Berhenti Berharap Kepada Kapitalisme 1

Apa sih kapitalisme itu? Kalo kamu mendengar berita ada anak SD yang berupaya melakukan bunuh diri dengan cara menggantung dirinya gara-gara nggak bisa bayar uang sekolah, itulah korban kapitalisme. Lho, kok bisa sih? Iya, karena dalam kapitalisme berlaku hukum: siapa yang punya kekuatan (termasuk duit), merekalah yang berhak mendapatkan segalanya (termasuk pendidikan). Buat rakyat miskin, harap tahu diri. Karena sekolah hanya boleh bagi mereka yang punya duit cukup (atau lebih).

Apa sih kapitalisme itu? Kapitalisme adalah ketika kamu melihat “bisnis hukumâ€?. Siapa yang bisa menyogok para oknum hakim dan jaksa dengan duit dan harta, dialah yang akan memenangkan perkara. Tengok deh para bankir bermasalah yang kini mungkin sedang menikmati surga dunia di negeri orang. Pinjam uang ke negara, terus bisnis. Bisnisnya gagal (atau sengaja digagalkan), lalu kabur bawa sebagian uang pinjaman itu. Untuk mengamankan diri, ia sebar ratusan juta rupiah kepada para oknum penegak hukum (polisi, kejaksaan, dan mungkin?  juga petugas bagian emigrasi). Beres kan? Itulah kapitalisme.

Apa arti kapitalisme? Ketika negara tak lagi punya taring untuk memberangus para pengusaha, para konglomerat nakal. Penguasa dikalahkan oleh para pengusaha kelas kakap. Di Amerika, setiap ada pemilihan presiden, pasti para pengusaha sudah menyemut mendekati calon presiden sambil berjanji akan membantu kampanyenya. Sebagai imbalannya, jika sang calon terpilih, maka presiden terpilih harus mempermudah usaha para konglomerat yang telah mendanai kampanyenya.

Praktik seperti ini, berlaku hampir di semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Termasuk, bukan nuduh lho, bisa jadi di negeri ini. Sudah bukan rahasia lagi tuh. Benar, saya sering mendengar, bahkan sempat ngobrol dengan seorang karyawan pemda bahwa untuk menjadi penguasa daerah setingkat bupati saja dana yang dibutuhkan sekitar 5 miliar perak. Saya penasaran bertanya: “Dari mana uang itu didapatkan dan akan disalurkan ke mana?�

“Gampang Mas, banyak pengusaha yang mendanai kok. Lagian uang itu akan dibagikan juga ke anggota DPRD dan ke Departemen Dalam Negeri. Tapi… dalam setahun atau dua tahun juga udah balik modal, Mas,� jelasnya tanpa ragu.

“Wah, nggak takut dosa tuh?� tanya saya.

“Ya, gimana lagi, itu kan aturan yang berlaku,� katanya sambil terus menyetir mobil.

Hmm… ternyata begitu ya? Ya, inilah kapitalisme.

Apa yang dimaksud dengan kapitalisme? Jika kamu sering melihat ada orang yang mengejar kenikmatan jasadi dan materi, meski untuk meraihnya harus melanggar aturan masyarakat, juga aturan agama, itulah bagian dari gaya hidup yang diajarkan kapitalisme. Karena apa? Karena tujuan utama dalam berbuat menurut kaum kapitalis adalah kenikmatan (material). Orang yang tidak mencari kenikmatan material itu tidak realistis. Dalam faham itu, sistem nilai ditentukan oleh keuntungan fisik.

Jadi jangan heran jika pelacuran merajalela, peredaran miras dan narkoba pun sulit dihentikan. Pemerintah bahkan “melegalkan� bisnis pelacuran dengan memberikan jabatan kepada pelaku utamanya sebagai PSK alias Pekerja Seks Komersial. Perjudian seolah bukan kegiatan terlarang. Buktinya, meski sudah banyak bertebaran tempat dan permainan judi, pemerintah dari tingkat kelurahan sampe pusat menutup mata. Bukan tak bisa membereskan, tapi nggak ada niat. Bahkan sangat boleh jadi mereka sudah dicocok duluan mulutnya pake duit jutaan rupiah. Malah nih, seringkali yang jadi “centeng�-nya untuk mengamankan bisnis judi dan usaha birahi terlarang itu adalah oknum aparat keamanan. Inilah kapitalisme.

Kapitalisme itu apa ya? Ketika negara berbisnis dengan rakyat, ketika para penguasa ogah mengulurkan tangannya untuk mensejahterakan rakyat, malah membuat rakyat sengsara, itulah negara yang bermesraan dengan kekasihnya bernama kapitalisme. Karena prinsip utama paham ini adalah: di mana yang kuat harus (secara alami) mencaplok yang lemah. Jika ada yang menentang konsep semacam itu, maka ia dianggap tidak waras, terhalusinasi dan pembangkang karena “ingin merusak tatanan ko-eksistensi�. Lebih dari itu, itulah keadilan, menurut mereka.

Sederhananya, kamu bisa melihat bagaimana “serangan fajar� dimulai pada 1 Maret 2005 oleh pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Untuk menutupi kebiadaban dan keganasannya, mereka tampil bak pahlawan pembela rakyat. Tak henti berkampanye dengan menggembar-gemborkan bahwa subsidi untuk beberapa jenis BBM itu salah sasaran. Karena ternyata katanya dinikmati oleh mereka yang termasuk golongan berduit. Maka, atas nama �keadilan’, mereka mencabut subsidi untuk BBM itu dengan cara menaikkan harganya. Katanya sih, denger-denger, dana kompensasi dari kenaikan harga BBM itu akan diberikan kepada rakyat kecil berupa tunjangan kesehatan dan pendidikan.

Terwujudkah? Ya, jangankan merasakannya, mungkin rakyat nggak pernah tahu dengan rencana itu. Bukti nyata di lapangan aja, ternyata minyak tanah pun (padahal katanya nggak dinaikkan), harganya meroket hampir menyamai harga bensin (premium). Wajar sih, karena pengusaha minyak di tingkat eceran juga berdalil, “Emangnya bahan bakar yang dikonsumsi truk pengangkut minyak tanah dari depo pertamina pake minyak tanah juga? Pake bensin tahu!� Walah!

Jadi kalo pun akhirnya biaya kesehatan murah dan sekolah murah, tapi untuk mengepulkan dapur kewalahan, itu baru minyak tanah yang naik, padahal harga sembako udah ikut-ikutan latah naik. Ongkos anak ke sekolah pun jadi tambah besar. Akhirnya, memang bukan membantu rakyat miskin, tapi membantu memiskinkan rakyat. Glek!

Beginilah hidup sengsara di bawah naungan kapitalisme. Kalo mau dirunut lagi kayaknya perlu satu buku khusus yang halamannya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan untuk membeberkan segala kerugian yang diakibatkan sistem kapitalisme ini. Jujur saja, sebaiknya kita berhenti berharap kepada sistem kehidupan ini deh!

Standar ganda
Sobat muda muslim, dalam kapitalisme memang dikenal kebebasan. Siapapun bebas melakukan apa saja. Mulai dari kegiatan untuk menyenangkan diri sendiri sampe untuk mengajak orang lain bersenang-senang bersamanya. Bebas. Bahkan saking bebasnya, seringkali kebablasan.

Ngomongin kebebasan, jadi pengen ngejelasin dikit nih bahwa kapitalisme itu punya instrumen politik bernama demokrasi. Nah, dalam demokrasi inilah dikenal adanya kebebasan yang bisa dirinci jadi empat bagian: kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan pemilikan, dan kebebasan bertingkah laku.

Lihat deh, dalam demokrasi ini orang boleh dan bebas mau beragama apa aja, sekaligus bebas mau beragama atau tidak. Karena agama adalah urusan pribadi. Orang lain jangan mengusik atau mempermasalahkannya. Tentang kebebasan berpendapat bisa kamu saksikan bahwa kini banyak orang bebas mengeluarkan pendapatnya. Baik pendapat yang salah maupun pendapat yang benar. Pokoknya bebas. Awalnya ada angin segar juga sih buat kita yang mendakwahkan Islam. Tapi, kalo menyuarakan kebenaran Islam itu untuk melawan demokrasi, tentunya bakalan digilas juga. Standar ganda dong?

Yup, silakan ikuti terus kasus Ustdaz Abu Bakar Ba’asyir yang nggak ada ujung pangkalnya itu. Tuduhannya aja jadi berlapis-lapis dan nggak logis. Amrik dan Australia pun berani-beraninya ikut-ikutan intervensi dalam kasus tersebut. Maklum, katanya sih karena berkaitan dengan terorisme. Tapi, dunia menutup mata ketika Amrik dan Inggris, juga Australia memercikkan api peperangan di Irak dan Afghanistan. Siapa sebetulnya yang jadi teroris?

Inilah standar ganda. Kapitalisme juga rajin membuat terminologi sendiri kepada mereka yang nggak suka dengan konsep kapitalisme, lalu menggembar-gemborkannya dengan kekuatan propaganda di segenap pelosok dunia. Terminologi itu menjelaskan bahwa yang bukan liberal adalah totalitarian, antiplural, pembangkang, utopian, fanatik dan fasis, termasuk tentunya teroris.

Dalam demokrasi juga diajarkan kebebasan memiliki. Maka lihat deh, berapa juta hektar hutan yang dimiliki oleh para konglomerat di negeri ini. Padahal, itu milik umum yang seharusnya dikelola oleh negara dan hasilnya diberikan untuk rakyat banyak.

Kebebasan bertingkah laku pun dilindungi dalam demokrasi. Itu sebabnya, para pelacur dan pezina, tukang copet, maling, koruptor, perampok, dll tidak semuanya dihukum. Mereka yang dihukum biasanya yang nggak bisa membelinya dengan uang dan harta. Bisnis pelacuran aman karena rajin �setor’. Gawat!

Destroy capitalism, rise with Islam
Sobat muda muslim, sebagai remaja kita udah dewasa, sehingga pantas aja kalo mikirin soal kehidupan ini. Nggak tabu kok remaja ngomongin urusan politik. Karena yang namanya politik berarti “pengaturan urusan umat�. Nah, kalo kamu udah mikirin kondisi umat ini, apalagi berusaha menyampaikan solusi dengan menghadirkan kebenaran Islam, kamu udah termasuk berpolitik lho. Bener.

Jangan anggap bahwa politik itu cuma urusan pemerintahan doang. Nggak. Itu keliru. Tapi politik itu mencakup urusan umat secara umum. Segala aspek kehidupan. Oke?

Itu sebabnya, ketika kamu udah membaca tulisan ini sejak awal, kemudian kamu kembangkan sendiri faktanya, kita yakin kamu udah ngeh dan paham sekarang, ternyata “inilah rasanya� hidup di bawah naungan kapitalisme. Nah, kalo udah ngeh kayak gini, seperti kata Sheila on 7: “berhenti berharap�. Ya, tapi kita tambahin menjadi, “berhenti berharap kepada kapitalisme�.

Itu sebabnya, mari kita kampanyekan keagungan Islam dan berusaha menerapkannya sebagai ideologi negara. Karena saat ini, ketika Islam tidak diterapkan sebagai ideologi negara, berbagai kerusakan sudah nyata di depan kita. Kalo rajin baca koran atau lihat berita kriminal di layar kaca, kita jadi miris karena ternyata rasa aman begitu mahal. Banyak sekali tindak kekerasan di sekitar kita.

Soal pelacuran juga sungguh sangat mengkhawatirkan, sebagai contoh, di Jawa Barat saja berdasarkan Data dari Kantor Dinas Sosial Provinsi Jabar tahun 2003, ada 300-an tempat pelacuran terbuka di wilayah ini dengan jumlah PSK sekitar 6.276 orang. Dari jumlah itu, sekitar 30 persen (sekitar 1.800) anak yang berusia di bawah 18 tahun bekerja sebagai PSK (Kompas, 27 Mei 2004)

Kalo dianggap bahwa itu terus bertambah, sudah berapa ribu coba? Itu yang terdata, belum yang liar. Seperti gunung es, kecil di permukaan ternyata besar di dalam. Itu baru di Jawa Barat, belum daerah lainnya. Mengerikan. Silakan kamu searching kasus lain yang jumlahnya banyak dan mudah kita jumpai.

Oke deh mulai sekarang, kita mulai mengkaji Islam dengan serius agar tahu keagungan Islam. Karena mustahil bisa kenal Islam, kalo nggak mempelajarinya. Terus, kalo udah tahu kita wajib mengamalkannya. Kita contoh perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang dengan semangat menyebarkan Islam. Sehingga Rasulullah saw. sanggup mendirikan negara Islam pertama di Madinah. Negara Islam itu tegak berdiri sampe akhirnya (setelah 1300 tahun lebih), karena banyak perlawanan dari musuh-musuhnya, plus kemunduran berpikir umat Islam karena teracuni tsaqafah asing, runtuh pada tanggal 3 Maret 1924. Waktu itu, pemerintahan Islam berpusat di Turki.

Ya, semoga saja, dengan kegigihan kita untuk belajar dan memperjuangkan Islam ini, kita bisa segera melepaskan diri dari belenggu kapitalisme. Rasa-rasanya sangat layak kalo kita sekarang teriak: destroy capitalism, rise with Islam. Kapitalisme sudah basi! [solihin]

(Buletin STUDIA – Edisi 235/Tahun ke-6/14 Maret 2005)

One comment on “Berhenti Berharap Kepada Kapitalisme

  1. dedi Jun 25,2009 21:54

    salma knal mas

Comments are closed.

%d bloggers like this: