Narkoba Sahabatku 1

Waspadalah dengan pergaulan. Itulah nasihat yang aku abaikan. Karena itu pula aku menjadi seorang junkies. Bersahabat dengan narkoba

Persahabatanku yang luas dengan berbagai kalangan, membawaku menerjuni kehidupan malam bertemankan minuman keras. Bahkan aku merasa hal itu sebagai rutinitas keseharianku. Semakin lama aku merasakan kesenangan hidup yang sungguh luar biasa. Hingga akhirnya pergaulanku semakin luas sampai akhirnya aku bertemu dengan teman-teman yang lain.

Pada suatu malam ada teman nongkrong yang datang dengan membawa beberapa pil yang berwarna pink yang aku sendiri belum pernah melihatnya. Dia menawarkannya untuku dan teman-teman. Dengan senang hati kami menerimanya termasuk aku. Sebenarnya muncul dalam diriku perasaan takut untuk mengkonsumsinya, akan tetapi karena dorongan teman-temanku hingga muncul perasaan “tak ada alasan untuk berkata tidak”.

Lima belas menit setelah memasukkan Pil tersebut barulah terasa reaksi hebat dalam diriku. Perasaan yang belum pernah aku rasakan selama ini. Aku seakan-akan masuk ke dalam kehidupan yang penuh gairah, semangat dan penuh keberanian. Hingga aku memiliki kesimpulan bahwa Lexotan lebih dasyat dan lebih menyenangkan daripada minuman keras. Setelah peristiwa itu aku perlahan meninggalkan aktivitas minum-minuman keras dan beralih mengkonsumsi pil pil sejenis lexotan dan ekstasi.

Makin lupa diri

Pada suatu hari ketika hendak berangkat ke sekolah aku bertemu dengan teman yang bisa mabuk bareng. Ia memberiku 2 pil. Tanpa pikir panjang akupun langsung menenggaknya. Dan akhirnya bolos sekolah adalah pilihan terbaikku agar tidak dimarahi guru.

Malah ketika bolos itu aku jalan sesukanya bareng temanku itu. Sampai akhirnya muncul niat jahat ketika kami melihat seekor burung merpati. Eh, ketika dikejar, ia masuk pekarangan rumah seseorang.

Anehnya, muncul niat jahat lainnya, yakni ingin mencuri di rumah tersebut. Yang terpikir dalam benakku adalah bagaimana bisa mendapatkan uang hingga aku bisa memiliki pil pil ajaib tersebut. kami berhasil mengacak-acak isi rumah dan akhirnya aku mendapatkan sebuah dompet dengan berisikan uang di bawah kasur.

Setelah mendapatkan hasil kami keluar dengan tampang tanpa berdosa. Akan tetapi nasib sial menimpa kami hingga kami ketahuan telah mengacak-acak dan mencuri hingga akhirnya kami harus mendekam di sel yang sempit dan gelap di Polsek Kasihan. Di saat teman teman sibuk ujian di Sekolah, kami terkurung di ruangan tersebut. Setelah 4 hari akhirnya aku dan temanku di bebaskan dengan syarat tetap harus wajib apel di lapangan selama 3 bulan.

Ternyata kejadian itu bukannya menjadikan aku menjadi jera, tetapi justru menjadi semakin berani untuk berpetualang hingga akhirnya aku menemukan teman-teman pengguna Mariyuana (ganja).

Aku memberanikan diri untuk menghisap ganja karena dorongan dari teman teman. Pertama kali menghisap muncul perasaan bingung, tetapi karena terbiasa akhirnya aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya larut dalam lamunan-lamunan semu dibawah pengaruh ganja. Setiap ada hal yang baru, aku langsung praktikkan, hingga aku memberanikan diri untuk memakan Masrum (jamur Tletong-dari kotoran sapi)). Ketika otakku di kendalikan oleh jamur tletong itu adalah puncak ketakutan dalam hidupku.

Bagaimana tidak? Aku seperti hidup sendirian di dunia ini, dan ketika melihat orang yang lalu lalang pun yang aku lihat seperti melihat hantu. 5 Jam di bawah sadar karena mengkonsumsi masrum seakan akan terasa berhari-hari. Perasaan takut mulai menyergap. Bayang-bayang malaikat maut seakan datang menyapa. Siap mengantarkan aku kepada sang Rabb dengan penuh kebencian. Saking takutnya hingga muncul dalam benakku “Jangan cabut nyawaku Ya Allah”. Sebuah permintaan yang dulu tidak terbesit sedikitpun dalam hati. Sebuah permintaan yang tabu aku ucapkan ketika fly.

Hidayah itu datang

Seiring perubahan waktu, ada semacam kerinduan terhadap sesuatu. Anehnya sesuatu itu aku sendiri tidak tahu wujudnya. Ada kerinduan yang mengalir seperti air yang mengisi relung-relung hatiku yang kosong. Bukan kerinduan kepada pil-pil setan. Tapi kerinduan kepada Tuhan!

Yaaa… aku rindu dengan Tuhanku, Allah penguasa sekalian alam. Mungkin Allah telah berkenan menyapaku dalam puncak kebosanan menghadapi kenyataan hidup yang bergelimang dosa. Akhirnya aku mulai memberanikan diri muncul di forum-forum pengajian yang ada di masjid. Walau banyak orang yang memandang sinis terhadapku. Bahkan kadang kala aku datang ke forum pengajian tersebut dalam keadaan mabuk, tidak menjadikan aku mundur untuk menyambut hidayah Allah.

Ketika Ramadhan tahun 1420 H aku mulai terbiasa dengan suasana Masjid yang sangat bertolak belakang dengan suasana yang biasa aku lalui tiap hari. Aku merasakan kehadiran teman teman yang baik dalam hidupku.

Sehabis sholat tarawih aku diajak ngobrol tentang hidup, hakikat hidup dan obrolan lain yang menjadikan aku semakin kokoh untuk terus meniti jalan kebenaran.Sedikit demi sedikit aku mulai meninggalkan aktivitas “nyimeng”, mabok, dan begadang di pinggir jalan. Kini aku mulai aktif mengikuti pengajian di masjid.

Syukur Alhamdulillah aku panjatkan, Allah berkenan memberi kesempatan kepada hambaNya untuk mengecap harumnya surga, yang tidak akan pernah tercium oleh orang-orang yang melakukan amalan seperti aku dulu.

Untuk mengisi waktu yang kosong, dan agar tidak terjerumus kembali kepada aktivitas-aktivitas maksiat, aku mulai bekerja di sebuah kerajianan bambu. Siang hari bekerja dan hampir setiap malamnya aku di masjid diskusi berbagai hal tentang kehidupan ini. Sampai akhirnya aku berpikir, untuk memantapkan keimanan, tidak cukup dengan kegiatan yang bersifat temporal saja. Harus ada kesinambungan.

Sejak itulah aku mulai serius dalam pembinaan. Aku bersyukur kepada Allah karena telah ditunjukkan jalan kebenaran. Dari tak kenal agama hingga ingin menjadi pembela agama. Bahkan demi mengikuti halaqah aku rela meninggalkan pekerjaanku yang kini mulai banyak menyita waktu hingga mengharuskan lembur.

Tetapi Allah Maha Adil, mungkin atas kesabaran dalam menghadapi ketentuanNya, aku di beri jalan hingga akhirnya aku dapat bekerja di sebuah rental komputer. Terakhir untuk teman-teman, doakan aku agar tetap istiqomah dalam ber-Islam. Janganlah pernah mencoba berpetualang seperti aku dulu. Narkoba akan merusakmu dan akan menjerumuskanmu ke dalam perbuatan yang hina. Cukuplah aku saja yang pernah merasakannya… [seperti yang disampaikan Heni kepada Sigit]

[pernah dimuat di rubrik “kisahku”, majalah PERMATA edisi Maret 2004]

One comment on “Narkoba Sahabatku

  1. does Mar 28,2009 21:02

    subhanallah…
    cerita yg antum ceritakan hampir sama yg pernah aq alami.
    akhirnya aq dpt terlepas dr pil setan itu…
    Antum jg pasti bs dgn serius…

Comments are closed.

%d bloggers like this: