</i> pun udah nggak keitung modelnya (mulai dari kaus, gantungan kunci, bendera, dan lainnya) menjadi pengikat erat dengan pengagumnya.</p>
<p>Kamu pasti tahu dong para <i>Slankers? </i>Yup, sebutan untuk para penggemar grup band Slank ini dimanjakan oleh Slank. Kalo mereka main ke Gang Potlot, Jakarta Selatan, yang merupakan mabesnya Slank, para fans ini dibuat tak ada jarak, membaur dengan personel Slank. “Tanpa mereka, kami bukan apa-apa,” kata Bimbim suatu ketika. Para slankers juga punya kartu identitas, dan bahkan ada yang rela menjadi <i>Bidadari Penyelamat</i> untuk mengamankan Slank kalo sedang konser.</p>
<p>Untuk mengikat para fansnya, sebelum bubar, Peterpan pun punya “Sahabat Perterpan”, Padi memiliki “Sobat Padi”. Sheila on 7 bikin “Sheila-gank”. Untuk Edane ada “Friends”. Nike Ardilla juga punya fans setianya yang punya dedikasi tanpa batas, bahkan setelah meninggal pun banyak penggemarnya yang berziarah ke makam bintang pop yang meninggal pada 19 Maret 1995, di usia kurang dari 20 tahun. Untuk mengikat fans yang berserakan itu, ada yang mengkoordinirnya di bawah bendera “Nike Ardilla Fans Club”.</p>
<p>Ya, ikatan para bintang dan fansnya ibarat <i>simbiosis</i> <i>mutualisme</i>. Kontrak saling menguntungkan. Para bintang butuh penggemar, dan para fans pun butuh idola yang bisa dijadikannya sebagai penyaluran dari naluri mensucikan sesuatu. Pemuas dahaga batinnya akan keberadaan sang pujaan. Sayangnya, pemuasannya di jalur yang keliru. Jadi seperti kata Aa Gym, “Ini ladang dakwah kita”. Yuk, mulai kenalkan Islam kepada mereka. Selain tentunya benahi diri kita juga agar tak kejebur jadi groupies. Setuju ya? Setuju aja dah! Hehehe..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Repotnya jadi bintang</b></p>
<p>Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, nggak selamanya jadi bintang itu menyenangkan. Mungkin awalnya kepikiran bahwa kalo jadi bintang nggak bakalan repot. Namanya juga bintang, cuma bisa dilihat tapi nggak bisa disentuh apalagi diraih. Bintang kan jauh di luar angkasa! *kalo bintang beneran tentunya.</p>
<p>Tapi, waktu telah merubah segalanya. Kini menjadi bintang malah bikin was-was. Nggak tenang, bahkan bisa jadi malah nggak bahagia. Was-was khawatir ada fans yang nekat masuk ke wilayah paling pribadi. Mungkin cuma bintang <i>national geographic</i> aja yang adem-ayem tanpa fans yang suka nekat (idih, ketahuan suka nonton <i>Animal Planet!</i>).</p>
<p>Rasa was-was dan nggak bahagia memang bikin repot, bahkan bikin nyawa melayang. Itu pula yang menimpa John Lennon. Suaminya Yoko Ono yang ngetop lewat lagu <i>Imagine</i> ini malah tewas ditembak Mark Chapman, penggemarnya sendiri pada 5 Desember 1980. Jamannya ditayangkan opera sabun dari Kolombia di tivi nasional pada tahun 1999-2001, ada bintang yang namanya Ana Maria Orozco. Dia berperan sebagai Betty La Fea (Betty Jelek) sering mengalami depresi berat. Pasalnya, setelah filmnya melejit, si Betty ini jadi banyak penggemar di Amerika Latin dan Amerika Serikat. Kenapa depresi? Karena sering diburu penggemarnya bahkan tak jarang mendapat ancaman penculikan. Waduh!</p>
<p>Nah, jika kasus seleb lokal dan mancanegara saja lebih banyak pahitnya sebagai bintang, masihkah kita berharap untuk napak tilas perjalanan karir mereka? Lebih baik dipikir beribu kali sebelum memutuskan terjun di sana. Atau&#8230; saat sekarang, ada baiknya berpikir bijak dan dewasa, bahwa idola kamu itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Bersikap sewajarnya saja. Jadi, tak perlulah nekat memburunya, apalagi menjadi para <i>groupies</i>. Tul nggak? <b>[solihin, </b>modifikasi dari artikel lama saya di <i>Majalah Sobat Muda</i><b> | Twitter: <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/selebriti-dan-para-groupies-nya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Narsis Nggak Bikin Eksis</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/narsis-nggak-bikin-eksis</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/narsis-nggak-bikin-eksis#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2013 17:01:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[eksis]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kepribadian]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[narsis]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[riya']]></category>
		<category><![CDATA[sum'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4587</guid>
		<description><![CDATA[gaulislamedisi 275/tahun ke-6 (16 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 28 Januari 2013) &#160; Waduh, nuduh nih! Eits, bukan nuduh, tapi ini sih udah ngejeblagin alias dibeberin dah. Hehehe… sori, kamu yang suka narsis sebenarnya nggak bakalan bisa eksis. Lama-lama orang tahu kok jeroan kamu kayak gimana. Bener! Nah, ngomong-ngomong soal narsis, sebenarnya dalam Islam diatur banget ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/narsis-nggak-bikin-eksis">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislamedisi 275/tahun ke-6 (16 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 28 Januari 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waduh, nuduh nih! Eits, bukan nuduh, tapi ini sih udah <i>ngejeblagin</i> alias dibeberin dah. Hehehe… sori, kamu yang suka narsis sebenarnya nggak bakalan bisa eksis. Lama-lama orang tahu kok jeroan kamu kayak gimana. Bener!</p>
<p>Nah, ngomong-ngomong soal narsis, sebenarnya dalam Islam diatur banget lho. Urusan narsis alias cinta kepada diri sendiri secara berlebihan ini dibahas dalam syariat. Perilaku narsis ini dalam level tertentu malah memunculkan adanya keinginan untuk tampil dilihat orang. Nah, perilaku narsis ini dalam Islam ada aturan mainnya, khususnya kalo udah nyangkut amal shalih. Bener lho. Jangan sampe kamu dijajah oleh pikiran dan perasaan kamu ingin dianggap ngetop, ingin dianggap ibadahnya paling getol dan paling sempurna, ingin mendapat perhatian dan simpati orang lain. Sehingga kamu dapetin semua label itu setelah kamu “jual diri” kamu sedemikian rupa dengan harapan teman kamu akan melirik kamu dan menganggap kamu lebih dalam segala hal. Ibadah dan amalan shalih yang kamu kerjakan, jika itu disusupi dengan sifat riya’ menjadi sia-sia, Bro. Tahan ya supaya kamu nggak sampe jatuh ke dalam sifat riya’ tersebut.</p>
<p>Allah Swt. berfirman (yang artinya), <i>“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.”</i> <b>(QS an-Nisaa’ [4]: 38)</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, Allah Ta’ala udah ngasih ‘rambu-rambu’ dengan jelas dalam al-Quran mengenai sifat riya’ ini. <i>So</i>, jangan sampe deh kita beramal baik dan beribadah tapi disusupi oleh sifat ingin dipuji dan dilihat oleh orang lain sebagai orang yang lebih dibanding mereka dalam beramal baik dan beribadah tersebut.<span id="more-4587"></span></p>
<p>Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis qudsi (yakni hadis yang disandarkan kepada Allah Swt., kemudian Rasulullah saw. menceritakan dan meriwayatkannya dari Allah Swt.), <i>“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku terkaya dari semua sekutu untuk mempersekutukan, maka siapa saja yang telah beramal suatu perbuatan yang dipersekutukan dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia dengan sekutunya itu.” </i><b>(HR Muslim dari Abu Hurairah ra.)</b></p>
<p>Sobat muda muslim, satu ilmu lagi kita dapat. Hadis qudsi ini kian mengukuhkan bahwa Allah Swt. nggak bakalan nerima ibadah dan amalan shalih kita jika dalam melakukannya masih ada jejak riya’. Duh, sia-sia banget kan?</p>
<p>Dalam buku <i>Mengarungi Samudera Ikhlas</i>, karya Ustad Rachmat Ramadhana al-Banjari, beliau mengutip pendapatnya Imam al-Ghazaly rahimahullah. Menurut Imam al-Ghazaly, riya’ itu dibagi menjadi lima bagian. Pertama, riya’ dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, seperti memperlihatkan kurusnya badan dan pucatnya muka; sehingga dengan kurusnya badan orang mengira dia banyak berpuasa dan dengan pucatnya wajah orang akan mengira ia adalah orang yang banyak berjaga malam dalam melakukan shalat tahajud.</p>
<p>Hehehe.. kalo kita sih kayaknya emang kenyataan kali ye. Badan kurus karena lupa makan disebabkan waktunya lebih banyak digunakan main PS dan game online atau muka pucat karena sering terjaga di malam hari disebabkan kecanduan online di facebook. Huahahaha.. nggak seru amat. Tapi, ya kalo pun kita memang kenyataannya adalah banyak puasa sunnah dan shalat malam, namun nggak harus kan badan sampe kurus dan muka pucat? Lagi pula nggak perlu deh kita koar-koar di timeline twitter dan wall facebook kita bahwa kita sedang beribadah ini dan itu. Ok?</p>
<p>Kedua, menurut Imam al-Ghazaly tentang riya’, adalah riya’ dengan penampilan sosok tubuh dan pakaian, seperti membiarkan bekas-bekas sujud di dahi, supaya dikatakan rajin shalat dan ahli sujud, atau dengan memakai pakaian yang biasa dipakai oleh orang-orang shalih agar ia dikatakan termasuk shalih.</p>
<p>Bro, ini emang tergantung niat dan kenyataan. Kalo emang faktanya ada bekas sujud di dahi kita (warna hitam) karena sering melakukan shalat malam (maklum kalo shalat malam kan waktu sujudnya dianjurkan lama dari shalat yang biasanya), tapi jangan sampe kita ngerasa untuk memamerkan ke orang-orang bahwa kita rajin shalat malam. Nanti amalan kita nguap gitu aja. Sebab, yang kita harapkan adalah ridho Allah Swt., juga pujian dari Allah bukan ridho dan pujian dari manusia. Iya kan?</p>
<p>Soal ini, dulu ada temen saya yang guyonan ke orang yang sepertinya ngerasa bangga punya tanda hitam di dahi. Temen saya bilang, “jangan bangga dulu punya tanda hitam yang hanya di dahi, kalo saya sih di sekujur tubuh,” komentarnya sambil tertawa. Kebetulan emang yang bilang ini adalah pembalap alias pemuda berbadan gelap. Wakakakak…</p>
<p>Ketiga, Imam al-Ghazaly membagi bentuk riya’ dalam hal perkataan. Misalnya, selalu berbicara masalah keagamaan supaya dikatakan orang bahwa ia ahli agama atau pecinta agama.</p>
<p>Sobat gaulislam, kalo faktanya bahwa kamu selalu berbicara masalah agama dengan teman kamu dan niatnya bukan karena ingin dianggap ahli agama, insya Allah bukan riya’. <i>So</i>, semua perbuatan itu tergantung niatnya. Itu sebabnya, yang tahu bahwa kita riya’ atau nggak adalah kita dengan Allah Swt. Tapi, orang lain pun insya Allah bisa ‘menebak’ apa yang kita katakan dan umumnya orang merasa bangga dengan apa yang dikatakannya dalam hal-hal tertentu yang bisa membuat orang lain simpati atau mengagumi dirinya. Benar banget apa yang disampaikan Imam al-Ghazaly.</p>
<p>Keempat, Imam al-Ghazaly memasukkan bentuk riya’ dalam hal perbuatan. Misalnya nih, sengaja memperbanyak shalat sunat di hadapan orang lain supaya dikatakan shalih.</p>
<p>Bro en Sis, kalo kamu di sekolah pas jam istirahat pertama (biasanya jam 10-an gitu deh) pergi ke mushola dan melakukan shalat dhuha. Terus sengaja pamerin diri (niat dalam hati) bahwa apa yang kamu lakukan itu supaya teman-teman kamu memujimu sebagai anak yang shalih. Waduh, itu udah masuk kategori riya’. Tapi kalo kamu kuat tahan dari godaan riya’ dan memang tiap hari juga melakukan shalat dhuha, ada atau tanpa ada yang melihat dan niat dalam hati bukan karena ingin dipuji orang lain, insya Allah hal itu nggak termasuk riya’. Jadi, emang kembali kepada niat kita dalam berbuat.</p>
<p>Nah, yang terakhir dalam pembagian riya’ menurut Imam al-Ghazaly, yakni riya’ dalam hal persahabatan. Kok bisa? Iya, misalnya nih kamu harus menjadwalkan dan bahkan memberati diri untuk selalu mengiringi guru ngaji kamu kemana pun ia melakukan kegiatan, dengan harapan bahwa kamu akan dipuji oleh teman-teman kamu sebagai orang yang alim.</p>
<p>Bro en Sis, penyakit riya’ ini emang bahaya banget. Kudu ati-ati jangan sampe kita menjadikan setiap amalan disusupi dengan riya’ karena akan menjadi sia-sia. Ih, nggak banget kan? Amalan yang banyak tapi bukan diniatkan karena Allah Swt. akan berakhir dengan kesia-siaan. Ini memang perkara gampang secara teori, tapi susah dalam praktik. Mudah-mudahan kita semua bisa beribadah dan beramal hanya karena ingin mendapat ridho Allah Swt., bukan ridho dan sanjung puji dari manusia. Setuju kan?</p>
<p>Nah, kalo gitu, nggak usah narsis deh dalam urusan amal shalih. Diem-diem aja. Sebab, yakinlah bahwa Allah Ta’ala Maha Melihat apa yang kita kerjakan dan bahkan yang kita niatkan. Waspadalah!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Selain riya’, jangan juga sum’ah</b></p>
<p>Apa arti sum’ah? Kamu udah tahu? Yup, sum’ah itu adalah sikap atau sifat senang dan gemar memperdengarkan amal perbuatan yang telah ia lakukan kepada orang lain dengan harapan agar orang lain menyanjung dan memujinya. Sum’ah ini sebenarnya bagian dari penyakit riya’, ‘ujub, dan takabur. Tapi dengan fokus penjelasan yang sedikit berbeda.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, sikap sum’ah ini memang nggak kerasa banget ya menyusup dalam hati dan pikiran kita. Kalo kita kebetulan pernah menolong orang, lalu orang bercerita tentang kebaikan kita, kita senang banget mendengarnya dan bahkan dengan sengaja kita berusaha mengungkit-ungkit masa lalu tersebut dan memancing-mancing agar orang yang tahu masalahnya untuk bercerita kepada orang lain di hadapan kita dengan harapan kita akan merasa bangga mendengar hal itu. Waduh, kalo sampe kayak gitu, berarti kita udah kena tuh penyakit sum’ah ini. Ati-ati ya!</p>
<p>Contoh lainnya adalah ketika kamu pandai membaca al-Quran dengan tajwid yang benar dan suara yang merdu. Nah, karena ingin agar orang-orang di sekitar kamu mendengar bacaan kamu itu, lalu kamu keraskan suaramu sambil berharap orang-orang yang ngedengerin tersebut berdecak kagum dan memuji amalan kamu itu. Ini sifat sum’ah sobat, nggak baik kamu melakukannya. Memang sih ada manfaatnya yakni kamu bisa dikenal dan dipuji oleh orang lain karena kelebihan yang kamu miliki. Tapi, manfaat itu jadi nggak ada artinya karena keikhlasanmu ternoda sifat itu, dan tentu aja Allah Swt. nggak suka kita berbuat demikian. Bahkan konsekuensinya, amalan kita terancam sia-sia karena berbuat bukan atas keikhlasan karena Allah Swt. Hadeeuuh&#8230;</p>
<p>Kalo faktanya memang kamu bisa seperti itu. Nggak usah mikir akan dipuji orang lain. Lurus-lurus saja, toh kalo pun memang mereka memujimu, anggap saja bagian dari “efek samping” perbuatan baikmu itu. <i>So</i>, jagalah hati dan pikiranmu agar keikhlasanmu tak ternoda sikap sum’ah ini.</p>
<p>BTW, sedikit melenceng dari pembahasan tapi masih ada hubungannya yakni ketika kamu merasa bangga dengan dosa-dosa yang telah kamu perbuat. Kalo sikap sum’ah itu kan senang mendengar atau memperdengarkan amalan baik yang pernah kita lakukan. Nah, lebih parah kalo ada orang yang merasa bangga ketika perbuatan maksiatnya disebut-sebut orang dan dia berusaha untuk memberikan imej bahwa dirinya memang pernah berbuat dosa dan merasa bangga dengan dosa-dosa tersebut. Bangga ketika ada orang yang menyebut dirinya pezina, sering nenggak minuman keras, aktif sebagai pengunan narkoba dan jenis maksiat lainnya. Bukan hanya itu, ia merasa harus memancing-mancing perkataan kawan-kawannya agar membicarakan dosa yang telah diperbuatnya agar orang lain tahu. Waduh, itu sih sama dengan membuka aib sendiri. Bukannya menyesal dan bertobat malah bangga dengan dosa. Udah gitu, masih jadi pelaku aktif lagi. Ih, <i>naudzubillahi mindzalik</i>.</p>
<p>Oke deh, jangan coba-coba narsis ya. Narsis dalam hal kehidupan secara umum aja nyebelin dan nggak disuka teman, apalagi dalam masalah ibadah (amal shalih), bisa-bisa kamu nggak akan eksis di hadapan Allah karena amalanmu menguap semua nggak berbekas digerogoti riya’ dan sum’ah. Jangan sampe deh. Ayo, benahi ikhlas kita. Mulai sekarang juga. Bismillah. <b>[solihin | Twitter: <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/narsis-nggak-bikin-eksis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alhamdulillah, RSBI Bubar!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/alhamdulillah-rsbi-bubar</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/alhamdulillah-rsbi-bubar#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2013 17:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[RSBI]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4581</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislamedisi 274/tahun ke-6 (9 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 21 Januari 2013)   Ayo, siapa di antara kamu yang tahu RSBI? Hmm… yang pasti RSBI bukan Rumah Sakit Bersalin Indonesia, atau pun Ra iso Sekolah, Bayar Iso (nggak bisa sekolah, bayar jadi bisa), tapi adalah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Kalo ditilik dari singkatan resminya, sebenarnya ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/alhamdulillah-rsbi-bubar">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislamedisi 274/tahun ke-6 (9 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 21 Januari 2013)</p>
<p><b> </b></p>
<p>Ayo, siapa di antara kamu yang tahu RSBI? Hmm… yang pasti RSBI bukan Rumah Sakit Bersalin Indonesia, atau pun <i>Ra iso Sekolah, Bayar Iso </i>(nggak bisa sekolah, bayar jadi bisa), tapi adalah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Kalo ditilik dari singkatan resminya, sebenarnya RSBI ini mustinya keren banget, namun yang namanya ‘rintisan’ juga memiliki arti ‘diusahakan’, belum memberikan kepastian, hingga akhirnya Mahkamah Konstitusi memberikan kepastian final dengan membubarkannya. Diulang: membubarkannya.</p>
<p>Program RSBI mulai digulirkan pemerintah dengan alasan untuk mengejar ketertinggalan pendidikan di Indonesia dengan negara-negara lain, sehingga nantinya diharapkan jebolan dari program RSBI ini bisa bersaing dikancah internasional. Tapi apa daya, niat mulia tersebut langsung direspon oleh kalangan pebisnis sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan dari dunia pendidikan. Hasilnya? terjadi stigmatisasi bahwa pendidikan yang bertaraf internasional adalah pendidikan yang mahal dan bahasa pengantar belajarnya pun harus disampaikan dalam bahasa Inggris, walaupun sekolahnya sendiri ada di Indonesia, dididik oleh orang Indonesia, yang dulunya juga sekolah di Indonesia.</p>
<p>Lebih lucu lagi, ketika orang Indonesia sudah pada mulai jago bahasa Inggris, eh ternyata anak-anak negara lain pada belajar bahasa Cina dan Korea Selatan, karena emang sekarang Cina dan Korea Selatan perlahan menjadi kiblat baru dalam berbagai hal, Cina sudah menjadi kiblat baru dalam bidang ekonomi, teknologi dan militer. Hollywood dan Bollywood yang sebelumnya menjadi kiblat seni dan budaya populer, sekarang Korea Selatan yang bertahta dengan K-Wave. Kalo suatu ketika nanti giliran Indonesia yang bertahta, anak-anak negara lain mulai belajar bahasa Indonesia, apa ya kita masih ngeyel belajar bahasa asing?<span id="more-4581"></span></p>
<p>Oya, dalam hal ini bukan berarti belajar bahasa asing tidak ada manfaatnya, namun ketika masih dalam fase pendidikan, pemahamanlah yang mustinya diutamakan. Nggak peduli mau pake bahasa apa, justru sejarah membuktikan, penerjemahan berbagai macam ilmu (buku) ke bahasa lokal akan sangat membantu bangsa tersebut untuk lebih maju. Lihatlah bagaimana Islam semakin tersebar luas, ketika mulai banyak ajarannya diterjemahkan ke dalam bahasa lain, lihat juga bagaimana Jepang bisa bangkit dengan cepat setelah kalah perang.</p>
<p>Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, program RSBI sebenernya tidaklah mutlak buruk. Ide dasarnya cukup mulia, namun pelaksanaannya yang hancur lebur. Program yang belum sempat membuktikan kehandalannya tersebut, sudah dieksploitasi sejak awal untuk bisnis, sehingga semakin mempertajam jurang kesenjangan pendidikan di Indonesia. Buktinya, mereka yang kaya bisa sekolah di mana saja, sementara siswa yang pintar belum tentu, apa lagi sudah tidak pintar, miskin pula. Ironinya, kelompok terakhir inilah yang dominan di Indonesia. Di lain sisi, siswa kaya belum tentu pintar. Maka, dengan mengakomodasi siswa kaya dan tidak pintar ini ke dalam sekolah unggulan, justru berpotensi menurunkan kualitas sekolah unggulan tersebut. Betul nggak?</p>
<p>Sobat muda muslim, menurut ente pade, mana yang lebih membanggakan bagi seorang guru: mendidik anak yang sudah pintar untuk kemudian menjadi lebih pintar atau berhasil mengubah anak yang sebelumnya tidak pintar menjadi pintar? Ayo jawab! Yup, sebenernya keduanya tidaklah salah, namun menilik kondisi Indonesia saat ini, mustinya pilihan untuk mengubah anak yang tidak pintar menjadi pintar, lebih prioritas.</p>
<p>Bila siswa yang pintar memperoleh prioritas karena kepintarannya, semestinya siswa yang tidak pintar, juga memperoleh prioritas. Namun yang terjadi saat ini adalah siswa yang tidak pintar ini akan semakin susah untuk sekolah, apalagi mengenyam fasilitas pendidikan yang premium, mimpi kali ye?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Bertaraf internasional</b></p>
<p>Menurut ane, yang dimaksud dengan bertaraf internasional sejatinya adalah pengakuan. Pengakuan dari siapa? Pengakuan dari masyarakat internasional. Bukan standar yang ditetapkan oleh pemerintah negara tertentu, bukan pula dari standar fasilitas dan bayaran yang tinggi. Jadi sebuah sekolah akan berubah statusnya menjadi sekolah bertaraf internasional dengan sendirinya, ketika sistem pendidikannya diakui oleh masyarakat internasional. Hal ini ditandai dengan, ketika orang dari berbagai negara, berebut untuk masuk sekolah tersebut, atau ketika sekolah tersebut bisa menyelenggarakan pendidikan lintas negara, karena diakui standarnya. Misal nih,  SMP Negeri 4 Surakarta buka cabang di New York, London dan Paris. Kalo itu sih sudah jelas dengan sendirinya sekolah tersebut menjadi bertaraf internasional.</p>
<p>Kalo melihat dari uraian sebelumnya sepertinya sekolah bertaraf internasional akan sulit dicapai, namun apa bener seperti itu? Tidak juga, kalo kita menilik pendidikan Islam yang diselenggarakan di Indonesia oleh pesantren, kita patut bangga, karena di beberapa pesantren yang ada di Indonesia, santri mereka berasal dari berbagai negara. Santri asing ini sengaja datang ke Indonesia khusus hanya untuk sekolah di pesantren tersebut. Selain itu yang ane tahu, prestasi ulama Indonesia dalam bidang pendidikan juga cukup membanggakan. Seorang ulama Indonesia di bidang bahasa Arab, buku karyanya mengenai belajar bahasa Arab, justru digunakan di Mesir saat ini, sebagai buku rujukan belajar bahasa Arab untuk tingkat dasar. Ya, logikanya, kalo buku tersebut menjadikan orang non Arab mudah berbahasa Arab, apalagi orang Arab, ya toh? Tapi ada juga sih yang lahir di Arab, besar di Arab, tapi seumur hidupnya tidak pernah bisa bahasa Arab, siapa coba? Onta!</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, dalam Islam pendidikan difokuskan pada skill alias kemampuan tertentu (mirip sekolah kejuruan). Dalam sepanjang sejarah Islam akan banyak kita temui berbagai ulama dengan skill yang spesifik, misal penghafal hadist, penghafal al-Quran, ulama fikih, kadang masih dibagi lagi kepada fikih bidang tertentu, misal fikih ekonomi dan sebagainya. Jelas bahwa pembagian tersebut berdasar pada bidang keahlian masing-masing ulama, bukan pada pengelompokkan tertentu, misal ulama SD, ulama SMP atau ulama S3.</p>
<p>Tradisi keilmuan yang kokoh dalam Islam tidak dibangun dalam sehari atau setahun dua tahun saja. Seringkali para penuntut ilmu belajar kepada 1 guru/ulama hanya untuk satu bidang ajar saja, kemudian berpindah ke guru/ulama yang lain untuk mempelajari bidang ajar yang lain. Sehingga akhirnya Islam selalu sukses menghasilkan generasi yang mumpuni di sepanjang masa. Catet Bro!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Berantakan!</b></p>
<p>Ada dua hal yang menjadikan pendidikan kita berantakan saat ini. Pertama, ingin instan. Hmm… generasi terdahulu mempelajari al-Quran sedikit demi sedikit bukan tanpa tujuan atau karena malas, namun mereka melakukannya agar bisa memahami al-Quran secara benar, sekaligus untuk diamalkan. Diriwayatkan bahwa Ustman bin Affan, Ubai bin Ka’b serta Ibnu Mas’ud menyatakan, mereka tidak akan ditambah 10 ayat lainnya oleh Rasulullah, kecuali telah mengamalkan 10 ayat sebelumnya. <b>(lihat al-Jami‘ li al-Ahkam al-Quran, 1/51)</b></p>
<p>Itu sebabnya, mempelajari al-Quran dengan cara seperti ini membuat para Sahabat semisal Ibnu Umar baru bisa mengkhatamkan surat al-Baqarah selama delapan tahun. Sedangkan Umar bin al-Khaththab untuk menghafal al-Baqarah membutuhkan waktu 10 tahun. Namun hasil dan kualitasnya tidak diragukan lagi.</p>
<p>Nah, kalo kita lihat pendidikan saat ini, semuanya serba instan. Baru sekolah 1-2 tahun sudah dituntut untuk bisa seperti ulama. Belum lagi berbagai metode instan untuk lolos ujian nasional yang ditawarkan oleh bimbingan belajar, seolah-olah 3 bulan kursus atau ikut bimbel dijamin lolos UN atau tembus PTN favorit. Lah kalo seperti ini, terus buat apa sekolah lama-lama? Mending ikut bimbel aja langsung lulus. Iya nggak sih? *iya aja deh daripada bonyok (nggak nyambung hehehe..)</p>
<p>Kedua, pengelompokan pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia dipecah berdasarkan kelompok umur, semula hanya ada TK, SD, SMP, SMA dan S1 sd S3. 4 kelompok yang pertama adalah berdasar usia anak didik. Sementara untuk level strata 1 sampe 3 pengelompokkannya lebih kepada kemampuan dan spesialisasi. Namun pengkastaan ini kemudian berkembang, menjadi PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), playgroup, TK, SD, SMP, SMA, SMK, Diploma 1-3 dan Strata 1-3. Pengkastaan ini terus berkembang, termasuk di dalamnya mulai menyelipkan program RSBI yang bermasalah itu.</p>
<p>Nah, karena pengkastaan ini awalnya berdasar kelompok umur, alhasil menjadi tidak relevan bagi dunia kerja, karena di dalam dunia kerja umumnya yang dituntut adalah skill, bukan standar pendidikan berdasarkan kelompok umur. Di sinilah pangkal ketidak-cocokannya. Misal nih, skill yang dicari adalah untuk programer, ketika seorang anak usia 12 tahun mampu melakukannya, maka (seharusnya) dia bisa digaji sama dengan programmer lain yang usianya lebih tua, dalam dunia IT saat ini. Hal seperti ini sudah lumrah. Tapi kenyataannya gimana? Selalu syaratnya untuk diiterima kerja adalah udah lulus minimal SMA/SMK atau D3 atau S1. Iya kan? Nggak cocok jadinya.</p>
<p>Bro en Sis, suatu saat nanti, ketika semua sekolah adalah sekolah bertaraf internasional, maka tidak ada lagi perbedaan status, tidak ada lagi keistimewaan yang melekat, terus sekolah apa lagi yang akan kita cari? Dulu orang sangat bangga ketika bisa mengenyam pendidikan SD, karena memang waktu itu jumlah yang tidak bisa sekolah lebih banyak, seiring dengan waktu hal tersebut tidak lagi menjadi kebanggaan, sekarang kita hidup di era dimana pendidikan SD dan SMP udah standar, SMA/SMK banyak, sarjana banyak, S2 juga sudah mulai menumpuk, kalo suatu ketika nanti pendidikan S2 dan S3 sudah umum, terus sekolah apa lagi yang kita cari? Tapi Bro en Sis, bagi seorang muslim, belajarlah terus hingga maut menjemput. Amalkan selalu ilmu kita kapanpun dan di manapun. Semoga bermanfaat. <b>[Abu Fikri - @gaulislam]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/alhamdulillah-rsbi-bubar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emang Gaya, Kalo Ditato?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/emang-gaya-kalo-ditato</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/emang-gaya-kalo-ditato#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2013 17:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>
		<category><![CDATA[tato]]></category>
		<category><![CDATA[tatoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4574</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislamedisi 273/tahun ke-6 (2 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 14 Januari 2013) &#160; Siapa sih kita? Pertanyaan ini biasa dan mungkin sederhana sekali, tapi cukup susah dijawab. Kalo kita udah bisa jujur kepada diri kita sendiri, yakin deh bahwa kita juga bisa jujur kepada orang lain dan mau memahami cara pandang orang lain. Mengenali diri kita ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/emang-gaya-kalo-ditato">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislamedisi 273/tahun ke-6 (2 Rabi’ul Awwal 1434 H/ 14 Januari 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Siapa sih kita? Pertanyaan ini biasa dan mungkin sederhana sekali, tapi cukup susah dijawab. Kalo kita udah bisa jujur kepada diri kita sendiri, yakin deh bahwa kita juga bisa jujur kepada orang lain dan mau memahami cara pandang orang lain. Mengenali diri kita itu penting. Supaya kita nggak lupa diri. Supaya jangan merasa minder atau merasa jumawa. Mengenal diri kita adalah bagian dari rasa cinta kita yang harus ditumbuh-suburkan. Supaya kita lebih cinta dan sayang kepada diri sendiri.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, mungkin kita mulai belajar mengenal diri kita dari tubuh kita. Mata kita, misalnya. Ya, kita punya mata (kamu punya mata juga kan?). Sepasang benda ini mirip lensa kamera dan diletakkan di kepala bagian depan yang juga melengkapi istilah wajah. Sehingga mirip lampu yang bisa menerangi jalan kita dengan leluasa dan maksimal. Bayangkan jika mata diletakkan di organ kerja kita seperti tangan dan kaki, bisa-bisa rusak tuh pas kita kerja. Mungkin yang punya ide ‘gila’ berpikir, “Ah, kalo seandainya mata ada di telunjuk jari tangan kita kayaknya enak nih, kalo ngintip di pemandian umum nggak usah capek-capek nyari tangga, tinggal acungkan aja telunjuk kayak periskop kapal selam.” Hmm&#8230; sepintas emang menyenangkan. Tapi, dia lupa, gimana kalo akhirnya tuh telunjuk dipake ngupil? Atau misalnya harus dipake <i>nyocol</i> sambal? Bisa belepotan kotoran dan kepedihan karena nyungsep di kubangan upil dan sambel. Lagian, ngintip orang lain yang membuka aurat berdosa lho. Sumpah! (nah, ini nulisnya bener lho, nggak kayak anak alay yang nulisnya “cumpah” hehehe…) *suruh belajar ngomong lagi tuh. Udah gede masih kayak bocah umur 2 tahun.</p>
<p>Oya, selain mata yang merupakan indera untuk melihat, di kepala kita ditempatkan pula indera yang lain: telinga (indera pendengar), hidung (indera pencium), lidah (indera perasa, untuk mengecap rasa). Semua itu diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang indah, pas dan enak dipandang mata.<span id="more-4574"></span></p>
<p>Mungkin ada hikmahnya juga kali ya kalo kuping tuh ditaro di sisi kanan dan kiri kepala kita. Itu pula barangkali yang kemudian mengilhami orang membuat kacamata. Sebagai pengait frame kacamata. Hidung juga begitu manisnya dicetak sama Allah Swt. tuh dengan posisi lubangnya ke bawah. Hmm.. gimana jadinya kalo lubang hidung itu menghadap ke atas. Betapa repotnya kita kalo hujan turun sementara nggak bawa payung. Dan kita juga nggak bisa ngebayangin kalo lidah tuh ditaronya di luar mulut. Gimana jadinya karena akan merasakan begitu banyak rasa. Allah Swt. telah menciptakan tubuh kita dan organ-organnya dengan sebaik dan seindah mungkin. Subhanallah, dan sering-seringlah bersyukur dan beramal shalih atas karunia ini.</p>
<p>Nah, indera berikutnya yakni kulit—yang tidak saja ada di kepala, tapi di seluruh bagian tubuh luar kita adalah indera peraba. Kita bisa meraba apa pun yang kita pegang atau sentuh. Kulit tangan kita bisa merasakan benda kasar dan halus, atau kulit tubuh kita bisa merasakan hawa dingin, panas, dan juga gesekan lain yang menyentuh kulit.</p>
<p>Kalo dari sisi indera aja kita udah kenal diri kita, maka yakin kita akan merawatnya. Kita akan menggunakannya sesuai kebutuhan kita. Kita menjaganya dengan kecintaan yang penuh. Itu sebabnya, jika kita udah mengenal tubuh kita, maka kita nggak akan berani merusaknya kalo memang kita cinta kepada tubuh kita. Betul ndak? *jawab dengan jujur ya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Tato: bukti cinta palsu kita</b></p>
<p>Kalo ukurannya gaya, mungkin emang keren pake tato. Ibarat kain, tuh tubuh dibatik dengan cara dirajah. Tentu, supaya awet tinta dan bikin gambar tato tetep bagus, harus digambar di bawah kulit. Biar nggak kehapus begitu aja. Perbuatan-perbuatan yang rusak ini dilakukan dengan menyiksa dan menyakiti badan, yaitu dengan menusuk-nusukkan jarum pada badan orang yang ditato itu.</p>
<p>Oya, tato sekarang nggak selalu identik dengan preman. Karena ada juga sekarang slogan bahwa tato tuh bukan kriminal (emang bukan kriminal di hadapan manusia, tapi berdosa di hadapan Allah Swt.). Orang yang mungkin kita anggap baik-baik kayak pelajar, pemain bola, pengusaha, atau artis dan model ternyata juga banyak yang pake tato.  Sejumlah artis Indonesia yang tercatat memiliki tato antara lain Becky Tumewu, Ficky Burki, Karenina dan lain-lain. Bahkan Karenia, mengaku menyukai tato sejak umur 12 tahun. Dia ngakunya seneng aja. Maka jangan heran kalo dia memiliki tiga tato permanen bermotif naga, bunga, dan salib di lengan, pinggang, dan punggung. Selain menjadi perhatian, tatonya melengkapi gayanya berbusana. Hadeeeuh…</p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, belum lagi para seleb lapangan hijau. Rata-rata pemain sepakbola yang saya lihat di televisi pada saat main bola atau berita khusus seputar kehidupan di luar lapangan. Kamu kenal Marco Materazzi? Udah aki-aki dan nggak diajak lagi main di timnas Italia kayaknya sekarang mah. Nah, bek Italia yang sempat ditanduk Zinedine Zidane pas final Piala Dunia 2006 lalu di Jerman itu, punya tato di lengannya berupa tanggal-bulan-tahun kelahirannya dalam angka Romawi. Belum lagi David Beckham, Cristiano Ronaldo dan seleb lapangan hijau lainnya, termasuk si Diego Michels. Kalo musisi banyak banget dah. Dulu jamannya saya sempat seneng ama Metallica di tahun 1990-an, beberapa personelnya yang saya tahu itu bertato. Ada yang lainnya nggak? Waduh, kayaknya nggak cukup untuk nulis di buletin ini deh. Saking banyaknya. Baik musisi lokal maupun mancanegara, silakan diperiksa aja bagian tubuhnya, sepertinya banyak yang menjadikan tato sebagai gaya hidup demi kebebasan berekspresi.</p>
<p>Tapi, apa iya sih demi kesukaan dan tren kemudian kita melupakan bahaya tato itu sendiri buat kita? Merusak tubuh kita dengan cara ditato (termasuk ditindik or pearching), ternyata bisa mengundang penyakit. Salah satunya bisa didatengi virus HIV. Hiiiiy!</p>
<p>Pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan facial wajah diyakini berdasarkan penelitian bisa membantu penularan HIV. Kalo alat tusuknya itu (jarum) nggak seteril, misalnya bekas mentato orang yang udah terinfeksi HIV, terus nggak dibersihin lagi pas mentato orang lain, maka orang yang ditato setelahnya bisa tertular HIV. Tuh kan, itu namanya nggak cinta sama diri sendiri. Nggak cinta ama tubuh sendiri. Itu sebabnya, orang yang ditato or ditindik kuping, alis, hidung dan sebagainya itu sebenarnya cintanya itu adalah cinta palsu.</p>
<p>Belum lagi sebagai muslim kita bisa berdosa lho kalo ditato atau mentato. Sabda Rasulullah saw. <i>“Rasulullah saw. melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya.”</i> <b>(HR Thabarani)</b></p>
<p>Menurut Syaikh Yusuf Qardhawai dalam kitab <i>Halal-Haram dalam Islam</i>, “Kalau ada laki-laki yang berbuat demikian, maka dia akan lebih berhak mendapat laknat.”</p>
<p>Nah, lho. Menurut para ulama, laknat itu lawannya barokah. Kalo barokah adalah bertambahnya kebaikan. Tapi kalo laknat berarti bertambahnya keburukan dan itu bisa saja terus menerus. <i>Na’udzubillahi min dzalik!</i></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Sadarlah!</b></p>
<p>Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam. Ngeri banget deh kalo urusannya dengan pelanggaran terhadap syariat. Emang enak yang disebut gaya dan keren dengan tato? Banyak kok remaja muslim yang keren dan berprestasi tanpa tato. Kalo pengen jadi pusat perhatian, bukan dengan hal-hal yang salah atau maksiat. Bisa kok menjadi pusat perhatian dengan hal-hal yang positif dan menginspirasi. Coba, bahaya banget kalo niatnya pengen terkenal tapi dalam hal yang aneh dan merusak. Misalnya, terkenal karena—maaf—ngencingin sumur zamzam. Waduuuuh terkenal sih terkenal, tapi terkenal jeleknya dan bisa disumpahin seluruh kaum muslimin di dunia. Bahaya!</p>
<p>Bandingkan nih dengan para ulama yang terkenal karena keilmuannya. Siapa sih yang nggak mengenal Imam Syafi’i? Siapa pula yang belum pernah dengan nama beken para sahabat Rasulullah saw. yang diberi julukan Khulafa ar-Rasyidin? Subhanallah, mereka semua terkenal dalam kebaikan. Masa’ sih kita pengen terkenal dalam keburukan? Nggak banget! Makanya, belajar Islam ya biar kamu tambah pinter dan tambah bertakwa. Keren!</p>
<p><i>So</i>, mulai sekarang, bagi yang masih ditato segera sadar dan hentikan kebiasaan mentato diri. Bila tato itu bisa dihapus, hapus aja dah tatonya. Kalo nggak bisa? Imam an-Nawawi rahimahullah, mengatakan: <i>“…Kalau mungkin dihilangkan dengan pengobatan maka wajib dihilangkan. Jika tidak memungkinkan kecuali dengan melukainya dimana dengan itu khawatir berisiko kehilangan anggota badannya, atau kehilangan manfaat dari anggota badan itu, atau sesuatu yang parah terjadi pada anggota badan yang tampak itu, maka tidak wajib menghilangkannya. Dan jikalau bertaubat ia tidak berdosa. Tapi kalau ia tidak mengkhawatirkan sesuatu yang tersebut tadi atau sejenisnya maka ia harus menghilangkannya. Dan ia dianggap bermaksiat dengan menundanya. Sama saja dalam hal ini semua, baik laki-laki maupun wanita</i>.” <b>(Syarh Shahih Muslim, 14/332. Dinukil pula ucapan ini dan disetujui dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, 11/225, dan Nailul Authar, 6/228)</b> *kutipan pendapat Imam an-Nawawi ini dimuat dalam asysyariah.com</p>
<p><i>So</i>, kalo emang cinta sama tubuh kita, yang udah diberikan amanahnya oleh Allah Swt. untuk kita jaga, maka jangan sampe nih tubuh bagus ini kita rusak dengan cara mentatonya juga menindiknya. Selain bisa bahaya buat kita, juga bakalan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Sebab, itu termasuk perbuatan yang mengundang dosa. Hmm&#8230; semoga tulisan ini jadi nambah wawasan kamu. Yuk, kita jujur bilang cinta kepada diri sendiri, salah satunya dengan cara tidak merusak tubuh kita dengan cara mentatonya. Oke? Semoga menyadarkanmu. <b>[solihin | Twitter: @osolihin]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/emang-gaya-kalo-ditato/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Ini Terjal, Tapi Menyenangkan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jalan-ini-terjal-tapi-menyenangkan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jalan-ini-terjal-tapi-menyenangkan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2013 17:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4568</guid>
		<description><![CDATA[gaulislamedisi 272/tahun ke-6 (25 Safar 1434 H/ 7 Januari 2013) &#160; Saya pernah bikin puisi. Tetapi kalo dilihat-lihat lagi, sepertinya bukan kategori puisi. Tepatnya sih coret-coretan aja. Untungnya bukan di dinding. Waktu itu abis ngisi acara di Surabaya. Daripada bengong nunggu di bandara karena pesawatnya delay, saya nulis puisi. Hehehe.. sebenarnya saya nggak terlalu bisa ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/jalan-ini-terjal-tapi-menyenangkan">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" /> gaulislamedisi 272/tahun ke-6 (25 Safar 1434 H/ 7 Januari 2013)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya pernah bikin puisi. Tetapi kalo dilihat-lihat lagi, sepertinya bukan kategori puisi. Tepatnya sih coret-coretan aja. Untungnya bukan di dinding. Waktu itu abis ngisi acara di Surabaya. Daripada bengong nunggu di bandara karena pesawatnya <i>delay</i>, saya nulis puisi. Hehehe.. sebenarnya saya nggak terlalu bisa bikin puisi, meski waktu SMP sering nulis puisi saat ingin menumpahkan perasaan. Nah, ini dia puisi saya tersebut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>perjuangan belum berakhir</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kita sudah ada di sini</p>
<p>di jalan terjal pilihan kita</p>
<p>memang bukan hal terbaik untuk saat ini</p>
<p>ketika gemerlap dunia senantiasa menggoda</p>
<p>sahabat, aku tak sudi dirimu berhenti</p>
<p>di saat perjuangan baru saja dimulai</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kita sudah ada di sini</p>
<p>di jalan licin pilihan kita</p>
<p>memang bukan hal terbaik untuk saat ini</p>
<p>ketika keindahan dunia senantiasa merayu</p>
<p>sahabat, aku tak suka dirimu mengeluh</p>
<p>di saat perjuangan mulai terasa berat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kita sudah di sini</p>
<p>di jalan mendaki pilihan kita</p>
<p>memang bukan hal terbaik untuk saat ini</p>
<p>ketika kilauan dunia senantiasa mempesona</p>
<p>sahabat, aku tak mau semangatmu redup</p>
<p>di saat perjuangan tengah bergolak panas</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kita sudah di sini</p>
<p>dan akan lanjutkan perjalanan</p>
<p>: terjal, licin, dan mendaki</p>
<p>demi kehidupan yang lebih baik</p>
<p>kita siap tinggalkan kesenangan diri</p>
<p>: seperti yang pernah kita ikrarkan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kita sudah di sini</p>
<p>satu langkah telah kita ayunkan</p>
<p>jangan pernah mundur sejengkal pun</p>
<p>ini jalan yang kita pilih</p>
<p>jalan dakwah</p>
<p>: merevolusi kekufuran, tegakkan kebenaran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>jangan berhenti di sini</p>
<p>karena revolusi selalu butuh martir</p>
<p>dan memang perjuangan belum berakhir</p>
<p>yakinlah</p>
<p>kibar kemenangan Islam pasti datang</p>
<p>mari berjuang</p>
<p>jangan pernah berhenti</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i>Ruang Tunggu Bandara Internasional Juanda, Surabaya. </i></p>
<p><i>29 April 2007</i></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hehehe.. gimana Bro en Sis rahimakumullah? Keren nggak tulisan yang menyerupai puisi ini? Idih, gue kok jadi narsis gini sih? Ehm, itu lagi ada ‘godaan’ dikit, Bro en Sis. Kadang saya harus melakukan sesuatu untuk meyakinkan jalan yang telah dan akan saya pilih. Saya pikir semua orang pasti punya masalah. Tentu saja berbagai macam masalah. Tak semuanya sama. Kalaupun ada yang sama, mestinya ‘angle-nya’ berbeda. Selain itu, (seharusnya) mereka pun punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Tul nggak? Hah? Nggak? Betul aja deh! *maksa banget.<span id="more-4568"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Kuat fisik, kuat mental</b></p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, jadi aktivis dakwah itu konon katanya adalah pilihan di tengah <i>mainstream</i> alias arus utama yang memang bertentangan dengan jalan dakwah. Arus utama kehidupan saat ini adalah gaya hidup yang hedonis, permisif, sekuler. Sementara jalan dakwah adalah jalan penuh kemuliaan, kebaikan, dan tentunya kebenaran sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya. Meski jalan menuju kemuliaan itu terasa berat. Terasa terjal, berliku, berlubang, dan membahayakan. Tapi yakinlah bahwa itu sekadar ujian. Semoga kita jadi tahan banting.</p>
<p>Ngomongin tentang beratnya kehidupan, Aa Gym, dalam narasi awal di salah satu lagu The Fikr bertutur: “jalan berliku, terjalnya tebing, curamnya jurang, bukanlah sesuatu yang mengerikan. Yang paling mengerikan adalah kehilangan keberanian untuk mengarungi kehidupan. Siapapun yang berani mengarungi kehidupan, dia harus menikmati hiruk-pikuk kesulitan, terjalnya masalah, dalamnya kepiluan, karena di balik semua itu tersimpan hikmah yang dalam. Bagi pencari kebenaran, kenikmatan adalah untuk terus mencari, mengarungi samudera kehidupan.”</p>
<p>Sobat muda muslim, untuk menjadi ahli kung-fu, Jacky Chan dan Jet Li kalo di film-filmnya mereka yang versi jadul (tahun 80-an lah) dilatih memikul jerigen berisi air sambil lari-lari, atau ambil air pake mangkok untuk ngisi tempat air besar. Udah gitu, caranya bikin ribet. Kedua kakinya dikaitkan ke sebatang bambu di atas kayak orang main sirkus. Kepala ada di bawah. Nah, lalu tangannya megang mangkok untuk ambil air di jerigen besar di bawah yang akan diisikan ke tempat air di atas yang lebih besar. Halah, latihan yang ribet dan berat. Bahkan tak ada hubungannya dengan jurus-jurus kung-fu. Tapi ternyata itu adalah untuk membiasakan fisik mereka tahan bantingan.</p>
<p>Bagaimana setelah latihan itu? Baru deh, ketika dirasa cukup, biasanya sang guru akan nularin ilmu kung-fu ke muridnya tersebut. Meski itu di film, tapi saya merasa yakin bahwa belajar kung-fu memang tak langsung dilatih jurus-jurus bertarung. Sama seperti main bola. Cristiano Ronaldo dkk nggak melulu latihan menggocek bola. Tapi ada latihan fisiknya. Kalo ini, saya merasa yakin banget karena mereka sering diliatin ke publik saat sesi latihan. BTW, makin yakin lagi karena saya pernah juga main game <i>Soccer Manager</i> (hehehe.. di situ ada simulasi ngelatih fisik pemain juga. Jadi tahu dah). *Ssst.. saya mainnya cuma sebentar kok. (Idih, siapa yang nanya?) Hahahaha…</p>
<p>Lah, terus apa hubungannya ngomongin kung-fu dengan dakwah? Apa korelasinya dengan judul “jalan ini terjal, tapi menyenangkan”? Wadow, untung nggak berlanjut ngelanturnya. Ehm, sebenarnya masih nyambung kok. Nggak ngelantur jauh. Maksudnya, untuk menjadi aktivis dakwah, kita juga harus teruji baik secara fisik maupun mental. Fisik kudu oke. Karena tak jarang dakwah nguras tenaga. Harus ngisi acara pengajian pagi hari, harus ngisi kajian malam hari, atau mengaji di siang hari. Belum lagi tempat atau daerah yang akan dikunjungi untuk berdakwah yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kita. So, fisik kudu prima, Bro.</p>
<p>Selain kuat fisik, yang nggak kalah penting adalah melatih mental. Pikiran dan perasaan kita kudu siap ngadepin beragam masalah. Meski nggak dituntut agar semau masalah bisa diatasi, tapi setidaknya bisa mencari akar masalahnya dan beberapa masalah bisa diselesaikan dengan baik. Nah, berarti ini memang butuh kesiapan yang bagus. Iya nggak sih?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Tak ada kata henti</b></p>
<p>Sobat gaulislam, tak ada kata henti dalam hidup kita untuk senantiasa melakukan amal baik. Seharusnya memang tak pernah ada pula keluh kesah dalam perjuangan dakwah ini. Semestinya pun tak keluar dari mulut kita kata putus asa karena begitu banyak perjuangan dakwah yang menyedot perhatian kita. Yakinlah, Allah Swt. tak pernah dan tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan baik kita. Mungkin kita lupa sudah berapa amal baik yang kita kerjakan, tapi Allah Ta’ala tak akan pernah lalai mencatatnya dan menghitungnya untuk bekal kita di negeri abadi kelak. Begitu pun pasti kita lupa berapa banyak amalan buruk yang pernah kita lakukan, tapi Allah Swt. pasti tak akan pernah lupa dan akan dengan mudah mencatatnya. Tapi kita memohon kepadaNya, agar tetap diberikan kekuatan untuk melakukan amalan baik selama hidup kita. Sebanyak mungkin.</p>
<p>BTW, masih ingatkah kita ketika kita pertama kali belajar Islam? Kita bahkan mengeja nama Allah dengan amat susah. Kita tidak paham tentang isi al-Quran, kita tak mengerti apa arti perjuangan dakwah, kita bahkan buta dan tak pernah tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia, dan ke mana akan pergi setelah kematian. Saya pernah merasakan demikian, dan saya yakin di antara kita bahkan ada yang pernah melakukan kemaksiatan sebelum akhirnya mendapat hidayahNya. Saya yakin di antara kita bahkan pernah menolak ajakan dakwah dari seseorang. Mencibir pelakunya dan menganggap sia-sia perbuatan mereka. Itu ketika kita tidak tahu.</p>
<p>Semoga memori tentang ini menjadikan kita manusia yang bijak. Pengemban dakwah yang peka dan mampu menangkap segala sisi manusia sebagai objek dakwah kita. Kita tumbuh menjadi pengemban dakwah dan pejuang Islam yang sabar dan penuh kelembutan. Jika kita berhadapan dengan objek dakwah yang menolak, bahkan menyerang kita, anggap saja bahwa mereka seperti kita dulu yang juga membutuhkan sentuhan kuat orang yang tak bosan mengajak kita menjemput hidayahNya. Jangan pernah merasa menilai umat ini telah jumud, jika kita sendiri belum maksimal mengajaknya untuk menjadi lebih baik. Tak perlu mengampuni usaha kita yang gagal dengan alasan umat sudah bosan dengan dakwah. Lalu kita merasa benar sendiri dan menyalahkan mereka.</p>
<p>Sobat muda muslim, ingatlah bahwa kita bisa seperti sekarang ini juga butuh waktu dan proses. Karena sejatinya perubahan tak bisa dicapai seperti makan cabe rawit yang langsung terasa pedasnya. Atau proses produksi mesin dalam industri yang bisa seragam dan mudah dibuat. Tapi kita berhadapan dengan manusia. Berhadapan dengan jiwa yang seringkali tak mudah untuk diajak berpikir sama seperti yang kita inginkan. Proses perubahan sosial memang tak semudah proses produksi mesin industri. Selalu saja ada variabel yang mengharuskan kita banyak bersabar dan mencari cara jitu mengatasinya.</p>
<p><i>So</i>, kalo jujur saja, jalan dakwah ini memang terjal. Tapi menyenangkan. Allah Swt. sudah ‘menghibur’ kita dalam firmanNya (yang artinya): <i>“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim’” </i><b>(QS Fushshilat [41]: 33)</b></p>
<p>Nah sobat gaulislam, mulai sekarang jangan tunjukkan kelemahan kita dalam perjuangan dakwah ini. Usir deh tuh keluh kesah kita, buang jauh-jauh putus asa. Sebaiknya selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar kita dimudahkan dalam mengemban dakwah ini, memohon dalam doa kita kepadaNya agar kita sabar ketika menghadapi berbagai macam ujian dakwah dan ujian kehidupan kita. Selain itu, tentu saja senantiasa kita berharap keridhoan Allah Ta’ala dalam setiap niat dan upaya perjuangan dakwah kita. Semangat! <b>[solihin | Twitter <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jalan-ini-terjal-tapi-menyenangkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Modal yang Terus Berkurang</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/modal-yang-terus-berkurang</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/modal-yang-terus-berkurang#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2012 17:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[modal]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[umur]]></category>
		<category><![CDATA[usia]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4560</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 271/tahun ke-6 (18 Safar 1434 H/ 31 Desember 2012)   Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kalo merhatiin tanggalan masehi sih buletin gaulislam edisi 271 ini terbit di penghujung tahun lho, yakni tanggal 31 Desember 2012. Itu berarti besok sudah tanggal 1 Januari tahun 2013. Tetapi bagi kaum muslimin sebenarnya tahunnya sudah ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/modal-yang-terus-berkurang">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" />  gaulislam edisi 271/tahun ke-6 (18 Safar 1434 H/ 31 Desember 2012)</p>
<p><b> </b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kalo merhatiin tanggalan masehi sih buletin gaulislam edisi 271 ini terbit di penghujung tahun lho, yakni tanggal 31 Desember 2012. Itu berarti besok sudah tanggal 1 Januari tahun 2013. Tetapi bagi kaum muslimin sebenarnya tahunnya sudah berubah sejak sebulan silam. Tepatnya, sekarang udah tanggal 18 Safar 1434 H. Wuih, udah lama juga ya. Betul! Sebab, gaulislam aja sudah terbit sejak 29 Oktober 2007 atau bertepatan dengan 18 Syawal 1428 H. Tuh kan, berarti udah enam tahun berlalu (hitungan hijriah). Kalo manusia mah udah lewat masa balita. Udah masuk taman kanak-kanak. Hehehe.. ngelantur nih!</p>
<p>Oya, kenapa judulnya adalah “Modal yang Terus Berkurang” ya? Kamu mungkin ada yang nanya kayak gitu. Penasaran karena kok judulnya setengah abstrak dan bikin penasaran (semoga, hehehe). Iya, “modal” di sini sebagai istilah pengganti untuk umur atau usia. Sebab, kita tahu bahwa umur manusia sejatinya terus berkurang dalam jatah hidupnya di dunia. Nah, sementara usia alias umur itu adalah modal manusia untuk beribadah, beramal shalih, berjuang dan masih banyak lagi aktivitas lainnya. Melalui umur yang jadi modalnya, manusia bisa melakukan banyak hal. Semoga semuanya adalah kebaikan ya. Meski kita tidak menutup mata bahwa banyak manusia yang malah menggunakan sisa umurnya untuk terus bermaksiat kepada Allah Ta’ala. <i>Naudzubillah min dzalik!</i></p>
<p>Imam ar-Razi dalam tafsirnya mengenai keterkaitan antara waktu dan kerugian menyatakan: “Ketika rugi dipahami sebagai hilangnya modal, sementara modal manusia adalah umur yang dimilikinya, maka manusia senantiasa mengalami kerugian.  Sebab, setiap saat dari waktu ke waktu umur yang menjadi modalnya terus berkurang.” Nah, ini menjadi bukti bahwa kita sebenarnya memiliki modal yang terus berkurang. Kalo sekarang usia kamu 15 tahun, maka tahun depan adalah 16 tahun. Berdasarkan bilangan, umurmu bertambah. Namun, jika dilihat dari jatah hidupmu di dunia ini, pastilah berkurang. Betul nggak? Ya, sebab kalo seandainya kamu diberi ‘jatah’ oleh Allah Swt, bahwa umurmu di dunia ini adalah 60 tahun, maka sisa waktu kehidupanmu di dunia adalah 44 tahun (60 dikurangi 16). Tul nggak? Ini seandainya lho, sebab kita nggak pernah tahu jatah usia kita berapa lama hidup di dunia. <i>So</i>, waspadalah!<span id="more-4560"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Tahun baru, dosa baru?</b></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, gejala yang umum ditampakkan oleh masyarakat kita menjelang berakhirnya tahun masehi adalah maraknya pesta penyambutan tahun baru. Seolah mau nunjukkin bahwa tahun baru masehi itu layak disambut dengan suka-cita dan meriah bin cetar membahana badai hujan angin puting beliung awan panas halilintar bersabung (hadeuuh.. nih yang nulis kayak mau nyaingin Syahrini yang bikin cetar itu). Semua kalangan merayakannya dengan pesta pora semalam suntuk. Adik-adik kita, ponakan, paman-bibi, ayah-ibu, kakek-nenek, menantu-mertua, tetangga jauh tetangga dekat, pak RT dan pak RW sampe pejabat di atasnya ikutan latah menyambut momen pergantian tahun. Pokoknye semua merasa kudu merayakan tahun baru. Heboh banget tuh! Jangan-jangan langsung pada bilang “Wow”, sambil koprol lalu push-up dilanjut dengan renang dan lari. Halah super lebay nulisnya!</p>
<p>Bener lho. Acara ‘wajib’ di malam tahun baru seperti arak-arakkan di jalan raya; baik jalan kaki maupun ngesot dan loncat-loncat, eh maksudnya pake kendaraan bermotor, tiup terompet, dan pesta kembang api udah biasa digelar. Di malam itu, yang ada adalah kita dan kesenangan. Semua larut dalam gempitanya perayaan tahun baru. Seolah lupa utang di warung Mpok Ijah yang catetannya sampe ditulis di tembok warung, janji mau ngaji di Ustadz Badrudin langsung dibatalin karena udah kebelet pengen nyundut petasan dan kembang api. Hadeueuh…</p>
<p>Para biduan dangdut ibukota, penyanyi pop dan rock (diduga kuat juga penyanyi lainnya) panen dengan menuai untung di malam itu. Ikut merayakan bergantinya tahun dengan menghibur masyarakat lewat tarikan suara dan aksi jogetnya para penari dangdut koplo yang bikin jantung kaum Adam deg-deg ser plas blas (copot!). Ah, pokoke dunia ini kayak bergetar hebat di malam tahun baru itu.</p>
<p>Selain aksi ‘gila-gilaan’ di malam tahun baru, ada juga yang menyambut tahun baru dengan segudang agenda. Mulai agenda yang baik, agak baik, sampe yang miskin manfaat, bahkan menyesatkan. Misalnya aja ada teman kamu yang nyiapin anggaran dan kegiatan untuk beli terompet (tentu saja buat ditiup pas jarum jam menunjukkan pergantian tahun, bukan untuk didudukin apalagi dikentutin), ada yang bela-belain kemping ke puncak gunung sambil berharap mengukir kenangan tahun baru bersama teman-temannya di ketinggian yang menakjubkan sambil menatap kerlip bintang (itu pun kalo nggak diguyur hujan). Selain itu, ada juga yang entah siapa yang memulai—tapi sepertinya tukang dagang—yang mengopinikan bahwa pas tahun baru kudu ada yang dibakar, maka pilihannya jatuh ke jagung (kenapa nggak buah yang lain ya?). Sebab, kalo bakar rumah orang, si pelaku bisa digebukkin warga sekampung.</p>
<p>Para desainer udah gembar-gembor dua bulan sebelum berakhirnya tahun ini. Mereka membuat model pakaian yang bakalan tren di tahun depan, juga mereka-reka kira-kira model rambut yang kayak gimana yang bisa jadi tren di tahun depan. Para produsen kosmetika juga gencar memamerkan seni tatarias wajah yang oke punya, tentu dengan dukungan kosmetik yang dibuatnya. Oya, buat kamu semua pembaca gaulislam, jangan mudah ketipu dengan iklan ya. Sebab, yang tampil di iklan komestik pastilah orang dengan wajah yang menarik dan cantik. Ada <i>casting</i> bintang iklannya, nggak sembarang nemu di kuburan atau ngambil di kebun bambu langsung disuruh jadi bintang iklan. Nggak lah ya. <i>So</i>, jangan kepedean kalo pake kosmetik merek tertentu wajahmu jadi langsung bersinar (emangnya petromak?), itu trik kamera ditambah editing komputer. Tapi tentu agar editing lebih mudah, maka dipilih orang dengan wajah yang <i>camera face</i> alias enak dipandang mata.</p>
<p>Selain para desainer dan produsen kosmetika, yang ikutan heboh kalo menyambut tahun baru begini adalah para dukun dan tukang ramal. Jampi dan mantera mereka dipercaya sebagian besar masyarakat ampuh untuk bekal di tahun depan. Ramalan via kartu tarot, teropong lewat bola kristal, atau cuma dengan melihat garis-garis di telapak tangan langsung kebaca sama para normal perjalanan nasib pasiennya itu. Lengkap dengan trik en tips kalo terjadi sesuatu di kemudian hari. Jangan percaya!</p>
<p>Para dukun juga sigap mengawal pasien mereka yang meminta tolong kepadanya. Dikerahkanlah seluruh lelembut dari bangsa jin untuk menjadi <i>bodyguard</i>-nya. Harapannya, tahun depan keberuntungan selalu menyertainya atas bantuan sang dukun. Duilee.. pede banget minta tolong ama dukun? Kagak salah tuh? Ati-ati yee..! Sebab, dukun juga nggak bisa nolongin dirinya sendiri. Buktinya, kalo dia kena diare akut datangnya ke puskesmas kok. Hehehe…</p>
<p>Belum lagi paranormal yang sok tahu bikin pernyataan tentang masa depan negeri ini dan juga kondisi beberapa negara. Wah, ada-ada aja ya? Aneh bin ajaib emang. Celakanya, banyak yang percaya sama bualannya sang para-normal. Ckckckck.. pada sadar ngapa? Jangan sampe deh tahun baru justru bikin dosa baru. Kagak nyaket tuh di otak! Sumpeh!</p>
<p>Hey, ada juga lho yang cuek bebek ama perayaan tahun baru. Mereka anggap biasa aja dan biarkan jalan sendiri. Sayangnya, mereka emang udah kebiasaannya kagak punya planning: dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dan dari bulan ke bulan nggak ada peningkatan. Prinsip hidupnya “gimana nanti aja” Wah, kacau banget kan? Ini sih golongan orang yang nggak punya harapan dan cita-cita. Jangan sampe kamu kayak gini juga dong. Amit-amit.</p>
<p>Bro en Sis, kalo pun mau kan harusnya pada mulai mikirin gimana masa depan kita. Ini malah kebalik, masa depan mah gimana nanti aja. Hih, amit-amit, pantesan jalan di tempat aja. Kita kan nggak tahu nasib kita di masa depan ya? Itu sebabnya, melakukan yang terbaik itu musti digeber abis-abisan sebisa mungkin dan secepat mungkin. Biar kagak nyesel di kemudian hari. Jangan sampe baru nyadar kalo ajal udah menjemput kita. Lagian, kita nggak tahu kan kalo ajal bakalan datang cepat atau lambat. Tul nggak?</p>
<p>Oya, selain itu, kamu perlu tahu asal-usul atau sejarah perayaan tahun baru berbagai bangsa di dunia agar kamu nggak terjerumus melakukan atau merayakan sesuatu yang sebenarnya dilarang dalam syariat Islam. Pengen tahu lebih detil? <a href="http://osolihin.wordpress.com/2009/12/31/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/" target="_blank"><b>Silakan baca di sini deh</b></a>. Insya Allah kamu bisa tercerahkan dan tambah wawasan. Semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Jangan sia-siakan waktu</b></p>
<p>Sobat muda muslim, sebagai manusia kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang digiring  ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: <i>“Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” </i><b>(HR Bukhari)</b></p>
<p>Benar, bila badan kita sehat, segar, dan bugar, bawaannya seneng dan merasa bahwa kita nggak bakalan sakit. Kalo lagi sehat nih, diajak jalan kemana aja kita antusias. Makan apa aja kita paling duluan ngambil dan mungkin paling gembul. Waktu kita sehat, kita lupa bahwa kita juga bakal sakit. Nggak heran kalo kemudian kita melakukan apa saja sesuka kita, termasuk yang deket-deket dengan dosa. Kesehatan memang nikmat yang bisa menipu kita. Melupakan kita dari aktivitas yang seharusnya kita lakukan.</p>
<p>Begitu pula dengan kesempatan. Kalo lagi ada waktu luang, bawaan kita pengennya nyantai aja. Coba, kalo tiba musim liburan, serta merta kita bersorak kegirangan. Bukan karena kita bisa mengerjakan aktivitas yang nggak bisa dilakukan saat kita sekolah, tapi karena itu adalah semata-mata waktu luang. Kita menganggap bahwa itulah saatnya bersantai dan melepaskan beban penderitaan selama belajar di sekolah.</p>
<p>Ya, kesempatan juga bisa menipu kita. Padahal, waktu luang itu bisa kita gunakan utuk kegiatan yang bermanfaat dan berpahala. Namun nyatanya sedikit banget yang ngeh. Udah kepepet, baru nyesel. Ketika masih jauh dengan waktu ujian, kita nyantai banget. Eh, begitu hari “H”-nya, kita langsung kelabakan nyari bahan belajar untuk ujian. Soalnya selama itu nggak pernah nyatet pelajaran. Kalo begitu, buat sekolah ya? Dan yang pasti, banyak waktu terbuang percuma. Jadi, sayangi dirimu, kawan.</p>
<p>Orang yang nggak merasa bahwa waktu itu begitu berharga dan bernilai, maka doi biasanya malas untuk belajar. Kalo udah malas belajar, alamat akal kita kekurangan pasokan ilmu. Ujungnya kita bisa jadi nggak mampu memfungsikan akal kita untuk mengetahui Rabb kita, untuk mengetahui siapa kita, keberadaan kita dan mau ngapain kita di dunia. Kalo begitu, kita nggak ada bedanya sama “teman-teman” di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan sampe deh. Firman Allah Swt.: <i>“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” </i><b>(QS al-Anfâl [8]: 22)</b></p>
<p>Begitu pentingnya akal ini, hingga Umar bin Khattab ra pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya, keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.” Tuh, catet ya!</p>
<p>Ali bin Abi Thalib ra juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum meninggal dunia: “Sesung­guhnya kekayaan yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah adalah kebodohan.”</p>
<p>Selain akal, juga ada hati. Kata Imam al-Ghazaliy, hati itu ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah, putus asa, galau, frustrasi dan sejenisnya.</p>
<p>Menyia-nyiakan waktu juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang mengintai. Ia bercanda-ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya, mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.”</p>
<p>Sobat gaulislam, kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu plus sekali pula.</p>
<p>Jangan sampe hidup kita hanya diisi dengan kegiatan yang nggak ada manfaatnya untuk kehidupan abadi kita di akhirat nanti. Mulai sekarang, tinggalkan segala aktivitas yang merugikan kita. Meski mungkin tampaknya aktivitas itu bakalan nguntungin menurut penilaian kita; popularitas, harta, kesenangan dan sebagainya. Tapi kalo itu maksiat kepada Allah, nggak ada artinya kan?</p>
<p>Jadi jangan sampe kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:<i> “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” </i><b>(QS ar-Rûm [30]: 57)</b></p>
<p>Jadi, nggak usah deh kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih seru dan terasa maknanya. Yuk kita tingkatin terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa. Yup, mulai sekarang, jangan sia-siakan waktumu. Sebab, umur kita pun terus berkurang setiap detiknya. Jangan-jangan pas momen pergantian tahun ajalmu datang sementara kamu sedang maksiat. <i>Naudzubillahi min dzalik</i>. Renungkanlah! <b>[solihin | Twitter: @osolihin. </b><i>Catatan: tulisan ini merupakan penambahan dan perluasan yang disertai modifikasi dari tulisan saya di buletin STUDIA beberapa tahun lalu</i><b>]</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/modal-yang-terus-berkurang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaga Akidahmu, Sobat!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jaga-akidahmu-sobat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jaga-akidahmu-sobat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2012 17:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kepribadian]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4554</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 270/tahun ke-6 (11 Safar 1434 H/ 24 Desember 2012) &#160; Indonesia. Yeeeha! Kalau udah ngebahas negeri kita ini emang nggak ada abisnya. Gimana nggak, Indonesia itu kan negara kepulauan terbesar di dunia yang tentunya memiliki suku, bahasa, budaya, adat, bahkan aliran agama yang suangaaat buwanyak. Emang sih, kita semua tahu kalau mayoritas penduduk ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/jaga-akidahmu-sobat">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 270/tahun ke-6 (11 Safar 1434 H/ 24 Desember 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Indonesia. Yeeeha! Kalau udah ngebahas negeri kita ini emang nggak ada abisnya. Gimana nggak, Indonesia itu kan negara kepulauan terbesar di dunia yang tentunya memiliki suku, bahasa, budaya, adat, bahkan aliran agama yang suangaaat buwanyak.</p>
<p>Emang sih, kita semua tahu kalau mayoritas penduduk di Indonesia ini adalah muslim (meski banyak juga muslim on KTP doang, halah!). Tapi keberadaan agama lain itu juga nggak sedikit, lho! Islam aja ada banyak banget alirannya. Disusul 4 agama lain yang diakui (secara resmi) di Indonesia, yakni Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, dan Hindu, plus sekarang ditambah Khonghucu. Belum lagi agama-agama adat di daerah pedalaman, juga diitung aliran-aliran semua agama-agama tadi yang jumlahnya tentu nggak sedikit. Wah… unik juga nih Indonesia. Bisa disebut negeri 1001 keyakinan dong? (Hehehe.. ngarang!)</p>
<p>Nah, Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kalian tahu nggak sih, dari sekian banyak agama dan aliran yang disebutkan di atas, mana yang benar? Apa? Kalian emang cettaaaarr… membahana badai halilintar! Ya betul, jawabannya adalah Islam! (lebih jelasnya pake huruf kapital semua: ISLAM). Yang lain? Salah semua!</p>
<p>Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. selaku nabi terakhir dalam sejarah manusia, menutup para nabi dan rasul yang pernah diutus sebelum beliau. Nabi Muhammad saw. membawa ajaran kebenaran kepada masyarakat jahiliyah (bodoh) dengan menerangi pikiran mereka melalui cahaya al-Quran untuk menunjukkan manusia kepada jalan yang benar.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, ada berapa banyak sih temenmu di sekolah? Pasti banyak banget deh. Puluhan kah? Atau ratusan? Hehehe… tapi jangan sebut satu per satu namanya ya, entar capek dengernya (apalagi kalo pake gaya Azis gagap, bisa-bisa dari subuh ampe magrib kali baru beres nyebutin semua nama… hahahaha). Nah, di antara temen-temen kalian yang banyak banget itu, apakah semuanya sama? Ya nggak dong, tentu aja semuanya punya berbagai keragaman, mulai dari fisik hingga akidah dan keyakinan.<span id="more-4554"></span></p>
<p>Sobat semua, tahukah kalian? Sebagai generasi muda muslim, ternyata banyak dari kita yang masih belum bisa membedakan mana akidah yang benar dan mana akidah yang rusak! Beberapa dari kita lebih suka mengambil ajaran agama yang menurut mereka asyik dan enak dipakai (milihnya pake hawa nafsunya semata), tanpa tahu apakah yang mereka ambil tersebut benar atau salah. Miris banget deh ya? Parahnya lagi nih, kebanyakan dari mereka tuh menganggap semua ajaran benar dan sah. Ajaran selain dan di luar Islam pun dianggap sama benarnya dengan apa yang ada dalam ajaran kita! Hadeuuuhh….. parah banget deh. Semoga aja kamu nggak termasuk golongan itu ya, Bro en Sis!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tiada asap tanpa api</strong></p>
<p>Nah, tahukah kamu sobat, ternyata keyakinan yang salah juga akan menuntun kita ke jalan yang salah. Orang yang meyakini suatu yang salah, tentu aja amalannya pasti kacau balau semrataw (baca: semrawut) dan menyimpang dari kebenaran. Contohnya aja nih: sebutlah namanya Feri (tenang, bukan Feri nama kamu kok, hehehe). Dia memiliki keyakinan bahwa mayat kucing itu adalah makanan suci lagi bergizi, dan dianjurkan dalam ajaran agama Islam. Ini jelas keyakinan yang amat sangat salah membahana gledek! Coba kira-kira amalan apa yang selanjutnya dilakukan Feri atas dasar keyakinannya itu, salah apa betul?</p>
<p>Betuuuul!</p>
<p>Eh? Makan bangkai kucing? Hoeek…  Kurang kerjaan banget! Makan sate kucing pun kalian pasti kagak mau. Siapapun pasti sepakat kalau makan bangkai kucing itu adalah perbuatan yang salah! Najis kotor binti berpenyakit! Gile bener dah…</p>
<p>Begitu pula dengan akidah kita sebagai anak muda, sobat! Maraknya kenakalan yang merebak di kalangan anak muda ternyata merupakan dampak dari pemahaman akidah yang salah! Lah, wong ajaran Islam aja jelas-jelas melarang perbuatan-perbuatan setan seperti seks bebas, pacaran, narkoba, homoseksual, dan sederet perilaku yang dilarang dan dilaknat, kini masih aja dipraktekkan oleh kalangan remaja muslim!</p>
<p>Tanya kenapa? Yup, karena mereka nggak memiliki benteng akidah yang dengannya kita selalu merasa diawasi oleh Sang Pencipta, yakni Allah Azza wa Jalla. Maka tentu yang dilakukan pun semau dengkulnya aja. Asli, aku rasanya pingin nangis saking mirisnya!</p>
<p>Lebih jauh lagi, ternyata dampak dari kesalahan pemahaman akidah dan kerusakan di dalamnya juga berakibat dengan maraknya perilaku remaja yang kini mulai suka ganti-ganti agama. Atas nama persahabatan, agama diganti. Atas nama cinta, agama diganti lagi. Agama kok diganti-ganti! Entar nggak takut apa kena ‘HIV agama’? Na’udzubillah deh Sob, jangan sampai kita ikut-ikutan seperti itu, ya!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Nggak perlu sama, deh!</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, di bulan Desember ini ucapan apa yang sering kalian denger? Yuuups! 25 Desember nanti adalah natal sehingga jalanan, mall, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat umum lainnya didominasi oleh warna merahnya pakaian Santa Klaus, dan ucapan “Merry Christmas” pun menjadi ucapan yang sering kita dengarkan.</p>
<p>Akhirnya, di tempat-tempat umum tersebut pun orang-orang ikut mencoba memakai berbagai aksesoris natal, dan yang paling sering gaulislam temui adalah topi merah Santa Klaus. Nggak Muslim, nggak Kristen, nggak Hindu, nggak Budha, nggak Konghucu, semuanya pakai ini topi. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim pun mendadak seolah berubah menjadi mayoritas Kristen. Bahkan parahnya, gaulislam sempat menjumpai seorang muslimah memakai kerudung lalu di atasnya terpasang topi merah Santa saat dia bertugas jadi kasir atau pramuniaga di pasar swalayan sebagai bentuk toleransi. WHAAATT?!</p>
<p>Meski hanya topi, namun jika ini sudah memiliki unsur dalam beragama, maka hukumnya nggak boleh! Haram. <em>Man tasabbaha biqaumin fahuwa minhum </em>(barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut).</p>
<p>Nah sobat, kita kan muslim nih. Terus tindakan kita gimana dong? Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sebagai seorang muslim, sudah sewajarnya kita membiarkan agama lain beribadah sesuai keyakinan mereka dan tidak mengusik mereka. Tapi yang perlu diingat di sini adalah, bahwa memaklumi dengan keberadaan agama lain, bukan berarti mengorbankan akidah. Misalnya dengan mengucapkan “selamat natal” atau ucapan lainnya dalam perayaan agama lain. Itu bukan toleransi, tetapi ikut campur, Bro! Tentu saja itu salah besar dalam pandangan Islam. Lagian udah ada fatwa MUI juga yang mengharamkan kaum muslimin melakukan ritual natal bersama—termasuk tentunya ditafsirkan dari fatwa tersebut larangan mengucapkan selamat natal.</p>
<p>Lebih baik, kalau memang ada teman kita yang berkeyakinan lain, maka kita tidak boleh ikut-ikutan ibadah mereka meski sekadar mengucapkan selamat hari raya saat mereka melangsungkannya. Jangan melarang mereka, jangan pula mengakui apa yang diyakini mereka. Maklumilah keyakinan lain itu sekadar kenyataan yang ada dalam kehidupan sekitar kita. Titik nggak pake koma atau spasi apalagi enter!</p>
<p>Kalian masih ingat surat al-Kafirun kan? <em>Katakanlah: &#8220;Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.&#8221;</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>It’s time to wake up!</strong></p>
<p>Bener banget Sobat muda muslim. Kini sudah saatnya kita, sebagai generasi muda penerus perjuangan Islam, kudu segera bangkit dari keterpurukan pemahaman kita tentang akidah kita sendiri. Bangun… bangun! Jangan mau jadi remaja yang cuma dicekokin ama pemahaman-pemahaman salah tentang agama kita sendiri, juga pemahaman yang salah tentang segala sesuatu. Apa kalian mau pikiran kalian dikendalikan oleh orang-orang jahat yang begitu membenci Islam? Nggak mau kan?</p>
<p><em>So</em>, udah saatnya kita melek tentang dunia. Tahu siapa teman, tahu juga mana lawan. Jangan sampai musuh yang sedang berusaha merusak akidah kita malah kita jadikan teman dekat hanya karena kita nggak tahu atau dengan alasan semu bernama toleransi, tetapi salah tempat. Kita kudu sering-sering mencari ilmu tentang syariat Islam dan akidah islamiyah, agar nantinya kita nggak terjerumus pada hal-hal yang bisa merusak akidah. Tingkatkan pemahaman kita tentang perintah dan larangan dalam Islam, agar kita nggak jadi remaja yang terus-terusan merem nggak ngeh (atau malah nggak mau tahu) apa yang terjadi dengan kehidupan di sekitar kita.</p>
<p>Carilah teman yang kamu anggap udah memiliki akidah yang cukup baik, dan belajarlah darinya. Carilah komunitas yang bisa ngedukung kamu dalam proses pemahamanmu tentang akidah Islam dan senantiasa menjaganya. Gabunglah dengan organisasi atau gerakan dakwah Islam yang benar agar terselamatkan akidahmu. Tantangan untuk generasi ini pada masa depan bakal makin susah sobat, en kalo kamu masih suka leha-leha nongkrong bareng di perempatan sambil nyuitin cewek yang lewat, lantas kapankah dienul Islam ini akan maju? Siapa yang akan mempertahankannya?</p>
<p>Boys and gals, ingatlah selalu satu hal, bahwa satu-satunya jalan aman dan benar dalam menempuh kehidupan di dunia ini demi mencapai akhirat hanyalah Islam. Ya, menjadi muslim itu ‘tiket’ untuk masuk surga. Jika kamu dengan ringannya mau menjual tiketmu (baca: akidahmu), maka siap-siap saja ditolak mentah-mentah amalan kamu, dan kamu akan dilemparkan ke tempat pembuangan bagi orang-orang yang kafir, murtad, munafik, dan yang membangkang perintah Allah Ta’ala. Neraka!</p>
<p>Nih catet firman Allah Ta’ala, <em>“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab<strong></strong>kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” </em><strong>(QS Ali ‘Imran [3]: 19)</strong><em></em></p>
<p>Udah jelas banget kan? Belum cukup? Nih aku kasih bonus,  <em>“</em><em>Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” </em><strong>(QS Ali ‘Imran [3]: 85)</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, kamu nggak mau kan menjadi salah seorang yang rugi di akhirat kelak? Sekilas memang susah untuk menjalani segala apa yang diperintahkan Allah Swt. kepada kita untuk dilakukan. Namun yakinlah, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah pastilah akan memberi jalan keluar baginya. Yakinlah itu, sobat! Jaga akidahmu hingga ajal menjemputmu. Sehingga kita semua bisa selamat, sampai nanti pada hari yang tiada pertolongan di dalamnya kecuali pertolongan dari Allah Swt. Insya Allah.<strong> [Hawari | Twitter: @hawari88]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jaga-akidahmu-sobat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dor! Amerika</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/dor-amerika</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/dor-amerika#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2012 01:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[penembakan massal]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[senjata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4548</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 269/tahun ke-6 (4 Safar 1434 H/ 17 Desember 2012) &#160; Ketika hendak menuliskan judul artikel gaulislam edisi kali ini, jujur saya terinspirasi dari buku setebal 128 halaman karya Farid Gaban dan Zaim Uchrowi yang saya beli di tahun 1993, Dor! Sarajevo. Buku itu diberi tagline “Sebuah Rekaman Jurnalistik Nestapa Muslim Bosnis”.  Buku itu ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/dor-amerika">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 269/tahun ke-6 (4 Safar 1434 H/ 17 Desember 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika hendak menuliskan judul artikel gaulislam edisi kali ini, jujur saya terinspirasi dari buku setebal 128 halaman karya Farid Gaban dan Zaim Uchrowi yang saya beli di tahun 1993, <em>Dor! Sarajevo</em>. Buku itu diberi tagline “Sebuah Rekaman Jurnalistik Nestapa Muslim Bosnis”.  Buku itu ditulis oleh Farid Gaban saat ditugaskan meliput Perang Bosnia di tahun 1992. Ya, buku ini menuliskan tentang nestapa Muslim Bosnia yang dibantai tentara Serbia. Nah, hubungannya dengan judul artikel ini adalah sama-sama ada ‘bunyi’ “dor!” untuk menggambarkan suara tembakan. Namun dalam artikel ini saya menulisnya terkait penembakan massal (yang selalu berulang kali terjadi) di Amerika Serikat.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kamu yang rajin ngikutin perkembangan berita baik di dalam maupun luar negeri, kayaknya masih inget dengan kasus terbaru, yakni yang terjadi pada Jumat, 14 Desember 2012 kemarin. Yup! 20 anak SD Sandy Hook, Newtown, Connecticut itu meregang nyawa setelah diberondong peluru oleh Adam Lanza. Selain menghabisi nyawa anak-anak SD itu, Adam Lanza menembak 6 orang dewasa (para guru sekolah itu), termasuk ibunya sendiri, terakhir doi bunuh diri. Presiden Obama pun dikabarkan mewek menyaksikan kabar ini. Hal yang tidak dilakukannya saat ratusan anak Gaza, Palestina dibunuhi Israel pada November 2012 lalu. Grrrh…</p>
<p>Kasus penembakan massal di Amerika polanya hampir mirip dari kejadian-kejadian sebelumnya. Pelaku membawa senjata, memuntahkan amunisi dengan mengarahkan ke calon korbannya. Setelah itu, umumnya sang pelaku menembak dirinya sendiri. Kejadiannya pun hampir selalu di sekolah atau kampus. Kita patut bertanya, ada apa sebenarnya dengan perilaku sosial masyarakat Amerika dan bagaimana negara mengatur kehidupan warga negara secara umum di sana. Betul nggak sih?<span id="more-4548"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bukan yang pertama</strong></p>
<p>Kalo Mega Mustika, yang penyanyi dangdut itu pernah mendendangkan “Bukan yang Pertama”di awal tahun 1990-an (seingat saya sih, tapi tahun pastinya saya lupa lagi, denger lagu ini pas saya SMA kayaknya), maka subjudul ini meski sama dengan judul lagu itu, tapi maksudnya berbeda. Jelaslah. BTW, ngapain juga saya nulis ngehubung-hubungin subjudul ama lagu dangdut itu ya? Hahahaha.. baru inget, ternyata sepertinya saya kena ‘sindrom’ nostalgila, eh, nostalgia. <em>Sori</em> ya Bro en Sis kamu dibikin bingung.</p>
<p>Ok, <em>back to topic</em>. Kasus penembakan massal dengan sasaran anak sekolah bukan yang pertama lho di AS. Berdasarkan catatan detik.com pada 16/12/2012, setidaknya ada 9 kasus lainnya seputar penembakan brutal di sekolah yang skalanya merupakan yang terparah sepanjang sejarah AS. Pertama penembakan brutal di kampus Virginia Tech, Blacksberg, Colorado, terjadi pada 16 April 2007 lalu. 32 orang tewas, ditambah pelaku. Pelaku penembakan merupakan salah seorang mahasiswa setempat yang diketahui bernama Seung Hui Cho (23).</p>
<p>Kejadian berikutnya di University of Texas. 16 orang tewas ditambah si pelaku. Penembakan brutal di University of Texas terjadi sudah cukup lama, yakni pada 1 Agustus 1966 lampau. Pelaku merupakan seorang mantan anggota Marinir AS bernama Charles Whitman (25), yang ternyata pernah kuliah di kampus tersebut.</p>
<p>Nggak ketinggalan kasus penembakan di SMA Columbine, Littleton, Colorado yang terjadi pada 20 April 1999 lalu. 13 orang tewas ditambah 2 pelaku. Pelakunya ialah dua orang siswa laki-laki yang bernama Eric Harris (18) dan Dylan Klebold (17). Keduanya melepas tembakan secara brutal ke arah para siswa yang ada di halaman sekolah.</p>
<p>Selain itu, terjadi juga penembakan massal di SMA Red Lake, 9 orang tewas ditambah si pelaku. Insiden penembakan di SMA Red Lake, Minnesota, terjadi pada 21 Maret 2005 lalu. Pelakunya bernama Jeffrey Weise yang masih berusia 17 tahun.</p>
<p>Bro en Sis, kasus penembakan massal nggak hanya untuk anak SD dan SMA lho, sebab ada juga yang kasusnya menimpa anak kuliahan. Yup, insiden penembakan di University of Iowa terjadi pada 1 November 1991 silam. 5 orang tewas ditambah si pelaku. Pelaku merupakan salah seorang lulusan kampus tersebut, Gang Lu (27).</p>
<p>Masih ada ngga? Ada. Yakni kejadian di Sekolah Khusus Penganut Amish, 5 orang tewas ditambah si pelaku, di wilayah terpencil di Nickel Mines, Pennsylvania ini terjadi pada 2 Oktober 2006 lalu. Pelaku yang bernama Charles Carl Roberts IV (32) khusus menargetkan para siswi putri dari sekolah yang bernama West Nickel Mines School ini.</p>
<p>Ada lagi penembakan brutal di Sekolah Menengah Westside, Jonesboro, Arkansas terjadi pada 24 Maret 1998 lalu. Ada dua pelaku dalam aksi penembakan, yakni Mitchell Johnson (13) dan Andrew Golden (11), yang sama-sama merupakan siswa sekolah tersebut.</p>
<p>Mirip di Sandy Hook kemarin, teryata ada kejadian serupa lho di SD Cleveland, Stockton, California. Insiden penembakan tersebut terjadi 17 Januari 1989 silam. Terakhir yang berdasarkan laporan detik.com, adalah insiden penembakan terjadi di University of Arizona pada 28 Oktober 2002 lalu. Korban tewas 3 orang, ditambah si pelaku. Pelaku yang bernama Robert Flores (40) merupakan seorang mahasiswa keperawatan di kampus tersebut.</p>
<p>Oya, jangan lupakan juga kasus penembakan massal di Aurora, Colorado, pada hari Jumat 20 Juli 2012, James Homes (24) menembaki para penonton di bioskop 16 Century yang tengah memutar film perdana &#8220;The Dark Knight Rises&#8221;. Dilaporkan 12 orang tewas, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rapuh, kesepian, dan meledak-ledak</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, Republika Online pada 16 Desember 2012 kemarin, menurunkan berita bahwa pelaku penembakan di SD Sandy Hook, Adam Lanza adalah penyendiri. Dia tertarik dengan hal-hal berbau mekanik, terlebih komputer. Oleh karena itu, Adam dan kakaknya, Ryan, masuk klub teknologi di SMA Newtown. Klub tersebut memberi kesempatan kepada para siswa untuk bekerja di komputer, videotape, dan menciptakan siaran berbasis publik.</p>
<p>Tech club, nama organisasi ekstra sekolah itu, populer di kalangan para siswa ‘aneh’. Adam, yang masuk ke dalam klub tersebut, memiliki masalah akibat rendahnya kemampuan sosial. “Anda mempunyai anak muda yang sangat ketakutan. Dia sangat gugup ketika berhadapan dengan orang,” ujar Richard Novia, penasihat Tech Club.</p>
<p>Hmm… dari kasus penembakan massal yang sering terjadi di Amerika ini kita memiliki pelajaran berharga, betapa sebenarnya banyak masyarakat Amerika yang kepribadiannya rapuh, kesepian dan emosinya meledak-ledak. Pelaku penembakan massal bukan hanya dilakukan remaja, tetapi juga oleh orang dewasa. Parahnya, ketersediaan senjata api di sana lebih mudah didapat secara legal selama mampu membelinya. Padahal itu berpotensi membahayakan pengguna dan orang di sekitarnya. Benarlah adanya pepatah “the man behind the gun”, senjata itu tergantung orang yang menggunakannya. Kalo polisi dan militer menggunakan senapan memang pantas meski mereka pun harus dilatih pikiran dan perasaan agar tak sembarang melepas timah panas ketika amarahnya tersulut untuk hal-hal yang bukan semestinya. Lha gimana jadinya kalo senjata api digunakan oleh orang yang kesehatan jiwanya terganggu? Bisa berbahaya, Bro en Sis. Oya, hampir lupa, banyaknya game atau film kekerasan bisa menginspirasi juga lho orang berbuat jahat. Waspadalah!</p>
<p>Sobat muda muslim, umumnya seseorang yang rapuh mentalnya seringkali mudah putus asa, mudah marah, gampang mewek nggak jelas, mengutuki kegagalan diri, menyalahkan orang lain dan sejenisnya. Hadeuuh akan lebih gawat lagi kalo dia kemudian agresif menyerang orang lain atau merusak lingkungan sekitarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Solusi jitu? Terapkan syariat Islam, dong!</strong></p>
<p>Pada kondisi tertentu banyak orang merasa kesepian dan galau hidupnya. Namun, bagaimana pun beratnya menghadapi persoalan diri dan kehidupan, bagi seorang muslim yang taat akan tetap sabar hadapi kenyataan. Nggak gampang frustasi, nggak mudah depresi. Sebab, kita, kaum muslimin memiliki konsep hidup yang benar dan jelas.</p>
<p><em>So</em>, kalo kamu baca al-Quran saja, ada banyak ayat yang bisa memberikan ketenangan bagi pikir dan rasa kita. Sebab, al-Quran juga sebagai petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): <em>“Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”</em> <strong>(QS al-Israa [17]: 82)</strong></p>
<p>Dalam ayat lain, <em>“Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,”</em> <strong>(QS al-Israa [17]: 9)</strong></p>
<p>Kalo kamu masih penasaran, boleh coba buka ayat ini, <em>“Katakanlah: “al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.”</em> <strong>(QS Fushshilat [41]: 44)</strong></p>
<p>Ya, al-Quran adalah pedoman dan petunjuk bagi kita, orang-orang yang beriman. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.”</em> <strong>(QS al-Jaatsiyah [45]: 20)</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Selain penjelasan dalam al-Quran, Rasulullah saw. juga memberikan tuntunan dalam sabdanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, <em>“Tidak ada suatu kaum pun yang berkumpul dalam suatu rumah dari banyak rumah Allah (masjid) lalu mereka membaca ayat-ayat Allah dan mempelajarinya bersama-sama kecuali diturunkan bagi mereka ketenangan, dilimpahkan kepada mereka rahmat, para malaikat memuliakan mereka dan Allah pun akan menyebut siapa pun yang mengingatNya.”</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Bagi kita, kaum muslimin dan insya Allah sebagai mukmin sejati, cukuplah Allah yang layak disembah dan dimintai pertolongan. Kalo lagi galau jangan diturutin aja maunya perasaan hati kita, bisa-bisa malah akhirnya depresi atau frustasi. Tetapi cobalah merenung, interospeksi diri dan berusaha untuk tetap sabar dan tenang. Bacalah al-Quran, temukan solusinya. Bergaul lebih banyak dengan orang-orang shalih dan yang memiliki ilmu, agar kita nggak sesat jalan.</p>
<p>Oya, syariat Islam bukan semata untuk menyelamatkan seseorang, tetapi juga banyak orang. Itu sebabnya, lebih keren lagi kalo negara yang menerapkannya untuk kemaslahatan manusia yang lebih luas lagi. Perhatian Islam dalam masalah jelasnya keturunan, perlindungan terhadap akal manusia, kehormatan, nyawa, harta, rasa nyaman beragama, juga tentang rasa aman, dan pembelaan terhadap negara. Hmm.. selengkapnya silakan baca buku karya Muhammad Husain Abdullah, yang judulnya <em>Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam</em>, hlm. 81-84 atau boleh juga dalam buku saya, yang judulnya <em>Yes! I am MUSLIM</em> yang diterbitkan pada 2007. Di situ ada banyak penjelasan seputar syariat Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara dan keunggulannya yang dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami remaja. Insya Allah.</p>
<p>Oke deh sobat, akhirul <em>keyboard</em>, kasus penembakan massal di Amerika—yang pelakunya kemudian melakukan bunuh diri—adalah fakta bahwa mereka tidak memiliki solusi atau jalan keluar dari masalah yang menderanya. Memang kita tidak menafikan bahwa ada banyak juga fakta orang di Amerika yang stabil emosi dan mentalnya, namun ketersediaan senjata api—yang tentu saja lebih mematikan ketimbang pisau—sangat mudah didapat secara legal. Sehingga, kejadian yang terus berulang itu menunjukkan bahwa pemerintah Amerika tidak belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Kita lihat saja nanti—bukan mendoakan lho, akan banyak lagi kasus terjadi di sana karena minimnya perhatian negara terhadap masalah itu. Dor! <strong>[solihin | Twitter: <a href="http://twitter.com/osolihin" target="_blank">@osolihin</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/dor-amerika/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Jadi Cewek Cengeng</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jangan-jadi-cewek-cengeng</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jangan-jadi-cewek-cengeng#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2012 17:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[berani]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[cengeng]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[smart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4545</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 268/tahun ke-6 (26 Muharram 1434 H/ 10 Desember 2012) &#160; Cengeng itu identik dengan cewek. Huh, nggak keren banget kan? Apa karena cewek itu mudah mengeluarkan air mata, jadinya mudah juga dibilang cengeng? Nggak segitunya kalee. Air mata itu diciptakan Allah Ta’ala gampang keluar pada makhluk berjenis kelamin cewek itu bukan menunjukkan kelemahannya. ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/jangan-jadi-cewek-cengeng">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 268/tahun ke-6 (26 Muharram 1434 H/ 10 Desember 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong></strong>Cengeng itu identik dengan cewek. Huh, nggak keren banget kan? Apa karena cewek itu mudah mengeluarkan air mata, jadinya mudah juga dibilang cengeng? Nggak segitunya kalee.</p>
<p>Air mata itu diciptakan Allah Ta’ala gampang keluar pada makhluk berjenis kelamin cewek itu bukan menunjukkan kelemahannya. Sebaliknya, air mata itu adalah bukti tegarnya seorang cewek dalam menghadapi badai sedahsyat apapun dalam kehidupannya. Senjata cewek ya air mata ini. Setelah berderai, biasanya akan terasa lega banget sehingga siap untuk berjuang lagi demi ridho Ilahi.</p>
<p>Cengeng di sini nggak ada hubungannya sama air mata. Tapi cengeng yang nggak bisa mandiri, <em>sok</em> aleman, dan manja sama lawan jenis yang nggak halal buat diri si cewek. Nah, yang kayak gini ini biasanya mangsa empuk buat dikerjain sama si cowok usil yang nggak beriman.</p>
<p><strong>Cewek </strong><strong>c</strong><strong>engeng di sekitar kita</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, beware! Hati-hati banyak banget ternyata cewek cengeng di sekitar kita. Mereka ini adalah yang gampang patah hati dan patah semangat karena cowok. Bertepuk sebelah tangan cintanya, sudah nangis darah (edisi lebay hehehe). Curcol nggak jelas bin galau di media sosial. Diputusin cowok, nggak terima dan menghiba-hiba. Idih&#8230; sangat merendahkan derajat kaum cewek kan sikap ini?<span id="more-4545"></span></p>
<p>Sehari-harinya, hal untuk dibicarakan nggak jauh urusan seputar cowok. Seolah nggak ada topik lain yang lebih penting selain membicarakan perihal lawan jenis. Sikapnya juga nggak jauh dari berusaha menarik perhatian cowok supaya melihat dan memperhatikan dirinya. Biasanya, cewek kayak gini cenderung menghalalkan segala cara agar cowok minimal menoleh pada dirinya. Sukur-sukur suka dan ada kelanjutan ceritanya.</p>
<p>Tipe cewek cengeng seperti ini gampang banget diperalat dan dimanfaatkan oleh cowok yang tak bertanggung jawab. Ketika jatuh cinta dan baru jadian, dunia serasa milik berdua&#8211;yang lain ngontrak. Perasaannya gampang dikibulin dengan janji-janji palsu si cowok. Usia masih ABG tapi udah mesra manggil ‘mama-papa’ seolah-olah bakal hidup berdua selamanya. Eh ternyata, seminggu kemudian diputus dah sama tuh cowok.</p>
<p>Setelah diputus, seolah-olah dunia berhenti berputar. Bawaannya bete, galau, sedih dan nangis mulu. Kalau ini sih nangis bukan karena tegarnya seorang cewek, tapi nangis cengeng yang nggak ada dasarnya. Sodara bukan, suami bukan, ngapain juga ditangisi. Iya, kan? Malah seharusnya dia bersyukur karena dengan diputus oleh si cowok, maka itu artinya dia terhindar dari kemaksiatan pacaran, yaitu aktivitas mendekati zina. Bukan malah sebaliknya, memilih nangis bombay nggak jelas meratapi nasib ditinggal cowok. Parah itu sih namanya.</p>
<p>Habis diputus, semangat hidup turun drastis. Bawaannya lemes, males, pules alias tidur mulu. Belajar jadi ogah, beraktivitas jadi nggak selera. Duh&#8230;nggak bangat deh jadi cewek model begini. Moga aja kamu bukan termasuk ke dalam cewek cengeng yang karakternya sangat nggak ideal ini ya. Insya Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penyebab </strong><strong>c</strong><strong>ewek </strong><strong>c</strong><strong>engeng</strong></p>
<p>Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, manusia bersikap itu kan bermula dari pemahaman dia akan sesuatu. Begitu juga dengan cewek cengeng. Ketika dia memahami bahwa pacar adalah segalanya, maka saat itu juga dia seolah kehilangan segalanya ketika si pacar kabur dari dirinya.</p>
<p>Hal ini berbeda banget dengan cewek yang mempunyai persepsi bahwa pacaran itu nggak keren dan termasuk aktivitas yang hanya menumpuk dosa. Maka tanpa diputuskan si cowok, dialah yang berinisiatif untuk memutuskan hubungan kasih tak jelas itu lebih dulu. Dia mantap melakukan itu karena dia memahami bahwa ada yang lebih penting di dunia ini daripada urusan cowok dan pacaran. Cewek seperti ini teguh pendirian dan mempunyai kemauan yang jelas akan hidupnya sendiri. Dia nggak mau dikendalikan cowok yang sodara aja bukan, suami juga bukan. Dia seorang yang bebas dan merdeka karena bisa memilih dan menentukan hidupnya sendiri tanpa didikte oleh pandangan orang lain.</p>
<p>Umumnya, cewek cengeng soal pacaran itu karena menganggap bahwa pacaran itu adalah sesuatu yang keren. Dia bakal minder dan malu kalau nggak punya cowok karena dianggap nggak laku atau nggak ada yang mau sama dirinya. Pengaruh teman sebaya yang mempunyai pendapat sama itu berperan sekali terhadap perilaku cewek cengeng ini. Karena itu hati-hati bila memilih teman, ya sobat.</p>
<p>Pengaruh TV juga besar dalam hal ini. Coba kamu lihat tayangan TV berupa sinetron, FTV dan semacamnya. Temanya nggak jauh dari pacaran dan betapa cengengnya cewek tanpa cowok yang dicintainya. Judulnya sih beribu macam tapi intinya cuma satu, mengajak cewek menjadi cengeng dengan gaul bebas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jadilah </strong><strong>c</strong><strong>ewek </strong><strong>t</strong><strong>egar</strong></p>
<p>Sobat gaulislam, kebalikan cewek cengeng adalah tegar. Tegar dalam menghadapi masalah, tegar dalam bersikap dan tangguh dalam pendirian yang positif.</p>
<p>Kamu bisa kok menjadi cewek tegar di usia belia ini. Syaratnya cuma satu, kamu paham tujuan hidup kamu dan tahu bagaimana melewati kehidupan ini agar aman sentausa hingga di tujuan akhir kelak, akhirat.</p>
<p>Tujuan hidup seorang muslim dan muslimah meskipun dia masih ABG, itu semua sama yaitu meraih ridho Ilahi untuk kebahagiaan yang hakiki. Kalau tujuan ini sudah dipahami dengan baik dan benar, maka tujuan selain itu akan minggir semua. Hal remeh-temeh semisal diputusin cowok atau bertepuk sebelah tangan terhadap cowok yang disuka, itu menjadi hal yang kecil dan tak perlu dirisaukan lagi. Sebaliknya, dia akan berusaha menempuh jalan untuk memudahkan meraih tujuan itu tadi.</p>
<p>Lalu, jalan apa yang harus ditempuh agar tujuan tercapai? Kalau memang sudah paham bahwa ridho Allah segalanya dan menjadi tujuan akhir, maka jalan yang diambil juga harus sesuai dengan maunya Allah Ta’ala. Untuk mengetahui hal ini, tidak bisa tidak kamu kudu punya ilmunya. Karena sesungguhnya iman tanpa ilmu itu sesat, ilmu tanpa iman tak ada gunanya. Keduanya harus berjalan seiring.</p>
<p>Banyak sumber dan kegiatan yang bisa kamu lakukan untuk menimba ilmu ini. Bergabung dengan rohis (kerohanian Islam) di sekolahmu adalah salah satunya. Di sana kamu bisa memahami banyak hal yang sebelumnya terlewat olehmu karena cinta buta terhadap cowok yang belum tentu jadi suamimu. Waktumu akan jauh lebih berguna daripada nangis bombay meratapi diri karena ditinggal cowok.</p>
<p>Tak ada kata terlambat. Cewek yang semula cengeng karena merasa lemah setelah ditinggal si cowok, bisa menjadi sosok yang tegar ketika mengenal Islam dengan benar dan baik. Jangan percaya dengan lagu Rossa yang <em>booming</em> di jaman dulu bertitel <em>Tegar</em>. Tuh lagu isinya malah kebalikan yaitu lemah tanpamu alias tanpa si cowok. Tegar itu adalah ketika kamu bisa tetap semangat meskipun tanpa si dia. Bahkan kamu seharusnya lega karena tanpa si dia alias pacar, kamu jadi terbebas dari dosa mendekati zina. Catet baik-baik ya, Bro en Sis.</p>
<p>Fokus kamu yang semula hanya di satu titik yaitu cowok dan cowok mulu, sekarang ini mulai bisa melihat secara lebih objektif. Ternyata dunia itu indah untuk sekadar meratapi kehilangan satu cowok yang nggak penting. Lihat tuh sodara-sodara yang ada di Palestina, Suriah, Myanmar dan bannyak tempat lain di dunia. Mereka kehilangan anak, orang tua, suami/istri serta saudara kandung dalam hitungan detik.</p>
<p>Mereka saja yang pantas untuk menangis dan meratap mampu bersikap tegar dengan semua cobaan itu. Semua itu tak lain dan tak bukan, karena iman di dada serta pemahaman tentang kehidupan yang lurus. Dengan bekal ini, semua cobaan terasa lebih ringan. Mereka menapakai dunia tidak dengan cengeng dan terus-terusan menangis. Mereka bangkit untuk kemudian berlari mengejar cita-cita kebebasan. Nah kamu yang sudah tinggal di negeri bebas dari zona perang, seharusnya bersyukur dan nggak cengeng karena masalah cowok.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, kamu bisa kok bangkit dari keterpurukan dan menjadi sosok tegar. Mulai sekarang, ubah pola pertemanan kamu. Tapi tidak dengan serta merta meninggalkan temanmu yang dulu. Pelan tapi pasti kamu harus mulai mencari teman yang bisa memotivasi kamu dalam kebaikan. Bukan malah yang ngomporin kamu untuk pacaran.</p>
<p>Kamu yang dulu suka banget nonton sinetron atau FTV cengeng yang isinya mulu tentang pacaran, stop mulai dari sekarang. Isi waktumu yang singkat di dunia untuk melakukan hal-hal yang lebih berguna. Belajar, berorganisasi, membantu ortu, mengkaji Islam dan bahkan juga berdakwah. Kalau kamu belum ngeh dengan semua ini, sekali lagi, ayo cari ilmunya!</p>
<p><strong>Finally&#8230;</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, kamu pernah ingat sebuah hadits yang menyatakan ingatlah lima perkara sebelum datang yang lima? Masa sehatmu sebelum sakitmu. Masa mudamu sebelum tuamu. Masa hidupmu sebelum matimu. Masa senggangmu sebelum sibukmu. Masa kayamu sebelum masa miskinmu. Kalo belum yakin, ini lengkapnya hadist tersebut. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw. bersabda: <em>“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu; masa luangmu sebelum datang masa sibukmu; hidupmu sebelum datang kematianmu.”</em> <strong>(HR al-Hakim dalam al-Mustadrak, dikatakan oleh adz-Dzahabiy dalam at-Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim)</strong></p>
<p>Hadits ini pas banget dengan situasi yang sedang kita bicarakan. Mumpung masih muda, sehat, senggang dan hidup, sebaiknya segera menata langkah untuk tegar menyusuri kehidupan sebagai bekal di akhirat kelak. Menjadi cewek cengeng tidak termasuk ke dalam persiapan bekal untuk dibawa mati. Kehilangan satu cowok saat ini, yakinlah bahwa Allah akan mengganti dengan sosok yang jauh lebih baik di depan nanti. Apalagi bila kita rela melepas masa jahiliyah yang berlumur nafsu dan dosa, diganti dengan masa-masa indah berjalan di rel keridhoan Allah Ta’ala. Tinggal tunggu waktu saja Allah akan menghadiahi orang-orang yang bertaubat dan ikhlas meninggalkan kemaksiatan karena diri-Nya semata.</p>
<p><em>So</em>, menjadi cewek cengeng itu bukan pilihan hidup. Itu hanya sebuah sikap karena ketidaktahuan kita akan penyikapan terhadap kehidupan. Sekali kita memahami tujuan hidup dengan berjalan di rel Islam, maka yang muncul pastilah sosok cewek tegar yang optimis menyambut masa depan yang cerah, insya Allah. Janji Allah itu pasti, jangan pernah ragukan itu! <strong>[Ria Fariana | email: riafariana@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jangan-jadi-cewek-cengeng/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceria dengan Dakwah</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/ceria-dengan-dakwah</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/ceria-dengan-dakwah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2012 17:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4541</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 267/tahun ke-6 (19 Muharram 1434 H/ 3 Desember 2012)   Sobat muda muslim, pernah nggak sih kamu ngerasa super galau, buntu alias nggak tahu hidup mesti gimana lagi? Ibarat peribahasa, “bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau”? Misalnya nih, kamu baru aja ditinggal kawin sama sang pujaan hati. Pastinya hatimu ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/ceria-dengan-dakwah">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 267/tahun ke-6 (19 Muharram 1434 H/ 3 Desember 2012)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sobat muda muslim, pernah nggak sih kamu ngerasa super galau, buntu alias nggak tahu hidup mesti gimana lagi? Ibarat peribahasa, “bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau”? Misalnya nih, kamu baru aja ditinggal kawin sama sang pujaan hati. Pastinya hatimu sakit tak terperi dan rasa-rasanya pengen mati aja. Wuih, nyantai aja Bro en Sis, cinta itu bisa tumbuh pasti bisa juga mati, tapi jangan kamunya juga ikutan mati, cari aja cinta yang lain. Beres kan? Ngapain pake bunuh diri segala atawa merelakan kewarasan hilang alias gila cuma gara-gara ditinggal kawin. Masih banyak cowok lain di dunia ini, atau sekalian aja berharap ‘kutunggu dudamu’ en daftar jadi istri keduanya. Hahahaha! Husss! (daripada frustasi bikin mati dengan bunuh diri. Hehehe… sori gue ngelantur euy!)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mau dibawa ke mana?</strong></p>
<p>Hop! Jangan keterusan nyanyi ya! Bro en Sis rahimakumullah, nggak sedikit loh, jaman sekarang muslim/muslimah yang sering galau, hidupnya cuma mikirin hidup yang sekarang dijalanin aja. Padahal kan yang namanya hidup, kita harus mikirin hidup sekarang, nanti dan selamanya. Bener nggak tuh?</p>
<p>Hidup itu kudu punya tujuan. Mau dibawa kemana hidup kita sekarang ini? Tentunya kamu semua harus punya jawaban atas pertanyaan itu. Pastinya pula kalo kamu nggak pernah nentuin tujuan hidupmu, jangankan masalah gede, masalah kecil aja udah bikin kamu frustasi dan semuanya terasa gelap, nggak tahu mesti ngapain lagi.<span id="more-4541"></span></p>
<p>Boys and gals pembaca setia gaulislam, orang yang punya tujuan hidup bakalan ngerti apa yang dia lakukan dan apa yang akan dia lakukan. Masalah bagi dia adalah hal yang pasti dan mesti terjadi dalam hidup ini. Dia paham, yang namanya hidup itu penuh warna. Ada saatnya kita bahagia ada saatnya kita penuh duka. Namun yang terpenting apakah kita sudah menjalani hidup ini sesuai tujuan hidup kita, yaitu menggapai ridho Allah atau belum.</p>
<p>Tengok nih Syifa, 14 tahun, siswi SMPN 1 Ciampea Bogor yang berhasil aku ‘interogasi’. Tujuan hidupnya adalah mencari ridho Allah dan menjalankan syariatNya semaksimal mungkin. Mantep banget kan? Orang yang kayak gini nih, meski cobaan dan ujian mendera, sandarannya hanya Allah Ta’ala. Nggak lulus UN bukan akhir dunia bagi dirinya (eh, tapi dia bukannya mau nggak lulus UN ya, ini <em>mah</em> contoh, hehehe…). Ada hikmah dan langkah baru yang akan diambilnya sebagai pelajaran dari kegagalannya itu. <em>So</em>, pasti Allah akan menilai kesabaran dan keikhlasan itu sebagai pahala yang nggak bisa kita hitung-hitung nilainya. Inilah yang namanya ridho Allah.</p>
<p>Sebaliknya, kalo kita nggak punya tujuan hidup, bunuh diri mungkin menjadi pilihan favorit, ketika kita nggak nemuin cara untuk keluar dari masalah. Allah Ta’ala nggak jadi sandaran hidup kita, walhasil kita bakalan dapetin murkanya Allah. Naudzubillah.</p>
<p>Sikap Syifa yang masih SMP berbeda dengan seorang mahasiswi Unesa yang diberitakan tewas bunuh diri setelah loncat dari lantai 3 kampusnya (merdeka.com, 7 Oktober 2012). Diberitakan, mahasiswi tersebut depresi karena penyakit epilepsinya tak kunjung sembuh. <em>So</em>, menjadi mahasiswa ternyata bukan menjadi ukuran orang tersebut udah dewasa atau belum dalam berpikir, <em>or</em> punya tujuan hidup akhirat atau nggaknya loh. Hanya karena penyakit nggak kunjung sembuh, patah hati, atau karena barjubel masalah, banyak yang nggak mikir panjang. Itulah kalo kita nggak punya tujuan hidup yang benar. BTW, jangan samain tujuan hidup ama cita-cita yaa!</p>
<p>Tujuan hidup yang dimaksud bukan tujuan hidup di dunia aja loh Bro en Sis. Sebab, kita itu bakalan hidup nggak hanya di dunia tapi juga di akhirat untuk selama-lamanya. Jadi, pastikan hidupmu yang sekarang ini sudah kamu rancang dengan baik agar selalu dan berjalan sesuai ridho Allah Ta’ala dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya, sehingga dengan ridhoNya lah, kita bisa punya ‘tiket’ ke surga dan jaminan hidup bahagia di akhirat, selamanya. Amiin! Insya Allah ya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kudu Ceria!</strong></p>
<p>Wiih! Ceria? Maksud lo? Hehe&#8230; Ceria itu maksudnya CERdas en bersyaRIAh (maksa nggak sih nih bikin akronim? Hehe! Asli maksa dah!). Itu berarti, cerdas dalam berpikir akan sesuatu yang tentunya sesuai syariah Islam. Apakah suatu perbuatan haram atau kagak, apakah harus ngambil sekularisme en friends (liberalisme, hedonisme, feminisme, dan lainnya) atau membuangnya jauh-jauh, hingga hilang ditelan bumi (ceilee!). Nah, pastinya kalo kita cerdas, tentunya tindak-tanduk kita itu bakalan sesuai dengan syariah Islam alias sesuai dengan perintah dan larangan Allah.</p>
<p><em>So</em>, jangan ngerasa nelangsa kalo kamu punya segudang masalah yang sedang menimpa diri kamu. Jangan juga sesek dan mumet sendiri ampe-ampe masalah lain yang kudunya dipikirin malah nggak pernah kepikiran ama kamu. Yup, karena orang ‘Ceria’  adalah orang yang selalu memikirkan nasib umatnya,  menyelesaikan masalah umat en tentunya menyebarkan Islam supaya yang lain juga ikutan Ceria. Siap? Tunggu apalagi? Ayo Ceria! BTW, masalahmu juga jangan lupa diberesin yaaaa! (rumah kali diberesin!) Hahaha…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cerdaskan dengan dakwah</strong></p>
<p>Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, rugi banget kalo kita nggak berusaha merengkuh ridho Allah Ta’ala. Sudah saatnya tujuan hidup kita fokuskan hanya dan untuk menggapai ridho Allah semata. Itu artinya, saatnya pula kita punya karya nyata dalam membina umat. Kita nggak bisa mencerdaskan umat kalo nggak berdakwah. Dakwah itu ibarat darah dalam tubuh kita. Kalo darah nggak ngalir atau tersendat-sendat—lebih parah lagi kalo tersumbat, pastinya  satu per satu penyakit bakalan muncul. Kalo terlambat atau nggak diobatin semakin lama akan semakin kronis, hingga akhirnya penyakit itu akan membunuh kita. Sama juga dengan dakwah, kalo kita nggak berdakwah, tentunya penyakit dalam umat ini akan semakin kronis.</p>
<p>Sebut saja kasus perzinaan yang dari tahun ke tahun kasusnya tetap ada, juga fakta kaum kafir yang bebas membunuh saudara kita di Palestina serta belahan dunia lain, para penghina nabi kita anteng-anteng aja sementara kita nggak bisa ngapa-ngapain, kemiskinan yang selalu ada di depan mata, en permasalahan lain yang ada di tengah-tengah umat. Wuih, numpuk bin bejibun dah. Maka, tugas siapa lagi coba untuk menyelesaikannya, kalo bukan kita? Pastinya ini butuh kepedulian dan kerja nyata dalam bentuk dakwah untuk melenyapkan segala penyakit yang menjangkiti umat sekarang ini. Sayangnya, nggak semua <em>ngeh</em> akan pentingnya dakwah untuk mencerdaskan umat ini agar mau taat syariat. Kalo kamu gimana, Bro en Sis?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yuk, jadi dokter umat!<strong></strong></p>
<p>Sabda Rasullullah saw. ini:<em>”Barang siapa yang bangun pagi dan hanya memperhatikan masalah dunianya maka orang tersebut tidak berguna sedikitpun di sisi Allah, siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka</em>” <strong>(HR Thabrani)</strong></p>
<p>Wow, jangan sampe deh, kita ngaku-ngaku sebagai umatnya Nabi Muhammad saw., tapi pas di akhirat nanti kagak diakuin. Gara-gara apa coba? (kasih tahu nggak ya? Hehehe..). Yup, itu karena salah satunya kita nggak berdakwah! Nggak mikirin saudara yang lain.</p>
<p>Kita begitu disibukkan dengan permasalahan sendiri dan dunia, sedang umat butuh bangkit dari kemiskinan dan kemelaratan yang menimpanya. Umat butuh dijauhkan dari zina dan riba, tapi kita (Kita? Elo aja kali! Hehehe.. ) masih cuek bebek ngejar karir en shopping di sepuluh mall sehari. Sadar, Sob! Singsingkan lengan bajumu, permasalahan-permasalahan yang terjadi obatnya cuma satu, yaitu penerapan syariah Islam di muka bumi ini. Maka itu butuh ada yang ngasih resep jitu. Yup, itulah kita, dokter umat! Cekidot lagi nih sabda Rasulullah saw. berikut ini: <em>“Demi zat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya kalian memiliki dua pilihan, yaitu melakukan amar ma’ruf nahi munkar ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisiNya yang akan menimpa kalian, kemudian kalian berdoa, tapi doa itu tidak akan dikabulkan”</em> <strong>(HR at-Tirmidzi dan Ahmad)</strong></p>
<p>Selain menjadi dokter umat akan mendatangkan ridho Allah, kita semua akan terhindar dari murkaNya Allah seperti hadis di atas, Bro en Sis. Ayo, mulai dari sekarang, bergerak, berdakwah dan menjadi dokter umat!</p>
<p>Sobat gaulislam, banyak kok cara buat dakwah. Dakwah itu bisa lewat lisan, tulisan atau dengan teladan. Nggak musti koar-koar di depan orang banyak kok. Kamu juga bisa beramar ma’ruf nahi munkar, <em>face to face</em> ama orang yang mau diajak memahami Islam lebih dalam. Atau kamu bisa menuliskan kalimat-kalimat dakwahmu dalam tulisan yang bisa sekaligus dibaca oleh banyak orang, kayak aku nulis di gaulislam gitu deh (bukan narsis ya, tapi ngasih contoh dakwah teladan. Hehehe…).</p>
<p>Oya, bukan hanya lewat lisan dan tulisan aja, kita juga bisa ngasih teladan kepada orang bagaimana caranya melakukan suatu syariat. Contohnya aja, kamu bisa memberikan teladan bersedekah dengan kamu bersedekah. Berbakti kepada orang tua ya dengan berbaktinya kita kepada orang tua. Tentu saja tujuannya bukan mencari keridhoan manusia alias riya, tapi apa yang kita lakukan tentunya akan sekaligus menjadi dakwah teladan juga bagi yang lain.</p>
<p><em>So</em>, bukan waktunya lagi buat bermelo-melo ria nggak jelas, apalagi ampe bunuh diri segala. Saatnya tanamkan pada diri kamu, bahwa tujuan hidupmu hanya dan demi ridho Allah. Walhasil, hidupmu bakalan nggak melulu soal materi, kesenangan, kebahagiaan, dan yang laiinya yang bersifat duniawi. Inget Bro en Sis, hidup kita di dunia itu cuma sementara. Dunia itu hanya tempat persinggahan aja. Amit-amit dah kalo tujuan kita mentok di dunia aja. Rugi banget!</p>
<p>Yuk, ceriakan dan cerdaskan hidupmu dengan dakwah agar ridho Allah selalu bersamamu. Jadikan perintah dan larangan Allah sebagai tuntunan dalam langkah hidupmu. Jangan lupa, bagikan tuntunan itu kepada yang lain. Agar kita bisa sama-sama Ceria (cerdas bersyariah). Insya Allah hidup bakalan bahagia untuk sekarang, nanti dan selamanya. Dijamin! <strong>[Junnie: pipe_jnh@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/ceria-dengan-dakwah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah ‘Guru Emas’</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/jadilah-guru-emas</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/jadilah-guru-emas#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2012 17:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pendidik]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4537</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 266/tahun ke-6 (12 Muharram 1434 H/ 26 November 2012) &#160; Hmm… digugu lan ditiru, 3 kata inilah yang pertama kali muncul dibenak ane ketika selesai baca email dari editor gaulislam yang ngasih tahu sekarang giliran ane untuk nulis. Ketiga kata tadi adalah dari bahasa java versi 1.0 alias bahasa Jowo asli, yang artinya, ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/jadilah-guru-emas">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 266/tahun ke-6 (12 Muharram 1434 H/ 26 November 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hmm… <em>digugu lan ditiru</em>, 3 kata inilah yang pertama kali muncul dibenak ane ketika selesai baca email dari editor gaulislam yang ngasih tahu sekarang giliran ane untuk nulis. Ketiga kata tadi adalah dari bahasa java versi 1.0 alias bahasa <em>Jowo asli</em>, yang artinya, dipercaya dan diikuti. Orang Jawa versi 1.0 punya hobi bikin kepanjangan dari kata bahasa Jawa. Tujuannya untuk memberikan penjelasan terhadap makna kata tersebut. Dan singkatan paling populer dan paling pas untuk kata GURU dalam bahasa Jawa adalah digugu <em>lan</em> ditiru alias dipercaya dan diikuti.</p>
<p>Waktu ane masih sekolah dulu, ada macem-macem species guru, paling tidak ada 5 species yang berhasil ane identifikasi dengan sukses, ini rinciannya:</p>
<p>Pertama, guru yang males. Tiap kali ngajar nggak ada semangatnya. Bisa dilihat dari sorot matanya, perilakunya, dan metode mengajarnya. Guru model seperti ini paling banyak ane temuin. Hilangnya motivasi mereka bisa karena beragam faktor, mulai dari materi yang diajarkan memang tidak menarik, gurunya sendiri nggak kapabel karena bukan bidang keahlian dia, hingga motivasi ekonomi yang terlalu berlebihan alias pengen cepet kaya.</p>
<p>Kedua, tipe guru hobinya pelupa. Biasanya sering memberi tugas/PR, tapi sering lupa, mungkin karena banyak yang dipikirkan atau banyak tugas yang harus diselesaikan oleh guru tersebut, sehingga akhirnya konsentrasi dan tata laksana pengajaran menjadi kurang baik.</p>
<p>Ketiga, guru yang suka cerita pengalaman hidupnya. Beliau menjelaskan pelajaran relatif singkat dan langsung ‘to the point’ kemudian menghabiskan sisa waktu pelajaran dengan mendongeng. Hadeeuuhh…<span id="more-4537"></span></p>
<p>Keempat, guru yang suka bercanda berlebihan. Ane pernah punya guru bahasa waktu SMP, yang hobinya bercanda minta ampun. Jadi kita langsung tahu di kelas mana beliau sedang mengajar, hanya dengan mendengar kegaduhan kelas tersebut. Parahnya lagi, murid merasa senang dan terhibur karena <em>joke</em> guru tersebut, yang kemudian melupakan konsentrasi murid terhadap pelajaran. Alhasil, untuk dapet nilai 4 (dari skala 10) saja sangat susah. Padahal materinya adalah bahasa Indonesia dan ironisnya semua muridnya orang Indonesia.</p>
<p>Kelima, ‘species’ terakhir yang ane bisa identifikasi adalah guru yang sayang banget papan tulis. Beliau ini akan memulai pelajaran dengan membersihkan papan tulis. Guru model begini biasanya mengajar pelajaran eksak seperti matematika, fisika ataupun kimia. Karena begitu banyak rumus yang harus ditulis di papan tulis, sang guru terlihat sibuk sendiri menatap papan tulis dan menjelaskan satu persatu rumus yang ditulisnya dengan menghadap ke papan tulis, bukan kearah murid. Akibatnya, para murid dapat bebas melakukan berbagai aktivitas sambil melihat sang guru yang asyik berbicara sendiri dengan papan tulis.</p>
<p>Ane menulis artikel ini bukan untuk menghina profesi guru yang agung dan tinggi kedudukannya, tapi sekadar mengungkapkan fakta yang ane temui waktu sekolah dulu. Di satu sisi guru juga manusia, mereka tidak luput dari kekurangan, sehingga tidak pada tempatnya kalo kita menuntut kesempurnaan dari mereka. Namun demikian juga bukan berarti ketika menjadi guru kemudian bisa bebas lepas dari tanggung jawab utama untuk ‘mendidik’ dengan dalih bahwa kewajiban guru saat ini adalah mengajar, jadi selama sudah memenuhi kewajiban mengajar dengan materi yang sudah distandarkan oleh negara selesai sudah tanggung jawabnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sistim pendidikan kita</strong></p>
<p>Guru merupakan salah satu elemen yang cukup penting dan krusial pada masyarakat yang menghargai ilmu, dan sebaliknya akan dikesampingkan peranannya pada masyarakat yang tidak menghargai ilmu. Kalo melihat bagaimana penghargaan masyarakat kita pada guru, saat ini, sudah jelas bagaimana sebenernya apresiasi bangsa kita terhadap ilmu, buruk!</p>
<p>Kebanyakan orang tua murid memilih sekolah, alasan utamanya karena prestis dan kemampuan finansial mereka. Sekolah nggak lagi dipilih karena kehebatan atau kualitas guru yang mengajar. Sehingga yang dikedepankan bukan nama besar guru yang mengajar, tapi nama sekolahnya. Padahal pergantian guru adalah sebuah keniscayaan, naik dan turunnya kualitas pendidikan adalah hal yang tidak terhindarkan. Sekolah yang dianggap favorit belum tentu selamanya bisa menyelenggarakan pendidikan yang terbaik. Namun ironisnya sekolah favorit ini malah diuntungkan dengan gampangnya memperoleh murid yang berpotensi, orang tua yang merasa memiliki anak yang pinter, rame-rame masukin anaknya ke sekolah favorit, dan ini sangat menguntungkan guru di sekolah favorit tersebut, karena emang lebih gampang ngajarin anak yang pinter.</p>
<p>Belum lagi dengan keberadaan industri bimbingan belajar yang statusnya rada engga jelas dalam sistim pendidikan kita. Pernah ane baca sebuah artikel, ada lembaga yang melakukan survey terhadap siswa terbaik di beberapa kota besar di Indonesia, dan mereka menemukan 7 dari 10 siswa terbaik, rata-rata mereka ikut bimbel, padahal bimbel sebenernya melakukan kegiatan yang nyaris sama dengan apa yang dilakukan guru di sekolah, yaitu mengajar juga, nah lho?</p>
<p>Sobat gaulislam, tanggung jawab mendidik memang utamanya ada pada orang tua. Syariat Islam mensyaratkan bagi semua muslim yang ingin menikah (calon orang tua), dengan satu syarat, yaitu mampu. Mampu umumnya ditafsirkan terbatas pada kemampuan untuk mencukupi kebutuhan finansial saja. Jarang dihubungkan syarat mampu ini dengan kemampuan untuk memimpin keluarganya dan kemampuan untuk mendidik keluarganya. Padahal di ayat lain terdapat perintah untuk melindungi diri kita dan keluarga kita dari api neraka, bagaimana mungkin kita bisa melindungi diri dan keluarga kita dari api neraka, tanpa melalui pendidikan? Oleh karena itulah para ulama sepakat bahwa mendidik anak bagi orang tua hukumnya wajib, dan orang tua tidak bisa membebankan semua tanggung jawab pendidikan kepada guru, hanya karena sudah membayar mahal biaya pendidikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Guru emas</strong></p>
<p>Bro en Sis, pembaca setia gaulislam, selalu saja ane temukan guru-guru berlapis emas dalam berbagai level pendidikan yang ane pernah tempuh selama ini, tidak perduli seberapa hancurnya sistim pendidikan yang ada. Selalu aja ada guru yang layak untuk mendapat acungan jempol. Mereka ini secara umum memiliki karakter: ikhlas, berorientasi kedepan, maksudnya kepada masa depan kehidupan muridnya, dan biasanya istiqomah dalam konteks yang baik tentunya, misal: selalu tepat waktu, tegas/disiplin tinggi dan selalu kreatif dalam menyampaikan materi.</p>
<p>Khusus untuk soal orientasi, sering ane temukan guru yang emang fokusnya adalah gimana untuk lolos UN atau ujian saja. Mereka terlalu fokus pada angka-angka di buku rapor siswa, sehingga mereka akan melakukan segala cara untuk memastikan anak didik mereka lolos ujian. Padahal hidup ini bukan hanya UN/ujian akhir saja, bisa jadi mereka akan memperoleh kredit ketika berhasil meluluskan 100% siswanya, tapi apa bener itu semua bermanfaat bagi para siswanya di kemudian hari?</p>
<p>Di antara ‘guru emas’ yang ane temuin, ada satu kekhasan mereka, yaitu mereka memahami betul, bahwa belajar dan mengajar adalah satu paket, sama dengan mendengar dan berbicara, membaca dan menulis, karena memang AllahTa’ala menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasangan, dan untuk belajar pasangannya adalah mengajar. Pendidikan saat ini, terlalu fokus pada belajar saja. Kalo jaman dulu, guru ngomong kemudian ditulis oleh muridnya, sehingga ada dua kegiatan, yakni mendengar/menyerap informasi dan kemudian menuliskannya. Saat ini kegiatan menulis tersebut telah diganti dengan buku paket, sementara murid cukup membaca dan mendengarkan saja.</p>
<p>Di salah satu pesantren pernah ane temui metode mengajar yang sangat menarik, mereka punya tradisi menjadikan siswa senior (yang mau lulus), sebagai asisten ustadznya dan sekaligus polisi/penjaga ketertiban adik-adik kelasnya di pesantren tersebut. Inilah salah satu peluang emas, mereka diberi kesempatan untuk mengajar/membantu ustadznya mengajari adik-adiknya. Tentunya ketika ngajarin, jadi ketahuan mereka ini sebenernya udah ngerti atau belum, karena syaratnya orang yang memberi, dia harus punya dulu, syaratnya bisa ngajarin, harus paham dulu. Kalo hanya menilai dari hasil kertas ulangan aja, belum tentu bisa menunjukkan kondisi yang sebenarnya.</p>
<p>Selain mengajar, siswa senior tersebut juga diberikan hak untuk mengatur adik-adik kelasnya, di sinilah mereka mulai belajar dakwah, bagaimana mencari jalan keluar ketika terjadi pertentangan antara teori yang diyakini dan fakta di lapangan, sekaligus bagaimana mencari jalan keluar terbaiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Dunia ini belum kiamat, masih banyak guru-guru emas di sekitar kita, bahkan bertebaran di mana-mana. Cuma cara pandang akan sistim pendidikan moderen saat ini, memudarkan cahaya emas mereka, tertutup dengan angka-angka target kelulusan dan kebanggaan sekolah yang terbalut dengan nominal rupiah.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, jadilah murid yang baik, karena hanya murid yang baik yang layak memperoleh guru yang baik. Syariat Islam mewajibkan kita untuk menjadi murid yang baik, menganjurkan kita untuk membaca dan mendengar ayat-ayat Allah Swt. di dalam semua ilmu, karena memang pemilik ilmu adalah Allah Swt. Kewajiban kita adalah belajar sebagai upaya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Ayo, semangat belajar ya!</p>
<p>Ane memiliki keyakinan yang kuat bahwa di dalam setiap guru terdapat cahaya emas, ada yang terang dan ada yang redup. Kita semua hanya hidup sekali. <em>So</em>, mari para guru kita jadikan hidup kita yang sekali ini menjadi berarti di dunia dan di akhirat. Semoga bermanfaat. <strong>[Abu Fikri | @gaulislam]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/jadilah-guru-emas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Tanpa Pacaran</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-pacaran</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-pacaran#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2012 17:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[ta'aruf]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4530</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 265/tahun ke-6 (5 Muharram 1434 H/ 19 November 2012)   Bro en sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, ketemu lagi bareng saya, di bahasan yang mirip-mirip sama tulisan saya sebelumnya , yaitu ‘pacaran’. Haha… bikin ngakak nih, pacaran, pacaran, dan pacaran. Waduuuh, ada hubungan apa ya saya dengan ‘pacaran’? *mikir sambil tepok jidat. Eh, Tapi ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-pacaran">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 265/tahun ke-6 (5 Muharram 1434 H/ 19 November 2012)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bro en sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, ketemu lagi bareng saya, di bahasan yang mirip-mirip sama tulisan saya sebelumnya , yaitu ‘pacaran’. Haha… bikin ngakak nih, pacaran, pacaran, dan pacaran. Waduuuh, ada hubungan apa ya saya dengan ‘pacaran’? *mikir sambil tepok jidat.</p>
<p>Eh, Tapi nggak usah bingung, ragu, takut, en khawatir ya, Sob. Hubungan saya dengan istilah ‘pacaran’, doi emang musuh bebuyutan kok. Jadi wajar, kalo saya ama istilah pacaran emang sering dipertemukan editor, dalam buletin gaulislam yang kita cintai ini. Tujuannya tentu ada. Yup, agar para remaja benar-benar ngeh kalo pacaran itu emang bukan budayanya remaja muslim. Pacaran itu nggak <em>nyeni</em> banget dilakuin remaja muslim, dan sekali haram, pacaran tetaplah haram, titik <em>teu dikomaan</em> (baca: titik yang nggak pake koma lagi).</p>
<p>Wah ngotot banget nih, gaulislam bahas tentang pacaran terus. Sstt… habisnya, suka <em>sad-sad</em> gitu kalo lihat remaja yang pacaran, tapi sebenarnya mereka tahu hukumnya haram, padahal nih para aktivis rohis udah panas tenggorokan, pada serak ngasih tahu nggak bosan-bosannya. Selebaran pun bertebaran, mading sampe jamuran. Semua berisi dengan tulisan “Say No To Pacaran”. Begitupun di masyarakat, banyak majelis taklim remaja yang teriak-teriak bahwa pacaran itu haram. Oya, bukan cuma itu, kekeliruan remaja memahami konsep cinta pun sering jadi alasan. Padahal nih ayat udah <em>ngolotok</em> banget alias udah hapal di luar kepala kayaknya: <em>“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”</em><strong>(QS al-Israa’ [17]: 32)</strong></p>
<p>Semua hal yang mendekati zina tentu itu harus kita jauhi. Nggak pakai alasan-alasan lagi.<span id="more-4530"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ta’aruf, atau pacaran terselubung?</strong></p>
<p>Ada nggapan ngawur bahwa kalo remaja nggak pacaran siap-siap dibilang katro, norak, nggak laku dsb. Jadi seolah pacaran bagi remaja adalah sebuah hal yang perlu. Anak SD pun udah banyak yang pacaran. Hancur deh generasi di hadapan mata, semua sibuk dengan urusan naluri cinta namun diekspresikan melalui jalan yang menyimpang, atau tepatnya melalui aktivitas yang namanya pacaran.</p>
<p>Bro en Sis, padahal kan justru yang ngelakuin pacaran itu bisa dibilang katro, karena pacaran itu kan bukan budaya dari Islam. Islam melarang aktivitas pacaran, tapi untuk memenuhi naluri melestarikan keturunan, rasa cinta itu diberi ruang untuk mengekspresikannya melalui  pintu pernikahan. Bener Bro en Sis: pacaran itu hubungan terlarang, sementara nikah itu ikatan yang halal.</p>
<p>Nah, ini adalah masalah lagi nih. Bener. Kekeliruan pun kian banyak terjadi. Saat banyak yang ‘sadar’ pacaran itu haram, tetep aja setan belum puas ganggu manusia. Maka akibatnya, setan ngasih jebakan baru, sehingga orang mencari jalan lain yang dianggap aman dan halal—menurut hawa nafsunya.</p>
<p>Apa buktinya? Yup, jadinya ngakalin. Dalam Islam kan dikenal istilah ta’aruf, istilah inipun akhirnya diselewengkan oleh aktivis pacaran sebagai suatu hal yang mirip dengan pacaran. Padahal, keliru banget. Ta’aruf yang mereka lakuin adalah ta’aruf yang terkontaminasi dengan hawa nafsu yang dikemas dalam hubungan gelap bernama pacaran. Modus yang mengecewakan, Bro en Sis. Padahal ta’aruf itu adalah suatu tahap yang ada dalam proses khitbah (baca: meminang—yang sudah serius ke arah pernikahan). Jadi khitbah dulu baru ada tahap ta’aruf di situ—tentu saja dengan syarat-syarat yang ketat, seperti nggak boleh berduaan meskipun udah khitbah. Kalo sudah khitbah berarti sudah siap menikah, karena khitbah<em> </em>itu berupa pinangan seorang lelaki kepada wanita melalui permohonan resmi kepada orang tua si wanita dengan tujuan untuk menikahinya. Nah, kalo belum siap buat nikah? Ya, itu berarti bukan ta’aruf itu <em>mah</em>, tapi pacaran terselubung pake kedok ta’aruf. Parah!</p>
<p>Jadi, plis deh kawan. Kamu yang masih ngotot bahwa dirimu sedang ta’aruf<em> </em>tapi nyatanya terselubung jadi pacaran, segera nyadar sebelum ajal datang. Sterilkan dari hal-hal yang akan menjerumuskan pelaku ta’aruf ke hal-hal yang hina dari mendekati zina atau malah zina yang sesungguhnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Remaja dan cinta</strong></p>
<p>Remaja, adalah masa yang katanya “serba transisi”. Peralihan dari anak-anak jadi dewasa dengan pemikiran yang mulai berjalan secara bercabang-cabang dengan tujuan yang katanya untuk mencari jati diri. Waduh, nih lebay nulisnya ya, belibet pula kayak gini. Yup, intinya masa remaja itu juga ditandai dengan memperhatikan penampilan agar terlihat sempurna. Nggak ketinggalan, rasa-rasa sumringah berwarna pink atau yang kita kenal virus merah jambu ini pun tak dipungkiri mulai menempati posisi tersendiri dalam rona kehidupan remaja. Bener kan? Kamu ngerasain juga? Hehehe. Sama.</p>
<p>Perasaan cinta yang menghampiri itu emang naluri, namun tidak berarti kita bebas memuaskan naluri melestarikan keturunan itu diwujudkan dengan pacaran atau<em> </em>dengan hal-hal yang kita inginkan menurut hawa nafsu kita yang masuk kategori mendekati zina atau malah berzina. <em>Naudzubillah min dzalik.</em></p>
<p>Nah, dalam Islam tentu kita (seharusnya) tahu banyak tentang syariat Islam yang bisa cegah manusia dari zina. Jadi, ‘rasa cinta’ adalah fitrah, namun pemuasannya adalah pilihan. Maka, tentukanlah sekarang Bro en Sis, mau ikut aturan siapa? Nurut sama aturan Allah Ta’ala atau ikutan aturan selain Islam dengan ngelakuin pacaran? Tapi tentu ada konsekuensinya dari setiap pilihan. Milih pahala atau dosa?</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo boleh ngasih tips nih ya, tentu sebagai mahluk Allah Ta’ala kita tentu yakin akan adanya hari perhitungan (yaumil hisab). Daripada di akhirat sengsara karena nyoba pacaran, ya mending ikut aturan Allah yang tentu menyelamatkan. Ikut aturan Allah Swt adalah tanda kita beriman seratus persen padaNya, juga bukti cinta kita padaNya.</p>
<p>Bro en Sis, pembaca setia gaulislam, aturan Allah Ta’ala sudah pasti ada hikmah dan manfaatnya. Jadi, jangan ngerasa rugi ketika kita memutuskan taat pada Allah, karena bagaimanapun kita ini manusia, kawan. Kita tidak tahu apa yang terbaik buat kita, maka jadikanlah Allah yang Mahatahu segalanya sebagai rujukan aktivitas yang kita lakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cinta Islam sampai mati</strong></p>
<p>Rasa cinta memang naluri, Islam sangat tegas dan jelas menentukan aturan terhadap rasa cinta yang dimiliki manusia. Sssttt.. bukan berarti Islam mengekang manusia lho, justru ini tanda Islam peduli umatnya. Tanda Allah Ta’ala cinta hambaNya. Agar manusia nggak jatuh terjerumus pada hal-hal yang menghinakan dan juga menyengsarakan manusia.</p>
<p>Oya, dilarang ngelakuin pacaran itu, bukan berarti kita terlarang punya cinta. Kita bisa tetep punya cinta kok. Kita bisa salurkan rasa cinta ini pada suatu hal yang benar dan baik. Tentu saja cinta yang diekspresikan sesuai tuntunan Allah Swt dan RasulNya.</p>
<p>Eh, ngomong-ngomong tentang subjudulnya yang ‘cinta Islam”, apa sih maksudnya? Hmm.. ini nih ada ayat dalam al-Quran yang patut kita perhatikan dan renungkan, “<em>Katakanlah ,’Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih amu cintai dari pada Allah dan RasulNya dan (dari) Jihad di JalanNya , maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.” Dan Allah tida memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.</em><strong>(QS at-Taubah [9]: 24)</strong><em></em></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, masa remaja yang katanya enerjik dan penuh semangat, sebenarnya bisa diarahkan jadi pengemban obor perjuangan. Namun, amat disayangkan bagi remaja yang enggan berjuang untuk Islam. Ayolah, jangan sibuk ngejar cinta birahi terhadap lawan jenis yang buat kita terhina—karena cara ekspresinya nggak halal. Seharusnya kita bisa sibuk memperjuangkan Islam, sibuk mencari ilmu Islam, itulah bukti bahwa kita punya cinta, cinta pada Islam!</p>
<p>BTW, kalo kamu nggak pacaran pun, tenang aja soal jodoh. Jangan takut nggak dapet jodoh atau khawatir jodoh yang kita dapat bukan jodoh yang terbaik. Sebab, Allah Ta’ ala sudah tentuin jodoh kita masing-masing. Termasuk seperti apa jodoh kita kelak. Baik atau buruknya, tergantung pribadi kita juga lho. Firman Allah Swt., <em>“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” </em><strong>(QS an-Nuur [24]: 26)</strong><em></em></p>
<p><em>So</em>, berdoalah pada Allah agar kita diberikan jodoh terbaik. Tentunya kita pun aktif perbaiki sikap kita agar jadi pribadi yang senantiasa bertakwa pada Allah Swt. Tetap konsisten dalam Islam, dan tentu saja tetap taat pada Allah. Salah satunya nih, dengan menahan gejolak cinta yang telah Allah berikan. Tahan dan kendalikan sampai waktunya tiba, yakni saat kita halal dengan seorang yang telah ditentukan Allah sebagai jodoh kita melalui pernikahan. Itulah bukti kita masih punya cinta.</p>
<p>Oke deh, <em>keep smile</em>, <em>hamasah</em> buat kamu semua, pembaca setia gaulislam. Oya, jika cinta Allah sudah didapat, maka insya Allah surga pun bisa kita raih. Itulah janji Allah. FirmanNya, <em>“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shidiqien, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.” </em><strong>(QS an-Nisa[4]: 69)</strong><em></em></p>
<p>Yuk, pastikan kamu tetap memiliki cinta meski tidak kamu wujudkan dalam pacaran. Stop pacaran! Taat dan takutlah hanya pada Allah Ta’ala. Insya Allah, semua akan indah pada waktunya, yakni nanti dalam pernikahan. Sekarang? Fokuslah belajar, Bro en Sis! <strong>[Wilda Awaliyah | Twitter @wildafillaah]</strong> <em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-pacaran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Muslimah, Move On!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/remaja-muslimah-move-on</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/remaja-muslimah-move-on#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 17:01:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4525</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 264/tahun ke-6 (27 Dzulhijjah 1433 H/ 12 November 2012)   Wah, ternyata masih banyak ya muslimah muda yang pikirannya masalah mode en duniawi aja dalam kehidupannya. Ya, masalah Islam sebagai ideologi cuma dianggap sekelebatan aja atau diambil setengah-setengah. Mereka anggap masa remaja masa yang ‘suka-suka’, mencari jati diri (tapi nggak ketemu-ketemu). Masalah akil ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/remaja-muslimah-move-on">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" />  gaulislam<strong> </strong>edisi 264/tahun ke-6 (27 Dzulhijjah 1433 H/ 12 November 2012)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Wah, ternyata masih banyak ya muslimah muda yang pikirannya masalah mode en duniawi aja dalam kehidupannya. Ya, masalah Islam sebagai ideologi cuma dianggap sekelebatan aja atau diambil setengah-setengah. Mereka anggap masa remaja masa yang ‘suka-suka’, mencari jati diri (tapi nggak ketemu-ketemu). Masalah akil baliq sebagai proses pendewasaan menuju kesiapan menerima amanah yang lebih ‘berat’ malah terabaikan. Begitu dapat masalah, yang jadi rujukan malah media-media remaja yang nggak islami.</p>
<p>Lucunya, dari jaman saya ABG sampe sekarang, konten media remaja nggak jauh-jauh amat solusi yang dikasih. Contoh aja nih: fashion ‘before-after’. <em>Before</em>: wajah kusam nggak bermake up, rambut nggak berhijab, baju model tahun jebot; <em>After</em>: wajah kinclong bermake up, rambut di-<em>stylish</em> gaya artis terkini dan begitu pula baju yang dipake kekurangan bahan. Ya gitu-gitu aja. Udah gitu yang dijadiin panutan gayanya para seleb Barat, Korea, Jepang yang <em>up to date</em>. Bukan pakaian yang menutup aurat secara sempurna. Ironis, tragis dan mengenaskan.  Woi, nggak layak muslimah model begitu.<span id="more-4525"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jati diri muslimah</strong></p>
<p>Yup, <em>talking seriously</em> Gals. Eyes to eyes, heart to heart. Mungkin saking terbiasa dengan kenyamanan alias <em>stuck in comfortable zone</em> plus nggak mau turun gengsi, nggak sedikit muslimah yang masih betah dalam sekulerisme (memisahkan antara aturan agama dan kehidupan) dan menjadi liberal plus berpaham kapitalis yang akhirnya jadi matre dan konsumtif.</p>
<p>“Kan, masih muda terus hidup cuma satu kali. Jadi nikmatin aja. Lagian, nggak minta juga diciptain ke dunia ini. Kalo mati ya mati aja. Terserah Tuhan mau ngapain gue.  Emang masalah buat elo?” — nganga deh kalo ketemu ‘muslimah’ yang ditegur en dinasehati tapi jawabannya kayak gitu.  Huuft..</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah pembaca setia gaulislam, memang akan bermunculan beraneka ragam jawaban yang isinya ‘pembenaran-pembenaran’ (bukan kebenaran). Contoh aja, berpakaian. Kalo ada acara-acara religius, pakaiannya pada nutup dengan sopan tapi tetep keliatan lekuk tubuh, kalo pun nggak pake kerudung ya pake pashmina atau selendang yang cuma diselempangin begitu aja di kepala dan kalo kena angin atau kebanyakan gerak ya kelepas deh, kemudian rambutnya pun keliatan.</p>
<p>Makanan? Kadang suka sok-sok’an ngikutin makanan ala Barat, Korea, Jepang tanpa ngertiin dulu yang dimakan halal atau nggak. Kadang martabat udah jadi tinggi banget cuma karena bisa makan ala mancanegara. Gaya hidup pun mudah keikut arus. Apalagi kalo udah keikut gaya hidup konsumtif. Kalo nggak pake barang-barang bermerk dan original, rasanya nggak ok.</p>
<p>Bagaimana dengan pandangan hidup? Halah, ternyata nggak fokus menjadikan Islam sebagai standar. Padahal, kalo dalam Islam cukup memahami, bahwa kita diciptakan oleh al-Khalik yakni Allah Ta’ala, begitu diciptakan dan menjalani fase-fase kehidupan kita sudah diberi petunjuk melalui al-Quran dan as-Sunnah untuk menjalankannya dalam kehidupan. <em>Next</em>, begitu ajal tiba, kita kembali kepada Allah dan kemudian menuju akhirat, dikumpulkan di padang Mashyar, dihisab segala perbuatan di dunia lalu menanti hasilnya, surga atau neraka.</p>
<p>Jadi, jati dirinya seorang muslim ya keislamannya itu. Mengamalkan seluruh aturan Allah Ta’ala dalam kehidupan. Susah? Berat? Memang. Tapi pasti bisa. Kalo mau belajar, berusaha dan membiasakannya dalam kehidupan. Contoh: Belajar berhijab, berusaha untuk selalu mengenakannya dan membiasakan disiplin untuk berhijab (jilbab dan kerudung) tanpa pilah-pilih momen. Mau mantenan, perpisahan, ke pasar, sekolah tetep berhijab.  Titik. Dilarang? Sama ortu? Sama pihak sekolah? Kampus? Tempat kerja? Itulah ujiannya. Allah Swt. menguji keimanan para muslimah. Pengorbanannya untuk bisa berhijab insya Allah imbalannya adalah surga.</p>
<p>Allah Swt.befirman, <em>“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta</em> <strong>(QS al-Ankabut [29]: 2-3)</strong></p>
<p>Dan, begitu kita bebas berhijab sesuai syariah apakah kemudian tenang? Sebenarnya masih ada PR.  Yakni, mengajak muslimah lainnya yang belum berhijab untuk memakainya selain itu juga memperjuangkan kembali kehidupan Islam agar seluruh aspek kehidupan murni bertumpu pada Islam.</p>
<p><strong>Kapitalisme bikin rugi lahir batin</strong></p>
<p>Apa sih ukuran cantiknya seorang wanita?  Ternyata kini kapitalisme telah mengubahnya menjadi, cantik itu putih, langsing, wajah cerah tanpa noda.  Berlomba-lomba deh pada beli krim pemutih badan dan wajah, terus beli produk pelangsing tubuh. Pengen merawat tubuh dan wajah sih ok aja, tapi liat dulu prioritasnya, penting banget berkulit kinclong? Kalo penting, ok, kan merawat anugerah ilahi. Tapi liat dulu, produk yang dipake, halal nggak? Terus, nggak harus ber-make-up kan? Selain itu, walau pun produknya halal tapi dipake di saat yang nggak pas, ya bisa jadi maksiat. Contoh: kosmetiknya terbuat dari bahan halal, tapi makenya buat tebar pesona dengan lawan jenis atau ber-make up menjadi kewajiban karyawati di kantor misalnya.  Ditambah lagi dengan kontes-kontes kecantikan ‘Miss ini Miss itu’ yang standar penilaiannya ya tetep: fisik.</p>
<p>Kadang saya suka kasihan melihat SPG-SPG yang dengan pakaian kekurangan bahan plus bodi berlekuk dan wajah kinclong nawarin barang-barang dagangan dengan kemolekan tubuh mereka di tempat-tempat umum. Pengen nangis rasanya. Apa nggak malu? Bahkan, ada yang kasusnya ‘bunglon’, jadi sehari-hari kerudungan dan berwajah <em>innocent</em> eh begitu <em>on duty</em> berhubung tuntutan kerja (nah, kenapa jadi mau kerja yang begitu. Terdesak butuh duit?), bablas deh pamerin auratnya. <em>Na’udzubillah min dzalik</em>.</p>
<p>Kalo yang nggak ngeh en <em>su’udzon</em> bagaimana cara Islam memuliakan wanita, ya bilangnya <em>ribeut</em>, fanatik, terkekang. Waduh, bukannya udah kewajiban tuh melaksanakan perintah Allah Ta’ala? Allah Swt udah melindungi dan memuliakan muslimah dengan aturanNya.</p>
<p>Jadi, berjuanglah, Gals! Bebaskan dirimu dari belenggu kapitalisme. Insya Allah, bisa! Kalo nggak berusaha, bisa terus-terusan bodi, wajah, tenaga bahkan keimananmu dieksploitasi ama yang namanya kapitalisme.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Remaja muslimah idaman umat</strong></p>
<p>Nah, Gals. Sebenernya, kalo udah berusaha membebaskan diri dari belenggu kapitalisme nan sekuler dan matre itu, justru sebenarnya akan menjadi remaja muslimah idaman umat. Mungkin, bagi yang nggak ngerti akan pentingnya aplikasi Islam dalam kehidupan ya akan mencemooh.  Tapi seperti yang saya bilang, ya itulah ujiannya. Ujian keimanan, juga mempertahankan kebenaran.</p>
<p>Jangankan orang sekeliling, ortu pun yang nggak ngeh akan pentingnya aplikasi Islam dalam kehidupan bakal ngelarang anak-anaknya untuk mengkaji Islam, berhijab, dan berdakwah. Sebaliknya malah nyuruh anaknya pacaran. Larangan tersebut berdasarkan alasan bahwa anaknya jadi nggak gaul, dan terbawa aliran sesat. Waduh! Yah, bersabarlah. Padahal dengan kembalinya kita kepada Islam dan menjadi anak shalihah justru menjadi aset terbesar untuk ortu kita begitu di akhirat kelak. Mudah-mudahan ortu kita ngerti ya. Amiin. Rasulullah saw bersabda,<em> “Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakan untuknya.” </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Untuk saat ini apalagi ditambah isu-isu teroris yang bener-bener bikin stigmatisasi terhadap Islam, segala upaya dan langkah kita untuk taat kepada syariah hingga memperjuangkan khilafah dianggap anomali. Tapi, percaya deh.  Masa’ kita mundur, padahal Allah udah menjamin surga untuk umatNya yang bener-bener berjuang di dalam Islam, <em>“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. </em><strong>(QS at-Taubah [9]: 111)</strong><em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Move On!</em></strong><strong></strong></p>
<p>Yup, teruslah berjuang untuk menjadi remaja muslimah idaman umat, yang mampu menjadi penerang bagi umat yang kini tengah dicengkeram kapitalisme global.  Bersiaplah untuk selalu bertahan dalam menghadapi segala cobaan yang datang. Tenang, you’re not alone. Bersama kita bisa! <em>So, </em>aktiflah di Rohis, syukur-syukur bisa bergabung dengan komunitas-komunitas Islam yang memperjuangkan<em> </em>tegaknya kembali syariah Islam di muka bumi ini. Islam yang dijadikan sebagai ideologi negara dalam naungan Khilafah Islamiyah.</p>
<p>Nah,<em> </em>kalo udah gabung untuk dibina dalam mengkaji Islam kita kudu bersikap sungguh-sungguh. <em>Coz</em>, kita dibina bukan sekadar untuk ‘penyegaran jiwa’, tapi digembleng supaya bisa jadi pribadi tangguh yang nggak keder ngorbanin mental, materi/harta, waktu sampe jiwa. Ehhh.. kok serem gini? Yang serem mah film horor. Yaa.. emang dikira aplikasi Islam main-main gitu? Ya nggak lah. Kan katanya mau jadi muslimah shalihah, ya kudu tahan banting. Makanya kita bakal dibina bener-bener baik itu dalam masalah ilmu Islam juga dibina untuk aplikasinya dalam kehidupan. Jadi, nggak sekadar ta’lim. Belajar, pulang, bebas. No! Tapi: belajar dan diskusi, resapi, pikirkan, amalkan, sebarkan (dakwahkan) dan pertahankan kebenaran. Gitu, Non!<em> </em></p>
<p>Gimana, Gals? Siap jadi muslimah idaman umat? Mau nggak mau kudu siap karena memang kewajiban yang harus kita taati. Oke deh, selamat berbenah diri, mengubah diri menjadi lebih baik dan bersungguh-sungguh mengamalkan Islam dalam<em> </em>kehidupan. Mulailah dengan cintai Islam dan ikuti kajian-kajian keislaman. Hamasah<em>! </em><strong>[Anindita | e-mail: thefaith_78@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/remaja-muslimah-move-on/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Idolamu, Sobat?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/siapa-idolamu-sobat</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/siapa-idolamu-sobat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2012 17:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4521</guid>
		<description><![CDATA[gaulislam edisi 263/tahun ke-6 (20 Dzulhijjah 1433 H/ 5 November 2012) &#160; Sobat muda, selama kamu menjalani hidup, apakah kamu pernah mempunyai idola? Ah, sebenarnya kalian tidaklah perlu menjawab pertanyaan ini. Saya sudah dapat memastikan apa jawabannya. Sudah dapat memastikan bahwa setiap dari kalian, termasuk yang sedang membaca Buletin gaulislam ini, tentulah pernah dan sekarang ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/siapa-idolamu-sobat">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 263/tahun ke-6 (20 Dzulhijjah 1433 H/ 5 November 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong></strong>Sobat muda, selama kamu menjalani hidup, apakah kamu pernah mempunyai idola? Ah, sebenarnya kalian tidaklah perlu menjawab pertanyaan ini. Saya sudah dapat memastikan apa jawabannya. Sudah dapat memastikan bahwa setiap dari kalian, termasuk yang sedang membaca Buletin gaulislam ini, tentulah pernah dan sekarang pun punya idola.</p>
<p>Eh, sebenarnya itu bukanlah semata-mata prediksi lho. Itu lebih ke arah fakta bahwasanya manusia, yang termasuk di dalamnya para remaja, mempunyai naluri alamiah untuk mengidolakan sesuatu.</p>
<p>Sebagai manusia, saya pernah merasakannya sendiri. Bahkan semenjak saya kecil. Pernah merasakan kekaguman luar biasa terhadap sosok <em>Ultraman</em> yang begitu besar dan mampu membuat para monster babak belur. Tercengang ketika pertama kali melihat lima orang manusia biasa di layar TV berubah menjadi lima pahlawan berhelm pembela kebenaran, <em>Power Rangers</em>. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk meniru gerak-gerik para jagoan layar TV yang saya tonton itu. Main gebuk teman sendiri adalah hasil dari mengidolakan enam jagoan itu. Ah, sebenarnya saya malu menceritakannya. Tapi tak apalah, sebagai gambaran dan pelajaran untuk semua.</p>
<p>Itu pada masa anak-anak. Idolanya biasanya tak jauh-jauh dari itu. Beranjak remaja, tentu beda lagi siapa idolanya. Kebanyakan remaja biasanya kesengsem dengan para artis. Apalagi di jaman sekarang dimana <em>Korean Wave</em> sedang gencar-gencarnya melanda negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini. Kebanyakan remajanya pun terlena. Terpukau dengan gaya dan dandanan orang-orang Korea itu. Efeknya? Sudah bisa ditebak, Bro en Sis. Ya, mereka akan mengikuti gaya para artis yang diidolakan. Baik itu cara berpakaian, pola pikir, dan prilaku mereka.<span id="more-4521"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Selektif pilih idola</strong></p>
<p>Oya, masalahnya sebenarnya terletak di sini. Para remaja kebanyakan mengikuti sesuatu dengan tanpa pertimbangan-pertimbangan lebih jauh. Main ikut aja, tanpa berpikir ulang apakah sesuatu yang diikuti itu benar atau salah. Nggak peduli lagi. Yang penting <em>enjoy.</em></p>
<p>Padahal, idola yang mereka jadikan teladan, para artis itu lebih memberikan contoh yang negatif. Lihat aja, misalnya <em>girlband-girlband</em> yang sekarang tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan. Siapa pun tahu bagaimana cara berbusana mereka. Serba terbuka. Memperlihatkan bagian tubuh yang semestinya tidak diperlihatkan di depan umum. Aurat yang semestinya ditutupi dengan baik. Yang semestinya tidak boleh diumbar-umbar kecuali untuk suami masing-masing jika sudah tiba waktunya, nanti setelah nikah.</p>
<p>Itu dari segi penampilan. Belum lagi dari segi pesan yang mereka sampaikan lewat lagu-lagu yang didendangkan. Lagu-lagu itu sengaja dibuat guna menyebarkan inspirasi tentang pengekspresian cinta yang bebas. Tidak harus pada orang, waktu, dan tempat yang tepat. Asal suka sama suka, bolehlah melakukan apa pun atas nama cinta. Kehidupan cinta yang bebas, tanpa ikatan suci bernama pernikahan. Sungguh ironi dan menyedihkan.</p>
<p>Namun sobat muda muslim, di tengah-tengah kesedihan yang ada, kita masih bisa dan patut untuk berbangga. Kenapa? Karena ternyata masih ada remaja-remaja tangguh di dunia ini. Mereka ini adalah para remaja yang yang sudah mulai paham bahwa hidup mereka tidaklah semata untuk main-main belaka. Ada sebuah pertanggungjawaban yang kelak harus dihadapi. Sebuah pertanggungjawaban yang hanya mengenal satu perhitungan berdasarkan kebenaran atau kebatilan. Oleh karenanya, kita bisa melihat, mereka sangat berhati-hati meniti hidup. Berpikir ribuan kali dalam urusan memilih idola. Begitu selektif. Jika kira-kira si calon idola dapat membimbing pada kebenaran, mendorong untuk senantiasa ingat dan dekat dengan Allah, maka mereka akan mengambilnya.</p>
<p>Namun, jika kira-kira si calon idola yang ‘ditaksir’ bisa membawanya pada kebatilan, mereka akan segera mengambil tindakan cepat. Melupakan dan untuk kemudian membuangnya jauh-jauh dari alur kehidupan mereka. Tidak peduli betapa kuat keinginan di dada untuk menjadikannya panutan. Syarat nggak terpenuhi, ke laut <em>aja!</em></p>
<p>Hanya kitalah yang dapat menilai. Apakah diri masing-masing termasuk pada golongan remaja keropos yang begitu mudahnya ‘mengadopsi’ idola seenak hati. Atau, remaja tangguh dengan  perisai sekuat baja, yang hanya mengidolakan orang-orang yang senantiasa bertabur dan bertebar kebaikan.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, ada banyak idola bertebaran di muka bumi. Mereka menjelma bak pahlawan bagi ‘pengikut’ masing-masing. Namun, tahukah kalian bahwa seorang idola tidaklah selalu identik dengan pahlawan. Apalah jadinya jika setiap idola disebut pahlawan? Bagaimanalah mungkin seorang idola dengan milyaran fans berat tapi menyebarkan kesesatan dan kerusakan di muka bumi masih saja disebut pahlawan? Apakah kalian rela menyebutnya pahlawan? Akal yang masih waras tentu akan mengatakan tidak. Mereka adalah penjahat dan perusak, bukan pahlawan.</p>
<p>Dulu, seorang pahlawan biasanya diidentikkan pada mereka yang mati di medan pertempuran. Entah itu mati karena membela bangsa, negara, atau agama. Namun, semakin lama julukan atau gelar pahlawan ini semakin meluas cakupannya. Tidak lagi jelas batasannya. Tidak melulu dinisbatkan pada orang yang mati di medan pertempuran. Seorang bapak yang pontang-panting mencari nafkah kini juga bisa disebut pahlawan bagi keluarganya. Seorang guru yang berjuang mendidik dan mengajarkan ilmunya kini juga bisa disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.</p>
<p>Tetapi, secara umum bisa disimpulkan bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjuang mengorbankan waktu, jiwa, atau raganya demi kebaikan orang lain. Jika dikaitkan dengan Islam, maka ‘pahlawan Islam’ adalah mereka yang telah mengorbankan waktu, jiwa, atau raganya demi menjaga serta menegakkan kemulian Islam dan para pengikutnya.</p>
<p>Sobat muda muslim, mempunyai idola memang naluriah. Tetapi menetapkan siapa idola kita, itulah yang penting. Tidak sembarangan. Karena jika sembarangan, dan ternyata kualitasnya buruk atau bahkan jahat, itu sama saja bermain-main dengan api. Waspada!</p>
<p>Idola memang diperlukan dalam pengembangan kepribadian seseorang. Karena manusia pada dasarnya memang membutuhkan panutan yang bisa menjadi cermin saat harus menentukan berbagai pilihan hidup. Sungguh tidak bisa terbayangkan jika seandainya idola yang dipilih adalah idola yang memberikan contoh yang buruk atau bahkan rusak, itu akan berpengaruh pada kepribadian kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jadi idola bagi yang lain</strong></p>
<p>Bro en Sis, kabar baiknya, kamu nggak harus selalu terpaku mencari idola. Kamu semua berpotensi menjadi idola atau teladan bagi yang lainnya. Seorang kakak misalnya, bisa menjadi teladan bagi adik-adiknya. Seorang guru, bisa menjadi teladan bagi para muridnya. Pun seorang remaja seperti kamu nih, bisa menjadi teladan bagi teman dan orang-orang sekitar. Maka pastikan apa yang diteladankan adalah teladan yang baik. Jangan sampai kalian memberikan teladan yang buruk pada teman dan lingkungan kalian.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: <em>“Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikitpun,” </em><strong>(HR Ibnu Majah)</strong></p>
<p>Lalu, bagaimana supaya tidak salah memilih idola? Ini penting. Karena di sinilah pangkal urusannya. Di sinilah seorang remaja sering terjebak. Terkadang seorang remaja merasa bahwa pilihannya sudah bagus, sudah mantap. Tapi ternyata, dia tertipu. Tertipu pesona semu sang idola.</p>
<p>Maka ada satu jurus jitu yang dapat dipakai supaya tidak tertipu dengan pesona palsu sang calon idola. Apa itu? Gunakanlah syariat Islam. Gunakanlah ia sebagai pedoman untuk menentukan siapa idola kalian. Islam adalah sebenar-benar petunjuk yang berasal dari Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui, pencipta manusia dan alam raya, Allah swt. Maka jika kita berpedoman padanya, sudah dapat dipastikan kamu semua nggak akan pernah dikecewakan. Sumpah? <em>Ciyuz!</em> Eh.</p>
<p>Tak hanya sampai di sini. Syariat Islam tidak hanya dapat digunakan sebagai pedoman untuk memilih idola. Tapi juga bisa digunakan jika kita ingin menjadi idola. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Sejak dahulu, telah bermunculan idola-idola berkualitas tinggi yang lahir berkat kegigihan mereka mengamalkan syariat Islam ini. Super keren!</p>
<p>Oya, tahukah kalian siapa idola yang paling agung yang pernah ada berkat kesempurnaannya mengamalkan ajaran Islam ini?  Dialah Rasulullah Muhammad saw. Keteladanannya bahkan tidaklah untuk manusia semata, melainkan juga untuk seluruh alam. Namanya bahkan tetap bersinar terang meskipun orangnya sudah meninggal ribuan tahun yang lalu. Akan senantiasa bersinar hingga dunia berakhir nanti.</p>
<p>Ah, tentu di antara kamu ada yang pesimis. Bagaimana mungkin bisa memilih idola atau bahkan menjadi idola dengan menggunakan syariat Islam. Padahal kamu marasa bahwa diri kamu masih sangat awam dengan Islam. Sangat minim pengetahuan.</p>
<p>Jangan terburu-buru berkecil hati dulu, sobat. Saya ingin mengingatkan bahwasanya obat dari segala macam kebodohan adalah kemauan untuk belajar. Ingin menguasai Islam, maka belajarlah. Belajar dengan tekun, dengan semangat sekuat baja. Berkorban waktu, harta, dan tenaga. Luangkanlah waktu untuk mau menghadiri kajian-kajian keislaman. Juga jangan ragu, sisihkan uang jajan untuk membeli buku-buku keislaman. Insya Allah, pengorbananmu akan berbuah manis. Dibalas oleh Allah dengan limpahan ilmu.</p>
<p>Maka dengan melimpahnya keilmuan Islam itu, diharapkan kalian dapat memilih dengan baik siapa idola kalian. Juga dapat menjadi idola berkualitas yang senantiasa bertabur dan bertebar kebaikan. Semoga. <strong>[Farid Ab | faridmedia.blogspot.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/siapa-idolamu-sobat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fokuslah Belajar, Boy!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/fokuslah-belajar-boy</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/fokuslah-belajar-boy#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2012 17:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[rohis]]></category>
		<category><![CDATA[tawauran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4517</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 262/tahun ke-6 (13 Dzulhijjah 1433 H/ 29 Oktober 2012)   Ayolah kawan, kalian harus serius dengan kegiatan yang satu ini: belajar. Judulnya sih ajakan buat anak cowok, tapi buat anak cewek (girl) juga sebenarnya berlaku. Tetapi bukan berarti saya menyamakan istilah boy buat anak cewek juga lho. Ini sekadar judul saja. Sekaligus penekanan ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/fokuslah-belajar-boy">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" />  gaulislam<strong> </strong>edisi 262/tahun ke-6 (13 Dzulhijjah 1433 H/ 29 Oktober 2012)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ayolah kawan, kalian harus serius dengan kegiatan yang satu ini: belajar. Judulnya sih ajakan buat anak cowok, tapi buat anak cewek (girl) juga sebenarnya berlaku. Tetapi bukan berarti saya menyamakan istilah boy buat anak cewek juga lho. Ini sekadar judul saja. Sekaligus penekanan bahwa pada faktanya emang banyak anak cowok yang kurang serius belajar ketimbang anak cewek. Bener nggak? Ayo ngaku! *ssstt… jangan asal tuduh. Hehe&#8230;</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Alhamdulillah sebenarnya masih cukup banyak yang serius belajar. Namun kayaknya dari segi jumlah kalah banyak dengan yang malas belajar dan nggak serius belajar. Buktinya apa? Yes, kita preteli satu persatu, Bro en Sis. Apa saja itu?</p>
<p>Pertama, pacaran. Ya, kamu pernah kepikiran nggak lalu nanya pada diri sendiri: kok yang pacaran kenapa makin marak ya? Hmm.. jawabannya adalah: itu karena mereka masih mentingin hawa nafsu dan menyingkirkan fokusnya dari belajar. Sebab, pada faktanya emang pacaran itu mengganggu belajar. Bener lho. Memangnya kalo yang pacaran itu nggak harus mikirin pacarnya? Cuma gandengan tangan pas pergi dan pulang sekolah? Nggak lah. Mereka juga harus mikirin pulsa telepon, kudu mikirin rencana jalan-jalan, beli pakaian, menganggarkan untuk membeli kosmetik, dan seabrek rencana lainnya yang jelas di luar pelajaran sekolah. Itu kan sama aja memikirkan kegiatan yang semestinya nggak perlu. Lebih oke kan energinya dan dananya buat kepentingan belajar dan sekolah. Makin keren lagi kalo kamu masih mikir temen yang nggak bisa sekolah karena nggak punya dana, atau bercermin kepada mereka yang harus bela-belain kerja setelah pulang sekolah untuk nambah uang jajan atau bayar SPP.</p>
<p>Ketika saya membina workshop jurnalistik di sebuah pusdiklat, saya dan kawan instruktur lainnya meminta kru redaksi majalah di lembaga itu untuk reportase seputar remaja yang harus sekolah tetapi sambil bekerja. Terharu banget dengan hasil reportase kru redaksi. Ada anak yang harus jual kantong keresek di pasar, kerja jadi tukang cuci motor, ada yang juga tukang parkir. Coba, kamu siap nggak hidup begitu? Bagi mereka, yang dipikirkan adalah bagaimana bisa sekolah, bayar sekolah dan bisa bantuin meringankan beban ortunya. Rasa-rasanya nggak kepikiran deh mereka untuk bisa pacaran. Lagian, siapa pula yang mau pacaran sama remaja yang sibuk nyari nafkah buat diri dan keluarganya? Kalo nggak percaya, sekali-kali kamu tengok kegiatan kawan-kawanmu yang seperti itu. Atau, asah kepekaanmu dengan mengamati keseharian teman sekolahmu. Supaya kamu bisa merasakan betapa berharganya kamu bisa belajar di sekolah impian. Itu sebabnya, sayang banget kan kalo kamu bisa sekolah di tempat yang keren tetapi kamu malah pacaran ketimbang belajar serius.<span id="more-4517"></span></p>
<p>Kedua, tawuran. Aduuh nggak banget deh. Malulah kau sama temenmu yang mengerahkan segenap tenaganya untuk bisa nyari nafkah buat meringankan beban ekonomi keluarganya. Malu pula sama anak-anak Palestina yang setiap hari memikirkan bagaimana caranya melempar batu untuk melawan serdadu Yahudi Israel. Bercerminlah pada mereka yang memilih menjadi pengemban dakwah di usia muda. Mereka yang bisa jaga diri, bisa menjadi kebanggaan ortunya, dan bisa mengajak teman sekolahnya yang masih amburadul akhlaknya untuk mau belajar dan memahami Islam serta mengamalkannya. Buat kamu yang masih suka tawuran, apakah tidak kepikiran untuk jadi anak baik-baik? Hormati dan sayanglah pada ortu kalian yang udah bayarin SPP tiap bulannya, ngasih uang jajan, juga ongkos agar bisa berangkat ke sekolah tanpa harus jalan kaki. Empatilah sama ayahmu yang rela berpanas-hujan jualan di pasar demi membiayai sekolahmu dan menggantungkan harapan setinggi langit agar kamu kelak jadi anak yang sukses mendapat kehidupan yang layak dengan ilmu yang kamu pelajari di sekolah. Tapi, akan kecewalah mereka ketika kamu ditahan di kantor polisi gara-gara tawuran, atau malah meringkuk di rumah sakit, sekarat dengan bekas luka-luka di sekujur tubuhmu. Sadarlah!</p>
<p>Ketiga, hura-hura. Ya Allah, anak sekolah macam apa kalo kamu hobinya dugem, hura-hura, pindah dari satu pesta ke pesta lain, adu gengsi soal harga diri. Hmm.. kasihan ortumu yang udah memfasilitasimu dengan segala pernik kesenangan hidup. Saya sebenarnya sering prihatin, ngeliat banyak pelajar SMA yang bawa kendaraan sendiri ke sekolah, handphone mahal berkelas tinggi, laptop yang paling keren dia punya, jam tangan mewah, pakaian merek terkenal. Jika orang yang jahat mau menghitung harta yang kau bawa, rasanya mereka bisa menjadikan kamu sebagai sanderanya demi berharap uang tebusan puluhan juta rupiah dari ortumu.</p>
<p>Ah, rasanya kadang hidup ini timpang dan bikin kita tersenyum getir. Gimana nggak, banyak anak yang susah dapat akses pendidikan, meski yang murah sekalipun karena ortunya tak mampu membiayai. Bagi anak yang semangat belajarnya tinggi, dia akan cari cara gimana bisa belajar dan dapatkan pendidikan. Mulai dari nyari beasiswa, nyari donatur, bahkan bekerja untuk mendapakan uang agar bisa digunakan membiayai sekolahnya. Kamu pernah baca novel atau nonton film “Sang Pemimpi”? Kalo kamu bercermin dari kehidupan tiga tokoh dalam cerita itu, rasanya bisa bikin semangatmu berapi-api tertular semangat juangnya Arai, Ikal dan Jimbron. Kerenlah pokoknya. Mereka harus belajar sekaligus nyari uang buat menyambung hidup karena jauh dari orang tua mereka, ditambah upaya untuk mewujudkan mimpinya bisa sekolah yang lebih tinggi hingga ke luar negeri. Semangat belajar dan mimpi mengejar cita-citanya patut dicontoh. Lalu, bagaimana dengan kamu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Contohlah para ulama</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Hmm.. kalo kita ngomongin soal kehebatan para ulama dalam mencari ilmu. Rasa-rasanya bakalan bikin kita semangat. Saya merasa bahwa para ulama (sebelum menjadi ulama) kemungkinan besar membaca hadits Rasulullah saw. Misalnya Rasulullah saw. bersabda, <em>“Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.”</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Dalam hadits lainnya, Rasulullah saw. bersabda, <em>“Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia lakukan.”</em> <strong>(HR Ahmad, Ibn Hibban, dan Hakim)</strong></p>
<p>Wuih, hadis keren banget nih. Kabar gembira para pencari ilmu macam kita-kita ini, Bro en Sis. Subhanallah, betapa mulianya orang-orang yang ditunjuki jalan untuk mencari ilmu, khususnya ilmu agama Islam.</p>
<p>Di masa lalu, ada ulama yang tetap tenang—bahkan sempat berpikir dan belajar—meski di hadapan singa. Ulama tersebut adalah Abul Hasan Bunan bin Muhammad bin Hamdan. Ya, beliau adalah salah seorang ulama yang dikenal banyak memiliki karomah. Suatu saat karena dia berani mengingkari Ibnu Thulun, maka dia dihukum dan dicampakkan di depan singa. Sang singa pun menciuminya tetapi anehnya dia tidak menerkam Abul Hasan. Akhirnya, dia dibebaskan. Orang-orang merasa heran dengan kejadian tersebut. Seorang pernah bertanya kepada beliau: “Bagaimana perasaan Anda tatkala berada di depan singa?” Beliau menjawab: “Saya tidak cemas sama sekali, bahkan saat itu saya sedang memikirkan tentang air liur binatang buas serta perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fiqih, apakah suci ataukah najis!” <strong>(al-Bidayah wa Nihayah 12/158 karya Ibnu Katsir)</strong></p>
<p>Sobat, rasanya jaman sekarang agak sulit nyari orang yang mau belajar dan untuk mendapatkannya kudu merasakan ‘siksaan’ terlebih dahulu. Hah? Siksaan? Hehehe.. nggak lah. Maksudnya, mirip siksaan. Tepatnya pukulan dan tendangan. Mau tahu kisahnya? Begini nih… dalam biografi Hisyam bin Ammar disebutkan bahwa dia pernah masuk ke ruangan Imam Malik tanpa izin seraya mengatakan: “Ceritakanlah kepaku hadits.” Imam Malik mengatakan: “Bacalah.” Hisyam berkata: “Tidak, yang saya inginkan adalah engkau menceritakan kepadaku hadits.” Tatkala Hisyam sering mengulang-ngulang hal itu, maka Imam Malik mengatakan: “Wahai pelayan, pukullah dia sebanyak lima belas kali.”</p>
<p>Pelayan pun memukul Hisyam lima belas kali lalu membawanya kepada Imam Malik. Hisyam berkata kepada Imam Malik: “Kenapa engkau menzhalimiku? Engkau telah memukulku tanpa dosa yang kuperbuat. Aku tidak menghalalkanmu.” Imam Malik berkata: “Terus, apa tebusannya?” Hisyam menjawab: “Tebusannya adalah engkau menceritakan kepadaku lima belas hadits.” Maka beliau pun menceritakan lima belas hadits kepada Hisyam. Hisyam berkata lagi kepada Imam Malik: “Tolong tambahi lagi pukulannya sehingga Anda menambahi lagi hadits untukku.” Mendengar itu, Imam Malik tertawa seraya mengatakan: “Pergilah kamu.” <strong>(Siyar Alam Nubala 3/4093 karya adz-Dzahabi, cetakan Baitul Afkar)</strong></p>
<p>Kisah lain, yakni saat rihlah (perjalanan jauh untuk menuntut ilmu) yang dilakukan oleh Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Dikisahkan, ketika mereka hendak pulang, mereka singgah di Imam Abu Nu’aim Fadhl bin Dukain karena Yahya bin Ma’in ingin mengetes hafalannya. Setelah Imam Abu Nu’aim tahu bahwa dirinya sedang dites, maka dia menendang Yahya bin Ma’in. Akhirnya, Imam Ahmad berkata kepada Yahya: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu jangan mengetesnya karena dia adalah seorang yang kuat hafalan-nya.” Yahya berkata: “Demi Allah, sungguh tendangannya lebih aku sukai daripada semua perjalananku ini.” <strong>(ar-Rihlah fi Tholabil Hadits hlm. 207 karya al-Khathib al-Baghdadi)</strong></p>
<p>Okelah Boys and gals, ini sekelumit saja cerita dari ratusan cerita menarik seputar semangat belajarnya orang-orang hebat, yakni para ulama. Kita, layak mencontoh mereka. Jadi, ayo fokuslah belajar, Bro en Sis! Semoga ilmu yang kau raih bermanfaat dan barokah. Semangat! <strong>[solihin | Twitter @osolihin]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/fokuslah-belajar-boy/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Platinum, Bukan Alumunium</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/generasi-platinum-bukan-alumunium</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/generasi-platinum-bukan-alumunium#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2012 17:01:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Jibraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun VI/2012-2013]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[alumunium]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[platinum]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4511</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 261/tahun ke-6 (6 Dzulhijjah 1433 H/ 22 Oktober 2012) &#160; Halo generasi muda yang makin bikin gemes aja nih! Yup! Generasi muda, kini semakin giat mengukir prestasi yang gemilang. Kita bisa lihat dari pencapaian-pencapaian luar biasa yang sudah berhasil mereka gapai, mulai dari prestasi di dalam negeri sampai mancanegara. Tidak hanya pada bidang ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/generasi-platinum-bukan-alumunium">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" />  gaulislam<strong> </strong>edisi 261/tahun ke-6 (6 Dzulhijjah 1433 H/ 22 Oktober 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Halo generasi muda yang makin bikin gemes aja nih! Yup! Generasi muda, kini semakin giat mengukir prestasi yang gemilang. Kita bisa lihat dari pencapaian-pencapaian luar biasa yang sudah berhasil mereka gapai, mulai dari prestasi di dalam negeri sampai mancanegara. Tidak hanya pada bidang akademik saja, generasi muda bahkan dapat menunjukkan dirinya sebagai sekelompok orang yang dapat menaati aturan agama dengan baik, taat syariat, patuh kepada orang tua, dan seabrek lagi perilaku membanggakan dari generasi muda.</p>
<p>Namun, bagai kota Jakarta, ternyata generasi muda muslim kini memiliki dua wajah yang berkontras tajam. Di satu sisi, pemuda adalah makhluk sosial yang paling dibanggakan, namun di sisi lain, generasi muda muslim memiliki wajah yang sangat suram. Hal ini terbukti dari maraknya narkoba, mabuk-mabukan (maksudnya mabuk beneran tentu), geng motor, tawuran, sampai free sex di kalangan remaja. Bahkan, saat ini, bagian wajah inilah yang masih mendominasi, terbukti dari lebih sering muncul berita yang miris tentang generasi muda ketimbang berita yang membanggakan dan mengharumkan. <em>Alert!</em></p>
<p><strong>Antara kita dan Sumpah Pemuda</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sebentar lagi kita sampai pada tanggal 28 Oktober yang merupakan peringatan Sumpah Pemuda. Tahu Sumpah Pemuda, kan? Nggak tahu? Kalian emang pinter deh…</p>
<p>Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”. Kira-kira begitu deh penjelasan singkatnya. Buletin gaulislam merasa nggak perlu menjelaskan panjang-lebar, karena gaulislam nggak mau jadi saingan guru sejarah kalian. Hahay…<span id="more-4511"></span></p>
<p>Emang ada apa dengan Sumpah Pemuda? Ngurus amat sih gue? Mungkin sebagian dari kalian akan menanyakan dua kalimat ini. Memang, hal ini terdengar dan tampak sepele. Tapi, Sumpah Pemuda ternyata harus diwaspadai, lho!</p>
<p>Bro en Sis, Sumpah Pemuda memang terdengar biasa dan sederhana, namun di balik itu semua, sebenarnya kita sebagai umat Islam secara perlahan-lahan sedang dikaburkan dari ajaran kita yang mulia! Kok bisa? Ya iyalah, kita semua tahu, yang namanya Sumpah Pemuda itu tidak lain dan tidak bukan diciptakan untuk menciptakan dan mengokohkan rasa nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia. Padahal, nasionalisme itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam.</p>
<p>Yup, kita selalu diajarkan untuk terus menjaga keutuhan, kesatuan, keselamatan, dan keamanan nasional, namun di balik itu kita lupa untuk memikirkan saudara kita di tempat lain! Ya, kita kini hanya memikirkan saudara kita yang ada di Indonesia saja. Padahal, sudah jelas sekali dalam al-Quran dan ajaran Islam, begitu banyak perintah untuk peduli pada saudara seiman, saudara semuslim, untuk saling menjaga, saling membantu, dan saling peduli. Sudah jelas sekali saudara-saudara kita yang berada di Palestina, Afghanistan, Iraq, Filipina, dan sederet negara Islam lainnya yang terintimidasi, lebih membutuhkan kita. Namun, karena kita hanya diajarkan untuk mencintai negeri kita saja, kita pun melupakan saudara-saudara kita.</p>
<p>Ckckck…*sambil geleng-geleng kepala. Kalian nggak nyangka, kan? Nasionalisme itu ternyata telah melenakan kita, membuat kita lupa akan kewajiban untuk saling menjaga saudara sesama muslim kita. Tidak seperti paham nasionalisme yang mengesampingkan perasaan kebersamaan, Islam justru mengajarkan untuk tetap peduli pada saudara sesama pemeluknya. Bahkan, Islam juga mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada orang yang berbeda agama dengan kita. Subhanallah… Coba kalian cari, paham mana yang mengajarkan kasih sayang dan kepedulian kepada sesama pemeluknya secara universal? Nggak bakal ketemu! Sumpah (tapi nggak pake serapah)</p>
<p>Pemuda yang keren itu bukan yang teguh pada nasionalisme. Bukan para pemuda yang menjunjung merah putih dan burung garuda di atas segalanya. Kebalikannya, mereka para pemuda yang buta karena tidak bisa melihat paham yang baik dan paham yang buruk. Nasionalisme itu buruk Bro, dan bisa membahayakan kita sehingga berpotensi merugi di akhirat kelak. <em>Naudzubillah min dzalik!</em></p>
<p>Syaikh Safiyurrahman al Mubarakfuri dalam kitab <em>al-Ahzab as-Siyasiyyah fil Islam</em> mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya): <em>“Barangsiapa berjuang di bawah bendera kefanatikan, bermusuhan karena kesukuan dan menyeru kepada kesukuan, serta tolong menolong atas dasar kesukuan maka bila dia terbunuh dan mati, matinya seperti jahiliyah.”</em> <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Maka apa yang harus kita jadikan pegangan dan bisa mengantarkan kebahagiaan di akhirat? Cuma Islam, Bro en Sis! Allah Swt. berfirman:<em>”Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan hingga Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk. </em><strong>(QS Ali Imrân [3]: 103)</strong></p>
<p>Yups, that’s Islam! Tidak ada ajaran yang mengagungkan berbudi luhur untuk diamalkan selain Islam. Memang, siapa sih yang memperjuangkan Indonesia ini menuju kemerdekaan? Kalian pikir para nasionalis itu, ya? Bro en Sis, hanya Islam-lah yang memberikan posisi yang mulia bagi pejuang yang mati di jalan Allah Swt, sehingga pertempuran yang mereka buat adalah perlawanan gigih, berani, dan berani mati melawan para penjajah yang emang kafir. Ummat Islam tidak perlu takut mati, karena siapapun yang syahid di jalan-Nya pasti akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sebab, mereka berjuang untuk Islam.</p>
<p>Maaf, jangan sebut ini terorisme. Siapapun yang menganggap ini terorisme, maka Indonesia patut berterima kasih pada para teroris yang merupakan pahlawan nasional mereka sendiri. *jangan bengong, baca kembali paragraf di atas hehehe…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pemuda Islam bukan jenis ‘alumunium’</strong></p>
<p>Bro en Sis, pembaca setia gaulislam. Sebagai para pemuda yang sejak dilahirkan sudah menjadi seorang muslim, maka kita memiliki kewajiban dan tanggung jawa besar dalam mempelajari ajaran kita yang mulia ini. Menjadi pemuda yang keren itu bukan bangga dengan nasionalisme, namun berbangga dengan Islam. Sebab, besok di akhirat, kita nantinya akan ditanya apakah kita beragama Islam atau bukan, dan itulah peluang yang akan menyelamatkan kita dari panasnya api neraka. Allah Swt. pun telah memperingatkan kita untuk selalu berteguh pada Islam dalam firmanNya yang sering kita dengar saat khutbah Jumat, <em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”</em> <strong>(QS Ali Imran [3]: 102)</strong></p>
<p>Sudah menjadi kewajiban kita untuk terus mempelajari tentang agama kita ini. Kita tidak bisa mengandalkan pelajaran agama di sekolah, karena pemerintah hanya memberi sedikit sekali jam pelajaran agama dalam seminggu. Kita harus belajar lebih banyak secara mandiri. Sering-seringlah membaca tentang ajaran-ajaran Islam, mendalami al-Quran beserta tafsirnya, meluangkan waktu untuk mempelajari isi dari hadist-hadist Rasulullah, dan mengikuti kajian-kajian Islam.</p>
<p>Memang, pembahasan tentang agama tergolong tema yang di-‘anti’-kan oleh para remaja. Setiap pembahasan tentang agama selalu dinilai menghakimi bin menggurui.</p>
<p>Bro en Sis, segala sesuatu yang belum kita kenal dan suka, mungkin saja ada yang rasanya pahit saat kita pertama kali merasakannya. Namun, percayalah, hanya dengan cara inilah kita dapat mengerti dan tahu jalan kehidupan yang benar, sehingga kita tidak tersesat dalam menjalani kehidupan ini. Jika kalian sudah terbiasa dengannya, maka mempelajari Islam adalah sesuatu yang mengasyikkan dan seolah tak ada akhirnya. Kita harus berbangga dengan identitas sebagai muslim. Berbanggalah dengan ajaran Islam, karena hanya ajaran inilah yang dapat membuat kita berhasil. Hanya inilah jalan yang benar!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Share and retweet</strong></p>
<p><em>Friends</em>, nggak cukup hanya dengan mempelajari Islam, kita juga kudu menyebarkannya. Seperti halnya di Facebook atau Twitter, jika kita mendapati adanya status yang keren bin <em>inspiring</em>, kita pasti segera meng-klik <em>share</em> atau <em>retweet</em>. Begitu juga dengan ilmu Islam ini. Kita wajib membagikan ilmu yang kita dapatkan. Sebarkan terus agar membuatnya semakin berkembang di seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Jangan berpikir kita hanya akan kelelahan dan sia-sia dalam mengajarkan Islam ini. Sebaliknya, kita akan mendapatkan pahala terus-menerus selama orang yang kita ajarkan ilmu tersebut masih mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Keren banget, kan? Duh, berarti gue harus segera koprol sambil bilang wow nih!</p>
<p>Menyebarluaskan ajaran Islam, atau lebih akrab disebut dengan dakwah, tidak berputar hanya di sekitar masjid dan majlis ilmu. Tidak harus menggunakan mimbar, baju muslim, dan identitas muslim lainnya. Tapi, kita bisa meng-share dan retweet di mana saja, lho! Jika kamu adalah orang yang cukup percaya diri, kita bisa berbicara langsung kepada teman, sahabat, guru, bahkan orangtua yang pemahamannya tentang Islam ini bisa dibilang kurang. Atau jika kamu tergolong orang yang pemalu, maka kamu bisa memanfaatkan jejaring sosial seperti yang disebutkan di atas. Cara penyampaiannya pun tak harus baku, melainkan disesuaikan dengan sasaran dakwah kita. Sesama teman, kita dapat menggunakan bahasa keseharian yang lebih nyantai.</p>
<p>Atau untuk teman kita yang suka lebay, tidak ada salahnya kita mencoba kolaborasi huruf, simbol-simbol, dan pengucapan yang ‘aneh’ untuk mendakwahi mereka, selama apa yang kita sampaikan tetap tidak bertentangan dengan ajaran Islam.</p>
<p>Mudah sekali, kan? Nah, makanya, ayo kita sebarkan, share, dan retweet ajaran Islam ini kepada seluruh manusia, terutama para pemuda, agar ke depannya, kita dapat menggantikan generasi alumunium yang selama ini ada dengan generasi platinum yang tangguh. Generasi yang percaya diri, berjiwa pemimpin, dan yang terpenting adalah berpegang teguh pada syariat Islam dan memperjuangkannya.</p>
<p><em>So</em>, apakah kamu siap menjadi generasi paltinum penerus kejayaan Islam ini? Kudu siap! <strong>[Hawari | Twitter: @hawari88]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/generasi-platinum-bukan-alumunium/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diletakkan di Mana, Islam Bagimu?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/diletakkan-di-mana-islam-bagimu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/diletakkan-di-mana-islam-bagimu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2012 17:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[interospeksi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[malpraktek]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4506</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 260/tahun ke-5 (29 Dzulqaidah 1433 H/ 15 Oktober 2012) Sungguh sangat memalukan dan mengenaskan, ngakunya muslim tetapi kelakuan berandal, kriminal, senengnya pacaran, hobinya seks bebas, ngelawan orang tua, nggak hormati guru, doyan judi, malas, lebih seneng haha hihi cekikikan di facebook ketimbang serius belajar Islam, banyak yang malah sering baca status dan komen ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/diletakkan-di-mana-islam-bagimu">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" />  gaulislam<strong> </strong>edisi 260/tahun ke-5 (29 Dzulqaidah 1433 H/ 15 Oktober 2012)</p>
<p>Sungguh sangat memalukan dan mengenaskan, ngakunya muslim tetapi kelakuan berandal, kriminal, senengnya pacaran, hobinya seks bebas, ngelawan orang tua, nggak hormati guru, doyan judi, malas, lebih seneng haha hihi cekikikan di facebook ketimbang serius belajar Islam, banyak yang malah sering baca status dan komen di facebook ketimbang baca al-Quran, dan seabrek kelakuan negatif bin maksiat lainnya. Aduuuh… nggak banget deh kalo ada remaja muslim dengan ciri-ciri seperti di atas. Padahal, seharusnya Islam menjadi aturan. Tetapi, jika kenyataannya begitu, diletakkan di mana, Islam bagimu, Boy?</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Yuk, kita interospeksi diri, evaluasi diri, dan tentu saja segera sadar kalo kita udah salah jalan. Balik arah kembali kepada Islam yang emang menjadi agama kita. Jangan sampe deh kamu ngakunya muslim tetapi banyak dari ajaran Islam malah kamu nggak lakuin. Ngakunya muslim tetapi kamu malah minder dengan status muslimmu. Ketika rame-rame orang menuduh kegiatan rohis di sekolah sebagai sarang teroris, atau fitnah terhadap institusi pesantren sebagai tempat untuk memproduksi para teroris, eh kamu malah kalap lalu ikut-ikutan nyalahin mereka. Yah, kalo kayak gitu berarti kamu udah termakan opini musuh-musuh Islam. Sebab, memang mereka menginginkan agar umat Islam benci—atau minimal—minder dengan agamanya sendiri. Payah dan menyebalkan!</p>
<p>Memang nggak mudah jalani keyakinan ajaran Islam ketika kita lemah iman. Jangankan lemah iman, kalo kita lemah kondisi tubuh aja kita mudah terserang penyakit. Itu sebabnya, kalo kita lemah iman maka berbagai macam penyakit hati dan pikiran akan mudah menginfeksi. Contohnya: hasad, dengki, sombong, riya’, wahn, malas, futur, bakhil, kikir dan sejenisnya. Juga penyakit pikiran macam liberalisme, komunisme, sosialisme, feminisme, kapitalisme, hedonisme, permisifisme, sekularisme, termasuk di dalamnya ajaran-ajaran kekufuran dan kesesatan lainnya seperti yang ngelakuin pacaran, seks bebas, make narkoba, tukang berzina, aktivis tawuran dan sejenisnya. Itulah akibat lemah iman. Maka, ayo perbagus imanmu agar senantiasa bisa memfilter berbagai ide yang bertentangan dan bahkan menentang Islam. Iman kepada Allah Swt insya Allah akan memberikan ketahanan kita terhadap hal-hal yang bisa merusak akidah, juga dengan iman yang kuat akan bisa membentengi diri dari hal yang melanggar syariat Islam. <span id="more-4506"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Malpraktek terhadap syariat Islam</strong></p>
<p>Kita perlu berpikir serius mengenai hal ini Bro en Sis. Gimana nggak, kita sering menghadapi kenyataan bahwa banyak kaum muslimin yang salah dalam mengamalkan syariat Islam, dan malah lebih parah lagi tidak mengamalkan syariat Islam meski ngakunya muslim. Padahal, akibatnya bisa fatal lho. Kalo di dunia medis saja ada istilah malpraktek yang bikin nyawa orang lain melayang gara-gara salah prosedur dalam menangani penyakit, maka dalam Islam lebih parah lagi akibatnya kalo ada kaum muslimin yang malpraktek terhadap syariat Islam. Bahaya kuadrat karena memungkinkan pelakunya mendapat dosa dan siksa di akhirat kelak!</p>
<p>Bener banget lho. Ngakunya muslim, tapi memilih diatur bukan dengan syariat Islam. Itu namanya malpraktek terhadap syariat Islam. Mereka yang mengklaim dirinya muslim, tetapi menolak penerapan syariat Islam, ini juga termasuk golongan yang malpraktek terhadap syariat Islam. Belum lagi yang meyakini bahwa ukhuwah itu sesama kaum muslimin, tetapi prakteknya kok cuma sesama kelompoknya? Ngaku-ngaku ke orang sekampung kalo dirinya muslimah, tapi kok nggak berhijab? Pasang pengumuman di lapak, “gue remaja muslim taat syariat”. Tapi kok pacaran? Ngakunya muslim, tapi kok liberal? Nggak nyambung. Muslim itu taat, liberal itu membangkang. Baca al-Quran sih tiap hari. Tapi kok, nggak pernah mau ikuti petunjukNya di al-Quran? Dalam sunyi sepi sendiri bermunajat memohon ampunan Allah Ta’ala. Tapi setelahnya malah percaya dukun. Duh, kondisi ini udah sering hadir dalam kehidupan kita Bro en Sis. Sungguh menjadi bahan evaluasi diri, sebab bisa jadi kenyataan model gitu juga kita alami tanpa sadar. Jleb!</p>
<p>Bro en Sis, yang melakukan malpraktek terhadap syariat Islam adalah termasuk mereka yang ngakunya sesama muslim itu saling menolong, eh prakteknya yang ditolong cuma sesama teman pengajian saja. Ngakunya al-Quran sebagai petunjuk. Tapi kok bilang: “demokrasi laa roiba fihi”? (baca: tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya). Wasyah, hukum buatan manusia itu pasti ada cacatnya, kok malah setuju demokrasi dan malah menolak syariat Islam? Aneh!</p>
<p>Selain itu, deretan ciri-ciri malpraktek terhadap syariat Islam adalah mereka yang ngakunya muslim dan bahkan namanya juga identik nama-nama islami, tapi kok malah menuding kaum muslimin teroris? Shalatnya getol, dakwahnya mantap, shadaqahnya dahsyat. Tapi kenapa menolak syariat Islam diterapkan total sebagai ideologi negara? Ngakunya muslim, tapi kok rela diborgol dalam ikatan nasionalisme, kesukuan dan ashobiyah terhadap kelompok dakwah? Ngakunya muslim, tapi malah merendahkan muslim lainnya sambil memuja musuh-musuh Islam. Ngakunya muslim, dan katanya menjadikan al-Quran pedoman hidup, tapi kok ngerujuk ke primbon untuk selesaikan problem hidup? Weleh-weleh itu namanya pelecehan dan penghinaan terhadap syariat Islam, Boy!</p>
<p>Bener banget, masih banyak pelaku malpraktek terhadap syariat Islam. Ada banyak yang ngakunya muslim, tapi setiap kali berjanji tak pernah sekalipun ditepati. Katanya percaya takdir diatur oleh Allah Swt., tapi kok masih percaya ramalan dan iseng-iseng ‘main’ zodiak? Katanya ashobiyah itu dilarang dalam Islam, tetapi kok membela kelompoknya atau organisasinya mati-matian meski sudah terbukti salah? Katanya sesama mukmin itu bersaudara, tapi kenapa bertahun-tahun memelihara karat kebencian hanya karena berbeda harokah (kelompok dakwah)? Ngakunya ikhlas semata mengharap ridho Allah Ta’ala, faktanya raih ridho manusia lebih prioritas baginya. Memohon kepada Allah Ta’ala dalam doa ingin dapatkan jodoh terbaik, tapi kok dirinya belajar Islam aja ogah? Berharap banget jadi wanita shalihah, tetapi kok disuruh pake kerudung aja nggak mau, apalagi kalo disuruh pake jilbab? Sadarlah Bro en Sis, semua itu adalah cermin diri kita. Kita dan saudara kaum muslimin saat ini memang jauh banget dari pelaksanaan terhadap syariat Islam. Itu terjadi karena banyak di antara kita yang lemah iman kepada Allah Swt. Jadi, ayo perbagus imanmu!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Evaluasi diri</strong></p>
<p>Jika dirimu merasa telah banyak berbuat baik, apakah yakin semua itu dikerjakan dengan ikhlas? Kalo boleh bilang: “Berbuatlah sesukamu. Tapi ingat akan pertanggungan jawabmu di hadapan AllahTa’ala kelak di yaumil hisab.” Jika kamu bangga dengan dosa-dosamu, tobatlah sebelum ajal menjemputmu. Jika kau berpikir bahwa deretan prestasi dan penghargaan sebagai bukti kesuksesanmu, apakah itu membuatmu takabur atau bersyukur? Andai saja kau merasa berjasa kepada banyak orang, apakah itu dilakukan demi raih ridho Allah atau ridho manusia? Jika dalam hatimu kau mengklaim paling hebat dakwahmu, renungkan: apakah demi Islam atau eksistensi dirimu? Kau teramat bangga dengan status sosialmu, tetapi kenapa malu mengakui diri muslim sejati? Kau teramat teliti terhadap keluar-masuknya hartamu, tetapi amat lalai atas pahala dan dosa yang kau perbuat.</p>
<p>Duh, pernyataan dan pertanyaan dalam paragraf di atas seharusnya bisa memberikan suntikan interospeksi diri buat kita semua. Iya, apalagi jika faktanya kita memang melakukan hal-hal buruk itu. Bener sobat, kita perlu bertanya juga kepada diri kita: Apakah sebagai muslim kau merasa bangga dengan Islam? Jika “ya”, kenapa tak memperjuangkan tegaknya syariat Islam? Bagi para aktivis dakwah, sentilan ini mungkin cukup menjadi cambuk: “Kau sering merasa lelah dalam dakwah, padahal usahamu sedikit tetapi keluh kesahmu selangit.” Walah!</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, kalian yang merasa bangga dengan segala titel akademik, tetapi mengapa malu mengakui predikat kemusliman kalian? Kau merasa begitu resah saat gagal dalam perniagaan, tetapi tetap tenang ketika waktu shalat di batas akhir dan kau belum juga melaksanakan shalat. Kau bisa lebih tegas bersikap atas harga dirimu yang diinjak orang lain, tetapi bungkam saat kehormatan Nabimu direndahkan musuhnya. Kau akan memilih emas murni sebagai perhiasanmu, tetapi kenapa tak pernah berusaha memurnikan akidahmu? Kau amat terluka saat kekasihmu selingkuh, tetapi tak jua sadar dan tobat saat dirimu menyekutukan Allah Ta’ala. Kau sangat semangat berburu perhiasan duniawi, tetapi amat sedikit usahamu untuk akhiratmu. Pikirkan baik-baik ya.</p>
<p>Begitu pula, banyak di antara kita yang daftar doanya kepada Allah Ta’ala dipenuhi daftar keinginan duniawi, tetapi kenapa ibadah kepadaNya seperlunya saja? Kita selalu memohon yang terbaik bagi hidup kita kepada Allah Ta’ala, tetapi sering lupa mentaati perintahNya. Saat gelisah dan kecewa Allah Ta’ala selalu kita sebut namaNya, tetapi di kala suka dan bahagia kita lupa menyembahNya. Kita terlalu sering berharap kebaikan diguyurkan Allah Swt untuk kita, tetapi amat sedikit kita bersyukur kepadaNya. Kita senantiasa khusyuk memohon kepada Allah Ta’ala di kala resah, tetapi kenapa berharap seperlunya di saat bahagia? Jika keinginanmu dikabulkan Allah Ta’ala kau memujiNya, tetapi kenapa saat tak dikabulkan kau berburuk sangka kepadaNya? Aduh, renungkan sobat! Interospeksi diri yuk. Sebab, sudah terlalu banyak dosa dan salah yang kita lakukan.</p>
<p>Semoga sedikit fakta dan ciri-ciri negatif yang udah kita bahas di gaulislam edisi ini, bisa membuat sadar kita yang mungkin saja selama ini meletakkan Islam bagi kita di nomor sekian dari urusan kehidupan duniawi kita. Sadarlah dan segera bertobat lalu bangkit untuk amalkan syariat Islam dengan benar dan baik sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya. <strong>[solihin | Twitter: @osolihin]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/diletakkan-di-mana-islam-bagimu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kalau-bukan-kita-siapa-lagi</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kalau-bukan-kita-siapa-lagi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2012 17:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4501</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 259/tahun ke-5 (22 Dzulqaidah 1433 H/ 8 Oktober 2012)   Sobat muda muslim, umur kamu sekarang berapa? Sudah baligh belum? Hehehe… pertanyaannya aneh ya? Apakah kamu tahu arti baligh? Waduh, kalo belum tahu atau lupa, perlu belajar lagi deh ya. Hmm.. intinya, baligh itu adalah kondisi di mana kamu udah masuk ke fase ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/kalau-bukan-kita-siapa-lagi">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" /> gaulislam<strong> </strong>edisi 259/tahun ke-5 (22 Dzulqaidah 1433 H/ 8 Oktober 2012)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sobat muda muslim, umur kamu sekarang berapa? Sudah baligh belum? Hehehe… pertanyaannya aneh ya? Apakah kamu tahu arti baligh? Waduh, kalo belum tahu atau lupa, perlu belajar lagi deh ya. Hmm.. intinya, baligh itu adalah kondisi di mana kamu udah masuk ke fase dewasa, dan meninggalkan fase anak-anak. Tandanya ya kalo cowok udah ihtilam (mimpi ‘indah’ sambil keluar sperma) dan kalo cewek udah haidh. Itu tanda baligh. Konsekuensinya adalah kamu jadi terbebani hukum alias mukallaf (beda lho ama mualaf, awas jangan sampe ketuker). Maksudnya apa sih? Gini, kalo kamu udah baligh, berarti kalo berbuat maksiat bakalan dicatet, begitu pula kalo berbuat baik akan jadi pahala. Waktu masih anak-anak mah nggak dicatet amal-amalmu. Paham ya?</p>
<p>Belum? Waduh, gini kamsudnya, eh, maksudnya: kalo kamu ketika udah baligh berbohong ya dicatat sebagai dosa, kamu membuka aurat saat keluar rumah, dicatet dosa, kamu berzina apalagi, itu termasuk dosa besar, ya dicatet juga. Ngeri! Sebaliknya, kalo berbuat amal shalih dan ikhlas dilakukan insya Allah dicatet sebagai perbuatan yang bakal nambah pahalamu. Insya Allah.</p>
<p>Nah, ketika baligh apa yang kamu lakukan? Kalau aku waktu baligh, mulai berhati-hati saat keluar rumah, berpakaian sesuai syariat Islam, dan sudah tidak lagi berteman dengan lawan jenis. Maklum, waktu itu temanku kebanyakan laki-laki, biasanya main layang-layang ke sawah, main kelereng di lapangan, main petasan dll. *jadi nostalgila, eh nostalgia deh…<span id="more-4501"></span></p>
<p>Akan kuceritakan sebab aku seperti itu, tapi singkat aja ya. Aku tidak tahu siapa yang salah, aku sendiri atau orang tuaku atau keluargaku. Ayahku nggak tahu ke mana, ibuku banting tulang mencari nafkah buat aku dan adikku. Ibuku pulangnya sore, jadi nggak tahu aku kesehariannya gimana.</p>
<p>Suatu hari, aku harus menerima kenyataan orang tuaku meninggal dunia, sebelum aku baligh. Jadilah aku yang tidak ada mengarahkan, tidak ada yang mengajarkan agama. Masih jelas terlihat sebagai status orang awam. Aku tinggal dengan nenekku. Ada saudara, tapi mereka mendiamkan aku seperti itu. Entah mereka tidak tahu dalam Islam itu bagaimana, atau mereka nggak peduli. Semoga saja tidak. Aku yakinnya sih, mereka tidak tahu cara mendidik anak.</p>
<p>Ketika masuk SMP, aku tertarik ikut ekstrakurikuler rohis. Alasannya cuma satu, aku kagum sama guru agamaku yang nasihatnya mampu masuk ke dalam hatiku. Lebay ya… hehehe.. dan kebetulan guru agamaku itu pembina rohis. Nah dari situ aku tahu sebagian tentang pergaulan lawan jenis, cara berpakaian, dan pokoknya mencakup semuanya ketika sudah baligh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Peduli sekitar yuk!</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, sebagai seorang remaja kita mempunyai andil yang sangat besar bagi perubahan lingkungan. Biasanya yang mampu mengubah dan membawa temannya ke arah yang baik atau bahkan ke arah yang buruk.</p>
<p>Saat teman ada yang bermaksiat, seperti menjaili temannya, mencuri, waktunya sholat jumat malah main game online, atau yang ceweknya malah bergelayutan di tangan lelaki dll, siapa lagi yang menyadarkan mereka selain kita yang udah tahu? Iya kan?</p>
<p>Bener. Yakin deh kalau orang tuanya yang menasihati pasti nggak akan mau dengar, soalnya berbeda karakter. Biasanya kan orang tua cara menyampaikan “petuahnya” nggak bisa berbicara seperti ke teman. Biasanya juga susah memahami kita. Pengennya menang aja. Maaf nih buat para orang tua bukan bermaksud menyalahkan (hehehe…). Tapi kalau kita yang menasihatinya kemungkinan besar mau dengar, soalnya kita satu karakter dan bisa memahami. Iya nggak sih? Silakan dicoba aja dah! Bener lho, langsung praktek!</p>
<p>Oya, tentunya untuk bisa mengarahkan teman kita yang seperti itu, kita harus punya ilmu. Agar bisa menasihatinya sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Hadits.</p>
<p>Sobat muda muslim, saat aku <em>browsing</em> mencari bahan tulisan ini aku menemukan tips untuk remaja seperti kita untuk berdakwah di lingkungannya. Tips ini menurutku bagus lho. Sayangnya aku lupa tidak meng-copy sumbernya. Tapi ada yang aku ubah sedikit. Semoga aja yang nulis nggak marah. *ngarep dot kom hehehe…</p>
<p>Sip, aku beberkan tipsnya dengan beberapa poin yang udah dimodifikasi biar tambah asik dari aslinya ya:</p>
<p><strong>Pertama, niat. </strong>Yes!<strong> </strong>Awali dengan niat karena Allah semata. Jangan sampai ada niat untuk sombong dan merasa benar sendiri. Jangan sampai ada kesan menggurui dan menganggap bodoh teman yang sedang kita dakwahi. Petunjuk itu dari Allah. Lakukan upaya maksimal dalam menyadarkan teman dan jangan lupa berdoa untuknya agar segera kembali ke jalan yang benar. Sungguh, tidak ada yang mampu memberi jalan bila sudah disesatkan oleh Allah Swt dan tak ada yang mampu menyesatkan bila sudah diberi petunjukNya. Jadi jangan lupa berdoa ya.</p>
<p><strong>Kedua, lakukan apa yang kamu katakan</strong>. Ngomong gampang, tapi melakukannya itu yang butuh upaya lebih. Kalo kita cuma bisa ngomong tanpa melakukan apa yang kita omongkan, maka orang lain terutama teman-teman kita tak akan percaya pada kita lagi. Misal nih, kita bilang sholat wajib, tapi ketika adzan dikumandangkan kita masih asyik aja facebook-an. Bahaya!</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <strong>gunakan al-Quran dan hadits. </strong>Dalam berdakwah, gunakan al-Quran dan hadits sebagai acuan, bukan kata si A dan si B atau bahkan kata nenek moyang. Banyaklah baca buku-buku keislaman dan pahamilah wawasan keislaman itu sendiri. Jangan sampai kita menyampaikan sesuatu yang kita tidak punya ilmu tentangnya.Jadikan sirah (sejarah) Rasulullah saw. dalam berdakwah sebagai panduan kita ketika berdakwah di lingkungan teman-temanmu.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> <strong>berbicaralah pada orang lain seakan-akan baru mengenalnya. </strong>Maksud dari poin ini adalah jangan berusaha sok tahu tentang seseorang hanya dengan melihatnya sekilas saja. Berbicaralah dengan ramah dan penuh perhatian sehingga orang yang akan didakwahi merasa nyaman dan kemudian percaya. Jangan terkecoh dengan penampilan. Misalnya salah seorang teman kita yang tak pernah sholat Jumat. Kenalilah dirinya lebih jauh dan jangan langsung berprasangka buruk. Ada banyak laki-laki yang tidak sholat Jumat karena keluarganya tidak pernah mengajarinya dan ia pun tidak tahu hukumnya. Jadi, tugas kita nih untuk mendekati orang-orang semacam ini untuk memberikan pencerahan bagi kehidupannya sebagai seorang muslim yang baik.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> <strong>murah senyum. </strong>Jika kita ingin orang lain dekat dan menerima dakwah kita maka usahakan kita bersikap ramah pada mereka. Tersenyum adalah salah satu kunci dari keramahan ini. Yang patut diingat adalah tersenyum di sini konteksnya adalah ramah secara umum dan tidak bermaksud tebar pesona pada lawan jenis. Bagaimana pun Islam mempunyai aturan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Pastikan jangan pake atas nama dakwah untuk berdua-duaan dengan lawan jenis. Bahaya! Nah, agar tidak timbul fitnah, usahakan berdakwah fokus pada sesama jenis. Cowok yang berdakwah ke kalangan cowok. Begitu juga cewek dakwahnya juga ke lingkungan cewek saja.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> <strong>bersikap aktif dan berbaur. </strong>Langkah awal bagi keberhasilan dakwah adalah bersikap aktif dan berbaur dengan objek dakwah. Sering-sering ngobrol dengan mereka yang ingin kita dakwahi. Jadikan mereka percaya bahwa kamu adalah tempat yang asyik untuk curhat, berbagi cerita baik suka maupun duka. Mengerjakan PR bareng, menenangkan di kala mereka gundah, atau sekadar menjadi teman yang baik ketika mereka butuh curhat dan diskusi. Namun ingat, yang utama kita harus bisa menjaga rahasia karena mereka sudah percaya pada kita. Tapi bila keadaan berubah menjadi serius dan berbahaya, misalnya saja ada yang berniat bunuh diri karena frustasi menghadapi masalahnya, maka jangan segan-segan menghubungi orang yang lebih dewasa untuk menyikapi masalah ini.</p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> <strong>tekankan sholat wajib 5 kali sehari sebelum kewajiban lainnya. </strong>Hubungan dengan Allah secara pribadi itu ada pada kewajiban sholat 5 waktu. Jangan memberikan banyak materi lain lebih dulu sebelum kesadaran untuk sholat wajib 5 waktu bisa terlaksana dengan baik. Tekankah bahwa dengan sholat saja hubungan dengan Allah terjalin secara langsung tanpa perantara. Hanya Allah Ta’ala saja tempat bersandar jika manusia menghadapi masalah. Sholat adalah saat yang tepat untuk meminta pertolonganNya. Jika mungkin, usahakan untuk sholat berjamaah ketika kamu sedang ngobrol santai dengan mereka. Ketika sholat ini sudah dijalankan dengan konsisten, maka hal-hal lain akan lebih mudah untuk diingatkan misalnya saja tidak boleh memaki, patuh pada orang tua dan cara berpakain yang menutup aurat sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> <strong>jangan pergi ketika mereka sedang down. </strong>Ingat, ketika seseorang sudah mulai mau menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan teratur, tidak berarti urusan sudah selesai. Akan ada ujian dan cobaan dalam hidup yang kadang bisa membuat futur/down atau lemah iman seseorang. Ada kalanya mereka mempertanyakan lagi keadilan Allah Swt akan jalan hidup sulit yang mereka tempuh. Jangan putus asa apalagi tega meninggalkan mereka. Dampingilah mereka untuk kembali menemukan jati diri keislaman mereka.</p>
<p>Nah itu tadi beberapa tipsnya, menarik bukan? Oke deh Bro en Sis, kamu bisa menjadi remaja yang mampu membawa teman-temannya sadar dan mengenal Islam. Sudah saatnya remaja peduli bahwa siapa lagi yang akan memperjuangkan Islam di tengah-tengah masyarakat kalau bukan kita semua? Makanya jangan malas ya untuk belajar Islam. Yuk kita sama-sama memperbaiki teman-teman kita agar kembali pada Islam secara kaaffah alias total alias nggak pilih-pilih ngelaksanain jenis syariat Islam. Tetapi laksanakan semua, baik kamu sukai atau tidak kamu sukai. Sebab, melaksanakan syariat Islam itu perintah Allah Ta’ala. Maka, rendahkan egomu dan singkirkan hawa nafsumu. Biar mantap, barengi dengan ngaji dan belajar Islam lalu dakwahkan. <strong>[Neng Ilham |Twitter @SenandungRindu1]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kalau-bukan-kita-siapa-lagi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Pencinta Kekerasan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/generasi-pencinta-kekerasan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/generasi-pencinta-kekerasan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2012 17:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[tawuran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4496</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 258/tahun ke-5 (15 Dzulqaidah 1433 H/ 1 Oktober 2012)   Bro en Sis rahimakumullah, sebenarnya kasus tawuran antar pelajar bukan hal baru. Udah terlalu sering terjadi—bahkan sejak puluhan tahun lalu. Sangat mungkin di berbagai kota ada pelajar yang mengamalkan tradisi kekerasan ini. Namun, kenapa sekarang rame dibahas hingga menjadi perbincangan di media nasional? ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/generasi-pencinta-kekerasan">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg"><img title="logo-GI-3" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" width="150" height="36" /></a> gaulislam<strong> </strong>edisi 258/tahun ke-5 (15 Dzulqaidah 1433 H/ 1 Oktober 2012)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, sebenarnya kasus tawuran antar pelajar bukan hal baru. Udah terlalu sering terjadi—bahkan sejak puluhan tahun lalu. Sangat mungkin di berbagai kota ada pelajar yang mengamalkan tradisi kekerasan ini. Namun, kenapa sekarang rame dibahas hingga menjadi perbincangan di media nasional? Hmm.. itu karena terjadi di ibukota, Bro. Kasus terbaru adalah kejadian pekan kemarin dimana melibatkan dua sekolah di Jakarta, yakni SMA 6 dan SMA 70 yang memakan korban tewas 2 orang siswa. Hadeeuuhh.. sia-sia tuh!</p>
<p>Kalo melihat dari sudut pandang pelajar, tawuran bisa jadi adalah sebagai sarana mengekspresikan diri. Seolah mereka mau bilang: gue jagoan! *tapi apa iya disebut jagoan kalo bisanya main keroyokan? Lagian kalo dilihat di tivi pas nayangin aksi tawuran rata-rata mereka sebenarnya nggak punya ilmu bela diri. Cuma menggertak doang, itu pun kalo musuhnya takut. Lha kalo musuhnya berani? Bisa-bisa babak belur dirinya. Hehehe.. contohnya pelajar yang muterin gear yang dipasang ke ikat pinggang. Kok dari kejauhan udah begitu rupa, urusan bisa selesai ketika dia dilempar batu ama musuhnya atau dilembar tombak (kalo niat banget bawa senjata begituan).</p>
<p>Nah, jika pun jarak dekat udah muter-muterin gear tersebut, ternyata musuhnya juga melakukan hal yang sama. Ini jelas nggak punya strategi berkelahi. Sama-sama bloon. Padahal salah satuya kan bisa pake tongkat panjang, begitu pelajar yang muter-muterin gear mendekat tinggal dihadang tongkat aja entar juga gear-nya kelilit di tongkat. Udah gitu pentungin dah. *Uppss.. kok gue jadi ngajarin strateginya sih? Hehehe&#8230; sori bukan ngajarin tapi sekadar nyindir aja bahwa mereka yang tawuran sebenarnya penakut, pengecut dan nggak punya keahlian bertarung. Jleb!<span id="more-4496"></span></p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, dalam tulisan di buletin ini saya ingin mengajak kamu semua berpikir bahwa tawuran tuh nggak ada gunanya kecuali untuk tujuan-tujuan semu. Kalo sekadar eksistensi diri, ngapain capek-capek tawuran. Kamu bisa buktiin bahwa kamu pelajar berprestasi di bidang akademik, atau prestasi yang bermanfaat lainnya bagi kamu dan orang-orang di sekitarmu. Lha kalo tawuran? Jangankan orang di sekitar tempat tawuran yang terganggu, kamu dan teman yang kamu ajak tawuran pun berpotensi terluka dan babak belur. Iya nggak sih? Jadi apa yang kalian cari? Catet ya, jangan sampe kejadian ini terus berulang dan bikin repot semua orang.</p>
<p><strong>Lingkaran kekerasan</strong></p>
<p>Kita secara tidak sadar&#8211;kadang malah penuh dengan kesadaran, udah terbiasa menyaksikan kekerasan. Misalnya aja demonstrasi yang nggak tertib lalu berakhir ricuh. Ketika ditayangkan di televisi ya banyak orang jadi tahu. Sangat mungkin terbersit keinginan untuk menjajal kekerasan meski di arena berbeda. Selain itu, seringkali televisi menayangkan secara bernafsu untuk penindakan terhadap pelaku yang disebut-sebut sebagai terorisme. Celakanya, ketika ditayangkan secara live baku tembak antara Densus 88 dengan terduga teroris melahirkan selain rasa ingin tahu juga menumbuhkan dendam dari mereka yang tertindas. Kekerasan yang emang sengaja terus dipelihara dan bahkan diciptakan plus tentunya tanpa disadari malah diajarkan.</p>
<p>Sobat gaulislam, tradisi bullying di acara ospek atau MOS juga sebenarnya bagian dari level kekerasan. Wajar kalo anak baru itu bakalan dendam sama kakak kelasnya. Eh, tapi biasanya nggak pada berani kalo di sekolah, maka mereka melampiaskannya ke adik kelasnya lagi. Idih malu dong, masa’ yang menindas kakak kelasnya kok kalian malah melampiaskan ke adik kelas yang nggak tahu apa-apa atas dosa kakak kelas kepada kalian. Ah, aneh yang punya bapak ajaib alias aneh bin ajaib. Kalo itu terus dipelihara berarti kamu nggak mau memutus rantai kekerasan yang terjadi selama ini. Bahaya, Bro en Sis!</p>
<p>BTW, kalo kita lihat saat ini sebenarnya yang tawuran bukan cuma pelajar SMP dan SMA lho, yang mahasiswa juga sering, bahkan tawuran antar warga di daerah tertentu juga udah jadi pemandangan biasa&#8211;udah jadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bikin kelompok atau gang juga sebenarnya bisa berpotensi lahirnya kekerasan. Sebab, nggak sedikit dari mereka yang fanatik terhadap gang yang mereka ikuti. Maka, ketika ada gang lain yang bersaing atau menjadi kompetitornya sudah pasti di antara anggota gang (tentu juga pemimpinnya) bakalan gerah, gatel, dan panas pengen nimpukin gang lain. Maka, pemicu sekecil apapun bisa melahirkan kekerasan. Ini juga bahaya dan bagian dari lingkaran kekerasan yang tak pernah ada ujungnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bukan lagi nakal, tapi kriminal</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, tawuran hanya satu level dari lingkaran kekerasan yang selama ini hadir dalam kehidupan kita. Itu artinya, jika ngikutin fakta, kita harusnya nggak kaget lagi. Sebab, udah ‘diajarin’ dalam sebagian tayangan televisi, video game, film, dan media sejenisnya. Namun demikian, kita perlu nyadar Bro en Sis. Sayang banget kalo hidup kita cuma dipake buat nikmatin udara (yang seringnya nggak bersyukur tuh!), tidur, main, makan, buang air besar, buang air kecil, berantem. Dominannya itu. Sementara untuk belajar di sekolah dan mengkaji Islam daftar itu kamu urutkan di nomor enam belas kali ye. Hadeuuh.. gimana akan lahir generasi pembela dan pejuang Islam kalo gini caranya? Miris kalo akhirnya yang lahir adalah generasi pecinta kekerasan dan brutal. <em>Naudzubillah min dzalik!</em></p>
<p>Hmm… ngomongin soal tawuran saya jadi teringat buku lawas yang pernah saya tulis (tahun 2002), yakni <em>Jangan Jadi Bebek</em>. Bener lho, tawuran pelajar yang terjadi hingga saat ini, ibarat sebuah film <em>action </em>berseri. Kejadiannya berulang-ulang. Selesai satu episode, berlanjut episode berikutnya. Kesal dan jengkel memang. Tapi itulah barang kali ‘benih-benih generasi preman’</p>
<p>Melihat korbannya, orang yang masih sehat akalnya pasti setuju kalau tawuran bukanlah <em>deliquency </em>(kenakalan), tapi tindak kriminal. Bagaimana tidak? Celurit, badik, gear, obeng, batu bahkan samurai telah jadi senjata pamungkas dalam menyelesaikan persoalan. Menggantikan kepalan tangan dalam berkelahi atau tendangan khas berantemnya pelajar jaman <em>baheula</em>. Ah, ganas banget!</p>
<p>Kemudian yang bisa menggiring kita kepada kesimpulan bahwa tawuran bukan lagi kenakalan, adalah unsur perencanaan dalam setiap kejadian. Para aktivis tawuran tidak lagi mengadakannya secara spontan, melainkan melalui perencanaan yang matang. Mencegat bus-bus lalu menganiaya korban beramai-ramai, atau menyerang sekolah lawan dengan serangan cepat.</p>
<p>Yang lebih memprihatinkan, banyak pelajar yang sengaja <em>ngedrugs</em> sebelum beraksi, dengan maksud menambah keberanian dan kekuatan saat tawuran. Akibatnya, arena tawuran menjadi kian ganas tak terkendali. Karena siapa yang masih punya pikiran sehat kalau akal sudah dicengkeram pengaruh obat.</p>
<p>Sobat muda muslim, seperti yang sering kamu baca, lihat atau dengar aksi tawuran tidak pandang bulu. Terlibat atau tidak, asalkan dari sekolah yang sama maka harus dilibas. Maka acapkali tawuran menelan korban pelajar-pelajar yang ‘tak berdosa’. Sehingga berlakulah prinsip jaman <em>wild wild west</em> dulu, <em>kill or be killed</em>, membunuh atau dibunuh. Wasyah!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Solusi komplit</strong></p>
<p>Bro en Sis, mengakhiri tulisan di buletin ini, saya kutipkan bagian akhir dari artikel seputar tawuran di buku saya <em>Jangan Jadi Bebek </em>(2002), semoga ada manfaatnya:</p>
<p>Yup, jelas tawuran itu harus diakhiri, diberi solusi. Jangan dibiarkan saja. Untuk menghentikan aksi tawuran jelas butuh penanganan yang lebih komplit. Tidak bisa sekadar menghentikan film-film <em>action </em>di tivi atau bioskop, <em>suer</em> butuh lebih dari itu. Sebut saja, remaja memerlukan institusi pendidikan yang memadai. Lengkap fasilitas juga kurikulum yang lebih ‘manusiawi’. Tidak menganggap pelajar sebagai komputer yang tinggal diisi program lalu bisa beroperasi sendiri. <em>No</em>, pelajar adalah manusia, perlu sentuhan agama dan kasih sayang.</p>
<p>Selain itu Bro en Sis, sekadar menindak pelaku tawuran juga tidak akan berhenti tanpa adanya tindakan tegas dari negara. Sudah terlihat jelas bahwa tawuran itu adalah tindak kejahatan, bukan lagi kenakalan. Apakah merusak sarana umum, melukai orang apalagi membunuhnya adalah suatu kenakalan? Rasa-rasanya semua orang sepakat kalau itu adalah suatu kejahatan. Lagipula secara fisik remaja sudah termasuk ke dalam kategori akil baligh, yang dalam pengertian syari’at sudah terkena ganjaran pahala dan dosa. Jadi, perlakukan saja para pelaku tawuran itu seperti para penjahat kambuhan lainnya.</p>
<p>Nah, kalau ada pelajar yang tega membacok kepala atau menggorok leher pelajar lain hingga tewas dalam tawuran, maka dalam pan­dangan Islam pelajar tersebut layak dikenakan <em>qishas</em> (hukuman setimpal, kalo membunuh ya dibunuh lagi).</p>
<p>Kejamkah ini? Sepintas iya, tapi dengan memberikan sanksi semisal <em>qishas</em> maka akan segera memadamkan api kemarahan dan dendam. Keluarga korban dan teman-temannya merasa lega, sementara orang lain tidak akan berani mengulangi perbuatan serupa. Sebab, hukum Islam itu bersifat <em>jawazir </em>dan <em>jawabir</em>. Jawazir artinya hukum Islam bersifat preventif, mencegah terjadinya peluang-peluang kemaksiatan dan kejahatan. Kemudian hukum Islam juga bersifat jawabir. Artinya, hukum Islam—kalau diterapkan di dunia—bakal menghapus azab Allah di akhirat kelak.</p>
<p>Jadi meski berat vonis hukuman yang dijatuh kan, Insya Allah pelaku tindak kejahatan akan terle­pas dari azab Allah di akhirat kelak, yang jauh lebih dahsyat. Adil kan?</p>
<p>Tapi seperti kata pepatah bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Daripada menangkapi para pelajar dan mengganjar mereka dengan vonis yang berat, seperti qishas, tentunya akan jauh lebih baik bila segera dilakukan perbaikan terhadap dunia pendidikan dan lingkungan sosial. Dengan apa? Apalagi kalau bukan dengan syariat Islam. Jadi, ayo pada ngaji! Jangan berpaling dari aktivitas rohis (kerohanian Islam) di sekolah ya!</p>
<p>Itu sebabnya, baik pihak sekolah, pemerintah dan masyarakat sekitar, juga tentunya keluarga harus mendukung remaja untuk belajar Islam. Jangan dihalangi untuk aktif di rohis. Ok? <strong>[solihin | Twitter: @osolihin]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/generasi-pencinta-kekerasan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Buih di Lautan</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/kisah-buih-di-lautan</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/kisah-buih-di-lautan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2012 19:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[innocence of muslims]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[rohis]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4492</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 257/tahun ke-5 (8 Dzulqaidah 1433 H/ 24 September 2012) &#160; Akankah kita hanya mampu diam seribu bahasa, tak bergerak untuk berubah, tetap bergeming meski kondisi terus membuat kita kian terpuruk? Jika hanya mampu diam, jelas itu adalah cara terburuk menghadapi masalah. Kamu tahu kan, ada pameo, “Semut saja kalo diinjek mati, eh ngelawan”? ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/kisah-buih-di-lautan">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg"><img title="logo-GI-3" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" width="150" height="36" /></a> gaulislam<strong> </strong>edisi 257/tahun ke-5 (8 Dzulqaidah 1433 H/ 24 September 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akankah kita hanya mampu diam seribu bahasa, tak bergerak untuk berubah, tetap bergeming meski kondisi terus membuat kita kian terpuruk? Jika hanya mampu diam, jelas itu adalah cara terburuk menghadapi masalah. Kamu tahu kan, ada pameo, “Semut saja kalo diinjek mati, eh ngelawan”? Nah, apalagi manusia? Tentu saja kalo manusianya nyadar dan punya pikiran bener, perasaannya nggak sedang terganggu. Tetapi kalo nggak nyadar dan lagi galau pikir dan rasanya ya bablas juga. Tetap nggak bakalan bisa merasakan kondisi dirinya, apakah sedang berjaya, atau malah sedang nyungsep terbenam dalam lumpur kesengsaraan.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah pembaca setia gaulislam, ngomongin soal judul buletin gaulislam edisi 257 ini sebenarnya patut bikin renungan bagi kita. Sebab, yang sedang diceritakan dalam kisah buih di lautan itu adalah kondisi kita saat ini. Yup, kondisi kaum muslimin. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya: <em>“Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. </em>Salah seorang shahabat bertanya:<em> “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” </em>Rasulullah menjawab: <em>“Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘</em>wahn’<em>”.</em> Seorang shahabat Rasulullah bertanya: <em>“Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan </em>‘wahn’<em> itu?” </em>Dijawab oleh Rasulullah saw.: <em>“Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”.</em> <strong>(dalam <em>at-Tarikh al-Kabir</em>, Imam Bukhari; <em>Tartib Musnad Imam Ahmad</em> XXIV/31-32; <em>“Sunan Abu Daud”</em>, hadis No. 4279)<span id="more-4492"></span></strong></p>
<p>Hadits ini pas dengan kondisi kita saat ini, atau bahkan sebenarnya sudah sejak ratusan tahun yang lalu secara turun temurun dari generasi ke generasi tanpa disadari. Astaghfirullah. Kita jumlahnya banyak Bro en Sis, lebih dari 1,5 miliar saat ini. Tetapi kita tercerai-berai dalam banyak negara, golongan, partai, organisasi dan bahkan kelompok-kelompok kecil. Sehingga kita tak mampu bersatu padu melawan musuh-musuh yang sudah jelas menginjak-injak kehormatan kita sebagai muslim.</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo merenungkan kondisi beberapa pekan terakhir kita. Ya, beberapa pekan terakhir saja, nggak usah jauh-jauh hingga puluhan tahun yang lalu, kita seharusnya sadar dan merenung dalam-dalam. Gimana nggak Bro en Sis, tuduhan dalam isu dan kasus terorisme jelas-jelas diarahkan kepada Islam dan kaum muslimin. Buktinya, semua yang terduga teroris itu muslim—bahkan Direktur BNPT (Badan Nasional Penanggulan Terorisme), Ansyaad Mbai dalam sebuah pemberitaan di media menyebutnya teroris, bukan lagi terduga. Hal ini sengaja membangun persepsi bahwa pelaku sudah pasti teroris, padahal masih ada kemungkinan bukan. Sebabnya, bagaimana mungkin bisa mengklarifikasi kepada terduga teroris, <em>wong</em> banyak yang langsung di-dor mati.</p>
<p>Itu baru soal terorisme Bro en Sis. Berikutnya kita dibawa pada pemberitaan yang masih terkait tetapi lebih spesifik soal kegiatan Rohis (Kerohanian Islam) di sekolah. Metro TV pada 5 September 2012 menayangkan dialog di program Metro Hari Ini bersama narasumber Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta Profesor Bambang Pranowo, mantan Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono dan pengamat terorisme Taufik Andri.</p>
<p>Dalam dialog tersebut Profesor Bambang Pranowo menyampaikan hasil penelitiannya bahwa ada lima pola rekrutmen teroris muda. Salah satunya melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Dalam dialog itu dijelaskan, bahwa sasaran “teroris”  adalah siswa SMP akhir – SMA dari sekolah-sekolah umum, mereka juga masuk melalui program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Siswa-siswi yang terlihat tertarik kemudian diajak diskusi di luar sekolah dan mereka dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa korup, keadilan tidak seimbang. Yang tidak kalah penting, katanya,  mereka didoktrin bahwa penguasa adalah thogut/kafir/musuh. (hidayatullah.com)</p>
<p>Setelah isu terorisme dan tuduhan bahwa rohis sarang teroris mereda muncullah berita seputar film <em>Innocence of Muslims</em> yang memicu gelombang unjuk rasa di berbagai negara, termasuk di negeri kita. Saya pernah melihat trailer film itu, dan kebetulan murid-murid saya di Pesantren Media menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sehingga masyarakat umum bisa tahu isi propaganda dari film itu. Film ini pun secara khusus sempat menjadi topik diskusi aktual pekanan di Pesantren Media untuk menambah informasi dan opini yang berkembang dari kemunculan film tersebut. Wajar, bila kaum muslimin marah. Sebab, dalam film itu memang digambarkan sosok yang disebut-sebut sebagai Rasulullah Muhammad saw. Nabi kita dilecehkan dengan sebutan-sebutan hina (yang tak pantas saya tulis lagi di sini). Sungguh terlalu.</p>
<p>Film yang berisi pelecehan terhadap Islam dan Nabi Muhammad saw. ini pertama kali ditayangkan di wilayah California, AS dalam bahasa Arab awal tahun ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Mesir. Film ini konon kabarnya disutradarai seorang zionis berkewarganegaraan Amerika, Sam Bacile (54), namun berita yang muncul diberbagai media mengungkapkan bahwa otak di belakang pembuatan film ini ternyata seorang penganut Kristen koptik bernama Nakoula Basseley, lahir tahun 1957 di Mesir dan kemudian menetap di California, Amerika Serikat.</p>
<p>Saat kita masih marah atas pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. dalam film <em>Innocence of Muslims</em>, muncul pula kartun Nabi Muhammad saw. di surat kabar Charlie Hebdo, Perancis. Nggak tanggung-tanggung, 20 kartun sekaligus! Alasan yang dikemukakan adalah kebebasan pers. Hadeeuh, bebas sih bebas, tapi giliran melecehkan Islam dan kaum muslimin malah paling semangat. Ini namanya menabur kebencian.</p>
<p>Bro en Sis pembaca gaulislam, atas semua ini. Ya, atas semua kondisi ini, astaghfirullah, kita hanya mampu teriak, marah, unjuk rasa lalu padam semangatnya. Meski yang bereaksi ini tentu masih mendingan ketimbang kaum muslimin yang sama sekali diam dan cuek alias nggak mau mikirin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ayo bangun dari tidurmu!</strong></p>
<p>Pernah lihat buih di lautan? Ya, terombang-ambing di tengah gelombang. Perumpamaan yang masuk akal dari Rasulullah saw. Kita, jumlahnya banyak. Tetapi kita mudah dilecehkan, dihina, dipermainkan hingga dibantai musuh-musuh Islam. Kaum muslimin tercerai-berai dalam lebih dari 50 negara. Kehebatan dan kemuliaannya terborgol dalam kotak-kotak sempit bernama nasionalisme, golongan, kelompok, partai, komunitas. Sungguh tak nampak kehebatannya sebagai ‘mantan’ negara adidaya yang memimpin dunia lebih dari seribu tahun lamanya.</p>
<p>Kisah kita, yang seperti buih di lautan memang menyedihkan, memilukan, mengenaskan. Umat Islam saat ini bagaikan buih di lautan yang terombang-ambing gelombang. Siap dimangsa kapan saja dan di mana saja oleh musuh-musuhnya. Meski banyak, namun nggak ubahnya gerombolan domba yang siap saja ketika harus digiring ke tempat pen­jagalan. Rentetan kisah tragis tengah terjadi di dunia Islam. Nasib tragis kaum muslimin di Palestina, Afghanistan, Irak, Rohingya, dan negeri-negeri lainnya, membuktikan ternyata kita nggak mampu meredamnya sedikit pun. Darah dan air mata kaum muslimin begitu saja ditumpahkan, tanpa ada perlawanan berarti dari kaum muslimin yang lain. Menyedihkan memang.</p>
<p>Sobat muda muslim, dikisahkan ketika terjadi penyerbuan tentara Tartar dari Mongo­lia. Betapa konyol dan pasrahnya kaum muslimin saat itu, digam­barkan oleh ahli sejarah, se­orang tentara Tar­tar yang menemukan tempat persembunyian kaum muslimin (lelaki, wanita dan anak-anak). Ia berkata: “Sayang sekali, aku tidak membawa senjata untuk membunuh kalian. Awas, jangan bergerak. Tunggu sampai aku kembali membawa pedangku.” Nggak lama kemudian ia kembali dengan membawa pedangnya dan menjagal satu per­satu kaum muslimin tersebut. Nggak ada sedikit pun usaha kaum muslimin untuk mening­galkan tempat itu, misalnya dengan melarikan diri. Menyedihkan! (lebih rinci tentang kekejian dan kejahatan pasukan Tartar dalam buku <em>al-Bidayah wan Nihayah</em>, oleh Ibnu Kathir jilid 13, Hlm. 83-88 dan buku <em>al-Kamil fit Tarikh</em>, oleh Ibnul Athir, jilid 9, hlm. 329-386).</p>
<p>Sobat gaulislam, para penguasa negeri-negeri kaum muslimin nggak kuasa menghadapi berbagai intimidasi yang berujung kepada penyerahan diri secara menghinakan. Benturan-benturan ekonomi, politik, sosial bahkan hukum dan pemerintahan, telah meng­antarkan mereka kepada penghambaan terhadap bangsa-bangsa Barat yang kufur dan jelas-jelas memerangi Islam dan kaum muslimin. Waduh, bahaya banget dah!</p>
<p>Melihat kenyataan ini tentu saja harus menghentikan diam kita, Bro en Sis. Jangan bengong, apalagi planga-plongo nggak jelas kayak orang bingung abis dipindahin tempat tidurnya ama jin. Berasa lagi tidur di kasur empuk ternyata pas bangun sudah ada di bis jurusan Surabaya, lalu ditagih ongkosnya ama kondektur bis. Pasti bingung banget kan? Hehehe.. ngasal banget nih gue nulis!</p>
<p>Yuk, kita seharusnya bangga dengan Islam dan ribuan ulama yang senantiasa menjaga Islam agar sampe kepada kita dari sumber yang asli. Itu sebabnya, meski telah lebih dari seribu tahun sejak masa kenabian Muhammad saw., tapi kita tetap mengenal Islam. Al-Quran menemani kita sebagai penunjuk jalan hidup, dan ribuan kitab yang ditulis oleh ribuan ulama, bahkan mungkin jutaan ulama sebagai pewaris nabi yang siap mengenalkan Islam lebih detil. Semua itu menuntun kita untuk mengetahui syariat Islam, akidah Islam, dakwah Islam, dan keilmuan Islam lainnya, serta sejarah kedigdayaan Islam seperti di masa kekhilafahan.<em> </em>Kita, siap kembali mewujudkan diterapkannya syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Insya Allah. <strong>[solihin | Twitter @osolihin]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/kisah-buih-di-lautan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisa Karena Biasa?</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/bisa-karena-biasa</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/bisa-karena-biasa#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Sep 2012 17:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farah Zuhra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[biasa]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4487</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 256/tahun ke-5 (1 Dzulqaidah 1433 H/ 17 September 2012) &#160; Ah, gue pengen cerita pengalaman training yang gue ikutin beberapa minggu yang lalu. Gue memang hobi ikutan training. Training apa aja, mulai nulis, jurnalistik, motivasi, bisnis, dll. Apalagi kalau pematerinya udah berpengalaman dalam praktek dari training yang diberikan. Wah, lebih nancep lagi itu! ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/bisa-karena-biasa">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg"><img title="logo-GI-3" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" width="150" height="36" /></a> gaulislam<strong> </strong>edisi 256/tahun ke-5 (1 Dzulqaidah 1433 H/ 17 September 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ah, gue pengen cerita pengalaman training yang gue ikutin beberapa minggu yang lalu. Gue memang hobi ikutan training. Training apa aja, mulai nulis, jurnalistik, motivasi, bisnis, dll. Apalagi kalau pematerinya udah berpengalaman dalam praktek dari training yang diberikan. Wah, lebih nancep lagi itu! Intinya, gue memang hobi cari-cari pengalaman baru. Siapa pun pematerinya. Ilmu yang bagus diambil, yang jelek tinggalin. Filternya cukup akidah dan syariat Islam. Gue memang gitu. Nggak sektarian apalagi vegetarian hehehe.. Openmind. Oke, <em>back to</em> pengalaman gue…</p>
<p>Jadi gini Bro en Sis sobat gaulislam, Mas Trainer (begitu aja ya nyebut nama beliau hehe..), nyuruh kami –peserta training- untuk nulis kalimat yang ia diktekan dengan tangan kanan sebanyak lima kali. Gue lupa kalimatnya. Tapi, ya namanya terbiasa dengan tangan kanan <em>of course</em> jadi pada cepet lah nulisnya. Lancar! Berikutnya, dengan kalimat yang sama, kami disuruh lagi nulis dengan tangan KIRI! Heboh deh. Udah pada nggak jelas dan mencong semua tulisannya. Mirip sandi morse nggak karuan.</p>
<p>Berikutnya, kita disuruh lagi gambar pemandangan. Terus beliau tanya, “Kalian gambar apa tadi pemandangannya? Pada ngacung ya kalo saya sebut apa yang kalian gambar?” Maka pada ngacunglah sebagian besar para peserta yang ngegambar ‘gunungnya dua’, ‘ada matahari di tengahnya’, terus ‘ada jalan kecil di bawah dua gunung itu’ bla bla bla. Setelah itu kami semua diberi tepuk tangan dan diberi pujian sebagai pelajar yang SUKSES! Sukses dimindset oleh sistem pendidikan yang ada hingga saat ini. Nggak <em>‘out of box’</em>. Nggak kreatif. Kalo dalam bahasa bisnisnya pak Ippho Santosa, nggak ada ‘Pembeda Abadi’-nya alias diferensiasi atau ciri khas. Set daaah.. kesian deh kamiii hikz&#8230;<span id="more-4487"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa itu mindset? </strong></p>
<p>Hikmah apa yang bisa diambil dari ‘game’ yang diberi oleh trainer yang gue ceritain tadi? Yup, pasti ada kesulitan bila kita melakukan hal-hal yang tidak biasa kita lakukan dan menjadi sangat mudah bila kita sudah terbiasa melakukan apa yang sering kita lakukan. Sambil merem pun bisa saking terbiasanya. Selain itu, akan sulit juga mengubah cara pandang/pemahaman diri kita sendiri demikian juga dalam mengubah cara pandang/pemahaman orang lain. <em>You got it?</em> Paham kan ya maksudnya?</p>
<p>Nah, pas <em>blogwalking</em> nih, gue nemu blog cakep: <span style="text-decoration: underline;">www.mindset-portal.blogspot.com</span>. Ada tulisan gede yang berisikan kalimat yang cakep en nendyaang! Woo, segitunya. Eh, tapi beneran. Nih: “Mindset adalah pola pikir yang mempengaruhi pola kerja. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh pola pikirnya. Seseorang melakukan sesuatu karena didorong dan digerakkan oleh pola pikirnya. Jadi, kalau kita mau mengubah perilaku seseorang maka pola pikirnya dulu yang harus diubah. Pola pikir berubah, perilaku pasti berubah!”</p>
<p>Pendek kata: Pola Pikir mempengaruhi Pola Sikap.</p>
<p>Bro en Sis, ngobrolin masalah mindset or pola pikir yang mempengaruhi pola sikap ini, jadi ngingetin gue ama pemikiran Islam yang gue pelajari. Masalah pemikiran ini pertama kali gue temui malah saat belajar Islam intensif. Loh? Kok? Iya. Saat gue pertama belajar Islam, mindset gue yang awalnya belajar Islam itu norak, nggak level, akhirnya jadi terbongkar habis. Iya, habis! Habis-habisan dipreteli. Kok bisa? Karena mindset gue berhasil diubah. Berubah begitu gue berhasil memahami apa itu definisi sekuler dan realitanya. Juga saat gue memahami jilbab dan khimar plus aplikasinya dalam kehidupan. Jadi untuk mengubah mindset memang kudu kerja keras. Di sini ada kinerja informasi, fakta-fakta, panca indera dan otak yang dikenal dengan ‘proses berpikir’ untuk bisa mengubah mindset gue.</p>
<p>Awalnya yang gue ngeh kalo jilbab itu buat menutup kepala dan nggak harus selalu dipake. Begitu gue jalani bener-bener proses berpikir en berhasil membuat gue paham. Akhirnya gue ngeh kalo jilbab itu ternyata pakaian lebar tidak berpotongan, tidak tipis dan nggak menerawang.   BTW, kalo buat nutup rambut, kepala, sampe dada itu baru namanya khimar alias kerudung. Kudu dipake selama di luar rumah atau di dalam rumah saat ada nonmahram.  Walaupun awal-awalnya ribet dan harus sosialisasi dengan keluarga besar gue, alhamdulillah gue masih <em>keukeuh </em>berhijab syar’i.</p>
<p>Dulunya gue ngehnya kalo udah lulus jadi sarjana kudu kerja. Kerja kantoran. Biar banyak duit hehehe. Eh, begitu gue program ulang mindset gue, ternyata seorang muslimah nggak ada kewajiban untuk mencari nafkah. Sebelum ia menikah, maka kewajiban ortunya untuk menafkahi atau wali atau sodara laki-laki, paman dan seterusnya yang masih terkait mahromnya. Kalo di antara mereka nggak mampu, maka tugas negara yang menjamin kesejahteraannya. Kalo dia udah nikah, maka kewajiban suaminya untuk menafkahi. Idealnya seperti itu di dalam Islam. Karena pada intinya mencari nafkah bagi muslimah itu adalah mubah selama aktivitas kerjanya juga halal. Alhamdulillah, dengan mindset yang udah berubah, atas ijin Allah akhirnya gue bisa membantu suami mencari nafkah tanpa harus ninggalin keluarga lama-lama.</p>
<p>Buat kalian yang masih imut en jomblo? Pasti mindset-nya hidup akan bahagia kalo punya pacar. Hahaha… ayo, ngaku! “Kalo iya kenapa? Masalah buat elo?” &#8230; Ih, kok nyautnya gitu? Masalah dong. Itu namanya mendekati zina, memupuk syahwat hawa nafsu dan ujung-ujungnya pun gaul bebas. Gimana pun juga nikmatnya beginian tetep menjadi maksiat. Biarpun LDR-an (pekan kemarin dibahas di gaulislam edisi 255 ya. Coba cek lagi dah!). Nah, kudu bisa berubah tuh mindset-nya! Susah? Bisa! Pasti bisa!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Susahnya aplikasi mindset</strong></p>
<p>Yup! Aplikasi dari berubahnya mindset memang susah. Untuk mengubah mindset-nya aja juga susah. Kenapa? Karena belum terbiasa. Itu aja jawabannya. Jadi kudu dibiasakan. Pas banget, kan ama yang disampekan ama si Mas Trainer. Peserta pada kalang-kabut disuruh nulis pake tangan kiri. Ya sebenernya karena nggak terbiasa aja.</p>
<p>Jadi, kudu kerja keras, Sob! Kerja otak untuk mengubah mindset dan kerja fisik buat teraplikasikannya mindset kita ke dalam pola sikap. Buang jauh-jauh yang menjadi ‘mental block’ kita. Apa itu ‘mental block’? Perasaan yang menghalangi terlaksananya aktivitas kita. Yup! Kayak rasa su’udzon, pesimis, ketakutan yang mengada-ada plus godaan syaitan yang terkutuk. Berhubung, Islam adalah landasan paling mendasar dalam pembentukan mindset kita plus aplikasi ke pola sikap, maka kita harus yakin! Kita BISA!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Let’s make it happen</strong></p>
<p>Nah, supaya energi dan pikiran positifmu semakin keren. Coba deh simak sekilas kultwit dari mas @seHARIADI, onliner marketing strategist yang ehem ini hehehe: <em><span style="text-decoration: line-through;"><span style="text-decoration: underline;">#</span></span><strong><span style="text-decoration: underline;">AnakMUDAituBiasanya</span></strong> suka menyebarkan Kebaikan, gak suka berkumpul utk hal krg baik&#8230; | KREATIF, membangun negerinya| setia akan cintanya, berusaha segera menikahi | menjauhi Narkoba, lebih senang berwirausaha utk membangun negeri lbh baik |selalu mengajak kebaikan, suka dzikir| lbh suka Nikah drpda pacaran. <img src='http://www.gaulislam.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  | menjadi pencetus Perubahan lbh baik <span style="text-decoration: line-through;"><span style="text-decoration: underline;">#</span></span><strong><span style="text-decoration: underline;">wiRABUsahA</span></strong>. </em>Gimana, menurutmu, keren nggak kulrwitnya?</p>
<p><em>So</em>, bisa karena biasa. Ubah mindset-mu yang negatif menjadi positif agar potensimu melejit. Sekarang? Nggaaak, taon depan! Hadeuuh.. ya, sekarang lah! Mumpung masih muda. Masih hidup. Sehat lahir batin dan dikaruniai iman Islam. Hamasah!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana dengan bisa karena belajar?</strong></p>
<p>Nah, itu lebih bagus lagi Bro en Sis. Bisa karena biasa aja kamu jadi mahir, apalagi bisa karena belajar. Tetapi jelas ada bedanya. Kalo bisa karena biasa cenderung “feeling” yang jalan, tetapi kalo bisa karena belajar memang dia melihat dan membaca fakta, menganalisis, membandingkan, dan akhirnya menyimpulkannya untuk menjalankan hasil keputusan atas pilihanmu. Lebih ajeg cara pandangnya.</p>
<p>Contohnya gimana? Gini deh. Kamu yang bisa baca al-Quran dengan terbiasa mendengarkan bacaan ayat al-Quran yang diperdengarkan di telingamu lewat MP3 (misalnya), akan berbeda kualitasnya jika kamu bisa baca al-Quran karena mempelajarinya langsung huruf per huruf lalu cara membacanya (dan mungkin ‘melagukannya’). Bahwa yang bisa baca al-Quran dari biasa mendengarkannya via CD atau MP3, memang bisa. Tetapi, dia belum tentu tahu hurufnya, hanya bisa ‘mengatakannya’ lagi dari apa yang dia dengar. Berbeda dengan yang belajar beneran, lebih keren hasilnya. Ok? Catet deh!</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sebenarnya urusan mindset dalam Islam jauh lebih keren dari sekadar yang kini marak disampaikan para motivator atau inspirator atau trainer. Bener. Nggak percaya? Baca saja al-Quran, baca hadits, baca pendapat-pendapat para ulama, atau ‘syair-syair’ para ulama (seperti dalam buku kumpulan <em>Kalam Hikmah Imam Syafi’i</em>). Kok kita nggak tahu dan baru ngeh setelah dikasih tahu para motivator atau yang ngasih training? Itu karena kita sebagai muslim malas belajar Islam. Jadi nggak ngeh dengan ajaran agamanya sendiri.</p>
<p>Sebagai bukti, dalam al-Quran misalnya, <em>“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”</em> <strong>(QS al-Insyirah [94]: 5-8)</strong></p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, itu baru satu ayat lho yang bisa memberikan semangat, masih banyak ribuan ayat lain juga hadis dan perkataan para ulama. Lebih keren dari sekadar motivasi biasa yang disampaikan manusia. Misalnya nih, dalam hadis, Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang berkata jujur akan mendapatkan 3 hal: kepercayaan, cinta, dan kehormatan” <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Hadis ini keren banget dalam ‘memotivasi’ kita. Cuma sayangnya kita lebih mudah terpukau dengan perkataan manusia biasa. BTW, Sebenarnya nih, yang gue tulis di awal tadi dalam sebuah situs tentang pengertian mindset, dalam Islam udah lama dikenal istilah kepribadian atau syakhsiyah. Kalo kepribadiannya Islam, namanya syakhsiyah islamiyah. Kepribadian itu terbentuk dari pola pikir dan pola sikap. Keduanya ini akan membentuk pemahaman dan nantinya akan melahirkan <em>suluk</em> alias perilaku yang tentu saja sesuai dengan kepribadiannya. Islam keren banget dah!</p>
<p>Ayo belajar Islam dengan benar dan baik, karena segala problem hidupmu insya Allah ada jawabannya dalam Islam. Yakin itu! <strong>[Anindita | e-mail: thefaith_78@yahoo.com]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/bisa-karena-biasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran Jarak Jauh</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/pacaran-jarak-jauh</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/pacaran-jarak-jauh#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2012 17:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[ikhwan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islami]]></category>
		<category><![CDATA[LDR]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pacar]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4481</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 255/tahun ke-5 (23 Syawwal 1433 H/ 10 September 2012) &#160; Sobat muda gaulislam, pasti bosen deh sama kata yang jadi bahasan gaulislam kali ini. ‘Pacaran’, wuaah&#8230;! Udah berkali-kali bahas ini. Tapi, ilmu itu kan nggak akan pernah habis. Mungkin kamu emang bosen. Namun, belum tentu buat teman-temanmu yang masih baru kenal gaulislam, atau ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/pacaran-jarak-jauh">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg"><img title="logo-GI-3" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" width="150" height="36" /></a> gaulislam<strong> </strong>edisi 255/tahun ke-5 (23 Syawwal 1433 H/ 10 September 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sobat muda gaulislam, pasti bosen deh sama kata yang jadi bahasan gaulislam kali ini. ‘Pacaran’, wuaah&#8230;! Udah berkali-kali bahas ini. Tapi, ilmu itu kan nggak akan pernah habis. Mungkin kamu emang bosen. Namun, belum tentu buat teman-temanmu yang masih baru kenal gaulislam, atau baru ngeh soal Islam. <em>So</em>, kali aja ada yang belum tahu hukum seputar pacaran ini. Iya kan?</p>
<p>Nyok, kita bahas tema kita kali ini tentang Pacaran Jarak Jauh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jauh di mata dekat di hati</strong></p>
<p>Hayoo..! Bukan <em>belek</em> (kotoran di mata) ya dekat di mata jauh di hati. Hehe. Yup, pacaran jarak jauh atau yang biasa kita kenal <em>long distance relationship </em>ini sangat populer nih, di kalangan remaja.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gauislam, di era serba canggih dan instan ini nggak jadi alasan sejauh mana lokasi seseorang untuk berkomunikasi. Meski adanya di belahan dunia nun jauh di sana, proses komunikasi bisa tetap terjalin. Kecuali, ya mungkin kalo nggak terdeteksi radar or sinyal (*apalagi kalo udah diadakan tahlilan alias meninggal). Peluang ini akhirnya dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk tetap menjalin ‘hubungan’ meski jauh di hadapan mata.</p>
<p>“Cinta tak mengenal ruang dan waktu” mungkin benar adanya. Kalo kita lihat kenyataan saat ini, banyak  remaja yang pisah daerah sama pacarnya, tapi mereka tetap menjalin hubungan. Banyak juga nih, orang yang akhirnya cinlok  di dumay alias dunia maya. Awalnya di Facebook, Twitter atau di sosmed lainya, cuman sering berbalas komentar, terus beralih ke <em>chatting</em>, sampe <em>video call</em>. Bahasa yang digunakan pun, awalnya cuma bahasa nyantai biasa, lalu mulai merayap ke bahasa hati. Waduh.. mulai deh cinlok dan akhirnya pacaran. *walaupun ada yang ngeles dengan alasan, hubungannya sebagai ta’arufan. Ah, ngawur kamu!<span id="more-4481"></span></p>
<p>Katanya, (kata siapa ya?) mereka yang pacaran jarak jauh itu nggak jadi hambatan lho. Sebab, boleh-boleh aja doi jauh di mata. Tapi di hati, doi paling lengket. Serodot.. gubraak! *Halah, pembenaran doang itu sih!</p>
<p>Tapi kalo dipikir-pikir, emang bener juga sih. Meski jarak antara mereka berpuluh-ratus kilometer, ‘ser’ nya itu pasti kerasa kalo lagi komunikasi. Ehm, berdasarkan survei juga (secara diem-diem hehehe), kata-kata yang diungkapkan lewat tulisan itu, memang terasa lebih  masuk ke hati, dibanding kata-kata yang terucap  mulut kita yang kadang-kadang suka kepleset. Jadi kalo ada komusnikasi lewat sms atau chatting itu lebih nyampe ke hati. Bener!</p>
<p>Meski begitu, banyak juga lho yang ketipu nih sama pacaran kayak gini. Kenalan di Fb, foto sih kece abis. Eh, pas ketemuan ‘enek abis. Wajar aja kalo akhirnya banyak yang kecewa. Sebab, peluang bohong itu leluasa banget. Kan kita nggak tahu apa yang dilakuin doi dengan kehidupan aslinya.  Akun islami pun nggak ngejamin pemiliknya bener-bener sholih/shalihah. Belum lagi predator seksual yang saat ini menjamur di dumay, diajakkin ketemuan. Lalu, dibawa ke hotel untuk diajak berzina, atau diculik dan dijual. Banyak lagi deh. Bikin ngeri banget pokoknya. Jadi, hati-hati ya.</p>
<p>Pernah nih ada yang tanya, “gimana kalo pacarannya cuma di hape, sms-an aja?”. ya itu juga, masuk kategori pacaran juga dong!</p>
<p>Bro en Sis, soal LDR ini, meski jaraknya jauh mereka kan tetep bisa komunikasi dengan kata-kata layaknya orang pacaran. Mesra-mesraan, sayang-sayangan, atau bahkan sampai ke tingkat yang lebih bahaya, dengan menggunakan kata-kata yang mengundang syahwat. Padahal, selain kita diminta jaga kehormatan dan menjaga diri dari zina, kita pun diminta untuk menjaga segala hal dari diri kita, yang dapat mengarah pada zina sesungguhnya. Termasuk hati kita. Waspadalah!</p>
<p>Rasulullah saw. Udah wanti-wanti nih ke kita seputar masalah ini. Sabda beliau saw.: <em>“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisir atau diwujudkan) oleh kelamin atau digagalkannya”. </em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Karena, rasa cinta itu naluri</strong></p>
<p>Naluri! Ya, itu memang kalo kita suka sama lawan jenis. Tapi, naluri ini jangan dibiarin nggak terkendali gitu, yang akhirnya jatuh ke hal yang salah. Naluri ini harus senantiasa dibimbing oleh aturan yang berasal dari Allah Swt, sebagai pencipta manusia. Dalam aturan Allah ini, sama sekali tidak dikenal yang namanya ‘pacaran’. Sebab, pacaran adalah hubungan terlarang antara laki dan perempuan yang bukan mahrom. Sebab itu ‘pintu gerbang’ menuju perzinaan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. </em><strong>(QS: al-Isra’ [17]: 32)</strong></p>
<p>Jadi, di mana pun kita, mau jarak deket, atau jarak jauh ya pacaran tetep pacaran. Kan pacaran itu salah satu aktivitas mendekati zina. Berarti diharamkan. Bagi pelakunya tentu akan mendapatkan dosa. Malah, kalo nggak tobat di akhirat nanti bakal disiksa. Siksa Allah Ta’ala itu amat begitu pedih lho.</p>
<p>Duh, kalo inget dosa gini, sebenarnya kita kudu sedih, sebab banyak banget di antara temen kita saat ini yang menganggap enteng azab Allah. padahal dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:<em>”Sesungguhnya azab yang paling ringan dari penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang diletakkan pada kedua telapak kakinya sepotong bara api yang menyebabkan otaknya mendidih”</em>. <strong>(Mutafaq ‘alaih)</strong></p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, harusnya  dikasih hadis ini buat temen-temen yang masih setia pacaran. Kita udah harus bener-bener takut nih sama dosa dan balasannya di akhirat kelak. Serem ya. Jadi, kalo kita mengaku orang yang beriman, tentu kita pun nggak pikir-pikir lagi untuk  nerima seluruh aturan Allah Swt., termasuk hukum mengenai pacaran. Gimana pun prosesnya, kalo ia tertera status ‘pacaran’, ya tetap haram dilakukan. Gimana kalo nggak ada, tapi aktivitasnya mirip orang pacaran, kayak HTS (hubungan tanpa status)? Tetaplah ia terlarang dan dosa.</p>
<p>BTW, ada juga lho pacaran tapi pake istilah ta’arufan dan menyebutnya pacaran islami. Hadeeeuuh, ngasal bin ngawur! Kamu pikir aja lagi. Masa’ ada minyak nyampur sama air? Kecuali kalo ditambahin <em>detergen</em> kali ya. Butek deh jadinya. Intinya. Islam itu haq, sedang pacaran itu bathil. Yang haq nggak mungkin tercampur dengan yang bathil. Nantinya samar-samar dong? Padahal  Islam itu jelas. Mana yang haq, mana yang bathil. Nggak ada abu-abu. Pokoknya hitam dan putih, Sis.</p>
<p><em>So</em>, kita harus mulai berani menyatakan “nggak ada namanya pacaran islami”. Sebab, meski ketemuannya jauh-jauhan. Kan, ada ajang baku tembak ‘syahwat’ antara pelakunya. Widiih, kayak bansus, eh Densus 88 aja yang doyan main tembak mati orang.</p>
<p>Ayo, jangan bohongin diri kamu sendiri. Meski jauh-jauhan tetep deg-degan kan? Khawatirnya lagi, meski kita saling ingetin tahajud dan beramal yang baik lainnya, kita bisa nggak ikhlas. Sebab, kita lakuinnya atas dasar doi yang ingetin, kita malu dan akhirnya rajin ibadahnya demi nyenengin pacar.</p>
<p>Kembali ke topik, yuk hindari segala bentuk pacaran. Mau pacaran jarak jauh, pacaran 5 langkah, pacar-pacaran, pacaran islami, HTS, <em>jeung sajabana </em>(baca: dan lain sebagainya). Itu semua  bentuk cabang dari pacaran. Semuanya itu diharamkan oleh Allah. Ehm, kenapa saya ngotot banget nyatain ini semua haram? Ya, karena induknyapun diharamkan, semuanya kan mendekati zina. Nampak jelas dalam al-Quran surah al-Isra’ ayat 32 di atas. Kita dilarang mendekati segala hal yang menjurus pada perzinaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tetap pacaran, atau nikah? </strong></p>
<p>Udah, nggak usah bingung hadapi masalah nalurimu itu. Sebab, itu kan cuman naluri. Jadi, kalo nggak terpenuhi hanya menimbulkan kere-sahan, nggak akan buat kita mati kok. Bener.</p>
<p>Bro en Sis, tentu Islam ngelarang pacaran bukan  berarti ngelarang manusia menuhin nalurinya. Tapi, Islam itu punya aturan tersendiri megenai hal ini. Aturan yang ‘khas’ dan tentunya sangat terjaga dari segala hal yang menjerumuskan manusia pada kehinaan. Aturan ini yaitu “pernikahan” melalui proses ta’ruf dan khitbah (pinangan).</p>
<p>Nah, bagi kamu yang udah mampu nikah, menikah lah. Namun, jika masih belum mampu, maka harus dengan penuh kerelaan untuk bershabar hingga saatnya tepat untuk menikah. Apalagi kalo kamu masih sekolah. Ya, fokus belajar aja dulu (dan banyak puasa, hehehe). Ok? Sabda Rasulullah saw.: <em>“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah menikah. Sesungguhnya perinikahan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya”. </em>(<strong>HR Bukhari)</strong></p>
<p>Saya juga ngerasain kok, gimana beratnya tantangan jadi remaja itu, berat banget ya. Naluri mencintai yang Allah berikan, harus kita tahan sampai waktunya tiba dengan ikatan yang halal yaitu pernikahan. Sedang, sekarang ini kita dapati, teman-teman kita udah pada ngebonceng atau dibonceng pacarnya masing-masing. Ckckck&#8230;.</p>
<p>Tapi, tenang Bro en Sis. Semua akan indah pada waktunya. Semua rasa sepi kita karena terasingkan, atau beratnya tantangan menahan hawa nafsu akan terbayar sudah, saat kita berdiri di hadapan Allah menyerahkan seluruh laporan ‘masa jabatan’ kita sebagai hambaNya di dunia. Atas usaha kita ini, kita pun dibayar dengan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai karena keikhlasan kita mentaati seluruh aturanNya.</p>
<p>Kabar gembira dari Allah Swt. (yang artinya): <em>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga, (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)”.</em> <strong>(QS al-Hijr [15] :45)</strong></p>
<p>Hmm, semoga keberkahan Allah selalu terlimpah untuk kamu semua yang bertakwa pada Allah. Syukuri atas segala anugerah keimanan. Tetap sabar hadapi ujian hidup. Tenang, kalo udah jodohmu pasti kamu dapatkan yang terbaik. Insya Allah <strong>[wilda fillah | wildafillah@yahoo.co.id]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/pacaran-jarak-jauh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galau dan Alay? No Way!</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/galau-dan-alay-no-way</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/galau-dan-alay-no-way#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Sep 2012 17:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasna Hawwa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[alay]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[galau]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[smart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4474</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 254/tahun ke-5 (16 Syawwal 1433 H/ 3 September 2012) &#160; Wah, bahas soal galau dan alay neh? Hehehe.. iya. Abisnya kamu juga pada galau mulu dan sebagian besar tetap memelihara gaya alay sampai beranak-pinak. Hmm&#8230; jangan-jangan sebenarnya penganut ‘mazhab’ galau dan alay udah sejak lama. Sehingga kamu yang suka galau dan tampil alay ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/galau-dan-alay-no-way">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg"><img title="logo-GI-3" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" width="150" height="36" /></a> gaulislam<strong> </strong>edisi 254/tahun ke-5 (16 Syawwal 1433 H/ 3 September 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wah, bahas soal galau dan alay neh? Hehehe.. iya. Abisnya kamu juga pada galau mulu dan sebagian besar tetap memelihara gaya alay sampai beranak-pinak. Hmm&#8230; jangan-jangan sebenarnya penganut ‘mazhab’ galau dan alay udah sejak lama. Sehingga kamu yang suka galau dan tampil alay saat ini adalah udah keturunan yang ke-10. Hadeeeuuh&#8230;</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, sebenarnya risih banget lho kalo ketemu ama remaja yang suka galau. Hih, kesannya semua orang tuh pengen dikasih tahu kalo dirinya lagi punya masalah, ujung-ujungnya pengen dikasihani (tapi kayaknya ogah tuh kalo disantuni. Bwaaah!). BTW, gaulislam pernah bahas soal galau ini, judulnya “Generasi Galau? Don’t Follow!”, coba deh cek di <span style="text-decoration: underline;">www.gaulislam.com</span> (edisi 213, 21 November 2011). <em>So</em>, kamu secara khusus bisa baca lebih detil di edisi tersebut ya. Kalo di edisi ke-254 ini dibahas dengan <em>angle</em> sedikit beda dan juga ada tambahan generasi alay. Insya Allah tetap menarik kok. Yuk, dilanjut bacanya.</p>
<p>Nah, dengan alasan itulah buletin kesayangan kamu tetap bahas soal ini. Ya, sebab nggak reda juga kondisi remaja yang suka galau dan doyan tampil alay. Entah karena menganggap bagian dari perkembangan zaman, atau emang nggak ada yang ngingetin. Sayang banget kan kalo sampe generasi remaja di masa depan justru nggak serius dalam hidup, atau malah nggak punya tujuan hidup karena keseringan galau dan memilih gaya hidup alay? Duh, jangan sampe deh!</p>
<p>Saya ngebayangin—mudah-mudahan sih nggak kejadian—suatu saat nanti anak alay ini makin merajalela. Untuk persoalan bahasa saja kita pasti akan kesulitan. Kenapa? Hehehe.. udah pada tahu kan, kalo anak alay senengnya ngubah bahasa tulisan dengan karakter yang nggak jelas. Contoh: “54y4 m0 kE sannnaaaa… yach, kamuw addha di HoME gx?” Belum lagi nulisnya: akyu, aquh, luph, ciinnnn, cemungadddh, bla..bla… akun facebook namanya narsis abis: DeWI Cellalu Cenyhumm; Bryan pengEN nyang ENTU. Hadeuh.. cape deh!<span id="more-4474"></span></p>
<p>Waduh, tuh para ortu mereka bisa ngeden dan mencret mulu baca SMS kayak gitu. Belum lagi para pembuat software khusus tunanetra, pasti stres ngikutin perkembangannya karena bakalan kesulitan ‘nerjemahin’ SMS kayak gitu, misalnya aplikasi <em>text-to-speech</em>. Dan, hahahaha… jadi inget gini, untuk tulisan normal aja, huruf Braille itu menyusahkan bikinnya (termasuk bacanya), gimana yang model tulisan anak alay gini ya? Tambah parah dah! *emang nyusahin tuh anak alay!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Santai tapi serius, Bro</strong></p>
<p>Hidup ini harus serius dinikmati. Iya. Sebab, hidup itu anugerah, Bro en Sis. Kita bisa menikmati indahnya dunia, bisa ngobrol bareng temen-temen (yang tentu saja manusia juga. Hehehe.. emangnya pernah kamu ngobrol dan bisa komunikasi timbal-balik dengan pohon atau hewan?). Selain itu, dalam hidup kita juga bisa merancang harapan dan mewujudkannya melalui usaha dan doa. Kenapa hidup bisa menjadi lebih indah? Sebab hidup juga punya tujuan jelas. Bener banget. Kalo nggak punya tujuan jelas mau ngapain dalam hidup ini, pastinya kita juga bakalan limbung nggak karuan dalam menjalani kehidupan. Ibarat orang mau pergi ke suatu tempat tapi bingung tempat mana yang akan dituju. Begitu nyampe terminal bis, bingung karena banyak pilihan jurusan. Celakanya, orang kayak gini kalo megang duit bakalan <em>ujug-ujug</em> naik mobil aja dengan alasan yang penting senang walau bukan untuk tujuan yang akan membuatnya selamat.</p>
<p>Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, itu sebabnya dalam hidup ini kita harus bersyukur dan menunjukkan rasa syukur kita dengan beriman kepada Allah Swt., bertakwa dan jalani ibadah dengan benar. Lho.. lho.. hubungannya apa kok bahas soal galau dan alay nyambungnya kepada keimanan segala?</p>
<p>Hehehe.. tentu saja ada kaitannya, Sob! Nyambung banget tuh. Misalnya nih, kamu lagi dilanda susah dan didera masalah, ya jangan mudah untuk galau pikiranmu, jangan mudah gelisah lalu putus asa. Jangan sampe kayak gitu. Remaja muslim yang beriman kagak pantes miara sifat galau, mending miara sapi aja karena bisa gemuk terus dijual. Lha, kalo miara galau? Kamu jadinya punya hobi nyoretin ‘dinding’ facebookmu dan facebook kawanmu dengan kata-kata penuh kegalauan. Widih tuh wall penuh dengan curahan putus asa. Halah, cemen! Hidup itu wajar kalo diuji dan ujiannya susah. Sebab, dalam hidup kita harus hadapi kenyataan, dan kenyataan tak selalu yang kita suka. Maka, kreatiflah mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah kehidupanmu. Boleh dikata, hidup ini keras, maka gebuklah! (hehehe ini sih judul bukunya Prie GS ya?)</p>
<p>Bro en Sis, hidup jangan dibuat susah. Santai aja. Nggak usah pusing kalo nggak kesampaian maksud kita. Tak perlu merasa gagal total kalo cita-cita tak bisa diraih. Sabar, sabar dan sabar. Lalu interospeksi, evaluasi dan cari jalan keluar. Jangan mengeluh, tak perlu galau, nggak usah putus asa.</p>
<p>Meski nyantai, tetapi urusan tujuan hidup harus serius. Ya, harus jelas mau kemana setelah kehidupan di dunia ini. Bagi kaum muslimin, akhirat adalah tujuan akhir. Oya, harus diingat, agar perjalanan ke akhirat itu berakhir menyenangkan (yakni meraih surga), maka kudu punya bekal. Bekal untuk ke sana bukanlah harta, bukan jabatan, bukan status sosial di mata manusia. Tetapi amal shalih yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan dan semata mengharap ridho Allah Swt.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): <em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. </em><strong>(QS al-Hasyr [59]: 18)</strong></p>
<p>Tentu saja, untuk meraih kebahagiaan di akhirat kelak, kita harus serius untuk mendapatkannya. Yuk, siap ya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sadarlah generasi alay!</strong></p>
<p>Bro en Sis, ‘penggila’ gaulislam, seperti yang udah kamu tahu soal anak alay, karena bisa jadi itu kawanmu di sekolah, saudaramu satu rumah, atau malah dirimu sendiri yang udah eksis jadi anak alay, maka kita harus menyadarkan mereka (termasuk nyadarin diri sendiri). Iya nggak sih?</p>
<p>Ketahuilah kawan, meski kelihatannya sepele soal anak alay, tetapi saya merasa harus menyadarkan. Gimana pun juga, generasi alay nggak berhenti hanya pada bahasa dan model penulisan dalam menyampaikan pesan. Hal lain yang justru perlu diwaspadai adalah soal gaya hidup. Jika “alay” sudah menjadi karakter, maka akan mudah bagi orang tertentu untuk merasa terbiasa jadi generasi alay. Menganggapnya hal sepele dan lumrah. Sebagian menyebutnya sebagai bagian dari dinamika hidup. Waduh, nggak banget, Sob!</p>
<p>Dinamika hidup bukan soal gaya hidup, apalagi gaya hidup yang keliru bin salah karena jauh dari syariat Islam. Anak alay juga sebelas dua belas ama anak-anak yang sering merasa galau. Persis banget kelakuannya, bagai pinang dibelah satpam (apa hubungannya?). Hmm.. atau nih sebenarnya udah satu paket bahwa anak yang sering galau tuh pastinya anak alay, atau anak alay adalah anak yang seringnya curhat di sembarang tempat—terutama situs jejaring sosial dan mereka itu gampang banget ngerasa galau. Tapi terlepas dari soal itu, sikap galau dan alay nggak pantes banget nemplok pada diri remaja muslim. Catet!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jadilah remaja smart pejuang syariat</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, calon para pembela Islam dan pejuang dakwahnya, sebagai remaja kamu harusnya keren, smart dan bangga jadi pejuang syariat. Buang deh jauh-jauh karakter yang gampang galau dan memble ala anak alay dari folder kepribadianmu. Delete saja. Buka folder <em>recycle bin</em>, lalu empty dah isinya. Nah, jangan sekali-kali kamu pake ‘software’ lain untuk ngembaliin file-file galau dan alay dari tempat sampah itu. Please jaga baik-baik dirimu, Bro!</p>
<p>Sobat muda muslim, ayo bangkit dan masuk ke dalam barisan pejuang Islam. Makin banyak yang berjuang, insya Allah kian besar pengaruhnya dalam mewarnai kehidupan ini. Meski adakalanya sebuah peperangan atau revolusi tak selalu berbanding lurus dengan jumlah pejuangnya. Artinya, tak selamanya jumlah banyak bisa memenangkan pertempuran. Karena yang terpenting adalah kesamaan visi dan misi. Lebih hebat lagi tentunya jumlah banyak dan punya kesatuan visi dan misi. Betul nggak seh?</p>
<p>Jadi, yuk mari tekadkan dan kuatkan perjuangan kita. Jangan pernah takut terhadap apapun, kecuali kepada Allah. Bahkan kita kabarkan kepada dunia, bahwa ancaman kematian, bukanlah penghalang bagi perjuangan kita untuk membela Islam. Seperti kata Syekh Ahmad Yassin: “Kematian tak pernah menakutkan kami. Sebab melalui itu, kami menemukan jalan menjadi syuhada.” Allahu Akbar!  Dahsyat semangat keimanannya.</p>
<p>Ayo, jangan takut, jangan minder, dan jangan malu en males jadi pejuang Islam. Kita di jalan yang benar sobat. Kita tidak sendirian. Jumlah kita ribuan, bahkan jutaan yang akan berjuang membela Islam. Sebagai penyemangat perjuangan, yuk kita sama-sama senandungkan salah satu lirik nasyid Izzatul Islam yang oke punya: <em>“Barisan mujahid melangkah ke depan/ Tanpa rasa takut menghalau rintangan/ Cahya Islam kan selamanya memancar/ Dengan darah kami sebagai pembakar”</em>. Tetep semangat berjuang sampai akhir hayat. Enyahkan galau dan alay dari dalam kehidupanmu!</p>
<p><em>So</em>, jangan pesimis ya. Kemenangan Islam memang insya Allah akan datang. Melalui keterlibatan kita, atau bahkan tanpa keterlibatan kita. <em>But</em>, tentu alangkah nikmatnya jika kita menjadi bagian dari perjuangan untuk meraih kemenangan tersebut. Iya nggak sih?</p>
<p>Maka, daripada galau dan alay, mendingan buruan nyadar, berkemas untuk belajar ngaji, pahami, amalkan dan dakwahkan. Sehingga kamu nantinya bisa bilang: galau dan alay? No way! Smart dan pejuang syariat? Yes banget! <strong>[solihin | Twitter: @osolihin]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/galau-dan-alay-no-way/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahalnya Rasa Aman</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/mahalnya-rasa-aman</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/mahalnya-rasa-aman#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2012 02:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amira Mehnaaz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[aman]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[daulah]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[maling]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[perampok]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sanksi]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4470</guid>
		<description><![CDATA[ gaulislam edisi 253/tahun ke-5 (9 Syawwal 1433 H/ 27 Agustus 2012)   Rasa aman adalah dambaan semua orang. Dalam Islam, keamanan bukan cuma untuk kaum Muslimin, tapi bagi seluruh warga negara yang hidup di bawah naungan Islam meskipun ia nonMuslim. Wuih, keren banget ya? Tetapi, kalo ngeliat kondisi sekarang, beeeuhhh rasa aman kian mahal aja. ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/mahalnya-rasa-aman">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg"><img title="logo-GI-3" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" width="150" height="36" /></a> gaulislam<strong> </strong>edisi 253/tahun ke-5 (9 Syawwal 1433 H/ 27 Agustus 2012)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Rasa aman adalah dambaan semua orang. Dalam Islam, keamanan bukan cuma untuk kaum Muslimin, tapi bagi seluruh warga negara yang hidup di bawah naungan Islam meskipun ia nonMuslim. Wuih, keren banget ya?</p>
<p>Tetapi, kalo ngeliat kondisi sekarang, beeeuhhh rasa aman kian mahal aja. Beberapa waktu saya pernah datang ke sebuah sekolah. Ketika saya hendak menemui seorang guru dalam rangka ikut mendistribusikan edisi cetak buletin gaulislam, beliau sedang menerima tamu dua orang pria berambut cepak, berbadan tegap, dan dilihat dari rambut serta warna kulitnya saya menduga kedua orang itu berasal dari wilayah Indonesia bagian timur. Sambil menunggu saya sempat ngobrol dengan guru lain sebentar. Setelah itu, baru deh ngobrol dengan guru yang barusan nerima tamu. Tanpa diminta, beliau malah cerita bahwa kedua orang tadi menawarkan jasa keamanan buat sekolah namun ditolak. Ckckck.. kalo gitu ngapain ada aparat keamanan kalo tugas keamanan malah direcoki juga sama ‘preman’—yang tentu saja bayaran.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, siapa sih yang nggak pengen aman dalam hidupnya? Semua orang pasti mendambakan ketenangan, keamanan, dan kenyamanan dalam hidup. Berapa banyak rumah dibuat, lengkap dengan sistem keamanan antimaling, alarm dipasang di mana-mana. Masih nggak puas, ada satpam ‘ngejogrok’ di dekat pintu gerbang. Kalo di jalan, kita pun seneng banget kalo nggak ada yang malak or ngompas. Pernah lho, temen saya pas jalan di sebuah kawasan di Jakarta, ditodong dua orang preman. Karena teman saya memilih menyelamatkan nyawanya, akhirnya ia menyerahkan (sambil gondok tentunya), dompet beserta isinya berupa sejumlah duit dan kartu ATM. Duh, kasihan banget kan?<span id="more-4470"></span></p>
<p>Kamu juga kayaknya dulu pernah denger deh kalo lagi jalan di Jakarta, terus berhenti di lampu merah, maka bagi kamu yang udah dapetin info tentang komplotan Kapak Merah, langsung ketar-ketir, khawatir kalo sampe jadi korban mereka. Kalo punya ponsel juga nggak bisa sembarangan menggunakan, bisa-bisa tuh ponsel melayang. Seorang teman punya cerita, ia melihat ada orang yang lagi nelpon pake ponsel di halte sebuah kawasan di Jakarta. Nggak lama, ada orang yang langsung ngerebut tuh ponsel, lalu diikuti beberapa orang yang langsung cabut naik bis kota. Aduh, nggak aman banget kan? Sori lho buat yang tinggal di Jakarta. Ini sekadar contoh aja. Sebab di Bogor pun ada. Sabtu (25/08/2012) saya ketemu penjaga di sebuah warnet yg pernah jadi langganan. Setelah saya tanya kok komputernya pada nggak ada, dia cerita bahwa 11 komputer di warnetnya ludes dijarah maling seminggu sebelum lebaran kemarin.</p>
<p>Sobat, itu sebabnya, kita kepengen banget dalam hidup tuh aman, baik di lingkungan tempat tinggal kita, maupun pas di jalan dalam perjalanan. Nah, Islam juga punya solusinya nih. Diatur juga gitu, lho. Ini sebagai bukti bahwa Islam memelihara rasa aman bagi warga negaranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Para perampok, waspadalah!</strong></p>
<p>Hehehe.. bukan nantangin lho. Tetapi mau ngingetin. <em>So</em>, buat para perampok alias pembegal akan dihukum dalam Islam. Kedua istilah ini bermakna sama setidaknya kalo dilihat dalam kamus. Merampok artinya mencuri dengan paksa (biasanya dilakukan lebih dari satu orang); juga berarti merampas dengan kekerasan. Membegal bermakna merampas (barang orang lain) di jalan (silakan buka deh <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, edisi ketiga, cetakan III, 2003, hlm. 926 dan halaman 121).</p>
<p>Untuk melindungi harta dari kejahatan seperti ini, Islam udah memberikan aturan dan sanksi yang tegas. Imam Syâfi’iy meriwayatkan dalam <em>musnad</em>-nya dari Ibnu Abbas tentang pembegal or perampok (<em>qutha’ ath-thariq</em>)<em>, “Jika mereka</em> <em>membunuh dan merampas harta benda, mereka akan dibunuh dan disalib, dan jika mereka membunuh tetapi tidak merampas harta benda, mereka dibunuh saja namun tidak disalib, jika mereka mengambil harta benda tepi tidak membunuh, tangan dan kaki mereka dipotong secara bersilang, dan jika mereka menteror di jalan dan tidak merampas harta benda, usirlah mereka.” </em>(silakan baca tulisannya Abdurrahman al-Maliki, dalam buku <em>Sistem Sanksi dalam Islam</em>, hlm. 117)</p>
<p>Oya, kayaknya kamu perlu tahu deh bahwa ada tiga syarat berupa fakta yang menyebutkan sebuah kasus bisa disebut sebagai pembegalan atau perampokan. Pertama<strong>, </strong>terjadi di luar kota. Yakni di desa, gunung, dataran luas, tanah luas, dan lain-lain. Serta terjadi di dalam kereta api, pesawat terbang, dan mobil di luar kota. Nah, kalo terjadi di kota, itu nggak termasuk <em>qutha’ ath-thariq</em>, namun hanyalah perampas. Akan tetapi jika mereka menyerang kota, membunuh, merampas harta benda atau menteror di jalan pada saat penyerangan mereka terhadap kota, maka mereka dianggap sebagai <em>qutha’ ath-thariq</em>.</p>
<p>Kedua<strong>, </strong>mereka membawa persenjataan untuk membunuh; seperti pedang, senapan, senapan otomatis, golok, atau pisau yang bisa membunuh, atau alat-alat lain yang bisa dipakai untuk membunuh. Jika mereka tidak membawa senjata, atau bersenjata namun tidak mematikan secara langsung; seperti tongkat, cemeti, dan lain-lain, maka mereka tidak dianggap sebagai <em>qutha’ ath-thariq</em>.</p>
<p>Ketiga<strong>, </strong>mereka datang secara terang-terangan, mengambil harta benda dengan cara paksa, dan menetap di tempat-tempat mereka. Iya, soalnya kalo mereka mengambil harta benda dengan cara sembunyi-sembunyi mereka disebut pencuri. Kalo mereka merampas harta benda kemudian melarikan diri, mereka disebut perampas.</p>
<p>Oya, kalo para pembegal or perampok ini bertobat sebelum ketangkep sama aparat keamanan negara Islam, maka<strong> </strong>gugurlah<strong> </strong><em>hudud</em> Allah<strong> </strong>bagi mereka, namun mereka harus mengembalikan hak-hak manusia; baik jiwa, pelukaan, atau harta benda. Akan tetapi bila mereka dimaafkan, otomatis itupun <em>had</em>-nya gugur bagi mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt.:<em>“kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> <strong>(QS al-Maidah [5]: 34)</strong></p>
<p>Nah, kalo mereka bertaubat setelah penangkapan atas mereka maka tidak ada satupun <em>hudûd</em> yang gugur bagi mereka. Jadi tetep akan dihukum. Hal ini karena mengamalkan mafhum dari firman Allah Swt: <em>“sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka”</em> <strong>(QS al-Maidah [5]: 34)</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, kayaknya kalo diterapkan aturan dan sanksi seberat ini, para perampok atau yang berniat merampok mikir ulang sebelum menjalankan aksinya. Ngeri banget kan kalo sampe ketahuan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Steril maksiat</strong></p>
<p>Tempat-tempat maksiat seperti komplek pelacuran, perjudian (termasuk togel), diskotik, dan pusat penjualan miras adalah tempat-tempat yang bakalan diberangus oleh negara jika tetap nekat beroperasi. Karena, sangat boleh jadi nih tempat berpotensi jadi biang keonaran. Bisa aja kan? Bagi yang kalah judi misalnya, padahal ia udah abis-abisan duit, maka bukan mustahil kalo kemudian terjadi keributan dan bisa mengganggu warga sekitar. Akibatnya, masyarakat umumlah yang bakalan nggak merasa aman dan nyaman dengan kondisi seperti ini.</p>
<p>Sobat gaulislam, pernah lho di kampung saya (nun jauh dari kota, namanya juga kampung hehehe..) banyak warga yang merasa resah karena di lingkungannya ada seorang warga yang jualan miras alias minuman keras. Merasa nggak aman? Pertama, karena tempatnya berada di lingkungan warga. Jadi pasti merasa terganggu dong kalo para pemabuk itu beraksi. Iya, soalnya nggak jarang mereka yang mabuk ngoceh da ganggu orang sekitar, udah gitu suka muntah sembarangan (di pekarangan rumah warga lain), penjualnya nyetel musik kenceng-kenceng (termasuk malam hari). Waduh, kalo kayak gini, gimana mo nyaman hidup ya? Gimana mo memiliki rasa aman karena khawatir diganggu para pemabuk.</p>
<p>Meski para tokoh agama udah memperingatkan aksi kacaunya itu, yang bersangkutan pake prinsip: “Anjing menggonggong kafilah berlalu”. Waaaah&#8230; nggak sopan banget tuh tokoh agama dikacangin kayak gitu. Apa pasal dia berani melawan yang ngingetin? Ehm, karena dia udah ada kerjasama dengan salah seorang oknum polisi. Walah, nih aparat keamanan yang harusnya memberi rasa aman bagi seluruh warga, ternyata cuma memberi rasa aman kepada seorang warga, dan sudah berbuat salah pula. Karena apa? Karena mengamankan kesalahan. Bukan membela kebenaran. Kalo aparat keamanan kayak gini semua, ancur dah. Gimana mo aman dong hidup kita?</p>
<p>Jadi, selain karena tempat pelacuran, perjudian dan pusat penjualan miras (plus narkoba) adalah tempat maksiat, juga tempat itu bisa berpotensi memunculkan keonaran. Maka, negara akan menindak dengan tegas pengelolanya. Termasuk kalo miras dan narkoba yang akan dilakukan adalah dengan menutup pabriknya. Ini bagian dari upaya negara dalam memelihara rasa aman bagi warganya.</p>
<p>Coba deh kamu bandingin sekarang. Dalam naungan demokrasi sebagai mesin politik Kapitalisme yang berakidah sekularisme ini, kebebasan menjadi panglima. Orang bebas berbuat apa aja asalkan bukan kriminal. Ini teorinya, lho. Karena prakteknya, yang berbuat kriminal pun bisa tetep adem ayem aja karena aparat penegak hukumnya udah disumpal duluan ama duit jutaan rupiah. Sekadar fakta aja nih, para oknum aparat dan pejabat yang seharusnya menjebloskan para bandar judi ke bui, malah rela mengais rejeki haram dengan mengamankan usaha mereka. Untuk “jasanya” itu, bapak-bapak oknum aparat dan oknum pejabat bakal menerima uang setoran dari para raja judi. Bagi yang setorannya ‘kenceng’, dijamin aman usahanya. Kalo nggak nyetor, itu sih alamat bakal dikarungin! Meski akhirnya dilepas juga kalo udah ngasih sogokan. Ambil contoh, seorang bandar togel di Cimanggis, berinisial PA, ditangkap oleh Polda Metro karena bandar ini terkenal ‘bandel’, menolak memberikan setoran ke institusi keamanan Ibu Kota ini. Kecuali kepada keamanan setempat, seperti koramil, polsek, dan Babinsa. Namun, setelah membayar tebusan Rp 40 juta, bandar ini akhirnya dilepas.(<em>Media Indonesia</em>, 7 Maret 2002).</p>
<p>Ini memang data lama yang saya kutip, kemungkinan praktik itu masih ada sampe sekarang. Soalnya pernah juga tuh disindir di film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” yang dirilis 2010. Belum lama&#8211;tahun ini, ada cerita dari teman saya yang pernah jualan pulsa, di sebelah kiosnya ternyata ada orang jualan togel. Hadeuuh.. Terus temen saya bilang juga, bahwa ada oknum polisi yang suka masang togel di situ. *Tepok jidat!</p>
<p>Coba, gimana nggak mengkhawatirkan kondisi ini. Tapi anehnya, meski udah banyak yang jadi korban togel, pemerintah milih adem-ayem aja. Sebagian masyarakat yang teriak protes keras supaya pemerintah menutup bisnis haram ini, tapi rupanya protes itu dikacangin alias didiemin ama bapak-bapak pejabat dan aparat kita. Walah? Inilah demokrasi: <em>Kejarlah Demokrasi, Kau Ketipu!</em></p>
<p>Kalo diberlakukan syariat Islam, insya Allah akan aman deh. Sekadar contoh aja, di NAD meski syariat cuma diberlakukan parsial, tapi cukup bikin jera. Ketua Forum Masyarakat Berantas Judi Buntut-Togel di NAD, Tarmizi HA Hamid H, menuturkan bahwa sebelum hukum cambuk diberlakukan, Bireuen adalah satu daerah di Aceh yang perjudiannya cukup marak. Omzet judi buntut-togel, setiap harinya rata-rata mencapai Rp 110 juta. Setelah diberlakukan syariat Islam, perjudian berkurang antara 70 sampai 80 persen.(Eramuslim, 28/07/2005)<em></em></p>
<p>Harap dicatet tuh Bro en Sis pembaca setia gaulislam, bahwa dengan penerapan yang parsial aja, bisa mengurangi bahkan sangat boleh jadi menghilangkan maksiat sama sekali. Ini baru parsial lho alias lokalan gitu, apalagi kalo diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiyyah yang besar. Mendunia. Dan seharusnya memang bukan parsial. Insya Allah lebih oke lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Islam memberi rasa aman</strong></p>
<p>Sebagaimana semboyan polisi di kita: “Melindungi, Melayani”, maka seharusnya memang ditujukan untuk melindungi rakyat dan melayani rakyat yang memerlukan keadilan. Bukan melindungi dan melayani mereka yang punya usaha haram. Tul nggak sih?</p>
<p>Rasulullah saw. sebagai Rasul dan sekaligus kepala negara, memperhatikan betul rasa aman bagi warganya. Itu sebabnya, untuk menjaga keamanan masyarakat beliau membentuk semacam polisi kota (<em>Syurthah</em>). Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Anas yang mengatakan: <em>“Bahwa Qais bin Sa’ad, ketika itu sedang berada di dekat Nabi saw. dalam posisinya sebagai anggota kesatuan polisi”</em></p>
<p>Kesatuan polisi diberi tugas untuk menjaga sistem dan mengatur keamanan dalam negeri, serta melaksanakan semua kegiatan yang bersifat operasional. Kesatuan inilah yang setiap malam berkeliling untuk mengawasi pencuri, orang-orang jahat serta mereka yang dicurigai melakukan tindak kejahatan.</p>
<p>Oya, sekadar tahu aja bahwa Abdullah bin Mas’ud adalah komandan patroli pada masa Khalifah Abu Bakar. Bahkan Umar bin Khaththab melakukan patroli sendiri dan kadang-kadang minta ditemani oleh pembantunya, beliau juga kadang minta ditemani Abdurrahman bin ‘Auf. Dan, tentu saja ini adalah tugas negara, bukan tugas rakyat.(Lebih lengkap silakan baca Abdul Qadim Zallum, <em>Sistem Pemerintahan Islam</em>, Penerbit al-Izzah, 2002, hlm. 188-190)</p>
<p>Kesiagaan polisi dalam mengamankan juga berlaku bagi seluruh warga negara Daulah Islamiyah. Jadi, bukan cuma yang muslim aja, tapi nonmuslim juga dijaga. Tuh, gimana nggak hebatnya Islam. Karena manusia tuh butuh rasa aman. Inilah salah satu bentuk kepedulian Islam dalam menghargai manusia.</p>
<p>Bandingkan dengan sistem hukum pada negara-negara demokrasi dan penganut sistem hukum Barat yang tidak tegas terhadap para pengganggu keamanan masyarakat. Akibatnya, para residivis bisa menjadi raja preman di luar penjara. Bahkan, udah sangat masyhur bahwa mafia dan kelompok gangster justru memiliki hubungan “persahabatan” dengan polisi sehingga keberadaan perampok, penjahat, preman jalanan, dan berbagai mafia kejahatan tetap eksis di seluruh dunia. Oya, di negeri kita juga udah sering terjadi sehingga menjadi rahasia umum. Ada oknum hakim or oknum jaksa yang bisa jual-beli hukum. Membebaskan yang seharusnya dihukum, dan membui yang tak bersalah karena bayarannya kurang. Iya kan? Rasa-rasanya kamu udah pada tahu juga kasus-kasus korupsi kan? Pelaku bisa negosiasi dengan okunum hakim, oknum jaksa, or oknum polisi, yang penting: “Wani Piro?” Iya kan? Jleb! <strong>[Solihin | Twitter: @osolihin]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/mahalnya-rasa-aman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Momen Putih Itu Telah Berlalu</title>
		<link>http://www.gaulislam.com/momen-putih-itu-telah-berlalu</link>
		<comments>http://www.gaulislam.com/momen-putih-itu-telah-berlalu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Aug 2012 00:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leila Amra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun V/2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gaulislam.com/?p=4464</guid>
		<description><![CDATA[  gaulislam edisi 252/tahun ke-5 (2 Syawwal 1433 H/ 20 Agustus 2012) Nggak terasa ya, kita udah mengakhiri Ramadhan dan dilanjut merayakan Idul Fitri kemarin. Yups, ini juga berarti datangnya saat-saat istimewa yang paling kita nantikan selama Ramadhan. Ya, benar saja. Horee! Itu saat dimana kita udah bebas makan enak sepuasnya, saat dimana kita bakar-bakar petasan ...<a class="post-readmore" href="http://www.gaulislam.com/momen-putih-itu-telah-berlalu">read more</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg"><img title="logo-GI-3" src="http://osolihin.files.wordpress.com/2010/10/logo-gi-3.jpg?w=150&amp;h=36&amp;h=36" alt="" width="150" height="36" /></a>  gaulislam edisi 252/tahun ke-5 (2 Syawwal 1433 H/ 20 Agustus 2012)</p>
<p>Nggak terasa ya, kita udah mengakhiri Ramadhan dan dilanjut merayakan Idul Fitri kemarin. Yups, ini juga berarti datangnya saat-saat istimewa yang paling kita nantikan selama Ramadhan. Ya, benar saja. Horee! Itu saat dimana kita udah bebas makan enak sepuasnya, saat dimana kita bakar-bakar petasan dan kembang api, saat kita lomba gokil-gokilan pesan SMS tentang lebaran, saat dimana kita bisa nogkrong dengan lebih bebas bareng temen-temen, dan tentunya begadang bisa lebih nyaman! Hihihi…</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, pokoknya banyak banget kesenangan yang udah lama kita nantikan selama Ramadhan, yakni di lebaran kemarin. Gimana nggak? Setelah sebulan lamanya nahan perut yang terus saja menjerit tersiksa (‘tersiksa’ terdengar lebih dramastis, hehe) menahan hawa nafsu kita yang paling berat, yakni nafsu makan. Padahal di hari normal bisa menguras aset persediaan makan rumah hingga berkilo-kilo jumlahnya, bisa jadi orang paling merana se-kampung, tuh. Ketika Ramadhan mengharuskan kita mengekang hawa nafsu kita yang meluap-luap, sengsara pun segera menjadi teman terdekat yang nggak dijemput atau diundang kedatangannya. Tapi saat lebaran… Yes! Sengsara itu segera pergi tanpa diminta, dan doi pun nggak minta diantar. (Lho? Kok malah jadi kayak jelangkung: datang tak dijemput, pulang tak diantar?)</p>
<p>So, jadilah. Katanya nih, yang namanya anak muda tuh…(jiaah…) paling suka sama yang hepi-hepi. Penderitaan yang merupakan pelajaran penting saat menghadapi Ramadhan, seketika meluap dengan kesenangan-kesenangan yang kita rakit bareng temen-temen. Udah lupa deh, ama pelajaran penting saat Ramadhan. Jadi sebenarnya, kalau dipikir-pikir, penting nggak sih, semua tradisi yang udah disebutkan di paragraf pertama tadi? Masih bingung, ya? Okay, let’s check it out!<span id="more-4464"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ramadhan sebagai momen perbaikan</strong></p>
<p><em>Did you know my friends?</em> Kita tuh sebenarnya diberi Ramadhan, bukan untuk menyiksa kita, tapi pada hakikatnya, puasa Ramadhan diwajibkan atas kita, supaya kita menjadi manusia yang lebih baik, dalam hal takwanya tentu. Coba simak surat al-Baqarah ayat 183 ini (artinya): <em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.</em></p>
<p>Nah, kan udah jelas banget tujuan kita diwajibkan berpuasa. Allah Swt. telah mewajibkan kita berpuasa agar kita menjadi orang yang lebih baik setelah berpuasa, yakni menjadi orang yang bertakwa. Inilah nilai penting yang dapat diperoleh dari Ramadhan. Jika kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan amalan-amalan sunnah dengan hati ikhlas semata mengharap ridha dari Allah, maka insan yang terbentuk saat Idul Fitri menjelang adalah insan yang meningkat keimanan dan ketakwaannya kepada Allah, telah bersih dari dosa-dosanya yang pernah dia lakukan, hati dan catatan amalnya kembali suci, sehingga sampai diumpamakan seperti bayi yang baru aja dilahirkan.</p>
<p>Kalau hal-hal yang kita lakukan saat lebaran tidak mencerminkan perbaikan dalam diri kita setelah melewati sebulan ujian, pertanyaan besar dengan tanda tanya segede baliho pun terpampang menantang. Apakah ibadah Ramadhan kita sudah bisa menjadi momen perbaikan? Nah, sekarang coba kalian jawab sendiri, yah… (entar dikumpulin deh ke guru masing-masing. Lho hubungannya apa?)</p>
<p>Banyak hal menyenangkan di saat lebaran yang hal-hal itu sebenarnya perbuatan sia-sia, yang seringkali kita tidak menyadarinya. Coba deh, kalian lihat tradisi kita turun temurun saat malam-malam Ramadhan mulai mendekati Idul Fitri. Pasti kampung kalian berisik banget, kan? Jedar jedor sana sini, bikin orang jantungan semakin berkurang umurnya (hee… lagi lebay). Emang sih, kalau main petasan itu asyik banget. Apalagi, petasan yang disulut bukan cuma keluar suara ‘jedor’, tapi juga bisa menghasilkan warna-warni yang sangat indah ditatap mata. Belum lagi, kalau kita lagi kumpul rame-rame nih, biasanya bakal ada main perang petasan. Wuih!</p>
<p>Tapi, pren… coba deh, dipikirin lagi. Memang, petasan itu asyik buat yang main. Tapi efek sampingnya? Radiasinya? (idiiih… kaya nuklir aja, yah?) Orang-orang sekomplek pasti akan sangat terganggu dengerin suara-suara petasan kita yang mengagetkan sekaligus memekakkan kuping, yang tentunya menghancurkan konsentrasi orang lain. Mending, kalau orang yang keganggu itu pecah konsentrasinya saat dia ngelamun. Nah, kalau orang yang terpecah konsentrasinya itu sedang <em>mbenerin</em> listrik? Waduh, bisa kesetrum deh tuh orang! Gimana juga kalo orang yang dikagetin suara petasanmu tuh lagi sakit gigi, bisa-bisa kamu disumpahi agar 32 gigimu dicabutin semua ama dokter gigi sekali berobat. Bahkan yang lebih fatal lagi, bagaimana kalau orang yang terganggu itu sedang shalat? Jeng..jeng…jeng! Dosa menanti Anda!</p>
<p>Nyundut petasan itu baru salah satu dari tradisi di sekitar kita yang meresahkan. Sebenarnya masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang sebenarnya sih nggak perlu banget dilakuin saat sambut Idul Fitri. Tapi, yakin deh, kalian pasti udah pada dewasa semua, kan? Nah, pasti udah pada bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Saat Idul Fitri, apa aja sih yang harus dilakuin?</strong></p>
<p>Hehe.. ini emang udah lewat sehari dari Idul Fitri. Nulisnya sih sebelum Idul Fitri, tapi karena buletin kesayangan kamu ini terbitnya setiap Senin, jadinya ya kita sesuaikan jadwalnya. Meski demikian, nggak apa-apa deh tetap ditulis subjudul ini, semoga bisa dimanfaatkan di momen berikutnya tahun depan. Insya Allah.</p>
<p>Bro en Sis, pada bagian ini nih, yang tentunya masih banyak membingungkan para remaja, terutama yang sampai saat ini masih belum punya kesempatan untuk mempelajari Islam lebih dalam. Sebenarnya, dalam pandangan dan jalur ajaran Islam, apa saja sih yang kudu disiapin saat Idul Fitri menjelang? Okay, here we go!</p>
<p>Pertama, bangun awal. Hayo, siapa di antara kalian yang masih suka molor abis sahur? Nggak usah pada ngaku, yah. Kita dianjurkan untuk bangun pagi, agar kita bisa mempersiapkan banyak hal menjelang Idul Fitri. Bukankah dengan bangun lebih pagi, persiapan kita akan lebih baik?</p>
<p>Kedua, mandi dan dianjurkan berhias. Ya, dong, kalau nggak mandi, bau atuh! Masa’ pada hari dimana semua orang berusaha tampil seindah mungkin, kita malah tampil lecek ditambah aroma badan yang sangat mendukung? Hoeek… jorok banget, deh. Oh, iya. Berhias itu dianjurkan untuk kaum lelaki, sedangkan bagi kaum hawa, boleh juga berhias, asalkan tidak memakai parfum dan bermewah-mewahan.</p>
<p>Ketiga, makan sebelum shalat. Ini nih, yang kadang kita keliru mengamalkannya. Beberapa dari kita seringkali menahan makan sebelum shalat Idul Fitri, supaya nanti bisa ngicipi semua makanan yang ada. Padahal, Rasulullah mengajarkan agar kita makan dahulu sebelum berangkat shalat, meski cuma beberapa biji kurma. Hikmah makan sebelum shalat Ied adalah agar tidak ada yang mengira bahwa harus terus berpuasa sampai shalat Ied dimulai.</p>
<p>Keempat, mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari shalat Ied. Rasulullah tuh ya, sampai detail banget menjelaskan amal-amalan sunnah yang bisa kita kerjakan, sampai-sampai jalan yang harus ditempuh pun diberitahu oleh beliau. Kenapa, yah, kita disuruh mengambil jalur yang berbeda? Hikmahnya, agar kita bisa mengucap salam kepada banyak orang yang berbeda, dan menunjukkan syi’ar Islam.</p>
<p>Sebenarnya, masih banyak sunnah-sunnah lain yang diajarkan Nabi kepada kita semua. Seperti bertakbir saat menuju tempat shalat, mengucapkan selamat hari raya, sampai hal-hal yang perlu dihindari ketika Idul Fitri. Tapi tenang aja, sobat semua bisa menemukan semua itu dengan mudah di buku-buku dan internet. Di tulisan ini, seperlunya aja ya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pandangan salah remaja akan Idul Fitri</strong></p>
<p>Teman-teman, ternyata masih banyak, loh, temen-temen kita yang salah dalam memaknai Idul Fitri. Mereka belum tahu makna dari Idul Fitri, dan kadang yang memperparah keadaan ini adalah dengan banyaknya remaja yang menganggap perspektirnya yang salah sebagai hal yang benar.</p>
<p>Sebagai contohnya, nih. Ada seorang pemuda, sebut aja Si R. Dia selama ini menganggap bahwa Idul Fitri adalah hiburan sejenak dari Allah setelah Dia menyiksa manusia dengan sebulan penuh pengekangan. Aduh, anggapan yang amburadul banget, yah? Kagak ada dalilnya!</p>
<p>Friends, sebagai seorang muslim, kita nggak boleh berprasangka jelek sama Allah Swt dan Nabi kita, nggak boleh beranggapan jelek terhadap agama kita. Islam adalah agama yang telah mengatur segala sesuatu dengan sempurna, sehingga setiap yang diwajibkan dan disunnahkannya memiliki nilai positif. Allah Swt. ingin menguji kita saat bulan Ramadhan, dengan mewajibkan puasa sebulan penuh agar kita menjadi orang bertakwa. Itu hikmahnya.</p>
<p>Ada juga Si A, yang menganggap ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan rutinitas yang menjanjikan dan berakhir menyenangkan. Sebab, sesudah Ramadhan ada hari raya Idul Fitri.</p>
<p>Ihihihihihi…. Lucu ya, pendapat ini? Ramadhan bukan ‘rutinitas yang menjanjikan’, <em>mai plen!</em> Kalau kita masih menganggap Ramadhan itu sekadar ‘rutinitas yang  menjanjikan’, yang kita dapatkan dari berpuasa hanyalah rasa lapar dan haus. Gimana nggak, puasa kali ini udah nggak diniatkan untuk mendapat ridha dan pahala dari Allah, melainkan hanya rutinitas yang harus dijalani dengan sabar. Aduh, rugi buangett, ya?</p>
<p>Ssst… coba masih ingatkahkamu, malam Idul Fitri kemarin, di luar sana, takbir bersahut-sahutan dikumandangkan. Bau-bau roti kering tercium nyaman di hidung. Anak-anak kecil berlarian senang. Ramadhan telah pergi meninggalkan kita, dan Idul Fitri datang sebagai momen putih yang menghilangkan dosa-dosa kita semua. Insya Allah. Selamat tinggal Ramadhan, sampai jumpa tahun depan ya…</p>
<p><em>So</em>, momen putih (baca: Idul Fitri) udah berlalu sehari kemarin. Tetapi sisanya masih merembes di hati dan pikiran kita. Di tanggal 2 Syawwal 1433 H ini, kita sudah merasakan momen putih itu dan berlalu. Kita udah saling berkirim pesan, menyapa teman di situs jejaring sosial, saling berkunjung di antara kerabat, bercerita banyak hal tentang diri kita. Semoga silaturahmi di keluarga tetap terjalin utuh, pun demikian dengan ukhuwah di antara kaum muslimin tetap terikat-kait dengan kuat agar kebersamaan di antara kita menggetarkan nyali musuh-musuh Islam. Semoga kita berjumpa lagi dengan Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan, dalam suasana yang berbeda. Yakni, susana saat syariat Islam yang kita perjuangkan selama ini sudah tegak di seluruh dunia dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Insya Allah. <strong>[Hawari | Twitter: @hawari88]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gaulislam.com/momen-putih-itu-telah-berlalu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
