“Termehek-mehek”, Rekayasa? 48

logo-gi-3

edisi 074/tahun ke-2 (26 Rabiul Awal 1430 H/23 Maret 2009)

Reality show saat ini sedang menjamur. Tapi di antara semua tayangan reality show, Terhehek-Mehek adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang prime time yaitu 18.15-19.00 WIB hingga back song-nya yang keren dan syahdu, membuat acara ini makin diminati.

Pertama kali nonton Termehek-mehek, apa sih yang ada di benak kamu? Pastinya sih terseret arus cerita yang seringkali mengaduk-aduk perasaan di tengah-tengah acara pencarian orang yang dikasihi. Kamu diajak untuk ikut dag-dig-dug menanti ending cerita, happy or sad ending? Jadinya berat rasanya mata untuk dialihkan ke hal lain selain mantengin monitor TV sampai acara selesai. Ehem..iya apa iya?

Mayoritas dari kita, saya dan kamu pasti yakin dan percaya bahwa acara tersebut adalah nyata dan bener terjadi. Dan masih banyak jutaan pemirsa TV lainnya juga yang ikut menangis dan bahagia sesuai dengan jalan cerita Termehek-mehek. Eh…usut punya usut, ternyata acara Termehek-mehek dan mayoritas reality show lainnya itu adalah rekayasa, bukan murni nyata kejadiannya. Kok bisa sih? Makanya, supaya ngerti, ikutin terus pembahasan ini yah. Lanjuutt!

Ternyata rekayasa

Dalam bahasa Jawa, ada istilah ‘nggak mehek’ yang artinya kurang lebih meremehkan atau menganggap kecil sesuatu. Namun Termehek-mehek yang sekarang lagi booming, mempunyai arti menangis tersedu-sedu. Acara ini muncul sekitar Mei 2008 dan langsung menarik perhatian mayoritas pemirsa TV. Ide acara adalah membantu mencari seseorang yang lama hilang. Jalinan ceritanya begitu mempesona karena dibuat seakan-akan nyata dan terjadi dengan sebenarnya.

Saya yang semula juga tersepona eh…terpesona pada Termehek-mehek, jadi kuciwa juga mengetahui fakta sebenarnya. Helmi Yahya sebagai yang punya ide cerita mengakui bahwa ia memanfaatkan karakter orang Indonesia yang suka diberi mimpi.

Para pemeran di tiap episode sengaja diambil dari masyarakat umum terutama mahasiswa agar terkesan alami karena wajahnya belum pernah nongol di TV sebelumnya. Ada satu kasus ketika seorang mahasiswa langsung diteleponin oleh banyak teman-temannya setelah shooting reality show. Jelas aja nih mahasiswa langsung menjelaskan pada teman-temannya itu bahwa cerita yang diangkat bukanlah kisah pribadinya, tapi rekayasa berdasarkan skenario belaka. Malulah kalau sampai beneran kisah pribadinya jadi konsumsi banyak orang se-Indonesia, begitu katanya.

Sebagian dari kamu bisa jadi nggak terima dengan kenyataan ini. Kok bisa sih? Bukankah jelas-jelas sang target pernah mengusir kameramen acara termasuk host-nya yaitu Panda dan Mandala? Masa’ rekayasa pake acara usir-usiran segala? Bahkan Panda pake acara nangis juga bila kebetulan ending cerita mengharukan atau sedih. Mungkin kamu berpikir na?f seperti itu.

Yupz, kamu emang nggak salah. Namanya aja acting, pastilah ya harus meyakinkan. Bahkan Panda dan Mandala pun dibayar bukan cuma untuk menjadi host, tapi plus acting juga. Bagi mereka yang bekerja di dunia pertelevisian, sedari awal langsung ngeh bahwa acara-acara reality show seperti ini penuh dengan rekayasa. Namanya aja show atau pertunjukkan yang sudah jelas ada unsur menghiburnya dong. Hal ini tidak bisa dihindari karena tuntutan deadline. Ketika tidak ada satu kisah nyata yang bisa diangkat ke layar TV, maka solusinya adalah bikin skenario dan membayar pemain amatiran agar terkesan alami. Nah, awalnya saya pikir sebagian, tapi ternyata most of them alias hampir semua episode adalah rekayasa!

Cara gampang untuk mengenali bahwa ini adalah rekayasa yaitu kamu perhatikan aja kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, client dan target. Kalau memang si target benar-benar tidak tahu sebagaimana ekspresi mukanya yang seringkali berakting bingung ketika didatangi host, maka seharusnya kualitas suara mereka tidak sejernih yang kita dengar di TV. Kejernihan suara itu karena memang adanya chip untuk mikrofon yang biasanya dipasang di baju. Nah loh…

Kalo kamu jeli, ada wajah tokoh pada acara termehek-mehek yang juga sedang bermain sinetron meskipun hanya sebagai tokoh figuran. Lagipula, bila acara ini menyajikan kejadian sebenarnya, apa ada orang yang rela aibnya ditampilkan sedemikian rupa di TV? Kan sudah mendapat persetujuan dari semua pihak, mungkin itu kilahmu. Namanya juga dramatisasi Non, pastilah acara ini dihadirkan agar seolah-olah semuanya terlihat real.

Mengapa terjadi?

Yupz…kalo di benakmu sempat terbersit pertanyaan seperti ini, itu tandanya kamu sudah selangkah lebih cerdas. Kok bisa-bisanya reality show yang seharusnya real alias nyata, eh ternyata malah rekayasa. Kondisi ini memang memanfaatkan psikologi orang Indonesia yang cenderung pasif dan konsumtif. Mereka mudah ‘dicekoki’ apa saja terutama yang bertujuan pembodohan secara massal. Hal ini pula yang terjadi pada berbagai macam program TV di Indonesia.

Deadline, biasanya menjadi alasan utama rekayasa tayangan reality show. Jadi kalo nunggu kisah nyata beneran untuk ditayangkan, itu bakal menunggu waktu lama dan belum ada kepastian juga kasusnya bisa selesai atau nggak. Kalo direkayasa dengan skenario layaknya sinetron, maka menjual program ini ke stasiun TV jadi lebih mudah karena semuanya serba mudah dan pasti. Karena mudah dan ditonton banyak pemirsa, maka rating pasti naik. Kalo rating naik, iklan pun bakal rebutan untuk ambil porsi tayang. Nah, loh…UUD juga alias Ujung-Ujungnya Duit.

Berdasarkan data AC Nielsen di akhir tahun 2008, Termehek-mehek merupakan program acara paling populer dengan raihan rating 7,2 poin dan share 27,3 persen. Ini adalah yang tertinggi dari semua acara reality show yang ada di stasiun televisi lainnya. Menurut Gusti M Taufik, salah satu Event Coordinator pada sebuah Production House (PH) di Jakarta mengatakan bahwa budget produksi pasti akan membangkak jika shooting menggunakan kejadian real. Belum lagi memburu target pasti akan makan waktu lama. Perhatikan saja pada acara Termehek-mehek, meyoritas pencarian orang bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari. Padahal faktanya itu adalah skenario yang bisa diselesaikan hanya dalam waktu hitungan jam saja.

Uang adalah raja diraja manusia saat ini, apalagi untuk program TV. Meskipun sebuah tayangan dikatakan bermutu dan mendidik, namun tanpa uang atau iklan yang menyokong, maka bisa dipastikan program tersebut akan gulung tikar dengan cepat. Begitu sebaliknya, meskipun sebuah tayangan dikategorikan ‘junk program’ alias tidak bermutu, tapi bisa tetep jalan bila didukung kekuatan modal. Inilah pola hidup kapitalisme yang memang sangat mendewakan modal dan pemodal sebagai penguasa zaman.

Tradisi intip-mengintip, mencari celah untuk tahu aib orang, bertengkar dengan kasar di depan umum, berkata-kata jorok sehingga TV perlu menyensor dengan bunyi ‘tiiiittt’, adalah sebagian budaya reality show terutama Termehek-mehek yang berusaha diajarkan pada kita. Sifat dasar manusia yang selalu saja ingin tahu urusan orang dijadikan komoditi, tak ubahnya seperti infotainment. Bedanya, kali ini yang dijadikan objek pengintipan adalah mereka yang bukan selebritis. Tapi intinya sih tetep aja, melakukan hal-hal yang nggak penting dan nggak bermanfaat.

Bagaimana sikap kita?

Mungkin awalnya kita nggak paham tentang realitas reality show. Jadinya kita gampang banget tertipu dan ngefans dengan sebuah program tayangan tertentu. Sampai-sampai kita bela-belain untuk menunda keperluan lain demi nggak mau ketinggalan acara tersebut. Ehem…iya apa iya?

Nah, sekarang kamu jadi ngerti tentang apa dan bagaimananya reality show itu terutama Termehek-mehek yang sekarang ini lagi booming. Terus, apa dong yang kita lakukan sebagai pemuda cerdas plus beriman? Ya…nggak usahlah terlalu serius nonton acara reality show itu. Apalagi tayangan favorit begini biasanya sengaja ditaruh di jam-jam darurat. Perhatikan aja Termehek-mehek ini tayang di waktu Maghrib yang singkat. Kalo kamu udah taraf kecanduan sama acara beginian, bisa dipastikan bakal males mau berangkat sholat. Bila pun melakukan, pasti maunya pingin cepet-cepet selesai alias sholat ala kilat khusus (emangnya surat?).

Padahal itu semua rekayasa loh. Seandainya pun bukan rekayasa, masa iya sih tayangan reality show bisa mengalahkan waktu sholat kamu? Semua ini adalah langkah awal bagi media TV untuk menanamkan racunnya ke dalam benak kaum muslimin terutama pemudanya. Kamu jadi terlena di depan TV dan males untuk sholat secara khusyuk dan tumakninah. Boro-boro baca al-Quran setelah sholat Maghrib, yang ada juga baca al-Fatihah nggak jelas bacaannya karena cepet-cepetan mau nonton Termehek-mehek. Aduh….moga aja kamu bukan type ini ya.

Sabtu sore dan Minggu sore itu biasanya banyak kegiatan di sekitar rumah kamu karena anak-anak sekolah dan kuliah pada santai. Dengan adanya Termehek-mehek ini biasanya kamu-kamu pada males untuk berangkat ngaji atau kegiatan positif lainnya. Pinginnya cuma duduk manis sambil mantengin layer TV nunggu acara reality show kelar.

Nah, mulai sekarang udah nggak musim lagi males ngaji dan ikut pembinaan. Meskipun acara TV kesayangan kamu lagi main, waktunya berangkat menimba ilmu ya berangkat aja. Emang TV bisa menyelamatkan dunia-akhirat kamu? Pasti nggak dong. So, nonton reality show ya wajar-wajar aja kaleee, nggak perlu sampai kecanduan.

Semua ini sandiwara

Bagi yang nggak begitu suka dengan sinetron, biasanya terjebak dengan reality show semacam Termehek-mehek. Padahal program jenis ini setali tiga uang alias sama saja dengan sinteron hanya beda kemasan. Sang produser tahu bener bahwa tidak semua orang bisa ditipu untuk program pembodohan ala tayangan sinetron. Oleh karena itu butuh polesan cerdas untuk tope orang-orang seperti ini dengan tayangan jenis lain. Reality show adalah jawabannya.

Sesungguhnya, semua ini adalah sandiwara. Sandiwaranya para pemodal untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah tayangan itu merusak generasi atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah rating tinggi yang berarti iklan banyak, duit pun mengalir menambah penuh pundi-pundi uang mereka. Parahnya lagi, masyarakat kita terlena dengan kebodohan ini. Maka sudah saatnya bagi kamu-kamu yang selangkah lebih cerdas daripada rakyat kebanyakan karena kamu udah membaca gaulislam ini (ehem… kagak nyombong Non!) untuk tidak berdiam diri.

Yuk, kita sebarkan pemahaman ini pada umat. Bukan melulu tentang rekayasa reality show saja tapi juga muatan isinya yang bisa merusak generasi secara perlahan tapi pasti. Ingat, tayangan TV hanya hiburan. Ibarat garam pada masakan, bila kebanyakan maka selain rasanya nggak enak juga pasti menimbulkan berbagai macam penyakit.

Begitu juga dengan tayangan TV, nggak perlu menjadikan TV sebagai menu pokok harian kamu. Sekadarnya saja untuk mengetahui berita terkini terutama tayangan yang bermutu dan bermanfaat. Selebihnya, kita kudu ingat bahwa hidup ini bukanlah main-main. Hidup di dunia juga bukan sandiwara, tapi sungguhan. Kita berbuat salah ya akan mendapat dosa, kalo beramal shalih akan dapat pahala. Hidup kita akan dihisab, akan dimintai pertanggungan jawabnya. Allah Swt. yang akan mengawasi kita semua. Dia tidak bisa ditipu dengan acting kita yang bepura-pura alim atau berpura-pura ikhas. Jadi, beramallah sebaik-baiknya untuk kehidupan sebenarnya di negeri akhirat kelak. Biarkan saja Termehek-mehek dengan acara ‘nggak mehek’nya itu, yang penting kamu nggak lagi sebagai orang na?f yang percaya banget sama reality show. So, ayuk bergerak dan berdakwah untuk perubahan! [ria: riafariana@yahoo.com]

48 thoughts on ““Termehek-mehek”, Rekayasa?

  1. nganu Mar 23,2009 11:52

    nice artikle

  2. Ivan Jaya Mar 23,2009 16:12

    Iya sih mbak.. gak mungkin juga “termehek-mehek” 2x seminggu punya kasus. Dulu juga pernah ketangkap sama adek saya, kalo client di “termehek-mehek” ternyata main juga di reality show lain.

    Tayangan televisi…semakin lama kok semakin membodoh-bodohi masyarakat yah. Atau memang kita nya yang terlalu suka mencari tau sesuatu ntah itu kebenaran atau kebusukan.

    Posting yang bagus mbak.

  3. Disti Mar 24,2009 14:25

    hmm..btul jg yaw… Hadeh2.. makin banyk aj model2 reality show kaya gt.

    yaa..Qt liat sisi positifna aja. Qt ambil sebagai pembelajaran hidup bahwa masalah2 yang diangkat kadang memang fakta di masyarakat walaupun dikemas dalam bentuk rekayasa.

  4. Yati Mar 24,2009 15:20

    Alhamdulillah, menemukan artikel ini, karena terus terang saya juga penggemar acara ini, saya kadang sampai menangis melihat kisah2 yang ditayangkan yang seolah2 nyata. Ternyata…hanya skenario saja ..:).
    Bagus sekali artikelnya, wawasan saya jadi terbuka…

  5. khilafah supporters Mar 24,2009 16:18

    o’ o, kamu ketahuaan . . .
    bo’ong2 an . . .

  6. al-ayyubi Mar 24,2009 16:19

    tayangan Telvisi indonesia tidak akan pernah mendidik masyarakat menjadi masyarakat yng cerdas, hingga negara ini diatur syariah islam

    Allahu Akbar

  7. Anina Mar 24,2009 16:57

    Hmm.
    Artike.x bgus.
    Skarang sy jadi tau klo t.nyata reality show macam Termehek-mehek pun hanya rekayasa 🙂

  8. Achmad Widiana Mar 24,2009 19:08

    memang sudah semestinya Umat ISLAM yang mayoritas di Negeri ini, memiliki media Televisi ISLAM, dimana tayangan dan siarannya berpedoman pada Ajaran ISLAM. Reality Show Termehek mehek ditayangkan bertepatan dengan waktu Sholat Maghrib, sehingga banyak orang Islam yang kemudian tidak segera Sholat, bahkan mengabaikannya demi untuk menyaksikan acara ini.
    Tulisan diatas yang dibuat oleh Dik’ Ria ( maaf Saya sebut Adik ), tulisan yang sangat bagus, dibuat tidak asal asalan, kajian dan pengamatannya sangat jeli. Saya mamberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap Dik’ Ria.
    Umat ISLAM haruslah segera menyadari, bahwa ada gerakan pemurtadan dan pembelokan Aqidah, yang dilakukan oleh media TV dan para kapitalis. SUBHANALLAH…

  9. Andri Mar 25,2009 10:12

    Assalamu’alaikum

    baru pada tau ya …klo saya sudah tau dari dulu karna kakak saya ada yg kerja di Trans corp. Tapi bapak dan ibu masih percaya juga padahal kaka saya sudah bilangin.

  10. Martias Al-Fatih Mar 25,2009 12:18

    hahahahahaha……bener banget…….

    orang indonesia kan memang dibodohin trusssssssssssssss

    semua acara TV dikontrol orang kafir

  11. yudil Mar 26,2009 15:43

    termehek mehek memang menyedihkan seperti halnya sinetron lainnya yang selalu mengesampingkan kebenaran logika,bagaimana mungkin bisa menemukan anak yang diculik dari mencari informasi hingga bisa menemukan dan kemudian sedikit beradegan baku hantam dengan sang penculik merebutkan anak hilang itu,seolah mereka bisa menggantikan peran polisi, bergerak sendiri macam negara tanpa hukum saja…saya kadang tersenyum getir sambil menonton acara tersebut yang juga digandrungi para ibu termasuk istri saya disebelah…dan kalo sekarang ketahuan boongnya,sebenarnya dari pertama saya sudah tau…

  12. Masinis Mar 26,2009 18:28

    Satu lagi tanda kalo acara itu adalah rekayasa. Coba perhatikan gaya berbicara orang2 yg tampil di acara itu. Kelihatan banget bicaranya gak alami dan terkesan kaku karena pake bahasa Indonesia yg gak umum dipake di komunikasi sehari-hari, seolah2 ada teksnya (emang iya) Contohnya adalah acara “Tukar Nasib” hari Minggu sore 22 Maret 2009.

  13. Sita Nurhayati Mar 27,2009 09:12

    assalamu’alaikum wr. wb\

    Astaghfirullah….. terima kasih ya ria atas tulisanmu ini. Kami sekeluarga juga termasuk yang seneng dengan acara ini. Sampai2 menunda2 sholat maghrib demi acara yang ternyata gak penting ini. Oh..iya kalau acara “Jika aku menjadi” gmn dunx? teruslah menulis tentang apa2 yang gak perlu kita tonton di TV. Kami menunggu tulisan kamu yang lain ya. Suksus dan sehat selalu untuk kamu.
    WAssalamu’alaikum wr. wb

  14. manchunia_05 Mar 27,2009 18:24

    Udah lama dibahas mbak.. di forum Kaskus.us fenomena acara kayak termehek-mehek dll itu rekayasa..

    Malah diforum itu udah banyak saksinya

    Oia numpang kopas artikel ini ya mbak ria

  15. sonnnnnn Mar 28,2009 20:10

    tertipu lagi tertipu lagi. benar-benar acting yang hebat…. kalo begitu jgn nonton reality show semuanya penuh kepalsuan

  16. luki amima Mar 29,2009 00:21

    Assalamu ‘Alaikum. Sungguh kejam Helmy Yahya atas reality show yang dia buat itu. Sukses buat Ria. Terimakasih dan Wassalamu ‘Alaikum.

  17. diah Mar 30,2009 10:15

    …… Astaghfirullah
    kapan negeri ini akan bangkit dan jaya, jika manusia-manusianya membohongi sodaranya sendiri
    buat forum kecil bersama remaja di kampung masing2 sampaikanlah artikel ini….. insyaAllah Allah selalu bersama kita Allahu Akbar
    Jazakillah ukhti ria

  18. Ma'mun Mar 30,2009 14:35

    assalamualaikum. Wah ternyata aku tertipu oleh tayangan termehek-mehek.

  19. Gita Mar 30,2009 15:36

    assalamualaikum..
    Astaghfirullah…. yuuch.. gita kira itu benar benar terjadi loh…
    tapi, alhamdulilha gita ga terlalu kecanduan nonton TV…
    tapi, demi mancari uang… hmm. membohongi pun jadi halal yah…

    tapi, gita ga terimanya itu adalah waktu tayangnya itu.. yah.. menggoda para kaum muslim gituh.. tapi.. lets galz.. kita kuatkan iman… jangan terlena dengan hiburan duniawi..

    ya kan ka….
    thanks buat infonya ya…
    wassalamualaikum..

  20. NN Mar 31,2009 16:50

    Muna bgt seh…
    Noraks….

  21. dian dee dee Apr 3,2009 16:04

    Asslmkm
    Waduh, malu juga kena pembodohAN…
    Iya sih sempet aneh, kok bisa terkemas serapih itu, padahal kan katanya live on the spot alias gerilya nyari target,….
    Alhamdulillah makaih anti jadi tau itu semua boongan.Syukron Katsiiirrrr………
    anyway,tu tayangan juga bagaimanapun taoi gambaran betapa rusak & sakitnya masyarakat kita….
    Udah ga punya malu mengumbar aib (walauun itu fiktif), tai realitasnya beneran kejadian juga dalam kehidupan nyata.
    begitulah kalo Islam ga diterakan.. Siapa yang betah hidu kaya gitu…
    Saatnya kita hidu berdasarkan aturan ILLAHI yang sudah sedemikian baiknya sama kita..
    Remaja muti bangkit, dengan Islam donk!!!!!!

  22. ahmad al ghozy Apr 5,2009 11:51

    marilah ber-Islam dengan Al-Ilmu ( Q.S, 17:36 ) jangan ber-Islam dengan ro’yu ( Q.S 6:116 ) karna Alloh swt tidak mau diduakan/harus totalitas ( Q.S 2:208 ) walaupun tidak ada paksaan dan pilihan telah jelas ( Q.S 2:256 ) maka ber-Islamlah dengan Al-Ilmu dan secara keseluruhan, atau kamu dikasih gelar sama Alloh swt ( K.H ) alias Kafiruna Haqo ( Q.S, 4:150-151 )
    Allohuakbar…!!!!!!!!!
    Islam pasti menang…!!! dan mulkiyah Alloh Pasti akan kembali
    Tunggu tanggal mainnya….!!!
    anda mau jadi penonton, apa mau jadi pemain………???????

  23. tiara Apr 5,2009 13:11

    waduh2….kok bisa ya saya terpedaya oleh film yg bgtuan ckckckck…. ini g bs dibiarkan.kita sebagai generas penerus islam harus memberitahu kepada yg belum tahu karena itu adalah kewajiban kita sebagai muslim sejati.
    setuju….?!

  24. Bamz Apr 5,2009 19:51

    Aduh-aduh,bangsa ini semakin dibodohi tayangan2 yg ga mutu kayak gini!aku juga ga percaya klo acara ini adalah murni reality show…paling sinetron yg dibungkus nama reality show!pihak stasiun tv hanya ngejar rating,klo byk yg nonton,rating tinggi dan otomatis,iklan mengantre dgn sendirinya…pundi2 rupiah pun mengalir dgn derasx!untung gila…apapun dilakukan,termasuk merekayasa skenario demi mengejar rating!Mari sama2 kita sadari hal2 bodoh seperti ini!

  25. aw Apr 6,2009 14:41

    hei itu reality show beneran tau gak sih?!
    capek dehh.. ZZZZZZ! -_-

  26. bayu Apr 6,2009 15:00

    kita memang harus selektif memilih acara tv,kalau nggak mau di bodohi

  27. Anissa Apr 16,2009 11:36

    Assalamu’alaikum,

    Artikelnya bener bang get !. Dari kaca mata ilmu komunikasi juga bisa dibuktikan bahwa realitas yang disajikan televisi seperti tayangan termehek-mehek adalah realitas semu, maksudnya realita yang ditayangkan dalam acara termehek-mehek itu dikonstruksi sedemikian rupa sehingga mampu menarik khalayak dalam jumlah besar. Akibatnya, rating acara itu selalu tinggi. Selanjutnya, jumlah khalayak yang banyak ini “dijual” oleh TV kepada para pengiklan. Disini lah terjadi apa yang disebut dalam ilmu komunikasi sebagai komodifikasi, dimana realita yang ada di masyarakat dijadikan komoditas yang memiliki nilai tukar tinggi. Menurut marketing mereka, iklan yang akan tampil di acara termehek-mehek sampai harus antri (waiting list) !

  28. vicky Apr 16,2009 18:53

    baru tau kalau rekayasa… hehehehe…

    tapi udah lama gak nonton acara gituann….. wong urusan diri sendiri aja masih banyak kok mau liat urusan orang lain… hehehe

  29. widi Apr 17,2009 10:53

    akuuuu… tertipuuuuu…..

  30. Rahmat Fitriaji Apr 17,2009 14:21

    yaahh…namanya juga acara televisi, apapun acaranya pasti gak lepas dari yang namanya naskah. jadi gak ada tuh yang murni reality show. semuanya udah diatur. kalo bener2x…reality pasti tanpa naskah. tapi apa mungkin bisa begitu? ya jelas nggak donk ya…

  31. Syamma' Rachmawati Apr 25,2009 10:36

    dari awal dulu katakan cinta ampe skrg ana mah ga percaya sama reality show kaya begituan.. dari kacamata pandang ana semua keliatan jelas rekayasa tuh.. malah sempet debat sama para keluarga n sahabat yg mjd penggemar “termehek-mehek”..
    sekarang ga ada lg acara TV yg mendidik selain berita.. apa lg sinetron jaman sekarang… huaaaa.. bete puoLLL.. pembodohan thd masyarakat..

  32. rief-is Apr 25,2009 14:48

    artikel berguna, terutama buat istriku (padahal udah dibilangin acara ini “sungguh terlalu banyak kebetulannya”)
    jadi males banget ngeliat tampang host nya tuh … siapa .. anu … itu loh …ya pokoknya yang dua orang itu …

    go khilafah…..!!

  33. Alfian Tualle Apr 25,2009 19:21

    bilangin ong Trans TV,,, bahwa kita2 dah tau semuanya klo itu semua rekayasa jangan taux aib orang yg i buru tp Trans TV jg bodoh bodoin orang…

  34. handy May 3,2009 21:11

    dari sudut pandang kameranya juga dah ketahuan kalau adegan dalam termehek mehek tu dah disetting. masa’ sorot kameranya selalu pas pada orang yang ngomong. masa’ ada orang yang buka aib sendiri kepada orang se indonesia. bener2 reality show yang gak real. sebbbelz.

  35. ieyaz_chuit May 18,2009 09:16

    wedew…parah…..
    kalo acara yg laen c gmn??ky religi.orang k-3,dll.
    apa tu juga rekayasa???

  36. fanny May 22,2009 11:25

    koq jadi membodoh-bodohkan org indonesia c,,,,,,
    qta kan termasuk org indonesia ga ngerasa apa??????
    seharusnya bikin donk acara yg berkualitas jgn hanya coment acara org,,,
    jd qta bisa nonton acara berkualitas,,

  37. ericova May 23,2009 11:00

    yah bgt lah 😀 kita harus banyak-banyak menyikapi mas setiap tayangan yang ada..tidak semua itu adalah benar..malah menampakan aib orang…

  38. ge May 24,2009 07:12

    ihhhh….
    nyebelin banget sih
    q kira Tu bnar2 nyata,..
    tawnya boong
    mles bgt deh…

  39. riska May 24,2009 19:46

    Emank boongan tuh acara… Cara ngomongnya… Berantemnya kaya pake skenario gt deh… Kadang geli juga liatnya…wew..tp anggap aja mini sinetron.. 🙂 tuker nasib… Orang ketiga lah… Cape deh…. Kalo yg beneran tuh “andai aku menjadi” itu kan cuma ngerasain gmn kehidupan org yg susah…. 🙂

  40. islam four my life May 27,2009 14:41

    semua reality show itu udah di bumbui sama kayak kita makan kalo ga di di kasih bumbu ga enak kan kalo emang reality show itu bener-bener asli / kisah nyata mestinya namanya bukan reality show tapi dokumenter

  41. Or May 30,2009 19:25

    gw cuman pengen bilang,

    STOP PEMBODOHAN MASYARAKAT DENGAN TAYANGAN2 BODOH SEPERTI INI,

    lebih bagus nonton animal planet daripada ginian, sangat tidak baik, karena scara tidak langsung kita ikut terpengaruh dengan hal2 negatif yg sering ditampilkan di TV,

    peace!!

  42. DEDDY Jun 3,2009 16:32

    ebih bagus nonton animal planet daripada ginian, sangat tidak baik, karena scara tidak langsung kita ikut terpengaruh dengan hal2 negatif yg sering ditampilkan di TV,?? Astaghfirullah
    kapan negeri ini akan bangkit dan jaya, jika manusia-manusianya membohongi sodaranya sendiri
    buat forum kecil bersama remaja di kampung masing2 sampaikanlah artikel ini?.. insyaAllah Allah selalu bersama kita Allahu Akbar
    Jazakillah ukhti ria

  43. Fitriasari Jun 14,2009 22:29

    harusnya kita boikot acara kaya gini dgn cara real: GA USAH DITONTON LAGI. kalo banyak yg ga nonton kan rating turun, keuntungan mereka berkurang, bisa2 kalo gini terus, acara ini bisa dihapus karena penontonnya terus berkurang. bagi yang ga suka (ga rela) dibohongi dan dibodohi, mari kita mulai sekarang. masih banyak acara bagus yg menghibur dan mendidik guys….

  44. LoetoetAchielles Jun 17,2009 07:51

    ehh..lo yang nulis ?Termehek-mehek?, Rekayasa?
    lo jangan nyinggung anak2 skinheads deh…
    emangnya kenapa?
    ini gaya hidup gw…
    gw mo botak, itu terserah gw,.
    lo pada jangan so islam deh….
    gw juga islam tapi gw ga pernah nyinggung yang lain
    belajar islam dimane sih lo?
    jangan so religius… kalo ga tau apa itu islam sebenarnya….

  45. generale Mar 7,2010 00:55

    ‘…memanfaatkan psikologi orang Indonesia yang cenderung pasif dan konsumtif. Mereka mudah ‘dicekoki’ apa saja terutama yang bertujuan pembodohan secara massal…’ menyedihkan sekali ini bangsa yg dari zaman belanda hingga sekarang memang mudah di”perdayai”dibohongi dibodohi dikhianati dan segala bentuk apapun rekayasanya yg dapat membuat bangsa ini kian terpuruk.
    tapi mudah2an kita tetap optimis dalam membangun “kecerdasan” berbangsa dan bernegara demi Indonesia Raya, amin.

  46. m-dir Mar 17,2010 08:05

    assalamu’alaikum, wah artikel yang bagus nih, emang aku ngerasa bahwa trmhk-mhk ada unsur rekayasanya… Dan ternyata memang benar

  47. zeky May 17,2010 14:42

    assalamualaikum……….(all)

    awalnya aku ngefans bnget, tp setelah dicermati baik2 ternyata mmg terdapat unsur rekayasa……
    tapi sbagian masyarakat mmg sudah terkontaminasi dgn acara tersebut.

  48. Riyo Sep 17,2010 10:15

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Saya setuju dengan pndapat antum. Saya juga dari awal Reality Show memang tidak suka. Maksud dan intisari ceritanya bagus, cuma cara penyerapan kepada masyarakat yang salah. Seakan2 ini adalah cerita yg benar2 real nyata. Mulai dari awal saya sudah tidak berpikir logis untuk program reality show ini, khan gk mungkin team Reality Show bisa menyelesaikan masalah dalam waktu 3-5 hari atau cuma seminggu. Masalah keluarga atau masalah pernikahan dan pribadi orang itu sangatlah rumit, mkn bisa diseleasaikan bertahun2 dengan jalan yang ditentukan Allah SWT (Betull Tidaaakkk..??)
    Begitu juga dengan Program Reality Show yang lain spt IMB, dkk. Saya sangat tidak suka karena Bulan Ramadhan kemarin tayangan ini tetap disiarkan. Alhasil, Masjid jadi sepi karena ingin nonton program ini. Saya tidak tahu lagi mau dibawa kemana ahlak masyarakat dan anak2 kita, kalu tidak kita sendiri yang pintar menjaganya. Demikian Komentar saya..
    Wassalam.

Comments are closed.

%d bloggers like this: