“Gue, Gitu Lho!”

gaulislam edisi 488/tahun ke-10 (30 Jumadil Awal 1438 H/ 27 Februari 2017)

 

Hati-hati lho, antara percaya diri yang berlebihan dengan sombong itu beda tipis. Di medsos kamu memang bisa melakukan apapun yang kamu suka. Tetapi, harap diingat bahwa apa yang kamu sebar berupa tulisan, kata, gambar, dan suara akan memberi dampak bagi kamu dan juga orang yang menerima pesan kamu. Jika kita merasa bahwa apa yang kita sebar itu bermanfaat, jangan pula pada akhirnya kita jadi ngerasa paling berjasa, lalu menepuk dada sambil bilang, “gue, gitu lho!” Wah! (berharap pula ada decak kagum dari orang yang baca status kita). Hmm…

Sobat gaulislam, citra diri seseorang bisa dibangun dengan berbagai cara, termasuk melalui medsos. Sarana ini bisa menjadi peluang membangun brand image seseorang di hadapan orang lain. Sama seperti di dunia nyata. Itu sebabnya, kudu hati-hati. Jangan sampe nggak ikhlas. Jangan sampe wara-wiri di medsos karena kita mengejar popularitas dan berharap lebih banyak decak kagum orang lain memuji diri kita atas apa yang kita lakukan kepada mereka. Hati-hati nanti kamu kecebur penyakit hati bernama sombong. Dalam bahasa lain bisa diartikan ‘ujub atau berbangga diri. Tuh, jangan sampe kamu dengan sadar atau tanpa sadar bilang, “Gue, gitu lho!”

Wah, nih sikap bisa ngerusak keikhlasan kita, Bro. Bener. Sumpah. Gimana nggak, sikap ‘ujub alias berbangga diri atau bermegah diri, seperti ngerasa paling ganteng, ngerasa paling pinter, ngerasa paling gagah, ngerasa paling kuat, ngerasa paling senior, nganggap diri paling mulia di antara temen-temen lainnya, juga kebanggaan lainnya seperti dalam hal keluarga, kedudukan, harta, pangkat, jabatan, dan sejenisnya. Pokoknya, kalo kamu ngerasa paling alim pun dan dengan begitu ingin dianggap alim oleh orang lain, itu termasuk ‘ujub euy. Jadi emang kudu ati-ati banget. Apalagi nih, itu kamu pamerin di medsos.

Pernah lho, saya menyaksikan di medsos ada orang yang gemar mempublikasikan hal-hal terkait prestasi dirinya dalam berbagai hal. Entah kekayaan atau hal sejenisnya. Misalnya meng-upload sebuah foto mobil keren dengan merek terkenal. Di satu sisi orang ada yang percaya saja, tetapi di sisi lain, terutama temannya yang tahu betul kondisi orang yang meng-upload foto tersebut lengkap dengan tulisan berisi ungkapan syukur malah mempertanyakan. Ada orang yang saya kenal ketika melihat foto tersebut, dia iseng mendownload-nya kemudian diupload ke google image. Hasilnya? Ternya ada puluhan atau bahkan ratusan gambar serupa yang sudah ada di database google. Artinya? Artinya, orang yang meng-upload foto tersebut bisa dikatakan berbohong dengan statusnya di medsos karena sudah meng-upload foto lain yang sebenarnya sudah tersimpan di database mesin pencari, tetapi kemudian diberi caption berupa tulisan: “Alhamdulillah, rezeki dari Allah. Saya mendapatkan mobil ini dari sebuah proyek.” Menyedihkan, hanya karena ingin dianggap berhasil dan berharap ada like dari orang lain, syukur-syukur ada yang komentar sambil berdecak kagum kepadanya. Lalu dalam hatinya terbersit, “Gue, gitu lho!”

Sobat gaulislam, biasanya juga orang yang ‘ujub itu bisa tergelincir menjadi tidak takut dosa. Menganggap orang lain tak sekuat dan sepintar dirinya, akan memplesetkan dirinya menjadi orang yang sombong dan tidak takut kepada Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Tiga perkara yang dapat membawa kepada kehancuran: pelit, mengikuti hawa nafsu, dan suka membanggakan diri.” (HR ath-Thabari)

 

Menggerus keikhlasan

Menurut Ustad Rachmat Ramadhana al-Banjari dalam bukunya yang berjudul Mengarungi Samudera Ikhlas, dijelaskan bahwa rasa bangga dan kagum atas kelebihan dan keutamaan yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada seseorang, sehinga ia lupa diri, terbagi menjadi tujuh macam, yaitu (1) ‘ujub kepada keindahan tubuhnya, kesehatannya, kekuatannya, dan ketampanannya; (2) ‘ujub dengan akal dan kecerdikan serta kepandaiannya dalam berbagai permasalahan, baik yang berkaitan dengan dunia ataupun keagamaannya; (3) ‘ujub karena mempunyai keturunan yang mulia; (4) ‘ujub karena silsilah raja (penguasa pemerintahan), bukan karena atas dasar ilmu dan ketakwaan; (5) ‘ujub karena banyak memiliki anak, banyak memiliki pembantu, keluarga, pengikut, dan sebagainya; (6) ‘ujub karena harta benda yang berlimpah; (7) ‘ujub dengan pendapat yang keliru.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kalo kamu ngerasa bangga karena punya wajah ganteng atau cantik dan memiliki tubuh yang proporsional antara tinggi dan beratnya, terus kamu merasa bangga dengan kondisi kamu itu, sembari merendahkan yang lain dan berharap pujian en decak kagum dari teman-teman kamu, itu udah masuk ke dalam kategori ‘ujub lho. Kudu ati-ati banget. Jangan sampe deh kamu upload foto-foto dirimu dengan kondisi seperti itu. Selain bisa membuat dirimu jadi ‘ujub, juga bisa membahayakan dirimu sendiri karena bisa jadi foto itu akan di-download orang kemudian dimodifikasi sesuai kepentingan orang tersebut dan disebar kembali ke medsos dengan tujuan jahat. Siapa yang rugi? Jelas kamu yang paling rugi.

Begitu pula jika kamu kebetulan dikasih sama Allah Ta’ala kecemerlangan otak dan daya pikir. Kamu jadi juara kelas, atau juara umum di setiap semester. Faktanya memang kamu begitu. Tapi, dengan kelebihan yang kamu miliki itu ternyata kamu merasa bangga secara berlebihan sambil berharap ada tepuk tangan dari kawan-kawanmu di dunia nyata maupun di medsos dan berusaha untuk mencari cara agar dianggap sebagai orang yang berilmu dan semua temanmu ngomongin kelebihan kamu. Sikap seperti ini, kalo dibiarin terus bisa tuh masuk kategori ‘ujub alias berbangga diri secara berlebihan sambil berharap pujian dari orang lain.

Oya, kadang ada juga lho teman kita yang ngerasa bangga berasal dari keturunan yang mulia atau kelas tertentu dari keluarga ningrat atau terhormat di kalangan masyarakat sekitar kita. Faktanya memang demikian, tapi jika kemudian merasa bangga secara berlebihan dengan kondisinya tersebut ia bisa aja jatuh kepada sifat ‘ujub. Misalnya aja gini, mentang-mentang kamu sebagai anak pejabat atau tokoh masyarakat, lalu tindakanmu udah berlebihan dan selalu membanggakan orangtua atau silsilah nasabmu. Supaya kawan-kawanmu merasa kagum dan kemudian memuji kamu. Wah, jangan sampe deh kamu (dan kita semua) dihinggapi penyakit ‘ujub ini. Bahaya banget dan bakal ngerusak keikhlasan kita ketika bergaul dengan kawan-kawan lainnya.

Nah, ketujuh kondisi yang bisa disebutkan sebagai sikap ‘ujub itu memang bisa ngerusak keikhlasan kita, Bro. Memang kita mudah ngerasa bangga jika kita memiliki kelebihan dibanding kawan lain. Sebagai ketua OSIS merasa paling terhormat di antara anggota OSIS yang lain. Sebagai ketua Rohis, kita ingin dianggap paling alim di antara kawan lainnya di sekolahmu. Wah, nggak banget deh. Walaupun faktanya memang seperti itu, tapi bukan untuk dijadikan kebanggaan yang bisa ngerusak keikhlasan perbuatanmu dalam bermualah dengan kawan-kawanmu.

Sikap ‘ujub ini emang bisa jadi nggak kerasa bisa masuk ke pikiran dan perasaan kita dengan sangat lembut dan bahkan seolah-oleh kita merasa harus membanggakan diri dengan segala kelebihan yang kita miliki. Termasuk nih, kalo kamu sampe tetep ‘ujub dengan pendapat yang keliru karena merasa bahwa kamulah paling pandai dan paling shalih. Padahal, faktanya orang pandai dan orang shalih pun bisa salah. Bisa berbuat dosa. Ok? Semoga pembahasan ini tambah bikin kamu jadi ngeh sifat-sifat yang bisa ngerusak keikhlasan kita, khususnya tentang ‘ujub ini. Semoga nggak ada yang berani bilang lagi, “gue, gitu lho!” [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Meniti Jalan Kebaikan

gaulislam edisi 487/tahun ke-10 (23 Jumadil Awal 1438 H/ 20 Februari 2017)

Tak mudah memang menempuhnya. Tetapi dengan berbekal keyakinan akan pertolongan dari Allah Ta’ala, kamu akan baik-baik saja melewatinya. Tak perlu khawatir soal pertolongan Allah Ta’ala. Justru yang perlu dikhawatirkan itu adalah keyakinan kamu dalam menyikapi kondisi ini. Apakah benar-benar yakin bisa move on dari kondisi yang kamu rasakan. Itu memang soal perasaan. Kamu sendiri yang seharusnya berusaha lebih keras dan lebih semangat lagi.

Why? Sebab yang terpenting memang dorongan dari dalam kamu sendiri. Gimana pun besarnya daya tarik dari luar berupa inspirasi dan solusi yang diberikan, tetapi kamunya ogah tergugah dan nggak mau ngikutin saran dari luar sana, maka kamu tetap akan seperti sekarang ini. Nggak berubah. Percayalah, kondisi lingkungan itu tak seratus persen bisa mengubah pikiran dan perasaan kamu. Kondisi lingkungan itu bisa jadi daya gedornya untuk mempengaruhi individu hanya sekitar lima puluh persen saja. Namun jika individunya sama sekali tak menghiraukan kondisi lingkungannya, ya nggak ada yang akan mempengaruhi individu tersebut.

Kok bisa? Bisa. Begini penjelasannya. Jika kamu berada di lingkungan buruk, itu artinya kamu akan terus menerus berada di lingkungan tersebut. Memang, besar kemungkinan kamu akan terpengaruh. Sebab, umumnya faktor lingkungan itu besar tekanannya. Namun ingat, meski faktor lingkungan bisa mempengaruhi banyak individu, tetapi tak semua individu bisa terpengaruh. Buktinya, banyak juga kan orang yang kesehariannya di tengah masyarakat yang individunya doyan judi, tetapi tak semua masyarakat di situ individunya doyan judi. Tentu saja, ada faktor yang membuatnya bisa bertahan sejauh ini di lingkungan buruk namun pengaruh buruknya nggak mempan menyerap ke dirinya karena dirinya punya prinsip dan cara menolaknya.

Begitu juga seseorang yang sudah dikondisikan untuk hidup di lingkungan yang baik. Lingkungan ini semestinya bisa lebih banyak mempengaruhi perilakunya dan diharapkan bisa kebawa jadi baik oleh lingkungan tersebut. Memang, faktanya banyak yang kemudian jadi baik karena terpengaruh kebaikan lingkungan tempat tinggalnya, namun tak semua orang bisa jadi baik. Terbukti ada juga yang tak mau berusaha menjadi baik. Individu tersebut tidak mau terpengaruh dengan kebaikan. Ia tetap dalam keburukan yang sudah melekat di dalam dirinya. Ini menjadi bukti bahwa lingkungan tak seratus persen bisa mengubah semua individu di dalamnya.

Contoh nyata lingkungan yang baik untuk pendidikan adalah pesantren. Seperangkat aturan dan orang-orang yang berkomitmen menjadi baik bagi dirinya dan mengajak orang lain menjadi baik ada di sana. Namun, belum tentu kebaikan yang diterapkan mempengaruhi semua individu yang ada. Sejauh ini sulit untuk bisa baik 100 persen (sudah bagus sih bila yang baik mencapai 70 atau 80 persen dari total jumlah santri). Sebab, ada saja yang nggak mau diatur dan ogah diarahkan menjadi baik. Awalnya malas, lama-lama jadi menolak kebaikan. Sayang banget ya? Padahal udah ada di lingkungan yang baik.

Soal mantan pacar

Sobat gaulislam, ngomong-ngomong soal mantan pacar, siapa tahu memang abis Valentine’s Day kemarin banyak yang putus pacaran. Baik dengan alasan masing-masing udah nggak cocok karena memilih selingkuh, atau memang punya alasan lain untuk bubar pacaran karena meyakini bahwa pacaran bukan budaya Islam. Pendek kata taubat.

Nah, buat kamu yang udah sadar menerima nasib sebagai mantan dan mencoba melupakannya dengan cara bertaubat nggak mau pacaran lagi, maka cara yang tepat adalah segera meniti jalan kebaikan. Tak semua orang bisa melakukannya, lho. Itu sebabnya, ketika sudah merasa kecenderungannya ingin melakukan kebaikan, maka bersegeralah melaksanakannya. Jika masih terganggu alias nggak stabil, buru-buru cari teman yang baik untuk menuntun kamu ke arah kebaikan dan mendukungmu dalam kebaikan. Itu bisa kamu cari di lingkungan yang baik tentunya. Sebab, lingkungan yang baik itu berpeluang lebih besar mempengaruhi bagi kamu yang udah ada niat untuk mendapatkan kebaikan. Semoga antara niat dan jalannya sudah ketemu. Memang tak serta-merta langsung jadi baik, itu semua butuh proses. Namun, kamu setidaknya sudah menemukan cara untuk meniti jalan kebaikan tersebut. Tul nggak sih?

Jadi, nggak usah pesimis dengan status mantan pacar. Sama halnya nggak usah minder dengan status mantan preman. Itu justru bagus ketimbang mantan ustaz. Tuh, beda banget kan? Iya. Kamu yang kini jadi mantan, nggak usah malu dan bersedih. Nggak usah pula berusaha keras untuk balik lagi ke mantan kamu lalu melanjutan kisah cinta saat pacaran. Nggak usah juga ngotot ingin cari pacar baru dan pamerin di depan mantan untuk manas-manasin sekaligus nunjukin eksistensi diri bahwa pesonamumu belum habis karena masih bisa pacaran, meski dengan orang lain alias bukan mantanmu. Please, jangan lakukan itu. Itu bukan meniti jalan kebaikan, tetapi kamu melanjutkan jalan keburukan. Jadilah orang-orang yang sungguh-sungguh bertaubat. Nggak mau balik lagi dalam keburukan. Malah akan menjauhinya sama sekali dan menyesal banget.

Rasul mulia shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Barengi dengan taubat

Sobat gaulislam, siapa pun orangnya, pasti ia pernah melakukan dosa, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentunya, karena memang beliau ma’shum (terbebas dari dosa dan kesalahan) dalam penyampaian risalah Allah ini. Itu sebabnya, saya waktu ngaji dulu, ustadz saya sering mengatakan bahwa, “Orang yang bertakwa bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tapi orang yang bertakwa adalah ketika berbuat dosa, kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.”

Rupanya ungkapan ustadz saya itu melumerkan kengototan saya waktu itu, bahwa menurut saya orang yang bertakwa selalu benar dalam hidupnya. Ini juga semakin menumbuhkan keyakinan dalam diri saya bahwa meski kita tak boleh salah dalam hidup ini, bukan berarti akan lolos dari kesalahan. Karena yang terpenting adalah menyadari kesalahan tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi sambil mohon ampunan kepada Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Katsir menukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang hamba tidak dapat mencapai kedudukan muttaqin kecuali jika dia telah meninggalkan perkara-perkara mubah lantaran khawatir terjerumus ke dalam dosa” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ada keterangan lain yang menyebutkan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menjaga dan membentengi diri. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa muttaqin adalah orang-orang yang berhati-hati dan menjauhi syirik serta taat kepada Allah. Sedangkan Hasan Bashri mengatakan bahwa bertakwa berarti takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan. Sedangkan Ibnu Mu’tazz melukiskan sikap yang mesti ditempuh seorang muslim agar mencapai derajat muttaqin dengan kata-kata sebagai berikut: “Tinggalkan semua dosa kecil maupun besar. Itulah takwa. Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di tanah yang penuh duri, selalu waspada. Jangan meremehkan dosa kecil. Ingatlah, gunung yang besar pun tersusun dari batu-batu kecil”.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Ampunan Allah jauh lebih besar dari murka-Nya. Lagi pula, memohon ampunan Allah (bertobat) sekaligus mencerminkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Karena orang yang bertakwa salah satu cirinya adalah segera mohon ampunan kepada Allah jika dia sudah menyadari kesalahannya. Jadi, nggak usah malu untuk bertobat en nggak usah merasa ribet. Jalani aja sambil terus belajar supaya nggak kecebur ke dalam jurang yang sama. Karena dengan belajar kita jadi tahu dan yakin bisa menjalani hidup ini dengan tenang. Cobalah. Mulai sekarang, berhenti berbuat maksiat, bubarin pacaran, dan nggak usah lagi mengingat mantanmu, lupakan seutuhnya, dan mulai berani meniti jalan kebaikan untuk masa depan kehidupan kita di dunia dan di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pujian buat kita yang takwa dan taat pada ajaran Islam. Apalagi sebelumnya kita ahli maksiat (seperti aktivis pacaran, misalnya). Betul nggak? Indah nian ungkapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lima belas abad yang lampau: “…ada kaum yang akan datang sesudah kalian (para sahabat radhiallahu ‘anhum). Mereka percaya kepada (sekadar) kitab yang dibendel, lalu percaya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Mereka lebih utama daripada kalian. Mereka lebih besar pahalanya daripada kalian.” (HR Ibnu Mardawih dalam Tafsir Ibnu Katsir)

Tuh, ini pujian untuk orang yang beriman dan mengamalkan ajaran Islam. Tentu saja, ajaran Islam akan memberikan kebaikan bagi siapapun. Yuk, makin semangat meniti jalan kebaikan ya. Lupakan segala maksiat yang udah pernah kita lakukan. Lupakan pacaran, lupakan mantan pacarmu, lupakan Valentine’s Day, dan semua maksiat lainnya. Lalu? Ya, bertobat sekarang juga, sambil terus menumpuk amal shalih untuk bekal kebaikan kita di akhirat kelak. Semangat! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Valentine’s Day, Pilkada, dan Nasib Kita

gaulislam edisi 486/tahun ke-10 (16 Jumadil Awal 1438 H/ 13 Februari 2017)

Setiap tanggal 14 Februari selalu jadi hajatan kasih sayang, khususnya bagi para remaja. Kasih sayang yang dimaknai dengan “cinta”, walau prakteknya lebih banyak “nista”. Ah, semua sudah tahu kok niat terselubung di pesta V Day, yakni soal bisnis dan birahi tak terkendali. Lagu lama yang diputer tiap tahun. Meski banyak di antara yang merayakannya mengklaim sebagai hari kasih sayang, namun nafsu busuk aromanya lebih tercium karena faktanya memang demikian.

Sobat gaulislam, meski sudah sering dibahas, dikritisi, dan diingatkan bahwa acara V Day itu nggak ada manfaatnya sama sekali dan sekadar pamer maksiat, namun gelarannya selalu ditunggu dan dirayakan oleh mereka yang masih gelap mata dan bisu tuli terhadap kebenaran Islam dan malah asyik masyuk dalam gelimang nafsu budaya jahiliyah itu.

Atas nama kebebasan, gelaran V Day selalu meriah meski sudah mulai banyak institusi berwenang yang sadar diri melarang perayaan yang sudah jadi tradisi sejak zaman Romawi Kuno itu. Hah? Lama amir! Nggak usah lebay gitu, Bro en Sis. Memang sudah lama. Pesta Valentine’s Day adalah metamorfosis dari tradisi Lupercalia yang dirayakan kaum pagan (penyembah berhala). Banyak versi seputar ini, silakan kamu baca sampai mabok huruf dan angka. Tetapi intinya, dari semua data yang didapat, tak satupun menyatakan bahwa V Day berasal dari Islam. Nggak ada. Semua berasal dari budaya selain Islam.

Itu artinya? Yup, karena bukan berasal dari Islam, maka terlarang bagi kaum muslimin untuk ikutan meyakini dan merayakannya. Bahaya banget! Kok bahaya? Iya, karena itu bisa menodai kemurnian akidah kita. Beneran! Sebab, kalo kita meyakini dan mempraktekkan budaya selain Islam, maka konsekuensinya adalah kita sudah mengikuti budaya tersebut dan menjadi bagian di dalamnya. Waduh!

Bagaimana dong mereka yang belum tahu? Ya, harus kita kasih tahu. Gimana caranya? Jelaskan kepada teman-teman kita bahwa merayakan V Day adalah dosa. Lengkapi dengan data dan fakta. Bisa berupa tulisan yang bisa kamu dapatkan di berbagai media Islam. Buletin kesayangan kamu ini pun sudah sering bahas soal larangan merayakan V Day. Silakan ubek-ubek arsipnya di website kami ya. Gratis buat kamu semua.

Oya, lalu apa hubungannya dengan pilkada? Pilkada? Iya. Edisi kali ini kan gaulislam judulnya panjang banget. Coba lihat lagi ke atas. Hehehe.. bener banget. Memang benar ada hubungannya kok. Pilkada serentak di beberapa provinsi pada tanggal 15 Februari 2017 itu juga mestinya menarik perhatian kaum muslimin, termasuk remajanya. Kok bisa? Bisa aja dong. Sebab, pilkada juga digelar dengan durasi waktu tertentu, yakni setiap lima tahun. Kalo V Day kan setiap tahun. Hubungannya adalah, sama-sama dirayakan oleh kaum muslimin meskipun keduanya bukan produk asli dari Islam. Lucu ya? Nggak lucu, tapi menyebalkan. Iya, karena bisa-biasanya merayakan dan melakukan sesuatu tanpa dasar dari Islam, udah gitu pada semangat banget, lagi. Heran, deh!

Sobat gaulislam, kamu nggak usah kaget dan bingung. Harus diakui bahwa kita hidup dalam sistem Kapitalisme, dengan akidahnya sekularisme, dan instrumen politiknya bernama demokrasi, yang asasnya kebebasan atas nama hak asasi manusia. Sekularisme yang memang memisahkan aturan agama dari kehidupan, adalah sebab utama rusaknya kehidupan umat manusia. Aturan agama dipinggirkan, aturan manusia (yang memang nggak stabil) justru dijadikan rujukan utama. Kalo udah begitu, maka tak mustahil bencana kehidupan bakalan datang susul menyusul bak gelombang samudera. Pemimpin yang galak terhadap rakyatnya menjadi ciri khas yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Kecurangan demi meraih kemenangan lalu duduk di singgasana kekuasaan dengan melakukan kesewenang-wenangan sudah menjadi tabiat para pemimpin di negeri yang menganut sistem jahiliyah ini.

Pilkada tetap dan selalu digelar meski sudah banyak menelan kecewa. Gimana nggak, janji saat kampanye agar bisa terpilih sering tak direalisasikan ketika sudah menggenggam kekuasaan. Mereka lupa selupa-lupanya. Tentu saja, sebabnya adalah bahwa pilkada dalam sistem demokrasi memberi peluang kecurangan dalam proses meraih kemenangan. Berbekal jumlah suara yang harus didapat agar bisa menjadi pemenang adalah celah rawan yang bisa diakali dengan kecurangan. Maka, lihatlah ada daftar pemilih ganda, ada KTP palsu, ada upaya bujuk rayu berupa uang dan harta benda agar suara pemilih bisa digelontorkan ke paslon tertentu. Ah, sudahlah, terlalu banyak kebusukannya. Tetapi memang kita perlu menjelaskan kepada masyarakat agar mereka tidak menjadi sapi perah dalam setiap pilkada (termasuk pilpres dan sejenisnya). Sapi perah? Iya. Diambil suaranya sebagai bukti pilihan kepada paslon tertentu, lalu dilupakan keberadaannya. Habis manis, sepah dibuang (tebuu… kelesss…).

Mengapa tak jua berubah?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kehidupan kita seharusnya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Alangkah ruginya jika hari ini sama dengan hari kemarin. Bahkan bisa dikategorikan celaka bila hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Sayang banget lho kalo sejauh ini usia kita hanya digunakan untuk menumpuk kesalahan dan dosa. Tak mau berubah menjadi baik (apalagi menjadi yang terbaik). Ayolah, kita yang sudah beramal shalih banyak saja wajib meningkatkan kualitas amalan kita, padahal belum tentu semua amalan kita itu diterima oleh Allah Ta’ala. Bagaimana yang nggak beramal shalih? Ih, nggak kebayang deh. Memang benar bahwa amal shalih kita bukan satu-satunya yang mengantarkan kita ke surga. Rahmat dan ampunan Allah Ta’ala perlu kita dapatkan juga. Tetapi bagaimana mungkin bisa mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala jika kita tak  beriman dan tak beramal shalih? Silakan kamu pikirkan, ya!

Mengapa banyak manusia tak mau berubah dari buruk menjadi baik? Mengapa sedikit sekali yang bersusah payah hijrah dari kehidupan jahiliyah kepada Islam? Mengapa apa pula manusia yang setengah hijrah alias cuma mau berubah kalo ada keinginan tertentu? Intinya, semua itu terjadi karena belum tahu hakikat dari perubahan yang harus dilakukan dan konsekuesinya.

Zona nyaman dalam kondisi tertentu bisa saja membuat seseorang malas untuk beranjak dari kondisi tersebut meski secara fakta hal itu adalah keburukan. Misalnya aja nih, ada banyak remaja yang pacaran tapi sulit dinasihatin supaya bubar pacarannya. Itu terjadi karena remaja tersebut udah betah karena dapetin PW alias Posisi Wenak dalam melakukan pacaran. Mengusiknya agar putus pacaran, bagi dia adalah mengganggu stabilitas kenyamaman dirinya. Contoh kasus ini bisa diaplikasikan untuk fakta kemaksiatan lainnya. Banyak orang enggan untuk melepas kebiasaan buruk dan maksiatnya. Mengapa? Karena iman tak ada lagi di hatinya. Beneran. Orang yang beriman nggak bakalan tunduk pada kemaksiatan. Sebaliknya, kaum mukminin adalah orang yang berdiri di garda depan dalam menumpas kemaksiatan.

Kita bisa berubah kalo kita mau. Sungguh. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Nah, maksud dari ayat ini, Allah Ta’ala tidak akan mengubah keadaan mereka, selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka. Melakukan kemaksiatan jelas kemunduran. Jauh dari kehidupan Islam, jelas kemunduran. Bukti nyata saat ini ketika umat tak lagi menjadikan Islam sebagai ideologi yang mengatur segala aspek kehidupannya, maka umat Islam akan terus terpuruk. Remajanya asyik masyuk mengumbar birahi busuk di pesta V Day, para orang tua dimabukkan dengan iming-iming kemenangan di pesta demokrasi bernama pilkada (termasuk pilpres). Meski kemenangan itu diraih melalui proses tipu-tipu dan kejahatan lainnya.

Ayolah Bro en Sis, tinggalkan budaya busuk jahiliyah bernama Valentine’s Day sebab memang bukan berasal dari Islam. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR Bukhari no. 7319)

Lalu bagaimana dengan pilkada? Aduh, gimana ya? Dalam demokrasi aturannya memang demikian. Kita kayaknya sulit ya melepaskan diri dari jeratan dan jebakan demokrasi? Aturan manusia yang menyandera kita agar tetap terlibat di dalamnya membuat kita pragmatis, lalu berpikir “daripada nggak”. Berpikir berikutnya, “daripada orang kafir yang berkuasa”. Kita dibuat runyam dengan urusan yang seharunya simpel. Padahal, justru karena sistem demokrasilah yang membuat kita lemah tak berdaya. Hanya demokrasi yang membolehkan setiap orang termasuk orang kafir untuk berkuasa. Tentu saja, sesuai aturan main yang dibuat demokrasi itu sendiri. Kalo kita ikutan mendukung demokrasi? Wah, pada seneng tuh. Sebab yang terjadi adalah: mereka puas, kita lemas.

Tahukah bahwa demokrasi adalah sistem jahiliyah? Harusnya tahu ya. Kan sejarahnya juga disebutkan bahwa sistem ini bukan berasal dari Islam, Sudah pasti sistem jahiliyah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maa’idah [5]: 50)

Sungguh, sistem demokrasi bisa diakali pembuat hukumnya sendiri, yakni manusia. Contoh nyata adalah Pilkada DKI. Si penista al-Quran yang sudah jadi terdakwa saja masih bebas berkeliaran dan tetap menjadi cagub. Di sinilah ironinya. Maka, agar kekuasaan tak digenggam oleh orang-orang jahat (apalagi udah kafir jahat pula), maka hempaskan sistem demokrasi dari kehidupan kita. Kita tak memerlukan kok. Apalagi sistem demokrasi tak pernah mau untuk mewadahi kekuatan yang akan membunuh demokrasi itu sendiri. Itu sebabnya, meski demokrasi menganut kebebasan berpendapat, tetapi bila yang berpendapat itu datangnya dari kaum muslimin yang menyuarakan kebenaran Islam pasti ditolak dan pelakunya diancam dengan tuduhan makar dan pemecah persatuan bangsa. #tepokjidat

Sobat gaulislam, lalu bagaimana dalam kondisi genting seperti sekarang ini? Kalo nggak milih paslon yang muslim (misalnya memilih golput), nanti paslon yang ada orang kafirnya malah menang. Terus gimana? Hmm.. mikir dulu. Gini, itu kan belum tentu ya. Justru kalo seluruh rakyat DKI nggak menggunakan hak pilihnya, apa proses pilkada tetap jalan dan menentukan pemenangnya? Tapi, ya sudahlah. Lagi nggak pengen debat.

Bagi kawan-kawan yang meyakini proses meraih kekuasaan melalui jalan demokrasi, silakan saja. Tapi tentu saja dengan segala konsekuensinya, saya sekadar mengutarakan pendapat, jika pun pada akhirnya berbeda semua ada risikonya dan tanggung jawabnya masing-masing di hadapan Allah Ta’ala. Namun, jangan salahkan muslim yang golput, lho. Seharusnya salahkan muslim yang memilih pemimpin kafir. Eh, jadi bingung, kan?

Sama, saya juga agak bingung kenapa banyak kaum muslimin yang jauh dari Islam hingga bodohnya nggak ketulungan. Nasib kita sebagai kaum muslimin begitu terpuruk. Valentine’s Day masih banyak dirayakan remaja muslim dan banyak pula yang muslim membela orang kafir dan mendukungnya jadi pemimpin. Belum lagi kemaksiatan lainnya yang merajalela dan dilakukan kaum muslimin. Hadeuuh…

Ah, saya jadi berpikir sendiri. Mungkin ini juga salah kita semua yang terbilang ngerti tapi tidak optimal mengedukasi mereka, tidak total berdakwah kepada mereka. Ya Allah, ampunilah kami. Kami baru sanggup menulis dan berkata-kata. Tetapi, kami tetap berharap semoga dari tulisan dan kata-kata ini juga menjadi bukti bahwa kami sempat berdakwah kepada mereka. [O. Solihin |Twitter @osolihin]

Jadi Guru Itu Berat

gaulislam edisi 485/tahun ke-10 (9 Jumadil Awal 1438 H/ 6 Februari 2017)

 

Sobat gaulislam, sebelum kita mulai, terlebih dahulu saya akan mengajak kamu melihat sebuah kutipan perkataan dari salah seorang calon gubernur DKI Jakarta. Berikut kutipannya:

“Kalau membangun manusia tanpa benda mati itu ibarat teori, dosen ngajar di kampus tapi nggak ada action. Kami tahu tujuan dan visi ya harus membangun fisik dan memperhatikan SDM. Saya kira calon nomor 3 ini dosen,”

Penuturan tersebut dilontarkan calon gubernur Ahok terhadap lawan tandingannya, Anis Baswedan dalam acara Debat Cagub Pilkada DKI beberapa waktu yang lalu. Perkataan Ahok ini oleh beberapa kalangan dinilai sebagai penghinaan terhadap profesi dosen. Karena pada dasarnya, Ahok hendak mengatakan bahwa profesi dosen atau guru hanyalah profesi NATO, No Action Talk Only, alias omong doang.

Kalo dikatakan penghinaan, saya setuju dengan itu. Pasalnya, selama ini ketika saya belajar ilmu dari guru manapun, pasti saya akan tergerak untuk melakukan aksi atas ilmu yang telah saya dapatkan itu. Teori-teori yang saya dapatkan di kelas, itu semua memancing saya untuk mengaplikasikannya di dunia nyata.

Misalnya saja, dulu ketika kecil, saya diajari teori tentang bagaimana melaksanakan shalat. Alhamdulillah, sekarang saya bisa shalat. Dulu saya diajari oleh guru bagaimana caranya membaca dan berhitung. Alhamdulillah sekarang ada manfaatnya, yang manfaat itu memiliki peran begitu besar dalam kehidupan saya.

Maka apalah artinya dunia ini tanpa kehadiran para guru. Dunia ini akan terasa gelap. Mirip dunianya hewan yang hanya berkutat pada makan, tidur, kawin, bertengkar. Tak ada ilmu yang menyinari peradaban umat manusia. Dan ilmu itu datang, tidak lain berkat jasa guru-guru kita. Sangat besar jasa mereka, hingga kita mengenal sebuah ungkapan populer, “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”

Memang, ketika berada di kelas, pekerjaan guru memang bicara, menjelaskan, mencontohkan, memberikan teori-teori. Akan tetapi, teori-teori itu merupakan langkah awal bagi para murid untuk melakukan sesuatu. Tak akan pernah kamu mengenal pesawat terbang jika tak ada guru yang menjelaskan tentang teori membuat pesawat terbang. Tak akan kamu jumpai mobil dan motor, jika tak ada guru yang menjelaskan tentang teori-teori terkait mesin. Dan tak akan pernah ada banyak hal menarik dan bermanfaat lainnya di sekitar kita jika dulunya para guru ogah ngomong. Nggak mau menyebarkan ilmunya.

 

Sisi lain guru

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Memang, di dalam kehidupan real di tengah-tengah masyarakat, boleh jadi kamu menjumpai guru yang kurang baik. Misalnya, kamu mungkin mendapati seorang guru, di mana antara ucapan dan perbuatannya itu tidak sinkron. Guru itu mengajarkan pergilah ke utara, eh, dia malah lari ke selatan. Guru itu mengajarkan kencing di jamban, eh, dia sendiri malah kencing berlari. Tidak sinkron. Ada perbedaan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.

Ada pula para guru yang sengaja membawa murid-muridnya ke tepi jurang. Bahkan mendorong muridnya untuk jatuh ke jurang itu. mungkin kamu temui guru yang malah mengajarkan muridnya paham atau ajaran sesat. Contoh gampangnya misal, mengajarkan paham komunis, dan mendorong-dorong kamu untuk ikut juga menjadi komunis. Atau guru yang memberikan contoh kehidupan yang liberal. Misal, guru itu melakukan pacaran, melecehkan murid perempuannya, atau melakukan praktek kumpul kebo. Naudzubillah.

Boleh jadi memang ada guru yang seperti itu. Tapi itu bukanlah alasan kamu untuk ikut merendahkan profesi guru. Profesi guru tetap adalah profesi mulia. Hanya saja, akan ada saja oknum-oknum yang mengotorinya.

Saya kasih satu contoh logikanya seperti ini. Ada satu pohon apel. Buahnya lebat, banyak sekali. Kamu memetik satu buahnya, hendak mencicipi. Ketika dibelah, ternyata buah itu busuk, banyak ulatnya. Apakah adil jika kamu mendapati hanya satu saja buah yang busuk, tapi kamu malah mencap negatif seluruh buah yang ada di pohon itu adalah buah yang busuk semua?

Sama juga dengan profesi guru. Jika kamu mendapati satu dua guru itu jelek, busuk perangainya, belum tentu semua guru yang ada di muka bumi ini sama seperti guru itu. masih banyak guru-guru yang berkualitas baik, memberikan keteladanan seindah kemilau mutiara.

Lalu apa yang harus kamu lakukan ketika harus berurusan dengan guru yang nggak baik? Pertama, seperti yang telah saya katakan, jangan cap semua guru di muka bumi ini seperti dia. Kedua, kamu harus bisa membentengi diri. Mampu memilah, mana yang baik dan mana yang buruk. Hal yang baik, ikutilah. Sebaliknya, hal-hal yang buruk, maka tinggalkanlah.

Misalnya saja, gurumu menyuruhmu shalat lima waktu ke masjid, sedangkan dia sendiri tidak ke masjid. Maka yang perlu kamu lakukan adalah, laksanakan saja perintah baiknya, yakni shalat berjamaah ke masjid, dan jangan ikuti kebiasaan buruknya yakni shalat di rumah. Toh, yang mendapat pahala shalat ke masjid tetap kamu, kan? Pahalanya nggak akan pernah tertukar dengan gurumu.

Satu contoh lagi, misalnya gurumu nyuruh untuk tidak merokok. Marah ketika melihat murid-muridnya merokok. Tapi dia sendiri malah merokok. Yang harus kamu lakukan adalah, kamu harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan karena kesal, kamu malah ikutan merokok. Ikuti saja perintahnya untuk tidak merokok. Toh tidak akan pernah ketuker, bahwa yang lebih sehat, insya Allah adalah kamu. Karena pada dasarnya, gurumu itu sedang menimbun racun yang dibawa rokok dalam tubuhnya sendiri.

 

Guru ideal

Sobat gauilslam, menjadi guru itu bisa jadi gampang. Dalam artian hanya mendapatkan panggilan guru, ustadz, kyai, dan semacamnya. Setiap orang yang memberikan pengajaran kepada kamu, meskipun hanya satu huruf, itu juga sudah bisa disebut guru olehmu.

Namun, tidak semua orang, bahkan tidak semua guru, bisa menjadi the great teacher, guru yang hebat, guru yang sebenar-benarnya guru. Yakni mereka yang nggak hanya pandai membagi ilmu, tapi juga mampu menjadikan ilmu yang telah diberikannya, mendarah-daging di setiap jiwa murid-muridnya.

Mari kita lihat kepribadian junjungan kita Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Betapa beliau tidak hanya seorang guru, tapi beliau adalah seorang the real great teacher. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya pandai mentransfer ilmu, tapi beliau juga mampu membuat ilmu itu melekat, mengakar begitu kuat di hati setiap murid-murid beliau. Maka tak heran, ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga kini masih bisa kita rasakan kesejukannya.

Ada hal-hal yang bisa dicontoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa yang pertama, untuk menjadi seorang guru yang hebat, kita semua butuh yang namanya keteladanan. Guru yang baik, tidak akan melarang atau menyuruh muridnya terhadap sesuatu sebelum guru itu memastikan, bahwa sudah tidak ada yang salah dalam dirinya. Artinya, ketika guru memerintahkan sesuatu, guru harus menjadi yang pertama melaksanakan perintah itu. Pun ketika harus melarang sesuatu, terlebih dulu harus dipastikan, bahwa dialah yang pertama kali harus menghindari sesuatu yang dilarangnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mencontohkan seperti itu. Bahwa betapa beliau merupakan suri tauladan terbaik. Ketika beliau menyuruh berjihad, tak diragukan lagi, Rasulullah juga bersama pasukannya, ikut berjihad. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan membangun masjid, beliau tidak hanya nyuruh doang, tapi beliau juga terjun, membantu para sahabat membuat mesjid. Misalnya juga ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan membuat parit di sekitar Kota Madinah sebagai pertahanan atas serangan musuh, beliau tidak segan-segan turun, ikut mencangkul, menggali bersama para sahabat. Padahal lihatlah, beliau adalah pemimpin besar.

Beliau memberikan keteladanan tidak dalam rangka untuk pencitraan belaka. Ketika dipuji sumringah, senang dan menepuk dada. Ketika tak ada yang memuji, jadi sedih. Dan ketika dicaci, marahnya luar biasa.

Hal lain yang dibutuhkan untuk menjadi guru yang hebat adalah, guru yang bersangkutan harus mampu mengajak semua pihak yang terlibat untuk mau bekerjasama. Pihak yang terlibat ini siapa? Mereka adalah guru itu sendiri, lembaga pendidikan, siswa/mahasiswa, orangtua dan lingkungan sekitar termasuk pemerintah.

 

Perlu kerjasama

Bayangkan kondisi seperti ini. Bagaimana bisa menghasilkan siswa atau mahasiswa yang baik jika dosen atau gurunya malas meski mahasiswanya rajin. Begitu juga sebaliknya, sulit menghasilkan siswa/mahasiswa yang bagus jika mereka malas meskipun dosen atau gurunya bagus dan rajin ngajar. Bagaimana mungkin mendapat hasil maksimal bila pemerintah tidak mendukung dengan memfasilitasi pendidikan walau siswa/mahasiswa dan guru/dosen rajin dan baik. Semua perlu kerjasama, bukan?

Nah, berat bukan menjadi seorang guru yang hebat? Di samping tadi harus ada keteladanan yang kuat, guru tersebut harus bisa mengkondisikan murid-muridnya dan juga mengajak orangtua murid, lalu menjalin kerjasama di antara ketiganya dalam lingkungan terkecil. Lebih hebat lagi jika pemerintah memudahkan pekerjaan guru dengan memberikan fasilitas pendidikan yang terbaik dan tidak membiarkan kemaksiatan merajalela di tengah masyarakat. Sebab, akan sulit menghasilkan murid yang bagus meski gurunya bagus jika tak ada peran orangtua murid yang menyesuaikan cara mendidiknya dengan yang diajarkan para guru di sekolah.

Akan sulit pula hasilkan murid terbaik bila pemerintah tak menyiapkan semua sarana dan prasarana dalam pendidikan. Termasuk memberantas pengganggu pendidikan seperti tayangan sinetron yang tak mendidik, melarang pacaran, melarang perzinaan, menghapus judi dan maksiat lainnya supaya murid tidak tergoda lakukan hal yang demikian.

Jadi sekali lagi, menjadi guru itu bukanlah pekerjaan NATO, alias No Action Talk Only. Karena kalo hanya ngomong doang, tidak harus guru, anak usia tiga tahun pun sudah bisa ngomong. Itu sebabnya, harus didukung karena guru bukanlah superman yang serba jago. Mengandalkan semuanya pada guru untuk kebaikan total, sama saja dengan membebani mereka bukan sesuai kapasitasnya.

Sobat gaulislam, sepanjang sebuah profesi itu baik dan halal, kita tidak boleh menghina atau merendahkannya. Boleh jadi, ada orang-orang yang kerjanya hanya di belakang meja. Tapi tidak lantas mereka yang kerja di balik meja itu lebih tinggi derajatnya dibanding mereka para pekerja kasar, misalnya menjadi kuli atau tukang bangunan. Karena bagaimanapun, mereka tidak akan pernah bisa bekerja di balik meja kantor jika kantornya saja belum dibangun. Membangun kantor, sama artinya dengan membangun bangunan. Membangun bangunan, itu sudah dipastikan membutuhkan kuli atau tukang bangunan. Walaupun tentu saja tukang bangunan juga tidak bisa bekerja tanpa arahan dari arsitek bangunan itu. Intinya kerjasama berbagai pihak untuk menghasilkan bangunan yang bagus dan indah.

So, memang berat menjadi guru, itu sebabnya, kalo mau guru harus siap ilmu dan mental. Selain itu, kita juga jangan membebankan semuanya kepada guru. Perlu kerjasama semua pihak: guru, murid, orangtua murid, masyarakat sekitar, dan negara. Tapi dalam sistem kehidupan yang nggak islami seperti sekarang? Wah, angkat tangan deh. Sulit bingitz. Walau, tentunya masih ada secercah harapan untuk mewujudkannya sesuai pembahasan sebelumnya, sambil berupaya mengajak semua kaum muslimin agar mau berdakwah dan berjuang demi tegaknya Islam sebagai ideologi negara, agar pendidikan bisa berjalan sebagaimana mestinya seperti di masa kejayaan Islam. [Farid Ab | Twitter @badiraf]

Surga dan Neraka Itu Ada

gaulislam edisi 484/tahun ke-10 (2 Jumadil Awal 1438 H/ 30 Januari 2017)

 

Sobat gaulislam, udah di penghujung bulan Januari lagi nih. Nggak kerasa ya? Rasa-rasanya baru kemarin Januari menghampiri kita, eh udah mau pergi lagi. Tapi nggak masalah. Waktu masih melaju. Alhamdulillaah. Masih bisa nafas kan? Dan pastinya sih buletin kesayangan kamu ini masih setia menemani harimu. Bener bingitz!

Well, banyak hal terjadi di bulan Januari 2017. Salah satu yang jadi sorotan publik adalah tentang pidatonya Megawati Soekarno Putri di acara HUT PDIP ke 44 tanggal 10 Januari lalu. Seperti apa sih isinya? Yang jelas beliau menilai bahwa “PARA PEMIMPIN yang menganut ideologi tertutup pun memposisikan diri mereka sebagai pembawa ‘Para Peramal Masa Depan’ mereka dengan pasti meramalkan yang akan terjadi di masa datang termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana (AKHERAT). Padahal notabene mereka sendiri tentu BELUM PERNAH MELIHATNYA.”

Nah, kurang lebih begitu bunyinya. Sebagai muslim, tentu saja kita merasa heran dan bertanya-tanya dong. Bahkan ada yang merasa terhina dan tersakiti. Sampe-sampe Ketua Umum PDIP itu dilaporkan ke Polisi oleh Baharuzaman (Humas LSM Aliansi Anak Bangsa Gerakan Anti Penodaan Agama) dengan dugaan penodaan agama. Sampe sini kamu paham nggak? Intinya sih Bu Mega ini nggak yakin dengan adanya akhirat. Iyalah, kalo yakin kan nggak mungkin ngomong begitu. Apalagi pidato itu disampaikan di hadapan banyak orang. Disiarkan di televisi malah. Videonya ada juga di Youtube. Weleh, weleh.

Orang yang percaya akhirat dibilang peramal masa depan. Gimana to Bu? Akhirat bukan ramalan. Memang sih kita belum pernah melihatnya. Kamu semua juga belum, kan? Siapa juga yang mau lihat neraka dengan segala kengeriannya? Idih, na’udzubillah min dzalik deh. Surga pun nggak pernah kita lihat. Kenikmatan yang ada di dunia nggak akan sebanding dengan surga. Mau masuk surga? Wah, kalo ini sih cita-cita kita. Pastinya atuh!

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kalo akhirat itu nggak ada atau hanya ramalan, terus buat apa hidup di dunia? Mencari kekayaan? having fun? dan akhirnya mati. Selesai gitu? Kan nggak. Misalnya nih ada orang yang hidupnya suka berbuat jahat dan maksiat. Jadi pencuri, pembunuh, pemerkosa, penghina, pembohong, tukang mabuk-mabukan dll. Kalo ketahuan ya paling dipenjara. Itu pun masih bisa bebas. Jaman sekarang udah nggak aneh ada suap menyuap. Penjahat kelas kakap pun bisa melenggang bebas. Keluar penjara nggak kapok akhirnya berbuat jahat lagi. Di sisi lain ada orang yang suka berbuat kebaikan semasa hidupnya.

Contoh lain, ada temen sekolah yang doyan nyontek pas ujian atau suka nge-bully. Sementara temen yang lain baiknya nggak nahan. Suka nolong, traktir pas lagi istirahat, ngajak pulang boncengan (tentu bukan boncengan dengan lawan jenis ya), ngasih lihat PR. Eh, keenakan tuh! Pokoknya baik banget deh.

Nah, keduanya sama-sama bakal mati kan? Orang jahat dan yang baik sekalipun nggak bisa lari dari kematian. Terus apa jadinya kalo akhirat nggak ada? Surga dan neraka nggak ada? orang yang berbuat baik, kebaikannya akan sia-sia. Di dunia paling dapat pujian. Itu pun kalo dapat ya. Tapi masa sih berbuat baik cuma biar dapat pujian? Terus gimana dengan orang jahat? Yang jelas dia nggak dapat balasan yang setimpal atas kejahatannya. Nggak adil banget kan? Padahal derajat mereka beda loh. Rugi deh hidup kayak gini!

Siapa di antara kamu yang pernah ke Mekkah? Nah, akhirat itu ibarat Kota Mekkah bagi yang belum pernah ke Mekkah. Akhirat bukan ramalan sama halnya dengan Kota Mekkah yang tentu bukan ramalan. Akhirat, selayaknya Kota Mekkah keberadaannya itu pasti hanya saja kita belum pernah ke sana. Gimana kita bisa tahu kalo Kota Mekkah itu ada? Lokasinya ada dalam peta, bisa baca-baca dalam buku, browsing di internet atau dari cerita orang. Nah, kalo akhirat? Sudah dikabarkan Allah Ta’ala dalam al-Quran juga dalam hadits-hadits Rasulullah Saw. Bahkan Allah Swt menjamin bahwa al-Quran itu sumber yang asli. Nggak ada keraguan sedikit pun. So, peta atau buku saja bisa dijadikan sumber untuk mengetahui tentang Kota Mekkah, apalagi al-Quran yang mengabarkan tentang adanya kehidupan akhirat. 100% terjamin isinya.

 

Bersaksi tanpa melihat

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia buletin gaulislam. Di media sosial beredar video tentang kesalahan memaknai syadahat. Dikatakan bahwa bersaksi itu harus melihat langsung. Wah, ini sih persis dengan omongan orang ateis. Udah tahu kan orang ateis itu nggak percaya yang namanya Tuhan? Makanya mereka hobi banget ngolokin orang muslim yang percaya dengan adanya Allah Ta’ala. Mereka suka komentar yang kadang bikin emosi terpancing. Membodoh-bodohi orang yang beragama. Mereka bilang, gimana mungkin bisa bersaksi Tuhan itu ada, padahal melihat saja nggak pernah. Kalo begitu, seharusnya nih mereka juga nggak percaya sama kakek-nenek mereka yang udah meninggal. Kan nggak pernah lihat. Hayo loh!

Namanya juga ateis, segala sesuatu disandarkan pada logika (udah gitu logikanya sering ngaco). Mau percaya Tuhan saja susah banget harus lihat dengan langsung segala. Padahal untuk percaya dan bersaksi bahwa Allah Ta’ala itu ada bukan dengan melihat wujudnya, loh. Masih ingat dengan perkataan seorang Baduy Arab berikut ini: Kotoran unta itu menunjukkan adanya unta. Bekas jejak kaki menunjukkan pernah ada orang yang berjalan. Nah, keberadaan unta bisa dibuktikan dengan adanya kotoran tadi. Tanpa perlu melihat untanya secara langsung. Sama halnya saat kita menemukan jejak kaki di suatu tempat. Sebelumnya pasti ada orang yang berjalan di sana. Itu artinya, untuk membuktikan sesuatu yang berada di luar jangkauan akal harus ada sesuatu yang dijadikan petunjuk.

Jalan yang bisa ditempuh adalah dengan melihat ciptaan-Nya. Banyak ayat dalam al-Quran yang mengajak kita untuk memperhatikan dan merenungkan benda-benda alam dan melihat apa yang ada di sekelilingnya untuk dijadikan petunjuk atas adanya Allah. Kita melihat ada gunung, matahari, bulan, laut, pantai, manusia dengan beragam suku dan bangsa, berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Semua itu nggak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti ada sesuatu yang lebih hebat di baliknya. Ada Pencipta yang menciptakannya. Dialah Allah Ta’ala. Firman-Nya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran [3]: 190)

Sobat gaulislam, sama halnya dengan seseorang yang kakek dan neneknya udah lama meninggal. Bahkan sewaktu dia masih dalam kandungan. Walaupun nggak pernah melihat secara langsung tapi dia percaya kalo kakek dan neneknya pernah hidup di dunia. Dia melihat dari keberadaan ibu-bapaknya. Ditambah sejarah yang menceritakan hal itu.

Dengan mengamati benda-benda tadi akan memberikan suatu pemahaman yang meyakinkan kita terhadap adanya Allah Ta’ala Sang Pencipta. Nah, nantinya iman kita kepada Allah jadi mantap karena berasal dari akal dan bukti. Sip deh!

 

Surga dan neraka pasti adanya

Oya, di awal tadi dikatakan bahwa akhirat itu ada dan bukan ramalan. Setelah kehidupan dunia ada kehidupan akhirat. Perbuatan selama di dunia akan menentukan nasib kita di akhirat kelak. Percaya akhirat berarti percaya dengan adanya surga dan neraka yang udah diciptakan Allah Ta’ala. Surga dan neraka ini udah dikabarkan Allah Ta’ala baik dalam al-Quran ataupun hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bicara surga, udah pasti semua orang ingin ke sana. Di sanalah segala kesenangan dan kenikmatan tersedia seperti dalam firman-Nya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran [3]: 133)

Dalam ayat lain, “(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS ar-Ra’ad [13]: 23-24)

Tuh kan, luar biasa banget. Luasnya saja seluas langit dan bumi. Bumi saja udah luas. Belum ditambah langit. Hebatnya lagi, kalo kita jadi penghuni surga nanti bisa ketemu dan berkumpul dengan sanak keluarga yang semasa hidupnya juga beramal shalih. Para malaikat akan masuk dari segala penjuru dan menyampaikan salam. Wah, ini baru dua ayat loh yang menceritakan kenikmatan surga. Masih banyak ayat lainnya yang bisa kamu baca di al-Quran, ya.

Sebaliknya, tentang neraka Allah Ta’ala berfirman,“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS anNisaa’ [4]: 56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR Muslim)

Isi ayat dan hadits tadi bikin merinding ya? Gimana nggak, siksaan di neraka pedih banget. Siksaan yang paling ringan saja udah ngeri. Siksaan lain pasti lebih dari itu. Neraka adalah tempat bagi orang kafir, munafik dan zhalim. Nah, jangan sampe deh kita jadi penghuni neraka. Na’udzubillah min dzalik!

 

Remaja muslim percaya akhirat

Sobat gaulislam, sekarang bukan saatnya kita masih ragu dengan adanya akhirat, surga atau neraka. Sebagai remaja muslim, kita harus percaya. Percaya dengan adanya akhirat harusnya menambah semangat untuk berbuat kebaikan dan menjauhi hal-hal yang dilarang Allah Ta’ala. Karena kita tahu semua perbuatan akan mendapat balasan. Hanya Islam yang bisa menuntun kita menuju kebahagiaan yang abadi yaitu surga. So, jangan bosen-bosen belajar Islam, ya. Yakin dan banggalah jadi seorang muslim. Jadilah remaja muslim yang percaya akhirat! Ok? [Muhaira | email: iraazzahra28@ymail.com]