Cewek Doyan Digoda

gaulislam edisi 461/tahun ke-9 (19 Dzulqa’dah 1437 H/ 22 Agustus 2016)

 

Ah, yang benar saja. Emang ada cewek yang doyan digoda? Hmm.. ya udah tanyain aja deh sama anak cewek. Emang sih, pastinya nggak semua doyan digoda, tapi mungkin ada yang pengen langsung digado, #eh (emangnya perkedel!). Beneran. Coba deh kamu lihat beberapa fakta di kehidupan sekitarmu, entah di sekolah atau di masyarakat. Ada aja kan anak cewek yang malah seneng banget kalo digodain anak cowok. Siulan nakal anak cowok kok malah diladeni, itu namanya ngundang bahaya, Non! Apalagi kalo sampe ngasih peluang untuk terus lanjut digodain sampai semaput. Bahaya!

Sobat gaulislam, fakta lebih parah lagi bukan sekadar digoda, tetapi banyak anak cewek yang sengaja ‘menjual’ diri agar bisa dinikmati kaum cowok. Waduh! Coba deh, anak cewek yang sering “dijual dan menjual diri” untuk dinikmati kaum cowok pun bertebaran di internet, majalah, koran, di panggung hiburan dengan joget-joget, di atas catwalk ketika memerkan pakaian hasil rancangan desainer kondang, dan di mana saja. Wah, kalo itu bukan lagi digoda, tapi dilecehkan.

Tapi… anehnya juga kenapa banyak wanita yang suka ya? Padahal, itu bukan digoda, tapi sudah jelas dilecehkan. Buktinya banyak tuh foto selfie remaja putri yang ditampilan di Facebook malah didownload sama banyak orang (termasuk yang punya niat jahat dengan mengeditnya untuk tujuan pornografi). Begitu hasil editan itu bertebaran di berbagai situs internet dan media sosial, wasalam deh. Mau protes gimana coba, udah terlanjur diupload sih. Itu sebabnya, kudu hati-hati, ya!

Tapi sebentar, nggak kecentilan nih, ngebahas tema ini? Nggak lah. Masih relevan dan selama ada keburukan, maka kebaikan akan meluruskannya. Keburukan ini ada penyebabnya, lho. Ya, tentu seiring dengan membanjirnya budaya asing yang masuk ke negeri ini. Terutama lewat jalur film, wabil-khusus film remaja (termasuk sinetron di dalamnya). Posisi wanita jadi kian rentan untuk digoda dan dilecehkan. Maka, harus tahu diri dan waspada terhadap segala bentuk upaya yang mengarah kepada kerusakan diri dan masyarakat.

 

Semua untuk satu

Melihat gelagatnya, naga-naganya sih kondisi ini terasa wajar-wajar saja bagi sebagian remaja. Kenapa? Paling nggak ada beberapa alasan. Pertama, anak ceweknya doyan digoda (ini kebanyakan, lho). Kedua, anak cowoknya merasa kecakepan sehingga mendongkrak rasa pede-nya untuk ngegodain kaum Hawa. Ketiga, masyarakat terlanjur menganggapnya sebagai perbuatan yang wajar. Wah, kacau semuanya dong? Lha, iya, Bang! Karena semua alasan tadi cuma untuk satu masalah: yakni budaya yang dianggap wajar. Klop memang anak ceweknya genit, anak cowoknya agre, dan masyarakat cuek. Itu namanya semua untuk satu!

Sobat gaulislam, memang harus kita akui ada juga anak cewek yang doyan en betah kalau digodain anak cowok. Nggak menutup mata kalo fakta itu memang ada. Kayaknya kalo digodain tuh serasa jadi artis dadakan deh. Malah nggak jarang anak cewek yang tambah ‘kumat’ bila digodain. Guys, kondisi ini bisa kamu lihat sehari-hari, baik di sekolah, di pasar, di mal, atawa di angkot sekalipun. Bener kan?

Ada juga lho anak cewek yang merasa dirinya diperhatiin sama anak cowok, malah bertingkah makin atraktif. Penampilan ke sekolah aja kayak mau ke tempat pesta. Alisnya dikerok, lalu dipermak supaya lebih gereget kayak seleb-seleb Hollywood atau seleb lokal itu lho. Gaya jalannya pun udah kayak peragawati saja. Suaranya dibuat ‘seseksi’ mungkin (hadeuuh…). Coba anak cowok mana sih yang nggak matanya melotot terus bila ada anak cewek yang penampilannya kayak begitu? Ya, kalo bisa, pengennya tampil unik. Meski kadangkala, kenyataannya bukan unik, tapi malah bikin enek. Glodaks!

Itu dari sisi anak ceweknya yang emang genit binti ganjen. Baru disuitin ama anak cowok aja langsung gelinjangan dan pasang aksi, gimana kalo disentuh? Jangan-jangan langsung kelepek-kelepek deh kayak ikan kekurangan air (atau malah jadi kian agresif?)

Nah, gimana dengan anak cowoknya? Ibarat orang main pingpong atau bulutangkis pasti kudu ada lawannya, kan? Nah, kalo anak cewek ada yang suka digodain, maka itu berarti ada banyak anak cowok yang doyan ngegodain. Kadang ada anak cowok yang pede abis ngegodain anak cewek meski tampilannya cuma cocok untuk iklan kaos lampu atau bintang acara “86” (khusus bagian jadi tersangkanya). Wacks!

Cowok yang suka ngegodain anak cewek juga beragam lho. Kalo yang kelas urakan mah, di jalan juga mereka pede ngejailin anak cewek. Pokoknya, asal keliatan unik dan anak ceweknya bisa digodain pasti langsung beraksi. Misalnya aja anak ceweknya berdandan menor dengan gaya jalan yang dibuat-buat. Udah deh, itu sasaran empuk bagi para cowok untuk ngejailin (bukan cuma menggoda). Bisa aja mulai dari sekadar suitan atau kicauan, Sendirian aja nih!. Biasanya kalo anak ceweknya gatel mah, bisa langsung dijawil-jawil bagian tubuh tertentu. Amit-amit dah!

Kondisi seperti ini sering juga dijumpai di kendaraan umum lho. Mungkin ngomong nggak terlalu lancar, tapi tangannya sangat ‘fasih’ bergerilya. Buat cowok yang nggak punya nyali, cukup melakukannya ketika berdesakan di angkutan umum. Nah, kalo yang biasa naik KRL Jabodetabek di jam sibuk (pagi dan sore), pasti deh ngerasain gimana padatnya tuh kendaraan massal. Bukan tak mungkin kalo akhirnya juga terjadi kasus pelcehan seksual. Ada yang ceweknya terima, tapi nggak sedikit yang menikmatinya. Obrolan pun kadang nyerempet urusan esek-esek. Musibah besar memang kalo anak cewek dan cowok udah terlibat saling kirim sinyal untuk saling melakukan kegiatan “menggoda dan digoda”. Wah, menyedihkan memang.

Terus, yang menjadikan budaya ini terasa dianggap wajar, selain karena peran kalangan cowok dan cewek (secara individu or kelompok), juga adanya peran masyarakat secara umum. Ini nih yang bikin kesel, bahwa kelakuan anak cewek-cowok yang model begitu secara tidak langsung mendapat dukungan. Kayak dapetin angin segar, gitu. Misalnya aja ternyata ada juga ortu yang bangga bila anak gadisnya digodain orang. Mungkin pikirnya. “Anak gue memang oke”. Hmm… kalo ada ortu kayak begini, kayaknya wajar bila banyak anak cewek yang makin parah dalam pergaulannya. Makin kacau dan gila-gilaan, karena merasa mendapat ‘restu’ dari ortunya yang nggak ngerti itu. Kasihan memang.

Udah gitu masyarakat membiarkan pula. Jadinya tambah ruwet dan kusut abis. Nggak percaya, lihat aja di pasar. Budaya itu udah nggak tabu lagi untuk dilakukan. Saling sindir dan lempar senyum atau godaan norak udah biasa sesama penjual dan pembeli di pasar. Di kantor-kantor juga sama. Pegawai yang laki bisa dengan leluasa melakukan manuver untuk ngegodain pegawai wanita. Entah di jalan, di angkutan umum, di kantin, atau di lift saat barengan naik ke lantai tertentu tempatnya bekerja. Kalo dirunut-runut bisa capek juga nulisnya neh (maklum, saking banyaknya tuh!)

 

Agar tak digoda

Sobat gaulislam, survei membuktikan bahwa kebanyakan dari teman remaja putri yang digoda or diisengin sama kaum Adam adalah karena penampilannya yang bikin ubun-ubun anak laki mendidih, lalu beraksi secara agresif. Mulai dari cuma sekadar nyuitin atau sebatas ucapan, sampai ada yang berani towal-towel ke tubuh kamu atau menggerayangi bodi kamu. Waduh, itu namanya sudah keterlaluan banget. Benar-benar pelecehan seksual. Bukan tak mungkin tentunya bila kemudian terjadi perkosaan, ih, naudzubillahi min dzalik.

Anak cewek yang dandanannya seronok tentu membuat anak cowok blingsatan, maksudnya blingsatan nggak tahan ingin ‘nyomot’. Parah memang. Makanya nggak salah-salah amat bila kemudian ada iklan layanan masyarakat yang berbunyi, “Bagaimana mungkin angka perkosaan akan menurun, bila rok Anda semakin tinggi?” Wajar toh, memang itulah kenyataannya.

Oya, soal “goda-menggoda”, memang sih kita nggak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada anak cewek, anak cowok juga memang bejat kok. Ya, dua-duanya memang harus bertanggung jawab. Setuju? Harus setuju! Iya dong, soalnya kalo peluang untuk menggoda yang paling mudah, yakni dari pakaian sudah ditutup, rasa-rasanya memang nggak akan terjadi godaan dalam bentuk lainnya. Minimal bisa diredam dulu deh.

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, Islam sudah memberikan aturan yang sempurna untuk menyelamatkan ummatnya. Islam bahkan teramat melindungi hak-hak kita sebagai seorang manusia. Aturan Islam itu bukan untuk mengekang kita, tapi justru mengendalikan kita supaya tetap berada dalam kondisi yang benar dan baik.

Memang sih, kadangkala kita suka berburuk sangka sama aturan Islam. Tanpa terasa kita sering nuduh yang bukan-bukan sama aturan Islam. Kita sering menganggap bahwa Islam terlalu mengekang keinginan kita. Islam kita anggap sebagai penjara yang sering membatasi gerak kita. Wah, pandangan seperti itu sudah saatnya dimasukkin ke keranjang sampah. Bila kita masih menganggap Islam kejam dan nggak ngertiin keinginan kita, berarti kamu masih memanjakan hawa nafsu kamu.

Yang salah itu hawa nafsu kamu, sementara Islam selalu benar dan pasti akan selalu benar. Kenapa? Karena aturan Islam langsung diturunkan oleh Allah Ta’ala, sehingga memang betul-betul jaminan mutu. Nggak bakalan bisa dikalahkan oleh aturan hidup lain, yang rata-rata memang buatan manusia. Kamu kudu nerima, baik itu suka maupun kamu benci. Karena ketika kita menerima itu salah satu bentuk ketataan, dan ketaatan adalah bagian dari cinta. Firman Allah (yang artinya): “Tidak patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila diputuskan suatu hukum oleh Allah dan Rasul-Nya, akan ada bagi mereka pilihan lain, karena barangsiapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

Melihat kenyataan bahwa “digoda dan menggoda” ini tak hanya melibatkan individu, maka masyarakat dan negara juga kudu ikutan menjaga. Bila ada invidu yang salah, anggota masyarakat lain wajib menegurnya dan mengingatkannya supaya kembali ke jalan yang benar. Sebaliknya, bila benar harus didukung. Terus negara juga kudu menertibkan tayangan televisi, film, dan majalah yang makin berani dengan ‘suguhan’ yang merusak kepribadian remaja kita. Kalo kompak gini kan enak ya? Jangan malah doyan kompak dalam berbuat maksiat, salah satunya dengan saling menggoda untuk berbuat keburukan. Wah, ternyata bukan cuma cewek doyan digoda, tapi cowoknya juga hobi menggoda. Kagak pake deh. Dah basi!

Sebaliknya kita wajib berjuang bersama dalam menyebarkan kebenaran dan kebaikan Islam. Insya Allah kita bisa mengubah masyarakat ini dengan gaya hidup Islam. Bukan mustahil lho, karena yang penting, dakwah terus tak pernah henti. Salah satunya, melalui tulisan di gaulislam ini. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Halalkan atau Tinggalkan!

gaulislam edisi 460/tahun ke-9 (12 Dzulqa’dah 1437 H/ 15 Agustus 2016)

 

Ungkapan di judul ini sudah marak disebar di media sosial. Setidaknya saya temukan di akun twitter @tausiyahku pada 9 Februari 2015. Nah, baru-baru ini, muncul lagi setelah pernikahan M Alvin Faiz (putra Ustaz Arifin Ilham) dengan Larissa Chou. Di beberapa grup WhatsApp bertebaran kutipan dari Alvin lengkap dengan foto bersama istrinya, “Kebanyakan pria tak bisa memberi kepastian. Banyak yang pacaran bertahun-tahun tapi tidak jelas kapan menikah. Perempuan tidak butuh kata-kata gombal atau romantis. Mereka cuma butuh kepastian. Jika memang suka, datangi orang tuanya. Segera halalkan, tapi jika belum mampu ya tunda atau tinggalkan!”*saya nggak tahu apa benar ini kutipan dari Alvin atau dari pembuat meme tersebut dengan memanfaatkan momen pernikahan Alvin-Larissa.

Waaah, pastinya pernyataan itu bikin jleb para aktivis pacaran tuh. Beneran. Gimana nggak, mereka yang pacaran kan lebih banyak mainnya daripada serius melanjutkan ke jenjang pernikahan. Bertahun-tahun pacaran cuma runtang-runtung nggak jelas kayak truk gandengan nggak dapet orderan muatan. Jalan bareng hanya dapat capek dan dosanya. Sering ketemu tapi bertabur dosa. Alangkah ruginya. Padahal, kalo emang udah siap, nikah aja. Kalo belum siap, ya tinggalkan pacaran. Prinsip hidupnya sesimpel itu, kok. Justru yang bikin runyam adalah, udah tahu pacaran itu dosa dan banyak ruginya, masih ada dijalanin. Ya sudah, itu namanya udah tahu dosa tapi betah berbuat dosa.

Buat apa pacaran bertahun-tahun tapi nggak ada niat untuk menikah? Apalagi kemudian bikin alasan yang udah terkenal: belum dapat kerjaan dan belum mapan. Tapi anehnya, untuk nikah nggak mau en nggak siap tapi pacaran malah doyan? Ah, itu cuma alasan aja karena terdorong hawa nafsu. Hati-hati.

 

Pemberi harapan palsu

Sobat gaulislam, seperti umumnya para aktivis pacaran, para cowok itu sulit memberi kepastian. Kalo ada yang berani ngasih harapan, tapi sepertinya palsu. Waduh!

Oya, kamu pernah dikibulin? Sakit? Sudah pasti. Nyeri? Tentu saja. Tetapi, kenapa ada yang senang berharap meski kemungkinannya di-PHP-in? Itulah mereka yang pacaran. Padahal, sejatinya mereka yang pacaran lebih berpotensi menjadi korban pemberi harapan palsu atau menjadi pelaku pemberi harapan palsu. Waspada!

Semua orang boleh berharap. Sebab harapan menjadi sebuah pendorong dan penggerak seseorang berbuat. Lihat deh, gimana semangatnya ayah kita bekerja. Sebab, ayah punya harapan, di akhir bulan ada honor yang diterimanya dari hasil jerih payah yang dikeluarkannya. Maka, jangan heran kalo pergi pagi pulang petang bakalan dijabanin aja.

Bisa kamu perhatikan juga para pedagang yang menjual barang dagangannya. Mereka antusias dan semangat memelihara harapan. Apa harapannya? Tentu saja barang dagangannya laku diserbu pembeli. Ada harapan yang sudah disemai sejak mulai pergi dari rumah, bahkan sejak mengemas barang-barang yang akan dibawa ke pasar.

Namun, bagaimana jika harapan tak sesuai kenyataan? Misalnya saja, ayah kita meski sudah bekerja maksimal tapi malah gajinya terlambat cair gara-gara uang kantor untuk gaji karyawan digasak rampok. Atau pedagang yang jualannya nggak laku karena tak ada satupun orang yang mampir melihat dagangannya, apalagi membelinya. Bersabar adalah kuncinya. Memelihara harapan juga jalannya. Tetap seperti itu.

Lalu bagaimana dengan pacaran? Kalo saya sih sudah menduga kuat kalo pacaran cuma upaya tipu-tipu para cowok (mungkin juga ada para cewek yang begitu). Iya. Itu sebabnya, saya lebih empati kepada para muslimah nih, supaya mewaspadai para cowok sok pemberi harapan, padahal yang ditebar cuma pesona doang, sementara janjinya kosong belaka. Itu namanya pemberi harapan palsu. Janji mau nikahin kalo udah merengek-rengek minta “begituan”, giliran ceweknya udah bertekuk lutut dan menyerahkan kehormatannya, tuh cowok malah kabur dan nggak mau bertanggung jawab. Maka, buat para muslimah, berhentilah berharap kebaikan dari pacaran. Nggak ada manfaatnya. Jauhi! *ini galak banget kesannya. Iya, sebab sudah kesal kuadrat dengan para pelaku pacaran. Anehnya kok pada masih mau pacaran ya? Padahal, potensi dikibulin lebih besar, kehormatan sudah pasti ternoda karena ibarat barang tanpa segel, boleh dicoba sesuka calon pembeli yang belum tentu jadi membeli. Bener nggak?

Sobat gaulislam, karena pacaran itu hubungan tanpa ikatan, maka sudah tentu rawan dengan tipu-tipu dan bohong. Beneran. Buktinya, istilah PHP (walau teman saya yang programer komputer merasa risih dengan istilah ini karena itu bagian dari bahasa pemrograman untuk website) itu muncul bagi yang pacaran. Umumnya digunakan di area hubungan tanpa ikatan itu, walau kalo mau spektrumnya diperluas ya bisa juga dalam berbagai kondisi. Namun, karena kita lagi ngobrolin seputar pacaran, ya inilah yang kita bahas.

Ya, pemberi dan penerima harapan palsu yang paling rawan adalah pada aktivitas pacaran. Coba deh kamu yang pernah pacaran atau sekarang lagi pacaran, pikir-pikir deh, apa sering kamu jadi korban para pemberi harapan palsu? Misalnya nih, janji tuh cowok nggak akan pindah ke lain hati, eh, baru sebulan pacaran udah kepergok jalan bareng ama cewek lain. Sakit? Bisa jadi. Baru aja berjanji bakalan mengikat jalinan cinta sehidup-semati, baru 3 bulan udah pindah ke lain hati dengan cara mencampakkan kamu ke lembah penderitaan sebagai mantan pacar tuh cowok. Perih? So pasti. Kapok? Kayaknya belum tentu deh. Buktinya masih ada juga yang ngarep jadian lagi ama cowoknya, meski pernah nyakitin. Kok bisa ya? Mungkin karena menganggap hubungan yang pertama dirasa belum maksimal. Idih, maksimal apanya? Maksiatnya sudah jelas terus ditumpuk, mau terus nambah maksiat? *sekali-kali pake gaya Cak Lontong: “Mikir!”

Hati-hati itu penting. Tetapi bagi yang memutuskan pacaran, justru sudah menabrak kehati-hatian dan siap-siap dapetin peluang lebih besar untuk diberi harapan palsu. Gimana nggak, jalannya udah kamu buat sendiri. Misalnya nih, buat yang memutuskan pengen pacaran, biasanya gerasuk-gerusuk nggak jelas. Ada cowok atau cewek yang merhatiin kamu, langsung pikiran dan perasaan kamu konek dan menyimpulkan kalo tuh cowok or cewek suka sama kamu. Itu namanya ge-er. Siapa tahu dianya malah biasa aja. Nggak punya pikiran macem-macem. Tapi karena tahu gelagatnya kamu kayak gitu, bisa saja dia jadi pengen ngerjain kamu. Bahaya.

Oya, seringkali nih kita suka lumer di hadapan orang yang ramah dan baik. Perlu waspada sobat, siapa tahu ramah dan baik yang dilakukannya bukan dari niat tulus (lagian gimana bisa tulus kalo dilakukan dengan cara pacaran? Jangan-jangan yang dimaksud ramah adalah akronim dari rajin menjamah. Hadeuueuh….). Tetapi yang sering kejadian adalah keramahan dan kebaikan yang dilakukannya karena ada maunya. Setelah kamu merasa nyaman dengan semua kebaikan, kasih sayang, kepedulian yang diberikannya, sehingga kamu terlena dan memiliki harapan berlebih kepadanya, dia sudah menyiapkan jurus berikutnya untuk menipu kamu. Hati-hati ya!

Oya, para pemberi harapan palsu pada pinter bikin kamu kecanduan perhatian dan kasih sayang. Kudu diwaspadai kalo ngelihat model gini. Ya, namanya juga pacaran. Udah mah hubungan tanpa ikatan, maka pacaran berpotensi menebar ancaman. Parahnya, kalo kamu udah ketagihan kasih sayangnya, ketagihan perhatiannya, udah enak menjadikan dirinya sebagai tempat curhat yang nyaman, di situlah para pemberi harapan palsu menebar jebakan supaya kamu nggak ngerasa dibohongi. Bahkan kalo pun kemudian putus, kamu tetap ngarepin dia balikkan lagi sama kamu. Aneh ya? Bener-bener deh!

 

Nikah muda? Nggak masalah!

Eh, bener? Iya. Nggak masalah. Walau banyak juga yang menganggap kalo nikah mudah itu bermasalah dan akhirnya dipersulit. Tapi dalam waktu yang bersamaan, pacaran dan gaul bebas malah dibiarkan.

Begitulah. Acapkali manusia suka kebalik-balik dalam menilai suatu perbuatan. Sebab, yang jadi patokan mereka dalam berbuat cuma mengandalkan perasaan dan ogah menggunakan akalnya sambil merujuk pada syariat. Walhasil, sering dibikin pusing oleh keputusannya sendiri. Nah, dalam masalah pergaulan bebas, masyarakat suka menilai bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan hanya dilihat dari apakah perbuatan itu menguntungkan baginya secara materi atau tidak. Itu salah besar, kawan. Bener. Sebab, yang kita nggap baik, siapa tahu malah jelek dalam pandangan Allah. Dan begitupun sebaliknya. Firman Allah Ta’ala:“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS al-Baqarah [2]: 216)

Ini memang aneh bin ajaib, nikah yang memang ada syariatnya dipersulit, tapi gaul bebas malah dipermudah. Buktinya, sarana untuk gaul bebas terus diciptakan dan dipermudah aksesnya. Aduh, bagaimana ini ya?

Dipikir-pikir, mau ibadah aja kok sulitnya minta maaf (eh, biasanya kan minta ampun ya?), tapi mau maksiat malah dikasih jalan bebas hambatan. Wah, kebalik-kebalik emang. Coba aja, untuk nikah aja harus pake ngurus beragam administrasi. Mending kalo cuma ngisi formulir doang, ini pake ngisi amplop segala dengan duit pelicin urusan. Berabe kan. Padahal itu baru melangkah. Berikutnya, kita dihadang dengan peraturan pemerintah yang membatasi usia pernikahan dalam UU Perkawinan, terus juga adanya larangan nggak boleh menikah saat masih sekolah. Aduh, seabrek alasan untuk menghambat pernikahan.

Itu termasuk kendala eksternal. Selain itu, memang ada juga kendala internal, yakni belum siap mental dan belum mapan alias nggak punya biaya. Ya, inilah dilema bagi remaja. Maka jangan heran bila kemudian jalan keluar bagi remaja untuk menyalurkan naluri yang tak tertahankan itu mereka memilih melakukan seks bebas (dan umumnya diawali melalui pacaran). Kendala internal insya Allah masih bisa “diakalin” alias dicari jalan keluarnya. Tapi kalo udah kendala eksternal, ini yang rada sulit bin berabe. Sebab, itu melibatkan komponen yang lebih rumit dan sulit diajak kompromi.

Inilah salah satu produk kapitalisme, yang memang membolehkan setiap individu untuk berbuat sesukanya, sebab semuanya dijamin dengan kebebasan bertingkah laku yang ada dalam peraturan HAM. Inilah rusaknya sistem demokrasi. Inilah amburadulnya sistem kapitalisme.

 

Nasihat ulama

Sobat gaulislam, menikah di usia muda nggak jadi masalah. Silakan kalo udah siap seperti yang dilakukan M Alvin Faiz dan Larissa Chou. Dukungan orang tua juga sangat diperlukan. Tapi.. kalo belum siap segalanya yang diperlukan untuk menikah, ya tunda dulu dan jangan pacaran. Jangan malah nekat pacaran dengan alasan belum siap nikah. Itu namanya memperturukan hawa nafsu. Bahaya, apalagi kalo kamu udah tahu itu dosa.

Itu sebabnya, ada nih nasihat dari ulama buat mereka yang udah tahu pacaran itu dosa tapi masih aja melakukannya. Itu sebabnya, buat orang yang model gini, perlu disentil dengan pernyataan dari Ibrahim bin Adham.

Beliau adalah seorang ulama yang zuhud dan wara’, ditanya tentang firman Allah ta’ala yang artinya, “Berdoaalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian.” (QS al-Mu’min [40]: 60). Mereka mengatakan, “kami telah berdoa kepada-Nya namun belum juga dikabulkan”. Lalu beliau menjawab, “Karena hatimu telah mati dengan sebab sepuluh perkara. Pertama, kamu telah mengenal Allah tetapi kamu tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, kamu telah membaca kitab Allah tetapi kamu tidak mengamalkannya. Ketiga, kamu mengatakan bermusuhan dengan syaitan, tetapi kenyataannya kamu setia dengannya. Keempat, kamu mengaku cinta Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tetapi kamu meninggalkan sunnah-sunnah-Nya. Kelima, kamu mengaku cinta surga, namun kamu tidak melakukan amalan-amalan ahli surga. Keenam, kamu mengaku takut neraka, tetapi kamu tidak mau meninggalkan perbuatan dosa. Ketujuh, kamu mengatakan bahwa kematian itu adalah benar adanya, tetapi kamu tidak bersiap-siap untuk kematian itu. Kedelapan, kamu sibuk mencari aib orang lain sedang aibmu sendiri tidak kamu perhatikan. Kesembilan, kamu telah makan dari rizki-Nya namun kamu tidak pernah bersyukur kepada-Nya. Kesepuluh, kamu sering mengubur orang mati, tetapi kamu tidak pernah mengambil pelajaran darinya.”

Tuh,  catet ya. Yuk, jauhi pacaran, halalkan segera dengan pernikahan. Kalo belum mampu menikah, perbanyak shaum, rajin ibadah, rajin belajar, tinggalkan banyak maksiat, dan jangan pernah lakukan pacaran. Titik. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

“Aku Masih Bisa”

gaulislam edisi 459/tahun ke-9 (5 Dzulqa’dah 1437 H/ 8 Agustus 2016)

 

Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan mengeluh. Sebaliknya, tanamkan dalam diri kita, “aku masih bisa!”. Dunia memang tak seindah mimpi (kecuali mimpi seram kali ya?). Tapi bukan berarti kita harus mengutuki nasib kita di dunia bila tak sesuai keinginan dan harapan kita. Jalani aja apa adanya. Sembari berusaha dan berdoa untuk menjadi lebih baik. Kesulitan hidup bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi. Kehilangan keberanian untuk hadapi hidup, justru saat itulah kita sudah kalah. Sekalah-kalahnya. Iya dong. Setiap orang yang tak berani hadapi kenyataan hidup, sejatinya sudah kalah di ronde pertama gerbang kehidupan. Kita lahir ke dunia ini sudah jadi pemenang dan tentunya Allah Ta’ala sudah memberikan kita bekal yang cukup untuk jalani kehidupan di dunia.

Apa yang bisa dibanggakan lagi dari seseorang yang sudah kehilangan motivasi dalam hidupnya? Kehilangan harta masih bisa dicari jika motivasi alias niat untuk mencarinya masih ada. Tapi jika sudah kehilangan motivasi dalam hidup? Maka yang terjadi adalah bisa kehilangan semuanya. Tetaplah jaga niat dalam berbuat. Motivasi terbesar sebagai muslim dalam mengerjakan amal shalih dan perbuatan lainnya adalah menggapai ridho Allah Ta’ala. Itu sebabnya, cara melakukannya juga wajib sesuai yang Allah Ta’ala ridhoi. Proses itu penting setelah niat dilakukan. Sebab, akan menentukan hasilnya. Jika proses yang dijalani keliru, hasilnya juga keliru. Benar prosesnya, maka hasilnya juga benar.

Coba kita lihat bayi yang baru lahir. Ia hanya bisa menangis. Mungkin kaget. Sebab, selama di dalam rahim ibunya dia merasa tenang. Tak banyak tantangan. Allah Ta’ala siapkan tubuhnya, membuatkan ‘software’ untuk berpikir dan berperasaannya, sehingga cukup untuk jalani kehidupan di dunia di luar rahim ibunya. Begitu seorang bayi lahir ke dunia dari rahim ibunya, dimulailah babak baru kehiduan yang akan ia jalani di dunia. Belantara yang belum ia kenal. Ada baik ada buruk. Arena yang berlapis-lapis ujiannya, tantangannya, rintangannya, kesenangannya, kesedihannya dan segalanya. Manusia harus mampu menghadapi semuanya dengan penuh kehati-hatian, waspada, cukup ilmu, cukup tenaga, wawasan, kemampuan mengolah pikir dan rasa, serta pandai memanfaatkan kesempatan agar bisa selamat dari ujian tersebut dan berhasil melaluinya dengan maksimal dan menjadikannya mulia. Agar kehidupan setelah dunia pun bisa diraih dengan mendapat tempat yang layak, yakni surga.

Sobat gaulislam, kalo saat ini kita menghadapi berbagai macam ujian dan rintangan dalam hidup dan dakwah, jangan menyerah. Katakan bahwa “aku masih bisa!”. Jangan kalah sama bayi. Dulu kita juga pernah jadi bayi. Bayi yang normal dan sehat pasti akan tumbuh dan berkembang. Tadinya belum bisa tengkurap sendiri. Ia mencobanya. Gagal. Coba lagi. Terus begitu hingga akhirnya bisa dengan mudah tengkurap. Kemudian ia belajar untuk balik ke posisi terlentang. Gagal. Coba lagi. Terus dan begitu hingga berhasil. Selanjutnya, ketika ia merasa sudah bisa dua posisi itu, ia mencoba untuk merangkak. Proses yang sama, yakni mencoba dan gagal. Terus begitu hingga berhasil. Setelah bisa merangkak, ia akan mencoba duduk. Itu pun dengan proses yang hampir sama, trial and error. Tapi karena terus mencoba akhirnya berhasil duduk. Setelah duduk ia mencoba untuk berdiri. Ia mulai menaiki tempat yang agak tinggi. Mulai berani manjat untuk mencari pegangan agar mampu mengangkat berat tubuhnya. Meja, kursi, dan apa saja yang lebih tinggi dari tubuhnya dijabanin demi bisa berdiri. Setelah berhasil, ia mencoba melangkahkan kaki. Tapi karena ia berani untuk mengambil risiko, meskipun jatuh saat mencoba berjalan, tak segan mencoba lagi. Proses itu berulang kali dijajalnya, hingga akhirnya berhasil berjalan. Kalo udah bisa jalan, lari bukan halangan. Kadang reflek kalo udah ngerasa lancar melangkah.

Kita sudah dewasa. Kemampuan dasar kita sudah lengkap. Memang, waktu bayi juga bukan berarti kita bisa dengan sendirinya. Nggak juga. Waktu bayi kita perlu bantuan orang di sekitar kita. Kita waktu bayi dan bayi lainnya diarahkan dan dilatih untuk bisa melakukan berbagai gerakan. Aspek motoriknya dilatih sedemikian rupa hingga akhirnya bisa berbagai keterampilan. Selain itu diajarkan juga etika atau adab. Dari hari ke hari dan dari pekan ke pekan, bulan demi bulan, dan bertahun-tahun kita jalani hidup pastinya makin “mateng” dengan pengalaman. Makin banyak wawasan. Entah berapa ratus cerita yang bisa direkam dan dikenang kembali. Kita menjadi orang yang sebenarnya bisa menjalani kehidupan ini. Lengkap dengan segala risikonya.

Ya, siap menjalani kehidupan berarti berani mengambil risiko yang akan muncul dari jalan yang kita pilih. Allah Ta’ala sudah menyiapkan bahwa kita mampu melakukannya sesuai kapasitas kemampuan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Itu sebabnya, nggak ada alasan kan untuk mengeluh terus menerus? Hehehe.. kalo sekali atau dua kali mengeluh nggak apa-apa. Manusiawi kok. Tapi ingat lho, jangan keterusan. Ayo segera bangkit. Cari tahu penyebab kegagalanmu, dan temukan jalan keluar untuk mengatasinya. Kita insya Allah terlatih untuk hadapi tantangan. Tubuh kita sudah mulai kuat untuk hadapi tekanan fisik. Pikir dan rasa kita juga sudah terbiasa menghadapi kenyataan hidup: sedih-gembira; kecewa-bahagia; menang-kalah; benci-cinta; rindu-dendam; berani-takut; dan segala rasa lainnya.

Jangan menyerah dan jangan sampe mengeluh terus menerus tanpa berbuat untuk mengubah kondisi. Anak ngaji dan aktivis dakwah juga manusia. Pasti mengalami masa-masa sulit. Kekurangan materi, dijauhi orang terdekat karena kita dianggap berubah setelah ngaji, orang tua bercerai, jamaah dakwah rame-rame menolak kehadiran kita, umat menolak dakwah kita, dan seabrek masalah yang membuat kita sedih. Tapi yakinlah, kita masih bisa untuk mengatasinya. Percayalah. Selama Allah Ta’ala bersama kita, dan kita yakin Dia akan menolong, tak ada alasan untuk cemas apalagi putus asa. Alah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)

Sobat gaulislam, perlu kita renungkan juga adalah usia kita yang mulai beranjak dewasa, semoga juga diiringi dengan pikiran dan perasaan sebagai orang dewasa. Jangan sampe deh body-nya udah dewasa tapi pikirannya masih kayak bocah. Biasanya sih, sudah sedewasa ini kita tentunya banyak mendapat pelajaran hidup langsung. Orang tua tentu punya waktu lebih banyak merasakan asam-garam kehidupan. Tapi yang terpenting, hidup kita tetap berguna meski umur tak sampai panjang. Tua itu pasti, tapi dewasa adalah pilihan. Banyak kok orang tua tapi pikiran dan perasaannya nggak pernah dewasa. Hidupnya masih aja kayak anak-anak. Ngumbar nafsu dan amarah tak terkendali. Sementara keimanan dan takwanya makin kendor. Lha, kacau banget kan? Tua-tua keladi tuh. Makin tua makin menjadi-jadi—jeleknya. Itu kalo dalam ungkapan bahasa Sunda, “Huntu geus ungger, tapi kalakuan angger” (gigi sih udah pada lepas, tapi kelakuan masih aja nggak berubah—jeleknya). Maksudnya udah tua tapi tetap aja nggak berubah. Umumnya orang udah tua itu salah satu tandanya giginya udah pada ompong.

Sebagai muslim, kita nggak hanya memikirkan kehidupan diri sendiri, lho. Kita juga harus memikirkan orang lain. Mulai dari orang terdekat di antara kita (keluarga dan teman), juga seluruh kaum muslimin. Memikirkan untuk mengajak mereka kepada kebaikan dan menegakkan kebenaran Islam. Tentu saja, upaya untuk mewujudkannya perlu semangat, motivasi dan tujuan yang benar dan jelas agar hasil yang didapat bisa memberikan manfaat dan barokah untuk semuanya. Selain itu, dalam menegakkan kebenaran ini, kita harus ekstra sabar, Bro. Allah Ta’ala menjelaskan dalam firmamNya (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah [2]: 153)

So, tetap tenang, sabar, syukur, dan terus berjuang tanpa lelah. Hadapi risiko, jangan mengeluh dan jangan menyerah. Masih bisa kok untuk bertahan dan mencari solusi. Asalkan tetap jaga niat, tetap istiqomah, dan maksimalkan ikhtiarnya serta iringi dengan doa tulus berharap keridhoan Allah Ta’ala dan kebaikan yang akan didapat agar menjadi barokah untuk semuanya. Meski ada cobaan pahit dan rintangan berat menghalang, tetaplah melaju. Lagian kenapa sih cobaan ini terasa begitu pahit? Ya, karena surga begitu manis! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Sihir Pokemon Go

gaulislam edisi 458/tahun ke-9 (27 Syawal 1437 H/ 1 Agustus 2016)

 

Sobat gaulislam, meski pro-kontra game Pokemon Go udah nggak anget lagi untuk dibahas, tetapi kita perlu juga ngobrolin dan memberikan opini, serta lebih keren lagi kalo bisa bikin solusi. Ini sekadar melengkapi saja dari apa yang pernah saya bahas untuk edisi lisan berupa talkshow melalui media radio (Program Voice of Islam di MediaIslamNet yang disiarkan di lebih dari 200 radio seluruh Indonesia) dan televisi (di Program Salam Remaja, Wesal TV). So, kalo ingin ada tambahan lebih banyak, kamu bisa nyambangi media yang udah saya sebutin di atas ya. Semoga tambah manfaatnya.

Oya, kalo soal pro-kontra sebenarnya biasa, maen game juga biasa, tetapi kenapa Pokemon Go bisa begitu heboh dibahas? Bahkan media mainstream sekelas majalah Tempo (edisi 18 Juli 2016) saja membahas seputar kegilaan game-mania dalam bermain Pokemon Go. Sekadar sebuah fakta saja, saya kutip tulisan tersebut yang dikemas dalam gaya news feature khas majalah tersebut. Berikut kutipannya:

Berhentilah bermain Pokémon. Dilarang berburu Pokémon di sini. Berbagai imbauan seperti itu kini tersebar di dunia maya dan dunia nyata dalam dua pekan terakhir. Sejak aplikasi game Pokémon Go dirilis pada 6 Juli lalu, tingkah laku orang yang memainkannya memang aneh-aneh. Meme menyindir dan lucu tentang orang memainkan game berbasis augmented reality ini pun bertebaran di media sosial.

Pokémon Go secara resmi baru dirilis di tiga negara: Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. Tapi virus kegilaannya sudah menyebar ke mana-mana, termasuk di Indonesia. Cerita keluhan seorang driver Go-Jek yang mengantarkan penumpangnya hanya untuk berburu karakter monster imut Pokémon dan menjadi viral di dunia maya adalah contoh konkret.

“Customer gak jelas order gojek cuma mau nyari permainan yg di aplikasi gak tau mainan apaan, emon emon begitu… gue berhenti di titik b eh bang ayo majuan dikit lg ayo bang.. busett gak tau nangkap apaan tp gpp dpt 73 ribu.. tuh org gua tinggal sambil nyengir2 seneng bgt P’A hahaha,” tulis pemilik akun Panji Vidiantoro II di grup Facebook “Koran Go-Jek Keluhan Driver Customer”.

Screen capture lain yang juga ramai diperbincangkan di kalangan netizen adalah curahan hati seorang pengemudi Uber Motor bernama Fajar Agustus Putra. Di grup “Komunitas Uber Motor Indonesia”, Fajar mengungkapkan pengalaman yang mirip dialami Panji.

“Gue rider uber, abis maghrib gue dapet order call. Pas gue pick up ternyata yg gue pick up orangnya masih remaja. Terus gue starttrip dan di ubermap tidak ada arah tujuan. Pas gue tanya mau kemana eh tu bocah bilang mau nyari POKEMON. Dalam hati gue ngomong “WHAT THE F*** THIS YOUNG!!!” setelah keliling nyari pokemon di bsd city apesnya lagi batrenya abis terus gue minta maaf ama tu bocah. Alhamdulillah itu bocah ngasih uang ke gue cepek,” tulis Fajar mengungkapkan kekesalannya.

Demam Pokémon juga dialami Amalia Utami, 24 tahun. Pegawai bank swasta di kawasan Thamrin, Jakarta, ini bisa menghabiskan waktu sampai lima jam hanya untuk bermain Pokémon Go. “Setiap 15 menit saya buka ponsel untuk lihat Pokémon, siapa tahu ada di sekitar meja kerja,” katanya pekan lalu. Hanya lima hari bermain, dia sudah mencapai level 11 dan mengumpulkan 59 Pokémon. Monster terkuat yang didapatnya adalah Pinsir dengan nilai Combat Poin mencapai 669.

Dunia memang tengah dilanda demam berburu monster virtual dalam game Pokémon Go. Belum seumur jagung keberadaannya, popularitas aplikasi game untuk telepon seluler berbasis Android dan iOS buatan Niantic Labs untuk perusahaan game Jepang, Nintendo, itu langsung meledak. Harga saham perusahaan ini bahkan melambung hingga 25 persen hanya dua hari sejak game tersebut diluncurkan. Jika ditotal, kenaikan harga saham Nintendo mencapai US$ 7 miliar atau setara dengan Rp 91,9 triliun.

Lantas apa yang membuat orang tergila-gila pada Pokémon Go? Kata kuncinya adalah augmented reality. Berkat teknologi ini dan dipadukan dengan kamera ponsel, karakter fiktif Pokémon muncul di alam nyata, bisa di bawah meja, di pohon, atau di jalan raya. Untuk menangkap Pokémon sebanyak-banyaknya, pemain bahkan harus berjalan hingga puluhan kilometer. Dalam menentukan lokasi monster kecil ini, para pemain dipandu global positioning system (GPS) di peta online.

Sobat gaulislam, kutipan di atas cukup menggambarkan bahwa demam Pokemon Go bagi beberapa orang termasuk bikin gila. Lucu ya, untuk sebuah permainan saja, banyak orang serius untuk melakukannya. Di sisi lain, justru untuk banyak hal serius, malah main-main melakukannya. Pokemon Go udah menyihir banyak orang untuk serius dalam permainan, dan membuat mereka main-main dalam pekerjaan yang serius.

 

Perlu kesadaran

Sebagai seorang muslim, tentu saja hidup ini bukan cuma untuk mencari hiburan semata. Kita harus bisa memilih dan memilah setiap perbuatan yang bakal kita lakukan. Jangan sampai kita melaku­kan aktivitas yang tak banyak manfaatnya. Apalagi kalo harus melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.

Bermain game memang tak sampai jatuh kepada perbuatan haram. Alias nggak berdosa main game melalui berbagai media yang ada saat ini. Hanya saja, bila hal itu dilakukan sampai melupakan aktivitas yang lain, terlebih bila main game itu menyedot perhatian kita dari kewajiban, bisa berabe!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

 

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Jangan sampai kita diganjar dosa oleh Allah Ta’ala gara-gara asik main game sampai lupa sholat, misalkan. Atau kita betah berjam-jam sampai lupa sekolah. Wuih, keterlaluan banget! Makanya, perlu kesadaran dalam diri kita dalam menyikapi persoalan ini. Nggak bisa main-main.

Kesadaran seperti apa? Nah, ini baru pertanyaan. Begini sobat. Sebagai seorang remaja muslim kita dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik dalam hidup ini. Berperilaku sopan, menjaga kehormatan dan kesucian diri.

Memang, bukan hanya remaja yang dituntut kesadaran tinggi, tapi semua orang. Kita pribadi, orangtua, masyarakat, dan negara harus bekerja sama untuk menciptakan kondisi yang baik. Bukan malah menciptakan situasi yang bikin nggak karu-karuan. Soalnya, kalo ini terjadi secara massal alias meng­global, maka akibatnya juga lebih besar dan lebih gawat. Kita menjadi masyarakat malas dan tidak produktif! Ih, serem amat!

Main game, melalui media apapun, termasuk via smartphone, dikategorikan sebagai permainan atau lahwun dalam bahasa Arab. Kata lahwun diartikan dalam bahasa Indonesia dengan hiburan dan permainan. Dalam al-Quran dan al-Hadits telah menggunakan kata lahwun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kalian senantiasa berlatih memanah, karena ia sebaik-baik lahwun”. (HR al-Bazzar dan athThabarani dari Sa’ad). Arti lahwun di sini adalah permainan.

Dan arti yang mencakup seluruh makna lahwun di dalam al-Quran dan al-Hadits adalah: Menyibukan diri dalam mengerjakan sesuatu yang dilarang (haram/makruh) atau melakukan permainan yang mubah yang mengakibatkan seseorang menjauh dari aktivitas melakukan perkara yang wajib dan sunnah.

Sementara itu Imam asy-Syathibi menyatakan: “Hiburan, permain­an, dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang.” Selanjutnya beliau menambahkan, “Namun demikian hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktu­nya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi.”

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dengan sanad shahih: Setiap permainan di dunia ini adalah bathil, kecuali tiga hal; memanah, menjinakkan kuda, dan bermain dengan istri… Yang dimaksud bathil di sini adalah sia-sia atau yang semisalnya, yang tidak berguna dan serta tidak menghasilkan buah yang dapat dipetik (lihat alMuwâfaqât, Jilid I, hal 84).

Sobat gaulislam, yuk benahi diri kita. Jangan sampe kita ketagihan permainan yang nggak ada manfaatnya. Ajak juga kawan-kawan lainnya untuk sadar diri. Salah satunya, silakan kamu sebarin deh isi buletin kesayangan kamu ini. Semoga berbuah pahala dan banyak teman kita yang sadar. Semangat! [O. Solihin |Twitter @osolihin]

Gaya Muslimah

gaulislam edisi 457/tahun ke-9 (20 Syawal 1437 H/ 25 Juli 2016)

 

Sobat gaulislam, judul buletin kesayangan kamu ini kesannya cewek banget ya. Kali ini memang yang dibahas seputar muslimah. Buat kamu yang cowok nggak usah berpaling gitu ah. Apalagi sampe galau. Tenang, Insya Allah tetap menarik dan bermanfaat kok. Dih, PD amat! Bener deh. Siapa tahu ada yang punya adik atau kakak cewek. Nah, bisa tuh jadi cerminan dan bahan dakwah. Oke?

Ngomongin soal muslimah, ada apa memang? Memang ribet dan banyak cabangnya. Apalagi kalau soal gaya. Beuh, kamu juga tahu sendirilah gimana gaya muslimah zaman sekarang. Mulai dari pakaian, aksesoris, makanan, minuman, pergaulan, gadget dan lain sebagainya. Nah, yang bikin ribet kalau sudah dipretelin satu-satu. Misalnya aja soal pakaian. Sebagai muslimah kan wajib menutup aurat. Salah satunya dengan kerudung dan jilbab (gamis). Alhamdulillah nih sekarang makin banyak cewek yang berbusana muslimah. Meski ada juga sih yang pake pas lebaran doang. Iya kan? Di hari raya Idul Fitri memang banyak yang tampil dengan pakaian muslimah. Mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu atau nenek-nenek sekalipun. Sampe seragaman dengan keluarga. Ayo, siapa tuh?

Faktanya, model kerudung dan jilbab ini bermacam-macam. Kerudung aja ada yang dililit-lilit, diputer-puter dan ditusuk jarum sana-sini. Memangnya akupuntur? Hehe, ribet amat ya. Orang bilang sih gaya hijaber gitu. Nah, hijaber ini yang jadi booming di kalangan muslimah. Hijaber itu panggilan buat cewek yang pake hijab. Hijab disamakan dengan kerudung. Padahal dari segi arti sih beda. Di Instagram muncul para hijaber yang berlomba meng-upload foto. Tutorial hijab di YouTube bejibun. Respon dari masyarakat ternyata luar biasa. Para artis juga banyak jadi hijaber. Beberapa di antaranya membuat rancangan sendiri dan terkenal hingga  ke luar negeri. Berbagai gaya dan model hijab dikenalkan. Makanya tuh sampe ada hijab ala Fathin, Dewi Sandra, Zaskia Sungkar, Risty Tagor atau Oki Setiana Dewi.

Dengan banyaknya fans dan penkmat acara tv membuat hijab ala artis berkembang cepat dan jadi tren. Antusiasme para muslimah ini tentu aja dimanfaatkan oleh pelaku bisnis untuk mencari keuntungan. Salah satunya dengan menjadikan artis tertentu sebagai model.

Oya, yang nggak ketinggalan adalah make up dan aksesoris. Pakaian disesuaikan dengan make up, sepatu, tas dan perhiasan. Belum gadgetnya. Pokoknya dibuat supaya matching, nyambung dan cucok deh. Begitulah gaya hijaber. Penampilan saat kuliah, kerja, hangout atau ke pesta juga berbeda. Hmm.. yang nggak habis pikir, ternyata ada gaya hijab untuk cewek tomboy. Wackss… gimana ceritanya coba?

Sobat gaulislam, respon dari para muslimah memang luar biasa. Celakanya, banyak di antara mereka yang mengikuti gaya fashion hijaber dan artis yang kebanyakan modelnya modern, modis dan trendi. Sudah dipermak macam-macam. Nggak syar’i tentunya. Akhirnya orang memakai pakaian muslimah karena pengen terlihat cantik, dibilang modis dan ikut tren. Bukan karena kesadaran dan keimanan. Kalau gini kan bahaya, Sis!

 

Sukanya yang serba instan

Nggak bisa dipungkiri Sobat, globalisasi berpengaruh banget dalam kehidupan saat ini. Termasuk maraknya makanan dan minuman asing yang ternyata disukai masyarakat kita. Begitu pun muslimah. Nongkrong di cafe atau restoran siap saji usai bubar sekolah, kuliah atau pulang kerja sudah jadi tren gaya hidup remaja dan eksekutif sekarang ini. Menyantap makanan dan minuman ala Barat yang siap saji. Fast food. Makanan seperti pizza, burger, spaghetti, ayam dan kentang goreng sudah nggak asing lagi. Minumannya ya nggak jauh-jauh dari soda, kopi dan es krim.

Makanan Korea dan Jepang juga sedang tren. Para muslimah yang kena demam Korea atau Jepang–baik yang suka dengan drama, musik dan idolain artisnya–pasti pengen juga nyobain kuliner dari negara itu. Mau makan dorayaki, ramen atau sushi nggak usah ke Jepang dulu. Toh sudah banyak yang jual. Makanan Korea seperti kimchi, kimbab atau ramyeon juga bisa asal mau nyari aja. Tuh, siapa mau coba? Nanti bagi-bagi ya. Hehe…

Makanan Indonesia ada juga yang sedang tren. Pernah denger martabak Mutant nggak? Nah, itu adalah martabak dengan kombinasi toping kopi, keju, susu, green tea, selai buah, kacang, dan bubuk sari. Martabak Mutant, Torbello dan Nutela ramai dibicarakan di sosial media. Nggak tahu deh rasanya gimana. Soalnya baru lihat fotonya doang di internet. Gubraak!

Bro en Sis rahimakumullah pembaca setia gaulislam. Banyak orang yang suka dan nyaman berada di cafe atau restoran siap saji. Mungkin di antaranya kamu yang muslimah. Apa karena ada akses wi-fi gratis ya? Hihi, ketahuan deh yang nyengar-nyengir. Apa makanan dan minumannya memang enak? Hmm bisa jadi. Dijamin halal nggak tuh? Gimana kalau ayamnya bukan hasil disembelih dengan nama Allah? Kita nggak tahu yang motong siapa, prosesnya gimana, bahan campurannya apa. Jangan sampe dicampur minyak dan daging babi, lagi. Orang Barat, Jepang dan Korea kan biasa makan yang begituan. Nah, jadi makanan yang seperti itu belum jelas halal haramnya.

Makan di restoran cepat saji atau minum kopi di cafe bisa mendorong orang jadi konsumtif loh. Gimana nggak, harga kopi aja berkisar Rp 18.000 hingga Rp 30.000 per gelas. Itu baru kopi doang. Belum makannya. Sesekali sih wajar ya. Tapi gimana kalau keseringan atau sampe tiap hari misalnya? Bisa jebol tuh isi dompet. Anak sekolah yang ngandelin duit dari ortunya mungkin nggak peduli. Bisa jadi ortunya yang nyuruh dan ngasih contoh. Duh, sayang amat duitnya, Non! Boros, tahu! Mendingan beli makanan untuk dibagikan ke orang yang kelaparan. Setuju?

 

Gaya pergaulan Muslimah

Oya, sepertinya belum cukup kalau cuma bahas fashion, makanan atau minuman. Yang nggak kalah penting adalah dari sisi pergaulan baik dengan sesama muslimah atau lawan jenis. Salah satu yang membuat prihatin adalah budaya ngerumpi. Ngomongin orang lain. Biasanya sih yang cewek nih. Mending ya kalau kebaikan orang yang diomongin. Kebanyakan kan yang namanya rumpi atau gosip pasti soal kejelekan orang lain. Kadang, aib keluarga sendiri jadi bahan omongan. Astaghfirullah. Kebiasaan suka ngerumpi ini tentu aja salah. Firman Allah Ta’ala:“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-Hujuraat [49]: 12)

Pergaulan dengan lawan jenis. Meski sudah memakai kerudung atau jilbab faktanya masih ada muslimah yang suka bergaul dengan lawan jenis. Temenan dengan mereka. Nongkrong ke mal bareng mereka. Pergi ke bioskop (malah banyak tuh remaja muslimah yang ke bioskop pake cadar dan foto selfie pula), nonton konser idol dan pertandingan sepak bola, nyanyi-nyanyi di acara kampus atau sekolah atau di café, refreshing misalnya jalan-jalan ke pantai atau naik gunung juga rame-rame laki-perempuan. Campur baur deh. Pemandangan seperti ini memang sudah nggak aneh. Bahkan nggak sekadar temenan loh tapi pacaran.

Pergaulan di dunia maya pun sama. Di Facebook temenan dan saling komentar dengan akrabnya. Ujungnya chatingan. Muslimah pun ada yang begitu. Belum lagi soal gaya narsis dan hobi tampil centil di depan kamera. Lalu di-upload dan bertebaran deh di Instagram. Muslimah berkerudung tapi upload foto dengan gaya seperti itu mah salah juga. Bahkan ada yang kelihatan auratnya. Tampil seksi dengan pakaian yang serba ketat. Mukanya dipakein make up tebal. Menor. Jadi menarik kalau dilihat lawan jenis. Eh, padahal mah hasil editan. Oalala… Lebih parah lagi kalau sampe suka pesta hura-hura, merokok, dugem, konsumsi obat-obatan terlarang dan seks bebas. Ini sih amat sangat parah. Naudzubillah min dzalik.

Sobat gaulislam, gaya muslimah yang sudah dijelaskan tadi sebenarnya adalah serangan Barat terhadap umat Islam. Mereka berusaha menghancurkan kita dengan 4F (Fun, Fashion, Food, Faith) dan 4S (Sing, Sex, Sport dan Smoke). Artinya terjemahin sendiri deh. Namun yang jelas, itu semua bisa melenakan dan menjauhkan kita dari Islam. Lah, terus gimana? Makanya cintai dan harus bangga dengan Islam. Sebagai muslimah kita terikat dengan ajaran Islam. Segala hal sudah diatur dengan jelas. Tentunya untuk menuntun kita ke jalan kebenaran. Bukan hal yang mudah memang. Namun kita bisa mengawalinya dengan mendalami Islam. Mengikuti kajian keislaman.

 

Gaya hidup islami

Umat Islam berbeda dengan umat lainnya. Gaya hidupnya pun nggak boleh bertentangan dengan Islam. Gaya hidup kita bukan karena ikut tren atau mengharap pujian dari orang lain. Misalnya dalam hal pakaian. Muslimah itu wajib menutup aurat dengan kerudung dan jilbab ketika keluar rumah. Kedua hal ini sudah dijelaskan dalam al-Quran. Simpel sebenarnya. Kerudungnya nggak terawang, nggak ketat dan panjangnya minimal sekerah baju atas. Jilbabnya harus terusan, nggak terawang dan nggak ketat, panjang hingga menutupi mata kaki. Soal warna dan hiasan nggak masalah. Asal nggak ada gambar mahluk hidup. Kalau mau dikasih aksesoris ya jangan berlebihan (tabarruj). Dipasang bros juga cukup (asal jangan Mario Bros, aja kali ya?).

Dalam Islam juga diatur pergaulan dengan lawan jenis. Cewek dan cowok diperintahkan Allah Ta’ala untuk menjaga pandangan, nggak berduaan dan nggak campur baur. Berinteraksi seperlunya aja. Misalnya rapat dalam organisasi sekolah. Itu pun harus dikasih pembatas. Selebihnya ya nggak boleh apalagi sampe jalan bareng dan nonton konser. Nggak bisa SMS-an atau chatingan dengan bebasnya.

Sobat gaulislam, sebenarnya masih banyak lagi gaya hidup yang Islami. Kita harus mau belajar Islam supaya paham. Kalau gaya hidup kita islami insya Allah akan berdampak baik. Pasti ada keuntungan dan kenikmatan ketika taat dan terikat dengan Islam. Bisa dapat pahala, terhindar dari dosa, perasaan hati dan pikiran jadi tenang. Mau kan seperti itu? Yup, pastinya dong. Yuk, miliki gaya hidup seorang muslimah sejati! Semangat! [Muhaira | email: iraazzahra28@ymail.com]