Jadikan Islam yang Mengancam

Agresi Israel ke Libanon harus dihentikan. Israel leluasa menggerakkan mesin perangnya karena nggak ada yang ia takuti. Apalagi didukung penuh Amerika Serikat. Meski negeri kecil, tetapi Israel berani menyerang negara tetangganya. Yup, negeri Yahudi ini bukan cuma menebarkan ancaman, tapi sudah melakukan aksi nyata yang membahayakan.

Sobat, apa kita cukup diam aja dengan aksi brutal Israel? Apa kita cuma jadi penonton sambil memberi ucapan: “sabar ya saudara-saudaraku di Libanon dan Palestina�? Waduh, enak banget tuh Israel, nggak ada yang ngelawan. Apalagi para pemimpin negeri Arab memilih diam ketimbang menolong saudaranya dari kebiadaban Israel. Kalo masih kayak gini, Israel merasa bahwa negeri-negeri Islam dan kaum Muslimin bukan lagi ancaman bagi keganasannya. So, buat kaum Muslimin, hentikan diam kita! Ayo berjuang bersama membela Islam dan kaum Muslimin. Kalo memang cinta, mari tunjukkan cinta kita kepada Islam dan kaum Muslimin. Karena cinta itu menggerakkan dan memantapkan komitmen kita untuk mencintai apa yang kita cintai.

Amerika merasa harus arogan, karena musuh-musuhnya memilih diam. Padahal, sejak awal Islam dipandang oleh Amerika sebagai musuh dan ancaman. Tetapi ketika mereka melihat kaum Muslimin diam, bahkan sikap para pemimpin kaum Muslimin terbelah saat menyikapi aksi-aksi Amerika dan sekutunya, Amerika jadi belagu dan nggak merasa Islam yang diemban para pemimpin negeri Islam sebagai ancaman lagi. Yup, sebab sebagian besar dari kita cengo’ aja kayak orang bingung. Jadinya Amerika dan sekutunya leluasa menghajar kita.

Sobat muda muslim, tanda-tanda kalo Islam tuh bukan lagi ancaman adalah pernyataan yang membahayakan Islam itu sendiri. Salah satu contohnya adalah bahwa Islam tak perlu diterapkan sebagai dasar negara. Ini jelas menguntungkan para pembenci Islam. Mereka bisa sorak-sorak bergembira menyambut pernyataan kayak gitu.

Padahal sejak dulu Rasulullah saw. sudah menggariskan bahwa Islam itu harus diterapkan sebagai ideologi negara. Syariat Islam itu harus mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Itu sebabnya, Rasulullah saw. mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah. Hasilnya? Kafir Quraisy dan musuh-musuh Islam lainnya merasa ketar-ketir dengan Islam yang diemban oleh Rasulullah saw. Persia dan Romawi pun merasa terancam eksistensinya.

Semangat juang seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh kaum Muslimin. Yes, kudu menjadikan Islam sebagai ancaman bagi kekufuran dan arogansi para penentang Islam. Dengan semangat juang seperti ini pula, harga diri kaum Muslimin terangkat. Kaum Muslimin lebih merasa percaya diri membela Islam. Sebab, pada saat yang sama, musuh-musuh Islam dengan antusias ingin menghancurkan Islam. Sebagian dari mereka, yakni Amerika dan Israel sudah mempraktikkan ancaman mereka. Kalo kita diam aja (apalagi banyak penguasa Muslim yang nggak berani melawan Amerika padahal mereka mampu), berarti secara nggak langsung kita udah ngasih jalan bagi musuh-musuh Islam untuk ngancurin Islam dan kaum Muslimin.

Sobat, mari kita jadikan Islam yang mengancam eksistensi ideologi dan pendukung Kapitalisme-Sekularisme, juga Sosialisme-Komunisme. Islam, sebagai ideologi punya kemampuan untuk itu. Buktikan saja.

Islam bukan sekadar ritual
Bro, ketika Islam hanya sekadar dipahami sebagai ibadah ritual belaka, paling nggak ada beberapa akibat or dampak yang bisa dirasakan faktanya:

Pertama, hilang kekuatannya. Yup, Islam jadi hilang kekuatannya. Karena apa? Karena kita hanya memahami Islam sebagai ibadah ritual belaka. Cuma ngurusin soal akhirat. Maka, dalam kurikulum di sekolah aja, perasaan dari dulu pelajaran agama cuma 2 jam pelajaran dalam seminggu. Jadi wajar aja kalo materi yang dibahas juga hanya seputar akidah, fikih (itupun sebatas sholat, puasa, zakat, haji, dan paling banter munakahat alias pernikahan), ditambah pelajaran sedikit tentang ilmu waris dam ngurus jenazah. Padahal, Islam tuh luas banget bahasannya. Nggak sekadar ngomongin surga-neraka aja. Dunia juga diperhatikan, Bro.

Guys, udah kebayang kan gimana jadinya kalo Islam cuma kita pahami sebagai ritual belaka. Kita anggap Islam cuma identik dengan masjid dan mushola aja. Jangan sampe deh orang memahami kaum Muslimin adalah baju koko, peci, jilbab, kerudung, dan sarung aja. Sehingga aneh kalo ada kaum Muslimin yang kerja di kantoran umum dan pandai ngomongin Islam. Itu nggak aneh bin ajaib. Justru yang aneh adalah ketika kaum Muslimin memahami bahwa Islam hanya boleh dibicarakan di masjid dan oleh mereka yang santri. Aduh, jangan sampe punya pikiran begitu terus.

Islam tuh kuat, jika dipahami sebagai ideologi. Islam tuh keren kalo kita menerapkannya sebagai akidah akliyah juga. Musuh-musuh Islam bakalan seneng kalo kita cuma mikirin akhirat mulu, karena merasa nggak bakalan ada yang ngusik kehidupan rusak mereka. Justru kalo Islam dipahami sebagai ideologi, musuh-musuh Islam bakalan mikir seribu kali (atau malah nggak berani?) untuk melawan Islam. Tapi, kalo kitanya cuma betah ngendon di masjid, sarungan mulu, dan menghindarkan diri dari politik (akidah siyasiyah), maka musuh-musuh Islam senang banget. Dan inilah kekalahan kita, karena Islam jadi hilang kekuatannya.

Kedua, turun derajat. Bukan ngeledekin atawa ngetawain. Memang kalo kita memahami Islam sebagai ibadah ritual aja, itu udah menurunkan level kita ke derajat yang rendah. Lihat aja, sekarang yang maksiat banyak banget. Mengapa kaum Muslimin banyak yang maksiat? Karena mereka barangkali (dan sangat boleh jadi) memahami bahwa Islam nggak punya aturan yang tegas untuk masalah dunia. Apalagi mereka ngelihat dalam sistem sekarang (Kapitalisme-Sekularisme) justru diberikan kebebasan orang berbuat apa saja asalkan nggak ngerugikan orang lain. Tapi, kalo pun ngerugiin orang lain, hukumannya nggak tegas, bisa dibeli dengan uang.

Akhirnya, para pencuri ayam tetep jalan, yang korupsi juga anteng aja. Abisnya, kalo pun ketahuan, hukum bisa dibeli dengan uang. Andai saja kebetulan tetep dihukum, hukumannya nggak sebanding banget dengan kejahatannya. Membunuh misalnya, cuma diganjar hukuman penjara (jumlah tahunnya tergantung model pembunuhannya). Itu sih nggak bikin kapok, apalagi meski dipenjara tetap bisa makan dan minum dengan gratis dan mungkin melihat televisi dan �nyari ilmu’ tambahan dari tayangan Brutal, Sergap, Buser, TKP, SIDIK dsb. Jadi jelas banget, ini menurunkan manusia (termasuk di dalamnya kaum muslimin) ke level yang rendah banget. Ancur bin amburadul!

Nah, berawal dari menganggap bahwa Islam cuma ngatur urusan akhirat dan sekadar ibadah ritual aja, ditambah dengan memahami bahwa Islam nggak bisa ngatur kehidupan dunia, maka mudah bagi manusia yang lemah iman untuk berbuat sesukanya dalam hidup ini. Padahal, ia sudah diberi akal untuk memahami kehidupan ini. Sudah dibimbing pula dengan al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Seharusnya sih lebih beradab. Lebih tinggi derajatnya.

Ketiga, kaum muslimin menjadi tak berdaya. Rasulullah saw. bersabda: “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka�. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?� Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian �wahn’�. Seorang sahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan �wahn’ itu?� Dijawab oleh Rasulullah saw.: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati.� (at-Tarikh al-Kabir, Imam Bukhari)

Sekarang udah terbukti, jumlah kaum Muslimin ini sebenarnya banyak di seluruh dunia. But,?  kita terpecah belah dan bahkan takut untuk berjuang. Sebagian dari kita cukup hanya merasa bahwa Islam menyejukkan bagi pribadi masing-masing. Bersamaan dengan itu, kaum Muslimin ogah berjuang membela dan menyebarkan Islam karena?  takut kematian. Padahal, kaum Muslimin wajib memahami Islam sebagai agama yang harus disebarkan kepada seluruh umat manusia. Dan seharusnya tergerak pula untuk berusaha memperjuangkan Islam sampai titik darah yang penghabisan.

Itu sebabnya, kalo dipahami bahwa Islam bukan hanya akidah ruhiyah, tapi sekaligus akidah siyasiyah, maka akan ada semangat dan keinginan untuk menyebarkan lagi akidah Islam ini ke seluruh penjuru dunia. Karena sudah memahami bahwa satu-satunya agama yang mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan adalah Islam. Tentu karena Islam mengatur kehidupan dunia dan juga akhirat dalam satu paket.

Tapi, kalo hanya merasa bahwa Islam tuh akidah ruhiyah saja, jadinya kaum Muslimin merasa terpisah dari kehidupan dunia. Akibatnya, untuk urusan akhirat diserahkan aja deh ke ustadz, kalo untuk berdoa bagiannya ulama aja. Jadi, bagi-bagi tugas gitu. Urusan akhirat ulama, dan urusan dunia ya pejabat negara dan masyarakat. Udah deh, makin lemah dan nggak berdaya aja umat ini. Kehilangan tajinya. Ngampleh alias ngejoprak aja kerjaannya. Punya potensi yang besar, tapi nggak digunakan dengan baik dan kalo pun digunakan tapi keliru. Islam ini hebat sebagai sebuah ideologi, tapi cuma dipahami sebatas akidah ruhiyah aja. Kalo gitu, apa bedanya dengan sekularisme. Tul nggak?

Pahami Islam sebagai ideologi
Sobat, jangan lagi kita menganggap bahwa Islam cuma ngurus soal akhirat aja. Islam lihai juga lho ngurus dunia. Tapi dengan catatan, yakni kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memahami Islam sebagai ideologi. Oke?

Sekadar menekankan aja nih, bahwa nggak ada keraguan kalo akidah Islam tuh menjelaskan bahwa sebelum ada kehidupan dunia ini ada Allah Sang Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan; bahwa Allah Pencipta manusia telah menurunkan aturan-aturanNya ke dunia ini untuk mengatur kehidupan manusia; dan bahwa manusia akan menuju alam akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga atau neraka—begantung pada terikat-tidaknya dirinya dengan aturan-aturanNya. Itulah realitas akidah Islam yang harus diyakini oleh setiap Muslim.

Karena itu, agama Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menaati Allah Swt. di rumah, di pasar, di mal, di kendaraan, di kantor, di sekolah, di masjid, di ruang pertemuan, di mess, di hotel, dan di setiap tempat. Demikian juga ketika makan, minum, berpakaian, berakhlak, beribadah, dan berbagai muamalah.

Sobat muda muslim, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.� (Dalam kitabnya, al-Iqtishad fil I’tiqad hlm. 199)

Dengan kenyataan seperti ini, tentunya kita berharap banget nih kaum Muslimin (khususnya remaja) segera nyadar. Kita ini hebat, tapi karena kita kebanyakan nggak memahami Islam sebagai ideologi, cuma tahu Islam tuh ngurus ibadah ritual belaka, maka akibatnya kita jadi lemah, tak berdaya, hilang kekuatannya, dan tumbuh subur kemaksiatan dalam kehidupan kita. Kondisi ini bikin musuh-musuh Islam seneng ati karena Islam nggak bikin mereka merasa terancam.

Nah mulai sekarang, kuatkan pemahaman Islam sebagai ideologi. Biar lebih mantep mengenal dan meyakini Islam. Setuju kan? [solihin]

(Buletin STUDIA – Edisi 305/Tahun ke-7/7 Agustus 2006)

%d bloggers like this: