gaulislam.com


Senandung Ceking [3]

Posted in Edisi 08/Juli 2008, Tabloid JEJAK by Farah Zuhra on the July 1st, 2008

Add to Technorati Favorites

CERITA/Juli/2008

By: Nafiisah FB

Kambing Hitam telah tiada. Pak Money kehilangan transaksinya. Empat persen keuntungan tambang emas tinggal impian.

Pak Money di depan mobil kencananya saat ini berhadapan dengan para warga. Amarahnya tampak jelas dari rona merah di wajahnya. Beberapa pengawalnya berjaga-jaga.

“Takutlah kepada Gusti Allah, Money! Kekayaanmu tidak akan membuat dirimu masuk Surga tanpa taubatmu!” teriak Kyai Kaji yang berdiri gagah memimpin warga.

Pak Money semakin menggelegak.

“Wahai pengawal-pengawal Money! Kalian adalah manusia-manusia terbaik yang Allah turunkan untuk mengawal desa ini menuju kemakmuran, menuju keadilan! Apakah kalian rela untuk terus-menerus membela kezoliman! Padahal anak kalian, ibu kalian, bapak kalian, saudara-saudara kalian telah banyak yang menjadi korban! Padahal mereka semua rindu akan pembelaan kalian! Kalian yang terbaik di antara kami! Gusti Allah akan memberikan berkah bagi hidup kalian! Surga!” teriak Kyai Kaji dalam semangat yang semakin berkobar.

Para pengawal Money saling pandang satu sama lain. Kata-kata Kyai Kaji memunculkan sinar bagi mereka. Sebuah terang ada di hadapan.

“Heh, kenapa kalian diam! Habisi mereka! Mereka cuma wong deso bodoh! Kyai Kaji itu cuma kasih mimpi ke kalian! Jangan percaya dia! Percaya saja sama aku! Money!” teriak Pak Money panik.

Pak Money menarik peti-peti uangnya dari dalam mobil kencana. Tertatih. Peti-peti itu terbuka. Uang bertumpuk di dalam. Emas beribu gram teronggok di dalam. Para pengawal menatapi peti-peti lalu perlahan mengalihkan pandangan menuju pemakaman di seberang.

Uang berdarah. Emas kematian. Mereka kembali memandangi Pak Money, lalu melangkah perlahan menuju barisan Kyai Kaji. Cahaya dari kata-kata Kyai Kaji semakin benderang. Mereka kini muak. Uang dan emas tidak lagi mereka hiraukan.

Pak Money panik dan semakin. Dia berteriak kepayahan dalam rasa kecutnya.

“Kalian bodoh! Goblok!” umpat Pak Money sambil melempar-lempar uang dan emas dari peti-peti.

Pak Money menangis! Emak tercenung melihat itu.

“Apakah itu Pak Money yang aku lihat Ya Allah? Dia menangis! Apakah doaku saatnya kini Engkau kabulkan?” batin Emak tidak berhenti bertanya.

oooOooo

Kyai Kaji sedang memimpin rapat. Wajahnya yang semakin menampakkan kerut dan janggut panjang yang semakin memutih tidak membiaskan kharisma kepemimpinannya.

Sebagai pemimpin desa dialah pemegang kendali kini. Beberapa perwakilan warga berkumpul melingkarinya. Ruang utama di lantai satu mesjid megah itu ramai dengan argumentasi dengan sesekali diinterupsi oleh suara Kyai Kaji yang bijak mengingatkan.

“Untuk hal seperti ini kita butuh ahlinya. Kita tunggu sebentar beliau datang.”

“Tapi, Kyai, kita sudah menunggu tiga puluh menit.” Seorang bapak menyatakan ketidaksetujuannya.

“Sabar. Dia sedang menuju ke sini. Dia baru saja memberitahu ojek yang ditumpangi terpeleset. Jadi, agak terlambat.”

“Assalamu’alaikum!”

Sebuah suara berat terdengar membahana. Semua mata mengarah kepadanya. Sosok tinggi tegap itu sudah berada di ambang pintu.

“Masuk Money!” sila Kyai Kaji.

Pak Money masuk dan langsung duduk? bersila di hadapan warga.

“Baik! Karena ahlinya sudah tiba, baiknya kita lanjutkan segera diskusi kita. Silakan, Money.”

Pak Money tersenyum, mengangguk hormat kepada Kyai Kaji. Dia kemudia menebar pandangan kepada semua warga termasuk seorang pemuda tampan yang duduk di antara mereka.

“Saya ingin anak saya membantu menjelaskan, Kyai. Jadi, saya minta ijin dia duduk di depan bersama saya.”

“Oh,ya. Silakan. King, ke sini kamu!” Lambai tangan Kyai Kaji.

Pemuda tampan itu mendekat. Dia tetap dipanggil Ceking walaupun tidak lagi kurus kering. Diskusi dilanjutkan.

Ceking melihat Pak Money menguraikan penjelasan dengan diringi senyuman kebanggaan dan syukur yang mendalam. Dia bersyukur dia tidak melihat lagi anak-anak kurus kering berperut buncit di Desa Makmur. Dia bersyukur bisa bahu-membahu mempersembahkan yang terbaik bersama bapak tirinya, Pak Money. Dan dia tetap menyenandungkan doa dalam batinnya. Doa untuk keberkahan bagi desa, dan doa agar dia dimatikan dalam keadaan taat kepada Allah, Rabb-nya. [SELESAI]

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

 

  rank blog indonesia   Religion Blogs - Blog Top Sites