Kalo Merdeka Jangan Setengah-setengah!

Tahun ini, usia negeri ini menginjak 61 tahun sejak deklarasi kemerdekaan dibacakan 17 Agustus 1945 silam. Kalo kita buka kembali lembaran sejarah negeri ini, keliatan banget gimana gigihnya usaha para pejuang bangsa untuk meraih pengakuan sebagai bangsa merdeka. Slogan �Merdeka atau Mati!’ yang digaungkan para pejuang saat itu menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Kalo ada yang berani nawar? Bakal berabe urusannya. Nah lho!

Yup, karena bangsa ini cukup sengsara bin menderita hidup dalam penjajahan. Dipaksa kerja rodi van romusa dengan makan seadanya. Kehormatan dan harga diri kita diinjak-injak. Hak hidup kita dirampas. Kekayaan alam negeri kita dikuras. Boro-boro mikirin pendidikan atau kesehatan yang memadai, bisa bertahan hidup aja udah untung banget tuh. Pokoknya nestapa banget deh. Nggak heran kalo setiap bangsa yang terjajah bakal mati-matian memperjuangkan kemerdekaannya. Pasti itu!

Kini, nggak ada lagi bangsa kompeni yang memaksa kita kerja rodi. Nggak ada lagi diskriminasi terhadap hak-hak kita oleh kaum penjajah. Negeri ini udah merdeka coy! Makanya sebagai wujud rasa syukur, perayaan hari kemerdekaan alias tujuh belasan selalu meriah di setiap tempat di nusantara. Dari pelosok desa hingga sudut ibu kota. Baik di dunia nyata apalagi dalam dunia layar kaca. Tradisi yang udah mendarah daging ini tetep jadi prioritas meski musibah yang mendera negeri datang silih berganti. Tapi, yakin nih udah merdeka beneran?

Negeri ini pasca kemerdekaan
Sobat, tentu kita semua akur kalo nenek moyangnya Ruud van Nistelrooy (wong londo) udah lama angkat kaki dari nusantara. Begitu juga dengan kakek buyutnya Hidethosi Nakata. Itu berarti, nggak boleh ada yang menyangsikan kalo negeri kita udah merdeka dari penjajahan fisik. Kalo udah merdeka, pastinya kondisi yang jauh lebih baik dari masa penjajahan layak kita rasakan. Sesuai dengan cita-cita kemerdekaan: kesejahteraan, kesempatan kerja, pendidikan untuk semua, pelayanan kesehatan yang memadai, hingga rasa aman udah saatnya kita nikmati. Sayangnya, yang kita temui justru sebaliknya. Semoga kamu semua ngeh juga.

Saat ini, jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat sekitar 35,1 juta jiwa, atau sekitar 16,1 persen dari total penduduk. Dari total 35, 1 juta jiwa tersebut tercatat 45 persen adalah kaum perempuan, anak-anak, balita, lanjut usia yang sangat membutuhkan berbagai pelayanan. (Gatra.com, 03/5/06)

Lapangan kerja begitu langka. Menurut data Sakernas BPS, jumlah penganggur terbuka tahun 2005 sebanyak 10.854.254 orang. Jika ditambah dengan jumlah setengah pengangguran (bekerja kurang dari 35 jam seminggu), berdasarkan data BPS maka jumlahnya sudah mencapai 40,1 juta orang atau sekitar 37 persen dari 106,9 juta angkatan kerja yang ada. Jumlah pengangguran yang terus bertambah jadi masalah yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun. (www.nakertrans.go.id, 19/06/06)

Pendidikan yang udah jadi hak seluruh rakyat hanya bisa dinikmati oleh kaum berduit. Biaya pendidikan kian melangit. Privatisasi pendidikan berujung pada komersialisasi pendidikan. Menurut data Balitbang Diknas, tahun 2003, murid SD dan Ibtidaiyah negeri dan swasta berjumlah 25.918.898 orang dan murid SMP dan MTS negeri dan swasta berjumlah 7.864.002. Jadi jumlahnya adalah 33.782.900 orang. Dari jumlah itu yang putus sekolah dan berhenti sekolah SD ada 56,2 %, dan hanya tamat SMP 16,65 %. Jadi jumlah putus sekolah 62,67%.?  (Pikiran Rakyat, 24/03/06).

Layanan kesehatan, terutama untuk rakyat miskin semakin mahal. Lantaran harga obat dan peralatan medis naik, terpaksa puskesmas pun kudu ikut naekin tarif berobat. Di Yogya, Pemerintah Kota Yogyakarta menaikkan tarif pelayanan puskesmas sebesar 830 persen dari Rp 600 menjadi Rp 5 ribu. Sementara di Tangerang, DPRD Kabupaten Tanggerang menetapkan tarif puskesmas naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000 untuk sekali berobat. Kondisi ini turut mempersulit akses kesehatan bagi masyarakat yang hidupnya pas-pasan. Nggak heran kalo kasus busung lapar yang menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) sudah mencapai angka 8% atau sekitar 1,67 juta jiwa anak. (Kompas, 28/05/06)

Tidak tegasnya hukum negara dan lemahnya pengawasan keamanan dari aparat, ngasih kesempatan pada kaum gerombolan si berat untuk meningkatkan kualitas kejahatan dan kuantitas anggotanya. Tahun 2005, kejahatan yang terjadi sekitar 209.673 kasus, sedangkan tahun sebelumnya 196.931 kasus. (www.tempointeraktif.com).

Sobat, inilah beberapa sketsa kehidupan negeri kita pasca kemerdekaan. Masih aja ada tabir yang membatasi rakyat untuk hidup layak dan nyaman. Apa ini yang menjadi cita-cita kemerdekaan para pejuang pendahulu kita?

Penjajahan gaya baru
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, merdeka dimaknai sebagai bebas/dari penghambaan, penjajahan dsb; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat; tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu; dan leluasa. Berkaitan dengan penjajahan, merdeka berarti lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya, baik penjajahan fisik maupun penjajahan dalam bentuk ekonomi, sosial , politik, dan budaya.

Secara fisik, bangsa ini emang udah merdeka. Tapi dalam pengurusan ekonomi, sosial, politik, dan budaya, ternyata masih ada tangan-tangan asing yang ikut ngurusin. Bikin ribet aja tuh!

Secara ekonomi, kondisi negeri kita masih dilanda krisis. Lihat saja, secara keseluruhan bangsa Indonesia saat ini memiliki utang sekitar Rp 1.300 triliun. Untuk itu, setiap manusia Indonesia rata-rata memikul utang dalam dan luar negeri sebesar Rp 6.5 juta per kepala. (Republika, 17/04/06). Waduh!

Demi melunasi utang, rakyat jadi korban. Subsidi terhadap BBM dihapus, sehingga harga BBM dan barang kebutuhan pokok pada naik. Subsidi terhadap pendidikan juga dikurangi, sehingga biaya pendidikan mahal. Produk asing bebas masuk, sehingga produk dalam negeri dan home industry tersisihkan. Demi memancing investor asing, pemerintah membebaskan perusahaan swasta dari kewajiban pelayanan sosial terhadap kesejahteraan buruh. Makin sengsara dah!

Udah gitu, banyak kekayaan alam kita yang dilalap abis oleh pihak asing. Ada Freeport yang menguras emas dan tembaga di Papua, Newmont Minahasa Raya yang menguasai tambang emas di Sulawesi Utara, atau Exxon Mobil Oil yang kebagian jatah ngelola Minyak Bumi di Blok Cepu, Jateng. Padahal kalo dikelola sendiri, kekayaan itu bisa membantu meningkatkan ekonomi negara. Bener lho!

Secara sosial dan budaya, gaya hidup sekular Barat kian bebas menyapa masyarakat Indonesia. Kebebasan dalam berperilaku, berpendapat, kepemilikan, atau beragama menjadi tren yang tak tersentuh hukum negara. Sampai-sampai pemerintah pun tak berkutik untuk mencegah beredarnya majalah Playboy yang menjadi simbol pornografi dunia. Akibatnya, masyarakat jadi egois bin individualis. Lebih mementingkan diri sendiri daripada pusing mikirin fenomena gaul bebas yang makin beringas atau pemakaian narkoba yang makin merajalela.

Secara militer, Indonesia masih di bawah tekanan pemerintah AS. Gara-gara diembargo, menurut KSAU Marsekal Hanafie Asnan, pesawat, baik tempur maupun angkut, terpaksa di-grounded ataupun �kanibal’ akibat tidak adanya pasokan suku cadang (Republika, 25/9/2001). Kini, meski embargo udah dicabut, nggak otomatis negeri ini terbebas dari tekanan AS. Yang ada, tawaran kerjasama dan bantuan militer dari AS yang diterima pemerintah malah bikin persenjataan dan masa depan militer kita kian tergantung ama Paman Sam.

Secara politik, pembuatan undang-undang tidak lepas dari kepentingan asing. Seperti yang diakui oleh USAID (United States Agency for International Development) yang terlibat dalam penyusunan UU Migas. “The ADB and USAID worked together on drafting a new oil and gas law in 2000 (ADB –Asian Development Bank- dan USAID telah bekerja bersama dan merancang undang-undang minyak dan gas yang baru pada tahun 2000.�) (www.usaid.gov/pubs/cbj2002/ane/id/497-009.htm)

Nah sobat, jujur aja nih. Kayaknya ekonomi, sosial, budaya, dan politik negeri kita masih belon merdeka sepenuhnya. Penjajahan gaya baru lewat pinjaman utang telah menjerat negara kita. Pemaksaan budaya Barat lewat media massa pun tak bisa dielakkan. Parahnya, akibat banyaknya pihak asing yang memanen kekayaan alam, kita jadi kuli di negeri sendiri. Tragis!

Meraih kemerdekaan hakiki
Di dalam al-Quran, istilah merdeka (al hurr, at-tahrir) senantiasa terkait dengan pembebasan budak dari cengkaraman majikannya, Kemerdekaan hakiki adalah lepasnya manusia dari menjadikan sesama manusia sebagai tuhan, lalu hanya berkhitmat dan tunduk kepada Allah Swt. dengan menegakkan hukum-hukumnya.

Sebagai negara merdeka, idealnya nggak cuman bebas dari penjajahan fisik. Soalnya bangsa-bangsa penjajah udah pake taktik baru untuk menindas negara-negara lain yang lebih lemah. Bilangnya mo ngasih pinjem uang, padahal mau nguras kekayaan alam. Ngomongnya ngasih bantuan militer, ujung-ujungnya embargo persenjataan. Rencananya cuma kunjungan kenegaraan, realitasnya intervensi kebijakan pemerintah. Dasar mental penjajah!

Saatnya kita raih kemerdekaan hakiki. Kemerdekaan yang nggak cuma terbebas dari penjajahan fisik, tapi juga bebas dari tekanan negara-negara penjajah; bebas dari jeratan utang luar negeri; bebas dari mental inlander alias terjajah yang selalu “bermanis mukaâ€? di hadapan musuh-musuh negara demi menyenangkan mereka; bebas mengelola sumber daya alam yang berlimpah untuk kepentingan dalam negeri; dan terbebas dari hawa nafsu untuk mengatur rakyat dengan aturan buatan manusia. Pokoknya Jempol, eh Bebas deh! (ups! Bukan iklan kartu GSM lho! Hehehe…)

Dan yang paling penting, kemerdekaan hakiki nggak akan pernah kita raih kalo kita membebaskan diri dari penghambaan kepada Allah Swt. Karena itulah bentuk sebaik-baiknya penghambaan. Bukan kepada manusia atau negara lain. Kalo pemerintah tetep bermesraan dengan sistem demokrasi sekular yang menjadi jalan masuknya penjajahan gaya baru untuk ngatur rakyatnya, cuma kemerdekaan semu yang bakal kita dapatkan. Hal tu sudah terbukti dan bahkan kita rasakan selama ini. Kehidupan kita diatur oleh sistem kufur bernama demokrasi dan sekularisme. Firman Allah swt:

?ˆ???…???†?’ ?£???¹?’?±???¶?? ?¹???†?’ ?°???ƒ?’?±???? ?????¥???†?‘?? ?„???‡?? ?…???¹?????´???©?‹ ?¶???†?’?ƒ?‹?§ ?ˆ???†???­?’?´???±???‡?? ?????ˆ?’?…?? ?§?„?’?‚???????§?…???©?? ?£???¹?’?…???‰
Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan butaâ€?. (QS. Thah?¢ [20]: 124)

Karena itu, hanya dengan aturan Islam cita-cita kemerdekaan yang kita semua idam-idamkan bisa terwujud. Jadi, mari kita tegakkan Islam sebagai ideologi negara untuk menyelamatkan seluruh umat manusia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. So, kalo merdeka, jangan setengah-setengah! Apalagi negeri ini sejatinya memang belum merdeka, Bro! Sekali lagi: Belum merdeka! [Hafidz]

(Buletin STUDIA – Edisi 307/Tahun ke-7/21 Agustus 2006)

%d bloggers like this: