Muslimah, Hijab, dan Prestasi

gaulislam edisi 500/tahun ke-10 (25 Sya’ban 1438 H/ 22 Mei 2017)

 

Lupakan aja soal remaja yang katanya cerdas dan bernas cara berpikirnya. Sehingga banyak orang terpesona dengan rangkaian kata dan kalimatnya yang luar biasa untuk anak SMA. Itu lho, yang nulis kalo agama itu warisan. Muter-muter gunakan kata dan kalimat menarik, ujung-ujungnya nulis kalo semua agama itu sama. Ih, nggak sama atuh! Cuma Islam yang benar.

Hehehe… saya juga anak SMA. Tapi sori lah, kalo yang disampaikan itu sampah, meski dikemas sebaik mungkin tetap saja sampah. Mereka yang menganggapnya bagus, berarti cara berpikirnya sama dengan isi tulisan tersebut. Ya iyalah mana mungkin orang beriman (termasuk remaja yang beriman) dengan benar dan baik menulis seperti itu atau memuji-muji isi tulisan tersebut. Betul nggak?

Eh, tapi saya nggak bakalan bahas tentang si dia itu, tapi mau bahas yang bermanfaat aja. Insya Allah. Apa itu? Ini dia!

Sobat gaulislam yang insyaallah muslim dan muslimah sejati pasti udah pada tahu sama salah satu ajang kecantikan yang lagi diselenggarain ini, Sunsilk Hijab Hunt. Dari awal diadain sampai sekarang, muslimah yang mengikuti ajang ini makin banyak. Dikutip dari blognya langsung, katanya sih, acara ini bukan sekadar kontes wanita berhijab biasa. Loh, kok bisa?

Well, kriteria penilaiannya itu bukan cuma cantik, tapi berkepribadian dan harus memiliki bakat. Selain itu, tujuan ajang ini juga memacu muslimah yang berhijab supaya bisa mengeksplorasi dan ngegali lagi potensi dirinya. Katanya sih, supaya hijab para muslimah nggak lagi jadi penghalang buat bisa berkarya dan jadi inspirasi.

Sama halnya kayak Sunsilk Hijab Hunt, ajang kecantikan Miss Indonesia juga lagi berlangsung, loh. Pasti kamu juga tahu dong, sama ajang yang satu ini. Ya iyalah, kan disiarin secara langsung di salah satu stasiun tivi swasta Indonesia. Kayaknya nih, ajang Miss Indonesia tuh bergengsiiii… banget. Soalnya kalo berhasil jadi pemenang bakal dikirim buat ngewakilin Indonesia di ajang Miss World. Belum lagi bakalan jadi duta sosial buat UNICEF. Wuih, wuih, pasti hebat banget, deh, pemenangnya. Hehehe.. sayangnya ukuran hebat ini menurut ukuran hawa nafsu, bukan syariat.

Duh, kayaknya ajang-ajang semacam ini banyak banget, ya? Soalnya lokal tiap daerah aja ada. Contohnya sih, ajang Moka (Mojang-Jajaka) di Jawa Barat dan Abang-None Jakarta itu. Bedanya, tujuan Moka dan Abang-None itu buat mempertahankan kebudayaan yang ada di daerahnya. Walaupun pasti ada ukuran khusus, yakni tampilannya menarik. Ya, sama aja sih jadinya. Ganteng or cantik jadi prioritas, apalagi jika ditambah piter . Kasihan ya, prestasinya diukur dari kriteria begituan.

 

Selalu ada negatifnya

Emh, bagus-bagus sih, tujuan dari ajang-ajang itu diadakan. Mulai dari bisa jadi inspirasi banyak orang, menjaga kesenian dan kebudayaan daerah, pelopor kegiatan sosial dan sebagainya. Terlebih, ajang semacam ini juga bisa ngajak orang-orang buat berpikir terbuka untuk berkarya dan mengukir prestasi.

Tapi, di balik sisi positif, selalu ada negatifnya. Pada intinya, semua ajang ini mengutakan 3B. Beauty, brain, behavior. Yah, kok cantik dijadiin kriteria penilaian? Cantik kan relatif. Lagian yang namanya perempuan pasti cantik, masa ganteng. Ada-ada aja, deh, kriteria penilaiannya. Belum lagi harus pintar dan berbakat. Berarti kalo ngga punya bakat ngga boleh ikutan, dong? Udah gitu harus satu paket: cantik, pinter, dan berkepribadian. Ck..ck…ck… (nggak kebayang kalo yang pinter dan baik attitude-nya tapi penampilannya nggak menarik. Pasti nggak menang tuh! Atau malah tersisih di audisi awal?)

Sobat gaulislam, coba perhatiin deh, peserta-peserta yang terdaftar. Ada nggak sih yang tetap menjalankan kewajibannya sebagai muslimah? Yang tetap berkerudung dan menutup aurat, nggak berpakaian ketat dan menjaga kehormatannya sebagai muslimah?

Bukannya jadi tempat unjuk bakat, ajang kayak gini malah jadi tempat buat pamer aurat dan menghilangkan kehormatan, juga rendahkan harga diri seorang muslimah.

Kamu pasti udah pada tahu dong, kalo seorang muslimah itu harus menutup aurat. Bukan malah memamerkannya. Contohnya aja ajang Sunsilk Hijab Hunt, walaupun ada embel-embel hijabnya dan semua peserta yang daftar berhijab, tapi kebanyakan dari mereka berpakaian tidak sesuai dengan perintah agama. Begitu juga ajang Putri Indonesia, Moka Jawa Barat dan Abang None Jakarta.

Pake bajunya ada yang ketat, malah ada yang pake celana. Atau pake baju atasan yang panjang tangannya cuman sepertiga aja. Ckckck…. Padahal, kan Islam memerintahkan buat mengulurkan kainnya ke seluruh tubuh, kayak yang dijelasin di al-Quran surat al-Ahzab ayat 59 yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

So, berdasar dari ayat itu, berarti kan seharusnya muslimah memakai baju luar berupa jilbab atau yang biasa disebut gamis. Bukannya malah pake setelan (atasan dan bawahan), pakaian yang nge-press di badan, atau yang tembus pandang. Apalagi malah pake celana panjang! (eits, celana panjang boleh dipake asalkan untuk daleman, luarnya tetap jilbab—yang mirip gamis itu).

Allah subhanahu wa taala udah ngelarang perempuan buat menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan. Celana itu, jadi ciri khas laki-laki, dan sebagai seorang muslimah seharusnya nggak memakai celana panjang sebagai pakaian luar, soalnya bisa menyerupai laki-laki meskipun modelnya itu beda.

Belum lagi kerudung yang dipake para muslimah. Kebanyakan dari peserta ‘memodifikasi’ kerudungnya dengan melilit-lilitkannya kayak punuk unta. Atau diangkat-angkat sampe nggak nutupin dada.

Padahalkan kerudung (atau dalam bahasa Arab disebut khimar) itu fungsinya buat nutupin dada (termasuk punggung), kayak yang dijelasin di al-Quran surat an-Nuur ayat 31 yang artinya: “…. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka….”

Nah, dari surat al-Ahzab ayat 59 dan an-Nuur ayat 31 udah jelas banget kalo seorang muslimah sejati itu harusnya pake pakaian yang terulur menutupi tubuh kayak gamis (jilbab), dan pake kerudung yang nutupin dada.

Sobat gaulislam, selain sebagai ajang pamer aurat, kamu percaya gak sih, kalo ajang kayak gini juga bisa menghilangkan kehormatan dan harga diri seorang muslimah? Bagi kamu yang masih nggak percaya, aku jelasin, deh!

Pamer aurat yang dilakuin para peserta itu, berarti kan, memperlihatkan apa yang seharusnya nggak boleh dilihatin ke orang banyak. Hanya dengan hal itu aja, udah menghilangkan kehormatan dan harga diri. Belum lagi, unjuk bakat yang dilakuin peserta seperti menari, berjalan di atas catwalk dan sebagainya, pasti ada aja gerakan yang meliukkan badan. Nah, gerakan ini bisa memancing ketertarikan yang berbahaya bagi lawan jenis dan pastinya merusak kehormatan seorang perempuan.

 

Sekali dayung, dapet banyak!

Nih, aku kasih tau ya, dalam agama kita tercinta, Islam, ada peraturan-peraturan berupa perintah dari Allah yang harus dipatuhi. Dan selalu ada alasan di balik perintah yang Allah subhanahu wa taala berikan. Alasan itu akan bermanfaat dan berguna buat siapa aja yang menjalankannya. Manfaat yang didapet selain bersifat akhirat kayak nambah pahala, menjauhkan dari siksa neraka dan sebagainya, tapi juga bersifat dunia. Duh, ini mah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!

Hmm… tanpa mengikuti ajang-ajang semacam ini, kamu juga masih bisa, kok, berprestasi dan berkarya. Yang lebih penting, muslimah juga bisa tetap tunduk sama perintah Allah buat ngejaga aurat, pake busana muslimah dan terjaga kehormatan dan harga dirinya tapi tetap berkarya dan berprestasi buat kemashlahatan umat.

Sobat gaulislam yang insyaallah muslim dan muslimah sejati, ajang-ajang semacam Sunsilk Hijab Hunt, Miss Indonesia, Moka Jawa Barat, Abang None Jakarta dan sejenisnya memang memberikan manfaat yang beragam buat diri sendiri dan banyak orang. Tapi itu cuma bersifat dunia aja. Kenapa? Karena banyak perintah agama yang terabaikan dengan adanya ajang-ajang ini.

Percuma dong, kalo susah-susah berusaha tapi yang diusahain cuma bersifat dunia. Udah gitu, yang bersifat akhirat belum tentu didapetin. Padahal kalo kita ngejar akhirat, dunia pasti juga bakalan kegenggam. So, nggak masalah kok buat ninggalin semua kriteria penilaian menjadi perempuan yang seperti ajang ini atau ajang itu. Karena semua itu cuma penilaian juri di ajang lomba aja. Jurinya manusia, dan yang nggak taat syariat. Bahaya!

Padahal kan, prestasi terbaik bukan dinilai dari ajang apa yang diikutin. Tapi sebaik apa atau seberapa besar ketakwaan kita terhadap Allah subhanahu wa taala.

 

Hadiah yang lebih ‘WAH’!

Sobat gaulislam, ajang lomba semacam Sunsilk Hijab Hunt, Miss Indonesia, Moka Jawa Barat, Abang None Jakarta dan sejenisnya mungkin keliatan menguntungkan. Tapi, bisa jadi itu malah ngejauhin baik Bro yang insyaallah muslim sejati ataupun Sis yang insyaallah muslimah sejati dari mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Apalagi dalam hal ngejaga kehormatan dan juga harga diri seorang muslimah.

So, daripada terjerumus semakin dalam, yuk kita mulai beralih ke kriteria penilaian menjadi seorang muslimah yang benar, baik dan sejati. Yang bakal nilai bukan manusia, loh, tapi langsung Allah Ta’ala yang menilai!

Dan hadiah yang didapet bakal berjuta kali lebih banyak dan lebih ‘WAH’ dari hadiah yang didapet di ajang perlombaan.

Surga, loh, surga! [Zadia “willyaaziza” Mardha]

Lulus Sekolah! Setelah Itu Apa?

gaulislam edisi 499/tahun ke-10 (18 Sya’ban 1438 H/ 15 Mei 2017)

 

Udah akhir tahun ajaran, nih! Bro en Sis, khususnya yang SMP dan SMA jenjang akhir, udah pada ujian nasional, kan? Semoga hasilnya memuaskan, ya. Tapi, apa pun hasilnya, pastikan itu adalah yang terbaik. So, jangan terlalu kecewa, ya.

Sekolah telah usai. Apa yang akan kita lakukan? Pastinya pulang ke rumah, lah. Jangan malah ngeluyur. Eits, bukan itu maksudnya. Loh? Gini. Setelah ujian sekolah, pelajaran di sekolah pasti juga diliburkan. Kini saatnya jeda istirahat. Setelah tiga tahun lamanya belajar untuk menamatkan jenjang sekolah, akhirnya waktunya lulus sekolah. Saatnya beralih dan bersiap untuk menghadapi episode kehidupan berikutnya yang pastinya lebih menantang di luar sana. Nah, apa yang biasanya dilakukan?

Setelah kelulusan, seharusnya kita tetap harus melakukan hal-hal yang positif. Bukannya malah melakukan hal yang buruk dan bahkan menyusahkan. Haruskah berpesta? Mungkin lebih dikenalnya dengan istilah pesta kelulusan. Acaranya kira-kira seperti apa, sih? Mungkin telah banyak yang tahu, ada kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang sepertinya sudah menjadi tradisi saat kelulusan sekolah di Indonesia. Salah satunya adalah dengan mencoret-coret seragam sekolah. Kalau kita telusuri lagi, sebenarnya apa, sih, tujuannya mencoret-coret seragam itu? Mungkin sekadar mengekspresikan rasa bahagia karena lulus sekolah, atau sebagai kenang-kenangan, atau hanya sekadar senang-senang. Pasti banyaklah alasan-alasan yang dibuat untuk itu. Tapi haruskah kegiatan ini dilakukan?

Padahal, dengan mencoret-coret baju seragam itu justru tidak ada gunanya. Baju yang sebenarnya masih bisa digunakan manfaatnya jadi tidak ada lagi. Sayang sekali, kan?

Sobat gaulislam, masih ada lagi fakta kelulusan yang justru meresahkan. Nah, setelah mencoret-coret seragam tadi, aksi lain para siswa ini adalah konvoi di jalanan. Mereka bersama-sama memenuhi jalan raya menggunakan sepeda motor. Kegiatan ini sangat meresahkan petugas-petugas keamanan. Karena kerap kali menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengguna jalan yang lain. Artinya, selain kegiatan ini hanya untuk mengekspresikan rasa bahagia mereka, kegiatan ini justru merugikan orang lain. Kan nggak baik, tuh!

Oya, pesta-pesta kelulusan itu, selain hanya untuk senang-senang, sebenarnya memang tidak ada gunanya. Dan kita sebagai muslim harus meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Perlu diingat selalu, loh. Bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.

“Di antara ciri-ciri baiknya Islam seseorang, (yaitu) dia akan meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

So, walaupun kita hitungannya sudah bukan pelajar lagi, tapi kita tetap tidak boleh melakukan hal yang negatif. Lalu apa yang harus kita lakukan? Mungkin Bro en Sis ada yang masih bingung. Bagaimana sebaiknya bersikap setelah lulus sekolah. Nggak usah bingung, Bro en Sis. Lanjut, yuk!

 

Harus ada syukur

Bagaimana, ya, sebaiknya sikap kita setelah lulus sekolah? Haruskah berpesta untuk ini? Karena saat itu tiba, pastinya kita akan merasa sangat bahagia, kan. Di saat bahagia ini, sebaiknya kita tidak terlalu berlebihan. Kenapa? Agar tidak kelewatan bahkan lebih buruk lagi.

Tentu kita harus bersyukur kepada Allah. Kenapa begitu? Tentu saja karena kelulusan juga termasuk karunia dari Allah. Jangan sampai kita berfikir bahwa itu adalah murni dari hasil kerja keras kita. Karena kalau Allah memang tidak menghendaki kita lulus, maka apa lagi yang bisa kita perbuat? Karena itu kita harus bersyukur kepada Allah. Bagaimana caranya? Syukur itu adalah berterima kasih kepada Allah. Dengan mengucapkan Alhamdulillah salah satunya.

Selain aksi coret-coret seragam dan konvoi yang bikin resah itu, ternyata ada juga, loh, yang mensyukuri kelulusan dengan aksi yang positif. Kalau yang ini, boleh ditiru, Bro en Sis. Ada yang saling berbagi kepada orang lain. Misalnya, menyumbangkan seragamnya kepada adik kelas yang membutuhkan. Nah, kalau kayak gini kan, seragamnya jadi bermanfat lagi. Sayang tuh seragam yang udah dipakai selama masa belajar kalau ujung-ujungnya malah dirusak. Kasihan juga sama orangtua yang membelikan. Lah malah dicoret-coret. Kan kalau disumbangkan, bisa lebih bermanfaat. Nah, aksi yang positif ini adalah salah satu cara kita menunjukkan rasa syukur kita atas kelulusan itu. Setuju?

Selain tentunya berterima kasih kepada Allah, kita juga harus berterima kasih kepada orangtua. Baik orangtua kita di rumah, maupun orangtua di sekolah, alias guru. Kita harus berterima kasih kepada mereka. Kenapa? Ternyata, salah satu bentuk bersyukur juga adalah dengan berterima kasih kepada yang menyampaikan karunia itu. Ada di Hadits, loh.

“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR Imam Ahmad)

Jadi, jangan lupa berterima kasih kepada orangtua dan guru, ya!

 

Pikirkan masa depan!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Khususnya yang baru lulus sekolah, nih. Sudah saatnya kita memikirkan masa depan. Kita kan nggak akan selamanya menjadi anak-anak. Sudah pasti bahwa ke depannya kita harus siap menjadi dewasa. Baik dewasa secara fisik, mau pun dewasa secara pemikiran dan tindakan. Kita nggak akan selamanya di bawah asuhan orangtua kita. Akan ada masanya kita akan menghadapi dunia ini sendiri. Lulus dari sekolah adalah gerbang pertama dari masa depan itu.

Apa yang akan kita lakukan setelah jenjang sekolah ini? Apakah mau melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi? Atau mau langsung cari kerja? Atau jangan-jangan ada yang mau langsung menikah? Pilihan yang mana pun itu, yang penting kita punya tujuan yang jelas dan benar.

Semuanya tergantung ke kamu lagi. Kalau mau melanjutkan sekolah. Harus dipikirkan juga. Ingin menjadi apa kita dewasa nanti? Baik yang lulus SMP mau SMA, hal ini tentu harus dipikirkan. Jangan sampai kita salah dalam memilih sekolah lanjutan. Tapi kita harus selalu ingat, bahwa setelah ada usaha, hasilnya harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Why? Agar kita tidak kecewa. Karena apapun yang diberikan oleh Allah pasti adalah yang terbaik bagi kita.

Misalnya, nih. Kalau kamu punya tujuan ingin menjadi dokter. Maka sekolah lanjutannya harus sesuai, dong. Masuk ke jurusan IPA, kemudian ambil fakultas kedokteran. Kalau kamu ingin jadi ahli Bahasa Arab atau Islam. Maka bisa melanjutkan ke pesantren, atau sekolah yang bisa mendekatkan kita ke tujuan itu.

Oya, kalau kamu inginnya langsung kerja setelah lulus SMA/SMK, nggak masalah, tuh. Asal punya keterampilan dan ketekunan agar tidak gagal. Kalau yang SMP, mungkin bisa memilih masuk ke SMK agar mudah. Tapi itu semua tergantung tujuan dewasa kalian. Karena itu, sesegera mungkin kita harus memikirkannya. Intinya, semuanya harus mempunyai tujuan yang jelas dan benar. Dan tentu saja, nantinya harus bermanfaat untuk diri sendiri dan kemaslahatan umat.

 

Identitas muslim, dakwah tetap jalan

Sobat gaulislam, lulus sekolah bukan berarti istirahat panjang. Karena istirahat yang sebenarnya adalah ketika sudah masuk surga nanti. Identitas kita sebagai muslim, kan, belum berakhir. Sehingga semua pelajaran agama Islam yang serta-merta dilupakan ketika lulus sekolah. Justru ketika kita keluar dari sekolah itu, saatnya kita menunjukkan diri bahwa kita adalah seorang muslim. Ibadah, khususnya, harus lebih ditingkatkan. Adab dan akhlak juga harus dijaga. Lagipula urusan kita di dunia masih berlanjut. Masih ada aturan yang menghubungkan kita dengan diri kita sendiri, kita dengan Allah, dan juga kita dengan lingkungan. Setelah lulus sekolah, semua itu tidak berubah. Ingat itu! (ciee.. jadi sadis ya? Hehehe…)

Dakwah juga harus tetap dijalankan. Apalagi nih, kalau kamu sebelumnya ternyata jadi pengurus rohis atau aktivis dakwah. Wah, jangan sampe ketika lulus, lulus juga berdakwahnya. Dakwah harus tetap dijalankan, Bro en Sis. Bahkan harus lebih gencar. Karena tantangan di luar sekolah pastinya lebih menantang daripada di sekolah. Tantangannya mungkin jadi lebih berat. Tapi, Insya Allah, balasannya juga lebih banyak. Yakin deh!

Oya, dakwah juga bisa menjaga kita agar tidak salah dalam menghadapi dunia di luar sekolah. Karena kita berdakwah dengan keyakinan dan pemahaman. Kalau kita terus menyampaikan kepada orang lain, maka dakwah itu juga akan terus menjaga kita. Ya, kan? Insya Allah.

Kesimpulannya, kelulusan sekolah jangan dirayakan dengan hal-hal yang tidak berguna. Apalagi malah merugikan. Banyak, kok, kegiatan yang bermanfaat. Kita juga tidak boleh lupa untuk bersyukur. Berterima kasih kepada Allah juga kepada orangtua dan guru. Tidak boleh sampai lupa untuk bersyukur. Karena Allah mencintai syukur dan pelakunya. Tapi Allah juga membenci kufur dan pelakunya. Naudzubillahimindzalik.

Selanjutnya kita juga harus memikirkan masa depan. Kalau kamu ingin melanjutkan pendidikan, maka harus cari sekolah yang sesuai dengan minat dan tujuan ke depannya. Jangan lupa. Tujuan kita mempengaruhi masa depan kita. Yang pasti harus bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi kemaslahatan umat.

Nah, yang terakhir dan terpenting, dakwah harus tetap jalan. Siapa pun, di mana pun, dan kapan pun, kita sebagai muslim harus selalu menjaga identitas kita sebagai muslim. Dakwah harus terus dijalankan. Kalau bisa, tujuan masa depan kita harus mendukung aktivitas dakwah kita. Maka, tujuan kita akan menjadi tujuan yang cemerlang. Setuju? Harus, ya! [Fathimah NJL | Twitter @FathimahNJL]

Berani Narsis

gaulislam edisi 498/tahun ke-10 (11 Sya’ban 1438 H/ 8 Mei 2017)

Saat ini banyak banget di antara kamu yang narsis abis. Foto-foto selfie diupload ke media sosial. Beragam pose dipajang. Ada yang keren memajang keterlibatan dirinya dan kawan-kawannya di beberapa aksi bela Islam aksi lainnya. Tapi ada juga yang konyol dengan melakukan selfie berpose muka bebek alias duck face. Iya, bibirnya dimonyong-monyongin. Kalo dulu kan malu ya? Kalo difoto kan pengen tampil menarik. Ini kok duck face. Belum lagi yang menjulurkan lidah. Mata dibuat melotot dan sejenisnya. Sempat ngetren juga ada aplikasi di android untuk bikin lucu-lucuan dan bahkan terkesan konyol. Yup, dubsmash. Di situ seseorang bisa menirukan perkataan orang lain sambil dibuat adegan lucu sesukanya dengan gaya dia sendiri yang sudah di-dubbing. Itu sekadar kepuasan diri dengan apa yang dimiliki, sambil berharap teman lainnya ngasih like atau berkomentar bernada pujian. Kalo nggak ada yang nge-like ya maksian nge-like status sendiri. Hihihi.. stres tuh kayaknya.

Urusan narsis ini memang sudah difasilitasi oleh media sosial. Didukung pula dengan kamera ponsel yang canggih dari smartphone keluaran terbaru atau terkeren. Ketika teknologi itu berpadu dengan keinginan terpendam kamu untuk narsis, maka muncullah ide untuk selfie dan hasilnya disebar ke semua akun sosmed milikmu. Lalu di ruang hatimu yang terdalam, kamu berharap orang akan memberi jempol atau menyukai buat aksi narsismu. Waduh,

Kalo lihat sejarahnya, orang yang melakukan selfie—yang tujuannya memang karena terdorong ingin narsis—bukan hanya zaman sekarang ketika perangkat teknologi komunikasi dan informasi sudah berkembang pesat. Menurut sejarah, mengabadikan diri sendiri dengan perangkat elektronik atau dalam bahasa Inggris dinamakan self-portrait atau disingkat selfie dilakukan pertama kalo oleh seseorang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839. Ketika era kamera polaroid sedang menjadi salah satu tren di tahun 70an, seorang bernama Andy Warhol juga pernah melakukan selfie dan hal tersebut tercatat sebagai selfie kedua dalam sejarah.

Demi eksistensi diri

Sebenarnya mengapa sih seseorang bisa melakukan selfie? Benarkah karena kurang percaya diri atau justru karena ingin mengeksplorasi diri sendiri? Apakah juga hal itu terkait dengan kondisi kejiwaan seseorang yang melakukan selfie dengan tujuan narsis bisa dikategorikan mengalami gangguan jiwa? Well, semua tergantung pada gejala yang ditunjukkan di lapangan. Secara fakta cukup banyak dijumpai bahwa seseorang ingin dipuji atau mendapat pujian dari orang lain bukan hanya berkembang saat ini saja. Tetapi sejak lama. Manusia memang senang dipuji dan diberikan penghargaan oleh orang lain. Salah satunya tradisi berfoto. Baik sendiri maupun rame-rame. Pastinya kan pada saat difoto ingin dengan penampilan terbaik, bukan terburuk. Nah, ‘nafsu’ ingin narsis ini di zaman sekarang dipermudah dengan adanya teknologi gabungan antara ponsel, kamera, dan internet. Jadilah foto-foto narsis bertebaran jadi cover atau profile picture di akun media sosial. Jumlahnya sangat banyak.

Oya, kamu perlu juga pendapat pakar digital social media, “Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya,” ujar Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media, seperti dikutip oleh Guardian (14/07/2013, yang dipublikasikan kembali di merdeka online pada 17/07/2013)

Sobat gaulislam, kalo dipikir-pikir bahwa kamu yang melakukan selfie, bisa jadi karena ingin eksis. Iya kan? Indikator ini bisa dengan mudah ditemukan, lho. Coba, emang tujuan kamu apa ketika meng-upload foto-foto selfie kamu yang terdorong narsis itu selain terselip rasa ingin eksis dan pamer diri? Oke, seseorang memang ingin puji oleh orang lain. Maka, ketika menampilkan foto dirinya di akun medsos dalam berbagai pose, ada secercah harapan bahwa akan ada orang lain di jaringan pertemanannya minimal me-like foto tersebut. Malah berharap lebih, yakni komentar temannya (tentu saja komentar yang positif). Apalagi jika foto diri itu ada maksud sekaligus sebagai sarana pamer diri atas apa yang sedang dijalani.

So, kamu bisa saksikan banyak remaja (dan juga para orang tua) yang seperti berlomba memamerkan diri mereka dalam bingkai foto yang diupload ke akun media sosial miliknya dan berharap mendulang like dan pujian dari teman-temannya. Misalnya nih, kamu menampilkan foto diri dengan background di sebuah tempat di luar negeri. Seolah, tanpa perlu banyak kata ingin menunjukkan bahwa kamu tuh keren bisa jalan-jalan ke luar negeri atau punya kesempatan jalan ke tempat tersebut. Kamu berharap, bahwa teman-teman di jejaring sosial bisa melihat foto tersebut dan memberi like atau komentar. Iya kan? Hehehe.. soalnya kadang saya pernah melakukan juga. Hadeeuuh.. (tapi kalo udah nyadar, saya buru-buru ‘membunuh’ keinginan yang tak perlu tersebut).

Citra diri

Sobat gaulislam, narsis memang bagian dari citra diri. Seseorang ingin mendapatkan itu di hadapan teman-temannya. Ingin dianggap eksis, walau dengan cara memamerkan apa yang dia punya atau apa yang dia lakukan. Pernah lho, saya melihat ada seorang pria yang memajang mobil barunya lengkap dengan kata-kata yang ditujukan pada istrinya, bahwa mobil tersebut dihadiahkan kepada istrinya sebagai bentuk rasa cinta dan sayang. Diberi embel-embel info seputar kelebihan mobil tersebut. Please deh, apa sih niatnya? Kalo ingin menghadiahkan, ya langsung saja kan, wong itu suami-istri. Nggak perlu sampai di-upload di  media sosial. Coba, pasti ada motifnya, ada niatnya. Apalagi jika bukan ingin sedikit pamer di hadapan teman-temannya di media sosial bahwa dia bisa melakukan hal tersebut (ini bukan nuduh lho, sekadar berasumsi). Mungkin saja ingin memposisikan dirinya sebagai seseorang yang penuh perhatian dan berkelas tinggi, apalagi dirinya sebagai publik figur dengan profesi tertentu yang tentu saja akan mendongkrak prestisenya. Hmm…

Oya, sesuai namanya, narsis itu adalah pengagum diri sendiri (kalo merujuk pada mitologi Yunani kuno tentang kisah Narcissus). Memang benar kalo kita boleh untuk menghargai diri kita sendiri dan percaya diri bahwa kita mampu melakukan hal yang sama dengan orang lain dalam tujuan yang positif. Tetapi, kan nggak perlu sampai menjadi narsis. Kalo udah taraf narsis, itu bahaya, Bro en Sis. Beneran. Sebab, kalo kamu punya kelebihan dan ingin dengan kelebihan kamu itu orang lain mendapatkan manfaat darimu, ya boleh-boleh saja. Namun, jangan sampe kemudian saban hari kamu tampil selfie demi memenuhi sifat narsismu. Apalagi lupa dengan kewajiban lainnya dalam hidup kamu, karena kamu lebih sibuk memfoto dirimu sendiri dan diupload ke media sosial sambil berharap ada yang like dan ngasih komentar pujian. Waspadalah!

Nah, kalo sampe kamu sibuk melakukan selfie demi memenuhi sifat narsismu dan berujung pada ketagihan untuk dipuji, hati-hati lho. Sebab, bisa jadi kamu udah dihinggapi kelainan jiwa. Kalo melihat faktanya, biasanya orang yang senang selfie itu bisa dikategorikan kurang percaya diri alias rendah diri. Jadi pada awalnya ada orang yang memang menutupi sikap rendah dirinya dengan mencoba tampil narsis. Namun, timbul perasaan yang menyenangkan ketika melakukan narsis sehingga mereka mengalami ketagihan dan menjadi orang yang narsis dalam level tertentu. Kecanduan seperti ini sebenarnya nggak perlu terjadi. Tetapi apa boleh buat, medsos memang menyediakan ruang yang besar untuk kita agar bisa melakukan hal tersebut.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kita juga rasanya perlu tahu tentang ciri-ciri orang yang narsis. Beberapa di antaranya yang pernah saya baca dari sebuah tulisan di internet adalah: Pertama, selalu merasa menjadi pusat perhatian, tetapi pada kenyataannya ia tidak menjadi pusat perhatian. Kedua, selalu ingin dipuji tetapi sangat sulit menuji orang lain. Ketiga, emosional. Keempat, suka berpura-pura atau mendramatisir sesuatu hal. Kelima, antisosial. Keenam, harga dirinya sangat rapuh dan sensitif terhadap kritikan-kritikan kecil. Tuh, bahaya lho.

Lalu, bagaimana gejala dan kriteria dari ‘penyakit’ narsis ini? Masih di artikel yang pernah saya baca di internet, disebutkan bahwa: Pertama, merasa dirinya sangat spesial dan merasa dirinya hanya cocok bergaul dengan orang-orang yang memiliki status tinggi. Kedua, membutuhkan pujian atau disanjung-sanjung terhadap sesuatu yang dilakukannya. Ketiga, memiki keinginan untuk mendapat julukan tertentu dari orang di sekitarnya. Keempat, tidak memiliki perasaan empati terhadap orang-orang di sekitarnya. Kelima, selalu mencari keuntungan dalam setiap kesempatan untuk mencapai apa yang ia inginkan. Keenam, memiliki pikiran jika orang lain iri padanya dan ia juga memiliki perasaan yang iri terhadap keberhasilan orang lain. Ketujuh, mereka tidak segan-segan melontarkan kata-kata kasar yang merendahkan orang lain. Waduh, negatif semua tuh. Waspadalah!

Oya, saya dapatkan keterangan juga lho di webiste rumaysho.com seputar memuji diri sendiri. Dijelaskan bahwa Al-‘Izz ibnu ‘Abdis Salam berkata, “Engkau memuji dirimu sendiri lebih parah daripada engkau memuji orang lain. Karena kesalahan seseorang di matanya sendiri lebih ia tahu banyaknya dibanding mengetahui kesalahan orang lain. Kecintaanmu pada sesuatu itu membutakan dan menulikan. Dan memang betul, tidak ada yang disukai kecuali diri sendiri. Oleh karena itu, kita lebih suka melihat ‘aib (kekurangan) orang lain daripada memperhatikan kekurangan diri sendiri. Juga kita lebih mudah memberi toleransi jika diri kita kurang, namun tidak bagi yang lain.”

Eh, memang nggak boleh seseorang memuji dirinya sendiri kecuali jika ada hajat untuk hal itu. Misalnya:

Pertama, ingin melamar seorang wanita dan ia mengemukakan keistimewaan dirinya. Kedua, ingin memperkenalkan kemampuan dirinya dalam memenej pemerintahan dan mengurus agama seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf [12]: 55)

Ketiga, boleh memuji diri sendiri agar bisa dicontoh. Tentu ini bagi orang yang benar-benar niatannya untuk dicontoh orang lain dan aman dari penyakit riya’ dan sum’ah. Seperti Nabi kita sendiri pernah berkata, “Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku ada bendera Al-Hamdi. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya saat itu melainkan berada di bawah benderaku. Aku orang pertama yang keluar dari kubur. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri.” (HR Tirmidzi, no. 3148; Ibnu Majah, no. 4308. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

So, dipikir ulang sebelum segalanya terlambat. Kita boleh melakukan pencitraan diri, tetapi harus bisa mengendalikan diri. Niatnya pun bukan untuk pamer atau menyombongkan diri, tetapi untuk bisa dijadikan contoh (kalo emang layak dijadikan contoh). Jalani apa adanya, dan jika pun melakukan hal itu dalam taraf yang wajar maka niatnya juga sebagai bagian dari memberikan inspirasi dalam hal yang positif kepada orang lain. Bukan dengan maksud narsis, atau ingin eksis berbalut kesombongan dan lupa diri karena terdorong ingin pamer semata. Hati-hati, ya! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Salah Paham Terhadap Islam

gaulislam edisi 497/tahun ke-10 (4 Sya’ban 1438 H/ 1 Mei 2017)
Minggu tanggal 30 April 2017 ada kejadian konyol. Kajian remaja seputar pergaulan dan cinta di Malang yang diisi oleh Ustaz Felix Siauw dibubarkan paksa oleh polisi (konon atas tekanan ormas tertentu). Kok bisa? Kenapa nggak bubarin aja tuh yang acara-acara maksiat ya? Aneh memang. Tapi ya sudahlah. Ini fenomena akhir zaman. Udah banyak fitnah bagi umat Islam. Benar dianggap salah dan salah justru dianggap benar. Hal ini diperparah dengan banyak umat Islam yang salah paham dengan ajarannya sendiri. Sehingga takut dengan Islam dan malah membenci Islam dan kaum muslimin. Gitu ya, demi dunia yang nggak abadi, rela melepas kehidupan akhirat yang justru selamanya. Memangnya sudah siap di akhirat nanti tempatnya malah neraka selamanya? Naudzubillah min dzalik.

Sobat gaulislam, sebelumnya, Jumat kemarin (28 April 2017) Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan seruan untuk para penceramah terkait isi ceramah di rumah ibadah. Menurut laporan detik.com, Lukman mengaku banyak mendapat keluhan terhadap fenomena rumah ibadah belakangan ini yang berpotensi memecah bangsa. Karena itu, ia mengimbau melalui pendekatan pada penceramah. Tapi tahukah kamu kalo isi seruannya sebenarnya banyak diarahkan kepada umat Islam? Silakan kamu cek sendiri 9 poin kriteria ceramah di rumah ibdah yang diserukan Menag tersebut yang sudah bertebaran di media sosial.

Oya, inilah penyakit yang menerpa kaum muslimin saat ini, yakni salah paham terhadap ajaran Islam. Intinya, Islam nggak dipahami dengan benar dan baik oleh kaum muslimin. Mengapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada tiga faktor. Apa aja tuh?

Pertama, kaum muslimin salah mengambil jalan hidup, bukan Islam yang diambil, tapi ideologi selain Islam. Mereka menganggap bahwa Islam tak bisa menjadi alat perjuangan, sehingga tak perlu dilibatkan mengatur kehidupan. Kedua, kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Ketiga, adanya upaya sistematis mengaburkan pemahaman Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam melalui tokoh-tokoh yang berasal dari kaum muslimin hasil didikan musuh-musuh Islam. Lengkap sudah penderitaan kaum muslimin saat ini.

 

Kita jembrengin nih!

Supaya jelas dan paham, kita jembrengin nih. Faktor pertama yang memicu salah paham terhadap Islam adalah karena kaum muslimin salah dalam mengambil jalan hidup. Halah, ini sih pastinya bukan cuma salah paham, tapi yang jelas udah salah jalan, karena salah mengambil sumber informasinya. Kayak orang mau bepergian ke suatu tempat, tapi peta jalannya salah. Ya, nggak nyampe tujuan. Tul nggak?

Beberapa bukti atas fakta ini adalah, banyaknya kaum muslimin yang memperjuangkan feminisme, demokrasi, sekularisme, kapitalisme, bahkan sosialisme dengan menganggap bahwa hal itu lebih relevan untuk saat ini. Waduh, celaka banget tuh. Sebab, sejatinya ide-ide itu bertentangan dengan Islam dan bahkan menentang Islam. Itu tahapan idenya. Akibatnya dalam tataran praktik, nggak sedikit kaum muslimin yang bangga menyandang istilah “Kiri” (baca: kaum sosialis) hingga akhirnya mereka berjuang di masyarakat dengan cara-cara seperti yang dilakukan kaum sosialis (misalnya unjuk rasa anarkis dan menggunakan kekerasan fisik), ideologinya pun ya sosialisme-komunisme. Padahal dirinya muslim, lho. Kadang ada yang masih suka shalat juga.

Oya, nggak sedikit pula dari kaum muslimin yang merasa sudah menjadi manusia seutuhnya ketika memperjuangkan demokrasi. Maka, seks bebas tumbuh subur, pergaulan bebas antara laki dan perempuan jadi tradisi, pengingakaran terhadap agama juga marak. Menyedihkan sekali bukan? Inilah buah dari salah mengambil informasi jalan hidup, karena menganggap Islam tak mampu menyelesaikan kehidupan hingga akhirnya memilih kapitalisme dan juga sosialisme. Hmm.. kasihan banget!

Sobat gaulislam, untuk faktor kedua yang memungkinkan munculnya salah paham terhadap Islam adalah kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Setengah-setengah, gitu lho. Kasarnya sih, apa saja dari Islam yang menurutnya baik dan menyenangkan diambil, sementara yang bikin ribet bagi dirinya ditinggalin jauh-jauh. Ini namanya pilah-pilih sesuka nafsunya. Bukan atas pertimbangan akidah dan syariat Islam. Superkacau banget kan pemahamannya?

Shalat akan dilaksanakan kalo dengan shalat ia merasa tentram dan tenang. Jadi bukan atas pertimbangan hukum syara dan ketataan kepada Allah Ta’ala dalam melaksanakan shalat, tapi karena shalat membuat dia tenang. Itu sebabnya, ia akan mengambil ajaran Islam tentang shalat. Tapi jika menurut hawa nafsunya ajaran shalat itu bisa mengganggu aktivitasnya berbisnis, maka ia akan tinggalkan shalat itu. Karena menganggap waktu shalat itu mengganggu urusan penting yang dia kerjakan. Daripada memilih menghentikan sementara kepentingan bisnisnya untuk shalat, ia malah memilih kepentingan bisnis dan meninggalkan shalat.

Hmm.. bisa juga kasusnya adalah dalam berbagai produk syariat yang ada dalam Islam tapi dipilih-pilih juga sesuka hawa nafsunya. Sangat boleh jadi ada kaum muslimin yang rajin shalatnya. Benar memang, karena sudah melaksanakan salah satu ajaran Islam. Tapi, ia membenci ajaran Islam yang lain seperti larangan pacaran dan zina, atau aturan tentang bolehnya poligami. Setengah mati ia meneriakkan protes bahwa pacaran itu hak seluruh remaja, atau poligami itu menyengsarakan kaum perempuan. Ini kan aneh yang bapaknya ajaib alias aneh bin ajaib. Iya kan?

Itu sebabnya, setengah-setengah dalam mempelajari Islam berdampak tidak utuhnya pemahaman tentang Islam. Tanggung, gitu lho. Bukan tak mungkin pula jika akhirnya marak bermunculannya para pelaku malpraktik dalam ajaran Islam. Hukum yang wajib dilakukan malah ditinggalkan, tapi yang sunah dikerjakan seolah menjadi kewajiban. Contohnya, banyak para wanita yang getol shalat sunnah tahajjud, tapi kalo keluar rumah rambutnya dibiarkan bebas tanpa ditutupi kerudung dan bagian tubuhnya yang lain bisa dengan sukses dilihat orang lain karena tak menutup aurat dengan sempurna (baca: nggak berjilbab). Piye iki? Harusnya kan yang wajib dilakukan, yang sunnah juga dikerjakan semampunya. Inilah yang disebut malpraktik alias salah prosedur dalam menjalankan syariat Islam, Bro en Sis.

Nah, mengenai faktor ketiga yang sangat mungkin memicu terjadinya salah paham terhadap Islam adalah banyaknya cendekiawan muslim yang menyampaikan Islam dengan pemahaman yang keliru. Islam yang disampaikan itu sudah dimodifikasi terlebih dahulu, sesuai selera dan keinginan mereka yang dipesankan dari musuh-musuh Islam. Mungkin saja cendekiawan muslim yang menyebarkan pemahaman Islam yang keliru ini nggak nyadar kalo dirinya diperalat oleh musuh-musuh Islam, atau bisa saja mereka tahu bahwa yang disampaikannya itu keliru tapi karena demi jabatan atau harta berlimpah yang dijanjikan kalangan tertentu yang membenci Islam, akhirnya ya mereka lakukan juga tugas salahnya tersebut.

Sobat gaulislam, bagi cendekiawan yang nggak nyadar kalo mereka udah menyampaikan Islam secara keliru, karena ia mempelajari Islam dari sumber yang salah. Ada semacam penyusup yang seolah-olah tahu dan paham Islam, tapi karena dianggap ulama atau cendekiawan akhirnya omongannya didengar meskipun sebenarnya menebarkan racun. Contohya, jihad diartikan sempit hanya secara bahasa yang bermakna sungguh-sungguh. Jihad menurut bahasa (haqiqah al-lughawiyah), sebagaimana dituturkan oleh Imam Naisaburi dalam kitab tafsirnya, adalah: “Mencurahkan seluruh tenaga untuk memperoleh maksud (yang dikehendaki) (Dr. Muhammad Khair Haikal, al-Jihad wa al-Qital fi as-Siyasati as-Syar’iyyah,jilid I/40). Definisi jihad menurut bahasa sangat umum, sehingga apapun usaha seseorang, dengan motivasi baik atau buruk sekali pun, bisa tergolong jihad.

Namun, Islam telah meletakkan kata jihad dengan pengertian syara’ (haqiqah as-syar’iyyah). Ratusan kata jihad tersebar di dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Dan pelaksanaan aktivitas jihad memiliki metode dan cara-cara tersendiri yang telah diatur secara sempurna oleh ajaran Islam. Dari sinilah muncul pengertian bahwa kata jihad memiliki makna syar’iy. Pengertian jihad menurut syara adalah:”Mencurahkan seluruh tenaga untuk berperang di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara membantunya dengan harta benda, pendapat, atau mendukung logistik (perbekalan), dan lain-lain.” (Ibnu ‘Abidin, Rad al-Muhtar, jilid III/336)

Jika demikian halnya, maka mana pengertian jihad yang lebih layak digunakan oleh kaum muslimin? Untuk memperoleh jawabnya, cukuplah kita merujuk pada perspektif syariat Islam. Para ahli ushul fikih telah menyinggung kaidah: ”Makna syar’iy lebih utama diambil berdasarkan pengertian syara, dari pada pengertian bahasa maupun ‘urf” (‘Atha bin Khalil, Taysir al-Wusul ila al-Ushul, hlm. 296) 

Itu sebabnya, istilah jihad lebih layak digunakan berdasarkan pengertian syara, bukan berdasarkan pengertian bahasa. Jadi, jihad artinya adalah perang melawan orang-orang kafir yang memusuhi Islam.

Akibat salah persepsi ini, kaum muslimin nggak mau lagi ngomongin jihad dalam pengertian perang (apalagi melakukannya?) karena toh sudah bisa disebut jihad dengan melakukan suatu perbuatan asalkan sungguh-sungguh melakukannya. Ini jelas kekaburan makna dari aslinya. Sangat membahayakan pemikiran tuh!

 

Menjauhkan umat dari Islam

Hmm.. jadi inget strategi penjajah Belanda di negeri ini. Di Aceh misalnya, Belanda nggak pernah menang perang. Mereka berpikir keras bagaimana supaya bisa mengalahkan Aceh yang emang udah dikenal banyak pejuang muslimnya dalam menentang penjajahan Belanda. Setelah mendapat masukan dari Prof. Dr. Snouck Hurgronje, yang diangkat sebagai Advisieur voor Inlandsche Zaken penjajah Belanda menerapkan Dutch Islamic Policy. Dari hasil riset Snouck, baik selama di Mekkah maupun di Aceh, diakuinya bahwa ulama dan santri adalah kelompok kecil yang sangat mempengaruhi pandangan politik rakyat dan raja-raja atau sultan-sultan di Indonesia. Snouck melihat bahwa Islam sebagai agama dan Islam sebagai politik. Ulama dan santri itu sendiri tidak berbahaya. Itu sebabnya, Belanda kemudian mulai menyusun program untuk memisahkan ulama dari politik. Snouck juga menyarankan agar pemerintah Belanda menjalankan “dwikebijaksanaan (twin policies), yakni menganjurkan adanya toleransi agama, dan menindak dengan kekerasan terhadap ulama yang masih melancarkan kegiatan politik dan militer.” (Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, hlm. 241)

Ini baru satu contoh lho. Belum yang lainnya seperti ada cendekiawan muslim yang berusaha keras memperjuangkan sekularisme, getol mendakwahkan demokrasi, nggak lelah terus menyebarkan liberalisme dalam Islam. Apakah mereka ulama? Ya, jika dilihat dari keilmuannya sangat boleh jadi mereka ulama. Tapi seperti kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ulama itu ada dua jenis: ulama yang benar dan baik, tapi juga ada ulama yang jahat dan buruk perbuatan maupun pemikirannya. Waspadalah terhadap tipe jenis ulama yang jahat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama.” (HR ad-Darimi)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menuturkan sebuah hadis: “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’ mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu.” (HR al-Hakim)

Oya, apakah ini salah Islam? Nggak kok. Ini murni salah pelakunya. Entah tanpa disadarinya atau disadarinya dengan sangat. Sebab, yang jelas adalah kesalahan dari mereka yang menyebarkan Islam dengan informasi yang keliru. Akibatnya, tentu banyak kalangan awam dari kaum muslimin yang mengikuti apa yang disampaikan ulama jahat ini dengan alasan hal itu memenuhi selera liberalnya sebagai muslim yang nggak mau terikat ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa agama hanya urusan pribadi dan tentunya negara nggak boleh sama sekali menerapkan aturan negara berdasarkan aturan agama untuk ngurus rakyat. Ya, inilah sekularisme, sobat. Berbahaya! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Apa Karya Terbaikmu?

gaulislam edisi 496/tahun ke-10 (27 Rajab 1438 H/ 24 April 2017)

 

Sobat gaulislam, Bro and Sis yang insyaAllah muslim dan muslimah sejati. Aku mau nanya nih, udah punya prestasi apa aja sekarang? Wih, wih, salut deh buat yang prestasinya udah segudang. Kira-kira prestasi kayak gimana yang kalian punya, ya? Prestasi menangin lomba-lomba, juara kelas, peraih nilai tertinggi, atau karya kalian diakui oleh orang-orang ternama?

 

Berprestasi dengan karya

Dua jempol buat yang udah berprestasi, deh! Jarang-jarang loh, ada orang yang mampu berprestasi di zaman serba modern dan instan kayak sekarang. Coba aja bayangin sendiri, dari miliaran orang di Indonesia, cuma sedikit yang bisa mengharumkan nama sekolah, atau kota apalagi negara dengan prestasi. Kalo boleh jujur, aku aja belum mampu tuh buat bisa ngebanggain orangtua dengan prestasi.

Itu sebabnya aku heran, gimana sih, caranya buat ngukir prestasi? Haruskah aku nunggu ada perlombaan yang diadakan buat dapet juara dan berprestasi? Atau berusaha supaya nilaiku lolos dari kriteria kelulusan minimal (KKM) dan dapet gelar peraih nilai tertinggi atau juara kelas? Wah, pasti kamu semua sangat berjiwa kompetisi kalau alasannya memang karena itu. Betul?

Eh, tapi, kalau nggak ada perlombaan atau nilai KKM berarti kamu nggak bakalan punya prestasi, dong? Nah loh, gagal membanggakan orangtua, sekolah, kota, apalagi negara! Aku jadi mikir, yang berprestasi dengan alasan kayak gitu pasti berkarya dengan prestasi. Bukan berprestasi dengan karya. Kok bisa?

Sobat gaulislam, tahu nggak sih apa perbedaannya berkarya dengan prestasi sama berprestasi dengan karya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi luring alias offline, salah satu pengertian ‘dengan’ adalah memakai (menggunakan) suatu alat. Kalau diurai, ‘berkarya dengan prestasi’ sama dengan ‘berkarya memakai (menggunakan) alat prestasi’. Untuk yang masih bingung apa maksudnya, aku jelasin, deh!

Jadi kalau kalian berkarya dengan prestasi berarti kalian membutuhkan event atau perlombaan buat bikin suatu karya. Dan tanpa event itu kalian nggak bakalan punya karya yang bisa bikin kalian berprestasi. Duh, duh, sedih banget deh, kalau nggak bisa berprestasi karena nggak ada event yang maksa kalian buat bikin karya.

Beda lagi sama ‘berprestasi dengan karya’ yang maknanya sama dengan ‘berprestasi memakai (menggunakan) alat karya’. Menurutku pribadi, yang satu ini lebih ngena dan mulia maknanya. Kenapa? Itu artinya, sebelumnya kita udah punya karya-karya yang dibuat karena alasan pengen bikin aja untuk memberi manfaat bagi orang lain, bukan bikin karena ada lomba atau event. Nah, ketika karya kita dilihat, didengar, dibaca, apalagi diakui banyak orang sampe bisa mengukir prestasi, berarti kita berprestasi dengan karya. Catet!

Kalau menurutku sih, dari pada nungguin event atau perlombaan yang nggak tahu kapan bakal diadainnya supaya kita bisa berkarya dan mencetak prestasi, mending bikin karya aja dulu. Terus kita share deh karya itu, yang insyaAllah bakal diliat banyak orang sampe kita diakui dan bisa berprestasi. Apalagi zaman demam medsos kayak sekarang, karya kita bisa dishare dengan mudah.

Aku kasih tahu ya, sobat gaulislam, kalau kita berkarya karena keinginan sendiri, bukan karena suatu event, dan tema yang diambil membawa kemaslahatan buat umat, pasti lebih berkah dan baaanyak manfaatnya. Dapet pahala, lagi, kan lumayan, nabung buat ke surga nanti! Hehehe… Sip! 2 jempol dah!

 

Menjauhi kendala

But, buat kamu yang belum punya prestasi kayak aku dan belum mulai untuk berkarya, aku mau nanya, nih. Kira-kira kenapa sih, kita belum bisa mengukir karya dan berprestasi? Padahal kayaknya orang-orang gampaaang banget buat bikin suatu karya yang bermanfaat buat banyak orang dan punya prestasi karena karyanya itu. #mikir

So, ternyata alesan yang paliiing besar yang menghambat kita buat berkarya dan ngukir prestasi adalah rasa males! Haduh, capek deh kalau ngebahas soal rasa males, nggak bakal ada abis-abisnya. Soalnya pasti adaaa aja alesan buat menangin rasa males itu. Nah, ini nih yang perlu kita hindari buat menangin rasa males. Masalahnya, sekali kita menangin rasa males, setelahnya kita juga bakalan menangin rasa males lagi. Teruuus aja begitu sampe akhirnya kita nggak punya semangat apalagi niat buat berkarya. Duh, berabe, kan? Banget!

Belum lagi nih, di zaman yang serba modern dan instan kayak gini, hampir semua penduduk Indonesia itu konsumen, bukan produsen. Cuma nikmatin apa yang ada, bukannya bikin sesuatu buat dinikmatin. Nah, gara-gara ini juga makanya banyak banget orang yang lebih milih nikmatin aja dari pada capek-capek dan pusing mikirin inovasi dan karya baru.

Nggak cuma males dan berjiwa konsumen aja, kurangnya rasa peduli ke sesama juga termasuk salah satu penghambatnya, loh! Kok bisa, sih? Bisa lah, soalnya ide yang kita dapetin buat menghasilkan karya atau inovasi baru asalnya pasti dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kalo kita nggak perhatian sama adik, kakak, orangtua, tetangga, dan orang-orang di sekeliling kita, ide buat bikin karya nggak bakal masuk ke otak. Walhasil, kamu semua nggak bisa mengukir prestasi, deh! Duh, duh…

 

Dalami potensi!

Well, potensi setiap orang pasti beda-beda. Jangan paksa diri sendiri buat pelajarin hal-hal yang bukan potensi kalian, cuma karena ngeliat orang lain kayak gitu, lalu ikut-ikutan pengen juga. Nggak lah! Temuin aja potensi yang kamu kuasai. Terus pelajari dan dalemin, deh. Terakhir, tinggal jadiin itu sebagai ladang berkarya yang bermanfaat buat umat.

Buat yang nggak tahu potensinya apa, nggak usah takut! Banyak kok, potensi yang bisa kamu ulik. Buat nemuin potensi itu, coba dari hal-hal yang kalian sukai. Misalnya, kalo ada di antara kamu yang sukaaa banget berselfie-selfie ria terus share fotonya di sosmed. Nah, daripada bosen karena isinya foto-foto diri sendiri aja, coba deh foto hal lainnya, kayak pemandangan alam. Mulai dari situ kalian dalemin seni fotografi sambil foto-foto hal-hal yang bisa bermanfaat buat orang lain. Kayak misalnya foto pemandangan gunung terus di-share dan dikasih caption: “kebesaran Allah yang tiada duanya, tidak ada yang mampu menciptakan kecuali Dia, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?” Wuih, wuih… bikin merinding deh, captionnya, hehehe.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kalo boleh jujur, sebenernya aku juga termasuk korban dari mendalami hal yang disukai. Dari dulu aku sukaaa banget baca, tapi karena capek jadi pembaca terus aku jadi pengen buat tulisan yang dibaca sama orang lain. Akhirnya aku belajar cara buat nulis, deh. Eh, lama-kelamaan… terereng! Menulis jadi potensi aku buat berprestasi dengan karya yang insyaAllah juga bermanfaat buat kamu semua yang lagi baca sekarang. Hehehe…

 

Istimewa di mata Allah

Sekadar menegaskan aja, setiap orang itu istimewa. Tinggal diri sendiri yang nentuin, mau istimewa di mata siapa: dunia, atau Allah Ta’ala?

Kalau kita mau istimewa di mata dunia, berkarya dengan prestasi cukup jadi modal. Dikagumi banyak orang karena ngejuarain suatu perlombaan atau juara di bidang akademik demi kepuasan diri sendiri karena pengen dianggep ‘hebat’ sama orang lain. Ati-ati Bro and Sis, jatohnya bisa riya’, loh! Malah bikin dosa. Ih, naudzubillah.

Tapi kalau mau istimewa di mata Allah Ta’ala, berprestasi dengan berkarya yang bermanfaat buat orang lain itu salah satu caranya. InsyaAllah pahala yang didapet. Beuh… mantep! Mengalir terus pahalanya kayak sungai meskipun kita udah meninggal sekalipun. Daebak, lah!

So, jangan putus semangat cuma karena pendapat orang lain yang mandang sebelah mata potensi dan usaha kita buat berkarya. Ckckck… pura-pura tuli aja deh, kalo masih ada yang bilang berkarya itu udah nggak zaman soalnya udah banyak karya yang tinggal dinikmatin aja.

Oya, kamu masih inget nggak cerita tentang seorang ayah, anak dan keledai? Gini ceritanya. Pada suatu hari seorang anak dan ayahnya berjalan sambil menuntun seekor keledai. Tapi orang-orang di sekitar mereka bilang: sayang banget keledainya nggak dipake, cuma dituntun aja. Ngedenger itu, ayahnya nyuruh anaknya buat naik ke punggung keledai, terus mereka jalan lagi.

Tapi di tengah jalan ada orang lain yang bilang: ih, anaknya nggak sopan, masa dia enak-enakan naik keledai tapi ayahnya jalan kaki. Ngedenger itu, akhirnya sang ayah minta anaknya turun, gantian ayahnya yang duduk di punggung keledai dan anaknya jalan kaki.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi, tapi di tengah jalan ada orang bilang: aduh, ayahnya jahat banget, masa anaknya disuruh jalan kaki tapi dia malah duduk enak-enakan. Ngedenger itu, ayahnya minta buat naik keledai berdua terus mereka jalan lagi. Tapi di tengah jalan ada yang bilang: aduh, kasian banget keledainya, dinaikin sama ayah-anak itu.

Hmm… dari cerita ini, udah bisa dipastiin kalo pendapat orang lain itu pasti berbeda-beda. Dan, belum tentu kalau kita ngikutin pendapat itu kita bakal baik-baik aja. So, ayo mulai jauhin semua hal yang jadi kendala kita buat berkarya. Tutup telinga sama pendapat orang lain yang nggak bikin kita produktif dan mulai gali potensi diri sendiri. Eh, tapi kalo nasihat sih boleh kok, diterima.

Sobat gaulislam, jangan cuma berkarya karena ngejar prestasi atau gelar semata, ya. Sebab, itu belum tentu bermanfaat buat banyak orang dan kaum muslimin, sehingga belum bisa disebut karya terbaikmu.

Oke deh, salam semangat buat yang terus ikhtiar buat jadi yang istimewa di mata Allah dengan karya terbaikmu untuk kemaslahatan kaum muslimin! Keep fighting! [willyaaziza]