“Kritik Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab”
Di tengah malasnya tradisi ilmiah, buku terbitan Pesantren Sidogiri tentang “ukhuwah” Sunni-Syiah patut diacungi jempol. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-229
Oleh: Adian Husaini
Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang: “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)” Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.
Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya. Cetakan pertamanya keluar pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007. Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk para penulis dari Pesantren tersebut.
Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).
Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan: “Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”
Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab (selanjutnya Quraish Shihab disingkat “QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat “PPS”). Kutipan dan pendapat QS dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.
1. Tentang Abdullah bin Saba‘.
QS: “Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).
PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).
2. Tentang hadits Nabi saw dan Abu Hurairah r.a.:
QS: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).
QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).
PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi saw tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ?Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”
Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan, “Abu Hurairah r.a. adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).
Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan: “Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).
“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah). Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ?ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).
Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja. “Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).
Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh QS: “Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).
PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafii dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).
3. Tentang pengkafiran Ahlusunnah:
QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).
PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah. Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka. Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?” Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).
Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersama Ahlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).
Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana “Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.
Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ?ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hokum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).
Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260 tahun. Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.
Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.
PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: “Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlusunnah dari serbuan berbagai aliran sesat. Di website www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik “Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme, sekularisme, dekonstruksi syariah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri.”
Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu juga dari berbagai pesantren lainnya. [Depok, 13 Rabiulawwal 1429 H/21 Maret 2008/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan adalah hasil kerjama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

on July 19th, 2008 at 12:48
saya seorang sunni tapi percaya 100% apa yg diungkap oleh dr. quraish shohab, alasan saya simple aja, kalo syiah itu menyimpang, kenapa justru syiah yang paling terdepan membela islam? kenapa syiah mampu menjawab hegemoni barat sekaligus membabatnya?kenapa yang dibilang ahlusunnah waljamaah malah carut-marut ( lihat negara-negara sunni arab ) mereka lebih suka jadi budak barat, lebih condong barat, tidak ada dignity, terus apa ini yang dibanggakan dari sunni? saya pikir jujur saja kita harus perbaiki ukhuwah dengan syiah karena saat ini justru syiah yang terlihat paling dekat dengan ajaran2 islam, dan alangkah indahnya jika kita bisa terlepas dari hegemoni ulama2 wahabi yang notabene mayoritas dan emang getol disokong saudi arabia melalui kucuran petrodollar, beasiswa, atau program2 lainnya
on July 21st, 2008 at 16:01
Assalamu alaikum Wr Wb
Menurut pendapat saya Prof.Dr Quraish Shihab bukanlah seorang biasa tetapi dia adalah seorang ilmuwan Islam yang terbesar di Indonesia. Sudah banyak buku yang dihasilkan. Apa yang disampaikan bukanlah tanpa dasar. Suudzon adalah suatu perbuatan yang ndak baik. Bagi saya kenapa persoalan yang lama selalu diperbesar. Kenapa tidak ukhuwah Islamiyah dan akhlaqur karimah yang dikedepanklan. Saya kira perbedaan pendapat itu sah-sah saja.Sesat menyesatkan bukanlah solusi.Apalagi saling mengkafirkan . Berdakwalah dengan cara-cara yang baik dan elegan seperti pak Quraish di TV..
Dalam menyampaikan dakwah juga harus dengan penuh hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (Surat An Nahl (16) ayat 125). Tidak patut bila dakwah dengan kekerasan, ancaman dan tanpa memberikan contoh atau pelajaran dengan baik. Demikian pula kalau kita berdiskusi, kita diminta untuk berdebat dengan cara yang paling baik. Jangan buru-buru mengatakan ?mengujat agama? atau ?menistakan agama? atau disertai ancaman. Apakah ini perdebatan orang Islam. ? Apakah ini sesuai dengan Surat An Nahl ayat 125 diatas ? Kalau masih tetap berbeda pendapat atau tetap berselisih serahkanlah kepada Allah sebagaimana Surat Asy Syuura (42) ayat 10.
Wassalam dari mr.dayson (http://hidup-sesudah-mati.blogspot.com)
on August 16th, 2008 at 09:04
salam
semoga kita selalu persaudarakan dalam kebenaran,
menilai sesuatu atau seseorang harus memenuhi syarat-syarat tertentu… jangan baru mengetahui sedikit ilmu seakan akan sudah mengetahui kebenaran sesungguhnya…(air dalam mangkuk sudah di kira lautan luas)
on September 1st, 2008 at 08:55
saya setuju dengan jo. lebih baik belajar lebih banyak terlebih dahulu karena kitab-kitab di kalangan sunni lebih banyak yang mungkin belum baca sehingga menuduh yang tidak-tidak. dan jangan lupa seorang hakim yang bijaksana harus mendengar dari semua pihak jangan sepihak karena anda akan kehilangan kebenaran dan keadilan
on September 6th, 2008 at 21:06
islam diturunkan biar jadi rahmat. perbedaan adalah rahmat. kalau seorang muslim salah menyikapi rahmat, patut dipertanyakan kembali keislamannya. buat apa terus sesat meyesatkan, bukankah lebih baik melakukan hal lain yang lebih produktif?. shalom!
on September 7th, 2008 at 14:05
Jawab dengan ilmiyah. Buku jawaban atas buku QS itu dijawab dengan ilmiyah tapi antum komentari dengan perkataan yang tanpa ilmu.
Ana sendiri dhoif, tapi kalau melihat komen yang ada sepertinya baru asal bicara. Mari sama-sama kita pelajari. Afwaniy.
on September 7th, 2008 at 14:09
Sedikit tambahan.
Islam akan terbagi menjadi 73 golongan. Hanya satu yang selamat. Maka tanpa bermaksud mengklaim yang satu golongan, ana cuma ingin ingatkan bahwa tidak mungkin tidak ada perselisihan karena memang sudah dinubuwahkan oleh Rasulullah SAW, dan tujuan kita adalah mengajak kepada kebenaran bersama-sama, bukan mengajak kepada kebersamaan dalam kesalahan (atau membiarkan orang lain salah).
Wasalaamu’alaykum wr.wb.
on September 10th, 2008 at 08:45
Assalamu ‘alaikum
Yang beda biarlah berbeda, dari dulu kita selalu repot dan disibukkan dengan perdedaan yang tak pernah ada ujungnya ,syiah maupun sunni juga belum tentu benar , saya salut dengan anak muda dar PPS tapi dari penuturun anda diatas semangat anda memang tinggi tapi darah anda masih panas…..jangan selalu memvonis …semua bisa berubah ….kunci surga ada ditangan Allah SWT …lebih baik kita berlomba-lomba dalam beramal sholih ,mengasihi sesama membangun bangsa ini ….dan mari sekali lagi banyak Introspeksi ….sadarilah bangsa ini dihuni oleh mayoritas muslim tapi bangsa ini tak henti-hentinya dilanda kemurkaan Allah SWT ..kenapa? Barangkali apa yang kita jalankan bisa jadi belum tentu benar……
on September 20th, 2008 at 23:45
salam bergabung….
on September 20th, 2008 at 23:48
semakin holistik dalam mensikapi sesuatu maka akan terasa kearifan itu menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya dan tidak semua orang bisa memilikinya … kecuali dgn kehanifan ……
on September 21st, 2008 at 21:10
Mohon menyikapi suatu perbedaan dengan bijak. Bukan maksud saya berpihak kepada salah satu diantaranya, bukankah akan lebih indah kalau menyikapi perbedaan dengan argumen yang terstruktur, dan lebih mengedepankan ukuwah.
Terus terang saya sangat prihatin dengan kelompok2 yang mengatasnamakan islam belakangan ini, justru memberi cerminan yang kurang baik kepada publik.
Khusus http://www.hidayatullah.com, tolong lebih mengedepankan ukuwah, bukan sebagai mediasi pemanas antar umat / bahkan sesama umat.
Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dari penyampaian saya. Paling tidak hal ini adalah pandangan jujur saya sebagai orang awam.
on October 4th, 2008 at 04:00
setahu saya bidang ini bukan ilmu eksak jadi tentu saja pandangan orang berbeda.
on October 13th, 2008 at 05:42
Rasulullah s.a.w. adalah manusia paripurna, yang tentu manusia didikan beliau s.a.w. (baca: para shahabat r.a.) adalah manusia-manusia terbaik yang pernah lahir di muka bumi ini. Tentu saja kalau ada pihak-pihak yang mencoba merendahkan para shahabat r.a., tentu saja itu tidak adil dan tidak ilmiah, dan secara tidak langsung telah “menuduh” Rasulullah s.a.w. telah gagal mendidik kader-kader Beliau. Mari kita berfikir jernih dan obyektif, bahwa kesalahan berfikir dan cara pandang bisa menghinggapi siapa saja tanpa melihat orang itu ilmuwan/ulama’ atau bukan. Yang terjaga dari kesalahan hanya Rasulullah s.a.w. Waallahu’a'lam.
on December 31st, 2008 at 00:42
perbedaan emang sbuah rahmat tp qta hrs pahm bhw itu snympang tdk brtentangan dg aturan2 yg udh dspakati mayoritas ulama’. Nabi juga pernah brsabda bahwa umat ini kan trpcah jd 72 sekte namun hanya satu yang selamat. Bknkh ini jg prbedaan tp knp hanya stu yg slamat?? Apkh Nabi tdk mmprblhkn adanya prbedaan??? Apkh sabda ini tdk brtntangan dg dg: PRBEDAAN DIANTARA UMMATKU ADLH RAHMAT?????? blajar ya yang rajinnn…….!!!!
on January 6th, 2009 at 12:55
Mari belajar yang rajin,…supaya tidak mengamalkan hadits palsu/dhoif PERBEDAAN ADALAH RAHMAT !!!!! Coba saja yang sepele,…di sini (INDONESIA) silahkan nyetir di jalan sebelah kanan….apakah anda akan mendapatkan rahmat atau CELAKA?. Apalagi dalam dien, kebenaran itu hanya satu,….yang ada setelah kebenaran adalah KESESATAN.
on January 14th, 2009 at 13:16
@pontong
itu bukan perbeadaan…
itu pertentangan…
kalo di indonesia.. kiri adalah benar..
kanan adalah salah…
tapi itu ditempat lain juga belum tentu benar atau salah…
ngasih contoh yang realistis dung…
jangan selucu itu
on February 5th, 2009 at 14:36
Coba antum baca buku “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah” karangan Sayyid Husain Al-Musawi, penerbit Pustaka Al-Kautsar. Penulisnya adalah mantan ulama Syiah yang keluar karena melihat berbagai kebobrokan dan penipuan (maklum mereka memang melaksanakan taqiyya sebagai syariat).
on March 27th, 2009 at 21:04
terima kasih utk proq QS yg telah memberikan pandangan yg positif dan membangun persaudaraan sesama muslim….smg allah merahmati beliau..amien
on May 13th, 2009 at 13:35
Dlm syiah ada ada yaang namanya taqqiyah,yang kurang lebih mereka dibolehkan mengikuti aliran lain selama tidak ada kemampuan untuk melawan atau dengan kata lain berbaur sambil menghimpun kekuatan.Saya tinggal di kuwait dari th 2000 sampai sekarang,dimana kuwait banyak sekali komunitas syiah,migran dari iran dan iraq bahkan sekarang penduduk asli pun meningkat terus jumlahnya.Disini kami bisa melihat langsung bagaimana perbedaan cara beribadah dan dasar pemikiran suni dan syiah.Memang di indonesia terlihat kalau membicarakan syiah seolah2 kita membesarkan2 perbedaan karena di indonesia komunitas syiah sedikit dan tersembunyi dan mereka blm menampakan jati diri mrk yg sebenarnya. Hati2 jg dg tampak luar mereka yg seolah2 tampil paling depan membela islam dan anti barat. Pelajari lagi tentang syiah secara mendalam sebelum membelanya. Karena belum tentu yang tampak membanggakan adalah yang baik. Wallahualam
on July 23rd, 2009 at 08:57
Ass.Jadi bingung lihatnya, yang pasti kebenaran itu hanya satu, diantara dua pihak yg berdebat tidak munkin dua-duanya benar yang ada kemunkinan dua-duanya salah, jika ada 73 gol, dlm islam hanya satu yg benar artinya jika “mengikuti kebanyakan manusia niscaya mereka akan menyesatakan mu, Anak nabi Nuh saja bisa keliru apalagi sahabat yang tidak ada jaminan dlm Al-Qur’an secara literlak nama-nama mereka meskipun mereka bertemu langsung dengan Rasul, apalagi kalau hanya PPS bisa aja keliru.jadi ndak usah pusing-pusing mikirin tulisan 2 pihak tsb, udah ada ALLAH SWT yang mengatur, dirasa benar ikuti kalau tidak didoakan saja supaya semua dapat petunjuk, Mohon Ampun -maaf kalau dianggap coment ini menjadi tidak enak dihati, Wassalam wallahu A’lam bishshawab
on August 6th, 2009 at 19:56
itulah knp islam ketinggalan..selalu yang diributin masalah golongan,sekarang diterima atau tidak itu urusan allah, sekarang manusia paling awam juga bisa melihat toh yang lebih berani orang2 syiah dalam melawan kaum kafir,kmana kaum suni?sekarang syiah sudah jadi super power di timteng..,dan membuat gentar musuh islam coba deh pada koreksi lagi ga usah pd klaim sok pada paling bener..
on August 6th, 2009 at 22:15
Laysa kullu khilaf ja’a mu’tabar illa khilaf lahu hazhzhun min an-nazhar!
on August 23rd, 2009 at 00:33
Buku di balas Buku,
Kitab di balas Kitab.
Luar biasa, bisa menambah khazanah keilmuan kita.
yang penting jangan pakai otot..
on September 17th, 2009 at 09:13
Saya sudah lama membaca buku dari jawa tentang Ahlusunnah Wal jamaah.dalam tulisan tersebut telah di vonis bahwa yang masuk sorga adalah ahlu sunnah wal jama’ah sedangkan syiah dan lain-lain apalagi keristen dan yahudi pasti neraka.
Setelah mengulang-ulang membaca Al-Qur’an dan melihat perkembangan dunia Islam saat ini, hati saya sangat setuju dengan tulisan Al Mukarram Prof Dr HM Quraish Shihab tentang “Sunnah dan Syiah bergandeng tangan.
mudah-mudahan Allah memberi beliau umur panjang agar tetap menjadi penyejuk hati yang gundah gulana.apalagi kalau hanya dari yang mengaku ulama muda dari Sidogiri yang hanya meng arogansikan asal jawanya.biasanya hanya cari sensasi.tapi sudah basi caranya mas.aku tidak merasa berdosa untuk meledek orang yang menentang Ulama sekaliber Al Mukarram Prof Dr HM Quraish Shihab.
on September 21st, 2009 at 08:18
Saya kira kita harus kembali kepada sabda Rosululloh saw. “Lihatlah perkataanya jangan lihat orangmya”. Jadi jangan karena Prof. DR. Quraish Shihab sudah terkenal lalu kita membela beliau, walaupun masih santri bukan tidak mungkin mereka lebih mampu dari Prof. DR. Quraish Shihab, apalagi sebelum buku tsb diterbitkan sudah dibaca dan ditela’ah terlebih dahulu oleh para pakar. Jadi marilah kita sama-sama bersyukur karena walaupun masih berusia muda mereka dapat mencurahkan perbedaan dengan karya ilmiah, jangan kita halangi kreatifitas mereka. Mari kita dukung generasi muda Islam sebagai penerus agama.
on September 28th, 2009 at 09:35
Betul sekali apa yg dikatakan Abdul Basid Said, lihatlah dari perkataannya jangan karena dia sudah terkenal sebagai ulama, karena tgl 20 sep 2009 membuat saya tersentak, di metro tv mengundang keluarga Shihab,(alwi & Umar shihab-MUI) kebetulan ada Ibu2 bertanya kepada m.Quraish shihab arti Jilbab bagi keluarga dan bagaimana beliau mengajarkan kepada keluarga, kr yg ditampilkan di tv tersebut anak Quraish shihab yg membuat tafsir itu tdk memakai Jilbab bahkan Istrinya jilbabnya menampakkan anting, Quraish Shihab menjawab, Jilbab itu artinya memakai pakaian yg pantas, bahkan dia mencontohkan Istri Buya Hamka juga tdk memakai Jilbab, dan lagi pula di Indonesia jilbab baru diaktualisasikan baru 20 tahun belakangan ini.
http://metrotvnews.com/index.php/metromain/news
programs/2009/09/20/3401/206/Lebaran-Bersama-
Keluarga-Shihab
on January 23rd, 2010 at 14:48
Ass. dua thn ga hbs2 coment tntg QS, Saya melihat bnyk buku yg di tulis oloh QS dan bg ana nampak ke Ahli sunnahan beliau. Jgn karna satu buku ini lalu tuduhan syiah mengarah ke QS.Kita lihat bnyk uluma2 sunnah yg menulis buku tntg aliran lain tapi bukan berarti mereka ikut aliran tsbt. Imam Arrozy menulis buku tentang FILOSOF, AlGhozali menulis tntg FILSAFAT. Yg ana lihat QS lg berbicara dengan org2 SYIAH kita org2 sunnah jgn bnyak ikut coment karna ga lg d ajak bicara oleh QS. Beliau punya cara tersendiri unk menarik kembali SYIAH k SUNNAH Kita lihat apa yg akan QS tulis selanjutnya. Mudah2an teori QS sebagai seorang Prof bisa mengajak mereka kembali. Amin….
on March 7th, 2010 at 19:59
kepada orang-orang yang mengaku muslim
jangan kita memvonis seseorang tanpa dasar(qur’an, hadits) yang nyata kebenarannnya.
bagaimana jadinya seandainya Rosululloh melihat perdebatan diantara ummatnya…
cobalah kita teliti baik-baik..
ROSULULLOH SERING MENGATAKAN BAHWA ORANG YANG MASUK SURGA ADALAH YANG PALING BAIK AKHLAKNYA BUKAN YANG PALING BENAR GOLONGANNYA..
andaikata ada orang yang mengaku sunni tapi korupsi dalam bekerja dan ada orang syiah yang suka menyantuni anak yatim, kira-kira sipakah yang lebih dulu masuk surga..?
begitu juga andaikata ada seorang syiah yang memusuhi tetangganya dan ada orang sunni yang senang bersedekah kira-kira siapakah yang lebih disukai ALLAH dan rosulNya.
tidak ingatkah kita tentang cerita seorang perempuan yang berzina yang kemudian masuk surga???
mengapa kita merasa paling baik agamanya tapi tidak sadar seberapa baikkkah akhlak kita..
”Innama buitstu liutammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya saya diutus, tak lain hanya untuk menyempurnakan akhlak)
camkan itu….
on March 8th, 2010 at 13:18
apa harus jadi sunni atau syiah? ato apapun?
apa g bisa cuma ISLAM aja?
on April 11th, 2010 at 15:04
sesama manusia kt harus saling menghormati tapi kalau urusan akidah jangan sampai kita bisa kompromi biarkan mereka menjalankan akidah mereka kita dengan akidah kita dan kita ga usah menilai ini yang paling benar yg pasti hanya satu yang benar siapakah itu WALLAHU A’LAM kita serahkan pda Tuhan untuk menilainya
on May 11th, 2010 at 16:54
sy sngat dloif… awam…. palagi soal aqidah….
sy tdk tahu mksud tujuan utama QS dlm bku itu….
sy brharap org skaliber QS ttap Sunny… brjuang untuk Ahlussunnah waljama’ah…..
PPS sngt perlu mmbrikan pnerangan, pnjelasan dg cr yg lbih gmpang utk dicrna oleh org awam sprti sy….
krna kl org skaliber sy mmbc krya QS psti lgsung ditlan mntah2….
nah stlah ada pncrahan dr PPS… br fham ……
so… sling mlngkapi dlm dakwah….
Bravo QS…… Bravo PPS…..
smga niatnya tulus dan ikhlas demi brdakwah Lii’laai kalimatillah…
amiiinnn….
on July 14th, 2010 at 14:54
saya hanya orang awam…ilmu agama saya sangat dangkal…tapi saya cinta dengan Pak Quraisy Shihab…jika beliau menerangkan suatu masalah hati saya selalu bergetar, kadang meneteskan airmata…bukan hanya sosoknya yang santun, tapi juga cara menjelaskannya yg lemah lembut tapi tegas dan mengena…saya cinta semua ulama2 islam darimanapun mashabnya, yg penting bagi saya bisa menggetarkan & memotivasi hati saya untuk berbuat lebih baik dan berusaha memperbaiki diri…mereka2lah penunjuk jalan bagi orang2 awam seperti saya…saya tidak rela satu sama lain saling membenci…Ya Allah tunjukanlah jalan kepada kami semua umat islam ke jalan-Mu lurus…Yaitu jalan orang-orang yang Engkau Ridloi..Amin…