Judi yang Jadi Tradisi

Perjudian di negeri kita kian marak. Dari yang kelas teri, hingga kelas kakap. Dari yang cuma bermodalkan duit seceng buat beli kupon togel, sampe jutaan bahkan miliaran rupiah yang ludes di meja judi. Bukan omong kosong lho. Ini bukti bro. Di kota Metropolitan aja, uang judi yang berputar mencapai sekitar Rp 40 triliun per tahun (Liputan6.com, 31/07/05). Semuanya duit. Nggak campur daun.

Di Kota Kembang, menurut Anggota DPRD Kota Bandung Iman Setiawan Latief, terdapat sedikitnya 400 lokasi perjudian. (Tempo Interaktif, 06/03/05). Di Bekasi, judi dilakukan terang-terangan. Para penjudi bebas keluar masuk lokasi perjudian tanpa ada rasa takut tertangkap aparat berwajib. Kalo ada pers yang berani menyinggung kegiatan judinya di media massa, bakal dapet teror dan intimidasi secara fisik dari pihak bandar. Nggak heran kalo Bekasi dapet julukan Kota Judi. (Tempo interaktif, 05/05/05).

Kini, kita boleh sedikit berlega hati. Begitu menjabat kapolri, Jenderal Polisi Sutanto langsung meminta seluruh kepala kepolisian daerah di Indonesia segera memberantas judi. Nggak tanggung-tanggung, para kapolda cuma dikasih waktu sepekan untuk memberantas judi di wilayahnya. “Kalo enggak mampu, masih banyak pejabat lain yang bisa melaksanakan,� ancam Sutanto. (Liputan6.com, 31/07/05). Nah lho?

Hasilnya, sejumlah tempat judi digerebek, alat-alat judi disita, dan banyak penjudi yang masuk bui. Mabes Polri mencatat sampai tanggal 24 Juli 2005, aparat kepolisian di seluruh Indonesia sudah berhasil menangkap 2.043 penjudi dari 903 kasus perjudian. Sayangnya, sejumlah tempat judi yang digerebek kebanyakan kelas teri. Sedangkan rumah judi kakap banyak yang tutup sementara.

Neta S. Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch, menyatakan menutup usaha atau tiarap—istilah penjudi—merupakan kebiasaan mereka saat mendengar ada pergantian pejabat Polri. Mereka bersembunyi dulu, rumah judi mereka ditutup dan mereka ke luar negeri. Sementara yang kecil-kecil karena asetnya terbatas, keuangan terbatas, mereka tetap nekat beroperasi,� kata Neta Pane. Makanya banyak yang ketangkep.

Kok nggak ada abisnya?
Sobat, usaha pemberantasan judi oleh pihak kepolisian bukan kali ini saja dilakukan. Namun, dari zamannya model rambut cewek dikepang dua sampe yang direbonding kayak sekarang, perjudian tetep eksis. Banyak faktor yang menobatkan judi sebagai sebuah tradisi di masyarakat kita. Di antaranya:

Pertama, bentuk judi yang kian bervariasi. Dari yang resmi hingga yang sembunyi-sembunyi. Undian resmi berbau judi pertama kali muncul pada 1968. Namanya lotto, singkatan lotere totalisator yang awalnya digelar di Jawa Timur. Selanjutnya era 70-an muncul Nalo, toto hingga undian berhadiah. Pada 1986, pemerintah mengeluarkan Porkas disusul KSOB. KSOB dibubarkan sehabis meraup dana sekitar Rp 1,2 triliun. Patah tumbuh hilang berganti. KSOB bubar dan terbitlah Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). SDSB yang muncul sekitar Januari 1989 ini amat populer. Selama empat tahun, SDSB berhasil mengumpulkan dana lebih Rp 4 triliun. Duit panas nih!.

Judi kecil-kecilan juga nggak kalah populernya. Dari mulai sabung ayam, adu jangkrik, banting kartu remi/domino, tebak skor pertandingan sepakbola, sampe papan rolet jadi media pertaruhan. Di tengah lilitan ekonomi, masyarakat mudah tergiur dengan keuntungan 60 ribu perak yang bakal diperolehnya kalo dua nomor togelnya yang dibeli seharga seribu tembus. Dengan kecanggihan teknologi komunikasi, dalam telekuis SMS atau premium call juga tercium unsur perjudian.

Kedua, adanya oknum pejabat pemerintah yang melindungi perjudian. Siapa sih yang nggak ngiler ngeliat derasnya kucuran duit dari meja judi. Omzet judi massal seperti di Kalijodo, Jakarta aja bisa mencapai Rp 2 miliar dalam sehari. Kalo dapet 10%-nya aja buat uang keamanan, kan lumayan bisa buat beli kerupuk satu truck (kenyang-kenyang dah!). Indonesia Police Watch bahkan menyebut ada sebanyak 14 kapolda yang melindungi judi sehingga perlu dicopot dari jabatannya. (Liputan6.com, 31/07/05)

Haruskah dilokalisasi?
Pernah denger Genting Highland, Malaysia? Genting Highland adalah sebuah daerah wisata yang menjadi kawasan judi kasino paling diburu para penjudi khususnya dari Indonesia. Kawasan wisata ini terletak sekitar 51 kilometer sebelah utara Kota Kuala Lumpur. Genting Highland dicetuskan Tan Sri Lim Goh Tong, pengusaha Cina, pada 1965.

Atau kota Macau di China? Lebih dari 40 persen penduduk pulau dan kota judi yang hanya berjumlah 430.000 jiwa (Juli 2003) ini mencari sesuap nasi di ladang judi. Di Macau terdapat 12 tempat kasino di Hotel berbintang lima. Mungkin di sini banyak beredar anak buat Chow Yun Fat sang God of Gamblers.

Nggak cuma di Las Vegas, Genting Highland atau Macau, legalisasi perjudian juga pernah terjadi di Nusantara. Ali Sadikin, Gubernur DKI periode 1966-1977 ini menyadari uang panas dari ladang judi bisa dihimpun untuk berbuat hal positif (positive thinking nih ceritanya). Bang Ali, sapaan Ali Sadikin, lalu memutuskan untuk melegalisasi judi. Saat itu, untuk pertama kali dibuka kasino resmi di Indonesia dengan dua pengusaha kasino besar, Apyang dan Yo Putshong yang bertindak selaku investor. Hasilnya tak sia-sia. Anggaran pembangunan DKI yang semula Rp 66 juta melonjak tajam hingga lebih Rp 89 miliar dalam tempo sepuluh tahun. Sejumlah pasar, sekolah, puskesmas, dan jalan-jalan baru berhasil dibangun.

Pemerintah sempet kepikiran ngikutin jejaknya Bang Ali untuk nertibin judi berlandaskan pada asas manfaat. Seperti yang diusulkan Fraksi PDIP DPRD Kota Bekasi, Jabar. Prinsipnya, daripada pusing-pusing berantas judi tapi nggak pernah kelar, mending dilokalisasi. Tertib, terkendali, dan ngasih subsidi buat pemerintah. Apalagi kalo tempat-tempat judi ditutup bakal menambah jumlah pengangguran. Untung khan?

Ya, untung buat pemerintah, tekor buat rakyatnya. Lokalisasi kemaksiatan kayak judi dan PSK cuma jadi bibit kehancuran masyarakat di hari depan. Kalo negara udah melegalisasi, siapa lagi yang ditakuti oleh para penjudi dan pelaku kemaksiatan. Bisa-bisa banyak orang yang lemah iman pengen coba-coba dan akhirnya kecanduan. Negara bukannya memfasilitasi rakyatnya ke arah kebaikan, malah menjerumuskan. Piye iki?

Judi, bikin lupa diri
Biarpun sekadar iseng-iseng berhadiah, orang maen judi seperti minum air laut. Nggak pernah terpuaskan dahaganya. Kalo menang, makin pede masang lagi. Pas kebagian kalah, justru makin penasaran. Selalu ber-husnudzon. Ujung-ujungnya, nggak sedikit kehidupan para gambler yang hancur lebur dipertaruhkan di meja judi. Cerai dengan istri, kehilangan pekerjaan atau dalam hitungan menit konglomerat bisa jadi melarat. Apalagi yang udah melarat terus nyandu maksiat, dijamin tekor dunia akhirat deh.

Salah satu korbannya?  adalah Dedi Dores. Musisi yang ngetop pada dekade 80-an ini mengaku telah berjudi sejak 70-an. Dedi bahkan terpaksa bercerai dengan sang istri karena hobi judi. Doi mengaku sedikitnya telah menghabiskan Rp 20 miliar di meja judi. Dedi mengatakan biasa bermain di luar negeri seperti di Australia, Genting Highland hingga ke Makau. (Liputan6.com, 31/07/05)

Judi juga bikin orang jadi malas. Setiap detik waktu yang dimilikinya dihabiskan untuk ngotak-ngatik angka togel atau berburu nomor jitu ke makam-makam keramat (Wacks! Syirik tuh!). Yang ada di pikirannya, cuma gimana caranya biar menang atau menebus kekalahan sebelumnya. Akibatnya, di luar meja judi produktivitas dalam bekerja, ngurusin keluarga, atau rumah tangga terbengkalai. Yang lebih parah, akal sehatnya bisa K.O. dibanting kartu remi atau domino saat kecanduannya memasuki stadium empat. Demi tersalurkan hobi berjudi, orang bisa nekat berbuat jahat.

Dan yang paling penting, Ajaran Islam, jelas-jelas melarang praktik perjudian. Firman Allah Swt.:

?????§?£?????‘???‡???§ ?§?„?‘???°?????†?? ?????§?…???†???ˆ?§ ?¥???†?‘???…???§ ?§?„?’?®???…?’?±?? ?ˆ???§?„?’?…?????’?³???±?? ?ˆ???§?„?£?’???†?’?µ???§?¨?? ?ˆ???§?„?£?’???²?’?„?§???…?? ?±???¬?’?³?Œ ?…???†?’ ?¹???…???„?? ?§?„?´?‘?????’?·???§?†?? ?????§?¬?’?????†???¨???ˆ?‡?? ?„???¹???„?‘???ƒ???…?’ ???????’?„???­???ˆ?†??. ?¥???†?‘???…???§ ?????±?????¯?? ?§?„?´?‘?????’?·???§?†?? ?£???†?’ ?????ˆ?‚???¹?? ?¨?????’?†???ƒ???…?? ?§?„?’?¹???¯???§?ˆ???©?? ?ˆ???§?„?’?¨?????’?¶???§???? ?????? ?§?„?’?®???…?’?±?? ?ˆ???§?„?’?…?????’?³???±?? ?ˆ???????µ???¯?‘???ƒ???…?’ ?¹???†?’ ?°???ƒ?’?±?? ?§?„?„?‘???‡?? ?ˆ???¹???†?? ?§?„?µ?‘???„?§???©?? ?????‡???„?’ ?£???†?’?????…?’ ?…???†?’?????‡???ˆ?†??.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).� (QS al-Ma’idah [5]: 90-91)

Yuk, kita berantas perjudian
Judi bersama �anak-cucunya’ emang kudu dibabat abis. Pak polisi bilang: NOBAT alias Nongol-Babat. Selain dosa, bahayanya udah jelas banget. Apa pun bentuknya, selama ada aktivitas yang mempertaruhkan sejumlah harta –bisa duit, mobil, rumah, atau makanan—antara dua pihak yang berlawanan, bisa termasuk judi…judiii!….teeet!

Yang mesti kita inget, perjudian nggak bakal berhenti kalo negara dan masyarakat keukeuh-sureukeuh (tetep) pake kapitalisme sebagai aturan hidup. Sebab tidak terpenuhinya kebutuhan hidup rakyat akibat penerapan sistem kapitalisme oleh negara kerap memicu orang untuk menggantungkan hidupnya di meja judi.

Tapi seandainya negara mau pake aturan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah untuk ngatur rakyatnya, Insya Allah faktor yang memicu orang berjudi akan diminimalisir (bahkan bukan mustahil kalo benar-benar hilang). Sanksi ta’jir yang bisa berupa hukum cambuk bagi para penjudi di tempat umum seharusnya akan membuat mereka jera dan masyarakat ogah ngikutin jejaknya.

Sekadar contoh aja, di NAD meski syariat cuma diberlakukan parsial, tapi cukup bikin jera. Ketua Forum Masyarakat Berantas Judi Buntut-Togel di NAD, Tarmizi HA Hamid H, menuturkan bahwa sebelum hukum cambuk diberlakukan, Bireuen adalah satu daerah di Aceh yang perjudiannya cukup marak. Omzet judi buntut-togel, setiap harinya rata-rata mencapai Rp 110 juta. Setelah diberlakukan syariat Islam, perjudian berkurang antara 70 sampai 80 persen. (Eramuslim, 28/07/2005).

Catet tuh, meski parsial tetep ada pengaruhnya. Tapi jangan puas dulu, karena seharusnya syariat Islam diterapkan untuk seluruh dunia dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah, bukan penerapan syariat Islam yang cuma lokal kayak gitu. Oke?

Oya, pembinaan dari sisi mental dan ketakwaan juga kudu diperhatikan. Agar mental rakyat dan aparat pemerintah nggak gampang rapuh ngambil jalan pintas untuk tuntasin masalah. Sebaliknya, justru ketakwaan memotivasi mereka untuk untuk nyari jalan keluar di jalan yang halal.

Dan kita selaku remaja muslim, nggak ada pantasnya ikut-ikutan jadi pecandu judi. Meski sekadar iseng, selain tetep dosa bisa juga nyeret kamu jadi nyandu. Itu berarti sama dengan menggadaikan hari depan kamu dengan selembar kupon togel atau di meja judi. Idih, tengsin deh eike!

Sebaiknya kita pake keseharian kita dengan berdakwah menyampaikan kebenaran Islam. Ini bukan pilihan lho. Tapi kewajiban yang nggak pake tawar-menawar. Kalo belum bisa, mulailah dengan mengkaji Islam dengan benar dan baik. Agar kita bisa optimalkan waktu yang kita punya untuk dapetin ridho Allah swt. Di mana aja, kapan aja. Mantapkan niat untuk mencari ilmu dan semoga dimudahkan untuk memahaminya. Oke banget kan?

Yap, daripada jadi penjudi, mendingan jadi dai meski nggak harus ikut audisi. Yuk, ah!?  [Hafidz]

(Buletin STUDIA – Edisi 259/Tahun ke-6/29 Agustus 2005)

%d bloggers like this: