gaulislam.com


Jangan Matikan Ramadhan!

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Amira Mehnaaz on the August 8th, 2011

gaulislam edisi 198/tahun ke-4 (8 Ramadhan 1432 H/ 8 Agustus 2011)

 

Siap nggak sih kalo kita ngejalanin puasa di bulan Ramadhan dengan benar dan baik? Siap nggak sih kalo ibadah puasa kita dibarengi dengan amalan-amalan yang lain? Hmm… pastinya sih kudu siap ya. Sayang banget kalo sampe nggak meman-faatkan momen Ramadhan ini. Datangnya sih emang sama dengan bulan lainnya, setahun sekali. Tetapi keutaman bulan Ramadhan ini oke banget. Apa aja sih keutamannya?

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Ummatku telah diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya ketika bulan Ramadhan: 1) Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari pada minyak kesturi di sisi Allah, 2) Para Malaikat beristighfar untuk mereka hingga berbuka, 3) Allah memperindah SurgaNya setiap hari, seraya berfirman kepadanya: “Hampir-hampir para hambaKu yang shalih akan mencampakkan berbagai kesukaran dan penderitaan lalu kembali kepadamu,” 4) Syaithan-syaithan durjana dibelenggu, tidak dibiarkan lepas sseperti pada bulan-bulan selain Ramadhan, 5) Mereka akan mendapat ampunan di akhir malam.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu terjadi pada Lailatul Qadar?” Beliau menjawab, “Bukan, namun pelaku kebaikan akan disempurnakan pahalanya seusai menyelesaikan amalannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Baihaqi dalam kitab ats-Tsawaab sanadnya lemah sekali, tetapi sebagian lafazh hadits tersebut mempunyai shaid, yakni penguat yang shahih)

Hmm… kayaknya celaka banget kalo kita udah tahu keutamaan Ramadhan namun kita mengabaikannya. Banyak banget lho di antara kita yang malah malas menjalankan ibadah shaum. Alasannya karena bisa lapar dan haus. Yee.. namanya juga puasa, nggak makan dan minum di siang hari, ya jelas aja lapar dan haus. Tetapi kan itu ujian. Nahan lapar dan haus adalah bagian dari aturan puasa. Syariatnya memang begitu. Meski demikian, jangan khawatir ya. Insya Allah ibadah shaum Ramadhan kita, jika ikhlas dilaksanakan dan caranya benar akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Swt. (more…)

Belajar? Asik-asik Aja Tuh!

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Leila Amra on the August 1st, 2011

gaulislam edisi 197/tahun ke-4 (1 Ramadhan 1432 H/ 1 Agustus 2011)

 

Problem anak sekolah nggak jauh dari urusan belajar. Umumnya anak sekolah pada merinding kalau mendengar kosakata belajar. Lho? Bukannya belajar adalah tugasnya? Nggak juga anak sekarang mah. Bayangan yang ada di benak adalah buku-buku pelajaran tebal, rumus yang sulit, duduk manis di depan meja dan berbagai pikiran negatif lainnya. Belum lagi ancaman dan suara ortu yang menggelegar menyuruh kamu untuk belajar. Wuih, ini adegan belajar apa uji nyali sih? Pantes aja banyak yang pada bête kalau disuruh belajar. Masuk kamar bukannya buka buku malah buka fesbuk. Bukannya nulis PR malah nulis sms dan memperbarui status di FB. Bukannya menghafal rumus tapi malah ngapal lagu yang tertanam di memori ponsel. Walah, kapan pinternya?

Bro en Sis, kalau bukan dari kesadaran diri kamu sendiri memang belajar tuh berat terasa. Bukannya jadi pinter tapi malah menjadi beban tersendiri. Kalau tak segera dicari solusinya, bukan tak mungkin kamu malah jadi stres dan anti sama aktivitas belajar. Nah, biar kondisi ini tak berlarut-larut mending kamu baca tulisan ini sampai tuntas biar ada perubahan dalam diri kamu, at least dalam menyikapi belajar agar tak menjadi sesuatu yang menakutkan buatmu. Sip!

 

Benahi niat dulu

‘Belajar yang rajin biar pinter trus jadi dokter.’; ‘Belajar yang bener biar nilaimu bagus, gampang dapat kerjaan dan dapat gaji jutaan.’; ‘Belajar yang giat biar dapat ranking satu di kelas.’

Nah, ada nggak di antara kamu yang nggak didogma dengan kalimat-kalimat di atas? Pasti hampir semua pernah atau bahkan sering. Jadilah, niat belajar si anak diarahkan hanya sebatas pencapaian tujuan-tujuan duniawi semata. Tak heran bila tujuan duniawi itu tak tercapai, maka ortu akan marah dan kecewa karena menganggap cara belajar si anak tak mencapai hasil sesuai yang diharapkan. (more…)

Tak Putus Dicekik Konflik

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Hafsa Mutazz on the July 25th, 2011

gaulislam edisi 196/tahun ke-4 (23 Sya’ban 1432 H/ 25 Juli 2011)

 

Ampun dah negeri kita ini, tak putus dicekik konflik dan tak reda dirundung sengsara. Sejak sebelum kemerdekaan, ketika jaman awal-awal kemerdekaan, hingga jaman kiwari. Konflik selalu ada dan tetap menjadi bagian dari hidup hampir seluruh rakyat negeri ini. Jaman penjajahan nenek moyang kita hidup susah bin sulit. Saat awal-awal kemerdekaan konflik melanda hampir di seluruh pelosok negeri. Berbagai kepentingan policik, eh politik menghiasi perjalanan sejarah negeri ini. Berganti tahun, berganti pemimpin, namun tetap saja konflik tidak bisa dipadamkan. Musim berganti, cuaca tak selalu sama, rezim satu berganti dengan rezjim lainnya, pemimpin satu lengser pemimpin lainnya menggantikan, tetapi resah gelisah terus merajam pikiran dan perasaan rakyat jelata di seluruh negeri menghadapi kenyataan getirnya kehidupan ekonomi mereka. Harga bahan pokok melonjak naik cepat, apalagi menjelang bulan puasa dan lebaran. Bahan bakar minyak (BBM) di beberapa pelosok langka.Akibatnya, harganya juga ikutan meroket tajam. Biaya pendidikan sangat mahal, biaya kesehatan nyaris tak terbeli kantong kempes rakyat miskin. Menyedihkan.

Padahal dalam waktu yang bersamaan, elit politik saling sikut kepentingan, saling serang demi rasa aman diri dan kelompoknya. Korupsi seperti wabah yang merajalela dari tingkat atas dan mengalir deras hingga tingkat pegawai dan lembaga rendahan. Ironi yang tak kunjung berhenti. Rakyat miskin sibuk mikirin nasibnya esok hari, yang masih ragu apakah masih bisa makan atau tidak, tetapi para elit partai dan penguasa serta pengusaha sibuk mikirin agar harta tak halalnya tak tersentuh lembaga hukum. Orang-orang model begini tak perlu pusing mikirin makan, karena yang jadi fokus perhatiannya, bagaimana bisa menimbun miliran rupiah demi memberi makan oknum penegak hukum agar mau mendukungnya, agar mau melindunginya dari jeratan hukum. Lihatlah Gayus, tengoklah Nazaruddin. Kini mereka jadi selebritis berlabel koruptor. Insya Allah yang lainnya juga akan segera menyusul menjadi bintang utama. Tunggu saja tanggal mainnya dalam panggung sandiwara berikutnya jika kondisi kehidupan seperti ini terus.

Bro en Sis, gaulislam edisi 196, yang juga edisi cetaknya mulai terbit lagi seiring kamu masuk sekolah, sengaja mengangkat tema ini karena sudah saking muaknya dengan kondisi negeri ini. Kamu yang peka dan peduli dengan kondisi negeri ini, saya yakin memiliki pemikiran dan perasaan yang sama bahwa negeri ini seperti sudah babak belur dihantam berbagai persoalan: hukum, sosial, pendidikan, budaya, ekonomi, politik, pemerintahan, peradilan yang tak adil dan sejenisnya. Kita sudah bosan dengan kondisi ini. Salah satu cara adalah diungkapkan melalui tulisan. Semoga kamu bisa menerima. Toh, ini adalah masalah remaja juga. Kau nggak boleh berpaling dari persoalan ini hanya karena kamu masih remaja. Nggak lah. Kamu juga tinggal di sini, menjadi warga negara negeri ini. Jika warga negara yang lain udah nggak waras, maka yang masih waras ngingetin agar mereka kembali waras. Jangan mau jadi edan semua! (sori bahasanya rada pedes, meski nggak dicampur sambal saus). (more…)

Kekonyolan MOS

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Hasna Hawwa on the July 18th, 2011

gaulislam edisi 195/tahun ke-4 (16 Sya’ban 1432 H/ 18 Juli 2011)

 

Hari Sabtu kemarin saya ketemu dengan seorang teman untuk membicarakan satu proyek workshop penulisan bagi para guru. Nah, dia bawa keluarganya saat janjian di area foodcourt sebuah tempat perbelanjaan. Yang menarik, adalah anaknya. Hehehe bukan soal penampilannya, tetapi teman saya ini lagi nyiapin segala keperluan yang dibutuhkan anaknya untuk MOS di sekolahnya. Kebetulan anaknya ini diterima di salah satu SMP negeri di kota Bogor. Teman saya menjelaskan ihwal kenapa ketemuannya di tempat tersebut. Alasanya, karena sekalian jalan aja abis nganter anaknya ke sekolah untuk mendapatkan informasi seputar kegiatan MOS yang akan dilaksankan pekan ini (saat buletin kesayangan kamu ini terbit di hari Senin, 18 Juli 2011). Hmm.. saya langsung dapat ide untuk membuat tulisan ini di gaulislam edisi 195. Pekan ini. Yup, ide memang bisa datang kapan saja, di mana saja dan dari mana saja. Asik juga lho dapet ide dan bisa diwujudkan dalam sebuah tulisan utuh.

Sobat muda muslim, alasan saya memilih istilah “kekonyolan” yang disematkan dengan kata MOS di judul ini, karena pelaksanaan MOS dari tahun ke tahun konsepnya nggak berubah. Setidaknya secara umum ya. Mungkin ada juga sih yang udah agak mendingan, misalnya memang murni Masa Orientasi Siswa—ada juga yang nyebutnya Masa Orientasi Sekolah (baca: ngenalin apa aja yang bakalan dipelajari di sekolah, menjalin pertemanan, mengenal para guru dan lingkungan sekolah serta belajar hal-hal yang bisa memotivasi kita dalam melakukan suatu kegiatan di sekolah).

Kekonyolan MOS terutama pada panitiannya yang kadang bikin kepala anak baru pusing. Gimana nggak, seringkali permintaan panitia aneh-aneh dan bahkan nyaris mustahil. Misalnya aja nih, kita diminta bawa kemenyan lengkap ama dukunnya (hehehe.. nggak ding. Ini sih saya yang ngarang, Bro!). Permintaan yang udah sering sih misalnya disuruh bawa tas dari karung beras ukuran 20 kg dan 50 kg. Coba, gimana nyarinya tuh, karena seringkali mendadak. Malemnya baru disuruh dan diminta dibawa esok harinya. Sedikit banget waktu untuk nyarinya. Weleh-weleh, emangnya kita pedagang beras yang bisa ngoleksi karung beras dalam jumlah banyak?

Masih ngisengin lagi, tuh panitia minta karung berasnya ditempeli kertas asturo warna tertentu yang kira-kira susah banget, misalnya kita diminta nyari kertas dengan warna yang memiliki kode HTML #B8860B. Wedew…. bisa-bisa kita kentut disertai suspensi koloid dah! (kata urang Sunda mah istilahnya adalah: bisa-bisa hitut jeung bukurna hahahaha…). Jika gini urusannya, panitianya aja emang hobi nyiksa kayaknya. Urusan karung beras buat dijadiin tas masih belum selesai. Kadang talinya kudu terbuat dari tali rafia dan dikepang. Sekali lagi, bener-bener nyiksa dah! (more…)

Maaf

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Amira Mehnaaz on the July 11th, 2011

gaulislam edisi 194/tahun ke-4 (9 Sya’ban 1432 H/ 11 Juli 2011)

 

Hehehe.. judul edisi gaulislam ke-194 ini cukup singkat. Satu kata: Maaf. Biarin deh sekali-kali simpel. Mudah dipahami. Semoga saja buka judul yang absurd. Hmm… gampang nggak sih kita ngasih maaf kalo ada temen kita yang minta maaf sama kita? Hmm.. gimana ya, apalagi doi tuh udah nyakitin kita banget. Kayaknya nggak gampang deh kalo kita langsung nerima permintaan maafnya. Menyembuhkan luka batin atau nyembuhin perasaan itu katanya sih lebih sulit ketimbang nyembuhin luka fisik. Bagi banyak orang, katanya sih lebih baik tubuh tertusuk pedang ketimbang ditusuk lidah dengan omongan yang nggak enak en nggak sedap. Mungkin bener juga kali ya kalo Bung Meggy Z semasa hidupnya sempat berdendang: “Kalau terbakar api, kalau tertusuk duri, mungkin masih dapat kutahan. Tapi ini.. sakit lebih sakit, kecewa karena cinta…. Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa…” (ih, kalo saya sih nggak kepengen dua-duanya tuh!)

Sobat muda muslim, ngasih maaf kepada orang yang udah nyakitin perasaan kita tuh rasa sakitnya kadang nggak bisa ditelan oleh waktu (duilee lebay mode “on”). Gimana nggak, kita suka gondok kalo ada teman yang udah ngerendahin kita misalnya. Apalagi di depan banyak orang. Wuih, dendamnya bisa delapan turunan tuh. Iya, nyebelin nggak sih kalo kita misalnya minta diajarin ngaji Quran, terus doi ngomentarin: “Udah gede kayak gini masih belum bisa baca Quran? Kalah ama adek gue tuh yang masih SD!” Waduh, kalo di film kartun tuh muka kita udah merah padam dan keluar asap dari idung (banteng kalee…)

Mungkin wajar kalo kita gondok abis kalo dihina. Mendingan dipukul pake kayu atau benda lainnya kali ya daripada dirajam pake kata-kata hinaan di depan banyak orang pula. Malu, kesel, dan juga marah sama orang yang model begitu. Nah, suatu ketika doi minta maaf nih sama kita. Hmm.. kayaknya sampe sujud juga nggak bakalan dikasih kali tuh. Mau nangis darah dan ngesot-ngesot juga kayaknya nggak bakalan dikasih maaf. Saking kesel dan gondoknya tentu.

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, kasus lainnya adalah meminta maaf. Ini juga hampir sama sulitnya dengan ngasih maaf. Gimana nggak, kadang gengsi juga bikin kita malas minta maaf. Apalagi mungkin menurut kita hal itu sepele. Jangan salah, banyak lho orang yang sulit meminta maaf. Kayaknya tuh lidah udah dipaku sehingga satu kata pernyataan maaf pun tak keluar dari mulut kita. Kita cuek dan merasa benar sendiri. Kita jadi gengsi dan merasa tak perlu meminta maaf, apalagi kepada orang yang levelnya lebih rendah dari kita. Kita khawatir menjadi rendah di hadapan orang yang kita anggap status sosial maupun intelektualitasnya di bawah kita (ah, masa’ iya sih?) (more…)

Mengukur Manfaat Ikhlas

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Farah Zuhra on the July 4th, 2011

gaulislam edisi 193/tahun ke-4 (2 Sya’ban 1432 H/ 4 Juli 2011)

 

Bro en Sis, ketemu lagi dengan gaulislam. Edisi pekan ini, pekan  ke-193, sengaja buletin kesayangan kamu ini membahas seputar ikhlas. Tema ini sebenarnya sudah banyak dikupas, tetapi nggak ada salahnya juga kalo kita bahas lagi. Tentu dari sudut yang berbeda tetapi tetap memberi solusi islami.

Kalo kita mau merhatiin, semua orang berbuat insya Allah ingin dapetin manfaat dari apa yang diperbuatnya. Itu sudah pasti. Tapi memang bukan tujuan utama. Karena sebagai muslim yang kita ingin raih sebagai tujuan utama adalah mendapatkan ridho Allah Swt. Manfaat adalah efek samping yang secara manusiawi ingin kita dapatkan juga. Misalnya belajar. Memang manfaatnya yang ingin kita dapatkan adalah menjadi bisa. Nah, kerjakan kegiatan belajar itu dengan niat ikhlas karena ingin dapetin ridho Allah Swt. agar manfaat yang didapatkan menjadi barokah bagi kita. Iya nggak sih? Jadi tetap nggak kering dari nilai-nilai yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah Swt. sebagai pencipta kita. Gitu, Bro.

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS al-Maaidah [5]: 85)

Tuh, bener kan Allah Swt. akan ngasih kebaikan buat kita-kita yang ikhlas dalam berbuat. Ada manfaat yang kadang kita lupakan atau nggak kepikiran sebelumnya. Kesannya kalo kita nggak langsung dapetin ganjaran di dunia berarti kita rugi. Padahal nggak selalu lho. Artinya, ada manfaat yang bisa kita dapatkan meski dikasihnya nanti di lain waktu yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.

Oya, bukan berarti kalo kita berbuat ikhlas kudu nungguin terus ganjarannya nanti. Insya Allah ada juga yang bisa kita dapetin di dunia kok. Beberapa di antaranya insya Allah bisa kita rasakan langsung. Apa aja sih? (more…)

Awas! Terjebak Kebebasan

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Farah Zuhra on the June 27th, 2011

gaulislam edisi 192/tahun ke-4 (25 Rajab 1432 H/ 27 Juni 2011)

 

Sejak kecil saya belum merasakan kebebasan yang bebas banget. Selalu ada pagar yang membatasi setiap apa yang akan saya lakukan. Saya memang diberikan kebebasan untuk memilih melakukan sesuatu. Tetapi seringkali ibu saya menyertakannya dengan aturan atau batasan. Sebagai anak kecil waktu itu, saya merasa senang banget ketika ibu saya memberikan kesempatan saya bermain. Tetapi, yang kadang ‘nyebelin’ adalah saya boleh bebas bermain namun dengan syarat: tidak boleh nakalin temen, tidak boleh masuk ke rumah teman tanpa ijinnya, tidak boleh masuk ke kamar orang tua teman, tidak boleh terlalu lama, waktu shalat ashar harus pulang. Waduh, di balik rasa senang bisa bebas bermain ternyata saya dibatasi aturan. Awalnya saya merasa hal itu bikin bete, tetapi lama kelamaan saya menikmatinya.

Di lain waktu, saya masih inget gimana marahnya ibu saya ketika saya mangkir ikut pengajian di mushola kampung. Mushola milik Kyai Haji Mukhsin (almarhum). Sapu lidi dalam genggaman ibu siap dipukulkan ke kaki saya jika saya tetap menolak berangkat ke mushola. Saya takut campur kesal. Sebabnya, saya juga masih ingin menikmati kebebasan bermain. Apalagi jika main ba’da ashar dengan kawan lagi asik-asiknya. Tetapi saya mengalah. Saya memilih untuk menuruti perintah ibu saya. Berangkatlah saya mengaji bersama kawan dan paman saya yang waktu itu masih remaja. Ternyata di kemudian hari, saya malah jadi terbiasa untuk berangkat ke mushola belajar ngaji.

Subhanallah. Aturan yang membatasi kebebasan saya sebagai anak kecil waktu itu, berdampak positif. Kelas 2 SD saya alhamdulillah sudah bisa membaca al-Quran dengan lancar. Bahkan ketika kelas 5 SD, seingat saya memang sebelum SMP, saya sudah belajar kitab Tanqihul Qaul—judul lengkapnya Tanqihul Qaul al-Hadits fii Syarhi Lubaabil Hadits karya Muhammad bin Umar an-Nawawi. Kitab Tanqihul Qaul merupakan syarah dari kitab Lubaabil Hadits yang ditulis oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Kitab ini membahas berbagai amalan fardhu dan sunnah, baik yang menyangkut ibadah maupun amalan utama dan adab yang harus dikerjakan oleh setiap mukmin. Bahasa Arab lho, tapi ada terjemahannya dalam bahasa Sunda dengan tulisan Arab. Selain itu, hurufnya juga Arab ‘gundul’. Saya dan kawan-kawan (sebagian besar waktu itu ada yang sudah SMP) dibimbing langsung oleh guru ngaji kharismatik, Kyai Haji Mukhsin. Semoga Allah Swt merahmati beliau.

Bro en Sis, buah dari ketataan dan kepatutan kepada orang tua dalam melaksanakan kewajiban agama insya Allah adalah kebaikan. Buah yang hanya bisa dipetik ketika kita melaksanakan perintah dan aturan tersebut. Saya bangga kepada ibu saya yang ‘kaku’ saat mengajarkan saya. Tetapi alhamdulillah kekakuan itu berbuah manfaat dan kebahagiaan bagi saya di kemudian hari. Sampai saat ini masih membekas kuat dalam ingatan saya bagaimana saya didorong untuk semangat belajar di sekolah, terlebih ilmu agama. (more…)

Muslim Power

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Hafsa Mutazz on the June 20th, 2011

gaulislam edisi 191/tahun ke-4 (18 Rajab 1432 H/ 20 Juni 2011)

 

Kokohnya sebuah bangunan tidak terlepas dari kokohnya pondasi, struktur dan bahan yag digunakan untuk membuat bangunan tersebut. Kita sering menjumpai kondisi dimana kaum muslim begitu lemahnya di negeri kita. Sering Islam direduksi hanya kepada masalah ibadah, pendidikan dan amaliyah pribadi saja. Begitu kita ngomongin Islam dalam konteks masyarakat dan pengaturannya, tidak banyak yang bisa kita temui di negara kita. Paling masalah pengurusan ZIS (zakat, infaq, sadaqoh) itu-pun banyak overlap dengan pemerintah, ekonomi syariah yang belum berpayung kepada hukum syariah dan beberapa urusan lainnya.

Sebelum kita bahas lebih mendalam, Rasulullah saw. bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, al-Baihaqi, Abu Dawud, No. 3745)

Bro en Sis, pelajaran yang bisa kita ambil dari hadist di atas adalah suatu peringatan terhadap kondisi jaman, dimana syariat Islam itu sendiri kuat namun para pemeluknya lemah. Dalam hadist di atas dijelaskan apa yang akan terjadi dan dijelaskan pula penyebab utamanya. Hal ini dimaksudkan supaya umat Islam mengerti dan bisa bersiap diri untuk menghadapinya.

Bila kita lihat kondisi masyarakat kita saat ini, hadist di atas terasa sangat mengena, kita berada di negara yang jumlah muslimnya cukup banyak bahkan terbesar di dunia, namun kualitasnya masih rendah. Maksiat kita temukan dimana-mana, amar ma’ruf dan nahi mungkar ditinggalkan dan bahkan ditentang. (more…)

Hidup Mulia Bersama Islam

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by Hasna Hawwa on the June 13th, 2011

gaulislam edisi 190/tahun ke-4 (11 Rajab 1432 H/ 13 Juni 2011)


Apa yang terbayang di benak kamu begitu disodorin kata ‘pedalaman’? Kalo gue sih kebayangnya: Suatu wilayah yang jauh dari kecanggihan teknologi, jauh dari kesejahteraan, dan para penduduknya yang–maaf- masih udik dan primitif, berpakaian pun ala kadarnya. Ada yang rumahnya di pesisir pantai, juga di tengah hutan.

Waduh, kita yang terbiasa belanja di minimarket, nongkrongin angkringan gorengan atau warteg, apalagi yang demen maennya di mal pastinya bakal bingung kalo terdampar di pedalaman kayak gitu. Pastilah bingung karena terbiasa dengan kemudahan fasilitas yang ada di kota. Nah kalo di pedalaman kadang sinyal hp pun ‘kejap ade, kejap tak ade’ (maksudnya timbul tenggelam gitu) bahkan ada yang tenggelam sama sekali! Jangankan mau online, sms-an aja kudu ke kota dulu kali. Lah emang ada listri? Haduh, help help S.O.S deh!

 

Tragis!

Kalo mikir nasib kita yang terdampar di pedalaman sih nggak abis-abis, Bro n Sis! Tapi coba deh pikirin gimana dengan sodara-sodara kita yang tersebar di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua? *mikir mode on*.  Sudahlah mereka tinggal di pedalaman, tapi apakah mereka udah dipenuhi kesejahteraannya oleh yang mimpin nih negara? Mereka bertahan dengan ‘pakaian adat’ yang alakadarnya dan ini dipertahankan buat melestarikan kebudayaan juga ningkatin pendapatan negara dalam hal pariwisata. (more…)

Nasihat untuk Waria

Posted in Buletin gaulislam,Tahun IV/2010-2011 by sholihin on the June 6th, 2011

gaulislam edisi 189/tahun ke-4 (4 Rajab 1432 H/ 6 Juni 2011)

 

Sobat muda muslim, selama ini waria alias wadam alias banci emang amat akrab dengan dunia malam dan pinggiran jalan. Berbaur dengan para penjaja cinta dan hawa nafsu di keremangan malam dan temaram lampu jalanan. Biasanya begitu ada petugas tramtib, mereka larinya paling kenceng. Maklum, secara fisik mereka memang laki-laki. Tetapi kini para waria berani tampil beda. Ada yang pernah mencalonkan dirinya jadi anggota legislatif daerah, ada yang berani menulis buku menyuarakan pendapatnya memilih jadi waria, di televisi makin banyak orang yang memerankan (atau memang sudah?) jadi waria, ada penyelenggaraan khusus untuk kontes waria seperti gelaran Miss Waria, bahkan ada yang nekat akan menikah sesama waria. Wah, gimana jadinya ya kalo pria nikah dengan pria lagi? Ada-ada saja! Padahal manusia kan berkembang biak secara generatif, bukan vegetatif alias bertunas kayak pohon pisang atau membelah diri kayak molusca. Tul nggak?

Menurut Guru Besar Psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, ketika ditanya alasan orang yang menjadi waria, hal itu bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan (www.jawapos.com, 08/06/2005)

Beliau juga menjelaskan bahwa, kecenderungan menjadi waria lebih diakibatkan oleh salah asuh atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Bukan penyakit turunan atau karena urusan genetik. Ini pun diakui oleh Merlyn Sopjan—waria, penulis buku Jangan Lihat Kelaminku (Republika, 29/10/2004) (more…)

 
« Previous PageNext Page »

  rank blog indonesia