Kesabaran Mu’awiyah bin Abu Sufyan
Salah satu kebun ‘Abdullah bin Zubair berdampingan dengan kebun milik Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Baik ‘Abdullah maupun Mu’awiyah sama-sama menempatak seorang budak untuk menjaga kebunnya. Suatu hari budak Mu’awiyah menyelinap ke kebun ‘Abdullah dan menyerobot sebagian tanah milik ‘Abdullah. Mengetahui kejadian itu ‘Abdullah bin Zubair menulis surat dan mengirimnya kepada Mu’awiyah:
“Amma ba’du…
Wahai Mu’awiyah, sesungguhnya budakmu telah menyerobot sebagain tanah milikku. Perintahkan mereka untuk tidak melakukan perbuatan itu. Kalau tidak maka di antara kamu dan aku ada urusan yang harus kita selesaikan!”
Singkat cerita, surat itu sampai ke tangan Mu’awiyah dan dibaca. Mu’awiyah lantas menyerahkan surat itu kepada putranya, Yazid. Beberapa saat setelah Yazid membacanya, Mu’awiyah bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Wahay Yazid?”
“Menurut pendapatku, sebaiknya ayah mengirimkan padanya pasukan untuk memenggal kepalanya. Dengan demikian ayah akan bebas dari ancamannya,” jawab Yazid geram.
“Aku punya pendapat yang lebih baik dari pendapatmu”
“Apakah itu ayah?”
“Ambilkan pena dan kertas!”
Kemudian Mu’awiyah menulis sepucuk surat yang berisi:
“Aku telah menerima surat dari saudara. Sungguh aku merasa prihatin dengan kejadian ini. Dunia dan segala isinya tidak berarti apa-apa dibanding dengan keridhaanmu. Sungguh aku telah wajibkan atas diriku sebuah keputusan yang aku persaksikan kepada Allah dan kaum muslimin, bahwa kebun milikku dan segala isinya, serta para budak yang menjaganya, menjadi milikmu. Maka gabungkanlah kebunku dengan kebunmu, budak-budakku dengan budak-budakmu. Wassalam.”
Setelah menerima balasan dari Mu’awiyah, ‘Abdullah bin Zubair kembali menulis
mengirim balasan:
“Telah kuterima surat Amirul Mukminin. Semoga Allah tidak membinasakanku dengan kekuasaannya. Dan semoga tidak membinasakannya pula dengan keputusannya menghalalkan tempat (kebun) miliknya. Wassalam.”
Seperti surat yang diterimanya dulu, saat meneri surat kedua ini pun, Mu’awiyah menyerahkan pada Yazid. Setelah Yazid membacanya, nampak wajahnya merona penuh gembira.
“Anakku,” ujar Mu’awiyah, “Bila kamu dicoba dengan penyakit semacam ini, obatilah dengan obat ini. Karena kita adalah bangsa yang berprinsip bahwa kesabaran tidak akan mendatangkan apa pun, kecuali kebaikan.” [source: Kebun Hikmah, Syamsuddin Muhammad al-Maqqarrie]
—-
“Mereka yang menguasai bahasa Arab adalah jin yang berupa manusia, mereka melihat apa yang tidak dilihat orang lain.” [Imam Syafi’i]

on August 11th, 2007 at 12:58
Dalam sejarah Islam, Yazidlah yang memenggal kepala cucu nabi yang tercinta Imam Husein as bersama keluarga dan sahabatnya dalam sebuah pembantaian yang terjadi di Karbala’. Inikah nilai kebenaran yang dilakukan pada masa pemerintahannya?
Adapun Muawiyah, ikut andil di dalam merekomendasi pemerintahan Yazid anaknya. Dan Muawiyah pun dalam pemerintahannya selama 40 tahun selalu memcaci maki Ahlul Bait as dalam mimbar-mimbar jum’atnya, pembayaran upah terhadap pemalsuan terhadap ribuan hadist, melakukan peperangan terhadap Imam Ali…dll. Inikah yang disebut sahabat sabar?
on August 11th, 2007 at 13:04
Assalamualaikum kembali,
(maaf, komentar sebelumnya tidak diawali dengan ucapan salam)
Tengoklah kembali sejarah Ahlul Bait, dan pelajarilah keteladan dari mereka as.
Wassalam.
on August 16th, 2007 at 00:03
Assalamualaikum w.w
Saya heran sampai sekarang ini umat Islam kok selalu terkotak-kotak. Ada Ahlul Bait ada Salafi, Islam Liberal dsb. Menurut yang pernah dengar, siapapun dan apapun golongan yang menghujat Rasulullah dan para sahabatnya jangan diikuti.
on August 20th, 2007 at 22:02
@Badris
Memang benar, tiada seorang pun atau golongan apapun, diharamkan untuk menghujat Rasulullah dan sahabatnya. Disini, terkadang kita tidak menyalahfahami definisi tentang sahabat. Sahabat yang sebenarnya adalah seseorang yang mengalami hidup dengan Nabi, mendengarkan perkataan beliau dan mengamalkannya. Sedangkan Yazid tidak hidup semasa Nabi Saaw apalagi mengamalkan ajaran Nabi Saaw. Juga seperti Abu Jahal yang berkesempatan beberapa kali ingin membunuh Nabi. Apakah berhak disebut sebagai sahabat? mungkin dikatakan sebagai sahabat yang menyimpang dari ajaran suci Nabi Saaw.
Wassalam.
on August 20th, 2007 at 22:08
Maaf ralat: tidak menyalahfahami…………….menyalahfahami. Terima kasih.
on August 31st, 2007 at 23:06
Muawiyah itu sabar untuk mengambil kekuasaan dari keturunan rasulullah..
Jelas2 bapaknya Abu Sufyan,,apa yang mesti dipercaya dari keturunannya???!!!!
Muawiyah tuh licin kayak belut dan sabar seperti cicak dalam menunggu mangsanya…
on October 9th, 2007 at 08:34
Salah satu penyebab stagnasinya umat Islam yaitu tidak dapat menghilangkan romantisme lama yaitu saling menyalahkan disatu fihak dan dan membenarkan dilain fihak . bagusnya ya kita jalani saja perintah Allah SWT dan Rasul SAW mengenai siapa yang salah dan benar nanti mahkamah Allah yang menentukan nanti . Cukuplah sudah kita ini hancur hancuran selama ribuan tahun karena perbedaan pendapat. Jadikan perbedaan itu sebagai rahmat bak bunga bunga ditaman yang berlainan warna tetapi memberikan kesejukan bagi yang melihatnya, mawar melati semuanya indah!.
Wassalm
Wassalam
on October 24th, 2007 at 23:25
muawwiyah, yazid, serta gerombolannya memang bukanlah tipe penguasa yang baik.
tapi sejahat-jahatnya mu’awwiyah, ia masih lebih baik ketimbang para penguasa kaum muslimin sekarang. kebaikannya: ia masih menegakkan hukum-hukum islam dalam bernegara, serta tidak takut dengan ancaman orang-orang kafir.
bandingkan dengan penguasa kaum muslimin saat ini, mulai dari maroko sampai indonesia. mereka semua tidak lagi menerapkan aturan islam dalam kehidupan, juga takut pada ancaman orang-orang kafir.
perpecahan umat islam itu, dari dulu, disebabkan masalah kekuasaan (politik). bukan masalah aqidah. aqidah muawwiyah dan sayyidina ali sama-sama islam. muawwiyah memang merebut kekuasaan dari tangan sayyidina ali dengan cara membangkang.
sebagai pemimpin kaum muslimin pada masanya, sayyidina ali memerangi muawwiyah karena pembangkangannya, bukan karena aqidahnya yang menyimpang.
bukankan nabi kita juga sudah mengingatkan bahwa nanti akan ada permusuhan di antara kaum muslimin? perhatikan frase “kaum muslimin”. itu tandanya pihak yang berselisih (pihak sayyidina ali dan pihak muawwiyah) itu masih diaku oleh nabi sebagai kaum muslimin.
jadi, sudahlah. jangan dibesar-besarkan permusuhan antara muawwiyah dan sayyidina ali. itu adalah catatan kelam sejarah islam. ke depannya kita harapkan kejadian seperti itu tidak terulang kembali.
salam,
bedul a.k.a abu yazid (yang juga mencintai ahlul bait)
on November 13th, 2007 at 13:28
terimakasih atas ceritanya semoga ALLAH membukakan hati bagi para muslimin dan muslimat yang ALLAH kehendaki..
on December 19th, 2007 at 15:57
Entahlah…
Nabi SAW sendiri tidak mengutuk para sahabat, bahkan para sahabat pada zaman terjadinya fitnahpun tidak saling kutuk-mengutuk dan laknat-melaknati antara sesama mereka. Di kalangan ahl hadith dan para ‘ulamak mu’tabarpun memperakui keadilan atau kebaikan tokoh-tokoh seperti Muawiyah, Yazid bahkan Hajjaj bin Yusuf. Nampaknya yang melampau-lampau dalam hal ini adalah orang-orang kemudian yang dikatakan pejuang kebenaran.
Wallahu ak’lam.
on September 18th, 2008 at 21:18
mankuntu maulah fahadza ‘aliyun maulah.Ya Alloh hancurkanlah musuh-musuhmu yang selalu memerangi kebenaran. bila ada niat baik sadar dan instrospeki diri siapa Ahl Bait siapa Sahabat. Muawiyah adalah musuh kebenaran, pemancung keadilan bila Anda tak ikhlash denganya maka mohonkanlah kepada Alloh kelak agar Anda dibangkitkan bersamanya. Amiin.
on February 24th, 2009 at 11:29
Se[engetahuan saya, Sayyidina Husin r.a dan keluarganya telah dikhianati oleh pengikut syiah dari Kufah. Merekalah yang menyerahkan Sayyidina Husin dan keluarganya kepada pasukan Yazid. Jadi, Syiah itu sesat menyesatkan. Pemutar balikkan fakta.
on February 24th, 2009 at 11:31
laknat Allah terhada orang yang mengutuk dan mencela para sahabat (abu bakar, umra, utsman, ali, muawiyah, dan lainnya r.a)
on April 15th, 2009 at 10:36
Assalamualaikum…
Rasulullah s.a.w bersabda ” Tentara dari umatku yang mula-mula berperang dengan mengarungi lautan sudah pasti mendapat syurga.” (Sahih Bukhari dan Muslim)
Peristiwa perang pertama mengarungi lautan terjadi pada tahun 28 Hijrah yaitu semasa pemerintahan Utsman di bawah pimpinan Mu’awiyah.
Saran jangan hanya menjadikan sejarah sebagai aqidah dasar yg kita tdk mengetahui akurasi kebenaran dan tujuannya ok.
Tapi perkataan Allah melalui Rosulullah sudah cukup mewakili jawaban tentang muawiyah..
on October 21st, 2009 at 11:02
Assalamualaykum,
Kalau ingin menghayati peristiwa2 lama dari sejarah islam ada baiknya anda renungkan peristiwa ORLA kemudian ORBA dan bagaimana proses de-soekarnoisasi bahkan nama gelora bungkarno pun dirubah jadi senayan, soekarnoime yang asalnya ada di tiap koran dinegeri ini, tiba2 menghilang, kenapa? karena keluarga bung karno yang menyandang nama soekarno berbahaya buat penguasa, dan terbukti Megawati Soekarnoputri pada awal reformasi sanggup mengumpulkan banyak suara ., maka itu wajar kalau penguasa non alhlulbayt menyingkirkan ahlulbayt apabila ingin melanggengkan kekuasaannya, thats politic my friend !
Semoga bermanfaat