Bukan Puasa Biasa

Kalo Siti Nurhaliza pernah melantunkan Bukan Cinta Biasa, bukan latah atawa ikut-ikutan kalo STUDIA kali ini nyontek dan memplesetkan judul lagu tersebut jadi judul tulisan pekan ini. Bukan apa-apa, jujur aja kita terinspirasi, gitu lho. Boleh kan?

Oya, kenapa kita nggak mau dengan sesuatu yang “biasa�? Ehm, menurut kamus bahasa Indonesia, biasa itu artinya lazim atau umum. Itu sebabnya, kenapa kalo ada yang nggak umum atau nggak lazim kita nyebutnya luar biasa. Bisa untuk nunjukkin positif, bisa juga negatif. Bergantung tema yang lagi dibahas. Misalnya, untuk menggambarkan betapa pinternya, bisa ditulis: luar biasa pinter. Begitu juga untuk ngejelasin betapa bodohnya, suka ditulisin: luar biasa bodoh. Hehehe.. sori ye bukan maksud diskriminasi.

Nah, yang akan kita bahas tentu sisi positifnya dong ya. Kalo bukan puasa biasa, berarti bukan puasa yang lazimnya kita lakuin saban Ramadhan yang udah-udah. Cuma nahan lapar dan haus di siang hari (termasuk nahan untuk nggak berhubungan seks di siang hari bagi yang udah married). Kegiatannya sambil nunggu buka puasa cuma tidur, buang air besar, buang air kecil. Mungkin ada yang sekolah tapi loyo, ikut tarawih seperlunya aja, ngadain sanlat sekadarnya doang. Idih, sederhana banget, gitu lho. Padahal, sayang kalo Ramadhan dijalani cuma gitu-gitu aja.? 

Sobat muda muslim, bagi kita-kita yang udah segede gini, kayaknya kudu mulai malu deh kalo puasanya biasa-biasa aja. Cuma mindahin jadwal makan doang. Biasanya sarapan pagi, ditarik maju jadi sebelum shubuh, yakni makan sahur. Siang hari nggak makan. Pindah jadwalnya ke sore hari, yakni saat berbuka puasa pas maghrib.

Suer, pantas malu kalo cuma segitu doang kualitas ibadah puasa kita. Sebab, ngelakuin puasa dengan tidak makan dan minum di siang hari bukan berarti puasa juga dari kegiatan ibadah lainnya. Justru sebaliknya, selama puasa kita semangat ibadah karena dikasih �bonus’ banyak sama Allah Swt. untuk beramal sholeh dengan pahala yang berlipat ganda. So, sayang banget kalo dilewatkan begitu saja.

Dari Salman al-Farisi ra. berkata: “Rasulullah saw. berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun.

Kami berkata: “Wahai Rasulullah saw. Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa?�

Rasul shalallahu �alaihi wa sallam bersabda: “Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. 2 hal itu adalah; Syahadat Laa ilaaha illallah dan beristighfar kepadaNya. Adapun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw.) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga� (HR al-�Uqaili, Ibnu Huzaimah, al- Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani)

Waaah, kebayang banget deh gimana senangnya hati kita. Berbunga-bunga kalo membaca hadis ini. Abisnya Allah Swt. udah nunjukkin rasa sayangNya ama kita-kita. Ngasih bonus pahala yang banyak di bulan Ramadhan ini. Lha, kalo kitanya cuek aja, apa pantas jadi hambaNya? Apa pantas juga kalo kita nggak taat sama Allah? Duh, moga kita nyadar ye.

Agar puasa tak sia-sia
Sobat muda muslim, sungguh sayang seribu sayang kalo puasa kita cuma nahan lapar dan haus doang. Nggak ada pahala yang didapat. Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahagaâ€??  (HR Ahmad)

Duh, rugi banget deh. Jujur aja pasti kita nggak mau kan kalo puasa kita tuh cuma dapetin lapar dan haus doang? Jangan sampe deh sia-siakan puasa kita.

Nah, hadis di atas tadi ngasih gambaran buat kita untuk senantiasa waspada dengan apa yang akan kita perbuat. Sebab nih, puasa nggak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum doang, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang (ayo, matanya jangan ampe jelalatan kayak mo maling jemuran), menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor, mengumpat, dan menggunjing. Pun menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang.

Duh, duh, kok jadi banyak banget larangannya? Hehehe.. kalem sobat, itu tandanya Allah Swt. dan RasulNya emang perhatian sama kita-kita. Larangan itu tanda cinta dan sayang lho. Sebab, nasihat nggak selamanya berupa ajakan kebaikan (amar ma’ruf), tapi juga melarang kemungkaran (nahyi munkar).

Selain itu, di malam bulan Ramadhan nih, Islam memotivasi umatnya untuk mengerjakan amalan sunnah; shalat tarawih dan tadarus al-Quran, misalnya. Dorongan untuk melaksanakan shalat sunnah harus dipahami bahwa shalat wajib harus lebih giat lagi untuk dilakukan. Jangan sampe tarawih aja yang semangat dikerjakan karena senang rame-rame ama temen, eh, sholat isya malah kelewat nggak dikerjakan. Waduh, nggak banget deh.

Sobat, dalam urusan ibadah di bulan Ramadhan ini, jangan sampe kita ngelaksanain cuma memenuhi ibadah ritual doang. Terjebak dalam ritualisme. Artinya apa? Artinya kaum Muslimin, kita-kita nih, ketika melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kewajiban semata, tanpa memperhatikan esensi dari setiap bacaan yang ia ucapkan atau gerakan yang ia lakukan dalam ibadahnya itu. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberi pengaruh terhadap perilaku, menjadi gerakan atau ucapan yang kosong tanpa makna. Gaswat deh kalo sampe kejadian begini. Dan, kalo diliat-liat sih emang begitu. Sedih banget euy.

Coba aja interospeksi diri atau mungkin ngeliat lingkungan sekitar. Pas di sekolah, pas di pasar, atau mungkin di perjalanan. Betapa banyak saudara kita (termasuk kita, barangkali) yang masih cuma bisa nahan lapar dan haus doang. Tapi nggak bisa nahan nafsu untuk nggak ngelakuin kemaksiatan. Ati-ati ye!

Itu sebabnya, sungguh disayangkan banget kalo di antara kita banyak yang kuat menahan diri dari rasa lapar dan haus, tapi malah nggak bisa berkutik saat melawan godaan hawa nafsu. Mulut kita bisa bertahan dari makanan atau minuman, tetapi nggak bisa menahan dari menggunjing, mengumpat, dan bicara kotor. Puasanya memang tidak batal, tetapi esensi dari ibadah shaum yang mengajarkan untuk semakin meningkatkan ketakwaan kita, menjadi tidak bermakna. Puasa kita menjadi sia-sia. Sebab tak mendapatkan apa-apa (pahala), kecuali hanya rasa lapar dan haus.

Sobat, Islam adalah totalitas. Itu artinya, saat kita ibadah dengan ketika kita bermuamalah dalam kehidupan duniawi kita, keduanya harus senantiasa berpatokan kepada aturan Islam. Bukan yang lain. Oke? Hmm.. semoga kamu sekarang udah paham ya. Insya Allah.
? ? 
Agar puasa berbuah takwa
Sobat muda muslim, Allah mewajibkan puasa Ramadhan bagi orang-orang yang beriman kepadaNya agar dengan berpuasa itu menjadi orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„?????’?ƒ???…?? ?§?„?µ?‘???????§?…?? ?ƒ???…???§ ?ƒ???????¨?? ?¹???„???‰ ?§?„?‘???°?????†?? ?…???†?’ ?‚???¨?’?„???ƒ???…?’ ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????‘???‚???ˆ?†??
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,� (QS al-Baqarah [2]: 183)

Oke, agar puasa kita berbuah takawa ada beberapa tips nih buat kamu. Pertama, luruskan niat. Pastikan niat kita melaksanakan puasa Ramadhan benar-benar hanya karena Allah semata. Bukan karena paksaan ortu, atau sekadar menutupi rasa malu sama teman.

Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah saw. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah)

Kedua, kuasai ilmunya. Benar. Karena puasa bukan semata menahan diri dari rasa lapar dan haus. Tapi juga sekaligus menahan godaan hawa nafsu. Boleh dibilang tutup mulut, tutup mata, en tutup telinga dari segala aktivitas yang bisa nguras pahala puasa kita. So, ati-ati deh.

Itu sebabnya, kamu juga kudu ngeh ilmunya. Biar puasa kita mantep. Kalo tahu ilmunya, insya Allah akan membekas dalam diri kita bahwa puasa adalah kewajiban dan ladang amal yang luas. Maka, nggak bakalan disia-siakan tuh kesempatan emas ini untuk ibadah mendulang pahala. Terus, kita juga nggak bakalan gegabah balik ke �habitat’ awal perbuatan kita yang agak-agak error itu, karena kita tahu bahwa perbuatan maksiat haram dilaksanakan di bulan mana pun, apalagi di bulan Ramadhan. Insya Allah nantinya kamu bisa jaga diri untuk tidak kembali jadi senewen pascapuasa. Kita jadi orang-orang yang bertakwa. Lagian kita nggak mau dong berbuat dosa yang buahnya nanti neraka. Naudzubillahi min dzalik. Jadi, belajar adalah kuncinya. Baca en ikuti kajian Islam yang marak selama bulan Ramadhan ini. Ayo, kamu bisa!

Ketiga, kondusifkan suasana. Suasana Ramadhan mampu memberikan warna tersendiri dalam hidup kita. Warna yang tentunya sedap dipandang mata. Di bulan ini, rasanya kita jadi getol baca al-Quran, jadi giat sholat wajib dan sunnah, juga sregep ikut kajian Islam tanpa disuruh-suruh lagi. Kita melakukannya dengan penuh semangat dan insya Allah ikhlas.

Nah, supaya ketika Ramadhan berlalu tapi kegiatan seperti ini bisa bertahan, buatlah suasana yang juga mirip dengan Ramadhan. Minimal di keluarga kita dulu. Kita kondisikan misalnya dengan melaksanakan shaum 6 hari di bulan syawal. Seterusnya, seluruh anggota, bila perlu teman-teman di sekolah membiasakan diri untuk melakukan ibadah puasa sunnah senin-kamis. Dengan harapan, puasa tersebut bisa menahan kita dari keinginan ngelakuin perbuatan maksiat. Baca al-Quran setiap hari, insya Allah bisa menghidupkan kembali �ruh’ Ramadhan. Jadi, bukan puasa biasa, apalagi sia-sia. Betul ndak, sobat?

Oke deh, selamat berpuasa, perdalam Islam, dan mari berjuang untuk menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Tetap semangat! [solihin]

(Buletin STUDIA – Edisi 312/Tahun ke-7/25 September 2006)

%d bloggers like this: