Senandung Ceking
CERITA/MEI/2008
By: Nafiisah FB
Ceking berjalan tegap. Wajahnya menampakkan amarah. Di belakangnya seekor kambing mengikuti setengah hati. Kambing kurus berwarna hitam legam itu berjalan pasrah ditarik paksa oleh Ceking.
Ceking berteriak,”Mak! Mak! Si Jenggot makan nasiku, Mak! Maaak!”
Emak tergopoh-gopoh berjalan keluar. “Ada apa, sih, King?! Teriak-teriak kaya’ begitu?!”
Emak mendelik. Ceking menunduk. Emak melihat ke Kambing Hitam. Dia bertambah mendelik. Kaget.
“Untuk apa kamu bawa-bawa kambingnya Pak Money?! Mau jadi maling kamu, King?!”
Ceking menggeleng kuat-kuat. Dia perlahan melepas tali pengikat kambing.
“Ndak, Mak,” lirih Ceking.
“Lalu?!” Suara Emak masih tinggi.
“Aku tadi mau ambil nasi jatah di rumah Pak Money, Mak. Aku lari secepat-cepatnya supaya ndak kehabisan. Tapi, pas aku sampai di rumah Pak Money aku cuma lihat bakul kosong, dan … ”
Ceking memutar kepalanya perlahan ke arah Kambing Hitam. Perlahan nafasnya berubah memburu. Kedua tangannya mengepal, bergetar.
“Dan dia ada di sana. Dia yang makan nasi jatahku! Tega! Tega!”
Tangis Ceking pecah. Tangan mungilnya yang tinggal tulang berbalut kulit memukul-mukul tubuh Kambing Hitam yang gempal. Kambing Hitam mengembik keras lalu berlari menjauh. Panik.
Marah Emak mereda seketika. Dia merangkul Ceking meredakan tangisnya.
“Kambing ndak makan nasi, King,” ujar Emak sambil mengelus-elus rambut Ceking.
Ceking perlahan menengadahkan kepala, menatap Emak dalam tanya.
“Lalu siapa yang makan nasiku, Mak?” tanya Ceking setelah mengusap airmata dan menarik lendir yang sempat mengalir dari hidungnya.
Emak berusaha tersenyum. “Jatah nasi sudah ndak ada lagi.”
Emak menyusutkan air yang sempat menitik dari sudut matanya. Ceking memeluk pinggang Emak lebih ketat. “Tapi, Ceking lapar, Mak.”
“King! Bulek!” Sebuah suara tiba-tiba memanggil.
Ceking menoleh. Dilihatnya Buncit berjalan mendekat dari arah sungai, riang. Dia menunjukkan sebuah bakul.
Ceking perlahan tersenyum. Tanpa diketahuinya, air di sudut mata Emak kembali mengalir, kini lebih deras. Emak berusaha sekuat tenaga menghapusnya.
“Emakku tadi baru masak nasi ini,” info Buncit gembira.
Ceking berbinar melihat isi bakul yang telah diletakkan Buncit di dipan dekat pintu belakang.
“Wah, Bulek masih punya nasi! Enak, enak,enak,” cerocos Ceking sambil mengusap-usap perutnya.
“Kalian makan saja sekarang. Sebentar Emak ambilkan piring.”
Emak tidak lama kembali dengan dua piring di tangan. Ceking dan Buncit menerima dengan senang.
“Emak tinggal dulu.”
“Emak ndak makan?” imbuh Ceking.
“Kalian saja dulu. Emak harus selesaikan anyaman. Sudah sana.”
Emak pergi lalu Ceking bersenandung.? “Aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat semasa aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi, dan imunisasi …”
Buncit? bergumam, “Itu nyanyian Surga. Indahnya ….”
Mereka berdua lalu tertawa sambil tetap semangat melahap nasi aking paling enak sedunia. Dan Emak … wanita kurus ringkih itu kembali hanya bisa berurai airmata, mengintip mereka dari balik dinding dapur. [bersambung]

on May 11th, 2008 at 16:56
lanjutan ceritanya mana???? terusin yach…………..,,,,