Teman Sejati Tak Tinggi Hati

gaulislam edisi 581/tahun ke-12 (3 Rabiul Akhir 1440 H/ 10 Desember 2018)

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Apa kabarnya, nih? Tema di edisi ini bakalan ngebahas tentang pertemanan di kalangan remaja. So, stay tune, yah!

Teman. Hmm… seperti yang kau tahu, teman itu banyak jenisnya. Ada teman sekelas, teman seangkatan, teman SD, teman di kampung, teman asrama, teman sekos, teman ngaji, teman nongkrong, dan lain-lain. Kalau diperhatiin lebih dalam, teman juga bisa macem-macem bentuknya. Ada pertemanan yang dangkal, deket, atau numpang status doang. Hmm… (ngangguk-ngangguk kayak boneka mainan di dashboard mobil)

Nah, dari sekian banyak teman yang kamu punya, pasti pernah ada cek-cok di antara kamu. Entah itu cuma karena salah paham atau sedikit singgungan. Dalam pertemanan, yang kayak gitu mah wajar, betul? Betul, dong! Tapi kan, nggak enak kalo setiap saat ada aja cek-cok di antara kalian. Itu sebabnya, wajib tuh ngejadiin cek-cok yang udah lewat sebagai pengalaman supaya di lain waktu kalian nggak bakalan cek-cok, apalagi sampe berantem. Sip!

Beda teman dan sahabat

Tapi sebenernya, teman itu apa sih? Apa bedanya sama sahabat? Nah, kalo menurut KBBI, teman dan sahabat itu artinya sama, tapi kalo secara fakta perbedaannya jauh, loh. Kok bisa begitu?

Coba deh renungin ke diri sendiri, kamu memperlakukan setiap teman itu sama atau nggak? Cara buat tahu kamu memperlakukan teman sama atau nggak dengan inget, ke siapa aja kalian curhat. Kalau udah tahu, di sini kita bisa ngebedain yang mana temen doang dan yang mana sahabat. Karena pada faktanya, kalau ke teman biasanya kamu nggak gampang buat curhat, sekadar teman main. Beda kalau ke sahabat, masalah sepele sampai masalah fallin’ in love aja diceritain. Hehe… ayo, ngaku!

Emh… jadi inget deh masa-masa SMP dulu, karena selama 3 tahun berturut-turut kami sekelas dan jadi deskmate terus, saaampe sekarang, tiap liburan pasti selalu ngeluangin waktu buat kumpul bareng. Padahal nggak pernah ada reuni kelas, tapi kita tetep punya jadwal sendiri buat silaturrahmi walaupun udah beda sekolah.

Nah, jelas banget beda antara teman dan sahabat. Nggak perlu dijelasin panjang lebar, kamu pasti ngerti deh perbedaannya. Kalau nggak ngerti, udah saatnya buat kamu merenungi lebih dalam, siapa aja sih yang pernah kamu jadiin tempat curhat dan layak menyandang gelar sahabat kamu.

Sayangnya, di zaman sekarang ini kadang remaja menyalahartikan gelar sahabat atau teman. Kenapa? Karena banyak banget remaja yang menganggap teman atau sahabat cuma sebatas batu loncatan buat eksistensi diri.

Walaupun nggak semua, tapi masih banyak remaja yang berpikiran, kalau dia berteman sama si ini nanti dianggep cupu, kalo sama si ini dianggep otaku, kalo si ini popular, begini, begitu, dan sebagainya. Karena cara berpikir yang kayak gitu, gelar teman dan sahabat jadi turun tingkat sebagai batu loncatan eksistensi, alih-alih hubungan saudara untuk bersilaturrahmi.

Padahal, walau secara fakta teman itu sekadar teman main biasa, ngobrol atau ngumpul sama teman-teman yang lain, teman itu bagus untuk menjalin silaturrahmi dan memperluas hubungan manusia. Udah jelas manusia itu makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Jadi, udah seharusnya kita memperbanyak teman yang bisa membantu kita, dan kita juga bisa membantu mereka. Mantep, kan?

Beda sama gelar sahabat yang lebih tinggi statusnya dari teman. Nggak cuma teman main, sahabat biasanya bisa jadi tempat curhat. So, berbanggalah kamu semua yang udah dianggap sahabat sama orang-orang di sekitar kamu. Why? Ya, karena itu artinya mereka percaya sama kamu. Itu sebabnya, mereka mau dan bisa curhat plus minta saran atau tanggapan tentang curhatan mereka.

Tips nih, buat kamu yang punya gelar sahabat, jangan kecewakan sahabat kamu dengan pengkhianatan. Misal nih, diminta jangan kasih tahu siapa-siapa, eh malah diceritain ke siapa-siapa. Hadeuuh… itu bukan sahabat yang baik loh. Di zaman sekarang susah loh dapet gelar sahabat. So, jangan kecewain sahabat kamu, tapi juga jangan gunain alesan itu buat ngelakuin hal-hal yang dilanggar Allah. Karena sahabat yang baik itu yang bahu-membahu beramal shaleh untuk memasuki surga Allah. Yup, kayak Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wassalam dan para sahabatnya dulu.

Sobat gaulislam, punya teman itu enak yah, baik itu teman main atau sahabat. Karena ketika kita punya teman, ada orang lain yang lagi berbagi pengalaman yang sama. Ditambah lagi kita bisa cerita-cerita banyak hal, bercanda, nongkrong bareng dan sebagainya. Apalagi kalau sama teman yang seumuran. Sip deh, enaknya.

Saking enjoy-nya kita bergaul sama teman kita, kadang kita lupa sama yang namanya batas privasi, nih. Ini yang bahaya.

“Ah, kok dengan teman ada batas privasinya? Kita kan sama-sama perempuan.”

“Sama-sama laki-laki ini, privasi apaan?”

Eit, jangan sampe offside, ya. Kalau ada di antara kamu yang berpikiran kayak gitu, plis deh, setelah baca ini, saya harap kalian nggak berpikiran kayak gitu lagi. Karena nggak cuma pergaulan antara laki-laki dan perempuan aja yang ada batasannya, tapi pergaulan antara sesama jenis juga ada batasannya, loh. Termasuk bergaul dengan teman.

Nah, kalo dikelompokkin secara umum, ada 3 poin utama pergaulan antar teman. Apa aja?

Batas privasi

Oya, kamu pasti sering denger ungkapan, ‘setiap orang punya privasi’. Yup, yup, bener banget tuh! Setiap orang punya privasinya masing-masing. Apa maksudnya? Kalau dianalogikan sih, kayak stadion sepak bola. Ada lapangan dan ada kursi penonton. Lapangan ibarat zona privasi setiap orang, kecuali pemain utama, nggak ada yang boleh masuk ke lapangan. Sementara kursi penonton ibarat lingkungan di sekitar pemain utama, siapapun boleh duduk di kursi penonton tapi nggak boleh nerobos lapangan. Ngerti kan, maksud analogi ini? Ngerti dong, harus!

Tetapi privasi nggak cuma soal masalah. Tempat-tempat atau ruang-ruang tertentu, waktu-waktu tertentu, benda-benda tertentu dan sebagainya juga bisa jadi privasi seseorang, loh! So, karena setiap orang punya privasi, sebagai teman yang baik, kita harus mengerti privasi teman kita. Harus tahu kapan kita berhenti buat nge-kepoin hal-hal yang nggak mau teman kita bagi.

Batas bercanda

Nah, yang kedua ada batas bercanda. Hmm… di zaman sekarang ini, bercanda udah jadi hal yang biasa, selama hal itu bisa bikin orang lain ketawa. Teori kayak gini, jelas-jelas salah! Kenapa? Karena dalam Islam bercanda itu ada aturannya, ada tata caranya. Wuih, Islam keren banget, deh, sampai bercanda aja ada batasannya. Yup, yup.

Kalau ada yang mau protes, tahan dulu. Saya kasih tahu yah, sangat wajar bercanda itu ada batasannya, karena kita nggak tahu, apakah ada orang yang merasa sakit hati ketika kita bercanda atau nggak. Kalau ada orang yang sakit hati karena candaan kita, itu bisa menumpuk dosa loh! Iih… serem. Nah, udah saatnya kita hati-hati kalau bertutur kata khususnya ketika bercanda. Sakit hati itu susah sembuhnya!

Kalaupun mau bercanda, liat-liat sikon dulu. Liat apakah teman kita lagi serius atau santai. Kalau lagi santai, boleh lah, bercanda. Tapi kalau lagi serius? No, no. Lebih baik jangan ajak bercanda, yang ada kita malah mengganggu mereka. Bisa gawat kan, kalau ternyata mereka lagi dapet amanah yang penting, dan amanahnya nggak selesai karena kita bercandain mereka. Duh, duh.

Mencintai teman

C-I-N-T-A. Cinta. Ai. Saram. Love. Hehe… walaupun kata ‘cinta’ itu lekat banget sama lawan jenis, tapi ternyata cinta itu punya arti yang luas dan bisa ke siapa aja, loh. Salah satunya, teman. Bedanya adalah cara menunjukkan rasa cinta kita untuk teman. Gimana cara nunjukkin kalau kita itu cinta sama teman kita? Hmm… (mikir keras).

Teman yang baik adalah yang mengajak kita menuju apa yang diridhai Allah. So, cara kita menunjukkan rasa cinta kita ke teman adalah dengan mengajak dia untuk beramal shaleh supaya semakin dekat kepada Allah dan surga-Nya.

Nggak cuma itu, sebagai teman yang baik kita juga harus menghormati dan menghargai teman kita. Dalam Islam, ada yang namanya perbedaan pendapat (selama itu bukan yang berhubungan dengan akidah), kayak sholat subuh pakai qunut atau nggak. Nah, untuk yang kayak gitu, kita harus menghargai pendapat teman kita dan menghormatinya. Ini masuknya wilayah fikih, ya. Kalau teman kita melenceng dari akidah baru deh kita wajib menasehatinya. Sip!

Pergaulan dan adab

Sobat gaulislam, udah disebutin 3 poin utama pergaulan antara teman yang berhasil aku kesimpulkan dari berbagai sumber. Tapi bukan berarti kamu cukup hanya mengetahui 3 poin itu. Wajib banget buat cari adab-adab dalam bergaul antar teman lainnya, karena semakin kita tahu insyaa Allah kita bakalan dapet lebih banyak teman dan sahabat. Kok bisa? Bisa, dong!

Iya, karena kalo kita tahu adab bergaul antar teman, kita juga tahu peraturan yang Allah Ta’ala kasih ke kita. Allah Ta’ala ngasih perintah bukan tanpa sebab, selalu ada sebab-akibat di baliknya yang baik untuk kita.

Salah satu alasan kita harus mengikuti peraturan Allah dan Rasul-Nya dalam bergaul antar teman adalah supaya kita mendapat lebih banyak teman. Ketika kita udah tahu adab bergaul, memahami ilmunya dan melakukannya, maka orang lain pasti bakalan ngerasanya nyaman sama kita dan senang berteman sama kita. Kenapa? Karena setiap orang suka berteman dengan orang-orang yang perhatian, peduli, sayang, dapat dipercaya, pandai menghargai orang lain. Setelah kita belajar adab bergaul insyaa Allah kita dapetin sifat-sifat itu, loh. Aamiin.

Nah, hampir semua orang nggak suka tuh sama orang yang punya sifat tinggi hati, egois, ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain, ngerasa dunia berputar di sekelilingnya, daaan sebagainya. Maka, ayo deh cepet-cepet belajar adab bergaul supaya semua sifat buruk itu hilang, digantiin sama semua sifat baik. Jadi kita bisa berteman sama orang-orang yang baik juga. Aamiin.

So, jadilah teman yang baik buat teman kita.Jangan tinggi hati kalau mau disebut teman sejati. Jangan juga egois danngerasa diri sendiri itu pemeran utama dan yang lain adalah figuran. Bertemanitu ibarat mitra kerja, nggak boleh saling mendominasi tapi harus salingmenghargai. Kalau ada perbedaan, cari persamaannya. Jangan malah membesarkanperbedaan dan ngelupain persamaan yang kalian punya. Ok? Sip deh! [Zadia Mardha | IG @willyaaziza]

Bersatu di Jalan Islam

 gaulislam edisi 580/tahun ke-12 (25 Rabiul Awwal 1440 H/ 3 Desember 2018)

 

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Momen Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin (2/12/2018) menyisakan banyak kenangan, cerita, kisah menarik, berita, informasi, fenomena, fakta, dan beragam opini yang ditaburi beragam pandangan. Kamu ke sana juga kan? Kalo iya, bisa menilai sendiri deh. Gimana rasanya kita disatukan dalam kebersamaan. Nikmatnya bergabung dengan banyak kaum muslimin. Ini momen indah yang tak akan terlupakan tentang persatuan kaum muslimin. Minimal persatuan tersebut hadir di acara yang sama, di tempat yang sama. Insya Allah.

Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin, sepertinya dari segi jumlahnya memang melebihi yang pertama di tahun 2016. Saya waktu itu juga ikut. Saat Reuni 212 tahun 2017 saya ikut juga. Jumlahnya memang banyak, tapi tak sebanyak yang kemarin. Beneran. Sampe berdesakan di jalanan. Tak bisa masuk ke arena taman Monas. Jalanan dipenuhi peserta aksi. Sinyal timbul-tenggelam, bandwidth macet. Itu bisa jadi karena banyak yang pake di satu tempat. Alhamdulillah, selain itu tak ada keributan. Padahal, dalam kondisi seperti itu, memungkinkan untuk disulut provokasi. Keren deh!

Jujur aja sih, saya merasakan nikmatnya kebersamaan dalam satu kegiatan dengan jumlah kaum muslimin yang sangat banyak. Peserta aksi yang berdatangan dari berbagai daerah menggunakan berbagai moda transportasi menunjukkan bahwa mereka yang datang sangat serius. Keimanan yang mendorong mereka melangkahkan kaki untuk bergabung dengan jutaan kaum muslimin lainnya. Luar biasa.

 

Satu hati

Dakwah memang memerlukan pengembannya. Jumlah pengemban dakwah yang melimpah, akan sangat menguntungkan karena akan banyak yang mengerti arah perjuangan Islam. Memang sih, jumlah yang hadir di acara Reuni Akbar Mujahid 212 itu sangat banyak, tetapi masih perlu dibangun kesatuan berpikir agar tak sekadar kerumunan massa. Namun demikian, karena tak mudah menyatukan hati kaum muslimin dalam jutaan banyaknya, maka acara kemarin patut diapresiasi. Setidaknya, sudah satu hati digerakkan oleh keimanan.

Satu hati bahwa kehadiran di acara itu adalah bagian dari memperjuangkan Islam. Bagi yang tak bisa hadir, tetap mendukung dan mengapresiasi kegiatan tersebut. Itulah satu hati. Semoga dalam banyak hal lain, kaum muslimin senantiasa disatukan hatinya dengan Islam.

Momen persatuan kaum muslimin seperti ini sangat diperlukan di tengah derasnya arus islamophobia (ketakutan berlebihan terhadap Islam—padahal tidak memiliki dasar yang kuat atas ketakutannya itu) yang nyaris mengikis habis kepercayaan dan kecintaan umat kepada Islam, dan berusaha meracuni umat dengan melekatkan kebebasan tanpa batas sambil nyinyir kepada ajaran Islam. Islamophobia mungkin saja akan mempengaruhi banyak orang. Tapi ingat, tidak semua orang akan terpengaruh. Buktinya, ya di acara Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin. Banyak yang hadir!

Meski banyak yang berdebat soal jumlah yang hadir, tapi intinya banyak sekali dah. Namun emang kebangetan kalo menyebut yang hadir cuma 40 ribu orang (konon kabarnya kalah dengan tarian poco-poco massal bersama presiden). Malah ada juga di media massa mainstream, menurunkan berita bahwa peserta aksi tembus 15 ribu. Hadeuuh… benar-benar melecehkan akal sehat. Ya, bisa jadi memang ada niat untuk mengkerdilkan acara tersebut. Malah, untuk mendukung tuduhan itu, foto yang dipasang adalah saat orang-orang mulai berdatangan lalu berkumpul. Masih jarang-jarang. Kok ya menutup mata, padahal sebagai media mainstream mereka punya sumber daya dan peralatan yang memadai. Tapi, ya sudahlah. Mungkin mereka emang nggak mau melihat kebangkitan umat Islam. Mungkin lho, ini bukan nuduh, tapi sekadar dugaan kuat.

Sobat gaulislam, bersatunya banyak hati dalam satu momen tentu memerlukan dorongan. Hanya dorongan keimanan yang mampu menggerakkan banyak orang untuk satu tujuan tertentu. Kalo nggak ada dorongan iman, mana mungkin mereka mau hadir jauh-jauh dari luar kota Jakarta. Meluangkan waktu, tenaga, dan uang. Bahkan ada yang datang sekeluarga. Ada yang naik kendaraan umum, banyak pula yang kendaraan pribadi. Udah ketahuan juga kan, berapa ongkos yang perlu dibayar?

Ketika datang ke lokasi acara, ada banyak yang berjualan. Berkah tersendiri bagi para pedagang di tengah lautan manusia yang hadir. Tak sedikit yang membeli barang dagangan yang tak mau mengambil uang kembaliannya. Luar biasa. Malah ada cerita teman di sebuah grup WhatsApp, saat dia membeli makanan dan hendak membayar, pedagang tak mau mengambil uangnya, karena kata pedagangnya ada yang sudah membayari untuk teman saya itu. Ini juga luar biasa. Satu hati, satu rasa, satu dalam naungan Islam. Insya Allah.

Momen seperti ini tak bisa ditemukan dalam banyak kasus, lho. Apalagi di tengah kehidupan yang individualistis yang mendera banyak orang saat ini. Ini kasus langka. Ini pasti kehendak Allah Ta’ala yang menggerakkan hati banyak kaum muslimin di acara tersebut untuk saling berbagi, saling membantu, saling menolong.

Satu kejadian lagi yang langsung saya alami. Saat itu saya dan keluarga terperangkap dalam lautan manusia. Berjubel, berdesakan, padat tak bergerak. Kondisi seperti ini tentu membuat banyak orang yang merasakannya harus bersabar.

Ketika orang di kanan dan kiri saya mengetahui jika saya membawa anak kecil usia 8 dan 9 tahun, langsung memberikan upaya pertolongan: menawari air minum, memberikan ruang yang agak longgar supaya anak-anak masih bisa menghirup oksigen cukup, sampai ada yang meminta agar massa yang di bagian belakang tidak mendorong-dorong. Luar biasa. Ini sebuah fakta tentang bersatunya hati kaum muslimin. Padahal, saya baru bertemu, kenal pun tidak. Tapi kami yang hadir di acara itu seperti sudah satu frekuensi, ya satu hati. MasyaAllah.

 

Perlu diikat lebih kuat

Betul bahwa yang hadir di acara Reuni Akbar Mujahid 212 berasal dari berbagai kalangan kaum muslimin. Mungkin lintas mazhab, beragam ormas, banyak etnis, berbagai profesi, warna-warni strata sosial. Tumplek blek jadi satu di tempat yang sama. Indah, bukan? Tak mudah lho mengumpulkan banyak orang, apalagi ini datang secara sukarela dan bahkan memodali sendiri untuk bisa hadir ke sana. Semoga umat Islam bisa bersatu lebih dari sekadar ngumpul-ngumpul seperti ini saja.

Ini sudah bagus, bahkan sangat bagus. Hanya saja memang perlu diikat agar lebih kuat. Iman sudah sama, pemahaman akidah insya Allah sudah lumayan, tujuan datang ke acara insya Allah sama untuk menjalin ukhuwah dan menyatukan hati dalam kebersamaan di jalan Islam. Nah, berikutnya, untuk membungkam orang-orang kafir dan munafik yang nggak suka dengan kebangkitan Islam—yang menyebut jutaan kaum muslimin yang hadir sebagai buih—maka kaum muslimin wajib diedukasi dengan akidah dan syariat Islam. Tujuannya, tentu agar ikatan kebersamaannya lebih kuat lagi.

Tentang akidah ini penting banget, lho. Soalnya, akidah akan memberikan panduan supaya nggak salah arah dan nggak salah jalan. Harus lurus sesuai tuntunan Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Akidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya amalan. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.” (QS al-Kahfi [18]: 110)

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS az-Zumar: 65)

Sobat gaulislam, dari kedua ayat ini jelas banget kalo akidah yang lurus itu adalah men-tauhidkan Allah Ta’ala. Nggak boleh melakukan kesyirikan. Akidah yang kuat juga akan memberikan dorongan untuk taat kepada Allah Ta’ala. Itu sebabnya, dari jutaan hati setiap muslim yang hadir di acara Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin, meski mungkin baru sekadar ‘kerumunan’, namun insya Allah itu akan menjadi modal berharga untuk bisa disatukan dengan ikatan akidah Islam yang kuat.

Eh, kubu sebelah nyebutnya kerumunan, tapi kok banyak yang kejang-kejang ya ngelihat segitu banyaknya jumlah yang hadir (backsound: maklum, kubu sebelah kan kalo pengen menghadirkan ribuan orang aja pake menggelontorkan duit yang nggak sedikit untuk membujuk orang agar mau hadir). Beda jauh dah!

Eh, kok nulisnya: “kubu sebelah”? Emang kita kubu yang mana? Hehehe.. sekadar istilah doang. Maksudnya kubu yang membenci Islam. Dan, kalo dilihat pendukung dan pembelanya memang mereka juga terbiasa nyinyir kepada kaum muslimin, dan banyak di antara mereka memang orang kafir dan munafik. Jadi, ya kita sebut saja kubu sebelah. Biar gampang diingat.

Banyaknya yang hadir, sudah menjadi salah satu ukuran bahwa umat ingin bersatu dan memiliki tujuan yang sama. Hanya perlu diikat dengan ikatan akidah yang benar dan kuat. Agar bersatunya hati mereka bisa menjadi kebersamaan dalam gerak dan langkah demi menggapai tujuan utama dalam menegakkan Islam. Apalagi jika sudah punya dasar akidah yang benar sejak kecil.

Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, “Kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari al-Quran. Lalu setelah itu kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah iman kami pada al-Quran.” (HR Ibnu Majah, no. 61)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR Bukhari, no. 7372; Muslim, no. 19)

Nah, itu sebabnya, kalo akidahnya udah oke dan kuat sih, mestinya akan taat terhadap syariat. Agar tak sekadar kerumuman massa, memang harus diedukasi dengan pemahaman Islam yang benar. Khususnya terkait akidahnya. Alangkah hebatnya kaum muslimin yang disatukan di acara kemarin jika akidahnya kokoh.

Sehingga, nggak sekadar bersatu dalam semangat karena jumlah yang membludak. Tetapi memang karena panggilan iman demi meraih ridho Allah Ta’ala. Apalagi jika kemudian memiliki tujuan yang sama, yakni menegakkan Islam di bumi ini. Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Bersatu di jalan Islam. Wah, mantap djiwa, itu! [O. Solihin | IG @osolihin]

Thinking Before Posting

 gaulislam edisi 579/tahun ke-12 (18 Rabiul Awwal 1440 H/ 26 November 2018)

 

Hai sobat Bro en Sis, sebagai anak gaul nih ya, pasti udah nggak asing lagi dong sama yang namanya berita hoax atau berita palsu. Berita hoax biasanya identik dengan judul yang bombastis dan narasi yang greget banget, sampe-sampe bisa bikin orang-orang kebanyakan ‘gemes’ buat nge-klik berita tersebut. Biasanya berita-berita hoax itu muncul di sosial media yang notabene banyak digandrungi sama orang-orang. Eh, kamu malah belum tahu istilah hoax? Ah, nggak percaya. Eit, tapi mungkin juga kali ya saking kupernya?

Anehnya nih Bro en Sis, banyak tuh slogan-slogan tentang bahaya berita hoax ini tapi masih ada aja yang ketipu, entah karena terhipnotis sama judul beritanya, narasi yang terlalu kontroversial atau malah karena liat temen sebelahnya posting/share berita tersebut, akhirnya jadi ikut-ikutan posting dan share di sosial medianya. Aduh jangan sampe kayak gitu ya, Bro en Sis. Cek dulu lah. Nggak capek kok.

Biasanya nih ya (dan memang udah sering banget), pengguna media sosial tuh paling males buat ngecek-ngecek informasi yang dia dapet. Iya nggak? Iya nggak? Ngaku aja deh Bro en Sis (ini bukan nuduh, tapi nuding, eh, hahaha…). Alasannya buanyak buanget, mulai dari sayang kuotalah, males buka link-nyalah, buang-buang waktulah, dan karena emang nggak pengen tahu (eh, nggak pengen tahu kok malah nafsu nyebarin?). Padahal kan informasinya belum tentu bener Bro en Sis.

Sobat gaulislam, tapi ada banyak juga loh orang yang suka bikin berita-berita hoax. Mereka biasanya suka mencari ‘bahan bully-an’ contoh nih, salah satu temennya kemarin ikut lomba lari eh di tengah lomba, temennya hampir nabrak bebek. Mungkin sekilas kejadian itu biasa aja buat disimak, tapi bakalan beda ceritanya kalo dibikin judul “Tidak Beradab, Seekor Bebek Mati Mengenaskan Setelah Menghalangi Peserta Lomba Lari,” atau mengarang-ngarang cerita, “Tidak Disangka, 7 Orang Miskin Ini Ternyata Punya Kekayaan Melebihi Ratu Inggris,”dan sederet judul-judul yang udah dikasih bumbu sana sini. Hadeuuh, meski judulnya nyaingi panjangnya gerbong kereta Gajayana, tapi anehnya tetep bisa menarik pembaca ya? Berarti yang baca tertipu. Hehehe…

Coba tanya, kenapa banyak orang, khususnya remaja, suka banget nyebarin informasi yang belum tentu bener? Mau tahu atau mau tempe, eh, mau banget tahu? Ya, ternyata oh ternyata Bro en Sis, para remaja yang suka nyebarin berita hoax itu gara-gara pengen dapet likers yang buanyak.

Masa’ sih? Beneran loh, mungkin karena udah capek ‘ngemis’ like tapi cuma nambah satu dua like akhirnya jalan pintas pun jadi pilihan. Begitu lihat berita yang kelihatannya bakal viral, buru-buru dishare atau malah diposting di akun media sosialnya. Karena terbukti, berita hoax itu biasa banyak yang nge-like, nggak cuma ratusan malah jutaan bahkan bisa lebih dari itu.

Bro en Sis, sebagai remaja kita harus bisa bersikap bijak ketika menemukan sebuah berita, karena kalau nggak bijak, bisa jadi sebuah penyesalan akan menghantui kamu seumur hidup. Eits, bukan maksudnya nakut-nakutin nih, tapi untuk jaga-jaga. Siapa tahu Bro en Sis terlalu bersemangat buat share tanpa tahu itu hoax atau bukan. Eh, begitu tahu kalau itu ternyata hoax, tapi udah kadung banyak orang yang nge-like postingan kamu. Ngeri nggak sih? Bisa jadi endingnya kamu ngunci pintu kamar dan malah nangis bombay karena malu. So, kudu ati-ati, ya!

Iya. Jangan sampe deh kamu ngerasain penyesalan itu. Itu sebabnya, selagi masih bisa dicegah kenapa nggak? Pikirkan dulu sebelum nyebarin. Ok? Siiip!

 

Smartphone, Smartpeople

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, siapa sih yang nggak punya smartphone di zaman yang super canggih ini? Kalau pun ada, masih bisa dihitung sama jari. Ditambah nih, smartphone udah jadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. No smartphone, no life (hehehe…). Tapi sayangnya, banyak juga pengguna smartphone yang nggak smart dalam menggunakan smartphone-nya. Beneran. Emangnya banyak? Bejibun, tahu!

Mereka menggunakan smartphone untuk hal-hal yang sebenarnya nggak penting dan justru bisa merugikan pihak lain. Salah satunya memproduksi atau menyebarkan berita hoax itu, Bro en Sis.

Oya, karena ini menyangkut juga soal karakter dan perilaku. Kalau kamu tidak belajar menahan diri, sifat itu akan terus nempel dalam diri kamu dan bisa jadi tanpa kamu sadari. Sifat itu sudah mengambil bagian menjadi karakter kamu. Bahayanya, kalau udah jadi karakter, perilaku kamu juga akan kena akibatnya. Inget ya Bro en Sis, karakter or sifat seseorang itu bisa dilihat dari perilakunya dan juga apa yang dia pikirkan.

Saat ini juga yang namanya kebenaran itu susah banget ditemuin, udah susah pake banget lagi. Belum lagi berita-berita hoax seputar politik dan menjelang Pilpres 2019 yang selalu mengisi hari-hari setiap orang, aduh rasanya berat banget gitu. Jadi harus gimana? Gampang kok Bro en Sis, berani berbuat berani bertanggung jawab. Udah gitu aja. Cukup kan?

Nggak perlu yang ribet apalagi sampe melilit-lilit kayak benang kusut. Karena jarang loh ada yang mau bertanggung jawab atas perbuatan yang dia buat. So, kalau nggak berani bertanggung jawab jangan pernah dicoba-coba, ya! Apalagi kalau nggak punya ilmunya, bisa lebih parah tuh.

Kunci supaya kamu nggak tergoda berita-berita hoax adalah menahan diri. Kok menahan diri lagi? Jelas dong, supaya kita belajar untuk tidak terburu-buru ketika mendapat informasi. Nah, dengan menahan diri kamu nggak akan menelan bulat-bulat (mentah-mentah udah biasa, hehe…) informasi yang kamu dapet. Tetapi kamu bisa cek dan cek ulang apakah informasi itu bohong atau bukan dan jarinya nggak akan ‘gatel’ buat asal nyebarin informasi itu.

Apalagi kalau informasi itu bener-bener heboh dan bikin kontroversial, jangan langsung asal percaya, Bro en Sis. Coba cari informasi yang lain yang bisa dijadikan sebagai pembanding. Terus kamu cek nih sumber informasinya, apakah dari media massa yang kredibel, link website abal-abal atau malah dari blog temen sendiri hehehe…

Oya, kalo informasi yang disebarkan itu ternyata hoax atau palsu, kita bisa menggugat pemilik website tempat berita hoax itu berada. Kalau itu website yang terkenal, ya kalau sumber informasinya nggak jelas mah, mau gugat siapa coba? Masa’ mau gugat ibu-ibu yang jualan nasi kuning langganan? Wkwkwk (asli kagak nyambung!)

Nggak cuma itu Bro en Sis, orang yang menyebarkan berita hoax itu bakalan kena cibir dan hinaan dari orang lain karena udah menyebarkan berita yang nggak jelas sumbernya. Main asal share-share doang. Kalau udah kayak gitu siapa coba yang mau tanggung jawab? Yang nge-share informasi palsu itu pasti nggak mau disalahin karena merasa bukan dia yang bikin informasi itu. Itu sebabnya, jangan  asal share-share ya. Thinking before posting.

So, kita juga mesti kudu hati-hati, siapa tahu gara-gara informasi itu, ternyata ada yang jadi korbannya. Ngeri, kayak kriminal dong? Yup, bener banget, dalam tahap tertentu berita hoax itu bisa mengakibatkan seseorang merasa tertekan, hidupnya terancam, dan akhirnya memutuskan buat ‘the end’. Kalau udah jadi kasus kayak gitu, nggak cuma yang membuat berita hoax yang kena tapi juga yang nyebarin, sebab dianggep ‘kawannya’ si pembuat berita hoax, malah jadi sengsara sendiri, kan?

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(QS al-Hujuraat [49]: 6)

 

Remaja Islam melek literasi, dong!

Sobat gaulislam, sebagai remaja Islam harus melek literasi. Mungkin agak susah ya belajar literasi tapi ini buat kebaikan kita sendiri. Supaya kita nggak mudah terprovokasi, nggak akan mudah tergoda–apalagi sampe percaya sama sederet berita-berita hoax. Kalo kita belajar Islam lebih giat lagi, banyak loh yang bisa kita dapetin ilmunya. Tentu saja setiap melakukan sesuatu harus berlandaskan Islam, harus diinget ya! Kalau bisa sekalian catet di jidat pake spidol permanen. Mantap!

Nah, harus lebih hati-hati lagi, nih. Khususnya dalam masalah informasi palsu itu. Kamu tentu nggak mau kan termasuk orang-orang yang menyebarkan fitnah? Memang sih, bukan kamu yang bikin berita hoax itu, tapi kalau ikut-ikutan nyebarin informasi tanpa ngecek-ngecek dulu atau malah justru berinisiatif sendiri buat nyebarin, itu salah besar. Akan lebih parah lagi kalau kamu ternyata ikut-ikutan, hadeuh *tepuk jidat.

Janganlah kita tergesa-gesa menyebarkan berita tersebut, karena sikap seperti ini hanyalah berasal dari setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 10/104 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 3/1054)

Bagi kita yang suka asal dan tergesa-gesa dalam menyebarkan berita, maka hukuman di akhirat kelak telah menanti kita. Naudzubillahi min dzalik.

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan mimpi beliau,“Tadi malam aku bermimpi melihat ada dua orang yang mendatangiku, lalu mereka memegang tanganku, kemudian mengajakku keluar ke tanah lapang. Kemudian kami melewati dua orang, yang satu berdiri di dekat kepala temannya dengan membawa gancu dari besi. Gancu itu dimasukkan ke dalam mulutnya, kemudian ditarik hingga robek pipinya sampai ke tengkuk. Dia tarik kembali, lalu dia masukkan lagi ke dalam mulut dan dia tarik hingga robek pipi sisi satunya. Kemudian bekas pipi robek tadi kembali pulih dan dirobek lagi, dan begitu seterusnya.”

Di akhir hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat penjelasan dari malaikat, apa maksud kejadian yang beliau lihat, “Orang pertama yang kamu lihat, dia adalah seorang pendusta. Dia membuat kedustaan dan dia sebarkan ke seluruh penjuru dunia. Dia dihukum seperti itu sampai hari kiamat, kemudian Allah memperlakukan orang tersebut sesuai yang Dia kehendaki.” (HR Ahmad, no. 20165)

Berpikir sebelum bertindak, itu kunci lainnya agar kamu nggak main sebar berita hoax. Jangan bertindak dulu baru mikir, bisa gawat tuh. So, ber-Thinking before Posting-lah. Nggak akan ada ruginya kok, malah bisa menjadi suatu berkah karena bisa terhindar dari kata penyesalan. Dan, selalu waspada, ya. Semangat! [Zulfa AR | IG @zulfana17]

Santri Kurang Adab

 gaulislam edisi 578/tahun ke-12 (11 Rabiul Awwal 1440 H/ 19 November 2018)

 

Assalaamualaikum, temen-temen semua, pembaca setia gaulislam yang insyaa Allah dirahmati oleh Allah. Alhamdulillah, buletin ini masih diberi kesempatan untuk menemani kalian dalam menuntut ilmu. Eh, ngomong-ngomong tentang mencari ilmu, pas banget di edisi kali ini saya akan membahas tentang santri. Tidak hanya bagaimana pribadi seorang santri, namun yang lainnya seperti keseharian santri, sikap santri, adab menjadi santri, dan banyak lagi, deh. Nah, udah siap kan buat mempelajari ilmu adab lewat tema santri yang satu ini? Hayuk!

Apa sih santri itu? Kayaknya hubungannya sama ilmu penting banget sampai-sampai pas di awal nyinggung masalah ilmu aja udah langsung ingat santri. Jadi gini, Sob. Menurut para ahli, santri adalah panggilan untuk seseorang yang sedang menimba ilmu pendidikan agama Islam selama kurun waktu tertentu dengan jalan menetap di pondok pesantren. Tuh, garis bawahi, panggilan untuk seseorang yang menimba ilmu, loh (bukan nimba air, opss..). So, jangan tanyakan lagi seberapa dekatnya santri dengan ilmu. Sangat dekat.

Walau hidup mandiri, nyuci baju sendiri, cuci piring sendiri, beresin kamar, dan semua hal secara sendiri (tentu tanpa orangtua yang ikut mondok ya). Tapi pengalaman merantau yang jauh dari kampung halaman itu sangat berharga, dan ilmu yang bermanfaat insya Allah akan dia dapatkan. Apalagi lingkungan yang baik, yang selalu mengajak ke arah kebaikan walau kadang menjalaninya karena paksaan, takut dihukum, dimarahin sama pengasuh dan semacamnya. Berdasarkan pengalaman nih, semua yang awalnya paksaan itu akan menjadi keikhlasan tersendiri jika dilakukan secara istiqomah. Selain itu, insya Allah akan semakin mempermudah tujuan utama datang ke pesantren, yakni ridha Allah.

 

Antara kreatif dan nakal

Sobat gaulislam, tapi tak menutup kemungkinan bahwa santri itu sangat kreatif. Eits, kreatif dalam hal apa dulu ini? Ya, itu loh, kreatif dalam membuat celah, nyuri-nyuri kesempatan dalam monopoli, eh,  maksudnya kesempitan (hehehe..). Itu sih nakal dong ya.

Misalnya nih, ketika pengasuhnya lagi capek ngurusin santri yang bandel-bandel, lalu lengah dalam mengawasi kita, di situlah ide ‘kreatif’ datang untuk melanggar tata tertib di pesantren. Pelanggaran yang bisa dilakukan juga beragam, sih. Ada yang ngendap-ngendap nggak ikut pengajian habis Subuh, tidur dengan buku yang diberdirikan seakan-akan lagi baca, padahal mimpi indah, sampai yang kabur atau keluar pesantren tanpa izin. Karena, ya, kalau izin nanti nggak diizinin pasti. Toh, izinnya ke warnet. Lah? Mana mungkin diizinkan itu mah.

Santri, seperti yang sudah kita ketahui bersama, pasti lebih banyak mempelajari ilmu agama daripada ilmu umum yang biasanya diajarkan di sekolah-sekolah umum. Nah, kalau ilmunya banyak, tanggungjawab untuk mengamalkannya pun lebih banyak, dong. Apalagi kalau itu ilmu agama, pastinya nggak cuma dipelajari secara teori kan, kita mesti mengamalkannya. Itu artinya, kalo secara teori udah tahu, maka dalam pengamalannya jangan sampe berprinsip nggak mau tahu. Dosa banget, itu!

Eh, tapi jangan karena takut besar tanggungjawab, malah nggak mau ngaji. Justru hal itu seharusnya membuat kita tambah bersyukur. Why? Itu karena Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang menuntut ilmu, dan Allah juga telah menjanjikan derajat yang tinggi di dunia maupun di akhirat bagi si penuntut ilmu ini. Dih, emang mau jadi manusia yang tanpa ilmu plus rendah lagi derajatnya? Ogah, dong, ya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), …niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah [58]: 11)

Mempelajari ilmu itu bisa jadi bagi sebagian besar orang emang gampang banget. Tapi mengamalkannya? Ya, nelen ludah, deh. Nggak sedikit santri-santri yang sehabis keluar dari pesantren, bahkan ada juga yang belum keluar, sikapnya, akhlaknya, sama sekali jauh dari identitas santri yang sebenarnya. Masih aja pacaran, kalau liburan pulang ke rumah buka kerudung, ninggalin sholat lima waktu, sama teman juteknya minta ampun, dan banyak lagi, deh.

Eh, kenapa tuh? Ada yang salah? Padahal di pesantren itu udah tempat yang the best buat memperbaiki sikap? Kira-kira apa, ya? Jangan-jangan aturannya yang kurang ketat, hukuman yang kurang bikin jera, atau emang karena pengasuhnya aja yang kurang awas, atau bahkan malah santri-santrinya sendiri yang bandelnya minta ampun. Nah, dari sekian banyak fakta tersebut, apa dong penyebab mereka bandel? Apa ada yang salah?

Pasti ada yang salah lah. Salah satunya, banyak santri yang kalau mempelajari adab, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Alhasil, tetep kosong aja, deh.

 

Adab lebih utama

Di antara ilmu al-Quran, fikih, hadis, ada satu ilmu yang sangat penting untuk dipelajari dan diaplikasikan terlebih dahulu, yakni adab. Kenapa adab sangat penting? Nih, dari Yusuf Bin al-Husain berpesan,“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Nah, tuh. Mengerti saja tidak cukup. Harus paham. Makanya adab itu penting. Banyak kasus penghafal al-Quran, penghapal hadis yang tingkahnya nggak baik. Entah itu sombong, suka ngeremehin orang, cuek, nggak tanggungjawab, ngomongnya kasar. Waduh, itu sih tahu doang tapi sama sekali nggak paham apa yang sudah diketahuinya.

Kalian tahu kenapa ulama-ulama salaf terdahulu itu hebat-hebat? Ya, so pasti karena adab mereka yang luar biasa baik. Bahkan, saking adab itu penting bagi mereka sampai-sampai Ibnul Mubarok berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama tiga puluh tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”

Tuh, hebat, kan. Lebih banyak belajar adabnya dibanding belajar ilmu yang lain. Kalau adab udah dipahami benar-benar, secara perlahan apa yang kita usahakan, niat untuk menjadi lebih baik lagi, semua itu akan membuat Allah mempermudah segala niat dan tujuan kita tadi.

Tapi nih, kalau kita nggak ada niat untuk berubah menjadi lebih baik, usaha pun nggak ada, mau sebaik apapun lingkungannya, ya nggak bakal bisa. Toh, kan semua berdasarkan niat dan aksi.

Nah, kalau niat sudah diluruskan, usaha pun sudah dilakukan secara perlahan oleh pihak yang hendak berubah, maka tahap selanjutnya ialah pihak pendukung. Maksudnya pendukung di sini seperti guru, pengasuh, teman-teman sekitar, dan paling utama, orangtua.

Kita, kalau sudah menjadi santri, sudah seharusnya menjaga diri kita, akhlak kita supaya selalu baik. Walau memang kita ini manusia yang sering khilaf ya, susah juga kalau mau baik selalu, tapi setidaknya harus ada usaha buat jadi baik. Jangan pasrah aja sama apa-apa dari diri kita yang belum baik dengan alasan bahwa kita merupakan manusia yang lemah. Usaha, biar Allah yang tuntun. Gitu caranya. Jangan mengampuni diri sendiri ketika berbuat salah, misalnya dengan mengatakan, “maklumlah manusia itu nggak ada yang sempurna”. Ini sih namanya malas memperbaiki diri.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff [61] 2-3)

Nah, dengan firman Allah di atas, bisa kita renungkan, bagaimana Allah marah kepada orang-orang yang tidak mempertanggungjawabkan ucapannya. Berarti kalau santri nih, sudah tentu tidak hanya menuntut ilmu, tapi juga menyebarkan ilmu. Kalau seandainya apa yang disampaikannya itu adalah baik, namun semua itu tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan, apa nggak takut dengan kebencian Allah kepada orang yang bermaksiat?

Apalagi nih, buat yang udah hapal al-qur’an, hapal hadits, kamu udah lebih dari mengerti hukum-hukum dasar yang Allah berikan terutama tentang akhlak dan adab. Jadi, jangan main hapal aja. Amalin itu juga harus bin wajib, loh ya.

Selain itu, santri itu harusnya udah terbiasa menghargai guru, menghargai orangtua, dan jadi pribadi yang asyik di mata teman-teman kita. Mereka adalah sumber keberkahan ilmu dan keridhaan Allah. Kalau sebagai santri nggak memahami adab terhadap guru maupun orangtua, duh, gawat!

Apa yang kita pelajari bisa-bisa sama sekali nggak ada gunanya. Jangankan buat orang lain, buat diri sendiri aja nggak jamin. Naudzubillah.

Inget, ya. Bukan seberapa banyak ilmu yang kita dapat, melainkan seberapa banyak ilmu yang sudah kita amalkan yang akan membuat kita sukses di dunia dan di akhirat. So, untuk para santri di mana pun, yuk, kita berusaha untuk mengamalkan segala ilmu yang sudah kita dapatkan. Fighting!

Jangan sampe deh, jadi santri yang kurang adab. Ilmu bisa jadi banyak, tapi kalo nggal mengamalkan dan adabnya justru buruk, bisa jadi itu sih nananya santri oplosan. Nggak banget, deh!

Jadi, sadar diri, luruskan kembali niatnya dalam belajar, siapkan diri untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat. Berusaha dan berdoa agar kamu bisa menjadi santri yang beradab. [Natasha ADW | IG @natashaara11]

Jasa Pahlawan Kita

 gaulislam edisi 577/tahun ke-12 (4 Rabiul Awwal 1440 H/ 12 November 2018)

 

Assalaamu’alaikum, Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Apa kabar kalian semua? Insyaa Allah baik, yaa. Semoga kamu semua, di mana pun kamu berada, senantiasa dilindungi oleh kasih sayang Allah Ta’alaa. Aamiin.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita akhirnya bisa bertemu lagi menjelang akhir tahun 2018 ini. Yup, bulan November. Kalau kita lihat kalender nasional nih, kamu pasti bakalan ketemu momen yang ikonik banget. Apa tuh? Bener banget! Hari Pahlawan!

Udah pada tahu kan, Bro en Sis. Tepat 73 tahun yang lalu, persatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari para pejuang muslim dari seluruh Indonesia, bersama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan baru negara kita di Kota Pahlawan, Surabaya. Tepatnya pada tanggal 10 November 1945. Terkenal banget, tuh, pidatonya Bung Tomo yang berapi-api dan membakar semangat juang para pemuda Indonesia untuk berperang melawan pasukan Inggris yang akan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Hingga akhirnya, bangsa Indonesia pun harus mensyukuri kemerdekaan karena penjajah berhasil dikalahkan oleh para pejuang kita. Alhamdulillah.

 

10 November yang ikonik

Bro en Sis, momen 10 November ini ditandai di dalam kalender nasional Indonesia, dalam rangka untuk menghormati para pahlawan yang sudah berjasa dalam kehidupan kita ini. Sebab, merekalah yang sudah berjuang untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan orang-orang kafir. Para pejuang Islam tentunya sangatlah berjasa bagi kemerdekaan negeri ini. Boleh saja kita sebut beberapa contoh pahlawan-pahlawan nasional yang terkenal menjunjung tinggi kemuliaan Islam bersama Indonesia. Ada dua tokoh yang sangat terkenal. Jenderal Sudirman yang terkenal berjuang meski secara fisik kondisi sakitnya, dan Bung Tomo dengan pidatonya.

Ada yang belum tahu isi pidato Bung Tomo? Ini: “Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap, MERDEKA ATAU MATI. Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah, saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!

Maasyaa Allah. Kalau Bro en Sis ada yang pernah denger versi aslinya di youtube, wah, bener-bener, deh. Membakar semangat juang. Nih, Bro en Sis kalau mau menjiwai pidato tersebut, artinya menghayati dengan sepenuh jiwa, kemudian sambil membayangkan tentara Inggris benar-benar mau menyerang, beuuh.. urusan galau-galau-an, mah, lewat!

Bawaannya pasti siap tempur. Maunya membela agama, membela rakyat Indonesia, membela kemerdekaan dari penjajah, gitu, deh. Semangat mudanya para pemuda bangsa pada masa itu. Nggak ngurusin masalah-masalah nggak jelas lagi. Yang di depan mata cuma satu, MERDEKA ATAU MATI. Titik! Nah, itu, tuh, mantapnya zaman perjuangan.

 

Para pahlawan tinggal kenangan?

Bro en Sis, perjuangan kemerdekaan nyatanya memang sudah berakhir. Peristiwa ikonik 10 November serta pahlawan-pahlawannya memang sudah lama menjadi catatan sejarah. Tapi apakah benar sejarah perjuangan itu hanya menjadi catatan saja? Terkubur bersama dengan kenangan perjuangan para pahlawan? Ckckck.. Sedih banget deh, kalau begitu kejadiannya.

Remaja, atau para generasi muda penerus bangsa Indonesia, saat ini mungkin sudah lupa tentang siapa para pahlawan yang telah memperjuangkan mimpi kedamaian kehidupan kita ini. Atau jangan-jangan malah tidak tahu tentang siapa para pahlawan itu? Oh,  Baru sadar punya pahlawan kalau di sekolah ada upacara Hari Pahlawan. Oh.. Baru ngeh waktu ada agenda mengheningkan cipta di dalam upacara hari tersebut. Yah, sama aja boong, dong, kalau setiap tahunnya gitu-gitu aja. Iya, nggak?

Sobat gaulislam, momen perjuangan ini, kita itu selayaknya benar-benar memaknai sejarah perjuangannya. Apa? Yakni bahwa kita mensyukuri kebebasan bangsa kita pada hari ini dari para penjajah. Bayangkan saja, tanpa adanya semangat juang dari para pejuang di masa lalu, maka bisa jadi kemerdekaan bangsa kita tidak akan terwujud. Tentu saja semua itu adalah berkat ketetapan, pertolongan, dan kasih sayang dari Allah Ta’ala. Tentu saja kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah yang memberikan kita kemerdekaan ini. Tetapi tetap saja, rasa terima kasih atas perjuangan para pahlawan, jangan pernah dilupakan.

Bener. Jangan malah begini: “Ah, pahlawan-pahlawan kemerdekaan itu mah terlalu kuno. Nggak zaman,” mungkin ada di antara kamu yang bersungut-sungut begitu. Itu nggak baik, Bro en Sis. Nggak boleh.

Parahnya ini, kalau ngomongin idola-idola malah asyik banget kayaknya. Padahal, idola dari kalangan seleb yang perilakunya nggak bener itu justru yang sebenernya menjauhkan dari idealisme kita, deh. Padahal, kalau mau dikasarin nih, emangnya mereka itu jasanya apa? Bener, nggak? Nggak usah dijelasin panjang lebar, Insyaa Allah bisa dipahami sendiri-sendiri, yaa. Bisa, kok!

 

Siapa pahlawan kita?

Bro en Sis, sebagai pemuda muslim nggak boleh menjadikan sembarang orang menjadi idola kita. Oya, yang dimaksud idola itu tuh, apa? Menjadikannya seseorang yang kita ikuti, seorang panutan, contoh hidup kita, apalagi menjadikannya pahlawan. Dalam memilih sosok-sosok semacam tadi pun, ada syaratnya, loh. Harus banget kita memilah-milah, siapa-siapa yang pantas untuk kita jadikan pahlawan kita. Jangan asal.

Karena apa? Pahlawan itu kan sejatinya orang yang kita hormati, bisa juga kita ikuti bagaimana cara hidup pahlawan kita tersebut. Kudu banget harus hati-hati. Kenapa? Karena seseorang itu akan bersama dengan idolanya di hari Kiamat nanti. Nggak mau, kan, kita jadi salah hidup gara-gara salah pilih panutan? Iih.. Na’udzubillahimindzalik.

Jadi gimana, dong? Tenang aja, sobat Bro en Sis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah kasih jawaban, kok.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” (HR Muslim)

Jadi jelas ya, Bro en Sis. Ngomongin soal pahlawan, nggak bisa kita lepasin dari bagaimana kita menghormati dan mencintai pahlawan kita tersebut. Nah, kecintaan kita itu harus kita tumbuhkan kepada para pejuang Islam. Lebih khusus dan yang paling utama, kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, para shahabatnya, para tabi’in, salafus shalih, sampai para pemimpin Islam dan para ulama yang telah perjuang meninggikan peradaban Islam. Nah, semua itu tuh, adalah pahlawan. Loh, kenapa? Tentu saja karena tanpa adanya perjuangan para pahlawan kita dalam memperjuangkan Islam di masa lalu, kita yang di masa kini, bisa dipastikan kita tidak akan bisa mencicipi manisnya keislaman. Jadi, tentang siapa pahlawan kita, sobat Bro en Sis semua udah pada setuju, kan? Setuju, dong!

Jangan sampai, deh, Bro en Sis. Kita salah dalam memilih panutan atau pahlawan. Nggak mau kan kalau di hari Kiamat nanti, kita bersama dengan orang yang salah? Itu sebabnya, kita kudu banget mikirin dengan cermat. Jangan asal. Nanti salah. Nah, terus gimana biar bisa berpikir dengan benar? Tentu saja dengan mencari tahu. Maksudnya pengetahuan, tentang ilmu.

Tentang apa? Tentang Islam tentu saja. Tentang bagaimana menentukan apa yang harus kita lakukan, apa yang dilakukan dan diperintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Apalagi? Banyaaak lagi yang harus kita cari tahu. Makanya, biar bisa berpikir dengan benar dan baik, ngaji, kuy! Bener banget. Gabung sama komunitas pengajian Islam. Supaya belajar Islamnya lebih menyenangkan. Ceritanya karena ada temen senasib. Hehe… sama-sama mau ke surga. Aamiin, atuh..

 

Jadi, siapa pahlawanmu?

Nah, memaknai Hari Pahlawan, nih, emang momen yang tepat banget untuk kita mengingat kembali. Mengingat apa? Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa kita harus senantiasa bersyukur dan menghormati jasa-jasa pahlawan. Why? Karena mereka di masa lalu telah berjuang menumpahkan keringat dan darah untuk kemerdekaan kita, generasi di masa setelahnya. Ingat-ingat, looh. Jangan diabaikan!

Yups! Bro en Sis sekalian, pada akhirnya, ketika kamu sebagai remaja ditanya, “Siapa pahlawanmu?” Lalu bagaimana jawabanmu. Nah, kita harus bertanya pada diri kita masing-masing. Siapa sosok yang pantas menjadi pahlawanku? Kita sebagai seorang muslim yang Insyaa Allah sudah mengerti tentang bagaimana menjadikan seseorang sebagai panutan, pasti akan bisa menjawab seperti ini, nih:

“Pahlawanku adalah orang-orang yang telah berjasa dalam menyebarkan Islam, mempertahankan, membangun peradabannya, dan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia. Kenapa? Karena berkat jasa mereka, kita yang di masa kini mampu merasakan secercah cahaya Islam yang disampaikan sejak masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.”

Begitu, Bro en Sis. So, kita semua harus bisa menjelaskan dengan tegas dan lantang tentang siapakah pahlawan-pahlawan kita yang sebenarnya. Inget loh, bukan Captain Amerika,  Iron Man dkk, yaa. Atau malah idola para seleb genit bin ganjen yang nggak jelas idealismenya. Ups! Jangan sampai memilih mereka sebagai pahlawan. Hati-hati! [Fathimah NJL | IG @FathimahNJL]